Eps 9 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan, dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan diapun mulai terdesak hebat.
sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup, Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup ..
suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-BAB 61 LEMBAH kematian-suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut dalam keadaan hidup, Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang tersohor karena angkernya itu.
Kontan bulu kuduknya pada bangun berdiri dan peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya tapi setelah ditunggunya beberapa saat tanpa terjadi sesuatu perubahan, dari kejut dan cemasnya kini berobah jadi heran dan tak habis mengerti.
Dua orang jago dari Thian che kau itu terhitung jago2 tangguh dalam perkumpulannya, mereka tidak pernah pandang sebelah mata atas musuhnya namun berada diwilayah angker ternyata kedua orang itu tak berani banyak berkutik.
Selang sesaat kemudian, See-bun Lui baru berkata kepada rekannya dengan suara lirih.
"Saudara Nyoo, aku rasa kejadian ini sangat aneh dan sangat mencurigakan hati!"
"Apanya yang mencurigakan?"
Seru Nyoo Yong yang berjulukan hakim pengejar sukma.
"Coba kau lihat, bajingan muda itu telah menyeberangi perbatasan antara mati dan hidup, namun ia tetap sehat wal'afiat, sedikit pun tidak apa apa."
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini hanya berita kosong belaka?"
See-bun Lui garuk2 kepalanya yang tidak gatal lama sekali dia berpikir kemudian baru berkata.
"Saudara Nyoo andakata kita menarik diri dan mengundurkan diri dari wilayah ini apakah tindakan tersebut bisa dianggap suatu pembangkangan terhadap perintah?"
"Tentang soal ini tentu saja!"
"Jadi kalau begitu terpaksa kita harus berkejaran terus dengan bajingan itu?"
"Aku rasa memang itulah yang bisa kita lakukan sekarang selain itu kita toh bisa minta petunjuk dari kaucu!"
See bun Lui mengangguk ia lantas memanggil dua orang laki2 baju hitam dan membisikkan sesuatu kepada mereka dua orang laki-laki tersebut segera mengiakan dan berlalu dari lembah tersebut.
Han Siong Kie yang berada di dalam wilayah lembah kematian dapat mengikuti gerak gerik mereka dengan amat jelas dia tahu bahwa orang-orang itu tak berani memasuki lembah kematian bahkan mungkin sekali mereka sedang mengundang kehadiran Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?"
Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?"
Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma berseru dengan suara dalam.
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh-musuhnya tak berani menyeberangi wilayah angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana.
Maka sambil tertawa dingin, ejeknya.
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun Lui, mereka ingin mencoba untuk menyerbu ke depan tapi ketika sinar matanya terbentur dengan tulisan PERBATASAN MATI DAN HIDUP "
Yang tertera di tepi jalan serta kerangka manusia yang berserakan di mana-mana, hati mereka jadi bergidik dan keberaniaannya jadi buyar kembali.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han Siong Kie, pikirnya ."
Kedatanganku kemari toh hanya ingin menyelidiki rahasia yang tersimpan dalam lembah kematian? Apa gunanya ribut2 terus dengan mereka ..? Maka serunya kemudian dengan suara dingin .
"Saudara berdua kalau toh kalian tak berani datang kemari, maaf kalau aku tak dapat menemani kalian lebih lama lagi bila ingin bertarung kesempatan dikemudian hari masih banyak !"
Habis berkata dia lantas putar badan dan berjalan masuk kedalam Lembab kematian dengan langkah lebar.
Selang sesaat kemudian ia sudah berada di tengah-tengah lembah itu namun tiada kejadian aneh yang menimpa dirinya, sekalipun rasa tegang sudah jauh mengendur, namun perasaan ingin tahu yang berkobar dalam hatinya makin menjadi.
"Heeey bocah keparat. jangan pergi !"
Serentetan bentakan nyaring bergema memecahkan kesunyian.
Mendengar seruan tersebut, Han Siong Kie berhenti dan segera berpaling, hawa murninya disiapkan dalam tangan untuk menghadapi segala kemungkinan.
Nyoo Yong, Hakim pengejar sukma telah memburu masuk kedalam wilayah lembah kematian, ketika dilihatnya pihak musuh dapat memasuki daerah angker itu tanpa cedera timbullah keinginan untuk berspekulasi siapa tahu kalau diapun beruntung bisa lolos dari wilayah angker itu dalam keadaan selamat?
Dalam dua kali lompatan, Nyoo Yong Hakim pengejar sukma sudah berada kurang lebih sepuluh kaki dibelakang sianak muda itu.
Akan tetapi ketika Hakim pengejar sukma sedang melambung kedepan untuk ketiga kalinya...
Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggelegar di angkasa dan memecahkan kesunyian yang mencekam sekitar tempat itu.
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah.
la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan kematian jago lihay itu Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata-rata mereka berdiri tertegun dengan sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip.
sementara pikirannya melayang entah sampai dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih, hatinya terasa makin bergidik, Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun-.apa yang telah terjadi?"
Sekilas pandangan dua orang jago itu bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar-benar hitam mengkilap seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
Sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih.
suatu perbedaan warna yang amat kontras sekali.
Mungkinkah mereka adalah manusia biasa ?
Atau mungkin mereka adalah sebangsa siluman, manusia jadi-jadian yang sering dijumpai dalam tempat terpencil ?
Terbayang akan setan tanpa terasa Han Siong Kie bergidik bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri.
Lama ..., lama sekali "
Dua orang makhluk aneh itu masih belum menunjukkan reaksi apa-apa.
Mungkinkah mereka adalah dua sosok mayat hidup ?
Ataukah cuma sepasang patung arca belaka ?
Lembah kematian yang pada hakekatnya memang mengerikan, kini terasa lebih mengerikan lagi dengan munculnya dua sosok makhluk aneh itu.
-ooo00dw00ooo-
Jilid 30 AKHIRNYA sesudah ragu2 sebentar Han siong Ki melangkah maju kedepan mendekati dua orang mahluk aneh itu sepasang telapak tangannya disilangkan kedepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan ia kuatir dua orang mahluk aneh itu tiba tiba menyergap ketubuhnya.
Ketika ia sudah berada kurang lebih tiga kaki dihadapan mahluk aneh itu mendadak Han Siong Ki merasakan munculnya selapis tenaga tekanan yang amat kuat menghadang jalan majunya.
Sekarang sianak muda itu baru terperanjat dari kenyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua orang mahluk aneh itu memiliki hawa khikang pelindung badan yang bisa memaksa orang lain tak mampu mendekati tubuh mereka pada jarak tiga kaki dari sini dapat diketahui pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki makhluk aneh itu sudah mencapai puncak yang tidak terhingga.
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka kemudian membuka matanya.
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam, keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis saiju.
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian ..?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan Han Siong Kie seraya berkata.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2 suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan"
Untuk kedua kalinya sepasang makhluk aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak berkedip.
banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan.
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"
Jawab siluman putih dengan hormat. sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan.
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai majikan?"
Tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar"
Sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar"
Untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?"
"Seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?"
Tanya siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian menjawab.
"Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas tibanya kejadian besar ini"
Sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka sebelum akhirnya mengambil keputusan.
Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya.
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.."
Sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun berselang.
kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar dari lembah kematian atau tidak.
kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? "
Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian bangkit berdiri Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu.
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan. Lama sekali siluman putih baru menjawab.
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?"
Seru Han siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya.
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?"
Tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang. Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab.
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami"
Berubah hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya.
"jadi kalau begitu kalian adalah anak murid dari benteng maut ?"
"Ooob ..bukan ..bukan"
Cepat2 kedua orang siluman itu gelengkan kepalanya berulang kali kami bukan anak muridnya, kami tak pernah mengangkat beliau sebagai! guru kami ""Bukan ?"
"Bukan sebab ilmu silat yang diajarkan kepada kami adalah beberapa macam llmu silat yang sudah lama lenyap dari peredadaran dunia persilatan dan kepandaian silat tersebut sama sekali bukan ilmu silat aliran benteng maut "
Han Siong Kie tercenung beberapa saat lamanya, kemudian dengan wajah serius dan suara berat katanya .
"Terus terang kukatakan kepada kalian bahwa aku sebenarnya mempunyai ikatan dendam sedalam samudera dengan pemilik benteng maut itu"
"Aaah! Tidak mungkin hal ini tak mungkin bisa terjadi"
Sahut sepasang siluman itu sambil berseru kaget. Terperanjat hati Han Siong Kie setelah mendengar seruan itu katanya dengan cepat "Kenapa tidak mungkin?"
"Tahun inii beliau sudah berusia seratus tahun lebih bahkan sudah lima puluh tahun lamarya mengundurkan diri dari keramaian dunia sebaliknya majikan paling banter baru berusia dua puluh tahunan darimana dendam2 sakit hati ini bisa terikat .
"Sudah lima puluh tahun lamanya pemilik benteng maut mengasingkan diri?"
Han siong Kie menegaskan.
"Benar!"
"Darimana engkau bisa tahu ?"
"Sebab beliau sendiripun berdiam didalam lembah ini!"
Secara beruntun Han Siong Kie mundur tiga langkah kebelakaog dengan hati terkesiap dan perasaan heran serunya.
"Apa? jadi pemilik benteng maut juga berrada didalam lembah kematian ini?"
"Benar"
Sepasang siluman hitam putih membenarkan ' "boleh dibilang beliau adalah pemilik dari lembah kematian "
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian.
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
Siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah serius.
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk.
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu.
sementara siluman hitam mengiringi di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk lebih dulu katanya.
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini"
Sambil menuding kearah batu karang disebelah kiri lanjutnya.
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya tak pernah munculkan diri" 0000dw0000 BAB 62 MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa. Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah goa yang agak kecil. sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air bersih katanya dengan wajah bersungguh2.
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap.
dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya.
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut.
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya engkau tidak keberatan bukan?"
Siluman putih mengangguk.
"Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya.
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan, setiap orang jeri dan ketakutan bila bertema dengan mereka, dalam waktu singkat banyak pembunuhan masal telah dilakukan oleh mereka, dia menduga kisah cerita ini pastilah mengerikan.
Maka seraya mengangguk sahutnya.
"Berceritalah"
Suatu perasaan sedih dan gusar memancar keluar dari balik mata siluman hitam, kulit wajahnya yang hitam seperti habgus berkerut kencang, ini menunjukkan bahwa hati nya diliputi emosi.
Lama sekali pergolakan hatinya itu baru bisa diatasi, katanya dengan suara rendah .
"Kurang lebih enam puluh tahun berselang dalam dunia persilatan telah muncul sebuah perguruan baru yang dinamakan perguruan Thian it bun, ketuanya adalah Kiu thiau it sian (elang sakti dari langit sembilan ) Ki Goan thong. Ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat tinggi dan pengaruhnya amat luas. begitu luar biasanya kemampuan yang dimiliki orang ini membuat para ketua perguruan yang ada pada waktu itu sama2 kagum dan iri kepadanya. Ki Goan thong belum menikah tapi dia menerima sepasang laki perempueu sebagai muridnya, menurut maksud hatinya semata"
Berbicara sampai disini, mendadak siluman hitam berhenti sebentar dan melirik sekejap kearah siluman putih Melihat lirikan itu siluman putih segera tundukkan kepalanya rendah2 Selang sesaat kemudian, siluman hitam meneruskan kembeli kata2 nya .
"Pada mulanya Ki Goan thong bermaksud untuk menikahkan kedua orang ahli warisnya ini menjadi suami istri, kemudian baru menerima warisan seluruh ilmu silatnya"
Han siong Kie mengangguk tiada henti2nya secara lapat2 dia telah dapat menduga siapakah sepasang laki perempuan yang sedang diceritakan itu.
Sesudah berhenti sebentar, siluman hitam meneruskan kembali kisahnya.
"Pada waktu itu sepasang laki perempuan itu baru berusia enam tujuh belas tahunan tetapi ilmu silat yang mereka miliki telah mencapai pada puncak kesempurnaan tentu saja dalam hati kecilnya merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan sepasang Bak ci "
"Bak ci?"
Seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh.
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
"Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
Sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay dan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya, tapi lama kelamaan sendiripun kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi rata2 adalah jago lihay kelas satu pada waktu itu seluruh tubuhnya sudah mandi darah karena lukanya tapi ia tetap tak gentar dia melawan terus dengan gigihnya ia tak sudi melarikan diri tanpa mengurusi keselamatan anak muridnya ".
Bercerita sampai disini kembali siluman hitam berhenti sebentar sekujur tubuhnya gemetar keras menahan emosi sementara sorot mata siluman putih pun penuh mengaindung hawa napsu membunuh yang sengit tebal.
Agak tertegun Han siong Kie menyaksikan kesemuanya ini, Siluman hitam bercetita lagi."
Pada saat itu dua orang ahli waris dari Ki Goan thong juga sudah berlumuran darah menghadapi serangan maut yang ber lapis2 itu keadaannya sangat kritis dan berbahaya tampaknya ketiga orang guru dan murid itu bakal mampus ditangan musuh2nya Mendadak Ki Goan thong mengerahkan sisa kekuatannya dan secara beruntun membunuh lagi dua belas orang jago lawan kejadian ini memaksa pihak lawan terdesak mundur sebelakang Megggunakan kesempatan itulah Ki Goan thiong mengambil keluar sepasang Bak ci yang didapatinya itu dan masing2 dimasukkan kedalam mulut kedua orang shli warisnya, kemudian ia membentak Keras.
"Cepat melarikan diri balas dendam ! Tidak menurut berarti melanggar perintah"
Siluman hitam tarik napas panjang2 tampaknya ia hendak menggunakan cara itu untuk meringankan dadanya yang terasa sesak sambungnya lagi.
"Dalam keadaan apa boleh buat kedua orang ahli warisnya itu dengan menekan rasa sedih dan gusar melarikan diri dari kepungan musuh sementara Ki Goan thong sendiri dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya melindungi dua orang muridnya hingga lolos dari kepungan dia sendiri akhirnya kehabisan tenaga dan tewas di tangan lawan, sejak itulah perguruan Thian it bun terbasmi dari muka bumi "
"Bagaimana selanjatnya ?"
Tanya Han siong Kie dengan perasaan ingin tahu. Pek yau atau siluman putih memandang sekejap saudaranya yang sedang diliputi emosi, kemudian katanya.
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
Siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya.
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian hari. Karena penggeledahan secara besar-besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?"
Seru Han siong Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?"
Bukan menjaweb. Han siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang sebagai makhluk silumandan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
Siluman putih melanjutkan.
"maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji, hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk menghadapi kami berdua.."
Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya.
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami istri?"
Siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun. sedangkan siluman hitam segera menjawab.
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang dimaksudkan?
"Aaah,.
asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti akan beres"
Pikirnya dihati. Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar.
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah kemudian tubuhnya akan hancur menjadi darah kental. dan sekejap mata kemudan akan berubah jadi seonggokan tulang putih yang berserakan!"
Diam2 Han Siong Kie tarik nafas dingin tanpa terasa ia terbayang kembali akan ke jadian yang menimpa Nyio Yong, hakim pengejar sukma yang merupakan salah seorang diantara dua utusan khusus perkumpulan Thian che kau.
lantaran melewati perbatasan antara mati dan hidup, dia harus mati dalam keadaan mengenaskan dan dalam sekejap mata mayatnya telah berubah jadi seonggokan tulang putih belaka.
Sekarang ia baru ingat, dirinya tidak terpengaruh oleh racun itu mungkin hal ini ada hubungannya dengan kejadian ganti tulang yang pernah dialaminya setelah berendam disumber air Teeb meh Ieng swan dimasa lampau.
Sesudah termenung beberapa saat lamanya maka diapun bertanya lagi.
"Apakah majikan dari lembah ini juga tidak terpengaruh oleh racun dari rumput tersebut??"
"Hamba rasa memang begitulah, kalau tidak maka tak nanti dia bisa menjadi majikan dari lembah Kematian!"
"Dia dulunya dia adalah pemilik benteng maut ?"
"Benar dialah pendiri dari benteng maut l"
Mendengar jawaban itu kembali Hin Si-ong Kie berpikir didalam hati kecilnya .
'Kalau begitu pastilah majikan benteng maut yang sekarang adalah ahli warisnya atau mungkin juga generasi yang ketiga dari penerus benteng maut lalu apa sebabnya pemilik benteng maut angkatan pertama itu meninggalkan bentengnya dan malahan mengasingkan didalam lembah kematian yang sunyi dan terpencil ini ?' Tiba2 siluman putih menerangkan .
"Pemilik lembah kematian ini she Ouyang dan bernama Beng"
"Oooh.."
Meskipun diluar Hin siong Kie hanya berseru demikian pada hal didalam hati kecilnya dia mengulangi nama Ouyang Beng ini sampai beberapa kali.
Sementara sianak muda itu belum sempat mengucapkan sesuatu siluman putih telah berkata lagi.
"Setelah ilmu silatnya sangat lihay Ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lima puluh tahun kemudian kami berdua bakal ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami"
Han siong Kie berdiri tertegun sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya.
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang, kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?"
Belum habis dia berpikir tiba2 siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang.
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya.
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya.
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
Siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini"
Pikir Han siong Kie di dalam hati.
"toh aku tak ada kepentingan apa2 untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?"
Maka diapun alihkan pokok pembicaraan kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali"
Jawab sepasang siluman putih hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi"
Jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?"
Tanya Han siong Kie tiba2. sepasang siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu diapun berkata.
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin"
Seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin"
Sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat merekapun bangkit berdiri sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin""
Ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
Selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut katanya.
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, beberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
Selama ini kadang kala tiga lima hari Han siong Kie baru sadarkan diri dan makan atau minum.
untuk selanjutnya ia tenggelam kembali dalam latihannya.
Satu bulan berikutna, apabila Han siong Kie tidak menarik kembali hasil latihannya sepasang siluman hitam putih sama sekali tak mampu untuk memasuki gua itu, selapis hawa khikang pelindung badan menciptakan dinding karang yaag sangat kuat disekitar gua tersebut.
Tiga bulan kemudian, ia baru mengakhiri latihannya yang luar biasa itu Meskipun wajah Han siong Kie kelihatan bertambah segar, namun sepasang matanya malahan tidak bersinar lagi, siapapun tak akan tahu bahwa pemuda ini sebenarnya sudah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa.
Tatkala sepasang manusia aneh itu memburu masuk kedalam gua, Han siong Kie sudah menarik kembali kesaktiannya, dua orang manusia itu lantas jatuhkan diri berlutut seraya memuji .
"Kionghi . .kiong hi ..selamat kepada ciangbujin yang telah berhasil sukses dengan latihannya semoga ciangbujin jaya sentausa untuk selama selamanya!"
"Tak usah banyak adat, hayo pada bangun berdiri!"
Tukas sianak muda itu sambil ulapkan tangannya berulang kali.
tentu saja rasa girang yang menyelimuti hatinya sekarang sukar dilukiskan dengan kata2.
ia gembira karena apa yang di cita2kan akhirnya berhasil tercapai juga.
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu ilmu sakti apakah yang telah dilatih olehmu selama ini?"
Tanya siluman putih dengan wajah heran dan ingin tahu.
"Si mi sinkang!"
"Apa? Si mi sinkang yang maha dahsyat itu"
Jerit sepasang manusia siluman itu dengan jantung berdebar keras.
"Benar, Si mi sinkang yang tercantum dalam sepasang saruog tangan Buddha emas!"
Sekujur badan siluman hitam gemetar keras, gemetar karena terpengaruh oleh emosi katanya.
'Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan.
katanya Si mi sinkang ada!ah suatu ilmu salat yang tiada tandingannya didunia ini sungguh tak kusangka ciangbunjin telah menguasai kepandaian se sakti itu.
Oh ciangbunjin!
Bersediakak engkau untuk mendemontrasikan kelihayanmu dihadapan kami berdua?"
"Tentu saja"
Sahut Han siong Kie sambil tersenyum, mari kita keluar dari gua ini!"
Sianak muda itu lantas bergerak dan keluar dari gua tersebut diikuti sepasang manusia siluman.
Setibanya didepan sebuah batu cadas yang tingginya beberapa kaki lebih kurang tiga tombak dari mulut gua, pemuda itu berdiri memasang kuda2.
menghimpun tenaga lalu meneken perlahan diatas batu itu.
Tekanan ini enteng dan lembut.
bukan saja sama sekati tidak menimbulkan hembusan angin serangan, bahkan lebih mirip dengan suatu gerakan pura2, malahan batu cadas itu sendiripun tidak menunjukan perubahan apa apa, Sepasang manusia siluman itu tertegun dan berdiri dengan wajah tidak habis mengerti.
mereka tak tahu apa yiog sedang dilakukan oleh ketuanya itu .
Sementata rasa heran masih menyelimuti wajah mereka berdua segulung angin gunung berhembus lewat apa yang terjadi?
batu cadas yang berada di hadapan si anak muda itu mendadak hancur sendiri dan berubah menjadi setumpukan bubuk halus.
Menghantam sebuah batu cadas dari jarak tiga kaki hingga hancur menjadi bubuk kekuatan daya serang yang didemontrasikan sianak muda itu benar2 merupakan suatu kejadian yang mengerikan sekali.
Baik siluman putih maupun hitam terbilang jago2 kelas satu yang berilmu tinggi tak urung terbelalak juga dibuatnya oleh kelihayan ketuanya ini mata mereka kontan jadi terbelalak mulut melongo dan sekujur badan bergetar keras.
Jangankan kedua orang itu bahkan Han siong Kie sendiripun merasa amat terkejut dengan hasil yang berhasil dia capai mimpipun dia tak menduga kalau kehebatan dari ilmu Si mi sinkang ternyata dapat mencapai sampai taraf setinggi itu.
Lama sekali kedua orang siluman itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru.
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang juga kita akan keluar dari lembah ini"
Sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu, lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut, kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa mendapatkannya kembali.
Sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2 menghampiri pemuda tersebut.
Sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam sembilu.
katanya kemudian dengan suara dingin.
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?"
Tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
"Kalau mereka berani berbuat begitu itu sama artinya sedang menantikan kematian buat diri sendiri"
Jerit siluman putih dengan suara yang tinggi melengking "
Sudah lima puluh tahun aku siluman putih tak pernah melakukan pembantaian dan hari ini aku akan melampiaskan napsu membunuh dengan sepuas2nya! "
"Hayo kita berangkat!"
Ajak pemuda Han.
Hek peksiang yau sepasang siluman hitam putih langsung berangkat terlebih dahulu mereka menghadap ke dinding bukit karang di situ kedua orang itu berlutut dan menyembah tiga kali lalu bergumam dengan suara lirih.
"Boaopwe telah melaksanakan pesan dari Cianpwe dan sekarang akan muncul kembali ke dalam dunia persilatan terimalah salam perpisahan dari boanpwe berdua inil"
Sehabis memberi hormat mereka lantas bangkit melewati sebuah bukit kecil dan sampailah didepan lapangan luas yang pe nuh dengan tulang manusia yang berserakan itu.
Han siong Kie bertindak cepat tangan kanan ia kempit siluman putih tangan kiri mengempit siluman hitam, sekali menjejak permukaan tanah bagaikan anak parah yang terlepas diri busurnya meluncur sejauh sepuluh kaki lebih dari tempat semula Dengan beberapa kali kelejitan saja.
ketiga orang itu melewati daerah rawan yang bisa mencabut nyawa manusia itu.
Perbatasan antara mati dan hidup telah dilampaui, pemuda itu menurunkan kembali sepasang siluman itu dan alihkan pandangannya kearah depan disana yang terlihat hanya kabut tebal yang menyelimuti angkasa.
Tiba2.,belum beberapa langkah tiga orang iiu berjalan, suara suitan tajam berkumandang susul menyusul dua belas orang laki2 berbaju ketat warna hitam munculkan diri tiga kaki di hadapan mereka orang!
itu bersenjata pedang dan melotot kearah musuhnya dengan garang.
Han siong Kie mendengus dingin dengusan tersebut menyeramkan dan penuh mengandung hawa napsu membunuh yang mengerikan.
Apa yang diduga ternyata tidak meleset, pihak Thian che kau telah mengutus Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
Sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
Setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang, tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam.
"Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk. Sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir kesamping dan memberi hormat, katanya.
"Ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas"
Jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu sudah siap melancarkan serangan.
Sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup, Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba, serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2 kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu benar2 mengerikan-Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh suasana pulih kembali dalam keheningan-Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki perkasa itu kini sudah berubah jadi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menganggukkan kepalanya berulang kali.
00d00000w00 BAB 63 SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata.
"Ciangbunjin, tecu berdua telah menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus"
Puji si anak muda itu.
"mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia, cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
Setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan hati siapa pun juga.
Selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
Kedua belah pihak sarma2 membungkam untuk sementara waktu siapapun tidak ingin berbicara, Dalam pada itu paras muka tangan kilat Se bun Lui dan dua orang kakek berjubah hitam itu berubah berulang kali kemunculan Hek pek siang yau amat mengejutkan mereka, rnimpipun mereka tak menyangka bakal ketemu gembong iblis disitu.
Dengan pandangan sedingin es siluman putih menyapu pandang sekejap kearah tiga orang itu lalu kepasa Han siong Kie dia berkata .
"Ciangbujin. siapakah bocah keparat yang mempunyai sulaman matahari rembulan dan lintang diatas dadanya itu"
Sebutan --Ciangbunjin kembali mengejutkan tiga orang kakek itu.
mungkinkah Hek pek siang yau juga anggota Thian lam bun ?
Kalau tidak mengapa mereka sebut Han siong Kie sebagai ketua ?
Sementara itu Han siong Kie sudah mendegus dingin sahutnya dengan nada yang amat sinis .
"Orang itu ..? Dia tak lain adalah tangan kilat Se bun Lui. salah seorang dari Utusan Thian che kau"
"Huuh..! Bu beng sian cui (prajurit kecil yang tak bernama) manusia macam begitu pun berani gembar gembor dengan bengis ? Biar tecu hantar mereka pulang kerumah nene moyangnya!"
Tangan kilat Se bun Lu i terperanjat, dia berusaha untuk menenangkan hatinya kemudian menegur "
Bukankah kalian berdua adalab Hek pek siang yau cianpwe yang tersohor itu?"
"Kalau betul kenapa?"
Sahut siluman hitam dengan mata berkilat "Sedari kapan kalian berdua masuk menjadi anggota perguruan Thian lam bun ?"
"Heeeh heeh heeeh bocab cilik, pertanyaan seperti itu tak pantas kau ajukan ke padaku!"
Tangan kilat Se bun Lui tidak berani banyak bertanya lagi.
cepat ia mengerling ke arah dua orang kakek disampingnya.
tanpa mengucapkan kata lagi ketiga orang itu menjejakan kakinya dan kabur dari situ.
dalam sekejap maka bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kabut yang amat tebal itu.
Tindakan musuh ini sama sekali diluar dugaan Han Siong Kie.
namun dia tidak bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya kepada sepasang siluman itu dia berkata.
"Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi dan tak nampak seorang manusiapun.
Setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu, mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?"
Bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup"
Sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
Sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak orang itu melayang turun keatas permukaan sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
Orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang perempuan berkerudung itu.
"Mundur... jangan gegabah"
Bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu tak berkedip.
"cianpwe"
"Kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan berkerudung itu.
"maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ?
Dia tak lain adalah manusia misterius yang menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut.
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe"
"Sahut pemuda itu cepat-cepat.
Selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang kehilangan sukma tanpa berkedip.
diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik tubuhnya gemetar menahan emosi.
Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga sekarang masih tersimpan di sakunya....
-ooo00dw00ooo-
Jilid 31 DARIMANA Orang yang kehilangan sukma bisa paham cara membebaskan pengaruh totokan dari Benteag maut?
Setelah membebaskan jalan darahnya yang tertotok mengapa Orang yang kehilangan sukma memenggal lengan kanan sendiri.
Teka-teki kejadian ini benar2 merupakan suatu teka teki yang susah untuk menemukan jawabannya, lebih2 ia tak paham mengapa perempuan itu demikian menaruh perhatian kepadanya.
Sementara itu Orang yang kehilangan sukma telah berseru dengan nada kaget bercampur tercengang.
"Bukankb kedua orang ini adalah.."
"Mereka adalah anak muridku"
Jawab Han Siong Kie aetelah melirik sekejap kearah sepasang siluman hitam putih.
"Mereka adalah anak muridmu ? Bukankah kedua orang ini adalah.."
"Benar, mereka adalah sepasang siluman hitam putih"
Sahut pemuda itu membenarkan.
Dengan hati bergetar keras orang yang kehilangan sukma mundur beberara langkah lebar kebelakaag, ia kelihatan sangat terperanjat sebab bagaimanapun juga ia tak menyangka kalau Hek pek siang yau yang pernah menyapu jagad pada puluhan tahun berselang kini menjadi murid Han Siong Kie.
"Mereka adalah anak muridmu ?"
Sekali lagi perempuan misterius itu menegaskan.
"Benar !"
Sahut Han Siong Kie sambil tersenyum.
"Mereka berdua secara sukarela takluk menjadi anggota perguruanku"
"Nak, aku lihat tenaga dalammu kembali mendapat kemajuan yang sangat pesat ?"
"Benar . benar...rasanya memang begitulah !"
"Bila kau bersedia mendengarkan nasehatku lebih baik janganlab keluar lembah melewati mulut lembah sebelah sana"
"Kenapa ?"
Tanya Han Siong Kie dengan hati tercekat.
"Sebab orang2 Thian che kau belum puas sebelum berhasil menangkap dirimu !"
"Oooh ..maksud cianpwe mereka telah membendung mulut lembah itu dengan jago-jago liheynya ?"
"Begitulah yang kumaksudkan !"
Orang yang kehilangan sukma membenarkan. Hawa napsu membunuh yang tebal segera melintas diatas wajah Han Siong Kie yang tampan ujarnya dengan dingin .
"Hum..! Jika mereka berani berbuat begitu sama artinya mereka sedang mencari kematian bagi diri sendiri !"
"Nak, kenyataan yang ada di depan mata kadangkala tidak sesederhana seperti apa yang kau bayangkan !"
"Maksud Cianpwe ?"
"Dua li diseputar lembah tersebut telah ditanam sepuluh laksa kati obat peledak sekali pun kungfumu lihay belum tentu bisa menghindari kedahsyatan tenaga ledakan mesiu , ."
"Jadi tujuan cianpwe datang kemari adalah untuk menyampaikan peringatan tersebut kepada boanpwe ?"
Tanya si anak muda itu dengan hati terkesiap.
"Benar!"
"Darimana cianpwe bisa mengetahui rahasia ini ?"
"Sekarang tak ada waktu bagiku untuk memberi penjelasan di kemudian hari engkau akan mengetabui sendiri hingga sejelas-jelasnya."
Sekali lagi perasaan heran dan tercengang menyelimuti perasaan Han Siong Kie darimana Orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau ia telah memasuki lembah kematian?
Dan dari mana pula dia tahu kalau pada hari inilah dia akan keluar dari lembah itu sehingga tepat menghadang jalan perginya?
Dan darimana pula dia bisa tahu begitu jelas tentang rencana busuk Tbian che kau atas dirinya?
Pelbsgai kecurigaan berkecamuk dalam benaknya kemudian ia pun berkata dengan lantang.
"Dengan dasar apakah Thian che kau begitu bernapsu untuk membekuk diri boanpwe?"
"Tentu saja ada dasar2 yang kuat, pertama engkau pernah memasuki benteng maut kedua engkau sudah beberapa kali menyerbu wilayah Lian huan tau mereka memusnahkan berpuluh2 jago andalannya, kejadian ini membuat reputasi mereka dimata orang persilatan mengalami kemerosotan hebat, dan ketiga eogkau adalah abli waris dari tahta kepemimpinan Thian-lam pay, dengan berdasarkan akan tiga alasan inilah dahulu mereka ingin menangkap dirimu hidup2, tapi sekarang mereka akan membinasakan dirimu dengan segala macam kepandaian dan siasat busuk yang dimilikinya."
Apa sangkut pautnya antara kedudukanku sebagai ketua Tbian Lam bun dengan perkumpulan mereka ?"
"Pemimpin Huan mo kiong yang sekarang sudah takluk kepada Thian che kau, kini istana Huan mo kiong sudah dirubah menjadi kantor cabang Thian che kau untuk sektor wilayab Thian lam!"
Darah panas kontan mendidih di hati Han Siong Kie, dengan marah ia meraung keras "Ooh. jadi begitulah duduknya persoalan ?"
Orang yang kehilangan sukma menghela nafas panjang, ia berpaling dan memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu katanya .
"Aku harus segera pergi, nak. ingatlah ! Jangan sekali-kali kau lewati mulut lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggalkan tempat ini"
"Sayang sudah terlambat"
Tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
Sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han Siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu, dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari, rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han Siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.
Sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han Siong Kie.
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata"
Han Siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya. Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya.
"Heeehhh ..heeehhh ..heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah kau"
Ucapan tersebut membuat Han Siong Kie jadi tertegun dia lantas berpikir dihati.
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring.
"Tutup mulut anjingmu "
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh. Kepada Han Siong Kie kembali dia berbisik.
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam"
Selesai berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?"
Bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat kilat ia menerkam kemuka.
Han Siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan "Blaaang"
Suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja mereka menjerit kaget.
Selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata pemuda itu tak mampu dihajar sampai mencelat.
Han Siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu tanpa berkedip.
mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali keadaannya.
Manusia berkerudung sendiri sehabis menyapu pandang Hek pek siang yau yang berada beberapa tombak dari tempat itu ujarnya kepada Han Siong Kie dengan suara menyeramkan.
"Manusia bermuka dingin hari ini sekali pun engkau bersayap jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"
"Hmm! besar mulut bacotmu sebutkan dulu dirimu."
Jengek Han Siong Kie ssmbil mendengus dingin sikapnya amat sinis.
"Engkau ingin tahu siapakh aku? Inilah ketua dari perkumpulaa Thian che kau!"
Sahut orang itu. Han Siong Kie mengejek tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Bangsat apa yang kau tertawakan?"
Hardik orang berkerudung itu marah-marah.
"Masa benar kau adalah ketua dari perkumpulan Thian che kau?"
"Siapa bilang tidak benar?"
"Huhh! Kau tak usah berlagak sok lagi lebih baik cepatcepatlah melepaskan kata berkerudung itu!"
"Manusia bermuka dingin, engkau anggap aku..."
"Haaah heaah haahh memangnya siapa kau ? Kau toh Raja Iblis bertangan seribu Teng Ciau ?"
Sekujur badan orang itu bergetar keras karena terperanjat, ia tak menyangka kalau asal-usulnya diketahui orang.
Begitu pula dengan dua orang utusan Thian che kau yang lain paras muka mereka berubah hebat.
Hek pek siang yau tidak ambil diam, serentak mereka menerjang kedepan dan menghampiri gelanggang.
Seketika itu juga hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh angkasa.
Setelsh asal-usulnya ketahuan orang, Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau segera menarik lepas kain kerudung yang menutupi wajahnya, tampaklah seraut wajah yang menyeringai seram seperti iblis, kataya dengan nada menyeramkan.
"Manusia bermuka dingin, rupanya perempuan hina itulah yang telah membocorkan rahasiaku padamu."
Sebagaimana diketahui, Han Siong Kie sangat menghormati Orang yang kehilangan sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang bau!"
Bentaknya.
"Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul seenaknya ?"
Ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya. Han Siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada Hek pek siang yau lalu, serunya.
"Hantar kedua ekor anjing ini pulang ke akherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
Siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang utusan Thian che kau yang lain-Han Siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu, katanya.
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
Seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya.
Suatu pertarungan sengitpun segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri.
Tatkala Han Siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi, kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han Siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
Selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi lega.
kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han Siong Kie yang makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya.
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han Siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab.
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan berantai ke depan-Sekilas pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba.
"Biang Blaang Blaaang "
Tiga kali benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara beruntun, diatas udara segera tampaklah berpuluh puluh buah bayangan telapak tangan muncul dari pelbagai arah dan semuanya tertuju pada bagian bagian mematikan di tubuhnya.
Angin menderu-deru empat penjuru jadi gelap oleh lapisan debu dan pasir yang beterbangan diangkasa keadaan dikala itu benar-benar meagerikan sekali, Sungguh terperanjat Han Siong Kie menghadapi ancaman selihay itu cepat dia main kan sistim pertahanan dari Mo mo ciang hoat untuk menutup semua bagian tubuhnya dari ancaman.
"Braak!"
Serapat-rapatnya pemuda itu melindungi diri tak urung sebuah serangan sempat mampir juga ke tubuhnya kontan ia jadi terberondong kebelakang dan mundur dengan sempoyongan.
Dengus tertahan menggetar diudara meskipun Cian jiu mo ong Teng Ciau berhasil menghantam musuhnya akan tetapi daya pantulan yang dihasilkan lawan dari Si mi sinkangnya itu membuat telapak tangannya jadi sakit bagaikan hancur hawa panas segera menerjang naik dari rongga dadanya, kejadian ini membuat hatinya tercekat dan sukma serasa melayang tinggalkan raganya.
Sementara itu keadaan Se bun Lui di pihak lain pun berbahaya sekali, dibawah ancaman siluman hitam yang datang secara bertubi tubi, ia ketitir hebat setiap saat nyawanya terancam di ujung telapak tangan lawan.
Dilain pihak, utusan Thian che kau yang bertempur melawan siluman putih sedang bertempur dengan serunya untuk sesaat sukarlah untuk menentukan siapa menang siapa kalah.
Han Siong Kie sendiri oleb karena mempunyai hawa khikang melindung badan, kendatipun serangan lawan menghajar telak dibahunya.
ia sendiri sama sekali tidak terluka.
Untungnya Cian jiu mo ong Teng Ciau memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
bila berganti dengan jago lain, jangankan menghantamnya untuk mendekati tubuhnya sampai jarak tiga depapun belum tentu mampu.
Raja iblis bertangan seribu sendiri menyangka bahwa di dunia ini kecuali beberapa orang jago boleh dikata untuk mencari kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera menimbulkan kembali sifat buasnya.
Sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han Siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian che kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya jadi kacau balau tak karuan-Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
--ooo0dw0ooo-BAB 64 BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja, secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han Siong Kie terdesak hebat, ia lantas melejit dan siap melarikan diri "Mau kabur ?"
Jengek Han Siong Kie.
"jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
Sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi, timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han Siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur, ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk melakukan sergapan sergapan maut.
Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah dibikin kalang kabut tak karuan dalam waktu singkat ia sudah terjebak dalam keadaan yang berbahaya sekali.
"Blaaang!"
Suara jerit kesakitan berkumandang memenuhi angkaaa secara beruntun gembong iblis itu tergentar mundur sejauh delapan langkah sambil muntah darah segar ia mundur dengan sempoyongan keadaannya mengerikan sekali.
Han Siong Kie tidak meneruskan ancamannya dia tarik kembali serangannya dan berkata dengan dingin.
"Manusia she Teng agar engkau bisa mampus dengan tenang maka dengarlah baik-baik kataku ini. engkau adalah manusia pertama yang bakal mampus diujung pukulan Si mi sinkang yang maha dahsyat ini"
"Apa? Si mi sinkang?"
Jerit Raja iblis bertangan seribu dengan ketakutan.
Ia menjerit histeris tubuhnya melejit ke udara dan mencoba untuk melarikan diri.
Begitu Raja iblis bertangan seribu meloncat keudara Han Siong Kie mendorong sepasang telapak tangannya kedepan, Si mi sin kang dengan kekuatan sebesar sepuluh bagian segera dilontarkan dari kejauhan.
Sekati lagi jerit kesakitan berkumandang memenuhi angkasa .
Tubuh raja iblis bertangan seribu Teng Ciau mencelat sejauh empat kaki lebih, setelah berkelejetan di angkasa tatkala mencium tanah kembali, jiwanya sudah kabur pula ke akherat.
Menyaksikan kedahsyatan ilmu pukulan itu baik siluman hitam mau pun siluman putih sama-sama menjulurkan lidahnya mereka percaya kendati pun mereka berdua harus bekerja sama belum tentu kemampuan mereka dapat menandingi kehebatan dari Cian jiu mo ong.
"Nak, benarkah engkau sudah mempelajari ilmu sakti Si mi ainkang ?"
Tiba-tiba orang yang kehilangan sukma muncul ditengah gelanggang dan bertanya.
"Benar"
Sahut Han Siong Kie sambil tertawa.
"Engkau bisa membinasakan pemimpin dari para ututan Thian che kau kemampuan sehebat ini sudah cukup digunakan untuk melintang dalam dunia persilatan"
"Bagaimana jika dibandingkan dengan kelihayan Thian che kaucu ?"
Tanya Han Siong Kie tiba-tiba dengan wajah serius.
"Tentang soal ini.. mungkin saja engkau masih sanggup untuk menangkan dia!"
"Hanya mungkin ?"
"Benar nak, dewasa ini aku hanya bisa mengatakan mungkin, bukankah kejadian di dunia ini peauh di1iputi serba kemungkinan ?"
Dingin separuh hati Han Siong Kie setelah meadengar jawaban tersebut dalam perkiraannya semula asal Si mi sinkang yang maha dabiyat itu berhasil diyakinkan maka sukarlah untuk mencari tandingan diduoia ini.
Tapi menurut Orang yang kehilangan sukma ia belum tentu sanggup untuk mengalahkan Thian che kaucu, itu bukankah berarti pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki Thian-che kaucu sudah mencapai puncak kesempurnaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata?
Kendatipaa begitu, ia tidak putus asa malahan dengan angkuh katanya.
"Sekalipun ilmu silatku masih merupakan suatu kemungkinan untuk mengalahkan die tapi suatu ketika aku pasti akan pergi mencarinya, akan kubikin perhitungan dengan dirinya"
"Engkau tak usah pergi mencarinya, dialah yang akan datang mencari dirimu !"
"Seberapa banyak toh utusan-utusan yang dimiliki perkumpulan Thian che kau ?"
"Semuanya ada sepuluh orang."
"Dan sekarang . ."
"Sekarang sudah mati tiga orang ditambah seorang mati didalam perbatasan antara mati dan hidup serta tak lama engkau berhasil membinasakan Tengkorak maut gadungan itu maka jumlahnya menjadi lima, itu berarti sampai sekarang masih ada lima oraag utusan khusus dari perkumpulao Thian che kau yang masih hidup."
"Apakah tenaga dalam yang mereka miliki rata-rata lihay semua ?"
"Tidak, Malahan diantara mereka ada yang memiliki kemampuan jauh lebih dahsyat lagi, ssbelum kau keluar dari lembah kematian Thian che kaucu telah berkunjung sendiri kemari tapi oleh karena kau belum juga keluar dari lembah ini, maka setelah memerintahkan orang-orangnya untuk memasang alat peledak ia telah kembali dahulu ke markas kalau ia masih berada disini... aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul"
Seru Han Siong Kie dengan cepat.
"Sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan terbata.
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua, sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jago-jago kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah, selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu-mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir.
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak.
aai, entah bagaimana caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
Selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han Siong Kie menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya.
"Hayo kita terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah mulut lembah.
suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelatjauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat setengah langkah, Han Siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan tanah disekitar situ.
Baik Han Siong Kie maupun Hek pek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru.
"Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja"
Tukas Han Siong Kie dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi "
Siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan suara dalam.
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantasnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka, apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah mereka pergi"
Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han Siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya.
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakat oleh wajah Hekpek siang yau yang lain daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini sudah tinggal puingpuing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut berdiri Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han Siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya, dengan termangumangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puing-puing itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ?
Benarkah aku bertanggung jawab atas kejadian ini?
ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik Ong cui ing meninggalkan tempat kejadian dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang kehilangan sukma, Gosiau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuanperempuan inilah yang banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya.
"Kalian tak usah pergi kemana-mana, nantikanlah aku disini".
secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
Seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat hutan bambu.
Berdebar keras jantung Han Siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu, sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo sianseng.
Han Siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? "
Tanpa berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu. Han Siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat"
Sahutnya. Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"Sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku tak bisa lagi berpeluk tangan belaka"
Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?"
Tanya pemuda itu keheranan "Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han Siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama ketika ia menolak pinangan dari Put losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? "
Tanyanya tanpa sadar. Sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu kemudian balik bertanya.
"Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?"
Tanya Has Siong Kie setelah tertegun sejenak."
Sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi.. Aaai, tak disangka oleh karena se
Jilid kitab pusaka Thian tok pit kip.
bukan saja putraku Go Yu to menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan, bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han Siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia pernah menolak pinangan dara itu Setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya.
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.."
Berbicara sampai disini, kembali dia berhenti.
Han Siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan Go siau bi.
Sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali.
