Ceritasilat Novel Online

Tengkorak Maut 6

Eps 6 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.

"Locianpwee tak usah merendah, sudah sepantasnya kalau aku yang muda memberikan bantuan, apalagi akupun pernah berhutang budi kepada nona siau Bi"

"Apakah gurumu sudah meninggal dunia?"

Setelah merandek sebentar, Put lo sianseng alihkan pembicaraannya ke soal lain.

"Benar, guruku telah berpulang kealam baka.. tapi darimana cianpwe bisa tahu tentang persoalan ini?"

"Aku dengar dari seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma"

Terperangah hati Han siong Kie mendengar jawaban tersebut, ia tak menyangka kalau semua gerak geriknya tak lepas dari pengawasan orang yang kehilangan sukma, tapi..

kenapa ia sampaikan gerak geriknya ini kepada Put lo sianseng?

sebenarnya apa yang sedang dituju?

sekarang si anak muda itu baru tahu, kenapa Put to sianseng bisa tahu kalau dia membawa lencana mutiara ok kiu cupay, rupanya jago tua ini mendapat tahu dari mulut perempuan misterius itu.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, pemuda itu lantas berpikir.

"Kenapa aku tidak menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk menanyakan asal usul orang yang kehilangan sukma? siapa tahu kalau Put to sianseng bersedia untuk menerangkan? "

Berpikir demikian, diapun lantas bertanya "Locianpwee, kau kenal dengan perempuan misterius yang mengaku sebagai orang yang kehilangan sukma?"

"Haaah haaah haaah ketika aku masih melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, perempuan itu masih belum dilahirkan didalam dunia, darimana aku bisa kenal? Tentu saja perkenalan ini baru berlangsung belum lama berselang"

"Apakah locianpwee bersedia untuk memberi keterangan kepadaku. ? . Bagaimanakah raut wajah orang yang kehilangan sukma yang sebenarnya ???"

"Eh...aneh, kenapa kau ajukan pertanyaan seperti itu?"

Putto sianseng bertanya keheranan-"sudah terlalu banyak budi kebaikan yang kuterima dari mereka berdua, aku ingin membalas budi kebaikan tersebut, tapi sayang aai sayang...aku tak tahu bagaimanakah raut wajah mereka yang sebenarnya." -000dewi000-

Jilid 19

"SUDAH KAU tanyakan soal ini kepada mereka, tapi mereka tak bersedia memberitahukan kepadamu? bukan begitu?"

Ujar put to sianseng kembali.

"Aku sendiripun tak dapat memberitahukan soal ini kepadamu, sebab ketika aku berjumpa muka dengan dirinya, permintaannya yang pertama adalah memegang rahasia ini rapat2"

Han siong Kie tertegun dan tak bisa menjawab, akhirnya dia menghela napas panjang dan tertunduk dengan muka sedih. Put to sianseng menatap sekejap wajah sianak muda itu, kemudian ujarnya lagi.

"Kalau toh engkau adalah ahli waris dari Mi tiong ci mo, dan lagi membawa pula tanda kekuasaan dari seorang ciangbunjin, apakah engkau ada minat untuk menduduki kursi kekuasaan tersebut untuk memimpin istana Huan mo kiong diwilayah Thian-lam?"

"Tentang soal ini, sulit bagiku untuk menampiknya, tapi hal itu bukan tugasku yang terutama, sebab bagaimanapunjuga aku harus menuntut balas lebih dahulu atas dendam berdarah yang menyelimuti diriku"

"Ehmm.. Kalau memang begitu, akupun ikut berharap agar engkau bisa membersihkan kembali Istana Huan mo kiong dari manusia2 laknat, serta membangun kembali perguruan Thianlam"

Dengan pikiran bimbang Han siong Kie mengangguk, padahal ia tak tahu apa yang dimaksudkan siorang tua itu, walau demikian dia sendiripun tak ingin banyak bertanya, agaknya ia merasa bahwa persoalan itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan mulai sekarang, karena tiada persoalan lain yang dipikirkan olehnya sekarang kecuali membalas dendam serta lenyapkan musuh besarnya dari muka bumi.

"Bocah, duduklah disini"

Tiba2 Put to sianseng berkata lagi sambil menuding kearah akar pohon disisinya.

"Apakah locianpwe masih ada petunjuk lain?"

Pemuda itu bertanya.

"Benar, ada suatu persoalan penting hendak kubicarakan lebih dahulu kepadamu dan persoalan ini harus dapat diselesaikan sebelum aku masuk gunung"

Agak tergerak hati Han siong Kie mendengar ucapan tersebut, terpaksa ia maju ke depan dan duduk diatas akar pohon yang di tunjuk.

Dalam pada itu keadaan dari Go Siau bi yang lebih baikan, bengkak merah telapak tanganpun sudah jauh lebih kempes dan baikan-Dengan pandangan mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Put to sianseng menatap wajah sianak muda itu tak berkedip kemudian ujarnya.

"Aku dengar engkau paling benci pada kaum wanita, benarkah ada kejadian seperti ini?"

Untuk sesaat Has long Kie agak tertegun, akhirnya dia mengangguk.

"Benar"

"Apakah rasa bencimu pada segenap wanita didunia ini disebabkan ibumu kawin lagi dengan pria lain?"

Han siong Kie melongo dan berdiri menjublak, sorot mata bengis dan penuh pancaran napsu membunuh menyelimuti wajahnya sambil menyeringai seram ia menjawab.

"Mungkin saja begitu"

"Itu berarti pikiranmu keblinger, pendapat yang keliru, dan pikiranmu terlalu cupat."

"Pendapat yang keblinger??"

"Tentu saja, cinta kasih apakah yang bisa menangkan cinta kasih orang tua terhadap anaknya? cuma saja.."

"Aku sendiripun pernah berpikir demikian tapi sayang kadangkala kenyataan memang jauh lebih kejam dari bayangan"

"Bocah muda, ketahuilah seringkali banyak persoalan yang terjadi dalam dunia jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan, dikemudian hari engkau akan paham sendiri dengan keadaan tersebut"

Per-lahan2 Han siong Kie tundukkan kepalanya, andaikata pihak lawan bukan seorang jago tua yang berusia diatas seratus tahun dan lagi mempunyai kedudukan yang sangat terhormat dalam dunia persilatan, mungkin sedari tadi dia sudah berlalu dari tempat itu, sebab selama hidupnya dia paling takut kalau ada orang mengungkap tentang ibunya, sebab disinilah letak luka hatinya yang paling parah.

"Bocah sekarang berilah satu jawaban yang sejujurnya atas sebuah persoalan yang hendak kuajukan kepadamu"

Terdengar Put lo sianseng berkata kembali. Han siong Kie agak terperanjat dan segera menengadah keatas memandang wajah orang tua itu, sahutnya dengan tercengang.

"Katakanlah, aku akan bcrusaha untuk menjawab dengan sebaik-baiknya.."

"Apakah engkau mencintai anak Bi?"

Han siong Kie terperangah, begitu tercengang dan kagetnya sampai2 dia loncat bangun dari tempat duduknya, lama sekali membungkam... akhirnya pemuda itu menjawab.

"Cianpwee, maafkan aku... aku tak dapat memberikanjawaban yang sebaik-baiknya"

"Kenapa??"

"sebab mimpipun aku tak pernah menyangka kalau cianpwee bakal mengajukan pertanyaan seperti itu"

"Mungkinkah engkau terpengaruh oleh pendapatmu yang keblinger itu hingga tak mampu menjawab??"

"Bukan karena soal itu, tapi yang jelas aku benar2 tak dapat memberikan jawaban yang baik "

"Kalau memang begitu aku hendak mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu, tak lama berselang bukankah anak Bi pernah menyelamatkan jiwamu dari dalam sungai dan merawat lukamu selama beberapa hari dalam kamar tidurnya."

"Aku yang muda masih dapat membedakan dengan jelas mana budi mana dendam, suatu ketika aku pasti akan membalas budi kebaikan ini"

Tukas Han siong Kie cepat.

"selain itu, bukankah kalian berdua pernah tidur bersama dalam sebuah losmen yang sama setelah engkau menolong jiwanya dari ancaman orang2 Huan mo kiong??"

"Benar sekalipun begitu aku masih belum dapat membalas semua budi kebaikan yang pernah kuterima dari nona Bi"

"Dan sekarang engkau telah menolongnya kembali, dan menggendong tubuhnya kesini"

Han siong Kie berusaha menekan rasa angkuh dan jumawanya kedalam hati, tiba2 ia menengadah dan berkata dengan dingin.

"Apa salahnya kalau aku berbuat demikian"

"Masalah nomor satu bagi seorang wanita adalah kesucian badannya"

Ujar Put to sianseng dengan suara dalam.

"meskipun sebagai putra putri orang persilatan memang tak usah mempersoalkan adat istiadat yang serba titik bengek terhadap kebebasan itu toh masih ada batas2nya.."

"Maaf cianpwe, aku bukankah seorang manusia tak bermoral"

"Dengarkan dulu kata2ku, selama engkau beristirahat selama beberapa hari dalam kamar tidurnya bagaimanakah hubungan kalian berdua, selama kalian menginap bersama dalam sebuah kamar losmen-bagaimanakah hubungan kalian, lalu beberapa kali kau peluk tubuhnya, boleh dibilang tubuh kalian sudah saling menempel..." . Han siong Kie tertegun dan melangkah mundur setindak kebelakang, serunya agak tergagap.

"Jadi.. kalau begitu cianpwe anggap keliru kalau aku memberikan pertolongan kepadanya?"

"Tidak, engkau sama sekali tidak keliru"

"Lalu apa maksud locianpwe mengucapkan kata2 seperti itu.."

"Aku cuma berharap agar engkau dapat menerima usulku"

"Apa yang hendak cianpwe usulkan?"

"Ikatlah hubungan perkawinan dengan anak Bi"

Terkesiap hati Han siong Kie mendengar permintaan itu, sekujur badannya bergetar keras, mimpipun dia tak menyangka kalau jago aneh dari dunia persilatan ini hanya mengajukan permintaan seaneh itu .

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia teringat kembali dengan peristiwa yang dialaminya dalam rumah penginapan, dimana orang yang kehilangan sukma beserta putranya telah menyaru sebagai penjual obat kelilingan, bukan saja memusnahkan racun yang mengeram dalam tubuh Go siau bi bahkan hendak menjodohkan pula gadis itu kepadanya dengan menggunakan siasat, selain itu orang yang kehilangan sukma pula yang menyuruh dia masuk kewilayah lian huan tui untuk menolong Go siau Bi.

Ditinjau dari sini dapatlah diketahui bahwa semua yang telah terjadi merupakan suatu rencana besar, dan orang yang menyusun rencana besar itu bukan lain adalah orang yang kehilangan sukma.

Tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berbuat demikian, sebenarnya apa yang hendak dia tuju??

Han siong Kie benar2 merasa tak habis mengerti.

Bayangan tubuh Tonghong Hui berkelebat kembali dalam benaknya, ucapannya yang begitu mengenaskan serta cium mesrahnya yang sukar dilupakan...diam2 ia berfikir.

"Selama hidup aku Han siong Kin tak akan mencintai perempuan manapun, Kalau di katakan ada maka dia bukan lain adalah Tonghong HHui, saudara angkatku itu, tetapi dia telah pergi..

dalam perkataannya yang terakhir rupanya dia sudah menunjukkan bahwa dia akan tinggalkan diriku untuk selama-lamanya.

sementara dia masib termenung, put to sianseng telah berkata kembali.

"Eh bocah, anak Bi amat mencintai dirimu dan lagi kalian sudah ditakdirkan untuk bersatu, apakah engkau masih saja menampik ?"

Han siong Kie tertawa getir.

"Locianpwee, keinginanmu tak mungkin bisa kuturuti"

"jadi engkau lebih suka anak Bi menikah dengan orang lain?"

Han siong Kie dibuat menangis tak bisa, tertawapun tak dapat, dengan cepat ia menentang.

"Locianpwee, engkau tidak merasa bahwa pendapatmu itu terlalu dipaksakan?"

"Aku bukan sengaja mencari alasan yang di buat2, tapi dalam kenyataan memang begitulah, sepanjang hidupnya anak Bi tak mungkin bisa kawin lagi dengan orang lain"

"Maaf cianpwee, persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan aku"

"Bagaimana kalau dibicarakan dari sudut keadilan dan kebenaran?"

"Aku merasa tidak berkewajiban untuk memikul tanggung jawab tersebut."

"jadi engkau tak bersedia?"

"Perkawinan adalah suatu kejadian yang maha besar dalam sejarah seorang manusia dan kejadian besar itu tak bolah dipaksakan, sebab kalau tidak maka tiada kebahagiaan yang akan diterima oleh mereka yang bersangkutan"

Put to sianseng terbungkam oleh ucapan tersebut, dalam kenyataan ada dua sebab yang memaksa dia harus berbuat demikian-Pertama, dia ingin mewujudkan apa yang diharapkan dan diidamkan oieh cucu perempuannya .

Kedua, ia telah menerima permintaan dari orang yang kehilangan sukma..

siapa tahu, akhirnya toh jerih payah tersebut mencapai angka nol besar alias gagal total.

Kenyataan memang demikianlah, tak mungkin seseorang memaksakan kehendaknya dituruti orang lain-Kembali Han siong Kie termenung beberapa saat lamanya, kemudian sekali lagi dia memberi hormat seraya berkata.

"Apabila locianwe tidak ada urusan lain, ijinkanlah diriku untuk mohon diri"

Put to sianseng menganggguk.

"Ehmm segala sesuatu yang ada dikolong langit dasarnya memang jodoh, pergilah bocah."

Sekali lagi Han Siong Kie melirik sekejap kearah Go siau Bi yang berada dalam keadaan tak sadarkan diri, timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya, tapi ia tak berhenti lama, setelah putar badan secepatnya berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung sang pemuda yang jauh meninggalkan tempat itu, Put to sianseng gelengkan kepalanya berulang kali, menanti pemuda itu sudah tak kelihatan ia baru menengadah keatas pohon sembari berseru.

"Banyak persoalan tak bisa ditentukan oleh manusia sendiri, aku rasa kita harus meyerahkan keputusan terakhir pada suratan takdir"

Sesosok bayangan maousia bagaikan selembar daun kering melayang turun dari balik rimbunnya dedaunan, ketika mencapai permukaan tanah kelihatan kalau dia adalah seorang perempuan berkain cadar, begitu mencapai tanah dia lantas menjura dalam2 kearah Put-to sianseng.

Dia bukan lain adalah orang yang kehilangan sukma, perempuan misterius itu dengan nada sedih ia berkata.

"sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengatasi kesulitan tersebut, bagaimanapun juga aku harus mengurusinya"

"siapa tahu kalau perkembangan selanjutnya dimasa mendatang sama sekali meleset dari dugaanmu sekarang??"

"semoga saja memang begitu, tapi andaikata apa yang kutebak ternyata benar. aaai Bagaimanakah akibatnya, benar2 sukar dilukiskan dengan kata2"

Walaupun manusia harus berusaha, tetapi Thianlah yang menentukan, kita memang harus berjuang dan berusaha sekuatnya, tapi andaikata akhirnya meleset dari dugaan, apa boleh buat lagi?

Aaai karena tragedi yang menimpa keluargaku, terpaksa aku harus muncul kembali dalam dunia ramai.

dan sekarang urusan telah beres, rasanya sudah tiba pula saatnya bagiku untuk mengundurkan diri ketempat pengasingan dan tak akan muncul kembali untuk selamanya, bagaimana keadaan esok?

biarlah evolusi yang menentukan masing2 pihak"

Bicara sampai disitu, dia lantas membopong tubuh Go siau Bi dan berlalu dari situ.

orang yang kehilangan sukma hanya bisa berdiri termangu2 ditempat semula, lama..

lama sekali baru menghela napas sedih, gumamnya seorang diri.

"Yaah.. memang kehendak manusia kadang kala tak bisa terpenuhi, terpaksa aku harus serahkan semua keputusan pada suratan takdir"

Bicara samai disitu diapun enjotkan badan dan meluncur kebalik kegelapan.

sementara itu Han siong Kie yang berangkat tinggalkan put to sianseng berdua, merasakan hatinya amat berat bagaikan dibebani dengan besi seberat ribuan kati, berada di bawah cahaya rembulan ia meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Kecurigaan dan rasa tak habis mengerti, lalu berkecamuk dalam hati pemuda ini, terutama sekali dalam peristiwa hendak dijodohkannya Go siau Bi dengan dirinya oleh Put lo sianseng atas prakasa orang yang kehilangan sukma, ia tak mengerti apa maksud dan tujuan dari perempuan misterius itu ?

sementara perjalanan masih dilangsungkan, mendadak terlihatlah sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur kearah samping hutan dan lenyap dibalik kegelapan.

Menyusul mana muncul pula dua sosok...

tiga sosok bayangan manusia sehingga akhirnya berjumlah puluhan orang, tujuan mereka sama dan ditinjau dari gerakan tubuh mereka jelas merupakan kawanan jago persilatan yang berilmu tinggi.

sianak muda itu jadi keheranan, selain tercengang diapun merasa agak terperanjat.

Timbulah perasaan ingin tahu dalasm hatinya, ia segera berkelebat kesamping tinggalkan jalan raya dan menyusul kearah mana beberapa puluh bayangan misterius tadi melenyapkan diri Nun jauh disebelah depan, melesatlah beberapa puluh sosok bayangan hitam tadi kearah sebuah bukit kecil.

Han siong Kie tak pernah ragu, diapun mengikuti pula mendaki keatas bukit tersebut.

Bukit itu amit lebat dengan tumbuhan rerumputan, dibawah sorot cahaya rembulan tampaklah pepohonan siong tumbuh disana sini, dibalik rimbunnya pohon muncul sebuah bangunan kuil yang terpencil letaknya.

Andaikata orang langsung menaiki bakit tersebut, mungkin sulit bagi mereka untuk menemukan letak kuil tadi, berhubung letak bangunan tersebut begitu terpencil dan lagi tertutup oleh semak belukar yang tebal, maka siapa yang tidak membelok dulu kesamping dan masuk dari rusuk atap, tak mungkin akan menduga sampai kesana.

Han siong Kie jadi ragu2, ia tak tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini.

Pada saat itulah kembali ada tujuh delapan sosok bayangan manusia meluncur datang, satu ingatan cerdik terlintas dalam benak pemuda itu, cepat ia bersembunyi dibalik pohon menanti rombongan orang2 itu sudah lewat, ia segera kerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling tinggi menyusul dibarisan belakang, dengan demikian apabila ada penjagaan yang harus dilalui maka pastilah dia akan dianggap sebagai anggota rombongan Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang-orang itu sangat hebat dan sempurna sekali, sepanjang perjalanan mereka bergerak tanpa berhenti, beberapa langkah kaki mereka seakan-akan tidak menempel diatas permukaan tanah.

orang yang bergerak dipaling depan rupanya sebagai pimpinan rombongan, setiap kali bergerak beberapa tombak ia lantas memberikan kode2 tertentu kearah pos penjagaansesaat kemudian mereka sudah sampai di atas puncak bukit, bangunan kuil ditengah lingkaran pohon siong pun sudah terbentang didepan mata.

Cepat2 Han siong Kie meloncat naik keatas puncak pohon, bagaikan seekor kelelawar ia mendekati kuil kuno tersebut dengan langkah yang sangat ber hati2.

Ruang tengah kuil tersebut bermandikan cahaya lilin dan tampak terang benderang, belasan orang tua muda duduk berkerumun disitu sambil berbicara lirih.

Rombongan terakhir tadi masuk ke dalam kuil, seorang kakek tua bermuka seram bermantel benang emas yang duduk di belakang meja kebesaran segera bangkit berdiri, ia menyapu sekejap seluruh ruangan, lalu dengan suara dingin menyeramkan ujarnya.

"Jumlah anggota telah pas dan aku rasa semua orang sudah hadir disini, sekarang pun huhoat akan mengumumkan firman dari kaisar Tee kun serta rencana penggerakan kita pada malam ini" -ooodewiooo-BAB 39 MENDENGAR ucapan tersebut, semua orang segeta alihkan sorot matanya ke atas wajah kakek bermantel benang emas itu, suasana dalam ruangan berubah jadi sunyi senyap hingga tak kedengaran sediklt suarapun. Setelah berhenti sebentar, untuk kedua kalinya kakek bermantel benang emas itu menyapu seluruh ruangan, kemudian sambungnya lebih jauh.

"Tugas kalian semua saat ini adalah berusaha untuk menyelidiki jejak dari Mo mo-cuncu, dia lebih tersohor sebagai Mo-tiong ci mo bagi orang persilatan didaratan Tiong goan sini, menurut laporan dari para pengawal, beberapa waktu belakangan ini dalam dunia persilatan telah muncul seorang pemuda bergelar Malaikat penyakitan yang katanya menjadi ahli waris dari Mo tiong ci mo, bahkan sudah menguasahi penuh segenap ilmu silatnya hingga ia terhitung seorang jagoan ampuh"

Kembali kakek bermantel benang emas ito berhenti sebentar, sambungnya kemudian-"Menurut laporan terakhir yang masuk, katanya malaikat penyakitan tersebut ternyata bukan lain adalah penyaruan dari manusia berwajah dingin Han siong Kie, usianya baru dua puluh tahunan, paras mukanya sangat tampan, tapi sikap serta tindak tanduknya amat dingin menyeramkan, karenanya indentitas itu gampang ditemukan, jika mau temukan jejak Mo tiong ci mo maka kita harus mencari keparat cilik itu lebih dahulu, lebih baik jangan bentrok secara berhadapan dan kalau bisa tangkap dalam keadaan hidup2, dalam bulan ini juga kaisar akan tiba sendiri kedaratan Tiong goan, oleh karenanya kalian musti berjuang dan berusaha dengan sungguh2"

"Terima perintah"

Sahut semua anggota perkumpulan dengan sikap menghormat.

Kakek tua bermantel benang emas itu tertawa seram, dari sakunya dia ambil keluar sebuah lencana bulat dan diangkat tinggi2 keudara, hardiknya dengan lantang.

"firman dari Kaisar Tee kun"

Semua jago lihay yang hadir disana bersama2 bangkit berdiri, muka mereka menunjukkan perasaan serius, sambil bertekuk lutut mereka pasang telinga baik2. Dengan suara dalam kakek itu berkata.

"Lima orang tianglo dari sepuluh tianglo ruang Goan lo wan dari istana kita kini sudah masuk kedaratan Tiong goan, apabila duduk perkara yang sebenarnya berhasil diketahui mereka, akibatnya benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, untuk mengatasi kesulitan tersebut maka Kaisar Tee kun sengaja menurunkan lencana ngo cu wan pay untuk bereskan nyawa kelima orang tiangloo tersebut di sini juga, dari pada mendatangkan bencana dikemudian hari"

Mendengar firman tersebut, semua jago anggukkan kepalanya kemudian baru bangkit berdiri Kembali kakek bermantel emas itu termenung sebentar, lalu ujarnya lagi dengan muka menyeringai seram.

"Sebentar lagi kelima orang tiang lo itu akan tiba disini, sekarang marilah kita laksanakan tugas seperti rencana semula, kecuali empat tiam cu (ketua ruangan) yang lain boleh tinggalkan tempat ini"

Ditengah berkelebatnya bayangan manusia para jago sama2 bangkit berdiri dan keluar dari ruangan, kini yang masih tinggal disitu cuma empat orang kakek tua bermantel warna merah.

Tak lama kemudian, dua buah meja perjamuan telah disiapkan dalam ruangan-"Mari kita duduk dalam meja perjamuan sambil menantikan kedatangan mereka"

Ujar kakek bermantel emas kemudian kepada rekan2nya.

Lima orang kakek itupun ambil tempat duduk dimeja perjamuan sebelah kanan, semua orang membungkam sehingga suasana diliputi keheningan-Malam semakin kelam, bukit yang sunyi diliputi suasana yang tegang dan menyeramkancahaya lilin memancar masuk kedalam ruang kuil, menyinari wajah lima orang kakek tua yang mengerikan, begitu menyeramkan sehingga menggidikkan hati siapapun yang melihat..

Entah berapa lama sudah lewat, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara pakaian panjang yang memecahkan kesunyian-Paras muka kelima orang kakek tua itu berubah jadi tegang, kakek bermantel emas sebera berbisik lirih.

"Mereka sudah datang, kalian harus hati2 dan jangan sampai ketahuan ...ketahuilah mereka berlima tak gampang dilayani"

Empat orang kakek bermantel merah itu sama2 mengangguk.

Demikianlah, kelima orang kakek tua itu segera bangkit dan menuju keluar ruang kuil, mereka menunggu kedatangan korbannya dengan mimik yang diperlihatkan seramah mungkin-Terdengar ujung baju tersampok angin, lima sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa tahu2 sudah melayang turun ke tengah halaman.

Buru2 kakek bermantel emas itu maju menyambut, ujarnya sambil menjura.

"Pelindung hukum Mo sam yu menyambut hormat kedatangan tiang lo berlima "

Menyusul mana empat orang kakek bermantel merahpun menyebut nama mereka sambil memberi hormat.

"Ketua ruangan penyiksa Pak Ji-hay memberi hormat untuk tiang lo berlima"

"Kepala ruangan adat istiadat see Bun kong memberi hormat kepada tiang lo berlima."

"Kepala ruangan pengontrolan dan keamanan Tiong Yu memberi hormat untuk tiang lo berlima."

"Kepala ruangan pelatih teknis Be Yu too menyambut kedatangan tiang lo berlima."

"Tak usah banyak adat"

Sahut kelima orang tianglo itu sambil ulapkan tangannya.

Dengan langkah lebar mereka masuk kedalam ruangan, dibawah cahaya lilin tampaklah kelima orang tianglo itu bermuka keren berjenggot putih, mereka mengenakan baju sutra yang halus, ditangan masing2 menggenggam sebatang tongkat berkepala setan, usia diantara tujuh puluh tahunan-Dengan senyum tak senyum pelindung hukum Mo sam Yu berebut maju beberapa langkah kedepan kemudian sambil memberi hormat katanya.

"Tianglo berlima tentunya sudah merasa amat lelah bukan, silahkan minum arak dan bersantap"

Kelima orang tianglo itu mengangguk dan ambil tempat duduk sementara kelima orang ketua ruangan itu ambil tempat duduk pada meja perjamuan yang lain.

sungguh amat ramah pelayanan pelindung hukum Mo sam Yu terhadap junjungannya, ia turun tangan sendiri untuk memenuhi cawan arak kelima orang tianglo itu, kemudian baru kembali ketempat duduknya sendiri Menyusul mana dua orang pria berbaju hitam muncul sambil menghidangkan sayur dan makanan lezat.

setelah perjamuan berlangsung beberapa waktu lamanya, tianglo bermuka keren yang duduk diujung kiri buka suara, ujarnya dengan suara dalam.

"Mo huhoat, aku telah mendengar suatu berita yang mengerikan dalam dunia persilatan, apakah kalian tahu juga tentang berita tersebut??"

Mo sam yu serta keempat orang ketua ruangan menunjukan muka kaget tapi cepat2 mereka berpaling kearah lain-"Boleh kami tahu kabar apakah itu?? "

Tanya Mo sam yu kemudian dengan sikap hormat. sekujur tubuh tianglo itu bergetar keras, rupanya ia sedang berusaha menahan emosi dalam hatinya.

"Tahukah kalian bahwa ciangbunjin telah melanggar pantangan yang ditetapkan cousu dan secara diam2 mempelajari ilmu tui hun kang."

Paras muka kelima orang itu berubah hebat, sekujur tubuh merekapun tampak ikut bergetar keras.

"Maksud tiangloo"

Bisik Mo sam Yu lagi dengan dahi berkerut. sinar mata yang sangat aneh memancar keluar dari ketua para tianglo tersebut, ucapnya sepatah demi sepatah kata.

"Kaisar Tee-kun dari istana Huan mo kiong telah mengutus orang masuk kewilayah Tionggoan untuk mencari gadis2 persilatan yang akan dihisap hawa dingin koan imnya guna keperluan ilmu Tui hun kang tersebut."

"Ah Masa sudah terjadi peristiwa itu?"

Seru Mo sam yu pura2 terperanjat "baru kali ini tecu mendengar berita yang luar biasa ini"

"Hmm Andaikata apa yang kuselidiki tidak keliru, maka para tianglo dari ruang Goan lo wan akan menjatuhkan hukuman ang setimpal kepada kaisar sesuai dengan peraturan yang berlaku"

Suasana dalam ruangan seketika tercekam dalam ketegangan serta keheningan yang luar biasa.

seorang tianglo berhidung samsi bermulut lebar yang duduk disudut kiri mendadak awasi wajah Mo sam yu tajam2, lalu tegurnya dengan secara tajam.

"Pelindung hukum Mo, benarkah engkau tak tahu menahu tentang persoalan ini?"

Sekilas cahaya bengis yang menggidikan hati terlintas diatas wajah Mo Sam yu, tapi hanya sebentar saja cahaya itu sudah lenyap kembali.

"Tecu benar2 tak tahu, masa kami berani membohongi tianglo berlima?"

"Baik, kalau memang begitu kami akan selidiki persoalan ini hingga duduknya persoalan jadi jelas "

Mo sam yu membungkam dalam seribu bahasa. Dengan wajah serius ketua para tianglo itu berkata lagi.

"Untuk sementara waktu baiklah persoalan ini tak usah dibicarakan lebih dulu, andaikata kenyataan memang begitu.. yaa. kejadian ini benar2 merupakan suatu noda yang amat besar bagi kita, Mo huhoat"

"Ada urusan apa tianglo?"

"Bagai manakah keadaan yang menyangkut tentang diri ciangbunjin generasi yang lalu?"

"Menurut hasil laporan yang berhasil tecu kumpulkan, ahli waris dari ciangbun cousu adalah malaikat penyakitan, dan orang itu tak lebih cuma seorang pemuda yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan, semula dia bernama manusia berwajah dingin Han siong Kie"

"Itu bukan masalah yang penting, persoalannya betulkah dia adalah murid dari ciangbun supek, dan sekarang manusia berwajah dingin ada dimana? apakah sudah diketahui?"

"Tentang soal ini.... tecu telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk melakukan penyelidikan."

"Andaikata ciangbun supek masih hidup di kolong langit, paling sedikit usianya sudah mencapai seratus tahun lebih, sampai sekarang aku masih tetap merasa tak habis mengerti, kenapa dia orang tua harus berdiam didaratan Tionggoan hampir lima puluh tahun lamanya"

Tiba-tiba Mo sam yu bangkit berdiri, lalu dengan sikap yang sangat hormat ujarnya kepada kelima orang tianglo tersebut.

"Tianglo berlima, secara kebetulan tecu berhasil mendapatkan seguci arak kenamaan yang nikmat rasanya, orang2 sebut sebagai arak sin sin-tiok ( Arak naik sorga ) kali ini sengaja tecu bawa untuk menjamu tianglo sekalian-."

"Arak naik sorga? aneh benar namanya"

Seru tianglo ketua dengan nada tercengang. Mo sam yu tersenyum misterius.

"Menurut apa yang tecu dengar, barang siapa minum arak ini maka rasanya seakan-akan sedang naik kesorga, oleh sebab itu orang lantas sebut arak ini sebagai arak naik sorga"

Katanya. Habis berkata ia lantas ulapkan tangannya kepada seorang pria baju hitam yang berdiri disamping ruangan serunya.

"siapkan arak wangi"

Dengan hormat pria berbaju hitam itu mengiakan lalu berlalu dari situ, selang tak lama dia muncul kembali sambil membawa sebuah botol porselen yang tingginya cuma setengah depa.

Mo sam yu segera maju kedipan dan ia sambut botol arak itu...

Mendadak sebelum botol arak itu tergenggam ditangan, pria baju hitam itu gemetar keras, menyusul tubuhnya terjengkang kebelakang, dengan sendirinya botol arak itupun ikut mencelat sejauh satu tombak lebih dari tempat semula.

Paras muka Mo sam yu berubah hebat, ia bergerak maju dan berusaha untuk menyambar botol arak tadi, tapi sayang gerakan tubuhnya ini terlambat satu tindak...

Praang..."

Botol porselen itu terpecah menjadi beberapa bagian, arak wangi pun berceceren diatas tanah...

suatu kejadian aneh berlangsung pula didepan mata, dari ceceran arak wangi itu tiba2 mengepulkan asap tipis yang berwarna hijau.

semua orang jadi tercengang, siapapun tak menyangka akan peristiwa tersebut.

Memandang asap hijau yang menguap keudara, paras muka ketua tianglo itu berubah hebat, serunya dengan hati terkesiap.

"Aaah. Arak racun-.."

Mendengar seruan tersebut, empat orang tianglo lain yang masih duduk seketika bangkit berdiri, sambil siapkan toya kepala setan masing2, mereka awasi Mo sam yu tanpa berkedip..

Waktu itu paras muka keempat orang ketua ruangan sudah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

merekapun serentak bangkit berdiri dari tempat duduknya.

Mo sam yu menyeringai seram, cepat2 dia enjotkan badan dan mengundurkan diri kesamping keempat tamcu tersebut.

"Mo sam yu"

Hardik ketua tianglo sambil hentakkan toya kepala setannya keatas tanah.

"bagaimana penjelasannya tentang peristiwa ini?? HHmm ayoh jawab"

Mo sam yu, pelindung hukum istana Huan mo kiong segera ter bahak2 dengan seramnya.

"Haahh haahh haahh.. apa yang musti kuterangkan lagi Ketahuilah ke lima orang tianglo lain yang masih tertinggal dalam istana, mungkin pada saat ini sudah menunggu dengan tak sabaran di perjalanan menuju kealam baka.."

Sekali lagi sekujur badan kelima orang tianglo itu bergetar keras, muka mereka pucat dan mimpipun mereka berlima tak pernah menyangka kalau lima orang tianglo lainnya yang tertinggal diistana Huan mo kiong telah dicelakai pula jiwanya.

Betul2 suatu siasat busuk yang sangat mengerikan.

"Mundur"

Hardik Mo sam yu dengan suara rendah. Berbarengan dengam keempat orang tiamcu tersebut, serentak mereka berlima mundur kebalik patung arca ditengah ruangan.

"Keparat busuk. manusia penghianat, kalian hendak kabur kemana?"

Bentak kelima oraog tianglo itu hampir berbareng. setengah bentakan keras, masing2 putar toya kepala setannya siap melancarkan serangan-.

"Enyah kembali kalian"

Mendadak dari balik patung arca menggema pula suara bentakan keras.

Deruan angin pukulan yang amatsantar berhembus keluar dari balik arca dan menggulung keseluruh ruangan, debu dan atap berguguran keatas tanah, sementara lima sosok bayangan manusia tadi terpental balik kedalam ruangan-Menyusul mana, sesosok bayangan manusia munculkan diri didepan mata, ternyata orang itu bukan lain adalah seorang pemuda berwajah tampan dan bersikap dingin menyeramkan-Mo sam Yu serta keempat orang tiamcu itu jadi amat penasaran, begitu mereka terdorong mundur ketempat semula, pada saat yang hampir bersamaan mereka berlima membentak keras dan ber-sama2 melepaskan satu pukulan yang maha dahsyat kearah pemuda tampan tersebut.

Dalam serangan tadi kelima orang tersebut telah menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian, begitu dahsyat daya pukulannya sehingga cukup menggetarkan hati siapapun yang memandang.

sianak muda itu langsung putar sepasang telapak tangannya satu lingkaran, kemudian dilontarkan kedepan keras2.

"Blaammm.."

Ledakan dahsyat menggelegar diseluruh angkasa, ruang kuil itu goncang keras se-akan2 terjadi gempa bumi yang maha dahsyat.

Empat orang tiamcu itu mundur kebelakang dengan sempoyongan, agaknya mereka tak kuat menahan kehebatan serangan lawan-Kebetulan pada waktu itu lima orang tianglo tersebut sedang menerjang tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

"Blaamm Blaamm keempat orang tianglo itu saling bertukar satu pukulan dengan ke empat tiamcu tadi.

Ketua tianglo tidak berminat untuk mengawasi yang lain incarannya hanya satu yakni Mo sam yu, pelindung hukum tersebut, siapa sangka orang she Mo itu cukup licik, merasa gelagat kurang menguntungkan cepat cepat ia menyelinap keluar dari ruang kuil dan kabur terbirit-birit.

Ketua tianglo itu sama sekali tak menyangka kalau musuhnya licik sekali, melihat kegesitan orang dia cuma bisa mend epakkan kakinya keatas tanah sambil berseru dengan geram.

"Aaai.. akhirnya toh dia berhasil juga kabur dari sini"

"Tianglo sekalian, cepat mundur dari sini"

Mendadak pemuda itu membentak nyaring.

Dia lontarkan sebuah pukulan dahsyat kedinding belakang ruangan, ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, batu bata dan pasir berguguran keatas tanah, dinding ruangan seketika roboh separuh dan pemuda itupun meluncur keluar lewat celah-celah lubang tadi.

Kelima orang tianglo itu cukup cekatan tanpa berpikir panjang mereka segera enjotkan badan dan menyusul keluar.

Memberi peringatan, menjebolkan dinding ruangan serta menerobos keluar dari ruangan walaupun dilakukan secara bertahap namun kecepatannya sukar dilukiskan dengan katakata.

Dalam pada itu keempat orang tiamcu itupun sedang memburu keluar lewat pintu ruangan-Tiba2 terdengarlah suatu ledakan dahsyat yang menggoncangkan seluruh permukaan bumi, diantara percikan bunga api, puing2 berserakan di mana2 pasir dan batu berhamburan keudara, suasana benar2 sangat mengerikan-Dalam waktu singkat ruang kuil yang megah telah berubah jadi setumpuk puing yang berserakan-, sementara itu fajar telah menyingsing di ufuk sebelah timur...

Dengan ter-mangu2 lima orang tianglo istana Huan mo kiong yang baru saja lolos dari bencana mengamati ruang kuil yang diledakkan itu, sekujur badan mereka gemetar keras menahan emosi, mimpipun mereka tak mengira kalau anak murid perguruan sendiri ternyata begitu tega untuk melenyapkan tianglonya sendiri.

Empat orang tiamcu serta seorang pria baju hitam yang agak lambat kabur dari ruangan, ikut meledak dan tubuh merekapun hancur ber keping2 hingga tak berujud manusia lagi.

Lama ..lama sekali..

lima orang tianglo itu baru menghela napas panjang dan berpaling.

Dalam pada itu pemuda misterius tadi masih tetap berdiri tenang kurang lebih dua tombak jauhnya dihadapan mereka.

Ketua tianglo itu segera menuju kedepan dan memberi hormat, katanya.

"Berkat bantuan dari sauhiap. kami berlima nyaris menjadi korban ledakan musuh...aai budi kebaikan sebesar ini tak akan kami lupakan untuk selamanya"

"Kalian berlima adalah tianglo dari istana Huan mo-kiong?"

Tegur pemuda itu dengan suara dingin-"Benar"

Jawab sang ketua tianglo agak emosi.

"dalam ruang goan lo wan dari istana Huan mo kiong, aku menjabat sebagai kepala dari sepuluh tianglo, aku she Tio bernama It hui" . Kemudian sambil menuding empat tianglo lainnya dia perkenalkan pula.

"Dia adalah seng Thianpau, Ang sat siu, Liok sau tan serta seh Jin hap"

Mengikuti arah yang ditunjuk.

pemuda itu mendengarkan dan mengawasi para tianglo itu dengan seksama, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Menanti dia selesai memperkenalkan diri, barulah Tio It hui berkata kembali.

"Bolehkah aku tahu siapakah nama sebutan sauhiap ??"

"Manusia berwajah dingin"

"Ah.."

Seruan tertahan berkumandang memecahkan kesunyian, begitu mendengar disebutkannya nama tadi dengan wajah kerut bercamcur girang kelima oramg tianglo itu segera maju beberapa langkah kedepan, rupanya mereka ingin mengamati bagaimanakah raut wajah manusia yang sedang mereka cari selama ini.

Rupanya pemuda yang telah selamatkan jiwa kelima orang tianglo dari istana Huan mo kiong itu bukan lain adalah manusia berwajah dingin Han siong Kie adanya.

"sauhiap. boleh kami tahu asal perguruanmu?"

Ang Pat siu bertanya pula dengan emosi.

"Mendiang guruku adalah Mo tiong cimo iblis diantara iblis Tong Leng adanya"

Kelima orang tianglo itu saling berpandangan sekejap. kemudian bersama-sama maju beberapa langkah kedepan-"Jadi.. jadi kau benar2 adalah ahli waris dari ciangbun supek Tong Ceng?"

Tanya To It hui dengan tersendat-sendat.

"Ucapanmu tak salah "

"Ah, kau sebut mendiang gurumu? Apakah ciangbun supek dia orang tua.."

"Benar, dia orang tua telah meninggal dunia "

Sekali lagi kelima orang tianglo itu bergetar keras, song Thianpau yang berhidung samsi bermulut lebar sebera berteriak lantang.

"Masa Ciangbun supek telah meninggal dunia?"

"Benar, aku tidak bohong"

"Sudah berapa lama dia meninggal dunia?"

"Dua hari berselang "

"Kau simpan ditmana jenasahnya??"

"Telah kukebumikan ditengah hutan lima puluh li dari wilayah Lian huan tau, disitu sudah kupancang batu nisan sebagai tanda "

"Apakah ciangbun supek meninggalkan pesan-pesan terakhirnya??"

"Ada "

"Bolehkah kami ikut tahu? "

Sambung Tio It hui dengan cepat. Han siong Kie merogoh kedalam sakunya dan tiba2 ambil keluar sebuah benda bersinar terang.

"Aih..Lencana mutiara setan bengis.."

Jerit lima orang tianglo itu hampir berbareng. Menyusul mana dengan sikap yang sangat hormat mereka bertekuk lutut sambil menyembah.

"Anak murid Thiang lam menghunjuk hormat buat lencana suci peninggalan cousu"

Setelah menghormat tiga kali dengan sikap horma,.

mereka lantas bangkit berdiri, sementara air mata telah jatuh berlinang membasahi wajah mereka.

sesaat kemudian Tio It hui baru menjura dalam2 kearah Han siong Kie seraya memanggil.

"Menghunjuk hormat buat ciangbun suheng"

Empat tianglo lainpun sama2 ikut menjura dan memberi hormat..Menghadapi keadaan tersebut, Han siong Kiejadi gelagapan dengan sendirinya, cepat2 dia balas memberi hormat sambil berseru.

"Tianglo sekalian tak usah banyak adat"

To It hui menghela napas panjang, tiba2 ia menengadah keudara dan menghela napas panjang.

"Aaai rupanya sukma cousu masih melindungi anak cucu muridnya, akhirnya lencana suci perguruan dapat kembali lagi ke Thian lam"

Kemudian la berpaling kearah Han siong Kie dan bertanya.

"suheng, kapan kau akan pulang ke Thian lam untuk memangku jabatan sebagai ketua perguruan??"

"Tentang soal ini.. sulit bagiku untuk memberi keputusan, apalagi dalam keadaan seperti ini, Aaai yang penting sekarang adalah bagaimana pendapat tianglo sekalian mengenai peristiwa yang telah terjadi pada malam ini?"

Dengan muka murung kelima orang tianglo itu saling berpandangan sekejap. lalu terdengar To It hui menjawab.

"Kami merasa betapa gawatnya situasi yang kita hadapi sekarang, terutama sekali dengan penghianatan dari Mo sam yu sekalian, cuma.. kami belum tahu dimanakah letak maksud tujuan mereka??"

Han siong Kie mendengus dingin-"Hmm Berambisi besar untuk menguasahi perguruan, suatu kejadian yang sangat tidak menguntungkan posisi kita, Aaai Sebelum ajalnya tiba mendiang suhu tak pernah membicarakan soal perguruan kita, dan lagi aku sendiripunkurang begitu tahu tentang seluk beluknya dapatkah To tianglo memberi keterangan untukku??"

To It hui mengangguk...

"Ayoh kita duduk diatas anak tangga ruang samping sana, aku pasti akan memberi keterangan yang sejelas-jelasnya bagi suheng"

Maka mereka berenampun bergerak ke samping ruangan, dan duduk disitu. setelah semua orang ambil tempat duduk barulah To It hui menutur dengan suara berat.

"Perguruan Thian lam sudah berusia beberapa ratus tahun lamanya, sejak cousu sampai Tong supek telah mengalami pergantian ketua sebanyak sepuluh generasi, menurut peraturan perguruan maka ciangbunjin disebut pula sebagai kaisar atau Tee-kun, biasanya kedudukan tersebut diturunkan pada murid yang tertua, tapi seandainya terjadi hal-hal yang luar biasa maka para tianglo dari Goan lo wan yang akan pegang pucuk pimpinan untuk sementara waktu.

Ketua atau kaisar perguruan kita saat ini bernama Wi Ek beng, dan diangkat sebagai ketua berdasarkan hasil rapat dari para tianglo ruang goan lo wan setelah Tong supek lama lenyap tak berbekas.

Han siong Kie anggukkan kepalanya tanda mengerti.

sesudah berhenti sebentar, kembali Tio It hui lanjutkan kata2nya.

"Tong supek semuanya punya tiga saudara perguruan, Tong supek menempati kedudukan paling atas, ji supek bernama Bu ih tay, Datuk tanpa bayangan cu siang yakni suheng dari Wi Ek beng yang menjabat sebagai Tee-kun sekarang, sedang kami bersepuluh agak lambat masuk perguruan-maka guru kami adalah Keng thian cu Pilar penyangga langit Hoa Hong yang menempati urutan terakhir.

"Jadi kalau begitu kesepuluh orang tiangloo dari ruangan Goan lo wan sekarang adalah ahli waris dari sam susiok?"

Sela Han siong Kie dari samping.

"Betul suheng sebagai ahli waris dari toa supek dan lagi mempunyai lencana mutiara ok-kui cupay dari perguruan, itu berarti suhenglah ketua perguruan kami, dan sepantasnya kalau Tee-kun sekarang harus mengundurkan diri dari jabatan dan masuk ruang Goan lo wan sebagai seorang tianglo pula" . Han siong Kie mengangguk. serunya kemudian dengan suara dalam.

"Dan dari sini pula sumber dari peristiwa penghianatan yang terjadi pada malam ini"

Mendengar perkataan tersebut, kelima orang tianglo itu segera bangkit berdiri, serunya dengan penuh kemarahan-"Maksud suheng semua rencana busuk dan perangkap terkutuk yang dilakukan penghianat2 itu adalah hasil karya dari Tee-kun wi Ek beng???"

"Tepat sekali "

Paras muka kelima orang tianglo itu berubah hebat, pancaran sinar aneh menyelimuti wajah mereka semua. setelah berhenti sebentar, Han siong Kie melanjutkan kembali, kata2nya.

"Aku rasa kelima orang tianglo yang kini masih tertinggal dalam ruangan Goan lo wan, mungkin saja sudah ditewaskan oleh mereka"

Dengan hati terkesiap kelima orang tianglo itu mundur selangkah kebelakang, bulu kuduk mereka bangun berdiri. Liok sau tan segera meraung keras, serunya.

"Perkataaa suheng tak salah, sebelum tinggalkan tempat ini Mo sam yu penghianat tersebut telah mengatakan pula begitu"

" -ooodewiooo-BAB 40 DENGAN penuh kegusaran To It hui menghentakkan toya kepala setannya kearah tanah, serunya dengan cemas.

"Apa maksudnya ciangbun tee kun berbuat sekeji ini? aku benar2 tak habis mengerti"

Perlahan2 Han siong Kie bangkit berdiri, katanya dengan suara mendalam.

"Wi Ek beng berani melanggar peraturan dengan mengutus anak buahnya masuk kedaratan Tionggoan untuk mencari sari perawan anak gadis guna bahan latihan Tui-hun-kangnya, perbuatan ini merupakan suatu dosa besar yang tak dapat diampun lagi, apa lagi setelah mengetahui guruku masih hidup dan untuk pertahankan kedudukannya telah melakukan perbuatan terkutuk itu, dosanya harus ditebus dengan kematian, ketahuilah, meskipun dia kirim Mo sam yu beserta puluhan orang begundalnya datang kedaratan Tionggoan dengan alasan menyelidiki keadaan guruku, dalam kenyataan mereka hendak bunuh para tianglo, guruku serta aku sendiri"

Betapa gusarnya kelima orang tianglo itu setelah mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, sepasang mata mereka melotot penuh kemarahan, mukanya merah padam, rambutnya pada bangun berdiri dan sekujur badan gemetar keras.

Terdengar Han siong Kie berkata lagi.

"Menurut kata2 yang diucapkan penghianat Mo sam yu sebelum kabur, wi Ek beng, ketua Thiam lam sekarang hendak datang sendiri kedaratan Tionggoan untuk menyelesaikan masalah ini, menurut dugaanku setelah kelompok penghianat tadi lolos dari cengkeraman kita, mereka pasti sudah berangkat pulang ke Thian lam untuk melaporkan kejadian ini kepada pemimpinnya"

TO It hui menengadah dan menghela napas panjang.

"Aaai Peristiwa ini merupakan suatu bencana besar bagi perguruan kita, sejak didirikan oleh cousu"

"sute sekalian harus sebera berangkat kembali kewilayah Thian lam"

Kata Ang Pat siu pula dengan penasaran.

"siapa tahu kita bisa mendahului mereka dan mencegah terjadinya tragedi besar? ciangbun suheng, harap kau segera turunkan perintah"

Han siong Kie merasa agak serba salah, dewasa ini dia harus membereskan dahulu teka teki mengenai Tengkorak maut asli dan tengkorak maut gadungan, kemudian berusaha pula merebut kembali kitab pusaka Hud jin popit dan melatih kepandaian itu untuk menuntut balas.

Tapi sekarang, dia sudah diangkat sebagai ketua perguruan istana Huan mo kiong, sudah sepantasnya kalau dialah yang turun tangan menanggulangi penghianatan tersebut.

Tanpa terasa ia tundukan kepalanya dan berpikir keras.

Dengan sedih lima orang tianglo lainnya menengadah dan menghela napas, mereka semua semua membungkam dalam seribu bahasa.

suasana jadi hening, sepi..

dan tak kedengaran sedikit suarapun, yang terdengar hanya hembusan angin gunung yang sepoy2 sejuk..

Fajar telah menyingsing, sang surya memancarkan sinar ke emas2annya keempat penjuru, dan menerangi pula puing berserakan ditengah kuil serta beberapa sosok mayat yang bergelimpangan disana sini dalam keadaas tak utuh.

Penghianatan terhadap istana Huan mo kiong serta dendam berdarahnya sedalam lautan membuat pikiran dan perasaan Han siong Kie bertambah kalut.

Lama...lama sekali, akhirnya sianak muda itu berkata dengan suara berat.

"Tindakan paling baik yang harus kita lakukan sekarang adalah menghadang jalan pergi Mo sam yu sekalian sehingga peristiwa ini tidak sampai tersiar kembali ke Thian-lam, dengan begitu maka Tee kun yang sekarang tentu akan datang kedaratan Tionggoan seperti rencana semula dengan begitu kita pun bisa bereskan mereka dengan mudah, akan sedikit banyak kita bisa mencegah jangan sampai kelima orang tianglo yang masih tertinggal di istana mengalami musibah, sebaliknya kalau kita gagal untuk menghadang kepergian mereka, pihak istana tentu akan menyadari kalau rencana mereka sudah mengalami kegagalan total, kelima orang tianglo itupun tentu akan makin cepat menemui ajalnya, entah bagaimana menurut pendapat tianglo sekalian??"

"Perkataan dari ciangbun suheng memang tepat sekali"

Sahut To It hui cepat.

"Ayoh kita berangkat sekarang juga, persoalan ini tak dapat di tunda2 lagi"

"Baik"

Han siong Kie enjotkan badan berangkatkan tinggalkan tempat itu, menyusul kelima orang tianglo mengikuti dibelakangnya.

Enam sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur kebawah gunung dan berkelebat ditengab jalan raya.

Han siong Kie dengan tenaga dalamnya sebesar dua ratus tahun hasil latiban menerjang terus kedepan dengan kecepatan luar biasa, apalagi ilmu Cahaya kilat lintasan bayangan dikerahkan sedemikian rupa, membuat kecepatan geraknya sukar dilukiskan dengan kata2, menyaksikan kehebatan sianak muda itu kelima orang tiang lo tersebut benar-benar merasa sangat kagum.

Dengan usianya sebesar duapuluh tahun namun ternyata sudah menguasahi kepandaian sehebat itu, betul2 suatu kejadian yang langka dalam dunia persilatan.

sampai disini, selain kelima orang tiang lo itu merasa sedih karena penghianatan yang terjadi dalam perguruannya, mereka pun merasa gembira atas keberhasilannya supek mereka menerima seorang murid pandai sebagai penggantinya, dari pemuda inilah diharapkan kecemerlangan serta kejayaan perguruan Thian lam dikemudian hari.

Mereka telah menembusi hutan yang lebat jalan raya terbentang luas didepan sana.

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagat, mendadak Han siong Kie menjerit kaget dan segera hentikan perjalanannya.

Melihat ciangbun suhengnya berhenti lima orang tiang lo yang mengikuti dibelakang pun ikut hentikan perjalanan.

"Ciangbun suheng, apakah engkau menemukan sesuatu yang aneh?"

Tegur Ang Pat sin dengan keheranansementara itu To It hui telah alihkan pula sorot matanya kearah yang dipandang pemuda itu, lima tombak ditepi hutan tepatnya diatas sebuah batu besar terletaklah sebuah batok kepala manusia berwarna merah darah.

Tak kuasa lagi kakek tua itu menjerit kaget.

"Aah Tengkorak darah milik benteng maut"

Mendengar seruan tersebut, paras muka empat orang tiang lo lainnya ikut berubah hebat, meskipun selama ini mereka bermukim diwilayah Thian-lam yang jauh, tapi nama besar Tengkorak maut cukup mereka kenal.

apalagi gembong iblis tersebut merupakan seorang datuk lihay yang disegani segenap manusia dikolong langit.

Pemilik benteng maut telah memaparkan lambang mautnya ditepi hutan, itu berarti datuk sakti tersebut berada disekitar tempat itu, lalu apa tujuannya menghadang jalan kepergian mereka?

Seng Thian pan tianglo kedua mundur selangkah dengan muka tercekat, lalu berkata.

"Aku dengar sejak lima belas tahun berselang pintu benteng maut sudah tertutup dan pemilik benteng maut tak pernah muncul kembali dalam dunia persitatan, kenapa lima belas tahun kemudian gembong iblis ini..."

Paras muka Han Siong Kie telah berubah jadi hijau membesi karena menahan emosi, dengan sorot mata tajam ia ulapkan tangannya memotong ucapannya yang belum selesai, kemudian serunya dengan suara mendalam.

"Tianglo berlima tak usah berdiam diri terus, kalian boleh segera tinggalkan tempat ini dan kejarlah murid penghianat Mo Sam yu serta begundal2nya sekuat tenaga."

"Bagaimana dengan suheng sendiri"

Tanya Sah Jin tap dengan alis mata berkerut.

"Setelah urusan disini selesai, aku segera menyusui kalian "

"Tapi suheng adalah seorang ciangbunjin, kami berlima tak akan berlega hati"

"Segera tinggalkan tempat ini Persoalan paling penting yang harus kita kerjakan sekarang adalah mengejar serta menghadang Mo Sam yu sekalian pulang ke Thian lam."

"Apakah suheng akan bertarung??"

"Tak mungkin kemunculan tengkorak maut hanya suatu kebetulan saja, karena itu aku suruh kalian segera tinggalkan tempat ini "

"Tentang soal ini"

To it hui masih kelihatan agak ragu2.

"Tak usah banyak bicara lagi, ini perintahku"

Tukas Han siong Kie cepat. Dengan alis mata berkenyit kelima orang tianglo itu saling berpandangan sekejap. akhirnya mereka menyahut berbareng.

"Hamba sekalian terima perintah dari cianbunjin-"

Tanpa banyak bicara lagi berangkatlah merela tinggalkan tempat itu.

Rupanya Han siong Kie dapat merasakan bahwa kemunculan tengkorak maut dalam keadaan begini pasti bukan karena kebetulan saja, bagaimanapun juga baik dia adalah tengkorak maut gadungan atau tengkorak asli, tenaga dalam yang dimiliki luar biasa sekali, jika kelima orang tianglo itu tetap berada disini, maka suatu kemungkinan terjadinya bencana tak bisa dihindari.

selain itu diapun kuatir kalau Mo sam yu sekalian manusia2 penghianat yang sedang melarikan diri berhasil menuju Thian lam atau bergabung kembali dengan Tee kun istana Huan mo kiong saat ini, jika sampai terjadi hal begitu, niscaya keadaan akan semakin kalut.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, dia berjalan dengan kecepatan luar biasa, apalagi kalau mengerahkan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, niscaya kelima orang tianglo itu tak akan mampu menyusul dirinya.

oleh sebab itulah dia ambil keputusan untuk membiarkan kelima orang tianglo itu berangkat lebih dahulu, kemudian ia baru akan menyusul dari belakang.

Tetapi diantara kesemuanya itu, yang paling penting Tengkorak maut adalah musuh besarnya, dia hendak membuktikan manakah musuh besar yang sebenarnya diantata tengkorak maut asli dan gadungan, disamping itu diapun hendak merampas kembali pusaka Hud jiu po pit yang telah dirampas tengkorak maut gadungan, ia tak ingin orang lain ikut serta dalam pembalasan dendam ini.

Karena itulah setelah berpikir beberapa kali, akhirnya dia ambil keputusan untuk mengusir kelima orang tiang lo itu dari situ.

setelah anak buahnya berlalu, selangkah demi selangkah Han siong Kie mendekati tengkorak berlepotan darah yang ada diatas batu besar itu.

serentetan suara tertawa yang menggidikkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia berwana hijau berkain cadar hitam munculkan diri dari balik pepohonan yang lebat.

