Eps 11 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Tukas Dewa racun Yu hua dengan cepat, dalam perjalanan kali ini siaute telah secara khusus membuat dua jenis obat anti racun kalau toh jenis pertama tidak manjur nah!
Saudara itu harap maju kemari untuk mencobanya!"
Sambil berkata lantas menuding seorang pria berbaju berenang yang berdiri di samping.
Ketika dirinya ditunjuk laki-laki itu tak berani membantah sekali pun paras mukanya telah berubah jadi pucat seperti mayat dengan hati berdebar kerena ketakutan dia maju kedepan dan menghampiri dewa racun.
Dari sakunya Dewa racun Yu Hua ambil keluar sebuah botol porselen lalu mengeluarkan sejenis cairan berwarna merah dan dipoleskan keseluruh tubuh laki-laki itu.
"Nah sekaraog engkau boleh segera terjun kedalam telaga"
Petintah Dewa racun Yu Hua kepada laki laki itu.
"setibanya dalam telaga ergkau harud memperhatikan keadaan di sekitarmu adakah gua atau pintu besi jikalau audah menemukan sesuatu jangan langsung masuk kedalam tapi cepatlah keluar dari permukaan dan laporkan apa yang dilihat setelah itu baru kita atur kembali rencana berikutnya"
Lelaki itu mengangguk dan perlahan-lahan mendekati tepi telaga sesudeb ragu-ragu sebentar akhirnya ia menjatuhkan kakinya coba dicelupkan kedalam air.
Semua perhatian dan sorot mata orang-orang itu dengan tegang dialihkan keatas wajah laki-laki itu suasana jadi hening dan sepi tampaknya semua gerak-gerik orang itu sudah menghisap perhatian mereka.
Han Siong Kie yang bersembunyi di tempat kegelapan pun merasa tegang sekarang ia baru tahu bahwa kedatangan rombongan tersebut adalah atas perintah Thian che kaucu dengan tujuan mengincar kitab racun peninggalan dari Ban tok cousu.
Padahal ilmu silat yang dimiliki Thian che kaucu sangat liehay dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang pun telah cukup baginya untuk memimpin dunia persilatan andaikata kitab racun itu benar-benar berhasil ditemukan olehnya itu berarti dalam jagad saat itu tak seorang pun dapat menandingi kehebatannya lagi.
Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian suara itu menyeramkan bagi siapa saja yang mendengar sehingga bulu kuduk mereka tanpa terasa jadi bangun berdiri.
Laki-laki itu sudah terkapar ditepi telaga, sebelah kakinya sebatas lutut masih terbenam dalam air, tapi tubuhnya telah mengejang keras dan selembar jiwanya sudah melayang tinggalkan raganya.
Peristiwa ini makin membuat suasana disana jadi menyeramkan, semua jago yang berada ditepi telaga cuma dapat saling berpandangan belaka, siapapun tak mampu bersuara.
Han Siong Kie sendiripun merasa bergidik sambil menjulurkan lidahnya ia berpikir dalam hati.
"Sungguh mengerikan.. tak nyana air telaga yang tampaknya tenang dan berwarna hitam itu sebetulnya mengandung racun dengan kadar yang sangat tinggi"
Utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang tampaknya adalah pemimpin dari rombongan itu tiba-tiba buka suara serta bertanya dengan suara berat.
"Yu Tongcu, apakah engkau masih mempunyai cara lain untuk dicoba?"
Dewa racun Yu Hua termenung lalu tundukkan kepalanya dan membungkam dalam seribu bahasa. Tauto berambut panjang itu ikut menimbrung dengan wajah serius.
"It beng, apakah kaucu mempunyai petunjuk lain?"
"Ada"
Utusan khusus she It itu membenarkan-Agaknya Dewa racun Yu Hua juga sudah kehabisan akal, mendengar pertanyaan itu ia lantas bertanya.
"Apa pesan dari kaucu?".
"Meledakkan lembah Hek kok dan menimbun telaga racun"
"Menimbun telaga racun ?"
Beberapa orang jago itu termasuk pula dewa racun Yu Hua menjerit tertahan, agaknya mereka kurang percaya dengan apa yang didengar.
"Benar Meledakkan lembah ini dan menimbun telaga racun dengan tanah"
"Apa ...apakah.. cara ini tidak..."
"Kenapa ?"
"Apakah tidak lebih baik kita tunda dulu pelaksanaan cara itu dan mencoba untuk mencari jalan lain??"
"Maksud kaucu, barang yang tak berhasil didapatkan lebih baik dimusnahkan dari muka bumi, daripada terjatuh ke tangan orang lain"
"Aaah, apakah pandangan itu tidak terlampau sempit? sudah puluhan tahun tempat ini lewat dalam keadaan sepi, tak seorang manusiapun berani mencari gara-gara dengan telaga racun. Menurut pendapatku dikolong langit dewasa ini mungkin tak seorang manusiapun dapat melawan kedahsyatan dari racun itu"
"Yu tongcu, apakah engkau tidak merasa bahwa ucapanmu itu terlampau yakin akan sesuatu tanpa memikirkan yang lain?"
"Maksudmu?"
"Menurut apa yang aku It Tiong khi ketahui, dikolong langit dewasa ini masih ada seorang manusia yang tidak takut menghadapi pelbagai macam racun, kendatipun racun yang bagaimana kejipun"
"Aaah, masa iya? siapakah orang itu?"
Tanya Dewa racun Yu Hua dengan hati terperanjat.
"Aaah, Yu Tongcu ini benar-benar sudah lupa ataukah pura-pura menjadi seorang pelupa?"
Jengek It tiong khi. utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu sambil tertawa dingin. -000dw000-
Jilid 37
"AKU benar-benar tak dapat menemukan siapa gerangan dikolong langit dewasa ini yang menguasai ilmu beracun tingkat tinggi."
"Dia tak pandai menggunakan racun, tapi dia tak takut menghadapi racun dalam jenis apapun"
Dewa racun Yu Hua tundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu, akhirnya ia mengerti siapa yang dimaksudkan, selanjutnya serunya.
"Saudara It, apakah engkau maksudkan ahli waris dari Mo tiong ci mo pewaris kedudukan ciangbunjin dari perguruan Thian lam bun dewasa ini, Manusia bermuka dingin Han Siong Kie??"
"Benar, dialah yang kumaksudkan seandainya kitab tersebut sampai terjatuh ketangannya, coba bayangkan bagaimanakah akibatnya??"
Dewa racun Yu Hua segera terbungkam dalam seribu bahasa, tanpa terasa iapun teringat kembali kejadian masa lalu ketika Manusia muka dingin Han Siong Kie dijebak dalam Lian huan tan, ketika itu dia telah mengunci semua jalan lembah dengan kabut wangi si kut hiang wu (dupa wangi pelepas tulang) tapi kenyataannya Manusia bermuka dingin masih tetap sehat walafiat seperti tidak terpengaruh sesuatu apapun.
Dalam pada itu, Han Siong Kie yang bersembunyi dibalik pepohonan sedang memutar otak serta mencari akal bagaimana caranya untuk mencegah orang Thian che kau meledakkan lembah hitam serta telaga racun.
ia cukup memahami mereka dapat bertindak sewenang-wenang meledakkan telaga racun sehingga sampai tertimbun, apabila hal ini sampai terjadi maka selama hidup Hek pek siang yau tak dapat memulihkan kembali raut wajahnya seperti sedia kala.
Diantara sekian banyak orang Hek pek siang you berdua yang paling tidak sabaran, andaikata Han Siong Kie tidak hadir disana, niscaya semenjak tadi mereka telah menampilkan diri untuk melakukan pembantaian secara besar-besaran.
Tauto berambut panjang yang berdiri disamping Dewa racun, tiba-tiba buka suara tapi kepada It tiong Khi katanya.
"Kalau toh Kaucu sudah ada perintah untuk berbuat demikian, lebih baik sekarang juga kita laksanakan, tolong tanya bagaimana caranya kita meledakkan lembah ini ?"
Tampaknya It tiong Khi si utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu sudah mempunyai susunan rencana yang matang, sahutnya.
"Akan kita tanam bahan-bahan peledak pada tebing dan sepanjang lereng lembah hitam ini, lalu kita ledakkan" . -000dw000-BAB 71
"KALAU memang begitu, urusan tak boleh ditunda-tunda lagi, hayo kita tinggalkan tempat ini"
Ajak Tauto si padri pemelihara rambut itu.
Hek pek siang yau sudah habis kesabarannya, tapi sebelum mendapat perintah dari ketuanya mereka tak berani melakuka sesuatu tindakan secara gegabah, saking gelisahnya nafas besarpun sampai dibuang berulang kali.
saat itulah Han Siong Kie berbisik lirih.
"Kita harus menahan rombongan orang-orang ini tetap dalam lembah, jangan biarkan seorangpun berlalu dari sini dalam keadaan hidup, terutama sekali kakek berjubah hitam yang bermuka pucat tanpa warna darah itu, dia bernama Dewa racun Yu Hoa, seluruh badannya mengandung racun, serahkan orang itu kepadaku, biar kulayani sendiri dirinya"
Seperti mendapat perintah untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan, Hek pek siang yau segera melompat bangun dan siap menyebarkan mautnya.
Pada saat itulah sebelum mereka berdua sempat melakukan pembantaian secara besar-besaran mendadak dari permukaan telaga beracun itu timbul buih-buih besar yang disusul dengan munculnya gelombang besar.
"Jangan berisik, cepat bersembunyi"
Seru Han Siong Kie sambil ulapkan tangannya.
pada saat itu rombongan dari Dewa racun Yu Hoa sudah hampir meninggalkan tempat itu, ketika secara tiba-tiba mendengar suara gulungan ombak besar muncul dari permukaan telaga yang tenang dengan hati terkesiap mereka berpaling, apa yang kemudian mereka saksikan segera mencopot sukma rasanya, bulu kuduk pada bangun berdiri.
Kiranya diantara gulungan gelombang besar dan percikan buih-buih air yang amat santar perlahan-lahan muncul seorang kakek berambut putih, kakek itu berperawakan tinggi besar dan bermuka merah, meskipun baru muncul dari permukaan air beracun, ia tak nampak cedera atau mengalami sesuatu yang aneh.
"Aaah Dialah Ban tok Cousu"
Tiba-tiba Tauto sipadri memelihara rambut itu menjerit kaget.
Jeritan tersebut menambah panik dan seramnya suasana, serentak dua belas orang yang hadir ditepi telaga mundur selangkah dengan ketakutan, tampaksya mereka jeri sekali menghadapi kakek moyangnya ilmu berbisa ini.
Entah dengan gerakan tubuh apakah, tahu-tahu semua orang hanya merasa pandangan matanya jadi kabur dan kakek berambut putih itu sudah melayang naik ke tepi telaga.
setelah urusan terlanjur menjadi begini, Dewa racun Yu Hoa tak dapat berdiam diri belaka, terpaksa ia keraskan hati dan maju ke depan, sapanya sambil memberi hormat.
"Tolong tanya benarkah locianpwe adalah Ban tok Cousu yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan?"
"Benar"
Sahut kakek berambut putih itu dengan suara nyaring, senyaring guntur yang membelah bumi.
"ada urusan apa kalian datang kemari?"
"Boanpwe... boanpwe sekalian hanya... hanya terdorong oleh perasaan ingin tahu saja"
Jawab Dewa racun dengan suara terbata-bata, panik juga ia menghadapi kejadian semacam itu.
"Karena perasaan ingin tahu? Hahah haaahh haahh"
Tibatiba Ban tok Cousu menengadah dan tertawa terbahak-bahak, setelah puas tertawa dia lantas ulapkan tangannya "enyah kamu semua dari tempat ini"
Bersama dengan kibasan telapak tangan itu dua belas orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu segera merasakan segulung desingan angin tajam menyambar lewat diatas badannya, tak tahan lagi mereka bergidik serta bersin beberapa kali.
Tapi saat ini mereka tak berani berdiam terlelu lama lagi disana, seperti ikan-ikan yang terlepas dari jaring cepat-cepat kedua belas orang itu sipat telinga dan kabar terbirit-birit.
"Berhenti"
Mendadak terdengar bentakan lagi menggelegar diangkasa, seorang pemuda tampan yang berwajah dingin telah tampil kedepan dan menghadang jalan pergi beberapa orang itu.
Menyaksikan jalan perginya terhadang dengan rasa kaget dan terkesiap Dewa racun Yu Hua sekalian segera berhenti berlari.
It Tiong khi si utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu agak tertegun tapi ia segera membentak.
"Bocah keparat, kau jangan berlagak jumawa ditempat ini, sudah kau letakkan dimana sepasang matamu."
"Haa? Manusia bermuka dingin!"
Teriak Dewa racun Yu Hua dengan kaget setelah ia dapat mengenali kembali siapa gerangan si anak muda yang menghadaog jalan perginya itu.
"Manusia bermuka dingin"
Ketiga huruf nama itu cukup mendatangkan perasaan seram bsgi pendengarnya, sebelas orang jago dari perkumpulan Thian che kau itu tergetar mundur selangkah kebelakang, tsnpa sadar mereka telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
"Bocah keparat! Kalau ingin mencari gara-gara hayo kita bereskan urusan itu di luar lembah sana!"
Tantang It Tiong khi dengan wajah serius. Tiba-tiba Ban tok Cousu yang membungkam disamping ikut berkata pula dengan nada dingin.
"Selama berada di dalam lembah hitam dilarang menggunakan kekerasan untuk berkelahi atau baku bantam, silahkan keluar dulu dari sini!"
"Tapi Locianpwe, kau tak boleh me1epaskan mereka pergi!"
Teriak Han Siong Kie dengan cemas.
"Kenapa?"
"Sebab mereka akan ledakkan puncak tebing karang itu dan menyumbat telaga beracun!"
"Apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu? Hayo cepat enyah dari sini!"
Hardik Ban tok Cousu tanpa sungkansungkan.
Han Siong Kie terbungkam, tak disangka olehnya bahwa maksud baiknya untuk memberi peringatan kepada kakek itu malahan mendapat imbalan semprotan yang cukup pedas.
It Tiong khi jadi lebih kheki lagi terutama karena rencana busuknya dibongkar secara blak-blakan, mukanya jadi menyeramkan, sambil menggertak gigi tsriaknya.
"Bajingan cilik, hayo keluar! Kita bereskan urusan diantara kita berdua diluar lembah sana"
Setelah memberi tanda kepada anak buahnya dia lantas putar badan dan berlalu lebih dulu dari sana diikuti ke sebelas orang anak buahnya.
Sepeninggal orang-orang itu mendadak Ban tok cousu berkata lagi dengan suara ketus.
"Bocah muda, mengingat maksud baikmu untuk memberi peringatan maka kuampuni selembar jiwamu, ajaklah dua orang rekanmu itu dan segera enyah dari tempat ini"
Ucapan tersebut amat mengejutkan Han Siong Kie, ia tak menyangka kalau cukup dalam sekali tatapan mata Ban tok cousu telah mengetahui tempat persembunyian Hek pek siang yau, apalagi mengetahui pula bahwa kedua orang itu berasal dari satu rombongan dengannya.
Dari sini dapatlah diketahui bahwa semenjak kemunculannya dari dalam telaga ia sudah menemukan jejak dari mereka bertiga, itu berarti bahwa ketajaman mata serta pendengarannya sudah mencapai tingkatan yang sangat hebat.
Rupanya Hek pek siang yau juga sudah tahu bahwa tak ada gunanya mereka bersembunyi terus, serta merta dua orang itupun menampilkan dirinya kedepan.
Dalam keadaan seperti ini, Han Siong Kie merasa tak ada gunanya untuk merahasiakan maksud kedatangannya lagi, ia maju kedepan lalu memberi hormat katanya.
"Terus terang boanpwe katakan bahwa sesungguhnya kedatangan kami kesini adalah ingin memohon sesuatu bantuan dari locian pwe."
"Sudah lama aku tak pernah mencampuri urusan dunia luar lagi, tak dapat kupenuhi permohonan dalam bentuk apapun"
"Locianpwe harap untuk kali ini kau bersedia untuk memenuhinya, walau apapun syaratnya"
Pinta Han Siong Kie lebih jauh. Ban tok cousu menengadah dan menatap sekejap wajah sianak muda itu dengan pandangan dingin, kemudian sahutnya.
"Boleh saja kalau begitu, asal engkau mampu untuk memasuki telaga beracun ini maka akupun akan bersedia untuk mengabulkan pula sebuah permintaanmu"
Tanpa menanti jawaban lagi dia putar badan dan berlalu dari sana. Han Siong Kie jadi panik kembali teriaknya.
"Locianpwe harap tunggu sebentar"
"Ada urusan apa lagi? "
Tanya Ban tok Cousu sambil berhenti, meski begitu ia sama sekali tak berpaling.
"Apakah locianpwe tidak kuatir terhadap ancaman mara bahaya yang sedang mengincar jiwamu? Rombongan tadi betul-betul punya niat untuk meledakkan lembah hitam ini serta menimbun telaga racun"
"Heeeh heeeeh heeeehh, sejak awal aku toh sudah berkata, apa sangkut pautnya antara persoalan tadi dengan dirimu ? Buat apa kau musti merisaukannya ?"
Untuk kedua kalinya Han Siong Kie terbentur pada batunya, ia membungkam tidak mampu berbicara, walaupun hatinya jadi panas seperti mau meledak rasanya.
"Bocah muda"
Kembali Bantok Cousu berkata "kau berani memasuki telaga beracun atau tidak? Jika masih ingin hidup lebih lama lagi, cepat-cepatlah enyah dari sini"
Ucapan itu membakar hati Han Siong Kie, ia merasa seakan-akan dirinya sedang ditantang, malu untuk menolak tentu saja ia menerima tantangan tersebut dengan emosi.
"Setelah berani datang kemari, mengapa tak berani terjun kedalam telagamu ini ?"
Sahutnya dengan angkuh.
"Bagus, jadi kau berani memasuki telaga ini seorang diri?"
"Tentu saja, Sebagai seorang laki-laki sejati, setelah aku berani mengucapkan keluar, tentusaja akan kulaksanakan pula."
Mendengar ucapan dari ketuanya ini, cepat-cepat Hekpeksiang yau maju kemuka dan jatuhkan diri berlutut dihadapannya dengan rasa terharu dan penuh rasa terima kasih siluman hitam berkata.
"Ciangbunjin harap engkau bersedia untuk menarik kembali perkataanmu itu"
"Kenapa?"
Seru sang pemuda.
"Tecu rela selamanya berwujud demikian, dari pada harus mengorbankan selembar jiwa ciangbunjin"
"Kenapa? Toh aku belum tentu mampus dalam air telaga itu"
"Jangan Ciangbunjin, tak ada gunanya mempertaruhkan nyawa dengan percuma"
"sudahlah, kalian tak usah banyak berbicara lagi, apa yang telah kuputuskan selamanya tak akan dirubah kembali"
Sementara itu Ban tok Cousu sudah tertawa dingin tiada hentinya, sekali melompat tahu-tahu ia sudah lenyap dibalik air telaga.
"Kalian berdua segera bangkit"
Bentak Han Siong Kie kemudian dengan wajah gusar.
"Asal Cianbunjin menarik kembali niat tersebut, tecu berdua akan segera bangkit"
"Tidak.. Apa yang telah kukatakan selamanya tak akan dirubah lagi"
"Tapi... Ciangbunjin, air dalam telaga beracun ini sangat berbahaya, kena dibadanpun bisa mengakibatkan kematian yang sangat mengerikan, coba lihatlah keatas sosok mayat yang menghangus ditepi telaga itu."
Tanpa disengaja Han Siong Kie mengalihkan perhatiannya kearah kedua sosok mayat itu, timbul juga perasaan bergidik dalam hatinya, tapi sebagai seorang pemuda yang tinggi hati, sudah tentu ia tak sudi membatalkan niatnya, apalagi memulihkan kembali wujud kedua orang siluman itu sudah merupakan salah satu tujuan hidupnya sekarang.
Maka dengam suara dingin dia berkata.
"Masih ingatkah kalian dengan kata-kata yang pernah kamu berdua ucapkan sewaktu aku hendak membawa kalian keluar dari lembah kematian? Masih ingatkah bahwa kalian bersedia menuruti semua perintahku tanpa membantah??"
"Tapi ciangbunjin, air telaga itu sangat beracun.."
"Tutup mulut dan segera bangkit, sekarang juga kuperintahkan kamu berdua untuk keluar dari lembah ini. berjaga-jagalah kalian terhadap tingkah laku dari anjing-anjing geladak itu, cegah setiap usaha mereka untuk meledakkan lembah ini"
Hek pek-siang yau, sepasang siluman hitam putih itu tak berani membangkang lagi, mereka bangkit berdiri tapi merasa keberatan untuk meninggalkn tempat itu.
"Cepat keluar dan awasi gerak gerik anjing-anjing geladak itu"
Sekali lagi Han Siong Kie membentak.
"Ciangbunjin..."
Teriak siluman putih cemas. Sebelum orang itu menyelesaikan kata-katanya, kembali pemuda itu sudah menukas dengan suara dalam.
"Apa yang kuacapkan adalah perintah, apakah kalian berdua hendak menbangkang perintahku??"
"Tecu tak berani"
Buru-buru kedua orang siluman hitam putih itu menyahut dengan kepala tertunduk.
"Kalau kalian masih bersedia untuk mendengar perintahku, segera laksanakan apa yang telah kuucapkan"
"Seandainya tecu telah menyelesaikan tugas tersebut apa yang harus kami kerjakan lagi"
"Nantikan kedatanganku diluar lembah sana"
"Seandainya... seandainya..."
Tiba-tiba kedua orang siluman itu tidak jadi meneruskan kata-katanya sebab mereka merasa bahwa tidak pantas untuk diutarakan oleh mereka.
Tentu saja Han Siong Kie mengetahui apa yang ingin mereka katakan, maka sahutnya.
"Tunggu aku selama satu hari"
"Andaikata sehari sudah lewat namun ciangbunjin belum juga munculkan diri dari lembah ini"
"Kalian berdua harus segera kembali ke wilayah Thian lam dan meneruskan jabatanku"
"Tidak"
Teriak dua orang siluman itu cepat "tecu berdua pernah bersumpah akan mengikuti ciangbunjin selama hidup, andaikata ciangbunjin tertimpa suatu musibah maka tecu berduapun tak ingin hidup lagi."
Dalam hati Han Siong Kie merasa sangat terharu oleh sikap setia dari dua orang pembantunya ini, tapi perasaan tersebut tidak diperlihatkan diatas wajahnya, ia malahan membentak.
"Hmm. Ucapan apa itu? Kalian berdua toh sudah menjadi anggota perguruan Thian lam bun? sebagai murid yang berbakti maka kalian harus mementingkan tugas perguruan dari pada kepentingan pribadi. sudah.... sudahlah perkara semacam itu tak ada gunanya untuk dibicarakan terus menerus, sekarang kalian segera keluar dari lembah ini, jangan sampai mengakibatkan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan"
Setelah dipaksa terus menerus, hek pek siang yau tak dapat membangkang perintah ketuanya lagi, setelah memberi hormat mereka baru berlalu dari situ dengan perasaan yang berat.
Demikianlah sepeninggal kedua orang siluman itu Han Siong Kie berjalan ketepi telaga beracun itu, ketika sinar matanya terbentur dengan air telaga yang berwarna kehitamhitaman serta mayat-mayat menghangus yang terkapar ditepi telaga, tanpa terasa hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, ia tidak merasa terlalu yakin dengan kemampuannya untuk melawan racun dari air telaga itu, tapi sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, ia tak ingin menjadi seorang manusia pengecut, apa yang telah dikatakan bagaimanapun juga harus dilaksanakan sekalipun selembar jiwanya sebagai taruhan-Tapi sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam telaga, ingatan lain kembali melintas dalam benaknya, dan ingatan tersebut membuat sekujur badannya gemetar keras, ia teringat akan dendam sakit hatinya yang belum terbalas, andaikata apa yang dilakukan sekarang mengakibatkan dirinya mati, bukankah dia bakal mati dengan mata tak meram.
Semestinya perbuatan semacam ini harus dilakukan setelah ia selesai membalas dendam, tapi kenyataan yang terpapar didepan mata sudah tidak mengijinkan dia untuk berbuat lain lagi, apapun yang terjadi dia harus melaksanakan perbuatan itu menurut rencana.
Dengan termangu-mangu ia memandang air telaga yang berwarna hitam itu, akhirnya sambil menggertak gigi dia menceburkan kaki kirinya kedalam air, betul juga begitu kakinya diceburkan segera terasalah suatu perasaan gatalgatal yang aneh merambat naik keatas kakinya.
Kejadian ini sangat mengejutkan hatinya, cepat ia tarik kembali kakinya keatas daratan tapi setelah ditunggu lama sekali tidak nampak reaksi apapun, perasaan yang semula menegang sekarang jauh lebih lega.
Maka hawa sakti si mi sinkang disalurkan sepenuhnya untuk melindungi badan dengan pelindungan hawa khikang yang dahsyat sewaktu ia ceburkan kembali kakinya secara otomatis telaga itu menyibak sendiri ke samping dan yang aneh ternyata kakinya kali ini tidak basah.
Apa yang berhasil dicapai olehnya sekarang sangat menggirangkan hatinya, sebab apa kenyataan yang terpancang didepan mata persis seperti apa yang diduganya, dengan hawa khikang pelindung badan yang dihasilkan oleh tenaga sakti si mi sinkang ditambah pula dengan kekuatan penolak racun yang terkandung dalam tubuhnya untuk memasuki telaga beracun itu tanpa cedera ternyata adalah suatu pekerjaan sangat gampang.
"Aaah!"
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang berseru kaget.
Han Siong Kie sendiri pun terkesiap, ia batalkan niatnya untuk terjun kedalam telaga dan segera berpaling.
Ban tok Cousu memang sangat lihay, entah semenjak kapan tahu-tahu ia berdiri hanya tiga kaki dibelakang tubuhnya, bukan saja pemuda itu tak tahu sejak kapan ia sudah berada disitu, bahkan kehadirannya sama sekali tak tertangkap oleh pandangarannya.
"Eeeh bocah muda, engkau jugo mengerti tentang racun?"
Kakek berambut putih itu lantas menegur.
"Tidak! Aku sama sekali tidek mengetahui tentang soal racun"
Han Siong Kie segera menyahut sambil gelengkan kepalanya.
"Kalau tidak mengerti tentang ilmu beracun, kenapa kau tidak takut untuk menceburkan diri dalam air telaga yang beracun jahat ini?"
Han Siong Kie tidak ingin berbohong maka dia mengaku terus terang.
"Boanpwe pernah mendapatkan penemuan aneh di suatu sumber nata air kerak bumi yang disebut Tee mee-leng cwan, sempat membenamkan tubuhnya sampai beberapa hari itulah sebabnya aku memiliki daya tahan untuk melawan segala macam racun!"
"Oooh! Benarkah itu? Sejak hidup sampai sekarang baru pertama kali ini kudengar tentang kejadian semacam itu, aku dengar engkau adalah seorang ciangbunjin boleh ku ketahui engkau adalah ciangbunjin dari perguruan mana?"
"Perguruan Thian lam bun"
"Kau maksudkan ketua dari istana Huan mo kiong yang berada di wilayah Thian lam?"
Ban tok Cousu menegaskan.
"Benar!"
Si anak muda itu mengangguk.
Sepasang biji mata Ban tok Cousu yang berwarna kehijauhijauan tiba-tiba memancarkan sinar aneh setelah mengawasi si anak muda itu dari atas sampai ke bawah beberapa kali ia baru bergumam seorang diri.
"Ehmm bakat alam yang luar biasa, susah ditemukan dalam seratus tahun, hebat mengagumkan!"
Sehabis bergumam dengan alis mata berkenyit ia berkata.
"Semangat serta kebesaran jiwamu yang rela berkorban demi kepentingan orang lain sangat mengagumkan diriku, baiklah! Untuk kali ini aku akan melanggar kebiasaan dengan memenuhi permintaanmu, undanglah kembali kedua orang anak muridmu tadi"
"Apakah Lccianpwe sudah tahu apa yang hendak boanpwe pinta?"
Seru Han Siong Kie.
"Bukankah kedua orang anak muridmu sudah terkena racun dari Gi hong tok-ko yang hebat? Dan sekarang kau mohonkan pengobatan bagi mereka sehingga wajahnya dapat pulih kembali seperti sedia kala?"
"Darimana locianpwe bisa tahu?"
Seru si-anak muda itu keheranan.
"Haaah haaah haaaah tiada jenis racun didunia ini yang bisa mengelabuhi sepasang mataku, cukup sekali memandang aku lantas bisa menduga sifat racun tersebut!"
Sekarang Han Siong Kie benar-benar merasa kagum sekali, sebab kenyataannya Ban tok Cousu memang liehay seperti pula dengan julukannya, dia memang tak malu mendapat julukan sebagai Cousu, tapi teringat kembali olehnya akan perbuatan Dewa racun Yu Hua sekalian yang hendak meledakkan lembah hitam, ia tetap merasa tidak berlega hati, maka serunya lagi dengan perasaan kuatir.
"Locianpwe, orang-orang persilatan yang bertempur disini tadi adalah anak buah dari perkumpulan Thian che kau, mereka telah menyusun rencana hendak meledakkan lembah hitam ini, cianpwe! Aku kuatir.."
"Tentang maksud busuk mereka itu aku sudah tahu!"
"Kalau toh locianpwe telah mengetahui akan maksud mereka, mengapa kau melepaskan mereka pergi dengan begitu saja."
"Siapa yang bilang kalau aku telah melepaskan mereka pergi?"
Ban tok Cousu balik bertanya.
Ucapan ini membuat Han Siong Kie jadi tertegun, tapi dengan cepat ia dapat menangkap maksud dari ucapan itu kontan saja jantungnya berdebar keras dan peluh dingin sempat membasahi tubuhnya.
"Jadi locianpwe tidak melepaskan mereka pergi dengan begitu saja?"
Katanya kemudian. Ban tok cousu tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeeh... heeeh... heeeh Bukan saja mereka berani memasuki daerah terlarang tanpa ijinku, bahkan berani pula menaruh maksud dan tujuan yangjahat kepadaku, terhadap manusia semacam ini, apakah aku harus melepaskan mereka dengan begitu saja? Hmm Dosa seperti itu, belum cukup untuk ditebus dengan kematian belaka "
Kali ini Han Siong Kie benar-benar tidak bisa menahas rasa ngerinya lagi, dari perkataan orang itu, ia dapat menarik kesimpulan bahwa orang-orang dari perkumpulan Thian che kau yang telah dilepaskan tadi, kebanyakan sudah menemui ajalnya secara mengerikan.
Maka diapun tidak membicarakan tentang soal lain lagi, setelah menjura ujarnya.
"Kalau memang demikian, boanpwe mohon diri lebih dulu untuk mengundang datang kedua orang anak muridku itu "
Habis berkata dia lantas putar badan dan berkelebat menuju kemulut lembah.
Beberapa saat kemudian ia sudah tiba di mulut lembah, waktu itu Hek pek siang yau sedang berdiri termangu-mangu, sementara dihadapan mukanya terdengar suara orang kesakitan yang mengerikan dan memilukan hati berkumandang tiada hentinnya.
satu ingatan melintas dalam benak Han Siong Kie, ia percepat gerakan tubuhnya dan melayang turun didepan mulut lembah itu.
Rupanya Hek pek siang yau juga merasakan tibanya sesosok manusia dari dalam lembah, ketika mereka kenali bahwa orang itu tak lain adalah ketuanya, tak bisa dibendung lagi dua orang siluman itu berteriak dengan penuh rasa gembira.
"Hooree ciangbunjin tidak cedera bukan?"
Han Siong Kie tidak menjawab, sinar matanya dialihkan ke atas permukaan tanah dan memeriksa sekejap keadaan disitu.
Dua belas sosok mayat terkapar diatas tanah dan menggeletak dalam posisi tak menentu, mereka memang It Tiong khi bersama rombongannya, sebelas orang diantaranya kelihatan sudah mati, tinggal Dewa racun Yu Hua seorang yang masih mengguling-guling diatas tanah dengan keadaan yang mengerikan sekali, suara jerit kesakitannya dan mimik wajahnya yang menahan rasa sakit semuanya menimbulkan suatu perasaan yang mengerikan siapa pun yang melihatnya.
Bergidik Han Siong Kie melihat semua kejadian itu tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Sepanjang waktu tadi Ban tok Cousu tidak kelihatan turun tangan tapi kedua belas orong Jago lihay dari perkumpulan Thian che kau ini tanpa mereka sadari telah keracunan hebat bahkan mereka baru tewas sesudah berada di luar lembah kejadian seperti ini bukan saja belum pernah terjadi bahkan tak akan dipercayai orang sebelum orang lain menyaksikan sendiri jalannya peristiwa itu.
Dewa racun Yu Hua terhitung seorang jago liehay yang ahli sekali dalam ilmu racun toh ia sendiripun tak dapat melepaskan diri dari cengkeraqman Ban tok Cousu hanya bedanya yang lain sudah keburu mati semua dan sekarang cuma tinggal dia seorang yang masih mengerang kesakitan.
Hek pek siag yau juga tidak berbicara apa-apa mereka hanya berdiri termangu-mangu di samping ketuanya.
Suasana jadi hening dan sepi, lama sekali siluman putih baru bertanya dengan perasaan ingin tahu.
"Ciangbunjin, apakah engkau telah masuk kedalam telaga beracun?"
"Belum"
Pemuda itu menggeleng.
"Memang itu lebih baik, sebab bagaimana pun juga ciangbunjin tak boleh mengorbankan jiwa dengan percuma..!"
"Kalian salah pabam"
Tukas Han Siong Kie kembali.
"aku tidak jadi memasuki telaga tersebut karena Ban tok cousu telah mengabulkan permintaanku dan sekarang kalian diundang masuk kedalam untuk memperoleh penyembuhan seperti apa yang kalian cita-citakan selama ini!"
Kabar itu segera disambut gembira oleh sepasang siluman putih dan hitam, sedemikian girangnya mereka sampai lupa daratan dan saling berpelukan kencang.
Dalam pada itu Dewa Racun Yu Hua sudah tidak berwujud manusia lagi, air keringat telah membasahi sekujur badannya panca inderaoya sudah tidak berfungsi secara normal suara rintihannya sudah sedemikian lirih dan seraknya sampai kedengaran amat perlahan, walaupun begitu ia masih juga berusaha mencengkeram permukaan tanah dengan tatapan mata yang memelas hati kepada Han Sion Kie.
"Ciangbunjin... too... tolonglah aku.... berbuat... buatlah belas kasihan... dan... dan bebaskanlah aa.. aku dari... dari penderitaan"
Han Siong Kie merasa sangat tak tega memyaksikan penderitaan orang itu, rasa iba telah muncul dalam hatinya, diapun lantas teringat dengan keterangan dari engkoh tuanya si pengemis dari selatan, menurut pengemis itu sepanjang sejarah hidupnya Dewa racun Yu Hua tidak pernah melakukan perbuatan yang sangat jahat serta merugikan banyak orang, maka dia ambil keputusan untuk menyelamatkan jiwanya.
Ketika ingatan tersebut terlintas dalam benaknya, dari tempat kejauhan diapun melepaskan serangan untuk menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh orang itu..
Setelah jalan darahnya tertotok maka Dewa racun Yu Huapun berhenti mengerang kesakitan.
Tempo dulu Dewa racun Yu Hua pernah mempunyai niat jahat hendak merampas sepasang sarung tangan mustika Hud jiu poo pit dari tangan Han Siong Kie, kemudian ketika sianak muda itu terjebak dalam Lian huan tau, diapun pernah menggunakan asap beracun untuk merobohkan musuhnya, tapi sekarang Han Siong Kie tidak mengingat dendam lama dan malahan bersedia menyelamatkan selembar jiwanya, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan, kendati pemuda itu tersohor sebagai Manusia bermuka dingin, hakekatnya hatinya tidak dingin, hatinya penuh dengan perasaan welas kasih dan kasihan.
Demikianlah setelah mencengkeram tubuh Dewa racun Yu Hoa, Han Siong Kie lantas berseru kepada Hek pek siang yau.
"Hayo jalan, kita masuk kedalam lembah"
Sementara itu sepasang siluman hitam putih sedang merasa tercengang oleh tindak tanduk dari cianngbunjinnya, tapi mereka tak berani banyak bertanya, maka tanpa mengucapkan sepatah katapun kedua orang ini ikut masuk kedalam lembah mengintil di belakang ketuanya.
Setelah tiba ditepi telaga beracun, Han Siong Kie melemparkan tubuh Dewa racun Yu Hua dihadapan Bantok Cousu.
sedangkan Hek Pek siang yau saling berpandangan sekejap akhirnya mereka maju memberi hormat setelah itu baru berdiri di samping Han Siong Kie dengan perasaan gembira dan tak tenteram.
Dalam pada itu Ban tok Cousu telah menuding ke arah dewa racun Yu Hua seraya menegur.
"Eeeh apa yang terjadi dengan orang itu?"
Han Siong Kie maju dan memberi hormat lalu sahutnya.
"Oleh sebab boanpwe melihat ia tersiksa hebat, mati tak bisa hidup pun menderita maka aku membawanya datang kemari, harap locianpwe bersedia untuk mengampuni selembar jiwanya!"
"Tapi lohu toh sudah berkata, bahwa aku hanya akan mengabulkan satu permintaanmu saja."
"Waaah. kalau begitu.."
Untuk sesaat Han Siong Kie terbungkam, beberapa saat kemudian ia baru berkata lagi.
"Boanpwe berbuat demikian lantaren merasa tak tega dan aku pun tidak khusus mohonkan pengampunan baginya maka setuju atau tidak adalah terserah pada keputusan locianpwe sendiri!"
"Hmm, aku hanya merasa heran kenapa ia bisa mempertahankan hidupnya sekian lama?"
Ujar Ban tok Cousu keheranan.
"Ia bernama Dewa racun Yu Hua, selama hidupnya tersohor dalam dunia persilatan karena ilmu beracunnya! "
Ooh .tak heran kalau ia masih bisa mempertahankan diri, baiklah! memandang dia sebagai seorang ahli racun pula, lohu bersedia untuk mengampuni selembar jiwanya."
Sehabis berkata ia mengambil keluar sebuah botol porselen kecil dan malemparkan sebiji obat ke tangan Han Siong Kie katanya.
"Berikan obat itu kepadanya!"
Han Siong Kie segera membebaskan dahulu jalan darahnya yang tertotok kemudian baru melolohkan obat tadi kedalam mulutnya.
Sslang sesaat kemudian, Dewa racua Yu Hua telah segar kembali, dia lantas melompat bangun, lalu sambil jatuhkan diri berlutut di badapan Ban tok Cousu katanya.
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu."
"Tak usah. Tak usah. Kau tak perlu berterima kasih kepadaku sebab maksudku semula adalah hendak menghabisi jiwamu"
Tukas Ban tok Cousu sambil ulapkan tangannya "untunglah kau juga seorang ahli dalam ilmu beracun sehingga nyawamu bisa ketolongan HHmm memandang diatas wajah bocah itu kuampuni jiwamu untuk kali ini, kalau ingin berterima kasih sampaikan saja kepadanya.."
Dewa racun Yu Hua lantas bangkit dan berlutut dihadapan Han Siong Kie, katanya dengan perasaan berterima kasih.
"Budi pertolongan yang telah kau lepaskan pada diriku selama hidup aku Yu Hua tidak akan melupakannya"
Selesai berkata ia lantas bangkit dan berlalu dari tempat itu.
Dengan termangu-mangu Han Siong Kie memandang bayangan punggung dari dewa racun itu hingga lenyap dari pandangan, kemudian baru ujarnya kepada Ban tok Cousu.
"Locianpwe harap engkau bersedia untuk memulihkan raut wajah mereka"
Ban tok Cousu mengangguk. dia lantas mengalihkan sinar matanya untuk mengawasi Hek pek siang yau dengan seksama, kemudian katanya.
"Sudah berapa lama kalian berdua terkena racun dari Gi heng tok ko tersebut??"
"Sudah lima puluh tahun lamanya"
Jawab siluman hitam cepat.
"Sudah lima puluh tahun lamanya?"
Ulang Ban tok Cousu agak tercengang.
"Benar"
"Kalau begitu, kalian berdua harap segera maju kemuka"
Sepasang siluman hitam dan putih mengiakan, mereka lantas maju kedepan mendekati kakek tua itu.
Mendadak Bantok Cousu membentak keras, secara beruntun ia lancarkan tiga buah pukulan, semua pukulan itu dilepaskan sangat cepat dan luar biasa sekali, hingga kedengaran suara deruan angin pukulan yang memekakkan telinga.
Hek pek siang yau tak menyangka kalau secara tiba-tiba dia bakal diserang secara gencar, dalam keadaan tak siap siaga, kedua-duanya lantas tersapu telak oleh pukulan itu sehingga tercebur kedalam telaga beracun.
Dua jeritan ngeri menggema memenuhi angkasa, hanya sebentar saja suara itu sudah sirap.
Paras muka Han Siong Kie berobah hebat -000d0w000-BAB 77 DILUAR dugaan Ban tok cousu telah melancarakan serangan dan menghajar Hek pek siang yau sehingga tercebur kedalam telaga beracun, tindakan semacam ini tak disangka oleh siapapun, dan mimpipun sianak muda itu tak mengira bakal terjadi peristiwa semacam ini.
Hek pek siang yau sendiri setelah salah makan buah racun sehingga wajahnya berubah wujud, kemudian setelah terkurung selama lima puluh tahun lebih dalam lembah kematian, mereka ingin sekali menyembuhkan kembali wajah mereka yang menyeramkan itu, sudah tentu dihadapan Bantok Cousu yang akan melakukan penyembuhan tersebut, kedua orang itu tak akan bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan.
Andaikata mereka tidak mengendorkan pengawasannya, dengan kemampuan yang dimiliki sepasang siluman hitam putih pada saat ini, lebih hebatpun belum tentu Ban tok Cousu dapat berhasil dengan serangannya dalam sekali gebrakan.
Begitulah ketika dua orang siluman itu terhajar sampai mencelat kedalam air telaga dan memperdengarkan pekikan berat yang memilukan hati, paras muka Han Siong Kie berubah hebat, ia lantas membentak dengan penuh kegusaran.
"Sungguh tak kusangka engkau adalah seorang manusia berhati keji dan berniat busuk, rasain pukulanku ini"
Diiringi bentakan keras pemuda itu menyerbu kedepan dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah dada Ban tok Cousu.
serangan itu bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, bahkan hawa pukulan yang terkandung dibalik serangan itupun sangat kuat.
Ban tok Cousu tidak mengadakan perlawanan meskipun serangan yang tertuju kebadannya sangat keras ia cuma mengegos kesamping dan tahu-tahu sudah lolos dari serangan itu.
Kemarahan yang berkobar dalam hati Han Siong Kie benarbenar sudah mencapai puncaknya, gagal dengan serangan pertama, bagaikan bayangan setan ia mengejar kedepan dan sekali lagi melepaskan serentetan pukulan yang gencar.
"Tahan!"
Tiba-tiba Ban tok Cousu membentak keras, suaranya seperti geledek. Tanpa sadar Han Siong Kie telah mengurungkan kembali niatnya untuk melancarkan serangan teriaknya pula dengan marah.
"Apa yang hendak kau katakan lagi?"
"Bukankah engkau minta pertolonganku untuk memunahkan racun yang bersarang ditubuh mereka?"
Tegur Ban tok Cousu kemudian.
"Benar! Tapi engkau telah melancarkan serangan mematikan yang mengakibatkan mereka berdua mendapat celaka"
Teriak pemuda itu marah-marah mukanya merah dan matanya melotot besar. Ban tck Consu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sudahlah, bila engkau tidak percaya dengan diriku, sekarang masih ada kesempatan bagimu untuk enyah dari sini!"
Katanya.
Han Siong Kie melirik sekejap ke arah permukaan telaga tiba-tiba ia tertegun.
Kiranya Hek pek siang yau sudah terlentang di tepi telaga dengan badan basah kuyup, meski napasnya tersengkal-sengkal seperti kerbau namun tidak tampak gejala sebagai orang yang keracunan.
Sebagai pemuda yang cerdas ia lantas menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi, cepat ia menjura dan mohon maaf katanya.
"Aaaah. rupanya boanpwe telah salah paham! Locianpwe jika barusan aku telah menyerang engkau secara gegabah dan kasar mohon sudilah kiranya locianpwe memberi maaf!"
"Ehm. dalam hal ini kau tak bisa disalahkan maklum kalau kau jadi marah dengan tindakanku yang tak terduga itu..!"
Dari sakunyo Ban tok Cousu mengambil keluar sebuah botol kecil dan mengambil dua biji pil berwarna hijau setelah melolohkannya kedalam mulut sepasang siluman itu, ia baru berkata.
"Kurang lebih setengah jam kemudian racun yang mengeram dalam tubuh mereka akan punah dan kesehatan tubuhnya akan sehat dan pulih kembali seperti sedia kala!"
Kali ini Han Siong Kie tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya memandang ke arah Ban tok Ccusu dengan mulut membungkam.
Kurang lebih saperminum teh kemudian, tiba-tiba kedua orang siluman hitam putih itu melompat bangun kemudian kabur terbirit-birit menuju ke balik pepohonan tak jauh dari telaga itu.
Melihat tingkah laku mereka yang aneh, Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia coba untuk mengejar.
"Jangan halangi mereka"
Tiba-tiba Ban tok Cousu mencegah sambil goyangkan tangannya berulang kali.
"biarkan mereka pergi dari sana"
Dalam sekejap mata dua orang manusia siluman itu sudah lenyap dibalik pepohonan yang lebat.
Sementara itu Han Siong Kie masih berdiri termangu dengan perasaan kaget dan tercengang, ia bertanya kemudian.
"Locianpwe sebenarnya apa yang terjadi?"
"Obat yang mereka makan telah mulai bereaksi, sekarang racun yang terkandung di dalam tubuh mereka mulai bergolak keras dan harus dikeluarkan dengan melalui saluran kotoran"
Han Siong Kie baru paham setelah diberi penjelasan yang seksama itu, kembati dia bertanya lagi.
"Locianpwe, bukankah tadi engkau sudah menghajar mereka berdua hingga tercebur kedalam telaga beracun? Mengapa tidak kujumpai tanda-tanda keracunan ditubuh mereka berdua, apakah soal ini.."
"Itulah yang dinamakan pengobatan dengan racun melawan racun"
Sahut Bantok Cousu sambil mengangguk.
"oleh sebab kedua orang itu menderita keracunan pada lima puluh tahun berselang, sehingga daya kerja racun itu sudah meresap sampai mencapai setiap urat nadi dan organ tubub pada lapisan yang paling kecil, maka mereka harus diceburkan dulu kedalam telaga racun.."
Ia berhenti sejenak kemudian lanjutnya lebih jauh.
"Sebagaimana kau ketahui, air telaga ini sangat beracun, sebab disinilah terkumpulnya sumber dari segala macam racun alam dan dikolong langit tidak terdapat benda lain yang bisa menandingi kedahsyatan dari racun ini, maka aku lantas berpikir untuk menceburkan mereka kedalam air telaga ini, biar racun dari telaga ini meresap kedalam organ tubuhnya dan saling menyerang dengan racun dalam tubuh, racun bila dilawankan racun akan berakhir dengan punahnya kedua jenis racun itu. Nah pada saat itulah aku baru memberi obat mujarab yang akan memunahkan sisa-sisa racun yang ketinggalan."
"Oooh.. kiranya begitu?"
Kembali Ban tok cousu memberi penjelasan.
"Tentunya kau merasa heran bukan mengapa aku menyerang mereka secara tiba-tiba? Tujuanku adalah agar mereka menjadi gugup, panik dan ragu, pada saat itulah mereka akan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melakukan perlawanan, karena mengerahkan tenaga, otomatis semua urat nadinya terbuka dan racun yang mengeram ditubuh merekapun akan punah lebih cepat lagi"
Sekarang Han Siong Kie baru benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, untuk kesekian kalinya ia memberi hormat.
"Locianpwe harap engkau bersedla untuk memaafkan kecerobohan boanpwe sehingga melakukan tindakan kasar kepadamu"
"Yang sudah lewat biarkan lewat, toh siapa yang tak tahu tak berdosa??"
Han Siong Kie tertunduk. sesaat kemudian ia baru berkata lagi.
"Pihak perkumpulan Thian che kau telah mempunyai niat jahat dengan maksud meledakkan lembah hitam, dan lagi diantara jago-jago yang mereka kirim kemari hanya Dewa racun Yu Hua seorang yang masih hidup, aku kuatir kalau mereka tak akan berdiam diri sampai disini saja, locianpwe...."
Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Ban tok Cousu telah menukas sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaah haaah haaah siapa berani mengganggu aku, dia harus dibikin mampus, dan prinsip ini sudah kupegang teguh sepanjang masa hidupku, ketahuilah telaga beracun hanya merupakan salah satu pintu masukku belaka, kendatipun lembah hitam sudah di musnahkan, memangnya mereka sanggup bisa melukai aku??"
Pernyataan ini sangat menarik hati Han Siong Kie, dia ingin sekali bertanya lebih lanjut, tapi merasa tak enak untuk membuka suara, terpaksa niatnya dibatalkan.
Dalam sekejap mata, setengah jam sudah lewat.
Mendadak dari balik pepohonan muncul sepasang muda mudi yang tampan dan cantik berusia dua puluh tahunan, dengan langkah yang lembut dan menawan hati mereka menghampiri Han Siong Kie berdua.
Kemunculan muda mudi itu sangat mengejutkan si anak muda itu, ia tak habis mengerti kenapa dari lembah hitam bisa muncul sepasang muda mudi setampan dan secantik itu.
Ban tok Cousu sendiri sedang mengamati pula sepasang muda mudi itu dengan pancaran sinar yang mata aneh.
Han Siong Kie baru menjerit kaget setelah sinar matanya terbentur dengan pakaian yang dikenakan muda mudi itu, ia lantas berteriak kegirangan.
"Aaah kiranya kalian telah berwujud wajah aslimu kembali"
Memang benar sepasang muda mudi yang tampan dan cantir itu tak lain adalah Hek pek siang yau, sepasang siluman hitam putih dalam bentuk wajah aslinya.
Kedua orang itu segera memburu maju ke depan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan Han Siong Kie, katanya dengan penuh rasa hormat.
"Tecu Seng Keh-ki dan Hong Ing ing mengucapkan banyak terima kasih atas budi ciangbunjin yang telah memenuhi harapan kami."
Dari ucapan tersebut dapat diketahui bahwa siluman hitam kiranya bernama Seng Keh ki sedangkan siluman putih bernama Hong ing ing. Maka diapun tersenyum sambil ulapkan tangannya.
"Tak usah banyak adat, ayo cepat bangun"
Dua orang siluman itu berlutut pula dihadapan Ban tok Cousu sambil katanya.
"Boanpwe berdua mengucapkan banyak terima kasih atas budi cianpwe yang telah memulihkan kembali wajah kami berdua"
Ban tok Cousu tidak berkata apa-apa, dia malahan mendengus dingin.
Dengusan itu bukan saja mengejutkan seng Keh-ki serta Hong ing ing, malahan Han Siong Kie sendiripun tidak habis mengerti mengapa Ban tok Cousu secara tiba-tiba berubah air mukanya?
"Locianpwe adakah sesuatu yang tidak beres?"
Tanya Han Siong Kie dengan wajah tercengang. Ban tok Cousu menghembus jenggotnya yang putih lali menjawab dengan dingin.
"Ketahuilah lohu bisa menolong orang, bisa pula membunuh orang"
"Boanpwe tidak mengerti dengan apa yang locianpwe katakan, bersediakah engkau memberi penjelasan? "
"Kalau toh engkau mengharapkan bantuanku, mengapa bicara tidak sejujurnya?"
"Bicara tidak sejujurnya? Dalam hal apa kami tidak jujur?"
"Benarkah dua orang bocah ingusan yang masih berbau titik ini terkena racun pada lima puluh tahun berselang?"
Has Siong Kie lantas dapat menebak persoalan apakah yang menyebabkan Bantok Cousu jadi marah, bukan menjawab dia malahan balik bertanya.
"Locianpwe pernah kah engkau mendengar tentang Hok pek siang yau yang amat tersohor itu?"
"Ehm pernah kudengar tentang orang itu, cuma belum mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan orangnya"
"Kedua orang inilah sepasang siluman hitam putih"
"Apa? Mereka adalah Hekpek-siang yau yang pernah menggetarkan dunia persilatanpada puluhan tahun berselang?"
"Benar"
Pemuda itu mengangguk. Agaknya Ban tok Cousu tak percaya dengan ucapan tersebut, dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Masa mereka mempunyai kepandaian untuk tetap awet muda??"
"Meski awet muda selamanya sih tidak. tapi kenyataannya mereka memang memiliki kelebihan yang bisa merawat wajah mereka tetap awet muda"
Sahut Han Siong Kie.
"Tidak... aku tidak percaya"
SeruBan tok Cousu sambil menggelengkan kepalanya.
Karena kakek tua ini kurang percaya, maka Han Siong Kie lantas menceritakan kisah tentang asal usul kedua orang siluman itu, termasuk juga bagaimana bisa mendapatkan Bak ci yang bisa membuat orang tetap awet muda.
Mendengar kisah tersebut, makhluk tua beracun itu anggukkan kepalanya berulang kali serunya.
"Kalau begitu, mereka berdua berasal dari perguruan Thian it bun dan merupakan ahli waris dari Kiu thian it siau (elang sakti dari langit sembilan) Ki Goan thong??"
"Benar"
Ban tok Cousu lantas menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haaahhh haaahhh haaahhh kalau begitu mereke terhitung ahli waris dari sobat lamaku sendiri, hayo bangun... bangun Jangan berlutut terus"
Setelah diperkenankan berdiri, sepasang siluman itu baru bangkit berdiri dan berdiri disamping dengan sikap hormat. Kembali Ban tok cousu menghela napas panjang, kemudian ujarnya lagi.
"Aku dan Ki Goan thong adalah sobat kental.. aai. sungguh tak kusangka perguruan Thian it bun telah musnah dan tinggal kenangan belaka, benar-benar lain dulu lain sekarang, apakah kalian berdua mempunyai minat untuk membangun kembali perguruan Thian it bun?"
Dengan sikap yang sangat hormat Seng Keh ki menjawab.
"Boanpwe berdua telah menjadi anggota perguruan dari Thian lam bun"
Han Siong Kie yang berada di sampingnya segera menyela sembari menatap tajam kedua orang siluman itu.
"Jika kalian berdua ada maksud untuk membangun kembali perguruan Thian it bun, akupun dengan senang hati akan memberi pula bantuan serta dukungan"
Kedua orang itu menatap sekejap kearah si anak muda itu dengan pandangan penuh rasa terima kasih, siluman putih Hong Ing ing lantas menjawab dengan lantang.
"Tecu berdua telah bersumpah untuk mengikuti ciangbunjin sepanjang masa, sumpah yang telah kami ucapkan selamanya tak akan kami ingkari kembali"
"Aku toh memberi persetujuan khusus kepadamu dan bukannya kalian yang mengingkari janji? hal ini tak dapat dikatakan sebagai tindakan yang melanggar sumpah."
"Ten .. tentang soal ini.... sampai sekarang tecu masih belum melakukan pertimbangan apa-apa"
"Baik kalau begitu lain kali baru kita bicarakan lagi"
Sekali lagi Han Siong Kie mengamati sepasang kekasih yang baru terlepas dari penderitaan itu, mendadak satu ingatan terlintas dalan benaknya, cepat ujarnya.
"Bukankah kalian berdua pernah berkata bahwa setelah pulih kembali wajah kalianpada wujud yang sebenarnya, maka hubungan perkawinan kamu berduapun akan diresmikan?"
Merah padam selembar wajah siluman putih Hong Ing-ing, ia tundukkan kepalanya dengan jantung berdebar keras, entah malu entah girang tapi yang pasti saat semacam inilah yang telah dinanti-nantikan setelah hidup menderita puluhan tahun lamanya.
Andaikata sejak dulu kala mereka tidak makan Bak ci, mustika yang langka dari dunia persilatan, mungkin pada saat ini wajahnya sudah berkeriput dan mukanya menjadi peyot.
Siluman hitam Seng Keh-ki juga merasa merah pipinya, dengan kepala tertunduk sahutnya.
"Harap ciangbunjin suka menyelenggarakannya bagi kami !"
"Sayang pada saat ini aku harus buru-buru berangkat kembali kedaratan Tionggoan!"
Kata Han Siong Kie.
"Tecu berdua tak terburu nafsu, akan kami nantikan saja sampai setibanya kembali ciangbunjin dalam istana !"
"Haaah haaah haaaa, saatku kembali juga susah diramalkan, lebih baik begini saja,"
Pemuda itu berpaling kearah Ban tok Cousu lalu sambungnya lebih jauh.
"Locianpwe ini adalah sobat karib dari mendiang guru kalian apa salahnya kalau aku sebagai ciangbunjin kalian mengesahkan upacara perkawinan kalian berdua disini saja selain kita bisa minta kesediaan dari tuan rumah tempat ini menjadi saksi bagi perkawinanmu berdua kejadian ini pun akan meninggalkan kesan yang romantis buat lembah hitam telaga beracun yang selalu dianggap menyeramkan ini!"
Bsibicara simpai disini dia lantas berpaling kearah Ban tok Coosu dan menambahkan.
"Locianpwe bersediakah engkau mengabulkan permintaan dari boanpwe barusan?"
Ban tok Cousu menengadahkan tertawa terbahak-bahak.
"Haahh haahh haahh bagus.. bagus sekali meninggalkan kesan yang romantis bagi telaga beracun, kenapa aku tidak menyetujui atas usulmu itu? Justru aku ingin menyatakan dulu sesuatu secara terbuka meski aku pelit dan tak punya apa-apa akan tetapi aku bersedia merubah gua telaga racuntku ini menjadi kamar pengantin, Haaahh haahh haaahhh.."
