Eps 10 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Bukankah lambang tengkorak maut muncul ditempat pembantaian?
Ataukah lambang itupun palsu?
Berpikir sampai disini, dia lantas mendepakkan kakinya ke tanah seraya berseru.
"Bohong ..bohong siapa tahu kalau ia sengaja membohongi aku ? Bagaimanapun juga setelah persoalan dari Kay pang telah ku selesaikan, aku harus berkunjung kebenteng maut"
Setelah mengambil keputusan, pemuda itu menghela nafas panjang dan melanjutkan perjalanannya menuju kuil Bu hau si di Pak swi tham, markas besar dari kaum pengemis.
Suasana dimarkas besar perkumpulan Kay pang ketika itu diliputi oleh keresahan dan kemurungan.
Mulai dari ciangbunjin sampai anggota yang terendah telah berkumpul semua disitu, jumlah mereka mencapai dua ratus orang lebih, Waktu itu dengan wajah tegang, sedih dan marah mereka tersebar diluar dan didalam kuil untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan-Hari inilah batas waktu yang ditetapkan Thian che leng telah berakhir, dalam satu jam mendatang bila Kay pang masih belum bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau, maka semua anggota dalam perkumpulan itu akan dibantai secara keji.
Pemimpin para tiang lo dari Kay pang yakni Pengemis dari selatan berdiri disamping ketuanya dengan alis mata berkernyit.
Suasana hening dan sepi, seakan-akan sernua orang sedang menantikan tibanya saat kiamat.
Ditengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba semua orang merasa pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu seorang manusia baju hitam tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah melayang turun ke tengah gelanggang.
Gerak tubuh orang itu sangat enteng dan cepat seolah-olah sukma gentayangan, dari sini dapat diketahui betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ketua Kay pang serta keenam orang tianglonya serentak bangkit berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan-Berbareng dengan gerakan itu, kawanan jago lihay dari Kay pang yang lainpun serentak bersiap siaga, meskipun agak tercekat perasaan hati mereka namun semangat tempur masih tetap tinggi.
Orang itu adalah seorang kakek berjubah hitam dengan lambang matahari, rembulan serta bintang diatas dadanya, tinggi kekar perawakan tubuh orang itu, cambangnya lebat dan sinar matanya amat tajam.
setelah menyapu pandang sekejap keseluruh gelanggang, dia tertawa dingin lalu mengambil keluar sabuah lencana perak dari sakunya.
Dibawah cahaya rembulan tampaklah warna yang menyilaukan mata memancar keluar dari lencana tersebut lambang matahari rembulan dan bintang tertera pula diatas lencana tadi.
"Lencana Thian che leng!"
Bisik semua orang tanpa sadar.
Ujung baju tersampok angin kembali berkumandang memecahkan kesunyian delapan sosok bayangan manusia melayang masuk ke dalam gelanggang dan berdiri sejajar dibelakang manusia berjubah hitam itu mereka adalah delapan orang laki laki bersenjata pedang, Setelah delapan orang pembantunya hadir manusia berjubah hitam itu berseru dengan suara yang keras.
"Utusan Thian che kau yang bernama Suma Hiong sengaja datang kemari untuk menunggu jawaban dari ketua Kay pang!"
Suasana menjadi gaduh berpuluh-puluh pasang mata memancarkan sinar kesedihan serentak tertuju pada sembilan orang manusia yang berada di tengah gelanggang.
Ketua Kay pang tampak gemetar agak keras tapi sesaat kemudian ia menyahut dengan suara dalam.
"Tiada seorang manusia pun yang bisa memerintah Kay pang"
"Hmm! jadi ciangbunjin sudah mengambil keputusan untuk menolak menggabungkan diri dengan perkumpulan kami?"
Kata Suma Hiong utusan khusus Thian che kau sambil mendengus.
"Sejak didirikan cousu ya kami perkumpulan Kay paag adalab suatu perkumpulan yang berdiri sendiri selama hubungan kami dengan perkumpulan lain ibaratnya air sungai tak pernah melanggar air sumur"
"Ciangbunjit sudah kau pikirkan apa akibatnya bila kalian berani membangkang perintah dari lencana Thian che leng?"
Ancam kakek berjubah hitam itu dengan wajah bengis.
"Sekalipun perkumpulan bakal hancur anggotanya bakal musnah kami tidak akan takut untuk menghadapi resikonya"
Sahut ketua Kay pang ita penuh emosi. Suma Hiong tertawa seram.
"Heehh .. heehh ..heehh ciangbun, kuanjurkan kepadamu lebih baik berpikirlah tiga kali sebelum mengambil keputusan, ketahuilah bahwa keputusan yang gegabah akan mengakibatkan kehancuran total bagi pihak kalian sendiri "
"Tak usah banyak bicara, kami tak akan sudi mendengarkan perkataanmu itu"
Setelah mengetahui kebulatan tekad orang, suma Hiong utusan khusus dari Thian che Kau itu segera menarik kembali lencananya lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Bagus Bagus Kupuji ketekadan kalian ini, terpaksa aku harus melaksanakan titah dari kaucu kami untuk membantai kalian semua dari muka bumi "
Sebelum iblis itu sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari luar pekarangan kuil muncul seorang pengemis setengah baya, sambil berlarian menuju kehadapan ketuanya dia berseru.
"Lapor ciangbunjin, markas kita telah terkepung rapat."
"Aku sudah tahu, mundurlah "
Kata ketua kay pang seraya ulapkan tangannya.
Pengemis setengah baya itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu delapan orang jago pedang yang berada dibelakang suma Hiong telah putar badan dan memencarkan diri jadi posisi setengah lingkaran, masing-masing pihak mencari posisinya masing-masing dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
sekejap mata suasana menjadi hening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh gelanggang.
Dengan sinar mata setajam sembilu suma Hiong menyapu pandang tiap wajah tokoh kay pang yang hadir ditempat itu, sikapnya buas dan garang, seakan-akan dia tak pandang sebelah matapun terhadap musuh-musuhnya ini.
Dua orang diantara enam tiang lo yang hadir disana tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, mereka membentak keras kemudian sambil melepaskan serangan langsung menerkam ketubuh orang itu.
suma Hiong mendengus sinis, tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
Jerit kesakitan menggelegar di angkasa, di tengah muncratnya darah segar yang menodai permukaan tanah dua orang tiang lo itu mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati kawanan jago dari Kay pang, siapapun tak mengira kalau dua orang tiang lo mereka bakal mampus dalam satu gebrakan saja ditangan orang.
Jelaslah sudah bahwa tenaga lwekang dari suma Hiong benar-benar sangat lihay dan sukar dicarikan tandingannya, atau dengan perkataan lain sudah pasti Kay pang akan musnah dari muka bumi ditangan orang ini.
Pengemis dari selatan amat gusar, rambut nya terasa pada berdiri seperti kawat, dia maju kemuka, kepada ketuanya berkata.
"Bila takdir menghendaki Kay pang musnah ditangan iblis ini. siapapun tak akan dapat menolongnya, biarlah aku si.pengemis tua berangkat satu langkah lebih duluan" -sambil membusungkan dada, ia lantas tampil kedepan dan mendekati musuhnya. Menyaksikan kemunculan pengemis itu. suma Hiong menjengek dingin, katanya.
"Jadi engkau yang disebut sebagai pengemis dari selatan, pemimpin para tianglo dari Kay pang?"
"Benar"
Jawab pengemis itu singkat.
"Dengan kedudukan serta nama besarmu dalam tubuh Kay pang, perlukah ku beri waktu bagimu untuk mempertimbangkan keadaan pada saat ini? Dengan senang hati akan kuberi kesempatan yang terakhir bagimu untuk berpikir kembali"
"Tak perlu"
Tukas pengemis dari selatan dengan gusar "Thian che kau menganggap dirinya besar dan agung, perbuatannya cuma mengacau dan menerbitkan keonaran dalem dunia persilatan, saat kiamatnya tidak akan terlalu jauh"
"Kurang ajar, saudara benar-benar tak tahu diri, rupanya sebelum darah menodai seluruh permukaan tanah, kalian tak akan sadar"
"omong kosong, lebih baik tutup saja bacot anjingmu"
Suma Hiong dibuat marah oleh ucapan yang kasar itu, ia menengadah lalu tertawa dengan suaranya nyaring dan menjulang tinggi ke angkasa membuat semua orang merasa telinganya menjadi sakit.
Berbareng dengan berkumandangnya gelak tertawa itu delapan orang pendekar pedang yang bersiap siaga dibelakangnya serentak berteriak keras, kemudian menerjang kearah kawanan jago dari Kay pang yang mengurung disekitar tempat itu.
Tak dapat dicegah lagi, s uatu pertempuran berdarah yang amat serupun segera berkobar.
Dengan penuh kemarahan pengemis dari selatan bersuit nyaring dan menerjang maju kemuka, dia menyerang Suma Hiong secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, dia telah melancarkan delapan buah serangan berantai, kedelapan buah serangan itu semuanya dilepaskan dengan disertai hawa amarah yang berkobar, bukan saja amat dahsyat bahkan arah yang dituju semuanya adalah bagian-bagian tubuh yang mematikan.
seketika itu juga suma Hiong terdesak oleh serangan berantai itu, sehingga mundur tiga langkah ke belaknog.
Tapi begitu pengemis dari selatan menyelesaikan ke delapan buah pukulannya, serentak suma Hiong memperbaiki posisinya, dia tertawa seram dan secara beruntun balas melancarkan tiga buah pukulan--000d0w000-BAB 69 HEBAT sekali serangan balasan dari utusan Thian che kau ini, dengan susah payah Pengemis dari selatan berhasil menghindari serangan yang pertama dan serangan yang kedua, tapi serangan yang ketiga tak sempat dihindari lagi, tak ampun pundaknya terhajar telak.
"Duuk"
Pengemis dari selatan mendengus tertahan-sambil muntah darah segar dia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan-Suma Hiong tertawa seram, ia tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk memperbaiki posisinya lagi, berhastl dengan serangan yang pertama, serentak tubuhnya menerkam kedepan dan menyusuli dengan pukulan berikutnya.
"Bangsat..... lihat serangan"
Ditengah keadaan yang kritis, bentakan nyaring menggetar diangkasa, empat tiang lo yang masih berada disamping gelanggang berikut ketua mereka bersama-sama masuk kedalam gelanggang dan mengerubuti suma Hiong yang lihay itu.
Di pihak lain pertarungan telah berkobar dimana-mana, setiap anggota Kay pang yang hadir dalam markasnya telah diserang habis-habisan oleh lawan yang tangguh, dalam waktu singkat dengusan tertahan suara beradunya senjata dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti.
Pemandangan pada waktu itu mengerikan sekali, darah berceceran dimana-mana, mayatpun bergelimpangan setinggi bukit.
Delapan orang jago dari Thian che kau itu rata-rata berilmu tinggi, setiap kali cahaya pedang mereka berkelebat lewat seorang korban segera roboh binasa atau cedera hebat.
Suma Hiong yang dikerubuti oleh empat orang tianglo dan ketua Kay pang sama sekali tidak merasa jeri, dengan gerakan yang lincah dan pukulan pakulan yang aneh dia layani setiap ancaman yang tertuju kearahnya.
Suatu ketika tiba-tiba ia membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyst yang disertai dengan deruan angin puyuh yang memekikkan telinga menyapu kedepan dan menghajar lawan-lawannya "Blaaang.."
Bentaran keras tak bisa dihindari lagi, keempat orang tianglo dan ketua kay pang itu segera terhajar sampai mencelat dan jatuh terlentang di tanah.
Melihat ketuanya terancam bahaya, pengemis dari selatan tidak menggubris lukanya sendiri lagi, setelah menyeka noda darah di ujung bibirnya, ia meraung keras kemudian bagaikan banteng terluka menerjang lagi ke depan.
"Sialan"
Maki suma Hiong dengan marah.
"Hay..pengemis tua, rupanya kau memang sudah bosan hidup, rasakanlah pukulanku ini"
Secepat sambaran kilat dia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Pengemis dari selatan menjerit tertahan, untuk kedua kalinya ia terhajar sampai mencelat sejauh beberapa tombak.
Merah padam wajah keempat orang tiang lo itu, seperti orang kalap mereka melompat bangun dan menerkam musuhnya, empat batang tongkat tah kau pangnya ibarat empat ekor naga sakti segera menghantam tubuh iblis tersebut..
Suma Hiong tertawa dingin, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebat, ketika berkelebat ke depan, tahutahu ke empat batang toya peg gebuk anjing itu sudah ditangkap dua dikanan dan dua dikiri.
Sekali menyentak kebelakang, keempat orang tiang lo itu mendengus tertahan dan mencelat kebelakang.
Berhasil menghajar mundur, keempat tiang lo itu, Suma Hiong meneruskan terka mannyake depan, dengan cakar mautnya dia cengkeram tubuh ketua kay pang yang berada dihadapannya.
Cepat dan diluar dugaan, cengkeraman tersebut datang keadaan tak terduga, tampak nya sang ketua dari kay pang ini segera akan tertangkap oleh musuhnya.
"Tahan"
Tiba-tiba serentetan bentakan nyaring berkumandang ditengah angkasa.
Walaupun suasana dalam gelanggang ramai, oleh bentakan dan adu senjata, namun bentakan itu amat dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas, bahkan mereka merasakan telinganya jadi sakit.
serentak pertempuran terhenti ditengah jalan, semua jago berdiri tertegun sambil alihkan pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.
Suma Hiong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, cepat dia tarik kembali serangannya dan melompat mundur kebelakang.
Dari balik pagar pekarangan perlahan-lahan berjalan keluar seorang pemuda tampan berwajah dingin, setajam sembilu sorot mata pemuda itu tatkala saling beradu pandang, tanpa sadar suma Hiong mencekat mundur beberapa langkah.
Waktu itu sebenarnya Suma Hiong sedang merasa keheranan, ia heran mengapa kawanan jago yang telah disiapkan disekitar kuil itu tidak munculkan diri untuk melakukan pembantaian, padahal sebelumnya telah dibicarakan bahwa mereka harus menyerbu kedalam kuil bila mendengar gelak tertawa nya yang keras.
Tapi sekarang setelah menyaksikan kemunculan pemuda berwajah dingin ini, suatu firasat jelek segera muncul dalam hatinya, ia segera membentak keras.
"Bocah keparat siapa kau? sebutkan nama mu."
Pemuda itu tertawa dingin, ia tidak menjawab akan tetapi sewaktu melewati dihadapan seorang pendakar dari Thian che kau jari tangannya lantas ditudingkan kemuka.
Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, darah segar tampak muncrat keluar dari dadanya, tidak selang sesaat kemudian orang itu sudah roboh terjengkang dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.
"Kau .. kau adalah manusia bermuka dingin?"
Teriak Suma Hiong dengan paras muka berubah hebat.
"Benar, kau memang hebat dan pengetahuanmu cukup luas, ternyata akupun juga kau kenali"
Pemuda yang barusan munculkan diri ini memang tak lain adalah Han Siong Kie, jago muda itu.
Suma Hiong menyeringai seram, sinar matanya memancarkan cahaya buas, dengan suara yang keras seperti geledek hardiknya.
"Manusia muka dingin, engkau bersiap-siap untuk mencampuri urusan ini?"
"Haaahhh ..haaahhh haaahhh kenapa tidak? Justrupun ciangbunjin datang kemari untuk membantai habis kawanan iblis macam dirimu itu"
"Ciangbunjin?"
Jengek orang she suma itu sinis.
"Heeehhh heeehhh engkau ciangbunjin dari mana?"
"Ciangbunjin dari Thian lam bun "
"Mimpi Heeeh heeh heeeehh bocah keparat, engkau sedang bermimpi disiang hari bolong. Thian lam bun sudah lama terhapus namanya dari muka bumi"
"Yang akan terhapus namanya dari muka bumi bukan Thian lam bun, melainkan Thian che kau dan waktunya tak akan lama lagi "
"Orang goblok sedang mengigau ditengah hari bolong "
"Kau tak percaya ?Baik... ini hari akan kuampuni selembar jiwa anjingmu, agar kau bisa menyaksikan sendiri benar tidak perkataanku itu."
"Hanya mengandalkan kekuatanmu seorang, sayang aku tidak berjiwa sebesar kau... ini haripun aku tak akan melepaskan dirimu "
Han Siong Kie mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi melainkan bersiul nyaring.
Berbareng dengan siulan tersebut, terlihatlah bayangan manusia saling berkelebat dalam gelanggang, dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat dari manusia barbaju hitam bertumpukan ditempat itu Suma Hiong tentu saja dapat mengenali kembali mayatmayat itu, sebab mereka tak lain adalah jago-jago perkumpulannya yang disiapkan diluar kuil itu.
Tapi kini sudah tewas semua dalam keadaan mengerikan, kontan ia jadi terkejut dan bergidik, begitu pula dengan ketujuh orang pendeker pedang yang masih hidup, mereka merasa sukmanya serasa sudah melayang tinggaikan raganya.
sambil menuding kearah tumpukan mayat setinggi bukit itu, Han Siong Kie mengejek.
"Suma Hiong, bukankah mayat-mayat itu adalah jenasah dari anggota perkumpulanmu? Nah, hitunglah sendiri, semuanya berjumlah seratus dua puluh orang, coba kau hitung lagi adakah masih ada yang kelewatan atau tidak??"
Menyeringai seram wajah suma Hiong dengan muka yang buas dan mengerikan ia berteriak.
"Manusia bermuka dingin, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kemudian menghancur lumatkan tubuhmu menjadi abu"
"Huuuh Mau mencincang aku? Cuma mengandaikan ilmu silat yang kau miliki itu? Jangan mimpi."
Rupanya sewaktu Han Siong Kie tiba ditempat kejadian., ia menyaksikan markas besar dari Kay pang sudah dikepung rapat oleh musuh-musuhnya.
Tanpa menimbulkan suara sianak muda itu segera mengeluarkan ilmu silatnya dan menotok mampus ke seratus dua puluh orang jago Thian che kau yang mengepung di luar kuil, setelah itu bagaikan kelelawar dia menyusup masuk kedalam kuil.
Waktu itulah dia saksikan para tianglo dan ciangbunjin Kay pang sedang menghadapi keadaan yang terancam, setelah memberi pesan kepada anak murid Kay pang yang berjagajaga di uar kuil diapun tampilkan diri untuk menyelesaikan persoalan itu Betapa gusar dan mendongkolnya suma Hiong setelah mengetahui bahwa rencana penyerbuan mengalami kegagalan total, ia tahu tak mungkin baginya untuk memberi pertanggungan jawab dihadapan kaucunya setelah mengalami kekalahan total seperti hari ini.
apalagi semua anak buahnya telah terbunuh habis.
Rasa dendam dan marahnya serta merta dilampiaskan keatas tubuh pemuda itu, sambil menggertak gigi katanya.
"Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Apa salahnya kalau kita buktikan bersama2"
Begitu selesai berbicara, ia menerjang ke muka dengan garang, secepat sambaran kilat secara beruntun iblis ini melepastan tiga buah serangan berantai.
Han Siong Kie tidak berusaha menghindar atau berkelit, dengan melontarkan sepasang telapak tangannya kemuka dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang"
Suata ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang diudara, suma Hiong tak sanggup menahan kedahsyatan musuhnya, secara beruntun ia terdesak mundur lima langkah lebar.
Gelombang angin pukulan yang tersebar keempat penjuru menyapu bersih setiap benda yang ada diseputar lima kaki dari gelanggang, bukan saja kawanan jago dari Kay pang terdesak sampai mundur tunggang langgang, tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau yang masih hidup pun pontang panting dibuatnya dengan muka pucat.
Sungguh girang tak terkirakan pengemis dari selatan setelah melihat kedahsyatan saudaranya, tak kuasa lagi ia berteriak keras.
"Saudara cilik puas.. sungguh memuaskan.... Hajar sampai buntung bajingan itu"
Setelah merasakan kedahsyatan musuhnya, kepongahan serta kejumawaan suma Hiong lenyap tak berbekas, keadaannya pada saat ini ibarat bola yang kehilangan udara, dengan loyo bercampur ketakutan ditatapnya pemuda itu tanpa berkedip.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pihak musuh mempunyai kepandaian silat sedahsyat itu, bahkan boleh dibilang tak bisa diterima dengan akal sehat, siapa yang menyangka kalau seorang pemuda ingusan ternyata berilmu tinggi "
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, selangkah demi selangkah ia maju kedepan, katanya dengan suara dingin "
Aku meminjam mulutmu untuk menyampaikan pesan kepada kaucu kalian, katakam bahwa dalam beberapa hari mendatang aku akan berkunjung sendiri ke Lian huan tau untuk membuat perhitungan.
suruh dia bersiap sedia menyambut kedatanganku.
Nah, sekarang kau boleh pergi, aku telah berjanji untuk mengampuni jiwamu.."
Sebagai seorang yang berilmu tinggi sudah tentu suma Hiong tak sudi untuk menyerah kalah dengan begitu saja, ia membentak keras.
"Manusla bermuka dingin, kau jangan tekabur lebih dulu, sambutlah pukulanku ini."
Sepasang telapak tangannya diayun kemuka secara beruntun dalam sekejap mata ia telah melepaskan delapam serangan berantai.
Semua ancaman yang dilontarkan itu menggunakan jurus serangan yang aneh dan sakti, bukan saja jarang ditemui dikolong langit, keganasannya betul-betul mengerikan, seketika itu juga si anak muda itu terdesak mundur sejauh lima depa kebelakang.
Setelah berhasil dengan ancamannya suma Hiong tak sudi memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melancarkan serangan balasan, dia susulkan lagi dengan lima buah serangan berantai.
Tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau tidak berpeluk tangan belaka, menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, mereka terjun pula kedalam gelanggang, untuk membantu pemimpinnya.
Bentakan-bentakan gusar menggelegar di angkasa, dua puluh sosok bayangan manusia terjun kedalam gelanggang dan menghadang jalan pergi ketujuh orang musuhnya, pertarungan massal tak dapat dihindari lagi.
Sementara itu suma Hiong sudah melancarkan serangan dengan jurus yang kelima, tiba-tiba Han Siong Kie berkelit kesamping dengan kecepatan yang tak terhingga, begitu berada tiga depa disamping kalangan, keli ma jari tangan kanannya segera disodokkan kedepan-Jerit kesakitan memecahkan kesuyian, secara beruntun suma Hiong mundur beberapa langkah ke belakang, lengan kanannya terkulai lemas kebawah, separuh badannya basah kuyup bermandikan darah segar.
"Suma Hiong "
Kembali Han Siong Kie berkata demgan ketus.
"Untuk kesekian kalinya kuberi kesempatan kepadamu untuk berlalu dari sini, ketahuilah kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir.
bila kau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji "
Suma Hiong bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu bila kesempatan ini tidak dipergunakan sebaik-baiknya, niscaya dia akan mati konyol ditempat itu.
setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, dengan pandangan penuh kebencian ia berkata.
"Manusia bermuka dingin, tunggu saja sampai tanggal mainnya"
Tanpa banyak berbicara lagi, ia menjejakkan kakinya ketanah dan melarikan diri terbirit-birit dari sana.
Melihat pemimpinnya sudah kabur, tujuh orang jago dari Thian che kau itupun tak berani melanjutkan pertarungan, serentak mereka memberi tanda dan memperketat serangannya, setelah berhasil memaksa mundur lawannya, orang-orang itu melompat ke aaes atap rumah dan berusaha melarikan diri dari situ.
"Hmm Kau mau pergi kemana?"
Jengek Han Siong Kie sinis.
Ketika sepuluh jari tangannya dilontarkan kemuka, munculah sepuluh buah desingan angin tajam ke depan.
Jerit kesakitan berkumandang saling menyusul, dalam waktu singkat tujuh orang jago pedang yang mencoba untuk melarikan diri itu sudah rontok ketanah bagaikan burung yang kena ketapel.
Melihat musuhnya sudah terbasmi habis, ketua Kay pang baru memburu maju sambil memberi hormat, serunya dengan wajah bersyukur.
"Oooh... sungguh beruntung Han ciangbunjin datang tepat pada saatnya, kalau bukan bantuan ciangbunjin niscaya perkumpulan kami sudah hancur ditangan iblis itu, budi kebaikan ini tak akan kami lupakan untuk selamanya"
Buru2 Han Siong Kie balas memberi hormat sahutnya.
"Aaah, perkataan dari ciangbunjin terlampau serius, sudah sepantasnya kalau kita sebagai umat persilatan saling membantu dikala sedang susah, apalagi perkumpulan kami termasuk salah satu korban dari keganasan mereka, sewajarnya aku bantu kalian untuk menghadapi mereka"
Pengemis dari selatan memburu pula ke depan, walaupun dengan langkah yang gontai, noda darah masih membekas diujung bibirnya, namun tidak mengurangi kegembiraannya, dengan wajah berseri ia berseru.
"Haaah haaahhh haaahh saudara cilik, hayo ikut aku menuju keruang belakang, aku akan bercakap-cakap sampai puas dengan dirimu, aku tahu engkau paling segan dengan segala macam tata cara yang sok. ayo ikuti aku"
Han Siong Kie pun mohon diri dengan ketua Kay pang beserta jago-jago lainnya, kemudian dengan mengikuti dibelakang pengemis dari selatan mereka menyingkir keruang belakang.
Ruangan itu kecil sekali dan merupakan kamar semedi yang tak begitu luas, Han Siong Kie duduk saling berhadapan dengan saudara tuanya.
setelah hening sesaat dengan kerutkan kening pemuda itu menegur.
"Engkoh tua, aku lihat luka yang kau derita tidak enteng"
"Aah apa artinya luka seringan ini? Kejadian ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagi kami, andaikata saudara cilik tidak datang tepat pada waktunya niscaya perkumpulan kami sudah mengalami kehancuran total"
Menggunakan kesempatan itu Han Siong Kie teringat kembali akan beberapa persoalan, iapun berkata.
"Engkoh tua, ada beberapa persoalan aku ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk membantu?"
Heeeh heeeh heeh dalam hal apa Katakan saja, sekalipun kau menginginkan batok kepalaku, sekarang juga akan kupersembahkan kepala ini untukmu "
"Aah, engkoh tua memang suka bergurau, tentu saja tidak seserius itu persoalan yang hendak kukatakan, aku cuma mengharapkan rekan rekan dari Kay pang untuk mencari jejak dari beberapa orang bagiku, aku tahu Kay pang punya jaringan mata-mata yang luas dan hebat, mencari jejak orang merupakan pekerjaan yang rutin"
"Siapa yang hendak kau cari ? Coba katakan-"
"Ada tiga orang tiang lo dari perguruanku yang tercerai berai dalam suatu pertarungan hingga kini tak kuketahui kabar berita mereka, maka aku mohon bantuan Kay pang untuk mencarikan jejaknya " .
"Ooh... saat ini akan segera dilaksanakan oleh anak murid kami, aku percaya jejak mereka akan segera diketahui, siapa lagi yang hendak kau cari.."
"Hekpek siang yau, sepasang siluman yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh tahun berselang "
"Hekpek siang yau? Mau apa kau cari gembong iblis yang luar biasa itu? "
Seru pengemis dari selatan dengan jantung berdebar.
Han Siong Kie pun menceritakan bagaimana ia menerima sepasang siluman itu menjadi anggota seperguruannya.
sehabis mendengar kisah tersebut pengemis dari selatan baru paham dengan duduknya persoalan, ia gelengkan kepalanya sambil berkata.
"Saudara cilik, aku benar-benar merasa kagum sekali dengan kehebatanmu, tak nyana nasibmu memang mujur dan hok ki mu besar, gampang, soal ini gampang sekali, segera akan kuperintahkan anak muridku untuk melakukan penyelidikan"
"Selain daripada itu akupun ingin minta petunjuk tentang satu persoalan lagi."
"Aaah katakanlah sedari kapan engkau mulai belajar bicara menela-menele begitu? Hayo utarakan saja secara blakblakkan"
"Aku dengar dalam dunia persilatan hidup seorang tokoh silat yang ahli sekali dalam hal ilmu beracun dan orang itu bernama Ban tok cousu, apakah tokoh silat ini masih hidup didunia ini."
"Mengapa engkau menanyakan persoalan ini"
"Racun Gi hang tok ko (buah racun berubah wujud) yang salah dimakan oleh Hekpek siang yau katanya hanya bisa dipunlahkan oleh dia seorang, aku hendak mohonkan pengobatan bagi kedua orang itu"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru menyahut.
"Aku rasa kemungkinan besar dia masih hidup didunia ini"
"Jadi hanya suatu kemungkinan belaka ?"
"Benar, aku hanya bisa mengatakan mungkin, sebab kalau dihitung dengan jari tangan maka pada tahun ini Ban tok cousu sudah berusia diatas seratus tahun, pada dua puluh tahun berselang aku pernah mendengar orang berkata bahwa raja racun yang sangat lihay ini menetap didalam telaga beracun..."
"Telaga beracun ?"
"Oooh, belum pernah kau dengar tentang nama telaga ini"
"Belum "sahut sianak muda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luas telaga beracun ini hanya setengah hektar dan letaknya dalam lembah hek kok (lembah hitam) yang berada dibukit Tay keng san, air telaga itu sangat beracun dan siapa saja yang terkena air itu niscaya akan mati secara konyol. Kendatipun begitu aku tak berani memastikan seratus persen benar, sebab sampai detik ini belum pernah kubuktikan sendiri kebenaran dari berita ini "
"Sekalipun Ban tok cousu kebal racun dan lihay dalam menggunakan barang berbisa, toh tidak sepantasnya kalau dia berdiam dalam air telaga itu?"
Kata Han Siong Kie dengan terperanjat.
"Ada orang menyaksiksn dia masuk keluar dalam telaga beracun itu, apa yang sebenarnya dikerjakan cousu selaksa racun itu tak seorangpun tahu, dengan sendirinya aku sipengemispun tak bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu itu"
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang bernama Tok kun si dewa racun Yu Hai, apakah dia adalah ahli waris dari Ban tok cousu yang sangat lihay itu."
"Bukan"
"Bukan? Lalu dari manakah dia pelajari ilmu beracun yang amat dahsyat itu?"
"Asal mulanya Yu Hau cuma seorang Bu beng siau cut prajurit tak bernama dalam dunia kangou, dua puluh tahun berselang tanpa sengaja ia berhasil menemukan se
Jilid kitab beracun yang amat luar biasa, semenjak isi kitab itu berhasil dikuasahi olehnya tersohorlah namanya sebagai Tok kun atau raja racun, kendatipun namanya saja memakai huruf "kun"
Yang berarti orang budiman, tapi pada hakekatnya dia adalah seorang manusia durjana yang berhati busuk ".
"Dia telah menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau"
Sela pemuda itu.
"Bukan kejadian yang aneh kalau ia berkomplot dengan mereka, toh kaum serigala hanya berkumcul dengan serigala, masa ada serigala bergaul dengan domba ? ketua Thian Che kau berambisi besar dan bercita-cita untuk menguasahi seluruh jagad, menjadi kaisar dalam dunia persilatan, dengan segala daya upaya dia mengumpulkan kawanan jago dari pelbagai daerah untuk memperkuat posisinya, kecuali beberapa perguruan dan partai kenamaan boleh dibilang hampir semua perkumpulan dan perguruan telah dilalap habis olehnya ya.. beruntung Kay pang dapat lolos dari musibah ini"
Han Siong Kie tertawa dingin -"Heeehhh heeehhh heeehh masa kiamat dari Thian che kau tak akan terlalu lama, tunggu saja tanggal mainnya "
"Bila kita biarkan perkumpulan itu mengembangkan sayapnya sampai dimana-mana, aku kuatir dunia persilatan akan terjatuh semua kedalam cengkeremannya"
"Aaah. belum tentu begitu...."
Pengemis dari selatan berpaling dan menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, bisiknya.
"saudara cilik, engkau terlalu percaya pada kemampuanmu?"
Merah padam selembar wajah Han Siong Kie karena jengah, ia tidak mengucapkan sepatah katapun-Rupanya pengemis dari selatan menyadari kekhilafannya, cepat ia menambahkan.
"Saudara cilik, tentunya kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa.
"Sebuah balok kayu tak akan mampu menunjang sebuah rumah gedung bukan ? Aku rasa persoalan paling penting yang harus kau lakukan pada saat ini adalah kembali ke Thian lam serta melakukan pembersihan terhadap unsur-unsur busuk dalam tubuh perguraanmu, sebab dengan tindakan ini bukan saja kau dapat menyelamatkan mereka-mereka yang masih setia kepadamu dan terpaksa harus tunduk diperintah ketua yang sekarang, selain itu kaupun akan memperoleh bantuan yang amat besar dalam usahamu menghancurkan perkumpulan Thian che kau, tak usah kuatir, setiap saat setiap detik Kay pang selalu berdiri dibawah komandomu"
Tercekat hati Han Siong Kie setelah mendengar ucapan ini, kata-kata dari engkoh tuanya ini mengetuk sampai ke dalam hati sanubarinya, memang benar ucapannya, bila Wi It beng dibiarkan berlaku sewenang-wenang tanpa ditindak.
niscaya sengsaralah orang-orang yang masih setia pada kebenaran, kelemahan dari Thian lam bun justru akan muncul dari hal-hal seperti ini."
Tapi ingatan lain cepat melimtas dalam benaknya, teringat olehnya akan suatu masalah yang jauh lebih penting.
"Apa yang diucapkan engkoh tua memang betul"
Katanya kemudian dengan dahi berkerut "tapi sekarang aku telah menjumpai sesuatu masalah yang betul-betul rumit"
"Kesulitan apa? Katakan saja asal aku mampu pasti akan kubantu untuk memecahkannya"
Ucap pengemis dari selatan sambit menepuk dada sendiri "Pertama orang yang benar-benar mengetahui asal usulku yang sebenarnya hanya lima orang tiang lo dari sebuluh tiang lo ruang goan lo wan yang masuk daratan Tiangggoan-jadi diantara lima orang tiang lo itu ada dua orang telah tewas dan tiga orang tak ketahuan kabar beritanya, kedua tanda kebesaran sebagai seorang ketua yakni ok kui cupay telah terjatuh ketangan Thian che kau, tanpa adanya tanda kepercayaan itu tak mungkin aku bisa menarik kepercayaan dari murid-murid lainnya, tolong tanya bagaimana caraku untuk mengatasi persoalan ini?"
Mendengar ucapan tersebut terlintas rasa serba salah diwajah pengemis dari selatan, katanya kemudian-"Yaa, persoalan ini memang merupakan satu masalah yang pelik, bukankah pekerjaan yang gampang untuk merebut kembali lencana ok kui cupay dari tangan orang Thian che kau, dan lagi.."
"Kenapa? "
Sela sang pemuda.
"Ketua pelaksana perguruan Thian lam yang sekarang wi It beng telah menyatakan penggabungan diri dengan perkumpulan Thian che kau, istana Huan mo kiong sudah berubah jadi kantor cabang Thian che kau, aku kuatir kalau tanda kebesaran itu sudah terjatuh ketangan Wi It beng, aaai... kalau sampai begitu, bukankah sekarang ia telah mempunyai kekuasaan untuk memerintah segenap anak murid ?"
Air muka Han Siong Kie berubah hebat.
"Ehmm, memang ada kemungkinan untuk terjadi peristiwa semacam ini, padahal lencana tersebut merupakan benda tersuci dan tertinggi dalam perguruanku, siapa yang membawa benda itu, dialah yang dipertuan, waah, urusan kan menjadi bertambah pelik"
"Saudara cilik, kau jangan gelisah dulu, coba kuselidiki keadaan yang sebenarnya"
Pengemis tua itu lantas bertepuk tangan tiga kali. seorang pengemis setengah baya mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan.
"Tianglo, kau orangtua ada perintah apa?"
Tanyanya.
"Sampaikan perintahku, tanyakan kepada setiap murid yang berada disini apakah di antara mereka ada yang mengetahui jejak dari ketiga orang tianglo dari Huan mo kiong yang berada didaratan Tionggoan, kalau ada yang tahu segera datang memberi laporan "
"Terima perintah"
Sesudah memberi hormat pengemis setengah baya itupun mengundurkan diri Sepeninggal pengemis itu Han Siong Kie merasa panik dan tidak tenang, ia merasa bahwa persoalan yang sedang dihadapi sekarang memang cukup pelik, bukan saja Perintah dari gurunya Mo tiong ci mo tak dapat diselesaikan, bahkan urusanpun berubah jadi sekacau ini, bukankah dia akan menjadi manusia yang berdosa bagi perguruan?
Tidak selang beberapa saat kemudian pengemis setengah baya itu datang melapor.
"Lapor tiang lo ada seorang murid bagian kontrol yang bernama Tan Beng siap memberi laporan"
"Suruh dia masuk"
Perintah pengemis dari selatansetelah Tan Beng masuk kedalam ruang, pengemis itupun bertanya lagi.
"Apa yang kau ketahui?"
Tan Beng memberi hormat, kemudian bukannya menjawab malahan balik bertanya.
"Yang dimaksudkan sebagai tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu apakab tiga orang kakek berjubah sutera dan membawa toya berkepala setan?"
"Benar "
Sahut Han Siong Kie dengan semangat berkobar. Pengemis dari selatan mengangguk kepada Tan Beng katanya.
"Lanjutkan perkataanmu lebih jauh"
"Tiga hari berselang ketika hamba sedang melakukan perjalanan melewati Niu kang, pernah kusaksikan ketiga orang tianglo itu sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah wilayah Thian lam."
"Baik, kau boleh mundur"
Sepeninggal Pengemas itu, Han Siong Kie duduk termangu, ia merasa tak habis mengerti kenapa ketiga orang tianglonya menuju ke wilayah Thian lam, bukankah tindakan mereka ini sama artinya dengan menghantarkan diri kemulut harimau ?
Tak nanti Wi It beng akan melepaskan mereka bertiga dengan begitu saja.
Tanpa terasa diapan menguatirkan pula keselamatan dari kelima orang tianglonya yang masih tertinggal diruang goan lo wan.
Sebagai seorang ketua Thian lam bun, tentu saja ia tak dapat membiarkan para tianglonya menghantarkan kematian, karena itu rencananya semula untuk berkunjung kebenteng maut dan menyatroni lian huan tau terpaksa dibatalkan.
-000d0w000-
Jilid 34 SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula.
"saudara cilik apa rencanamu selanjutnya?"
Han Siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius.
"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"
".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"
"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh"
Cepat sianak muda itu menampik .
"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai perjalanan ini?"
"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"
"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
"Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat untuk menyusul mereka"
"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor-kantor cabang dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"
"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"
"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"
"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu"
Ucap Han Siong Kie seraya bangkit berdiri "Selain itu.?"
"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??"
Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "
"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua"
Kata pemuda itu kemudian setelah menerima lencana bambu itu.
"Semoga kau sukses selalu"
"Selamat tinggal"
Han Siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan perjalanannya menuju Thian lam.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu.
Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan, Han Siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.
Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remang-remangnya cuaca orang itu menghadang jalan perginya.
Han Siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona..
rupanya kau"
Tak asing lagi orang itu bagi Han Siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.
"Oh masih kenal dengan aku?"
Sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.
"Ada urusan apa nona berdiri disini"
"Menunggu kau"
"Menunggu aku"
Bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang.
"dari mana nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?" -00000d0w0000 BAB 70
"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu? Asal kami berdua masingmasing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"
"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"
"Tak perlu kau tahu"
Han Siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula.
"Ada urusan apa nona menunggu kedatanganku disini?"
"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?"
"Ke Thian lam"
"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat sukar dilukiskan dengan kata-kata"
"Kenapa?"
Tanya anak muda itu terkejut.
"Seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok kui cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun pun menyertai dirinya."
"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?"
Tanya Han Siong Kie keheranan-"Tentu saja hanya satu"
"Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"
"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya"
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?"
Teriak Han Siong Kie terkesiap.
Orang yang ada maksud segera tertawa dingin "Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "
"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"
"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho, mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk melakukan pembersihan terhadap perguruannya."
"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan?"
"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"
Han Siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya.
"Mereka harus dijagal semua"
"Siapa yang akan kau jagal"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"
"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"
Han Siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati.
"Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga, siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong, aku bisa sampai duluan?"
Berpikir sampai disini ia lantas bertanya.
"Nona mendapatkan keterangan ini dari mana?"
"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini kepadamu"
"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"
"Silahkan"
Setelah menjura, berangkatlah Han Siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.
Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata dikelopak matanya.
Mengapa nona itu bersedih hati?
Tak seorangpun yang tahu Dalam pada itu Han Siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratus-ratus li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.
Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak tiga ratus li dari istana Huan mo kiong.
Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.
Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga orang tianglo itupun tak ada yang tahu.
Han Siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang tianglonya.
Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai, tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan hancurlah perguruan itu.
Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing khek ki" , sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han Siong Kie, mari kita bercerita kembali setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.
Setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalanan kian kemari untuk mencari jejak Han Siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas, mereka jadi murung tak habis mengerti.
Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam.
Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi.
Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han Siong Kie telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap.
menurut keterangan kedua puluh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya.
sungguh gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.
Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han Siong Kie"
Gadungan berhasil memberi jawaban yang memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.
Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah, bahkan setiap saat menanti perintah mereka.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang mencengangkan mereka.
Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han Siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.
Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu sewajarnya.
Begitulah kesalahan paham yang terjadi pada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.
Kita kembali pada Han Siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambaltambalan.
Satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir.
"Sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"
Serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.
Sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi sebelum Han Siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya memberi hormat, katanya.
"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu"
"Rencana? Rencana apa?"
Tanya Han Siong Kie. Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum akhirnya bertanya.
"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"
"Betul"
"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin, agar supaya..."
"Kuil Poo cu bin ? Aku tak mengerti apa yang kau maksudkan ?"
Pengemis tua itu semakin terperanjat, dengan gugup dia mundur tiga langkah, matanya terbelalak dan mulutnya melongo, untuk sesaat tak dapat mengucapkan sepatah kata pun-Han Siong Kie bukan orang bodoh, ia segera sadar bahwa dibalik peristiwa ini pasti ada hal-hal yang tak beres, lencana bambu pemberian dari lam key atau pengemis dari selatan itu segera di ambil keluar, sambil menunjukkan lencana itu, tegurnya.
"Kau kenal dengan benda ini ?"
"Tentu saja "sahut pengemis tua itu dengan sikap yang sangat menghormat.
"Benda itu adalah tanda kepercayaan dari tianglo kami, ciangbunjin...."
"Jelaskan apa yang terjadi dalam kuil Po cu bio yang kau maksudkan tadi"
Tukas pemuda itu cepat. Agak tertegun pengemis tua itu, tapi ia lantas menerangkan.
"Bukankah ciangbunjin serta para tianglo perguruan Thian lam sedang merundingkan rencana pembersihan atas unsur jahat dari istana Huan mo kiong di kuil Pun cu bio?"
Sesudah mendengar perkataan itu mengertilah sudah Han Siong Kie apa yang sudah terjadi.
"Oooh ciangbunjin itu adalah ciangbunjin gadungan, orang lain yang telah menyaru sebagai diriku, tak sempat kujelaskan lagi duduknya perkara kepadmu, cepat katakan dimanakah letak kuil Puy cu bio itu?"
Sesudah termangu-mangu sejenak pengemis tua itu menunjuk ke arah sebelah timur seraya sahutnya.
"Kuil Pun cu bio berada didalam hutan waru sana"
Han Siong Kie tidak membuang banyak waktu lagi, dia lantas menjejakkan kakinya keatas tanah dan melayang ke arah tempat yang ditunjuk.
Sesaat kemudian ia sudah berada didepan hutan yang dimaksudkan, sebelum sempat melangkah masuk.
dua orang laki-laki kekar telah melayang keluar dari balik pepohonan sambil membentak.
"siapa disitu ? Berhenti"
Tapi setelah mengetahui siapa yang datang, paras muka dua orang laki-laki itu berubah hebat, mereka menjerit kaget lalu kabur masuk kedalam hutan.
"Mau kemana kalian ? Hayo kembali "
Sambil membentak Han Siong Kie mendorong telapak tangannya kedepan lalu dihisap kebelakang.
Seketika itu juga muncullah dua gulung tenaga hisapan yang sangat besar menarik tubuh kedua orang laki-laki itu sehingga tak bisa berkutik, mereka coba meronta dan berusaha kabur, namun bukan saja tubuhnya jadi sempoyongan, malahan tubuh mereka terasa tertarik semakin kencang kebelakang.
Bisa dibayangkan betapa takutnya mereka berdua, pucat muka kedua orang itu dan peluh dingin membasahi tubuhnya, sukma serasa melayang tinggalkan raganya.
Manusia muka dingin yang asli bisa muncul dihadapan mereka, peristiwa ini tak pernah terbayang oleh mereka walaupun dalam impianpun.
Tapi kedua orang laki-laki itu tak sudi menyerahkan diri dengan begitu saja, setelah tahu bahwa sia-sia untuk meronta dari belenggu tenaga hisapan tersebut, serentak mereka meloloskan senjata tajamnya.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah sianak muda itu, sinar matanya tampak aneh sekali.
tegurnya dengan keras.
"Kalian bardua adalah anggota Thian che kau??"
"Benar"
Sahut salah seorang diantara mereka.
"Kalau begitu, mampuslah kalian"
Dua orang laki-laki itu coba melawan dengan pedangnya, tapi sebelum mereka dapat berbuat sesuatu, Han Siong Kie telah menyentilkan ujung jarinya kedepan..
Dua gulung angin desingan tajam secepat sambaran kilat meluncur kedepan dan menghajar hiatto kematian di tubuh dua orang laki-laki itu.
Untuk tidak sampai mengejutkan orang-orang yang berada dalam kuil, pemuda itu mengambil keputusan untuk membasmi lawannya dengan serangan paling cepat dan paling jitu, maka pilihanpun terjatuh pada ilmu jari Tong kim ci yang tak ada tandingannya itu.
Dua kali dengusan tertahan memecahkan kesunyian, darah segar muncrat keluar dari lubang didada mereka, tanpa banyak berkutik, tapi dua orang laki-laki itu terjungkal ketanah, dan tewas seketika itu juga .
Setelah musuhnya tak berkutik Han Siong Kie menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu kemudian secepat sukma gentayangan dia masuk kedalam kuil.
sementara itu dalam ruangan kuil Thia Wi wan utusan khusus dari Thian che kau dengan kedudukannya sebagai ketua Thian lam bun duduk dikursi utama, tiga orang tianglo duduk disampingnya dan belasan orang lelaki berpakaian ringkas dengan berbaris menjadi dua deret berdiri jajar di luar ruangan tersebut.
Pada waktu itu ada dua orang berbaju biru sedang melangkah masuk kedalam ruangan sambil berlutut mereka berkata.
"Tecu berdua menghunjuk hormat untuk Ciangbunjin"
"Bangun"
Seru Thia Wi wan dengan gayanya yang angkuh. Dengan nada agak emosi, salah seorang dari kakak berbaju biru berkata lebih lanjut.
"Pada saat ini kelima orang tianglo yang masih tertinggal diruang Goan lo wan telah dijebloskan kedalam penjara bawah tanah, berita yang kita kirim tak dapat mereka terima, tapi dari sekian banyak anak murid Thian lam bun yang berhasil kita hubungi, sebagian besar bersedia untuk berbakti kepada Ciangbunjin, hanya sebagian kecil saja yang mati-matian membela Wi It beng, namun kekuatan mereka tak perlu terlalu di kuatirkan "
"Apakah berita yang kita susupkan kesana dapat diketahui oleh komplotan dari Wi It beng?"
"Aku rasa tak mungkin"
"Baik, mundurlah keluar ruangan sana sambil menunggu perintah berikutnya"
Dengan hormat dua orang kakek baju biru itu memberi hormat kemudian mengundurkan diri. Thia Wi wan lantas berpaling kearah ke tiga orang tianglonya, lalu berkata pula.
"Menurut maksudku, malam nanti setelah kentongan ketiga kita langsung menyerbu ke dalam istana Huan mo kiong, menggunakan kesempatan dikala semua orang terlelap tidur kita bekuk dahulu Wi It beng, sementara tianglo bertiga berusaha untuk melepaskan kelima orang tianglo yang disekap itu dari penjara, meskipun kaki tangan Wi It beng akan melakukan perlawanan, kita bantai saja mereka yang berani membangkang kemudian baru kita jatuhi hukuman yang setimpal kepada Wi It beng sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Entah bagai manakah menurut pendapat kalian bertiga?"
"Apa yang diucapkan suheng memang benar, kami semua siap melaksanakan perintah"
Ucap To It hui ketua para tianglo dengan sikap yang sangat hormat. Seorang laki-laki berpakaian ringkas tiba-tiba lari masuk dengan wajag gugup, setibanya didepan ruangan, ia berlutut seraya berseru.
"Lapor ciangbunjin, dua orang saudara kita yang meronda didalam kuil kedapatan sudah berubah jadi mayat"
"Apa?"
"Dua orang saudara kita yang bertugas meronda keamanan dalam kuil kedapatan telah dibunuh, mereka mati tertotok jalan darah kematiannya oleh sejenis ilmu totokan yang lihay"
Thia Wi wan segera meloncat bangun, oleh karena ia menyaru sebagai Han Siong Kie dan mengenakan topeng kulit manusia, maka perubahan wajahnya sama sekali tidak kelihatan, meski begitu sinar matanya amat memancarkan hawa napsu membunuh yang mengerikan.
Dengan paras muka berubah hebat, ketiga orang tianglo itupun meloncat bangun.
Belasan orang laki-laki berpakaian ringkas yang berjejer diluar pagar ruangan segera menunjukan sikap kaget, serentak mereka bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan..
Siapapun tahu bahwa dua orang laki-laki yang bertugas meronda disekitar kuil itu memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, tapi kenyataanya mereka dibunuh orang tanpa sempat bersuara ataupun melepaskan tanda bahaya, dari sini dapat diketahui bahwa ilma silat yang dimiliki penyergap itu luar bissa sekali.
Suasana tegang segera menyelimuti angkasa, semua orang bersiap siaga, siapapun tak berani bertindak gegabah.
Akhirnya dengan suara yang berat Thia Wi wan berkata kepada To It hui yang berada disisinya.
"To tianglo mungkinkah Wi It beng telah menerima laporan dan menyerang lebih dulu mendahului kita?"
"Entahlah"
Sahut To It hui dengan wajah tegang "tapi aneh mengapa saat ini tidak nampak adanya gerakan apa2"
"Mungkinkah mereka sedang menyusun suatu rencana busuk untuk menjebak kita?"
"Biar kukeluar sebentar untuk memeriksa keadaan diluar situ"
"Bawalah sepuluh orang jago kita dan lakukanlah pemeriksaan yang seksama diseputar kuil ini"
Perintah Thia Wi wan-"Terima perintah"
Sahut To It hui.
Dengan dikawal oleh sepuluh orang busu berpakaian ringkas berangkatlahj tianglo ini keluar pintu kuil.
Suasana diseputar kuil tersebut amat sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, yang terdengar hanya suara mendesis daun kering yang terhembus angin.
"Geledah sekitar kuil ini "
Perintah To it hui.
sepuluh orang busu berpakaian ringkas itu segera menyebarkan diri dan mulai melakukan penggeledahan disekitar tempat itu.
Hutan itu luas dan mencapai satu hektar, oleh sebab banyak semak belukar dan pepohonan tumbuh disana, sukarlah bagi mereka untuk memandang lurus kedepan.
Tiba-tiba dua jeritan lengking berkumandang memecahkan kesunyian, suara jeritan itu keras dan mengerikan, membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri, secepat kilat To It hui melayang ke tempat berasalnya jeritan itu, apa yang kemudian terlihat seketika membuat hatinya bergidik, Dua sosok mayat menggeletak dibalik semak belukar dengan dada berlepotan darah, kedua orang itu tak lain adalah dua orang diantara sepuluh jago yang ditugaskan melakukan penggeledehan.
Lubang sebesar jari tangan berhasil ditemukan dibagian dada mayat-mayat itu.
To It hui tahu bahwa busu-busu ini mati karena suatu serangan ilmu jari yang maha dahsyat.
"Aaah, bukankah luka ini berasal dari ilmu jari Tong kim ci?"
Ingatan tersebut tiba-tiba melintas dalam benaknya.
Paras muka tianglo ini kontan berubah hebat, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya, menurut apa yang diketahui hanya ciangbun suhengnya seorang yang dapat mempergunakan ilmu jari ini, tapi Han Siong Kie toh masih duduk dalam kuil?
Masakah ada orang lain yang pandai pula menggunakan ilmu jari Tong kim ci?"
"Tapi siapakah jago lihay itu?"
Demikian ia berpikir.
"mengapa ia datang kemari dan melukai anak murid perguruan kami??"
Tianglo ini cukup mengerti, bila orang itu pandai menggunakan ilmu jari Tong kim ci berarti pula tenaga dalamnya amat sempurna, atau dengan perkataan lain orang itu pastilah seorang tokoh sakti yang berilmu tinggi.
Berpikir sampai disitu, tak tahan lagi hatinya bergidik dan peluh dingin mengucur keluar semakin deras.
Sementara To It hui masib termenung dengan keheranan, jerit kesakitan kembali berkumandang saling menyusul..
Satu jeritan-..
dua jeritan-.
tiga kali jeritan tidak lebih tidak kurang persis sepuluh kali jeritan itu menandakan bahwa sepuluh orang busU yang bertugas melakukan penggeledahan telah tewas semua ditangan orang.
Tidak banyak bicara lagi ketua tianglo dari Thian lam bun ini segera kabur kembali kedalam kuil.
Tapi baru saja dia melangkah masuk ke halaman kuil itu untuk kesekian kalinya tianglo ini dibikin tertegun, bahkan hampir saja tidak percaya dengan kenyataan yang tertera didepan matanya.
Dihalaman tengah depan ruangan kuil telah bertambah lagi dengan seorang manusia bermuka dingin-Tatkala dia alihkan pandangannya ke arah atas kuil disana dia saksikan ciangbun suhengnya dengan wajah yang kaku tanpa emosi dan tatapan mata setajam sembilu sedang melotot manusia muka dingin yang berada ditengah halaman itu tanpa berkedip.
Dua orang tianglo, dua orang kakek baju biru serta delapan orang busu berbaju ketat yang berada di sana semuanya berdiri menjublak dengan muka tercengang.
Di tengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa itu, manusia muka dingin yang berada diatas pelataran kuil itu tiba tiba tertawa seram, lalu menegur.
"Bajingan keparat, besar amat nyalimu. Berani betul menyamar sebagai wajahku..."
Manusia muka dingin yang berdiri ditengah halaman menjengek sinis, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara menyeramkan ia menjawab.
"Thia Wi wan, kau tak usah berlagak pilon lagi,. ketahuilah bahwa sandiwaramu telah berakhir, muslihatmu selama ini hanya sia-sia belaka"
Sebutan Thia Wi wan yang sengaja diucapkan dengan nada berat itu kontan menggetarkan badan manusia muka dingin yang berada diatas pelataran kuil, ia mundur selangkah ke belakang kemudian sambil menyeringai katanya.