Han siong Kie terkesiap.

cepat2 dia hentikan langkah kakinya.

Tanpa disadari suasana dalam hutan itu diselimuti oleh kemisteriusan serta kengerian yang mencekam.

Bayangan manusia itu tidak terlalu asing bagi Han siong Kie, sebab orang itu bukan lain adalah tengkorak maut.

Menyusul kemunculan tengkorak maut, Han siong Kie merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergelora keras, dengan sepasang mata yang tajam menggidikan hati ia awasi musuhnya tanpa berkedip..

Dengan langkah yang cepat Tengkorak maut mendekati batu cadas tadi dan menyimpan kembali lambangnya, kemudian sambil tertawa seram katanya.

"Manusia berwajah dingin, per-tama2 kuucapkan selamat lebih dahulu kepadamu, karena kau sudah diangkat menjadi Tee kun dari perguruan Thian lam"

Han siong Kie mendengus dingin.

"Hmm Tengkorak maut, aku sedang mencari jejakmu"

"Bagus sekali, akupun sedang mencari engkau"

Dengan sorot mata yang tajam Han siong Kie menyapu sekejap kearah telapak tangannya, kemudian sambil tertawa dingin ejeknya.

"Heehh heehh .heehh.. rupanya engkai sengaja mencatut nama Tengkorak maut untuk bikin keonaran?"

"Ucapanmu tepat sekali, pandangan matamu memang cukup tajam, tidak salah dugaanmu memang tepat dan akupun tidak bermaksud untuk menyangkal"

Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar, ia merasa sebelum pertarungan di langsungkan maka pertama2 dia harus berusaha untuk merampas kembali pusaka Hud jiu po pit yang kena direbut musuhnya itu, kemudian baru membuktikan apakah dialah Tengkorak maut yang sudah membasmi keluarga Han pada lima belas tahun berselang.

setelah ambil keputusan, dia segera melayang maju sejauh delapan depa kedepan dan menegur.

"Tengkorak maut.. bawa kemari"

"Apanya yang bawa kemari"

"Kitab pusaka Hud jiu po pit"

"Haahhh haahhh haaahh jangan kuatir, aku memang punya maksud untuk mengembalikan kepadamu"

Han siong Kie agak tercengang, ia merasa perkataan itu sama sekali tak percaya Tengkorak maut akan mengembalikan pusaka Hud jiu po pit kepadanya?

Mungkinkah dibalik kejadian ini masih terselip rencana busuk lain?.

"Engkau akan mengembalikan kepadaku? "

Ulang pemuda tersebut dengaan nada tercengang.

"Benar, pusaka Hud jiu po pit terdiri dari satu pasang, siapa tahu berada yang sebelah sudah tertanam dimana? buat aku, tak ada gunanya ...."

"Kalau memang begitu.. bawa kemari"

Tengkorak maut gadungan merogoh sakunya dan ambil keluar pusaka Hud jiu po pit tersebut dari sakunya. kemudian sambil diacungkan diudara katanya.

"Nah, barangnya ada disini ......."

Han siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, serunya dengan segera.

"Engkau betul2 akan mengembalikan benda itu kepadaku?"

"Tentu saja, masa bohong?"

"Hmm Aku tahu, tentunya kau punya maksud lain dibalik pengembalian tersebut"

"Hehhmm.. Tidak malu menjadi ahli waris dari Mo tiong ci mo, engkau memang cukup cerdik"

"Apa tujuanmu?"

Seru Han siong Kie kemudian dengan muka berubah jadi dingin.

"Aku hendak mengajukan sebuah syarat sebagai pengganti dari benda pusaka ini"

"Pertukaran syarat?"

"Benar, pertukaran syarat"

"Apa syaratmu?"

"Engkau pernah masuk kedalam benteng maut bukan?"

Tergerak hati Han siong Kie, ia lantas bertanya sendiri didalam hati apa tujuannya Tengkorak maut gadungan mengajukan pertanyaan tersebut?. sesudah ragu2 sebentar, akhirnya dia menjawab.

"Benar, memang begitu keadaannya"

"Nah, disinilah letak persyaratan yang hendak kuajukan kepadamu"

"Coba katakan "

Tengkorak maut gadungan tertawa seram lalu ujarnya.

"Manusia berwajah dingin, sebelumnya aku hendak beritahu dulu kepadamu, jika kau tidak sanggupi syaratku ini maka jangan harap kau bisa mendapatkan kembali pusaka Hud jiu po pit ini"

Han siong Kie mendengus dingin, ia lantas berpikir dalam hatinya.

"Entah syarat apa yang hendak dia ajukan, tapi yang jelas syarat tersebut pasti ada hubungannya dengan perjalananku masuk kedalam benteng maut, untung posisiku lebih menguntungkan."

Berpikir sampai disini, dengan angkuh ia lantas menjawab.

"Aah Belum tentu begitu"

"Baik, bagaimana kalau kita bicarakan pertukaran syarat??"

"Coba katakan, kalau memang masuk diakal akan kupertimbangkan sebaik-baiknya."

"Asal engkau bersedia untuk menerangkan tujuanmu masuk kebenteng serta apa yang kau lihat selama dalam benteng, pusaka Hud jiu po-pit ini segera kukembalikan kepadamu."

Han siong Kie putar otak dan berusaha menyelami jalan pikiran orang, ia tahu Tengkorak maut gadungan pasti mempunyai tujuan tertentu dengan perbuatannya itu, kalau tidak tak mungkin ia rela mengorbankan pusaka Hud jiu po pit hanya dikarenakan ingin mengetahui keadaan dalam benteng maut.

Diapun mulai berpikir2 siapakah pembantai keluarganya?

Tengkorak maut yang asli?

ataukah Tengkorak maut yang gadungan?.

Dia kuatir, seandainya pembantai tersebut dilakukan Tengkorak maut gadungan, maka jika dia bocorkan rahasia benteng maut bukankah sama halnya dengan bikin celaka orang yang tak bersalah?

apalagi orang itu adalah ayah Tonghong Hui kekasih yang dicintainya.

Berpikir sampai disitu, dia lantas menjawab dengan ketus.

"sayang tak dapat kupenuhi"

"Kenapa?"

Tanya Tengkorak maut gadungan agak tercengang.

"Bisa saja kalau kau ingin tahu tujuanku masuk kedalam benteng, tapi aku tak dapat memberitahukan kepadamu tentang apa yang kulihat dalam benteng tersebut" .

"Jadi kau tidak ingin memperoleh kembali pusaka Hud jiu po pit ini..?"

Han Siong Kie mendengus dingin, bukan menjawab dia malahan balik bertanya.

"Dan kau anggap aku sama sekali tak berkemampuan untuk merebutnya kembali?"

"Siapa tahu kalau memang begitu?"

"Bagaimana kalau kita buktikan saja? "

Seraya berkata tubuhnya lantas bergerak kedepan slap melancarkan pukulan dahsyat...

"Eh tunggu sebentar?"

Tiba2 Tengkorak maut gadungan berseru sambil mundur selangkah kebelakang.

"Apa yang hendak kau katakan lagi?"

"Urusan ini, biariah aku yang mengalah"

"Engkau bendak mengalah?"

"Benar, akan kuturuti saja syaratmu itu"

Han Siong Kie agak termenung, kemudian ujarnya.

"Kalau memang begitu, akan kuberitahukan kepadamu, aku mendapat perintah dari mendiang guruku untuk mewakili dia orang tua berduel dengan Pemilik benteng maut" .

"Apa? kau tantang pemilik benteng maut untuk berduel?"

"Benar, dapat pula dikatakan kita beradu kepandaian untuk mengetahui siapa yang lebih tangguh."

"Kenapa begitu?"

"Maaf, tak dapat kuberitahukan kepadamu"

"Dan akhirnya kau kalah, bahkan kalah secara mengenaskan bukan? "

Seru Tengkorak maut gadungan dengan cepat.

"Berdasarkan apa engkau dapat mengatakan demikian ?"

"Manusia berwajah dingin, untuk mengalahkan aku saja kau belum mampu, apalagi menghadapi pemilik benteng maut yang ber kali2 lebih hebat.."

Han siong Kie tertegun dan tak mampu menjawab. -000dewi000-

Jilid 20 TENGKORAK maut gadungan tertawa dingin, sambungnya kemudian.

"Manusia berwajah dingin, apa yang sudah kujanjikan tak akan kupungkiri lagi, Nah sekarang terimalah kembali benda pusaka ini"

Pusaka Hud jin po pit yang berada dalam genggemannya benar2 disambitkan kearah pemuda itu, Han siong Kie menyambutnya dengan cepat lalu berdiri tertegun, mimpipun dia tak menyangka kalau pusaka yang tak ternilai harganya itu bisa diperoleh kembali dengan mudah.

setelah mengembalikan pusaka Hud jiu po pit tersebut ketangan sang pemuda mendadak Tengkorak maut gadungan menengadah dan terbahak bahak dengan serunya.

"Haahhh haahh haahhh manusia berwajah dingin, sekarang aku akan beritahu kepadamu secara blak blakan Tahukah engkau, apa sebabnya kuajukan syarat tersebut kalau aku tidak berbuat demikian, tak nanti kau akan menjawab dengan sejujurnya, dan sekarang apa yang ingin kuketahui sudah kudapatkan, maka benda mustika itupun akan kutarik kembali"

"Mampukah kau berbuat demikian?"

Teriak Han siong Kie dengan penuh kegusaran.

"Mampu atau tidak. toh sebentar lagi akan kubuktikan"

Begitu dia selesai berbicara, sebuah angin pukulan yang maha dahsyat secepat kilat meluncur kedepan dan menggulung tubuh musuhnya.

Cepat2 Han siong Kie simpan pusaka Hud jiu po pit itu kedalam saku, lalu dengan keras lawan keras dia sambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaamm...."

Suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga menggeletar di angkasa, pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa, diantara daun yang berguguran kedua belah pihak mundur selangkah kebelakang.

Tengkorak maut gadungan membentak keras, tubuhnya melesat kedepan dan menerjang Han siong Kie dengan penuh kekejaman, pukulan tangan kanannya mengancam pelbagai jalan darah kematian diatas dada, sedangkan tangan kiri mencengkeram kearah pinggang.

Meskipun dalam satu jurus terdapat dua gerakan yang berbeda, akan tetapi kedua buah serangan tersebut dilakukan dengan keCepatan yang sukar dilukiskan dengan kata2.

Han siong Kie segera putar telapak dan mengunci seluruh tubuhnya dari jangkauan lawan-Tengkorak ataut gadungan menarik kembali serangannya, tapi ketika mencapai separuh jalan tiba2 menyerang kemali secara beruntun dia lancarkan delapan belas buah pukulan berantai.

seketika itu juga Han siong Kie terdesak mundur tiga langkah kebelakang, menggunakan kesempatan disaat pihak lawan menghabiskan serangan yang terakhir, dengan jurus Mo ong ko ciat atau raja iblis menyembah loteng istana dia lancarkan serangan balasan.

Jurus Mo ong ko ciat ini merupakan jurus serangan yang mempunyai daya penghancur paling dahsyat diantara pukulan Mo mo ciang hoat lainnya, begitu serangan dilepaskan maka ibaratnya hujan badai yang disertai angin puyuh, suasana betul2 mengerikan.

Tengkorak maut gadungan tak berani menangkis dengan kekerasan, dengan cekatan dan melesat beberapa kaki dari tempat semula ...

Han siong Kie segera berubah gerak serangannya, tanpa menarik kembali telapak tangannya, sepuluh jari segera menyentil ke depan, dengan ilmu jari Tong kim ci yang maha dahsyat dia serang tubuh bagian bawah lawan-Meskipun begitu,arah yang diserang bukan bagian yang mematikan, sebab pemuda ini tak ingin membunuh orang secara sembarangan sebelum membuktikan manakah pembunuh keluarganya yang sebenarnya.

Pada saat sianak muda itu menyerang dengan ilmu jari Tong kim ci tengkorak maut gadungan putar badannya ibarat sukma yang gentayangan, tapi justru dengan perbuatan itu secara tepat sekali dia malah berhasil lolos dari ancaman ilmu jari Tong kim ci yang maha dahsyat itu, bukan begitu saja dengan memakai kesempatan yang sangat baik tadi, dia malahan menyerang kepunggung pemuda itu.

Han siong Kie amat terperanjat, baru saja ilmu jarinya mengenai sasaran yang kosong, dan serangan itupun belum sempat di tarik kembali, ancaman dahsyat telah meluncur tiba dari samping.

Untuk menangkis sudah tak mungkin lagi, dalam gugup dan kagetnya, sekuat tenaga ia coba meloncat kebelakang.

"Blaamm"

Ditengah benturan keras yang memekikan telinga, Han siong Kie mendengus tertahan, tubuhnya kena dihajar sampai mencelat kebelakang sejauh delapan kaki dengan sempoyongan, buru2 ia leluarkan ilmu bobot seribu untuk menahan diri, hampir saja pemuda itu muntah darah segar.

"Manusia berwajah dingin, saat kematianmu telah tiba "

Sambil menghardik, sekali lagi Tengkorak maut gadungan menubruk ke depan dengan serangan yang maha dahsyat, sepasang telapak tangannya dilringi deruan angin tajam mengurung seluruh tubuh Han siong Kie dan membacoknya silih berganti.

Han siong Kie berkelit sedapat mungkin, segenap hawa murni yang dimilikinya disalurkan kedalam telapak tangan untuk datangnya serangan tersebut.

"Blaamm.."

Benturan keras kembali terjadi, hawa murninya bagaikan gulungan ombak disamudra menyebar diseluruh penjuru, batang pohon bertumbangan, daun dan ranting berguguran-.

Dengan sempoyongan Tengkorak maut gadungan tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Han siong Kie sendiripun terpukul mundur satu langkah lebar, darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, tak dapat di cegah lagi dia muntah darah segar.

Tengkorak maut gadungan menyeringai seram, untuk kesekian kalinya ia menerjang maju kedepan, bayangan telapak menyelimuti angkasa bagaikan barisan bukit, mana yang sungguhan mana yang tipuan susah di ketahui denganjelas, desingan angin tajam men-deru2, suasana benar2 mengerikan sekali.

Dalam waktu singkat, secara beruntun dia telah melacarkan lima buah serangan berantai.

Dalam keadaan seperti ini Han siong Kie hanya bisa bertahan tanpa mampu melakukan serangan balasan.

sekali lagi ia terdesak mundur sampai sejauh satu tombak lebih.

Tengkorak maut gadungan sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Han Siong Kie untuk memberikan perlawanannya, serangan berantai begitu ha bis digunakan, sepasang telapak tangannya kembali meluncur kedepan dengan pukula n angin puyuh berhawa panas dan dingin, ibarat gunting yang tajam langsung menggulung keluar.

Han siong Kie menggigit bibirnya kencang-kencang, dengan ilmu gerakantubuh cahaya kilat lintasan bayangan, ia berkelebat membentuk gerakan setengah lingkaran busur ditengah udara, sesudah mendekati tubuh la wan, dengan "Ku tiam sam seh"

Tiga jurus kilat ilmu kura2, dia balas melancarkan serangan maut.

Leng ku sam seh adalah ilmu ciptaan dari Leng ku sengjin setelah jago aneh ini berhasil melatih ilmu tenaga dalamnya hingga mencapai enam puluh tahun hasil latihan, sekarang dimainkan oleh Han Siong Kie yang mempunyai tenaga dalam yang sebesar dua ratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya ilmu serangan itu.

Tapi sayang Tengkorak maut gadungan bukan manusia sembarangan, kegesitan dan kelincahannya bukan kepalang hebatnya, dengan suatu gerakan yang sangat ringan dia berhasil memunahkan seluruh rangkaian ilmu serangan yarg ditujukan kearahnya itu.

Demikianlah, suatu pertarungan seru kembali berkobar, kedua belah pihak sama2 mengeluarkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk merebut menyerang dengan musuhnya, dan semua jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus2 ampuh yang jarang ditemui dikolong langit.

Dalam waktu singkat wilayah sepuluh kaki disekitar gelanggang sudah berubah amat menyeramkan, pasir beterbangan bagaikan lapisan horden, pepohonan b ertumbangan ke atas tanah, gempuran2 gencar saling membentur hingga menimbulkan ledakan2 yang memekikkan telinga.

Berbicara tentang hal tenaga dalam maka tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie masih setingkat lebih tinggi daripadi musuhnya, tapi berbicara tentang pengalaman dan keampuhan jurus serangan maka dia masih belum sang gup untuk melampaui musuhnya.

seperminuman teh kemudian, Han siong Kie sudah terjerumus kembali dalam posisi yang sangat berbahaya, setiap saat jiwanya terancam oleh maut.

"Blaamm."

Suatu ledakan keras berkumandang diangkasa, menyusul dengusan kesakitan menyayat kesunyian, Han siong Kie mencelat delapan depa kebelakang hingga menumbuk diatas sebuah dahan pohon yang amat besar, kontan dia merasakan matanya ber-kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, kembali darah segar muncrat keluar dari bibirnya.

Tengkorak maut gadungan tertawa seram.

"Heeeh heeeh heeeeh manusia berwajah dingin, aku lihat sepanjang hidupmu kali ini tiada harapan untuk merasakan jadi kaisar di Thian lam lagi Nah, dengankanlah perkataanku, rahasia kepalsuanku hanya kau seorang yang tahu, setelah kau mampus maka kemungkinan besar pihak partai Thian lam akan menuntut balas terhadap Benteng maut...haaah haaah haaah padahal wajah asli dari Motiong ci mo telah diketahui pula oleh umum, pelbagai jago dari golongan putih maupun golong hitam ber bondong2 pasti akan menuju ke Thian lam dan menuntut balas terhadap anak muridnya."

"Tutup mulutmu"

Hardik Han siong Kie penuh kegusaran-Rupanya ucapan terakiir dari Tengkorak maut telah menimbulkan satu ingatan dalam benak Han siong Kie, ditengah hardikan tersebut, selangkah demi selangkah dia maju ke depan, lencana ok kui cu pai pun diambil keluar dari sakunya.

Tengkorak maut gadungan tertawa sinis, ejeknya.

"Manusia berwajah dingin, apakah engkau masih ada pesan2 terakhir yang hendak kau sampaikan??"

"Aku inginkan nyawamu."

Jerit sang pemuda itu dengan marah.

"Haahh. haahh. haahh.. kematian sudah diambang pintu, apa gunanya kau menggonggong terus seperti anjing"

Sementara itu selisih jarak kedua belah pihak tinggal satu kaki belaka, suasanapun semakin menegang.

suatu ketika tiba2 Tengkorak maut gadungan putar telapak tangannya, satu pukulan yang maha dahsyat segera diayunkan kearah depan Han siong Kie putar telapat tangannya pula, hawa murni disalurkan keluar maka mitiara diatas lencana ok kui cu pay tersebutpun secara tiba2 memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata, cahaya tersebut langsung memancar keatas wajah Tengkorak maut gadungan Menghadapi serangan yang luar biasa itu, Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, sepasang lengannya terkulai lemas ke bawah, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah kebelakang.

Han siong Kie mendengus dingin, telapak tangan kirinya terayun kedepan, scgulung angin pukula n yang maha dahsyat langsung meluncur kemuka dengan cepatnya.

Ditengah jeritan kesakitan yang memekikan telinga, tubuh Tengkorak maut gadungan tergetar mencelat sejauh dua tombak kebelakang dan.

Bluk...

Terbanting keras2 diatas tanah.

Han siong Kie enjotkan badan menubruk musuhnya yang sudah menggeletak lemas itu..

Disaat yang amat kritis itulah sesosok bayangan manusia ibarat sukma gentayangan menyelinap datang bersembunyi dibalik pepohonan yang lebat, dalam waktu singkat orang itu sudah berada kurang lebih tiga tombak dibelakang sianak muda itu.

Perlu diketahui lencana ok kui cu pay itu, mempunyai sebiji mutiara yang berkasiat luar biasa, apabila hawa murni disalurkan ke dalam mutiara tadi maka terpancarlab serentetan cahaya tajam yang bisa memunahkan kesadaran dan kekuatan musuhnya, semakin sempurna hawa murni yang dimiliki musuh semakin besar pula dayapengaruh cahaya tersebut, sebelum cahaya tajam itu ditarik kembali maka kesadaran serta kekuatan tubuh lawannya belum dapat dipulihkan kembali.

Tentu saja perbuatan seperti ini bukanlah suatu perbuatan dari seoraog lelaki ksatria, sepanjang hidupnya belum pernah Motiong cimo mempergunakan khasiat itu guna pengaruhi orang.

Lain keadaannya dengan Han siong Kie, sebenarnya dia ingin berduel dengan mengandalkan kekuatan as liny a, tapi dalam kenyataan dia memang bukan tandingan la wan bahkan nyawanya terancam oleh bahaya maut, maka dalam keadaan demikian ia telah manfaatkan khasiat tersebut.

-000dewi000-BAB 41 ALASAN yang paling penting diantara kesemuanya itu adalah kemungkinan besar bahwa tengkorak maut gadungan inilah musuh besar pembantai keluarganya, maka ia tak dapat lepaskan musuhnya dengan begitu saja, dia harus berusaha untuk membongkar rahasia ini.

per lahan2 Han siong Kie simpan kembali lencana ok kui cu pay tersebut kedalam sakunya, dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh yang amat tebal ia awasi tengkorak maut gadungan yang menggeletak diatas tanah tanpa berkedip.

Dalam pada itu Tengkorak maut gadungan telah sadar kembali dari pengarub cahaya aneh, meskipun luka yang dideritanya cukup parah tapi ia berusaha untuk meronta bangun dari atas tanah, kain cadar hijaunya serta pakaian bagian dadanya telah basah dan merah oleh muntahan darah, hal ini membuat keadaannya bertambah menyeramkan "Manusia berwajah dingin, apa yang hendak kau lakukan atas diriku?"

Tegurnya kemudian-Dengan muka dingin menyeramkan Han siong Kie menjawab "Mati hidupmu harus ditemtukan oleh suatu peristiwa yang hendak kubuktikan, cuma...."

"cuma bagaimana?"

"Sekalipun kau harus mampus, kematianmu tak perlu disesalkan, tapi andaikata aku bisa membuktikan bahwa peristiwa itu bukan hasil perbuatanmu, maka hari ini aku bersedia untuk lepaskan dirimu tapi jika lain kali sampai berjumpa lagi, akan kucabut selembar jiwa anjingmu itu"

Tengkorak maut gadungan mundur dua langkah ke belakang tanyanya dangan seram.

"Peristiwa apa yang hendak kau buktikan atas diriku? "

Hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, serunya dengan suara dalam.

"Lima belas tahun berselang...."

Mendadak..

beberapa rentet desiran angin tajam membokong dari belakang tubuh Han siong Kie.

Mimpipun sianak muda ttu tak pernah menyangka kalau dalam keadaan seperti itu di belakang tubuhnya telah bersembunyi seseorang yang menyergap dirinya tepat dikala dia hendak membongkar rahasia besar tersebut, dari desiran suara yang memancar datang, ia tahu bahwa serangan itu adalah serangan senjata rahasia yang dilepaskan oleh seorang tokoh silat yang lihay.

Dalam kejutnya buru2 dia berkelit enam depa kesamping, desiran tajam seketika menyambar lewat dari sisi tubuhnya.

"sreeett sreeeett"

Beberapa titik bintang malam meluncur dari samping badan dan menyambar keatas dahanpohon beberapa tombakjauhnya dari gelanggang, ketika diamati dengan lebih seksama pemuda itu hampir menjerit kaget, ternyata benda yang di sambitkan kearahnya itu bukan senjata rahasia, melainkan hanya beberapa lembar daun pohon-Dari kemampuannya memetik daun melukai orang, dapat diketahui betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.

Dengan cepat pemuda itu berpaling, tapi apa yang terbentang di depan mata hampir saja membuat ia jatuh pingsan, sekujur badannya langsung menjadi kejang.

Kenapa bisa begitu?

Kiranya orang yang menyergap pemuda itu bukan lain adalah ibunya sendiri, siang go, siang go cantik ong cui Ing adanya.

Paras muka siang go cantik ong cui Ing dingin kaku tanca emosi, ia berdiri tiga tombak dihadapan pemuda itu dan menatap wajahnya tanpa berkedip.

Han siong Kie amat tersiksa batinnya, ia merasa hatinya amat sakit bagaikan ditembusi beribu-ribu batang anakpanah, mukanya berkerut kencang hingga berubahjadi aneh sekali.

Untuk sesaat la many a dia cuma bisa berdiri tertegun belaka sambil merasakan hati yang pedih karena tersayat2 oleh kenyataan yang terpentang didepan mata.

Berulang kali ibu kandungnya telah turun tangan keji terhadap dirinya, kejadian ini sama sekali tak masuk diakal, tapi kenyataan membuktikan lain-Dalam pada itu Tengkorak maut gadungan telah bersuit nyaring, menggunakan kesempatan yang sangat baik dia telah meluncur masuk ke dalam hutan lebat diseberang sana, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap daripandangan-Mengikuti berlalunya Tengkorak maut gadungan-siang go cantik ong cui Ing cun enjotkan badan dan berlalu pula menuju kesatu arah yang sama.

Han Siong Kie tak mampu berbuat apa2, dia cuma bisa berdiri kaku ditempat semula bagaikan patung, sama sekali tak dapat berkutik barang sedikitpun jua.

Angin gunung berhembus lewat mengibarkan ujung bajunya, cahaya sang surya memancar diatas tubuhnya meninggalkan ba yangan diatas permukaan tanah.

Lama..

lama sekali...

pemuda itu masih berdiri tertegun tanpa berkutik barang sedikit pun jua.

Ia sedang berpikir...

dan terpikir lebih mendalam ....

"Apa tujuan ibunya menyergap dia ? kalau toh maksudnya agar Tengkorak maut gadungan bisa kabur dari cengkeramannya, kenapa begitu??"

Tengkorak maut gadungan bersedia menggunakan pusaka Hud jiu po pit sebagai umpan untuk mengetahui latar belakang keadaan dari benteng maut, kenapa ia berbuat begitu ? "

Ditinjau dari gerakan ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan, rasanya berasal dari satu cumber dengan pemilik benteng maut yang asli, cuma dia masih kalah dalam kematangan, kenapa bisa begitu?

rahasia apa yang tersembunyi dibalik kesemuanya itu?

Ketua muda perkumpulan Thian Che kau yakni Yu Sau-kun pernah mempergunakan ilmu aneh yang bisa membuat orang tak mampu menghimpun tenaga dalamnya untuk menghadapi dia, ilmu tersebut persis seperti ilmu shatalira n Benteng Maut, mungkinkah antara perkumpulan Thian Che kau dengan benteng maut ada hubungan yang erat?

Dan sekarang ibunya yang telah kawin dengan Ketua perkumpulan Thian-che kau telah munculkan diri serta menolong jiwa Tengkorak maut gadungan, apakah mungkin antara Tengkorak maut gadungan dengan pihak perkumpulan Thian che kau juga mempunyai hubungan yang akrab.?"

Makin dipikir ia semakin kebingungan dan untuk beberapa waktu sianak muda itu tak tahu apa yang musti dilakukan.

seandainya Tengkorak maut gadungan benar2 pembantai keluarga Han dan kini ibunya telah menyelamatkan jiwanya, tindakan tersebut boleh dibilang mendekati perbuatan yang luar biasa, bisa bikin orang jadi gila karena mendongkol.

Bukan saja berulang kali ibunya hendak membinasakan anak kandung sendiri, bahkan sekarang dia telah melepaskanpulapembunuh besar keluarganya wa la upun tuduhan tersebut hanya terbatas pa da kecurigaan belaka.

Lama sekali ia termenung, akhirnya tanpa disadari pemuda itu berpekik keras.

"Bunuh"

"Nak. siapa yang akan kau bunuh?"

Teguran yang lirih ini namun penuh kasih sayang berkumandang dari samping gelanggang.

sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, dari nada cara orang itu dengan cepat ia dapat mengetahui kalau dia bukan lain adalah "orang yang kehilangan sukma"

Yang serba misterius itu, maka diapan tidak berpaling sebab pemuda itu tahu orang yang kehilangan sukma tak akan munculkan diri.

"Engkau adalah orang rang kehilangan sukma?"

Tegurnya kemudian-"Benar nak"

Panggilan yang hangat dan penuh kasih sayang berkumandang kembali di sisi telinganya.

Panggilan tersebut mengingatkan kembali Han Siong Kie akan ibunya yang baru saja berlalu, ia merasa hatinya amat pahit seperti di iris2 dengan pisau belati tanpa kuasa tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang.

"Anak, bukankah engkau sangat membenci ibumu??"

Orang yang kehilangan sukma menegur lagi. Han siong Kie menggigit bibir kencang2 dan menjawab.

"Benar, rasa benciku telah merasuk ketulang sum-sum.."

