Ceritasilat Novel Online

Tengkorak Maut 13

Eps 13 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.

Han siong Kie masih tetap herdiri tegak di tempat semula, sebaliknya si kakek dari kutub utara mundur lima langkah dengan sempoyongan, dengan mundurnya ini maka dia sudah berdiri ditepi mulut gua itu, dalam keadaan begini asal Han siong Kie melancarkan sebuah serangan lagi, niscaya kakek itu berhasil digulungnya sehingga keluar dari tempat itu.

Semua rambut dan cambang kakek dari kutub utara berdiri kaku seperti landak, sinar matanya memancarkan cahaya ketakutan, mimpipun dia tak menyangka kalau seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan ternyata memiliki tenaga dalam yang luar biasa sekali.

Mendadak ....

dari balik gua itu berkumandang kembali suara aneh yang pernah didengarnya tadi.

"Eeeh..... bocah muda, ada urusan apa engkau datang kedalam guaku ini....?"

"Aku datang untuk menjumpai seorang pemuka persilatan yang tersohor namanya dalam dunia kangouw"

Jawab Han siong Kie dengan sikap yang sangat menghormati.

"siapakah yang kau maksudkan?"

"Jikalau dugaan boanpwe tidak salah, maka cianpwelah orang yang hendak kutemui itu"

"Tahukah engkau siapa kah diriku ini"

Suara itu balik bertanya.

"Akupikir cianpwe tak lain tak bukan adalah sijelek dari sin chiu, bukankah begitu?"

Seraya berkata dengan sinar matanya yang setajam sembilu anak muda itu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, dia berusaha untuk menemukan sumber dari suara tadi.

Setelah mencarinya dengan susah payah, akhirnya sianak muda itu berhasil menemukan rahasia dibalik semua kemisteriusan yang mencekam disekitar tempat itu.

Apa yang sebenarnya terjadi.

Rupanya sepasang mata dari lukisan gadis cantik yang tergantung diatas dinding dapat bergerak kesana kemari dengan bebasnya, lagi pula sinar mata itu memancarkan cahaya yang tajam sekali, ini membuktikan bahwa si pembicara tersebut bersembunyi dibalik lukisan gadis cantik yang tergantung diatas dinding tersebut.

Atau dengan perkataan lain, dibalik batu granit yang keras dan kuat itu, sebenarnya terdapat alat rahasia lain yang bisa digunakan untuk menghubungkan ruang bagian luar dengan ruang bagian dalam.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... bocah muda, tebakanmu memang tepat sekali ...."

Terdengar orang dibalik lukisan itu berseru dengan lantang.

"Kalau toh tebakanku sudah benar, locianpwe dapatkah engkau segera munculkan diri..."

"Heehhhh....heehhh... heehhh....kau tak usah terburu napsu, pertama-tama usirlah dulu setan tua itu dari goa ini, kemudian baru kau utara kan maksud kedatanganmu"

"Baik, aku terima perintah"

Tanpa banyak bicara lagi, Han siong Kie putar badan dan segera bergerak menghampiri Pak kek lejin, si kakek dari kutub utara dengan wajah garang ....

Menyaksikan muka bengis dari sang pemuda yang makin lama semakin mendekatinya itu, kakek dari kutub utara sontak berteriak keras.

"Nenek jelek. sudah lima tahun lamanya aku menderita kedinginan diatas bukit ini, andaikata hari ini tidak terjadi longsor salju, selamanya tak akan kutemukan goa saljumu itu, masakah engkau sudah melupakan sama sekali hubungan kita dimasa lampau? Jelek-jelek begini aku toh suamimu"

Han siong Kie tertegun dan segera menghentikan gerakan tubuhnya, sekarang dia baru tahu bahwa kedua orang itu adalah sepasang suami istri.

Lima tahun sudah si kakek dari kutub utara mencari gua salju ditengah ganasnya cuaca dibukit Ciong-san?

Hal ini kedengarannya sukar masuk di akal, lalu apa yang sebenarnya terjadi antara sepasang suami istri yang serba aneh ini?"

Sebelum ingatan tersebut sempat melintas didalam benaknya, sin ciu it cho (sijelek dari kota Tiong ciu) telah berkata dengan suara yang dingin sedingin es, agaknya ia tak terpengaruh sama sekali oleh perkataan itu.

"Bocah muda, kenapa berhenti? Hemmm .... baik akan kuhitung sampai angka ke lima, jika engkau masih belum mampu untuk mengusirnya keluar dari sini, lebih baik engkaupun berangkat dan pulang saja ke rumah"

Kemudian tanpa menggubris bagaimanakah reaksi dari si anak muda itu, nenek jelek itu mulai menghitung dengan suara lantang.

"Satu.... Dua.... Tiga....."

Han siong Kie putar otaknya dan berpikir keras, dia merasa pada saat ini ia sangat membutuhkan bantuan dari nenek bertampang jelek ini, selembar nyawa Go siau bi calon istrinya tergantung dari usahanya mendapatkan pil mustika itu.

Setelah dirasakan bahwa tiada jalan lain lagi kecuali menuruti perkataan dari nenek jelek itu, akhirnya Han siong Kie menghela napas panjang, hawa sakti si mi sinkangnya disalurkan memenuhi seluruh telapak tangan, kemudian dengan sebuah pukulan kilat dibacoknya tubuh kakek dari kutub utara itu keras keras.

Gua itu sempit dan ruangannya tidak luas, dalam keadaan demikian tak mungkin lawan bisa berkelit kesamping untuk menghindarkam diri, selain daripada itu si mi sinkang merupakan suatu ilmu sakti jaman kuno yang tak terkalahkan, kelihayannya sungguh mengejutkan siapapun juga, maka bisa dibayangkan bagaimanakah akibatnya tatkala serangan dahsyat itu dilontarkan kedepan.....

"Bocah keparat, kau berani membantu penjahat untuk melakukan pemerasan....."

Jerit kakek dari kutub utara penasaran.

Tapi sebelum perkataan itu selesai diutarakan keluar, deruan angin pukulan yang memekikkan telinga telah menyambar datang dengan dahsyatnya, dengan sempoyongan kakek itu tergentar mundur beberapa langkah ke belakang, itupun belum sanggup berdiri tegak.

maka dia mundur lagi beberapa tindak.

Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, begitu serangan yang pertama berhasil memaksa mundur kakek dari kutub utara, dia segera lancarkan kembali serangan yang kedua, dan kembali kakek itu terdesak mundur kebelakang .............

Akhirnya dengan pukulan yang ketiga......

yaa, cukup tiga kali saja, kakek dari kutub utara telah dipaksa sehingga harus keluar dari mulut gua salju ....

Han-siong Ki cukup mengetahui kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki kakek dari kutub utara, maka sekalipun tubuhnya terlempar keluar dari gua itu, tak nanti dia akan terbanting mati, maka begitu berhasil dengan serangannya, tanpa banyak bicara lagi dia putar badannya untuk masuk kembali kedalam gua.

Siapa tahu baru saja bergerak.

seseorang telah membentak dari belakang.

"Jangan bergerak"

Han siong Kie tarik napas dingin, mimpipun tak disangka olehnya kalau sijelek dari kota Tiong ciu telah berdiri tepat dibelakang tubuhnya......

"Katakanlah apa maksudmu datang kemari"

Suara nenek jelek kembali bergema. Han siong Ki termenung sebentar, kemudian sahutnya.

"Aku hendak mohon sebutir pil si mia kim wan untuk menyelamatkan jiwa seseorang"

"Apa kau bilang? coba ulangi sekali lagi"

"Aku mohon sudilah kiranya locianpwee menghadiahkan sebiji obat si mia-kim wan kepadaku, karena jiwa seorang temanku terancam dan perlu diobati dengan pil itu"

"Haaaahhh.... haaahhh.... haaahh...."

Nenek jelek dari kota Tiong ciu ini segera terbahak-bahak "bocah..

wahai bocah muda, enak benar kalau ngomong, tahukah engkau bahwa selama hidup aku hanya membuat tiga biji obat si mia kim wan?

dan diantara tiga biji obat pil itu, tahukah kamu bahwa dua biji diantaranya telah kupakai?

Heeeehhh...

heeehhh....heeehhh....

bocah dungu, bayangkan sendiri, mungkinkah aku serahkan obat yang tinggal sebiji itu kepadamu?"

Tertegun Han siong Kie mendengar perkataan itu, hatinya dingin separuh, sesaat lamanya dia termangu untuk kemudian bisiknya kembali.

"Jadi...jadi locianpwe tak akan memberikan obat itu kepadaku. ?"

"Tentu saja"

Han siong Kie semakin termangu, tapi ingatan lain dengan cepat melintas didalam benaknya.

"Tidak Tidak.... Bagaimanapun juga jiwa Go siau-bi harus ditolong, apapun yang bakal terjadi, aku harus mendapatkan obat si mia kim-wan tersebut untuk menyelamatkan jiwanya..."

Berpikir sampai disitu, dengan suara lantang dia berkata kembali.

"Aku bersedia menukar obat itu dengan syarat apapun, terserah kehendak hatimu"

"Dengan syarat apapun?"

"Benar"

"sekalipun harus mengorbankan selembar jiwamu sendiri?"

Nenek jelek itu menegaskan.

"Benar Walaupun dengan taruhan nyawakupun"

"Jadi kau sudah bulatkan tekad untuk mendapatkan obat itu, walau dengan cara apapun dan apapun yang terjadi?"

"Benar Kau sudah tahu itu lebih bagus lagi.."

"Kalau begitu aku ingin tahu, obat itu akan kau gunakan untuk apa?"

Kembali nenek jelek bertanya.

"Aku hendak menyelamatkan jiwa seseorang"

"siapakah orang itu? Apa hubungannya orang itu denganmu?"

"Dia adalah bakal istriku"

Mendengar ucapan tersebut, sinenek jelek dari Tiong ciu segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeehhh... heeeehhh... heeeeehhh... kalau engkau harus korbankan selembar jiwamu... untuk mendapatkan sebutir obat si mia kim wan, lalu apa arti hidup bagi calon istrimu itu kendatipun oleh bantuan obat tersebut dia akan hidup kembali?"

Bergidik hati Han siong Kie, tiba-tiba saja tanpa diketahui apa sebabnya, tahu tahu sekujur badannya menggigil keras, dia mulai berpikir.

"Benarkah dia menghendaki selembar jiwaku sebagai ganti dari obat mustikanya itu?"

Tapi sekarang, dia sudah terlanjur memberikan kesanggupannya, tentu saja disesali juga tak ada gunanya maka dengan suara yang berterus terang pemuda itu berkata lagi "Arti dan makna dari suatu kehidupan bukanlah ditentukan oleh suatu kematian dari orang lain"

"Jadi kalau begitu, engkau bersedia untuk menukar selembar nyawamu itu dengan obat mustika si mia kim wan?"

"Benar. Cuma saja...."

"Kenapa?"

"Oleh karena masih terlalu banyak persoalan yang harus kukerjakan pada saat ini, maka setahun kemudian janji tersebut baru aku penuhi..."

"Kalau begitu datanglah setahun lagi, saat engkau dapat memenuhi janjimu itu, pil si mia kim wan pasti akan kuberikan kepadamu"

Mendengar perkataan itu Han siong Kie jadi naik darah, hawa amarahnya yang berkobar didalam dada terasa sukar dikendalikan lagi, dengan suatu gerakan yang sangat cepat dia putar badannya, tapi apa yang kemudian terlihat dihadapan matanya membuat si anak muda ini mau tak mau menjerit saking kagetnya.

Tetapi didepan matanya berdirilah seorang nenek yang sudah tua, tapi tampang nenek itu jeleknya luar biasa, demikian jeleknya tampang nenek itu sehingga menggidikkan hati siapapun yang memandangnya, mungkin jauh lebih jelek dari tampang siluman yang terjelekpun.

-ooo0dw0ooo-BAB 91 DIATAS Wajah sinenek yang penuh keriput, terlihatlah tonjolan-tonjolan daging hidup yang besar, merah kehitam hitaman dan bernanah, panca inderanya sukar ditemukan diatas tonjolan daging hidup yang mengerikan itu, rambutnya telah beruban dan terurai sepanjang dada, hanya sepasang matanya yang tetap utuh dan memancarkan cahaya tajam, mungkin itulah satu-satunya indera yang masih utuh.

Dengan sinar mata yang tajam setajam sembilu nenek jelek dari sin ciu menatap wajah Han siong Kie lekat-lekat, lama....

lama sekali dia baru menegur.

"Jelekkah aku wahai bocah muda?" -ooo0dw0ooo-

Jilid 44 HAN SIONG KI tertegun menyusul kemudian diapun mengangguk.

"Yaa... Cianpwe jelek sekali, cuma ......"

"Cuma kenapa?"

"Jelek atau tampannya wajah seseorang tidak dapat menandakan indah atau buruknya watak seseorang, ada yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan tapi mempunyai hati yang busuk seperti ular berbisa, tapi ada yang berwajah jelek namun hatinya mulia dan arif bijaksana..."

"Oooh... jadi kau maksudkan wajah yang jelek belum tentu mempunyai jiwa yang busuk dan wajah yang cantik belum terjamin jiwanya baik?"

"Begitulah yang boanpwe maksudkan"

Pemuda itu mengangguk tanda membenarkan.

"Kalau begitu, baikkah hatiku?"

"Tentang soal ini .... maafkanlah daku, boanpwe tak dapat memberikan penilaian-nya, sebab sampai detik ini boanpwe masih merasa asing sekali dengan watak serta tindak tanduk cianpwe"

"Haaaahhh ... haaahhh... haaahhh..."

Nenek jelek itu terbahak bahak kegelian "bocah muda, kau benar benar sangat menarik, kau benar-benar menarik sekali"

Dengan tertawanya si nenek itu, maka tampaklah tonjolan daging hidup yang memenuhi seluruh wajahnya itu ikut mengejang dan mengerut secara tidak beraturan, ini menyebabkan wajahnya kelihatan semakin mengerikan hati siapapun yang memandangnya.

Tidak terkecuali pula Han siong Kie yang biasanya pemberani itu, diam diam bulu kuduknya pada bangun berdiri karena ngeri.

"Eeeh nenek jelek. sebetulnya engkau tahu atau tidak....jawab Kau tahu aturan atau tidak?"

Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring, kakek dari kutub utara berjalan masuk kedalam gua itu dengan berang.

"setan tua"

"nenek jelek dari sin-ciu balas membentak "

Kau tak usah banyak bacot lagi, ayoh kembalikan nyawa dari putriku".

"Nenek jelek sialan, putrimu apakah bukan putriku juga.... enak benar kalau bicara....."

"Tutup mulut"

Mendadak nenek itu membentak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi disiang hari belong.

"sebelum kau temukan kembali Hong ji, selama hidup kau tak usah datang kemari untuk berjumpa lagi dengan aku"

"Tapi setiap hari setiap saat aku selalu mencari jejaknya tanpa berhenti, apakah aku cuma berpeluk tangan belaka?"

"Hmmm, katanya hendak membawa putrimu mencari pengalaman dalam dunia persilatan, tapi akhirnya..... Hmmm Akhirnya Hong ji ikut lenyap didunia yang begini luas"

"Nenek jelek. baik watak maupun tingkah laku Hong ji tak ubahnya seperti engkau, itulah salahnya kalau engkau terlalu memanjakan dirinya sehingga dia keras kepala dan tinggi hati, Hmmm setelah terjadi peristiwa semacam ini, apakah engkau tidak merasa bahwa engkaupun mempunyai tanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini? Kenapa kau hanya menyalahkan aku seorang..."

Tampaknya nenek jelek dari Sin ciu sudah tak dapat menahan amarahnya lagi, sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah, segera bentaknya lagi dengan lantang.

"setan tua, enyah kau dari sini Ayoh cepat.... enyah sejauh jauhnya dari hadapanku"

Han siong Kie yang menyaksikan percekcokan suami istri itu tepat dihadapan matanya, diam diam merasa geli dan ingin tertawa, dia merasa kedua orang kakek dan nenek itu memang terhitung manusia paling aneh didunia ini, dari pembicaraan mereka diapun dapat mengetahui bahwa pangkal percekcokan itu sebenarnya tak lain adalah hilangnya putri mereka .....

Dalam pada itu, kakek dari kutub utara mulai menunjukkan kegarangannya, ia tak mau menunjukkan kelemahannya terus menerus, maka ketika diusir oleh nenek jelek itu, dengan suara yang tak kalah keras nyadiapun berteriak.

"Nenek jelek. kenapa kau bersembunyi terus dalam gua saljumu ini macam kura kura kesepian? Kenapa kau tidak ikut terjun kedalam dunia persilatan untuk mencari jejaknya?"

"Hmm, apa urusannya dengan aku? Toh kau yang membawa dia berkelana kedalam dunia persilatan?"

"Tapi ..... tapi dia kan anak perempuan kita berdua? Apakah engkau tidak merasa bertanggung jawab pula atas lenyapnya putri kita ini?"

"sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, ayoh cepat enyah dari hadapanku"

Hardik nenek jelek sambil menahan geramnya.

"Tidak Aku tak akan pergi Aku sudah memutuskan untuk tetap berdiam disini"

Si Nenek jelek dari Sin siu mendengus penuh kegusaran, secara beruntun dia lancarkan dua buah pukulan dahsyat kedepan, dalam kedua buah serangannya itu dia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya ancaman tersebut.

Deruan angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra yang tertimpa angin puyuh menggulung kedepan dan menyapu tubuh kakek tersebut.

Rupanya si kakek dari kutub utara menyadari akan kedahsyatan angin pukulan tersebut, dengan gemas dia mendepakkan kakinya keatas tanah, kemudian cepat cepat kabur keluar dari gua itu.

Ketika Han siong Ki menyaksikan semua peristiwa tersebut, tiba tiba satu ingatan bagus melintas dalam benaknya, kepada si nenek jelek dari Sin-ciu segera serunya.

"Locianpwe, boanpwe mempunyai satu usul yang sangat bagus sekali, dan mungkin usul tersebut dapat mengatasi kesulitan yang sedang kita hadapi!"

"Apakah usulmu itu? Coba kau terangkan kepadaku terlebih dahulu asal bagus boleh saja ku pertimbangkan lagi!"

"Boanpwe bersedia untuk menggunakan segala kemampuan dan pikiran yang kupunyai untuk berusaha menemukan kembali jejak putri cianpwe yang hilang tak berbekas itu!"

"Dan kau hendak menggunakan usulmu itu sebagai prasyarat untuk mendapatkan pil Si-mia kim-wan?"

"Yaa, boanpwe memang mempunyai maksud untuk berbuat demikian, apakah locianpwe dapat menyetujuinya?"

"Apakah engkau yakin dapat menemukan kembali putriku yang hilang?"

Bukannya menjawab, sinenek jelek itu malahan balik bertanya.

"Sulit untuk dikatakan, tapi boanpwe berjanji akan mengusahakannya dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang kumiliki!"

"Huuuh......Cuma omong kosong belaka, apa gunanya? Siapa tahu setelah obat si-mia-kim-wan tersebut kuberikan kepadamu, lantas engkau ingkar janji dan tidak memenuhi syarat tersebut....."

Ucapan tersebut dirasakan Han-siong Kie sebagai suata penghinaan, dia merasa tersinggung, dengan mata melotot dan muka berubah serunya agak mendongkol;

"Locianpwe dengan perkataan semacam itu bukankah sama artinya engkau telah memandang rendah boanpwe? Jelekjelek begini boanpwe adalah seorang ketua dari suata perguruan besar, sebagai ketua dari suatu perguruan, tak nanti boanpwe ingkar jinji apalagi menjilat ludah yang telah boanpwe sudah keluar'"

"Dan lantas......? Kau anggap aku dapat memenuhi keinginanmu itu dengan begitu saja?"

Nenek jelek dari Sia-ciu bertanya setengah mengejek, senyum lirih tersungging diujung bibirnya.

Lama-lama berang juga Han-siong Kie dibuat nya, merah padam selembar wajahnya, dengan mata melotot dan muka berubah teriaknya.

"Mau menyetujui atau tidak aku tidak mau tahu sebab itu adalah hak dari locianpwe sendiri, tapi ada satu hal yang hendak kuterangkan kepadamu, yakni bagaimanapun juga pil mustika Si mia kim wan itu harus kudapatkan, apapun yang terjadi dan apapun yang harus kukorbankan, pil itu pasti akan kuambil untuk menyelamatkan jiwa seseorang"

"Bocah muda, jadi engkau hendak menggunakan kekerasan untuk merampas obat itu?"

Nenek jelek dari sin ciu menegur dengan sinar mata setajam sembilu.

"Hmm ...Jika aku gagal mendapatkan obat itu dengan cara yang baik, terpaksa aku harus mendapatkannya lewat kekerasan, camkan saja kata kataku ini"

Kata Han siong Kie dengan angkuh, kekerasan hatinya tercermin jelas diatas wajahnya.

"Haaaahhh...haaaahhhh... haaahhh... yakinkah kau bocah, bahwa apa yang kau cita citakan itu dapat tercapai?"

"sekarang urusan telah berkembang menjadi begini, mau tak mau aku harus melakukannya"

Nenek jelek itu mencibir sinis.

"Jangan terlampau yakin dengan kemampuan tenaga dalam yang kau miliki bocah muda, sebab belum tentu kepandaian yang kau miliki itu bisa menunjang keinginanmu"

"Boanpwe sama sekali tidak bermaksud demikian"

Sekali lagi nenek jelek dari sin ciu menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh... haaahhh... haaahhh... baiklah anak muda, aku bersedia menghadiahkan obat mustika si mia kim wan tersebut kepadamu, sedangkan mengenai persoalan putriku, asal engkau banyak menaruh perhatian selama berada dalam dunia persilatan, itu sudah lebih dari cukup. Jadi kau tak usah menganggapnya sebagai syarat dari persoalan obat mustika itu.... mengerti?"

Kejadian ini sungguh diluar dugaan Han siong Ki, mimpipun dia tak mengira kalau kejadian tersebut akan berlangsung jadi begini, ya Hakekatnya tabiat dari nenek jelek itu memang anehnya bukan kepalang.

