Eps 12 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Ombak menggulung ketepi pantai dan menumbuk diatas batu karang, lalu membuyar dan memercikkan busa-busa air yang banyak.
diatas batu karang itu berdirilah sebuah bangunan besar yang kokoh mendatangkan perasaan ngeri bagisiapapun yang melihat, itulah benteng maut Pemandangan disekitar gedung itu tetap seperti sedia kala, sama sekali tak berubah, tapi manusia nya telah mengalami perubahan besar.
Keadaan Han Siong Kie dewasa ini sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan keadaan masa lalu, sekarang ia datang kembali ke dalam benteng maut dengan bekal ilmu si mi sinkang yang maha dahsyat, ia berkeyakinan menagih kembali hutang darahnya dari pamilinya "
Ketika sinar matanya dialihkan kesamping, memandang batu raksasa yang berdiri dengan angker nya tak jauh dari pantai, tiba-tiba saja sekujur badannya bergetar keras.
Disanalah dia mengikat diri sebagai saudara angkat dengan Tonghong Hui, disana juga mereka mengikat janji sehidup semati, disitulah mereka memupuk cinta.
Batu cadas itu masih berdiri seperti sedia, kala, tapi manusianya telah berubah, peristiwanya pun ikut berubah.
-ooo0dw0ooo-BAB 83 WAKTU itu, mungkinkah ia pernah menyangka kalau Tonghong Hui adalah putrinya musuh besar pembantai keluarganya?
Malahan waktu itu mereka saling mengutarakan cinta kasih, saling membentuk kasih sayang yang tak terkirakan besarnya.
Tapi sekarang, dia hendak membunuh ayahnya, inilah kekejaman takdir, karena kesemuanya itu takdirlah yang mengatur.
"Adik Hui, maafkanlah daku"
Ia bergugam lirih.
Sambil mengertak gigi tubuhnya bergerak lebih jauh kedepan, diseberanginya jembatan batu itu, gerbang benteng yang mengerikan itu.
Sebuah lambang kepala tengkorak warna merah darah yang terpancang diatas dinding benteng membuat pemuda itu teringat kembali akan lambang yang sama yang tertera diatas dinding ruang tengah perkampungan keluarga Han, lambang itu telah mengakibatkan terbengkalainya hampir dua ratus sosok tulang belulang anggauta keluarga Han.
Peredaran darah dalam tubuhnya mengalir makin cepat, jantungnya berdebar makin kencang napsu membunuh yang tebal muncul dari dasar hatinya dan menyelimuti seluruh wajahnya.
Secepat sambaran kilat ia melejit keudara lalu meluncur kedalam benteng itu, berada diangkasa kakinya cepat menjejak dinding benteng dan menerobos masuk kedalam halaman sebelah dalam.
Baru saja ia melayang turun ketika segulung hawa pukulan yang maha dahsyat menerpa datang dari depan, menyusul kemudiai muncullah sesosok bayangan hitam didepan matanya.
Han Siong Kie tertawa sinis, dengan suatu ayunan tangan yang cepat dia punahkan datangnya sergapan tajam yang muncul dari arah depan itu kemudian dengan sinar mata setajam sembilu di tatapnya penyerang itu tanpa berkedip.
Dia tak lain adalah simanusia aneh berambut panjang yang pernah ditemuinya dalam benteng tempo hari, dia pula orang yang memapak pulang Tong hong -Hui ketika ada ditepi sungai tempo dulu dan oleh gadis itu dipanggil sebagai siau suhengnya.
Manusia aneh berambut panjang itu sendiri berdiri dengan wajah menggidikkan hati, sinarmatanya tajam menyeramkan membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik dan ketakutan.
Tentu saja Han Siong Kie tidak akan ketakutan dibuatnya, sambil menggertak gigi dia malah membentak keras.
"Panggil keluar gurumu, suruh dia kemari untuk temui aku"
Manusia aneh itu berdiri kaku tanpa bergerak barang sedikitpUn jua, seolah-olah tidak diacuhkan teriakan tersebut sementara matanya yang mengidikkan hati itu mengawasi gerak gerik Han Siong Kie tanpa berkedip.
"suruh tengkorak maut unjukkan diri"
Sekali lagi Han Siong Kie membentak keras.
Manusia aneh masih belum juga beranjak dari tempatnya semula, malahan kali ini sambil berpekik aneh dia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang maha dahsyat.
Dahsyat sekali angin pukulan yang dihasilkan oleh serangan tersebut, bukan saja cepat bahkan kehebatannya membuat nyali orang jadi rontok rasanya.
Han Siong Kie tertawa dingin, ketika serangan lawan hampir mencapai pada sasarannya, tiba-tiba tangan kirinya berputar kencang untuk punahkan dua buah serangan yang mengancam keselamatan tubuhnya itu, menyusul kemudian telapak tangan kanannya disodok kemuka menyongsong tibanya serangan ketiga dari musuh.
"Blaaang..."
Suatu benturan yang dahsyat tak dapat dihindari lagi, oleh benturan tersebut si manusia aneh berambut panjang itu terlempar ke belakang dan mundur beberapa langkah.
"Uwaaak..."
Sambil berkaok aneh, tiba-tiba manusia aneh itu rentangkan kembali sepasang lengannya, setelah membentuk gerakan melingkar yang saling bersilang didepan dada, dia menolaknya kemuka.
Hembusan angin panas yang menyengat badan seketika itu juga memancar kemuka dan menekan dada lawannya dengan kekuatan bagaikan gulungan ombak disamudra bebas.
Han Siong Kie terkesiap.
dia tahu pukulan yang dipraktekkan si manusia aneh itu pastilah ilmu silat aliran khusus dari benteng maut, jago lihay kelas satupun belum tentu dapat menahan gempuran yang sangat mengerikan itu.
Untuk menghindari sebala kemungkinan yang tak diinginkan, anak muda itu tak berani bertindak gegabah, dihimpunnya ilmu sakti si mi sin kang sampai delapan bagian besarnya, kemudian ditolaknya kedepan untuk membendung serangan lawan.
Suatu ledakkan dahsyat kembali menggelegar diangkasa, kali ini manusia aneh tersebut tak kuasa menahan diri lagi, sambil berpekik nyaring karena kesakitan tubuhnya mencelat sejauh dua kaki kebelakang, darah segar memancar keluar bagaikan semburan mata air.
Han Siong Kie mendengas dingin, dia tak sudi menengok keadaan musuhnya lagi, begitu simanusia aneh itu terjengkang dalam keadaan luka, sontak ia lanjutkan perjalanannya lagi maju kedepan.
Keheningan yang luar biasa mencekam sekeliling tempat itu, suasana penuh diliputi ketegangan, kengerian dan kegelapan, jalan jalan raya yang sempit, rumah-rumah batu yang tersebar disana sini terasa begitu kelabu, mendatangkan perasaan ngeri dan menggidikkan hati bagi siapapun yang menemuinya..
Selang sesaat kemudian, ia sudah tiba disebuah persimpangan jalan, pemuda itu mulai sangsi, kemana ia harus pergi ?
Ia cukup menyadari kelihayan rumah-rumah batu itu, sebab semua rumah batu yang ada disitu dibangun sesuai dengan sebuah barisan yang maha dahsyat, dan tempo hari dia pernah merasakan kelihayan dari barisan rumah-rumah batu itu Selain barisan sakti, diapun tahu bahwa dibalik rumahrumah berbatu yang tertutup rapat itu mendekam jago-jago lihay dunia persilatan yang disekap disana, Im yang siang sat termasuk dua diantaranya.
Menerjang masuk kedalam benteng dengan mendobrak barisan rumah batu?
Pemuda itu cukup mengetahui kemampuan sendiri, tak mungkin baginya untuk menembusi barisan aneh itu dengan mudah.
Atau mungkin membumi ratakan saja rumah-rumah batu itu ?
Tentu saja dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, bukan pekerjaan yang terlampau sulit baginya untuk melaksanakan itu, tapi diapun tahu akibatnya.
Orang-orang yang disekap dalam rumah-rumah batu itu pasti akan mampus semua, sebagai korbannya.
Sementara anak muda itu masik sangsi, tiba-tiba dari arah belakang tubuhnya ia mendengar sesuatu yang aneh.
"Malaikat penyakitan. Nyalimu benar-benar terlampu besar, kembali kau muncul disini"
Dingin dan mengerikan sekali suara teguran itu.
Tak terkirakan rasa kaget yang dialami Han Siong Ki waktu itu, suara tersebut cukup dikenal olehnya sebab itulah dari pemilik benteng maut, si tengkorak maut adanya.
Malaikat panyakitan adalah nama samarannya ketika ia datang memenuhi tugas yang dibebankan gurunya Mo tiong ci mo tempo dulu, tentu saja diapun tahu bahwa malaikat penyakitan masih berlaku bagi sebutannya.
Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir ia putar badan, tapi apa yang kemudian terpapar dihadapan matanya membuat ia tercekat dan hampir saja berseru kaget.
Kurang lebih dua kaki didepan matanya berdiri seorang kakek berjubah hijau, dialah pemilik benteng maut, hanya kali ini kerudung wajahnya telah dilepas hingga tampaklah raut wajah aslinya.
Betul betul setajam sembilu sinar mata orang itu, wajah Han Siong Kie yang ditatapnya itu seakan-akan mau ditelan secara bulat.
Han Siong Kie sendiripun dipengaruhi pergolakan emosi, berhadapan muka dengan musuh besar pembantai keluarganya, ia merasa peredaran darah dalam tubuhnya mengalir makin cepat, matanya merah berapi api, napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya membuat ia tampak menyeringai seram, lebih seram dari malaikat buas macam apa pun.
"Malaikat penyakitan, kau masih berani datang kemari...."
Tegur pemilik benteng maut dengan suara berat.
"Tengkorak maut, dengarkan baik baik, teriak pemuda itu sambil menggertak gigi, tempo hari aku datang kemari untuk melaksanakan tugas guruku maka aku bernama Malaikat penyakitan, tapi ini hari aku datang untuk urusan pribadiku, maka kugunakan nama asliku sendiri Han Siong Kie"
"Han Siong Kie?"
"Benar, aku Han Siong Kie datang kemari untuk menyelesaikan hutang darah yang telah kau lupakan dimasa lalu."
"Hutang darah ....? HaaaHh... haaaHh... haaah.... selama hidup entah berapa banyak sudah hutang darah yang kubuat, banyak pula penagih-penagih nya datang kemari menuntut pokok dan bunganya tapi.... hehehe.... Aku rasa belum pernah ada yang pulang dalam keadaan segar bugar nah, katakanlah dengan cara apa hutang darahmu itu akan kau tagih kembali?"
"Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa"
Mendengar jawaban tersebut sekali lagi pemilik benteng maut tertawa terbahak bahak, mengerikan sekali suaranya.
"Bagus, bagus boleh saja kau lakukan asal kemampuanmu cukup untuk menagihnya kembali"
Dalam keadaan begini boleh dibilang seluruh benak dan perasaan Han Siong Kie hanya dipenuhi oleh ingatan untuk membalas dendam, terhadap pesan yang diucapkan orang yang kehilangan sukma berulang kali itu boleh dibilang sama sekali telah terlupakan, sekarang dia hanya membutuhkan pembalasan dendam, lain tidak.
"Tengkorak maut akan kucincang tubuhmu berkepingkeping, lalu kuhancurkan badanmu jadi abu"
Teriaknya dengan suara geram.
"Hmm, silahkan dicincang."
Jengek pemilik benteng maut dengan senyuman dingin tersungging di ujung bibirnya, tentu saja ia tak pandang sebelah matapun terhadap lawannya ini karena sudah dua kali ia berhasil membikin musuhnya itu keok.
Han Siong Kie mendengus dingin, dia lancarkan pula sebuah pukulan maha dahsyat, kalau bisa inginnya dia bunuh musuh yang dibencinya itu dalam satu pukulan, karena itu dia telah menyertakan tenaga pukulannya sebesar sepuluh bagian lebih, dapat dibayangkan betapa dahsyatnya getaran angin pukulan yang dihasilkan dari serangan tersebut.
Terkejut juga pemilik benteng maut menghadapi ancaman yang tak terkirakan dahsyatnya itu, sebagai seorang jago yang berpengalaman, cukup dalam sekali pandangan saja ia telah tahu bahwa Han Siong Ki yang dihadapinya sekarang bukanlah Han Siong Ki yang dulu, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang berkali kali lipat lebih hebat daripada apa yang pernah dikenalnya.
Berada dalam keadaan seperti ini ia tak berani bertindak gegabah, serta merta telapak tangannya diputar untuk menangkis tibanya ancaman-ancaman yang menggetarkan itu...
"Duuk.... Blaaang"
Benturan dahsyat tak terhindar lagi, deras dan nyaring ledakan yang kemudian terjadi hingga memekikkan telinga orang, kedua belah pihak sama sama tergetar mundur selangkah oleh daya pantulan yang dihasilkan oleh gempuran itu.
Han Siong Ki tak mau menyerah dengan begitu saja, ia melejit lantas menerkam kemuka, dengan jurus Ngo ong kou ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan lagi sebuah pukulan dengan mengerahkan segenap kemampuan yamg dimilikinya.
Pemilik benteng maut mendengus dingin-sepasang tangannya ditebaskan berbareng ke muka, bukan saja ia berhasil memusnahkan serangan maut yang ganas dan maha dahsyat itu, malahan digunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk melepaskan pula tiga buah serangan balasan-Pertarungan sengitpun segera berkobar, pertempuran ini betul betul berjalan dengan seru dan mendebarkan hati, selama ratusan tahun belakangan belum pernah terjadi pertarungan sedahyat itu, bumi serasa ikut bergoncang, debu beterbangan kemana-mana, membuat orang yang sempat mengintip jalannya pertarungan itu ikut bergetar karena ngeri.
Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu boleh dibilang sama-sama sempurnanya, setelah saling bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, terlihatlah begitu dahsyat dan mendebarkan hati.
Deruan angin pukulan menyapujagad bagaikan amukan taufan, batu dan pasir bermuncratan keempat penjuru, debu beterbangan menyelimuti seluruh angkasa, menambah seram dan tegangnya pertarungan-Kian lama pertarungan itu kian bergeser mendekati dua buah rumah batu yang ada disekitar sana, termakan oleh deruan angin pukulan yang maha dahsyat itu, bangunan rumah rumah itu bergoncang dan bergetar keras seperti tertimpa gempa.
Terkejut juga pemiilik benteng maut menghadapi seranganserangan itu, ia merasa telah berjumpa dengan lawan tandingan yang belum pernah di alaminya selama hidup, dan mimpipun dia tak menyangka kalau pihak musuh memiliki tenaga dalam sehebat itu.
Dalam waktu singkat seratus gebrakan sudah lewat tanpa terasa, makin bertarung Han Siong Kie semakin gigih, tenaga dalamnya mengalir ke luar tiada habisnya dan semua serangan yang dipakai rata rata adalah serangan mematikan yang mengerikan.
Sementara itu, pemilik benteng maut sendiri makin bertempur hatinya merasa makin bergidik, lima puluh gebrakan kemudian posisinya makin keteter hebat, ia dipaksa berada dibawah angin dan mundur terus tiada hentinya...
Tiba tiba pemilik benteng maut membentak keras, jurus serangannya segera dirubah, secara berun ia lancarkan tiga buah serangan berantai yang memaksa Han Siong Kie mundur sejauh lima depa dari tempat semula, sepasang tangannya itu di sodok dan ditarik secara berlawanan, dan segulung hembusan angin yang anehpun menyambar kemuka.
Perubahan jurus serangan ini boleh dibilang dilakukan sangat cepat dan sama sekali diluar dugaan.
Han Siong Kie cukup berpengalaman untuk menghadapi serangan serangan musuhnya, dari gerakan yang dilakukan kakek itu dia lantas mengerti bahwa musuh akan menggunakan ilmu Coan hiat sin goan ciang yang dapat membuat orang tak mampu menghimpun tenaganya itu untuk menghadapinya, ia terkesiap serentak tubuhnya melejit ke samping dan berusaha untuk menghindarkan diri.
Tampaknya pemilik benteng maut sudah memperhitungkan gerakan yang bakal dilakukan lawan, sementara Han Siong Ki bergeser kearah samping ternyata serangan anehnya itupun memapak dari samping pula, dengan demikian bukan saja Han Siong Ki tak dapat menghindarkan diri dari ancaman itu, dia malahan menyongsong datangnya ancaman-Detik itu juga sianak muda itu merasakan sekujur badannya bergetar keras, hawa murninya terasa seperti tersumbat sesuatu, sadarlah ia bahwa gelagat tidak menguntungkan.
"Aduh celaka..."
Bisiknya dihati. Dipihak lain, pemilik benteng maut telah melanjutkan dengan serangan berikutnya, segulung hembusan angin yang maha dahsyat segera menggulung kemuka dan menghantam tubuh musuh.
"Duuk..."
Dalam keadaan tenaga murni yang membuyar, sulit bagi Han Siong Kie untuk menghindarkan diri, serangan itu bersarang telak diatas dadanya ....
Pemuda itu menjerit tertahan, sambil muntah darah tubuhnya tergentar mundur sejauh delapan langkah lebih kebelakang.
Berhasil dengan serangannya yang pertama, pemilik benteng maut menyusul kemuka lebih jauh jari-jari tangannya bagaikan pancingan secepat kilat mencengkeram kedepan.
Han Siong Kie terancam bahaya, ia betul-betul terdesak hebat, apalagi menderita luka parah ini menyebabkan posisinya tidak menguntungkan, tapi ia tak sudi menyerah dengan begitu saja, jari-jari tangannya balas menyodok kedepan dengan ilmu jari Tong kim ci yang maha dahsyat itu.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan pemilik benteng maut, seketika itu juga tubuhnya terhajar oleh beberapa buah desiran angin jari yang amat tajam itu.
Untunglah ilmu sinkang peindung badannya cukup sempurna, selain daripada itu serangan tadi pun dilancarkan Han Siong Ki dalam keadaan tergesa-gesa, otomatis tenaga serangan yang dilancarkan dalam serangan itupun jauh lebih lemah dari keadaan semula, kalau tidak begitu, mungkin tubuh pemilik benteng maut sudah bertambah dengan beberapa buah lubang besar....
Terkena serangan tadi, pemilik benteng maut mendengus tertahan, tubuhnya segera melompat mundur ke belakang.
Kali ini Han Siong Kie tak mau mengalah lagi, ia menerjang maju kedepan, tenaga sakti si mi sin kang yang dimilikinya dihimpun mencapai dua belas bagian, kemudian pelan-pelan dilontarkan kedepan.
Gulungan kabut berwarna putih yang cukup tebal segera memancar keudara dan menggulung di sekeliling badan lawan.
Menghadapi ancaman maut itu, Pemilik benteng maut merasa hatinya bergidik, tak kuasa lagi dia berseru kaget.
"Haaah... ? Ilmu sakti Si mi sinkang...??"
Sekalipun demikian, kakek sakti itu tiada maksud untuk menghindar ataupun berkelit, sepasang tangannya balas diayun kedepan, telapak kanannya berubah jadi putih bagaikan pualam, sedang tangan kirinya hitam pekat melebihi angus, dengan dua macam pukulan yang berbeda ia sambut tibanya gulungan kabut putih yang sedang menyerang datang itu.
Tentu saja untuk menghindarkan diri dari segala macam kemungkinan yang tak diinginkan, ia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dalam serangan tersebut.
Dengan demikian, menang kalahpun segera akan diputuskan dalam benturan tersebut Ledakan dahsyat yang kemudian terjadi sangat menggetarkan sukma, diantara desingan angin tajam yang mencabik-cabik udara, terdengar seseorang menjerit kesakitan ....
"Blaaang.... braakl.."
Akibat dari gempuran hawa pukulan yang menyebar ke empat penjuru, dua buah bangunan rumah batu yang berada dihadapannya terhantam telak dan roboh ke tanah.
Paras muka Han Siong Kie berubah jadi hijau membesi, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan, dan titik darah menodai ujung bibirnya.
Pemilik benteng maut sendiri jatuh terduduk satu kaki dari posisinya semula, ia muntah darah berulang kali, paras mukanya berubah jadi pucat mengerikan.
Untuk sesaat suasana jadi hening tak kedengaran sedikit suarapun, tapi akhirnya Han Siong Kie berjalan maju kedepan, pelan pelan tangannya di angkat ke udara lalu dihampirinya pemilik benteng maut yang masih menggeletak ditanah ...."
Sreet sreet...
sreet...
Tiga langkah kakinya yang bergesek di atas tanah menimbulkan ketegangan yang makin mencekam hati, hawa pembunuhan semakin tebal menyelimuti sekeliling tempat itu.
Terbalik pemilik benteng maut duduk dengan mata melotot lebar, diawasinya gerak gerik Han Siong Kie yang sedang bergeser maju selangkah bumi selangkah itu, tangan kanannya tiba tiba diayun ke atas, jari tengahnya ditempelkan tepat diatas jalan darah Thay yang hiat sendiri, tentu saja sebagai seorang jago kawakan yang bernama besar, ia tak sudi mampus ditangan seorang bocah ingusan yang tak bernama.
Gelisah sekali Han Siong Kie menghadapi kejadian tersebut, sebab andaikata pemilik benteng maut sampai membunuh diri, itu berarti akan hilanglah satu satunya kesempatan baginya untuk membalas dendam dengan tangannya sendiri.
Karena kuatir bercampur panik, tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, secepat sambaran petir jari tangannya disentil kedepan, segulung angin serangan yang amat cepat dan dahsyat segera meluncur ke depan dan menyerang musuhnya itu.
Pemilik benteng maut mendengus tertahan, lengan kanannya tersambar angin totokan itu hingga terkulai kebawah, menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah dia melompat ke depan dan menghampiri musuhnya yang masih duduk dengan wajah terkejut itu.
Mula mula Pemilik benteng maut masih melotot dengan sinar mata penuh perasaan benci, dendam dan sakit hati, tapi sesaat kemudian ia sudah tertunduk dengan wajah sedih, mimpipun ia tak menyangka kalau begitulah akhir dari masa kejayaan nya.
Pelan pelan matanya dipejamkan, ia pasrah.......
ia pasrah pada nasib dan akan menerima apa yang bakal menimpa atas dirinya.
"Hei Tengkorak maut"
Han Siong Ki membentak nyaring "sayang kau hanya akan mati satu kali, kalau tidak.... heeehhh....heeehh... heeehh.... akan kusuruh kau merasakan bagaimana kalau mampus sebanyak seratus kali"
"Kau tak usah banyak bicara mau turun tangan ayolah cepat turun tangan ...."
Suara itu hanpir diucapkan dengan setengah berbisik, begitu lirih, rendah dan layu, sedikitpun tidak mirip sebagai suara dari seorang gembong iblis yang ditakuti setiap orang persilatan.
Telapak tangan Han Siong Ki telah terangkat di tengah udara, asal tenaga serangannya dilontarkan niscaya gembong iblis yang lihay itu akan mati secara mengenaskan ......
Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, ini membuat tangannya yang sudah terangkat keudara segera diturunkan kembali, tiba-tiba saja ia teringat akan diri Tonghong-Hui, kekasih hatinya yang telah bersumpah akan sehidup semati dengannya.
Ia terbayang pula ketika dirinya terjebak dalam wilayah Lian huan tan hingga akhirnya ia pura pura mati dengan ilmu Ku si tay hoat, Tonghong-Hui telah buatkan batu nisan didepan kuburannya diatas batu nisan itu ia meninggalkan tulisan yang mengatakan bahwa dia akan membalaskan dendam bagi kematiannya, lalu akan bunuh diri untuk menyusulnya.
Setelah itu, ketika ia dipaksa oleh Tengkorak maut gadungan terjun kedalam jurang diluar lembah kematian, tanpa ragu-ragu Tonghong-Hui ikut terjun pula kedalam jurang.
Sekalipun kedua-duanya tak sampai mengakibatkan kematiannya, tapi dari sini terbuktilah sudah bahwa ia sangat mencintai dirinya dengan sepenuh hati.
Tapi sekarang....
dia harus membunuh ayahnya .....
dan kejadian ini tak mungkin bisa dihindari lagi ....
Yaaa, betapa tidak ?
seluruh anggota keluarganya sebanyak dua ratus jiwa telah dibantai secara keji, apakah sakit hati sedalam lautan ini harus diabaikan dengan begitu saja?
Sekujur tubuhnya terasa mengejang keras, ia merasa sangat menderita, tersiksa hingga hatinya terasa sakit sekali.
"Hey Tengkorak maut"
Tegurnya selang sesaat kemudian.
"Apakah kau ada pesan-pesan terakhir yang hendak diutarakan??"
"Ada ...."
Jawab pemilik benteng maut dengan sedih.
"Kalau memang ada, ayo katakan saja mumpung masih ada kesempatan, asal permintaanmu tidak kelewat batas, bisa saja kukabulkan"
"Pertama, aku harap kau bersedia melepaskan putri kesayanganku Tonghong-Hui, sekarang dia kusekap dibenteng belakang"
"Akan kupenuhi permintaanmu itu"
Han Siong Kie berjanji, meskipun dengan hati yang pedih.
"Kedua, di ruang belakang benteng ini terdapat jenasah dari istriku yang diawetkan, aku harap jenasah itu jangan kau ganggu ataupun engkau rusak"
"Ehmm, soal inipun dapat kupenuhi"
Sekilas senyuman lega terpancar diatas wajah pemilik benteng maut yang berkeriput, tampaknya ia merasa beban beratnya telah terlepas dari bahunya, dia pun berbisik lirih.
"Kalau memang kau bersedia penuhi permintaanku itu, Nah sekarang boleh kau cabut nyawaku ini"
Han Siong Kie menggertak giginya, sekali lagi dia angkat telapak tangannya ke udara dan siap dibabat kebawah.......
"Han Siong Kie, jangan...."
Tiba tiba serentetan teriakan tajam berkumandang datang memecahkan keheningan yang mencekam sekitar tempat kejadian itu.
Dengan hati terkejut Han Siong-Kie menarik kembali telapak tangannya dan berpaling, Tonghong Hui...
benar Tonghong Hui yang dicintainya itu tiba-tiba muncul dihadapan matanya.
Gadis itu kelihatan pucat pias seperti mayat tubuhnya kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, bukan begitu paras mukanya tempo hari hampir saja anak muda itu tidak mengenalnya lagi, tapi ia tahu dara itu memang kekasihnya, ia berdiri di depan bangunan rumah batu yang ambruk tersambar angin pukulan itu.
"Adik Hui, kau .... kau.."
Untuk sesaat anak muda itu tergagap hingga tak mampu melanjutkan kembali kata katanya.
"Kau ... kau.... tak boleh..."
"Adik Hui, aku mohon kepadamu maafkanlah daku, persoalan ini tak mungkin dapat diselesaikan dengan begitu saja"
Kata Han Siong Kie dengan hati pedih.
"kau tak usah kuatir adik Hui, selesai kulaksanakan tugasku ini, aku pasti akan memberikan pertanggungan jawab kepadamu, dan sekarang aku mohon kepadamu, mundurlah dari sini"
"Budak ingusan, enyah kau dari tempat ini"
Tiba-tiba pemilik benteng maut membentak pula dengan lantang. Tonghong-Hui memutar biji matanya, dua baris air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Ayah Aku bukannya tak mau turuti perkataanmu, tapi aku hendak mengatakan sesuatu, ketahuilah dia adalah Han..."
"Enyah Aku tak mau mendengarkan perkataanmu, ayoh segera tinggalkan tempat ini...."
"Tapi.... tapi.... ayah, dia adalah putra dari jisuko, Han si wi"
Akhirnya gadis itu berteriak keras.
Han Siong Kie terkesiap.
ia merasa sekujur tubuhnya jadi dingin dan menggigil keras, ia merasa badannya seperti kena listrik bertegangan tinggi, hampir tak dipercayainya suara yang terdengar barusan ....
"Ji suko? kakak seperguruan nomor dua?"
Jeritnya dihati.
"ia memanggil ayahku sebagai Ji-suko? Wah, kalau begitu... buu.... bukankah ini berarti..."
Sebelum ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Pemilik benteng maut telah melototkan sepasang matanya lebar-lebar, menggidikkan sinar mata yang terpancar dari matanya itu.
"Apa yang kau bilang?"
Bentaknya.
"Dia adalah putra tunggal dari ji suko Han si Wi"
"Putranya"
"Benar Putranya..."
"Mengapa tidak kau katakan semenjak tadi?"
"Tapi ayah kan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara? kedatangan bibi ke benteng kitapun lantaran persoalan ini, tapi ayah tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menerangkan persoalan ini, sebelum bibi berkata apaapa, ayah telah mengusirnya dari benteng kita, andaikata siau suheng tidak melepaskan aku keluar dari sekapan mungkin akibatnya mengerikan sekali."
Han Siong Kie mendengar pula perkataan itu, sontak kepalanya terasa pusing, matanya jadi gelap.
dengan sempoyongan tubuhnya mundur sejauh lima kaki, hampir saja dia jatuh terjengkang keatas tanah saking kagetnya.
