Eps 1 Pendekar Kembar - Gan KL
Baca online Pendekar Kembar - Gan KL
Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.
Pendekar Kembar Diceritakan Oleh. GAN K.L
Jilid ke 1 Sinar bulan purnama raya terang benderang bagaikan siang.
Di jalan pegunungan yang sepi dan gersang itu sama sekali tiada nampak jejak manusia.
Semuanya serba sunyi, seolah-olah jagat raya ini hanya terdapat bulan purnama dan pegunungan gersang ini dan tiada benda lain lagi.
Angin pegunungan meniup pelahan dan silir semilir Benarkah di pegunungan gersang ini tiada terdapat jejak manusia?
Tidak benar!
Itu dia, di puncak gunung yang datar sana berduduk tegak tujuh orang.
Tiada seorang pun yang bersuara, semuanya bungkam dan tiada yang bergerak, mirip tujuh buah patung.
Ke tujuh orang ini, duduk terpisah di kedua sisi.
Yang satu sisi berduduk enam orang dan sisi lain, kira-kira berjarak satu tumbak, hanya berduduk satu orang.
Lama dan lama sekali baru kelihatan orang yang duduk sendirian itu mendahului bergerak sedikit Rupanya ke tujuh orang sama-sama kehabisan tenaga, Orang yang duduk sendirian itu meski dapat bergerak, tapi juga belum kuat untuk berbangkit.
Pelahan dia membuka matanya dan menghela napas.
Wajah orang ini sangat putih, di bawah sinar bulan tampaknya bertambah pucat pasi, usianya antara 70-an, dari kerut mukanya yang penuh keriput itu dapat diketahui pasti sudah kenyang makan asam-garam dan gemblengan kehidupan Anehnya, usia selanjutnya ini, mukanya ternyata.
kelimis, tiada jenggot sedikit pun.
Padahal umumnya orang jaman dahulu, bilamana sudah cukup umur lazimnya mesti piara jenggot (yang dimaksudkan cukup umur adalah 50 tahun ke atas, di bawah 50 dianggap Yau-siu atau cekak umur-Gan KL).
Ke enam orang lalunya justeru kebalikannya daripada kakek bermuka bersih ini, air muka mereka berwarna sawo matang seperti kulit muka orang tua umumnya, di bawah janggut juga tumbuh jenggot berwarna putih kelabu.
Selang sejenak pula, kakek bermuka kelimis itu berkata.
"Bagaimana perasaan kalian sekarang?"
Sampai sekian lama lagi barulah lima di antara ke enam kakek yang lain itu membuka mata, seorang kakek yang tidak membuka mata itu berkata.
"Aku Bu-bok-soh (kakek tanpa mata) hari ini mengaku menyerah padamu."
Seorang kakek lagi yang kelihatan bungkuk, tapi dengan berduduk pun masih lebih tinggi daripada rekan-rekannya menukas.
"Mengapa mesti menyerah? Akhirnya kan sama terluka parah?"
"Sama terluka parah, memang betul kedua pihak sama-sama terluka,"
Ucap si kakek muka kelimis sambil tersenyum getir.
"Sebenarnya apa gunanya kita bertempur mati-matian begini?"
Mendadak angin pegunungan meniup santer sehingga lengan baju kanan seorang kakek tampak bergoyang tertiup angin, sekali pandang segera diketahui kakek ini buntung lengan kanannya, makanya lengan bajunya yang kosong itu berkibar tertiup angin, Dia tertawa dan berseru.
"Haha, kalau sekarang merasa menyesal, mengapa dahulu mesti berbuat? Bilamana sejak 20 tahun yang lalu jurus pedangmu itu kau katakan secara terbuka, kan segala nya sudah menjadi beres?"
Kulit daging muka si kakek kelimis itu, sampai berkerut-kerut, ucapnya kemudian.
""Apa yang telah kukatakan 20 tahun yang lalu itu masih tetap berlaku untuk sekarang, Apabila kalian dapat mengalahkan diriku, tentu jurus pedangku ini akan kukatakan secara terbuka. Cuma sayang, selama 20 tahun ini kalian sendiri yang tidak becus dan tetap tidak mampu mengalahkan diriku. Hm, kukira biarpun lewat 20 tahun lagi kalian juga tetap bukan tandinganku."
Seorang kakek lain mendadak berdiri, terlihat dia berdiri dengan kaki kanan melulu, kaki kiri sudah buntung.
Ketika berdiri dia tergeliat dua-tiga kali dulu baru kemudian dapat berdiri tegak Si kakek muka kelimis menghela napas, katanya.
"Tak tersangka "Thi-kah sian" (dewa kaki besar) Koat-tui-soh (kakek buntung) yang termasyhur di dunia sekarang tidak dapat berdiri dengan mantap."
Koat-tui-soh kelihatan gusar, serunya.
"Tidak perlu kau menyindir, kau sendiri juga tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, jangankan 20 tahun lagi, cukup sebulan saja kami pasti dapat mengalahkan kau bilamana di antara kami berenam mau saling mengajarkan sejurus ilmu pedang masing-masing."
Si kakek kelimis tertawa lantang beberapa kali, lalu ia berdiri dengan gagah, sedikit pun tidak ada tanda kehabisan tenaga, keruan ke enam kakek yang lain sama pucat, sebab dilihat dari gerak-gerik dan suaranya, jelas tenaga dalam kakek kelimis itu sudah pulih sama sekali, sampai Thi-kah-sian yang terkenal tangkas itu pun kalah kuat.
Setelah tertawa, lalu si kakek kelimis berseru "Sudah sejak 20 tahun yang lalu kalian berharap akan saling mengajarkan jurus pedangnya masing-masing, tapi akhirnya bagaimana?
Kukira biarpun 20 tahun lagi kalian, juga tetap hanya mahir satu jurus saja."
Bu-bak-soh menghela napas menyesal, katanya.
"Memang betul, siapa pun di antara kita ini jelas tidak mau mengajarkan sejurus ilmu pedang yang dikuasainya kepada orang lain, tampaknya biarpun 20 tahun lagi kami tetap juga bukan tandinganmu."
"Nah. pikir sendiri saja,"
Kata si kakek kelimis.
"Jika kalian tidak mau saling mengajarkan jurus ilmu pedangnya sendiri, sebaliknya kalian memaksa diriku agar mengajarkan jurus ilmu pedangku secara terbuka, Bilamana kalian mau menimbang pikiran sendiri dengan orang lain, tentu kalian akan tahu dapatkah kupenuhi permintaan kalian ini? Lagipula, di dunia ini mana ada kejadian seenaknya seperti kehendak kalian ini?"
Si kakek bungkuk berbangkit pelahan, lalu berucap.
"Habis siapa suruh kau menguasai lebih banyak satu jurus daripada kami? Hay-yan-kiam-hoat seluruhnya terdiri dari delapan jurus, kami berenam masing-masing menguasai satu jurus, hanya kau sendiri yang menguasai dua jurus. Bila satu jurus kelebihanmu itu kau ajarkan secara terbuka sehingga kita sama-sama mahir dua jurus. bukankah dunia akan segera menjadi aman?"
Mendadak si kakek kelimis tertawa panjang suaranya seram mengandung perasaan pedih, sampai lama suara tertawanya berkumandang seakan hendak menguras segenap rasa kesal yang terpendam di dalam hatinya.
Sekian lamanya ia tertawa, ketika air muka nya tampak rada berubah, pelahan barulah ia berhenti tertawa, sedikit perubahan air mukanya itu dapatlah dilihat dengan jelas oleh kedua kakek lain yang sejak tadi tidak bersuara itu.
Selang sejenak, setelah si kakek kelima dapat meratakan pernapasannya, lalu ia berkata pula dengan gemas.
"Bahwa aku lebih banyak mahir satu jurus ilmu pedang daripada kalian, tapi apakah kalian tahu kudapatkan sejurus ini dengan imbalan yang betapa besar? Bilamana tengah malam aku terjaga dari tidurku dan terkenang kepada kejadian dahulu, sering aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah cukup berharga kudapatkan satu jurus ilmu pedang ini dengan imbalan siksa derita selama hidup? Nah, bila satu jurus ini sudah mencelakai selama hidupku, apakah mungkin kuajarkan kepada kalian dengan begitu saja?"
Air muka ke enam kakek yang lain tampak suram, mereka sama tahu betapa artinya kata "siksa derita"
Yang disebut si kakek kelimis itik sebab mereka sendiripun mengalami gangguan daripada kata-kata itu. Maka tertunduklah ke enam kakek itu, dalam hati sama diliputi oleh ucapan si kakek kelimis tadi.
"Apakah berharga mendapatkan satu jurus ilmu pedang itu dengan imbalan siksa derita selama hidup?"
Segumpal awan tebal mengalingi cahaya bulan yang terang, seketika bumi raya ini menjadi kelam.
Ke tujuh kakek itu hanya samar-samar dapat membedakan wajah masing-masing.
Koat-tui-soh atau si kakek buntung kaki berdehem perlahan, katanya.
"Jadi tahun ini pertarungan kita ini pun sia-sia lagi, Ai, 20 tahun sudah lalu, sudah 20 tahun. Namun biarpun lewat beberapa puluh tahun lagi juga kami tidak rela membiarkan ada seorang mampu menguasai dua jurus Hay-yan-kiam-hoat, kecuali mati, tidak nanti hasrat bertanding ini dapat terhapus!"
Dengan dingin si kakek kelimis menjawab.
"Jika kalian tidak dapat mengalahkan diriku, pada waktu mati pun tidak nanti kuperlihatkan secara terbuka satu jurus kelebihanku ini, aku rela mati bersamanya daripada mengajarkan jurus pedang ini tanpa imbalan apa pun."
"Mengapa begitu?"
Ujar Bu-bak-soh, si kakek buta, dengan menyesal.
"Ilmu silat serupa juga racun, makin diserap makin mencandu. Apabila satu jurus pedangmu itu kau ajarkan kepada kami sehingga hasrat kami terpenuhi, supaya kita sama-sama menguasai dua jurus, maka selanjutnya kita pun tidak perlu saling labrak lagi dan dapat menikmati sisa hidup ini dengan tenteram."
"Huh, omong kosong!"
Kata si kakek kelimis dengan menghina.
""Masakah satu di antara Jit-lo (tujuh kakek) yang termasyhur di dunia Kangouw ini, si Bu-bak-soh, dapat mengucapkan katakata kekanak-kanakan begini? Sungguh lucu dan men-tertawakan."
Karena sindiran itu, si kakek buta menjadi tergagap dan tidak sanggup mendebatnya lagi.
"Tampaknya kita akan bertemu lagi pada hari yang sama tahun depan."
Seru Koat-tui-soh, si kakek buntung kaki.
"Baik, pada hari yang sama tahun depan pasti kuiringi kehendak kalian!"
Seru si kakek kelimis dengan lantang. Salah seorang kakek di antara kedua kakek yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba memberi isyarat tangan, Lalu kakek di sebelahnya juga mendadak berkata.
"Menurut pendapat Ah-lo (kakek bisu) katanya bila kalian ingin hidup lebih tua beberapa tahun, sebaiknya janji pertemuan tahun depan dihapuskan saja!"
Agaknya Lwekang kakek yang bicara ini paling lemah dan belum lagi pulih kembali maka suaranya kedengaran sangat lirih.
"Apa yang dikatakan Liong-soh (kakek tuli), suruh dia bicara yang keras!"
Seru si kakek buntung kaki.
Can pi-soh, si kakek buntung tangan, berduduk di samping kakek tuli, dia paling jelas mendengar ucapan si kakek tuli, maka ia mengulangi satu kali apa yang diminta rekannya itu.
Semua orang itu tahu Ah-lo atau kakek bisu itu mahir ilmu pertabiban, bilamana dia berpendapat demikian tentu ada alasannya.
Toh-pwe-soh atau si kakek bungkuk lantas bertanya.
"Apa maksud ucapannya itu?"
Ah-lo memberi isyarat tangan pula beberapa kali kepada Liong-soh, lalu kakek tuli itu mengerahkan tenaga dan berteriak sekerasnya.
"Setelah pertarungan kita tadi, jelas kita sudah sama terluka dalam yang parah, apabila kita berlatih lagi lebih giat demi pertandingan tahun depan, tentu luka kita akan tambah parah, maka tidak perlu sampai setahun kita pun tidak dapat berjumpa lagi."
Si kakek kelimis tampak manggut-manggut katanya.
"Memang benar pendapatnya, harus ku akui, luka orang she Ji juga tidak enteng, rasanya sukar pulih kembali kalau tidak dirawat untuk beberapa tahun lamanya."
Si kakek bisu kembali memberi isyarat tangan beberapa kali, lalu si kakek tuli yang bertindak sebagai juru-bicaranya berkata.
"Tampaknya tenagamu pulih paling cepat, padahal lukamu paling parah, sedikitnya perlu dirawat 10 tahun baru dapat pulih seluruhnya, Maka menurut pendapat Ah-lo, demi kebaikan kita bersama, khusus bagi kebaikanmu, bolehlah janji pertemuan yang akan datang di undur sampai sepuluh tahun kemudian,"
""Bagus, bagus!"
Seru si kakek kelimis dengan tertawa.
"Agaknya kalian juga kuatir aku akan mati sehingga kepandaian yang tiada bandingannya ini akan ikut lenyap, Padahal biarpun sepuluh tahun kemudian bila orang she Ji ini mati tentu juga akan diwakili oleh seorang yang mahir kedua jurus Hay-yan-kiam-hoat ini untuk hadir pada pertemuan kita nanti. Cuma sepuluh tahun lagi kuyakin kalian tetap tak dapat mengalahkan diriku."
"Bagaimana kalau kami menang?"
Tanya si kakek buntung tangan dengan penasaran.
""Jika kalian menang, orang she Ji tidak saja akan mengajarkan sejurus kelebihanku, bahkan kuajarkan dua jurus sekaligus kepada kalian."
Ucap si kakek kelimis dengan tegas.
"Hah, jika demikian, sepuluh tahun kemudian apa yang dikuasai kami berenam akan lebih banyak satu jurus daripadamu,"
Tukas si kakek buntung kaki dengan angkuh.
"Hm, memangnya kalian pasti akan menang?"
Jengek si kakek kelimis.
"Bukan mustahil,"
Ujar si kakek bungkuk dengan tertawa.
"Menurut keadaanmu sekarang, Ahlo bilang lukamu paling parah, jika demikian, siapa berani menjamin sepuluh tahun kemudian kau takkan kalah?"
"Tapi kalau sepuluh tahun kemudian orang she Ji tetap memang, lalu bagaimana?"
Tanya si kakek kelimis.
"Supaya adil, bila sepuluh tahun kemudian kami tetap kalah, kami pun akan mengajarkan satu jurus kemahiran kami masing-masing kepadamu,"
Ucap si kakek buta dengan serius.
"Baik, janji seorang lelaki sejati"
Seru si kakek kelimis. Serentak ke enam kakek lawannya menukas "Tidak nanti dijilat kembali?"
Hendaklah diketahui bahwa Jit lo atau tujuh kakek itu adalah orang kosen yang dipuja di dunia persilatan, apa yang mereka ucapkan dengan sendirinya harus ditepati, maka perjanjian mereka ini pun tidak dapat berubah lagi.
"Bilamana terjadi sesuatu atas diri kami, pasti juga ada orang yang menguasai satu jurus kemahiran kami masing-masing akan hadir pada pertemuan nanti,"
Demikian si kakek buntung tangan menambahkan.
"Baik, demikianlah perjanjian kita, sekarang juga kumohon diri!"
Seru si kakek kelimis sambil memberi hormat, lalu hendak melangkah pergi.
"Sampai bertemu lagi!"
Seru si kakek buntung kaki.
Ketika gumpalan awan hitam bergeser dan cahaya bulan terang benderang menyinari lagi bumi raya ini, di puncak gunung itu sudah tiada seorang pun, suasana kembali sunyi senyap -oo-foo--oo+oo-Di ladang belukar yang luas itu hanya pepohonan belaka dengan semak rumput yang lebat.
Di ujung langit sana semula berwarna biru cerah, sekonyong-konyong awan mendung berkumpul menyusul halilintar berkilatan disertai gurun gemuruh.
Cepat amat perubahan cuaca.
Waktu gumpalan awan hitam berkumpul semakin banyak, bumi raya ini pun tambah kelam sehingga kelihatannya hari hampir malam, padahal waktu itu baru menjelang lohor.
Mendadak bunyi geledek menggelegar memecah angkasa, ketika suara gemuruh itu masih terus memanjang dan menjauh, titik air hujan pun mulai berjatuhan di atas tanah yang kering itu.
Guntur menggelegar lebih keras lagi, air hujan pun seperti dituang dari langit, suara gemuruh laksana membedalnya berlaksa kuda itu sungguh seram dan menakutkan.
Ketika sinar kilat berkelebat lagi menerangi hutan itu, tertampaklah di dalam hutan sedang terjadi kejar mengejar tiga sosok bayangan orang.
Seorang yang dikejar itu tangan kiri menghunus pedang dengan darah mengalir dari pundak dan sudah membasahi celananya, setengah badannya sudah berwujud manusia berdarah, tapi dia masih terus berlari kesetanan tanpa menghiraukan lukanya yang parah itu.
Dua orang yang mengejar memegang pedang aneh terbuat dari tulang, perawakan mereka sama tinggi dan sama kurusnya, bentuk mereka lebih mirip dua sosok jerangkong hidup yang sangat menakutkan.
Terdengar jerangkong hidup yang sebelah kiri sedang berteriak.
"Orang she Yu, jika hari ini kau dapat lolos, biarlah "Jin-mo"
Kwa Kin-long boleh dianggap piaraanmu..."
Menyusul jerangkong hidup sebelah kanan juga berseru.
"Ayolah, lebih baik ikut saja menemui Pocu (kepala kampung), bila lari lagi, kalau sampai tertangkap oleh Te-mo"
Na In-wan, nanti boleh kau rasakan betapa enaknya 18 macam siksaan akhirat "
Biarpun kedua orang itu terus membentak dan menakut-nakuti dengan macam-macam ancaman, namun bagi orang yang dikejar itu hanya ada suatu pikiran, yaitu.
lari dan lari terus!
Kini dia tidak dapat lagi membedakan jurusan, ia pun tidak tahu dirinya berada di mana sekarang, yang memenuhi benaknya hanyalah hasratnya mencari selamat.
Ia tahu bila sampai tertangkap, maka baginya tidak ada lain kecuali mati.
Maka meskipun sekarang tenaganya sudah habis, namun kedua kakinya masih terus berlari tanpa berhenti, dia seolah-olah sudah lupa bahwa ketahanan fisiknya terbatas, bahkan melupakan lukanya yang parah, seumpama di depan ada lautan atau jurang, tanpa pikir pun akan diterjuninya, Setelah sinar kilat lenyap, suasana di dalam hutan kembali gelap gulita, memandang jari sendiri saja tidak kelihatan Kedua pengejar itu hanya berdasarkan ketajaman indera pendengaran mereka saja untuk mengudak sasarannya, dengan demikian tentu saja gerak-gerik mereka sangat terpengaruh.
Coba kalau tiada perubahan cuaca yang mendadak dan luar biasa ini, tentu buronannya sudah sejak tadi tertangkap oleh mereka.
Ketika sampai di luar hutan, mendadak mereka kehilangan suara lari buronannya, cepat kedua orang itu berhenti dan berusaha menyidik jejaknya.
Hujan masih turun dengan lebatnya, yang mereka dengar hanya suara air hujan yang mirip di tuang dari atas itu dan tidak terdengar suara langkah orang sedikitpun.
"Jin-mo"
Atau si iblis manusia, Kwa Kin-long berkata dengan agak gelisah.
"Jiko, jangan sampai bocah itu benar-benar kabur!"
Dengan penuh keyakinan "Te-mo"
Atau iblis bumi, Na In-wan berkata.
"Dia sudah terluka oleh pedangku, bisa lari sampai di sini saja sudah luar biasa, dia pasti sembunyi di balik pohon sana, sebentar bila sinar kilat berkelebat lagi tentu dia takkan dapat kabur lagi."
Curah hujan tidak berkurang sedikit pun, baju mereka sudah basah kuyup sejak tadi, tapi lagak mereka serupa dua ekor kucing besar yang sedang merunduk seekor tikus kecil, sang waktu lalu sedetik demi sedetik, namun sinar kilat sejauh itu belum berkelebat lagi.
Jin-mo Kwa Kin-long menjadi kurang sabar, pedang aneh yang dipegangnya tampak bergerak tiada hentinya, diam-diam ia membatin.
"Jika bocah itu tidak sembunyi di sekitar sini, kan terlalu bodoh kalau terus menunggu saja di sini."
Tampaknya Te-mo Na In-wan lebih sabar, tapi di dalam hati sebenarnya juga gelisah, ia pun berpikir.
"Jika benar bocah itu sampai kabur, lalu cara bagaimana harus bertanggung-jawab kepada Pocu nanti?"
Sekonyong-konyong sinar kilat gemilap lagi sehingga udara terang bagaikan siang, Mendadak Jin mo Kwa Kin-long berteriak.
"ltu dia, di sana! Rebah di sana!"
Kiranya orang yang dikejar mereka tadi rebah terlentang kira-kira dua-tiga tombak di sebelah sana, mungkin pingsan sehingga tubuhnya tidak bergerak sama sekali, bahkan napasnya sedemikian lemah sehingga tak terdengar oleh mereka.
Te-mo Na In-wan bergelak tertawa, serunya.
"Aha, sekarang ingin kutahu apakah kau masih sanggup lari? Biar kupotong dulu kedua kakimu yang suka lari ini!"
Dan begitu memburu maju, kontan pedangnya menabas.
Tapi pada saat itu juga, berbareng dengan lenyapnya sinar kilat mendadak terdengar jeritan ngeri.
Dari suaranya Jin-mo tahu gelagat tidak enak cepat ia berseru.
"He, Jiko, kenapakah kau?!"
Dalam pada itu keadaan kembali gelap gulita jari sendiri saja tidak kelihatan Selagi Jin-mo merasa heran, tiba-tiba bagian iga terasa "nyes"
Dingin, darah segar lantas mengucur keluar.
Keruan ia terkejut, sama sekali ia tidak tahu akan serangan ini, apabila serangan ini diarahkan ke ulu hatinya, mustahil kalau dia tidak tamat riwayatnya.
Terdengar seorang membentak dengan suara dingin.
"Tidak lekas enyah!?"
Maka terdengar pula suara Te-mo Na In-wan yang gemetar.
"Samte, marilah kita pergi, hari ini kita mengakui terjungkal habis-habisan."
Hujan mulai reda, sesudah lenyap suara orang berlari pergi, sampai sekian lama keadaan menjadi sunyi.
Tiba-tiba sinar api menyala, seorang Kongcu (putra keluarga terhormat) berbaju panjang warna merah tampak memegang geretan api yang menyala dan berdiri di situ dengan dingin, bajunya yang berwarna merah itu memancarkan cahaya aneka warna yang aneh ketika tersorot oleh api geretan, Bahan bajunya itu bukan sutera dan bukan satin, tapi sekali pandang saja orang akan segera tahu bahan baju itu bernilai sangat tinggi, lihat saja, biarpun tersiram hujan lebat, tapi tubuhnya tidak basah sedikit pun.
Dengan obor geretannya itu dia menyinari orang yang terbujur di tanah itu.
Ketika diketahuinya seluruh tubuh orang berlumuran darah, besar kemungkinan sudah mati, tanpa terasa ia berkerut kening dan membatin.
"Untuk apa menolong orang yang sudah mati?"
Segera ia membalik tubuh dan hendak tinggal pergi, tapi mendadak dilihatnya orang yang terlentang itu bergerak sedikit, begitu pelahan sehingga hampir saja tidak diketahui, Cepat Kongcu itu berjongkok dan memeriksa denyut nadi orang, ternyata denyut nadinya sangat lemah, bahkan tidak teratur jelas orang ini keracunan hebat, meski masih bernapas, namun pasti tidak jauh lagi dari ajalnya.