Akhirnya setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya, berkatalah pemuda itu dengan suara lembut.

"Kalau memang begitu, boanpwe mengucapkan banyak banyak terima kasih lebih dulu atas kebaikan locianpwe yang telah menghadiahkan obat mustika itu kepadaku, sedang mengenai soal pencarian terhadap jejak putrimu, karena boanpwe telah terlanjur berjanji, maka janji itu tak akan kuingkari kembali, aku pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk menemukan jejaknya. Baik masih hidup atau telah mati, suatu ketika aku pasti akan datang lagi kesini untuk memberikan pertanggungan jawabku kepada cianpwe"

Nenek jelek dari sin ciu mengangguk berulang kali..

"Aku akan menerima maksud baikmu itu dengan senang hati"

Katanya.

"Kalau memang locianpwe telah menyetujuinya, mohon tanya bagaimanakah tampang dan ciri khas putrimu itu? berapakah usianya tahun ini? Apakah kau bisa menerangkannya kepadaku?"

Nenek jelek dari sin ciu berpaling dan memandang sekejap ke arah lukisan gadis cantik yang tergantung diatas dinding itu, kemudian sambil menudingnya dia berkata.

"Itulah dia orangnya Engkau boleh memperhatikannya sendiri dengan seksama"

Mengikuti arah yang ditujuk, Han siong Ki berpaling tanpa sadar, tapi setelah menyaksikan raut wajah cantik gadis yang tergantung diatas dinding dia malahan tertegun.

"Heran .... sungguh mengherankan"

Demikian dia berpikir.

"tampang ibunya jelek sekali bagaikan iblis, tapi putri yang dilahirkan memiliki wajah yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, aaai ....begitulah besarnya kekuasaan takdir, apapun yang dikehendakinya akan segera terjadi pula didunia ini"

Maka setelah termenung sebentar, pemuda itupun bertanya.

"Dialah putrimu?"

"Benar Lukisan ini dibuat lima tahun berselang, waktu itu dia masih menemani aku untuk melewati hari hari yang kosong itu dengan penuh kegembiraan, dia bernama Ting Hong, ketika lenyap sepuluh tahun berselang usianya baru enam belas, jadi tahun ini dia sudah genap berusia dua puluh enam tahun"

"Boanpwe akan mengingat ingatnya selalu di dalam hati"

Han siong Kie berjanji.. Nenek jelek dari sin ciu mengangguk, dari sakunya dia ambil keluar sebuah botol porselen kecil, kemudian sambil diberikan kepada Han siong Kie, ujarnya.

"Nah, ambillah, didalam botol itu berisi sebutir obat mustika si mia kim-wan yang kau butuhkan itu"

Dengan tangan agak gemetar karena menahan emosi Han siong Kie menerima pemberian botol itu, sambil menerimanya diam-diam diapUn berpikir dihati.

"Aaaai... akhirnya adik Bi ketolongan, jiwanya tak perlu dirisaukan lagi....."

Sementara si anak muda itu masih melamun, nenek jelek dari siu ciu telah ulapkan tangannya.

"Bocah muda disini sudah tak ada urusan lagi, dan sekarang engkau boleh segera pergi dari sini."

Buru-buru Han siong kie memberi hormat.

"Kalau begitu Boanpwe ucapkan banyak terima kasih atas pemberian dari locianpwe, dan boanpwe mohon diri lebih dahulu"

Setelah menjura maka berangkatlah anak muda itu meninggalkan gua tersebut.

Setelah obat mustika yang dibutuhkan berhasil diperoleh, anak muda ini tergopoh-gopoh melakukan perjalanannya kembali ke tebing si sin gan, dalam keadaan demikian diamdiam dia mengeluh perjalanan yang terlampau jauh, andai kata dia punya sayap tentu dengan terbang di angkasa, perjalanan bisa ditempuh dengan jauh lebih cepat lagi.

Dari batas waktu tujuh hari yarg tersedia, kini tinggal tiga hari saja, atau dengan perkataan lain dalam tiga hari itu dia sudah harus tiba di tebing si sin gan, kalau tidak maka selembar nyawa Go siau bi akan terancam mara bahaya, make dari itu setelah turun dari bukit Ciong san yang penuh dengan salju, berangkatlah anak muda itu melakukan perjalanannya dengan kecepatan paling tinggi.

Diam-diam dia berdoa didalam hati, semoga luka yang diderita Go siau bi tidak mengalami perubahan apa apa dalam ketujuh hari yang sempit itu, semoga kejadian diluar dugaan bisa dihindari dan semuanya bisa berlangsung dengan aman dan tenteram.

Setelah melakukan perjalanan sehari semalam, akhirnya sampailah pemuda itu di tempat mana jenazah Thio sau-kun dikebumikan.

Dari tempat kejauhan, ia saksikan didepan kuburan itu berdiri beberapa sosok bayangan manusia, karena masih terlampau jauh, maka sulitlah untuk diketahui siapa gerangan manusia manusia yang berkumpul di sekitar tempat itu.

Tak terkirakan rasa kaget dan kejut Han siong Ki setelah menjumpai bayangan-bayangan tersebut.

"Siapa mereka?"

Demikianlah dia lantas berpikir "siapa yang berhenti dikuburan Thia sau kun? jangan jangan mereka adalah kawanan jago dari perkumpulan Thian-che kau....."

Karena berpikiran demikian, tanpa sadar gerakan tubuhnya kian lama kian bertambah perlahan.

Sementara pemuda itu masih ragu ragu untuk melanjutkan perjalanannya kedepan mendadak sesosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat meluncur turun tepat dihadapan pemuda itu.

"Tecu mengunjuk hormat buat ciangbunjin"

Orang itu segera memberi hormat sambil menyapa. Kiranya, orang itu adalah siluman hitam seng Khe-ki.

"Tak usah banyak adat"

Sahut anak muda itu sambil mengebaskan ujung bajunya.

"eeh... bukankah kalian kutugaskan ke bukit si sin gan? Kenapa datang kemari...."

"Tecu berdua telah berkunjung ke bukit Si sin-gan tersebut"

Jawab siluman hitam dengan hormat.

Sementara itu Han siong Kie telah menyaksikan pula kehadiran orang yang kehilangan sukma ditempat itu maka dia ulapkan tangannya untuk mengundurkan siluman hitam seng Khe-ki, setelah itu dihampirinya perempuan misterius itu, lalu sapanya dengan suara agak menggigil.

"cianpwe..."

Orang yang kehilangan sukma beserta putrinya memang terhitung manusia misterius yang sukar diikuti jejaknya, tapi bagi Han siong Kie boleh dibilang terlalu banyak sudah budi kebaikan yang diterimanya dari mereka, maka rasa hormatnya terhadap kedua orang itupun jauh melebihi rasa hormatnya kepada siapapun.

"Nak..."

Orang yang kehilangan sukma menyahut dengan suara lirih, kaku dan berat sekali, suara tersebut seakan-akan gumaman orang yang lagi mengigau, terasa begitu berat dan sukar untuk membuka mulut.

Yaa ....itulah tandanya orang yang kesedihan, kesedihan yang kelewat batas memang membuat orang segan untuk berbicara, kendatipun buka suara, maka nadanya juga kaku dan berat sekali.

Tapi apa yang disedihkan perempuan misterius ini?

Apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi?

Han siong Ki melirik sekejap kearah orang yang ada maksud yang bersandar dalam rangkulan orang yang kehilangan sukma, untuk pertama kalinya dia menyaksikan raut wajahnya yang cantik, yaa, gadis itu memang cantik jelita ibaratnya bidadari dari kahyangan, bahkan kecantikannya jauh melebih kecantikan Tonghong Hui, maupun Go siau bi.

"Nak. engkaukah yang mengebumikan jenazah Kun-ji ditempat ini?"

Serentetan suara teguran kembali berkumandang.

Menyinggung soal "Kun-ji" , Han siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, badannya ikut gemetar, orang yang kehilangan sukma juga menganggap Thio sau kun sebagai Kun-ji?

Apa gerangan hubungan mereka berdua .....?

Sekalipun dalam hati kecilnya dia menaruh rasa curiga, akan tetapi pemuda itu tidak mendesak lebih jauh, diapun mengangguk.

"Benar, akulah yang mengebumikan adik Kun disini"

"Adakah sesuatu benda yang ia serahkan kepadamu?"

Kembali orang yang kehilangan sukma bertanya.

"Ada"

Jawab Han siong Kie semakin terperanjat.

"dia menyerahkan sebuah bungkusan kecil kepadaku, tapi... tapi.... dari mana cianpwe bisa tahu?"

Orang yang kehilangan sukma tidak menjawab pertanyaan itu, dia menghadap ke arah kuburan dari Thio sau kun, kemudian gumamnya dengan suara yang lirih.

"Anak Kun, beristirahatlah dengan tenang, engkau telah mengerahkan segenap kemampuanmu untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. arwah ayahmu yang ada di alam baka tentu akan menyambut kehadiranmu dengan senyuman dikulum."

Mendengar gumaman tersebut Han siong Kie semakin curiga, dengan suara penuh emosi teriaknya.

"Locianpwee, sebenarnya siapakah engkau?"

Orang yang kehilangan sukma tetap tidak menanggapi pertanyaannya itu, malahan dia berkata.

"Nak. bongkarlah kuburan tersebut"

"Bongkar kuburan?"

"Yaa, bongkar kuburan dari anak Kun!"

"Tapi..........tapi. ....mau.......mau apa kau bongkar kuburan ini?"

"Untuk memenuhi apa yang diharapkan oleh adik perempuanmu!"

Jawab perempuan misterius itu lirih.

Han-siong Kie semakin kebingungan, untuk sesaat dia berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh ditatapnya wajah orang yang kehilangan sukma dengan pandangan tidak mengerti, selang lama sekali baru serunya lagi dengan lirih.

"Adik perempuanku? Siapakah dia?"

Pelan-pelan orang yang kehilangan sukma mengalihkan pandangan matanya keatas jenasah dari Orang yang ada maksud, kemudian sahutnya dengan sedih.

"Dialah adikmu!"

Hampir saja Han-siong Kie tidak percaya bahwa apa yang didengarnya barusan adalah kenyataan.

Orang yang ada maksud adalah adik perempuannya?

Padahal perempuan itu adalah putrinya Orang yang kehilangan sukma, jadi kalau begitu apa hubungan Orang yang kehilangan sukma dengan diri sendiri....?

Suatu kejadian yang membingungkan, brenat-benar kejadian yang tak dapat masuk diakal Atau mungkin dalam sedihnya Orang yang kehilangan sukma telah berbicara seadanya?

Bukankah diwaktu waktu Orang yang kehilangan sukma juga menganggap dirinya sebagai putranya...........

Yaa, pasti begitu!

Lantaran dia telah dianggap sebagai putra sendiri oleh Orang yang kehilangan sukma, maka diapun menyebut orang yang ada maksud sebagai adik perempuanya, dan kejadian ini memang masuk diakal.

Sekalipun dalam hatinya ia telah berpikir demikian, toh rasa ingin tahunya berkecamuk juga dalam benaknya.

"Cianpwe maksudkan perempuan itu adalah adik perempuan boanpwe?"

Kembali tanyanya "Yaa, dia adalah adikmu!"

"Dan cianpwe adalah ibunya?"

Desak anak muda itu lebih jauh dengan perasaan makin curiga.

"Benar aku adalah ibunya!"' 'Ibu kandung maksudku?"

"Yaa, ibu kandungnya?"

"Kalau memang begitu, kenapa...."

Tapi sebelum Han siong Kie menyelesaikan kata katanya, orang yang kehilangan sukma telah menukas lebih dulu.

"Nak. jangan kau pikirkan persoalan yang lain sekarang mari kita kebumikan dulu jenazahnya"

"Apakah jenazahnya harus dikubur bersama dengan jenazahnya adik Kun"

"Yaa, harus"

"Boanpwe benar benar merasa tidak habis mengerti"

Dengan amat sedihnya orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang, katanya kemudian dengan menahan kepedihan hatinya.

"Mereka adalah sepasang sejoli yang amat serasi, tapi secara beruntun harus mengalami nasib yang malang dan keadaan yang menyedihkan, aai... apa salahnya kalau kita kebumikan mereka dalam satu liang yang sama setelah kedua duanya meninggal?"

Dengan sedih akhirnya Han siong Kie mengangguk.

dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dia lantas memanggil sepasang siluman hitam putih untuk membantu membongkar kuburan dari Thio sau kun.

Ketika jenasah Thio sau kun muncul kembali dihadapan mereka, Han siong Kie tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, air mata yang berlinang makin membasahi pipinya.

"Oooh.... anak Kun"

Terdengar orang yang kehilangan sukma mengeluh, tubuhnya sempoyongan hampir jatuh, untung dia masih dapat mempertahankan diri, kalau tidak....

entahlah bagaimana jadinya.

Ketika akhirnya jenasah telah dikebumikan dan tanah diuruk kembali, maka diatas gundukan tanah baru itupun tertancap sebuah batu nisan yang mengukirkan beberapa patah kata.

"Disinilah disemayankan jenasah dari Thio saukun dan Han siong Hiang"

"Han siong Hiang?"

Bisik Han siong Ki dengan tubuh menggigil. Hampir saja ia tak dapat membendung perasaan hatinya, dengan rasa kaget dan hampir tak percaya ditatapnya tulisan diatas batu nisan itu tanpa berkedip..

"Han siong Hiang"

Itulah nama yang hampir tak jauh berbeda dengan nama sendiri, benarkah orang yang ada maksud adalah adik kandungnya?

Rasa sedih, kaget heran dan termangu....

berkecamuk jadi satu didalam benannya, dia tak tahu harus mempercayainya atau tidak?

"Tapi...

tapi...

paman guruku si tangan naga beracun Thio Lin tak pernah membicarakan soal adik perempuanku itu, kalau dia memang adikku mengapa paman guru tak pernah mengungkapnya?

kembali anak muda itu berpikir keras.

Tiba tiba orang yang kehilangan sukma berpaling sambil menatap Wajah Han siong Kie tanpa berkedip ujarnya.

"Nak. tahukah engkau siapakah pembunuh yang telah menghabisi nyawa kedua orang bocah yang malang itu?"

"siapa"

Bisik Han siong Kie dengan hati bergetar keras.

"Aku hanya mengetahui bahwa adik Kun mati di bunuh oleh utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau...."

"Bukan Dia bukan dibunuh oleh mereka"

"Bukan?"

"Yaa bukan, kalau ingin mengetahui pembunuh yang sebenarnya, maka seharusnya akulah orangnya.. Akulah pembunuh yang telah menyebabkan sepasang bocah itu menemui ajalnya, akulah pembunuhnya ....."

"Cianpwe kau jangan terlampau emosi, beristirahatlah dulu agar kesegaran pulih kembali"

"Nak, aku tidak menjadi gila karena pikiranku menjadi tak waras, akupun tidak menjadi kalap karena peristiwa yang tragis ini. Tapi pada hakekatnya akulah pembunuh yang sebenarnya yang mengakibatkan kematian mereka berdua, karena rencanaku yang kurang cermat, karena aku tidak melakukan tugas perlindungan yang ketat, maka akibatnya mereka jadi korban..... akhirnya mereka harus mati dengan sia-sia...."

Begitu sedih dan pedihnya perasaan orang yang kehilangan sukma waktu itu, sehingga akhirnya ketika ia telah menyelesaikan kata-katanya itu, ia menangis tersedu sedu.

Sementata itu Han siong Kie masih berdiri termangu, pikirannya pada waktu itu masih penuh diliputi oleh suatu tanda tanya besar, benarkah Han siong Hiang adalah adik kandungnya?

Tapi ada satu hal yang dapat dirasakan olehnya, yakni antara dia dengan orang yang kehilangan sukma pasti mempunyai suatu hubungan yang istimewa, hanya hubungan apakah itu?

Dia tak berani menduga apalagi merabanya secara gegabah, sebab segala sesuatunya masih kabur dan tidak dipahami olehnya.

Lama....

lama sekali...

akhirnya orang yang kehilangan sukma dapat mengendalikan perasaan sedihnya yang berlebihan itu, katanya kemudian dengan lirih.

"Nak. ada suatu hal hendak kuberitahukan kepadamu, Go siau bi telah lenyap tak berbekas"

Menyinggung soal Go siau bi, tiba tiba saja Han siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, perkawinannya dengan Go siau bi adalah merupakan hasil karya dari orang yang kehilangan sukma, sungguh tak disangka bencana selalu tidak berjalan sendirian, peristiwa tragis yang tak terdugapun kembali terjadi.

Teringat akan diri Go siau bi, tanpa terasa si anak muda itupun terbayang pula diri Buyung Thay, bukankah gadis Go ada bersama sama perempuan cantik berbaju merah itu?

Dia percaya dengan kepandaian silat yang dimiliki perempuan baju merah itu, tak nanti bisa terjadi bencana sebesar itu, padahal Go siau bi mempunyai kesempatan hidup selama tujuh hari saja, jaraknya dari hari ini tinggal sehari setengah, bila dia tidak mati lantaran peristiwa yang diluar dugaan, toh sama saja gadis itu juga akan tewas bila tak diberi obat mustika simia kim wan.

Berpikir sampai disini, ia jadi amat sedih, dengan hati yang perih ujarnya.

"Cianpwe, tahukah engkau adik Bi saat ini berada dimana?"

Orang yang kehilangan sukma termenung sejenak. kemudian sahutnya dengan lirih.

"Kemungkinan besar dia sudah terjatuh ke tangan orang orang dari perkumpulan Thian che kau"

"Lagi lagi perbuatan dari orang orang perkumpulan Thian che kau"

Teriak pemuda itu sambil menggertak gigi.

"Aaai ..... tapi.... diapun tak bisa hidup beberapa hari lagi"

"Tak dapat hidup beberapa hari lagi? Kenapa..?"

Maka Han siong Ki segera mengisahkan bagaimana Go siau bi terluka dan bagaimana pula jauh jauh dia berangkat ke bukit Ciong san untuk mencarikan obat mustika Si-aiia-kimwan untuk menyambung nyawanya.....

Selesai mendengar keteraagan tersebut, dengan suara gemetar Orang yang kehilangan sukma segera berkata.

"Nak, kalau begitu dia lebih banyak bahayanya daripada selamat, waah.. bagaimana baiknya sekarang?"

"Aku bersumpah akan menuntut balas atas hutang berdarah ini seratus kali lebih hebat daripada waktu kuterima......"

"Benar nak, memang sudah tiba saatnya bagimu untuk membuat segala perhitungan!"

Tiba-tiba Han-siong Kie jatuhkan diri berlutut dihadapan Orang yang kehilangan sukma, kemudian katanya.

"Locianpwe. aku ingin tahu siapakah musuh besarku yang sebenarnya? Aku ingin tahu siapakah pembunuh keji yarg telah membantai dua ratus jiwa keluarga Han dan keluarga Thio pada lima belas tahun, berselang.... beritahulah kepadaku cianpwe, aku akan membunuh musuh besarku itu, akan kucingcarg tubuhnya jadi berkeping-kepng"

"Bangunlah dulu nak, akan kuberitahukan segala sesuatunya itu kepadamu..........!"

"Tidak! Boanpwe tak akan bangkit sebelum hari ini locianpwe memberitahukan nama pembunuh terkutuk itu kepadaku!"

"Bangunlah dahulu nak....Aku telah bersiap sedia menceritakan segala sesuatunya itu kepadamu"

Setelah memperoleh janji dari Orang yang kehilangan sukma, Han-siong Kie pun bangkit berdiri, tapi air mata telah mengucur keluar dengan derasnya membasahi seluruh pipi dan badannya.

Sudah lama ia nantikan saat seperti ini, dan diapun tahu bahwa Orang yang kehilangan sukma yang merupakan perempuan misterius itu sangat mengetahui semua persoalan yang sedang dihadapinya, tapi selama ini selalu mengelak memberi keterangan, tingkah lakunya selalu serba misterius dan tak bisa ditangkap ujung pangkalnya, maka ketika saat ini perempuan tersebut secara sukarela hendak membongkar rahasia tersebut kepadanya maka tak terkirakan rasa girangnya menghadapi kenyataan tersebut.

Tiba-tiba Orang yang kehilangan sukma menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata yang tajam, kemudian dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh katanya.

"Nak, serahkan dulu benda yang diberikan anak Kun kepadamu itu padaku, setelah kuperiksa isi benda itu maka semuanya akan kubeberkan kepadamu....."

Mendengar permintaan tersebut, Han siong Kie merasa serba susah, bukannya dia hendak menampik permintaan dari orang yang kehilangan sukma tapi yang sebenarnya Thio sau kun telah mengorbankan jiwanya demi bungkusan tersebut, ini menunjukkan betapa pentingnya benda itu.

Dan disaat ia menjelang kematiannya telah berpesan agar benda itu diserahkan kepada ibunya bahkan meminta kepadanya untuk melindungi benda itu walau dengan jiwa ragapun, atau dengan perkataan lain benda tersebut tak dapat dihilangkan, tentu saja dia tak ingin melakukan segala macam tindak perbuatan yang bisa menyebabkan sukmanya dialam baka menjadi tak tenang .......

Untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti diucapkan kepada perempuan itu.

"Nak kenapa kau?"

Ketika ditunggunya namun pemuda itu tidak melakukan gerakan apapun, orang yang kehilangan sukma pun menegur dengan suara keheranan.

"Ooh, tidak apa apa.... tidak apa apa... cuma saja... ehmm, cuma saja ..."

"Cuma saja kenapa?"

"Sebelum kematiannya tiba, adik Kun telah berpesan kepadaku agar menyerahkan benda ini kepada ibuku sekalipun boanpwe tidak tahu benda apakah sebenarnya yang dibungkus ini, tapi ......... boanpwe sendiri pun tak ingin mengingkari janjiku sendiri yang telah diucapkan didepan pusaranya, maka dari itu.... maka dari itu harap locianpwe suka memaklumi keadaanku"

"Oooh.... begitukah? Tapi... aku rasa diperlihatkan sekejap kepadakupun tak ada salahnya bukan?"