Mimpipun ia tak menyangka kalau ayahnya tak lain adalah anggota perguruan dari Benteng maut.
Keheningan segera menerkam seluruh udara, siapapun tak buka suara lagi, masing-masing orang terjerumus dengan jalan pikirannya sendiri-sendiri Teka teki yang selama ini selalu menghantui pikiran dan perasaan Han Siong Kie, akhirnya sebagian telah peroleh jawabannya.
Sekarang ia baru mengerti apa sebabnya sebelum bunuh diri, paman gurunya si tangan naga beracun Thio Lin melarang dia untuk membalas dendam, diapun baru paham mengapa paman gurunya berkata bahwa semuanya itu adalah kehendak perguruan, tidaklah aneh kalau pembunuhnya tak lain adalah gurunya sendiri.
Orang yang kehilangan sukma selalu menganjurkan kepadanya agar berkunjung kebenteng maut dan menuturkan asal usulnya, sekarangpun dia sudah mengerti apa alasannya.
Selain itu diapun mulai memahami mengapa orang yang kehilangan sukma selalu berusaha untuk mewujudkan perkawinannya dengan Go siau-bi, dan ia selalu menentang hubungannya dengan Tonghong Hui, bahkan mengatakan pula bahwa hubungan itu akan mengakibatkan kejadian yang tragis.
Sekarang ia baru sadar ternyata Tonghong-Hui adalah sukohnya sendiri, tentu saja seorang keponakan murid tak mungkin bisa kawin dengan bibi gurunya sendiri, apalagi tradisi pada jaman itu masih ketat sekali.
Berpikir sampai disini, tanpa sadar lagi ia berpaling dan mengerling sekejap ke arah Tonghong-Hui, kebetulan Tonghong Hui sendiripun sedang mengerling kearahnya dengan sinar mata yang redup dan penuh dengan kepedihan hati.
Ketika empat mata saling bertemu, pemuda itu merasakan hatinya pedih dan amat sakit, hampir saja ia melelehkan air mata saking tak tahannya buru-buru ia tarik kembali pandangannya dan melengos kearah lain.
Sekarang ia teringat kembali akan diri Tengkorak maut ....
mengapa sekejam itu hatinya?
mengapa begitu tega hatinya uatuk membantai keluarga muridnya dengan cara yang begitu keji?
dari paman gurunya, si tangan naga beracun Thio Lin juga mengalami nasib yang sama, mengapa paman gurunya tidak menyesal atau mendendam?
Malah ia bunuh diri dan mengatakan bahwa ia melakukan kesemuanya itu demi melaksanakan perintah gurunya.
Iapun tahu bahwa orang yang kehilangan sukma mengetahui semua latar belakang dari peristiwa berdarah itu, tapi anehnya mengapa ia membungkam terus?
Mengapa tak pernah ia bongkar rahasia dibalik kesemuanya itu.
Pemilik benteng maut sendiripun berdiri termangu seperti orang yang kehilangan semangat, lama sekali ia baru menegur.
"Anak Hui, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Semua anggota keluarga dari Ji suko dan sam suko telah dibantai orang pada hari Tiong yang lima belas tahun berselang, semua anggota keluarga dibunuh secara keji, dan diatas dinding ruangan tertera lambang dari tengkorak maut."
Tiba tiba sekujur badan pemilik benteng maut bergetar keras, ia seperti terkejut mendengar kabar itu, lalu setelah mendengus dengan marah ia muntah darah segar.
"Keluarga mereka dibantai orang dengan kejam?"
Jeritnya sambil berusaha meronta bangun.
"Benar"
Tonghong-Hui mengangguk dengan sedih.
"sebab itulah Han Siong Kie datang kemari untuk membalas dendam"
Dengan sempoyongan Pemilik benteng maut coba bangkit berdiri, tapi badannya terlampau lemah ia terduduk kembali ditanah.
"Sudah dua puluh tahun lebih aku tak pernah tinggalkan pintu gerbang benteng ini"
Teriaknya dengan suara keras.
"sungguh tak kusangka ada orang mencatut namaku untuk melakukan kejahatan HHmm, bagaimana dengan toa suhengmu Sim si kiat??"
"Jejaknya sudah menghilang dari dunia persilatan"
"Bagaimana pula dengan suci mu ong cui ing??"
Agak terkejut perasaan Han Siong Kie ketika nama ibunya disinggung, sekarang ia baru tahu kalau dia dan ayahnya adalah sesama saudara perguruan yang kemudian menikah.
Tonghong Hui tidak langsung menjawab, ia melirik sekejap kearah sianak muda itu.
"Su suci telah menikah lagi dengan Thian che kaucu"
Sahutnya kemudian.
"Dia kawin lagi dengan Thian che kaucu?"
"Benar"
Tiba tiba Han Siong Kie mengeluh, ia tak dapat mengendalikan perasaannya yang bergolak lagi, akhirnya pemuda itu jatuhkan diri berlutut di hadapan pemilik benteng maut itu.
"oooh... sucou, ampunilah cucu muridmu yang berdosa"
Serunya dengan air mata bercucuran.
"ampunilah kelancangan cucu muridmu yang telah berbuat kasar padamu...."
Pemilik benteng maut tersenyum, ia tak sakit hati atau mendendam oleh peristiwa yang baru saja berlangsung, wajahnya malahan kelihatan bertambah cerah.
"Bangunlah anakku, dalam peristiwa ini kau tak dapat disalahkan, tindakanmu itu adalah benar"
Bisiknya.
Han Siong Kie tidak langsung berdiri, kembali dia anggukkan kepalanya sampai tiga kali sebelum akhirnya bangkit berdiri Pemilik benteng maut menatap tajam wajah si anak muda itu, sesaat kemudian ia bertanya.
"Tempo hari aku kan sudah menotok jalan darahmu dengan ilmu totokan khusus? siapa yang telah membebaskan totokanmu itu?"
Disinggung soal itu Han Siong Ki teringat kembali akan diri orang yang kehilangan sukma, dia pun terkenang kembali tindakan perempuan misterius yang sudah mengutungi lengan sendiri, sekujur tubuhnya kontan bergetar keras.
Diapun teringat kembali dengan kata-kata yang dipesan oleh orang yang kehilangan sukma, maka diambilnya kutungan lengan itu dari sakunya lalu diangsurkan kedepan.
"Apa apaan kau?"
Tegur pemilik benteng maut dengan pandangan dia tidak habis mengerti.
"Dia telah membebaskan jalan darahku yang tertotok maka aku diperintahkan untuk menyerahkan kutungan lengannya kepada sucou"
"Ibumu yang kau maksudkan?"
Kakek itu bertanya keheranan.
"Bukan"
"Lalu siapa?"
"Akupun tak tahu siapakah dia, tapi ia menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma"
"Orang yang kehilangan sukma?"
"Benar, seorang perempuan misterius"
"Ilmu Tiam hiat ning kang hoat (totokan pembeku tenaga) dari perguruan kami adalah suatu kepandaian ampuh yang tak dapat dibebaskan oleh siapapun didunia ini, menurut peraturan perguruan, barang siapa dijatuhi hukuman dengan kepandaian tersebut, maka kecuali dibebaskan oleh orang yang melakukan totokan tersebut, murid-murid yang lain tak dapat membebaskannya, siapakah orang itu? Mengapa ia menguasai pula ilmu khusus dari perguruan kami itu...."
Sesudah bergumam beberapa saat, ia berpaling kearah Tonghong-Hui dan tanyanya.
"Mungkinkah bibimu?"
Han Siong Kie cukup mengetahui siapa yang disebut sebagai bibinya Tonghong-Hui, sebab orang itu tak lain adalah Ang nio cu Tonghong Leng sinenek berbaju merah yang tibatiba munculkan diri dan mengajak Malaikat hawa dingin Mo siu ing berduel, dikala ia dikurung jago jago persilatan untuk menagih balas.
Tonghong-Hui segera menggeleng.
"Ketika bibi datang kemari, aku lihat sepasang tangannya masih utuh, lagipula akupun pernah bertemu dengan orang yang kehilangan sukma itu, sekalipun paras mukanya memakai kain cadar, tapi aku yakin kalau orang itu bukan bibi"
"Atau mungkinkah suhu dan sucou telah menerima murid lagi diluar benteng?"
Gumam pemilik benteng maut. Tiba-tiba Han Siong Kie teringat akan satu urusan, cepat ia menukas.
"Ketika cucunda berada dalam lembah kematian, dari mulut Hekpek siang yau dapat kuketahui bahwa sutay cou sebenarnya tak lain adalah kokcu dari lembah kematian" -ooo0dw0ooo-BAB 84
"APA? sutay coumu?"
Seru pemilik benteng maut dengan wajah terkesiap bercampur keheranan.
"Benar, ia bernama ouyang Beng."
"Oooh masa ia? ouyang Beng memang nama sutay coumu, aai.... sungguh tak kusangka ia masih hidup didunia ini, apakah kau telah menyambanginya..."
"Belum, cucunda tak berjodoh untuk menjumpainya, sebab sudah hampir lima puluh tahunan sutay sang cou tak pernah keluar dari tempat pertapaannya, menurut Hekpek siang yau, orang tua mempunyai kepandaian untuk meramal kejadian dimasa mendatang, malahan telah tinggalkan pula secarik kertas...."
"Mana kertas itu? Perlihatkan kepadaku" -000odwo000-
Jilid 41 HAN SIONG KIE mengambilnya keluar dan diangsurkan pada kakek gurunya dengan hormat.
"Banyak tipu muslihat dalam dunia persilatan, bencana timbulnya dari sesama saudara, bila dendam kusumat telah jadi terang, itulah saatnya penghianat terbasmi ...."
Membaca sampai disitu Pemilik benteng maut berhenti sebentar dengan dahi berkenyit, lalu terusnya.
"Apa maksud kata-kata itu ? sesama saudara ? Penghianat ? Benar-benar bikin orang jadi pusing dan tak habis mengerti ... atau raungkin ....ah, tak mungkin Tak mungkin Anak Ki, maksudmu Hek pek siang yau ....."
"Benar, tempo hari Hekpek siang yau berhasil ditundukkan sutay sangcou dan disekap dalam lembah kematian, menurut pesannya lima puluh tahun kemudian bila ada orang yang memasuki lembah ini, maka orang pertama yang ditemui itulah majikannya ...."
Serta merta Han Siong Kie menceritakan apa yang dialaminya selama itu kepada kakek gurunya.
Mendengar kisah tersebut, pemilik benteng maut maupun Tonghong-Hui berdiri dengan wajah tercengang, boleh dibilang kejadian ini merupakan kejadian paling aneh yang pernah ditemuinya.
Pikiran dan perasaan Han Siong Kie ketika itu sangat kalut dan tidak tenteram, ia bagaikan berada dalam impian yang menakutkan.
Yaa...
kejadian dalam dunia kadang kala memang diluar dugaan dan membuat orang sukar untuk mempercayainya.
Mimpipun tak pernah ia sangka, musuh besar yang selama ini dibencinya tak lain tak bukan adalah kakek gurunya sendiri Lalu siapakah musuh besarnya?
siapakah yang telah mencatut nama sucounya untuk melakukan pembantaian keji yang sama sekali tak kenal peri kemanusiaan itu?
Apakah tujuan pembunuh itu melakukan pembantaian yang tak kenal apapun?
Mungkinkah otaknya miring?
Siapa pula manusia yang menamakan dirinya orang yang kehilangan sukma?
Benarkah dia anggota perguruan Benteng maut?
darimana ia tahu dengan begitu jelas semua peristiwa, semua tragedi yang dialaminya selama ini?
Perempuan misterius itu pernah berkata, ia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keluarganya, hubungan apakah itu?
Agaknya diapun mempunyai hubungan yang luar biasa sekali d engan perkumpulan Thian ce kau sebab kalau tidak, darimana datangnya tanda kebesaran Thian che leng yang dimilikinya itu?
Demi menyelamatkan jiwanya, perempuan itu telah membinasakan utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang merupakan jago lihay kelas satu dalam perkumpulan itu, bukan ia hanya membunuh seorang saja, mengapa ia berbuat demikian?
Teka teki suatu teka teki yang sukar dipecahkan....
"Aku harus pergi mencarinya"
Tak kuasa lagi berseru keras.
"Siapa yang akan kau cari?"
Tiba tiba pemilik benteng maut bertanya dengan wajah tertegun-"Manusia yang kehilangan sukma.
Kemungkinan besar dia tahu siapa yang mencatut nama sucou untuk melakukan pembantaian biadab itu, tapi aku lihat perempuan itupun mempunyai suatu rahasia tertentu yang membuat dia harus bertindak misterius, baik dalam gerak gerik maupun dalam perkataan semuanya serba membingungkan hati orang "
"Ehmm, aku pikir asal usul perempuan itu memang patut dicurigai, memang sepantasnya kalau kau cari orang itu dan selidiki duduknya persoalan ini sampai jelas"
"Tapi perempuan itu sukar dicari jejaknya, gerak geriknya ibarat naga sakti yang tampak kepala tak kelihatan ekornya, sukar untuk diikuti jejak yang sebetulnya.."
"Sucoumu sudah bersumpah tak akan meninggalkan benteng ini walau setengah langkahpun, lebih baik persoalan ini kau selidiki bersama bibi gurumu"
Tonghong-Hui merasakan hatinya sedih dan sakit sekali, ia tertunduk dengan wajah kusut, paras mukanya bertambah pucat pias sehingga tampak menakutkan sekali.
Paras muka Han Siong Kie yang tampanpun kelihatan kejang keras, Tonghong-Hui adalah bibi gurunya, apakah pertanda diri kenyataan tersebut?
Antara dia dan dia tak mungkin akan menikah, selamanya mereka tak mungkin bersatu, sebab mereka berasal dari tingkatan yang berbeda, tidak mungkinkah seorang keponakan menikahi bibinya??
Yaa cinta Cinta yang murni telah terukir dalam dalam dalam lubuk hatinya, cinta sehidup semati, sampai dunia kiamatpun cinta itu tak akan luluh...
"Tidak"
Ia menjerit sekeras-kerasnya didalam hati.
"aku tak akan menerima kenyataan ini, bila dendamku telah terbalas, akan kuajak dia untuk pergi jauh dari keramaian dunia, akan kuajak dia ketempat yang tak didatangi manusia, disana tak akan berlaku segala tradisi dan adat istiadat yang cuma berlaku didunia ini, aku hanya tahu dia cinta padaku dan Aku cinta padanya, aku akan mengawininya dan hidup sampai hari tua nanti ..... aku harus melakukan ini, walau apapun yang akan terjadi ....."
Tapi bayangan tubuh gadis lain cepat melintas pula dalam benaknya, itulah bayangan dari Go siau bi.
"Aku telah mempunyai hubungan suami istri dengannya, walaupun atas nama saja ....."
Pikiran tersebut terasa bagaikan sebilah pisau tajam yang menusuk lubuk hatinya, dia menggigil dan mundur dengan sempoyongan.
"Mari kita ke benteng sebelah belakang"
Suara ajakan dari Pemilik benteng maut memecahkan kesunyian.
Selesai berkata ia lantas beranjak dan menuju ke belakang, meskipun langkahnya masih gontai seperti orang mabok.
Han Siong Kie merasa amat menyesal, ia tak menyangka kakek gurunya harus terluka ditangannya, andaikata .....
yaa andaikata dia mau menuruti nasehat orang yang kehilangan sukma, seandainya ia mau menuturkan asal usulnya lebih dahulu, kejadian yang tak diinginkan itu pasti tak akan dialaminya, kakek gurunya tentu tak akan terluka parah oleh serangan maut si mi sinkang ilmu andalannya.
Bersama Tonghong-Hui, ia berjalan dibelakang pemilik benteng maut, mereka berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan siapapun tidak saling berpandangan, tapi mereka tahu bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu, sebab mimik wajah masing-masing telah berbicara lebih jelas .....
Setelah melewati barisan rumah batu, mereka menerobos dalam sebuah taman bunga yang luas dan hebat, dan akhirnya lima buah gedung besar yang megah dan mentereng muncul didepan mata, sayang gedung itu sudah berlumut disana sini hingga menambah seramnya suasana ditempat itu.
Mereka masuk kedalam gedung utama yang berada ditengah, setelah masuk kedalam ruangan sebuah meja sembahyangan tampak terletak ditengah ruangan, diatas meja itu terletaklah sebuah tengkorak kepala manusia yang berwarna merah darah.
Agak bergidik Han Siong Kie menyaksikan adegan itu, jantungnya terasa berdetak lebih cepat tengkorak merah itu persis tak ada bedanya dengan tengkorak merah tiruan yang pernah dilihatnya tempo hari.
"Kalian duduklah dulu"
Kata pemilik benteng maut kemudian setelah dia sendiri duduk dikursi yang berada disebelah kanan-Dengan mulut membungkam Han Siong Kie maupun Tonghong-Hui mengambil tempat duduknya masing masing.
Setelah semua orang duduk.
pemilik benteng maut baru berpaling kearah Han Siong Kie sambil bertanya.
"Benarkah engkau adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo (Iblis diantara iblis) Tong Ceng??"
"Benar"
Pemuda itu mengangguk.
"Kalau begitu tentunya engkau juga seorang ciangbunjin dari perguruan Thian lam bukan?"
"Benar, cucu murid secara resmi telah memangku jabatan tersebut"
"Bagus, engkau dapat mengalami banyak kejadian yang hebat dan diluar dugaan, arwah ayahmu dialam baka tentu akan memandang engkau sambil tersenyum, sekarang kisahkanlah peristiwa berdarah yang telah menimpa keluargamu"
Dengan air mata bercucuran karena sedih, Han Siong Kie mengisahkan kembali tragedi yang telah menimpa perkampungan keluarga Han .....
Mendengar kisah cerita tersebut, pemilik benteng maut merasakan rambutnya pada berdiri tegak semua bagaikan landak.
mukanya merah darah, sekujur badannya gemetar keras karena menahan emosi yang meluap-luap.
Terdengar Han Siong Kie berkata lebih jauh.
"Thian che kaucu Yu Pia lam pernah memerintahkan seorang anak buahnya yang tergabung dalam utusan khusus perkumpulan Thian che kau untuk menyaru sebagai sucou"
"Ooooh iya? Jangan jangan tragedi berdarah yang menimpa perkanpungan keluarga Han ada sangkut pautnya dengan perkumpulan Thian che kau??"
"Aku rasa hal ini tidak mungkin"
Sahut pemuda itu sambil menggeleng "sebab apa yang kukatakan barusan belum lama berselang dalam dunia persilatan utusan khusus perkumpulan Thian che-kau pun belum lama muncul dalam dunia persilatan, apalagi orang yang menyaru sebagai sucou telah tecu bunuh maka tecu rasa hal ini tak mungkin terjadi"
"Apakah engkau tahu apa maksud dan tujuannya menyaru sebagai diriku....??"
Tanya pemilik benteng maut setelah termenung sejenak.
"Aku rasa tujuannya adalah mencatut nama sucou untuk menakut nakuti musuh musuhnya dan berhasrat untuk menumpas semua perkumpulan dan partai yang ada didunia ini"
"Pernahkah engkau dengar seseorang yang bernama sim si kiat dalam dunia persilatan? Dia adalah toa supekmu"
"Tecu belum pernah mendengar nama orang itu disebut orang, tecu tidak mengetahuinya"
"Aku rasa engkaupun harus memperhatikan pula beberapa patah kata yang tercantum dalam surat ramalan yang dihadiahkan sutay sangcoumu kepadamu itu, menurut catatan tersebut dikatakan bahwa bencana datangnya dari persaudaraan, itu berarti ada perebutan diantara sesama saudara masih ada lagi kata kata yang terakhir, dikala penghianat terbasmi, penghianat yang dimaksudkan disini berarti orang sendiri, kau harus tahu bahwa ayahmu suhengte ada enam orang, ayahmu dan Thio Lin telah mati, ibumu kawin lagi, sukoh dan siau susiokmu selalu berada dalam benteng, toa supekmu seorang yakni Sim si kiat yang tak diketahui jejaknya, maka aku jadi menaruh curiga bahwa perbuatan ini kemungkinan besar adalah hasil karyanya"
"Tapi.... mungkinkah hal ini terjadi?"
Seru Han Siong Kie sambil membelalakkan matanya.
"mengapa ia berbuat demikian? Mungkinkah ia tega membinasakan sesama saudara seperguruan sendiri?"
"Mungkin atau tidak mungkin sukar untuk dikatakan sebelum dilakukan suatu penyelidikan yang seksama, maka kuanjurkan kepadamu, setelah berlalu dari sini nanti, tugasmu yang pertama nanti bersama bibi gurumu adalah menemukan jejak dari toa supekmu itu, dua puluh tahun berselang ia berdiam diperkampungan sim keh ci, kurang lebih lima belas li diluar kota Tian sah, setelah itu engkau baru selidiki jejak dari manusia yang kehilangan sukma mengerti.
Han Siong Kie mengangguk.
"Perkampungan sim keh ci, lima belas li diluar kota Tiang sah ...."
Gumannya seorang diri.
Selama pembicaraan berlangsung, Tonghong-Hui hanya tertunduk dengan sedih, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Kembali suasana diliputi, keheningan ....
lama sekali pemilik benteng maut baru berkata lagi.
"Anak Ki, tahukah engkau siapa nama sucoumu ini?"
"Cucu murid tidak tahu"
Pemilik benteng maut menghela napas panjang, katanya.
"Sucoumu bernama Hou thian it koay (manusia aneh dari kolong langit) Tong hong Liang"
Setelah mendengar nama itu Han Siong Kie baru mengerti, tidak aneh ketika gurunya Mo tiong ci mo memerintahkan ia datang mengunjungi benteng maut tempo hari, dia harus meneriakkan kata kata sebagai berikut.
"Satu iblis keluar, satu iblis tertumpas, Mo-tiong ci mo bertemu dengan it hou"
Sekarang ia baru mengerti, yang dimaksudkan it hou disitu adalah julukan dari kakek gurunya.
Menyusul kemudian, pemilik benteng maut simanusia aneh dari kolong langit Tonghong Liang, menuding tengkorak kepala manusia berwarna merah darah ywng terletak diatas meja itu lalu katanya.
"Lihatlah, batok kepala ini adalah batok kepala dari sutay cou mu cu ceng hoa, pemilik benteng maut angkatan kedua"
Ketika perkataan itu diucapkan keluar, bukan saja Han Siong Kie tertegun saking kaget dan herannya, bahkan Tonghong Hui sendiripun ikut terkesiap.
mungkin sebelumnya tak pernah mendengar ayahnya menceritakan asal usul dari Tengkorak berdarah itu.
Paras muka pemilik benteng maut yang sudah berkeriput, kini tampak keren dan penuh kewibawaan, lalu dengan suara yang berat dan dalam katanya lebih jauh.
"Sutay sang cou mu Ouyang Beng adalah pendiri benteng ini, tapi lantaran suatu kesalah pahaman tempo hari ia telah cekcok dengan sutay sang cou bomu sehingga dalam gusarnya tay sang cou bo mu itu mencukur rambut dan hidup sebagai padri diatas bukit Tay huang san..."
"Oooh..jadi su tay sang cou bo itu adalah "Tay huang sinni??"
Seru Han Siong Kie tak tertahan-"Benar, Dari mana kau bisa tahu??"
"Cucu murid pernah mendapat jodoh dan bertemu muka satu kali dengan dia orang tua"
Untuk mencegah agar Go siau bi jangan mencukur rambutnya jadi pendeta, sianak muda itu telah menyerbu kekuil Bu cian dibukit Tay huang san, tapi dalam suatu adu jurus serangan ia telah dikalahkan Tay huang sinni sehingga harus kawin dengan Go siau bi, tentu saja akibat dari peristiwa tersebut cukup dalam kesannya terhadap rahib tua itu.
Tentu saja mimpipun ia tak menyangka kalau rahib tua tersebut sebetulnya mempunyai hubungan yang erat sekali dengannya.
Tiba tiba ia teringat kembali akan diri orang yang kehilangan sukma, otak dari rencana pertarungan tersebut, jangan jangan dia adalah .....
Berpikir sampai disitu, tak tahan lagi ia berseru dengan suara keras.
"Aaaah .... tiba tiba saja cucu murid teringat akan satu kejadian yang patut dicurigai"
"Persoalan apakah itu?"
"Ketika aku berada dibukit Tay huang-san tempo hari, orang yang kehilangan sukmapun hadir pula didalam kuil tersebut"
"Oooh... iya?"
Kata pemilik benteng maut seperti orang tercengang.
"Kalau begitu, kemungkinan besar orang yang kehilangan sukma anak murid yang diterima oleh sutay sang cou bomu itu, maka dari itu diapun mengetahui dengan jelas semua peraturan serta ilmu silat dari benteng maut kita ini, dan oleh sebab itu juga dia harus mengutungi telapak tangan sendiri setelah membebaskan jalan darahmu yang tertotok "
"Tapi .... andaikata dia adalah muridnya sutay sang coubo semestinya ia panggil sinni sebagai guru bukan? Aku dengar ia membahasai rahib sakti itu sebagai locianpwe"
"Yaaa, apa gerangan yang sebenarnya terjadi memang sulit bagi kita untuk menebaknya, siapa tahu dibalik kesemuanya itu terdapat pula hal lain yang mencurigakan? Apa salahnya kalau sekalian kau selidiki sampai menjadi terang?"
"Baik, sucou"
Pemuda itu mengiakan.
"Nah, kalau begitu dengarkan lagi kata kataku berikut ini"
Kata pemilik benteng maut.
"sejak percekcokan itu, sutay sang cou mu ouyang Beng juga meninggalkan benteng dengan marah, semenjak peristiwa itu jejaknya lenyap dengan begitu saja dari muka bumi, aaai.... Tak kusangka puluhan tahun kemudian, engkau telah berjodoh dengannya dan berhasil menemukan kembali jejaknya."
Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya kembali.
"Empat puluh tahun berselang, sutay cou mu Cu ceng huan yakni pemilik benteng maut angkatan kedua telah dikerubuti ratusan orang jago lihay diatas bukit Hua san, kemudian entah apa yang telah terjadi, tahu tahu kembali kedalam benteng.
Ketika berbicara sampai disini, sinar mata yang buas, bengis dan penuh perasaan dendam memancar keluar dari balik mata kakek baju hijau itu, kembali ia berhenti sesaat lamanya.
"Tak terkirakan rasa dendam, benci dan marahku waktu itu, bahkan hampir mendekati kalap."
Ia melanjutkan.
"aku lantas gunakan kerangka batok kepala sendiri bagaimanakah musuh musuh besarnya satu demi satu rontok mencium bumi dan mampus secara mengerikan"
Han Siong Kie terkesima oleh cerita itu, baginya kisah yang diucapkan pemilik benteng maut ini benar benar merupakan suatu kisah yang menawan hati.
Ternyata pemilik benteng maut tidak bicara lagi, ia malah bangkit berdiri.
"Anak Hui, bawa dia pergi bersantap"
Katanya pada Tonghong Hui.
"setelah itu kau boleh ajak dia keluar dari benteng untuk melaksanakan pekerjaan, kalian tak perlu datang menjumpai aku lagi"
Selesai berkata ia putar badan dan masuk kedalam.
Tonghong-Hui maupun Han Siong Kie tidak berbicara lagi, selesai menangsal perut, mereka bebenah sebentar dan akhirnya berangkat meninggalkan benteng tersebut.
Perjalanan dilakukan amat lambat, sambil pelan-pelan jalan bersanding dijalan raya, kedua orang itu terbuai oleh perasaan masing-masing yang terasa berat dan penuh dengan penderitaan batin-"Adik Hui"
Akhirnya pmuda itu membuka suara.
"apakah kau ...."
"Aku adalah bibi gurumu"
Tukas Tonghong Hui sedih, lirih sekali suaranya membikin hati jadi iba.
Bagaikan disambar listrik bertegangan tinggi Han Siong Kie bergetar keras, benar, dia adalah bibi gurunya, dia adalah adik seperguruan ayahnya, kenyataan ini tak mungkin dapat dirubah walau dengan cara apapunjuga, tapi ...
apakah lantaran persoalan ini, cinta kasih mereka yang telah merasuk kedalam tulang dapat diabaikan dengan begitu saja?
Tentu saja tidak "Adik Hui, kau ....."
"Ooooh...engkoh Kie"
Akhirnya Tonghong Hui tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia memanggil dengan isak tangis yang tertahan, air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya yang putih.
Ia membenci dirinya sendiri, membenci imannya yang begitu lemah sehingga tak mempunyai keberanian untuk mengendalikan diri, dengan jelas dia tahu andaikata selangkah lagi dia maju ke muka maka tubuhnya akan terjerumus kedalam jurang yang tak terkirakan dalamnya, tapi ia tak dapat mengendalikan sendiri, ia tak dapat menguasai keinginannya untuk maju, padahal dia telah menyadari bahwa akibatnya mengerikan sekali.
Han Siong Kie telah menghentikan langkahnya, ia menghampiri gadis itu dan menggenggam tangannya erat erat.