Kongcu itu menggeleng, pelahan ia berbangkit tapi air mukanya mendadak berubah hebat, jelas dia kejut dan heran luar biasa, cepat dia berjongkok kembali dan menerangi wajah orang yang terbaring itu serta diamat-amati dengan teliti.
Makin dipandang makin dirasakan oleh si Kongcu bahwa wajah orang yang menggeletak tak bergerak itu sangat mirip dengan dirinya, hanya orang lebih kurus sedikit, tapi perawakannya, tinggi pendek dan kurus-gemuknya juga serupa, kecuali dandanannya yang lain, orang ini benar-benar duplikat dirinya, hampir seluruhnya sama.
Semula Kongcu ini terkejut dan heran, menyusul lantas terlintas sesuatu pikiran dalam benaknya, dari rasa kejut dan heran, diam-diam ia bergirang pula, Pikirnya?
"Jika orang ini disuruh menyaru sebagai diriku, pasti tiada seorang pun yang tahu."
Setelah mantap pikirannya, ia tidak pelit lagi, segera dikeluarkan sebuah kotak kecil, kotak itu terbagi dua sisi, yang sebelah berisi pil warna merah, sisi lain berisi pil warna putih.
Dia mengeluarkan sebiji pil putih dan dilolohkan ke dalam mulut orang itu.
Tidak lama, kelopak mata orang kelihatan berkedut, lalu membuka mata dengan pelahan, Mendadak ia berbangkit, waktu berpaling, dilihatnya tidak jauh di sebelahnya berdiri sesosok bayangan orang yang tak jelas siapa, tapi dapat dipastikan bukanlah musuh, maka cepat ia memberi hormat dan menyapa.
"Cayhe Yu Wi, berkat pertolongan Anda sehingga jiwaku dapat diselamatkan Kalau tidak keberatan, mohon tanya siapakah nama Anda yang mulia?"
Kongcu baju merah itu mendengus, ucapnya dengan angkuh.
"lkut padaku!"
Pemuda yang bernama Yu Wi itu menurut dan ikut di belakang Kongcu baju merah serta meninggalkan hutan sunyi ini.
Hujan sudah berhenti sama sekali, awan pun buyar, sang surya mulai memancarkan sinarnya yang gemilang, perubahan cuaca ini sungguh sangat aneh cepat datangnya, perginya juga cepat Luka di pundak Yu Wi sangat parah, setelah berjalan sekian lama, darah mengucur keluar lagi dari lukanya, Tapi Kongcu baju merah itu pura-pura tidak tahu, bahkan dia mempercepat langkahnya dan akhirnya malah berlari.
Dengan mengertak gigi dan menahan rasa sakit Yu Wi terus mengintil dari belakang.
Watak anak muda ini ternyata cukup keras kepala, kata-kata yang memohon belas kasihan tidak nanti diucapkannya, Maka setelah berlari sekian lama, darah yang mengucur dari pundaknya hampir melumuri seluruh bajunya.
Setelah tiba di suatu gardu di tepi jalan barulah Kongcu baju merah itu berhenti berlari, Dia berdiri di dalam gardu untuk menunggu Yu Wi yang ketinggalan balasan tombak jauhnya dan terpaksa harus menyusulnya dengan pontang-panting.
Sekuatnya Yu Wi menyusul sampai di depan undak-undakan gardu itu, dengan menggehmenggeh ia bertanya.
"Adakah lnkong (tuan penolong) hendak memberi perintah apa-apa?"
Baru habis ucapannya, kontan dia jatuh pingsan pula.
Dengan tak acuh Kongcu baju merah itu mengangkatnya ke atas bangku batu di dalam gardu sekaligus ia tutuk tujuh Hiat-to penting di tubuh orang.
Lalu Yu Wi siuman kembali.
Tanpa menunggu orang buka suara, segera Kongu baju merah itu menyodorkan satu biji pil merah tan memerintahkan.
"Lekas diminum!"
Tanpa pikir Yu Wi menerima pil itu terus ditelan.
Begitu pil itu masuk perut, seketika ia merasa perut panas seperti dibakar, cepat ia berduduk dan mengerahkan tenaga dalam untuk menyalurkan hawa panas dalam perut ke seluruh bagian tubuhnya.
Beberapa lama kemudian, sekujur badannya mulai menguap, air keringat pun merembes keluar melalui dahinya, Selang tak lama pula, ia merasa sekujur badan telah penuh tenaga dan tiada ubahnya seperti keadaan sebelum terluka.
Sungguh tidak kepalang rasa terima kasihnya, ia membuka mata dan segera memberi hormat, katanya.
"Anda sungguh pencipta hidup baru bagi Yu Wi, bukan saja memunahkan racun jahat pedang tulang yang mengenai pundakku, bahkan tenagaku juga sudah pulih, sungguh budi pertolongan ini takkan kulupakan untuk selama hidup."
"O, kedua orang yang mengejar dirimu itu apakah Hek-po-siang-mo (dua iblis dari benteng hitam)?"
Tanya si Kongcu baju merah secara tak acuh. Dengan hormat Yu Wi menjawab.
"Betul, mereka ialah Te-mo Na In-wau dan Jin-mo Kwa Kinlong."
"Kau pun tidak perlu terlalu berterima kasih padaku,"
Kata si Kongcu baju merah.
"Bahwa kutolong kau dengan dua biji obat mujarab, sudah tentu bukannya tidak ada maksud tujuan tertentu, Aku ada satu syarat, apabila syarat ini sudah kau-laksanakan, maka soal utang budi segala tidak perlu kau pikirkan lagi."
"lnkong akan memberi perintah apa, silahkan saja memberi petunjuk,"
Kata Yu Wi dengan penuh hormat.
"Aku menghendaki kau menyamar sebagai diriku dan menjadi duplikatku,"
Jawab si Kongcu baju merah.
Yu Wi melengak, baru sekarang ia coba mengamati sang penolong.
Kongcu baju merah ini ternyata serupa benar dengan dirinya, seketika Yu Wi melongo terheran-heran.
ia pun tidak tahu sebab apakah orang minta dirinya menyaru jadi duplikatnya.
"Takkan kusuruh kau berbuat apa-apa yang sulit,"
Kata Kongcu baju merah.
"Cukup kau pergi ke rumahku dan tinggal di sana untuk setahun atau setengah tahun."
Yu Wi menghela napas lega, sesungguhnya semula ia memang kuatir kalau-kalau orang akan menyuruhnya berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, tak tersangka yang dikehendaki adalah urusan semudah ini.
Meski heran, tapi ia pun tidak enak untuk bertanya.
Kongcu baju merah itu tahu Yu Wi takkan membantah, maka dari bajunya dikeluarkannya se
Jilid buku kecil dan disodorkan kepada Yu Wi, katanya.
"Di dalam buku ini tercatat segala sesuatu mengenai keluargaku, boleh kau baca dan menghapalkannya, tentu takkan terjadi sesuatu kesalahan, Sekarang boleh kau mengamati dan menirukan setiap gerak-gerikku."
Yu Wi memang pemuda yang cerdas dan pintar, tidak sampai satu jam ia sudah mahir menirukan setiap gerak-gerik si Kongcu baju merah dengan baik dan benar, Hanya suaranya saja tidak sama sehingga sukar ditirunya.
Suara si Kongcu baju merah tajam melengking, tapi hal ini bukan soal, sebab suara Yu Wi agak serak, seorang yang habis sakit biasanya suaranya akan berubah sedikit, kalau pura-pura habis sakit tentu tidak akan ketahuan cirinya itu.
Selesai mengatur segala sesuatu, kemudian Kongcu baju merah itu berkata dengan pongahnya "Kulihat Kungfumu terlalu rendah."
Muka Yu Wi menjadi merah, Jawabnya.
"Kepandaian Inkong tiada bandingannya, justeru Cayhe kuatir penyamaranku akan diketahui orang karena kelemahanku ini."
Dengan tak acuh Kongcu itu berkata.
"Akan kuajarkan tiga jurus padamu, setelah apal ketiga jurus ini, tentu anggota keluargaku takkan mencurigai kepalsuanmu."
Selagi Yu Wi hendak mengucapkan terima kasih, mendadak Kongcu itu memutar tubuh dan berseru melengking.
"Jurus pertama "Keng-to-pok an" (dengan murka menggebrak meja)!"
Terlihat kedua tangannya menghantam sekaligus, angin pukulan menderu, daya pukul airnya sangat kuat bagaikan ombak mendampar karang. Habis jurus pertama, menyusul Kongcu itu berseru pula.
"Jurus kedua To-thian-ki-long" (ombak raksasa menggulung ke langit) !"
Jurus kedua ini lebih dahsyat daripada jurus pertama, bayangan telapak tangannya bertebaran mengurung dari segenap penjuru. Diam-diam Yu Wi terkejut, pikirnya.
"llmu pukulan begini sungguh jarang terlihat di dunia ini."
Mendadak Kongcu itu berseru.
"Awas! jurus ketiga "Kay-long-pay-khong" (ombak mendarnpat memecah angkasa)!"
Angin pukulannya yang dahsyat terus mendampar ke atas, gerak perubahan pukulannya sangat aneh.
Setelah memberi contoh tiga jurus itu, Kongcu baju merah itu berhenti tanpa memperlihatkan keletihan sedikit pun.
Sambil mendongak, dengan sikap sombong ia berkata.
"Tidak perlu urusan tenaga, asalkan gerak tiga jurus ini dapat kau latih dengan baik, maka beres semuanya."
Melihat kesombongan orang, jelas dirinya sangat diremehkan, namun Yu Wi tidak menghiraukannya, betapapun orang adalah tuan penolongnya.
Maka dengan cermat ia mendengarkan uraian sang Kongcu mengenai ketiga jurus pukulan dahsyat tadi, Selain uraian, Kongcu itu pun memberi contoh lagi gerak tangannya, sampai sekian lamanya barulah selesai dia menjelaskan ketiga jurus itu.
"Bila tidak keberatan, mohon Inkong sudi memainkannya sekali lagi,"
Pinta Yu Wi dengan rendah hati. Terpaksa Kongcu baju merah itu memenuhi permintaan Yu Wi dan mengulangi ketiga jurus tadi, Diam-diam ia membatin.
"Asalkan kau mahir itu jurus saja sudah bolehlah."
Tak terduga, setelah Kongcu itu berhenti, segera Yu Wi memberi hormat dan berkata.
"Sekarang mohon Inkong suka memberi petunjuk lebih jauh!"
Sekali berputar, berturut-turut ketiga jurus "Keng-to-pok-an".
"To-thian-ki-long"
Dan "Kay longpay kong"
Terus dimainkan sekaligus dengan lancar, sedikit pun tidak ada tanda kaku dan bingung.
Keruan si Kongcu baju merah terkejut, melihat betapa cepat Yu Wi menguasai ketiga jurus yang baru diajarkannya itu, dapat dipastikan dalam waktu singkat tentu takkan selisih jauh daripadanya.
"Mohon petunjuk Inkong bilamana ada yang kurang benar!"
Pinta Yu Wi dengan rendah hati.
"Baik sekali, tidak ada yang salah,"
Jawab Kongcu baju merah sambil menengadah melihat cuaca, Lalu berkata pula.
"Aku masih ada urusan penting yang perlu diselesaikan sekarang kita bertukar pakaian masing-masing."
Setelah Yu Wi memakai baju merah si Kongcu, ditambah lagi berbagai hiasan ini itu, seketika ia pun berubah menjadi seorang Kongcu yang anggun dan terhormat.
Usia Yu Wi baru 17, mestinya lebih muda tiga tahun daripada si Kongcu baju merah, tapi lantaran sejak kecil sudah kenyang gemblengan kehidupan, maka tampaknya menjadi sebaya dengan Kongcu baju merah yang biasa hidup manja dan senang.
Selesai tukar pakaian, sebelum pergi, Kongcu itu memberi pesan lagi.
"Hendaklah hati-hati bila bertindak sesuatu, dalam keadaan genting dan perlu tentu aku akan muncul."
Sesudah Kongcu itu pergi barulah Yu Wi ingat belum lagi mengetahui siapa nama orang, Ia coba mengeluarkan buku kecil pemberian si Kongcu tadi dan dibacanya dengan teliti.
Catatan di dalam buku kecil itu ternyata sangat jelas, Lebih dulu diperkenalkan dirinya sendiri.
Kiranya Kongcu baju merah itu adalah putera sulung keluarga Kan, namanya Ciau-bu.
Keluarga bangsawan utama di kota Kim-leng, yaitu kota Nan-king sekarang.
Selesai membaca, tanpa terasa Yu Wi menghela napas, Apa yang dialaminya sekali ini sungguh seperti mimpi belaka, kehidupan selanjutnya jelas akan berubah sama sekali daripada waktu sebelum ini.
Cuma entah akan untung atau akan buntung.
Tapi baginya sekarang, bila dia dapat bernaung di keluarga utama di kota Kim-leng, jelas hal ini akan sangat menguntungkannya, Kalau tidak, mata-mata Hek-po tersebar di seluruh dunia, setiap saat jiwanya terancam.
Begitulah malam itu dia mendapatkan sebuah hotel yang berdekatan, esok paginya dia merasa tenaga pulih dan penuh bersemangat Diam-diam ia rnengapalkan sekali lagi semua petunjuk yang tercatat di dalam buku kecil itu.
Setelah yakin takkan lupa, sehabis sarapan, berangkatlah dia ke tempat yang telah ditentukan, yaitu di luar pintu gerbang Tek-seng-bun, kota Kimleng, Menjelang lohor, benar juga dari dalam kota tampak muncul sebuah kereta kuda yang mewah.
Dia berdiri di bawah pohon, tanpa terasa hati rada tegang, Dilihatnya kereta itu sudah semakin dekat, pengemudi kereta itu sudah kelihatan dengan jelas.
Menurut catatan di dalam buku kecil itu, diketahuinya pengemudi ini bernama Ciang Cin-beng berjuluk "Hiat-jiu-hek-sat", si tangan berdarah maut namanya pernah mengguncangkan dunia Kangouw pada belasan tahun yang lalu, wataknya culas dan banyak curiga, Menurut keterangan Kan Ciau-bu bila orang ini dapat dikelabui, maka penyamarannya tidak perlu dikuatirkan lagi, pasti takkan dikenali orang lain.
Kereta kuda itu berhenti di depan Yu Wi, pengemudi yang bernama Ciang Cin-beng itu berperawakan kurus kecil dan hitam, sinar matanya buram, terdengar dia menvapa.
"Kong-cu sudah pulang?!"
Yu Wi berlagak angkuh dan mendengus dengan dingin. Lalu Hiat-jiu-hek-sat Ciang Cin-beng turun dari tempat kusir dan membukakan pintu kereta, dengan senyuman yang dibuat-buat ia bertanya pula.
"Baik-baikkah kesehatan Kongcu akhir-akhir ini?"
Diam-diam Yu Wi terkesiap, ia menjadi ragu apakah orang menaruh curiga terhadap badannya yang kurus? Ia tidak berani sembarangan menjawab, ia sengaja berucap dengan lagak seperti enggan banyak bicara.
"Banyak omong apa? Lekas jalankan kereta!"
Ciang Cin-beng mengiakan dengan hormat dan tidak curiga sedikit pun.
Sudah belasan tahun dia melayani Kan Ciau-bu, ia kenal watak sang Kongcu yang congkak dan kasar, maka sikap ketus.
sang majikan tidak dipikirkannya, Apabila cara Yu Wi menjawab dengan ramah tamah, hal ini malah akan menimbulkan curiganya.
Setelah berduduk di dalam kereta, kereta lantas dilarikan secepat terbang, Yu Wi melihat pajangan di dalam kereta sangat mewah, diam-diam ia membatin.
"Melulu dari kereta ini saja sudah cukup diketahui betapa kaya-rayanya keluarga Kan."
Teringat olehnya keterangan Kan Ciau-bu bahwa setiap hari menjelang lohor pasti ada sebuah kereta kuda yang siap menyambut pulangnya, padahal Kan Ciau-bu sudah setengah tahun tidak pulang.
tentunya setiap hari juga kereta ini menunggu di luar pintu gerbang kota, setelah menunggu setengah tahun dan baru sekarang sang Kongcu pulang.
Membayangkan hal ini, tanpa terasa Yu Wi menggeleng kepala, ia merasa cara menyuruh orang menunggu tanpa batas waktu tertentu ini terasa agak keterlaluan.
Sekian lamanya kereta itu dilarikan, ketika kereta mulai dilambatkan, Ciang Cin-beng lantas bertanya.
"Kongcu ingin masuk melalui pintu mana?"
"Pintu samping,"
Jawab Yu Wi sekenanya.
Tidak lama kemudian, kereta itu berhenti dan Ciang Cin-beng membukakan pintu.
Setelah turun dari kereta itu, Yu Wi coba memandang sekelilingnya, di depan sana adalah pagar tembok yang tinggi dan membentang berpuluh tombak jauhnya ke sana, kelihatan juga bangunan gedung yang megah di balik pagar tembok.
Sekitar pagar tembok yang panjang itu, setiap berjarak dua tembok tumbuh sebatang pohon Liu raksasa.
Yu Wi sengaja berhenti di antara dua pohon Liu dan tidak berani sembarangan bertindak, sebab yang terlihat hanya pagar tembok yang tinggi tanpa tertampak pintu yang dimaksud.
ia pikir daripada berjalan secara ngawur dan mungkin akan menimbulkan curiga Ciang Cin-beng, akan lebih baik tunggu dan melihat dulu.
Untunglah, sejenak kemudian, selesai Ciang Cin-beng memparkir keretanya dengan baik, cepat ia menyusul tiba, lalu meraba sesuatu di tengah batang pohon Liu yang berada di sebelahnya.
Selagi Yu Wi merasa heran, terdengar suara mencicit pelahan, tiba-tiba di kaki pagar tembok depan terbuka sebuah pintu yang cukup dilalui doa orang berbareng.
Dengan hormat Hiat-jiu-hek-sat Ciang Cin beng bcrkata.
"Silahkan Kongcu""
Diam-diam Yu Wi bersyukur dirinya tidak sembarangan bergerak, kalau tidak rahasia penyamarannya pasti akan menimbulkan curiga orang sebelum masuk di tempat tujuan, susahnya di dalam buku kecil itu tidak ada keterangan apa-apa, hanya dikatakan pintu masuk terdiri dari pintu gerbang dan pintu samping.
Sama sekali tak tersangka bahwa pintu samping justeru sedemikian dirahasiakan.
Dengan lagak seperti berada di rumah sendiri, segera Yu Wi masuk ke sana.
Dua genduk atau pelayan muda tampak menyongsongnya, belum dekat mereka sudah memberi hormat dan menyapa.
"Toakongcu sudah pulang!"
Dalam pada itu Ciang Cin-beng sudah mengundurkan diri. Tanpa didampingi orang itu, Yu Wi merasa lebih mantap. Tanpa terasa ia tersenyum dan menjawab.
"Ya, aku baru pulang!"
Kedua genduk itu jadi melengak, diam-diam mereka bertanya di dalam hati.
"Tumben Toakongcu tersenyum."
Melihat kedua genduk, cilik itu kebingungan dengan tertawa Yu Wi berkata pula.
"Kalian boleh mengiringi aku ke kamar tulisku,"
Dari keterangan yang dibacanya didalam buku kecil itu ia tahu sekadarnya tempat-tempat di gedung yang luas ini, tapi ia pun kuatir kalau ke sasar, maka ingin menggunakan dulu kedua genduk itu sebagai penunjuk jalan.
Tak tersangka kedua genduk itu sama berteriak kaget "He, bagaimana Kongcu ini?"
Yu Wi tidak tahu bahwa kaum hamba di keluarga besar bangsawan begini semuanya mempunyai tugasnya sendiri-sendiri, Yang bertugas jaga pintu ya jaga pintu, yang melayani sang Kongcu masih ada babu lainnya, tugas masing-masing tidak boleh dikacaukan sedikit pun.
sekarang YuWi menyuruh mereka mengantarnya ke kamar, tentu saja mereka terkesiap.
Karcna tidak tahu di mana letak kesalahannya, Yu Wi menjadi bingung sendiri untunglah pada saat itu juga terdengar suara seruan merdu di sebelah sana.
"He, Kongcu sudah pulang!"
Maka muncul empat pelayan dengan langkah gemulai.
Dandanan ke empat pelayan ini sama sekali berbeda daripada kedua genduk penjaga pintu tadi, Sesudah dekat, ke empat pelayan ini berkata kepada kedua rekannya.
"Sekarang tiada urusanmu lagi!"
Kedua genduk pertama tadi mengiakan terus mengundurkan diri. Salah seorang yang baru datang ini bertubuh montok, dengan sikap yang agak genit dia berkata kepada Yu Wi dengan tertawa.
"Apakah Kongcu hendak mengunjungi Cubo (majikan perempuan lawan Cukong, majikan laki-laki) dulu?"
Yu Wi menggeleng, jawabnya.
"Ke kamar dulu!"
Segera ke empat pelayan itu mendahului jalan di depan, sepanjang jalan tertampak tetumbuhan terawat dengan baik, semua bangunan sangat megah, nyata benar kehidupan bangsawan yang mewah.
Diam-diam Yu Wi mengingat setiap tempat yang dilaluinya dan dicocokkan dengan apa yang di bacanya di dalam buku itu.
Setiba di kamarnya, maka gambaran seluruh istana itupun dapat dipahaminya.
Kamar tulis itu pun terpajang sangat indah, ribuan kitab tersimpan di situ, sebuah tempat tidur gading dengan kelambu sutera, bantal dan guling bersulam dan selimut merah kelihatan sangat serasi.
Di sekeliling dinding berhias lukisan indah, pedang dan alat musik sebangsa seruling dan sebagainya penuh bergantungan setiap benda itu semuanya antik dan bernilai tinggi.
Cepat ke empat pelayan tadi meladeni majikan mudanya, ada yang mengambil air, ada yang mencucikan muka, ada yang menyisirkan rambutnya serta menggantikan pakaiannya.
Keruan Yu Wi menjadi bingung dan risi karena selama hidup tidak pernah diladeni anak perempuan secara begini, Tapi ia pun tidak dapat menolak, sebab kuatir rahasia penyamarannya terbongkar.
Sesudah segala sesuatu beres, terdengarlah seorang datang memberitahu.
"Cubo ingin bertemu dengan Toakongcu."
Sudah setengah tahun tidak pulang, dengan sendirinya harus menemui sang ibu.
Yu Wi menjadi kebat-kebit, ia kuatir pada waktu berhadapan dengan ibu Kan Ciau-bu, bisa jadi kepalsuannya akan tersingkap.
Tapi pertemuan ini jelas tak dapat dihindari, terpaksa ia harus menghadapinya dengan hati tak tenang.
Keluar dari kamarnya ada dua serambi kanan kiri, yang kiri langsung menuju ke ruangan pendopo, serambi kanan menuju ke tempat tinggal anggota keluarga, Rumah induk tempat tinggal itu di bangun membelakangi bukit, Kan-lohujin (nyonya besar Kan) tinggal di tingkat paling atas.
Ke empat pelayan tetap berjalan di depan sebagai petunjuk jalan, serambi itu menanjak ke atas dengan berkelak-kelok, setiap belasan tombak jauhnya tentu berdiri sebuah bangunan, Ketika sampai pada bangunan kedua, serambi panjang itu terputus oleh sebuah gapura yang sangat besar, gapura itu terbuat dari balok batu marmer dan di atas gapura melintang tertulis empat huruf "Thian-ti-lay-hu"
Atau istana dalam Thian-ti.
Setelah menaiki undak-undakan batu gapura, di kedua sisi terdapat pula bangunan, sementara itu sudah magrib, cuaca sudah remang, suasana terasa sangat sunyi.
Tiba-tiba terdengar sayupsayup suara seruling yang merdu memilukan dari bangunan sebelah kanan.
Sejak kecil Yu Wi hidup sengsara, perasaannya mudah terharu oleh suara yang memilukan.
Didengarnya suara seruling itu makin lama makin hampa dan makin merawan hati.
