Eps 2 Pendekar Kembar - Gan KL
Baca online Pendekar Kembar - Gan KL
Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.
"Coba kausebut namanya, bila benar barang Hek-po berada pada kami tentu akan kami kembalikan dengan segera."
"Apa betul? ...."
Masih juga Wi Un-gai ui-cara dengan ragu-ragu.
Saat itulah tiba-tiba dari dalam Thian-ti-hu terdengar suara suitan melengking, Tahulah Wi Un gai kawannya sudah menyusup ke dalam Thian-ti-hu dan sudah saatnya untuk melancarkan serangan, maka ia tidak mau mengulur waktu lagi, seketika air mukanya berubah beringas, teriaknya dengan terbahak.
"Hahaha. biarlah kujelaskan benda apa itu, ialah pusaka Thian-ti-hu"! "Pusaka apa maksudmu?"
Tanya Yu Wi dengan terperanjat.
"Haha, siapa yang tidak tahu di Thian-ti-hu ini tersimpan benda pusaka tak terhitung banyaknya dan takkan habis dikuras, lebih-lebih mengenai kitab pusaka ilmu silat,"
Teriak Wi Ungai dengan tertawa. Mendadak terdengar Kan Hoay-soan berseru kuatir.
"He, Toako, mereka telah menyerbu ke dalam rumah, lekas kita kembali ke sana untuk membantu!"
Waktu Yu Wi berpaling, terlihatlah Thian ti-hu hampir tertutup oleh asap tebal yang bergulunggulung, jelas pihak Hek-po telah main bakar.
Baru saja ia hendak bergerak, serentak Hek-po-sammo dan Kiu-tay-coa-ciang sudah mengepungnya di tengah.
"Hahaha, sudah lama kudengar ilmu silat Kan toakongcu maha tinggi, sekarang biarlah kami belajar kenal dengan kau!"
Seru Thian-mo dengan tertawa. Rada gugup juga Yu Wi karena dikepung oleh 12 jago kelas tinggi Hek-po. seketika ia tidak tahi ia arah mana harus menerjang terpaksa ia berseru.
"Moaymoay, He-si, lekas kalian menerjang pulang untuk membantu, tinggalkan aku menghadapi mereka di sini."
"Hm. masa begitu mudah."
Ujar Wi Ui-gai dengan tertawa.
"Kalau Hek-po sudah berani datang, maka yang datang ini tentu bukanlah kaum lemah. Betapapun kuatnya Thian-ti-hu juga bukan tandingan kekuatan Hek-po yang sudah dipersiapkan selama sepuluh tahun ini, Lekas serahkan nyawa saja!"
Serentak Sam-mo melolos pedang mereka yang terbuat dari tulang putih.
Melihat senjata musuh, teringat oleh Yu Wi apabila tidak ditolong Inkong tentu dirinya sudah mati di bawah pedang keji ini, seketika timbul rasa dendam dan bencinya.
Dengan mengepal tangan melabrak musuh dengan tiga jurus pukulan sakti ajaran Inkong.
"Kan kongcu yang hebat, berani melawan kami dengan bertangan kosong, mungkin sudah bosan hidup!"
Ejek Thian-mo. Yu Wi menguatirkan Hoay-soan dan He-si, dipandangnya mereka dan berseru.
"Lekas kalian pergi"
"Kalau toako sudah mengalahkan mereka barulah kami akan pergi,"
Kata Hoay-soan.
"Ya, mereka pasti bukan tandingan Kongcu."
Tukas He-si..Diam-diam Yu Wi mengeluh, ia pikir jika pertarungannya nanti kurang baik tentu jiwa akan melayang, sungguh kalau bisa ia ingin kabur saja daripada mendapat malu di depan mereka, Tapi saat panah sudah terpasang dibusurnya dan telah dipentang, terpaksa harus dilepaskan ia pikir harus mendahului membikin keder musuh, maka cepat ia menyerang Thian-mo.
Tanpa gentar Thian-mo memapak serangannya sambil berseru.
"Hari ini boleh kau belajar kenal dengan kelihayan barisan ajaib Sam-say-coat-tin kami"
Serangan Yu Wi ternyata tidak mengenai sasarannya, tahu-tahu Thian-rno sudah menyelinap lewat di sebelahnya, Menyusul Te-mo dan Jin-mo juga menubruk tiba dari kedua sisi, Pek kut-kiam atau pedang tulang putih mereka terus menusuk iganya, Hakikatnya Yu Wi bukan tandingan Sam-mo, sekarang Sam-mo malah mengerubutnya, bahkan dengan menggunakan barisan yang disebut Sam-cay-coat tin.
Namun Yu Wi menjadi nekat ia pasrah nasib dan cepat mengeluarkan jurus pertama ajaran Kan Ciau-bu, yaitu Keng-to -pok-gan atau gelombang raksasa mendampar pantai.
Sekali tubuh berputar.
seketika tusukan pedang Te-mo dan Jin-mo mengenai tempat kosong, Menyusul Thian-mo telah menusuknya juga dan belakang, lalu Te mo dan Jin-mo juga melancarkan serangan lagi.
Serangan mereka hampir dilakukan bersama sebelum Yu Wi memutar tubuhnya, sekaligus kedua telapak tangannya sudah menghantam belasan kali ke empat penjuru.
Selagi ketiga pedang lawan akan mengenai tubuhnya, lebih dulu batang pedang sudah dipukulnya beberapa kali.
Sam-mo merasakan pukulan anak muda itu satu jurus lebih kuat daripada jurus yang lain, hanya sekejap saja setiap batang pedang tulang putih itu telah dipukul lima kali, arah tusukan pedang mereka menjadi menceng, bahkan pedang hampir terlepas dari pegangan.
Saking terkejut, diam-diam mereka membatin.
"Di dunia ini ternyata ada ilmu pukulan secepat ini, hanya sekejap saja dapat melancarkan pukulan sekerap ini."
Mereka tidak tahu bahwa meski belasan kali Yu Wi memukul tapi yang digunakannya cuma satu jurus, selesai jurus pertama itu, juius kedua "To-thian-ki-iong"
Atau ombak raksasa menjulang ke langit, segera dilontarkan pula.
Sam-mo tidak berani gegabah, mereka melayani serangan itu dengan sepenuh tenaga, Mereka terus berlari mengitari Yu Wi, sesuai dengan langkah barisan pedang mereka, berulang-u!ang mereka pun menusuk.
Tapi Yu Wi tidak menghiraukan dari arah mana lawan menyerangnya, kedua telapak tangannya tetap memukul ke depan bagai damparan ombak samudera.
Yang dilihat Sam-mo hanya bayangan telapak tangan yang menyambar tiba bergulung-gulung, di mana beradanya Yu Wi tidak kelihatan, maka barisan pedang mereka yang lihay itu menjadi sukar menyerang, sebaliknya mereka malah terdesak mundur oleh angin pukulan dahsyat.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, cepat Thian-mo berteriak.
"Sam-cay ditambah Kiu-gi, hidup abadi?"
Mendengar teriakannya, serentak Kiu-tay-coa cian-po kesembilan orang kawannya yang mengurung di lapisan luar seketika bergerak juga, seperti sembilan ekor ular yang licin, mereka terus menerobos kian kemari di tengah barisan pedang Sam-cay-kiam.
Dalam pada itu Kan Hoay-soan dan He-si juga sudah terkurung di tengah, Namun kesembilan orang itu belum lagi menyerangnya, sejak tadi Hoay soan dan He-si hanya mengikuti pertarungan Yu Wi dan merasa yakin sang Toako pasti dapat membobol kepungan musuh.
Tapi begitu Kiu-gi-tin atau barisan sembilan gaib ikut menerjang, seketika terjadilah perubahan yang ruwet, Yu Wi merasa sekitarnya hanya bayangan orang belaka yang menyerangnya, mautak-mau ia menjadi keder.
Tidak ada kesempatan berpikir lagi baginya, segera jurus kedua tadi disusul dengan jurus ketiga "Hay-long-pay-khong", gelombang raksasa mendampar ke udara, ia memukul setiap lawan yang berani mendekat.
Jurus ketiga ini ternyata sangat lihay, betapa pun ruwet perubahan gabungan Kiu-gi-tin dan Sam-cay-tin musuh tetap tidak mampu menghindari jurus serangan Yu Wi ini, enam di antara kesembi lari orang itu telah terkena pukulannya.
Namun tenaga Yu Wi terbatas, meski ilmu pukulannya sangat bagus, tapi daya tekanannya banyak berkurang oleh karena terkurung oleh jumlah musuh yang lebih banyak, pukulan yang mengenai lawan itu hanya menimbulkan rasa sakit saja ke pada sasarannya dan tidak membuatnya terluka.
Sam-mo dapat melihat kelemahan tenaga Yu Wi ini, mereka tidak gentar lagi kepada pukulannya, serentak mereka bergerak lebih cepat, Yu Wi terkepung semakin rapat.
Terpaksa Yu Wi melancarkan serangan ketiga jurus andalannya itu secara berulang, meski tidak sedikit lawan terkena pukulannya, tapi lantaran tenaga pukulannya kurang kuat, sukar baginya untuk menghancurkan barisan lawan, Dilihatnya garis kepungan.
musuh yang terbentuk dari 12 orang itu makin lama makin ciut, .
Berkat ketiga jurus pukulannya yang hebat, Yu Wi tidak sampai tertusuk oleh pedang tulang Sam-roo, tapi karena garis kepungan bertambah ciut, keadaanya menjadi berbahaya, setiap saat adn kemungkinan dia akan tertusuk pedang musuh.
Melihat keadaan sang Toako, Hoay-soan menjadi kuatir, ia pun heran Toako yang sangat tinggi ilmu silatnya itu mengapa hanya memainkan ke tiga jurus serangan melulu dan tidak mengeluarkan tipu serangan lain yang lebih lihay, apakah Toako sudah melupakan semua kungfunya?
Yu Wi menjadi gugup setelah ketiga jurus andalannya itu tidak membawa hasil apa-apa, padahal kepandaiannya sendiri hanya semacam ilmu pukulan yang dipelajarinya ketika tinggal di Hek-po dahulu, ilmu pukulan ini sangat umum, hanya suatu terlatih dengan sangat apal di luar kepala, setiap saat dapat digunakan.
KebetuIan Yu Wi baru selesai memainkan lagi ketiga jurusnya, Sam-mo menjadi apal juga melihat yang dimainkan anak muda itu hanya ke tiga jurus itu melulu, mereka tahu gerakan berikutnya akan mulai lagi dari jurus yang pertama, pada kesempatan ini ketiga pedang mereka terus menusuk ke arah yang sudah mereka perhitungkan Maklumlah, ketiga jurus ajaran Kan Ciau-bu itu sebenarnya bukan suatu rangkaian ilmu pukulan, tapi kini dimainkan Yu Wi secara sambung menyambung, dengan sendirinya terdapat banyak lubang kelemahanmu.
Ciri kelemahan ini telah dilihat oleh Sam-mo, segera mereka menyerbu dengan lebih gencar, seketika Yu Wi terdesak dan teran cam bahaya.
Dapatlah Yu Wi menghalau kawanan penyatron dari Hek-po dan apakah penyamarannya akan terbongkar?
Muslihat apa dibalik pertentangan antara Kan Ciau-bu dengan ibu tirinya?
Apa pula peranan Ji Pek-liong, si kakek bermuka kelimis dalam persoalan rumah tangga Thian-ti-hu itu?
-Bacalah
Jilid ke-3
Jilid ke -3 Pada detik yang paling gawat itu, untuk menyelamatkan diri, otomatis Yu Wi mengeluarkan gerakan yang paling dipahaminya, mendadak ia meloncat ke atas dan kebetulan dapat menghindarkan serangan Sam-mo yang ketat itu.
Sebaliknya Sam-mo sudah memperhitungkan bila Yu Wi mengeluarkan lagi jurus pertama Keng-to-pok-an, maka anak muda itu pasti akan tertusuk pedang mereka, Siapa tahu pada detik paling berbahaya itu secara naluri Yu Wi mengeluarkan kepandaian asalnya yang di luar dugaan Sam-mo.
Jurus yang sangat umum ini tentu saja dikenal oleh Sam-mo, seketika Te-mo berhenti menyerang kan berseru.
"He, itulah gaya "Bi-siang-ciang"
Dari Hek-po kita,"
Setelah turun lagi ke bawah dan ketiga lawan tidak menyerang lagi, tiba-tiba Yu Wi mendengar seruan Te-mo itu, diam-diam ia terkejut dan mengeluh bisa celaka.
Karena Sam-mo berhenti menyerang.
Kiu-gi-tin seketika juga berhenti, ke sembilan orang berdiri mengelilingi mereka sehingga mengepung mereka di tengah, apabila Yu Wi bergerak, serentak barisan akan bekerja lagi dan mendesak maju, Thian-mo bergelak tertawa, teriaknya.
"Haha ha, tak tersangka Thian-ti-hu yang termashur dan konon penuh tersimpan kitab pusaka macam apa pun, siapa tahu pada detik yang berbahaya Kan-toakongcu kita tidak mengeluarkan tipu serangan penyelamat yang paling bagus,"
Tapi malah mengeluarkan gerakan Bu siang-ciang dari Hek po kami, sungguh hal ini menimbulkan tanda tanya besar!"
"Kuingat benar si bocah Yu Wi yang lolos di bawah pedang kita itupun apal ilmu pukulan Busiang-ciang ini,"
Kata Jin-mo Kwa Kin-long, Segera Thian-mo Wi Un-gai terkekeh kekek, tanyanya.
"Hehe, jangan jangan anda ini Kantoakongcu palsu?"
Air muka Yu Wi berubah, ia pikir lawan tidak boleh diberi kesempatan meraba-raba asal usulnya segera ia melancarkan serangan pula.
"Hehe, tampaknya selama di Thian ti-hu kau telah berhasil mencuri belajar tiga jurus?"
Thianmo sengaja menyindir.
Kini Jin-mo dan Te-mo tidak pandang sebelah mata lagi terhadap Yu Wi, mereka diam saja meski diserang, mereka sengaja menunggu sesudah anak muda itu mendekat, lalu akan balas menyerang supaya Yu Wi menjadi kelabakan.
Betapapun ketiga jurus serangan Yu Wi sudah apal bagi mereka, mereka mengira bila anak muda itu menyerang lagi tentu dapat ditangkis dengan mudah.
"Masa kau berani mengantarkan kematian pula..."
Belum habis Te-mo menjengek, mendadak terdengar suara "plak plak-plak"
Tiga kali, pipi Sam-mo masing-masing telah kena digampar satu kali. Thian-mo meraba pipinya yang terpukul itu sehingga lupa balas menyerang, serunya dengan terkejut.
"ilmu pukulan macam apa ini?"
Yu Wi sendiri tidak menduga ke 30 jurus pukulan ajaib ajaran si kakek Ji Pek-liong itu bisa sedemikian lihaynya, sekali menyerang lantas kelihatan hasilnya, saking heran ia sendiri pun melenggong sehingga lupa melancarkan serangan lain.
Rupanya Sam-mo terkesiap juga oleh serangan aneh itu.
Hendaklah maklum bahwa kungfu mereka bertiga sudah tergolong jelas satu di dunia Kang-ouw, sekarang masing-masing kena digempur sama kali oleh anak muda yang masih hijau pelonco begitu tanpa bisa menangkis, kalau kejadian ini tersiar, jelas mereka akan kehilangan muka, seketika Jim-mo Kwa Kim-liong menjadi ragu, ucapnya dengan tergagap.
"Toako, dia... dia bukan ....bukan bocah she Yu."
Sam-mo percaya Yu Wi tidak nanti memiliki kungfu setinggi ini, seketika mereka tidak berani lagi menuduh anak muda di depan mereka ini sebagai Kan kongcu samaran Yu Wi.
Kan Heay-soan juga rada sangsi ketika Sam-mo menuduh Yu Wi sebagai Kan-kongcu palsu, tapi sekarang dilihatnya sang Toako mengeluarkan pula sejurus serangan aneh yang membikin bingung Sam-mo, namun Hoay-soan sendiri dapat mengenal gaya ilmu pukulan itu.
Kalau tadi ia merasa sangsi, sekarang rasa sangsi itu tambah besar.
Sebab jurus serangan Yu Wi itu intinya sama sekali tidak sama dengan kungfu Thian-ti-hu, jurus serangan seorang boleh berbeda tapi gayanya tidak dapat berubah.
Yu Wi sendiri tidak pernah belajar kungfu Thian-ti-hu, maka begitu mengeluarkan serangan aneh itu, seketika dapat diketahui oleh Kan Hoay-soan.
Apalagi kalau teringat olehnya perangai sang toako memang berbeda daripada dahulu, diamdiam ia berpikir.
"Jika Toako ini adalah samaran orang lain, lalu ke mana perginya Toakoku yang tulen itu!?"
Dalam pada itu di Thian-ti-hu sudah terjadi pertarungan sengit, terdengar suara hiruk-pikuk dan jerit ngeri timbul di sana-sini disertai asap tebal di tengah api yang menjilat-jilat.
Melihat keadaan tidak boleh tertunda lagi, bila ayal tentu Thian-ti-hu sukar bobol lagi, untuk itu mereka masih harus bertanggung-jawab terhadap sang Pocu, maka serentak Sam-mo berteriak dan mengerahkan barisan mereka, kembali mereka melancarkan serangan dahsyat terhadap Yu Wi.
Yu Wi sendiripun tambah kepercayaan kepada kemampuannya sendiri setelah serangannya berhasil tadi, segera ia layani ke-12 musuh dengan 30 pukulan ajaib ajaran Ji Pek-liong, setiap serangan musuh dapat dipatahkannya dengan manis, setiap gerakannya selalu mencapai sasarannya dengan tepat.
Karena ke sembilan begundal Sam-mo harus ikut menyerang Yu Wi dengan sepenuh tenaga, mereka tidak sempat memikirkan lagi Kan Hoay-soan dan He-si.
kesempatan mana segera digunakan Hoay-soan dan Hesi untuk menerobos keluar dari kepungan musuh.
He-si merasa kuatir melihat Yu Wi sendirian harus melawan kerubutan 12 musuh yang tangguh, katanya.
"Siocia, marilah kita ikut serbu untuk membantu Kongcu."
Hoay-soan menggeleng perlahan, ia tahu kakak yang masih menjadi persoalan ini seketika takkan kalah, justeru keadaan di rumah sana yang harus dipikirkan Maka ia lantas mengajak He-si untuk pulang ke Thian-ti-hu saja.
Tapi baru saja ia hendak melangkah ke sana, sekonyong-konyong dari dalam rumah sana menerjang keluar seorang lelaki kekar berbaju hitam dan berkedok kain hitam pula, dengan cepat ia menerjang ke tengah barisan Sam-mo, lalu dia menghantam dan menendang Yu Wi dengan cepat.
Semula Sam-mo mengira orang yang datang dari Thian-ti-hu pasti akan membantu Yu Wi, siapa tahu justeru pihak mereka yang dibantu, Meski tidak tahu siapa gerangannya, namun ia pun tidak sempat bertanya, segera mereka pun menyerang dengan lebih gencar.
Tadinya Yu Wi sudah rada di atas angin, tapi begitu lelaki berbaju hitam itu ikut terjun dalam pertempuran hanya beberapa gebrakan saja Yu Wi lantas kewalahan, Diam-diam ia terkejut, ia heran siapakah orang berkedok yang lihay ini, tampaknya kungfunya terlebih tinggi daripada Sammo Yu Wi belum apal sekali meyakinkan 30 jurus pukulan ajaib itu, maka belum dapat melancarkan daya serangnya yang hebat, lama-lama ia menjadi payah, sedikit meleng bisa jadi jiwa akan melayang, Setelah mengikuti dua-tiga jurus serangan lelaki berkedok itu, Hoay-soan jadi lupa pulang ke Thian-ti-hu, dia mengikuti gerak-gerik orang itu dengan seksama, makin dipandang makin heran.
Mendadak dilihatnya orang berkedok itu melancarkan suatu pukulan maut, saat itu Yu Wi sedang menghadapi serangan dari empat penjuru, tampaknya dia pasti tidak dapat menghindarkan pukulan maut itu.
"Jangan, Toako!"
Teriak Hoay-soan mendadak.
"Siapa yang dipanggilnya Toako?"
Demikian Yu Wi merasa heran.
Belum lagi timbul pikirannya yang lain, sekonyong-konyong dada terasa seperti dihantam martil, ia tidak tahan dan tumpah darah, hilanglah ingatannya, rasa-rasanya pedang tulang putih Sam-mo terus menusuk juga ke arahnya, Karena tidak dapat menghindar diam-diam ia mengeluh.
"Mati aku!" -Lalu ia pun jatuh pingsan. -ooOoo--ooOoo-Waktu siuman kembali, dilihatnya sekelilingnya gelap gulita.
"Barangkali aku sudah mati"
Demikian ia bergumam sendiri. Tapi suara dingin seorang tiba-tiba bergema di tepi telinganya.
"Tidak! kau belum mati!"
Serentak Yu Wi bangkit berduduk dan berteriak.
"He, siapa kau?"
Suara dingin itu berkata pula.
"Masa suaraku tidak kau kenal lagi?"
"Hah, engkau Ji-locianpwe!"
Seru Pwe-giok.
"Meng... mengapa engkau pun berada di sini?"
"Mengapa aku tidak boleh berada di sini?"
Demikian jawab suara itu.
"O, entah mengapa... mengapa Locianpwe meninggal dunia?"
Tanya Yu Wi dengan berduka.
"Ngaco-belo!"
Omel suara itu dengan tertawa.
"Aku Ji Pek-liong hidup segar-bugar, bilakah kumati?!"
Cepat Yu Wi mengetik batu api, setelah api menyala, benarlah dilihatnya si kakek aneh Ji Pekliong berdiri tegap di depannya. Ia coba menggigit ujung lidah dan terasa sakit serunya dengan girang.
"Hah, Locianpwe, kiranya Wanpwe belum mati!"
Ji Pek-liong tertawa geli, katanya.
"Jika kau tidak istirahat sebaik baiknya, meski tidak mati juga bisa jadi akan cacat selama hidup,"
Baru sekarang Yu Wi merasa tenggorokannya memang rada anyir, bila tidak berbaring mungkin akan tumpah darah lagi, ia tahu pukulan orang berkedok itu cukup keras sehingga membuatnya terluka parah, cepat ia merebahkan diri pula, ia pandang sekelilingnya, semuanya batu pualam putih, seperti di dalam sebuah gua, tempat tidurnya juga pualam putih, tapi berbentuk peti mati.
ia terkejut.
"Hah, apakah aku berada dalam pemakaman raksasa keluarga Kan?"
Maka bergolaklah pikirannya, terbayang olehnya cara bagaimana Ji-locianpwe ini keluar dari daerah terlarang Thian-ti-hu ini untuk menolongnya, dan siapakah gerangan orang berkedok itu?
Bagaimana pula keadaan Thian-ti-hu sekarang?
Apakah sudah bobol diserbu pihak Hek-po dan pusaka simpanannya telah dikuras seluruhnya oleh musuh?
Selagi melamun, tiba-tiba ji Pek-liong berkata padanya.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan, awas!"
Segera ia merasa berbagai Hiat-to di tubuhnya telah ditutuk oleh Ji Pek-liong, setiap kali tertutup arus hawa hangat lantas tersalur masuk melalui Hiat-to yang bersangkutan, ia tahu orang tua itu sedang melakukan penyembuhan kepadanya, Diam-diam ia pun mengerahkan tenaga dalam untuk mengiringi tenaga tutukan si kakek sehingga hawa hangat merata di seluruh tubuhnya.
Selesai menutuk berbagai Hiat-to penting, sambil mengusap keringatnya Ji Pek-liong berkata dengan tertawa.
"Lwekangmu ternyata lumayan juga!"
Timbul rasa terima kasih Yu Wi, dengan hormat ia menutur.
"Sejak kecil Wanpwe sudah mendapat ajaran teori Lwekang tinggalan almarhum ayahku."
"O, siapakah nama ayahmu..."
"Ayah bernama..."
Belum lanjut ucapan Yu Wi, mendadak rasa mengantuk menerjang benaknya.
"Sudahlah tidur saja dulu, jangan bicara lagi..."
Kata Ji Pek-liong pelahan.
