Ceritasilat Novel Online

Tengkorak Maut 8

Eps 8 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.

Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.

siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali.

Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.

Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah..

Apa yang telah terjadi ?

Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara..

karena itulah meskipun angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.

Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit lecet saja pada kulis tubuh nya.

selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.

Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng pulih kembali.

serentak dia loncat bangun.

Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar, selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.

Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu.

Han siong Kie ayun kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.

Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.

Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

"Blaaamm.."

Suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah segar.

Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.

Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang.

"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera munculkan diri?"

Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya ke arah hutan-..

Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.

orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.

Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin membasahi tubuhnya.

Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"

Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.

"Haah.. Tengkorak maut?"

Seru Wi It beng dengan hati tercekat.

Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah munculkan diri dalam saat begini.

Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.

Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun-Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul seseorang berseru kesakitan.

Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung bibirnya.

Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.

Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo kiong.

Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.

Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya.

Tahu2 sudah dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.

"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu"

Hardiknya keras2.

"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?"

Jengek Tengkorak maut sambil tertawa seram.

"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"

"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"

"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"

"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? "

Ejek Tengkorak maut.

"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup,"

Teriak Wi It beng dengan gusarnya.

setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan keji.

"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin merobohkan aku"

Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis..

"Wi It beng, manusia tolol sampai ketemu lain kali..."

Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan yang lebat.

Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya.

"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan Tengkorak maut"

Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri sendiripun sudah tak mampu.

Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun turun tangan bersama2 Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.

Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik darah yang penghabisan-Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan menerjang Wi It beng dengan ganas.

"Bluuk..."

Suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.

Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.

serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng benar2 kena dikurung ditengah kepungan.

Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin ketitir hebat dan kalang kabut tidak karuan, posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.

Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.

Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas angin telah terjatuh kedalam genggamannya.

Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat, Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari serangan.

dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.

Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi kalap.

To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur yang menggelegar di angkasa.

Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.

Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati, dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.

Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya, dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya tinggal tiga orang..

secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.

Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.

suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.

Wi It-beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan, selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.

Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan, padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan.

Pada detik2 terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..

Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang belum terlaksana.

Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.

sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....

Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi telinganya.

"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu dari situ.."

Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua kejadian yang belum berlangsung?

sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu, telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..

Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.

sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.

Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam, itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.

Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat kepada Wi It beng seraya berkata.

"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk Tee-kun"

"Kalian berdua tak usah banyak adat"

Kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa kalian datang kemari??"

"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun"

Sahut salah seorang diantara kedua orang pelindung hukum baju kuning itu.

"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"

"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada dirinya. ."

"Tentang soal ini."

Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"

Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan dan bantuan Thian che kau.."

Sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.

"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu silat yang dimilikinya"

"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"

Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya, membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak.

akan tetapi sianak muda itu tak mampu berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.

Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.

setelah tertawa seram kata nya.

"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh.. haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali dengan toa supek dialam baka sana."

"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadamu!"

Seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "

Tapi hmm engkau tak usah keburu bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti akan mati dalam keadaan mengerikan.

percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"

"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"

"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih lama.."

"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu."

Bentak Wi It beng dengan gusar. Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.

"Blaang"

Ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.

sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng...

Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu, luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali muntah keluar dari mulutnya.

Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.

Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain kecuali menjerit kaget "Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"

Teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.

Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.

Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..

Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur kedalam hutan di tepi jalan raya itu..

semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.

sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana..Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti itu?

Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning, berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.

Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil yang sedang bejalan.

Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.

Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas wajah Wi It beng.

Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terhingga.

Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras bagaikan geledek.

"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"

"Bee.. betul "

Jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras.

"akulah ketua kaisar dari istana Huan mo kiong"

"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"

Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.

Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah, kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.

Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.

Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur.

"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"

"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"

"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"

"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah pernah mendengar namaku ini"

Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan, kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup berkutik lagi.

Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh sakti tersebut.

Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatan-semua perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.

Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana, hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu dikolong langit.

Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit, darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...

sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran dunia persilatansungguh tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang jauh diluar dugaan siapapun.

Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata-kata.

suasana jadi hening, sepi tak seorangpun berani buka suara.

-00d0w00-BAB 54 SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata.

"Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain.

Nah Anggap saja nasib kalian masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"

Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan pembantaian lagi.

seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2 dari sana.

Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan, diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.

Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah dahan pohon-Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun dari kahyangan.

dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing.

Pada waktu itu Mo siu ing sedang tertawa ringan sembari berkata.

"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"

Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.

Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata.

"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."

"Siapa gurumu?"

Tanya Han siong Kie agak tertegun.

"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"

Sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.

Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.

"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?"

Tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.

"Benar, engkau tak percaya??"

"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"

"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "

Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti tinggi sekali.

Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut?

Belum tentu Tengkorak maut yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan dendam sakit hatinya?

bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?

Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar jangan pergi dulu kesana..?

Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut.

sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat, belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri didepan mata.

"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?"

Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan wajah berseri.

"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"

Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.

Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si Mo ong seraya berkata.

"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"

"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar"

Kata Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak.

"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"

Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya berkata.

"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "

"Benar suhu.."

Jawab Malaikat hawa dingin sedih.

sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi suami istri.

"Dia tak akan mati bukan?"

Terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.

"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam lagi"

"Kui goan kim wan ?"

Seru Hun si Mo ong cepat,"

Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal, tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir kepadanya..

waah, terlalu royal"

Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.

"suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk berangkat..."

"Baik..baik.. hayo kita berangkat"

Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua orang itu dengan pandangan melongo.

Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.

"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita tentang malaikat hawa panas Ko su ki ?

Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?

obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa murninya telah menghimpun kembali..

Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia lantas duduk bersila sambil bersemedi .

Apa yang terjadi kemudian?

Ternyata dugaannya itu keliru besar.

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati-hati sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.

Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang membuntuti bayangan manusia yang pertama.

agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda.

Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.

Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu sudah sembuh sama sekali.

Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu?

Dia tak lain adalah Tengkorak maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.

sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.

Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut nyawa sianak muda itu.

Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri dibelakang sebuah pohon yang besar.

Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun, malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya.

dari sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.

suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh angkasa.

Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..

Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang membentak dengan suara menyeramkan.

"Jangan bergerak!"

Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut gadungan.

Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda itu, dalam hati dia lantas berseru.

"Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."

Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru.

"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia untuk menjawab dengan sejujurnya"

Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja, dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan orang, dengan ketus ejeknya sinis.

"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"

"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"

"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab pertanyaanmu itu" .

"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"

"Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "

"Engkau tak takut mampus??"

"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"

"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."

"sayang kenapa??"

"Perguruan Thian-lam akan terputus ditanganmu"

Sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan sendirinya.

Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak sudi tunduk kepada orang lain.

setelah termenung sejenak diapun berseru.

"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah turun tangan"

"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"

"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."

"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."

Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..

Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung menyambar kearah pohon besar dihadapannya.

Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya dan memandang kedepan.

Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.

sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian.

"Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas tanah dan tak berkutik lagi. Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian jago ampuh itu tampak mengerikan sekali. Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata.. siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak maut gadungan?? siapa pula pemilik dari lencana perak itu?? Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak maut gadungan telah menjerit kaget?? Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam sekali gebrakan belaka?? Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong? Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian "

Nak. apa yang sedang kau lamunkan?"

Tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih sayang .

berkumandang dari tak jauh dari sana.

Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang kehilangan sukma.

"cianpwe, engkaukah itu?"

Cepat pemuda itu berseru.

"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"

"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"

"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"

Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.

"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan boanpwee dari ancaman bahaya maut??"

"Begitulah kenyataannya"

"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."

"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"

Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera serunya.

"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"

"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana tersebut."

Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi.

"Mati karena lencana itu ? Boanpwe merasa tak mengerti.."

"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."

"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"

"Benar nak. engkau tidak percaya?"

"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"

"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"

Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi.

"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"

"Thian che leng"

"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"

"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"

"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah dari pihak Thian che kau?"

"Boleh dikatakan begitu"

"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"

"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"

Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut gadungan adalah orangnya Thian che kau.

sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka kembali ujarnya.

"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"

"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"

"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"

"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam perkumpulan"

"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"

"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"

"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"

"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"

"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"

"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh jawabannya "

"Kenapa??"

"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"

Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu saja, kembali tanyanya.

"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."

"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu, makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "

Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.

Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan.

"Nak, apa yang sedang kau cari?"

Terdengar orang ada maksud bertanya.

"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "

"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"

"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"

"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "

"Maksudmu Thian che kaucu??"

Orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru.

"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."

"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"

"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."

Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani mengumbarnya ..

Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.

"Blaaang.."

Pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa kakipun segera terbentuk. Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang datang .

"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."

Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah. Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan sukma berkumandang lagi.

"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah, gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."

Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.

Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya.

Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka pemuda itu bertanya lagi.

"Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."

"Ada apa?"

Tukas orang yang kehilangan sukma.

"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"

"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak. bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"

Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut, gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam.

Dan tentu saja dia harus membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.

Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia menyahut.

"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"

"Kesempatan ? Apa maksudmu?"

"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."

"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"

"begitulah maksud boanpwe"

"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau tidak sampai membuatku jadi kecewa."

"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang"

""Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"

"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"

"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam keadaan apapun?"

"Boanpwe bersedia"

Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara serius kepadanya?

Apa maksud dan tujuannya?

sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang.

"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat, sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"

"Aku mengerti"

Sahut Han siong Kie. -00d0w00-

Jilid 27 BAB 55 SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata.

"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi, tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut gadungan."

Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru.

"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan tetapi selama ini?"

"belum pernah...".

"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2 lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu? secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."

"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"

Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu, sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan bersungguh2 katanya.

"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"

"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"

Sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan, maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata.

"Kalau memang begitu, boanpwe mohon diri lebih dahulu"

"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"

Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..

"Tunggu sebentar"

Tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.

"Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku"

Tanya sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.

"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."

"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"

"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che kau yang sebetulnya??"

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya.

"Masa dia benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"

"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"

"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"

"Kenapa tak mungkin terjadi??"

"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"

"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"

"Tentang soal ini.."

Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya.

"mendiang susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"

"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"

Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma sejelas itu, lalu..

siapa kah sebenarnya orang itu"

Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya, apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?

Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa ini masih ada persoalan lain?"

Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut?

Bukankah mereka telah berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul kembali..

Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..

"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir"

Terdengar orang yang kehilangan sukma berkata lagi.

"suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi, aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"

Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan kakinya dan berlalu dari hutan itu.

Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.

Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan, bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"

Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.

Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh, bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"

Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda itu diluar hutan-diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.

Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan dendam.

sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan Thian che kau.

Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun juga.

Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.

sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia berhenti dan menghampiri semak belukar itu.

Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.

Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie, ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.

Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur nyenyak.

Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya?

Mungkinkah kena serangan jantung?

Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan sekali..

Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.

Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan pengetahuannya terlalu cetek.

sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan pembunuhan tersebut.

sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya kedepan.

Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.

sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati.

"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"

Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah tampan.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.

setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.

Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap.

sayang tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.

sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali.

Han song Kie tercengang, dia segera menengadah..

Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.

Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera dibatalkan.

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh kemunculan gadis itu.

sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari mulut kedua orang pemuda itu.

Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.

Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak.

sikap mereka bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain, ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.

Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi kebaikan kepadanya.

maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan diketahui dengan jelas.

Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya merinding, jangan-jangan "siangkong, tambah arak?"

Terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.

"Tambah dua canting"

Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya.

"siapakah dua orang pemuda yang berada disana itu?"

Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih.

"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi, siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya" . Berbicara sampai disitu buru2 ia berlalu dari sana. Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak. Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana. Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas. Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering, kemudian berlari keluar dari kota tersebut. satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan. Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura. Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu? Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia melanjutkan perjalanannya kembali kedepan. senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok.. sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan. suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan. Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan, sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi. Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja.

"cantikkah wajahku ini?"

"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"

Sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"

"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"

"Tentang soal ini.... tentang soal ini...."

Pemuda itu tampak gelagapan jadinya.

"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai disini??"

"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung sekali hidupku ini"

Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan pinggulnya ia berkata genit.

"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"

"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"

"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu"

Seru Go siau bi sambil tertawa eekikikan.

Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera diayunkan kearah dada pemuda itu.

Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan.

"Nona .."

Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.

Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.

"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.."

Pikirnya dihati.

Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang kejam dan tak kenal ampun.

Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..

Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia sudah berpaling dan mendengus dingin.

"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."

Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang amat pesat.

Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap.

dia lompat keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar.

"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"

Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan mendendam ia berseru.

"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah kau campurinya"

"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"

"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"

"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"

"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"

"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan"

Jawab Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.

"Huuh, engkau hendak membunuh aku?"

Ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan sinis.

"Benar, akan kubunuh dirimu"

"Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "

"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."

Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek.

"Kenapa tidak kau lakukan sekarang juga?"

"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku, kuampuni jiwamu untuk kali ini "

Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya, gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.

Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak.

"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"

"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"

"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"

Sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya.

"Jadi engkau hendak membunuh aku??"

"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"

"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"

"Karena aku benci padamu"

"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"

"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"

Han siong Kie menyengir sinis.

"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?"

Ejeknya.

"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."

Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.

Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping, serunya lantang.

"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."

"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?"

Teriak Go siau bi dengan penasaran.

Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan.

Betapa tercekatnya perasaan hati Han siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras.

"Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.

Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh kehebatan pukulan itu Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.

Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh.

Karenanya sambil menarik pulang serangannya dia lantas menegur.

"Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"

"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."

"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?"

Tanya anak muda itu dengan cepat.

Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan kedepan.

Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.

"Blaaang.."

Suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa, diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.

Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.

Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau mempercayainya.

Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian Go siau bi berkata.

"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku"

Sambil membentak nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.

Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam hati pemuda itu lantas berpekik.

"Aku tak boleh mati"

Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan, berhasil dengan kelitannya.

sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil kemuka.

sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.

"criiit. criiing.."

Ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.

Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.

Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini memang tak pernah diduga olehnya.

"sambutlah sebuah pukulanku lagi."

Bentak dara itu lagi dengan lantang.

Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya menggulung tubuh lawan.

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.

Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai, teriaknya keras.

"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"

Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2 membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..

Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat dan harus mundur berulang kali ke belakang..

Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.

Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.

Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.

"Blang Blang "

Dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.

Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi keadaannya masib agak segar.

Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya sudah terluka parah.

Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah pihak berdiri berhadapan.

Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi lagi seluruh permukaan tanah.

Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.

sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih parah daripada anak dara itu.

Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.

Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga "

Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.

Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya dan bila perlu sekalian membinasakannya...

Inikah takdir?

Inikah yang dinamakan nasib.?

Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang, membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.

Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.

Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.

suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya.

satu ingatan lantas melintas dalam benaknya.

"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"

Sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.

-00d0w00-BAB 56 PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.

Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa disamping pemuda itu.

Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.

Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Dentuman keras mengiringi benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.

Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari tempat semula, Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.

"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi sebagai kata-kata akhirmu"

Ejek dara itu dengan ketus. sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya.

"Tak ada kata-kata lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."

"sungguh tak ada pesan terakhir"

"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan menerima pula akibatnya."

"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.."

Dara itu bagaikan orang sinting tertawa nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.

"Orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu"

Serunya lagi.

"aku telah tahu bahwa peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan manusiamanusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."

Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh yang benar-benar mengerikan.

Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan tak terelakkan lagi.

"Go siau bi"

Serunya kemudian dengan gemas.

"sayang aku tak dapat membinasakan engkau dengan tanganku sendiri"

"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh engkau dengan tanganku sendiri."

"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"

"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan untukmu.."

Satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah mempunyai niat untuk membinasakan dirinya..

"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat mendahului diriku"

Ejeknya sambil tertawa dingin.

"Apa? Dia sudah mati?"

Seru Go siau bi dengan wajah tertegun.

"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?"

Ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali berubah hebat, tiba2 hardiknya keras-keras.

"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan dirimu??"

"Aku rasa tak perlu"

"Jadi engkau telah paham?"

"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"

"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"

"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"

Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan anak muda ini.

Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ?

Air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik.

"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??"

Tiada jawaban tiada gerakan.

Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.

"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan"

Pikir Han siong Kie dihati, hanya hati perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.."

Sindirnya kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar.

"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."

"Tunggu sebentar"

Tiba-tiba dara itu membentak "Ada apa lagi?"

Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus.

"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak pergi?"

"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"

"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."

"Katakanlah cepat"

Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan. Katanya dengan penuh emosi.

"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."

"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan kubalas?"

Tukas sianak muda itu dengan nada tajam.

"Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku menginap disebuah rumah penginapan...."

"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"

"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..."

Berbicara sampai disini tiba-tiba ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..

Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang keliru.

sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi, yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...

Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..

sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.

sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?

Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu "Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya peristiwa itu"

Ia berkata dengan lembut.

"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"

"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh orang lagi mulai saat ini"

"Kalau kutolak permohonanmu itu?"

Seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai. suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat.

"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah kukatakan tadi"

"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?"

Ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.

"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh" . selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia mengejek sinis.

"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"

"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"

"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"

Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap membungkam.

Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.

Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu, beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.

Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali perjalanannya kedepan.

kali ini ia tidak berpaling lagi.

Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepakdepakan kakinya keatas tanah, serunya berulang kali.

"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"

Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang sangat ramai.

Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.

tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang panjang.

Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa kali.

"Hey, apa maksudmu datang kemari?"

Tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu tertawa seram.

"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"

"Apa? siapa yang kau maksudkan?"

Teriak dara ayu itu dengan mata melotot.

"siapa lagi, tentu saja engkau"

Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sambil mendengus dingin katanya.

"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"

"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"

"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"

"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau san cung, mengerti??"

Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya.

"Lantas ada urusan apa kau cari aku??"

"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"

"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?"

Tukas sang dara cepat.

"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan, darimana asal perguruanmu?"

"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."

Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik.

Ia maju beberapa langkah kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan.

"Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri "

"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik enyahlah dari sini"

"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan engkau dengan begitu saja??"

"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"

"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"

Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan melancarkan sebuah ancaman maut.

Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu kepandaian seaneh dan setangguh ini.

"Blang "

Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.

Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.

Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.

sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan menerjang ke dada lawan.

"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup,"

Hardik Go siau bi denganpenuh kegusaran-Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blamm"

Suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar muntah keluar dari mulutnya.

"Bluuk"

Bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium tanah.

Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara, anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula..

"Duukk"

Ketika menumbuk diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.

Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar dugaannya.

sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar sedemikian rupa mengitari angkasa.

Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan pula kedepan.

siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan pukulan maut..

Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay, berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.

semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang jago lihay.

Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.

Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu menerkam lagi kedepan.

Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan keatas batok kepala anjing itu..

"Guukk..guuukk..

lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimana-mana, anjing itu mampus seketika itu juga..

Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula mencakar paha Go Siau bi..

Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak naik keatas.

Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang sangat jahat.

Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.

"Blaaang"

Kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan mengerikan-"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."

Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.

"Suiiit""

Siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.

Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan diri tinggalkan tempat itu.

Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk kearah hutan-Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali keatas tanah.

sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan hebatnya.

Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-Anjing-anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.

Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.

Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.

Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang luar biasa.

Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-Rombongan anjing-anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas tengah dan bawah.

Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.

sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.

setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.

Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang masih hidup pada saat ini.

Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.

Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan langkah lebar.

Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya..

Sambil bergerak maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya.

"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah tibanya saat seperti itu ...."

Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.

Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.

Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip.

arah yang dituju adalah dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan pecah dan binasalah orang itu.

Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah serangan itu dari sasaran utamanya.

"Blam"

Pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang ditubuh Go siau Bi Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah, kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.

Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh gadis itu.

Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru berkata dengat nada menyeramkan.

"Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus dengan begitu saja"

Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.

Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar, ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang kearahnya sambil menyeringai seram.

Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.

Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan, sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.

-00d0w00-BAB 57-SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.

Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya, beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok.

sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.

Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-"

Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku "

Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran.

Terdengar Ho Thong thian melanjutkan kembali kata katanya.

"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi, dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat, kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali." -00d0w00-

Jilid 28 BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benarbenar terjadi, inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.

Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.

sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....

"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini"

Ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"

Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni perutnya.

Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya.

sekarang ia dapat merasakan apa artinya pembalasan-..

dia mulai menyesal.

"ooooh sungguh cepat pembalasan yang tiba dan menimpa diriku"

Keluhnya dihati.

Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka, pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya.

Bila seseorang bisa putus asa, kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.

Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih berkumandang tiada hentinya.

lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.

Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya, keadaan benar2 mengerikan..

Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..

sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.

Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.

Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya, mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah jadi manusia lain-Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya berdebar keras.

cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran seseorang manusia lain-Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.

Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.

orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud.

Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri tertegun-"Nona, engkau hendak pergi kemana?"

Tegurnya.

"Aku datang mencari engkau "

"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?"

Pemuda itu merasa keheranan.

"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san Ceng"

Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya.

"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar biasa."

"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"

"oooh.. kiranya begitu"

"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??"

Kembali orang yang ada maksud bertanya.

"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"

"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat, kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"

"Nona"

Seru Han siong Kie dengan cepat.

"Apakah engkau mengerti sebab-sebab yang mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi bagaimana dengan lainnya? "

Orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya.

"Tahukah engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"

"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."

"Hmmmm"

Kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin.

"Apakah ucapan itu muncul dari lubuk hatimu??"

"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?"

Tanya Han siong Kie tercengang.

"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari tanggung jawabnya "

"Kenapa..?"

Tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.

"Karena engkau, dia telah membunuh orang"

"Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"

"Manusia bermuka dingin"

Seru orang yang ada maksud dengan suara tajam "

Engkau tak usah pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai membunuh orang? "

"Aku benar2 tidak paham"

"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??"

Han siong Kie tertawa dingin-"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya "

"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"

"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"

"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini "

"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi "

"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang dijumpainya"

"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"

"Benar "

"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"

"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"

"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"

"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas pembaringannya ."

"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "

"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"

"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"

"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya, bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia bersedia melakukan kesemuanya itu"

Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini, melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut.

Terdengar orang yang ada maksud berkata lebih jauh.

"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"

"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"

Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang yang ada maksud, serunya lagi.

"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan menginap disatu kamar."

"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"

"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin dengan orang tak lain"

"Aaaah ..Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu merisaukan soal titik bengek itu"

"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu apa yang hendak kau lakukan ?"

Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya.

"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"

"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"

"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??"

Han siong Kie membungkam, betul2 membungkam dalam seribu bahasa.

Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.

Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.

Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.

Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."

Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.

"Tentu saja masih ingat, kenapa??"

"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"

"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi"

Han siong Kie tertawa sedih.

"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"

"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksudmu ?"

Han Siong Kie agak ragu sebentar, tapi akhirnya dia mengaku juga.

"Tentunya kau telah mengetahui bukan bahwa aku mempunyai hubungan dendam sedalam lautan dengan Tengkorak maut? Oleh karena dalam dunia persilatan telah muncul pula seorang Tengkorak maut gadungan, dan aku tak tahu siapa yang benar-benar merupakan musuh besarku maka aku telah mengadakan janji dengan Tongbong Hui"

Dia kuminta untuk kembali ke Benteng maut serta mencari fakta yang benar, bila musuh besarku bukan pemilik benteng maut maka dia akan keluar benteng untuk menjumpai diriku, sebalikaya kalau,..."

Pemuda itu hentikan kata-katanya ditengah jalan, rasa sedih dan murung menghiasi Wajahnya.

"Bagaimana?"

Tanya Orang yang ada maksud sambil teriawa merdu.

"Kalau ayahnya adalah pembunuh keluargaku, maka dia akan menghabisi jiwanya sendiri"

"Oleh karena dia tidak muncul lagi dari bentengnya, maka sekarang kau anggap dia sudah mati? "

Benar!"

"Dia tak mungkin akan mati !"

Terkejut Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, dia lantas berpikir di dalam hati .

"Orang yang ada maksud dan ibunya adalah tokoh silat yang amat misterius gerak-geriknya, ia bisa berkata demikian tentu didasarkan oleb fakta yaog kuat, tak mungkin ucapan tersebut diutarakan secara bermain-main belaka !"

Dengan nada tercengang dia pun lantas bertanya.

"Dengan dasar apakab nona berani mengatakan kalau dia sampai sekarang belum mati?"

"Tentang soal , .

maaf kalau untuk sementara waktu tak dapat kuberikan kepadamu, pokoknya kalau engkau sudah mengunjungi benteng maut maka semua rahasia ini akan kau ketabui, sekali lagi kuperingatkan kepadamu lebih baik putuskanlah hubungan cintamu dengan Tonghong Hui sebab kalau tidak maka tragedi tak bisa dihindari lagi.

Mula mula Han Siong Kie agak tertegun tapi setelah tertawa getir sahutnya.

"Cinta dan dendam adalah dua kejadian yang saling berlawanan tak mungkin kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"

"Justru persoalannya bukan terletak disini"

"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi ini??"

"Memang begitulah kenyataannya"

"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan lebih jauh?"

"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi, kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"

"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."

"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"

"Dapatkah kuketahui alasan itu?"

"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"

Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah tertolong ketika ia terluka tadi.

Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat lamanya, kemudian sahutnya.

"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"

"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"

"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2 lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "

"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu, bagaimana??"

"Tetapi..."

"Ada apa lagi?? "

"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."

"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"

Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng lalu diangsurkan kedepan-Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata.

"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"

Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon untuk mengatur pernapasan Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.

Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie telah melompat bangun kembali dari atas tanah.

Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan pula.

"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu"

Dengan tubuh yang enteng dia lantas berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan Oh hau san ceng.

Perkampungan Oh hau san ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang didirikan di tengah pepohonan Siong, dinding batu yang mengitari perkampungan itu tingginya mencapai tiga kaki, sedangkan bangunan dibalik lingkaran dinding terdiri dari rumah rumah batu berwarna hitam, setiap bangunan terdiri dari empat buah pintu yang terkunci rapat semua.

Diantaranya dari balik pintu ketiga deretan rumah batu itu terdengarlah suara gelak tertawa manusia yang menyeramkan.

Saat itulah seorang laki-laki kekar tergesa-gesa lari ke depan pintu bangunan ketiga setelah mengetuk gelang pintu dengan gencar ia berseru lantang.

"Lapor cengcu, manusia bermuka dingin datang berkunjung, tampaknya ia datang dengan maksud tak benar!"

Pintu rumah terbuka dan muncullah seorang kakek jubah hitam yang berwarna seram, orang itu tak lain adalah Hoo Thong thian, pemilik perkampungan Oh hau san-ceng.

Suasana dalam ruangan pada waktu itu kritis sekali Hoo Thoog thian sedang memerintahkan anjing-anjingnya untuk melakukan tindak perkosaan, untung tibalah laki-laki itu memberi laporan sehingga parbuatan kejinya untuk sementara waktu ditangguhkan.

"Apa kau bilang?"

Serunya bengis.

"Manusia bermuka dingin telah berkunjung kemari! Manusia bermuka dingin ? Mau apa dia datang kemari?"

"Katanya ingin bertemu dengan cungcu serta membicarakan suatu persoalan yang penting"

Paras muka Ho Thong thian berubah hebat, ia tak bisa menduga apa maksud kedatangan pemuda itu.

ia merasa tak pernah ada hubungan dendam ataupun sakit hati antara dia dengan pemuda itu.

Akhirnya setelah berpikir beberapa saat lamanya, ia tertawa seram, katanya.

"Perketat penjagaan di ruang rahasia bagian tengah!"

Dengan hormat laki-laki itu mengiakan kemudian berlalu untuk melaksanakan tugasnya.

Ho Thong-thian berpaling dan memandang sekejap kearah Go Siau bi yang terbelenggu diatas palang kayu, kemudian gumamnya .

"Perempuan rendah, anggaplah umurmu masih panjang, tunggu saja sebentar lagi!"

Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.

Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok.

namun pendengarannya masih berjalan normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah tiba diperkampungan itu.

Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.

"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin membunuh aku??"

Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.

Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.

Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura lalu berkata.

"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan??"

"Betul, itulah aku orangnya"

"Silahkan duduk dan minum teh "

"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"

"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??"

Dengan dahi berkerut Han siong Kie berkata.

"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"

Setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan tenang.

Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.

Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya.

"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"

"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"

"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua orang putraku"

"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal ini nona itu tak dapat kau salahkan "

"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini, aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku melakukan pembalasan dendam?"

Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab kata-kata itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata.

"Apa yang hendak kau lakukan atas diri nya?"

"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."

"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"

"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan semacam ini kelewat batas?"

"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"

"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena mendengar dari mulut orang?"

"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"

"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"

"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go siau bi??"

"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"

Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali suaranya.

"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"

"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk menundukkan nona itu??"

"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak bisa diselesaikan dengan berat sebelah"

Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong thian, ia menjura dan berkata.

"Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh?

Aku akan menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di depan sauhiap?

Tentunya sauhiap bersedia bukan??"

Oooodwoooo BAB 58 MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.

"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti engkau mencari penyakit buat diri sendiri."

Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.

"Baiklah, lakukan semuanya itu"

"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"

Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.

"Eeeh.. tunggu sebentar"

"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"

Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki berkata dengan sadis.

"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak ... Hmmm Terus terang kukatakan kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan katakata, dan apa yang sudah kukatakan dapat pula kubuktikan."

Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.

"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan.

"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "

"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak mengganggu kau lagi"

Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata.

"Aku akan segera pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang bergerak ditempat ini ?"

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai berputar kencang.

Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati.

"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"

Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.

Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-"criing.

criing..

tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.

sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus terjebak oleh perangkap lawan-Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada maksud, benarbenar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.

sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.

"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut merupakan sebuah lorong yang amat panjang. Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi, dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji. Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan apapun yang muncul dihadapannya. Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu. Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang ke atas. Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok manusia pun, sesuatu gerakan pun tidak kedengaran, jelas tak mungkin kalau pintu kecil itu sengaja dibuka orang bila tanpa alasan, mungkinkah dibalik kesemuannya ini sebenarnya telah tersusun suatu jebakan licik yang akan menanti kedatangannya?"

Diam-diam pemuda itu menyesal, bukan saja Go Siau bi yang akan ditolong tak berhasil diselamatkan jiwanya, malahan dia yang masuk jebakan.

Pada ujung anak tangga batu itu merupakan sebuah pintu kecil lagi, bau busuk yang amat menusuk penciuman terhembus keluar dari balik ruangan itu, begitu busuk baunya membuat siapa pun yang mencium itu rasanya mau muntah.

Bulu kuduk telah berdiri semua ditubuh Han Siong Kie, ia ragu ragu untuk masuk ke pintu kecil itu.

"Jebakan apa lagi yang telah disiapkan bangsat tua itu dalam ruangan ini ?"

Begitulah dia berpikir.

Untungnya dia seorang pemuda yang bernyali besar, sesudah sangsi sebentar, toh akhirnya dengan langkah tegap ia masuk juga kedalam ruangan itu.

Gerakan lirih dan rendah berkumandang dari ruangan itu, suaranya rendah tapi menggidikkan hati siapa pun yang mendengar.

Dengan ketajaman matanya bagaikan sembilu Han Siong Kie mengawasi ruangan itu dengan seksama, ruangan itu gelap gulita.

Lima jari sendiri susah terlihat apa yang tertera dalam ruangan itu lebih2 tak dapat terlihat jelas.

Tapi kegelapan bukan halangan bagi si anak muda itu, bagi orang lain sulit untuk memandang baginya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit ia dapat melihat bahwa ruangan itu luasnya tiga kaki tiada berpintu dan tiada berjendela, kedua belah sisi ruangan itu masing2 tertutup oleh terali besi yang kuat, dalam terali besi itu masing2 terkurung lima ekor makhluk aneb sebesar anak sapi, sorot mata yang buas dan tajan tertuju ke tubuhnya geraman lirih yang mengerikan itu muncul dari balik moncong mereka, Seketika itu juga Han Siong Kie teringat bahwa makhlukmakhluk aneh itu pastilah anjing raksasa yang cakarnya beracun itu.

Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.

Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah berada diatas permukaan tanah.

"criiiing ..."

Sementara anak muda itu masih melamun-tibatiba terdengar dentingan nyaring menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.

Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan merabanya dengan tangan-Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan kepandaian yang dimilikinya saat ini.

Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang bulat sebesar kepala manusia, menyusul mana suara tertawa yang menyeramkan berkumandaog memecahkan kesunyian.

Suara tertawa itu jelas berasal dari Ho Tong thian, pemilik perkampungan Oh sau san cung.

Hawa nafsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie rasa bencinya terhadap orang ini sukar dilukiskan dengan kata2, kalau bisa dia hendak mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping2.

Sebelum dia sempat membuka suara Ho Tong thian telah berkata dengan suaranya yang menyeramkan.

"Manusia bermuka dingin, setelah engkau terkurung didalam ruangao besi tempat pemeliharaan anjing, jangan harap kau bisa lolos dari tempat itu dalam keadaan selamat"

"Tutup mulutmu, Ho Tong thian, engkau maencari penyakit buat dirimu sendiri, seluruh isi perkampungan ini akan kubantai sampai rata dengan tanah!"

"Haaahhh haaaahhh haaaahhh.. manusia bermuka dingin, engkau tak usah tekebur, tahukah engkau bahwa keadaanmu ibaratnya katak dalam tempurung, asal kubuka kandang anjing tersebut Hmm hhmm engkau akan mampus dengan tubuh yang tak utuh."

Bergidik juga Han Siong Kie setelah mendengar ancaman tersebut, ia pun sadar bertarung melawan belasan ekor anjing raksasa yang cakarnya beracun dalam ruangan besi yang luasnya cuma tiga kaki ini bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, salah-salah dia sendirilah yang akan jatuh korban.

Terdengar Ho Thong-tbian berkata lagi dengan bangga.

"Manusia bermuka dingin, orang persilatan menganggap engkau sebagai seekor naga sakti, tapi bagi pandanganku, engkau tak lebih cuma santapan bagi anjingmu, haaaahhh hahaahh..."

Saking gusarnya Han Siong Kie merasa dadanya bagaikan mau meledak, dia menghardik keras.

"Tua bangka sialan, engkau tidak takut kalau perkampungan Oh hau san Cung cu ini akan kumusnahkan menjadi abu?"

"Heeehh heeeehhh hheeeeehhh bocah keparat, kematianmu sudah berada didepan mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"

"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"

"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."

Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok kedalam.

Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.

sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata, terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa aling2.

selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya mau copot.

Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar berapi2, teriaknya dengan keras.

"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??"

Ho Thong thian tertawa dingin.

"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya, maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."

"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."

Saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-kepingkeping, tapi sebuah dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos masuk keruangan sebelah.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..

Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok.

namun telinganya dapat mendengar dan matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.

Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.

"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?"

Bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian, dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.

"Blang.."

Suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu bergetar sangat keras.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam gusarnya.

Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali, ejeknya.

"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib kalian berdua"

"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan oh han san ceng kuratakan dengan dengan tanah, semua penghuninya akan kubantai anjing ayam pun akan ikut kubunuh semua hingga ludas!"

"Haahh haaahh haaaahh bocah keparat engkau tak usah menggonggong terus seperti anjing, engkau tak akan mempunyai kesempatan seperti itu sebab riwayatmu sebentar lagi pun akan ikut berakhir disini."

Kegusaran Han Siong Kie sudah mencapai pada puncaknya namun dalam keadaan seperti ini apa yang bisa dia lakukan? Ho Tong-thian tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan kemudian katanya.

"Bocah keparat, sebentar lagi pertunjukan bagus akan segera dimulai, inilah perturjukan paling besar dikolong langit, anjing jantan akan merenggut kehormatan seorang anak dara!"

Seraya berkata dia lantas melepaskan rantai belenggu dari salah seekor anjing besar itu.

Setelah mencakar2 permukaan tanah, tiba-tiba anjing besar itu mengangkat kaki depannya keatas sehingga bersikap berdiri, sambil mendesis seram anjing itu langsung menerkam ke tubuh Go Siau bi yang telanjang bulat dan siap menggagahinya..

Tampaknya suatu peristiwa yang tragis dan mengerikan segera akan berlangsung didepan mata.

Tenaga dalam yang dimiliki Go Siau bi dipelajari dari kitab pusaka Thian tok pit kip dan sebagian besar diwariskan langsung oleh kakeknya Put lo sianseng, boleh dibilang ilmu silatnya sudah tiada tandingannya di kolong langit.

Tapi akibat pertarungannya melawan Han Siong Kie, banyak tenaga murninya yang rusak dan lenyap apalagi setelah terkena racun cakar dari anjing-anjing raksasa itu, ia semakian lemah kondisinya.

Setelah jalan darahnya tertotok dan racun dalam tubuhnya dipunahkan, beberapa kali gadis itu berusaha untuk mengumpulkan kembali hawa murninya serta berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan tersebut, apa mau dikata jalan darah yarg tertotok di tubuhnya terlampau banyak, hal ini mengakibatkan ia tetap tak bisa berkutik kendati pun beberapa buah jalan darah diantaranya telah berhasil dibebaskan.

Sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.

situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..

Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara..

Biang.."

Ketika terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing tersebut dalam keadaan mengerikan.

Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah kebelakang.

"Criiit criing "

Beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.

Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya dadanya sudah berlubang besar.

sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak.

seketika anjing itu pun mampus dengan keadaan mengerikan.

setelah menenangkan hatinya.

rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thian-sekarang dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak kedua.

Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu, katanya sambil tertawa seram.

"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"

"criiing...?"

Tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.

Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.

setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.

"Kraaakkk kraaakkk "

Bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling, hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi pengepungan.

sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan.

Han siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.

Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.

Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya untuk berkelit maupun menghindar.

Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.

Tampaknya anjing-anjing itu sudah mendapat didikan yang amat matang, terbukti serangan maupun sergapan mereka sangat lihay dan masing-masing pihak dapat saling membantu serta mengisi kekosongan yang ada ...

Suatu pertempuran seru antara anjing-anjing lawan manusiapun berlangsung.

Pertarungan itu ramai sekali dan setiap saat kemungkinan besar jiwa mereka akan melayang.

Lolongan panjang kembali berkumandang seekor anjirg besar kembali mampus oleh sambaran jari Tong kim-ci.

Beberapa gebrakan kemudian, kembali ada dua ekor anjing yang kena dihajar batok kepalanya sehingga hancur dan mampus seketika.

Diantaranya lima ekor anjing ada empat diantaranya telah mampus, sisa yang seekor lagi sudah bukan merupakan ancaman lagi bagi si anak muda itu.

Anjing tersebut tak kenal takut, meskipun yang lain sudah mampus semua ternyata dengan kalap ia masih menerjang maju dengan nekadnya.

"Kraaakkk.. kraaakkk ."

Terali besi yang kedua ksmbali terangkat, menyusul lima ekor anjing raksasa muncul lagi dengan garangnya.

Untuk membinasakan empat ekor anjing tadi, Han Siong Kie sudah merasa kepayahan.

apalagi sekarang bertambah lagi dengan lima ekor, makin sulit baginya untuk melakukan perlawanan.

Dalam keadaan seperti ini tiba-tiba satu ingatan melintas didalam benaknya.

Tatkala keenam ekor anjing besar itu menerkam kedepan Han Siong Kie berkelit ke samping dan menerobos lewat diantara celah-celah yang ada, kemudian ia menyusup kedalam terali besi yang dipakai sebagai sarang anjing itu dan berjaga didepan pintu.

Dengan lindakannya ini maka keadaan segera berubah.

Setiap kali melakukan penerkaman, hanya seekor anjing saja yang mampu melewati pintu sempit yang dijaga oleh Han Siong Kie sementara sisanya terhadang oleh terali besi, meskipun binataog itu menggonggong dengan marahnya, itupun tak ada gunanya.

Maka tiap kali ada seekor anjing yang menerkam kedalam sangkar tersebut lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong kim ci.

Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.

"Crinng "

Tiba?

pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar tersebut.

Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya.

Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali mampus diujung telapak tangannya.

Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.

selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.

Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.

Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.

Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya diperkosa olen anjing ..

Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya.

Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka akan dibunuhnya orang itu secara keji.

sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.

sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.

Hawa amarah makin memuncak.

hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..

Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahan-lahan bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.

Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.

sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....

Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan maut.

"Hey, bocah jangan pukul aku"

Makhluk aneh itu berseru dengan lantang.

Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.

orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.

Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.

Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras.

"Bukankah engkau adalah Tee heng sian?"

Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban-Tee heng sian bergerak maju dua langkah kedepan, lalu sambil tertawa cekikikan sahutnya.

"Hiiih hiiih hiiih bocah. bagus amat daya ingatanmu, betul ! Lohu adalah Tee heng sian, dewa berjalan dalam tanah"

"Bagaimana caramu bisa muncul dari balik penjara bawah tanah?"

"Lhoo.masa engkau belum tahu ? Menggali tanah berjalan dalam bumi toh merupakan ilmu kepandaianku ! Kalau cuma berbuat begitu saja tak bisa, apa gunanya aku diberi julukan sebagai Tee heng sian?"

Jawaban ini membuat Han Song Kie agak tertegun selang sesaat kemudian ia baru bertanya .

"Apa maksud dan tujuanmu datang kemari?"

"Tentu saja mencari kau si bocah cilik untuk diajak berbicara"

"Oooh ! Jadi engkau mendapat perintah dari Ho Thong thian untuk menjadi utusan?"

"Heeeh heeehh heeeehh jangan menghina ah, aku Tee heng sian meski cebol orangnya tapi masih punya harga diri, tak sudi aku diperintah orang!"

"Lantas apa hubunganmu dengan Ho Thong thian anjing geladak tua itu?"

"Hubungan kami? Hiihhh hiiihh hiihh tidak lebih cuma sebagai pemilik barang serta pencuri!"

Mendengar jawaban tersebut, paras muka Han Siong Kie berubah jadi serius, tegurnya.

"Aku tidak mempunyai kegembiraan untuk bergurau dengan kau, alangkah baiknya jika engkau bersedia untuk menerangkan duduk perkara yang sebeoarnya!"

Sambil tetap cengar cengir seperti monyet, jawab Tee heng sian dengan kalem.

"Siapa toh yang bergurau dengan kau, memangnya kau tidak tau kalau dalam gudang bawah tanah Ho Thong thian tersimpan beratus-ratus guci arak wangi yang sudah berusia ratusan tahun? Heeehh heeehh heehhh masakah aku keliru kalau mengatakan demikian padamu?"

"Oooh.jadi kedatanganmu kesini adalah khusus untuk mencuri arak wanginya?"

Tanya Han Siong Kie kemudian setelah tertegun beberapa saat.

"Nah, itu baru cocok! Memang begitulah kenyataannya..!"

"Bagaimana caramu memasuki perkampungan ini, dan bagaimana pula caramu jalan kesana kemari dengan leluasanya di lorong penjara bawah tanah?"

"Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2 lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung berhubungan dengan gudang arak itu."

Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya.

setelah tertegun sesaat diapun bertanya lagi.

"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"

"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit juga tak akan dapat mencium bauku"

"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"

"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing, kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"

"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"

"Tentu saja karena engkau si bocah muda "

"Lantaran aku?"

Seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.

"Memang begitulah kenyataannya"

"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"

"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."

"Sekarang aku tak ada waktu"

Seru Han Siong Kie dengan gelisah.

"apakah engkau bersedia memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"

"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? "

Tanya Tee heng sian sambil melototkan matanya yang aneh.

"Dari mana engkau bisa tahu?"

Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.

"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah, sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"

"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?"

Tanya Han siong Kie keheranan. 00dw00 BAB 59

"MASA membohongi kau?"

"Lantas dia luka ditangan siapa?"

"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"

"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa bergerak.."

"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni? Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"

"sekarang gadis itu ada dimana??"

"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"

Betapa girangnya Han Siong Kie setelah mendengar perkataao itu, ia cepat bergerak maju sambil berseru .

"Aku akan segera menolongnya untuk lolos dari kurungan . ."

"Menolong ? Bagaimana caramu untuk menolong dirinya?"

Han Siong Kie tertegun, benar juga bagaimana caranya dia untuk menolong gadis itu kalau dia sendiri pun pada hakekatnya masih terkurung. Lama sekali ia termenung kemudian baru ujarnya .

"Aku mohon sudilah kiranya engkau memberi petunjuk"

"Tak ada jalan lain, lorong rahasia ini hanya menghubungkan satu tempat belaka kecuali kalau engkau bisa membongkar pintu baja itu untuk menerobos keluar !"

"Waaah ..lalu bagaimana ini . ."

"Jangan gelisah,"

Hibur Tee heng sian.

"Dengar dulu perkataan lohu ini."

"Apa lagi yang hendak kau katakan ?"

"Apakah engkau masih menaruh perasaan tak senang kepadaku lantaran peristiwa perebutan harta karun tempo dulu ?"

"Aaaah . persoalan itu tidak penting. tak pernah aku pikirkan di dalam hati !"

"Baiklah, bccah ! Sejsk peristiwa itu, aku pun dapat mengetahui akan asal usul perguruanmu, menurut berita yang tersiar katanya engkau telah memikul budi dan dendam dari Mo tiong ci-mo atas kawanan jago persilatan, untuk peristiwa itu aku merasa sangat kagum, maka setelah tanpa sengaja ku ketahui kalau engkau sudah mendapat kesulitan aku datang kemari untuk mencari kau, bagaimana kalau kita mengikat tali persahabatsn !"

Han Siong Kie termenung dan berpikir beberapa seat lamanya, kemudian dia pun mengangguk.

"Baiklah ..."

"Kalau memang sudah ada ikatan persahabatan maka akan kusebut dirimu sebagai Lote dan engkau sebut aku sebagai toako, setuju bukan dengan sebutan ini ?"

"Siao-te turut perintah !"

"Haaahhh .. haaahhh.. haaahhh.. kalau memang begitu hayolah kita berangkat sekarang juga."

Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka melewati sebuah lorong yang sangat panjang.

Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.

"Loo tee"

Kata Tee heng sian kemudian.

"inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini juga tak akan melihatnya" -000dw000-

Jilid 29 HAN SIONG KI mengangguk sambil memuji tiada hentinya, memang lihay orang ini dalam kepandaiannya menggali jalan tanah.

Merekapun menerobos masuk jalan kecil bekas galian itu, kurang lebih lima puluh kaki kemudian sampailah kedua orang itu dalam sebuah gudang arak yang bcsar.

Beribu-ribu guci arak wangi tersimpan dalam gudang itu, dengan wajah berseri seri Tee heng sian segera menyambar sebuah guci arak dan meneguk isinya hingga habis kemudian ujarnya .

"Loo te, aku tau perasaan hatimu sedang gelisab sekaraDg geserlah guci besar yang berada disudut gudang itu dan keluarlah lewat jalan bawah tanab itu, jangan lupa setelah keluar dari sini tutup baik-baik mulut gua itu jangan kau rusak pekerjaan besarmu itu dan ada satu hal lagi yang perlu kau ingat bila kita hendak meratakan perkampungan ini dengan tanan jangan kau rusak gudang arakku ini, pokoknya bila kau ada urusan hendak mencari aku datang saja ke dalam gudang arak ini aku pasti berada disini !"

Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan menyahut.

"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"

"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam rumah besi ketiga, jangan sampai salah "

Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan bawah tanah itu.

seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu adalah tiga ekor anjing yang besar.

Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjing-anjing itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan pukulan mautnya.

suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat mengejutkan seluruh perkampungan.

Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.

Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.

Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruanganruangan itu tebalnya mencapai beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk menghancurkannya, yang aneh manusia bermuka dingin berhasil melepaskan diri dari kurungan tanpa merusak ruangan baja itu inilah yang membikin orang2 itu jadi tercengang dan tidak habis mengerti.

Kegusaran serta raSa mendongKol yaNg selama ini terhimpun dalam dada Han Siong Kie tidak terbendung lagi, dengan penuh hawa nafsu membunuh teriaknya lantang.

"Panggil Ho Thong thian, suruh dia datang menjumpai aku!"

Dengan langkah lebar dia maju kedepan tentu saja langkah pertama yang harus ditalukan adalah menyelamatkan jiwa Go Siau-bi dari ancaman bahaya maut, Belasan orang centeng itu saling berpandangan sekejap kemudian mereka cabut keluar senjata tajam masing2 dan menghadang jalan pergi pemuda itu.

Salah seorang diantaranya segera kabur ke dalam perkampuogan untuk memberi kabar.

Hawa napsu membunuh yang sangat tebal telah menyelimuti seiuruh wajah Han Siong Kie, ujarnya dengan dingin.

"Barang siapa masih ingin hidup kuanjurkan agar segera menyingkir dari sini"

Namun tak seorangpun diantara mereka yang bergerak dari tempat kedudukan semula.

"Bangsat rupanya kalian memang sudah bosan bidup!"

Bentak Han Sioog Ki dengan kegusaran.

Habis sudah kesabarannya sambil membentak sebuah pukulan dahsyst bagaikan gulungan ombak dipantai samudra menyambar ke tubuh kawanan centeng itu.

Jerit berkumandang saling menyusul empat sosok bayangan manusia terpertal terjatuh tiga kaki lebih dari tempat semula untuk kemudian tidak bangun untuk selamanya.

Yang lain jadi takut bercampur panik sekarang mereka baru tahu akan kelihayan musuhnya dengan sukma serasa melayang tinggalkan raganya mereka berteriak dan kabur ke belakang tapi setibanya pada jarak satu kaki mereka berhenti dan tak berani kabur lagi rupanya mereka pun takut untuk meninggalkan kewajiban dengan begitu saja.

Sebetulnya Han Siong Ki sama sekali tidak menaruh maksud atau perhatian untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya, dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji.

"Trang traanng traaang "

Suara genta dibunyikan bertalu-talu.

Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.

setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah gelanggang.

Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata.

"Kenapa sampai sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"

Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan wajah bengis ia menghardik.

"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"

"Membantai seluruh isi perkampungan ini"

Jawab pemuda itu dengan ketus Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang, tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan suara gemetar.

"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"

"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"

"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu"

Berbareng dengan berkumandangnya jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus dingin ia tuding Ho Thong thian serunya.

"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga kenyataan akan terbeber didepan mata"

Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan, senyum sinis menghiasi bibirnya.

walau begitu ia tak dapat menyemburyikan rasa kaget dan ngeri yang muncul dari lubuk hatinya seraya mengulapkan tangannya mengundurkan kawanan jago yang mengepung di sekitar gelanggang dia berseru.

"Untuk sementara waktu kalian mundur semua kebeelakang!"

Sedari tadi kawanan jago itu memang sedang menantinantikan seruan tersebut, cepat mereka mundur semua ke belakang.

Kini dalam gelanggang tinggal Ho Thong thian, kakek baju hitam yang berbicara tadi serta seorang laki-laki setengah baya yang bermuka licik sekali.

Han Siong Kie sudah tak sabaran lagi sekarang hanya ada satu ingatan dalam benaknya yakni menolong Go Siau bi untuk lolos dari bahaya, ia lalu membentak.

"Ho Thong thian, orang pertama yang bakal mampus adalah engkau!"

Begitu ucapannya selesai diutarakan sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan ke depan. Serangan ini bukan saja sangat cepat, bahkan tenaga pukulannya luar biasa hebatnya.

"Hmmm Belum tentu..."

Seseorang menanggapi. Serentak Ho Thong thian serta dua orang rekannya melancarkan pula sebuah pukulan keras untuk menyambut datangnya ancaman itu.

"Blaaang. ."

Ketika empat kelompok kekuatan saling membentur di udara terjadilah ledakan keras yang memekikkan telinga tiga orang itu terpental sejauh satu kaki kebelakang sementara Han Siong Kie masih tetap berdiri sekokoh batu karang ditempat semula.

Sesudah berhenti sebentar Han Siong Kie melejit kembali dan untuk kedua kalinya dia menubruk ketubuh Ho Thong thian.

"Lihat serangan!"

Suatu bentakan melengking di angkasa.

Dua gulung senjata rahasia dengan memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata meluncur kemuka dan mengurung wilayah seluas satu kaki di sekeliling tubuh Han Siong Kie.

Dari kilatan cahaya biru yang terpancar keluar dari sambaran senjata rahasia itu dapat diketahui bahwa senjatasenjata itu sangat beracun, bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan bunga diseluruh langit).

Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran didepan dada kemudian menolaknya kedepan.

Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu rontok diatas tanah.

Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.

Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki dari kedudukan semula itu.

Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.

Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran, sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang tiba dengas serangannya.

Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.

Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.

Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam ruangan baja.

"criing"

Secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.

Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.

Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.

Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.

Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan maut itu.

Sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah segar berhamburan membasahi seluruh lantai.

Setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?

Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah lagi dengan sesosok mayat manusia.

Padahal Go Siaw bi berada di ruang sebelah, memang dekat sekali jaraknya tapi tak mungkin ia bisa menembusinya.

Pemuda itu tahu sekalipun tenaga dalamnya amat sempurna tak mungkin ia bisa menghancurkan dinding baja yang tebalnya mencapai beberapa depa itu.

Sementara dia masih murung dan putus asa tiba-tiba pintu baja itu membuka secara otomatis.

Sungguh girang pemuda itu tak terkirakan, dia lepaskan satu pukulan gencar ke depan menyusul tubuhnya menerobos keluar.

Apa yang terbentang didepan mata hanyalah bangkai anjing yang berserakan dimana-mana, tak sesosok bayangan manusia pun tampak disitu, melihat hal itu pemuda tersebut maengerutkan dahinya, siapakah orang yang telah membunuh anjing dan membuka pintu ruangan?

Kalau dia adalah Tee heng sian tak mungkin orang itu bisa menghindari pertemuan dengannya lalu siapakah dia?

Dalam keadaan seperti ini tak ada waktu lagi baginya untuk berpikir panjang, cepat tubuhnya bergerak menuju keruang baja dimana Go Siau bi disekap, pintu baja itu setengah terbuka.

Satu ingatan lantas melintas dalam benak anak muda itu, pikirnya dihati.

"Jangan-jangan Go Siau bi telah meloloskan diri ? Mungkinkah anjing2 itu dibunuh olehnya dan pintu ini pun dia yang buka?"

Sekali lompat dia mendekati pintu ruangan serunya dengan lantang .

"Nona Go.,..nona Go ,."

Tiada jawaban, suasana tetap sunyi dan sepi.

"Nona Go!"

Sekali lagi pemuda itu memanggil. Suasana tetap sunyi tiada jawaban yang kedengaran.

"Jangan jangan dugaanku memang benar"

Kembali Han Siong Kie berpikir di hati "Go Sisu-bi pasti sudah kabur dari sini, lantaran malu bertemu dengan aku karena aku sudah mengintip tubuhnya yang telanjang dari balik ruangan, maka dia berlalu lebih dulu"

Meskipun di hati ia bsrpikir demikian tak urung pemuda itu melongok juga kedalam ruangan.

Begitu melihat apa yang tertera didalam ruangan, seperti kena disetrom tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia mundur tiga langkah ke belakang.

Sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah Go siau bi.

Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?

Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka, jelas ada orang pernah memasuki ruangan ini lalu siapakah orang itu ?

Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....

Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh.

"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."

Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan, meskipun jantungnya berdebar keras sekuat tenaga dia berusaha untuk mengendalikan emosinya didekati dara itu dan diperiksanya pernapasan gadis itu dengan tangan gemetar.

Gadis itu berbaring dengan mata terpejam jalur darah ada di mana-mana dan napasnya masih berjalan normal jelas dia masih berada dalam keadaan hidup.

"Nona Go"

Seru Han Siong Kie lagi sambil menggigit bibirnya kencang2.

Namun gadis itu tidak menunjukan reaksi apa-apa ia tetap berbaring tak berkutik.

Benar2 suatu kejadian yang aneh membuat siapa pun marasa tak habis mengerti dengan kenyataan tersebut.

Agak gelagapan sianak muda itu menghadapi gadis cantik yang berada dalam keadaan telanjang bulat ini payudaranya yang montok dan putih bersih lekukan2 tubuhnya yang menggiurkan dan lembah hutan bakau dibagiao bawah merupakan suatu pemandangan yang indah menawan dan mengobarkan napsu birahi, Pemuda itu napasnya mulai membura peredaran darah di tubuhnya berjalan makin gencar, matanya berkunang dan tangannya mulai menggigil keras.

Suatu perasaan yang sangat aneh timbul dalam hatinya, keringat telah membasahi jidatnya, meleleh dihidung dan tubuhnya.

Ia pejamkan matanya tak berani memandang lebih jauh pelbagai pemandangan aneh muncul dalam benaknya, seperti terpengaruh oleh kekuatan sibir yang memaksa matanya untuk membuka kembali dan memandang tubuh indah yang montok berisi itu.

Lama, lama sekali, berhasil juga pemuda itu untuk menguasai birahi yang berkobar dalam hatinya, ia mulai memikirkan tujuan kedatangannya kesitu, ia datang atas permintaan orang yang ada maksud untuk menolong orang.

Untuk kedua kalinya dia membuka kembali matanya.

"Jangan-jangan ada jalan darahnya tertotok maka ia tak sadarkan diri"

Pikir pemuda itu dihati.

"Tapi siapakah yang turun tangan atas dirinya?"

Selang sesaat kemudian ia berpikir lagi.

"Aaaai..! Entah jalan darah mana saja yang telah tertotok sehingga ia tak bisa bergerak?"

Andaikaka pihak lawan adalah saorang pria maka sejak tadi pemuda itu sudah melakukan pemeriksaan yang seksama, tapi dia adalah scorang anak dara pemuda itu merasa tak punya keberanian untuk melakukan pemeriksaan tersebut.

Ia hendak mencari Tee heng sian untuk mengatasi kejengahan tersebut namun pemuda itu pun merasa tak tega untak meninggalkan dara itu seorang diri, sebab kalau sampai ada anggota perkampuogen yang tiba-tiba muncul disana niscaya akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah serba salah beberapa waktu akhirnya pemuda itu memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan baru tangannya diangkat peluh telah menetes tiada hentinya.

Jari-jari tangan yang gemetar mulai menggerayangi di tubub sang dara yang putih dan halus.

Mendadak Go Siau bi menggeliat tubuhnya membalik keatas sementara sepasang tangannya bagaikan sepassng ular gesit meluncur keatas dan memeluk tubuh Han Siong Kie eraterat.

"Aaah, kau ..kau"

Han Siong Kie sama sekali tak menyangka bakal terjadi peristiwa semacam itu, bagaikan kena disambar geledek, pemuda itu cuma bisa berdiri menjublak dengan mata melotot dan mulut melongo, untuk meronta pun ia merasa tak mampu.

Sepasang biji matanya yang bening mengawasi wajahnya tanpa berkedip dibalik keheningan terseliplah kobaran api yang membara se-akan2 hendak melelehkan tubuhnya.

"Nona Go kau ,.kau ."

"Aku dalam keadaan baik-baik!"

Jawab gadis itu cepat.

"Kau., kau.. lantas kau,,,"

"Han Siong Kie. sekarang ciumlah aku!"

Ucapan itu bagarkan permintaan, seperti pula suatu perintah, perintah yang disertai dengan suatu kekuatan yang membuat orang tak berani membantah.

Selesai mengucapkan kata2 itu Go Siau bi memejamkan matanya, bibir yang kecil mungil setengah terbuka dalam posisi menantang, bau harum tersiar keluar mempersonakan hati.

Tiba-tiba suatu dorongan emosi yang aneh dan buas seperti binatang timbul dalam bati pemuda itu.

Manusia bermuka dingin yang selama ini membenci kaum wanita akhirnya bertekuk lutut juga.

Kobaran api berahi tak terbendung lagi dia peluk dara itu erat-erat dan empat bibir yang panas menyengat badan pun saling menempel satu sama lainnya.

Lama sekali mereka barciuman, seluruh tubuh mereka terasa jadi ringan bagaikan terbang di angkasa, makin lama makin tinggi makin lama makin ringan.

Helaan nafas panjang mengakhiri ciuman yang paling panjang dan paling hangat itu Han Siong Kie tersadar kembali dari lamunannya.

Go Siau bi melepaskan rangkulannya, mendorong pemuda itu kebelakang lalu memutar badannya kesamping untuk menyembunyikan bagian tubuhnya yang terlarang, bisiknya dengan lirih.

"Han Siong Kie. berikanlah jubah luarmu itu untukku !"

Dengan kaku Han Siong Kie berdiri beberapa saat dimana ia bangkit berdiri dan mundur beberapa langkah kebelakang kemudian jubah luarnya dilepaskan dan dilemparkan ke arah gadis itu, Dengan suatu gerakan cepat Go Siau bi menggunakan jubah tersebut setelah tubuhnya terbungkus kain dia baru bangkit berdiri wajahnya dingin bercampur sedih setelah menatap pemuda itu lama sakali dengan pandangan kaku bisiknya.

"Han Siong Kie aku sudah merasa sangat puas, ciuman tadi telah memuaskan hatiku perduli bagaimanakah pandanganmu terhadap diriku pada hakekatnya aku telah menyerahkan hati untukmu seorang aku tahu sejak permulaan aku sudah salah tapi cintaku ini.."

"Nona Go kau"

"Dengarlah kata2ku lebih jauh kenangan masa lalu biarkanlah lewat dengan begitu saja hari ini kembali aku ditoloog olehmu aku Go Siau bi telah berhutang budi lagi kepadamu suatu ketika budi kebaikan ini pasti akan kubalas."

Han Siong Kie menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu tapi tak sepatah katapun yang muncul.

Air mata telah membasahi kelopak mata Go Siau bi namun ia beruaaha menahan merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih.

"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku sudah merasa puas. Aaai ..karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku untuk menebus dosa-dosa itu"

Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan kesalahan besar.

"Nona, maafkanlah kesalahanku . ."

Bisiknya kemudian.

-000dw000-BAB 60 Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya "Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku, biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"

Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.

Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.

Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.

Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan, dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam.

.bergumam seorang diri dengan suara yang lirih.

"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu keliru besar?"

Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.

Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah memutuskan perasaan cintanya.

sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari lamunannya Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orang-orang dari perkampungan oh hau san ceng Dengan wajah termangu dan pikiran kalut pemuda itu keluar dari ruang besi dan menuju kemuka.

Kilatan cahaya api telah melambung keudara dari sana-sini terjadi kebakaran besar.

Dalam sekejap mata saja seluruh perkampungan Ob-hau san Ceng yang kokoh dan kuat telah disikat oleh si jago merah, kobaran api membumbung tinggi keangkasa dan membakar apa saja yang ditemuinya.

Buru2 Han Siong Kie berlalu dari tempat itu dan menyingkir dari jilatan api yang makin membara.

"Loo-te..!"

Tiba-tiba terdengar seseoraeg memanggil dengan suara lantang.

Cepat Han Siong Kie berpaling dengan perasaan terperanjat kiranya orang yang memanggil dirinya tak lain adalah Tee heng sian sambil cengar cengir manusia cebol itu melayang turun dihadapannya.

"Lo ko apakah engkau yang bunuh orang dan membakar perkampungan ini?"

Tegur Han Siong Kie cepat. Tee heng sian sambil cengar eengir sogers menggeleng.

"Bukan. bukan aku, Seorang perempuan berkerudung yang melakukan semua perbuatan itu!"

"Seorang perempuan berkerudung maksudmu ?"

"Benar, ketika aku sedang minum arak di dalam gudang arak sana tadi maksudku ingin keluar dan menonton keramaian, kebetulan aku saksikan seorang perempuan berkerudung sedang menghajar beberapa orang centeng dan beberapa ekor anjing kemudian membuka dua buah pintu besi di sebelah situ.

"Ooh. orang itu tentulah orang yang ada maksud"

Seru Han Siong Kie tanpa terasa.

"Siapa?"

Seru Tee heng sian kelihatan agak tertegun.

"Orang yang ada maksud!"

"Orang yang ada maksud ? Ehmmm, aneh benar julukan ini dan engkau kenal dengan perempuan itu?"

"Ehmmm !"

Han Siong Kie menganggu.

Tiba-tiba rasa curiga muncul kembali dalam benaknya, kalau toh sudab ada orang yang ada maksud kenapa dia yang diharuskan menolong Go siau bi.

Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya?

Kenapa..?

Kenapa ?

Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.

"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah kau lakukan?"

Tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengarcengir.

"Aku..."

Han siong Kie tertawa jengah "Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"

"Dia... dia telah pergi"

"Pergi? Pergi seorang diri?"

Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih jauh.

"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar perkampungan ini?"

"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"

"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"

Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru menjawab.

"..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"

"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"

"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah aneh yang terpencil sekali letaknya"

"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?"

Han siong kie tersenyum.

"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"

"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng maut yang tersohor itu"

"Lembah kematian?"

Benar, lembah itu sangat berbahaya..

setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu, selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat "

Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata.

"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali dikunjungi manusia"

"Loo te"

Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"

"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"

"Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"

"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia, aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"

"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"

Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya.

"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam apakah lembah kematian tersebut"

Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang kali.

"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh tua, kau..."

Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya menukas.

"Dalam sekejap mata perkampungao Oh hau san ceng akan berubah jadi puing-puing yang berserakan, gudang arak dibawah sana merupakan tempat tinggal yang paling aman dan nyaman apalagi persediaan arak yang ada disitu cukup bagiku umuk meneguk selama ber-tahun2 lamanya, sebelum semua arak itu habis aku tidak akan pindah rumah !"

Tersenyum juga Han Siong Kie melihat kekocakan rekanaya ini, ia berkata kemudian.

"Kalau memang begitu biarlah siaute mohon diri lebih dulu semoga kita dapat bertemu lagi dilain waktu !"

"Baiklab. aku memang sangat gembira bisa bertemu dengan seorang rekan seperti kau tidak kecewa aku Tee heng sian hidup di kolong langit hiiih hiiihh hiiihh bila engkau membutuhkan bantuanku datang saja ke-gudang arak ini dan berilah kabar kepadaku niscaya aku akan menyingsingkan lengan baju dan membantu dirimu!"

Han Siong Kie memberi hormat kepada rekannya setelah minta diri maka berangkatlah pemuda itu melanjutkan perjalanannya.

Sementara itu kobaran api yang amat besar masih menjilatjilat seluruh hangunan gedung Oh hau san cung begitu dahsyat kebakaran yang terjadi tampaknya dalam sehari dua hari api belum bisa padam.

Setelah meninggalkan tempat itu Han Siong Kie melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke lembah kematian.

Kali ini perjalanan dilakukao cepat sekali.

tidak ssmpai satu jam sianak muda itu sudab mencapai lembah kematian, nun jauh kedepan yang terlihat hanyalah kabut yang tebal dan menyelimuti seluruh permukaan jagat, secara lapat lapat tampaklah cadas yaeg tajam dengan bukit yang tinggi tersebar dimana mana.

Pemuda itu termenung sebentar disitu kemudian dia lanjutkan kembali perjalanannya menuju ke mulut lembah.

Kenangan lama terbayang kembali dalam benaknya, ia teringat kembali bagaimana-kah dia dan Tonghong Hui tercebur kedalam jurang dan bagaimana mereka berhasil lolos dari kematian....

Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya.

"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?"

Lama sekali pemuda itu termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh.

"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"

Setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah itu Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat olehnya.

"Aneh."

Kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui .

"Setelah termenung sebenter ia membatin lagi.

"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"

Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.

Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.

Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar.

"PERBATASAN ANTARA MATI DAN HIDUP"

Di balik tugu batu itu adalah ssbidang tanah datar yang berumput rendah di sana sini tumbuh bunga-bunga putih yang besar, ketika bunga putih itu diamati dengan lebih seksama lagi barulah diketahui bahwa benda itu bukan bunga melainkan kerangka manusia yang telah memutih begitu banyak kerangka manusia yang berserakan di tanah lapang berumput itu hal ini bisa ditarik kesimpulan betapa banyeknya jumlah korban yang telah kehilangan nyawanya disitu.

"Dibunuh korban-2 yang kini tinggal kerangka putihnya belaka itu? Atau kah mungkin ada sebab-sebab lain yang mengakibatkan kematian mereka ?"

Sulit bagi pemuda itu untuk memberikan jawabannya.

"Perbatasan antara mati dan hidup"

Gumam pemuda itu ssorang diri.

Timbul suatu perasaan ragu di hati anak muda itu ia tahu yang dimaksudkan tugu peringatan itu adalah tempat ini sebagai perbatasan yang memisahkan antara mati dan hidup di bagian sebelah sini adalah dunia kehidupan sebaliknya tanah bidang sebelah sana adalah dunia kematian, sekarang ia tepat berdiri di-perbatasan antara kedua tempat itu.

Otaknya berputar terus berusaha memecahkan teka teki aneh ini, dia ingin tahu apa sabab yang membuat orang-orang itu menemui ajalnya.

Tentu saja batu peringatan kerangka manusia serta berita yang tersiar dalam dunia persilatan telah membuktikam bahwa Lembah kematian benar-benar adalah suatu tempat yang bisa mencabut nyawa manusia.

Sementara si anak muda itu masih sangsi dan tak sanggup mengambil keputusan secara lapat-lapat ia mendengGr tibanya hembusan angin yang mengibarkan ujung baju.

Meskipun lirih sekali suara itu namun bagi pendengaran Han siong Kie sudah cukup untuk membuktikan babwa ada orang yang datang ke tempat itu.

Satu ingatan lantas terlintas dalam benaknya ia berpikir.

"Aneh siapa yang berani mendatangi lembah kematian ini apa maksud kedatangannya"

Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan menyembunyikan diri sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu peringatan tersebut.

Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.

Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan matahari dan bintang.

Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.

setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.

Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah dari perkUmpulan Thian Che kau.

seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikirpikir, jangan2 kedudukan dua orang kakek tua itu memang sangat istimewa??

sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.

"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?"

Kakek baju hitam yang disebut saudara see bun itu menjawab.

"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "

"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"

"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau penggeledahan kita memang kurang teliti ?"

"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?"

Tanya orang she Nyoo lagi.

"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali, rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "

Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.

"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"

Kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar kematian belaka"

"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah kematian??"

"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"

"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"

"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit atau menyusup kedalam tanah."

"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"

"Aaah. tidak mungkin! Aku yakin jejak si bangsat muda itu pasti akan berhasil kita temukan!"

Sementara itu Han Siong Kie sedang putar otak memikirkan persoalao itu batinnya.

"Mungkinkah kedua orang kakek tua ini adalah dua orang diantara sepuluh jago maha dahsyat dari perkumpulan Thian che kau seperti apa yang pernah diterangkan oleh Orang yang kehilangan sukma? Kalau memang demikian adanya tenaga dalam yang mereka miliki pastilah seimbang dengan kemampuan Tengkorak maut gadungan.."

Terdengar kakek she Nyo itu mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain ia berkata.

"Aku rasa teka-teki yang menyelimuti Lembab kematian antuk selamanya tak mungkin bisa terbongkar."

"Aku rasa belum tentu begitu!"

Sahut kakek she See-bun.

"Kalau toh engkau berani mengatakaa demikian, masakah San tian jiu ( telapak tangat kilat ) See-bun Lui berani melangkahi perbatasan antara mati dan hidup untuk melakukan penyelidikan?"

Telapak tangan kilat See-bun Lui mendengus dirgin.

"Hmm ! Seandainya engkau Tui hun poan ( senjata poan koan-pit pencabut nyawa) Nyoo Yong bersedia untuk menemani, apa salahnya kalau kita lakukan penyelidikan terebut."

Mendergpr tantangan tersebut Tui hun poan Nyoo Yong segera tertawa kering.

"Heeeh heeeh heeehh saudara See-bun lebih baik kita menangkap anakan kelinci saja !"

Kata-kata "anakan kelinci"

Itu amat tak sedap didengar kontan mengobarkan hawa amarah dalam hati Han Siong Kie, tiba tiba dia meloncat bangun dari tempat persembunyiannya seraya berseru.

"Manusia bermuka dingin ada disini !"

Kemunculan Han Siong Kie secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan Kedua orang kakek tua serta kedua belas orang anak buahnya, dengan perasaan tercekat, mereka segera berpaling.

Begitu mengetahui siapaksh yang telah munculkan diri, kedua belas orang laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.

Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa berkedip.

dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas menatap kedua orang lawannya.

"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?"

Tegur Tui hun pan dengan wajah dingin. Han siong Kie mendengus dingin.

"Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."

"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku untuk turun tangan?"

"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku"

Ejek sang pemuda sambil tertawa sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"

"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini"

Seru see bun Li dengan cepat.

"kami berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."

"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran belaka"

Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.

"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?"

Bentak mereka hampir bersamaan waktunya.

Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.

Serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat, pada saat yang hampir bersamaan dia telah melepaskan sebuah pukulan yang mengancam dua belas buah jalan darah sekaligus bukan saja aneh gerakannya dahsyat pula ancamannya.

Sejak pihak musuh bersiap sedia melancarkan serangannya Han Siong Kie sudah dapat menduga babwa ilmu silat yang dimiliki kedua orang lawanya ini lihay sekali serangan mereka tak nanti bisa dibandingkan dengan serangan orang persilatan pada umumnya.

Maka ketika pihak musuh melancarkan serangan maut cepat dia keluarkan lintasan cahaya sambaran bayangan untuk meloloskan diri.

Hanya sekali berkelebat tahu2 pemuda itu sudah lenyap dari pandangan betapa terkejutnya See-bun Lui menghadapi kelihayan musuhnya sekarang dia pun baru percaya bahwa ilmu silat yang dimiliki manusia bermuka dingin memang tak boleh dianggap enteng.

Gagal dengan serangan yang pertama dia susulkan dengan serangan kedua bahkan kali ini serangannya dilancarkan dengan kecepatan yang lebih hebat.

"Criiit.! Criiiit !"

Dua desingan angin tajam menderu deru dikala serangan kedua dari Seebun Lui dilepaskan, Han Siong Kie ssndiri pun melepaskan pula serangan dengan ilmu jari Tong kim ci.

Di tengah dengus kesakitan See-bun Lui mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Sekali pun mundur namun orang itu sama sekali tidak menuojukkan gejala terluka hal ini boleh dibilang jauh diluar dugaan si anak muda itu.

Rasa kaget dan tercekat yang dialami Han Siong Kie waktu itu sukar dibayangkan dengan kata-kata ia tak mengira kalau ilmu jari Tong kim ci yang begitu dahyat dan mematikan ternyata tidak mampu merobohkan musuhnya.

Sementara itu Tui hun poan Nyoo Yong telah membentak keras dan maju menyerang pula.

Suatu pertempuran sengit pun segera berkobar dengan sengitnya masing masing pihak saling menggunakan kemampuannya sendiri untuk merobohkan lawan.

Wilayah seluas tiga kaki diliputi oleh deruan angin puyuh, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.

Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam keadaan seimbang alias sama kuat.

Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa ditentukan.

Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.

setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata tidak turun tangan secara bersama.

Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.

Baca Juga: Pendekar Kembar 1

Baca Juga: Legenda Kematian 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert