Eps 5 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Pemilik benteng maut bisa muncul secara tiba2 ditempat tersebut, peristiwa ini benar2 berada di luar dugaan setiap orang.
Pengemis dari selatan dan keempat orang pengemis tua itu dengan hati terkesiap dan badan merinding, ber sama2 mundur satu tombak lebih kebelakang.
suasana dalam gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, begitu sunyinya hingga jarum yang jatuh ketanahpun dapat kedengaran-Maut..kematian serta hawa seram yang menggidikkan mencekam seluruh angkasa, menekan perasaan setiap jago yang hadir di situ.
Paras muka semua jago persilatan yang hadir disana sama2 berubah jadi pucat keabu2an, badan serta tulang mereka terasa kaku dan tak bertenaga, tak seorangpun berani bergeser barang setengah langkahpun dari tempat semula, jangan dikata melarikan diri, untuk bergerak majupun tak berani, se-akan2 mereka beranggapan bahwa elmaut akan menjemput nyawa mereka jika mereka berani maju.
Dalam pada itu Nenek bertoya emas yang sedang bersemedi telah menyelesaikan latihannya, luka yang diderita sudah separuh bagian sembuh, sambil bangkit berdiri ia pungut senjata toyanya yang tergeletak diatas tanah.
Tapi tiba2 sorot matanya bertemu dengan tengkorak darah yang menggeletak ditengah gelanggang, nampaknya nenek itu merasa amat terperanjat, dengan sempoyongan tubuhnya roboh kembali keatas tanah dan sedikitpun tak berkutik.
Han Siong Kie sendiri dengan pandangan yang tajam dan sama sekali tak berkedip menatap tengkorak berwarna merah itu, pelbagai ingatan dan perasaam berkecamuk dalam benaknya...
Kenapa Pemilik benteng maut munculkan diri secara tiba2?
apakah ia sudah tahu kalau jalan darahnya yang tertotok telah dibebaskan orang?
orang yang kehilangan sukma minta kepadanya untuk berkunjung kembali kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya, rahasia apakah yang terkandung dibalik peristiwa itu?
Kalau Pemilik benteng maut menanyakan urusan tentang dibebaskannya jalan darah yang tertotok, apakah dia harus mengeluarkan kutungan telapak tangan dari 0rang yang kehilangan sukma?
Kenapa orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri?
Ingatan tersebut berkecamuk tiada hentinya dalam benak sianak muda itu, Kian lama darah panas dalam dadanya kian mendidih, dendam berdarah ditambah rasa dendam karena orang yang kehilangan sukma harus mengutungi telapak tangan sendiri, membuat pemuda itu ingin melampiaskan semua perasaannya ke atas tubuh Pemilik benteng maut.
Dalam waktu singkat, suasana disekitar gelanggang jadi beku dan membeku.
Suasana sepi, hening dan tak terdengar sedikit sUarapUn, begitu sunyinya se-akan2 berada disuatu tanah pekuburan yang luas.
Jago persilatan yang berkumpul di empat penjuru tak ada yang berkutik ataupun menunjukkan sesuatu reaksi apapun, mereka punya perasaan seakan2 sedang menunggu keputusan hukuman.
Tulang tengkorak yang penuh berlepotan darah ditambah mayat2 yang sejak semula telah bergelimpangan diatas tanah, menambah seramnya suasana disekeliling tempat itu.
Lama kelamaan..
akhirnya Han Siong Kie tak kuasa menahan diri, ia berteriak dengan geram.
"Tengkorak maut, kenapa belum juga munculkan diri?"
Teriakan tersebut kembali menggetarkan hati setiap jago persilatan yang hadir disekeliling gelanggang, mungkinkah Tengkorak maut betul2 bukan hasil penyaruan dari iblis diantara iblis?
sebab kalau tidak ahli waris dari iblis diantara iblis yakni Malaikat penyakitan tak mungkin akan menantang gembong iblis itu untuk beradu kepandaian.
Kenapa Malaikat penyakitan berani menantang Tengkorak maut untuk adu kepandaian?
Tentu saja kecuali Han Siong Kie pribadi, tak seorangpun yang mengetahui alasannya.
Dalam pandangan sebagian besar orang persilatan, Tengkorak maut bukan saja mendatangkan rasa seram dan ngeri, diapun membawa kemisteriusan yang membingungkan hati, selama puluhan tahun belakangan ini belum pernah ada orang yang menyaksikan paras muka aslinya.
sekarang, kecuali rasa kaget dan terkesiap mencekam perasaan hati setiap jago yang hadir disitu, merekapun merasa keheranan dan ingin tahu duduk perkara sebenarnya.
Begitu suara bentakan diri Han Siong Kie berkumandang diudara, pekikan setan itu segera berhenti berggema, semua orang merasakan pandangan matanya jadi kabur dantahu2 ditengah gelangang telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia berjubah hijau, bertopi hijau dan berpakaian cadar warna hijau pula.
"Aaah.. Pemilik benteng maut"
Para jago sama2 berbisik dalam hatinya.
Han Siong Kie sendiri dengan mata melotot besar bagaikan gundu menatap gembong iblis tersebut tanpa berkedip.
Suasana ditengah gelangggang makin sunyi dan tebang, apalagi setelah Tengkorak maut munculkan diri.
Sementara itu Tengkorak maut sendiri dengan seram dan angkernya berdiri dihadapan Han Siong Kie, ia membungkam dalam seribu bahasa.
Pengamis dari selatan beserta kempat orang pengemis tua disisinya tanpa disadari telah mundur kebelakang dan mendekatt tepi kalangan dimana para jago berkumpul.
Dengan begitu ditengah gelanggang pada saat ini tinggalkan Han Siong Kie dan Tengkorak maut itu saja yang berdiri saling berhadap2an.
Han Siong Kie menggertak gigi menahan rasa benci dalam hatinya, dengan suara lantang ia menegur.
"Poocu, engkau ada urusan apa datang kemari?"
Tengkorak maut sama sekali tidak menjawab pertanyaan sianak muda itu, dengan suara dalam ia berseru lantang.
"Hari ini sengaja aku berbuat murah hati, semua orang yang hadir disekitar gelanggang segera enyah dari sini"
Suara itu tidak begitu keras, tapi semuajugo persilatan yang hadir disekitar gelanggang, baik dekat maupun jauh sama2 merasakan telinganya jadi amat sakit.
se akan2 mendapat pengampunan, tanpa membuang waktu barang sedikitpun juga, para jago sama2 putar badan dan kabur dari tempat celaka itu dalam sekejap mata, semua orang sudah berlalu tak berbekas.
Hanya seorang jago yang tidak berlalu dari situ, orang itu bukan adalah ketua para tiang loo dari perkumpulan Kay pang, pengemis dari selatan adanya.
Tindakan dari pengemis tua ini sama sekali diluar dugaan Han Siong Kie, membuat sianak muda itu tercengang, bukankah kakak angkatnya dengan jelas mengetahui kalau kepandaian silat bukan tandingan Tengkorak maut ?
bahkan belum lama berselang hampir saja jiwanya melayang ditangan gembong iblis itu, sekarang kenapa ia tidak pergi?
maksud tujuan apa yang terkandung dalam hatinya?
Tanpa berpaling kembali Tengkorak maut berseru.
"Hey pengemis tua yang tak tahu diri, rupanya engkau sudah bosan hidup dikolong langit?"
Pengemis dari selatan tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeeh heeeehh heeeehhh poocu, apakah engkau hendak turun tangan terhadapapku pengemis tua?"
"Tentu saja, seandainya engkau masih juga tak tahu diri "
"Bagaimana sih baru bisa dikatakan tahu diri?"
"Sekarang sudah tak sempat lagi, engkau telah ditakdirkan untuk mampus ditanganku"
"Poocu apakah engkau sudah lupa dengan janjimu terhadap sutay cou perkumpulan kami Song Tiat koay?"
"Heeeehh heehhh heeehhh pengemis busuk, lebih baik jangan bermain setan dihadapanku "
Mendengar jawaban tersebut, tiba2 Pengemis dari selatan membentak keras.
"Bangsat kurang ajar, berani benar engkau menyaru sebagai tengkorak maut untuk meracuni dunia persilatan-"
Han Siong Kie sangat terperanjat mendengar seruan itu.
"Tengkorak maut ini adalah tengkeorak maut gadungan?"
Pikirnya dihati.
"berdasarkan alasan apa engkoh tua mengatakan Tengkorak maut ini adalah tengkorak maut gadungan?"
Setelah termenung sebentar, sianak muda itu berpikir lebih jauh.
"Aaah benar, persoalannya pasti terletak pada kata2 yang tercantum dalam janji antara sutay cou perkumpulannya Song Tiat koay dengan pemilik benteng maut dan Tengkorak maut yang hadir didepan mata pada saat ini sama sekali tak tahu akan persoalan itu"
Sementara ia masih termenung, bayangan hijau berkelebat lewat didepan matanya, dengan suatu jangkauan buas tahu2 Tengkorak maut itu sudah berdiri kurang lebih beberapa tombak dihadapan Pengemis dari selatan.
Menyaksikan datangnya terjangan tersebut, tanpa sadar pengemis dari selatan merasakan badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan cepat ia mundur beberapa langkah kebelakang.
Han Siong Kie tak ingin menyaksikan engkoh tuanya terancam bahaya, buru2 ia enjotkan badan dan ikut meluncur kedepan, dengan suatu gerakan yang manis ia rebut posisi disamping Tengkorak maut tersebut.
Dengan suara yang dingin menyeramkan Tengkorak maut mendengus dingin, serunya.
"Hei pengemis tua, engkau hendak selesaikan dirimu sendiri ataukah aku yang harus turun tangan untukmu?"
Pengemis dari selatan kembali mundur selangkah kebelakang, hardiknya lantang.
"Tengkorak maut engkau telah membunuh anak murid perkumpulan kami dalam kuil Bu hoo ditepi pantai pek swi tan, kemudian membinasakan pula pangcu kami yang baru dikuil sian kong bio."
"Tutup mulut, aku mau tanya kepadamu, engkau hendak turun tangan sendiri ataukah aku yang harus turun tangan bagimu??"
Pengemis dari selatan tertawa seram tiada hentinya.
"Heeehhh heeeehh hheeehh Tengkorak maut, hari kiamatmu telah tiba"
Tengkorak maut mendengus penuh kegusaran, sepasang telapaknya diayun keatas dan telapaknya segera didorong ke arah luar.
Han Siong Kie merasakan hatinya tercekat, ia dapat membuktikan sekarang kalau Tengkorak maut yang hadir dihadapannya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan, tapi berdasarkan apakah engkoh tuanya menuduh kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan?
"Aah benar"
Pikir pemuda itu kemudian "pastilah bangsat tua ini tidak dapat menjawab pertanyaan yang dia ajukan tadi"
Rupanya semaktu Tengkorak maut memutar telapak tangannnya kearah depan itulah Han Siong Kie dapat melihat bahwa sepasang telapak musuhnya ini walaupun satu hitam yang lain putih namun sedikitpun tidak bercahaya, sebaliknya dia masih ingat pemilik benteng maut yang asli mempunyai telapak kiri yang hitam pekat dan bercahaya tajam, sedangkan telapak kanan berwarna putih bagaikan pualam.
Pengemis dari selatan mengalihkan sorot matanya kearah luar dan menyapu kesana kemari dengan hati gelisah, rupanya ia sedang menunggu datangnya bala bantuan-Tiba2 Han Siong Kie membentak keras.
"..Hey harap. tunggu sebentar"
"Bocah keparat, engkau tak usah gelisah lebih dahulu"
Seru Tengkorak maut tanpa berpaling barang sedikitpun jua.
"aku akan mengantar keberangkatan pengemis tua ini lebilh dahulu.."
Sambil berkata sepasang telapaknya digetarkan keras2.
Pengemis dari selatan ayunkan telapaknya, tiba2 ia temukan kalau tenaga dalam yang dimilikinya tak dapat dihimpun kembali, kejadian ini amat mengejutkan hatinya membuat pengemis itu merasakan sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya, dengan muka berubah jadi hijau membesi ia mundur tiga langkah kebelakang.
Tengkorak maut berpekik nyaring, sepasang telapak ditarik dan didorong kearah depan, dua gulung angin pukulan yang amat panas dengan cepat menggulung kearah depan...
Paras muka Pengemis dari selatan berubah pucat pias, ia tak bisa bergerak kecuali menunggu saat kematian bagi diri sendiri Disaat yang amat kritis dan amat berbahaya itulah mendadak dari arah samping menggulung lewat segulung angin pukulan yang maha dahsyat, begitu kerasnya pukulan itu membuat badan pengemis dari selatan terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula dengan nyaris ia berhasil lolos dari gempuran Tengkorak maut yang maha dahsyat dan mengerikan itu.
Orang yang barusan melancarkan serangan bukan lain adalah Malaikat penyakitan ahli waris dari iblis diantara iblis.
Perbuatan malaikat penyakitan melancarkan serangan untuk menyelamatkan jiwanya ini, dengan cepat membuat pengemis dari selatan jadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Dipihak lain dengan penuh kegusaran Tengkorak maut berpaling kearah Han Siong Kie lalun bentaknya.
"Malaikat penyakitan, kalau engkau pingin mampus janganlah bertindak terlalu terburu nafsu"
Dari ucapan ini Han Siong Kie semakin dapat tarik kesimpulan kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah Tengkorak maut yang asli, tapi pemuda itu belum merasa yakin seratus prosen, ia ada maksud untuk mencoba sekali lagi sebelum ambil keputusan.
Sambil tertawa dingin segera serunya kembali.
"Tengkorak maut kemarin malam pukulanmu telah kutukar dengan sebuah totokan jari, secara beruntung kita bisa bertarung dalam keaadaan seimbang, beranikah engkau sambut tiga buah totokan jariku lagi??"
Mendengar seruan tersebut, Tengkorak maut tergetar mundur tiga langkah lebar kebelakang, mukanya tertegun dan tak tahu apa yang musti dijawabi Apa yang diucapkan Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya pembicaraan kosong belaka, tujuannya adalah untuk menyelidiki apakah pihak lawan benar-benar Tengkorak maut yang asli atau bukan, dari sikap yang diperlihatkan pihak lawan, Han Siong Kie pun dapat memastikan kalau pihak lawan adalah Tengkorak Maut gadungan-Tak kuasa lagi ia tertawa ter-bahak2, serunya.
"Haah..haahh..haahh.. saudara, kepandaianmu untuk menyaru sebagai Pemilik benteng maut masih selisih jauh sekali"
Napsu membunuh yang tebal seketika memencarkan keluar dari balik lubang mata di atas kain cadar Tengkorak maut, sambil menyeringai seram ia berseru.
"Bocah keparat, ini hari saat kematianmu sudah tiba"
Sepasang telapak direntangkan kesamping dan pukulan dahsyatpun segera siap dilepaskan-..
Han Siong Kie tak berani memandang rendah pihak lawannya, dengan cepat ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi gempuran lawan.
Pada saat telapak tangannya sedang diangkat ketengah udara itulah, mendadak Tengkorak maut berkelebat kearah depan, sepasang telapaknya bukan menyerang kearah si anak muda itu sebaliknya malah menyerang Pengemis dari selatan yang berada disamping.
Tindakan ini sama sekali berada diluar dugaan Han Siong Kie, untuk menolong sudah tak sempat lagi, ia hanya bisa berdiri menjublak sambil memandang dengan mulut melongo.
Pengemis dari selatan sendiripun tak pernah menduga kalau pihak lawan bakal menggunakan akal selicik itu, sementara ia masih terperangah, angin pukulan telah menerjang tiba dengan hebatnya.
Ditengah dengusan ngeri karena kesakitan, tubuhnya terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, untung tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna sehingga pukulan tersebut tidak sampai merenggut jiwanya.
Setelah roboh terkapar diatis tanah, dengan cepat ia loncat bangun, titik darah kental mengalir keluar dengan derasnya dari ujung bibir menodai jenggotnya yang berwarna putih.
Han Siong Kie benar2 dibuat sangat gusar sekali, tangan kanannya diayun kedepan melepaskan sebuah totokan jari dengan ilmu Tong kim ci yang dilatih dan diselidiki selama hampir empat puluh tahun lamanya oleh iblis diantara iblis itu.
Lima gulung desiran angin tajam disertai desingan yang amat memekikan telinga, secepat sambaran kilat menerjang kedepan-Begitu merasakan keanehan dibalik desiran angin tajam itu, buru2 tengkorak maut menghindar kesamting namun gerakan itu agak terlambat satu tindak.
Segulung desiran angin tajam langsung menghajar lengannya sehingga berlobang, dengan sempoyongan tubuhnya tergetar mundur tiga langkah kebelakang.
jubahnya basah oleh darah segar.
Dengan cepat gembong iblis itu menutup jalan darahnya dan menghentikan aliran darah, sambil tertawa seram serunya.
"Bocah keparat, engkau jangan terkebur lebih dahulu, lihatlah aku akan cabut jiwa anjingmu"
Sembari berkata sepasang telapaknya disentak keluar melepaskan pukulan2 gencar.
sewaktu masih berada dalam benteng mautt tempo hari, dalam gerakan serangan semacam inilah Han Siong Kie kehilangan tenaganya, sekarang setelah menyaksikan pihak lawan menggunakan pula kepandaian seperti itu ia jadi amat terperanjat.
Hawa murninya dengan cepat dikerahkan menembusi seluruh bagian badan namun ia merasa jalan darahnya seakan akan tersumbat oleh sesuatu benda hingga tenaga dalamnya sama sekali tak dapat dikerahkan lagi.
Rasa terperanjat yang dialaminya kali ini benar-benar luar biasa sekali dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia tak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan telah mencapai tingkat yang begitu tinggi, bahkan aliran kepandaian Tengkorak maut yang asli ...
Dalam cemas bercampur mendongkol, sekali lagi ia himpun segenap kekuatan yang di milikinya, kali ini ia berhasil menembusi jalan darahnya yang tersumbat dan hawa murni pun segera menghimpun jadi satu.
"Syukur aku dapat menghimpun kembali tenagaku"
Pikirnya didalam hati.
"Rupanya tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut gadungan masih selisih jauh sekali kalau dibandingkan dengan kepandaian dari Tengkorak maut yang asli.."
Han Siong Kie mengenakan topeng kulit manusia diatas wajahnya, hal ini membuat paras mukanya tetap kaku dan sama sekali tidak mengalami perubahan, begitu Tengkorak maut gadunganpun tak dapat menyelidiki perubahan sikapnya sehabis mengeluarkan kepandaian aneh itu..
Untuk beberapa saat lamammya ia jadi terperangah, gembong iblis itu tak dapat menebak apakah kepandaiannya telah mendatangkan hasil atau tidak..
Dikala ia masih terperangah itulah Han Siong Kie berhasil menghimpun kembali seluruh kekuatan tubuhnya, bila ia lancarkan serangan kilat dalam keadaan begini, niscaya sianak muda itu bakal mati atau paling sedikit terluka parah.
setelah tertegun beberapa saat lamanya, Tengkorak maut menggetarkan sepasang telapaknya kearah depan.
dua gulung angin pukulan berhawa panas dan hawa dingin dengan dahsyatnya meluncur kedepan.
Han Siong Kie segera silangkan telapaknya dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras...
"Blaamm"
Ditengah benturan yang amat dahsyat, kedua belah pihak sama2 terdorong mundur sejauh satu langkah lebar kearah belakang.
Tengkorak maut menb entak keras, ia menerjang maju kedepan, secara beruntun iblis itu melancarkan delapan jurus serangan dahsyat yang semuanya menggunakan jurus2 yang aneh dan tenaga pukulan yang mengerikan hati..
Dibawah desakan dan serangan gencar pihak musuh, Han Siong Kie ketitir hebat sehingga harus mundur delapan langkah dari tempat semula.
Begitu delapan jurus serangan itu sudah berlalu, Han Siong Kie tak mau berdiam diri belaka, ia segera mengembangkun jurus2 serangan dari ilmu telapak Mo mo cianghoat untuk melancarkan serangan balasan-suatu pertarungan yang amat seru dan ramai pun segera berlangsung dengan hebatnya.
Dalam sekejap mata suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, deruan angin pukulan menggulung diempat penjuru membuat pasir dan debu beterbangan diangkasa..
Seperminum teh kemudian, Han Siong Kie mulai terdesak dibawah angin, ia ketitir hebat.
Meskipun ia telah mengembangkan permainan ilmu jari Tong kim ci yang diyakininya, tapi pihak lawanpun telah mengadakan persiapan babkan kepandaian silat yang dipergunakan kian lama kian bertambah hebat hingga memaksa sianak muda itu sama sekali tak dapat berkutik.
Dua puluh jurus kembali sudah lewat, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Han Siong Kie, ia mulai terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya.
Pengemis dari selatan yang berada disisi kalangan meskipun pernah menerima budi pertolongan dari Han Siong Kie, namun dalam keadaan begini ia sama sekali tak bertenaga untuk memberi pertolongan, pengemis tua itu hanya dapat mengikuti jalannya pertempuran dengan hati amat gelisah.
Kini, Han Siong Kie sudah didesak hingga terpaksa harus mengubah taktik penyerangannya jadi posisi bertahan, kemudian ia sudah kerahkan segenap kesaktian jurus Mo-mo ciang hoat dalam bagian bertahan, namun ia masih tetap gagal untuk menutup rapat seluruh pertahanan tubuhnya secara sempurna.
Pemuda itu dapat menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut ternyata jauh lebih tinggi satu kali lipat jika dibandingkan dengan Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing.
Ditengah suatu bentakan keras, tiba2 terdengar seseorang mendengus berat.
Han Siong Kie kena dihajar dadanya secara telak hingga tubuhnya mundur delapan depa kebelakang, hampir saja ia muntahkan darah segar.
Tengkorak maut bersuit nyaring, sekali lagi tubuhnya menerjang maju kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibarat tindihan sebuah bukit Tay-san langsung menggulung kearah tubuhnya dengan amat hebat dan dahsyat.
Han Siong Kie menggigit bibir kencang2, dia himpun segenap kekuataa yang dimilikinya untuk menangkis datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Benturan dahsyat yang amat memekikan telinga bergelegar ditengah udara, Han Siong Kie sambil memuntahkan darah segar segera roboh tarkapar keatas tanah.
Tengkorak maut tertawa seram, dengan suatu sambaran kilat yang amat dahsyat ia cengkeram kearah pinggang Han Siong Kie, rupanya tujuan dari penyerangan itu bukan lain adalah untuk merebut kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu.
Mendadak....serentetan bentakan nyaring berkumandang datang dari kejauhan-"Tengkorak maut engkau berani melukai orang?"
Segulung desiran angin tajam yang amat aneh tahu2 meluncur kedepan dan menyapu kesekeliling gelanggang.
Han Siong Kie seketika itu juga merasakan pinggangnya jadi kencang dan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itupun sudah berpindah tangan dari sakunya kedalam genggaman Tengkorak maut.
Pada saat yang bersamaan pula Tengkorak maut meluncur kebelakang dan mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.
Gulungan angin aneh itu tidak berhenti sampai disitu saja, tubuh Han Siong Kie kena digulung sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, tak tahan sianak muda itu kembali muntahkan darah segar dari ujung bibirnya.
Dalampada itu ditengah gelanggang telah bertambah dengan seorang dara muda yang berwajah sangat cantik.
Terdengar pengemis dari selatan dengan napas ter-engah2 berseru nyaring.
"Nona, kedatanganmu terlambat satu tindak, dimanakah kakekmu? kenapa tidak kelihatan?"
Dengan perasaan minta maaf gadis cantik itu melirik sekejap kearah pengemis dari selatan, kemudian jawabnya.
"Karena ada urusan yang sangat penting, kakekku tak dapat datang sendiri kemari, karena itu beliau memerintahkan siau titli untuk mewakili dirinya datang kesini"
Bicara sampai disitu, gadis cantik itu kembali putar telapaknya satu lingkaran dengan gerakan yang sangat aneh, segulung angin berpusing yang sangat aneh segera menerjang kearah Tengkorak maut.
Menyaksikan datangnya ancaman itu, gembong iblis tersebut dengan cepat menyingkir kesamping, setelah melotot sekejap kearah gadis cantik itu dengan pandangan penuh kebencian, ia mendengarkan suara pekikan panjang yang menyeramkan, sekali enjot badan sambil menyambar kepala tengkorak berwarna merah derah itu secepat kilat ia kabur dari tempat itu.
Gerakan tubuhnya benar2 cepat sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata2.
Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, tetapi setelah menyaksikan keadaan disekitarnya ia nampak terperangah dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Ternyata gadis muda yang baru saja menyelamatkan jiwanya bukan lain adalah Go Siau Bi yang pernah ditolong olehnya dan hampir saja menikah dengan dirinya atas praksasa dari orang yang kehilangan sukma.
Ia tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Go siau Bi, sungguh tak disangka olehnya hanya terpisah selama beberapa hari saja ternyata ia telah berubah jadi seorang yang lain .
Lalu siapakah kakeknya?
Kenapa Tengkorak maut melarikan diri setelah bertemu dengan gadis cantik ini?
Pemuda itu sadar, andai kata GO Siau Bi tidak datang tepat pada saatnya, Tengkorak maut gadungan tak nanti akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, bahkan Pengemis dari selatanpun akan mengalami nasib yang sama pula.
Karena itu dari temgat kejauhan ia segera menjura kearah Go siau Bi sambil berseru.
"Nona, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang kau berikan kepadaku."
Go siau Bi tertawa tawa.
"Siauhiap tak usah berterima kasih kepadaku, sebab akupun pernah menerima budi kebaikan darimu"
Tentu saja gadis cantik ini mimpipun tidak menyangka kalau pemuda berwajah penyakitan yang berada dihadapannya sekarang, bukan lain adalah pujaan hatinya "Manusia berwajah dingin Han Siong Kie"
Adanya, tapi sianak muda itu mengetahui dengan cepat bahwa ia telah berhutang budi kepada dara tersebut. sekali lagi Go siau Bi berkata dengan lembut.
"Luka yang sauhiap derita cukup parah, terimalah obat penyembuh dari kakek yang amat mujarab ini agar engkau cepat sehat kembali ...."
Han Siong Kie tertawa angkuh, dengan nada amat dingin ia menukas perkataan lawannya.
"Maksud baik nona biarlah kuterima di dalam hati saja, luka sekecil ini masih bukan suatu persoalan bagiku"
Go Siau Bi tidak banyak bicara lagi, ia segera berpaling kearah pengemis dari selatan sambil berseru.
"Locianpwee, siau li ingin mohon diri lebih dahulu"
Seraya berkata ia memberi hormat, kemudian kepada Han Siong Kie dia berseru pula.
"Selamat tinggal"
Sekali enjot badan tubuhnya segera melesat dari sana dan lenyap dibalik pepohonan, kecepatan gerakan tubuhnya begitu luar biasa sehingga tak kalah hebatnya dengan Tengkorak maut gadungan.
Memandang hingga bayangan punggungnya lenyap dari pandangan, diam2 Han Siong Kie merasakan hatinya kesal, tanpa sadar ia menghela napas panjang.
Sementara itu sepeninggal Go siau Bi, pengemis dari selatan kembali berpaling ke arah Han Siong Kie sambil berkata.
"Hey bocah muda, jembatan tetap jembatan, jalan raya tetap jalan raya, meskipun engkau telah melepaskan budi pertolongan kepadaku yang tak akan kulupakan untuk selamanya, tapi aku masih letap akan menagih hutang piutang antara gurumu dengan perkumpulan kami di masa yang silam !"
Has Siong Kie tidak langsung menjawab, sebaliknya hanya berpikir dalam hatinya.
"..Kalau aku sampai unjukkan paras asliku dalam keadaan demikian tak mungkin engkoh tuaku akan mengesampingkan urusan perkumpulan karena hubungannya dengan aku sudah tentu akupun tak dapat berdiam diri belaka terhadap urusan dari suhu. Sekarang persoalan yang paling penting adalah apa sebabnya suhu melakukan pembantaian dimasa silam ? perbuatan itu dilakukan karena desakan dari kemauan sendiri ataukah karena ada alasan tertentu ?"