Han siong Kie hanya bisa berdiri dengan wajah minta maaf, untuk sesaat dia benar benar tak tahu apa yang musti dilakukan......

"Nak, apakah engkau merasa tidak berlega hati untuk memperlihatkannya kepadaku?"

Akhirnya orang yang kebilangan sukma berkata lagi. Merah padam selembar wajah Han siong Ki karena jengah, ia jadi gelagapan dibuatnya.

"Boanpwe percaya seratus persen kepada diri cianpwe, cuma... cuma dalam hal ini menyangkut satu janji, maka dari itu.... aku rasa.. aku rasa .."

Orang yang kehilangan sukma segera manggut-manggut. selanya.

"Tindakanmu memang benar nak, kalau begitu ayohlah sekarang juga mari kita Berangkat!"

"Berangkat.. Berangkat kemana?"

"Kita akan berkunjung kebenteng maut!"

"Ke Benteng maut?"

Pemuda itu mengulangi.

Orang yang kehilangan sukma hanya mengangguk.

-ooo0dw0ooo-Bab 91 HAN SIONG KIE merasa agak tercengang dan diluar dugaan setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian dengan keheranan.

"Cianpwe, bukankah engkau telah berjanji kepada boanpwe untuk memberitahukan segala sesuatunya kepadaku?"

"Benar, aku memang telah berjanji tapi kita harus berkunjung dahulu ke benteng maut, disanalah akan kuberitahukan segala sesuatunya itu kepadamu!"

"Kenapa?"

"Tentu saja dikarenakan ada alasan alasan tertentu!"

"Tapi boanpwe ingin berkunjung lebih dahulu ke tebing Sisin-gan,....aku pikir....."

Rupanya orang yang kehilangan sukma dapat memahami perasaan Han-siong-Kie pada saat ini. cepat dia goyangkan tangannya berulang kali.

"Nak. engkau tak usah pergi kesana lagi, sebab tempat itu sudah berubah jadi puing puing yang berserakan, andaikata Go siau bi telah mati, tubuhnya juga sudah hancur menjadi abu, sebaliknya jika ia masih hidup, pergi kesitupun tak ada gunanya, karena sekalipun engkau pergi kesana juga tak akan berjumpa dengannya"

Dengan sedih Han siong Kie mengangguk, diapun mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Cianpwe, benarkah Han siong Hiang adalah adik perempuan kandungku.?"

"Benar kalian adalah saudara kandung"

"Lalu..... dia.... sebenarnya dia mati ditangan siapa?"

Orang yang kehilangaa sukma mengeluh penuh kesedihan, ia tidak menjawab sebaliknya malah berkata demikian.

"Jangan kau tanyakan pada saat ini, sesampainya di benteng maut, semua rahasia ini pasti akan kuberitahukan kepadmu"

Tapi, mengapakah orang yang kehilangan sukma bersikeras hendak pergi ke benteng maut lebih dahulu sebelum membongkar semua rahasia dan semua kejadian yang sebenarnya?

Pertanyaan ini sukar dijawab, sebab pada hakekatnya masih merupakan suatu teka teki, suatu rahasia besar yang tak terjawab oleh siapapun.

Tiba-tiba Han siong Kie teringat oleh larangan yang ditetapkan pemilik benteng maut, dia melarang setiap orang asing memasuki benteng tersebut secara sembarangan, itu berarti kurang leluasa bila dia membawa serta siluman hitam dan putih dalam perjalanannya kali ini.

Karenanya, setelah termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dari dalam sakunya dia ambil keluar tanda pengenal yang diberikan pengemis dari selatan kepadanya itu, kemudian sambil diserahkan kepada sepasang siluman, pesannya.

"Kalian berdua dengan membawa tanda pengenal ini berangkatlah ke markas besar kay pang dan temuilah si pengemis dari selatan, sampaikan kepadanya bahwa aku minta tolong untuk mencarikan jejak seseorang, orang itu bernama Ting Hong usianya diantara dua puluh enam, dua puluh tujuh tahunan, dia adalah seorang perempuan..."

"Engkau hendak minta bantuan pihak kaypang untuk mencari jejak seseorang?"

Sela orang yang kehilangan sukma secara tiba tiba. Pemuda itu mengangguk.

"Benar, anak buah kay pang tersebar luas sampai dimana mana, mencari orang bukan pekerjaan yang terlampau susah bagi mereka"

"siapakah Ting Hong itu? Perempuan macam apakah dia?"

Orang yang kehilangan sukma mendesak lebih jauh.

Maka Han siong Kie pun menceritakan kembali bagaimana dia minta obat mustika si mia kim-wan dari si nenek jelek dari sin ciu, dan bagaimana pula dia telah menyanggupi si nenek jelek tersebut untuk mencarikan jejak putrinya Setelah mendengar keterangan itu, orang yang kehilangan sukma baru menganggukkan kepalanya berulang kali tanda mengerti.

Dengan penuh rasa hormat siluman hitam Seng Keh khi menerima tanda kepercayaan dari tiang lo perkumpulan kaypang itu, kemudian tanyanya dengan suara lirih.

"Apakah ciangbunjin masih ada petunjuk lain?"

"setelah menyelesaikan tugas yang kubebankan itu, dari markas Kay pang kalian berdua boleh menunggu kedatanganku di sekitar benteng maut"

"Terima perintah"

"selain daripada itu, serahkan kitab pusaka Tay boan yokpit kip tersebut kepadaku"

Dengan sangat hati-hati siluman putih Hong Ing ing mengeluarkan bungkusan kecil dari sakunya kemudian diangsurkan kepada anak muda itu dengan hormat.

Setelah menerima kitab itu dan menyimpan pula dengan hati-hati pemuda itupun berkata lagi.

"Nah, sekarang kalian boleh berangkat lebih dahulu"

"Baik"

Sepasang siluman itu mengiakan dengan cepat, setelah memberi hormat berangkatlah mereka tinggalkan tempat itu.

Menanti bayangan punggung dari sepasang siluman hitam dan putih sudah lenyap dari pandangan, orang yang kehilangan sukma baru berkata dengan suara serak.

"Nak, sekarang kitapun harus segera berangkat "

"Baiklah"

Sebelum meninggalkan tempat itu sadar atau tidak sekali lagi kedua orang itu mengalihkan pandangan matanya keatas gundukan tanah baru, setelah memberi hormat untuk terakhir kalinya, merekapun menjejakkan kakinya ke atas tanah dan secepat kilat melakukan perjalanan menembusi jalan raya yang lenggang.

Suatu hari, ketika sang, surya baru memancarkan sinarnya, benteng maut telah berada didepan mata.

Menyentuh kembali pemandangan lama, tanpa sadar Han siong Kie alihkan sinar matanya ke atas batu cadas dimana ia berkenalan dan mengangkat tali bersaudaraan dengan Tong hong Hui, masih mendingan kalau dia tidak berpaling, begitu menyaksikan apa yang tertera dihadapannya, hampir saja dia menjerit kaget.

Diatas puncak batu cadas itu telah bertambah dengan sebuah gundukan tanah berbatu yang sangat mirip dengan sebuah kuburan, di tepi kuburan tadi berdirilah manusia aneh berambut panjang.

Han sing Kie merasa tidak terlampau asing dengan manusia aneh berambut panjang itu, karena dia bukan lain adalah siau suheng dari Tonghong l-Hui .....

Rupanya orang yang kehilangan sukma juga mempunyai suatu perasaan yang tidak enak, tiba-tiba ia berpaling sambil menegur.

"Nak, apa yang telah terjadi?"

"orang yang berdiri diatas puncak batu cadas itu tak lain adalah Siau susiok dari boanpwe"

Jawab pemuda itu lirih. Orang yang kehilangan sukma mengalihkan sorot matanya keatas puncak bukit itu, kemudian dengan tubuh gemetar keras sahutnya.

"Yaaa benar, dia adalah ahli waris paling muda dari Tengkorak maut, tapi..... mau apa dia berada di situ...?"

"Biar boanpwe kesana untuk memeriksa nya"

Tidak menunggu jawaban dari perempuan misterius itu lagi, dengan suatu gerakan yang sangat cepat anak muda itu melayang kedepan mendaki batu cadas tersebut.

Ketika tubuhnya hampir mencapai puncak tiba tiba manusia aneh berambut panjang itu memutar badannya sambil siap melancarkan sebuah pukulan.....

"siau susiok tahan Aku yang datang"

Cepat-cepat anak muda itu berseru cemas.

Manusia aneh berambut panjang itu menurunkan kembali tangannya, tapi sinar matanya yang bengis dan penuh hawa napsu membunuh itu menatap diatas wajah Han siong Kie tanpa berkedip.

begitu menggidikkan dan mengerikannya tatapan tersebut membuat siapapun merasa bahwa tatapan tadi penuh dengan perasaan dendam, gusar dan benci....

Dengan perasaan tercengang dan tidak habis mengerti, Han siong Ki mundur satu langkah ke belakang.

Tiba tiba .....yaa begitu tiba tiba rasanya, ketika sinar matanya terbentur dengan serangkaian tulisan yang tertera didepan gundukan tanah berbatu itu, hampir saja ia menjerit lengking.

Apa gerangan yang tertera disana?

Didepan gundukan tanah berbatu itu, diatas sebuah batu nisan terteralah beberapa huruf yang berbunyi demikian.

"Disinilah disemayankan putriku sayang Tong hong Hui"

Keenam huruf tersebut bagaikan enam bilah pisau tajam yang bersama sama menghujam keatas ulu hatinya, seketika itu juga ia merasa denyutan nadinya seolah olah telah berhenti beredar, jantung pun ikut berhenti, sekujur badannya telah terasa jadi kaku dan membeku, pandangan matanya berkunang kunang, seluruh jagad terasa berputar kencang ......

"Adik Hui ........"

Hanya dua patah kata itu yang sempat diucapkan, tiba tiba ia muntah darah kental, tubuhnya jadi sempoyongan dan tahu tahu dengan lemas ia sudah terpelanting dan roboh tak sadarkan diri didepan gundukan tanah berbatu itu.

Ketika ia sadar kembali untuk kedua kalinya, ditemuinya dia sedang berbaring dalam pelukan orang yang kehilangan sukma, cepat pemuda itu meronta dan bangun berdiri Dilihatnya manusia aneh berambut panjang itu masih berdiri disampingnya dengan sepasang mata yang bengis dan penuh hawa napsu membunuh, seakan akan tubuhnya tak pernah bergeser dari tempat kedudukannya semula.

Kematian dari Tonghong-Hui telah menghancur lumatkan perasaan dan hatinya.

Semua perasaan cinta, semua perasaan sayang yang pernah ia limpahkan kepada gadis itu, sekarang ikut terkubur bersama tubuhnya yang telah tak bernyawa.

"oooh... adik Hui....adik Hui sayang..."demikian gumamnya seorang diri.

"begitu tegakah engkau tinggalkan aku secara diam diam...? Mengapa tidak kau kabarkan lebih dulu kepadaku bahwa engkau akan pergi jauh....? Pergi meninggalkan aku untuk selama lamanya..?"

Air mata bagaikan bendungan yang meluap mengucur keluar tiada hentinya dengan derasnya.

Ia merasa dirinya telah mencapai ujung dari kehidupan seorang manusia, dunia kenyataan telah tiada berarti lagi baginya, dunia nyata sudah tidak mendatangkan kegairahan apapun bagi dirinya....

Tragedi yang pernah diramalkan orang yang kehilangan sukma bila hubungan mereka dilanjutkan kini sudah terbukti nyata, akhirnya peristiwa yang tragis itu tak dapat dihindari, ia harus menelan semua penderitaan dan siksaan tersebut dengan begitu saja.

"Siau susiok. kenapa dia bisa mati? Apa yang menyebabkan kematiannya itu .....?"

Serunya kemudian dengan suara lantang. Manusia aneh berambut panjang itu tidak menjawab, dia hanya berdiri dengan mata melotot besar.

"siau susiok"

Sekali lagi Han siong Kie berteriak "dia ...."

Orang yang kehilangan sukma yang selama ini mendampingi terus di sampingnya segera berkata dengan lirih.

"Nak. tak ada gunanya engkau bertanya kepadanya, sebab dia bisu dan tak mungkin bisa menjawab pertanyaanmu itu"

Sekarang Han siong Kie baru teringat bahwa manusia aneh berambut panjang itu adalah seorang yang bisu, baru saja dia hendak bertanya dengan menggunakan kode tangan .....

"Plok.... Plok....."

Tiba tiba manusia aneh berambut panjang itu ayunkan tangannya dan secara beruntun melepaskan dua buah tamparan keras yang membuat Han siong Kie mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, darah kental berhamburan keluar dari ujung bibirnya.

Menyaksikan adegan tersebut, orang yang kehilangan sukma berseru tertahan karena kaget.

Han siong Kie sendiri berdiri kaku ditempat membiarkan pipinya digaplok berulang kali oleh manusia berambut panjang itu, dia tak tahu menghindar, tak mengerti rasa sakit seakan akan semua tubuh dan perasaannya sudah menjadi kaku dan kesemutan, seakan akan ia sudah tidak mempunyai reaksi lagi terhadap semua kejadian yang berada didalam ini.

Apa yang ada dalam hati dan perasaannya sekarang adalah kesedihan, kepedihan dan perasaan menyesal yang tebal.

"Adik Hui... oooh adik Hui"

Kembali dia mengeluh.

"akulah yang telah menyebabkan kematianmu, kesemuanya ini akulah yang bersalah... oooh.... adik Hui"

"Plokk"

Kembali sebuah tamparan nyaring bersarang diatas wajahnya membuat tubuh anak muda itu sempoyongan seperti mau ambruk.

darah kental dalam jumlah yang besar meleleh keluar dari ujung bibirnya yang terkatup rapat.

"siau susiok.... aku... aku harap engkau dapat membinasakan diriku.... oooh siau susiok. bunuhlah aku... agar aku dapat menyusul adik Hui dialam baka."

Pinta Han siong Ki dengan wajah yang amat mengenaskan.

Manusia aneh berambut panjang itu tidak menunjukkan reaksi apa apa, dengan sikap yang tetap berang dia mengambil keluar sepucuk surat dari dalam sakunya, kemudian dilemparkan ke hadapan Han siong Ki dengan sikap yang kasar sekali.

Serta merta Han siong Ki menyambut surat itu, mula mula dia pejamkan matanya untuk menenangkan perasaan hatinya yang bergolak.

setelah itu dengan tangan gemetar dia baru membuka sampul surat tersebut.

Terlihatlah tulisan yang tertera diatas kertas itu ditulis dengan darah kental yang amat nyata.

"oooh darah Darah Tulisan darah dari adik Hui yaaa, pastilah surat darah darinya."

Pemuda itu sempoyongan, akhirnya jatuh terduduk diatas tanah.

Tulisan tulisan berdarah itu terasa kian lama kian mengembang jadi amat luas dalam benaknya, begitu luasnya sehingga berubah jadi sebuah lautan darah yang sangat luas, wajah Tonghong Hui yang pucat dan lusuh seolah-olah muncul dihadapan matanya..

Pemuda itu berusaha menangkapnya, tapi dia hanya menangkap tempat kosong.

Dengan sekuat tenaga ia menjerit dan memanggil namanya, tapi bagaikan sebuah patung arca dia tidak bereaksi, tidak melakukau suatu tindakan balasanpun.

Bayangan semu akhirnya lenyap dari pandangan mata, lapat lapat diapun mulai mengenali kembali tulisan-tulisan darah yang tertera diatas kertas tersebut.

Terbacalah tulisan itu berbunyi demikian.

"Aku tak tahu harus menyebut kau sebagai engkoh Ki ataukah sebagai keponakan muridku?

Dikala kau membaca surat berdarah ku ini, aku telah sampai didunia yang lain, aku tinggalkan dunia yang ramai ini dengan hati serta perasaan yang kosong, karena aku tidak memiliki apa apa, tidak berhasil mempunyai apa apa, karena apa yang kumiliki telah kuserahkan semua kepadamu.

Tanpa kau, kehidupanku dialam ini terasa hambar dan tak ada artinya.

tapi......

kenyataan yang keji telah menciptakan suatu jurang pemisah yang begitu lebar, yang begitu dalam sehingga tak mungkin bagi kita untuk menyeberanginya, walau sepanjang masapun hanya kematian merupakan pelepasan bagiku dari kemelut dan kenyataan yang serba pahit serta getir ini.

Apakah yang masih tersisa dalam hati kita masing masing?

suatu perasaan.

cinta yang dosakah?

Atau peristiwa cinta yang terkutuk ?

Dengan penuh kepedihan ia merintih, matanya terpenjam rapat rapat sedang mulutnya bergumam tiada hentinya.

"Cinta yang berdosa? Ataukah cinta yang terkutuk.?"

Tapi mungkin juga semuanya tidak benar, karena cinta kasih mereka yang suci murni justru terhalang oleh segala bentuk adat istiadat yang sudah berlaku semenjak dahulu kala.

Pelan pelan orang yang kehilangan sukma menepuk bahunya, kemudian dengan nada berat dan tertekan ujarnya.

"Nak. tenangkan hatimu. kobarkan kembali semangatmu, karena segala sesuatunya pasti akan terjadi perobahan, tidak selalu manusia itu sengsara, setelah gelap tentu terbitlah terang, ingatlah nak bahwa dunia selalu berputar."

Han siong Kie manggut-mang gut dengan mulut membungkam, pelan pelan ia membuka mata lagi, kemudian dibacanya surat itu lebih jauh.

"Impian yang telah hilang, selamanya tak mungkin bisa didapatkan kembali semasa hidup, kita tak dapat hidup bersama. setelah mati, kita tak dapat dikubur dalam seliang"

"Oooh .....

betapa kejamnya kenyataan yang ada didunia ini, masih adakah kekejaman dan kebengisan lain yang terdapat didunia ini ?

Aku tahu engkau tak salah, tapi akupUn tak salah, kalau ingin mencari kambing hitamnya maka kesalahan tersebut hanya bisa dilimpahkan pada takdir yang telah mengatur segala galanya.

Setelah aku mati, jenasahku telah kutitipkan kepada siau suko agar dikebumikan di atas batu cadas dimana untuk pertama kalinya kita bertemu, dimana kita menjalin tali persaudaraan, dan anggaplah hal ini sebagai suatu akhir dari permulaan Bila mati tanpa mengetahui segala sesuatunya maka segala sesuatunya akan sirna dan lenyap jadi abu, tapi bila setelah mati aku bisa tahu, maka sukmaku akan mendampingi kau untuk selamanya, karena setelah pelepasan tiada adat yang bisa mengikat diriku lagi, tiada peraturan yang bisa merintangi niatku lagi, tiada kekuatan yang akan mampu untuk memisahkan aku daru sisimu.

Selamat tinggal sayang, selamat tinggal untuk selamalamanya.

Terimalah salam mesra, salam paling hangat disertai peluk ciumku yang terakhir hanya untukmu seorang.

"Tulisan terakhir dari Hui"

Tatkala pemuda itu selesai membaca surat itu, dengan lemas ia melepaskan genggamannya atas surat itu terhembus oleh angin gunung yang kencang surat itu terhempas di atas batu kemudian terbang ke bawah dan terjatuh di atas sungai, lenyap tertelan ombak besar...

"oooh... adik Hui... adik Hui... tunggulah aku, aku segera akan menyusul dirimu"

Jerit Han siong Kie dengan suara yang amat memilukan hati, saking kalut dan sedihnya, tiba-tiba pemuda itu mengayunkan telapak tangannya dan langsung dihantamkan ke atas ubun-ubun sendiri..

Akan tetapi, sebelum serangan tersebut mencapai sasarannya, mendadak ada sebuah tangan lain yang menangkap gerakan tangannya itu sehingga pemuda tersebut tak sanggup melanjutkan gerakannya untuk menghabisi nyawa sendiri "Han siong Kie, benarkah engkau dengan tindakan tololmu ini?

Benarkah engkau harus menghabisi nyawamu pada saat seperti ini?

Ketahuilah nak.

tindakanmu ini tak dapat diampuni, aku ingin bertanya kepadamu, jika engkau mati konyol lantas siapakah yang akan membalaskan dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra?

Apakah engkau mempunyai muka untuk berjumpa dengan arwah ayahmu dialam baka?

Thio sau kun, Han siong Hiang apakah bisa mati meram menyaksikan tingkah lakunya yang tolol dan tidak bisa dipertanggung jawabkan itu?"

Mendengar teguran tersebut, seperti kepalanya dihantam dengan martil seberat ribuan kati, seketika itu juga Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, diapun sadar kembali dari rasa sedihnya yang melampaui batas itu.

Ketika dilihatnya pemuda itu telah sadar kembali dari kepedihan hatinya, orang yang kehilangan sukmapun melepaskan cengkeramannya atas lengan anak muda itu, kembali ujarnya.

"Nak. tidakkah engkau merasa bahwa menghabisi nyawa sendiri lantaran urusan muda-mudi adalah suatu perbuatan paling memalukan yang tak bisa dipertanggung jawabkan? Apalagi dia adalah bibi gurumu sendiri..."

Han siong Kie mundur lagi beberapa langkah dengan sempoyongan, untuk kesekian kalinya anak muda itu muntah darah kental.

Pelan pelan manusia aneh berambut panjang itu memutar badannya, dua titik air mata sempat mengucur keluar membasai pipinya yang telah berkeriput.

Yaa....

peristiwa ini memang merupakan suatu tragedi yang amat memilukan hati, siapa yang mengharapkan terjadinya peristiwa semacam ini?

Dari kejadian ini dapat pula dibayangkan bagaimanakah masa depan Han siong Ki setelah peristiwa ini, kehidupannya pasti akan kosong, hampa dan sama sekali tak ada artinya, karena dia telah kehilangan kekasihnya, semua kasih sayang, semua perasaan cintanya ikut terkubur bersama matinya Tonghong Hui, dia telah kehilangan pegangan hidupnya yang paling berarti ......