Tidur Yu Wi ini berlangsung hingga sehari semalam, sesudah mendusin, semangatnya terali sangat segar, Dilihatnya di sisi kiri ada cahaya terang, ia lantas turun dari peti mati itu dan menuju ke sana.
Setelah melalui sebuah lorong bawah tanah yang sempit, membelok satu kali, lalu terlihat sebuah pintu batu yang tinggi setengah tertutup, sesatnya ia dorong daun pintu.
Kemudian dilihatnya di atas pintu batu itu tertulis "Makam keturunan sedarah keluarga Kan".
Segera Yu Wi tahu pintu batu raksasa ini adalah batu nisan yang terletak di tengah-tengah makam itu.
Perlahan ia melangkah keluar, terlihat keadaan di sekitar situ masih tetap serupa apa yang dilihatnya tempo hari, Si kakek Ji Pek-liong tampak duduk tenang di atas tanah rumput, ia mendekati si kakek dan menyapa dengan pelahan.
"Locianpwe!"
Si kakek terjaga bangun, jawabnya dengan tertawa.
"Sudah sehat?"
Yu Wi merasa si kakek telah jauh lebih tua daripada waktu pertama kali dia melihatnya.
padahal kejadian itu baru beberapa hari yang lalu, hanya dalam waktu sesingkat ini mengapa si kakek sudah bertambah setua ini?
Karena tidak tahu apa sebabnya, seketika Yu Wi berdiri kesima dan lupa menjawab, Si kakek menggeliat, katanya dengan menghela napas.
"Ai, makin tua, tidak berguna lagi Karena menyembuhkan lukamu, seharian terasa penat sekali."
Baru sekarang Yu Wi paham duduknya perkara.
Rupanya karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga murninya untuk menyembuhkan lukanya, maka kakek itu mendadak bertambah banyak lebih tua.
Teringat hal ini, bercucuranlah air mata Yu Wi, ucapnya.
"O, Wanpwe pantas mampus, membikin susah cianpwe saja, ini .
"Jangan kau menyesali dirimu sendiri, tapi badanku yang tak berguna, mana boleh menyalahkan kau!"
Ujar si kakek dengan tertawa.
Melihat sikap orang yang tenang dan wajar, diam-diam Yu Wi kagum akan kebesaran jiwanya semuanya dihadapi dengan hati terbuka tanpa merasa sedih dan menyesal, sungguh keluhuran buatnya pantas dihormati..Lalu si kakek berkata pula.
"Kemarin dulu kulihat api berkobar di Thian-ti-hu, terdengar pula suara pertempuran mestinya sudah kuputuskan tak kan masuk ke Thian-ti-hu, tapi dalam keadaan demikian hal ini tidak terpikir lagi olehku, cepat aku memburu ke sana untuk melihat apa yang terjadi siapa tahu...."
Bicara sampai di sini, mendadak air mukanya berubah pucat menghijau, badan pun rada gemetar, jelas karena teringat sesuatu kejadian sehingga membuatnya gemas.
Yu Wi tidak tahu, disangkanya si kakek sakit demam, cepat ia bertanya.
"He, kenapa kau, Locianpwe?"
Tapi si kakek lantas berubah tenang lagi, katanya pelahan sambil memandang Yu Wi.
"Kau anak yang baik, sebaliknya dia adalah anak busuk yang berhati keji dan kejam..."
Yu Wi merasa bingung, tanyanya.
"Siapa dia yang Locianpwe maksudkan?"
""Tidak perlu urus siapa dia, pendek kata akhirnya dapat kuselamatkan kau,"
"tutur si kakek dengan menyesal.
"kalau terlambat sebentar saja, bisa jadi aku akan mati gemas, bahkan juga menyesal selamanya...."
Diam-diam Yu Wi berterima kasih terhadap orang tua yang sedemikian memperhatikan dirinya, karena memikirkan keadaan Thian-ti-hu, segera ia bertanya pula.
"Waktu itu Wanpwe roboh terpukul oleh orang berkedok itu, lalu tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya, Entah bagaimana kemudian?"
"Meski serbuan Hek-po itu sudah disiapkan sebelumnya, dilakukan dari luar dan diselundupkan ke dalam, jumlah mereka pun jauh lebih banyak tapi setiap penghuni Thian-ti-hu memiliki kungfu yang tidak lemah, pihak Hek-po tak dapat melawannya dan akhirnya lari terbirit-birit."
"Apa betul?"
Yu Wi menegas dengan girang.
"Masa kubohongi kau?"
Kata si kakek dengan tertawa.
"Thian-ti-hu hanya terbakar sebuah rumahnya, pihak Hek-po mestinya ingin merampok kitab pusaka Thian-ti-hu, akhirnya kentut saja tidak diperoleh. Darimana mereka tahu bahwa segala macam pusaka Thian-ti-hu selama tiga turunan tersimpan di sini seluruhnya?"
Yu Wi lantas teringat kepada keselamatan Lau Yok-ci, dengan ragu ia bertanya pula.
"Apakah.... mereda tidak apa-apa? ... ."
"Setelah kuselamatkan kau, kulihat pihak Hek po tidak sanggup bertahan lagi dan berturutturut kabur, lalu tidak kupusingkan lagi apa yang terjadi, aku pun tidak tahu adakah yang terluka di antara mereka."
Yu Wi merasa kuatir, katanya dengan pelahan.
"Locianpwe, Wanpwe akan keluar untuk menjenguk mereka...."
"Jangan pergi ke sana,"
Jawab si kakek mendadak.
"Selanjutnya kau tidak perlu lagi pergi ke Thian-ti-hu."
""Tapi.... tapi Inkong mengharuskan Wanpwe."
"Untuk apa lagi kau menyamar dia?"
"Wanpwe diserahi tugas dan harus setia pada kewajiban, terpaksa..."
"Setia pada kewajiban apa"? Kalau kubilang jangan pergi, tetap tidak boleh pergi!"
Bentak si kakek mendadak, karena marah, mukanya menjadi pucat pula.. Marah si kakek cepat datang juga cepat hilangnya, dengan pelahan ia berkata.
"Sebenarnya tidak pantas ku marah padamu, sesungguhnya bila menghadapi orang yang tidak berbudi begitu kau pun tidak perlu memegang janji. Kau tahu, urusan dunia Kangouw seribu perubahan, jika kau tidak dapat mengikuti gerak perubahan itu, kau sendiri jang akan rugi. Hatimu sangat baik, tapi hal ini harus kau camkan, harus mengikuti setiap gerak perubahan keadaan. Sejak dahulu banyak panglima setia yang kukuh pada pendirian dan tidak dapat mengikuti perubahan keadaan, akibatnya perjuangannya gagal dan jiwa pun melayang. Sungguh pengorbanan yang sia-sia!"
Kuatir si kakek marah lagi, Yu Wi mengiakan berulang dan tidak berani membantah. Setelah termenung sejenak, seperti mendadak telah mengambil sesuatu keputusan, lalu kakek itu berseru.
"Kau tinggal saja di sini!"
"Untuk apa Wanpwe tinggal di sini?"
Tanya Yu Wi terkejut.
"Apakah kau suka belajar kungfu padaku?"
Tanya si kakek.
Yu Wi sendiri mempunyai kisah pribadi yang sedih, menanggung dendam kesumat orang tua, dia memang sangat ingin mendapatkan ilmu sakti untuk menuntut balas, cuma sayang harapannya selama ini sia-sia belaka karena tidak mendapatkan petunjuk guru yang pandai.
Sekarang si kakek she ji yang diketahuinya maha sakti ini sukarela mau menjadi gurunya, keruan Yu Wi kegirangan, cepat ia berlutut dan menyembah, katanya.
"Wanpwe akan belajar dengan segala senang hati." .
"Tapi ilmu silatku sangat sulit dipelajari,"
Tutur si kakek.
"Bahkan sesudah berhasil mempelajarinya kau harus mempunyai tekad yang keras untuk melaksanakan sesuatu bagiku. Apakah kau sanggup?"
"Wanpwe tidak tahu betapa kemampuannya sendiri tapi Wanpwe hanya berpegang teguh pada pendirian bahwa segala sesuatu akan kulakukan dengan sesungguh hati dan sepenuh tenaga, maka apa pun juga tentu akan dapat kulaksanakan."
"Bagus, cita-cita bagus!"
Puji si kakek.
""Maka selanjutnya Ji Pek-liong akan mengajarkan segenap kemahiran yang dikuasainya kepadamu."
Dia lantas membawa Yu Wi ke dalam makam raksasa itu.
Di dalam kuburan raksasa itu terdapat jalan yang bersimpang-siur kian kemari dengan kamar batu yang tak terhitung jumlahnya.
Untuk mencapai kedalaman makam itu ada cara berjalan tertentu, kalau ngawur, tentu akan menyentuh pesawat rahasia dan mendatangkan malapetaka.
Yu Wi tidak tahu sudah berapa lama dia berjalan yang jelas berliku-liku, membelok ke sana dan memutar ke sini, untuk mengingatnya satu persatu sungguh tidak mudah, Sampai akhirnya si kakek berhenti di suatu tempat.
"Di depan kita ini adalah sebuah ruangan batu yang terbesar di dalam kuburan ini,"
Tutur si kakek.
"Selanjutnya boleh kau berlatih kungfu di dalam ruangan ini, bilamana ku anggap cukup dan memuaskan hasil latihanmu barulah boleh keluar dari makam ini."
Padahal yang dilihat Yu Wi di depan situ hanya dinding batu belaka, di mana ruang yang di maksudkan?
Dengan heran, dilihatnya si kakek meraba dinding batu itu, lalu tiga potong batu dinding itu ambles ke bawah.
Ketika si kakek mendorong sekuatnya, dinding itu lantas terbuka sebuah pintu setinggi tubuh manusia, Baru sekarang Yu Wi mengetahui betapa rahasia bangunan makam ini.
Sesudah ikut masuk ke dalam ruangan, Yu Wi rapatkan kembali pintu batu, Mereka datang dengan membawa lilin, maka dapat mengenal jalan dengan baik.
Tapi sekarang si kakek mendadak memadamkan api lilin, keadaan di dalam ruangan seketika gelap gulita.
"Di sini tak ada cahaya, tapi mempunyai saluran hawa yang cukup. Boleh kau tinggal di sini dan berlatih dengan tekun, urusan lain tidak perlu pusing, aku yang akan membereskannya bagimu,"
Demikian pesan si kakek.
"Wanpwe harus tinggal di ruangan yang gelap gulita ini tanpa penerangan?"
Tanya Yu Wi.
"Betul,"
Jawab si kakek. Yu Wi sangat heran mengapa dirinya disuruh tinggal di tempat gelap begini, padahal masih banyak ruangan yang tembus cahaya. Tapi lantas terdengar si kakek berkata.
"Umumnya orang berlatih kungfu karena ada pembatasan siang dan malam, maka hasilnya sering-sering juga kepalang tanggung, tapi sekarang tempat tinggalku ini tiada perbedaan antara siang dan malam, kau dapat berlatih sepuasmu, kalau lelah boleh istirahat, sesudah istirahat lantas berlatih lagi secara kejiwaan kau akan merasa senantiasa sedang berlatih dan takkan kendur, sedetik kau berlatih sedetik pula akan mendapat kemajuan, hasil latihanmu nanti tentu akan jauh lebih kuat daripada orang lain."
"Tapi Wanpwe tak dapat melihat Cianpwe, cara bagaimana dapat belajar?"
Kata Yu Wi.
"ilmu silat apa pun juga, yang paling penting ialah Lwekangnya, tenaga dalamnya, kebatinannya,"
Tutur si kakek.
"Maka sekarang akan kuajarkan dulu Lwekang-sim-hoat (teori kebatinan), habis itu baru akan kuajarkan kungfunya, Mengenai Lwekang-sim-hoatnya, cukup asalkan kau paham istilah-istilah kuncinya saja."
"Entah Lwekang-sim-hoat apa yang akan cianpwe ajarkan padaku?"
Tanya Yu Wi.
"Lwekang-sim-hoat ini aku sendiri tidak pernah melatihnya,"
Ujar si kakek dengan gegetun.
"Tapi ku tahu dengan jelas kekuatan lwekang ini jauh lebih hebat daripada Lwekang-sim-hoat yang lain, boleh dikatakan tiada bandingannya di dunia ini, namanya Thian-ih-sin-kang (ilmu sakti baju langit)"
"Thian-ih-sin-kang?"
Yu Wi mengulang istilah itu.
"Sungguh nama yang aneh!"
"Thian-ih-sin"kang! Nama ini meski aneh, tapi telah banyak membikin susah orang Bu-lim, banyak orang mengimpikannya siang dan malam dan tidak pernah mendapatkannya, Beruntung juga orang she Ji ini bisa mendapatkan istilah kunci latihannya secara lengkap."
Mendengar si kakek sangat memuja Thian-ih sin-kang, Yu Wi menjadi heran mengapa kakek itu sendiri tidak mau melatihnya?
ia coba bertanya "Dan cianpwe sendiri mengapa tidak melatih Thian ih-sin-kang ini?"
Sampai sekian lama si kakek tidak menjawab.
Karena tidak dapat melihat perubahan air muka orang tua itu, Yu Wi mengira si kakek tidak sudi menjelaskan alasannya, ia tidak tahu bahwa saat itu si kakek justeru lagi mengenangkan kejadian masa lampau dan hal mana membuat pedih hatinya.
Selagi Yu Wi hendak bicara urusan lain, tiba2 si kakek bersuara.
"Lantaran sejak kecil aku sudah berlatih Lwekang-sim-hoat lain macam, maka tidak boleh berlatih Thian-ih-sin-kang lagi."
"Wanpwe juga pernah belajar Lwekang-sim-hoat lain selama beberapa tahun, entah boleh belajar lagi Thian-ih-sin-kang atau tidak?"
Tanya Yu Wi.
"Lwekang-sim-hoat apa yang diajarkan ayahmu itu?"
Tanya si kakek.
"Kata ayah, Lwekang-sim-hoat itu bernama Ku-sit-tay-kang (ilmu kura istirahat),"
Jawab Yu Wi.
"Ku-sit-tay-kang, Lwekang ini sangat sulit dilatih, pernah kudengar ilmu ini,"
Ujar si kakek. Dengan suara sedih Yu Wi berkata pula.
"Sebelum meninggal ayah telah mengajarkan beberapa istilah kunci latihan padaku,"
Selama beberapa tahun Wanpwe berlatih secara tidak terpimpin, entah tepat tidak latihanku?"
"Secara teori, bilamana Ku-sit-tay-kang terlatih dengan baik, dalam hal tenaga dalam sukar ditandingi oleh Lwekang-sim-hoat jenis lain, bila terlatih sempurna tidak sulit untuk menjadi "
Tokoh Kangouw kelas satu." .
"Tampaknya Wanpwe belum berhasil menguasai ilmu ini,"
Ujar Yu Wi.
"Buktinya kemarin itu ketika berhadapan dengan musuh, beberapa kali musuh kena seranganku, tapi tak dapat melukai atau merobohkan mereka, Bila sempurna latihanmu tentu takkan terjadi begitu."
"Meski latihanmu belum berhasil dengan baik, tapi juga sudah lumayan,"
Kata si-kakek.
"Asalkan kau latih lebih giat lagi, akhirnya pasti akan mencapai tingkatan yang sempurna."
"Setelah berlatih Ku-sit-tay-kang, apakah boleh berlatih pula Thian-ih~sin~kang?"
Tanya Yu Wi.
"Kedua macam Lwekang-sim-hoat ini adalah ilmu kebatinan aliran baik, keduanya tidak saling bertentangan, maka dapat dilatihnya bersama sekaligus, Setelah kau mempunyai dasar latihan Kusit-tay-kang, lalu berlatih Thian-ih-sin~kang lagi, hasilnya nanti tentu akan jauh lebih baik daripada melulu melatih Thian~ih-sin-kang saja,"
Setelah berkata, kakek itu tidak bersuara lagi dan Yu Wi juga tidak bertanya. Sampai sekian lamanya, mendadak si kakek berserU.
"Ah, teringatlah olehku! Tahulah aku siapa ayahmu!"
"Ayahku bernama Bun-hu,"
Tutur Yu Wi.
"Ya, ternyata benar dia,"
Seru si kakek dengan rada terkesiap.
"Apakah cianpwe kenal mendiang ayahku."
"Berpuluh tahun yang lalu pernah kudengar nama "Ciang-kiam hui"
Yu Bun-hu adalah seorang ksatria yang berbudi luhur dan suka menolong sesamanya, hanya dia saja yang mahir Ku-sit-taykang yang konon sudah lama lenyap dari dunia persilatan,"
Tutur si kakek.
Untuk pertama kalinya Yu Wi mengetahui sang ayah mempunyai sebuah nama julukan di kalangan kependekaran.
Maklumlah, pada usia delapan dia sudah ditinggalkan ayahnya, sudah hampir sepuluh tahun dan wajah sang ayah saja sudah tidak begitu jelas lagi, sekarang didengarnya pujian Ji Pek-liong, seperti anak kecil ia lantas bertanya.
"Apakah betul ayahku seorang pendekar besar yang baik?"
"Dia memang seorang pendekar termashur,"
Jawab Ji Pek-1iong.
"Cuma tidak tersangka akan meninggal sedini itu, takdir ternyata tidak memberi panjang umur kepada orang baik. Apakah kau tahu sebab apakah ayahmu meninggal?"
""Ayah meninggal dibunuh -orang,"
Jawab Yu Wi dengan sedih, seketika alis Ji Pek-liong menegak, tanyanya dengan gusar.
"Siapakah musuhmu itu?"
"Wanpwe cuma tahu musuh yang ikut mencelakai ayah itu sangat banyak, tapi belum dapat memastikan siapa-siapa mereka itu,"
Tutur Yu Wi dengan menangis.
"Jangan berduka, jangan sedih!"
Kata Ji Pek-liong.
"Asalkan selanjutnya kau berlatih dengan tekun, setelah tamat belajar, lalu selidiki dengan pelahan, kuyakin satu persatu musuhmu pasti akan dapat dibekuk batang lehernya."
Yu Wi berhenti menangis, ucapnya dengan tegas dan tekad bulat.
"Baik, Wanpwe pasti akan berlatih segiatnya,"
"Kau memang anak yang baik,"
Puji Ji Pek-liong dengan tertawa.
"Sekarang akan kuajarkan dulu tiga kalimat kunci latihan dasar Thian-ih sin-kang..."
Ketiga kalimat itu mengandung arti sangat dalam, cukup lama si kakek memberi penjelasan barulah dapat dipahami seluruhnya oleh Yu Wi.
selanjutnya ia lantas berlatih sendiri dengan tekun menurut makna yang terkandung dalam ketiga kalimat itu.
Tanpa membedakan siang dan malam Yu Wi terus berlatih kedua macam ilmu sakti itu di dalam makam raksasa itu.
Hanya sekejap saja setahun sudah lalu.
Karena mendapat bimbingan si kakek aneh Ji Pek liong, Ku-sit-tay-kang kini sudah dapat dikuasai Yu Wi dengan sempurna.
Meski Thian-ih sin-kang lebih sulit dilatih, tapi juga sudah tujuh bagian telah dikuasainya.
Hari ini Ji Pek-liong datang membawakan makanan dan ditaruh di depan Yu Wi, lalu katanya.
"Si!akan makan, anak Wi!"
Meski di dalam ruang kuburan itu tetap gelap gulita tak tembus cahaya sedikit pun, tapi selama setahun Yu Wi sudah terbiasa dan dapat melihat sesuatu benda dengan jelas, sudah tentu sama sekali berbeda daripada waktu pertama kali dia masuk ke situ, kini kegelapan itu sudah tidak membuatnya heran lagi.
padahal kalau dia tidak berlatih Thian-ih-sin-kang, biarpun dia tinggal seratus tahun di situ juga akan tetap tak bisa melihat dalam kegelapan seperti orang buta.
Selesai Yu Wi makan, dengan tertawa Ji Pek-liong lantas berkata.
"Sekarang boleh kau ikut keluar saja dan tidak perlu tinggal lagi di sini."
"Murid belum berhasil sepenuhnya menguasai ilmu yang kulatih, mengapa sudah boleh keluar?"
Tanya Yu Wi.
"Apakah kau tahu sudah berapa lama kau berdiam di dalam makam ini?"
Tanya si kakek.
"Murid tidak tahu,"
Jawap Yu Wi.
"Sudah genap setahun,"
Ucap Ji Pek-liong dengan gegetun.
"Setahun?"
Yu Wi menegas dengan terkejut.
"Murid mengira baru beberapa bulan saja."
"Hal ini disebabkan kau berlatih dengan tekun dan tanpa terasa sang waktu lalu dengan cepat,"
Ujar Ji Pek-liong.
"Sekarang Lwekangmu sudah berhasil kau latih, kau tidak perlu berdiam lagi di ruang gelap ini, boleh ikut keluar untuk belajar ilmu silat lainnya."
OOo oWo oOo Setiba di luar kuburan, karena mendadak melihat sinar matahari, kedua mata Yu Wi terasa silau dan pedas, Segera ia memejamkan mata dan beristirahat sejenak, kemudian membuka mata dengan pelahan.
Ia melihat kulit badan sendiri putih luar biasa, berbeda jauh dengan warna kulit waktu masuk ke dalam makam dahulu, ia mengira hal ini disebabkan selama setahun tidak terkena sinar matahari, ia tidak tahu bahwa perubahan kulit badannya juga akibat latihan Thian ih-sin-kang, semakin sempurna latihannya, semakin putih pula kulit badannya.
Di depan makam adalah tanah lapang berumput, Ji Pek-liong berduduk di situ dan berkata.
"Kau pun duduk saja di sini."
Yu Wi duduk di depan orang tua itu. Lalu Ji Pek-liong berkata pula.
"Thian-ih-sin-kang kudapatkan dari seorang perempuan aneh di dunia persilatan, kupaham istilah kuncinya, tapi belum pernah kulatih, Selama setahun ini latihanmu entah sudah mencapai taraf bagaimana, boleh kita coba-coba adu tangan."
Mengadu tangan antara ahli Lwekang sangat berbahaya, bilamana salah sedikit bisa mengakibatkan keduanya sama-sama celaka, Kuatir terjadi apa-apa, Yu Wi menjadi ragu dan tidak berani.
Melihat anak muda itu diam saja, Ji, Pek-liong tertawa, katanya.
"Tidak perlu kau takut gurumu tentu mempunyai perhitungan."
Terpaksa Yu Wi menurut, ia menjulurkan sebelah tangannya dan beradu telapak tangan dengan Ji Pek-liong. Tapi ia pun tidak berani mengerahkan tenaga.
"Boleh kaukerahkan sepenuh tenaga, kalau tidak, cara bagaimana dapat kuketahui sampai taraf mana latihanmu?"
Kata, si kakek.
Tiada jalan lain, terpaksa Yu Wi menurut semula Ji Pek-liong mengira dengan mudah akan dapat ditahannya tenaga anak muda itu.
Tak tahunya tenaga Yu Wi terus menyerangnya seperti gelombang ombak samudra yang dahsyat.
Keruan ia terkejut, cepat ia menahan sepenuh tenaga, seketika kedua telapak tangan lantas melengket, keadaan menjadi gawat.
Rupanya Ji Pek-liong mengira Lwekang sendiri jauh lebih kuat daripada Yu Wi dan dapat menguasai tenaga pukulan sendiri dengan sesukanya, tentu takkan menimbulkan bahaya bagi anak muda itu.
ia tidak menyangka bahwa tenaga dalam Yu Wi sekarang ternyata sama kuatnya dengan dia, dengan demikian, untuk memisahkan mereka menjadi sulit, Sejenak kemudian, Ji Pek-liong mulai berkeringat dingin, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa tenaga dalam Yu Wi bisa sama kuatnya dengan dirinya, apakah karena Thian-ih-sin-kang itu memang maha sakti atau lantaran tenaga dalam sendiri yang mundur banyak daripada dahulu?
Keadaannya yang payah itu tidak berani dikatakannya kepada Yu Wi, sebab ia kuatir anak muda itu akan terkejut, demi keamanan sang guru, mungkin anak muda itu akan buru-buru menarik kembali tangannya jika demikian jadinya, tentu Yu Wi yang akan terluka oleh tenaga pukulan yang sukar ditahan itu, malahan jiwa anak muda itu mungkin bisa melayang, Sebab ia menyadari keadaannya sekarang sudah tidak mampu lagi menguasai tenaga pukulan sendiri dengan sesukanya.