"Jadi kalau begitu teriak "Bunuh"

Yang kau jeritkan tadi, adalah ditujukan kepada nya?"

Paras muka Han siong Kie kembali berkerut kencang, dengan penuh kebencian dia menjawab.

"Benar Aku harus bunuh dia dari muka bumi"

"Apa ?Jadi engkau hendak membinasakan ibumu ?? "

Suara orang yang kehilangan sukma agak gemetar, nadanya penuh emosi dan rasa tercengang, rupanya dia tak menduga akan jawaban tersebut.

"Benar Aku harus membunuhnya.."

"Ah, masa dikolong langit ada anak yang hendak membunuh orang tua serdiri?"

"Dan dikolong langit mas a ada ibu yang membunuh putra sendiri.?"

Han siong Kie balik bertanya dengan suara parau.

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang telah berubah jadi hijau membesi.

Lama sekali orang yang kehilangan sukma termenung, akhirnya ia berkata.

"Tapi dia toh tidak turun tangan keji atas dirimu? buktinya sampai sekarang kau masih hidup dikolong langit?"

"cianpwe, ketahuilah perkataanmu itu tak dapat menghapuskan perbuatan gila dan kalapnya yang telah dilakukan selama ini atas diriku"

"Mungkin saja apa yang kau katakan tidak keliru, tapi kadangkala persoalan yang ada dikolong langit tak dapat dibahas dan dipecahkan dengan keadaan serta jalan pikiran pada umumnya"

"Kenapa bisa begitu?"

Tanya sang pemuda agak tidak mengerti "siapa tahu kalau ibumu mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan keluar dengan kata2?

siapa tahu juga dia berbuat demikian karena terpaksa?

atau mungkin dia mempunyai rencana yang maha penting yang hendak dilaksanakan?"

"Apakah cianpwe dapat mengambil suatu kenyataan sebagai bukti kebenaran dari ucapanmu itu?"

"suatu hari aku bisa mengambil kenyataan sebagai bukti, dan sekarang belun waktunya"

"Jadi kalau begitu cianpwe berkata begitu cuma untuk menghibur hatiku belaka??"

"Eng kau keliru besar, aku tiada maksud menghibur hatimu dan membuat tenteram hatimu, ketahuilah aku tidak lebih hanya seorang manusia yang sudah kehilangan sukma "

Han siong Kie tertegun, ia telan air liur dan untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Terdengar orang yang kehilangan sukma berkata lagi.

"Nak. janganlah menyalahkan siapapun, kehidupan manusia telah ditentukan oleh takdir, dan nasiblah yang akan mengatur se gala2nya bagimu "

"Aku yang muda tidak percaya dengan segala nasib atau takdir"

"Kenapa begitu? Bukankah apa yang kau telah alami dari kecil sampai dewasa juga merupakan suratan takdir?"

"Tidak bukan takdir yang menentukan manusia, adalah perbuatan manusia sendiri yang menentukan segala2nyal"

"Nak, engkau terlalu keras kepala, bersediakah engkau untuk mendengarkan perkataanku lagi? Hapuslah rasa benci dan dendam terhadap ibumu, bila semua bukti dan kebenaran dibuktikan oleh kenyataan yang akan terbentang dimasa mendatang"

Han siong Kie tertawa sedih.

"Aku sudah tak punya ibu lagi"

Bisiknya lirih.

"Kalau ucapanmu ini sampai terdengar oleh ibumu. oh Betapa sedihnya dia? mungkin dia akan menangis dengan sedihnya.

"Mungkinkah begitu? setiap saat dia berusaha untuk membinasakan diriku...masa ia sudi menangis karena aku haaah haaaahh haaahhh.."

Dengan penuh kesedihan dan kepedihan Han siong Kie menengadah dan tertawa kalap.

suara tertawanya sangat tak sedap didengar, bukan saja tidak mirip tertawa bahkan lebih mendekati tang isan kuntilanak di tengah ma lam buta, rupanya dia ingin melampiaskan seluruh rasa benci, sedih, gusar dongkol danpatah semangat dalam gelak tertawa itu.

Lama...lama sekali...dia baru berhenti tertawa.

"Nak, aku tak dapat menyalahkan kau jika kau sampai berbuat demikian, sebab nasiblah yang telah menentukan segala2nya"

Ujar orang yang kehilangan sukma dengan suara lirih.

"Tidak bukan nasib yang kualami tapi kenyataan hidup dari seorang manusia."

"Jadi engkau tidak percaya dengan nasib atau takdir??"

"Benar, aku sama sekali tidak percaya"

"Tapi suatu hari engkau akan percaya dengan sendirinya."

"Tidak selamanya aku tak akan percaya"

Janganlah terlalu keras kepala, yang kumaksudkan sebagai takdir adalah suatu kejadian nyata yang tak dapat dirubah atau ditolong oleh kekuatan manusia dan engkau hanya bisa mengikuti perkembangan dari kenyataan tersebut, mengikuti evolusialam, kalau toh sudah ditakdirkan untuk mati, siapa yang dapat menghindarkan diri?

dan siapa pula yang bisa menolong?

Nah, disinilah letak arti yang sebenarnya dari Takdir"

Han siong Kie mendengus dingin, ia segera membantah.

"Aku tahu apa yang cianpwe katakan memang cengli dan masuk diakal, tetapi bagi pandanganku nasib tetap berada di tangan manusia sendiri yang menentukan setiap perbuatan dan setiap kejadian yang ada dikolong langit adalah manusia itu sendiri bukan takdir"

Jadi engkau tak dapat merubah pandangan hidupmu terhadap ibumu?"

"Kalau toh dia tidak menganggap aku sebagai putranya, kenapa aku harus menghormati dirinya sebagai ibuku? "

"Bocah, ucapanmu itu keliru besar, engkau telah melanggar dasar hidupmu sebagai seorang putra manusia"

Han siong Kie menghela napas sedih, katanya.

"Lima belas tahun berselang, aku masih berusia tiga tahun ketika seluruh keluargaku di bantai orang, dengan keji sampai detik ini kedua ratus sosok kerangka manusia mereka belum tertanam dalam tanah, dan dia... ia bisa lolos dari pembantaian tersebut dengan selamat, malahan dia kawin lagi dengan orang lain, bukan saja dendam keluarganya tidak dituntut balas bahkan setiap kali berusaha membinasakan diriku"

"Mungkin engkau telah melupakan sesuatu"

Tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru dengan suara aneh.

"Apa yang kulupakan?"

"Apakah engkau pernah berpikir dengan cara bagaimana ibumu bisa lolos dari kematian?"

Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie berdiri tertegun, ia melongo dan tak mampu menjawab.

"Ehmm Benar juga perkataan ini"

Pikirnya di hati kejadian ini memang merupakan suatu teka teki besar Pemuda itu pernah berpikir sampai kesitu tapi tak pernah menemukan jawabannya, ia penuh keheranan atas kejadian ini, dari mana ibunya bisa locos dalam keadaan selamat ditengah pembantaian keji tersebut?"

Paman gurunya telapak naga beracun Thio Lin sesaat sebelum bunuh diri hanya sempat beritahu kepadanya kalau ibunya sudah kawin lagi, dan pernah hendak membunuh mereka berdua, selain itu beliau tak pernah menceritakan kejadian yang berhubungan dengan pembantaian tersebut, bahkan berpesanpula kepadanya agarjangan membalas dendam, kenapa ia berbuat begitu.

Teka teki suatu teka teki yang tak bisa terjawab.

setelah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, diapun berseru dengan penuh emosi.

"Apakah cianpwe tahu apakah sebab-sebabnya?"

"Tentu saja tahu oleh karena itu aku dapat mengucapkan kata2 seperti ini kepadamu"

"Cianpwe, kenapa tidak kau terangkan se-jelas2nya?"

"saatnya belum tiba kalau kuucapkan keluar bukan saja tidak bermanfaat bagimu malahan bisa mendatangkan celaka"

Han siong Kie mendengus sambil menggertak gigi, ia terbungkam dalam seribu bahasa. Beberapa saat setelah suasana diliputi keheningan, orang yang kehilangan sukma berkata lagi.

"Nak. aku berharap agar engkau bersedia untuk mengunjungi Benteng maut sekali lagi"

"Akan kuingat selalu dihati"

"Kenapa tidak segera kau laksanakan"

"Dewasa ini aku harus selesaikan dahulu persoalan yang menyangkut perguruanku, tapi cianpwe tak usah kuatir Pokoknya suatu saat aku akan berkunjung kebenteng maut, sebab tanpa perkataan dari cianpwe pun aku juga bisa melakukannya sendiri"

"Maksudku, aku harap agar engkau menceritakan asal usulmu yang sebenarnya kepada pemilik benteng maut"

"Tentang soal ini tentu saja"

Tanpa sadar Han siong Kie meraba pusaka Hud jiu popit yang ada dalam sakunya, dalam hati dia berpikir.

"Sekarang aku harus berangkat dulu kebukit Ke lou san untuk menemukan diri malaikat hawa dingin Mo siu ing, setelah kuberitahukan jejak dari malaikat hawa panas Ke su ki, sepasang sarung tangan pusakapun bisa bersatu dan aku dapat melatih ilmu si mi sinkang, waktu itulah baru kukunjungi benteng maut untuk menuntut balas.

Belum habis dia berpikir, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi.

"Nak mulai detik ini engkau sudah menjadi musuh bebuyutan dari perkumpulan Thian che kau"

"Aku bisa memahami akan persoalan ini"

"Engkau harus jaga diri baik2 terutama sekali terhadap sergapan mereka"

"Terima kasih cianpwe atas peringatanmu"

"Nah, sekarang kau boleh berlalu "

"sebelum pergi, terlebih dahulu aku hendak mengajukan dua pertanyaan terlebih dahulu "

"Coba katakan"

"Pertama, didunia persilatan sebetulnya terdapat berapa banyak Tengkorak maut?"

"Yang kau maksudkan delapan belas tahun berselang ataukah delapan belas tahun kemudian?"

"Delapan belas tahun berselang?"

"Waktu itu cuma seorang"

"Lalu kalau delapan belas tahun kemudian?"

"Ada dua orang"

"Apakah pemilik benteng maut rela membiarkan orang lain mencatut nama besarnya? "

"Tentu saja dibalikperistiwa itu masih terdapat alasanalasan lain yang dalam sekali artinya"

"Boleh aku tahu apa sebabnya??"

"Tidak aku tak dapat beritahu kepadamu"

Han siong Kie meras akan hatinya jadi dingin separuh, dia lantas berseru lagi.

"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut asli maupun gadungan berasal dari satu sumber yang sama, mungkinkah di balik kejadian ini.."

"Nak. dikemudian hari engkau akan paham sendiri"

Tukas orang yang kehilangan sukma dengan cepat.

"sekarang aku belum bisa memberitahukan kepadamu, Nah, katakanlah persoalan yang kedua"

Kedua, apa hubungannya antara perkumpulan Thian che kau dengan Benteng maut?"

"Kenapa kau ajukan pertanyaanseperti itu??"

"Ketua muda perkumpulan Thian che-kau Yesau kun pernah menggunakan suatu jenis ilmu aneh yang pernah kujumpai pula sewaktu berada didalam benteng maut "

"Maafkaniah daku, aku tak mampu menjawab pertanyaanmu itu."

Han siong Kie merasa amat berduka sekali setelah mendengar jawaban tersebut, teka teki tetap merupakan teka teki, ia tak habis mengerti kenapa orang yang kehilangan sukma sengaja berbuat rahasia terhadap dirinya walau dalam hal apapun juga.

Tiba2 ia teringat kembali akan satu peristiwa, ketika jalan darahnya ditotok oleh Pemilik Benteng Maut dengan ilmu manunggalnya sehingga hawa murninya tak dapat berkumpul kembali, bukankah orang yang kehilangan sukma telah mengutungi lengan sendiri karena dia telah bebaskanjalan darahnya yang tertotok.

malahan berpesan kepadanya andaikata bertemu kembali dengan pemilik benteng maut, kutungan tangan itu harus diserahkan kepadanya.

Berpikir sampai disini tak tahan lagi dia berseru.

"Kalau dugaanku tidak keliru, kemungkinan besar cianpwe sendiripun mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pihak benteng maut? "

"Dengan dasar apa kau bisa berpikir demikian?"

Tanya orang yang kehilangan sukma dengan suara kaget bercampur tertegun "Dasar apa ?

Dasarnya karena cianpwe dapat membebaskan jalan darahku yang ditotok oleh pemilik benteng maut dengan ilmu totokan menunggalnya "

"Nak. ketahuilah ilmu silat yang ada dikolong langit sebenarnya bersumber dari satu orang, air yang mengalir di sungai2 toh akhirnya berkumpul disamudra ? sebenarnya tiada sesuatu yang aneh dalam persoalan ini"

"selain itu, aku masih punya bukti pula kenapa cianpwee kutungi lengan sendiri dan berpesan kepadaku agar diserahkan kepada pemilik benteng maut."

"Cukup,. cukup nak, sekarang kau boleh berlalu dari sini"

Tukas orang yang kehilangan sukma dengan cepat. Dengan perasaan tak habis mengerti Han siong Kie, gelengkan kepalanya berulang kali.

"Budi kebaikan Cianpwee tak akan kulupakan untuk selamanya, suatu ketika pasti akan kubalas semua budi kebaikan itu, sekarang baiklah aku yang muda mohon diri lebih dahulu"

Habis berkata dia lantas menjura dalam2 kearah mana berasalnya suara itu, kemudian ia putar badan dan bergerak menuju kearah jalan raya.

sepanjang perjalanan bayangan dari ibunya selalu berkecamuk dalam benaknya, ia meras a tragedi tersebut merupakan suatu kejadian yang paling tragis, dan dialah peran utama dalam tragedi tersebut.

Kenapa orang yang kehilangan sukma selalu berusaha untuk melindungi ibunya, perbuatannya ini sangat mencengangkan hatinya.

Mungkinkah dia berbuat demikian karena berdasarkan pengamatannya yang penuh welas kasih?

karena tak tega menyaksikan tragedi dirumah tangga orang lain maka dia berusaha untuk memperbaiki hubungan yang telah retak itu?

pikirnya dihati.

Tanpa sadar diapun teringat kembali akan diri lima orang tianglo yang telah berangkat lebih duluan.

Gerak tubuhnya ma kin dipercepat, ibarat segulung asap ringan dia bergerak maju ke depan mengikuti jalan raya yang terbentang jauh kedepan-Tak sampai dua jam lamanya, dia sudah melampaui jarak sejauh tiga ratus li lebih, akan tetapi kelima orang tianglo itu belum juga kelihatan jejaknya.

sementara sianak muda itu masih berpikir dengan keheranan, tiba2 dari arah depan bergerak datang belasan sosok bayangan manusia dengan gerakan yang enteng.

Han siong Kie menghindar disamcing jalan karena dalam keadaan begini dia tak ingin mencari gara2, mendadak ia temukan bahwa belasan orang itu ternyata kawanan jago dari perkumpulan Kay-pang, dan orang yang berjalan dipaling depan bukan lain adalah Pengemis dari selatan yang selama ini dianggap sebagai "Engkoh tua"

Nya.

Cepat2 sianak muda itu menghentikan langkahnya ditengah jalan dan menghadang jalan pergi beberapa orang itu.

Dipihak lain, ketika rombongan yang dipimpin pengemis dari selatan mengetahui bahwa jalan pergi mereka dihadang orang, belasan orang itupun segera menghentikan gerak tubuhnya.

"Engkoh tua"

Han siong Kie segera menegur dengan muka berseri-seri karena gembira. setelah mengetahui siapa yang datang, pengemis dari selatan menengadah dan tertawa ter-bahak2.

"Haaah... haaah... haaah saudara cilik, kembali kita telah berjumpa muka.

"selama berpisah apakah engkoh tua berada dalam keadaan sehat walafiat??"

"Haaah... haaah... haaah... selamanya aku pengemis tua Cuma punya satu bibir dua pundak, apanya yang sehat atau tidak??"

Sementara itu kedua belas orang pengemis tua yang datang bersama pengemis dari selatan telah melotot kearah Hansiong Kie dengan penuh kegusaran, seakan2 kalau bisa mereka hendak telan pemuda itu bulat2.

Tentu saja Han siong Kie mengetahui juga apa sebabnya pihak lawan memandang ke arahnya dengan sikap bermusuhan, namun ia sama sekali tidak gentar.

setelah menyapu sekejap kearah kawa nan pengemis itu, ujarnya lagi kepada pengemis dari selatan-"

Engkoh tua, aku lihat engkau sedang melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa, kemana engkau akan pergi? "

Paras muka pengemis dari selatan berubah beberapa kali, akhirnya sambil tertawa ha hihi jawabnya.

"Kemana aku hendak pergi tak usah dibicarakan, eh saudara cilik bersediakah kau untuk menemani aku pengemis tua minum arak sampai mabuk.?"

"Tentang soal ini.."

"Jadi kau tidak bersedia"

"Bukanya tidak sudi, kebetulan aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, maka lebih baik dikemudian hari saja.."

"saudara cilik ketahuilah, secawan arak yang hendak kusuguhkan kepadamu mempunyai arti persahabatan kita yang maha besar"

Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia menjawab.

"Aaai baiklah, kalau toh engkoh tua berkata begitu lebih baik aku turut perintah saja"

Mendengar kesanggupan dari sianak muda itu, pengemis dari selatan segera berpaling kearah dua belas orang pengemis tua lainnya dan berseru lantang.

"siapkan meja perjamuan dalam kuil Leng koan bin"

Kedua belas orang pengemis tua itu sama-sama memberi hormat sambil mengiakan, setelah melirik kembali kearah Han siong Kie denganpandanganpenuh kebencian, mereka putar badan dan berlalu dari situ.

Memandang hingga bayangan tubuh kedua belas orang pengemis tua itu sudah lenyap dari pandangan, Han siong Kie baru berkata lagi kepada pengemis dari selatan-"

Engkoh tua, kenapa secara tiba2 kau hendak undang aku untuk minum arak?"

"Besar sekali arti persahabatan dalam secawan arak itu"

Sahut pengemis dari selatan dengan alis mata berkenyit.

"Aku tak habis mengerti"

"Untuk sementara waktu tak usah kita bicarakan dulu tentang persoalan ini, aaai sebenarnya saja aku engkoh tua menyayangkan sesuatu atas dirimu "

"Menyayangkan diriku? Kenapa??"

"Kemungkinan besar kehidupanmu dimasa depan akan hancur berantakan tanpa mampu dicegah lagi"

"Engkoh tua, aku benar2 tidak mengerti dengan perkataanmu itu..."

"Bukankah malaikat penyakitan adalah hasil penyaruanmu??"

Pengemis dari selatan menegaskan.

Han Siong Kie kerutkan dahinya lalu mengangguk "Benar, akulah malaikat penyakitan." -ooodewiooo-BAB 42 SENYUMAN yang semula menghiasi ujung bibir pengemis dari selatan, seketika lenyap tak berbekas,alis matanya berkenyit dengan suara dalam ia lantas berseru.

"Jadi kalau begitu engkau benar2 adalah anak murid dari Mo tiong ci mo?"

"Benar, tapi apa salahnya aku menjadi muridnya?"

"Mo tiong ci mo adalah seorang gembong iblis yang kejam dan berhati keji, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, entah sudah berapa banyak umat persilatan yang menemui ajalnya ditangan iblis ini..."

Han Siong Kie tertawa rawan.

"oleh sebab itu maka engkoh tua merasa kasihan dan sayang buat masa depanku?"

Sambungnya dengan cepat. Pengemis dari selatan tertegun, akhirnya ia berbisik lirih.

"saudara cilik, kau telah berubah"

"Berubah ? darimana kau tahu kalau aku berubah??"

"Dari pembicaraanmu barusan "

"Tidak Aku sama sekali tak berubah, mungkin dalam hati kecil engkoh tua ada urusan yang memusingkan, maka pandanganmu yang ikut pula berubah"

"saudara cilik, seandainya pada saat ini aku pengemis tua ingin mengetahui jejak dari gurumu, apakah engkau bersedia untuk menjawab??"

"Tentu saja Kenapa tidak berani kuterangkan??"

"Kalau begitu, tolong tanya gurumu sekarang berada dimana??"

"Dia orang tua telah mengakhiri masa hidupnya didunia ini "

"Apa ? gurumu sudah mati ?"

Teriak pengemis dari selatan amat terperanjat.

"Benar "

Paras muka pengemis dari selatan berubah beberapa kali, kemudian ia berkata lagi.

"Aku pengemis tua mengira apa yang tersiar dalam dunia persilatan hanya berita yang keliru, tak tahunya memang benar2 demikian adanya, saudara cilik Eogkau tentu tahu bukan Musuh besar dari Mo tiong ci mo tersebar di mana2, apabila dia telah mati maka...."

"sang murid akan menanggung semua hutang dari gurunya"

Sambung sang pemuda dengan cepat. Mendengar ucapan tersebut sekujur badan pengemis dari selatan gemetar keras, ia segera berseru lagi.

"saudara cilik, kita bersahabat lebih dulu sebelum terjadinya pelbagai peristiwa ini, hal ini menandakan kalau kita punya jodoh, dan sekarang kita berduapun masih saling bersahabat, kata2 yang kurang sedap didengar lebih baik tak usah kita bicarakan dulu, tiga li dari sini terdapat sebuah kuil leng koan bio, bagaimana kalau kita minum-minum dulu sampai puas?"

Agaknya Han siong Kie dapat memahami arti dari ucapan kakak tuanya ini, ia lantas berkata.

"Engkoh tua, bukankah kau katakan tadi bahwa secawan arakmu ini mengandung rasa persahabatan yang maha besar?"

Pengemis dari selatan cuma mengangguk dan tidak menjawab.

"Apakah bisa kuatirkan bahwa dengan secawan arak itu maka kau hendak memutuskan hubungan persaudaraan yang sudah terjalin?"

Paras muka pengemis dari selatan berubah hebat, serunya sambil tertawa sedih.

"Apa maksud perkataanmu itu??"

"Engkoh tua, kalau toh sudah tahu buat apa pura2 berlagak pilon lagi? Aku tahu dimata orang Bu-lim antara mendiang guruku dengan pihak Kay pang pernah terjadi sengketa, engkoh tua sebagai tianglo dari Kaypang tak mungkin bisa berpeluk tangan dalam persoalan ini, sedangkan aku sebagai ahli waris dari Mo tiong ci mo harus bertanggung jawab terhadap perbuatan guruku, untuk itu engkoh tua akan undang aku untuk minum arak. tentu saja hal ini disebabkan karena dimasa lalu kita pernah mempunyai hubungan yang akrab, tapi setelah selesai minum arak kemungkinan besar kita harus selesaikan persoalan ini diujung senjata, kalau arak itu tak bisa dikatakan sebagai arak pemutus hubungan, lalu mau disebut apa lagi?"

Pengemis dari selatan mengangguk lirih, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, air mata itu tercucur keluar karena pancaran emosi dalam hatinya.

Han Siong Kie sendiripun ikut bersedih hati, pikirnya.

"Engkoh tua memang seorang jago yang berperasaan halus.."

Sementara itu pengemis dari selatan telah berkata lagi dengan sedih.

"saudara cilik, sebenarnya setelah minum arak nanti persoalan ini baru akan kuterangkan, siapa tahu kau telah berhasil membongkarnya lebih dahulu, tak salah sekarang kita memang masih bersahabat, tapi satu jam kemudian kita bisa saling berhadapan sebagai musuh bebuyutan, akupengemis tua sebagai ketua tianglo perkumpulan Kay pang tak dapat mengingkari sumpahku terhadap cousu, dan tak dapat pula cuci tangan dari pertanggungan jawab ini, apa lagi terhadap semua anggota perkumpulan..."

Han Siong Kie sama sekali tidak gentar atau sedih karena persoalan ini, sebab dia sudah mempunyai rencana yang masak untuk menanggulangi persoalan tersebut, dalam kitab catatan tentang budi dan dendam yang ditinggalkan Mo mo cuncu, ia telah membaca semua latar belakang peristiwa pembunuhan itu, dan ia merasa cukup beralasan untuk menangkis semua tuduhan tadi.

Pembicaraanpun dialihkan kesoal lain, pemuda itu bertanya .

"Engkoa tua, mata2 perkumpulan Kay pang tersebar di mana2, apakah kalian berhasil menemukan sumber serta asal usul diri Tengkorak maut gadungan?"

Pengemis diri selatan geleng kepala dan menghela napas panjang.

"Tiada sesuatu jejak pun yang berhasil kami temukan'' sahutnya.

"Menurut pendapat engkoh tua. mungkin kah tengkorak maut itu adalah tengkorak maut generasi kedua?"

"Saudara cilik, engkau bisa berkata demikian tentu punya dasar buktinya bukan?"

"Benar, aku bisa berkata demikian karena mendasarkan dari beberapa hal. Pertama ilmu silat yang digunakan Tengkorak maut gadungan ternyata berasal dari satu sumber dengan Tengkorak maut asli, hanya saja kehebatan mereka terpaut dalam hal kematangan serta kesempurnaan belaka Kedua, dengan kemampuan yang dimiliki Tengkorak maut asli, tak mungkin bukan kalau dia biarkan oraag lain mencatut namanya ?"

Pengemis lua dari selatan mengangguk2 tanda membenarkan, ujarnya kemudian .

"Saudara cilik, perkataanmu memang masuk diakal, tapi siapa yang menduga kalau Tengkorak maut sebenarnya ada yang asli dan gadungan ? Apalapi tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut gadungan juga sangat hebat, susah dicarikan tandingannya dikolong langit dewasa ini, mampukah kau untuk membuktikan kecurigaan itu? Padahal kecuali kau dan aku, dikolongan langit ini tak ada orang ketiga yang tahu kalau Tengkorak maut sebenarnya ada dua, yang gadungan dan yang asli"

Diam2 Han Siong Kie menggigit bibir menahan emosi hatinya, terbayang kembali akan perbuatan ibunya Siang go cantik Ong Cui Ing yang telah menolong tengkorak maut gadungan dari ancaman maut, hampir saja dadanya meledak karena mendongkol.

Sementara itu Pengemis dari selatan telah menghela napas panjang, ujarnya lagi.

"Aaai.. dunia persilatan yang sudah belasan tahun mengalami ketenangan, sekarang terancam kembali oleh teror dan pembantaian secara keji. Mungkinkah saat kiamat sudah hampir tiba??"

Tiba2 dari sepasang mata Han siong Kie memancar keluar serentetan cahaya yang sangat aneh, ucapnya dengan suara meyakinkan.

"Aku yakin teka teki yang menyelubungi asli dan gadungannya tengkorak maut, tidak lama kemudian akan terbongkar "

"Semoga saja begitu saudara cilik, mari kita berangkat.."

"Baik, silahkan engkoh tua membawa jalan "

Berangkatlah dua orang itu menelusuri jalan raya menuju kearah muka. sesaat kemudian mereka telah tiba ditengah sebuah bukit, sambil menunjuk kearah bukit yang ada disebelah kanan, katanya.

"Itu dia, kita akan menuju kesitu"

Kedua orang itu berangkat meninggalkan jalan raya berganti menyelusuri jalan kecil menuju kearah hutan yang dimaksud.

Meskipun diluaran pengemis dari selatan tidak menunjukkan sikap apa2, namun perasaan hati yang sesungguhnya amat berat dan tertekan, sejak bertemu dengan Han siong Kie dalam hutan tho ia merasa amat berjodoh sekali dengan pemuda itu sehingga mengikat diri menjadi saudara, tak disangka banyak urusan didunia, yang tak dapat diramalkan, akhirnya pemuda yang menjadi saudaranya itu telah menjadi ahli waris dari Mo tiong ci mo, seorang gembong iblis yang punya ikatan dendam dengan perkumpulannya.

Empat puluh tahun berselang, Mo tiong ci mo dengan andalkan kepandaian silatnya yang tinggi telah memusnahkan cabang perkumpulannya yang ada dikota swat siang, dimana dari sang Tuo-co, ketiga orang hiang-cu, dua belas orang komandan sampai empat puluh orang anggota perkumpulannya telah dibantai secara keji.

setelah kejadian itu, tiba2 jejak Mo tong ci mo lenyap dari dunia persilatan, walau begitu pihak Kay pang bersumpah akan menebus hutang berdarah itu.

Dan kini, Mo tiong ci mo telah meninggal dunia, itu berarti hutang berdarah tersebut harus ditanggung oleh Han Siong Kie sebagai ahli waris tunggalnya.

Ini berarti pula persaudaraan diantara mereka akan berakhir, dari saudara angkat akan jadi musuh bebuyutan yang tak bisa berdiri bersama.

kejadian semacam ini boleh dikata merupakan suatu kejadian yang amat tragis.

Pengemis dari selatan mengetahui sampai dimanakah taraf kemampuan yang dimiliki Han Siong Kie, sebab kelihayannya sudah tersohor diseluruh kolong langit, ia tahu hutang darah perkumpulannya belum tentu bisa ditagih, terbayang akan peristiwa yang bakal terjadi, tak kuasa lagi ia merinding hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri Pengemis itupun tahu, seandainya sampai terjadi pertarungan sengit, dengan semangat anggota perkumpulannya, maka suatu pertumpahan darah yang mengerikan tak bisa dihindari lagi, ia tak berani melanjutkan pemikirannya, sebab ia tahu bagaimanapan juga akibatnya pasti tragis dan mengerikan..