Tanpa terasa ia berhentikan langkahnya dan mendengarkan dengan cermat Sampai akhirnya saking terharunya ia menghela napas panjang.
Melihat itu, salah seorang pelayan yang bernama Jun-khim mendekati Yu Wi dan bertanya.
"Apakah Kongcu ingin menemui Lau-siocia (puteri atau nona Lau)?"
Yu Wi lagi kesima mendengar suara seruling itu, ia terkejut oleh teguran Jun-khim, tanpa terasa ia menegas.
"Lau-siocia?"
Pelayan lain yang bernama He-si ikut menimbrung.
"Sejak kepergian Kongcu, selama setengah tahun ini senantiasa Lau-siocia meniup seruling pada saat demikian, sebaiknya Kongcu menemuinya lebih dulu!"
Baru sekarang Yu Wi ingat catatan dalam buku itu bahwa Kan Ciau-bu mempunyai seorang bakal isteri yang juga tinggal di Thian-ti-hu" (istana Thian-ti), namanya Lau Yok-ci.
Mengingat Lau Yok-ci adalah bakal isteri Kan Ciau-bu, tentunya hubungan mereka paling rapat, bila dirinya bertemu dengan dia, sedikit salah langkah saja mungkin akan ketahuan kepalsuan sendiri.
Maka cepat ia menjawab.
"O, tidak, tidak usah!"
Tanpa berjanji ke empat pelayan itu menghela napas berbareng, mereka pun tidak membujuknya lagi, tapi terus melanjutkan perjalanan ke depan.
Yu Wi tidak tahu sebab apa para pelayan itu menghela napas, apakah karena mereka sangat berharap agar dirinya mau menemui Lau-siocia?
Sebab apa begitu?"
Ia lantas ikut menuju ke depan, tapi dalam benaknya tetap diliputi oleh suara seruling yang mengharukan itu.
Belasan tombak jauhnya kembali terdapat sebuah gapura yang lebih kecil, di atas gapura tertulis "Ban-siu-ki" (kediaman panjang umur).
Yu Wi pikir mungkin di sinilah tempat tinggal Kan-lohujin.
Setelah menaiki undak-undakan batu gapura tadi, terlihatlah sebuah gedung yang sangat megah, dibangun dengan batu putih seluruhnya dengan ukiran model istana.
Setiba di depan istana ini, ke empat pelayan itu lantas berhenti.
Selagi Yu Wi hendak bertanya mengapa mereka tidak meneruskan perjalanan, tiba-tiba dari sana muncul enam pelayan yang berdandan tidak sama, masing-masing membawa sebuah tenglong (lampu berkerudung) berwarna hijau pupus.
"Kongcu, hamba akan menunggu saja di sini!"
Demikian ucap si Jun-khim.
"Tunggu apa? ikut saja naik ke atas!"
Kata Yu Wi.
"Kongcu"?"
Seru He-si dengan melenggong. Jun-khim menjadi sangsi, katanya.
"Masa Kong-cu tidak tahu Lohujin tidak pernah mengijinkan para hamba naik ke Ban-siu-ki?"
"Mengapa tidak boleh naik ke atas?"
Hampir saja Yu Wi bertanya, Tapi tiba-tiba teringat bila mana pertanyaan demikian diajukan, tentu kepalsuan dirinya sebagai Kongcu keluarga Kan ini akan ketahuan, Maka cepat ia ganti ucapan.
"Ah, aku memang sudah pikun, Sudahlah, kalian pun tidak perlu menunggu di sini, sebentar aku dapat pulang sendiri ke kamar, kalian boleh pergi saja."
Dalam pada itu ke enam pelayan tadi sudah dekat, mereka memberi hormat dan berkata.
"Cubo sedang menantikan kedatangan Toakongcu."
Yu Wi mengangguk, ia ikut di belakang mereka dan naik ke atas Ban-siu-ki. Sesudah pergi jauh, salah seorang pelayan yang berusia paling kecil bernama Tongwa berkata.
"Aneh, baru setengah tahun, Kongcu seperti sudah berubah sama sekali?"
Pelayah yang bertubuh montok dan genit tadi bernama Pi-su, ia pun bergumam heran.
"Tidak, dia seperti bukan Toa-kongcu kita!"
"Apa katamu?"
Omel He-si.
"Kongcu cuma berubah sedikit perangainya, mana boleh sembarangan kau terka!". Jun-khim menunduk dan berpikir, katanya kemudian.
"Perangai seorang kan tidak mungkin berubah secepat itu? Watak Kongcu sebelum ini sama sekali tidak seramah sekarang?"
"Kukira watak Kongcu juga tidak banyak berubah,"
Ujar He-si.
"bukankah dia menolak untuk bertemu dengan Lau-siocia?"
"Ai, Kongcu kita sesungguhnya terlalu Boceng (tak berperasaan),"
Ujar Tong-wa dengan gegetun.
"Sudahlah, jangan banyak omong lagi, marilah kita pulang ke sana,"
Ajak Jun-khim.
Dalam pada itu Yu Wi sudah berada di dalam istana Ban-siu-ki.
Bangunan Ban-siu-ki, sungguh luar biasa, di pandang dari luar masih belum seberapa, kalau sudah berada di dalam, ternyata bangunan ini tanpa tiang penyangga satu pun, dari sini baru diketahui betapa hebatnya.
Setelah melintasi ruangan dalam, di depan adalah tangga yang terbuat dari ubin batu, Di kedua sisi tangga adalah kamar tidur kaum hamba, dan di atas loteng adalah tempat tinggal Kanlohujin.
"Turun temurun keluarga Kan ada tiga angkatan menjabat Perdana Menteri, dengan sendirinya pengaruh dan kekayaannya tidak kalah daripada keluarga raja,"
Demikian Yu Wi membatin. Baru saja dia menaiki dua pertiga tangga batu itu, sekonyong-konyong suara merdu seorang berseru memanggilnya.
"Toako! Toako!"
Begitu merdu suara itu hingga mirip burung kenari berkicau, belum tampak orangnya sudah terendus bau harumnya. Dalam hati ia bertanya.
"Siapakah gerangannya?"
Maka di ujung tangga atas muncul seraut wajah bulat telur, alisnya, matanya, hidungnya dan mulutnya, semuanya serasi benar Bila diamat-amati lebih jauh, rasanya mirip-mirip Kan Ciau-bu dan dengan sendirinya juga mirip Yu Wi.
Dengan cepat Yu Wi lantas ingat.
"Ah, dia ini tentu adik perempuan Kan Cian-bu yang bernama Kan Hoay-soan!"
Sedapatnya ia menahan debar jantungnya dan menjawab dengan tertawa.
"Moay-moay!"
Wajah Kan Hoay soan sungguh cantik tiada taranya, perawakannya terlebih indah, setiap ruas tulangnya sedemikian berimbang, rambutnya yang panjang terkepang menjadi sebuah kuncir panjang, pakaiannya sederhana, baju dan celana ketat dari satin putih, Dandanannya ini sama sekali tidak berbau puteri keluarga bangsawan, tapi lebih mirip nona dusun yang lincah.
Yu Wi sudah sampai di atas loteng, di lingkungan yang mewah dan megah begini dapat melihat seorang nona demikian, seketika timbul rasa akrabnya, rasa tak tenteramnya banyak berkurang.
pikirnya.
"Alangkah senangnya bilamana aku benar-benar mempunyai adik perempuan begini!"
Melihat sang Toako yang biasanya sangat baik padanya itu, Kan Hoay-soan rada terkejut, serunya.
""He, ken... kenapa Toako banyak lebih kurus? Juga suaramu juga rada berubah?"
Yu Wi benar-benar telah anggap si nona sebagai adik perempuannya, maka sikapnya menjadi kelihatan sangat wajar, ia menjawab.
"O, apakah betul? Selama setengah tahun ini Toako jatuh sakit berat sehingga suara pun berubah agak serak."
"He, sakit apa?"
Tanya Koan Hoay-soan dengan kuatir. Yu Wi tersenyum, jawabnya.
"Ah, tidak apa2, cuma masuk angin barangkali Apakah ibu baik2?"
Kan Hoay-soan mengangguk, katanya.
""Ibu sehat-sehat saja." -Dalam hati ia menjadi sangsi.
"Setelah jatuh sakit, mengapa Toako berubah sebanyak ini? Dahulu dia tidak pernah tertawa begini? Apalagi bertanya mengenai keadaan ibu?"
Sampai Yu Wi, masuk ke kamar Kan-lohujin belum juga Hoay-san ingat bilakah pernah melihat senyuman yang menghiasi wajah sang Toako, Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Yu Wi adalah Toakonya yang gadungan, Toako samaran, dengan sendirinya wataknya sama sekali tidak sama dengan Toakonya yang asli.
Di dalam kamar Kan-lohujin lantainya penuh dilapisi permadani kulit harimau, seluruh kamar penuh hiasan benda-benda antik, di tengah kamar tertaruh sebuah Anglo antik yang sedang mengepulkan asap cendana wangi yang baunya menyebarkan dan menambah khidmatnya suasana.
Di dalam kamar terdapat pula sebuah kursi besar, seorang nyonya bermuka lonjong dan berusia 50 an dengan dandanan yang anggun berduduk di situ, Di sebelahnya berdiri seorang pemuda berkopiah, wajahnya juga lonjong, serupa dengan si nyonya, raut wajahnya rada mirip Kan Hoay-soan, sama sekali tidak memper Kan Ciau-bu.
Yu Wi tidak tahu siapakah anak muda ini, tapi ia pikir nyonya di hadapannya ini pasti Kan-Iohujin adanya, maka cepat ia memberi sembah dan berucap.
"Anak menyampaikan sembah hormat kepada ibu!"
Kan-lohujin sama sekali tidak melihat sesuatu kelainan pada diri Yu Wi, dengan dingin ia berkata.
"Bangunlah!"
Dengan hormat Yu Wi merangkak bangun. Pemuda yang berdiri di samping lantas menyapa dengan tergegap-gegap.
"Baik, ..baikkah Toa.... .Toako... ."
Baru sekarang Yu Wi dapat memastikan pemuda ini ialah adik Kan Ciau-bu yang bernama Kan Ciau-ge, dengan tertawa ia lantas menjawab.
"Baik, adik tentunya juga baik."
"Ba... .baik....baik... ."
Jawab Kan Ciati ge, tampaknya dia rada takut kepada sang Toako. Mendadak Kan-lohujin marah, omelnya.
"Kalau bicara mengapa selalu gelagapan begitu?"
Kan Ciau-ge menunduk ucapnya.
"lbu... ak... .aku...."
"Sudahlah, kau keluar saja, ibu akan bicara dengan Toakomu,"
Kata Kan-lohujin sambil memberi tanda.
Seperti orang hukuman yang mendapat pengampunan, cepat Kan Ciau-ge berlari keluar, Ketika lalu di samping Yu Wi, sama sekali ia tidak berani memandangnya.
Yu Wi tidak habis mengerti mengapa anak muda ini sedemikian takut kepada Toakonya.
Tetap dengan suara dingin Kan-lohujin bertanya pula kepada Yu Wi.
"Apa saja yang kau lakukan selama setengah tahun ini di luar sana?""
Sesuai ajaran Kan Ciau-bu, Yu Wi menjawab dengan hormat.
"Selama setengah tahun anak terluntang-lantung di dunia Kangouw, akhirnya jatuh sakit sehingga tidak mengerjakan sesuatu."
"Kalau sakit mengapa tidak pulang saja dan dirawat di rumah?"
Kata Kan-lohujin, Pembawaan Yu Wi memang berbakti kepada orang tua, ia pandang Kan-lohujin seperti ibunya sendiri, dengan hormat ia lantas menjawab.
"Sakit anak cukup berat sehingga tidak dapat pulang."
"Sejak ayahmu wafat,"
Demikian Kan-lohujin berkata.
"hilang pula kekuasaan dan pengaruh keluarga Kan, maka orang Kangouw umumnya lantas mengira keluarga Kan akan terus lemah dan runtuh, lalu benda mestika keluarga Kan pun mulai diincar."
Yu Wi sudah tahu keluarga Kan sampai dengan ayah Kan Ciau-bu, berturut-turut tiga turunan telah menjabat Perdana Menteri.
Tapi ia tidak tahu di Thian-ti-hu ini terdapat benda mestika apa yang menjadi incaran orang Kangouw, maka ia lantas bertanya.
"Siapakah kiranya berani berbuat demikian?"
"Setengah bulan yang lalu, Cong-piauthau (kepala perusahaan pengawalan) Piaukiok utama di Kimleng mengantar sepucuk surat ke sini, katanya kiriman dari Soa-say, coba kau baca sendiri,"
Kata Kan-lohujin dengan dingin. Dengan hormat Yu Wi menerima surat yang disodorkan nyonya tua itu lalu dibukanya dan di bacanya.
"Kepada Kan-lohujin di Thian-ti-hu, pada masa hidupnya Kan-kong (tuan Kan) telah menguras milik rakyat di seluruh negeri, perkampungan kami sendiri pernah menjadi korban perbuatannya Kini Kan-lo sudah wafat, untuk kepentingan kami sendiri, sebulan lagi kami akan berkunjung kemari untuk meminta kembali hak milik kami, semoga jangan ditolak agar tidak timbul tindakan kekerasan Dari Hek-po di Soa-say."
Ketika membaca alamat si pengirim surat itu suara Yu Wi rada gemetar dan wajah pucat, akan tetapi Kan-lohujin tidak memperhatikan perubahan air muka anak muda itu, ia bertanya.
"Coba, cara bagaimana akan kau atasi urusan ini?"
Cepat Yu Wi menenangkan diri, jawabnya.
"Thian-ti-hu tidak boleh menerima penghinaan demikian harus kita cegah tindakan kekerasan mereka."
"Sudah tentu akan kita cegah,"
Jengek Kan lohujin.
"urusan ini tidak boleh dilaporkan kepada pihak yang berwajib, harus mengandalkan tenaga sendiri, Anggota keluarga Kan hanya Kungfumu yang paling tinggi, kebetulan kau sudah pulang, maka segala urusan hendaklah kau selesaikan sebagaimana mestinya."
"Baik, ibu,"
Jawab Yu Wi dengan hormat.
"Tiada urusan lain lagi, boleh kau keluar sana!"
Ucap Kan-lohujin sambil memberi tanda. Yu Wi memberi hormat dan mengundurkan diri keluar kamar, Diam-diam ia mengeluh.
"Dengan kepandaianku mana mampu mengatasi serbuan pihak Hek-po nanti?"
Waktu menuruni tangga, kelihatan Kan Ciau-ge sedang menuju ke sini dengan kepala tertunduk.
Waktu menengadah dan melihat Yu Wi, anak muda itu menjadi ketakutan seperti tikus ketemu kucing, buru-buru ia membelok ke dalam kamar kaum hamba.
Diam-diam Yu Wi menggeleng kepala, pikirnya.
"Bila di rumah, tentu Kan Ciau-bu suka menindas adiknya ini, makanya dia sangat takut padanya"
Di sebelah kiri Ban-siu-ki adalah sebuah hutan buatan, pepohonan teratur dan dirawat dengan baik di atas tanah pegunungan berwarna kekuning-kuningan.
Keluar dari Ban-siu ki, terlihatlah oleh Yu Wi tanah hutan itu.
Teringat olehnya peringatan Kan Ciau-bu bahwa selain jalan yang biasa dilalui tidak boleh lagi sembarangan berkeluyuran, lebihlebih tempat di sekitar Ban-siu-ki jangan coba-coba mendekatinya, kalau tidak menurut, pasti akan mengalami malapetaka.
Ia tidak mengerti di sekitar sini ada malapetaka apa yang akan menimpanya?
Namun biasanya ia sangat hati-hati dan tidak suka menyerempet bahaya, maka ia hanya memandang saja sejenak keadaan sekitar Ban-siu-ki itu, lalu melangkah pulang ke arah datangnya tadi.
Tapi baru beberapa langkah, di sisi kanan Ban-siu-ki tiba-tiba seorang memanggilnya.
"Toako!"
Sebelah kanan Ban-siu-ki itu adalah sebuah bukit tandus, dari lereng bukit sedang melangkah turun satu orang, ternyata Kan Hoay-soan adanya.
"Ada apa, Moaymoay?"
Tanya Yu Wi dengan tertawa. Dengan suatu lompatan cepat, Kan Hoay-soan melayang ke depan Yu Wi, ucapnya dengan suara manja.
"Toako, marilah besok kita pergi berburu singa?!"
Yu Wi tahu setiap anggota keluarga Kan sama mahir ilmu silat, tapi tidak menyangka seorang nona muda belia seperti Kan Hoay-soan ini sekali lompat dapat mencapai beberapa tombak jauhnya, Rasanya Ginkang dirinya yang kakak palsu ini pun tak dapat menandingi si nona.
Rupanya karena melenggong oleh Ginkang Kan Hoay-soan yang hebat, seketika Yu Wi tidak jelas apa yang dikatakan nona itu, maka ia bertanya.
"Kau omong apa tadi?"
"Marilah kita berburu singa!"
Kan Hoay-soan mengulangi ucapannya dengan mengomel manja.
"Apa? Berburu singa?"
Yu Wi menegas dengan terkejut. Dengan suara sangsi Kan Hoay-soan berkata.
"Bukankah Toako biasanya paling suka bermain memburu singa?"
"Oo!"
Cepat Yu Wi mengiakan. Tapi di dalam hati dia mengeluh "Melawan seekor singa saja belum tentu bisa menang, mana kuberani menangkapnya segala, singa bukan kucing, masa boleh dibuat main-main?"
Dalam pada itu Kan Hoay-soan lantas berseru dengan girang.
"Baiklah, besok pagi kita pergi ke gunung di belakang sana, sudah lama nian tidak bermain dengan kawanan singa."
Mendengar ucapan si nona seakan-akan main berburu singa seperti anak kecil dengan barang mainannva, diam-diam Yu Wi terperanjat Namun perasaannya itu tidak diperlihatkannya, cepat ia berkata dengan tertawa.
"Sudah malam begini, lekas kau masuk!"
Dengan manja Kan Hoay-soan mengulangi lagi perrnintaannya.
"Esok harus berburu singa ya?"
"Wah, tidak bisa!"
Jawab Yu Wi dengan gugup. Tapi Kan Hoay-soan tetap ngotot, katanya.
"Harus pergi, besok pagi-pagi akan kupersiapkan segala sesuatu yang perlu dan akan kuseret Toako pergi,"
Habis berucap ia terus lari kembali ke Ban siu-ki, tampaknya dia yakin benar sang Toako besok pasti akan mengiringi bermain memburu singa.
Tanpa terasa Yu Wi menghela napas, ia pikir mau-tak-mau besok harus pergi, kalau berkeras tidak mau tentu penyamarannya ini akan ketahuan jika demikian halnya, kan malu terhadap tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya itu, Biarlah pergi saja besok, untung-untungan, barangkali dapat menangkap seekor singa.
Setelah mantap pikirannya, ia menuju kembali ke kamarnya, Ketika lewat gapura besar itu, didengarnya pula suara seruling yang merawan hati itu, Pikirnya.
"Mengapa dia masih juga meniup seruling?"
Sementara itu hari sudah gelap, suara seruling menjadi tambah mengharukan.
Yu Wi berdiri mendengarkan sekian lamanya, tanpa terasa ia terhanyut oleh suara seruling itu, ia terus melangkah ke arah suara seruling dan berjalan beberapa tombak jauhnya, mendadak suara seruling berhenti.
Seketika Yu Wi tersadar dari lamunannya, pikirnva.
"Jika ku pergi ke sana, kontan akan kuhadapi dua persoalan yang akan menguji diriku, Daripada cari penyakit, lebih baik cepat meninggalkan tempat ini saja."
Maka ia lantas mempercepat langkahnya dan kembali ke kamar sendiri.
oOo OWO oOo Esoknya pagi-pagi Kan Hoay-soan sudah mendatangi kamar Yu Wi, nona ini memakai baju berburu yang ringkas, menuntun dua ekor kuda putih, begitu sampai di depan kamar segera ia berteriak.
"Toako! Toako! Ayo, berangkat". Cepat Yu Wi cuci muka dan berdandan seperlunya. Mendengar suara si nona, Jun-khim lantas bertanya.
"Apakah Kongcu hendak bermain ke bukit belakang?"
Terpaksa Yu Wi mengiakan dengan samar-samar Buru-buru Pi-su mengeluarkan seperangkat pakaian berburu yang terbuat dari kulit, He-si juga mengeluarkan sebuah sabuk yang lebar dari almari, pada sabuk itu terselip sebilah belati dan sebuah cambuk.
Dengan tertawa Tong-wa berkata.
"Siocia kita benar-benar gemar berburu singa, Kongcu baru saja pulang dan dia sudah mengajaknya bermain ke sana ... ."
"Tanpa dikawani Kongcu, mana Siocia berani pergi sendirian,"
Ujar He-si.
"Sejak Kongcu keluar selama setengah tahun, satu kali saja Siocia tidak pernah main-main ke bukit belakang, Hendaklah Kongcu berhati-hati sedikit, bukan mustahil selama setengah tahun ini kawanan singa di belakang bukit sudah tambah buas."
Yu Wi sendiri lagi gelisah, mana dia ada minat mengurusi ocehan kawanan batur itu.
Dengan ogah-ogahan dia berganti pakaian berburu itu, Jun-khim terus mengikatkan sabuk lebar itu di pinggangnya, Yu Wi memandang belati dan cambuk ini katanya di dalam hati.
"Hanya dengan dua benda ini apakah cukup untuk menangkap singa?"
Karena menunggu cukup lama, Kan Hoay-soan tidak sabar lagi, ia berteriak di luar.
"Lekas Toako! Lekas..."
Terpaksa Yu Wi melangkah keluar kamar. Dengan tertawa Kan Hoay-soan lantas berkata pula.
"Lekas kita berangkat jika tertunda, bukan mustahil ibu akan memanggil diriku dan gagal kepergian kita!"
Melihat betapa riangnya si nona, Yu Wi sendiri jadi lesu malah, Diam-diam ia cuma mengeluh, pikirnya.
"Bisa"
Jadi nanti tidak berhasil menangkap singa, tapi berbalik akan dicaplok singa malah."
Kedua orang lantas naik kuda putih, Kan Hoay-soan menunjuk bukit tandus sana dan berkata.
"Kita menuju ke sana dengan melintasi bukit itu, akan lebih dekat."
Yu Wi hanya mengangguk saja tanpa bicara, mereka terus melarikan kuda ke arah bukit.
Pada saat itu juga, mendadak dari atas Ban siu-ki berlari turun seorang genduk yang biasa bertugas di kamar Lohujin, genduk itu berteriak-teriak.
"Siocia! Siocia!"
Hoay-soan menghela napas. ucapnya.
"Ai, Toako, tampaknya kita gagal pergi!"
Diam-diam Yu Wi bergirang, kebetulan pikirnya.
Hanya beberapa lompatan saja genduk itu sudah melayang ke depan kuda Kan Hoay-soan.
Yu Wi terkejut tampaknya kaum batur di Thian-ti-hu juga memiliki Ginkang yang tinggi dan tidak di bawah dirinya.
Dalam pada itu Kan Hoay-soan jadi bersungut-sungut, tanyanya.
"Ada urusan apa?"
Genduk tadi menjawab.
"Cubo mendengar Siocia akan pergi berburu singa, beliau bilang Siocia harus menyelesaikan dulu pelajaran hari ini, kalau tidak dilarang pergi!"
Hoay-soan menoleh ke arah Yu Wi, katanya "Entah mengapa, akhir-akhir ini ibu selalu memaksa aku dan Ji-ko berlatih Kungfu segiatnya, Baiklah, selesai belajar segera kususul kemari, hendaknya kau tunggu aku di sana."
Yu Wi tahu sebab apa Kan-lohujin menghendaki mereka giat berlatih Kungfu, tentunya supaya kelak dapat ikut melawan serbuan pihak Kek-po.
Selagi ia hendak membatalkan kepergiannya, tahu-tahu Kan Hoay-soan sudah melompat turun dari kudanya dan menuju ke Ban-siu-ki dengan langkah cepat.