"Bajingan, jangan sembarangan ngebacot, tampaknya kau sudah bosan hidup,"
Sekali melejit ia sudah melayang diudara kemudian dengan suatu gerakan tubuh yang cepat orang itu melayang turun tepat dihadapan manusia muka dingin yang berada di tengah halaman itu, Kecuali delapan orang busu berbaju ringkas yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, baik ketiga orang tianglo itu maupun dua orang kakek berbaju biru berdiri saling berpandangan dengan muka kaget bercampur keheranan.
sebab baik potongan badan, maupun potongan wajah kedua orang manusia muka dingin ini boleh dibilang persis satu sama lainnya, ibarat pinang yang dibelah dua.
Tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu mulai curiga, sebelum kemunculan manusia muka dingin yang kedua ini..
mereka masih tidak merasa apa-apa, tapi sejak mendengar logat bicara orang yang kedua ini, secara lapat-lapat mereka mulai merasa bahwa logat serta nada waktu berbicara dari manusia muka dingin kedua ini jauh lebih mirip dengan ciangbunjin suheng mereka daripada yang mereka ikuti selama beberapa hari ini.
Sebelum bertemunya kedua orang tokoh ini, mereka tidak begitu merasa, tapi sekarang mereka dapat merasakan suatu perbedaan yang menyolok sekali.
sebagaimana telah diketahui, manusia muka dingin yang munculkan diri sekarang memang tak lain adalah Han Siong Kie pribadi setelah melenyapkan dua busu orang jago lihay Thian che kau pengikut Thia Wi wan setelah mendahului To it hui masuk lebih dulu kedalam kuil itu.
Langkah pertama yang akan dilaksanakan adalah membongkar rahasia penyaruan Thia Wi wan dan tentu saja lebih baik lagi kalau bisa menyingkap tampang aslinya.
Dengan tatapan berapi-api Han Siong Kie mengawasi musuhnya lalu berkata lantang.
"Thia Wi wan, kalau tidak kau tunjukkan tampang setanmu pada saat ini juga, kau akan menunggu kapan lagi?" -0000d0w0000-BAB 71 SETELAH kemunculan sianak muda itu Thia Wi wan utusan khusus dari Thian che kau itu menyadari bahwa apa yang dibebankan kepadanya tak mungkin bisa terlaksana lagi, kendatipun begitu ia masih tetap membentak nyaring.
"Manusia latah yang tak tahu diri, berani benar bicara tak karuan dihadapanku Hmm Rupanya sebelum kubereskan nyawamu, kau tak akan merasa jera"
Sambil membentak ia menerkam kedepan dan melepaskan sebuah bacokan maut ketubuh lawan. Bukan saja serangan itu secepat kilat, kedahsyatannya luar biasa sekali, membuat hati orang mendesir rasanya.
"Thia Wi wan, kau anggap pukulan itu bisa mematikan aku?"
Jengek Han Siong Ki sinis "hari ini kau bakal mampus ditanganku"
Telapak tangannya dibabat kearah muka dengan taktik membuang ia punahkan ancaman lawan, sementara telapak tangan kirinya hampir pada saat yang bersamaan melepaskan pula serangan kilat ketubuh musuhnya.
Walaupun dua buah pukulan dilancarkan dalam waktu yang tidak bersamaan, namun kecepatannya mengerikan sekali.
Gagal dengan serangannya, cepat Thia Wi wan mengigos kesamping dan menyingkir kesisi gelanggang.
Han Siong Kie membentak keras, ia tidak membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja, sambil mementangkan kelima jari tangannya, kepala Thian wi wan dicengkeramnya dengan hebat.
Utusan khusus dari Thian che kau ini bukan musuh yang empuk.
dengan cekatan ia miringkan kepalanya kesamping, lalu secara beruntun melancarkan dua buah serangan balasan-Meleset dengan cengkeraman kilatnya, separuh tubuh Han Siong Kie ikut berputar ke samping dengan manis sekali ia berhasil menghindarkan diri dari serangan kilat musuh.
Perlu diketahui, kedua orang yang sedang bertempur ini masing-masing adalah jago kelas satu didunia persilatan, meskipun hanya tiga gebrakan namun tiap jurus serangan tersebut tersimpanlah daya penghancurt yang cukup menghantar nyawa lawan, siapa saja sedikit meleng niscaya akan menggeletak tak bernyawa.
Diam-diam Thia Wi wan mulai tercekat hatinya dan ketakutan, ia dapat merasakan bahwa ilmu silat yang dimiliki musuh ternyata jauh diatas kepandaian yang dimilikinya.
Sementara itu Han Siong Kie telah mendengus dingin, sepasang telapak tangannya dilontarkan secara bergilir, dengan jurus-jurus serangan Mo hwe liau goan (api iblis membakar ladang) Mo ciang ciang liong (telapak tangan iblis menaklukan naga) serta Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia titir musuhnya habis-habisan.
Desingan angin tajam seketika itu juga menyelimuti seluruh angkasa bagaikan amukan gelombang samudra, segulung demi segulung menghantam kemuka tiada hentinya.
Thia Wi wan betul-betul terkesiap dan pecah nyali, kontan tubuhnya terdesak mundur lima langkah lebar.
"Duuk."
Sebuah pukulan akhirnya berhasil menghajar bahu kiri jago lihay itu, Thia Wi wan segera mendengus kesakitan dan mundur dengan sampoyongan, sakitnya bukan kepalang sehingga serasa merasuk ketulang sumsum.
".. Ha yo perlihatkan kembali wujud aslimu"
Ejek Han Siong Kie dengan sinis.
Menggunakan suatu gerakan sambaran yang kecepatannya luar biasa sekali, dia menyapu kewajah musuh.
Jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian, topeng kulit manusia yang menutupi wajah Thia Wi wan tersambar lepas sehingga tampaklah muka aslinya yang bopeng.
Ketiga orang tiang lo itu dan dua orang kakek berjubah biru sama-sama memperdengarkan jeritan kaget, nampaknya mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang selama ini dihormati dan disanjung itu kenyataannya adalah manusia muka dingin gadungan, pucat pias wajah kedelapan orang busu berbaju ringkas itu, serentak mereka meloloskan senjatanya siap melancarkan serangan kilat.
Han Siong Kie betul-betul sangat marah, serunya lagi dengan lantang.
"Anjing keparat, anakan kunyuk, apa yang hendak kau tanyakan lagi sekarang ?"
Thia Wi wan terkekeh kekeh dengan seramnya.
"Heeehhh heehhh heeehhhhh manusia muka dingin, sekalipun penyaruanku berhasil kau bongkar, tapi jangan harap kau bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup,"
Dipihak lain ketiga orang tianglo dari Thian lam bun itu merasa marah, sedih dan malu, mereka malu karena kurang ketelitian, mereka hampir saja mengakibatkan kejadian yang fatal dan tak tertolongkan, untung di saat yang kritis, kelicikan musuhnya berhasil terbongkar.
Dengan tatapan tajam Han Siong Kie memandang sekejap ke arah ketiga orang tianglonya, kemudian ia berkata.
"Tangkap dan bunuh kedelapan orang anjing geladak itu, jangan lepaskan seorangpun diantara mereka dalam keadaan hidup" , Dengan hormat tiga orang tianglo dan dua orang kakek berjubah biru itu mengiakan-serentak mereka menerkam ke arah delapan orang laki-laki berbaju ringkas itu. Suatu pertempuran sengit tak dapat dihindari lagi, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk saling merobohkan. Thia Wi wan merasa panik bercampur gusar, ia membentak keras, tiba-tiba sambil maju kemuka sebuah pukulan maut dilancarkan ke tubuh pemuda itu "
Bangsat, rupanya kau sudah bosan hidup, maki Han Siong kie dengan marah sambil menghimpun hawa sakti si mi sinkang, dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
Tatkala dua gulung tenaga pukulan itu saling bertemu satu sama lainnya, terjadilah ledakan keras yang memekikkan telinga.
Sambil mendengus tertahan, Thia Wi wan mundur sejauh satu kaki dengan sempoyongan, mukanya penuh berlepotan darah, di tambah lagi wajahnya yang pada dasarnya hitam dan penuh bopeng, hal ini membuat tampangnya kelihatan semakin mengerikan.
selang sesaat kemudian dia baru muntah darah seggr.
Han Siong Kie sendiripun diam-diam merasa terperanjat, sebab dalam serangannya barusan dia telah sertakan tenaga si mi sin kang sebesar sepuluh bagian, tapi kenyataannya pihak musuh tak berhasil dirobohkan, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga lwekang orang itu cukup sempurna.
Sementara itu pertarungan dipihak lain pun sudah mencapai pada puncaknya, dari antara delapan orang laki-laki kekar yang memberikan perlawanan sengit, ada dua orang diantaranya sudah menggeletak menjadi mayat, dengan begitu maka tersisalah enam orang musuh yang kebetulan merupakan lawan tanding seorang melawan seorang dari pihak Thian lam bun.
Walaupun begitu, diantara dua belas orang yang sedang bertempur, ilmu silat dari dua orang kakek berjubah biru itu paling lemah, mereka ketitir hebat dan cuma bisa mempertahankan diri belaka.
Dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajah Han Siong Kie, pemuda itu membentak lagi dengan marah.
"Orang she Thia hendak kau serahkan tidak lencana ok kui cupay tersebut?"
"Kau tak usah bermimpi di siang hari bolong"
Sahut Thia Wi wan sambil menyeka noda darah dibibirnya.
"Mau diserahkan kepadaku tidak?"
Pemuda itu kembali membentak.
"Kalau tidak lantas kenapa?"
"Tidak kau serahkan? HHmm Memangnya tak bisa kuambil sendiri? Akan kuambil kembali lencana itu berikut jiwa anjingmu"
Sekali lagi Han Siong Kie melancarkan bacokan kilat dengan sepasang telapak tangannya.
Thia Wi wan tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, cepat dia melejit kesamping untuk menghindar.
Sementara itu dua orang kakek tua berjubah biru dari Thian lam bun itu sudah terdesak hebat sehingga keadaannya sangat kritis, jiwanya setiap saat terancam ditangan lawan.
Ini membuktikan bahwa anak buah Thian che kau yang ditugaskan dalam operasi kali ini bukanlah manusia-manusia sembarangan, rata-rata mereka berkepandaian tinggi.
Dua jerit kesakitan yang memilukan hati menggelegar memecahkan kesunyian, dengan tongkat kepala setannya secara beruntun To It hui dan Ang Pat siu telah membinasakan musuh-musuhnya, cepat mereka memburu kemuka dan menolong dua orang rekan mereka yang ketitir hebat.
Sementara itu tianglo yang lainpun telah berhasil membunuh musuhnya dalam sekejap mata delapan orang lakilaki berbaju ringkas itu sudah menggeletak semua menjadi mayat.
Sementara itu pertempuran antara Han Siong Kie melawan Thian wi wan masih berlangsung dengan serunya, bacokan demi bacokan maut dilepaskan secara berantai, tatkala pukulan yang dilepaskan tidak mendatankan hasil yang diharapkan, daripukulan telapak tangan ia lantas mengubah serangannya menjadi serangan jari.
Gulungan demi gulungan angin jari tangan menyambar kian kemari, memaksa Thia Wi wan harus meloncat kesana kemari dengan repotnya.
Jauh sebelum bertugas Thia Wi wan sudah pernah mendengar tentang kelihayan serta kedahsyatan ilmu jari Tong kim ci, sekuat tenaga dia berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman maut, tapi suatu ketika akhirnya ia terlambat untuk menghindar.
"Criit"
Segulung desingan angin jari tangan tepat menembusi bahunya secara telak, dengan sempoyongan ia mundur kebelakang dan hampir saja roboh terjengkang, darah segar berceceran membasahi separuh tubuhnya keadaan diri utusan khusus Thian Che kau itu bertambah mengenaskan.
Setelah membereskan kedelapan orang lawannya, ketiga orang tiang lo dan dua orang kakek baju biru itu sudah mengurung sekitar gelanggang itu rapat-rapat, semua perhatian mereka telah tertuju ketengah gelanggang dimana pertarungan masih berlangsung.
Perlahan-lahan Han Siong Kie maju beberapa langkah kemuka sambil mengayunkan telapak tangannya ia berseru.
"Thia Wi wan, serahkanlah jiwa anjingmu"
Tiba-tiba disaat yang kritis, Thia Wi wan mengayunkan tangannya ke depan, menyusul mana serentetan sinar tajam yang menyilaukan mata memancar keluar.
Seketika itu juga Han Siong Kie merasa matanya silau dan tenaga dalamnya punah.
"Aduh celaka"
Demikianlah ia berpekik kagetnya bukan kepalang menghadapi kejadian yang tak terduga itu.
"Duuuk..."
Sebuah pukulan dahsyat tak dapat dihindari lagi, diiringi dengusan tertahan Han Siong Kie terhajar sampai mencelat sejauh dua kaki lebih dan muntah darah segar.
Betapa terperanjatnya To It hui berlima menyaksikan kejadian itu, mereka menjerit kaget dan segera memburu ke muka.
Kiranya disaat yang amat kritis, Thia Wi wan dengan suatu gerakan yang tak terduga telah mengambil keluar lencana Ok kui cu pay, sisa hawa murni yang dimilikinya segera disalurkan kedalam lencana itu sehingga memancarlah sinar aneh dari mutiara di atas lencana tadi.
Han Siong Kie tidak menduga sampai ke situ, perhatiannya langsung buyar setelah terkena sorotan cahaya mutiara tadi, disaat keadaan itulah Thia Wi wan manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, sebuah pukulan gencar herhasil menghantam tubuhnya dengan telak.
Masih beruntung tenaga lwekang yang dimilikinya cukup sempurna, kalau tidak mungkin nadi pentingnya sudah putus dan tewaslah pemuda ini secara konyol.
Tanpa berpikir panjang, ketiga orang tianglo dan dua orang kakek baju biru itu menerjang kedalam arena, dengan menghimpun segenap kemampuan yang dimilikinya mereka terjang Thia Wi wan.
"Bangsat, rupanya kalian bosan hidup semua"
Maki Thia Wi wan dengan mendongkol.
sepasang telapak tangannya dilontarkan kemuka, angin puyuh yang maha dahsyat langsung menyapu kedepan dan menghajar kelima orang itu sampai jumpalitan tak karuan.
Han Siong Kie yang terluka tak sudi unjukkan kelemahan dihadapan musuhnya, dia menghirup udara dalam-dalam, wataknya yang angkuh membuat pemuda itu sekuat tenaga mempertahankan diri, ia bangkit dan duduk.
Dengan wajah menyeringai seram Thia Wi wan menerjang kehadapan sianak muda itu kemudian ujarnya pula dengan suara menyeramkan.
"Ciangbunjin sekalipun aku tak dapat melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya, tapi ketahuilah membinasakan dirimu juga termasuk pahala yang amat besar, pejamkan matamu dan terimalah kematian ini"
Seraya berkata telapak tangan kanannya lantas diayun kedepan..
"Duuk Blaang.."
Ditengah jerit kesakitan, bukan Hian Siong Kie yang termakan oleh pukulan itu, sebaliknya justru Thia Wi wan yang mencelat kebelakang sambil muntah darah, ia terbanting dan jatuh terduduk dilantai.
Hawa sakti si mi sinkang yang berhasil diyakinkan Han Siong Kie memang terhitung suatu kepandaian yang tangguh, kendatipun ia sudah terluka parah, hawa murninya sama sekali tidak menjadi buyar, sambil menggertak gigi ia sudah menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya untuk siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, akhirnya pukulan kilatnya berhasil juga merobohkan musuhnya.
sekalipun demikian, ia sendiripun lantas roboh terjengkang keatas tanah dengan badan yang lemas.
Bagi Thia Wi wan, kejadian ini benar-benar peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, mimpipun tak pernah diduga olehnya bahwa musuhnya masih mampu menyerangnya walaupun sudah terluka parah, cepat dia pusatkan perhatiannya, lalu bangkit berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun sebuah pukulan dibacok kebawah.
Dengan mata melotot besar.
Han Siong Kie dapat menyaksikan tibanya bacokan itu, apa daya ia tak mampu untuk melawan, pemuda itu hanya bisa melotot sambil menantikan saat kematiannya.
Ketiga orang tianglo yang terguling ditanah itu segera meloncat bangun dan sekali lagi menerkam kedepan, sekalipun mereka telah berusaha dengan sepenuh tenaga, pada hakekatnya tindakan itupun terlambat setengah langkah, tak mungkin serangan itu bisa mereka bendung.
Untunglah disaat yang sangat kritis dan berbahaya, dari luar kuil terdengar suara bentakan nyaring.
"Tahan"
Menyusul bentakan itu, tampak Thia Wi wan mundur tiga langkah lebih dengan sempoyongan.
Seorang nyonya muda baju merah yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan telah berdiri ditengah arena.
Dari mana nyonya cantik ini datang dan dengan cara apa ia tiba diarena, tak seorangpun yang tahu.
Dengan rasa heran bercampur kaget Han Siong Kie berpaling, berdebar keras jantung nya tatkala sinar mata mereka bertemu, dengan muka merah padam karena jengah cepat pemuda itu tundukkan kepalanya.
Memang cantik nyonya berbaju merah itu, demikian cantiknya hingga sukar diibaratkan dengan kata-kata.
Ia tak percaya kalau didunia ini terdapat seorang perempuan secantik itu, terutama sepasang biji matanya yang penuh daya tarik.
sungguh membuat hati orang terpesona dan tak berdaya untuk melawannya.
Jangankan Han Siong Kie yang masih berjiwa muda, malahan ketiga orang tianglo yang sudah lanjut usiapun berdiri tertegun dengan mata melotot besar, rasa kagum jelas tercermin diatas wajahnya.
Kemunculan nyonya baju merah itu diluar dugaan siapapun, apalagi tindakannya menghalangi Thia Wi wan untuk melepaskan serangan mautnya atas diri Han Siong Kie, lebih-lebih mengejutkan lagi hati mereka..Lama sekali Thia Wi wan termangu, akhirnya sambil menyeringai katanya dengan sinis.
"Kau hendak menangkap ikan diair keruh? Hendak kau campuri urusan kami ini ?"
"Kalau iya kau mau apa?"
Sahut nyonya baju merah itu dengan dingin, ketus dan mengerikan-"Sebutkan dulu siapa namamu ?"
"Mau tahu namaku ? Hmmm Bercermin dulu dengan tampangmu yang bopeng dan jelek masih belum pantas untuk mengetahuinya"
"Keparat, perempuan hina..."
"Ploook ploook"
Belum habis Thia Wi wan memaki, tempelengan keras sudah bersarang dulu diwajahnya, muncullah bekas telapak tangan yang merah bengkak di pipi Thia Wi wan yang bopeng itu.
"Kalau engkau berani bicara tak benar lagi, jangan salahkan kalau kucabut selembar jiwamu"
Ancam nyonya baju merah itu sambil mendengus dingin.
Tempelengan itu keras dan pedas, Thia Wi wan merasa kepalanya jadi pening dan hampir saja jatuh semaput.
Cepat nian tamparan tersebut, bukan saja Thia Wi wan tak tahu bagaimana caranya ia ditempeleng, bahkan ketiga orang tianglo yang menonton dari sampingpun tak sempat melihat dengan cara apakah nyonya cantik itu memberi "hadiah"
Kepada lawannya.
Sebagai salah seorang dari sepuluh utusan khusus Thian che kau, ilmu silat yang dimiliki Thia Wi wan terhitung ampuh dan jarang ada yang bisa menandinginya, tentu saja ia tak sudi menelan kekalahan di tangan orang dengan begitu saja.
Meski demikian ia tak berani gegabah, sebab dia tahu nyonya baju merah yang muncul secara tiba-tiba ini pada hakekatnya memiliki kungfu yang sangat luar biasa lihaynya, kedahsyatan serangan itu dapat ia rasakan sewaktu hendak membunuh Han Siong Kie tadi, tiga gulung desingan angin dingin telah memaksanya untuk mundur tiga langkah.
setelah termangu sejenak.
diapun membentak lagi.
"Jika kau tak bersedia menyebutkan nama serta asal usulmu lagi, Harap jangan salahkan kalau...."
"Kalau kenapa?"
Jengek nyonya dengan sinis.
"Jangan salahkan kalau aku akan turun tangan tanpa belas kasihan lagi"
"Ciis"
Thia Wi wan mungkin orang lain tak tahu asal usulmu itu, tapi Koh nay-nay (nyonya muda) mengetahuinya seperti melihat jari tanganku sendiri Huuh Kamu itu apa?
Tindak tandukmu jauh lebih busuk dari seekor anjing budukan, tapi Heehh heehh heeehh siapa berani berhutang dia harus berani ditagih, aku tak akan membunuh dirimu sebab lain hari toh ada yang bakal mencari sendiri jejakmu.
Nah enyahlah dari tempat ini"
Wajah bopeng Thia Wi wan berkerut kencang, sinar buas memencar keluar dari matanya, ia membentak lagi.
"sebenarnya siapakah engkau ?"
"Kau bersikeras ingin mengetahuinya ?"
"Tentu saja, selamanya aku tidak pernah membunuh manusia yang tak bernama"
"Hiiih hiiihh hlih"
Nyonya cantik baju merah itu tertawa merdu, suaranya amat jalang dan mengkili-kili telinga pendengarnya.
Meskipun hanya cekikikan biasa, namun berakibat lain bagi pendengaran Thia Wi wan, seketika itu juga ia merasa sekujur badannya seperti dirambati oleh semut dan di gigit nyamuk sebanyak ribuan ekor, perutnya amat sakit bagaikan disayalsayat.
Dengan wajah berobah hebat dia msndur beberapa langkah kemudian serunya dengan ketakutan.
"Aaah kau, kau adalah..."
"Thia Wi wan, tentunya engkau tahu bukan dengan peraturanku ?"
Seketika itu juga Thia Wi wan membungkam dalam seribu bahasa, dia tak berani bicara lagi, malahan sinar buas yang semula mencorong keluarpun kini lenyap tak membekas.
Diam-diam Han Siong Kie terperanjat, ia berpikir.
"Siapa gerangan nyonya cantik baju merah ini ? Mengapa secara tiba-tiba muncul disini ? Padahal tenaga lwekang yang dimiliki Thia Wi wan toh lihay sekali, mengapa dia begitu jeri dan ketakutan kepada perempuan ini? Dan apa pula peraturan yang dimaksudkan perempuan itu? Heran, sungguh mengherankan"
Pemuda itu benar-benar merasa tak habis mengerti, selamanya belum pernah dia dengar tentang manusia seperti ini dalam dunia persilatan-Sementara sianak muda itu masih melamun, nyonya cantik baju merah itu sudah ulapkan tangannya seraya berseru.
"Sekarang kau boleh pergi dari sini"
Dengan gemas dan penuh kebencian Thia Wi wan melotot sekejap kearah Han Siong Kie, kalau menurut suara hatinya dia belum rela sebelum membinasakan musuhnya ini, tapi ia tak berani membangkang, kendatipun di hati kecilnya dia pun membenci nyonya baju merah itu, namun sikap tersebut tak berani ia perlihatkan pada wajahnya.
"Bagaimana? sudah bosan hidup rupanya? "
Ejek nyonya baju merah itu sambil tertawa ringan.
"Bolehkah aku tahu, apakah hubunganmu dengan bocah keparat int?"
Tanya Thia Wi wan sambil keraskan hatinya.
"Kau tak usah tahu, pokoknya segera tinggalkan tempat ini"
Dengan perasaan apa boleh buat Thia wi wan melirik sekejap kearah nyonya baju merah itu, kemudian putar badan dan siap berlalu.
"Eeh, tunggu dulu"
Tiba-tiba nyonya itu berseru kembali.
"Apa yang hendak kau katakan lagi?"
Tanya Thia Wi wan sambil putar badan, wajahnya kelihatan agak tertegun "Tinggalkan dulu benda itu"
Kata si nyonya cantik dengan dingin.
"Benda apa yang kau minta?"
"Lencana ok kui cupay"
"Tidak. tidak bisa kuberikan kepadamu"
Seru Thia Wi wan dengan paras muka berubah.
"Hmm Kau anggap dengan andalkan kepandaian silatmu yang tak seberapa itu, kau bisa pergi dengan gampang?" .
"Bila kuserahkan benda itu kepadamu, bagaimana mungkin aku bisa memberi laporan kepada kaucu kami?"
"Katakan saja benda itu sudah kuambil"
"Tapi.. persoalan ini menyangkut soal mati hidupku.."
"Sudah tak usah cerewet lagi mau diserahkan tidak?"
"Maaf Permintaanmu itu tak dapat kupenuhi"
Dengan lemah gemulai nyonya cantik baju merah itu bergerak maju kedepan, sinar membunuh yang menyeramkan melintas dari balik matanya.
"Hayo, kalau berani ulangi lagi kata-katamu itu"
Tantangnya. Menyaksikan semua peristiwa yang sedang berlangsung dlarena, ketiga orang tiang lo dan dua orang kakek baju biru itu lantas berpikir.
"Jangan-jangan tujuan dari nyonya baju merah yang misterius ini pun lencana ok kui Cu pay itu? Wah, kalau sampai terjatuh ketangannya, runyamlah kami perguruan Thian lam bun"
Han Siong Kie yang sedang menggeletak sedang berpikir pula pada waktu itu.
"Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang baik ini untuk menyembuhkan lukaku? Thia Wi wan sudah ketemu batunya, sudah pasti dia tak bisa melukai aku lagi, sedang perempuan baju merah ini..rasanya juga tak akan merugikan aku."
Ia memaksa bangun, setelah duduk bersila, semua perhatian lantas dipusatkan menjadi satu, dan diapun mulai mengatur pernapasan.
Dalam pada itu suasana ditengah arena sudah meningkat hingga titik ketegangankenyataan sudah terpapar jelas, bila Thia Wi wan berani mengulangi kembali kata-katanya, niscaya akan mampus diserang oleh nyonya baju merah itu.
Tampaknya Thia Wi wan merasa jeri sekali terhadap nyonya baju merah itu, meski demikian diapun tak berani menyerahkan lencana ok kui cupay itu kepada orang lain, bisa jadi nyawanya akan dicabut oleh ketuanya sendiri.
Sesudah berpikir putar balik, akhirnya ia mengambil keputusan untuk melarikan diri dari situ, ia menjejakkan kakinya ke tanah dan meloncat keluar..
Baru saja ia bergerak bayangan merah telah melintas dihadapan matanya, menyusul segulung desiran angin dingin yang menusuk tulang berhembus lewat.
"Kau benar-benar sudah bosan hidup?"
Tegur nyonya baju merah yang telah berdiri dihadapannya itu dengan ketus. Thia Wi wan tarik napas panjang, terpaksa dia ambil keluar lencana itu dan diangsurkan ke depan-"Ambillah..."
Sebelum lencana itu diambil, tiba-tiba telapak tangannya membalik dan serentetan cahaya aneh memancar keluar dari mutiara diatas lencana tersebut.
"Bangsat, rupanya kau sudah bosan hidup" , Maki perempuan itu menyusul seseorang mendengus tertahan. Lencana ok kui cu pay tahu-tahu sudah berpindah tangan sementara Thia Wi wan dengan peluh sebesar kacang membasahi jidatnya mundur jauh di belakang sana.