Sementara suasana diliputi kesedihan dan kemurungan, tiba tiba dari dalam benteng maut meluncur keluar bom udara, kemudian meledak di angkasa dan menimbulkan jilatan api yang berwarna biru.

Menyaksikan hal itu, manusia aneh berambut panjang itu berkaok kaok aneh, secepat sambaran kilat ia segera tinggalkan tempat itu dam kabur kembali ke arah benteng maut.

orang yang kehilangan sukma pun menjerit kaget.

"Aduuuh celaka"

Demikian serunya.

"didalam benteng maut telah terjadi musibah besar"

Tak terkirakan rasa kaget Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, pikirannya yang semula masih melayang tak menentu segera terhimpun kembali menjadi satu.

"Apa? Terjadi musibah besar dalam benteng maut?"

Teriaknya penuh rasa kaget.

"Benar nak, ayoh kita segera berangkat, jilatan api warna biru yang meledak diangkasa itu adalah tanda khusus dari perkumpulan Thian che-kau yang mengartikan bahwa tugas yang dibebankan kepada mereka telah selesai dikerjakan, entah peristiwa besar apa yang sudah berlangsung dalam benteng itu."

"Hmmm..... Lagi lagi ulah dari Thian che kau"

Teriak Han siong Kie sambil menahan geramnya..

"Nak, kita harus cepat cepat berangkat kesana"

Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, dari atas dinding benteng melayang turun dua sosok bayangan manusia dan mereka menggeletak didepan kaki manusia aneh berambut panjang itu.

Orang yang kehilangan sukma tidak membuang banyak waktu lagi, dia melejit lebih dahulu meluncur kebawah, sementara Han siong Ki sendiri untuk sementara harus mengesampingkan dulu rasa sedihnya diapun menyusul dari belakang......

Dua orang kakek berbaju hijau menggeletak diatas tanah, salah seorang diantaranya sudah terhajar oleh manusia aneh berambut panjang itu sehingga kepalanya hancur dan isi benaknya berceceran diatas tanah sambil merintih tiada hentinya.

Sepasang mata manusia aneh berambut panjang itu memancarkan sinar merah yang mengerikan, sayang dia seorang bisu, ada kesulitanpun sukar diutarakan, tak mungkin mencari berita dari mulutnya.

Dengan suatu gerakan yang hampir bersamaan, Orang yang kehilangan sukma dan Han siong Kie mencapai ditempat tujuan dengan cepatnya.

Melihat kemunculan kedua orang itu, manusia aneh berambut panjang itu segera berkaok kaok sambil menuding kakek yang terluka dan menggeletak diatas tanah itu, kemudian menuding mulutnya, dan menuding pula telinga sendiri, maksudnya dia menyuruh Han siong Kie menanyai orang itu dan dia akan ikut mendengarkannya dari samping.

Orang yang kehilangan sukma segera memahami maksud dari manusia aneh itu, kepada kakek yang menggeletak diatas tanah segera tegurnya.

"Kun kang liong (naga dari sungai), besar amat nyalimu sehingga kalian berdua berani mencari gara gara di benteng maut. Hmm, rupanya engkau sudah makan nyali beruang empedu macan tutul"

Ketika asal usulnya diketahui orang, kakek itu tampak sangat terperanjat sehingga sukma serasa melayang meninggalkan raganya, dengan ketakutan serunya.

"sia... sia... siapakah kau.?"

"Hmmm Kau tak usah bertanya siapakah aku"

Tukas orang kehilangan sukma dengan dingin "

Cukup terangkan saja kepadaku, kalian telah menjual nyawa bagi siapa sehingga begitu berani mencari gara gara didalam benteng maut "

Kun kang liong tidak segera menjawab, ia termenung sebentar lalu baru katanya.

"saudara ku telah mati, akupun enggan untuk hidup seorang diri, sudah Kau tak usah banyak bertanya, tak nanti aku akan menjawab pertanyaanmu. Hmm, mau turun tangan ayolah cepat turun tangan, pokoknya sebentar lagi benteng maut bakal lenyap dari muka bumi bagaikan asap yang membuyar diangkasa"

Manusia aneh berambut panjang itu memang tak dapat berbicara, tapi telinganya berfungsi secara normal, ketika mendengar jawaban tersebut, dia jadi berang, telapak tangannya segera diayun kebawah siap membinasakan orang itu..Dengan cepat orang yang kehilangan sukma menghalangi niatnya itu, kembali dia berkata.

"Kun kung liong, berhargakah jiwamu kau jual bagi Thian che kaucu? Tidakkah engkau merasa bahwa perbuatanmu itu kelewat tolol?"

"Aaah .... kamu ini bawel amat, mau bunuh mau cincang ayolah segera dikerjakan, apa gunanya banyak ngebacot yang tidak ada gunanya?"

"Aku tidak akan membinasakan dirimu, hanya ilmu silatmu saja yang kupunahkan, setelah itu akan kutotok jalan darah Im hiat mu, akan kubiarkan engkau hidup tersiksa hingga akhir jaman nanti"

Mendengar ancaman itu, Kun king liong menggigil karena ketakutan, yaa Pada hakekatnya ancaman itu cukup untuk menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya...

"sebenarnya engkau bersedia menjawab tidak?"

Sekali lagi orang yang kehilangan sukma mengancam.

"Tidak"

Kun king lioug tetap melotot dengan gigihnya.

Sementara perdebatan berlangsung makin sengit, tiba tiba dari arah pintu benteng berkumandang suara gemerincing yang sangat nyaring, menyusul kemudian pintu gerbang itu terpentang lebar dan puluhan sosok bayangan manusia berhamburan keluar dengan cepatnya.

Manusia aneh berambut panjang itu berkaok kaok aneh, dia segera melayang keudara dan menyambar kebalik dinding benteng dengan cepatnya.

"Aduh celaka...."

Teriak orang yang kehilangan sukma dengan hati terperanjat.

Belum habis dia menjerit, dari balik semak belukar ditepi sungai telah bermunculan puluhan sosok bayangan manusia.

Han siong Kle saking kagetnya untuk sementara waktu berdiri tertegun, ia tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah berlangsung disana.

Sementara si anak muda itu masih tertegun, orang yang kehilangan sukma telah mengayunkan tangannya menghajar Kun kung liong hingga terjebur kedalam sungai, kepada anak muda itu teriaknya.

"Nak. usahakanlah sekuat tenaga untuk membendung orang orang itu, jangan lepaskan barang seorangpun diantaranya mereka, bunuh setiap orang yang kau jumpai"

Dalam keadaan seperti ini, Han siong Kie tak sempat untuk menanyakan alasannya lagi, dia sendiripun dapat merasakan betapa serius dan gawatnya situasi yang dihadapinya sekarang, dengan suatu lompatan yang cepat ia melayang ke atas jembatan batu dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Jembatan batu itu separuh diantaranya tenggelam dibalik air sungai yang sedang pasang naik, dan jembatan itu pula merupakan satu satunya jalan penghubung dari benteng maut kedunia luar, oleh karena tempatnya amat sempit dan cuma bisa dilalui oleh seorang saja, maka dengan hadirnya Han siong Ki menyumbat jembatan batu itu, maka boleh dibilang posisinya benar kuat sekali.

Ditengah bentakan nyaring orang yang kehilangan sukma telah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan orang orang yang baru keluar dari benteng maut itu.

Han siong Kie berpaling dan memandang kebelakang apa yang kemudian terpampang dihadapan matanya membuat ia merasa jantungnya berdetak sangat keras saking kagetnya, seketika itu juga mengertilah sianak muda itu apa gerangan yang telah terjadi?

Dalam pada itu dua sosok bayangan manusia telah berlarian menuju kehadapannya, dan kedua orang itu tak lain adalah Im yang siang sat, sepasang malaikat hawa dingin dan hawa panas yang pernah ditemuinya.

Dengan kemunculan dua orang ini, maka sudah jelas lagi duduknya persoalan, jelas semua gembong gembong iblis yang disekap didalam rumah batu yang berada dalam benteng maut telah terlepas semua.

Padahal sebagaimana diketahui alat rahasia yang melengkapi benteng maut banyak sukar di hitung, dan lagi disanapun sudah diatur sebuah barisan sik wu khi tin (barisan aneh rumah batu) rasanya dalam mengandalkan kepandaian yang dimiliki dua bersaudara Kun kang liong yang telah mampus semua itu belum tentu bisa memecahkannya, lalu siapakah yang telah membebaskan semua tahanan tersebut?

Menurut tuduhan dari orang yang kehilangan sukma, dua bersaudara Kun kang liong adalah menjual nyawa bagi Thian che kau dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa semua rencana dan siasat busuk tersebut adalah basil pemikiran dari Thian che kaucu, atau dengan perkataan lain gembong iblis itu besar sekali hasratnya hendak membasmi benteng maut sehingga ambisinya untuk merajai seluruh dunia persilatan dapat terwujud ..........Belum habis ingatan tadi melintas dalam benaknya, dari atas tepi pantai sudah muncul beberapa sosok bayangan manusia yang menerjang keatas jembatan batu itu dengan kecepatan luar biasa.

Im yang siang sat berada dipaling depan, pada saat itu mereka sudah berada kurang lebih dua kaki dihadapan Han siong Kie.

Untuk sesaat suasana disekitar jembatan batu menjadi tegang dan amat gawat sekali, setiap saat suatu pertarungan sengit yang mengerikan bisa terjadi.

"Eeeh... manusia berwajah dingin, kenapa kau bisa berada disini? Mau apa kamu datang mari?"

"Dan apa pula yang sedang kalian berdua lakukan?"

Han siong Ki balik bertanya dengan suara ketus.

Sebelum malaikat perempuan itu memberikan jawabannya, bayangan-bayangan manusia yang datang dari tepi pantai itu sudah tiba dihadapan Han siong Kie, maka tak menggubris tanya jawabnya dengan malaikat hawa dingin lagi dia putar badan sambil melancarkan sebuah pukulan maha dahsyat yang mengerikan sekali.

Sebelum bertugas disana, ia telah mendapat pesan dari orang yang kehilangan sukma untuk bertindak keji, maka dalam serangan serangan yang dia lancarkan sekarang, semua pukulan dilepaskan dengan kekuatan yang penuh, sama sekali tidak bersifat sungkan sungkan.

Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tiga orang yang berjalan dipaling depan segera terhajar oleh serangan maut itu sehingga tercebur kedalam sungai dengan aliran air yang amat deras itu, tentu saja nyawa mereka tak ada yang ketolongan lagi, ini menyebabkan kawanan jago yang berada dibelakangnya jadi bergidik dan ketakutan setengah mati, bagaikan sukmanya ikut melayang tinggalkan raganya orang orang itu hanya berdiri tertegun diatas jembatan batu itu tanpa melakukan suatu gerakan apapun jua.

Yang sat si malaikat hawa panas Ko su khi yang menyaksikan semua adegan itu jadi tercengang, segera tegurnya dengan suara lantang.

"Eeeh.... bocah muda, bagaimana sih anak ini? Bukankah orang orang itu adalah sobat baik kita dari perkumpulan Thian che kau? Kenapa kau bunuh mereka dengan cara sekeji itu?"

Hawa napsu membunuh seketika itu juga menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, ia mendengus dingin.

"Kalau mereka benar benar adalah orang Thian che kau, itu berarti mereka lebih lebih harus dibunuh lagi"

"Eeeh...eeeh.... lucu amat kau bocah muda, bukankah kau memusuhi tengkorak maut? Kenapa sekarang kok malahan membantu pihak Tengkorak maut untuk membantu manusia manusia macam mereka, sebab Benteng maut tak akan lenyap dari dunia ini, Benteng maut selamanya akan tetap berdiri kokoh dalam dunia persilatan"

"Manusia bermuka dingin "

Dengan suara berat malaikat hawa dingin Mo siu ing menegur.

"mengingat tempo hari kau pernah membantu kami, tak ingin kami suami istri berdua memusuhi engkau..."

"Aku juga pernah menerima budi pertolongan dari gurumu Hun si mo ong, kalau ingin membicarakan soal hutang budi maka kita sudah impas, siapapun tidak berhutang kepada siapa, jadi kaupun tak usah mempersoalkan lagi tentang hutang budi atau tidak"

Tukas Han siong Kie dengan suara lantang. Mula mula Malaikat hawa dingin Mo siu ing agak terperanjat sehabis mendengar ucapan tersebut, untuk selanjutnya dengan suara berang dia membentak.

"Baik, kalau memang begitu maafkanlah bila aku malaikat hawa dingin terpaksa akan berbuat salah kepadamu"

Ditengah bentakan yang maha dahsyat, pertarungan tak bisa dihindari lagi, jeritan jeritan kesakitan yang menyayat hati mencabik kesunyian disekitar tempat itu, benteng maut betul betul sudah diliputi awan pembantaian yang menggidikan hati.

Pemilik benteng maut maupun manusia aneh berambut panjang secara beruntun terjun pula ke dalam gelanggang pertarungan dan bertempur melawan kawanan gembong iblis yang terlepas dari kurungan itu.

Sebagian besar gembong gembong iblis yang disekap dalam benteng maut adalah kawanan jago dunia persilatan yang memiliki ilmu silat sangat lihay, kebanyakan mereka tertangkap dikala melakukan penyelidikan terhadap benteng yang serba misterius itu, bila mereka harus bertanding seorang lawan seorang, tentu saja tak seorangpun yang bisa menandingi kelihayan dari Tengkorak maut, tapi lantaran orang orang itu menyerang secara berbareng, maka secara otomatis keadaannya juga jauh berbeda.

Kawanan jago lihay dari perkumpulan Thian che kau yang pada mulanya masih berdiri tertegun diatas jembatan batu, pada saat itu bersama-sama membentak keras, kemudian bagaikan gulungan air bah mereka menyerbu kedepan ......

"Lihat serangan"

Suatu bentakan keras menggelegar diangkasa, Malaikat hawa dingin Mo siu ing dengan suatu gerakan yang sangat cepat menerjang maju kedepan dan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah badan Han siong Kie.

Si anak muda she Han sendiri telah menyadari bahwa pertempuran yang berlangsung hari ini besar sekali pengaruhnya terhadap keadaan dimasa mendatang, apalagi jumlah musuh jauh lebih besar daripada jumlah jago jago dari pihaknya, ini berarti mati hidupnya benteng maut juga tergantung dari hasil pertarungan kali ini.

Mempertimbangkan untung ruginya bertarung secara kekerasan, akhirnya pemuda ini mengambil keputusan untuk menyimpan tenaga sebisa mungkin untuk menjaga segala kemungkinan diakhir pertarungan tersebut.

Karena berpendapat demikian, ketika pukulan-pukulan musuh yang amat keras itu meluncur keatas tubuhnya, dengan gerakan cepat dia melejit kesamping, setelah terlepas dari ancaman dahsyat itu, dia baru membalikkan tubuhnya sambil melepaskan sebuah serangan balasan.

Angin pukulan yang menggulung ke depan bagaikan amukan angin puyuh, secara beruntun malaikat hawa dingin mundur tiga langkah lebar ke arah belakang.

Sementara itu jago jago lihay dari Thian che-kau telah tiba dibelakang tubuh Han siong Kie, pukulan pukulan yang tak ampun sudah dilontarkan secara beruntun.

Menghadapi keadaan semacam ini, Han siong Kie mendengus dingin, dia lepaskan sebuah pukulan untuk memukul mundur malaikat hawa dingin, kemudian sambil memutar badan, jari jari tangan saktinya diayunkan secara beruntun......

Ilmu jari Tong kim ci memang amat dahsyat, dalam radius lima kaki, emas atau batu cadas yang terkena seranganpun akan hancur berkeping, apalagi tubuh manusia??

-ooo0dw0ooo-

Jilid 45 KETIKA desingan angin tajam menyambar ke depan, serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema susul menyusul, tujuh orang jago lihay yang maju secara berbareng itu tak seorangpun yang dapat lolos dalam keadaan selamat, semuanya mati dengan dada berlubang dan tercebur kedalam sungai.....

Sepasang malaikat hawa dingin dan hawa panas jadi naik pitam, sepasang telapak tangan mereka dilontarkan secara bersama, arah yang diancampun merupakan tubuh Han siong Ki.

Sejak berhasil meyakinkan ilmu sakti si mi sin kang, boleh dibilang tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie telah mencapai puncak kesempurnaan, Hun si mo ong guru dari sepasang malaikat hawa dingin dan hawa panas yang tersohor karena kelihaiannya saja masih kalah setingkat, apalagi kedua orang muridnya ?

Dalam suatu benturan keras yang kemudian terjadi, dua malaikat hawa dingin dan panas itu terdorong hingga mundur bebarapa langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Dipihak lain, beberapa orang gembong iblis sudah tewas ditangan pemilik benteng maut, tapi situasi pertarungan yang berkobar ditempat itu sudah meningkat makin sengit.

Orang yang kehilangan sukma harus bertarung dengan satu lawan tiga, tapi ia masih mampu untuk mempertahankan diri guna mengatasi serangan-serangan musuh.

Lain keadaannya dengan manusia aneh berambut panjang, untuk menghadapi kerubutan dari empat orang kakek berambut merah, ia nampak sedikit kewalahan, posisinya amat terdesak dan berbahaya sekali keadaannya.

Sepasang malaikat hawa dingin dan hawa panas merupakan jago jago lihay yang selalu mengunggulkan kepandaian sendiri, mula mula mereka berkeyakinan bahwa benteng maut dapat dikalahkan dengan tenaga gabungan mereka, siapa tahu meskipun mereka sudah bekerja sama, untuk mengalahkan seorang pemuda ingusan saja tak becus, lama kelamaan berkobarlah sifat ganas dalam hati mereka.

Ditengah bentakan nyaring, sepasang malaikat itu maju bersama sambil melancarkan serangan-serangan dahsyat.

-ooo0dw0ooo-BAB 92 JURUS serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar itu betul betul mengerikan sekali, bukan saja tenaganya bagaikan ambruknya sebuah bukit karang, bahkan kecepatannya jauh melebihi kecepatan petir ....

Sepuluh gebrakan kemudian, mereka berhasil mengimbangi kelihayan musuhnya dan memaksa suatu pertarungan jarak jauh yang seimbang dan sama kuat, rupanya pertempuran itu tak mungkin bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Disaat yang amat tegang dan gawat, dari tepi pantai kembali berkelebat datang sesosok bayangan manusia, dengan suatu gerakan yang amat cepat ia menampilkan diri dari tepi pantai dan langsung menyerbu keatas jembatan batu.

Han siong Kie coba melirik sekejap kearah bayangan manusia itu, akan tetapi bila diketahuinya siapa gerangan orang itu, tercekatlah hatinya rasa kaget menyebabkan jantungnya berdetak lebih cepat dari keadaan semula.

Rupanya orang yang baru saja munculkan diri ini tak lain adalah Hun si Mo ong, guru dari Im yang siang sat sepasang malaikat hawa dingin dan hawa panas.

Sebagaimana diketahui, Hun si Mo ong telah menjabat kedudukan komandan pelindung hukum dari perkumpulan Thian che kau, pada hakekatnya dia bersedia menerima jabatan itu adalah lantaran dia hendak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghancurkan benteng maut, tentu saja selain membayar kembali semua penghinaan yang pernah diterimanya serta berusaha menolong kedua orang muridnya yakni malaikat hawa dingin dan malaikat hawa panas dari kurungan.

Setelah Hun si Mo ong munculkan diri, secara beruntun kawanan jago dari Thian che kau munculkan diri pula dari tempat persembunyiannya, itu berarti besar kemudian Thian che kaucu pasti akan muncul juga ditempat kejadian.

Sontak Im yang siang sat merasa semangatnya berkobar kembali ketika menyaksikan kemunculan gurunya disitu, secara beruntun mereka lancarkan serangkaian pukulan yang mematikan untuk mendesak musuhnya, membuat Han siong Kie terdesak mundur sejauh delapan depa dari mulut jembatan batu itu.

Han siong Kie terperanjat, dia tahu andaikata Hun si mo ong dibiarkan menyeberangi jembatan batu itu, kemungkinan besar situasi dalam gelanggang pertarungan akan terjadi perubahan besar.

Kuatir kalau keadaan yang tak diinginkan itu sampai terjadi, cepat cepat dia menghimpun tenaga sakti si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, lalu dilancarkannya sebuah pukulan dahsyat ke muka.

Segulung kabut putih yang sangat tebal segera berhembus keluar menggulung ke atas tubuh Im yang siang sat, suara gemuruh yang menyertai serangan tersebut amat memekikkan telinga.

Im yang siang sat cukup mengetahui kelihayan musuhnya itu tapi mereka enggan menghindar dengan begitu saja, disambutnya ancaman yang menyembur tiba itu dengan keras "Blang"

Suatu benturan keras tak bisa dihindari lagi, sambil mendengus tertahan, kedua orang malaikat hawa panas dan dingin itu mundur satu kaki jauhnya dari tempat semula dengan langkah sempoyongan Sementara itu, Hun si mo ong telah tiba dimulut masuk jembatan batu itu........

Han siong Ki tidak dapat membiarkan musuhnya meneruskan perjalanan, dia membentak keras, lalu dengan melepaskan pukulan dahsyat dengan ilmu Si mi sinkang lagi, segulung asap putih yang sangat tebal seketika itu juga menggulung keatas tubuh Hun si mo ong.

Agaknya gembong iblis yang berpredikat Raja iblis pengacau jagad ini cukup mengetahui kelihayannya tenaga sin kang tersebut, dia tak berani menyambutnya dengan keras lawan keras, cepat tubuhnya berkelit kesamping dan mundur delapan depa dari tempat semula.

Menggunakan kesempatan yang amat baik itulah, Han siong Ki segera melompat kembali ke tempat kedudukannya semula, serangan kedua menyusul kemudian dilancarkan kembali kedepan.

Kali ini Hun si mo ong tidak menghindar lagi, sambil mengikik tertawa seram, telapak tangannya segera disilangkan didepan dada, kemudian ditangkisnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

Han siong Ki mengejek sinis, tenaga serangannya cepat ditambah dengan dua bagian lagi ......

