Eps 7 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
"Khong Tiong Beng, dimana martabatmu sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar? begitu rendahkah moralmu sehingga beraninya hanya main sergap dengan senjata rahasia beracun??"
Mula2 ketua perkumpulan tujuh walet agak tertegun, kemudian sambil tertawa licik jawabnya.
"Tonghong cianpwe, untuk menghadapi anakan iblis seperti dia, masakah kita musti pakai peraturan bu-lim?"
Mungkin disebabkan Ang Nio cu Tonghong Leng berbicara bagi kepentingan Han siong Kie, tanpa sadar sorot mata semua orang ditujukan keatas wajah makhluk tua ini. Ang Niocu Tonghong Leng tertawa aneh.
"Heehh... heehh... heehh... Kho Tiong beng, engkau tak usah pura2 jual lagak, orang lain adu jiwa dengan mati2an, apa yang kau kerjakan? Engkau cuma bersembunyi disamping gelanggang seperti anak kura2, yang bisa kau lakukan hanya menyergap orang pakai senjata rahasia.. Huuh Memalukan"
Merah padam selembar wajah ketua perkumpulan tujuh walet setelah mendengar sindiran itu, ucapan lawan terialu menghancurkan derajatnya sebagai seorang ketua, ia tersipu2 dan merasa kehilangan muka.
Tapi sebagai seorang licik yang banyak akal, mukanya cukup tebal, hanya sebentar ia merasa jengah kemudian pulih kembali dalam ketenangan, katanya dengan dingin.
"Apa maksud Tonghong cianpwe dengan ucapanmu itu??"
"Aku hanya ingin tahu, apakah dia bakal mampus oleh senjata rahasia beracunmu itu"
"Tentang soal ini..."
"Hayo, jawab sejujurnya, jangan coba main setan dihadapanku "
"Barang siapa terkena senjata rahasia Jit sat bong, mana ada yang bisa hidup dengan selamat?"
"Tapi dia toh sampai sekarang belum mampus??"
"Apakah Tonghong cianpwe bermaksud untuk menolong jiwanya..."
Tanya Khong Tiong beng agak ragu2.
"Benar, sampai sekarang aku nenek tua masih membutuhkan tenaganya untuk mengerjakan sesuatu"
Ketua dari perkumpulan tujuh walet ini kontan tertawa seram.
"Heeeh... heeh... heeeeh sekalipun engkau hendak menolong, sayang rekan2 persilatan yang lain tidak sudi melepaskan bangsat itu dengan begitu saja" .
"Khong Tiong beng Engkau sendiri yang mencari mampus, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam"
Tiba2 Han siong Kie membentak nyaring.
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, sepuluh gulung desiran anginjari meluncur keudara dan langsung menyergap tubuh ketua perkumplan tujuh walet.
Bentakan keras menggelegar pula di udara, untuk kesekian kalinya enam imam tua dari partai Kong tong melancarkan serangan maut mereka kearah sianak muda itu.
Cahaya tajam berkilauan, hawa pedang men-deru2, tujuh bilah pedang mustika dari Tiong ciupat kiam serentak menusuk pula kedepan.
Sementara itu Jit yan pangcu ( ketua dari perkumpulan tujuh walet) merasa sangat ketakutan sekali dikala itu serangan musuh menerjang datang, cepat2 ia meloncat keudara bermaksud untuk menghindarkan diri Sayang walaupun ia bertindak cepat, serangan musuh meluncur datang jauh lebih cepat, bagian mematikan bisa dihindari bagian kaki susah lolos dari ancaman tak ampun lagi sepasang kakinya kena terhajar sampai berlubang besar, hingga mengakibatkan rasa sakit yang tak terhingga, sambil menjerit kesakitan ia terkulai kembali ke atas tanah.
Berhasil dalam serangannya, Han siong Kie melesat kesisi samping, dengan telapak tangan kiri dia bendung sergapan ketujuh bilah pedang musuh, sementara telapak tangan kanannya membendung pukulan gabungan dari enam tosu.
Benturan yang memekikkan telinga menggeletar diangkasa, dengan sempoyongan Han siong Kie mundur kebelakang, hampir saja tubuhnya termakan oleh sambaran pedang musuh.
oleh benturan yang cukup keras itu, keenam orang imam tua dari Kong tong pay ikut tergetar pula hingga mundur selangkah kebelakang, tak terlukiskan betapa kaget dan ngerinya mereka atas kesebatan musuhnya..
Dipihak lain, anak buah perkumpulan tujuh walet telah menyerbu kedalam gelanggang, sebagian merintangi jalan maju musuh, sebagian yang lain menolong ketua mereka yang terluka..
Kegusaran Han siong Kie telah mencapai pada puncaknya, hawa napsu membunuh makin berkobar dalam benaknya, ia meluncur beberapa depa kemuka, sebuah pukulan dilontarkan dengan dahsyat membuat kawanan dari perkumpulan Tujuh walet yang sedang berusaha untuk menolong ketuanya kena tersapu hingga kocar kacir.
Api dendam telah membara dalam dada si anak muda itu, sehabis membubarkan kawanan jago itu, ia maju lebih ke depan, sebuah pukulan yang tak kalah gencarnya langsung dilontarkan ke atas tubuh Khong Tiong beng yang terkapar dalam keadaan luka.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati mendirikan bulu roma para jago, ketua perkumpulan tujuh walet kena terhajar telak oleh serangan maut itu sehingga batok kepalanya hancur berantakan, darah bercampur isi benak berhamburan dimanamana, sukmanya melayang tinggalkan raganya.
Walaupun Han siong Kie memiliki kekuatan untuk melawan pengaruh racun, bagaimanapun untuk beberapa waktu racun itu tak mungkin buyar dengan begitu saja, apalagi berulang kali dia harus mengerahkan tenaganya untuk bertarung, sedikit banyak ada sebagian dari racun itu yang berhasil menyusup kedalam tubuhnya.
Anak muda itu merasa kepalanya pusing, pandangan matanya berkunang-kunang dan tubuhnya sempoyongan kesana kemari, hampir saja dia tak mampu berdiri tegak.
Kawanan jago yang hadir disekitar gelanggang rata2 adalah jago pengalaman, gejala itu tentu saja tak lolos dari pengamatan mereka, tahulah kawanan jago itu kalau musuhnya mulai keracunan.
Enam orang imam tua dari partai Kong tong saling berpandangan sekejap.
kemudian tanpa mengeluarkan sedikit suarapun mereka lepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan.
Enam gulungang in pukulan yang gencar menciptakan suata desiran angin tajam laksana kilat menyambar kemuka dan menggulung tubuh Han siong Kie.
sementara anak muda itu sudah hampir tak kuat menahan diri, kepalanya semakin pusing, matanya berkunang2 dan konsentrasinya mulai buyar, merasa munculnya ancaman dari arah belakang, ia segera putar badan sambil melepaskan pula sebuah pukulan untuk menyambut serangan itu, walau demikian kekuatannya separuh lebih dari keadaan semula.
Ditengah benturan yang sangat keras, terdengar seseorang mendengus tertahan.
Dengan sempoyongan Han siong Kie tergetar mundur delapan depa kebelakang, darah segar memancar keluar dari ujung bibirnya.
Termakan oleh getaran yang cukup keras ini, bukan makin payah, kesadaran anak muda itu malah jauh lebih segar..
Tiong ciu Pat kiam bukan orang kemarin sore, tentu saja merekapun tak sudi membuang kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja, tujuh bilah pedang ditambah dengan sepasang telapak tangan serentak menyergap datang dari tiga arah yang berlawanan.
Han siong Kie sudah menyadari keadaan yang dihadapinya, kecuali belasan orang jago lihay yang berada didepan mata, masih ada hampir seratus orang jago yang menanti kesempatan diluar gelanggang, tujuan mereka hanya satu yakni memusnahkan dirinya dari muka bumi.
Pada mulanya sianak muda itu menyangka asal ia beberkan kenyataan sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam kitab budi dan dendam dari Mo Mo cuncu, maka pertikaian antara mendiang gurunya dengan kawanan jago silat itu akan beres dengan sendirinya.
siapa sangka orang persilatan sukar diberi penjelasan, demi nama mereka tak segan-segannya mengingkari kenyataan, apalagi ilmu silat merupakan penyakit dari tiap manusia, makin tinggi ilmu silatnya makin banyak yang iri kepadanya, tentu saja orang2 itu berusaha menggunakan kesempatan baik ini untuk lenyapkan dirinya dari muda bumi.
Dikala delapan pendekar pedang dari kota Tiong-ciu akan melancarkan serangannya lagi.
Tiba2 Han siong Kie menggigit bibir, dengan jurus Mo hwe liau goan (Api iblis membakar padang rumput), dia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya kemudian melontarkannya kemuka dengan sepenuh tenaga.
Bayangan telapak menyebar bagaikan lapisan awan, membawa gulungan angin pukulan yang dahsyat ibaratnya gulungan ombak ditengah samudra langsung mendobrak terjangan musuh.
Betapa hebatnya pukulan dahsyat tersebut, serbuan dari delapan pendekar pedang itu bukan saja berhasil dipatahkan, malahan mereka dipaksa untuk mundur dengan tercerai berai.
Bergidik hati para jago menyaksikan ketangguhan lawannya, padahal sianak muda itu sudah terkena senjata rahasia Jit sat sin bong dari ketua perkumpulan tujuh walet yang sangat beracun, kemudian termakan pula oleh pukulan gabungan dari enam imam partai Khong-tong, tapi kenyataan membuktikan lain, tenaga dalamnya sama sekali tidak menjadi berkurang karena peristiwa itu.
sepasang mata Han siong Kie berubah jadi merah membara, nafsu membunuh yang menyelimuti wajahnya makin menebal, setelah menyapu sekejap keseluruh gelanggang bentaknya dengan suara mendalam.
"sekali lagi aku akan peringatkan kepada kalian semua, ketahuilah orang2 yang dibunuh mendiang guruku semuanya mempunyai alasan untuk kematian, aku hanya mengharapkan agar kalian suka berpikir tiga kali sebelum bertindak. sebab kalau kalian main sergap tanpa pikir panjang, maka akupun tak akan ambil peduli atas akibat yang bakal terjadi pada kalian semua"
Baru saja pemuda itu menyelesaikan kata2nya, tiba2 dari kejauhan berkumandang suara pekikkan tajam yang sangat keras.
seluruh gelanggang jadi gaduh dan gempar oleh suitan tajam itu, mereka semua rata2 menunjukkan rasa kaget yang tak terkirakan.
Han siong Kie sendiripun mengerutkan dahinya, ia tak tahu siapa yang memperdengarkan suitan tajam tersebut, yang jelas semua jago yang hadir disitu rata-rata menunjukkan perubahan sikap yang menyolok.
Bersamaan dengan sirapnya suitan tajam itu, sesosok bayangan aneh yang berwarna warni melayang masuk ketengah gelanggang.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang tak lengkap panca inderanya, ia kenakan jubah panjang berwarna warni.
Kalau dikatakan manusia maka orang ini jauh lebih mirip sebagai makhluk setan yang berwajah seram.
Bibirnya sumbing dan membalik keluar hingga sebaris giginya yang putih kelihatan dari luar, hidungnya lenyap entah kemana dan yang tampak saat itu cuma dua buah lubang hitam yang hitam, sebuah codet besar membekas dari atas keningnya membelah hidung dan mencapai pipi sebelah kiri, mata kirinya lenyap tinggal kelopaknya yang kosong, biji matanya entah sudah kabur kemana, rambut yang beruban menggumpal jadi satu persis setumpukan rumput kering.
Cukup memandang tampangnya yang seram bagaikan setan sudah dapat membuat hati orang bergidik, Dengan sinar mata yang bengis, manusia aneh itu menyapu sekejap seluruh gelanggang kemudian tertawa seram tiada henti2nya.
kawanan jago persilatan perlahan sama2 mundur kebelakang, hanya sebentar saja dalam gelanggang hanya tinggal Ang nio cu Tonghong Leng seorang.
Perempuan gagah yang bernama Tonghong Leng itu segera tertawa mengikik dengan suaranya yang seram bagaikan jeritan kuntilanak lalu tegurnya dengan suara lantang.
"Kang Tang hu, engkau belum mampus?"
Mendengar nama orang itu, diam2 Han siong Kie ikut merasa terperanjat, dia masih ingat dalam catatan budi dan dendam dari Mo Mo Cuncu, ia pernah membaca nama orang itu.
Disitu namanya tercatat sebagai Kui-bin long jin (manusia srigala bermuka seram) Kang Tang hu, menurut catatan, dulu dia punya seorang kekasih yang bernama Hek tin lo sat (Iblis perempuan berhati hitam) Kwansu koh, wataknya cabul dan perbuatannya kejam, sudah banyak pria muda yang kekar dan gagah dibunuh olehnya setelah sebelumnya "diperkosa"
Lebih dulu.
Akhirnya Mo tiong ci mo mengetahui akan kebejadan moralnya ini, perempuan cabul itu diburu kemudian dibunuh.
Kekasihnya yakni manusia srigala bermuka setan Kang Tang hu jadi mendendam karena peristiwa ini, ia datang mencari gurunya untuk menuntut balas, namun dalam suatu duel yang sengit ia tak mampu menandingi kelihayan lawannya sehingga akhirnya kabur.
sementara itu Manusia srigala bermuka setan Kang Tang hu telah melotot gusar kearah perempuan baju merah Tonghong Leng, kemudian sambil tertawa seram katanya.
"Heeeh heehh heeehh Ang Nio cu, apakah engkau juga mempunyai sengketa dengan anakan kelinci ini??"
"Sengketa tak ada, tapi ada suatu persoalan kecil aku membutuhkan tenaganya "
"Kalau begitu bagus sekali, kitapun tidak usah ribut2 sendiri mengenai dirinya, toh dia cuma mempunyai selembar jiwa"
Han siong Kie sangat marah, sambil mendengus dingin serunya.
"Manusia srigala bermuka setan, sebutkan apa maksud kedatanganmu"
Kang Tang-hu tertawa seram, ia menyapu sekejap pemuda itu kemudian dengan suara yang seram bagaikan jeritan setan sahutnya.
"Haaah... haaah... haaah sungguh tak nyana Mo tiong cimo telah menerima engkau sebagai ahli warisnya, Hmm sepanjang hidup belum pernah timbul rasa kasihan dalam hatiku, hei bocah ...."
"Apa yang kau maksudkan?"
Hardik pemuda itu.
"Tentang soal ini ...."
Tiba2 manusia srigala bermuka setan berhenti sejenak, sambil berpaling kearah delapan pendekar pedang dari kota Tiong cu sekalian tiba-tiba hardiknya.
"Disini tak ada urusan lagi, hayo pada menyingkir jauh2 dari hadapanku"
Delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu maupun enam imam tua dari partai Kong tong sama2 menunjukkan muka gusar setelah mendengar ucapan itu, tapi mereka tak berani bertindak sesuatu, akhirnya dengan uring-uringan mereka mundur dari lingkar kepungan dan menjauhkan diri dari gelanggang.
Menanti semua orang sudah mengundurkan diri, manusia srigala bermuka setan Kang Tang hu baru melanjutkan kembali kata-katanya.
"Bocah muda, tiba2 saja aku tak ingin membunuh kau"
"Membunuh aku?"
Seru Han siong Kie sambil menunjuk keujung hidung sendiri "
Dengan andalkan apa kau ingin bunuh aku?"
Sekali lagi Manusia srigala bermuka setan melolong aneh, katanya lebih jauh.
"Bocah muda, sebetulnya kedatanganku kesini untuk mencabut selembar jiwa kecilmu, tapi sekarang aku telah berubah pikiran, aku tak jadi membunuh kau lagi."
"Kenapa??"
"Aku ingin menerima engkau sebagai ahli waris "
"Menerima aku sebagai murid ? Haaaahh... haaahh... haaahh"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menengadah dan tertawa ter-bahak2, suaranya keras bagaikan palu yang beradu besi, bukan saja menggema diseluruh angkasa bahkan memekikan telinga setiap jago baik dari golongan putih golongan hitam yang hadir ditengah gelanggang.
"Hei bocab muda, apa2an kau ini?jangan menjerit jerit terus seperti setan penasaran"
Teriak Manusia srigala bermuka setan dengan suara keras. Han siong Kie tarik kembali gelak tertawanya, dengan muka serius serunya.
"Hei manusia srigala bermuka setan yaug tak tahu diri, aku lihat engkau sedang baru mimpi disiang hari bolong, kulihat keadaanmu persis seperti burung pungguk merindukan bulan."
"Apa becah ? kau bilang apa? "
Jerit manusia serigala bermuka setan dengan mata jelalatan bengis.
"engkau tidak bersedia jadi muridku ? Memangnya kau anggap badanmu sudah keras seperti baja??"
"Hmm Kunasehati dirimu, lebih baik janganlah menjadi burung pungguk yang merindukan bulan, sampai tuapun jangan harap keinginanmu itu bisa tercapai, kecuali kalau matahari bisa terbit dari sebelah barat"
"Bajingan cilik"
Maki Kang Tang-hu dengan marahnya "
Engkau terlalu menghina aku, ini hari kau harus mampus"
"Aah belum tentu begitu, memangnya kau yang kuasa atas nyawaku??"
"ooooh.. kamu tak percaya yaa ? Bagus, bagus.. mari kita buktikan saja siapa yang lebih tangguh."
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dia menerjang maju kemuka, sepasang telapak tangannya siap diayun ketubuh lawan.
"Eei.. nanti dulu"
Tiba2 Han siong Kie berseru.
"Bagaimana bocah ? Kau sudah menyesal dan mau turuti kehendak hatiku??"
"Aku hanya ingin tanya, apakah maksud kedatanganmu kali ini adalab berkenaan dengan kasus terbunuhnya Hek sim lo sat (Iblis perempuan berhati hitam) Kwan su koh pada empat puluh tahun berselang?"
Sinar bengis kembali memancar keluar dari mata Kang Tang hu yang tinggal sebelah dengan penuh kebencian jawabnya.
"Benar, selama empat puluh tahun siang maupun malam aku tak pernah melupakan peristiwa ini, sayang aku tak berhasil menemukan tempat persembunyian dari Mo tiong ci mo, dan kini dia sudah mampus maka hutang darah inipun akan kutagih atas dirimu"
"sebagai ahli waris mendiang guruku, memang pantas kalau aku yang bertanggung jawab atas semua perbuatan guruku dimasa hidupnya, tapi apakah engkau tahu apa sebabnya Hek sim lo sat bisa dibunuh oleh guruku?"
"Bocah keparat, kau tak usah banyak bacot lagi"
Jerit manusia srigala bermuka setan dengan suara lengking.
"ini hari engkau akan kujagal lebih dahulu, kemudian akan kucari kuburan dari anjing tua itu dan menghancur lumatkan tulang belulangnya jadi abu, hanya berbuat begitulah rasa benciku selama ini bisa terlampiaskan"
Mendengar rencana lawannya yang bejad dan tak berperi kemanusiaan itu, hawa amarah dalam dada Han siong Kie kontan berkobar, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia menduga musuhnya ini tentulah seorang manusia bejad yang berhati bengis, terlintas dalam benaknya satu ingatan untuk membunuh mahluk aneh ini.
Dengan suara dingin bagaikan es, dia lantas berseru.
"Manusia srigala bermuka setan, tahukah engkau? Apa yang barusan kau lakukan sama halnya dengan menggali liang kubur buat diri sendiri?"
"Huuh Cuma andalkan kekuatanmu seorang?"
Ejek makhluk aneh itu sinis.
Sembari berseru, sepasang jari tangannya yang runcing ibarat pancingan secepat sambaran kilat menyambar ke atas tubuh Ham siong Kie.
Serangan tersebut bukan saja sangat cepat, bahkan ganas dan tak kenal ampun, cukup menggidikkan hati siapapun yang menghadapinya.
Situasi ditengah gelanggang ikut berubah jadi tenang bersamaan dengan gerakan serangan yang dilancarkan manusia srigala bermuka setan.
Han siong Kie melesat kearah samping dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata2, berhasil lolos dari cengkeraman musuh, dengan jurus Leng ku it si (Jurus pertama kura2 sakti) dia balas melancarkan sergapan, jurus yang digunakan ampuh, aneh dan ganas, sedikitpun tak kalah dengan kebagusan serangan musuh.
Agaknya manusia srigala bermuka setan tak pernah menduga kalau Han siong Kie memiliki ilmu silat setinggi itu, tak kuasa lagi ia menjerit kaget.
Cepat telapak tangan kirinya mengayun secara beruntun untuk musnahkan daya serangan lawan, sementara telapak tangan kanannya melepaskan sebuah babatan kilat ke depan.
Dengan ancaman yang ia terima berarti sia2 belaka Han siong Kie melepaskan serangannya, ingatan kedua belum sempat melintas.
tahu2 telapak tangan kanan musuh telah tiba didepan dadanya, dalam keadaan begini terpaksa ia tarik kembali tangannya untuk menangkis dengan keras lawan keras..
"Duuk.."
"dua gulung himpunan tenaga saling membentur satu sama lainnya menimbulkan ledakan keras, kedua belah pihak sama2 merasakan tubuhnya bergetar keras. Secepat kilat Han siong Kie menggunakan taktik "
Mengisap"
Dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat untuk mengisap telapak tangan musuh sehingga sama sekali tak mampu berkutik lagi, sementara telapak tangan kanannya yang senggang langsung menyodok keatas dada lawan.
Manusia srigala bermuka setan berusaha untuk menarik kembali telapak tangan kanannya, namun usaha itu gagal, sekarang ia baru tahu bahaya, dalam gugup dan kagetnya cepat dia putar tangan untuk menangkis.
"Duuk.."
Sekali lagi empat buah telapak tangan saling beradu satu sama lainnya. Han siong Kie segera salurkan hawa murninya keluar tubuh, ia bermaksud menggunakan taktik "getaran"
Untuk melontarkan balik kekuatan musuh yang sedang meluncur datang.
Siapa sangka manusia srigala bermuka setan pun mempunyai ingatan yang sama, dia sendiripun berusaha untuk melepaskan diri dari daya hisapan musuh.
Dengan demikian maka kedua belah pihak sama2 melontarkan hawa saktinya keluar badan.
Suatu ledakan keras yang memekikan telinga menggeletar lagi di angkasa, kedua belah pihak terlempar mundur kebelakang dan mundur sejauh situ kaki lebih dengan sempoyongan.
Posisi Han siong Kie jauh lebih tidak menguntungkan jika dibandingkan musuhnya, karena pertama dia sudah terhajar lebih dulu oleh tenaga gabungan dari enam jagoan Kong tong pay, kemudian terkena pula sambitan jarum rahasia dari Kho Tiong beng, itu ketua dari perkumpulan tujuh walet, sekarang setelah termakan oleh getaran keras itu, tak bisa dicegah lagi ia muntah darah segar, tubuhnya mundur dengan sempoyongan.
suasana jadi gempar, para jago yang ada diluar gelanggang sama2 berseru tertahan.
Dalam pada itu manusia srigala bermuka setan telah menyadari betapa tangguhnya musuh yang sedang dihadapi, ia tak menyangka kalau kekuatan yang dimiliki Han siong Kie sekarang telah jauh melampaui kekuatan Mo tiong ci mo dimasa lampau, ingatan untuk menerima anak muda itu sebagai muridnya seketika tersapu lenyap dari benaknya.
Sekarang ia baru menyadari betapa bahayanya musuh ini jika dibiarkan hidup lebih jauh, ingatan jahat melintas dalam benaknya sambil berpekik nyaring ia maju beberapa kaki kedepan, segenap tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun kedalam sepasang telapak tangan ketika dilontarkan kemuka, maka bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya kekuatan penghancur itu.
"Jangan kau bunuh bocah itu"
Tiba-tiba Ang Nio cu Tonghong Long berteriak keras. -000dewi000-
Jilid 23 SAMBIL.
berseru diapun ayun pula telapak tangannya untuk membendung angin serangan manusia sigala itu, tapi sayang tindakan pencegahan ini datangnya agak terlambat setengah tindak ...
Ditengah jeritan ngeri karena kesakitan, Han siong Kie muntah darah segar dan roboh terkapar diatas tanah.
Menyusul mana sebuah jerit kesakitan kembali menggema diangkasa, manusia serigala bermuka setan mundur sambil memegang dadanya, kemudian roboh terduduk diatas tanah, darah segar meleleh keluar dari celah2 jari tangannya dan membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan-Ternyata disaat musuh melakukan sergapan maut Han siong Kie sendiripan melancarkan serangan balasan dengan ilmu jari Tong kim ci, untung setelah terluka parah kekuatan serangannya banyak berkurang, itu pun berhasil membuat beberapa lubang didada musuhnya, kalau tidak sudah pasti makhluk aneh itu sudah mampus sedari tadi.
Dengan kejadian tersebut, manusia serigala bermuka setan jadi bergidik hingga bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri Kawanan jago yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari sisi gelanggang ikut merasa terperanjat, rata2 paras muka mereka pada berubah hebat.
Dengan terlukanya manusia serigala itu maka serangan dahsyat yang dilepaskan Ang Nio cupun mengena pada sasaran yang kosong.
Begitulah, dalam satu gebrakan kedua belah pihak sama2 menderita luka, namun kalau di hitung2 maka luka yang diderita Han siong Kiejauh lebih parah.
Kesempatan yang sangat baik ini tidak di buang percuma oleh kawanan lainnya, per-tama2 keenam orang imam tua dari partai Kong tong maju lebih dahulu kemuka dan langsung menerjang kedalam gelanggang.
Menyusul mana delapan pendekar pedang dari kota Tong ciu, empat orang Tongcu dari perkumpulan tujuh walet serta belasan orang jago lihay lainnya sama2 berebut masuk kedalam gelanggang.
Dengan ikut sertanya kawanan jago lihay masuk kedalam gelanggang, maka situasi di sekitar tempat itupun semakin bertambah tegang.
Tiba2 manusia serigala bermuka setan bangkit berdiri, matanya yacg tinggal sebelah berputar liar, kemudian bentaknya keras-keras.
"Apa yang hendak kalian lakukan?"
Bentakan itu cukup manjur, seketika itu juga kawanan jago persilatan yang sedang bergerak maju kedepan menghentikan langkah mereka.
Pedang tanpa bayangan Tio cupeng, pemimpin dari Tiong ciu pat kiam segera tampil kedepan seraya berkata dengan suara dalam.
"setiap umat persilatan yang hadir disini berharap untuk membunuh manusia muka dingin, kenapa engkau malahan membantu dirinya?"
"Aku tak ambil perduli mau apa kalian semua, pokoknya sekarang siapa berani mengganggu seujung rambutnya, aku segera akan suruh orang itu mampus dalam keadaan mengerikan"
Ancam manusia serigala bermuka setan dengan tajam.
Ancaman ini sama sekali diluar dugaan siapapun juga, hampir seluruh kawanan jago yang hadir disitu sama2 berdiri tertegun karena tercengang bercampur heran ....
Terdengar manusia serigala bermuka setan melanjutkan kembali kata2nya.
"Pokoknya selembar jiwa kecil orang itu hanya aku seorang yang berhak untuk memutuskan, kalau aku ingin dia hidup terus maka dia akan tetap hidup, sebaliknya kalau aku inginkan dia mampus, siapapun jangan harap bisa menbelai dia "
"oooh ya?"
Ejek Ang Nio cu Tonghong Leng dengan sinis "Kang Tang-hu, aku lihat apa yang kau inginkan tak mungkin bisa terlaksanakan pada saat ini"
Seraya berkata selangkah demi selangkah perempuan tua itu maju kedepan menghampiri sianak muda itu. Manusia serigala bermuka setan jadi mencak-mencak karena kegusaran-kembali teriaknya.
"Ang Nio cu, jadi engkau bersikeras untuk memusuhi aku??"
"Memangnya aku musti jeri kepadamu??"
Sambil tertawa dingin tiada hentinya selangkah demi selangkah dengan gagahnya perempuan baju merah Tonghong Leng maju menghampiri musuhnya.
Han siong Kie sendiri pernah cuci otot berganti tulang disumber air mujarab To meh long swan, kemudian secara beruntun menjumpai pengalaman diluar dugaan yang membuat tenaga dalamnya mencapai dua ratus tahun hasil latihan, meskipun luka dalam yang diderita cukup parah, akan tetapi sama sekali tidak sampai menggoncangkan jantung maupun nadinya.
Karenanya, sekalipun orang tahu kalau dia sudah terluka parah, namun anak muda itu masih tetap berdiri tegak dengan angkernya.
Keampuhan sianak muda itu semakin membulatkan tekad para jago baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang hadir disekitar gelanggang, mereka sadar bila hari ini manusia muka dingin tidak dilenyapkan, maka sukarlah untuk menemukan kesempatan sebaik ini dikemudian hari, apa lagi mengingat ilmu silatnya yang begitu lihay.
Apa mau dikata ditengah gelanggang hadir pula dua orang makhluk aneh yang sudah lama tak pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, dengan kekejian serta kehebatan mereka, kawanan jago silat tersebut tak berani bergerak sembarangan.
Dipihak lain, Han siong Kie sendiripun sedang berpikir didalam hati.
"Kalau ditinjau dari situasi yang terbentang didepan mata saat ini, lebib baik aku cepat2 berlalu dari sini, sebab situasi ini di biarkan lebih jauh niscaya aku sendirilah yang bakal rugi..."
Disamping risau dengan situasi didepan mata, pemuda inipun mencemaskan nasib dari kelima orang tianglonya yang ditugaskan untuk mengebumikan jenasah Mo sam yu sekalian, karena sampai saat itu mereka belum juga munculkan diri, mungkinkah suatu kejadian yang diluar dugaan telah menimpa mereka berlima?
Berpikir sampai disitu, ia segera putar badan dan siap berlalu dari tempat kejadian-Dalam pada itu pedang tanpa bayangan Tio Cupeng telah merampas sebilah pedang dari rekannya, melihat musuhnya mau pergi, dia segera enjotkan badan sambil menerjang kearah Han siong Kie.
Dua orang imam tua dari partai Kong tong juga tak mau membuang kesempatan baik itu, dengan kobaran api dendam yang membara dalam dada mereka, dua orang itu tak sudi membiarkan musuhnya mampus di tangan orang.
Maka begitu menyaksikan pedang tanpa bayangan terjun ke gelanggang, kedua orang imam tua itupun sama2 menerjang ke arah musuhnya.
"Bangsat, manusia tak tahu diri rupanya kalian semua sudah bosan hidup, hardik Ang Nio cu Tonghong Leng marah. Toya rotannya yang hitam pekat segera diayun kedepan membacok tubuh seorang imam tua dari Kong tong pay. Bacokan ini begitu cepat dan keras hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata. Dalam pada itu, manusia serigala bermuka setan telah menerjang pula kearah pedang tanpa bayangan Tio Cupeng. sampai dimanakah kelihayan ilmu silat dari Ang Nio cu Tonghong Leng, rupanya sudah diketahui jelas oleh dua orang imam tua dari partai Kong tong itu, menyaksikan datangnya serangan yang amat dahsyat, mereka tak berani menangkis dengan kekerasan, cepat tubuh mereka menyusut mundur lagi kebelakang. Dipihak lain, ujung pedang yang dilancarkan pedang tanpa bayangan Tio Cupeng sudah hampir menembusi tubuh Han siong Kie, saat itulah manusia serigala bermuka setan telah menerjang tiba secepat sambaran kilat, dengan gugup ia lantas tarik kembali serangannya untuk melindungi diri Gerakan manusia serigala bermuka setan tersebut lebih cepat dari dugaannya, ketika ia menarik kembali senjatanya, Criing"
Pedang itu sudah rontok ke tanah, sementara kelima jari tangan yang tajam bagaikan cakar elang sudah mencengkeram pergelangan tangannya, tangan yang lain menyambar kearahnya.
-000dewi000-BAB 47 BETAPA kagetnya pedang tanpa bayangan Tio Cupeng menghadapi sergapan musuh yang luar biasa itu.
Dipihak lain, ketujuh orang rekannya menjadi panik pula ketika dilihatnya pemimpin mereka mengalami musibah, sambil menghardik mereka bertujuh maju bersama menerjang kearah musuhnya.
suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggema memecahkan kesunyian, dada Pedang tanpa bayangan Tio Cupeng kena di cengkeram bingga robek.
isi perutnya kontan berhamburan diatas lantai menyusul darah segarpun berhamburan bagaikan sumber mata air.
Selesai membinasakan lawannya, Manusia serigala bermuka setan melemparkan mayat korbannya yang berada dalam keadaan mengerikan itu kearah tujuh jagoan yang sedang menerjang datang.
Cepat tujuh orang jago pedang itu menghentikan gerakan mereka, salah seorang diantaranya menyambut mayat yang melayang tiba, sementara enam jago pedang yang lain dengan perasaan dendam yang membara sekali lagi menerjang maju kemuka.
Karena harus menggunakan tenaga kelewat besar, luka dalam yang diderita Manusia serigala bermuka setan menjadi kambuh kembali, tubuhnya mulai gontai dan tak mampu berdiri tegak.
Kebetulan Ang Nio cu Tonghong Leng ada disamping tubuhnya, cepat ia putar toya rotannya dan menyambut terjangan dari keenam orang pendekar pedang itu.
"criing criiiing"
Secara beruntun terjadi beberapa kali benturan nyaring, diantara enam bilah pedang yang menerjang tiba ada tiga bilah diantaranya mencelat dari cekalan dan rontok keatas tanah.
Agaknya keenam orang pendekar pedang itu menyadari bahwa ilmu silat mereka bukan tandingan lawan-gagal dalam sergapan mereka segera mengundurkan diri kebelakang.
Peristiwa berdarah yang baru berlangsung cukup mengerikan setiap jago yang hadir disitu, rata2 mereka merasakan hatinya tercekat dan bulu roma pada bangun berdiri, sepanjang hidup belum pernah mereka saksikan kejadian sekejam ini.
seperti dengan julukannya, Manusia serigala bermuka setan memang seorang jago yang berhati kejam melewati kebrutalan seekor binatang, sehabis merobek2 perut pedang tanpa bayangan Tio Cupeng, ia lantas putar badan mengejar ke arah Han siong Kie.
sambil melesat kearah depan, mulutnya memperdengarkan suara jeritan aneh yang cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengar.
Dasar Han siong Kie memang seorang pemuda berbakat yang punya kecerdasan luar biasa, meskipun waktu yang tersedia baginya hanya sedikit sekali, akan tetapi ia dapat manfaatkan kesempatan yang ada itu untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, beberapa bagian tenaga murninya seketika pulih kembali seperti sedia kala.
Ang Nio cu Tonghong Leng sendiri tidak berpeluk tangan belaka, setelah memukul mundur enam pendekar pedang dari kota Tiong ciu, ia segera ikut menerjang kemuka dan menghalangi jalan pergi dari Manusia serigala bermuka setan serunya.
"Kang Tang hu, jangan kau lukai bocah itu"
"Kenapa?"
Tanya Manusia serigala bermuka setan dengan mata melotot besar.
"sebab aku nenek tua masih membutuhkan tenaganya"
"Membutuhkan tenaganya?"
Ejek Manusia serigala bermuka setan sambil tertawa seram.
"heehhhh... heehhh... heehh... Ang Nio-cu, bukankah engkau tertarik oleh wajahnya yang tampan? sayang engkau lebih pantas menjadi neneknya. Hmm Aku lihat lebih baik janganlah punya pikiran lain-."
"Kentut busuk makmu, jangan coba bicara sembarangan lagi, Hmm Kalau engkau nekad terus, jangan salahkan kalau kuhajar batok kepalamu sampai remuk"
"Heehhh..heehhh..heehhh.. mau mukul remuk kepalaku? Ang Nio cu.. Engkau masih belum mampu melakukan tindakan itu.."
"Memangnya engkau pilih mencoba?"
Tantang Tonghong Leng, nenek berbaju merah itu sambil ayun toya hitamnya ke tengah udara.
Manusia serigala bermuka setan memang seorang manusia yang bengis dan kejam dalam perbuatan, namun dia bukan seorang manusia bodoh yang tanpa perhitungan-Bila dalam keadaan normal, tentu saja Ang Nio-cu masih bukan tandingannya, tapi sekarang ia telah menderita luka dalam yang cukup parah, itu berarti keadaanpun berlainan-Melihat sang nenek baju merah sudah maju menyerang, cepat dia ulapkan tangannya seraya berseru.
"Eeh..tunggu sebentar"
"Bagaimana ? Engkau jeri ??"
"Heeeh heeeh heeeh omong kosong, sejak dilahirkan sampai setua ini aku manusia serigala bermuka setan tak pernah mengenal arti kata takut, aku hendak ajukan satu pertanyaan dulu kepadamu"
"Kalau man kentut, cepat lepaskan kentut baumu itu "
"Engkau sungguh2 hendak membelai bocah keparat itu ? Aku toh bukan berbicara hanya sekali saja, sudah berulang kali kukatakan kalau bocah ini bermanfaat bagiku !"
"Bagaimana kalau tenaga yang dia miliki sudah kau gunakan?'' desak manusia srigala lebih jauh.
"Tentang soal ini ..apa yang kau harap kau?"
Ang Nio-cu balik bertanya.
"Aku harap engkau bersedia menyerahkan kepadaku !"
"Tidak bisa, aku tak dapat serahkan bocah itu kepadamu !"
"Jadi engkau tidak setuju??"
"Benar, setelah kumanfaatkan tenaganya kalau engkau inginkan bocah ini maka silahkan mencarinya sendiri, aku tak sudi serahkan dirinya kepadamu"
Han Siong Kie yang mengikuti pembicaraan tersebut dari samping gelanggang jadi naik pitam, pikirnya .
"Ang Nio cu Tonghong Leog berbuat demi kian karena aku telah lepaskan malaikat hawa dingin Mo Siu ing, dia akan suruh aku tunjukkan kearah mana perginya perempuan itu . Hmm! Apa salahnya kalau kuusir dirinya lebih dabulu kemudian baru menghadapi manusia serigala bermuka setan?"
Berpikir sampai disitu. dia lantas berpaling kearab nenek tua baju merab\h itu lalu menegur .
"Bukankah engkau sedang mencari jejaknya Malaikat bawa dingin..Mo Siu ing..?'' "Benar !"
Nenek tua itu membenarkan.
"Akan kuberitahukan kepadamu, kemana perginya malaikat hawa dingin"
"Engkau tak usah mencoba untuk main gila dihadapanku, aku tak percaya dengan segala macam pengakuanmu, aku hanya percaya jika engkau sudah menghantar sendiri diriku kesitu!"
"Antara aku dengan malaikat hawa dingin sama sekali tidak terikat oleh sengketa atau pun dendam sakit hati, kenapa aku musti menghantar engkau menemui dirinya?!"
Sahut sang pemuda dengan marah.
"Hey bocah, kalau toh engkau tidak punya hubungan apa2 dengan perempuan tersebut, apa sebabnya kau larang orang lain untuk membunuhnya dan mengapa pula kau lepaskan dia pergi?!"
"Aku menaruh simpatik terhadap musibah yang menimpa dirinya, selain itu aku pun paling benci kalau melihat ada orang main kerubut atau main sergap. karena itu aku lepaskan dia pergi"
"Dan karena itu juga kau memberi bantuan kepadanya?"
Sambung sang nenek baju merah dengan gusar.
"Benar"
"Kalau begitu katakan kepadaku, sekarang dia pergi kemana?"
Sementara Han siong Kie hendak memberitahukan kemana perginya malaikat hawa dingin Mo Siu ing, tiba2..
Jeritan kaget diiringi rintihan kesakitan membelah kesunyian diudara, menyusul mana gelombang manusia yang mengurung sekeliling gelanggang sama2 menyisih kearah samping.
Sesosok bayangan manusia, dengan gerakan yang amat cepat dan lincah menyeruak masuk kedalam gelanggang.
Orang itu, ternyata tak lain adalah Malaikat hawa dingin Mo siu ing yang sudah berlalu.
Dengan muka merah karena marah, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya selangkah demi selangkah ia berjalan masuk kedalam gelanggang.
Dimana perempuan iblis itu lewat, delapan sosok mayat menggeletak diatas tanah dengan tubuh hancur barantakan darah bercampur isi benak berhamburan diatas permukaan tanah.
Kemunculan malaikat hawa dingin Mo Siu ing digelanggang pertarungan, benar2 diluar dugaan Han siong Kie, ia heran ketika perempuan itu berlalu dari sana jelas isi perutnya menderita luka yang cukup parah tapi sekarang ia sudah berada dalam keadaan segar bugar, suatu kejadian yang sama sekali tak dimengerti olehnya.
Hanya ada satu hal yang di pahami olehnya, kemunculan malaikat hawa dingin ini sudah pasti untuk membalas dendam atas pengerubutan yang dilakukan kawanan jago persilatan itu belum lama berselang.
Dipihak lain, kawanan jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang hadir di gelanggang diam2 merasa bergidik atas kemunculan iblis perempuan yang ditakuti itu.
Ang Nio cu, nenek tua berbaju merah itu mengikik tertawa dengan kerasnya, suaranya tajam persis leperti jeritan kuntilanak, sambil menutul permukaan tanah dengan toya rotannya dia maju delapan depa ke arah depan, kemudian sambil menuding ke arah Malaikat hawa dingin Mo Siu-ing serunya .
"Malaikat hawa dingin, sungguh tak kusangka engkau akan masuk perangkap sendiri. bagus-bagus, dengan begitu, aku nenek tuapun tak usah repot2 mencari jejakmu!"
Agak tertegun Malaikat hawa dingin mendengar teguran tersebut, kemudiann ia tertawa cekikikan.
"Aku mengira siapa yang sedang kuhadapi, eeh.. tak tahunva adalah Ang Nio cu! Ada urusan apa engkau datang mencari aku?!"
"Lonte busuk, engkau tak usah berlagak bodoh dihadapan aku nenek tua."
Paras muka Malaikat bawa dingin Mo Siu ing berubah hebat, makian lonte! itu sangat menyinggung perasaannya, ia mendengus dingin.
"Hmm! Ang Nio cu. kalau engkau ada urusan hayo katakan saja secara blak-blakan, tapi jangan main caci maki dengan kata2 kotor semacam itu"
"Apa salahnya dua orang muridku yang sedang mencari bahan obat2an dibukit Keng san, Mengapa kau bunuh mereka berdua??"
"Hiiih hiiih hiiih lucu amat pertanyaanmu itu Ang Nio cu, engkau toh tahu aku malaikat hawa dingin membunuh orang karena berdasarkan rasa senang, perduli amat ada alasan atau tidak..."
Han siong Kie yang ikut mendengar pembicaraan tersebut, diam2 mengerutkan dahinya. Ang Nio cu semakin naik darah, teriaknya dengan penuh kegusaran.
"Perempuan rendah, engkau berani mencari gara2 dengan aku nenek tua??"
"Memangnya kenapa? "
Ejek Im sat.
"Keparat, kubacok tubuhmu jadi berkeping-keping."
"Huuh Kalau cuma andalkan kekuatanmu itu, aku rasa lebih baik cepatlah pulang kandang dari pada mencari mati buat diri sendiri"
"Kurang ajar...
engkau menghina aku?
Baik, akan kusuruh kau saksikan sendiri kalau aku bukan tempe busuk yang sama sekali tak ada gunanya.
Berbareng dengan seruan tersebut, dia maju sambil menyerang, toya rotannya berputar kencang langsung membabat keatas tubuh maaikat hawa dingin.
Mo Siu ing, perempuan iblis itu mengejek dingin bukan mengegos dari serangan lawan ia malah maju memapaki dengan ayunan telapak tangannya.
Suatu pertarungan sengit segera berkobar ditengah gelanggang, kedua belah pihak sama2 terhitung sebagai seorang jagoan yang lihay dikolong langit disatu pihak orang menganggapnya sebagai perempuan iblis yang membunuh orang tanpa berkedip, dipihak lain orang anggap sebagai makhluk aneh yang susah dilayani, begitu terjadi pertarungan sengit, keadaannya benarZ mengenkan sekali..
Manusia serigala bermuka setan yang ada disisi gelanggang mendadak menyeringai seram sambil mendekati Han Siong Kie dia menghardik .
"Hey bocah keparat, serahkan jiwa anjingmul"
Ia menerjang kedepan sambil menyerang, sepasang telapak tangannya disertai dengan desiran angin pukulan yang maha dahsyat langsung menerjang ketubuh Han Siong Kie Rupanya dalam pukulan yang maha dahsyat ini, Manusia serigala bermuka setan telah salurkan segenap kemampuan yang di miliki, dia berhasrat uoiuk menghancurkan kehidupan musuhnya dalam serangan itu juga, dengan begitu sakit hati yang di dendamnya selama hampir empat puluh tahun dapat terlampiaskan, Ketegangan mencekam seluruh gelanggang, hawa pembunuhan yang ber lapis2 mulai menyelimuti setiap benak jago persilatan yang nadir disana..
Dengan kemampuan yang dimiliki Han Siong Kie.
sebenarnya manusia serigala bermuka setan bukan tandingannya, tapi sayang ia terluka oleh sergapan Jit yan pang cu dengan senjata rahasia Jit sat sin-bong nya yang amat beracun hingga berulang kali harus menelan kegetiran ditangan lawan.
Sekalipun banyak kesempatan baik telah dimanfaatkan untuk pulihkan kembali kekuatan dalam tubuhnya, itupun baru lima bagian hawa saktinya yang dapat dihimpun kembali.
Sekalipun pemuda itu tahu dalam keadaan sepeiti itu tak mungkin ia mampu menandingi musuhnya, tapi dengan wataknya yang angkuh dan tinggi hati, ia tetap nekad untuk maju kedepan.
Sepasang telapak tangannya diayun kedepan disertai hawa murni sebesar lima bagian ia sambut datangnya ancaman dari manusia serigala bermuka setan dengan keras lawan keras.
"Blaammm.."
Suatu benturan nyaring yang menggelegar diangkasa terjadi ditengah gelanggang, menyusul teriakan tertahan menggema diudara.
secara beruntun manusia serigala bermuka setan mundur tiga langkah kebelakang, dadanya terluka oleh bidikan ilmu jari Tong kim ci, darah segar mengucur keluar membasahi tubuhnya, muka yang jelek berkerut kencang namun akhirnya ia roboh terduduk diatas tanah.
Han siong Kie sendiripan tidak memperoleh keuntungan apa2, ia muntah darah, tubuhnya terguling sejauh satu kaki lebih dari kedudukan semula.
Dipibak lain, Malaikat hawa dingin Mo siu ing telah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit melawah Ang Nio cu sebentar mereka saling menyergap dengan gerakan cepat sebentar kemudian saling menyerang dengan lambat, semua pukulan dan serangan dilakukan dengan jurus-jurus serangan yang aneh tapi ganas, gulungan angin puyuh men-deru2 menyapu wilayah seluas beberapa kaki, hampir saja membuat kawanan jago yang berada disekitar tempat itu tak sanggup berdiri tegak.
Enam imam tua dari partai Kong tong yang semenjak tadi siap siaga, segera maju kedepan dengan cepatnya, mereka tak mau sia-siakan kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja, serentak pukulan2 mematikan diarahkan keatas tubuh Han siong Kie.
Kawanan jago dari perkumpulan tujuh walet tidak menyia2kan pula kesempatan tersebut, dengan api dendam yang membara hampir bersamaan waktunya dengan sergapan dari enam imam tua tersebut, mereka ikut menyergap tubuh Han siong Kie.
sebaliknya tujuh pendekar pedang dari kota Tiong-ciu langsung menubruk kearah Manusia serigala bermuka setan, sejak pemimpin mereka mampus ditangan makhluk aneh ini, rasa dendam mereka telah dialihkan ke atas tubuh iblis tersebut.
Kesempatan baik yang terbentang didepan mata tidak di sia-siakan dengan begitu saja, diantara kilatan cahaya pedang, tujuh bilah senjata serentak menyerbu keatas tubuh Manusia serigala yang sedang duduk dengan napas terengah2.
Ketegangan semakin mencekam seluruh gelanggang, suasana jadi gempar dan ratusan pasang mata sama2 ditujukan ketengah galanggang dimana sedang berlangsung tiga partai pertarungan-Enam imam tua dari partai Keng tong sementara itu sudah berada didepan Han siong Kie, angin pukulan mereka yang dahsyat serentak menggabung jadi satu menghajar keatas tubuh lawan-Keadaan jadi kritis, bila pukulan itu sampai bersarang telak ditubuh anak muda itu, niscaya tamatlah riwayatnya.
Untung disaat yang terakhir, sesosok bayangau kecil melintas masuk kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tujuan orang itu langsung mengebaskan ujung bajunya ke depansegulung angin cukulan yang keras dan kencang langsung menggulung keatas tubuh enam imam dari partai Keng tong itu.
Termakan gelombang angin pukulan yang amat santar itu, keenam tosu tua tersebut kontan tergetar keras sampai mencelat kebelakang, kebetulan tubuh mereka menumbuk diatas tubuh kawanan jago dari perkumpulan Jit yen pang yang sedang menerjang kemuka, tumbukan membuat suasana jadi gaduh, semua orang pada roboh terpelanting dan saling menindih.
Jerit kaget menggema dari empatpenjuru Agaknya peristiwa tersebut sama sekali berada diluar dugaan mereka.
seorang gadis yang cantik rupawan berdiri tegak disisi Han siong Kie, mukanya diliputi oleh hawa pembunuhan yang tebal, jangan dilihat mukanya yang lembut, ternyata cukup memancarkan wibawa yang membuat orang lain tak berani memandang sembarangan kepadanya.
seorang dara berusia belasan tahun ternyata dalam sekali kebutan berhasil melempar ke enam jago persilatan kelas satu kebelakang, hampir saja semua orang tidak percaya dengan apa yang dilihat.
Tiba2 terdengar jerit ngeri yang memilukan hati menggema diangkasa dan memecahkan kesunyian.
Kawanan jago sama2 alihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah dua diantara tujuh pendekar pedang dari kota Tiong-ciu telah dicengkeram oleh Manusia serigala bermuka setan sehingga dadanya terbelah dan isi perutnya berhamburan di mana2, percikan darah segar menambah seramnya suasana dalam gelanggang pertarungan.
Sinar mata bengis memancar keluar dari mata tunggal manusia serigala bermuka setan, tangannya penuh berlepotan darah segar, sementara tubuhnya gontai sudah tak sanggup berdiri tegak.
Dengan mampusnya dua orang jago itu, maka dari delapan pendekar pedang, kini masih sisa lima orang belaka.
Kobaran api dendam makin membakar hati mereka, apalagi setelah tiga orang rekannya mati ditangan seorang musuh yang sama, lima orang itu jadi nekad, serentak mereka membentak nyaring dan menerjang kembali kearah makhluk aneh itu dengan sengit.
Suatu pertarungan sengit kembali berkobar..
Dengan berlangsungnya pertarungah sengit itu, luka dalam yang diderita Manusia serigala bermuka setan makin bertambah parah tapi dengan kesempurnaan tenaga murninya ia masih mampu bertahan, ia belum kelihatan ngotot untuk melayani serangan2 gencar dari kelima orang pendekar pedang itu, walaupun ia sudah tak mampu melukai musuhnya lagi, tapi serangan2 gencar dari lima buah pedang itupun jangan harap mampu melukai tubuhnya.
Dipihak lain, enam imam tua dari Partai Kong tong telah berhasil bangkit berdiri, Kui Goan-cu segera tampil kemuka dan menyapa.
"Buliang siu bud Nona, boleh aku tanya siapa namamu?"
"siau li bernama Go siau Bi"
Kiranya gadis cantik rupawan yang munculkan diri tepat disaat yang kritis ini tak lain tak bukan adalah Go siau bi, dara cantik yang berhasil diselamatkan jiwanya oleh Han siong Kie dari tangan kawanan perkumpulan Thian che kau, kemudian dibawa pergi oleh kakeknya Pat lo sianseng.
Dengan sorot mata tajam Kui Goan cu menatap wajah dara itu tanpa berkedip.
kemudian tanyanya lagi.
"Nona, boleh aku tahu engkau berasal dari perguruan mana dan murid siapa?"
Go siau bi tertawa rawan.
"Tentang soal ini, lebih baik totiang tak usah banyak bertanya""
Sahutnya singkat. Kui Goan cu termenung sebentar, lalu kembali dia bertanya.
"Apa hubungan nona dengan manusia muka dingin? Apakah kami juga boleh ikut tahu?.."
"Kami adalah sahabat"
"Dan nona sudah tahu, apa sebabnya pinto sekalian bergebrak melawan bocah muda itu??"
"Aku tak mau tahu apa sebabnya"
Jawab Go siau bi ketus.
"yang jelas totiang sekalian sebagai seorang jago dari perguruan kenamaan tidak pantas main kerubut atas diri seorang bocah yang masih muda dan lagi pada saat ini dia sudah kehilangan daya untuk bertempur ....Hmm Jika perbuatan ini kalian teruskan, tidakkah malu kalau sampai ditertawakan oleh umat persilatan? "
Merah padam selembar wajah Kui Goancu karena jengah, ia tak mampu menjawab dan hanya bisa berdiri melongo.
salah seorang diantara lima imam tua yang berada dibelakangnya segera tampil ke muka dan berseru.
"Lenyapkan iblis demi ditegaknya keadilan dan kebenaran dunia persilatan, apa salahnya kalau kami main kerubut? Memangnya membunuh kaum iblis adalah suatlu tindakan yang keliru?"
Sepasang alis mata Go siau Bi mengernyit kencang sehabis mendengar perkataan itu, ia tertawa dingin dan mengejek.
"Heehh.. heehh.. heehh apa katamu? Lenyapkan iblis demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran? Huuh.. omong kosong, alasan yang sengaja dibuat2 demi kepentingan pribadi, pokoknya kalau ini hari kalian berani mengganggu seujung rambutnya. Hmm."
"Engkau mau apa?"
"Nonamu akan suruh kalian mampus di atas genangan darah segar"
Ucapan itu terasa sebagai suatu penghinaan bagi pendengaran keenam orang imam tua itu, paras muka mereka kontan berubah hebat.
Tiba2 empat belas orang jago dari perkumpulan tujuh walet menerjang maju kedepan.
Go siau Bi mendengus sinis, disapunya sekejap keempat belas orang jago itu dengan pandangan dingin, kemudian tegurnya.
"Hey, apa yang hendak kalian lakukan??"
"Hutang darah atas kematian lopangcu kami yang terdahulu belum sempat ditagih, pangcu kami yang baru ikut mati diujung telapak tangannya, apalagi yang hendak kami lakukan? sudah tentu mencincang tubuhnya menjadi berkeping2 untuk melampiaskan rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada kami"
Jawaban ini diberikan oleh seorang kakek berjenggot pendek. agaknya dia baru saja di angkat sebagai pemimpin baru dari keempat belas jago perkumpulan tujuh walet. Go siau Bi menatap hina.
"Hmm Untuk kematian pangcu kalian tempo hari, bukankah manusia muka dingin telah memberi penjelasan yang cukup terang. Apalagi yang hendak kalian ributkan? Mengenai kematian dari pangcu kalian yang baru. ..Hmm dia kelewat bejad moralnya, bukan saja jiwanya pengecut dan kerdil, beraninya cuma menyergap orang dengan senjata rahasia beracun.. manusia macam begitu memang sudah sepantasnya kalau di ganjar dengan hukuman mati..."
Paras muka keempat belas orang jago dari perkumpulan tujuh walet kembali berubah hebat, mereka merasa tersinggung perasaannya.
Kakek tua yang bertindak sebagai pemimpin itu mendengus dingin, ia tak ambil perduli atas peringatan orang, tiba2 sambil enjotkan badan tubuhnya menerjang kedepan dan telapak tangannya langsung diayun kedepan membacok tubuh Han siong Kle.
"Bangsat, rupanya kau memang sudah bosan hidup"
Hardik Go siau Bi dengan marah.
Ujung bajunya dikebutkan berulang kali kedepan, hembusan angin tajam langsung meluncur keatas dada kakek tua itu...
Ia menjerit kesakitan, sambil muntah darah segar tubuhnya mencelat balik kebelakang.
Tiga belas orang jago lainnya jadi amat gusar, serentak mereka membentak keras, kemudian menerjang kemuka dengan hebatnya.
Go siau Bi ayunkan telapak tangannya berulang kali, segulung desiran angin tajam menghembus lewat, gulung demi gulung meluncur secara bergelombang membuat angin pukulan yang dilancarkan ketiga belas orang jago lihay itu terpental balik, dengan sendirinya orang2 itu sendiripun mencelat pula kebelakang.
Enam tosu tua dari partai Kong-tong memang pandai memanfaatkan kesempatan yang ada, saat itulah mereka menyergap maju dan lepaskan pukulan gencar ketubuh Go siau Bi.
Merasa dirinya disergap.
dara cantik itu membentak keras, ujung bajunya dikebutkan secara menyilang, enam gulung angin pukulan yang sedang meluncur tiba seketika tersapu lenyap hingga sama sekali tak berbekas dari pandangan mata.
Rupanya keenam orang imam itu tak pemah menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki dara muda itu mencapai puncak kesempurnaan, merasakan ancamannya dipukul lenyap.
mereka jadi terperanjat hingga peluh dingin membasahi tubuhnya.
Dipihak lain pertarungan yang sedang berlangsung antara malaikat hawa dingin Mo siu ing melawan perempuan baju merah Tonghong Leng masih berlangsung dengan serunya, kekuatan mereka boleh dikata seimbang, untuk sementara sulit untuk membuktikan siapa yang lebih unggul diantara mereka berdua.
Pertarungan yang berlangsung antara lima pendekar pedang dari kota Tiong ciu melawan manusia serigala bermuka setan bertahan pula dalam keadaan seimbang, tentu saja hal ini disebabkan karena makhluk aneh tersebut telah menderita luka dalam yang cukup parah, andaikata ia masih segar bugar, jalannya cerita pasti lain.
Dan tak usah diragukan lagi, kelima pendekar pedang itu sudah pasti telah keok sedari tadi.
Beratus2 pasang mata dari umat persilatan tertuju semua ketengah gelanggang, mereka dibuat terkesima sebab sudah puluhan tahun lamanya belum pernah terjadi pertarungan yang begitu seru dalam persilatan.
Diam2 Go siau Bi melirik sekejap kearah Han siong Kie yang berbaring dalam keadaan tak sadar, perasaan hatinya bercampur aduk tak karuan, ia tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya pada saat itu.
Ia mencintai pemuda itu, demi kekasihnya ia rela mengorbankan segala sesuatu, tapi dikala Put-lo sianseng mengajukan pinangan baginya, pemuda itu menolak secara mentah-mentah, karena penasaran ia ingin membinasakan pemuda itu, tapi sekarang ....
bukannya membunuh, dia malah menyelamatkan jiwanya.
Mengapa bisa begitu?
Ia sendiripun tak mampu menjawab pertanyaan tadi, mungkin hal ini disebabkan bibit cintanya yang belum padam ....
Lama sekali dara itu berdiri ter mangu2, akhirnya ia berjongkok dan masukkan sebutir pil kedalam mulutnya.
kemudian menguruti jalan darah diatas tubuh pemuda itu.
"Nona, apa yang hendak kau lakukan?"
Tiba2 Kui Goan cu menegur dengan suara dalam.
"Aku hendak membawa ia pergi dari sini"
"Untuk membawa ia pergi dari sini ?"
Imam tua itu mengejek.
"Kenapa Kalian berapa orang hidung kerbau hendak menghalangi niatku ini? HHmm... kepandaian silat kalian semua masih belum becus ..lebih baik tak usahlah mencari penyakit buat diri sendiri "
Sekali lagi paras muka keenam orang imam tua itu berubah hebat, dengan marah Kui Goan-cu berseru.
"Nona, jangan ngomong seenaknya Hmm bukan kami saja yang dagang kemari karena dirinya, coba kau lihat Hampir sebagian besar orang2 yang hadir saat ini adalah disebabkan karena dia "
"Bagus.. bagus sekali"
Seru Go siau Bi sambil tertawa dingin.
"siapa yang keberatan dengan tindakanku ini. silahkan tampil kedepan untuk adu kepandaian dengan diriku"
"Nona, sudah kaupikirkan masak2 dengan perbuatanmu itu?"
"Tentu saja "
"Engkau tidak akan menyesal??"
"Kenapa aku mesti menyesal ? Tidak pernah-pernah kusesali semua perbuatan yang telah kulakukan!"
Menyaksikan kebulatan tekad dara itu. Kui Goan-cu berpaling kearah lima orang imam tua yang berada dibelakangnya, lalu berkata dengan muka serius .
"Hayo kita atur barisan lak-hap-kiam-tin"
Lima orang imam tua yang lain segera mengiyakan, mereka cabut keluar pedang yang tersoren dipunggung kemudian saling menyebar dengan cepatnya, dalam waktu singkat sebuah barisan pedang kokoh sudah diatur, sasarannya adalah Go Siau Bi dara cantik itu.
Barisan pedang Lak-hap-kiam tin merupakan suatu kepandaian ampuh dari perguruan Kong-tong-pay.
bukan saja dahsyat dalam serangan, barisan itu paling cocok kalau digunakan untuk menghadapi seorang musuh tangguh yang berilmu tinggi.
Dengan pandangan dingin Go Siau Bi menyapu sekejap keenam musuhnya nu, kemudian mengejek..
"Jadi Kalian hendak mengandaikan permainan tersebut untuk mengurung nonamu??"
"Bila nona tahu diri segeralah menarik diri dari pertikaiaan ini, pinto sekalian tak akan menggarggu dirimu lagi"
Sahut Kui Goan-cu dengan lantang. Go Siau bi menengadah dan tertawa mengikik.
"Hiihh... hhhhh hiiihhh.. hidung2 kerbau! Sekali lagi nona peringatkan dirimu, kalau ingin melindungi jiwa tuamu, maka sekarang masih belum terlambat, kalau kalian tetap berkeras kepala. ..Hmm! Semua resiko tanggung sendiril"
"Baiklah nona, engkau sendiri yang tetap keras kepala, kalau begitu jangan salah kan kalau pinto sekalian akan menyalahi dirimu"
"Kalian tak usah banyak bicara lagi. ada kepandaian keluarkan semua, akan kulihat sampai dimanakah kemampuan yang kalian miliki.."
Kui Goan cu habis sabarnya, ia mendengus dingin lalu membentak.
"Serbu... ."
Enam orang imam tua itu mulai berputar mengelilingi gelanggang, perputaran itu kian lama kian bertambah cepat sehingga akhirnya ibarat putaran gasingan.
Go Siau bi sama sekali tidak melayani perputaran lawan, dia tetap berjaga disisi Han siong Kie, setengah langkahpun ia tidak bergeser, tubuhnya tegap ibarat batu karang, sedikitpun tidak bergeming oleh pengaruh lawan..
Mendadak Kui Goan cu membentak keras, sebuah tusukan kilat dilontarkan kemuka..
Go siau Bi mengayun pula telapak tangannya untuk menabok ujung pedang lawan, siapa tahu baru saja ia bergerak, cahaya kilat yang menyilaukan mata telah tersebar di angkasa, lima bilah pedang yang lain serentak menggeletar diudara kosong.
Selapis hawa pedang yang tajam, bagaikan pusaran air kencang menggulung ketengah lingkaran, bukan saja memunahkan pukulan yang dilancarkan dara itu, malahan mengisap tubuhnya sehingga tanpa disadari ia ikut terbawa maju beberapa langkah kemuka.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati gadis itu, cepat ia pusatkan perhatiannya untuk melayani serangan musuh dengan lebih seksama.
Perputaran barisan pedang itu semakin kencang dan gencar, enam bilah pedang di tangan keenam orang imam tua itu bergetar kian kemari menciptakan serentetan desiran angin tajam yang memekikan telinga, hawa pedang bergolak ditengah lingkaran terjangan2 serta hawa tekananpun kian lama kian bertambah kuat.
Sekarang Go siau Bi baru menyadari kalau apa yang dihadapi tidak segampang apa yang dibayangkan, ditengah terjangan dan tekanan yang makin santar ia merasa kuda2 nya mulai goyah, tubuhnya tak mampu berdiri tegak lagi, sementara hawa pedang yang dingin mulai terasa seperti menyayat2 badan.
Cepat dia pusatkan seluruh perhatiannya jadi satu titik, sebuah pukulan dahsyat yang menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian dilontarkan kearah depan-Siapa tahu...
ketika pukulan yang maha dahsyat itu tergulung kedalam pusaran hawa serangan yang amat santar itu, tiba2 lenyap tak berbekas, tak ubahnya dengan sebiji batu kerikil dibuang ketengah samudra yang luas, benar2 lenyap tak berbekas, hal ini menggelisahkan hati dara tersebut.
"Aku tak percaya dengan segala permainan setan"
pikirnya.
"Aku tak percaya kalau seranganku bisa lenyap dengan begitu saja tanpa berbekas.."
Secara beruntun dia lancarkan kembali belasan pukulan berantai, tapi semua pukulan itu tetap menghilang dengan begitu saja tanpa mendatangkan hasil apa-apa.
Go siau bi makin terperanjat, sebelum sempat berbuat sesuatu, putaran yang di lancarkan musuh semakin mengencang, serangan-serangan yang dilancarkanpun makin menggila, dia yang terkepung ditengah gelanggang mulai sesak napas dan terengah2, keselamatan jiwanya semakin terancam.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, tiba2 dara itu membentak keras.
"Hei hidung kerbau, kalau tahu diri hayo cepat buyarkan barisan serangan2 mematikan"
"Boleh saja kalau nona menginginkan kami bubarkan barisan, tapi dengan syarat nona tak akan mencampuri urusan ini"
Jawab Kui Goan cu dengan nada berat.
"Hmm! Enak benar kalau bicara, kalau aku tetap ngotot untuk mencampuri urusan ini, kau mau apa??"
Kami hanya anjurkan kepada nona untuk undurkan diri dari pertikaian ini, kalau toh engkau tetap keras kepala, yaa apa boleh buat lagi? Terpaksa kami akan tetap main keras "
"Heehhh.. heehhh... heeehhh bagus, bagus rupanya kalian memang tidak menyesal kalau harus menanggung resiko, baik, kalau ada yang mampus jangan salahkan aku berhati kejam, toh sebelumnya telah kuterangkan lebih dahulu"
"Keluarkan saja semua kepandaianmu nona, kami tak akan menyesal"
Jawab Kui Goan cu, Tiba2 bentaknya keras.
"Rubah posisi barisan"
Hawa pedang yang berpusing kencang tiba-tiba menggelombang, bagaikan pukulan2 ombak yang menghantam dermaga, selapis demi selapis hawa pedang meluncur datang dan menyayat badan.
Go siau bi teramat gusar, diapun menghardik.
"Hidung kerbau sialan, jangan salahkan kalau nonamu terpaksa bertindak kejam" -00dw000kz00-Bab 48 DITENGAH bentakan nyaring, telapak tarigannya diangkat keatas lalu perlahan-lahan didorong kemuka dengan sejajar dada. Selapis hawa pukulan berwarra hijau muda memancar keluar mengikuti dorongan telapak tangan itu, mengikuti suatu ledakan keras yang memekakkan telinga terdengar jerit kesakitan memecahkan keheningan, Dua sosok bayangan manusia mencelat ke belakang dan toboh terkapar, sementara empat orang imam tua yang lain terdorong mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, senjata merela terlepas semua dari genggaman. Dalam sekali genjotan, barisan Lak hap-kiam tin yang paling di bangga2kan perguruan Kong tong pay telah hancur dan porak poranda, kekalahan yang derita kawanan imam itu terhitung mengenaskan sekali. Jeritan kaget berkumandang dari luar gelanggang, ratusan jago persilatan pada berdiri tertegun dengan mata terbelalak Lebar Paras muka Kui Goan cu berubah jadi pucat keabu-abuan dengan bibi2 gemetar ia bergumam sendiri.
"Ilmu pukulan Thian tok Ciang hoat.... ilmu pukulan Thian tok ciang hoat tak ku sangka benar2 tak kusangka.. ."
"Hey hidurg kerbau, ucapanmu memang tepat sekali! Tampaknya pengetahuanmu luas juga!"
Sambung Go Siau bi dengan muka dingin.
Suasana diluar gelanggang kembali jadi gempar.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya ilmu pukulan Thian tok siang hoat yang maha dahsyat itu tercantum dalam se
Jilid kitab pusaka Thian tok pik liok tak seorangpun diantara para jago pernah merasakan kehebatan ilmu pukulan itu, demikian pula dengan Kui Goan cu, ia bergumam hanya berdasarkan rabaan sendiri, siapa tahu apa yang ia duga ternyata memang benar.
Kitab pusaka Thian tok pik liok diperoleh leluhur Go Siau bi yang bernama Hay gwa kiam-khek (jago pedang dari luar lautan) Go Co beng diatas sebuah pulau kosong yang tak berpenghuni, ketika berita itu tersiar luas kedalam dunia persilatan, suasana jadi gempar dan banyak jago lihay yang berdatangan untuk memperebutkan kitab pusaka itu.
Begitu ramai dan gentingnya situasi waktu itu sehingga akhirnya Put lo sianseng harus turun ke gelanggang untuk meredakan suasana.
Ayah Go siau Bi yakni ketua perkumpulan Pat gi pang Go Yu too justru mati dibunuh oleh kawanan perkumpulan Thian che kau lantaran kitab pusaka tersebut.
Dalam pada itu, Kui Goan-cu telah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia bertanya.
"Apakah engkau adalah keturunan dari ketua perkumpulau Pat gi pang??"
Mendengar nama ayahnya diungkap. api kebencian memancar keluar dari balik mata Go siau Bi sambil menggigit bibir dia menyahut.
"Benar, dia adalah ayahku"
Dipibak lain, pertarungan sengit antara malaikat hawa dingin Mo siu-ing dengan perempuan baju merah Tonghong Leng masih berlangsung tiada hentinya, tapi keadaan diantara mereka berdua sudah rada payah, lama sekali mereka baru saling menyerang satu gebrakan, kalau di lihat dari keadaan tersebut jelaslah sudah kalau mereka berdua bakal terluka parah dan akhirnya mati.
sementara manusia serigala bermuka setan, entah sedari kapan telah lenyap dari tempat pertarungan.
Diatas tanah menggeletak tujuh sosok mayat yang berada dalam keadaan mengerikan, perut mereka ter-koyak2, isi perutnya berhamburan di itulah mayat dari ketujuh orang pendekar pedang kota Tiong ciu, dari kemampuan manusia serigala bermuka setan yang masih sanggup memusnahkan musuhnya walaupun dia dalam keadaan terluka parah, bisa dibayangkan betapa sesungguhnya jago aneh tersebut.
Han siong Kie sendiri setelah makan obat yang diberi oleh Go siau Bi, per lahan2 sadar kembali dari pingsannya..
Ia segera bangkit berdiri dan berusaha untuk berdiri dengan kekuatan sendiri Pandangan matanya waktu itu masih kabur, namun ia paksakan diri untuk menyapu sekejap sekeliling gelanggang, tatkala ia menjumpai Go siau Bi berdiri disisinya, sadarlah pemuda itu akan apa yang telah terjadi.
Perasaan hatinya tergetar keras, rasa menyesal timbul dalam benaknya, ia jadi teringat kembali akan penampikannya untuk dinikahkan dengan dara cantik itu.
Go siau Bi sendiri dengan muka murung melirik sekejap pula kearah Han siong Kie, kemudian ia melengos kearah lain.
Kerlingannya yang amat dingin itu menggetarkan sekujur badan Han siong Kie, ia merasakan sesuatu yang aneh, suatu perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
sementara itu semua perhatian ratusan jago persilatan yang ada disekeliling gelanggang sama2 ditujukan keatas tubuh pemuda itu.
Dengan rasa menyesal Han siong Kie menjura kearah dara cantik itu, lalu ujarnya.
"Nona, banyak terima kasih atas bantuanmu, untuk kesekian kalinya aku telah berhutang budi kepadamu"
Go siau Bi sama sekali tidak berpaling, se-olah2 dara itu takut kalau sampai beradu pandangan dengan pemuda itu. Ketika mendengar perkataan lawan, dia menjawab dengan ketus.
"Engkau telah selamatkan jiwaku ketika masih ada diwilayah Lian huan tau, sudah sewajarnya kalau kutolong pula jiwamu, sekarang kita sudah impas, siapapun tidak berhutang"
"Bukan begitu maksudku nona"
Seru Han sion Kie cepat.
"bagaimanapun juga budi kebaikan dari nona tak akas kulupakan untuk selamanya, baiklah... untuk sementara waktu aku mohon diri lebih dahulu"
Berbicara sampai disitu ia lantas putar badan dan berlalu dari tempat itu..
Kehambaran dan keketusan sikap Han Siong Kie amat menusuk perasaan hati dara cantik itu ia merasa amat sedih, apalagi melihat pemuda itu bermaksud pergi dari situ, dengan gemas hardiknya.
"Han siong Kie, jangan pergi dulu"
Terpaksa Han siong Kie batalkan perjalanannya dan berpaling.
"Apa yang hendak nona katakan?"
"Baru saja engkau sembuh dari luka parah. percayakah engkau bisa lolos dan sini"
Tanya Go Siau Bi sambil menggigit bibir menahan pergolakan emosi.
Dengan pandangan dingin sianak muda itu menyapu sekejap kearah kawanan jago lihay yang sedang mengawasi gerak geriknya untuk sesaat ia berdiri tertegun, tapi keangkuhan membuat ia menjawab dengan ketus .
"Nona tak usah menguatirkan tentang soal ini...aku percaya masih mampu berlalu dari sini dalam keadaan selamat!"
Betapa sedihnya hati Go Siau Bi melibat kekerasan hati pemuda iiu, tanpa sadar matanya jadi merah, hampir saja air matanya jatuh berlinang.
"Kau...kau..." ' Ia tak mampu melanjutkan kata2 tersebut akhirnya tak kuasa lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Han Siong Kie tidak menunjukkan sesuatu reaksi, hanya dalam hati dia berpikir .
"Selama hidup aku tak akan mencintai perempuan macam apapun...aaahh, tidak kecuali Tonghong Hui. hanya dia yang kucintai...sayang..aaai.. ia telah pergi..pergi entah kemana"
Dalam keadaan seperti ini dia tak ingin melanjutkan pertarungan dengan jago2 persilatan itu.
sebab luka dalam yang dideritanya cukup parah, lagipula diapun tak ingin menambah jumlah korban yang mampus akibat kejadian tersebut.
Selain itu diapun menguatirkan keselamat an dari kelima orang tianglonya, maka dari itu buru2 pemuda ini ingin berlalu dari sana.
Agak lama Go Siau Bi termenung, akhirnya ia membentak dengan suara nyaring .
"Han Siong Kie ! EagKau telah menghina diriku, aku akan membuat perhitungan dengan kau !"
"Menghina?"
Ucap sang pemuda dengan wajah tertegun "kapan aku pernah menghina dirimu?"
"Dalam hati engkau toh mengetahui dengan jelas !"
"Nona, aku benar2 tak tahu bagaimana aku bisa menghina nona??"
Air mata semakin deras membasahi pipi Go Siau Bi, akhirnya ia tundukkan kepala nya rendah2.
Sebenarnya dia hendak menegur apa sebabnya pinangan kakeknya dia tolak, padahal dalam pertolongan yang diberikan pemuda itu sebanyak dua kali, tubuh mereka sudah saling bergesek dan bagian tubuhnya yang tertentu telah diraba pula oleh sianak muda itu.
Tentu saja sebagai seorang gadis yang masih perawan, ia tak sanggup mengemukakan kata2 itu.
Bayangan tubuh perempuan yang lain melintas dalam benaknya, itulah bayangan tubuh dari Tonghong-Hui.
"Aaah benar, setelah ada dia, mana mungkin pemuda itu bersedia mencintai dirinya?"
Tapi.
..relakah hatinya melepaskan pemuda itu dengan begitu saja?
Tidak...
sekali lagi tidak.
kalau toh tiada harapan menjadi miliknya, ia tak akan membiarkan pemuda itu terjatuh kedalam pelukan orang lainsuatu ingatan yang menakutkan terlintas dalam benaknya.
"Haruskah kubunuh perempuan itu? Haruskah kulakukan hal itu demi kebahagiaan pribadiku? Agar pemuda itu terjatuh ketanganku?"
Begitulah cinta..
cinta muda mudi, suatu kejadian yang bisa mendatangkan kebahagiaan tapi dapat pula mendatangkan bencana..
Walaupun Go siau Bi adalah seorang gadis yang halus budi, tapi karena pengaruh cinta, ia telah berubah..
Hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, dia jadi meringis dan tampak menyeramkan..
"Han siong Kie, engkau akan kubunuh?"
Jeritnya.
"Kenapa..??"
Tanya Han siong Kie dengan hati tercekat, tanpa sadar ia mundur satu langkah kebelakang.
"sebab engkau telah menghina aku, menganiaya aku, maka engkau harus kubunuh.."
"Nona, katakanlah alasanmu yang sejujur2nya, kalau aku memang pernah menghina engkau atau menganiaya dirimu, aku bersumpah tak akan melawan, akan kubiarkan nona turun tangan sekehendak hatimu"
"Dalam hati engkau jauh lebih jelas, kenapa musti ditanyakan lagi..?"
Seru Go siau Bi meringis seram.
"Aku tidak memahami"
"Baik, kalau engkau belum paham, inilah yang akan membuat kau jadi paham"
Seraya berkata telapak tangannya diayun kemuka, segulung angin pukulan yang amat santar langsung menggulung kedepan.
"Duuukk"
Dengan telak pukulan itu bersarang di atas dada lawan.
Diiringi jerit tertahan karena kesakitan tubuh Han siong Kie mencelat sejauh satu kaki dari tempat semula, darah segar muntah keluar dari mulutnya, tapi ia tetap berdiri dengan sempoyongan, mukanya yang tampan berubah hebat sehingga kelihatan mengenaskan.
seperti mendapat pukulan batin yang amat dahsyat sehabis melancarkan serangan, itu Go siau bi berdiri menjublak.
sementara air mata yang bercucuran mengalir keluar semakin deras.
Tentu saja pukulan yang ia lancarkan itu hanya menggunakan tenaga sebesar tiga bagian, kalau tidak..
sedari tadi si anak muda itu tentu sudah menggeletak sebagai mayat.
Dara itu berdiri tertegun, termangu ....seperti orang bodoh, mimpipun ia tak menyangka kalau Han siong Kie tak akan menghindarkan diri, melainkan menerima datangnya serangan tersebut dengan tubuh sendiri sambil menyeka darah kental yang menodai ujung bibirnya, Han siong Kie tertawa getir.
Ia mengerti Go siau Bi bukan sungguh2 ingin membinasakan dirinya, rasa cintalah yang mengakibatkan ia berbuat demikian.
Walaupun begitu, kejadian tersebut tidak sampai merubah perasaan hatinya terhadap diri Go siau Bi, sebab dia membenci kaum wanita, tentu saja kecuali Tonghong-Hui seorang..
Pada saat itulah empat tosu tua dari partai Kong tong serta kawanan jago lihay dari perkumpulan tujuh walet per lahan2 telah maju kembali menghampiri Han siong Kie.
Ketegangan kembali mencekam seluruh gelanggang.
Waktu itu Han siong Kie masih belum merasa kalau mara bahaya telah mengancam dirinya.
Pertarungan antara malaikat hawa dingin Mo Siu-ing dengan Ang Nio-cu Tonghong Leng telah mencapai pula pada puncaknya, kedua belah pihak sama2 muntah darah segar, namum mereka masih tetap saling menyerang, saling menyergap dengan ganasnya, dari keadaan tersebut tampaknya sebelum salah seorang mampus maka pertarungan itu tak akan diakhiri..
Disaat yang kritis itulah tiba2 terdengar desiran angin tajam kembali menggema dari kejauhan..
Semua jago yang hadir dalam gelanggang rata2 tertarik perhatiannya oleh suara aneh itu..
Hembusan angin aneh telah sirap, ditengah gelanggang tahu2 telah bertambah dengan sebuah benda, itulah tergkorak berwarna merah darah..
Lambang dari pemilik benteng maut tiba2 muncul ditempat itu, rata2 para jago yang hadir di tempat itu sama2 dibuat terperanjat sehingga tak mampu berbicara...
Empat imam tua dari partai Kong-tong maupun kawanan jago dan perkumpulan tujuh walet segera mundur kebelakang dengan hati tercekat..
Sebaliknya Ban Siong Kie merasikan pergolakan darah panas dalam rongga dadanya..
Maut, kengerian dengan cepat menyelimuti seluruh gelanggang pertarungan..
"Tengkorak maut!!'.
"Tengkorak maut!!"
Suasana jadi amat gaduh, semua orang menjerit kaget dan rata2 mereka pada mundur dengan ketakutan.
Hembusan angin tajam kembali membelah angkasa.
seorang manusia aneh berbaju hijau, bermain cadar tahu2 sudah berdiri di-tengah gelanggang, Dia., bukan lain adalah pemilik benteng maui, Tengkorak maut yang disegani setiap jago.
Dengan sorot mata yang amat tajam Tengkorak maut menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian hardiknya dengan suara menyeramkan.
"Semuanya pergi dari sini!"
Bagaikan mendapat pengampunan, kawanan jago lihay baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang berkumpul disana secepat kilat pada kabut dari situ.
dalam waktu singkat suasana yang semula penuh sesak dengan manusia kini sudah kosong melompong.
Hanya empat orang saja yang tetap tak berkutik dari tempat semula, mereka adalah Malaikat hawa dingin, Aag Nio cu, Han siong Kie serta Go Siau bi..
Paras muka malaikat hawa dingin Mo siu ing beberapa kali berubah hebat, akhirnya per-lahan2 ia berlalu dari sana.
sekarang dalam gelanggang yang luas tinggal tiga orang belaka, yaitu Han siong Kie, Go siau Bi serta Ang Nio-cu Tonghong Leng.
sorot mata tengkorak maut yang tajam per tama2 berhenti diatas wajah Han siong Kie..
kemudian beralih ke atas wajah Go siau Bi dan akhirnya berhenti diatas tubuh Ang Nio cu, nenek baju merah itu.
Keadaan dari nenek baju merah itu sudah amat payah, pertarungannya melawan Malaikat hawa dingin telah menguras hampir sebagian besar kekuatan tubuhnya, sekarang tatkala dilihatnya kemunculan dari tengkorak maut, paras mukanya berkerut kencang, ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya niatnya itu dibatalkan.
Han siong Kie sendiripun putar otak memikirkan persoalan itu, ia sadar luka dalam yang dideritanya cukup parah, sebelum tenaga dalam yang dimilikinya pulih seperti sediakala, jelas dia bukan tandingan dari Tengkorak maut.
Baik musuhnya ini Tengkorak maut asli ataupun tengkorak maut gadungan, yang jelas lebih banyak bencana daripada rejeki bagi dirinya.
Go siau Bi sendiri hanya pernah mendengar nama besar Tengkorak maut.
selama hidup baru pertama kali ini ia berjumpa dengan jagoan lihay yang disegani banyak orang.
Dengan kemampuan yang dia miliki sekarang, bukan suatu pekerjaan yang sulit bila dia hendak berlalu dari situ, akan tetapi suatu kekuatan yang aneh membuat ia tak mampu menggeserkan tubuhnya.
Kenapa bisa begitu?
Kegantengan dan kegagahan Han siong Kie telah menarik perhatiannya, dia mencintai pemuda itu kendati diapun membenci dirinya.
Lama sekali Tengkorak maut mengamat ke tiga orang musuhnya, kemudian selangkah demi selangkah ia menghampiri Han siong Kie.
Tercekat perasaan hati Go siau Bi, rupanya diapun dapat merasakan apa maksud dan tujuan kedatangan dari Tengkorak maut ini.
Cinta memang buta, dia tak dapat membedakan mana bahaya mana aman, cinta membutuhkan pengorbanan, dan Go siau Bi rela berkorban demi kekasihnya.
Ia langsung meloncat kedepan, menghadang dihadapan Han siong Kie.
sianak muda itu merasa sangat terharu cepat ia berseru.
"Nona. berlalulah dari sini"
"Kenapa?"
"Engkau bukan tandingannya"
"Memangnya engkau sanggup melawan dia?"
Dara itu balik bertanya.
"Ini adalah urusan pribadiku, aku cuma minta kepadamu, tak usahlah mencampuri soal ini"
"Tidak Aku tak akan pergi dari sini"
Tiba2 Han siong Kie mendorong tubuh dara itu ke arah samping, dalam keadaan sama sekali tak siap tubuh Go siau Bi segera mencelat sejauh satu kaki lebih..
"Ehh.. Han siong Kie, apa2an kau ini?"
Teriak gadis itu dengan marah."
Apa maksudmu mendorong aku?"
"Nona, toh sudah kuterangkan bahwa persoalan ini adalah urusan pribadiku, buat apa engkau musti mencampurinya..."
Belum sempat ia menyelesaikan kata2nya, tengkorak maut mendadak sudah muncul dihadapannya.
Dengan cekatan Han siong Kin mundur tiga langkah kebelakang, paras mukanya berubah hebat..Tengkorak maut tertawa seram.
tiba2 ia ayun telapak tangan kanannya kedepan.
"Engkau berani melukai dirinya?"
Bentakan nyaring menggeletar diangkasa, dengan nekad Go siau Bi menghadang dihadapannya. Menyaksikan kemunculan dara itu, dengan cepat Tengkorak maut menarik kembali serangannya.
"Eeh budak ingusan"
Ia berseru "hari ini engkaupun tak usah tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, setelah kematianmu ini maka dendam tersebut haaah haah haaahh biarlah Put lo sianseng yang bikin perhitungan sendiri"
"Tengkorak maut "
Bentak Go siau Bi dengan marah.
"jangan anggap kau adalah seorang jagoan, bagi nonamu Hmm engkau tak lebih cuma seorang manusia kacoak"
"'Bagus.. bagus tak nyana dara semuda engkau memiliki nyali yang amat besar, ini hari aku akan menyempurnakan dirimu! Nah... pulanglah kerumah nenekmu"
Seraya berkata sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan kearah Go Siau bi, serangan tersebut cepat bagaikan sambaran kilat dan dahsyat ibarat ambruk nya sebuah bukit Tay san.
Go Siau bi tak berani menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras, cepat ia berkelit kesamping dengan suatu gerakan, yang cepat tapi lincah.
Menyaksikan serangannya mengenai disasaran yang kosong Tengkorak maut melancarkan kembali serangannya yang kedua.
Go Siau bi rnenggertak gigi tiba2 sepasang telapak tangannya didorong kedepan segulung asap hijau yang amat tebal dengan cepat meluncur kemuka.
Rupanya Tengkorak maut taho lihay dengan terperanjat ia berseru tertahan.
"Haaa..?? Ilmu pukulan Thian tok ciang-hoat!"
Suatu benturan keras menimbulkan ledakan yang menggelegar diudara, pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angsasa, termakan oleh dorongan angin pukulan itu Tengkorak maut terdorong dua langkah kebelakang.
'Go Siau Bu amat kegirarang, ia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu pukulan Thian tok ciang-hoat yang dimilikinya sanggup memukul mundur Tengkorak maut yang ditakuti banyak orang.
"Hey budak, lihat toya!"
Tiba2 Ang Nio-cu membentak keras.
Mengikuti suara bentakannya itu, Tong hong Leng putar toya rotannya dan langsung membabat kearah Go Siau Bi dengan hebatnya.
Tindakan dari Ang Nio cu ini sama sekali diluar dugaan siapapun, tak pernah diduga kalau Ang Nio cu bakal membantu Tengkorak maut untuk menghajar dara tersebut.
Dalam kejutnya cepat Go Siau Bi melesat kesamping untuk menghindar, kemudian telapak tangannya, berputar melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
"Blaamm!"
Ditenga benturan keras toya nya hampir saja terlepas dari genggaman, nenek itu mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan.
Bukannya nenek tua itu tidak becus, justru karena pertarungannya melawan malaikat hawa dingin, hampir saja semua tenaga dalam yang dimilikinya terbuang musnah.
Karena itulah pukulan dari Go siau bi yang kelihatan sangat enteng tak mampu di hadapinya.
Justru pada detik itu pula tiba2 Tengkorak maut tertawa seram, sambil loncat kemuka dan lepaskan sebuah pukulan keatas tubuh Han siong Kie.
Walaupun sianak muda itu masih lemah, tenaga dalam yang dimilikinya belum pulih kembali, akan tetapi ia tak sudi menyerah dengan begitu saja, sisa tenaga lwekang yang dimilikinya dihimpun menjadi satu kemudian menangkis ancaman yang tiba dengan kekerasan.
"Blaammm.."
Dengan disertai benturan yang keras pemuda itu menjerit kesakitan. Dengan sempoyongan Han siong Kie terdorong mundur kebelakang, kemudian terkapar diatas tanah dan tak mampu berkutik lagi. -000dw000-
Jilid 24 BETAPA terperanjatnya hati Go Siau Bi, ia segera membentak kerai .
"Tengkorak maut. nonamu akan beradu jiwa dengan kaul"
Ia loncat kedepan, sebelum kakinya men capai permukaan tanah, pukulan dahsyat Thian tok ciang hoat telah dilepaskan dengan sepenuh tenaga.
Rupanya Tengkorak maut sadar akan ke dahsyatan ilmu pukulan lawannya.
cepat dia menghindar kesamping.
Sekali lagi Go Siau Bi loncat kedepan dan menubruk kearah Tengkorak maut dengan ganasnya, telapak tangan diayun berulang kali melancarkan lima buah serangan berantai.
kelima jurus serangan itu semuanya aneh dan jarang dijumpai dikolong langit.
Dalam waktu singkat Tengkorak maut telah dipaksa mundur sejauh tiga langkah ke belakang.
Suatu pertarungan sengitpun dengan cepat berkobar..
Tenaga dalam yang dimiliki Go siau Bi berasal dari kitab pusaka Thian tok pit-liok, ditambah pula mendapat bimbingan langsung dari kakeknya Put lo sianseng.
sudah tentu kemampuan yang diperolehnya sekarang bukan saja amat dahsyat bahkan sukar ditandingi oleh kawanan jago persilatan kelas satupun.
Diam2 Tengkorak maut merasa terperanjat oleh ketangguhan dara muda itu, semua serangan yang ditujukan kearahnya rata2 memakai jurus serangan yang aneh dan sama sekali berlawanan dengan peraturan pada umumnya, Bukan saja bayangan telapak menyelimuti seluruh angkasa, bakkan memimiki pula suatu daya hisap yang sama sekali tak berujud, membuat serangan balasan yang di lancarkan tak mampu digunakan dengan sepenuh tenaga.
sekalipun begitu, Tengkorak maut masih bertarung melawan musuhnya dengan sistim pertarungan yang sama sekali tak berubah, rupanya dia ada hasrat untuk melenyapkan Go siau Bi dari muka bumi, oleh karena itu sepanjang pertarungan berlangsung dia hanya bertahan tanpa melakukan perlawanan, tentu saja kesemuanya ini disebabkan karena ia sedang melaksanakan suatu taktik pertarungan, dia hendak menunggu sampai tibanya kesempatan yang baik untuk mulai bertindak.
seperminum teh sudah lewat, namun pertarungan masih berjalan dengan serunya, kedua belah pihak tetap bertahan pada posisi semula, tiada yang menang dan tak ada yang kalah.
Mengikuti jalannya pertarungan itu, Ang Nio cu Tonghong Leng cuma bisa berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo, ia percaya tenaga dalam yang dimilikinya masih belum berhasil mencapai ketingkat yang begitu tingginya.
Han siong Kie sendiri dtngan mengandalkan pula tenaga yang masih dimilikinya teLah berhasil bangkit berdiri dari atas tanah, hanya saja dengan kondisi tubuhnya sekarang, jangan toh untuk berkelahi, untuk berdiri tegakpun dia tak mampu.
Dengan pandangan kaku ia mengikuti jalannya pertarungan yang sedang berlangsung ditengah gelanggang.
Tahu2..
.Tengkorak maut melancarkan beberapa buah serangan berantai memaksa Go Siau Bi terdesak mundur beberapa langkah kebelakang, sepasang telapak tangannya dihadapkan satu sama lain.
kemudian digosok dan dilontarkan kedepan..
Han Siong Kie tahu bila tengkorak maut hendak mengeluarkan ilmu anehnya yang bisa membuat orang tak mampu mengerahkan tenaga dalamnya, ia jadi sangat gelisah, cepat teriaknya .
"Nona, haii2;..dia.."
Waktu itu Go Siau Bi sedang siap melancarkan serangan balasan, ketika telapak tangan musuh dilontarkan kearahnya, tiba2 ia merasakan hawa murninya musnah dan tak sanggup dihimpun kembali.
Betapa terkejutnya sang dara msnghadipi kejadian aneh itu, ingatan kedua belum sempat terlintas, tahu2 sepasang telapak tangan dari Tengkorak maut telah meluncur tiba...
"Duuk ..!"
Diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, ibarat layang2 putus benang, tubuh sang dara itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dan roboh terkapar diatas tanah.
Han Siong Kie pejamka i miunya rapttl.
dalam hati dia mengeluh .
"Aah.. habislah sudah riwayat dan Go Siau Bi.."
Terbayang betapi pengorbanan dari dara itu disebabkan untuk menyelamatkan jiwa nya, sianak muda itu merasa hatinya amat sakit bagaikan di-iris2, tak kuasa lagi ia muntah darah segar.
Ang Nio co Tonghong Leng maju selangkah dengan muka terharu, ia seperti mau mengucapkan sesuatu..
Tengkorak maut tertawa seram, gelak tertawa penuh rasa bangga, dia ayunkan telapak tangannya keatas tanah dan menghisap kembali lambang tengkoraknya yang menggeletak diatas tanah, kemudian sambil menyambar tubuh Han Siong Kie dia berlalu dari situ.
Han Siong Kie sama sekali tak dapat ber kutik, ia cuma berdiam diri dalam kempitan tengkorak maut itu.
ia tahu percuma ba nyak bicara dalam keadaan seperti ini..
Terbayang kembali akan dendam berdarah dari keluarganya yang belum sempat terbalas, kemudian pesan gurunya yang belum di laksanakan, ia makin sedih rasanya..
Tiba2 ia teringat kembati akan lencana Ok kut cu pay serta pusaka Hud jiu po pit yang berada dalam sakunya, pemuda itu semakin gelisah, ia tahu lencana pusaka itu dapat digunakan untuk memimpin perguruan Thian lam sedangkan pusaka itu dapat mempelajari sejenis ilmu silat yang tiada taranya dikolong langit, jika ke dua2nya sampai terjatuh ketangan tengkorak maut, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2.
otaknya mulai berputar untuk mencari jalan pemecahan, ia berusaha mencari akal untuk mengatasi bencana itu.
Serentetan pegunungan berbatu yang tinggi menjulang didepan mata, Tengkorak maut langsung meluncur kearah tebing batu itu, hanya sebentar saja mereka sudah berada diatas puncak bukit berbatu yang terjal.
Pemuda itu tak tahu kemana dia akan dibawa oleh musuhnya ini, diapun tak tahu hukuman apa yang bakal dijatuhkan atas dirinya.
Sesosok bayangan kecil mengikuti gerak-gerik dari Tengkorak maut dari tempat kejauhan, orang itu memang cukup lincah dan lihay, terbukti jago yang maha sakti itupun tak sadar kalau jejaknya sedang diikuti oleh seseorang.
Setelah melewati sebuah tebing yang curam, akhirnya sebuah lembab jurang yang dalam terbentang didepan mata, kabut tebal menyelimuti sekitar jurang tersebut hingga sukar dihitung berapa dalamnya jurang tersebut.
Satu ingatan mendadak terlintas dalam benak Han siong Kie, pikirnya.
"Daripada aku mati konyol ditangan keparat ini, apa salahnya kalau aku ajak bangsat ini untuk ber-sama2 terjun kedalam jurang? Asal dia mampus dan akupun mati, maka kedua macam benda mustika inipun tak akan sampai terjatuh ketangan seorang gembong iblis seperti dia.."
Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, diam2 sisa hawa murni yang masih dimilikinya dihimpun menjadi satu, kemudian dengan sepenuh tenaga ia totok jalan darah Ki hay hiat ditubuh Tengkorak maut.
Tindakan ini memang lihay dan sama sekali diluar dugaan Tengkorak maut, sayang totokan itu kurang tangguh sehingga cuma mampu mendatangkan sedikit luka baginya.
Walaupun luka itu sangat lirih, akan tetapi berakibat besar sekali, dengan serta merta Tengkorak maut melepaskan kempitan nya..
Begitu terlepas dari cekalan, Han Siong Kie terguling ditepi jurang yang amat dalam itu, kemudian dalam beberapa gulingan berikutnya, ia sudah terjerumus kedalam jurang yang amat dalam itu.
Tengkorak maut berusaha menyambar korbannya, namun tak berhasil, akhirnya ia cuma bisa memandang dasar jarang yang amit dalam itu dengan pandangan kesima.
Sementara itu bayangan kecil mungil yang mengikuti jauh di belakang telah menyaksikan pula semua peristiwa yang terjadi didepannya, apalagi setelah mengetahui bahwa acak muda itu tercebur kedalem jurang.
ia merasa hatinya remuk rendam langkahnya jadi sempoyongan dan hampir saja orang itu roboh tak sadarkan diri Siapakah orang itu?
Siapa lagi kalau bukan Tongbong Hui.
gadis yang telah berpisah dergan suatu ciuman panjang..
Biaa dibayangkan sampai di manakah sedihnya perasaan hati Tonghong Hui sesudah menyaksikan engkoh Kie yang tercinta tercebur kedalan jurang, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia ikut tercebur kedalam jurang.
"Ooh.
ayah, engkau benar2 berhati kejam, mengapa kau bunuh Kekasih hatiku..?
Oh.
ayah.
mengapa engkau begitu tega menyiksa perasaan anakmu?
Tahukah engkau ayah, hidupku terasa jadi kosong tanpa kehadirannya, dan kini engkau membinasakan dirinya dihadapanku ,ooh, apa artinya kehidupanku ini .
Oi, kejam, kejam,, ayah.
engkau terlalu kejam ."
Gumamnya lirih.
Berapa kali dia bermaksud memburu ke tempat kejadian dan ingin melihat bagiimanakah keadaan dari kekasihnya, tapi setiap kali keinginannya itu selalu dibatalkan.
Sekarang dia hanya mengharapkansesuatu berharap agar ayahnya..
Tengkorak maut cepat2 berlalu dari sana.
Air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya, butiran air mata telah mengaburkan pandangannya,,.
Gadis itu jadi tertegun...berdiri menjublak dengan pikiran kosong, ia merasa se-olah2 telah menyaksikan mayat engkoh Kienya menggeletak dengan badan remuk.
Ia se-akan2 merasa telah melihat darah segar yang menggenangi seluruh permukaan tanah jauh didasar jurang sana..
Dalam keadaas seperti ini dia ingin menangis, yaa menangis se-keras2nya, agar semua kedukaan dan kepedihan hatinya dapat tersalur keluar, agar pikiran maupun perasaannya jadi lega dan enteng..
Akan tetapi gadis itu tak berani berbuat demikian, ia kuatir perbuatannya itu akan mengejutkan ayahnya, bila Tengkorak maut sampai tahu kalau dia berada disini, maka keadaannya pasti akan bertambah runyam..
Apa boleh buat?
Dara itu hanya bisa bersandar disisi sebatang pohon sambil menahan isak tangisnya, ia menangis tanpa suara, hanya air matanya jatuh bercucuran dengan derasnya.
Lama....
lama sekali, entah berapa waktu sudah lewat, tiba2 gadis itu seperti teringat sesuatu, ia bangkit dan bergumam lagi.
"Baiklah, meskipun selama hidup kami tak dapat hidup berbahagia sebagai suami istri, biarlah kami mati dalam satu liang, diaa m baka sana tak akan kutemui dendam sakit hati, tiada permusuhan ataupun perasaan, perkawinan kami tak akan dihalangi lagi oleh kenyataan yang kejam, yaa, disitulah kami akan hidup bahagia, tempat itu memang tempat yang paling cocok bagi kami untuk membina keluarga .
Akhirnya Tengkorak maut telah berlalu, berlalu tanpa meninggalkan bekas.
Dengan hati yang pedih dan isak tangis yang menjadi, Tonghong Hui mendaki keatas tebing curam itu, pukulan batin yang amat berat itu se-olah2 merubah gadis yang kosen ini menjadi seorang anak dara yang lemah, begitu lemahnya sampai2 untuk melangkah pun rasanya amat berat.
setelah bersusah payah toh akhirnya sampai juga gadis itu ditebing tersebut, persis dimana Han siong Kie tercebur kedalam jurang, ia berdiri termangu, berdiri kaku bagaikan patung arca, sedikitpun tidak bergerak ataupun berbicara.
Angin gunung berhembus sepoi mengibarkan rambutnya yang hitam pekat dan panjang terurai sepanjang pundak itu.
sekilas cahaya semu menyelimuti wajahnya yang layu, kusut dan murung karena dimakan oleh pikiran dan siksaan batin yang berat, begitu pula rasanya membuat hati orang tak tega Perasaan hatinya saat ini bagaikan air yang tenang, tiada harapan, tiada keinginan dan tiada kenangan, semuanya se akan2 sudah tiada, semuanya telah berlalu dan lenyap dengan begitu saja.
Memandang jurang yang ternganga didepan matanya, serta kabut tebal yang menyelimuti mulutjurang tersebut, ia berdiri mendelong, matanya memandang kaku kedepan, ia merasa se akan2 sukma engkoh Kie-nya sedang menggapai kepadanya, serta memanggil dia agar cepat menyusulnya kealam baka.
Akhirnya gadis itu tak mampu mengendalikan diri lagi, ia menjerit keras dan terjun kedalam jurang yang tiada tara dalamnya itu ..
"Engkoh Kie.. engkoh Kie Tunggulah aku.. sebentar lagi akan kususul dirimu di alam baka.."
Jeritannya makin lirih, makin lama makin kecil dan akhirnya lenyap.
lenyap tertelan perut bumi..
suasanapun menjadi tenang kembali, keheningan kembali mencekam jagad, yang terdengar hanya hembusan angin gunung..
tiupan angin yang sepoi2..
Bagaimanakah nasib gadis yang cantik tapi bernasib malang itu?
Mungkinkah jiwanya melayang tertelan oleh jurang yang dalam..?
Tiada seorangpun yang tahu.
Hanya Thian lah yang maha kuasa dan Thian lah yang maha tahu..
"Yaa.. memang besar pengaruh dari cinta, memang taksalah lagi kalau orang mengatakan bahwa cinta itu buta, cinta dapat membuat orang lupa segala2nya, melakukan segala-galanya tanpa dipikir panjang lagi.. siapakah yang dapat membantah kenyataaan ini? -oo0dw0oo-Bab 49 SEMENTARA itu marilah kita mengikuti pengalaman yang ditemui Han Siong Kie setelah terlepas dari cengkeraman Tengkorak maut gadungan. Setelah terlepas dari cengkeraman musuh ia sengaja menggelinding dengan harapan bisa menjauhi musuhnya itu. apa lacur tubuh nya tercebur kedalam jurang yang dalam yang tertelan oleh kabut yang tebal. Menghadapi saat2 terakbir menjelang kematiannya ini, anak mula tersebut sama se kali tidak gugup. malahan ia jauh lebih tenang dari waktu2 biasa, ia merasa kematian tidaklah menakutkan, sebab dalam kenyataan memang tiada sesuatupun yang bisa menakutkan hatinya. Ia lebih rela mati daripada serahkan jiwa raganya dan kedua macam benda mustika dari dunia persilatan itu ketangan Tengkorak maut gadungan, karena ketidak relaannya inilah maka dia mengambil keputusan untuk menghabisi jiwa sendiri sambil membawa pula benda tersebut. Tak lama setelah badannya terjatuh ke dalam jurang, tiba2 ia merasakan sekujur badannya bergetar keras, se-akan2 ia terjatuh diatas sebuah benda yang lunak, menyusul kemudian tubuhnya memental balik keudara dan melayang turun kembali kebawah. Keadaan tersebut berlangsung sampai beberapa kali. di mana akhirnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri. Entah berapa lama kembali sudah lewat, ketika ia tersadar kembali dari pingsannya, pemuda itu merasakan sekujur tulang belulangnya amat sakit seperti patah2, otot badannya seperti sudah terlepas serius, sedikit pun tiada tenaga yang bisa digunakan. Kabut amat tebal, bepitu tebalnya hingga menutupi seluruh pemandangan disekeliling tempat itu, jangankan memandang ketempat jauh, untuk melihat kelima jari sendiripun susah sekali. Anak muda itu tak tahu sekarang dia berada dimana, tapi ada satu hal yang membuat dia merasa kegirangan, ternyata jiwa nya lolos dari lubang jarum, ia tidak mati! Perlahan dia meraba tanah disekelilingnya, ia merasa tububnya berada diatas sebuah jaring yang terdiri dari tumpukan rotan yang kuat, apakah rotan itu bergelantungan ditengah udara? Ataukah didasar jurang? anak muda itu tak dapat membayangkan .... Tapi yang jelas apabila ia tidak kebetulan terjatuh diatas tumpukan rotan itu, niscaya jiwanya sudah melayang.. mati dengan tubuh hancur berantakan. Dalam keadaan begini, terasalah pelbagai perasaan berkecamuk menjadi satu, rasa dendam benci, cinta dan hutang budi membuat pikirannya serasa kalut sekali. Tapi dengan cepat ia dapat menguasahi diri, ia mengambil keputusan untuk menyembuhkan dahulu luka yang dideritanya, setelah itu baru mencari jalan keluar untuk lolos dari sana. sambil menggigit bibir menahan sakit di badan, ia bangkit dan duduk bersila, kemudian setelah pejamkan mata dan pusatkan perhatiannya menjadi satu, sisa hawa murni yang masih ada dalam tubuhnya perlahan-lahan dikumpulkan dan dihimpun kembali untuk menerobosi jalan darahnya yang tersumbat. Mula2 dia merasa kepayahan, tapi setelah dicoba.. dan dicobanya berulang lagi, akhirnya ia berhasil juga mengumpulkan sisa kekuatan itu menjadi satu. Begitulah dengan andalkan sisa kekuatan yang berhasil dihimpun itu, ia salurkan hawa murni tersebut untuk menembusi jalan darah Wi liu hiat, kemudian dengan melalui jalan darah seng hwan hiat, son pi hiat, siang kwan hiat dan thian cu hiat mencapai Ni wan Tong. Dari situlah hawa murninya per lahan2 disalurkan menuju kebawah, dengan melalui jalan darah sin teng hiat, menyeberangi ciau kiau hiat kemudian menembusi cap ji, co lo, ciang kiong. oei teng dan ki hay hiat langsung terhimpun kembali dalam pusar. Berhasil dengan yang pertama, pemuda itu ulangi kembali latihannya sekali demi sekali. Akhirnya ia berhasil menghimpun kembali hawa murninya, terasahlah aliran hawa panas mulai mengitari sekujur tubuhnya. Dalam Waktu singkat pemuda itu sudah duduk "
Tenang"
Dan lupa segalanya..
Berapa lama sudah lewat entahlah, sebab jurang itu amat gelap dan selalu tertutup kabut tebal, siang atau malam susahlah untuk ditentukan ataupun dibedakan.
Akhirnya Han siong Kie berhasil menyelesaikan semedinya, ia merasa tubuhnya jadi segar dengan kekuatan hawa murni yang penuh, ketika matanya dipentang kembali maka pemandangan disekitar situpun dapat terlihat dengan jelasnya.
Apa yang diduga semula ternyata tak meleset, dia memang berada diatas sebuah jaring rotan yang tebal, nun jauh diatas situ merupakan tebing2 berbatu karang yang terjal dan tajam.
Ketika ia coba memandang jauh kebawah lagi, maka tampaklah dasar jurang itu kurang lebih masih ada lima kaki dibawahnya.
Batu runcing bagaikan pisau berserakan di mana2, bisa dibayangkan apa jadinya bila tubuh seseorang sampai jatuh menimpa batu cadas tersebut.?
Diam2 anak muda itu menarik napas panjang untuk menenangkan perasaan hatinya yang bergolak kencang, ia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya ia bukan terjatuh diatas jaring rotan itu, melainkan jatuh tepat diatas tumpukan batu runcing itu?
Dalam keadaan begini, satu bayangan terlintas dalam benaknya, bayangan wajah seseorang yang cantik namun diliputi kemurungan dan kesedihan, itulah bayangan wajah dari Go siau Bi.
Han siong Kie masih ingat, dikala dia di bawa kabur Tengkorak maut gadungan-gadis itu berusaha mencegah kejadian itu tapi akhirnya ia kena dihajar sampai mencelat pula.
Tak tahan ia menghela napas panjang dan bergumam lirih.
"Aaai... Dia mati lantaran aku, itu sama artinya akulah yang telah membinasakan dirinya, hutang budi ini susah rasanya untuk dibayar lagi.. aaai Dia memang seorang gadis yang bernasib malang"
Tak kuasa dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya..
Yaa, pemuda ini merasa sedih, bersedih hati demi seseorang yang mencintai dirinya tanpa menerima cinta balasan darinya, yang kemudian mati karena membela dirinya, berusaha menyelamatkan jiwanya..
Itulah Go Siau Bi, gadis yang bernasib malang "Suatu saat, aku pasti akan membalaskan dendam bagi kemariannya.
tapi, dapatkah ia bersstirahat dengan tenang dialam baka?"
Pikirannya terasa makin kalut dan kacau.
ia murung bercampur kesal,.murung karena memikirkan pelbagai persoalan yang berkecamuk menjadi satu dalam benaknya..
Sementara dia masin termenung sambit melamun.
tiba2 dari sisi tubuhnya berkumandang suara rintihan kesakitan, meskipun suara tersebut amat lirih namun jelas berasal dari mulut seorang acak dara.
Betapa terperaajatnya perasaan Han Siong Kie setelah mendengar rintihan itu, mimpi pun dia tak menyangka kalau disamping tubuhnya masih terdapat oiaog lain.
Mungkinkah gadis itupun senasib sependeritaan dengan dirinya?
Atau mungkin dialah yang telah menolong dan selamatkan jiwanya dari ancaman ke-matian?
Atau mungkin,., ia tak mampu membayangkan lebih jauh.
Dengan pandangan yang tajam dia menyapu sekejap kearah mana berasalnya suara tadi, kurang lebih tiga kaki didepan situ tampaklah sesosok tubuh yang kecel mungil tersangkut diatas jaring rotan itu.
sementara separuh tubuhnya yang lain masih tergantung di awang awang.
Mengikuti rintihannya yang lirih dan tubuhnya yang menggeliat, badan gadis itu kembali merorot setengah depa kebawah jaring Han siong kie amat terperanjat, dia tidak berpikir panjang lagi.
dengan sekali lompatan ia telah melayang kesisi gadis itu dan mengangkatnya naik keatas jaring tersebut.
Tapi., dikala sorot matanya membentuk raut wajah yang ditolongnya itu, ia tertegun lalu menjerit tertahan, sekujur badannya gemetar keras bagaikan terlanggar aliran listrik tegangan tinggi.
Ternyata gadis tak lain tak bukan adalah Tonghong Hui, kekasih hatinya!
Tonghong Hui yang di cari2 dan diharapkan pertemuannya selama ini, ternyata berhasil ditemukan ditengah tebing yatg curam kejadian ini benar2 jauh di luar dugaan si anak muda itu.
Dengan penuh emosi Han Siong Kie memeluk anak dara itu kencang2, kemudian merebahkan tubuhnya dalam pangkuan, sambil menggoyang2kan badannya ia berteriak memanggil.
"Adik Hui.. Adik Hui, bangunlah... sadariah kembali, mengapa engkaU bisa sampai disini..?"
Perlahan2 Tonghong Hui membuka matanya, dengan pandangan kosong dan kebingungan ditatapnya wajah Han siong Kie tanpa berkedip.
lama sekali dia memandang pemandangan yang terbentang dihadapan matanya, gadis itu berusaha untuk membedakan apakah yang dilihat hanyalah bayangan semu, ataukah suatu kejadian yang nyata Akhirnya setelah tertegun lama sekali, dia baru bergumam lirih.
"Engkoh Kie.. engkoh Kie."
"Adik Hui.."
"Benarkah engkau adalah engkoh Kie sayang Engkoh Kie tercinta?"
Dengan pandangan penuh kasih sayang Kie mengangguk.
"Tentu saja adik Hui, kalau bukan engkoh Kie mu yang sungguh, memangnya aku adalah engkoh Kie gadungan..?"
Sekulum senyum manis, senyum penuh kemesraan tersungging diujung bibir anak dara itu, meskipun wajahnya begitu murung dan diliputi kepedihan hati.
"orang selalu mengatakan alam baka mengerikan,alam baka penuh dihuni setan dan iblis, tapi kenyataannya tempat ini tidak mengerikan, pun tidak menakutkan, sekalipun udaranya terasa amat dingin ...."
Ia bergumam lemah.
"Adik Hui, apa yang sedang engkau igaukan?"
Tegur Han siong Kie dengan penuh perasaan tidak mengerti.
"Aku bukan mengigau, aku mengatakan yang sebenarnya, coba lihatlah bukankah alam baka tidak mengerikan seperti sering yang diperbincangkan orang? Aai atau mungkin karena kita berada bersama..."
"Alam baka? Apa maksudmu?"
"Selama hidup didunia, kita tak dapat melakukan perbuatan yang ingin kita lakukan, tapi sekarang kita telah mati, semua penghalang dan semua perintang telah tersingkirkan semua engkoh Kie, bukankah kita telah bebas?"
Sepasang mata Han siong Kie terbelalak semakin lebar, ditatapnya gadis itu dengan pandangan kebingungan.
"Adik Hui, siapa yang kau maksudkan telah mati?"
Tegurnya.
"Bukankah kau dan aku telah berada di alam baka?"
Sekarang Han siong Kie baru mengerti apa yang sedang dimaksudkan anak dara itu, dipeluknya Tonghong Hui dengan penuh kemesraan, kemudian ia berbisik lirih.
"Adik Hui kita belum mati, ketahuilah kita masih hidup segar bugar didalam dunia"
"Apa..??Jadi kita belum mati"
"Tentu saja belum sayang Engkau tak perlu merasa tegang, tiada sesuatu kejadian yang patut kau hadapi dengan perasaan begitu.."
"ooh jadi jadi kita belum mati?"
"Engkau masih belum mati, percaya tidak adik Hui??"
Bisik pemuda itu dengan mesra.
Tonghong Hui pejamkan matanya, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya yang putih halus.
Han siong Kie makin kebingungan dibuat oleh sikap kekasihnya yang aneh itu, tanya nya lagi dengan nada tercengang.
"Adik Hui, mengapa engkau malah bersedih hati? Kau kok malahan menangis setelah tahu kalau kita masih hidup?"
"Engkoh Kie, masa kita tak bisa mati?"
Keluh gadis itu lirih.
"Lho.. Engkau kok malahan mengharapkan mati?Jadi kau lebih suka mati daripada hidup?"
"Benar"
"Mengapa begitu?"
Tanya Han siong Kie dengan penuh emosi, sekujur badannya gemetar keras.
"selama kita masih hidup maka kita berdua tiada harapan untuk hidup bersama, tapi kalau kita sudah mati maka selama2nya kita akan saling mencintai, kita akan selalu berdampingan.."
"ooh.. adik Hui, kau..."
"Engkoh Kie, ayahku adalah musuh besar pembunuh keluargamu, dapatkah kuhalangi niatmu untuk membalas dendam? Dan dapat kah kubiarkan engkau melakukan pembalasan terhadap ayahku? Ooh.. engkoh Kie, takdir telah menentukan kesemuanya ini. takdir telah rremisahkan kita secara kejam.... Ooh, nasib yang buruk, apa artinya aku hidup terus di dunia ini?"
Han Siong Kie tertunduk dengan mulut membungkam, apa yang diucapkan gadis itu memang tak salah, cinta dan dendam tak mungkin bisa berjalan bersama, salah satu diantaranya memang harus diKorbankan!
Perlahan2 Tonghong Hui membuta kembali matanya, air mata mengucur keluar semakin deras, sambil menahan isak tangisnya ia berbisik lagi dengan lirih 'Engkoh Kie.
masih ingat ketika kucium bibirmu tempo hari sebelum kita berpisah?
Aku telah berlalu dengan membawa kepuasan yang sebenarnya kosong, kepuasan yang hampa, aku hendak mencari sesuatu tempat yang sunyi, sepi dan jauh dari pergaulan manusia untuk membebaskan diri dari belenggu ini, tapi .
aku tidak mempunyai ke beranian untuk berbuat begitu, akhirnya aku telah kembali, aku..', aku berharap bisa mati dihadapanmu agar engkaulah yang mengebumikan.
tubuhku kedalam tanah-"
Sekujur badan Han Siong kie gemetar keras, apalagi setelah mendengar perkataannya yang terakhir, ia segara berteriak dengan suara serak .
"Adik Hui, mengapa engkau selalu pikirkan soal itu., mengapa tidak kau buang jauh2 ingatan macam begitu..?"
Ia berhenti sebentar, lalu setelah tarik napas panjang dia menambahkan .
"Oh iya, bagaimana kejadiannya hingga engkuipun tercebur kedalam jurang yang amat dalam ini?"
"Aku hendak menyusul dirimu!"
"Menyusul aku? Oh adik Hui sayang kau...kau.."
"Enkoh Kie, aku telah menyaksikan engkau meloloskan diri dari kempitan ayahku dan terjun kedalam jurang..."
"Ayahmu..?"
Benar, aku selalu mengikuti jejakmu dari kejauhan, tapi aku tak mampu menyelamatkan jiwamu..'"
"Dia bukan ayahmu, Engkau keliru besar.."
"Dia bukan ayahku?!"
Tonghong Hui agak terperanjat-"Benar, dia bukan ayahmu, engkau telah salah menerka..."
"Lalu siapakah orang itu?"
"Dia adalah Tengkorak maut gadungan "
"Tengkorak maut gadungan?"
Tonghong Hui tersentak kaget dan loncat bangun dari rangkulan anak muda itu, mimik, wajahnya penuh diliputi rasa kaget dan perasaan tak habis mengerti.
"Benar orang itu memang tengkorak maut gadungan"
"Tapi, kalau memang gadungan kenapa kulihat.."
"Bukankah potongan badan maupun ilmu silat yang dipakai setali tiga uang dengan ayahmu? Aaai.. Kejadian ini memang amat mencengangkan hati, membuat orang merasa betulbetul tidak habis mengerti"
"Darimana engkau bisa tahu kalau dia.."
"Aku toh pernah melakukan pertarungan melawan ayahmu sewaktu berkunjung kebenteng maut tempo hari, dari kesempurnaan tenaga dalam yang mereka miliki bisa membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan, selain itu dia sendiripun telah mengakui bahwa ia telah mencatut nama besar ayahmu"
"ooh kiranya begitu Tidak aneh kalau sampai aku sendiripun dibuat tercengang oleh kejadian ini, sebab sejak aku belum dilahirkan ayah telah bersumpah tak akan tinggalkan benteng maut barang setengah langkahpun, dan sekarang tiba2 ia telah melanggar sumpahnya sendiri dan muncul kembali dalam dunia persilatan, kiranya ada orang yang mencatut nama besar beliau"
"Bolehkah aku tahu, apa sebabnya ayahmu bersumpah tak akan muncul kembali dalam dunia persilatan?"
"Tentang soal ini... tentang soal ini.."
Tiba-tiba sepasang mata Tonghong Hui berubah jadi merah, setelah berhenti sebentar dia melanjutkan lagi.
"Engkoh Kie, maafkanlah aku, pertanyaanmu tak dapat kujawab sebab peraturan benteng menetapkan bahwa setiap anggotanya dilarang menyiarkan kabar yang bersangkutan dengan masalah Benteng maut keluar dunia "
"Apakah ayahmu telah mengetahui tentang munculnya Tengkorak maut gadungan dalam dunia persilatan?"
"Dia tak mungkin tahu"
"Engkau yakin kalau dia pasti tak tahu?"
"Benar, sebab Benteng maut telah terputus hubungan kontaknya dengan dunia luar, kecuali aku seorang yang sering melakukan perjalanan, tiada orang kedua yang pernah keluar dari benteng itu, padahal aku sendiripun baru pertama kali ini mendengar tentang persoalan tersebut"
Selesai mendengar perkataan itu, paras muka Han Sing Kie tiba2 berubah jadi murung, ia mulai berpikir siapakah sebenarnya pembunuh yang telah membantai sekeluarganya?
Tengkorak maut yang asli ataukah tengkorak maut gadungan?"
Jika apa yang dlucapkan Tonghong Hui benar, dan Tengkorak maut yang asli benar2 sudah belasan tahun lamanya tak pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, itu berarti musuh besarnya adalah Tengkorak maut gadungan, tapi..
menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, kemunculan Tengkorak maut gadungan dalam dunia persilatan baru terjadi belum lama berselang, hal ini semakin membingungkan pikirannya.
Mana yang benar?
Tengkorak maut asli atau tengkorak maut gadungan?
Bagaimana kalau sumpah Tengkorak maut dilakukan setelah kejadian diperkampungan keluarga Han.
Bila ditinjau dari perkataan Tonghong Hui, katanya sebelum dia lahir ayahnya sudah bersumpah tak akan muncul kembali kedalam dunia persilatan, itu berarti kalau ditinjau dari usianya maka sedari hampir dua puluh tahun lamanya pemilik benteng maut itu tak pernah munculkan diri sebaliknya pembantaian berdarah dalam perkampungan keluarga Han baru berlangsung enam belas tahun berselang, dan itu berarti sudah selisih waktu beberapa tahun lamanya.
Tanpa sadar pemuda ituteringat kembali akan manusia yang kehilangan sUkma, berulang kali perempUan itu menganjUrkan kepadanya agar berkunjung ke benteng maut dan membeberkan asal usulnya, mungkinkah kunci terutama dari kejadian ini letaknya ada disitu??"
"Engkoh Kie, apa yang sedang kaupikirkan?"
Tiba2 teguran Tonghong-Hui menyadarkan kembali anak muda itu dari lamunannya.
"Ooh aku ...aku sedang memikirkan, sebenarnya siapakah pembunuh keluargaku yang sebenarnya! sahut anak muda itu agak tergagap."
Mula pertama Tonghong Hui agak tertegun, menyusul mana sekilas cahaya berseri menghiasi wajahnya, cepat ia berseru.
"Engkoh Kie, beri tahu asal usulmu itu kepadaku!"
"Buat apa engkau mengetahui asal usulku adik Hui?"
Kata Han siong Kie dengan wajah sedih.
"Aku hendak membuktikan sesuatu!"
"Apa yang hendak kau buktikan?"
"Akan kubuktikan siapakah sebenarnya pembantai keluargamu!"
"Tapi., bagaimana caranya engkau hendak membuktikan persoalan ini?" 'Setelah pulang kerumah nanti, akan kutanyakan persoalan ini langsung kepada ayahku!"
Berdebarlab jantung Han siong Kie setelah mendengar perkataan itn, ia tertekan oleh perasaan emosi yang ber kobar2, memang tak salah lagi, inilah cara yang paling bagus untuk memecahkan teko teki tersebut.
Tapi.
bagaimana kalau kenyataan membuktikan bahwa pembantaian tersebut betul betul dilakukan oleh ayahnya?
Bagaimana ia hendak bereskan persoalan itu?
Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata.
"Adik Hui seandainya..seandainya kalau sampai,."
"Seandainya kalau sampai terbukti memang ayahku yang melakukan, apa yang hendak kulakukan?"
Sambung dara itu cepat "Benar andaikata sampai terjadi begitu, apa yang hendak kau lakukan..?"
Tonghong Hui tertawa getir.
"Engkoh Kie. kalau memang sampai demikian apa lag! yang kukatakan, aku.."
"Engkau mau apa?? "
Apa lagi? terpaksa aku harus menerima nasib dan menuruti garis takdir yang telah ditetapkan o!eh Thian! ' Betapa terharunya sianak muda itu, sambil menggigit bibir menahan diri ia berkata.
"Adik Hui. aku tahu cintamu kepadaku sedalam lautan, budi dan kesetiaanmu bagaikan bukit, akan tetapi dendam sakit hati ini tak mungkin bisa kuelakkan dengan begitu saja, bila takdir telah mengatur se-gala2nya seperti apa yang tidak kita inginkan. yaa.. apa mau dikata lagi? selesai melakukan balas dendam, akan kukorbankan selembar jiwaku demi kekasihku yang tersayang"
"ooh, engkoh Kie, kau.. kau tak boleh berbuat begitu.."
Teriak Tonghong l-Hui sambil mendekap tubuh pemuda itu rapat2 dan menangis tersedu2.
pada hakekatnya Han siong Kie sangat membenci kaum wanita, akan tetapi terhadap saudara angkatnya ini, ia menaruh kesan yang mendalam, apa lagi setelah menyaksikan Cinta kasih gadis itu terhadap dirinya, lambat laun kesan jeleknya terhadap wanita makin berkurang, dan diapun membalas cinta kasih gadis itu terhadap dirinya.
Isak tangis yang berkumandang diangkasa sangat memilukan hati, baja yang keraspUn mungkin akan meleleh..
Han siong Kie menengadah memandang kabut yang menyelimuti angkasa, ia membungkam dalam seribu bahasa, tak sepatah katapun yang diutarakan untuk menghibur gadis itu.
Lama..
lama sekali..
akhirnya Tonghong-Hui berhenti menangis, dengan air mata masih membasahi wajahnya ia berbisik.
"Engkoh Kie, sekarang katakanlah asal usulmu..."
Han siong Kie termenung sejenak. akhirnya sambil menggigit bibir menahan emosi dia menjawab.
"Adik Hui, engkau tak tak usah mengetahui asal usulku, Cukup tanyakan kepada ayahmu, apakah pada lima belas tahun berselang dia pernah melakukan pembantaian pada kedua ratus lembar jiwa keluarga Han dan Thio.."
Dengan wajah pucat Tonghong Hui mengangguk.
"Baiklah engkoh Kie, setelah keluar dari lembah, nanti tunggulah aku ditepi sungai dimana kita berkenalan untuk pertama kalinya itu,jika dalam dua hari aku belum ke luar dari benteng, maka itu berarti...."
"Berarti apa"
"Aku.. mungkin aku sudah tiada dikolong langit lagi, dan silahkan engkau melaksanakan apa yang ingin kau lakukan"
"Adik Hui"
Tak tahan lagi Han slong Kle mengucurkan air mata karena sedih, ia merasa hatinya sakit bagaikan di iris2 dengan pisau tajam, tapi..
apa lagi yang bisa dia katakan Dapatkan dia batalkan niatnya untuk melakukan pembalasan dendam demi cintanya kepada gadis itu?
"Engkoh Kie, engkau tak usah terlalu pikirkan persoalan ini !
dara itu coba menghibur?
kalau itu untung maka tak bisa berubah jadi bencana, dan kalau itu bencana meoyingkirpun juga tak ada gunanya, biarkanlah datang mereka yang mau datang, masalah paling penting yang harus kita laku kan sekarang adalah berusaha untuk meninggalkan tempat ini!
" 'Baiklah, adik Hui?
Mari kita pikirkan saja bagaimana caranya meninggalkan tempat ini, tapi sebelum itu aku ingin bertanya kepadamu apakah engkau terluka dikala melompat turun dari atas tadi?!"
Gadis itu menggeleng.
"Bagus, kalau memang begitu hayo kita berusaha keluar dari sini"
Seru anak muda itu kemudian.
Kedua orang itu sejera melompat turun, dari tumpkan rotan itu dan melayang keluar dari jepitan batu 2 cadas yang runcing' kurang lebih belasan kaki kemudian sampai lah mereka disuatu tanah lapang yang berlumut.
setelah menentukan arah maka berangkatlah mereka untuk keluar dari mulut lembah tadi.
Meskipun mereka lolos dari kematian.
namun perasaan yang berkecamuk dalam benak kedua orang itu jauh lebih hebat, mereka selalu menguatirkan tibanya kenyataan yang sadis, suatu kenyataan yang mengerikan..
Selang sejenak mereka sudah berada lima li jauhnya dari mulut lembab, kabut yang menyelimuti sekitar situ telah kian menipis, pepohonan yang rindang tampak amat jelas, kiranya waktu itu tengah malam telab tiba, rembulan bersinar dengan terangnya di-awang2.
Dengan mulut membungkam kedua orang itu melakukan perjalanannya, setelah lewat sesaat tiba juga mereka berdua diluar lembah tersebut.
Suatu ketika tiba2 Han Siong Kie menghentikan larinya kemudian berkata .
"Adik Hui. Aku ingin mengunjungi gelanggang pertarungan siang tadi!' "Mau apa engkau pergi kesitu?!"
"Aku hendak mencari mayat seseorang demi selamatkan jiwaku ia telah mengobankan diri ditangan Tengkorak maut gadungan"
"Siapa yang kau maksudkan?"
"Nona Go Siau Bit"
"Engkau maksudkan gadis yang hendak membongkar kuburanmu sewaktu berada di bukit kecil luar Lian huan tau?"
"Benar... dialah yang kumaksudkan"
"Engkau tak usah cerita lagi, sebab tak ada gunanya"
"Kenapa?"
"Gadis itu tidak mati, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia berlalu dari sana, cuma luka dalam yang dideritanya teramat parah"
"Aaai... Aku sangat berhutang budi kepadanya.."
Bisik Han siong Kie sambii menghembuskan napas panjang. Tonghong Hui tertawa sedih, selanya dari samping.
"Engkoh Kie, apakah engkau tidak tahu nona Go itu menaruh perasaan cinta yang mendalam kepadamu?"
"Ah, adik Hui tak usah engkau bicarakan persoalan itu, aku segan mendengarkan masalah macam begitu..
"oh ya, aku harus melakukan pemeriksaan dahulu didalam batang pohon Liu dekat dermaga penyeberangan itu. Selesai berbicara ia segera berangkat lebih dahulu menuju ke hutan pohon liu seperti yang dimaksudkan. Tonghong-Hui membungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia mengintil di belakang anak muda itu. selang sesaat kemudian sampailah Han siong Kie ditempat kejadian dimana mayat2 dari Mo Sam yu sekalian yang mati dibunuh malaikat hawa dingin ditemukan. sebuah tanah gundukan baru muncul ditepi hutan, ini menunjukkan bahwa kelima orang tianglonya telah mengebumikan mayat-mayat itu seperti apa yang ia perintahkan tapi kemana perginya kelima orang tianglo itu..? Dari situ menuju ke gelanggang pertarungan terpaut tak begitu jauh, bila mereka tidak temukan kejadian yang ada diluar dugaan, tak mungkin mereka mangkir, tapi... apa yang sebenarnya terjadi? "
Engkoh Kie apaan ini? kok seperti gundukan tanah kecil?"
Terdengar Tonghong-Hui memecahkan kesunyian.
"Kuburan masal"
"Kuburan massal? siapa yang dikubur di tempat ini??"
"Penghianat2 dari perguruanku"
"Perguruan? Maksudmu perguruan engkoh Kie??"
Han siong Kie secara ringkas lantas menceritakan apa yang telah dialaminya selama ini. Selesai mendengar kisah tersebut, Tonghong-Hui menghela napas panjang dan berkata.
"Jadi kalau begitu engkoh Kie telah menjadi bakal majikan istana Huan mo kiong di Thian lam?"
"Adik Hui, ketahuilah perintah guruku tak bisa dibantah, kalau bukan begini apa gunanya kucari banyak kesulitan bagi diriku sendiri? Hayo kita berangkat"
Dengan ilmu meringankan tubuh yang semcurna berangkatlah kedua orang itu melakukan perjalanan cepat, baik siang maupun malam mereka lanjutkan terus perjalanannya dengan diselingi waktu istirahat yang amat singkat.
Tiga hari kemudian baru saja fajar menyingsing sampailah kedua orang itu di depan benteng maut.
ombak menghantam tepian batu karang memercikkan butiran air ke empat penjUru.
itulah Benteng maut yang disegani dan ditakuti setiap umat persilatan.
Kedua orang muda mudi itu langsung menuju ke batu cadas dimana untuk pertama kalinya mereka berkenalan disitu.
Memandang batu karang yang tetap seperti sedia kala, tanpa terasa pikiran mereka melayang dan membayangkan kembali kejadian dimasa lampau..
"Engkoh Kie"
Tiba2 Tonghong-Hui buka suara memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad.
"masih ingat soal kita angkat saudara di tempat ini.."
"Adik Hui, kenangan seindah itu tak akan kulupakan untuk selamanya, sampai mati pun akan kuingat terus peristiwa besat itu"
"Aai.. semoga apa yang kita bayangkan jangan sampai terjadi.."
Bisik gadis itu dengan sedih, tiba2 ia menengadah dan menatap anak muda itu tajam2.
"Engkoh Kie, sekarang juga aku akan kembali kebenteng maut..."
"Akan kunantikan kedatanganmu disini adik Hui, selama dua hari aku tak akan berlalu dari tempat ini, akan kunantikan kedatanganmu kemari sambil membawa warta gembira"
"Tunggulah aku disini engkoh Kie, mungkin tak sampai dua hari, atau mungkin juga hanya beberapa jam saja.."
"Pokoknya aku tak akan menunggu kedatanganmu selama dua hari, semoga ... semoga kita masih dapat berjumpa kembali dibatu karang ini dalam keadaan hidup..! ' '"
Akupun berharap bsgitu.. engkoh Kie, semoga apa yang kita harapkan tidak sia2; aku ."
Berbicara sampai disitu Tonghong Hui tak mampu menguasai diri lagi.
ia menangis ter sedu2.
sambil mendekap mukanya gadis itu berlarian meninggalkan tempat itu..
Han Siong Kie hanya bisa berdiri termangu sambil memandang bayangan tubuhnya yang makin menjauh, di mana akhirnya lenyap dibalik benteng maut.
0000dOw0000 Bab 50 MENANTI adalah suatu pekerjaan yang paling membosankan, dengan susah payah Han Siong Kie telah menunggu muncul nya Tonghong hui dari balik benteng maut yang mengerikan.
Ini hari adalah hari terakhir dari perjan jian mereka, bila Tongbong Hui tidak munculkan diri juga.
itu berarti pemilik benteng maut betul!
adalah pembunuh orang tuanya, dan itu berarti pola Tonghonk Hui telah mengambil keputusan pendek..
Ditatapnya benteng maut itu dengan mata melotot, dia sangat berharap akan kemunculan Tonghong Hui..
Menit demi menit telah lewat, Tonghong Hui tidak muncul juga dari balik benteng maut, jejaknya se-akan2 lenyap tertelan perut bumi Kini sang surya telah tenggelam disebelah barat, sebentar malam akan menjelang tiba, tapi Tonghong-Hui belum tampak juga batang hidungnya..
Pemuda itu berdiri kaku bagaikan sebuah patung area diatas bukit karang itu, tenggelamnya sang surya telah menutupkan pula satu2nya harapan yang didambakan selama ini.
Akhirnya sekujur badannya gemetar keras, dengan bibir yang pucat ia berbisik lirih.
"Habislah riwayat adik Hui.. habis sudah riwayatnya.. oh. tampaklah garis takdir telah menetapkan kami harus menderita.."
Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat pias seperti mayat.
Tonghong-Hui telah berkata, jika ia tidak keluar lagi setelah batas waktunya habis, itu berarti ayahnya benar2 adalah pembantai keluarga Han dan keluarga Thio, itu berarti pula ia sudah berkorban demi cinta.
Kini batas waktunya telah habis dan gadis itu tak pernah muncul kembali dihadapannya, itu berarti ia telah bunuh diri.
"Adik Hui.."
Akhinya ia berbisik lagi.
"Setelah selesai aku membalas dendam akan kususul dirimu kealam baka kita akan hidup bahagia disitu"
Meskipun dia membenci kaum wanita, pandangan itu terwujud karena ibunya telah memberikan pukulan batin yang amat berat kepadanya, dalam kenyataan didasar hati kecilnya ia mempunyai juga bara api cinta, semua kebenciannya terhadap wanita berhasil dilelehkan oleh kobaran cinta yang amat mendalam dari Tonghong Hui..
Dan kini kekasihnya yang tercinta telah tiada, berkobarlah api dendam dan benci di dasar hati kecilnya, dengan langkah tegak selangkah demi selangkah ia turuni bukit karang itu dan berlalu menuju benteng maut.
sepasang matanya merah membara, penuh pancaran api kebencian dan nafsu membunuh..
Tatkala kakinya melangkah diatas jembatan batu yang menghubungkan daratan dengan benteng maut, segulung ombak memecah ditepian dan memercikkan air yang dingin diatas wajahnya.
Hawa dingin menyadarkan kembali pemuda itu dari pengaruh emosi, ia jadi teringat kembali akan pengalamannya datang benteng maut tempo dulu, andaikata tiada Tonghong Hui yang memberikan bantuannya, niscaya dia telah terkurung untuk selamanya dalam benteng "Aku tak boleh berbuat bodoh..?"
Ingatan teriebut dengan cepat melintas dalam benaknya.
kalau aku nekad itu berarti aku bodoh aku hendak mencari mati konyol bagi diri sendiri., sekarang tak mungkin aku bisa menangkan Tengkorak maut, ilmu silatku masih ketinggalan jauh sekali.."
Tanpa sadar ia meraba ke sakunya sendiri, disitutah tersimpan sspasang sarung tangan Hud jiu po pit.
"Aku harus melatih dulu ilmu sakti yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu po pit!
pikirnya dihati, setelah ilmu sakti tersebut berhasil kuyakinkan barulah kupikirkan lagi soal pembalasan dendam, kalau aku terlalu ceroboh maka akhirnya pasti akan menyesal., bila aku sampai mati bagaimana pertanggungan jawabku terhadap ayah?
Su-siok?
Dan semua keluarga yang telah tiada?
Bsrptkir sampai disitu tak kuasa lagi ia segera menghentikan langkah kakinya.
Lama sekali ia menatap lambang tengkorak berwarna merah darah yang tertera di depan pintu benteng, akhirnya ia putar badan dan berlalu dari tempat itu..
Ia mendekati kembali keatas batu karang itu dan memandang bangunan seram dihada pannya dengan termangu2.
Sekarang sndah jelas terbukti bahwa Pemilik benteng maut tak lain adalah algojo yang membantai dua ratus lembar jiwa keluarga nya.
Lalu apa maksud Manusia yaog kehilangan sukma suruh dia berkunjung kebeoteng maut dan membeberkan asal usulnya ?
Mungkin kab dia mempunyai tujuan tertentu?
Rasanya tak mungkin kalau dia bertujuan, sebab untuk membebaskan niat tonya yang tertotor.
bukankah dia rela mengorbankan lengan sendiri?
Pelbagai ingatan berkecamuk didalam be nasnya, setelah termangu sesaat akhirnya dia mengambil kepntusan.
untuk sementara waktu tas akan memikirkan soil balas de^i dam, dia harus berlatih ilmu dulu sebelum mel akukan semua tugasnya.
Setelah menatap kembali benteng maut.
pemuda itu bergumam .
"Bila aku datang untuk kedua kalinya kesini, itulah berarti saat kehancuran dan benteng maut telah tiha, adik Hui! Beristi rahatlah dengan tenang dialam baka!"
Berbisik sampai disitu.
dia lantas menjejakkan kakinya keatas tanah dan meluncur turun dari batu karang itu dan menuju kejalan raya.
Meskipun ia membenci perempuan, tapi kematian dari Tonghong l-Hui membuat ia sakit hati dan merasakan pukulan batin yang berat.
Pemuda itu telah mengambil keputusan, dia akan berangkat kelembah in wu san dan melatih ilmu sakti yang tercantum dalam Hud jiu po pit hingga berhasil, sebab hanya tempat itulah rasanya merupakan tempat paling cocok untuk berlatih ilmu.
Entah berapa jauh ia sudah berjalan, suatu ketika tiba2 telinganya menangkap suara rintihan lirih berkumandang dari tepi hutan-Han siong Kie memperlambat larinya, ia menduga ada orang yang terluka atau menderita penyakit parah mengggeletak disana, dengan perasaan ingin tahu berangkatlah anak muda itu mendekati arah mana berasalnya suara rintihan tersebut.
Dengan gerak tubuhnya yang cepat, hanya sekali berkelebat tahu2 ia sudah tiba ditempat tujuan, apa yang kemudian terlihat seketika mengejutkan hatinya.
Tampaklah seorang manusia aneh berambut putih berbaju merah menggeletak ditepi sebatang pohon besar, orang itu ternyata tak lain adalah Ang nio cu perempuan baju merah Tonghong Leng adanya.
Tenaga Iwekang yang dimiliki Ang nio cu tidak terpaut jauh bila dibandingkan dengan kekuatan dari malaikat hawa dingin Mo siu ing dengan kepandaian selihay itu jarang ada orang yang mampu melukai mereka hingga separah itu.
Tapi sekarang, nenek tua itu sudah terluka, bahkan napasnya sudah senin kemis dan lemah sekali, lalu siapakah yang telah turun tangan terhadap dirinya?
Tiba2..
satu ingatan terlintas dalam benak anak muda itu, dia masih ingat dikala terjadi pertarungan melawan Tengkorak maut gadungan, Ang nio cu pernah membantu tengkorak itu, siapa tahu kalau nenek tua ini pernah mengetahui paras mukanya yang asli?
Dengan perasaan ingin tahu, pemuda itu berjalan mendekati tubuh Ang nio cu, ia lihat nenek itu menggeletak dengan mata terpejam dan muka pucat ke abu2an, napasnya sangat lemah dan sedang me rintih2.
Dihanpirinya jago perempuan itu, kemudian ia berseru.
"Ang nio cu, sadarlah"
Perlahan Ang nio cu membuka matanya yang sayu dan melirik sekejap kearah anak muda itu, mimik wajahnya berkerut kencang lalu dia pejam kembali matanya.
Dari keadaan lawannya, Han siong Kie tahu bahwa luka yang diderita nenek ini parah sekali, tanpa terasa sepasang alis matanya berkernyit.
selang sesaat satu ingatan melintas dalam benaknya, segera dia berpikir dihati.
"Bodoh amat aku ini, kenapa tidak kubantu dirinya hingga sadar kembali ? Asal dia sudah sadar kan bisa kuajak untuk berbicara ?"
Karena berpikir demikian, ia lantas duduk bersila disamping Ang nio cu dan tempelkan ujung jari tengahnya pada jalan darah Mia bun hiat ditubuh nenek itu, segulung hawa murni segera tersalur keluar lewat ujung jarinya itu dan menyusup ketubuh lawan.
Tidak selang beberapa saat kemdian, paras muka Ang nio cu sudah jauh labih baikan, dan diapus sudah sadar pula dari pingsan nya, melihat nenek itu sudah sadar, cepat Han siong Kie tarik kembali kekuatan jarinya dan mundur tiga langkah ke belakang.
"Uuaak.."
Perempuan itu muntah darah kental, lalu membuka matanya kembali dan memandang sekejap kearah Han siong Kie dengan sorot mata tercengang.
"Manusia muka dingin, engkau selamatkan jiwaku"
Serunya agak tertegun.
"Menolong? jangan kau anggap aku telah menolong engkau.."
"Manusia muka dingin, ketahuilah aku Ang nio cu selama hidup paling tak suka menerima budi kebaikan orang"
"Aku tiada bermaksud untuk melepaskan budi kebaikan kepadamu"
"Tapi toh engkau yang telah selamatkan jiwaku"
"Aku bukan menolong tanpa maksud, aku mempunyai tujuan tertentu terhadap dirimu"
"Lalu apa tujuanmu itu"
"Apa hubunganmu dengan Tengkorat maut?"
Berubah hebat air muka Ang nio cu setelah mendengar pertanyaannya itu, dengan penuh kebencian ia berseru. ''Apa yang kau tanyakan?.' "Apa hubungan mu dengan Tengkorak maut?!"
"Aku hendak membinasakan dirinya!"
Jawab Ang-nio cu sambil menggigit bibir menahan emosi.
"Lho., engkau kok malah hendak membunuh dirinya??"
"Benar, manusia itu harus dibunuh dan di cincang menjadi berkeping2.,"
"Siapa yang kau maksudkan?!" 'Tengkorak maut??"
Tiba2 Ang nio cu bangkit brdiri, kemudian serunya pernah emosi .
"Aku ingin tanya dikolong langit ada berapa orang tengkorak maut.,"
"Ada dua orang, kenapa ?"
"Dua orang?!"
"Yaa, yang satu adalah pemilik benteng maut yang asli. sedang yang kedua adalah-Tengkorak maut gadungan yaog sudah kau bantu tempo hari!"
"Apa..? Masa Tengkorak mautpun ada yang gadungan?"
Teriak Ang nio cu dengan mata melotot besar.
"Ooh jadi engkau tidak tahu kalau dia adalah Tengkorak maut yang gadungan?"
Han siong Kie ganti bertanya setelah tertegun sebentar. Ang nio cu gelengkan kepalanya berulang tali.
"Tidak mungkin., masa dia adalah Tengkorak maut gadungan? Kalau memang ada yang palsu, mengapa dandanan maupun pakaiannya persis dan sedikitpun tak ada bedanya.."
Sementara itu Han siong Kie sendiripun sedang berpikir dalam hati.
"Perempuan ini she Tonghong, sedangkan Hui putri Tengkorak maut Juga she Tong-hong, jangan2 Ang nio cu memang ada hubungan yang sangat akrab dengan Tengkorak maut..?"
Belum habis ia termenung, Tiba2 Ang nio cu menjerit keras seraya berseru.
"Aah,, sekarang akia baru tahu"
Kiranya beginilah duduknya persoalanya tak aneh kalau ia turun tangan sekeji itu kepada diri kuu nenek tua.... rupanya begitulah kejadiannya..."
"Jadi engkau terluka parah ditangan Tengkorak maut gadungan?"
Tanya Han siong Kie kemudian.
"Begitulah kejadiannya, aku sinenek tua memang benar2 sudah buta, ternyata siapa yang asli siapa yang gadungan saja tak mampu membedakan, Aaai.... seandainya.."
Berbicara sampai disitu dia lantas membungkam.
"seandainya kenapa?"
Cepat anak itu berseru.
"seandainya.."
Kembali Ang nio cu membungkam, dengan paras muka ketakutan tiba-tiba ia melirik sekejap kearah hutan.
Menyaksikan tingkah laku orang itu, Han siong Kie tercengang dan tanpa sadar ikut melirik pula kearah hutan, tapi suasana di situ tetap sunyi tak nampak sesosok bayangan manusiapun, ini semakin mencengangkan hatinya.
"Eeh.. sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Ang nio cu ragu2 sebentar, akhirnya ia berkata juga.
"seandainya iblis tua itu tidak muncul tepat pada waktunya sehingga membuat dia menyingkir dengan ketakutan, mungkin sekarang nyawaku sudah berpulang kealam baka."
Sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dia tak tahu makhluk macam apakah iblis tua yang dimaksudkan Ang nio cu, dan diapun tak tahu siapakah iblis tua yang sanggup membuat lari Tengkorak maut.
Melihat nenek itu tidak melanjutkan kembali kata2nya, cepat dia menimbrung lagi.
"Siapa yang kau maksudkan iblis tua itu?
Ang nio cu tidak langsung menjawab, untuk kedua kalinya dia memandang sekejap sekeliling tempat itu dengan ketakutan, setelah yakin kalau tempat itu aman, barulah dia berkata.
"Iblis tua ini sudah lenyap jejaknya dari dunia persilatan sejak enam puluh tahun berselang, sungguh tak disangka ternyata ia masih hidup segar bugar dikolong langit.."
"siapa orang itu?"
"Iblis itu adalah Hun si mo ong"
"Raja iblis pengacau dunia..?"
"Betul, pernah kau dengar nama iblis ini ?"
Han Siong Kie segera menggeleng.
"Baru pertama kali ini kudengar nama tersebut, apakah dia yang telahmenyelamatkau jiwamu dari tangan Tengkorak maut?!"
"Dia tidak turun tangan keji ke padaku sudah merupakan suatu rahmat yang besar bagiku, masa dia mau tolong jiwaku?! "
Lho., kan engkau sendiri yarg mengatakan begitu..?!"
Memang dia telah munculkan diri, tapi justru karena kemunculannya itu telah mem buat Tengkorak maut gadungan jadi ketakutan maka loloslah jiwaku dari arcaman mautnya! "
"Kenapa?!"
Sepanjang hidupnya.
Hun si Mo ong mempunyai satu peraturan yaitu terhadap orang2 yang lebih rendah kedudukannya, dia hanya melepaskan sebuah pukulan saja.
baik mati atau hidup tak akan ia lancarkan serangan yang kedua, meskipun begitu jarang sekali asa orang yang sanggup menahan sebuah pukulannya dengan selamat selain itu diapun masih mempunyai satu peraturan lagi yakni dia tak akan turun tangan terhadap orang2 yang sedang teiluka !
Han siong Kie sama sekali tidak kenal siapa yang dimaksudkan sebagai Hun si Mo-ong itu, kareianya diapun tak ingin bertanya lebih jauh.
pokok pembicarian segera dialihkan ke soal yang lain.
"Apakah waktu itu engkau sedang berada dalam perjalanan menuju Ke benteng maut?"
Ang nio cu agak tertegun, menyusul mana segera menganggur tanda membenarkan.
"Benar, darimana kau bisa tahu?"
Paras muka Han siong Kie berubah jadi serius, dengan suara yang dingin menyeramkan dia berkata.
"Ang nio cu, sebenarnya apa hubunganmu dengan pemilik benteng maut?"
Sekujur badan Aog niocu bergetar keras dengan agak sempoyongan dia bangkit berdiri, kemudian menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip.
"Apa maksudmu mengajukan pertanyaan ini?"
Serunya.
"Engkau tak usah menanyakan apa maksudku, jawab saja pertanyaan yang kuajukan ini!"
"Manusia muka dingin, dengan berdasarkan apakah engkau mengutarakan tuduhan tersebut?" ' "Bukankah engkau berasal dari satu marga dengan pemilik benteng maut?"
"Apalagi engkau pernah membantu tengkorak maut gadungan untuk menghadapi diriku, meskipun engkau telah menganggap yang gadungan sebagai yang asli tapi jelas sudah menunjukkan kalau engkau memang bermaksud untuk membantu dirinya, hayo apa yang bisa kau katakan lagi?"
Paras muka Ang nio cu menunjukkan perubahan yang sangat hebat, rupanya dia sangat terpengaruh oleh emosi yang bergejolak dalam dadanya, lama sekali baru katanya.
"Maaf, aku tak bisa menerangkan soal ini kepadamu"
"ooh, jadi engkau tak mau bicara?"
Ucapan tersebut amat kasar dan sedikitpun tak sungkan2, kontan air muka Ang nio cu berubah hebat, akhirnya sambil menggigit ujung bibir katanya.
"Manusia muka dingin, ketahuilah aku si nenek tua paling segan kalau digertak atau diancam dengan kekerasan"
"Digertak? Diancam? Hahhhahh.... haahh... haahhh.... haahh.. tak bisa kukatakan suatu gertakan atau ancaman sebab bila ingin kucabut jiwamu pada saat ini maka perbuatan itu bisa kulakukan dengan gampang seperti membalikkan telapak tangan sendiri, cuma aku tak ingin melakukannya sebab aku harus membuktikan dulu akan satu persoalan"
"Mengapa begitu?"
"Terus terang kuberitahukan kepadamu, .antara aku dan pemilik benteng maut sebetulnya terikat oleh suatu dendam yang tak bisa diselesaikan sebelum salah satu pihak mati binasa"
Dengan terperanjatnya Ang nio cu mundur beberapa langkah kebelakang, akhirnya ia bersandar pada dahan pohon dan berdiri dengan tubuh lemas.
Tapi hanya sebentar saja ia sudah berhasil menenangkan kembali hatinya, dengan suara dalam ucapnya.
"Manusia muka dingin, memang dugaanmu tepat, aku mempunyai hubungan yang amat erat dengan pemilik benteng maut, sebab dia tak lain adalah adik kandungku sendiri, Nah Kalau ingin turun tangan, cepatlah lakukan"
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, teringat kematian yang menimpa anggota keluarganya, rasa benci dan dendam berkecamuk didalam dadanya.
Tanpa bisa dikendalikan lagi dia maju beberapa langkah kedepan, sepasang telapak tangannya disilangkan di depan dada kemudian perlahan2 diayun kemuka.
Ang nio cu tetap tenang, sedikitpun tidak kelihatan takut ataujeri, ia tetap menatap anak muda itu tanpa berkedip.
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, ia tarik kembali tangannya dan mundur selangkah ke belakang.
"Manusia berwajah dingin, mengapa tidak kau lanjutkan seranganmu itu..?"
Serus Ang nio-cu dengan lantang.
"suatu saat pasti akan kulakukan, tapi sekarang tidak. aku tak ingin menghadapi seseorang yang tak mampu melakukan perlawanan, akan kutunggu sampai tenaga dalammu pulih kembali"
Dengan suatu pandangan yang penuh perasaan heran dan tak habis mengerti, Ang nio-cu menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip.
ia tak mampu berkata2 kecuali memandang dengan mulut melongo.
Dengan dingin Han siong Kie menyapu pula sekejap kearah perempuan tua itu akhirnya dia putar badan dan berlalu dari situ..
"Manusia berwajah dingin"
Tiba2 seseorang memanggil namanya dengan suara yang nyaring.
Dengan hati terkejut anak muda itu berpaling kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah seorang dara berkain cadar hitam berdiri kurang lebih tiga kaki di hadapannya.
Gadis berkerudung itu tidak terlalu asing baginya, sebab orang itu tak lain adalah orang yang ada maksud, perempuan misterius itu.
sebagaimana biasanya, kemunculan gadis yang serba misterius itu berarti pula dengan akan terjadinya suatu peristiwa yang luar biasa, maka anak muda ini segera maju sambil menyapa.
"Nona, rupanya engkau yang telah datang"
"Manusia berwajah dingin, sepantasnya kalau kupanggil engkau sebagai ciangbunjin sebab sebutan itu paling cocok untukmu"
Han siong Kie tertawa jengah.
"Aih, nona pandai bergurau .... sampai sekarang aku mah belum secara resmi memimpin perguruan Thian Lam masa engkau sebut diriku sebagai ciangbunjin?"
"Sekalipun secara resmi belum memangku jabatan, toh namanya sudah tercantum, bukankah begitu?"
Han Sioog Kie tak ingin melayani pertanyaan tersebut lebih jauh, dia lantas alihkan pokok persoalan kemasalah yang lain, katanya .
"Aku rasa kehadiran nona ditempat ini pasti bukan tanpa sebab bukan? Boleh aku tahu apa tujuanmu?!"
"Tebakanmu memang tepat, aku datang dengan membawa tujuan, akan kusampaikan suatu berita penting kepadamu!"
"Suatu berita penting?! "
Benar, perlu kukabarkan kepadamn, kelima orang tiaoglo dari perguruanmn sedang menemui mara bahaya! " -ooo0d0w0ooo-
Jilid 25 BETAPA terperanjatnya Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, cepat2 dia bertanya.
"Mereka telah menemui mara bahaya dimana ?"
"Tee kun yang menjabat ketua perguruan saat ini telah masuk kedaratan Tionggoan diiringi dua puluh orang jago saktinya, dalam suatu bentrokan yang kemudian terjadi, kelima orang tianglo mu sndah terjatuh ketangan mereka."
"Sekarang mereka berada dimana?"
"Kelima orang tianglo itu sedang berada dalam perjalanan menuju kemarkas besar perkumpulan Thian che-kau !"
"Lho...kok aneh?"
Seru Han Siong Kie keheranan.
"Kenapa kelima orang tianglo itu malahan dibawa ke markasnya perkumpulan Thian che kau, memang apa hubungannya mereka dengan pihak Thian lam?"
"Tee-kun dari istana Huan mo kiong saat ini telah bersekongkol dengan pihak Thian che kau untuk ber-sama2 menghadapi dirimu, dibekuknya kelima orang tianglo itu boleh dibilang hanya suatu pancingan belaka, boleh juga dibilang sebagai sandera, agar engkau terpaksa terjerumus kedalam perangkap mereka."
Gemetar sekujur badan Han siong Kie menahan golakan emosi dalam hatinya, sinar matanya berubah jadi bengis dan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sekarang sudah jelaslah duduknya persoalan, tampaknya Tee-Kun yang sekarang masih ingin mempertahankan kedudukannya sebagai seorang ketua perguruan, maka mereka lebih suka bersekongkol dengan orang luar dari pada jabatannya dicopot dengan begitu saja.
"Terima kasih banyak buat pemberitahuan dari nona,... aku akan segera berangkat."
"Engkau akan pergi kemana?"
"Mana lagi? Tentu saja markas besar perkumpulan Thian che kau untuk menolong orang"
"Kan sudah kukatakan kepadamu tadi, bahwa mereka masih berada ditengah perjalanan"
"Masih berada ditengah perjalanan?"
Ulang si anak muda itu dengan wajah tercengang.
"Benar, saat ini mereka masih ada diperjalanan, Bila engkau bermaksud untuk temukan mereka, maka berangkatlah kearah timur sejauh sepuluh li dengan melusuri jalan raya ini, kemudian berbeloklah menuju ke arah selatan, disitu akan kau temukan sebuah kereta kuda yang tertutup terpal tebal, kelima orang tianglo tersebut berada dalam kereta itu, Cuma... sebelum engkau bertindak, terlebih dahulu ada sepatah dua patah kata hendak kusampaikan kepadamu dan aku harap engkau suka mengingatnya secara baik2"
"Apa yang hendak nona katakan? silahkan kau utarakan.."
"Engkau hanya boleh menolong orang, tapi dilarang keras untuk mencelakai jiwa orang"
"Mengapa begitu?".
"Jangan kau tanyakan mengapa harus begitu, cukup asal engkau ingat selalu akan perkataan tersebut, berhasil menyelamatkan orang2mu lebih baik cepatlah tinggalkan tempat itu, sebab kalau sampai kesusul pasukan besar yang berada dibelakang, sulitlah untuk dikatakan bagaimana akhir dari pertarungan itu"
"Maksud nona, aku tak akan mampu menandingi kelihayan lawan?"
"Begitulah yang kumaksudkan"
Diam2 Han song Kie mendengus dingin, Lantas dalam keadaan begini ia tak suka banyak membantah, setelah menjura diapun berseru.
"Bantuan yang diberikan nona dan ibu nona sudah terlampau banyak. suatu ketika budi kebaikan ini pasti akan kubayar, Nah untuk sementara waktu kita berpisah sampai disini saja, sampai ketemu lain kali"
Kakinya segera menutul permukaan tanah dan berlalulah anak muda itu meninggalkan hutan tersebut.
Ang nio cu yang masih berada disisi gelanggang hanya bisa berdiri dengan mata mendelong dan mulut melongo, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau bocah yang bermuka dingin itu sebetuinya tak lain adalah bakal ciangbunjin dari istana HHuan mo kiong.
000dw00 BAB 51 MENANTI bayangan punggung dari Han siong Kie telah lenyap dari pandangan mata, orang yang ada maksud baru melangkah maju kedepan dan menghampiri Ang nio-cu yang masih berdiri tertegun.
pada waktu itu luka dalam yang diderita Tonghong Leng belum sembuh betul2, ketika dilihatnya orang yang ada maksud menghampiri dirinya, kontan saja paras mukanya berubah hebat, cepat ia menegur.
"Hey bocah perempuan, apa yang hendak engkau lakukan ?"
Orang yang ada maksud tersenyum, kemudian dengan suara yang amat lirih dia membisikkan sesuatu...
Paras muka Ang nio-cu berubah hebat, menanti orang yang ada maksud telah menyelesaikan kata2nya, diu baru berkata dengan penuh perasaan emosi.
"oooh.. Rupanya sudah terjadi peristiwa sebesar ini? Aaai.. memang sudah terlalu lama aku hidup mengasingkan diri, sungguh tak kusangka telah terjadi peristiwa sedahsyat itu, baik serahkan saja semua persoalan itu kepadaku, nah susullah dirinya sekarang juga agar tak sampai terjadi sesuatu, aku berangkat kemudian"
Orang yang ada maksud tidak membuang waktu lagi, selesai memberi hormat dia lantas menutulkan ujung kakinya ke atas tanah dan segera berlalu dari sana.
Ang nio cu sendiri segera mengambil keluar dua biji obat dan menelannya kedalam perut, kemudian sambil menahan rasa sakit yang masih dideritanya, selangkah demi selangkah dia keluar dari hutan itu.
sementara itu, dipihak lain Han siong Kie sedang melakukan perjalanan dengan cepatnya menelusuri jalan raya seperti apa yang ditunjukkan gadis misterius itu.
Hawa napsu membunuh yang amat tebat telah menyelimuti seluruh wajahnya, ia tak mengira kalau Tee Kun yang sekarang begitu berani melanggar pantangan perguruan serta melakukan perbuatan yang terkutuk itu.
Per-tama2 dia sudah mengutus jago2 silatnya masuk kedaratan Tionggoan untuk mencari sari perawan gadis2 persilatan untuk melatih ilmu Tui hun kang yang terlarang, perbuatan ini sudah cukup diancam dengan hukuman mati, dan sekarang secara terbuka berani bersekongkol dengan perkumpulan Thian che kau untuk mencelakai tianglo perguruan serta bakal ketua perguruannya, tindakan ini semakin merupakan suatu perbuatan yang amat berdosa.
Dalam hati anak muda itu segera mengambil keputusan untuk melakukan pembersihan terhadap oknum2 yang berkhianat itu, agar perguruannya bersih dari unsur2 jahat dan membangun kembali kejayaan perguruannya.
sepuluh li ditempuh dalam waktu yang amat singkat, hanya sebentar saja dia sudah tiba ditempat yang dimaksudkan.
Jauh didepan sana, ia lihat debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, tampaklah sebuah kereta kuda sedang dilarikan dengan kencangnya menelusuri jalan raya itu.
Kereta itu sangat sederhana dan bentuknya umum sekali seperti kereta2 yang lain, andaikata tiada petunjuk dari orang yang ada maksud, mungkin dia sendiripun tak akan menyangka kalau kelima orang tianglonya sedang disekap dalam kereta tersebut.
Cepat dia menutulkan ujung kakinya keatas permukaan tanah dan melayang kedepan melampaui kereta itu, kemudian dengan suatu gerakan yang sangat cepat pula meluncur turun keatas permukaan tanah dan menghadang jalan pergi kereta itu.
Kemunculan seorang penghadang didepan mata sangat mengejutkan kedua ekor kuda penghela itu, sambil meringkik panjang ke dua ekor kuda itu segera mengangkat kaki depannya keudara.
Untung kusirnya cukup cekatan dan tidak ikut panik dibuatnya, sambil membentak keras ia tarik tali les kudanya sehingga kuda-kuda itupun berhenti berlari.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Han siong Kie menyapu sekejap isi sang kereta yang tertutup rapat itu, kemudian baru mengawasi sang kusir itu.
sang kusir memakai mantel warna hitam dengan sebuah topi lebar yang hampir menutupi sebagian wajahnya, pada waktu itu ia sedang menengadah seraya mengawasi penghadangnya.
Tapi begitu mengetahui siapa kah orang itu, paras mukanya kontan berubah hebat, dengan pandangan ketakutan ia menegur dengan suara berat.
"siapa engkau? Apt maksudmu menghadang jalan pergi kami?"
"Heehhh heehhh heeehhh....aku hanya ingin tahu siapa yang berada dalam kereta ini??"
"Tentang soal ini.. tentang soal ini.. aku rasa sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu bukan?"
"HHmm Aku tanya siapa yang berada dalam kereta ini??"
"Anggota keluarga majikan kami".
"Buka pintu kereta ini"
"saudara, sebenarnya apa maksud dan tujuanmu?"
Seru kusir itu dengan wajah semakin berubah.
"Tiada maksud apa2, aku hanya minta kepadamu agar membuka pintu kereta ini"
"saudara, sebenarnya engkau adalah sahabat dari golongan mana? Bila engkau membutuhkan sesuatu, katakan saja Majikan kami paling royal dan gemar bersahabat, berapa saja yang kau minta pastilah...."
"Heehhh... heehhh... heehh.. engkau tak usah berlagak pilon lagi dihadapanku, manusia bedebah Penghianat perguruan, hayo jawab, bukankah isi kereta ini adalah kelima orang tianglo pergururan Thian lam?"
Kiranya Han siong Kie berhasil memecahkan penyaruan dari kusir itu, rupanya orang itu tak lebih hanyalah penyaruan dari salah seorang pengawal baju kuning istana Huan mo-kiong, sebab dari tahi lalat yang berada diatas jidatnya ia telah kenali orang itu sebagai salah satu diantara pengawal2 baju kuning yang pernah dijumpainya belum lama berselang..
setelah mengetahui bahwa hasil penyamarannya ketahuan, pengawal baju kuniag itupun segera bangkit berdiri dan melepaskan topi lebar yang menutupi wajahnya, kemudian sambil berdiri diatas kereta serunya sambil tertawa dingin.
"Ucapaamu memang tidak keliru, isi kereta ini memang kelima orang tianglo dari istana Huan mo kiong, lantas apa yang hendak kau lakukan..?"
"Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, setelah mengetahui bahwa pihak lawan tak lebih hanya seorang anggota perguruannya, dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk membasminya dari muka bumi.
sambil menarik muka segera tegurnya.
"Engkau sudah tahu siapakah aku ini?"
Pengawal baju kuning yang menyaru sebagai kusir itu tampak agak tertegun, kemudian sahutnya.
"Bukankah engkau adalah manusia berwajah dingin?"
"Aku maksudkan.. kau sudah tahu belum akan kedudukanku yang sebenarnya dihadapanmu..?"
"Kedudukanmu? "
"Benar"
"Kan engkau belum menjelaskan, darimana aku bisa tahu akan kedudukanmu yang sebenarnya?"
Dari dalam sakunya perlahan2 Han siong Kie ambil keluar lencana mutiara ok kui kiu pay tersebut, kemudian diperlihatkan kepada lawannya.
Kontan saja air muka pengawal baju kuning itu berubah jadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah kearah belakang.
Kontan saja air muka pengawal baju kuning itu berubah jadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah kearah belakang.
"Tentunya sekarang engkau sudah tahu bukan siapakah aku ini?"
Ucap Han Siong Kie lagi sambil tertawa dingin.
Pengawal baju kuning itu tetap membungkam, sementara sorot matanya dengan tajam mengawasi sekejap sekitar gelanggang dengan pandangan jelalatan..
Melihat pengawal itu tak mau berlutut untuk memberi hormai, hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajab Han Siong Kie, dengaa suara rendah ia laatas menghardik.
"Setelah bertemu dengan lencana kehormatan, mengapa engkau tidak berlutut..? Hmm! Tampaknya engkau memang sudah bosan hidup!"
Sskali lagi pengawal baju kuning itu berdiri dengan tubuh gemetar keras, keringat mulai mengucur keluar membasahi ujung hidungnya.
Di saat2 yang amat kritis itulah mendadak terdengar ujung baju tersampok angin, menyusul mana muncullah puluhan sosok bayangan manusia yang langsung mengepung rapat sekeliling kereta kuda itu, tampaknya selain kusir kereta, secara diam2 kereta ini dilindungi pula oleh belasan orang jago lihay.
Dalam waktu singkat suasana berubah jadi tegang, setiap orang berdiri dengan kesiap siagaan, tak seorangpun yang buka suara memecahkan kesunyian tersebut.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap k "
Wanan Jago yang mengepung dirinya itu, kemudian setelah menyimpan kembali tanda lencana Ok-kui cu-pay itu kedalam sakunya, ia menuding kearah pengawal baju kuning tadi, kemudian katanya.
"Engkau telah melanggar peraturan, maka sesuai dengan paraturan yang berlaku dalam perguruan kesalahan tersebut haruslah dijatuhi dengan hukuman mati!"
Bersamaan dengan diucapkannya kata yang terakhir, telapak tangannya segera diayun kedepan, dengan taktik "menghisap"
Dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ia menghisap tubuh penghianat tersebut, untuk kemudian menjatuhkan hukuman mati kepadanya.
Pengawal baju kuning itu tampak ketakutan setengah mati, sebelum ia sempat berbuat sesuatu, tahu2 segulung daya hisapan yang sangat kuat telah membetot badan pengawal itu sampai sempoyongan maju kedepan.
Tampaknya pengawal itu bakal mampus di ujung telapak lawan, disaat yang kritis itulah mendadak horden kereta tersingkap, menyusul tenaga hisapan itu lenyap tak berbekas dengan begitu saja.
Dengan terjadinya peristiwa tersebut, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han Siong Kie, dia tahu pastilah ada seseorang jago tangguh yang bersembunyi di dalam kereta itu.
Pada saat dia tertegun karena pukulannya terhadang itulah, ber-puluh2 buah desingan-tajam yang membawa hawa pukutan dahsyat serta sambaran senjata rahasia berhamburan datang dari dua arah dibelakang tubuhnya, pukulan2 itu langsung ditujukan ke tubuhnya.
Cepat Han Siong Kie bertindak membela, sepasang telapak tangannya diputar sedemikian rupa melancarkan pukulan2 bergelombang yang sangat mengerikan, dalam waktu singkat semua ancaman yang tiba serta sambaran senjata rahasia yang tajam dapat terhalau semua hingga mencelat balik kebelakang.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, pengawal baju kuning tadi ayunkan cambuknya dan membedal kedua ekor kudanya untuk kabur dari situ diiringi suatu ringkikan kuda yang amat ramai, kabur lah kereta kuda itu menuju kedepan.
Betapa gusarnya Han Siong Kie menyaksikan kejadian itu, telapak tangannya kembali diayun kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Dua kali pekikan nyaring yang memilukan hati berkumandang membelah angkasa, dua ekor kuda penghela kereta tersebut sudah termakan oleh pukulan yang maha dahsyat itu hingga terjengkang dengan kepala hancur.
Dengan matinya dua ekor binatang penghela itu dengan sendirinya kereta itu pun tak mampu meneruskan usahanya untuk kabur.
Cepat pengawal baju kuning itu loncat bangun dari kursi kusirnya, kemudisn melarikan diri menuju ketengah kerumunan kawanan jago lainnya.
"Penghianat! Mau kabur kemana engkau?"
Bentak Han Siong Kie dengan penuh kegusaran.
"Hayo serahkan nyawamu"
Baru saja Pengawal baju kuning itu bangkit dan lompat ke udara.
satu bentakan nyaring telah menggelegar memecahkan kesunyian, menyusul mana suatu jerit kesakitan yang mengerikan menggema dludara, darah segar berhamburan ke mana2 dan robohlah jagoan tersebut dengan tubuh tertembus sampai berlubang.
Kiranya disaat yang terakhir itulah Han siong Kie telah menyergap lawannya dengar ilmu Tong kim ci yang lihay, tentu saja pengawal baju kuning itu tak kuasa menahan diri hingga binasalah jagoan tersebut.
Demontrasi kepandaian silat ini cukup menggetarkan hati siapapun yang menyaksikan, diam2 kawanan jago yang berkumpul diseputar gelanggang merasakan hatinya bergidik.
Menyadari betapa lihay dan tangguhnya si anak muda itu, secara beruntun dua gumpalan bola api warna merah dilepaskan ke udara, yang mana segera meledak sesudah berada di angkasa.
Han siong Kle mendengus sinis, dia tahu kawanan jago itu sedang melepaskan tanda bahaya dan mohon bantuan.
Sebelum anak muda itu bertindak lebih jauh, terdengar suara gemerincingnya suara besi yang saling beradu, kiranya kawanan jago yang berkumpul disekitar situ sama2 telah cabut keluar senjata tajam masing2 dan siap bertempur.
Han siong kie mendengus dingin, ia tak pandang sebelah matapun terhadap kawanan jago lihay yang mengepung dirinya, selangkah demi selangkah dia maju kedepan menghampiri kereta kuda itu, kemudian sekali ayun dia hantam kereta tersebut keras2.
Tapi ketika pukulan itu sudah mencapai tengah jalan.
tiba2 pemuda itu batalkan kembali niatnya, dia merasa pukulan itu percuma saja dan sama sekali tak ada gunanya, sebab kelima orang tianglooya yang disekap dalam kereta pasti sudah tertotok jalan darahnya hingga tak bisa berkutik, bila dia menyerang secara gegabah bukankah itu berarti hanya akan membahayakan jiwa mereka saja?
Baru saja Han siong Kie tarik kembali serangannya, mendadak segulung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya telah menyergap tiba, pukulan itu sangat keras bagaikan segulung ombak yang terhembus angin puyuh.
Anak mauch itu mendengus dingin, tanpa berpaling barang sekejappun, dia putar telapak tangannya kemudian menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blang...."
Terjadilah benturan keras yang memekikkan telinga, termakan oleh gulungan angin pukulan yang cukup keras itu hampir saja Han siong Kie mundur dengan sempoyongan.
Betapa terkejutnya sianak muda itu, Cepat dia berpaling, tampaklah seorang tampan yang agak berwajah bengis sedang berdiri dihadapan mukanya ....
sekilas pandangan saja, Han siong Kie telah mengenali siapakah orang itu, kontan ia tertawa dingin seraya menegur.
"Heehhh heehhh heehhh Yu Sau kun Memangnya engkau datang kemari untuk menghantarkan kematianmu? "
Memang tak salah, pemuda yang baru saja munculkan diri itu tak lain tak bukan adalah Yu sau kun, ketua muda dari perkumpulan Thian che kau.
Yu sau kun segera balas mengejek dengan suara yang tak kalah dinginnya.
"Hmm Manusia berwajah dingin, engkau tak usah tekebur dan berlagak sok disini, ketahuilah hari ini engkau sudah terkepung walaupun punya sayappun jangan harap bisa lolos dari tempat ini dalam keadaan selamat"
Berbareng dengan selesainya ucapan itu, sepasang telapak tangannya segera digosok lalu direntangkan kedepan, beberapa gerakan tersebut dilakukan dengan sangat cepatnya.
Han siong Kle menberikan pula reaksi yang tak kalah cepatnya, sebelum sepasang telapak tangan lawan sempat saling merapat satu sama lainnya.
dia telah sadar bahwa anak muda itu hendak mengeluarkan kepandaian anehnya untuk menghilangkan kekuatan orang.
Ia jadi cemas dan gelisah, tentu saja anak muda itu tak sudi memberi kesempatan kepada lawannya untuk melumpuhkan kekuatannya, sebelum pihak lawan sempat bertindak.
dia telah mendahului dengan melepaskan pula sebuah pukulan keras.
"Blaang"
Kembali terjadi bentutan keras terdengar satu jeritan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian.
Dengan sempoyongan Yu sau kun mundur sampai beberapa kaki jauhnya, darah kental mulai meleleh keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie memburu kedepan, ditatapnya sekejap anak muda itu lalu dia mengejek kembali.
"Yu Sau kun, saat kematianmu sudah tiba, ber-siap21ah untuk berangkat ke Akhirat!"
Diiringi suatu bentakan nyaring sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan.
gulungan angin pukulan yang amat dahsyat pun segera memancar kemuka dan menggulung tubuh lawan.
Jerit keras menggema dari empat penjuru kawanan jago yang berkumpul disitu pada panik semua, namun tak seorang pun yang bisa berbuat apa2..
"Jangan kau lukai dia"
Disaat yang paling kritis itulah, mendadak terdengar bentakan keras msnggema memecahkan kesunyian.
Bersamaan deogan menggemanya suara bentakan tersebut, tiba2 horden kereta tersingkap, menyusul segulung angin pukulan yang amat keras langsung menggulung kearah angin pukulan yang sedang dilepaskan Han Siong Kie..
"Duuk..blang..!"
Suatu benturan kerae kcmbali terjadi, kali ini Han Siong Kie kena tergetar sampai mundur satu langkah lebar kebelakang.
Seorang perempuan cantik berusia pertengahan dengan langkah yang amat santai perlahan2 munculkan diri dari balik ruang kereta, air mukanya kaku dan sedikit pun tidak membawa emosi, dengan suatu pandangan yang dingin ia menatap wajah Han Siong Kie tanpa berkedip.
Anak muda itu berdiri kaku dengan muka berubah hebat, hatinya terasa amat sakit bagaikan di sayat2 dengan pisau tajam, tubuh perempuan cantik setengah baya itu tak lain adalah ibunya sendiri, Siang go cantik Ong Cui Ing adanya.
Tak kuasa lagi dia mundur beberapa langkah kebelakacg dengan sempoyongan, mukanya berkerut kencang dan sebisa mungkin dia berusaha menahan pukulan batin yang dideritanya.
Sementara dia masih berdiri dengan wajah tertegun, Siang go cantik Ong Cui Ing telah berkata dengan suara dingin menyeramkan .
"Hey, manusia berwajah dingin, ini hari kaucu hujinmu tak nanti akan biarkan engkau lolos dari sini dalam keadaaan selamat..!"
Ucapan itu semakin menyayat perasaan Han Siong Kie, pukulan batin yang dideritanya pada saat ini telah msnghapus lenyap peringatan yang pernah diberikan Orang yang ada maksud kepadanya, Dia lupa kalau dirinya telah diperingatkan agar jangan melukai orang dan cepat2 membawa kabur kelima orang tianglonya.
Kini yang tercekam dalam benaknya yang satu ingatan yaitu membunuh, dia merasa hanya darah segar yang mengalir dari tubuh orang lain saja yang mampu menenangkan perasaan hatinya ini...
Maka diapun bergerak maju kedepan, sasarannya yang terutama adalah ketua muda dari Perkumpulan Thian che kau, yaitu Yu sau kun Demikianlah, begitu ucapan siang go cantik ong ciu ing baru selesai diutarakan keluar, tiba2 si anak muda itu menyergap maju kedepan, secepat sambaran kilat jari tangannya ditusuk kedepan melepaskan ber-puluh2 buah serangan jari yang tajam, seluruh serangan maut itu tertuju kearah Yu sau kun yang berdiri disamping gelanggang.
Padahal pada waktu itu Yu sau kun sedang menderita luka parah, dalam keadaan begitu gerak tubuhnya jadi lebih lamban dari keadaan dihari2 biasa, tampaknya dia tak bisa menghindarkan diri lagi.
serangan mematikan yang dilancarkan secara tiba2 ini jauh diluar dugaan siapapun juga, sebab semua orang tak mengira kalau anak muda itu bukannya melancarkan serangan ke arah Kau-cu hujin sebaliknya malah menyergap Yu sau kun yang sudah terluka parah.
Bayangan manusia berkelebat lewat didepan mata, menyusul seorang berseru tertahan.
Dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, Siang go cantik ong Cui ing berdiri dengan sempoyongan..
Rupanya disaat yang amat kritis itulah, berhubung tak sempat memberikan pertolongan lagi, maka perempuan itu segera berkelebat kedepan dan menyambut serangan jari lawan yang sangat keras itu dengan tubuhnya sendiri Kejadian ini di luar dugaan Han siong Kie, untuk sesaat ia jadi menjublak dengan mata melotot besar, sementara mulutnya bergumam seperti orang sedang mengigau.
"ooh.. ayah, sukmamu di alam baka pasti lebih tahu,janganlah menganggap putramu tidak berbakti.."
Ucapan itu sangat lirih, tak seorangpun diantara kawanan jago yang berada disana dapat menangkap ucapan itu dan lagi sekalipun mendengar juga tak ada yang tahu artinya sebab tak seorang pun yang mengetahui asal usul anak muda ini.
Hanya Siang go Cantik Ong Cui ing seorang yang mengerti akan bisikan tersebut paras mukanya kontan berubah hebat, secara beruntun dia mundur lagi beberapa langkah kebelakang.
Dengan menahan melelehnya air mata yang membasahi wajahnya, Han Siong Kie menjadi nekad tiba2 sepasang telapak tangannya dilontarkan kembali kearah depan.
Walaupun serangan itu sangat hebat bagaimanapun juga perempuan itu adalab ibunya sendiri, ketika serangan sampai ditengah jalan ia jadi tak tega, hingga tak kuasa lagi dia tarik kembali tujuh bagian tenaga pukulannya itu.
Selama pertarungan berlangsung Siang go cantik Ong Cui ing selalu menyembunyikan lengan kanannya dibalik ujung bajunya yang locggar, dia hanya melayani serangan lawan dengan telapak tangan kirinya.
"Blaang!"
Sebuah benturan keras kembali terjadi, sambil mendengus tertahan Siang go cantik Ong Cui ing mundur satu kaki kebelakang dengan sempoyongan.
Bentakan bentakan nyaring segera berkumandang dari empat penjuru, beberapa buah pedang dengan disertai desiran tajam serentak bergerak kedepan menyergap tubuh Han Siong Kie.
Pada saat itu kemarahan si anak muda itu sudah mencapai pada puncaknya, hawa napsu untuk membunuh menyelimuti seluruh benaknya, ketika merasakan datangnya ancaman pedang, cepat dia putar badan sambil melepaskan serangan telapak tangan dan serangan jari secara berbareng, desiran2 tajam langsung menyergap kearah kawanan jago dari Thian che kau yang sedang menyergap datang itu.
Dalam waktu singkat jerit kesakitan berkumandang saling susul menyusul, darah dan kutungan badan berhamburan dimana-mana.
Hanya sebentar saja mayat sudah bergelimpangan disanasini, keadaan betu!2 berubah sangat mengerikan.
Han Sioag Kie sudah mendekati kekalapan yang melintas dalam benaknya saat ini hanyalah membunuh, membunuh siapa saja yang dijumpainya...
Yang celaka tentu saja kawanan jago dari Thian che-kau, mereka jadi sasaran pelampiasan hawa napsn membunuhnya, siapa pun yang ditemui segera dibantai secara sadis..
darah telah berceceran menodai seluruh permukaan tanah, keadaan jadi begitu seram dan ngeri..
Akhirnya pembantaian itupun berhenti, seluruh jago yang hadir dalam gelanggang telah terbabat habis, yang masih hidup kini tinggal siang go cantik ong ciu Ing serta Yu sau kun dua orang.
Dengan badan yang kotor karena penuh berlepotan darah Han siong Kle melangkah maju kedepan, hawa napsu membunuhnya masih jelas menyelimuti wajahnya, selangkah demi selangkah ia maju ke depan menghampiri Yu sau kun yang sedang berdiri dengan muka pucat pias.
"Manusia berwajah dingin, apa yang hendak kau lakukan..?"
Bentak siang go cantik ong Cui ing dengan suara keras.
"Mau apa lagi? Heehh... heehh... heehh... tentu saja mau membunuh orang .."
"Engkau tak ingin menolong rekan2mu?"
"Tentu saja harus kutolong jiwa mereka, tapi akupun akan membunuh orang.."
"Kalau tidak kau lakukan pertolongan itu sekarang juga, sebentar engkau akan menyesal"
Han siong Kle tertegun dan untuk sesaat tak mampu berkata2, ia tak menyangka dalam keadaan seperti ini ibunya dapat mengucapkan kata2 tersebut.
Tapi sesaat kemudian ia sudah mendengus dingia seraya berkata.
"Kau-cu hujin yang terhormat,aku tahu engkau sangat menyayangi putramu, bukankah engkau takut kalau aku sampai mencelakai putra kesayanganmu itu..? Haahhh.... haahhh..haahhh...."
Pilu amat gelak tertawa itu, bukan saja penuh mengandung rasa benci yang tak terhingga bahkan membawa pula suara sindiran tajam.
Dengan suatu gerakan yang cepat sianggo cantik ong cui ing bergerak maju ke depan dan menghadang didepan tubuh Yu sau kun, kembali bentaknya keras.
"Han siong Kie, lebih baik cepat tolonglah rekanmu dan segera tinggalkan tempat ini"
"Akupasti akan menolong rekanku dan berlalu dari sini, tapi setelah kubinasakan dulu dirinya"
Sembari berkata selangkah demi selangkah dia masih maju terus kedepan, sekarang mukanya sudah berubah jadi mengerikan, begitu tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya bikin hati orang jadi bergidik.
"lbu, ijinkanlah aku untuk beradu jiwa dengan bedebah itu"
Teriak ketua muda Thian che kau dengan nada penasaran.
Dengan langkah sempoyongan dia berusaha untuk bergerak maju kedepan, Tapi siang go cantik ong cui ing bertindak lebih cepat, kembali dia menghadang jalan pergi anak muda ini seraya berkata.
"Kunji, jangan bertindak gegabah"
Betapa pedih dan sakitnya hati Han siong Kie, ia merasa dunia serasa kosong jadinya secara tiba2, dari sikap ibunya itu dia tahu bahwa ong cui ing lebih sayang terhadap putra keduanya ini daripada terhadap dirinya.
Tekanan batin ini membuat hawa napsu membunuhnya semakin tebal.
Meskipun ia sudah nekad untuk melakukan pembunuhan, akan tetapi ia belum tega untuk membinasakan ibunya sendiri, tentu saja perasaan ini lain bila ditujukan terhadap Yu sau kun, ia menganggap bocah itu sebagai putra ibunya dengan lelaki lain, maka dia bertekad untuk melenyapkan dari muka bumi.
Hijau membesi selembar wajah siang go cantik ong cui ing, dengan suara gemetar serunya keras.
"Engkau tak boleh membinasakan dirinya"
"Kenapa tak boleh?"
"Tidak..tidak boleh, engkau tak usah tahu, pokoknya dia tak boleh kau bunuh"
Secara tiba2 Han siong Kie jadi teringat akan sesutatu peristiwa, waktu itu dia sedang mengebumikan jenasah gurunya yakni Mo tiong ci mo, tiba2 Yu sau kun munculkan diri dan dia bermaksud membinasakan anak muda itu, tapi orang yang ada maksud telah menghalangi perbuatannya itu.
satu ingatan cepat melintas dalam benaknya, ia merasa di balik kejadian itu tentu tersembunyi hal-hal yang tidak beres, cuma ia tak mau pikirkan persoalan tersebut dalam keadaan begini.
Dengan napsu membunuh yang lebih tebal menyelimuti wajahnya, kembali pemuda itu maju ke depan.
Jarak antara kedua belah pihak kian lama kian bertambah dekat, akhirnya selisih jarak kedua belah pihak tinggal lima depa saja.
Pada detik itulah mendadak siang go cantik ong cui ing putar badannya sambil melancarkan sebuah totokan, Yu sau kun segera berseru tertahan dan roboh terkapar diatas tanah.
Tindakan secara tiba2 yang dilakukan ong Ciu ing ini sama sekali diluar dugaan Han siong Kie, untuk sesaat dia jadi tertegun tak mampu ber-kata2.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya, secepat kilat siang go cantik ong Ciu ing telah menyambar Yu sau kun yang tertotok itu dan mundur satu kaki jauhnya dari tempat semula, dua titik air mata tampak membasahi pipinya, dengan suara gemetar dia berbisik.
"Nak...."
Han siong Kie gemetar keras, ia merasa panggilan tersebut sangat dikenal olehnya, hanya dia lupa dimanakah suara itupernah didengar olehnya, setelah tertegun sejenak, segera sahutnya dengan gemas.
"Engkau tak usah memanggil diriku dengan sebutan tersebut, aku bukan anakmu"
Tampaknya siang go cantik ong Ciu ing berusaha keras untuk mengendalikan emosi dihatinya, dengan suara yang lebih rendah kembali dia berseru.
"Nak, kau.."
"Jangan kau anggap dengan panggilanmu itu maka aku lantas membatalkan niatku untuk membunuh engkau, Hmm Kalau engkau berpendapat demikian maka kelirulah pandanganmu itu"
"Engkau tak akan memahami perasaan hatiku, tapi suatu ketika engkau akan mengerti bagaimanakah diriku ini"
Pada hakekatnya perempuan itu adalah ibu kandungnya sendiri, meskipun ia membenci ibunya yang kejam melebihi ular berbisa ini..
namun bagaimanapun juga perasaan kasih antara anak dan ibu masih ada.
Maka sambil menahan melelehnya air mata yang membasahi pipinya, ia menggigit bibir sambil berkata.
"Ucapanmu memang tak salah, aku tak akan paham, selamanya tak akan paham.."
"Eng kau tahu siapakah pemuda ini?"
"Bukankah dia adalah putra kesayangan nyonya? Ketua muda dari Thian che kau yang bernama Yu sau kun?"
"Keliru besar, dia bukan she Yu, semestinya dia bernama Thio sau kun"
"Hmm Lalu apa bedanya antara she Thio dan she Yu? Toh yang pasti dia adalah putra kesayangan nyonya?"
"Nak, engkau keliru besar, dia bukan anakku, dia adalah keturunan dari susiokmu Telapak naga beracun Thio Lin.."
"Apa..? Dia adaiah patra kandung Thio Susiok..?"
Teriak Han Siong Kie dengan suara gemetar, secara beruntun dia mundur tiga langkah ke belakang dengan perasaan terperanjat.
"Benar. dia adalab putra susiokmu!"
Telapak naga beracun Thio Lin telah selamatkan jiwanya dan mendidiknya hingga menjadi dewasa, budi kebaikan ini boleh dibilang melebihi tingginya bukit karang, seandainya Yu Sau kun benar2 adalah putra kandung susioknya, itu berarti dia pantas membayar segala hutang budi tersebut kepada putranya ini.
Tapi..
dapat di percayakah perkataannya ini?
Waktu itu dia masih bsrusia dua tahun, bukankah Thio susiok parnah berkata bahwa putranya telah mati dibantai musuh?
Atau mungkin perempuaa ini sengaja mengarang suatu cerita yang mengejutkan hati ini demi selamatkan jiwanya?
Untuk sesaat, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lama sekali dia termenung memikirkan soal itu..
Akhirnya dia bertanya.
"Sungguhkah dia adaiah keturunan dari Thio susiok?"
"Nak, masa aku membohongi dirimu..?"
"Tapi . bukankah putra Thio susiok telah mati pada lima belas tahun berselang?"
"Tidak. dia sama sekali tidak mati!"
"Siapa yang membuktikan bahwa dia tidak mati?"
"Aku .! Akulah yang membuktikan!"
"Hmm..!"
Han Siong Kie tertawa dingin.
"Engkau anggap aku bisa mempercayai perkataan itu?"
"Mau percaya atau tidak terserah pada dirimu, pokoknya apa yang kuucapkan adalah suatu kenyataan!"
"Masa dia bukan putra kandung dari ketua Thian che kau?"
"Bukan! Tapi dia sudah dianggap bagaikan putra kandung sendiri oleh ketua Thian che kau!"
"Haaahhh haahhh haahhh.. engkau hendak coba melindungi keselamatan jiwanya dengan kata2mu?"
Ejek sang pemuda sambil tertawa keras, tertawa penuh sindiran. Siang go Cantik ong Cui ing menengadah dan ikut tertawa ter bahak2, suara tertawanya jauh lebih keras dan memilukan hati.
"Nak"
Katanya kemudian.
"seandainya kelima orang tianglo itu sudah tertotok jalan darahnya oleh suatu ilmu totokan yang khas dari pemilik benteng maut seperti apa yang kau alami tempo dulu, dan tiada orang lain yang sanggup membebaskannya kecuali aku, dapatkah kutawarkan bantuanku ini sebagai pertukaran dengan selembar jiwanya?"
Berdebarlah jantung Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu, tentu saja ia tak dapat mengorbankan jiwa kelima orang tianglonya demi seorang pemuda lain, untuk sesaat hatinya jadi ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Dia mulai berpikir, darimana perempuan ini bisa tahu kalau mereka berlima sudah tertotok oleh ilmu totokan yang khas dari pemilik benteng maut?
Atau jangan2 antara perkumpulan Thian che-kau dengan benteng maut benar2 mempunyai hubungan yang erat ?
Berpikir sampai disini, dia lantas membentak dengan suara nyaring.
"Benarkah perkumpulan Thian che kau mempunyai hubungan yang erat dengan benteng maut?"
"sekarang aku tak akan menjawab pertanyaanmu itu"
Sahut ong Cui ing dengan dingin.
"toh dikemudian hari engkau bakal mengetahui dengan sendirinya"
"Jadi engkau telah mengakui bahwa antara kedua kelompok kekuatan ini sebenarnya mempunyai hubungan yang erat?"
"Tidak "
Sahut perempuan itu dengan tegas.
"Dan sekarang engkau akan menggunakan kelima orang tianglo itu sebagai pertukaran syarat dengan aku?"
"Aku sama sekali tidak bermaksud demikian, sebab itu tak perlu bagiku.." -000dw000-BAB 52 HAN SIONG KIE jadi tercengang dan tidak habis mengerti, dia tak tahu apa maksud dan tujuan yang sebetulnya dari perempuan itu. setelah ter mangu2 sebentar, akhirnya dia bertanya lagi.
"Apakah dia pribadi tahu kalau sebenarnya dia adalah keturunan dari Thio susiok?"
"Tentu saja tidak tahu"
"Kenapa tidak tahu...?"
"sebab waktunya yang baik belum tiba, kalau dia tahu akan persoalan ini maka lebih banyak kerugian dari pada keuntungan "
Han siong Kie makin tercengang dan kebingungan lagi, dengan jelas ia telah merasakan bagaimana perempuan itu sudah tidak menganggap dirinya sebagai anak, bahkan beberapa kali berusaha untuk mencabut jiwanya, tapi sekarang setelah in terluka, tiba-tiba saja sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat,jangan2 dia memang...
Mendadak dari kejauhan berkumandang suara ujung baju tersampok angin, agaknya ada belasan orang sedang melayang tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Paras muka Han siong Kie kontan berubah, hawa napsu membunuh kembali menyelimuti wajahnya.
Air muka siang go cantik ong Cui ing sendiripun berubah hebat, dengan gelisah dia berkata.
"sambutlah dia, tapi jangan kau lukai, aku harus menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu sekarang juga, kalau tidak maka tak ada kesempatan lagi dilain waktu"
Berbicara sampai disini, dia lantas lemparkan tubuh Yusau kun ke dalam pelukan Han siong Kie, sementara dia sendiri segera menerjang masuk kedalam ruang kereta..
Dengan wajah tertegun dan mata terbelalak anak muda itu menerima tubuh Yu sau kun dan memeluknya tanpa sanggup berbuat sesuatu.
siang go cantik ong Cui-ing sendiri segera menerobos masuk kedalam kereta, selang sesaat dia telah muncul kembali diikuti lima orang tianglo dibelakangnya.
"Blaang..
kereta kuda itu dihajarnya sampai hancur berkeping-keping, sementara ong Cui ing berdiri ditengah bangkai kereta tersebut.
Begitu keluar dari ruang kerata, lima orang tianglo itu segera memburu maju kedepan dan bersama2 memberi hormat kepada Han siong Kie seraya berkata.
"Hamba berlima mengunjuk hormat untuk ciang bun suheng"
"Tianglo sekalian tak perlu banyak adat"
To It hui kepala tianglo segera maju dan berkala dengan penuh emosi.
"Ilmu silat yang kami berlima miliki sangat tak becus, hampir saja karena persoalan kami telah menimbulkan kejadian besar, harap ciangbun suheng sukalah ...."
Ucapan itu sebelum selesai dlutarakan, tiba-tiba beberapa sosok bayangan manusia meluncur datang dengan cepatnya.
Han siong Kie segera menyerahkan tubuh Yu Sau kun, ketua muda dari Thian che kau itu ketangan Liok Sau tan, tianglo yang ke empat, kemudian selangkah demi selangkah maju kedepan menghampiri para pendatang.
Melihat ciangbunjinnya sudah maju, lima orang tianglo lainnya segera berdiri beejajar di belakang tubuhnya.
Dalam waktu singkat empat belas orang kakek tua berusia lima puluh tahunan telah munculkan diri ditengah gelanggang, mereka ada enam orang berjubah hijau dan delapan orang berjubah kuning.
Dalam sekilas pandangan Han Siong Kie segera kenali mereka sebagai pengawal2 dari ciangbun Tee kun sekarang ini, darah panas langsung bergolak dalam dadanya.
Sementara itu paras muka keempat belas orang pengawal istana Huan mo kiong juga berubah hebat setelah memandang sekejap keadaan dalam gelanggang tersebut.
Mereka lihat mayat bergelimpangan di mana2, kereta hancur berserakan memenuhi permukaan tanah, bukan saja nyonya kaucu sudah terluka, bahkan sau kaucu tertawan pula, terutama kelima orang tianglonya yang berdiri dengan pandangan berapi sungguh menggidikan hati.
Dengan sorot mata tajam Han siong Kte menyapu sekejap keempat belas pengawal itu, kepada To It hui tanyanya.
"Apakah mereka semua adalah pengawal dari penghianat perguruan?"
"Benar "
Jawab To It hui dengan hormat. Han siong Kie mendengus dingin, ditatapnya sekejap keempat belas orang pengawal itu, lalu dengan suara tegas dia berkata.
"Apakah kalian semua rela menjadi penghianat2 perguruan..?"
Keempat belas orang pengawal itu saling berpandangan dengan mulut membungkam, tak seorangpun yang berani bersuara.
Per-lahan2 dari dalam sakunya anak muda itu ambil keluar lencana ok kui cul-pay, kemudian diangkatnya tinggi2 keudara.
Dengan wajah serius, kelima orang tianglo itu segera jatuhkan diri berlutut keatas tanah, setelah memberi hormat mereka mundur kebelakang dan berdiri dengan muka serius.
Pucat pias selembar wajah orang2 itu, mereka sama2 menunjukkan muka kaget dan ketakutan, cuma tak seorangpun yang berlutut, sementara kepala mereka kerap kali berpalirg kebelakang se akan2 sedang menantikan sesuatu..
Air muka siang go cantik ong Cui ing menunjukkan pula perubahan serius, hanya tak tahu apa yang sedang ia pikirkan dalam hati ?
Sambil menarik muka dan napsu membunuh menyelimuti wajahnya, Han Siong Kie berpaling dan memandang sekejap kearah kelima orang tianglonya, kemudian katanya dengan suara berat.
"Ciangbun Tee kun perguruan Thian lam saat ini Wi It-beng telah melanggar peraturan cousu dengan melatih ilmu Tui hun kang, dosa ini sangat besar dan tak terampuni, selain itu dia berani menghianati perguruan dengan bersekongkol dengan pihak Thian che-kau untuk membunuh tianglo perguruannya sendiri, mengingat dosa2nya itu maka aku dengan mendapat perintah dari Tong Ceng, ketua perguruan yang lampau akan melakukan pembersihan atas penghianat2 tersebut dari perguruan"
Ia berhenti sebentar, lalu sambil acungkan lencana kekuasaannya pemuda itu melanjutkan lebih jauh.
"Mulai hari ini Wi It-beng telah dicopot kedudukannya sebagai ketua perguruan, atas dosa2nya maka dia akan dihukum sesuai dengan peraturan perguruan yang berlaku"
Pucat pias wajah empat belas pengawal keringat dingin telah mengucur keluar membasahi seluruh tubuh mereka .
Han Siong Kie mendengus dingin, ia berpaling dan tanyanya lagi kepada kelima orang tianglo itu.
"Apa hukumannya jikalau ada anggota perguruan yang tidak berlutut aetelah melihat lencana mutiara ini ?"
"Hukuman mati!"
Jawab kelima orang tianglo itu hampir berbareng.
"Bagus. tianglo berlima ! Tunggu perintah!"
"Tecu sekalian siap !"
"Laksanakan peraturan perguruan dengan tegas !"
"Tecu sekalian turut perintah !"
Liok Sau wan tianglo keempat segera meletakkan tubuh Yu Sau-kun keatas tanah, kemudian ber-sama2 keempat orang rekannya memberi hormat kepada Han Siong Kie, dengan sekali tutulan mereka segera menerjang kearah empat belas orang pengawal itu dengan dahsyatnya.
Suasana kontan tercekam dalam ketegangan, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh angkasa.
Betapa ketakutannya keempat belas orang pergawal itu, mereka merasakan sukmanya se-akan2 sudah meninggalkan raga, tanpa sadar orang2 itu serentak mundur kebelakang.
Suasana amat kritis dan tampaknya sejenak kemudian suatu pertempuran sengit segera skan berkobar..
"Tee kun tiba !"
Tiba2 suatu bentakan nyaring bagaikan guntur yang menggelegar membelah angkasa, Keempat belas orang psngawal yang sedang ketakutan segera menunjukkan wajah berseri,serentak mereka menyebarkan diri ke kedua belah samping.
enam orang pengawal baju hijau bergeser ke sebelah kiri dan delapan orang pengawal baju kuning bergeser ke sebelah kanan.
Agak tertegun kelima orang tianglo ini, tanpa sadar mereka te1ah menghentikan langkahnya.
Han Siong Kie sendiripun diam2 merasakan jantungnya berdebar keras, ia tak tahu bagaimana jadinya nanti.
Dua sosok bayangan manusia melayang masuk kedalam gelanggang dan berdiri di-depan dua baris pengawal2nya.
Mereka adalah dua orang pria setengah baya yang berwajah amat jelek, rambutnya yang panjang berwarna kuning dengam mata hijau, hidungnya pesek sementara bibirnya tebal.
Yang seorarg membawa senjata toya besi sedang yang lain bersenjatakan sepasang cakar emas, dari dua macam senjata yang di pakai dapatlah diketahui bahwa kekuatan yang dimiliki kedua orang pria tersebut luar biasa sekali.
Han sioog Kie tahu bahwa sebentar lagi Wi It beng bakal munculkan diri, cepat perintahnya kepada kelima orang tianglo iiu.
"Harap kalian berlima mengundurkan diri lebih dahulu!"
Lima orang tianglo itu segera menjura dan meagundurkan diri kebelakang.
Paras muka Siang go cantik Ong Cui ing pun menunjukkan perubahan hebat, akan tetapi dia masih tetap berdiri tak berkutik di tempat semula.
Dari tengah hutan di tepi jalan raya perlahan-lahan muncullah seorang kakek tua berjubah sutera dengan kopiah terbuat dari emas, kakek tua itu langsung berjalan menuju ke tengah gelanggang.
"Ciangbun suheng, dialah yang bernama Wi It beng !"
Seru Seng Thian pau, tianglo kedua dengan cepat.
Han Siong Kie mengangguk tanda mengerti, ditatapnya orang itu dengan sorot mata tajam.
Sementara itu dengan langkah yang lambat tapi kenyataan sangat cepat sekali, kakek berkopiah emas itu berjalan masuk ke dalam gelanggang, dimana orang itu lewat dua baris pengawalnya segera memberi hormat.
Han Siong Kie mendengus dingin, ia menatap pihak lawan dengan tatapan sinis, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Setelah berada di tengah gelanggang, dengan sepasang mata elangnya yang tajam Wi It-beng menyapu sekejap sekeliling gelanggang itu, kemudian pandangan matanya itu berhenti diatas wajah Han Siong Kie, ujarnya dengan suara yang mengerikan.
"Hey. manusia berwajah dingin ! Dari tempat mana engkau berhasil mencuri benda kekuasaan perguruan kami? Bahkan berani pula menyaru sebagai pewaris Tong toa supek untuk melakukan pembantaian atas anggota perguruan kami? Hmm. Aku lihat perbuatan ini benar2 terlalu berani.."
Belum habis Wi It beng menyelesaikan kata-katanya, kelima orang tianglo itu sudah mendengus kegusaran.
Tuduhan yang semena2 itu membangkitkan pula hawa amarah dalam dada Han Siong Kie, kontan dia membentak keras.
"Tutup mulut anjingmu Engkau jangan mencoba menuduh yang bukan2"
Kemudian dia angkat tinggi2 lencana ok kui-cu pai tersebut seraya membentak keras.
"Wi It beng Tahukah engkau akan dosa-dosamu ?"
Bagaimanapun licik dan lihaynya Wi It beng, Tee-kun dari perguruan Thian lam ini tak urung berubah juga paras mukanya setelah melihat lencana mutiara itu, tanpa sadar dia mundur satu langkah lebar ke belakang.
Tapi hanya sebentar saja dia sudah dapat menguasahi kembali perasaan hatinya, dengan senyum licik menghiasi bibirnya dia tertawa dingin, katanya dengan lantang.
"Heeeh.. heeeh... heeeh Manusia berwajah dingin, engkau tak usah berlagak jumawa di hadapanku, ketahuilah bahwa dihadapan Tee kun engkau masih belum pantas untuk unjuk gagah"
Kemudian sambil berpaling kearah lima orang tianglo itu, tambahnya lebih jauh.
"Kalian berlima sebagai tianglo perguruan, bukan saja berani berkhianat bahkan membela juga orang luar. Hmm Tahukah kalian sampai dimanakah dosa yang kalian perbuat?"
"Wi It beng, engkau anggap peraturan perguruan tak dapat meng-apa2kan engkau?"
"Kau anggap kau masih bisa berbuat semena-mena dengan melanggar peraturan perguruan" , teriak seng Thian pau, tianglo kedua dengan suaranya yang keras bagaikan geledek. Menyaksikan pihak lawan tetap membandel, Han siong Kie segera menyimpan kembali lencana ok kui cu pay tersebut, kemudian katanya dengan nada ketus.
"Wi It beng, engkau bersedia untuk menerima peratuan perguruan ataukah tetap membandel.."
Thian lam Tee kun Wi It beng tertawa seram, tukasnya.
"Manusia berwajah dingin Lebih baik tutup saja bacot anjingmu itu, hayo cepat serahkan lencana ok kui cu pay tersebut kepadaku, mengingat nsiamu masih muda mungkin saja aku akan lepaskan sebuah jalan kehidupan kepadamu" . Betapa gusarnya Han Siong Kie mendengar ucapan tersebut, sekujur badannya sampai gemetar menahan emosi, dari sikap lawannya yang sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap lencana kekuasaan yang tertinggi dari perguruan ini. jelas menunjukkan bahwa dia memang tidak menyesal dengan perbuatannya, itu berarti pula banyak berbicara dengan orang macam begini sama sekali tak ada gunanya. Setelah termenung dan berpikir sebentar, akhirnya ia membentak keras.
"Wi It beng! Kalau engkau tidak di hukum sesuai dengan peraturan perguruan, rasanya sia2 belaka cousu berjuang mati-matian menegakkan perguruan ini!"
Sambil berkata dia segera maju ke depan siap melancarkan serangan...
"Hut tian ciangkoan, kalian berada dimana?"
Wi It beng segera membentak keras. Dua orang laki2 berwajah jelek itu serentak maju tiga langkah lebar, sesudah menjura sahutnya.
"Hamba berdua siap menantikan firman kaisar!"
"Tangkap manusia tekebur itu dan gusur dari sini!"
"Terima firman!"
Sambil mempersiapkan senjata toya baja seberat ratusan katinya dan sepasang senjata cakar emasnya yang berat dua orang itu segera maju kedepan daa menyergap diri Han Siong Kie.
Menyaksikan itu To It hui dan Seng Thian pau segera maju menghadang jalan pergi mereka berdua, kepada anak muda itu ujarnya .
"Harap ciangbun suheng suka memberikan perintah!"
Dengan wajah serius Han Sioag Kie mengangguk, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Wie It-beng.
Setelah mendapat persetujuan, To It hui langsung menerjang laki2 bersenjata toya baja itu sementara Seng Thian pau menghadapi laki2 bersenjata cakar emas.
Suatu pertarungan seru segera berkobar di sana, kedua belah pihak saling menyerang dan menyergap dengan gencarnya.
Kedua orang tianglo itu mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna serta permainan jurus serangannya yang terlatih meneter dua orang musuhnya habis2an, angin serangan men-deru2 membuat suasana benar2 mengerikan.
Sebaliknya dua orang panglima perang pelindung istana itu mengandalkan senjata yang berat dan tenaga dalam yang kuat berusaha mempertahankan diri dari serangan lawan-Pertarungan itu ramai sekali, untuk sementara waktu jelas sukarlah untuk menentukan siapa bakal menang dan siapa akan kalah.
Dipihak lain, Han siong Kle telah membentak nyaring.
"Wi It beng, tampaknya sebelum melihat peti mati engkau tak akan mengucurkan air mata?"
"Hahaahh haahh hahaha Manusia berwajah dingin Perkataanmu itu memang tepat sekali, adapun maksud kedatangan Tee kun kedaratan Tionggoan ini tak lain adalah demi dirimu"
"Kalau memang begitu, bagus sekali"
Seru sang pemuda cepat, telapak tangannya langsung di ayun ke depan Serangan teramat cepat dan bagaikan sambaran kilat, bukan saja kuat tenaga pukulannya, tepat pula sasarannya.
Wi It beng tercekat hatinya, ia tidak menghindar ataupun berkelit, cepat telapak tangannya di ayun kedepan dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
"Blaamm.."
Ketika dua gumpalan kekuatan itu saling membentur satu sama lainnya, terjadilah suatu ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga, pasir dan debu segera beterbangan memenuhi angkasa, diam2 di hati mereka sama2 mengagumi kedahsyatan serta kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki.
Berbareng dengan terjadinya bentrokan tersebut, enam orang pengawal baju kuning yang berdiri di tepi gelanggang dengan memisahkan diri jadi tiga rombongan serentak menerjang tiga orang tianglo yang masih berdiri tenang.
Angin pukulan men-deru2, bayangan manmusia saling menyambar satu sama lainnya, bentakan2 keraspun membubung tinggi keluar, membikin telinga jadi amat sakit.
Meskipun kawanan pengawal baju kuning itu harus menghadapi tianglonya dengan satu lawan dua, tapi kekuatan mereka masih tetap terpaut jauh, dengan sendirinya kedudukan merekapun sangat ketitir hebat.
sebaliknya dua orang panglima pelindung istana yang bertarung melawan kedua orang tianglo yang lain, untuk sementara waktu masih tetap bertahan dalam kedudukan seimbang, pertarunganpun berlangsung dengan amat serunya..
setelah mundur kebelakang, cepat Han siong Kie menghimpun kembali tenaga dalamnya sebesar dua belas bagian, kemudian sekali lagi dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Wi It beng.
"Bagus sekali"
Bentak Wi It beng dengan keras, telapak tangannya segera diayun kedepan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Agaknya dia memang ada maksud untuk menjajal kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie, dalam serangannya kali ini dia telah mengerahkan segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya..
"Blaang.."
Suatu benturan dahsyat kembali menggeletar diseluruh angkasa, membuat pasir beterbangan dan bumi bergoncang keras.
Kali ini Han siong Kie tergetar mundur satu langkah lebar, sebaliknya Wi It beng terdorong sampai tiga langkah lebih.
suatu jerit kesakitan yang memilukan hati tiba2 berkumandang dari sisi kalangan, rupanya salah satu diantara dua pengawal baju kuning yang berhadapan dengan Ang pat sin tianglo ketiga berhasil dihajar dengan toyanya sehingga batok kepalanya hancur dan mati konyol.
Dengan cepat dua orang pengawal baju kuning terjun kedalam gelanggang untuk mengisi kekosongan tersebut.
dengan demikian maka posisipun berubah menjadi satu lawan tiga.
"Traang. traang..."
Benturan nyaring membelah pula ke angkasa diikuti letupan cahaya api memancar keempat penjuru, kiranya senjata toya yang digunakan oleh Seng thian pau telah saling membentur dengan senjata cakar emas dari Hot tiam ciangkun, dalam benturan tersebut kedua belah pihak sama2 tergetar mundur satu langkah kebelakang.
Tapi begitu berpisah, mereka segera menerjang kembali kemuka dan melibatkan diri dalam pertarungan yang lebih seru.
Dalam gelanggang yang lain To It hui terlibat pula dalam suatu adu kekuatan dengan senjata toya baja musuh, ternyata kekuatan yang dimiliki ketua para tianglo ini masih lebih tangguh setengah bagian-dia berhasil memaksa musuhnya mundur terus ke belakang sambil ber kaok2 kegusaran.
Pada detik itulah tiba2 siang go cao tik ong Cui ing yang selama ini hanya menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan, meloncat kedepan lalu menyambar tubuh Yu sau kun yang menggeletak ditanah, setelah itu dia kabur kedalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Walaupun perempuan itu bertindak cepat, Han siong Kie yang bermata tajam dapat mengikuti semua kejadian itu dengan seksama, satu ingatan segera melintas dalam benaknya dan diapun tidak mencegah atau berusaha untuk mengejarnya, seluruh perhatian dan kekuatannya dihimpun menjadi satu untuk menghadapi musuh tangguh yang berada didepan mata.
Wi It beng tertawa dingin, dengan sorot mata berkilat serunya mendadak dengan suara menyeramkan.
"Manusia berwajah dingin, aku akan menyempurnakan kehendak hatimu itu."
Sepasang telapak tangannya melakukan suatu perputaran yang aneh didepan dadanya, kemudian secepat kilat di lontarkan ke depan.
Han siong Kie segera bertindak dengan menyambut serangan tersebut dengan jurus mo ciang liong (telapak iblis menaklukan naga), untung ia belum sempat melepaskan pukulan itu sebab secara tiba2 dia merasakan sesuatu yang aneh dibalik pukulan musuh.
Pukulan itu sangat berat bagaikan tindihan berpuluh2 buah bukit karang, bahkan disertai juga hawa tekanan yang mengerikan.
Anak muda itu terperanjat dan tak berani melayaninya, cepat tubuhnya menghindar empat depa kesamping.
sungguh cepat gerakan menghindar itu, kalau bukan seseorang yang berpandangan tajam, tidaklah mungkin untuk mengikati gerakannya itu.
Wi It beng tertawa seram, telapak tangannya dilontarkan kedepan seolah2 itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun segara ditarik kembali.
Han siong Kie makin terperanjat, dia yakin kalau kepandaian sendiri masih belum berhasil mencapai taraf sebegitu tinggi.
sebab itulah dia yakin juga bahwa tenaga dalam yang dimilikinya masih belum mampu mengatasi kekuatan lawan.
Ingatan kedua belum habis terlintas, serangan yang maha dahsyat dari Wi It beng kembali sudah meluncur tiba.
Pemuda itu jadi penasaran, keangkuhan dan perasaan tinggi hati yang dimilikinya membuat dia malu uniuk menghindar, walau pun dia tahu serangan tersebut amat dahsyat namun dikerahkan juga segenap kekuatannya untuk menolak balik ancaman lawan.
Dalam anggapannya, dengan kekuatan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan yang dimilikinya sekarang, paling sedikit dia masih bisa mengimbangi keampuhan lawan dengan kedudukan seimbang.
Siapa tahu begitu gulungan angin pukulan lawan tersentuh olehnya, ia segera merasakan munculnya kekuatan yang sama sekali diluar dugaan, kejadian ini amat mengejutkan hatinya.
"Aduuh..celaka!"
Jerit pemuda itu di hati.
Baru jeritan itu terlontar benturan dahsyat telah menggelegar menggoncangkan seluruh permukaan tanah.
Benturan itu keras dan memekikkan telinga, begitu dahsyatnya bentrokan tadi membuat kawanan jago yang sedang bertarung segera mengbentikan pertarungannya dan berpaling..
Dengan sempoyongan Han Siong Kie mundur sampai sejauh dua kaki lebih..
dengan wajah pucat pias seperti mayat ia roboh tertunduk diatas tanah dan muntahkan darah segar, jelas isi perutnya sudah menderita luka yang cukup parah.
Melihat musuhnya roboh, Wi It-beng ter-bahak2 dengan bangganya, sambil ulapkan tangannya kepada dua orang ciangkun pelindung istananya, ia perintahkan.
"Bekuk orang itu!"
"Terima parintah!"
Mendengar seruan itu, serentak lima orang tianglo itu bergerak maju dan siap menghalangi perbuatan lawan.
Tapi sebelum mereka sempat maju lebih kedepan, sebuah pukulan yang sangat dahsyat telah ditontarkan wi it beng ke arah depan, termakan oleh hembusan angin yang amat dahsyat itu, lima orang tianglo itu segera terdorong mundur dengan sempoyongan.
Dengan terhadangnya kelima orang tianglo itu untuk maju kedepan, maka dengan suatu gerakan yang cepat ciangkun pelindung istana telah tiba dihadapan Han siong Kie dengan cekatan mereka lantas menyambar si anak muda itu..
Tiba2 jerit lengking yang mengerikan menggema memecahkan kesunyian, dua sosok bayangan manusia mencelat kebelakang lalu terkapar diatas tanah dengan bermandikan darah.
Kiranya pada saat2 yang amat kritis itulah Han siong Kie telah melancarkan serangan pembelaan dengan ilmu jari Tong kim ci yang maha sakti itu.
Ilmu jari Tong kim ci adalah ilmu sakti yang diciptakan Mo tiong ci-mo setelah melatih dan mempelajarinya selama hampir empat puluh tahun lamanya, jangankan tubuh manusia, emas atau batu karang yang berada pada jarak lima kakipun sanggup ditembusi, bayangkan saja mana sanggup jago2 yang berbadan darah daging itu menahan serangan tersebut ?
semua orang tercengang dan merasa tak habis mengerti, mimpipun mereka tak mengira dalam keadaan terluka parah Han siong Kie masih sanggup melancarkan serangan mematikan, bahkan dalam satu kali gebrakan saja mampu membinasakan dua orang jago kelas satu dari istana Huan mo kiong.
Para pengawal yang hadir disekitar gelanggang sama2 berdiri menjublak dengan mata terbelalak mulut melongo, bulu kuduk tanpa terasa pada bangun berdiri Perlu diketahui, Han siong Kie pernah cuci tulang berganti otot dalam sumber air Tee hiat seng-swan, karena itu kekuatan tubuhnya sama sekali berbeda bila dibandingkan dengan orang2 lain,justru dengan memiliki kelainan itulah maka walaupun isi perutnya terluka parah, ia masih mampu melakukan serangan yang mengerikan.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, setelah tertegun sebentar, akhirnya dengan hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya, selangkah demi selangkah dia menghampiri anak muda itu.
seketika itu juga suasana dalam gelanggang berubah jadi sangat tegang, tampaknya setiap saat suatu pertarungan sengit bakal berlangsung kembali.
Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri, lencana mutiara ok kui Cu pay kembali dikeluarkan dari sakunya, demi kejayaan perguruan serta nama baik dirinya ia tak rela menyerah dengan begitu saja kepada para pengkhianat, karenanya dia bersiap sedia untuk kedua kalinya menggunakan lagi lencana mutiara tersebut.
Dipihak lain, lima orang tianglo yang kena terdesak mundur telah bergerak maju lagi dengan wajah sedih bercampur gusar, dengan sinar mata menggidikkan mereka membentak keras, kemudian serentak bergerak maju kedepan-Tujuh orang pengawal baju kuning dan enamn orang pengawal baju hijau yang berada disamping gelanggang tentu saja tidak akan biarkan musuhnya menyergap kemuka, pada saat yang bersamaan mereka menerjang maju kedepan dan menghadang jalan pergi kelima orang tianglo tersebut.
Dalam waktu singkat, berlangsunglah suatu pertarungan yang seru antara lima orang tianglo itu melawan tiga belas orang musuhnya.
Dengan disertai suara gemerisik yang amat nyaring, selangkah demi selangkali Wi It beng melangkah kedepan, setiap langkah kakinya itu seakan2 jeritan malaikat elmaut dari neraka..
selisih jarak diantara kedua belah pihakpun kian mendekat tiga kaki..
dua kaki..
dan akhirnya tak ada satu kaki .
Pada saat itulah mendadak Han siong Kie angkat tinggi2 lencana mutiaranya, sekilas cahaya tajam langsung menyorot kearah Wii It beng.
sebagai Tee kun dari istana Hian mo kiong, tentu saja Wi It beng mengetahui kegunaan dari lencana mutiara tersebut, dikala sekilas cahaya tajam memancar keluar kearahnya, cepat dia menyingkir selangkah ke samping, kemudian secepat petir sebuah pukulan dahsyat dilontarkan kedepan-Merasakan lenyapnya bayangan musuh, tanpa berpikir panjang Han Siong Kie ikut bergeser pula delapan depa kesamping.
Dengan bergesernya anak muda itu, maka dengan sendirinya pukulan gencar yang dilepaskan Wi it beng pun mengena pada sasaran yang kosong.
Tapi kaisar dari istana Huan mo kiong itu memang sangat tangguh, begitu mengetahui serangannya mengenai pada sasaran yang kosong, cepat dia bertindak lebih jauh, sebuah pukulan aneh yang tak kalah dahsyatnya kembali dilontarkan kedepan-Tiba2 dari kejauhan menggema jeritan kaget, menyusul mana seorang berseru keras.
"Haaahh.. Bukankah itu pukulan sakti Boan yok sinkang?"
Berubah hebat air muka Wi It beng, dia tarik kembali serangannya sambil mundut ke belakang, agaknya jago lihay ini tidak menyangka kalau asal usul ilmu pukulannya berhasil diketahui orang.
Han Siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergetar keras, cepat dia berpikir dalam hati.
"Apa ? Ilmu sakti Boan yok sinkang ? Bukankah pihak gereja Siau lim si telah kehilangan se
Jilid kitab Toa boan yok sinkang pit kip? Bahkan menuduh guruku Mo tiong ci mo yang melakukan pencurian tersebut,Jangan-jangan dialah...
" -ooodewiooo-
Jilid 26 SAMBIL menggertak gigi dia berpikir lebih jauh.
"Benar, pastilah penghianat ini yang melakukan perbuatan tersebut, setelah mencuri kitab pusaka dari gereja siau lim si, dia lantas membinasakan Lian hoan hwesio yang menjaga ruang penyimpan kitab sambil mencatut nama guruku.. pastilah tujuannya hendak menfitnah guruku sehingga beliau bermusuhan dengan pihak gereja siau lim si. Hmm Tahulah sudah aku sekarang, tampaknya sudah sekian lama dia mengincar kedudukan ketua tersebut, dan tak segansegannya menggunakan pelbagai cara untuk melenyapkan setiap saingannya.."
Baru saja dia berpikir sampai disana, dua sosok bayangan manusia telah melayang masuk kedalam gelanggang.
Begitu mengetahui siapa yang datang Han siong Kie merasakan hatinya tergetar keras sebab yang datang ternyata tak lain tak bukan adalah pengemis dari selatan dan padri dari utara, dua orang tokoh sakti dalam dunia persilatan.
Dipihak lain, pertarungan antara kelima orang tianglo itu melawan para pengawal berlangsung terus dengan serunya, dalam pertarungan tersebut ada empat orang pengawal baju hijau yang berilmu agak cetek sudah menggeletak menjadi mayat, sementara diantara pengawal2 baju kuning juga ada tiga orang sudah mundur dengan luka cukup parah.
setajam sembilu sorot mata Wi It beng, ia menyapu sekejap wajah pengemis dari selatan dan padri dari utara, kemudian sambil tertawa seram katanya.
"Heehhh heehh heehhh luas sekali pengetahuan kalian berdua"
Pengemis dari selatan dan padri dari utara saling berpandangan sekejap.
kemudian mereka berjalan menghampiri Han siong Kle.
Melihat itu, untuk kesekian kalinya Wi It beng tertawa seram, ia mengejek sinis.
"Apakah kalian berdua sengaja datang ke mari untuk menghantar kematian.??"
Tanpa sadar pengemis dari selatan danpadri dari utara menghentikan langkahnya dan berpaling, sesudah mendengar ucapan itu, namun mulut mereka masih tetap membungkam.
Han siong Kle tidak tahan lagi, dia segera membentak nyaring.
"Wi It beng, rupanya engkau yang telah mencuri kitab pusaka Toa boan yo sin kang dari gereja siau lim si, dan engkau pula yang telah membinasakan Lian huan hwesio kemudian menfitnah guruku.. Hmm Tak kusangka engkau begitu licik dan pandai memutar balikkan duduknya persoalan"
"Heee heeeh heeeehh ucapanmu benar, memang akulah yang telah melakukan kesemuanya itu, lantas kau mau apa?"
Sahut Wi It beng sambil menarik muka.
"Hmm sekalipun engkau mampus seratus kalipun belum tentu bisa menebus semua dosa2mu itu"
Haaahh haaaahh haaaahh bocah yang tak tahu diri, kematianmu sudah berada di ambang pintu, berani benar engkau ngebacot terus tak karuan-.."
Suatu jeritan ngeri berkumandang lagi memecahkan kesunyian, kembali seorang pengawal baju hijau menggeletak tak bernyawa...
Menyaksikan kejadian tersebut, Wi It beng sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, jika dibiarkan berlangsung terus, keadaan tersebut maka besar kemungkinannya semua pengawal andalannya akan mati di ujung toya kelima orang tianglo itu "Mundur semua"
Bentaknya kemudian dengan suara dingin--ooodwooo-BAB 53 PADA hakekatnya kawanan pengawal istana itu sudah kewalahan menghadapi serangan gencar dari kelima orang tianglo tersebut, tapi mereka berusaha keras untuk mempertahankan diri sebab tak berani tunjukkan sikap jeri mereka dihadapan Tee-kun nya, karena itu seruan tadi bagaikan firman pengampunan menjelang kematian saja, cepat mereka mengundurkan diri kebelakang.
Sesudah kawanan pengawal itu mundur semua, barulah Wi It beng bergerak kedepan sambil secara beruntun melepaskan tiga buah pukulan berantai, dimana bayangan telapak berkelebat lewat disitulah terdengar dengusan berat menggema di udara, dalam waktu singkat kelima orang tianglo itu sudah terdesak hebat hingga mundur tercerai berai dengan sempoyongan.
Dipihak lain, Han siong Kie sedang memandang kearah Pengemis dari selatan dan padri dari utara dengan sorot mesa menyesal, katanya dengan suara lirih.
"Maaf engkoh tua berdua, aku minta kalian tak usah mencampuri urusan ini, sebab urusan ini adalah urusan rumah tanggaku sendiri"
"Urusan rumah tanggamu sendiri?"
Tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali"
Sahut Han Siong Kie sambil tertawa getir.
"bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" . Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan titik bengek tersebut dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata.
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?"
Tiba2 Wi It beng menegur kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?"
Tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit.
"memangnya engkau sudah penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun, terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan.
sementara itu Padri dari utara telah merangkap tangannya sambil berkata.
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak.
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
Sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua tinggalkan tempat ini?"
Sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan sendiri kepergianmu?"
Tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu, kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau diutarakan pada saat sekarang "
Hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas tanah.
Han siong Kie segera membentak keras.
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah kabur tinggalkan tempat itu.
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 6
Baca Juga: Tiga Maha Besar 11