Han siong Kie sendiri sama sekali tak jadi gentar atau bingung oleh peristiwa tersebut, sebab ia sudah mempunyai rencana yang masak.

Ia yakin urusan itu dapat dipecahkan secara mudah.

sebuah kuil besar yang antik dan rusak dimakan usia berdiri angker dibalik pepohonan yang lebat.

sebuah papan nama tergantung didepan pintu kuil, tulisan itu berwarna emas walaupun sekarang telah kotor oleh debu, secara lapat2 tulisan tersebut masih dapat dikenali sebagai kuil "Long koan bio"

Ketika mereka hampir tiba didepan pintu, seorang pengemis setengah baya munculkan diri dari balik ruangan dan jatuhkan diri berlutut, katanya dengan lantang.

"Tecu Ciu song tuccu dari cabang kota kang leng menyambut dengan hormat kedatangan tianglo"

"ciu Tuocu tak usah banyak adat, sudah kau siapkan meja perjamuan?"

"semuanya telah siap"

Jawab Ciu Seng dengan hormat, ia segera bangkit dan menyingkir kesamping.

"Bagus, bawa jalan"

Tiga orang itu secara beruntun masuk ke dalaw kuil, setelah menyeberangi dua buah halaman yang luas, sampailah mereka dalam ruang tengah yang besar dan bersih.

Dimana mereka berjalan lewat, semua anggota perkumpulan Kay pang sama2 bungkukkan badan memberi hormat.

Han Siong Kie hanya mengintil dibelakang saudaranya, walaupun mukanya tetap tenang, namun ia cukup menyadari betapa tegangnya situasi disana, semua sorot mata yang ditujukan ke arahnya rata2 memancarkan rasa dendam dan marah yang tak terkendalikan.

Diatas meja perjamuan tersedia belasan macam sayur yang berbau harum, disampingnya tersedia pula sebuah guci arak yang masih disegel.

Pengemis dari selatan mempunyai tingkat kedudukan yang sangat tinggi dalam perkumpulannya, ia tak pernah terikat oleh segala tata cara yang ber-belit2, kepada Ciu Seng yang mendampinginya ia berkata.

"Perintahkan semua orang untuk tinggalkan tempat ini, aku hendak makan minum sepuasnya dengan saudara cilik, bila ciang bunjin sudah tiba nanti, kasi kabar kepadaku"

"Baik tianglo"

Dengan sangat hormat Ciu Seng mengundurkan diri dari ruangan itu, menyusul anak murid lainnyapun sama2 berlalu dari sana, sebentar kemudian dalam ruangan yang luas tinggal mereka berdua.

"saudara cilik, ayoh duduklah "

Ucap pengemis dari selatan.

setelah dua orang itu ambil tempat duduk, pengemis dari selatan segera membuka segel diatas guci arak yang tersedia, bau harum semerbak berhembus keluar membuat seluruh ruangan jadi wangi.

"Arak bagus"

Puji Han Siong Kie dengan suara lantang.

Merekapun meneguk arak dengan riang gembira, pengaruh alkohol membuat kedua orang itu melupakan kenyataan yang sebentar lagi bakal terjadi, senda gurau berjalan amat lancar, se-olah2 diantara mereka memang tiada persoalan apa2.

setengah jam kemudian, dari luar ruangan berkumandang suara teriakan keras.

"Ciang bunjin tiba"

Pengemis dari selatan segera bangkir berdiri, mukanya berkerut kencang, sambil tertawa getir serunya kepada anak muda itu.

"saudara cilik, tampaknya tali jodoh di antara kita harus berakhir sampai disini saja."

Han Siong Kie mengulum senyuman, ia tidak mengucapkan sesuatu, perlahan tubuhnya ikut bangkit dari tempat duduk.

suara langkah kaki yang riuh berkumandang dari luar, menyusul sekelompok manusia melangkah masuk kedalam halaman luar.

orang yang dipaling depan adalah seorang pengemis berusia lima puluh tahunan, mukanya amat kereng, dia langsung menuju keruang tengah, sementara enam belas orang pengikutnya barsama dua belas orang pengikut dari pengemis selatan menunggu dihalamam depan sementara itu anak murid Kay-pang yang lain menyebarkan diri keempat penjuru, dalam waktu singkat mereka sudah membentuk sebuah lingkaran tembok manusia yang kuat, jumlah mereka sekitar dua ratus orang, kecuali suara langkah kaki tiada kedengaran suara lain.

"Tio Hui menjumpai pangcu "

Seru pengemis tua dari selatan sambil melangkah tiga tindak kemuka.

"Tianglo tak usah banyak adat"

Seru pengemis tua itu menghalangi tianglonya memberi hormat, kemudian sambil berpaling kearah Han Siong Kie katanya.

"Jadi engkau yang bernama Manusia bermuka dingin Han Siong Kie?"

"Benar"

Anak muda itu mengangguk ketus.

"Empat puluh tahun berselang gurumu Mo tiong ci mo mempunyai sedikit persoalan dengan perkumpulan kami."

"Akulah yang akan membereskan"

Sambung Han song Kie cepat. Mendengar jawaban tersebut, sorot mata yang penuh pancaran rasa dan gusar tertuju semua keatas tubuh Han Siong Kie.

"Kalau memang begitu, silahkan menuju ketengah halaman, kita lanjutkan pembicaraan disitu"

Ucap ketua Kaypang sambil persilahkan pemuda itu.

Han Siong Kie mendengus dingin, tanpa menggerakan bahu ataupun anggota badan, tahu2 sekali enjot badan, dia sudah melayang turun ditengah halaman.

Demontrasi ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi ini sangat menggetarkan hati setiap orang, diam2 jago lihay dari Kaypang itu sama terkesiap dan mengeluarkan peluh dingin Ketua Kay pang tidak banyak komentar lagi, diapun melangkah ke tengah halaman, disana keenam belas orang pengiringnya berdiri berjejer dibelakang ketua mereka dengan tongkat Tah-kau pang siap ditangan.

Pengemis dari selatan sendiri dengan muka serius berdiri disamping kanan ketua nya.

suasana jadi tegang dan meruncing, setiap saat suatu pertumpahan darah bakal berlangsung disitu.

Dengan muka serius ketua Kay pang menyapu sekejap sekeliling halaman itu, kemudian tegurnya dengan lantang.

"Han sauhiap. betulkah engkau akan mewakili mendiang gurumu untuk menyelesaikan hutang darah yang dibuat gurumu pada empat puluh tahun berselang?"

Han Siong Kie mengangguk tegas.

"Benar Hutang yang dibuat guru sudah sapantasnya ditanggung sang murid, tolong tanya bagaimana caranya pihak Kaypang untuk menyelesaikan pertikaian ini?"

"Hutang darah bayar darah Hutang nyawa bayar nyawa"

"sebelum salah satu mampus tak akan di akhiri? "

"Benar"

Suasana bertambah tegang, semua jago lihay dari Kay pang menunjukkan muka sedih dan marah, mereka siap melancarkan terjangan maut kearah musuhnya.

Ketua Kay pang termenung sebentar, kemudian ujarnya lagi.

"Berbicara tentang pertolongan Han sauhiap dalam peristiwa penghianatan pengemis bintang langit Jin Jiet, sebenarnya perkumpilan kami merasa sangat berhutang budi kepadamu ...."

Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar , lanjutnya lagi.

"Tapi peristiwa berdarah yang menimpa cabang samsiang merupakan hutang darah yang paling besar bagi perkumpulan kami, maka ...."

"Mengenai kasus pengemis bintang langit Jin Jit, aku lakukan kesemuanya itu demi persaudaraanku dengan engkoh tua Thio tianglo, mengenai soal ini ciang bunjin tak usah merasa menyesal atau berterima kasih, aku lihat lebih baik ciang bunjin pikirkan tentang hutang piutang perkumpulan Kay pang dimasa lampau"

Pengemis dari selatan tetap berdiri tanpa emosi, padahal hatinya merasa amat sedih hingga sukar ditahan. Dengan muka serius ketua Kay pang berkata.

"Kalau toh urusan sudah dibikin jelas, maaf kalau perkumpulan kami terpaksa harus ambil tindakan"

Mengikuti bergemanya ucapan tersebut, suasana berubah jadi tenang, senjata mulai dicabut dan pertarungan siap terjadi. Melihat kesemuanya itu, Han Siong Kie segera berpikir dihati.

"Mungkin semua orang penting dalam perkumpulan Kay pang telah hadir disini, itu berarti sudah tiba saatnya bagiku untuk mengungkap duduk persoalan yang sebenarnya."

Berpikir sampai disitu, dengan muka serius dia lantas terkata.

"cianghunjin, boleh aku ajukan satu pertanyaan"

"Katakan"

"seandainya kematian yang menimpa anak murid cabang kota samsiang yang terjadi pada Empat puluh tahun berselang adalah kematian yang sudah sepantasnya mereka terima, apa yang hendak ciangbunjin lakukan?"

Suatu pertanyaan yang aneh dan sama sekali diluar dugaan para anggota Kaypang berdiri menjublak, paras muka mereka berubah hebat.

sekilas rasa kaget dan heran sempat menghiasi pula air muka Pengemis dari selatan yang kaku, ia yakin saudara kecilnya tak mungkin berbicara tanpa bukti atau alasan yang kuat, dengan hati berdebar ia menunggu keterangan lebih jauh dari anak muda itu.

"Han sauhiap. apa arti dari perkatanmu itu?"

Tanya ketua Kaypang dengan muka tertegun karena heran-"Maksudku, andaikata murid2 Kay pang yang terbunuh dimasa lampau memang mempunyai dosa yang tak dapat diampuni, apa yang akan ciang bunjin lakukan??"

"Tentang soal ini...."

Ketua Kay pang jadi ragu.

"aku rasa sauhiap tentu mempunyai alasan yang cukup kuat bukan??"

"Tentu saja? Meskipun mendiang guruku disebut orang sebagai Mo tiong ci mo iblis diantara iblis, namun selama hidup tak pernah membunuh orang tanpa alasan yang kuat, mengapa banyak orang yang beliau bunuh? Hal ini disebabkan karena terlalu banyak manusia yang patut dibunuh yang berkeliaran dalam dunia"

Semua orang terperanjat mendengar ucapan itu, suasana hening tak seorang manusiapun buka suara.

Dengan hati sangsi ketua Kay pang melirik sekejap kearah Pengemis dari selatan sebab dalam tingkat kedudukan dipartai Kay pang pengemis selatan yang berkedudukan paling tinggi dan berpengalaman paling luas.

Apa lagi dikala Mo tiong ci mo masih berkeliaran dalam dunia persilatan, pengemis dari selatan juga sering berkelana, maka apabila ucapan Han Siong Kie tidak bohong, sedikit banyak diapun pernah mendengar akan kejadian tersebut.

siapa tahu pengemis dari selatan sendiripun menunjukkan muka sangsi, kaget dan keheranan, maka dengan ragu2 ujarnya.

"Kalau menurut ucapan sauhiap. gurumu hanya dituduh secara se-mena2 oleh kawanan pendekar budiman??"

Ucapan itu sangat tajam dan mengandung sindiran. Han Siong Kie tertawa dingin "

Sukar untuk dibedakan mana baik mana buruk di antara sesama umat persilatan, karena banyak orang yang kelihatannya baik bersemangat jantan dan berjiwa ksatria tapi dalam kanyataan berjiwa kerdil, munafik dan suka melakukan perbuatan yang terkutuk.

sebaliknya tak jarang orang yang kelihatan kejam, dianggap iblis, pembunuh besar dalam kenyataan seringkali melakukan kebajikan "

"Bolehkah kami menanyakan maksud sau hiap yang lebih mendalam mengenai persoalan ini?"

Hao siong Kie ternenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia berkata.

"Empat puluh tahun berselang, diatas jalan raya menuju kota samsiang telah terjadi suatu peristiwa berdarah yang menggemparkan sungai telaga, apakah diantara kalian ada yang mengetahui peristiwa apakah itu?" ..Empat orang pengemis tua yang berdiri dibelakang ketua Kay pang saling berpandangan sekejap. kemudian mengangguk.

"Lanjutkan perkataanmu"

Ucap pengemis dari selatan Dengan wajah serius Han Siong Kie meneruskan kembali kata2nya.

"Empat puluh tahun berselang, perusahaan ekspedisi yang paling besar dikota sam siang yakni Ceng bu piau kiok mendapat order untuk mengawal sejumlah barang yang sangat berharga menuju Thian lam, menurut apa yang kudengar selain intan permata serta mutu manikam yang mahal harganya, diantara partai barang berharga itu terdapat pula sebuah raja jinsom berumur sepuluh laksa tahun-..." -ooodewiooo-

Jilid 21 SEMUA perhatian orang tertuju diatas wajah Han Siong Kie, rata2 mereka memperlihatkan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa.

"Entah siapa yang membocorkan rahasia tersebut kedalam dunia persilatan, yang jelas banyak umat persilatan mulai berdatangan untuk mengincar sejumlah besar harta pusaka itu, terutama raja jinsom yang tak ternilai harganya. Untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak dlinginkan, maka selain membawa serta puluhan jago lihaynya, pihak perusahaan Ceng bu piau kiok turun ke gelanggang dengan dipimpin oleh piau cu sendiri beserta istrinya, selain itu putri tunggal merekapun ikut mengiringi dalam pengawalan tersebut"

Dengan muka gusar karena mendongkol, anak muda itu berhenti sebentar kemudian meneruskan.

"siapa tahu, belum sampai mereka keluar dari wilayah sam siang, barang kawalan mereka sudah dibegal orang, bahkan cara yang digunakan cara pembegal amat sadis dan rendah moralnya, mereka gunakan racun untuk merobohkan lawan2nya, hanya sesaat kemudian ratusan orang anggota perusahaan mulai dari Piaucu suami istri sampai keanak buahnya telah mati penasaran, seluruh dunia persilatan jadi gempar, sebab bukan saja banyak korban yang berjatuhan, bahkan siapa yang membegal barang kawalan itupun masih menjadi suatu tanda tanya besar"

Mendengar sampai disini paras muka semua jago dari pihak Kaypang berubah jadi amat serius.

Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap semua orang yang hadir dalam gelanggang, kemudian sambungnya lebih jauh.

"Tapi, Thian memang menghendaki segala kejahatan terbasmi dari kolong langit, sekalipun cara kerja para pembegal itu cukup rapat dan rahasia, toh tetap ada yang teledor. Putri piausu yang berparas amat cantik menjadi satu2nya saksi hidup dalam peristiwa itu, karena mukanya yang cantik jelita ia lolos dari pembantaian, namun tak lolos dari siksaan hidup, oleh pimpinan pembegal matanya dibikin buta kemudian secara bergilir ia diperkosa oleh pembegal tersebut, sebelum akhirnya dia hendak dibunuh mati, tiba2 munculah bintang penolong ditempat kejadian dan selamatlah jiwanya dari ancaman itu. sayang orang yang menolong jiwanya adalah seorang padri, tanpa menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya dengan ter-buru2 ia dikirim kesebuah biara, disanalah gadis itu cukur rambut menjadi pendeta, gadis itu tetap mempertahankan kehidupannya walau tubuh sudah ternoda dan mata dibikin buta, kesemuanya itu tak lain karena dia hendak membalas dendam."

Suasana dalam gelanggang berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, semua orang tertarik untuk mendengarkan kisah cerita itu.

Walaupun mereka ikut merasa gusar terhadap para pembegal, namun secara lapat2 merekapun dapat merasakan kalau cerita ini pasti mempunysi hubungan yang erat dengan peristiwa berdarah dicabang perusahaan mereka.

Rahib buta yang malang ini masib ingat kalau padri yang menyelamatkan jiwanya bernama Bu Ay.

"Bu ay ? Dia adalah padri dari utara "

Tiba2 pengemis dari selatan menjerit kaget.

Apa yang barusan dikisahkan Han Siong Kie sebagian besar telah disarikan kedalam kitab catatan budi dan dendam dari Mo-mo cuncu, ketika itu padri dari utara belum mendapat nama, maka Han Siong Kie sama sekali tak tahu kalau padri yang bernama "Bu Ay"

Tersebut sebetulnya bukan lain adalah nama pendeta dari Padri utara.

satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia merasa kejadian itu sangat kebetulan sekali baginya, sebab kalau Bu Ay taysu benar2 adalah padri dari utara, itu berarti ia mempunyai saksi hidup yang cukup kuat untuk membenarkan apa yang dia ceritakan barusan-"omitohud"

Tiba2 dari luar halaman bergema suara pujian kepada sang Buddha menyusul sesosok bayangan manusia melayang masuk ketengah gelanggang.

Agak tertegun Han Siong Kie setelah menjumpai kehadiran orang itu, tapi cepat dia maju kedepan seraya memberi hormat.

"oh, locianpwee, sangat kebetulan kehadiranmu kali ini"

Orang yang baru muncul bukan lain adalah Padri dari utara, sahabat karib pengemis dari selatan.

Kemunculan Padri dari utara yang sangat mendadak ini jauh diluar dugaan Han Siong Kie, tapi diapun merasa kegirangan oleh kemunculannya, sebab itu berarti ia tak usah bersilat lidah lebih jauh untuk membuktikan kejujuran ceritanya.

Padri dari utara memberi hormat lebih dulu kepada ketua Kay-pang, kemudian mengangguk kepada pengemis dari selatan akhirnya kepada Han Siong Kie dia berkata.

"siau-sicu, lanjutkan cerita mu"

Han Siong Kie bukan orang bodoh, ia tahu kemunculan padri dari utara jelas bukan suatu kebetulan saja, sambil tersenyum tegurnya.

"Bukankah kedatangan locianpwe untuk membantu pihak Kaypang mengerubuti aku??"

"Benar, aku tak menyangkal atas pertanyaanmu itu, Nah, sekarang lanjutkan cerita mu"

Han Siong Kie mengangguk, sambungnya.

"Kurang lebih setahun kemudian setelah kejadian itu, kebetulan mendiang guruku lewat dibiara tersebut dan berjumpa dengan rahib buta, yaitu putri kesayangan pemilik perusahaan Ceng bu piau-kiok. setelah dia mendengar nama besar mendiang guruku, maka berceritalah rahib tersebut tentang tragedi yang menimpa dirinya, selain itu diapun mengeluarkan sebuah tanda pengenal yang didapatinya dari saku sang pemerkosa secara kebetulan, dari tanda pengenal itulah akhirnya terungkap siapa kah pembunuh keji pembegal barang kawalan serta pemerkosa dara itu..."

Bercerita sampai disitu, mendadak Han Siong Kie tutup mulut dan membungkam.

Semua orang merasa hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, mereka tahu teka teki tersebut sebentar lagi akan ketahuan jawabannya.

Ketua Kay pang ikut merasakan hatinya tercekat, sekujur tubuhnya gemetar keras menahan emosi.

Pengemis dari selatan maupun keenam belas orang pengemis tuapun ikut mengerutkan dahi sambil menantikan jawaban tersebut dengan hati berdebar.

Suasana jadi hening, sepi..

tak kedengaran sedikit suarapun, saat itulah padri dari utara berbisik memuji keagungan Buddha, kemudian bertanya.

"Siau sicu, siapa kah pembunuh sadis itu?"

Pancaran sinar aneh terbias dari mata Han Siong Kie, ditatapnya wajah ketua Kay pang tanpa berkedip, kemudian sepatah demi sepatah ucapnya dengan suara dalam.

"Pembunuh keji yang tak berperi kemanusiaan itu tak lain adalah Tuo cu cabang sam siang beserta orang-orang kepercayaannya"

Jawaban itu ibaratnya guntur membelah bumi disiang hari belong, semua orang tertegun, semua orang terbelalak untuk sesaat lamanya tak kedengaran suara bicara setiap anggota Kay pang yang hadir disitu memberlalakkan matanya dengan mulut melongo, kejadian ini memang sama sekali diluar dugaan.

Paras muka ketua Kay pang berubah hebat, secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang.

"Betulkah kejadian itu?"

Tanya pengemis dari selatan penuh emosi, rambutnya bergetar keras mengikuti pergolakan hatinya. Han Siong Kie tertawa dingin, kembali ia berkata.

"Tanda pengenal itu tak lain adalah tanda pengenal milik Toucu perkumpulan Kay pang cabang kota sam siang, sampai sekarang benda itu masih disimpan oleh rahib buta, mengenai biara mana yang telah di tempati rahib tersebut sejak Empat puluh tahun berselang, untuk jelasnya lebih baik tanyakan sendiri kepada padri dari utara"

Padri dari utara ikut terpengaruh oleh kisah tersebut, dengan suara gemetar karena emosi katanya.

"Peristiwa ini memang benar2 telah terjadi, waktu itu aku menempatkan dara yang malang tadi di biara Cu in an, kalau dihitung-hitung usianya kini sudah mencapai enam puluh tahunan"

Semua anggota perkumpulan Kay pang sama-sama tundukkan kepalanya, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang paling memalukan bagi perkumpulan mereka, tak ada yang bicara, tak ada yang komentar, semuanya terdiam, diam karena malu.

Pengemis dari selatan sendiri berdiri dengan tubuh gemetar sambil menengadah memandang awan diangkasa, diapun bungkam dalam seribu bahasa.

Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh Han Siong Kie, menghampiri ketua Kay pang yang masih membungkam dan berkata.

"Ciang bunjin, apa yang ingin kukatakan telah kuucapkan semua, bagaimanakah penyelesaian tentang persoalan ini, terserah pada keputusan ciang bunjin"

Ketua Kay pang menghela napas panjang.

"Aaai.. Peristiwa ini sungguh merupakan suatu kejadian yang tidak beruntung bagi pihak Kay pang, apa yang dapat kukatakan lagi? Han siau hiap. kami merasa malu dan menyesal atas perlakuan kasar yang sudah diperlihatkan pihak kami selama ini, harap engkau sudi memaafkan" --ooodwooo-BAB 43

"ENGKAU tak usah berkata begitu ciangbunjin, aku dapat memahami perasaanmu "

Sahut Han Siong Kie sambil tertawa.

Kepada pengemis dari selatan ia menambahkan-"Engkoh tua, aku tak dapat berdiam terlalu lama disini, aku masih banyak persoalan yang harus kukerjakan, selamat tinggal dan sampai jumpa dilain saat"

"saudara cilik, engkau membutuhkan bantuanku "

Bisik pengemis dari selatan dengan duka.

"Tidak engkoh tua, sekarang aku tidak membutuhkan bantuanmu, lain kali kalau ada kebutuhan yang mendesak. aku pasti akan mencari kau"

Untuk menyelesaikan pertikaian antara mendiang gurunya dengan pihak Kaypang sudah banyak waktu yang dibuang sianak muda itu, kini urusan telah selesai maka, secara otomatis ingatannya beralih kembali akan keselamatan lima orang tianglo perguruannya, dia ingin tahu apakah usaha mereka untuk menghadang jalan pergi Mo sam Yu peng hianat dari perguruannya, berhasil atau tidak..Karena itu dengan hati gelisah cepat dia menjura kepada semua orang, kemudian enjotkan badan dan berlalu dari situ.

Pengemis dari selatan serta ketua Kay pang seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi Han Siong Kie keburu kabur dari situ dan lenyap dikejauhan, terpaksa mereka cuma berdiri tertegun dengan mata melongo.

Dari kuil Leng koan bio, Han Siong Kie berlarian diatas jalan raya dengan mengerahkan ilmu ginkangnya Cahaya kilat lintasan bayangan, ibarat segulung hembusan angin puyuh, ia meluncur kemuka dengan cepatnya.

Perjalanan ditempuh siang malam tanpa berhenti, paling sedikit sudah seribu li dia lintasi, namun bayangan tubuh dari kelima orang tianglonya sama sekali tak nampak, kejadian ini sangat mencengangkan hati Han Siong Kie.

Diam2 ia mulai gelisah, pemuda itu tak mungkin mengejar langsung kewilayah Thian lam, sebab dia masih ada persoalan lebih penting yang harus dikerjakan-Tanpa terasa sampailah pemuda dia didalam sebuah hutan lebat, jalan raya itu menjorok jauh memasuki hutan itu, suara percikan air secara lapat2 menggema dari kejauhan-.

Beberapa li kemudian, tibalah pemuda itu ditepi sebuah sungai yang amat lebar, jalan raya terputus sampai disitu, tepi sungai merupakan sebuah hutan pohon liu yang sangat lebat, begitu tebalnya sampai sinar matahari susah menembusi permukaan tanah.

sebuah batu peringatan yang tinggi berdiri angker ditepi sungai, beberapa huruf besar tertera diatas batu itu.

"LIU LIM TOK"

Atau Penyeberangan hutan Liu.

Aneh kalau toh disana merupakan tempat penyeberangan, mengapa tiada sebuah perahupun yang berlabuh disana ?

Memandang gulungan ombak serta arus air yang amat deras ditengah sungai, Han Siong Kie berdiri ter-mangu2.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia berusaha mencari akal untuk memecahkan kesulitan yang sedang dihadapinya itu.

Tiba2..

bau anyir darah berhembus lewat dari kejauhan, menusuk penciuman pemuda itu sehingga membuat perutnya merasa mual.

Betapa terkejutnya si anak muda itu, dengan mata jelalatan dia menengok kesana kemari, ibarat kucing mengincar mangsanya, nun jauh didalam hutan Liu tiba2 ia temukan bayangan manusia yang se-akan terlentang diatas tanah.

Dengan sigap ia loncat kemuka dan menerobos masuk kedalam hutan itu.

Apa yang kemudian terlihat sungguh mendirikan bulu roma, mayat yang berlumuran darah bergelimpangan disana sini, jumlah nya mencapai tiga puluh sosok lebih, ketika mayat itu diteliti lebih jauh, tak kuasa lagi ia menjerit tertahan-"Aaah..

Korban2 dari malaikat hawa dingin"

Memang korban2 tersebut menunjukkan ciri yang khas yakni ubun2nya hancur tercabik-cabik, hanya Malaikat hawa dingin yang men-cabik2 benak korbannya hingga otak dan darah berhamburan di mana2, pemandangan waktu itu amat seram membuat bulu roma bukan saja pada bangun berdiri, perutpun ikut mual dan hampir saja muntah-muntah.

Malaikat hawa dingin Mo siu Ing tersohor karena caranya yang keji dan sadis sewaktu membantai musuh2nya, dalam dunia tak ada manusia kedua yang melebihi kekejaman hatinya Inilah akibat dari sakit mental yang diderita malaikat hawa dingin, seandainya ia tidak kehilangan suaminya yang tercinta tak mungkin hawa amarah dan dendamnya dilampiaskan kepada orang lain, diapun tak akan membunuh seratus orang persilatan setiap tahunnya untuk melampiaskan tekanan batinnya.

Han siong Kie berdiri termangu-mangu, ia tak habis mengerti dengan kejadian yang terbentang didepan mata, biasanya malaikat berhawa dingin tak akan mengulangi kembali pembantaiannya sebelum lewat satu tahun setelah ia membantai orang keseratus yang terakhir, tapi kini..?

Apa yang terbentang didepan mata menunjukkan suatu keistimewaan, suatu pengecualian dari kebiasaannya itu, lalu apa yang telah terjadi?

Tiba2 anak muda itu menjerit tertahan, lalu memburu kesisi sesosok mayat, korban itu tak dikenal olehnya bahkan sedang dicari2 selama ini, tak kuasa ia berdiri dengan hati bergetar keras.

Siapakah korban itu?

dia tak lain adalah mayat dari Mo sam Yu, pelindung hukum dari istana Huan mo kiong yang berkhianat, ditinjau dari sini dapatlah dibuktikan kalau kawanan penghianat yang kabur kembali kewilayah Thian lam tak sempat mencapai tujuannya, malahan mereka sudah menjadi korban keganasan malaikat hawa dingin.

Lalu..

apa sebab nya malaikat hawa dingin membantai orang-orang itu?

Bukankah lima orang tianglonya berangkat lebih dulu untuk menghadang jalan lari Mo sam Yu beserta begundal2nya?

Kemana mereka pergi?

Mengapa jejaknya tak ketahuan juntrungannya?

Aah jangan2 mereka pun sudah....

Berpikir sampai disitu, tak kuasa lagi Han Siong Kie bergidik tubuhnya jadi merinding.

Bila kelima orang tianglonya dibantai pula oleh malaikat hawa dingin, itu berarti antara dia dengan iblis perempuan itu terikat oleh dendam darah sedalam lautan, bagaimanapun juga hutang darah itu harus diperhitungkan.

sementara ia masih tertegun, jauh ditengah hutan menggema suara bentakan manusia yang terbawa angin secara sayup2 sampai terbaur oleh gulungan ombak yang menggila, ia sulit untuk membedakan mana suara bentakan mana gulungan ombak, tapi berhubung bentakan2 itu menggema saling susul menyusul maka lama kelamaan Han siong Kie dapat merasakan pula akan keanehan tadi.