Celakanya Yu Wi sama sekali tidak tahu keadaan Ji Pek-liong yang serba susah itu, dia masih terus mengerahkan tenaga sebagaimana diminta sang guru tadil Diam-diam Ji Pek-liong mengeluh dan terpaksa bertahan terus hingga kedua pihak sama2 lelah dan kehabisan tenaga, dengan demikian sekalipun kedua orang sama terluka tentu akan lebih enteng daripada kalau cuma seorang saja yang terluka, Dengan prihatin segera ia berkata.
"Anak Wi, bila guru tidak memberi perintah sekali-sekali tidak boleh kau tarik tanganmu."
Meski di dalam hati Yu Wi merasa heran mengapa sedemikian lama sang guru menjajal kekuatannya, tapi sukar baginya untuk bertanya, terpaksa-ia hanya mengangguk-saja dan pelahan tetap mengerahkan tenaga.
Inilah sebuah lukisan yang khidmat, tenang dan damai, tapi tiada yang tahu bahwa di balik lukisan ini betapa akan menimbulkan akibat yang tragis?
Suasana sunyi senyap, kesunyian yang luar biasa dan aneh.
Pada saat itulah sekonyong-konyong dan luar hutan sana melayang masuk sesosok bayangan, begitu enteng dan cepat datangnya bayangan itu seolah-olah badan halus saja.
Kiranya seorang perempuan, cuma lantaran dandanan dan gerakannya yang gesit, maka tampaknya serupa hantu yang baru muncul dari kuburan.
Perempuan ini memakai baju panjang sutera hitam yang menyeret tanah, rambutnya yang hitam terurai hingga batas pinggang, wajahnya putih seperti kertas, sedikitpun tidak ada cahaya muka orang hidup, Kedua matanya juga kelihatan buram, memandang kaku ke depan, tapi langkahnya enteng seperti mengambang di permukaan tanah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.Orang bilang badan halus kalau berjalan kaki tidak menempel tanah, apakah perempuan ini memang betul sesosok badan halus?
Tapi di siang hari bolong begini, rnana bisa badan halus muncul di depan umum?
Tampaknya tetap juga manusia hidup.
Dia berjalan sampai di depan Ji Pek-liong dan Yu Wi, ia pandang mereka dengan sorot mata yang nanar, lalu menegur dengan suara yang sepat.
"Berbuat apa kalian di sini?"
Ji Pek-liong tidak menjawab, Yu Wi sendiri lagi mengerahkan Thian-ih-sin-kang, dalam keadaan demikian ia tidak dapat memikirkan urusan lain.
Mendadak lengan baju perempuan itu mengebas, katanya dengan tidak sabar.
"Kalian menyingkir dulu, tidak boleh berdiam di sini, masih banyak pekerjaan penting yang harus kuselesaikan!"
Kebasan lengan bajunya itu kebetulan mengenai telapak tangan kedua guru dan murid itu sehingga secara tepat mereka tergetar mundur, tiada seorangpun yang terluka semua kekuatan yang terkumpul pada tangan kedua orang itu seakan-akan telah terhapus oleh kebasan lengan bajunya tadi.
Ji Pek-liong tidak bicara apa pun, ia pegang tangan Yu Wi terus diajak berlari ke belakang makam, setiba di sana, mereka masih dapat mengintai apa yang terjadi di depan makam.
"Siapakah dia?"
Tanya Yu Wi dengan heran.
"Ssst, jangan bersuara, lihat saja!"
Desis si kakek.
Perempuan tadi sama sekali tidak menghiraukan ada orang mengintip di samping sana, cukup baginya asalkan orang lain tidak merintangi jalannya di depan makam.
Dengan termangu-mangu dia pandang batu nisan makam keluarga Kan itu, bibirnya kelihatan bergerak-gerak, entah apa yang diucapkannya.
Hampir sebagian besar muka perempuan itu teraling oleh rambutnya yang panjang sehingga wajahnya tidak terlihat jelas, cukup lama dia berkomat-kamit.
habis itu mendadak ia tertawa terkikik-kikik.
"Coba kau lihat, akhir-akhir ini aku bertambah cantik bukan?"
Kedua tangannya yang kelihatan kurus kering itu lantas menyibak rambutnya yang panjang itu sehingga kelihatan jelas wajahnya yang sudah tua dan kurus itu.
Yu Wi tidak menyangka bahwa suara tadi diucapkan oleh perempuan setengah baya ini, padahal siapa pun yang mendengar suaranya pasti akan mengira pengucapnya adalah seorang perempuan yang masih muda, lincah dan mempesona, Luar biasa heran Yu Wi, ia tidak tahu dengan siapakah perempuan itu berbicara jelas di depannya adalah makam orang niat memangnya dia lagi bicara dengan orang niat Mengapa pula dia berbicara seaneh itu?
Semua ini menimbulkan perasaan yang misterius, hati Yu Wi serasa tertindih oleh sepotong batu.
hampir-hampir saja tidak dapat bernapas.
Dilihatnya perempuan itu masih menyisir rambutnya ke samping dan mengapa dia berdiri tidak bergerak, senyum dan sikapnya itu sangat tidak cocok dengan usiaaya, dan mengapa dia masih terus berdiri di situ?
Apakah supaya dipandang sepuasnya oleh orang yang dimaksudkannya tadi?
Dengan simpatik Yu Wi memandangi perempuan itu seakan-akan sudah dikenalnya, rasanya seperti sudah sering dilihatnya, cuma dia tidak ingat lagi.
Tiba-tiba didengarnya Ji Pek-liong mendesir "Ssst, anak Wi, wajahnya mirip benar dengan kau!"Hati Yu Wi serasa menjerit benaknya seolah-olah diketuk dengan keras, telinga mendenging, diam-diam ia berteriak.
"Mirip benar! Mengapa wajahku mirip benar dengan dia?"
Sekonyong-konyong lenyap senyuman yang menghiasi wajah perempuan itu, ia lepaskan rambutnya, lalu mengeluh seperti rintihan hantu dan menghela napas panjang, suaranya kembali sehat dan kering, katanya.
"Akan kumainkan sejurus kungfu lagi bagimu, lalu aku akan pergi!"
Dalam sekejap saja kelihatan lengan bajunya bertaburan dengan suara angin yang berdesir, makin lama makin cepat, sampai akhirnya bayangan tubuhnya pun lenyap tenggelam di tengah bayangan lengan bajunya, suara angin menderu-deru memekak telinga dan sangat mengejutkan.
Mendadak bayangan lengan bajunya dan orangnya lenyap sekaligus, hanya terdengar suara teriakannya yang memilukan berkumandang dari luar hutan sana, sejenak kemudian suasana kembali sunyi senyap pula, mungkin perempuan tadi sudah pergi jauh.
Yu Wi ikut Ji Pek-liong menuju ke depan makam, tertampak rumput bertebaran memenuhi lantai, ketika diperhatikan setiap tangkai rumput itu putus sebatas akar, rajin seperti bekas dibabat oleh pisau yang tajam.
"Kungfu yang hebat, kungfu yang bagus!"
Seru Ji Pek-liong gegetun sambil meraup secomot rumput itu. Yu Wi tidak tahan akan rasa herannya, ia bertanya.
"Suhu, apakah engkau tahu siapa dia?"
Ji Pek-liong menggeleng, katanya.
"Entah, aku pun tidak tahu, Aku cuma tahu setiap tahun pada siang hari Tiongciu (hari raya bulan purnama bulan delapan) dia pasti datang ke sini satu kali."
"Untuk apa setiap tahun dia datang kemari?"
Tanya Yu Wi dengan heran.
"Aku pun tidak tahu untuk apa dia datang ke sini,"
Tutur Ji Pek-liong.
"Seperti juga tadi, setiap kali aku pun mengintip gerak-geriknya, tapi tidak pernah kutegur dia atau mengajaknya bicara."
"Mengapa Suhu tidak menanyai dia?"
Ujar Yu Wi dengan tidak habis mengerti. Dengan jujur Ji Pek-liong bertutur pula.
"Setiap kuli kulihat kungfu yang dimainkannya di sini selalu lebih lihay daripadaku, maka aku tidak berani mengganggu dia. Siapa tahu kedatangannya ke sini ternyata tiada bermaksud jahat terhadap siapa pun, Malahan tadi berkat dia ....,""
Mendadak ia berhenti dan berubah nadanya.
"Sudahlah, jangan kita membicarakan dia. Hari ini ternyata hari Tiongciu lagi, sang waktu sungguh berlalu dengan amat cepat!". Di balik ucapnya itu, nyata dia sangat menyesalkan berlalunya waktu yang cepat -O + O--()--0 + 0-Sang waktu memang berlalu dengan cepat tanpa terasa, dalam sekejap setengah tahun sudah lenyap pula, Selama setengah tahun ini tidak sedikit Yu Wi belajar dari Ji Pek-liong. Pagi hari ini, berkatalah Ji Pek-liong kepada Yu Wi.
"Anak Wi, sudah tiba saatnya kutinggalkan kau!"
Yu Wi terkejut, serunya.
"He, Suhu, apakah lantaran murid terlalu bodoh dan tidak memenuhi harapanmu, maka Suhu tidak menghendaki pelayanan murid lagi?"
Ji Pek-liong menggeleng, katanya.
"Tidak, bukan begitu, jangan sembarangan kau terka, Selama setengah tahun terakhir ini sudah kuajarkan hampir seluruh ilmu yang kumiliki yang masih diperlukan bagimu sekarang hanya latihan saja, untuk ini kau harus berjuang sendiri, aku tidak dapat membantu lagi, dengan sendirinya kita terpaksa berpisah."
"Tapi murid ingin mendampingi Suhu selama hidup dan tidak mau berpisah,"
Seru Yu Wi dengan emosi.
"Anak bodoh,"
Kata Ji Pek-liong dengan tertawa.
"kalau bicara jangan terlalu emosi, kau minta selalu berada di sampingku, apakah kepandaian yang sudah kau pelajari tidak kau gunakan untuk mengabdi kepada masyarakat? Tidak lagi memikirkan dendam kesumat kematian ayahmu?"
Pertanyaan si kakek membuat Yu Wi tertegun dan bungkam. Ji Pek-liong menghela napas, lalu berkata pula.
"Boleh kau belajar lagi dua jurus ilmu pedang dariku, setengah bulan kemudian kita benar-benar akan berpisah."
Dengan rawan Yu Wi mengangguk dan berkata.
"Setelah berpisah, setiap saat murid akan giat berlatih kungfu ajaran Suhu."
"Perasaanmu harus bergembira, bila tidak, kedua jurus ilmu pedangku ini mungkin sukar kau pahami dalam waktu 15 hari,"
Ujar si kakek dengan tertawa.
"llmu pedang apakah, masa dua jurus perlu belajar selama setengah bulan?"
Tanya Yu Wi dengan heran.
"Kedua jurus ilmu pedang ini sangat ajaib, orang biasa tidak nanti dapat memahaminya dalam waktu setengah bulan,"
Kata Jj Pek-liong dengan sungguh-sungguh.
"Tapi daya tangkapmu sangat tinggi, batas waktu setengah bulan bagimu mungkin tidak menjadi soal."
Kemudian Ji Pek-liong mengeluarkan dua batang pedang kayu yang sudah disiapkannya, sebatang pedang kayu disodorkannya kepada Yu Wi dan berkata.
"Kedua jurus pedang ini sangat sukar dilatih, waktu permulaan seringkali akan melukai dirinya sendiri, maka sudah lama sengaja kubuatkan kedua pedang kayu ini, hati-hati sedikit pada waktu berlatih, meski bukan pedang asli, berat juga kalau sampai tertabas."
Yu Wi menerima pedang kayu itu, rasanya lebih berat daripada pedang sungguhan, entah terbuat dari jenis kayu apa.
Dengan pedang kayu satunya Ji Pek-liong melangkah ke lapangan di depan makam, ia pasang kuda-kuda dan mencurahkan segenap pikiran dan perhatian, katanya.
"Kedua jurus ini sebenarnya tidak bernama, tapi biarlah ku sebut saja jurus pertama sebagai Put-boh-kiam (jurus tak terpatahkan)!"
Sembari bicara segera pedang bergerak, dalam sekejap bayangan pedang bertebaran dan mengabulkan pandangan Yu Wi, sukar untuk mengetahui cara bagaimana Ji Pek-liong memainkan pedang kayu itu.
Sampai sekian lama barulah kakek itu berhenti., ucapnya dengan tertawa.
"Di mana letak kelihayan jurus pedang ini sukar juga untuk dijelaskan, biarlah kau selami sendiri bilamana sudah kau latih dengan baik. sekarang akan kuberi tahu cara berlatihnya..."
Yu Wi mengingat baik-baik satu persatu petunjuk Ji Pek-liong itu, habis itu ia lantas menyingkir ke samping untuk berlatih sendiri.
Dari pagi hingga malam, sehari suntuk Yu Wi terus berlatih, namun tiada kemajuan sama sekali.
Hari kedua ia berlatih pula, hasilnya tiga kali ia menghantam dirinya sendiri.
Hari ketiga kembali ia berlatih lebih giat, hasilnya malahan belasan kali ia serang diri sendiri, Malamnya sekujur badan terasa kesakitan dan sukar terpulas.
Sampai hari kelima barulah dia menemukan kuncinya, semakin berkurang pedang kayu itu mengenai tubuhnya sendiri.
Hari ke tujuh ia mengulangi latihannya dari awal sekarang pedang kayu itu sama sekali dapat dikuasainya dan tidak mengenai tubuh sendiri lagi.
Sampai hari kesepuluh barulah ia apal benar jurus ilmu pedang itu, Pada pagi hari ke sebelas ia lapor kepada Ji Pek liong.
"Suhu, jurus pertama sudah dapat kupahami."
Ji Pek-liong merasa gembira dan mengangguk sebagai tanda memuji, ia pegang pedang kayunya dan menuju ke lapangan pula, katanya dengan tertawa.
"Sekarang akan kuajarkan jurus kedua, kuberi nama jurus ini sebagai Bu-tek-kiam (jurus tiada tandingan)!"
Jurus kedua ini tampaknya lebih sulit dilatih daripada jurus pertama, Ji Pek-liong menjelaskan cara berlatihnya dan membiarkan Yu Wi menyelaminya sendiri.
Menurut pikiran Yu Wi, kalau jurus pertama memerlukan waktu sepuluh hari, tampaknya jurus kedua ini harus makan waktu belasan hari, Kalau dia cuma diberi batas waktu setengah bulan untuk meyakinkan kedua jurus itu, boleh dikatakan sang guru terlalu menghargai dirinya.
Akan tetapi, aneh juga, meski jurus kedua ini lebih sulit daripada jurus pertama namun pada hari kelima sudah dapat dikuasainya dengan baik, Kalau ditambah dengan sepuluh hari sebelumnya, total jenderal memang persis 15 hari.
Pada pagi hari ke-26, berkatalah Ji Pek-long kepada Yu Wi.
"Hari ini juga Suhu akan berpisah dengan kau."
Yu Wi tampak berduka, katanya.
"Dan entah kapan baru dapat berkumpul pula dengan Suhu?"
"Bilamana ada jodoh, kelak pasti akan bertemu lagi,"
Ujar Ji Pek-liong dengan tertawa.
"Biarlah hari ini kita jangan bicara hal-hal yang menyedihkan marilah kita pelajari kedua jurus pedang itu dengan lebih baik."
Mereka lantas membawa pedang kayu masing-masing dan menuju ke lapangan.
"Coba, akan ku serang kau dengan Bu-tek kiam."
Kata si kakek.
"Dan aku bertahan dengan Put-boh-kiam."
Tukas Yu Wi.
"Ya, jagalah baik-baik,"
Seru Ji Pek-liong menyerang. Hasilnya Yu Wi tidak mampu bertahan.
"plak", pinggulnya kena disabet oleh pedang kayu sang guru. Ji Pek-liong lantas memberi petunjuk di mana letak kelemahannya "Maka pada gebrakan kelima, kakek itu tidak dapat memukul tubuh Yu Wi lagi dengan jurus Bu-tek kiam. Sambil tertawa puas Ji Pek-liong berkata.
"Put-boh-kiam sudah kau kuasai dengan baik, sekarang boleh kau coba jurus Bu-tek-kiam."
Maka mulailah Yu Wi menggunakan jurus Bu-tek kiam untuk menyerang Ji Pek-liong, sedangkan sang guru bertahan dengan ilmu pedang pilihan lain.
Tiga kali serangan pertama Yu Wi tidak dapat berbuat apa pun terhadap orang tua itu, Ji Pekliong lantas memberi petunjuk pula di mana kesalahannya.
Maka pada serangan ke enam kalinya, dapatlah perut sang guru ditusuk dengan pedang kayunya.
Yu Wi lantas berhenti dan tidak berani menyerang lagi.
Ji Pek-liong memuji tak habis-habis akan bakat Yu Wi yang bagus itu, katanya.
"Bu-tek-kiam juga sudah kau kuasai dengan baik, selanjutnya jarang lagi ada ilmu pedang di dunia ini yang mampu menahan jurus seranganmu ini. Dengan Put-boh-kiam kau bertahan dan dengan Bu-tekkiam kau menyerang, orang yang tak dapat kau kalahkan kuyakin tidak banyak lagi."
"Apa yang dicapai murid seperti sekarang... semuanya adalah berkat dorongan dan bimbingan Suhu, entah Suhu ada petuah apa pula terhadap murid?"
Dengan serius Ji Pek-liong lantas berkata.
"Kedua jurus pedang ini terlampau lihay, kalau tidak terpaksa janganlah sekali-kali kau gunakan!"
"Murid akan selalu ingat pada pesan Suhu ini,"
Jawab Yu Wi dengan hormat.
"Taruhlah pedang kayumu, marilah kita mengobrol urusan lain."
Kata si kakek. Yu Wi ikut sang guru duduk di depan makam dan bersandar pada batu nisan, Ji Pek-liong berkata.
"Tempo hari waktu ku mulai mengajar jurus pertama padamu, pernah kukatakan bahwa kedua jurus pedang ini tidak bernama, apakah kau tahu sebabnya?"
Murid pikir mungkin kedua jurus ini sulit diberi nama yang tepat, maka si penciptanya lantas sama sekali tidak memberikan nama padanya,"
Jawab Yu Wi.
"Ya. kukira memang begitulah jalan pikiran si penciptanya,"
Kata Ji Pek-liong dengan gegetun.
"Sudah berpuluh tahun akupun tidak dapat memberinya nama yang tepat, Put-boh dan Bu-tek hanya melukiskan betapa dahsyat dan kuatnya kedua jurus ini, bila bicara tentang nama, ke empat huruf itu tidak dapat mewakilinya dengan tepat."
"Sebenarnya nama Put-boh-kiam dan Bu-tek-kiam juga cukup bagus,"
Ujar Yu Wi.
"Dan entah mereka memberinya nama apa kepada ke enam jurus lainnya,"
Tukas si kakek tiba2.
"Ke enam jurus lain apa? Masa masih ada enam jurus lagi?"
Tanya Yu Wi.
"Ya, masih ada enam jurus lagi, bersama kedua jurus pedangku ini, seluruhnya ada delapan jurus."
"Apakah ke delapan jurus ini merupakan suatu rangkaian Kiam-hoat (ilmu pedang)"
"Betul,"
Ji Pek-liong mengangguk.
"Meski ke delapan jurus ini masing-masing tiada diberi nama, tapi seluruhnya disebut Hay-yan-kiam-hoat."
"Hay-yan-kiam-hoat.... Hay yan-kiam-hoat...."
Yu Wi bergumam mengulangi nama itu.
"Ya, artinya rangkaian ilmu pedang ini seluas Hay (laut) dan sedalam Yan (jurang)!"
Kata Ji Pek-liong pula.
"Latah benar nama ini, besar amat suaranya!"
Ujar Yu Wi.
"Bila ke delapan jurus ini lengkap kau kuasai, tentu kau takkan menganggap latah lagi namanya. Cuma sayang, ke delapan jurus ini tidak ada orang lagi yang mampu menguasainya secara lengkap, kecuali...."
"Kecuali apa?"
Tukas Yu Wi cepat.
"Kecuali kau!"! jawab Ji Pek-liong.
"Aku?"
Yu Wi menegas dengan terkejut.
"Suhu akan mengajarkan padaku?"
"Tidak, Suhu sendiri juga tidak bisa,"
Jawab Ji Pek-liong sambil menggeleng.
"Kecuali kedua jurus yang kau pelajari ini, ke enam jurus lain aku cuma pernah melihatnya, tapi cara melatihnya hakikatnya aku pun tidak tahu."
"Habis, kalau Suhu sendiri tidak bisa, cara bagaimana murid dapat mempelajarinya?"
"Apakah kau masih ingat ketika hendak ku ajarkan Thian-ih-sin-kang padamu, waktu itu pernah kukatakan kau harus melakukan sesuatu pekerjaan bagiku?"
"Ya, murid masih ingat, apa pun perintah Suhu pasti akan kulaksanakan sepenuh tenaga."
"Pekerjaan ini adalah supaya kau menggunakan segenap kemampuanmu untuk belajar lengkap Hay-yan-kiam-hoat itu!"
Yu Wi terkejut, ia pikir sekalipun mampu, kalau tidak ada yang mengajarnya, cara bagaimana ia dapat menguasai Hay-yan-kiam-hoat itu secara lengkap?
Ia ragu dan bingung, selagi ia hendak bertanya, sang guru telah menyambung.
"Sembilan tahun yang lalu, di puncak gunung Ma-siau-hong, berkumpul tujuh orang kakek, di situ mereka berunding dan membicarakan ilmu pedang masing2. Ke tujuh kakek itu terkenal sebagai Bu-lim-jit-can-so (tujuh kakek cacat dunia persilatan), sebab setiap orangnya sama cacat badan. Tapi meski lahiriah mereka cacat, namun ilmu silat mereka sangat tinggi, di dunia Kangouw, baik golongan hitam maupun kalangan putih, nama mereka cukup disegani.
"Kungfu ke tujuh kakek cacat itu sama tingginya dan sukar dibedakan siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih asor, Hanya seorang saja di antaranya menguasai lebih banyak satu jurus ilmu pedang ketimbang ke enam rekannya itu. Dalam pertandingan di puncak gunung itu, akhirnya tiada seorang pun di antara ke enam rekannya sanggup melawannya."
"Jurus ilmu pedang apakah itu? Masa begitu lihay?"
Tanya Yu Wi.
"Jurus itu adalah Put-boh-kiam yang kuajarkan padamu itu!"
Tutur Ji Pek-liong.
"O, jadi orang yang dimaksudkan itu ialah Suhu?"
"Ya,"
Ji Pek-liong mengangguk.
"kakek cacat yang menguasai satu jurus lebih banyak daripada rekannya itu ialah diriku, Hay-yan-kiam-hoat seluruhnya meliputi delapan jurus. Tujuh jurus di antaranya adalah jurus menyerang, hanya satu jurus saja yang merupakan jurus bertahan, jurus kelebihanku adalah jurus bertahan itu, mereka berenam masing-masing menguasai satu jurus menyerang, jadi mereka hanya dapat menyerang dan tidak mampu bertahan, sebaliknya aku dapat bertahan dan juga menyerang, Karena itulah mereka masing-masing bukan tandinganku maka mereka berenam lantas bergabung dan mengeroyok diriku,"
"Enam mengeroyok satu, sungguh tidak tahu malu!"
Seru Yu Wi.
"Lalu Suhu bagaimana?..."
"Jangan gelisah,"
Tutur Ji Pek-liong pelahan.
"Walaupun mereka berenam, mereka tetap bukan tandinganku Tapi ketimbang satu persatu bertempur denganku, jelas kekuatan mereka bertambah banyak, jadinya aku tidak mampu mengalahkan mereka, sebaliknya mereka pun tidak dapat mengapa-apakan diriku"
"Pada pertarungan sembilan tahun yang lalu itu adalah pertandingan terakhir, padahal seluruhnya kami sudah pernah bertarung 19 kali, setiap tahun pada malam hari Tiongciu kami pasti berkumpul di Mi-siau-hong dan bertanding, jadi sudah 19 tahun kami bertanding tanpa hasil..."
"Ada permusuhan apakah antara mereka dengan Suhu, mengapa harus bertarung setiap tahun?"
Tanya Yu Wi dengan penasaran.
"Tujuan mereka hanya ingin memaksa kubeberkan satu jurus kelebihanku itu,"
Tutur Ji Pekliong dengan menghela napas.
"Lantaran aku menolak untuk membeberkan mereka pun tidak mau mundur dan tetap mendesak, Pada pertarungan terakhir sembilan tahun yang lalu itu, pertarungan berlangsung tengah malam hari Tiongciu (tanggal 15 bulan delapan) hingga tanggal 19, akhirnya kedua pihak sama-sama kehabisan tenaga dan semuanya terluka dalam yang parah...."
"Karena itulah tahun berikutnya pertarungan tidak dapat diselenggarakan, kedua pihak setuju akan bertemu lagi sepuluh tahun kemudian di tempat yang sama, dan tahun ini adalah tahun ke sembilan, sekarang bulan ketiga, masih ada setahun lima bulan lagi, tiba saatnya nanti Jit-can-so (tujuh kakek cacat badan) akan bertarung lagi dengan lebih dahsyat, cuma sayang..."
Mendadak ia menghela napas panjang-panjang, lalu berdiri, menuju ke ujung lapangan sana dan menengadah, lalu berkata pula.
"Aku tidak sanggup menepati lagi janji pertemuan itu!"
Yu Wi mendekati sang guru dan bertanya dengan cemas.
"Sebab apa, Suhu? Apakah....."
Ji Pek-liong menghela napas, jawabnya.
"Anak Wi, masakah kau tidak tahu keadaan Suhu sekarang, meski memiliki kungfu yang tinggi, tapi tidak mempunyai tenaga lagi?"
"Entah Suhu mengalami luka apa sehingga kehilangan tenaga?"
Tanya Yu Wi dengan mengucurkan air mata.
"Luka itu adalah akibat pertarungan terakhir sembilan tahun yang lalu itu,"
Tutur Ji Pek-liong.
"Pertarungan itu sungguh terlampau seru, habis itu ku datang ke sini untuk merawat lukaku, lahirnya kelihatan sudah sembuh, tapi tenaga dalam justeru tambah lama tambah berkurang, Kini kekuatanku sudah tidak ada sepertiga dari masa dahulu, dibandingkan kau saja selisih banyak."
"Tidak, mana bisa!"
Seru Yu Wi sambil menggeleng.
"Mana mungkin tenaga Suhu kalah kuat daripada murid..."
"Masa Suhu berdusta padamu?"
Kata Ji Pek-liong dengan tersenyum pedih. Yu Wi jadi melenggong dan tak dapat bersuara lagi. Lalu Ji Pek liong melanjutkan.
"Setelah kau berhasil meyakinkan Thian-ih-sin-kang, seumpama aku tidak terluka juga tenagaku tak seberapa lebih kuat daripadamu. Harus diketahui bahwa Thian-ih-sin-kang adalah Lwekang-sirn-hoat paling hebat di dunia ini, sayang yang kulatih dahulu adalah Lwekang dari aliran hitam, kalau tidak, dengan menguasai Thian-ih-sin-kang tentu aku takkan terluka pada pertarungan sembilan tahun yang lalu."
"Kalau sekarang Suhu melatih Thian-ih-sin-kang kan juga boleh?"
Kata Yu Wi.
"Anak bodoh,"
Ucap Ji Pek-liong dengan tertawa.
"antara hitam dan putih, antara baik dan jahat, mana bisa dicampur-baurkan? Bilamana aku ingin melatih Thian-ih-sin-kang, tiada jalan lain kecuali ku buyarkan dulu seluruhnya kekuatanku..."
Mestinya Yu Wi hendak bertanya apa halangannya umpama buyarkan dulu tenaga dalam sendiri yang tidak baik itu untuk kemudian berlatih lagi Thian-ih-sin-kang, tapi segera teringat olehnya Lwekang yang dilatih sang guru dengan susah payah mana boleh disirnakan begitu saja, maka urunglah ia bersuara.
Ji Pek-liong berputar di tanah lapang itu dengan kepala tertunduk, seperti lagi mengenangkan kejadian di masa lampau, sekonyong-konyong ia berhenti berjalan, dengan tegas ia berucap.
"Betapapun orang she Ji tidak boleh dikalahkan mereka dan membeberkan kedua jurus pedangku secara sia-sia."
Melihat sikap sang guru yang rada luar biasa itu, dengan gugup Yu Wi bertanya.
"Suhu, ken... kenapakah kau?"
Mendadak Ji Pek-liong berpaling, dengan lembut ia pandang Yu Wi, lalu berkata.
"Pada hari Tiongciu tahun depan, kau harus mewakili Suhu pergi ke Ma-siau-hong, hanya boleh menang dan tidak boleh kalah..."
Yu Wi terkejut, tapi dengan tegas ia lantas menjawab.
"Murid akan berbuat sekuatnya, hanya mungkin tenagaku tidak cukup dan dikalahkan mereka!"
"Jika aku yang pergi ke sana, besar kemungkinan akan kalah daripada menangnya, tapi kalau kau yang pergi, Suhu yakin kau takkan kalah, sebab kau sudah menguasai dengan baik kedua jurus Hay-yan-kiam-hoat secara lengkap dengan segala kemampuanmu, mungkin kau tidak tahu segala kemampuanmu yang kumaksudkan itu?"
Yu Wi mengangguk, jawabnya.
"Ya, murid pikir kalau tidak ada orang yang mengajarkan keenam jurus itu, betapa besar kemampuanku juga tidak ada gunanya."
Ji Pek-liong tertawa, katanya.
"Yang kumaksudkan dengan segenap kemampuanmu adalah supaya kau berusaha mengalahkan mereka, Kalah atau menang dari suatu pertempuran dalam keadaan kekuatan kedua pihak seimbang, maka kemampuan atau ketahanan adalah kunci daripada menuju kemenangan itu. Hal ini harus kau perhatikan benar."
"Murid akan mengingatnya dengan baik,"
Jawab Yu Wi dengan kurang paham, Tiba-tiba suara Ji Pek-liong agak meninggi, katanya.
"Bilamana kau menang, maka mereka akan mengajarkan ke enam jurus ilmu pedang itu padamu tatkala mana kau pun akan berhasil menguasai Hay-yankiam-hoat dengan lengkap, Nah, sekarang tentunya kau tahu apa maksudku agar dengan segala kemampuan atau ketahananmu berusaha belajar lengkap Hay-yan-kiam-hoat itu?"
Baru sekarang Yu Wi paham maksudnya, hanya sang guru menghendaki dia mengalahkan ke enam kakek cacat itu dengan segenap ketahanan dengan begitu barulah dia akan berhasil mendapatkan pelajaran lengkap Hay-yan-kiam-hoat.
Dasar jiwa muda dan tidak kenal apa artinya takut dengan tegas ia lantas menjawab.
"Ya, murid tahu, pasti akan kukalahkan mereka dengan segenap ketahananku demi kehormatan "Suhu!"
Ji Pek-liong merasa terhibur, katanya dengan tertawa.
"Anak baik, anak baik . ..."
Mendadak air mukanya berubah suram, katanya pula.
"Tapi bilamana kau kalah, sedikitnya kau harus kalah secara gemilang, tidak boleh mati secara sia-sia, sebab kau masih mempunyai suatu tugas suci lagi yang harus kau laksanakan, yaitu setelah kau kalah, kau pun harus mengajarkan kedua jurus ilmu pedang Hay-yan-kiam-hoat yang kau kuasai ini kepada mereka, ini adalah perjanjian yang telah disepakati antara kami bertujuh, betapapun kau tidak boleh ingkar janji."
Dengan tegas dan bersemangat Yu Wi menjawab.
"Kalau kalah harus mengaku kalah, tidak nanti murid mengingkari janji dan merusak nama baik Suhu, tapi sebelum tiba detik terakhir, murid pun takkan tunduk dan mengaku kalah!"
"Bagus, bagus!"
Puji Ji Pek-liong dengan suara lantang.
"Mempunyai murid semacam kau, bisa mati hati Suhu dapatlah tenteram."
"Orang bijaksana tentu panjang umur, Suhu masih sehat dan segar, kenapa bicara tentang mati segala...."
Ucap Yu Wi dengan perasaan tidak enak. Ji Pek-liong tertawa, katanya.
"Orang hidup akhirnya pasti juga akan mati, mati sekarang atau mati kelak kan sama saja. Bijaksana dan panjang umur apa, aku bukan orang bijaksana, juga tidak ingin panjang umur."
Yu Wi tidak menyangka ucapannya itu akan menimbulkan emosi sang guru, ia menjadi gugup.
ia tidak tahu halnva, pada waktu mudanya tindak-tanduk Ji Pek-liong berkisar antara baik dan jahat, dengan sendirinya ia tidak berani terima predikat sebagai orang bijak.
Ji Pek-liong menghela napas panjang pula, pelahan ia mengeluarkan se
Jilid kitab dan diberikan kepada Yu Wi, katanya.
"Setelah berpisah, dalam waktu setahun lebih ini, kecuali harus latih ulang kungfu ajaranku, hendaknya kau berlatih juga kungfu yang tercatat di dalam kitab ini. inilah kungfu Kan-jiko, lebih delapan tahun ku tinggal di sini, semua kitab pusaka simpanan Jiko di dalam malam ini telah kubaca seluruhnya, intisari ilmu silat yang kubaca telah ku kumpulkan dan ku ikhtisarkan dalam buku ini, hendaklah kau simpan dengan baik,"
Yu Wi terima kitab itu dan disimpannya dengan hati-hati. Lalu Ji Pek-liong berkata pula.
"Hari Tiongciu tahun depan, bilamana kau hadir ke M -siau-hong dan bertemu dengan Lak-can-so (enam kakek cacat) jika mereka bertanya tentang diriku, katakan saja bahwa aku sudah meninggal dunia!"
"Suhu masih.... masih segar bugar, mengapa.... mengapa bilang sudah meninggal?"
Tanya Yu Wi dengan tergagap. Ji Pek-liong menghela napas, tuturnya.
"Ketika kami mengadakan perjanjian dahulu, pernah kukatakan apabila aku mati sebelum tiba saatnya bertemu lagi di puncak gunung sana, maka tetap ada orang yang akan mewakilkan diriku untuk hadir ke sana, jika kau bilang aku belum mati, hal ini sama dengan memberitahukan kepada mereka bahwa aku sendiri tidak mampu hadir."
"Apa... apa halangannya biarpun begitu?"
Ujar Yu Wi.
"Suhu tidak hadir, murid yang mewakilinya, masa tidak boleh?"
"Tidak, tidak boleh,"
Ucap Ji, Pek-liong sambil menggeleng.
"Bilamana aku masih hidup, akulah yang harus hadir sendiri untuk menepati janji, jadi kuwakilkan kau untuk hadir ke sana adalah karena terpaksa, hendaklah kau katakan aku sudah mati bila bertemu dengan mereka."
Terpaksa Yu Wi mengiakan dengan ragu. Tiiba-tiba tersembul senyuman pedih pada wajah Ji Pek-liong, katanya kemudian.
"Anak Wi, aku akan pergi dulu!"
Teringat kepada watak sang guru setelah menyerahkan segalanya kepadanya untuk dilaksanakan lalu akan tinggal pergi, jangan-jangan maksudnya.
hendak menamatkan sisa hidupnya di suatu tempat, dengan demikian kehadirannya ke Mi-siau-hong mewakili sang guru menjadi cocok dengan fakta dan sesuai dengan haknya.
Berpikir demikian, berubahlah air mukanya, cepat ia bertanya.
"Suhu akan... akan pergi ke mana?"
Dia mendekati sang guru dan menarik lengan bajunya, ucapnya pula dengan menangis.
"Suhu, jangan... janganlah engkau..."
Sebagai orang tua yang berpengalaman, Ji pek-liong segera tahu apa maksud ucapan anak muda itu, dengan tertawa menjawab.
"Anak bodoh! Kau kira gurumu akan pergi untuk membunuh diri? Mana bisa, tidak mungkin terjadi! Suhu hanya mencari suatu tempat sepi untuk tetirah."
"Tetirah di mana?"
Tanya Yu Wi cepat "Jangan kau tanya tempat kepergianku,"
Jawab Ji Pek-liong sambil menghela napas.
"Sudahlah, aku akan pergi sekarang, Di dalam makam masih cukup banyak rangsum. jika kau ingin tinggal lagi beberapa hari di sini bolehlah sesukamu, selami lebih mendalam ilmu yang kau dapat, Ada lagi, kedua pedang kayu ini terbuat dari kayu besi, kerasnya seperti baja, tidak putus ditabas senjata tajam, boleh kau simpan untuk dipakai."
Habis berkata ia terus melangkah ke tepi hutan sana. Yu Wi mengintil di belakang sang guru, setiba di ujung hutan, Ji Pek-liong berpaling dan berkata.
"Tidak perlu antar lagi!"
Terpaksa Yu Wi berdiri di situ dengan kesima penuh rasa berat. Dilihatnya baru belasan langkah sang guru masuk ke hutan, mendadak orang tua itu berpaling pula dan berpesan padanya.
"Anak Wi, kau harus waspada terhadap Kan Ciau-bu, Toa-kongcu di Thian-ti-hu itu. Orang berkedok yang melukai kau dahulu itu tak-lain-tak-bukan adalah dia!"
Yu Wi terkejut, tanyanya dengan heran.
"Dia...? Masa Inkong yang menyerangku? Kenapa dia hendak membinasakan diriku?"
Ji Pek-liong tidak menghiraukan pertanyaannya, katanya pula dengan menyesal.
"Dia telah melukai kau separah itu, dosanya itu pantas dihukum mati, Kalau bukan Kan-jiko sudah meninggal, tentu akan kuhajar adat kepada bocah itu. Tapi sekarang dia satu-satunya keturunan sedarah keluarga Kan, Kelak bila kau pergoki dia, hendaknya kau hadapi dia dengan hati-hati, tapi jangan mencelakai dia, Tahu tidak?"
Yu Wi berbeda pendapat dengan sang guru mengenai Kan Ciau-bu.
Dia pikir ilmu silat Inkong itu sangat tinggi, yang diharapkan adalah dia tidak mencelakai dirinya, mana bisa dirinya yang mencelakai dia?
jangankan ilmu silatnya tak dapat menandingi Inkong, umpama dirinya dapat mengalahkan dia, mengingat orang pernah menyelamatkan jiwanya, tentu juga dirinya tidak sampai hati untuk membunuhnya.
Tak disadarinya bahwa lantaran pesan Ji Pek-liong inilah, kelak mestinya beberapa kali dia harus membunuh Kan Giau-bu, tapi urung, disebabkan teringat kepada pesan sang guru tersebut.
Akhirnya pergilah Ji Pek-liong.
Dengan sedih Yu Wi putar balik ke depan makam dan duduk kesepian di lantai makam.
Dia merenungkan sang guru sungguh seorang tokoh yang sakti dan aneh, kalau di dunia persilatan beliau dikenal sebagai satu di antara Bu Hm jit can so, mengapa tidak terlihat bagian badannya yang dikatakan cacat itu?
Selain itu, mengapa ke enam kakek cacat lain masing-masing hanya menguasai satu jurus Hay yan-kiam-hoat, sedangkan cuma sang guru saja yang menguasai dua jurus?
Yang aneh adalah mereka semuanya orang cacat, apakah untuk belajar Hay-yan kiam hoat harus berbadan cacat?
Ada sangkut-paut apa antara cacat badan dan ilmu pedang sakti itu?
Dan sekarang dirinya juga belajar Hay yan kiam-hoat, apakah nanti juga akan cacat badan..!
Begitulah makin dipikir makin banyak dan makin ruwet, sedikit pun tidak ditemukan jawaban yang masuk di akal.
Sampai akhirnya, saking kesalnya ia terus melompat bangun, dengan pedang kayu besi dia berlatih ilmu pedangnya, hal ini barulah pikirannya tenang kembali.
Sang tempo berlalu dengan cepat, hanya sekejap saja setengah bulan sudah lewat.
Setiap hari Yu Wi membawa kitab pusaka peninggalan Ji Pek liong itu, di dalam kitab itu adalah ikhtisar segenap kungfu tinggalan Kan Yok-koan.
Setelah kitab itu terbaca seluruhnya, Yu Wj merasa kungfu Kan Yok-koan itu kebanyakan sama dengan cara berlatih ajaran Ji Pek-liong, kalau dibandingkan, kungfu Kan Yok-koan jauh lebih keji daripada ajaran Ji Pek-liong, lebih-lebih dalam hal menggunakan Am-gi atau senjata rahasia, banyak sekali yang diuraikan di dalam kitab itu.
Dalam pada itu perbekalan di dalam makam itu pun tersisa tidak seberapa lagi, dengan membawa kedua bilah pedang kayu besi Yu Wi meninggalkan makam itu,.
ia keluar dari hutan buatan itu menurut petunjuk yang tercatat di dalam peta, akhirnya ia berada lagi di depan Bansiu-ki.
Baju yang dipakainya sekarang masih tetap baju panjang warna merah yang ditukar pakai dengan Kan Ciau-bu dahulu, Bahan baju panjang itu sangat bagus, meski sudah terpakai setahun lebih masih belum robek dan juga belum luntur.
Dia sudah apal keadaan Thian-ti-hu, maka dengan tenang ia menyusuri jalan yang sudah dikenal waktu lalu di Ban-siu-ki dan kepergok genduk yang bertugas di situ, gendak-gendut itu sama memberi puji hormat padanya.
Diam-diam Yu Wi merasa geli, nyata kaum hamba itu tidak mengenali dirinya adalah Kongcu gadungan Kebetulan juga baginya, dengan lagak kereng ia menuju ke Thian-ti-hu.
Ia menduga Kan Ciau-bu pasti tidak di rumah, kalau ada, tentu para pelayan akan terheranheran melihat dirinya, entah bagaimana hubungan antara Kan Ciau-bu dan ibu tirinya selama setahun ini.
Sembari berpikir ia terus melangkah ke depan.
Sejenak kemudian sampailah dia di tempat tinggal Lau Yok ci, tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara seruling yang merdu, itulah suara seruling yang sudah dikenalnya, seketika ia merandek.
Sementara itu sang surya sudah terbenam, serupa dahulu waktu pertama kalinya Yu Wi datang ke Thian-ti-hu, teringat olehnya He-si pernah berkata padanya.
"Setiap hari Lau-siocia pasti meniup seruling sendirian pada saat demikian...."
Dia berdiri di situ dan mendengarkan dengan terkesima, makin di dengar makin memilukan, Teringat kebaikan Lau Yok-ci padanya, tanpa terasa air matanya bercucuran. Pikirnya.
"Kantoakongcu berada di rumah, mengapa dia masih juga membawakan lagu sedih begini? Apakah Kan Ciau-bu tetap tidak sudi menemuinya? Nona sebaik dia ini, mengapa Kan Ciau-bu tidak sudi melihatnya? Mengapa membiarkan nona itu kesepian dan berduka di kamarnya?...."
Makin dipikir makin gemas Yu Wi, dia bergumam sendiri.
"Harus kutanyai dia apa alasannya?"
Segera ia percepat langkahnya menuju ke kamar Kan Ciau-bu.
Ketika dia masuk ke situ dengan tergesa-gesa, di dalam kamar kosong tiada seorang pun,, Yu Wi memandang sekeliling kamar itu, keadaan masih tetap seperti dahulu, tiada perubahan apa pun.
Dengan perasaan gundah ia mendekati rak buku, dilolosnya se
Jilid buku, pada sampul buku itu tertulis.
"Ngo-hou-toan-bun-to dari Ban-pak". Buku ini sudah pernah dilihatnya, sekenanya ia membalik halamannya, lalu ditaruh kembali di tempatnya semula, selagi dia hendak melolos buku yang lain, tiba-tiba suara seorang perempuan menegurnya dari belakang.
"Kongcu sudah pulang dari jalan2?"
Tanpa berpaling juga Yu Wi mengenali suara itu, ialah He-si, Diam-diam ia bergirang bahwa genduk itu tidak mendapatkan hukuman Kan-lohujin akibat ikut keluar menghadapi musuh tempo dulu Dengan gembira dia berpaling, dilihatnya wajah He-si masih tetap seperti dulu, dan sedang memandangnya dengan tersenyum manis.
"Ya, aku sudah pulang,"
Kata Yu Wi dengan tersenyum.
Seketika air muka He-si berubah, senyuman dan suara yang serak-serak basa ini, sudah lebih setahun tidak pernah dilihat dan didengarnya.
Yu Wi tidak heran melihat pelayan itu melenggong.
Tegurnya dengan tertawa.
"Baik-baikkah kau?"
Pertanyaan, ini timbul dari lubuk hatinya yang murni, sama sekali tak terpikir keadaannya yang dihadapinya sekarang, lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa hanya satu kalirnat pertanyaannya saja sudah terbongkarlah kepalsuan identitasnya.
Belum pernah He-si mendengar tegur-sapa yang sedemikian memperhatikan dia, karena tegangnya ia menjadi gugup dan berkata.
"Hamba akan... akan mengambilkan air ... .air cuci muka bagi Kongcu Cepat ia membalik tubuh dan melangkah pergi dengan terincang-incut, mungkin saking tegangnya, kakinya lantas timpang, tubuhnya lantas roboh ke sebelah kanan,"
Yu Wi terkejut, cepat ia melompat maju dan memegangi bahunya, serunya dengan emosi.
"He,... kenapakah kakimu?"
Karena bahunya tersentuh tangan Yu Wi, seketika He-si seperti kena aliran listrik, mukanya menjadi merah jengah. ia menunduk dan menjawab dengan suara lirih.
"Sesudah ikut Kongcu keluar menghadapi musuh dahulu, akibatnya Lohujin telah memukul patah kaki kananku, maka kalau berjalan sekarang menjadi pincang...."
Tidak kepalang gusar Yu Wi, teriaknya.
"Hanya karena kau bantu aku sehingga kaki.... kakimu dipukul patah...."
Saking emosinya, pegangan Yu Wi pada bahu He-si bertambah kencang.
He-si masih perawan suci, dengan sendirinya perasa kikuk dipegang seorang lelaki, ia meronta perlahan melepaskan tangan Yu Wi, katanya dengan tersenyum malu.
"Akan hamba ambilkan air."
Tapi Yu Wi memegang lagi tangannya dan berkata dengan lembut.
"Tidak perlu lagi kau ambil air. Masih ingatkah kau perkataanku setahun yang lalu bahwa asalkan aku tidak mati, maka kau pun tidak perlu lagi bekerja begini, selanjutnya kau ikut pergi bersamaku, meninggalkan Thian-tihu ini."
He-si kegirangan sehingga sekujur badan terasa gemetar, tanyanya dengan terputus-putus.
"Kongcu akan... akan membawaku ke mana?"
Jika Yu Wi sudah bertekad akan membawa pergi He-si, tentunya harus memberitahukan identitasnya yang asli, dengan jujur dan terus terang ia lantas berkata.
"Jangan kau panggil Kongcu lagi padaku, apakah kau tahu siapa aku?"
He-si mengangkat kepalanya dan menjawab.
"Sudah lama ku tahu engkau bukan Toa kongcu!"
"Siapa bilang aku bukan Toa kongcu?"
Yu Wi sengaja balas bertanya.
"Perangaimu sama sekali berbeda daripada Toa-kongcu,"
Kata He-si.
"Waktu itu kusaksikan kau dipukul roboh oleh orang berkedok hitam itu,"
Lalu ditolong pergi oleh seorang kakek yang gesit"
"Kemudian bagaimana?"
Tanya Yu Wi.
"Hari itu sesudah penyerbu dari Hek-po itu mundur dengan mengalami kekalahan, tidak lama kemudian Kongcu lantas pulang, Dia sangat mirip denganmu, tapi beberapa hari kemudian tidak pernah kulihat senyumannya, suaranya juga tidak ramah lagi, maka tahulah aku bahwa dia Toakongcu yang sesungguhnya dan kau cuma Kongcu palsu, Tidak diketahui engkau telah dibawa ke mana oleh si kakek itu."
"Apakah kau tahu orang berkedok hitam yang merobohkan diriku itu ialah Toa-kongcu sendiri?"
Tanya Yu Wi dengan menyesal.
"He, sebab apa Kongcu menyerang kau?"
He-si terkejut.
"Aku pun tidak tahu apa sebabnya, sama halnya entah apa sebabnya Kan-lohujin telah memukul patah kakimu?"
Ujar Yu Wi.
"Pendek kata, tempat ini bukan tempat kediaman yang baik, pergilah kau bebenah seperlunya dan segera kita berangkat."
He-si mengangguk, jawabnya.
"Tunggu saja di sinj, segera ku kembali..."
Melihat cara berjalan He-si yang pincang itu, Yu Wi jadi teringat kepada kekejaman Kanlohujin, seketika ia naik darah dan ingin mengobrak-abrik Thian-ti-hu.
Tapi bila teringat lagi Kan Ciau-bu pernah menolong jiwanya, meski orang pun pernah bermaksud membunuhnya, namun sedapatnya ia menahan rasa gusarnya dan tetap berdiri tenang di dalam kamar..Dia berdiri dengan membelakangi pintu, tidak hanya kemudian, tiba-tiba suara seorang lelaki yang nyaring tajam menegurnya.
"Siapa kau?"
Pelahan Yu Wi membalik tubuh, dengan dingin dan tenang ia menjawab.
"Apakah Inkong masih kenal kepada orang she Yu?"
Penegur itu memang betul Kan Ciau-bu adanya, ia rada terkesiap, tapi dengan lagak tak acuh ia lantas masuk ke kamar, cambuk yang dibawanya ditaruh di meja, lalu mendengus.
"Kukira kau sudah mati?!"
"Hampir mati, belum sampai mati,"
Jawab Yu Wi dengan ketus.
"Untung orang she Yu diberkati panjang umur, maka dapat lolos dari maut."
"Sudah dua kali jiwamu dapat direnggut kembali, untuk apa pula kau datang ke sini?"
Jengek Kan Ciau-bu.
"lnkong memberi pesan agar orang she Yu tinggal di sini, dengan sendirinya ku datang kemari?"
Jawab Yu Wi. Kan Ciau-bu mendelik, damperatnya.
"Ku selamatkan jiwamu, imbalannya memang menyuruh kau tinggal di sini, tapi mengapa kau kabur setengah jalan, coba apa alasanmu?"
"lnkong yang memaksa diriku kabur, masa masih berani ku tinggal di sini untuk menunggu kematian?"
Jawab Yu Wi, mau tak mau ia pun naik pitam.
"Kalau bicara hendaknya tahu sopan santun sedikit,"
Jengek Kan Ciau-bu.
"Harus kau sadari, betapapun mujur, jika untuk ketiga kalinya kau harus mati, tentu sukar lagi lolos dari maut."
"Jjuga belum tentu,"
Jawab Yu Wi ketus.
"Kau tidak percaya, apakah mau coba?"
Kan Ciau-bu menjadi gusar.
"Kedatanganku ini bukan untuk mencari perkara kepada Inkong, hanya ingin memberi nasehat sesuatu!"
Kata Yu Wi.
"Hm, memberi nasehat sesuatu?"
Kan Ciau-bu mendengus.
"Memangnya dalam hal apa orang she Kan perlu nasehat orang?"
Pada saat itulah dua pelayan masuk membacakan minuman, mereka adalah Jun-khim dan Tong-wa.
Ketika mendadak melihat di dalam kamar berdiri dua orang Kongcu kembar, seketika mereka menjerit kaget, cangkir jatuh dan pecah berantakan.
Kan Ciau-bu menarik muka dan cepat membentak "Berteriak apa?
Apakah minta kurobek mulut kalian?"
Karena takut, Jun-khin dan Tong-wa tidak berani menjerit lagi, cepat mereka berjongkok dan membersihkan beling cangkir yang pecah itu.
"Lekas enyah!"
Segera Kan Ciau-bu meraung pula. Belum selesai membersihkan lantai, terpaksa kedua pelayan itu berlari keluar.
"Kenapa kau begitu bengis terhadap mereka?"
Kata Yu Wi dengan gegetun. Kan Ciau-bu menjadi gusar, teriaknya.
"Tidak perlu ikut campur urusanku!"
Dengan tenang Yu Wi memberi nasihat.
"Apabila perangai Inkong dapat berubah lebih ramah sedikit, kan jadi lebih baik? Mengapa mesti bersikap keras sehingga kaum hamba takut padamu, sampai-sampai adikmu sendiri juga takut padamu."
"Hm, kau tahu apa?"
Jengek Kan Ciau-bu.
"Jika aku bersikap ramah, mungkin sudah lama aku tidak hidup di dunia lagi."
"Ya, kutahu Kan-lohujin bermaksud membunuh kau...."
Kata Yu Wi dengan menghela napas.
"Hm, tampaknya banyak juga yang kau ketahui,"
Sela Kan Ciau-bu.
"Kau selalu bersikap dingin dan ketus terhadap orang lain, mendingan kalau melulu untuk menjaga diri agar tidak dicelakai orang, tapi sekali-kali tidaklah layak kau bersikap dingin terhadap nona Lau, betapapun dia kan bakal isterimu."
"Hehe, rupanya banyak juga ingin kau campuri urusanku,"
Kan Ciau-bu tertawa dingin.
"Harus kukatakan padamu, seorang sebaiknya jangan banyak ikut campur urusan orang lain, sedangkan keselamatan sendiri tak terjamin masih ingin mengurus orang lain, kan lucu dan menggelikan?"
Dengan tegas Yu Wi menjawab "Biarpun orang she Yu tidak becus, urusan ini tidak boleh tidak aku harus ikut campur, Kau harus baik terhadap nona Lau, jangan memperlakukan dingin padanya, sebab....
sebab dia adalah nona yang sangat baik..."
Berulang Kan Ciau bu tertawa dingin, katanya.
"Hehe, tampaknya Anda berkesan cukup baik terhadap bakal isteriku, jangan-jangan..."
Muka Yu Wi menjadi merah, cepat ia memotong.
"Hendaklah jangan kau pikir yang bukanbukan, nona Lau suci bersih, dia bukan nona yang sembarangan kau harus harus perlakukan dia dengan baik."
"Perlakukan dia baik apa susahnya, Anda tidak perlu kuatir, justeru mengenai pertolonganku padamu itu entah cara bagaimana akan kau balas?"
"Orang yang berbudi tidak suka mengharapkan ba!as, tapi kalau kau menghendaki kubalas budimu, tentu akan kubalas,"
Kata Yu Wi dengan aseran.
"Tapi tempo hari kuwakili dirimu menghadapi musuh sekuat tenagaku, kenapa kau tidak bantu menghalau musuh, sebaliknya kau malah pakai kedok dan menyerangku dengan keji?"
Kan Ciau-bu melengak, tapi lantas menjawab dengan menyeringai.
"Siapa bilang orang berkedok itu ialah diriku?"
"Bilamana ingin orang tidak tahu. Paling baik kalau diri sendiri tidak berbuat!"
Ucap Yu Wi tegas. Kan Ciau-bu tertawa dingin pula, katanya "Kongcu memakai kedok dan menyerang kau, tujuannya supaya kau dapat membalas budi!"
"Kaubantu pihak yang jahat melakukan hal yang lebih jahat, cara bagaimana harus kubalas budimu?"
Teriak Yu Wi dengan gemas.
"Takkala kau kubunuh, waktu itulah kau telah membalas budi,"
Kata Ciau-bu. Yu Wi terkejut, serunya.
"Jadi kau ...kau . .."
"Aku kenapa?"
Jawab Kan Giau-bu dengan penuh nafsu membunuh.
"Dari dulu kuselamatkan jiwamu, sekarang boleh kau balas budi dengan kematianmu..."
Sambil bicara, serentak sebelah kakinya menendang ke selangkangan Yu Wi, berbareng telapak tangan kanan terus memotong samping kepalanya.
Tendangan dan tabasan ini cepat lagi ganas, sungguh tidak kepalang lihaynya.
Tapi diam-diam Yu Wi sudah siap siaga, kedua tangannya bergerak ke atas dan ke bawah, dengan tepat ia mengancam Hiat-to penting di kaki dan tangan Kan Ciau-bu.
Dalam keadaan demikian, terpaksa Ciau-bu harus menarik kembali kaki dan tangannya, ia terkejut melihat tipu serangan Yu Wi yang hebat itu, mana dia berani meneruskan serangannya, Cepat ia ganti posisi, mendadak tangan kiri menghantam dari bawah lengan baju kanan, menggenjot perut Yu Wi.
Tak terduga, entah sejak kapan jari telunjuk tangan kiri Yu Wi sudah siap melindungi perut, begitu tangan Kan Ciau-bu menyentuh ujung jarinya, seketika telapak tangan merasa kesemutan, Untung ia pun cukup cekatan, secepatnya ia menarik kembali tangannya, coba kalau terlambat sedetik saja, tentu "Pek-yong-hiat"
Pada telapak tangan akan tertutuk.
Sungguh kejut Ciau-bu tak terkatakan, serangannya tadi seolah-olah sudah diketahui lebih dulu oleh Yu Wi, maka jarinya sudah menunggu lebih dulu di bagian yang akan diserangnya.
Kalau saja tangannya tertutuk dengan tepat, maka sama halnya dia sengaja menyodorkan tangannya agar di tutuk lawan.
Di dunia ini mana ada cara berkelahi demikian?
Namun Kan Ciau-bu memang bukan jago kelas rendahan, meski terkejut ia masih dapat menganalisa kekuatan sendiri dan musuh.
ia pikir jangan2 lawan sudah paham kungfu Thian-ti-hu.
Maka serangan selanjutnya lantas berubah, ia memainkan sejurus ilmu pukulan ciptaan sendiri, ilmu pukulan Kan Ciau-bu ini diciptakan sendiri berdasarkan pengalaman tempur selama ini, titik kelemahannya sangat sedikit, tidak kurang bagusnya daripada kungfu ciptaan Kan Yok-koan, Hanya dua-tiga kali menangkis saja Yu Wi lantas tahu kelihayan lawan.
Cepat ia mainkan ke 30 juruS ilmu pukulan ajaib ajaran Ji Pek-liong untuk melayani musuh.
Keajaiban ilmu pukulan ciptaan jt Pek-liong ini lebih lihay setingkat daripada ilmu pukulan ciptaan Kan Ciau-bu, namun pengalaman tempur Ciau-bu lebih banyak, maka Yu Wi hanya mampu melayaninya dengan sama kuat Meski tak dapat mengalahkan lawan, tapi Yu Wi dapat bergerak dengan leluasa, sambil menangkis serangan Ciau-bu ia berkata.
"Apa gunanya sekalipun kau bunuh diriku sekarang?"
Melihat lawan dapat menangkis serangannya sambil bicara dengan leluasa, tidak kepalang rasa mendongkol Kan Ciau-bu, katanya dengan gemas.
"Jika kau ingin balas budi, maka kau harus membunuh diri dan tidak perlu kuturun tangan lagi."
"Kematianku akan mendatangkan faedah apa bagimu?"
Tanya Yu Wi dengan tidak mengerti.
Pada waktu orang berbicara, dengan cepat Kan Ciau-bu menyerang lima-enam kali.
Namun Yu Wi dapat menghindar dengan leluasa, sedikitpun tidak kelihatan payah.
Maka tahulah Ciau-bu apabila ingin mengalahkan lawan secara lugu jelas bukan pekerjaan mudah, terpaksa harus menggunakan akal, segera ia perlambat serangannya dan berkata.
"Bila kau mati di kamarku, tentu ibu-tiruku akan mengira aku telah dibunuh musuh dan takkan menyangka lagi dirimu adalah Kan kongcu. palsu, Dengan demikian pula ibu tiriku pun takkan berusaha membinasakan diriku lagi, nah, jelas. tidak?"
Yu Wi juga pelahan mematahkan setiap serangan lawan sambil menjawab.
"Jika kau sudah mati, tentu saja Kan-lohujin takkan berusaha mencelakai kau lagi, mana mungkin orang mati akan dicelakai pula?"
Diam-diam Kan Ciau-bu mengomeli kebebalan lawan, dengan dingin ia berkata pula.
"Jika aku dianggap sudah mati, ibu tiri tentu takkan berjaga-jaga lagi, Dengan demikian aku akan berada di sisi gelap dan dia berada di bagian yang terang meski kungfuku tidak setinggi dia, bilamana dia lengah tentu dapat kubinasakan dia? Nah, tahu tidak?"
Tidak kepalang kejut Yu Wi mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa gerak-geriknya menjadi lamban, kesempatan itu segera digunakan Kan Ciau-bu untuk melancarkan suatu serangan maut.
Tak tahunya Yu Wi memang ditakdirkan mujur, mendadak kaki terasa gatal, mendadak ia berjongkok dan kebetulan dapat mengelakkan serangan maut Kan Ciau-bu itu.
Diam-diam Ciau-bu merasa sayang, segera ia lebih melambatkan serangannya, seolah olah tidak bernapsu bertempur lagi.
Yu Wi juga melambatkan gerakannya dan berkata.
"Jalan pikiranmu itu sungguh agak kelewat keji, Betapapun Kan-lohujin kan ibu-tirimu, mengapa harus kau bunuh dia?"
Kan Ciau-bu sengaja menghela napas seperti minta dikasihani katanya.
"Kalau tidak kubunuh dia, tentu dia yang akan membunuhku. Demi mencari hidup, terpaksa harus bertindak kejam."
Yu Wi menggeleng dan berkata.
"Pantas ketika pihak Hek-po menyerbu kemari, kau berbalik membantu mereka membunuh diriku dan jika aku sudah mati, tentunya terkabul harapanmu, bahkan juga terkabul keinginan Lohujin."
Kan Ciau-bu tidak menanggapi tapi di dalam hati ia berkata.
"Memang! Jika kau mati, tentu sekarang aku tidak perlu bersusah payah lagi. Gara-gara kakek sialan itu menyelamatkan dirimu, maka semua rencanaku jadi berantakan."
Mereka terus bergebrak Kembali Yu Wi mematahkan tiga serangan maut lawan, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, ia berkata pula.
"Tempo hari sekalipun kumati kau bunuh juga tidak mudah untuk menipu Kan-lohujin agar percaya."
"Sebab apa?"
Tanya Ciau-bu dengan melengak.
"Waktu itu siapa pun tidak tahu bahwa aku ini Kan-toakongcu gadungan,"
Tutur Yu Wi dengan perlahan.
"Bila kumati tentu akan disangka Kan-toakongcu asli mati di medan tempur menghadapi penyerbu dari Hek-po, sedikit pun takkan menimbulkan curiga orang lain. Tapi sekarang Jun-khim dan Tong-wa telah melihat ada dua Toakongcu kembar, bilamana mereka laporkan kepada Kanlohujin, lalu apakah Lohujin akan percaya bahwa Kan-toakongcu yang berkepandaian tinggi bisa mati tanpa sebab di dalam kamarnya? jelas secara mudah Lohujin dapat menerka bahwa yang mati pasti lah Kongcu palsu."
Hati Ciau-bu tergetar, pikirnya "Ya, tidak kupikirkan hal ini, untung si tolol ini mengingatkan padaku."
Dengan senang ia lantas menjawab.
"Hal ini tidak menjadi soal, setelah kau mati nanti, segera pula kubunuh Jun-khim dan Tong-wa untuk menghapus saksi hidup."
Diam-diam Yu Wi merasa ngeri melihat cara bicara Kan Ciau-bu itu sedemikian tenang dan tiada belas kasihan sedikit pun.
ia jadi teringat kepada kematian Pi-su.
yaitu si genduk genit itu, dengan gusar ia lantas bertanya.
"Jika demikian, jadi Pi-su juga kau yang membunuhnya?"
Kan Ciau-bu tertawa bangga, jawabnya.
"Sejak kau datang ke sini, diam-diam kuawasi setiap gerak-gerikmu, kebetulan kuketahui Pi-su telah mengenali kepalsuanmu, maka ketika dia kembali ke kamarnya, aku lantas menggantung mati dia, kalau tidak, bila dia lapor kepada ibu-tiri, jiwa kita tentu akan amblas semuanya."
Dengan murka Yu Wi balas menyerang tiga kali, karena menyerang dengan gusar, tentu sasarannya kurang telak, dengan mudah saja Kan Ciau-bu dapat menghindar.
"Kau telah berzina dengan dia, orang suka bilang "menjadi suami-isteri satu malam, cinta kasih seratus hari", Tapi kau tega membunuhnya, di mana hati nuranimu? Aku ....."
Saking gemasnya Yu Wi sampai sukar untuk bicara lagi. Kan Ciau-bu sengaja tertawa latah, ucapnya.
"Lantas kau mau apa? Biar kuberitahu sekalian, beberapa bulan yang lalu Jun-khim dan Tong-wa juga sudah kutiduri, sekarang mereka pun mengetahui tipu muslihatku, maka nasib mereka pun tak terhindar dari kematian."
Mata Yu Wi merah berapi saking gusarnya, teriaknya.
"Jika begitu ... .. jika begitu, jadi jadi Hesi juga sudah kau..."
"Huh, babu pincang begitu, biarpun dia telentang di depanku juga aku tidak mau,"
Kan Ciaubu berolok-olok dengan tertawa. Saking murkanya sehingga serangan Yu Wi tidak teratur, kata-katanya juga gelagapan.
"Kau... kau sungguh . .... sungguh terlalu kejam?"
"Kejam apa?"
Kan Ciau-bu tertawa keras.
"Biarpun nona Lau, bakal isteriku itu, jika dia mengetahui tipu muslihatku, aku pun takkan mengampuni dia, akan kugantung, mati serupa Pisu!"
Dia sengaja berucap demikian untuk membikin marah lawan.
Yu Wi kurang pengalaman, mana dia tahu akal bulus musuh?
Saking murkanya dia terus menyerang beberapa kali tanpa menghiraukan keselamatan sendiri...
Dapalkah Yu Wi mengalahkan Kan Ciau-bu dan meninggalkan Thian-ti-hu?
Cara bagaimana Yu Wi akan menuntut ilmu menurut pesan sang guru dan bagaimana dengan kisah hidup Yu Wi sendiri?
-Bacalah
Jilid ke-4 -
Jilid ke-4 Menyerang dalam keadaan marah, tentu saja ketiga serangan Yu Wi itu banyak lubang kelemahannya, Maka dengan mudah saja Kan Ciau-bu dapat menangkis, menyusul ia balas dengan suatu pukulan maut yang menuju ke hulu hati Yu Wi.
Bilamana pukulan ini telak kena di tempatnya seketika urat jantung Yu Wi akan tergetar putus dan binasa.
Tapi pada saat itu juga, mendadak Yu Wi merasa kaki kanan gatal pula dan tanpa terasa tubuhnya mendoyong ke kanan, karena gerakan tak sengaja ini, serangan maut Kan Ciau-bu hanya mengenai bahu kiri Yu Wi.
Pukulan maut ini sangat dahsyat, sedikitnya beberapa ratus kati beratnya, Yu Wi terhuyungjbuyung mundur dan menumbuk dinding, untung ia melatih Thian ih-sin-kang, dia hanya terluka lecet luar saja, otot tulangnya tidak cedera, Kontan tubuhnya meletik maju pula, seperti peluru yang terpental balik membentur tembok, dia balas menghantam sekuatnya.
Sama sekali Kan Ciau-bu tidak menyangka pukulannya akan meleset, tapi biarpun kena bagian bahu, sedikitnya juga akan membikin lawan patah tulang dan tidak mampu bertempur lagi, Siapa tahu Yu Wi tidak beralangan apa pun, keruan Kan Ciau-bu terkejut, diam-diam ia heran apakah tubuh lawan itu terbuat dari baja?
Rasa gusar Yu Wi tidak hilang, sebaliknya makin berkobar, dengan gemas ia membatin.
"Kau berani membunuh nona Lau, sekarang juga kulabrak kau mati-matian!"
Lantaran pikiran itu, tanpa terasa mulutnya lantas berseru.
"Asalkan kau tidak membunuh nona Lau, tentu kau akan kuampuni!"
Diam-diam Kan Ciau-bu merasa geli, ia pikir kalau kau bertempur secara kalap begini, jiwamu sendiri saja tak terjainin, masa berani membela orang lain, sungguh lucu.
Dengan mudah ia menghindarkan serangan Yu Wi yang membabi-buta itu, pelahan ia himpun tenaga pada kedua telapak tangannya, ia bertekad sekali hantam akan merobohkan Yu Wi, sekalipun lawan memiliki ilmu sakti pelindung badan juga akan dibinasakannya.
Waktu itu Yu Wi sedang menyerang dengan kalap, tiba-tiba ujung telinganya terasa kesakitan seperti ditusuk jarum, pikirannya yang kalap itu seketika jernih kembali.
Sayup-sayup ia mendengar suara seperti bunyi nyamuk berkata kepadanya.
"Yu heng, kau harus sayang pada jiwanya sendiri, jangan terjebak oleh pancingan Kan Ciau-bu yang sengaja hendak membikin marah padamu, harus melayani dia dengan tenang."
Jelas suara itu suara orang perempuan dan malah cukup dikenal oleh Yu Wi, seketika terbangku semangat dan timbul rasa senang yang sukar dilukiskan, tanpa terasa ia berseru.
"Siapa kau? Di mana kau?"
Melihat lawan sudah kalap hingga bergumam berdiri seperti orang gila, diam-diam Kan Ciau-bu bergirang, ia tidak menyangka ada orang menggunakan "Thoan-im jip-bit"
Atau ilmu gelombang suara yang hebat untuk memberi petunjuk kepada Yu Wi, Tanpa ayal ia pergencar serangan dengan lebih dahsyat laksana damparan ombak samudra.
Yu Wi kenal jurus serangan lawan ini adalah jiatu di antara ketiga jurus serangan maha sakti andalan Kan Yok-koan, yaitu "To-thian-ki-long", pukulan ini luar biasa lihaynya.
Akan tetapi kini pikiran Yu Wi sudah sadar dan tenang kembali, segera ia gunakan jurus terakhir dari ke-30 jurus ajaib ajaran Ji Pek-liong itu untuk menangkis, pelahan tangannya menyampuk angin pukulan lawan yang dahsyat, dengan tenaga benturan itu dia terus melompat ke atas, dengan berjumpalitan ia turun ke belakang Kan Ciau-bu dengan gaya yang indah.
Jurus terakhir dari ke-30 jurus ajaib itu ada jurus penyelamat, boleh dikatakan tiada taranya, Kan Ciau-bu mengira serangannya pasti dapat membinasakan lawan, tak tersangka Yu Wi dapat menghindar dengan gaya yang indah, keruan ia terkesiap, ia melongo hingga lupa menyerang pula.
Sesudah berdiri tegak lagi, Yu Wi memandang sekitarnya, ia ingin mencari perempuan yang mem-bisiki telinganya tadi, ia pandang ke arah pintu, dilihatnya He-si sedang melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan.
Dari depan He-si hanya melihat Yu Wi dan tidak tahu di pojok sana masih ada Kan Ciau-bu, begitu masuk kamar ia terus berseru.
"Ayolah lekas kita lari! Bila Toakongcu pulang tentu kita tali dapat kabur!"
"Kongcumu berada di sini! Hm, memangnya kau dapat kabur?!"
Jengek Kan Ciau-bu mendadak.
Keruan He-si sangat kaget dan menggigil ketakutan Ketika Kan Ciau-bu melompat maju, He-si menjerit dengan muka pucat.
Kan Ciau-bu menyadari bilamana dia ingin mencelakai Yu Wi jelas tidak dapat, akan lebih baik kalau lawan dihina dan diolok-olok sepuasnya untuk melampiaskan rasa dongkol, Maka dengan tertawa ia lantas, mengejek.
"Wah, betapa hebat seorang pemuda yang gagah dan berbudi, selama berada di rumahku, bukan saja berhasil mencuri ilmu silat keluargaku, bahkan juga tambah mahir memikat babu. Hehehe, sungguh pintar, sungguh cakap!"