"Adik Hui, lihatlah wajahmu layu dan pucat, mengapa musti kau bersedih hati?"
Bisiknya.
"Mengapa? mengapa? Tentu saja karena nasibku yang buruk. apakah aku tak boleh bersedih hati?"
Sahut nona itu dengan suara yang mengibakan hati.
"Aaaai.... apakah kita harus pasrah dengan begitu saja? Adik Hui, mengapa kita tidak mendobrak nasib kita ini? mengapa tidak kita coba menentang takdir?"
"Tapi.. mungkinkah itu bisa berhasil? mungkin kah kau dapat merubah takdir?"
Empat mata yang berkaca kaca saling berpandangan tanpa berkedip.
lama...
lama sekali akhirnya kedua orang itu saling berpandangan dan tertawa, sekalipun tertawa mereka adalah tertawa yang getir, tertawa yang sayu dan penuh penderitaan.
Akhirnya....
merekapun berpelukan dan berciuman dengan mesra, untuk sementara waktu mereka membuang jauh jauh semua kenyataan yang terpapar didepan mata, mereka berusaha menghibur hati masing masing dengan ciuman yang panjang dan hangat itu Tentu saja ciuman yang panjang dan hangat itu tak dapat merubah kenyataan yang telah ada, sekalipun dibalik ciuman itu tersembunyi penderitaan dan tekanan batin yang lebih dalam, tapi mereka tetap memilih cara itu untuk menghibur perasaan masing masing.
Pada saat itulah tiba tiba terdengar suara helaan napas panjang yang berat dan penuh kekesalan berkumandang diudara.
Mendengar helaan napas panjang itu, Han Siong Kie berdua jadi kaget dan segera melepaskan diri dari pelukan, dengan sinar mata yang tajam diperiksanya sekeliling tempat itu dengan tatapan tajam, namun tiada sesosok bayangan manusiapun.
Ditepi jalan raya adalah sebuah sungai dengan air yang mengalir dengan derasnya, sedang disamping sebelah lain merupakan sebuah hutan rimba yang amat lebat.
Han Siong Kie segera menjejakan kakinya ketanah dan meluncur kearah hutan itu, dari kejauhan ia saksikan sesosok bayangan manusia berwarna putih sedang bergerak masuk kedalam hutan dengan kecepatan seperti sukma gentayangan, hal ini segera menimbulkan sifat ingin menang daiam hati anak muda itu, pikirnya.
"Aku tak percaya kalau tak dapat menyusul dirimu, akan kulihat siapa gerangan dirimu yang sebenarnya....."
Karena berpikir begitu, ia percepat gerakan tubuhnya untuk mengejar masuk kedalam hutan, begitu cepatnya pemuda itu bergerak hingga sekilas pandangan mirip segumpal asap tipis yang menggulung.
Bayangan putih itu bukan manusia sembarangan, rupanya ilmu silat yang dimilikipun terhitung tinggi, ini dapat dilihat kecepatan geraknya yang luar biasa, kendati Han Siong Kie sudah mempercepat larinya toh tidak berhasil juga mengurangi selisih jarak diantara mereka.
Kejar mengejarpun segera berlangsung dengan ketatnya, dalam sekejap mata puluhan li sudah lewat tanpa terasa, sekilas pandangan Han Siong Kie merasa amat kenal dengan potongan badan bayangan putih itu, bahkan diapun tahu kalau orang itu adalah perempuan, hanya ia tak dapat menyebutkan siapakah dia?
Perasaan ingin tahu yang makin menjadi membuat pemuda itu segan melepaskan mangsanya dengan begitu saja, maka dikejarnya orang itu dengan ketat.
Bayangan putih itu cukup cerdik juga untuk melepaskan diri dari pengejaran lawan, setiap kali ia tentu berubah arah sekalipun tak pernah melewati batas batas hutan tersebut, kendatipun demikian, oleh karena ia berlarian dengan menerobosi hutan hutan lebat yang sering kali menutupi penglihatan orang, maka sekalipun tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie lebih lihaypun sulit baginya untuk menyusul lawannya.
Sementara itu, Tonghong Hui sendiri sudah bersiap siap menyusul Han Siong Kie setelah ditunggunya pemuda itu belum muncul juga disana...
Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang menegur dengan suara lembut.
"Nona Tonghong, rupanya kau telah melupakan perkataanku? Bukankah begitu .....?"
Tonghong Hui merasakan hatinya bergetar keras seakan akan terjerumus kedalam liang es, yang dinginnya bukan kepalang, sekujur tubuhnya menggigil keras dan bulu kuduknya pada bangun berdiri tanpa berpaling ia sudah tahu siapakah orang yang berada dibelakangnya, kontan mukanya berubah jadi pucat kehijau hijauan, sedih sekali rasanya waktu itu.
Dengan perasaan yang berat, pelan-pelan ia putar badan dan menghadap kearah orang Benar juga, beberapa meter dihadapannya berdirilah seorang perempuan berkerudung, dia tak lain adalah orang yang kehilangan sukma, manusia paling misterius didunia ini.
Dengan kaku Tonghong Hui memandang perempuan berkerudung itu, hatinya terasa amat pedih dan sakit bagaikan ditusuk tusuk dengan jarum, begitu sedih hatinya sehingga untuk sesaat tak mampu mengucapkan sepatah katapun..
"Nona Tonghong, mengapa tidak kau ayunkan pedang kecerdikanmu untuk memutuskan benang cinta yang masih membelenggu hatimu? mengapa tidak cepat-cepat kau putuskan saja semua hubunganmu dengannya?"
Tegur orang yang kehilangan sukma dengan suara dalam dan berat. Sepasang mata Tonghong Hui berubah jadi merah karena sedih, hampir saja air matanya jatuh bercucuran.
"Cianpwe...."
Ia berbisik.
"Aku... ketika aku berjumpa dengannya, tiba tiba saja keberanianku hilang.... aku tak punya keberanian untuk menampiknya, aku ...."
Akhirnya air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, ia menjadi sesenggukan dan tak mampu berbicara lagi.
"Nona Tonghong, apakah dia telah tahu apa sebenarnya hubunganmu dengan dirinya?"
Orang yang kehilangan sukma bertanya lagi.
"Sudah tahu, tapi.... tapi dia..."
"Adik Hui, kau boleh panggil aku sebagai cicimu dan selama ini akupun selalu menganggap engkau sebagai adikku sendiri Janganlah kau anggap tindakanku menceraikan hubungan kalian adalah suatu perbuatan yang keji. Tidak Aku tidak bermaksud jahat terhadap kalian, aku berbuat demikian adalah demi kebaikan kalian sendiri."
"Tidak Aku tak pernah mempunyai pikiran seperti itu, aku tahu tindakanmu ini benar"
Tonghong Hui terisak dengan sedihnya.
"akupun tahu bahwa aku hakekatnya adalah bibi gurunya, kita tak mungkin bisa bersatu, selama lamanya tak mungkin dapat bersatu Tapi..."
"Kenapa?"
"Hatiku, perasaanku dan semua cintaku, kasih sayangku telah kupersembahkan kepadanya, bahkan semua.... semua yang kumiliki telah kuberikan kepadanya .... aku tak punya apa-apa lagi, aku hanya tahu dia telah mendapatkan semua yang kumilikinya ......"
"Aku tahu tentang hal ini adikku, justru bila kau mencintai dirinya maka kau harus tinggalkan dia sendiri, cinta itu adalah suatu pengorbanan, cinta bukan suatu pengangkangan, tentunya kau cukup memahami bukan bagaimana mengerikannya akibat dari hubungan kalian itu? Bukan saja tiada kebahagiaan yang dapat kalian rasakan, bahkan kau berdua bakal terjerumus dalam jurang yang tiada terkirakan dalamnya, dan sekarang aku telah melihat akibat yang mungkin terjadi aku tak dapat berdiam diri dengan begitu saja, karena itu adikku ...."
Tonghong Hui menengadah memandang kelangit, seakanakan dia hendak melimpahkan semua kemurungan, semua kesedihan dan penderitaannya kepada awan diangkasa...
orang yang kehilangan sukma menghela nafas sedih, kembali ia berkata lagi.
"Adikku, aku tahu peristiwa ini akan merupakan suatu penderitaan, suatu siksaan batin yang sukar ditahan, tapi ketika kau teringat kembali keluarga ji suko mu yang telah dibantai orang sampai habis, ketika kau teringat kembali bahwa dia adalah satu satunya keturunan keluarga Han yang masih hidup, kau harus menyadari dan memakluminya, apalagi jika ayahmu mengetahui akan peristiwa ini ...."
Ketika mendengar ayahnya disinggung, Tonghong Hui merasakan sekujur badannya gemetar keras, hampir saja ia jatuh terjengkang keatas tanah saking lemasnya ...."
Benar, jikanya ayahnya... pemilik benteng maut, manusia paling aneh dikolong langit Tonghong Liang mengetahui akan kejadian ini ....oooh sungguh mengerikan sekali akibatnya.
"Laa.. lalu apa... apa yang harus kulakukan?"
Akhirnya gadis itu berbisik dengan lirih.
"Berusahalah untuk menjauhi dirinya, berusaha mengorbankan cinta kasihmu dan kuasahi juga perasaan cintamu sendiri"
"Yaaa .... aku harus menjauhi dirinya, aku harus mengendalikan perasaan cinta dalam hatiku sendiri ......"
Nada ucapannya amat sedih dan memilukan hati seakan akan ia sedang menjawab pertanyaan dari orang yang kehilangan sukma, seakan-akan pula sedang bertanya kepada diri sendiri.
Tiba tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya kalau ia telah kehilangan pemuda yang dicintainya, lalu apa arti kehidupan bagi dirinya lagi?
Apa pula gunanya ia tetap hidup didunia yang dirasakan sudah hampa, kosong dan tiada sesuatu yang dapat dikenang kembali itu?
Diam diam ia mulai menyumpahi nasibnya yang buruk.
menyumpahi nasib jelek yang selalu menimpa dirinya, mengapa ketika berada di Lian huan tau, Han Siong Kie tidak sungguh-sungguh mati saja.
Mengapa ketika terjun kedalam jurang didepan lembah kematian, mereka berdua tidak mati saja bersama-sama?
Hidup tak dapat bersatu, mati tak dapat seliang kubur, apa yang berhasil ia dapatkan?
Akhirnya yang diperoleh cuma khayalan belaka, khayalan belaka, khayalan yang kosong dan tak berujud ia tak berhasil mendapatkan apa apa....
Tentu saja bukan hasil maya yang dimaksudkan buktinya ia mendapat pula balasan cinta dari pemuda kekasihnya, meski cinta itu tak berkelanjutan dan harus terputus ditengah jalan.
"Adikku, apakah engkau sudah berhasil memahami perkataanku itu...?"
Tiba-tiba orang kehilangan sukma berkata lagi, suaranya penuh permintaan maaf, simpatik dan sedih.
"Yaa... aku... Aku telah memahaminya, Aku dapat menangkap maksudmu...."
"Kalau memang begitu, akan kuberitahumu lagi satu hal padamu, dia telah mempunyai ikatan perkawinan dengan nona Go siau bi, dan gadis itu secara resmi telah menjadi istrinya"
"Apa? Dia..... dia.... dia sudah punya istri...."
Tonghong Hui merasa kepalanya bagaikan disambar geledek.
pandangan matanya jadi gelap.
kepalanya terasa tujuh keliling, bibirnya jadi pucat dan hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri ....
Ia tak menyangka ....yaa ia tak menyangka ....pemuda kekasih hatinya itu sudah menikah dengan perempuan lain....
"Sungguhkah itu?"
Akhirnya dia berbisik.
"Tentu saja, bahkan sutay coubo mu Tay huang sinni menjadi saksi dalam pertunangan itu, tapi engkau harus memaafkan perbuatannya itu sebab posisinya ketika itu didesak karena dia hampir saja nona Go siau bi menelantarkan masa depannya, bahkan tidak mengurusi dendam sakit hatinya lagi dan akan mencukur rambut jadi pendeta, sebaliknya pemuda itu harus melakukan perkawinan tersebut karena ia tahu ketidakbaktian ada tiga macam, tidak punya keturunan merupakan ketidakbaktian yang paling utama..."
Ketika mendengar perkataan itu, tiba tiba aja.
Tonghong Hui menengadah dan tertawa tergelak.
suaranya tinggi melengking seperti jeritan kuntilanak ditengah malam buta, tertawa itu tidak mirip suara tertawa tapi lebih mirip sebagai suara tangis, suara tangisan yang sangat memilukan.
Berdiri semua bulu kuduk siapapun yang mendengar suara itu, akan melelehkan air mata orang yang mendengar suara aneh tersebut .....yaa, suara itu memang terlampau tak sedap didengar bagi pendengaran manusia biasa.
Tak terkirakan rasa kaget yang dialami orang yang kehilangan sukma, secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang, lalu serunya agak panik.
"Adikku, kenapa kau.... kenapa kau....???" -ooo0dw0ooo-BAB 85
"AKU... Kenapa aku...? Haaahhh... haaahhh... haaahhh"
Seperti orang gila Tonghong Hui hanya tergelak terus dengan lengkingnya.
"Adikku, engkau harus mengendalikan perasaanmu, gunakanlah otakmu untuk berpikir, janganlah terpengaruh oleh emosi, mungkin sebentar lagi Han Siong Kie akan tiba disini"
Tonghong Hui menghentikan suara tertawanya yang lebih mirip dengan perbuatan orang gila itu, lalu dengan suara yang memelas katanya.
"Bagaimana dengan aku...? Bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya .... Tanpa dia, aku merasa tiada berarti hidup didunia ini, aku merasa kehidupan akan kusong, bagaimana dengan aku?"
"Adikku"
Orang yang kehilangan sukma hanya bisa memanggil dengan suara yang pedih.
Tiba tiba Tonghong Hui maju kedepan beberapa langkah, dengan sinar matanya yang agak liar seperti orang buas ditatapnya wajah orang yang kehilangan sukma yang berkerudung itu, lalu dengan suara parau dia berseru lirih.
"Cianpwe ....."
"Jangan sebut aku sebagai cianpwe, panggil saja cici, sebab sepantasnya kau memanggil enci kepadaku"
Tukas perempuan misterius itu dengan suara yang lembut.
"Cici? Tidak. aku lihat usia putrimu orang yang ada maksud kemungkinan besar sebaya dengan usiaku, mungkin juga ...."
"Sekalipun usia kami jauh berbeda, akan tetapi tingkatan ayahmu jauh lebih tinggi dari kami semua, karena kau setingkat dengan aku, dan sepantasnya memanggil cici kepadamu"
"Cici ......."
"Apa yang hendak kau katakan lagi? Nah, katakanlah terus terang... tak usah ragu ragu lagi"
"Tolong sampaikan kepada Han Siong Kie, katakanlah agar ia tak usah merindukan aku lagi"
"Jadi .....jadi....kau akan meninggalkan dirinya?"
Seru perempuan misterius itu kaget.
"Apakah masih ada cara lain yang lebih baik daripada meninggalkan dirinya?"
Bukan menjawab Tonghong Hui malah balik bertanya.
"Dia tak akan tahan menerima kesemuanya ini, kau tak boleh melakukan segala tindakan secara gegabah dan mengikuti hawa napsu sendiri"
"Lalu kau anggap aku bisa menahan diri serta mengendalikan siksaan batinku bila berada disampingnya terus?"
"Adikku...lantas.... lantas kau akan pergi kemana? Dapatkah kau katakan padaku?"
"Aku telah mempunyai rencana bagiku sendiri, kau tak usah kuatir...."
Seru Tonghong Hui sesaat kemudian sambil menggeratak gigi menahan diri Tiba tiba ia berbatuk keras, lalu muntah darah segar, hampir saja tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah.
Orang yang kehilangan sukma berteriak kaget, cepat ia maju sambil menyambar pinggangnya, kemudian gumamnya seorang diri.
"Mungkinkah aku yang salah? Mungkinkah tindakan ini keliru ......"
"Tidak, siapapun tidak salah, siapapun tidak keliru, semuanya ini adalah kehendak Thian, inilah yang dinamakan takdir"
Kata Tonghong Hui lirih, ia meronta dan melepaskan diri dari rangkulan perempuan misterius itu ....
"Takdir?"
Gumam orang yang kehilangan sukma.
"benar, ketika masalah yang kita hadapi dan tragedi yang kita alami tak dapat dipecahkan dengan cara apapun, ketika kenyataan yang terpapar didepan mata tak dapat dirombak lagi, kita memang harus menyebut kejadian itu sebagai takdir, memang hanya takdirlah yang tak dapat dirubah lagi"
Perlu diketahui, perasaan Tonghong Hui ketika itu sudah kaku dan mati, tentu saja ia tak dapat menangkap maksud yang lebih dalam dibalik perkataan dari orang yang kehilangan sukma, maka terhadap ucapan tersebutpun dia acuh tak acuh.
"Cici, bukankah engkau mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan benteng maut?"
Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraan itu kesoal yang lain.
"Buat apa kau tanyakan persoalan ini?"
Dengan hati terkejut bercampur keheranan orang yang kehilangan sukma mundur selangkah kebelakang.
"Aku ingin tahu, aku ingin mengerti adakah hubungan antara engkau dengan benteng maut kami"
Suasana hening sejenak .....
"Benar, kami memang memiliki hubungan yang sangat erat sekali"
Akhirnya dia menjawab.
"Hubungan yang bagaimanakah diantara kau dengan pihak kami"
Desak Tonghong Hui lebih jauh. Tapi orang yang kehilangan sukma telah gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sekarang belum dapat kuberitahukan kepadamu, tapi suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya"
Ia berkata.
"Cici, aku ada suatu permintaan lagi, dan permintaan ini mungkin adalah yang paling akhir, apakah kau bersedia untuk mengabulkannya bagiku"
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin menyaksikan raut wajahmu yang sebenarnya, boleh tidak?"
Untuk sesaat orang yang kehilangan sukma agak tertegun, menyusul kemudian ia menggeleng.
"Adikku, terpaksa aku harus menyuruh engkau merasa kecewa, apa yang kau inginkan tak mungkin bisa kupenuhi"
Suasana kembali tercekam dalam keheningan.
"Cici, apakah selama ini secara diam diam kau selalu berada disisi engkoh Kie dan melindungi keselamatannya?"
Tiba-tiba dara itu bertanya lagi dengan lirih.
"Benar"
Suara dari orang yang kehilangan sukma kedengaran agak gemetar menahan emosinya.
"Apakah selanjutnya engkau juga akan berbuat demikian??"
"Tentu saja"
Tonghong Hui menghela nafas panjang, sedih murung dan layu paras mukanya ketika itu.
"Cici, aku rasa aku ....aku harus segera pergi"
Akhirnya dia berbisik lirih.
Tanpa membuang waktu lagi, gadis itu menjejakan kakinya keatas tanah dan lari dari situ secepat-cepatnya.
orang yang kehilangan sukma berdiri termangu, ia tidak bersuara untuk mencegah kepergian gadis itu, pun tidak beranjak untuk menyusulnya, dia hanya memandang bayangan punggungnya sambil bergumam seorang diri.
"Dari dulu sampai sekarang, cinta memang sumber segala bencana, cinta akan membuat orang sengsara dan menderita, siapa yang bermimpi indah dia akan lebih cepat tersadar dari impiannya aaaaii, benarkah ini yang dinamakan takdir ? Atau mungkin aku yang terlalu mementingkan diri sendiri.... bocah yang patut dikasihani, semoga kau dapat bertahan menghadapi percobaan ini, semoga luka luka dalam hatimu dapat disembuhkan oleh berlalunya sang waktu"
"Adik Hui ...."
Tiba tiba seruan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat muncul dari balik hutan belukar dan melayang datang.
Bayangan manusia itu tak lain adalah Han Siong Kie yang dipancing pergi oleh suara helaan napas tadi, ketika bayangan putih yang dikejarnya itu sudah hampir tertangkap.
tiba tiba saja perempuan itu berbelok kebalik semak dan kemudian jejaknya lenyap dengan begitu saja, karena tidak berhasil menemukan kembali orang itu, akhirnya ia teringat kembali Tonghong Hui yang masih di tinggalnya ditepijalan raya.
Maka ia terpaksa harus kembali ke tempat semula dengan tangan hampa.
Dari kejauhan dia lihat sesosok bayangan manausia masih menungu di tepi jalan raya, tanpa memperhatikan lebih seksama lagi ia segera memanggilnya sebagai adik Hui tapi setelah diamati lebih seksama barulah pemuda itu sadar bahwa gelagat tidak beres.
Pelanpelan orang yang kehilangan sukma putar badan dan menghadap sianak muda itu.
"Aaah, cianpwe kiranya kau..."
Han Siong Kie segera berseru.
"Nak, memang akulah yang berada disini"
"Dimanakah adik Hui...."
"Nak. tidak sepantasnya kau sebut dia sebagai adik Hui, kau harus memanggil bibi guru kepadanya"
Tukas perempuan itu cepat.
Han Siong Kie tertegun dan berdiri dengan bibir pucat, kata kata tersebut dirasakan olehnya bagaikan tusukan pisau yang menyayat nyayat hatinya, yaa memang dia adalah bibi gurunya, sebab adik Hui nya telah pergi jauh meninggalkan dirinya dikala rahasia hubungan mereka terungkap.
ia pergi bagaikan embun air yang lenyap saja di udara.
Tiba tiba sepasang tangan dan kakinya terasa jadi kaku, dingin dan kesemutan, ia merasa badannya sukar bergerak lagi .....
Ia telah mengambil keputusan dihati, takdir yang dihadapinya sekarang akan dilawan dengan kekuatannya, selesai membalas dendam dia akan mengajak gadis itu untuk jauh meninggalkan dunia keramaian, dia akan mengajak dara itu hidup ditempat yang sepi hingga akhir tua nanti.
"Nak, dia telah pergi"
Bisikan orang yang kehilangan sukma itu serasa geledek ditengah hari bolong. Han Siong Kie terkesiap dan segera sadar kembali dari lamunannya.
"Dia telah pergi? Dia telah pergi kemana?"
Teriaknya penuh kegelisahan dan rasa cemas.
"Nak. kau tak usah bertanya kemana ia pergi, sebab tindakannya itu memang benar, ia memang sudah sepantasnya meninggalkan dirimu, sebab kalau tidak maka akibatnya...."
"Tidak"
Jerit Han Siong Kie, ia sudah menjejakkan kakinya siap berlalu dari situ ....
"Nak, dengarkan dulu kata kataku ini"
Kata kata itu terasa sangat berwibawa dan mempunyai suatu kekuatan besar yang membuat orang tak dapat melawan, Han Siong Kie segera menghentikan gerakan tubuhnya.
Pelan pelan orang yang kehilangan sukma mendekatinya, lalu dibelainya bahu anak muda itu dengan penuh kasih sayang, katanya lagi dengan suara yang lembut.
"Nak, ketahuilah dia adalah bibi gurumu, saudara seperguruan dari ayahmu kau tak dapat melanggar tradisi dan adat yang telah berlaku didaratan kita selama ini, cinta adalah suatu pengorbanan, cinta belum tentu harus memilikinya, coba bayangkanlah betapa seram dan mengerikannya akibat dari hubungan itu bila itu kau lanjutkan, tentunya kau tak ingin menyaksikan dia musnah bukan? Nak. kau mesti ingat bahwa pekerjaan yang harus kau lakukan masih terlalu banyak. untuk sementara waktu lupakanlah persoalan ini, dan sekarang ikutlah aku masuk kedalam hutan, aku masih ada beberapa persoalan yang hendak kuberitahukan kepadamu"
Dengan kaku seperti orang yang hilang kesadarannya Han Siong Kie mengikuti perempuan misterius itu masuk kedalam hutan, akhirnya mereka berhenti disuatu tempat yang amat tersembunyi letaknya.
Setelah hening sesaat, orang yang kehilangan sukma pun bertanya.
"Nak, apakah engkau sudah mengujungi benteng maut?"
"Sudah"
Sahut Han-Siong Kie tak acuh.
"Dan engkau telah memahami segala sesuatunya"
"Sudah"
Kembali pemuda itu mengangguk.
"Dendam kesumat sedalam lautan yang harus kau hadapi sekarang apakah untuk sementara waktu dapat melupakan persoalan cintamu dengan perempuan itu...?"
Bagaikan kepalanya dipukul dengan martil besar seketika itu juga Han Siong Kie menjadi sadar kembali, tiba tiba ia amat menyesal dan malu, ini dapat terlihat jelas dari wajahnya yang tampan itu, sontak rasa murung dan sedihnya tersapu lenyap dengan begitu saja.
"Boanpwe menantikan petunjuk selanjutnya"
Ia berbisik dengan kepala tertunduk.
Tiba tiba saja pemuda itu teringat akan sesuatu, ia merasa dapat berjumpa dengan orang yang kehilangan sukma dalam keadaan begini adalah suatu kejadian yang amat kebetulan, pelbagai persoalan yang mencurigakan hati pun seketika berkecamuk dalam benaknya, ia ingin membongkar semua persoalan itu dan berusaha mendapatkan jawabannya sehingga semua kecurigaan dan rasa bingungnya dapat tersapu lenyap.
Tapi ...dari manakah dia harus bertanya?
Persoalan itu ratusan banyaknya, apa yang musti ditanyakan lebih dulu??
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendengarkan dahulu pertanyaan apakah yang hendak diajukan orang yang kehilangan sukma kepadanya.
"Cianpwe, adakah sesuatu petunjuk yang hendak kau katakan kepadaku....?"
Dia bertanya.
"Tidak, bukankah engkau kenal dengan seorang perempuan maha cantik yang gemar mengenakan baju merah darah??"
Berdebar jantung Han Siong Kie mendengar perkataan itu, ia tak menyangka kalau orang yang kehilangan sukma bakal mengajukan pertanyaan yang amat merikukan hatinya itu.
Tapi ia cukup menghormati perempuan ini, bahkan mencintainya bagaikan mencintai ibu sendiri sebab andaikata tiada pertolongan dari mereka berdua mungkin ia sudah mampus seratus kali.
Maka ketika pertanyaan tersebut diajukan kepadanya, diapun tidak mencoba untuk mengelabuhinya, dengan wajah merah padam karena jengah ia mengangguk.
"Yaaa, aku kenal dia"
"Engkau tahu, siapakah perempuan itu sebenarnya?"
"Ia mengaku bernama Buyung Thay, anak murid dari Toh hun sian ci"
"Engkau tahu berapa usianya tahun ini?"
Orang yang kehilangan sukma mendesak lebih jauh.
"Aku pikir.... Aku rasa... paling banter juga baru dua puluhan .... masa lebih?"
"Nak. kau terkecoh kalau menganggap dia baru dua puluhan"
Seru perempuan itu sambil tersenyum.
"paling sedikit usianya tahun ini sudah mendekati empat puluhan, sejak dua puluh tahun berselang ia sudah tersohor dalam dunia persilatan sebagai perempuan yang paling cantik, semua jago lihay angkatan muda jaman itu rata rata pada tergila-gila kepadanya, dialah yang disebut orang sebagai Hong ho (ratu tawon) yang tersohor itu"
Dengan hati terperanjat Han Siong Kie mundur selangkah lebar ke belakang ...
Ratu tawon?
Nama ini jauh sebelumnya sudah pernah didengar dari mulut orang lain, dan sekarang mimpipun ia tak menyangka kalau Buyung Thay yang selama ini dianggapnya sebagai saudara sendiri tak lain adalah Ratu tawon, perempuan cabul yang paling jalang, paling rendah dan paling tak bermoral dari dunia persilatan ....
"Bukankah kecantikannya luar biasa sekali? Dan memiliki daya pikat yang amat hebat?"
Kembali orang yang kehilangan sukma bertanya.
Han Siong Kie hanya bisa mengangguk.
memang kecantikan Buyung Thay hakekatnya memang tak bisa dibantah, sekalipun laki laki berhati sekeras bajapun akan leleh jika dirayu dan dipikat olehnya.
"Dia telah menipu aku"
Jerit Han Siong Kie dalam hati.
"ia mengaku kepadaku sebagai seorang gadis yang malang .....Hmm Bedebah, aku telah kau tipu mentah mentah ...."
Terbayang kembali perbuatannya dengan perempuan itu, terutama ketika ia melakukan hubungan suami istri dengan perempuan itu.. Tanpa terasa peluh dingin telah membasahi sekujur badannya.
"Nak. tahukah engkau akan perbuatan perbuatannya dimasa lalu?"
Orang yang kehilangan sukma bertanya lebih jauh.
"Tentang soal ini...."
"Dia telah kawin dengan Thian che kaucu, tapi tak lama kemudian ia telah meninggalkan kembali suaminya untuk berpetualangan lebih jauh"
Menyinggung soal "ketua Thian che kau Yu Pia lam" , Han Siong Kie merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya jadi mendidih, tanpa terasa dia terbayang kembali akan ibunya si siang go cantik ong cui ing yang telah menikah lagi, diapun teringat akan keturunan Thio susioknya, yakni Thio sau kun, ketua muda perkumpulan Thian che kau untuk saat ini.