Setelah berpikir lebih jauh, ia merasa persoalan ini baru dapat dibikin jelas seandainya telah bertemu dengan gurunya nanti apalagi usia gurunya tinggal beberapa hari saja.
niscaya hutang piutang itu akhirnya akan jatuh keatas pundaknya.
Berpikir sampai disitu, ia merasa lebih baik untuk menyimpan rabasia ini untuk sementara wsktu, sembari menjura katanya.
"Locianpwee, bagaimana kalau kita tetap dengan pembicaraan semula, selewatnya hari ini aku pasti akan berkunjung sendiri ke perkumpulan anda untuk memberi pertanggungan jawab?"
"Engkau akan datang sendiri untuk memberikan pertanggungan jawab?"
Tegur Pengemis dari selatan dangan alis mata melentik.
"Ucapanmu tepat sekali!"
"Siapa yang berhutang dialah yang harus membayar, sekalipun murid barus menanggung hasil perbuatan dari gurunya, tapi bagaimanapun juga,. ."
"Tentang soal ini dikemudian hari aku pasti akan memberi penjelasan yaig seterang2 nya."
"Baik. kita tentukan begitu saja, untuk kali ini aku bersedia untuk msmpercayai perkataanmu."
Dalam hati kecil Han Siong Kie terdapat banyak masalah rumit yang mencurigakan hatinya, namun dalam keadaan demikian ia merasa tak leluasa buka mulut, setelah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya kemudian sambil keraskan kepala la berkata.
"Locianpwee, kalau kita kesampingkan masalah dendam atau sakit hati antara perguruan, apakah engkau bersedia untuk menjawab beberapa buah pertanyaanku?"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya.
"coba katakanlah"
"Kedatangan locianpwee pada saat ini adalah khusus untuk mencari satroni dengan diriku, ataukah karena Tengkorak gadungan tersebut?"
"Bocah muda, aku pengemis tua mendapat laporan dari anak buahku tentang kehadiran-mu disini, karena itu maksud tujuan dari kedatanganku adalah untuk mencari engkau"
"Apakah locianpwee tahu kalau tengkorak maut gadungan bakal munculkan diri?"
"Tidak, peristiwa ini sama sekali diluar dugaanku " -ooodowooo-BAB 32
"KALAU peristiwa ini memang sama sekali berada diluar dugaanmu, apa sebabnya ketika locianpwee sedang diancam oleh Tengkorak maut gadungan tadi, aku lihat se-akan2 engkau sedang menantikan kedatangan seseorang?"
Desak Han Siong Kie lebih jauh.
"Bocah muda, ketajaman matamu benar2 luar biasa sekali, aku pengemis tua memang sedang menantikan kemunculan seseorang?"
"Siapakah orang itu??"
"Put-lo sianseng."
"Apa? Put lo sianseng...?"
Tanya Han Siong Kie dengan perasaan bergetar keras.
"Perkataanmu tak keliru, apakah engkau pernah mendengar dari jago persilatan ini."
"Dua hari berselang, secara kebetulan aku pernah berjumpa satu kali dengan dirinya..."
"Oooh kiranya begitu"
"Locianpwee"
Ujar Han Siong Kie lagi setelah termenung beberapa saat lamanya.
"Darimana engkau bisa mengatakan jika tengkorak maut tersebut adalah tengkorak maut gadungan?"
"Tentang soal ini..suatu kali aku pengemis tua serta sahabat karibku padri dari utara hampir saja menemui ajalnya ditangan iblis tersebut, kemudian susiokku Seng tat koay tiba2 munculkan diri dan membuat ia jadi kaget hingga kabur, waktu itu aku sudah curiga kalau dia adalah manusia gadungan, sebab kalau pemilik benteng maut pribadi yang kami hadapi, tak mungkin dia bakalan kabur sebelum bertempur, setelah peristswa itu paman guruku berkunjung sendiri kebenteng maut untuk bikin terang duduknya persoalan, dan dari perkataanku tadi yang sengaja kuutarakan keluar ternyata bangsat itu memperlihatkan asalnya.." . Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan song Tiat-koay sewaktu ia menanyakan soal Tengkorak maut kepadanya tempo hari, ia tertawa tergelak sambil berlalu, katanya selama ini dia tak akan munculkan diri kembali dalam dunia persilatan dan keadaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwasanya pengemis itu sudah menderita kerugian besar didalam benteng maut, tentu saja perkataan semacam ini tidak sampai diutarakan keluar pada saat ini. Pokok pembicaraanpun segera dialihkan kemasalah lain, katanya.
"Mengapa Tengkorak maut gadungan melarikan diri terbirit2 setelah kemunculan nona Go siau Bi tadi ?"
"Mungkin ia agak jeri terhadap nama besar kakeknya"
"Siapa sih kakeknya?"
"Put-loo sianseng"
"Oooh kiranya begitu.."
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebabnya dalam beberapa hari yang amat singkat Go siau Bi telah berubah jadi seseorang yang lain, bahkan tenaga dalamnya peroleh kemajuan yang sangat pesat, tak tahunya dia adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng, manusia sakti dari dunia persilatan-Sementara sianak muda itu masih termenung, pengemis dari selatan telah bertanya kembali.
"Bocah muda, apakah engkau masih ada pertanyaan lain yang hendak kau ajukan kepadaku?"
"Sebenarnya Han Siong Kie hendak minta bantuan dari engkoh tuanya tni untuk menurunkan perintah kepada anak buahnya dan bantu dia untuk menemukan jejak Tonghong Hui, tapi setelah teringat bahwa saat itu dia muncul dengan muka lain dan tak mungkin baginya untuk buka suara, terpaksa ia cuma berkata.
"Terima kasih banyak atas petunjuk dari locianpwee, selamat berpisah dan sampai jumpa lagi dilain waktu"
"Jangan lupa, ada pengemis tua selalu menantikan kabar berita dari kalian guru dan murid"
Seru Pengemis dari selatan menegaskan.
"Aku tak akan mengingkari janji, beberapa hari kemudian aku pasti sudah berkunjung kemarkas besar kalian"
Selesai berkata, ia enjotkan badan meluncur keluar dari hutan dan melayang kearah jalan raya.
Sekarang perasaan hatinya bertambah berat, ia merasa se akan2 telah memikul beberapa beban yang lebih berat lagi.
Musuh besar gurunya tersebar dimana-mana bagaimanakah caranya untuk menyelesaikan semua pertikaian itu dikemudian hari??
Manusia macam apakah Tengkorak maut gadungan itu?
kenapa ia hendak mencatut dari nama Tengkorak maut?
dengan kedudukan dan kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng maut, apa sebabnya ia hanya berpeluk tangan belaka tanpa ada maksud untuk membikin terang duduknya persoalan?
apa lagi aliran ilmu silat yang mereka miliki rupanya berasal dari satu sumber yang sama ....
Setelah kemunculan tengkorak maut gadungan, lalu musuh besar pembunuh keluarganya adalah Tengkorak maut yang asli ataukah tengkorak maut gadungan??
Kitab pusaka Hud jin Poo pit sudah dirampas oleh Tengkorak maut gadungan untuk merebutnya kembali jelas merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit..
Teringat akan kitab pusaka hud jiu Poo pit itu, perasaan hatinya jadi murung bercampur sedih, sebab andaikata pusaka itu tak dapat direbut kembali maka ia tak akan berhasil melatih kepandaian silat yang lihay, itu berarti pula semua harapannya akan musnah bagaikan asap yang menguap, karena baik terhadap Tengkorak maut asli maupun terhadap Tengkorak maut gadungan, ia masih bukan tandingannya semua.
Makin berpikir ia merasa makin murung, dan kacau pikirannya.
Akhirnya ia ambil keputusan untuk segera kembali dulu untuk menjumpai gurunya, dalam hati ia berdoa dan berharap agar dalam beberapa hari belakangan ini gurunya tidak sampai mengalami kejadian yang sama sekali diluar dugaan.
Siang malam tak hentinya ia melakukan perjalanan cepat, ketika fajar baru menyingsing menjelang hari ketiga, akhirnya sampailah pemuda itu ditengah hutan dimana Iblis diantara iblis berdiam.
Batu besar yang menyumbat mulut gua itu masih tetap berada ditempat semula, sedikit banyak pemuda itu merasa hatinya agak lega...
Tapi ingatan lain kembali berkelebat dalam benaknya membuat ia jadi ragu2 untuk mendorong batu besar itu kesamping, sebab perjalanannya kebenteng maut kali ini hanya membawa kekecewaan belaka, gurunya sudah empat puluh tahun berlatih diri hingga badannya cacad dan jiwanya terancam maut akibat tenaga dalamnya telah disalurkan kedalam tubuhnya, apa yang diharapkan hanya mendengar hasil laporan dari mulutnya, apakah ia tega membuat orang tua itu merasa kecewa ?
membuat dia menyesal untuk selamanya?
Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, jantung mulai berdebar dengan kerasnya, ia tak dapat ambil keputusan bagaimana caranya untuk mengatasi persoalan ini?
sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya, pemuda itupun mantapkan hati dan segera menggeser hatu cadas tersebut dan masuk keruang bawah tanah.
"Siapa?"
Teguran yang lirih, lemah dan sama sekali tak bertenaga berkumandang dari balik ruang gua. Han Siong Kie meras akan hatinya jadi kecut dan sedih sekali, buru2 jawabnya.
"Suhu, tecu telah kembali"
Sambil menjawab pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya masuk kedalam ruangan, ia lihat gurunya Iblis diantara iblis sedang bersandar diatas dinding gua dengan badan yang lemas tak bertenaga, sepasang matanya yang sayu dan tak bersinar terbelalak lebar2, pancaran mukanya penuh mengandung perasaan pengharapan.
Han Siong Kie segera memburu maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan gurunya.
"Nak, bagaimana dengan hasil perjalananmu kali ini?"
Tanya iblis diantara iblis dengan suara lemah. Han Siong Kiem merasakan jantungnya berdebar keras dan perasaan hatinya tercekat.
"suhu.."
Otot2 hijau pada menonjol keluar dari atas wajah iblis diantara iblis, ia segera mencengkeram bahu Han Siong Kie dan menggoncangkannya keras2 sambil berseru.
"Bagaimana hasilnya? ayoh cepat jawab"
"Seperti apa yang suhu titahkan, tecu telah masuk kedalam benteng maut dan menantang Tengkorak maut untuk berduel."
"Cepat katakan bagaimana akhir pertarungan itu? ilmu jari Tong kim ci ilmu Tong kim-ci bagaimana hasilnya??"
"Ketika tecu mengeluarkan ilmu jari Tong kim ci, tubuh pihak lawan segera bergetar keras dan mendengus berat, rupanya ia sudah menderita luka."
"Haaah haaahh hhaaahhh ia terluka ? coba ulangi sekali lagi "
"Ia sudah terluka, cuma ...."
"Cukup anakku cukup, ia sudah terluka haaahh haaahhh hhaaaahhhh"
Sambil tertawa keras bagaikan orang kalap Mo tiong ci mo iblis diantara iblis bersandar kembali keatas dinding gua, paras mukanya kian lama kian berubah hebat.
Kata2 selanjutnya tak mampu diutarakan keluar oleh Han Siong Kie, ia tak tega menyaksikan kakek tua itu mati dengan menanggung kecewa, dalam keadaan begini ia harus membohongi dirinya dan pemuda itupun tidak melanjutlan kembali kata2nya.
"Benar suhu"
Sahutnya dengan kaku.
"Dan.. pemilik benteng maut telah terluka oleh totokan ilmu jari Tong kim ci ku..."
Napas iblis diantara iblis mulai memburu dengan cepatnya, kabut putih mulai menyelimuti biji matanya. Menyaksikan keadaan itu Han Siong Kie jadi amat terperanjat, tak tertahan lagi ia menjerit keras.
"suhu. suhu.. kau..."
"Aku..aku.. aku merasa sangat puas"
Gumam iblis diantara iblis bagaikan orang mengigau.
Kepalanya miring kesamping, matanya tertutup rapat dan kakek tua yang pernah menggetarkan sungai telaga ini menghembuskan napasnya yang penghabisan-Han Siong Kie tak dapat menahan rasa pedihnya lagi, ia menangis ter sedu2, meskipun hubungan mereka sebagai guru dan murid belum berlangsung lama, tapi apa yang dilimpahkan iblis diantara lbiis kepadanya sudah cukup untuk membekali masa hidup selanjutnya..
Lama...
lama sekali ia baru berhenti menangis, sambil berlutut dan menyembah layon gurunya ia berbisik.
"Oooh suhu, tecu telah membohongi engkau orang tua, harap engkau suka memafkan kesalahanku ini, tapi tecu berjanji, suatu hari tecu pasti akan benar2 mengalahkan pemilik benteng maut untuk menghibur arwah suhu dialam baka"
Selesai berdoa pemuda itu bangkit berdiri. Mendadak.. ia temukan disamping jenasah gurunya tergeletak se
Jilid kitab kecil di atas kitab kecil itu terletak sebuah tanda pengenal sebesar setengah telapak yang terbuat dari perak, karena sinar yang gemeriapan dengan perasaan keheranan pemuda itu segera pungut benda itu dari tanah.
Pada permukaan tanda pengenal itu terukiriah seraut wajah setan yang bermuka bengis, tapi karena aus dimakan waktu pinggiran serta garis ukiran muka setan itu sudah banyak yang samar dan rusak.
Ketika ia membalik tanda pengenal itu ke permukaan yang lain, tiba2 saja serentetan cahaya yang amat menyilaukan mata memancar keempat penjuru dan menerangi seluruh bagian dari ruangan itu.
Han Siong Kie merasa amat terperanjat ketika diamati lebih seksama maka ditemuilah di tengah permukaan tanda pengenal terpancang sebutir mutiara sebesar buah kelengkeng, disekitar mutiara terukir beberapa huruf yang berbunyi.
"Tanda pengenal mutiara setan bengis benda mestika dari istana"
Dengan perasaan tak habis mengerti Han Siong Kie gelengkan kepalanya berulang kali, tanda pengenal mutiara setan bengis sudah pasti adalah nama dari tanda pengenal itu, tapi apa maksud dari kata yang berbunyi benda mustika dari istana, istana apa yang dimaksudkan ....
istana kaisar ?
istana raja muda...
Kenapa suhunya menyimpan benda seperti ini?
Dengan perasaan keheranan ia ambil kitab kecil itu dan dibaca, pada halaman pertama terteralah huruf yang berbunyi.
"Kitab Catatan budi dan dendam dari Mo mo Cungcu"
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, kitab tersebut sudah pasti tercantum rahasia hidup dari gurunya, ia numpuk benda itu bersamaan dengan tanda pengenal mutiara setan bengis, itu berarti gurunya mengandung maksud yang sangat dalam, ia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk memikul semua resiko dan tanggung jawab atas budi dan dendam suhunya selama masih hidup dan sekarang benda tersebut di letakkan disitu, itu berarti gurunya memang sengaja meninggalkannya untuk dia lihat..
Berpikir sampai disitu, pemuda itu mulai membalikkan lembaran berikutnya, terbaca olehnya kitab itu penuh berisikan tulisan2 kecil yang rumit dan rapat, warna merah yang menyiarkan bau amis tersiar keluar dari balik kitab itu, sebagai seorang pemuda yang cerdik, Han Siong Kie segera dapat menduga kalau tulisan itu tentulah ditulis oleh gurunya belum lama berselang dengan menggunakan darah badannya.
Ternyata apa yang diduga sedikitpun tak salah, terbaca olehnya tulisan itu berbunyi demikian.
"Tulisan ini ditujukan buat muridku. Gurumu bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong yang berada diwilayah Thian lam ....."
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar sangat keras, ia tak mengira kalau suhunya bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong, tak aneh kalau para pengawal istana Huan mo kiong segera kenali perguruannya dan menanyakan jejak dari gurunya setelah mengenali permainan ilmu telapaknya .....
" -00d000w00-
Jilid 16 KEMBALI pemuda itu melanjutkan pembacaannya atas surat tersebut.
"Empat puluh lima tahun berselang, aku masuk kedaratan Tionggoan tapi karena menderita kalah ditangan Pemilik benteng maut, maka aku tak pernah kembali lagi kewilayah Thian-lam, oleh sebab itu dengan surat ini kuperintahkan kepadamu untuk meneruskan jabatanku sebagai kaisar Tee kun angkatan ke empat belas dari istana Huan mo kiong.."
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras karena emosi yang sukar dilukiskan, suhu memerintahkan dirinya untuk meneruskan jabatannya sebagai kaisar istana Huan mo kiong, tapi..
belum lama berselang dari mulut para pengawal istana baju hijau ia sempat mendengar kalau istana Huan mo kiong telah mempunyai seorang ketua baru, dan rombongan pengawal itu sedang melaksanakan perintah dari kaisarnya untuk masuk daratan Tionggoan mencari hawa perawan gadis persilatan, dari sini dapatlah diduga bahwa selama puluhan tahun gurunya tak pernah kembali kewilayah Thian-lam, disitu telah terjadi banyak perubahan besar ....
Setelah berpikir sebentar, ia membaca lagi isi surat itu.
"Apa yang barusan kukatakan merupakan suatu perintah yang tak boleh dibantah, tanda pengenal mutiara setan bengis merupakan tanda kekuasaan dari perguruan, dan benda itu hanya dimiliki oleh seorang ketua perguruan belaka."
Kembali Han Siong Kie merasakan hatinya terperangah, kalau toh untuk memimpin perguruan diwilayah Thian lam itu seorang ketua harus memiliki tanda pengenal mutiara setan bengis, lalu dengan tanda pengenal apakah kaisar Tee Kun yang berkuasa diistana huan mo kiong pada saat ini naik tahta?
Dengan penuh kebingungan ia gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian lanjutkan kembali membaca isi surat itu.
"Tanda pengeral mutiara setan bengis merupakan tanda pengenal yang diwariskan cousu perguruan kami, barang siapa yang jadi anggota perguruan Thian lam harus berlutut bila bertemu dengan benda ini, barang siapa berani membangkang perintah ini berarti ia hendak melenyapkan perguruan dan menghina cousu, orang itu harus dihukum mati ."
Membaca sampai disini tak kuasa lagi Han Siong Kie menelan air ludahnya, ia membaca lebih jauh.
"Mutiara dibalik permukaan tanda pengenal ini merupakan mutiara yang amat tersohor dinegeri Persia, keistimewaannya jika disaluri hawa murni maka pantulan cahaya yang memancarkan keluar akan melumpuhkan kesadaran otak pihak lawan, tapi berhubung selama ini aku selalu mengandalkan kekuatanku untuk menghadapi lawan, maka keampuhan tersebut belum pernah kucoba.."
Dari perkataan ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa lblis diantara iblis adalah seorang manusia yang jujur dan pandekar sejati.
Tanpa sadar rasa hormat dan kagum Han Siong Kie terhadap gurunya semakin menebal satu tingkat.
Terbaca olehnya kata2 selanjutnya berbunyi demikian.
"Ingatlah baik2.
dalam perguruan kita terdapat sejenis ilmu sesat yang bernama Tui bun kang, jika pukulan itu dilepaskan maka settap korban yang berada didaerab seluas lima lombak pasti akan mati konyol tanpa bisa ditolong.
Tapi berhubung kepandaian ini barus dilatih dari gabungan hawa murni yang dilatih sendiri dengan sari perawan seratus orang gadis muda yang pernah belajar ilmu silatdan kekejian dari ilmu ini luar biasa sekali, maka cousu angkatan kedelapan telah menurunkan perintah untuk melarang setiap anggota perguruan untuk mempelajari kepandaiao ini, siapa berani melanggar harus mati, Tulisan darah dari .Tong Ceng Setelah membaca surat itu, Han Sion gKie baru mengerti apa maksud dan tujuan para pengawal istana Huan mo kiong dikirim ke daratan Tionggoan untuk menangkap gadis2 perawaD yang belajar silat.
Sebagai seorang ahli waris dari perguruan Thian-lam yang diperintahkan gurunya untuk meneruskan kedudukannya sebagai kaisar istana Huan mo-kiong sudah tentu Han Siong Kie tak ingin menyaksikan perbuatan yang melanggar peraturan perguruan itu di lakukan terus.
selama itu pemuda itupun sadar andaikata kepandaian sesat semacam ini berhasil dilatih hingga sempurna niscaya banyak orang persilatan yang akan menemui ajalnya ditangan mereka.
Berpikir sampai disitu, sianak muda itu segera membatin kembali.
"Aku harus mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk mencegah perbuatan yang tak kenal peri kemanusiaan ini berlangsung hingga ber-larut2, selain itu aku pun hendak menyelidiki dengan andalkan apakah kaisar yang sekarang menjabat kcdudukan sebagai seorang ciangbunjin."
Dengan penuh rasa hormat berlututlah pemuda itu dihadapan jenasah gurunya. setelah menyembah dengan rasa sedih ia berbisik .
"Tecu bersumpah akan melaksanakan pesan terakbir dari suhu untuk membangun kembali perguruan Thian-lam dan membasmi kanm durjana dari tubuh perguruan!"
Maka ia berikan tubuh suhunya iblis di antara iblis tepat ditengah ruangan, pikirnya lagi.
"Liang tanah ini merupakan tempat yang paling pantas untuk mengubur jenasah suhu, bila mulut gua kututup kemudian kudirikan batu nisan, bukankah urusan sudah beres..?"
Setelah ambil keputusan dalam hati kecilnya, ia periksa kembali sekeliling liang tanah itu dengan seksama, setelah yakin kalau disitu tak ada benda yang berharga lagi, ia tatap raut wajah gurunya untuk terakhir kalinya, tak kuasa air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya.
Beberapa waktu kemudian Han Siong Kie menyimpan tanda pengenal mutiara setan bengis itu kedalam sakunya, kemudian membuka kembali kitab catatan budi dan dendam dari Mo mo cungcu.
Pada halaman pertama berisikan catatan mengenai riwayat hidupnya serta semua perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya.
Setelah memeriksa halaman pertama, tanpa terasa sorot mata yang tajam melotot keluar dari balik mata si anak muda itu, sekarang ia tak usah kuatir menghadapi orang-orang yang datang mencari balas dengan dirinya tapi terutama sekali terhadap engkoh tuanya pengemis dari selatan, sekarang ia dapat memberi pertanggungan jawab yang sebenarnya.
Apa yang diucapkan gurunya sama sekali tidak salah, semua orang yang dibunuh olehnya semasa masih hidup merupakan orang2 yang memang patut dibunuh, sebab mereka punya cukup alasan yang kuat untuk menerima kematiannya.
Selain itu pemuda itupan merasakan susahnya untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah bagi umat persilatan, sebab dengan tingkah laku dari gurunya yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, ternyata diberi julukan sebagai Iblis diantara iblis, tindakan ini benar2 sangat tidak adil.
Setelah termenung beberapa waktu lamanya, pemuda itu baru merangkak keluar dari dalam liang dan menutup mulut gua tersebut dengan sebuah batu cadas yang amat besar, kemudian dengan ilmu jarinya ia mengukir beberapa huruf diatas batu besar itu.
"Disinilah Mo mo cuncu Tong Ceng kaisar angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong dimakamkan"
Dibawah ukiran tersebut tercantum pula beberapa huruf yang berbunyi.
"Didirikan oleh tecu Han Siong Kie"
Selesai mengukir tulisan tersebut, pemuda itu mengamati kembali tulisan tersebut beberapa saat kemudian baruputar badan siap meninggalkan tempat itu.
Tiba2 desiran angin tajam menyambar lewat dari kejauhan, tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur masuk kedalam hutan.
Diam2 Han Siong Kie merasa amat terperanjat, perlahan2 ia putar badan dan alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, tapi begitu meugetahui siapa yang telah datang, darah panas dalam dadanya kontan mendidih, hawa napsu membunuh yang sangat tebalpun menyelimuti seluruh wajahnya.
Ternyata orang yang barusan datang itu bukan lain adalah sau kaucu dari perkumpulan Thian Che kau serta dua orang kakak berbaju kuning..
Ia tatap kembali salah seorang diantara dua kakek baju kuning yang bermata tunggal itu bernama Koan thian san atau Malaikat pangaet langit Ci Chong, sebab ketika ia tertangkap dan hendak dijatuhkan hukuman mati tempo hari, orang ini bertindak sebagai salah seorang pengawas pelaksana hukuman diantara empat orang lainnya.
Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie menyapu sekejap wajah tiga orong itu, kemudian pandangannya yang dingin dan ketus berhenti diatas wajah ketua muda dari perkumpulan Thian Che kau.
Dalam pada itu ketiga orang tersebut telah alihkan pula sorot matanya keatas batu nisan tersebut, sementara paras mukanya seketika berubab hebat, orang2 itu nampak begitu terkesiap dan kaget.
"Han Siong Kie... Han Siong Kie... Han Siong Kie."
Gumam ketua muda perkumpulan Thian che-kau tiada hentinya. Tiba2 ia mundur satu langkah lebar kebelakang, sambil menuding kearah sianak muda itu serunya lebih jauh.
"Engkau adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis??"
"Tebakanmu sangat tepat"
"Dan engkau juga bernama Han Siong Kie?"
"Ada apa??"
"Kenapa engkau punya nama marga yang sama dengan Manusia berwajah dingin??"
Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeh heeehh heeeehh kalau namaku sama dengan nama dari manusia berwajah dingin, lantas engkau mau apa??"
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau sudah terbiasa angkuh dan sombong, mendengar perkataan itu air mukanya kontan berubah jadi dingin menyeramkan, tegurnya.
"Tahukah engkau tempat apakah ini? "
"Hutan belantara yang jauh dari keramaian kau anggap tempat apakah ini?"
"Hmm lima puluh li disekitar markas besar perkumpulan kami merupakan daerah terlarang, umat persilatan dari manapUn juga tidak diperkenankan menginjakkan kakinya ditempat ini secara sembarangan... mengerti? "
Dengan penuh penghinaan Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmm seandainya aku berkeliaran disini, kalian mau apa?"
"Mau apa?? Huuh.. nyawamu akan kami renggut"
"Haahh..haahh. haahh.. anjing cilik, engkau benar2 seorang manusia yang tak tahu diri, kematian sih sudah berada diambang pintu namun masih belum merasa"
Makian sebagai "anjing cilik"
Itu sangat menggusarkan hati sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, paras mukanya berubah hebat dan hawa napsu membunuhpun seketika berkobar menyelimuti seluruh wajahnya.
Dua orang pelindung hukum baju kuning itupun keihatan sangat gusar, air muka mereka berubah hebat.
"Heehh... heehh heehh... malaikat penyakitan"
Seru sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, sambil tertawa seram,"
Aku akan bikin mampus dirimu lebih dahulu sebelum menggali kuburan ini"
Han Siong Kie naik pitam, hawa amarah yang berkobar dalam dadanya hampir saja sukar dikendalikan lagi, sinar matanya berapi2 dan mukanya menyeringai bengis, dengan suara berat ia berseru.
"Kalau engkau berani merusak atau mengganggu kuburan guruku, maka aku orang she Han akan basmi semua anggota perkumpulan Thian che kau secara keji"
Mendengar ancaman yang sangat mengerikan dan mendirikan bulu roma itu sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta dua orang kakek baju kuning itu nampak amat terkesiap hingga sekujur badannya gemetar keras, ancaman yang diutarakan oleh ahli waris iblis diantara iblis tak dapat di anggap sebagai satu gertak sambal belaka.
Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan peristiwa yang berlangsung belum lama berselang.
ketika ia ditangkap oleh ibunya yang kejam bagaikan ular dalam wilayah Liau huan tau serta dijebloskan kedalam penjara batu, pada saat itu ia pernah dihajar oleh sau kancu ini hingga muntah darah segar, andaikata ia tidak menggunakan ilmu Ku si tay hoat untuk pura2 mati kemudian mendapat bantuan pula dari orang yang kehilangan sukma serta putrinya niscaya ia sudah mati secara mengerikan.
Benci, rasa benci yang berlipat ganda menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Ayahnya telah mati dibunuh, keluarganya telah musnah dibantai orang, dan ibunya kawin lagi.
Ibunya telah kawin kembali dengan Thian che kaucu, bahkan hendak membinasakan pula dirinya, sementara ketua muda yang berada dihadapannya menyebut ibunya say sianggo atau siang go cantik ong cui Ing sebagai ibunya pula, itu berarti pemuda itu adalah anak jadahnya.
"Aku harus bunuh bangsat anak jadah ini"
Teriak Han Siong Kie dalam hati kecilnya, ia benci kepada ibunya, benci pula kepada saudara seibu lain ayah ini. Perlahan2 ia maju kedepan, sambil menggigit bibir teriaknya keras2.
"Bangsat cilik, akan kubunuh dirimu"
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu terperangah, kemudian sambil tertawa seram sahutnya.
"Malaikat penyakitan,perkataan semacam ini lebih baik katakanlah sesudah berada di alam baka nanti"
Han Siong Kie mendengus dingin, per-lahan2 ia menggerakkan tangannya dan melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya..
"Manusia bermuka dingin"
Tiga orang jago persilatan itu sama2 menjerit kaget.
Paras muka Malaikat pengamat langit ci Chong berkerut kencang, matanya yang tunggal memancarkan sinar penuh rasa kaget dan terkesiap.
ketika melaksanakan hukumam mati tempo dulu ia, bertindak sebagai pengawas, dan kini kenyataan membuktikan bahwa Manusia bermuka dingin masih hidup, tentu saja orang itu jadi terkesiap dan kaget luar biasa.
"Engkau belum mampus..?"
Teriaknya tanpa sadar.
"Perkataanmu tak salah, aku memang belum mati"
Secara beruntun ketua muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah lebat kebelakang, dengan rasa kaget yang tak terkirakan ia ikut menegur.
"Sebenarnya engkau manusia atau setan?"
"Haaaah haaahh haaahh bangsat cilik, engkau tak pernah menyangka bukan? aku adalah manusia"
Ketua muda perkumpulan Thian che kau berusaha keras untuk menekan pergolakan hatinya, kemudian ia berseru.
"Manusia bermuka dingin, engkau masih tetap ingin jadi setan??"
Hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie sepatah demi sepatah serunya.
"Anjing cilik, dalam satu jurus aku hendak cabut jiwa anjingmu"
Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis ternyata adalah penyaruan dari manusia bermuka dingin Han Siong Kie, peristiwa ini benar2 suatu kejadian yang sama sekali tak terduga dan mimpipun tak pernah disangka oleh setiap orang.
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau mendengus penuh kegusaran, baru saja dia akan menerjang maju kedepan...
Tiba2 Han Siong Kie bertindak jauh lebih cepat lagi, ia menggeserkan kakinya dan mendekati pihak lawan.
Suasana ditengah gelanggang seketika itu juga berubah jadi sangat tegang, hawa napsu membunuh menyelimtti seluruh udara.
Malaikat pengamat langit ci Chong, salah satu diantara dua pelindung hukum berbaju kuning dengan cepat berkelebat kearah depan dan menghadang tepat dihadapan sau kaucunya.
Han Siong Kie mendengus dingin, ia berjalan maju terus hingga pada jarak delapan depa dari lawannya baru berhenti, dengan suara dingin bagaikan saiju ia berseru.
"Hmm engkau hendak berangkat selangkah lebih duluan??"
Empat pelindung hukum berbaju kuning merupakan tokoh2 sakti yang tingkatannya dalam perkumpulan Thian che kau, sedikit dibawah kedudukan ketua, ilmu silat yang mereka miliki termasuk dalam taraf yang amat sempurna sekali.
Malaikat pengamat langit ci Chong adalah salah satu diantara empat pelindung hukum, tenaga dalam yang ia miliki tentu saja termasuk luar biasa, mendengar perkataan itu dia segera membentak.
"Manusia bermuka dingin, aku kurang seksama dalam memeriksa keadaanmu setelah menjalankan hukuman tempo hari hingga engkau berhasil meloloskan diri, kini aku akan bunuh dirimu untuk menebus kesalahanku dimasa silam"
Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar, sepasang telapaknya laksana sambaran petir dan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra menghantam kearah depan.
Han Siong Kie sendiri begitu mengetahui kalau pihak lawan bukan lain adalah algejo dariperkumpulan Thian che kau, hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya semakin tebal, sepasang telapaknya dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya langsung melepaskan satu pukulan dahsyat kedepan, dengan andalkan hawa murni sebesar dua ratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dilepaskan dengan sepenuh tenaga itu.
"Blaamm .."
Ditengah benturan keras yang amat memekikkan telinga, tubuh malaikat pengamat langit ci Cho mencelat sejauh tiga tombak lebih dari tempat semula dan roboh terkapar diiatas tanah.
Dalam satu gebrakan Han Siong Kie berhasil membinasakan seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan, kelihayan ilmu silatnya benar2 mengerikan sekali.
sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta pelindung hukum baju kuning lainnya jadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan kejadian itu, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuh.
Han Siong Kie mendengus dingin, dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh ia tatap wajah sau-kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu tanpa berkedip.
Ditatap sedemikian rupa oleh lawannya, ketua muda dari perkumpulan Thian che kau merasakan seluruh tubuhnya bergetar keras, paras mukanya kontan berubah jadi pucat ke hijau2an.
Pelindung hukum baju kuning lainnya tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja, sambil membentak keras tiba2 ia lancarkan sebuah pukulan kearah depan-Dalam serangan tersebut, ia telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Han Siong Kie dengan cekatan menyingkir ke samping, sepasang telapaknya disilangkan kedepan mengunci datangnya ancaman tersebut.
Pada saat yang bersamaan pula sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau menggosok sepasang telapaknya kemudian secepat kilat, di dorong kemuka.
segulung angin pukulan lembut meluncur kedepan, Han Siong Kie kontan merasakan sebagian dari tenaga pukulan yang dilancarkan keluar lenyap tak berbekas, hal ini membuat hatinya amat terperanjat...
-000d0w000-BAB 33
"BLUUMMM ."
Benturan keras yang amat memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, ia serta pelindung hukum baju kuning itu masing2 tergetar mundur satu langkah kebelakang.
Terhadap kepandaian aneh yang dapat membuyarkan tenaga dalam milik orang itu, Han Siong Kie sama sekali tidak merasa asing, pertama kali dan mengalami keampuhan dari ilmu tersebut sewaktu berada diwilayah Lian huan tau, tapi hanya sebentar saja tenaga dalam yang lenyap pulih kembali seperti sedia kala.
Kedua kalinya pemilik benteng maut yang menggunakan ilmu aneh tersebut, waktu itu tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat, tapi segenap kemampuannya sama sekali lenyap tak ketolongan.
Ketiga kalinya, Tengkorak maut gadungan yang menggunakan kepandaian tersebut, membuat tenaga dalamnya tak bisa dihimpun kembali tapi gejala itupun hanya berlangsung sebentar.
Sekarang untuk keempat kalinya dilakukan oleh sau-kaucu dari perkumpulan Thian che kau ini, berada dalam keadaan tak siap ia hanya merasakan hawa murninya sedikit buyar.
Dari sini dapatlah dibuktikan kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua muda perkumpulan Thian che kau itu masih belum cukup untuk mempengaruhi dirinya, dan ia sendiri tentu saja jauh berbeda kalau dibandingkan dengan keadaannya tempo hari.
Andaikata tiada rintangan dari ketua muda perkumpulan Thian che kau, mungkin pelindung hukum baju kuning itu tak akan mampu menahan serangan Han Siong Kie yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu.
Sesudah mundur kebelakang, Han Siong Kie menggetarkan telapak kananaya berulang kali,angin pukulan yang berlapislapis meluncur kearah depan, dengan angin tajam menyapu kearah tubuh ketua muda perkumpulan Thian che kau dengan hebatnya sementara tangan kiri dengan kelima jari yang terpentang lebar melepaskan totokan jari Tong kim ci yang dahsyat untuk mendesak pelindung hukum baju kuning.
"Blaaam... blaaamm. ."
Terjadi benturan keras secara beruntun, dengan sepenuh tenaga ketua muda perkumpulan Thian che kau menangkis serangan itu, namun ia gagal untuk menahan kedahsyatan lawan sehingga badannya tergetar mundur beberapa langkah kebelakang.
Pelindung hukum baju kuning sendiri, di bawah desakan totokan jari maut dari pemuda itu, terpaksa harus berkelit kesana menghindar kemari dengan repotnya, ia berusaha keras untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut tersebut.
Ketika ketua muda perkumpulan Thian che kau berhasil didesak mundur itulah, tiba-tiba Han Siong Kie menarik kembali telapaknya dan pusatkan segenap kemampuan yang ia miliki untuk bereskan pelindung hukum baju kuning itu lebih dahulu.
Pemuda itu tahu asal pelindung hukum baja kuning berhasil disingkirkan dari muka bumi, maka dia akan jauh lebih mudah untuk membereskan diri ketua muda dari perkumpulan Thian che kau.
Dibawah serangan gencar yang dahsyat dan cepat bagaikan sambaran kilat itu, pelindung hukum baju kuning tak dapat menghindarkan diri dari ancaman maut lagi.
SUatu jeritan ngeri yang menyayat hati segera memecahkan kesunyian.
sambil muntah darah segar, pelindung hukum baju kuning itu roboh terkapar keatas tanah dan selamanya tak pernah bangun lagi.
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau merasakan hatinya bergidik, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia putar badan dan siap kabur dari situ.
Han Siong Kie tertawa dingin, sekali enjot badan tahu2 ia sudah manghadang didepan tubuh lawannya.
Dengan wajah ketakutan, kaget bercampur ngeri, kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah ke belakang, serunya dengan suara gemetar.
"Manusia bermuka dingin, apa yang ingin kau lakukan atas diriku??"
"Apa lagi,..? Heehh heehhh, tentu saja menjagal engkau bajingan terkutuk"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan maut kearah lawannya dengan jurus2 ampuh dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat.
Dengan sempoyongan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur delapan langkah kebelakang, ia sama sekali sudah kehilangan kemampuannya untuk melakukan perlawanan.
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, sikap dan mimik wajahnya pada waktu itu sangat mengerikan dan cukup menggidikkan hati siapapun yang memandang.
Dengan suara yang dingin, sadis dan menyeramkan serunya lantang.
"Bocah keparat dalam satu jurus berikut ini, aku akan suruh engkau menggeletak di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa"
Sementara itu kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu sudah tcrdesak sehingga apa boleh buat lagi kecuali adu jiwa, timbullah kenekadan dalam hatinya, sambil membentak nyaring ia terjang kemuka dengan amat garang.
Bagaikan sukma yang gentayangan, sekali berkelebat Han Siong Kie sudah menghindarkan diri dari terjangan itu, hardiknya.
"Kena"
Sekujur badan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu bergetar keras, pergelangan kanannya kena dicengkeram dengan telak membuat semua kekuatan dalam tubuhnya lenyap tak berbekas, sementara sebuah telapak yang lain tahu2 sudah menempel di atas ubun2nya.
"Habis sudah riwayatku"
Bisik pemuda itu dengan sedih, sepasang matanya dipejamkan rapat2.
Telapak tangan Han Siong Kie yang menempel diatas ubun2 lawan boleh dibilang sudah menguasahi penuh mati hidup musuhnya, sebab asalkan hawa murni disalurkan keluar, niscaya batok kepala lawan bakal hancur berantakan dan isi benak akan berhamburan di mana2.
"Bocah keparat"
Hardiknya.
"Ayoh jawab, apa hubungan antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut?"
Sepasang mata kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau yang sudah terpejam rapat kembali melotot, dengan sorot mata benci berCampur kaget ia awasi Han Siong Kie tanpa berkedip, beberapa saat kemudian baru tegurnya.
"Apa yang kau katakan??"
"Apa hubungannya antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut??"
"Darimana engkau bisa menuduh begitu?"
"Hmm tenaga dalam yang kau miliki persis seperti aliran tenaga dalam dari pemilik benteng maut"
"Segala macam ilmu silat yang ada dikolong langit sumbernya tetap satu, kenapa engkau musti terCengang melihat kesamaan itu?"
Bantah kaucu muda itu dengan cepat.
"Jadi kalau begitu, perkumpulan Thian-che kau sama sekali tak ada hubungannya dengan benteng maut??"
"Maaf, aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu"
Seru kaucu muda tersebut dengan tegas.
"Ehmmm...bagus...bagus sekali"
Teriak Han Siong Kiepenuh kegusaran yang meluap2.
"Sekarang pejamkan matamu, dan nantikanlah kematian yang paling nyaman bagimu"
Disaat yang kritis dan berbahaya itulah, mendadak dari kejauhan berkumandang datang suara bentakan keras, disusul seorang berseru lantang.
"Han Siong Kie, engkau tak boleh melukai dirinya"
Han Siong Kie merasa amat terperanjat mendengar perkataan itu, dengan cepat ia tarik kembali serangannya sambil berpaling kearah mana berasalnya suara itu.
seorang gadis berkain cadar hitam berdiri tegak kurang lebih satu tombak di hadapannya, dan perempuan itu telah dikenal baik olehnya.
Tanpa sadar lagi Pemuda she Han itu berseru kaget.
"oooh... orang yang ada maksud"
"Sedikitpun tidak salah"
Gadis misterius yang muncul tepat pada saatnya untuk mencegah Han Siong Kie turun tangan keji atas diri kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu, bukan lain adalah orang yang ada maksud.
"Nona, baik2kah engkau selama ini?"
Sapa sang pemuda.
"Terima kasih atas perhatianmu, aku berada dalam keadaan sehat walafiat selama ini"
"Apa yang barusan nona katakan??"
"Engkau tak boleh membinasakan dirinya."
"Kenapa?? kenapa aku tak boleh membunuh dirinya?"
"Kalau orang itu kau bunuh, maka sepanjang masa engkau akan menderita penyesalan yang tak terhingga."
Perkataan yang sama sekali tak ada ujung pangkalnya itu sangat membingungkan hati siapapun juga yang mendengar, termasuk juga diri Han Siong Kie.
Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu berdiri terperangah, pikirnya dihati.
"Aneh benar kenapa aku bakal merasakan penyesalan yang tak terhingga jika kubunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini? apa maksudnya?"
Setelah berpikir sebentar, seakan2 ia telah memahami akan sesuatu, segera ujarnya.
"Maksud nona...ibunya adalah..."
"Tutup mulut"
Orang yang ada maksud segera menukas ucapan Han Siong Kie yang belum sempat diselesaikan.
Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau pun berdiri termangu karena keheranan, ia tak mengerti kenapa orang yang ada maksud muncul tepat pada saatnya dan menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut??
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, dengan nada tercengang Han Siong Kie segera berseru.
"Nona, bersediakah engkau jelaskan perkataanmu itu dengan lebih terang lagi?"
"Lepaskanlah orang itu "
Pinta orang yang ada maksud dengan nada sedih.
"Kenapa? kenapa aku harus lepaskan dirinya?"
"Janganlah banyak bertanya, lepaskan dia dari sini dalam keadaan hidup2"
"Tentang soal ini... mungkin aku tak dapat memenuhi harapanmu"
"Jadi engkau bersikeras akan bunuh pemuda itu?"
"Benar bagaimanapun juga dia harus ku bunuh"
""Kalau memeng begitu, sebelum kau bunuh dirinya terlebih dahulu menangkan dulu aku"
Han Siong Kie semakin terperangah.
"Jadi...jadi nona bersedia turun tangan melawan aku hanya disebabkan ingin melimdungi keselamatan jiwanya belaka?"
"Perkataanmu tidak salah, aku memang bermaksud demikian."
"Aku tak dapat berbuat sekurang ajar itu terhadap diri nona, apalagi nona dan ibu nona sudah terialu banyak melimpahkan budi kebaikan kepada diriku"
"Ucapan semacam itu lebih baik tak usah diutarakan lagi, pokoknya kalau engkau hendak membinasakan dirinya maka teriebih dahulu robohkan dulu aku, kemudian setelah aku tak dapat berkutik lagi, engkau boleh bebas melakukan segala apapun secara bebas"
Han Siong Kie jadi amat terkesiap, dengan nada menyelidik ia berkata lagi.
"Kalau aku hendak membinasakan dirinya, maka hal itu bisa kulakukan dengan gampang sekali ibarat membalik telapak sendiri, asal hawa murni kulontarkan keluar maka..."
"Han Siong Kie"
Ancam orang yang ada maksud,"
Kalau engkau benar-benar berani turun tangan, maka salah satu diantara kira berdua tak akan dapat keluar dari sini dalam keadaan hidup."
"Aaah benarkah persoalan ini telah berubah jadi begitu serius?"
"Aku telah membentangkan semua persoalan kepadamu, aku harap engkau jangan paksakan sesuatu perpecahan diantara kita berdua."
Han Siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh, selama hidup ia belum pernah tundukkan kepala kepada siapapun, tapi terhadap orang yang ada maksud ia nampak agak ragu2 Sebenarnya pemuda itu dapat selesaikan persoalan tersebut dengan gampang, asal ia bunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu lebih dahulu kemudian baru memberi penjelasan kepada orang yang ada maksud, urusan akan beres dengan sendirinya.
Tapi sekarang, dengan tegas orang yang ada maksud telah kemukakan ancamannya, andaikata ia berkeras kepala untuk melaksanakan juga pembunuhan itu, maka akibatnya pasti mengerikan sekali dan sukar dilukiskan dengan kata2.
Tiba2...
pemuda itu berhasil menemukan suatu kemungkinan dalam peristiwa ini, jangan2 orang yang ada maksud telah jatuh cinta kepada kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini?
Diantara mereka bertiga, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itulah yang paling merasa keheranan dan tak habis mengerti, ia menganggap jiwanya pasti melayang ditangan musuh, siapa tahu tiba2 muncul seorang perempuan berkerudung yang bernama orang yang ada maksud dan berusaha keras untuk melindungi jiwanya, siapakah gadis itu?
sementara ia masih terpengah, terdengar orang yang ada maksud kembali berkata.
"Lepaskan dia"
Perkataan itu menyerupai suatu perintah, membuat orang tak bisa berkata lain kecuali lepas tangan.
Akhirnya Han Siong Kie mengalah dan kendorkan tangannya dan mundur beberapa langkah kebelakang.
Se-akan2 baru saja lolos dari kematian, dengan peluh dingin membasahi badannya, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur kebelakang, lalu sambil menjura kepada orang yang ada maksud ujarnya lirih.
"Yu siu Kun mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah nona berikan kepadaku"
Mendengar nama tersebUt, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya lagi.
"Bangsat muda itu bernama Yu siu Kun, kalau begitu ketua perkumpulan Thian che kau sudah pasti she Yu pula..."
Sementara itu orang yang ada maksud telah ulapkan tanganya sambil berkata.
"Yu sau kaucu, anda tak usah berterima kasih kepadaku, cepatlah pergi dari sini"
"Bolehkah aku tahu siapakah nama nona ?"
"Orang yang ada maksud "
"Namamu..."
"Engkau tak usah pikirkan peristiwa yang telah terjadi pada saat ini didalam hati, Nah cepatlah berlalu"
Per-lahan2 Yu sau Kun putar badan, setelah melotot sekejap kearah Han Siong Kie dengan penuh kebencian serunya .
"Hei manusia bermuka dingin, selama gunung menghijau, air tetap mengalir... kita sampai jumpa lain waktu"
Han Siong Kie mendengus dengan nada menghina, hawa napsU membUnuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan seram ia menyahut.
"Yu sau Kun akupun akan memperingatkan dirimu, kalau engkau berani mengganggu kuburan dari mendiang guruku ini, maka perkumpulan Thian che kau akan kubasmi dari muka bumi"
Yu sau Kun mendengus dingin.
"Manusia barwajah dingin, engkau tak usah tekebur, lihat saja bagaimana akhirnya nanti"
Teriaknya penuh kebencian.
Habis berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Menanti Yu sau Kun sudah jauh tinggalkan tempat itu, orang yang ada maksud baru berjalan kedepan kuburan itu, tangannya bergerak cepat menghapus tulisan diatas batu nisan tersebut.
Han Siong Tie merasa amat terperanjat cepat2 ia maju kedepan dengan maksud menghalangi, serunya dengan nada terperanjat.
"Nona, apa yang kau lakukan ?"
"Aku hendak menghapus namamu dari atas batu nisan itu"
"Kenapa? "
"Apa engkau sudah lupa kalau Manusia bermuka dingin Han Siong Kie sudah mati, diatas bukit sebelah sana masih berdiri kuburanmu, sekarang kedudukanmu adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis"
Han Siong Kie tersenyum.
"Buat seorang pria sejati, menentang maut tak akan mundur, kenapa aku musti berbuat main sembunyi macam cucu kura2 saja"
"Kedudukanmu saat ini ibarat api dan air dengan pihak perkumpulan Thian che kau, apa lagi saat ini engkau telah musnahkan pula dua orang pelindung hukum baju kuning dari perkumpulannya, sudah pasti mereka tak akan berpeluk tangan belaka, bagaimanakah akibatnya aku rasa engkau tentu sudah tahu ...."
"Apa yang musti aku takuti?"
Seru sang pemuda dengan angkuh.
"Jago2 lihay yang tergabung dalam perkumpulan Thian che kau sangat banyak sukar dihitung, kekuasaan mereka amat meluas dan memimpin bampir seluruh perkumpulan besar atau kecil yang ada dalam dunia persilatan, apa lagi tenaga murni yang dimiliki kaucu mereka luar biasa dahsyatnya" .
"Aku merasa amat berterima kasih atas maksud baik dari nona, tetapi aku tak sudi melakukan perbuatan yang main sembunyi terus macam cucu kura2"
"Ibuku toh pernah memberikan selembar kulit manusia kepadamu agar engkau bisa merubah wajah aslimu, sebetulnya ada di balik semuanya terkandung pula maksud yang mendalam sekali"
"Apakah aku boleh tahu maksud yang sebenarnya?"
Tanya sang pemuda dengan perasaan tertarik..Dengan nada tawar orang yang ada maksud gelengkan kepalanya berulang kali.
"Lain waktu engkau akan mengetahui dengan sendirinya semua persoalan tersebut, pokoknya ibuku ada maksud2 tertentu yang menguntungkan bagimu"
Han Siong Kie merasa amat tidak sabar untuk menantikan jawaban yang terkandung dibalik gerak gerik orang yang ada maksud serta ibunya yang serba misterius itu, tetapi diapun tak dapat berbuat apa2 kecuali menunggu dan menunggu terus, akhirnya sambil menuding ke arah batu nisan didepan kuburan itu ujarnya.
"Seorang murid mendirikan batu nisan bagi gurunya, masa sang murid itu tak dapat meninggalkan nama aslinya??"
"Mengapa engkau tidak dirikan saja batu nisan tersebut dikemudan hari??"
"Aku tidak ingin merusak batu nisan tersebut"
"Apakah engkau bisa menjamin kalau orang2 dari perkumpulan Thian che kau tak akan mengganggu jenasah dari gurumu, apa lagi daerah disekitar tempat ini merupakan daerah terlarang bagi perkumpulannya?"
Hawa nafsu membunuh yang sangat tebal memancar keluar dari balik sorot mata pemuda itu, dengan suara mendalam katanya.
"Aku telah memperingatkan lebih dahulu kepada mereka, andaikata ada orang berani mengganggu atau membongkar kuburan dari guruku, maka mayat akan bergelimpangan diseluruh wilayah Lian huan-tau, aku akan bantai seluruh isi keluarga mereka sehingga seorangpun tak ada yang bisa hidup lagi dengan tenang"
"Engkau hendak membantai seluruh anggota perkumpulan Thian che kau dengan andalkan kekuatanmu seorang diri?"
Tanya orang yang ada maksud.
"Benar, dan apabila nona tidak percaya silahkan saja menunggu sampai tanggal mainnya"
Untuk beberapa saat lamanya orang yang ada maksud termenung dan berpikir keras, kemudian ia berkata lagi.
"Ibu merasa amat menyesal sekali atas perbuatan dan tingkah lakumu pada akhir2 ini"
"Akupun menyesal karena harus membuat hati ibumu jadi sedih"
Dengan putus asa orang yang ada maksud meluruskan tangannya kebawah, lalu mundur selangkah kebelakang, serunya kembali.
"Jadi engkau bersikeras akan tetap mempertahankan namamu itu?"
"Benar, dan maaf sekali atas kekerasan kepalaku ini, aku harap kalian ibu dan anak tidak sampai tersinggung karena persoalan ini"
Orang yang ada maksud kembali termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya.
"Apakah gurumu Iblis diantara iblis benar2 adalah ketua dari istana Huan-mo kiong diwilayah Thian lam?" .
"Aku rasa tiada hal lain yang perlu dicurigakan lagi, memang guruku masih sempat meninggalkan benda tanda bukti kepadaku"
"Oooh.. jadi kalau begitu engkau sudah menjadi ahli waris dari istana Huan mo kiong tersebut??"
"Benar"
Tiba2 orang yang ada maksud mengalihkan sorot matanya mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, rupanya ia sedang menyelidiki apakah disekitar tempat itu tak ada orang yang bersembunyi atau tidak.
setelah yakin kalau ditrmpat itu tak ada orangnya, dengan suara yang amat lirih dia baru bertanya.
"Benarkah engkau telah kehilangan sebuah benda mustika dari dunia persilatan?"
Han Siong Kie mengangguk.
"Benar, aku telah kehilangan sebuah benda mustika yang tak ternilai harganya, dari mana nona bisa mengetahui akan hal ini?"
"Bukan aku saja yang mengetahui akan peristiwa ini, orang lainpun ada pula yang sudah tahu"
"Meskipun untuk sementara waktu telah berpindah tangan, tapi aku bersumpah untuk mendapatkannya kembali"
Ujar pemuda itu dengan nada tegas.
"Tetapi ilmu silat yang kau miliki masih bukan tandingan kepandaian musuh"
"Nona maksudkan ilmu silat siapa..?"
"Tentu saja tengkorak maut gadungan itu"
"Aah belum tentu aku kalah dari dia"
"Tapi dalam kenyataan engkau toh masih belum mampu untuk menandingi kedahsyatan ilmu silatnya?"
"Lain dulu lain sekarang, kalau dulu kalah masa untuk selamanya aku selalu kalah terus?"
"Jadi sekarang engkau sudah mempunyai keyakinan untuk menangkan dirinya?"
"Mungkin begitu"
"Sungguhkah ucapanmu itu?"
Orang yang ada maksud berusaha untuk menegaskan.
"Selama aku tak pernah bicara bohong, apa lagi menganggap pembicaraan sebagai suatu gurauan belaka"
Sahut sang pemuda dengan paras muka serius.
Pada saat itulah...tiba2 dari kejauhan berkumandang datang suara ujung baju tersampok angin, sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat meluncur kurang lebih sepuluh tombak dihadapannya, begitu cepat gerakan tubuh orang itu sehingga andaikata seseorang tidak memiliki tenaga dalam setaraf dengan Han Siong Kie serta orang yang ada maksud pada saat ini, mungkin sulit untuk mengetahuinya.
Buru2 orang yang ada maksud berkata.
"Aku harus segera pergi dari sini, selamat tinggal"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dia segera enjotkan badan dan lenyap dibalik pepohonan. Satu ingatan dengan cepat berkelebit dalam benak Han Siong Kie, diam2 ia berpikir.
"Siapakah bayangan manusia yang barusan berkelebat lewat itu? kenapa orang yang ada maksud berlalu dari sini secara tergopoh2...??"
Pemuda itu tak mau banyak berpikir lagi, dengan suatu gerakan yang tak kalah cepatnya ia berkelebat menuju kearah mana bayangan manusia tadi melenyapkan diri, tujuannya adalah berharap dengan kesempatan itu ia berhasil mendapatkan tanda2 yang menunjukkan akan asal usul dari orang yang ada maksud serta ibunya, dengan begitu pelbagai persoalan yang mencurigakan dirinya selama inipun dapat terpecahkan.
Dari pembicaraan yang barusan berlangsung,jelas perkataan yang hendak diutarakan kepadanya oleh orang yang ada maksud belum sampai selesai, dia masih banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirinya, tapi justru karena kemunculan bayangan manusia yang amat mendadak.
membuat gadis itu buru2 meninggalkan dirinya, itu berarti dibalik kesemuanya itu masih terkandung hal yang sangat mencurigakan.
Dengan sepenuh tenaga Hansioog Kie mengerahkan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan untuk mengejar bayangan manusia tadi, kecepatan gerak tubuhnya pada saat ini sukar dilukiskan dengan kata2.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba diujung hutan dan menginjak disebuah tanah lapang yang amat luas, kurang lebih puluhan tombak dihadapannya tampaklah sesosok bayangan manusia sedang bergerak dengan cepatnya, bayangan itu langsing menuju kearah sebuah bukit disebelah kiri Tatkala Han Siong Kie telah berhasil mendekati lawannya sehingga kurang lebih dua puluh tombak dibelakangnya, ia mulai memperlambat larinya dan tetap mempertahankan jaraknya dengan orang itu, dalam keadaan demikian sulitlah bagi kedua belah pihak untuk mengetahui jelas keadaan indentitas dari lawannya.
Bayangan punggung orang itu sama sekali tidak terlalu asing baginya, tapi untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie tak dapat menebak siapa kah orang itu.
Seperminum teh kemudian, mereka sudah da dua puluh li jauhnya dari tempat semula.
Sebuah bukit kecil muncul didepan mata, sianak muda itu mulai curiga bercampur tak habis mengerti, sebab dia lihat bayangan manusia yang agaknya pernah dikenal olehnya itu ternyata sedang bergerak menuju kearah bukit dimana kuburan palsunya berada.
Rupanya bayangan manusia yang bergerak didepan itu sama sekali tidak menduga kalau secara diam2 perjalanannya sedang dikuntit orang, tanpa ragu2 dia langsung meluncur naik keatas bukit.
Sungguh aneh, ternyata orang tadi benar2 hentikan gerakan tubuhnya tepat didepan kuburan palsu dari Han Siong Kie.
Kurang lebih sepuluh tombak dari kuburannya, sianak muda itu menghentikan gerakan tubuhnya dan menyembunyikan diri di belakang sebuah batu cadas yang besar.
Tiba2 bayangan manusia yang ternyata adalah seorang gadis itu berpaling, sorot matanya yang tajam menyapu sekejap kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, kemudian ia memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat ketus.
Kembali Han Siong Kie terperangah, pikirnya.
"Mungkinkah dia sudah tahu kalau perjalanannya sedang diikuti orang...? kalau memang begitu, kenapa ia tidak menegur?"
Sekarang pemuda itu dapat melihat dengan tegas, rupanya gadis itu bukan lain adalah Go siau Bi.
Dengan ter mangu2 dan rasa tercengang si anak muda itu mengawasi gerak gerik dari Go siau Bi, dia ingin lihat apa yang hendak dilakukan oleh gadis tersebut dihadapan kuburan palsunya.
Lama sekali Go siau Bi berdiri termangu-mangu didepan kuburan tersebut, tiba tiba ia ayun telapaknya dan melancarkan sebuah babatan kilat keatas kuburan tersebut.
Gerakan tubuhnya ini sangat mengejutkan hati Han Siong Kie, tetapi ia tiada maksud untuk menghalangi perbuatannya itu, sebab bagaimanapun juga kuburan itu adalah sebuah kuburan kosong.
Hanya saja ia tak dapat menebak.
apa maksud dan tujuan Go siau Bi membongkar kuburannya itu?
Baru saja angin pukulan yang dilancarkan Go siau Bi hampir mengena diatas batu nisan kuburan itu, tiba2 suatu bentakan nyaring berkumandang datang dari sisi tubuhnya.
"Tahan jangan bertindak sembarangan.."
Go siau Bi agak terperanjat, Ia segera tarik kembali serangannya dan mundur lima depa kebelakang.
Dari belakang kuburan kosong, per-lahan2 muncullah seorang gadis muda yang sangat cantik bagaikan bidadari.
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras setelah bertemu dengan dara tersebut, sebab dia masih kenal gadis cantik itu sebagai "Istri yang ditinggaikan"
Yang pernah melepaskan dirinya dari dalam benteng maut. Sementara itu Go siau Bi nampak tercengang menyaksikan kemunculan dara ayu itu, dengan keheranan dia menegur.
"Nona, siapa kah engkau?"
"Sebutkan dahulu siapa kah namamu?"
Nona cantik itu balas menegur.
"Aku bernama Go siau Bi"
"Engkau adalah Go siau Bi?"
"Benar, ada apa?"
"Mengapa engkau hendak merusak kuburan ini?"
Teguran yang disertai sikap tak mau tahu keadaan orang lain itu sangat menggusarkan hati Go siau Bi dengan alis mata berkenyit dia balas menegur.
"Lalu siapa kah namamu?"
"Nona panggil saja aku sebagai Istri yang ditinggaikan"
"Istri yang ditinggaikan ?"
"Benar."
"Istri yang ditinggaikan, engkau adalab seorang janda?"
Paras muka Istri yang ditinggaikan berubah hebat, tegurnya dengan perasaan tak senang hati.
"Nona, aku harap sedikitlah tahu sopan kalau berbicara...."
Go siau Bitertawa dingin.
"Engkau sendiri toh yang menyebut dirimu sebagai Istri yang ditinggalkan, masa aku telah salah bicara?"
Istri yang ditinggaikan tidak menggubris perkataan itu lagi, setelah termenung sebentar kembali ia menegur.
"Aku harap engkau bersedia menjelaskan kepadaku, apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburan ini??"
"Aku senang berbuat begini, engkau mau apa??"
"Senang berbuat begitu? haaahh haaahh haaaahh apakah orang yang berada dalam kuburan ini pernah terikat dendam atau sakit hati dengan dirimu?"
"Tepat sekali tebakanmu itu dan dia mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan dirimu?"
"Dia? siapa yang kau maksud kan dia? "
"Manusia bermuka dingin Han Siong Kie"
Go siau Bi menengadah dan tertawa semakin keras, begitu kerasnya sehingga membelah kesunyian yang mencekam disekeliling tempat itu.
Han Siong Kie yang bersembunyi disamping kuburanpun jadi tertegun dibuatnya, sepasang matanya terbelalak lebar sementara mulutnya melongo, ia tak habis mengerti dibuatnya oleh keadaan yang tertera dihadapan matanya.
-ooodwooo-BAB 34 ISTRI YANG ditinggaikan melototkan sepasang matanya bulat2, ia menghardik.
"Apa yang perlu kau tertawakan?"
Go siau Bi tarik kembali tertawanya, kemudian dengan wajah serius menjawab.
"Engkau tak perlu tahu kenapa aku tertawa, sebab aku ingin tertawa maka tiada orang yang bisa menghalangi niatku itu"
"Tapi aku justru bersikeras melarang engkau tertawa disini"
"Huuh... dengan andalkan apa engkau berani melarang aku tertawa disini?"
"Berdasarkan perbuatanmu yang hendak membongkar kuburan ini, sudah cukup alasan bagiku untuk membinasakan engkau"
"Omong kosong jangan berlagak sok dihadapanku, apalagi main gertak sambal yang sama sekali tak ada gunanya"
"Oooh... jadi engkau tak percaya? mari akan kubuktikan kebenaran dari ucapanku itu."
Dengan suatu gerakan tubuh yang sangat cepat Istri yang ditinggalkan melayang kedepan kuburan dan berdiri saling berhadapan dengan Go Siau Bi, kemudian tanpa banyak bicara sepasang telapaknya didorong kedepan melancarkan sebuah pukulan dengan suatu jurus serangan yang aneh dan ganas.
Sekali lagi Han Siong Kie dibikin terperangah oleh kehebatan serangan tersebut, tempo dulu ia pernah menyelamatkan jiwa Istri yang ditinggaikan karena ia tak mampu melayani keroyokan empat orang pengawai baju hijau dari istana Huan mo kiong, tapi kenyataan yang tertera didepan mata pada saat ini menunjukkan bahwa ilmu siiatnya amat dahsyat, itu berarti tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam beberapa waktu yang amat singkat.
Go siau Bi mendengus dingin, tubuhnya melesat kesamping menghindarkan diri dari sergapan musuh yang amat dahsyat itu, sambil putar badan diapun balas melancarkan tiga buah jurus serangan secara berantai...
Dengan cepat istri yang ditinggalkan kena terbendung oleh pukulan itu, membuat dia mau tak mau terpaksa harus mundur tiga langkah kebelakang.
Dalam waktu singkat pertarungan yang amat sengitpun berlangsung, dua orang gadis itu saling serang menyerang dengan gencar membuat pasir dan debu beterbangan di seluruh angkasa.
Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay, ilmu silat yang digunakanpun merupakan jurus2 ampuh yang luar biasa.
Hal ini membuat Han Siong Kie yang mengikuti jalannya pertarungan dari tempat persembuyiannya diam2 menjulurkan lidahnya.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling menyerang sebanyak beberapa ratus gebrakan lebih, namun kekuatan mereka tetap seimbang, siapapun tak dapat menangkan pertarungan tersebut dengan mudah.
Ditengah bentakan nyaring, mendadak Go siau Bi mundur kebelakang, telapak tangannya berputar kian kemari melancarkan jurus serangan yang kian lama kian bertambah aneh, segulung demi segulung anginpukulan yang aneh menyapu kedepan membuat suasana jadi mengerikan sekali.
Ditengah hembusan angin berputar yang sangat aneh itu, Istri yang ditinggalkan sama sekali tak mampu mengembangkan jurus serangannya, tanpa sadar dia berseru.
"Oooh...ilmu pukulan angin berpusing, engkau adalah..."
Sebelum ucapannya selesai diutarakan tiba2.. Duuk"
Sebuah pukulan dengan telak bersarang diatas tubuh Istri yang ditinggalkan membuat ia mundur dengan sempoyongan.
Dalam serangannya itu Go siau Bi telah mengerahkan tenaganya sebesar sepuluh bagian, dengan telak pukulan tadi menghantam dada lawan, kalau jago lihay biasa yang termakan pukulan itu niscaya isi perutnya akan goncang dan tulang dadanya pada retak, tapi Istri yang ditinggalkan hanya tergetar mundur belaka, ia sama sekali tidak mengeluh kesakitan.
Untuk sesaat Go siau Bi jadi tertegun, ia sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan mempunyai tenaga dalam sesempurna itu..
Sementara dia masib tertegun itulah, Istri yang ditinggalkan telah manfaatkan kesempatan itu se-baik2nya, telapak diayun kedepan secepat sambaran kilat, arah yang ditujupun merupakan tempat kematian yang sangat berbahaya.
Go siau Bi jadi kelabakan dibuatnya menghadapi serangan balasan yang luar biasa itu, tapi untung ia cukup cekatan, dengan cepat ujung kakinya menjejak tanah dan secepat kilat menghindar kearah samping.
Sayang gerakan tubuhnya masih tetap terlambat setengah langkah, bahu kanannya tersapu telak oleh pukulan lawan...
Rasa sakit yang luar biasa serasa sampai didalam tulang sumsum, tak tahan lagi gadis itu merintih kesakitan, dengan sempoyongan tubihnya mundur delapan depa ke belakang.
Kejadian itu sama sekali tidak mengherankan diri Han Siong Kie, dia tahu istri yang ditinggalkan berasal dari benteng maut, itu berarti diapun memiliki ilmu kebal yang tak mampu dihantam maupun dibacok.
dengan sendirinya serangan diri Go siau Bi pun tak mungkin dapat melukai tubuhnya.
Tapi.
..mengapa Go siau Bi hendak menghancurkan kuburan kosongnya itu??
Dan apa sebabnya Istri yang ditinggalkan mati2an melindungi kuburan tersebut ?
bahkan sejak permulaan ia sudah menyembunyikan diri dibelakang kuburan?
Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu hanya bisa berdiri tertegun sambil putar otak.
Kedua belah pihak sama2 pernah melepaskan budi kebaikan dan budi pertolongan kepadanya, apa kah dia harus munculkan diri untuk melerai pertarungan itu?
Dalam pada itu, setelah serangannya berhasil melukai tubuh lawan, istri yang ditinggalkan sama sekali tidak melanjutkan serangannya, dengan nada dingin ia menegur.
"Ilmu pukulan angin berpusing merupakan kepandaian silat tunggal dari Put-lo sianseng, apa hubungan nona Go dengan diri Put loo sianseng??"
Mengetahui pihak lawan kenal dengan asal usul ilmu silatnya, Go siau Bi merasa hatinya terperanjat, buru2 jawabnya.
"Dia adalah kakekku"
"Oooooh... rupanya nona adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng...maaf "
Go siau Bi tak mau tunjukkan kelemahannya, dia segera menegur.
"Apakah engkau adalah anak murid dari benteng maut??"
Sekarang gantian istri yang ditinggalkan yang berdiri terperangah, namun ia tidak menjawab sebaliknya alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.
"Benarkah nona Go mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan diri Han Siong Kie??"
"Sama sekali tak ada"
"Lalu apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburannya?? apa kah engkau bersedia memberi keterangan??"
"Tentang soal ini....jadi engkau pingin tahu?"
Rupanya Istri yang ditinggalkan sudah biasa mengumbar watak ingin menangnya, mendengar pertanyaan itu paras mukanya seketika berubah hebat.
"...Masa aku tak boleh tanya?"
Tegurnya. Se-akan2 telah menyadari akan sesuatu, Go siau Bi maju beberapa langkah kedepan, sahutnya dengan suara mendalam.
"Oooh...rupanya engkau adalah istri yang ditinggalkan dari Han Siong Kie??"
Dengan sedih Istri yang ditinggalkan mengangguk.
"Benar apa yang kau ucapkan sama sekali tidak keliru"
Han song Kie yang bersembunyi disamping kuburan tadi melongo dan duduk terperangah, suatu kejadian yang sangat ajaib baginya dia sama sekali tidak kenal dengan nona cantik itu, tapi nona itu mengakui sebagai istri yang ditinggalkan, kejadian semacam ini benar2 merupakan suatu peristiwa aneh yang tak pernah diduga sebelumnya.
Tentu saja ia sama sekali tak pernah menduga kalau Istri yang ditinggalkan yang berada dihadapannya saat ini adalah adik angkatnya Tonghong-Hui yang dirindukan setiap hari.
Paras muka Go siau Bi nampak berubah hebat, dengan nada gemetar ia menegur lagi.
"Oooh... jadi ia sudah menikah?"
Dari pembicaraan lawan, istri yang ditinggalkan dapat menangkap apa yang dimaksudkan orang itu, dengan nada dingin ia balik bertanya.
"Nona Go, apa kah engkau sangat mencintai dirinya??"
Merah jengah selembar wajah Go siau Bi, ia tidak menyangkal ...pun tidak mengakui.. Melihat nona itu membungkam, Istri yang ditinggalkan bertanya lebih jauh.
"Jadi nona telah mengakuinya??"
"Tidak"
Sahut Go siau Bi tiba2 dengan nada setengah menjerit.
"Aku sangat benci pada dirinya"
Han Siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi gelengkan kepalanya sambil angkat bahu, terhadap diri Go siau Bi boleh dibilang tak pernah timbul ingatan atau perasaan untuk mencintai, bahkan terhadap semua perempuan yang pernah dijumpaipun ia tak pernah punya perasaan tersebut, sebab ia pernah bersumpah akan membenci kaum wanita untuk selama-lamanya.
Rupanya jawaban dari Go siau Bi itu sangat mencengangkan hati Istri yang ditinggalkan, ia berkata.
"Oleh karena engkau benci dia maka engkau hendak merusak kuburannya, apakah engkau tak merasa bahwa perbuatanmu itu keterlaluan."
Go siau Bi menggigit bibirnya.
"Aku tahu kuburan ini adalah kuburannya tapi apakah engkau yakin kalau dia benar2 berada dalam kuburan ini??"
Ucapan ini sangat mengejutkan hati Istri yang ditinggalkan, dengan wajah terkesiap dia mundur satu langkah kebelakang.
"Apakah maksud perkataanmu itu?"
"Apakah engkau merasa seyakin2nya kalau Han Siong Kie benar2 sudah mati??"
"Tentu saja"
Istri yang ditinggalkan mengangguk dengan tegas.
"Engkau saksikan dengan mata kepala sendiri??"
"Aku sendirilah vang membuat batu nisan didepan kuburan ini"
Han Siong Kie yang bersembunyi dibelakang batu lebih2 terperangah dibuatnya, dia sampai berdiri ter heran2.
Menurut apa yang diketahui batu nisan dan kuburan itu dibangun oleh adik angkatnya Tonghong-Hui, bahkan dia pula yang telah mencantumkan namanya diatas batu nisan tersebut untuk memperingati dirinya...
sekarang istri yang ditinggalkan mengakui kalau dialah yang mendirikan kuburan itu, lalu apa maksudnya?
sementara sianak muda itu masih termenung, Go siau Bi telah tertawa dingin "Heehh.
heehh..heehh..
diatas batu nisan itu tertera nama dari dua orang, masa engkau juga yang mengebumikan jenasah dari pengemis cilik Tonghong Hui?"
Istri yang ditinggalkan termenung beberapa saat lamanya, tiba2 ia berkata.
"Akulah Tonghong-Hui"
Hampir saja Han Siong Kie menjerit kaget menghadapi kenyataan tersebut, dia tak menyangka kalau Istri yang ditinggalkan mengaku dirinya sebagai Tonghong-Hui, suatu kejadian yang cukup membuat orang tertawa karena gelinya.
Mungkinkah dia tidak tahu kalau Tonghong-Hui adalah seorang pria, bahkan dia adalah seorang pengemis cilik?
apakah nona ini menyangka Tonghong-Hui adalah seorang gadis seperti dirinya??
Tak tahan lagi Go siau Bi tertawa cekikikan karena gelinya, sambil menuding ke arah lawan dia berseru.
"Hiiihh hiiiih hiiiihhh engkau adalah Tonghong Hui? pengemis cilik??"
"Betul"
"Engkau tidak bohong? masa tampang seperti kau bisa jadi seorang pengemis cilik??"
"Aku sama sekali tidak bohong, akulah pengemis cilik Tonghong Hui"
"Kalau begitu, engkau adalah manusia atau setan??"
"Tentu saja aku adalah seorang manusia "
"Kalau toh seorang manusia, kenapa semua ucapan yang kau utarakan lebih mirip omongan setan??"
Dengan amat sedih Istri yang ditinggalkan menghela nafas panjang, ujarnya lebih jauh.
"Aaai berhubung engkau mencintai dirinya dan dia telah tiada dikolong langit, maka aku bersedia memberitahukan rahasia hatiku kepadamu, tujuanku mendirikan batu nisan ini adalah sebagai perlambang bahwasanya aku hendak balaskan dendam baginya, kemudian aku akan bunuh diri dan minta dikubur dalam satu liang yang sama bersama-sama dirinya "
Han Siong Kie yang mencuri dengar pembicaraan tersebut dari tempat persembunyiannya mulai merasa gusar, hawa amarahnya per lahan2 menyelimuti seluruh benaknya, ia tak menyangka kalau istri yang ditinggalkan bisa mengungkapkan kata2 yang begitu menarik hati tanpa tahu rasa malu, apakah ia tidak jengah mengarang cerita bohong yang begitu indah untuk menipu orang??
Tiba2 Go siau Bi tertawa keras, suaranya begitu nyaring sehingga membelah kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.
Kontan istri yang ditinggalkan melototkan matanya bulat2, dengan suara keras dia menghardik.
"Nona, aku harap engkau bersedia tahu diri dan jagalah kesopanan dengan se-baik2nya" -000d0w000-
Jilid 17 GO SIAU BI tetap tertawa tergelak, ujarnya dengan suara tajam.
"Istri yang ditinggalkan ...nona Tonghong-Hui .. aku tak tahu bagaimana musti memanggil dirimu, tapi yang jelas perkataanmu itu memang sangat menarik hati, mungkin manusia yang terdiri dari batu karang pun akan ikut mengucurkan air mata setelah mendengar perkataanmu itu, cinta sejati yang tak takut berkorban seperti ini boleh dibilang suatu cinta suci yang jarang dijumpai dikolong langit"
"Engkau anggap aku sedang bohong? mengarang cerita kosong yang sebenarnya sama sekali tak ada?"
"oooh...engkau tak perlu salah paham, aku hanya ingin bertanya benarkah nona adalah pengemis cilik? sesuaikah julukan tersebut bagi diri nona? aku hanya menginginkan jawaban yang tegas dan benar"
"Oooh ! maksudmu, engkau inginkan suatu bukti??"
"Benar, aku memang mengharapkan suatu bukti yang nyata yang membuktikan bahwa apa yang kau katakan sama sekali tidak bohong atau hanya suatu isapan jempol belaka."
"Baik! aku tak akan mengecewakan hatimu, akan kuberikan bukti yang nyata untuk mu!"
Berbicara sampai disini, per-lahan2 Istri yang ditinggalkan putar badan dan menyeka mukanya dengan tangan, kemudian mengawut awutkan pula rambutnya vang indah, setelah itu dia baru putar badanrya kembali Hampir saja Go Siau Bi menjerit tertahan, untuk beberapa saat lamanya dia berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo seorang pengemis cilik yang dekil dan berambut awut2an benar2 telah berdiri dihadapan matanya, hanya saja pakaian yang dikenakan sama sekali tidak berubah.
Han Siong Kie yang bersembunyi dibelakang batu besar jauh lebih terperanjat lagi se-akan2 disambar geledek disiang hari bolong hampir saja sianak muda itu jatuh tak sadarkan diri.
Sekarang ia benar2 telab membuktikan kalau Istri yscg ditinggalkan, sebetulnya bukan lain adalah adik angkatnya sendiri.
Pengemis cilik Tonghong Hui yang selama ini dirindukan siang maupun malam.
Ia sama sekali tak menduga kalau Tong-hong Hui yang disayang dan dicintai, ternyata bukan lain adalah seorang gadis cantik.
Sekujur badannya terasa jadi kejang, dengan lemas tak bertenaga ia bersandar dialas batu, pandangan matanya jadi gelap dan otaknya jadi gelap di otaknya terasa kosong meiompong...
Kenyataan membuktikan kalau Tonghong Hui adalah seorang gadis yang amat cantik bahkan begitu mencintai dirinya sehingga dia bersedia mengorbankan jiwa raganya untuk tetap berada disisinya, sedang ia sendiri sama sekali tidak merasakan akan hal itu.
Pengalaman dan kejadian yang pernah dialaminya dimasa lampau, satu demi satu berkelebat kembali kedalam benaknya, ia teringat kembali ketika untuk peitama kali nya dia terjun kedalam dunia persilatan, ia bagaimana dirobohkan oleh kupu2 warna warni Li In Hiang dari perkumpulan Thian che-kau dengan mudah, kemudian bagaimana ia ditolong Tonghong Hui dari dalam tandunya, angkat saudara diatas batu cadas kemudian saling berjanji untuk tidak meninggalkan saudaranya walau berada dalam keadaan apapun juga, dari sini dengan jelas memperlihatkan kalau ia sudah mempunyai rencana yang matang tentang hal ini.
Setelah itu mereka berpisah, dia lenyap tak berbekas, untuk mencari jejaknya ia masuk kedalam wilayah Lian huan tau, dimana hampir saja jiwanya melayang.
Lalu dia mendirikan kuburan dan batu nisan didepao kuburan kosongnya, ia bersumpah akan mengurbankan diri untuk menemani dirinya dalam liang kubur, Han Siong Kie merasakan hatinya kalut dan bingung tak karuan, selama hidup ia paling benci dengan kaum wanita, tapi terhadap diri Tonghong Hui.
ia tak tahu musti mengatakan benci atau cinta.
Andaikata tempo hari dia tidak menyaru sebagai malaikat penyakitan, ketika Tong hong Hui dikerubuti oleh empat orang pengawal hijau dari istana Huan mo kiong mereka sudah dapat berjumpa kembali tapi waktu itu ternyata kedua belah pihak tidak saling mengenal..
Pemuda itu sangsi..
jangan2 apa yang dilihat dan didengar saat itu hanya suatu impian belaka., tapi kenyataan membuktikan bahwa kesemuanya itu bukan impian!
Dalam pada itu, Tonghong Hui telah melepaskan rambut palsu serta topeng kulit manusia dari atas wajahnya, ia menegur.
"Bagaimana nona? sekarang tentunya engkau sudah percaya bukan kalau aku adalah pengemis cilik Tonghong Hui?"
Go Siau bi mencibirkan bibirnya.
"Hmm! aku masih tetap tidak percaya.."
"Kenapa?"
"Aku ingin membongkar kuburan ini untuk membutikan apakah perkataan yang kau ucapkan benar2 tidak bohong!"
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat dengan nada gusar bercampur mendongkol ia menegur .
"Nona, sebenarnya apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin membuktikan, apakah dalam liang kubur ini benar2 dipendam kerangka seseorang"
Rupanya Tonghong-Hui dibuat sangsi oleh perkataan yang amat tegas itu, lama.. lama sekali ia termenung, kemudian baru bergumam seorang diri dengan sUara lirih.
"Tidak mungkin.. tidak mungkin kalau kuburan ini kosong, akulah yang telah mengebumikan jenasahnya disini, aku yang masukkan sendiri jenasahnya.."
Dari sikap lawannya yang amat yakin dan ber-sungguh2, Go siau Bi tahu kalau gadis itu sama sekali tidak bohong, dengan muka serius dia segera bertanya.
"Nona Tonghong, engkau tidak salah mengubur orang lain?"
"Tidak mengkin salah, yakin se yakin2nya, bahwa dialah yang telah kukubur disini"
"Aaah.. masa dikolong langit bisa terdapat dua orang manusia berwajah sama dengan Han siong Kie? Aku tak percaya kalau dikolong langit bakal ada dua orang manusia yang sama."
"Apa...?"
Engkau telah bertemu dengan seorang Han siong Kie lagi? jangan bergurau nona Go hal itu tak mungkin bisa terjadi"
Seru Tonghong-Hui dengan wajah terperangah.
"Tak mungkin salah, Aku tahu dia adalah Han siong Kie dan sekarang telah berubah namanya menjadi Malaikat penyakitan."
Dalam pada itu, Han siong Kie sendiri ibaratnya orang yang baru saja terserang penyakit berat, dengan lemas roboh terkapar diatas tanah, meskipun begitu ucapan mereka secara lapat2 masih sempat menerobos masuk kedalam telinganya.
sekarang ia baru menduga, mungkin apa yang dibicarakan dengan orang yang ada maksud tadi telah terdengar oleh Go sia uBi, tapi...
mengapa dia bersikeras akan membongkar kuburan itu??"
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, terakhir pemuda itu berpikir.
"Aaah sekarang aku tahu, pastilah diapun menaruh hati kepadaku, dan mengira aku sengaja menyaru jadi orang lain untuk membohongi dirinya, kalau begitu ia tentu sudah menaruh perasaan salah paham atas diriku"
Sementara itu di gelanggang Tonghong Hui sedang berseru kaget.
"siapa? Malaikat penyakitan? aku pernah bertemu dengan dirinya tapi masa dia adalah Han siong Kie??"
"Jadi engkau tidak percaya?? engkau saja dapat merubah dirimu jadi pengemis cilik, masa dia tak dapat merubah diri jadi malaikat penyakitan??"
"Maksudmu...ia .telah menyaru diri untuk mengelabuhi pandangan orang banyak?"
"siapa tahu?"
Sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, bibirnya bergetar keras lalu gumamnya seorang diri.
"Tak mungkin, hal ini tak mungkin bisa terjadi, dia sudah mati akulah yang telah menguburkan jenasahnya disini, dengan tanganku sendiri kututup liang kubur ini"
"Nona Tonghong"
Ujar Go Siau Bi dengan nada dingin.
"inginkah engkau membuktikan dengan mata kepala sendiri, kalau apa yang kau kuucapkan sedikitpun tidak bohong?"
"Apa?? engkau akan membongkar kuburan ini.. hanya untuk membuktikan bahwa ucapanmu tidak bohong? Gila jangan anggap perbuatan semacam itu sebagai suatu permainan"
"Oooh jangan kuatir, aku rasa tak perlu kita bongkar kuburan itu untuk mencari bukti aku punya cara lain yang lebih mudah untuk membuktikan kebenaran dari perkataanku tadi"
"Lalu.. bagaimana caramu untuk membuktikan kebenaran dari perkataanmu tadi?"
Tanya Tonghong Hui dengan perasaan ingin tahu.
Go Siau Bi tertawa misterius, tiba2 dengan paras muka sedih bercampur murung ia berpaling kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, serunya dengan suara lantang.
"Han siauhiap, bersediakah engkau untuk munculkan diri?"
Bagaikan baru saja sadar dari suatu impian, dengan tubuh kaku Han Siong Kie bangkit berdiri lalu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
Tonghong Hui menjerit lengking, dengan tubuh sempoyongan dia mundur kebelakang hampir saja ia tak percaya kalau apa yang dilihat dengan mata kepala sendiri adalah suatu kenyataan, seseorang yang dikubur olehnya ternyata telah hidup kembali.
Dia pejamkan matanya rapat2, gadis itu tak punya keberanian untuk membuka matanya kembali dan memandang kenyataan yang terbentang didepan mata..Dalam anggapannya apa yang telah terjadi hanyalah suatu impian yang aneh, dia takut setelah sadar dari impian maka yang dia hadapi hanyalah penderitaan dan siksaan.
Han siong Kie sendiripun berdiri kaku ditempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun juga .
Kedua belah pihak berdiri kaku dalam jarak sepuluh tombak.
suatu jarak yang sangat dekat bagi pandangan jago lihay, karena raut wajah kedua belah pihak dalam terlihat dengan amat jelas.
Paras muka Tonghong Hui berubah jadi pucat pias bakaikan mayat, badannya gemetar keras, dengan lirih dia berbisik.
"Tidak...tidak mungkin, semuanya bukan kenyataan.. aku tidak percaya.."
Go siau Bi menghela napas panjang.
"Aaaii. nona Tonghong, bersediakah kalau kau untuk mendengarkan suatu kisah cerita??"
Tonghong Hui mengangguk, sepasang matanya masih terpejam rapat, sedangkan tubuhnya gemetar tiada hentinya. Go siau Bi tarik napas panjang2 dengan sedih ia mulai bercerita.
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang jago yang sangat lihay, suatu ketika nasibnya kurang mujur sehingga tertangkap oleh pihak lawan, ia dijebloskan kedalam penjara untuk menantikan saat hukuman matinya tiba, setiap orang yang berada dalam penjara tersebut hanya bisa keluar dari penjara apabila tubuhnya telah berubah jadi mayat, tapi untung jago lihay itu memiliki ilmu Ku si tay hoat yang dapat berpura-pura mati, demikianlah dibawah bantuan orang lain akhirnya dia pura2 mati dan digotong keluar dari penjara itu untuk dikubur secara massal, tiga hari kemudian ia telah bangkit kembali."
"Orang yang kau ceritakan adalah dirinya?"
Seru Tonghong Hui sambil membentangkan matanya lebar2.
"Benar"
"Darimana engkau bisa tahu semua kejadian tersebut dengan begitu jelas?"
"Seorang gadis berkerudung telah memberitahukan cerita tersebut kepadaku ketika rahasianya berhasil kuketahui, dia menyebut dirinya sebagai orang yang ada maksud"
Sekarang Tonghong Hui baru tahu duduknya persoalan, bagaikan baru sadar dari impian, ia merasa jengkel dan mendongkol karena dirinya tertipu, tapi setelah berpikir sejenak kembali gadis itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tak bisa menyalahkan dirinya, ia toh tidak tahu kalau aku adalah..."
"Dia tidak tahu soal apa?"
Sela Go siau Bi dengan alis mata berkernyit. Tiba2 Tonghong Hui menjerit lengking.
"Engkoh Kie"
Dengan cepat ia lalu kedepan menghampiri sianak muda itu.
Gadis itu ingin memeluk kekasih hatinya, tetapi pemuda itu hanya berdiri dengan wajah kaku, hal ini membuat dara tersebut terperangah dan batalkan maksudnya.
Sekarang dia baru teringat, kalau kakak angkatnya Han siong Kie paling membenci kaum wanita..
hatinya terasa sakit bagaikan di iris2, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Lama kelamaan..
akhirnya ia tak dapat menahan diri lagi dan berseru keras.
"Engkoh Kie, ketika kita angkat saudara tempo hari, bukankah engkau pernah berjanji tak akan tinggaikan diriku walau berada dalam keadaan apapun, masih ingatkah engkau dengan janjimu itu?"
Paras muka Han siong Kie perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, dengan penuh emosi dia mengangguk.
"Aku masih ingat, adik Hui"
"Engkau masih memanggil aku sebagai Hui te (adik Hui)?"
Bisik Tonghong Hui. Han siong Kie terperangah, dengan suara ter-bata2 ia menjawab.
"Soal ini soal ini., aku rasa kurang begitu tepat untuk diucapkan, buat apa.."
"Tidak kalau sebutan tidak benar maka pembicaraanpun tak dapat berjalan dengan lancar.."
"Kita toh saudara angkat, buat apa engkau musti persoalkan sebutan belaka?"
"Tapi tapi.. aku toh seorang gadis bukan lelaki..."
Sela sang dara cepat.
"Aku tahu, engkau adalah searong gadis seorang gadis yang berwajah cantik"
"Engkau benci kepadaku?"
Bisik Tonghong Hui agak ragu.
"Kenapa aku mesti benci dirimu?"
"Engkau pernah berkata kalau engkau paling benci terhadap kaum wanita dikolong langit"
"Tidak Engkau.... engkau terkecuali"
Dengan ujung bajunya Tonghong Hui menyeka air mata yang membasahi wajahnya, senyum manis tersungging diujung bibirnya, sepasang biji matanya yang besar menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip.
dengan suara yang lembut ia berkata.
"Engkoh Kie, engkau tak akan membenci diriku bukan?"
"Aku tidak punya alasan untuk membenci kau"
"Kalau begitu engkau cinta padaku?"
Han siong Kie terkesiap.
jantungnya berdebar keras, suatu perasaan aneh yang belum pernah dialami sebelumnya menyelimuti seluruh benak dan perasaannya, hal itu membuat paras mukanya terasa jadi panas dan berubah jadi merah padam.
setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru menjawab.
"Benar, aku cinta padamu aku mencintai dirimu bagaikan mencintai saudara kandungku sendiri"
Senyum manis yang semula menghiasi ujung bibir Tonghong Hui seketika lenyap tak berbekas, dengan sedih bisiknya.
"Engkoh Kie, aku merasa se-olah2 sedang mendapat satu impian yang aneh dan berliku-liku..."
"Benar kejadian yang kita alami ibarat awan diangkasa, gampang berubah menurut keadaan disekelilingnya"
"Engkau senang karena aku adalah seorang gadis?"
"Tentang soal ini.. tentu saja bagiku tiada perbedaannya antara pria dan wanita"
Dipihak lain, Go siau Bi berdiri tertegun, semua impian indah dan lamunan manis yang semula menyelimuti benaknya kini telah musnah tak berbekas, semua keindahan berubah jadi kesedihan, kesengsaraan dan tekanan batin, ketika ia mengetahui kalau orang yang dicintai ternyata sudah mempunyai pilihan hati, dara itu merasa makin pedih.
Ia pernah melelehkan air mata karena kematiannya, merasa hatinya hancur remuk karena kepergiannya, tapi sekarang...
kenyataan membuktikan bahwa dia belum mati, tapi ia tak berhasil mendapatkan dirinya.
Dengan sedih, murung, kecewa dan putus asa, gadis itu putar badan, diam2 berlalu dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun..
setelah jauh tinggalkan tempat yang menyedihkan hati, gadis itu baru teringat akan tujuan kedatangannya kesana, ia hendak balaskan dendam bagi kematian ayahnya..
rasa dendam sakit hati melenyapkan rasa sedih dan kecewa yang semula menyelimuti hatinya, gadis itu langsung bergerak menuju kearah Lian huan tau,pusat kekuatan dari perkumpulan Thian che kau.
Dalam pada itu, Tonghong-Hui dengan sorot mata penuh permohonan sedang awasi wajah kekasihnya, kemudian berkata.
"Engkoh Kie, dapatkah engkau merubah panggilanmu terhadap aku.."
Han siong Kie termenung dengan alis mata berkernyit, lama sekali dia baru menjawab.
"Aku akan menyebut kau Hui moay"
Sebutan adik Hui atau Hui-moay itu sangat menyejukkan hati Tonghong Hui, senyuman kini kembali tersungging di ujung bibirnya, ia mengira untuk selamanya tak akan berjumpa kembali dengan Han siong Kie kekasih hatinya, tapi kenyataan berkata lain, saat ini ia telah mendengar kekasihnya memanggil "Hui moay "
Kepadanya.
Han siong Kie sendiri hanya bisa ter-mangu2 sambil memandang gadis itu, tiba2 ia teringat kembali akan asal usul dari dara manis itu, tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras, dengan suara berat ia segera menegur.
"Adik Hui, engkau adalah anggota benteng maut?"
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, tak sangka olehnya dalam keadaan begitu ia dapat mengajukan pertanyaan semacam itu, dengan gugup dia mengangguk.
"Benar, aa.. Apa salahnya?"
Secara tiba2 satu ingatan berkelebat pula dalam hati Tonghong Hui, paras mukanya ikut berubah hebat, dengan hati bergidik dia mundur selangkah ke belakang kemudian menegur.
"Engkoh Kie, kenapa engkau musti menanyakan persoalan itu?"
"Aku harus tahu... bagaimanapun juga aku harus mengetahuinya.. Hui moay jawablah sejujurnya.."
"Engkau ingin tahu?"
"Benar"
Tonghong Hui tertunduk dengan wajah sedih, siksaan batin yang hebat menyelimuti seluruh perasaannya, sambil menggigit bibir ia menjawab.
"Dia adalah ayahku"
"Apa. ? Pemilik benteng maut adalah ayahmu??"
Sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, kemudian kejang2, kenyataan tersebut terlalu kejam..
terlalu sadis..
ia tak mengira kalau adik angkatnya yang disayang dan di cintai ternyata bukan lain adalah putri dari musuh besarnya...
anak gadis dari pembunuh besar yang telah membantai selurub keluarga dan isi kampungnya..
Haruslah dia putus hubungan dengan gadis ini tidak mungkin Atau dia harus lepaskan niatnya untuk membalas dendam??
hal ini semakin tak mungkin terjadi Diluar dugaan, Tonghong Hui yang dicintai ternyata adalah putri dari Tengkorak maut yang dianggap sebagai datuk iblis pembawa maut bagi dunia persilatan, suatu kejadian yang mimpipun tak pernah diduga olehnya Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie berdiri mematung, ia merasa tubuhnya seolah-olah terjerumus kedalam gua saiju yang sangat dingin, membuat sekujur badannya gemetar keras.
Paras muka Tonghong Hui pun ikut berubah-ubah menuruti perubahan sikap dari sang pemuda, ia tahu apa yang sedang dipikirkan engkoh Kienya pada saat ini, dahulu ia tak berani berpikir sampai kesitu, dan sekarang apa yang tak berani dipikirkan akhirnya toh berubah jadi kenyataan.
Dendam....
dendam macam apakah itu?
gadis tersebut sama sekali tidak tahu.
Musuh besar dari ayahnya, tengkorak maut pemilik benteng maut tak terhitung jumlahnya, ia tak pernah memperbolehkan orang lain untuk mencampuri urusannya.
Ia merasa hatinya hancur, dia benci atas nasib jelek yang menimpa dirinya.
Cinta.
membuat dia terjerumus kelembah kehancuran, kenyataan membuat hatinya remuk redam.
seandainya Han siong Kie benar2 telah mati, maka cinta yang bersemi dalam hatinya akan berakhir mengikuti kematian yang menimpa dirinya, tapi ia tidak mati, suatu kejadian yang diluar dugaan membuat si anak muda itu tetap hidup dikolong langit, kejadian ini mendatangkan rasa kaget dan gembira baginya, tapi kemudian...yang diterima dan dirasakan hanyalah penderitaan yang tiada berakhir.
Dengan watak yang keras dan dingin, tak mungkin ia bisa membatalkan niatnya untuk membalas dendam, dan orang yang hendak di tuntut balas bukan lain adalah ayahnya sendiri.
Bagaimana akhirnya gadis itu tak berani berpikir lebih jauh.
setelah pelbagai perasaan dan pikiran berkecamuk dalam benaknya, akhirnya gadis itu mengambil keputusan yang tegas.
Ia tertawa sedih, lalu berkata.
"Engkoh Kie, bukankah engkau pernah berkata kepadaku, bahwa antara engkau dengan ayahku terikat oleh dendam berdarah sebesar lautan?"
"Benar"
Dengan kaku Han siong Kie mengangguk.
"Dendam berdarah yang bagaimanakah itu?"
Sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari balik mata Han siong Kie sambil menggigit bibir ia menjawab.
"Dia telah membunuh ayahku, membantai seluruh isi perkampunganku.."
Tonghong Hui mundur dengan sempoyongan, sambil berusaha menahan pergolakan emosi dia bertanya.
"Dan engkau akan membalas dendam?" -000dewi000-BAB 35 DENGAN penuh kepedihan Han siong Kie mengangguk.
"Adik Hui, meskipun kalau dibicarakan maka kejadian ini terasa kelewat kejam.. kelewat sadis, tetapi mau tak mau aku harus berbuat begitu, Benteng maut akan hancur seperti perkampunganku, darah segarr akan berceceran menodai seluruh lantai benteng tersebut"
Pucat pias seluruh wajah Tonghong-Hui, tak tahan lagi air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
"Engkoh Kie, seharusnya kita tak usah bertemu.. tak usah berkenalan.."
"Tapi ternyata kita sudah bertemu dan telah berkenalan, bahkan engkau telah angkat saudara dengan aku"
"Engkoh Kie, aku tahu persoalan ini tak mungkin bisa diselesaikan secara baik2, tak mungkin persoalan bisa beres seperti apa yang kita inginkan, aku... aku..."
"Apa yang kau kehendaki??"
"Menggunakan kesempatan ini, aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu."
"Apa yang hendak kau sampaikan kepadaku"
Air mata yang membasahi wajah Tonghong Hui semakin deras mengalir turun, dengan nada pedih ia berbisik.
"Sejak pertama kali kita berjumpa, aku telah....aku telah...."
Han siong Kie bukan seorang manusia yang bodoh, ia tahu apa yang hendak dikatakan gadis tersebut dan diapun tahu perkataan itu tak pernah diduga sebelumnya, walaupun begitu ia tetap bertanya.
"Engkau telah apa?"
"Aku telah jatuh cinta kepadamu"
Han siong Kie terperanjat, jantungnya berdebar keras setelah mendengar perkataan itu, apa yang diduga ternyata sedikitpun tak salah.
Ketika ucapan itu diutarakan keluar, Tonghong Hui tertunduk dengan wajah jengah, tapi sebentar kemudian ia sudah menengadah kembali, sepasang matanya terbelalak lebar, dengan suatu perasaan yang sangat aneh dia awasi wajah Han siong Kie tanpa berkedip.
sianak muda itu sendiri merasakan hatinya bingung dan pikirannya kalut, hampir saja ia tak berani saling beradu pandangan dengan gadis itu.
Tiba2 Tonghong Hui tertawa, tertawanya amat rawan dan menyedihkan hati, dengan suara lirih ia berkata.
"Engkoh Kie, engkau tak akan pandang rendah diriku bukan? sebab apa yang kuucapkan barusan merupakan kesempatan terakhir bagiku untuk mengungkapkan perasaan hati yang sudah lama terpendam dalam hati kecilku.."
"Terakhir ? kenapa terakhir?"
Satu alamat jelek berkelebat dalam benak Han siong Kie.
"Engkoh Kie"
Sahut gadis itu lirih.
"rasanya kitapun tak usah saling menutupi rahasia hati kita berdua, engkau tentunya dapat membayangkan bukan apa yang akan kita alami pada akhirnya?"
Dengan perasaan hati yang sedih dan menderita Han Siong Kie tundukkan kepala nya rendahi, ia sama sekali tidak berbicara karena tak tahu apa yang harut dikatakan.
Tonghong Hui sendiri, se-akan2 sudah kehilangan rasa malunya lagi, kembali ia berkata.
"Engkoh Kie, bersediakah engkau menjawab sebuah pertanyaanku deogan sejujurnya? jawaban yang muncul dari dasar lubuk hati mu?"
"Katakanlah adik Hui!"
Han Siong Kie angkat kepala dan menatap gadis itu tajam-tajam. Sambil membereskan rambutnya yang terurai tak karuan, Tonghong Hui bertanya.
"Engkoh Kie, apakah engkau cinta padaku?"
Han Siong Kie terperanjat, dengan hati tercekat dia mundur dua langkah lebar kebelakang, mulutnya ternganga dan untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Pemuda itu baru tahu kalau dia adalah seorang gadis pada setengah jam berselang, kalau dikatakan ia cintai gadis tersebut maka jiwaban itu sangat bertentangan dengan perasaan hatinya, kalau dikatakan tidak cinta, sebagai saudara angkatnya tentu saja ia tak dapat berkata demikian.
Ia pernah membenci semua perempuan yang ada dikolong langit, tapi perasaannya dengan Tonghong Hui ternyata jauh berbeda.
Sejak ia mendirikan batu nisan didepan kuburan kosongnya serta kesediannya berkorban demi cinta, pemuda itu sudah tahu betapa cinta dan sayangnya gadis itu terhadap dirinya.
Manusia bukanlah malaikat, apalagi Han Siong Kie merupakan seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, tentu saja hatinya gampang terbunuh oleh perasaan itu Tonghong Hui merasakan hatinya amat sakit ketika dilihatnya lama sekali Han Siong Kie tidak menjawab, sambil menggigit bibir ujarnya kembali "Engkoh Kie.
aku tidak memaksa engkau untuk mengatakan engkau cinta padaku.
asal kutetap mencintai dirimu, itu sudah...
sudah lebih dari cukup bagiku!"
"Adik Hui aku cinta padamu!"
Akhirnya Han Siong Kie berseru lirih ..lirih sekali suaranya sehingga hanya gadis itu saja yang mendengar.
Rasa girang terlintas diatas Wajah Tong-hong Hui, tapi hanya sebentar saja dia sudah menjadi sedih kembali.
"Engkoh Kie, aku tahu engkau berkata begitu karena engkau kasihan kepadaku, engkau sedang menghibur diriku."
"Adik Hui. aku tidak membohongi dirimu aku merasa dalam hati kecilku benar2 mempunyai perasaan tersebut, memang benar kalau aku membenci seantero perempuan yang ada dijagad, tapi sama sekali tak ada perasaan tersebut pada dirimu, aku sama sekali tiada ingatan untuk menghibur hatimu derigan kata2 yang manis, aku bicara sejujur-jujurnya!"
"Sungguh?!"
"Sungguh!"
"Engkoh Kie, aku mengharapkan sesuatu.?"
"Apa yang kau harapkan ? Bagimu adalah untuk pertama kalinya, juga merupakan permintaanku yang terakhir "
"Adik Hui. katakanlah aku .."
"Ciumlah aku! Bisik"
Tonghong Hui sambil pejamkan matanya, bibir yang kecil mungil seakan akan sedang menantang lawan jenisnya untuk menubruk.
Seketika itu juga Han Siong Kie merasakan wajahnya jadi merah dan panas, jantungnya berdebar keras, suaiu perasaan tegang yang belum pernah dialaminya membuat napasnya jadi memburu dan tersengkal-sengkal.
dengan gelagapan karena kaget ia berseru .
"Cciii.cium... cium kau...?"
"Ehmm!"
Gadis cantik itu mengangguk lirih.
Wajahnya yang cantik jelita dengan sepasang bulu mata yang hitam tebal, ditambah hidung yang mancung serta bibirnya yang kecil mungil dan merah menantang membuat jantung sianak muda itu berdebar makin keras.
Suatu rangsangan yang hebat...membuat kesadaran Han Siong Kie berangsur2 lenyap Akhirnya dengan langkah kaki yang berat, ia mendekati gadis cantik itu.
Bau harum semerbak yang aneh dan belum pernah tercium sebelumnya merangsang berahi dalam tubuh pemuda itu, suatu rangsangan yang membawa dia menuju kealam impian yang aneh.
Ia merangkul tubuh gadis itu eratl, sementara Tonghong Hui balas pelukan itu dengan rangkulan yang mesra.
Akhirnya akhirnya sepasang bibirpon saling beradu dan menempel saling menghisap diiringi makin rapatnya tubuh mereka berdua begitu rapatnya seakan2 telah melebur jadi satu.
Ciuman yang amat mesra ciuman yaug panjang dan lama.
Dalam keadaan seperti itu, dunia se akan2 telah berhenti berputar, waktu se olah2 berjalan seluruh jagad jadi sepi dan hening ada hanyalah kehangatan..
serta kemesraaan yang membuat jantung kedua insan tersebut berdetak semakin keras..
Tak jauh dan tempat kejadian tepatnya dari balik semak belukar berkumandang suara helaan napas panjang..
Tapi.
sepasang muda-mudi yang sedang di mabok cinta sama sekali tidak merasakan akan hal itu.
Lama..lama sekali., akhirnya Tonghong Hui mendorong tubuh kekasihnya dan melepaskan diri dari pelukan.
Air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, ia tertunduk sedih dan berbisik .
"Engkoh Kie, aku merasa puas., aku merasa puas sekali, aku sudah tidak mengharapkan apa2 lagi dalam hidupku kali ini!"
Perasaan sedih serta siksaan batin yang amat berat membuat seluruh wajah Han-Siong Kie berkerut kencang, ia. bergumam seorang diri .
"Apa yang telah kulakukan? sebenaroya apa yang telah kulakukan...?"
"Engkoh Kie, engkau menyesal?"
"Tidak aku tak kenal kata menyesal"
"Mengapa engkau menyesali diri sendiri?"
"Adik Hui, aku tak dapat menjelaskan bagaimanakah perasaan hatiku pada saat ini"
Tonghong Hui mengangguk.
"Engkoh Kie, aku tahu antara cinta dan dendam telah melibatkan engkau kedalam suatu keadaan yang serba sulit, bukankah engkau murung dan kesal karena menghadapi cinta yang tak berakhir ini? tapi engkoh Kie, aku tak dapat menghindarkan diri dari penentuan takdir, siau moay telah mempunyai satu rencana" .
"Rencana? apa rencanamu itu?"
"Tentang soal ini.. engkau tak usah bertanya, yang jelas mulai detik ini baik didunia maupun didalam baka kita selalu bersama.. hati kita selalu bersatu.."
Rupanya Han siong Kie dapat merasakan gelagat yang kurang baik dari pembicaraan itu, buru buru tegurnya.
"Adik Hui, apa maksudmu mengatakan begitu..?"
Paras muka Tonghong Hui yang cantik seakan2 dalam waktu singkat telah jadi layu, sambil menahan isak tangisnya dia berkata.
"Engkoh Kie, inilah yang dinamakan nasib cinta tak dapat menghilangkan dendam, semoga saja karena dendam jangan sampai menghilangkan rasa cinta"
Dengan sedih Han siong Kie mengawasi lawannya dalam keadaap seperti ini, apa yang bisa dikatakan lagi? Tonghong Hui menengadah ke udara dan menghela napas sedih, bisiknya lagi.
"Engkoh Kie, aku akan pergi.. semoga engkau dapat baik2 jaga diri"
Sambil menutupi wajahnya dengan ujung baju, gadis itu putar badan dan berlalu dari sana dengan cepatnya.
Han siong Kietak dapat berbuat apa2, dia hanya bisa memandang bayangan punggung gadis itu lenyap dari pandangan dengan pandangan kaku, dia ingin berteriak namun tiada suara yang mampu meluncur keluar dari mulutnya, dia ingin mengejar tapi kakinya serasa tak dapat bergerak tinggalkan tempat itu..
dendam kesumat sedalam lautan membuat pemuda itu kehilangan kebebasannya untuk memilih, ia tak dapat mementingkan soal cinta dan mengesampingkan soal dendam, tapi diapun tak dapat memupuk cinta sambil mencari ayahnya menuntut balas.
Kenyataan telah menggariskan, membuat ia tak dapat bersatu dengan gadis tersebut.
Dalam sekejap mata, pemuda itu merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, hatinya terasa amat sakit bagaikan di iris2.
selama ini Tonghong Hui telah memberikan budi dan cintanya kepada dia, cinta yang diberikan kepadanya lebih dalam dari samudra, tapi pemuda itu tak dapat berbuat apa2, dia hanya dapat membiarkan gadis itu pergi meninggalkan dirinya.
Tiba2..ia teringat kembali akan sesuatu, pemuda itu seolah2 mendengar lagi perkataan terakhir yang diucapkan Tonghong-Hui.
"Semoga hati kita selalu bersatu baik dalam jagad maupun di alam baka"
Sekujur tubuhnya gemetar keras, ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya.
"Aaaah pikiran itu tak benar, rupanya dia ada maksud untuk bunuh diri, aku harus menghalangi niatnya itu"
Tak kuasa lagi ia menjerit keras.
"Adik Hui. engkau tak boleh.."
Sekali enjot badan, bagaitan sambaran kilat cepatnya ia bergerak menuju ke arah mana Tonghong Hui melenyapkan diri "Nak, kembalilah"
Suara teguran itu tidak terlalu keras, namun amat mencekat hati, seketika itu juga Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya.
"Nak, biarkan dia pergi, justru dengan sikapnya itu maka keadaan jauh lebih baik"
Han siong Kie dapat kenali suara itu sebagai suara dari orang yang kehilangan sukma, sekujur badannya gemetar keras, ia merasa manusia misterius itu seakan2 sukma gentayangan, dia selalu membayangi disekeliling tubuhnya.
Dengan cepat ia berhenti dan berseru.
"cianpwee, bagaimanapun juga aku harus mengejar dirinya sampai dapat"
"Kenapa ?"
"Dia..dia.. aku kuatir kalau dia akan mengambil keputusan pendek untuk mengakhiri hidupnya."
"Aaah kejadian itu tak mungkin terjadi"
Suatu jawaban yang tegas dan meyakinkan. Han siong Kie termangu2, kembali dia berkata.
"Dengan dasar apakah cianpwee mengatakan kalau dia tak mungkin akan mengambil keputusan pendek?? "
"Meskipun dia mempunyai keinginan untuk berbuat begitu, tapi tak mungkin hal itu bisa dilaksanakan olehnya"
"Mengapa bisa begitu?? "
"Tentang soal ini, lebih baik engkau tak usah tahu"
"Cianpwee bagaimanapun juga aku tidak dapat mempercayai perkataan dari cianpwee dan mengorbankan dirinya dengan begitu saja"
Sekali lagi dia enjotkan badan siap berlalu dari situ.
"Han siong Kie, aku larang engkau berbuat begitu"
Seruan ini begitu berwibawa dan se-akan2 mengandung nada perintah yang tak bisa dibantah lagi, membuat Han siong Kie tanpa sadar harus menghentikan kembali perjalanannya.
"Apa maksud dan tujuan orang yang kehilangan sukma menghalangi dirinya untuk menyusul gadis itu?"
Apakah diapun.. Dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, orang yang kehilangan sukma berkata.
"Nak. dengarkanlah perkataanku Janganlah timbul pikiran yang bukan bukan atas perbuatanku ini?"
"Tapi.. ciaapwee bagaimanapun juga aku toh tak boleh biarkan gadis itu bunuh diri tanpa berusaha untuk menolong"
"Sudah kukatakan tadi, tak mungkin dia akan bunuh diri inilah suatu akhir yang paling baik buat hubunganmu dengan dirinya."
"Suatu akhir yang paling baik?"
"Benar"
"Aku tahu kami berdua tak mungkin dapat bersatu, karena dendam berdarah yang ditinggalkan generasi yang lalu telah mencintakan sebuah jurang pemisah yang sangat dalam diantara kami berdua.."
"Aaah soal itu sih belum tentu, tapi yang jelas ada jurang pemisah lain yang jauh lebih dalam telah memisahkan hubungan kalian berdua, dan bagaimanapun juga kalian berdua tak mungkin bisa melewati jurang pemisah tersebut"
"Aku tidak mengerti dengan ucapan itu"
"Mengerti juga baik tak mangertipun tidak mengapa, pokoknya aku berharap agar engkau bisa menganggap peristiwa ini sebagai kejadian yang sudah lewat, lebih baik lagi kalau engkau dapat melupakan selama2nya"
"Benar, aku memang tidak memiliki jalan kedua yang bisa kutempuh lagi, aku memang harus melupakan dirinya"
"Nak. sekarang kau harus segera berangkat menuju ke wilayah Lian-huan-tau untuk menyelamatkan nyawa seseorang"
Ujar orang yang ka hilangan sukma kemudian.