Dia pusatkan segenap perhatiannya untuk mengamati suara bentakan itu, setelah yakin bila pendengarannya tak keliru, cepat ia terobos hutan pohon liu itu dan menghampiri kemana suara itu berasal.

Hutan yang panjang dan lebat telah diterobosi, nun diluar hutan tepatnya diatas sebidang tanah merumput yang luas terlihatlah beberapa sosok bayangan manusia sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Tiga orang kakek berbaju perlente sedang putar toyanya kencang2 mengerubuti seorang perempuan muda yang cantik jelita.

Dua orang kakek perlente lainnya duduk bersila diluar gelanggang, dari sikap mereka yang duduk mematung, dapat diketahui kalau mereka sedang menderita luka yang cukup parah.

Sembari melayani serangan2 gencar musuh nya, perempuan itu terkekek tiada hentinya, semua serangan yang ia lancarkan rata2 ampuh dan sadis, membuat tiga orang musuh nya kalang kabut dan terdesak ke dalam posisi yang amat berbahaya.

Tiga orang kakek bersenjata toya itu siapa lagi kalau bukan lima orang tianglo dari istana Huan mo kiong?

Dua diantara mereka duduk mengatur pernapasan, rupanya cukup parah luka dalam yang diderita.

Sedangkan perempuan yang cantik rupawan itu memang tak salah lagi malaikat hawa dingin Mo siu Ing.

Sementara liu tiga serangan yang dilancarkan iblis perempuan itu memaksa tiga orang tianglo dari Huan mo kiong terdesak mundur delapan depa dengan sempoyongan, katanya.

"Hey tiga orang tua bangka sialan, aku harap kalian sedikitlah tahu diri, sepanjang hidup aku malaikat hawa dingin tak pernah membantai korban yang mampu menerima tiga jurus seranganku, Hmm Kalau bukan terikat oleh kebiasaanku itu, memang nya kalian bisa hidup sampai sekarang ? Bila kalian tahu diri, cepat2lah kabur dari sini, jangan menunggu sampai aku naik darah dan melanggar kebiasaanku"

"Malaikat hawa dingin"

Bentak To It hui dengan gusar.

"engkau sudah melukai dua orang suteku, membantai tiga puluh lembar nyawa anggota perguruanku, sebelum memberi keadilan kepada kami, aku berlima tak akan pergi dari sini?"

"Keadilan? Haahh haahh haahhh, omong kosong"

Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring, serangan bertubi2 dilepaskan kearah Tio It hui.

Cepat dalam penyerangan, ganas dalam ancaman itulah ciri serangan yang dilepaskan perempuan iblis ini.

Menyaksikan rekannya terancam, dua orang tianglo yang lain sama2 mendengus gusar, toya kepala setan mereka secepat kilat dlayun kedepan membacok tubuh Im sat.

To It hui sendiri cepat ayun toyanya untuk menangkis, serangan yang dilontarkan ke tubuh nya.

"Duuk Blaaamm"

Diiikuti dengusan tertahan, To it hui terpental kebelakang, toyanya terlepas dari cekalan dan tubunnya terkapar di atas tanah.

Hampir berbareng waktunya, serangan toya yang dilepaskan dua orang tianglo lainnya telah menyergap tubuh Im-sat.

Kedua belah pihak saling menyerang dengan gerakan yang sama2 cepatnya, namun bagaimanapun juga toh kepandaian silat Im sat lebih unggul setingkat, sekali berkelebat tahu2 ia sudah menyusup keluar dari kurungan musuh.

"Heeeh heeh heeeh luput kurang jitu"

Ejeknya sambil terkekeh.

"kurang makan kalau nyerangnya lantas begitu. Nih coba lihat seranganku"

Kedua orang tianglo itu tertegun, untuk sesaat mereka tak tahu musti berbuat apa. Sementara itu malaikat hawa dingin sudah melayang kemuka siap melepaskan serangan balasan.

"Tahan "

Mendadak serentetan bentakan nyaring menggema di udara.

Malaikat hawa dingin tersentak kaget dan batalkan gerakannya lebih jauh ia tercengang bercampur keheranan sebab selama hidup belum pernah ada orang yang berani menghalangi perbuatannya, baru kali ini peristiwa mana bisa dialaminya.

Kalau mengikuti kebiasaan yang berlaku umum, dimana malaikat hawa dingin munculkan diri, kebanyakan orang persilatan jeri pontang panting berusaha menyelamatkan diri, tapi kali ini, bukan saja orang tidak menjadi takut oleh keangkerannya, malahan menghalangi perbuatannya, tak heran kalau iblis perempuan ini malahan dibuat melongo.

Kedua orang tianglo itu sendiripun segera berpaling kearah mana berasalnya suara itu dengan pandangan kaget.

To It hui ikut meronta bangun dari atas tanah, ia menyeka noda darah yang mengotori ujung bibirnya..

Dengan kecepatan yang luar bias a sesosok bayangan manusia munculkan diri dari belakang hutan, sekali enjot tahu2 orang itu sudah berdiri angkuh ditengah gelanggang.

Mula2 malaikat hawa ding in Mo siu Ing tampak rada tertegun, kemudian sambil tertawa kegirangan serunya.

"Oh Manusia muka dingin, kirinya kau?"

"Benar, aku yang datang"

Jawab anak muda itu dingin.

"Aku hendak mencari kau."

"Mencari aku??"

"Ehmm, begitulah."

Dalam pada itu ketiga orang tiang lo tersebut telah maju memberi hormat setelah mengetahui siapa yang datang mereka sangat gembira atas kedatangan sianak muda itu.

"ciangbun suheng, sungguh kebetulan kedatanganmu ini"

Serunya hampir serentak.

"Tiang lo bertiga tak usah banyak adat"

Anak muda itu ulapkan tangannya.

Dari tindak tanduk tiga orang tiang lo tersebut, agaknya malaikat hawa dingin dapat meraba pula kedudukan anak muda kita, dengan muka terperanjat bercampur keheranan serunya.

"Apa?? Kau...kau adalah ketua Thian lam?"

"Engkau heran?"

Sahut sang anak muda seraya mengangguk.

"Bukankah engkau adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo??"

"Betul, mendiang guruku adalah kaisar Tee-kun dari istana Huan mo kiong... engkau tak tahu akan hal ini??"

Tak kuasa lagi Malaikat hawa dingin Mo Siu Ing mundur dua langkah kebelakang, paras mukanya berubah hebat.

"Jadi kalau begitu sekarang..sekarang engkaulah Tee kun kaisar dari istana Huan mo kiong?"

"oooh engkau kurang percaya??"

"Bukannya tak percaya, cuma saja kejadian ini memang sedikit diluar dugaan "

Han Siong Kie mendengus dingin, dia alihkan pembicaraan kesoal lain, ujarnya lagi.

"Ketiga puluh sosok mayat yang bergelimpangan di penyeberangan hutan Liu adalah hasil karyamu??"

Malaikat hawa dingin Mo siu Ing kerutkan dahinya dan tersenyum, ia sama sekali tak merasa canggung untuk menjawab pertanyaan itu.

"Ehmm Memangnya kenapa ?"

"Engkau telah melanggar kebiasaanmu, bukankah jatahmu untuk tahun ini sudah kau ambil semua? sekarang ditambah dengan tiga puluh sosok mayat itu ? berarti kau sudah membantai seratus tiga puluh orang "

Seru Han siong Kin ketus. senyum yang semula menghiasi ujung bibir malaikat hawa dingin kontan lenyap tak berbekas, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia mendengus dingin.

"Hmn Manusia muka dingin. coba pandanglah wajahku menurut penilaianmu aku terhitung cantik atau tidak?"

Han Siong Kie terperangah, ia tak dapat menangkap apa yang dimaksudkan perempuan itu, untuk sesaat anak muda itu cuma membungkam dalam seribu bahasa.

Dalam pada itu dua orang tianglo dari Huan mo kiong sedang bersemedi telah menyelesaikan latihannya, mereka loncat bangun dan berdiri disamping tiga orang rekannya.

"Manusia muka dingiin, ayoh jawab pertanyaanku Termasuk cantikkah wajahku ini??"

Malaikat hawa dingin mengulangi kembali pertanyaannya.

"Apa maksudmu??"

"Jawab dulu pertanyaanku dengan sejujurnya"

"Ehmm, engkau memang cantik, cantik ibarat bidadari yang turun dari kahyangan, sayang hatimu ...."

"Cukup,"

Tukas Mo siu ing cepat.

"inilah alasannya kenapa kubantai manusia2 itu"

Han siong Kie bukan seorang manusia bodoh, tentu saja ia dapat mengerti apa yang telah terjadi, pikirnya.

"Tak aneh kalau Mo sam Yu beserta begundalbegundalnya dibikin mampus, rupanya mereka kesemsem oleh kecantikan perempuan ini, tak tahunya mangsa yang mereka incar adalah iblis perempuan yang berhati keji. dasar bajul buntung, kalau lihat perempuan matanya lantas jelalatan .... pantaslah kalau mereka mampus"

Sekalipun begitu, Mo sam Yu beserta begundalnya masih terhitung anggota Huan mo kiong, kendati mereka telah berhianat, namun kematian mereka ditangan orang lain sama artinya suatu penghinaan bagi pihak Huan mo kiong, sebagai ciangbunjinnya tentu saja Han siong Kie tak dapat berpeluk tangan dengan begitu saja.

Maka diapun tertawa dingin, katanya.

"Im sat engkau tahu, siapakah yang telah kau bantai itu??"

"siapa? Mereka toh manusia? kurcaci yang bejat moralnya dari istana Huan mo-kiong?"

"Tentunya engkau sudah tahu bukan apa kedudukanku sekarang?"

"ooh .... Maksudmu, engkau hendak membuat perhitungan denpanku karena mereka termasuk anak buahmu??"

"Tentu saja Memangnya kau suruh aku pura2 bodoh dan tak tahu urusan?"

Paras muka malaikat hawa dingin beberapa kali berubah hebat, akhirnya dia berkata.

"Baiklah, untuk sementara waktu kita tak usah bicarakan persoalan ini, mau bikin perhitungan kita bicarakan nanti saja, aku dengar engkau telah mendapatkan sarung tangan Hud jiu po pit yang sebelah, benarkah berita tersebut?"

"Memang betul, sarung tangan itu sudah berada ditanganku"

"Dan tentunya kau masih ingat bukan dengan perjanjian yang telah kita buat belum lama berselang?"

"oooh, jadi karena persoalan inilah engkau datang mencari aku??"

"Tepat sekali ucapanmu itu "

Tiba2 paras muka malaikat hawa dingin berubah hebat, ia sangat terpengaruh oleh emosi, dadanya berdebar keras, tubuhnya ikut bergetar karena pergolakan batinnya.

Delapan belas tahun ia hidup merana, ia mengharap.

ia menanti, ia mencari bahkan ia membantai orang secara menggila, tujuannya tak lebih hanya mengharapkan kedatangannya berita tersebut, berita tentang keadaan suaminya.

"Manusia muka dingin, benarkah apa yang kudengar itu?"

Kembali dia bertanya dengan gemetar. Han song Kie merogoh sakunya dan ambil keluar sarung tangan Hud jiu po pit itu.

"Engkau kurang percaya?"

Tegurnya "Nah, inilah buktinya"

Lima orang tianglo dari istana Huan mo kiong hatinya berdiri termangu selama ini, sebentar mereka menengok ketuanya, sebentar lagi menengok pula kearah Im-sat, mereka tak tahu apa yang sebenarnya sedang berlangsung.

"Berikan padaku"

Pinta malaikat hawa dingin dengan suara gemetar.

Han siong Kie ragu2 sebentar, akhirnya ia lemparkan sarung tangan tersebut ke tangan lawan.

Dengan gemetar malaikat hawa dingin menyambut sarung tangan itu kemudian dari sakunya ambil keluar juga sarung tangan yang lain, setelah digabungkan menjadi satu tiba2 ia menengadah dan tertawa keras seperti orang gila.

Kelima orang tiang lo dart istana Huan mo kiong cuma berdiri saling bertukar pandangan, mereka makin dibuat bingung oleh kejadian yang sedang berlangsung didepan mata.

Lama sekali Malaikat hawa dingin tertawa tergelak.

akhirnya ia membungkam, membungkam dalam seribu bahasa, sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian suasana baru pulih kembali dalam ketenangan, dengan muka hijau membesi ia menegur.

"Katakan kepadaku, dia masih hidup atau sudah mati?"

"Masih hidup Malahan masih segar bugar.."

Malaikat hawa dingin pejamkan matanya rapat2, air mata kembali bercucuran.

"Dia masih hidup, ..ternyata dia masih hidup,"

Gumamnya lirih. Kemudian sambil menatap wajah anak muda itu, perempuan iblis tersebut menambahkan.

"Manusia muka dingin, apa yang telah kuucapkan selamanya tak akan kuingkari, seperti apa yang kita janjikan dulu maka sarung tangan ini menjadi milikmu untuk selama2nya"

Sembari berkata ia lemparkan sepasang sarung tangan itu kearah Han siong Kie.

Dengan hati berdebar anak muda itu menyambut benda mustika tersebut, pusaka Hud jiu popit telah menyatu, itu berarti terbuka kesempatan baginya untuk mempelajari ilmu si mi sinkang yang tercantum di atas pusaka itu.

Bila ilmu maha sakti itu sudah dikuasahi, ia tak perlu jeri terhadap tengkorak maut lagi, iapun tak usah kesal memikirkan keampuhan ilmu silat dari pemilik benteng maut..

sementara ia masih termangu-mangu.

Malaikat hawa dingin telah maju tiga langkah kedepan, serunya dengan wajah penuh pengharapan.

"Manusia muka dingin, saat ini dia ada dimana?"

"Benteng maut "

"Apa ? Benteng maut??"

"Benar, ia dikurung oleh pemilik Benteng maut dalam sebuah ruang batu yang kuat."

Sekujur badan malaikat hawa dingin bergetar keras, pucat pias selembar wajahnya.

Mimpipun dia tak pernah menduga kalau suaminya, malaikat hawa panas Ko su ki di sekap dalam istana maut selama delapan belas tahun, tak aneh kalau jejaknya sukar di telusuri.

"Manusia muka dingin, bagaimana caranya engkau dapatkan pusaka Hud jiu po pit ini?"

Sekali lagi perempuan iblis itu menegur.

"Aku telah menyerbu kedalam istana maut, sungguh beruntung akhirnya bisa lolos dengan selamat, benda itu kutemukan secara kebetulan saja."

"ooh. kiranya begitu"

Malaikat hawa dingin termenung sebentar, akhirnya dia menambahkan.

"manusia muka dingin, selamanya aku Mo siu Ing merasa berterima kasih kepadamu, selamat tinggal"

Begitu ucapan terakhir meluncur dari mulutnya, secepat kilat ia berlalu dari situ.

"Eh, tunggu sebentar "

Walaupun ia cepat, Han siong Kie berlari tak jauh lebih cepat, sekali enjot badan tahu-tahu ia sudah menghadang didepannya.

"Im sat"

Pemuda itu berseru dengan ketus "tak usah kau ucapkan kata2 yang bernada terima kasih, sistim pertukaran syarat kita dijalankan secara barter, engkau menghadiahkan sarung tanganpusaka kepadaku, aku carikan kabar tentang suamimu bagimu masing2 pihak kita tak berhutang kepada yang lain, atau dengan kata lain kita sama2 impas"

"Lalu maksudmu?"

Seru malaikat hawa dingin dengan muka tertegun. Walaupun dalam hal barter kita sudah impas, namun dalam hal lain engkau masih hutang kepadaku, maka aku hendak sekalian menagih hutangmu itu."

"Menagih hutang ? Hutang apaan itu??"

"Engkau telah membantai tiga puluh orang anak buahku"

"Toh mereka sendiri yang cari mampus"

"Bagaimana penjelasanmu tentang tiga orang tiang lo yang kau lukai barusan"

"Lalu.. engkau hendak menagih hutang ini dengan cara bagaimana??"

Tanya malaikat hawa dingin kemudian, Han siong Kie mengerutkan dahinya lalu berkata.

"Aku tidak akan menagih kelewat batas sebab aku tetap berharap agar engkau bisa berkumpul kembali dengan suamimu"

Paras muka malaikat hawa dingin berubah hebat, ia menengadah dan tertawa seram.

"Haahhh... haahhh... haahhh sungguh tak kusangka ada orang yang hendak mengampuni selembar jiwa bagiku, sungguh lucu, sungguh lucu, baru pertama kali ini aku Mo siu Ing mendengar ucapan selucu ini haahh... haahhh... haahh"

"Engkau tidak percaya dengan perkataanku ini???"

"Hei manusia muka dingin, apa yang kau andalkan untuk membuktikan kebenaran perkataanmu itu??"

"Apalagi yang kau andalkan? Tentu saja sepasang telapak tanganku ini, bagiku aku rasa belum temui banyak kesulitan untuk bereskan seorang jago macam dirimu"

"Baik sebelum pertarungan dilangsungkan aku Mo siu Ing akan mengemukakan juga sesuatu, aku tak akan mencabut nyawamu dalam pertarungan ini"

"Hmm Engkau belum sesuai untuk mengalahkan bagiku"

Terlalu kasar ucapan itu bagi pendengaran sang iblis perempuan, hawa amarahnya kontan berkobar, dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya ia tertawa seram.

"Manusia muka dingin, kalau engkau tidak sudi menerima maksud baikku ini, biarlah akan kusempurnakan kehendak hatimu, Nah silahkan turun tangan"

Han siong Kie mendengus dingin.

"Hmm Malaikat hawa dingin, sambutlah seranganku ini "

Sambil menerjang kemuka, dia lancarkan sebuah pukulan maut kearah musuhnya.

Suasana berubah jadi tegang mengikuti serangan gencar yang dilancarkan pemuda itu.

Serentak lima orang tiang lo itu mundur delapan depa kebelakang, mereka ingin tahu sampai dimanakah kehebatan serta keampuhan yang dimiliki ciangbun suhengnya ini.

Serangan yang dilepaskan Han Siong Kie itu merupakan tenaga sebesar sepuluh bagian, cepat dalam serangan dahsyat dalam sergapan, membuat siapa saja bergidik oleh kelihayannya.

Malaikat hawa dingin Mo Siau ing merasakan harinya bergetar keras, dari serangan yang dilancarkan musuh, ia tahu tenaga Iwekang yang dimiliki Han Siong Kie sudah jauh berbeda kalau dibandingkan dulu, ia himpun kekuatannya dan menyambut serangan musuh dengan keras lawan keras.

Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga menggema memecahkan kesunyian, kedua belah pihak terdorong mundur selangkah ke belakang, diam2 mereka kaget dan kagum atas keampuhan musuhnya.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang seru, masing2 pihak mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya, membuat suasana ditengah gelanggang menjadi bertambah seru dan ramai.

Pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa, bumi serasa digoyangken oleh gempa dahsyat, jurus aneh, gerakan ampuh serta semua tipu daya yang jarang dikeluarkan selapis demi selapis dikerahkan semua tanpa hentinya.

Pertarungan sengit macam ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan, lima orang tiang lo yang mengikuti jalannya pertarungan itu ikut merasakan hatinya berdebar, tanpa sadar peluh dingin mengalir keluar membasahi tubuh mereka.

Dalam sekejap mata ratusan jurus sudah lewat, namun siapa menang siapa kalah masih susah untuk ditentukan.

Makin bertarung Malaikat hawa dingin Mo siu Ing semakin terperanjat, ia sadar tenaga dalam yang dimiliki pihak musuh telah peroleh kemajuan yang amat pesat, suatu kejadian yang sama sekali tak pernah terbayangken olehnya.

Han siong Kie sendiripun merasa terkesiap oleh ketangguhan malaikat hawa dingin, sekarang ia percaya kalau nama besar orang bukan nama kosong belaka, baru seorang Im sat sudah begini lihaynya, apalagi kalau Im yang siang sat (sepasang malaikat panas dan dingin) bersatu padu, siapa lagi yang mampu menghadapi ketangguhan mereka?

Tak aneh kalau nama kedua orang itu tersohor sekali.

Belasan jurus kembali sudah lewat..

"Kena "

Tiba2 malaikat hawa dingin menghardik keras.

sepasang telapak tangannya dikembangkan, dalam waktu tingkat ia lepaskan dua puluh empat buah pukulan berantai, tiap pukulan yang dilepaskan diarahkan kebagian tubuh yang berbeda, bukan saja cepat dalam serangan, arah yang ditujupun cukup membingungkan lawan.

Dua puluh empat buah pukulan dari Im-sat begitu lewat, dengus kesakitan bergema memecahkan kesunyian.

secara beruntun Han siong Kie mundur lima langkah kebelakang, darah kental mengalir keluar membasahi bibirnya.

Sambil tarik kembali serangannya, malaikat hawa dingin menegur .

"Manusia muka dingin, bagaimana kalau pertarungan kita akhiri sampai disini saja?"

Han Siong Kie mengerang gusar. sambil gigit bibir hardiknya...

"Jangan keburu napsu, sambut pula sebuah pukulanku ini"

Dengan jurus Mo ong co ciat (Raja iblis menyembah loteng Istana) dia himpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya dan melepaskan satu pukulan maha dahsyat ke depan.

Jurus serangan yang dipergunakan ini merupakan salah satu jurus serangan yang terampuh diantara tiga jurus ampuh dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, dan merupakan pula jurus serangan yang paling tangguh daya pengaruhnya.

Jurus tangguh yang dilepaskan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya ini betul2 merupakan suatu serangan yang mengerikan hati..

Malaikat hawa dingin Mo Siu Ing terkesiap, cepat2 dia tangkis pukulan itu dengan kekerasan-.

"Duuk Blaamm"

Jerit kesakitan mengiringi tubuh sang iblis yang mundur sejauh beberapa kaki dengan langkah sampoyongan, darah segar muntah keluar dari mulutnya, keadaan iblis perempuan ini jadi mengenaskan sekali.

Han Siong Kie memburu kemuka, ia hampiri kedepan im sat dan ayun telapak tangannya siap membacok batok kepala orang..

Malaikat hawa dingin Mo siu ing cuma bisa membelalakkan matanya lebar2 sambil menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip, apa lagi yang dapat dilakukan olehnya dalam keadaan begini?

Bila bacokan telapak itu diteruskan, maka bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi, tubuh Im sat tentu akan terbabat hancur remuk.

tentu saja nyawanya akan kabur kembali kealam baka..

Dengan pandangan kaget bercampur ngeri, lima orang tiang lo dari istana Huan mo-kiong mengawasi suasana ditengah gelanggang.

Udara yang terasa jadi sesak.

suasana amat tegang....

-000dewi000-BAB 44 DI KALA ujung telapak tangan hampir mengena diatas batok kepala malaikat hawa dingin, tiba2 Han siong Kie buyarkan serangan sambil mundur tiga langkah kebelakang, katanya.

"Aku telah berjanji tak akan membinasakan dirimu"

"Kenapa tidak kau bunuh?"

"Engkau harus bertemu dengan suamimu"

"Engkau tidak menyesal dengan keputusanmu itu?"

"Menyesal..? kenapa aku musti menyesal"

"Suatu ketika aku Mo siu Ing akan menuntut balas atas kejadian pada hari ini"

Han siong Kie segera tertawa dingin.

"Heeeh heeeeh heeeh Malaikat hawa dingin, asal engkau mampu tinggalkan benteng maut dalam keadaan hidup, setiap saat kunantikan kedatangamu dalam dunia persilatan"

Sekali lagi paras muka malaikat hawa dingin berubah hebat, sekalipun ia punya nama besar yang disegani orang dalam dunia persilatan, akan tetapi setiap kali mengungkap tentang benteng maut, tak urung bulu kuduknya pada bangun berdiri.

sesudah tertegun beberapa saat lamanya, perempuan iblis itu tertawa seram, suaranya melengking amat menusuk telinga, tanpa mengucapkan sesuatu lagi dia berlalu dari gelanggang dengan langkah sempoyongan.

Dari langkah tubuhnya yang gontai, dapat diketahui cukup parah luka dalam yang dideritanya.

Menunggu iblis itu sudah lenyap dari pandangan, To It hui baru menghela napas dan berkata.

"Aaai.... seandainya ciangbun-suheng tak datang tepat pada saatnya, entah bagaimana jadinya dengan kami berlima?"

"Bagaimana ceritanya sampai kalian berlima bentrok dengan perempuan iblis itu??" , tanya Han siong Kie keheranan "Ketika kami berlima tiba di penyeberangan hutan Liu, mendadak dari balik hutan menggema suara jeritan ngeri, kami memburu kesitu dan menemukan Mo sam Yu beserta begundalnya sudah tewas dibunuh orang, kami segera memburu kedalam hutan dan menjumpai sesosok bayangan manusia lenyap ke arah sini, kami mengejar lebih jauh dan tiba-tiba saja berjumpa dengan perempuan tadi disini.."

"Waktu itu apakah kalian belum tahu siapakah dia??"

"Peristiwa ini berlangsung diluar dugaan, apalagi waktu itu kamipun tidak memeriksa apa yang menyebabkan kematian Mo sam yu beserta begundal2nya, karena itu kamipun tak menyangka kalau orang yang sedang kami hadapi sebenarnya dia malaikat hawa dingin Mo siu Ing. Aai.. dalam kenyataan kami cuma pernah mendengar namanya saja dan belum pernah melihat tampangnya.."

"Benar "

Sambung Ang Pat sin dari samping "

Andaikata dia tidak memperkenalkan diri, kami tak akan menyangka kalau perempuan cantik jelita macam dia sebenarnya tak lain adalah malaikat hawa dingin yang paling disegani didaratan Tionggoan, untung dia mempunyai peraturan busuk yang mengikat semua gerak geriknya, kalau tidak..

kami berlima tentu sudah mampus sedari tadi"

Han siong Kie mengangguk lirih.

"Malaikat hawa dingin memang tak suka bertarung melewati angka ke tiga, bila dalam tiga jurus ia tak mampu menjagal lawannya maka ia tak akan mencelakai jiwa korbannya"

"ciangbun suheng "

Seru seng Thianpaupula dengan lantang "janji apa yang kau ikat dengan dia sehingga akhirnya kau berhasil menangkan sepasang sarung tangan pusaka Hud jiu po pit?"

Secara ringkas Han siong Kie menceritakan yang telah terjadi antara dia dengan malaikat hawa dingin, mendengar penuturan tersebut lima orang tiang lo itu baru tahu apa yang sebetulnya sudah terjadi.

Tiba2 To It hui bertanya lagi dengan muka tidak mengerti.

"Nama busuk Im yang siang sat telah menggetarkan seluruh daratan Tionggoan, suheng, kenapa kau malah lepaskan iblis perempuan itu?"

Dengan muka serius Hin siong Kie menjawab.

"Pertama, Mo sam yu beserta begundal2nya melanggar tata kesopanan dengan mengganggu kaum wanita, perbuatan mereka pantas dihukum mati. kedua, aku telah terikat janji lebih dulu dengannya, yakni menukar pusaka Hud jiu po pit dengan berita tentang malaikat hawa panas Ko su Ki, aku tak ingin membunuh dirinya sebelum ia sempat berjumpa dengan suaminya, ketiga, setelah dia masuk kedalam benteng maut untuk mencari suaminya, belum tentu ia bisa lolos lagi dari sana, berarti pula tak dapat membuat keonaran lagi didunia, maka atas dasar pertimbangan itu aku putuskan untuk mengampuni jiwanya"

Kelima orang tiang lo itu mengangguk tanda setuju, mereka tidak berkomentar lagi. Terdengar Han siong Kie meneruskan kembali kata2nya.

"setelah kematian Mo sam yu beserta begundal2nya ditempat ini, berarti pula kabar berita itu tak akan tersiar sampai ke Thian lam, itu pula ciangbunjin yang sekarang akan berkunjung kedaratan Tionggoan sesuai dengan rencana, lebih baik kita nantikan kedatangan mereka dan tunggu sampai mereka masuk jebakan sendiri, entah bagaimana menurut pendapat kalian berlima?"

Kelima orang tiang lo itu segera mengangguk, kata To It hui.

"Kami akan turuti kehendak ciangbun suheng, siapa tahu kalau penghianat tersebut sedang berada dalam perjalananan-"

Pada waktu itulah tiba2 terdengar jeritan ngeri berkumandang dari kejauhan, suara itu amat keras dan memekikan telinga.

Betapa terperanjatnya enam orang itu, mereka terkesima dan berdiri mematung.

Menyusul terdergar dua kali jeritan ngeri..

tiga kali..

"Jangan2 Malaikat hawa dingin sedang membunuh orang lagi ?"

Seru Han siong Kie terkesiap.

"Ah, tidak mungkin"

Sahut To lt hui.

"Dia sudah menderita luka dalam yang cukup parah, dari mana datangnya tenaga untuk membunuh orang?"

Jerit kesakitan sekali lagi berkumandang memecahkan kesunyian, kali ini suara tersebut berasal dari satu li dari tempat itu. Han siong Kie berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Aku akan kesana dan menengok apa yang telah terjadi, harap tiang lo berlima mengubur jenasah dari Mo sam yu sekalian"

Kelima orang tiang lo itu mengiakan dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan.

sementara Han siong Kie sendiri segera berlari menuju kearah mana berasalnya jeritan kesakitan itu.

setelah menembusi hutan pohon Liu, dari kejauhan ia lihat bayangan manusia saling berkelebat ditepijalan raya, rupanya disitu telah berlangsung suatu pertarungan seru.

secepat kilat Han slong Kie melesat ke muka dan menyembunyikan diri dibelakang batuan cadas.

Ratusan bayangan manusia membentuk suatu lingkaran kepungan yang sangat rapat, mereka terdiri dari golongan padri dan kaum imam.

sedang ditengah gelanggang, malaikat hawa dingin Mo siu ing sedang terlibat dalam pertarungan seru melawan seorang padri, dua orang imam dan empat orang kakek tua.

Empat sosok mayat menggeletak diatas permukaan tanah, kepala mereka pecah dan isi benaknya berhamburan di mana2.

Udara amat sepi, tiada terdengar suara manusia, yang ada hanya napsu membunuh yang makin menebal.

Ditengah kesunyian, akhirnya seorang kakek tua berjenggot panjang berkata dengan ketus.

"Malaikat hawa dingin, semua sahabat baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih yang hadir dalam gelanggang hari ini, semuanya membenci kau, ingin mengganyang dagingmu."

"Memang, sangat tepat waktu yang kalian pilih "

Seru malaikat hawa dingin dengan suara seram "aku sekarang lagi terluka, banyak kekuatanku tak bisa kugunakan, tapi.

Heeeh...

heeeh...

heeeh...

jangan anggap aku mandah digebuk, untuk merenggut jiwaku kalian harus membayar dengan suatu nilai pengorbanan yang besar"

"Hmm Malaikat hawa dingin, takdir menghendaki demikian, serahkan nyawamu"

Seraya berseru, kakek tua itu menerjang lagi kemuka dan melepaskan pukulan dengan menggunakan sepasang telapak tangannya.

Begitu rekannya menyerang, sang padri, dua orang imam serta tiga orang kakek yang lain serentak ikut menyerang pula dengan ganas.

Ditengah hembusan angin pukulan yang men deru2, sesosok bayangan manusia menerobos keluar dari lingkaran kepungan dengan gesit.

Menyusul mana jeritan kesakitan memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia terlempar kebelakang dan roboh terkapar diatas tanah.

Meskipun terluka, malaikat hawa dingin masih mampu menghindarkan diri dari gabungan serangan tujuh jago lihay, menggunakan kesempatan mana dia malahan sanggup mencabik batok kepala kakek tua itu hingga mati konyol, ilmu silat semacam itu seketika menggemparkan para jago yang mengitari gelanggang.

Merasakan serangannya mengena disasaran yang kosong, sang padri, dua orang imam dan tiga orang kakek tua itu serentak membentak keras, sekali lagi mereka kepung malaikat hawa dingin ditengah gelanggang.

sebagai seorang perempuan angkuh yang tinggi hati, Imsat tak sudi kabur dari hadapan musuhnya.

walaupun ia sudah terluka, padahal asal dia mau berbuat begitu rasanya dengan kepandaian yang dimiliki, menyelamatkan diri bukan suatu pekerjaan yarg menyulitkanselesai membereskan kakek tua itu, malaikat hawa dingin menyergap kembali padri berjubah abu2.

Dua orang imam serta tiga orang kakek tua yang bebas dari ancaman, serentak bergerak kedepan, dengan saluran segenap kekuatan yang dimilikinya mereka lepaskan satu pukulan dahsyat kemuka.

Lima gulung hawa cukulan yang amat santar menggulung keatas tubuh malaikat hawa dingin.

Dipihak lain, padri berjubah abu2 itu hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur, lalu tahu2 sepasang telapak tangan Im sat sudah tiba didepan mata, dalam keadaan begini mau menghindar tak mungkin, mau menang kispun sulit.

"Duuuk . ."

Tidak ampun lagi batok kepalanya terhajar telak diiringi jerit kesakitan batok kepala padri itu sudah hancur berantakan, darah bercampur isi benaknya berserakan dimana-mana .

Hampir bersamaan waktunya segulungan angin pukulan yang dahsyat telah meluncur tiba, malaikat hawa dingin mendengus tertahan, tubuhnya gontai dan secara beruntun ia muntah darah tiga kali.

Perempuan yang cantik jelita ibarat bidadari dari khayangan itu sudah berubah bagaikan iblis ditambah pula hawa napsu membunuhnya yang sangat tebal, membuat siapapun yang memandang merasakan hatinya bergidik, Dari lingkaran manusia diluar gelanggang, segera muncul kembali empat orang padri, yang satu menggendong jenasah rekannya dan mundur kembali, sedang yang tiga ikut terjun kedalam gelanggang, dengan begitu posisinya ikut berubah jadi satu lawan delapan.

Malaikat hawa dingin Mo siu Ing menyeka noda darah dengan ujung bajunya, telapak tangan berputar kembali secepat kilat, kali ini yang menjadi sasaran adalah kedua orang imam tersebut.

serangan yang dia lancarkan cepat sukar dilukiskan, lagipula jurus serangannya aneh, sama sekali bertolak belakang dengan keadaan umum.

Ingatan kedua belum sempat terlintas dalam benak dua orang imam itu, serangan telah mencapai sasaran, mereka mendengus berat dan mundur dengan sempoyongan.

Keadaan dari malaikat hawa dingin sudah makin payah, tenaga dalamnya sudah hampir terkuras habis, buktinya serangan yang ia lancarkan tak mampu membinasakan dua orang imam tersebut.

Enam gulung angin pukulan yang dahsyat ibarat gulungan ombak ditengah samudra meluncur kembali kearah depan menyerang perempuan iblis itu dari pelbagai posisi yang berbeda.

Malaikat hawa dingin menggertak gigi menahan emosi, ia sama sekali tidak menggubris terhadap serangan yang mengancam tiba, sambil menghimpun segenap kekuatan yang masih dimilikinya, ia terjang kemuka menghajar dua orang padri yang berdiri bersanding....

Tiga jeritan ngeri kembali menggema memecahkan kesunyian.

Pukulan gencar yang dilancarkan dua orang hweesio itu ternyata tak sanggup membendung pukulan maut musuhnya, mereka mampus secara konyol dan ciri kematian mereka tak jauh berbeda seperti rekan2nya, batok kepala terpukul hancur, dan isi benak berhamburan dilantai.

Walaupun berhasil menyingkirkan lawannya, malaikat hawa dingin sendiripun tak dapat menghindarkan diri dari tenaga gabungan musuh, ia terpukul telak sehingga mencelat sejauh satu tombak lebih sambil muntah darah, tubuhnya gontai seperti mau roboh.

Tiga orang kakek tua dan seorang padri segera memburu maju kedepan, menggunakan kesempatan yang sangat baik itu mereka lepaskan kembali pukulan dahsyat yang mematikan-Merasakan betapa ampuhnya ancaman yang tiba, malaikat hawa dingin mengeluh didalam hati.

"Aai.. sungguh tak nyana aku Mo siu Ing harus mampus ditangan kurcaci2 yang tak bernama ini" .. Keadaan bertambah gawat, tampaknya malaikat hawa dingin bakal mampus diujung telapak tangan orang.. saat yang terakhir itulah sesosok bayangan manusia meleset keudara, sebelum tubuhnya mencapai permukaan tanah, segulung desiran angin serangan telah dipancarkan mengancam tiga orang kakek serta seorang padri itu. Merasakan datangnya ancaman yang dahsyat, tiga orang kakek dan seorang padri itu tak berani bertindak gegabah, buru2 mereka tarik kembali ancamannya untuk melindungi keselamatan sendiri . Ditengah gelanggang tahu2 bertambah seseorang, dia tak lain adalah seorang pemuda tampan berwajah dingin.

"Aah.. manusia muka dingin."

"Manusia muka dingin??"

"Manusia muka...."

Jeritan kaget bergema saling susul menusul, suasana jadi gaduh dan gempar, untuk sesaat semua orang alihkan pandangannya kearah sianak muda itu.

Pemuda yang muncul tepat pada saatnya itu memang tak lain adalah Han Siong Kie ciangbunjin dari istana Huan mo kiong.

Dengan sorot mata yang amat tajam Han siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian dengan tenang se-olah2 tak pernah terjadi sesuatu peristiwa ujarnya kepada malaikat hawa dingin.

"sekarang engkau boleh pergi dari situ "

Dalam pada itu ketiga orang kakek serta padri tadi tanpa menimbulkan sedikit suarapun sudah mengundurkan diri dari tengah gelanggang..

Setelah kegaduhan sirap.

lingkaran pengepunganpun makin bertambah ciut kedalam.

Berpasang2 panah berapi meluncur keudara dan meledak diangkasa.

Han siong Kie mendengus dingin, sekali lagi ujarnya kepada malaikat hawa dingin.

"Lebih baik segera tinggalkan tempat ini, mumpung belum terlambat"

Dengan pandangan penuh berterima kasih malaikat hawa dingin melirik sekejap kearah Han siong Kie, kemudian cepat ia telan beberapa biji obat kedalam mulutnya, setelah itu baru bertanya.

"Mengapa kau selamatkan jiwaku?"

"Pertama, karena aku muak menyaksikan cara bertarung yang suka main kerubut macam begitu, kedua, aku ingin bantu kau untuk mewujudkan apa yang kau harapkan selama delapan belas tahun belakangan"

"Manusia muka dingin, aku Mo siu ing bukan seorang manusia yang tak bisa membedakan mana budi mana dendam, untuk kesekian kalinya aku telah berhutang budi kepadamu"

"Jangan berkata begitu"

Tukas si pemuda sambil goyang tangan.

"aku tak pernah lepaskan budi kepadamu, siapa tahu bila kita berjumpa lagi dilain saat, aku akan membinasakan dirimu"

Agak tertegun malaikat hawa dingin mendengar ucapan itu, kemudian sambil tertawa seram katanya.

"Manusia muka dingin, kalau engkau hendak bunuh aku, urusan itu hanya bisa dianggap sebagai suatu persoalan yang lain"

Sianak muda itu tak gubris ucapan orang ia bertanya lagi.

"Engkau masih mampu berjalan sendiri???"

"Bisa, aku masih mampu berjalan sendiri"

"Kalau begitu pergilah "

Mereka telah lepaskan panah api untuk memberitahukan rekan2nya, mungkin sebentar lagi jago2 lihaynya akan berkumpul semua disini.

"Mereka tahu kedatangan mereka adalah untuk mencari gara2 dengan aku, tak usah kau risaukan tentang soal ini, cepatlah tinggalkan tempat ini "

Dengan suatu pandangan mata yang sangat aneh, malaikat hawa dingin melirik sekejap kearah Han siong Kie, lalu katanya lagi.

"Manusia muka dingin, aku sangat berterima kasih kepadamu, tak akan kulupakan kebaikanmu ini, baiklah sekarang aku akan berlalu dari sini . ."

Dengan langkah yang gontai, perempuan iblis itu berjalan keluar dari gelanggang dan menjauhi tempat itu.

Ditengah bentakan gusar yang memekikkan telinga, kawanan jago lihay yang mengurung sekitar tempat itu sama ayunkan telapak tangannya, dari sikap itu ia tampaknya mereka bersumpah akan lenyapkan Malaikat hawa dingin dari muka bumi.

Mendadak dari arah belakang meluncur lewat tiga sosok bayangan manusia, mereka langsung menerjang kearah malaikat hawa dingin-.

"Enyah kalian dari sini"

Hardik Han siong Kie dengan gusar.

sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan kearah muka, gulungan angin pukulan yang sangat luar biasa menumbuk kearah tiga sosok bayangan manusia..

Dengus tertahan menggema diudara, termakan oleh pukulan dahsyat itu, ketiga orang pria setengah baya itu mencelat dari gelanggang dan terpental kearah ke tempat semula.

sementara itu malaikat hawa dingin Mo siu ing telah berada didepan kawanan pengepungan.

Belasan pasang telapak tangan berbareng diayun kemuka siap melancarkan pukulan mematikan..

Han siong Kie bertindak cepat, ia melayang kesamping perempuan iblis itu, lalu kepada kawanan jago lihay yang siap melancarkan serangan itu bentaknya.

"Hayo pada menyingkir semua"

Betapa tercekatnya perasaan hati kawanan jago itu tatkala menyaksikan sorot mata musuhnya, dengan perasaan yang kebat kebit mereka saling bertukar pandangan, namun tak seorangpun yang bermaksud untuk menyingkir dari situ.

"Ayoh cepat menyingkir "

Sekali lagi Han siong Kie menghardik dengan suara lantang.

Lingkar pengepungan makin mengecil, jago2 lihay yang ada disisi kiri, kanan serta belakang mulai berdesakan maju kedepan, rupa2nya mereka siap melancarkan tubrukan serentak.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak sianak muda itu, ia sadar apabila dia harus menanti sampai pihak musuh yang melancarkan serangan lebih dulu, maka daya kekuatan ya berkumpul ditengah lingkaran itu tentu dahsyat sekali, bagi dirinya himpunan tenaga itu masih bukan jadi soal, tapi bagaimana dengan malaikat hawa dingin yang telah menderita luka yang cukup parah?

satu ingatan dengan cepat terlintas dalam benaknya, kepada perempuan itu serunya lirih.

"Terjang kemuka"

Berbareng dengan ucapan itu, sebuah pukulan hawa maha dahsyat ikut dilontarkan kedepan-Jerit kesakitan, dengus tertahan berkecamuk menjadi satu, belasan orang jago lihay yang berada dibarisan terdepan seketika terhajar oleh pukulan maut itu sehingga pontang panting dan sama2 melarikan diri ke belakang.

Dengan demikian terbukalah sebuah celah yang kecil ditengah kepungan itu sambil menahan rasa sakit yang tak tertahankan, malaikat hawa dingin Mo siu ing melompat dan menerjang keluar dari lingkaran kepungan, kemudian tanpa berpaling lagi kabur secepatnya dari situ.

Bersamaan dengan tindakan yang diambil Han Siong Kie untuk melepaskan pukulan gencar kearah depan, kawanan jago dari kalangan hitam maupun putih yang berada di sudut kiri kanan dan belakang serentak telah melancarkan pula sebuah pukulan dahsyat.

Pelbagai deruan angin tajam sama2 meluncur kepusat lingkaran, desingan tajam, deruan angin puyuh berkecamuk menjadi satu menciptakan kegaduhan yang memekikkan telinga.

Bisa dibayangkan betapa mengerikannya pukulan gabungan yang dilepaskan hampir seratus orang jago lihay itu.

Tapi Han siong Kie bukan manusia bodoh, ia sudah memperhitungkan sampai kesitu, begitu malaikat hawa dingin berlalu dari sana, diapun enjotkan badan dan melayang keluar dari lingkar kepungan.

Benturan dahsyat menciptakan sebuah lekukan besar selebar belasan kaki di atas permukaan tanah, dimana Han siong Kie semula berdiri Pada saat itulah dari kejauhan menggema suara ujung baju tersampok angin, menyusul belasan sosok bayangan manusia kembali muncul ditepi gelanggang.

Bayangan manusia saling berkelebat, sekali lagi seratus orang jago lihay yang telah berkumpul itu membentuk sebuah lingkar kepungan yang sangat kuat, Han siong Kie yang hendak menyingkir untuk kesekian kalinya terkurung kembali di tengah kepungan.

Diam2 sianak muda itu merasa terperanjat, ia lihat bayangan manusia yang barusan muncul berjumlah dua belas orang, separuh diantaranya terdapat pula Kui Goan-cu dari partai Khong-tong serta seng gong taysu dari gereja siau lim si.

Atau dengan perkataan lain, diantara enam orang imam serta enam orang padri yang baru saja munculkan diri, ada separuh berasal dari partai Khong tong dan separuh yang lain berasal dari gereja siau lim si.

Keenam orang padri dari gereja siau lim si itu rata2 sudah lanjut usia, mukanya merah seperti bayi, alis putih, kaki telanjang dan sorot matanya biasa2 saja, dari situ dapat diketahui kalau tenaga dalam mereka sudah mencapai puncak kesempurnaan.

sementara itu Kui Goan cu dari partai Kongtong sudah maju kedepan, katanya.

"Bu liang siu hud sicu, aku harap hari ini juga engkau harus memberi pertanggungan jawab kepada kami"

"Tentu saja"

Sahut Han siong Kie dengan ketus.

"Omitohud "

Sambung seng gong taysu dari gereja siau lim si.

"kalau memang begitu silahkan siau sicu menyebutkan tempat persembunyian dari gurumu"

"Guruku telah berpulang ke alam baka"

"Apa ? Gurumu sudah meninggal dunia?"

"Benar" -000dewi000-

Jilid 22 SETELAH berita itu tersiar, semua jago yang hadir dalam gelanggang terbungkam dalam seribu bahasa, kalau Mo tiong ci mo benar2 sudah tiada lagi didunia ini, berarti hutang darah mereka.."

Seorang padri tua beralis putih bermuka merah ikut tampil kedepan, tegurnya dengan suara lantang.

"Omitohud Sian sicu, benarkah ucapanmu itu?"

"Aku rasa tiada kepentingan bagiku untuk membohong, boleh aku tahu siapa nama taysu?"

"Aku adalah Lian sian taysu, penguasa ruang Tat mo wan dari gereja Siau lim si"

"Boleh aku tahu, kedatangan taysu kali ini adalah untuk menegakkan kebenaran bagi umat persilatan, ataukah....."

"Masa siau sicu tidak tahu kalau antara gurumu dengan kuil kami terikat pula oleh suatu sengketa?"

Tercengang hati Han Siong Kie mendengar jawaban tersebut, sebab dalam catatan budi dan dendam dari Mo mo cuncu sama sekali tidak tercatat masalah sengketa antara gurunya dengan pihak gereja Siau lim si.

Dengan muka melongo karena keheranan cepat ia menegur.

"Sepengetahuanku, antara mendiang guruku dengan pihak Siau lim si tak pernah terikat oleh persengketaan apapun, dari mana bisa munculnya masalah dendam??"

Lian sian taysu mengernyitkan alisnya yang putih, kemudian sambil menatap sianak muda itu dengan pandangan tajam dia bertanya.

"Jadi siau sicu betul2 tak tahu duduknya persoalan??"

"Benar, aku sama sekali tak tahu "

"Kalau memang begitu, aku harap siau sicu bersedia menerangkan dimana tempat tinggal gurumu semasa hidup dan dimana jenasahnya dikubur setelah mati.."

"Apa yang kau kehendaki??"

"Kami akan menggeledah tempat2 itu "

"Menggeledah ? Apa yang hendak kalian geledah??"

"Kami hendak mencari barang milik gereja kami yang lenyap tak berbekas"

Han siong Kie semakin dibikin kebingungan dan tak habis mengerti, Ia tak tahu barang yang lenyap dari gereja siau lim si dan secara bagaimana tuduhan tersebut bisa terjatuh diatas nama gurunya atau mungkin gurunya benar-benar ...

Tapi ia masib ingat jelas tempat tinggal gurunya pernah diperiksa dengan seksama, kecuali seperangkat alat dapur tiada benda lain yang ketinggalan disitu.

Karena itu dengan sepasang alis mata berkernyit kembali ia bertanya.

"Taysu, apakah engkau bersedia untuk membeberkan duduk persoalan yang sebenarnya?"

Liau sian taysu tarik nafas panjang, kemudian menutur.

"Empat puluh tahun berselang, Lian Hian sute yang sedang bertugas menjaga ruang penyimpanan kitab dari gereja kami mati dibunuh orang bersamaan dengan kematian nya itu se

Jilid kitab ilmu silat yang berisikan pelajaran ilmu Toan pian yo sinkang ikut lenyap tak berbekas, sebelum kabur gurumu telah menyebutkan namanya.

sejak peristiwa itu semua murid perguruan kami telah disebar untuk mencari jejak gurumu namun ia lenyap tak berbekas ibaratnya batu yang tenggelam ditengah samudra.

" -00dw00kz00-BAB 45

"AH Tidak mungkin.. aku tidak percaya."

"Kenapa tak mungkin??"

"Tak mungkin mendiang guruku melakukan perbuatan seperti itu"

"Jadi siau sicu menyangkal tuduhan kami?"

"Boleh kau anggap demikian"

Paras muka Lian sian taysu berubah hebat, empat orang rekannya ikut pula menunjukkan muka gusar.

"siau sicu, aku harap sukalah engkau berpikir tiga kali sebelum ambil keputusan"

Seru Lian sian taysu lagi dengan marah.

"Tidak berguna bagiku untuk berpikir tiga kali"

Ia sangat percaya dengan kejujuran serta watak agung dari gurunya, apalagi dari pembicaraannya dengan mendiang sang guru maupun pembicaraannya dengan Pat lo sianseng, ia dapat menarik kesimpulan kalau gurunya adalah seorang jago yang mulia, tak mungkin dia melakukan perbuatan yang rendah seperti apa yang dituduhkan pihak gereja siau lim si.

Karena itu Han siong Kie yakin kalau apa yang dituduhkan pihak lawan, sama sekali hanya suatu fitnahan belaka.

Liau sian taysu makin gusar lagi mendengar jawaban dari sianak muda itu, ditatapnya lawan dengan pandangan tajam, kemudian menegur.

"Siau sicu, kalau engkau bersedia menyerahkan kitab pusaka Tai poan yo sinkang yang dicuri mendiang gurumu, akupun berjanji tak akan menyusahkan dirimu"

"Menyusahkan aku? Haahh haahh haah.. suatu lelucon yang sama sekali tak lucu"

Gelak tertawa itu penuh mengandung nada ejekan yang membuat siapapun jadi tak tahan.

Paras muka keempat orang hweesio dari gereja siau lim si sama-sama berubah hebat, agaknya mereka sudah tak kuat mengendalikan hawa amarahnya lagi.

Dengan muka merah padam karena marah Liau sian taysu melangkah setindak kedepan serunya dengan suara berat.

"siau sicu, kalau engkau tak mau menjawab dengan jujur lagi.."

"Engkau mau apa?"

Tantang sang anak muda.

"Terpaksa aku akan menggunakan kekerasan untuk paksa engkau menjawab dengan jujur"

"Haahhh... haahhh... haahhh hwesio gede, dianggapnya dengan andalkan kepandaian silatmu sudah cukup untuk merobohkan aku?"

Ejek Han siong Kie sinis.

"jangan mimpi di siang hari belong ....coba jawab berdasarkan bukti apa kalian selalu menuduh kalau mendiang guruku mencuri kitab pusaka kalian?"

"Sebelum berlalu dari gereja kami, mendiang gurumu telah menyebutkan namanya selain itu kepandaian silat yang dimiliki Liau huan sute sangat lihay kecuali seorang jago macam gurumu rasanya tak mungkin dapat merobohkan dia tanpa mengeluarkan banyak tenaga"

"Hanya berdasarkan alasan itu saja, maka engkau lantas menuduh guruku yang melakukan pencurian??"

"Jadi siau situ merasa bukti itu kurang meyakinkan?"

Liau sian taysu balik bertanya.

Meskipun hawa amarah yang berkobar dalam dada hwesio ini sudah tak terkendalikan lagi, namun sebagai seorang padri yang saleh, dia tak ingin menggunakan kata yang untuk menyinggung perasaan hati orang.

Han siong Kie tetap bersikap tenang, kembali ia berkata.

"Apakah taysu tak pernah mempertimbangkan, mungkin ada orang sengaja mencatut nama besar guruku??"

"Dengan nama besar yang dimiliki gurumu aku rasa tak mungkin ada orang yang berani mencatut namanya"

"Taysu tidak merasa kalau ucapan ini terlalu dipaksakan kebenarannya?"

"Apakah siau sicu bisa menunjukkan bukti yang menerangkan bahwa ada seseorang yang sengaja mencatut nama gurumu?"

Tertegun Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, untuk sesaat lamanya ia terbungkam.

Memang ia tak berani memastikan kalau perbuatan itu seratus persen bukan hasil karya gurunya, sebab pembelaan yang dia jelaskan hanya berdasarkan dari watak yang diketahui dari gurunya, mungkin saja dibalik peristiwa itu masih ada hal2 lain yang sama sekali tidak diketahui olehnya.

Tapi kini gurunya sudah berpulang kealam baka, bagaimana caranya untuk membuktikan kebenaran dari tuduhan tersebut?

setelah termenung dan berpikir beberapa waktu, akhirnya pemuda itu menjawab.

"Mungkin suatu saat aku dapat memberikan buktinya"

"suatu saat? Hahh... haahhh... haahhh ketahuilah, peristiwa ini sudah berlangsung sejak empat puluh tahun berselang.."

Setelah didesak terus menerus akhirnya Han siong Kie jadi naik darah dengan ketus ia menjawab.

"Kalau memang begitu, taysu mau apa??"

"Tiada yang kuharapkan, kecuali meminta dengan sangat kepada siau siau agar mengembalikan kitab pusaka itu kepada kami."

"Kalau aku tak mampu mengeluarkan kitab itu ?"

"silahkan siau sicu tunjukkan dimana mendiang gurumu menetap selama hidupnya dan dimana pula jenasahnya dikebumikan "

"Kalau akupun tak mau memberikan pengakuannya??"

Lima orang padri siau lim si yang berada dibelakang Liau sian taysu serentak mendengus gusar, mereka bersama menunjukkan sikap hendak melancarkan sergapan.

Rupanya Liau sian taysu sendiripun sudah dibuat kehilangan sabar, dengan muka berubah sahutnya.

"siau sicu. jangan kau anggap sikapmu ini bisa bereskan semua persoalan, kalau engkau tetap bersikeras, jangan salahkan kalau kami akan mengambil tindakan kekerasan"

Pada saat itulah Kui Goan cu dari partai Kong tong maju dua langkah kedepan, timbrungnya dari samping.

"sicu, bagaimana pertanggungan jawabmu atas hutang darah dari perguruan kami??"

Dengan pandangan dingin Han siong Kie menyapu sekejap keenam orang imam tersebut, lalu jawabnya dengan dingin.

"Totiang, bukanlah dalam perguruanmu terdapat sejenis ilmu sesat yang dinamakan so hun toa-hoat (ilmu hipnotis pembetot sukma)?"

Kata "ilmu sesat"

Itu terasa amat menyolok sekali, bisa dibayangkan betapa gusarnya kawanan imam dari partai Kong tong ini, paras muka mereka berubah hebat, sorot mata mereka ber-api2 dan penuh dengan hawa kegusaran..

"sicu, apa yang kau maksudkan dengan perkataanmu itu?"

Tegur Kui Goan cu gusar.

"Jangan pikirkan soal lain, aku hanya berharap agar tootiang menjawab pertanyaanku tadi, ada atau tidak?"

"setiap umat persilat mengetahui kalau ilmu tersebut berasal dari perguruan kami, kenapa aku musti menyangkal?"

"Kalau begitu harap tootiang dengarkan baik2 jawabanku ini, disinilah alasan kenapa ketua partai Kong-tong angkatan kesembilan belas Cing siu tootiang beserta tiga puluh lima orang anak buahnya mati di bunuh oleh mendiang guruku "

Lima orang imam tua yang berada dibelakang Kui Goan cu serentak mendengus gusar, cepat mereka menyebarkan diri membentuk setengah lingkaran busur dan mengepung Han siong Kie ditengah kalangan, rupanya merekapun siap untuk turun tangan.

suasana jadi tegang, setiap saat suatu perta rungan sengit bakal berlangsung disitu..

Keadaan sangat gaduh, kawanan jago dari golongan putih maupun golongan hitam yang tersebar disekitar tempat itu mulai bergerak pula kearah depan.

"sicu, coba terangkan ucapanmu itu dengan lebih jelas"

Teriak Kui Goan-cu dengan badan gemetar keras.

Han siong Kie tertawa sinis, dia sengaja mempertinggi suaranya sehingga setiap orang yang hadir dalam gelanggang dapat mendengar keterangannya dengan jelas.

"Untuk melatih ilmu sesat pembetot sukma itu, orang butuh seratus bocah lelaki dan seratus bocah perempuan sebagai bahan latihannya, benarkah ucapanku ini??"

Dengan hati tercekat Kui Goan-cu mundur selangkah kebelakang, jawabnya.

"Benar, tapi kepandaian tersebut merupakan suatu kepandaian yang terlarang bagi perguruan kami, tak seorangpun anggota perguruan kami yang diperolehkan mempelajari ilmu itu"

"Kalau memang begitu, kalau kuterangkan kepada tootiang, ketua partai Kong-tong angkatan kesembilan belas Cio-siu tojin berserta tiga puluh lima orang anggota perguruannya telah mengasingkan diri ke belakang bukit Ciong lay-san untuk mempelajari iimu sesat pembetot sukma itu, be-ratus2 orang bocah laki dan bocah perempuan menjadi korban keganasan mereka, perbuatannya itu kemudian ketahuan oleh mendiang guruku "

Paras muka enam orang imam dari partai Kong tong itu berubah semakin hebat, untuk sesaat mereka tertegun dan tak mampu berkata.

Kawanan padri dari gereja siau lim si juga agak tertarik oleh ucapan tersebut, tanpa sadar mereka alihkan sorot matanya kearah kawanan imam itu..

Para jago yang mengurung di sekitar gelanggang makin gaduh, rata2 mereka jadi ribut sendiri untuk memberikan penilaian atas kejadian itu.

Kalau apa yang dikatakan Han siong Kie memang suatu kejadian yang nyata, maka sudah sepantasnya kalau ketua partai Kong-tong angkatan kesembilan belas berserta ketiga puluh lima orang muridnya menemui ajalnya.

salah seorang imam yang berdiri dibelakang Kui Goan-cu tiba2 membentak keras.

"Manusia muka dingin, engkau jangan ngaco belo dan menfitnah seenaknya sendiri"

Han siong Kie alihkan sorot matanya yang tajam kearah wajah imam tua itu, tegurnya.

"Apa maksudmu berkata demikian?"

"Hmm Engkau sengaja membuat cerita bohong untuk memfitnah mendiang ketua partai kami.. dianggapnya dengan cerita bohong mu itu maka perbuatan keji dari Mo tiong ci mo bisa ditutupi?"

"Ucapanmu memang tak salah, sudah terlalu banyak manusia yang dibunuh oleh guruku, karena itu orang sama2 menyebut Mo tiong ci mo kepadanya, tapi semua manusia yang dibunuh adalah manusia2 berdosa yang pantas menerima kematian"

"Manusia muka dingin, kau tak usah cerewet lagi, hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa"

Mengikuti berkumandangnya bentakan itu, delapan sosok bayangan manusia melintasi atas kepala kawanan jago yang lain dan melayang turun ke tengah gelanggang.

Delapan orang jago itu adalah pria setengah baya yang berjubah biru, mereka semua membawa senjata terhunus, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

"Hmm Rupanya Tiong ciu pat kiam, delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu.."

Batin Han siong Kie di hati.

sementara itu delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu telah berdiri berjajar dibelakang kawanan padri dari gereja siau lim si, sorot mata mereka yang penuh rasa benci dan marah sama diarahkan keatas wajah Han siong Kie.

Menyusul tiga sosok bayangan manusia kembali melayang masuk ketengah gelanggang.

orang pertama adalah seorang kakek tua bermata tunggal, berambut merah dan berjenggot merah, tampangnya seram.

orang kedua adalah seorang pria setengah baya bermuka licik, bermata slang berhidung betet dan memakai jubah warna putih, diatas dadanya bersulamkan tujuh ekor burung walet warna hitam.

orang ketiga adalah seorang nenek tua berambut uban berjubah merah darah, dan membawa sebuah toya tersebut dari rotan yang besarnya seperti lengan bocah.

Han siong Kie sama sekali tidak kenal dengan ketiga orang itu, tapi tak dapat diragukan lagi semua orang yang hadir ditengah gelanggang saat ini adalah rata2 musuh besar yang punya dendam dengan mendiang gurunya.

Diantara banyak kasus dan kejadian yang dialami selama ini, banya persoalan yang menyangkut hilangnya se

Jilid kitab pusaka dari gereja siau lim si yang paling pusingkan kepalanya, sebab dalam catatan kitab antara budi dan dendam dari Mo mo cuncu, sama sekali tidak tercantum kejadian itu, sebaliknya pihak lawan bersikeras menuduh perbuatan itu dilakukan oleh gurunya.

sementara ia masih termenung pria setengah baya yang bermuka licik itu sudah mendehem ringan seraya berkata.

"Manusia muka dingin, bagaimana pertanggungan jawabmu atas hutang darah dari perkumpulan Jit yan pang?? "

"Apa hubunganmu dengan perkumpulan tujuh burung walet?"

Tegur sang pemuda.

"Akulah ketua Jit yen pang yang baru, orang sebut Pek gi ko kek (tamu lewat berbaju putih) Khong Tiong beng"

"oh.. tentunya kedatanganmu adalah disebabkan karena kematian mendiang pangcu kalian dijalan raya kota Kay hong?"

"Tepat sekali ucapanmu"

"Mendiang ketua kalian coh Yu telah membantai seluruh sekeluarganya perkampungan Wan-keh ceng hanya disebabkan karena sedikit perselisihan dengan sin kun (Kepalan sakti) Wan su hau, coba jawab manusia berhati keji semacam dia pantas dijatuhi hukuman mati atau tidak?"

Ketua perkumpulan tujuh walet Khoag Tiong beng melototkan matanya bulat2, sambil tertawa seram serunya.

"Manusia muka dingin, kau anggap hanya andaikan cerita isapan jempolmu itu maka kawan2 persilatan yang telah hadir di gelanggang bersedia menghapuskan hutang berdarah mereka dengan begitu saja?"

Han siong Kie ikut tertawa dingin.

"Aku hanya mengatakan apa yang telah terjadi, kalian bersikeras untuk cari gara2.. Hehh..heehh..heehh.. aku tak akan bertangung jawab atas akibat yang bakal terjadi"

Bicara sampai disitu ia tidak memperdulikan ketua dari perkumpula n tujuh walet lagi, kepada kakek bermata tunggal yang berambut merah dan berjenggot merah tegurnya.

"Boleh aku tahu siapa engkau?"

"Satu2nya anggota Keng san sam jan ( Tiga manusia cacad dari bukit Keng san ) yang masih hidup, orang sebut Ci huat kui seng ( Dewa pangkat berambut merah)"

Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapa lawannya, menurut catatan yang dia baca, tenaga dalam yang dimiliki Keng san sam jan katanya sangat sempurna, untuk memusnahkan dan manusia cacad itu tempo hari, gurunya Mo tiong ci mo barus bertempur dulu sebanyak ribuan jurus itupun akhirnya Ci hun kui seng yang berurutan paling buncit berhasil meloloskan diri dalam keadaan hidup.

Padahal kejadian itu sudah berlangsung empat puluh tahun lamanya, manusia cacad yang terakhir ini berani datang menuntut balas, itu berarti ia sudah memiliki ilmu simpanan yang cukup bisa di andalkan.

sekalipun begitu Han siong Kie sama sekali tidak gentar bahkan semangat tempurnya ma kin meningkat, sebab menurut catatan gurunya manusia cacad yang terakhir ini dianjurkan untuk dibunuh bila ada kesempatan yang tersedia.

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata.

"ci hun kui seng, tempo hari engkau dapat lolos dari jaring guruku tapi hari ini.... Hmm Akan kuwakili mendiang guruku untuk mengirim nyawamu pulang ke akherat"

Ci hun kui seng menengadah dan tertawa ter bahak2 dengan seramnya.

"Haahhh... haahhh... haahhh manusia muka dingin-engkau tak usah tekabur Hari ini aku akan membinasakan dirimu lebih dahulu, kemudian akan kucari tempat penguburan dimana jenasah setan tua itu dan menghancur lumatkan tulang belulangnya, Hmm Akan kulihat matipun dia tak tenang"

Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan seram dia berseru.

"Bangsat, engkau sudah ditakdirkan untuk mampus detik ini juga"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, beberapa desiran angin jari yang tajam secepat kilat meluncur kedepan.

Ilmu jari Tong kim ci yang dahsyat dan dapat menembusi kerasnya emas dilepaskan dari jarak yang sangat dekat.

Jerit ngeri yang menyayatkan hati menggema memecahkan kesunyian, percikan darah berhamburan ke mana2, Ci huat Kui seng yang kosen dan jumawa seketika terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi..

Kejadian ini kontan menggemparkan seluruh gelanggang, sebagian besar kawanan jago yang hadir di gelanggang sama2 bergidik oleh kelihayan musuhnya, mereka sama sekali tak menyangka kalau Dewa pangkat berambut merah yang disegani banyak orang, akhirnya mampus ditangan anak muda itu dalam satu gebrakan belaka.

Kegaduhan tidak berlangsung lama, serentak delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu ayun senjatanya siap menyerang..

Enam imam tua dari partai Kong-tong pun ikut bergerak pula kedepan siap melepaskan serangan-.

Menyaksikan suasana telah berubah menegang, Ketua dari perkumpulan tujuh walet segera tersenyum licik, bukannya ikut terjun kedalam gelanggang dia malahan mundur lima depa kebelakang.

Lima orang hwesio tua yang berdiri dibelakang Liau sian taysu merapat antara yang satu dengan yang lain, merekapun menantikan saat yang tepat untuk melancarkan serangan-Situasi benar2 amat tegang, setiap saat kawanan jago yang hadir disana siap menyerbu kedepan secara berbareng, mereka hendak mengerubuti pemuda itu dan sekalian membinasakan dirinya.

Dengan pandangan dingin Han siong Kie menyapu lawan2nya, sementara dalam hati dia berpikir.

"Keadaan sudah makin menegang, rupanya hari ini terpaksa aku harus melakukan pembantaian secara besar2an"

Ditengah ketegangan yang meliputi seluruh kalangan itulah, tiba2 sang nenek tua berbaju merah darah yang selama ini membungkam, mengetukkan toyanya keatas tanah dan berseru tajam.

"Manusia muka dingin, apakah engkau berasal dari satu aliran dengan malaikat hawa dingin Mo siu Ing??"

Sorot mata semua orang tertuju kearah nenek tua itu, dalam hati mereka terkejut melihat kemunculan jago perempuao ini, apa gerangan yang menjadi dasar persengketaan antara makhluk tua itu dengan Mo tong ci mo??

Han siong Kie sendiripun merasa asing terhadap perempuan tersebut, sambil menahan diri dia lantas menyapa.

"Boleh aku tahu siapa namamu??"

"Huh Kalau aku si nenek tuapun tidak kau kenal, apa gunanya engkau berkelana dalam dunia persilatan?"

Ejek sang nenek sambil mengikik seram. Han siong Kte mendengus sinis.

"Baik, akupun, tidak merasa perlu untuk mengetahui namamu, katakan saja apa tujuanmu kemari "

"Bocah keparat, engkau tak usah tekebur. pernah kau dengar nama besar dari Ang Nio cu (perempuan baju merah) Tonghong Leng?"

Han siong Kie berdiri tertegun, ia tidak menyangka kalau perempuan itu bersedia memberitahukan nama julukannya, cepat ia menjawab.

"oooh...rupanya Ang Nio cu selamat bertemu...selamat bertemu"

"Hmm Aku sinenek tua tidak suruh kau menjilat pantat, hayo jawab saja apakah engkau berasal dari satu aliran dengan malaikat hawa dingin perempuan rendah itu??"

"Tidak. aku bukan sealiran dengannya"

"Kentut busuk nenekmu, kalau bukan sealiran mengapa kau lepaskan dia pergi dari sini?? "

Hawa amarah yang telah sirap kembali membara dalam dada Han siong Kie, jawabnya ketus.

"Kalau benar sealiran, kau mau apa??"

"Bagus sekali, bawa aku untuk menemukan jejaknya "

"Memangnya kenapa??"

"Ia telah membunuh dua orang muridku"

"Apa sangkut pautnya dengan aku? Memangnya kau tak dapat mencari sendiri??"

"Bocah keparat"

Maki Ang Nio cu dengan marahnya.

"apa yang kuucapkan tak pernah dibantah orang, satu tetap satu, dua tetap dua, engkau berani membangkang perkataanku ? Hmm Hayo bawa aku pergi mencarinya"

"Kau anggap kekuatan ilmu silatmu sudah cukup untuk paksa aku menuruti kata2mu itu??"

"oooh jadi kau tak percaya ?Baik, kita buktikan saja siapa yang benar siapa yang salah "

Berbicara sampai disitu, Ang Nio cu Tonghong Leng segera ayun toya rotannya yang besar dan langsung digebukkan kemuka.

"Eeeh.. tunggu sebentar"

Cegah Han siong Kie.

"Kenapa ? Kau bersedia membawa aku untuk menjumpai malaikat hawa dingin??"

"Urusan ini lebih baik kita bicarakan nanti saja, aku hendak selesaikan dahulu persoalanku dengan kawan2 persilatan ini."

Kepada Kui Goan cu dari partai Kong-tong ia menjura lalu berkata.

"Bagaimana pendapat kalian tentang penjelasan yang sudah kuberikan tadi??"

"Bicara tanpa disertai dengan bukti yang nyata tak dapat diterima dengan begitu saja, kami tolak penjelesan dari sicu"

Sahut Kui Goan cu dengan muka hijau membesi.

"Bukankah ditempat kejadian tergeletak seratus bangkai bocah lelaki dan bocah perempuan ? Apakah bukti sebanyak itu masih belum cukup??"

Seketika Kui Goan cu terbungkam dalam seribu bahasa, mukanya berubah jadi merah karena jengah, dengan ter sipu2 dia tundukkan kepalanya rendah2.

setelah rahasia ini terbongkar, nama perguruannya dengan sendirinya ikut ternoda, itu berarti mempengaruhi pula perkembangan partai Kong tong dalam masyarakat dimasa mendatang.

Untuk sesaat imam tua itu berdiri dengan wajah serba salah, mau mengaku takut, tak mengaku malu.

Untunglah pada waktu itu Khong Tiong beng, ketua dari perkumpulan tujuh walet telah menimbrung dengan suara seram.

"siapa hutang uang dia harus bayar dengan uang, siapa hutang nyawa dia harus bayar dengan nyawa, apa gunanya bersilat lidah tanpa hasil yang memuaskan ? Heehh.. heehh.. heeh.. kalau apa yang dia katakan benar, memangnya Mo tiong ci mo adalah seorang Hiap tiong hiap (pendekar diantara pendekar)?"

Lima orang imam tua yang berdiri dibelakang Kui Goan cu mendengus gusar kembali mereka desak maju selangkah kedepan.

situasi dalam gelanggang kembali diliputi oleh ketegangan yang menyesakkan napas, semua orang pusatkan perhatiannya mengawasi gerak gerik musuh, sementara hawa murni telah dihimpun siap melepaskan serangan gencar.

Dengan sorot mata yang bengis dan penuh napsu membunuh, Han siong Kie menyapu sekejap ketua perkumpulan tujuh walet, kemudian katanya.

"Jadi engkau sudah ambil keputusan untuk bereskan persoalan ini tanpa membedakan lagi mana benar mana salah?"

"Manusia coro, lebih baik tak usah banyak bacot lagi"

Sahut Ketua tujuh walet Kho Tiong beng dengan seramnya semua umat persilatan cukup memahami bagaimanakah karakter dari gurumu, banyak ngomong cuma membuang waktu dengan percuma, coba lihat semua jago persilatan yang telah hadir saat ini tak ada yang bukan untuk menagih hutang "

Kata2 yang mengandung nada menghasut serta menghangatkan suasana ini kontan mendapat sambutan meriah dari jago2 silat lainnya, kembali suasana diliputi kegaduhan.

Menyaksikan keadaan itu, Han siong Kie segera berpikir didalam hati.

"Kalau kutinjau situasi yang terbentang didepan mata, rasanya persengketaan ini tak mungkin bisa dibereskan secara damai, mereka selalu ngotot mengatatan dirinya benar, padahal kenyataan menunjukkan kalau pihak merekalah yang salah, kalau begini caranya, bicara sampai tiga hari tiga malam juga tak ada gunanya, daripada membuang banyak waktu lebih baik selesaikan saja urusan ini dengan kekerasan, toh sebagai seorang ciangbunjin suatu perguruan besar, tak mungkin bagiku untuk pergi dengan begitu saja sebelum urusan ada penyelesaian."

Berpikir sampai disitu ia lantas berpaling kearah delapan pendekar pedang dari kota Tong ciu, lalu ujarnya.

"Apakah kalian berdelapan juga tak mau menilai keadaan yang sebenarnya, tapi bersikeras mencari penyelesaian dengan kekerasan?"

Delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu mendengus dingin, pemimpin mereka Bu im kiam (Pedang tanpa bayangan) Tio Cu-peng menjawab dengan nada keras.

"Manusia muka dingin Hutang darah bayar darah, engkau tak usah banyak bicara lagi, sekalipun engkau bicara sampai lidahmu busuk juga tak ada gunanya"

Han siong Kie tidak menggubris orang itu lagi, sekarang dia berpaling kearah Liau sian taysu lalu bertanya.

"Bagaimana pendapat taysu? "

"Aku merasa sangat tidak puas dengan jawaban yang sicu berikan "

Sahut padri itu cepat.

"Lalu bagaimana menurut pandangan taysu?."

"Asal sicu bersedia menyerahkan kembali kitab pusaka yang tercuri kepada kami, dengan segala senang hati aku akan mengundurkan diri dari pertikaian ini, dan soal kematian dari Liau lun sutepun tak akan kami ungkap kembali"

"Aku toh sudah memberikan jaminan kepada taysu bahwa perbuatan terkutuk itu bukan hasil perbuatan dari mendiang guru, tapi..."

"Dengan benda apakah sicu hendak memberikan jaminannya??"

Han siong Kie termenung dan berpikir beberapa saat lamanya kemudian menjawab.

"Dalam setahun mendatang aku akan berusaha keras untuk mencari tahu siapakah yang telah melakukan perbuatan tercela itu, apakah taysu setuju dengan usulku tadi?"

"Bagaimana kalau usaha penyelidikanmu itu gagal?"

"Kalau dalam batas waktu setahun aku gagal dengan penyelidikanku, maka aku akan naik kebukit siong san dan memberikan pertanggungan jawabku dihadapan ketua gereja kalian"

Meskipun kelima orang padri tua yang lain merasa amat gusar, tapi mengingat kemudian mereka, tak seorangpun yang buka suara, kendati begitu dari pancaran wajah mereka telah memperlihatkan kesemuanya itu.

Dengan pandangan tajam Liau sian taysu menyapu sekejap sekeliling gelanggang, lalu ujarnya dengan suara dalam.

"Kami telah bersumpah untuk menemukan kembali benda kami yang hilang, tentang janji setahun ini"

"Bagaimana?"

"Aku kuatir sicu tak akan bisa memenuhinya"

"Aku tidak mengerti dengan apa yang taysu maksudkan "

"Kenyataan yang terbentang didepan mata sudah amat jelas sekali, aku yakin kawanan umat persilatan yang hadir saat ini tak akan bubar sebelum tujuan mereka tercapai "

Sekarang Han siong Kie baru mengerti dengan apa yang dimaksudkan-ia tertawa dingin.

"Heehh beehh heehh.. maksud taysu engkau kuatir kalau aku tak dapat meloloskan diri dari kerubutan mereka?"

"omintohud Kenyataan berkata begitu, aku kuatir harapanmu untuk lolos tipis sekali "

"Hmm Belum tentu begitu."

Liau sian taysu termenung sebentar, akhirnya dia mengangguk.

"Baik, untuk sementara waktu kuterima syaratmu itu."

"sementara waktu ? Apa maksudmu??"

"Aku baru akan berlalu dari sini setelah pertikaian ditempat ini beres."

Bicara sampai disitu dia lantas ulapkan tangannya kepada lima orang padri yang lain dan mengundurkan diri dari lingkar kepungan.

Dengan gemas dan penuh kebencian kelima orang padri tua itu melotot sekejap kearah Han siong Kie.

lalu dengan perasaan hati yang berat mereka ikut mengundurkan diri Dari sini dapat diketahui kalau mereka terpaksa menuruti kemauan Lian siau taysu karena kalah tingkat, andaikata padri itu tak hadir disitu mungkin mereka sudah turun tangan sedari tadi.

Begitu para jago lihay dari gereja siau lim si mengundurkan diri, delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu segera bergerak kemuka untuk mengisi kekosongan itu.

Han siong Kie tertawa sinis, ditatapnya sekejap kawanan jago itu dengan sorot mata tajam, kemudian ujarnya perlahan.

"Aku berharap kalau kalian semua berpikir tiga kali sebelum bertindak.."

"Guru yang hutang sang murid yang harus bayar, manusia hawa dingin tak usah banyak bicara lagi, hayo serahkan jiwa anjingmu"

Sambung Tamu lewat berbaju putih Kho Tiong beng secara licik, Han siong Kie naik darah, mukanya merah padam karena gusar. dengan suara keras hardiknya.

"Kho Tiong beng, janganilah menyebut orang lain atau menghangatkan suasana dengan kata2 yang tak sedap didengar, ketahuilah perbuatanmu itu sama sekali tak berguna"

Sementara itu delapan pedang dari kota Tiong-ciu sudah habis sabarnya, mereka saling bertukar pandangan sekejap.

kemudian delapan bilah pedang diiringi delapan desiran angin meluncur kedepan mengurung sekujur badan Han siong Kie.

Enam orang imam dari partai Kong-tong pun ikut membentak keras, mereka maju berbareng sambil melancarkan sebuah pukulan gencar.

Meskipun serangan dilepaskan tidak bersamaan waktunya, namun ancaman tiba secara bcrbareng, dapat dibayangkan betapa dahsyatnya serangan gabungan yang dilepaskan empat belas orang jago lihay itu Han siong Kie mendengus dingin, ibaratnya sukma gentayangan ia enjotkan badan dan tahu2 sudah lolos dari kurungan sinar pedang serta bayangan telapak lawan.

Bu In kiam Tio Cupeng yang menjadi menjadi pimpinan delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu membentak keras.

"Manusia muka dingin, sekalipun engkau tumbuh sayap. ini hari jangan harap bisa lolos dalam keadaan selamat"

Tubuhnya melesat kedepan, pedangnya dengan kecepatan yang sUkar dilukiskan dengan kata2 melancarkan dua belas bacokan berantai.

Kedua belah jurus serangan berantai itu dilancarkan ibaratnya sebuah serangan belaka, namun yang diancam adalah dua belas tempat jalan darah penting ditubuh musuhnya, cepat dalam serangan, tepat dalam sasaran, dia memang tak malu mendapat julukan sebagai pedang tanpa bayangan.

sepasang telapak tangan Han siong Kie bergerak cepat, angin pukulan men-deru2 secara bergelombang, dengan suatu gerakan yang sederhana tahu2 ia sudah membendung serangan lawan.

Dalam pada itu baru saja pedang tanpa bayangan Tio cupeng menyelesaikan serangan berantainya, dua bilah pedang yang lain telah menyergap pula dari samping kiri dan kanan.

setelah pertarungan berkobar, Han siong Kie sadar kalau suatu pertempuran sengit tak dapat dihindari lagi, ia tahu sebelum ada penyelesaian tak mungkin musuh2nya akan menyelesaikan pertarungan dengan begitu saja.

sepasang telapak tangannya bergerak kekiri kanan dengan cepat dua gulung angin pukulan yang kuat bagaikan ambruknya gunung tay-san langsung melabrak jago2 yang ada disamping kiri maupun kanan.

-000dewi000-BAB 46

"DUUK..

duuk..

dua pukulan gencar bersarang telak ditubuh kedua penyerang yang menyergap dari kiri dan kanan, dua orang anggota dari siong ciu pat kiam itu segera terhuyung kebelakang dengan badan terhuyung.

Untung pedang tanpa bayangan Tio Cupeng telah meluruk maju untuk menolong rekannya, hawa pedang berdesir menyayat badan, sambil melangkah maju kemuka ia sambut kedatangan lawan-Waktu itu Han siong Kie belum sempat buyarkan serangan, tahu2 hawa pedang yang tajam telah menyambar tiba lebih duluan, dalam kagetnya cepat2 ia melayang mundur lima depa kebelakang.

sebagai pemimpin dari delapan pendekar Tiong ciu pat kiam tenaga dalam yang dimiliki pedang tanpa bayangan Tio Cupeng jauh lebih hebat dari pada tujuh pendekar lainnya, begitu gagal dalam serangan pertama, bagaikan bayangan tubuhnya ikut maju kedepan sementara serangan berikutnya dilancarkan pula kemuka.

Han siong Kie menghindar lagi kebelakang namun lima orang pendekar pedang yang lain bertindak cepat, mereka putar pedang sambil menyongsong kedatangan musuhnya.

Lima pedang baru meluncur datang, dua tusUkan kilat melayang pula dari sudut kiri dan kanan-Han siong Kie menghindar pula kebelakang, tiba2 ia putar telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan gencar, lima desiran angin jari menyambut datangnya terjangan pedang tanpa bayangan dan mengancam jalan darah kematiannya.

Pedang tanpa bayangan Tio Cupeng bukan seorang manusia bodoh, begitu ia lihat musuhnya melepaskan serangan balasan, dari posisi menyerang ia merubah diri ke posisi bertahan, Cahaya pedang berkilauan didepan tubuh melindungi seluruh badannya dari ancaman musuh.

"Criing Criing ditengah dentingan nyaring, tahu2 pedang bajanya sudan termakan oleh desiran angin jari itu hingga patah jadi lima bagian-Betapa terperanjatnya pedang tanpa bayangan menghadapi kejadian itu, sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, dengan muka pucat pias bagaikan mayat dan peluh dingin membasahi tubuhnya, cepat2 ia mengigos kesamping.

Han siong Kie memburu kedepan, sementara serangan kilat dari ketujuh orang pendekar pedang yang lain telah mengena disasaran yang kosong..

Han siong Kie mendengus gusar, sambil putar badan sepasang telapak tangannya bersilangan kesana kemari.

dalam serangan tersebut ia gunakan tenaganya mencapai sepuluh bagian, gulungan angin puyuh yang maha dahsyat langsung menghancurkan pertahanan ketujuh orang pendekar pedang itu sehingga mereka bercerai berai dan sama2 kabur kebelakang untuk menyelamatkan diri Kebetulan saat itu Han siong Kie berdiri didepan keenam orang imam dari partai Kong-tong, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun serentak keenam orang tosu itu melancarkan sebuah babatan maut kearah depan.

Gabungan tenaga dari keenam orang imam itu sungguh maha dahsyat, jangankan manusia yang terdiri dari darah dan daging, batu cadas yang bagaimana keraspun tetap akan hancur bila termakan serangan tersebut.

Dalam keadaan tak siaga Han siong Kie tersambar tenapa gabungan itu sehingga tergetar maju delapan depa dengan sempoyongan, darah panas dalam rongga dadanya seketika terasa bergolak keras, untung tak sampai terluka dalam.

"Roboh kamu"

Tiba2 seseorang membentak nyaring.

Bersamaan dengan bentakan itu, Han siong Kie merasa sekujur tubuhnya sakit dan kesemutan seperti digigit serangga, paling sedikit ada belasan tempat yang mempunyai rasa yang sama..

sadarkan pemuda kita kalau itu sudah terkena serangan senjata rahasia yang amat beracun-Dengan sempoyongan ia berpaling kebelakang, ia lihat orang yang menyergap tubuhnya dengan senjata rahasia itu tak lain adalah ketua dari perkumpulan tujuh walet, Kho Tiong beng adanya.

Ketua dari perkumpulan tujuh walet sendiri amat terkejut hatinya, tatkala ia lihat musuhnya sama sekali tidak roboh kendatipun sudah termakan oleh belasan batang jarum Jit sat sin bong (cahaya maut tujuh malaikat iblis) yang amat beracun, muka nya berubah jadi pucat pias dan peluh dingin mulai membasahi tubuhnya.

Perlu diketahui jarum Jit sat sin bong itu lembut sekali bagaikan bulu kerbau, sewaktu dilancarkan sama sekali tak bersuara, namun mengandung racun yang jahat sekali, sekalipun seseorang memiliki tenaga dalam yang tinggi, begitu terkena kobarannya pasti akan roboh dan binasa seketika itu juga.

Namun lain keadaannya dengan Han sioag Kie, sekalipun sudah belasan batang Jit sat sin bong yang bersarang di tubuhnya, anak muda itu cuma gontai sedikit, sama sekali tidak menunjukkan tanda2 keracunan atau bakal roboh binasa..

Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, dengan sorot mata bengis dan penuh perasaan benci ia tatap ketua perkumpulan tujuh walet tanpa berkedip.

Dipandang secara begitu, Kho Tiong beng jadi bergidik, dengan tubuh merinding ia mundur tiga langkah lebar kebelakang.

Han siong Kie pernah ganti tulang cuci otot dimata air To meh leng swan, dalam tubuhnya memiliki daya kekuatan untuk melawan pengaruh racun, karena itu dia tak sampai roboh sekalipun sudah termakan oleh belasan batang jarum beracun.

Kendatipun begitu, karena dahsyatnya daya kerja racun itu, tak urung tubuhnya terasa gatal bercampur kesemutan, kepalanya pusing dan perutnya jadi mual.

Dalam pada itu, lingkaran kepungan sudah makin mengecil beberapa kaki dari semula, situasi bertambah tegang.

Tiba2 Ang Nio cu Tonghong Leng yang selama ini selalu membungkam, mengetuk tanah dengan tongkat rotannya, kemudian membentak.

Baca Juga: Perkampungan Hantu 1

Baca Juga: Maling Romantis 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert