Eps 3 Pendekar Kembar - Gan KL
Baca online Pendekar Kembar - Gan KL
Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.
Memandangi wajah Yu Wi yang tampan, diam-diam Thio Put-siau dan Kho Pek-ho berpikir bilamana mereka mempunyai cucu menantu secakap ini juga pantas berbangga, Segera berubah lagi air muka kedua orang, Thio Put-siau tertawa pula dan Kho Pek-ho juga udut lagi.
Kini mereka sudah lupa kejadian memalukan dari kedua muridnya tadi, seolah-olah menganggap orang yang mengalahkan anak murid mereka toh nanti juga akan menjadi anggota keluarga sendiri, jadi tidak perlu dipersoalkan lagi.
Semula Lim Sam-han memang sangsi kalau-kalau Yu Wi yang menyamar sebagai Kan-kongcu, tapi kini setelah menyaksikan Yu Wi memainkan kungfu andalan Kan Yok-koan, ia percaya penuh anak muda itu pasti Kan Ciau-bu adanya dan tidak mungkin Yu Wi.
Memang sudah lama Lim Sam-han mengincar harta pusaka Thian-ti-hu, terutama kitab pusaka pelajaran kungfunya, Tahun yang lalu Sam-mo diperintahkan menyerbu Thian-ti-hu, tujuannya hanya untuk menguji kesiap siagaan lawan saja.
Akibatnya Hek-po mengalami kekalahan besar, lalu tidak berani sembarangan bertindak lagi.
Sekarang Kan-toakongcu datang sendiri untuk ikut sayembara dan mencari jodoh, hal ini cocok dengan maksud tujuan Lim Sam-han, ia pikir suka atau tidak suka, perjodohan antara kedua keluarga ini harus, dijadikan.
Begitulah diam-diam ia main Suipoa sendiri, ia mengira setelah anak perempuannya menjadi isteri Kan-toakongcu, mustahil Thian-ti-hu kelak takkan jatuh di tangan sendiri.
Maka dengan tersenyum simpul ia lantas berdiri dan berseru kepada para hadirin.
"Silahkan, siapa lagi yang akan turun untuk bertanding dengan Kan-kongcu!"
Meski banyak di antara hadirin itu keturunan keluarga jago silat ternama, tapi kalau dibandingkan Thian-ti-hu jelas selisih sangat jauh.
Apalagi kelihayan Yu Wi tadi sudah disaksikan mereka, mana ada lagi yang berani turun kalangan.
Lim Sam-han tertawa senang, berulang ia berseru pula.
"Bila tidak ada, segera akan ku umumkan Kan-kongcu keluar sebagai juara!"
Mendadak si Kongcu cakap tadi berkeplok tertawa, katanya.
"Ayolah, umumkan saja Kankongcu sebagai juara, memang tidak ada orang yang berani menandingi dia lagi...."
"Baik!"
Seru Lim Sam-han dengan tertawa.
"Nah, setelah berlangsung pertandingan antara para peserta, akhirnya Kan-kongcu keluar sebagai juara! Lekas bawa kemari Pi-tok-cu dan emasnya!"
Dalam sekejap saja lima lelaki kekar berseragam hitam berlari maju dengan membawa barang2 yang disebut itu dan ditaruh di depan Lim Sam-han.
"Setiap orang tahu betapa kaya rayanya Thian ti-hu, sedikit tanda mata yang tidak berarti ini harap Kan-kongcu sudi menerimanya,"
Kata Lim Sam-han dengan tertawa.
"Untuk apa kuterima barang-barang itu?"
Jawab Yu Wi dengan wajah kelam. Air muka Lim Sam-han rada berubah, ucap-nya.
"Sudah ku umumkan kepada khalayak ramai, barang siapa yang ikut sayembara ini dan keluar sebagai juara, maka dia akan kujodohkan dengan puteriku dan kuajari semacam ilmu sakti serta mendapat tambahan sedikit hadiah ini, sekarang Kan-kongcu keluar sebagai juara, dengan sendirinya semua ini adalah hak Kan-kongcu untuk menerimanya sebagai mas kawin."
"Cayhe bukan Kan-kongcu, kedatanganku ini pun bukan untuk ikut sayembara, maka tidak dapat kuterima,"
Jawab Yu Wi dengan dingin.
"Kau bukan Kan-kongcu?"
Lim Sam-han menegas dengan melenggong.
"Habis siapa kau?"
Mendadak Yu Wi tertawa ngakak, tertawa pedih, ucapnya.
"Lim Sam-han, dua tahun tidak bertemu, masa kau sudah pangling padaku?"
"Hah, kau Yu Wi?"
Seru Lim Sam-han terkejut.
"BetuI, ternyata kau masih ingat,"
Jengek Yu Wi. Air muka Lim Sam-han pucat menghijau, teriaknya.
"Bagus, bagus! Tak tersangka kau adanya!"
Tiba-tiba si Kongcu cakap tadi menimbrung.
"He, kedatanganmu bukan untuk ikut sayembara, habis untuk apa?"
Yu Wi melirik sekejap ke arah sana dan berteriak.
"Kedatangan orang she Yu sekarang adalah untuk menuntut balas kematian ayah!"
"Siau... Siau Wi.... Kau tidak ....tidak mau lagi menikahiku?...."
Mendadak Lim Khing-kiok berseru dengan suara pilu, suara yang menyerupai ratapan ini menggetar hati Yu Wi, tanpa terasa ia berpaling ke sana.
Maka terlihatlah wajah yang cantik dan memelas itu dengan air mata yang bercucuran.
Remuk rendam hati Yu Wi, seperti disayat-sayat perasaannya, hampir saja dia berlari ke arah si nona, namun dendam kesumat yang amat kuat telah mencegahnya.
Melihat keadaan itu, Lim Sam-han membentak anak perempuannya.
"Lekas masuk ke belakang, jangan bikin malu orang tua di sini!"
Liro Khing-kiok adalah puteri tunggal kesayangan Lim Sam-han, sejak kecil ditinggal mati sang ibu.
Ayah kereng merangkap menjadi ibu yang kasih, selamanya belum pernah membentak anak perempuan kesayangan itu, apalagi di depan umum.
Tidak kepalang sedih Lim Khing-kiok, dia tidak ada keberanian untuk tinggal lagi di situ, kalau tidak, sungguh ia ingin menjatuhkan diri di dalam pelukan Yu Wi dan menangis sepuasnya, Akan tetapi dapatkah hal ini dilakukannya sekarang?
jelas sang kekasih sudah berubah pikiran, sudah ingkar janji...
Dengan hati yang hancur luluh Lim Khing-kiok berlari pulang ke kamarnya.
Setelah mendamprat anak perempuannya, hati Lim Sam-han jadi menyesal, dengan suara pedih ia berseru.
"Orang she Yu, kematian ayahmu menyangkut urusan yang sangat rumit, meski akupun tidak terhindar dari kesalahan, mestinya tidak perlu dibenci dan didendam olehmu hingga sedemikian. Lagi pula, sudah belasan tahun kau tinggal di tempatku ini, apakah kau tidak ingin balas budi?"
"Lim Sam-han,"
Seru Yu Wi dengan menahan perasaannya.
"tidak perlu kau mengoceh, pada waktu ayahku akan meninggal 12 tahun yang lalu, sebelum mengembuskan napas yang terakhir, beliau telah menyebut namamu, Tatkala mana aku masih kecil meski penuh rasa dendam, tapi tidak berdaya sama sekali, Terpaksa kuganti nama dan mondok di rumah musuh. Hm, tentunya kau pun tidak menyangka bahwa putera Ciang-kiam-hui bisa berdiam selama sepuluh tahun di tengah bentengmu ini!"
Mendadak Kho Pek ho menarik pipa tembakaunya, lalu bertanya dengan heran.
"Ciang-kiamhui masih mempunyai keturunan?"
Thio Put-siau juga menarik muka, lenyap tertawa yang selalu menghias wajahnya, katanya.
"Ternyata benar pameo yang mengatakan babat rumput tidak sampai akarnya, datang angin musim semi segera tumbuh kembali!"
Dengan mata merah berapi Yu Wi menuding kedua kakek yang berjuluk Ho-hap-ji-koay itu dan bertanya.
"Jadi kalian pun ambil bagian men... mencelakai ayahku?"
"Kenapa tidak?"
Jawab Thio Put siau, tertawanya kembali berkembang.
"kalau tidak ada Hohap ji-koay, siapa di dunia Kangouw yang mampu menandingi setan tua itu?"
Dengan menggreget Yu Wi berkata pula.
"Bagus! Tak tersangka hari ini dapat kutemukan lagi dua pengganas yang ikut membunuh ayahku, Barang siapa, asal mengambil bagian dalam pembunuhan ayahku, aku Yu Wi bersumpah akan membunuhnya satu persatu!"
Ia menatap Ho-hap ji-koay dengan sorot mata yang penuh dendam dan benci, pelahan tenaga dalamnya terhimpun pada kedua tangannya, ia siap melabrak musuh mati-matian.
Sebenarnya Lim Sam-han bermaksud membujuk agar anak muda itu melupakan permusuhan dan berdamai saja, kini melihat sikapnya sedemikian dendam dan benci terhadap musuh yang mencelakai ayahnya, tanpa terasa ia pun merasa ngeri Pikirnya.
"Kalau sekarang tidak tumpas dia, jangan-jangan kelak akan mendatangkan bencana yang tiada habisnya."
Segera ia mengisiki kedua paman gurunya.
"Susiok, jangan sekali-kali melepaskan dia, harus bunuh dia agar tidak mendatangkan bahaya di kemudian hari."
Mendadak si Kongcu cakap tadi menyeletuk.
"He, Lim-pocu, kan sudah kau akui dia sebagai calon menantumu, bila kau bunuh dia, apakah anak perempuan nanti takkan menjadi janda?"
Dengan benci Lim Sam-han memandang sekejap Kongcu cakap itu, teriaknya.
"Upacara sayembara ini belum lagi selesai, nanti setelah orang she Lim menyelesaikan urusan pribadi ini, tentu para hadirin dipersilakan melanjutkan pertandingan. Siapa saja yang keluar sebagai juara, orang she Lim past tidak ingkar janji, akan kujodohkan puteriku di tambah hadiah-hadiah yang telah ku sediakan."
Di antara hadirin itu memang sudah ada sebagian akan mohon diri, ketika mendadak timbul persoalan baru, mereka lantas duduk menonton di situ.
Kini setelah mendapat keterangan Lim Sam-han ini, orang-orang yang tadinya sudah putus asa lantas timbul lagi harapan akan mempersunting si cantik, belum lagi hadiah-hadiah yang menarik itu.
Tapi si Kongcu cakap lantas berkata pula dengan tertawa terkikik-kikik.
"Hihihi, orang bilang "satu kuda tidak memakai dua pelana, seorang perempuan tidak menikahi dua suami", Tadi Pocu sendiri sudah mengumumkan bahwa orang she Yu itu keluar sebagai juara dan sudah kau terima sebagai calon menantu, kenapa sekarang kau hendak memilih lagi calon lain, apakah Pocu mempunyai dua anak perempuan?"
Lim Sam-han menjadi murka., bentaknya.
"Siapa kau? Apa maksud tujuan kedatanganmu?"
"Aku pun datang untuk mencari jodoh!"
Seru Kongcu cakap itu dengan tertawa.
"Cuma sayang, konon Pocu hanya mempunyai seorang puteri kesayangan kalau..."
"Kalau mempunyai anak lelaki, tentu senang kali kau,"
Tiba-tiba Thio Put-siau memotong ucapan orang.
"Cuma sayang Sutitku ini tidak mempunyai anak lelaki, maka percumalah kedatanganmu ini jika kau ingin mencari laki!"
Seketika wajah Kongcu itu merah jengah, Sejak tadi kebanyakan orang memang sudah dapat melihat dia ini samaran anak perempuan.
Maka tertawalah semua orang....
Mendadak terdengar suara bentakan keras, sekuat tenaga Yu Wi menghantam Ho-hap-ji-koay.
Para hadirin rata-rata gemar ilmu silat, dengan sendirinya perhatian mereka lantas terpusat ke tengah kalangan pertempuran.
Tentu saja hal ini kebetulan bagi Kongcu cakap itu, tadinya dia sangat malu, sekarang legalah hatinya, ia pun prihatin terhadap keselamatan Yu Wi, segera ia pun mengikuti pertarungan mereka dengan cermat.
Biasanya Ho-hap-ji-koay memang selalu bertempur bersama menghadapi musuh, kini lawan mereka hanya seorang anak muda, mereka merasa tidak enak untuk mengerubutnya, Maka ketika Kho Pek-ho menutuk telapak tangan Yu Wi yang sedang menghantam itu, cepat Thio Put -siau menyingkir ke samping.
Melihat tutukan huncwe atau pipa cangklong orang yang lihay itu, cepat Yu Wi menarik kembali pukulannya, Tapi Kho Pek-ho lantas menyerang pula, dia bertekad akan membinasakan anak muda ini, maka berturut-turut ia menutuk lagi tiga kali.
Cepat Yu Wi memainkan jurus pertama dari ke-30 jurus ajaib ajaran si kakek kelimis Ji Pekliong itu, jurus pertama ini bernama "Biau-jiu-kong-kong"
Atau tangan ajaib kosong melompong, dengan gerakan seperti sungguh-sungguh dan juga seperti pura-pura, ia menghantam ke depan.
Dengan jurus ajaib ini dia yakin cukup mampu merampas senjata lawan.
Tapi Kho Pek-ho ternyata bukan jago sembarangan, pipa cangklongnya segera berputar sehingga sukar diduga ke mana arahnya.
Cukup dua gebrakan saja Yu Wi menyadari sukar baginya untuk mengalahkan lawan dengan bertangan kosong, segera ia melolos pedang kayu besi pemberian sang guru.
Kho Pek-ho yakin Yu Wi pasti bukan tandingannya.
maka ia tidak terlalu mendesak, ia angkat pipa tembakaunya dan udut lagi, lagaknya sangat meremehkan lawan.
Dengan pedang kayu segera Yu Wi menusuk, serangan ini meliputi perubahan gerakan yang sukar diraba.
Kho Pek-ho tahu bahaya, belum sempat ia menyemburkan asap tembakau yang diisapnya, lebih dulu ia angkat pipa cangklongnya untuk menangkis.
Begitu pipa cangklong menempel pedang lawan, seketika ia merasa pedang kayu lawan menimbulkan getaran yang keras, sebagai seorang ahli silat, dia tahu getaran itu bukan gemetar karena kalah kuat, tapi pasti ada sesuatu yang aneh.
Cepat ia tarik kembali pipa cangklongnya, biar pun cukup cepat dia bertindak, tidak urung pipa cangklongnya terbawa juga oleh pedang kayu Yu Wi sehingga ikut berputar.
Kho Pek ho membentak keras-keras, terdengar suara menggerit nyaring memecah udara, betapapun pipa cangklongnya dapat dibetot keluar dari daya lengket pedang kayu Yu Wi.
Tapi lantaran terlalu bernafsu dan terlalu kuat mengeluarkan tenaga, asap tembakau yang belum sempat dikepulkan itu jadi mengganggu jalan pernapasannya, kontan dia terbatuk-batuk sehingga keluar air mata.
Diam-diam Yu Wi merasa sayang tenaga dalamnya belum sempurna, kalau tidak, cukup tiga kali memutar pipa cangklong lawan, tentu pipa itu akan terlepas dari cekalan dan mengalahkannya.
Sedikit lengah hampir saja Kho Pek-ho terjungkal mukanya menjadi merah, dari malu menjadi murka, cepat ia keluarkan kungfu andalannya dengan ganas ia serang setiap Hiat-to maut di tubuh Yu Wi.
Namun dengan mantap Yu Wi memainkan ilmu pedang ajaran Ji Pek-liong, ia patahkan setiap serangan musuh, pertahanannya sangat rapat, terkadang ia pun balas menyerang, Namun Kho Pek-ho sudah mengeluarkan segenap kemahirannya, serangan Yu Wi sama sekali tidak membawa hasil.
Melihat kelihayan ilmu pedang Yu Wi, rasa jeri Lim Sam-han terhadap anak muda itu bertambah besar, ia pikir kalau anak muda itu diberi kesempatan berlatih lagi tiga atau lima tahun, jangankan dirinya, sekalipun kedua susioknya juga bukan tandingannya.
Mau-tak-mau ia harus bertindak, segera ia meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke tengah kalangan, ia memberi isyarat mata kepada Thio Put-siau.
Thio Put-siau tahu apa artinya, ia mengangguk, dengan cermat ia mengawasi gerakan Yu Wi.
Lama-lama Yu Wi mulai terdesak di bawah angin, Dia kalah ulet, belum cukup sempurna latihannya, makin lama titik kelemahannya makin banyak.
Kho Pek-ho memainkan pipa cangklongnya seperti pentung, yang paling lihay adalah jurus serangannya yang disebut "Ho-tok"
Atau patukan bangau, Kini mendadak ia memainkan serangan lihay ini, baru saja Yu Wi menyambut tiga kali, segera keadaannya berbahaya, Sembari menyerang berulang-ulang Kho Pek-ho tertawa mengejek.
Yu Wi menangkis lagi sekuatnya hingga lima jurus, ia benar-benar kewalahan dan tidak sanggup menangkis lagi, ia pikir tiga musuh tangguh yang dihadapinya ini, satu saja tidak mampu melawannya, cara bagaimana pula akan dapat menuntut balas?
Tiba-tiba Thio Put-siau berkata.
"Sute, jurus seranganmu Ho-tok ini boleh dikatakan tiada tandingannya di dunia ini!"
Tujuan kata-kata Thio Put-siau itu adalah untuk menambah semangat Kho Pek-ho dan melemahkan daya tempur musuh.
Tak tahunya, ucapannya itu tidak melemahkan daya pertahanan Yu Wi, sebaliknya malah mengingatkan dia pada jurus "Bu-tek-kiam"
Atau jurus tiada tandingannya ajaran Ji Pek-liong itu. Mendadak Yu Wi berteriak lantang.
"lnilah pedang tanpa tandingan nomor satu di dunia!"
Di tengah suaranya yang keras lantang itu, jurus Bu-tek-kiam bergemuruh memecah udara, deru angin tajam menyambar Kho pek-ho seperti sambaran petir. Seketika jurus "Ho-tok"
Kho Pek-ho tenggelam di tengah jurus serangan Bu-tek-kiam yang dahsyat itu, seperti bintang suram di siang hari, Terdengarlah suara jeritan ngeri, dalam keadaan sama sekali tidak tahu bagaimana lawan dapat menyerangnya sedahsyat ini, tahu-tahu pundak Kho Pek-ho telah dipukul oleh pedang kayu Yu Wi.
Betapa kuat sabatan pedang itu, seketika tulang pundak Kho Pek-ho remuk, pipa cangklong jatuh ke tanah.
Thio Put-siau terkejut, cepat ia melolos sebuah Kim-suipoa (suipoa emas) yang terselip pada ikat pinggangnya, segera ia menyerang Yu Wi, berbareng Kho Pek-ho ditariknya mundur ke belakang.
Melihat senjata lawan berbentuk Suipoa, Yu Wi tahu senjata ini tentu mempunyai jurus serangan yang aneh, pedangnya tidak boleh sampai terkunci oleh Suipoa lawan.
Maka cepat ia tarik pedangnya, menyusul dimainkannya ilmu pedang yang lain.
Ilmu pedang ini dipelajarinya dari kitab catatan Ji Pek liong sendiri yaitu intisari kungfu andalan Kan Yok-koan, dengan sendirinya sangat lihay, Yu Wi yakin dengan ilmu pedang baru ini tentu lawan akan dapat diserang hingga kelabakan.
Tapi ia tidak berpikir bahwa ilmu pedang ini belum pernah dilatihnya, hanya dibacanya dari kitab saja, jadi cuma teori saja yang dipahaminya, prakteknya sama sekali belum pernah digunakan.
Teori memang tidak boleh dipersamakan dengan praktek, maka ketika ia menyerang menurut teori, prakteknya ternyata kurang tepat.
Betapa tajam pandangan Thio Put-siau, setitik kelemahan lawan segera dapat diketahuinya.
"trang", Suipoa emasnya bergerak, tepat menghantam ujung pedang. Ketika Yu Wi merasa pedangnya seperti terbentur dinding baja yang kuat dan sukar mengeluarkan tenaga lagi, cepat ia bermaksud menarik kembali pedangnya, Tak terduga ujung pedang sudah telanjur dikunci oleh Suipoa lawan dan sukar ditarik kembali. Dalam keadaan demikian banyak peluang pada tubuhnya, selagi ia hendak menyelamatkan diri dengan jurus ajaib, tahu-tahu Lim Sam-han yang licik itu sudah menubruk maju. Tadi sesudah menyaksikan Yu Wi mengalahkan Kho Pek-ho, semua orang sama mempunyai rasa kagum terhadap keperkasaannya, mereka menganggap Yu Wi masih muda belia, tapi sudah begini lihay, Kemudian Thio Put-siau menggantikan Sutenya yang sudah keok, semua orang merasa penasaran, mereka menganggap Thio Put-siau tidak sportif, sudah lebih tua, main giliran menempur seorang anak muda, sungguh memalukan. Kini terlihat Yu Wi terancam bahaya dan Lim Sam-han menyergap dari belakang, semua orang menjadi gusar dan sama membentak serta mencaci maki. Betapapun Yu Wi memang kurang pengalaman tempur, ketika mendengar para penonton sama mencaci-maki, ia belum lagi mengetahui tindakan Lim Sam-han yang keji, ketika diketahuinya orang menyergapnya, tahu-tahu pukulan Lim Sam-han sudah telak mengenai punggungnya. Untung Yu Wi meyakinkan ilmu sakti Thian-ih-sin-kang sehingga urat jantung tidak sampai tergetar putus oleh serangan Lim Sam-han itu dan binasa seketika, walaupun begitu, tidak urung darah segar tersembur juga seperti air mancur dan menyemprot ke arah Thio Put-siau. Kakek gendut ini suka akan kebersihan, cepat ia melompat mundur dan dengan sendirinya Suipoa juga ikut melepaskan pedang kayu Yu Wi yang terkunci tadi. Segera lengan Yu Wi terjulur lemas ke bawah dan tidak mampu mengangkat pedang lagi. Hantamannya yang dahsyat itu ternyata tidak membinasakan Yu Wi, keruan Lim sam-han bertambah ngeri terhadap keperkasaan anak muda itu. Cepat ia susulkan pukulan dahsyat lagi, dengan kejam ia hendak membunuh Yu Wi. Seketika suara protes dan mengejek timbul di sana-sini, mendadak, terdengar si Kongcu cakap juga berseru.
"Berhenti!"
Secepat anak panah terlepas dari busurnya, Kongcu cakap itu melayang ke samping Yu Wi, berbareng telapak tangannya terus menghantam dada Lim Sam-han.
Serangan ini memaksa musuh harus menyelamatkan diri lebih dulu jika tidak mau mati konyol, terpaksa Lim Lam-han melompat mundur, dan karena itulah pukulannya juga tidak mengenai Yu Wi.
Tanpa pikir lagi si Kongcu cakap terus memondong Yu Wi.
Dalam keadaan lunglai Yu Wi membiarkan orang memondongnya.
Pada saat itulah Suipoa emas Thio Put-siau telah mengepruk belakang kepala si Kongcu cakap, Lim Sam-han juga tidak tinggal diam, tidak nanti ia membiarkan orang membawa lari Yu Wi, sekuatnya ia menghantam pula.
Diserang dari muka dan belakang, apalagi dia memondong Yu Wi, dengan sendirinya si Kongcu tak dapat menangkis, Melihat keadaan gawat itu, semua orang ikut berkeringat dingin baginya.
Dapatkah Kongcu cakap itu menyelamatkan Yu Wi?
Siapa dia sebenarnya?
Apakah betul perempuan menyamar lelaki?
Ke mana Yu Wi akan dibawa pergi?
-Bacalah
Jilid ke-5 -
Jilid ke-5 Semua orang menyangka si Kongcu cakap pasti sukar menghindari serangan dari muka dan belakang itu.
Tak terduga, mendadak tubuhnya berputar dan sekali melejit, tahu-tahu sudah menghilang bayangannya.
Suipoa Thio Put-siau mengenai tempat kosong, bahkan hampir saja menghantam tangan Lim Sam-han yang juga sedang memukul.
"Lari ke mana?!"
Bentak Thio Put-siau dengan air muka pucat.
"Siapa yang lari?"
Mendadak terdengar suara si Kongcu cakap mengejek di belakang.
Kejut sekali Thio Put-siau, cepat ia membalik tubuh, benarlah dilihatnya Kongcu cakap itu berdiri di samping tempat duduk Lim Sam-han dengan memondong Yu Wi dan lagi memandangnya dengan tertawa.
Berkeringat dingin Thio Put-siau menyaksikan ginkang luar biasa itu dapat menghilang di luar tahunya, keruan tidak kepalang kagetnya, tanyanya dengan saudara keder.
"Kau ... kau murid siapa?"
Si Kongcu cakap tidak menggubrisnya, mendadak tangannya terjulur, Pi-tok-cu di atas meja dicomotnya, ucapnya dengan tertawa.
"lnikan hadiah tanda tunangan, biarlah kuwakilkan Yukongcu menerimanya."
Dengan muka masam Lim Sam-han berkata.
"Anak perempuanku tidak nanti dapat diperisteri oleh bocah she Yu ini."
"Mana bisa tidak boleh?"
Ujar si Kongcu cakap.
"Seorang gadis suci tidak nanti menikahi dua suami, janganlah Lim-pocu membikin susah anak gadis sendiri menjadi janda hidup."
Karena kata-kata orang itu, diam-diam Lim Sam-han menjadi kuatir juga kalau anak perempuannya menjadi nekat dan timbul pikiran untuk membunuh diri, jika terjadi demikian, cara bagaimana dirinya akan bertanggung-jawab terhadap mendiang ibunya?
"Sesungguhnya kau murid siapa?"
Terdengar Thio Put-siau membentak pula. Kongcu cakap itu menggeleng, jawabnya.
"Ai, kau ini memang suka bertanya, Andaikan kukatakan juga tiada gunanya, memangnya kau berani mencari perkara kepada beliau (perempuan)?"
"Beliau?"
Tukas Thio Put-siau.
"Siapa beliau? Ap.... apakah..."
Mendadak si Kongcu cakap melayang keluar ruangan tamu, dengan cepat sebelah tangan Thio Put-siau mencengkeram, tapi sukar memegangnya meski orang melayang lewat di sebelahnya, kecepatannya sungguh sukar dilukiskan.
Dalam gusarnya Thio Put-siau terus menyambitkan Suipoa emasnya.
Berat Suipoa itu ada beberapa puluh kati, disambitkan pula dengan kuat, tapi baru saja Suipoa itu menyambar kira-kira sejengkal di belakang Kongcu itu, mendadak dia melejit ke atas, kedua kakinya tepat menginjak di atas Suipoa, berbareng itu kaki terus memancal ke belakang.
Kontan Suipoa emas itu melayang balik ke belakang dengan terlebih cepat, bahkan menyambar ke batok kepala Thio Put-siau sendiri.
Thio Put-siau tidak berani menangkap Suipoa itu, cepat ia pegang cangklong Kho Pek-ho dan digunakan mencungkit Suipoa itu, cangklong itu menerobos jeruji Suipoa, seperti poros kitiran, Suipoa itu berputar cukup lama di atas cangklong dan akhirnya berhenti.
Keringat dingin membasahi dahi Thio Put-siau, dengan muka pucat ia berseru.
"Apa... apa dia?"
"Ya, pasti dia,"
Tukas Kho Pek-ho sambil menahan rasa sakit pundaknya.
"Kalau bukan dia, tidak nanti keluar murid selihai ini." -00O00--~oo0oo-Yu Wi berada dalam pondongan si Kongcu cakap, karena lukanya sangat parah, untuk membuka mata saja berat rasanya, meski tidak menyemburkan darah lagi, tapi air darah masih merembes keluar dari ujung mulutnya. Setelah lari keluar Hek-po, Kongcu cakap itu masih terus berlari secepatnya tanpa berhenti. Dalam keadaan sadar-tak-sadar Yu Wi mencium bau harum badan orang perempuan, dalam hati ia membatin.
"Kiranya Kongcu cakap ini memang samaran perempuan."
Entah sudah berapa lama dan berapa jauh pula, Yu Wi sudah pingsan lagi, Ketika ia siuman dan memandang sekelilingnya, suasana ternyata sudah berubah sama sekali.
Inilah sebuah kamar yang sangat mewah, selimut bantal bersulam, kelambu tipis melambai lemas ke bawah, warnanya sangat serasi, berada di tengah kelambu, berbaring di atas kasur yang empuk dan selimut yang harum, rasanya, seperti berada di surga.
Yu Wi mengucek-ucek matanya dan coba mengatur pernapasan, ia merasa tidak ada luka apa pun, seperti tidak pernah mendapatkan pukulan dahsyat Lim Sam-han itu, yang dirasakan hanya kurang tenaga saja.
Ia membuka kelambu yang tipis itu, lalu turun dari tempat tidur, pelahan ia berjalan sekeliling, rasanya biasa, tiada sesuatu yang mengganggu maka ia yakin lukanya sudah sembuh sama sekali.
Ia coba mengenangkan kejadian waktu itu, sesudah si Kongcu cakap menyelamatkan dia dan membawanya kabur dari Hek-po, jangan-jangan orang telah memberi minum obat mujarab dan telah menyembuhkan lukanya?
Mendadak terdengar suara pintu dibuka pelahan, seorang gadis jelita melangkah masuk.
Sungguh luar biasa cantik gadis ini, kulit badannya seputih salju, dipandang dari jauh laksana sekuntum bunga lily yang mulus dan lembut, sekali pandang saja Yu Wi lantas mengenalnya sebagai si Kongcu cakap itu.
"Ah, kau sudah dapat berjalan!"
Seru nona itu dengan riang. Yu Wi menjura dalam-dalam, dengan rasa terima kasih yang tak terhingga ia berucap.
"Siocia telah menyelamatkan jiwaku dan menyembuhkan pula lukaku yang parah, budi kebaikan ini sungguh sukar kubalas selama hidup ini."
Nona jelita itu mengelak ke samping dan balas memberi hormat, jawabnya.
"Ah, janganlah bicara sehebat itu. Membantu orang yang kepepet adalah kejadian yang jamak. Tentang obat mujarab yang kau minum juga bukan punyaku, tapi kuperoleh dari paman Su, yaitu si tabib sakti Su Put-ku di Ngo-tay-san kecil."
"Hah, maksudmu obat mujarab ini, pemberian si "Si-put-kiu"?"
Yu Wi menegas dengan terkejut Nadanya tidak percaya bahwa Su Put-ku mau memberi satu biji obat mujarab untuk menolong jiwa orang lain. Maklumlah, watak Su Put-ku yang berjuluk "Koay-jiu-ih-un"
Atau si tabib sakti bertangan ajaib itu memang sangat aneh, eksentrik ilmu pengobatannya memang maha sakti, ibaratnya mampu menghidupkan orang yang sudah mati.
Akan tetapi ilmu pengobatannya yang maha sakti itu tidak sudi digunakan menolong tokoh Bu lim manapun juga, pernah terjadi berpuluh kali ada tokoh persilatan kelas tinggi terluka, jauh-jauh mereka diantar ke Siau-ngo-tay san.
Siapa tahu si tabib sakti justeru "Kian-si-put-kiu"
Atau menyaksikan orang mati juga tidak mau menolong, Biarpun orang terluka itu memohon dengan sangat dan akhirnya mati di depan rumahnya, tetap dia tidak perduli, memandang sekejap saja tidak mau.
Sering juga di antara sanak keluarga pasien yang datang minta pertolongan itu bermaksud menggunakan kekerasan untuk memaksa Su Put-ku memberi pertolongan, tapi gagal juga maksud mereka, sebab ilmu silat Su Put-ku sendiri juga sangat tinggi dan sukar mengalahkan dia.
Apa yang terjadi itu tersiar di dunia persilatan para ksatria Kangouw sama merasa penasaran dan mencela sikap Su Put-ku yang tidak berprikemanusiaan itu, maka orang lantas memberi poyokan yang sama lafalnya dengan nama aslinya, yaitu Su-put-kiu, artinya biarpun melihat orang mati juga tidak mau menolong.
Dan setelah nama "Su-put-kiu"
Tersiar, selanjutnya orang persilatan tidak ada lagi yang berani mengantar orang luka ke Siau-ngo-tay-san untuk minta pertolongannya. Ketika masih tinggal di Hek-po nama "Su-put-kiu"
Sudah didengar oleh Yu Wi, siapa tahu sekarang justeru obat mujarab si "Su-put-kiu"
Yang telah menyembuhkan lukanya, bukankah maha ajaib? Begitulah, maka si nona telah mengangguk dan berkata.
"Ya, siapa lagi kalau bukan paman Su si Su-put-kiu. Ketika kuminta obat padanya, seketika paman Su memberikannya padaku, Orang lain bilang paman Su biarpun melihat orang mati di hadapannya juga tidak mau memberi pertolongan kukira poyokan ini tidak benar seluruhnya."
"Lantas di sini ini tempat apakah?"
Tanya Yu Wi.
"Rumahku di kota Pakkhia (Peking),"
Jawab si nona dengan tertawa. Kembali Yu Wi memberi hormat, ucapnya dengan sangat berterima kasih.
"Jauh-jauh Siocia telah mintakan obat ke Ngo-tay-san, jangankan budi pertolongan jiwa, melulu perjalanan yang jauh dan susah payah ini sudah membuatku takkan lupa selama hidup."
Nona itu menggeleng-geleng, katanya.
"Sudahlah, jangan menjura melulu, aku menjadi ikut repot. Juga jangan panggil Siocia lagi padaku, aku tidak suka orang menyebut diriku Siocia, Ayah memberikan nama Ko Bok-ya padaku, tapi sayang, biarpun namaku Bok-ya (jangan liar), sejak kecil aku justeru sangat Ya (liar), selanjutnya bolehlah kau panggil aku Ya-ji saja (istilah ji adalah sebutan pada anak kecil atau orang yang lebih muda)."
"Dan namaku..."
"Ku tahu"
Namaku Yu Wi, wajahmu serupa dengan Kan-kongcu, kelak harus kulihat juga Kantoakongcu dari Thian-ti-hu itu, ingin ku tahu di manakah letak kemiripan kalian?"
Kata Ko Bok-ya dengan tertawa.
"Kami memang serupa seperti saudara kembar,"
Tutur Yu Wi dengan menyesal.
"Bilamana Kah-kongcu berdiri sejajar denganku, tentu sukar bagimu untuk membedakannya."
"Masa begitu mirip?"
Ko Bok-ya menegas dengan kurang percaya.
"Jika kami tidak mirip, tentu dua tahun yang lalu jiwaku sudah melayang, tentu aku sudah terbunuh oleh Hek-po-ji-mo di hutan sana dan tak tertolong...."
Ucap Yu Wi seperti terkenang pada kejadian masa lampau. Ko Bok-ya merasa heran, tanyanya.
"Kungfumu sedemikian tinggi, masa hampir dibunuh orang?"
"Kungfuku tinggi?"
Yu Wi tertawa getir.
"Sedangkan beberapa musuh pembunuh ayahku saja tak dapat kutandingi, bilamana tidak ditolong olehmu, mungkin jiwaku sudah amblas, masakah kau-bilang kungfuku tinggi."
Ko Bok-ya menggeleng, ucapnya.
"Sesungguhnya kau memang memiliki kungfu yang sukar di jajaki, cuma sayang latihanmu belum cukup, hanya soal waktu saja, kelak jangankan Ho-hap-jikoay dan Lim Sam-han, biarpun Bu-lim-jit-can-so yang termasyhur di dunia persilatan juga sukar mengalahkan kau."
"Masa mungkin terjadi begitu?...."
Kata Yu Wi dengan ragu.
"Tentu saja mungkin,"
Tukas Ko Bok-ya.
"Tempo hari, apabila kau tetap menggunakan satu jurus ilmu pedangmu yang kau gunakan mengalahkan Kho Pek-ho itu, kuyakin Ho-hap-ji koay dan Lim Sam-han pasti sudah binasa di bawah pedangmu."
"Oo!"
Yu Wi merasa tergugah.
Tapi lantas terpikir olehnya pesan sang guru agar jurus serangan itu jangan sembarangan digunakan, ia sendiripun ragu apakah kelak harus digunakannya bilamana menghadapi musuh?
Melihat anak muda itu diam saja, Ko Bok-ya lantas bertanya.
"Siapakah gerangan Suhumu?"
"Salah satu di antara Jit-can-so!"
"Hah? Kakek cacat yang mana?"
Tanya Ko Hok-ya terkejut.
"Ji Pek-liong,"
Jawab Yu Wi tak acuh.
"Ah, kiranya dia!"
Seru Ro Bok-ya.
"Memangnya kenapa?"
Tanya Yu Wi dengan tertawa.
"Ti... tidak apa-apa, hanya ku tahu gurumu itu."
"Darimana kau tahu guruku"
Tanya Yu Wi dengan sangsi.
"Hal ini...."
Belum lanjut ucapan Ko Bok-ya, mendadak di kejauhan ada orang membentak.
"Tayciangkun tiba!"
Maka Ko Bok-ya tidak meneruskan ucapannya tadi, katanya dengan tertawa.
"Wah, ayah datang kemari!"
"Ayahmu seorang Ciangkun (panglima, jenderal)?"
Tanya Yu Wi. Dengan angkuh Ko Bok-ya menjawab.
"Ayahku bukan saja seorang panglima, bahkan panglima besar angkatan perang!"
"Ahhh!"
Yu Wi bersuara kaget.
Menurut tata-negara feodal jaman dahulu, kedudukan panglima besar angkatan perang boleh dibilang teramat tinggi Di bawah Raja, untuk jabatan sipil, kedudukan yang paling tinggi adalah Cay siang atau Perdana Menteri, dan untuk militer adalah Peng-ma-tayciangkun atau panglima besar angkatan perang.
Keluarga Thian-ti-hu turun temurun tiga angkatan selalu menjabat perdana menteri, kekuasaannya memang tiada bandingannya, Tapi bicara tentang Peng-ma-tayciangkun, sekalipun jamannya Kan Jun-ki masih hidup, pihak Thian-ti-hu juga tidak berani menekan pihak panglima angkatan perang tersebut.
Sungguh Yu Wi tidak menyangka dirinya bisa berada di tempat kediaman seorang panglima besar angkatan perang, Malahan nona jelita yang menyelamatkan jiwanya sendiri adalah puteri sang Panglima.
Begitulah Yu Wi lantas dibawa Ko Bok-ya menemui orang tuanya.
Terlihat sang Panglima Besar duduk di tengah ruangan dengan gagah berwibawa, di sebelahnya berduduk pula ibu Ko Bok-ya dan di kanan-kiri mereka berdiri para pengawal yang perkasa.
Dengan lembut Ko Bok-ya menyembah kepada ayahnya, ucapnya.
"Yah, terimalah sembah hormat anak Ya."
"Ya-ji,"
Suara sang Tayciangkun atau panglima Besar ternyata besar dan lantang.
"khabarnya kau bawa pulang seorang Bu-lim yang kau tolong dalam keadaan terluka parah, aku jadi kuatir kalau terjadi keonaran lagi, maka sengaja kujenguk kau."
"Ayah, kalau Ya-ji tidak membuat onar, apakah ayah lantas tidak mau menjenguk anak?"
Kata Bok-ya dengan manja.
"Siapa bilang begitu?"
Omel sang Tayciangkun dengan tersenyum penuh kasih sayang.
"Habis, mengapa ayah berdiam lebih sebulan di tempat mak tua dan tidak pulang kemari?"
Kata Bok-ya dengan mulut menjengkit.
"Ya-ji,"
Cepat ibu Bok-ya menyela.
"sungguh tidak tahu aturan, masa kau mengomeli ayah?"
Bok-ya lantas mendekati nyonya setengah baya dan berwajah bundar laksana bulan purnama itu, ucapnya dengan aleman.
"Hati ibu terlalu baik dan tidak mau mengurus ayah, Memangnya tempat kita ini kurang baik dibandingkan tempat mak tua (maksudnya isteri pertama ayahnya) sana."
Sang Tayciangkun tertawa, katanya.
"Ya-ji nampaknya benar2 kau hendak mengurusi ayahmu, ingatkah kau arti nama Bok-ya yang kuberikan padamu ini."
Dengan aleman Bok-ya berkata.
"Ayah bilang watakku nakal dan liar, maka diberi nama Bok-ya agar selamanya kuingat jangan berbuat liar di luaran.."
Tayciangkun mengangguk, ucapnya.
"Mendingan kau masih ingat, tapi ayah juga mempunyai maksud lain, yaitu supaya kau tahu aturan sebagaimana anak perempuan umumnya, jangan serupa anak lelaki dan..."
"Dan anak Ya justeru serupa anak lelaki dan tidak tahu aturan dan ikut mengurusi kebebasan ayah sehingga ayah pun tidak suka lagi kepada anak Ya..."
Jelas sang Tayciangkun sangat memanjakan anak perempuannya ini, dia menggeleng sambil berucap.
"Ai, coba, belum lagi memarahi kau, tapi kau keburu marah dulu kepada ayah, jangan marah! Soalnya banyak pekerjaan sehingga ayah tidak sempat pulang kemaril!"
"Kenapa tidak ayah katakan sejak tadi sehingga anak Ya sembarangan omong tanpa alasan!"
Ucap Bok-ya dengan tertawa.
"Ai, anak ini sungguh..."
Sang Tay-ciangkun berpaling kepada isterinya dan menghela napas gegetun. Wanita setengah baya itu tersenyum, ucapnya.
"Koanjin (sebutan hormat kepada sang suami) terlalu memanjakan dia sejak kecil, terlambatlah jika sekarang baru hendak kau didik dia."
Ko Bok-ya lantas mendekati sang ayah, ucapnya dengan tersenyum simpul.
"Ayah, orang yang kutolong itu sedang menunggu untuk memberi hormat padamu."
"Ai, kau ini memang tidak tahu aturan, masa orang disuruh berdiri saja di sana, dia baru sembuh, mana boleh berdiri lama?"
Kata Tayciangkun dengan tertawa, nadanya menyalahkan Ko Bok-ya.
"Sakit apa, dia sudah sehat"
Ujar Bok-ya, dengan lemah gemulai ia lantas mendekati Yu Wi.
Karena Yu Wi sedang berdiri dengan termangu menyaksikan cengkerama antara Bok-ya dengan ayah bundanya, dalam hatinya merasa berduka, teringat olehnya ayah bunda sendiri yang telah tiada, dirinya hidup sebatang kara, tanpa terasa air matanya berlinang-linang.
Tiba-tiba terdengar Bok-ya lagi menegurnya.
"kau berduka apa?"
Cepat Yu Wi mengusap air matanya dan menjawab dengan gelagapan.
"O, ti... tidak apaapa..."
Padahal dengan jelas Ko Bok-ya melihat Yu Wi lagi menangis, tapi ia pun tidak enak untuk bertanya lagi lebih lanjut.
Sudah tentu ia tidak tahu apa yang menyebabkan Yu Wi menjadi berduka, Maka dengan tertawa ia berkata.
"Sifat ayah sangat ramah, jangan takut bila menemui beliau."
Yu Wi lantas ikut maju ke sana, wajah sang Tayciangkun dapat dilihatnya dengan jelas, memang betul ramah tamah dan simpatik, tapi terpancar semacam hawa yang penuh wibawa dan membuat orang akan merasa tidak tenteram bila berhadapan dengan dia.
Namun Yu Wi juga bukan orang biasa, dengan tenang ia menjura.
"Wanpwe Yu Wi memberi hormat kepada Tayciangkun dan Hujin."
Terkesiap sang Tayciangkun.
"Kau she Yu?"
Tanyanya... Dengan hormat Yu Wi menjawab.
"Betul, mendiang ayahku Yu Pun-hu. Apakah nama Yang Mulia ialah Siu?"
"Ayahmu yang memberitahukan padamu?"
Tanya pula sang Tayciangkun yang bernama Ko Siu ini dengan simpatik. Yu Wi mengangguk, jawabnya.
"Betul, waktu masih kecil sering Wanpwe mendengar ayah menyebut nama Tayciangkun dan selama ini belum pernah lupa."
"Bilakah ayahmu meninggal dunia?"
Tanya Ko Siu dengan menyesal.
"12 tahun yang lalu, ayah dibunuh orang!"
Tutur Yu Wi dengan sedih.
"Dibunuh orang?"
Ko Siu menegas dengan terkejut Segera wajahnya penuh rasa duka cita, sampai agak lama barulah ia berkata pula sambil menggeleng.
"Belasan tahun ayahmu ikut berjuang padaku, hubungan kami sangat baik seperti saudara sekandung, lima belas tahun yang lalu mendadak ia mohon diri padaku, Kuingat, waktu itu kau baru berumur empat, aku tidak tahu apa sebabnya ayahmu sengaja meninggalkan aku. Kalau kupikir sekarang, jangan-jangan karena dia mengetahui ada orang hendak membikin susah padanya, dia tidak ingin aku ikut tersangkut, maka sengaja mengundurkan diri dari sini."
"Waktu itu apakah ayah mempunyai musuh?"
Tanya Yu Wi.
"Bicara tentang musuh ayahmu, sungguh sukar dihitung jumlahnya...."
Tutur Ko Siu sambil menghela napas.
"Dan di antara musuh-musuhnya itu tentu ada beberapa orang yang lihay, bukan?"
Tukas Ko Bok-ya. Ko Siu berpaling kepada sang isteri dan bertanya.
"Apakah Hujin masih ingat ketika kutanyai sahabat-baikku Yu Bun-hu dahulu?"
Nyonya setengah baya itu menghela napas pelahan, jawabnya.
"Mana dapat kulupakan si "Ciang-kiam-hui"
Itu?
Masih kuingat waktu Koanjin membawanya ke rumah untuk pertama kalinya dahulu dia selalu menguatirkan keamanan Koanjin dan tidak berani meninggalkan Koanjin, Tapi Koanjin bilang sudah didampingi olehku dan menyuruh dia tidak perlu kuatir, Dia tidak percaya kemampuanku dapat melindungi Koanjin, maka ingin menguji kekuatanku, terpaksa kupenuhi kehendaknya dan bertanding dengan dia sampai seratus jurus tanpa kalah, dengan begitu barulah ia merasa lega dan mau meninggalkan Koanjin."
Yu Wi tidak menyangka bahwa wanita setengah baya ini sanggup bertanding sama kuatnya dengan mendiang ayahnya, padahal nyonya ini kelihatan lemah lembut dan welas-asih, sedikitpun tiada tanda belajar ilmu silat, mana bisa menguasai kungfu setinggi itu?
Karena pikiran ini, tanpa terasa air mukanya memperlihatkan rasa tidak percaya, Ko Bdk-ya memang gadis cerdik, sekilas pandang saja ia dapat meraba jalan pikiran Yu Wi, dengan tertawa ia lantas berkata.
"Hm silat ibu berasal dari Go-bi-pay, waktu mudanya beliau juga sudah menggetarkan Kangouw dan dikenal sebagai "Giok-ciang-siancu" (si dewi bertangan kemala), baik jago dari Pek-to (kalangan putih) maupun dari Hek-to (golongan hitam) kebanyakan sama jeri padanya,"
Sang ibu yang berjuluk Giok-ciang-siancu lantas mengomel.
"Hus, jangan membual bagiku, kau tahu ayah Yu-kongcu sengaja mengalah padaku, kalau tidak, mungkin 50 jurus saja tak dapat kutandingi dia."
"Justeru lantaran membela karir dari keamananku itulah, maka Yu-hianteku itu telah banyak bermusuhan dengan tokoh Kangouw,"
Tutur Ko Siu.
"Jika dihitung, mungkin enam atau tujuh di antara sepuluh orang pernah bermusuhan dengan dia."
"Sebab apa orang Bu-lim merecoki Ciangkun?"
Tanya Yu Wi.
"Mwski aku dan ayahmu tidak pernah mengangkat saudara, tapi hubungan kami sesungguhnya melebihi saudara sekandung,"
Tutur Ko Siu pula sambil mengenang sahabatlamanya itu.
"Dia lebih muda tujuh tahun daripadaku, maka bolehlah kau panggil Pekhu (paman) padaku. Terlalu asing rasanya bila kau sebut Ciangkun padaku."
"Baik, Pekhu,"
Cepat Yu Wi memanggil dengan hormat. Ko Bok-ya berkeplok tertawa, serunya.
"Bagus sekali! sekarang aku mempunyai seorang adik!"
"Ya-ji,"
Kata Giok-ciang-siancu.
"Yu-hiantit lebih tua satu tahun daripadamu, harus kau panggil dia Toako."
"Baiklah,"
Seru Ko Bok-ya dengan tertawa, Lalu ia memberi hormat kepada Yu Wi sambil berkata.
"Toako, terimalah hormatku ini."
"Ah, ma... mana kuberani..."Yu Wi men jadi kelabakan. Ko Bok-ya berkata pula seperti kurang senang.
"Apakah Toako tidak sudi mempunyai adik perempuan seperti diriku ini?"
"O, tidak, bukan begitu!"
Seru Yu Wi cepat.
"Mana bisa Toako tidak sudi mengakui kau sebagai adik perempuan...."
"Jika begitu, jangan lagi kau bicara padaku seperti orang luar,"
Tukas Ko Bok-ya dengan tertawa.
"Ya, kalau antara kita adalah anggota sekeluarga, Hiantit juga tidak perlu sungkan lagi, silahkan duduk untuk bicara,"
Ujar Ko Siu. Sesudah Yu Wi mengambil tempat duduk, lalu Ko Siu menyambung.
"Selama belasan tahun ini negara aman dan rakyat sejahtera, tahukah Hiantit semua ini atas jasa siapa?"
"Dengan sendirinya jasa kedua tiang kerajaan sekarang, keluarga Kan dari Thian -ti-hu dan Pekhu adanya,"
Jawab Yu Wi.
"Bicara rakyat dapat hidup sejahtera, aman sentosa, tidak ada gangguan keamanan, semuanya itu adalah jasa keluarga Kan tiga angkatan turun temurun,"
Tutur Ko Siu.
"Dan tahukah Hiantit akan sejarah keluarga Kan?"
Yu Wi mengangguk, jawabnya.
"Tiga angkatan berturut-turut keluarga Kan menjabat perdana menteri, angkatan pertama Kan Yok-koan, angkatan kedua Kan Yan-cin dan angkatan ketiga Kan Jun-ki, keturunannya sekarang ialah Kan Ciau-bu dan belum menikah, Titji cukup jelas mengenai mereka."
"Oo,"
Ko Siau bersuara heran, tak diduganya anak muda itu dapat mengetahui sejelas ini, tapi ia pun tidak bertanya lebih jauh, tuturnya pula.
"Sebelum menjabat Perdana Menteri Kan Yok-koan sudah terkenal serba pandai, baik ilmu sastra maupun ilmu militer, dan sesudah menjadi perdana menteri, sering dia melakukan inspeksi ke segenap pelosok negeri dan bergaul luas dengan orang dunia persilatan. Hendaklah diketahui, timbulnya kekacauan atau gangguan keamanan seringkali berasal dari orang persilatan, jadi tenang atau kacau nya dunia persilatan sangat besar pengaruhnya dengan keamanan negara, Kan Yok-koan cukup maklum akan hal ini, maka dia mengambil kebijaksanaan untuk menyerap orang persilatan sebanyak-banyaknya ke dalam pemerintahan."
"Selama hidup Kan Yok-koan terus berkecimpung di dunia Kangouw, kaum Lok-lim yang tadinya banyak mengganggu rakyat itu seterusnya lantas bersih, Dunia Kangouw yang semula sering terjadi pertengkaran dan bunuh membunuh juga dapat ditenangkan Menyusul dengan amannya negara, hidup rakyat pun sejahtera."
"Kemudian Kan Yan-cian dan Kan Jun-ki juga dapat melanjutkan rencana kerja orang tua, selama berpuluh tahun negara makmur dan rakyat subur, semua ini adalah jasa keluarga Kan tiga angkatan turun temurun."
"Dan bagaimana dengan jasa ayah?"
Tanya Ko Bok-ya. Dengan gagah perkasa Ko Siu menjawab.
"Jasa keluarga Kan terletak pada keamanan dan kemakmuran dalam negeri, mengenai ketahanan negara dan kekuatan menghadapi musuh dari luar, memang adalah jasa ayahmu ini."
Diam-diam Yu Wi berpikir, pantas keluarga panglima Besar Ko ini sangat dihormati tidak di bawah keluarga Kan, ternyata di dalam hal ini memang ada alasannya.
Kalau tidak ada Peng-ma tayciangkun, biarpun keluarga Kan mempunyai kemahiran mengamankan negeri dan menyejahterakan rakyat, tapi kalau tidak dapat menahan serangan musuh dari luar, akibatnya negara akan terjajah dan rakyat sengsara.
jadi kalau dibicarakan, kedua keluarga ini memang sama-sama merupakan tiang penyanggah negara yang tidak boleh berkurang salah satu di antaranya.
Ko Siu berhenti sejenak, kemudian berkata pula.
"Tapi berhasilnya kutegakkan pahala besar ini, semuanya juga berkat tenaga bantuan Yu-hian-teku itu."
Ia berhenti sejenak, kelihatan ia bersedih, lalu berkata pula.
"Sayang, pada saat namaku lagi membubung tinggi, mendadak Yu-hiante meninggalkan diriku. sekarang dia sudah almarhum pula, sungguh hatiku sangat berduka dan. merasa Thian kurang adil."
Karena terharu, Yu Wi juga mengucurkan air mata, Ko Bok-ya juga tidak dapat tertawa lagi dan ikut sedih. Giok-ciang-siancu sendiri sudah sejak tadi mengalirkan air mata.
"Di antara musuh ayah, apakah Pekhu masih ingat siapa-siapa saja?"
Tanya Yu Wi dengan tersendat.
"Setiap orang yang mengalami perjuanganku adalah musuh mendiang ayahmu,"
Jawab Ko Siu dengan tegas.
"Kau tahu, karena bangsa asing tidak mampu menjajah negeri kita, dengan segala tipu daya mereka berusaha membeli kaum pengkhianat dari kalangan persilatan, tentu pula di dunia Kangouw tidak kurang sampah persilatan yang mau bekerja bagi bangsa asing, mereka mengadakan intrik keji untuk membunuh diriku, Tidak sedikit juga tokoh persilatan yang rela bersekongkol dengan pihak musuh, nama mereka telah kucatat satu persatu dalam satu daftar, akan kuberikan daftar ini padamu supaya kau tahu seluruhnya."
Yu Wi sangat berterima kasih, ucapnya.
"Dengan memegang daftar nama itu, tidak sulit bagiku untuk menemukan musuh itu satu persatu..."
"Ayahmu berbakti kepada negara dengan setia, selama itu bersatu-hati denganku, siapa saja yang berusaha mencelakai diriku selalu dikalahkan oleh ayahmu sehingga aku tidak terganggu seujung rambut pun. Akhirnya musuh ayahmu makin lama makin banyak, mungkin dia kuatir aku terembet, maka dia mengusulkan pengangkatan beberapa jago Bu-lim lain untuk menjadi pengawalku, lalu dia mohon diri dan tinggal pergi. Sekarang dia ternyata sudah meninggal terbunuh, kuyakin yang berbuat pasti musuh yang timbul akibat dia membela diriku dahulu."
Segera ia memberi perintah kepada pengawal yang berdiri di belakangnya, sebentar saja pengawal itu sudah kembali dengan membawa satu buku tipis.
Setelah Yu Wi menerima buku tersebut, terlihat sampul buku tertulis.
"Daftar Nama Pembunuh."
Ia coba membalik halaman buku, ternyata daftar nama itu sangat lengkap dengan datadatanya, baik hari, bulan, tahun dan usaha membunuh Ko Siu pada waktu itu, semuanya tercatat dengan jelas."
Yu Wi menyimpan buku itu di dalam baju, diam-diam ia bersumpah akan mencari setiap pembunuh yang tercatat dalam daftar Ko Siu itu, akan diselidikinya apakah tiap-tiap orang itu ikut berkomplot membunuh ayahnya atau tidak.
"Hiantit (keponakan yang baik),"
Kata Ko Siu dengan kasih sayang.
"cara bagaimanakah kau terluka dan dapat dibawa pulang oleh Ya-ji?"
Yu Wi menceritakan pengalamannya secara terperinci, bicara sampai pada waktu dia terluka, lalu Ko Bok-ya menyambung.
"Ya-ji membawa pulang Toako, sepanjang jalan Toako dalam keadaan tak sadar, buru-buru kucari ibu agar memeriksanya, Setelah ibu memeriksanya, kata ibu luka Toako sangat parah, jika tidak diberi minum obat mujarab mungkin sukar untuk menyembuhkannya, paling lama setengah bulan lagi Toako akan kering dan meninggal."
"Anak menjadi cemas, teringat olehku paman Su di Siau-ngo-tay-san, cepat ku pergi ke sana siang dan malam, untunglah paman Su telah menghadiahkan satu biji Kiu-coan-hoan-hun-tan yang mujarab, setelah diminum Toako, air mukanya lantas merah, tadi sesudah siuman Toako lantas dapat berjalan seperti biasa."
"Thian Maha Pengasih sehingga Yu-hiante tidak sampai kehilangan keturunan,"
Ucap Ko Siu sambil menghela napas lega. Giok-ciang-siancu juga berkata.
"Hari itu, kulihat Ya-ji pulang dengan membawa Kiu-coanhoan-hun-tan, maka yakinlah aku Yu-hiantit dapat tertolong, kupesan Ya-ji merawatnya dengan baik, berbareng itu juga kukirim kabar kepada Koanjin."
Setelah tahu cara bagaimana dirinya tertolong, tanpa terasa Yu Wi memandang ke arah Ko Bok ya dengan penuh rasa terima kasih yang tak terkatakan, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana halus membalasnya kelak.
Ko Bok-ya merasa kikuk oleh pandangan Yu Wi yang melekat itu, tanpa terasa mukanya bersemu merah, rasa malu anak gadis yang masih suci bersih.
Ko Siu dan isterinya dapat melihat sikap anak gadisnya itu, mereka pikir tidaklah mudah hendak membuat Ya-ji bermuka merah, bila teringat sebab musababnya, mereka pun mengulum senyum tanpa komentar..
Melihat Ko Siu dan isterinya tersenyum penuh arti, terkesiap hati Yu Wi, ia tidak berani lagi memandang Bok ya, cepat ia membetulkan tempat duduknya, lalu bertanya.
"Apakah Pekhu kenal Hek-po-pocu Lim Sam-han?"
"Tidak kenal,"
Jawab Ko Siu sambil menggeleng.
"Di dalam daftar nama pembunuh juga tidak terdapat nama orang ini. Entah sebab apa iapun mengambil bagian ikut andil mencelakai Yuhiante."
"Meski di dalam daftar tidak terdapat namanya, tapi dia ikut andil membikin celaka ayahku, sebelum menghembuskan napas terakhir ayah telah menyebut namanya, kukira tidak keliru lagi,"
Kata Yu Wi sambil menghela napas. Dengan kereng Ko Siu berkata.
"Sakit hati harus dibalas, tapi hendaknya Hiantit juga selalu ingat, jangan salah membunuh orang baik, kalau tidak, di alam baka tentu ayahmu pun takkan merasa tenteram."
"Tit-ji akan ingat baik-baik petuah Pekhu ini dan takkan membunuh orang yang tak "berdosa,"
Janji Yu Wi dengan khidmat.
"Bagus, inilah pernyataan seorang lelaki sejati!"
Puji Ko Siu dengan tertawa.
"Selanjutnya boleh Hiantit tetirah dulu di sini, jangan memikirkan soal sakit hati ayahmu, nanti kalau kesehatanmu sudah pulih kembali barulah kita rundingkan lagi,"
Ujar Giok-ciang siancu.
"Kiu-coan-hoan-hun-tan adalah obat mujarab yang tiada bandingannya, kini kesehatan Tit-ji sudah pulih seluruhnya, sekarang juga ingin kumohon diri, mohon Pekhu dan Pekbo (bibi) sudi memberi maaf,"
Kata Yu Wi.
"Apa katamu?"
Seru Ko Bok-ya terkejut "Sekarang juga Toako akan pergi?"
"Ya, tapi aku pasti akan sering-sering datang kemari untuk menjenguk paman dan bibi,"
Jawab Yu Wi sambil menunduk. Mendadak Ko Bok-ya berlari masuk ke dalam. Ko Siu menggeleng, katanya.
"Sifat anak ini sungguh aneh."
Giok-ciang-siancu diam saja tanpa memberi komentar. Setelah memandang Yu Wi sekejap, lalu Ko Siu berkata pula.
"Badanmu sudah sehat seluruhnya, sudah tentu masih banyak tugas yang harus kau laksanakan, maka akupun tidak ingin menahanmu lagi, hendaklah ingat, saja sering-sering kemari dan memberi kabar pengalamanmu selama mencari musuhmu nanti."
Yu Wi merasa sedih karena mendadak Ko Bok-ya berlari pergi, Diam-diam ia berdoa semoga dapat melihatnya sekali lagi, maka dia tetap berduduk di tempatnya dan menjawab.
"Ya, kepergian Titji ini adalah untuk menggembleng apa yang telah kupelajari ini agar dapat menuntut balas bagi ayah, berbareng itu sepanjang jalan akan kuselidiki musuh sesuai apa yang tercatat di dalam buku daf tar pembunuh ini."
Ko Siu mengeluarkan pula sebuah medali emas dan diserahkan kepada Yu Wi, pesannya.
"Medali ini mewakili diriku, ke mana pun kau pergi, bila ingin mendapat sesuatu bantuan dari pejabat setempat, boleh kau perlihatkan medali ini dan tentu akan mendapat bantuan sepenuhnya."
Yu Wi melihat medali itu bertuliskan satu huruf "Leng"
Atau perintah, pada sisi lain tertulis tanda panglima Besar Angkatan Perang.
ia simpan baik-baik medali itu.
Dalam pada itu Ko Bok-ya masih belum nampak muncul kembali, ia menjadi gelisah, juga tidak enak untuk berduduk pula, terpaksa ia berbangkit dan memberi hormat, katanya.
"Tit-ji mohon diri sekarang juga,"
Ko Siu berdiri hendak mengantarnya, tapi Yu Wi menolak, lalu sendirian berjalan keluar dengan langkah lebar.
Setiba di undak-undakan batu di depan istana, tanpa terasa langkahnya diperlambat ia bermaksud menoleh untuk melihat apakah Ko Bok-ya menyusul keluar atau tidak.
Tapi mengingat sang paman dan bibi mungkin juga berada di belakang, rasanya tidak enak untuk berpaling.
Selagi ragu, mendadak didengarnya Ko Bok-va berseru.
"Tunggu sebentar Toako!"
Yu Wi sangat girang, cepat ia berhenti dan menoleh. Dilihatnya Ko Bok-ya sedang berlari menyusul kemari, dengan rasa berat ia berkata.
"Apakah Toako benar-benar akan berangkat begini saja?"
Sedapatnya Yu Wi menahan gejolak perasaannya ia mengangguk pelahan, Bok ya lantas mengangsurkan sesuatu benda dan berkata.
"Barang ini boleh kau bawa saja."
""Untuk apa?"
Tanya Yu wi setelah menerima barang itu dan dilihatnya adalah satu biji mutiara, yaitu Pi-tok-cu.
"lni kan mutiara tanda pertunangan Toako, masakah sudah lupa?"
Ujar Bok-ya sambil tersenyum getir. Yu Wi lantas mengembalikan mutiara itu ke tangan Bok ya, katanya dengan serius.
"Dia adalah puteri musuh, tidak nanti menikah denganku."
"Masa Toako tidak menghendaki lagi barang ini?"
Tanya Ko Bok-ya dengan tertawa.
"Boleh kau kembalikan ke Hek-po sana,"
Kata Yu Wi.
"Masa Toako dapat melupakan Lim Khing-kiok?"
Tanya Bok-ya dengan ragu.
Menyinggung Lim Khing-kiok, Yu Wi lantas terkenang kepada masa lalu ketika masih kanakkanak dahulu, hubungannya dengan Lim Khing-kiok sungguh sangat mesra dan sukar dilupakan Betapa-pun Yu Wi tidak biasa berbohong, maka ia menjadi sukar menjawab pertanyaan Bok-ya tadi.
Melihat sikap Yu Wi itu, Pok-ya menghela napas, katanya.
"Lebih baik Toako simpan saja Pitoa-cu ini."
"Sebab apa?"
Tanya Yu Wi.
"Kapan-kapan kalau Toako sudah dapat melupakan Lim Khing-kiok barulah kau serahkan kembali mutiara ini kepadaku dan akan kuwakilkan mengembalikannya ke Hek-po, tapi kalau Toako tetap tak dapat melupakan nona Lim, hendaknya mutiara ini tetap kau simpan,"
Kata Bokya.
"Jika tidak kuterima?"
Ujar Yu Wi.
"Jika tidak kau terima berarti selamanya kau akan melupakan Lim Khing-kiok,"
Kata Bok-va dengan tegas.
Yu Wi pikir tidaklah pantas menipu orang dan dirinya sendiri, betapapun dirinya memang tak dapat melupakan Lim Khing-kiok, terpaksa ia terima mutiara itu untuk menunjukkan perasaannya.
Ketika dia menerima mutiara itu, dilihatnya air muka Ko Bok-ya berubah pedih.
sedapatnya Yu Wi menahan perasaannya dan berkata.
"Ya-ji, selamat tinggal!"
"Jangan kau panggil lagi Ya-ji padaku!"
Seru Bok-ya mendadak dengan gusar. Yu Wi diam saja, segera ia membalik tubuh hendak melangkah pergi. pada saat itulah tiba-tiba dari luar beramai-ramai masuk satu rombongan orang.
"Apakah Sam-yap Siangjin ingin menemui ayah?"
Terdengar Bok-ya menegur.
Yang berjalan paling depan adalah seorang lelaki setengah baya berjubah kaum Tosu, alis tebal dan mata besar, pedang tersandang di punggung, kelihatan gagah perkasa dan jelas kelihatan seorang pertapa yang beribadat.
Di belakang Tosu ini mengikut tujuh orang lelaki kekar berdandan sebagai Wisu (pengawal), semuanya kelihatan tangkas.
Yu Wi melihat sorot mata Tocu yang disebut Sam-yap Siangjin itu buram seperti orang linglung, ia menjadi heran mengapa orang yang hebat ini bisa bermata sayu begini?
Terdengar Sam-yap Siangjin menjawab dengan suara kaku.
"Ada urusan penting ingin ku hadap Tayciangkun."
Sembari bicara, tanpa berhenti ia membawa ke tujuh Wisu tadi lewat ke sana, karena terhalang jalannya, terpaksa Yu Wu merandek dan menyisih ke samping.
Sam-yap Siangjin ini adalah jago pengawal bayaran yang khusus diundang oleh Ko Siu, kedudukannya sangat tinggi, setiap saat boleh masuk keluar istana dengan bebas untuk menghadap Tay ciangkun.
Tapi Ko Bok-ya lantas menghadang di depan Sam-yap Siangjin, ucapnya dengan tertawa.
"Untuk menghadap ayah, kan tidak perlu Siangjin membawa Wisu?"
Sam-yap Siangjin seperti tidak mendengar teguran itu, ia masih terus berjalan ke depan, Bokya menjadi tidak enak untuk merintanginya, terpaksa ia mengegos ke samping.
Mendadak dilihatnya ke tujuh Wisu itu sama sekali tidak dikenalnya, cepat ia membentak.
"Kalian berhenti semua!"
Seketika berubah air muka ke tujuh Wisu itu, tapi mereka tetap tidak berhenti.
Dengan sendirinya Ko Bok-ya menjadi curiga ia melompat ke depan ke tujuh Wisu itu sambil merentangkan kedua tangannya, hanya Sam yap Siangjin saja yang dibiarkan lewat.
Sam-yap Siangjin seperti tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya, ia masih terus melangkah ke depan.
"Sam-yap Siangjin!"
Teriak salah seorang yang paling tua di antara ke tujuh Wisu itu.
"Suruh bocah ini menyingkir!"
Baru sekarang Sam-yap Siangjin berpaling, seperti orang bingung ia berkata.
"Biarkan mereka masuk kemari."
Tapi Ko Bok-ya cukup cerdik, ia menegas.
"Apakah kalian ini pengawal Tayciangkun?"
Ke tujuh Wisu itu sama mengangguk, maka Bok-ya lantas tanya pula.
"Dan tahukah kalian siapa diriku?"
Ke tujuh orang itu melengak, yang paling tua tadi cepat menjawab dengan agak gelagapan "Tentunya Siocia!"
"Ha, sudah tentu Siocia, mengapa kalian tidak berani memastikannya?"
Jengek Ko Bok-ya. Melihat si nona sudah curiga, ke tujuh orang itu menjadi kuatir, seorang lagi yang bermata agak menegak lantas meraung.
"Menyingkir!"
Ia mengira lawan hanya seorang anak perempuan dan mudah ditundukkan, segera sebelah tangannya mendorong ke depan.
Tapi mendadak tangan Ko Bok-ya balas memotong ke pergelangan tangan orang secepat kilat.
Seorang lagi yang berperawakan sama dengan lelaki yang menyerang itu agaknya lebih cerdik, begitu melihat gerak serangan Ko Bok-ya itu, segera ia menyadari ketemu lawan keras, Cepat ia pun menabok dengan telapak tangannya sambil berseru..
"Silakan menyingkir Siocia!"
Serangannya sangat cepat, terpaksa Bok ya menyerang sambil menangkis, walaupun begitu tabasan tangannya tetap mengenai pergelangan tangan Wisu bermuka bengis tadi dengan tepat, sedangkan telapak tangan yang lain sempat menangkis serangan musuh yang lain.
Wisu bermuka bengis itu mati kutu seketika, sama sekali tak bisa berkutik karena tertabas, bahkan terus terpegang oleh si nona.
Orang yang menyerang itu pun tidak menyangka seorang anak dara memiliki tenaga dalam sekuat ini, dia tergetar terpental dan hampir saja jatuh tersungkur.
Perubahan kejadian ini timbul mendadak, kelima Wisu yang lain tidak sempat menghiraukan kedua kawannya yang kecundang itu, berbareng mereka berlari ke arah Ko Siu sana.
Saat itu Yu Wi belum lagi keluar pintu, segera ia tahu gelagat jelek, ia yakin ketujuh Wisu itu pasti pembunuh gelap, selagi ia hendak menerjang ke sana untuk membantu, mendadak dari belakang ruangan tamu berlari keluar tiga orang jago pengawal dan bergabung dengan Wisu yang sudah berjaga di belakang Ko Siu tadi, seluruhnya ada tujuh orang, mereka mengelilingi Ko Siu dan isterinya di tengah.
Nyonya Ko, Giok-ciang-siancu, yang semula kelihatan lemah lembut itu kini telah berubah menjadi gagah perkasa, dia berdiri sejajar dengan Ko Siu dan mengawasi gerak-gerik musuh.
Dalam pada itu Bok-ya sudah menutuk roboh Wisu yang bermuka buas tadi, seorang lagi sempat dikebut oleh lengan bajunya dan mengenai "Nui-moa-hiatnya serta roboh terjungkal.
Hanya sekali dua kali bergerak saja Ko Bok-ya sudah merobohkan dua penyatron itu, lalu kelima penyatron lainnya juga lantas mulai bergebrak dengan para pengawal Ko Siu.
Bok-ya berpaling memandang Yu Wi sekejap, dilihatnya anak muda itu masih berdiri melenggong, segera ia mengomel.
"Untuk apa kau berdiri di situ?"
"Cepat kau pergi ke sana dan melindungi Pek-hu,"
Seru Yu Wi dengan gugup.
berbareng ia terus berlari maju.
Bok-ya tahu kelima penyatron tadi pasti bukan lawan para pengawal ayahnya, maka ia tidak tergesa-gesa, ketika lewat di samping Sam-yap Siang-jin, dilihatnya orang hanya menyaksikan saja pertarungan orang banyak itu tanpa bergerak, dengan gemas ia lantas menghardik.
"Apakah kau orang mampus?"
Pada saat itulah mendadak terdengar jeritan ngeri susul menyusul, berbareng terdengar suara "blak-bluk", suara orang roboh yang ramai.
Bok-ya terkejut dan cepat memburu ke sana, hanya sekejap saja entah cara bagaimana ke tujuh jago pengawal ayahnya yang tidak rendah ilmu silatnya itu telah roboh seluruhnya dan tak bisa berkutik.
Hampir bersama Yu Wi dan Bok-ya melompat ke depan Ko Siu untuk melindunginya dan menghadapi kelima penyatron yang lihay itu.
"Lekas Pekbo membawa Pekhu ke belakang, di sini ada Titji dan Ya-ji,"
Seru Yu Wi. Ko Bok-ya menuding kelima penyatron tadi dan mendamperat.
"Siapa kalian, berani melukai para pengawal ayahku?"
Kelima orang itu tampak beringas, melihat Ko Siu hendak melangkah pergi, segera mereka membentak.
"Jangan pergi, tinggalkan nyawamu!" -Berbareng mereka terus menubruk maju. Tapi sekali kedua tangan Ko Bok-ya bekerja, dalam sekejap itu dia telah menyerang lima orang sekaligus. Yu Wi tahu kungfu Bok-ya lebih tinggi daripada dirinya, maka cepat ia membalik ke sana untuk bergabung dengan Giok-ciang-siancu dan hendak membawa Ko Siu ke ruangan belakang.
"Lekas kau bantu Ya-ji saja dan jangan urus kami!"
Seru Giok-ciang-siancu kuatir.
Nadanya jelas sangat menguatirkan kelihaian kelima penyatron itu.
Karena serangan Bok-ya tadi, kelima penyatron itu sama melompat mundur Mereka tahu betapa lihainya serangan si nona dan tidak berani sembarangan melawannya.
Segera Bok-ya hendak menghantam pula, tapi mendadak telapak tangan terasa kaku, seperti mati rasa, lalu terdengar si penyatron yang berusia paling tua tadi berucap dengan suara seram.
"Jika ingin mati dengan pelahan, hendaknya kau duduk di pinggir sana dan istirahat dulu."
Dalam sekejap itu Bok ya merasa telapak tangannya semakin kaku dan tak dapat bergerak lagi, keruan ia terkejut, serunya.
"Apakah kalian she Hoa?"
"Hehe, kami memang Hoa-bun-jit-tok (ketujuh racun dari perguruan Hoa),"
Jawab si penyatron tua dengan terkekeh kekeh.
"Apakah ke tujuh pengawal kami terluka oleh senjata rahasia Ham-sah-sia-eng kalian?"
Tanya Bok-ya pula dengan gemas.
"Kalau nona sudah tahu, silahkan merasakan juga kelihaian Ham-sah-sia-eng kami ini!"
Ujar si penyatron tua.
Ham-sah-sia-ehg atau pasir membidik bayangan adalah sejenis senjata rahasia yang sangat lembut, asalkan kelihatan bayangan orang, pasir berbisa itu dapat dihamburkan bahkan sangat jitu, hampir tidak pernah meleset.
Maka baru habis ucapan penyatron tua itu, mendadak dari depan dadanya menyambar keluar cahaya mengkilat dengan kecepatan luar biasa dan sukar untuk dihindarkan.
Namun Ginkang Ko Bok-ya lain daripada orang lain, sebelumnya ia juga sudah berjaga-jaga, maka pada saat yang tepat ia sempat meloncat ke atas.
"Akan tetapi baru saja tubuhnya mengapung setengah jalan, mendadak terasa tenaga tidak mau menuruti kehendaknya, sedikit merandek itu saja kedua kakinya lantas termakan oleh senjata rahasia yang sangat lembut dan berbisa itu. Ham-sah-sia-eng terbuat dari pasir berbisa yang sangat halus, dalam sekejap itu beratus biji pasir berbisa sama bersarang di bagian betis Ko Bok-ya yang putih bersih itu, seketika juga racun lantas menjalar, tanpa ampun lagi Bok-ya terbanting jatuh ke bawah. Keruan Yu Wi terkejut, cepat ia memburu maju, melolos pedang dan menabas, beberapa gerakan itu hampir dilakukannya pada saat yang sama, sekaligus ia menusuk kelima penyatron itu.
"Awas senjata rahasia mereka!"
Seru Ko Bok-ya yang tergeletak di lantai itu.
"Berusahalah jangan sampai didekati mereka!"
Menghadapi musuh tangguh, sedikitpun Yu Wi tidak berani ayal, segera ia mengeluarkan jurus tidak ada tandingannya, Bu-tek-kiam.
Karena diserang secara mendadak oleh Yu Wi tadi, kelima penyatron itu sudah rada kelabakan, kini mendadak Yu Wi berganti jurus serangan pula, selagi mereka hendak menggunakan senjata rahasia Ham-sah-sia-eng, tahu-tahu cahaya gelap mengurung tiba dari atas kepala.
Kejut kelima orang itu tidak kepalang, berbareng mereka menghamburkan pasir berbisa, seketika entah berapa ribu atau laksa biji pasir halus berhamburan seperti hujan.
Akan tetapi, aneh juga, tiada satu pasir pun yang mengenai Yu Wi, selagi kelima penyatron itu terkesiap bingung, tahu-tahu Hian-tiat bok-kiam (pedang kayu besi Yu Wi sudah menyambar tiba hampir pada saat yang sama tulang pundak kelima orang itu terpukul remuk.
Hampir berbareng kelima orang itu menjerit ngeri, semuanya roboh terkapar sambil merintih kesakitan.
Cepat Yu Wi membalik tubuh dan membangunkan Ko Bok-ya, tanyanya dengan kuatir.
"Bag... bagaimana kau?"
"Jangau urus diriku, lekas kau cocok Jin-tiong-hiat Sam-yap Siangjin dengan jarum,"
Seru Bokya. Dalam pada itu Giok-ciang-siancu juga sudah memburu tiba, ucapnya dengan air, mata berderai.
"Ya-ji, kau... kau..."
Sekuatnya Bok-ya bertahan, ucapnya dengan tertawa.
"Bu, di luar masih ada penyatron yang lain, harap ibu memberikan sebatang jarum kepada Toako!"
Giok-ciang-siancu selalu membawa jarum, ia memberi sebatang kepada Yu Wi.
Dengan jarum itu Yu Wi menusuk Jin-tiong-hiat di atas bibir Sam-yap Siangjin.
seketika pikiran Sam-yap Siangjin menjadi sadar, dengan bingung ia bertanya.
"He, apa yang terjadi barusan."
Bok-ya mendahului berteriak.
"Lekas Siangjin memerintahkan barisan pengawal menjaga rapat sekeliling istana, awas terhadap kawanan pembunuh gelap, Ingat, suruh mereka jangan menghadapi musuh secara muka berhadapan muka."
Sesudah Sam-yap Siangjin berlari pergi, Ko Bok-ya berkata pula dengan menghela napas.
"Toako, hendaklah kaubawa diriku ke dekat kelima orang itu."
Yu Wi memondongnya, baru sekarang diketahui telapak tangan kiri nona itu sudah biru hitam dan telah menjalar hingga siku, kakinya juga biru menakutkan.
Ketika melihat keadaan kelima penyatron yang tak bisa berkutik itu, Bok-ya menghela napas terkejut, Waktu Yu Wi memandang ke sana, tertampak kulit di bagian leher mereka pun berwarna biru tandas seperti warna biru di kaki Ko Bok-ya.
"He, kenapa bisa jadi begini?"
Tanyanya.
"Pasir berbisa mereka sebenarnya hendak menyerang dirimu,"
Tutur Bok-ya dengan menyesal.
"tak terduga pasir itu telah melengket pada pedangmu, ketika pedangmu menghantam tulang pundak mereka, pasir yang melengket di batang pedang ikuti meresap ke dalam kulit daging mereka "
Kelima penyatron itu sudah pingsan dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
Diam-diam Yu Wi membayangkan betapa lihainya pasir berbisa itu, hanya sekejap saja hawa racun sudah merembes sampai di bagian leher, kalau tertunda sebentar lagi tentu akan menjalar ke seluruh tubuh dan jiwa tentu akan melayang.
Ia jadi teringat kepada Bok-ya yang juga terkena pasir berbisa itu, cepat ia mendekati penyatron yang mengadu pukulan dengan Bok-ya tadi, ia membuka Hiat-tonya, setelah orang sadar, ia pen-cet "Pek-wi-hiat"
Di bagian kuduknya, lalu bertanya dengan suara bengis.
"Di mana obat penawarnya?"
Penyatron itu ternyata kepala batu, sama sekali tidak mau mengaku.
Yu Wi menjadi tidak sabar, ia kuatir bila tertunda terlalu lama tentu akan membahayakan Ko Bok-ya, maka ia menutuk lagi Hiat-to keampuhan orang itu, dari bajunya digeledah keluar tujuh botol obat kecil, tapi tidak diketahui botol mana yang berisi obat penawar racun pasir Segera ia menutuk pula Thian-tut-hiat orang itu.
Thian-tut-hiat adalah Hiat-to yang menghubung urat tangan dengan hulu hati, bila tertutuk, sekujur badan rasanya seperti dirambati dan digigiti oleh beratus ribu semut, sakit dan gatalnya luar biasa.
Penyatron itu tahu siksaan apa yang akan dirasakannya, cepat ia berkata.
"Botol ketiga adalah obat yang dapat menghapuskan hawa berbisa di tubuhnya."
Hanya sekejap itu saja orang ini sudah kesakitan setengah mati hingga mukanya pucat menginjak Sekali depak Yu Wi membuka Hiat-to orang yang ditutuknya tadi, ia mengambil obat botol ketiga dan diminumkan kepada Ko Bok-ya.
Ko Siu dan isterinya juga kelabakan melihat puteri kesayangan keracunan akan tetapi mereka pun tak berdaya.
Tidak lama kemudian, hawa beracun di tangan Ko Bok-ya sudah hilang seluruhnya, ia menghela napas, katanya.
"Lihai amat racun ini, hanya mengadu tangan saja dengan dia dan racun lantas merembes masuk melalui kulit Kalau tidak kutahan dengan tenaga dalam, saat ini jiwaku mungkin sudah amblas."
Yu Wi tidak menduga ke tujuh orang yang tampaknya tidak ada sesuatu yang istimewa ini ternyata memiliki kemahiran menggunakan racun selihai ini dan sukar untuk dipercaya, Biasanya seorang ahli racun tentu ada ciri-ciri khas, tapi ket juh orang ini tiada sedikitpun tanda begitu sehingga Ko Bok-ya tidak berjaga-jaga dan terperangkap.
Karena hawa beracun sudah hilang dari tubuh si nona, Yu Wi berkata dengan tertawa.
"Bagaimana kalau kupapah kau bangun?"
"Jangan,"
Jawab Bok-ya sambil menggeleng.
""racun pada kakiku belum punah, aku belum dapat berdiri."
Akan tetapi kakinya tertutup oleh kain baju sehingga tidak kelihatan.
"Mungkin sudah baikan, bolehkah kulihat?"
Pinta Yu Wi. pelahan Bok-ya menarik kain bajunya sehingga kelihatan betisnya yang biru dan tambah menakutkan ia menghela napas pelahan dan berkata.
"Sia-sia saja kutahan dengan sepenuh tenaga, tapi hawa beracun masih terus menjalar sedikit demi sedikit."
"lnilah Mo-lam (biru hantu) dari benua barat, pernah kusaksikan orang mati seketika oleh karena racun ini, lekas kau minta obat penawarnya kepada penyatron itu, jangan terlambat lagi!"
Seru Ko Siu mendadak dengan nada kuatir dan terkejut. Yu Wi juga terkesiap, ia kuatir Ko Bok-ya tak tertolong lagi, cepat ia cengkeram penyatron itu dan membentaknya.
"Lekas serahkan obat penawarnya jika tidak ingin kusiksa kau!"
Orang itu menggeleng dan menjawab.
"Aku sendiri tidak mampu menawarkan racun itu."
Giok-cian-siancu juga cemas, serunya.
"Lekas keluarkan obat penawar, ketahuilah saudaramu sendiri juga terkena racun biru ini!"
Tapi penyatron itu tetap menggeleng dan menjawab.
"Biarpun saudaraku sendiri juga tak dapat kutolong."
"Dusta!"
Bentak Yu Wi dengan gusar.
Mendadak ia perkeras pegangannya sehingga tangan orang itu tertelikung, saking kesakitan orang itu mencucurkan keringat dingin.
Akan tetapi ia bertahan sekuatnya tanpa merintih sedikitpun untuk memperkuat keterangannya bahwa racun "biru hantu"
Itu memang tidak ada obat penawarnya.
"Tiada gunanya kau paksa dia, Toako."
Ucap Ko Bok-ya dengan suara lemah.
"lebih baik kau sadarkan saudaranya dan menanyai mereka saja,"
Yu Wi, pikir benar juga saran ini, bisa jadi orang ini pantang sesuatu dan tidak berani mengaku terus terang, tapi saudaranya terkena racun, demi keselamatan sendiri mungkin dia mau bicara.
Segera ia mendekati kelima orang yang menggeletak tak berkutik itu, ia coba memeriksa, seketika ia menjadi sedih, ucapnya dengan lemas.
"Mereka... mereka sudah mati semuanya..."
Dilihatnya sekujur badan kelima orang itu sama berubah warna biru, begitu menyolok warna birunya sehingga bersemu hijau, padahal mereka baru bicara sebentar, warna biru yang tadi baru sampai di bagian leher kelima orang itu kini sudah menjalar ke seluruh tubuh, sungguh cepat luar biasa penyebaran racun biru hantu itu.
"Jadi saudaraku benar-benar keracunan biru hantu?"
Seru si penyatron pertama tadi dengan ketakutan.
"Memangnya kami bohong padamu?"
Ujar Giok-cian-siancu dengan mencucurkan air mata memikirkan keselamatan Bok-ya.
Ko Siu tahu betapa lihaynya racun biru itu, tampaknya puteri kesayangan yang jelita itu segera juga akan mati, ia jadi kesima dan tak berdaya.
Penyatron bermuka buas tadi sangat memperhatikan keselamatan saudaranya, mendadak ia meraung.
"Jika benar saudaraku mati, keluarga Hoa pasti tidak akan menyudahi urusan ini dengan kalian!"
"Sebenarnya ada permusuhan apa antara kalian dengan kami?"
Ujar Yu Wi dengan gegetun.
"Untuk apa kami mesti membikin celaka saudaramu, kan salah mereka sendiri, sekarang malahan Ya-ji juga..."
"Jika kau memang tidak bermaksud mencelakai jiwa saudaraku, hendaknya lekas kau keluarkan darah berbisa mereka dan lolohi mereka dengan obat kuat, lekas, lekas! Mungkin tidak keburu jika tertunda lagi."
Tergerak hati Yu Wi, cepat ia memondong Bok-ya ke pembaringan, ditanggalkannya sepatu dan kaos kakinya, dilihatnya warna biru hantu itu sudah menjalar sampai di bagian lekukan lutut, jelas Bok-ya sedang menahan menjalarnya racun dengan sekuatnya.
Lekas ia angkat kaki Bok-ya yang putih mulus itu, mendadak ia menggigit tengah telapak kaki si nona, sebenarnya Bok-ya sudah merasa malu ketika sepatu dan kaos kakinya dilepaskan Yu Wi, sekarang kakinya digigit pula oleh mulut anak muda itu, keruan ia tambah jengah, walaupun begitu di dalam hati terasa sangat bahagia.
Setelah telapak kaki si nona digigitnya hingga pecah, sekuatnya Yu Wi lantas mengisapnya, hanya sebentar saja ia sudah meludah belasan kumur darah berwarna biru, lambat-laun warna biru di kaki Bok-ya juga menghilang dan kembali pada warna putih keabu-abuan.
Segera Yu Wi menghisap pula darah biru pada kakinya yang lain.
Dalam pada itu Giok-ciangsiancu juga sudah berlari ke kamarnya dan membawakan obat kuat dan air bersih.
Waktu Yu Wi berkumur mencuci mulut, Giok-ciang siancu juga sibuk memberi minum obat kuat kepada Ko Bokya.
Peng-ma-tayciangkun adalah pembesar yang diagungkan pada pemerintahan jaman ini, di rumahnya tentu saja tersedia banyak sekali obat kuat pemberian raja, Dengan cepat Bok-ya telah diberi minum beberapa jenis obat kuat yang mustajab.
Ko Siu sangat terharu, ia pegang pundak Yu Wi dan berkata.
"Sedemikian kau berusaha menolong puteriku, sungguh kami suami-isteri sangat berterima kasih padamu."
Mendadak terdengar si penyatron bermuka buas tadi berteriak.
"He, bocah itu! Setelah kau tolong si budak mengapa tidak kau tolong saudaraku?"
"Kan sudah kukatakan sejak tadi, mereka sudah mati semua!"
Jawab Yu Wi dengan menyesal.
"Apakah tubuh mereka bersemu hijau?"
Tanya penyatron yang lain.
"Ya, samar-samar di antara warna biru juga bersemu hijau,"
Jawab Yu Wi.
"Oo! jika begitu memang benar mereka telah mati,"
Teriak si muka buas.
"Bocah keparat, harus kau ganti nyawa mereka!"
Sembari bicara ia terus menangis sedih, Tampangnya kelihatan buas, tapi hatinya ternyata lunak.
Diam-diam Yu Wi menaruh hormat terhadap rasa persaudaraan mereka.
Sebaliknya si penyatron yang satu lagi meski berwajah bajik tapi sama sekali tidak memperlihatkan rasa sedih, ia malah memaki.
"Mati biar mati, kenapa mesti menangis? Sudah delapan orang yang kita binasakan, masih ada untung bagi kita."
Ke tujuh pengawal Ko Siu tadi memang sudah mati terbunuh oleh musuh, maka Yu Wi menjadi heran atas ucapan orang, ia coba tanya, Di pihak kami hanya mati tujuh orang, mana ada delapan?"
"Bukankah masih harus ditambah dia!"
Teriak penyatron itu sambil menuding Bok-ya.
"Omong kosong!"
Damperat Yu Wi.
"Racunnya sudah punah, masa kau katakan dia sudah mati?"
"Hahahaha!"
Penyatron itu tertawa.
"Racun biru hantu keluarga Hoa tidak ada obat penawarnya, siapa yang kena harus mati, masa budak setan ini masih berharap akan hidup?"
Yu wi menjadi kuatir, ia tahu si muka buas berhati lebih baik dan dapat diajak berunding, segera ia mendekatinya dan memapahnya bangun, tanyanya.
"Apakah benar perkataan saudaramu itu?"
Si muka buas mengangguk, jawabnya.
"Betul, anak dara itu jangan harap akan hidup lagi."
Air muka Yu Wi berubah pucat, serunya.
"Tadi bukankah kau bilang ada cara untuk memunahkan racunnya?"
"Racun biru hantu itu tidak terdapat obat penawarnya di daerah Tionggoan sini,"
Tutur si muka buas.
"Tapi teteslah darah berbisa dikeluarkan lalu diberi minum obat kuat, jiwanya dapat dipertahankan setengah bulan, lewat waktu setengah bulan, bila racun bekerja lagi, maka tak dapat ditolong lagi."
"Apakah kalian orang dari negeri Iwu (daerah Sinkiang sekarang)?"
Tanya Ko Siu, Orang itu menunduk tanpa menjawab. Yu Wi menyeletuk.
"Darimana Pekhu tahu?"
"Racun biru hantu ini adalah barang berbisa keluaran khusus negeri Iwu,"
Tutur Ko Siu.
"Pernah satu kali mereka memperalat orang Tionggoan untuk mencelakai diriku dengan racun ini, tapi usaha mereka gagal, yang binasa adalah pengawal lain. Tak terduga sekarang mereka memperalat pula Hoa-bun-jit-tok untuk mencelakai diriku dan tak terduga bahwa sekali ini anak perempuanku yang menjadi korban."
Saking cemasnya Yu Wi menggoyang-goyangkan tubuh si muka buas dan berteriak.
"Apa benar-benar tidak ada obat penawarnya? Lekas katakan atau kubinasakan kau sekarang juga."
""Mau bunuh atau apa saja boleh terserah padamu, yang pasti kami memang tidak mempunyai obat penawarnya, sekalipun di negeri Iwu kami juga tidak terdapat obat penawarnya, percaya atau tidak terserah padamu,"
Kata orang itu dengan serius. Yu Wi menjadi berduka dan mendekati Bok-ya bersama Ko Siu. Melihat ayah-bunda dan Yu Wi sama sedih bagi keadaannya, Bok-ya lantas menghiburnya.
"Jangan kuatir, kalau jiwaku masih tahan 15 hari lagi, tentu racun dalam tubuhku dapat dipunahkan."
"Apa betul?"
Seru Yu Wi dengan girang.
"Tentu saja betul, masa kubohong padamu,"
Ujar Bok-ya dengan tersenyum.
"Cuma untuk ini harus bikin repot Toako..."
Tanpa Dikir Yu Wi berkata.
"Jangankan cuma membikin repot, biarpun terjun ke dalam air mendidih atau masuk lautan api juga akan kulakukan."
Ucapan yang terlalu mesra ini membikin malu pada Ko Bok-ya, dengan muka merah ia menunduk Giok-ciang-siancu lantas berkata dengan tertawa.
"Ya-ji, apakah racun dalam tubuhmu benarbenar dapat dipunahkan?"
Pelahan Bok-ya mengangkat kepalanya dan menjawab.
"Kan masih ada paman Su di Siau-ngo tay-san. masa kita takut barang berbisa segala?"
"Ah, memang benar, kenapa tidak kuingat padanya!"
Seru Yu Wi sambil mengetuk dahi sendiri Su Put-ku berjuluk tabib sakti dan dapat menghidupkan orang yang sudah mati.
Meski ia pun diberi poyokan sebagai "Su-put-kiu", tapi kalau dia mau memberi obat mujarab kepada Bok-ya untuk menyelamatkan jiwanya, tentunya jiwa si nona pasti juga akan ditolongnya.
Berpikir demikian, legalah hati Yu Wi, berseri-seri pula mukanya.
Tapi Ko Siu tidak tahu tokoh macam apakah Su Put-ku itu, namun ia pun ikut senang demi melihat Yu Wi bergirang, segera ia berkata.
"jarak Siau-ngo-tay-san dari sini kira-kira sepuluh hari perjalanan, karena Ya-ji tidak dapat berjalan, terpaksa harus membikin susah Hiantit, baik waktu maupun tenaga...."
"Ah,"
Jangan paman bicara demikian,"
Ujar Yu Wi.
"kalau tidak ada adik Ya, saat ini jiwaku mungkin sudah melayang, Apapun juga dan betapa sulitnya pasti akan ku kawal dia ke Siau-ngotay-san dan minta Su Put-ku mengobati dia."
"Jika kau yang mengawal Ya-ji ke sana, aku tidak perlu kuatir apa pun,"
Kata Giok-ciang-siancu.
"Waktu sangat berharga, boleh sekarang juga kalian berangkat saja."
Segera Yu Wi memondong Ko Bok-ya, Giok-ciang-siancu juga lantas memerintahkan menyediakan kereta kuda. Bok-ya memikirkan keselamatan sang ayah, dengan kuatir ia berkata.
"Sesudah ku pergi, selanjutnya ayah harus tambah waspada, jangan sampai kemasukan pembunuh gelap lagi."
"Selama 20 tahun ini sedikitnya sudah ratusan kali ayah hendak dibunuh, tapi setiap kali selalu selamat, apalagi yang perlu ditakuti ayah?"
Ujar Ko Siu dengan sewajarnya.
"Justeru kuharap kau akan lekas sembuh agar ayah tidak kuatir senantiasa."
Bok-ya menggeleng, katanya.
"Kini pihak lwu mempunyai jago kelas tinggi dari agama sesat yang mahir ilmu membuat tidur (hypnosa), seperti Sam-yap Siangjin tadi yang juga kena dikerjai musuh, keadaannya tampak linglung seperti kehilangan kesadaran sehingga para penyatron tadi dibawa masuk kemari. Maka ayah harus tambah waspada, penjagaan hendaknya diperketat jangan berhadapan muka dengan muka bila ketemu penyatron lagi agar tidak terpengaruh oleh ilmu sihir mereka, juga para pengawal diperingatkan agar hati-hati terhadap ilmu sihir musuh, Selain itu juga harus hati-hati terhadap keluarga Hoa...."
Ko Siu mengangguk, katanya dengan tertawa.
"Ya, ku tahu, lekas berangkatlah kalian, jangan menguatirkan ayah di sini, sedapatnya mengusahakan penyembuhanmu sendiri, ingatlah ayah hanya mempunyai seorang anak perempuan saja."
Kereta sudah siap, Yu Wi dan Ko Bok-ya duduk bersanding di dalam kereta, saisnya adalah pengendara pilihan di kotaraja, gagah perkasa dan baru berumur tiga puluhan, namun sudah kenal semua jalan di seluruh negeri.
Setelah memberi pesan seperlunya, segera sais melarikan kuda kereta itu secepat terbang.
Sesudah kereta berangkat, Ko Siu berkata kepada sang isteri.
"Para penyatron ini jelas telah diperalat komplotan jahat, masih sisa dua orang, bilamana mereka mau insaf akan kesalahannya, biarlah kita bebaskan mereka."
Giok-ciang-siancu mengangguk setuju, dia mendekati kedua orang tadi dan mendamperat serta menasehati mereka, setelah kedua orang itu menyatakan penyesalan mereka, dibukalah Hiat-to mereka yang tertutuk itu dan dilepaskan pergi.
oOo ^O^ oOo Sepanjang perjalanan, karena keadaan Bok-ya lemas tak bertenaga, maka setiap keperluannya diladeni sendiri oleh Yu Wi.
Tentu saja si nona sangat berterima kasih.
"Suatu hari mereka sudah keluar Ki-yong koan, salah satu gerbang tembok besar di perbatasan Di luar benteng sana adalah jalan raya yang sepi dan jarang dilalui orang. Sais melarikan keretanya terlebih cepat sehingga menimbulkan kepulan debu yang tebal seperti kabut. Baru sejam perjalanan, seluruh kereta sudah berlapiskan debu kuning yang tebal, muka dan kepala sais juga bermandikan debu sehingga sukar dikenali. Di dalam kereta Ko Bok-ya sedang tidur nyenyak, Yu Wi lagi duduk dengan memejamkan mata. Mendadak kereta berhenti, terdengar pengendara lagi berteriak.
"Minggir! Lekas minggir!...."
Sampai belasan kali sais itu berteriak, tapi kereta belum juga berangkat pula. Bok-ya terjaga bangun, dengan mata sepat ia bertanya.
"Ada apa, Toako?"
Yu Wi membetulkan selimut tipis di tubuh si nona, jawabnya dengan tertawa.
"Tidur saja, akan kulihat keluar!"
Bok-ya sangat terhibur mendapat pelayan sebaik ini dari anak muda itu, sorot matanya memancarkan cahaya bahagia. Yu Wi membuka pintu kereta, lalu bertanya kepada sais.
"Terjadi apa?!"
"Ada serombongan orang liar dengan tubuh coreng-moreng mengadang di tengah jalan,"
Tutur si Kusir.
Waktu Yu Wi memandang ke depan sana, benarlah dilihatnya segerombolan lelaki telanjang dengan badan penuh corat-coret dan beraneka warna, semuanya cuma memakai kain penutup bawah badan sebatas lutut, berpuluh orang berkerumun di tengah jalan sehingga berwujud suatu lingkaran dan sedang berlompatan kian kemari.
Yu Wi hendak mencari keterangan dan menyuruh mereka menyingkir Ketika ia turun dari keretanya dan mendekati rombongan orang itu.
mendadak lompatan orang-orang itu bertambah cepat malahan terdengar suara mereka yang mirip orang meratap dan memilukan.
Karena suara yang tidak enak di dengar itu, melihat pula warna-warni yang mengaburkan pandangan itu, seketika Yu Wi merasa kepala rada puning, kelopak mata terasa berat, rasanya mengantuk.
keadaan ini membuatnya terkesiap, cepat ia mengerahkan tenaga dan membentak sekerasnya.
"Berhenti!"
Karena bentakan yang menggelegar ini, serentak kawanan orang bercoreng-moreng itu sama berhenti berjingkrak.
Begitu mereka berhenti menari, pengaruh warna di tubuh mereka yang menyesatkan pikiran itu pun hilang, seketika benak Yu Wi jadi jernih lagi, diam-diam ia mengerahkan Lwekang dan memusatkan pikiran, ia mendekati mereka dengan langkah lebar dan bertanya.
"Untuk apakah kalian menghadang di tengah jalan raya?"
Orang-orang bertelanjang dan berwarna-warni itu berkaok-kaok sambil menuding ke sana kemari entah apa yang dikatakan.
Yu Wi tahu mereka sedang bicara padanya, tapi sekata saja tidak dipahaminya, Terpaksa ia memberi isyarat tangan, maksudnya supaya mereka menyingkir ke tepi jalan, berbareng ia pun berteriak.
"Minggir! Hendaknya kau minggir..."
Tapi orang-orang itu tetap tidak mau menyingkir mereka menggeleng dan tetap berteriakteriak.
Yu Wi menjadi gemas, sungguh kalau bisa dia ingin mengusir mereka satu persatu.
Tiba-tiba di tengah kerumunan orang banyak itu muncul seorang tua berbaju kelabu, melihat dandanan orang tua ini seperti bangsa Han, dengan girang Yu Wi lantas menyapa.
"Eh, Lotiang (pak tua), tolong suruhlah mereka menyingkir!"
Air muka orang tua itu tampak sedih, jawabnya sambil menggeleng.
"Tidak mungkin, tidak nanti mereka mau menyingkir!"
"Sebab apa?"
Tanya Yu Wi.
"Ada seorang pemuda suku bangsa mereka mendadak jatuh di tengah jalan dan akan mati,"
Tutur si kakek.
"Menurut kebiasaan adat suku mereka, kawan-kawannya harus menyatakan berduka cita selama tiga hari dengan mencoreng-moreng tubuh mereka, dengan demikian barulah arwah pemuda itu akan naik ke surga, Kalau tidak, matinya akan masuk neraka dan selamanya tak bisa menitis lagi."
"Mereka tergolong suku bangsa apa dan bicara dalam bahasa apa?"
Tanya Yu Wi.
"Mereka ini suku Dai, bicara bahasa Dai. mungkin tuan tidak paham,"
Kata kakek itu. Yu Wi menggeleng, lalu ia berpaling dan tanya si kusir.
"Apakah kau tahu suku Dai?"
"Tahu,"
Jawab si kusir.
"Orang Dai gemar main jimat dan baca mantera segala dengan caracara yang aneh, pernah satu kali...."
Selagi si kusir mengoceh hendak bercerita panjang lebar untuk membuktikan pengalamannya yang luas, cepat Yu Wi memberi tanda agar jangan banyak omong, lalu katanya terhadap si kakek.
"Pemuda itu sakit apa?"
Air muka si kakek tampak berubah takut, tuturnya.
"Wah, selamanya tak pernah kulihat penyakit aneh begini. Ketika kami sedang menempuh perjalanan bersama suku bangsa mereka, mendadak pemuda itu jatuh tersungkur, lalu bergulingan di tanah sambil menjerit, suaranya makin lama makin kecil dan sangat menyeramkan, sekarang sudah tak bisa bersuara lagi, tampaknya sudah hampir menghembuskan napas terakhir, keadaannya sangat mengenaskan dan harus dikasihani..."
Diam-diam Yu Wi membatin, bila ditinjau dari keadaan pemuda yang sakit itu, jangan-jangan karena Hiat-tonya tertutuk oleh tokoh dunia persilatan sehingga keadaannya sangat tersiksa, Dengan simpatik ia lantas berkata.
"Apakah boleh kuperiksa keadaan pemuda itu?"
"Apakah Tuan ini seorang tabib?"
Tanya si kakek, Yu Wi menggeleng, jawabnya.
"Coba tunjukkan padaku, mungkin dapat kusembuhkan dia."
Cepat si kakek berlari ke sana dan berbicara sejenak dengan orang-orang yang bercoreng-moreng itu, lalu orang-orang itu kelihatan bergirang, serentak mereka memberi jalan sambil berteriak-teriak.
Si kakek lantas berkata kepada Yu Wi.
"Mereka menyatakan, apabila Siangkong (tuan) dapat menyembuhkan anak muda ini, segenap suku bangsa mereka akan sangat berterima kasih, sebab anak muda ini adalah putera kepala suku mereka."
"Aku tidak tahu-akan berhasil atau tidak, tapi akan kucoba,"
Ujar Yu Wi. Dilihatnya di tengah jalan raya itu ada sehelai tikar yang menutupi sesuatu yang kelihatan agak menonjol. Cepat si kakek tadi menjelaskan.
"Orang-orang ini kuatir yang sakit akan mati terjemur sinar matahari maka ditutup dengan tikar....."
Yu Wi lantas mendekati tikar itu, tiba-tiba terdengar seruan Ko Bok-ya di dalam kereta.
"Toako, jangan ikut campur urusan tetek-bengek, marilah kita melanjutkan perjalanan dengan memutar!"
Yu Wi merandek, hal ini menimbulkan perubahan air muka si kakek, tapi kejadian ini tidak diketahui Yu Wi, dengan suara keras ia malah menjawab.
"tidak apa-apa, segera kita juga akan berangkat!"
Lalu ia menuju ke depan tikar dan berkata.
"Coba singkirkan tikar ini."
Si kakek kelihatan ragu dan tidak berani mendekap sebaliknya menyurut mundur dua-tiga langkah, lalu memanggil salah seorang yang bertubuh coreng-moreng dan bicara sejenak, orang itu seperti ogah-ogahan, tikar itu lantas disingkapnya.
Pengalaman mengembara di dunia Kaugouw bagi Yu Wi boleh dikatakan masih sangat cetek, segala sesuatu itu ternyata tidak menimbulkan rasa curiganya, sebaliknya ia malah berharap akan dapat menyembuhkan anak muda itu secepatnya agar ia sendiri dapat lekas berangkat ke Siaungo-tay san.
Dilihatnya orang yang coreng-moreng itu memegang kedua ujung tikar dan disingkap secara mendadak.
seketika segulung asap hijau mengepul dan menjulang tinggi ke atas.
Segera Yu Wi menyadari gelagat yang tidak menguntungkan cepat ia menahan napas, tapi sudah terlambat dia tetap sempat mengisap sedikit asap hijau itu.
Waktu ia memandang ke bawah tikar, mana ada orang sakit segala, yang terlihat hanya sebuah tempayan perunggu dan entah benda apa yang dibakar di dalam tempayan itu, Hanya sekejap itu saja orang yang menyingkap tikar itu mendadak jatuh terguling di tanah, kontan tak sadarkan diri seperti orang mati, mungkin cukup banyak asap hijau yang diisapnya, Baru sekarang Yu Wi tahu benar bahwa semua ini hanya perangkap belaka, ia menjadi gusar, ia membalik tubuh dan mendekati si kakek, tapi tidak berani mendamperat, sebab kalau membuka mulut, bisa jadi asap berbisa itu akan terhisap, pula.
Melihat Yu Wi tidak roboh, kawanan orang bertubuh coreng-moreng seperti merasa heran, sedangkan si kakek lantas berteriak sambil terbahak.
"Haha, apakah kau tahu siapa diriku?"
Yu Wi tetap tutup mulut dengan kedua tangan mengepal, ia pikir sekali hantam harus mampuskan kakek jahat ini.
Akan tetapi orang tua itu sangat licin, ia terus menyurut mundur sambil tertawa terkekehkekeh, serunya.
"Percuma! Tiada gunanya bagimu! Biarpun Lwekangmu maha kuat, dapat kau tutup mulut sekian lamanya, tapi begitu kau bernapas, seketika kau akan roboh dan pingsan, Apakah kau tahu obat lihay macam apa itu?"
Justeru Yu Wi ingin tanya asap berbisa apakah itu, tapi sedapatnya ia bertahan agar tidak terpancing bicara oleh lawan, Namun sekarang badan sudah dirasakan agak lemas, ia tahu asap yang terhisap tadi sudah menimbulkan pengaruh di dalam badannya, Apabila dia menghantam si kakek sekuatnya, tentu ia sendiripun akan jatuh pingsan.
Ko Bok-ya mendapat tahu apa yang terjadi di luar kereta dari laporan si kusir, ia menjadi kuatir dan berteriak.
"Toako! Bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa, bukan?"
Suaranya cemas dan sangat gelisah, hati Yu Wi sangat terharu, matanya menjadi basah, pikirnya bila si nona dapat bergerak sedikit saja, pasti dia akan menerjang kemari untuk membantunya.
Teringat kepada keselamatan Bok-ya, tanpa pikir ia terus berteriak.
"Ayolah lekas kalian kabur saja! Lekas..."
Belum habis ucapannya, seketika kepala terasa pusing, kontan ia roboh dan tidak tahu lagi apa yang terjadi. Keruan Bok-ya sangat kuatir, teriaknya.
"Toako! Toako!"
"Siangkong roboh pingsan, lekas kita lari saja "
Seru si kusir dengan kuatir. Selagi ia hendak melarikan keretanya, mendadak Ko Bok-ya membentaknya.
"Berhenti! Tidak boleh lari....."
Si kakek berbaju kelabu tadi terbahak-bahak serunya.
"Betul juga! Yang bisa melihat gelagat adalah ksatria sejati! Lebih baik kalian ikut pergi saja bersama kami dan jangan berpikir akan kabur!"
Kerai pintu kereta tersingkap, Ko Bok-ya merambat ke tepi pintu dan bertanya dengan suara terputus-putus.
"Ka ....kalian telah ap... apakan dia?"
Tiba-tiba dilihatnya si kakek berbaju kelabu telah mengempit Yu Wi yang tak sadar itu, tampaknya hendak dibawa pergi.
"Apakah kau ini Ko-siocia kesayangan Tayciangkun?"
Tanya kakek itu dengan tertawa. Bok-ya tidak menjawab, sebaliknya ia lantas mendamprat.
"Mana boleh kau perlakukan dia sekasar itu?"
Mendadak Bok-ya menjerit marah, sebab si kakek terus membanting Yu Wi ke tanah sambil menjengek.
"Hm, apakah hatimu sakit? Merasa berat?"
Bok-ya mendelik murka, tapi sayang, sama sekali ia tak bertenaga dan tidak berdaya apapun, kalau tidak, bisa jadi kakek itu akan dibinasakan dan dicincangnya, Si kakek terkekeh kekeh senang, katanya pula.
"Aku si "Hek-sim-put-hwe"
The Pit-sing bukanlah manusia yang berhati lunak, Ko-siocia, sebaiknya kau turut perkataanku kalau tidak, jangan menyesal bila kubinasakan bocah ini."
Mendengar julukan "Hek sim put-hwe"
Atau manusia berhati hitam tanpa kenal menyesal, diam-diam Bok-ya merasa ngeri, ucapnya kemudian sambil menghela napas.
"Habis apa kehendak kalian?"
Si kakek cengkeram pula tubuh Yu Wi terus dilemparkan ke dalam kereta, jengeknya.
"Pokoknya nanti kau akan tahu sendiri, sekarang tidak perlu banyak bertanya!"
Segera ia melarikan kereta itu ke jalan simpang sana, Bok-ya menurunkan kerai pintu kereta, hatinya rada terhibur karena Yu Wi berada di sampingnya meski dalam keadaan tak sadar seperti orang mati.
Kereta dilarikan dengan sangat cepat.
Dengan segala daya upayanya tetap Bok-ya tidak dapat membikin Yu Wi siuman.
ia tidak tahu pemuda itu terbius oleh racun apa, tiba-tiba teringat olehnya Yu Wi menyimpan Pi-tok-cu, mutiara penolak racun, cepat ia meraba baju anak muda itu dan mengeluarkan mutiara itu serta diletakkan di depan hidungnya.
Pi-tok-cu itu berwarna hitam gelap, tampaknya tidak berharga, tapi mengeluarkan semacam bau harum yang tipis dan aneh, bau harum inilah yang dapat menawarkan dan menolak racun.
Hanya sebentar saja siumanlah Yu Wi, tentu saja Ko Bok-ya kegirangan, dirangkulnya anak muda itu dan dibisikinya.
"Jangan bersuara, carilah akal untuk melarikan diri."
Berada dalam pelukan si nona yang harum dan lunak, seketika pikiran Yu Wi melayang-layang dan terangsang, tanpa terasa ia pun memeluk sekuatnya.
Karena dipeluk, wajah Bok-ya menjadi merah, tapi timbul semacam perasaan yang sukar dijelaskan dengan suara gemetar ia berbisik.
"Kau... jangan kau..."
Kereta itu diperlengkapi dengan segala peralatan yang mewah dan menyenangkan ditambah lagi guncangan yang seolah-olah berirama yang mudah menimbulkan aspirasi yang bukan-bukan.
Sekonyong-konyong kereta itu berguncang keras satu kali sehingga Yu Wi terkejut dan cepat melepaskan tangannya, diam-diam ia mencela perbuatan sendiri yang tidak semestinya itu.
Ia coba menggigit ujung lidah, lalu mengerahkan tenaga sekuatnya, tapi meski sudah berusaha sebisanya, tenaga tetap sukar terkumpul, ingin bangun berduduk saja tidak sanggup.
Sampai agak lama barulah rasa malu Bok-ya rada berkurang, ia tanya.
"Bagaimana kau?"
Yu Wi menggeleng kepala.
"Apakah ada kesukaran?"
Kata Bok-ya pula dengan menunduk.
"Betapapun harus berdaya upaya untuk melarikan diri.
"Tapi sama sekali aku tidak bertenaga,"
Ujar Yu Wi dengan menyesal.
"Hilang sama sekali tenagamu?"
Tanya Bok ya dengan suara tertahan.
Yu Wi diam saja, diam-diam ia berusaha mengerahkan tenaga lagi, tenaga yang biasanya terpusat pada pusar atau perut.
Melihat Yu Wi berusaha menghimpun tenaga hingga muka merah, tahulah Bok-ya bahwa tenaga dalam anak muda itu memang benar-benar punah, Mau-tak-mau ia mengeluh.
"Keadaanmu sekarang ternyata serupa denganku."
Sampai lama sekali barulah lari kereta itu dihentikan dengan pelahan, lalu Hek-sim-put-hwe The Pit-sing menyingkap kerai dan berseru.
"Sudah sampai tempat tujuan, ayolah turun!"
Melihat Yu Wi hanya melotot saja padanya, The Pit-sing berkata pula.
"Hehe, cepat juga kau mendusin!"
Nadanya tidak kuatir sedikit pun, seakan-akan sudah tahu biarpun Yu Wi sudah siuman juga takkan mampu melawan atau bertindak apapun. Dari sana datang seorang dan menegur.
"The toako, siapa yang kau ajak kemari?"
"Coba kau terka,"
Jawab The Pit-sing dengan tertawa. Orang itu pun ikut tertawa, Jawabnya.
"Wah, mana dapat kuterka..."
The Pit-sing terus menjulurkan kedua tangannya ke dalam kereta, satu tangan satu orang, Yu Wi dan Bok-ya diseretnya keLuar.
Dalam pada itu hari sudah gelap, terdengar The Pit-sing berkata pula kepada kawannya itu.
"Marilah masuk ke dalam rumah saja, mereka berdua juga kenalan-lamamu."
Orang itu tertawa terkekeh, katanya.
"Memangnya siapa mereka? Masa kenalan-lama diriku si Hoa-lomo?"
Bok-ya merasa suara orang sudah pernah dikenalnya, kini setelah mendengar orang menyebut namanya sendiri, maka tahulah dia bahwa orang ini termasuk salah seorang Hoa-bun-jit-tok yang mengadu tangan dengan dirinya tempo hari.
Di dalam rumah sana cahaya lampu terang benderang, itulah sebuah ruangan pendopo, di bagian tengah adalah sebuah meja panjang, The Pit-sing melemparkan Yu Wi dan Bok-ya ke atas meja itu, serunya dengan tertawa.
"Nah, Hoa-laute, kenal tidak?"
Melihat Yu Wi dan Ko Bok-ya secara mendadak, Hoa-lomo berteriak terkejut.
"Hah, mereka?"
The Pit-sing bergembira, katanya.
"Kemarin dulu setelah kudengar cerita Hoa-laute bahwa Kosiocia telah terkena racun biru hantu saudara kalian, segera kupikir bahwa di dunia ini tidak ada obat penawar racun biru hantu tersebut, hanya si tua bangka Kian su-put kiu itu yang dapat dimintai pertolongan, maka buru-buru kudatang ke Ki-yong-koan, sungguh kebetulan, dengan tepat kupergoki mereka, maka dengan sedikit akal dapatlah kutawan mereka, Kalau Dibicarakan, aku harus berterima kasih kepada Hoa-laute yang telah menyampaikan kabar padaku, kalau tidak tentu takkan kuketahui mereka pasti akan keluar Ki-yong-koan dan pergi ke tempat si tua bangka she Su."
Hoa-lomo tertawa, katanya.
"Lalu cara bagaimana The-toako akan membereskan mereka?"
""Karena Hoa-laute yang menyampaikan berita ini padaku sehingga dapat kutawan mereka, maka hasilnya juga kita bagi secara adil saja, biarlah Ko-siocia serahkan padaku dan yang lelaki itu kuserahkan padamu, sekarang dia sudah mengisap "Sin-sian-to" (dewa pun roboh). Meski siuman juga diperlukan waktu 13 hari lagi baru dapat pulih tenaga dalamnya, Maka terserah padamu cara bagaimana akan kau bereskan dia untuk membalas sakit hati saudaramu, sama sekali aku tidak akan ikut campuri"
Hoa-lomo bergelak tertawa, ucapnya.
"Terima kasihlah kalau begitu."
Segera ia mendekati Yu Wi dan mencengkeramnya. Melihat Yu Wi hendak dipisahkan dengan dirinya, Bok-ya menjadi cemas, teriaknya murka.
"Lepaskan dia! Berani kau ganggu seujung rambutnya, pada suatu hari tentu akan kubikin kau mati tak dapat, hidup pun tidak."
Hoa-lomo bergelak tertawa, ejeknya.
"Siocia yang manis, kau sudah seperti daging di depan mulutku, untuk apa kau bicara segalak ini? Lagi pula usiamu paling banyak tinggal tujuh atau delapan hari lagi, masa masih omong besar untuk membela bocah ini, haha, sungguh lucu!"
Habis berkata, sekali hantam ia bikin Yu Wi terlempar ke pojok dinding sana. Melihat Yu Wi terbanting cukup keras, sakit hati Bok-ya, dengan murka ia mendamperat pula.
"Hoa-lomo, bilamana tidak disergap oleh pukulan berbisa, tidak mungkin pasir berbisa itu dapat mengenai diriku, lebih-lebih takkan mati kutu seperti sekarang ini, Ya, sakit hati ini pasti akan kubayar berlipat ganda selama nona masih diberi kesempatan hidup di dunia ini."
"Tapi sayang waktu hidup Ko-siocia sudah tidak ada lagi, makanya aku Hoa-lomo juga tidak perlu gentar lagi kepada gertakanmu ...."
Ejek Hoa-lomo. lalu bergelak tertawa pula. Ko Bok-ya membiarkan orang tertawa sepuas-nya, habis itu barulah ia berkata pula.
"Tapi kalau sekarang kau lepaskan Toakoku, kelak nona tidak akan dendam pada kejadian ini, bahkan berjanji selama hidup ini akan membantu kau tiga kali."
Hoa-lomo tampak melengak, katanya kemudian.
"Lomo percaya penuh Siocia sanggup membantu tiga kali padaku, hal ini memang sesuatu yang luar biasa dan sukar dicari, Tapi urusannya harus dikembalikan kepada persoalan yang sebenarnya, bilamana racun biru ini sudah bekerja, jiwa Siocia terus melayang, lalu siapa yang akan membantu tiga kali padaku?"
Bok-ya pikir dalam waktu delapan hari memang dirinya sukar diselamatkan bilamana tidak ada orang yang mengantarnya ke Siau-ngo-tay-san, jangankan membantu orang tiga kali, bertemu lagi dengan Yu Wi saja tidak dapat.
Didengarnya Hoa-lomo berkata pula.
"Maka-nya kubilang, sebaiknya Siocia berpikir bagi dirinya sendiri saja dan jangan urus bocah itu. Dia telah membinasakan lima orang saudaraku, sakit hatiku ini harus kubalas."
"Hoa laute,"
Mendadak The Pit-sing menyeletuk "Betulkah Ko-siocia hanya dapat hidup tujuh atau delapan hari saja?"
"Mestinya Ko-siocia dapat hidup lagi selama 15 hari, sejak kejadian itu, sudah tujuh hari mereka menempuh perjalanan ke sini, dengan sendirinya sisanya tinggal delapan hari lagi."
"Benarkah racun biru hantu ini memang tidak dapat dipunahkan?"
Tanya The Pit-sing pula.
"Kungfu penggunaan racun keluarga Hoa tiada bandingannya di dunia ini, setiap racun di dunia ini pasti kami kenal dan juga pasti dapat membuatnya, hanya racun biru hantu saja, meski Hoa bun kami sudah membuka segala macam kitab racun tetap tidak dapat menemukan catatan cara bekerja racunnya, dengan sendirinya obat penawarnya tidak dapat kami buat."
"Jika demikian, terlalu sedikitlah nilai Ko-siocia yang dapat kita manfaatkan,"
Ujar The Pit-sing dengan menyesal.
Ko Bok-ya tidak paham apa yang dimaksudkan nilai pemanfaatan dirinya, cuma diam-diam ia sudah mengambil keputusan, apabila musuh terlalu mendesak, jalan satu-satunya baginya adalah membunuh diri.
Tapi didengarnya Hoa-lomo menjawab dengan tertawa.
"Ah, tidak demikian halnya, Kukira Kosiocia masih cukup berharga untuk kita manfaatkan sekalipun umurnya tinggal delapan hari saja."
"Sebenarnya ada maksudku akan mengantar Ko-siocia ke negeri Kaujang. Belum habis ucapan The Pit-sing, Hoa-lomo berkata sambil menggeleng.
"Bila Ko-siocia diantar ke negeri Kaujang dalam keadaan hidup tentu nilainya tidaklah sedikit Tapi bila setiba di sana dia sudah berubah menjadi mayat, maka satu peser pun takkan laku, jadi sama sekali tidak berharga untuk dimanfaatkan."
Tiba-tiba terdengar suara langkah orang dari ruangan belakang, masuklah belasan orang yang berbaju warna-warni, di bawah cahaya lampu, warna baju mereka yang menyolok itu tampak gemerdep menyilaukan.
Mereka membawa makanan dan minuman, semuanya ditaruh di atas meja panjang itu.
Sekarang The Pit-sing juga sudah ganti pakaian berwarna-warni, dia angkat Ko Bok-ya dan didudukkan di suatu kursi, katanya dengan gelak tertawa.
"Kaupun makan sedikit, jangan sampai kelaparan, bisa jatuh sakit!"
Sia-sia Ko Bok-ya memiliki kungfu maha tinggi, tapi tidak bertenaga sama sekali, terpaksa diperlakukan sesuka orang, Padahal sejak kecil dia hidup senang dan dimanjakan, mana pernah dihina dan dianiaya orang lain?
Maka meneteslah air matanya dan tiada napsu makan, dia duduk termenung, hanya terkadang memandang ke arah Yu Wi yang meringkuk di pojok sana.
Bagaimana nasib Yu Wi dan Ko Bok-ya selanjutnya?
Cara bagaimana mereka akan lolos dari cengkeraman musuh?
Apakah Ko Bok-ya akan sembuh dalam waktu delapan hari yang masih tersisa?
-Bacalah
Jilid ke-6 -Jilid-6 Hoa-lomo dan belasan orang berbaju warna-warni itu ikut duduk di samping.
"Setelah sibuk sehari suntuk, tentu sudah kelaparan ayolah makan, lekas!"
Kata The Pit-sing.
Segera ia mendahului mencomot santapan dengan sumpitnya.
Menyusul belasan orang itu juga makan minum dengan lahapnya, tampaknya mereka memang sudah kelaparan.
Sambil menghirup araknya dengan pelahan, Hoa lomo berkata.
"Jika kuantar Ko-siocia pulang kepada ayahnya dalam delapan hari ini, hasilku pasti tidak sedikit."
"Apa maksud ucapanmu ini"
Tanya The Pit-sing sambil menggeragoti sepotong paha ayam.
"Kau tahu Ko-siocia adalah puteri kesayangan Tay-ciangkun dan memandangnya melebihi jiwa sendiri."
Tutur Hoa-lomo dengan tertawa.
"Berdasarkan sandera ini kan dapat kita memerasnya, masa sang Tayciangkun takkan membayar sesuai permintaan kita?!"
Sambil meraih lagi paha ayam yang laki dan digeragoti, The Pit-sing berkata.
"Betul juga gagasanmu ini, tadi juga sudah kupikirkan hal ini, hanya pelaksanaannya yang masih harus dipertimbangkan, supaya kita dapat menerima pembayaran secara aman."
Hoa-lomo mengangkat poci dari menuangkan arak di cawan The Pit-sing, lalu berkata.
"Ada suatu akalku yang sangat bagus, tanggung aman tanpa perkara...."
"Oo? Akal apa?"
Tanya The Pit-sing.
Dengan mengulum senyum Hoa-lomo menuangkan arak satu persatu, bagi belasan orang berbaju warna-warni itu, cara menuangnya dengan tangan kiri menyunggih pantat poci dan tangan kanan memegang kuping poci, habis menuang barulah ia bicara dengan penuh misterius.
"Akalku ini kutanggung takkan meleset, sekalipun di istana Tayciangkun sana penuh jago kelas satu juga tak dapat mengapa-apakan kita, terpaksa mereka melongo menyaksikan kita kabur dengan menggondol harta benda bagian kita, akhirnya yang mereka dapatkan hanya sesosok tubuh yang sudah sekarat...."
The Pit-sing membuang tulang paha ayam, tanyanya dengan girang.
"Benarkah sebagus ini akalmu?"
"Masa akal Hoa-lomo perlu diragukan lagi?"
Jawab Hoa-lomo sambil bergelak tertawa dan menuang arak di cawannya sendiri.
"Marilah kita habiskan secawan bersama, semoga usaha kita berhasil dan mendapat rejeki nomplok!"
Diiming-iming dengan rejeki nomplok, siapa lagi yang tidak tertarik, tanpa disuruh lagi semuanya mengangkat cawan dan berteriak.
"Mari minum!"
Hanya sekejap saja isi cawan sudah habis tertenggak. Tapi The Pit-sing hanya minum seceguk saja, lalu bertanya.
"Sesungguhnya bagaimana akalmu yang bagus itu, coba jelaskan, supaya semua orang tahu...."
Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara "blak-bluk"
Di sana-sini, belasan orang berbaju warna-warni itu sama roboh terjungkal mendadak The Pit-sing juga merasa perutnya sakit seperti dipuntir-puntir, keruan ia terkejut, teriaknya "He, Hoa ...
mengapa kau taruh racun di ...
di dalam arak?!"
Hoa-lomo menyeringai jawabnya.
"Nah, tahu tidak kau, akal bagus yang kumaksudkan ini adalah mampusnya kalian ini. Kalau kalian tidak mampus, cara bagaimana Hoa-lomo akan mendapatkan anak dara ini dan berpahala besar?"
"Ke... keji amat kau..."
Hanya kata-kata ini saja yang sempat tercetus dari sela-sela gigi The Pit-sing habis itu ia tidak tahan lagi dan roboh terkapar. Ko Bok-ya juga menyaksikan itu dengan jelas, mendadak iapun berkata.
"Sungguh keji!"
"Kalau tidak keji bukanlah lelaki,"
Kata Hoa lonio sambil menyeringai "Bila kuantar kau kekerajaan Iwu akan berarti pahala besar bagiku."
"Apa gunanya kau antar mayatku ke sana?"
Kata Bok-ya dengan menghela napas.
"Hahahaha!"
Mendadak Hoa-lomo bergelak tertawa.
"Nyata, kalian telah kena kutipu seluruhnya, Meski racun biru hantu itu memang maha lihay, tapi keluarga Hoa telah berhasil meracik satu resep rahasia yang dapat menahan bekerjanya racun selama beberapa bulan, Dalam waktu sekian lama, tentu kau dapat diperalat oleh pihak kerajaan Iwu untuk menundukkan ayahmu, jika semuanya itu berlangsung dengan lancar, bukankah aku yang akan berjasa besar?"
Pada saat itulah terdengar di kejauhan ada orang berseru.
"Lomo! Lorno!"
Lomo artinya si bontot, sebab Hoa-lomo dalam urutan persaudaraan keluarga Hoa memang saudara buncit. Maka Hoa-lomo lantas menjawab.
"Aku berada di sini, Suko (kakak ke empat)"
Seorang tampak masuk dengan tergesa-gesa, waktu Bok-ya mengawasinya, kiranya si pembunuh yang berwajah buas itu, yaitu orang ke empat dari Hoa-bun-jit tok, namanya Hoa Ceng-sim.
Meski mukanya kelihatan buas, tapi hatinya paling baik.
Melihat keadaan di dalam ruangan itu, Hoa Ceng-sim terkejut, tanyanya.
"He, terjadi apa?"
Hoa lonio menyongsong kedatangan saudaranya itu, tuturnya.
"Waktu kusuguhi arak mereka, diam-diam kugunakan tangan kiri untuk memegang pantat poci dan merembeskan racun telapak tanganku ke dalam arak, hanya sekejap saja belasan jago Cay-ih-kau (agama baju warna-warni) ini telah kubinasakan."
Hoa Ceng-sim merasa bingung, tanyanya.
"Aneh, bukankah kau yang berkeras mengajak diriku ke sini untuk minta bantuan Cay-ih-kau agar membantu menuntut balas bagi kita, kenapa sekarang malah kau bunuh tokoh-tokoh agama mereka? Jika sampai diketahui Kaucu, wah..."
"Suko, coba lihat siapakah anak dara yang berada di sana itu?"
Sela Hoa-lomo. Waktu Hoa Ceng-sim berpaling, ia berseru terkejut.
"He, Ko siocia!"
"Dan tahukah Suko siapakah orang itu?"
Tanya Hoa-lomo pula sambil menuding Yu Wi yang meringkuk di pojok sana.
"Memangnya siapa?"
Tanya Hoa Ceng-sim dengan ragu. Belum lagi Hoa-lomo menjelaskan, sekonyong-konyong tertampak Yu Wi merangkak bangun dan mendekat dengan langkah yang mantap, dengan wajah kereng ia berucap.
"lalah aku, Yu Wi!"
Sekali ini Hoa-lomo benar-benar kaget setengah mati, dengan gemetar ia berkata.
"He, bu ... bukankah kau telah ... telah mengisap Sin-sian-to?"
Dia cukup kenal betapa lihaynya jimat Cay ih-kau, yaitu "Sin-sian-to", kalau mengisap dupa bius itu, biarpun maha sakti juga sukar bergerak sebelum lewat 13 hari.
Tapi sekarang keadaan Yu Wi kelihatan sehat walafiat, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, hal ini sungguh aneh dan mengejutkan.
Seballiknya Ko Bok-ya menjadi girang, serunya.
"Toako, apakah berkat Pi-to-cu lagi yang menyembuhkan dirimu?"
Mendengar nama Pi-to-cu, Hoa-lomo tampak kaget, disangkanya tenaga dalam Yu Wi juga sudah pulih, padahal ia sudah menyaksikan sendiri betapa lihay kungfu Yu Wi, ia merasa dirinya pasti bukan tandingan anak muda itu.
Yu Wi mengangguk pelahan tanpa menjawab, ia terus mendekati Ko Bok-ya, nona itu dipondongnya, tapi ketika berdiri lagi, tanpa kuasa ia bergeliat sedikit.
Sedikit kejadian itu sudah dapat dilihat dengan jelas oleh Hoa Ceng-sim dan Hoa-lomo, mereka tahu tenaga dalam Yu Wi belum lagi pulih seluruhnya.
Sebagai seorang Kangouw kawakan, rasa takut Hoa-lomo tadi lantas lenyap.
dengan tertawa ia berkata.
"Hehe, sebaiknya kalian berduduk saja di situ dan jangan sembarangan bergerak"
Berubah air muka Yu Wi, ia tahu kelemahannya telah diketahui lawan, Kiranya tadi selagi orang lain tidak memperhatikan dia, diam-diam ia taruh Pi-tok-cu di depan hidung dan menciumnya keras-keras, bau Pi-tok-cu ini dapat menawarkan segala macam racun, dan memang betul, setelah mengisap baunya sekian lama, akhirnya ia merasa tenaga mulai timbul, hanya saja tenaga murni Lwekangnya tetap sukar dikerahkan.
Mestinya ia ingin mengisap lebih lama lagi bau Pi-tok-cu itu, tapi keadaan mendadak berubah gawat, terpaksa ia harus bertindak dan menyelamatkan Ko Bok ya.
Siapa tahu kelemahannya tetap juga diketahui Hoa-lomo, ia menjadi sedih dan kuatir.
Di luar dugaan, mendadak Hoa Ceng-sim berkata padanya.
"jangan berhenti, jalan terus!"
Keruan Hoa-lomo terkejut, serunya.
"He, apa katamu, Suko?"
"Kusuruh mereka lekas lari,"
Sahut Hoa Ceng-sim dengan suara tertahan.
"Bila terlambat dan diketahui Cay-ih-kaucu, tentu sukar untuk lolos lagi."
"Apa kau sudah gila, Suko?"
Seru Hoa-lomo dengan gusar.
"Apakah kau lupa cara bagaimana kematian kelima saudara kita?"
"Ku tahu dan sakit hati ini harus kita balas,"
Jawab Hoa Ceng-sim.
"Tapi tempo hari merekapun mengampuni kematian kita, bahkan mengembalikan jenazah saudara-saudara kita, maka budi kebaikan ini juga harus kita balas."
Sampai di sini ia lantas berpaling ke arah Yu Wi dan berseru.
"Seorang lelaki harus dapat membedakan antara budi dan benci dengan jelas, budi kebaikanmu ketika berada di istana Tayciangkun tempo hari sudah kubalas, Lain kali bila kepergok lagi asalkan terjatuh lagi ke tangan kami, jangan menyesal bila kami tidak sungkan lagi."
"Lelaki teladan,"
Puji Yu Wi sambil menoleh "sampai bertemu lagi!"
Hoa-lomo menyaksikan kepergian Yu Wi dengan memondong Ko Bok-ya, ia tidak berani mengejar tapi ia masih berusaha merangsang pikiran Hoa Ceng-sim, katanya.
"Sayang, sungguh sayang! Coba kalau Ko-siocia kita antar ke Iwu, maka keluarga Hoa kita segera akan kaya raya,"
"Tapi kalau menuruti kehendak orang Cay-ih-kau dan mengantarnya ke negeri Kau-jang, lantas siapa yang menarik keuntungannya?"
Jengek Hoa Ceng-sim, Hoa-lomo menjadi bungkam dan tak berani bersuara lagi, o0o--n-oOo-Somentara itu Yu Wi telah meninggalkan sarang Cay-ih-kau dengan membawa Ko Bok-ya, lantaran Lwekangnya belum pulih, ia tidak dapat menggunakan Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuh untuk berlari cepat, terpaksa ia memilih jalan kecil yang sepi dan melanjutkan pelariannya.
Dengan susah payah akhirnya sudah ratusan li dapat ditempuhnya.
Setiba di tepi sebuah telaga, saking lelahnya ia jatuh tak sadarkan diri.
Entah sudah berapa lama lagi ketika ia merasakan mukanya rada dingin, segera ia membuka mata, terlihatlah Ko Bok-ya duduk di sampingnya dengan tersenyum simpul, tangannya yang putih bersih itu kelihatan masih basah.
"Sudah kenyang tidur?"
Tanya si nona dengan suara lembut dan wajah berseri-seri. Yu Wi mengangguk pelahan, sahutnya dengan tertawa.
"Tidur sudah cukup, cuma seluruh badan terasa lemas, juga haus, ingin minum."
Segera ia merangkak bangun dan bermaksud meraup air telaga untuk diminum, namun Bok-ya lantas menahannya dan berkata.
"Jangan bangun dulu, rebah dan istirahat lagi sebentar, akan kuambilkan air untukmu."
Melihat si nona bermaksud baik, terpaksa Yu Wi berbaring pula, Lalu Bok-ya menggunakan kedua tangannya untuk mencakup air yang segar itu dan dialirkan ke mulut Yu Wi.
Sambil minum air yang segar dan melihat tangan si nona yang putih bersih, Yu Wi bertanya dengan tertawa.
"Apakah kita sudah berada di surga dewa". Bok-ya menggeleng dan mengomel manja.
"Bukan, ini adalah surganya manusia."
"Kenapa begitu?"
Tanya Yu Wi dengan tersenyum.
"Sebab... sebab kita kan manusia dan bukan dewa..."
Habis berkata, Bok-ya tidak berani lagi memandang Yu Wi, ia berpaling dan bermainkan air telaga.
Diam-diam Yu Wi meresapi arti ucapan si nona, ia jadi teringat kepada perbuatannya terhadap si nona di dalam kereta tempo hari.
Tanpa terasa hatinya berguncang, seketika ia termangumangu memandangi profil si nona.
Bok-ya meraup air lagi, ketika berpaling dan melihat Yu Wi terkesima memandangi dirinya, dengan manja ia mengomel pula.
"Tidak boleh melihat, tidak boleh melihat! pejamkan matamu..."
Yu Wi memang penurut segera ia memejamkan matanya, Bok-ya lantas menyuapinya lagi dengan air, tanyanya dengan suara rada gemetar.
"Meng... mengapa kau pandang aku cara begitu?"
Suaranya yang rada gemetar itu kedengaran sangat menggetar sukma, Yu Wi pegang tangan yang halus itu.
Secara di bawah sadar Bok-ya menarik tangannya sedikit, tapi lantas diam saja dan dibiarkan tangannya dipegang...
Selagi kedua orang itu asyik masyuk, mendadak terdengar suara lengking tawa seorang.
"Mesra benar di tengah siang bolong begini, apakah tidak malu?!"
Serentak Yu Wi bangun berduduk, Ko Bok-ya terkejut dan segera membentak.
"Siapa itu?"
Maka tertampaklah dari hutan di sebelah sana muncul seorang perempuan berambut ubanan, berbaju kuning, dan pelahan sedang mendekati mereka, dairi air mukanya dapat diduga kedatangannya pasti tidak bermaksud baik.
Cepat Yu Wi berdiri dan mengadang di depan Bok-ya, lalu menegur.
"Siapa kau? Untuk apa kau datang kemari?"
Meski rambut perempuan itu sudah ubanan seluruhnya, tapi mukanya masih terawat halus, perawakannya juga semampai, dapat dibayangkan di masa dahulu pasti seorang perempuan cantik, dia berhenti kira-kira satu tombak di depan Yu Wi, mendadak iapun menegur.
"Siapa kau?"
Yu Wi melenggong, katanya.
"Belum lagi kau jawab pertanyaanku kenapa kau berbalik tanya siapa diriku?"
"Huh, tidak kau katakan juga kutahu, kau she Yu bukan?"
Jengek perempuan ubanan itu dengan suara galak, perasaan Yu Wi memang lembut, segera ia menjawab.
"Ya, Wanpwe memang she Yu, apakah cianpwe kenal ayahku?"
Seketika air muka perempuan ubanan itu berubah hebat, dengan gusar ia berteriak.
"Bagusl Ternyata benar kau she Yu, kau anak perempuan hina itu, bukan?"
Mendengar ibunya dicaci-maki, kontan Yu Wi balas mendamperat.
"Gila, orang gila! Memangnya siapa perempuan hina? Kau sendirilah perempuan hina dina!"
Perempuan ubanan itu jadi melengak karena dirinya berbalik dimaki sebagai perempuan hina, ia tidak marah, tapi air mata lantas bercucuran malah, keluhnya sambil menangis.
"Ya, aku ini perempuan hina, entah sudah berapa kali kau maki aku sebagai perempuan hina!"
Setelah memaki dan melihat orang sedemikian berduka, Yu Wi menjadi tidak enak hati, cepat ia berkata pula.
"Maaf bila ku salah omong, Wanpwe berjanji takkan memaki padamu lagi."
Perempuan ubanan itu menggeleng, katanya.
"Tapi sudah terlalu banyak kau maki diriku, hatiku sudah remuk rendam karena makianmu, biarpun kau maki lebih banyak lagi juga tidak menjadi soal bagiku."
Yu Wi jadi melenggong, ucapnya.
"Wanpwe baru saja salah omong satu kali, sebelum ini bilakah pernah kumaki dirimu?"
Semula perempuan ubanan itu menangis dengan menunduk, kini mendadak ia angkat kepalanya dan menatap Yu Wi lekat-lekat, ucapnya dengan menyesal "O, yang kumaksudkan ialah...
ialah ayahmu, dia...
dia..."
"Cianpwe kenal ayahku?"
Tanya Yu Wi. Pandangan perempuan ubanan itu seperti kabur dan seperti sedang mengenangkan apa-apa, ka tanya kemudian.
"Bukan saja kenal ayahmu, bahkan sangat akrab, justeru rambutku ini berubah menjadi putih seluruhnya dalam waktu setahun gara-gara dia."
Yu Wi coba mengamati rambut orang yang putih perak itu, sungguh tidak seimbang dengan usianya yang baru setengah baya, Tampaknya dia baru berumur 40-an dan mestinya rambutnya belum waktunya ubanan.
Diam-diam ia merasa heran, pikirnya.
"Masa lantaran ayah sehingga rambutnya ubanan secepat ini?"
Tapi iapun menyangsikan keterangannya ia coba bertanya.
"Jika cianpwe kenal ayahku, apakah engkau mengetahui siapa nama beliau?"
"Namanya?"
Perempuan ubanan itu tertawa pedih.
"masa namanya dapat kulupakan? entah berapa puluh kali setiap hari ku sebut namanya secara diam-diam, mana bisa kulupakan namanya!"
"Coba sebutkan namanya, bisa jadi orang yang kau anggap kenal bukanlah ayahku."
"Dia bernama Yu Bun-hu, masa kau berani menyangkal dia bukan ayahmu?"
Seru perempuan itu sambil tertawa melengking.
"Betul, beliau memang ayahku,"
Kata Yu Wi sambil mengangguk sedih.
"Dan siapakah cianpwe, mengapa rambutmu berubah menjadi putih gara-gara ayahku?"
"Him Kay-hoa, namaku Hjm Kay-hoa, pernahkah ayahmu menyebut nama ini kepadamu?"
Ucap perempuan itu dengan suara lembut, Habis bertanya, dengan penuh perhatian ia pandang Yu Wi, seakan-akan sedang menunggu jawaban anak muda itu yang memuaskan.
Tak terduga Yu Wi lantas menggeleng, katanya.
"Tidak selamanya ayah tidak pernah menyebut namamu, sebelum ini akupun tidak pernah mendengar namamu."
Air muka perempuan itu seketika berubah pucat pasi, jelas sangat kecewa, ucapnya.
"O, selamanya dia tidak pernah menyebut namaku? Tidak pernah bicara tentang diriku? Melihat kesedihan orang, Yu Wi merasa kasihan, ia coba menghiburnya.
"Hendaknya Cianpwe jangan berduka..."
Mendadak perempuan itu menatap Yu Wi dengan beringas katanya dengan gemas.
"Dia tidak pernah menyebut namaku, yang disebutnya tentu hanya nama ibumu, bukan?"
Sejak kecil Yu Wi tidak pernah melihat sang ibu, bilamana ayahnya bercerita tentang ibunya tentu berkata.
"lbumu sudah meninggal dunia, dia adalah perempuan yang paling cantik di dunia, namanya Tan Siok-cin."
Teringat kepada masa kecilnya dan cerita tentang ibunya, Yu Wi menjadi berduka, Sahutnya.
"Ya, dengan sendirinya ayahku melulu menyebut nama ibuku saja, masa beliau perlu menyebut namamu? Lagi pula, ibuku adalah perempuan paling cantik di dunia, betapapun ayah tidak nanti memikirkan perempuan lain."