"Menolong orang? siapa yang harus kutolong?"
Seru Han siong Kie terperangah.
"orang itu adalah Go siau Bi "
"Apa yang terjadi dengan dirinya??"
"Dia telah terkurung didalam wilayah Lian huan tau."
"Tapi dia toh memiliki ilmu silat yang sangat lihay, masa ia bisa terjebak.."
"Wilayah Lian huao tau merupakan daerah rawan yang diciptakan oleh alam, setelah diberi tambahan disana sini oleh seorang yang pandai, tempat itu sudah berubah jadi sebuah barisan yang aneh dan tangguh sekali, siapapun sulit untuk lolos dari kurungan itu dengan mudah."
"Aku yang muda sudah berulang kali menerima budi pertolongan dari nona Go, sudah sepantasnya kalau aku berusaha untuk menyelamatkan jiwanya, sekarang juga aku akan berangkat kesana."
"Tunggu sebentar"
"Apa yang hendak cianpwee katakan lagi?"
"Aku akan serahkan selembar peta lembah Lian huan tau kepadamu, dan engkau dapat masuk kedalam lembah tersebut mengikuti peta itu, tapi ingat setelah berhasil menolong Go siau Bi maka engkau harus segera mengundurkan diri, jangan terlalu lama tinggal disana dan jangan mencoba untuk menorobos masuk kedalam markas besar perkumpulan Thian che kau"
"Kenapa??"
"sebab tujuanmu hanya menolong orang "
"Baik, aku yang muda akan turut perintah"
Selembar kertas dilemparkan keudara dan melayang kearah sianak muda itu, dengan cepat Han siong Kie menyambutnya, dia tahu itulah peta lembah Lian huan tau yang diberikan orang yang kehilangan sukma kepadanya, tanpa diteliti lagi ia berseru.
"Cianpwee, selamat tinggal aku akan berangkat lebih dahulu."
Sekali enjot badan ia langsung bergerak menuju kearah wilayah Lian huan tau, suara bentakan gusar dan angin pukulan secara lapat2 berkumandang dari balik lembah itu.
Han Siong Kie ambil keluar peta lembah yang diberikan orang yang kehilangan sukma kepadanya itu, setelah diteliti beberapa kali dan sebagian besar sudah teringat dalam benaknya, ia segara mesukkan kembali peta itu kedalam saku dan dia melanjutkan perjalanan..
"sahabat, siapa kau?"
Tiba2 teguran nyaring berkumandang dari arah depan-"berani benar engkau mengintip lembah Lian huan-tau kami".
Mengikuti suara teguran itu, enam sosok bayangan manusia munculkan diri didepan mulut lembah, kemudian serentak mereka menyebarkan diri dan menghadang jalan masuknya.
Dengan pandangan mata yang amat dingin Han siong Kie menyapu sekejap keenam orang penghadang itu, ia lihat mereka adalah enam orang pria kekar berbaju hitam yang menyoreng pedang.
Menyaksikan musuhnya tetap membungkam, sekali lagi salah seorang diantara keenam orang pria kekar itu menegur.
"sahabat, siapa kau? aku harap engkau bersedia menyebutkan namamu"
Han siong Kie mendengus dingin.
"Hmm cuma andalkan kedudukan kalian berenam? jangan mimpi disiang hari bolong"
Tanpa menggubris lawannya, dengan langkah lebar dia berjalan kemulut lembah.
Enam orang pria kekar itu segera membentak keras, enam bilah pedang dengan menciptakan selarik cahaya tajam yang menyilaukan mata menghadang jalan perginya.
Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, ia berjalan terus hingga jarak lima langkah dari musuhnya, kemudian sambil menghimpun tenaga dia lepaskan satu pukulan yang maha dahsyat, dua jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian, dua orang pria kekar yang bergerak maju lebih dahulu seketika terpental kebelakang dan roboh binasa.
Melihat kelihayan musuhnya, empat orang pria kekar itu jadi kaget dan ketakutan setengah mati, buru2 mereka menyingkir ke arah samping.
Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, dengan langkah yang cepat ia menerobos masuk kedalam dan tinggalkan musuh-musuhnya jauh dibelakangi Tiba2 suara bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dari sisi jalan lembah meluncur kembali tiga sosok bayangan manusia.
Han siong Kie segera menghentikan gerak tubuhnya dan menyapu kearah ketiga orang itu, ia lihat orang yang berada dipaling depan adalah kupu2 warna warni Li In Hiang ketua tongcu yang pernah dikenal, diiringi dua orang dayangnya.
Untuk beberapa saat kedua belah pihak sama berdiri terperangah tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mula2 Kupu warna warni Li In Hiang menunjukkan wajah yang kaget bercampur ngeri, tapi sejenak kemudian sambil tertawa genit tegurnya nyaring.
"Eei, Han sauhiap. sungguh tak kusangka kita bakal bertemu kembali"
"Hmm Li In Hiang, engkau jangan gembira dulu"
Seru Han siong Kie sambil mendengus dingin.
"saat kematianmu sudah hampir tiba"
"Aduh Han sauhiap pandai benar engkau bergurau"
Seru Kupu2 warna warni lagi dengan sikap yang sangat genit "diantara kita berdua toh tak pernah terikat oleh dendam ataupun sakit hati, masa engkau hendak bunuh aku?"
"sudah terlalu banyak pemberian yang dihadiahkan perkumpulan Thian che kau kepadaku, namun itu bukan alasanku yang terutama untuk membinasakan dirimu.."
"Bunuh aku? Hiihh..hiihh..hiihh.. membicarakan soal membunuh dalam lembah lian-huan tau.. Han sauhiap apakah engkau tidak merasa terlalu tak pandang sebelah matapun terhadap kami ?"
"Engkau anggap aku benar2 tak mampu untuk membinasakan dirimu..?"
Paras muka Kupu warna warni Li In Hiang berubah dingin membesi, alis matanya berkenyit, dia menegur dengan ketus.
"Manusia bermuka dingin, aku kuatir kalau engkau tak dapat keluar dari sini dalam keadan hidup" -ooodewiooo-BAB 36
"LI IN HIANG"
Ujar Han siong Kie dengan suara dingin, engkau masih ingat dengan peristiwa terbunuhnya Go Yu Too ketua perkumpulan Pat gi-pang? "
"Tentu saja masih ingat, sebab akulah yang membinasakan orang she Go itu"
"Masih ada lagi.. kematian dari kang lam jit-koay..."
"Benar.. tepat sekali, aku semua yang bereskan jiwa mereka, tapi apa sangkut pautnya dengan dirimu?"
"Aku mempunyai sedikit hubungan dengan putri dari ketua Pat gi pang itu, karenanya aku ingin mewakili dirinya untuk bereskan hutang piutang tadi"
Kupu warna warni Li In Hiang tertawa ter-kekeh2 sehabis mendengar perkataan itu.
"Hiihh..hiiihh..hiiih.. bagaiimana caramu untuk bereskan hutang piutang ini?"
Hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati tiba2 berkelebat diatas wajah Han Siong Kie yang ganteng. dia menerjang maju kedepan lalu berkata.
"Hutang darah bayar darah, aku hendak petik batok kepalamu itu"
Kupu warna warni Li In Hiang tergetar mundur tiga langkah oleh hawa napsu membunuh yang begitu tebal dari lawannya, sedangkan dua orang dayang itu ikut mundur beberapa langkah kebelakang karena ngeri bercampur seram.
"Manusia bermuka dingin, engkau tak mungkin dapat melakukan perbuatan itu."
"Huuuh.. kalau tidak percaya, coba saja kelihayanku ini "
Seraya berkata sianak muda itu bergerak maju kedepan dengan gerak cahaya kilat lintasan bayangan, sekali berkelebat tahu2 tubuhnya sudah berada tepat dihadapan kupu2 warna warni Li In Hiang, membuat beberapa orang itu menjerit kaget dan buru2 menghindarkan diri..
"Perempuan anjing, engkau hendak kabur ke mana?"
Hardik pemuda itu, kelima jari tangannya bergerak cepat kedepan dan siap mencekeram tubuh musuhnya.
Cengkeraman tersebut dilepaskan dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, nampaknya kupu2 warna warni Li In Hiang tak akan lolos dari cengkeraman tersebut.
Disaat yang paling kritis itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang suara desiran angin tajam yang menyergap punggungnya.
Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sadar bahwa seorang jago lihay telah melepaskan senjata rahasia kearahnya, jika ia tak menghindar niscaya tubuhnya akan terluka parah.
Dalam keadaan demikian, terpaksa ia harus tarik kembali ancamannya sambil bergerak kesamping sejauh delapan depa dari tempat semula.
Ia temukan benda yang digunakan untuk mengancam tubuhnya tidak lebih hanya beberapa lembar daun, tapi setelah mengetahui siapa yang lepaskan sergapan itu, tak kuasa lagi pemuda itu berseru tertahan, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri.
Ternyata orang yang melancarkan sergapan tersebut, bukan lain adalah ibu kandungnya yang berhati keji bagaikan ular beracun, Siang g o cantik ong cui Ing adanya.
Seluruh wajah dia nak muda itu berkerut kecang, tubuhnya gemetar keras karena harus menahan emosi.
Menggunakan kesempatan yaag sangat baik itulah, kupu2 warna warni Li In Hiang telah mengundurkan diri delapan depa ke belakang.
siang go cantik ong cui Ing dengan muka dingin bagaikan es berdiri tegak dihadapannya, sorot matanya yang tajam dan menyeramkan mengawasi wajah Han Siong Kie tanpa berkedip..
sianak muda ttu merasakan hatinya remuk redam, tempo dulu ibunya pernah turun tangan keji atas dirinya sehingga hampir saja ia mati konyol dalam penjara batu, sekarang kembali ibunya menyergap untuk mencabut jiwanya, kejadian ini membuat darah dalam tubuhnya bergolak keras..
Benarkah dia sebagai seorang anak harus turun tangan terhadap ibunya sendiri?
Seganas2nya harimau tak akan dia terkam anaknya sendiri, tapi ibunya, dia tega untuk membunuh anak kandungnya sendiri, bukankah itu berarti bahwa kekejaman hatinya jauh melebihi ganasnya harimau atau srigala??
suasana diliputi keheningan dan kesunyian, lama sekali akhirnya siang go cantik ong Ciu Ing berkata.
"Manusia bermuka dingin, sungguh tak kusangka engkau berani mengumpankan diri kedalam perangkap kami, tempo hari engkau berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku, tapi sekarang.. Hmm sekalipun punya sayap jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"
Kembali Hin siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia sakit hati, pemuda itu merasakan hatinya e akan2 diiris dengan pisau tajam, ia tak menyangka ibu kandungnya dapat mengucapkan kata2 seperti itu...
ia merasa hatinya teriuka dan sedang mengucurkan darah...
Kalau toh dia tidak menganggap dirinya sebagai anak, kenapa aku musti anggap dia sebagai ibu?
Ingatan semacam itu berkelebat dalam benaknya, dengan suara sedih karena menahan emosi katanya.
"Nyonya ketua, ini hari apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?"
Sekujur badan siang go cantik ong cui Ing tampak gemetar keras, suatu cahaya yang sangat aneh terlintas di atas wajahnya, tapi hanya sebentar saja telah lenyap dari pandangan, sahutnya dengan suara ketus.
"Manusia berwajah dingin, barang siapa berani masuk kedalam wilayah lian huan-tau, dia harus mampus"
Setiap patah kata yang meluncur keluar dari mulutnya, se akan2 anak panah yang menghujam dalam tubuhnya.
Jeritan ngeri kembali berkumandang dalam lembah sebelah dalam, jeritan itu begitu mengerikan sehingga mendirikan bulu roma siapapun yang mendengar.
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han siong Kie, dia ambil keputusan untuk membunuh kupu2 warna warni Li In Hiang lebih dahulu kemudian baru menolong Go siau Bi.
Dari jeritan ngeri yang berkumandang tiada hentinya,jelas membuktikan kalau Go siau Bi masih terlibat dalam suatu pertarungan sengit.
sekarang..
yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya untuk menghadapi nyonya ketua dari perkumpulan Thian che kau yang bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri?
Apakah dia harus bertempur melawan dirinya?
saling membunuh dengan ibu kandungnya sendiri??"
Setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu segera mengambil keputusan, tiba2 dia enjotkan badan dan menerjang kearah kupu warna warni Li In Hiang yang berada kurang lebih satu tombak dihadapan mukanya.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapapun, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam kupu warna warni Li In Hiang, tahu2 pihak musuh telah menubruk datang.
Dalam gugupnya, cepat2 dia ayunkan telapaknya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut.
"Duuk Blaamm"
Bentrokan kekerasan bergema diangkasa, jeritan kesakitan berkumandang memilukan hati, sambil muntah darah segar kupu warna warni Li In Hiang terhantam sampai mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Hampir pada saat yang bersamaan, segalung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya mengancam tiba dari belakang tubuh pemuda itu.
Kembali terdengar dengusan berat memecahkan kesunyian, dengan sempoyongan Han siong Kie terdorong maju lima langkah ke depan, ia segera berpaling dan tampaklah siang go cantik ong Cui Ing berdiri tepat dua tombak dihadapannya.
Dua orang dayang yang semula menghindarkan diri kesamping itu maju kedepan dan memayang bangun kupu warna warni Li In Hiang yang terluka parah, kemudian tanpa banyak bicara segera selamatkan majikannya kedalam lembah.
Han siong Kie menggertak gigi menahan emosi, dengan suara gemetar serunya.
"Kaa kalau toh engkau...ti ..tidak mengakui aku sebagai aaa... anakmu..."
"Tutup mulut"
Hardik siang go cantik ong Cui Ing dengan suara keras.
"Nyonya kaucu"
Kata Han siong Kie lagi dengan hati yang mantap.
"apakah engkau hendak paksa diriku untuk turun tangan?"
"Ehmm hmmm turun tangan ? besar amat bacotmu, engkau masih ingin berlalu dari sini dalam keadaan hidup?"
Han siong Kie merasa amat sedih sekali denyan air mata bercucuran dia menengadah dan berseru pedih.
"Ooooh...ayah engkau yang berada di alam baka pastilah dapat menyaksikan semuanya ini, aku dipaksa untuk turun tangan, maafkanlah daku"
Ucapan itu sangat mengenaskan, membuat siang go cantik ong Cui Ing tanpa sadar mundur dengan sempoyongan.
Pada saat itulah di mulut lembah kembali muncul beberapa sosok bayangan manusia, mereka adalah lima orang kakek tua dan seorang pemuda.
Pemuda itu bukan lain adalah kaucu muda Yu sau Kun.
Bertemu dengan musuh bebuyutannya, kedua belah pihak sama2 menggeram gusar, Yu sau Kun segera membentak keras.
"Manusia bermuka dingin, rupanya engkau datang untuk menghantar kematianmu?"
Dengan bentakan keras, tanpa banyak bicara Yu sau Kun segera melancarkan serangan2 kilat untuk menghajar tubuh lawannya..Han siong Kie teramat gusar, menyaksikan datangnya ancaman itu dengan jurus Mo Mo ciang liong atau telapak iblis menundukkan naga yang disertai tenaga pukulan sebesar sepuluh bagian, dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaamm"
Sepasang telapak saling beradu menimbulkan suara ledakan yang amat dagsyat, Yu sau Kun menjerit kesakitan sambil muntah darah segar ia roboh terkapar keatas tanah.
Han siong Kie amat benci dengan pemuda itu, melihat musuhnya roboh dengan cepat la menerjang kemuka, telapak kirinya diayun lagi siap mencabut jiwanya.
"Jangan bunuh orang"
Bentak ong Cui Ing sambil bergerak maju kedepan, secepat sambaran kilat dia lancarkan delapan buah serangan berantai.
Walaupun dalam hati kecilnya Han Siong Kie merasa amat benci dan mendendam, tapi berhubung pihak lawan adalah ibunya sendiri, terpaksa ia harus mengundurkan diri kebelakang.
Melihat musuhnya mundur, ong cui Ing segera manfaatkan kesempatan itu sebaik2nya, dia sambar tubuh Yu sau Kun dan melayang mundur beberapa tombak kebelakang, dari sakunya dia ambil keluar sebutir pil dan dijejalkan kedalam mulutnya.
Dalam pada itu lima orang kakek tua yang datang bersama Yu sau Kun tadi segera turun tangan bersama ketika dilihatnya nyonya keucu mereka mundurkan diri, serangan gencar ditujukan keseluruh tempat berbahaya ditubuh lawan.
Han siong Kie tak akan pandang sebelah matapun terhadap lawannya, dengan jurus "Mo hwe liau goan"
Atau api iblis membakar ladang, dengan suatu serangan yang cepat bagaikan kilat ia hajar musuh2nya...
"Blaaamm Blaamm"
Beberapa kali bentrokan keras terjadi diudara, lima orang kakek tua tergetar keras hingga tercerai berai keempat penjuru.
ong cui Ing membentak nyaring, untuk kedua kalinya dia lancarkan serangan kilat kearah Han siong Kie, telapaknya berputar kian lemari dengan cepatnya, serangan2nya amat ganas dan mengerikan, tiga pukulan beruntun mendesak pemuda itu habis2an.
sepasang mata Han siong Kie berubah jadi merah ber-api2, hawa nafsu membunuh berkobar menyelimuti wajahnya, dengan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan dia menghindarkan diri dari sergapan ong cui Ing, kemudian bagaikan sukma gentayangan ia balik menerjang kelima orang kakek tua itu.
Sepuluh jari tangannya menyentil bersama ilmu jari Tong kim ci yang maha sakti laksana kilat meluncur kedepan.
Jeritan ngeri berkumandang diudara dan menggetarkan empat penjuru, darah segar membanjiri seluruh permukaan tanah, lima orang kakek tua itu dengan dada berlubang roboh binasa diatas tanah.
ong cui Ing membentak keras, kembali ia terjang kemuka.
Selama pertarungan berlangsung, tangan kanannya tersembunyi terus dibalik bajunya, ia hanya mengandalkan tangan kirinya yang dipentangkan bagaikan cakar untuk melayani serangan2 musuh.
Han Siong Kie berusaha menghindar kekiri berkelit kekanan, namun ia selalu gagal untuk melepaskan diri dari pengaruh serangan musuh.
Dalam keadaan begini, kendatipun dalam hati kecilnya ia tak ingin memakai kekerasan untuk menghadapi ibunya, namun keadaan memaksa dirinya mau tak mau harus melindungi keselamatan sendiri.
Tiba2 dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat dengan sebuah jurus Raja iblis menyembah langit.
Jurus serangan ini merupakan salah satu diantara tiga jurus pukulan terampuh dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat, dewasa ini dalam dunia persilatan jarang ada orang yang mampu menerima serangan tersebut.
Ditengah deruan angin pukulan yang memekikan telinga, bayangan telapak berlapis lapis bagaikan bukit, dalam waktu singkat seluruh jalan darah penting ditubuh lawan sudah tercekam dalam ancamannya.
ong Cui Ing membentak nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dengan suatu gerakan yang manis, tahu2 ia telah meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini telah mencapai taraf kesempurnaan yang begitu tinggi, untuk sesaat ia berdiri tertegun.
Pada saat itulah, mendadak perempuan itu menggetarkan sepasang ujung bajunya kearah depan, segulung angin pukulan yang sangat berat seketika menerjang tubuhnya.
Dari serangan yang begitu dahsyat dan mengerikan, jelaslah sudah kalau ibunya bermaksud untuk membinasakan dirinya dalam pukulan dahsyat itu juga.
Rasa benci, gusar, mendongkol dan penasaran tercampur aduk dalam benaknya, sepasang telapak segera diayun bersama dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya.
Angin pukulan men-deru2, pasir debu beterbangan memenuhi angkasa, kejadian ini benar-benar nampak mengerikan-Termakan oleh dahsyatnya angin pukulan tersebut, ong Cui Ing segera bergerak mundur enam depa kebelakang.
Han siong Kie sendiripun tergetar mundur sehingga mundur satu langkah lebar ke belakang dengan sempoyongan-.
ong ciu Ing tak mau melepaskan musuhnya dengan begitu saja, kembali telapak kirinya bergerak cepat bagaikan naga beracun muncul dari dalam samudra, dengan suatu pukulan yang maha dahsyat dia lepaskan kembali satu ancaman maut.
Han siong Kie diam2 merasa keheranan dan tak habis mengerti, mengapa pihak lawan selalu menyerang dengan tangan sebelah belaka, tapi kenyataan tidak mengijinkan pemuda itu untuk berpikir panjang, serangan musuh yang begitu dahsyat tahu2 sudah mengancam tiba, memaksa dia harus menggunakan jurus bertahan dari ilmu telapak Mo Mo ciang-hoat untuk mempertahankan dari.
ong Ciu Ing tidak mau memberi kesempatan kepada musuhnya untuk tukar napas, pukulan yang berantai ibaratnya gulungan ombak disungai tiang kang meluncur dan menggulung datang tiada hentinya, keadaan benar2 mengerikan.
Dalam keadaan demikian hanya ada dua pilihan bagi Han siong Kie, pertama adalah mampus diujung telapak lawan, atau kedua melancarkan serangan balasan dengas ilmu jari Tong kim ci.
Akhirnya setelah otaknya berputar beberapa waktu dan ambil keputuran untuk memilih yang kedua, dalam keadaan seperti ini dan tidak ingin mati konyol, karena dia masih harus mempertahankan hidupnya guna menuntut balas.
Maka dengan suara yang parau histeris pengaruh emosi, dia membentak keras.
"Apakah engkau hendak paksa aku untuk turun tangan keji terhadap dirimu??"
Ong Cui Ing sama sekali tidak menggubris teriaknya itu, malahan serangan yang dilancarkan olehnya kian lama kian bertambah gencar, kian lama kian bertambah rapat.
Han Siong Kie benar2 terdesak sehingga hampir saja dibuat kalap olehnya, akhirnya dia menggigit bibir, sepuluh jari tangannya disentilkan kedepan dan segulung desiran angin tajam yang mengerikan dan dengan cepat meluncur kedepan-Jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, serangan yang semula gencar dan tiada putusnya tiba2 sirap dan lenyap tak berbekas.
ong Cui Ing dengan paras muka pucat pias bagaikan mayat mundur kebelakang dengan langkah sempoyongan Ilmu jari Tong kim ci adalah suatu ilmu sentilan yang maha dahsyat sekali, untuk menciptakan kepandaian yang maha sakti itu Mo tiong ci mo harus mengorbankan waktu selama empat puluh tahun lamanya, dengan tenaga dalam Han siong Kie yang hampir mendekati dua ratus tahun hasil latihan, tentu saja keampuhannya mengerikan sekali.
Kendatipun begitu, ong Cui Ing yang termakan oleh sentilan ilmu jari tersebut sama sekali tidak roboh, meskipun dengan telak serangan tadi mampir diatas tubuhnya, dari sini dapat membuktikan pula bahwa tenaga dalam yarg dimiliki perempuan itupun mengerikan-Dengan pandangan yang sedih dan penuh penderitaan Han siong Kie melihat sekejap kearah ibunya kemudian dia putar badan dan meneruskan perjalanannya menuju kedalam lembah.
Dengan andalkan peta lembah yang dihadiahkan orang yang kehilangan sukma, tanpa mengalami banyak kesulitan sianak muda itu berhasil masuk ketengah lembah.
sementara itu pertarungan yang berlangsung dalam lembah telah berhenti, suasana pulih kembali dalam keheningan dan kesunyian-Han Siong Kie merasa amat gelisah sekali, orang yang kehilangan sukma memerimtahkan dirinya datang kesitu untuk menolong Go siau Bi, tetapi karena mendapat banyak rintangan banyak waktu sudah terbuang dengan percuma, dia kuatir gadis itu sudah keburu tertangkap atau dibunuh oleh lawan.
-000dewi000-
Jilid 18 TANPA terasa sianak muda itu teringat kembali akan penjara batu dalam markas besar perkumpulan Thian che kau, serta cara mereka untuk menghukum mati para tawanannya, tanpa terasa hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri Andai kata Go siau Bi benar2 sudah tertangkap.
mungkin malaikat yang turun dari khayanganpun belum tentu bisa menolong dirinya lepas dari cengkeraman musuh.
Berpikir sampai disitu, dia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur kedalam lembah, bagaikan serentetan cahaya tajam secepat kilat ia menerobosi lembah dan batuan cadas.
Sepanjang perjalanan, seringkali ia berpapasan dengan jago lihay yang berlalu lalang disana, tapi tidak seorangpun dapat menghalangi jalan perginya, bahkan ada pula diantara mereka yang mengira pandangan matanya telah kabur, siapapun tidak menduga kalau malaikat elmaut telah muncul diantara mereka.
Beberapa taat kemudian, sampailah sianak muda iiu disebidang tanah datar yang luasnya setengah hektar, tempat ini merupakan jalur pertemuan dari jalan lembah yang membentang di empat penjuru.
Hampir seratus sosok bayangan manusia melingkar bentuk sebuah lingkar kepungan, seorang gadis yang bermandikan darah berada ditengah kepungan tersebut, dia bukan lain adalah Go Sau Bi yane datang kesitu untuk menutut balas, disekitar tubuhnya bergelimpangan hampir mendekati dua puluh sosok mayat.
Suasana ditengah gelanggang sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Han Siong Kie bagaikan sesosok setan menerobos masuk diantara lingkaran manusia itu.
ternyata tak seorang manusiapun yang merasakan akan kehadirannya.
Kurang lebih tiga tombak dihadapan Go Siau Bi, berdirilah seorang marusia aneh berkain cadar hitam.
Begitu menjumpai manusia aneh berkain cadar itu, Han Stong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dia masih ingat ketika untuk pertama kalinya dia terjun kedalam dunia persilatan tempo dulu, manusia aneh ini pernah murculkan diri diartara para jago persilatan yang menyerbu benteng maut.
orang itu dia kenali sebagai ketua perkumpulan Thian che kau.
Sementara itu ketua dari perkumpulan Thian che kau dengan suara yang dingin menyeramkan sedang berkata memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad .
"Nona Go, memandang diatas wajah kakekmu Put lo sianseng. aku tidak ingin menyusahkan dirimu, aku harap engkau bisa menyudahi pertarungan itu sampai disini saja!"
"Tutup mulutmu !"
Bentak Go Siau Bi dengan marah."
Tujuan dari kedatanganku ke mari adalah untuk menuntut balas atas kematian dari mendiang ayahku, sebelum dendam ini berhasil kutuntut balas, aku tak akan meninggalkan tempat ini! "
"Bukankah sudah berulang kali aku menjelaskan bahwa peristiwa itu hanya merupakan suatu kesalahan paham belaka? "
Nona telah membinasakan hampir dua puluh orang jago lihay ku, masa darah yang mengalir dari tubuh mereka harus mengalir dengan sia sia belaka?? "
"Hmm salah paham?? kupu warna warni Li In Hiang adalah algojonya, sedang engkau ketua perkumpulan Thian che kau adalah otak dari pembunuhan berdarah ini"
"Haaah haaah haaah jadi nona menghendaki batok kepalaku ini?"
Ejek ketua perkumpulan Thian che kau sambil tertawa ter bahak2.
"Tentu saja"
"Engkau anggap apa yang kau inginkan bisa terpenuhi dengan begitu saja??"
Mendadak...
dari luar gelanggang berkumandang suara jeritan lengking, diikuti sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang masuk kedalam gelanggang.
Jeritan kaget berkumandang diempat penjuru, seluruh jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir ditengah gelanggang sama-sama mundur kebelakang dengan ketakutan, suasana kontan jadi gaduh dan gempar sekali.
"Aaah.. manusia muka dingin"
"Manusia bermuka dingin"
Orang yang menerjang masuk kedalam gelanggang memang bukan lain adalah Han siong Kie, ditangannya dia mencekal sesosok manusia.
"Blaaamm.."
Bayangan manusia yang berada dalam genggamannya itu segera dibanting kedepan kaki Go siau Bi.