Tapi sekarang Yu Wi tidak mudah terpancing marah lagi, bila teringat bahaya yang dihadapi tadi, kalau perempuan itu tidak menyadarkan dengan tiga kali menusuknya dengan jarum, mungkin saat ini jiwanya sudah melayang.
Maka ejekan Kan Ciau-bu itu tidak digubrisnya, ia berkata dengan tenang.
"He-si. marilah kita pergi!"
Melihat lawan tidak dapat dipancing marah lagi, Kan Ciau-bu tidak tinggal diam, mana dia mau membiarkan Yu Wi membawa pergi He-si dengan begitu saja, segera ia menyelinap lewat di samping Yu Wi, menyusul sebelah kakinya terus menendang selangkangan He-si.
Keruan He-si menjerit kaget.
Yu Wi tidak sempat menyelamatkan He-si, tapi ia menjadi murka melihat betapa keji cara Kan Ciau-bu menyerang itu, sesudah tidak mampu mengalahkan dia, sekarang anak perempuan yang bukan tandingannya itu akan dibinasakan dengan cara sekotor itu.
Tanpa pikir ia angkat jarinya dan menutuk Hiat-to maut di punggung Kan Ciau-bu.
Kan Ciau-bu bukan jago lemah, dari suara angin tutukan itu ia tahu betapa berbahayanya bilamana tertutuk telak jiwa pasti amblas.
Terpak saja harus batalkan serangannya kepada He-si, cepat ia tarik kembali kakinya dan berputar untuk menangkis tutukan Yu Wi.
Tarnpaknya mereka berdua akan mulai bertempur lagi dengan lebih sengit, sekonyongkonyong ada suara nyaring memanggil di luar.
"Toako, Toako! Marilah kita pergi berburu singa!"
Di Thian-ti-hu hanya adik perempuan lain ibu ini saja yang akrab dengan Kan Ciau-hu.
Segera Yu Wi dapat mengenali suara Kan Hoay-soa san.
Dengan kejadian tempo hari waktu nona itu mengajaknya pergi berburu singa, tanpa terasa hatinya tergerak.
Karena kedua orang sama memikirkan Kan Hoay-soan, kuatir nona itu mendadak menerjang ke dalam kamar dan terluka oleh mereka, maka tanpa terasa kedua orang lantas berhenti bertempur dan terpencar ke samping.
Memung betul, dengan gesit Kan Hoay-soan terus menerobos ke dalam kamar, nona ini memakai baju satin putih yang singsat, rambut digelung di atas sehingga lehernya yang jenjang halus kelihatan jauh lebih menggiurkan daripada setahun yang lalu.
Ketika mendadak melihat di dalam kamar berdiri dua orang Toako yang serupa, ia menjerit kaget.
"Hah!? Siapa di antara kalian adalah Toakoku?"
Melihat sikap kekanak-kanakan si nona yang lucu itu, Yu Wi tertawa. Tertawa ini membikin Kan Hoay-soan terkesima, ia menggeleng kepala dan berkata.
"Kau bukan Toakoku! Kau bukan Toakoku!...."
Sembari bicara ia terus mendekati Kan Ciau-bu, wajah Kan Ciau-bu yang beringas tadi seketika berubah tenang, katanya.
"Moaymoay, sudah malam begini masa ingin berburu singa apa segala".
"Toako, mengapa kau tidak tertawa?"
Ucap Kan Hoay-soan dengan gegetun.
"Alangkah baik nya jika kau mau tertawa seperti dia."
Kan Ciau-bu marah, jawabnya.
"Dia itu siapa, kenapa aku mesti meniru dia? jangan sembarangan omong, ayolah lekas pulang ke Ban-siu-ki!"
Meski cuknp akrab dengan sang Toako, akan Hoay-soan juga rada takut padanya. Dengan rasa penasaran ia membalik tubuh dan melangkah pergi, ketika lewat di sisi Yu Wi, mendadak ia berhenti dan bertanya.
"Kau ....kau tidak ... tidak mati?"
"Sudah tentu tidak,"
Jawab Yu Wi dengan tertawa.
"Kalau mati masakah dapat berdiri di sini dan bicara dengan kau?"
Seperti anak kecil Kan Hoay-soan tertawa, katanya.
"Jika demikian, legalah hatiku, Ketika dipukul roboh oleh Toakoku, sungguh kukuatir kau akan mati, syukur Thian maha pengasih, kalau tidak..."
Kan Ciau-bu menjadi gusar dan mendamperatt.
"Bicara apa lagi? Ayo, lekas pulang!"
Yu Wi tidak pedulikan raungan Kan Ciau-bu, ia mengadang di depan Kan Hoay-soan dan bertanya.
"Jadi sejak dulu kau sudah tahu aku ini Toakomu palsu?"
Kan Hoay soan menunduk dan menjawab.
"Dengan sendirinya kutahu, Lekas menyingkir, aku mau lewat..."
Yu Wi berdiri diam saja, katanya.
"Kan-heng, pernah kaukatakan bila nona Lau mengetahui tipu muslihatnya, dia juga takkan kau ampuni. Sekarang. adik perempuanmu sudah lama mengetahui seluk-belukmu, mengapa tidak kauapa-apakan dia?"
Kan Ciau-bu menjadi gusar dan meraung.
"Urusan rumah tanggaku, untuk apa kauikut campur?"
Dengan suara perlahan Hoay-soan lantas berkata.
"Sebab aku takkan memberitahukan kepada ibu tentang Toako palsu segala, maka Toako tidak akan bertindak apa-apa padaku."
Diam-diam Yu Wi membatin, mungkin si nona tidak tahu maksud tujuan Kan Ciau-bu mencari seorang duplikatnya, disangkanya sang kakak hanya ingin main-main saja, maka hal ini tidak dilaporkan kepada ibunya, Dari sini dapat dibayangkan hubungan antara kakak beradik ini tentu cukup baik.
Dalam pada itu Kan Hoay-soan telah mendesak pula.
"Lekas menyingkir, aku akan lewat!"
Tapi Yu Wi tetap tidak menggubrisnya. Dia masih sengaja mengadang di depannya dan berkata.
"Kan-heng, jika kau percaya kepada adik perempuanmu, mengapa kau tidak berani percaya kepada nona Lau?"
Dengan gemas Kan Ciau-bu berteriak.
"Bolak-balik kau sebut dia, sesungguhnya apa sebabnya?"
Seketika Yu Wi tak dapat menjawab, dengan wajah merah ia berkata.
"Jun-khim dan Tong-wa adalah pelayan pribadimu, seharusnya kau percaya kepada mereka, tidak pantas kaubunuh...."
"Mana bisa Toako membunuh Jun-khim di Tong-wa tanpa sebab?"
Ujar Hoay-soan.
"Tentu saja ada sebabnya,"
Kata Yu Wi.
"Yaitu mereka mengetahui aku adalah duplikat Toakomu."
"Apakah betul begitu, Toako?"
Tanya Hoay-soan sambil berpaling ke arah Ciau-bu.
"Kedua budak itu tidak tahu diri dan mungkin akan sembarangan mengoceh, bilamana ibu tahu bahwa aku menyuruh orang asing menyaru sebagai diriku ke sini, bukankah beliau akan marah padaku, Agar ibu tidak marah maka kedua budak itu akan kubunuh agar tidak membikin kacau."
"Bila kau bunuh mereka berdua, selama hidupku takkan kuampuni kau!"
Teriak Yu Wi dengki gusar.
"Hahahaha!"
Kan Ciau-bu bergelak tertawa, memangnya Kongcumu inii takut akan gertakanmu? Boleh kaulihat, segera akan kubunuh mereka!"
Tiba-tiba Hoay-soan menoucurkan air rnata, dengan memelas ia memohon.
"Toako, kumohon janganlah kau bunuh mereka."
Hati Ciau-bu menjadi lunak melihat air mata adik perempuannya, ucapnya sambil memberi tanda.
"Sudahlah, lekas kau pulang sana, aku takkan membunuh mereka."
Dengan gembira Hoay-soan mengusap air matanya dan berkata dengan manja.
"Terima kasth Toako, adik minta diri!"
Yu Wi tidak menyangka bujukan Kan Hoay-san akan dapat mencegah niat Kan Ciau-bu membunuh Jun-khim dan Tong-wa.
Melihat maksud hatinya sudah tercapai, segera ia menyingkir ke samping.
Sesudah Hoay-soan melangkah lewat ia lantas menggapai He-si dan berseru.
"Marilah kita berangkat!"
Melihat He-si membawa rangsel, Hoay-soan bertanya.
"Hendak ke mana kau?"
He-si menunduk, jawabnya.
"Hamba ikut pergi bersama Yu-siangkong..."
"Kau dapat meladeni dia, sungguh sangat beruntung..."
Ucap Hoay-soan dengan kagum. Sebelah tangan Yu Wi terus merangkul pinggang He-si dan diangkat, ucapnya dengan terburuburu.
"Cayhe tidak bermaksad menyuruh dia meladeni diriku..."
Sambil bicara ia terus melayang keluar. Karena He-si sudah berada di bawah perlindungan Yu Wi, sukar lagi untuk menyerangnya, terpaksa Kan Ciau-bu hanya berteriak beringas.
"Pada suatu hari budak hina itu pasti akan kubinasakan..."
Dengan gerak cepat Yu Wi membawa He-si menyusur taman dan melintas pagar sehingga tidal dilihat oleh kaum hamba Thian-ti-hu, dengan cepat ia telah meninggalkan istana yang megah itu setiba di jalan raya kota Kimleng barulah ia lepaskan He-si.
Dia meninggalkan He-si di hotel, sehabis makan malam, hari sudah gelap, ia tukar pakaian peranti jalan malam, lalu berlari kembali ke arah Thian-ti-hu.
Sejak Kan Jun-ki wafat, kekuasaan keluarga Kan dalam pemerintahan lantas lenyap, kejayaan Thian ti-hu juga mulai surut, istana perdana menteri yang megah itu pun sepi, penjaganya sanga sedikit, maka dengan sangat mudah dapatlah Yu Wi menyusup ke dalam istana itu.
Dengan hati-hati ia terus menuju ke bagian dalam, setiba di depan kamar Lau Yok-ci, ia berdiri termangu, seketika ia menjadi bingung apakah harus masuk ke situ atau tidak?
"Siapa itu di luar?"
Sekonyong-konyong suara orang menegur di dalam kamar, Yu Wi terkejut, ia heran orang dapat mendengar kedatangannya, padahal dia melangkah dengan sangat ringan.
"Apakah Yu-siangkong?"
Tanya pula suara tang di dalam kamar. Sekali ini Yu Wi hampir melonjak saking kaget, ia membatin.
"Apakah dia ini dewi kayangan yang dapat mengetahui apa yang belum terjadi?"
Tapi cepat juga dia menjawab.
"Ya, Cayhe Yu Wi ingin bertemu dengan nona!"
"Silakan masuk!"
Seru nona Lau.
Pelahan Yu Wi masuk ke sana, ia pikir untuk kedua kalinya dia masuk ke kamar perawan orang.
Pajangan di dalam kamar masih tetap seperti dahulu, di mana-mana tercium bau harum semerbak, si cantik berbaju hitam, Lau Yok-ci, berdiri dengan gaya yang tenang menanti kedatangannya.
Wajah si nona tidak ada perubahan, bahkan lebih putih, lebih cantik, sekujur badan seolaholah memancarkan hawa yang tidak boleh dilanggar orang, sungguh seperti dewi kayangan benarbenar.
Yu Wi memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih banyak-banyak atas pertolongan nona tadi!"
"Tidak perlulah berterima kasih, aku tak dapat memperlihatkan diri, terpaksa menusuk Siang kong dengan Gu-mo-thian-ong-ciam (jarum raja bulu kerbau), harap suka memaafkan tindakanku itu,"
Kata Yok-ci.
"Ai, akupun terlalu, masa sampai terpancing marah oleh Kan-kongcu,"
Ujar Yu Wi.
"Untung nona menolong dengan jarum, kalau tidak jiwaku tentu sudah melayang di tangan Kan-kongcu, sungguh Cayhe amat berterima kasih, mana bisa menyalahkan nona."
Tanpa sebab wajah Lau Yok-ci yang cantik molek itu pun bersemu merah, katanya.
"Padahal lantaran diriku sehingga Yu-siangkong terpancing marah, kan pan... pantas kalau kubantu kau?"
Melihat wajah si nona yang malu-malu dan menggiurkan itu, jantung Yu Wi berdetak keras, sungguh ia ingin mendekat dan menciumnya, Tapi bila teringat si nona adalah bakal isteri orang, mana dirinya boleh berbuat sembrono, padahal kedatangannya ke kamar orang saja sudah tidak pantas.
Makin dipikir makin tidak enak, katanya kemudian dengan perasaan berat.
"Aku... aku ingin ..."
"Apakah Yu-siangkong hendak pergi?"
Tanya Lau Yok-ci sambil mengangkat kepala.
Yu Wi mengangguk dengan pandangan yang berat.
Si nona menghela napas pelahan, katanya, Siang tadi setelah kubicara dengan Siangkong dengan Thoan-im-jip-bit, kuduga malam ini Siangkong tentu akan kemari untuk mengucapkan terima kasih.
Sekarang hal itu sudah kau lakukan, tentunya kau akan pergi."
Dari nada ucapan si nona, Yu Wi merasa orang mencela kedatangannya ini hanya untuk mengucapkan terima kasih saja, seketika ia tidak berani bicara tentang mohon diri lagi agar tidak terlalu menyolok.
Melihat anak muda itu tidak jadi pergi, dengan tertawa Lau Yok-ci berkata.
"Silahkan duduk, Siang-kong, akan kutuangkan teh!"
Sesungguhnya Yu Wi memang merasa berat untuk tinggal pergi.
Sesudah minum seceguk teh wangi yang disuguhkan, ia lantas mengobrol iseng dengan si nona, diceritakannya pengalamannya belakang gunung sana.
Dengan tenang Lau Yok-ci mendengarkan kisah Yu Wi itu, selesai anak muda itu bercerita barulah ia berkata.
"Penemuan aneh Yu-siangkonj itu sungguh sangat menggembirakan, kini Kankongcu sudah bukan tandinganmu lagi, Tapi mengingat janji pertemuan hari Tiongcu tahun depan, hendaklah dimaklumi bahwa Lak-can-so sudah lama termashur di dunia Kangouw, ilmu silat mereka jauh di atas Kan kongcu, bilamana Siangkong hadir pada pertemuan itu hendaknya berhati-hati."
"Terima kasih atas perhatian nona,"
Kata Yu Wi.
"Entah baik tidak nona bertempat tinggal di sini?"
Air muka Lau Yok-ci menjadi muram, ucapnya dengan sayu.
"Baik atau tidak apa bedanya, sudah suratan nasib, ingin mengubahnya juga sukar."
Terharu juga Yu Wi mendengar ucapan si nona, ia pikir menghadapi sifat Kan Ciau-bu yang kaku dan dingin itu, tinggal di sini nona Lau tentu seperti tinggal di dalam penjara saja.
Sungguh ia ingin sekali menyatakan.
"Marilah kau ikut aku meninggalkan tempat setan ini!"
Tapi mana dia berani sembarangan omong di depan si cantik.
Di dengarnya nona itu seperti bergumam mengumandangkan sebait syair kuno yang bermakna menyesal karena terlambat berkenalan.
Terkesiap juga Yu Wi mendengar syair yang disuarakan Lau Yok-ci itu, cepat ia berbangkit dan berkata.
"No... nona Lau, aku mohon diri..."
Yok-ci lantas berdiri, jawabnya dengan menyesal "Akan ku antar engkau ke depan pintu,"
Setiba di luar piutu, nona itu bertanya pula.
"Sekarang Siangkong akan menuju ke mana?"
"Sejak kecil kutinggal di Hek po, di Soasay, maka sekarang akan pulang kesana,"
Jawab Yu Wi Yok-ci terkejut, ia menegas.
""Pulang ke Hek-po, untuk apa pulang ke sana"
"Hek-po ada permusuhan sedalam lautan denganku, aku harus ke sana untuk membereskannya?"
Kata Yu Wi.
"Selamat jalan, Siangkong, semoga selekasnya engkau dapat menuntut balas sakit hati ayahmu,"
Demikian Yok-ci berdoa.
"Terinia kasih, nona, sampai berjumpa pula,"
Seru Yu Wi sambil mengangkat tangan dan melangkah pergi dengan ikhlas, Mestinya ia tidak ingin menoleh, tapi belasan langkah saja ia tidak tahan, ii berpaling, dilihatnya si nona masih berdiri termangu di depan pintu dengan pandangan yang berat.
Yu Wi memberi lambaian tangan pula, lalu berlari pergi secepatnya.
-o+o--X--oio--Esoknya ia membawa He-si meninggalkan Kim-leng dengan menyewa sebuah kereta kuda, setiba di Tinkang, mereka ganti menumpang kapal dan berlayar ke hulu, Setiba di Yan-cu-ki, terlihat sebuah kapal layar terbalik di tengah sungai, penduduk di tepi sungai sibuk memberi pertolongan dengan perahu nelayan.
Banyak di antara penumpang kapal layar itu tidak mahir berenang sehingga di mana-mana terdengar jerit tangis dan teriakan minta tolong.
He-si sudah lama bertempat tinggal di Kim-leng dan tidak pernah menempuh perjalanan jauh, menumpang kapal saja tidak biasa, kini melihat kapal terbalik, ia menjadi ketakutan.
Yu Wi tahu perasaan He-si, setiba di Yan-cu-ki, mendaratlah mereka, baru satu hari naik kapal ternyata He-si sudah kelihatan pucat dan kurus.
Padahal Yu Wi ingin cepat-cepat pulang Hek-po, tapi He-si kelihatan kurang sehat, ia menjadi serba susah.
-X -Rupanya He-si juga merasakan kesukaran Yu Wi, dengan lemah ia berkata.
"Kepergian Siangkong ke Hek-po adalah untuk menuntut balas, tentunya kurang leluasa dengan membawa serta diriku, akan lebih baik kalau kau tinggalkan diriku di sini saja,"
Yu Wi pikir usul ini cukup beralasan, kepergiannya ke Hek-po ini memang sangat berbahaya, sedangkan kungfu He-si tidak tinggi, kalau ikut ke sana, bukannya membantu sebaliknya malah menambah bebannya, Apalagi badannya juga cacat dan kurang sehat, maka ia lantas mencari sebuah rumah yang terletak di lereng bukit yang berdekatan dengan Yan-cu-ki.
Harta benda yang ditinggalkan Ji Pek-liong di dalam makam sana cukup banyak, Yu Wi membawa sebagian harta tinggalkan sang guru itu sehingga tidak perlu kuatir kehabisan sangu, dengan harta bawaannya ia membeli rumah itu, lalu rnempekerjakan dua genduk dan tiga pesuruh lelaki untuk melayanani He-si."
Rumah yang dibelinya itu terletak di lereng bukit Ci-he-nia yang indah panoramanya, banyak tempat tamasya terkenal di atas bukit, sekeliling rumah penuh tertanam teratai putih, bunga teratai sedang mekar semarak memancarkan bau harum semerbak.
Suasana yang nyaman ini sangat menvenangkan hati He-si.
Sesudah mengatur tempat tinggal bagi He-si, sebelum berpisah Yu Wi meninggalkan pula sebilah pedang kayu pemberian Ji Pek-liong dahulu serta kitab pusaka yang berisi ikhtisar ilmu silat yang dikumpulkan sang guru itu.
He-si merasa berat ditinggal pergi, ia mengantar hingga jauh barulah berpisah dengan air mata berderai.
Yu Wi terus menuju ke arah barat menyusuri sungai, terkadang menumpang kapal, sering pula dia menempuh perjalanan darat.
Tanpa kenal lelah akhirnya sampai juga di propinsi Soasay, tatkala itu sudah masuk bulan kelima, musim panas dengan hawa yang menyengat.
Hek-po atau benteng hitam itu terletak di kota Thay-goan, dengan Pek-po atau kastil putih yang terletak di utara propinsi Hokkian, Hek-po dan Pek po disebut orang sebagai Lam-pak-ji-po atau dua kastil di utara dan selatan.
Pocu atau kepala kastil hitam bernama Lim Sam-han, usianya sekitar 50 lebih, pada waktu 30 tahun yang lalu namanya sudah termasyhur di dunia kangouw bersama Pocu kastil putih yang bernama Bu Ih-hoan.
Pada usia setengah baya Lim Sam han kematian isteri, dia hanya mempunyai seorang anak perempuan yang dipandangnya laksana permata kayangan.
Ketika Yu Wi masuk ke kota Thay-goan, saat itu waktunya orang makan siang, dilihatnya di depan ada sebuah Ciulau atau restoran berloteng.
Ia naik ke loteng restoran itu dan memilih tempat duduk yang berdekatan dengan jendela.
Sesudah pelayan mengantarkan arak dan santapan, sembari makan ia memandangi suasana jalan raya yang sudah dua tahun berpisah itu.
Belum habis ia makan minum, dilihatnya ada serombongan orang persilatan yang membawa kado berbungkus merah lalu di depan restoran menuju ke barat kota.
Diam-diam Yu Wi membatin.
"Di barat kota hanya Hek-po saja yang terkenal di Bu-lim, jangan-jangan di sana sedang mengadakan perayaan apa-apa?"
Sehabis makan, dilihatnya pula ada beberapa rombongan lagi yang lalu dengan membawa kado.
Cepat-cepat ia membayar harga santapannya, selagi hendak meninggalkan restoran itu, tiba-tiba di pinggir jalan ada orang memanggilnya.
"Kan-kongcu! Kan-kongcu!"
Baju yang dipakai Yu Wi sekarang masih tetap baju warna merah itu, Rupanya warna merah adalah kegemaran Kan Ciau-bu, setiap orang Bulim yang kenal dia sama tahu Kan-toakongcu tidak suka pakai baju warna lain kecuali warna merah.
Sekarang Yu Wi masih tetap memakai baju panjang warna merah yang terbuat dari kain aneh itu, tentu saja orang yang melihatnya akan salah sangka dia sebagai Kan-toakongcu dari Thian-tihu.
SemuIa Yu Wi mengira bukan dirinya yang di panggil, tapi setelah orang itu mendekat ke sampingnya dan menyapa pula dengan hormat "masihkah Kan-kongcu kenanl Cayhe?" -Baru ia yakin orang yang dipanggil memang benar dirinya.
Dilihatnya usia orang ini antara 40 tahun, alis tebal, mata besar, muka lebar, berbaju satin sulam sekali pandang dapat diketahui orang pasti tokoh Bu-lim.
Tentu saja Yu Wi tidak kenal, tapi diketahuinya orang pasti sahabat Kan Ciau-bu, maka sambil berkerut kening ia berkata.
"Saudara ini..."
"Kongcu mungkin sudah lupa pada Hoan Cong-leng dari Wisay?"
Kata orang itu sambil memberi hormat.
Tiba-tiba Yu Wi ingat salah satu kitab pelajaran kungfu yang pernah dilihatnya di kamar Kan Ciau-bu di Thian-ti-hu dahulu, sampul kitab itu tertulis "Tay-ho-ciang keluarga Hoan dari Wisay", ia pikir orang ini tentunya keturunan keluarga Hoan.
Yu Wi merasa tidak enak untuk menjawab tidak kenal, maka hanya menjawab dengan tertawa "Oya, kiranya Hoan-heng adanya!"
Dengan tertawa gembira Hoan Cong-leng berkata pula.
"Cayhe hanya bertemu satu kali dengan Kongcu di Wisay, tak tersangka Kongcu masih ingat"
Nyata ia merasa bangga bahwa Kan Ciau-bu masih ingat padanya, Dari sini dapat dibayangkan pula betapa besar pengaruh Kan Ciau bu di dunia persilatan, sedikitnya lantaran dia adalah orang Thian-ti-hu, maka disegani dan dihormati orang.
"Jauh-jauh Hoan-heng dari Wisay datang ke sini, entah ada keperluan apa?"
Yu Wi coba mencari keterangan.
"Apalagi kalau bukan lantaran perjodohan anak"
Jawab Hoan Cong-leng dengan gembira, lalu ia menoleh dan memanggil seorang pemuda gagah "Anak Khong, lekas memberi hormat kepada Kan-kongcu!"
Pemuda itu sedang asyik bicara dengan kawannya, karena panggilan sang ayah, cepat ia mendekat kemari.