"Boanpwe sekalian tak berani mengganggu lebih jauh, cukup upacara ini diselenggarakan ditepi telaga beracun ini saja, sebab tempat ini lebih mengesankan bagi kami, disinilah wajah kami dapat pulih kembali sebagaimana wajah aslinya"
Berbicara sampai disini, dua orang siluman itu saling berpandangan sekejap dalam pandangan itulah sudah mencakup perasaan kecut dan manis bercampur aduk.
Maka Han Siong Kie lantas mengangkat tinggi-tinggi lencana ok kui cu pay itu, sementara sepasang siluman tadi berlutut di hadapan lencana tadi dan oleh Han Siong Kie sebagai ketua perguruannya, hubungan merekapun segera diresmikan menjadi suami istri.
Selesai upacara kedua orang siluman itupun memberi hormat kepada Ban tok Cousu sebab kakek berambut putih itu adalah saksinya yang telah mengikuti jalannya upacara tersebut.
Dengan demikian, upacara perkawinanpun secara singkat telah selesai.
Sebercak sinar sempat menyorot masuk ke dasar lembah hitam yang menyeramkan, membawa suatu perasaan yang lain daripada yang lain.
Dalam keadan begitu tanpa terasa Han Siong Kie teringat kembali akan Go siau bi yang dengan paksa dijodohkan kepadanya, ia tak tahu bagaimana akhir dari hubungan mereka berdua nanti?
Diapun terbayang kembali akan Tonghong Hui, satusatunya perempuan yang ia cintai sejak perpisahannya secara terburu-buru di tepi sungai tempo hari, ia tak tahu dimanakah sekarang ia berada terutama dalam pertemuan untuk kedua kalinya dari perubahan wajah serta nada pembicaraannya terasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
Lebih tragis lagi berulang kali orang yang kehilangan sukma memberi peringatan kepadanya bahwa perkawinannya dengan Tonghong -Hui akan mengakibatkan terjadinya suatu tragedi yang menyedihkan hati, pemuda itu cukup menyadari bahwa apa yang dikatakan orang yang kehilangan sukma jarang sekali meleset, ini menyebabkan hatinya diam-diam bergidik seram.
Menyusul kemudian bayangan tubuh dari nyonya cantik berbaju merah itu muncul pula didepan matanya, ia mengakui bernama Buyung Thay..kecantikan wajahnya tak terkirakan dan boleh dibilang sukar dicarikan tandingannya di dunia ini.
Tanpa disadari Han Siong Kie merasakan sekujur badannya berubah jadi panas membara jantungnya ikut berdebar keras.
"Aku tidak pantas memikirkan perempuan itu lagi"
Demikianlah ia memperingatkan diri sendiri apalagi ia pernah dimaki oleh orang yang kuketahui namanya sebagai perempuan lonte yang tak tahu malu.
Benarkah dia adalah seorang perempuan yang tak punya malu?
Semakin pemuda itu berusaha untuk membuang jauh-jauh ingatan tentang nyonya cantik berbaju merah itu bayangan tubuhnya semakin melekat dalam ingatannya kulit tubuhnya yang putih bersih tatapan matanya yang memikat dan mempesona hati senyuman manisnya yang membukakan bibirnya yang kecil mungil dan potongan tubuhnya yang padat berisi terutama kematangannya sebagai seorang nyonya muda merupakan suatu daya rangsangan suatu daya pikatan yang sangat besar.
Sementara dia masih termenung Ban tok Cousu telah berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhhh haaahh haaahhh hidup berkasihan selama puluhan tahun dan akhirnya berhasil juga menjadi suami istri, kejadian yang menimpa kalian berdua benar-benar merupakan suatu cerita yang sangat menarik bagi umat persilatan!"
Gelak tertawa yang amat keras itu lantas menyadarkan Han Siong Kie dari lamunannya, ia merasa sikapnya yang kurang hormat barusan membuat sepasang pipinya menjadi merah-Selang sesaat kemudian segera serunya.
"Locianpwe, boanpwe sekalian hendak mohon diri lebih dahulu, budi kebaikan cianpwe terhadap kedua orang anak buahku ini tak akan terlupakan untuk selamanya, kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu!"
Habis berkata Han Siong Kie lantas memberi hormat dalamdalam sedangkan sepasang siluman itu pun ikut memberi hormat.
"Haaahh haaahhh hahhh bagus..bagus!"
Ban tok Coasu hanya beberapa kali mengangguk sambil tertawa terbahakbahak.
Demikianlah ketiga orang itu pun lantas berpamitan dan berlalu dari telaga beracun yang dianggap sebagai tempat angker itu.
Dalam sekejap mata mereka sudah diluar lembah tersebut.
Tiba-tiba Han Siong Kie seperti teringat akan sesuatu, ia berkata dengan serius.
"Oooh iya tempo hari Wi Ik beng pernah menyaru sebagai sucou kita Mo tiongci mo, naik keatas kuil Siau lim si dan mencuri kitab pusaka Tay boan yo pit kip, bukan mencuri kitab saja bahkan dia pun membunuh padri penjaga loteng penyimpan kitab tersebut. Tentang peristiwa ini aku telah berjanji dengan Liau ing Hweesio untuk memberikan pertanggungan jawab ke kuil mereka satu tahun mendatang sekarang Wi Ik beng sudah dihukum mati, sayang waktu itu aku lupa menggeledah kitab pusaka Tay boan yo pit kip tersebut dari sakunya"
Sekembali kamu berdua ke istana terangkan persoalan itu kepada To tianglo dan perintahkan mereka uotuk melakukan pencarian kilat, setelah ditemukan segara kirim orang menuju ke markas besar Kay pang di daratan Tionggoan dan serahkan kepada Tianglo pengemis itu si pengemis dari selatan, katakan merekanya agar kitab itu disampaikan kepadaku "
"Terima perintah"
Jawab sepasang siluman dengao cepat.
"dalam perjalanan ciangbunjin menuju kedaratan Tionggoan ini, apakah kau membutuhkan bantuan dari tecu berdua?"
"Kalian berdua lebih penting menjaga keselamatan istana perguruan kita, apalagi kepergianku kali ini adalah untuk membereskan persoalan pribadiku sendiri, kalian tak perlu ikut !"
Mendengar jawaban itu, dengan wajah serius siluman hitam Seng Keh ki lantas berkata.
"Ciangbunjin, tecu mempunyai suatu permohonan dan harap ciangbunjin bersedia untuk mengabulkan!"
"Apa permintaanmu itu ?"
"Salah seorang musuh besar perguruan kami di masa lampau, sampai sekarang masih ada seorang yang terlolos dari jaring."
"Kau maksudkan Hun si Mo ong ?"
"Benar!"
"Ada apa dengan gembong iblis itu?"
"Semoga ciangbunjin mengijinkan tecu berdua untuk menuntut balas dengan tangan sendiri"
"Tentu saja boleh, tapi saat ini keadaan dari perguruan kita masih payah, setiap saat perkumpulan Thian che kau bisa mengutus orang untuk mengacau, maka kamu berdua harus melakukan penjagaan dulu disana, bila saatnya telah tiba, aku bisa mengirim kabar keistana"
". .Terima kasih atas kebaikan ciangbunjin"
Dua orang siluman itu segera menjura.
"Selain itu"
Ujar Han Siong Kie kemudian setelah berhenti sebentar, dia ambil keluar lencana ok kui cu pay itu dari sakunya dan diserahkan kepada siluman hitam.
"Serahkan lencana ini kepada To tianglo, bila setahun kemudian aku masih belum kembali, suruh dia mengangkat orang lain sebagai ketua baru"
Paras muka Hek pek siang yau berubah hebat, dengan suara gemetar siluman putih lantas berkata.
"Ciangbunjin, mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti itu??"
Han Siong Kie tertawa tak wajar rupanya ia sedang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Aaah, tidak apa-apa"
Dia menyahut "aku hanya bersedia payung sebelum hujan, siapa tahu nasib manusia didunia ini"
"Apakah ciangbunjin masib ada pesan-pesan yang lain?"
"Tak ada lagi. Ingat begitu kitab pusaka Tay boan yo pit kip berhasil ditemukan, maka kalian harus mengutus orang untuk membawanya kedaratan Tionggoan"
"Tecu akan mengingatnya selalu"
"Baiklah sekarang kalian boleh pergi semoga kalian bisa menempuh hidup dengan penuh kebahagiaan"
"Terima kasih ciangbunjin"
Begitulah dengan perasaan berat hati seng Kah ki dan Hong Ing ing memandang sekejap kearah Han Siong Kie kemudian baru menjejakkan kakinya kepermukaan tanah dan berlalu dari sana.
Memandang bayangan punggung dua orang anak buahnya pergi jauh, diam-diam Han Siong Kie menghela napas panjang, bisiknya.
"Aaai bagaimanapun juga mereka tetap berbahagia meski baru saja terlepas dari penderitaan"
Sementara ia masih berdiri melamun mendadak dari arah belakang berkumandang suara yang sangat dingin, dan suara itu seakan-akan pernah didengarnya disuatu tempat, hanya pemuda itu tak dapat mengingatnya kembali dimanakah suara itu pernah mendengar.
"Bocah keparat. Ternyata engkaulah yang bernama manusia bermuka dingin"
Teguran tersebut sangat mengejutkan Han Siong Kie, dengan sigap dia berpaling, seorang laki-laki baju hitam yang bergodek panjang berdiri empat kaki dihadapannya dan pada saat itu sedang melotot kearahnya dengan pandangan penuh kebencian.
Tatapan yang penuh sikap bermusuhan itu sangat tidak menyenangkan hati pemuda kita, diapun lantas menjawab dengan ketus.
"Benar, akulah orangnya siapa engkau?"
"Bi-siang-kek (tamu bergodek indah) Huan Kang"
"Ada apa engkau mencari aku??"
"Memperingatkan engkau agar tidak berhubungan lagi dengan Buyung Thay"
Han Siong Kie melongo dan termangu, sekarang ia baru ingat rupanya orang inilah yang pernah memberi peringatan kepadanya agar tidak berhubungan lagi dengan Buyung Thay si nyonya cantik berbaju merah, tak heran kalau suaranya seperti pernah dikenal, kenangan semasa berada dalam kuil teringat kembali, diapun teringat pula bagaimana orang itu mencaci maki Buyung Thay sebagai lonte yang tak tahu malu.
Kontan saja jago muda kita tertawa dingin, ia menegur.
"Apa maksudmu berkata demikian kepadaku??"
"Hmmm tidak bermaksud apa-apa, aku hanya melarang engkau berhubungan lagi dengannya"
Jawab Tamu bergodek indah Huan Kang dengan nada seram.
"Kenapa? Kau harus memberikan suatu alasan yang tepat "
"Tak usah bertanya mengapa, yang pasti dengan usianya sekarang dia sudah pantas menjadi ibumu."
"Tutup mulut!"
Bentak Han Siong Kie dengan gusar, ucapan itu mengobarkan hawa amarah dalam hatinya. Mendengar bentakan itu tanpa sadar tamu bergodek indah Huan Kang mundur selangkah kebelakang lalu berkata lagi.
"Manusia bermuka dingin kalau engkau tidak bersedia mendengarkan perkataanku maka..."
"Maka kenapa?"
"Engkau akan menyesal untuk selamanya"
"Heheeehh heehhh aku tidak percaya, justru akan kubuktikan apa yang dapat kau lakukan"
"Kenalkah kau dengan perempuan itu?"
Tiba-tiba Tamu bergodek indah Huan Kang menegur. Han Siong Kie terkesiap dan mundur ke-belakang segera pikirnya.
"Ehmmm betul juga! Siapakah dia? Berasal dari mana?"
Tapi anak muda ini tak ingin menunjukkan kelemahan dibadapan lawannya maka dia-pun balik bertanya.
"Apakah engkau kenal siapakah dia?"
"Tentu saja !"
Tiba tiba.
"Huan Kang ! Benarkah engkau tahu siapakah diriku ini ?"
Serentetan suara teguran yang dingin penuh membawa daya pikat menggema mcmecahkan kesunyian; Menyusul teguran tadi muncullah sesosok bayangan berbaju merah seperti sukma gentayangan tahu-tahu ia sudah muncul di hadapan mereka berdua.
Dia, Tak lain adalah Bayung Thay, perempuan cantik jelita yang gemar memakai baju merah itu.
Begitu mengetahui siapakah yang muncul Tamu bergodek indah Huan Kang segera menunjukkan wajah tersipu-sipu, agaknya dia tak mengira kalau secara tiba-tiba perempuan itu bisa muncul di hadapan matanya.
Dengan kerlingan mata yang penuh mengadung daya pikatan Buyung Thay mengerling sekejap ke arah Han Siong Kie, kemudian ia tertawa dan menyapa-"Titi .!
Kembali kita berjumpa lagi."
"Cici"
Han Siong Kie tak dapat mengendalikan golakan perasaannya lagi dan ikut berseru.
Secara tiba-tiba dia merasa seakan-akan dirinya berubah jadi begini lemah dan tak bertenaga dihadapan Buyung Thay, ia seperti telah berobah jadi seorang manusia lain.
Panggilan adik dan cici ini bagi pendengaran Tamu bergodek indah Huan Kang sangat menusuk sekali, wajahnya kontan berubah hebat.
"Adik Thay..."
Dia pun berseru. -000d0w000-
Jilid 38 BAB 78
"SIAPA yang menjadi adik Thay-mu?"
Tukas Buyung Thay dengan wajah dingin dan perasaan tak senang hati. Tamu bergodek indah Huan Kang tertawa tersipu-sipu, kembali ia berseru.
"Adik Thay kau..."
"Tutup mulut Bukankah engkau memaki diriku sebagai perempuan lonte yang tak tahu malu?"
"Adik Thay buat apa kau mengingat-ingat selalu ucapan yang diutarakan dalam keadaan marah, biarlah aku minta maaf kepadamu"
"Huan Kang Kalau engkau seorang yang cerdik tentu kau akan mengerti apa akibatnya jika kau selalu membuntuti aku dengan mati-matian"
"Adik Thay..."
"Manusia she Huan, engkau tidak berhak menyebut aku dengan panggilan seperti itu"
Raut wajah Tamu bergodek indah Huan Kang berubah jadi merah seperti kepiting rebus, lama sekali ia baru tertawa getir dan berkata lagi.
"Dua puluh tahun berselang aku mengejar dirimu, tapi kau tak bersedia menerima luapan cintaku kemudian kau menikah dengan orang dan bercerai kembali, sungguh tak kusangka sampai saat inipun kau masih tetap menolak cintaku"
"Huan Kang, Cinta itu tak dapat dipaksa, cinta harus muncul dari hati kecil tanpa paksaan"
"Oooh sungguh tak kusangka Huan Kang sudah dua puluh tahun lamanya mengejar Buyung Thay"
Batin Han Siong Kie dalam hati "
Tampaknya orang ini terlampau romantis, tapi aneh sekilas pandangan tampaknya usia Buyung Thay baru dua puluh tahunan tapi kalau didengar dari pembicaraan mereka agaknya ia sudah berusia setengah baya, sebetulnya berapa usia perempuan ini?
Sungguh mencurigakan"
Sementara itu Tamu bergodek indah Huan Kang telah memandang sekejap kearah Han Siong Kie dengan sikap bermusuhan, kemudian serunya kepada nyonya berbaju merah itu.
"Jadi dialah yang kau cintai?"
"Apa sangkut pautnya antara persoalan ini denganmu?"
Ejek Buyung Thay atau nyonya berbaju merah itu dengan nada yang sinis.
"Hmm Tahukah kau, bahwa meninjau dari usianya, ia pantas untuk menjadi putramu?"
Han Siong Kie marah sekali setelah mendengar perkataan itu, ia merasa ucapan tersebut amat menyinggung perasaan hatinya, maka tak tahan lagi bentaknya.
"Manusia she Huan, aku harap kalau sedang berbicara janganlah mengikut sertakan diriku, apa lagi menyinggung perasaanku"
Waktu itu tamu bergodek indah Huan Kang sedang dipengaruhi pula oleh rasa cemburu, diapun melotot besar seraya berteriak.
"Kalau tujuanku memang menghinamu, lantas kau mau apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya akan memberi pelajaran yang setimpal untuk manusia bermulut besar seperti kau"
"Memberi pelajaran? "
Jengek orang she Huan itu, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak. Tiba tiba nyonya cantik berbaju merah itu menukas sambil tertawa dingin.
"Heeeh heeeh heeh Huan Kang, tiada sesuatu yang lucu dan kau tak usah tertawa melulu, ketahuilah bahwa kau bukan tandingannya, kalau tak percaya cobalah sendiri!"
Tamu bergodek indah Huan Kang menarik kembali gelak tertawanya dan melotot sekejap kearah nyonya cantik berbaju merah itu dengan gusar lalu kepada Han Siong Kie ia berseru.
"Bocah keparat !"
Makian ini kembali mengobarkan hawa amarah dari Han Siong Kie, cepat dia membentak keras.
"Huan Kang, kalau engkau berani memaki aku lagi segera kubunuh kau sampai mampus!"
"Bocah keparat tak nanti bisa kau lakukan, Lihat serangan!"
Dengan kemarahan yang tak terkendalikan lagi, Han Siong Kie membentak keras dan melancarkao dua buah pukulan berantai.
Tamu bergodek indah Huan Kang tak mau unjukkan kelemahan, dia mendengus dingin serta menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.
"Blaang!"
Satu benturan keras menggelegar di udara secara beruntun Huan Kang mundur lima langkah dengan sempoyongan sebelum ia berhasil berdiri kembali dengan tegak.
Melihat keadaan tersebut nyonya cantik berbaju merah itu segera menutup bibirnya sendiri dan tertawa.
Masih mendingan kalau perempuan itu tidak tertawa melihat senyuman tersebut Huan Kang semakin marah bercampur malu hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya tiba-tiba ia menerjang maju delapan depa kemudian secara beruntua melancarkan tiga buah serangan berantai yang amat dahsat ketiga buah serangan itu bukan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat bahkan semuanya tertuju pada bagian tubuh yang mematikan.
Han Siong Kie tak mau kalah sepasang telapak tangannya diputar pula dengan gencar tiga buah serangan maut yang dilancarkan musuhnya itu dengan mudahnya dapat dipunahkan semua.
Bercampur aduk perasaan hati Tamu bergodek indah Huan Kang setelah menyaksikan ketiga buah jurus serangannya mengena pada sasaran yang kosong, sekarang ia semakin membenci Han Siong Kie dan kegagalannya untuk memperoleh balasan cinta dari nyonya berbaju merah ini tertumpah diatas tubuh pemuda itu, kalau bisa ingin sekali ia bunuh musuhnya dalam satu bacokan.
Akhirnya dia tertawa seram, suaranya tajam dan menggidikkan hati, kemudian sambil mendengus dingin katanya.
"Manusia bermuka dingin, sambutlah kembali beberapa buah seranganku ini."
Sepasang telapak tangannya tiba-tiba digetarkan keras, lalu segera ditarik dan di tolak kembali kemuka secara cepat dia bacok dada Han Siong Kie, Anak muda itu tak berani bertindak gegabah, telapak tangan kirinya lantas disilangkan didepan dada untuk menjaga segala kemungkinan, sedangkan telapak tangan kanannya membalas serangan musuh dengan menghantam batok kepala orang itu.
"Huan Kang, kau berani bertingkah dihadapanku?"
Tiba-tiba Buyung Thay si nyonya cantik baju merah menghardik.
Bersama dengan bentakan tersebut, telapak tangannya langsung diayun kemuka membacok tubuh tamu bergodek indah Huan Kang.
Tapi berbareng itulah terdengar dua kali jeritan tertahan berkumandang memecahkan kesunyian, bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya dan terjungkal satu kaki dari arena, yang satu mencelat sedang yang lain roboh terduduk.
Orang yang mencelat adalah Huan Kang sedangkan orang yang jatuh terduduk tak lain adalah Han Siong Kie.
Kiranya dalam cemburu benci, malu dan marahnya Tamu bergodek indah Huan Kang telah menggunakan ilmu andalan keluarganya Kuay ciang cong to, telapak tangan kilat bersembunyi golok untuk membereskan nyawa Han Siong Kie.
Apa yang dinamakan sebagai Kuay ciang cong to ini luar biasa hebatnya, sekilas pandangan orang akan mengira kalau dia sedang menyerang kilat, tapi justru dibalik tipu muslihat itulah diam-diam dua bilah pisau tajam yang disembunyikan dibalik ujung bajunya digunakan untuk menyerang bagian yang mematikan ditubuh lawan.
Dalam keadaan demikian bukan saja orang tak menyangka, sering kali jago lihay yang bagaimanapun tinggi ilmu silatnya tak akan lolos dari ancaman maut tersebut.
Ketika Huan Kang menggetarkan sepasang lengannya tadi Buyung Thay segera mengetahui bahwa orang itu hendak menggunakan ilmu Kuay ciang cong to nya untuk mencelakai Han Siong Kie, tapi sayang untuk mencegah tak sempat lagi, maka dia ambil keputusan untuk menghantam tubuh Huan Kang dengan suatu serangan dahsyat yang disertai dengan sepenuh tenaganya.
Kendati demikian tindakan itu toh masih terlambat setengah langkah, Han Siong Kie masih juga terluka oleh serangan golok tersembunyi itu.
Untunglah bentakan dari perempuan tadi membuat Han Siong Kie lebih waspada dan berhati-hati maka meski tempat yang mematikan berhasil dilindungi, sepasang lengannya terhajar juga oleh kedua bilah pisau tajam itu sehingga tembus, darah segar segera berhamburan membasahi seluruh tubuhnya.
Huan Kang sendiri terhajar pula oleh serangan kilat yang dilancarkan Buyung Thay nyonya cantik baju merah itu sehingga mencelat sejauh beberapa kaki dan muntah darah segar.
Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, setelah menghantam Huan Kang sampai terluka Buyung Thay segera memburu kesamping Han Siong Kie dan bertanya dengan penuh perhatian.
"Adikku sayang, bagaimana keadaan luka yang kau derita?"
Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri tapi ketika mulut lukanya tergoncang, tak tahan lagi ia mendengus tertahan.
Cepat-cepat nyonya cantik berbaju merah itu memeriksakan lukanya, waktu itu lengan kirinya sudah tertembus sampai berlubang gagang golok masih menongol diatas lukanya.
Waktu itu Han Siong Kie telah menutup semua jalan darahnya sehingga darah tidak mengalir dengan derasnya lagi.
Dengan sepasang jari tangannya yang lentik nyonya cantik baju merah itu menjepit gagang goloknya lalu dicabut keluar kemudian membubuhkan pula obat luka kedua buah mulut luka tersebut.
Han Siong Kie kesakitan setengah mati sampai sekujur badannya gemetar keras, peluh membasahi jidatnya, tapi dengan sinar mata yang penuh perasaan terima kasih, dia mengerling sekejap kearah Buyung Thay dan bisiknya lirih.
"cici, banyak terima kasih atas pertolonganmu"
"Tak usah berterima kasih kepadaku adikku sayang, beristirahatlah sebentar."
"Tidak. Dia akan kubunuh"
"Siapa yang akan kau bunuh?"
"Huan Kang"
"Dia sudah pergi dari sini"
Han Siong Kie tidak percaya dan segera menengadah, benar juga waktu itu bayangan tubuh tamu bergodek indah Huan Kang telah tak kelihatan lagi, terpaksa dengan rasa dendam ia bersumpah.
"Aku tak akan melepaskan dia dengan begitu saja, suatu ketika bila kami bertemu lagi nyawanya pasti akan kucabut"
"Adikku sayang, tak usah kau pikirkan yang bukan-bukan, sekarang beristirahatlah dahulu?"
Tangannya yang putih halus dan empuk seperti tak bertulang ditaruh di atas bahunya, kemudian membelai dengan penuh kasih sayang.
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia merasa seperti ada segulung aliran listrik menjalar disekujur badannya membuat ia merasa hatinys syur-syuran dan segulung hawa panas yang aneh menjalar naik sampai di atas pipinya.
"Adikku sayang bagaimana pendapatmu tentang makian dari Huan Kang tempo hari"
Terdengar nyonya itu berbisik dengan suara yang lirih lagi lembut sekali. satu ingatan segera melintas dalam hati Han Siong Kie, sahutnya dengan cepat.
"Cici aku sama sekali tidak mengerti apa-apa dengan dirimu"
"Seandainya aku benar-benar adalah seorang perempuan yang tak tahu malu, bagaimanakah pendapatmu?"
"Tentang soal ini... tentang soal ini..."
"Bagaimana pendapatmu?"
"Aku sendiripun tak tahu apa yang musti kujawab"
"Engkau tak akan memperdulikan aku lagi?"
Han Siong Kie merasa kebingungan dan tak tahu apa yang musti dijawab, tak akhirnya ia menggeleng.
"Tidak "
Nyonya cantik berbaju merah itu tak mau melepaskan desakannya dengan begitu saja ia mendesak lebih jauh.
"Jadi engkau tak memperdulikan perempuan macam apakah diriku ini?? "
"Aku percaya engkau bukanlah perempuan sejenis perempuan yang dikatakan oleh Huan Kang"
"Kenapa ?"
"Sebab sebab..."
"Hayo katakanlah"
Merah padam selembar wajah Han Siong Kie, tapi dia menjawab juga secara berterus terang.
"Sebab, kau terlampau cantik"
"Hiiih hiiih hiiih adikku sayang, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu terlampau bersifat kekanak-kanakan?"
Serta merta Han Siong Kie berpaling empat mata pun saling bertemu satu sama lainnya, bibirnya yang kecil mungil seperti buah tho cuma berada diluar dan mendatangkan suatu perasaan aneh baginya.
Si anak muda itu gemetar keras, ia merasa timbulnya suatu perasaan aneh dan balik selangkangannya ia tidak takut tapi merasa seperti membutuhkan sesuatu..
Akhirnya bibir yang merah kecil mungil itu tampak sedikit gemetar itu telah berada tak sampai tiga inci di depan bibir sendiri.
Han Siong Kie benar-benar tak mampu menguasahi diri lagi, ia tubruk perempuan cantik itu dan memeluknya eraterat, bibirnya ditempelkan diatas bibir yang merah merekah itu, Buyung Thay melenguh dan menyandarkan tubuhnya di dada si anak muda, mereka berciuman dengan mesra, ujung lidah menggeliat kesana kemari bagaikan ular mencari gua, mereka saling saling menghisap, saling menggumul.
Pemuda itu merasa peredaran darahnya berjalan makin kencang, hawa napsu birahi yang sukar dikendalikan menyelimuti kesadarannya, jantung terasa berdebar keras diantara kedua pahanya dia merasa ada benda keras yang terasa mengganjal, ia merasa tak mampu mengendalikan diri lagi, ia jadi kalap dan bernapsu.
Saat itu Han Siong Kie telah lupa akan diri sendiri, lupa akan keadaan di sekelilingnya.
Napas mulai memburu, ia merasa dorongan nafsu birahinya tak terkendalikan lagi.
pemuda itu merasakan sesuatu kebutuhan yang sangat mendesak, kebutuhan itu sudah mencapai pada puncaknya, ia tahu hanya perempuan ini yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut, sebab dialah yang memiliki tempat penyaluran itu, Ia peluk perempuan itu erat-erat, tangannya telah menjelajah dari atas sampai ke bawah.
Akhirnya dia membopong nyonya cantik itu dan dibawa masuk kedalam lembah hitam, pemuda itu akan mencari tempat nyaman dibalik semak belukar untuk melakukan hubungan asmara itu disana sebab dia sudah terbakar oleh birahi dan birahi itu sudah tak terkendalikan lagi.
Saat ini Han Siong Kie telah membaringkan perempuan itu diatas tanah, membuka bajunya satu demi satu dan akan membawa sang perahu masuk dermaga, terlihat sepasang buah bukit yang putih mulus dan masih kencang, tak tahan dia mengecup kedua buah dada itu.
Buyung Thay mengeluh lirih.
"Adik..."
Si anak muda juga tak tahan.
"Cici..aku..aku mau.."
Akhirnya berlayarlah sang perahu menuju dermaga, biarpun dihalangi semak belukar akhirnya sampai juga.
Tangan kecil dan mulus si nyonya memeluk pinggang si anak muda, membantunya mengayuh perahu dan jeritan kecil Buyung Thay menandakan bahwa perahu sudah ditambatkan.
Di bawah rindangnya pohon dan empuknya rumput bak permadani, keduanya tertidur lelap hingga matahari sore akan tenggelam.
Akhirnya Han Siong Kie bangun lebih dulu, dia lihat si nyonya cantik juga menggeliat bangun.
Diantara belahan pahanya ada mengalir darah segar, ia heran hingga dia menyesal dan kasihan "Cici..maafkan aku.."
Serunya sambil menutupi bagian terlarang tersebut dengan baju si nyonya. Buyung Thay menarik baju dari si anak muda sambil tersenyum.
"Adik..aku bahagia..akhirnya kepada kaulah..."
Ucapannya belum selesai dari kejauhan berkumandang suara ujung baju tersampok angin, meski lirih tapi cukup tajam bagi pendengaran Han Siong Kie.
Kontan saja pemuda itu terkesiap.
ia menjadi sadar kembali, cepat-cepat ia berpakaian serta membantu perempuan itu berpakaian kemudian berbisik.
"Cici ada orang datang"
Warna merah dadu masih menghiasi wajah Buyung Thay, perlahan-lahan ia membuka matanya dan menatap wajah pemuda itu dengan tatapan mata yang mesra dan sayang.
Sementara itu Han Siong Kie sudah berpaling kearah mulut lembah.
Beberapa sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang masuk kemulut lembah itu, menyusul kemudian terdengar mereka berseru kaget, agaknya beberapa orang itu sudah menemukan mayatmayat dari It Tiong khi sekalian yang bergelimpangan diatas tanah-"Yu Tongcu seorang lantas menegur dengan suara yang nyaring, benarkah Ban tok Cuncu masih hidup?"
"Hamba tak berani mengelabuhi Kaucu"
Sahut suara yang lain.
Dari tanya jawab Han Siong Kie segera mengetahui siapakah yang telah datang, rasa kagetnya bukan alang kepalang, ia tak mengira kalau Thian che kaucu Yu Pia lam telah berkunjung ke lembah hitam ini.
Orang yang memberi jawaban tak lain adalah Dewa racun Yu Hua, diantara dua belas orang yang menyelidiki telaga beracun, hanya dia seorang yang meninggalkan tempat itu dengan selamat.
Han Siong Kie cukup memahami akan ketangguhan dari kaucu perkumpulan Thian che kau ini sebab utusan khusus yang diandalkanpun berilmu sedemikian lihaynya, apa lagi sang ketuanya sendiri entah sampai di manakah taraf kehebatannya?
Dan pemuda itupun menduga bahwa sang kaucu dari perkumpulan Thian che kau ini pastilah seorang manusia yang licik, sebab ia telah memerintahkan anak buahnya untuk menyaru sebagai dia dan mengelabuhi semua orang dikolong langit, sedangkan dia sendiri tak pernah berada dalam perkumpulannya, tak seorangpun yang mengetahui perbuatan apa saja yang sedang dilakukan olehnya?
Selain daripada itu, dia memerintahkan anak buahnya untuk menyaru sebagai Tengkorak maut dan mengacau dunia persilatan-Seandainya orang yang kehilangan sukma tidak memberi petunjuk kepadanya, mungkin sampai sekarangpun dia masih dikibuli tanpa merasa.
Menyusul kemudian diapun teringat kembali akan ibunya si siang go cantik ong cui Ing yang telah kawin lagi dengan Yu piau lam, kemudian terbayang pula akan Thio sau kun, putra paman gurunya si tangan sakti naga beracun Thio Lin yang telah menganggap Yu Pia lam sebagai ayah.
Dendam lama sakit hati baru semuanya berkecamuk dalam hati kecilnya, ia merasa inilah kesempatan yang sangat baik untuk membuat perhitungan dengan ketua dari perkumpulan Thian che kau ini.
Dalam pada itu suara dari Yu Pia lam telah berkumandang lagi.
"Yu Tongcu, benarkah It Tiong khi sekalian bersebelas mati semua karena keracunan?"
"Lapor kaucu, semestinya disebut dua belas orang bukan sebelas orang"
"Kenapa ?"
"sebab hamba pun terkena pula racun jahat yang sangat jahat itu"
"Tapi engkau toh tidak mati?"
"Boleh dibilang nyaris mampus secara konyol, untunglah hamba pandai pula dalam ilmu racun dan lagi sekujur badanku penuh mengandung racun, maka ketika racun bertemu dengan racun, hamba berhasil lolos dari kematian yang mengerikan itu"
"Ehmm Aku toh sudah berpesan kepada It Tiong khi, jika makhluk tua beracun itu masih hidup atau rencana kita tak dapat tercapai dengan sukses, maka ledakkan lembah hitam dengan bahan peledak. kenapa ia tak menuruti nasehatku? Mungkin ia sok pintar dan bertindak menurut kehendak hatinya sendiri??"
"Tidak. It Tiong khi tidak sok pintar, dia telah mengumumkan perintah dari kaucu, akan tetapi Ban tok cousu keburu sudah munculkan diri lebih dahulu waktu itu kamipun tidak bertempur malahan segera mengundurkan diri dari sana tapi entah apa sebabnya ketika tiba dimulut lembah tahu-tahu kami sudah keracunan hebat dan satu persatu rekan-rekan hamba mampus semua"
Han Siong Kie ikut mendengarkan perkataan itu, dari pembicaraan tersebut ia lantas tahu bahwa Dewa racun Yu Hua sengaja merahasiakan peristiwa dimana jiwanya dia selamatkan dari situ, dapat pula diketahui bahwa Thian che kaucu Yu Pia lam sama sekali tidak tahu kalau ia dan Hek Pek siang yau hadir pula didalam lembah tersebut.
Sementara ia masih termenung, Buyung Thay si nyonya cantik baju merah itu sudah menyikut pinggangnya sambil berbisik.
"Seett kau tahu tidak orang itu adalah Yu Pia lam ketua dari perkumpulan Thian che kau?"
"Oooh aku sudah tahu"
"Lantas apa yang hendak kau lakukan?"
"Tentu saja membuat perhitungan dengan bangsat itu"
"Sekarang juga ?"
"Ehmm. kenapa tidak sekarang juga??"
"Engkau tahu, kenapa ia berkunjung kemari?"
"Mungkin mendapat laporan dari muridnya, mungkin juga sengaja menguntit perjalanan dari Dewa racun Yu Hua serta rombongannya"
"Oh iya, aku lupa bertanya kepadamu, mayat-mayat yang terkapar ditempat luaran itu..."
Sebelum Buyung Thay menyelesaikan pertanyaannya, secara ringkas Han Siong Kie telah menceritakan bagaimana Than che kaucu berniat jahat dengan mengirim orang untuk mencari barang peninggalan Ban tok Cousu.
Selesai mendengar cerita itu, paras muka Buyung Thay berubah hebat, serunya agak tertahan-"Jadi kalau begitu, disinilah letak telaga beracun lembah hitam yang tersohor karena angkernya itu??"
Han Siong Kie mengangguk tanda membenarkan.
"Dan Ban tok cousu berdiam disini? "
Kembali perempuan itu bertanya.
"Ehmm. ... memang berdiam disini."
"Kalau begitu lebih baik kita cepat tinggalkan tempat ini, jangan sampai menerbitkan keonaran, apalagi mencari kesulitan bagi diri sendiri"
"Jangan gelisah,"
Tukas Han Siong Kie sambil mengulapkan tangannya.
"Engkau jangan munculkan diri lebih dahulu, biar aku muncul dan berjumpa dengan Yu pia-lam itu, sebab aku harus membuat perhitungan dengan dirinya "
"Adikku, sekarang bukan saat yang tepat bagimu untuk membuat perhitungan"
Cegah Buyung Thay dengan alis mata berkernyit.
"Kenapa??"
"Sebab luka yang kau derita masih belum sembuh"
"Aaah luka sekecil ini tidak terhitung seberapa, aku tak akan memikirkannya dihati"
"Akan tetapi aku dengar ilmu silat yang dimiliki Yu Pia-lam sangat lihay??"
"Eh cici, bukankah engkau kenal dengan orang itu?"
"Dua puluh tahun berselang aku memang kenal dia, tapi dua puluh tahun kemudian ia telah berubah menjadi seorang manusia yang lain, apa lagi dewasa ini dia adalah seorang pemuka dunia persilatan yang tak terkalahkan"
"Kau tak usah menguatirkan tentang aku"
Dalam pada itu suara pembicaraan dimulut lembah telah berkumandang kembali.
"Yu Tongcu, apakah sekarang engkau sudah berhasil memahami sifat-sifat dari racun yang terkandung dalam telaga beracun ini?"
Suara dari Yu Pia lam kembali terdengar.
"Maafkanlah ketidak becusan hamba, bila racun biasa tentu saja hamba bisa memahaminya, tapi racun ini bukan sembarangan racun, orang lain tak mungkin bisa memahami jenis serta sifat dari racun yang terkandung dalam telaga itu, tentu saja terkecuali Ban tok Cousu sendiri"
"Kalau memang begitu, akan kuperintahkan untuk memusnahkan saja lembah ini, setelah lembah dihancurkan kita ledakkan pula puncak tebing diatas celah sana niscaya telaga itu akan tertimbun lenyap"
Dari pembicaraan tersebut, Han Siong Kie tahu jika ia tidak segera munculkan diri, niscaya orang itu akan melaksanakan niat jahatnya.
Maka diapun melayang keluar dari tempat persembunyiannya disana, ia saksikan seorang manusia baju hijau yang berkain kerudung warna hijau pula berdiri menghadap mulut lembah.
Disampingnya berdiri Dewa racun Yu Hua, sedangkan dibelakangnya berdiri dua orang kakek berjubah hitam dengan sulaman matahari, rembulan dan bintang diatas dadanya, dibelakang dua orang kakek itu berdiri pula satu deret laki-laki berbaju hitam yang jumlahnya mencapai dua puluh orang lebih.
Kemunculan yang secara tiba-tiba ini segera mengejutkan Thian che kau sekalian terutama Dewa racun Yu Hua, wajahnya segera terlintas suatu perubahan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Setelah berdiri dihadapan manusia berbaju hijau itu, Han Siong Kie segera menegur.
"Jadi engkau ketua dari perkumpulan Thian che kau?"
"Benar siapakah kau?"
"Manusia bermuka dingin"
Mendengar siapakah musuhnya ini, ketua perkumpulan Thian che kau itu lantas menengadah dan tertawa terbahakbahak, dua orang utusan khusus yang berada dibelakangn segera unjukkan pula muka beringas penuh napsu membunuh, sedangkan lima belas orang laki-laki dibelakang tampak ketakutan.
Setelah tertawa seram beberapa saat, Yu Pia lam berhenti tertawa dari balik kain kerudung hijaunya memancar keluar dua rentetan sinar hijau yang amat tajam, sinar setajam sembilu itu menatap wajah musuhnya tajam-tajam.
Han Siong Kie agak bergidik, segera pikirnya.
"sungguh amat sempurna tenaga dalamnya, aku harus waspada"
Dalam pada itu Yu Pia lam telah berkata dengan penuh hawa pembunuhan.
"Manusia bermuka dingin, aku tak pernah menyangka kalau bisa berjumpa dengan engkau ditempat sedemikian indahnya ini"
"Heehh... heehh... heeehh akupun ikut merasa diluar dugaan bisa bertemu dengan kau disini tapi malahan kebetulan sekali daripada aku harus menempun perjalanan jauh untuk mencari jejakmu"
Balas Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
"Manusia bermuka dingin, dewasa ini hanya engkau seorang yang berani memusuhi aku secara terang-terangan, dan memandang keberanianmu ini kau boleh mampus dengas badan utuh"
"Haaahh.... Haaahhk.... Haaahh... Yu Pia-lam, engkau tak takut bualanmu yang tekebur itu bisa mengundang datangnya geledek yang akan menyambar lidahmu sampai putus"
Thian che kaucu Yu Pia lam tidak tahu akan asal usul Han Siong Kie yang sebenarnya, sedangkan Han Siong Kie tahu bahwa dialah suami ibunya yang baru, rasa dendam dan benci yang ber-tumpuk2 dalam hatinya membuat pemuda itu jadi menyeringai seram, kalau dapat ia hendak mencincang musuhnya ini hingga hancur berkeping.
"Manusia muka dingin tak akan bunuh diri ataukah ...."
Sebelum ketua dari perkumpulan Thian che kau itu sempat menyelesaikan kata-katanya, Han Siong Kie telah menukas dengan sinis.
"Yu Pia lam tan meski anggap kolong langit sudah menjadi milikmu, tapi aku heehh... heeehhh. .heeehhh kau masih belum berhak untuk bersikap angkuh dihadapanku, ini hari juga aku akan menuntut kembali hutang-hutangmu yang berminat untuk membunuh aku serta menelan perguruanku"
"Bocah keparat kau tak usah banyak bicara lagi, apakah ada pesan terakhir yang akan kau tinggalkan?"
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal telah menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, dengan sinis ia berkata pula.
"Bukan aku yang seharusnya meninggalkan pesan terakhir, pantasnya kaulah yang tinggalkan pesan-pesanmu"
Yu Pia lam tertawa seram, selangkah demi selangkah ia maju ke depan, mengikuti langkah kaki itu suasana dalam arenapun ikut bertambah tegang.
Kedua puluh orang laki-laki berpakaian ringkas itu mengalihkan pula seluruh perhatiannya ke arena, mungkin mereka bukan jeri atau takut terhadap nama besar manusia muka dingin melainkan sangat berharap bisa menyaksikan kelihayan dari ilmu silat ketuanya.
Sampai detik ini kawanan jago dari perkumpulan Thian che kau masih belum pernah menyaksikan kaucunya turun tangan melawan seseorang, maka merekapun tak tahu sampai dimanakah taraf kelihayan kungfu dari ketuanya ini.
Selama belasan tahun, Yu Pia lam selalu menempatkan seseorang yang menyaru sebagai dirinya untuk mengurusi masalah dalam perkumpulan, sedeng ia sendiri teramat jarang berada dalam markas besarnya, tentang soal ini kecuali beberapa Orang tokoh tingkat atas yang mengetahuinya boleh dibilang sebagian besar anak muridnya tidak mengetahui akan rahasia ini.
Lain halnya dengan Han Siong Kie, ia mengetahui jelas sekali hal ini, sebab orang yang menyaru sebagai kaucunya yakni pimpinan dari para utusan khusus telah menemui ajalnya ditangannya.
Sementara itu dua orang utusan khusus yang berada dibelakang Yu Pia lam telah maju kedepan, ujarnya sambil memberi hormat.
"Membunuh ayam kenapa musti memakai golok penjagal kerbau? Hamba siap menantikan perintah"
Yu Pia lam mengangguk.
"Kalau begitu hadapilah orang itu dengan hati-hati"
Sahutnya, Dua orang utusan khusus itu lantas mengiakan, satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan bersamaan waktunya menerjang ke hadapan Han Siong Kie.
Setelah memperoleh pangalaman-pengalaman dalam beberapa pertempuran yang lampau, sekarang Han Siong Kie tak berani lagi menilai rendah kekuatan dari dua orang utusan khusus itu sebab berbicara tentang kelihayan hakekatnya kspandaian silat setiap utusan khusus ini adalah jago-jago tangguh yang masih lebih hebat daripada pengemis dari selatan dan padri dari utara, mendingan kalau dia dalam keadaan segar bugar padahal saat ini bahunya sedang terluka dan belum sembuh serta pergumulannya dengan Buyung Thay tadi juga menguras tenaganya, tentu saja pemuda itu musti bertindak lebih cermat lagi.
Setelah dua orang anak buahnya maju Yu Pia lam sang ketua dari perkumpulan Thian che kau itu mundur satu kaki kebelakang.
Begitulah sambil membentak nyaring dua orang utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu menerjang ke muka dan melancarkan serangan dahsyat ke tubuh Han Siong Kie.
Serangan itu bukan saja dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat bahkan disertai juga dengan tenaga kekuatan yang maha dahsyat mengerikan sekali tampaknya.
Han Siong Ke tidak berani bertindak gegabah dengan jurus Tee pau siang wi (melepaskan jubah menyingkir dari kedudukan) dia melayang tiga depa kebelakang kemudian sepasang telapak tangannya direntangkan untuk menyerang dari samping.
Sementara serangan yang dilancarkan kedua orang utusan khusus itu mengena di sasaran yang kosong sepasang telapak tangan si anak muda itu telah menyergap datang tepat pada waktunya dalam keadaan seperti ini terpaksa mereka terpencar ke samping masing-masing membentuk gerak setengah lingkaran busur udara kemudian menyerang jalan darah serta bagian mematikan dari lawannya menghindar sambil menyerang gerakan tubuh yang digunakan dua orang itu pun hebat selali.
Menghadapi keadaan seperti ini Han Siong Kie lantas memutar otaknya dan berpikir.
"Jika dalam beberapa gebrakan mendatang aku gagal untuk mengalahkan mereka, lama-kelamaan tenaga dalamku pasti akan mengalami kerugian besar, jika sampai demikian keadaannya mana mungkin aku dapat menghadapi Yu Pia lam lagi?"
Menyadari betapa gawatnya pada saat itu, ia semakin tak berani bertindak gegabah, sementara itu serangan jari tangan dan telapak tangan dua orang itu telah menyergap tiba dengan hebatnya.
Maka diapun lantas merentangkan sepasang lengannya dan menangkis kedua ancaman tersebut dengan suatu gerakan yang manis, inilah taktik bertahan dari ilmu pukulan Mo tiong ci mo dengan adanya tangkisan itu maka gagallah serangan dari dua orang itu untuk menghantam tubuh lawannya.
Begitu serangan musuh berhasil dipunahkan, ia menggetarkan lengannya lebih jauh dengan suatu kecepatan yang luar biasa telapak tangannya langsung membacok tubuh dua orang itu.
-ooo0dw0ooo-BAB 79 DUA orang utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itupun bukan manusia sembarangan, hanya berbeda satu inci saja dua orang itu tahu-tahu sudah terlepas dari lingkaran ancaman.
Akan tetapi baru saja mereka mundur ke belakang Han Siong Kie telah membentak keras, sepuluh jari tangannya direntangkan ke depan terasalah sepuluh gulung desiran angin tajam meluncur ke tubuh dua orang utusan khusus itu dan terdengar suara tajam yang memekikkan telinga.
Dua orang utusan khusus itu terperanjat, mereka tidak menghentikan gerakan tubuhnya tapi berputar satu lingkaran diudara, begitu lolos dari ancaman yang mengerikan itu serentak mereka berdua menyergap lagi dengan hebatnya.
Baru saja Han Siong Kie merasakan serangan jari tangannya mengenai pada sasaran yang kosong, angin pukulan lawan yang sangat kuat telah menyapu datang dari kedua belah sisi gelanggang, cepat ia rubah serangan jarinva menjadi serangan telapak tangan, sekali tolak dia sambut datangnya kedua angin pukulan itu dengan kekerasan.
"Blaang Blaaang"
Dua kali benturan keras menggelegar diangkasa, dalam bentrokan tersebut dua orang utusan khusus terpukul mundur delapan langkah lebar dengan sempoyongan.
Sedangkan Han Siong Kie sendiri merasakan bahunya yang terluka terasa sakit sekali, akhirnya diapun ikut mundur selangkah lebar ke belakang.
Kejadian ini sangat menggemparkan suasana disekitar arena, lima belas orang jago lihay Thian che kau yang berada disana tampak terperanjat dan merasa ngeri sekali.
Ketua perkumpulan Thian che kau sendiri meski kepalanya berkerudung topi warna hijau sehingga tak dapat dilihat bagaimanakah perubahan wajahnya waktu itu, akan tetapi dari getaran tubuhnya yang keras, jelas menunjukkan bahwa kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki orang bermuka dingin itu telah menggetarkan hatinya.
Dalam pada itu dua orang utusan khusus itu telah maju menyerang lagi setelah dipukul mundur ke belakang.
Utusan khusus yang berada disebelah kiri membentak keras, secara beruntun dia melancarkan tiga buah bacokan berantai, ketiga buah serangan itu semuanya cepat, hebat dan seolah-olah hanya merupakan sebuah serangan belaka.
Han Siong Kie memutar badannya setengah lingkarandengan mengerahkan hawa sakti si mi sinkangnya, dia siap menerima ancaman itu dengan kekerasan-Hampir bersamaan waktunya utusan khusus yang berada disebelah kanan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun telah melancarkan pula serangan kilat kearah Han Siong Kie, jika cengkeraman tersebut sampai terkena pada sasarannya, nicaya tulang punggung Han Siong Kie akan terhajar sampai remuk.
"Blaaanng.."
Kembali terdengar suara benturan keras yang memekikkan telinga, disertai dengus tertahan seseorang, ternyata utusan khusus yang berada disebelah kiri itu terhantam pukulan si mi sinkang yang telah menggunakan tenaga besar itu sehingga tubuhnya mencelat sejauh satu kaki dari tempat semula.
Baru saja serangan itu dilepaskan, Han Siong Kie telah merasakan tibanya desingan angin tajam dari belakang, ia tahu ada orang sedang menyergap punggungnya, dalam keadaan demikian tak sempat lagi pemuda itu berpikir panjang, cepat ia bergeser dua depa kesamping untuk menghindarkan diri.
Kendatipun ia menghindar cukup cepat, dan meski cengkeraman tersebut tidak bersarang telak.
toh ujung jari lawan sempat melewat diatas mulut luka diatas bahunya yang terkena ilmu kuay ciang coat to dari tamu bergodek indah Huan Kang.
Rasa sakit yang bukan kepalang serasa menusuk sampai ke tulang sumsum, tak tahan lagi ia mendengus tertahan, secara beruntun tubuhnya mundar lima langkah sebelum keseimbangan tubuhnya dapat dipertahankan kembali, darah mengalir keluar dengan derasnya..
Utusan khusus itu bukan manusia yang tidak berpengalaman, sekilas pandangan saja dia sudah tahu bahwa bahu Han Siong Kie menderita luka yang parah, kalau tidak demikian maka berbicara dari kehebatan tenaga dalamnya, luka kulit yang tak seberapa itu tidak nanti akan membuat dia mendengus tertahan dan mundur dengan sempoyongan.
Maka sambil melancarkan serangan kembali dengan dahsyatnya, ia membentak nyaring.
"Manusia muka dingin, sekalipun kaupunya sayap jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat"
Han Siong Kie menggigit bibir keras-keras, ia melepaskan serangan pula untuk melayani ancaman tersebut.
Suatu pertempuran sengitpun lantas berkobar diarena tersebut, tapi bagaimanapun juga tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie jauh lebih sempurna meski ia harus bertempur dengan membawa luka, namun serangan-serangannya makin lama makin dahsyat, dalam lima gebrakan saja ia sudah berhasil ketitir hebat dan terancam oleh bahaya maut.
Sementara itu utusan khusus lainnya yang kena dihajar sampai mencelat tadi telah menggunakan kesempatan itu untuk mengatur pernapasan, kemudian ia menerjang kembali musuhnya.
Thian che kaucu yang berada disisi arena tidak bergerak pun tidak berbicara, cuma sepasang matanya yang tajam mengawasi jalannya pertarungan itu tanpa berkedip.
Sedangkan dua puluh orang laki-laki baju hitam itu sudan berkerumun di tepi arena, setiap saat mereka siap untuk menerjang masuk kedalam arena untuk membantu kawankawannya ..Dari keadaan yang terpapar didepan mata sekarang, boleh dibilang posisinya sangat tidak menguntungkan bagi si anak muda itu.
Han Siong Kie cukup mengerti sampai dimanakah dalamnya rasa dendam antara pihak Thian che kau dengan dirinya, sekarang bahunya yang terluka belum sembuh, sementara Yu Pia lam mengawasi terus dari tepi arena, hal ini sudah sangat merugikan bagi posisinya, apalagi kalau ia tak berhasil mengalahkan dua orang utusan khusus itu, sebaliknya malahan dia sendiri yang kehabisan tenaga, bagaimana akibatnya sulitlah untuk dibayangkan mulai sekarang.
Sesudah mempertimbangkan untung ruginya, hawa napsu membunuh lantas menyelimuti seluruh wajahnya, dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) dia menyerang dengan sekuat tenaga.
Mo ong ko ciat adalah salah satu diantara tiga buah jurus mematikan dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya bila serangan tersebut dilancarkan dengan sekuat tenaga?
"Blaang"
Seseorang menjerit kesakitan, suaranya keras dan memilukan hati, menyusul kemudian sesosok bayangan manusia mencelat ke udara diiringi muncratnya noda-noda darah.
Hampir bersamaan waktunya serangan dahsyat yang dilancarkan utusan khusus yang baru selesai dari semedinya itu sudah menyerang datang, sungguh dahsyat serangan itu membuat udara jadi sesak dan sukar untuk bernapas.
Secepat kilat Han Siong Kie memutar badannya kembali dia melancarkan pukulan dengan menggunakan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian.
"Blaang"
Sekali lagi terdengar ledakan keras, kali ini pasir dan batu beterbangan membentuk selapis kabut, utusan khusus yang melancarkan sergapan itu menjerit kesakitan dan mundur dengan sempoyongan.
Han Siong Kie sendiri tetap berdiri ditempat semula, meski kakinya telah masuk ketanah sedalam setengah depa.
Kejadian ini diluar dugaan kawanan jago dari Thian che kau, lima belas orang laki-laki kekar itu sampai berdiri tertegun dengan paras berubah jadi pucat.
Yu Pia lam tidak berpeluk tangan belaka, dia mendengus dingin, tanpa menggerakkan badannya tahu-tahu dia telah melayang maju kedepan.
Waktu itu dua orang utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau yang terluka itu telah bangkit berdiri, kemudian dengan badan masih gontai berdiri disamping gelanggang.
Han Siong Kie berdiri mengawasi musuh besarnya ini tanpa berkedip.
hawa napsu membunuh sudah menyelimuti seluruh wajahnya.
"Manusia muka dingin"
Terdengar Yu Pia lam berkata dengan suara yang mengerikan "Aku telah membatalkan janjiku untuk memberi kematian yang utuh untukmu, sekarang aku hendak menangkap kau hidup, hidup kemudian akan kukorek keluar jantungmu di hadapan meja abu dari beberapa orang utusan khusus dan anak muridku yang telah tewas ditanganmu"
Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmmm Yu pia lam, akupun hendak membunuh engkau untuk membalaskan dendam bagi arwah anak muridku yang telah mati secara penasaran, selain itu akupun akan membalaskan dendam bagi kawan-kawan persilatan yang kau bunuh secara keji"
"Heeehh heeehh heeehh bocah keparat"
Seru Yu pia lam sambil tertawa dingin.
"Kematianmu sudah berada didepan mata, buat apa masih ngibul terus menerus?"
"Hari ini juga kau akan kutangkap dalam keadaan hidup..".
"Hmm Mampukah engkau berbuat begitu?"
"Bocah keparat, kalau engkau tidak percaya nanti buktikan saja bersama"
Seraya berkata sepasang telapak tangan segera di ayun ke depan melancarkan serangan dahsyat.
Semenjak tadi Han Siong Kie telah membuat persiapan, cepat diapun menggerakkan sepasang telapak tangannya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
Tiada suara yang terdengar, dan tiada desingan tajam yang menyertai serangan dua orang itu.
Tahu-tahu diangkasa sudah terjadi benturan keras yang memekikkan telinga, daerah seluas lima kaki di sekitar arena dipenuhi oleh desingan angin tajam yang membuat pasir debu beterbangan sampai-sampai dua orang urusan khusus yang terluka parah di sisi gelanggangcun tergulung duduk diatas tanah oleh angin tajam tadi.
Dua puluh orang laki-laki berpakaian ringkas itu semakin ketakutan, sehingga sukma serasa melayang tinggalkan raganya.
Secara beruntun mereka mundur sampai beberapa langkah kebelakang.
Baik Han Siong Kie sendiri maupun Yu Pia lam sama-sama berdiri sekokoh bukit karang ditempat semula, setengah incipun mereka tidak bergeser dari tempat asalnya meski sekilas pandangan kekuatan kedua belah pihak seimbang, tapi oleh sebab luka pada bahunya Han Siong Kie merasakan setengah badannya linu dan sakit sekali hingga sukar ditahan.
Yu pia lam menyeringai seram, ejeknya.
"Bocah keparat, tampaknya kepandaianmu hebat juga, tak aneh kalau lagakmu soknya bukan kepalang, coba rasain lagi sebuah pukulanku ini"
Han Siong Kie adalah seorang pemuda angkuh yang tinggi hati, ia tak sudi menunjukkan kelemahan dirinya dihadapan lawan, tentu saja diapun tak mau menghindar ke samping, sekali lagi dia sambut pukulan dahsyat itu dengan keras lawan keras.
Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga menggema kembali di udara, kali ini Yu Pia lam merasakan tubuhnya berguncang keras, sedangkan Han Siong Kie terdesak selangkah lebar kebelakang, seluruh lengan kirinya sakit seperti patah, peluh mulai membasahi ujung hidung dan jidatnya.
Sudah puluhan tahun Yu Pia lam hidup mengasingkan diri sambil menekuni ilmu silatnya, ia mengira setelah muncul kembali dalam dunia persilatan maka ilmu silatnya pasti nomor wahid dikolong langit, tak tahunya dua kali serangan yang dahsyat tidak berhasil merobohkan seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, rasa kaget dan tercengangnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, tapi justru karena itu niatnya untuk membinasakan Han Siong Kie juga semakin menebal.
Sepasang telapak tangannya lantas disodok keudara, suatu gulungan angin yang sangat aneh segera memancar kedepan-.
Han Siong Kie tidak merasa terlampau asing dengan gerakan aneh itu, sebab Tengkorak maut gadungan pernah mempraktekkan dihadapannya, sedang ketua muda perkumpulan Thian kau Yu sau kun pernah memakainya, dia tahu dibawah pengaruh angin yang aneh itu, dia tak akan mampu mengerahkan tenaga dalamnya lagi.
Tentu saja ilmu yang digunakan sendiri oleh Yu Pia lam, seorang tokoh dunia persilatan yang berilmu sangat tinggi ini mempunyai daya kekuatan yang lain daripada yang lain-Han Siong Kie terkesiap.
ia ingin menjajal sampai dimanakah kedahsyatan ilmu si mi sinkang yang dimilikinya, maka diluaran ia berlagak pilon, sementara tenaga dalamnya telah disalurkan keseluruh tubuh untuk menutup jalan darah besar maupun kecil dalam tubuhnya.
Ketika angin aneh itu menyentuh badannya, segera terdengarlah serentetan suara ledakan yang beruntun, agaknya hawa sakti yang memancar keluar dari badannya telah berhasil mematahkan ancaman dari angin serangan yang aneh itu.
Sementara itu sesudah melepaskan pukulan anehnya, Yu Pia lam telah menyergap maju dengan serangkaian serangan aneh, tangan yang satu mencengkeram jalan darah Cian keng hiat dibahu, sementara tangan yang lain mengancam darah penting dibagian dada.
Han Siong Kie tertawa dingin, telapak tangan kanannya langsung membacok tangan musuh yang mencengkeram bahunya sedangkan telapak tangan kanannya menghantam batok kepala lawannya.
Kali ini Yu Pia lam benar-benat sangat terperanjat, mimpipun ia tak menyangka kalau musuhnya masih dapat menghimpun tenaga sambil melancarkan serangan sekalipun ia sudah menyerang dengan ilmu Coan hiat san goan ciang (pukulan penyusup jalan darah pembuyar tenaga).
Bukan begitu saja, bahkan serangan musuh sangat kuat dan ganas sekali, bila sampai terserang oleh pukulan musuh itu niscaya batok kepalanya akan hancur berantakan.
Dalam keadaan begini dia lantas menarik kembali sepasang telapak tangannya lalu mundur selangkah.
Waktu itu serangan dari Han Siong kie belum dipakai sampai seluruhnya, cepat ia tarik kembali serangannya sambil memutar badan, sebuah pukulan dengan gerakan Leng ku it-si kembali dilancarkan-Yu pia lam mengeram gusar, matanya jadi hijau mengerikan, dia layani semua ancaman musuh dengan kekerasan, deruan angin pukulan segera menyelimuti seluruh angkasa.
Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertarungan paling sengit yang belum pernah terjadi didunia ini kedua belah pihak sama-sama merupakan jago lihay, kedua belah pihakpun sama-sama berhasrat untuk membinasakan musuhnya bahkan serangan yang digunakan semuanya merupakan jurus aneh yang mematikan ini membuat deruan angin pukulan dan beterbangannya pasir serta debu makin menebal.
Dua puluh orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau sama-sama berdiri dengan mata terbelalak hampir saja mereka lupa dimanakah mereka sedang berada pada waktu itu.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun Han Siong Kie merasa separuh tubuh bagian kirinya semakin kaku dan kesemutan, otomatis daya serangan dari telapak tangan kirinya ikut berkurang sekarang dia hanya bisa mempertahankan diri dengan andalkan telapak tangan kanan belaka, keringat dingin telah membasahi tubuhnya, tapi sikapnya yang angkuh membuat pemuda itu tak sudi mengundurkan diri dengan begitu saja.
Ilmu pukulan dan ilmu jari tangan lantas dimainkan berbareng dengan memaksakan diri ia mempertahankan terus posisinya.
Yu Pia lam cukup memahami kelihayan ilmu jari Tong kim ci lawan, diapun agak jeri untuk menghadapinya, maka sewaktu melayani serangan musuh gerak geriknya banyak tidak leluasa, kalau tidak begito mungkin sedari tadi Han Siong Kie sudah tak mampu mempertahankan diri.
Dua puluh gebrakan kembali sudah lewat namun Han Siong Kie belum kelihatan bakal kalah meski dalam hati kecilnya pemuda itu cukup memahami kekuatan sendiri, ia tahu kekuatannya sudah tak mampu digunakan lagi untuk bertarung sebanyak seratus gebrakan lagi dengan lawan-Suatu ketika Yu Pia-lam melompat mundur delapan depa ke belakang, sepasang telapak tangannya diputar satu lingkaran diudara kemudian disilangkan didepan dada.
Han Siong Kie mengawasi gerak gerik musuhnya dengan tatapan tajam tapi apa yang ia lihat membuat hatinya tercekat, dilihatnya sepasang telapak tangan musuh telah berubah jadi bening seperti kaca, begitu bening dan putihnya membuat orang jadi bergidik rasanya.
"Ilmu silat apaan itu?"
Demikianlah pemuda itu berpikir.
"Belum pernah kujumpai kepandaian seaneh itu."
Akan tetapi waktu tidak mengijinkan dia berpikir panjang, sekalipun ia tahu bahwa lawannya telah menggunakan ilmu aneh dan rupanya dalam serangan berikut ini akan melepaskan pukulan yang mematikan.
ia tak dapat berbuat lain kecuali mempertingkat kewaspadaannya .
Terdengar Yu Pia lam, ketua dari perkumpulan Thian che kau itu berkata.
"Manusia muka dingin, jika engkau sanggup menerima sebuah pukulanku ini, maka hari ini akan kulepaskan dirimu dari sini"
Han Siong Kie tertegun.
"Hian goan sin khi?"
Ia lantas berpikir kepandaian apakah itu?
Belum pernah kudengar tentang ilmu semacam ini, tapi pasti ilmu itu adalah sejenis kepandaian yang maha sakti sebab kalau tidak tak nanti ia bersikap seangkuh itu "
Tentu saja Han Siong Kie tak sudi menunjukkan kelemahannya, ia tertawa dingin dan menjawab.
"Yu Pia lam, tak ada halangannya bagimu untuk mencoba, tapi aku katakan lebih dulu, hari ini aku tidak akan melepaskan engkau dengan begitu saja meski kau bermaksud melepaskan aku"
"Heeehhh.. heeehhh... heehhh bocah keparat, tak ada gunanya engkau banyak berbicara memangnya kau anggap hari ini bisa lolos dari sini dengan selamat?"
"Yu Pia lam, mengapa tidak kau lancarkan saja seranganmu itu daripada banyak bacot"
"Lihat serangan-Yu pia lam tidak membuang waktu lagi, sepasang telapak tangannya yang bening seperti kaca didorong ke depan, segulung desingan angin pukulan berwarna merah keemas-emasan dengan membawa daya tekanan yang sangat berat menggulung ke atas tubuh pemuda itu.
Han Siong Kie sendiri, walaupun sedang berbicara, diamdiam hawa murninya telah dihimpun mencapai dua belas bagian, maka ketika musuh melancarkan serangan, dengan keyakinan penuh diapun melepaskan segulung asap hijau yang maha dahsyat kedepan.
Kedua belah pihak sama-sama menyadari bahwa serangan ini menyangkut mati hidup kedua belah pihak, siapa meleng maka akibatnya kalau bukan tewas tentulah terluka parah.
Han Siong Kie sudah bertekad untuk beradu jiwa dengan musuhnya, mampukah dia merobohkan musuhnya dalam serangan tersebut, ia tidak terlalu yakin, sebab luka di atas bahunya membuat tenaga dalam yang dimiliki mengalami kerugian besar.
Udara jadi beku dan kaku, semua jago perkumpulan Thian che kau yang berada di sekitar gelanggang melototkan matanya lebar-lebar, mereka mengawasi dua orang yang berada di arena itu dengan pandangan tanpa berkedip.
Cahaya merah dan hijau segera bertemu satu sama lainnya, ledakan keras menggelegar diangkasa, banyak pepohonan yang bertumbangan, batu dan rumput beterbangan keadaan jadi sangat mengerikan-Yu Pia lam dan Han Siong Kie yang berada diarena masih berdiri saling berhadapan muka tanpa bergerak.
hanya selisih jarak antara kedua belah pihak telah mencapai tiga kaki jauhnya Paras muka Han Siong Kie pucat pasi, badannya gontai dan mulut luka pada bahunya mengucurkan darah lagi karena tergetar oleh bentrokan itu, deras sekali darah yang menetes keluar menetes dibaju maupun sepatunya.
Yu Pia lam sendiri oleh karena mengenakan kain kerudung diwajahnya maka orang tak dapat menyaksikan perubahan wajahnya tapi dari sinar matanya yang pudar serta getaran tubuhnya keras, ditambah kain kerudungnya yang besar, bisa diketahui bukan saja ia sudah terluka bahkan telah muntah darah Suasana jadi hening sepi tak kedengaran sedikit suarapun.
Paras muka Han Siong Kie kian lama berubah memucat, tbuhnya ikut gemetar keras peluh membasahi jidatnya .
Ditengah keheningan inilah tiba-tiba Yu Pia lam tertawa dingin, bukan saja suaranya serak dan penuh mengandung hawa napsu membunuh, bahkan kedengarannya mengerikan sekali, ia maju selangkah demi selangkah menghampiri sianak muda itu.
"Kraass kraass"
Langkah kaki diatas daun kering dan bebatuan menimbulkan suara gemerisik yang mengerikan hati.
Suasana kematian makin lama semakin menebal mengikuti langkah kaki tadi.
Namun Han Siong Kie masih tak bergerak ditempat semula, dia tetap berdiri kaku seperti arca batu.
Tentu saja dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Yu Pia lam, akan tetapi pada saat ini ia sudah tidak berkemampuan lagi untuk memberikan perlawanan.
Kematian semakin mendekatinya dalam waktu singkat jarak yang tiga kaki itu sudah makin memendek jadi satu kaki, lalu tinggal delapan depa, lima depa, akhirnya tinggal satu jangkauan tangan belaka.
Yu Pia lam sudah mengangkat telapak tangannya, ia siap menghajar batok kepala pemuda she Han itu.
"Tahan"
Mendadak terdengar bentakan merdu menggema dari bilik lembah hitam.
Yu Pia lam kelihatan terkejut, tanpa sadar ia menarik kembali telapak tangannya dan mundur tiga langkah kebelakang.
Menyusul bentakan tadi, sesosok bayangan merah melayang keluar dari balik pepohonan, kembali orang itu berkata.
"Yu Pia lam, sungguh memalukan dirimu sebagai seorang ketua perkumpulan yang berambisi menguasahi jagad, tak tahunya cuma manusia berlidah biawak. mulutnya tak bisa dipercaya"
Dia tak lain adalah Buyung Thay, nyonya cantik berbaju merah itu. Yu Pia lam menjerit kaget, kembali dia mundur tiga langkah ke belakang, serunya terbata-bata.
"Kau.. kau.."
"Benar, memang aku Kenapa?"
Sahutnya dengan ketus.
"Kau.. kau... apa maksudmu berbuat begitu?"
"Tidak bermaksud lain, aku cuma berharap agar engkau tidak menjilat kembali perkataan yang telah diucapkan, bukankah engkau telah berkata bila ia sanggup menerima sebuah pukulan Huan goan sin khimu itu, maka perselisihan diantara kalian akan dibereskan pada lain kesempatan??"
"Tapi apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu?"
"Aku merasa malu untuk perbuatanmu, tingkah lakumu itu terlalu rendah dan memalukan, tidakkah kau lihat bahwa ia sudah menderita luka diatas bahu lebih dahulu sebelum pertarungan tadi dimulai? Tapi kau pun telah memanfaatkan kelemahan orang untuk keuntungan diri sendiri"
"Heehhh heeehh heeehhh perempuan lonte."
"Tutup mulut anjingmu Yu Pia lam kau tak usah melukai hati orang dengan kata-kata busuk seperti itu"
"Jadi engkau juga yang telah membantu bocah busuk itu ketika berada dalam perjalanan menuju ke Thian lam..?"
"Memang kenapa??"
"Aku hendak membunuh engkau dari muka bumi"
Mendengar ancaman tersebut, Buyung Thay menengadah dan tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeehhh... heehhh... heeehh Yu Pia lam mampukah engkau membunuh aku?"
Yu Pia lam terbungkam, benar...
Dengan luka dalam yang dideritanya sekarang ditambah pula dua orang utusan khususnya juga terluka parah, meski ada dua puluh orang jago lainnya tapi kalau suruh mereka melawan jago macam Buyung Thay, itu berarti hanya menghantar kematian mereka dengan sia-sia belaka.
Maka setelah berpikir sebentar ia menjawab lagi.
"Sekalipun tidak sekarang, suatu saat aku pasti akan membinasakan dirimu"
"Yu Pia lam, aku akan menantikan hari seperti yang kau maksudkan itu, sekarang engkau boleh pergi dari sini"
Ujar nyonya cantik itu sambil tertawa tawa.
Han Siong Kie dapat memgikuti pembicaraan tersebut dengan sangat jelas, dari keadaan tersebut dia lantas mengambil kesimpulan bahwa kedua belah pihak tampaknya tidak terlalu asing, tapi apa hubungan mereka?
Dan sebenarnya perempuan macam apakah Buyung Thay itu?
setelah lama sekali tertegun, Yu Pia lam lalu bertanya lagi.
"Jadi engkau telah jatuh cinta kepada bocah busuk ini?"
"Kau tak usah menanyakan tentang persoalan ini, sebab urusan ini bukan urusan yang menyangkut dirimu"
"Hmm engkau benar-benar seorang perempuan yang tak tahu malu"
Maki Yu Pia lam sambil meludah ketanah. Paras muka Buyung Thay si nyonya cantik baju merah liu berubah hebat, hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia lantas menghardik.
"Yu Pia lam tentunya engkau tidak mengharapkan sekarang juga kucabut nyawa anjingmu bukan?"
Yu Pia lam cukup licik, setelah mempertimbangkan untung ruginya dengan gemas ia mendengus.
"Buyung Thay"
Teriaknya "semoga saat perjumpaan diantara kita berdua tidaklah terlalu lama."
Buyung Thay balas mendengus.
"Yu Pia lam aku anjurkan kepadamu lebih baik cepatlah tinggalkan tempat ini"
Ketua perkumpulan Thian che kau yang lihay ini tak berani membuang waktu lagi, ia putar badan memberi tanda kepada anak buahnya dan segera berlalu dari sana.
Sementara itu Han Siong Kle sudah tak kuat menahan diri lagi, keangkuhannya membuat ia tetap mempertahankan diri tanpa bergerak.
Menanti Yu Pia lam dan rombongan sudah lenyap dari pandangan, ia baru muntah darah segar dan tubuhnya ikut terjungkal ke atas tanah.
Buyung Thay sangat kaget, cepat ia menyambar tubuh Han Siong Kle yang sedang roboh itu.
"Adikku sayang kenapa kau?"
Tegurnya dengan cemas.
Han Siong Kie membelalakkan matanya tapi sebentar kemudian dipejamkan kembali.
Betapa gelisahnya Buyung Thay menyaksikan keadaan tersebut, cepat ia mengambil keluar tiga biji pil dari sakunya dan dijejalkan kemulut Han Siong Kie, kemudian sambil membopong pemuda itu segera berlarian keluar dari tanah perbukitan itu.
Setelah keluar dari tanah perbukitan Tay keng san, mereka menumpang dirumah seorang petani, dengan alasan suami istri yang bertemu penyamun untuk sementara mereka berdiam disana.
Buyung Thay meminta kepada tuan rumah untuk menyediakan air panas bagi mereka, mula-mula ia bersihkan dulu badan Han Siong Kle yang bermandikan darah itu, kemudian baru membubuhi obat luka diatas badannya, perhatian seperti itu persis seperti perhatian seorang kakak terhadap adiknya, mirip pula seorang istri yang memperhatikan suaminya.
setelah luka luar diobati, barulah dia periksa luka yang didalam.
Untunglah luka yang diderita pemuda itu tidak separah seperti apa yang disangkanya, setengah jam kemudian Han Siong Kie telah sadar kembali dari pingsannya.
Ketika ia menemukan bahwa dirinya sedang berbaring dalam pelukan Buyung Thay, merah padam selembar pipinya, dengan jantung berdebar keras dan suara yang lemah dia berbisik.
"Cici.... kita berada dimana sekarang?"
"Rumah seorang petani"
"Sudah berapa lama kita tiba disini?"
"setengah hari lamanya"
"Aku harus mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan cici"
"Aaah, adikku Kalau engkau berkata begitu sama artinya memandang asing akan diriku"
Tukas Buyung Thay sambil menutup bibirnya dengan jari tangan.
Dalam suatu kamar yang redup didampingi perempuan yang cantik jelita, tak tahan lagi Han Siong Kle merasakan jantungnya berdebar keras, tanpa terasa ia jadi teringat kembali akan adegan yang pernah terjadi dalam lembah hitam, betapa mesranya hubungan intim yang mereka lakukan saat itu.
Berpikir sampai disitu, merah jengah pipinya, hampir saja ia tak berani bertatapan muka dengan perempuan itu.
Ia khawatir kejadian tersebut terulang lagi.
Rasa sakit yang secara lapat-lapat dari mulut luka dibahunya membuat pemuda itu sadar kembali dari lamunannya, ia lantas teringat untuk segera menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.
Maka ia meronta bangun dari pelukan Buyung Thay dan berusaha untuk duduk bersila.
"Titi apa yang hendak kau lakukan?"
Nyonya cantik baju merah segera menegur.
"Cici aku ingin menyembuhkan lukaku, bantulah aku untuk duduk bersemedi"
"Apakah engkau juga membutuhkan bantuanku untuk menyembuhkan luka itu?"
Tanya nyonya itu manja.
"Tak usah cici, aku cuma minta kau bersedia menjadi pelindung ku selama aku sedang bersemedi"
"Tapi lukamu terlampau parah"
"Aah luka sekecil ini tidak seberapa hebat, tak usah kau kuatirkan"
"Saat ini kita berada dirumah petani yang jauh dari kota, aku rasa tak mungkin akan terjadi hal-hal diluar dugaan, lebih baik biar kubantu dirimu agar lukamu cepat sembuh kembali."
"Ssttt... ada orang datang"
Tiba-tiba Han Siong Kie menukas sambil melarang perempuan itu bicara lebih jauh.
Buyung Thay cukup cekatan, cepat dia padamkan lampu lentera dimeja dan menerobos keluar lewat jendela, tapi udara amat bersih, suasana sunyi senyap.
tak sesosok bayangan manusiapun nampak.
Perempuan itu merasa tak lega hatinya, kembali dia mengontrol sekeliling ruangan itu sebelum akhirnya kembali kedalam kamar dan memasang lampu lentera.
"Cici siapa diluar?"
Han Siong Kie segera menegur dengan dahi berkerut kencang.
"Siapa pun tidak kelihatan"
"Aaah, masa iya? Kok aneh benar"
"Sebetulnya apa yang berhasil kau lihat? "
"Kusaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat diluar jendela mana"
"Jangan-jangan matamu melamur dan salah melihat??"
"Tidak mungkin"
Sahut pemuda itu menegaskan. Buyung Thay mengernyitkan alis matanya, setelah berpikir sebentar diapun lantas berkata.
"Tidak ambil perduli siapa yang berani datang, selama kau merawat lukamu maka aku akan berjaga disini, akan kulihat siapa yang berani datang mencabuti kumis macan"
Tiba-tiba Han Siong Kie berseru tertahan, sambil menuding sebuah benda putih didepan jendela dia berkata.
"cici, coba lihat Benda apakah itu??"
Dengan hati terperanjat Buyung Thay memburu kedepan dan mengambil benda tadi, kiranya secarik kertas putih dan diatas kertas itu bertuliskan bebarapa huruf sebagai berikut.
"Anjing pemburu telah mengejar sampai disini, tempat ini bukan tempat aman, cepat-cepatlah berlalu dari sini"
Dibawah surat peringatan itu tiada tanda tangan, tapi dari gaya tulisan serta bau kertas yang harum dapat dipastikan bahwa tulisan itu dibuat oleh seorang perempuan.
Tapi siapakah yang menulis surat peringatan itu?
siapa pula yang dia maksudkan anjing pemburu?
-ooo0dw0ooo-
Jilid 39 BAB 80 LAMA sekali dua orang itu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, dari gerak gerik si pemberi peringatan yang sama sekali tidak meninggalkan suara dapat diketahui bahwa ilmu silatnya cukup lihay, kalau tidak maka jejaknya tak akan lolos dari pengawasan nyonya cantik baju merah yang lihay itu?
Dan bayangan manusia yang sempat ditangkap oleh Han Siong Kie barusan sudah pasti tak lain adalah perempuan pemberi peringatan itu.
Sebagai perempuan Buyung Thay mempunyai perasaan halus sebagai seorang wanita, dengan wajah serius dia lantas bertanya.
"Tete, menurut pendapatmu siapakah yang telah meninggalkan peringatan itu?"
Han Siong Kie coba berpikir sebentar kemudian menggeleng.
"Aku tidak tahu"
"Misalnya saja diantara perempuan yang kau kenal, apakah terdapat orang yang patut dicurigai."
Tentang soal ini..rasanya hanya dua orang saja yang besar kemungkinannya, tapi.."
"Macam apakah kedua orang itu?"
"Dua orang perempuan yang amat misterius, sampai sekarangpun aku masih belum pernah menyaksikan raut wajah asli mereka"
"Apakah engkau mengetahui namanya?"
Desaknya lebih jauh.
"Siapakah nama aslinya aku tidak tahu, tapi aku mengetahui bahwa ia memakai julukan orang yang kehilangan sukma."
"Orang yang kehilangan sukma??"
"Benar kau kenal dengan orang itu??"
"Tidak, aku hanya merasa bahwa nama orang ini terlalu aneh, siapa pula orang kedua yang kau curigai??"
"Dia adalah putrinya orang yang kehilangan sukma dan bernama orang yang ada maksud"
"Orang yang ada maksud, orang yang ada maksud"
Gumam Buyung Thay tercengang.
"Nama ini lebih-lebih lagi mendatangkan perasaan aneh. Ada maksud mengartikan kalau dia ada maksud denganmu dan lagi kedua nama ini belum pernah kudengar didunia persilatan, kemungkinan besar" ..
"Kemungkinan bagaimana?"
"Mungkin nama itu memang sengaja mereka pakai khusus ketika berhadapan denganmu"
Ucapan ini segera menggetarkan hati Han Siong Kie, ia jadi teringat kembali dengan perbuatan orang yang kehilangan sukma ketika dengan pelbagai daya upaya menjodohkan dirinya dengan Go siau bi, sekarang ia jadi mengerti akan duduknya perkara.
Meski begitu pemuda ini tidak bermaksud untuk menceritakan kepada orang lain, sebab ia merasa tidak ada keperluan khusus untuk menceritakannya kepada orang.
Maka sambil tertawa tawa katanya.
"Mungkin saja apa yang kau ucapkan memang tidak salah, tapi tak ada gunanya kita membicarakan persoalan ini, lebih jauh..."
"Kalau begitu kau sudah merasa yakin kalau perbuatan ini dilakukan oleh orang yang kehilangan sukma dengan putrinya?"
Buyung Thay coba menegaskan.
"Tidak mungkin"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Sebab kedua orang itu boleh dibilang mempunyai budi kebaikan yang setinggi bukit dan sedalam lautan denganku, bisa saja ia unjukkan diri secara terang-terangan dan memberi peringatan, aku rasa tidak ada keperluannya untuk main sembunyi dan meninggalkan surat"
"Aaah, belum tentu begitu"
"Kenapa??"
"Mungkin ia merasa tak leluasa untuk munculkan diri, mungkin juga ia merasa takut akan sesuatu, mungkin juga..."
"Mungkin kenapa lagi?"
Tanya Han Siong Kie. Buyung Thay mengerling sekejap ke arah si anak muda itu dengan sinar mata yang menawan hati, sahutnya kemudian.
"Mungkin juga ia merasa tak enak hati karena melihat engkau sedang berada bersamaku"
"Tak mungkin pikiranmu ini makin lama melayang semakin jauh"
"Kalau tidak demikian, apakah kau bisa menemukan lagi orang lain yang patut dicurigai?"
"Aku tak bisa menemukanya"
Jawab Han Siong Kie sambil menggelengkan kepalanya.
"Tete, aturlah pernapasan disini dengan hati lega"
Ujar Buyung Thay dengan arti yang lebih mendalam "selama aku berada di sini, akan kulihat siapakah yang berani mengganggumu, sebaliknya bila musuh memang bermaksud untuk mencari kita, jelas sekarang kita sudah berada dibawah pengawasan mereka, sekalipun melarikan diri juga tak leluasa"
Kata-kata "melariksn diri"
Itu terasa amat menyinggung perasaan Han Siong Kie, sebagai seorang laki-laki yang berwatak keras dan tinggi hati, tentu saja ia tak sudi kabur dengan begitu saja, maka diapun lantas mengangguk.
"Baik"
Katanya.
"kita tetap bertahan disini saja."
Nyonya cantik baju merah itu bungkukkan badan dan mencium mesra dipipi Han Siong Kie, kemudian dia memadamkan lampu dan menerobos keluar lewat jendela.
Ciuman itu membuat Han Siong Kie berdebar keras, tapi ia menurutkan kembali perasaannya dan berguman diri.
"Tidak.. aku tak boleh berbuat demikian, dendam berdarah ku belum terbalas dan lagi aku sudah mengikat tali perkawinan dengan Go siau bi, cintaku dengan Tonghong Hui belum putus, aku tak boleh terpikat lagi oleh perempuan lain? "
Berpikir sampai disitu, dia lantas duduk bersila, memusatkan semua perhatiannya menjadi satu dan mulai mengatur pernapasan.
Tak lama setelah Buyung Thay keluar dari ruangan, sesosok bayangan manusia diam-diam menyelinap masuk kedalam ruang, bersembunyi di belakang tubuh Han Siong Kie, oleh karena waktu itu sianak muda tersebut telah memusatkan semua perhatiannya jadi satu, maka ia sama sekali tidak merasa akan munculnya orang itu.
Sementara nyonya cantik baju merah Buyung Thay telah menyembunyikan diri pula disuatu sudut yang gelap sekeluarnya dari ruangan..
Kurang lebih setengah perminum teh kemudian tampaklah tiga sosok bayang manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur datang dari kejauhan.
"Aaah mereka benar-benar telah datang"
Bisik Buyung Thay setelah menjumpai kemunculan orang-orang itu.
Dengan gerakan berhati-hati tiga sosok bayangan hitam itu menyusup dibalik kegelapan dan bersembunyi kurang lebih lima kaki dari ruangan rumah itu Yang munculkan diri adalah tiga orang kakek tua berbaju kuning.
setibanya disana salah seorang diantaranya lantas bertanya.
"Hiangcu, benarkah disini?"
"Benar"
Jawab yang lain "menurut penyelidikan orang yang berada dirumah ini benar-benar adalah dua orang yang sedang dicari-cari Kaucu"
Buyung Thay diam-diam mendengus, pikirnya.
"Kuanggap siapa yang datang, tak tahunya adalah kuku garuda dari perkumpulan Thian che kau"
Sementara itu orang yang pertama tadi telah bertanya lagi.
"Yakinkah engkau kalau Manusia bermuka dingin telah terluka?"
"Tentu saja, kalau tidak mengapa ia harus digendong? sudah pasti tujuannya bersembunyi disini adalah untuk menyembuhkan luka yang dideritanya."
"Manusia muka dingin sudah tak perlu kita kuatirkan lagi, jika dia benar-benar terluka, justru yang perlu dikuatirkan sekarang adalah perempuan berbaju merah itu, dia sangat lihay.."
"Bangsat, kalian harus dibikin mampus"
Maki Buyung Thay dalam hati, ia lantas merogoh segenggam jarum toan hun ciam dan siap dilepaskan kemuka. Tiba-tiba terdengar salah seorang diantaranya berkata.
"Aaaah, kenapa mesti susah-susah turun tangan sendiri? sebentar toh pelindung hukum kita yang bertanggung jawab dalam tugas ini akan tiba, asal kita awasi saja teruskan beres."
"Itu dia telah datang"
Seru yang lain.
Ditengah kegelapan tampaklah sesosok bayangan manusia tanpa menimbulkan sedikit suarapun melayang datang, cepat sekali gerakan tubuhnya dalam waktu singkat dia sudah tiba dihadapan tiga orang kakek yang datang lebih duluan itu.
Buyung Thay yang menyaksikan kedatangan orang itu, tiba-tiba jadi terkejut dan segera bergidik.
"Aneh, sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri, kenapa gembong iblis ini bisa bergabung dengan perkumpulan Thian Che kau?"
Kiranya orang yang datang belakangan ini tak lain adalah seorang kakek yang tinggi besar, bermuka bengis berikat kepala warna emas dan bermata hijau menyeramkan, dia bukan lain adalah Hun Si mo ong, gurunya sepasang malaikat hawa panas dan dingin.
Padahal kedudukan Hun si mo ong dalam dunia persilatan sangat tinggi, tapi nyatanya ia bersedia mendengarkan perintah dari Thian che kaucu, kejadian ini boleh di bilang sangat mencengangkan hati.