Tinggal Yu Wi sendirian di situ, ia merasa iseng, ia pikir apa salahnya bila kupergi ke belakang gunung sana untuk melihat keadaan, bilamana Kan Hoay-soan mendesak lagi mengajak berburu singa, kalau sudah jelas medannya kan tidak perlu lagi kelabakan.
Begitulah dia lantas melarikan kudanya ke atas bukit yang tandus itu, ia pikir bukit yang tandus tanpa sesuatu tumbuhan itu tentu tak berbahaya, asalkan hati-hati, biarpun ada perangkap juga takkan terjebak.
Setelah melintasi lereng bukit, yang dilihatnya sekarang bukan lagi bangunan megah melainkan tanah datar yang sangat luas.
Segera ia melarikan kudanya secepat terbang.
Selewatnya tanah datar itu, jalanan mulai landai lagi.
Kini Thian-ti-hu sudah tidak kelihatan lagi, dia sudah berada di belakang gunung, Selesai melintasi landaian lereng, tertampaklah sebuah lembah gunung dengan batu padas yang berserakan.
Yu Wi pikir mungkin di sinilah kawanan singa itu berkeliaran.
Ia melompat turun dari kudanya dan manjat ke atas batu karang terus menyusun lembah gunung itu dengan was-was.
Tak tahunya, lembah gunung itu hanya batu aneh melulu, seekor singa pun tidak kelihatan.
Dia mengira belum mencapai sarang singa, rasa waspadanya menjadi rada berkurang, ia memutar balik ke arah datangnya tadi.
Ketika lalu di samping sepotong batu yang tinggi, sekonyong-konyong terasakan angin kencang menyambar tiba, ia berkeluh.
"Celaka!" -sekuat nya ia meloncat ke depan, Waktu ia berpaling, terlihat seekor singa jantan yang gagah perkasa menubruk tempat kosong dan sedang mengeluarkan suara raungan ke arahnya dengan posisi akan menubruk lagi. Cepat Yu Wi mencabut belati dan cambuknya. Tapi belum pernah dia menggunakan cambuk, apalagi cambuk yang khusus untuk menjinakkan singa ini juga jarang dipakai orang biasa, Belati itu pun hanya dapat dipakai dalam keadaan kepepet dan tidak besar gunanya. Karena gugupnya, Yu Wi ayun cambuknya dan menyabat serabutan dua-tiga kali, Mungkin singa itu dahulu pernah merasakan sabetan cambuk, maka sifat buasnya rada berkurang, binatang itu menunduk dan mengaum pelahan, tampaknya jauh lebih jinak daripada tadi. Yu Wi bergirang, disangkanya kawanan singa ini sudah terlatih oleh orang Thian-ti-hu dan sudah hilang sifat buasnya, Tak teringat olehnya bilamana singa ini pernah terlatih, tentu tadi takkan menyerangnya secara mendadak, Untung dia dapat mengelak dengan cepat, kalau tidak pasti dia sudah menjadi isi perut singa itu. Lantaran pikiran itu, nyalinya menjadi tabah, ia malah mendekati singa itu. Dilihatnya singa jantan itu menyurut mundur dengan takut-takut, Maka ia bertambah berani, ia membentak pelahan.
"Ayo, sini!"
Lagaknya seperti penjinak singa di sirkus saja, ia lupa bahwa dirinya pada hakikatnya tidak menguasai teknik menjinakkan singa, semula singa itu menyurut mundur karena gentar kepada cambuknya, tapi karena terdesak terus, akhirnya singa itu menjadi beringas, dengan suara raungan keras.
singa itu mendadak menubruk maju lagi.
Yu Wi tidak kenal sifat singa, tentu saja ia tidak menduga binatang buas itu akan mengganti secara mendadak, keruan ia menjadi kelabakan, cepat ia menyabat dengan cambuknya, Karena ia tidak mahir menggunakan cambuk, sabetannya itu tidak tepat sasarannya, apalagi singa itu sudah tidak takut lagi padanya, cakarnya mencengkeram cambuk Yu Wi terus dibetotnya hingga terlepas.
Anak muda itu tambah gugup dan tegang karena kehilangan cambuk, melihat lawan tidak memegang cambuk lagi, singa itu terus menerjang maju.
Betapapun Yu Wi sudah belajar Lwekang asli selama beberapa tahun, gerakannya cukup cepat dan matanya tajam, segera ia angkat belatinya dan menikam.
Tikamannya ini lumayan dan dapat melukai bahu kiri singa itu serta menghindarkan cakarannya.
Walaupun terlepas dari bahaya, tidak urung keringat dingin membasahi tubuh anak muda itu, Singa itu tambah buas dan meraung-raung, dengan semangat Yu Wi memperhatikan setiap gerakgerik binatang itu untuk berjaga-jaga kalau diserang lagi.
Pada saat itu juga, tiba-tiba di belakangnya juga bergema suara raungan singa, Keruan tidak kepalang kaget Yu Wi, cepat ia berpaling Wah.
Celaka!
Entah sejak kapan tiga ekor singa jantan yang lebih besar sudah bertengger di atas batu karang.
Singa yang terluka tadi tidak menyia-nyiakan kesempatan pada waktu Yu Wi berpaling, sambil mengaum keras ia terus menubruk.
Biarpun gugup, pikiran Yu Wi cukup jernih, cepat ia menunduk dan menerobos ke samping sehingga singa itu menubruk tempat kosong.
Karena mendapat ajakan teman, ketiga singa baru memang juga sudah siap tempur, maka begitu Yu Wi bergerak, serentak ketiga ekor singa itu pun menerjang maju dari arah yang berlainan.
Dalam keadaan gugup, Yu Wi jadi bingung menggunakan tangan dan kaki untuk melawan.
Tampaknya dia pasti akan menjadi mangsa kawanan singa itu, tanpa terasa ia berseru.
"Mati aku!"
Apa yang terjadi saat itu lebih cepat daripada untuk diceritakan, baru saja Yu Wi berkeluh begitu, tahu-tahu sesosok bayangan hitam melayang turun dari atas batu karang, hanya dengan beberapa kali hantam dan tendang saja, ke empat ekor singa itu sudah dihajar hingga pontangpanting dan meraung kesakitan, lalu ngacir dengan mencawat ekor.
Selama hidup Yu Wi hanya mendengar orang bilang singa sangat buas, tapi belum pernah melihat sendiri binatang buas itu, makanya dia menjadi kelabakan dan hampir saja jiwa melayang, Namun pikirannya masih tetap terang, dilihatnya bayangan hitam yang menyelamatkan jiwanya itu adalah seorang perempuan berpakaian hitam ringkas dengan ikat kepala warna hitam pula.
Setelah menghalau kawanan singa tadi, perempuan baju hitam itu lantas berdiri memandangi Yu Wi dengan termangu-mangu tanpa berucap sepatah kata pun.
Mata alis perempuan ini sangat indah, hidung mancung, kulit badannya putih bersih, agak kurus, meski tidak secantik Kan Hoay-soan, tapi lebih pendiam dan lebih menarik.
Tak tersangka oleh Yu Wi bahwa seorang anak perempuan semuda ini ternyata menguasai ilmu silat sehebat ini, hanya beberapa kali hantaman dan tendangan saja telah dapat menghalau beberapa ekor singa.
Kalau saja hantaman dan tendangannya tidak lihay, mana mungkin kawanan singa yang buas itu mau ngacir begitu saja?
Karena berterima kasih atas pertolongan si nona, dengan serius Yu Wi berucap.
"Terima kasih banyak-banyak atas pertolongan nona, budi kebaikan ini takkan kulupakan."
Air muka perempuan baju hitam agak berubah, ia bertanya.
"Siapa kau?"
Yu Wi ragu sejenak, mestinya dia hendak mengatakan nama aslinya, tapi lantas teringat pesan tuan penolongnya, terpaksa ia berdusta dengan perasaan tidak enak.
"Cayhe Kan Ciau-bu dari Thian ti-hu."
Perempuan baju hitam menggeleng, katanya.
"Kau bukan Toakongcu keluarga Kan!"
Kuatir kepalsuannya dibongkar orang, cepat Yu Wi berkata.
"Kenapa bukan?"
Dengan tenang perempuan baju hitam itu berkata pu!a.
"Toakongcu keluarga Kan termashur sebagai ahli penakluk singa, jika kau adalah dia, mana bisa terjadi kesulitan seperti tadi?"
Yu Wi bermaksud menceritakan segalanya, tapi sukar untuk menjelaskan ia hanya berucap dengan menghela napas.
"Aku memang betul Toakongcu keluarga Kan!"
Perangai perempuan berbaju hitam itu pendiam dan ramah, ia tidak lagi bilang Yu Wi bukan Kan-toakongcu, tapi lantas memberi nasihat.
"Kawanan singa di sini sangat buas, kau sendiri tidak menguasai tehnik menjinakkan singa, lain kali jangan datang lagi ke sini."
Bahwa orang yang sama sekali belum dikenal ternyata mau memperhatikannya, tentu saja Yu Wi sangat terharu, segera ia mengucapkan banyak terima kasih.
Habis berkata, lalu perempuan baju hitam itu melangkah pergi.
Yu Wi memburu maju, tanyanya dengan terangsang.
"Tolong tanya siapa nama nona yang lerhormat?"
Nona baju hitam itu berhenti, jawabnya dengan menunduk.
"Namaku tidak dapat kukatakan padamu."
Cepat Yu Wi menambahkan "Cayhe bukanlah orang yang tidak senonoh, bahwa nona telah menyelamatkan jiwaku, Cayhe ingin tahu nama nona agar budi kebaikanmu dapat selalu kuingat di dalam hati."
Nona baju hitam menggeleng, ucapnya pelahan.
"Tapi tetap tak dapat kukatakan namaku, cukup asalkan kau ingat si gadis penjinak singa, begitu saja."
Habis berkata ia melangkah pergi pula. Mendadak Yu Wi berteriak.
"Nona, bolehkah kutemui lagi engkau?"
Namun nona itu tidak menjawab, Yu Wi menyaksikan bayangannya menghilang di balik batu karang sana dengan termangu-mangu, dalam hatinya terukir suatu bayangan cantik yang sukar terlupakan.
Selang sekian lamanya barulah ia jemput cambuknya, tangkai cambuk itu sudah dicakar pecah oleh singa, kalau saja kurang cepat berkelitnya tadi, bila tubuhnya yang tercakar, mustahil kalau tidak terkoyak-koyak.
Membayangkan kejadian berbahaya tadi, tanpa terasa Yu Wi jadi teringat lagi kepada si nona baju hitam yang telah menyelamatkan jiwanya, ia merasa meski nona ini memiliki Kungfu sangat tinggi, namun perangainya halus, sungguh jarang ada nona baik hati begini di dunia ini.
Selagi melamun, tiba-tiba ia terkejut oleh suara teriakan nyaring, Kan Hoay-soan berlari tiba dengan ringan dan cepat, dari jauh ia sudah bertanya dengan tertawa.
"Sudah tertangkap belum singanya?"
Yu Wi menggeleng dengan perasaan hampa, sesudah dekat, dapatlah Kan Hoay-soan melihat tangkai cambuk Yu Wi yang pecah itu, tanyanya dengan terkejut.
"He, Toako sudah pergoki singa?"
"Ya, sudah!"
Jawab Yu Wi.
""Lantas bagaimana, tertangkap tidak?"
Tanya Hoay-soan dengan heran.
Agaknya dia yakin bila sang Toako memergoki singa, dengan kepandaiannya yang hebat binatang buas itu pasti akan tertangkap dengan mudah.
Tapi sekarang ternyata tiada binatang apa pun yang tertangkap, inilah yang membuatnya heran.
Dengan lesu Yu Wi menjawab.
"Aku habis sakit, badanku masih lemah sehingga tidak ada hasrat buat menangkap singa, Marilah kita pulang saja!"
"Tanpa menunggu persetujuan si nona, segera ia mendahului berangkat.
Tentu saja Hoay-soan kurang senang, tapi sang Toako bilang habis sakit dan badan masih lemah, terpaksa ia pun tidak berani memaksanya.
Sepanjang jalan pulang ke Thian-ti-hu, Yu Wi tampak murung tanpa bersuara seperti menanggung macam-macam perasaan.
Meski Kan Hoay-soan paling cocok dengan sang Toako, tapi ia pun rada takut padanya, melihat Toakonya murung, ia pun tidak berani mengajaknya bicara, Dalam hati ia tidak habis mengerti mengapa sifat sang Toako mendadak berubah seperti dahulu lagi, kaku dan dingin, Padahal kan lebih baik jika banyak bicara dan suka tertawa?
Yu Wi berjalan kembali ke kamarnya sendiri dan istirahat sejenak, kemudian dia mengambil sekenanya satu
Jilid buku, dilihatnya pada sampul buku itu tertulis.
"Cong-lam-kun-kiam-lok"
Atau kitab ajaran ilmu pukulan dan pedang Cong-lam-pay.
Ia coba membalik-balik buku itu, yang tercatat di dalam buku itu memang betul ilmu silat Cong-lam-pay yang hebat.
Bilamana buku ini jatuh di tangan orang Kangouw, maka akan dianggap mestika yang sukar dinilai harganya, Tapi sekarang kitab pusaka ini hanya di simpan secara biasa saja di kamar ini.
Melihat tempat penyimpanannya jelas cuma dianggap buku yang umum saja, Apakah semua buku yang berada di kamar ini sama nilainya dengan kitab ini"?
Segera ia lolos lagi se
Jilid buku lain dari rak sana, judul buku adalah "Tiang-pek-kun-kiam-lok", ilmu pukulan dan pedang Tiang-pek-pay. Berturut-turut ia melolos tiga
Jilid lagi dari rak buku dan masing-masing adalah ilmu silat Butong-pay, ilmu pukulan keluarga Hoan dari Siam-say serta ilmu pukulan gaya Soa-tang.
Nilai kitab-kitab ini pun tidak kalah daripada ilmu pukulan Cong-lam-pay.
Maka dapatlah Yu Wi memastikan bahwa di antara sekian ratus kitab yang tersimpan di kamar ini, semuanya adalah benda berharga, sungguh ia tidak mengerti mengapa macam-macam intisari ilmu silat dari berbagai golongan dan aliran itu bisa tersimpan di sini?
Dasar watak Yu Wi memang gemar belajar ilmu siiat, sejak kecil ia pun sudah terpupuk daya tangkapnya dalam hal membaca.
Setelah menemukan gudang pusaka ilmu silat ini, segera ia membuang jauh-jauh segala urusan dan mulai membaca dengan cermat.
Sampai malam sudah tiba, seluruhnya ia sudah membaca 17 buku, babu yang melayani dia sudah disuruhnya pergi tidur, hanya tertinggal dia sendiri yang berada di kamar.
Sementara itu sudah jauh malam, suasana sunyi senyap, sekenanya ia coba melolos buku yang ke 18, dilihatnya judulnya adalah "Tam-keh-wau yang-tui", ilmu tendangan berantai keluarga Tam.
Ia terus membaca kitab itu, baru setengah buku, dilihatnya di halaman tengah terselip secarik kertas yang sudah terlalu lama sehingga warna putih kertas itu telah bersemu kuning, Waktu ia membentang kertas itu, kiranya sebuah peta.
Peta ini tidak menarik perhatiannya, tapi dia tertarik oleh beberapa huruf yang tertulis di belakang peta, beberapa huruf itu berbunyi "Ingin mendapatkan ilmu sakti, hendaklah pergi..pergi...
pergi ...."
Beberapa huruf itu jelas ditulis secara iseng, gaya tulisannya serupa dengan catatan pada buku kecil itu, terang tulisan tangan Kan Ciau-bu. Untuk apa dia menulis huruf-huruf ini?"
Demikian Yu Wi bertanya-tanya di dalam hati. Melihat nada tulisan itu, kata "pergi"
Itu tertulis belasan huruf banyaknya, seolah-olah hal ini meragukan pikiran Kan Ciau-bu, setelah dipikir lagi dan ditimbang, demi mendapatkan ilmu sakti "Akhirnya diputuskannya harus "pergi".
Lantas "pergi"
Ke mana?
Yu Wi coba memeriksa peta itu dengan cermat, sampai sekian lamanya, akhirnya dia tahu apa artinya, Yang terlukis pada peta itu kiranya tempat di sekitar Ban-siu-ki.
Hampir sebagian besar yang terlukis pada peta itu adalah daerah hutan buatan yang terletak di sisi kiri Ban-siu-ki itu, yaitu tempat yang khusus diperingatkan oleh Kan Ciau-bu agar tidak boleh sembarangan didekati, kalau tidak pasti akan tertimpa malapetaka.
Di atas peta terdapat banyak garis merah dan disana sini diberi keterangan huruf kecil.
Yu Wi menelusuri garis merah itu, maka tahulah dia Ciau-bu khusus memperingatkan dirinya mengenai malapetaka yang mungkin akan menimpanya itu.
Kiranya pada tanah bukit berwarna kekuning-kuningan itu terdapat macam-macam perangkap yang berbahaya.
Selesai mengikuti garis-garis merah itu, tempatnya ternyata sudah melampaui hutan buatan itu.
Diam-diam Yu wi berpikir.
"Kiranya tempat yang hendak dituju Kan Ciau-bu itu terletak di balik hutan buatan ini."
Ia lantas teringat kepada kesukaran yang dihadapinya nanti, yaitu batas waktu yang ditentukan pihak Hek-po.
Betapa lihay jago yang dikirim Hek-po cukup diketahuinya, kalau melulu berdasarkan kepandaian sendiri jelas tidak mungkn sanggup menahan serbuan pihak Hek-po.
Lalu apakah harus membiarkan mereka menyerbu ke sini begitu saja.
Mengingat Kan Ciau-bu tidak berada di sini.
sedangkan dirinya telah menyamar sebagai Kan toakongcu itu, maka kewajiban melindungi Thian ti-hu adalah menjadi tugasnya.
Untuk menyebutkan Thian-ti-hu, jalan satu-satunya adalah berusaha dalam waktu yang singkat menguasai Kungfu yang cukup kuat untuk menghadapi serbuan pihak Hek-po nanti.
Meski di dalam kamar ini penuh kitab pelajaran silat, tapi semuanya sukar untuk dipahami dalam waktu singkat sekalipun berhasil mempelajarinya dan akan menambah kepandaiannya sendiri tapi kalau dibandingkan jago Hek-po jelas masih belum sembabat, jangankan hendak menggempur mundur penyerbu dari Hek-po, asalkan dapat bertahan dengan sama kuat saja sudah luar biasa.
Setelah dipikir dan direnungkan lagi lalu di pandangnya pula tulisan di belakang peta, akhirnya ia mengambil keputusan, jalan keluar yang paling baik adalah "pergi"
Ke sana dengan menyerempet bahaya.
Ia pikir mungkin di sana akan ditemukan semacam ilmu silat yang dapat dikuasainya secara sistem kilat.
Dengan demikian penyerbu dari Hek po akan dapat digempur mundur dan sekadarnya membalas budi pertolongan Kan Ciau-bu.
Begitulah ia duduk termenung sendirian, lama-lama jadi mengantuk.
Maklum, siang harinya banyak mengalami ketegangan, di tengah malam dingin sekarang badan menjadi terasa penat.
Selagi ia bebenah hendak tidur, mendadak pintu kamar di buka orang, Pi-su, pelayan yang montok itu tampak masuk dengan membawa nampan.
"Sudah jauh malam begini, kenapa belum tidur?"
Tanya Yu Wi. Pi-su tertawa genit, ucapnya dengan suara yang dibuat-buat.
"Melihat Kongcu belum tidur, hamba juga tidak dapat pulas. Maka hamba sengaja membuatkan semangkuk wedang kacang untuk Kongcu."
Karena suara orang yang tidak enak didengar itu, diam-diam Yu Wi merasa kurang senang, dengan dingin ia menjawab.
"Kan sudah kukatakan aku tidak perlu diladeni kalian lagi?"
Pi-su menaruh sampannya di atas meja, ia pandang Yu Wi dengan senyuman merangsang, ucapnya dengan suara memikat.
"Tengah malam kubuatkan wedang kacang ini, harap Kongcu sudi memakannya."
Yu Wi tidak sampai hati untuk menolak lagi, ia pikir orang bermaksud baik, biarlah kumakan, lalu kusuruh dia lekas pergi.
Maka ia lantas menyendok wedang kacang itu dan dimakan dengan pelahan.
Setelah habis semangkuk wedang kacang itu, waktu ia berpaling dan hendak menyuruh Pi-su membawa pergi mangkuk kosong itu, sekonyong-konyong dilihatnya babu montok itu telah menanggalkan bajunya sehingga tersisa baju dalamnya yang tipis.
Seketika Yu Wi melenggong oleh pemandangan yang menggiurkan itu, Dilihatnya Pi-su telah mengurai rambutnya yang panjang hingga semampir di pundak, lalu berucap dengan genit.
"Kongcu sudah lama sekali hamba tidak melayanimu sambil bicara dan tertawa mengikik, seperti ular air saja ia terus memberosot ke pangkuan Yu Wi. Tersentuh oleh tubuh yang kenyal itu, seketika Yu Wi seperti dipagut ular, ia membentak tertahan "Enyah!"
Ia kuatir didengar orang, maka tidak berani membentak dengan suara keras.
Siapa tahu Pi-su tidak menghiraukan bentakannya, bahkan terus pentang tangan dan merangkulnya.
Keruan Yu Wi seperti ketemu makhluk berbisa, kagetnya tidak kepalang, Maklumlah, betapapun ia masih bertubuh jejaka, masih suci bersih.
Cepat ia melompat mundur dan melolos pedang yang tergantung di dinding, dengan ujung pedang mengancam di dada Pi-su, ia mendamperat dengan suara perlahan.
"Jika tidak lekas enyah, segera kubinasakan kau!"
Napsu berahi Pi-su seketika buyar oleh gemilapnya sinar pedang, ia menyurut mundur sambil menatap sang Kongcu lekat-lekat, katanya.
"Kong ....Kongcu, ke . .. kenapakah kau?"
Yu Wi menjawab dengan memandang ke arah lain.
"Manusia harus tahu malu, lekas pergi dari sini dan sadarilah kekeliruanmu, selanjutnya aku pun akan melupakan kejadian malam ini!"
Dia mengira mungkin Pi-su mendadak terangsang nafsu berahinya, maka melakukan tindakan yang tidak tahu malu ini, dengan welas-asih ia menyuruhnya jangan tersesat, iapun takkan mengusut perbuatannya ini, Tak terduga, sama sekali Pi-su tidak menerima maksud baiknya itu, sebaliknya ia malah tertawa.
Melihat pelayan itu sama sekali tidak kenal malu, Yu Wi menjadi marah, tapi ia tetap tidak berani memandangnya, hanya berkata padanya.
"Lekas pergi kau, lekas, jangan kau bikin marah padaku!"
Namun Pi-su tertawa lebih keras, ucapnya.
"0. Kongcuku yang palsu, berpalinglah ke sini kalau bicara!"
Mendengar sebutan "Kongcu palsu"
Itu, Yu Wi terkejut, waktu ia berpaling, dilihatnya Pi-su telah mengenakan bajunya, meski masih tertawa, namun jelas tidak bermaksud baik.
Karena penyamarannya diketahui orang, tentu saja Yu Wi rada tegang, ucapnya dengan gelagapan.
"Apa... apa katamu?"
Pi-su berhenti tertawa, lalu menyindir.
"Kami berempat memang lagi heran mengapa perangai Toakongcu telah berubah, tak tersangka bisa berubah menjadi seorang pendeta yang alim!"
"Apa... apa maksudmu?"
Tanya Yu Wi dengan tidak tenteram.
"Maksudku?"
Jawab Pi-su.
"Maksudku supaya selanjutnya kau harus tunduk kepada segala perintahku."
Dengan marah Yu Wi mendamperat.
"Sebagai tuan muda Thian-ti hu, masakah aku harus tunduk kepada perintah seorang batur seperti kau ini"?"
"Hm, masakah kau masih berani mengaku sebagai Kongcu kami?"
Jengek Pi-su dengan benci.