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak ada orang kedua yang bisa merintangi niatnya itu lagi"
"Tentang soal ini..tentang soal ini boanpwee benar-benar merasa amat menyesal tak kusangka bakal terjadi peristiwa semacam ini"
"Tak useh kau mengatakan segala sesuatu, itu aku pun tahu bahwa cinta muda-mudi tak bisa kupaksakan aku pun tahu pinangan yang kuajukan tempo hari tidak pada tempatnya tapi oleh karena pertama aku telah mengetahui perassan hati Siau bi dan kedua aku dan kedua aku mendapat permohonan dari Orang yang kehilangan sukma"
Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras ia tak habis mengerti apa sebabnya berulang kali Orang yang kehilangan sukma mencegah hubungannya dengan Tonghong Hui tapi berulang kali berusaha menjodohkan dirinya dengan Go Siau bi?
Dia ingin tahu apa yang sebenaraya terdapat dibalik kesemuanya itu?
Sementara pemuda itu masih berpikir sambil berkerut kening Put lo sianseng telah berkata lagi dengan suara dalam.
"Sebab persoalan inilah mau tak mau terpaksa aku ingin mohon bantuan dari sauhiap"
"Katakan saja locianpwe bantuan dalam berupa apakah yang lociaopwe harapkan dariku ? "
Untuk melepaskan belenggu cinta lebih tepat kalau belenggu itu dilepas oleh orang yang terlibat, aku hanya memohon kepada sauhiap agar mencegah Siau bi menjadi pendeta "
Han Siong Kie dibikin serba salah, Go Siau bi justru menjadi nekad lantaran ia telah meoolak cinta dara itu, bersediakah gadis itu mendengarkan nasehatnya ?
Bagaimana ia musti berbicara untuk menasehatinya agar membatalkan niat tersebut ?
Satu ingatan tiba tiba melintas dalam benaknya.
Bila aku berbasil membatalkan niatnya untuk menjadi pendeta, kemudian kupusatkan segenap tenaga dan pikiranku untuk membantu dia membangun kembali perkumpulan Pat gi pang-nya yang porak poranda, siapa tahu kalau kubisa tebus semua kesalahanku dimasa lalu ?
Dengan suara tegas diapun menyahut .
"Baiklah locianpwe, boanpwe akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk membatalkan niatnya itu !"
"Kalau memang demikian; lohu titipkan tugas berat ini kepadamu"
"Boleh aku tahu pada saat ini nona Siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san. Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil tersebut "
"Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe..."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?"
Seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara. Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir.
"Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab.
"Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau akan mengetahui sendiri"
Han Siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan kata-katanya itu? Sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarut-larut, oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah ke utara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan, tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibelakang mu itu adalah Hek pek siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
Sungguh kagum Han Siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun tebakannya ternyata jitu.
Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubunganmu dengan sepasang siluman itu"
Kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
"Aaah maasa iya ? Suatu kejadian yang membingungkan!"
Han Siong Kie tak ingin orang keheranan diapun lantas menceritakan pengalamannya bagaimana menolong sepasang siluman itu dari kurungan lembah kcmatian.
Selesai mendsngarkan kisah tcrsobut, Put io sianseng baru berkata.
"Oooh. kiranya begitu ! Jadi kepergianmu ke bukit Tay huang san nanti juga akan membawa serta sepasaag siluman itu ?"
"Tentu saja, kemana pun boanpwe pergi mereka akan meugikuti diriku!"
"Aka rasa cara ini kurang bagus"
"Kenapa ?"
"Meninjau dari tindak tanduk serta perbuatan mereka dimasa silam, belum tentu sin ni akan menerima mereka secara baik, aku kuatir kehadiran mereka bsrdua justru .."
"Boanpwe toh bisa memerintahkan kepada mereka berdua agar menanti di kaki bukit Tay huang san!"
"Kalau memang begitu. ini lebih bagus lagi!"
Puji Put-lo sianseng dengan lantang.
"Bila cianpwe tak ada pesan lain boan-pwe akan segera mohon diri"
"Baik, pergilah dan semoga apa yang kuharapkao dapat tercapai dengan memuaskan"
"Tak usah kuatir, boanpwe akan berusaha dengan segenap kemampuan. yang kumiliki' "
Ingat pesanku gunaksn tata kesopanan sebelum memulai kekerasan, bi1amana tidak terpaksa tak usahlah main kekerasan "
"Boanpwe akan mengingatnya selalu"
Setelah memberi hormat diapun kembali ke tempat semula disana sepassng siluman masih menunggu.
Demi pesan Put lo sianseng terpaksa dia harus mengesampingkan lebih dahulu tugasnya membalas dendam ia merasa tak ada salahnya berbuat demikian sebab dengan begitu diapun bisa menebus dosa-dosanya kepada Go Siau bi.
"Ciangbunjin berhasilkah engkau menemukan sesuatu?"
Cepat siluman hitam maju menyongsong seraya bertanya.
"Ehmm! Seoraog bulim cianpwe telah minta bantuanku untuk menyelesaikan suatu persoalan!"
"Menyelesaikan suatu psrsoalan?"
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?"
Seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang, tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
Sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han Siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul nanjauh didepan sana katanya.
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?"
Tanya siluman hitam keheranan "Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?"
Tanya siluman putih agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang, setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han Siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang siluman itu, sambil tertawa dingin katanya.
"Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu"
Seru siluman hitam dengan hati gelisah.
"Setelah tecu memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api tak nanti kami akan menolaknya"
Han Siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri"
Serentak kedua orang siluman itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang diri?"
"Siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh, siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya untuk menghadapi keadaan seperti itu"
Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam berkata lagi.
"Bagaimana kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan? jadi apabila sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu"
Sahut pemuda itu tegas. Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hek pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han Siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali bisiknya dengan lembut.
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang diluar dugaan atas diriku ini"
Seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju kepuncak bukit yang gundul itu Diluaran Han Siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangan dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh, pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han Siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir.
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?"
Sambil merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa.
"Mohon tanya apakah sinni adalah Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku "
Sahut nikoh tua itu singkat.
Sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000d0w000-BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?"
Kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han Siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata.
"Adapun kedatanganku kemari adalah untuk mohon berjumpa dengan Tay huang sinni"
"Sudah enam puluh tahun guruku tidak bertemu dengan siapa pun lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Dalam hati Han Siong Kie mendengus dingin pikirnya.
"Omong kosong! Siapa bilang gurumu sudah enam puluh tahun tidak bertemu dengan orang, Toh Put lo sianseng belum lama berselang telah berjumpa dengan Tay huang sinni malahan berpesan padanya agar menolak keinginan cucu perempuannya untuk menjadi nikoh.. kurang ajar betul mikoh ini, dia berani membohongi aku ."
Setelah berpikir sebentar kembali ia berkata.
"Akn datang kemari karena mendapat pesan dari seseorang aku hendak mencari seseorang di dalam kuil ini"
"Tempat ini adalah daerah terlarang siapa pun dilarang untuk memasuki daerah di sekitar sini"
Jawaban dari nikoh tua itu masih tetap ketus dan dingin.
"Tapi aku datang toh cuma untuk mencari seseorang"
"Sicu tak usah banyak bicara lebih baik segera tinggalkan tempat ini"
"Suthay engkau toh seorang pendeta, seorang penganut agama mengapa sikapmu begitu tidak bersahabat? Tujuanku kemari toh hendak mencari orang kenapa tidak kau kabulkan permintsan kami ini"
"Sicu tak usah banyak bicara segera tinggalkan tempat ini"
Sikap yang ketus dsn tak sedap itu lama kelamaan membangkitkan kembali hawa amarah di hati Han Siong Kie serunya.
"Aku datang kemari karena msndapat pesan dari seseorang untuk mencari seorang sahabat sebelum orang yang kucari berhasil kutemukan tak nanti akan kutinggalkan tempat ini"
"Bila sicu adalah orang yang cerdik lebih baik tinggalkan tempat ini secepat-cepatnya"
"Kalau aku membangkang apa yang hendak kaulakukan?"
Nikoh tua itu berkerut kening lalu mendengus dingin.
"Hmm! Selama hidup baru pertama kali ini pinni bertemu dengan seorang manasia tekebur yang berani mencari garagara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han Siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm.. Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat kurang sopan.
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba."
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han Siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han Siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir.
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tibatiba nikoh tua itu membentak lagi.
"Eayah kau dari sini."
Ketika ujung bajunya dikebutkan kembali kedepan segulung hawa pukulan yang sangat keras seperti hembusan angin puyuh langsung menghantam kedepan dan menghajar ketubub pemuda kita.
Marah sekali Han Siong Kie menghadapi kejadian ini hawa sakti Si mi sinkang yang dimilikinya disalurkan mangelilingi badan dia sambut datangnya ancaman tersebut keras lawan keras.
"Blaaang!"
Suatu benturan keras menimbulkan ledakan yang memekikkan telinga.
Sekokoh batu karang tubuh Han Siong Kie sama sekali tidak gemilang barang sedikit pun jua dari tempatnya semula lain hal-nya dengan nikoh tua yang bersila diatas batu oleh tenaga pantulan yang membalik hampir saja dia dibuat terjengkang kebelakang.
Nikoh tua itu menjerit kaget dan segera melompat bangun setajam sembilu sinar mata yang memancar keluar ia menatap pemuda lawannya tak berkedip rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya yang mulai berkeriput itu, mimpipun ia tak mengira kalau seorang pemuda macam Han Siong Kie ternyata memiliki tenaga dalam sedahsyat itu.
"Sutbay, aku minta sudilah kiranya menyingkir dan menberi jalan lewat bagiku"
Kata Han Siong Kie dengan nada dingin.
"Kalau pinni tidak mengijinkan ?"
"Kalau memang begitu terpaksa aku akan naik keatas gunung dengan jalan kekerasan"
"Engkau berani berbuat begitu ?"
"Kenapa tidak berani ?"
Sambil mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri nikoh tua itu.
Sungguh marah orang tua itu menyaksikan kenekadan sang pemuda, sepasang ujung bajunya dikebutkan berulang kali kedepan gulungan angin puyuh dengan dahsyatnya segera menggulung kedepan dan menghajar tubuh lawannya dengan dahsyat.
Untuk kedua kalinya jalan maju dari Han Siong Kie tersumbat oleh angin pukulan itu.
"Suthay, engkau bersikeras untuk melarang aku menaiki bukit Tay huang san ini?"
"Bukan begitu saja, aku-pun akan menuntut kepadamu atas sikap kasar serta niatmu mencari gara-gara di bukit ini !"
Sekarang Han Siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam"
Dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong menggelegar di angkasa.
Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han Siong Kie segera melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
Mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han Siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki"
Tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak perlu kau kagumi"
"Sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?"
Tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan"
Kontan saja Han Siong Kie mengerutkan dahinya.
"Suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan. Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita-citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .."
Tantang nikoh itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang -ooo0dw0ooo-
Jilid 32 SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han Siong Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangan tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han Siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han Siong Kie, sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam dunia persilatan.
Selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han Siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han Siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk menyambut ancaman itu.
"Blaang"
Benturan keras tak dapat dihindari lagi, masingmasing pihak terjengkang mundur satu langkah.
Dalam hati Han Siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat keatas.
Meskipun Han Siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada, siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han Siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar delapan bagian.
"Blaaang"
Ledakan keras menggelegar di angkasa, diantata suara nyaring terdengar dengus tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.
Han Siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu langkah lebar.
Setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan, sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
Sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu Han Siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan lagi.
Sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah ketitir hebat, bila ia tidak unjukkan kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu.
Berpikir demikian dia lantas membentak.
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han Siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu, semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
Selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa batang pohon Siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung.