"Cianpwe,jangan kau singgung kembali persoalan-persolan semacam itu ....."
Teriaknya dengan gemas. orang yang kehilangan sukma mengangguk.
"Baiklah nak, aku hanya berharap agar engkau jangan melakukan perbuatan yang tolol. Mengerti bukan??"
"Boanpwe mengerti"
"Nah, sekarang katakanlah, apa rencanamu selanjutnya setelah meninggalkan tempat ini?"
"Aku akan mengunjungi perkampungan Sim keh ci di diluar kota Tiang sah untuk menemukan jejak toa supekku Sim si kiat"
"Kali akan mengunjungi perkampungan Sim keh ci??"
Ulang orang yang kehilangan sukma dengan badan bergetar.
"Benar"
"Kau tak usah pergi kesitu lagi, percuma"
"Kenapa?"
"Sejak belasan tahun berselang perkampungan Sim keh ceng telah hancur dan musnah tinggal puing puing yang berserakan"
Agak terkejut Han Siong Kie ketika mendengar berita itu, ia merasa orang yang kehilangan sukma betul betul seorang manusia yang misterius, rupanya persoalan apapun diketahui olehnya, kalau toh perempuan itu mengatakan bahwa perkampungan Sim keh ceng sudah tinggal puing yang berserakan, itu berarti apa yang telah terjadi memang begitulah, tapi bagaimana ia bisa tahu akan persoalan ini?"
"Cianpwe, apakah engkau mengetahui jejak dari toa supekku? sekarang dia berada dimana?"
Serunya penuh emosi.
"Tentu saja aku tahu dimanakah toa supek mu kini berada"
"Katakanlah kepadaku, kini dia berada dimana...."
"Pada saat ini kau tak perlu menemukan jejak nya, sebab hal ini belum terlalu penting"
Tukas perempuan itu cepat.
"Kenapa?"
"Aku hanya mengatakan saatnya belum tiba."
Kembali suatu teka teki yang tak terjawab Tampaknya orang yang kehilangan sukma menguasahi penuh semua persoalan yang ingin diketahuinya, tapi perempuan itu segan untuk mengatakannya keluar, saking gemasnya Han Siong Kie sampai menggertak giginya keras keras, sekalipun demikian ia juga tak dapat birbaat apa apa.
"Cianpwe mengapa kau bertindak sangat misterius?"
Saking tak tahannya pemuda itu menegur.
"Nak. keadaanlah yang memaksa aku harus berbuat demikian, mau tak mau terpaksa aku musti simpan dulu semua rahasia yang tak akan mendatangkan keuntungan bagimu itu"
"Andaikata aku mempunyai banyak persoalan yang hendak ditanyakan padamu, apakah engkau bersedia pula untuk menjawab semua pertanyaan itu"
"Ini tergantung pada pertanyaan apakah yang hendak kau ajukan, kalau aku rasa pertanyaanmu pantas untuk dijawab tentu akan kujawab sebisanya, tapi kalau tak dapat dijawab, terpaksa akupun tak dapat memberitahukannya kepadamu"
"Aku ingin tahu siapakah cianpwe sebenarnya?"
Seru pemuda itu dengan antusias.
"Sekarang belum dapat kukatakan, tapi waktu sudah tak akan lama lagi, nantikan saja tibanya kesempatan itu"
"Bagaimana kalau ingin kuketahui peristiwa yang sebenarnya tentang pembunuhan berdarah yang meliputi dua ratus anggota keluarga Han?"
"Sama saja, saat terbongkarnya rahasia itu sudah sangat dekat, tunggu saja sedikit hari lagi"
"Mengapa Thio susiokku bunuh diri? Mengapa dia melarangku membalas dendam? Apa yang dimaksudkan sebagai perintah gurunya? Aku tahu pembunuh itu sebenarnya bukan Pemilik benteng maut tapi dia ....."
"Cukup.... Cukup.... Nak. jawabanku hanya sepatah kata, tak lama lagi semua rahasia itu akan kau ketahui"
Pada saat itulah tiba tiba dari arah hutan muncul sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa, bayangang itu melayang datang menghampiri dimana mereka berada.
Han Siong Kie merasi amat terperanjat, cepat ia berpaling, sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, tapi setelah pandangannya dipertegas ia baru tahu bahwa orang itu tak lain adalah orang yang ada maksud.
Orang yang ada maksud melirik sekejap kearah Han Siong Kie, lalu menghampiri orang yang kehilangan sukma dan membisikkan sesuatu disisi telinganya.
"Aaaah....jadi begitulah kejadian yang sesungguhnya?"
Bisik orang yang kehilangan sukma kemudian dengan suara gemetar.
"Benar"
Sahut orang yang ada maksud dengan gelisah.
"Waaah.... waah.... kalau... kalau dia sampai melakukan kesalahan besar, urusan kan bisa menjadi berabe."
Keluh orang yang kehilangan sukma semakin gelisah. Tiba tiba dia berpaling ke arah Han Siong Kie, lalu katanya pula.
"Nak, sekarang juga berangkatlah ketebing si-sin gan, kau harus segera berangkat dan mencapai tempat itu sesingkat mungkin, jangan sampai buang waktu barang sedikitpun jua" .
"Tebing si sin gan? Dimanakah itu letaknya ?"
Han Siong Kie bertanya dengan wajah keheranan-"
Tebing si sin gan adalah letak markas besar perkumpulan pat gi pang, tentunya kau mengetahui letaknya bukan?
Apa yang telah terjadi tak usah kuterangkan disini, setibanya ditempat kejadian kau akan mengetahui dengan sendirinya, Nah, ayolah cepat berangkat kesitu "
Tak terkirakan rasa kaget yang dirasakan Han Siong Kie pada saat itu, bibirnya sampai pucat karena terkejut, ia tahu perkumpulan Pat gi-pang sudah hancur dan lenyap dari permukaam bumi, sekarang perkumpulan itu sedang menghimpun kekuatan baru dan akan berdiri lagi dengan resmi tentu saja calon istrinya Go siau bi yang melaksanakan tugas pembangunan tersebut.
Sebagai jago yang cerdik dan cukup berpengalaman, ia lantas mendapat firasat jelek, ia lantas menduga bahwa suatu kejadian yang tidak beres telah terjadi, maka tanpa banyak berbicara lagi dia mengangguk.
"Boanpwe akan segera melaksanakan perintah itu Dan akan kuusahakan secepat-cepatnya tiba ditempat kejadian"
Ia berkata.
"Ingat nak, kau harus cepat berangkat dan kerahkan segenap tenagamu untuk mencapai tempat tersebut, sebab kalau tidak maka akibatnya benar benar sukar dilukiskan dengan kata-kata"
"Cianpwe tak usah kuatir, boanpwe akan ingat selalu perkataan itu serta melaksanakan sebaik mungkin."
Sekalipun keheranan, bingung dan diliputi perasaan tidak mengerti, toh akhirnya berangkat juga Han Siong Kie meninggalkan hutan lebat itu menuju ke tebing si sin ganperjalanan dilakukan dengan sepenuh tenaga, sekilas pandangan tubuhnya ibarat serentetan kilat yang membelah angkasa belaka, cepatnya bukan kepalang.
Esoknya, ketika tengah hari baru menjelang tiba, Han Siong Kie sudah berada lima li di luar tebing si sin gan tersebut.
Pada saat itulah, tiba tiba muncul sesosok bayangan, suatu gerakan yang gesit dan manis bayangan itu jumpalitan beberapa kali diudara lalu melayang turun tepat dihadapan mukanya.
Dengan suatu gerakan yang cekatan Han Siong Kie menahan kembali gerakan tubuhnya, cukup dalam sekali pandangan ia sudah mengetahui bahwa bayangan merah itu tak lain adalah nyonya cantik berbaju merah itu...
Buyung Thay adanya.
Kemunculan perempuan cantik yang sama sekali tak terduga ini tentu saja mencengangkan pemuda kita, ia tak menyangka kalau mereka bakal berjumpa lagi dalam keadaan yang tak diinginkan.
"Titi .... mau kemana kau??"
Merdu nyaring suara panggilan itu, bagaikan kicauan burung nuri dipagi hari, sangat menawan hati siapapun yang mendengarnya.
Han Siong Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, mukanya jadi merah dan nyaris dia memanggil perempaan itu juga dengan teriakan "cici"
Untunglah saat itu juga ia teringat kembali dengan kata kata yang diucapkan orang yang kehilangan sukma belum lama berselang, teriakan yang sudah berada diujung bibir serta merta ditelan lagi kedalam perut, dia hanya mengiakan dengan hambar.
"Eeeh... titi, kenapa kau?"
Kembali Buyung Thay menegur dengan rupa orang tercengang.
Han Siong Kie menunduk rendah-rendah, sinar matanya tak berani menatap langsung kearah perempuan itu, sebab ia merasa bahwa perempuan itu memiliki kecantikan yang luar biasa serta daya pikat yang sangat hebat, membuat orang jadi tertarik dan terpesona dibuatnya.
Karena itu untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan-ia harus mempertahankan diri, ia tak mau membalas tatapan perempuan itu dengan tatapan pula.
"Aku tidak apa apa, aku masih ada urusan penting lain yang harus segera dilaksanakan"
Katanya dengan suara dingin.
Diluaran ia berkata demikian, sementara dalam hatinya berpikir lain, ia sedang merasa heran, apa sebabnya dibalik tubuh yang indah dan mempersonakan hati itu bisa terdapat sebuah roh yang kotor, sebuah roh yang jalang dan tak tahu malu.
"Eeeh...urusan apa yang bikin kau gelisah? Kejadian apa toh yang musti kau kerjakan segera?"
Kembali perempuan baju merah itu menegur dengan nada merayu.
"Maaf, sekarang aku tak sempat memberi tahukan kepadamu, lain kali saja bila ada kesempatan kuterangkan kepadamu, nah, maaf aku harus segera berangkat"
Selesai berkata, pemuda itu menjejakkan kakinya keatas tanah dan meluncur kembali kedepan-Baru saja melangkah maju, bayangan merah itu kembali berkelebat lewat dan menghalang kembali jalan pergi si anak muda itu.
"Titi, apakah engkau hendak menuju ke tebing si sin gan?"
Tiba tiba perempuan itu menegur dengan roman muka yang aneh.
"Benar, dari mana kau bisa tahu?"
Han Siong Kie hampir maju tersentak kaget karena keheranan.
"Waah, kalau begitu kebetulan sekali Akupun akan menuju ke tebing si sin gan, kalau ada persoalan lebih baik kita bicarakan nanti saja."
Han Siong Kie mengerutkan dahinya, sayang waktu tidak mengijinkan baginya untuk berpikir lebih jauh, diapun tidak diberi kesempatan untuk bertanya lebih mendetil, sebab bagaimanapun juga Go siau bi adalah calon istrinya, sedang orang yang kehilangan sukma berulang kali telah berpesan kepadanya agar jangan membuang banyak waktu dijalan, maka dari itu diapun tidak banyak bicara lagi, dengan hati berdebar keras sekali lagi tubuhnya melejit keudara dan melayang kearah depan.
Buyung Thay tidak ambil diam, dia mengikuti pula disamping anak muda itu meluncur kedepan-Selang sesaat kemudian, mereka sudah berada dibawah tebing si sin gan, dari kejauhan sudah terlihat dua sosok mayat yang penuh berpelepotan darah membujur ditengah tebing, kematian kedua orang itu tampak mengerikan sekali.
"Aduuh celaka...."
Buyung Thay segera berteriak dengan paras muka berubah hebat.
"kemungkinan besar kedatangan kita teriambat satu tindak ...."
Paras muka Han Siong Kie ikut berubah hebat, jantungnya yang berdebar keras nyaris melompat keluar dari rongga dadanya, sampai detik ini dia baru menyadari bahwa hakekatnya dia memang sangat mencintai Go Siau bi, sekalipun semua perasaan dan hatinya telah dipersembahkan hanya untuk Tonghong Hui seorang, tapi bagaimanapun juga Go Siau bi masih menempati suatu posisi juga dalam hati kecilnya.
"Kita harus cepat naik ke atas tebing"
Teriak pemuda itu dengan wajah panik.
Tanpa membuang waktu lagi ia menerobos masuk lewat mulut tebing itu, bagaikan sebatang anak panah yang teriepas dari busurnya, ia menelusurijalan setapak tersebut langsung meluncur ke puncak tebing itu.
Bentakan nyaring, jerit kesakitan secara lapat-lapat ramai kedengaran dari tempat kejauhan, agaknya suatu pertempuran sengit sedang berkobar dengan hebatnya.
Ketika mereka berdua sudah tiba didepan pintu gerbang dipuncak tebing itu, suara berkobarnya pertarungan kedengaran makin jelas dan nyata....
jeritan jeritan kesakitan lebih sering menggelegar di udara.
Sudah puluhan sosok mayat yang terkapar disekitar pintu gerbang dan sekeliling batuan, mayat-mayat itu kebanyakan tewas dengan keadaan yang mengerikan, darah segar berceceran membasahi seluruh permukaan tanah, pemandangan disitu sangat mengerikan hati.
"Siapa disitu?"
Tiba tiba bentakan nyaring menggelegar menyayat kesunyian ditempat itu.
Empat orang laki laki berpakaian ringkas warna hitam munculkan diri dari balik pintu gerbang dan menghadang jalan pergi kedua orang itu "Ayoh jawab, kalian adalah saudara saudara dari perkumpulan ataukah ....."
Bentak Han Siong Kie lantang.
"Eeh....apakah kedatanganmu bukan lantaran urusan ini?"
Terdengar Buyung Thay menyela diri samping.
"mereka orang orang dari perkumpulan Thian che kau..."
Begitu mendengar kata kata "Thian che kau" , sontak sepasang mata Han Siong Kie berubah jadi merah membara, napsu membunuhnya menyelimuti seluruh roman mukanya itu, rasa dendam dan sakit hatinya membuat jago muda kita ini menyeringai seram.
Perkumpulan Pat gipang telah musnah ditangan Thian che kau, sekarang Go siau bi sedang berusaha menghimpun kembali kekuatan barunya diantara puing puing kehancuran, tapi mereka tak sudi melepaskan calon istrinya dengan begitu saja, kesemuanya ini makin mengobarkan rasa dendam dan sakit hati Han Siong Kie terhadap musuh bebuyutannya ini.
Rupanya keempat orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau pun sudah mengetahui siapa yang berhadapan dengan mereka, tak kuasa lagi merekapun berteriak kaget.
"Haaah ....? Manusia bermuka dingin ...."
Tanpa memberi perlawanan apa apa, sontak mereka putar badan dan melarikan diri terbirit birit kedalam pintu gerbang itu, sambil kabur, suitan nyaring berkumandang tiada hentinya memecahkan kesunyian.
Hawa napsu membunuh telah menyilimuti seluruh wajah Han Siong Kie, sudah tentu ia tak sudi membiarkan musuhmusuhnya kabur dengan begitu saja, ia melompat kedepan dan mengejar ke belakang keempat orang laki laki kekar tadi kemudian jari tangannya menyentil kedepan .....
criiit criiiiit Criiiiit .....
desiran angin tajam dari ilmu Tong kim ci segera menderu deru dan meluncur ke depan-Empat kali jeritan nyeri yang menyayatkan hati berkumandang membelah angkasa, hampir pada saat yang bersamaan empat orang laki laki kekar itu tersambar punggungnya oleh desiran angin tajam tadi dan menggelepar diatas tanah dalam keadaan mengerikan-Selesai membereskan nyawa keempat orang musuh, Han Siong Kie sama sekali tidak berhenti, ia melanjutkan gerakan tubuhnya menerjang kearah mana berasalnya bentakan bentakan tadi...
Angin pukulan menderu deru, ditengah gulungan serangan yang amat dasyat itu, tampak beberapa sosok bayangan manusia menerjang keluar dari arena pertarungan dan meluncur kearah luar dengan begitu kedatangan merekapun lantas berpapasan dengan Han Siong Kie berdua.
Si anak muda itu segera mendengus dingin, telapak tangannya disiapkan untuk melancarkan serangan-Tapi sebelum pukulan mautnya dilepaskan, jeritan ngeri telah berkumandang saling menyusul, beberapa sosok bayangan manusia yang sedang menerjang kearah mereka itu tahu-tahu sudah menggeletak semua dalam keadaan tak bernyawa lagi, orang-orang itu semuanya berjumlah tujuh orang akan tetapi tiada perlawanan apa apa yang dapat dilakukan orang orang itu.
Tanpa sadar Han Siong Kie berpaling kesamping, ia tahu kematian orang-orang itu pastilah perbuatan dari rekannya, betul juga, ditemuinya Buyung Thay yang berada dibelakangnya sedang berdiri dengan wajah mengerikan, hawa nafsu membunuh telah menyelimuti seluruh mukanya, membuat perempuan yang amat cantik itu kelihatan lebih keren dan menakutkan--ooo0dw0ooo-BAB 86 MAYAT-MAYAT bergelimpangan didepan ruangan ci gi teng, darah berceceran membasahi lantai membuat suasana terasa suram dan menggidikan hati.
Ditengah arena berdirilah seorang perempuan yang rambutnya terurai awut awutan, seluruh badannya telah basah oleh darah sehingga dipandang dari kejauhan orang itu mirip seorang manusia berdarah.
Waktu itu, si perempuan berambut panjang itu sedang melangsungkan pertarungan seru melawan dua orang kakek yang mempunyai lambang matahari, rembulan dan bintang diatas dadanya.
Sekeliling arena berdirilah ratusan orang jago silat yang membentuk sebuah dinding manusia disitu, tapi mereka semua terdiri dari jago jago perkumpulan Thian che kau.
Dilihat dari keadaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perkumpulan Pat gi pang yang baru saja berdiri kembali dengan kekuatan barunya, telah terbasmi kembali dari muka bumi dengan keadaan yang lebih mengerikan .......
Perempuan yang sedang bertempur itu tak lain adalah ketua baru dari perkumpulan Pat gi pang yakni Go Siau bi, sedangkan dua orang lawannya tak lain adalah dua orang utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau.
Waktu itu keadaan Go Siau bi sangat kritis dan berbahaya, setiap saat dia harus menghadapi keadaan yang membahayakan jiwanya, walau begitu, si nona yang kosen masih bertahan terus dengan gigihnya, hanya kebencian serta perasaan dendam yang meluap luap itulah yang sanggup mempertahankan dirinya dari kerubutan musuh.
Tiba tiba terdengar bentakan nyaring menggelegar diruangan, kontan Go Siau bi terdorong mundur lima langkah dengan sempoyongan, ia muntah-muntah darah lagi, sekujur badannya makin basah oleh noda merah, malahan badannya makin gontai, jelas gadis itu sudah kehabisan tenaga dan makin lemah daya tahan tubuhnya.
Melihat keadaan musuhnya itu, salah seorang diantara utusan khusus perkumpulan Thian che-kau itu segera tertawa seram, sambil maju kedepan melancarkan serangan ejeknya sinis.
"Nah, rasain kau sekarang, bagaimana kalau kehabisan tenaga dan tak mampu bergerak lagi..."
Selangkah demi selangkah dia maju kedepan mendekati nona yang semakin gontai itu.
Go siau bi mengayunkan sepasang tangannya tapi sesaat kemudian telah diturunkan kembali, tenaga dalamnya telah habis mengering, dia tidak bertenaga lagi untuk melancarkan serangan.
Sambil tertawa seram utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu maju terus kedepan dan akhirnya berhenti hanya tiga langkah dihadapan Go siau bi, kembali jengeknya dengan nada menyeramkan.
"Keponakan perempuanku yang manis, sekarang ijinkanlah kepadaku untuk menghantar sendiri keberangkatanmu ke alam baka.... haaah.... haaaahh... haaahh...."
Pelan-pelan telapak tangannya diangkat keudara dan siap diayunkan keatas batok kepala nona itu.
"Thian wi wan"
Jerit Go siau bi dengan mata merah membara.
"kau adalah binatang terkutuk. sekalipun aku sudah mati dan menjadi setan, tak nanti kuampuni dirimu....."
Di tengah situasi yang makin gawat, tiba-tiba terdengar desingan angin berkumandang membelah angkasa dan langsung menerjang keatas tubuh Thia Wi wan, utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu.
Berbareng dengan munculnya serangan tadi, kawanan jago yang berada disekitar arena sama-sama berteriak kaget.
"Manusia muka dingin...."
"Ciang bun jin perguruan Thian lam " -ooo0dw0ooo
Jilid 42 DENGAN perasaan ngeri bercampur takut Thia Wi San melompat mundur sejauh beberapa depa ke belakang, dengan susah payah ia berhasil juga menghindarkan diri dari sergapan maut itu.
Tatkala sinar matanya dialihkan kembali ke tengah arena, tampaklah disitu telah bertambah dengan seorang pemuda tampan berwajah dingin, kaku dan menyeramkan, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh roman mukanya, dia tak lain adalah Han siong Kie.
Selama ini Go siau-bi dapat bertahan terus dengan gigih lantaran dia ditunjang oleh rasa benci, sakit hati dan dendam yang besar, tapi setelah calon suaminya Han-siong Kie muncul di depan mata, ia tak dapat menguasai dirinya lagi, semangatnya langsung menurun secara drastis dan tak ampun lagi badannya roboh terkulai ke tanah.
Han Siong Kie menggeram marah, teriaknya sambil menggigit bibir menahan rasa bencinya yang meluap luap.
"Thia Wi wan, akan kucincang tubuhmu jadi berkeping keping lalu menghancur lumatkan menjadi abu ...."
Ancaman itu diucapkan dengan napsu membunuh yang amat mengerikan, bikin bulu kuduk orang pada bangun berdiri..
"Haaaaahhh... haaaahhh... haaaahhh...."
Thia Wi wan menyeringai dan tertawa seram.
"Manusia muka dingin, kau anggap kemampuan itu dapat mewujudkan apa yang kau inginkan?"
Han Siong Kie mendengus penuh kemarahan, secara beruntun dia lancarkan dua buah serangan berantai yang amat dahsyat, kedua buah serangan yang dilepaskan dengan penuh perasaan dendam itu betul betul luar biasa dahsyatnya, angin yang menderu deru serasa memekikkan telinga.
Thia Wi wan memandang sinis musuhnya, ketika serangan dahsyat itu menggulung tiba, serta merta menangkisnya dari kejauhan, sementara utusan khusus yang lainnya menyusup maju pula berbareng ketika anak muda itu melancarkan serangannya, ia maju sambil menyodokkan kepalan tinjunya ke depan, segulung hawa pukulan yang maha dahsyat segera memancar ke depan dan menghantam punggung samping Han Siong Kie.
"Blaaang...."
Suatu benturan keras menggelegar diangkasa, menyusul seseorang mendengus berat.
Dengan muka pias seperti mayat Thia Wi wan mundur delapan langkah dengan sempoyongan, rupanya ia menderita kerugian yang cukup besar dalam bentrokan itu.
Tapi pada saat yang bersamaan pula Han Siong Kie kena terhantam oleh serangan yang dilancarkan musuh dari arah samping itu, badannya tergoncang keras dan maju satu langkah lebar kedepan.
Meski demikian, utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang melancarkan serangan dari belakangpun tidak memperoleh keuntungan apa apa oleh daya pantulan tenaga si mi sinkang yang terpancar keluar dari tubuh Han Siong Kie itu, dia sendiripun tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih.
Dalam satu gebrakan, dua orang jago lihay dari Thian che kau berhasil digetarkan sampai mundur dengan sempoyongan, kejadian ini dengan cepat membuat suasina jadi gempar, kawanan jago lainnya yang berkeliling diseputar arena samasama menjerit lengking saking kagetnya.
Target dari Han-siong-Kie pada saat ini adalah menghancur lumatkan tubuh Thia Wi wan maka selesai dengan serangan yang pertama, ia menerkam jauh lebih kedepan secara beruntun ia le-paskan tiga buah serangan berantai dengan ilmu Mo-mo-ciang-hoat.
Ilmu pukulan Mo-mo-ciang-hoat merupakan ilmu sakti yang khusus dari aliran perguruan Thian lam, sejak Han-siong-Kie berhasil meyakinkan ilmu sakti Si-mi-siakang pukulan pukulan tersebut dapat dimainkan dengan lebih kuat dan bertenaga, tentu saja daya pengaruhnya lipat ganda lebih hebat dari keadaan biasa.
Begitu ketiga jurus serangan itu dilepaskan, jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian, sambil muntah darah kental, Thia-Wi-wan terlempar kebelakang hingga jatuh berjerembab diatas lantai.....
Melihat rekannya terluka, utusan khusus Thian che-kau yang lain segera melompat ke muka sambil melancarkan serangan, secara beruntun ia lepaskan tiga buah pukulan berantai yang kesemuanya tertuju keatas badan Han-siong-Kie.
Diperlakukan secara demikian kasarnya oleh lawan, kemarahan yang meluap dalam tubuh Han-siong-Kie tak terkendalikan lagi, begitu serangan musuh baru lewat, dengan gerakan cahaya kilat lintasan bayangan secepat sambaran kilat ia membentuk gerakan setengah lingkaran busur diudara, dengan gerakan tersebut maka terhindarlah jago itu dari serangan musuh, ia balik menerjang kesamping musuhnya lalu dengan suatu gera kan cepat melancarkan serangan balasan dengan ilmu jari Tong-kim-ci.
Serangan ini bakan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tenaga yang menyertai sodokan itupun tak terkirakan hebatnya.
Jeritan ngeri kembali bergenia memenuhi ruangan, bahu urusan khusus itu tertembus angin serangan itu hingga berlubang, darah segar bagaikan sumber mata air memancar keudara dan membasahi separuh bagian tubuhnya.
Sekarang Han siong Kie dapat melihat jelas tampang musuhnya, ternyata dia tak lain adalah suma Hiong, utusan khusus yang pernah dijumpainya dalam kuil Bu ho si di pantai Pek sui tam tempo hari.
"suma Hiong"
Segera tegurnya dengan nada ketus.
"hari ini nyawamu tak akan lolos dari cengkeramanku lagi"
Utusan khusus Thian che kau, suma Hiong mundur beberapa langkah dengan ketakutan, mukanya jadi pucat pasi malahan badannya agak gemetar, jelas terpapar diatas wajahnya betapa ngeri dan takutnya orang itu menghadapi mara bahaya yang datang mengancam.
Pada saat itulah tiba tiba muncul seorang kakek berbaju hitam yang diam diam menghampiri Go siau bi tanpa menimbulkan sedikit suarapun, telapak tangannya sudah diangkat ke udara siap di ayunkan keatas tubuh sang nona yang tak sadarkan diri itu.
Dalam keadaan begini, tentu saja Han Siong Kie sama sekali tak sempat untuk memperhatikan keselamatan istrinya, tampaknya nona yang manis itu segera akan mati konyol ....
"Bangsat, rupanya kau pingin mampus"
Mendadak seseorang membentak nyaring.
Menyusul bentakan tersebut, jeritan kesakitan yang memilukan hati berkumandang di udara, tahu tahu kakek itu sudah menggeletak mampus di atas tanah dengan tulang kepala hancur berantakan, isi benak bercampur darah tercecer diatas lantai, sementara disamping Go siau bi tahu tahu sudah bertambah dengan seorang nyonya cantik berbaju merah yang bermuka keren.
Dengan hati terkejut Han Siong Kie berpaling apa yang kemudian terlihat membuat hatinya tercekat, hampir saja dia lupa dengan keadaan Go siau bi, dia lupa kalau mereka masih berada disarang serigala, untung Buyung Thay turun tangan tepat pada saatnya, kalau tidak ....entahlah bagaimana akibatnya.
Go siau bi sendiripun dibikin sadar kembali oleh teriakan yang memilukan hati itu, pelan pelan ia buka matanya lalu bangkit berdiri "Untuk sernentara waktu janganlah bangun dulu adikku"
Buyung Thay segera memayang tubuh gadis itu.
"paling penting kau musti rawat lukamu dulu, sedang urusan disini..."
"Tidak"
Teriak Go siau bi setengah menjerit "aku .... aku hendak membalas dendam, aku hendak bunuh ......"
Keadaan gadis itu banar benar sangat rapuh, apalagi setelah melangsungkan pertarungan yang cukup lama, tenaga dalamnya hampir habis rasa nya, ditambah lagi dengan luka dalamnya yang cukup parah, membuat keadaannya semakin lemah sedikit terdesak emosi kembali darah kental muntah keluar dari mulutnya.
Han-siong Kie kebetulan berpaling kesamping ketika dilihatnya keadaan Go Siau-bi yang begitu lemah, ia sangat marah, matanya merah berapi api dan hampir saja melotot keluar, hawa pembunuhan semakin tebal meiyelimuti arena pertarungan itu.
Selang sesaat kemudian sianak muda itu baru berpaling kearah Buyung Thay, kemudian pesan nya dengan suara dingin.
"Toloug rawatlah nona itu baik baik ! "
Kemudian ia berpaling, ditatapnya Suma Hiong salah seorang utusan khusus Thian-che-kau itu dengan sinar mata yang mengidikkan hati.
Suma Hiong ketakutan, dengan badan menggigil dia mundur dua langkah lagi.
"Mau lari kemana kau??"
Teriak Han-siong Kie dengan gusar. Baru saja pemuda itu akan maju sambil menyerang, tibatiba dari arah samping berkumandang pula suara bentakan keras bagaikan menggelegarnya guntur ditengah udara.
"Manusia muka dingin, kau tak usah tekebur... inilah tandinganmu yang piling pantas!"
Han-siong Kie menyusut mundur selangkah kebelakang, bukannya dia takut, pemuda itu tak ingin bertindak gegabah sehingga merugikan posisinya sendiri.
Seorang kakek tinggi besar yang berikat kepala wama emas melayang masuk kedalam arena pertarungan, orang itu bermata hijau, baik perawakan maupun potongan badannya amat hebat hingga memberi kesan yang cukup menggidikkan hati bagi siapapun yang melihatnya.
Kebengisan dan kekejaman Han-si-mo-ong sudah banyak diketahui orang, kelihayan ilmu silat nya cukup menggetarkan sukma, banyak orang sudah mengenal kehebatan gembong iblis tua ini, bahkan selamanya dia hanya turun tangan dalam satu jurus saja, dan selalu korbannya mampus dalam jurus itu pula.
Han-siong Kie menjengek dingin, ia tetap berdiri tegak ditempat semula, meski orang lain jera terhadap gembong iblis itu, ia sama sekali tak takut, malahan kesempatan ini hendak digunakannya untuk meringkus jago lihay itu.
Tapi sebelum ia sempat menegur, sesosok bayangan merah sudah melayang masuk kedalam arena, Buyung Tay dengan wajah yang santai tahu-tahu sudah berdiri satu meter dihadapan Hun si mo ong.
"Enyah kau dari sini"
Bentak Hun si mo ong sambil mendengus dingin.
"Enyah dari sini ....? Kenapa aku harus enyah dari sini ....?"
Ejek perempuan cantik "Disini tak ada urusanmu, kau boleh segera tinggalkan tempat ini dan menyingkir jauh jauh"
"Heeeehhh.... heeeehhh.... heeeeehhh... siapa bilang aku tak ada urusan disini?"
"Bagus Aku peringatkan dirimu kali ini, jika kau berani turut campur lagi dalam urusan ini, ketahuilah, aku tak akan melepaskan engkau dengan begitu saja"
"Huuh Andaikata aku mati, lantas siapa yang akan membereskan jenasah mu? Bukankah kau telah berkata setelah mati maka jenasahmu ingin di kebumikan disisi kaburan mendiang guruku?"
Begitu ucapan tersebut diucapkan, air muka Hun si mo ong seketika itu juga berubah hebat, ia benar-benar dibuat senyum tak bisa menangispun tidak dapat.
Memang benar, ia pernah mengucapkan kata-kata semacam itu kepada Buyung Thay, dia berharap setelah mati jenasahnya bisa dikubur disisi kekasihnya yang paling dicintai.
...Toh hun sian ci.
Suatu jerit lengking yang memilukan hati berkumandang memenuhi seluruh ruangan, Suma Hiong salah seorang utusan khusus Thian che kau itu sudah dihantam oleh Han Siong Kie sehingga tewas dengan isi perut hancur tak karuan.
Melihat anak buahnya mampus, Hun si mo ong marah sekali, sambil mendengus ia menerjang ke depan dan mengurung tubuh Han Siong Kiee dengan pukulan-pukulan mematikan.
Sementara itu Thia wi Wan telah mendapat kesempatan untuk mengatur pernafasannya, selang sesaat kemudian kekuatannya yang banyak berkurang sudah pulih kembali seperti sedia kala, serta merta ia menerjang kemuka dan menerkam Go siau bi yang terluka parah itu..
Tak terkirakan rasa kaget dan gusar yang dirasakan Buyung Thay setelah menyaksikan peristiwa itu segera bentaknya dengan marah.
"Thia-Wi-wan, kau berani berbuat lancang dihadapanku?"
Sreset....
sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kearah musuhnya, sementara tubuhnya ikut puia menerjang kemuka.
Sekalipun tindakan yang dilakukan perempuan iai cukup cepat, tapi toh terlambat setengah langkah juga.
Ketika ia tiba ditempat tujuan, serentetan jeritan lengking telah berkumandang memecahkan kesunyian, Go-Siau-bi sudah terhajar lagi oleh serangan Thia-Wi-wan sehingga tubuhnya mencelat jauh kebelakang.
Pada saat yang bersamaan pula, Thia-Wi-wan terbabat oleh angin pukulan dari Buyung-Thay sehingga tergulung kebelakang dan mundur dengan sempoyongan..
Sementara itu dipihak lain pertarungan antara Han-siong-Kie melawan Han-si-mo-ong telah berlangsung dengan sengitnya, beberapa gebrakan kemudian dapat diketahui bahwa kekuatan mereka ternyata seimbang.
Diam-diam Han-si-mo-ong merasa amat terperanjat setelah terjadinya pertarungan itu, bahkan rasa kagetnya sukar dilukiskan dengan kata-kata ia merasa pemuda itu merupakan musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, apalagi sebelum kejadian ini belum pernah ada orang yang bisa lolos dari cengkeramannya dalam satu gebrakan belaka, maka keadaan itu membuat kecut hatinya.
Bukan Hun-si-mo-ong saja yang merasa kaget bahkan hampir semua jago lihay perkumpulan Thian-che-kau yang ikut hadir disekitar gelangang pun merasa.
kaget dan berdebar hatinya.
Buyung Thay sendiri tak sempat untuk melukai Thia-Wiwan lebih jauh buru-buru ia menghampiri Go-Siau-bi dan memayangnya bangun, tapi setelah nadinya diperiksa paras mukanya kontan berubah hebat, untuk sesaat dia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan...
Han-siong-Kie diam-diam melirik sekejap kearah Go-Siau-bi yang berada dalam bopongan Buyung-Thay, melihat keadaannya yang mengenaskan itu hampir meledak dadanya karena jengkel bercampur marah...
"Jangan-jangan dia sudah ....."
Pemuda itu tak berani berpikir lebih jauh, ia merasa tubuhnya bergidik hingga sedikit menggigil, hawa napsu membuauhnya semakin berkobar.
"Han-si-mo-ong, lihat serangan"
Bentakan itu sangat keras dan memekakkan telinga, membuat setiap orang yang hadir dalam ruangan itu merasa telinganya jadi sakit.
Segumpal asap putih mengepul keluar dari batok kepala anak muda itu.
dengan menghimpun tenaga sakti Si-misinkangnya mencapai sepuluh bagian ia hantam sekujur badan Han-si-mo-ong sekeras-kerasnya.
"Haah.....??! Si-mi-sinkang,....'"
Jerit Han-si-mo ong dengan hati terkesiap, cepat dia kerahkan pula segenap tenaganya untuk menangkis tibanya ancaman tersebut.
Suatu benturan yang disusul ledakan dahsyat tak terhiadar lagi, pusaran angin berpusing segera memancar keempat penjuru, oleh daya tolak pukulan tadi Han-siong Kie mundur selangkah kebalakang, sebaliknya Han-si-mo-ong yang tinggi besar mundur dua langkah dengan sempoyong.
Kabut warna putih yang tebal kembali menyelimuti seluruh angkasa, dalam waktu amat singkat Han-siong Kie telah melancarkan kembali serangan nya yang kedua.
Tak sempat bagi Hun-si-mo-ong untuk menangkis ancaman maut itu, tergopoh-gopoh dia mundur delapan depa kebelakang.
"Mau lari kemana kau!"
Bentak anak muda itu dengan geramnya. Pukulan mautnya yang ketiga telah dilontarkan lagi kedepan. Karena didesak terus menerus, akhirnya sifat buas Hun-simo-ong timbul juga, dia balas membentak.
"Jangan tekebur lebih dulu, lihat saja hasilnya nanti kau yang mampus atau aku yang kabur keakhirat!"
Dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dia lancarkan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.
Untuk kedua kalinya ruangan gedung itu digetarkan oleh benturan keras yang menggelegar diudara.
Kali ini kedua belah pihak sama-sama terdorong mundur sejauh tiga langkah, paras muka Han siong-Kie pucat pias seperti mayat, sebaliknya Hun si-mo-ong berdiri dengan noda darah kental menghias ujung bibirnya, pertarungan ini sungguh seru dan membetot hati, selama seratus tahun belakangan belum tentu ada pertarungan seseru saat ini.
Sekali lagi Han-siong Kie berpaling kearah Go Siaa-bi yang tak diketahui nasibnya, sambil menggertak gigi dia menghimpun tenaga Si mi sin kangnya mencapai dua belas bagian, mukanya yang pucat kini berubah jadi merah membara.
Hun si mo ong agak keder juga melihat kelihayan musuhnya, ia tahu kepandaian silatnya masih bukan tandingan tawan, tapi sebagai seorang iblis yang disegani orang ia tak sudi mengunjukkan rasa jerihnya dihadapan orang lain, maka sambil menggertak gigi terpaksa diapun harus menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Dalam waktu singkat, suasana dalam gelanggang pertarungan berubah jadi hening sepi, sedikitpun tak kedengaran suara.
Sekalipun suasana amat hening dan tiada gerakan apa apa siapapun tahu bahwa tak lama lagi akan terjadi suatu benturan maha dahsyat yang luar biasa sekali, dan gempuran tersebut justru akan menentukan nasib mereka semua, menang atau kalah atau mungkin juga kedua duanya akan sama-sama terluka parah.
Dipihak lain Buyung Thay masih berjongkok diatas tanah sambil membopong Go siau bi yang tak sadarkan diri Thia wi wan rupanya masih belum puas dengan serangannya yang berhasil itu, sepasang matanya yang tajam bagaikan mata elang itu masih mengawasi terus Go siau bi yang berada dalam bopongan Buyung Thay itu tanpa berkedip.
agaknya dia pun sudah merasa bahkan kepandaian silat dari Hun si mo ong masih bukan tandingan dari orang bermuka dingin.
Maka dia harus manfaatkan kesempatan yang ada pada saat ini untuk melakukan suatu gerakan sebab bila peluang ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya maka selamanya dia akan kehilangan peluang tersebut .......
Tapi diapun sangsi untuk berpekulasi, ia bukannya tak tahu sampai dimanakah lihaynya ilmu silat yang dimiliki Ratu tawon Buyung Thay ......
Akhirnya Thia wi wan ulapkan tangannya sambil membentak keras.
"Anak murid perkumpulan Thian che kau harap perhatikan baik baik, sekarang juga kalian harus menyerang dengan sekuat tenaga, kalian cuma boleh maju tak boleh mundur"
Selesai berkata telapak tangannya segera diayun kedepan lebih dulu menyerang ke arah Buyung Thay, menyusul kemudian Bayangan manusia menggulung-gulung, serentak setiap anggota perkumpulan yang hadir disana bersama-sama maju menyerang.
Paras muka Buyung Thay berubah hebat, dengan targan kirinya dia mengempit Go Siau-bi.
Sementara jarum Toh-hun-ciam yang berada ditangan kanannya disebar ke muka.
Jeritan-jeritan lengking yang memilukan hati berkumandang memenuhi angkasa, hampir belasan orang jago lihay dari perkumpulan Thian-che kau menggeletak diatas tanah.
dalam keadaan mampus, tapi keadaan itu belum juga berhasil untuk membendung serangan lawan yang mendekati kalap itu, desingan-desingan tajam dan pukulan-pukulan dahsyat berhamburan dari sana sini mengurung sekujur badannya.
Posisi BuyungThay waktu itu kurang menguntungkan, sebab dia harus menggendong Go Siau-bi sambil melangsungkan pertarungan, bukan saja tenaga dalamnya mengalami rintangan besar, ditambah pula serangan-serangan maut dari Thia Wi-wan yang membabi buta membuat ia kewalahan, dan repotnya bukan kepalang, dia harus melepaskan tiga buah serangan berantai lebih dulu sebelum berhasil mengambil jarum Toh hun-ciam genggaman yang kedua, Kembali tangannya diayun kedepan, belasan orang jago menjerit kesakitan dan roboh terkapar ditanah, untuk sesaat serangan kalap dari musub agak terbendung.....
Buyung thay mencaci maki kalangkabut, sambil membentak secepat kilat ia menerjang kearah Thia-wi Wan dan menyerang habis habisan.
Thia Wi-wan ketakutan setengah mati, bulu kuduknya serasa pada bangun berdiri, cepat-cepat ia melompat mundur sejauh dua kaki untuk menghindarkan diri.
Merasa tubrukannya kosong can tidak rnencapai sasaran, Buyung Thay melompat ketengah udara dan melayang keatas atap ruangan Ci-gi-teng tersebut, belasan sosok bayangan manusia secepat kilat ikut melompat pula keatas, tapi baru mencapai separuh jalan, banyak diantara mereka yang menjerit kesakitan dan rontok kembali keatas tanah.
"Layani dia dengan senjata rahasia ! "
Teriak Thia Wi-wan penuh kegusaran yang meluap.
Dalam waktu singkat, senjata rahasia beterbangan dari empat arah delapan penjuru, semua senjata rahasia itu tertuju kearah Buyung Thay yang masih diudara.
Jarum toh hun ciam memang terhitung senjata yang ampuh dan mematikan, tapi oleh sebab jarum itu lembutnya seperti bulu maka jarak serangannya terbatas sekali, sebaliknya jago-jago perkumpulan Thian che kau yang hadir rata rata merupakan jago pilihan yang berilmu tinggi, tentu saja cara mereka untuk melancarkan serangan senjata rahasia juga bukan permainan enteng, jika Buyung Thay tak mau mengundurkan diri dari situ, terpaksa dia harus melayaninya dengan sepenuh tenaga.
Keadaan ini dapat dilihat pula oleh Han Siong Kie dengan jelas, tentunya diapun mengetahui pula betapa gawatnya situasi disana.
Akhirnya baik Han Siong Kiee maupun Hun si mo ong sama sama melancarkan serangan dengan sekuat tenaga.
Ditengah ledakan dahsyat yang menggelegar diangkasa, desingan angin tajam memancar keempat penjuru serta merta semua jago perkumpulan Thian the kau yang sedang bertarung menghentikan serangan mereka.
Han Siong Kie berdiri kurang lebih lima langkah dari posisinya semula tubuhnya masih goncang terus tiada hentinya.
Hun-si-mo ong sendiri jatuh tertunduk beberapa meter dari arena, ia muntah darah berulang kali.
Untuk sesaat suasana jadi sepi dan hening, begitu sepinya sehingga terasa menggidikkan hati.
Pelan pelan Han Siong Kie maju beberapa langkah kedepan, kelima jari tangannya direntangkan lebar lebar, ujung jarinya tertuju kepada Han-si mo ong asal hawa serangannya dilontarkan kedepan, niscaya gembong iblis tua itu akan terhajar dada dan perutnya hingga berlobang dan tewas.
"Hun si mo-ong"
Teriak anak muda itu kemudian.
"apakah engkau ada pesan pesan terakhir yang hendak kau sampaikan?"
Suara teriakan itu penuh dengan keseraman dan hawa kematian yang sangat tebal. Han si mo ong menatap sekejap musuhnya dengan sinar mata berkilat, lalu sambil dikejamkan kembali dia menggeleng.
"Kalau ingin turun tangan, silahkan turun tangan, apa gunanya musti banyak berbicara?"
Satu ingatan tiba tiba melintas dalam benak Han Siong Kie, tangannya yang telah terangkat keatas pelan-pelan diturunkan kembali.
"Han si mo ong"
Katanya kemudian dengan suara berat.
"untuk membalas pertolonganmu tempo hari, aku tak akan membinasakan dirimu sekarang juga, nah kau boleh pergi dengan damai hari ini"
"Manusia muka dingin"
Han si mo ong membuka kembali matanya dan berkata dengan lantang.
"tempo hari kutolong jiwamu, ini disebabkan karena kau pernah menolong muridku si malaikat hawa dingin Mo siu ing, aku pribadi sama sekali tidak bermaksud untuk menolong kau...."
Kata kata pengakuan yang berterus terang dan blak biakan ini sungguh mencengangkan orang banyak.
tapi dari sini dapat diketahui bahwa Han si mo ong benar benar seorang jagoan yang berjiwa besar dan tak sudi tunduk dibawah orang lain-Han Siong Kie dengan cepat menukas sambil goyangkan tangannya.
"Kau tak usah banyak bicara lagi, silahkan sejak kini antara kita berdua sudah tiada hutang piutang lagi, persoalan telah selesai dan semua hutang telah impas, semoga saja lain waktu kita jangan bertemu muka lagi ...."
"Manusia muka dingin, kau bakal menyesal bila melepaskan kesempatan baik hari ini, ketahuilah, aku tak nanti akan melupakan hutang yang kau lakukan hari ini"
"Heeeh.... heeehh... heehh jangan pandang rendah diriku, selama hidup aku belum pernah mengenal apa yang dimaksudkan dengan menyesal, ayoh silahkan pergi dari sini"
Tiba tiba Han si mo ong bangkit berdiri, setelah memandang sekejap sekeliling ruangan itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia lantas berlalu dari sana.
Sepeninggal Han si mo ong, suasana dalam ruangan itu jadi gempar, sekarang tiap jago lihay dari perkumpulan Thian che kau merasa panik, takut dan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, andaikata hukuman bagi pelanggaran peraturan perkumpulan tidak keras dan mengerikan, niscaya mereka sudah melarikan diri semenjak tadi.
Rupanya Thia Wi wan si utusan khusus perkumpulan Thian che kau juga sudah merasakan gelagat yang tak menguntungkan, cepat dia membentak.
"Mundur semua"
Pertama-tama dia yang melompat mundur lebih dahulu dari arena pertarungan dan meluncur keluar dari sana ......
Melihat pemimpinnya sudah kabur, kawanan jago dari Thian che kau pun sama sama mengambil langkah seribu, suasana jadi ribut dan gaduh, keadaan orang orang itu mengenaskan sekali tampaknya.
"Kembali semua"
Bentakan nyaring mendadak menggelegar diudara menyusul kemudian terdengar seseorang mendengus tertahan.
Thia wi wan terlempar kembali kebelakang dengan muka pucat dan darah menodai ujung bibirnya.
Setelah itu gulungan angin pukulan yang dahsyat kembali menyapu permukaan tanah seperti melandanya angin ribut, desingan angin serangan menderu deru, jerit kesakitan menggema silih berganti, puluhan jago yang berusaha melarikan diri dari ruangan itu tahu-tahu terlempar kembali ke belakang dalam keadaan sekarat.
Sisanya yang ada dibelakang buru-buru melompat kembali kebelakang, siapapun tak berani melanjutkan niatnya untuk kabur dari tempat celaka itu .....
Untuk sesaat suasana kembali tercekam dalam keheningan yang mengerikan, begitu hening sampai dengusan napas semua orang kedengaran nyaring ....
Seluruh jago lihay dari perkumpulan Thian che kau sudah terdesak kembali ke tengah arena, tapi disamping gerbang depan kini bertambah lagi dengan dua puluh sosok mayat lebih, mereka tewas dalam keadaan yang mengerikan, darahpun berceceran membasahi permukaan lantai.
Han Siong Kie berdiri dengan tegap.
mukanya menyeringai seram dengan hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya, selangkah demi selangkah ia mendekati musuh musuhnya itu, sementara sinar matanya yang tajam mengawasi kelima puluh orang sisa jago Thian che kau yang masih hidup itu dengan garang dan tak berkedip.
Sepi ....hening...
seperti dikuburan, semua orang merasa begitu tebalnya hawa maut mengitari sekeliling gelanggang itu, bikin orang susah bernapas dan tak berani bergerak.
Buyung Thay sudah melayang turun pula ke atas permukaan bumi, dia berdiri disamping Han Siong Kie.
"Bagaimana keadaannya....?"
Tanya sianak muda itu kemudian dengan muka cemas bercampur kuatir.
"Luka dalam yang dideritanya cukup parah, keadaannya amat serius dan tak boleh di biarkan terlalu lama dalam keadaan begitu"
Han Siong Kie menggigit bibir menahan dendam dan marahnya, dia berpaling kearah Thia Wi wan lalu ditatapnya utusan khusus Thian che kau yang dibencinya itu dengan mata berapi api dan mulutnya menyeringai seram.
Dipandang macam begitu oleh lawannya Thia Wi wan menggigil ketakutan, giginya sampai saling beradu gemerutukan, dia bersin beberapa kali, bulu kuduknya telah bangun berdiri, ditengah kepanikan dan bercucurnya peluh dingin, tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.
"Kunyuk Tolol amat aku, mengapa tidak kabur saja dari sini?"
Demikianlah pikirnya dalam hati. Begitu ingatan tadi masuk dalam pikirannya, serta merta ia geserkan badannya dan mundur ke arah kelompok-kelompok anak buahnya .....
"Thia Wi wan Bangsat terkutuk mau lari.... heeeeehhh.... heeeehhh... heeeehhh... jangan mimpi disiang hari bolong, mau terbang dari sinipun jangan harap bisa kau lakukan"
Ditengah bentakan keras Han Siong Kie menerjang kedepan, selisih jarak yang begitu dekatnya ini semakin membuat panik Thia Wi wan, tanpa sadar dia ikut mundur beberapa langkah ke belakang, mukanya yang bopeng seperti permukaan bulan itu mulai mengejang tiada hentinya.
itu pertanda kalau hatinya sudah ciut dan ketakutan setengah mati.
Tak seorang manusiapun berani berkutik dari tempatnya semula, apalagi anak murid perkumpulan Thian che kau, mereka rata rata berdiri dengan muka pucat pasi.
Bayangkan saja, kalau pemimpin mereka yang lihaypun dibikin keok, apalagi mereka cuma manusia biasa?
"Bangsat, ayoh serahkan jiwa anjingmu...."
Teriak Han Siong Kie sambil melontarkan telapak tangannya kedepan.
Pukulan itu sangat dahsyat, angin serangan yang menderu deru secepat kilat meluncur kemuka dan menghantam dada Thia Wi wan.
Untuk melihat saja ngeri, apalagi disuruh menerima dengan kekerasan, tentu saja Thia Wi-wan tak berani melakukan hal itu dengan suatu gerakan tubuh yang gesit dia mengegos kesamping untuk menghindarkan diri....
Dua jeritan ngeri tiba tiba berkumandang dari arah belakang, dua orang jago Thian che kau yang tepat berdiri dibelakang Thia Wi wan jadi setan penasaran, mereka tak menyangka kalau pukulan dahsyat itu akan menerjang ke tubuh mereka, tubuh kedua orang itu mencelat ke belakang, setelah muntah muntah darah akhirnya mereka berkelejet dan mampus seketika ....
Thia wi wan tidak menyia nyiakan kesempatan itu, dia loncat sepuluh kaki dari tempat semula dan kabur ke atas atap rumah....
Sayang meskipun gerakan tubuhnya cepat, Han Siong Kie jauh lebih cepat darinya, dengan gerakan cahaya kilat lintasan bayangan dia berputar setengah lingkaran busur diatas udara, kemudian sepasang telapak tangannya dilontarkan keatas atap rumah dan melancarkan dua buah pukulan berantai.
Didesak terus oleh serangan serangan yang amat dahsyat itu Thia wi wan tak sanggup berdiri tenang lagi diatas atap rumah, dia jumpalitan beberapa kali di udara dan melayang kembali ke tengah arena, kendati lolos dari ancaman maut, toh sukmanya terasa sudah melayang tinggalkan raganya.
Han Siong Kie ikut melayang turun keatas tanah secepat kilat sebuah pukulan dahsyat yang disertai ilmu sakti si mi sinkang dilontarkan ke arah lawan.
Kabut putih yang tebal menyelimuti meluruh angkasa, jeritan ngeri sekali lagi berkumandaug di angkasa, Thia Wi wan yang termakan oleh serangan itu berputar kencang diangkasa sebelum akhirnya terbanting jatuh keatas tanah, tepat delapan depa didepan Buyung Thay, kontan saja dia muntah-muntah darah.
Kebetulan waktu itu Go siau bi membuka matanya, sinar matanya yang sayu tepat membentur diatas wajah Thia wi wan, mendadak gadis itu merasa timbulnya suatu kekuatan yang tak berwujud dalam badannya, ini membuat semangatnya berkobar kembali.
Gadis itu meronta bangun dari pelukan Buyung Thay, lalu dengan suara gemetar serunya.
"Turunkan aku kelantai"
Melihat Go siau bi secara tiba tiba sadar kembali dari pingsannya, Buyung Thay sangat kegirangan, dia menuruti permintaan nona itu dan menurunkannya keatas tanah.
Dalam pada itu Han Siong Kiee telah tiba pula dihadapan Thia wi wan, sambil ayun tangannya ia membentak lagi.
"Thia wi-wan bajingan terkutuk sekaranglah saat kematianmu telah tiba, akan kucincang tubuhmu jadi berkeping keping"
"Tunggu sebentar"
Tiba tiba Buyung Thay ulapkan tangannya dan mencegah anak muda itu melepaskan serangan mautnya.
Agaknya Han Siong Kiee dibikin tercengang oleh tindakan itu, dia tidak menduga kalau Buyung Thay akan menghalangi maksudnya untuk membunuh Thia.
Wi wan.
"Hey, apa maksudmu dengan perbuatan itu??"
Tegurnya terheran-heran.
"Coba lihatlah dia"
Kata perempuan cantik baju merah itu sambil menuding kearah Go siau-bi.
Cepat Han Siong Kiee berpaling kesamping, apa yang kemudian terlihat membuat jantungnya berdebar keras karena kaget.
Ia lihat Go siau bi berdiri angker dihadapannya dengan muka pucat, matanya memancarkan sinar kebencian dan perasaan dendam dan hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya, pedangnya sudah dicabut keluar sedang matanya menatap kearah Thia Wi wan tanpa berkedip.
Sementara Han Siong Kie masih terheran-heran Buyung Thay telah berkata lebih jauh.
"Tak lama berselang, akupun mempunyai kesempatan untuk membunuh orang, tapi waktu itu tidak kulakukan hal ini.... tentu kau masih ingat bukan dengan peristiwa dalam kuil ditepi jalan Thian lam? Nah, aku memang sengaja memberi kesempatan kepada nona Go siau bi untuk membunuh sendiri bangsat itu dengan tangannya, apakah engkau tahu siapakah sebenarnya orang itu?"
"Tentang soal ini..... tentang soal ini....".
"Nah, kalau engkau kurang tahu minggirlah dulu, nanti kalau ada kesempatan akan kuberitahukan kepadamu"
Han Siong Kiee tertegun, tapi sejenak kemudian dia menurut juga dan mundur tiga langkah, meski pikirannya masih diliputi oleh perasaan bingung dan tak habis mengerti.
Jago-jago Thian che kau yang masih tersisa dalam ruangan itu semuanya berdiri tertegun pula seperti orang hilang ingatan, sebenarnya bila mungkin mereka ingin melarikan diri dari sana, tapi tak seorangpun berani melakukannya, karena mereka cukup mengerti bahwa tindakan itu mengandung banyak resiko, siapa tahu kalau bukannya berhasil kabur, nyawa mereka malah lebih cepat kabur dari tubuhnya ....?
Go siau bi sudah maju beberapa langkah ke depan, meski dengan sempoyongan, lalu sambil menggigit bibir serunya.
"Thia Wi wan, kau.... kau adalah manusia berhati binatang, kau manusia terkutuk serigala berkedok orang....."
Thia Wi wan tidak berkata kata, tiba tiba dia bangkit berdiri dengan badan gontai, sinar matanya sudah pudar tak bersinar, ini menunjukan bahwa luka dalam yang dideritanya amat parah.
Go siau bi sudah mengangkat pedangnya ke udara, lalu sambil maju kemuka ia tusuk dada orang.
"Blaaaang...."
Tiba tiba dengusan tertahan menggema diangkasa, Go siau bi kembali muntah darah, tubuhnya terlempar kebelakang dan sekali lagi terkapar ditanah.
Han Siong Kie menjerit kaget, cepat ia melompat kedepan.
-ooo0dw0ooo-BAB 87 PARAS muka Buyung Thay ikut berubah hebat, dengan satu gerakan yang cepat ia menyambar tubuh Go siau bi lalu memeluknya erat erat.
"Blaaang,..."
Dengan menimbulkan suara nyaring, Thia Wi wan terjungkal kembali keatas tanah, darah kental meleleh tiada hentinya dari ujung bibir, hebat juga orang ini, sesaat menjelang kematianya ia dapat melakukan tindak pembalasan yang jitu dan dahsyat, peristiwa ini boleh dibilang jauh diluar dugaan siapapun.
Go siau bi memejamkan matanya rapat rapat setelah mengatur kembali napasnya yang tersengkal, pelan pelan dia membuka kembali matanya, segumpal tenaga yang tak berujud seolah olah muncul dalam tubuhnya dan mempertahankan dirinya hingga tak sampai roboh terjungkal, agaknya gadis itu berhasrat begitu besarnya untuk menghujamkan pedangnya keatas ulu hati lawan.