Ternyata ketika Han siong Kie sedang mengawasi suasana dalam gelanggang pertarungan, tiba2 ia saksikan kupu warna warni Li In Hiang yang terluka sedang dipapah mendekati tempat kejadian, ia jadi sangat kegirangan, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat perempuan itu diterjang dan ditotok jalan darahnya, kemudian dibawa masuk kedalam gelanggang.
Menyaksikan kemunculan sianak muda itu, Go siau Bi merasakan hatinya bergetar keras, dia sama sekali tidak menyangka kalau secara tiba2 Han siong Kie bisa munculkan diri ditempat itu, bahkan membawa pula kupu warna warni Li In Hiang yang merupakan pembunuh dari ayahnya, untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu musti mengatakan cinta atau benci, dengan ter-mangu2 gadis itu hanya bisa memandang wajah pemuda pujaan hatinya.
Dengan pandangan yang sangat dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah ketua perkumpulan Tbian che-kau, kemudian sambil berpaling ujarnya kepada Go Siau Bi .
"Nona Go, inilah pembunuh ayahmul"
Setelah tertegun untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ketua perkumpulan Thian che kau menengadah dan tertawa terbahak2. suaranya keras dan amat menusuk pendengaran.
"Haaahh..haaahh..haaahh.. manusia bermuka dingin, malaikat penyakitan, sungguh kebetulan sekali kehadiranmu pada siat ini...aku memang sangat meagharapkan kedatanganmul"
"Ada apa??"
"Aku akan menghancur lumatkan tubuhmu kemudian membakar mayatmu sehingga menjadi abu"
Dipihak lain, Go Siau Bi dengan suara yang amat memilukan hati sedang berseru keras.
"Oooh.....
ayah!
ananda akan meaghancurkan pembunuh ini untuk membalaskan dendam sakit hatimu!
' Telapak tangannya segera diayun dan menghajar tubuh kupu warna warni Li In Hiang yang sedang ketakutan setengah mati diatas tanah.
Kaucu dari perkumpulan Thian che kau segera mendengus dingin, dia bergerak maju kedepan.
Pada saat yang bersamaan, Han Siong Kie dengan suatu gerakan yang amat cepat pula bergerak pula kedepan menghadang jalan pergi gembong iblis itu.
Suatu jeritan kesakitan yang memilukan hati bergema memecahkan kesunyian, tubuh kupu warna warni Li In Hiang terhajar telak sehingga batok kepalanya hancur berantakan, isi benak dan darah kental bermuncratan keempat penjuru, kematiannya mengerikan sekali.
Dalam perkumpulannya, ketua perkumpulan Thian che kau boleh dianggap melebihi dewa.
kehebatan ilmu silat yang dimilikinya belum pernah bisa dibayangkan oleh anak buahnya, dan semua orangpun belum pernah menyaksikan ketua mereka turun tangan sendiri.
Ketika Go siau Bi datang untuk menuntut balas tadi, sang kaucu ternyata tampil sendiri untuk menyelesaikan persoalan itu, dan sekarang berada didepan matanya seorang ketua tongcu yang disegani orang ternyata dibunuh musuh tanpa ia sanggup mencegah atau menghalanginya, kejadian ini dengan cepat menggusarkan hatinya.
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah ketua perkumpulan Thian che kau, apa lagi setelah seorang anak buahnya dibunuh dalam keadaan yang mengerikan, tanpa mengucapkan pepatah katapun hawa murninya dihimpun ke dalam tubuh, kemudian sepasang telapak tangannya laksana sambaran kilat menerjang tubuh si anak muda itu.
Jarak diantara kedua belah pihak hanya terpaut beberapa depa saja, pukulan tersebut dengan dahsyatnya segera meluncur ke depan-Secara otomatis Han siong Kie putar telapak tangannya dan membendung datangnya ancaman tersebut.
"Blam"
Ditengah benturan keras, tubuh Han siong Kie tergetar keras sehingga mundur delapan depa kebelakang dengan sempoyongan, darah panas bergolak dalam rongga dadanya dan hampir saja muntah ke luar.
Go siau Bi yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya, segulung angin pukulan berpusing dengan cepat dilontarkan kedepan Bagaikan sesosok setan gentayangan, ketua perkumpulan Thian che-kau itu membentuk gerakan setengah lingkaran diudara, kemudian sekali lagi dia lancarkan serangan maut kearah Han siong Kie.
Menyaksikan kelihayannya, dia sama sekali tidak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan ternyata jauh lebih tinggi daripada apa yang dibayangkan semula, dengan cepat langkah kakinya bergeser ke samping, sementara tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat dengan sepenuh tenaga sepasang telapak tangannya didorong kedepan untuk membendung ancaman tersebut.
"Blaam.."
"Kembali terjadi benturan keras yang amat memekakan telinga, sekali lagi Han Siong Kie tergetar mundur tiga langkah kebelakang.
Bentakan nyaring menggeletar diangkasa Go Sian Bi menerjang datang dari samping gelanggang, dengan melontarkan sebuah pukulan yang sangat hebat dia serang ketua dari perkumpulan Thian che kau itu.
Dengan cepat suatu pertarungan sengit yang jarang terjadi dikolong langitpun berlangsung ditempat itu, kedua belah pihak sama2 mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha merobohkan lawannya secepat mungkin.
Namun kekuatan dari ketua perpumpulan Thian che kau itu memang luar biasa sekali meskipun Go Siau Bi harus bekerja sama degan Han Siong Kie.
namun kekuatan gabungan merekapun hanya mampu menahan musuhnya dolam kedudukan seimbang.
Semua jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir disekeliting gelanggang hanya bisa mengikuti jalannya pertarungan itu dengan mata terbelalak mulut melongo Hati mereka kebat kebit tak keruan sebab selama hidup belum pernah mereka saksikan pertarungan sengit yang begitu seru dan dahsyatnya.
Puluhan gebrakan sudah lewat dengan cepat.
akan tetapi kedua belah pihak masih tetap berada dalam keadaan seimbang, siapa pun tak mampu untuk merobohkan musuhnya, tapi kenyatan dengan jelas menunjukkan apabila pertarungan itu berlangsung dalam jarak waktu yang cukup lama, maka akhirnya toh yang rugi adalah Han Siong Kie serta Go Siau Bi dua orang.
Selama pertarungan berlangsung, tiada hentinya Han Siong Kie mengeluarkan ilmu jari Tong kim ci untuk mendesak musuhnya, tetapi gerak tubuh lawan ibaratnya sukma gentayangan saja.
sebentar melayang kesana sebentar bergerak kemari sukar sekali untuk diikuti dengan cermat, hal ini membuat sianak muda itu tak berani melancarkan serangan secara gegabah sebab ia kuatir salah melukai Go Siau Bi.
Jurus2 serangan yang dipergunakan kedua belah pihak sama2 merupakan jurus serangan yang paling ampuh dikolong langit.
para jago yang bertenaga dalam agak rendah hampir boleh dibilang sama sekali tak mampu untuk mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.
Serentetan bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, Go siau Bi kena dihantam sampai tergetar mundur beberapa tombak kebelakang.
"Blaamm. Blaamm. Blaamm."
Tiga benturan keras bergema saling susul menyusul, secara beruntun Han siong Kie telah saling beradu kekerasan sebanyak tiga kali dengan ketua perkumpulan Thian che kau.
Tiga bentrokan itu begitu lewat, dengan sempoyongan Han siong Kie tergetar mundur beberapa langkah kebelakang, tak kuasa lagi dia muntah darah segar.
Go siau Bi membentak nyaring, melihat sianak muda itu terluka dengan cepat ia menubruk kemuka sambil melepaskan serangan dahsyat.
"Blaaamm.."
Kembali benturan keras terjadi diudara, terjangan Go siau Bi berhasil digagalkan oleh lawan, malahan tubuhnya segera terlempar ke belakang..
Ketua perkumpulan Thian che kau menyeringai seram, sepasang telapaknya diayun secara beruntun menghajar tubuh Han siong Kie yang telah terluka...
Merasakan datangnya ancaman maut, Han siong Kie cepat menyingkir kesamping untuk menghindar, kemudian dengan mengembangkan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dalam gerak bertahan, ia kunci seluruh bagian tubuhnya dari ancaman lawan-.
Ketua perkumpulan Thian che kau tertawa seram.
"Heehhh.. heehh...heehhh.. Manusia bermuka dingin, hari ini jiwamu harus melayang tinggalkan raga"
Pukulan hawa dingin dan pukulan hawa panas dengan suatu gerak menggunting segera meluncur kedepan menghancurkan tubuh musuh.
Han siong Kie amat terperanjat, tergencet oleh dua macam angin pukulan yang berbeda unsur itu, jurus serangannya segera terbendung dan rasanya tak mampu dikembangkan lagi, disaat ia agak tertegun itulah sebuah pukulan musuh berhasil menerjang jalan darah tiong tong hiat di atas dadanya.
Pemuda itu amat terperanjat dan merasakan sukmanya merasa melayang tinggalkan raganya, secara otomatis telapak tangan kirinya menyanggah pukulan itu, kemudian jari tengah dan telunjuk tangan kanannya Menyentil kemuka...
Dua gulung desiran angin serangan yang amat tajam segera meluncur kedepan dan menyerang tubuh musuh.
"Blaaammm ....l"
Bentrokan nyaring bergema diangkasa diikuti terdenganya dengus kesakitan-Han siong Kie merasakan telapak kirinya sakit sekali bagaikan tulangnya telah patah, untung dia menyanggah pukulan musuh tepat pada saatnya sehingga jalan darah tiong tong hiat diatas dadanya tidak terhajar telak.
Kendatipun begitu, hawa tekanan yang maha dahsyat sempat menghantam pula dadanya keras2, sehingga membuat darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, hampir saja ia roboh tak sadarkan diri ke atas tanah.
Dada ketua perkumpulan Thian-che kau tak luput pula dari serangan balasan sianak muda itu, darah segar nampak memancur keluar dari mulut luka, sentilan jari Tong kim ci yang dilepaskan Han siong Kie disaat yang terakhir cukup membuat jago tua itu menderita luka yang amat parah.
Pada saat yang bersamaan itulah Go siau Bi menerjang maju kedepan, sebuah pukulan yang dahsyat dilontarkan kearah ketua perkumpulan Thian che kau.
"Blaaamm ."
Jerit kesakitan kembali berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh Go siau Bi terlempar sejauh beberapa tombak dari tempat semula dan tak sanggup bangkit kembali.
Ketua perkumpulan Thian che kau sendiri pun tak kuasa menahan diri, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah ke belakang, ia berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, tapi ia akhirnya roboh juga keatas tanah.
Bentakan nyaring berkumandang saling susul menyusul, belasan orang jago lihay perkumpulan Thian che kau ber sama2 maju kedepan dan menerjang musuh2 mereka yang telah terluka.
Han siong Kie bertindak cekatan, ia tak ingin mati konyol ditangan musuh2nya, dengan sigap ia sambar tubuh Go siau Bi kemudian membawanya kabur keluar lembah.
"Perintahkan semua pos untuk menutup segenap jalan keluar dari lembah ini"
Hardik ketua perkumpulan Thian che kau dengan suara nyaring.
Cahaya api berwarna merah segara meluncur keudara dan meledak diangkasa, bunga api memancar keempat penjuru...
Ledakan bunga api itu merupakan tanda khusus dari perkumpulan Thian che kau untuk memberitahukan kepada segenap anggota perkumpulan agar bersiap sedia menghadapi serangan musuh.
semua jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir dalam gelanggangpun tidak ambil diam, mereka semua segera memencarkan diri menuju kearah mulut2 lembah yang terletak dipelbagai tempat.
Dalam pada itu, Han siong Kie yang mengempit tubuh Go siau Bi dengan mengerahkan ilmu gerak tubuh Kilatan cahaya lintasan bayangan meluncur kearah luar lembah.
Baru saja dia melampaui tiga buah lorong sempit yang banyak terdapat dalam lembah itu, tiba2 dari arah depan berkumandang suaara pekikan nyaring disusul angin tajam berdesiran diangkasa, anak panah yang be-ribu2 batang banyaknya dipanahkan kearah tubuhnya dari pelbagai penjuru yang berbeda.
serangan gencar itu menghentikan gerak tubuhnya, Han siong Kie segera memperketat kempitannya atas tubuh Go siau Bi, sementara telapak tangan kanannya melancarkan angin pukulan yang berlapis2 untuk menyapu bersih hujan anak panah yang diarahkan kepadanya.
Dalam waktu singkat, seluruh permukaan tanah disekeliling tempat itu sudah berserakan anak panah setebal beberapa depa.
Kendatipun begitu, hujan anak panah masih tidak menunjukkan tanda akan berhenti malahan kian lama kian bertambah gencar membuat setiap ruang kosong yang ada disekitar sana selalu dipenuhi oleh desiran angin tajam.
Han Siong Kie menguatirkan keselamatan dari Go siau Bi, disamping itu harus pula mempertahankan diri sendiri, tentu saja kian lama pemuda itu kian merasa bertambah payah.
-000dewi000-BAB 37 PEMUDA itu sadar, apabila hujan anak panah masih berlangsung terus dalam keadaan begini, kendatipun sapuan2 nya berhasil membuyarkan ancaman yang datang, namun lama kelamaan dia pasti akan kehabisan tenaga dan akhirnya tak mampu mempertahankan diri.
Kedua belah sisi mulut lembah merupakan dinding tebing yang curam dan membumbung tinggi ke angkasa.
kemungkinan besar diatas tebing itupun sudah disiapkan orang, untuk menerjang keluar dari tempat itu jelas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
Han Siong Kie yang terjebak kedalam barisan anak panah, bukan saja tak mampu melanjutkan perjalanannya bahkan telapak tangannya sama sekali tak dapat berhenti, setengah perminuman teh kemudian seluruh jidatnya sudah basah oleh air keringat.
sejak menderita luka sampai saat itu, belum ada sekejap waktupun baginya untuk atur pernapasan, apalagi menyembuhkan lukanya, karena itulah tenaga murni yang di milikinya makin lama makin bertambah lemah..
situasi kian lama kian bertambah tegang dan kritis, bunga api bertebaran diangkasa, hujan anak panah kini telah berubah jadi bunga api.
Han siong Kie semakin terperanjat lagi, sukmanya terasa bagaikan melayang tinggalkan raganya, diam2 ia berbisik didalam hati.
"Aduuuh celaka, anak panah berapi"
Ditengah gulungan angin pukulan yang menderu-deru, untuk sesaat anak panah berapi itu tak mampu mendekati tubuhnya, tapi telah membakar tumpukan panah yang berserakan d iempat penjuru, sebentar kemudian kobaran api telah bermunculan dimana-mana, disekitar tempat itupun berubah jadi lautan api.
Melihat gelagat kurang menguntungkan Han Siong Kie sebera menghimpun sisa tenaganya yang dimilikinya dan dilontarkan ke arah depan, kemudian badannya meluncur kearah daerah yang tak terjangkau oleh kobaran api, dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berkelebat masuk kedalam sebuah lorong lain.
setelah berada dalam lorong itu, hujan anak panahpun segera berhenti.
secara beruntun Han siong Kie memasuki beberapa buah lorong lainnya, cahaya api diarah belakang sudah tak kelihatan lagi.
Ia menghembuskan napas dalam2, Go siau Bi yang berada dalam kenpitannya dibaringkan keatas tanah, keadaannya pada waktu itu benar2 mengenaskan sekali.
Lian huan tau terletak disuatu daerah yang terlindung oleh bahayanya keadaan medan, bukan saja lorong dalam lembah mempunyai cabang yang berjumlah diatas ratusan, apalagi setelah dibangun pula oleh manusia pandai, keadaan ditempat itu jauh lebib berbahaya lagi, salah2 seorang yang terjebak di situ bisa mati konyol dengan sendirinya.
Meskipun sebelum masuk kedalam lembah orang yang kehilangan sukma telah menghadiahkan selembar peta lembah kepadanya, dan pemuda itu sudah paham dengan peta itu, tetapi untuk meneliti letaknya pada waktu itu serta mencari jalan keluar, dia masih butuhkan peta tersebut untuk menelitinya lebih jauh.
Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Siong Kie tidak sampai berpikir sampai kesitu, tugasnya yang pertama sekarang adalah menyembuhkan luka yang diderita oleh Go siau Bi.
Dia sendiripun pada saat itu membutuhkan waktu untuk bersemedi dan atur pernapasan sebab kekuatannya sudah hampir punah sama sekali karena lelahnya.
Ia sadar, andaikata sergapan muncul kembali dalam keadaan seperti ini, akibatnya niscaya sukar dilukiskan dengan kata2.
Dalam pada itu, Go siau Bi telah sadar kembali dari pingsannya, melihat itu Han siong Kie sangat kegirangan, buru2 tegurnya.
"Nona, bagaimana dengan keadaan lukamu."
Sebenarnya sejak tadi Go siau Bi telah mendusin dari pingsannya, tapi berhubung ia hendak merasakan kehangatan tubuh sang pemuda lebih lama lagi maka ia pura2 pingsan, ketika Han Siong Kie sedang menghadapi serangan panah tadi, diam2 ia telah menelan tiga butir pil mujarab untuk menyembuhkan lukanya.
Kakeknya Put to sianseng adalah seorang tokoh silat yang amat lihay, tentu saja obat mujarab yang dibuat olehnya sangat manjur sekali, tidak selang seperminum teh kemudian kekuatan tubuhnya telah pulih kembali seperti sedia kala.
Tentu saja sampai mimpipun Han Siong Kie tidak menduga akan kecerdikan dara ayu itu, dan lagi diapun segan untuk memikirkan persoalan titik bengek yang tak ada gunanya itu.
Ketika mendapat pertanyaan, itu, Go siau Bi segera bangkit berdiri dan menjawab sambil tertawa rawan.
"Aku sudah tidak apa2 lagi, bagaimana dengan Han sauhiap sendiri?"
"Aku...aku juga tidak apa2"
"oooh... aku membawa obat mujarab pemberian kakekku, bagaimana kalau Han sauhiap menelan dua butir untuk membantu dirimu dalam usaha menyembuhkan kembali luka yang diderita?"
Tanpa menanti jawaban, dia ambil keluar dua butir pil sebesar kacang kedelai yang berwarna hijau dan diserahkan kepada pemuda itu.
sebenarnya Han siong Kie segan untuk menerimanya, tapi setelah teringat bahwa saat ini mereka masih ada dimulut harimau, memulihkan kembali tenaga murninya merupakan usaha yang terpenting, maka dengan perasaan terpaksa ia terima obat itu dan dimasukan kedalam mulutnya.
"Nona Go, kuucapkan banyak terima kasih atas pemberian itu"
Bisiknya. Go siau Bi mengernyitkan alis matanya.
"Han sauhiap, dengan pertaruhkan jiwa engkau telah menolong siau moay dari ancaman jiwa, masa hanya memberi obat saja engkau harus berterima kasih kepadaku?"
Obat dari Put to tianseng itu memang sangat manjur sekali, setelah berada dalam perut, segulung hawa panas yang kuat segera muncul ditengah pusarnya.
Tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie dewasa ini boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan, baginya bersemedi tidak melulu harus duduk.
tapi berdiripun ia dapat menghimpun tenaga sambil bersemedi, dengan cepat daya kerja obat itu disalurkan kedalam peredaran darah dan bergabung dengan kekuatan hawa murni yang dimilikinya.
Dengan mulut membungkam Go siau Bi awasi kekasih hatinya ini, ia berdiri tak bergerak sementara paras mukanya berubah rubah tiada menentu.
Beberapa saat kemudian, tenaga yang dimiliki Han siong Kie telah pulih kembali seperti sedia kala, rasa sakit lenyap tak berbekas, ia segera buka mata dan memandang kearah dara ayu itu dtngan pandangan keheranan.
"Nona Go, kenapa kakekmu mengijinkan nona untuk menempuh mara bahaya seorang diri?"
"Dendam terbunuhnya ayah bundaku tak terkirakan dalamnya, aku sebagai putrinya mempunyai kewajiban untuk menuntut balas bagi mereka."
Seru Go siau Bi dengan gemas.
"Tapi.. andaikata kakekmu pun datang kemari.."
"Kakekku sudah cuci tangan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan, karena urusan mendiang ayahku, beliau susah payah telah terjun kembali kedunia persilatan, pemberian yang diberi kakek selama setengah bulan kepada siau moay sudah lebih dari cukup bagiku untuk balas dendam dengan kekuatan sendiri"
"Dan sekarang kupu warna warni Li In Hiang toh sudah menemui ajalnya ditangan mu ....?"
"Benar tapi biang keladinya toh ketua perkumpulan Thian che kau itu"
Han siong Kie menghela napas panjang.
"Aaaiii aku sama sekali tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua perkumpulan Thian che kau sedemikian tingginya, aku jadi teringat dengan kaum persilatan yang mengatakan, diluar langit ada langit diatas manusia pandai masih ada manusia yang lebih pandai, perkataan itu sedikitpun tak salah"
Go siau Bi mengerutkan dahinya, sambil menggigit bibir dia berkata.
"suatu ketika aku akan datang kembali kesini"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"oooh maksud kedatangan Han sauhiap kemari adalah..."
"Aku mendapat peringatan dari orang yang kehilangan sukma cianpwee, yang mengatakan nona berada dalam bahaya, aku sengaja datang kemari untuk membantu nona"
"oooh manusia macam apa sih orang yang kehilangan sukma itu?"
Tanya Go siau Bi setelah berseru tertahan-"
Tentang soal ini aku sendiripun kurang jelas, pokoknya dia adalah seorang cianpwee yang sangat misterius dari dunia persilatan-Selain itu, eh mm. Aku..."
"siapa lagi??"
"Istri Han sauhiap"
"Aku belum pernah menikah"
"Nona Tonghong Hui yang menyebut diri sebagai Istri yang ditinggalkan??"
Sambung Go siau Bi dengan cepat. Bagaikan disengat lebah, sekujur badan Han siong Kie bergetar keras, dengan sedih ia berbisik.
"Dia telah pergi??"
"Kenapa pergi?"
"Nona, aku harap engkau jangan mengungkat kembali persoalan itu. bersedia bukan?"
"Engkau merasa sedih hati?"
"Nona, dewasa ini kita masih berada di mulut harimau, aku harap engkau jangan menyinggung persoalan lain"
Paras muka Go siau Bi berubah jadi agak sedih, tapi sebentar kemudian ia berseru.
"Han sauhiap, lebib baik kita terjang saja keluar"
"Terjang keluar?"
Tiba2 serentetan suara teguran yang amat seram bergema memecahkan kesunyian "hmmm... h mm... selamanya belum pernah ada orang yang sanggup keluar dari lembah lian huan tau dalam keadaan hidup"
Han Siong Kie maupun Go siau Bi smat terperanjat, dengan sorot mata yang amat tajam mereka menyapu sekejap sekeliling tempat itu, namun tiada sesosok bayanganmanusiapun yang ada disitu.
Dengan cepat Han Siong Kie ambil keluar peta lembah itu dari dalam sakunya, setelah diteliti beberapa saat serunya.
"Nona Go, mari ikut aku"
Dia enjotkan badan dan meluncur kearah mulut lembah yang ada disebelah kiri.
"Manusia muka dingin, seluruh lorong dalam lembah sudah tersumbat, sekalipun punya sayap-engkau tak akan bisa terbang ke luar dari tempat ini"
Suara menyeramkan tadi berkumandang kembali.
Gerak tubuh dari Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya siasat untuk memancing musuh belaka, begitu pihak lawan berbicara diapun segera mengetahui tempat persembunyian orang itu, berada ditengah udara badannya berputar seratus delapan puluh derajat, dengan ujung kakinya menutul permukaan dinding lembah, sekali lagi dia melayang sepuluh tombak keatas.
Sinar matanya yang tajam dengan cepat berhasil menemukan sebuah lubang kecil di atas dinding tersebut.
Tubuhnya segera berputar bagaikan burung walet kembali kesana, dia meluncur kearah lubang gua diatas dinding tersebut.
"Weesss."
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur keluar dari mulut gua itu dan langsung menghantam Han siong Kie yang masih berada diudara.
Dalam posisi berada diudara, sulit bagi Han siong Kie untuk melancarkan serangan balasan, dia segera berjumpalitan dan bergerak membentuk setengah lingkaran busur, kemudian untuk kedua kalinya menerjang kearah gua itu.
Kali ini dia telah bersiap sedia, sepasang telapaknya diluruskan kedepan, ber-puluh2 buah sentilan jari yang amat gencar dipancarkan kearah dalam gua itu.
segulung angin pukulan yang amat dahsyat kembali meluncur keluar dari dalam gua, disusul berkumandangnya serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati.
Han Siong Kie tidak dapat bertahan terlalu lama diudara, tubuhnya meluncur kembali keatas tanah, sementara orang yang menyerang dari dalam guapun berhasil dilukai di ujung nya.
Pada saat Han siong Kie melayang kembali keatas tanah itulah, tiba2 dari kejauhan berkumardang suara ledakan dahsyat yang amat memekikan telinga.
"oooh...air bah"
Jerit Go siau Bi dengan terperanjat.
Gulungan ombak setinggi puluhan tombak menggulung datang dari arah kejauhan, dengan dahsyat dan cepatnya menggenangi seluruh lorong lembah tersebut.
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han siong Kie, buru2 serunya.
"Nona Go, ayoh cepat naik keatas dinding karang"
La segera enjotkan badan dan melayang ke arah lubang gua yang baru saja ditemukan itu.
Go siau Bi dengan erat menyusul dari belakang, dalam sekejap mata mereka sudah berada dalam gua tersebut.
Dalam pada itu air bah datangnya amat cepat, sebentar kemudian seluruh lorong didalam lembah itu sudah digenangi oleh air bah setinggi beberapa tombak.
Menyaksikan keganasan air bah tersebut tanpa sadar peluh dingin membasahi tubuh mereka berdua, andaikata gua diatas dinding itu tidak berhasil ditemukan tepat pada saatnya, niscaya mereka sudah mati tenggelam tergenang oleh air bah tersebut.
Lubang gua itu tidak terlalu besar dan hanya bisa dilalui oleh dua orang secara berjejer, kurang lebih lima depa dari mulut gua roboh terkapar sesosok mayat yang bermandikan darah segar.
Rupanya orang itulah yang menegur dam melancarkan serangan kearah Han Siong Kie.
Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie awasi gua tersebut, ia lihat gua itu menjorok jauh kedalam, setelah berpikir sebentar dengan cepat ia memahami apa sebabnya ia bisa terkurung dalam barisan hujan panah tanpa kelihatan seorang pemanahpun, rupanya dibalik dinding tebing merupakan ruang kosong yang digunakan para penjaga untuk meronda..
diam2 ia mengagumi juga akan kehebatan bangunan disana.
"Nona Go"
Ujarnya kemudian."
Bagaimana kalau kita ikuti lorong dalam gua ini untuk mencari jalan keluar?"
"Baik "
Sahut sang gadis sambil mengangguk.
Maka berangkatlah kedua orang itu menelusurijalan gua itu, Han Siong Kie berjalan didepan sedang Go siau Bi mengikuti dibelakang, meskipun gua itu amat gelap namun dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki dua orang itu, mereka dapat melihat ditengah kegelapan bagaikan melihat di tempat terang.
Tidak jauh mereka memasuki gua itu, tiba2 dari arah depan berkumandang suara langkah kaki manusia yang kian lama kian mendekat...
Dengan cekatan sepasang muda mudi itu menempel tubuhnya diatas dinding gua..
suara langkah manusia kian lama kian mendekat, enam sosok bayangan manusia muncul dengan langkah ter-gesa2, orang yang berjalan dipaling depan membawa sebuah obor dalam gengamannya .
Han siong Kie segera ayun telapaknya ke depan, segulung angin kencang berhembus ke depan memadamkan api itu enam orang kawanan jago itu segera berseru kaget.
Han siong Kie tak mau membuang waktu dengan percuma, mereka segera menerjang kedepan sambil menyebar maut Duukl duukl beberapa orang itu segera menggeletak mati tertotok jalan darah kematiannya.
Dua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya, setelah berbelok kesana kemari akhirnya cahaya terang memancar dari arah depansebuah lobang kecil muncul disisi lorong sementara lorong tersebut masih memanjang jauh kedalam, sesosok bayangan manusia berdiri bersandar didekat mulut gua.
sentilan maut dari Han slong Kie kembali bekerja, orang itu menjerit kesakitan dan segera putus nyawa.