Ucapan ini benar-benar melukai perasaan si perempuan ubanan alias Him Kay-hoa, seketika ia menjadi murka, kontan sebelah tangannya menggampar, Yu Wi tidak sempat mengelak.
"plok", dengan tepat mukanya tertampar. Sungguh aneh dan cepat luar biasa gerak tamparan perempuan ubanan ini, jangankan tenaga dalam Yu Wi sekarang memang belum pulih, sekalipun dalam keadaan normal juga sukar baginya untuk menghindar. Maka ketika untuk kedua kali nya Him Kay-hoa menampar pula, ia malah tidak mau mengelak, ia pikir biarkan saja kau pukul sepuasmu. Maka terdengarlah "plak-plok"
Beruntun-runtun, Him Kay-hoa benar-benar menampar tanpa berhenti, dalam sekejap saja muka Yu Wi menjadi bengap. Keruan yang merasa kesakitan adalah Ko Bok-ya, sekuatnya ia berdiri dan berteriak.
"He, berhenti, berhenti!"
Tapi berdirinya tidak kuat, baru saja menegak.
"bluk", ia jatuh terguling, namun suara teriakannya tidak berhenti, ia masih terus menjerit hingga suaranya serak. Sembari menampar Him Kay-hoa juga memandang Ko Bok-ya dengan heran, setelah Ko Bokya sudah kehabisan suara barulah ia berhenti memukul. Meski mulut Yu Wi penuh darah, tapi dia masih tetap bandel, tanyanya.
"Apakah sudah cukup kau pukul?"
Melihat kebandelan anak muda ini serupa ayahnya, Him Kay-hoa tahu biarpun memukulnya hingga mati juga dia takkan minta "ampun", Untuk membikin sedih hatinya, jalan paling tepat adalah menghajar orang yang dicintainya.
Berpikir demikian, mendadak ia berjongkok dan mencengkeram Ko Bok ya sambil menyeringai.
Yu Wi terkejut dan kuatir, cepat ia memburu maju hendak menolong, tapi gerak tubuh Hini Kay-hoa ternyata sangat cepat, Ko Bok-ya sudah dikempitnya di bawah ketiak dan melayang jauh ke sana.
Seketika sikap bandel Yu Wi tadi lenyap, ia memohon dengan sangat.
"Janganlah cianpwe menyakiti dia!"
Him Kay-hoa mendengus.
"Hm, apakah kau tahu cara bagaimana ayahmu memperlakukan diriku dahulu?"
Meski darah memenuhi mulutnya, namun Yu Wi tidak sempat lagi mengusapnya, ia masih terus memohon dengan sangat.
"Lepaskan dia! Sudilah engkau melepaskan dia! Dia sedang sakit dan keracunan hebat, tidak kuat dikempit sekeras itu olehmu..."
Tapi Him Kay-hoa malah sengaja mengempit dengan lebih keras, saking kesakitan hingga Ko Bok-ya mengeluh tertahan dengan mandi keringat dingin, namun Him Kay-hoa sama sekali tidak ambil pusing, ia malah mendengus pula.
"Tidak perlu kau memohon, semakin kau memohon, semakin kuperlakukan dia secara sadis."
Yu Wi menjadi takut dan benar-benar tidak berani bersuara lagi, terpaksa ia pandang KoBokya dengan sorot mata yang penuh rasa kasih sayang tak terhingga.
"Sekarang hendaklah kau dengarkan suatu "kisah yang akan kuceritakan,"
Kata Him Kay-hoa. Yu Wi mengangguk, asalkan Ko Bok-ya tidak disiksa, urusan apa pun akan diterimanya. Maka terdengarlah Him Kay-hoa mulai berkisah dengan nada yang mendadak berubah sedih.
"Aku ini adalah perempuan yang paling kasihan di dunia ini, tatkala kucintai seorang lelaki dengan sepenuh jiwa-ragaku, lelaki itu justeru mencintai seorang perempuan lain yang bermuka buruk."
"Dengan segala daya upaya kuharapkan dia akan mencintai diriku dan jangan menyukai perempuan yang buruk rupa itu, bahkan kuperlakukan dia dengan baik, kurela menderita baginya, yang kuharap hanya dia mau kembali padaku dan mencintai diriku, siapa tahu dia berbalik memaki aku sebagai perempuan hina dan menyuruh aku jangan menggangu dia lagi."
"Tapi kubiarkan dimaki dan entah sudah berapa kali dia mencaci-maki diriku, yang kuharapkan pada suatu hari dia akan mencintai lagi diriku, seperti halnya dia mencintai aku sebelum dia bertemu dengan perempuan buruk itu, siapa tahu.... siapa tahu harapanku itu tetap hampa belaka dan tidak pernah muncul, sebaliknya dia malah menikah dengan perempuan buruk rupa itu."
"Ketika menerima kabar itu, sungguh aku sangat berduka, aku menjadi putus asa dan tidak ingin hidup lagi, hancurlah penghidupanku tidak sampai setahun rambutku telah ubanan seluruhnya, badanku juga lemah dan penyakitan, hampir saja kumati, Tapi setahun kemudian kuterima berita pula bahwa perempuan buruk itu telah meninggalkan dia dan hanya meninggalkan seorang orok yang baru berumur sebulan"
Sampai di sini, air muka Yu Wi rada berubah hampir saja ia bersuara membantahnya.
Tapi demi melihat Ko Bok-ya yang berada dalam kempitan orang juga asyik mendengarkan, sedapatnya ia menahan perasaannya dengan mendengarkan terus cerita orang.
Terdengar Him Kay-hoa bergumam seperti mengenang kejadian masa lampau.
"Setelah kuterima berita itu, buru-buru kususul ke sana, maksudku hendak menghiburnya, tak terduga maksud baikku itu telah dibalas dengan sikap ketus, aku seperti diguyur oleh air dingin, hatiku tersiram hingga luluh, teringat olehku ucapannya waktu itu bahwa isterinya meninggal dunia dan bukan meninggalkannya dengan hidup, meski isterinya sudah mati, tapi cintanya masih tetap teguh dan takkan berubah selamanya, Aku disuruh jangan menggodanya lagi dan diusirnya..."
"Coba, dia tega berucap begitu padaku, begitukah harganya cintaku kepadanya selama sekian tahun? Apakah aku memang tidak berharga untuk mendapatkan cintanya lagi? Sungguh remuk rendam hatiku, saking pedihnya hatiku, setelah kupikir dan kutimbang, akhirnya kuputuskan akan melakukan pembalasan padanya...."
Mendengar sampai disini, berubahlah air muka Yu Wi, cepat ia tanya.
"Cara bagaimana kau balas dendam kepada ayahku?"
Seketika timbul praduganya jangan-jangan Him Kay-hoa ini juga salah seorang pembunuh ayahnya. Him Kay-hoa menggeleng, jawabnya dengan menyesal.
"Tapi apapun juga pernah kucintai dia dengan mendalam dan sampai saat inipun belum pernah kulupakan, sebab itulah aku tidak tega membalas dendam langsung padanya, tapi kubalas dengan cara tidak langsung."
Air muka Yu Wi menjadi tenang kembali, ia pikir mungkin orang tidak termasuk salah seorang pembunuh ayahnya, Dengan heran ia lantas tanya pula.
"Membalas dendam secara tidak langsung bagaimana maksudmu?"
"Begini,"
Tutur Him Kay-hoa.
"kutahu selama hidupnya sangat setia terhadap Peng-matayciangkun sekarang ini, hal itu sama halnya berbakti kepada negara, Maka aku lantas bertindak secara berlawanan kugabungkan diri dengan negeri asing, yaitu negeri Kau-jang, dengan tugas khusus membunuh Peng-ma-tayciangkun Ko Siu.
"Sebab, kalau Ko Siu mati, kekuasaan kerajaan ini tentu juga akan goyah, apabila para negeri wilayah barat sana sama bersatu, kekuatan mereka akan bertambah besar, sebaliknya kerjaan Tionggoan telah kehilangan panglima perangnya yang paling diandalkan, tentu sukar lagi menahan serbuan gabungan negeri-negeri barat itu. Dan bila negara hancur, apa artinya pula bagi kehidupannya ini, aku akan merasa puas jika dapat kusaksikan dia hidup merana dengan batin tersiksa, dengan begitu sakit hatiku karena tidak dihiraukan olehnya dapatlah kubalas."
"Ai, caramu membalas dendam agak keterlaluan hendaklah kau sadari bahwa kau sendiri adalah bangsa Han, tapi kau rela bekerja bagi negeri asing untuk memusuhi tanah airnya sendiri, sungguh perbuatanmu ini lebih rendah daripada hewan."
Him Kay-hoa menjadi gusar, bentaknya.
"Kurang-ajar! Kau berani memaki aku?"
Mendadak ia melompat maju, kaki kiri menjegal, tangan lain mendorong, kontan Yu Wi jatuh terjungkal. Sambil rebah di tanah, Yu Wi masih berkata pula.
"Pantas ayahku tidak gubris dirimu, perempuan macam kau memang tidak mungkin disukai oleh lelaki manapun."
Him Kay-hoa tambah murka, dengan alis menegak ia angkat Ko Bok-ya dan berteriak.
"Biarlah tidak jadi kubawa budak ini ke negeri Kau-jang, akan kubanting mampus dia di depanmu, agar kau saksikan kematiannya yang mengerikan ini, supaya selama hidup takkan kau lupakan kejadian ini."
Yu Wi menjadi kuatir, teriaknya.
"He, lepaskan dia! Kalau mampu, ayolah banting mati diri ku, tapi jangan membunuh orang yang tak berdosa."
Tapi Him Kay-hoa tidak menghiraukan seruannya, Ko Bok-ya diangkatnya tinggi-tinggi terus dilemparkan sekuatnya.
Yu Wi ingin menolongnya, tapi ia menubruk tempat kosong, tampaknya Ko Bok-ya akan terbanting mati, sungguh hatinya berduka tak terkatakan.
Untunglah pada detik terakhir, sewaktu tubuh Ko Bok-ya sudah hampir terbanting di tanah, sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam melayang tiba laksana terbang cepatnya, sekali jambret dapatlah Ko Bok-ya ditarik terus dibawa melayang jauh ke sana, ketika bayangan itu berdiri tegak, ternyata Ko Bok-ya berada dalam pelukan orang itu tanpa cedera apapun.
Sama sekali Yu Wi tidak menduga Ko Bok ya dapat lolos dari renggutan elmaut, dengan kegirangan ia memandang ke sana, dilihatnya bayangan hitam tadi adalah seorang perempuan berbaju hitam dan berambut panjang terurai.
Karena sebagian mukanya tertutup oleh rambutnya sehingga tidak kelihatan bagaimana raut wajahnya, Namun dari dandanan orang, segera Yu Wi teringat kepada perempuan aneh yang pernah dilihatnya di daerah terlarang Thian-ti-hu dahulu itu.
Him Kay-hoa juga lantas tahu perempuan berbaju hitam ini pasti seorang kosen setelah menyaksikan Ginkangnya yang hebat tadi, ia kuatir bukan tandingan orang, maka tidak berani sembarangan berebut Ko Bok-ya.
Hanya dengan suara bengis ia membentak.
"Siapa kau? Berani menyerobot orang yang hendak nona bunuh?"
Sejak dia patah hati terhadap Yu Bun-hu, Him Kay-hoa tidak pernah lagi jatuh hati kepada lelaki lain, sebab itulah dia masih bertubuh perawan, jadi kalau dia menyebut "nona"
Pada dirinya sendiri memang cukup beralasan.
Tanpa bicara perempuan berbaju hitam itu membawa Bok-ya ke depan Yu Wi dan disodorkan kepadanya.
Cepat Yu Wi menyambutnya dan mengucapkan terima kasih, perempuan baju hitam itu memandang Yu Wi sejenak, lalu mengulap tangan, maksudnya menyuruh anak muda itu lekas lari.
Yu Wi tahu kungfu perempuan berbaju hitam sangat tinggi, jika orang sudah mau membelanya, maka apapun tidak perlu dikuatirkan lagi.
Tanpa memandang Him Kay-hoa, segera ia melangkah pergi dengan cepat.
Tapi Him Kay-hoa lantas berteriak.
"Berhenti! jangan lari!"
Meski mulutnya berteriak, tapi kakinya tidak mengejar, Dia tetap berdiri menghadapi perempuan berbaju hitam, ia tahu bilamana dirinya bergerak, tentu juga orang itu akan merintanginya, maka apa gunanya bergerak.
Selagi Yu Wi hendak berlari masuk ke dalam hutan dan kabur bersama Ko Bok-ya, tiba-tiba dilihatnya dari dalam hutan muncul satu barisan orang berseragam warna-warni dan merintangi jalan larinya, Yang menjadi kepala barisan itu adalah seorang lelaki setengah umur, berwajah putih bersih dan memegang kipas, sambil mengebaskan kipasnya lelaki muka putih ini menegur.
"Mengapa buru-buru hendak pergi?"
Yu Wi terkejut dan menyurut mundur bebepa langkah, tanyanya.
"Apakah Anda ini Cay-ihkaucu?"
Orang itu menjawab.
"Betul, dan Anda sendiri tentunya Yu Wi yang telah membunuh belasan jago Cay-ih-kay kami?"
Yu Wi menggeleng kepala, katanya.
"Cayhe tidak membunuh tokoh Cay-ih-kau kalian, juga tidak pernah bermusuhan dengan agama kalian, maka kumohon Kaucu sudi memberi jalan lalu bagiku."
Lelaki itu tertawa, katanya.
"Tidaklah sulit jika ingin minta jalan padaku, tapi kalau sakit hati kematian belasan anggota kami tidak kubalas, lalu cara bagaimana aku Ong Su-yong dapat menancap kaki di dunia Kangouw?"
"Cayhe benar-benar tidak pernah membunuh anggota Kau kalian, mengapa Kaucu tidak percaya dan tetap menuduh diriku?"
Kata Yu Wi dengan gegetun. Orang itu memang Cay-ih-kaucu, ketua agama seragam warna-warni, namanya Ong Su-yong, dengan menyeringai ia berkata.
"Baik, anggaplah kau percaya keteranganmu. Lalu ingin kutanya, siapakah yang meracun mati mereka? Mustahil mereka meracuni dirinya sendiri, bukan?"
"Kutahu siapa yang meracun mati mereka, tapi hal ini tidak dapat kukatakan, harap suka memaafkan dan memberi jalan,"
Kata Yu Wi. Ong Su-yong menjadi gusar.
"Kurang-ajar! Ku perlakukan kau dengan sopan, tapi kau malah berbuat licik. Tidak dapat kau katakan apalagi? jelas kau sendiri yang membunuh anak buahku, ada saksi hidup di sini."
"Saksi hidup?"
Yu Wi menegas dengan tenang.
"Ya, saksi hidup, yaitu Hoa-lomo, masa kau berani menyangkal lagi?"
Teriak Ong Su-yong.
"Tapi kalau kukatakan pembunuhnya ialah Hoa-lomo dan saksinya aku, apakah Kaucu mau percaya?"
Tanya Yu Wi.
""Hoa-lomo? Dia pembunuhnya?"
Ong Su-yong barseru kaget. Mendadak Him Kay-hoa menimbrung.
"Sudahlah, jangan banyak omong lagi dengan bocah itu, lekas tangkap saja dan antar anak dara itu ke negeri Kaujang dan kita akan berjasa besar, Ayolah, jangan tertunda lagi, di sini nona yang akan merintangi dia."
Tadinya Ong Su-yong merasa serba susah, tapi demi mendengar dapat menarik keuntungan, semangatnya terbangkit, katanya segera.
"Perduli siapa di antara kalian ini yang menjadi pembunuh, pokoknya lekas menyerah, boleh kau konfrontasi dengan Hoa-lomo nanti, jika kau memang tidak bersalah tentu akan kubebaskan kau."
Habis berkata, kesepuluh jarinya terpentang, segera ia mencengkeram pundak Yu Wi.
Berbareng itu barisan berseragam warna-warni itupun mengepung maju.
Dalam keadaan memondong Ko Bok-ya, Lwekangnya juga belum pulih, Yu Wi hanya sempat berkelit satu-dua kali, lalu tidak sanggup menghindar pula, Hiat to bagian pundaknya kena dicengkeram Ong Su-yong dan tidak dapat berkutik lagi.
Mendadak si perempuan baju hitam menyurut mundur selangkah, baru saja Him Kay-hoa hendak menghalaunya, tiba-tiba si baju hitam menyelinap lewat di sampingnya, betapapun sukar baginya untuk merintanginya.
Ginkang orang yang maha lihai ini membikin Him Kay-hoa melongo kaget sehingga lupa mengejarnya, Gerak tubuh perempuan baju hitam itu secepat terbang, hanya sekejap saja ia sudah melayang masuk ke tengah lingkaran kepungan barisan seragam warna-warni itu, terlihat kedua lengan bajunya yang panjang itu beterbangan, ke mana lengan bajunya mengebut, satu persatu orang berseragam warna-warni itu roboh tanpa ampun, tiada seorang pun yang mampu menahan dua kali serangannya.
Ong Su-yong terperanjat cepat ia berseru.
"Berhenti! jangan mendekat atau segera kubinasakan mereka berdua"
Tapi belum habis ucapannya, tahu-tahu tangan sendiri terasa kaku kesemutan, entah cara bagai mana dan entah kapan tangannya telah kena dikebut oleh lengan baju orang.
Yu Wi sempat melepaskan diri dari cengkeraman musuh, selagi ia hendak mengucapkan terima kasih, mendadak lengan baju perempuan berbaju hitam itu mengebut pula pada punggungnya tanpa kuasa tubuh Yu Wi tertolak masuk ke dalam hutan sana dengan Ko Bok-ya masih berada dalam pondongannya.
Setiba di dalam hutan, Yu Wi tahu maksud si perempuan baju hitam menyuruhnya lekas lari.
sebenarnya ia ingin tanya siapa nama orang, tapi sekarang tak sempat bertanya, segera ia berlari pergi secepatnya.
Sekeluarnya hutan itu, ia mendapatkan satu keluarga peternak, ia membeli seekor kuda, lalu melanjutkan perjalanan siang dan malam ke Siau ngo-tay-san.
Karena tidak apal jalannya, setiba di lereng gunung Siau-ngo-tay, sementara itu sudah hari ke-15 sejak Ko Bok-ya terkena racun.
Saat itu Bok-ya sudah tidak sadar lagi, sekujur badannya bersemu kebiru-biruan, tampaknya sudah dekat dengan ajalnya, tentu saja Yu Wi gelisah lagi cemas.
Lereng gunung Siau-ngo-tay itu membentang beratus li panjangnya, untuk mencari seorang yang tinggal di pegunungan seluas itu jelas, tidak gampang bilamana tidak diketahui tempatnya, Hal ini tentu saja membikin Yu Wi tambah kelabakan.
Yang tahu tempat tinggal Su Put-ku adalah Ko Bok-ya, celakanya nona ini tidak dapat sadar untuk memberi petunjuk kepada Yu Wi.
Karena itulah Yu Wi hanya melarikan kudanya di kaki gunung dan berputar ke sana sini, ia menjadi bingung karena tidak tahu cara bagaimana dan ke mana supaya dapat menemukan Su Put-ku.
Diam-diam Yu Wi sangat cemas, sisa waktunya tinggal sehari ini saja, sampai besok jiwa Ko Bok-ya tentu sukar diselamatkan lagi, Waktu yang singkat ini tidak boleh terbuang percuma, bilamana dia kesasar, berarti jiwa Ko Bok-ya akan melayang tersia-sia.
Setelah berpikir dan menimbang masak-masak, akhirnya Yu Wi memutuskan akan mendaki gunung dari situ, sudah tentu hanya untung-untungan, maka berulang-ulang ia berdoa di dalam hati semoga Tuhan yang Maka pengasih memberikan petunjukNya, mudah-mudahan jalan yang ditempuhnya ini arah yang tepat.
Begitulah ia terus mendaki ke atas, sampai sore masih juga belum nampak jejak manusia, yang terlihat hanya lereng tandus dan bayangannya sendiri, tiada makhluk lain yang dipergokinya.
Makin jauh makin kecewa Yu Wi, langkahnya juga semakin lambat, sungguh ia ingin segera mundur kembali untuk mencari jalan mendaki yang lain.
Pada saat itulah, tiba-tiba didengarnya suara orang merintih, tergetar hati Yu Wi, ia coba mencari darimana datangnya suara itu.
Ketika ditemukan sebuah gua karang, dilihat nya seorang kakek berbaring di dalam gua sedang merintih-rintih.
Yu Wi mendekatinya dan memanggil.
"Lotiang, Lotiang (pak tua)!"
Mendadak kakek itu bangun berduduk, dengan napas terengah ia bertanya.
"Sia... siapa kau?"
"Namaku Yu Wi, kudatang kemari untuk mencari seorang tabib sakti she Su, entah dia tinggal di mana, apakah Lotiang tahu?"
Si kakek memandang Ko Bo-ya dalam pondongan Yu Wi, tanyanya.
"Budak inikah yang perlu disembuhkan Su Put-ku?"
"Betul, jika Lotiang tahu jalannya, mohon sudi memberi petunjuk,"
Jawab Yu Wi. Si kakek menggeleng, katanya.
"Jangan mencari dia, percuma! sakitku separah ini dan ingin minta pertolongan padanya, siapa tahu setelah bertemu, meski sudah tiga hari kumohon dengan sangat tetap dia tidak mau memberi obat, dan sekarang aku sudah hampir mati."
"Tapi nona yang kubawa ini kenal dia, kuyakin dia pasti mau mengobatinya,"
Cepat Yu Wi menjelaskan.
"setelah nona itu sembuh, tentu kami akan memohon kepadanya agar beliau juga suka mengobati Lotiang, kukira hal ini tidak menjadi soal."
Kakek itu menyengir, ucapnya.
"Ai, jangan berpikir seperti anak kecil Biarpun nona dalam pangkuanmu itu adalah adik perempuannya juga takkan diobatinya, sebab waktu ku desak dia, pernah dia menyatakan biarpun ayah-ibu sendiri juga takkan diobatinya."
"Tjdak, tidak mungkin!"
Seru Yu Wi dengan gelisah.
"Tolong Lotiang memberitahukan di mana tempat tinggal Su Put-ku itu, aku harus mendapatkan dia dalam waktu singkat, kalau tidak nona yang kubawa ini akan mati dalam waktu singkat ini."
I Kakek itu terbatuk-batuk beberapa kali, lalu menggeleng dan berkata pula.
"Jika dia mau menolong nona dalam pangkuanmu ini, tentu dia takkan berjuluk Su-put-kiu!"
Sungguh tidak kepalang cemas Yu Wi, hampir saja ia berlutut dan memohon kepada kakek itu, pintanya pula dengan setengah meratap.
"Lotiang, kumohon dengan sangat sudilah engkau memberitahukan kepadaku di mana tempat tinggalnya, tidak perlu urus apakah dia mau mengobati nona ini atau tidak, pokoknya asalkan dapat kutemukan dia, kelak apapun yang kau minta agar kukerjakan bagimu pasti akan kulaksanakan."
Agaknya tergerak juga hati si kakek, sambil menahan rintihannya ia mengamat-amati Yu Wi sejenak, ia mengangguk, lalu tersenyum dan berkata "Coba kau duduk di sini."
Demi mendapatkan alamat Su Put-ku, terpaksa Yu Wi harus bersabar dan berduduk, ia baringkan Ko Bok-ya di samping, Karena sekarang duduknya berdekatan, Dapatlah Yu Wi melihat lengan baju kanan si kakek melambai tertiup angin, jelas di dalam baju itu tidak ada lengannya, diam-diam Yu Wi membatin.
"Ah, kiranya dia seorang cacat, sungguh kasihan!"
Kakek itupun duduk bersila, ia mengerahkan tenaga sebisanya, rintihannya mulai berhenti, semangatnya juga tambah baik.
Yu Wi diam saja, dengan sabar ia menunggu, terkadang iapun memandang Bok-ya, melihat keadaan nona itu bertambah segar, diam-diam ia berdoa semoga Thian memberkahinya, Sejenak kemudian mendadak si kakek bertanya.
"Sebelum ini pernah kau belajar ilmu silat tidak? "Pernah,"
Jawab Yu Wi.
"Jika begitu, coba kau mainkan sejurus ilmu pedangmu,"
Pinta si kakek.
Yu Wi menjadi ragu, mana dia ada hasrat untuk main pedang segala, kalau bisa ia justeru ingin segera pergi mencari Su Put-ku.
Karena pikiran mi, air mukanya lantas memperlihatkan rasa tidak senang, Dengan tertawa si kakek lantas bertanya pula.
"Apakah perempuan ini isterimu?"
Belum lagi Yu Wi menjawab, tiba-tiba si kakek menyambung lagi.
"Tapi jangan kau kuatir, berdiamlah sebentar di sini, kuyakin akan besar manfaatnya bagi mu, kemudian akan kuberitahukan tempat tinggal Su Put-ku. Kalau tidak, biarpun sepuluh hari, juga takkan kau temukan dia bilamana kau cari secara ngawur."
Karena tiada jalan lain, terpaksa Yu Wi berdiri dengan ogah-ogahan, ia melolos pedang kayunya, dimainkannya ilmu pedang ciptaan KanYok-koan itu sekadarnya. Si kakek menghela napas, ucapnya.
"llmu pedangmu memang lumayan, cuma sayang sama sekali tidak bertenaga, juga belum apal tampaknya."
Ilmu pedang itu memang cuma dibaca oleh Yu Wi dari kitab pemberian Ji Pek-liong tempo hari, baru sekarang ia memainkannya untuk pertama kali, karena tujuannya ingin mengecewakan si kakek agar tidak tertahan lebih lama di sini, maka cara memainkannya juga acak-acakan.
Benar juga, si kakek tampak kecewa, ia berkata pula sambil mengulapkan tangan.
"Baiklah, boleh kau pergi saja, tidak perlu merepotkan aku!"
Cepat Yu Wi bertanya.
"Tapi di mana tempat tinggal Su Put-ku, mohon Lotiang sudi memberitahu."
"Aku tidak tahu,"
Jawab si kakek dengan gusar. Karena cemas, Yu Wi menjadi gusar juga, damperatnya.
"Omong kosong! jadi kau dusta padaku?!"
"Kau sendiri yang dusta padaku lebih dulu, dengan sendirinya akupun dusta padamu,"
Jengek si kakek, Sedapatnya Yu Wi menahan rasa gusarnya, tanyanya.
"Bilakah pernah kudustai kau?"
"Hm, kau kira aku sudah tua, sudah pikun dan lamur?"
Jengek si kakek.
"Bahwa kau dapat memainkan ilmu pedang sebagus itu, tapi sedikitpun tidak bertenaga, memangnya kau kira aku mudah kau tipu?"
Yu Wi menghela napas lega,. ucapnya dengan gegetun.
"O, kiranya soal ini. Tampaknya Lotiang telah salah paham, Soalnya aku telah mengisap "Sin-sian-to", dupa bius ini telah memunahkan tenagaku."
"Oo?"
Si kakek bersuara heran.
"Bilakah kau mengisap dupa Sin-sian-to?"
"Delapan hari yang lalu,"
Jawab Yu Wi.
"Ehm, betul jika begitu,"
Ujar si kakek sambil manggut-manggut "Kabarnya bila Sin-sian-to terisap, selama 13 hari tak dapat bergerak, hanya dalam delapan hari saja kau sudah dapat berjalan, mungkin karena Lwekangmu sangat kuat."
"Sejak kecil Wanpwe sudah belajar Ku sit-tay-kang dengan mendiang ayahku,"
Tutur Yu Wi.
"Ku-sit-tay-kang?"
Si kakek menegas dengan terkejut "Jika begitu, jadi kau ini putera Ciangkiam-hui Yu Bun-hu?"
"Ya, mendiang ayahku memang betul Yu Bun hu,"
Yu Wi mengangguk. Air muka si kakek tampak tenang kembali, katanya.
"Sungguh bagus jika demikian, Karena kau pemah belajar Ku-sit-tay-kang, kau memenuhi syarat untuk belajar satu jurus ilmu pedangku. jurus ilmu pedang ini sangat sulit dipahami, kuharap dalam satu hari harus kau kuasai dengan baik. Mendadak air mukanya berubah pucat pula, keringat dingin juga memenuhi dahinya, ia merintih pula beberapa kali, sekuatnya ia berusaha menahan rasa sakitnya. Cepat Yu Wi memburu maju untuk memayang tubuhnya yang berduduk saja hampir tidak kuat lagi, dengan perasaan tidak enak ia tanya.
"Kenapakah kau, Lotiang?"
Si kakek mendorong Yu Wi ke pinggir, lalu berteriak.
"Dalam satu hari harus kau kuasai ilmu pedang yang kuajarkan padamu ini."
"Lotiang,"
Seru Yu Wi.
"hendaknya lebih dulu kau katakan tempat tinggal Su Put-ku, setelah ku antar nona ini ke sana, segera ku balik lagi"
Ke sini untuk belajar ilmu pedang pada Lotiang."
"Tidak, tidak boleh!"
Jawab si kakek tegas.
"Setelah kau belajar ilmu pedangku ini baru kuberitahukan padamu."
Segera Yu Wi memondong Bok-ya, dengan sedih ia berkata.
"Baiklah, tidak apalah biarpun tidak kaukatakan tempat tinggal Su Put-ku, akan kucari dia secara untung-untungan, jika tidak bertemu dan nona ini tak dapat ditolong, biarlah ku mati bersama dia, di dunia ini rasanya juga tiada sesuatu yang kuberatkan lagi..."
Habis berkata segera ia melangkah keluar gua.
"He, nanti dulu!"
Seru si kakek.
"Kembalilah dan kita rundingkan lagi."
Yu Wi berhenti langkahnya, tapi tidak kembali ke sana. Si kakek menghela napas, katanya.
"Jika lebih dulu kuberitahukan alamat Su Put-ku, sesudah kau pergi ke sana, bukan mustahil dia takkan mengobati si nona atau tidak mampu menolongnya lagi, hal itu tentu akan membikin kau sangat berduka, dalam keadaan begitu mana ada hasratmu untuk datang lagi ke sini untuk belajar padaku? Sebab itulah kuminta kau belajar ilmu pedangku lebih dulu, jadi sama sekali bukannya aku tidak memikirkan keselamatan orang..."
"Tapi sebelum dia disembuhkan, jelas akupun tidak bersemangat belajar ilmu pedang segala."
Kata Yu Wi.
"Biarpun begitu, tetap lebih baik kau belajar ilmu pedang lebih dulu, apalagi..."
Dalam hati ia yakin Su Put-ku pasti tidak mau menolongnya, maka ia pikir biarpun nona ini diantar ke sana juga tiada gunanya, sebab itu pula ia berkeras menyuruh Yu Wi belajar ilmu pedangnya lebih dulu, soal nona itu diantar ke tempat Su Put-ku atau tidak kan tidak ada bedanya."
Tapi Yu Wi sudah tidak sabar lagi, sebelum habis ucapan si kakek segera ia melangkah pergi.
Tapi baru saja beberapa langkah, mendadak didengarnya si kakek menjerit, suaranya sangat memilukan kalau tidak luar biasa sakitnya tidak nanti bersuara demikian.
Mau-tak-mau Yu Wi berpaling, dilihatnya si kakek rebah di atas tanah, Dasar jiwanya memang berbudi luhur, cepat ia berlari balik ke dalam gua, Bok-ya diturunkan, cepat ia membangunkan si kakek sambil berseru.
"Lotiang... Lotiang!.."
Muka si kakek tampak pucat seperti kertas, sekujur badan basah kuyup oleh air keringat, giginya menggreget hingga gemertuk, sampai sekian lama barulah ia siuman kembali, ucapnya dengan lemah.
"Apalagi... apalagi jiwaku hanya... hanya tinggal satu hari ini saja..."
Baru habis dia menyambung ucapannya tadi, seketika timbul rasa simpatik Yu Wi, baru sekarang dia tahu sebabnya si kakek berkeras menyuruhnya menguasai ilmu pedangnya dalam satu hari adalah karena jiwanya sukar dipertahankan lebih lama lagi, ia pikir biarlah ku tinggal satu hari di sini, kalau tidak, andaikan kucari Su Put-ku secara ngawur juga belum tentu bisa bertemu, maka dengan suara lembut ia lantas berkata.
"Lotiang, dalam satu hari ini Yu Wi akan berusaha belajar dan memahami satu jurus ilmu pedangmu itu dengan sepenuh tenaga."
Si kakek menggeleng, katanya.
"Untuk memahami dengan baik kukira tidak mungkin terjadi, kuharap asalkan dapat kau ingat dengan baik cukuplah, sekarang dengarkan uraianku, jurus ilmu pedang ini bernama Tay-gu-kiam."
Sembari mendengarkan kuliah si kakek diam-diam Yu Wi berdoa semoga Thian memberkati panjang umur satu hari lagi bagi Ko Bok-ya, apabila nanti Su Put-ku dapat ditemukan, rasanya si nona pasti dapat disembuhkan.
Satu jurus ilmu pedang yang bernama Tay-gu-kiam atau pedang maha bodoh itu ternyata sangat sukar dipahami, si kakek hanya dapat menguraikan dengan mulut dan tak dapat memberi contoh dengan gerak tangan, sukar bagi Yu Wi untuk menangkapnya, setelah beberapa jam kemudian hanya dapat dikuasai gambaran sekadarnya.
Namun sedikitpun si kakek tidak mau membuang waktu percuma, segera ia minta Yu Wi memainkannya, kalau ada yang kurang tepat langsung diberinya petunjuk, Yu Wi diharuskan mengingatnya dengan baik letak kelihaiannya.
Supaya dapat menguasainya dengan cepat, Yu Wi juga belajar dengan sungguh-sungguh, sampai esok paginya barulah setiap gerak perubahan yang paling kecil dapat diingat dengan baik oleh Yu Wi.
Dilihatnya keadaan Ko Bok-ya masih serupa kemarin, rada legalah hatinya, ia pikir mungkin racun biru hantu itu tidak pasti bekerja dalam waktu 15 hari, ia tidak tahu bahwa tempo hari Ko Bok-ya telah banyak makan obat kuat sehingga bekerjanya racun dapat ditahan, kalau tidak tentu saat ini si nona sudah mati.
Setelah berhasil mengajarkan Tay-gu-kiam kepada Yu Wi, keadaan penyakit si kakek bertambah payah, sampai bicara saja tidak dapat keras lagi, Yu Wi harus menempelkan telinganya ke mulut orang baru dapat mendengar jelas apa yang dikatakannya.
Didengarnya suara si kakek yang lirih seperti bunyi nyamuk itu lagi berkata.
"Kini Tay-gu-kiam sudah dapat kau pahami, asalkan kau latih cukup giat, daya serang jurus pedang ini pasti dapat kau kuasai dengan baik, sekarang harus kuberitahukan tempat tinggal Su Put-ku...."
Terbangkit semangat Yu Wi, ia pasang kuping dan mendengarkan dengan cermat Si kakek berhenti sejenak, lalu berkata pula.
"Tentunya kau masih ingat ucapanku kemarin bahwa setelah kuberitahu tempat tinggal Su Put ku, kelak kau harus melakukan sesuatu pekerjaan bagiku?"
Yu Wi mengangguk, ucapnya.
"Ya, asalkan Lotiang memberi pesan, tentu akan Wanpwe laksanakan dengan baik."
Setelah menghela napas, si kakek berkata.
"Sekarang kuberitahukan dulu tempat tinggal Su Put-ku, yaitu di suatu puncak kecil yang terletak 30 li di sebelah tenggara, jika kalian mendaki dari sini lurus ke sana tentu akan dapat ditemukan."
"Dan entah pekerjaan apa yang Lotiang minta kulaksanakan?"
Tanya Yu Wi.
Si kakek tampak membuka mulut, tapi sukar lagi mengucapkan sesuatu, Yu Wi menjadi kuatir kalau orang terus mati begitu saja, jika dirinya tak dapat memenuhi kehendak si orang tua, hal ini tentu akan membuatnya menyesal selama hidup.
Sampai sekian lama si kakek meronta dan tetap tak dapat bersuara ia berbaring dalam pangkuan Yu Wi, keadaannya sudah kembang-kempis.
Yu Wi sendiri belum pulih tenaga dalamnya sehingga tidak dapat memberi bantuan, terpaksa ia hanya menyaksikan orang menderita, Tiba-tiba didengarnya ruas tulang seluruh badan si kakek berbunyi keriat-keriut, hanya sebentar saja tubuhnya telah meringkuk lemas, berduduk saja tidak sanggup lagi.
Tapi pada saat demikian si kakek sempat bersuara terputus putus.
"Pergi ke... ke Mo.... siau.. hong..... pada hari.... Tiongcu "
Mendadak napasnya berhenti, matanya mendelik, matilah orang tua itu dalam keadaan yang menyeramkan. Melihat kematian si kakek yang mengenaskan itu Yu Wi teringat kepada istilah "Soa-kang"
Dalam ilmu silat, yaitu pembuyaran kungfu, hal ini disebabkan kegagalan berlatih Lwekang, Mungkin akibat salah berlatih Lwekang itu, maka si kakek mencari Su Put-ku untuk minta tolong, tapi Su Put-ku tidak mau menolongnya, akhirnya si kakek mati tersiksa karena pergolakan tenaga dalam yang hendak buyar itu.
Tiba-tiba teringat olehnya pesan terakhir si kakek, setelah dirangkai ucapan yang terputusputus itu, tanpa terasa ia berseru.
"He, dia menyuruhku pergi ke Mo-siau-hong pada hari Tiongciu ...."
Serentak Yu Wi dapat menerka siapakah gerangan si kakek ini serta maksud tujuannya mengajarkan satu jurus ilmu pedang sakti itu. Dengan tersenyum getir ia angkat jenazah kakek itu dan bergumam.
"Tidak kau ketahui bahwa lawan yang harus kuhadapi dengan ilmu pedang ajaranmu ini ialah diriku sendiri?..."
Dengan sedih ia mengubur si kakek buntung tangan itu di dalam gua karang, ia tidak lagi memikirkan urusan hari Tiongciu tahun depan, segera ia pondong Ko Bok-ya dan berlari sekuatnya menuju ke arah tenggara menurut petunjuk si kakek tadi.
Satu-satunya urusan yang terpikir olehnya sekarang hanya keselamatan Ko Bok-ya.
-oo0oo--ooo--ooOoo-Di dataran puncak kecil yang terletak 30 li jauhnya itu terdapat sebuah rumah bambu, dipandang dari jauh rumah sekecil ini tidak mudah ditemukan.
Setiba di bawah puncak itu, Yu Wi sudah mandi keringat dan napas terengah-engah, tanpa berhenti langsung ia mendaki ke atas puncak.
Rumah bambu itu dibangun terpencil di atas puncak itu, di sekelilingnya kecuali batu padas belaka tiada sesuatu tumbuhan apapun, Seorang mengasingkan diri di tempat tandus begini, betapa eksentrik wataknya dapatlah dibayangkan.
Yu Wi memondong Ko Bok-ya ke depan rumah bambu itu, suasana sunyi senyap seolah-olah di tempat ini sama sekali tiada makhluk hidup.
Diam-diam ia merasa ragu dan cemas, ia pikir janganjangan Su Put-ku lagi keluar rumah.
Pintu rumah bambu tertutup rapat, tapi tidak digembok.
Di samping pintu ada sebuah papan kecil dengan tulisan.
"Tidak terima tamu". Namun Yu Wi tidak perdulikan papan pengumuman itu, ia pikir pintu tidak digembok, Su Putku tentu berada di rumah, dengan suara hormat segera ia berteriak.
"Wanpwe Yu Wi mohon bertemu dengan Su-cianpwe!"
Sampai sekian lama tidak ada suara jawaban ?
Yu Wi lantas mengulangi teriakannya, Tetap tidak ada jawaban, mau-tak-mau Yu Wi tambah cemas dan gelisah, ia ingin menerjang ke dalam rumah, tapi kuatir menimbulkan marah tuan rumahnya terpaksa ia tunggu sejenak, lalu berteriak pula.
"Wanpwe Yu Wi mohon bertemu dengan Su-cianpwe!"
Sedikitnya sembilan kali ia menggembor barulah dari dalam rumah ada orang meraung gusar.
"Orang buta! Apakah tidak kau lihat papan pengumuman di samping situ?"
Cepat Yu Wi menanggapi "Wanpwe sudah membacanya, tapi..."
"Tidak ada tapi apa segala, kalau sudah membacanya, kenapa tidak lekas enyah?"
Seru orang di dalam rumah.
"Wanpwe membawa seorang sakit, sangat parah dan setiap saat bisa meninggal..."
"Syukur kalau mati, perduli apa dengan diriku!"
Jengek orang itu. Diam-diam Yu Wi jadi mendongkol segera ia berteriak.
"Cianpwe ini manusia atau bukan?"
"Sudah tentu manusia,"
Jawab, orang di dalam rumah dengan tertawa.
"Hahaha, bahkan manusia yang sangat baik..."
"Kalau Cianpwe mengaku manusia baik, mohon sudilah menyelamatkan jiwa kawanku ini!"
Tukas Yu Wi. Mendadak orang di dalam rumah tidak bersuara pula. Seruan Yu Wi tambah gelisah, berulang-ulang ia memanggil.
"Cianpwe!... Cianpwe!"
"Biarpun kau panggil seribu kali juga tiada gunanya,"
Tiba-tiba orang di dalam rumah meraung pula.
"Meski orang she Su ini manusia baik, tapi sudah bersumpah takkan menolong jiwa orang, Maka lebih baik kau berusaha mencari jalan lain saja dan jangan membuang waktu percuma di sini."
"Bahwa cianpwe tidak menolong jiwa orang, di dunia Kangouw terkenal berjuluk Su-put-kiu, hal ini Wanpwe sudah tahu,"
Seru Yu Wi.
"Tapi kawanku ini asalkan cianpwe mau keluar melihatnya, kuyakin engkau pasti akan menolongnya."
Orang di dalam rumah tertawa dan berkata pula.
"Jujur juga kau ini, orang she Su sendiri belum lagi mengetahui orang Kangouw memberi julukan Su-put-kiu padaku, Haha, Su-put-kiu, Su Put-ku! Poyokan ini memang tepat!"
"Dan sudikah cianpwe keluar memeriksa kawanku ini?"
Pinta Yu Wi pula.
"Di dunia ini hanya ada satu orang yang pasti akan kutolong dia,"
Kata Su Put-ku.
"Apabila orang yang kumaksudkan itu adalah kawanmu, tentu akan kutolong dia..."
"Ya, kuyakin kawanku ini pasti orang yang akan cianpwe tolong itu!"
Seru Yu Wi cepat dan girang.
"Keriat", pintu bambu terbuka dan muncul seorang lelaki setengah umur dengan wajah bersih dan berjubah merah, Dengan tertawa ia bertanya.
"Di mana orang yang kau maksudkan?"
Yu Wi memondong Bok-ya ke depan Su Put-ku dan berkata.
"Cianpwe, pasti inilah orang yang dapat kau tolong."
Setelah melihat jelas siapa dalam pangkuan Yu Wi itu, Su Put-ku menggeleng dan berkata.
"Tidak, orang ini tidak kutolong!"
"Mengapa?"
Yu Wi terkejut. Mendadak Su Put-ku menatap wajah Yu Wi tajam-tajam, selang sejenak, katanya dengan berkerut kening.
"Apabila Ko-siocia ini datang pada 20 hari yang lalu tentu akan ku tolong dia, tapi sekarang tidak dapat ku tolong dia, boleh kau bawa pergi saja."
"Sebab apa? Sebab apa?..."
Teriak Yu Wi dengan cemas.
"Sebab 20 hari yang lalu dia sudah pernah datang satu kali dan memohon pertolonganku?"
Tutur Su Put-ku.
"aku sendiri juga pernah berjanji di depan gurunya bahwa aku akan menolong dia satu kali, sekarang janjiku itu sudah terlaksana, dengan sendirinya takkan ku tolong dia untuk kedua kalinya."
Dengan menyesal Yu Wi menutur.
"Tapi permohonan pertolongannya tempo hari bukan untuk dia sendiri melainkan bagi seorang yang tak dikenalnya orang tak dikenal itu bukan sanakkadang..."
"Dan orang tak dikenalnya itu ialah dirimu, bukan?"
Tanya Su Put-ku mendadak. Yu Wi mengangguk, sambungnya.
"Demi menyelamatkan orang yang tak dikenalnya itu, jauhjauh dia datang kemari untuk memohon satu biji pil mujarab padamu, cianpwe sendiri sudah kenal baik padanya, juga kenal gurunya, masa engkau tidak sudi melakukan kebaikan yang dapat kaukerjakan dengan sangat mudah."
"Hm, dia urusan dia, aku urusanku, tidak perlu kau pancing diriku,"
Jengek Su Put-ku.
"Kalau ku tolong dia, tentu orang Kangouw takkan menjuluki diriku Su-put-kiu. Hm, Su-put-kiu, matipun tak ditolong, maka biarkan saja dia mati, salah dia sendiri, perduli apa dengan diriku?"
"Apa katamu?"
Yu Wi menegas dengan murka "Kubilang salah dia sendiri,"
Jawab Su Put-ku dengan tak acuh.
"dia telah menyelamatkan jiwamu, akibatnya kehilangan satu-satunya kesempatan menolong jiwanya sendiri, Su-put-kiu, matipun tak di tolong, setelah kehilangan kesempatan baik, biarpun dia mati di depanku juga takkan ku tolong dia!"
"Jadi maksudmu, seharusnya dia tidak menolong diriku, begitu?"
Tanya Yu Wi dengan gusar.
"Betul, kalau dia tidak menolong kau, tentu sekarang ku tolong dia!"
"Jika begitu, lekas kau bunuh diriku, hal ini sama seperti dia tidak pernah menyelamatkan jiwaku, Biarlah ku tukar dengan jiwanya, boleh tidak?"
Tanya Yu Wi dengan tersenyum pedih. Su Put-ku menggeleng, jawabnya.
"Tidak, mana boleh jadi! Setelah dia menolong kau, sekarang biarpun kau mati seribu kali juga tak dapat menarik kembali kesempatan satu satunya untuk mendapat pertolonganku Nah, lekas kau pergi saja, jangan mengganggu lagi diriku,"
Habis berkata ia terus putar tubuh dan melangkah pelahan ke rumah bambu itu.
"Berhenti!"
Bentak Yu Wi dengan murka.
"Hm, kau berani bersikap segarang ini padaku?"
Jengek Su Put-ku.
"Pendek kata, jika kau tidak menolong dia, biarlah ku adu jiwa dengan kau!"
Teriak Yu Wi.
"Bocah she Yu, jadi kau ingin main kekerasan denganku?"
Tanya Su Put-ku sambil membalik tubuh. Dengan sikap bandel Yu Wi berkata.
"Jika cianpwe tidak menolong dia, bisa jadi terpaksa, harus kulabrak dirimu, Kecuali engkau menolong jiwanya, untuk itu selama hidup Yu Wi akan sangat berterima kasih, bahkan akan tunduk kepada segala perintahmu."
"Berterima kasih selama hidup! Berterima kasih selama hidup!? Hahahaha!"
Ku Put ku mengulang ucapan Yu Wi dengan terbahak-bahak, mendadak wajahnya berubah gusar, damperatnya.
"Huh, terima kasih selama hidup apa? Hakikatnya omong kosong belaka!"
"Bila cianpwe menolong jiwanya, Yu Wi pasti berterima kasih selama hidup, masa kau anggap omong kosong belaka?"
"Hm, kau kira aku akan percaya?"
Jengek Si Put-ku.
"Sesudah aku tertipu satu kali oleh ayahmu, kau kira aku akan percaya pula kepada janjimu tentang terima kasih selama hidup segala? Had omong kosong, hanya menipu saja...."
"Jadi cianpwe kenal mendiang ayahku?"
Yu Wi menegas dengan ragu, diam-diam ia membatin dari nada ucapan orang, agaknya ayah pernah berjanji akan berterima kasih selama hidup padanya. Tiba-tiba Su Put-ku bertanya.
"Jadi Yu Bun-hu sudah mati?"
"Ayah sudah meninggal 12 tahun lamanya,"
Tutur Yu Wi dengan menyesal.
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 3
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 2