Han Siong Kie betul-betul kelabakan setengah mati, bibirnya sudah memucat, badannya agak menggigil, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan .....
Go siau bi telah menyingkirkan tangan Buyung Thay yang memeluk badannya itu, meski dengan sempoyongan dan bersusah payah, selangkah demi selangkah dia bergeser maju menghampiri Thia Wi wan yang telah terkapar ditanah itu ......
Pedangnya langsung diangkat keatas, kemudian dihujamkan keulu hati musuhnya itu keras-keras.
Darah kental bermuncratan keempat penjuru, jerit ngeri yang memilukan hati mendirikan bulu roma setiap jago yang hadir disana, tahu-tahu ujung pedangnya sudah menembusi ulu hati Thia Wi wan hingga tembus ke punggungnya...
Go siau bi kelihatan sangat garang, setelah menusuk dia cabut kembali pedangnya kemudian menusuk kembali.
Satu kali....
dua kali...
sudah ketiga kalinya pedang itu menembusi badan Thia Wi wan Dendam kesumat sedalam lautan telah terbalas, hawa kebencian dan perasaan dendam yang selama ini menopang kekuatan tubuhnya ikut melemah bersamaan dengan darah yang mengalir dari tubuh lawan, dengan lemas dicabutnya pedang yang masih menancap diperut musuhnya itu, tiba tiba pandangan matanya jadi gelap.
ia tak mampu berdiri lagi dan roboh tak sadarkan diri.
"Adik Bi ....."
Jerit Han Siong Kie keras keras.
Secepat kilat dia menerjang kedepan dan menyambar pinggangnya yang ramping, lalu diperiksanya denyut nadi dara itu, tapi apa yang kemudian diketahui membuat hatinya kecut dan berdebar keras.
Napas Go siau bi sudah amat lemah, nadinya sebentar sebentar terputus, mukanya yang pucat kekuning kuningan membuktikan betapa seriusnya luka yang diderita gadis tersebut.
Buyung Thay yang berada disampingnya segera mengambil beberapa biji obat dari sakunya, kemudian dijejalkan ke mulut Go siau-bi.
"serahkan nona itu kepadaku"
Bisiknya.
Han Siong Kie melotot sekejap kearah kawanan jago Thian che kau yang masih berdiri kaku dalam ruangan itu, kemudian menyerahkan Go siau bi ketangan Buyung Thay, setelah itu dia berpaling kembali kepada musuh musuhnya dan berkata dengan suara yang datar, berat dan mengerikan.
"Heeehhh.... heeehhh... heeehhh seluruh puncak tebing si sin gan telah berlumuran darah dari sahabat-sahabat Pat gipang, hari ini kalian harus mencucinya hingga bersih dengan darah dari kalian juga, ayoh serahkan nyawa kalian semua"
Suara ucapannya itu sangat mengerikan, membuat siapapun yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Tak terkirakan rasa kaget, gugup dan takut yang mencekam perasaan jago-jago Thian che kau itu, setiap orang merasakan sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya, mereka jadi panik dan tak tahu apa yang musti dilakukan, akhirnya sambil menjerit keras masing masing orang melarikan diri kearah pintu untuk menyelamatkan diri sendiri.
"Haaahhh... haahh... haaahh"
Gelak tertawanya itu mirip orang gila yang sudah kambuh penyakitnya mirip pula seperti terompet kematian yang siap menyambut nyawa-nyawa manusia dari dunia....
Suatu pembantaian berdarah yang mengerikanpun segera berlangsung dengan hebatnya.
Jerit kesakitan rintihan orang sekarat bersahut-sahutan tiada hentinya, dalam waktu singkat darah sudah berceceran membasahi seluruh permukaan tanah, mayat bergelimpangan setinggi bukit ....
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya suasana pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa, hanya ruangan ci gi teng telah berubah jadi kuburan masal, mayat terkapar disana sini, kutungan anggota badan dan darah kental membasahi semua lantai, mengerikan sekali pemandangan disekitar tempat itu.
Dari seratus orang lebih jago jago lihay yang dikirim perkumpulan Thian che kau, kecuali Han si mo ong seorang yang berhasil tinggalkan tempat itu dengan membawa luka, boleh dibilang sisanya hampir tewas semua dalam markas besar perkumpulan Pat gi pang.
Han Siong Kiee menghela napas panjang.
"Aaaai.... akhirnya perkumpulan Pat gi pang benar benar harus musnah dari muka bumi, mungkin selamanya tak akan bisa berdiri lagi dalam dunia persilatan"
Sambil gelengkan kepalanya ia menghampiri Buyung Thay dengan langkah cepat, kemudian bertanya lagi.
"Bagaimana keadaan lukanya ...."
"Aaaai.... isi perutnya sudah pecah, jalan darahnya ada separuh bagian telah tersumbat mati, mungkin malaikat turun dari kahyanganpun belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya itu."
Seperti disambar geledek di siang hari bolong, Han Siong Kie untuk sesaat lamanya berdiri menjublak.
andaikata Go siau bi benar benar mengalami musibah .....ia tak berani berpikir lebih jauh, pemuda itu merasa seakan akan terdapat beberapa puluh bilah badik yang bersama sama menusuk ulu hatinya..
"Mari kita bicarakan lagi di belakang"
Ajaknya perempuan itu kemudian sambil beranjak.
Han Siong Kie tidak berkata apa apa, dengan kaku dia mengikuti di belakang Buyung Thay, setelah melewati ruang ci gi teng sampailah mereka di sebuah kamar yang indah dan mungil.
Menyaksikan kesemuanya itu, diam diam pemuda kita berpikir.
"Kamar ini tentulah tempat tinggal dari calon istriku Go siau bi, tapi ....aneh, mengapa Buyung Thay bisa sangat hapal dengan keadaan di sekitar tempat ini?
Jangan-jangan antara dia dengan Go siau bi mempunyai hubungan yang erat sekali ....?
sementara itu Buyung Thay telah membaringkan Go siau bi diatas pembaringan.
Pelan pelan Han Siong Kie menghampiri gadis itu dan memeriksa semua jalan darah dan urat penting ditubuhnya, seperti apa yang diucapkan Buyung Thay barusan, separuh dari jalan darah penting dalam tubuhnya telah tersumbat mati, ini menyebabkan sekujur badannya dari atas kepala sampai ujung kaki jadi dingin, seperti seseorang yang dilemparkan kedalam gudang es.
Tanpa terasa lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Han Siong Kiee, katanya sambil menahan isak tangisnya.
"Apa.... apakah dia sudah tak tertolong lagi?"
"Aku mempunyai sebotol Ci goan wan"
Sahut Buyung Thay dengan sedih.
"obat itu dapat mempertahankan jiwanya selama tujuh hari dan selama itu dia akan tetap selamat"
"Tujuh hari....? Tujuh hari....? Apa arti dan makna kehidupannya selama tujuh hari?"
"Yaaa .... kalau hanya tujuh hari saja, hidupnya memang tidak berarti, tapi siapa tahu dalam waktu sesingkat itu mungkin akan terjadi suatu peristiwa yang mukjijat....."
"Kemukjijatan? Aaaai.... apakah kita harus menanti tibanya kemukjijatan? mungkinkah hal itu bakal terjadi?"
"sekalipun kemukjijatan tak mungkin bakal terjadi, tapi aku percaya adik Bi dapat mati dengan mata meram ...."
Dengan perasaan sedih bercampur kaget dan tercengang Han Siong Kie berpaling kearah perempuan itu.
"oya... sekarang aku baru teringat, rupanya kau menguasai betul tentang persoalan ini"
Katanya "
Dapat kau ceritakan kepadaku duduk persoalan yang sebenarnya?"
Buyung Thay mengangguk.
"Dulu Thia Wi wan adalah saudara angkat dari ayahnya Go Yu to, suatu ketika ia bersama sama jatuh cinta kepada seorang gadis yang amat cantik, dalam perebutan tersebut akhirnya Go Yu to yang berhasil mempersunting gadis itu dan mereka menikah, nona itu tak lain adalah ibunya Go Siau bi, apa mau dikata ibunya mati karena mengalami kesulitan dalam melahirkan ketika ia bunting untuk kedua kalinya, yaa... sejak itulah Thia Wi wan lantas berusaha mencari gara gara untuk menuntut balas atas peristiwa itu...."
Han Siong Kie mengangguk. sekarang dia sudah dapat memahami separuh bagian dari. duduknya persoalan. Terdengar Buyung Thay melanjutkan kembali kata katanya.
"Untuk mewujudkan pembalasan dendam itu, Thia wi wan menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, ia memancing perhatian orang orang Thian che kau dengan mengatakan bahwa kitab pusaka Thian toopit liok berada ditangan Go Yu to......."
"Kitab pusaka Thian tokpit liok berada ditangan put lo sianseng, mungkin sampai matipun Go Yu to belum sempat melihat kitab tersebut barang sekejappun ....."
Sahut sang pemuda. Buyung Thay manggut manggut.
"Dengarkan ceritaku"
Selanya.
"karena mendengar laporan itu, pihak perkumpulan Thian che kau lantas mengirim jago jago lihaynya untuk menjumpai Go Yu to, ketua perkumpulan Pat gi pang dan memaksanya untuk menyerahkan kitab pusaka Thian tokpit liok tersebut, kemudian karena kitab pusaka itu tak diserahkan merekapun turun tangan keji ....."
"Kisah selanjutnya aku sudah tahu semua, Thia Wi wan memang sangat berdosa dengan perbuatannya itu, dia memang pantas kalau dicincang menjadi berkeping keping"
"Adikku, kau masih ingat ketika kita di serbu oleh Han si mo ong, sewaktu kau sedang mengobati lukamu dirumah petani?"
Tiba tiba Buyung Thay bertanya. Sebutan "Adikku"
Dari perempuan itu dirasakan amat menusuk telinga oleh Han Siong Kie, sejak orang yang kehilangan sukma menerangkan watak dan perbuatan perempuan itu dimasa lampaunya, ia merasa agak muak dengan perempuan itu.
Meski demikian, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa, sebab perempuan itu pernah menyelamatkan jiwanya, dan sekarang diapun telah melindungi Go siau bi dengan mempertaruhkan jiwanya, maka pemuda itu mengangguk.
"Yaa, aku masih ingat, kenapa?"
"Ternyata orang menulis surat peringatan dan diam diam melindungi keselamatanmu itu tak lain adalah dia"
"Apa? Dia?"
Teriak Han Siong Kie penuh emosi, saking kagetnya hampir saja dia melompat bangun.
"Benar, belum lama berselang secara kebetulan aku telah berjumpa dengannya, dan dialah yang memberitahukan segala sesuatunya padaku, diapun sudah mengetahui pula hubungan kita berdua hubungan kita berdua sebagai teman, yaa .... Go siau bi adalah seorang perempuan yang baik, sayang... sayang kita datang terlambat satu langkah"
"Hanya selisih satu langkah, tapi rasa sesal akan diderita sampai akhir jaman, beginilah kalau takdir mempermainkan manusia."
Dengan lemas Han Siong Kie duduk terpekur disisi pembaringan, digenggamnya sepasang tangan Go siau bi yang lembut itu erat erat, sepasang matanya langsung menatap wajahnya yang pucat tanpa emosi itu dia merasa amat berdosa, berdosa terhadap gadis yang malang itu.
Semua cinta kasihnya telah ia berikan kepada Tonghong Hui tapi dia tidak memberi apa apa kepadanya, padahal justru dialah calon istrinya, sekalipun perkawinan itu terjadi karena suatu paksaan, tapi ia tak dapat menyangkal bahwa selama ini Go siau bi selalu mencintainya .
Dia tak pernah memberikan apa apa kepada gadis itu, tapi gadis ini telah memberikan cinta pertamanya kepada dirinya, ia telah membayar suatu harga yang tinggi bagi cintanya itu.
"Aaah....ada jalan"
Tiba-tiba Buyung Thay berteriak sambil memukul tepi pembaringannya keras-keras.
"Ada jalan apa?"
Cepat Han Siong Kiee bertanya sambil melompat mendekat.
"Kemungkinan besar Go siau bi tak akan mati"
Teriak perempuan itu lagi penuh emosi. Kontan Han Siong Kie merasakan semangatnya berkobar, dengan gelisah tanyanya.
"Jalan apa, yang berhasil kau temukan? cepatlah katakan kepadaku"
"Tiba-tiba saja aku teringat akan seseorang, jika kau dapat menemukan orang itu, kemungkinan besar Go siau bi akan lolos dari kematian ...."
"Kau teringat kepada siapa??"
"sin ciu it cho ...."
"Manusia jelek dari sin ciu .... ?"
"Benar, hanya obat si mia kim-wan milik sijelek dari sin ciu yang dapat menyelamatkan jiwanya"
"Tapi... Manusia jelek dari sin ciu itu berdiam dimana? Apakah kau juga tahu?"
"Konon dia berdiam dalam gua salju dipuncak bukit Ciong san yang berada diwilayah Thian see"
"Konon?,jadi kau sendiripun belum pasti kalau dia berdiam disitu?"
"Benar, aku sendiripun kurang pasti"
Perempuan itu mengangguk agak murung.
"si jelek dari sin ciu itu seorang laki laki ataukah seorang perempuan...?"
"Aku dengar dia adalah seorang perempuan"
"oooh ....jadi sijelek dari sin ciu itu adalah seorang perempuan? "
"Ehmm? Aku dengar perempuan itu bukan saja tampangnya jelek sekali, bahkan wataknya juga anehnya sampai tak ada tandingan, bahkan katanya tiga bagian lebih aneh daripada Hou thian it koay manusia paling aneh yang tersohor namanya tempo dulu"
Han Siong Kiee merasa hatinya bergetar keras Hou thian it koay?
Bukankah dia adalah Tengkorak maut, pemilik dari benteng maut yang menjadi kakek gurunya?
Kalau begitu kecuali guruku Mo-tiong ci mo, orang persilatan tak seorangpun yang pernah bertemu muka dengan pemilik benteng maut?
Karena berpikir demikian, maka sengaja dia pura pura bertanya.
"Hou thian it koay? Manusia macam apakah dia? Apakah kau juga tahu tentang orang itu?"
Buyung Thay geleng kepala.
"Aku belum pernah bertemu dengan makhluk itu, tapi aku tahu dia adalah seorang makhluk yang sangat aneh, sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri dalam dunia persilatan"
"oooh ....begitu.?"
"Ah, buat apa kita membicarakan soal soal yang tak penting? Lebih baik pokok pembicaraan yang penting saja dan yang dibahas, oya, aku mempunyai obat ci goan wan sebotol, obat itu dapat memperpanjang usia adik Bi selama tujuh hari, asal dalam tujuh hari kau bisa mendapatkan obat mustika Si mia kim wan itu, jiwanya pasti akan tertolong, sebaliknya kalau engkau gagal entahlah, terpaksa kita harus pasrah pada nasib"
"Dari sini sampai ke bukit ciong san belum tentu bisa dicapai dalam tujuh hari, tempat itu jauh sekali, aku kuwatir ...."
"Terpaksa kau harus melakukan perjalanan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kau miliki, ditinjau dari tenaga dalam yang kau miliki sekarang, mungkin saja dalam tujuh hari mendatang kau sudah datang tiba kembali disini??"
"Andaikata aku tidak berhasil menemukan si jelek dari Sin Ciu itu, apa yang musti kulakukan-"
"Apalagi ? Tentu saja kita harus pasrah kepada nasib, sebab siapapun tak akan mampu untuk menyelamatkan jiwanya, adikku Tak usah kau pikirkan yang bukan-bukan, sekarang lebih baik segeralah berangkat"
"Bagaimana dengan adik Bi??"
"Biarkan dia disini, aku akan merawat dan menjaganya selama kau tak ada disampingnya"
"Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu ini, budi kebaikan tersebut dikemudian hari pasti akin kubayar kembali kepadamu"
"Adikku, apa yang kau katakan?"
Seru Buyung Thay.
"Budi kebaikan yang pernah kuterima selama ini, suatu ketika pasti akan kubayar kembali"
"Engkau toh menyebut aku cici dan aku memanggil adik kepadamu, itu artinya kita adalah saudara sendiri, apakah tidak kau rasakan bahwa perkataanmu itu sama artinya dengan memandang asing atas diriku ? Atau mungkin kau sudah tidak mau encimu ini lagi??"
"Heeeeh.... heeeeh... heeeeh... aku pikir panggilan kita sehari-haripun memang lebih pantas untuk diganti saja"
Kata Han siong Kie setelah berpikir sebentar, ucapannya itu ketus dan lagi dingin.
Seperti disambar petir dengan terperanjat Buyung Thay meloncat bangun, teriaknya dengan hati yang kaget den penuh keCengangan.
"Kenapa ....? kenapa kita harus mengganti sebutan itu? Katakanlah, katakanlah dengan jelas"
"Aku .... aku rasa tanpa kuterangkan lagipun tentunya kau sudah mengerti dengan sendirinya"
"Tapi aku tidak mengerti Aku benar-benar tidak mengerti, ayoh katakanlah kepadaku, jelaskanlah kepadaku"
"Kau paksa aku untuk menerangkan juga kesemuanya itu kepadamu??"
"Benar"
"Aku sudah tahu bahwa kau adalah Ratu tawon yang amat tersohor namanya di kolong langit, aku...."
Paras muka Buyung Thay berubah sedingin es, matanya yang lentik tiba tiba memancarkan sinar kebuasan, hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya yang cantik, secara beruntun ia mundur beberapa langkah dengan gontai..
"Han siong Kie, kau terlalu memaksa orang sehingga berdiri tersudut"
Teriaknya penuh kemarahan.
"Memangnya kau bukan orang yang kumaksudkan"
Tanya Han siong Ki dengan agak tertegun.
"Benar, akulah si Ratu tawon yang kau maksudkan, tapi tahukah engkau akan peraturanku?"
"Peraturan apa?"
"setiap kali ada yang menyinggung soal Ratu tawon dihadapanku, maka orang itu akan kubunuh"
"Oooh... betapa keji dan berbisanya perempuan cantik ini, tak kusangka mukanya yang begitu cantik sebetulnya memiliki hati yang berbisa ....."
Pikir Han siong Ki dalam hati.
"Apakah aku juga akan kau bunuh?"
Selang sesaat kemudian dia balik bertanya.
"Mungkin, kalau itu memang perlu maka aku terpaksa harus melakukan juga"
"Aku tahu kalau engkau tak akan mampu untuk melakukan keinginanmu itu dengan leluasa"
"Kau jangan terlampau percaya pada kekuatan sendiri, siapa tahu kau lagi sial?"
"Jadi kau ingin coba coba untuk menjajalnya?"
Tantang anak muda itu sambil pasang kuda kuda.
Pelan pelan Buyung Thay membuka sepasang tangannya, ditangan sebelah kiri tampaklah jarum jarum Toh hun ciam yang amat lembut bagaikan bulu kerbau, sedangkan ditangan sebelah kanan terdapat sebutir peluru berwarna hitam yang besarnya seperti telor itik.
"Han siong Kie"
Kata perempuan itu sambil menahan geramnya.
"jarum jarum Toh hun ciam tak sampai mencabut nyawamu tapi peluru toh hun-tan ini dapat menghancur lumatkan badanmu jadi berkeping keping.... ayolah kalau ingin mencoba"
Han siong Kie merasa amat terperanjat ketika mendengar ancaman itu, dia tahu yang dimaksudkan sebagai peluru pembetot sukma itu pastilah sebangsa Pek lek tan yang mempunyai ledakan amat dahsyat.
Andaikata benda seperti itu diledakkan dalam kamar yang luasnya cuma beberapa meter persegi itu, niscaya dia bakal hancur tak berbekas, kendatipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna.
Pemuda itu tak berani main main, apalagi Go siau bi masih berbaring disampingnya, mungkin dia selamat kalau terjadi ledakan, tapi bagaimana dengan nona itu?
"Han siong Kie"
Perempuan baju merah yang cantik itu segera menegur sambil menahan geramnya.
"aku toh tak pernah bersalah apa apa kepadamu, mengapa kau bersikap sekasar itu padaku?"
Han siong Kie gelagapan dibuatnya, benar Buyung Thay tak pernah berbuat kesalahan apa apa kepadanya, malahan dua kali menyelamatkan jiwanya dari bahaya maut, andaikata tiada pertolongan dari perempuan itu, mungkin dia tak akan hidup sampai hari ini.
Meski demikian, ia merasa timbulnya suatu perasaan yang aneh, ia merasa dirinya ditipu mentah-mentah, dan hal ini menimbulkan perasaan tak puas dalam hati kecilnya.
"Mengapa kau tipu diriku?"
Akhirnya pemuda itu berteriak lantang.
"Menipu? Kapan aku telah menipu engkau?"
"Engkau toh mengaku sebagai seorang perempuan yang bernasib jelek? Kau telah menipu perasaanku, kau menipu cinta kasihku"
Teriak Han siong Kie semakin keras.
Mendengar perkataan itu, Buyung Thay merasakan hatinya agak bergerak, roman mukanyapun ikut berobah jadi lebih lembut dan halus.
Ucapan tersebut sama halnya dengan membongkar rahasia hati Han siong Kie, tanpa disadari pemuda itu, seolah olah menyatakan bahwa dia mencintainya, tapi cinta macam begini dirasakan sebagai suatu cinta karena tekanan, suatu reaksi secara langsung, karena perempuan itu teramat cantik, sebab jika dalam perasaannya sama sekali tak ada bayangan tentang dirinya, maka diapun tak akan begitu gusar atau marah oleh perbuatannya dimasa lampau.
Kadangkala antara cinta dan dendam memang tak dapat dipisah pisahkan, seringkali kedua hal itu berkembang terus hingga akhir masa.
"Apakah kau menemukan bahwa diantara kata-kataku dulu ada yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya?"
"Sejak dua puluh tahun berselang kau telah menghebohkan dunia persilatan sehingga dikenal orang sebagai Ratu tawon, kau pernah kawin, kau punya kepandaian merawat muka sehingga menutupi usiamu yang sebenarnya ......."
"Tutup mulutmu"
Tukas Buyung Thay sambil membentak.
"Han siong Kie jadi menurut pandanganmu aku Buyung Thay adalah seorang perempuan jalang yang tak tahu malu? Kau anggap aku adalah seorang janda cabul yang suka main lakilaki? Terus terang kukatakan kepadamu, dugaanmu itu keliru besar, aku bukan perempuan rendah seperti yang kau bayangkan, memang benar aku pernah kawin, tapi tahukah engkau laki laki macam apakah Yu Pia lam itu .....? Dia adalah seorang laki laki impotent, dia sama sekali tak mampu untuk melakukan hubungan cinta sebagai suami dan istri"
"Haaahhh....?Jadi Thian che kaucu Yu Pia lam tak dapat berfungsi sebagai laki laki normal?"
Ulang Han siong kie dengan perasaan kaget heran dan tidak habis mengerti.
Setelah mendengar berita tersebut, pemuda itu mulai berpikir, kalau benar Yu Pia-lam impotent dan tak mampu melakukan hubungan seks, lalu mengapa ibunya si siang go cantik ong cui ing menikah dengan Thian che kaucu itu.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka cuma menjadi suami istri dalam nama saja, sedang kenyataannya mereka bukanlah suami istri yang sebenarnya, kalau memang begitu mengapa mereka hidup secara damai selama puluhan tahun lamanya?
Ataukah mungkin dibalik kesemuanya itu terdapat hal-hal yang tak beres?
Atau mungkin juga perkataan dari Buyung Thay sekarang hanyalah kata kata bualan belaka ?
"Han siong Kie, tentunya engkau tidak percaya bukan??"
Kembali Buyung Thay bertanya dengan wajah emosi.
"Tapi... apa... apa sangkut pautnya persoalan itu dengan diriku??"
"Bagimu mungkin tak penting, tapi persoalan itu penting sekali hubungannya dengan aku, apakah kau hendak membuktikan kebenaran dari ucapanku itu??"
"Bukti? Bagaimana membuktikannya?"
"Akan kuijinkan dirimu untuk membuktikan sendiri, apakah sampai sekarang tubuhku masih perawan atau tidak"
Berbicara sampai disitu, tak tahan lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Hampir saja Han siong Kie tidak percaya dengan apa yang didengar telinginya, Ia tak menyangka kalau Buyung Thay berani mengucapkan kata kata yang begitu berani dan tak tahu malu.
Membuktikan sendiri perempuan itu masih perawan atau tidak?
Merah padam wajah sianak muda itu karena jengah, jantungnya berdebar keras, ditatapnya perempuan yang cantik jelita itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Yaa, bukan hanya Han siong Kie, orang lainpun tak nanti akan menyangka kalau perempuan secantik itu berani mengucapkan kata kata yang tahu malu ......
Padahal andaikata Buyung Thay tidak merasa gelisah bercampur cemas, dia sendiripun tak akan mengucapkan kata kata seperti itu.
"Han siong Kie"
Katanya sambil membesut air matanya.
"sekarang calon istrimu berada disini, tapi aku sama sekali tidak merasa cemburu, akupun tak bisa mendapatkan apa-apa dari badanmu, meski demikian, kita dapat saling berkenalan, itu tandanya kalau ada jodoh, kalau toh engkau memandang hina kepadaku, akupun tak ingin memohon apa apa kepadamu, memandang diatas wajah perempuan yang masih suci bersih ini untuk sementara waktu aku akan tetap tinggal di sini untuk melindungi keselamatannya, Nah, kau boleh pergi sekarang"
Han siong Kie tidak segera memberikan tanggapannya, diam-diam diapun berpikir.
"Berita sensasi yang tersiar dalam dunia persilatan tak boleh dipercaya dengan begitu saja, bukankah sucouku si Tengkorak maut juga dilukiskan sebagai seorang gembong iblis tua yang berhati keji dan banyak melakukan kejahatan? Tapi kenyataannya toh tidak begitu? Aaaaii ....apa yang dia katakan memang benar, orang yang bisa saling bertemu lalu berkawan itu tandanya berjodoh, buat apa aku musti mempersoal-kan masalah itu secermat cermatnya...??"
Berpikir sampai disitu, rasa menyesalpun segera timbul dari hati kecilnya, cepat dia menjura seraya berkata.
"cici yang baik, mungkin memang akulah yang bersalah, harap engkau bersedia mengampuni kesalahanku itu"
Buyung Thay duduk sambil terisak.
rupanya ia merasa seperti mendapat penghinaan yang tak terkirakan, wajahnya ditutupi dengan tangan, air mata bercucuran amat deras...
Keadaan Han siong Kie waktu itu betul betul serba salah, untuk menghilangkan kegusarannya, ia maju menghampiri Go siau bi dan mengamati gadis itu beberapa saat.
Tiba tiba hatinya terasa jadi kecut, seandainya ia tak dapat kembali dalam batas waktu tujuh hari bagaimana dengan gadis ini?
Bagaimana pula jika ia tak berhasil mendapatkan obat si mia kim wan?
Akibatnya mengerikan sekali, anak muda itu tak berani membayangkan lebih jauh .......
"Adik Bi"
Akhirnya pemuda itu berbisik dengan sedih "aku akan berangkat, dalam tujuh hari aku pasti akan tiba kembali disini"
Tentu saja Go siau bi tidak menunjukan reaksi apa apa, bahkan andaikata tiada obat ci goan-wan dari Buyung Thay yang melindungi denyutan jantungnya, mungkin sejak tadi jiwanya sudah berpulang kealam baka.
"cici, segala sesuatunya kutitipkan padamu, semoga kau bersedia melindungi jiwanya selama aku tak berada disini, aku berangkat sekarang juga"
Pinta anak muda itu. Buyung Thay mengangguk lirih, ditatapnya anak muda itu sekejap dengan pandangan sedih, lalu katanya.
"Adikku, semoga kau berhasil dan mencapai sukses, kuharap kau bisa jaga diri baik baik sepanjang jalan"
Bila kita tinjau dari tatapan mata Buyung Thay sekarang dapat kita buktikan bahwa perempuan itu memang benar benar mencintai Han siong Kie sehingga hampir tak dapat menguasai diri, tapi kemungkinan besar perempuan itupun sadar bahwa dia tidak mungkin bisa menikah dengan pemuda yang dicintai itu, maka mau tak mau dia musti menarik diri dari percaturan cinta tersebut.
Buyung Thay memang memiliki kepandaian untuk merawat wajahnya sehingga tetap awet muda, meski begitu ia tak dapat menipu diri sendiri, ia tahu usianya tahun ini sudah mencapai empat puluh tahun lebih, apa mau d ikata justru dengan usia setua itu dia baru pertama kali merasakan bagaimana rasanya orang jatuh cinta, tapi apa mau dikata kalau cinta itu tidak menghasilkan apa-apa, ia merasa lembaran hidupnya tetap putih dan kosong.