Menyusul dengan kemunculan Hun si mo ong, secara beruntun melayang datang pula lima sosok bayangan manusia.
Berdebar juga Buyung Thay menyaksikan munculnya begitu banyak musuh tangguh, kalau dia diharuskan bertarung melawan Hun si mo ong, maka sepuluh bagian ia yakin bisa mengimbangi, tapi kedelapan orang kakek itu pasti akan gunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk mencelakai jiwa Han Siong Kie.
Sekarang ia baru menyesal mengapa tidak menuruti peringatan dari orang yang tak dikenal itu?
Dari sekarang menyesalpun tak ada gunanya lagi.
Dalampada itu tiga orang kakek yang tiba lebih duluan tadi sudah memberi hormat kepada Hun si mo ong, kemudian berkata.
"Terimalah hormat kami untuk Hu hoat yang mulia"
"Tak usah banyak adat"
Sahut Hun si mo ong sambil mengulapkan tangannya.
"apakah laki perempuan dua orang itu berada disini?"
"Benar"
Jawab salah seorang kakek itu.
"Mereka berada dalam rumah petani di depan sana"
"Berjaga-jagalah kalian berdelapan ditiga penjuru tempat ini, pun huhoat akan masuk ke ruangan untuk menangkap mereka"
"Terima perintah"
Serentak delapan orang itu memencarkan diri dan masing-masing menempati satu posisi, Sementara itu Hun si mo ong menuju ke rumah dihadapannya dengan langkah lebar.
Sudah tentu Buyung Thay tidak mengijinkan lawannya mendekati tempat itu, serta merta ia bangkit berdiri dan menegur.
"Jago lihay dari manakah yang telah datang?"
Mendengar teguran tersebut Hun si mo ong segera berhenti, dengan tatapan matanya yang berwarna hijau ia menatap sekejap lawannya, kemudian tanpa kuasa lagi mundur selangkah ke belakang.
Mungkin selama hidupnya raja iblis yang berusia seratus tahun ini belum pernah menyaksikan perempuan secantik ini, seketika itu juga ia dibikin tertegun.
Kembali Buyung Thay bertanya.
"Boleh aku bertanya siapakah nama besar saudara??"
"Heeeh heeeh heeehh aku adalah Hun si mo ong"
Jawab kakek itu sambil tertawa seram. Mendengar jawaban itu Buyung Thay menjerit kaget dan berkata.
"Oooh, maaf, maaf, kiranya adalah locianpwe yang telah berkunjung kemari"
"Bocah keparat, kau tak usah bergurau lagi dengan diriku, hayo bicara saja terus terang"
Sekali lagi Buyung Thay berteriak kaget.
"Eeeh... Apa maksud locianpwe berkata demikian??"
Panggilan lociancwe yang berulang kali ini lama kelamaan membuat Hun si mo ong jadi rada kikuk. terutama ucapan itu diucapkan oleh seorang perempuan cantik jelita.
"Aah... kamu ini sudah tahu tapi masih bertanya, lebih baik mengaku saja terus terang"
Bentaknya.
"Tapi boanpwee sungguh tidak tahu bagaimana musti mengakunya terus terang"
"Kalau kau tak tahu urusan, kenapa kau hadang jalan pergiku sekarang?"
"Boanpwe sedang menjadi pelindung buat seorang sobatku, karenanya aku minta locianpwe suka memaklumi "
Kata Buyung Thay dengan wajah serius.
"Apakah sobatmu itu adalah Manusia muka dingin yang menjadi ketuanya perguruan Thian lam??"
"Betul, dari mana locianpwe bisa tahu? "
Buyung Thay keheranan.
"Kalau begitu tak salah lagi, aku memang datang lantaran dia, juga lantaran kau"
Jawab Hun si mo ong cepat.
"Oooh jadi locianpwe datang kemari lantaran kami berdua??"
Meskipun diluarannya Buyung Thay kelihatan tenang sekali, padahal kegelisahannya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dia jelas mengerti bahwa Han Siong Kie sedang bersemedi, maka asal Hun si mo ong atau salah seorang diantara delapan kakek tua itu berhasil masuk kedalam ruangan itu maka akibatnya akan luar biasa sekali.
Tapi urusan sudah didepan mata, sekalipun gelisah juga percuma, maka perempuan itu kembali menunjukkan sikap tidak habis mengerti, lalu bertanya.
"Boanpwe berdua merasa tak pernah melakukan sesuatu kesalahan yang melukai locianpwe, kenapa locianpwe....?"
"Aku sedang melaksanakan tugas yang diperintahkan kepadaku."
"Melaksanakan tugas? Locianpwe kau seorang jago yang tersohor, dalam dunia persilatan dianggap seorang pemuka dunia persilatan, masa benar kalau locianpwe sedang menjalankan perintah? Aku tidak percaya kalau locianpwe suka diperintah orang siapa yang memerintah dirimu?"
Hun si mo ong kelihatan merasa serba salah, ia lantas membentak keras.
"Aaah, kamu tak usah cerewet melulu, lihat seranganku ini. Akan kubekuk dulu dirimu"
Dengan cepat tangannya yang besar seperti kipas dia lantas mencengkeram tubuh Buyung Thay, bukan saja cengkeraman tersebut cepat bahkan ganas dan luar biasa, rasanya susah untuk menemukan orang yang sanggup menghindari serangannya itu.
Buyung Thay terkesiap.
ia putar badan sambil melejit ke samping, manis sekali gayanya waktu menghindar.
Terkejut juga Hun si mo ong menghadapi kelincahan musuhnya, ketika cengkeramannya mengenai sasaran yang kosong dari serangan mencengkeram dia lantas merubah menjadi serangan pukulan.
"Wess "
Dengan dahsyatnya dia menghantam perempuan itu. Untuk kedua kalinya Buyung Thay berkelit kesamping, serunya.
"Locianpwe, sudah dua kali boanpwe mengalah kepadamu"
Dua kali menemui kegagalan, hawa amarah Hun si mo ong memuncak. dengan suara yang keras ia membentak.
"Bocah keparat, tak kusangka kau punya ilmu simpanan, sambutlah lagi beberapa jurus seranganku ini"
Sambil membentak keras, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan yang kesemuanya merupakan seranganserangan mematikan yang bertenaga besar.
Buyung Thay cukup memahami kemampuan yang dimilikinya, dia tak sudi menerima ancaman itu dengan keras lawan keras, seperti bayangan sukma hanya sekali berkelejit tahu-tahu dia telah melompat keluar dari lingkaran hawa serangan, sampai saat itu Buyung Thay belum juga melepaskan serangan balasan, sebab ia berusaha mengulur waktu sepanjang-panjangnya.
Hun si mo ong tidak menyangka kalau musuhnya memiliki ilmu silat yang setinggi itu, serangan beruntunnya sebanyak tiga jurus yang dilancarkan dengan tenaga besar dan kecepatan tinggi itu bisa dihindari dengan begitu saja, bicara mengikuti peraturannya maka sekarang ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang lagi.
Muridnya si malaikat hawa dingin Mo siu ing memperlakukan peraturan yang mana tak akan membunuh korbannya jika mampu menghindari tiga jurus serangannya, dan sekarang perempuan baju merah itu sudah lolos dari tiga jurus serangannya, menurut aturan dia harus segera angkat kaki, tapi kali ini ia tak dapat berbuat begini sebab ia datang untuk melaksanakan perintah dari Thian che kaucu.
Maka dalam malu dan gusarnya, ia menerjang maju lebih ke depan, sepasang telapak tangannya direntangkan dan langsung menyerang sekujur badan Buyung Thay.
Menghadapi serangan yang begitu ganasnya, terpaksa nyonya cantik berbaju merah itu harus menggigit bibir melakukan perlawanan, telapak tangan kirinya di ayunkan ke udara, sementara telapak tangan kanannya melepaskan serangan kilat.
Dengan adanya gerakan itu, Hun si mo ong yang sedang melancarkan serangan segera merasakan munculnya suatu tenaga hisapan yang membawa daya pukulannya menghantam kesamping baru ia merasa kaget.
segulung tenaga pukulan yang kencang menyergap tiba dari depan, terpaksa ia tarik kembali serangannya dan melompat ke samping.
Kejadian seperti ini baru dialaminya untuk pertama kali, sebab selama bertempur melawan orang belum pernah ia didesak sampai menghindarkan diri kesamping.
Pada saat tubuhnya menyingkir ke samping itulah, mendadak sepasang telapak tangannya dilontarkan kembali dengan melancarkan serangan ke depan dan melancarkan bacokan gencar.
Waktu itu Buyung Thay belum sempat menarik kembali serangannya, ketika pukulan musuh yang gencar telah menyerang datang terpaksa ia memutar tangannya didepan dada dengan maksud memunahkan kekuatan lawan, apa mau dikata tenaga dalam musuh setingkat lebih sempurna.
"Blang"
Ditengah benturan keras dia sendiri yang malahan tergetar sampai mundur ke belakang beberapa langkah.
Hun si mo ong lebih terkejut lagi setelah menyaksikan pihak musuh hanya terdorong mundur beberapa langkah saja setelah menyambut serangannya itu dengan keras lawas keras, bahkan sama sekali tidak menderita luka, pikirnya.
"Kalau tidak mampu membereskan bocah keparat perempuan ini, nama besarku pasti akan tamat riwayatnya?"
Berpikir sampai disitu, hawa napsu membunuh lantas menyelimuti wajahnya, ia melompat ke depan dan secara beruntun melancarkan delapan buah serangan berantai.
Delapan buah serangan berantai itu dilancarkan dengan tujuan untuk membereskan nyawa lawan.
kedahsyatannya melebihi ombak samudra yang ketimpa angin puyuh, bahkan delapan buah serangan datangnya dari delapan arah, kecepatan serta kehebatannya mengerikan.
Paras muka Buyung Thay berubah hebat, ia mengerti tak bisa menghindarkan diri lagi dari ancaman lawan, maka hatinya jadi nekad, dia putar telapak tangannya dan menyambut serangan tersebut dengan kekerasan-"Blaang"
Diiringi jerit kesakitan yang memekikkan telinga Buyung Thay mencelat sejauh satu kaki lebih dan muntah darah segar.
Tapi sewaktu tubuhnya hampir terbanting ke tanah tibatiba ia berjumpalitan beberapa kali diudara, ketika jatuh ketanah ia masih tetap dalam posisi berdiri.
Hun si mo ong tertegun, tapi sejenak saja ia sudah melayang kembali delapan depa ke depan dan siap melancarkan lagi serangan.
Buyung Thay mendengus dingin, tangan kanannya segera diayun kemuka, segumpal jarum lembut seperti bulu kerbau bagaikan hujan gerimis segera berhamburan keatas udara, serangan itu sama sekali tidak menimbulkan suara kendatipun musuhnya seorang musuh tangguh namun dalam kegelapan untuk memukul rontok ancaman itu bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang.
Tapi Hun si mo ong memang seorang jago silat yang lihay, dalam dunia persilatan ia menempati posisi ketiga, kendatipun ditengah kegelapan namun matanya yang tajam dapat menyaksikan segala sesuatunya seperti dalam keadaan tengah hari saja, telapak tangannya segera diputar sedemikian rupa membuat hujan jarum itu seketika tersapu rontok semua.
Buyung Thay tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik itu, sementara lawannya sedang kerepotan untuk memukul rontok ancawan tersebut, ia telah maju dan menyerang lagi dengan tangan kirinya.
Tiba-tiba Hun si mo ong menarik diri dan melayang mundur sejauh satu kaki lebih, teriaknya keras-keras.
"Eeeh, tunggu sebentar"
Wajah Buyung Thay tampak menyeringai seram, biji matanya memancarkan sinar penuh hawa pembunuhan, ujarnya dengan dingini "Ada apa ? sedap bukan rasanya jarum toh hun ciam itu??"
Hun si mo ong tak menggubris ejekan musuhnya, dia malahan berbalik bertanya.
"Apa hubunganmu dengan Toh hun sian li (dewi cantik pembetot sukma)?"
Sekarang giliran Buyung Thay yang tertegun, sesudah sangsi sebentar jawabnya.
"Dia adalah mendiang guruku"
"Dia adalah mendiang gurumu?"
Teriak Hun si mo ong setengah menjerit, tubuhnya yang tinggi besar kelihatan gemetar keras "jadi-jadi dia sudah mati"
"Benar, ada apa?"
Hun si mo ong menggerakkan tubuhnya dan maju lima depa ke depan. Buyung Thay kuatir dia melancarkan serangan lagi, maka sambil mengayunkan telapak tangannya dia siap melancarkan pula serangan jarum.
"Eeeh Tahan Tahan"
Cepat Hun si mo ong berteriak "aku bukan hendak menyerang, aku hanya ingin menanyakan kepadamu, benarkah engkau adalah ahli waris dari Tok hun sian ci?"
"Kalau benar lantas mau apa?"
"sudah berapa tahun dia menghembuskan napasnya yang penghabisan?"
"Dua puluh tahun"
"Aaah sudah dua puluh tahun?"
Hun si mo ong berpekik sedih, ia lantas menengadah dan memandang angkasa dengan wajah termangu-mangu, agaknya ia sedang mengenang kembali kejadian masa lalu.
Buyung Thay jadi serba salah dibuatnya, ia tak tahu apa hubungan antara Hun si mo ong dengan Toh hun sian ci sebab semasa hidupnya Toh hun sian ci yaitu gurunya tak pernah menyinggung tentang persoalan itu.
Hun si mo ong jadi kaku seperti sebuah patung arca, sedikitpun tidak bergerak.
Andaikata Buyung Thay kejam dan mau turun tangan pada waktu itu, niscaya Hun si mo ong akan tewas secara mengenaskan, tapi ia tidak berpikir sampai kesana sebab ia sedang memikirkan apa hubungannya Hun si mo ong dengan gurunya, sebab dari sikap dan tingkah laku Hun si mo ong sekarang dapat ia tarik kesimpulan bahwa hubungan mereka bukan dalam soal dendam melainkan berhubungan dengan soal cinta.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya.
"Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk membinasakan dirinya? Asal dia mati bukankah adik Han juga akan terhindar dari malapetaka??"
Sebelum ia laksanakan niat itu, Hun si mo ong telah bergumam lagi.
"Aaah... dia sudah mati, sungguh tidak kusangka dia sudah mati.."
Sinar matanya yang hijau tajam segera dialihkan kembali keatas wajah Buyung Thay, tanyanya lagi dengan gemetar.
"Jenazahnya dikebumikan dimana?"
Terbentur dengan sorot matanya yang menggidikkan hati, Buyung Thay tercekat rasanya, bukan menjawab ia malahan balik bertanya.
"Locianpwe, sebelum kujawab pertanyaanmu itu, lebih dulu ingin kutanyakan apa hubunganmu dengan mendiang guruku?"
"Aaai. orangnya saja sudah mati, segala sesuatunya telah berlalu, apa gunanya kau tanyakan lagi??"
"Kalau memang begitu, maafkanlah boanpwe kalau tidak dapat menerangkan kepadamu"
"Tidak Bagaimanapun juga kau... kau harus memberitahukan persoalan itu kepadaku"
"Kalau memang demikian, lebih baik Locianpwe terangkan dulu apa hubunganmu dengan mendiang guruku."
Sinar mata Hun si mo ong jadi redup, akhirnya dia mengalah.
"Baiklah akan kuterangkan kepadamu..."
Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam ruangan berkumandang suara jerit kesakitan yang menyayat hati. Berdiri semua bulu kuduk Buyung Thay, ia merasa jantungnya hampir copot segera jeritnya.
"Aduh celaka..."
Ia menjejakkan kakinya ke tanah dan segera menerjang masuk ke dalam ruangan.
-ooo0dw0ooo-BAB 81 BARU saja Buyung Thay menggerakkan tubuhnya, kembali Hun si mo ong telah menghadang jalan perginya seraya berseru.
"Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan antara kita berdua, kenapa kau mesti ikut campur dengan urusan yang terjadi di dalam ruangan??"
"Tidak Aku harus masuk ke dalam"
"Engkau akan selamatkan jiwanya?"
"Hmmm"
Buyung Thay mendengus dingin "jika manusia muka dingin sampai tertimpa malapetaka, perkumpulan Thian che kau akan membayar hutang darah ini sepuluh kali lipat lebih besar"
Ucapan tersebut penuh dengan hawa napsu membunuh, membuat siapapun yang mendengar merasakan jantungnya berdetak keras.
Dalam dugaannya pasti ada orang berhasil menyergap masuk ke dalam ruangan itu, padahal ketika itu Han Siong Kie sedang bersemedi untuk menyembuhkan lukanya, dalam keadaan demikian jangankan seorang tokoh silat yang berilmu sangat tinggi, kendatipun seorang jago silat biasa sudah cukup untuk mencabut selembar jiwanya.
Maka dengan perasaan hati yang amat gelisah, dia menjejakkan kakinya dan kembali akan melayang masuk ke dalam ruangan rumah itu..
Hun si mo ong memang bermaksud menghalangi jalan pergi nyonya cantik itu, sepasang telapak tangannya kembali direntangkan untuk menghalangi jalan pergi Buyung Thay, serunya.
"Orang-orang perkumpulan Thian che kau telah bersumpah tak akan melepaskan dirinya, dengan mengandalkan kekuatanmu seorang tak nanti usaha mereka bisa kau halangi??"
Buyung Thay benar-benar marah sekali, telapak tangannya dilontarkan kemuka dan secara beruntun melancarkan dua buah pukulan dahsyat, dalam melancarkan serangannya ia telah sertakan tenaga dalam yang dimilikinya, hebat sekali jadinya memaksa Hun si mo ong seketika itu juga terdesak mundur.
Menggunakan kesempatan itu Buyung Thay menyelinap kedepan jendela dan melongok kedalam tapi apa yang terlihat olehnya membuat perempuan itu tertegun.
Han Siong Kie yang dikuatirkan tewas atau terluka, masih duduk di atas pembaringan dalam keadaan segar bugar, kabut putih tengah menyelimuti ubun-ubunnya, ini menandakan kalau semedinya tengah mencapai puncak yang paling tinggi, sementara di samping pintu terkapar sesosok mayat dan orang itu tak lain adalah salah seorang diantara delapan kakek tua yang datang bersama Hun si mo ong itu.
Siapakah yang membinasakan orang itu ?
Mungkinkah Han Siong Kie?
Mustahil kalau dia bisa melancarkan serangan, tapi kalau bukan dia, hasil karya siapakah itu?
sementara nyonya cantik baju merah itu masih termenung, kembali ada tiga orang kakek tua menyerbu masuk ke dalam ruangan.
Buyung Thay tidak berisik, pun tidak mendatangkan suara apapun, begitu melihat ada musuh menyerbu masuk keruangan, segenggam jarum Toh hun ciam yang telah disiapkan ditangannya segera diayun kedepan.
sebagaimana diketahui jarum Toh hun ciam lembutnya seperti bulu kerbau, lagi pula mengandung racun yang jahat sekali, di tambah pula sekali melepaskan serangan puluhan batang telah dilancarkan tanpa menimbulkan suara, sebelum tiga orang kakek itu menyadari apa yang telah terjadi, jarum beracun itu sudah menyambar tiba.
Tiga kali jeritan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, dalam ruangan itu kembali telah bertambah dengan tiga sosok mayat.
Sementara itu Hun si mo ong telah tiba dibelakang Buyung Thay, ketika menyaksikan kejadian itu ia jadi amat marah, segera bentaknya.
"Enyah kau dari sini"
Sambil membentak jari tangannya langsung mencengkeram tubuh perempuan itu dan melemparkannya satu kaki dari tempat semula.
Begitu berhasil menyisihkan musuhnya Hun si mo ong segera mengayunkan telapak tangannya dari depan jendela, langsung menghantam tubuh Han Siong Kie yang sedang mengatur pernapasan.
Bila serangan itu sampai terkena sasaran, niscaya Han Siong Kie akan mampus dalam keadaan mengenaskan.
Tapi di saat yang amat kritis itulah tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyambar datang menyusul kemudian "Duuk."
Serangannya terbentur oleh kekuatan lain yang mengakibatkan Hun si mo ong tergetar mundur satu langkah lebar.
Sekarang terbuktilah sudah bahwa dalam ruangan itu telah bersembunyi seorang tokoh silat yang berilmu sangat tinggi.
Sebelum gembong iblis tua itu sempat melakukan sesuatu tindakan lagi, Buyung Thay telah melayang kembali ke hadapannya, malahan kali ini dia berdiri dengan punggungnya menyumbat dimulut jendela.
"Minggir kau"
"Tidak Aku tidak akan menyingkir, kau mau apa?"
"Aku tak ingin melukai dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Tidak Aku tak mau menyingkir"
Buyung Thay masih tetap ngotot.
Hun si mo ong marah, sepasang telapak tangannya kembali siap diayunkan kemuka.
Berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki Hun si mo ong, untuk menghancurkan bangunan rumah yang terbuat dari batu bata ini bukanlah suatu pekerjaan yang susah, dan asal rumah itu roboh niscaya Han Siong Kie akan mati secara mengerikan-Tentu saja Buyung Thay jadi gelisah, dengan cepat jarum Toh hun ciam dilontarkan kemuka.
Hun si mo ong menyingkir ke samping, kemudian setelah berputar diudara ia menerjang kembali kesamping Buyung Thay dan langsung mencengkeram nyonya cantik itu, serangan tajam dan mengerikan, bila terkena niscaya perempuan itu akan cidera.
Buyung Thay terdesak hebat, terpaksa dia harus meninggalkan mulut jendela yang dilindunginya itu untuk bergeser lima depa ke samping..
Memang itulah maksud tujuan Hun si moong, begitu perempuan baju merah kena dipaksa untuk menyingkir, sepasang telapak tangannya diayun kembali kedepan untuk menghajar roboh dinding rumah.
"Kau berani??"
Bentak Buyung Thay gusar.
Dengan menghimpun tenaga dalam yang dimilikinya, ia menerjang kemuka, dalam serangannya ini dia telah mempertaruhkan pula selembar nyawa sendiri.
Menghadapi ancaman nekat ini Hun si mo ong dipaksa mau tak mau harus menarik kembali serangannya..
"Blanng"
Suatu benturan keras terjadi, dalam bentrokan tersebut masing-masing terdesak mundur satu langkah lebar.
"Budak ingusan"
Gembor Hun si mo ong dengan suaranya seperti geledek.
"oleh sebab kau adalah murid Toh hun sian ci, maka aku tak ingin terlibat pertarungan denganmu, lebih baik cepatlah enyah dari sini"
"Tidak"
Kembali Buyung Thay membentak keras.
"Hun si moong, kau tak boleh melukai dia"
"Aku harus membunuh bocah itu, karena aku sedang menjalankan tugas serta kewajiban"
"Kalau begitu, musnahkan dulu aku kemudian baru kau lakukan apa yang ingin kau lakukan" ..
"Baik Kalau engkau berkeras kepala terus dan tak mau mendengarkan nasehatku, terpaksa akupun tak akan memikirkan soal-soal yang lain lagi, terpaksa engkau harus kusingkirkan dulu dari sini"
Sambil berkata, sekaligus dia melancarkan delapan belas buah pukulan berantai kedepan, semua pukulan itu dahsyat dan disertai tenaga yang amat sempurna.
seketika itu juga Buyung Thay terdesak hebat kembali dia dipaksa untuk mundur sejauh satu kaki dari posisinya semula.
Setelah berhasil menyingkirkan lawan, Hun si-mo ong memutar badan dan berusaha untuk merobohkan kembali dinding bangunan itu.
Sekarang Buyung Thay terjebak sehingga mati langkah, untuk menghalangi niat musuhnya jelas sudah tak sempat lagi, dengan nekat ia lantas membentak keras.
"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu"
Sepasang tangannya diayunkan berulang kali, jarum Toh hun ciam segera menciptakan selapis cahaya jarum yang menyelimuti daerah seluruh lima kaki lebih.
Tak terkirakan marahnya Hun si Mo ong menghadapi serangan maut yang dihadapinya, timbul kembali sifat buasnya yang selama ini terpendam dalam dasar hati, diputarkan sepasang tangan itu sekencang gasingan, dan disapunya kabut jarum yang mengurung sekeliling lingkaran tubuhnya, kemudian melejit ke udara, seperti burung elang yang siap menyambar anak kelinci diterkamnya Buyung Thay dengan ganas, telapak tangan kirinya langsung dibacok kebawah.
Cukup lama Buyung Thay mengenal keganasan manusia yang bernama Hun si Mo ong, diapun cukup tahu akan kehebatan angin pukulannya, dalam keadaan begini ia tak mau menangkis serangan musuh secara bodoh, maka dengan kelincahan tubuhnya dia melayang lima depa jauhnya dari posisi semula, dari situ telapak tangannya baru diputar keatas untuk menangkis....
Hun si Mo ong menjengek sinis, tubuhnya berpusing kencing ditengah udara, lalu pada saat yang paling tepat telapak tangan kanannya ikut membacok kebawah, Suatu rangkaian serangan gabungan yang rapat dan tepat, seakanakan jaring langit yang dipasang untuk menjebak seluruh bumi.
Betul juga, setelah diserang oleh pukulan kiri kanan secara bersamaan waktunya, Buyung Thay jadi panik dan kebingungan, dia mau melejit kesamping untuk menghindarkan diri tak bisa, mau mundur juga tak sempat, akhirnya disambutnya juga serangan itu dengan kekerasan.
"Duuk...."
Suatu benturan nyaring tak dapat dihindari, perempuan itu mendengus tertahan, tubuhnya mundur dengan sempoyongan, gumpalan darah meleleh keluar dan membasahi ujung bibir serta pakaiannya.
Hun si Mo ong tertawa makin seram, tentu saja dia tak mau melepaskan kesempatan baik itu dengan begitu saja, sesampainya diatas permukaan tanah ia menerobos maju kedepan lalu disodoknya kembali, tinju yang keras bagaikan besi itu keperut lawan.
"Duuk..."
Sekali lagi tinju maut itu bersarang di perut perempuan genit itu.
Percikan noda darah telah membasahi seluruh wajah Buyung Thay, ia sudah mundur beberapa langkah dengan badan sempoyongan, tapi pancaran sinar matanya masih tajam, sinar mata itu penuh diliputi rasa benci, dendam serta napsu membunuh yang tebal, begitu tebal dan mengerikannya membuat gembong iblis yang disegani orang banyak itupun jadi bergidik dan mengkirik hatinya.
Akhirnya gembong iblis yang disegani banyak orang itu menghela napas panjang, katanya.
"Aaai... sudahlah, jangan mendongkol secara berlebihan, katakan Mengapa kau bela mati matian bocah itu? Dia toh bukan sanakmu, bukan keluarga mu juga... juga bukan suamimu"
"Aku cinta padanya Kau mengerti...? Aku cinta padanya Kau paham tentang cinta?"
Teriak Buyung Thay sambil menggertak gigi.
Hun si mo-ong seperti terkena aliran listrik, sekujur tubuhnya bergetar keras setelah tertegun sejenak seperti orang bego, akhirnya ia mengangguk seraya bergumam.
"Yaa.. yaa.. aku tahu... aku tahu.... cinta... cinta ...."
Aneh sekali tingkah laku kakek itu, lagaknya betul-betul seratus persen bego, malahan lebih mirip seperti orang sinting yang lagi ngoceh....
Ini menyebabkan Buyung Thay malah tertegun dan dibuat keheranan oleh musuhnya..
"Aaah .... masa iblis tua yang umurnya sudah mendekati seratus tahun dan siap masuk liang kubur ini juga. mengerti tentang cinta?"
Demikian ia berpikir.
"atau mungkin, dimasa lalu dia pernah mengalami pula suatu masa percintaan yang menyedihkan...?"
Tiba tiba ia teringat akan gurunya yang telah tiada..
"Toh hun sian ci (Dewi genit pencabut nyawa) Yaa, benar, pastilah urusan ini ada hubungannya dengan gurunya.
Timbul suatu keinginan aneh dalam hati kecilnya, tiba-tiba saja ia berniat untuk membongkar rahasia gurunya itu ....
"Baiklah "
Tiba tiba Hun si mo ong berseru sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah.
"demi kau, kulepaskan bocah muda itu Tapi .... hanya sekali ini saja, hanya satu kali ini saja"
"Memangnya aku butuh dua kali?"
Sumpah Buyung Thay dihati.
"Cukup satu kali ini saja, memang hanya kubutuhkan sekali ini, masakah dia bakal terluka dua kali?
Kunyuk Monyet tua.
Kalau dia tidak terluka parah dan harus mengatur pernafasan untuk menyembuhkan lukanya itu, kau Hun si mo ong tak bakal menangkan dia, ilmu silatmu tak nanti tandingannya ......"
Karena gembira dan lega, perempuan itu malah lupa dengan luka dalam yang dideritanya, saat ini dia lebih memperhatikan keselamatan sianak muda itu daripada dirinya sendiri, maka segera tanyanya.
"Berlakukah perkataanmu itu ? Kau tak akan mungkir lagi?"
"Kau anggap aku suka main-main? Kau anggap perkataanku tidak berbobot...? Huuh, untung kupandang wajahmu, kalau tidak...Kreeek sekali bacok habis sudah nyawa bocah muda itu"
"Baik Aku percaya dengan perkataanmu itu, tapi untuk membuktikan bahwa kau tidak bermain-main, perintahkan kepada sisa empat begundal Thian che kau yang masih ada dalam ruangan itu agar segera mengundurkan diri dari situ"
"Aku pikir tak usah itu tak penting..."
"Kenapa?"
Teriak Buyung They agak marah.
"Masa kau tak tahu ? Dalam ruangan itu kan sudah siap sedia seorang jago lihay yang setiap saat melindungi keselamatan bocah itu ? Dengan kepandaian yang begitu tinggi, aku pikir empat orang anak buahku tak mungkin bisa menandinginya dengan seimbang"
Buyung Thay berpikir sebentar, betul juga. Apa yang dikatakan itu memang benar, tapi.. siapakah jago lihay yang bersembunyi didalam ruangan itu? Akhirnya diapun mengangguk tanda setuju.
"Yaa, seandainya tiada perlindungan dari tokoh sakti yang bersembunyi dibalik kegelapan itu, pukulan maut yang dilancarkan Hun si mo ong lewat dinding ruangan tadi memang sudah cukup untuk merenggut nyawa Han Siong Kie, bocah itu pasti sudah tergeletak mampus pada saat ini."
Disekanya noda darah yang membasahi ujung bibirnya, kemudian dengan nada menyelidik dan bertanya.
"Baik, untuk menghargai kebesaran jiwamu yang telah mengampuni nyawa bocah muda itu, aku tetap menyebutmu sebagai locianpwe. Locianpwe Bolehkah aku tahu, apa alasanmu sehingga bersedia untuk melepaskan dia??"
Mimik wajah Hun si mo ong yang menyeramkan itu berkejang-kejang sebentar seperti orang menahan kesakitan, lalu katanya dengan sedih.
"Selama hidupnya aku telah berbuat salah kepadanya, maka setelah dia mati, aku tak ingin melakukan segala perbuatan yang dapat menambah ketidak tenangan arwahnya dialam baka"
"Dia....? siapa yang kau maksudkan sebagai "dia"??"
Seru perempuan itu keheranan.
"siapa lagi? Yaa .... tentu saja gurumu, Toh hun sian ci si perempuan genit pencabut nyawa"
"Oooh ....jadi kalau begitu antara locianpwe dengan mendiang guruku ada ...."
"Orangnya saja sudah mati, buat apa dibicarakan lagi?"
Tukas Hun si mo ong cepat, matanya berkaca kaca, hampir saja air matanya meleleh keluar.
"semua kenangan, semua keindahan sudah ikut lenyap bersama berlalunya waktu ......."
"Tapi kenangan toh selalu terasa baru? Kenangan manis tak akan ikut terlarut bersama berlalunya sang waktu? Bukan begitu locianpwe ...?"
Kata perempuan itu tertawa. Hun si mo ong mengeluh, mengeluh penuh kepedihan yang tak terkirakan, ditatapnya wajah Buyung Thay dengan sinar mata yang redup lalu bisiknya lirih.
"Bocah manis, apakah kau hendak memaksa aku untuk menggali kembali kenangan lama yang lama kupendam didasar hati? Apakah kau memaksa aku untuk mengenang kembali semua kejadian sedih, semua kejadian menyayat hati yang telah kualami dimasa lampau?"
Nadanya setengah memohon belas kasihan, sama sekali tak tercermin lagi kewibawaannya sebagai seorang gembong iblis yang disegani orang.
Buyung Thay tertunduk, ikut pedih hatinya melihat kemurungan kakek tua itu, ia merasa Hun-si mo ong tidak menakutkan lagi, hakekatnya dia tak lebih hanya seorang kakek yang patut dikasihani ....
"Kalau toh locianpwee keberatan, tentu saja boanpwee tak akan memaksa"
Sahutnya kemudian dengan suara yang lirih hampir tak kedengaran.
Hun si mo ong yang perkasa dan disegani banyak jago, kini berubah jadi seorang kakek lemah yang tak berdaya dan patut dikasihani, dia tertunduk sedih dan berkata lembut.
"Ya .... kejadian ini sudah berlangsung enam puluh tahun berselang, ketika itu aku sedang mengejar gurumu Toh hun sian ci, aku mengejarnya dan berusaha mendapatkan cintanya, untuk itu aku telah mendatangi puncak Jit koan hong dibukit Thay san dan melakukan pengacauan atas di selenggarakannya pertemuan besar Kun cng hwe, dalam dua gebrakan kuhajar mampus jago paling lihay dikolong langit, lalu dalam beberapa ratus jurus kubantai seratus orang jago lebih, akhirnya gurumu bersedia untuk kawin dengan aku, tapi kemudian-.. tapi kemudian-..."
"Bagaimana selanjutnya?"
Tanya Buyung Thay dengan perasaan ingin tahu.
"Akhirnya aku telah kehilangan dia lagi"
"Kenapa?"
Hun si mo ong tarik napas panjang panjang, agaknya ia sedang berusaha untuk mengendalikan pergolakan hatinya yang kencang, lalu baru katanya lebih jauh.
"Aku telah mencintai perempuan lain, aku terpikat, tergila gila oleh kecantikan dan kepandaian merayu perempuan itu... tapi, ketika akhirnya kuketahui tipu muslihat dibalik rayuan maut perempuan rendah itu .... ketika kusadari bahwa tujuan perempuan itu memikat aku tak lain adalah untuk menyadap ilmu silat yang kumiliki kubunuh perempuan itu dengan penuh kebencian, lalu kularl kembali kepangkuannya, tapi... sayang... sayang aku terlambat, gurumu telah bersumpah tak akan menemuiku seumur hidupnya lagi."
Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu sambungnya lagi lebih jauh.
"Aku benar-benar menyesal, menyesal sekali atas perbuatan yang telah ku lakukan tapi .... nasi telah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya, maka aku berkelana kembali dalam dunia persilatan, aku berharap suatu ketika gurumu akan berbalik hati dan mencintai aku lagi, setahun-.. dua tahun sepuluh tahun bahkan sampai sekarang... sampai dia mati .... ooh, sampai dia mengakhiri hidupnya aku gagal untuk mendapatkannya kembali, tahukah kau? Aku sangat mendambakan kasihnya. Aku sangat berharap dapat mengucapkan permintaan maafku kepadanya, tapi kesemuanya itu kini tak mungkin terjadi lagi... Aku tahu, didunia ini dia hanya mencintai aku seorang, diapun mengusir masa hidupnya dengan penuh kesepian dan kesengsaraan, tak terkirakan rasa sesal yang bertumpuk dalam hatiku, dan aku ingin mengutarakan kesemuanya itu kepadanya, tapi dia .... dia telah mati ...."
Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi paras muka Hun si mo ong yang mulai keriput.
Buyung Thay benar-benar merasa terharu sekali, ia tak pernah menyangka kalau gembong iblis yang disegani banyak jago dalam dunia persilatan ini sebetulnya adalah seorang yang romantis, dia pun tak menyangka kalau itulah alasannya mengapa ia bersedia memberi muka kepadanya, walau hanya untuk kali ini.
"Locianpwe"
Katanya kemudian dengan sikap amat menghormat.
"bila arwah guruku dapat mengetahui isi hati cianpwe ini, aku yakin arwah suhu pasti akan tersenyum dan terhibur"
Hun si mo ong termenung untuk beberapa saat lamanya, ia seperti lagi memikirkan sesuatu, kemudian tanyanya.
"Siapa namamu??"
"Boanpwe bernama Buyung Thay"
"Ehmm... Buyung Thay ...jenasah gurumu dikebumikan dimana??"
"Pek im wu dibukit Thiam cong san"
"Pek im wu dibukit Thiam cong san maksudmu"
Gembong iblis itu menegaskan lagi.
"Benar"
Sesaat suasana jadi hening, lalu setelah berpikir sebentar Hun si mo ong berkata lagi.
"Tentunya kau tak akan keberatan bukan bila jenasahku besok juga dikubur disisinya?"
Buyung Thay mengangguk. meski tiada kata kata yang diucapkan lagi.
"Aaai... kalau memang begitu, Aku akan mohon diri lebih dulu, semoga kita dapat bertemu lagi tak lama kemudian "
Kata kakek itu lirihi Baru beberapa langkah gembong iblis itu berlalu, ketika Buyung Thay tiba-tiba berteriak.
"Locianpwe, tunggu sebentar Boanpwe masih ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu" (Cerita mengenai hubungan cinta antara Hunsi mo ong dan Toh hun sian ci tidak dikisahkan dalam buku ini, harap pembaca maklum).
"Apa yang hendak kau tanyakan lagi?"
Tanya Hun si mo ong terheran heran-"Boanpwe ingin bertanya kepada locianpwe, karena persoalan apakah sehingga engkau munculkan diri kembali dalam dunia persilatan?"
Mimik wajah Hun si mo ong yang keriputan agak diliputi emosi, tapi hanya sebentar ia sudah dapat mengendalikan perasaannya lagi, sahutnya dengan suara dalam.
"Muridku tertangkap dan tertawan dalam Benteng maut, karena persoalan ini mau tak mau aku harus terjun kembali kedalam dunia persilatan untuk menolongnya....."
"Muridmu? siapakah dia...."
"Tentunya kau pernah mendengar manusia yang bernama Im yang-siang sat bukan?"
"Sepasang malaikat hawa dingin dan panas?"
"Betul"
Sahut gembong iblis tua itu seraya mengangguk.
"mereka adalah suami istri yang saling mencintai, tapi sejak delapan belas tahun berselang Yang sat (si malaikat hawa panas ) Ko su ki telah lenyap dengan begitu saja hingga tak berbekas, dan baru baru ini im sat ( si malaikat hawa dingin ) Mo siu ing berhasil mendapat kabar yang mengatakan bahwa suaminya disekap dalam benteng maut, dan sekarang aku telah di undang untuk membantunya ...."
"Oooh.... jadi muridmu disekap dalam benteng maut?"
Ulang Buyung Thay dengan wajah tercengang bercampur ngeri.
"Betul.. Beberapa waktu berselang telah mengajak Mo siu ing untuk bersama-sama menyerbu benteng maut...."
"Aku dengar ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut luar biasa lihaynya, bahkan tiada tandingannya lagi dikolong langit, bagaimana akhir dari penyerbuan kalian itu?"
"Waah... alat rahasia yang diatur dalam benteng itu memang luar biasa lihaynya, hampir saja aku jatuh kecundang ditangan mereka, yaa bukan saja penyerbuan kami itu gagal, malahan muridku Mo siu ing ikut terjebak pula didalam benteng maut, kejadian itu benar-benar merupakan pengalaman pahit bagiku, perahuku sudah terbalik dalam selokan..."
"Apa rencana locianpwe selanjutnya setelah terjadinya peristiwa itu... ?"
Tanya Buyung Thay kemudian-"Apalagi? Tentu saja akan kubumi ratakan benteng maut itu dengan permukaan tanah"
Sahut Hun si mo ong sambil menahan geramnya. Buyung Thay termenung sesaat, tiba-tiba ia bertanya lagi.
"Aku dengar locianpwee telah menjadi pelindung hukum dari perkumpulan Thian che kau, boleh aku tahu apa sebabnya kau terima kedudukan serta jabatan tersebut?"
"Karena aku mendapat pesan dari seseorang untuk melakukannya"
"Siapakah orang yang menyuruh locianpwe itu? Apakah aku boleh ikut tahu namanya?"
Hun si mo ong cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak Nama orang itu tak usah kau ketahui"
Katanya.
"Tapi locianpwe, masa engkau tak memberitahu nama orang itu kepadaku...? Boanpwe kan cuma ingin tahu saja..."
Hening suasana disekitar tempat itu, tampaknya gembong iblis itu sedang putar otak untuk mempertimbangkan persoalan tersebut, tapi akhirnya dia mengalah, sahutnya.
"Baiklah, kalau toh engkau cuma ingin tahu saja, aku dapat memberitahukan nama orang itu kepadamu, tapi kau harus janji bahwa berita ini tidak akan kau bocorkan kepada orang lain, setuju?"
Buyung Thay membungkam, tapi dia mengangguk.
"Orang itu adalah Huan yu it koay (Manusia paling aneh dari seluruh jagad)."
Bisik gembong iblis tua itu kemudian.
"Apa? Huan yu it koay ...?"
Teriak Buyung Thay hampir saja melompat ke udara saking kagetnya, rasa kejut dan ngeri yang dirasakan hatinya sekarang benar benar sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Huan yu it koay adalah seorang pemuka persilatan yang muncul sejaman dengan Hun si mo ong, kelihayan ilmu silat dari kedua orang gembong iblis itu luar biasa sekali sehingga hampir seluruh dunia persilatan berada dibawah kekuasaan mereka.
"Jadi manusia yang bernama Huan yu it koay itu masih hidup dikolong langit...?"
Bisik perempuan itu lagi.
"Benar Dia memang masih hidup didunia ini, pernah kau dengar dengan kata sesumbar yang pernah dia ucapkan tempo hari??"
"Kata sesumbar apa?"
"Dulu dia pernah sesumbar kepada orang banyak. katanya suatu ketika seluruh dunia bakal tunduk dibawah perintahnya, tapi kemudian dalam suatu pertarungan yang terjadi melawan ouwyang Beng pemilik benteng maut itu, ia terhajar sampai cacad, maka cita-citanya itu terpaksa harus dilaksanakan oleh ahli warisnya"
"siapakah ahli warisnya??"
"Yu Pia lam. Kenal bukan dengan orang itu??"
"Kau maksudkan ketua dari perkumpulan Thian che kau??"
"Benar, itulah orangnya"
"Waaah, kalau memang begitu, tidaklah aneh kalau perkumpulan Thian che kau bersumpah tak akan berdiri berdampingan dengan pihak Benteng Maut, mereka tentunya saling bermusuhan bukan?"
"Tepat sekali terkaanmu itu"
"Lantaran demikian, maka locianpwe tak segan-segan untuk menurunkan derajat sendiri dan bersedia untuk menjabat sebagai pelindung hukum dari perkumpulan itu?"
"Boleh dibilang begitu, tapi yang pasti tujuanku yang terutama adalah menghancurkan benteng maut dari muka bumi"
"Lantaran manusia mengakibatkan bencana... Hun si mo ong Wahai Hun si mo ong .... rupanya kaupun cuma manusia begitu begitu juga"
Serentetan teguran yang dingin bagaikan es tiba-tiba berkumandang memecahkan kesunyian.
Dengan jantung berdebar keras lantaran terperanjat Hun si mo ong berpaling, ia tak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki pendatang itu sangat lihay sehingga kedatangannya sama sekali tak terasa olehnya.
"Titi...."
Buyung Thay sontak menjerit kegirangan begitu melihat munculnya orang itu.
Memang benar, orang itu tak lain adalah Han Siong Kie, jago muda kita.
Mula mula Hun si mo ong agak tertegun, menyusul kemudian sambil tertawa seram katanya.
"Bocah keparat, sebenarnya aku ada maksud untuk melepaskan engkau dalam keadaan selamat"
"Locianpwe"
Sebelum kakek itu menyelesaikan katakatanya, Buyung Thay telah menukas dengan cepat.
"bukankah perkataan yang telah kau ucapkan lebih berat dari bukit Thay san? Bagaimana kalau sekarang juga kupersilahkan kepada locianpwe untuk tinggalkan tempat ini?"
Sebelam Hun si mo ong sempat menjawab, Han Siong Kie telah berkata lagi dengan nada dingin.
"Hun si mo ong dengarlah baik baik Aku merasa berterima kasih sekali atas pertolongan yang telah kau berikan kepadaku dalam peristiwa tempo hari, hari ini kuputuskan untuk tidak melayani dirimu dalam segala bentuk pertarungan macam apapun"
Sontak Hun si mo ong melotot besar, sinar matanya yang berwarna hijau tampak mengerikan katanya.
"Bocah keparat, tempo hari kutolong engkau lantaran kaupun pernah memberi bantuan kepada muridku yang bernama Mo siu ing, maka tentang soal itu tak usah kau persoalkan lagi, sebab kita sudah impas kita sama sama tak punya hutang"
Buyung Thay sangat kuatir bila sampai terjadi pertarungan lagi ditempat itu, ia tahu itu tidak menguntungkan pihaknya sebab Han Siong Kie baru sembuh dari lukanya sedang dia sendiri sedang terluka parah, maka dengan gerakan cepat ia menghadang dihadapan anak muda ia lalu serunya tanpa sungkan-sungkan lagi.
"Locianpwe, silahkan pergi dari sini"
Sekali lagi Hun si-mo ong menatap sekejap ke arah Han Siong Ki, akhirnya dia putar badan dan bersuit nyaring.
"Apakah engkau sedang panggil rekan-rekanmu"
Tiba-tiba Han Siong Ki bertanya dengan dingin.
"Ehm, ada apa...?"
"Tak usah dipanggil lagi. sebab pada saat ini mereka sudah tak dapat bicara lagi"
"Jadi mereka sudah tewas semua ditanganmu?"
Teriak Hun si mo ong dengan geramnya.
"Benar"
"Baik, ingatlah baik-baik bocah muda Urusan kita akhirnya sampai disini saja, bila dikemudian hari kita berjumpa lagi, hati-hati dengan selembar jiwa anjingmu"
"HeeH.... HeeeH.... HeeeH sama-sama, sama-sama, kaupun musti berhati-hati dengan selembar jiwa anjingmu."
Dengan geram penuh kemarahan Hun si moong mendepakdepak kakinya keatas tanah, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia putar badan dan berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan.
Menanti jago tua yang disegani banyak orang-orang itu sudah menghilang dari pandangan, Han Siong Ki baru berpaling kearah Buyung Thay sambil katanya.
"Cici, terima kasih banyak atas perhatianmu, terutama atas bantuan dan pembelaan yang telah kau lakukan dengan mempertaruhkan selembar jiwamu sendiri"
"Oooh.. adikku sayang jangan berkata demikian, aku sudah merasa puas melihat kau sehat wal'afiat kembali .... oooh adikku sayang, kau telah segar kembali bukan?"
Bisik perempuan itu lembut. Han Siong Ki mengangguk.
"Bagaimana dengan cici sendiri?. Kaupun terluka parah?"
"Luka memang iya, cuma tidak parah dan tidak terlampau serius, ooh iya bagaimana dengan...."
"Siapa yang kau maksudkan?"
Pemuda itu bertanya dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti.
"Itu... orang yang berada dalam kamarmu"
"Orang,...? orang yang mana...? siapakah dia?"
Anak muda itu semakin kebingungan.
"Entahlah, aku sendiripun tak tahu Aiii... andaikata ia tidak melindungi keselamatanmu secara diam-diam, mungkin aku sudah kehabisan akal untuk membendung serbuan mereka dan mungkin engkaupun sudah menemui ajalnya secara mengerikan"
Terkesiap juga hati Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, ia tak tahu siapakah tokoh sakti yang secara diam-diam melindungi keselamatan jiwanya itu, dia cuma ingat dikala semedinya baru selesai dan matanya dibuka kembali, pandangannya yang tertuju pada empat sosok mayat yang menggeletak ditepi pintu, waktu itu dia mengira pastilah mayat mayat itu adalah hasil karya dari Buyung Thay.
Kemudian dia keluar dari kamar, dan ditemuinya orang bersembunyi disamping rumah, karena curiga ia menghampiri mereka lalu setelah menegaskan bahwa orang-orang itu adalah musuhnya, dengan suatu ilmu kepandaian yang sangat tinggi ia bunuh keempat orang kakek itu dengan cara paling keji, kemudian diapun munculkan diri ditengah arena.
Mendengar kisahnya itu, sekarang giliran Bu yung Thay yang merasa terperanjat, ia melongo dan untuk sesaat tak tahu apa yang musti dikerjakan.
Han siang Ki sendiripun termenung dengan pikiran kalut.
"Siapa gerangan orang yang membantu diriku secara diamdiam itu? Siapakah dia?"
Pikiran tarsebut selalu berkecamuk dalam benaknya.. setelah termenung beberapa saat, akhirnya ia mengemukakan pendapatnya.
"Cici, mungkinkah orang itu adalah si pengirim surat peringatan? sebab aku rasa kecuali dia tak ada yang bisa dicurigai lagi"
Buyung Thay tidak langsung menjawab, diapun termenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Ehmm ....mungkin juga orang itu"
"Kalau toh benar orang itu, mengapa secara diam diam ia tinggalkan pula tempat ini?"
"Yaaa aku sendiripun tak tahu, aku tak dapat memecahkan teka teki yang memusingkan kepala ini"
Han Siong Ki masih coba berpikir dan berusaha untuk menemukan orang itu, tapi akhirnya toh menyerah juga, sambil menghela napas dan gelengkan kepalanya berulang kali keluhnya.
"Aaai.. terlalu banyak sudah hutangku kepada orang lain, entah sampai kapan semua hutang itu baru dapat kubayar lunas?"
"Adikku sayang, aku harap perkataanmu itu tidak menyangkut juga cicimu..."
Tiba-tiba perempuan itu menyela.
"Kenapa?"
"Ah tidak apa apa ...." -ooo0dw0ooo-BAB 82
"CICI, karena aku, kau telah berjuang dengan mempertaruhkan jiwa raga, sampai matipun aku Han Siong Kie tak akan melupakannya"
Bisik anak muda itu sangat terharu. Buyung Thay tersenyum, tersenyum penuh kehangatan dan kemesraan, bagaikan tatapan seorang istri terhadap suaminya.
"Titi, aku hanya minta padamu agar mau selalu teringat akan satu hal asal kau dapat mengingatnya terus, hatiku akan merasa gembira dan terhibur"
Bisiknya.
"Mengingat soal apa cici??"
"Ingatlah selalu, sepanjang masa, bahwa aku cinta padamu"
Bergetar sekujur badan Han Siong Kie sehabis mendengar perkataan itu, sekarang ia baru merasa bahwa persoalan yang dihadapinya adalah suatu urusan serius, dia harus segera tinggalkan perempuan ini, sebab kalau tidak maka selamanya ....yaa selamanya dia akan terjerumus dalam lingkaran setan yang tiada habisnya, dia akan selalu terikat oleh perempuan ini dan selamanya tak akan terlepas lagi.
Tak dapat diragukan lagi, dia bakal terus melakukan perbuatan yang memalukan, perbuatan yang membuat kecewa Go siau bi dan Tonghong Hui jika hubungan abnormal itu dilanjutkan, bagaimana pertanggungan jawabnya nanti dihadapan "Manusia kehilangan sukma"
Yang menyayanginya bagaikan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya itu?
Ia pernah berhubungan intim dan mesra dengan perempuan itu, hubungan yang menggetarkan seluruh persendiannya yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan Tonghong Hui maupun calon istrinya, Go Siau bi, malah dengan nyonya inilah dia berhubungan suami istri yang sebenarnya.
Berpikir sampai kesitu, Han Siong Kie tak dapat melamun, ia tersadar dari lamunannya dan bergidik, sekujur badannya merinding ....
Untunglah pada saat yang kritis, satu ingatan tiba tiba melintas dalam benaknya ....
membalas dendam Benar, ia tak dapat melupakan soal ini, membalas dendam bagi kematian keluarganya Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba saja ia jadi lebih bersemangat, dia merasa lebih teguh imannya untuk mengambil keputusan dan menerima kenyataan yang terpampang didepan matanya.
"Cici....hari sudah terang"
Bisiknya kemudian. Buyung Thay menengadah memandang langit yang mulai terang di ufuk sebelah timur, lalu mengangguk dengan pedih.
"Benar, hari sudah terang tanah, marilah adikku sayang, kita kembali kekamar"
"Tidak Kita tak usah masuk kedalam ruangan itu lagi, kita harus segera tinggalkan tempat ini"
Bisik Han Siong Kie lirih.
"Pergi ? Kita harus pergi tinggalkan tempat ini"
"Tentu saja Masa kita akan bercokol terus ditempat ini?"
Pemuda itu tersenyum, senyum yang dipaksakan.
"Tapi.. bagaimana dengan mayat mayat yang menggeletak dalam ruangan itu.... masa kita biarkan-...."
"Tak usah kau pikirkan lagi cici, aku telah membereskan segala sesuatunya dengan baik dan mayat-mayat itu telah kusingkirkan semua dari ruangan"
Buyung Thay tertunduk sedih, biji matanya yang jeli mulai berkaca-kaca, ditatapnya paras muka anak muda itu tajamtajam, kemudian bisiknya.
"Adikku sayang, sekarangkah kita harus pergi dari sini??"
Suara itu amat lirih, terselip nada yang mengharukan, membuat orang merasa bahwa perempuan itu seakan-akan mengharapkan sesuatu, menginginkan sesuatu dan menunggu-nunggu akan tibanya sesuatu, suatu bisikan yang penuh daya rangsangan, daya pikatan yang amat besar ....
Han Siong Kie tergoda, dia merasakan debaran jantungnya berdetak makin kencang, hampir saja keputusannya goyah kembali...yaa, hakekatnya meninggalkan perempuan itu memang merupakan suatu pekerjaan yang sangat menderita, suatu perbuatan yang memedihkan hatinya, tapi...
membalas dendam.
Dua patah kata itu serasa menimbulkan suatu kekuatan yang sangat besar, dan kekuatan tersebut dengan cepat telah mengendalikan kembali rangsangan yang timbul dalam hatinya.
setelah termenung sesaat, akhirnya pemuda itu mengangguk juga.
"Benar, cici ....sekarang juga kita harus pergi"
"Kemanakah kau akan pergi setelah meninggalkan tempat ini?"
Tanya Buyung Thay setelah termenung sebentar.
"Aku harus berkunjung ke benteng maut, benteng besar yang disegani umat persilatan"
"Mengunjungi benteng maut??"
"Benar, benteng maut"
"Mau apa kau kesitu? Tahukah adikku sayang, tempat itu berbahaya, belum pernah ada orang yang dapat lolos dari situ dalam keadaan selamat"
"Aku tak ambil peduli Pokoknya aku harus mengunjungi benteng maut, aku harus membalas dendam"
Seru Han Siong Kie dengan suara berat dan mata berapi api penuh perasaan dendam.
"Ooooh...jadi kau ada hubungan sakit hati dengan pemilik benteng maut?"
Buyung Thay tertegun seperti orang keheranan.
"Benar, aku mempunyai sakit hati sedalam lautan dengan pemilik benteng maut, dendam berdarah itu harus kutagih walau selembar jiwaku sebagai pertaruhan"
Buyung Thay terdiam sejenak lalu termenung dan memikirkan sesuatu.
"Adikku katanya kemudian, tahukah kau bahwa Hun si mo ong belum lama berselang telah berkunjung pula ke benteng maut untuk mencari jejak muridnya yang bernama Malaikat hawa panas Ko su khi?
Tapi alhasil bukan saja gagal untuk menolong muridnya, malahan muridnya yang lain Malaikat hawa dingin Mo siu ing ikut tersekap juga dalam benteng maut, dia sendiri kendati berhasil meloloskan diri dari bahaya, tapi kerugian yang dideritanya cukup parah.
Han Siong kin mendengus dingin.
"Hmm Apakah lantaran pihak musuh terlampau lihay, lantaran sudah banyak jago jatuh kecundang ditangannya maka aku harus mengakhiri perjuanganku sampai disini saja? Apakah aku harus mengesampingkan soal pembalasan dendam dan tidak memikirkannya lagi untuk selamanya?"
"Tentu saja bukan begitu maksudku titi, aku toh tidak melarang kau untuk membalas dendam?"
"Aku hanya berharap agar kau bertindak lebih hati-hati lagi sehingga tidak menderita kerugian besar"
"Terima kasih banyak atas perhatian dan nasehat cici, aku rasa dalam persoalan ini sudah tak ada masalah lain yang perlu dipertimbangkan lagi"
"Baiklah, kalau memang begitu ijinkanlah aku untuk menemani kau pergi"
Bisik Buyung Thay kemudian sambil menggigit bibirnya menahan emosi yang bergolak..Han Siong Kie berpaling dan menatap perempuan itu dengan penuh rasa berterima kasih.
"Tidak cici, kau tak boleh ikut"
Katanya sambil menggeleng.
"Kenapa tidak boleh? Katakanlah mengapa aku tak boleh mengikuti dirimu pergi kesitu?"
"Karena aku tak mau menggunakan tenaga dan kekuatan orang lain untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban itu, aku hendak membalas dendam dengan menggunakan tenaga serta kemampuan yang kumiliki sendiri"
"Tapi .... aku toh tidak tentu harus turun tangan membantu? Aku kan cuma menemani kau saja..." -ooo0dw0ooo-
Jilid 40 TIAP patah katanya penuh disertai pancaran kasih yang mendalam, dapat diketahui bahwa perempuan itu memang benar benar jatuh cinta kepada anak muda tersebut.
Dalam keadaan begini hampir boleh dibilang Han Siong Kie tak berani menatap paras muka lawannya, ia menunduk rendah-rendah.