"Thia Wi wan"
Kata nyonya baju merah itu sambil tertawa dingin "mumpung aku belum berubah pikiran, cepatlah sipat ekor dan enyah dari sini"
"Kalau engkau masih membangkang terus, Hmm. Hmm. jangan salahkan kalau kubunuh dirimu secara keji"
Keadaan dari Thian Wi wan pada saat ini ibaratnya ayam jago yang dikecundangi, dengan loyo dan sedih tundukkan kepalanya rendah-rendah, ia bergumam.
"Lencana ok kui cupay itu diserahkan sendiri kepadaku oleh kaucu ketika beliau menyampaikan perintah pada ku, aai, apakah engkau bisa membayangkan bagaimana akibarnya bila aku kehilangan lencana tersebut"
"Sudahlah, kau tak usah banyak bicara, katakana pada Yu Pia lam bahwa lencana mutiara itu sudah kuambil"
Thia Wi wan tak berani banyak bicara lagi, dia menghela napas panjang dan akhirnya berlalu dari kuil itu dengan tubuh lunglai.
suasana tercekam kembali dalam keheningan, tiada orang yang berbicara dan tiada orang bergerak.
yang tampak hanya uap putih yang kian menebal disekitar ubun-ubun Han Siong Kie.
Sebagaimana diketahui, pemuda itu pernah berganti otot bersalin tulang setelah merendamkan diri air kerak bumi Tee long cwan, kemudian berhasil pula menguasahi ilmu sakti si mi sinkang, dengan dasar yang kuat ini tidaklah sulit baginya untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.
Tak selang seperminum teh kemudian, Han Siong Kie telah menarik kembali uap putih pada ubun-ubunnya dan melompat bangun.
Menyaksikan itu, ketiga orang tianglo dan dua orang kakek baju biru itu segera menunjukkan wajah kegirangan.
"Ciangbunjin suheng, kiong-hi kau berhasil menyembuhkan kembali luka yang diderita"
Puji To It hui kegirangan.
"Terima kasih atas perhatian kalian semua"
Sahut pemuda itu seraya mengangguk.
Perlahan-lahan sinar matanya dialihkan ke wajah nyonya baju merah itu, tadi sewaktu berbaring pemuda itu tak dapat melihat jelas paras muka perempuan itu, tapi sekarang semuanya tertampak jelas dan tak dapat dicegah lagi jantungnya berdebar makin keras.
Kecantikan nyonya baju merah ini boleh dibilang sukar dicarikan tandingannya dikolong langit.
Kecantikan tak bisa dilukiskan dengan kata2, semenjak terjun kedalam dunia persilatan belum pernah Han Siong Kie menjumpai perempuan secantik nyonya baju merah ini, walaupun sebelumnya ia pernah berkenalan dengan perempuan-perempuan cantik seperti Go Siau bi, Tonghong Hui serta ibunya si siang go cantik ong cui ing, tapi kalau mereka dibandingkan boleh dibilang ibaratnya langit dan bumi.
Bukan begitu saja, bahkan dia memiliki kematangan sebagai seorang perempuan, kematangan inilah yang menggiurkan hati tiap pria yang menjumpainya.
Han Siong Kie adalah seorang pemuda penganut paham membenci kaum wanita didunia ini, tapi sekarang setelah berhadapan muka dengan nyonya baju merah yang kecantikannya melebihi siapapun ini, goyah juga hatinya, ia merasa perempuan ini memiliki segala sesuatu yang didambakan dan di inginkan selama ini, kecantikan serta kematangannya membuat ia terpesona dan tergiur jadinya.
sementara pemuda itu masih termenung sambil melamun, dengan suara yang merdu bagaikan kicauan burung nuri, nyonya cantik baju merah itu menegur.
"Betulkah engkau adalah Manusia muka dingin yang barubaru ini menggemparkan dunia persilatan-"
Bagaikan baru sadar dari impian Han Siong Kie jadi gelagapan, ia lebih-lebih malu lagi setelah sadar bahwa sikapnya didepan para tianglo kurang pantas.
"Benar Aa.. akulah yang kau maksudkan"
Sahutnya tergagap "terima kasih banyak atas bantuanmu" -000d0w000-BAB 72 NYONYA cantik baju merah itu tertawa manis sekali, tertawanya membuat hati terasa tergoda untuk kesekian kalinya Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, merah padam selembar wajahnya karena jengah.
"Bukankah kau juga merupakan pewaris dari perguruan Thian lam bun?"
Kembali nyonya muda itu bertanya.
"Benar"
"Bukankah benda ini adalah tanda kebesaran dari perguruanmu?"
Ujar nyonya itu lagi seraya memperlihatkan lencana ok kui cupay tersebut dihadapan Han Siong Kie.
Si anak muda itu terperanjat, ia jauh lebih sadar lagi daripada keadaan semula, tak disangkanya kalau lencana ok kui cupay bisa terjatuh ketangan seorang nyonya muda yang tak diketahui asal usulnya, tentu saja tak mungkln baginya untuk memintanya kembali, selain daripada itupun tak tahu apa tujuan nyonya cantik ini?
Maka ketika mendengar pertanyaan itu, diapun mengangguk.
"Benar, boleh kah aku tanya siapa nama nona?"
Nyonya muda berbaju merah itu tidak menjawab, sebaliknya malah tertawa cekikikan genit dan merdu suara tertawanya sampai-sampai seluruh tubuhnya ikut berguncang keras.
Han Siong Kie tertegun dan melongo, ia tidak mengerti apa sebabnya nyooya itu tertawa geli.
Setelah puas tertawa, sambil mencibirkan bibir nyonya muda itu berkata lagi.
"Nona? Apa kau lihat aku masih mirip sebagai seorang nona?"
Han Siong Kie semakin jengah, sampai seluruh wajahnya berubah jadi merah padam, sesudah tertegun beberapa saat ia baru berkata.
"Kalau begitu akulah yang telah latah menyebut, boleh kah aku tahu siapa namamu" ..
"Buat apa kau bertanya soal itu?"
Ujar nyonya muda itu sambil mengerling nakal.
Kerlingan itu penuh dengan daya pikat, begitu tajam dia mengawasi wajah Han Siong Kie sehingga membuat pemuda itu hampir saja tak berani beradu pandang dengannya.
Ia ingin sekali menghindari tatapannya, sebab baru kali ini dia merasa malu dihadapan perempuan, baru pertama kali ini dia menayadari betapa besarnya daya pesona seorang wanita, ia ingin menghilangkan ingatan tersebut dengan membayangkan sikap dinginnya kepada kaum wanita dimasa lampau tapi tak berhasil.
Akhirnya dengan tergagap katanya.
"Ehmm ..kau .. oh. Tidak Kau telah memberi pertolongan kepadaku, maka sudah sepantasnya kalau kutanyakan namamu"
"Aku dapat membedakan mana budi dan mana dendam, kalau budi pasti akan kubayar, kalau dendam pasti akan kubalas."
"Aaah, tak perlu Kau tak usah membalas budi atau dendam"
"Kenapa?"
Tanya pemuda itu keheranan-"Sebab aku punya tujuan, aku menolong engkau karena mempunyai maksud tertentu"
Perkataan ini sangat mengejutkan Han Siong Kie, tak disangka olehnya kalau perempuan ini berani mengakui kalau kedatangannya bertujuan.
Tapi dengan begitu hatinya malahan jadi lebih tenang, dengan serius tanyanya pula.
"Apakah tujuanmu itu? Katakanlah"
Nyonya muda baju merah itu tertawa misterius, dia menggeleng.
"Tidak... Tak dapat kukatakan pada saat ini, hanya bisa kuberitahukan tujuanku hanya padamu seorang "
"Hanya padaku seorang ?"
"Betul. Bagaimana kalau kau suruh rekan-rekanmu menyingkir lebih dulu"
Meskipun keheranan, Han Siong Kie tak takut untuk memenuhi permintaannya itu, pikirnya.
"Memangnya aku Han Siong Kie takut kepadamu?Baik, akan kulihat permainan apa lagi yang hendak ia tunjukkan dihadapanku, bagaimanapun juga lencana 0k kui cu pay harus kuminta kembali, sekalipun harus ku bayar dengan mahal" . Berpikir demikian, diapun ulapkan tangannya kepada ketiga orang tianglo seraya berkata.
"Harap tianglo sekalian suka mengundurkan diri untuk sementara waktu keluar halaman"
Ketiga orang tianglo dan dua orang kakek baju biru tampak rada sangsi, tapi akhirnya mereka memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ.
sepeninggalnya kelima orang itu, nyonya muda baju merah itu menuding kearah pelataran lalu ajaknya.
"Hayo kita duduk disana"
"Kan sama saja bicara sambil berdiri di sini?"
"Kau takut?"
Han Siong Kie tersinggung dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia mengikuti nyonya itu duduk di pelataran kuil. -000d0w000-
Jilid 35 SETELAH duduk, nyonya itu tertawa cekikikan dan bertanya lagi.
"Tentunya kau ingin tahu siapa kah aku bukan?"
"Ehmm, tentu saja kalau kau bersedia untuk menerangkan.."
"Kalau aku tidak bersedia untuk menerangkan?"
"Tentu saja aku tak akan memaksa kau untuk memberi keterangan"
Terendus bau harum khas perempuan tersiar keluar dari tubuh perempuan itu, gerak geriknya yang genit dan tubuhnya yang lemah gemulai membuat Han Siong Kio merasa tak tenang untuk duduk disitu, perasaannya yang setenang permukaan telaga mulai beriak dan akhirnya bergelombang keras.
Tiba-tiba nyonya cantik itu menggeserkan duduknya sehingga lebih merapat dengan tubuh Han Siong Kie.
bisiknya dengan lembut.
"Aku bernama Buyung Thay"
"Buyung Thay??"
"Ehmm, baguskah namaku ini?"
"Bagus. secantik orangnya"
Jawab pemuda itu lugu.
"Benarkah aku cantik??"
"Cantik sekali"
Sahut pemuda itu, kali ini sambil tertawa jengah.
"boleh diibaratkan bidadari yang baru turun dari kahyangan"
"Sungguhkah itu?"
Bisik sang nyonya sambil menatap sianak muda itu dengan kerlingan yang mempesonakan "Buyung.... Buyung.."
Han Siong Kie merasa pipinya jadi merah dan panas, ia tak tahu bagaimana harus menyebut perempuan itu, sebab dia sudah menjadi seorang nyonya, jelas tak mungkin disebut nona, menyebut cianpwe rasanya kurang sedap.
memanggil enso atau nikoh juga tak pantas, ia jadi kebingungan dengan sendirinya Buyung Thay, nyonya cantik baju merah itu dapat merasakan kejengahan orang, ia tertawa cekikikan dan katanya.
"Kenapa kau musti bingung-bingung? Panggil saja namaku"
"Ma.. mana boleh jadi? Tidak pantas rasanya kusebut dirimu langung dengan namamu"
"Kalau begitu panggillah aku cici. usiaku lebih besar daripada dirimu"
"Tapi.. ini.. ini"
"Tak usah ini itu lagi, katakanlah terus terang, cintakah kau kepadaku?"
Ucapan yang blak-blakan tanpa tedeng aling-aling ini membuat Han Siong Kie canggung, ia merasa hatinya seperti dipukul martil berat, tak pernah disangka olehnya kalau nyonya muda itu dapat mengucapkan kata-kata seperti itu.
Tak salah dia memang terpesona oleh kecantikannya dan timbul suatu perasaaa tertarik dalam hatinya, tapi itu bukanlah luapan cinta, golakan perasaan tersebut hanya dapat diartikan sebagai suatu reaksi yang wajar dari seorang pria, suatu pertanda kalau dirinya adalah seorang laki-laki yang normal, bukan laki-laki impoten.
Untuk sesaat pemuda itu terbungkam, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.
"Hayo katakanlah cintakah kau padaku"
Desak nyonya cantik itu lebih jauh.
"Tentang soal ini"
Tiba-tiba pemuda itu merasa bahwa pengakuannya secara blak-blakan akan menyinggung perasaannya, Ia memang cantik dan cukup membuat seorang pemuda yang terkenal paras muka dinginnya menjadi tak dingin lagi, diakui oleh Han Siong Kie sendiri, andaikata perempuan yang dihadapinya sekarang bukan perempuan secantik Buyung Thay, serta merta tanpa berpikir panjang lagi dia akan menjawab dengan kata Tidak "Bagaimana?
Hayo jawablah"
Desak Buyung Thay lagi.
"Menolak, tak mungkin"
Akhirnya pemuda itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Mengapa tak mungkin ?"
"Masih ingatkah kau bahwa kau pernah mengatakan bahwa dirimu sudah bukan seorang nona lagi."
"Lalu menurut anggapanmu, aku adalah perempuan yang bagaimana?"
"Tentu saja seorang perempuan yang telah bersuami"
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku telah bersuami ?"
Perempuan itu tiba-tiba balik bertanya. Kali ini Han Siong Kie dibikin tertegun dan tak mampU menjawab lagi. Buyung Thay menarik kembali senyUman yang menghiasi bibirnya, ia berkata pula.
"Benar, aku memang seorang perempuan yang pernah bersuami, tapi sekarang sudah tidak lagi"
Han Siong Kie memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu ujarnya lagi.
"Bukankah kau mengatakan bahwa kau datang dengan membawa tujuan? Nah, sekarang katakanlah tujuanmu itu?"
"Apa yang kukatakan barusan adalah tujuan kedatanganku kemari"
"Oooh, maaf, tak mungkin aku bisa...."
"Tunggu sebentar Han Siong Kie, masih kau inginkan tidak ok kui cu pay ini"
Tiba-tiba ia bersuara.
"Lencana mutiara itu adalah benda paling berharga dari perguruan kami"
Seru Han Siong Kie dengan hati bergetar.
"Aku tahu, tanpa benda ini engkau tak dapat membersihkan perguruanmu dari unsur-unsur manusia bejad, dan engkaupun tidak berhak untuk menjabat ketua perguruan Thian lam bun"
Sekujur tubuh sianak muda itu gemetar keras dan bermandikan keringat dingin.
Apa yang diucapkan nyonya cantik baju merah memang benar, tanpa lencana mutiara ia tak mempunyai tanda kepercaan untuk meyakinkan anak muridnya bahwa dialah ketua yang baru, sebab ketika Mo tiong ci-mo mewariskan kedudukan itu kepadanya, kecuali lencana ok kui cupay tiada tanda bukti lain yang bisa menyatakan akan pengangkatan tersebut.
Ia percaya ketiga orang tianglonya pasti sudah percaya penuh bahwa dialah ketua mereka, tapi bagaimana dengan anak murid yang lain?
Wi It beng pasti akan menggunakan kesempatan tersebut untuk merusak rencananya serta mengadu domba kekuatan mereka.
Sementara pemuda itu masih termenung, nyonya cantik berbaju merah itu telah bertanya kembali.
"Bagaimana ceritanya toh sehingga lencana mutiara ini bisa terjatuh ketangan Yu Pia lam?"
"Siapa itu Yu Pia lam? Aku tidak kenal?"
Seru Han Siong Kie keheranan "Masa kau tidak kenal dengan Yu Pia lam? Dia kan ketua dari perkumpulan Thian che kau?"
Tentu saja Han Siong Kie tidak mengenal nama dari ketua perkumpulan Thian che kau, janganlah dia hanya seorang pemuda yang masih sangat muda belia, kendatipun jago-jago yang sudah berpengalaman luas pengetahuannya belum tentu mengetahui nama asli dari gembong iblis tersebut.
"oooh jadi ketua perkumpulan Thian che kau itu bernama Yu Pia lam?"
Kembali pemuda itu berteriak dengan nada baru tahu.
"Benar, kau heran?"
Hakekatnya Han Siong Kie sudah lama mengetahui bahwa ketua dari perkumpulan Thian che kau itu dari marga Yu, hanya ia tidak mengetahui nama lengkapnya, juga ia belum pernah bertemu dengan raut wajah aslinya.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, ketua muda perkumpulan Thian che kau yang bernama Yu sau kun sebenarnya adalah putra kandung dari paman gurunya Tok liong jiu tangan sakti naga beracun Thio Lin dan menurut perkiraannya bocah itu tentu dibawa oleh ibunya siang go cantik ong cui ing tatkala perempuan itu menikah lagi dengan ketua perkumpulan Thian che kau.
Atau dengan perkataan lain pemuda yang sekarang dikenal sebagai Yu sau kun sebenarnya bernama Thio sau kun, tapi karena ia sudah hidup mengikuti ketua perkumpulan Thian che kau maka nama marganya ikut diganti pula menjadi marga Yu sebagai mana ayahnya sekarang.
Lama sekali pemuda itu menundukkan kepalanya karena malu kemudian dengan agak ragu ia baru menjawab.
"Yaa, ilmu silatku terlampau cetek dan tak mampu menandingi kelihayan mereka, benda itu berhasil dirampas oleh mereka dengan kekerasan"
"Dan sekarang inginkah kau untuk mendapatkan kembali lencana mutiara ini?"
Tanya Buyung Thay mendesak lebih jauh.
"Bila kau.... bila kau bersedia mengembalikan kepadaku tentu saja akan kuterima dengan senang hati"
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, bagaimana kalau kita bertukar syarat saja"
"Bertukar syarat?"
Ulang Han Siong Kie dengan alis mata berkernyit, ia tidak paham syarat apa kah yang akan diajukan perempuan cantik itu.
"Ehmm"
Nyonya itu membenarkan.
"Apa syaratmu itu?"
"Gampang, Aku hanya minta kau bersedia mencintai aku "
Ucapan yang diutarakan dari mulut seorang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan ini memang betulbetul membawa suatu daya pengaruh yang amat besar, mendatangkan suatu kekuatan yang seakan-akan membuat siapapun tak berani untuk membantahnya .
Tentu saja ini berbeda jika dibandingkan dengan ucapan dari perempuan-perempuan biasa, andaikata ucapan ini bukan diutarakan oleh perempuan secantik ini, niscaya orang akan menganggap perempuan tersebut sabagai seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, seorang perempuan yang sudah bejat akhlak serta moralnya.
Yaa manusia memang makhluk teraneh di dunia ini, kadangkala soal cengli soal kebenaran memang selain diputar balikkan kebenarannya.
Demikianiah keadaan Han Siong Kie pada saat itu, ia tidak merasa nyonya cantik baju merah itu adalah perempuan yang tak tahu malu, ia tidak merasa bahwa ucapan tersebut tidak mencerminkan kehalusan seorang perempuan, malahan dia ke sem-sem, ia dibuat terkesima oleh kecantikan wajahnya yang sukar dicarikan tandingannya itu.
Terus terang diaakui dalam hati kecilnya, andaikata perjumpaan ini terjadi sebelum ia kenal dengan Tonghong-Hui, sebelum ia terikat oleh ikatan perkawinan dengan Go siau bi, serta merta permintaan nyonya cantik itu akan di kabulkan tanpa membantah, sebab perempuan itu terlampau cantik, ia merasa tak berdaya untuk menolaknya.
Lama sekali Han Siong Kie berdiri termangu-mangu, ia tak tahu bagaimana musti menjawab persoalan itu Tapi akhirnya ia berkata juga, meski dengan suara yang lirih.
"Masa cintapun dipertukarkan dengan benda mati?"
"Tentu saja"
Jawab nyonya cantik baju merah sambil tertawa cekikikan.
"toh didunia ini tiada peraturan yang menetapkan bahwa seseorang harus mendapat cara begini atau harus mendapatkannya dengan taktik begitu?"
"Dan cara yang kau gunakan sekarang termasuk salah satu taktik yang kau miliki?"
Sambung pemuda itu cepat.
"Ah bukan taktik mencari cinta namanya, lebih baik kalau dikatakan inilah jalan yang kutempuh untuk mendapatkan cinta"
Han Siong Kie termenung sesaat, pelbagai dugaan berkecamuk dalam benaknya, akhirnya dia bertanya.
"Andaikata aku tak dapat menerima syarat mu itu, lantas apa yang akan kau lakukan?"
"Kau pasti dapat menerima tawaran cinta ku ini"
"Andaikata aku tetap menolak?"
Paras muka perempuan cantik berbaju merah itu kontan berubah hebat, mukanya tampak agak menyeramkan "Jadi kau lebih suka melepaskan kesempatan untuk memperoleh kembali lencana mutiara itu daripada mencintai aku"
Tegasnya.
"Benar"
Jawaban dari Han Siong Kie ini demikian tegas dan sungguh-sungguhnya sehingga Siapapun akan tahu bahwa keputusan dari anak muda ini sudah bulat dan tak mungkin bisa berubah kembali.
"Bila kau tolak cara pertukaran syarat ini, bagaimana caramu untuk mendapatkan kembali lencana tersebut?"
"Hendak kau gunakan kekerasan untuk merebutnya dari tanganku?"
"Mungkin saja ucapanmu benar"
"Dan sekarang juga akan kau rampas lencana itu dari tanganku ?"
"Tidak Tidak akan kulaksanakan pada saat ini"
Pemuda itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kenapa? Toh lebih baik kau lakukan sekarang juga?"
Han Siong Kie tetap menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Baru saja engkau selanaatkan jiwa ku dari ancaman bahaya maut, aku merasa berhutang budi kepadamu, terlepas dari apa tujuanmu melakukan kesemuanya ini, aku tidak ingin menyakiti hatimu sehingga kau menuduh aku membalas air satu dengan air tuba. Maka untuk sementara waktu aku tak akan melakukan tindak kekerasan apapun, itu bisa kulakukan jika kita berjumpa lagi dikemudian hari, maka aka hanya bisa berkata padamu, berhati-hatilah engkau bila kita bertemu lagi dalam kesempatan lain"
"Lain kali? Kau anggap setiap saat bisa mencari aku dengan gampang?"
"Aku percaya setiap saat pasti akan berjumpa lagi, meski sekarang aku tak dapat menegaskan kepankah hal itu bakal terjadi"
"Hmm Andaikata kuserahkan lencana mutiara ini kepada Wi It beng apa yang bisa kau lakukan lagi"
Jengek nyonya cantik itu dengan suara sedingin saiju.
Tercekat hati Han Siong Kie setelah mendengar ancaman tersebut, jantungnya berdebar keras serta merta ia lompat bangun dan berdiri dengan sikap menentang.
"Kau berani? "teriaknya marah.
"Kenapa tidak?"
Jawaban dari nyonya cantik berbaju merah itu tetap kalem, tenang malahan ia masih tetap duduk dalam posisi semula, setenang permukaan telaga tapi sekokoh batu karang.
"Jika engkau berani berbuat begitu terpaksa aku harus melukai hatimu dan bertindak kotor kepadamu sekarang juga"
Kata Han Siong Kie lagi dengan wajah berubah hebat.
Perlahan-lahan nyonya cantik berbaju merah itu bangkit berdiri, ia tersenyum hingga tampaklah sepasang lesung pipitnya yang indah dan mempersona hati, ujarnya dengan lembut.
"Masa kau anggap aku benar-benar bisa melakukan hal demikian terhadapmu ? Masa kau percaya kalau aku tega berbuat demikian?"
Ucapan yang bolak balik tak menentu ini, tentu saja membuat Han Siong Kie termangu, ia jadi serba salah, dalam keadaan demikian mau menangis ia segan, mau tertawapun tak bisa..
Dengan jari-jari tangannya yang lentik dan halus, nyonya baju merah itu membereskan rambutnya yang terurai kalut, kemudian maju kedepan seraya bisiknya lirih, suaranya lembut seperti orang yang sedang mengigau.
"Kuakui aku memang pernah kawin, aku telah dianggap sebagai bunga yang telah kehilangan sarinya, karena pernah dihisap laki-laki lain, tapi kesemuanya itu hanya suatu impian,.impian yang kosong Impian yang hampa dan tak berujut.. andaikata kehidupan manusia dialam ini kita ibaratkan suatu perjalanan yang jauh, maka sekarang aku sudah menempuh setengah jalan tapi siapa kah yang tahu, siapa kah yang menduga bahwa lembaran hidupku selama ini sebetulnya hanya kosong belaka? Kosong tanpa isi, tanpa kenangan apapun? Aku pernah berusaha untuk menciptakan kenangan, aku pernah pula menegaskan pada diri sendiri bahwa kehidupan bukanlah impian, kehidupan adalah kenyataan, suatu kejadian yang nyata tapi akhirnya .. yaah.. akhirnya toh sama saja, semuanya tetap kosong, tetap hampa hatiku"
Bisikan itu kian lama kian bertambah lirih, akhirnya tinggal bisikan belaka, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya bagaikan dua titik embun yang membasahi sekuntum bunga..
Han Siong Kie merasa amat terharu, perasaan hatinya terasa bergolak keras segera pikirnya.
"Benarkah perempuan ini adalah seorang perempuan yang bernasib jelek?
Benarkah ia mempunyai kenangan lama yang menyedihkan hati?
Benarkah lembaran hidupnya selama ini hanya kosong belaka, kasihan Bila ia benar-benar adalah seorang perempuan yang bernasib malang, seorang perempuan yang tak pernah merasakan apa artinya kebahagiaan, dia benar-benar seorang perempuan yang patut dikasihani .
.aai, aku tidak pantas bersikap kasar terhadap perempuan semacam ini, nasibnya sudah malang aku tak boleh membuat hatinya makin remuk.
Memang benar semakin melelehkan air matanya perempuan itu kelihatan semakin mempersonakan hati, menimbulkan daya tarik yang lebih hebat, membuat orang beriba hati selain timbul pula rasa kasihan terhadap dirinya.
Terangsang oleh pikatan yang menawan hati ini, kembali Han Siong Kie merasakan aliran darah dalam tubuhnya berjalan dengan kencang, jantung terasa ikut berdebar keras, hampir saja ia tak sanggup meuguasahi perasaan sendiri Ketika dilihatnya pemuda itu terkesima, tiba-tiba nyonya cantik baju merah itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian tertawa.
Senyuman ini ibaratnya rembulan yang baru menongol dari balik awan hitam, membuat susana yang semula mendung dan tak menggairahkan jadi cerah, secerah sinar rembulan.
Kembali Ham Siong Kie merasa kan hatinya bergetar keras, ia merasa napsu berahinya tanpa sebab muncul kembali dari dasar hatinya dan menguasai semua pikiran serta perasaannya.
Dengan senyum manis dikulum, nyonya cantik berbaju merah itu mengambil keluar lencana ok kui cupay itu dari sakunya, lalu sambil diangsurkan kemuka ia berkata.
"Ambillah benda ini untukmu"
Tindakan yang sama sekali tak terduga ini tentu saja mencengangkan hati Han Siong Kie, dia malahan berdiri terbelalak karena heran dan tak habis mengerti.
Meskipun lencana mustika yang tak ternilai harganya itu sudah diangsurkan didepan mata, anak muda itu tidak berani menerimanya, sebab kejadian ini tak pernah disangka olehnya, ia pun tak habis mengerti apa sebabnya nyonya cantik itu dapat merubah pikiran dan pendiriannya secepat itu.
Bukankah dengan tegas dia telah mengatakan tadi, bahwa untuk mendapatkan kembali lencana mutiara tersebut ia harus bertukar syarat dengan mencintainya?
Dan sampai sekarang ia belum menerima pertukaran syarat tersebut, mengapa ia malah mengembalikan lencana mutiara itu?
atau mungkin dibalik kesemuanya ini terselip rencana busuk lain yang menantikan dirinya masuk perangkap?
"Ambillah"
Untuk kedua kalinya nyonya cantik itu berseru sambil mengangsurkan lencana tersebut.
"Tapi ..tapi aku toh belum setuju untuk menerima pertukaran syaratmu itu? "
Han Siong Kie coba mengutarakan suara hatinya.