"Blaaang"

Suatu benturan dahsyat yang memekikkan telinga menggelegar diangkasa, air sungai menggulung tinggi sampai melewati batas batas jembatan batu, saking kerasnya benturan yang terjadi, tubuh Hun si mo ong mencelat setinggi beberapa kaki dan terlempar dari batas batas jembatan batu itu.

Untunglah ilmu silat yang dimiliki gembong iblis tua ini cukup lihay, menggunakan kesempatan itu badannya berputar satu lingkaran di angkasa, lalu seperti seekor burung raksasa yang aneh, dia melayang kembali keatas jemhatan batu itu.

Han siong Ki mendengus dingin, dua kali serangannya yang gagal membuat anak muda ini semakin penasaran, maka serangan ketiga yang jauh lebih dahsyat pun dilontarkan kembali kedepan ....

Tapi disaat terakhir sebelum Han siong Ki melontarkan serangannya yang ketiga itu, dua gulung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya menggulung tiba juga dari belakang punggungnya .

"Blaaang ."

Ditengah benturan yang memekikkan telinga, seseorang mendengus tertahan.

Termakan oleh tenaga sakti yang maha dahsyat itu, tubuh Hun si mo ong terpental sejauh dua kaki lebih dan nyaris tercebur kedalam sungai, sebaliknya Han siong Ki sendiripun terhajar telak oleh dua buah pukulan yang menggulung tiba dari arah belakang.

Memang tubuhnya terlindung oleh tenaga sakti, tapi tenaga serangan yang menyergap tubuhnya itu lebih kuat dan berat daripada ambruknya sebuah bukit Thay san, dengan sempoyongan badannya mundur beberapa langkah kebelakang, tak tahan lagi dia mendengus tertahan, golakan darah dalam dadanya bergelora keras, hampir saja ia muntah darah kental.

Tentu saja kedua orang penyergapnya tak lain adalah Im yang siang sat.

Sementara itu, sepasang malaikat hawa dingin dan panas pun diam diam merasakan hatinya bergidik keras, bagaimanapun juga belum pernah mereka jumpai seorang manusia yang mampu menerima serangan gabungan mereka tanpa roboh, tapi sekarang.

Han siong Ki mampu untuk menerima serangan dahsyat tadi dengan gemilang, dari sini dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki musuhnya itu betul betul sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Adapun maksud dan tujuan im yang siang sat melepaskan sergapan kilatnya tadi, adalah agar guru mereka Hun si Mo ong bisa menyeberangi jembatan batu itu dan menyerbu kedalam benteng maut, maka gagal dengan serangan yang pertama, ia susulkan kembali dengan serangan serangan berikutnya.

Hun si mo ong sendiripun merasa penasaran sekali, sambil berpekik nyaring, tubuhnya berputar seperti ayunan dan sekali lagi menerkam kedepan.

Rasa cemas dan gelisah mulai menyelimuti hati Han siong Ki, betapa tidak?

Dari depan maupun belakang dia harus menghadapi gempuran demi gempuran dari musuhnya, masih mendingan kalau mereka cuma jago jago silat biasa, tapi kenyataan sekarang, orang orang itu adalah kawanan jago dari golongan hek to yang mempunyai ilmu silat amat lihay, sudah tentu kejadian ini merupakan suatu tugas yang amat berat baginya.

Padahal sebagaimanapun juga sudah diketahui, orang yang kehilangan sukma telah berpesan kepadanya agar mempertahankan mulut masuk di atas jembatan batu itu, bagaimanapun yang akan terjadi tentu saja dia harus mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mempertahankan tempat itu, jangan toh membiarkan mereka lewat, menginjak dimulut jembatanpun tak akan diperkenankan olehnya.

Maka diapun mendengus penuh kegusaran, tubuhnya berputar secepat kilat sambil menerkam Im yang siang sat sepasang malaikat yang ada dibelakang tubuhnya, telapak tangan kanan menyerang dengan ilmu sakti si mi sinkang, sementara tangan kirinya menyerang dengan ilmu jari Tong kim ci.

Kedua macam kepandaian tersebut sama sama merupakan ilmu maha sakti yang tiada tandingannya didunia ini, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya bila kedua macam ilmu yang maha sakti tersebut dilancarkan secara berbareng ......

Ketika hawa serangan yang dilancarkan sepasang malaikat membentur dengan ilmu sakti si-mi sinkang, terjadilah suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga, tubuh sepasang malaikat itu sama sama tergetar mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan, dan hampir bersamaan waktunya dengan ilmu Tong kim ci yang maha dahsyat meluncur tiba pula dengan kecepatan luar biasa.

Menghadapi ancaman yang sangat menggetarkan hati itu, malaikat hawa dingin Mo siu ing miringkan tubuhnya kesamping kanan, dengan membawa desingan tajam, angin serangan itu menyambar lewat dari sisi badannya, sebaliknya Malaikat hawa panas Ko su khi mau menghindar namun tak sempat lagi, tak ampun lengannya tersambar oleh angin serangan itu hingga tembus dan berlubang.

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, begitu angin pukulan dan angin jari sudah dilontarkan kedepan, tanpa menantikan bagaimanakah hasil dari serangannya itu, Han siong Kie memutar badannya setengah lingkaran-kemudian dengan menggunakan tenaganya sebesar dua belas bagian, sepasang telapak tangannya dibacok kemuka dengan kecepatan yang luar biasa.

Memang, serangan itu dilakukan satu lebih dahulu dan yang lain agak belakangan, tapi kerja sama serta ketepatannya bukan kepalang.

Angin pukulan yang dilancarkan sambil memutar badan itu dengan tepat sekali menyongsong tubuh Hu si mo ong yang sedang melangkah naik ke atas jembatan batu itu.

Kabut putih yang tebal dan membawa tenaga tekanan besar menggulung ke depan dengan hebatnya, untuk kesekian kalinya Hun si mo ong tergetar mundur ke belakang oleh benturan tersebut.

Menggunakan kesempatan itu, Han siong Kie memperbaiki juga posisinya yang sudah makin mendesak itu dengan demikian ia berhasil merebut kembali tempat kedudukannya yang jauh lebih menguntungkan.

Dipihak lain...

sudah hampir dua puluh sosok lebih mayat manusia yang berserakan diatas tanah, itu berarti mereka mereka yang masih bisa mempertahankan diri dan berecmpur seru adalah kawanan jago persilatan yang memiliki ilmu silat agak tinggi, itupun jumlahnya masih mencapai tiga puluh orang lebih, tampak-tampaknya mereka telah bulatkan tekad untuk menghancurkan benteng maut dari muka bumi.

Pemilik benteng maut masih bertarung terus dengan sengitnya, tentu saja setelah mengalami pengerubutan yang berlangsung secara beruntun, tenaga serangannya saat ini tidak segencar dan sedahsyat pertama kali turun tangan tadi.

Posisi orang yang kehilangan sukma yang sedang dikerubuti oleh delapan orang jago lihay juga tidak begitu menyenangkan keadaannya, dari keadaan yang terpampang didepan mata, dapat diketahui bahwa perempuan misterius itu hanya bisa mempertahankan diri belaka, itupun tak akan berlangsung terlampau lama.

Manusia aneh berambut panjang sendiri sudah bermandikan darah segar, posisinya sangat terdesak dan gawat sekali, tampaknya setiap saat kemungkinan besar jiwanya bakal terancam.

Tiba tiba sesosok bayangan hijau melayang keluar dari balik pantai berpasir, dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah tiba dibelakang tubuh Hun si mo ong.

Han siong Kie menengadah, tapi ketika sinar matanya terbentur dengan wajah orang itu, seketika itu juga peredaran darah dalam tubuhnya menggelora keras, hawa napsu membunuh yang sangat tebal seketika menyelimuti seluruh wajahnya.

Siapakah pendatang itu?

Dia tak lain adalah Ketua dari pekumpulan Thian che kau, Yu Pia-lam adanya.

Thio sau kun Han siong Hiang secara beruntun telah menemui ajalnya di tangan orang ini, bagaimanapun juga dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra ini harus dituntut balas.

Sementara itu Hun si mo ong dan Thlan che kaucu telah berunding sebentar, setelah itu diiringi bentakan nyaring, kedua orang itu berbareng maju ke depan sambil melancarkan serangkaian serangan berantai.

Tak terkirakan rasa gusar Han siong Kie melihat terkaman dari gembong gembong iblis itu, dengan suara lantang dia segera membentak.

"Yu Pia lam, hari ini aku bersumpah akan mencincang tubuhmu sehingga hancur menjadi berkeping keping"

"Heeehhhh... heehhh... heeehhhh..."

Yu Pia-lam ketua dari perkumpulan Thian che kau itu tertawa seram.

"Bocah keparat wahai bocah keparat, lebih baik janganlah bermimpi indah ditengah hari bolong, tak nanti apa yang kau harapkan itu bisa tercapai "

Dalam sekejap mata, dua orang itu sudah berada dua kakijauhnya dihadapan si anak muda itu.

Han siong Ki menggigit bibir, dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Menyaksikan tibanya ancaman yang maha dahsyat itu, Hun si mo ong dan ketua perkumpulan Thian che kau menghentikan gerakan tubuh mereka, menyusul kemudian telapak tangan mereka saling menempel diatas punggung, diiringi gelak tertawa seram, Hun si mo ong melontarkan sepasang telapak tangannya pelan pelan kemuka.......

Ketika serangan musuh dilepaskan, Han siong Ki segera merasakan sesuatu yang tidak beres, tapi sebelum ingatan lain melintas dalam benaknya, dirasakannya ada gulungan angin pukulan yang maha dahsyat menyapu kedepan dan menerjang dadanya dengan kekuatan yang sukar dilukiskan dengan kata kata.......

suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga segera menggema diangkasa dan menggetarkan jembatan batu itu.

Han siong Ki tak kuat menahan serangan yang tak terkirakan lihaynya itu, dengan sempoyongan dia mundur satu kaki lebih dari kedudukannya semula, noda darah meleleh keluar dan membasahi ujung bibirnya.

Tak menunggu sianak muda itu telah berhasil dipaksa mundur, Hun si mo ong dari Thian che kau cupun melangkah naik keatas tepi benteng maut dengan tenangnya.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Kiranya Thian che kaucu dan Hun si mo ong telah menggunakan suatu kepandaian maha sakti yang dinamakan ilmu Tau ti coan kang (menyalurkan tenaga sakti ketubuh orang) itu berarti mereka telah menggabungkan dua gulung tenaga yang ada ditubuh mereka untuk melepaskan sebuah pukulan.

Tak heran kalau Han siong Ki yang bakal menderita kerugian besar didalam keadaan seperti ini.

sekalipun demikian Han siong Ki juga terhitung seorang jago muda yang luar biasa dahsyatnya, karena didunia dewasa ini mungkin tak akan ditemui orang kedua yang sanggup menyambut serangan gabungan yang dilancarkan Hun si mo ong dan Thian che kaucu secara berbareng.

Han siong Ki merasakan sepasang matanya berubah menjadi merah membara, otot hijau disekujur badannya pada menonjol keluar semua, tak terkirakan rasa dendam dan gusarnya pemuda itu menghadapi kelicikan musuhnya, sambil membentak keras dia maju kemuka dan menerjang ke tubuh Thian che kaucu....

Menghadapi tubrukan maut itu, Thian che kaucu tak sudi melayaninya, dengan suatu gerakan yang enteng dia berkelit dua kaki dari tempat kedudukannya semula, lalu ujarnya kepada Hun si mo-ong.

"Pelindung hukum, kuserahkan bocah keparat ini kepada kalian guru dan murid"

Selesai berkata, dia lantas berkelebat pergi dan menerjang kearah gelanggang pertarungan yang lain.

sementara Hun si mo ong sendiri, karena kuatir pemuda itu keburu kabur ketempat lain, serta merta tubuhnya menerjang kedepan dan menghadang jalan perginya, serangan demi serangan segera dilancarkan secara berantai......

Im yang siang sat, sepasang malaikat hawa panas dan dingin tidak berdiam diri belaka, gurunya menyerang merekapun ikut menerjang kemuka sambil melancarkan serangan pula....

Dengan terjadinya perubahan ini, maka penghadangan dimulut masUk jembatan batupun mengalami perubahan besar, dengan tersingkirnya Han siong Ki dari situ, kawanan jago lihay dari perkumpulan Thian che kau menyerbu tiba dalam jumlah besar.

suasana dalam gelanggang seketika itu juga terjadi perubahan besar, situasi dalam gelanggang pertarunganpun berubah semakin tegang, gawat dan mengerikan.

Langit dan bumi terasa berbalik, jeritan setan dan teriakan malaikat seakan akan bermunculan dari empat penjuru.

Han siong Ki sudah menyerupai orang kalap.

dibawah serangan serangan gencar yang kesemuanya tertuju keatas tubuhnya, dia perlakukan perlahan, secara ketat, bahkan berhasil merebut posisi diatas angin dan balas mendesak Hun si mo-ong sehingga tak mampu melepaskan serangan serangan balasan.

sepasang hawa dingin dan panas saling berpandangan sekejap.

kemudian mereka memperketat seranganserangannya sehingga untuk sesaat anak muda itu berhasil dipaksa terdesak hebat.

Dipihak lain, ketika Thian che kaucu terjun pula kedalam gelanggang, orang yang kehilangan sukma segera membentak keras, secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai yang memaksa mundur delapan orang jago lihay yang mengerubutinya, kemudian ia tinggalkan musuh musuhnya itu untuk menyongsong kedatangan Thian che kaucu.

"Yu Pia lam"

Teriaknya penuh rasa geram "saat kematianmu sudah berada diambang pintu"

"Perempuan rendah yang tak tahu malu, jika hari ini pun kaucu tidak berhasil menghancur lumatkan tubuhmu jadi berkeping keping, aku bersumpah tidak akan hidup sebagai manusia"

Kedua orang itupun segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru, kedua belah pihak sama sama mengerahkan jurus serangan mautnya untuk merobohkan lawan, baik Thian che kaucu maupun orang yang kehilangan sukma sama sama mempunyai niat yang sangat besar untuk membinasakan lawannya.

sementara itu, Han siong Ki yang sedang bertarung sengit diam diam termenung juga memikirkan keadaan yang terbentang dihadapan matanya, dia tahu jika Thian che kaucu terjun kedalam gelanggang maka situasi pihaknya pasti akan berubah jadi amat berbahaya, atau dengan perkataan lain bila ia tidak berhasil merobohkan kawanan jago yang hadir dalam gelanggang dewasa ini, niscaya benteng maut akan terbasmi dan betul betul akan lenyap dari muka bumi.

Berpikir demikian, hawa sakti si mi sinkang yang maha dahsyat itu segera disalurkan keseluruh badan, kemudian dengan dicairkan dalam jurus jurus serangan yang menggunakan taktik "menggetar"

Dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat ditambah pula dengan imbangan gerak badan lintasan cahaya bayangan kilat, secara beruntun dia lancarkan serangkaian pukulan berantai yang mendesak musuhnya secara bertubi tubi.

Penggabungan dari beberapa macam ilmu silat yang maha dahsyat itu otomatis membangkitkan pula tenaga tekanan yang semakin dahsyat, sekalipun keadaan Han siong Ki sudah jauh lebih lemah akibat pertarungan pertarungan sebelumnya, tapi demi selamatkan keadaan benteng maut yang terancam bahaya maut, terpaksa dia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk melangsungkan pertarungan adu jiwa yang benar benar menggidikkan hati.

Taktik "menggetar"

Dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat adalah suatu sistim pertarungan dimana dengan menggunakan tenaga untuk memukul tenaga, dalam kenyataannya, menggetar balik kekuatan musuh adalah suatu sistim pertarungan yang sangat menguntungkan, tentu saja seandainya kekuatan yang dimiliki pihak lawan jauh dibawah kekuatannya.

sebaliknya bila tenaga dalam yang dimiliki musuhnya jauh lebih dahsyat, atau lebih tinggi beberapa kali lipat, maka penggunaan taktik tersebut bisa mengakibatkan hasil yang sebaliknya.

Demikian, ketika Han siong Kie merubah taktik serangannya, Hun si mo ong segera merasakan gelagat yang tidak menguntungkan mereka bertiga jadi kagetnya bukan kepalang.

sementara suatu taktik baru belum berhasil ditemukan, mendadak....

"Blaang"

Suatu benturan keras diiringi jerit kesakitan yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, si Malaikat hawa panas Ke su khi terhajar sampai mencelat sejauh dua kaki lebih dari tempat semula, untuk sementara waktu ia terjungkal ditanah dan tak mampu bangkit kembali.

Selang sesaat kemudian, menyusul juga malaikat hawa dingin Mo siu ing termakan oleh sebuah pukulan, dia muntah darah dan badannya meucelat sejauh delapan depa.

Dengan hilangnya dua orang jago lihay itu, dengan sendirinya Han siong Kie merasa daya tekanan yang menghimpit dirinya semakin ringan, sekarang anak muda itu dapat memusatkan semua perhatiannya untuk menghadapi Hun si mo ong seorang.

Tiga gebrakan kemudian, Hun si mo ong termakan juga oleh sebuah pukulan dahsyat sehingga muntah darah kental, dengan sempoyongan badannya mundur beberapa langkah kebelakang.

Kendati begitu, Keadaaa Han siong Kie sendiripun kurang begitu menggembirakan, akibat dari serangkaian pertarungan yang berat dan penuh memakan tenaga, anak muda itu merasakan hawa darah didalam tubuhnya bergolak keras, napas nya sedikit tersengkal.

Sementara suasana mencapai puncak ketegangan, tiba-tiba dari tepi pantai daratan sebarang sana terlihatlah bayangan manusia bergerak dengan kacau balau, menyusul kemudian terdengar pula suara beradunya senjata dan deruan angin pukulan rupanya disanapun sedang berlangsung suatu pertarungan yang amat seru.

Menyusul kemudian, muncul beberapa sosok bayangan manusia secepat sambaran kilat berlarian menuju ke arah gelanggang pertarungan yang sedang berlangsung didepan benteng.

Dalam keadaan yang serba gawat dan serba tidak menguntungkan ini, Han siong Kie sudah memikirkan persoalan yang lain lagi, sekarang dia cuma tahu membunuh...

membunuh...

dan membunuh, seakan akan pemuda yang bermuka dingin itu sudah berubah menjadi seorang manusia yang haus akan darah.

Dengan suatu gerakan yang dahsyat seperti banteng terluka, dia menerjang kesana menyerbu kemari dengan gagahnya.

Serentetan suara jeritan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, manusia aneh berambut panjang itu muntah darah sambil mundur kebelakang dengan sempoyongan-"siau susiok.

menyingkirlah kesamping"

Teriak Han siong Kie sambil menahan geramnya.

Diantara suara bentakan yang memekikkan telinga, jeritan demi jeritan yang menyayatkan hati berkumandang saling susul menyusul, tiga orang kakek berambut merah yang mengerubuti manusia aneh berambut panjang itu tahu tahu sudah tergelepar diatas tanah dengan kepala pecah dan isi benak yang bercampur dengan darah tercecer di atas permukaan tanah..

Han siong Ki sudah semakin kalap.

sekarang dia bukan mirip banteng terluka lagi tapi lebih mirip seekor harimau gila, selesai membinasakan tiga orang kakek berambut merah itu, badannya berputar kencang seperti roda kereta, kebetulan sekali tiga sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan cepatnya, tanpa mengenali siapa gerangan raut wajah para pendatangnya, sentilan jari maut digetarkan secara berulang kali.

Hamburan darah segar bermuncratan kemana mana sebelum ketiga sosok bayangan manusia itu sempat melakukan suatu gerak penyerangan, mereka sudah menggeletak ditanah dalam keadaan tak bernyawa.

Dua kali gebrakan maut yang menghasilkan kematian kematian yang tak terduga ini seketika menimbulkan kehebohan dalam gelanggang pertarungan, semua orang merasakan hatinya bergidik dan peluh dingin memb asai tubuhnya karena ngeri.

Dalam pada itu posisi orang yang kehilangan sukma sudah kepayahan sekali, dibawah serangkaian pukulan dan serangan dari Thian che kaucu yang gencar dan hebat, ia terdesak mundur berulang kali, makin lama keadaannya tampak semakin gawat dan berbahaya.

"Yu Pia lam, serahkan nyawamu"

Bentak Han siong Kie dengan suara keras bagaikan meledek.

Mengikuti berkumandangnya bentakan tersebut tiga buah pukulan dahsyat dilancarkan secara beruntun.

Thian che kaucu mendengus dingin, dia cepat-cepat melejit sambil melompat mundur sejauh satu kaki lebih, tubuhnya berputar satu lingkaran, setelah berubah posisi, dengan suatu gerakan yang lincah dan manis ia berhasil menghindari ketiga buah pukulan dahsyat yang mengerikan hati itu.

Waktu itu keadaan dari orang yang kehilaagan sukma sudah sangat payah, tubuhnya serasa tak sanggup berdiri tegak lagi, dengan agak sempoyongan teriaknya nyaring.

"Nak, bangsat ini jangan kau lepaskan, karena dia...."

Tapi sebelum menyelesaikan kata-katanya, segulung angin pukulan yang sangat aneh dan berwarna putih bening seperti pualam telah menggulung datang dan mengancam tubuh orang yang kehilangan sukma.

Menyaksikan pukulan yang sangat dahsyat itu Han siong Kie merasa amat terperanjat dia kenali ilmu tersebut sebagai ilmu Hua goan sin khi yang paling diandalkan oleh Thian che kaucu, tentu saja orang yang kehilangan sukma tak akan mampu menahan serangan yang amat dahsyat tersebut.

Dalam gugup dan gelisahnya, dia membentak keras, sepuluh jari tangannya dilontarkan kedepan menyerang dengan ilmu Tong kim ci yang brutal, tampaklah sepuluh gulung desingan angin jari yang tajam sekali berbarengan waktunya meluncur kemuka dan menyerang sekujur badan Thian che kaucu.

Dua kali jeritan kesakitan berkumandang hampir bersamaan waktunya ......