Han Siong Kie merasa semangatnya berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan tunggal.
Sebelum Han Siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih dahulu.
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti tata cara yang selayaknya akan tetapi merekalah yang memaksa aku untuk menggunakan kekerasan maka janganlah kau salahkan jika terpaksa kulukai pula kedua orang rekan seperguruanmu itu!"
"Hmm! Selama enam puluh tahun belum pernah ada orang asing yang berani menginjakkan kakinya di bukit Tay huang san ini"
"Aku datang kemari karena mendapat titipan dari seseorang aku datang untuk mencari orang, lain daripada itu aku tiada maksud apa-apa apalagi berbuat keonaran!"
"Aku tak ambil peduli apa maksud kedatanganmu pokoknya kehadiranmu disini sudah merupakan suatu pelanggaran pantangan atas peraturan dari kuil kami ini"
"Heeehh heeehhhe heehh tolong tanya apa yang hendak suthay lakukan terbadap diriku ?"
Ejek Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
"Kau akan kutangkap kemudian dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku disini"
Jawab nikoh berlengan satu dengan wajah hijau membesi.
"Menangkap aku? Suthay angap aku bisa ditangkap dengan gampang seperti apa yang kau bayangkan?"
"Hmmm ! Jadi sicu tidak percaya? Kalao begitu mari kita buktikan bersama !"
Begitu kata terakhir diutaraksn keluar kelima jari tanganaya seperti cakar garuda melancarkan cengkeraman lagi.
Si anak muda itu terkesiap cepat nian ancaman tersebut, buru buru dia bsrkelit kesamping untuk menghindar, hanya sedikit terlambat niscaya dia bakal kena ditangkap.
Gagal dengan cengkeraman mautnya nikoh berlengan satu itu tidak merubah gerak serangannya, dari cengkeraman ia mengubab menjadi serangan telapak tangan dan langsung dihantam kedada pemuda itu dengao cepat.
Han Siong Kie ingin menghindar cuma tak sempat lagi terpaksa dia kerahkan hawa sakti Si mi sin kangnya untuk menerima pukulan itu dengan kekerasan.
"Blaaang !"
Han Siong Kie merasa dadanya jadi sesak dan susah bernapas, dengan sempoyongan ia mundur tiga langkah ke belakang hampir saja darah segar muntah keluar, pandangan matanya berkunang dan kepalanya jadi pening.
Nikoh berlengan satu pun tidak memperoleh keuntungan apa apa telapak tangannya yang tergetar oleh tenaga sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han Siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap.
cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-Han Siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengaan mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musu barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan.
Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han Siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini, ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah Han Siong Kie.
kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu "
Kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han Siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"Siapa yang kau cari ?"
"Seorang nona yang bernama Go siau bi"
"Siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han Siong Kie "
Sekali lagi anak muda itu terperanjat, sahutnya cepat.
"Benar, boanpwelah yang bernama Han Siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut dirasakan Han Siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
"Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?"
Serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini "
Tiba-tiba suara dari Tay huang sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi sepatah kata.
Sesabar-sabarnya Han Siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri lagi tampiknya.
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung kau mau apa?"
"Hmm Membandel"
Maki Tay huang sinni ketus.
"Kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakapcakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit"
Agaknya Tay huang sinni mulai naik darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk mempertahankan diri"
Suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut.
"Sicu, aku rasa engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?"
Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han Siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put lo sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan segala kemampuan yang kumiliki"
Pikir pemuda itu dalam hati "
Dan lagi akupun merasa banyak berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ?
Tatkala ingatan tersebut terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru.
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh"
Teriak Han Siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan membunuh"
Habislah kesabaran Han Siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas puncak bukit.
Sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak.
siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lamalama sekali ia menatap dara itu kemudian bisiknya.
"Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go "
Sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-BAB 66 PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
Sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han Siong Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
Pannggilan dari Han Siong Kie, dirasakan olehnya bagaikan beberapa buah martil yang menghantam diatas dasar perasaan hatinya yang mulai menjadi dingin dan kaku.
Tapi akhirnya perlahan-lahan ia bangkit berdiri juga.
Berhadap-hadapan muka dengan sinar mata yang saling bertemu seketika membuat sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras tanpa sadar dia mundur satu langkah ke belakang.
Raut wajab yang tertera di hadapan matanya sekarang bukanlah wajah yang segar dan ayu lagi, wajah gadis itu sudah kusut dan layu, ibaratnya daun yang sudah kering dan bunga yang hampir rontok, walau pun baru berpisah selama beberapa bulan tapi gadis itu sudah berubah, banyak sekali perubahannya.
Dari wajahnya yang kusut dan layu itu tidak nampak kesegarannya lagi, tidak tercermin kembali bahwa dara ita masih ramaja dan muda, biji matanya yang dulu bening sekarang diliputi kehampaan dan kepedihan dengan tatapan agak kaku ia mengawasi kekasih hatinya yang membuat ia jadi putus asa dan tak bergairah lagi untuk bidup.
Dengan sedih Han Siong Kie berkata;
"Nona Go ada beberapa persoalan ingin sekali kubicarakan dengan dirimu"
Sekilas cahaya terang sempat menghiasi wajah Go Siau bi yang layu meski sedetik kemudian telah lenyap lagi tanpa bekas.
"Mungkinkab ia telah berubah pikiran dan sekarang mulai mencintai diriku?"
Demikian pikirnya di hati. Tapi sejenak kemudian dengan sedih ia membantah kembali jalan pikirannya itu ia bertanya dengan suara yang pedih.
"Han siangkong mau apa engkau datang kemari?"
"Aku aku ingin bercakap-cakap dengan nona!"
Sahut pemuda itu tergagap "Hanya ingin berbicara saja? Apa yang bendak kau bicarakan dengan diriku?"
"Aku minta nona bersedia untuk membatalkan niatmu untuk cukur rambut menjadi pendeta!"
"Kenapa?"
Tertegun Han Siong Kie menghadapi pertanyaan tersebut untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dijawab tapi untunglah satu ingatan cepat melintas dalam benaknya dengan serius pemuda itu menjawab.
"Kakek nona Put lo sianseng muncul kembali dari pengasingannya karena ayahmu mati terbunuh maka sengaja beliau melatih nona agar nona bisa membangun kembali perkumpulan Pat-gi pang yang tercerai berai itu"
Hebat sekali perubahan wajah Go Siau bi setelah mengetahui bahwa maksud kedatangan pemuda itu bukan lantaran dia, katanya.
"Ooh jadi kau datang kemari hanya untuk menyampaikan pesan dari kakekku?"
Han Siong Kie semakin kikuk ia tertawa jengah dan menyahut.
"Nona Go bila engkau bersikeras untuk masuk jadi pendeta bukan saja kakekmu akan merasa kecewa dan bersedih hati bahkan sukma ayahmu di alam baka pun tak akan menyetujui tindakan dari nona"
Sekali lagi Go Siau bi menukas ucapan lawannya yang belum selesai ia berkata.
"Han sioog Kie engkau datang kemari hanya untuk mengucapkan beberapa patah kata itu?"
"Tentang soal ini."
"Katakan saja yaa atau bukan?"
"Selain daripada itu aku pun ingin menyampaikan rasa sesalku terhadap nona"
"Masih ada perkataan lain yang hendak kau ucapkan?"
Han Siong Kie jadi gelagapan, ia tak tahu apa yang mesti dibicarakan pada saat ini. Go Siau bi makin ketus sikapnya, nada perkataaanya lebih dingin daripada es ia berkata.
"Han siong Kie sekarang juga kau bolah pergi tinggalkan tempat ini!"
"Tapi nona, kau "
"Ketahuilah Han siangkong, tiap manusia mempunyai tujuan dan cita-citanya sendiri, tak usah kau paksa diriku untuk menuruti kehendak hatimu itu !"
Serba salah jadinya keadaan Han Siong Kie waktu itu dia tak tahu bagaimana musti mengatasi keadaan yang serba riku ini.
"Kraaak !"
Pintu kuil yang semula tertutup rapat, perlahanlahan terpentang lebar, dari bilik pintu muncullah seorang nikoh tua yang berwajah merah.
setajam sembilu sorot matanya nikoh itu agung tampaknya dan sangat berwibawa.
Sementara Go Siau bi sendiri telah putar badan serta berlutut kembali ke atas tanah.
Menyaksikan kemunculan nikoh tua itu Han Siong Kie segera maju dia memberi hormat tegurnya .
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm "
Tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap didengar. sekuat tenaga Han Siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya.
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi pendeta?"
"Ehmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?"
Tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put lo sianseng untuk menolak permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu"
Kata Tay huang sinni tetap ketus.
"tapi aku tidak menyanggupi untuk tidak mencukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah pikiran"
Tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu"
Bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau bi berpaling dan berkata.
"Han Siong Kie sekarang juga engkau boleh turun dari gunung ini tak usah kau campuri lagi urusanku ini!"
Sadarlah Han Siong Kie bahwa perjalanaannya kali ini hanya sia sia belaka dia menghela napas panjang putar badan dan siap berlalu dari tempat itu.
"Tungggu sebentar"
Mendadak seseorang berseru suara itu sangat dikenal sekali olehnya.
Han Siong Kie putar badan seraya berpaling tapi apa yang muncul didepan matanya membuat pemuda itu dengan wajah tercengang mundur tiga langkah ke belakang.
Dibelakang Tay huan sinni telah bertambah dengan seseorang dan orang itu adalah seorang perempuan berkerudung yang sangat dikenal olehnya sebab dia tak lain adalah Orang yang kehilangan sukma, perempuan misterius itu.
Mimpi pun Han Siong Kie tak mengira kalau Orang yang kehilangan sukma bisa muncul dalam kuil Bu cu-an ini, ini suatu kesengajaan?
Ataukah suatu kebetulan belaka?
"Biau hian, Bawa li sicu itu masuk kedalam"
Terdengar Tay huang sinni berkata kepada nikoh buntung yang berdiri disamping gelanggang.
Nikoh buntung itu mengiakan dia membangunksn Go Siau bi dan berjalan masuk ke dalam kuil.
Sementara itu Han Siong Kie hanya berdiri termangumangu sambil menatap wajah Orang yang kehilangan sukma tanpa berkedip.
"Han Sioog Kie !"
Terdengar Tay huang sinni menegur dengan suara yang berat dan ketus.
"Sebagai seorang Ciangbunjin dari suatu perguruan, tahukah engkau bahwa perbuatanmu memasuki wilayah terlarang dari perguruan ini adalah suatu perbuatan yang melanggar tata susila?"
Han Siong Kie semakin termangu, ucapan lawan terasa menusuk perasaan hatinya terutama kata-kata yang menyangkut soal kedudukannya sebagai ketua dari suatu perguruan membuat pemuda itu tak bisa banyak berkutik.
Akhirnya setelah termenung sebentar ujarnya dengan ketus.
"Apa yang hendak locianpwe lakukan atas diriku ini ?"
"Berbicara tentang tingkat kedudukan pinni tidak pantas untuk turun tangan atas dirimu tapi tindak tandukmu kelewat pongah dan jumawa, perbuatanmu telah menodai keangkeran serta kewibawaan nama besar Tay huabg san kami dimata umum maka untuk menyelesaikan masalah ini terpaksa kita harus tentukan menang kalah dengan pertarungan adu tenaga dalam"
Memang inilah yang diharapkan Han Siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu "Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
Katanya kemudian dengan serius.
"Benar .."
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini, bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"Syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han Siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang lihay.
Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan?"
Ia bertanya kemudian. Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya.
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak ditempat semula dan masing-masing melancarkan tiga buah serangan baik ilmu macam apa pun yang dimiliki boleh digunakan siapa bisa memaksa lawan untuk bergeser dari tempat kedudukannya maka dialah yang menang!"
Han Siong Kie msngangguk berulang kali setelah mendengar usul tersebut melancarkan serangan dari jarak lima kaki memang bukan suatu pekerjaan yang mudah bila orang itu bukan seorang tokoh silat bcrilmu tinggi maka jangan harap bisa menggeserkan musuhnya dari tempat kedudukan.
Dengan perkataan lain dalam pertarungan ini bukan saja orang tak bisa bermain licik atau main sabun bahkan harus benar-benar mengandalkan ilmu sejati.
Sekali pun bisa menggeserkan orang itu dari kedudukannya akan tetapi tak sampai melukai lawannya.
Tiba tiba ia teringat kembali ilmu Tong kim ci yang maha sakii itu semenjak ia berhasil melatih ilmu Si mi sinkang belum pernah kepandaian tersebut dicoba kembali kedahsyatannya apa salahnya bila menggunakan kesempatan ini dia mencoba kembali keampuhan ilmu tersebut?
Sementara pemuda itu masih termenung Tay huang sinni telah berkata lagi.
"Li sicu aku minta engkau menjadi saksi dalam pertarungan ini tentunya engkau bersedia bukan?"
Seraya berkata nikoh itu memandang sekejap kearah Orang yang kehilangan sukma. Cepat perempuan miaterius itu memberi hormat ia menyahut.
"Boanpwe akan mengikuti perkataan suthay!"
Dia pun melompat keluar dari kuil itu dan berdiri di samping gelanggang.
Dalam waktu singkat suasana gelanggang diliputi ketegangan dan keseriusan semua orang menahan napas dan menantikan berlangsungnya pertarungan itu dengan hati berdebar.
Seorang pemuka silat yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh tahun berselang akan bertarung melawan seorang pemuda belasan tahun yang memiliki ilmu tinggi, pertarungan semacam ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang langka dan jarang ditemui dikolong langit tak heran kalau peristiwa tersebut menggetarkan hati setiap orang yang hadir disitu.
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu "
Suatu ketika Tay huang sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu"
Kata Han Siong Kie dengan hati bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang ..nah, sambutlah seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
Segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus ketubuh lawan-Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han Siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han Siong Kie, diam-diam ia menjulurkan lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang.
"sambutlah seranganku yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
Sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apaapa, sekarang tinggallah jurus yang terakhir.
pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han Siong Kie mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han Siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
Setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip.
sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur kedepan-Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas kembali dalam benak pemuda itu tibatiba sepasang telapak tangannya digeser kekiri dan kekanan.
Dia tahu ilmu jari Tong Kim ci yang disertai hawa sakti Si mi sinkang ini mempunyai kedahsyatan yang menggidikkan hati ia tak ingin membunuh dengan serangan maut itu sebab bukan itu tujuannya ia jadi tak tega dan disaat yang terakhir, serangan maut tersebut digeserkan sedikit kesamping.
"Criit! Criit!"
Berkali-kali terjadi desiran keras masingmasing pintu gerbang yang terbuat dari kayu tebal tahu tahu sudah bertambah dengan sepuluh buah lubang besar yang tajam.
Hampir saja Orang yang kehilangan sukma menjerit keras karena terperanjat Tay huang sinni pun berdiri dengan wajah pucat pias peluh dingin membasahi tubuhnya diam-diam ia bersyukur karena jiwanya lolos dari ancaman bahaya maut.
Begitulah karena hatinya terketuk untuk tidak melakukan pembunuban Han Siong Kie telah melepaskan sebuah kesempatan yang sangat baik untuk merebut kemenangan sambil menarik kembali telapak tanganoya dia berkata.
"Locianpwe sekarang tibalah giliranmu untuk melancarkan serangan"
"Berhati-hatilah sicu, aku akan segera melancarkan sebuah pukulan!"
Kata Tay huang sinni kemudian dengan wajah serius.
Sepasang telapak tangannya didorong ke tengah kedepan, segulung angin puyuh yang berkekuatan besar lantas menggulung ke muka.
Han Siong Kie memutar sepasang telapak tangannya dengan taktik "membuang"
Dari ilmu Mo mo ciang hoat dia salurkan hawa Si mi sin kangnya untuk memunahkan ancaman tersebut sekali pun pukulan musuh berhasil disingkirkan namun badannya ikut bergoncang pula dengan kerasnya.
Pemuda itu mencoba untuk menjaga diri tapi saat itulah Tay huang sinni telah mengulangi kembali serangannya dengan gerakan yang tidak jauh berbeda dari gerakan pertama, kembali gulungan angin pukulan keras melanda kedepan.
Han Siong Kie merasa tenaga pukulan lawan yang datang melanda kali ini sangat berat cepat-cepat dia putar tangannya untuk menangkis.
Siapa tahu kali ini Tay huang sinni berlaku cerdik, begitu musuh hendak menangkis tiba-tiba tenaga pukulannya ditarik kembali kebelakang.
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han Siong Kie melepaskan pukulan untuk menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik "
Menggetar"
Dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "
Jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk.
"Nak engkau kalah."
Han Siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
Sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut, untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"Sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?"
Tiba-tiba Tay huang sinni bertanya. Han Siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti itu ?"
"Seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk melakukannya, apa yang musti..."
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan"
Jawab pemuda itu dengan tegas. Orang yang kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula.
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja . ."
Sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han Siong Kie lalu katanya.
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han Siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang yang kehilangan sukma.
Sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan sukmalah sebagai saksinya.
Sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu?
Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya"
Terdengar Tay huang siani bertanya. Kacau dan bingung perasaan Han Siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"Jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? "
Tegur Tay huang sinni dengan wajah serius. Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela diri, katanya.
"Cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"Ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?"
Ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"Jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku.. sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?"
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima syaratku ini?"
Sungguh sedih dan pedih perassan hati Han Siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hwi, yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan kata-kata.
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau pusingkan lagi?"
"Jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
Sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras.
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi, lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa menerima kenyataan tersebut"
"Selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?" -000d0w000-BAB 67 UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han Siong Kie, sekujur badannys gemetar keras. Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak mencampuri urusan keduniawian lagi? "Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap orang yang sudah tiada lagi?"
Katanya tiba-tiba. Orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela.
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go siau bi untuk selamalamanya?"
"Siapa bilang begitu ?"
"Cianpwe"
Tiba-tiba Han Siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
Orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"Sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau dan aku ?"
Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin "Oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan? Pantaskah perbuatanmu itu?"
Seru pemuda itu marah-marah.
"Nak. jangan marah dulu !"
Bisik Orang yang kehilangan sukma dengan suara yang lembut.
"Meskipun Go Siau bi bertekad untuk mencukur rambut menjadi pendeta. tapi pada hakekatnya dia masih sangat mencintai dirimu, dia tidak mengetahui kejadian ini dia pun tidak tahu menahu tentang pertaruhan ini tapi aku percaya dia tak bakal menampik kenyataan ini ! Percayalah!"
"Cianpwe, boleh aku bertanya apa sebabnya kau selalu berusaha untuk menjodohkan aku dengan nona Go ?"
"Tentu saja demi kau, demi keturunan dari keluarga Han!"
"Jadi kalau begitu antara cianpwe dengan keluargaku mempunyai hubungan yang sangat dalam?"
"Benar hubungan itu memang dalam..dan dalam sekali !"
"Aku boleh tahu sampai dimanakah dalamnya hubungan itu."
"Tidak nak, untuk seat ini tidak ! Tapi di kemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya!"
Han Siong Kie termangu, dia menatap wajah parempuan itu tanpa terkedip., lama kemudian pemuda itu baru berkata lagi.
"Maafkanlah daku cianpwe, boanpwe benar-benar tak dapat memenuhi apa yang kau harapkan itu!"
"Nak aku memperingatkan dirimu dengan bersungguh hati jangan kita bicarakan tentang pertaruhan itu sendiri bila engkau tidak punya keturunan apakah kau tidak kasihan dengan ayahmu yang berada dialam baka, dapatkah ia beristirahat dengan tenang di sana? Aku tak sengaja menakutnakuti dirimu tapi engkau bakal menyesal di kemudian hari bila tidak kau turuti nasehatku ini. Nah, pertimbangkan sendiri"
Tay huang sinni pun sudah mengebaskan ujung bajunya sambil berkata.
"Kuil kami tak pernah menerima tamu mengenai pertaruhan itu sendiri mau dilaksanakan atau tidak aku pun tak bisa memaksa terserah pada kebijaksanaan ciangbunjin sendiri!"
Tanpa menunggu lagi dia putar badan dan masuk kedalam kuil.
Memandang bayangan punggang Tay huang sinni yang lenyap dibalik pintu Han Siong Kie marasa hatinya kacau sekali kata-kata terakhir dari nikoh itu amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin"
Yang sengaja diucapkan dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
Sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
Sementara pemuda itu masih termangu-mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi.
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti yang paling utama.
Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya sebagai manusia yang tidak berbakti?
Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji.
Kata-kata itu diucapkan sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyianyiakan kesempatan itu, dia mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan kata-kataku ini ? .."
Han Siong Kie menggigit bibir, sahutnya.
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan dendam bagi kematian ayahku, hidup matiku sukar diramalkan manaa aku boleh merusak lagi masa dspan orang lain"
"Tentang soal itu harus dibahas secara tersendiri"
Tukas perempuan misterius itu.
"Jangan kau campur adukkan persoalaan yang satu dengan persoalan yang lain.
Gemas dan mendongkol sekali Han Siong Kie setelah mendengar ucapan itu akan tetapi ia tak sempat mengumbar hawa marahnya sebab setinggi langit budi yang pernah diterimanya dari perempuan ini.
Orang yang kehilangan sukma pernah menjamin kepadaaya bahwa Tonghong Hui tidak bakal mati tapi apa sebabnya ia selalu menghalang-halangi hubungannya dengan gadis itu?
Mengapa ia bertindak begitu misterius?
Siapakah dia?
Apa hubungannya dengan keluargaku?
pelbagai ingatan selalu berkecamuk dalam benaknya membuat pemuda itu merasa kepalanya mau meledak.
"Cianpwe mengapa engkau selalu berbuat demikian kepadaku? Katakanlah apa sebabnya?"
"Apa sebabnya tentu saja demi kebaikanmu!"
"Demi kebaikanku? Kebaikan apa? Terangkanlah."
"Belum waktunya nak, kalau kuterangkan sekarang juga tiada keuntungan apapun bagimu!"
Han Siong Kie tarik napas panjaog-panjang ia benar-benar dibikin apa boleh buat.
"Aaii"
Agaknya bila tidak kusanggupi persoalan itu hari ini tak mungkin aku bisa pergi dari sini dengan tenang! "
Katanya.
"Kalau memang begitu mengapa tidak kau setujui saja?"
Desak perempuan misterius itu.
Han Siong Kie tundukan kepalanya rendah-rendah lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa.
Orang yang kehilangan sukma maju dan menghampiri si anak muda itu sambil menepuk bahunya ia berkata lagi.