"Soal syarat lebih baik tak usah kita bicarakan lagi, aku mengembalikan benda itu kepadamu tanpa diembel-embeli dengan pelbagai syarat .. aai apa yaag kau ucapkan tadi memang tepat dan memang tak dapat dipertukarkan dengan segala macam benda, cinta harus datang karena ketulusan serta kerelaan hati, cinta memang tak dapat dipaksakan" . Ucapan tersebut sangat mengharukan perasaan Han Siong Kie, dari perasaan kurang senang tiba-tiba saja ia menjadi simpatik dan menaruh rasa kasihan terhadap perempuan cantik itu. Tanpa disadari ia terbayang kembali kisah yang dialaminya ketika beberapa kali ia menolak pernyataan cinta dari Go siau bi "Aku toh tiada sesuatu keistimewaan apapun, akupun tidak terlalu tampan, aaai aku memang tiada suatu keistimewaan yang membuat orang jadi terpesona kepadaku tapi aneh meng apa selalu saja kuhadapi persoalan yang hampir sama nadanya"
Demikian ia berpikir dihati.
Walaupun demikian Han Siong Kie tak ingin menusuk perasaan perempuan itu, maka diterimanya angsuran lencana mutiara tersebut dari tangannya, setelah dimasukkan kedalam saku ia baru berkata dengan penuh perasaan terima kasih.
"Budi kebaikanmu ini tak akan kulupakan untuk selamanya, akan kuingat selalu kebaikan yang pernah kau berikan kepadaku ini, yaa semoga suatu saat aku dapat membayar semuanya ini untukmu"
"Aai Tak usah, kau tak usah berterima kasih kepadaku, juga tak perlu mengingat ingat soal sepele ini, sejak awal sampai sekarang adalah barang milikmu sendiri"
Kata nyonya itu dengan lembut.
"Meskipun benda ini dulunya milikku, tapi seandainya kau tidak membantu aku untuk merebutnya kembali, aai. entah bagaimana akibatnya dimasa mendatang?jangankan aku tak mampu untuk merebut kembali lencana tersebut dari tangan orang, mungkin selembar jiwaku ikut kabur juga dari ragaku" . Nyonya cantik berbaju merah itu tersenyum manis sekali, senyumnya bagaikan sekuntum bunga mawar yang baru mekar.
"Aaah, bosan untuk membicarakan soal itu melulu"
Serunya tiba-tiba.
"bagaimana kalau kita membicarakan soal lain saja?"
"Apa yang ingin kau bicarakan"
"Umpamanya saja aku ingin tahu mengapa kau tidak mencintai aku? Tapi aku tidak memaksa dirimu untuk menjawab pertanyaaan itu, terserah padamu sendiri mau mengatakan atau tidak.. tapi jika kau sudah bersedia untuk menjawab maka aku harap kau menjawabnya dengan jujur dan betul-betul suara hatimu"
Han Siong Kie kembali termenung, ia coba mempertimbangkan pertanyaan itu, haruskah dia jawab atau tidak. tapi sesaat kemudian katanya.
"Bukannya aku tidak mencintamu, tapi keadaanlah yang memaksa aku tak boleh mencintai orang lain sebab aku mempunyai calon istri, akupun mempunyai seorang kekasih yang mencintai diriku dengan segenap jiwa dan raganya, aku tak boleh menghianati mereka dan akupun tak dapat menjual belikan cintaku kepada setiap orang karena itu aku tak dapat menerima cinta mu itu. Cukup jelas bukan jawaban ini?"
"Masih ada alasan yang lain?"
Tanya Buyung Thay, si nyonya cantik berbaju merah itu dengan wajah berseri.
"Tidak Hanya itu saja alasanku"
"Kalau hanya itu saja alasanmu, masa bisa mempengaruhi cintaku padamu?"
"Tentu saja sebab cintaku harus utuh, harus bulat dan tak tercela, cinta tak dapat dibagi-bagikan kepada setiap orang. ."
"Tapi kau kan sudah membagi pula cintamu untuk dua orang? satu untuk calon istrimu dan yang lain untuk kekasihmu, apakah cinta yang telah kau bagi-bagikan kepada dua orang ini juga terhitung cinta yang utuh, Cintamu sudah cacad, sudah terpecah belah dan tak utuh lagi"
Han Siong Kie tertunduk sedih, ia betul-betul merasa pedih hatinya teringat oleh persoalan itu dan akhirnya pemuda itu menghela napas panjang.
"Aai Berbicara yang sesungguhnya, aku tidak memberikan cintaku kepada calon istriku itu, seluruh cintaku secara bulatbulat telah kuserahkan kepada kekasihku seorang dan apa yang kuberikan kepada calon istriku hanyalah suatu kebijaksanaan, suatu kebijaksanaan demi kepentingan bersama"
"Ooh jadi kau hendak mengawini calon istrimu itu hanya berdasarkaan suatu kebijaksanaan demi kepentingan bersama?"
"Benar Itulah kenyataan yang sebenarnya"
Pemuda itu mengangguk tanda membenarkan. Perlahan-lahan nyonya cantik berbaju merah itu menundukkan kepalanya, lama sekali ia membungkam sebelum akhirnya menengadah kembali dan berkata dengan sedih.
"Meskipun kau tak dapat perasaan cintaku tentunya tidak berkeberatan bukan untuk memanggil aku sebagai enci?"
"Cici...."
Han Siong Kie segera memanggil dengan muka yang merah karena jengah.
senyum manis ibaratnya bunga yang mekar di musim semi segera menghiasi wajahnya yang cantik jelita, meski dibalik senyum manis tersebut masih terselip kesedihan, kesedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Tapi ia berbisik pula dengan riangnya.
"Adikku sayang, aku puas, aku benar-benar merasa puas dengan kesediaanmu memanggil aku sebagai cici"
"Cici, aku merasa harus minta maaf kepadamu, karena aku tak dapat menerima cinta kasihmu itu, aku hanya bisa menerima kau sebagai apa yang telah terwujud sekarang"
"Oooh, adikku sayang.."
Sebelum Buyung Thay sinyonya cantik berbaju merah itu melanjutkan kata-katanya, mendadak dari luar ruangan berkumandang suara tertawa dingin yang tajam dan mengerikan.
Suara tertawa dingin itu serasa hembusan angin dingin yang datang dari kutub utara, membuat suasana yang semula hangat dan penuh kemesraan, berubah jadi kaku dan beku.
Menyusul tertawa dingin itu, terdengar seseorang berkata dengan dingin "Buyung Thay, wahai Buyung Thay....
bagus sekali perbuatanmu.
Jauh-jauh dari daratan Tionggoan datang ke Thian lam rupanya tujuanmu hanya untuk mengejar si pipi putih itu.
Hmm Perempuan lonte yang tak tahu malu, perbuatanmu memang sangat memalukan sekali.."
Paras muka Buyung Thay si nyonya cantik berbaju merah itu berubah hebat, dengan selapis hawa membunuh menghiasi alis matanya ia melejit dan melayang keluar dari ruangan itu, kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Han Siong Kie sendiri hanya bisa berdiri termangu dengan perasaan kalut, heran dan tak habis mengerti.
Hakekatnya ia memang tak tahu siapa kah manusia yang berada diluar ruangan serta menyindir nyonya cantik itu, diapun tak tahu meng apa orang itu memaki Buyung Thay sebagai "perempuan lonte"
Yang tak tahu malu.
benarkah ia tak tahu malu?
" -0000dw0000-BAB 73 IA merasa sangat berterima kasih sekali atas bantuan dari Buyung Thay karena bantuan nyonya cantik itulah lencana ok kui cupay yang tak ternilai harganya berhasil dirampas kembali dari tangan utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang bernama Thia Wi wan.
Diapun terkesima oleh kegenitan serta kecantikannya yang begitu mempersonakan hati.
Tapi ia tak mengerti apa sebabnya orang itu memakinya sebagai perempuan lonte, benarkah dia perempuan jalang, perempuan lacur seperti apa yang dituduhkan kepadanya itu?
Wajahnya terlampau cantik, sayang rasanya kalau apa yang dituduhkan kepadanya adalah suatu kenyataan..
Untuk membalas budi kebaikannya, ia bersedia menyebut cici kepada perempuan itu.
Tapi hingga detik ini ia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang perempuan itu, dia hanya tahu bahwa perempuan itu berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan dan ia benama Buyung Thay, selain itu semuanya masih merupakan suatu teka-teki yang tak bisa terjawab.
Tiba-tiba suatu perasaan aneh muncul dari benaknya, ia merasa tak mengerti meng apa bisa muncul pikiran semacam itu terhadap seorang perempuan yang baru ditemui untuk pertama kalinya.
Walaupun berulang kali ia telah menampik cintanya tapi bayangan tubuhnya yang padat berisi wajahnya yang cantik jelita selalu membekas didalam benak.
la merasa hal ini merupakan suatu kenyataan yang selalu mengganjal hatinya membuat ia merasa hatinya gundah.
Dari situ diapun lantas terbayang pula tentang ibunya siang go cantik ong cui ing, akhirnya pemuda itu tak tahan dan menghela napas panjang.
"Aaai Perempuan..
wahai perempuan.
mengapa Thian menciptakan wajah yang cantik jelita kepada mereka tapi memberi hati yang busuk.
sukma yang keji dan jahat kepada orang itu?
Nyonya cantik berbaju merah telah berlalu, yang tertinggal hanyalah pemuda yang merasa hatinya gundah gulana.
Lama sekali Han Siong Kie berdiri mematung disana, lamalama akhirnya ia baru tersentak kaget dan sadar kembali dari lamunan, sambil memukul kepala sendiri iapun bergumam.
"Aneh, kenapa aku selalu memikirkan dirinya Kenapa aku sampai lupa dengan tujuan kedatanganku ke wilayah Thian lam ini. Aku benar-benar sudah dibuat sinting olehnya" . Berpikir sampai disitu, semangatnya lantas berkobar kembali, ia mengepos napas dan berseru kearah pintu kuil.
"Tianglo sekalian, apakah kalian masih berada disana ? Masuklah kedalam ruangan"
Tiga orang tianglo dan dua orang kakek berbaju biru itu segera mengiakan dan masuk kedalam ruangan "Ciangbun suheng, apakah engkau berada dalam keadaan sehat wal'afiat?"
Tiga orang tianglo itu lantas menyapa sambil memberi hormat.
"Ehmm Aku merasa sangat baik, kalianpun tak usah banyak adat lagi"
Sementara itu dua orang kakek berjubah biru itu sudah jatuhkan diri berlutut sambil berseru.
"Tecu berdua adalah petugas yang mengurusi persoalanpersoalan didalam istana, Ngo Cing dan song Tay gak. Terimalah hormat kami berdua untuk keselamatan serta kesejahteraan ciangbunjin"
"..silahkan bangun "
Kata Han Siong Kie cepat "
Kalian berdua dapat memegang teguh peraturan perguruan tidak tunduk pada kematian para penghianat dan pemberontak.
ini mencerminkan bahwa hati kalian mulia dan menghormati kebenaran serta keadilan.
Tindakan semacam ini patut dihargai dan diberi ucapan selamat"
"Ciangbunjin terlalu memuji, sudah menjadi kewajiban tecu sekalian untuk memegang teguh peraturan serta menjalankan kewajiban sebagai murid Thian lam bun yang tulen "
Dua orang kakek itu segera menyahut. To It hui, kepala tianglo yang selama ini membungkam berkata pula dengan kepala yang tertunduk rendah.
"Tecu sekalian betul-betul punya mata tak berbiji, untuk membedakan mana yang asli dan mana yang gadunganpun tak becus sehingga terjebak oleh siasat busuk orang dan hampir saja melakukan perbuatan yang melanggar kebenaran serta keadilan, untuk perbuatan kami yang bodoh ini harap ciangbun suheng bersedia menjatuhkan, hukuman yang setimpal kepada kami"
Ang Pat siu tianglo nomor tiga dan sah Jin ho tianglo nomor lima ikut tundukkan pula kepalanya sambil menunggu datangnya hukuman.
siapa sangka Han Siong Kie tidak menjatuhkan hukuman kepada mereka, malahan ia tertawa nyaring.
"Haaah haaah haaah tianglo bertiga tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri, sudah jamak kalau kebanyakan orang persilatan licik dan banyak tipu muslihatnya, apalagi pihak lawan membawa pula tanda kepercayaan dari perguruan kita, maklumlah bila kalian bertiga sampai tertipu. Ini bukan kesalahan kalian dan tentu saja tidak pantas kalau kalian sampai dijatuhi hukuman, kamu bertiga tak usah berpikir yang bukan-bukan lagi"
Dengan cepat tiga orang tianglo itu memberi hormat dalam-dalam seraya berseru.
"Terima kasih banyak atas kemurahan hati ciangbun suheng yang sudi mengampuni kesalahan kami"
"oh ya. To tianglo Apakah engkau dapat mengisahkan kembali jalannya peristiwa sehingga kalian sampai tertipu?"
To It hui mengangguk.
setelah mendehem ringan diapun lantas menuturkan kejadian yang telah menimpa diri mereka sampai akhirnya terjadi peristiwa diatas.
Mendengar jalannya cerita itu, Han Siong Kie menganggukkan kepalanya berulang kali.
Tatkala To it hui telah menyelesaikan kisahnya, tiba-tiba sanJin ho tianglo nomor lima menyela dari samping.
"Ciangbun suheng, bagaimana dengan lencana mutiara itu".
"Kalian tak usah kuatir, lencana mustika itu berhasil kudapatkan kembali"
Tukas sang pemuda dengan cepat.
"oooh,Jadi ciangbunjin kenal dengan pendekar perempuan berbaju merah itu?"
"Tidak. Baru pertama kali ini kami saling berjumpa, tapi dengan segala senang hati ia bersedia mengembalikan lencana itu kepadaku"
Kembali suasana jadi hening, tanya To It hui kemudian.
"Ciangbunjin, apa rencana ciangbunjin setelah ini?"
Han sioog Kie berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Aku rasa lebih baik kita laksanakan menurut apa yang telah kalian rencana kan itu, dengan sergapan kilat malam ini juga kita serbu kedalam istana iblis dan menumpas gorombolan penghianat itu, kemudian mengumumkan semua dosa dan kesalahan dari Wi It beng, menyelenggarakan pertemuan para pemuka perguruan, mengatur kembali perguruan kita serta menjatuhkan hukuman kepada yang bersalah sesuai dengan peraturan yang berlaku."
Sejenak kemudian ia alihkan pandangannya ke wajah dua orang kakek berbaju biru itu, kemudian menambahkan.
"Kalian berdua boleh segera berangkat lebih dahulu untuk pulang ke istana, beri kabar kepada semua orang yang masih setia kepada perguruan agar bersiap sedia memberi bantuan dari dalam, serta berjaga-jaga atas terjadinya segala kemungkinan yang tidak diinginkan"
"Terima perintah"
Dtngan hormat dua orang kakek berjubah biru itu memberi hormat lalu mengundurkan diri dari kuil tersebut.
sepeninggal dua orang itu, Han Siong Kie serta ketiga orang tianglonya beristirahat dalam kuil itu dan mengatur pernapasan untuk menyusun kembali kekuatannya.
Malam makin kelam, suasana sunyi seperti tak kedengaran suara apapun, hanya bintang dan rembulan yang bertaburan di angkasa menghiasi kegelapan yang hitam..Tiba-tiba diatas sebuah jalan raya yang menuju ke istana Huan mo kiong tampak empat sosok bayangan manusia sedang meluncur dengan cepatnya, gerak tubuh mereka sangat cepat dan mahir, boleh dibilang sukar diikuti dengan pandangan mata.
Keempat orang itu tak lain adalah Han Siong Kie beserta ketiga orang tianglonya yang sedang dalam perjalanan menuju istana Huan mo kiong, mereka hendak menggunakan suatu taktik sergapan kilat untuk menumpas para pembangkang dan penghianat perguruan yang selama ini bercokol dan memerintah perguruan mereka.
Ketika ayam mulai berkokok dan seberkas cahaya merah mulai muncul diufuk sebelah timur, sampailah mereka didepan sebuah bangunan perbentengan yang kokoh dan angker, bangunan itu sangat besar di tengah kegelapan yang masih mencekam seluruh jagat, tampak bagaikan seekor naga yang sedang mendekam.
To It hui segera menujuk ke arah bangunan benteng itu dan bersuara memecahkan kesunyian-"ciangbun suheng"
Demikian ia berkata "kita sudah sampai ditempat tujuan, benteng sebelah depan itulah markas perguruan kita, aai, tampaknya rahasia penyergapan kita belum bocor."
Belum habis ucapan tersebut diutarakan keluar, tiba-tiba dari tempat kejauhan teriihatlah sesosok bayangan hitam sedang berlarian menuju ke arah mereka dengan langkah sempoyongan-Serentak Han tiong Kie berempat menghentikan gerakan kakinya dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan-Tampaknya orang itu terluka sangat parah, sebelum tiba dihadapan beberapa orang itu, dia tak tahan menguasahi keseimbangan tubuhnya lagi..
"Blang.."
Akhirnya orang itu roboh terkapar diatas tanah.
Kejadian ini amat mengejutkan Han Siong Kie berempat, tanpa banyak bicara lagi To It hui melompat kedepan dan menghampiri orang itu, tapi apa yang kemudian teriihat membuat jago tua itu menjerit kaget.
Serentak Han Siong Kie bersama Ang Pat siu dan Sah Jin ho kedua orang tianglo itu menyusul kedepan, tapi apa yang teriihat kemudian membuat hati mereka tercekat.
orang itu bermandikan darah, ia terkapar diatas genangan darah yang mengalir keluar seperti sumber mata air, sebuah lengan kanannya sebatas bahu telah terpapas kutung, dari situlah darah mengucur keluar dengan derasnya.
"Ia sudah tewas"
Bisik To it huu kemudian sambil menggertak gigi menahan geramnya.
"sudah tewas? siapakah orang itu ? "
Tanya Han Siong Kie dengan alis mata berkernyit.
"Tio Hay liong, congkoan dari istana Huan mo kiong"
Sahut To It hui penuh kobaran emosi.
"Congkoan dari istana Huan mo kiong ?"
"Benar, Tio congkoan adalah pimpinan yang kita tugaskan untuk memberi serangan kilat dari dalam istana "
Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kie segera mendengus dingin-"Hmm Kalau begitu bukan Tio congkoan seorang yang mendapat celaka, tentu sudah banyak korban yang berjatuhan, itu berarti Wi It beng sudah mendapat tahu tentang rencana sergapan kita sehingga ia bertindak mendahului kita semua"
Ang pat siu maupun sah Jin ho tak mampu berkata-kata, mereka hanya bisa menggertak gigi sambil mendengus, jelas kemarahan yang berkobar dalam dada ketiga orang tiang lo itu sudah mencapai pada puncaknya.
Fajar telah menyingsing, langit mulai terang benderang, bintang dan rembulan lenyap dari angkasa.
Benteng yang angker dan besar itu semakin terlihat jelas ditempat kejauhan.
Han Siong Kie lantas berpaling ke arah sah Jin ho, kemudian katanya.
"Sah tiang lo Tio Congkoan telah gugur dalam mengembangkan tugasnya bagi perguruan kita, jangan kita terlantarkan jenasahnya ditengah jalan raya begini. Bawalah dia ke suatu tempat yang aman untuk disimpan, setelah persoalan selesai, kita harus menguburnya dengan segala upacara kebesaran"
"Hamba mengerti"
Sahut sah Jin ho, dia lantas membopong jenasah Tio Han liong dan membawanya ke dalam sebuah hutan tak jauh dari tepi jalan raya.
setelah kembali lagi kesitu Han Siong Kie baru ulapkan tangannya sambil berseru.
"Mari kita lanjutkan perjalanan!"
Dengan gerakan cepat empat orang pemuda perguruan Thian lam bunpun meneruskan perjalanannya menuju kedepan.
Benteng Huan mo kiong makin lama semakin dekat dan kini bangunan yang tinggi besar itu sudah didepan mata, tapi aneh sekali bukan saja suasananya sunyi senyap bahkan sesosok bayangan manusiapun tak nampak berlalu lalang disitu.
Akhirnya mereka sudah berada seratus kaki dari pintu gerbang benteng itu, Han Siong Kie segera ulapkan tangannya memberi tanda agar berhenti.
Benteng itu tetap angker, sepasang pintu baja yang tinggi besar tertutup rapat, disepanjang sisi pintu tadi berdirilah beberapa sosok bayang manusia.
Menyaksikan kesemuanya itu To it hui bertiga merasa darah yang mengalir dalam tubuhnya mendidih, hampir saja mereka tak dapat mengendalikan perasaan emosinya untuk menyerbu ke dalam.
sudah lama mereka menunggu disitu, namun suassana masih sepi dan tiada suatu gerakan apapun, jangankan ada yang munculkan diri, teguranpun tak kedengaran.
Kesemuanya ini menyebabkan Han Siong Kie keheranan bercampur curiga, menurut aturan kedatangan mereka berempat yang muncul secara blak-blakan itu pasti akan diketahui musuh, dan pihak lawanpun sepantasnya melakukan suatu tindak kesiap siagaan, akan tetapi suasana tetap hening, meski tampak bayangan manusia disisi pintu gerbang, namun tiada seorangpun yang bergerak ataupun bersuara.
"Jangan-jangan wi Ik beng sedang menyusun suatu siasat busuk untuk menjebak kami berempat?"
Ingatan tersebut cepat melintas didalam benaknya.
sinar sang surya telah memancar keseluruh jagad, sebercak sinar kebetulan menyoroti diatas loteng bencong itu dan menerangi sebuah papan nama yang terbuat dari emas murni.
Tulisan itu terdiri dari tujuh huruf besar, setelah diamati dengan lebih seksama, maka terbacalah tulisan itu kira-kira begini artinya.
"Kantor cabang perkumpulan Thian che kau untuk wilayah Thian lam"
Han Siong Kle menggeram menahan hawa amarahnya, ia segera mendengus sambil menyumpah.
"Wi It beng Kau bangsat tua, kau penghianat perguruan yang terkutuk.
dosamu hanya bisa ditebus dengan hukuman yang paling berat, kau harus dicincang menjadi berkepingkeping .
Akhirnya keempat orang itu tidak dapat mengendalikan diri lagi, setelah ditunggu-tunggu tanpa ada reaksi apapun, mereka menerjang maju lagi sejauh puluhan kaki.
semakin mendekati pintu gerbang itu, semakin jelaslah beberapa orang itu akan apa yang telah terjadi, kiranya beberapa sosok bayangan manusia yang berdiri sambil bersandar diatas dinding itu bukan manusia hidup, melainkan mayat-mayat yang penuh berlepotan darah, jumlahnya mencapai tiga puluh orang lebih.
semua yang mati adalah jago-jago dari persatuan Thian lam bun yang masih setia kepada kebenaran, kenyataan ini semakin menggusarkan hati Han Siong Kie berempat, mereka tak menyangka kalau Wi Ik beng demikian kejinya sampai anak murid sebanyak itupun dibantai tanpa pilih bulu.
Merah padam wajah tiga orang tiang lo itu, biji mata mereka hampir saja melotot keluar karena geramnya, sekujur badan jadi gemetar keras menahan emosi yang meluap-luap.
"ciangbun suheng, mari kita terjang masuk kedalam"
Teriak To It hui kemudian dengan suara setengah berteriak.
"Jangan emosi"
Tukas Han slong Kie sambil menggoyangkan tangannya.
"kita harus memikirksn dulu apa tujuan mereka dengan membariskan mayat-mayat tersebut didepan pintu gerbang untuk pameran? Atau untuk gertak sambal? Ataukah mereka memang mempunyai rencana busuk yang hendak memancing semua masuk perangkap?"
Sementara beberapa orang itu masih termenung, pintu istana yang tinggi besar perlahan-lahan membuka ke samping menyusul kemudian muncullah seorang kakek berjubah hijau.
Dengan suara lantang ia lantas berseru.
"Ketua cabang perkumpulan Thian che kau siap menantikan kedatangan saudara sekalian didalam istana"
Kemudian tanpa menantikan jawaban lagi dia putar badan dan masuk kedalam itu lebih dahulu.
Dari apa yang terpapar didepan mata sekarang terbuktilah sudah bahwa Wi It beng bukan manusia sederhana, tampaknya ia sudah memperoleh info terlebih dahulu dan sebelum penyergapan itu dimulai ia telah bertindak lebih duluan dengan mengatur segala sesuatunya itu.
Han Siong Kie dibuat panas hatinya oleh sikap musuh yang jumawa, ia memandang sekejap ketiga orang tianglonya lalu berbisik.
"Hayo kita masuk"
"Masuk berarti mengantar kematian."
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang menanggapi dengan suara yang serak dan dingin.
Ucapan itu munculnya sangat mendadak dan diluar dugaan ini menyebabkan keempat orang jago itu merasa sangat terkejut.
secepat kilat Han Siong Kie memutar tubuhnya, ia lihat kurang lebih tiga kaki di belakang sana berdiri seorang kakek cebol yang berbadan gemuk dan dandanannya persis seperti "Tee heng sian-"
Dewa yang suka berjalan dalam tanah, cuma orang ini berkepala separuh dari ukuran normal, batok kepala manusia, rambut dan janggotnya berwarna putih, matanya setengah melek setengah meram, kocak dan lucu sekali tampangnya.
Dalam hati Han Siong Kie sangat mengagumi akan kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kakek cebol berkepala kecil ini, sebab ditinjau dari kemampuannya untuk mendekati sampai tiga kaki dibelakang tubuhnya tanpa diketahui olehnya, itu menunjukan kalau ilmu silatnya memang tinggi.
setelah mengetahui kehebatan musuhnya, Han Siong Kie semakin tak berani memandang enteng dirinya, dengan suara berat ia menegur.
"Sobat jago lihay dari manakah? sebutkan namamu"
Kakek cebol berkepala kecil itu melototkan sepasang matanya bulat-bulat, sinar matanya sangat tajam bukan menjawab pertanyaan itu dia malah marah-marah dan teriaknya.
"Bocah keparat engkau berani menghina dan mencemooh diriku?"
"Mencemooh? Eeh ..apa maksudmu? Kapan aku telah menghina dirimu?"
Sahut Han Siong Kie tertegun.
"Terang terangan kau toh sudah mengetahui bahwa tinggi badanku tak sampai empat depa, kenapa kau menegur aku dengan kata orang tinggi dari manakah diriku ini? Kalau bukan bermaksud menghina aku, kenapa kan mengatakannya begitu?"
Perlu diterangkan disini, kata Ko-jin atau orang berilmu, bisa diartikan pula sebagai orang tinggi.
Tentu saja Han song Kie jadi gelagapan dan melongo setelah mengetahui apa yang dimaksudkan, ia jadi tertawa getir, betapa tidak?
"Aku bisa konyol sendiri kalau melayani manusia macam begini, lebih baik tidak memperdulikan saja orang itu begitu"
Ia berpikir.
Tapi ketika teringat kembali akan peringatan yang diberikan orang itu, ia merasa tak dapat meninggalkan orang tersebut dengan begitu saja, apalagi kemuculannya yang sangat mendadak itu, harus diselidiki akan maksud serta tujuannya.
Maka sambil menahan sabar ia berkata lagi.
"Aku tak bermaksud menghinamu, maksudku aku ingin tahu siapakah nama saudara ?"
"Nah, begitu baru sedap didengar"
Omel si manusia aneh itu sambil gelengkan kepalanya yang kecil.
"aku tidak bernama tapi punya sebuah julukan, semua orang menyebut aku sebagai Tee heng sian Dewa yang suka berjalan didalam tanah"
"Apa ? Engkau juga bernama Tee heng sian?"
Seru Han Siong Kie dengan hati terperanjat.
"Kenapa? Adakah sesuatu yang tak beres ?"
"Aku mempunyai seorang sahabat karib yang bernama Tee heng sian pula, apakah kalian..."
"Heeeh heeh heehh andaikata bukan Tee heng sian si tua bangka itu bermain politik, tak nanti aku Heng tee sian sudi melakukan perjalanan sejauh ribuan li dan payah-payah mendatangi wilayah Thian lam yang gersang ini "
"Oooh jadi locianpwee..."
"Eeeh. tunggu sebentar "
Kembali kakek cebol itu menukas "Katakan dulu apa sebutanmu dengan Tee heng sian si tua bangka tersebut??"
"Kami adalah saudara angkat "
"Aku dengan situa bangka itu-juga saudara, itulah sebabnya tidak pantas kalau kau sebut aku sebagai locianpwe, sebab hakekatnya kita adalah saudara angkat juga"
"Tentang soal ini ..tentang soal ini..."
"Kenapa? Kau tidak sudi ?"
Tiga orang tianglo yang berada disamping hampir saja tertawa terbahak-bahak menyaksikan adegan yang kocak itu.
Han Siong Kie sendiripun hampir saja tertawa keras, ia benar-benar merasa telah bertemu dengan kejadian paling aneh didunia ini, tidak disangka olehnya bukan saja ada Tee heng sian yang kukoay, sekarang muncul pula Heng tee sian yang berwatak sama, bertampang sama serta berbody sama pula, cepat dia menjura seraya menjawab.
"Baiklah, biar siau te menurut saja atas permintaanmu itu."
"Nah, begitu baru enak dihati."
"Locian-.. eeh engkoh tua Apakah engkau bersedia untuk menerangkan maksud kedatangan mu"
"Aku dengan Tee heng sian si tua bangka itu adalah sesama saudara seperguruan-."
Heng tee sian menerangkan.
Hampir saja Han Siong Kie ingin tertawa lagi, untung dia cepat menggigit bibirnya menahan diri, betapa tidak?
sesama saudara seperguruan bukannya saling membahasai sebagai suheng-te, kedua orang itu malahan membasahi situa bangka kepada rekannya, manusia aneh memang mempunyai tingkah laku yang aneh pula.
Terdengar Heng tee sian melanjutkan kembali keterangannya.
"si tua bangka suteku itu entah dari mana berhasil mendapatkan beberapa guci arak wangi yang sudah berusia tiga ratus tahun, bila aku bersedia berangkat ke Thian lam membantu dirimu katanya ia bersedia menghadiahkan beberapa guci diantaranya kepadaku, apa mau dikata? Demi arak hampir saja selembar jiwa tuaku ikut berkorban."
Keterangan tersebut semakin mengherankan Han Siong Kie, dari mana Tee heng sian bisa tahu kalau dia hendak berangkat ke wilayah Thian lam untuk membersihkan perguruannya?
Apalagi kalau dihitung dari waktunya, kendatipun Tee heng sian memiliki kepandaian yang lihaypun belum tentu bisa tiba diwilayah Thian lam mendahului kedatangannya.
Untuk menempuh jarak sejauh itu dia sendiripun membutuhkan waktu selama tujuh hari tujuh malam tapi dari keterangan Hong te sian jelas menunjukkan bahwa dia sudah mengetahui keadaan dari istana Huan mo kiong itu, berarti ia sudah tiba ditempat tujuan mendahuluinya, suatu kejadian yang tak masuk diakal?
Karena keheranan dan tidak habis mengerti maka pemuda itupun lantas bertanya.
"Engkoh tua sudah berapa lama engkau tiba disini?"
"sudah dua hari"
"Dua hari?"
"Benar, ada apa? "
"Masa dalam sehari semalam engkoh tua bisa menempuh perjalanan dari daratan Tionggoan kewilayah Thian lam?"
"Eeeh, omongan apakah itu? Lima hari berselang si tua bangka suteku itu suruh aku berangkat, dan akupun lantas berangkat cuma sayang terpaut satu hari, maka terpaksa aku harus tinggalkan rombonganmu untuk berangkat lebih duluanoooh iya, bukankah kalian membawa rombongan yang besar? Kenapa tinggal empat orang?"
Tahulah Han Siong Kie sekarang, kiranya Hong tee sian telah mengangap Thia Wi wan utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang menyaru dirinya sebagai dia sendiri.
Untung mereka tak sampai berjumpa muka akibatnya tentu luar biasa sekali, tapi tentang soal ini ia tidak segera memberi penjelasan.
"Kenapa Tee heng sian engkoh tuako itu tidak datang sendiri, melainkan malahan merepotkan engkoh tua? "
Ia bertanya.
"Hoeehhh ..heeehhh ..heeehhh soalnya ilmu berjalan dalam tanahnya masih kurang mahir kalau dibandingkan aku"
Sahut Hong tee sian sambil tertawa terkekeh.
"Kepandaiannya tidak mahir? maksud engkoh tua."
"Apa lagi? Tentu saja kepandaiannya berjalan dalam tanah tak bisa menangkan kepandaianku, berbicara dalam soal ilmu kepandaian yang lain pun dia tak mampu melebihi kepandaianku maka dia menyerah dan suruh aku yang datang kemari. Ditambah pula dia memang ada urusan lain yang harus diurusi tapi sama-saja toh siapa yang datang? Dia juga engkoh tuamu dan aku sekarang juga engkoh tuamu"
"oooh tentu saja Tentu saja"
Jawab Han Siong Kie cepat setelah berhenti sejenak ia berpaling memandang pintu gerbang yang terpentang lebar serta mayat yang berjejer dibawah kaki benteng lalu bertanya.
"Engkoh tua, tadi kau mengatakan bahwa kami akan mampus bila masuk kedalam benteng itu, sebenarnya apa maksudmu? "
"sejak dua hari berselang aku sudah berada disini, karena gagal mencari jejak kalian maka seorang diri kumasuk istana tersebut. aduh mak, karena tindakanku ini hampir saja selembar jiwaku kabur terkena jebakan alat rahasia mereka yang hebat, untunglah arwah sucou masih melindungi aku sehingga dengan ilmu berjalan dalam tanah aku berhasil kabur dari situ. Dan selama dua hari belakangan aku selalu berdiam diruang bawah tanah dari istana Huan mo kiong ini."
Mendengar keterangan tersebut Han Siong Kie menjerit kaget, begitu pula dengan ketiga orang tiang lo lainnya, ratarata mereka tunjukkan wajah kaget dan tercekat.
sementara itu Hong tee sian telah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Kemarin malam secara kebetulan aku berhasil mencuri dengar orang-orang dalam istana itu sedang menyusun rencana busuk untuk mencelakai kau, setelah rahasia itu kuketahui maka malam itu juga aku bekerja keras, semua kunci rahasia yang mengatur alat rahasia dalam istana itu kuhancurkan sehingga tak dapat berfungsi lagi" . Keterangan ini semakin mengejutkan mereka berempat, dengan emosi To It hui lantas berseru.
"Justru yang paling kami kuatirkan selama ini adalah alat jebakan mereka yang berlapis-lapis dan banyak ragamnya itu, sekarang kita tak usah merisaukan soal itu lagi"
Hong tee sian tertawa terbahak-bahak dengan bangga ia mengelus jenggotnya seraya berkata lagi.
"Kalau cuma alat rahasianya saja masih belum terhitung apa-apa, justru mereka sudah mengatur suatu siasat yang jauh lebih keji. Kalian tahu lima puluh kaki disekeliling pintu gerbang benteng ini telah mereka tanam obat peledak yang berjumlah sangat banyak, bila kalian berani menginjaknya niscaya tubuh kalian akan meledak dan hancur menjadi berkeping-keping "
Kali ini keempat orang jago itu tak dapat menahan rasa kagetnya lagi bukan saja hati mereka tercekat, bulu kudukpun sampai bangun berdiri, untung Heng tee sian memberi peringatan, kalau tidak bukankah pada saat ini tubuh mereka sudah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil?
"Wi It beng bangsat tua itu benar-benar keji"
Teriak Han Siong Kie dengan marah.
"dia harus diganjar hukuman yang paling berat."
Sah Jin ho menimbrung pula dari samping.
"Apakab Wi It beng telah memperhitungkan dengan tepat bahwa kami akan masuk kedalam benteng dengan melewati pintu gerbang?"
"Tentu saja "
Sahut Heng tee sian setelah melirik sekejap kearah tianglo nomor lima ini.
"Tapi lingkungan istana Huan mo kiong toh bukan melulu disini saja masa kita tak dapat memasuki istana melewati jalan lain"
"sekalipun ada jalan lain, tapi perhitungannya ini pasti tak akan meleset, dan seratus persen pasti tepat"
"Apa alasannya sehingga demikian?"
"sederhana sekali jawabannya, Han Siong Kie lote adalah bakal seorang ketua dari suatu perguruan, untuk menjaga gengsi dan nama baiknya tentu saja ia harus menantang secara terang-terangan dan tak bakal main sembunyi seperti cucu kura-kura, selain itu merekapun sengaja telah membunuh anak murid lain yang setia kemudian menjajarkan jenasah mereka didepan pintu gerbang, tujuannya tak lain adalah untuk memancing kalian agar berjalan melewati pintu depan, apalagi setelah mereka membukakan pintu gerbang dan mengirim orang untuk menyampaikan undangan, masakah kalian bakal memasuki benteng ini dengan memutar lewat jalan samping?"
Penjelasan ini memang sangat masuk diakal dan benar, maka ke empat orang itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dengan wajah serius dan kening berkerut Han Siong Kie lantas berkata.
"Waah, kalau begitu persoalan ini adalah suatu persoalan yang amat sulit untuk dipecahkan, masakah kita harus benarbenar memasuki benteng tersebut dengan melewati tembok pekarangan? "
Melihat kepanikan si anak muda itu, Hong tee sian lantas tertawa cekikikan karena geli.
"Hiiihhh ..hiiihhh..hiiihhh tak usah panik, tak usah panik, kalian tak usah melewati jalan samping lagi. sekarang kalian boleh masuk lewat pintu gerbang dengan hati lega"
Jawaban ini kembali membuat keempat orang jago tersebut tertegun, bukankah pertama kali tadi ia melarang mereka untuk melewati jalan depan?
Kenapa sekarang malah menganjurkan mereka melewati jalan yang berbahaya itu?
Bukankah ucapannya jadi bertolak belakang?
Han Siong Kie merasa amat gelisah, ia lantas berseru dengan tak sabar.
"Engkoh tua, sekarang waktu sudah mendesak sekali, aku minta engkoh tua jangan bergurau terus, bersediakah engkau memberi penjelasan kepada kami? "
Kembali Hong tee sian tertawa cekikikan-"
Hiiih..hiiih..hiiihh sumbu yang menghubungkan alat peledak itu sudah kuputus secara diam-diam dan sekarang hiih... hiiih siasat busuk mereka kembali akan gagal total."
"Aah, jadi engkoh tua telah merusak siasat busuk mereka dan apakah engkau juga sudah berhasil membuat jalan tembus yang menghubungkan tempat ini dengan ruang bawah tanah" .
"Benar, justru karena jalan tembusnya sudah selesai maka aku bisa masuk keluar dengan leluasa"
"Apakah ada orang yang disekap didalam ruangan rahasia itu ?"
"ooh banyak sekali selain lima orang tiang lo, masih ada lagi hampir dua ratus orang anak murid perguruanmu "
"Aaaah. apakah engkoh Tua punya akal untuk melepaskan mereka semua dari kamar rahasianya ?"
Hong tee sian kerutkan dahinya sebentar kemudian menjawab.
"Waah susah.. susah penjagaan mereka disekitar tempat itu terlalu ketat."
"Jadi tak ada akal lagi?"
"Akalnya sih ada dan caranya juga ada hanya agak sulit sedikitlah untuk mengerjakannya "
"Bagaimana kalau aku minta tolong kepada engkoh tua untuk melaksanakan tugas yang amat sulit itu?"
"Melepaskan semua orang yang mereka sekap?"
"Benar sebab anak murid perguruan kami yang disekap itu justru adalah murid-murid kami yang masih setia pada kebenaran."
"Baiklah, kalau memang begitu, aku akan berusaha dengan sekuat tenaga, semoga saja berhasil"
Cepat-cepat Han Siong Kie menjura dan memberi hormat kepada jago tua yang bertubuh cebol dan berkepala kecil ini.
"Untuk bantuan dari engkoh tua sebelumnya siaute ucapkan banyak-banyak terima kasih, aai, untung ada engkoh tua yang membantu, kalau tidak tentu usahaku untuk membersihkan perguruan dari kaum pemberontak akan menemui kegagalan total "
"Aaah. jangan membicarakan soal itu, hayo kalian boleh segera masuk kedalam benteng"
Tidak menanti jawaban lagi, tubuhnya yang cebol itu lantas menyelinap.
dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah lenyap dari pandangansepeninggal jago tua itu, Han Siong Kie menghela napas panjang, lalu bisiknya dengan lirih.
"Aaai, agaknya arwah dari cousu-cousu kita telah melindungi usaha pembersihan yang akan kita lakukan ini. kalau tidak mungkin nyawa kita semua telah melayang tinggalkan raga, mari kita masuk kedalam benteng"
Begitulah dengan dipimpin oleh Han Siong Kie, berangkatlah keempat orang itu memasuki cintu gerbang istana Huan mo kiong yang besar dan angker itu.
suasana disekitar pintu benteng sunyi dan tak tampak sesosok manusiapun, yang terlihat hanya dua baris mayat yang berlepotan darah, mayat-mayat itu berada dalam keadaan yang mengenaskan sehingga mendatangkan suasana yang menggidikkan.
Dalam sekejap mata mereka sudah tiba didepan pintu gerbang, Han Siong Kie menengadah dan memandang sekejap ke arah papan nama yang tergantung di atas benteng, membaca ketujuh huruf emas yang menyatakan tentang kantor cabang dari perkumpulan Thian che kau itu, hawa amarah lantas berkobar kembali didada pemuda itu, ia mendengus dingin kemudian ayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah papan nama tadi.
-000d0w000-BAB 74 SERANGAN yang dilancarkan seenaknya itu sepintas lalu tidak nampak sesuatu yang aneh, tapi justru dibalik kesederhanaan itulah terkandung hawa sakti si mi sin kang sebesar sepuluh bagian.
"Blaaang..
diiringi suara ledakan yang keras dan memekikkan telinga, tampaklah hancuran kayu berhamburan keempat penjuru, seketika itu juga ketujuh huruf tadi lenyap tak berbekas.
Menyaksikan demontrasi tenaga dalam dari ciangbun suhengnya yang masih muda tapi lihaynya bukan kepalang itu, ketiga orang tiang lo tersebut menjulurkan lidahnya, mereka merasa ngeri bercampur kagum.
Dengan hancurnya papan nama yang bertuliskan.
Kantor cabang perkumpulan Thian che kau untuk wilayah Thian lam tadi, maka sekarang terbacalah tiga huruf emas yang tertera nyata diatas bangunan benteng itu.
"HUAN MO KIONG" . tiga huruf yang terbuat dari emas. Han Siong Kie menengadah dan membaca sekejap nama dari istana perguruan tersebut, kemudian melanjutkan langkahnya memasuki pintu gerbang. sesudah melewati sebuah lorong pintu yang gelap. didepan mata terbentanglah sebuah tanah lapang yang lebar, empat penjuru sekelilingnya adalah bangunan loteng yang tinggi besar dengan ukiran-ukiran indah, semua bangunan tersebut megah, mewah dan mentereng. Beratus-ratus orang jago lihay, ada yang tua ada pula yang muda berdiri berjejer di kedua belah sisi halaman tersebut, namun suasananya hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun-Ditengah-tengah halaman terdapat sebuah panggung, diatas panggung berderet kursi kebesaran yang bersandaran tinggi, seorang kakek berjubah abu-abu dengan sulaman matahari, rembulan dam bintang duduk pada kursi kebesaran tersebut, dibelakang kakek itu berdiri dua belas orang pengawal berjubah hijau dan kuning. Kakek berjubah abu-abu itu bukan lain adalah pejabat lama dari perguruan Thian lam bun yang kini telah menjadi ketua cabang dari perkumpulan Thian che kau, dialah Wi It beng yang sedang dicari-cari. Han Siong Kie menghentikan langkahnya ditengah halaman, hawa napsu membunuh yang tebal menyelimuti seluruh wajahnya, setajam sembilu dia menatap wajah Wi It beng tanpa berkedip. sementara To It hui dan dua orang rekannya berdiri tiga kaki dibelakang si anak muda itu dengan wajah gusar dan muka menyeringai. suasana amat tegang dengan munculnya Han Siong Kie beserta ketiga orang tianglonya, hawa pembunuhan yang tebalpun ikut menyelimuti suasana disekitar arena. Paras muka Wi It beng hijau membesi, sinar matanya memancarkan sinar kelicikan, dengan muka yang buas dan mengerikan perlahan-lahan dia bangkit berdiri, tampaknya kalau bisa dia ingin membunuh musuhnya itu dengan satu kali terkaman. Han Siong Kie mendengus dingin setibanya di tengah halaman ia ambil keluar lencana mustika ok kui cupay itu kemudian di angkat tinggi-tinggi ke udara. Dengan diperlihatkannya lencana itu serta merta ketiga orang tiang lo yang berada di belakang pemuda itu bungkukkan badan memberi hormat. Akan tetapi kawanan jago yang hadir di arena tersebut tak ada yang memberi hormat, meski wajah mereka pucat pias seperti mayat, namun semuanya masih berdiri tegak tak seorangpun yang menunjukkan tanda-tanda akan menghormati munculnya lencana itu. Wi Ik beng maju beberapa langkah dengan wajah berubah, akhirnya dengan muka yang bengis menyeramkan ia membentak.
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang kemari? Apa pula maksudmu memperlihatkan benda mustika perguruan kami yang berhasil kau curi itu..? Hmm. kau anggap kami akan tunduk kepadamu?"
Han Siong Kie semakin naik pitam, ia tak menduga kalau musuhnya selicik itu, sebelum ia sendiri mengucapkan sesuatu, ia malahan memutar balikkan duduknya persoalan lebih dulu.
Terdengar Wi It beng berteriak kembali.
"Hey kalian tiga orang tianglo dari ruang Goal lo wan, tahukah kau bahwa kalian telah melakukan penghianatan terhadap perguruan? Dosa kalian tak akan diampuni lagi, kalian akan mampus dicincang"
Han Siong Kie menggertak gigi dan mendengus dingin-ia balas berteriak keras.
"Anak murid perguruan Thian lam bun, dengarkan baik2 Aku mendapat perintah dari mendiang ciangbunjin Tee kun untuk membersihkan perguruan kita ini dari manusia-manusia bejad, hanya pentolannya saja yang akan dihukum berat sedang pengikutnya bisa diampusi, bila mereka segera menyadari akan kesalahannya sendiri, Tapi bila ada orang yang melakukan penghianatan terus dan berani membangkang perintah dari lencana ini jangan salahkan kalau kami akan bertindak tegas dengan membunuh mereka secara keji"
Selesai mengutarakan pengumuman itu ia menyapu pandang sekejap seluruh gelanggang kemudian menyimpan kembali lencana mutiara itu.
Wi It beng tertawa terkekehkekeh dengan suaranya yang mengerikan-"Manusia bermuka dingin-ejeknya "
Kau tak usah mengancam dengan kata-kata bualanmu yang menggelikan hati itu.
Hoeh heehhh...heeehh .mendiang ciangbun Teekun sudah wafat semenjak empat puluh tahun berselang, dari mana ia bisa serahkan lencana mutiara itu kepadamu?
Hmm Akui saja bahwa kau memperoleh lencana itu dari hasil curian-."
"Tutup mulut anjingmu"
Bentak Han Siong Kie dengan marah.
Bentakan itu sangat keras dan tajam, membuat semua orang yang hadir disitu merasakan telinganya jadi amat sakit dan hawa darah dalam rongga dada serasa bergolak keras.
"Wi It beng, tak ada gunanya kau menyangkal terus"
Seru pemuda itu lagi "sekarang bukti kejahatanmu sudah berada ditangan kami, lebih baik mengakulah segala sesuatunya demgan terang, daripada memaksa aku harus turun tangan sendiri untuk menggantung dirimu dihadapan umum" -ooo0dw0ooo-
Jilid 36 WI IK BENG menjengek sinis, bukannya maju ke depan dia malahan kembali ke kursi kebesarannya dan duduk disitu, serunya sambil mengulapkan tangannya.
"Ringkus bangsat yang tekebur itu!"
Dua belas orang pengawal yaag berada di belakangnya segera mengiakan dan terjun ke dalam gelanggang, namun sikap mereka tidak setenang tadi lagi, sekarang orang-orang itu maju ke depan dengan wajah ngeri kaget dan perasaan tak tenang Setibanya ditengah arena mereka lantas meloloskan senjatanya dari dalam sarung, enam orang pengawal yang berbaju kuning memakai pedang sedangkan enam orang pengawal yang berbaju hijau, tiga menggunakan ruyung dan tiga lainnya memainkan senjata garden.
"Kalian berani membangkang perintah dengan membantu pengkhianat melakukan kejahatan?"
Bentak Han Siong Kie dengan gusar.
Dua belas orang pengawal itu segera menghentikan gerak tubuh mereka, tapi hanya sebentar saja sebab mereka melanjutkan kembali gerakannya menyerbu ke gelanggang.
Han Siong Kie mendengus marah, ia tahu percuma saja menggertak dengan ucapan, sebelum dipakainya kekerasan tak mungkin pemberontakan tersebut dapat dipadamkan, maka dia berpaling lalu perintahnya kepada tiga orang tianglo itu.
"Hadapi mereka, barang siapa berani menentang perintah bunuh saja tanpa ampun!"
To It hui, Ang Pat siu serta Sah Jia ho segera mengiakan, mereka segera mempersiapkan senjata toya kepala setan, kemudian menyerbu kedalam arena dengan garang.
Setelah tiga oracg tianglo-nya bertempur, Han Siong Kie lantas melejit ke udara dan melayang turun di hadapan Wi Ik beng.
Menyaksikan tibanya terkaman itu serentak Wi Ik beng meloncat bangun kemudian melepaskan sebuah tendangan keras yang mengakibatkan kursi kebesarannya memcelat ke depan.
Sementara itu tiga orang tianglo dan dua belas pengawal sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang seru benturan senjata bentakan nyaring serasa mengguncangkan seluruh istana Huan mo kiong.
Tiba-tiba dari samping gelanggang muncul empat orang kakek tua dengan suatu gerakan yang sangat cepat mereka menerobos dari samping dan langsung menyerang Han Siong Kie.
Si anak muda itu mengejek dingin ia menunggu sampai serangan musuh hampir bersarang di tubuhnya mendadak sepasang telapak tangannya dilontarkan kemuka, Jerit kesakitan yang keraa dan memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan kesunyian, tidak jelas apa yang terjadi hanya tahu-tahu empat orang kakek tua yang baru saja menerkam kedepan telah mencelat kembali dengan tubuh berlumuran darah.
Han Sing Kie sendiri sehabis menghajar mundur empat jago yang menyeraag datang mengalihkan kembali sorot matanya ke atas wajah Wi Ik beng mukanya nampak semakin keren kewibawaan yang terpancar keluar dari wajah pun membuat orang tak berani pandang enteng dirinya.
Wi Ik beng juga tak gentar menghadapi lawannnya ia menyeringai seram lalu mengejek .
"Bocah keparat, tempo hari beruntung kau bisa lolos dari kematian, tapi ini hari heeh heeeh heeeeh...tak nanti bisa muncul Hun-si mo-Ong lagi yang akan selamatkan jiwamu dari ancaman bahaya maut!"
Han Siong Kie tidak melayani ejekan itn. dia malahan berkata dengan nada dingin.
"Wi Ik beng ! Sudah terlampau banyak kejahatan yang kau lakukan. hampir saja perguruan Thian lam bun musnah di tanganmu.. hehh heeehh kuanjurkan kepadamu lebih baik segeralah menyerah dan menanti hukuman yang akan dijatuhkan kepadamu!"
"Bajingan cilik, tak usah banyak bacot ! Justru perbuatanmu ini sama ibaratnya dengan kunang-kunang yang menerkam api, mencari mampus buat diri sendiri, sambut dulu seranganku ini!"
Berbareng dengan selesainya ucapan itu sepasang telapak tangannya segera didoroog kemuka melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Han Siong Kie mendengus dingin ia tak sudi tunjukkan kelemahan dihadapan masuhnya, dengan keras lawan keras dia sambut datangnya ancaman yang sangat keras itu.
Di satu pihak Wi Ik beng menggunakan ilmu tay boan yo sinkang sedang dipihak lain Han Siong Kie mempraktekkan ilmu Si mi sinking, keduanya sama-sama merupakan ilmu pukulan sakti yang mengerikan.
"Blaang!"
Tatkala dua gulung tenaga pukulan itu saling berbenturan satu sama lain-nya, pancaran hawa berpusingpun ikut memancar keempat penjuru.
Kedua belah pihak masih tetap berdiri tetap di tempat semula, hanya saja di antara wajah Wi Ik beng yang menyeringai seram terlintas warna putih kepucat-pucatan, jelas ia sudah menderita sedikit kerugian di-dalam benturan barusan.
Masih baru ingatan Wi Ik beng ketika ia berhasil menghajar luka manusia bermuka dingin dengan ilmu boan yo sinkangnya yang lihay waktu itu seandainya Hun-si-mo ong tidak muncul tepat pada saatnya mungkin si anak muda itu sudah mampus di tangannya.
Tapi sekarang baru beberapa bulan tidak bertemu ternyata pihak lawan seakan-akan telah berubah menjadi seorang manusia yang lain, bukan saja kemampuannya lebih hebat berkali lipat bahkan mampu untuk menghadapi serangannya dengan kekerasan, kenyataan ini membuat hatinya tercekat dan bergidik..
Diapun merasa keheranan apa sebabnya bahan peledak yang telah dipasang dipintu istana tidak meledak seperti yang direncanakan, tidak meledaknya bahan mesiu itu hampir saja membuat ia tak percaya dengan kemampuan diri sendiri.
Dalam pada itu, pertempuran yang sedang berlangsung ditengah gelanggang telah memasuki babak baru, dari dua belas orang pengawal yang terlibat dalam pertempuran, ada tiga orang sudah menderita luka parah ditangan ketiga orang tiang lo tersebut.
suasana pertarungan bertambah seru dan tegang, bentakan dan benturan senjata semakin kerap menggelegar diangkasa.
Han Siong Kie sendiripun tak ingin terlalu banyak memberi waktu kepada musuhnya untuk mengatur pernapasan.
setelah mendengus dingin, secara beruntun ia lancarkan tiga buah pukulan berantai, ketiga buah pukulan itu semuanya disertai dengan sepuluh bagian hawa sakti si mi sinkang, bukan saja kecepatannya seakan-akan sebuah pukulan saja bahkan hawa tekanan yang di hasilkan sangat mengerikan.
Tiga bentutan keras menggelegar saling menyusul, kali ini wi It beng kena dihajar sampai mundur dua langkah lebar.
Tiba-tiba dari samping gelanggang kembali muncul bentakan nyaring, tiga orang kakek berjubah abu-abu pada saat yang bersamaan dengan membawa tiga gulung hawa pukulan yang dahsyat serentak menghantam tubuh Han Siong Kie.
Merasa dirinya disergap.
Han Siong Kie sangat marah, kegusarannya memuncak dan napsu membunuh semakin berkobar dalam dadanya, ia tarik telapak tangannya kebelakang kemudian menyumbat datangnya ancaman dari tiga orang kakek itu dengan serangan gencar pula.
Hampir bersamaan waktunya ketika si anak muda itu menarik kembali sepasang telapak tangan, wi It beng membentak keras lalu melancarkan pula sebuah pukulan dengan sekuat tenaga.
Padahal ketika itu Han Siong Kie baru saja melepaskan pukulan keras yang menghajar tiga orang kakek tadi sehingga mundur sempoyongan sebelum ia sempat berbuat sesuatu angin cukulan dari Wi It beng tadi sudah menggulung datang.
Dalam keadaan seperti ini tiada jalan lain bagi Han Siong Kie kecuali menangkis ancaman itu dengan tenaga seadanya.
"Blaaang"
Benturan keras kembali terjadi karena tak sempat mempergunakan tenaganya Han Siong Kie merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak keras, ia kena dipaksa untuk mundur sejauh delapan depa dengan sempoyongan.
Di pihak lain ketika tiga orang pengawal kena dilukai segera muncullah dua orang kakek dan tiga orang laki-laki kekar yang membantu delapan orang pengawal untuk mengerubuti To It hui bertiga karena bertambahnya lima orang musuh yang cukup tangguh ilmu silatnya ini.
To It hui bertiga mulai terdesak hebat dan tak kuasa mempertahankan diri lagi mereka lebih banyak memainkan toya kepala setannya untuk mempertahankan diri daripada melancarkan serangan balasan.
Wi It beng sendiri setelah berhasil dengan serangan mautnya secepat kilat menerjang kedepan, telapak tangan nya membacok batok kepala musuh, sementara kelima jari tangan kirinya dipentangkan lebar-lebar seperti cakar setan dan mencengkeram dada anak muda itu.
satu jurus dengan dua gerakan, semuanya dilancarkan dengan tenaga serta kecepatan yang hebat.
Han Siong Kie tak mau kalah, dia tangkis bacokan musuhnya itu dengan telapak tangan kiri, sedangkan tangan kanannya berputar balik ke atas dan balas mencengkeram urat nadi di pergelangan tangan musuh.
Wi It beng menjengek dingin, telapak tangan kanannya yang semula akan membacok batok kepala, tiba-tiba berubah dan malahan membacok bahu pemuda itu, sedangkan tangan kirinya yang melancarkan cengkeraman dirubah menjadi serangan bacokan dan membabat ke arah pinggang.
Han Siong Kie putar tangan dan segera berganti jurus pula.
"Blang Blang "
Sepasang telapak tangan akhirnya saling bertemu satu sama lainnya, bayangan tubuh kedua belah pihakpun saling berpisah satu sama lainnya.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah tiga orang kakek berbaju abu-abu yang kena dipukul mundur tadi menyergap lagi kemuka tanpa menimbulkn suara mereka lancarkan serangan dahsyat dan mengancam punggung Han Siong Kie.
Pemuda itu tidak menggubris tibanya ancaman malah berlagak seolah-olah tidak mengetahui akan datangnya ancaman tersebut padahal secara diam-diam ia telah mengerahkan hawa sakti Si mi sinkangnya yang lihay untuk melindungi seluruh badan.
"Dukk.. duuk!"
Ketiga serangan yang dilancarkan oleh tiga orang kakek berjubah abu-abu itu menghajar punggung Han Siong Kie bukannya si anak muda itu yang terpental olehnya malahan justru mereka bertiga lah yang kena dihantam sampai mencelat mundur beberapa langkah.
Kejadian ini segera menggemparkan seluruh jago yang hadir disana hinggga tak dapat dikuasai lagi mereka berteriak kaget.
Han Siong Kie tak mau membuang waktu sesudah tiga orang kekek itu dihajar mundur sepasang telapak tangannya segera berputar satu 1ingkaran didepaa dada lalu dengan disertai hawa sakti sebesar dua belas bagian dia menyerang kembali diri Wi Ik beog.
Pada waktu itu Wi Ik beng sudah mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie jauh lebih tinggi dari kepandaian sendiri, ilmu Boan yo sinkang yang sangat diadalkan ketika gagal untuk menghajar musuhnya ia jadi bergidik, maka sewaktu musuh melepaskan serangan maut lagi ia tak berani menyambut dengan kekerasan tapi dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya barkelit kesamping.
Mendadak dari tengah arena pertarungan berkumandang suara jerit kcsakitan yang keras.
Han Siong Kie capat menarik kembali serangannya sambil berpaling, ia saksikan tianglo-nya yang kelima Sah Jin ho sedang muntah darah dan mundur dengan sempoyongan sedangkan dua bilah pedang dan sebuah ruyung telah menyambar dari belakarg menyongsong tubuhnya yang sedang sempoyongan itu.
"Bangsat!"
Maki pamuda itu amat gusar.
"Kalian harus dihajar sampai mampus"
Diiringi bentakan keras bagaikan burung garuda dia melayang di angkasa sebelum tubuhnya mencapai sasaran, ilmu jari Tong kim ci yang sadis itu telah dilepaskan lebih dahulu.
"Criit.. criiit. criit.."
Tiga desingan angin tajam menyambar kemuka, menyusul kemudian tiga kali jerit lengking yang memekikkan hati bergema dari mulut ketiga orang jago itu, darah segar memercik ke empat penjuru sambil mendekap dadanya yang berlubang dan membuang senjata andalan mereka, orang-orang itu roboh terkapar di atas tanah dan tak lama kemudian menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Sepanjang masa hidupnya belum pernah anak murid istana Huan mo kiong menyaksikan ilmu sesakti itu, apa yang barusan terpapar didepan mata seketika membuat hati mereka bergidik, muka jadi pucat mata terbelalak.
keringat dingin membasahi tubuhnya dan bulu kuduk pada bangun berdiri, belum apa-apa mereka sudah merasa keder lebih dahulu oleh kelihayan pemuda itu.
Bukan kawanan jago yang berada ditepi arena saja yang tercekat dibuatnya bahkan pengawal lihay yang sedang terlibat dalam pertempuran seru melawan tiga orang tiang lo pun dibuat ketakutan setengah mati sehingga serasa sukma melayang tinggalkan raganya.
Tapi sebelum ingatan kedua sempat terlintas didalam benak mereka, dengan gerakan secepat sambaran kilat Han Siong Kie sudah terjun pula kedalam arena pertarungan-Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan ikut sertanya Han Siong Kie dalam pertarungan yang tak seimbang itu, keadaan si anak muda itu ibaratnya harimau diantara kawanan domba, dalam waktu singkat bayangan manusia menyambar kian kemari dengan dahsyatnya.
Jeritan-jeritan kesakitan yang memilukan hati serta membuat hati orang bergidik menggelegar tiada hentinya, percikan darah memancar keempat penjuru, kutungan anggota badan, mayat yang bergelimpang memenuhi suasana dalam gelanggang pertarungan itu.
Hanya sekejap mata tak sampai seperminuman teh, sekian banyak jago lihay yang terlibat dalam pertarungan itu telah membungkam untuk selamanya, mereka telah berubah menjadi mayat-mayat kaku yang penuh berlepotan darah, mereka mampus dalam keadaan yang mengerikan.
Serasa mau meledak dada Wi Ik beng menyaksikan kematian dari jago-jago lihaynya disamping rasa takut makin mencekam perasaannya, tiba-tiba ia membentak keras.
"Maju semua"
Tapi perintahnya kali ini tidak peroleh tanggapan, sekian banyak anak muridnya yang berkumpul disekitar arena tak ada yang menggeserkan tubuhnya lagi, agaknya orang-orang itu dibikin keder oleh kelihayan musuh dan mengetahui bahwa kemajuan mereka ke arena tak lebih hanya menghantar kematian bagi diri sendiri Wi It bong naik pitam sekali, dia menghardik.
"Hayo maju. semua Barang siapa berani membangkang perintah, kuhajar sampai mampus"
Meski disertai ancaman dan bentakan itu diutarakan dengan wajah menyeringai seram, kawanan jago itu masih tetap membungkam dan berdiri ditempat tak seorangpun yang sudi mengorbankan nyawanya lagi dengan percuma.
Posisi yang semula menguntungkan Wi Ik beng sekarang telah berubah menjadi keuntungan Han Siong Kie anak muda itu segera manfaatkan kesempatan yang sangat baik itu, dia maju tiga langkah kedepan lalu sambil menuding kearah lawannya ia berkata.
"Penghianat. Bajingan murtad. Rasain sekarang pembalasan dari kami, hayo cepat menyerah dan menerima hukuman"
Sekarang sinar mata semua orang ditujukan keatas wajah Han Siong Kie, dibalik tatapan tersebut penuh mengandung rasa kaget, ngeri, seram sangsi dan tak tenang serta merta susana dalam gelanggangpun ikut berubah menjadi sepi tapi menyesakkan napas.
Wi Ik beng menyeringai seram dengan sinar matanya yang licik dan bengis dia memandang sekejap kawanan jago yang semula setia padanya tapi sekarang tak sudi menjual nyawa baginya lagi itu, ia sadar bahwa masa jayanya sudah lewat dan sekaranglah masa keruntuhan bagi kekuasaannya.
Meski demikian, sebagai manusia licik keji dan banysk tipu muslihatnya itu dia tak sudi menyerah kalah dengan begitu saja, ia masih selalu mencari kesempatan untuk mengembalikan situasi tidak menguntungkan itu menjadi menguntungkan baginya.
Han Siong Kie telah maju lagi beberapa langkah.
ia telah bersiap sedia menghukum pengkhianat perguruannya itu.
Tiba tiba pada saat itulah dari kedua belah sisi pintu samping berkamandang suara teriakan yang gaduh, menyusuul muncullah beberapa puluh sosok bayangan manusia, di paling depan adalah lima orang kakek berjubah sutera halus sedangkan lainnya tua muda beraneka ragam, meski coraknya berbeda-beda namun ada satu yang sama yakni wajah mereka penuh diliputi perasaan guaar dan mendendam.
Paras muka Wi Ik beng berubah hebat, bergidik hatinya menyaksikan kemunculan orang-orang itu sebab ia cukup mengenali orang-orang itu sebagai kawaenan jago yang selama ini disekap dalam penjara bawah tanah.
Aneh kenapa mereka bisa terlepas dari sekapan bawah tanah?
Siapa yang melepaskan mereka?
demikian ia berpikir dengan rasa keheranan.
Kalau Wi Ik beng terkejut, maka Han Siong Kie kegirangan, wajahnya lantas berseri sebab ia tahu bahwa Heng tee sian y "ng diserahi tugas untuk membebaskan para tahanan telah berhasil dengan sukses.
Sementara itu para tahanan yang terlepae itu sudab menyebarkan diri dan membentuk barisan pengepungan yang mengepung seluruh arena ditanah lapang itu.
Sekarang Wi Ik beng semakin menyadari bahwa semua harapannya telah punah, apa yang dibayangkan semula tak mungkin terwujud lagi, raaa putua asa, kecewa dan takut bercampur aduk menjadi satu, akhirnya dia menjadi kalap, sambil tertawa seram tubuhnya bergerak kedepan dan menerkam Han Sioag Kie bagaikan kerbau gila.
Serangan yang dahsyat dibarengi dengan auara tertawa yang seram dan mendirikan bulu kuduk membuat tampang gembong iblis itu kelihatan menakutkan.
Han Siong Kie mendengus dingin, begitu musuh bergerak maju serentak diapun mengayunkan jari tangannya kedepan, serentetan desingan angin tajam segera memancar ke tubuh musuh.
Wi Ik beng tak menyangka kalau si anak muda itu akan menyerang dengan serangan jari tangan, ia terkena dan menjerit kesakitan, tubuhnya yang sedang menerjang kemuka segera terhenti ditengah jalan, kemudian mundur dengan sempoyongan, darah segar muncrat keluar membasahi separuh tubuhnya yang kekar.
Untung Han Siong Kie ada niat untuk menghukum penghianat perguruan ini menurut peraturan perguruan, maka dalam melancarkan serangan dia masih mengira-ngira, meski sampai melukai namun tidak sampai mencabut nyawanya, andaikata bukan begitu dengan kedahsyatan dari ilmu jari Tong kim ci, niscaya sedari tadi dada gembong iblis itu sudah berlubang.
Kelihayan dari pemuda itu makin menakutkan hati orangorang yang berada dalam lingkaran kepungan, keringat dingin membasahi tubuh mereka, bahkan ada pula yang ketakutan sampai terkencing-kencing.
Menggunakan kesempatan itu, lima orang kakek berjubah sutera memburu maju ketengah gelanggang dan memberi hormat kepada Han Siong Kie seraya berkata.
"Tecu berlima memberi hormat dan salam bagi kesehatan ciangbUnjin"
"Tianglo berlima tak usah banyak adat"
Tegur Han Siong Kie sambil memutar separuh badannya.
Disaat si anak muda itu sedang putar badan, wi It beng telah menggunakan kesempatan itu untuk kabur, tiba-tiba ia melompat ke belakang dan kabur ke dalam ruang tengah.
Sudah tentu Han Siong Kie tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, ia menjejak kakinya dan mengejar ke dalam.
Ketika ia berhasil mengejar sampai kedalam ruangan itu, wi It beng berhasil mencapai tepi meja sembahyangan dan jari tangannya telah menempel diatas sebuah ukiran bunga botan yang berada diatas dinding, katanya sambil menyeringai seram.
"Heeehhh . .heeehhh ..heeehhh bocah keparat, kau tak usah keburu merasa bangga, sekaranglah saat kematianmu sudah tiba"
Baru saja menyelesaikan kata-katanya, delapan orang tianglo yang berada diarena telah menyerbu pula ke dalam ruangan itu.
Wi Ik beng tertawa semakin seram, ia sampai terkekeh kekeh karena girang, kembali jengeknya.
"Bagus... bagus sekali Memang lebih pantas kalau kalian mampus menjadi satu, hingga dalam perjalanan menuju keakherat nanti kamu semua tak usah merasa kesepian"
Mula-mula Han Siong Kie agak tertegun, sebab ia tak mengerti apa yang dimaksudkan, tapi sebagai seorang pemuda yang cerdik, dengan cepat dapat diketahui olehnya akan apa yang dimaksudkan lawan, anak muda itu segera tertawa pula terbahak-bahak.
"Haahh haaah haaah Wi Ik beng sayang apa yang kau harapkan kembali akan sia-sia belaka, kau harus menghadapi kembali kenyataan yang akan mengecewakan dirimu, Tidak percaya? Silahkan saja untuk mencobanya sendiri"
Paras muka Wi Ik beng berobah hebat, ia memencet tombol rahasia itu kuat-kuat namun tiada sesuatu apapun yang tejadi, ruangan tersebut masih utuh seperti sedia kala.
Sekarang dia baru percaya bahwa alat rahasianya sudah tak berfungsi lagi, kenyataan ini membuat wajahnya semakin pucat, otot-otot hijaunya pada menongol keluar, keringat sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidat dan badannya, dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa memandang musuhnya dengan mata terbelalak.
"Engkau merasa tercengang bukan, apa sebabnya alat-alat rahasiamu mendadak jadi barang rongsokan yang tidak berfungsi lagi?"
Jengek Han Siong Kle sinis.
Wi Ik beng tertawa seram tiba-tiba dia mengundurkan diri dari ruangan itu lalu mengambil sebuah benda bulat merah sebesar kepalan dari sakunya, lalu sambil tertawa seram katanya.
"Heeehhh ..heeehhh ..heeehhh alat rahasia itu boleh tak berfungsi juga tak mengapa. aku toh masih bisa mengandalkan keampuhan dari peluru sakti Hong thian pek lek tan, (bahan peledak penghancur langit) Hemm hemm jika peluru ini sudah kulemparkan kemuka, sekalipun malaikat yang sedang kuhadapi juga jangan harap bisa lolos dalam keadaan hidup haahh haahhh."
Kali ini baik Han Siong Kie maupun ke delapan orang tianglo itu tak berani bergerak secara gegabah, mereka tertegun dan berdiri di tempat, sebab mereka cukup mengenal apa yang dinamaksn peluru sakti tersebut, jika sampai diledakkan niscaya tak seorangpun diantara mereka dapat lolos dari situ dengaa selamat.
Kejadian ini memang cukup keji dan di luar dagaan mereka, siapa yang menduga kalau gembong iblis itu telah mempersiapkan benda peledak yang bisa digunakan untuk menyelamatkan jiwanya itu?
Wi Ik beng telah bersikap jumawa lagi aeperti semula, sebab ia cukup mengetahui keampuhan benda yang berada ditangannya itu ia coba menggertak dengan pura-pura akan melemparkan benda itu ke depan, betul juga!
Han Siong Kie serta ke delapan orang tianglo itu serta merta ikut mundur selangkah ke belakang.
Pelbagai ingatan lantas berkecamuk dalam benak Han Siong Kie, dia berusaha untuk menemukan selusin akal yang bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan itu, tapi usahanya itu tidak mendatangkan apa-apa.
Ia cukup mengetahui tentang kemampuan yang dimilikinya sekarang tapi secepatnya ia bertindak tak mungkia bisa mencegah lawannya untuk tidak melemparkan benda peledak Hong thian pek-lek tan tarsebut apa lagi ia cukup mengenali kedahsyatan dari peluru itu sedikit saja tersentuh benda keras segera akan meledak dahsyat.
Dengan kapandaian yang dimiliki Han Siong Kie sekarang kemungkinan besar ia dapat menyelamatkan diri dengan selamat tapi bagaimana dangan kedelapaa orang tianglo-nya?
Apakah mereka harus dikorbankan begitu saja dengan sia-sia?
Suasana jadi hening sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun tapi justru dibalik keheningan itu terasalah hawa pembunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh ruangan.
Kini kaselamatan mereka bersembilan telah berada di cengkeraman Wi Ik beng asal orang itu melemparkan benda peledaknya maka berarti pula habis sudah riwayat mereka.
Delapan orang tianglo itu hanya bisa menggeram menahan amarah yang berkobar namun mereka tak dapat berbuat apaapa lagi kecuali menghela napas panjang.
Wi Ik beng kembali tertawa seram katanya.
"Manusia bermuka dingin bila engkau bersedia untuk menyerahkan lencana mustika Ok kiu cu pay tersebut kepadaku, maka aku pun barsedia pula untuk mengampuni jiwamu!"
"Jangan mimpi!"
Tukas Han Siong Kie tanpa berpikir panjang.
"Hehhh heeehhh heeehhh jadi kau lebih suka mampus menjadi abu..?"
Kembali gembong iblis itu mengejek.
"Kami mati adalah gugur demi perguruan, sedang kau sepanjang masa kau akan dikenal orang sebagai manusia yang paling berdosa!"
"Haaaahhh haaahhh haaah, kau tak usah mencoba untuk menakut-nakuti aku dengan ancaman semacam itu"
Kata Wi Ik beng sambil tertawa seram.
"aku tak akan perduli mau bernama busuk atau dicaci maki orang, pokoknya sekarang mati hidup ada ditanganmu sendiri"
"Murid pengkhianat!"
Bentak Han Sion Kie dengan marah, sekali lagi kuberitahukan kepadamu, tak nanti kami akan penuhi permintaanmu itu "
Sepasang mata elang Wi Ik beng berputar kesana kemari, akhirnya ia tertawa seram.
"Baiklah kalau toh keputusan kalian adalah demikian akan kuberi kematian yang mengerikan kepada kalian semua"
Katanya.
"tapi sebelum kematian menyelesaikan riwayat hidupua, akan kupertunjukkan lebih dahulu suatu atraksi yang menarik hati"
Ia berhenti sebentar lalu berseru keras"
"Pelindung hukum kiri dan kanan, cepat kemari!"
Dua sosok bayangan manusia munculkan diri dari belakang ruangan itu dan kemudian berdiri di kedua belah sisi Wi Ik beng, dia adalah dua orang manusia aneh yang berkerudung yang satu berbadan hitam dan yang lain berbadan putih.
Agak tercengang delapan orang tianglo itu menyaksikan kemunculan dari sepasang manusia aneh itu sebab sepanjang pengetahuan mereka belum pernah dalam perguruan mereka punya sepasang pelindung hukum yang berbentuk seaneh itu, Berbeda dengan Han Siong Kie, dia kenal siapakah sepasang manusia berkerudung hitam dan putih itu maka ketika menyaksikan kemunculan kedua orang itu darahnya langsung mendidih, sinar matanya memancarkan cahaya yang menggidikkan hati tak tahan lagi ia mendengus dingin.
Kiranya dua orang manusia aneh ini tak lain adalah Hek pek siang yau sepasang siluman hitam dan putih yang tiba-tiba lenyap jejaknya sewaktu berada dibukit Tay huang san-Tentu saja tak pernah terduga olehnya bahwa Hek pek siang yau yang sangat lihay itu telah bersedia menjadi pelindung hukum kiri dan kanan dari Wi It beng.
Sementara itu dengan suara yang amat bangga gembong iblis she Wi itu sudah berkata.
"Tentunya kalian semua sudah pernah mendengar tentang Hek pek siang yau sepasang siluman putih hitam yang tersohor namanya itu bukan? Heehh... heehh.. heehh.. kedua orang inilah orangnya"
Meskipun sudah sekianpuluh tahun ke delapan orang tianglo itu berdiam diwilayah Thian lam mereka cukup mengenal siapakah Hek pek siang yau yang pernah menyapu dataran Tionggoan pada lima puluh tahun berselang itu, bisa dibayangkan betapa terperanjatnya mereka setelah mengetahui bahwa sepasang pelindung hukumnya adalah gembong iblis tersebut.
Dan sekarang Wi It beng ternyata dapat menundukkan dua orang iblis itu serta menjadikannya sebagai pelindung hukum, kejadian ini boleh dibilang sulit untuk dipercaya, bila kenyataan tidak terpapar di depan mata.
Napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, pada saat ini dia hanya menginginkan sesuatu yakni menyerang dua orang siluman itu serta membacoknya sampai mampus.
Waktu itu Wi Ik beng masih mengangkat tinggi-tinggi bahan peledak Hong thian pek lek tan itu, sementara sepasang matanya mengawasi setiap orang yang berada dalam ruangan itu tanpa berkedip.
kewaspadaannya sedikitpun tidak mengendor karena kehadiran dua orang pelindung hukumnya.
"Harap pelindung hukum berdua segera menghukum mati semua penghianat perguruan yang berhasil kabur dari penjara bawah tanah dan kini berada diluar lapangan itu"
Demikian ia memerintahkan.
Ssepasang mata Han Siong Kie memancarkan sinar berapiapi, hampir saja biji matanya melotot keluar karena marah, dia telah bersiap sedia untuk mengorbankan jiwanya sendiri untuk beradu jiwa dengan orang-orang itu.
Sebab ia cukup memahami betapa lihaynya sepasang siluman hitam dan putih, dengan kelihayan mereka bukan suatu pekerjaan yang terlampau sulit baginya untuk membantai seratus dua ratus orang jago-jago berilmu biasa.
atau lebih mendekati sebagai pekerjaan yang terlampau sepele.
"Terima perintah"
Sementara itu Hek pek siang yau telah menyahut, menyusul kemudian terdengar jeritan kaget menggema memecahkan kesunyian dalam ruangan itu Apa yang terjadi?
Terlihatlah Hek pek siang yau dengan seorang dari kiri yang lain dari sebelah kanan dengan suatu gerakan secepat kilat mencengkeram lengan Wi It beng kemudian entah dengan cara apa tahu-tahu bahan peledak Hong thian pek lek tan itu sudah kena dirampas oleh siluman hitam.
Kejadian itu sama sekali diluar dugaan dan tak pernah terduga lebih dahulu, bukan Han Siong Kle saja yang dibuat kaget dan tak habis mengerti, delapan orang tianglo itupun dibikin termangu-mangu sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Paras muka Wi It beng telah berubah jadi pucat seperti mayat, dengan suara agak gemetar ia membentak.
"Eeh..apa maksud kalian berdua dengan perbuatan ini?"
Siluman putih segera menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haaah haaah haaahh Wi Ik beng, kau ini terhitung manusia macam apa? Berani benar menjadikan kami berdua sebagai pelindung hukummu? Haaah haaah haaahh tahukah engkau, mengapa kami berdua datang kesini?"
Wi It beng berusaha untuk meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman kedua orang itu, tapi tak berhasil, akhirnya ia menyerah kalah, tanyanya dengan lirih.
"Apa maksud kalian berdua datang kemari?"
"Membersihkan perguruan dari unsur-unsur manusia penghianat semacam dirimu ini"
Seperti kena disambar geledek disiang hari belong, wi It beng berdiri terbelalak dengan mulut melongo dan keringat dingin membasahi jidatnya, untuk sesaat dia tidak mampu berkata apa-apa.
Delapan orang tianglo itupun terkejut bercampur keheranan, mereka tak memahami dengan apa yang telah di katakan Hek pek siang yau, membersihkan perguruan?
Sedari kapan dua orang siluman yang bernama besar ini menjadi anak murid Thian lam bun?
Hanya Han Siong Kle seorang yang memahami kejadian itu, mesti demikian dia sendiripun merasa kaget bercampur tercengang sebab dia hanya tahu bahwa Hek pek siang yau tiba-tiba lenyap tak berbekas kemudian mereka muncul di istana Huan mo kiong sebagai pelindung hukum tapi secara tiba-tiba mereka bertindak sebaliknya lagi apa gerangan yang terselip dibalik segala sesUatunya ini?
Dalam pada itu siluman hitam telah berkata kepada diri anak muda itu.
"Ciangbunjin silahkan memberi perintah kepada kami apa yang harus kami lakukan terhadap penghianat ini?"
Han Siong Kie agak ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya ia berkata.
"Totok lebih dahulu jalan darahnya"
Wi It beng betul-betul mati kutunya, sekarang ia baru gemetar keras seperti orang yang sakit demam keringat mengucur keluar seperti hujan, matanya melotot besar dan darah kental sempat mengucur keluar dari kelopak matanya, wajah yang menyeringai mengerikan dapat menunjukkan bagaimanakah perasaan hatinya pada saat ini.
Delapan orang tianglo hanya dapat berdiri pula disisi ruangan dengan mata terbelalak dan tubuh kaku seperti patung, mereka benar-benar tak dapat menyelami kemisteriusan dari ciangbUn siau suhengnya ini.
Sementara semua orang masih termenung, sepasang siluman hitam dan putih telah berkata.
"Kami akan melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya"
Dengan suatu totokan kilat, kedua orang itu lantas menghajar beberapa buah hiat-to penting disekujur badan Wi Ik beng, bekas ketua cabang perkumpulan Thian che kau untuk wilayah Thian lam ini segera menjerit tertahan dan roboh terkulai diatas tanah.
"Untuk sementara waktu letakkan saja tubuhnya disana"
Perintah Han Siong Kie sambil menunjuk kebawah sebuah meja sembahyangan yang berada dihadapannya.
Siluman hitam segera mengangkat tubuh Wi Ik beng yang sudah tak dapat berkutik akibat pengaruh totokan itu kedalam ruangan dan meletakkannya diatas lantai, setelah itu barulah bersama siluman putih jatuhkan diri berlutut didepan Han Siong Kie, katanya.
"Ciangbunjin, ampunilah kesalahan kami berdua yang telah berlalu tanpa memberi kabar"
"Bangun"
Tukas Han Siong Kie sambil ulapkan tangannya.
"apa yang sebetulnya telah terjadi?"
Setelah memberi hormat, sepasang siluman hitam putih itu baru bangkit berdiri, kata siluman putih.