"Han sauhiap"
Bisik Go siau Bi dengan lirih.
"Rupanya gua ini masih menjorok jauh kedalam sana, apakah kita Makin masuk semakin berada didalam lembah? "
Han siong Kie mengangguk.
ia melongok keluar dari mulut gua itu, tampaklah seluruh lorong dalam lembah masih tergenang oleh air bah, sementara pada dinding tebing sebelah depan terdapat pula sebuah mulut gua, seorang manusia berjaga-jaga dibalik gua itu.
Pemuda itu termenung dan berpikir sebentar kemudian berkata.
"Nona Go, Mari kita menyeberangi lembah ini menuju kemulut gua sebelah depan, apabila dugaanku tidak salah kemungkinan besar didalam dinding tebing yang melingkari lembah lian huan-tau ini terdapat liang-liang gua tempat berhubungan, kita manfaatkan saja lorong tersebut untuk keluar dari lembah ini"
Go siau Bi sangat mengagumi kecekatan dan kecerdikan sianak muda itu, dia segera mengangguk.
"Baik, kita laksanakan saja seperti apa yang kau katakan"
Jarak antara dinding tebing yang satu dengan dinding tebing yang lain kurang lebih lima tombak panjangnya. Han siong Kie berpaling dan bisiknya kepada gadis itu.
"Nona Go, kita harus bertindak cepat"
Begitu selesai berbicara, tubuhnya laksana sambaran petir cepatnya telah meluncur kearah lubang gua sebelah depan.
Penjaga didalam gua itu hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur, sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, dia sudah mati tertotok.
secepat kilat Go siau Bi menyusul dari belakang.
Apa yang diduga Han siong Kie ternyata tidak meleset, dinding lembah itu ternyata kosong, puncak berhadapan dengan puncak.
itu berarti mulut gua berhadapan dengan mulut gua, setiap beberapa langkah terdapat sebuah lubang kecil, kalau mengintip dari situ maka semua kejadian yarg sedang berlangsung dalam lorong lembah dapat terlihat dengan jelas.
Kedua orang muda mudi itu merupakan jago persilatan yang berilmu tinggi, sepanjang jalan menemui gua lorong dalam perut bukit, mereka tidak menjumpai kesulitan, apalagi Han song Kie membawa peta petunjuk tentang keadaan dalam lembah tersebut, semua penjaga dan serangan yang sudah diatur musuh bisa dihindari dengan gampang dan sederhana.
secara beruntun mereka tembusi beberapa buah lubang gua, akhirnya lembab lorong di bawah sana sudah tak tergenang oleh air lagi, ini menunjukkan bahwa air bah itu hanya khusus dilepaskan untuk menggenangi beberapa buah lorong jalan belaka.
Beberapa saat kemudian sampailah kedua orang itu pada jalan yang sebenarnya dibagian atas.
sementara lorong lembah kian lama kian bertambah lebar.
Mendadak..
suitan nyaring berpekik saling bersahutan, tampaknya jejak Han siong Kie dan Go siau Bi ketahuan lagi oleh pihak musuh.
Dalam pada itu dihadapan mereka terbentang sebuah simpang pertemuan dari beberapa buah cabang jalan, ditengahnya merupakan sebuah tanah kosong seluas beberapa hektar, bagi mereka berdua kecuali meloncat turun kelorong bawah dan menerobos ke luar, rasanya tiada jalan lain yang bisa di tempuh lagi.
Han siong Kie mengerutkan dahinya, dengan suara berat ia berkata.
"Tampaknya tiada jalan lain bagi kita kecuali turun kebawah, ayoh kita loncat turun"
Dua sosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat cepatnya segera melayang turun ketengah gelanggang luas.
Baru saja kaki kedua orang itu menempel diatas permukaan tanah, disertai suara ledakan dahsyat dari mulut lembah diempat penjuru memancarlah kabut putih yang amat tebal, lambat laun kabut itu semakin tebal hingga menyelimuti disekitar tempat itu.
Go siau Bi amat terperanjat menyaksikan kehebatan dari kabut putih itu, ia lantas berseru.
"Han sauhiap. apa yang terjadi?"
Han siong Kie menggeleng dengan kebingungan.
"Entahlah, aku sendiripun tak tahu, perduli amat, ayoh kita terjang keluar dari sini"
Baru saja ia selesai berbicara, dari tengah lembah meluncur masuk sesosok bayangan manusia, orang itu seakan2 sukma gentayangan yang muncul dari balik kabut putih, setelah makin mendekat barulah kelihatan bahwa orang itu adalah seorang kakek tua aneh berjubah hitam yang bermuka pucat seperti mayat dan bertubuh kaku seperti mayat hidup.
"Aaah..? kenapa makhluk tua beracun inipun sudah menggabungkan diri dengan pihak Thian-che-kau?"
Seru Han siong Kie tanpa terasa. Go siau Bie tertegun.
"Makhluk tua beracun? siapakah dia?"
"Tok kun, Dewa racun Yu Hoa"
"Aaah rupanya dia.. waaduh, kalau makhluk tua beracun itupun sudah muncul disini, urusan bisa bertambah berabe ... bagaimana sekarang baiknya??"
Dalam waktu singkat kabut putih yang menyebar disekitar mulut lembah sudah menyelimuti angkasa, kian lama kabut itu kian menebal sehingga pemandangan yang terbentang disekeliling tempat itupun bertambah buram, hingga susah melihat kesdaan di depan-Dewa racun Yu Hoat berdiri tegak kurang lebih lima tombak dihadapan muda mudi itu, dia menyeringai dan tertawa seram tiada hentinya.
"Heeeh heehh heeh Manusia berwajah dingin, Lebih baik menyerah saja Ketahuilah engkau serta bocah perempuan itu sudah menjadi katak dalam tempurung, tak mungkin dapat kabur lagi."
Ia berhenti sebentar, lalu sambil menuding kesekeliling tubuhnya ia menambahkan-"
Kabut harum pembusuk tulang telah tersebar menyelimuti seluruh lembah, sekalipun malaikat yang turun dari kahyangan jangan mimpi bisa lolos dari cengkeramanku Heeeh heeeh...
heeeh daripada mampus secara konyol lebib baik menyerah saja tanpa melawan, ketahuilah barang siapa terkena racun itu maka tubuhnya akan meleleh jadi segumpal air busuk ..tahukah kalian, betapa menyeramkan dan mengerikannya keadaan itu "
"Makhluk tua beracun, jangan tekebur lebih dulu, lihatlah Nonamu segera akan cabut lebih dulu selembar jiwa anjingmu"
Bentak Go siau Bi dengan marah.. Ia melejit dan menerjang kedepan, telapak tangannya diayun melancarkan pukulan berantai yang maha dahsyat.
"Nona tunggu sebentar"
Tiba2 Han siong Kie berseru sambil menghadang jalan perginya.
"Ada apa? Kenapa kau halangi jalan pergiku??"
"Nona, kau musti tahu, hakekatnya seluruh tubuh makhluk tua beracun ini adalah bisa yang mematikan, jangan sekali-kali tanganmu sampai menempel ditubuhnya, bisa jadi engkau sendiri yang celaka"
"Kalau tidak dilawan, memangnya kita benar-benar harus menyerah kalah dan bertekuk lutut kepada mereka?? "
"Tentu saja tidak begitu, seorang pendekar sejati pantang menyarah kepada siapapun, biar akulah yang hadapi makhluk tua yang sangat berbahaya ini"
"Masa engkau punya kepandaian khusus yang dapat digunakan untuk melawan kedahsyatan bisanya?"
"Tentu saja aku tak punya, tapi yang pasti aku sudah pernah bergebrak melawan dia, maka sedikit banyak aku mempunyai pengalaman dalam menghadapi dirinya"
Sewaktu terjadi pertarungan perebutan pusaka tempo hari, Han siong Kie pernah terhajar oleh pukulan berbisa dari Dewa racun Yu Hoat, tapi kenyataan membuktikan bahwa dia sama sekali tidak merasakan gejala keracunan, sejak itu Eh pemuda kita jadi sadar bahwa tubuhnya mempunyai daya kekuatan untuk melawan racun, dan kekuatan itu diperolehnya berkat sumber air mukjijat bawah tanah yang pernah mencuci otot mengganti tulangnya.
Walaupun begitu, Han siong Kie tak berani sembarangan mencoba, karena resikonya terlalu besar lain keadaannya pada saat itu, sekarang jiwanya sedang terancam bahaya, mau tak mau dia harus menempuh bahaya untuk mencoba khasiat kekuatannya itu.
Demiklanlah, selesai bicara diapun enjotkan badan dan melayang sejauh dua tombak kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyat seketika dilepaskan kearah depan.
Dewa racun Yu Hoa tertawa dingin, dengan gesit ia mengigos kesamping menghindarkan diri dari pukulan mematikan itu menyusul sepasang telapaknya diayun kemuka melepaskan belasan pukulan berantai.
Han siong Kie tidak gentar karena ia sudah punya keyakinan yang teguh, seluruh peredaran darahnya ditutup dan napasnya dihentikan, sepasang telapaknya tiba tiba ditarik kemudian dilepaskan kembali kedepan semua gerakan itu dilakukan secepat kilat, dan tepat sekali menyambut datangnya serangan lawan.
"Blaammm..."
Benturan keras menimbulkan suara pekikan yang amat dahsyat, seketika itu juga Dewa racun Yu Hoa terdorong mundur sejauh tiga langkah.
Han siong Kie sendiri merasakan pula sekujur tubuhnya kaku agak gatal, tatkala angin pukulan lawan menyentuh tubuhnya, tapi ia sama sekali tidak pikirkan persoalan itu didalam hati, sambil putar badan ia menerjang lagi kedepan, tangan kanannya di putar dan melepaskan satu pukulan dengan jurus Mo ciang liong atau telapak iblis tundukkan naga, sementara jari tangan kirinya bagaikan sebuah tombak melepaskan totokan Tong kim ci yang mematikan itu.
Dua macam ilmu silat ampuh dilancarkan secara berbareng, jarang ada orang yang bisa berbuat demikian...
Rupanya Dewa racun Yu Hoa tahu kehebatan orang, hatinya kontan tercekat dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, cepat2 dia menyingkir kesamping dan kabur kebelakang.
Meskipun gerakan menghindar ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sayang dia masih kalah setingkat kalau dibandingkan Han siong Kie.
Demikianlah, kendatipun serangan angin jari Tong kim-ci yang dahsyat berhasil dihindari,akan tetapi pukulan ditangan kanannya susah dielakkan lagi, lengan kanannya terasa sakit dan tahu2 sudah dicengkeram musuh.
Han siong Kie sendiri segera merasakan jari dan telapaknya panas serta sakitnya luar biasa ketika tangannya menyentuh pergelangan musuh, se olah2 dia sedang mencengkeram sebuah besi yang sedang membara panas, tanpa sadar Cekalannya jadi mengendor.
Ditengah dengusan tertahan, tubuh Dewa racun Yu Hoa mencelat kebelakang..
dan Duuk badannya mencium tanah tiga tombak dari tempat kejadian.
Dengan hati tercekat buru2 Han siong Kie periksa pula telapak tangan sendiri, ketika ditemuinya sama sekali tak terluka, dia pun menghembuskan napas lega.
"Makhluk tua beracun, sebelum pergi tinggalkan dulu jiwa anjingmu itu.."
Mendadak bentakan nyaring menggema diudara.
Ditengeh bentakan, ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya Go siau Bie meluncur kedepan dan menerjang Dewa racun Yu Hoa yang sudah terluka itu.
Han siong Kie amat terperanjat, pikirnya dihati.
"Aduh celaka.."
Usaha mencegah sudah tak mungkin lagi dengan suara tertahan dia lantas menjerit.
"Nona, jangan bertindak gegabah"
Baru saja jeritan itu menggema diangkasa Go siau Bie telah tiba dihadapan sasarannya dan langsung melepaskan satu pukulan ketubuh Dewa racun tersebut.
"Duuuk Blaamm "
Dengusan tertahan mengiringi jerit kesakitan yang amat nyaring, tahu2 Go siau Bi sudah mencelat kebelakang dan terkapar diatas tanah.
sementara Dewa racun Yu Hoa sendiri buru-buru kabur kedalam kabut putih yang tebal dan melarikan diri.
Han siong Kie sangat terperanjat, dia sudah sadar bahwa keadaan bakal runyam, secepat kilat ia maju kedepan dan membopong tubuh Go siau Bi, terlihatlah gadis itu pejamkan matanya rapat2, air mukanya pucat pias bagaikan mayat, telapak tangan sebelah kanannya yang putih bersih bagaikan kumala kini sudah berubah jadi sembab merah.
Dari tanda yang terlihat didepan mata jelaslah sudah menunjukkan kalau gadis itu keracunan hebat.
Untuk beberapa saat lamanya sianak muda itu jadi gelagapan sendiri, ia totok beberapa buah jalan darah diatas tubuhnya agar racun tak sampai menyerang kehati, kemudian menguruti jalan darah penting ditubuh nona tersebut.
Keadaan menjadi serba runyam, andai kata Go siau Bi mati karena peristiwa ini, bagai manakah tanggung jawabnya kepada orang yang kehilangan sukma serta Put lo sianseng?
tanpa sadar ia bersin beberapa kali dengan hati tercekat.
Suara lengking yang tinggi dan tajam tiba-tiba berkumandang diangkasa, suaranya keras membelah angkasa membuat suasana yang amat sepi terasa bertambah seram.
Dengan kaget dan terkesiap Han soing Kie menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat kabut harum pembusuk tulang telah menyelimuti seluruh mulut lembah, ketika terhembus angin gunung maka kabut itu kian lama bergerak makin ketengah gelanggang.
Han siong Kie benar2 terjepit posisinya, sukma merasa melayang tinggaikan raganya, ia mengerti bahwa apa yang diucapkan Dewa racun Yu Hua bukan gertak sambal belaka, jikalau kabut racun itu sampai menempel dibadan, niscaya tubuh manusia akan melumer jadi gumpalan darah kental yang busuk.
baginya hal tersebut bukan terhitung suatu ancaman serius, tapi berbeda dengan Go siau Bi, kemungkinan besar dia akan keracunan hebat dan akhirnya mati secara mengenaskan.
sementara itu kabut racun yang dilepaskan dari empat penjuru sudah mulai menggumpal jadi satu membentuk rintangan kuat yang menutup seluruh angkasa gelanggang tadi, luas lingkungan gerak Han siong Kie berdua lambat laun bertambah menyempit, tanah kosong seluas beberapa hektarpun tinggal setengah hektar saja..
Bukan begitu saja, kabut racun itu bahkan makin menyempit, hingga ruang gerakpun makin mengecil.
Han siong Kie kalang kabut sendiri, sambil membopong Go siau Bi yang tak sadarkan diri, dia hanya bisa berdiri melongo, hingga beberapa saat lamanya pemuda itu tak tahu apa yang musti dilakukan.
Bayangan maut dan kematian mulai berkecamuk dalam benaknya.
Ditengah suasana yang makin gawat dan makin kritis itulah, tiba2 suara dari Dewa racu Yu Hua berkumandang dari balik kabut tebal yang menyelimuti sekeliling tempat itu.
"Manusia berwajah dingin, jika kau masih ingin hidup, letakkan bocah perempuan itu keatas tanah dan segera bergeraklah sepuluh tombak kearah Timur"
Mendengar perkataan itu Han siong Kie merasa sangat gusar, dia segera membentak.
"Yu Hua, ingat baik2 perkataanku hari ini, suatu ketika kalau kita berjumpa kembali maka aku manusia berwajah dingin akan mencincang tubuhmu berkeping-keping kemudian kepingan badanmu akan kumakankan anjing"
"Haahhh...haahhh...haahhh... tapi sayang ucapanmu itu cuma suatu khayalan, selama hidup tak mungkin dapat kau lakukan, sebab sekarang juga nyawamu bakal musnah. heehh heehh heehh... tunggu saja sampai penitisan yang akan datang"
""Makhluk tua berbisa, manusia pengecut Engkau berani untuk tampilkan diri?"
Tantang Han siong Kie sangat murka.
"Manusia bermuka dingin, waktu yang tersedia bagimu sudah tak banyak lagi, kalau engkau tak ingin melihat badanmu hancur menjadi darah kental, cepatlah lakukan apa yang telah kuperintahkann ketahuilah kecantikan wajah gads itu ibaratnya bidadari yang turun dari kahyangan, sayang bukan kalau dibiarkan dia mati secara mengenaskan"
"Makhluk tua sialan, andaikata dia sampai ketimpa kemalangan, aku bersumpah akan mencuci perkumpulan Thian che kau dengan darah manusia, semua anggotanya akan kubasmi sampal anjing dan ayampun akan kujagal semua" .
"Tak usah menggonggong seperti anjing budukan.. percuma mengigau dalam keadaan kepepet ini, tahukah engkau bahwa kesempatanmu untuk berbuat demikian sudah musnah sama sekali?" . dalam pada itu lingkaran kepung kabut racun sudah makin menyusut kecil, luasnya cuma tinggal sepuluh tombak belaka. Apakah mereka akan tetap hidup segar? ataukah bakal mati mengenaskan menjadi gumpalan darah? semuanya hanya tergantung dalam detik2 terakhir. -000dewi000-BAB 38 SEKALI lagi Dewa racun Yu Hoa berseru dengan suara yang menggidikkan.
"Manusia berwajah dingin, bagaimana dengan keputusanmu? Mati atau hidup hanya tergantung pada pikiranmu sekarang. Cepat letakkan bocah perempuan itu keatas tanah dan berjalanlah sepuluh tombak kesebelah timur."
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, ia yakin bagi dirinya pribadi kabut racun itu tak akan berpengaruh banyak.
tapi bagi Go siau Bi jelas merupakan suatu ancaman maut, diapun tak tahu apa maksud lawan memerintahkan dirinya untuk baringkan Go siau Bi ke atas tanah lalu bergerak sepuluh tombak ke timur, mungkinkah dia hendak bekuk gadis itu lebih dulu, kemudian baru menghadapi dirinya.
Lingkaran kabut sudah mengecil hingga tinggalkan lima tombak belaka, bau harum yang pusingkan kepala berhembus datang tiada hentinya.
sekali lagi Han siong Kie putar otak mencari akal, akhirnya dia ambil keputusan untuk menuruti ucapan lawan, setelah jiwa Go siau Bi tertolong lawan, lalu baru dipikirkan kembali.
segera ia ambil keputusan, diapun siap untuk menjawab.
Pada saat itu serentetan bisikan lirih tapi jelas berkumandang disisi telinganya.
"Bocah cilik, apakah kau ahli waris dari Mo tiong ci-mo yang tersohor itu?"
Han siong Kie merasa amat terkesiap. ia merasa bahwa suara itu dipancarkan seseorang dengan ilmu menyampaikan suara yang amat lihay, segera ia menjawab dengan cara yang sama pula.
"Perkataanmu tidak keliru, siapa kau..."
""Apa betul Mo tiong ci mo adalah ketua perguruan dari istana Huan me kiong?"
Bukannya menjawab, malahan orang itu bertanya lagi.
Han siong Kie semakin tercengang bercampur keheranan, namun dalam keadaan yang amat kritis, tak ada banyak waktu yang tersedia baginya untuk berpikir panjang, dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya pemuda itu menyahut kembali.
"Betul Ucapanmu tak keliru"
"Kalau toh apa yang kau ucapkan merupakan kenyataan semua, itu berarti engkau mengantongi pula lencana mutiara setan jahat ok-kui cu pai dari istana Huan mo kiong? "
Han siong Kie semakin terkesiap.
"Benar, sekarang lencana tersebut berada di dalam sakuku"
"Lencana ok kui cu-pai dapat melenyapkan segala macam pengaruh racun, cepat salurkan hawa murnimu kedalam lencana tersebut dan cobalah kasiatnya "
Dari pembicaraan tersebut Han siong Kie tak dapat menebak siapa kah orang yang mengeluarkan peringatan tersebut, akan tetapi dia yakin bahwa orang tersebut sudah pasti bukan manusia sembarangan..yang lebih aneh lagi ternyata orang itu mengetahui segala-galanya mengenai dia, darimana dia bisa tahu??
Tapi tiada kesempatan lagi baginya untuk berpikir panjang, secepat kilat ia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluar lencana 0k kiu cu pay tersebut, lalu salurkan hawa murninya kedalam lencana tadi..
Cahaya tajam yang aneh dan luar biasa seketika terpancar keluar dari mutiara yang tertera diatas lencana tersebut, begitu dahsyatnya cahaya aneh itu sehingga kabut beracun yang menyelimuti daerah sekitar sini segera buyar dan lenyap termakan sorotan itu.
Betapa gembiranya hati sianak muda ini sukar dilukiskan dengan kata2, hampir saja dia mencak2 dan menari2 seperti orang gila..
"Manusia berwajah dingin"
Suara teguran dari Dewa racun Yu Hoa berkumandang dari balik kabut.
"permainan busuk apa lagi yang sedang kau siapkan? Hmm Rupanya kau sudah bosan hidup?"
Han siong Kie menengadah dan tertawa ter-bahak2.
"Haahh haahh haahh makhluk tua beracun, hutang piutang yang terikat hari ini, pasti akan kutagih di kemudian hari, sekarang maafkanlah aku karena tidak bisa melayani lebih jauh.
Dengan tangan sebelah dia membopong Go siau Bi, tangan yang lain memegang lencana ok kui cu pay, pemuda itu segera enjotkan badan dan melesat keudara.
Kabut putih beracun yang mengepung sekelilingnya pada buyar kesamping tatkala badannya menyambar lewat, dalam waktu singkat pemuda itu sudah berada beberapa puluh tombak jauhnya dari tempat semula.
suitan nyaring berkumandang bersahut-sahutan dari empat penjuru, agaknya pihak lawan telah mengetahui bahwa musuhnya berusaha untuk meloloskan diri dari jebakan.
sementara itu Han siong Kie sudah kabur beberapa ratus tombak jauhnya dari gelanggang, dia menelusuri sebuah jalan lembah yang sempit dan panjang sekali.
Kabut tebal yang melingkari daerah sekitar situ sudah kian menipis hingga akhirnya lenyap tak berbekas, tibanya mereka berdua dalam sebuah lingkaran lembah yang sempit.
Tempat itu bukan lain adalah wilayah di mana ia pernah tertangkap oleh musuh atau dengan perkataan lain sudah tak jauh lagi dari luar lembah Lian-huan tau.
Ia menghembuskan napas lega, setelah menghirup udara dalam2 lencana ok kui cu pay itupun disimpan kembali kedalam saku.
Kemudian setelah berhenti sebentar, untuk kesekian kalinya dia enjotkan badan kabur keluar lembah.
siapa sangka baru saja badannya melangkah masuk kedalam lorong lembah itu, suara gemuruh keras yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan kesunyian, batu gunung dan kayu2 besar bergelindingan dari atas bukit menghujani seluruh permukaan lorong.
Han siong Kie sangat terkejut, segenap hawa murni yang dimilikinya segera disalurkan mengelilingi seluruh badan, ilmu meringankan tubuh Cahaya kilat lintasan bayangan dikerahkan mencapai pada puncaknya, ibaratnya serentetan cahaya petir yang membelah angkasa, ia terobos hujan batu dan kayu itu dan meluncur keluar lembah.
sungguh cepat garak badannya itu, begitu cepatnya seakan2 sukma gentayangan saja, tak seorangpun yang mampu mengikuti gerakan tubuh pemuda itu dengan pandangan tajam..
Kejadian ini sama sekali diluar dugaan jago2 perkumpulan Thian che kau yang bersembunyi diatas dinding lembah, untuk sesaat mereka jadi kalang kabut dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Han siong Kie tak berani bertindak gegabah, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya dia kabur terus kearah luar lembah, meskipun barus bersusah payah akhirnya toh dapat lolos dari kepungan maut musuh dalam keadaan selamat.
Angin malam berhembus sepoi2, bintang bertaburan diangkasa, cuaca amat cerah sekali.
Ia menyeka keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya, betapa terima kasihnya pemuda ini atas petunjuk yang diberikan seseorang dari tempat kegelapan itu kepadanya.
Ia melirik sekejap kearah Go siau Bi yang berbaring dalam pelukannya, paras muka gadis itu sudah berubah jadi pucat pias seperti mayat, napasnya amat lirih, sementara telapak tangan kanannya telah membengkak besar tiga kali lipat dari keadaan biasa, warnanya hitam ke merah2an hingga kelihatan mengerikan sekali.
Menyaksikan kesemuanya itu Han siong Kie mengerutkan dahinya, ia tidak pandai ilmu pengobatan juga tak paham ilmu racun, apa lagi Dewa racun Yu Hoa sangat tersohor dalam dunia persilatan karena penggunaan racunnya, tak usah dipikir sudah bisa diketahui kalau racun itu pasti bukan racun sembarang an..
lalu.
kemana dia harus pergi untuk mencari obat pemunah itu?.
Put to sianseng, kakek Go siau Bi adalah seorang jago yang sangat lihay dalam segala bidang, kemungkinan besar dia bisa memberikan bantuannya, tapi kemana dia harus mencarinya?
apalagi Go siau Bi sudah berada dalam keadaan tak sadarkan diri.
Berapa lama lagi dia bisa hidup??
pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya membuat sianak muda itu kebingungan, akhirnya dia menghela napas panjang dan lari keluar bukit tanpa tujuan tertentu.
Berpuluh puluh li sudah dilewatkan tanpa terasa, sementara malam semakin larut diantara ujung jalan bukit terbentanglah sebuah jalan raya yang lebar...
Han siong Kie menyelusuri jalan raya tersebut, ia benar2 tanpa tujuan, karena tak tahu kemana dia harus pergi.
sementara ia masih kebingungan, dari bawah sebuah pohon yang lebat disisi jalan, berkumandang suara teguran nyaring.
"Bocah, kemarilah?"
Han siong Kie terperanjat dan segera berpaling, ia lihat dibawah sebuah pohon yang lebat berdirilah seorang pria setengah baya, yang berdandan sastrawan, sekilas pandangan ia segera mengetahui siapa kah orang itu, dengan penuh kegirangan ia loncat kehadapannya dan buru2 memberi hormat.
"Locianpwe, sambutlah salam dan hormatku untuk kau orang tua"
"Tak usah banyak adat, baringkan dulu gadis itu ke atas tanah"
Rupanya pria setengah baya ini bukan lain adalah Put to sianseng, kakek dari Go siau Bi. Se akan2 terlepas dari beban yang amat berat, serunya kembali.
"Apakah locianpwe yang memberi bisikan kepadaku tadi."
"Benar"
Sahut Put to sianseng sambil berjongkok dan memeriksa keadaan luka cucu perempuannya dengan seksama, Sesaat kemudian ia berseru dengan hati terkesiap.
"Aduh.. sungguh lihay racun ini"
"Apa sudah tak bisa ditolong lagi.."
Bisik Han Siong Kie agak tergagap. Put to sianseng termenung dan berpikir sejenak, kemudian jawabnya dengan lembut.
"Untuk ditolong sih masih bisa ditolong, cuma harus membutuhkan banyak tenaga dan kerepotan"
Agak lega hati Han Siong Kie setelah mendengar jawaban tersebut, ia merasa tak ada gunanya berdiam terialu lama disana, cepat la memberi hormat dan berseru.
"cianpwe, kalau memang begitu aku hendak mohon diri lebih dahulu".
"Eh, tunggu sebentar"
Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat, telapak tangan put lo sianseng bergerak cepat, secara beruntun ia totok belasan buah jalan darah penting dibadan Go Siau Bi, kemudian dari sakunya ia mengambil keluar tiga butir obat berwarna hijau dan dijejalkan kedalam mulutnya, sementara beberapa butir yang lain dihancurkan dan dibubuhkan keatas luka keracunan tersebut.
Selesai memberikan pertolongan, orang tua itu baru menengadah dan berkata kepada si anak muda itu.
"Atas nama anak Bi, kuucapkan banyak terima kasih atas pertolongan yang sudah kau berikan kepadanya"
Baca Juga: Laron Pengisap Darah 4
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 13