"Nak, semestinya kau harus menerima syarat tersebut tidakkah kau merasa iba oleh ketulusan cinta nona Go kepadamu? Aku tahu bahwa engkau sebenarnya mencinta dia tentu saja kau tidak membantah kenyataan ini bukan? Tapi karena soal Tonghong Hui engkau tak berani mencintainya aku tahu engkau tak ingin mencabangkan perasaan cintamu kepada orang lain dan kuakui bahwa tindakan semacam ini memang benar tapi engkau lupa bahwa antara engkau dengan Tonghong Hui sebenarnya tak mungkin bisa dijadikan satu sebab bila engkau keras kepala dan melanjutkan hubungan itu maka hubungan kalian ini akan berakhir dengan tragedy, benar-benar tragedi yang mengenaskan!"
Bukan untuk yang pertama kalinya Han Siong Kie mendengar ucapan semacam itu akan tetapi ia tak dapat mengendalikan perasaan sendiri sekujur badannya gemetar keras menahan emosi.
Dapatkah dia melenyapkan bayangan Tonghong Hui?
Mungkinkah ia melupakan gadis itu dari pikirannya?
Tidak !
Tidak mungkin.
"Apakab cianpwe artikan hubungan dendam itulah yang akan merupakan tragedi?"
Ujar pemuda itu kemudian "Tapi cianpwe antara aku dan dia telah terjadi suatu janji meskipun janji itu hanya berada didalam hati masing-masing ..."
"Janji apa"
"Dendam tak mungkin dibalas tapi cinta tak dapat dipadamkan oleh dendam macam apapun, dan kami bersedia mengorbankan diri demi cinta, biarlah kami membina cinta kami di alam baka bila cinta tersebut tak dapat kami pupuk didunia yang nyata ini!"
"Semenjak dahulu aku kan sudah terangkan bukan soal itulah yang akan mengakibatkan tragedy, kalian salah pabam!"
"Kalau memang bukan itu bukankah sama artinya bahwa tidak mungkin hubungan kami akan diakhiri dengan tragedi?"
"Tidak! Kemungkinan selalu ada dan bahkan pasti bakal terjadi!"
"Sekali pun ada kemungkinan boanpwe tidak untuk menghindarinya!"
Ucap Han Siong Kie dengan tegas. Mendengar perkataan itu Orang yang kehilangan sukma mengbela napas sedih ia berkata.
"Aaai terserah apa yang hendak kau katakan? Aku hanya minta agar engkau memberi pertanggungan jawab kepadaku kepada Go Siau bi kepada Sinni locianpwe kepada mendiang ayahmu dan pada gurumu"
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras mimik wajahnya berkerut menahan penderitaan batin serunya dengan lantang.
"Sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan"
Sahut orang yang kehilangan sukma dengan suara berat. Han Siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk.
"Baik. Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
"Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"Seteleh tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada Tonghong Hui?"
Kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana.
"Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk memperkuat ikatan perkawinan ini "
Seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put lo sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han Siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan kata-kata orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan, apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya.
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri dan beristirahat dengan tenang" . Orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han Siong Kie untuk maju katanya.
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada kakekmu."
Dalam hati Han Siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah dan jatuh berlutut dihadapan put lo sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put lo sianseng ulapkan tangannya seraya berkata.
"Cukup, Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu dengan pikiran yang sempit" . Sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di mulut lembah kematian. Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang Thian che kau sektor Thian lam. Itu berarti sekarang ia berhadapan dengan tugas baru, tugss yang amat berat yaitu membersihkan anasir-anasir yang tidak benar dari tubuh perguruannya. Tanpa terasa dia teringat pula akan Ok kui cu pay, tanda kebesaran Thian lam bun yang telah terjatuh ketangan orang orang Thian che kau, bila benda tersebut tidak berhasil ditarik kembali bukan saja dia tak akan mendapat kepercayaan dari anak muridnya selain itu dia pun merasa malu terhadap sukma gurunya di alam baka.
"Boanpwe akan mengingatnya selalu."
Sahut pemuda itu dengan hati bergidik. Orang yang kehilangan sukma tertawa geli, ia menggoda .
"Apa itu boanpwe ? seharusnya kau membahasai diri sebagai siausay (cucu menantu)"
Merah jengah Han Siong Kie setelah mendenger godaan itu namun ia tetap membungkam. Pot lo sianseng berpaling kearah perempuan misterius itu lalu katanya lagi.
"Masalah anak Bi kuserabkan padamu, baik-baiklah mengatur segala sesuatunya!"
"Akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya"
Sahut Orang yang kehilangan sukma seraya menjura.
Put lo sianseng tersenyum dan manggut-manggut ia tidak berbicara lagi perlahan lahan tubuhnya bergerak tinggalkan puncak bukit itu dan akhirnya lenyap dikejauhan.
Menanti bayangan punggung kakek sakti itu sudah lenyap dari pandangan orang yang kehilangan sukma baru berkata lagi.
"Nak apa tujuanmu sekarang?"
"Mula pertama aku hendak berkunjung dulu ke benteng maut kemudian menyatroni perkumpulan Thian ce kau dan bikin perhitungan setelah kuambil kembali tanda lencana Okkui cu-pay aku hendek berangkat ke Thian lam untuk membasmi pengkhianat-pengkhianat itu dari muka bumi"
"Baik bila tugasmu telah selesai aku dan putriku akan mengantar nona Go menuju ke Thian-lam serta menyelenggarakan resepsi perkawinan bagi mereka berdua sekarang kau boleh pergi semoga kau bisa jaga diri baik-baik"
Han Siong Kie merasa seakan-akan baru saja mengalami suatu impian hanya sebelum impian itu habis dia keburu mendusin dengan wajah uring-uringan pemuda itu pun menuruni bukit tersebut.
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong ..sekarang Go siau bi telah menjadi calon istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hek pek siang yau, mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
Semestinya Hek pek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin telah terjadi sesuatu?
Han Siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana.
Atau Hekpek siang yau telah menghianatinya ?
-000d0w000-
Jilid 33 DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatan-perbuatan mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Kie berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pemuda itu mengambil keputusan, pikirnya.
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi" . Seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu. Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan perjalanan melalui jalan raya. Sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han Siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring.
"Engkoh tua Tunggu sebentar, kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"Haaah ..haaah .. haaahh saudara cilik, rupanya kau "
Teriak pula pengemis dari selatan dengan wajah berseri.
"Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi masa kiamat?"
Ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?"
Seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?"
Han Siong Kie menggelengkan kepalanya.
"Sudah berbulan-bulan lamanya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"Oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.."
Ujar pengemis itu. Sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh.
"Semenjak dahulu kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah tiba, apa lagi namanya"
Ketika mengucapkan kata kata teriebut jelas terlihat bahwa Pengemis dari selatan diliputi oleh emosi yang beekobar kobar.
"Aaah jadi sudah mencapi tingkat sekritis itu? Kurang ajar.. Thian cbe kau memang harus dibasmi dari muka bumi!"
Seru Han Siong Kie dengan penuh kegusaran. Tidak sampai disitu saja kemarahan pengemis dari selatan dengan gemas dan penuh kebencan dia berkat lagi.
"Semenjak Kay-pang didirikan oleh cou ya Kami belum pernah ada partai dan perguruan lain yang berani memandang hina perkumpulan kami sungguh tak nyana musibah ini menimpa di jaman kami ini.. aai lima hari berselang perkumpulan kami telah menerima lencana Thian che leng dan memberi batas pada perkumpulan kami untuk menggabungkan diri dengan mereka dalam lima hari mendatang bila menampik maka,.."
"Maka mereka akan berbuat apa?"
Sela pemuda itu.
"Mereka akan mencuci semua markas Kay pang dengan dara segar anggotanya bahkan anak murid Kay pang dilarang menancapkna kakinya kembali di daratan Tionggoan"
Darah panas terasa mendidih dalam tubuh Han Siong Kie sinar matanya setajam pisau dan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya sambil menggertak gigi teriaknya.
"Hmm! Dia berani berbuat begitu?"
"Aaai apa mau dikata? Kekuaaaan Thian che kau telah meliputi tujuh propinsi di daerah selatan dan enam propinsi di utara sungai terutama sekali kekuatan mereka yang sangat lihay dengan ditunjang oleh utusan-utusan Thian che kau yang berilmu tinggi jago dari manakah yang mampu menandingi kehebatan mereka?"
"Huuh! Segala macam badut sirkus juga berani berlagak sok hebat tunggu saja tanggal mainnya"
"Saudara cilik aku dengar perguruan Thian lam bun sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan tersebut malahan istana Huan-mo-kiong diubah namanya menjadi kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian 1am apa benar berita ini?"
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka"
Setelah berhenti sebentar ia berkata lagi.
"Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan resah, namun tak seorangpun yang bersuara.
Han Siong Kie termenung dan berpikir sebentar, kemudian bertanya.
"Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada dikantorkantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham, yaa ..mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?"
Kata Han Siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
"Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati"
Sahut pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih.
"Aku hanya kuatir bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai... yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han Siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han Siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk.
mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka dua bersaudara inipun kembali berpisah.
Sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han Siong Kie berpikir didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000d0w000-BAB 68 LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan dirinya tanpa pamit.
sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ?
Celaka ditangan orang ?
Jelas hal ini tak mungkin terjadi, Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu "
Sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir saja pemuda itu menjerit.
"Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han Siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak meleset dan akhirnya ..ia benarbenar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu memang tak lain dari kekasih hatinya.
Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ?
Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup segar bugar...
dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum mati.
Tapi aneh, sekalipun Han Siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa, ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui"
Akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
Sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
Suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia memanggil.
"..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat Han Siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa raganya?
Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong Hui terlintas semua merah diantara pipinya, ia menatap Han Siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu, pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan ataupun ciuman.
Siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-Perlahan-lahan Han Siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
Suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu kejadian yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu?
Mengapa ia begitu tega membiarkan ia menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan keluarga Thio?
Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji..
Lama sekali, akhirnya Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan.
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Han Siong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,jauh berbeda dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini "Engkoh Kie, kau...
kau membenci aku"
Kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"Sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi.
"sudah kau tanyakan soal yang ingin kuketahui itu ?"
"Sudah.."
Perlahan-lahan gadis itu mengangguk. Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi.
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"Sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"Sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?"
Tonghong Hui mengangguk lirih tanda membenarkan.
Sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han Siong Kie pada saat ini, dia girang lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya, kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu merintih...
merintih penuh kedukaan serta penderitaan-"Engkoh Kie, kee...
kenapa kau?"
Tegur Tonghong Hui.
"Oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat memasuki pintu benteng maut lagi "
"Kenapa?"
Tanya sianak muda itu dengan terperanjat. Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi.
"Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
Sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir.
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari ini" . Sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
"Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
"Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selama-lamanya ."
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya.
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleng dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan, aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir dan nasib"
Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han Siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali.
"Adik Hui, mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan-dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti ..dan tak akan paham"
"Katakanlah padaku ..kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han Siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya lagi.
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?"
Tukas Tonghong Hui sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku,"
Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang hampa seperti orang kehilangan sukma Han Siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han Siong Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai? Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han Siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi, mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ...
kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung baju seseorang yang tersambar angin-Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat menyeramkan, Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han Siong Kie sendiripun merasa terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk inilah yang terus berkaokkaok dengan suara aneh.
"Siapakah orang itu adik Hui?"
Cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu" , tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar dari pintu gerbang benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur?
Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia percaya akan kata-kata dari gadis itu?
Baca Juga: Pendekar Bayangan Setan 3
Baca Juga: Duel Dua Jago Pedang 5