"Waktu itu, ketika tecu berdua mendapat perintah untuk menanti dibawah bukit Tay huang san, secara tiba-tiba telah menemukan jejak dari seorang musuh besar kami yang tempo hari berhasil melepaskan diri dari jaringan kami berdua."
"Maksudmu, musuh besar yang lolos dari jaringan kalian pada lima puluh tahun berselang?"
"Benar"
Siluman putih mengangguk tanda membenarkan "Siapakah orang itu??"
"Hun si Mo ong, Raja iblis pengacau jagad"
Han Siong Kie agak terkejut, ia cukup mengenal siapakah Hun si Mo ong itu, sebab dia tak lain adalah gurunya Im yang siang sat (sepasang malaikat hawa dingin dan panas) bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi sehingga di segani baik oleh jago-jago dari golongan putih maupun golongan hitam, bahkan ia pernah berhutang budi juga kepadanya, sebab tanpa bantuan dari orang itu, niscaya ia sudah mampus ditangan wi it beng.
Yang satu malaikat hawa panas Kho su khi sampai kini sudah delapan belas tahun lamanya tersekap dalam benteng maut, sudah pasti Hun si Mo ong dan malaikat hawa dingin akan berdaya upaya untuk menyerbu ke benteng maut serta menyelamatkan jiwa malaikat hawa panas.
Itu berarti pula kemungkinan besar setiap saat Hun si mo ong bakal munculkan diri disekitar benteng maut itu.
Namun ia tidak memberi komentar apa-apa terhadap dua orang siluman itu, hanya tanyanya.
"Bagaimana selanjutnya?"
"Karena besar sekali hasrat kami berdua untuk membalas dendam maka tanpa meninggalkan pesan kami segera melakukan pengejaran, dalam pertempuran yang kemudian terjadi kedudukan kami seimbang meski sudah bergebrak ratusan jurus belum juga bisa ditentukan siapa yang menang, siapa kalah, akhirnya Hun si Mo ong tidak sabaran lagi untuk melayani kami lebih lama, tiba-tiba ia tinggalkan kami berdua dan kabur dari sana. sudah tentu kami berdua tak bisa melepaskan dirinya dengan begitu saja, tiga hari sudah kami saling kejar mengejar akhirnya bukan saja gagal untuk membalas dendam, jejak dari ciangbunjinpun tidak berhasil kami temukan lagi..."
Han Siong Kie anggukkan kepalanya berulang kali.
"Selanjutnya?"
Ia bertanya lebih jauh. Siluman putih Iantas menyambung kata-katanya lebih jauh.
"Kemudian secara tiba-tiba kami telah berjumpa dengan perempuan berkerudung yang pernah memberi peringatan kepada kita sewaktu berada dimulut lembah kematian"
Agak terkejut pemuda itu setelah mendengar cerita itu, dia tahu perempuan berkerudung yang dimaksudkan siluman putih itu pastilah orarg yang kehilangan sukma, perempuan misterius itu.
setelah berhenti sejenak siluman putih telah berkata kembali.
"Perempuan berkerudung itu memerintahkan tecu berdua untuk berangkat ke wilayah Thian lam, serta berusaha memasuki istana Huan mo kiong dan menjadi musuh dalam selimut di situ, katanya dengan berbuat demikian kemungkinan besar bencana yang menimpa perguruan kami bisa terhindari, selain daripada itu diapun berpesan kepada tecu berdua agar memperhatikan mana ciangbunjin yang sesungguhnya dan mana yang gadungan.."
"Berdasarkan apa kalian bisa mengetahui kalau aku adalah ciangbunjinmu yang asli??"
"Dari ilmu sinkang serta logat berbicara ciangbunjin, setelah itu meski ada orang pandai menyaru dan ilmu kepandaian menyarunya sudah mencapai tingkatan yang tinggi, pastilah diantara kesempurnaan terdapat pula titik kelemahan, asal diperhatikan dengan seksama tak sulit untuk mengetahuinya."
"Yang paling penting lagi, mereka yang mengenakan topeng kulit manusia niscaya wajahnya akan kaku dan sedikitpun tak berperasaan"
"Ehmm, masuk akal"
Kata Han Siong Kie sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Sebab itulah tecu berdua mohon pengampunan dari Ciangbunjin."
"Kalian berdua sangat berjasa dalam peristiwa ini, dan apalagi yang harus dihukum"
"Kalau begitu tecu berdua mengucapkan banyak terima kasih atas kemurahan hati ciangbunjin"
Seru dua orang siluman itu cepat.
Han Siong Kie lantas memperkenalkan ke delapan tianglonya kepada dua orang siluman itu, kemudian secara ringkas ia menceritakan pula bagaimana kisahnya sehingga Hek pek siang yau masuk menjadi anggota perguruan Thian lam bun.
Pada saat itulah seorang kakek gemuk.
cebol dan berkepala kecil munculkan diri dari ruang belakang.
Cepat-cepat Han Siong Kie menjura seraya berkata.
"Engkoh tua, banyak terima kasih atas bantuanmu" -000dw000-BAB 75
"TAK USAH... TAK USAH"
Seru Hong tee sian sambil goyangkan tangannya berulang kali.
"andaikata Hek pek siang yau tidak turun tangan memusnahkan para penjaga yang meronda diistana bawah tanah, aku si tua bangka juga belum tentu bisa turun tangan, untunglah urusan dapat terselesaikan dengan baik dan akupun harus buru-buru berangkat tinggalkan tempat ini"
"Engkoh tua, kenapa kau musti terburu-buru untuk berangkat pulang?Beberapa hari lagi siaute juga akan berangkat kembali ke daratan Tionggoan, apa salahnya kalau kita melakukan perjalanan bersama?"
"Kau masih ada banyak persoalan yang musti diselesaikan lebih dulu, aku bisa tak betah untuk menunggu terlampau lama, biaer aku berangkat saja lebih dulu"
"Tapi paling sedikit engkoh tua harus minum secawan arak lebih dulu sebelum berangkat, tidak keberatan bukan?"
"Tak usah..tak usah! Di perkampungan Oh-bau san ceng sudah tersedia segudang arak wangi. Tee heng sian si tua bangka itu masih menunggu kehadiranku disitu. biar ku minum sampai puas disana saja, selamat tinggal !"
Tidak menunggu jawaban lagi, dia lantas ngeloyor keluar dari ruangan itu dan tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas, Han Siong Kie serta ke delapan orang tianglonya ingin menghantar keberangkatannya tapi ketika mereka tiba diluar ruangan, bayangan sicebol itu sudah tak kelihatan lagi.
Demikianlah setelah suasana menjadi reda kembali, dalam istana Huan mo kiong diselenggarakan pertemuan besar para pemuka partai, dalam pertemuan inilah diputuskan hukuman pancung kepala bagi Wi Ik beng yang telah mengkhianati perguruan serta melakukan tindak kekejian terhadap sesama anggota perguruan, selain daripada itu para pengikutnya juga dijatuhi hukuman setimpal dengan enteng beratnya perbuatan mereka bagi yang berat kesalahannya diusir dari perguruan, sementara yang enteng kesalahannya diwajibkan membuat pahala untuk menebus dosa-dosanya.
Maka setelah hukuman dilaksanakan suasana di istana Huan mo kiong pun pulih menjadi tenang kembali.
Hari ketiga secara resmi Han Siong Kie dilantik menjadi ketua perguruan Thian lam bun, dia menghapus gelarnya sebagai Tee kun atau kaisar itu dan mewajibkan anak muridnya menyebut ciangbunjin saja; Selain daripada itu julukan seperti ciangkun atau jendral serta pengawal istana juga dihapus, nama Goan lo wan tetap dipertahankan sedangkan nama-nama untuk istana Sing si tian, Wi gi tian, Bu si tian dan Sian ci tian masih tetap dipertahankan hanya penjabat penjabat saja yang diganti.
Hek pek siang yau pun secara resmi diangkat menjadi pelindung hukum kiri dan kanan.
Untuk memeriahkan peritiwa ini dalam istana Huan mo kiong diselenggarakan pesta besar besaran selama tiga hari tiga malam.
Ketika pesta ditntup pada malam yang ketiga Han Siong Kie lantas mengajak To It hui pimpinan dari para tianglo itu untuk menjabat ketua selama dirinya tak berada disitu selain daripada itu memerintahkan pula para ahli alat rahasia untuk membetulkan kembali semua alat rahasia yang telah rusak.
Menantikan sianak muda itu meresmikan semua rencananya maka To It huipun berkata.
"Ciangbunjin, apakah kedua orang pelindung hukum akan turut serta didalam perjalanan ini?"
Tentu saja Han Siong Kie mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh kepala tianglonya ini, dia lantas tersenyum.
"Apakah tianglo kuatir bila pihak Thian che kau tak puas dengan peristiwa ini serta melakukan penyerangan kembati?"
Ia bertanya.
"Begitulah yang tecu kuatirkan"
"Kedua orang pelindung hukum akan turut serta dengan diriku untuk mengunjungi bukit Tay teng san dalam tiga sampai lima hari tentu akan balik lagi kemari"
"Dan apakah ciangbunjin harus kembali juga kedaratan Tionggoan"
"Benar, sebab aku masih ada dendam sakit hati yang belum terbalas, budi dan dendan harus kuperhatikan dulu sampai jelas sebelum dapat kembali lagi kesini"
"Jika demikian adanya, kedua orang pelindung hukum tak perlu kembali lagi, ditengah jalan lebih penting lagi kalau mereka melindungi keselamatan ciangbunjin dalam usaha pembalasan dendam ini"
Han Siong Kie tersenyum dan gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tak usah"
Katanya.
"keselamatan istana kita jauh lebih penting daripada soal-soal yang lain."
"Bila ciangbunjin membutuhkan bantuan kami, kirim saja perintahnya kemari, serentak kami akan.."
Han Siong Kie berpikir sebentar lalu menukas.
"Jika aku membutuhkan bantuan kalian, akan kuminta pertolongan dari pihak Kay pang untuk mengirim berita lewat merpati pos, dan perintah itu akan datang dari kantor cabang perkumpulan Kay pang dikota Niu kan.."
Selesai mengatur segala sesuatunya, dibawah hantaran dari segenap anak murid perguruan Thian lam bun, berangkatlah Han Siong Kie dan Hek pek siang yau tinggalkan istana Huan mo kiong -000dw000-Bukit Tay keng san.
Luasnya mencapai beratus-ratus li pepohonan tumbuh sangat lebat, tanah perbukitan berlapis-lapis bukan saja banyak tebing yang curam serta jurang yang dalamnya beratus-ratus kaki, batuan disitupun terdiri dari batu-batu karang yang tajam dan licin, tak nampak bayangan manusiapun yang berlalu lalang disitu.
Pagi itu ketika fajar baru menyingsing dan sang surya memancarkan sinarnya keempat penjuru, tiba-tiba nampaklah tiga sosok bayangan manusia berkelebat lewat dimulut tanah perbukitan tersebut.
Mereka bukan lain adalah Han Siong Kie ketua dari perguruan Thian lam bun yang diiringi oleh kedua pelindung hukumnya siluman hitam dan siluman putih.
Ketika tiba disebuah lembah Han Siong Kie lantas menunjuk kearah depan seraya berkata.
"Menurut keterangan dari penduduk pribumi katanya disinilah letak mulut masuk menuju kebukit Tay keng san, Bagaimana pendapat kalian berdua?"
"Tecu berpendapat demikian pula"
Jawab siluman hitam dengan hormat. siluman putih yang berada disisinya lantas bertanya.
"Ciangbunjin bolehkah kami bertanya apa maksud serta tujuan ciangbunjin berkunjung ke tempat segersang dan sesunyi ini?"
Han Siong Kie tersenyum misterius.
"Pokoknya kedatanganku kemari adalah demi kebaikan kalian berdua, bukankah sudah puluhan tahun lamanya kalian berharap agar apa yang selama ini dicita-citakan bisa tercapai?"
Katanya.
Sepasang siluman hitam dan putih saling berpandangan sekejap, mereka tampak termangu dan tidak mengerti apa yang sedang di maksudkan ketuanya.
Melihat kedua orang pelindung hukumnya masih tidak mengerti, Han Siong Kie berkata lagi.
"Bukankah kalian berdua pernah berkata bila wajah kalian dapat pulih kembali menjadi wujud yang sebenarnya maka kalian berdua akan segera menikah dan menjadi suami istri?"
"Benar"
Sahut siluman hitam "tetapi ..."
"Coba jawab dahulu, siapakah didunia ini yang dapat memunahkan daya racun "Gi beng tok ko"
Yang bersarang di tubuh kalian berdua itu?"
Kembali pemuda itu menukas.
"Ban tok cousu!"
"Nah itulah dia, kalau begitu tak sia-sia perjalanan kita kali ini !"
Jawaban tersebut segera mendebarkan hati Hek pek siang yau, dengan setengah ber-emosi mereka berteriak.
"Jadi Ban tok cousu masih hidup di dunia ini?"
"Masihkah hidup sampai detik ini belum dapat kupastikan, tapi semoga saja dia masih hidup!"
Perasaan yang semula jadi gembira sekarang terpadam lagi ibarat terguyur air dingin, dengan masgul siluman hitam berbisik.
"Apakah ciangbunjin berhasil menemukan suatu titik terang maka membawa kami berdua berkunjung kemari?"
"Benar, aku dengar meski Ban tok cousu tak mempunyai ahli waris yang berkelana dalam dunia persilatan akan tetapi kemungkinan besar dia masih hidup dalam telaga racun yang berada di lembah hitam bukit Tay keng san!"
"Telaga racun dilembah hitam?"
"Benar! Telaga racun dilembah hitam!"
"Menurut apa yang kami dengar katanya telaga racun adalah suatu telaga yang berisi air racun baik manusia maupun binatang yang terkena air telaga itu seketika akan mati dalam keadaan mengerikao, apakah.."
"Bagaimanakah keadaan yan sesungguhnya tak usah kita bicarakan dulu, mari kita cari tempat itu! Setelah tiba disana persoalan lain baru kita bicarakan lagi!"
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh berangkatlah ketiga orang itu melanjutkan perjalanannya menyelusuri tanah liar yang masih lebat dengan pepohonan serta semak belukar dan agaknya belum pernah dijamah oleh manusia.
Sudah tiga hari mereka menjelajahi setiap jengkal tanah yang berada disekitar sana namun lembah hitam yang dicaricari belum juga ditemukan.
Telaga racun terletak didalam lembah hitam bila lembah hitam itu tidak berhasil ditemukan tentu saja telaga racunnva tak dapat ditemukan pula sekalipun akhirnya telaga racun bisa ditemukan belum tentu Ban tok Cou-su itu masih hidup disana, maka pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak ke tiga orang itu.
Han Siong Kie tentu saja menyadari pula bahwa harapan untuk berhasil dengan perjalanan kali ini tidak besar tapi untuk mewujudkan janjinya ia tak mau berpikir panjang, baginya sampai dulu di tempat tujuan kemudian baru membicarakan soal-soal lain.
Sepasang siluman hitam putih jauh lebih gelisah lagi, sebab berhasil atau tidaknya mereka menemukan Ban tok cousu sangat mempengaruhi pula kehidupan serta kebahagiaan mereka dihari kemudian.
Waktu itu mereka berhenti diatas sebuah tanah perbukitan yang berbatu cadas yang bertumbuhan sangat jarang.
Tiba-tiba serentetan suara jeritan yang memilukan hati dan bersuara dalam secara lapat-lapat berkumandang dari bawah tebing sana, bahkan berasal tak jauh dari sekitar situ.
Tiga orang itu merasa sangat terperanjat, Han Siong Kie segera menggerakkan tubuhnya menuruni tebing itu dengan gerakan yang cepat, kurang lebih lima puluh kaki kemudian muncullah sebuah tebing yang menjorok kedalam hingga membentuk sebuah celah selebar puluhan kaki, karena adanya celah itu maka tebing karang itupun terbagi menjadi dua bagian hingga mencapai kaki tebing tersebut.
Oleh sebab disepanjang celahan tebing itu tumbuh pepohonan yang lebat, sulitlah bagi orang untuk mengetahui keadaan itu sebelum mereka berada dekat sekali dengan celah-celah tadi.
Han Siong Kie coba melongok ke bawah, tapi dalamnya celah itu sukar diukur dan lagi yang tertampakpun hanya kegelapan yang pekat, meski ketajaman anak muda itu luar biasa diapun hanya dapat melihat sedikit pepohonan secara lapat-lapat.
sementara itu sepasang siluman hitam dan putih telah tiba pula disini, mereka ikut melongok kebawah tapi apa yang kemudian tertampak membuat hati merasa jadi bergidik.
"Ciangbunjin, apa yang berhasil kau temukah?"
Siluman hitam segera bertanya. Han Siong Kie tidak menjawab pertanyaan itu, agaknya ia sedang memikirkan suatu persoalan yang pelik.
"Mungkinkah jerit kesakitan yang memilukan hati itu berasal dari dasar lembah di balik celah tebing karang itu? "
Terdengar siluman putih bergumam seorang diri.
Ketika mendengar ucapan tentang lembah didasar celah tebing, tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benak Han Siong Kie, serta merta ia berteriak kegirangan.
"Horeee, disinilah letak lembah hitam itu"
Sepasang siluman hitam dan putih tertegun, tapi dengan cepat mereka memahami pula teriakan dari ketuanya.
Sebagaimana namanya Hek kok atau lembah hitam, lembah tersebut tentulah bukan lembah biasa seperti lembahlembah lainnya dan sekarang dibawah celah tebing karang itu terdapat sebuah lembah yang gelap gulita, karena letaknya yang terjepit diantara tebing-tebing karang dikedua belah sisinya, keadaan tersebut memang mirip sekali dengan nama lembah hitam itu, maka setelah memahami keadaan yang dihadapinya, semangat mereka tanpa terasa berkobar kembali.
Bila segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar, mereka berdua dapat memulihkan kembali raut wajah mereka yang sebenarnya sehingga apa yang sudah dicita-citakan selama puluhan tahun terwujud, bukan saja mereka berdua akan terlepas dari penderitaannya sebagai siluman aneh, kebahagian sudah berada diambang pintu.
Terdengar Han Siong Kie berkata lagi.
"Bukan saja tempat ini adalah Lembah Hek kok yang sedang kita cari-cari, bahkan ada orang persilatan telah menyerbu ke tempat itu, dengarkan jeritan tadi, bukankah suara itu tampak berkumandang dari dekat tapi kedengarannya jauh, berat dan lirih? Pastilah suara itu berasal dari lembah Hek kok, hayo kita berangkat kesana dan coba memastikan apa yang sebenarnya sudah terjadi "
Ia lantas berangkat lebih dahulu menuruni tebing batu karang itu Dengan gerakan cepat tiga orang itu berlarian menelusuri celah tebing itu hingga tiba dikaki tebing tersebut.
Dalam waktu singkat mereka sudah berada didasar tebing yang dimaksudkan, benar juga mereka temukan sebuah mulut lembah yang luasnya tak sampai sepuluh kaki.
Ketika mereka mencoba melongok kedalam, udara disitu sangat lembab dan gelap.
pemandangan pada jarak lima puluh kaki sulit untuk dilihat dengan nyata.
Han Siong Kle menuding kearah bekas-bekas telapak kaki yang tertera nyata disekitar mulut lembah itu, lalu katanya.
"Coba, lihat Ada orang yang telah datang kemari mendahului kita, bahkan jumlahnya diatas sepuluh orang"
"Menurut orang persilatan Lembah hitam telaga racun adalah daerah terlarang bagi setiap umat persilatan"
Ujar siluman putih dengan perasaan heran "aneh kenapa orangorang itu berdatangan kemari? Masa mereka memcunyai hubungan dengan Ban tok cousu?"
"Keadaan pada saat ini kurang begitu jelas, lebih baik kita masuk dulu kedalam lembah"
Tukas Han Siong Kie sambil melarang siluman itu melanjutkan kata-katanya.
Seperti sukma-sukma gentayangan, tiga orang itu melanjutkan perjalanannya menelusuri lembah itu dengan cepat, enteng dan tidak menimbulkan suara.
Beberapa puluh tombak baru saja mereka lewati, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras memecahkan kesunyian.
"siapa disitu? Harap segera berhenti"
Berbareng dengan menggemanya bentakan itu, dua sosok bayangan manusia telah munculkan diri menghadang jalan pergi mereka.
Karena perjalanannya terhadang, tiga orang itupun menghentikan gerakan tubuhnya sambil mengawasi penghadang mereka itu Dua orang itu adalah laki-laki berusia setengab baya yang bertubuh kekar, seorang bersenjata golok kepala setan ang besar sedangkan yang lain bersenjata ruyung sembilan Ketika dua orang itu menyaksikan tamu yang munculkan diri adalah manusia aneh bertubuh putih dan hitam, mereka lantas menjerit kaget dan mundur beberapa langkah dengan hati berdebar.
Lama sekali mereka tertegun, akhirnya laki-laki bersenjata ruyung itu berkata setengah membentak.
"Dalam lembah ini sedang ada urusan, lebih baik kalian jangan melanjutkan perjalanan dan mundur saja dari tempat ini"
Hek pek siang yau mendengus dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka menerjang kemuka dengan kecepatan kilat menyusul kemudian terdengar dua jeritan ngeri yang menyayat hati menggema memecahkan kesunyian, tahu-tahu dua orang laki-laki itu sudah mati konyol.
Han Siong Kie tak senang hati melihat kejadian anak buahnya, dengan dani berkerut ia lantas menegur.
"Mengapa kalian bunuh kedua orang itu sebelum menanyakan apa yang terjadi?"
Hek pek siang yau tak berani menjawab, mereka hanya tundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Padahal kalau mereka tidak dibunuh, siapa tahu kalau sedikit keterangan berhasil kita korek dari mulutuya?"
Kembali Han Siong Kie berkata "coba lihat kesempatan yang baik telah kalian buang dengan begitu saja"
"Tecu berdua tahu salah, harap ciangbunjin suka mengampuni kesalahan kami ini"
Kata dua orang siluman itu segera.
"Hayo berangkat"
Seru anak mudaitu kemudian, maka merekapun melanjutkan perjalanan lagi.
Lembah itu panjang sekali, empat penjuru yang terlihat hanya dinding karang yang menjulang tinggi ke angkasa, apa yang tertampak dari bawah hanyalah setitik celah kecil belaka, dengan sendirinya tak ada sinar matahari yang bisa memancar kedasar lembah itu.
Udara disana jadi sangat lembab, banyak lumut hijau dan jamur yang tumbuh disana, bukan saja gelap menyeramkan, bahkan mendatangkan pula suasana yang menggidikkan hati.
Luas lembah itu yang terlebar hanya empat puluh kaki, sedangkan tempat yang tersempit mencapai tiga puluh kaki lebih.
Dalam waktu singkat mereka sudah memasuki lembah itu sejauh tigali lebih, namun suasana masih tetap hening, tak sesosok manusiapun yang mereka jumpai.
suatu ketika tibatiba Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya, lalu berbisik.
"Kita sudah tiba ditelaga racun, coba lihatlah kedepan sana! Agaknya banyak orang bekumpul disana, kita harus bergerak dengan lebih berhati-hati lagi, sebelum melakukan sesuatu tindakan selidiki dahulu gerak-gerik beberapa orang itu!"
Hek pek siang yau tak berani membangkang, mereka pun memperlambat gerak majunya dan coba memperhatikan keadaan di depaan sana dengan seksama.
Benar juga, beberapa puluh kaki didepan sana, diantara kilapan cahaya yang terpantul dari permukaan air tampak bayangan manusia bergerak kian kemari.
bahkan secara lapatlapat terdengar pula suara pembicaraan manusia yang ramai.
Tanpa menimbulkan sedikit suara pun, dua orang itu mengikuti dibelakang Han Siong Kie menyusup kemuka serta mendekati tepi telaga itu.
Yang dimaksudkan telaga racun tak begitu luas lebarnya cuma mencapai setengah hektar, airnya berwarna hitam kebiru-biruan, ditengah telaga terpapar sebuah garis sinar yang berasal dari celah bukit nun diatas sana air yang berwarna hitam itu ber-riak kecil dan kelihatan mengerikan sekali.
Ditepi telaga berkumpal belasan sosok bayangan manusia, mereka semua mengenakan jubah berwarna hitam, dari kejauhan tampak samar lukisan warna putih yang tersulamkan diatas dada.
Diam-diam Han Siong Kie merasa amat terperanjat sebab dandanan jubah hitam dengan sulaman putih diatas dadanya itu sangat dikenal olehnya itulah dandanan dari utusan khusus perkumpulan Thian che kau.
"Kurangajar, kembali berjumpa dengan orang orang Thian che kau ditempat ini"
Pikirnya kenbali dalam hati "aneh benar orang-orang itu, Mau apa mereka kirim orang ustuk mendatangi telaga racun yang berada di lembah hitam ini"
Salah seoreng diantara manusia-manusia berjubah hitam itu mempunyai sulaman matahari rembulan dan bintang diatas dadanya potongan badan orang itu sangat dikenal oleh Han Siong Kie sementara ia masih berpikir untuk mengingat kembali siapa gerangan orang ini kebetulan kakek itu berpaling kearahnya maka terlihatlab raut wajahnya yang pucat pias itu.
"Aaah.. Rupanya Tok kun Si dewa racun Yu Hua. Tak aneh kalau aku merasa kenal sekali dengan potongan tubuhnya"
Dewa racun Yu Hua sangat terkenal namanya dalam dunia persilatan karena pandai menggunakan pelbagai obat racun, ditinjau dari kehadirannya ditempat ini, bukanlah karena urusan biasa.
Tepat dibawah kaki Dewa racun Yu Hua menggeletak sesosok mayat yang separoh badannya telah menghitam karena hangus.
Kesunyian yang mencekam sekitar telaga racun itu segera dipecahkan oleh utusan khusus perkumpulan Thian che kau itu, terdengar ia berkata sambil menuding kearah mayat yang menghangus tadi.
"Yu tongcu, tampaknya obat mujarabmu tidak manjur, coba lihat kita sudah mengorbankan selembar jiwa lagi dengan percuma, aku lihat tugas kita kali ini..."
"Mana boleh kita tinggalkan tugas setengah jalan?"
Tukas Dewa racun Yu Hua dengan gelisah "Kaucu toh sudah menitahkan kepada kita agar berusaha dengan upaya apa pun untuk mendapatkan kitab beracun milik Bantok Coucu sebab hanya dengan memiliki kitab pusaka Tok keng itulah kita dapat menjagoi seluruh kolong langit tanpa tandingan"
"Tapi benarkah Ban tok Cousu berdiam di dalam telaga racun ini? sekalipun ia benar-benar bermangkal disini, andaikata dia masih hidup bukankah kita..."
"Aaah, saudara It terlalu merisaukan hal yang bukanbukan, andaikata Ban tok cousu benar-benar masih hidup dikolong langit, masa ia membiarkan kita merondai daerah kekuasaannya ini selama sehari semalam tanpa menunjukkan reaksi apapun?"
Seorang tauto (hwesio yang pelihara rambut) yang berada disisinya tertawa seram, lalu katanya pula.
"Yu Tongcu, kau mendapat julukan sebagai Dewa racun, masakah masih belum berhasil kau temukan sifat racun yang terkandung dalam telaga racun ini?"
Utusan untuk perkumpulan Thian che kau dari marga It itu menyambung pula dari samping.
"Kalau toh obat pemunah yang dibuat Yu tongcu tidak menunjukkan kemanjurannya lagi..."
"Harap tenang, harap tenang lebih dulu Kalian jangan ribut sebelum waktunya"
Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 8
Baca Juga: Hong Lui Bun 7