Orang yang kehilangan sukma terhajar telak oleh pukulan Hua-goan sin-khi yang dilancarkan Thian che kaucu itu sehingga mencelat sejauh beberapa kaki dan tak sanggup untuk bangkit kembali..Sedangkan Thian che kaucu sendiri terhajar pula oleh desingan angin jari dari Han siong Ki sehingga tergetar mundur sejauh dua kaki lebih dari posisinya semula.

Sebagaimana diketahui, ilmu jari Tong kim ci merupakan suatu ilmu jari yang kuat dan tajamnya luar biasa, tapi anehnya meski Thian che kaucu termakan oleh serangan tersebut toh badannya tetap tegap dan tak sampai roboh, kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang mengerikan.

Dengan satu loncatan secepat kilat Han siong Ki bergerak kedepan dan menghampiri orang yang kehilangan sukma yang menggeletak diatas tanah itu.

Terlalu banyak hutang budi yang ia terima dari perempuan misterius ini, lagipula hubungan mereka sudah lebih akrab daripada hubungan antara ibu dan anak, tidak heran kalau ia jadi sangat gelisah ketika dilihatnya perempuan itu terluka.

Sementara pemuda itu masih gelisah, tiba tiba terdengar seruan nyaring berkumandang disisinya.

"Menghunjuk hormat buat ciangbunjin"

"Saudara cilik engkoh tuamu sudah datang"

Dengan cepat Han siong Ki berpaling, dilihatnya Hek pek siang yau sepasang siluman hitam dan putih, Lam kay sipengemis dari selatan diiringi empat orang pengemis tua yang lain telah berdiri dihadapannya.

Buru buru serunya kepada Hek pek siang yau.

"Jangan lepaskan Thian che kaucu dari sini"

Sepasang siluman itu mengiakan, mereka lantas menerjang kearah Thian che kaucu dengan dahsyatnya.

Setelah gembong iblis itu terhadang, Han siong Kie baru mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan pengemis dari selatan, sapanya.

"Engkoh tua, kenapa engkaupun bisa muncul ditempat ini?"

"Aku dengar dari sepasang siluman yang mengatakan engkau lagi berangkat menuju benteng maut" . sahut pengemis dari selatan sambil mengetukkan toyanya ketanah.

"kebetulan sekali seorang muridku melaporkan bahwa pihak Thian che kau dengan memimpin ratusan orang jago lihaynya hendak menyerbu benteng maut, maka aku sipengemis tua dengan memimpin delapan puluh orang muridku siang malam berangkat kesini untuk memberi bantuan, kau tidak apa apa bukan?"

"Engkoh tua, terimakasih banyak atas perhatianmu ini"

Seru Han siong Kie kemudian dengan terharu.

"mari kita selesaikan dahulu persoalan yang ada didepan mata, kemudian baru.."

"saudara cilik, pihak kay pang kami lebih banyak menerima budi kebaikan darimu daripada apa yang bisa kami lakukan terhadap kalian, jangan kau ucapkan kata kata seperti itu"

Berbicara sampai disitu, dia lantas memberi tanda kepada keempat orang pengemis yang lain, kemudian mereka bersama sama terjun kedalam gelanggang pertarungan.

Setelah pengemis pengemis itu bertarung, orang yang kehilangan sukma baru berkata dengan suara lirih.

"Nak. Aku.... aku tak akan sampai mati, jangan kau urusi diriku lebih dulu, bantulah sucoumu dan tolonglah dia dari ancaman bahaya maut."

Untuk sesaat Han siong Kie berdiri tertegun, akhirnya dia putar badan dan menerjang kembali kearah kawanan jago yang mengerubuti pemilik Benteng maut....

Sementara itu sudah ada puluhan orang jago lihay dari Thian che kau yang telah terjun ke dalam gelanggang mengerubuti kakek pemilik benteng maut itu ....

Han siong Kiejadi marah sekali, dengan mata merah membara karena penuh kegusaran, ia turun tangan secara keji, siapa berani menghalangi perjalannya berarti mati, siapa berani menyentuhnya berarti mampus.

Dalam waktu singkat jeritan jeritan ngeri diiringi bentakan bentakan nyaring berkumandang memenuhi seluruh angkasa.

Gulungan angin pukulan, benturan senjata tajam menciptakan serangkaian pamandangan yang mengerikan sekali, suasana jadi kacau untuk sesaat percikan darah dan bergelimpangan mayat telah bertumpuk bagaikan sebukit kecil.

Entah berapa lama, pertarungan sengit itu berlangsung, tapi yang pasti sedikit demi sedikit posisi pihak Thian che kau mulai keteter dan terdesak hebat, banyak sudah anak buah mereka yang tewas dalam keadaan mengerikan.

Tiba tiba terdengar ledakan keras ditengah udara menyusul kemudian mengepul asap putih yang amat tebal.

Begitu mendengar suara ledakan, bayangan manusia bersimpang siur lari dengan kalut, kawanan jago dari perkumpulan Thian che kau itu berbareng mengundurkan diri ke arah jembatan batu lalu melarikan diri terbiri birit.

Dalam sekejap mata tujuh delapan bagian dari jago jago Thian che kau itu sudah kabur tak berbekas, yang tertinggal hanyalah mayat mayat manusia yang menumpuk semakin banyak.

Angin puyuh hujan badai telah berakhir, suasana disekitar benteng maut telah menjadi hening kembali, tapi didepan bangunan angker itu mayat telah menumpuk bagaikan sebuah bukit, darah mengalir dengan derasnya bagaikan sebuah sungai kecil.

Pemilik benteng maut tidak mengucapkan sepatah katapun, ketika musuh-musuhnya telah melarikan diri dia cuma menengadah sambil tertawa seram, kemudian dengan langkah cepat berjalan masuk kedalam benteng.

Manusia aneh berambut panjang yang terluka, kini bekerja keras membereskan mayat mayat itu dari depan pelataran benteng maut dan membuang semua mayat mayat itu ke dalam sungai.

Dipihak lain, Hek pek siang yau sedang menghampiri Han siong Kie, lalu setelah memberi hormat katanya.

"Tecu tidak dapat menyelesaikan apa yang ciangbunjin perintahkan, Thian che kaucu berhasil melarikan diri dari sini, silahkan ciangbunjin menjatuhkan hukuman kepada tecu berdua"

"Itu bukan kesalahan kalian, sana, bantulah membersihkan pelataran tempat ini dari mayat-mayat tersebut"

"Terima kasih atas kemurahan ciangbunjin"

Sepasang siluman itu segera mengundurkan diri dan membantu manusia aneh berambut panjang untuk menyingkirkan mayat mayat dari sekitar tempat itu .........

"Saudara cilik"

Tiba tiba terdengar pengemis dari selatan berseru dengan terburu buru "aku ingin mohon diri lebih dahulu"

"Kenapa? Masa engkoh tua akan..."

"Dipantai seberang sana masih terdapat anak murid dari pihak kay pang kami, aku harus menengok keadaan mereka lebih dulu, selain daripada itu engkoh tuamu juga tahu akan larangan dari benteng maut, aku rasa tetap tinggal disini malahan terasa kurang begitu leluasa"

"Tapi... jauh jauh engkoh tua berangkat kemari untuk memberi bantuan, bagaimanapun juga aku merasa amat berterima kasih sekali dengan bantuanmu itu"

"Aaaah... tak usah kau ucapkan kata kata seperti itu, bila dikemudian hari engkau butuhkan bantuan dari Kay pang, harap kirim kabar saja kepada kami, tanggung kami akan sebera datang membantu dirimu"

"Terimakasih banyak atas kebaikan engkoh tua"

"oooh... saudara cilik, bukankah engkau sedang mencari seorang perempuan yang bernama Ting Hong? Aku telah menurunkan perintah kepada seluruh anak muridku untuk mencari jejak orang itu di seluruh pelosok jagad, aku yakin tak lama kemudian pasti akan datang kabar gembira"

"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"

"Aaah, kamu ini sukanya kok berterima kasih melulu...? Haaaahhh... haaahhh... haaaaaahhhh... selamat tinggal"

"selamat tinggal"

Begitulah, dengan membawa serta empat orang pengemis tua itu, berangkatlah pengemis dari selatan menuju ke pantai seberang.

Dengan penuh rasa berterima kasih Han siong Kie memandang hingga bayangan punggung pengemis dari selatan lenyap dari pandangan, kemudian ia baru menghampiri orang yang kehilangan sukma sambil tegurnya dengan suara gelisah.

"Cianpwe, bagaimana keadaan lukamu..."

"Tidak terlalu membahayakan nak. aku telah menelan obat luka yang mujarab dari perguruan"

Sembari berkata dengan sempoyongan orang yang kehilangan sukma bangkit berdiri memandang darah yang berceceran membasahi per muiaan tanah, perempuan misterius itu kembal; berkata.

"Aaaaai...... Yu Pia-lam, Yu Pia-Iam...... rencanamu memang betul-betul keji dan tak berperi kemanusiaan!"

Han-siong Ki mengerutkan dahinya "Sampai sekarang aku masih tidak habis mengerti, kenapa manusia-manusia busuk semacam siluman kerbau siluman kuda itu dapat terlepas semua dan dalam penjara mereka?"

Katanya.

"Dua bersaudara Kun-kang-liong yang telah mampus itu adalah dua orang hiangcu dari perkumpulan Thian-che-kau yang sangat pandai ilmu berenang dalam air"

Demikian orang yang kehilangan sukma menerangkan.

"rupanya Thian-che kaucu cukup menguasai semua alat jebakan dan barisan pertahanan yang berada dalam benteng maut ini. maka dia siapkan kedua orang itu untuk menyelam kedalam sungai dan menyelundup masuk kedalam benteng lewat belakang, setelah berhasil memasuki benteng itu barulah mereka diperintahkan untuk melepaskan gembong-gembong iblis yang disekap disana, agar mereka bisa membantu serangan yang yang datang dari luar untuk menumpas benteng itu dari muka bumi......."

"Tapi....darimana Yu Pia-lam bisa menguasahi semua perangkap dan barisan yang terdapat dalam benteng maut?"

"Tentang soal ini, aku rasa engkau akan segera mengetahuinya begitu kau telah berjumpa dengan sucou mu, nanti!"

Kembali suatu teka-teki, Han-siong Kie memikirnya dengan perasaan tidak habis mengerti. Sementara dia masih melamun, Orang yang kehilangan sukma telah berkata.kembali.

"Nak, perintahkan Hek-pek-siang-yau untuk menunggu kita diluar benteng ini!"

Han-siong Kie mengangguk dan segera menyampaikan perintahnya kepada dua orang siluman tersebut.

Hek-pek-siang-yau menerima perintah dan segera menyeberangi sungai itu dan menunggu ketuanya dipantai seberang.

Sementara itu, manusia aneh berambut panjang telah masuk kedalam benteng begitu selesai membersihkan pelataran benteng maut dari gelimpangan mayat-mayat yang tertumpuk......

Maka setelah Hek-pek-siang-yau mengundurkan diri, Orang yang kehilangan sukma pun berkata dengan emosi.

"Nak, ada satu persoalan herjdak kutanyakan kepadamu, aku harap engkau bersedia menjawab sejujurnya!"

"Katakanlah, asal bisa kujawab tentu akan ku katakan sejujurnya!"

"Apakah sampai detik ini engkau masih membenci ibumu?"

"Yaa!"

Jawab pemuda itu setelah termenung sejenak.

"Aku memang membencinya, dan kenyataan ini tak akan kusangkal!"

"Apakah engkau tak dapat memaafkan semua, kesalahan yang pernah dilakukannya?"

"Aku rasa dalam soal ini kesalahannya sudah tak bisa dimaafkan lagi!"

Terbayang kembali pelbagai macam tindakan dan perbuatan dari ibunya si Siang-go cantik Ong Cui-ing dimasa lampau, tiba-tiba pemuda itu merasa matanya jadi merah dan nyaris air mata jatuh bercucuran, rasa sedih, benci dan pelbagai perasaan lain berkecamuk dalam benaknya.

Mendengar jawaban itu, orang yang kehilangan sukma menghela napas sedih, kembali ujarnya.

"Nak, seandainya perbuatan ibumu menikah lagi dengan Thian-che kaucu adalah lantaran dia mempunyai kesulitan yang mau tak mau harus berbuat demikian, selain itu diapun tak pernah ternoda kesucian badannya, apakah engkau juga tetap akan............"

"Jadi..... jadi cianpwe mengetahui semua tentang persoalan itu?"

Bisik Han-siong-Kie dengan wajah kaget bercampur tercengang.

"Yaa, aku mengetahui segala sesuatunya dengan teramat jelas!"

"Menurut apa yang boanpwe ketahui, Thian che kaucu adalah seorang laki-laki impotent yang sudah tak mampu berfungsi sebagai seorang laki laki sejati, dus berarti ibuku tak akan ternoda ditangannya, dan aku percaya akan hal ini. Tapi.........kendatipun demikian, ini bukan berarti bahwa semua perbuatan sinting, perbuatau biadap dan tidak mengenal aturannya bisa kuampuni dengan begitu saja, bagaimanapun ia tega membunuh anaknya sendiri, tega berbuat keji terhadap putranya sendiri, apakah perbuatan terkutuk semacam ini juga pantas diampuni?"

"Nak, bagaimanakah seandainya perbuatannya itu dilakukan oleh karena keadaan yang memaksa."

"Yaa, bagaimanapun bencinya Han-siong Kie terhadap ibunya, toh diantara mereka masih tersisa sedikit hubungan batin.

Si anak muda itu memang sangat membenci setiap perbuatan ibunya yapg dia anggap sabagai suatu perbuatan terkutuk meski demikian diapun selalu berharap agar bisa terjadi suatu kejadian diluar dugaan, yang dapat merubah segala sesuatu pandangannya itu.

Siapakah yang tidak mengharapkan mempunyai seorang ibu yang baik, seorang ibu yang bijaksana.

Demikian pula keadaannya dengan Han siong Ki kendati dia mempunyai seorang ibu yang berada dalam pandangannya jahat toh dihati kecilnya dia selalu berharap bahwa apa yang telah terjadi itu bukan suatu kenyataan, ia selalu berharap bahwa apa yang diketahuinya sekarang hanya pandangan yang keliru, pada kenyataannya dia mempunyai seorang ibu yang baik dan bijaksana.

Maka sewaktu mendengar pertanyaan tersebut dengan agak emosi diapun menjawab.

"Kalau memang semua perbuatan itu dilakukan karena terpaksa, boanpwe butuh bukti yang nyata, asal bukti itu bisa kuterima dengan jalan pemikiranku, tentu saja aku dapat menerimanya ..."

"Tentu saja segala sesuatunya akan disertai dengan bukti yang nyata"

Jawab orang yang kehilangan sukma.

Seraya berkata pelan pelan dia melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya.

Apa yang kemudian terlihat, membuat Han siong Ki menjerit kaget lalu secara beruntun mundur beberapa langkah dengan sempoyongan sekujur badannya menggigil keras.

-ooo0dw0ooo-BAB 93 HAN SIONG KIE hampir saja tidak percaya dengan apa yang terpapar didepan matanya, dia mengira dirinya sedang bermimpi, sebab hanya dalam alam impianlah apa yang dilihatnya sekarang bisa terjadi.

Tapi sang surya memancarkan sinarnya keseluruh jagad, gulungan ombak ditepi sungai menggelora dengan derasnya, semuanya adalah kenyataan semuanya sudah terpapar dihadapan matanya secara nyata dan tak mungkin bisa dibantah lagi.

Orang yang berdiri tepat dihadapanoya sekarang, bukan lain adalah ibu kandungnya, si siang go cantik ong cui ing.

Ia pernah membenci perempuan ini hingga merasuk ke tulang sumsumnya, bahkan hampir saja membinasakan dirinya, diapun pernah mencaci maki perempuan ini sebagai seorang perempuan berhati bisa, berhati sejahat kala yang paling beracun .......

Tapi sekarang, kenyataan telah berbicara lain, orang yang kehilangan sukma yang selama ini selalu dihormati dan disegani malahan dianggapnya sebagai pengganti dari orang tuanya, ternyata bukan lain adalah ibunya yang pernah dibenci, dimaki dan dikutuk.

Padahal sudah terlalu banyak budi yang dilepaskan orang yang kehilangan sukma kepadanya.

Ia merasa keadaan semacam ini seharusnya dapat ia ketahui semenjak dulu, tentu saja seandainya ia mau memikirkan serta memperhatikannya dengan seksama, sebab semua perbuatan maupun perkataannya telah menunjukkan siapakah dia, meski hanya secara lapat lapat.

"oooh.... ibu Anakmu benar benar tidak berbakti..."

Akhirnya pemuda itu menjerit dan lari ke depan kemudian jatuhkan diri berlutut dihadapan ibunya.

"oooh... ibu, ananda tidak tahu kalau engkau sangat menderita, bukannya memaklumi keadaanmu, aku malahan..."

Ibu dan anakpun saling berpelukan dan menangis tersedu sedu.

Kejadian seperti ini sungguh mengharukan sekali, jarang sekali di dunia ini berlangsung adegan sepedih ini, yaa...

siapapun yang berada disana waktu itu tentu akan ikut mengucurkan air matanya..

Lama...

lama sekali, akhirnya si siang go cantik ong cui ing berhenti menangis, katanya dengan pedih.

"Nak. dapatkah engkau memberi maaf kepada ibumu? Bersediakah engkau memaafkan semua perbuatan yang pernah kulakukan selama ini.?"

"oooh ibu"

Jawab Han siong Ki dengan sesenggukan.

"sudah sepantasnya kalau... engkaulah yang memberi ampun atas ketidakbaktianku terhadap ibu..."

Si siang go cantik oong cui ing kembali menghela napas.

"Aku tahu nak, bahwa engkau mempunyai banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan ku, ada banyak persoalan yang mencurigai hatimu yang ingin kau tanyakan kepadaku, dan sekaranglah saatnya untuk menggali semua rahasia itu, inilah saatnya untuk menerangkan semua persoalan kepadamu, hanya saja sebelum itu kita harus menjumpai sucoumu lebih dahulu"

"Serahkanlah benda yang diberikan anak Kun itu kepadaku nak"

Sela perempuan itu cepat.

Buru buru Han siong Kia merogoh sakunya dan mengambil keluar benda kecil yang diserahkan Thio sau kun menjelang ajalnya itu, kemudian dengan sangat hati hati diangsurkan bungkusan misterius itu kepada ibunya.

"lbu, benda inilah yang diberikan adik Kun kepadaku"

Dengan tangan gemetar si siang go cantik ong cui ing membuka bungkusan itu, setelah memeriksanya sekejap. benda itu segera dibungkusnya kembali.

"Anak Kun telah berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan besar bagi perguruannya, sekalipun harus mati, dia dapat mati dengan mata yang meram...."

Bisiknya dengan pedih.

Han siong Kie memandang ibunya dengan wajah termangu karena keheranan, tentu saja ia tak mengerti apa gerangan yang telah terjadi, meski begitu diapun tidak berhasrat untuk membuka mulutnya menimbrung, sebab dia tahu sebelum berjumpa dengan sucounya, tak nanti ibunya akan memberitahukan sesuatu apapun kepadanya.

Tapi...

mengapa mereka harus berjumpa dulu dengan sucou sebelum ibunya bersedia memberi keterangan?

Dia bingung dan benar benar merasa tidak habis mengerti.

Apalagi ketika sorot matanya terbentur dengan lengan ibunya yang kutung akibat membebaskan jalan darah yang tertotok.

dia merasakan hatinya amat sakit, sedih dan menyesal.

Sekarang, ia baru dapat meresapi apakah arti pengorbanan seorang ibu terhadap putranya, sekarang ia baru tahu betapa agungnya pengorbanan seorang ibu bagi anaknya Padahal beberapa waktu sebelumnya dia masih membenci bahkan mengutuk ibunya benarkah perbuatannya itu?

seharusnyakah seorang anak bersikap demikian terhadap ibunya?

sementara dia masih termenung, ong cui ing telah berbisik.

"Ayolah nak. ikutilah aku masuk kedalam benteng"

Ibu dan anakpun melanjutkan perjalanannya memasuki pintu benteng yang gelap dan serba menyeramkan itu.

Belum sampai beberapa langkah mereka berjalan, ketika bayangan manusia berkelebat lewat, menyusul kemudian manusia aneh berambut panjang itu tahu tahu sudah menghadang dihadapan mereka.

"siau sute"

Seru ci siang go cantik ong cui ing dengan perasaan sedih.

Mula mula manusia aneh berambut panjang itu mengawasi dua orang tamunya dengan sinar mata yang tajam dan menggidikkan hati, tapi kemudian setelah mundur dua langkah lebar, titik titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Siang-go cantik Ong Cui-ing segera angsurkan bungkusan kertas itu kepada adik seperguruannya, kemudian berkata .

"Sute, tolong engkau suka mengabarkan kepada suhu dia orang tua, katakanlah bahwa muridnya yang tak becus Cui-ing mohon bertemu!"

Manusia aneh barambut panjang itu menyambut angsuran bungkusan kertas itu, kemudian putar badan dan berlalu dari sana...........

Selang sesaat kemudian, manusia aneh berambut panjang itu muncul kembali, ia memberi tanda kode tangan kepada dua orang rekannya, kemudian pelan-pelan bergeser dari situ dan berlalu.

Han siong-Kie berdua juga tidak banyak berbicara lagi, dia berjalan mengikuti dibelakang ibunya menuju ke ruangan belakang dari bangunan benteng tersebut.

Rumah-ramah batu yang pernah digunakan untuk mengurung kawanan jago silat baik dari golongan putih maupun golongan hitam yang datang melakukan penyelidikan, kini berada dalam keadaan kosong melompong tanpa penghuni, keadaan ini mendatangkan suatu perasaan yang aneh dan seram bagi siapapun yang melihatnya.

Apalagi ketika Han-siong Kie membayangkan kembali pengalamannya ketika berapa kali berkunjung kebenteng maut, perasaan hatinya semakin murung dan pedih......