"lnilah anakku Hoan Tay-khong! Dahulu pernah mendapat petunjuk Kongcu, sampai sekarang juga dia masih ingat faedah yang diperoleh dari petunjuk Kongcu itu, cuma sayang dia tidak dapat berkumpul lebih lama dengan Kongcu"
Selagi Hoan Cong-leng mengoceh, Hoan Tay-khong sudah mendekat, ia memberi hormat kepada Yu Wi sambil menyapa.
"Kan-kongcu!"
Yu Wi membalas hormat, katanya dengan tertawa.
"Wajah saudara Tay-khong berseri-seri jelas ada peristiwa bahagia."
"Peristiwa bahagia apa?"
Jawab Hoan Tay khong.
"Dapat bertemu dengan Kan-kongcu memang peristiwa bahagia."
"Tadi ayahmu bilang kedatangannya ini adalah untuk urusan perjodohanmu, kenapa kau bilang tidak ada peristiwa bahagia,"
Ujar Yu Wi.
"Ah, itu pun belum pasti jadi, agak terlalu dini bilamana disebut peristiwa bahagia bagiku"
Jawab Hoan Tay-khong dengan tertawa.
"Kepandaian anak ini sangat terbatas, kedatangan kami ini sesungguhnya cuma coba-coba dan untung-untungan saja,"
Tukas Hoan Cong-leng.
"Lho, apakah perjodohan ini mengalami kesulitan dapatkah kubantu barangkali?"
Tanya Yu Wi dengan heran.
"Terima kasih atas perhatian Kongcu,"
Jawab Hoan Cong-leng dengan tertawa.
"Tapi urusan ini selain dia sendiri tak dapat dibantu oleh siapa pun."
"Urusan apa?"
Tanya Yu Wi pula.
"Tidakkah Kongcu melihat kota Thaygoan ini mendadak bertambah tidak sedikit tokoh Bu-lim yang membawa kado?"
"Ya, kulihat beberapa rombongan menuju ke barat kota,"
Jawab Yu Wi.
"Mereka itu sama menuju ke Hek-po untuk melamar,"
Tutur Hoan Cong-leng.
"Melamar? Melamar apa?"
Yu Wi jadi melengak.
"Rupanya Kongcu belum mengetahui bahwa akhir-akhir ini di dunia persilatan telah tersiar sesuatu berita yang menggemparkan."
"Berita apa?"
"tanya Yu Wi cepat "Tempat ini bukan tempat yang baik untuk bicara, marilah kita berduduk saja di rumah minum sana,"
Ajak Hoan Cong-leng, Di kota Thaygoan banyak terdapat restoran dan tempat minum, lebih-lebih pada musim panas begini, di mana-mana tamu memenuhi rumah minum.
Mereka bertiga lantas menuju ke sebuah rumah minum yang berdekatan.
Setelah pelayan membawakan teh dan habis minum secangkir, mulailah Hoan Cong-leng bertutur.
"Hekpo-pocu Lim Sam-ham mempunyai seorang putri kesayangan yang berkepandaian silat tinggi dan berwajah cantik, apakah Kongcu sudah tahu?"
Berdebar jantung Yu Wi, dengan tidak tenteram ia mengangguk.
"Ya, tahu!"
Lalu Hoan Cong-leng menyambung.
"Bulan yang lalu mendadak Lim Sam-han mengumumkan kepada dunia persilatan bahwa dia ingin mencari menantu, maka pendekar muda di dunia persilatan diharapkan datang melamar..."
Rawan hati Yu Wi katanya di dalam hati "Akhirnya ayahnya hendak menikahkan dia"
Hoan Cong leng menghabiskan dua cangkir teh pula, lalu menyambung ceritanya.
"Lim Sam han kuatir ksatria muda yang cakap tidak niat datang melamar, maka dia menambahkan perangsang dalam sayembara yang diadakannya, yaitu barang siapa yang terpilih sebagai menantunya maka Lim Sam-han sendiri akan mengajarkannya semacam ilmu sakti, ditambah hadiah satu biji Pi-tok-cu (mutiara penawar racun) dan emas seratus longsong."
"Oo, makanya Hoan heng juga membawa putramu kemari untuk melamar"
Ucap Yu Wi sambil tetsenyum getir. Muka Hoan Cong-!eng menjadi merah, katanya dengan kikuk.
"Bukanlah kami mengincar Pi--tok-cu dan emasnya, sesungguhnya lantaran kami dengar puteri Lim Sam-han itu memang cantik dan bijak, usia anakku juga sudah cukup untuk dicarikan jodoh."
Dalam hati Yu Wi membatin bilamana orang she Hoan ini tidak mengincar ilmu sakti yang dimaksudkan Lim Sam-han, tidak nanti dia membawa anaknya ke sini dari Wisay yang jauh itu.
Karena itu, diam-diam ia memandang rendah kepribadian orang she Hoan ini, timbul rasa jemunya kepada mereka, tanpa terasa sikap kurang senang ini pun terunjuk pada air mukanya.
Tapi Hoan Cong leng belum lagi tahu, katanya.
"Ksatria muda dunia Kangouw yang datang ke sini entah berapa banyak, hari inilah hari yang ditetapkan, Lim Sam-han akan memilih calon menantu yang berkepandaian tinggi dan berwajah cakap."
"Kepandaian Tay-khong teramat rendah, tidaklah mudah bagiku untuk terpilih,"
Demikian Hoan Tay-khong menukas dengan rendah hati.
"Beruntung sekarang bertemu dengan Kan-kongcu, apabila Kongcu sudi memberi petunjuk barang satu-dua jurus, harapan anak ini untuk terpilih tentu akan bertambah besar,"
Kata Hoan Cong-leng dengan tertawa. Yu Wi menggeleng, ucapnya dengan kurang senang.
"Aku kurang enak badan, biarlah lain hari kita bicara lagi."
Baru sekarang Hoan Cong-leng melihat perubahan air muka Yu Wi itu, ia tahu tabiat Kantoakongcu terkenal sombong dan sukar diraba, ia menjadi kuatir kalau terjadi apa-apa, cepat ia berbangkit dan mohon diri.
Yu Wi tidak ingin berkumpul dengan mereka, ia hanya mengangguk saja.
Seperginya Hoan Cong-leng berdua, Yu Wi duduk pula sejenak, ia menghela napas, lalu suruh pelayan menghitung uang minuman, tapi rekeningnya ternyata sudah dibayar oleh Hoan Congleng.
Sekeluarnya dari rumah minum itu, tanpa terasa Yu Wi berjalan menuju ke barat kota, keadaan sepanjang jalan masih seperti dahulu, tanpa terasa ia terkenang pada masa kanak-kanak dulu.Hanya beberapa li, dari jauh sudah kelihatan Hek-po atau benteng hitam yang membentang di tempat ketinggian, benteng itu dibangun membelakangi gunung, keadaannya sangat strategis.
Pada jalan yang menuju ke benteng hitam itu, kedua sisi jalan tertanam barisan pohon Gui atau tanjung yang besar-besar, berada di tengah pohon tanjung itu, pikiran Yu Wi semakin bergolak, terbayang olehnya pada waktu keciinya, hampir tiap hari bermain di sini bersama si dia.
Di depan salah satu pohon tanjung yang besar itu, tanpa terasa Yu Wi meraba pohon itu, seketika telinganya seolah-olah mendengar pula suara seorang anak perempuan lagi berseru padanya.
"Siau Wi, panjatlah ke atas, coba lihat lubang di atas pohon itu, adakah siluman yang sembunyi di sana?"
Mungkin pohon tanjung itu pernah disamber petir sehingga terbakar hangus, pada bagian cabang dahan di atas menjadi keropos dan berlubang yang cukup dalam, Setiap kali setelah Yu Wi disuruh memanjat ke atas, tentu si dia bertanya apa isi lubang di atas pohon.
Bila Yu Wi bilang tidak terdapat apa-apa, si dia tidak percaya dan berseru "Ah, masa, di situ pasti ada silumannya!"
Kalau sudah didesak lagi hingga kewalahan, sering Yu Wi menjawab.
"Jika tidak percaya, boleh kau memanjat ke atas dan periksa sendiri."
Tapi si dia tidak berani, selalu Yu Wi didesak memanjat lagi dan begitu seterusnya. Tengah melamun, mendadak seorang membentaknya dari belakang.
"Hai, apakah kau ini orang Hek-po?"
Yu Wi berpaling, dilihatnya orang yang bersuara ini bertubuh tinggi besar.
Padahal Yu Wi sendiri cukup tegap, tapi masih kalah tinggi satu kepala dibandingkan orang ini.
Tubuh orang ini sungguh tegap kuat, kulit badannya yang kehitam-hitaman berpadu dengan wajahnya yang tampak lugas sehingga sama sekali tidak menimbuKan rasa takut orang lain, sebaliknya malah menimbulkan rasa menyenangkan.
Yu Wi lantas menggeleng dan menjawab.
"Aku bukan orang Hek-po, kau ingin mencari siapa?"
Lelaki gede ini tetap bicara dengan suara keras.
"Kami datang untuk mengikuti sayembara!"
Yu Wi memandang ke sana, betul juga dilihatnya ada lima orang pengiringnya, semuanya membawa kado yang berharga, tampaknya lelaki gede ini bukan orang Lok-lim (kaum bandit), tapi lebih mirip keturunan keluarga ternama.
"Apakah kau juga hendak ikut sayembara?"
Tanya lelaki gede itu. Yu Wi tertawa dan tidak menjawab.
"Kami she Be, turun temurun tinggal di Loh-tang (Soa-tang), namaku Tay-sing,"
Demikian lelaki gede itu memperkenalkan diri.
"Jika saudara juga datang untuk ikut sayembara, bagaimana kalau kita sama-sama masuk benteng sana?"
Dari suara orang yang keras pada waktu bicara barulah Yu Wi tahu bahwa lelaki ini memang mempunyai kerongkongan besar pembawaan.
Segera teringat olehnya di Lohtang ada suatu keluarga ternama di dunia persilatan, dengan tertawa ia lantas tanya.
"Apakah saudara ini keturunan keluarga Be di Lohtang yang terkenal nomor satu dengan Imu pukulan Pi-san-ciang?"
Be Tay-sing tertawa senang dan mengangguk, katnnya.
"Ah, Pi-san-ciang mana dapat disebut nomor satu, hanya bernama kosong belaka!"
Melihat watak orang yang polos dan suka terus terang ini, timbul rasa simpati Yu Wi, ia pun memperkenalkan diri.
"Cayhe Yu Wi dari Soasay sini, aku memang hendak pergi ke Hek-po untuk menyelesaikan sesuatu urusan, kebetulan kita dapat pergi bersama."
Begitulah keduanya lantas berjalan menuju Hek-po sambil bersendau-gurau.
Hanya sebentar saja mereka sudah berada di depan kastil hitam, Terlihatlah dinding yang tinggi itu dibangun dengan batu hitam mulus, di sekitar pintu gerbang yang juga dicat hitam berdiri belasan penjaga berseragam hitam, semuanya serba hitam, cocok benar dengan namanya Hek-po atau kastil hitam.
Belum lagi dekat, dari dalam pintu gerbang muncur seorang lelaki kurus setengah umur dan juga berseragam hitam, wajahnya kelihatan licin dan banyak akal.
Segera Yu Wi mengenalnya sebagai "otak"
Pocu, namanya Ho To-seng, karena tipu akalnya yang tidak pernah habis, orang memberi julukan "Say Cukat"
Atau si Khong Beng padanya.
Khong Beng adalah seorang ahli pikir dan ahli siasat di jaman Sam Kok.
Ketika tiba-tiba melihat seorang pendatang yang menyerupai Yu Wi yang dahulu tinggal di Hek-po sini, diam-diam Ho To-seng curiga juga.
Tapi ia tak berani menegurnya melainkan bertanya dengan mengiring tawa.
"Ksatria dari manakah tuan-tuan ini?"
"Cayhe she Be dari Lohtang,"
Sahut Be Tay-sing. Keluarga Be dari Lohtang memang cukup terkenal di dunia Kangouw, Ho To-seng terkesiap dan cepat menyapa.
"O, kiranya Be heng, silakan masuk, silakan masuk!"
Be Tay-sing memandang Yu Wi sekejap, melihat kawan itu berdiri diam saja, maka ia pun tetap berdiri di situ, maksudnya akan menunggu Yu Wi untuk masuk bersama.
Melihat Yu Wi berdiri angkuh di situ tanpa bicara, diam-diam Ho To-seng mendongkol dengan kurang senang ia lantas menegur.
"Dan apakah Anda?"
"Hm, orang macam kau juga sesuai tanya namaku?"
Jengek Yu Wi. Air muka Ho To-seng berubah, selagi ia hendak balas mendamperat, sekonyong-konyong berlari keluar satu orang dan berkata dengan suara tertahan.
"Hu heng tidak perlu tanya lagi, dia ini Kan-toa kongcu dari Thian-ti hu!"
Ho To-seng terkejut, ia menjadi heran di dunia ini ternyata ada orang semirip ini, pantas setelah pulang tempo hari Thian-mo Wi Un-gai memberi laporan bahwa Kan-toakongcu hakikatnya sukar dibedakan daripada Yu Wi, keduanya seperti pinang dibelah dua, seperti saudara kembar.
Orang yang baru keluar ini pendek gemuk, segera Yu Wi mengenalnya sebagai Thian-mo Wi Un-cai, namun dia tenang-tenang saja.
Wi Un-gai lantas mendekatinya dan menyilahkan dengan tertawa.
"Kan-kongcu berkunjung ke benteng kami, entah ada keperluan apa?"
Padahal dia tahu setelah serbuannya ke Thian-ti-hu dahulu mengalami kegagalan, permusuhun antara Thian-ti-hu dan Hek-po sudah sukar didamaikan lagi, Maka kedatangan "Kan Ciau-bu"
Sekarang jelas tidak bermaksud baik, Namun dia sengaja berlagak tenang, seakan-akan sudah melupakan peristiwa dahulu itu. Dalam pada itu mendadak Be Tay-sing menye!a.
"Aneh! sudah jelas Hek-po mengumumkan secara terbuka agar para ksatria di dunia ini ikut sayembara perjodohan anak puterinya, lalu untuk apa kedatangan kami ini kalau bukan untuk urusan ini?"
Tergerak hati Wi Un-gai, tanyanya dengan dingin.
"Kedatangan Kan-heng ini apakah juga hendak mengikuti sayembara?"
Sebenarnya Yu Wi hendak langsung menyatakan dirinya bukan Kan Ciau-bu, tapi demi kelancaran membalas dendam, ia sengaja membungkam, tidak mengiakan juga tidak menyangkal.
Be Tay-sing menjadi aseran melihat sikap Wi Un-gai itu, ia berkata pula.
"Dengan sendirinya kami hendak ikut sayembara, apakah begini cara pihak Hek-po menyambut tamunya?"
Sudah lama Wi Un-gai mendengar tabiat Kan toakongcu yang sombong, dingin dan tidak kenal belas kasihan, juga tidak suka banyak bicara, maka diam-diam ia membatin jangan-jangan Kan Ciau-bu juga tertarik oleh kecantikan puteri Pocu dan datang untuk mengikuti sayembara pemilihan calon menantu?
Mengingat kemungkinan ini memang bisa terjadi, ia tidak berani bersikap kasar lagi, cepat ia memberi hormat dan berkata.
"Silakan masuk, silakan!"
Dengan kereng Be Tay-sing lantas masuk ke dalam benteng bersama Yu Wi. Mendadak seorang penjaga berteriak.
"Lekas laporkan Kan Ciau-bu dari Kim-leng dan Be Tay-sing dari Lohtang tiba!"
Dua orang berseragam hitam segera meloncat ke atas kuda dan dilarikan secepat terbang ke engah benteng sana.
"Saudaraku,"
Tanya Be Tay-sing dengan ragu, tadi kau mengaku sebagai Yu Wi dari Soasay, mengapa mereka selalu menyebut engkau Kan Ciau-bu dari Kimleng?"
Yu Wi tertawa jawabnya.
"Asalkan Be-heng hanya anggap aku ini Yu Wi dari Soasay, biarkan mereka akan menyebut apa padaku."
Watak Be Tay-sing memang lugu dan tidak suka mencari tahu urusan orang lain, ia pikir sekalipun dia ini Kan Ciau-bu dari Kimleng lantas mau apa?
Maka ia pun tidak banyak omong lagi.
Hek-po ini sangat luas, serupa sebuah kota kecil, penduduknya kurang lebih tiga ribu jiwa, kebanyakan adalah pendatang yang minta belajar silat kepada Lim Sam-han, pemilik kastil hitam ini.
Maklumlah, nama Lim Sam-han cukup menonjol di dunia persilatan, juga ilmu silatnya sangat disegani, maka tidak sedikit anak muridnya.
Begitulah si Khong Beng Ho To-seng sendiri lantas mengantar Be Tay-sing dan Yu Wi ke sebuah bangunan yang sangat megah, di ruang pendopo yang luas itu sudah hiruk-pikuk, jelas sudah berkumpul tidak sedikit tokoh persilatan dari berbagai penjuru.
Sebuah gapura besar melintang di depan bangunan megah itu dan tertulis empat huruf besar "Su-hay-hun-cip", artinya dari empat pejuru takuti berkumpul di sini.
Selagi Be Tay-sing membaca tulisan di gapura itu, tiba-tiba menyongsong keluar serombongan orang, yang paling depan adalah seorang pendek setengah umur, berwarjah kereng, berjubah warna hitam bersulam, jenggotnya panjang sebatas dada.
Melihat orang ini, seketika darah Yu Wi mendidih tapi di tengah rasa murkanya terkandung pula rasa jeri.
"Inilah pocu kai, Lim Sam-han!"
Demikian Hong To-seng memperkenalkan tuannya. Melihat Yu Wi, Lim Sam-han juga sangsi, tapi lahirnya dia tetap tenang saja, dengan gaya simpatik ia menyapa dengan tersenyum.
"Atas kunjungan Kan kongcu dan Be-siauya ke benteng kami ini, sungguh suatu kehormatan bagi kami."
Di antara para hadirin yang kebanyakan terdiri dari anak muda yang ingin ikut sayembara itu, ketika mendengar Kan-toakongcu dari Thian ti-hu juga tiba, hampir semua orang ingin melihat macam apakah tokoh Thian-ti-hu yang sudah berpuluh tahun menonjol di dunia persilatan ini.
Dengan suara lantang Be Tay-sing menjawab dengan tertawa.
"Terima kasih atas sambutan Pocu."
Tanpa bicara Yu Wi ikut Be Tay-sing masuk ke ruang besar sana.
Nama Kan Ciau-bu memang sangat terkenal, maka orang tidak heran melihat sikapnya yang angkuh itu.
sebaliknya diam-diam Lim Sam-han merasa waswas, ia pikir.
"Kedatangan Toakongcu dari Thian ti hu ini jangan-jangan untuk urusan serangan kami dahulu itu. Jika benar untuk urusan ini, tidakkah terlalu latah jika ia datang sendirian"
Diam-diam ia lantas memerintahkan Ho To-seng agar ber-jaga2 segala kemungkinan, bukan mustahil pihak Thian-ti-hu sudah mengerahkan jago-jago pilihan dan akan menyerang dari luar dan dalam.
Setelah semua orang berduduk, sejenak kemudian perjamuan pun dimulai, Meja perjamuan terbagi menjadi dua baris, hanya sebuah meja di tengah ruangan, di situlah Lim Sam-han berduduk didampingi dua orang kakek yang rata-rata berusia lebih 70 tahun, Kakek yang sebelah kiri bermuka lancip seperti kepala burung, pakaiannya sangat mentereng, tangan memegang pipa tembakau yang panjang mengkilap, terus menerus ia sedang udut.
Sedangkan kakek sebelah kanan berpotongan "cukong", perut buncit, muka tembam dan selalu tertawa, jenggotnya yang bercabang tiga itu dielus-elus tanpa berhenti, tampaknya seorang yang tidak mahir kungfu.
Yu Wi duduk bersanding Be Tay-sing di sisi sana.
ia tidak kenal siapa kedua kakek yang duduk bersama Lim Sam-han itu, ia lihat tamu yang berkumpul ini ada 50 orang lebih, ia pikir para ksatria muda seluruh dunia (negeri) mungkin sudah berkumpul di sini.
Sejenak kemudian, Lim Sam-han berdiri sambil memegang cawan arak, serunya.
"Lebih dulu Lim Sam-han mengucapkan terima kasih afas kunjungan para ksatria, marilah kita minum bersama batu cawan sebagai tanda hormatku!"
Para tamu berbangkit dan menenggak arak bersama. Lalu Lim Sam-han berucap pula.
"Kunjungan para ksatria ini jelas untuk mengikuti sayembara yang sudah kusiarkan itu, untuk mana tentunya akan terjadi pertandingan maka sengaja ku undang dua orang Susiok untuk menjadi wasit, diharap para peserta sayembara hanya bertanding asalkan menyentuh lawan saja dan jangan sampai saling melukai"
Mendengar bahwa kedua kakek di samping Lim Sam-han itu adalah Susiok atau paman gurunya, Yu Wi merasa heran, sebab selama dia tinggal di Hek-po dahulu kenapa belum pernah dilihatnya, Kalau betul mereka itu paman guru Lim Sam-han, mungkin maksudnya menuntut balas akan sukar tercapai.
Mendadak di antara para hadirin seorang pemuda berwajah pucat berseru dengan tertawa latah.
"Kedatangan kami untuk ikut sayembara ini adalah karena mendengar kabar puteri Pocu cantik molek, namun betulkah molek belum lagi diketahui, bilamana boleh, diharap Lim-siocia sudi tampil ke muka agar kita dapat melihat kecantikannya."
Lim Sam-han terbahak, ucapnya.
"Jika 0ng-siauhiap yang minta, dengan sendirinya akan kuperlihatkan anak perempuanku."
Segera ia memberi pesan kepada Ho To-seng yang berdiri di belakangnya.
Tidak lama setelah Ho To-seng pergi terciumlah bau harum semerbak, serentak semua orang sama menegakkan leher ingin tahu bagaimana nona cantik yang termashur di dunia Kangouw ini.
Terdengar suara denting gelang kaum wanita lebih dulu muncul empat pelayan berbaju hijau, di belakangnya menyusul seorang gadis berbaju merah dengan potongan tubuh yang ramping dan kepala tertunduk.
Melihat si gadis baju merab, seketika jantung Yu Wi berdetak keras.
Sudah dua tahun tidak bertemu, entah bagaimana keadaan si dia?
Sampai di depan sang ayah, gadis baju merah masih menunduk sehingga para tamu tidak dapat melihat bagaimana wajahnya, semua orang rada kecewa.
"Anak Kiok, coba angkat kepalamu!"
Kata Lim Sam-han.
Semua orang mengira si nona tentu akan menengadah, siapa tahu ucapan Lim Sam-han seakan-akan tidak didengarnya, dia masih tetap menunduk.
Lim Sam-han tampak kurang senang, ucapnya pula.
"Anak Kiok, kenapa tidak angkat kepalamu?"
Baru sekarang si nona mengangkat kepalanya perlahan dengan ogah-ogahan.
Maka tertampaklah raut wajah yang cantik mempesona.
Terdengar suara kagum dan memuji bergema di seluruh ruangan, bahkan Be Tay-sing yang polos juga memuji dengan suara tertahan.
"Sungguh anak dara yang cantik...."
Yu Wi juga sudah melihatnya, tapi yang dilihatnya bukan wajah yang cantik mempesona itu melainkan dua titik air mata yang masih membasahi pipi si nona.
Hati Yu Wi terasa sakit, ia tahu apa artinya kedua titik air mata itu, ia pun melihat, selama dua tahun ini si dia memang bertambah cantik, tapi juga bertambah kurus.
Yu Wi tidak tega memandangnya lagi, ia berpaling ke arah lain.
Didengarnya Lim Sam-han lagi berkata.
"Anak Kiok, duduklah di samping ayah"
Seperti orang linglung, nona baju merah itu mendekati Lim Sam-han, Melihat tingkah-lakunya yang memelas itu, semua orang merasa si nona bertambah menggiurkan dan sama menghela napas gegetun.