Pelan pelan Han siong Ki mendekati istrinya dan mencium jidatnya dengan hangat, ketika ia mengangkat kembali kepalanya, tampaklah Buyung Thay sedang menghadang kearahnya dengan sinar mata murung cemburu dan penuh daya rangsangan.
Menyaksikan kesemuanya itu, Han siong Kie merasa hatinya tergoda, tiba tiba timbul ingatan untuk mencium pula perempuan itu ....
Tapi ia dapat mengendalikan perasaan itu, ia tahu akibat dari ciuman mesranya nanti akan mengerikan sekali .....
Memang cinta bagaikan sebuah bendungan sungai, bila sebuah lubang kecil yang mengakibatkan kebocoran tidak segera disumbat, akibatnya seluruh bendungan itu bakal hancur dan ambrol.
"cici, aku mau pergi dulu, selamat tinggal"
Akhirnya pemuda itu berbisik lirih.
Ia tak berani memandang perempuan itu terlalu lama, sebab kecantikan wajahnya mungkin dapat merubah pikiran, maka begitu selesai berpesan, cepat-cepat dia keluar dari ruangan itu dan kabur dari puncak bukit si sin gan.
sepanjang perjalanan ia berlarian dengan cepatnya, pelbagai ingatan serasa berkecamuk dalam benaknya, sering kali persoalan yang dihadapi manusia memang dapat melampaui batas daya pikirannya, sekalipun engkau cerdik, suatu ketika toh akan ditemui juga masalah masalah pelik yang tak dapat kau pecahkan.
seperti halnya dengan pembantaian secara besar-besaran diperkampungan keluarga Han oleh manusia yang menyaru sebagai Tengkorak maut, mengapa ia membiarkan ibunya seorang tetap hidup didunia ini?
Mengapa ibunya bersedia untuk menikah lagi dengan seorang laki-laki yang impotent dan hakekatnya tak akan mampu melakukan tugasnya sebagai seorang laki laki?
Benarkah ibunya begitu kejam dan berhati racun sehingga bukan saja tak mengubris dendam sakit hati dari suaminya bahkan anak kandung sendiripun tak mau diakui?
selang sesaat kemudian, pemuda itu sudah menuruni bukit tersebut dan melakukan perjalanan ditengah jalan.
Berpuluh-puluh li sudah ia melanjutkan perjalanannya dengan cepat, mendadak dari kejauhan muncul sesosok bayangan manusia berwarna merah darah, orang itu mendekat dengan badan sempoyongan, rupanya menderita luka yang cukup parah.
Makin lama orang itu makin dekat, akhirnya dapat terlihat jelas bahwa orang itu memakai baju merah...
Bukan Dia tidak memakai baju merah, orang itu adalah seorang pemuda yang bermandikan darah kental, sehingga dipandang dari kejauhan dapat terlihat seakan akan dia memakai jubah berwarna merah.
"saudara, harap berhenti"
Cepat Han siong Ki menghadang ditengah jalan merintangi kepergian orang itu.
-ooo0dw0ooo-Bab 88 PEMUDA yang berlepotan darah itu mendengus tertahan lalu menghentikan langkahnya, tubuh yang sudah basah oleh darah itu kelihatan masih juga gontai seperti mau jatuh.
"Sahabat, siapakah kau? Ada urusan apa kau hadang jalan perginya?"
Tegur orang itu kemudian dengan susah payah.
"Aaaaah,..! Kau.... kau..., kau adalah...!"
Dengan pandangan kaget dan tercengang Han-siong Kie menatap pemuda tersebut, saking emosinya dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Rupanya Pemuda itupun sudah merasa bahwa mereka saling mengenal, betul juga, setelah diamati dengan seksama ia lantas memanggil dengan suara gemetar.
"Han suko.." -ooo0dw0ooo-
Jilid 43 UAAAK Tiba tiba darah kental memancar keluar dari mulutnya, tubuhnya mundur kebelakang aggk terhuyung.
Berdiri semua bulu kuduk Han siong Ki menyaksikan keadaan orang itu, dia merasa sekujur badannya mengejang, pemuda bermandi darah itu tak lain adalah Thio sau kun, putra tunggal dari paman gurunya si naga tangan beracun Thio Lin.
"Adik Kun, aku disini. Apa yang terjadi dengan kau? Katakanlah, cepat katakan padaku"
Seru Han siong Ki sambil membimbing tubuhnya.
Thio sau kun sudah tak mampu berbicara apa-apa lagi, tiba-tiba dia tarik napas panjang panjang lalu terkulai ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.
Han siong Ki kaget sekali, secepat kilat ia sambar tubuhnya dan membopong pemuda itu kebawah pohon ditepi jalan..
Pemuda itu akan memeriksa luka tubuhnya, tapi sebelum suatu tindakan sempat dilakukan, desingan angin tajam telah menggema memecahkan kesunyian, beberapa sosok bayangan manusia dengan membawa deruan angin keras melayang turun dibelakangnya.
"Lepaskan orang itu dan letakkan diatas tanah"
Seseorang berkata dengan suara yang menyeramkan.
Han siong Kie tidak memberi tanggapan apa-apa, malahan ia berlagak seakan-akan tidak mendengar perkataan itu, pelan-pelan ia berjalan ke bawah pohon ditepi jalan sana lalu membaringkan Thio sau kun keatas, sesudah itu pemuda tersebut baru berpaling.
Tapi apa yang kemudian dilihatnya membuat kemarahan Han siong Kie meluap luap.
hawa napsu membunuhnya menyelimuti seluruh wajahnya, sekali melompat tahu tahu ia sudah berada tiga kaki jauhnya dari posisinya semula.
Enam orang kakek berjubah panjang telah berdiri berjajar dihadapannya, salah satu diantaranya memakai jubah hitam dengan sulaman matahari rembulan dan bintang didadanya, orang itu dikenalnya karena pernah mengikuti Thian che kaucu mengejarnya.
Empat orang lain adalah empat dari Thian chepat siok (delapan bintang dari Thian che kau) dan sedang pelindung hukum berbaju kuning.
Tentu saja mimpipun keenam orang kakek itu tak menyangka kalau orang yang mereka hadapi sekarang tak lain adalah Manusia muka dingin, ketua dari perguruan Thian lam yang mereka segani, kontan saja paras mukanya berubah hebat, untuk sesaat mereka berdiri tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Han siong Kie bukan orang bodoh, cukup dalam sekilas pandangan saja dia sudah tahu kalau Thio sau kun terluka ditangan orang orang itu, hanya dia heran mangapa Thio sau kun bisa di lukai orang orang perkumpulannya ?
Padahal seingatnya pemuda itu adalah ketua muda perkumpulan Thian che kau, bahkan sudah menjadi anak angkatnya Yu Pia lam, apa yang sebenarnya telah terjadi??
"ooooh....jadi orang ini terluka ditangan kalian bersama?"
Tegurnya kemudian dengan suara dingin.
"Benar"
Jawab utusan khusus perkumpulan Thian cie kau yang rupanya merupakan pemimpin rombongan itu dengan sinar mata mengkilap.
"Apakah tujuan kalian hendak mencabut nyawanya?"
Kembali pemuda itu menegur dengan suara ketus.
"Itu urusan rumah tangga perkumpulan kami, buat apa kau musti mencampurinya?"
"Heeehhh .... heeehh....heeehh tapi sayang aku sudah memutuskan untuk mencampuri urusan ini, kalian mau apa?"
Han siong Kie mengejek sambil tertawa dingin.
Paras muka keenam orang kakek itu segera berubah hebat, malahan pelindung hukum baju kuning itu menerjang kedepan dan menubruk kearah Thio sau-kun yang berada tiga kaki dihadapannya dengan memanfaatkan kesempatan tersebut.
"Bangsat rupanya kau pingin mampus"
Bentak Han siong Kie penuh kegusaran, telapak tangannya secepat sambaran kilat segera diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
"Blaaang...."
Diiringi dengusan tertahan kakek baju kuning itu tersapu telak oleh serangan maut itu hingga mencelat sejauh dua kaki lebih untuk tak dapat bangun lagi.
Utusan untuk Thian che kau yang menjadi pimpinan rombongan itu cepat mengerling sekejap ke arah empat orang kakek lainnya, lalu telapak tangannya bekerja cepat memancarkan dua pukulan dahsyat ke arah Han siong Kie, sementara empat kakek lainnya dari empat arah yang berlainan menerjang ke tubuh Thio sau kun yang menggeletak di tanah itu.
Kemarahan Han siong Kie tak terkendalikan lagi, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan ke depan setelah itu dengan gerakan cahaya kilat lintasan bayangan dia melayang kembali ke hadapan Thio Sau kun, kedatangannya itu persis menyongsong gerakan tangan dari dua orang diantara empat kakek yang akan mencengkeram tubuh Thio sau kun.
"Blaaang.... Blaaang...."
Dua jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, tahu tahu dua orang kakek itu mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Melihat rekannya mampus, dua orang kakek lainnya jadi panik, cepat-cepat mereka menarik diri dan melompat mundur dari sana.
Utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu segera membentak keras, sekali lagi dia melancarkan serangan dahsyat kearah Han siong Kie.
Pada saat itu pikiran Han siong Kie hanya tertuju pada keselamatan Thio sau kun, dia tak ingin membuang banyak waktu, si mi sinkangnya andalannya dikerahkan mencapai sepulung bagian, dengan menciptakan segumpal kabut berwarna putih, dia gulung tubuh musuhnya itu.
"Duuukk..."
Jeritan ngeri menggelegar diangkasa, utusan khusus dari Thian che kau itu muntah darah segar dengan sempoyongan badannya mundur sejauh satu meter lebih dari posisinya semula.
"Mundur..."
Teriaknya cepat.
Tiga sosok bayangan manusia melarikan diri terbirit birit dari tempat itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka telah lenyap dari pandangan mata.
Han siong kie segan untuk memperhatikan musuhmusuhnya lagi, setelah tiga orang itu melarikan diri, cepat cepat dia menghampiri Thio sau-kun dan memeriksa tubuhnya dengan seksama, di lihatnya anak muda itu berbaring dengan mata terpejam, mukanya pucat seperti mayat, napasnya amat lemah dan terputus putus, ketika nadinya diperiksa dengan teliti, hampir saja dia menjerit karena kaget, semua nadi penting ditubuhnya sudah putus, isi perutnya sudah geser.
Tampaknya malaikat turun dari kahyanganpun belum tentu bisa menyelamatkan jiwanya lagi.
Tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dan menetes diatas wajah Thio sau-kun.
Putra tunggal dari Thio su sisok sudah tak ada harapan lagi untuk hidup, padahal paman gurunya dengan susah payah telah menyelamatkan jiwanya dan memelihara dia sampai dewasa, budi kebaikan ini tak mungkin bisa dibalas lagi untuk selamanya Han siong Ki merasa sedih sekali, hatinya terasa hancur berantakan, rasa dendam, benci dan sedih bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Dengan cepat ia totok beberapa buah jalan darah penting di tubuh pemuda itu, kemudian menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Thian in hiat dan menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh sau kun.
Beberapa saat kemudian,Thio sau kun membuka matanya kembali, dengan tak bertenaga ia menggerakkan bibirnya seperti akan mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang keluar.
"Adik kun.... adik kun...."
Bisik Han siong Ki dengan perasaan seperti disayat sayat. Akhirnya Thio Sau-kun dapat bersuara, meski pun suaranya lembut seperti suara nyamuk.
"Suko....aku...aku sudah tak sanggup lagi...sungguh menyesal aku tak.....tak dapat membalas sendiri sakit hatiku.....ooooh....aku tak kuat lagi....."
Nafasnya tersengkal-sengkal seperti dengusan kerbau, selang sesaat kemudian dia baru melanjutkaa.
"Bee....benda dalam sakuku....too...tolong serahkan pada ibu....jaa....jangan sampai hilang....bi.....bila perlu....li....lindungi dengan segenap jiwa....ra .....ragamu..!"
Tiba-tiba kepalanya terkulai, Thio Sau-kun menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
"Adik Kun.......! Adik Kun.......!"
Teriak Han-siong Kie memilukan hati, tapi.....dia tak mungkin bisa menghidupkan pemuda itu lagi, Thio Sau-kun telah memejamkan mata untuk selama lamanya.
Paman gurunya telah mati, putra tunggalnyapun ikut mati, sedang ia sendiri gagal membalas dendam bagi sakit hati keluarganya, malahan sampai sekarang tak tahu siapakah pembunuh keluarganya dia merasa titik darah segar menetes didalam hati nya.
Dibelainya tubuh Thio Sau-kun yang kaku dan mulai mendingin itu dengan pandangan kosong, si nar matanya memandang awan yang berada diangkasa dengan termangumangu.
Terlalu besar budi yang psraah diterimanya dari sitangan naga beracun Thio Lin, tapi selamanya ia tak akan mampu untuk membalas semua budi kebaikan itu lagi.
Kematian Thio Sau-kun memberikan pukulan batin yang sangat berat baginya, dia merasa seakan akan hatinya disayat dengan pisau, dan penderitaan itu akan dibawanya sampai akhir dari kehidupannya.
Malam semakin larut, bintang betaburan diangkasa, angin berhembus lirih dan suasana amat sepi, ia masih berdiri kaku bagaikan sebuah patung arca, sama sekali tak bergerak.
Malam hilang, pagipun menjelang.......fajar menyingsing diufuk sebelah timur......
Embun pagi telah membasahi bajunya, tapi dia tidak merasa, sepasang tangannya masih memegang mayat Thio Sau-kun yang telah kaku, kesedihan yang kelewat batas membuat ia seperti orang linglung.
Tiba-tiba....satu ingatan terlintas dalam benaknya, membuat pemuda itu tersadar kembali, ia teringat oleh tugasnya yang belum selesai, yang sudah mati biarkan mati, yang pasti keselamatan Go Siau-bi yang menantinya dibukit Si-sin-gan berada dak.m cengkeramannya.
Pelan-pelan dia bangkit berdiri, memandang ma yat Thio Sau-kun yang masih berpelepotan darah beberapa titik air mata kembali mengucur keluar membasahi pipinya Dia teringat kembali kata-kata yang diucapkan Thio Saukun sesaat menjelang kematiannya......
"Sungguh menyesal aku tak dapat membalas sakit hatiku dengan tangan sendiri......"
Siapa yang menjadi musuhnya ? Dia pun berkata begini .
"benda dalam saku-ku ini serahkanlah kepada ibu, bila perlu harus lindungi dengan nyawa sendiri......."
Itu berarti ibu yang dimaksudkan tentulah ibu nya sendiri si Siang-go cantik Ong Cui-ing.......
Tapi...
mengapi harus diserahkan kepada ibunya?
Benda apakah yang harus diserahkan kepada i-bunya?
Mengapa harus dilindungi dengan pertaruhan jiwa raga?
Dia merogoh kedalam saku Thio-Sau-kun dan mengambil keluar sebuah bungkusan kecil, besarnya setengah depa dengan tebal satu cun, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya..
Sesaat kemudian dia memutuskan untuk membuka dahulu bungkusan itu dan memeriksa isinya, siapa tahu dari benda dalam bungkusan itu dia dapat mengungkap teka-teki dibalik kematian Thio Sau-kun ditangan orang-orang perkumpulan Thian che-kau?
Baru saja bungkusan itu akan diperiksa ...tiba-tiba suara tertawa dingin yang mengerikan berkumandang dari belakang.
Si anak muda itu sangat terperanjat, serta merta dia masukkan bungkusan itu kedalam sakunya kemudian bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia melayang dua kaki dulu kedepan sebelum putar badan.....
Darahnya langsung tersirap.
hawa amarah berkobar dalam padannya setelah mengetahui siapakah manusia berkerudung dan dua orang kakek lainnya yang saat itu berdiri di hadapannya.
Orang itu tak lain adalah Thian che kaucu Yu Pia lam serta dua orang utusan khusus Thian che kau, malahan salah seorang diantaranya tak lain adalah utusan khusus yang mengejar Thio sau kun kemarin dan akhirnya berhasil kabur dengan membawa luka itu.
Mayat Thio Sau kun yang berlepotan darah belum sampai dikebumikan, ternyata pembunuhnya telah datang kembali menjadi gara-gara, kejadian ini sama sekali diluar dugaan.
Dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan sambaran kilat, Thian che kaucu Yu Pia lam menyapu sekejap wajah Han siong Kie, kemudian sambil mengalihkan pandangannya keatas tubuh Thio sau kun dia berkata.
"Geledah sakunya"
Dua orang utusan khusus itu mengiakan dengan hormat, salah seorang diantaranya pelan pelan maju ke depan menghampiri mayat Thio sau kun yang membujur ditanah itu.
"Bangsat! Rupanya kalian memang ingin mampus"
Bentak Han siong Kie dengan marah, desingan angin serangan secepat kilat menyambar kearah depan.
Agaknya utusan khusus itu cukup memahami kelihayan ilmu jari Tong kim ci, ketika merasakan datangnya ancaman, cepat cepat badannya berkelebat dan menyingkir kesamping.
Thian che kaucu Yu Pia lam tidak berpeluk tangan belaka, pelan-pelan dia maju tiga langkah ke depan, lalu dengan suara yang penuh hawa pembunuhan katanya.
"Manusia bermuka dingin, sungguh tak kusangka begitu cepat kita akan berjumpa kembali"
"Heeehhh... heehhh.... heeehhh.... Yu Pia lam, pertemuan macam beginilah yang sangat kuharapkan, menggunakan kesem-patan ini kita harus segera membereskan juga semua hutang baru dan hutang lama diantara kita berdua"
"Hehhmmm... aku kuatir kalau kepandaianmu masih selisih jauh bila ingin digunakan umtuk membuat perhitungan"
"Hmmm tak usah tekebur dulu, sebentar kau mengetahui sendiri sampai dimanakah kepandaian silat yang kumiliki"
Pada saat itulah utusan khusus yang kemarin melarikan diri itu sudah mendekati mayat Thio sau kun dan mencengkeram kearah dadanya.
"Bangsat, hari ini kau tak akan lolos dalam keadaan selamat"
Teriak Han siong Kie penuh kemarahan.
Ilmu gerakan tubuh cahaya melintas bayangan dikerahkan dengan sepenuh tenaga, hanya sekali menggelegar tahu tahu dia sudah dibelakang punggung utusan khusus itu jari tangannya yang dibengkok kan langsung mencengkeram kemuka...
"Bangsat, kau ingin mampus rupanya"
Bentak Thian che kaucu pula sambil secepat kilat melancarkan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat.
Ditengah jeritan kaget, tahu tahu Han siong Kie sudah berhasil mencengkeram tubuh utusan khusus itu, sementara hampir bersamaan waktunya desingan angin serangan tiba, pula dengan hebatnya.
Han siong Kie cepat melompat kedepan menghindarkan diri dari tibanya ancaman maut itu, lalu sambil mendengus dia menjungkir balikkan tubuh si utusan khusus tadi dengan kepala dibawah kaki diatas sepasang pahanya dicengkeram erat erat dengan kedua belah tangannya...
"Manusia bermuka dingin, apa yang hendak kau lakukan?"
Teriak Thian che kaucu dengan gusar.
"Mau apa? Aku akan suruh darahnya mengalir disini"
"Hmm, kau berani?"
"Haaahhh.... haaahhh... haahhh... mengapa tidak berani?"
Ditengah gelak tertawanya yang amat keras seperti orang kalap. sepasang lengannya direntangkan kesamping keras keras...
"Kraaaak"
Diiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati, percikan darah segar berhamburan kemana-mana, tahu-tahu tubuh utusan khusus itu sudah dirobek oleh Han siong Kie sehingga terbelah menjadi dua bagian, isi perutnya dan usus yang bercampur darah segera mengalir keluar dan berceceran diatas permukaan tanah, mengerikan sekali pemandangan pada saat itu.
"Darah Haaahh.... haahhh... haahhh adik Kun coba lihatlah darah kental telah mengalir membasahi seluruh permukaan tanah, coba lihatlah, dimana-mana darah itu sama, darah itu semuanya berwarna merah"
Tak terkirakan rasa gusar yang berkecamuk dalam benak Thian che kaucu setelah menyaksikan peristiwa itu, dalam suatu bentakan yang sangat nyaring secara beruntun dia melancarkan dua buah pukulan berantai yang kesemuanya disertai dengan tenaga pukulan yang tak terkirakan dahsyatnya.
Han siong Kie tak berani bertindak gegabah, dia cukup mengetahui sampai dimanakah dahsyatnya musuh yang sedang dihadapinya sekarang, dia menarik kembali senyumannya, segenap tenaga yang dimiliki nya segera dihimpun untuk menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras .....
Hembusan angin menderu deru, dalam suatu keadaan yang sangat mengerikan bagaikan amukan angin taufan yang menyapu segala-galanya, kedua belah pihak saling beradu tenaga satu kali, alhasil kedua orang itu sama sama mundur selangkah kebelakang.
Tiba tiba Thian che kaucu seperti memahami akan sesuatu hal, tiba tiba ia berkata dengan nada menyelidik "Manusia bermuka dingin, barusan kau sebut anak durhakaku ini sebagai adik Kun?
Apakah dia adikmu?"
"Hmm Yu Pia lam, memangnya dia adalah putramu?"
Balas Han siong Kie sambil mendengus penuh penghinaan.
"Kalau dia bukan anakku lalu siapa? semua orang yang berada dalam dunia persilatan toh sudah tahu bahwa dia adalah ketua muda dari perkumpulan Thian che kau?"
"Kenapa kau kirim orang untuk membinasakan dirinya? Ayoh jawab mengapa kau kirim orang untuk membunuhnya?"
"Karena dia telah melanggar peraturan perkumpulan, maka dia harus dijatuhi hukuman yang setimpal"
"Ciss Tak tahu malu, Yu Pia lam wahai Yu Pia lam, kau benar benar seorang manusia yang tak tahu malu, memangnya kau bisa beranak?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar, tiba-tiba saja sekujur badan Thian che kaucu Yu Pia lam menggigil keras menahan rasa terkejutnya yang bukan kepalang, tanpa sadar dia mundur tiga langkah ke belakang, sekalipun semua orang tak dapat menyaksikan bagaimana perubahan wajahnya dibalik kain kerudung hitamnya itu tapi dari gerak geriknya siapapun akan tahu bahwa jago lihay tersebut benar benar merasa amat terperanjat.
"Bangsat cilik, apa kau bilang?"
Teriaknya sambil menahan geram yang berkobar kobar.
"Aku bilang, bahwa dalam hidupmu didunia kali ini, jangan bermimpi bisa punya anak, sebab kau adalah seorang laki laki impotent, seorang laki laki yang tak mampu untuk melakukan tugasmu sebagai seorang laki laki yang normal"
Saking gusarnya sekarang sekujur badan Thian che kaucu sudah menggigil keras, dia tak menyangka kalau Han siong Kie dapat mengetahui rahasianya yang paling besar, tentu saja diapun merasa sangat heran, dari mana rahasia besarnya ini bisa diketahui oleh orang lain.
Dari malu akhirnya dia menjadi gusar, dan dari gusar akhirnya jadi kalap.
Thian che kaucu berteriak dengan suara bagaikan guntur.
"Bajingan cilik, hari ini kau harus mampus ditanganku"
Sepasang telapak tangannya tiba tiba di dorong kedepan, yang satu segera berobah warna tadi putih seperti pualam sedangkan telapak tangan yang lain berubah jadi hitam pekat.
Han siong Kie sendiripun agak terkejut ketika dilihatnya pihak lawan sudah mengeluarkan ilmunya yang maha dahsyat itu.
"Haaah? Dia sudah gunakan ilmu Han goan sin khi ....?"
Pikirnya dalam hati.
Tentu saja anak muda itu tak berani gegabah, diam diam hawa si mi sinkangnya juga disalurkan hingga mencapai pada puncaknya.
Sekarang kedua belah pihak telah sama sama mengeluarkan ilmu simpanannya yang disertai dengan tenaga dahsyat itu, berarti suatu pertarungan antara mati dan hiduppun tak dapat dihindari lagi.
Akhirnya gulungan hawa merah dan gulungan hawa putih itu meluncur kedepan dan membentur satu dengan lainnya .........
Suatu ledakkan dahsyat yang memekikan telinga berkumandang ditengah udara dan mencabik-cabik kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu, dahsyatnya benturan itu sampai pepohonan yang berada didekatnya ikut bergetar dan bergoncang keras, pasir dan debu beterbangan diangkasa, wilayah seluas lima kaki dari tempat itu jadi gelap gulita sukar melihat kelima jari tangan sendiri Pertarungan ini boleh dibilang merupakan pertarungan paling seru yang belum tentu bisa dijumpai dalam ratusan tahun belakangan ini.
Ketika debu dan pasir sudah mereda kembali, jarak kedua orang musuh bebuyutan itu sudah di tarik sampai selisih empat kaki.
Paras muka Han siong Kie yang tampan berubah jadi pucat pias seperti mayat, sedangkan keadaan Than che kaucu meski tak dapat diketahui namun dari dadanya yang naik turun seperti orang tersengkal, dapat diketahui bahwa keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaan sianak muda itu.
Pada saat itulah si utusan khusus tadi sudah berjalan mendekati Thian che kaucu seraya berkata.
"Lapor kaucu, mayat itu sadah digeledah dengan seksama, barangnya tidak ditemukan".
"Ehmm, kau boleh mengundurkan diri"
Si Utusan khusus itu mengiakan dan segera mengundurkan diri sejauh beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.
Menyaksikan kesemuanya itu, satu ingatan lantas terlintas dalam benak Han siong-Kie, dia segera berpikir.
"sekarang tahulah aku, rupanya persoalan ini terletak pada bungkusan kecil yang telah kuambil tadi""
Setelah kedua belah pihak saling berhadapan tanpa melakukan suatu tindakan, akhirnya mereka mulai maju lagi kedepan selangkah demi selangkah kemudian setelah kedua belah pihak saling mendekat tiba tiba mereka saling menyerang lagi dengan gencar dan hebatnya, ternyata kedua orang itu sudah mulai melangsungkan pertarungan jarak dekat yang jauh lebih seru dari pertarungan yang pertama tadi.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bertarung dua puluh gebrakan lebih, rupanya dalam kesempurnaan jurus serangan, posisi Thian che kaucu lebih unggul setengah tingkat.
Sejak mengetahui kalau Thio sau kun mati di tangan jago jago Thian che kau, rasa benci Han siong Kie kepada musuh bebuyutannya itu sudah lebih mendalam beberapa tingkat, maka dalam melepaskan seranganpun ia tidak kepalang tanggung, semua serangan dan ancaman ditujukan pada bagian mematikan ditubuh lawan.
Karena itu tiga puluh gebrakan kemudian, ia telah berhasil memaksa Thian che kaucu lebih banyak mempertahankan diri daripada melakukan penyerangan, keadaan jadi keteter dan setiap saat terancam bahaya maut, kendati begitu, untuk menentukan siapa menang siapa kalah, paling sedikit mereka harus bertarung tiga ratus gebrakan lagi.
Ditengah berlangsungnya pertarungan yang amat seru itu, tiba tiba terdengar ujung baju tersampok udara berkumandang dari kejauhan, menyusul kemudian tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat melayang turun kedalam arena pertarungan.
Atas kehadiran dua orang jago yang tak diundang itu, serta merta baik Han siong Kie maupun Thian che kaucu sama sama menghentikan pertarungannya dan berpaling kearah samping.
Ternyata dua orang yang baru datang itu adalah sepasang muda mudi yang masih muda, tapi wajah mereka tampan dan cantik jelita, bak sepasang malaikat dari kahyangan.
Cukup dalam sekilas pandangan saja, Han siong Kie sudah mengenali siapakah muda-mudi yang baru datang itu, benar mereka tak lain adalah Hek Pek siang yau yang telah berhasil memulihkan kembali paras muka asli mereka, seng Khe ki dan Hong Ing ing.
Setibanya dihadapan Han siong Kie, kedua orang itu segera jatuhkan diri berlutut sambil berkata.
"Tecu berdua datang mengunjungi ciangbanjin semoga selama ini ciangbunjin berada dalam keadaan sehat walafiat" .
"Tak usah banyak adat, silahkan bangun"
"Terima kasih atas kemurahan ciang-bunjin"
"Eeeh .....bukankah kalian berdua bertugas didalam istana? Mau apa datang kedaratan Tionggoan.....?"
Tegur Han siong Kie dengan wajah tercengang dan tak habis mengerti.
Dengan suara lirih siluman hitam seng Keh ki lantas menjawab "Hasil rapat dari para goan lo yang diadakan dalam istana memutuskan bahwa tecu suami istri berdua diwajibkan datang kedaratan Tionggoan untuk membantu ciangbunjin, selain itu membawa serta pula..."
"Aku sudah tahu apa yang kalian maksudkan, sekarang boleh segera mengundurkan diri lebih dahulu"
Tukas anak muda itu sambil mengulapkan tangannya.
Dengan sikap yang amat hormat Hek pek siang yau mengundurkan diri dari situ.