"Kongcu sudah terbiasa gila seks, kebersihan tubuhku justeru dirusak olehnya, jelas dia bukan kau si pendeta ini."
Yu Wi tak menyangka bahwa antara Kan Ciau-bu dan babunya ini sudah ada perzinaan, pantas kepalsuannya dapat diketahui olehnya. Terpaksa ia menjawab dengan menahan perasaannya.
"Apa kehendakmu sebenarnya?"
Pi-su melangkah ke pintu, lalu menoleh dan berucap pula dengan tertawa.
"Asalkan kau tunduk kepada perintahku, maka kepalsuanmu takkan ku bongkar,"
Habis berkata, pergilah dia dengan langkah menggoyangkan pinggul.
Dengan sedih Yu Wi merapatkan pintu kamar, sekilas dilihatnya sesosok bayangan orang mengintil di belakang Pi-su dengan cepat dan gesit tanpa menimbulkan suara.
Lantaran godaan Pi-su itu, hilanglah rasa kantuk Yu Wi, penyamarannya telah diketahui pelayan itu, keadaannya tentu akan tambah gawat, ia pikir bila selesai menghadapi serbuan pihak Hek-po nanti harus selekasnya meninggalkan Thian-ti-hu agar tidak berada di bawah ancaman Pisu dan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan Thian-ti-hu.
Terdengar kentongan ketiga sudah berbunyi di luar, itulah waktu yang paling baik bagi Yaheng-jin atau orang pejalan malam.
Hati Yu Wi tergerak, ia pikir kenapa tidak malam ini juga pergi ke daerah misterius di sisi kiri Ban-siu-ki itu untuk mencari ilmu sakti, lalu mempelajarinya dengan cepat guna menghadapi pihak Hek-po.
Segera ia berganti pakaian ringkas dan membawa serta peta itu, dengan cepat ia menuju ke arah Ban-siu-ki.
Seluruh kompleks Thian-ti-hu terasa sunyi senyap dan kelam, hanya ada cahaya bulan remang-remang di ujung langit dan cukup sebagai penerangan jalan.
Setiba di depan Ban-siu-ki, tiada terlihat sinar lampu setitik pun.
Diam-diam Yu Wi merasa lega tapi tidak kurang kewaspadaannya, ia memperingatkan dirinya sendiri agar tindak-tanduknya jangan sampai dipergoki orang lain, kalau tidak, tentu akan mengecewakan sang Inkong atau tuan penolongnya, yaitu Kan Ciau-bu.
Ia sangat heran, mengapa Kan-toakongcu pun tidak boleh mendekati hutan di depan sana?
Lalu siapakah yang diperbolehkan ke situ?
Ia mengeluarkan peta dan membacanya di bawah sinar bulan, dengan hati-hati sekali ia melintasi tanah kekuning-kuningan itu terus mendekati hutan itu.
Dilihatnya pepohonan diatur dengan rajin dan ditanam dalam jarak sangat dekat Menurut keterangan pada peta itu, diketahuinya pepohonan itu sama sekali tidak boleh disentuh.
Menurut catatan dalam peta, seluruhnya ada 13 jalan masuk ke hutan itu, tapi hanya satu jalan hidupnya, 12 jalan lainnya adalah jalan kematian, Dari jalan ke sembilan Yu Wi masuk ke dalam hutan.
Baru berjalan sembilan langkah, di depan muncul jalan simpang tiga, Yu Wi langsung menuju ke jalan yang tengah, Sampai di sini, diam-diam Yu Wi mulai ngeri, sebab menurut keterangan dalam peta itu, selanjutnya dia akan mengalami 18 jebakan bila salah langkah jiwa bisa melayang.
Karena rindangnya pepohonan, cahaya bulan tidak dapat menembus ke dalam hutan.
ia menyalakan geretan api untuk mengobori hutan yang seram itu, Akan tetapi semua pohon kelihatan sama, tiada sesuatu tanda perbedaan.
Penerangan obor hanya mencapai jarak sepuluh langkah, padahal menurut keterangan peta, pada langkah ke sebelas terdapat perangkap, Diam2 ia menghitung, satu dua, tiga....
Tapi dia tidak tahu bahwa cara menghitung langkahnya itu harus dimulai sejak dia masuk ke dalam hutan, karena kesalahan ini, ketika dia baru menghitung sampai sepuluh, tersentuhlah pesawat rahasia yang tertanam di permukaan tanah, seketika pepohonan di kanan-kirinya menerbitkan suara pelahan.
Jilid ke-2 Begitu mendengar sesuatu yang tidak beres, sekuat-nya dia terus meloncat setingginya, lebih dua tombak tingginya dia meloncat, dilihatnya di bawah kaki beratus anak panah saling menyambar dari sisi kanan dan kiri, semua anak panah itu menancap di batang pohon kedua sisi jalan tadi.
Begitu selesai terjadi hujan panah, Waktu Yu Wi turun lagi kebawah sudah tidak berbahaya lagi.
ia lihat anak panah itu sama menancap cukup dalam di batang pohon, diam diam ia bersyukur di dalam hati berhasil menghindari ancaman elmaut itu.
Coba kalau dia terlambat sedetik saja, tentu beratus anak panah itu sudah bersarang di tubuh nya, nnni dia dapat hidup sampai sekarang?
Saat itu juga, tibx tiba di luar hutan sana terdengar suara berisik orang banyak, waktu ia berpaling, tertampak cahaya lampu gemerapan.
ia terkejut entah darimana mereka mendapat tahu ada orang melanggar daerah terlarang ini?
Dia tidak berani lagi meneruskan perjalanan, ia mengeluarkan peta, menurut keterangan, 30 langkah lagi akan terdapat dua jalan simpang, jalan yang sebelah kiri akan menembus ke luar hutan melalui jalan lain.
Meski sudah makan waktu sekian lamanya, tapi orang di luar hutan tidak kelihatan mengejar ke dalam, jelas orang Thian-ti-hu sendiri tidak ta hu cara bagaimana masuk ke dalam hntan meski diketahui dengan jelas di dalam hutan ada musuh, maka cepat Yu Wi melangkah ke depan menurut petunjuk peta itu, dengan aman dia lari keluar melalui jalan simpang itu.
Jalan simpang itu menembus ke belakang gunung, dari situ ia berlari kembali ke kamarnya dan tidak kepergok siapa pun.
Diam-diam ia merasa mujur, buru-buru ia berganti pakaian lagi, Baru saja selesai ganti pakaian, masuklah seorang ke dalam kamar, dengan suara seram orang itu bertanya.
"Ke manakah Kongcu tadi?"
Orang ini bertubuh tinggi besar, mukanya lebar, tampangnya kelihatan setia, Yu Wi tidak melihatnya sejak datang, tapi secara cerdik dapatlah ia memastikan bahwa orang ini pastilah congkoan atau kepala rumah tangga Thian-ti-hu yang bernama Phoa Tiong-hi.
Ia tidak menjawab pertanyaan orang, tapi sengaja berkata dengan ketus.
"Bagaimana keadaan di luar sekarang?"
Ucapan ini cukup lihay, selain menunjukkan dia sudah tahu ada orang melanggar daerah terlarang di Ban-siu-ki dan dirinya baru saja kembali dari sana, meski tidak langsung menjawab pertanyaan Phoa Tiong-hi itu, tapi seakan-akan telah memberitahukan jejaknya tadi, bahkan juga tetap menjaga wibawa seorang majikan.
Phoa Tiong-hi tidak tahu dengan pasti jejak sang "Toakongcu"
Tadi, ketika dia mendapat tahu ada orang melanggar daerah terlarang di Thian-ti hu, cepat ia berlari ke tempat kediaman Toa kongcu untuk melapor, tapi Toakongcu tidak diketemukan waktu itu ia sudah curiga ke mana perginya Toakongcu?
Ketika ia mengatur anak buahnya agar mengepung jalan masuk hutan di dekat Ban-siu-ki, supaya musuh tak dapat kabur, sejenak kemudian dia berlari kembali lagi ke tempat Toakongcu, tapi sekarang sang Toakongcu ternyata sudah pulang.
Setahunya, asalkan ada orang menyentuh pesawat rahasia di daerah terlarang itu, maka genta yang terpasang di dalam kamarnya akan segera berbunyi sebah itulah dia adalah orang pertama yang mengetahui kejadian itu, Masa Toakongcu bisa mengetahui lebih dulu daripada dirinya?
Sudah dua keturunan majikan Phoa Tiong-hi menjadi congkoan di Thian-ti-hu, namun belum juga mengetahui seluk-beluk urusan keluarga sang majikan, maka ia pun tidak berani memastikan apakah Toakongcu memang sudah tahu lebih dulu pelanggaran daerah terlarang itu, Jika demikian halnya, rasa curiganya tadi menjadi berlebihan.
Karena itulah terpaksa ia menjawab.
"Hamba belum mendapat laporan, biarlah hamba pergi menyelesaikannya."
Habis berkata, tanpa memberi hormat ia terus melangkah pergi seolah-olah tidak memandang sebelah mata terhadap sang Toakongcu.
Menurut catatan Kan Ciau-bu di dalam buku kecil itu, Yu Wi mengetahui bahwa Phoa Tiong hi ini sangat licin dan culas, sekarang terbukti dia memang tidak mengacuhkan Toakongcunya, bahkan dirinya sudah pulang seharian, tapi Phoa Tiong-hi tidak datang memberi hormat.
Pantasnya, sesudah sang majikan muda pulang dari bepergian sekiar lama, sebagai congkoan seharusnya dia menyampaikan salam hormatnya lebih dulu.
Mungkin disebabkan dia sudah menjabat congkoan jauh sebelum Kan Ciau-bu lahir, maka dia tidak begitu mengacuhkan majikan muda itu, Pantaslah Kan Ciau-bn bilang dia licin dan dengki.
Setelah tiada terdengar apa apa lagi di luar, Yo Wi menanggalkan pakaian dan hendak tidur, tiba-tiba pintu kamar diketuk orang pelahan, terdengar suara Phoa Tiong-hi sedang memanggil.
"Buka pintu, Kongcu! Buka pintu!"
Setelah pintu dibuka, Yu Wi berlagak kurang senang dan menegur.
"Ada urusan apa lagi?"
"Hamba ingin memberi lapor bahwa di luar sudah tiada terjadi sesuatu apa."
Kata Phoa Tionghi dengan lagak misterius. Melihat orang bicara dengan menyimpan sesuatu rahasia, Yu Wi menjadi tidak sabar, katanya.
"Sesungguhnya ada urusan apa, lekas katakan!"
"Menurut laporan. katanya pelayan Kongcu si Pi-su menggantung diri di kamarnya,"
Tutur Pho Tiong-hi.
"Hah, apa betul? Dan mati tidak?"
Seru Yu Wi. Diam-diam Phoa Tiong-hi mengangguk-angguk sendiri, pikirnya.
"Kau si gila seks ini, besar kemungkinan kau yang mendesak dia mati gantung diri!"
Namun begitu di mulut dia menjawab dengan sedih.
"Sudah cukup lama dia mati, keadaannya sangat mengenaskan!"
Yu Wi tercengang ia tidak mengerti sebab apakah Pi-su membunuh diri?
Tidak ada alasan baginya untuk gantung diri, tentu ada yang membunuhnya.
tapi siapakah yang membunuhnya?
Melihat sang Kongcu diam saja, Phoa Tiong hi makin yakin kematian Pi-su itu pasti akibat dipaksa oleh majikan muda ini, Tadi dia memang sudah curiga ketika diketahui sang Kongcu tidak berada di kamarnya, sekarang rasa curiga itu menjadi hapus, ia yakin waktu itu tentunya majikan mudanya ini kebetulan pergi ke kamar Pi-su dan memaksa pelayan itu membunuh diri.
Menurut perkiraannya, Pi-su juga tidak ada alasan untuk bunuh diri, semua ini tentu gara-gara perbuatan Toa-kongcu.
Ketika Yu Wi tenang kembali, Phoa Tiong-hi ternyata sudah pergi secara diam-diam, dengan limbung Yu Wi menutup pintu kamar lagi dan tidur dengan penuh tanda tanya.
Esok paginya peristiwa gantung dirinya Pi-su telah tersiar ke seluruh Thian-ti-hu, waktu Junkhim, He-si dan Tong-wa datang meladeni Yu Wi, air muka mereka tampak sedih, lebih-lebih Tong-wa yang berperasaan halus itu, matanya tampak merah habis menangis.
Siangnya tanpa sengaja Yu Wi mendengar percakapan antara Tong-wa dengan He-si, dengan suara lirih Tong-wa berkata.
"Enci He, sebab apakah Kongcu membunuh Enci Pi?"
"Jangan tanya melulu, aku pun tidak tahu."
Jawab He Si dengan kurang senang.
"Sesungguhnya enci Pi dibunuh oleh Kongcu atau bukan?"
Tanya Tong-wa pula.
"Aku tidak tahu,"
Jawab He-si.
"jangan sembarang omong, awas, kau bisa celaka."
Tentu saja diam-diam Yu Wi merasa penasaran karena dirinya yang dituduh membunuh Pi su, ia bertekad akan menemukan si pembunuhnya kalau tidak tentu sukar membersihkan nama baik Inkong, Tapi dengan cara bagaimana supaya bisa menemukan si pembunuhnya?
padahal tiada petunjuk setitik pun, ke mana dia akan menyelidiki, Karena kesal, ia terus melangkah ke depan tanpa arah tujuan, Tanpa terasa ia telah berada di belakang gunung, teringatlah dia kepada Hun-say li atau si gadis penjinak singa, seketika timbul hasratnya untuk bertemu lagi, scakan-akan kalau dapat bertemu dengan si gadis penjinak singa maka kelembutan si nona akan dapat menghapuskan semua rasa kesalnya.
Tanpa menghiraukan kebuasan kawanan singa, ia terus turun lagi ke lembah sana, setiba di tempat kemarin, keadaan sunyi senyap, hanya angin meniup semilir dan menerbitkan suara gemersik.
Memandangi batu besar dari mana si gadis penjinak singa itu melayang turun untuk menyelamatkan jiwanya, adegan kemarin itu seolah-olah terbayang lagi dengan jelas, rasanya si nona seperti berdiri pula di depannya dan sedang bicara padanya dengan suara ramah-tamah.
Tanpa terasa ia berteriak.
"Hun-say-lil ...Hun-say-li!"
Akan tetapi yang terdengar hanya kumandang suaranya yang bergema di lembah sunyi itu.
Rupanya ia menjadi lupa bahwa suara teriakannya itu mungkin akan mengagetkan kawanan singa dan kalau binatang buas itu muncu!, tentu dirinya tidak mampu melawannya.
Baginya hanya ada suatu pikiran yang mendesak, yaitu ingin bertemu pula dengan Hun-say-li atau si gadis penjinak singa.
Meski dia mengulangi lagi teriakannya sampai sekian lama, namun Hun-say-li tetap tidak muncul Anehnya kawanan singa itu pun tidak kelihatan Dengan masgul dan hampa terpaksa ia tne tiinggalkan lembah gunung itu.
Seharian itu Kan Hoay-soan juga tidak datang mengajaknya bermain, Yu Wi pikir mungkin Kan lohujin mendesak si nona supaya belajar Kungfu lebih giat, Maklumlah, tidak lama lagi musuh dari Hek-po akan tiba, Diam-diam mereka sama bersiap-siap untuk perang tanding, lalu dengan kepandaian apa dirinya akan menghadapi musuh dari Hek-po nanti?
Dia tidak berani lagi sembarangan mendatangi daerah terlarang di dekat Ban-siu-ki itu.
waktu iseng digunakannya untuk membaca macam-macam kitab pelajaran Kungfu dari berbagai aliran itu, ia pikir barangkali dari kitab itu akan ditemukan semacam Kungfu yang dapat dipelajari dengan sistem kilat.
Sehari suntuk itu lebih 20
Jilid kitab telah dibacanya, semuanya adalah pelajaran ilmu silat dan golongan terkenal, akan tetapi tidak ada Kungfu yang dapat dipahami dengan cepat, tanpa terasa lima hari sudah lewat Setiap pagi dia pasti pergi ke belakang gunung untuk mencari Hun-say-li, tapi biarpun kerongkongannya sampai pecah, teriakannya tetap percuma, Hun-say-ii tetap tidak muncul, singa juga tidak kelihatan seekor pun.
Pagi hari ke enam, ketika dia pulang dari belakang gunung, dilihatnya Kan Hoay-soan sudah menunggunya di dalam kamar.
"Hari ini kau tidak berlatih Kungfu, Moay moay?"
Demikian Yu Wi mendahului menegur.
"Belum selesai berlatih,"
Jawab Hoay-soan dengan tertawa.
"beberapa hari ini ibu mengajarkan kami dua macam Kungfu baru, untuk mengendurkan saraf, sengaja kulari ke luar untuk cari angin."
"Kungfu baru apakah?"
Tanya Yu Wi.
"Kata ibu sudah lama Toako menguasai Kungfu ini, namanya Thian-lo-ciang,"
Tutur Hoay-soan.
"Oo!"
Yu Wi bersuara singkat sebagai tanda dirinya memang sudah mahir ilmu pukulan Thian lo-ciang. padahal nama Thian-lo-ciang saja baru sekarang untuk pertama kalinya didengarnya.
"Menurut ibu,"
Hoay-soan menyambung pula "beberapa hari lagi musuh dari Hek-po akan datang untuk merampas barang mestika kita, hanyi itulah pukulan baru ini yang rasanya dapat digunakan untuk mengalahkan musuh.
Eh, Toako, apakah benar ilmu pukulan ini dapat diandalkan?"
Mana Yu Wi tahu hal tersebut terpaksa mengiakan dengan samar-samar "Eh, Toako, kenapa kau tambah kurus?"
Tanya Kan Hoay-soan tiba-tiba.
"Masa tambah kurus?!"
Jawab Yu Wi. Hoay-soan menghela napas, katanya.
"Tadi aku pun baru menyambangi bakal isteri Toako, ku bilang dia tambah kurus dan dia juga tidak percaya."
Diam-diam Yu Wi merasa heran tentang bakal isteri Kan Ciau-bu itu, dirinya tidak menjenguknya, dia juga tidak ambil pusing, apakah antara dia dan Kan Ciau-bu sama sekali tidak ada ikutan batin?
Selagi Yu Wi termenung, tiba-tiba Hoay-soan berkata pula kepadanya.
"Toako, maukah kaupergi menjenguk dia?"
Yu Wi diam saja. Melihat sang Toako tidak lagi bersungut seperti dahulu bilamana menyinggung urusan bakal isterinya itu, ia tambah berani, segera tangan Yu Wi ditariknya, ucapnya dengan manja.
"Marilah pergi menjenguk dia."
Karena Hoay-soan telah menyeretnya, Yu Wi tidak enak untuk menolak, Lagipu!a jika dirinya mewakili Inkong menjenguk bakal isterinya, bisa jadi akan menambah hubungan baik mereka.
Karena itulah ia lantas ikut melangkah ke sana.
Kuatir sang Toako akan kabur di tengah jalan, Hoay-soan terus menarik tangan Yu Wi hingga sampai di kamar Lau Yok-ci.
Belum lagi masuk ke kamar si nona Yu Wi lantas mengendus bau harum kamar perawan yang harum semerbak, Diam-diam ia rada kebat-kebit, ia pikir pertemuanku yang Kan Ciau-bu gadungan ini dengan bakal isterinya janganlah sampai merenggangkan hubungan baik mereka, bahkan kalau sampai penyamaranku ini diketahui tentu segala urusan bisa runyam.
Setiba di depan kamar segera Hoay-soan berteriak.
"Lau-cici! Lau-cici!"
"Siapa itu?"
Terdengar suara anak perempuan menjawab di dalam kamar Yu Wi terkejut karena merasa suara itu sudah dikenalnya.
"Keluarlah, Lau-cici!"
Seru Hoay-soan dengan mengikik-tawa.
"lni, ada orang ingin bertemu dengan kau."
Dan ketika didengarnya langkah orang di dalam kamar sudah sampai di ambang pintu, mendadak ia mendorong Yu Wi sekuatnya ke dalam kamar sambil tertawa ia terus lari pergi secepat terbang.
Karena didorong ke dalam kamar, hampir saja Yu Wi bertubrukan dengan orang yang berada di dalam, waktu ia menengadah, di depannya telah berdiri seorang nona cantik berbaju hitam, wajahnya terasa sudah dikenalnya.
"He, Hun-say-li!"
Seru Yu Wi tanpa terasa.
Sama sekali ia tidak menduga bahwa bakal isteri Kan Ciau bu yang bernama Lau Yok ci itu tak lain tak bukan adalah Hun-say-li atau si gadis penjinak singa yang sangat ingin ditemuinya itu.
perubahan mendadak dan tak tersangka ini seketika membuatnya melenggong kesima.
Nona baju hitam yang cantik alias si gadis penjinak singa itu memang betul Lau Yok-ci adanya.
Selama beberapa hari ini wajahnya memang kelihatan agak kurus sedikit namun jadi semakin menambah keluwesan dan kecantikannya "Baik-baikkah Kongcu?"
Demikian Lau Yok-a menyapa dengan tenang.
Yu Wi menyadi kikuk karena si nona menyebutnya "Kongcu".
Padahal waktu bertemu pertama kalinya si nona pun sudah tahu dirinya adalah Kan Ciau bu gadungan, mungkin waktu itu Lau Yokci tidak mau membikin rikuh padanya, maka tidak langsung membongkar kepalsuannya.
Dalam hati Yu Wi sangat berterima kasih atas kehalusan budi si nona, dengan gelagapan ia menjawab.
"O, terima....terima kasih!"
Agaknya Lau Yok~ci dapat menangkap arti yang terkandung dalam ucapan terima kasih itu dengan tersenyum ia berkata.
"Ah, terima kasih apa?"
Yu Wi merasa tidak tenteram, katanya pula.
"Urusan ini sungguh aku pun merasa tidak pantas!"
Mestinya ia ingin menjelaskan dirinya tidak pantas menyamar sebagai Kan Ciau-bu untut menemuinya. Tak terduga, mendadak Lau Yok-ci menghela napas hampa sambil memotong ucapannya.
"Apa kah Kan kongcu baik-baik saja?"
"Ya, Inkong sehat-sehat saja tanpa kurang sesuatu apa pun,"
Jawab Yu Wi. Liu Yok-ci memandang Yu Wi dengan terbelalak, katanya.
""Apakah dia pernah berbuat sesuatu bagimu?"
"Ya, Inkong pernah menyelamatkan jiwa orang she Yu,"
Jawab Yu Wi dengan menunduk. ia tidak berani memandang si nona.
"Sebab itulah dia minta kau ke sini?"
Tanya Lau Yok-ci.
"lnkong hanya menyuruh orang she Yu ini melakukan sesuatu pekerjaan baginya,"
Tutur Yu wi.
"yakni datang ke sini dengan menyamar sebagai beliau, makanya aku pun berani datang kemari."
"Apakah kautahu untuk apa dia menyuruh kau menyaru sebagai dia?"
Tanya Lau Yok-ci pula dengan hampa.
"Ya, aku memang tidak paham sebenarnya apa maksud tujuan Inkong?"
"Kutahu maksud tujuannya memang panjang dan mendalam,"
Kata Lau Yok-ci dengan gegetun.
"Apa tujuannya?"
Tanpa terasa Yu Wi bertanya.
Setelah ucapannya tercetus dari mulut barulah ia merasa pertanyaannya itu kurang pantas, tidak seharusnya ia mencari tahu maksud tujuan sang tuan penolong.
Tapi urusan ini sekarang telah menggoda pikirannya, kalau tidak bertanya dengan jelas rasanya hati tak bisa tenteram.
"Apakah kau tidak diberitahu olehnya?"
Yu Wi menggeleng.
"Tidak seharusnya dia tidak memberitahukan padamu!"
Kata Lau Yuk-ci pula.
"Inkong tak dapat disalahkan,"
"Ujar Yu wi.
"Sebab aku sendiri tidak bertanya, umpama kutanya dia, mungkin akan dijelaskan oleh Inkong, adaikan tidak dijelaskan juga aku tidak memusingkannya"
"Tapi kalau tindakannya ini tidak menguntungkan dirimu?"
"Jiwaku ini adalah pemberian Inkong, apapun maksud tujuannya akan kulaksanakan tanpa pikir,"
Jawab Yu Wi tegas dan ikhlas.
"Hatimu yang baik ini biarlah kuucapkan terima kasih baginya,"
Kata Lau Yok-ci.
Mengingat si nona adalah bakal isteri tuan penolongnya, Yu Wi pikir orang memang berhak mewakili sang Inkong untuk mengucapkan terima kasih padanya, padahal dirinya hidup sengsara dan sebatangkara, apanya yang perlu terima kasih.
Berpikir sampai di sini, hatinya menjadi rada pedih.
Setelah termangu-mangu sejenak, akhirnya Yu Wi memberi hormat dan mohon diri.
"Hendaklah kau berhati-hati sedikit,"
Pesan Lau Yok-ci.
"Entah dalam hal apa aku harus berhati-hati"
Ujar Yu Wi dengan menyengir.
"Untuk ini biarlah kuceritakan padamu saja."
Kata si nona. Diam-diam Yu wi sangat terima kasih dan terharu. Didengarnya si nona lagi berkata.
"Agaknya kau tidak tahu bahwa Kan-lohujin bukanlah ibu kandung Kan Ciau-bu. Waktu paman Kan masih hidup pernah mempunyai seorang isteri pertama, beliau itulah ibu kandung Ciau-bu. Ketika Ciau-bu dilahirkan, ibunya lantas wafat. Kemudian paman Kan menikah lagi dengan Kan-lohujin sekarang ini dan melahirkan Ciau-ge dan Hoay-soan berdua. Sejak kecil Ciau-bu tidak cocok dengan Kan-lohujin, watak Ciau-bu sangat kaku dan dingin sehingga tidak disukai oleh Kan-lohujin..."
Teringat kepada sifat sang Inkong yang dingin itu, Yu Wi pikir cerita Lau Yok-ci memang betul.
"Dan ketika paman Kan meninggal dunia,"
Demikian Lau Yok-ci melanjutkan ceritanya.
"meski lahirnya antara Kan-lohujin dan Ciau-bu tidak ada persoalan apa-apa, padahal diam diam mereka bertengkar dan perang dingin, betapa bencinya Kan-lohujin, kalau bisa beliau ingin membinasakan Ciau-bu..."
"Hah, masakah di dunia ini ada ibu tiri sekejam ini?"
Seru Yu Wi terkejut.
"Mungkin kau tidak percaya,"
Ucap Yok-ci dengan gegetun.
"justeru lantaran takut dibinasakan oleh ibu tirinya, maka Ciau-bu lebih suka bertualang di luar, sudah setengah tahun dia pergi dari sini, ah, sampai akhirnya dia mendapatkan seorang duplikatnya...."
"Masa tujuan Inkong hendak menjadikan diriku sebagai tumbal?"
"Kukira memang begitulah maksudnya,"
Jawab Lau Yok-ci.
"Kalau tidak, asalkan Kan-lohujin mengetahui dia belum mati, tentu setiap gerak-geriknya akan diawasi dan baru akau berakhir sampai dia mati."
"Jika demikian, hanya ada kematian bagiku untuk bisa membalas budi kebaikan Inkong?"
Kata Yu Wi.
Sorot mata Lau Yok-ci memancarkan cahaya haru dan simpatik, ditatapnya anak muda itu lekat-lekat.
Watak Yu Wi lugu dan polos, ia tidak suka dipandang dengan sorot mata begitu, dengan suara keras ia lantas berkata.
"Sungguh aku tidak percaya Kan-lohujin berniat mencelakai Inkong, Pula, kalaupun ada maksud begitu, dengan kemahiran Inkong masakah beliau takut akan dicelakai oleh orang perempuan tua?"
"Untuk apa kubohongi kau?"
Ucap Yok-ci dengan menghela napas.
"Memang sangat majemuk sebab-musabab Kan-lohujin hendak mematikan Ciau-bu, Mengenai diri Kau-lohujin, pada saat ini kungfu siapa yang dapat melebihi dia?"
"Hah, Inkong juga bukan tandingannya?"
Yu Wi menegas dengan terkejut.
"Jauh sekali selisihnya."
Ujar Yok-ci sambil menggeleng.
"Jika demikian, bagaimana kalau dibandingkan nona sendiri?"
Tanya Yu Wi pula.
Yok-ci hanya menggeleng pelahan dan tidak menjawabnya.
Semula Yu Wi mengira kungfu si nona tentu di atas Kan Ciau-bu, siapa tahu Lau Yok-ci juga mengaku bukan tandingan Kan-lohujin, apalagi dirinya, tentu saja lebih-lebih tidak masuk hitungan.
Dia menghela napas menyesal sendiri, ucapnya kemudian dengan pelahan.
"Jika begitu, agaknya orang she Yu terpaksa harus pasrah nasib saja.
"Bagaimana kematianku dapat menggantikan keselamatan bagi Inkong, apapula yang kuharapkan?"
Habis berkata ia terus putar tubuh dan hendak melangkah pergi. Tiba-tiba Lau Yok-ci berkata dengan pelahan.
"selanjutnya jika ada keperluan apa-apa boleh kau datang ke sini saja dan tidak perlu lagi mencariku ke belakang gunung sana..."
Baru sekarang Yu Wi menyadari duduknya perkara, pantas sia-sia saja dia berteriak teriak memanggil "Hun-say-li"
Di belakang gunung sana, selain si nona tidak kelihatan, tiada seekor singa pun yang muncul, agaknya kawanan binatang buas itu telah dihalau lebih dulu oleh si nona, Kebaikannya yang tidak menonjol ini sungguh sukar untuk diterima, tanpa terasa ia membalik badan lagi dan mengucapkan terima kasih.
"Selama hidup takkan kulupakan kebaikan nona..."
Dilihatnya Lau Yok-ci menunduk malu-malu, mungkin si nona lagi membayangkan Yu Wi berteriak-teriak memanggilnya di belakang gunung sana sekarang kejadian itu disinggung, tentu saja hatinya terharu.
Yu Wi jadi tertegun sendiri melihat sikap si nona yang menggiurkan itu, seketika ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya untuk memaparkar isi hatinya.
Akhirnya Yok-ci yang buka suara pula.
"Konon tidak lama lagi Thian-ti-hu akan disatroni suatu komplotan orang Kangouw, hendaklah kau dapat menghadapinya dengan baik-baik..."
Yu Wi terkesiap, pikirnya.
"Terima kasih selama hidup apa, sedangkan beberapa hari lagi mungkin rahasiaku akan terbongkar bila berhadapan dengan orang Hek-po, mungkin pula jiwa akan melayang, untuk apa omong kosong yang tiada guna nya?"
Karena itu, dengan menahan rasa pilu ia tidak bicara lebih lanjut, ia membalik tubuh dan melangkah pergi.
Yok-ci menyaksikan menghilangnya bayangan anak muda itu dengan perasaan hampa dan rawan, entah simpati kepada Yu Wi atau kasihan kepada kesepiannya sendiri.
Setiba kembali di kamarnya, Yu Wi pikir sejenak, akhirnya ia ambil keputusan tegas, ia bebenah seperlunya dan membawa peta daerah terlarang Thian ti-hu itu, ia hendak menyusup ke sana pada siang hari.
ia bertekad mati harus berharga, Jika beberapa hari lagi pihak Hek-po jadi datang, rahasia dirinya akan terbongkar dan jiwa mungkin juga melayang, hal ini berarti tidak sempat membalas budi pertolongan sang Inkong, sebaliknya malah tidak menguntungkan nama baiknya, jadi andaikan harus mati, sedikitnya keselamatan Inkong tidak lagi terancam, dengan demikian barulah dapat dikatakan dia telah membalas budi pertolongannya.
Untuk itu, jalan satu-satunya hanya menuju kedaerah terlarang itu dengan menyerempet bahaya, bila berhasil menemukan ilmu silat yang dapat dipelajarinya secara sistem kilat, maka dapatlah digunakan menghadapi pihak Hek-po yang akan datang dalam waktu tidak lama lagi dan dengan demikian kepalsuannya sebagai Kan Ciau-bu gadungan juga tidak sampai terbongkar.
Begitulah Yu Wi terus menuju ke Ban-siu-ki dengan menghindari kawanan hamba Thian-ti hu, untung tidak kepergok siapa pun.
Akhirnya ia menyusun masuk ke dalam hutan itu, sesuai petunjuk dalam peta itu, dengan cepat ia dapat mencapai tempat tempo hari, di mana dia hampir terjebak itu.
Kini dia menghadapi segala sesuatu dengan pikiran tenang, apalagi siang hari, setelah berpikir sejenak segera ia menemukan kesalahannya tempo hari, yaitu salah hitung jumlah langkah.
Perangkap yang sudah bekerja tempo hari itu belum lagi diperbaiki, tapi masih ada 17 perangkap lagi, dengan hati-hati ia dapat melaluinya dengan selamat.
Setelah jalanan panjang dalam hutan itu dia lintasi, di depan muncul pula jalan simpang lima, ia tahu hanya jalan ke empatlah jalan hidup, melalui jalan hidup inilah akan sampailah di tempat terlarang yang misterius itu.
Ketika jalan itu sudah dilintasi, yang pertama-tama terlihat olehnya adalah sebuah bangunan makam yang sangat megah, Makam itu berbentuk melengkung bundar, tingginya lima-enam meter, lebarnya antara 30 meter dan panjangnya 50-60 meter, sekelilingnya dilingkari dengan hutan buatan.
Untuk masuk ke sini, kecuali dapat terbang melalui udara, kalau tidak harus melalui hutan yang menyesatkan dan penuh dengan alat perangkap itu.
Dengan waswas Yu Wi mendekati makam raksasa itu, sebab dalam peta tidak ada keterangan mengenai keadaan di sekeliling makam, ia kuatir kalau di situ juga ada perangkap yang berbahaya.
Tak terduga, sampai di depan makam ternyata tiada terjadi apa pun.
Dilihatnya makam itu dibuat dari batu pualam putih, begitu rajin sehingga hampir tidak kelihatan garis sambungan dan batu pualam itu.
Di tengah-tengah makam itu ada sebuah batu marmer hitam berukuran kurang lebih lima kau tiga meter.
Inilah batu nisan, di situ terukir delapan huruf besar yang berbunyi "Makam keturunan sedarah tunggal keluarga Kan".
Yu Wi tidak mengerti istilah "sedarah tunggal yang dimaksudkan itu apakah keluarga Kan hanya menurunkan seorang putera tunggal melulu?
Jika terlahir dua bersaudara, mungkin hanya seorang saja yang berhak dimakamkan di sini.
Pada kedua sisi nisan besar itu terdapat pula tiga nisan yang lebih kecil pada nisan sebelah kanan terukir tulisan yang berbunyi.
"Makam generasi pertama keluarga Kan bernama Yok-koan". Di samping huruf besar ini terukir pula huruf lain yang lebih kecil dan berbunyi.
"Dimakamkan bersama isteri, Lau Pi-hoa". Nisan kedua pada sebelah kanan berbunyi "Makam generasi ketiga keluarga Kan bernama Jinki"
Dan di samping terukir "Dimakamkan bersama isteri Lau Heng-cui". Nisan di sisi kiri terukir "Makam generasi ke dua keluarga Kan bernama Yan-cin"
Dan di sampingnya terukir "Dimakamkan bersama isteri, Lau Hui-giok"
Nisan kedua di sisi kanan dan bernama Kan Jun-ki itu tentulah ayah Kan Ciau-bu, dan kedua nisan yang lain tidak perlu dijelaskan lagi pasti makam kakek dan moyangnya.
Yang mengherankan Yu Wi adalah sebab apa isteri kakek-moyang Kan Ciau-bu tiga generasi itu berturut-turut sama-sama berasal dari keluarga Lau?
Dan yang lebih aneh lagi adalah bakal isteri Kau Ciau-bu juga she Lau.
jika Lau Heng-cui adalah isteri Kan Jun-ki, tentu perempuan inilah ibu kandung Kan Ciau-bu.
Dan entah Kan-lohujin yang sekarang ini she apa, jika dia juga she Lau, maka semua ini sungguh sangat kebetulan dan aneh sekali.
Yu Wi memandang sekitar makam itu, di tengah hutan ini, kecuali pemakaman ini ternyata tiada barang lain, mana ada tempat penyimpanan kitab pusaka ilmu silat segala?
Diam-diam ia merasa kedatangannya ini sia-sia belaka, kecuali menemukan makam leluhur sang Inkong ternyata tiada sesuatu lagi yang dilihatnya.
Selagi merasa kccewa, tiba-tiba terdengar seorang menegurnya.
"Untuk apa kau datang ke sini?"
Yu Wi terkejut, cepat ia berpaling, Entah sejak kapan di depan makam itu sudah datang seorang tua renta, mukanya penuh keriput, usianya jelas sudah sangat tua, namuu kulit badannya masih sangat putih bersih, terutama dagunya tidak berjenggot "Siapa kau?"
Tanya Yu Wi dengan gugup.
"Kau lupa padaku tapi aku masih kenal kau!"
Ujar kakek itu dengan tertawa.
"Kau kenal padaku?"
Yu Wi menegas dengan sangsi.
"Tiga tahun yang lalu kau menjelundup ke sini, kalau tidak kuberi petunjuk secara diam-diam, memangnya dapat kau temukan kitab pusaka itu?"
Kata si kakek.
Segera Yu Wi tahu orang telah salah mengenalnya, tentu dirinya disangka sebagai Kan Ciau bu.
Bahwa tiga tahun yang lalu Inkong pernah menyelundup ke sini dan dipergoki kakek ini, lalu kawan atau lawankah?
Mengapa dia tinggal di tempat aneh ini?
"Setelah mendapatkan kitab pusaka, untuk apa lagi kau datang ke sini?"
Tanya pula si kakek. Melihat usia orang entah berapa kali lipat daripada umurnya sendiri, dengan hormat Yu Wi lantas menjawab.
"Tujuan kedatangan Wanpwe adalah untuk mencari semacam Kungfu yang sekiranya dapat dipahami dengan sistem kilat."
"Di dalam makam penuh kitab pusaka pelajaran Kungfu maha sakti, kenapa tidak kau cari ke situ?"
Ujar si kakek.
Yu Wi menjadi girang, sungguh tak terduga olehnya bahwa kitab pusaka ilmu silat bisa disembunyikan di dalam kuburan.
Tapi demi mengingat kuburan ini tertutup rapat, cara bagaimana dapat dimasukinya, memangnya mesti menggali kuburan?
Karena itulah ia lantas menggeleng, katanya.
"Wah, tidak mungkin, Kitab pusaka itu adalah barang pemakaman keluarga Kan. mana boleh ku ambil!"
"Oo, kau tidak she Kan?"
Tanya si kakek dengan sangsi.
"Wanpwe bernama Yu Wi,"
Tanpa terasa anak muda itu memberitahukan nama aslinya. Mendadak kakek itu menjadi gusar, damperatnya.
"Jika kau bukan anggota keluarga Kan, mana boleh sembarangan masuk ke sini? Ayo lekas pergi, lekas!"
Yu Wi tahu memang tidak pantas dia masuk ke tempat terlarang ini, karena tidak ditemukan sesuatu, terpaksa ia membalik tubuh dan hendak melangkah pergi. Tiba-tiba si kakek berseru pula padanya.
"Hei, jika kau bukan puteranya Kan Jun-ki, hendaklah kau tinggalkan kitab pusaka yang kau ambil dahulu itu."
Yu Wi membalik tubuh dan menjawab.
"Wanpwe tidak pernah mengambil kitab pusaka keluarga Kan itu."
Si kakek menjadi murka, sekonyong-konyong ia melayang maju ke depan Yu Wi.
"plak-plok", ia gampar muka anak muda itu dua kali. Keras juga tamparan itu, Yu Wi meraba ke dua pipinya yang panas itu, darah merembes keluar dari ujung mulutnya. Rasa gusar si kakek belum lagi reda, dengan gemas ia berkata pula.
"Kau bocah ini berani berdusta di depanku, Sudah jelas tiga tahun yang lalu kau bawa pergi kitab pusaka itu, sekarang kau berlagak jujur dan mungkir."
"Tapi Wanpwe memang tidak pernah mengarnbil kitab pusaka yang kau maksudkan,"
Dengan bandel Yu Wi menjawab meski di dalam hati dia tahu yang dimaksudkan si kakek ialah Kan Ciaubu. Melihat sikap Yu Wi yang tegas dan berani itu, si kakek menjadi curiga, pikirnya.
"janganjangan dia bukan orang yaug datang ke sini tiga tahun yang lalu itu?"
Tapi masakah dirinya pangling, jelas anak muda ini serupa dengan orang yang datang dahulu itu bukan mustahil anak muda ini hendak mengelabuhi dirinya karena mengira matanya sudah rabun.
Dalam pada itu Yu Wi hendak melangkal pergi pula, tapi kakek itu lantas membentak lagi.
"Berhenti!-Berbareng ia melompat maju dan sebelah kakinya terus menggaet. Kungfu Yu Wi tidak tinggi, ia pun tidak menyangka watak si kakek sedemikian keras, baru saja dia membalik tubuh, tahu-tahu kaki si kakek telah menggaetnya, keruan ia tidak sanggup berdiri tegak lagi, tubuhnya lantas mendoyong ke belakang kontan ia jatuh terjengkang. Baru saja Yu Wi hendak marah, mendadak si kakek berseru.
"He, bagaimana dengan kitab pusaka itu? Masa tidak kau latih?"
Dengan mendongkol Yu Wi menjawab.
"Sekali aku Yu Wi bilang tidak mengambil kitab itu, selamanya tetap tidak ambil, Biarpun kau pukul mati diriku juga tetap aku tidak rnengaku!"
Sekarang si kakek jadi percaya malah, ucap nya dengan tertawa.
"Baiklah, lekas bangun, tampaknya aku yang salah menuduh kau!"
Dengan apa boleh buat Yu Wi berbangkit, sebagai pemuda yang luhur budi ia tidak suka memarahi seorang tua. Tapi si kakek ternyata cukup tahu aturan, dengan tertawa ia lantas minta maaf.
"Ah, tidak apa-apa,"
Ucap Yu Wi tak acuh, lalu ia hendak melangkah pergi lagi, tapi mendadak si kakek membentak pula.
"Kembali dulu!"
Dengan bingung Yu Wi membalik tubuh, tanyanya dengan kurang senang.
"Ada apa lagi?"
"Cara bagaimana kau masuk ke sini?"
Tanya si kakek dengan marah. Yu Wi menahan rasa dongkolnya dan menjawab.
"Numpang tanya, Losianseng (tuan tua) sendiri mengapa dapat masuk ke sini?"
"Sejak berpuluh tahun yang lalu sudah kukenal keadaan hutan ini, dengan sendirinya aku dapat masuk ke sini,"
Jawab si kakek.
"Belum lama ini aku pun kenal keadaan hutan ini, makanya aku pun dapat masuk ke sini."
Tukas Yu Wi. Mendengar anak muda itu menirukan nada ucapannya, si kakek menjadi tak bisa mengumbar marah lagi, katanya kemudian dengan pelahan.
"Meski kau dapat masuk ke sini, tapi tempat ini adalah wilayah keluarga Kan sendiri, mana boleh sembarangan kau datangi?"
Yu Wi tidak dapat meraba apa kehendak si kakek, sebentar marah sebentar ramah, sekarang tanpa alasan mencari perkara lagi padanya, tampaknya dia juga bukan anggata keluarga Kan.
Dia ia lantas bertanya.
"Losianseng sendiri apakah she Kan?"
Meski berperangai aneh, tapi watak si kakek cukup jujur, tanpa menimbang apa maksud pertanyaan Yu Wi itu, segera ia menggeleng dan menjawab.
"Aku tidak she Kan, tapi she Ji."
"O, kiranya Ji losianseng,"
Ucap Yu Wi.
"Jika Losianseng tidak she Kan, kenapa sembarangan datang ke wilayah pribadi keluarga Kan ini?"
Si kakek jadi melenggong, ia pikir pertanyaan memang tepat.
Kalau dirinya boleh datang ke ini, dengan sendirinya orang lain juga boleh.
Di lihatnya Yu Wi sudah akan masuk kembali ke hutan sana, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, cepat berseru pula.
"He, aku ini sahabat karib Kan Jok-koan, makanya boleh datang ke sini, Tapi sia pula kau?"
Terkejut juga Yu Wi, sungguh tak terpikir tehnya bahwa kakek ini adalah sahabat moyang Kan Ciau-bu, betapa tinggi tingkatannya, jelas jarang ada bandingannya di dunia persilatan jaman ini.
Betapapun Yu Wi seorang yang sangat menghormati orang tua, pelahan ia putar balik dari tepi hutan sana, lalu menjawab dengan hormat.
"Wanpwe adalah sahabat Kan-toakongcu Ciau-bu, generasi keempat keluarga Kan."
"Oo, apakah Kan Ciau-bu itu putera tunggal yang dilahirkan Giok-ciang-kim-tiap (telapak tangan putih kupu-kupu emas) Lau Heng-cui?"
Tanya si kakek.
"Ya, Inkong memang betul putera mendiang isteri pertama tuan Kan Jun-ki,"
Kata Yu Wi. Tiba-tiba si kakek menghela napas, ucapnva.
"Teringat olehku ketika Thian-ti-hu menyiarkan berita ke seluruh dunia tentang kelahiran anaknya, jauh-jauh kudatang ke sini untuk mengucapkan selamat, tak tersangka jadinya bukan mengucapkan selamat, tapi malah mengucapkan belasungkawa, ilmu silat Giok-ciang-kim-tiap Lau Heng-cui sudah tergolong kelas top di kalangan angkatan muda masa itu, tak terduga telah meninggal dunia pada waktu melahirkan, sungguh sayang."
Yu Wi tahu apa yaug dikatakan si kakek adalah peristiwa pada 20 tahun yang lalu.
Didengarnya si kakek lagi bergumam pula "Aku adalah sahabat keluarga Kan, kau juga sahabat keluarga Kan, kalau aku boleh datang ke sini, tentu kau pun boleh.
Kalau tidak kan tidak adil namanya."
Setelah tahu kebenaran ini, dengan suara keras ia lantas berseru.
"Betul, betul! Takkan kusalahkan kau lagi, kau pun boleh masuk ke sini."
Dari mendongkol Yu Wi menjadi geli melihai kepolosan dan keanehan sifat si kakek yang sangai tinggi kedudukannya ini, Maka ia pun tidak menyinggung soal penganiaya tadi, dengan tertawa ia menjawab.
"Dan sekarang Wanpwe boleh pergi bukan?"
Berulang si kakek mengiakan.
"Boleh, tentu boleh..."
Tapi begitu Yu Wi membalik tubuh, kembali ia berteriak lagi.
"Eh, nanti dulu!"
Diam-diam Yu Wi menghela napas, ia pikir sungguh sialan bertemu dengan seorang tua pikun begini, entah apa lagi kehendaknya sekarang? Didengarnya si kakek bertanya dengan serius.
"lnkong yang kau maksudkan apakah berwajah tempa dengan kau?"
"Ya, Wanpwe dan Kan-toakongcu memang sangat mirip,"
Jawab Yu Wi.
"Ke manakah dia sekarang?"
Tanya si kakek.
"Cara bagaimana pula kau dapat masuk ke daerah terlarang ini?"
Yu Wi tidak berani berdusta, segera ia menceritakan semua pengalamannya akhir-akhir ini, yaitu dimulai waktu tertimpa bencana dan di selamatkan oleh Kan Ciau-bu, satu persatu diceritakannya dengan jelas.
Si kakek manggut-manggut, ucapnya kemudian.
"Kiranya terdapat liku-liku begini, sungguh aku pun tidak menyangkanya."
Setelah berpikir sejenak, lalu ia berkata pulai.
"Nona Lau kecil itu telah menceritakan maksud tujuan Kan Ciau-bu menyuruh kau menyamar sebagai dirinya, tapi tidak menceritakan rencana ibu tirinya yang hendak membinasakan Kan Ciau-bi itu. Padahal, rencananya itu sungguh amat keji."
Si kakek menyebut ibu kandung Kan Ciau-bu sebagai nona Lau, maka tanpa terasa Lau Yok disebutnya sebagai nona Lau kecil, padahal sekarang usia Lau Yok-ci sudah 18 tahun, bahkan lebih tua satu tahun daripada Yu Wi, manabisa disebu sebagai nona kecil lagi.
""Rencana keji apakah itu?"
Tanya Yu Wi.
"Sudah 20 tahun tidak pernah kukunjungi Thian-ti-hu secara resmi, maka aku cuma tahu Kan Jun-ki menikah lagi dengan isteri kedua, yaitu adik perempuan sepupu isterinya yang pertama..."
"He, jadi Kan-lohujin sekarang juga she Lau."
Seru Yu Wi terkejut.
"Kenapa mesti heran?"
Ujar si kakek.
"Setiap putera sedarah keluarga Kan harus mengambil isteri dari keluarga Lau."
"Menjnpa harus begitu?"
Tanya Yu Wi.
Tanpa terasa si kakek meraba dagunya, mungkin secara di bawah sadar dia hendak mengelus jenggotnya, tapi sayang dagunya licin dan kelimis tiada seutas jenggot pun.
sambil menghela napas lalu ia berkata.
"Cerita ini sangat panjang dan harus kembali kepada masa hidup sahabat karibku Yok-koan. Sebelum menjabat Perdara menteri, Diam-diam Yok-heng malang melintang di dunia kangouw, dia mempunyai dua orang saudara angkat yang bersumpah sehidup-semati. Kakak pertama ialah Lau Tiong-cu, Yok-heng nomor dua, yang ketiga adalah aku si tua bangka Ji Pek-liong ini.
"Hubunganku dengan Yok-heng tidak seerat hubungannya dengan Lau-toako, Sesudah kami mengikat persaudaraan kemudian Yok-heng menikahi adik perempuan Lotoa (si tua), dengan sendirinya hubungan mereka bertambah erat. Menyusul kemudian Lotoa juga menikah, hanya tinggal diriku saja. Ai..."
Biicara soal menikah, si kakek, Ji Pek-liong, kelihatan berduka.
Dalam hati Yu Wi ingin bertanya sebab apakah si kakek tidak menikah.
Tapi demi melihat kesedihan orang, ia tidak berani mengajukan pertanyaan tersebut.
Setelah berduka sendiri sejenak, si kakek berkata pu!a.
"Sungguh kebetulan juga, berbareng isteri Lotoa dan Loji (si kedua) telah hamil bersama. Suatu hari, sehabis kami bertiga makan minum, saking gembiranya Lotoa dan Loji telah saling berjanji untuk besanan dengan menunjuk isi perut isterinya masing-masing.
"Hal ini sebenarnya patut dirayakan karena hubungan kedua pihak akan bertambah akrab. Ketika tiba saatnya melahirkan, lebih dulu Jiso (kakak ipar kedua) melahirkan seorang anak lakilaki, jika Toako juga melahirkan anak laki-laki, maka perjodohan itu dengan sendirinya akan batal, siapa tahu Toaso justeru melahirkan anak perempuan, sayangnya pada waktu melahirkan, karena pendarahan ibu dan anak berdua telah meninggal bersama"
Bertutur sampai di sini, si kakek merandek sejenak, agaknya mengenangkan kejadian di masa lalu sehingga terkesima.
"Kemuiiian bagaimana?"
Tanya Yu Wi. Si kakek menghela napas, tuturnya pula dengan sedih.
"Lantaran kematian anak dan isteri, toako sangat sedih dan hampir saja ikut membunuh diri, Bila teringat kepada ikatan perjodohan sebelum istrinya melahirkan, ia lantas menangis sedih pula, Yok-heng juga sangat prihatin dan simpati terhadap nasib Lotoa yang malang itu, suatu hari dia menghibur Lotoa, katanya bila kelak anaknya dewasa pasti akan mengambil anak perempuan she Lau sebagai isteri, Bahkan seterusnya setiap keturunan keluarga Kan pasti ada seorang anaknya yang menikahi gadis she Lau sebagai tanda peringatan.
"Setelah putera tunggal Yok-heng dewasa, yaitu Kan Yan-cin, dia benar-benar patuh kepada kehendak sang ayah dan telah menikahi anak perempuan saudara sepupu Lotoa yang bernama Lau Hui-giok."
Sampai di sini, si kakek terbatuk-batuk, lalu sambungnya.
"Dengan demikian, selanjutnya asalkan keturunan langsung keluarga Kan diharuskan menikahi gadis she Lau, hal ini telah menjadi peraturan Keluarga Kan di Thian-ti-hu, anak cucunya tidak ada yang berani membangkang."
"Apa artinya keturunan sedarah langsung keluarga Kan itu?"
Tanya Yu Wi.
"Karena istilah inilah mengakibatkan Kan-hujin sekarang ini sampai hati merencanakan pembunuhan terhadap anak kandung kakak sepupunya,"
Tutur si kakek sambil menggeleng. Yu Wi masih tidak percaya, tanyanya pjla.
"Masakah Kan-lohujin benar-benar bermaksud membunuh Inkong?"
"Kenapa tidak benar jika demi kepentingan putera kandungnya sendiri?"
Tutur si kakek dengan gegetun.
"Perlu diketahui bahwa masih ada suatu peraturan keras dalam perguruan Yok-heng yakni "kepandaian hanya diajarkan satu orang dan tidak boleh didengar orang kedua", Sebab itulah ahliwaris Yok-heng hanyalah putera tunggalnya, yaitu Kan Yan-cin, dari Kan Yan-cin hanya diturunkan kepada Kan Jun-ki, padahal Yan-cin seluruhnya mempunyai tiga orang anak lelaki, tapi Jun-ki adalah putera sulung, baik ilmu silat maupun harta benda Thian-ti-hu, seluruhnya diwariskan kepadanya.
"Peraturan keluarga itu sejak dahulu tidak pernah menimbulkan persoalan, tapi sekarang Ciaubu mempunyai saudara yang berlainan ibu, jadi ibu tirinya tidak mau mematuhi peraturan keluarga itu, dan hal ini diketahui juga oleh Ciau-bu, maka..."
Baru sekarang Yu Wi tahu duduknya perkara, tanpa terasa ia bergumam sendiri.
"Kiranya Kan lohujin berniat mengangkat anak kandung sendiri sebagai ahli waris keluarga Kan, makanya timbul maksud jahatnya hendak membunuh Inkong. Ai, sungguh keji hatinya."
"Bisa jadi Jun-ki tidak tahu kekejian hati isteri mudanya, ia percaya sebagai adik sepupn Lau Hui-giok tentu juga akan sayang kepada anak tirinya sendiri, maka sama sekali dia tidak menaruh prasangka apa-apa, besar kemungkinan sebagian harta kekayaan keluarga Kan sekarang, masih berada dalajn genggamannya, karena tidak mau dilepaskannya, maka timbul maksud jahatnya..."
"Locianpwe tinggal di Thian-ti-hu, mengapa tidak tampil untuk ikut campur urusan rumah tangga saudara angkatmu ini agar rencana keji Kan-lohujin tidak terkabul,"
Ujar Yu Wi.
Selama 20 tahun aku tidak masuk ke Thian Ti-hu, darimana kutahu keadaan Thian-ti-hu sekarang.
sampai-sampai majikan Thian-ti-hu yang sebenarnya juga tidak berani pulang ke rumah sendiri.
Yang jelas bagiku adalah tahun yang lalu layon Jun-ki dimakamkan di sini dan didirikan nisannya, waktu itu mestinya ingin kutanyai keadaan Thian-ti-hu akhir-akhir ini, tapi lantas terpikir olehku untuk apa bertanya, orang hidup akhirnya toh mesti mati."
"Saat ini juga Locianpwe tinggal di lingkungan Thian-ti-hu, mengapa engkau bilang tidak masuk ke Thian-ti hu?"
Tanya Yu Wi pula.
"Sudah tujuh tahun kutinggal di sini, tapi belum pernah satu langkah pun masuk ke istana Thian-ti-hu sana, aku takut masuk ke sana, juga bertekad takkan masuk ke sana...."
Tutur si kakek dengan pedih.
Yu Wi tidak habis mengerti mengapa si kakek hanya tinggal di tanah pemakaman yang terpencil ini dan tidak mau masuk ke Thian-ti-hu barang selangkah pun?
Memangnya ada kesulitannya yang sukar dijelaskan?
Apa yang terpikir oleh Yu Wi itu tidak dijawab oleh si kakek, ia menjadi rikuh dan menunduk, ia merasa tidak pantas terlalu banyak bertanya.
Melihat anak muda itu merasa tidak tenteram, dengan tertawa si kakek lantas berkata pula.
"Sebenarnya kesempatan ini pun baik untuk menggembleng si Ciau-bu agar menambah pengalaman di dunia Kangouw, kelak sangat mungkin dia akan meneruskan cita-cita ayahnya dan menjabat Perdana Menteri pula."
Yu Wi tidak bicara lagi, ia cuma mengangguk. Tiba-tiba si kakek berkerut kening dan berkata.
"Akan tetapi dia sengaja menyuruh kau menyamar sebagai dia dan dikirim ke sini untuk menjadi tumbalnya, tindakan ini tidaklah pantas dan bukan perbuatan seorang lelaki sejati, kelak bila bertemu dia harus kuberi petuah sebaikbaiknya."
Cepat Yu Wi membela sang Inkong, katanya "Oh, jiwaku ini adalah pemberian Inkong, adalah seharusnya kubalas budinya, Tindakan ini tak dapat menyalahkan dia."
Si kakek terbahak-bahak, ucapnya.
"Haha, bodoh, sungguh bodoh! Karena ba!as budi dan jiwa sendiri harus melayang, di dunia ini mana ada orang yang menyepelekan nyawa sendiri cara begini? Seorang lelaki sejati, mati juga harus mati secara gemilang, kalau melulu setitik budi dan dendam lantas meremehkan jiwa sendiri, sungguh terlalu gegabah"
"Mohon petunjuk Locianpwe,"
Pinta Yu Wi dengan hormat.
"Orang hidup harus berjuang,"
Ujar si kakek dengan suara keras,"bila terpaksa barulah bicara tentang kematian, kalau tidak, janganlah sembarangan bicara kematian, bahkan harus menghargai jiwanya sendiri Hendaklah maklum, orang dilahirkan di dunia ini tentu ada gunanya."
Dengan sedih Yu Wi berkata.
"Tampaknya beberapa hari lagi pihak Hek-po akan menyerang kemari, Kan-lohujin memerintahkan Wanpwe menghadapinya dengan kuasa penuh, tapi dengan kepandaianku jelas bukan tandingan lawan, kukira ingin selamat pun sukar."
"O, jadi maksud kedatanganmu ke sini adalah ingin mencari semacam Kungfu yang dapat dipelajari secara kilat untuk digunakan dalam waktu singkat, begitu?"
"Memang begitulah tujuan Wanpwe,"
Jawah Yu Wi.
"Tapi jalan pikiranmu ini keliru,"
Kata si kakek.
"Yang tersimpan di sini adalah ilmu silat hasil keyakinan selama hidup Yok-heng, jangankan dalam waktu singkat, biarpun beberapa tahun juga sukar mempelajarinya dengan baik."
"Memang sejak tadi Wanpwe sudah merasa kecewa,"
Ujar Yu Wi.
"Apakah karena kau lihat makam ini dan tidak tega mengambil kitab pusaka yang tersimpan di dalamnya?"
Tanya si kakek dengan ramah. Yu Wi berdiam saja tanpa menjawab. Si kakek menghela napas, ucapnya.
"Kau sungguh anak yang baik, semoga cucu Yok-heng itu juga mempunyai hati yang bajik seperti kau."
"Wanpwe ingin mohon diri saja,"
Kata Yu Wi Jangaiig terburu-buru,"
Ujar si kakek.
"Tadi tanpa sebab dan tiada alasan telah kutampar kau dua kali serta menendang kau satu kali, perbuatanku itu tidak pantas, aku tidak ingin membikin kau merasa penasaran."
"Wanpwe jauh lebih muda, kalau mendapat sedikit hajaran locianpwe kan juga pantas,"
Ujar Yu Wi.
"Tidak, mana boleh jadi!"
Kata si kakek sambil menggeleng. Yu Wi menjadi bingung, ia pikir habis bagaimana, apakah mesti kubalas pukul dan tendang dirimu, hal ini kan lebih-lebih tidak boleh jadi. Tiba-tiba si kakek berkata.
"Begini saja, Akan kuajarkan tiga jurus padamu sebagai ganti rugi padamu atas tindakanku tadi."
Yu Wi memperlihatkan sikap boleh syukur tidak boleh juga tidak apa-apa, sebab ia mengira biarpun berhasil belajar tiga jurus dari si kakek juga belum tentu dapat menghadapi pihak Hek-po yang lihay itu.
Padahal pikirannya sekarang lagi kacau dan bingung, akan lebih baik tidak belajar saja, Si kakek seperti tahu apa yang dipikir anak muda itu, dengan suara keras ia berkata pula.
"Jangan kau remehkan tiga jurus yang akan kuajarkan ini. asalkan kau latih dengan baik, tidak perlu lagi takut menghadapi musuh dari Hek-po itu."
"Wanpwe juga ingin belajar,"
Tutur Yu Wi.
"tapi saat ini bukan waktunya yang tepat Wanpwe harus pulang dahulu agar tidak menimbulkan curiga kaum hamba."
"Jika demikian, bolehlah kau datang ke sini lagi menjelang tengah malam nanti."
Pesan si kakek dengan tertawa.
-o0o oOo Yu Wi keluar dari daerah terlarang itu melalui belakang gunung dan pulang ke kamarnya, waktu melalui Ban-siu-ki, dilihatnya Kan Hoay-soan datang dari depan, Begitu melihat sang kakak, Hoay soan terus menyongsongnya dan memegangi tangan Yu Wi, tanyanya dengan berseri-seri.
"Setengah harian tidak melihat Toako, apakah kau mengeram di tempat Lau-cici?"
Yu Wi pura-pura marah dan mengomel.
"Kenapa kau jadi nakal terhadap Toako, jadi kau dorong kumasuk ke sana, hampir saja bertumbukan dengan dia..."
"He, dia... dia siapa maksudmu?"
Hoay-soan sengaja menggoda lagi. Yu Wi menarik muka dan berkata.
"Agaknya kau minta kupukul bokongmu."
Hoay-soan menjulur lidah, serunya.
"He, aku sudah sebesar ini, masa akan kau pukul bokongku...."
Melihat ketegangan si nona, Yu Wi jadi tertawa geli. Hoay-soan tambah berani karena sang Toako tidak marah, segera ia membujuk lagi.
"Toaka, hendaklah kau berbaikan dengan Lau-cici."
"Bilakah kuperlakukan tidak baik padanya". jiwab Yu Wi tanpa pikir. Hoay-soan menghela napas, ucapnya.
"Sudah setahun lebih Lau-cici datang kemari, sejak ayah wafat tidak pernah lagi kau temui dia. Tadi kalau aku tidak mendorong kau ke sana mungkin tak kan kau temui dia lagi, jika kau baik padanya masa tak kau temui dia?"
Dari ucapan Hoay-soan ini Yu Wi dapat menarik kesimpulan bahwa Kan Ciau-bu tidak menyukai bakal isterinya, sudah setahun ayahnya meninggal, masa selama setahun ini sama sekali tak ditemuinya calon isteri itu.
Padahal Lau-siocia kelihatan begitu baik, kenapa Inkong tidak suka padanya"
Karena bersimpati kepada Lau Yok-ci, tanpa terasa Yii Wi berkata.
"Memang seharusnya ku perlakukan dia dengan baik."
"Tepat. begitu lembut dan begitu bijak Lau cici, sejak dulu seharusnya Toako berbaik padanya."
"Dia malahan sangat cantik....i"
Gumam Yu Wi. Dengan gembira Hoay-soan menukas.
"Jika begitu banyak segi baik Lau-cici, selanjutnya Toako harus memperlakukan dia sebaik-baiknya."
Yu Wi mengangguk, katanya.
"Tentu, aku akan baik padanya ..."
Hoay-soan sangat senang, cepat ia menuju ke Ban-Siu ki, ia mengira telah berhasil membujuk sang Toako agar bersikap baik kepada Lau-cici hatinya menjadi sangat gembira, ia tidak tahu bahwa Toako palsu ini dan Toako yang asli sama sekali berlainan pandangan terhadap Lau Yok-ci.
Seperginya Hoay soan, Yu Wi berkata kepada dirinya sendiri.
"Cara bagaimana aku dapat berbaikan dengan dia. Aku bukan bakal suaminya yang tulen. Tapi mengapa Inkong tidak suka kepada nona Lau? Dalam hal ini tentu ada sebabnya. Dengan penuh diliputi tanda tanya, pelahan ia jalan ke depan, ketika lewat di tempat kediamah Lau Yok-ci, ia berdiri tertegun, tapi tidak berani masuk ke sana untuk menyambingi si nona. Menjelang tengah malam, cahaya bulan menyinari bumi raya ini seperti siang hari, Yu Wi memberitahukan kepada Jun-khim akan keluar untuk suatu urusan, ia pura-pura keluar Thian-tihu, tapi terus memutar ke belakang gunung dan menuju ke daerah pemakaman sana. Setelah melintasi hutan itu, dilihatnya si kakek Ji Pek-liong lagi berdiri termangu-mangu di depan makam, batu pualam makam yang putih itu tampak gemerlap tertimpa cahaya rembulan, si kakek yang berwajah putih pucat itu berdiri sendirian di situ, suasana terasa agak menyeramkan. Orang tua itu seperti tidak tahu akan kedatangan Yu Wi, sekonyong-konyong terdengar ia menghela napas panjang seperti orang yang menahan penderitaan yang dalam. Pelahan Yu Wi mendekatinya, lalu menyapa j!engan pelahan.
"Locianpwe!"
Si kakek, Ji Pek-liong, mengakhiri lamunannya dan menghentikan kenangan lama yang menyakitkan itu. tanyanya dengan getir.
"Kapan kaudatang?"
"Baru saja,"
Jawab Yu Wi.
"Ai, sudah tua, tidak berguna lagi, sampai kedatanganmu juga tidak mendengar,"
Kata si kakek dengan menyesal sambil menggeleng.
"Cianpwe lagi melamun, dengan sendirinya mempengaruhi daya pendengaranmu."
"Tidak, tidak bisa, dahulu tidak mungkin begini. Hendaklah diketahui bahwa bagi seorang yang Lwekangnya sudah sempurna, betapapun kusut pikirannya juga dapat mendengar suara yang paling ringan, sekalipun cuma suara daun rontok di tanah apalagi suara langkah orang yang mendekat. Tapi Ji Pek-liong lantas berseru pula dengan penuh semangat.
"Kaudatang untuk belajar Kungfu padaku, tapi aku malah merendahkan harga diriku sendiri. Marilah, akan kuajarkan tiga jurus padamu, ketiga jurus ini adalah Kungfu kebanggaan Yok heng...."
Diam-diam Yu Wi kagum kepada kelapangan dada si kakek yang dapat menyapu rasa sedihnya seketika, segera ia mencurahkan perhatiannya untuk mengikuti permainan tiga jurus si kakek.
Dengan pelahan Ji Pck-liong mempertunjukkan ketiga jurus yang dimaksud, lalu bertauya.
"Bagaimana?Dapat kauikuti?"
"Wanpwe sudah paham ketiga jurus itu,"
"jawab Yu Wi. Ji Pek-liong terkejut, tanyanya.
"Apa katamu? Kau sudah paham."
Yu Wi lantas pasang kuda-kuda, tanpa bicara lagi ia terus memainkan ketiga jurus yang dipertunjukkan si kakek tadi, ternyata tidak selisih sedikit pun daripada apa yang diperlihatkan si kakek Ji Pek-liong jadi melenggong, tanyanya.
"Masa cukup kau lihat satu kali saja permainanku lantas dapat kau pahami ketiga jurus ini?"
"Ketiga jurus ini sudah kupelajari dari Inkong, makanya kupaham,"
Jawab Yu Wi.
"O", kiranya begitu,"
Ujar Ji Pek-liong dengan menghela napas lega.
"Tadinya kukira di dunia ini, benar-benar ada orang berbakat setinggi ini, tampaknya orang pintar demikian memang sukar dicari."
Dia seperti sangat kecewa bahwa Yu Wi bukanlah orang cerdik dan pintar sebagaimana diharapkannya, ia tidak tahu bahwa ketiga jurus ciptaan Kan Yok-koan itu sebenarnya sangat sukar dipelajari, di dunia ini tidak ada seorang pun yang dapatmemahaminya hanya dengan sekali lihat saja.
Kalau tidak tentu ketiga jurus itu takkan sedemikian lihaynya.
Yu Wi memang berbudi halus, jawabnya dengan rendah hati.
"Bakat Wanpwe sangat rendah, lama juga Inkong mengajarkan ketiga jurus ini barulah dapat kupahami."
"Sebenarnya dengan tiga jurus ini sudah cukup bagimu untuk menghadapi jago kelas satu di duni Kangouw,"
Ujar Ji Pek-1iong.
"Pernah juga kudengar seluk beluk Hek-po, sekalipun Pocu Lim Lam han datang sendiri juga sukar mengalahkan ketiga jurus ini."
"Masa ketiga jurus ini benar-benar sedemikian lihay?"
Tanya Yu Wi dengan kejut dan girang.
"Dahulu Yok-heng pernah menghadapi tantangan 2i tokoh Bu-lim, tatkala mana Yok-heng hanya menggunakan ketiga jurus ini dan mengalahkan mereka satu persatu,"
Demikian tutur Ji Pek-liong "Betapapun ke-21 lawan tidak mampu lolos dari serangan tiga jurus ini, mereka takluk lahir-batin, seketika ketiga jurus Kungfu Yok-heng ini pun menggetarkan dunia Kangouw dan menjadi panji pengenal ilmu silat Yok-heng, Dengan mengajarkan ketiga jurus ini kepadamu, Cianbu pikir dapat kau gunakan untuk membela diri di samping agar orang lain pun takkan menyangsikan kau sebagai Kan-kongcu palsu."
Hati Yu Wi tambah lega, katanya dengan mengulum senyum.
"Jika demikian, bila pihak Hek-po datang, akan kukeluarkan ketiga jurus ini untuk menghadapi mereka. Terima kasih atas petunjuk locianpwe."
"Karena ketiga jurus ini sudah kau pahami sendiri, biarlah kuajarkan semacam ilmu silat lain,"
Kata Ji Pek-liong. Tapi Yu Wi bukan pemuda yang serakah, jawabnya dengan hormat.
"Kukira cukuplah dengan tiga jurus ini, sepulangnya nanti akan kulatih dengan lebih baik, maka tidak perlu lagi membikin repot Locianpwe."
"Mana boleh jadi,"
Ujar Ji Pek-1iong.
"jika tidak ajarkan semacam ilmu padamu, kesalahanku mmukul dan menendang kau itu selalu akan teringat olehku, biarpun tidur juga takkan nyenyak."
Tapi cukuplah kulatih ketiga jurus ini dengan lebih giat,"
Ujar Yu Wi.
"Bila cianpwe mengajar lain kungfu baru padaku, mungkin sukar kupahami dengan baik, sampai waktunya nanti malah tidak berguna, bukankah akan membikin malu Locianpwe malah? Kukira lain waktu saja boleh kuminta belajar lagi kepada Locianpwe." . Si kakek kelihatan kurang senang, ucapnya.
"Kau pandang enteng ilmu silatku bukan? Kau kira dengan tiga jurus yang kau pahami itu sudah cukup bagimu? kungfu yang kuajarkan ini tidak perlu kau pelajari dengan masak benar, cukup asalkan kau kuasai, jangankan membikin malu, kupercaya kau pasti akan berjaya."