Nona baju merah lantas duduk di samping ayahnya, keempat pelayan menunggu di sekitarnya, Paru tamu juga duduk dengan membusungkan dada, semuanya ingin mendapat perhatian si cantik.
Dengan tertawa Lim Sam-han lantas berseri "Nah, sekarang siapa yang akan turun kalangan lebih dulu!"
Serentak satu orang melompat maju ke tengah ruangan, ternyata seorang pemuda berumur tiga puluhan, bertubuh tinggi kurus.
"Cayhe Hoa Put-li, silakan siapa lagi yang akan memberi petunjuk lebih dulu?"
Seru pemuda jangkung ini.
Melihat orang ini masih asing, di dunia persilatan tidak pernah terdengar ada seorang tokoh bernama Hoa Put-li, maka kebanyakan orang ingin menarik keuntungan lebih dulu, segera seorang pendekar muda dari Hoa-san-pay melompat keluar, serunya dengan gagah perkasa.
"Cayhe Pang Put-pay dari Hoan-san, ingin kubelajar kenal dengan kungfu Anda!"
"Pang Put-pay (tanggung tidak kalah)? Huh, lucu benar namamu!"
Jengek Hoa Put-li, padahal dia sendiri bernama Put-li, artinya tidak beruntung.
Karena ejekan orang, Pang Put-pay menjadi gusar, sekaligus kedua kepalannya menghantam dada Hoa Put-li, hantaman yang keras dan mematikan.
Tampaknya kungfu Hoa Put-li tidak luar biasa, dia bergerak dengan teratur, setiap serangan lawan selalu dipatahkannya dengan jitu.
Kalau melihat gayanya, tampaknya Hoa Put-li bukan tandingan ilmu pukulan Hoa-san-pay yang dilontarkan Pang Put-pay, tapi gerak tubuh Hoa Put-li sangat gesit, bahkan tenaga dalamnya kuat, setiap serangan maut lawan selalu dapat dihindarkannya.
Tidak lama kemudian 64 jurus pukulan Pang Put pay sudah habis dilontarkan seketika gerakgeriknya mulai lamban, Kesempatan itu tidak disia-siakan Hoa Put-li, mendadak ia melancarkan suatu pukulan aneh.
"plak", pundak belakang Pang Put-pay tertonjok olehnya. Pang Put-pay tidak malu sebagai anak murid golongan terhormat, begitu kalah segera ia melompat mundur sambil berseru.
"Cayhe sudah kalah!"
"Eh bagaimana? Bukankah kau bernama Pang Put-pay?"
Demikian Hoa Put-li mengejek pula.
Tentu saja muka Pang Put-pay merah padam, ia merasa malu untuk tinggal lebih lama di situ, segera ia berlari pergi meninggalkan Hek-po.
Diam-diam para hadirin merasa ejekan Hoa Put-li itu terlalu menusuk perasaan Pang Put-pay, tapi seketika tidak ada yang maju lagi, rupanya semua orang berpikiran sama, yakni ingin memiara tenaga untuk maju pada babak terakhir.
"Ayo, siapa lagi yang maju?!"
Teriak Hoa Put-li dengan temberang. Melihat semua orang sama bersikap tunggu dan lihat, mendadak Lim Sam-han berkata.
"Setelah Ong-siauhiap minta lihat anak perempuanku, kenapa sekarang tidak turun kalangan, apakah anak perempuanku kurang berharga bagimu?"
Ong-siauhiap yang dimaksudkan itu bernama Ong Jun-say, keturunan keluarga guru silat she Ong di 0hpak.
ilmu pedang keluarganya, Bwe hoa-kiam, sudah terlatih cukup sempurna.
Tapi dasar anak muda bangor, dia terlalu banyak minum arak dan main perempuan, meski masih muda, namun badannya sudah keropos.
Karena didesak oleh ucapan Lim Sam-han ini, mau-tak-mau Ong Jun-say tampil ke muka dan melolos pedangnya.
Hoa Put-li menggeleng, katanya.
"Selamanya Cayhe tidak memakai senjata, tapi kaluu kau biasa bersenjata, bolehlah kau serang saja dengan pedangmu, kalau tidak tentu takkan kentara bagusnya kungfu keluargamu."
Meski ucapan lawan lebih bersifat olok-olok, namun Ong Jun-say tidak berani membuang pedangnya, sebab segenap kepandaiannya hanya terletak pada ilmu pedangnya saja, sekarang demi memperebutkan isteri cantik, ia tidak menghiraukan nama dan kehormatan lagi, segera ia pasang kuda-kuda, pedang bergerak, ia menusuk menurut gaya serangan Bwe-hoa-kiam.
Hoa Put-li juga berganti gaya pukulan, dia menyelinap kian kemari di bawah sinar pedang lawan, meski terkadang kelihatan berbahaya, tapi Ong Jun-say tidak mampu melukainya.
llmu pedang Ong Jun-say cukup lihay, tapi tenaganya lemah, maklum sudah keropos, percuma jurus serangan ilmu pedangnya yang bagus itu, sampai hampir memainkan 64 jurus ilmu pedangnya, sedikit meleng ia sendiri yang kena digenjot pula oleh pukulan Hoa Put-li, tepat kena punggung belakang seperti Pang Put-pay tadi.
Pukulan Hoa Put-li ini lebih keras daripada tadi, tentu saja Ong Jun-say yang kerempeng itu tidak tahan, darah segar tersembur keluar.
Cepat Lim Sam-han melompat maju dan menutuk tiga kali di dada Ong Jun-say, segera darah mampet dan tidak tumpah lagi.
Dalam keadaan demikian Ong Jun-say juga malu untuk tinggal di situ, cepat ia berlari pergi.
Ia tidik tahu tutukan Lim Sam-han itu meski dapat menghentikan tumpah darah untuk sementara tapi malah menambah luka dalamnya, setiba di rumah nanti sedikitnya dia akan jatuh sakit keras, salah dia sendiri, pakai minta lihat "contoh"
Si cantik segala sehingga mendatangkan akibat fatal baginya.
Seperginya Ong Jun say, Lim Sam-han lantas kembali ke tempat duduknya, sama sekali tidak tanya kejadian tadi, Padahal dia sendiri menyatakan agar pertandingan dibatasi sampai saling sentuh saja dan tidak boleh saling melukai, sekarang Hoa Put-li jelas melanggar aturan, tapi toh tidak ditegumya.
Setelah mengalahkan dua orang, Hoa Put-li kelihatan mentang-mentang, seolah-olah dia yang paling lihay, berulang-ulang ia mendengus.
"Huh, rupanya keturunan keluarga tokoh ternama juga cuma begini saja, sungguh menggelikanl"
Ucapan Hoa Put-li ini menimbulkan amarah beberapa pendekar muda lain, serentak mereka melompat maju dan berseru.
"Cayhe ingin minta petunjuk!"
Hoa Put-li terkekeh-kekeh, katanya.
"Bagus, boleh kalian maju semua, supaya menghemat tenaga."
Kelima pendekar muda yang melompat maju itu menjadi gusar, jelek-jeiek mereka adalah keturunan tokoh ternama, mana mereka mau main kerubut, mereka menyatakan akan menandingi Hoa Put-li satu lawan satu.
"Kalau tidak mau maju berbareng, boleh antri maju satu persatu,"
Kata Hoa Put-li, Entah dari golongan mana, kungfu Hoa Put-li ternyata sangat hebat, meski kelima anak muda itu sudah mengeluarkan segenap kepandaian masing-masing, akhirnya terkalahkan semua oleh jurus pukulan aneh Hoa Put-li.
Semua orang sama terkesiap, ssbab sampai sekarang belum kelihatan tanda lelah pada diri Hoa put-li, mereka pikir kalau dirinya maju mungkin juga akan keok.
Hanya Lim Sam-han dan kedua susioknya saja yang tidak merasa heran akan ketangkasas Hoa Put-li itu, mereka seakan-akan yakin Hoa Put-li pasti tak terkalahkan kalau menang juga lumrah, Lebih-lebih kedua kakek itu, dengan sorot mata tajam mereka mengikuti setiap pertarungan itu, bilamana Hoa Put-li sudah menang, mereka kelihatan puas dan senang, tiada tanda simpati sedikitpun terhadap orang yang kalah.
Begitulah berturut-turut telah maju lagi tiga jago muda, tapi selalu dikalahkan oleh Hoa Put-li dengan jurus pukulan aneh.
Habis itu, sampai lama tiada lagi yang berani turun ke kalangan.
Hoa Put-li bergelak tertawa bangga, serunya.
"Kalau cuma berkepandaian cakar ayam saja juga berani ikut sayembara ini, kan lucu dan mentertawakan. Tampaknya kalian harus pulang saja dengan mencawat ekor, jelas akulah yang keluar sebagai juara!"
Sekali ini orang yang lugu seperti Be Tay-sing juga dibikin gusar, ia mendelik dan memaki.
"Neneknya, latah benar dia!"
Mendadak ia berdiri, tubuhnya yang serupa raksasa itu melangkah ke tengah kalangan perawakan Be Tay-sing hampir sekali lipat lebih besar daripada Hoa Put-li, mau-tak-mau ia menjadi rada jeri.
"Siapa Anda?"
Tanya Hoa Put-1i.
"Kita harus berkelahi, untuk apa tanya nama segala? setelah kurobohkan kau baru kuberitahu,"
Jawab Be Tay-sing.
Berbareng sebelah telapak tangannya terus menabas miring, belum tiba tangannya angin keras sudah menyambar lebih dulu.
Terkesiap juga Hoa Put-li, ia sadar biarpun memiliki tenaga dalam yang kuat juga sukar menahan serangan lawan yang dahsyat itu..
Karena kalah kuat, Hoa Put-li tidak berani menangkis, ia menggeser ke samping.
Mendadak terdengar si kakek gendut berkata dengan tertawa.
"Aha, Pi-san-cing dari Lohtang terkenal hebat, tampaknya memang betul dan luar biasa."
"Ucapan Susiok memang betul,"
Tukas Lim Sam-han.
"Kalau menangkis secara sembarangan tentu bisa celaka."
Mendengar ucapan Lim Sam-han itu, Hoa Put-li lebih-lebih tidak berani menghadapi Be Taysing secara keras lawan keras, segera ia menggunakan kegesitan untuk berputar kian kemari.
Pisan-cian atau pukulan membelah gunung dari Soatang terkenal kuat, mantap dan ganas, tapi kurang dalam hal gesit dan cepat, Sekarang Hoa Put-li hanya main putar di sekitar Be Tay-sing maka sia-sia belaka pukulan Be Tay-sing yang kuat itu bilamana tidak dapat mengenai sasarannya.
Begitulah, ketika mencapai tiga serangan terakhir, Be Tay-sing menjadi tidak sabar, tiga jurus pukulan dilontarkan dengan cepat dan susul menyusul, ia ingin mendahului gerakan Hoa Put-li sehingga salah satu pukulannya agar bisa mengenai lawan.
Tapi karena serangan cepat ini jadinya telah melanggar dasar Pi-san-ciang yang mengutamakan mantap itu, kesempatan ini digunakan Hop Put-li dengan baik, diam-diam ia mengerahkan tenaga murni, begitu Be Tay-sing selesai melancarkan serangan terakhir, mendadak pukulan aneh andalannya dilancarkan, sekuatnya ia hantam dada Be Tay-sing.
Bilamana tiga jurus terakhir tadi Be Tay-sing tidak gopoh, tentu serangan lawan takkan berhasil, Kini titik kelemahannya telah diincar musuh, sukar lagi baginya untuk menangkis pukulan aneh Hoa Put-li ini.
"blang", dengan telak dadanya terpukul. Namun Be Tay-sing tetap berdiri tegak di tempatnya tanpa bergeming sedikitnya, bahkan matanya tampak melotot gusar, Keruan Hoa Put-li terkejut, ia heran pukulan sepenuh tenaga mengapa tak dapat merobohkan dia? Be Tay-sing tidak balas menyerang lagi, ia melangkah kembali ke tempat duduknya, setiba di samping Yu Wi, katanya sambil menyengir.
"Aku kalah, saudaraku...."
Belum habis ucapnya, darah segar terus tersembur keluar seperti air mancur, Cepat Yu Wi menutuk Hiat-to di bagian dadanya, ia tempelkan tangannya pula dan menyalurkan tenaga murni sendiri sejenak barulah darah mampet, muka Be Tay-sing yang pucat berangsur-angsur juga pulih kembali.
Suasana menjadi sunyi senyap, Hoa Put-li berdiri melongo di tengah arena dan lupa membual lagi untuk menantang, semua orang seolah-olah sama terkesima oleh kegagahan Be Tay-sing tadi.
Tidak lama kemudian, wajah Be Tay-sing yang tulus itu tersenyum cerah, ucapnya.
"Sudah baik, saudaraku, terima kasih..."
Yu Wi menepuk tangan Tay-sing, katanya.
"Jangan bicara dulu, Be-heng, lihatlah, akan kulampiaskan dongkolmu."
Setelah mendudukkan Be Tay-sing di kursinya, lalu Yu Wi maju ke tengah kalangan. Melihat Yu Wi, seketika Hoa Put-li menjadi tegang, tanyanya.
"Apakah Kan-kongcu juga ikut sayembara dan mencari jodoh?"
"Bukan!"
Jawab Yu Wi tegas.
Semua orang sama melengak, kalau bukan ikut sayembara, lalu untuk apa kedatangannya?
Lim-siocia yang duduk di sebelah ayahnya dan sejak tadi hanya menunduk saja, kini tanpa terasa mengangkat kepalanya, ketika melihat Yu Wi, serentak ia berseru.
"He, Siau Wi!"
Yu Wi tidak berani berpaling, ia pun tidak berani membayangkan bagaimana air muka si nona saat itu.
Karena tertarik oleh kejadian di tengah kalangan sehingga tidak ada orang yang menghiraukan seruan Lim-siocia itu, Tapi Lim Sam-han dapat mendengar dengan jelas, dengan suara tertahan ia tanya puterinya itu.
"Anak Kiok, ada apa?"
"Dia... dia...."
Terputus-putus suara Lim-siocia. nama lengkapnya ialah Lim Khing-kiok.
"Dia bukan bocah she Yu itu, kenapa kau gelisah?"
Omel Lim Sam-han.
Meski sangsi, namun pikiran Lim Khing-kiok rada lega, sebab kalau benar Yu Wi yang menyatakan kedatangannya bukan untuk ikut sayembara dan mencari jodoh, hal ini tentu akan membuatnya sangat berduka.
Dalam pada itu Hoa Put-li melenggong sampai kian lama barulah bersuara pula.
"Jika kedatanganmu ini bukan untuk ikut sayembara, Cayhe tidak mau bertanding denganmu."
"Kalau kau tidak mau bertanding, boleh kau hantam dadamu sendiri satu kali seperti kau pukul Be Tay-sing tadi!"
Kata Yu Wi dengan kereng. Hoa Put-li menjadi gusar, jawabnya.
"Aku bukan orang gila, mengapa memukul dirinya sendiri?"
""Hm, bila tadi kau mampu memukul orang, orang kau pun harus menghantam dirimu sendiri,"
Jengek Yu Wi.
"Ayo, kalau tidak, akulah yang akan memukul kau!"
Saking gusar Hoa Put-li sampai tidak dapat bersuara lagi.
Akan tetapi ia tidak berani melawan, betapa pun ia gentar terhadap tokoh Thian-ti-hu ini, apalagi dia sudah bertempur melawan sepuluh orang, mana dia sanggup bertempur lebih lama lagi.
Padahal lagak Hoa Put-li tadi seakan-akan dia saling jempol, sekarang dia ketakutan seperti tikus ketemu kucing, diam-diam sebagian penonton sama merasa senang.
Lim Khing kiok merasa "Kan-kongcu"
Ini memang mirip benar dengan Yu Wi, ia jadi teringat kepada kisah cinta masa lalu, kini timbul pula perasaan cintanya yang lembut itu, ia pandang Yu Wi tanpa berkedip.
Seperti ada kontak perasaan, meski tidak menoleh, secara naluri Yu Wi merasakan si nona sedang memandangnya, Namun ia tidak berani berpaling, kuatir kalau tidak dapat menahan perasaan sendiri, segera ia membentak.
"Ayo, lekas kau bunuh diri saja!"
Mendadak sesosok bayangan melayang ke tengah arena sambil berseru.
"Kan-kongcu janganlah terlalu mendesak orang!"
Hoa Put-Ii merasa lega atas kedatangan orang itu, katanya.
"Hati-hali, Suheng!"
"Mundur kau, tidak nanti Kik Bu-ong takut kepada celurut dari Thian-ti-hu,"
Seru pendatang itu, perawakannya serupa Hoa Put-li, bahkan mukanya jauh lebih sadis. Mendadak di tengah para tamu seorang berteriak.
"Aha, latah benar! Masa Kan-kongcu dari Thian-ti-hu dianggap sebagai celurut, apakah orang ini bukan mengigau atau lagi membual?"
Suara orang ini nyaring kecil, jelas suara orang perempuan yang menirukan suara lelaki, Karena tertarik oleh suara ini, pandangan semua orang sama beralih ke sana, Maka tejlihatlah seorang Kongcu cakap berpakaian perlente duduk di sebelah kanan sana, sebelah tangan memegang cawan arak, tangan yang !ain lagi menyumpit sepotong Pek-cam-keh (daging ayam rebus) dan sedang dijejalkan ke mulutnya yang mungil.
Tapi baru saja daging ayam itu tersentuh bibir, tidak jadi makan melainkan di taruh kembali ke dalam mangkuk, lalu berkata sambil menghela napas.
"Orang makan, apanya yang menarik, kenapa semua memandang padaku, sungguh aneh"
Karena ucapan ini, cepat semua orang-orang berpaling lagi dengan rasa heran, sebab tidak ada yang kenal anak muda itu.
Tampaknya seorang perempuan menyamar sebagai lelaki, kenapa juga datang ikut sayembara dan mencari jodoh?
Saat itu Hoa Put-li sudah mulai melangkah kembali ke tempat duduknya, tapi Yu Wi lantas membentak.
"Berhenti! Tidak perlu kau kembali ke sana, boleh maju sekalian bersama Suhengmu!"
"Betul, betul!"
Seru Kongcu cakap tadi dengan tertawa.
"Dia memang tidak perlu kembali, suhengnya bernama Bu-ong (tidak pernah pergi), Sute bernama Put-li, kalau digabung menjadi Bu-ong-put-li (tidak pernah tidak beruntung) Maka kalian harus maju bersama, kalau satu persatu tanggung tidak beruntung."
Kik Bu-ong menjadi gusar, kontan ia mencaci maki.
"Keparat! Siapa kau? Kalau berani, ayolah maju sekalian!"
Dengan tertawa Kongcu cakap itu menanggapi pula.
"Wah. mana boleh jadi! Bilamana aku pun maju, maka namamu bakal berubah menjadi Kik Bu-hwe (Kik tidak pernah kembali)."
Karena olol-olok orang cukup kocak, timbul juga rasa humor Yu Wi, segera ia menimpali "Betul, setelah ganti nama, gabungan nama mereka menjadi Bu-hwe-put-li, artinya kau menjadi tidak pernah beruntung sama sekali?"
Kongcu cukup itu berkeplok dan berseru.
"Haha, menarik, sungguh menarik!"
Mendengar lawakan mereka itu, Lim Khing kiok yang muram durja itupun menampilkan senyuman geli, Apalagi orang lain, banyak yang bergelak tertawa.
Tentu saja Kik Bu-ong dan Hoa Put-li dari malu menjadi murka, serentak mereka menerjang Yu Wi bersama.
Yu Wi tidak berani ayal, sekali berputar, dapatlah hantaman kedua lawan dielakkan, Kedua tangannya juga bekerja cepat, ia mainkan tiga jurus sakti andalan Kan Yok-koan dahulu.
Ketiga jurus sakti ini bernama Thian-lo-ciang, pukulan jaring langit, kekuatannya sekarang sudah jauh lebih lihay daripada waktu ia gunakan ketiga jurus itu untuk melawan Thian-te-jinsam-mo dahulu.
Kini kekuatannya sudah tujuh bagian sempurna.
DahuIu Kan Yok-koan mengguncangkan dunia Kangouw dengan tiga jurus sakti andalannya ini, kini kekuatan Yu Wi sudah mencapai tujuan bagian, tentu saja Kik Bu-ong dan Hoa Put-li bukan tandingannya.
Begitu jurus serangan Yu Wi mulai dilancarkan seketika Kik Bu-ong berdua kelabakan, waktu jurus kedua To-thian-ki long dimainkan Yu Wi, kedua orang itu sudah terkurung di tengah angin pukulannya dan sukar lolos lagi.
Begitu dahsyat kekuatan jurus ketiga "Hay-long-pay-kong", siapa pun yang melihatnya sama terkesima, Di tengah bayangan tangan Yu Wi membentak.
"Kena!"
Hanya sekejap itu saja tubuh Kik Bu-ong dan Hoa Put-li sudah kena belasan kali pukulan.
Hiat-to yang melumpuhkan tertutuk, kontan kedua orang itu roboh terkulai, sedikit pun tidak bergerak, seperti orang mati.
Serentak terdengar suara sorak sorai bergemuruh, semua orang seolah-olah sudah lupa bahwa kedatangan mereka juga akan ikut bertanding, tapi semuanya ikut bergembira bagi kemenangan Yu Wi itu, lebih-lebih si Kongcu cakap tadi, suaranya terdengar paling nyaring dan jelas.
Dengan muka kelam kedua paman guru Lim Sam-han sama meninggalkan tempat duduknya dan mendekati Kik Bu-ong dan Hoa Put-li, mereka berjongkok di samping kedua orang yang tak bisa berkutik itu, pelahan mereka menepuk Hiat-to yang tertutuk itu.
Sesudah Hiat-to lumpuh dilancarkan cepat Kik Bu-ong dan Hoa Put-li merangkak bangun "Suhu, ampuni murid yang tak becus ini!"
Kiranya Kik Bu-ong adalah murid si gendut dan Hoa Put-li murid si kakek bermuka burung dan terus menerus udut itu.
Kungfu kedua kakek ini sangat tinggi, mereka bernama Thio Put-siau dan Kho Pek-ho, pada waktu Lim Sam-han baru tamat belajar, nama kedua susioknya sudah termashur di dunia Kangouw, orang memberi julukan kepada mereka sebagai Ho-hap-ji-koay atau siluman dua sejoli.
Sudah lanjut usia barulah Ho-hap-ji-koay mengambil murid, mereka pun malas mengajar, maka sia-sia saja Kik Bu-ong dan Hoa Put-li mempunyai guru yang berilmu silat kelas wahid, tidak ada setengah kepandaian sang guru yang diturunkan kepada mereka, maka tidaklah heran jika mereka dikalahkan Yu Wi dengan mudah.
Thio Put-siau dan Kho Pek-ho tidak menyalahkan dirinya sendiri yang tidak becus mengajar murid, sebaliknya masing-masing lantas dipersen satu kali gamparan sambil membentak.
"Lekas enyah!"
Tentu saja Kik Bu-ong dan Hoa Put-li merasa malu, tapi juga tidak berani pergi, terpaksa mereka sembunyi di balik pintu angin di belakang sempat duduk Lim Sam-han.
Ngeri juga Yu Wi ketika melihat kedua paman guru Lim Sam-han mendelik padanya, diamdiam ia siap siaga.
Thio Put-siau yang berpotongan "cukong"
Dan selalu tertawa ini sekarang benar-benar tidak tertawa lagi sesuai namanya (Put-siau artinya tidak tertawa), dalam hati dia sedang berpikir cara bagaimana akan membalas dendam muridnya agar tidak menurunkan derajat sendiri.
Kho Pek-ho, kakek yang terus menerus udut itu juga sudah lupa menggigit ujung pipa tembakaunya yang mengkilat itu, begitu gemas dia seakan-akan Yu Wi hendak dihajarnya sepuaspuasnya.
Tampaknya kedua kakek ini segera akan bertindak terhadap Yu Wi.
Mendadak Lim Sam-han berkata.
"Kedua Su siok, hari ini adalah upacara sayembara untuk mencari jodoh, siapa yang menang adalah calon menantu Sutit dan juga terhitung cucu murid Susiok berdua, maka kumohon janganlah kedua Susiok mencelakai dia."
Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 5
Baca Juga: Medali Wasiat 6