Mimpipun Thian che kaucu Yu Pia lam tak menyangka kalau sepasang muda mudi yang berada dihadapannya sekarang bukan lain adalah Hek pek siang yau sepasang manusia aneh yang sudah menggetarkan namanya semenjak puluhan tahun berselang, kalau tidak mungkin sejak tadi dia sudah ngeloyor pergi dari situ.
Han siong Kie mendengus dingin, ia tak sudi memberi waktu yang cukup bagi musuhnya untuk menghimpun kembali tenaganya, begitu kedua orang mengundurkan diri, serentak ia menerjang lagi kedepan, sepasang tangannya kontan melancarkan serangan yang bertubi tubi keatas tubuh Thian che kaucu.
Dalam waktu singkat pertarungan sengitpun kembali berkobar.
Hek pek siang yau saling bepandangan sekejap suruh mereka menganggur tanpa pekerjaan tentu saja sangat menjemukan mereka berdua, maka tanpa banyak bicara lagi kedua orang itu langsung menerjang kearah utusan khusus Thian che kau yang berdiri beberapa kaki jauhnya dari arena itu, kemudian menyerangnya secara gencar.
Ketika merasa diserang oleh dua orang muda-mudi yang tak dikenal, tentu saja si utusan khusus itu sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap musuhnya, malahan diam diam ia memaki didalam hati.
"Bangsat yang tak tahu diri, rupanya kalian sudah bosan hidup,"
Yaa, siapa yang menyangka.
sepasang siluman hitam putih adalah sepasang muda mudi yang tampan dan cantik?
Andai kata kedua orang itu tidak pernah makan Bak ci berusia seribu tahun yang sangat mujarab, mungkin pada saat ini usia mereka berdua sadah mencapai tujuh puluh tahunan.
Dua orang itu menyerang datang dari kiri dan kanan, serangan serangan yang maha dahsyat itu semuanya tertuju keatas tubuh utusan khusus itu "Bangsat"
Teriak siluman hitam dengan dingin "kalau engkau sanggul menerima tiga buah pukulanku, ku ampuni selembar jiwa anjingmu untuk hari ini"
"Heehhh.... heeehhh... heeehhh... bajingan, hakekatnya kau sendirilah yang sudah bosan hidup,"
Teriak utusan khusus itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Baik kalau kau tidak percaya ayoh menyeranglah lebih dulu"
Seru siluman hitam dengan dahi berkerut.
Dari mana utusan khusus itu tahu kalau musuhnya lihay?
sambil membentak gusar sepasang telapak tangannya segera direntang kan dan sekaligus menyerang kekiri dan keka nan, jurus serangannya aneh, sakti dan ganas, sukar ditemui tandigannya dikolong langit.
Sayang musuh yang dihadapinya adalah gembong iblis yang sudah tersohor namanya semenjak puluhan tahun berselang, sekalipun serangannya lihay juga tak ada gunanya.
Siluman putih dan siluman hitam masing masing melancarkan sebuah pukulan dahsyat, bukan saja dengan sangat mudah berhasil memunahkan ancaman yang tertuju ketubuh mereka, bahkan ke dua orang itu berhasil pula mendesak lawannya sehingga harus mundur lima depa ke belakang.
Bergidik hati si utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu setelah mengetahui kelihayan musuhnya, sekarang dia baru mengerti bahwa ia telah menilai musuhnya terlalu rendah.
"Haaahhh.... haaahh.... haaahh kunyuk, serangan tersebut adalah serangan kami yang pertama"
Seru siluman hitam sambil tertawa seram.
"nah.. sekarang terimalah serangan kami yang kedua"
Sambil membentak.
kedua orang siluman itu masing masing melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan-Si Utusan khusus dari Thian che kau itu sama sekali tidak sempat untuk melakukan balasan, cepat cepat dia melompat keudara dan melayang mundur delapan depa kebelakang.
"Sekarang adalah serangan kami yang ketiga dan engkau bakal mampus dalam serangan kami ini"
Kembali siluman hitam berseru sambil menyeringai seram.
Bayangan manusia terasa berkelebat lewat, tahu-tahu suatu jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok mayat yang penuh beriepotan darah teriempar ke belakang dan tak berkutik lagi di atas tanah.
Thian che kaucu sangat terperanjat mendengar jeritan ngeri itu, dia tahu kembali anak buahnya menjadi korban ditangan lawan, oleh karena pikirannya bercabang, perlawananpun ikut menjadi kendor.
"Blaaang..."
Han siong Kie segera manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, dia menerjang kedepan sambil menyodok dada lawan, karena tak menyangka serangan tersebut bersarang telak diatas dada lawan.
Yu Pia lam mendengus tertahan, dengan cekatan dia melompat keluar dari arena pertarungan, tapi setelah memandang kesekeliling tempat itu, hatinya jadi bergeridik dan peluh dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya, ia tak berani berdiam terialu lama lagi disitu, segera serunya.
"Manusia muka dingin, sampai jumpa lagi lain kesempatan...."
Tanpa banyak bicara dia segera berkelebat dari situ dan kabur terbirit birit ....
Sambil menahan rasa geram dalam hatinya, Han siong Kie mengawasi bayangan punggung Yu Pia lam yang menjauh itu tanpa berkedip.
lalu teriaknya keras keras.
"Yu Pia lam ingat baik baik perkataanku ini suatu ketika aku pasti akan berkunjung lagi ke lian huan tan mu itu"
Menanti bayangan musuhnya lenyap tak berbekas, dia baru menghampiri kembali mayat Thio sau kun dan membopongnya, lalu pelan-pelan berjalan menuju kesebuah bukit kecil tak jauh dari situ..
Hek pek siang yau membungkam dalam seribu bahasa, mereka hanya mengikuti dibelakang ketuanya.
Akhirnya pemuda itu berhenti disuatu tempat yang indah pemandangannya, sambil meletakan jenazah Thio sau kun keatas tanah, ujarnya.
"Galilah sebuah liang disitu"
Dua orang siluman hitam dan putih tidak banyak bicara, mereka segera bekerja membuat sebuah liang ditempat yang ditunjuk, tak lama kemudian liang lahat itupun sudah siap.
Diiringi cucuran air mata yang amat deras, Han siong Kie mengebumikan putra tunggal dari paman gurunya disitu, kemudian diapun membuat sebuah batu nisan sebagai peringatan.
Selesai upacara, anak muda itu baru berpaling kearah sepasang siluman itu sambil katanya.
"sekarang aku sedang mempunyai tugas penting yang harus segera dikerjakan, untuk sementara waktu simpaniah kitab pusaka Tay boan yopit kip itu baik baik, dikemudian hari kitab tersebut akan kuhantar sendiri kekuil siau lim si. sekarang kalian boleh berangkat kebukit si sin gan dan tunggu aku disitu, disana sudah menunggu pula dua orang perempuan, satu diantaranya terluka parah dan menunggu pengobatan, katakan saja kepada perempuan yang satunya bahwa kalian datang kesitu atas perintahku, soal lain tak usah di bicarakan dengannya, mengerti? Nah, kalian boleh segera berangkat"
"Tecu suami istri berdua sangat berharap dapat selalu mengiringi disamping ciangbunjin"
Ujar siluman putih Hong Ing ing dengan wajah bersungguh-sungguh. Han siong Kie mengangguk.
"Ketahuilah, tugas yang harus kulaksanakan sekarang adalah suatu tugas istimewa, dalam melaksanakan tugas tersebut tak perlu kalian berdua mengiringinya, maka lebih baik kalian tunggu aku di bukit si sin gan saja, disana ketua Pat gipang yang baru Go siau bi sedang menunggu pengobatan dariku dan kalian harus ingat bahwa nona itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan aku dewasa ini keadaannya lemah dan butuh perlindungan dari kalian, tunggu saja disana, dalam lima hari aku pasti sudah tiba disana"
Tentu saja kedua orang siluman itu tak dapat memaksakan keinginan mereka lebih jauh, setelah ciangbunjinnya berkata demikian mereka tak berani membantah lagi, selesai memberi hormat berangkatlah kedua orang itu menuju kebukit sin si gan-Han siong Kie sendiri berdiri sejenak lagi didepan kuburan Thio sau kun untuk mengheningkan ciptanya, kemudian ia baru berangkat tinggalkan tempat itu menuju kebukit Ciong san.
Sekarang batas waktu yang tersedia baginya sudah makin menipis, itu berarti dalam dua hari mendatang, obat si mia kim wan yang mustajab itu harus sudah didapatkan, dengan begitu dia baru dapat memburu batas waktunya yang cuma tujuh hari itu untuk tiba kembali dibukit sin si gan dan menyelamatkan jiwa Go siau bi.
Tentu saja dalam keadaan seperti dia tak sempat berbuat apa apa lagi kecuali melanjutkan perjalanan secepat cepatnya, bahkan iapun tak sempat memeriksa isi bungkusan yang diserahkan Thio sau kun kepadanya sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Anak muda itu melanjutkan perjalanannya siang malam tak kenal lelah, akhirnya setelah bersusah sekian lama waktu lohor hari yang ketiga Han siong Kie sudah berada dibawah bukit Ciong san.
Tampaklah bukit yang tinggi dan berlapiskan salju tebal itu menjulang tinggi keangkasa, dari jauh memandang terasalah begitu angker dan mengerikannya tanah perbukitan tersebut.
Udara diatas bukit sangat dingin serasa merasuk ke tulang sumsum, tapi ke semuanya itu bukan halangan bagi Han siong Kie untuk melanjutkan perjalanannya, ia berlari kencang diatas permukaan salju yang tebaL...
Dihitung mulai hari itu, maka dia tinggal mempunyai waktu selama tiga hari, didalam hari yang terakhir ini bukan saja dia harus temukan sin ciu it cho dan mendapatkan obat mustika si mia kim wan, bahkan diapun harus melakukan perjalanan cepat untuk kembali lagi kebukit si sin gan, kalau tidak maka Go siau bi akan menghembuskan napasnya yang penghabisan tanpa tertolong lagi.
Menurut keterangan Buyung Thay, katanya sijelek dari sin ciu itu berdiam digua salju diatas bukit Ciong san, itu berarti gua salju tersebut tentulah berada diantara tanah perbukitan bersalju yang sangat luas itu ....
setiap tempat yang mencurigakan diatas bukit telah diperiksa dan diteliti dengan seksama, namun hasilnya nihil, ia tak berhasil menemukan jejak apapun tentang gua salju tersebut.
Padahal sebagaimana diketahui bukit Ciong san panjangnya mencapai ratusan li, belum tentu ia dapat memeriksa setiap sudut bukit yang mencurigakan dalam jangka waktu satu hari setengah, dus berarti dengan waktu yang begitu minim tidak mungkin bagi anak muda itu untuk meneliti seluruh tempat dibukit salju, sebab jika batas waktunya sudah lewat, kendatipan obat mustika si mia kim wan berhasil didapatpun sama sekali tak ada harganya lagi..
Cemas, gelisah dan bimbang berkecamuk dalam perasaannya, ini membaat anak muda itu jadi panik, dalam suatu batas waktu yang tertentu, harus menemukan seorang jago persilatan yang sukar ditemukan jejaknya, kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang sulit untuk dilaksanakan.
Han siong Ki bukan orang yang pesimis, tapi dia sendiripun mengerti bahwa kesuksesan dari tugas nyakali ini mempunyai harapan yang kecil sekali, sekalipun demikian ia tak dapat membuang kesempatan yang amat minim itu dengan begitu saja, ia tak tega membiarkan calon istrinya Go siau bi mati tanpa ditolong.
-ooo0dw0ooo-BAB 89 SEMENTARA Han siong Kie sedang gugup dan panik tak tahu apa yang musti dilakukan, tiba tiba terdengar suara gemuruh yang keras sekali berkumandang datang dari kejauhan.
suara itu seakan akan muncul dari dasar perut bumi, tapi suaranya makin lama semakin keras, dan akhirnya bagaikan seribu guntur yang menggelegar bersama diangkasa, menyusul kemudian seluruh permukaan salju ikut bergoncang keras.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie benar-benar tat terkirakan, ia merasa seluruh permukaan salju telah bergoncang bagaikan dilanda gempa bumi dahsyat, kabut putih menguap keudara, suara gemuruh yang memekikkan telinga makin keras menggelegar diangkasa.
"Longsor salju.."
Pekik Han siong Kie dengan terkejut, tubuhnya capat cepat melejit ke udara dan meluncur kemuka.
Baru saja badannya meluncur kedepan, permukaan salju bekas tempat berpijaknya tadi dengan cepat telah longsor kebawah.
Seluruh tanah perbukitan itu bergoncang makin keras, seakan akan hari kiamat menjelang tiba, dalam keadaan begini sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat lihaypun percuma, sebab bukan faktor kepandaian yang bisa selamatkan jiwanya, dalam keadaan begini hanya faktor keberuntungan saja yang berlaku.
Han siong Kie merasa dirinya bagaikan seekor binatang kecil yang berada dalam kurungan yang besar, dia cuma bisa melompat kesana kemari secara membabi buta.
Salju yang melapisi permukaan bukit kini sudah longsor semua kedalam jurang, permukaan yang semula sama sekali telah berubah sehingga sulitlah bagi siapapun untuk mengenali kembali daerah daerah disekitar sana, apa lagi menemukan tempat yang rasanya aman.
Mengikuti longsornya permukaan salju, dengan cepatnya pula bukit Ciong san mengalami perubahan yang drastis.
Kurang lebih setengah jam kemudian longsoran salju yang mengerikan itu mulai meredah dan akhirnya berhenti.
Han siong Kie menarik napas panjang, ia bersyukur karena jiwanya tak sampai direnggut oleh malaikat elmaut.
Setelah kerak salju yang menyelimuti permukaan bukit itu longsor semua, kini banyak tempat yang berubah sama sekali dari keadaan sebelum longsor tadi.
Diatas dinding batu karang tepat dihadapan Han siong Kie berada, sekarang muncul sebuah mulut gua yang gelap.
menyaksikan hal ini pemuda tersebut segera merasakan hatinya bergerak.
"Jangan-jangan gua itulah yang dinamakan gua salju?"
Pikirnya dalam hati.
Sejak naik ke atas bukit tersebut, tak sebuah gua pun yang berhasil ditemukan Han siong Kie, mungkin andaikata tidak terjadi longsor salju, mulut guapun tak akan muncul, itu berarti sekalipun dicari sepanjang abad juga tak akan ditemukan.
Berpikir sampai disitu, tanpa ragu ragu lagi dia meluncar kedepan dan mendekati mulut gua tersebut.
Gua itu letaknya berada diatas dinding tebing, kurang lebih empat puluh kaki dari permukaan tanah, sekalipunjauh diatas letaknya, namun bukan halangan bagi Han siong Ki untuk mencapainya, dalam tiga kali lompatan dia telah berhasil mencapai mulut gua tersebut, tapi sesaat sebelum masuk menerobos masuk kedalam gua tali, tiba.
tiba pemuda itu merasa agak sangsi.
"Benarkah ini adalah gua salju yang dicari?"
"Benarkah si Jelek dari sin chiu berdiam dalam gua ini?"
"Bersediakah dia menghadiahkan pil si mia kim-wan tersebut kepadanya?"
Menurut Buyung Tay siJelek dari sin ciu itu seorang yang aneh sekali wataknya, sampai taraf yang bagaimana keanehan dari tabiatnya itu?
Sementara serangkaian pertanyaan berkecamuk dalam benaknya pemuda itu berpikir lebih jauh.
"Yaaa... bagaimana juga nantinya, yang pasti aku datang kemari untuk memohon bantuan orang, sewajarnya kalau kumohon bertemu dengan cara yang sopan juga...."
Berpikir demikian, dia lantas berseru kearah gua itu "Boanpwe Han siong Ki mohon bertemu"
Tiga kali sudah ia berteriak.
namun kecuali pantulan suara sendiri yang menggema dalam dinding gua, tiada reaksi apa apa yang kedengaran dari dalam gua itu.
Melihat hal ini Han siong Kijadi tercengang dan bimbang mungkinkah gua ini hanya sebuah gua kosong?
Tapi kalau toh sudah sampai disini mengapa tidak sekalian selidiki sampai jelas?
Karena berpendapat demikian, maka diapun melangkah masuk kedalam gua tersebut.
Baru saja dia berjalan belasan langkah, pemuda itu sudah mencapai dasar gua tersebut, diam-diam ia menarik napas dingin, ternyata gua itu cuma sebuah gua buntu yang dalamnya tak sampai lima meter, tapi lantaran lorong gua itu berliku-liku maka orang yang berdiri dimulut gua sukar untuk memandang hingga dasar gua tersebut.
Tiba tiba semacam benda diatas dinding dasar gua tersebut telah menarik perhatiannya.
Benda itu adalah sebuah lukisan seorang perempuan, panjangnya empat depa dengan lebar dua depa.
Dalam sebuah gua yang kosong ternyata terpampang sebuah lukisan perempuan boleh dibilang peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang aneh dan sama sekali tak masuk di akal.
Dibawah tuntutan rasa ingin tahunya yang meluap.
akhirnya ia berjalan kemuka menghampir lukisan tersebut.
Lukisan itu adalah sebuah lukisan seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, meski hanya sebuah lukisan belaka, tapi oleh karena lukisannya sangat hidup maka lukisan tersebut mendatangkan suatu daya pikat yang luar biasa besarnya ini menunjukan bahwa pelukisnya adalah seorang seniman tingkat tinggi.
Lukisan tadi digantUng diatas selembar batu granit yang berwarna putih, dan batu tadi menempel diatas dinding batu karang.
Sudah tentu kejadian ini bukan suatu kejadian yang kebetulan saja, namun Han siong Ki tidak dapat menemukan dimana letak keanehan dari persoalan tersebut.
Gua yang kosong...
Lukisan gadis cantik,..
suatu kejadian aneh yang tak masuk diakal.
Sementara Han siong Ki masih memandangi lukisan gadis cantik itu dengan termangu, tiba tiba terdengar serentetan suara yang sangat dingin berkumandang dari arah belakang.
"Bocah, perhitungan kali ini meleset jauh sekali"
Han siong Kie amat terperanjat sekali, secepat kilat dia memutar badannya, ternyata disitu tak nampak sesosok bayangan manusiapun, kenyataan ini membuat hatinya keheranan, sebab ia yakin tenaga lwekang yang dimilikinya sekarang sudah cukup sempurna, namun toh gagal menemukan jejak orang yang berbicara barusan, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu luar biasa sempurnanya.
"Heeehh.... heeehh.... heeehh...."
Kembali berkumandang suara tertawa aneh menusuk pendengaran.
Berdirilah semua bulu kuduk Han siong Kie menghadapi kejadian ini, padahal waktu itu dia berdiri menghadap kemulut gua dengan membelakangi dinding karang tersebut, lalu darimanakah munculnya suara itu?
Tapi ada satu hal yang dapat ia yakini, yaitu suara tersebut sudah pasti adalah suara seorang perempuan.
"Heeehh... heeehh... heeehhh... bocah muda, sekarang engkau boleh memilih salah satu jalan untuk menemui kematianmu"
Kembali suara yang menggidikan hati itu berkumandang dalam ruang gua.
Tapi kali ini, Han siong Kie dapat mendengar dengan jelas suara itu berasal dari arah belakang.
pelan-pelan dia memutar badannya dan memeriksa sekitar dinding karang itu dengan sinar mata setajam sembilu, sekarang dia yakin bahwa dibalik dinding karang yang tergantung lukisan gadis cantik itu sebenarnya terdapat gua lain, dan kunci untuk membuka gua tersebut justru letaknya ada di atas lukisan tadi.
"Saudara, apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti ...."
Serunya kemudian dengan ketus.
"Bocah busuk.. tak ada gunanya kau mungkir, hari ini raja akhirat telah mengumumkan bahwa saat kematianmu telah tiba"
Ejek orang itu dengan suara yang makin menyeramkan. Mendengar perkataan itu, berkobarlah hawa amarah Han siong Kie didalam hati, ia mendengus.
"Eeeh....saudara, apakah kau takut berjumpa dengan orang? Buat apa kau musti main sembunyi macam cucu kura kura saja?"
Bentaknya dengan suara keras.
"Hmmm Kalau engkau berani berkentut setengahnya saja, sekarang juga nyawamu akan kucabut."
Heeehhh.... heeehhh.... heeehhhh.... kau anggap mampu melakukan hal itu atas diriku"
"Kalau tidak percaya, silahkan saja mencoba sendiri"
Pada saat itulah tiba tiba dari mulut gua berkumandang suara tertawa dingin yang mengidikan hati.
Menyusul menggemanya suara tertawa itu, sesosok makhluk aneh yang penuh bulu panjang masuk ke dalam mulut gua itu.
Han siong kie merasa terkejut sekali menyaksikan kemunculan makhluk aneh itu, dia adalah seorang manusia yang bercambang lebat, jubah kulitnya berbulu lebat dengan seutas tali terikat dipinggangnya, sekilas pandangan orang hanya melihat bulu putihnya saju yang panjang-panjang.
Agaknya manusia aneh itupun merasa agak tercengang melihat kehadiran Han siong kie disitu, ia berhenti dengan wajah tertegun, setelah mengamati pemuda itu beberapa saat lamanya gumannya seorang diri.
"Aneh....benar benar aneh, rupanya si nenek jelek itu sudah menerima seorang bocah muda sebagai muridnya....."
Ketika mendengar disinggungnya soal "si nenek jelek" , Han siong Kie merasa hatinya tergerak, dia tahu orang yang dimaksudkan manusia aneh itu pastilah pemilik gua ini, dan kemungkinan besar perempuan yang mengejek dirinya tanpa munculkan dirinya tadi tak lain adalah sijelek dari Sin ciu yang sedang dicari, semangatnya langsung berkobar kembali...
"Eeeh, bocah muda, apa hubunganmu dengan si nenek jelek itu?"
Terdengar kakek aneh itu menegur dengan suara yang menyeramkan-"Si nenek jelek ? Siapa yang kau maksudkan?"
""Aaaah ....kau si bocah kunyuk tak usah beriagak pilon lagi dihadapanku, ayoh jawab saja terus terang"
"Sebutkan dulu siapa Nenek Jelek itu?"
"Heeeh heeeh heeeeh bocah keparat, kau suruh aku si orang tua menyebut namaku??"
"Benar"
"Hmmm Dengarkan baik baik ....aku si orang tua adalah Pak kek lojin (orang tua dari kutub utara)"
"Si orang tua dari kutub utara??"
"Benar"
"Baru pertama kali ini kudengar nama se aneh itu"
Gumam Han siong Ki keheranan.
"Bagus, bocah bangsat, kau berani mengejek aku?"
Tiba tiba kakek aneh itu menjadi berang.
"ayoh katakan, apa hubunganmu dengan si nenek jelek itu?"
"siapa yang kau maksudkan si nenek jelek?"
"Monyet, aku segan bersilat lidah terus dengan kau, suruh si jelek dari sin chiu menggelinding keluar"
Han siong Ki merasa jantungnya berdebar keras, ternyata apa yang diduganya semula sedikitpun tak salah, pemilik gua ini tak lain tak bukan adalah si jelek dari sin chiu, itulah yang dinamakan susah susah dicari hingga sepatu rusak, akhirnya didapatkan dengan tanpa sengaja."
Tapi ....
gua itu panjangnya cuma lima kaki, kecuali diri sendiri dan kakek aneh yang tak diundang, hanya sebuah lukisan gadis cantik yang tergantung diatas batu granit tersebut, satu satunya penjelasan yang bisa masuk diakal adalah di balik gua itu masih ada gua lain, dan ditinjau dari gaya bicara manusia misterius, kemungkinan besar orang itu adalah sijelek dari sin chiu yang berada dibalik dinding gua itu.
Tapi ....apa maksud kedatangan si orang tua dari kutub utara ini?
Karena ragu ragu dan ingin tahu, dia lantas menegur.
"Mau apa engkau datang kemari? Mau menuntut balas ataukah membayar budi...?"
"Bocah busuk. buat apa kau cerewet melulu?"
Bukan menjawab kakek dari kutub utara itu malah membentak dengan mata melotot.
"Lalu ada urusan apa kau datang kemari sambil marah marah dengan muka bengis?"
"Tutup mulut busukmu itu kunyuk."
Teriak kakek aneh itu semakin marah.
"kau tidak punya hak untuk berbicara dengan aku, mengerti?"
"Kalau begitu, aku harap engkau segera tinggalkan tempat ini dan jangan kembali lagi"
Usir Han siong Kie sambil memberi tanda agar orang itu keluar dari situ.
"Apa? Kau mengusir aku?"
"Tutup bacotmu dan segera enyah dari dalam gua ini"
"Bagus ....bagus... keparat busuk, apabila aku tidak memandang diatas wajah si nenek jelek itu, sekarang juga akan kubunuh nyawamu, mengerti?"
"Aku tak sudi menerima kebaikanmu itu"
Sekalipun diluaran Han siong Kie menjawab demikian, dalam hati kecilnya diam diam merasa keheranan, apa sebenarnya hubungan antara kakek dari kutub utara dengan sijelek dari sin chiu?
Kalau dilihat dari tingkah lakunya, sudah pasti dia bukan datang dengan membawa maksud jelek tapi mengapa mukanya bengis dan kelihatan ganteng sekali "Hmmm!
Bocah busuk.
aku si orang tua paling tidak percaya dengan segala macam tahayul, baik engkau ngotot hendak mengusir aku keluar dari sini, terpaksa akan kulihat sampai dimanakah kepandaian silat yang telah diwariskan sijelek itu kepadamu, lihat serangan "
Sambil mendengus dingin, sebuah pukulan segera dilontarkan keatas tubuh Han siong Kie, bukan saja serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, bahkan datangnya sangat aneh dan sama sekali diluar dugaan siapapun jua.
Han siong Kie tak berani melayani secara gegabah..
dengan cepat dia menyingkir ke samping dengan gerakan cahaya kilat lintasan banyangan, lalu dengan jurus raja iblis menyembah loteng istana, dia melancarkan pula sebuah serangan balasan.
"Tahan...."
Tiba tiba si kakek dari kutub utara itu berteriak sambil mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.
"Ada urusan apa lagi yang hendak kau tanyakan?"
Seru sianak muda itu.
"Engkau bukan muridnya sinenek jelek itu"
"Memangnya aku belum pernah mengaku kalau aku adalah muridnya, kan kau sendiri yang menebak sendiri?"
"Lalu siapakah kau?"
"Han siong Kie, ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian lam...."
Mendengar nama itu, dengan cepat si kakek dari kutub utara melayang mundur beberapa langkah kebelakang, wajahnya menunjukkan rasa kaget dan kejutnya yang bukan kepalang.
"Apa....? jadi kau adalah ketua dari perguruan Thian lambun...?"
Ulang si kakek agak gemetar.
"Benar, kenapa?"
Sikap Han siong Ki masih tetap tenang dan kalem seperti sedia kala.
"Ada urutan apa kau datang kemari?"
"Maaf, aku tak dapat mengatakannya kepadamu, lebih baik kau saja yang terangkan dulu maksud kedatanganmu kemari"
"Tentang soal ini ..... akupun tak dapat memberitahUkan rahasiaku ini kepadamu"
"Jikalau begitu keadaan kita adalah sama sama dan kau tak usah bertanya apa apa kepadaku, sedangkan akupun tak akan menanyakan apa apa kepadamu, setuju"
"Tidak... Tidak bisa..."
Kakek aneh itu goyangkan tangannya berulang kali.
"Kenapa tidak bisa?"
"sebab aku berhak untuk menanyai maksud kedatanganmu"
"Apa yang kau jadikan dasar serta pegangan untuk bertanya kepadaku?"
"Pegangan? Aku dasarkan atas hubunganku dengan si nenek jelek itu, kenapa?"
"Terangkan dulu apa hubunganmu dengannya?"
"Tentang soal ini.... kau tak usah bertanya"
"Kalau memang begitu, terpaksa urusan pribadiku tak usah pula kau campuri, mengerti?"
Untuk sesaat si kakek dari kutub utara itu agak tertegun, tiba tiba ia membentak keras.
"Bocah keparat, kuperintahkan kepadamu untuk segera enyah dari tempat ini"
"Kalau aku tak pergi, apa yang kau perbuat?"jengek Han siong Ki sinis.
"Jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji kepadamu"
"Huuh Ilmu silatmu itu yang kau andalkan untuk mengusir aku dari sini? Aku khawatir kalau kau sudah membuat suatu perhitungan yang salah besar"
"Jadi kau tidak percaya? Kalau begitu ayoh buktikan sendiri...."
Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya segera didorong kedepan melancarkan serangan dahsyat.
Han siong Kie tak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain, diapun mengankat telapak tangannya dan pelan-pelan didorong kedepan, segulung kabut putih yang amat tebal seketika itu juga memancar kearah depan.
"Blaaang...."
Suatu benturan keras yang memekikkan telinga segera berkumandang dalam ruangan gua itu, membuat seluruh permukaan tanah diseputar ruang gua itu tergoncang keras, hancuran batu berguguran bagaikan hujan gerimis, keadaan mengerikan hati.
Baca Juga: Senyuman Dewa Pedang 2
Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 8