"Tidak, kau tak boleh ikut"
Serunya tetap kukuh.
"Adikku.... jadi.... jadi kau akan tinggalkan aku seorang diri?"
Bisik Buyung Thay dengan nada yang memilukan hati, matanya berkaca kaca hampir menangis, wajahnya yang melankolis mendatangkan perasaan iba bagi siapapun yang memandangnya.
Han Siong Kie tertegun dengan jantung berdebar keras, kata kata cinta yang diucapkan dengan nada pedih dan memilukan hati itu hampir saja meluluhkan hatinya, pemuda itu hampir saja tak dapat mengendalikan golakan perasaan hatinya.
"Adikku sayang"
Kata Buyung Thay selanjutnya "
Aku masih ingat kau pernah berkata kepadaku bahwa kau masih mempunyai seorang calon istri dan seorang kekasih yang akan kau cintai sampai mati, sebaliknya aku...
usiaku satu kali lipat lebih tua daripada engkau, bahkan pernah menikah sekalipun sampai sebelum kejadian di lembah hitam itu aku tetap suci dan bersih...
aaai adikku, aku tak berani mengharapkan yang muluk muluk, aku sudah merasa puas bila kau bersedia menyebut aku sebagai cicimu ...."
"Oooh... ciciku manis, hakekatnya akupun mencintai dirimu... tapi maafkanlah aku, maafkanlah kesalahanku, aku tak dapat menerimamu sebab aku harus membalas dendam Aku harus membalas dendam bagi kematian ayahku"
Seru Han Siong Kie penuh emosi. Buyung Thay tertawa lirih, rawan sekali tawanya itu.
"Adikku aku tak mau tahu tentang yang lain, aku sudah puas bila kau ijinkan diriku untuk menempati pula suatu posisi dalam hati kecilmu, sekalipun itu cuma sebagai seorang kakak ......"
"Cici, aku tak akan melupakan kau, selama-lamanya"
"Mungkinkah kita dapat bertemu kembali?."
Perempuan itu menengadah dan ditatapnya wajah sang pemuda yang tampan dengan lembut.
"Pasti. Kita pasti akan bertemu lagi, selama aku masih hidup didunia ini..."
"Kalau begitu, pergilah adikku Akan kunantikan kesempatan baik itu ...."
"Cici...."
Dia ingin mencium perempuan itu, sebab ia dapat membaca suara hati peremuan itu, namun ia tidak berbuat demikian, sekuat tenaga ditekannya pergolakan hatinya yang hampir tak terkendalikan itu, lalu mengangguk tanpa berkata kata dan berlalu dari situ dengan kecepatan penuh.
Helaan napas sedih berkumandang dari belakang, suara itu mengenaskan hati membuat hati orang ikut menjadi sedih.
Han Siong Kie tidak berpaling, ia kabur ke depan dengan sekuat tenaga, agaknya dia hendak ngebut untuk menghilangkan perasaan dan pikirannya yang kalut, ia berusaha keras untuk mengendalikan diri, untuk tidak memikirkan dia lagi.
semua pikiran dan ingatannya dialihkan kesoal lain, sambil melakukan perjalanan cepat ia coba menduga siapa gerangan orang-orang yang mengirim surat peringatan kepadanya itu.
"Kalau dilihat dari gaya tulisannya, sudah pasti orang itu adalah seorang perempuan"
Demikian ia berpikir.
"dalam keadaan terluka tentu saja aku tak dapat menangkap gerakan tubuhnya, tapi Buyung Thay kan bukan manusia sembarangan, dia adalah seorang jago lihay yang berilmu tinggi, tapi toh orang itu berhasil meninggalkan surat peringatan dan berlalu tanpa diketahui jejaknya, ini terbukti kalau perempuan tersebut adalah seorang manusia luar biasa yang berilmu tinggi, tapi siapakah dia?"
Setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu berpikir lebih jauh.
"Perempuan itu sudi meninggalkan surat peringatan untukmu, dus berarti orang itu pasti bukan orang yang terlampau asing bagiku, tapi siapakah dia...?"
Pemuda itu benar benar tak habis berpikir, ia tak dapat menemukan perempuan manakah diantara orang orang yang dikenalnya itu memiliki ilmu silat yang begitu tinggi?
Selain itu, diapun tak tahu siapakah tokoh sakti yang diam diam melindungi keselamatan jiwanya dalam ruangan tadi?
Mengapa orang itu segera berlalu setelah menyelesaikan tugasnya?
"Andaikata orang yang meninggalkan surat peringatan itu tak lain adalah si pelindung keselamatannya dalam ruangan, mengapakah orang itu harus bersikap semisterius itu?"
Ketika akhirnya pemuda itu tidak berhasil menemukan sebab musababnya, maka pikirannya lantas beralih ke soal lain, sekarang dia memikirkan tentang Hun si mo ong, gembong iblis tua yang disegani banyak orang itu.
Menurut keterangan dari Buyung Thay, katanya gembong iblis tua yang berusia seratus tahun ini telah bergabung dengan pihak Thian che kau, bahkan Mo siu ing si malaikat hawa dingin telah tersekap dalam benteng maut, ini menunjukan bahwa kepandaian silat yang dimiliki Hun si mo ong masih bukan tandingan dari pemilik benteng maut.
Gurunya ketua dari perkumpulan Thian che kau, Yu Pia lam telah dihajar sampai cacad oleh ouyang Beng, pemilik benteng maut angkatan pertama, dan sekarang Yu Pia lam telah merencanakan suatu pembalasan dendam untuk membumi hanguskan benteng maut, itulah akibat dendam dibalas dengan dendam.
Padahal ia tahu, pemilik benteng maut angkatan pertama ouyang Beng berdiam dilembah kematian, kecuali dia Hek pet sian yau juga mengetahui akan hal ini, diapun sadar bahwa persoalan itu menyangkut suatu rahasia dunia persilatan yang tak mungkin akan diketahui orang lain-Dengan kekuatan dari perkumpulan Thian che kau serta kepandaian silat yang dimiliki Yu Pia lam, melenyapkan benteng maut bukanlah suatu pekerjaan yang menyulitkan, apalagi selama ini bukan Yu Pia lam sendiri yang menyelesaikan tugas-tugas perkumpulannya tapi penggantinyalah yang mengerjakan kesemuanya itu, sedang ia bersama ke sepuluh orang utusan khususnya menyembunyikan diri selama belasan tahun, dapat dibayangkan sampai dimanakah kemajuan ilmu silat yang dimilikinya selama ini.
Sebelum melakukan serbuan ke Benteng maut, perkumpulan Thian che kau telah menyikat dulu perkumpulanperkumpulan lain yang bercokol dalam dunia persilatan, kemudian menggertak pula partai partai besar lainnya untuk tunduk dibawah perintahnya, dari sini dapat diketahui bahwa Yu Pia lam memang mempunyai ambisi besar untuk menguasai seluruh jagad dan mengangkat diri jadi kaisar dunia kangouw.
Berpikir sampai disitu, tak kuasa lagi Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya, sekali lagi dia membayangkan semua sakit hati, semua perselisihannya d engan pihak Thian che kau, baik dalam sengketa baru maupun dalam perselisihan lama.
Hari sudah lama terang tanah, namun tidak nampak cahaya sang surya yang menongol dari balik awan.
Udara masih gelap dan diliputi awan mendung yang kelabu, saat itu dua ratus li sudah dia melakukan perjalanannya.
Angin dingin berhembus dengan kencangnya menerpa mukanya yang murung, dari ke lapat-lapat terdengar bunyi gemuruh dan geledek yang memekikan telinga.
Awan gelap berhembus lewat dari delapan penjuru lalu menggumpal diudara, membuat angkasa makin gelap karena awan hitam.
Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya, lalu menengadah dan memandang keadaan cuaca sekitarnya.
"Aaai... awan mendung telah menyelimuti angkasa, hujan badai sebentar lagi akan tiba "
Gumamnya.
Dia coba memandang sekitar tempat itu, namun tiada perumahan yang dilihatnya, dia masih jauh dari dusun terdekat.
Sebercak sinar keemasan melintas ditengah udara, disusul dengan suara gemuruh yang memekikkan telinga.
satu ingatan terlintas dalam benaknya Hujan segera akan turun, aku harus cari tempat berteduh...
Dengan gerakan cepat ia maju kedepan dan berusaha mencari tempat yang pantas untuk menghindarkan diri dari hembusan air hujan.
Kilat menyambar-nyambar, suara guntur menggelegar diseluruh permukaan bumi, disusul angin ribut dan hujan yang amat deras, dalam waktu singkat seluruh jagad sudah terbungkus oleh badai yang mengamuk dengan dahsyatnya, air hujan bagai ditumpahkan dari atas langit.
Han Siong Kie kabur sipat kuping ditengah hujan angin yang deras, dalam waktu singkat sekujur badannya sudah basah kuyup, Air hujan membasahi kepalanya, menetes dan membasahi pula mukanya, membuat pandangan matanya jadi kabur dan samar-samar.
Kembali sebercak kilat berwarna keemas-emasan membelah angkasa.
Tiba-tiba ia menemukan sesuatu, seperti tersambar halilintar Han Siong Kie berdiri tertegun dengan tubuh gemetar.
Ia telah melihat sesuatu, itulah tanah pekuburan dengan tulang-tulang putih yang berserakan di mana-mana....
Angin ribut, hujan badai, gelegarnya guntur sambaran halilintar, tempat yang sepi ...
tulang yang berserakan...
Tiba-tiba ia seperti teringat akan setahun berselang ....
kejadian yang pernah dialaminya belum lama, untuk sesaat ia berdiri tertegun.
Setahun berselang, suatu malam yang gelap dengan hujan angin yang turun dengan derasnya, ia dengan membopong susioknya yang sakit parah dan hampir mati ....si tangan naga beracun Thio Lin telah mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang belulang yang berserakan, waktu itu paman gurunya telah membongkar tabir rahasia tentang asal usulnya, membongkar pula dendam kus umat sedalam lautan yang telah menimpa keluarganya.
Kini, setahun sudah lewat...
tapi dendam kesumat sedalam lautan itu belum juga terbalas.
Dua ratus sosok lebih tulang belulang yang berserakan, masih tercecer ditengah puing-puing yang berserakan dalam perkampungan keluarga Han.
Air mata bercampur dengan air hujan menetes keluar membasahi wajahnya yang tampan.
Ia menjerit keras, larinya makin kencang, sekarang tak diperdulikan lagi betapa derasnya angin dan hujan yang menerpa tubuhnya, dia berganti arah dan lari sekuatnya...
Esoknya ketika senja telah menjelang tiba, sianak muda itu sudah tiba didepan sebuah perkampungan yang porak poranda, itulah perkampungan keluarga Han, tempat dimana dia dilahirkan-Dinding bangunan itu sudah banyak yang roboh sarang laba-laba menghiasi tempat-tempat itu, bunyi cengkerik ditambah pula kunang-kunang yang terbang kian kemari bagaikan api setan, menambah seram dan ngerinya perkampungan yang dilupakan orang itu.
Dengan penuh kesedihan dan menahan air mata yang terasa meleleh keluar, Han Siong Kie berjalan diantara semak liar yang menyelimuti sekitar tempat itu, akhirnya ia berhasil temukan tulang-tulang manusia yang berserakan dimanamana..
Itulah tulang belulang dari sanak saudaranya, itulah tengkorak dari anggota perkampungannya.
Ia merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku dan kejang, kakinya terasa berat bagaikan diberi bandulan besi seberat beberapa ratus kati, sukar rasanya untuk melangkah kedepan.
Ia pejamkan matanya rapat-rapat dan mengatur nafasnya yang terengah-engah, kemudian selangkah demi selangkah pelan-pelan meneruskan perjalanannya masuk kedalam.
Ruang tengah masih berdiri tegak seperti sedia kala, cuma jendelanya sudah makin hancur, sarang laba-laba dan rumput ilalang tumbuh dimana-mana membuat ruangan tersebut tampak begitu mengerikan seperti kuburan yang tak terawat.
sementara pemuda itu masih termenung menyaksikan segala sesuatu yang terpapar didepan matanya, mendadak ia mendengar suatu gerakan yang aneh...
Semua perhatiannya lantas dipusatkan jadi satu, ia berusaha mengamati suara itu dengan teliti akhirnya dapat dikenalinya suara itu sebagai suara isak tangis seseorang yang tertahan tahan suara itu berasal dari ruang belakang.
Tak kuasa lagi berdirilah seluruh bulu kuduk Han Siong Kie ia tahu pasti bahwa gedung itu kosong dan terbengkalai, kecuali tulang tulang manusia yang berserakan dimana mana tak seorang manusia hiduppun yang tinggal disitu, tapi ....
dari mana datangnya suara tangisan itu?
Mungkinkah sukma sukma penasaran yang masih gentayangan didunia telah munculkan diri untuk menyatakan protesnya?
Han Siong Kie pun cukup mengetahui jelas, kecuali dia dan ibunya yang telah kawin lagi yaitu say siang go (si siang go cantik) ong cui ing, boleh dibilang semua anggota keluarganya sudah tewas dalam keadaan mengerikan, kalau dibilang isak tangis itu berasal dari orang yang berziarah kesitu, lalu siapakah dia?
Isak tangis masih berkumandang di udara sekalipun hanya sayup-sayup sampai, namun mendatangkan perasaan yang makin mencekam bagi pendengarnya.
Suara itu makin jelas sekarang, Han Siong Kie tahu suara itu adalah suara tangisan dari seorang perempuan.
Pemuda itu untuk sesaat agak ragu ragu tapi toh..
akhirnya dia maju juga ke muka dan memasuki ruangan itu.
Isak tangis yang terdengar tadi sontak berhenti, suasana jadi hening sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Sekali lagi Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras.
"Manusia atau setan orang itu?"
Pikirnya.
Tapi ketika sinar matanya terbentur dengan sosok kerangka manusia yang terletak ditengah ruangan, pemuda itu lupa akan segala-galanya, ia menubruk masuk kedalam ruangan dan menangis tersedu-sedu, sebab pemuda itu masih ingat jelas kedua sosok tulang belulang itu tak lain adalah tengkorak dari ayahnya Han si wi dan tengkorak dari paman gurunya si Tangan naga beracun Thio Lin.
Meledaklah isak tangis si anak muda itu, semua kesedihan dan kemurungan yang menekan jiwanya selama ini semua dilampiaskan keluar, air mata bagaikan bendungan yang jebol mengucur keluar dengan derasnya, membasahi wajah dan pakaiannya.
Entah beberapa lama sudah lewat, akhirnya ia berhasil mengendalikan perasaannya, isak tangisnya kian berkurang dan akhirnya berhenti.
Sambil menyela air mata, pelan-pelan ia menengadah, bekas sepasang telapak tangan dan selembar kain yang basah oleh air mata, tiba-tiba dijumpainya dibalik reruntuhan ruangan itu.
"Manusiakah disitu?"
Teriak Han Siong Ki dengan suara parau, ia tahu bekas telapak tangan dan kain itu tentu milik perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu tadi.
"Nak kau tak usah ketakutan, akulah disini"
Seseorang berbisik lirih. Menyusul berkumandangnya suara itu muncullah seorang perempuan berkerudung dari balik puing puing yang berserakan disana.
"Oooh... cianpwe rupanya kau"
Han Siong Ki berteriak kaget begitu mengetahui siapa yang munculkan diri Memang benar perempuan berkerudung itu tak lain adalah orang yang kehilangan sukma, manusia misterius itu.
"Mengapa ia datang kemari ....?"
Pikiran tersebut cepat melintas dalam benak anak muda itu.
Memang kejadian tersebut memang sangat aneh, apa sebabnya orang yang kehilang sukma mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang berserakan itu ditengah malam buta?
Apa pula sebabnya ia menangis dengan sedihnya?.
Tampaknya orang yang kehilangan sukma masih diliputi oleh kesedihan, ketika mendengar seruan tersebut dia menyahut dengan suara yang pedih dan penuh kepiluan hati.
"Benar anakku akulah yang barada disini"
Untuk sesaat Han Siong Ki bsrd iri tertegun ia tak tahu apa yang musti dilakukan dalam keadaan begini.
"Kalau begitu.... kalau begitu isak tangis yang kudengar tadi adalah suara tangisan dari cianpwee ...."
Bisiknya kemudian-"Benar, akulah yang sedang menangis"
"Ada urusan apa cianpwe berkunjung ke perkampungan yang telah porak poranda ini ditengah malam buta?"
"Aaai .... nak bukankah aku pernah berkata kepadamu bahwa aku mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keluargamu? Tentu saja aku datang kemari untuk berziarah"
Kecut rasa hati sianak muda itu sehabis mendengar perkataan itu, namun tiada air mata yang menetes keluar, karena air matanya telah mengering.
"Cianpwe, sebetulnya hubungan apakah yang terikat antara cianpwe dengan keluargaku almarhum"
Pintanya.
"Aku tak dapat mengatakannya sekarang nak. tapi dilain waktu kau akan tahu dengan sendirinya."
Sesak rasanya pernapasan Han Siong Ki membuat ia agak tersengkal, kemudian ditunjuknya tengkorak yang terkapar disebelah kanan dan tegurnya.
"Locianpwee tahukah engkau...."
"Tak usah kauterangkan, aku tahu dia adalah jenasah dari paman gurumu si tangan naga beracun Thio Lin"
Dengan satu tatapan yang penuh perasaan heran bercampur kaget Han Siong Ki menatap wajah orang yang kehilangan sukma tanpa berkedip.
ia tahu dewasa ini hanya orang yang kehilangan sukma seorang yang tahu tentang rahasia dibalik misteri bunuh dirinya Thio Lin setahun berselang, dan hanya dia pula yang mengerti ucapan yang dikatakan paman gurunya sebelum bunuh diri, sebab perempuan ini seakan akan menguasai semua persoalan yang membingungkan hatinya.
Tentu saja anak muda itupun tahu bahwa orang yang kehilangan sukma tak nanti akan memberitahukan semua rahasia itu kepadanya, kendati demikian rasa ingin tahu yang bergelora dalam dadanya benar benar tak terkendalikan lagi, segera serunya dengan emosi.
"Cianpwe, aku benar-benar merasa tidak habis mengerti dengan tindak tanduk dari cianpwe"
"Nak keadaannyalah yang memaksa aku untuk berbuat demikian, ketahuilah, saat terbukanya semua rahasia besar itu tak akan lama lagi, nantikan saja kesempatan itu"
"Boanpwe tak ingin tahu semua rahasia tersebut sekaligus, pada saat ini boanpwe hanyi ingin mengetahui satu persoalan, apakah cianpwe bersedia untuk menerangkan?"
"Apa yang ingin kau ketahui? Coba katakan"
"Sesaat sebelum susiok si tangan naga beracun Thio Lin bunuh diri, beliau pernah berguman katanya sampai hari itu tecu baru bisa melaksanakan perintah suhu, katanya pula ia mati demi perintah perguruan, sampai detik ini boanpwe masih belum memahami tentang soal ini, apakah cinapwe bersedia membuka rahasia dibalik teka-teki itu?"
Orang yang kehilangan sukma menghela napas sedih.
"Aaai.... apa yang dilakukan susiokmu memang benar, akan tetapi ......"
"Akan tetapi kenapa?"
"Dia mati terlalu mengenaskan, kematiannya adalah kematian yang penasaran-.."
"Mengapa bisa begitu?"
"Bila arwahnya di alam baka mengetahui akan hal ini, mungkin selamanya ia tak dapat memejamkan matanya"
"Kenapa? Cianpwe belum kau terangkan apa sebabnya begitu...."
Seru si anak muda itu dengan panik, Sekujur badan orang yang kehilangan sukma gemetar keras, rupanya pergolakan emosi yang di alami cukup hebat hingga nyaris tak kuat menahan diri "Nak"
Akhirnya setelah termenung lama sekali dia baru berkata.
"susiokmu langsung mati oleh siasat keji dari musuh besarmu itu, tapi boleh juga dikatakan bahwa ia mati oleh karena peraturan perguruan yang terlampau ketat" .
"Boanpwe tidak mengerti, apakah cianpwe sudi lebih menjelaskan duduknya perkara?"
Pinta Han Siong Kie dengan wajah seperti orang kehilangan.
"Maafkanlah aku nak, aku hanya bisa berkata sampai disitu dan lagi apa yang kuucapkan tadi sudah terlampau berlebihan"
"Tapi...cianpwe, boanpwe ingin tahu perguruan dari mendiang ayahku, bersediakah engkau untuk memberi keterangan?"
"Maafkanlah aku nak. aku tak dapat memberitahukan soal itu kepadamu"
"Kenapa tak dapat? Kenapa .....?? Kenapa.....?"
Han Siong Kie hampir berteriak kalap saking penasarannya.
"Tenangkan hatimu nak"
Bisik orang yang kehilangan sukma coba menghibur "
Jangan emosi dan memburu hawa kemarahan, suatu saat kau toh akan mengetahui semua secara komplit? Buat apa musti panik disaat yang tak menguntungkan?"
"selain daripada itu....."
"Apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
Tukas orang kehilangan sukma..
"Sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan susiok berpesan kepadaku agar jangan membalas dendam, tak boleh membereskan tulang-tulang yang berserakan disini, mengapa begitu?? Mengapa..?"
"Menurut jalan pemikirannya waktu itu, apa yang dia lakukan memang benar, tapi... yaa, sampai matipun dia masih belum sadar bahwa apa yang dilakukan itu sebenarnya keliru besar"
"Dimanakah letak kekeliruannya cianpwe?"
"Tentang soal ini .... maafkanlah daku nak, sudah terlampau banyak yang kukatakan"
Dengan perasaan apa boleh buat Han Siong Ki menghela napas, tapi ia tak mau menyerah dengan begitu saja.
"Cianpwe"
Katanya lebih jauh.
"kalau engkau memang benar benar mengetahui duduknya persoalan ini dengan jelas, mengapa tidak kau cegah niat susiok boanpwe yang hendak bunuh diri itu?"
"Aku sama sekali tak menduga nak kalau dia bakal berbuat begitu Tapi ada satu hal dapat kukatakan kepadamu, kematian susiokmu si tangan naga beracun Thio Lin yang amat penasaran itu telah mendatangkan perasaan sedih yang tak terkirakan bagiku, mungkin rasa sedihku itu tidak berada dibawah kesedihanmu, mengertikah kau?"
Dengan hati yang bimbang Han Siong Kie mengangguk, sekalipun ia sudah melakukan gerakan yang menyatakan dia mengerti, hakekatnya dia sama sekali tidak tahu apa yang telah diketahui atau dimengerti olehnya.
"Nak, bila suatu ketika kau dapat membalas dendam dengan tanganmu sendiri, kau harus membangun kembali perkampungan keluarga Han ini serta mengubur semua tulang belulang yang berserakan dimana mana itu"
Kata orang yang kehilangan sukma lagi.
"Tentu cianpwe"
Sahut Han Siong Kie sambil menggigit bibir.
"boanpwe sudah mempunyai rencana yang masak tentang soal itu, dan aku tak akan melupakan nasehat dari cianpwe itu"
"Baik Kalau begitu akupun harus tinggalkan tempat ini, kau sendiri juga tak perlu lama lama berdiam disini lagi."
"Cianpwe mau pergi.? "
"Benar .... oh iya, ada satu hal hendak kukatakan kepadamu, hampir saja kelupakan"
"Apakah engkau marasa amat menyesal dengan kejadian dibukit Thay huang san tempo hari? Apakah kau merasa kurang senang karena harus bertunangan dengan nona Go siau bi?"
"Tentang soal ini .... tentang soal ini ...."
"Katakan saja secara terus terang, utarakan semua suara hatimu secara blak-blakan"
Han Siong Kie tidak langsung menjawab, dalam hati kecilnya diam-diam ia berpikir.
"Huuh, buat apa banyak bicara? Memangnya aku tak tahu kalau kesemuanya ini adalah hasil karyamu seorang? sekarang nasi telah menjadi bubur, kurang senang mau apa? Kecewa lantas kenapa?"
Tentu saja diapun tak dapat membungkam melulu maka selang sejenak kemudian diapun menyahut.
"Soal kurang senang atau kecewa lebih baik kita kesampingkan, yang boanpwe khawatirkan justru lantaran peristiwa ini, aku akan menjerumuskan masa depan nona Go ke jurang kehancuran"
"Nak ketahuilah Go siau bi dapat menjadi seorang istri yang bijaksana bagimu"
"Aku tahu dan aku rasa itu memang benar"
"Nak kalau sudah tahu begitu kuharap agar kau jangan menyia-nyiakan cinta kasihnya lagi, selain itu kaupun harus ingat pelajaran orang kuno yang mengatakan bahwa ketidak berbaktian ada tiga"
"Akan boanpwe ingat selalu dihati"
Sahut Han Siong Kie sambil tertawa getir..
"Nah, kalau memang begitu, baik-baiklah jaga diri, aku akan pergi lebih dulu"
Begitu selesai berkata ia lantas bangkit dan berlalu dari situ.
Memandang kepergian perempuan misterius itu Han Siong Ki cuma berdiri termangu-mang u, akhirnya diapun bangkit berdiri, menghampiri dinding ruangan membersihkan debu yang melekat d isana dan terlihatlah kembali lambang tengkorak maut yang masih terpampang disana.
Darah yang mengalir dalam tubuhnya mendadak berputar dengan kencangnya, entah mengapa ia merasa timbulnya suatu perasaan aneh dihati kecilnya, hawa napsu membunuh yang tebalpun seketika menyelimuti seluruh tubuhnya.
Sekali lagi ia jatuhkan diri berlutut, kemudian bisiknya dengan lirih.
"Ayah, susiok, semoga arwah kalian beristirahat dalam ketenangan, bila putramu yang berbakti berhasil membalas dendam, pasti akan kudatangi kembali tempat ini untuk mengebumikan tulang belulang kalian semua"
Selesai berdoa dengan perasaan hati yang pedih danpenuh dengan penderitaan berangkatlah anak muda itu meninggalkan perkampungan keluarga Han dan menuju benteng maut.
Sepanjang perjalanan ia terbayang kembali akan diri Tonghong Hui yang amat mencintainya, ia merasa cinta kepada dara itu bahkan cintanya tak akan padam walau sampai matipun, akan tetapi sekarang, dia akan pergi membalas dendam, dia akan pergi membunuh ayahnya...
yaa begitulah kalau takdir berbicara lain...
kadangkala takdir memang keji terhadap umatnya ....
Hakekatnya niat pemuda itu untuk membalas dendam boleh dibilang ibaratnya teguhnya bukit karang, tapi ....
manusia tetap manusia, penderitaan batin memang tak dapat dihindari dengan begitu saja.
Ia sangat berharap agar pemilik benteng maut bukanlah musuh besar pambunuh ayahnya, tapi kenyataan telah mencabik cabik lamunannya itu, Tonghong Hui tak pernah mengutarakan bantahannya terhadap segala tuduhan yang pernah dilontarkan kepada dara itu.
"Selesai membalas dendam, aku akan bunuh diri sebagai pernyataan setiaku padanya"
Entah berapa ratus kali kata-kata tersebut berkumandaug dalam hati kecilnya.
Yaa, memang benar Hanya kematianlah yang dapat membebaskan pemuda itu dari simpul mati tersebut.
Demi membalas dendam atas kematian ayahnya, anak muda itu harus membinasakan ayah dari kekasihnya, sedangkan Tonghong Hui demi cintanya tak dapat membalaskan dendam bagi orang tuanya dia hanya bisa menggunakanjiwanya untuk menebus dosa ketidak berbaktinya, maka untuk membayar semua pengorbanan sang dara, pemuda itupun harus menebusnya dengan selembar nyawa sendiri.
Ia masih ingat ketika bertemu lagi dengan Tonghong Hui ditepi sungai, ia merasa amat bahagia karena gadis itu lolos dari kematian, tapi wajahnya ketika itu serta nada ucapannya seakan-akan mengandung nada perpisahan, atas kejadian tersebut, sampai sekarangpun dia masih merasa heran bercampur curiga.
Tiba-tiba .....
satu ingatan terlintas dalam benaknya, ia teringat dengan lembaran kertas yang pernah diserahkan Hek pek siang-yau kepadanya sewaktu masih berada dalam lembah kematian tempo hari, dalam kertas itu tertera beberapa huruf yang ditulis oleh ouyang Beng, pemilik benteng maut angkatan pertama yang pandai meramal itu.
"Tipu muslihat banyak tersebar dalam dunia persilatan. Bencana timbul dari persaudaraan. Dikala dendam sakit hati terbongkar. Musnahlah penghianat dari muka bumi"
Tapi apakah makna dari empat bait syair itu, sampai sekarang ia masih tak paham, ouyang Beng memiliki ilmu meramal yang amat lihay itu berarti tak mungkin ramalan tersebut diberikan kepadanya tanpa sebab sebab tertentu.
Sepanjang perjalanan pelbagai ingatan serasa berkecamuk dalam benaknya, membuat pikirannya jadi kalut dan tak tenang.
Akhirnya suatu hari, ketika senja baru menjelang tiba, benteng maut telah muncul didepan matanya.
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 3
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 6