Yu Wi tidak menyangka orang tua ini sedemikian suka menang, terpaksa ia menjawab dengan tergagap.
"Wanpwe akan berusaha belajar sebisanya,"
Giranglah Ji Pek-liong melihat anak muda itu sudah mau terima tawarannya, dengan tertawa ia berkata "Akan kuajarkan semacam Ciang-hoat (ilmu pukulan telapak tangan) padamu.
Ciang-hoat ini bernama ...."
Seketika ia dihadapi suatu persoalan, Ciang-hoat apa yang harus diajarkan kepada anak muda itu Padahal dirinya sudah terlanjur omong besar bilamana nanti Kungfu ajarannya tidak sehebat ketiga jurus Kungfu Yok heng, bukankah akan memalukan diriku sendiri.
Setelah berpikir dan dipikir lagi, akhirnya terpaksa ia harus mengajarkan Ciang hoat yang paling diandalkannya supaya bisa lebih lihay daripada ketiga jurus kungfu andalan Kan Yok-koan itu.
Begitulah dia tidak sayang lagi, segera ia menyambung ucapannya tadi.
"Ciang-hoat ini bernama Hian-hiau-sah cap ciang (tiga puluh jums ilmu pukulan ajaib)."
Mendengar nama ilmu pukulan itu, Yu Wi menjadi ragu, pikirnya, apanya yang ajaib?
Dalam pada itu dilihatnya si kakek sudah mulai bergerak, dengan cepat ia melayang kian kemari seperti badan halus saja, ringan dan hampir sukar dilihat.
Cepat Yu Wi menghimpun segenap perhatiannya untuk mengikuti gerak tubuh si kakek, sejenak kemudian, setelah si kakek selesai memainkan kunsunya itu dan berhenti, ternyata tiada sesuatu yang dapat dipahaminya meski otak Yu Wi cukup encer.
"Aku tidak percaya kau dapat mengikuti permainanku barusan,"
Ujar Ji Pek-liong dengan tertawa.
Hasrat belajar Yu Wi sangat kuat, ilmu pukulan ajaib ini sungguh belum pernah didengarnya apalagi dilihatnya.
Tentu saja ia sangat kagum, dengan hormat ia lantas memohon.
"Mohon cianpwe sudi memberi keterangan, Wanpwe siap mendengarkan dengan hormat."
"Pengetahuan ilmu pukulan mi sangat dalam, intinya terletak pada gerak langkahnya,"
Tutur s kakek.
"Keajaiban ilmu pukulan ini adalah perubahan dari ajaran Ih-keng (kitab falsafah Iching!)..."
Lalu ia pun memainkan sekali lagi ke 30 jurus pukulan ajaib itu sambil menguraikannya dengan mulut, setelah memberi pelajaran teori dan praktek selami dua-tiga jam barulah intisari ilmu pukulan itu selesai diuraikan.
Daya tangkap Yu Wi sangat kuat, menjelang fajar, ke 30 jurus pukulan ajaran Ji Pek-liong itu sudah dapat diapalkannya.
Sementara itu fajar sudah hampir menyingsing Yu Wi tidak berani tinggal lebih lama lagi di situ, ia harus cepat kembali ke Thian-ti-hu.
Sebelum pergi Ji Pek-liong berkata kepadanya dengan senang.
"Hanya semalam saja sudah sejauh ini latihanmu, sungguh tak terduga olehku, jika berlatih terus seperti ini, beberapa hari lagi bila pihak Hek-po menyerbu tiba, tentu kau tidak perlu takut lagi kepada mereka."
Dengan cepat lima hari sudah lalu, setiap malam Yu Wi terus belajar Hian-biau-sah-cap-ciang dengan si kakek, sampai hari kelima latihannya sudah sangat lancar, Gerak-geriknya juga tidak menimbulkan curiga orang lain.
Meski Congkoan Phoa Tiong-hi mengetahui setiap malam Yu Wi pasti keluar, tapi ia pun tidak berani bertanya.
Hari itu dia pulang dari belakang gunung dan bergegas-gegas masuk tidur, selagi tidur dengan nyenyak, mendadak He-si berlari masuk sambil berscru.
"Kongcu! Kongcu!"
Cepat Yu Wi bangun dan berpakaian, ternyata He-si sudah berada di dalam kamamya. Kuatir sang Kongcu akan marah, lebih dulu He-si memberi hormat. Dengan kurang senang Yu Wi menegur.
"Bukankah sudah kukatakan jangan sembarangan masuk kemari bilamana aku sedang tidur."
Rupanya karena kejadian Pi-su tempo hari, dia merasa ngeri, maka ketiga pelayan lain dilarang keras masuk kamarnya di waktu malam atau tatkala dia sedang tidur.
Tapi dengan tegang He-si lantas berkata.
"Hamba ingin melapor sesuatu urusan penting!"
Melihat pelayan itu rada ketakutan, hati Yu Wi menjadi lunak, tanyanya dengan suara halus "Ada"
Urusan apa, coba ceritakan."
He-si mengangkat kepalanya pelahan dan memandangi sang Kongcu yang ditakuti dan juga di sayangi ini, dengan suara rada gemetar ia berkata.
"Lohujin..."
"Jangan takut bicara, aku kan tidak marah padamu,"
Ujar Yu Wi dengan tertawa. Setelah menenangkan hatinya, dengan perlahan He-si melanjutkan.
"Lohujin menghendaki Kongcu keluar menghadapi musuh."
"Apa katamu?"
Yu Wi menegas dengan air muka rada berubah.
"Menghadapi musuh? Apakah... apakah musuh sudah datang?"
Selama beberapa hari ini setiap saat dia siap siaga menghadapi serbuan orang Hek-po, kini mendadak didengarnya musuh sudah datang, hal ini membuatnya rada gugup.
Dengan sorot mata kasih sayang He-si menatap Yu Wi lekat-lekat, jawabnya kemudian.
"Ya, konon musuh dari Hek-po, Lohujin memerintahkan agar Kongcu sendiri keluar menghadapi musuh..."
Sedapatnya Yu Wi menahan rasa jerinya dan bertanya.
"Ada berapa orang musuh yang datang?"
"Seperti belasan orang..."
Tutur He-si.
"Musuh berjumlah belasan orang dan cuma... cuma aku sendiri yang disuruh menghadapi musuh?"
Tidakkah ini ....ini ...."
Ucap Yu Wi dengan gelagapan.
Bila teringat ketika masili berada di Hek-po, di mana seorang Busu (pesilat) biasa saja ia tidak mampu melawannya, sekarang ada belasan jago pihah Hek-po datang kemari, biarpun dirinya telah mendapat!can ajaran ajaib, tapi kalau ia sendirian disuruh menghadapi musuh, jelas sangat tipis harapan untuk kembali dengan hidup.
Mendadak He-si memberanikan diri dan berkata.
"Lohiijin tidak mengizinkan orang lain membantu Kongcu, biarlah hamba ikut ....ikut membantu Kongcu...."
Seketika Yu Wi tahu Kan-Iohujin memang sengaja hendak membunuh Inkong, sebab itulah cuma dirinya yang disuruh menghadapi musuh.
Seketika timbul semangat jantannya, ia pikir hidup atau mati terserah kepada takdir, Dengan tertawa ia lantas berkata.
"Apakah kau tidak takut akan dihukum Lohujin?"
"Hamba tida ... tidak takut,"
Jawab He-si de ujian suara terputus-putus.
Mclihat wajah He-si yang pucat itu.
Yu Wi pikir biasanya Kan-Iohujin pasti sangat bengis terhadap kaum hambanya.
Meski bilang tidak takut.
sebenarnya He-si hanya berusaha membantu dirinya dan rela mengorbankan jiwanya.
Tanpa terasa timbul juga rasa harunya, jawabnya kemudian.
"Baiklah, kau ikut keluar bersamaku. Asalkan hari ini aku tidak mati, selanjutnya pasti takkan kubiarkan kau bekerja serendah ini."
Wajah He-si menampilkan senyuman yang terhibur, baginya cukup asalkan sang Kongcu mengizinkan dia ikut pergi, kata2 Yu Wi yang terakhir itu hampir tak dipikirkannya.
Begitulah mereka lantas menuju ke pintu gerbang, Setiba diruangan besar, seorang pun tidak kelihatan, jelas kawanan hamba Thian-ti-hu sudah sama menyingkir atas perintah Kan-lohujin.
Diam-diam Yu Wi mendongkol ia pikir cara Kan-lohujin hendak membikin celaka sang Inkong bukankah terlalu menyolok?
Setiba di pintu gerbang, dari jauh didengarnya ada orang berteriak di luar sana.
"Ayo keluar! Jika tidak keluar, jangan menyesal jika kami main bakar!"
Saat itu, seorang kacung penjaga pintu saja tidak ada, terpaksa Yu Wi melangkah maju hendak membuka pintu sendiri untuk keluar menghadapi musuh.
"Biarkan hamba membukakan pintu, Kongcu!"
Seru He-si tiba-tiba sambil berlari maju.
Melihat keadaannya, Yu Wi merasa Thian ti-hu yang besar dan megah ini seolah-olah tersisa dirinya dan He-si saja berdua, teringat kepada kekejian Kan-lohujin, tanpa terasa ia menggeleng dan menghela napas.
Pada saat itulah mendadak seorang menegurnya di belakang.
"Toako, apa yang kau sesalkan?"
Yu Wi kenal itulah suara Kan Hoay-soan, ia menjadi girang dan cepat berpaling, tanyanya.
"Untuk apa kau datang kesini?"
Melihat siocia datang, He-si urung membuka. Dengan hampa Hoay-soan berkata.
"Toako... aku..."
"Apakah kau ingin membantuku?"
Kata Yu Wi lengan tertawa. Hoay-soan mengangguk, jawabnya.
"Aku .."
"Cukuplah asalkan Toako tahu kau memperhatikan diriku,"
Sela Yu Wi sebelum si nona bicara lebih lanjut "Kalau ibu sudah ada perintah, lebih baik janganlah kau melanggarnya, Lekas kau pulang..."
Mendadak timbul keberanian Hoay-soan, ucapnya dengan tegas.
"Tidak, aku ikut keluar bersama Toako!"
Yu Wi merasa terhibur, ucapnya dengan tertawa.
"Tadinya kukira cuma He-si saja yang berkiblat padaku, sekarang ditambah kau lagi, Kukira cukup begini saja, jika kau ikut keluar, Toako akan merasa tidak tenteram malah. lekas kaupulang biar..."
"Aku takkan membantu Toako, hanya ikut keluar untuk melihatkan boleh?"
Jawab Hoay-soan.
Terpaksa Yu Wi mengangguk, ia pikir apabila Lau Yok-ci yang memperhatikan dirinya secara begini, sekalipun harus segera mati di tangan musuh juga rela.
Akau tetapi sampai saat ini Lau Yok-ci ternyata tidak kelihatan, Dengan rada kecewa Yu Wi lantas berkata dengan kesal.
"Buka pintu, He-si"
Perlahan He-si membuka daun pintu gerbang yang berat itu, maka tertampaklah di luar sana sudah berdiri 12 orang yang berperawakan tinggi pendek tidak sama.
Tergetar hati Yu Wi melihat ke-12 orang ini.
Seorang di antararanya lantas menjengek.
"Hm, baru sekarang keluar! Kukira setiap penghuni Thian-ti-hu adalah kura-kura yang suka mengeluarkan kepalanya di dalam rumah."
"Kau maki siapa?"
Bentak He-si dengan gusar.
"Eh, jago Thian-ti-hu model kura-kura apakah tinggal satu saja, kenapa ikut ke luar anak persmpuan?"
Seru orang itu sambil bergelak tawa. Seorang yang berperawakan tinggi kurus di sebelah orang itu lantas mendesis.
"He, Toako, coba lihat siapa dia ini?"
Orang yang bicara tadi bertubuh pendek gemuk, kalau dibandingkan kedua orang jaugkung yang kurus sebagai jerangkong di sebelahnya, maka tingginya selisih ada setengah badan, malahan sembilan orang yang berdiri di belakangnya rata-rata juga lebih tinggi satu kepala.
Agaknya baru sekarang orang yang pendek gemuk itu memperhatikan Yu Wi, ia terkejut dan menegur.
"He, kau belum mampus!"
Yu Wi tahu yang dihadapinya sekarang adalah jago kelas satu dari Hek-po, jangankan ke sembilan orang di bagian belakang yang disebut "Kiu-tay-coa ciang"
Atau sembilan panglima ular, melulu ketiga iblis di depan ini sudah cukup membuatnya merinding, Tapi sedapatnya ia tenangkan diri, tanpa bersuara ia menunggu perkembangan selanjutnya.
Segera He-si tertawa mengejek.
"Kongcu kami sehat walafiat, jika kalian takut kepada Kongcu kami tak perlu menyumpahi dia?!"
Kiranya orang yang pendek-gemuk setangah baya itu adalah "Thian-mo"
Wi Un-gai, si iblis langit yang terkenal sangat ganas di dunia Kangouw, Berdua Te-mo Na In wan dan Jin-mo Kwa Kin long, ketiganya disebut Hek-po-sam-mo atau tiga iblis dari benteng hitam.
Seperti sudah diceritakan, Yu Wi telah dilukai oleh pedang tulang Te-mo dan Jin-mo, maka ia yakin andaikan anak muda itu dapat ditolong orang di tengah jalan tentu juga takkan terhibur daripada mati keracunan pedang mereka yang berbisa itu.
Siapa tahu Yu Wi ternyata tidak mati, bahkan telah berubah menjadi Kongcu dari Thian-ti-hu, mereka menjadi heran apakah telah terjadi sesuatu yang luar biasa.
Begitulah Thian-mo Wi Un-gai menatap wajah Yu Wi tajam-tajam, sambil menyeringai katanya.
"Kongcu ini she apa?"
Biasanya Yu Wi paling takut terhadap Thian-mo, karena dipandang setajam itu, air mukanya rada berubah.
Maklumlah, sejak kecil ia tinggal di Hek-po dan sudah terbiasa dianiaya oleh Hek-po sam-nio, Sekarang maka berhadapan muka dengan musuh, betapapun tabahnya tidak urung terasa keder juga.
Dengan marah Kan Hoay-soan lantas mewakili menjawab.
"Kakakku dengan sendirinya she Kan!"
Thian-mo bergelak tertawa.
"Aha, barangkali bocah she Yu ini telah dipungut menjadi menantu Thian ti-hu dan telah menjadi suamimu maka berubah she Kan!"
Muka Hoay-soan menjadi merah, damperatnya sambil menuding Thian-mo.
"Kau... kau bilang apa?"
He-si terus angkat pedangnya dan ikut mendamperat.
"Ngaco belo!-siocia kami masih gadis suci, darimana bisa mempunyai suami!"
Thian-mo Wi Un-gai tambah senang, ia sengaja berseloroh pula.
"Hah, kebetulan kalau belum punya suami, kan bisa main pat-gulipat dengan kakak palsunya ini...."
Dari malu Hoay-soan menjadi gusar, mendadak ia melompat maju, tangannya menampar ke kanan dan ke kiri.
Thian-mo Wi Un-gai terkejut, beruntun ia berkelit dua-tiga kali sehingga terhindar dari serangan si nona.
Teringat kepada sakit hati sendiri, mendadak timbuI ketabahan Yu Wi, teriaknya.
"Kembalilah moay-moay!"
Dengan gusar Hoay-soan memutar balik, ucapnya.
"Hajar adat kepada mereka, Koko (kakak), biar mereka tahu rasa dan tidak berani lagi menghina urang.""
Perlahan Yu Wi melangkah maju, sampai di samping Hoay-soan, dengan suara tertahan ia kata kepadanya.
"Kau mundur saja ke belakang. Toako sudah ada perhitungan sendiri."
"Huh, alangkah mesranya!"
Kembali Tinan-mo berolok-olok.. Kini hati Yu Wi sudah mantap dan ttidak takut lagi, meski menghadadi kawanan musuh yang kuat dianggapnya sepele saja, segera ia berlagak congkak dan mendengus.
"Apakah kalian ini datang dari Hek-po?"
"Yu Wi,"
Mendadak Te-mo Na In-wan membentak.
"melihat kami, tidak lekas kau berlutut dan menyembah?"
Teringat kepada Inkong, Yu Wi pikir, penyamarannya sekali-sekali tidak boleh sampai ketahuan, maka dengan angkuh ia menjawab.
"Siapa Yu Wi yang kau maksudkan?"
Sam-mo menjadi melenggong.
padahal waktu tinggal di Hek-po, biasanya Yu Wi sangat takut kepada mereka bertiga, sekarang sikapnya ternyata tenang dan tidak gentar sedikit pun, janganjangan dia memang betul Kan-kongcu adanya?.
Thian-mo tidak berani lagi gegabah, ia tahu kelihayan Thian-ti-hu, diam-diam ia tambah waspada tanyanya kemudian.
"Siapakah nama Kongcu..."
Yu Wi menirukan lagak Kan Ciau-bu yang sombong itu, jawabnya ketus.
"Hm. masa kalian berhak tanya namaku?"
Jin-mo Kwa Kin liong tidak tahan rasa dongkolnya, segera ia berteriak.
"Bocah she Yu, jangan kau berlagak dungu lagi!"
Yu Wi sengaja berkerut kening dan mendengus.
"Hm, kabarnya ada suatu komplotan orang Kangouw hendak mengacau ke sini, menurut ibu, katanya kawanan orang Kangouw ini hanya segerombolan tikus yang tidak ada artinya, cukup kusendiri yang menghadapinya. Tadinya kukira masih perlu mengeluarkan sedikit tenaga, siapa tahu yang kuhadapi adalah segerombolan orang gila yang suka gembar gembor melulu, tahu begini mestinya tidak perlu kukeluar sendiri"
Meski ucapan Yu, Wi cukup pedas dan penuh sindiran, namun Thian mo Wi Un gai tidak berani marah, ia tambah yakin lawan adalah Toakongcu keluarga Kan, maka ia tambah prihatin dan waswas, tanyanya kemudian.
"Apakah Anda ini Toakongcu Kan Ciau-bu?"
Yu Wi hanya mendengus saja, melirik pun tidak.
Wi Un-gai pernah mendengar bahwa Kan toakongcu berwatak sombong, tapi memiliki Kungfu maha sakti, demi keselamatan orang banyak, paksa ia berkata pula dengan tertawa.
"Hek po kami ada seorang bocah pesuruh yang berwajah serupa Kongcu, karena baru kenal sehingga terjadi salah paham, diharap Kongcu sudi memaafkan"
"Hm, di hadapan Kongcu kenapa kalian tidak lekas berlutut dan menyembah?!"
Jengek Yu Wi pula.Tadi Te-mo Na In-wan yang membentak dan menyuruh Yu Wi berlutut dan menyembah kepada mereka, sekarang kata berjawab, gayung bersambut, dengan cara yang sama Yu Wi juga menyuruh mereka berlutut dan menyembah, keruan Sam-mo menjadi sangsi apakah benar anak muda ini ialah Yu Wi?
Terpaksa ia menjawab dengan ketus juga.
"Siapa yang berani menyuruh kami berlutut?"
Kuatir urusan berubah menjadi runyam dan akan terjadi pertarungan sehingga merusak rencana semula, cepat Thian-mo mengomeli saudaranya dengan suara pelahan.
"Ji-te, jangan banyak omongan -Lalu ia berpaling kepada Yu Wi, katanya dengan cengar cengir.
"Pocu kami mengirim kami kemari untuk meminta kembali barang miliknya yang hilang dan tiada maksud tujuan lain. Bilamana tadi kami bersikap agak kasar, mohon kebijaksanaan Kongcu dan sudi memaafkan."
Melihat nada dan sikap orang telah berubah sama sekali daripada memandangnya sebagai Yu Wi padahal Thian-mo ini tidak cuma ilmu silatnya tinggi, tipu akalnya juga banyak, berbeda daripada Te-mo dan Jin-mo yang cuma perkasa tapi berotak kosong, Maka jawabnya dengan ketus.
"Thian-ti-hu turun temurun dikenal sebagai keluarga berjaya, mustahil barang milik Hek-po kalian bisa berada pada kami, sungguh aneh dan menggelikan."
Tujuan Wi un-gai adalah mengajak omong Kan-toakongcu agar dia terlena sehingga rencana mereka dapat berlangsung dengan baik, maka ia berkata pula dengan tertawa.
"Barang Pocu yang hilang itu tak terukur nilainya, dahulu diambil oleh ayahmu di tempat kami ketika ayahmu belum menjabat Perdana Menteri Tatkala mana Kongcu belum lahir, dengan sendirinya tidak tahu."
Ucapannya itu seolah-olah menyindir usia Yu Wi yang masih hijau dan kurang pengalaman. Suda tentu Yu Wi dapat merasakannya. Segera ia menjawab dengan tertawa angkuh.
"Huh, jika benar almarhum ayahku mengambil barang kalian, mengapa tidak sejak dahulu kalian datang meminta kembali dan menunggu sampai sekarang?"
"Hal ini ... ini ... ."
Thian-mo menjadi gelagapan dan sampai sekian lama tetap tak bisa memberi alasannya.
Maklumlah, biarpun Hek-po atau benteng hitam juga sangat terkenal di dunia Kangouw, tapi kalau dibandingkan Thian-ti-hu ketika mendiang ayah Kan Ciau-bu masih hidup, yaitu Kan Jun-ki, maka nama dan pengaruhnya boleh dikatakan berbeda sangat jauh, mana pihak Hek-po berani sembarangan menyatroninya Dengan sendiriaya Thian-mo tidak berani mengemukakan alasannya itu.
Maka Yu Wi lantas menjengek lagi, Tanpa kau jawab iuga kutahu bahwa waktu itu tidak mungkin kalian berani main gila terhadap Thian-ti-hu."
Watak Te mo Na ln-wan paling berangasan dengan gusar ia lantas berteriak.
"Waktu itu tidak berani, sekarang kami kan sudah datang?!"
Jin-mo Kwa Kin-long lantas menyambung.
"Sekarang sudah kami ketahui bahwa Thian-ti hu tidak mempunyai isi apa-apa, seorang pandai saja tidak ada."
Ucapannya ini penuh berbau mesiu, biarpun Yu Wi bukan Toakongcu asli Thian-ti-hu jugj merasa gusar. Melihat gelagat kurang enak, cepat Wi Un-gai menyambung lagi.
"Menurut Pocu, katanya Thian-ti-hu menduduki tempat pimpinan di dunia persilatan dengan sendirinya Hek-po tidak berani sembarangan datang ke sini. Kedatangan kami sekarang juga tidak ingin memusuhi Thian-ti-hu, kami hanva ingin minta dikembalikannya barang kami."
"Hm, biarpun Thian-ti-hu tidak ada orang pandai juga tidak memandang Hek-po dengan sebelah mata,"
Jengek Yu Wi.
"Tentu saja, tentu saja!""
Wi Un gai tetap menanggapi dengan tertawa.
"Memangnya siapa yang .tidak tahu setiap penghuni Thian-ti-hu, biarpun anak kecil juga mahir ilmu sakti. Jite dan Samte tidak mengerti dan sembarangan omong, harap Kongcu memaafkan."
Sama sekali Yu Wi tidak menyangka Thian-uio masih tetap mengalah dan merendah diri cara begitu, tapi ia tetap berlagak angkuh dan tidak senang, katanya.
"Coba katakan Thian ti-hu pernah mengambil barang apa milik Hek-po?"
"Bendaitu tak terukur nilainya,"
Ucap Wi Un-gai dengan lagak misterius. Kini Yu Wi seakan-akan anggap dirinya adalah Kan Ciau-bu asli, sedikit pun tidak gentar lagi menghadapi musuh, dengan suara keras ia berkata.
"Betapapun tinggi nilainya sesuatu barang juga tidak sudi kami mengambilnya."
"Akan tetapi benda ini lain daripada yang lain...."
Melihat cara bicara Wi Un-gai itu penuh misterius, seperti mau menerangkan, tapi sengaja jual mahal, diam-diam Yu Wi merasa muak, dengan gusar ia berkata.
Baca Juga: Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 6
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 7