Ketika, untuk pertama kalinya dia berkunjung ke sana, sebelum masuk ke dalam benteng, tubuhnya sudah terhajar sehingga mencelat dan tercebur ke dalam sungai, untung ditolong oleh Go-Siau-bi dan dayangnya sehingga lolos dari bahaya maut.

Ketika berkunjung untuk kedua kalinya, dia datang atas nama ahli waris dari Mo-tiong-ci-mo dengan nama samaran Malaikat penyakitan, tapi akhirnya gagal dan tertawan, untung ditolong o-leh Tong Hong-hui kemudian dibebaskan jalan darahnya oleh ibunya yang untuk itu harus mengorbankan pula sebuah lengannya.

Ketika berkunjung untuk ketiga kalinya, ia telah berbasil menguasahi ilmu sakti Si-mi sinkang waktu itu besar sekali hasratnya untuk membalaskan dendam bagi kematian keluarganya, tak tahu nya orang yang dikira musuh besarnya ternyata tak lain adalah guru dari ayah dan ibunya......

Dan sekarang, dia berkunjung untuk ke empat kalinya, dan saat ini semua teka teki yang membingungkan hatinya akan segera terang.

Tapi keadaannya pada saat ini sudah berbeda jauh, Tonghong-Hui telah meninggal dunia orang yang ada maksud, yang ternyata adalah adiknya juga sudah meninggal dunia sedang Go siau bi, sampai kini masih belum ketahuan nasibnya.........

berpikir kesemuanya itu, tak kuasa lagi dia mengucurkan air mata kesedihan.

Apa yang dialaminya selama ini dirasakan bagaikan sebuah impian yang menakutkan dan mengerikan hatinya, tapi impian tersebut belum juga berakhir, dan ia harus mengalami selanjutnya.......

bagaimanakah akhir ceritanya?

Tak seorangpun yang bisa memecahkan persoalan itu .

Diruang tamu belakang benteng, Pemilik benteng maut duduk bersandar dikursi kebesarannya dengan mata terpenjam, manusia yang misterius dan disegani banyak orang ini tampak jauh lebih layu, tua dan penuh keriput.

"suhu"

Dengan hormat bercampur terharu si siang go cantik ong cui ing jatuhkan diri berlutut dihadapannya.

"sucou, cucu murid menghunjuk hormat untukmu"

Han siong Ki ikut berlutut pula sambil memberi hormat.

Dengan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu pemilik benteng maut mengawasi wajah ibu dan anak itu lekat lekat, akhirnya sinar mata yang tajam itu berhenti diatas wajah Han siong Ki.

Kerutan wajah yang tua dan penuh keriput itu berkejang terus seperti sedang mengendalikan emosi dihatinya, lalu dengan suara dalam ujarnya.

"Anak Ki, angkat kepalamu"

Han siong Ki menurut dan mengangkat kepalanya, tapi menjumpai raut wajah sucounya yang keren dan berwibawa itu, bergidik juga hatinya sehingga bulu kuduknya pada bangun berdiri, badannya gemetar dan merinding.

Sementara sianak muda itu masih termenung, Pemilik benteng maut telah berkata lagi dengan keren.

"Anak Ki, bukanlah engkau dan sukohmu berangkat barsama meninggalkan benteng ini? Apa sebabnya kalian berpisah ditengah jalan?"

Mendengar perkataan itu Han siong Ki merasakan sekujur badannya gemetar keras, seakan akan ada sebilah pisau tajam yang menusuk diatas mulut lukanya membuat pemuda itu melongo, gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dari pertanyaan yang diajukan kakek itu, jelaslah sudah bahwa pemilik benteng maut masih belum mengetahui hubungan diantara dia dengan Tonghong Hui, tentu saja tak mungkin baginya untuk mengakuinya secara terus terang, tapi untuk berbohong tentu saja ia tak berani, maka pemuda itu hanya membungkam dalam seribu basa.

"Ayo bicara "

Kembali pemilik benteng maut membentak.

Han siong Ki merasakan sekujur badannya bergetar keras, hampir saja air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya, dia ingin menangis sepuas-puasnya tapi ia tak dapat berbuat demikian, maka kepalanya ditundukkun rendah rendah, ia tak berani beradu pandangan lagi dengan sorot mata kakek gurunya yang tajam itu.

Tiba tiba nada suara pemilik benteng maut berubah jauh lebih lembut lagi kembali ia berkata.

"sejak kecil bibi Hui mu sudah kehilangan ibunya, dia sudah terlalu biasa hidup dimanja sehingga wataknya agak tinggi hati dan mau menangnya sendiri, apakah engkau cekcok dengan bibimu?"

"Tidak..."

Sahut Han siong Kie dengan perasaan seperti diris-iris dengan pisau.

"Lalu apa sebabnya kalian berpisah?"

"Tentang soal ini..."

"Tak usah ragu ragu, katakan saja secara berterus terang"

"Bee.... bee... begini ceritanya, setelah meninggalkan benteng, sewaktu aku lagi mengejar seseorang kutinggalkan dia sendirian, tapi ketika aku kembali lagi kesana, sukoh telah lenyap tak berbekas"

"Benarkah kejadiannya adalah demikian?"

"Benar"

Hari siong Kie terpaksa harus mengeraskan hatinya untuk mengakuinya. Dengan loyo pemilik benteng maut bersandar diatas kursinya, kemudian dengan sedih ia berkata.

"Tiga hari berselang, ia kembali ke benteng seorang diri. setelah menangis setengah harian didepan jenasah ibunya, tiba tiba dia menghantam ubun ubun sendiri dan bunuh diri........"

Berbicara sampai disini, ia sudah sesenggukan menahan isak tangisnya maka pembicaraanpun segera berhenti.

Han siong Kie menjerit keras, setelah muntah-muntah darah segar, tubuhnya terjengkang ke belakang dan jatuh tak sadarkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, ketika ia sadar kembali suasana disekitar tempat itu sudah berubah, ia tidak berada didalam ruangan lagi melainkan menggeletak diatas batu karang diluar pintu benteng disampingnya duduklah ibunya yang basah oleh air mata, Cepat pemuda itu merangkak bangun, serunya.

"Oooh.....,..ibu, ananda tidak becus...?"

"Nak, terangkanlah hatimu, segala sesuatunya telah berlalu......tenangkanlah hatimu!"

"Dimanakah sucou?"

"Karena kematian bibi Hui mu, sucou merasa amat sedih sekali, karena sejak kematian nenek gurumu ia telah melimpahkan segenap kasih sayangnya kepada putrinya, tidak heran kalau kematian yang menimpa bibi Hui mu dirasakan olehnya sebagai suatu pukulan batin yang amat besar.,...."

"Ibu, sekalipun aku harus mati seratus kali juga tak dapat membayar hutang ini...."

"Nak, engkau jangan terlampau emosi, telah kuberitahukan semua kejadian yang sebenarnya kepada dia orang tua, dan ia telah memaafkan dirimu.."

"Ibu, sekalipun sucou dapat memaafkan ananda, tapi ananda tak dapat memaafkan diri sendiri"

Bisik Han-siong Ki dengan air mata yang bercucuran semakin deras.

"Sudahlah, engkau tak usah mengucapkan kata kata bodoh seperti itu, sebab kalau ingin mencari siapa yang salah, maka akulah orangnya, sudah sepatutnya bila kuberitahukan segala sesuatunya itu kepadamu sedari dulu, tapi.....aaai, itupun terbentur oleh peraturan perguruan yang terlalu ketat!"

"Peraturan perguruan?"

"Ya, peraturan perguruan!"

"Ananda tidak paham dengan ucapan ibu!"

Dengan penuh kasih sayang si Siang-go cantik Ong Cui-ing membelai rambut anaknya lalu berkata dengan lembut.

"Nak, suocumu telah memberi ijin kepada ibu untuk menceritakan semua kejadian ini kepadamu..."

"Ooooh...ibu, ananda sudah amat lama sekali menunggu datangnya saat seperti ini!"

Jawab Han siong Ki penuh emosi, air matanya berderai membasai pipinya. Setelah termenung beberapa saat lamanya, si-Siang-go cantik Ong Cui-ing pun mulai bercerita.

"Nak, peraturan perguruan dari benteng maut sangat ketat, ilmu silat dari perguruan kami tidak akan diwariskan kepada siapapun termasuk kepada anaknya sendiri, sebelum mendapat persetujuan dari pemilik benteng, selain itu dilarang pula menyiarkan semua kegiatan dan kejadian yang berlangsung didalam benteng, barang siapa melanggar peraturan ini maka dia akan dijatuhi hukuman mati"

"oooh... apakah peraturan itu tidak terlampau kelewat batas..."

Bisik Han siong Ki sambil menarik napas dingin.

"Nak, engkau tak boleh memberi penilaian dengan begitu saja, dengarkan dulu perkataanku. oleh sebab itulah orang persilatan cuma tahu bahwa didunia ini terdapat sebuah benteng yang bernama benteng maut, tapi tak seorangpun yang tahu siapakah pemilik benteng itu dan berapa orang anak muridnya........"

Meskipun agak bingung dan tidak begitu mengerti, namun Han siong Ki mengangguk juga. Terdengar si Siang go cantik melanjutkan kembali kata katanya.

"Setiap anggota benteng maut, bila telah tamat belajar silat maka mereka akan meninggalkan benteng untuk hidup di keluarga masing masing, tapi tiap tahun bulan delapan masing masing anggota benteng akan berkumpul selama satu bulan didalam benteng sambil memperbincangkan kemajuan yang berhasil mereka capai disamping mendapat pula tambahan ilmu ilmu baru dari gurunya. Begitulah, pada bulan delapan dua puluh tahun berselang kamipun berkumpul semua didalam benteng maut, waktu itu bibi guru mu belum lahir, dalam benteng kecuali nenek gurumu hanya siau susiok mu seorang yang mendampingi. Tapi satu peristiwa yang mengerikan dan serba misteriuspun berlangsung dalam pertemuan itu."

Tiba tiba saja Han siong Kie merasakan semangatnya berkobar kembali, dia segera memusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan cerita ibunya dengan lebih seksama.

setelah tarik napas panjang, ong cui ing melanjutkan kisahnya lebih jauh.

"Pada saat itulah tiba tiba nenek gurumu ditotok jalan darahnya oleh sejenis ilmu totokan khusus yang sangat aneh sehingga menyebabkan kejernihan otaknya terganggu."

"siapakah yang melakukan perbuatan itu?"

Seru Han siong Kie dengan perasaan kaget.

"siapakah yang berilmu selihay itu sehingga dapat menyusup ke dalam benteng maut..."

"Masih mendingan kalau cuma begitu saja, ma lahan orang itupun mencuri juga kitab pusaka ilmu silat Kui-kok-cian-su yang merupakan pusaka dari perguruan kami!"

"Oooh......"

Pemuda itu berseru tertahan.

"Tak terkirakan rasa gusar kakek gurumu waktu itu, beliau segera menitahkan toa-supekmu, ayahmu, aku dan Thio susiokmu berempat untuk menyelidiki peristiwa ini sampai jelas dalam tiga tahun.............."

"Bagaimana akhir dari pencarian itu?"

"Tiga tahun sudah lewat, tapi empat orang bersaudara seperguruan tidak bernasil memecahkan teka-teki itu"

"Waaah......peristiwa itu kan jadi suatu teka-teki yang semakin membingungkan hati?"

"Dengarkan dulu perkataanku, waktu itu kebetulan sekali nenek gurumu meninggalkan dunia setelah melahirkan, kakek gurumu merasa sedih sekali, setelah membalsem jenasah nenek gurumu dengan obat anti pembusukan, beliaupun menyimpannya didalam sebuah kamar rahasia dalam benteng, sucou mu bersumpah tak akan meninggalkan benteng sejak itu, dia akan mendampingi jenasah istrinya sampai akhir tua disamping merawat bayinya, dan bayi itu tak lain adalah bibi gurumu Tonghong Hui..........."

Han-siong Ki mengeluh dengan penuh penderitaan, dia mengerang seperti orang kesakitan.

"Begitulah"

Kata Ong Cui-ing "

Karena sedang tertimpa kesedihan maka dengan suara keras sucou mu memerintahkan kami empat kakak bsradik seperguruan untuk melanjutkan penyelidikan itu, jika dalam dua tahun kami belum berhasil juga menemukan pembunuh yang melakukan perbuatan keji itu, maka kami tak usah kembali kebenteng, semua hubungan perguruanpun ikut terputus dengan begitu saja..

"Dua tahun kemudian, apakah sucou benar-benar telah turun tangan membinasakan ayah dan susiok sekalian?"

Hansiong Ki bsrtanya deagan suara agak gemetar.

"Tidak, sucoumu sebelum masuk kedalam benteng maut mempunyai sebuah julukan dalam dunia persilatan, orang persilatan waktu itu menyebutnya sebagai Hau-thian-it-koay, dari sini bisa diketahui bahwa wataknya aneh sekali, Aaaai..........padahal apa yang dikatakan waktu itu cuma katakata dikala sedang marah, sungguh tak disangka kejadian itu harus diakhiri dengan malapetaka yang jauh lebih besar..."

Han siong Ki merasakan peredaran darah dalam tubuhnya mengalir semakin cepat, jantungpun ikut berdebar dengan kerasnya.

Selapis rasa sedih murung, benci dan penasaran menyelimuti wajah siang go cantik ong Cui ing yang lembut, sambil menggertak gigi katanya lebih jauh.

"Tak nyana bajingan keparat yang terkutuk itu sudah menyaru sebagai sucou mu dan turun tangan keji untuk membantai keluarga Han serta keluarga Thio, aku rasa apa yang terjadi ketika itu sudah disampaikan Thio susiok kepadamu.

Kebetulan hari itu aku ada urusan tak ada dirumah, ketika aku sampai dirumah, semua anggota perkampungan telah dibantai orang secara keji dengan seorang manusiapun tak ada yang dibiarkan hidup sekalipun Thio sau kun juga sudah senin kemis berbahaya sekali nyawanya."

"Siapakah pembunuh keji itu?"

Teriak Han siong Ki dengan suara gemetar, sinar mata yang menggidikkan hati memancar keluar dari matanya. Siang go cantik ong cui ing tidak menjawab pertanyaan itu, dia berkata lebih jauh.

"Sungguh kasihan susiokmu si tangan naga beracun Thio Lin, dia selalu beranggapan bahwa sucoumu yang melakukan kesemuanya ini, tak sepatah kata menyesalpun yang dia ucapkan, bahkan akhirnyapun bunuh diri untuk mewujudkan kata kata gurunya..."

Han siong Ki mundur dengan sempoyongan, hampir saja dia tak mampu berdiri tegak.sekarang ia baru mengerti kenapa sesaat menghembuskan napasnya yang penghabisan, Thio susioknya selalu berkata bahwa apa yang terjadi merupakan perintah dari gurunya, sekarang diapun baru mengerti kenapa susioknya melarang mayat mayat mereka dikubur kedalam tanah, rupanya sampai saat yang terakhirpun ia masih belum tahu latar belakang dari peristiwa berdarah itu.

Sesaat lamanya, sianak muda itu termangu mangu dan tak tahu apa yang musti diperbuatnya.

"sangat kebetulan sekali"

Demikianlah siang go cantik ong cui ing melanjutkan kembali ceritanya "tiba-tiba toa supekmu datang kerumah secara tak terduga, dia menasehati aku agar ikuti dia untuk berdiam sementara waktu di perkampungan Sim-keh-ceng, oleh karena pada waktu itu aku sedang mengandung adikmu Han-siong Hiang, disamping Thio Saukun yang keadaannya senin kemis sangat membahayakan keselamatannya, maka dalam keadaan sedih, kalut dan tidak berketentuan kusanggupi keinginan nya itu......."

Ketika berbicara sampai disini, rasa kesal dan gemasnya semakin tebal menyelimuti wajahnya, ia berhenti untuk bertukar napas sejenak, kemudian sambungnya lebih jauh.

"Sejak awal terjadi peristiwa berdarah itu, aku sudah merasa yakin bahwa semua tindak kekejian tersebut bukan hasil perbuatan dari sucou mu, sebab pertama meski wataknya aneh dan tak bisa diraba dengan perasaan kita, pada hakekatnya dia tidak kejam, tak mungkin ia gunakan perbuatan yang kejam dan brutal itu untuk menghadapi anak murid beserta keluarganya, kedua ia sudah bersum pah tak akan meninggalkan benteng walau satu langkah pun, ketiga seandainya pembunuhan brutal itu benar-benar dilakukan olehnya tidak nanti dia akan meninggalkan lambang tengkorak mautnya diatas dinding ruangan....."

"Lalu siapakah pembunuh keji yang sebetulnya itu....."

Siang-go Cantik Ong-Cui-ing tidak menjawab pertanyaan itu, tapi dia melanjutkan kembali kata-katanya.

"Tak lama kemudian, toa supekmu meminang aku, dia mohon agar aku bersedia menikah dengan nya......"

"Apa? Toa supek yang meminang ibu?"

Han siong-Kie tercengang bercampur tidak habis mengerti. Perempuan itu mengangguk.

"Yaaa, toa supekmu! Dan kusanggupi permintaan itu, secara lapat lapat aku mempunyai suatu perasaan yang aneh sekali, seolah-olah aku merasa bahwa aku dapat menemukan pembunuh brutal yang sebenarnya itu......"

"Tapi......tapi.....bukankah ibu menikah lagi dengan......"

"Nak, kau maksudkan Yu Pia lam.....? "tukas Siang-go cantik Ong Cui ing sambil tertawa pedih.

"Yaa, bukankah ibu kawin lagi dengan Yu Pia lam?"

"Yu Pia-am tak lain adalah toa supekmu itu!"

Han siong Kie terperana, dia mundur selangkah dengan wajah tercengang dan perasaan tidak habis mengerti.

"oooh... bukankah Toa supek berasal dari marga Sim..."

Kembali dia berguman.

"Itu cuma nama samarannya belaka, yang benar dia pribadi tak lain adalah Thian che kaucu Yu Pia lam, ketika menggunakan nama samaran belajar silat dalam benteng maut, sebenarnya tak lain karena ia sedang melaksanakan suatu rencana busuk yang amat keji dan teramat brutal ....."

"oooh......"

"Membunuh ibu guru, mencuri kitab pusaka Kui kok kiam su, menyaru sebagai suhu melakukan pembantaian keji terhadap anggota keluarga Han dan Thio bukan lain adalah perbuatannya semua Dialah pembunuh keji yang terkutuk itu"

Seketika itu juga Han siong Kie merasakan darah yang beredar dalam tubuhnya mengalir semakin cepat, matanya jadi merah membara, otot otot hijau pada menongol keluar semua, dari sini dapat diketahui betapa gusar dan bencinya anak muda itu.

"Yu Pia lam... wahai Yu Pia lam ... nantikanlah saat pembalasanku...."

Teriaknya sambil melepaskan sebuah pukulan ke udara kosong.

"Perkumpulan Thian che kau... haaahhh.... haaahh.... haahh.... tunggu saja kalian semua, jika aku Han siong Kie tak dapat mencincang tubuhmu sehingga hancur berkepingkeping, bila aku membiarkan ada manusia yang hidup lagi d idalam perkumpulan Thian che kau, aku Han siong Kie bersumpah tak akan menjadi manusia lagi"

Siang go cantik ong cui ing yang berada disisinya buru buru menghiburnya dengan kata kata lembut.

"Nak. tenangkan dulu hatimu, dengarkan dulu kisahku sampai selesai..."

Setelah pemuda itu bisa menenangkan perasaannya, perempuan itupun meneruskan kembali penuturannya .

"Sejak kuketahui asal usulnya yang sebenarnya itu, dalam hati aku merasa semakin yakin bahwa apa yang kupikirkan tak bakal salah lagi, cuma sayang tidak berhasil kudapatkan bukti bukti yang nyata, apalagi suhu memerintahkan agar benda mustika yang dicuri orang harus ditemukan kembali, sebab itulah selama belasan tahun kemudian aku hidup bagaikan seseorang yang kehilangan sukma, sambil menahan semua penghinaan dan penderitaan aku melanjutkan terus hidupku. selama ini Yu Pia Lam sendiri selalu menganggap Thio sau kun sebagai dirimu, karena itulah aku tidak ingin bila asal usulmu yang sebenarnya sampai ketahuan orang, sebab bila rahasia ini sampai diketahui orang, maka akibatnya benar benar sukar dilukiskan dengan kata-kata..."

"Oleh karena itu maka ibu tak mau mengakui diriku sebagai putramu lagi.....?"

"Benar nak. aku kuatir bila rahasia itu ketahuan maka jiwamu terancam bahaya, maka aku lebih baik tidak mengakuinya daripada engkau terbunuh ditangannya. Untunglah akhirnya kau berhasil memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, sehingga pembalasan dendam atas permusuhan yang dalamnya melebihi samudra ini berhasil juga kita tuntut"

"Ibu....." -ooo0dw0ooo-

Jilid 46

"TAHUKAH engkau nak, mengapa Yu Pia Lam menyusup ke dalam perguruan benteng maut dan belajar silat disana?"

"Tentang persoalan ini, ananda sudah pernah mendengarnya"

"Ooooh.... engkau sudah tahu?"

"Yaa, ananda berhasil mengetahui hal ini dari keterangan yang diberikan oleh Hun si mo ong, dia bilang gurunya Yu Pia lam bernama Huan yu it koay Manusia paling aneh diseluruh jagad ingin merajai dunia ini, tapi dalam suatu pertarungan oleh sutay sang cou ouyang Beng dia kena dihantam sampai menjadi cacad, maka dari itu dia hendak membalas dendam atas sakit hati ini."

"Yaa, memang begitulah kejadiannya nak"

Selang sesaat kemudian, si anak muda itu kembali bertanya.

"ibu, kematian dari adik Kun dan adik Hiang"

Menyinggung kembali soal tersebut, siang go cantik ong cui ing menunjukkan wajah yang sedih dan air matapun tanpa terasa mengucur keluar membasahi pipinya, dengan agak sesenggukan dia berkata.

"sau kun mendapat perintahku untuk memasuki ruang rahasia dari Yu Pia lam guna melakukan pemeriksaan yang seksama, akhirnya dari dalam kamar rahasianya itu dia berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Kui kok cim su tersebut, sayang operasi ini kurang cermat dimana jejaknya akhirnya ketahuan, diapun dikejar kejar kemudian terbunuh. Dengan gagalnya operasi dari sau kun maka keadaanku dan adik Hiang mu juga terancam bahaya maut, akhirnya Han siong Hiang tertimpa pula bencana dan menemui ajalnya.....nah, begitulah nak, demikianlah kejadian yang telah kami alami sampai saat terakhir"

Han siong Ki berdiri sambil menggertak gigi menahan pergolakan emosi dalam hatinya, lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa sebelum kemudian katanya.

"ibu, ananda ingin mohon diri lebih dahulu"

"Apa yang hendak kau lakukan...?"

Tegur perempuan itu dengan perasaan cemas.

"ibu, hutang darah harus bayar dengan darah, hutang nyawa bayar dengan nyawa, sekarang juga akan kutuntut kembali hutang darah dan hutang nyawa itu dari tangannya"

"Cukupkah kekuatanmu seorang. Yakinkah engkau akan berhasil dengan kekuatan seorang diri?"

"Cukup, lebih dari cukup Toh Hek pek siang-yau sepasang siluman itu akan menyertaiku dalam perjalanan ini"

"Nak, ingatlah selalu, jangan menilai terlalu rendah kekuatan dari pihak Thian che kau"

"Ananda mengerti, dan ananda akan berusaha menghadapi mereka dengan sebaik mungkin"

"Sebelum melakukan sesuatu rencana, terlebih dulu susunlah siasatmu dengan sebaik mungkin, karena melakukan tindakan secara sembrono tanpa diimbangi dengan rencana yang matang, bukanlah ciri dari seorang laki laki pintar"

"Ananda mengerti, dan ananda akan selalu memperhatikan nasehat dari nasehat ibu ini"

"Untuk membalaskan dendam bagi keluarga, dendam bagi suami dan hutang nyawa bagi kematian anak perlukah aku ikut serta dalam usaha pembalasan dendam ini?"

Kembali si siang go cantik ong cui ing bertanya dengan suara lirih.

"Tidak ibu tidak usah ikut serta sepantasnya kalau ibu tinggal.disamping sucou dan merawat dia orang tua, sebab bagai manapun juga kekuatan siau susiok seorang tak mungkin bisa mengurusi seluruh benteng yang amat luas itu, andaikata pihak Thian che kau serta gembong gembong iblis yang lolos dari jaring itu melakukan penyerbuan lagi ke benteng maut, bukankah benteng maut akan terancam kehancuran total ditangan orang orang itu?"

"Tentang soal ini..."

"oooh... ibu, apakah engkau tidak bersedia mengabulkan keinginan ananda untuk membalas dendam berdarah ini seorang diri ....? Bu, kabulkanlah keinginanku ini"

Untuk sesaat si siang go cantik ong cui ing merasa ragu ragu dan sukar mengambil keputusan tapi akhirnya dia toh mengangguk juga.

"Baiklah nak. pergilah seorang diri ibu hanya bisa bantu berdoa bagi kesuksesanmu, semoga usahamu untuk membuat perhitungan ini dapat berjalan dengan lancar tanpa rintangan apa apa, selesai dengan tugasmu itu cepatlah kembali ke benteng maut dan temui aku ...."

"Tentu saja ibu, bila usahaku untuk membalas dendam telah berhasil, ananda pasti akan pulang kemari dan akan kulayani ibu sepanjang tahun"

"Nak. aku kuatir...."

"Kenapa ibu?"

"Aaaah .....tidak apa apa, pergilah cepat ibu sudah menerima rasa baktimu itu meski baru terwujud dalam keinginan"

Rasa benci dan semangatnya ingin membalas dendam berkobar di dada Han siong Kie, meski berat rasanya untuk perpisahan tersebut, akan tetapi bagaimanapun juga membalas dendam adalah suatu tugas yang berat dan harus segera dilaksanakan.

Dengan berat hati, pemuda itupun berpamitan kepada ibunya dan berangkat meninggalkan benteng maut.

Sekarang, semua duduknya perkara sudah dibikin jelas, dia tak perlu melakukan penyelidikan lagi secara samar samar tanpa tujuan tertentu, sekarang ia sudah mempunyai sasaran yang pasti, meski terlampau banyak kesedihan dan kemurungan yang membebani pikiran maupun perasaannya, akan tetapi untuk sementara waktu dia dapat mengesampingkan kesemuanya itu dari dalam pikirannya.

Setelah menyeberangi jembatan batu, pemandangan pertama yang menyentuh matanya adalah gundukan tanah pekuburan dari Tonghong Hui yang berada dipuncak batuan cadas.

Untuk kesekian kalinya ia merasa hatinya terluka, hatinya terasa amat sakit seakan akan darah bercucuran tiada hentinya.

Dia melompat naik keatas puncak batuan cadas itu, lari kehadapan kuburan Tonghong Hui dan menggunakan cucuran air matanya serta bisikan hatinya sebagai sesaji dalam upacara sembahyang itu Lama...

lama sekali....

ketika tiba tiba serentetan suara teguran berkumandang memecahkan kesunyian.

"Tecu berdua menghunjuk hormat buat ciangbunjin"

Hek pek siang you sepasang siluman hitam.putih munculkan diri dibelakang tubuhnya dan berdiri menanti di sampingnya.

Han siong Kie menengadah dan memandang dua orang anak buahnya itu sekejap.

akhirnya setelah menghela napas panjang katanya dengan lirih.

"Marilah kita pergi ...."

Dia ulapkan tangannya dan bergerak lebih dahulu menuruni bukit batuan cadas tersebut -ooo0dw0ooo-BAB 94 BENTENG MAUT sudah semakin jauh ditinggalkan, tanah pegunungan terbentang didepan mata, sementara Han siong Kie bertiga melakukan perjalanan cepat, tiba tiba terdengar suara teguran yang merdu berkumandang dari kejauhan.

"Titi ...... sungguh payah sekali aku mencari jejakmu"

Bersamaan dengan berkumandangnya ucapan itu, seorang nyonya cantik berbaju merah telah muncul dihadapan mereka.

Siapakah dia?

Tak lain tak bukan adalah ratu tawon Buyung Thay adanya.

Kemunculan Buyung Tay yang amat tiba tiba ini sama sekali diluar dugaan Han siong Kie, dia tak menyangka kalau perempuan cantik itu akan munculkan diri dalam keadaan seperti ini.

Hek pek siang you yang berdiri dibela kang ketuanya segera berbisik pula dengan suaru lirih.

"Dia benar benar amat cantik, bagaikan bidadari yang baru dari khayangan"

"Yaaa, dia memang cantik jelita bak bidadari, tak kusangka kalau didunia ini terdapat perempuan secantik itu"

Han siong Ki rada tertegun, akhirnya dia maju menyongsong kedatangannya dengan tergopoh-gopoh, ucapnya.

"Cici, bukankah hari itu kau ada dibukit si sin gan..."

"Yaa adikku"

Sahut Buyung Thay dengan wajah menyesal "pertama tama aku hendak minta maaf dulu kepadamu, sebab aku tak dapat menyelesaikan tugas yang kau bebankan padaku..."

Paras muka Han siong Ki tiba tiba saja berubah sangat hebat.

"Apakah Go siau bi telah..."

"Aaai... dia sudah lenyap tak berbekas. Aku tak tahu sekarang dia berada dimana?"

"Apa? jejaknya sudah lenyap tak membekas...."

"Betul, dia sudah lenyap secara misterius, hilang lenyap dengan begitu saja"

"Aaah ..... mana mungkin? Bukankah isi perut nya terluka parah, lagipula selembar jiwanya terancam bahaya maut"

Buyung Thay menghela napas sedih.

"Aaaai .....dua hari setelah engkau pergi, aku merasa sangat kelaparan, perutku begitu laparnya sehingga ingin pergi ke belakang untuk mencari sedikit makanan guna menangsal perutku yang lapar, hanya setengah perminum teh aku pergi, tapi sewaktu aku kembali lagi ke dalam kamar, ternyata ia sudah tak ada dalam kamarnya lagi"

Han siong Kie menyeka keringat dingin yang membasahi jidatnya, kembali serunya.

"Dengan mengandalkan obat Ci goan wan yang kau berikan itu, jiwanya masih bisa bertahan selama tujuh hari lagi, tapi setelah jejaknya lenyap dengan begitu saja, bukankah berarti bahwa keselamatan jiwanya jauh lebih membahayakan daripada selamat.? Aaaah... bagaimana sebaiknya sekarang?"

"Menurut penglihatanku, belum tentu jiwa nona Go terancam oleh mara bahaya"

"Dengan dasar apakah engkau bisa berkata demikian?"

"Siapa tahu kalau orang yang menculiknya itu bisa menyelamatkan selembar jiwanya?"

Tiba tiba saja Han siong Kie merasakan hawa amarahnya meluap dari dalam dadanya, otot otot hijau pada menongol semua karena mengendalikan napsu marah yang memuncak.

sorot matanya tajam menggidikkan hati, dengan suara yang dingin dan menyeramkan segera teriaknya "Cepat kau katakan, sebenarnya siapa yang telah menculik pergi nona Go...?"

"Jangan marah-marah dulu, coba kau periksalah isi surat ini, tentunya setelah membaca surat tersebut akan kau ketahui pula siapakah pelaku dari penculikan ini"

Seraya berkata Buyung Thay iantas mengangsurkan secarik kertas surat kedepan.

Dengan tergopoh gopoh Han siong Kie menyambar surat itu, lalu dibacanya dengan cepat.

Maka terbacalah isi surat tersebut kira kira berbunyi demikian.

"Surat ini tertuju buat manusia muka dingin Han siong Ki.

Dalam sepuluh hari kunantikan kedatanganmu diatas tebing Kiu ci gan, jangan lupa membawa serta kitab sarung tangan Hud jiu po pit untuk menebus nyawa istrimu Go siau bi.

selewatnya balas waktu itu tak akan dilayani.

Dibawah surat itu tiada tanda nama, akan tetapi dilukis sebiji uang kuno.

selesai membaca surat tersebut, Han siong Ki segera mengerutkan dahinya rapat rapat, tegurnya kemudian.

"Cici ..... tahukah engkau dimanakah letaknya tebing Kiu ci gan yang dimaksudkan itu?"

"Tebing Kiu ci gan letaknya diatas sebuah bukit yang terjal, kurang lebih lima puluh li dibelakang Lian huan tan"

"Tahukah engkau uang kuno tersebut lambang dari jago silat manakah dalam dunia persilatan ini?"

"Tentang soal itu... rasanya selama ini belum pernah kudengar orang membicarakannya"

"Aku tahu"

Tiba tiba saja ucapan tersebut muncul dari belakang, suaranya ketus, dingin dan menggidikkan hati.

Ketika semua orang berpaling maka terlihatlah seorang nyonya berkerudung sudah berada kurang lebih tiga kaki dibelakang mereka berada.

Han siong Ki ingin menggerakan bibirnya untuk menegur, tapi nyonya berkerudung itu sudah menggoyangkan tangannya dengan cepat.

"Pemilik uang kuno tersebut adalah seorang yang bernama Tong po lo sat iblis perempuan uang kuno, dia adalah seorang jago lihay pada enam puluh tahun berselang yang pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan karena kelihayannya"

"oooh.... maksudmu manusia yang bernama Tong po lo sat itu adalah seorang perempuan?"

Pemuda itu bertanya sambil pura pura berlagak tidak kenal dengan perempuan berkerudung ini.

"Yaa benar, dia memang seorang perempuan Nak. sekarang kau harus segera berangkat ketebing Kiu ci gan, sebab persoalan itu merupakan persoalan yang sangat penting bagimu"

Buyung Thay yang mendengar pembicaraan tersebut segera berkerut kening, kepada perempuan berkerudung itu segera tegurnya.

"Sebenarnya siapakah engkau?"

"Aku? Manusia yang kehilangan sukma Pernah mendengar namaku ini "

"oooh... jadi kaulah orang yang kehilangan sukma"

Buyung Thay terperana.

"Yaa betul"

Kiranya sejak pemunculan perempuan berkerudung itu Han siong Ki sudah tahu bahwa perempuan itu tak lain adalah ibunya, si siang go cantik ong cui ing, sebetulnya dia mau menegur, akan tetapi lantaran ibunya telah menggoyangkan tangannya, terpaksa dia harus membungkam terus sambil berlagak pilon.

Demikianlah, setelah mengakui identitasnya, dengan sorot mata yang tajam orang yang kehilangan sukma menatap tajam wajah Buyung Thay, lalu tegurnya kembali dengan dingin "Bukankah engkau adalah Hong ho si Ratu Tawon?"

Menyinggung soal julukan yang paling dibencinya itu, paras muka Buyung Thay berubah hebat, hawa napsu membunuhnya seketika berkobar dan menyelimuti wajahnya, selama ini dia mempunyai satu peraturan yang selalu dipegangnya dengan teguh, yakni barang siapa berani menyinggung nama julukan "Ratu Tawon"

Tersebut dihadapannya, maka dia pasti akan membinasakan orang itu.

Tentu saja mimpipun tak pernah disangka olehnya bahwa orang yang kehilangan sukma itu pada hakekatnya tak lain adalah ibu kandung dari Han siong Ki.

Dengan suara setengah menjerit Buyung Thay segera berteriak lengking.

"orang yang kehilangan sukma, aku akan membunuh kau. Bersiap siaplah menantikan saat kematianmu"

"Engkau hendak membunuh aku? Hmmm... hmmm... aku kuatir kalau kekuatan yang kau miliki masih belum mampu untuk mewujudkan apa yang kau kehendaki"

"Hmmm... Kau berani menghina aku? Baik, jika tidak percaya akan kubuktikan sekarang juga"

Sambil berteriak, dengan garangnya Buyung Thay bergerak maju siap melakukan tubrukan.

Han siong Kie tidak ambil diam, begitu perempuan itu bergerak, cepat diapun bargerak menghadang dihadapannya, kepada Buyung Thay segera katanya dengan keras.

"cici Kau tak boleh berbuat demikian"

"Kenapa? Itulah peraturanku yang selalu kupegang dengan teguh"

Sahut Buyung Thay dengan suara dingin.

"adikku, kecuali terhadapmu, aku tak bisa melanggar peraturanku ini lagi"

"Aku mohon kepadamu agar untuk kali ini berilah pengecualian kepadanya, janganlah kau tarik panjang persoalan ini, tentunya kau mau bukan?"

"Apa hubungan orang ini dengan dirimu? coba kau terangkan dulu kepadaku....."

"Tentang soal ini .....tentang soal ini .....aku rasa, ada baiknya kalau..."

"Buyung Thay kau tak perlu menanyakan soal itu"

Tiba tiba orang yang kehilangan sukma menyela.

"aku hanya ingin memperingatkan dirimu, aku harap engkau jangan memutar otak dan menyusun rencana terhadap bocah yang masih bersih ini, ketahuilah berbicara dari usiamu, dia sudah pantas untuk menjadi anakmu sendiri!"

Ucapan semacam itu segera diterima oleh Buyung Thay sebagai suatu penghinaan, paras mukanya seketika itu juga berubah jadi hijau membesi, ia betul-betul merasa tersinggung oleh ucapan tersebut, dengan setengah geram teriaknya.

"Orang yang kehilangan sukma, bila aku tak berhasil membinasakan dirimu, aku bersumpah tak akan hidup jadi manusia!"

Sesosok bayangan merah berkelebat lewat disamping Hansiong Ki, lalu sebuah pukulan gencar dilontarkan untuk membacok tubuh orang yang kehilangan sukma.

"Blaaang......!"

Suatu ledakan dahsyat yang menggetarkan sukma menggelegar di udara.

Termakan oleh tenaga benturan yang sangat kuat itu, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah lebar.

Buyung Thay mendengus dingin, untuk kedua kalinya kembali ia menerjang kemuka sambil melancarkan serangan dahsyat.

Orang yang kehilangan sukma bertindak tenang, sepasang telapak tangannya segera diayunkan saling bertolak belakang, dalam gesekan yang aneh itu segera muncullah segulung desingan angin tajam yang aneh sekali sifatnya, begitu serangan dahsyat yang dilancarkan Buyung Thay hampir mengena ditubuhnya, tahu-tahu saja semua hawa pukulan yang berkekuatan dahsyat itu hilang lenyap dengan begitu saja.

Kejadian ini seketika itu juga membuat Buyung Thay merasa tak terkirakan rasa kagetnya, cepat-cepat dia meloncat mundur beberapa depa ke belakang, lalu merogoh sakunya dan menyiapkan segenggam jarum Toh-bun-ciam yang amat berbisa.

Han-siong Kie cukup mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari jarum-jarum Toh-hun-ciam tersebut, sebelum Buyung Thay sempat melancarkan serangannya, ia segera membentak keras.

"Buyung Thay, aku melarang engkau untuk turun tangan lebih lanjut! ayoh segera hentikan perbuatanmu itu!"

"Han-siong Kie! Apa yang kau andalkan sehingga berani menghalangi tindakanku ini?"

Buyung Thay balas menegur sambil melirik sekejap kearah pemuda itu.

Menghadapi pertanyaan semacam ini Han siong Ki terbungkam, betapa tidak?

Apa yang musti dia jawab menghadapi pertanyaan semacam ini?

Apa yang dia andaikan sehingga melarang perempuan itu untuk turun tangan lebih jauh?

Tapi ....

bagaimanapun juga orang yang kehilangan sukma ada1ah ibunya, tentu saja ia tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan mereka saling bergebrak.

Maka setelah termenung dan berpikir sesaat, akhirnya dia bulatkan tekad sambil sahutnya dengan lantang.

"Aku tidak mengandaikan apa apa, pokoknya aku melarang engkau untuk bertempur lebih jauh"

"Hmm Dia itu apa mu, kok engkau demikian ngototnya melarang aku untuk bertempur lebih jauh..."

"Aaah, soal ini lebih baik tak usah kau ketahui, pokoknya cukup asal kau tidak bertempur lagi"

"Kalau engkau tak mau menerangkan, terpaksa kaupun tak usah mencampuri pula urusan pribadiku"

Han siong Ki jadi agak mendongkol, tiba tiba tlia bergerak maju kedepan, sambil berdiri dengan bertolak pinggang katanya tegas tegas.

"Aku sudah ambil keputusan untuk mencampuri urusan ini, mau apa kau...?"

"Heeeehhh.... Heehhh.. heeeehhhh... mampukah engkau untuk mencampuri urusanku?"

"Kalau engkau tidak percaya, apa salahnya kalau di coba sendiri untuk pembuktiannya?"

"Han siong Kie"

Teriak Buyung Thay dengan gemasnya.

"jangan kau anggap aku tak berani melawan kamu"

"Kau tak usah banyak bicara lagil"

Sela pemuda itu dengan cepat.

"pokoknya bila engkau berani menyerang dengan jarum toh hun ciam itu, segera kubacok dirimu sampai mampus"

Selama percekcokan itu berlangsung, orang yang kehilangan sukma hanya berdiri di tempat tanpa bergerak ataupun berbicara, rupanya dia memang sengaja hendak membiarkan Han siong Kie ribut sendiri dengan diri Buyung Thay.

Sementara itu Hek pek siang yau telah bergerak maju pula ke depan, didalam pandangan mereka cuma Han siong Kie seorang yang dipuja dan disanjung, maka sewaktu dilihatnya ketua mereka sedang cekcok dengan orang lain, maka satu dari kiri yang lain dari kanan serentak mengepung Buyung Thay dari kedua belah sisinya, mereka telah menghimpun tenaga pukulan nya setiap saat serangan dahsyat dapat dilontarkan ke luar.

Untuk sesaat, suasana disekitar gelanggang jadi tegang dan serius, seakan akan suatu bom waktu yang dinantikan saat meledaknya.

Berada dalam keadaan begini, akhirnya Buyung Thay yang tak dapat mengendalikan perasaannya sambil menggigit bibir, titik titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan mendongkol segera teriaknya keras keras.

"Han siong Kie, kau manusia yang tak tahu budi, andaikata tiada aku, sekarang engkau sudah menjadi setan di alam baka, sungguh tak kusangka engkau setega itu bersikap demikian kepadaku"

Paras muka Han siong Kie berubah, rasa menyesal segera timbul dari dasar hati kecilnya, tapi keadaannya sekarang sudah ibaratnya orang yang berada dipunggung harimau, mau turun susah tetap disana juga sungkan, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukannya .

Yaa, memang seandainya Buyung Thay tidak menolongnya sebanyak dua kali, tak nanti ia bisa hidup sampai hari ini, apalagi membalas dendam bagi kematian keluarga-nya.

"Nak, jadi.... jadi.... dia pernah menye-lamatkan jiwamu sebanyak dua kali?"

Tanya orang yang kehilangan sukma dengan suara gemetar.

"Yaa, dia sudah dua kali menolong jiwaku"

Mendengar pengakuan tersebut, orang yang kehilangan sukma meghela napas panjang.

"Aaaai... nak, semoga engkau bisa baik baik menjaga diri, aku akan pergi lebih dulu"

Katanya kemudian sehabis berkata, sekali menjejakkan kakinya keatas tanah, tubuhnya segera melayang beberapa kakijauhnya dari tempat semula, kemudian ia meneruskan perjalanannya menuju ke benteng maut.

Sesudah bayangan tubuh orang yang kehilangan sukma lenyap dari pandangan mata, dengan suara sedih bercampur kesal Buyung Thay baru berkata kepada Han siong Kie.

"sebenarnya siapakah dia?"

Untuk sesaat Han siong Kie merasa agak sangsi, tapi akhirnya dia mengakui juga.

"Dia adalah ibuku"

"Apa? Jadi perempuan yang mengaku bernama orang yang kehilangan sukma adalah ibumu?"

Seru Buyung Thay dengan paras muka berubah hebat.

"Yaa, benar Dia adalah ibu kandungku"

Sekali lagi si anak muda itu mengangguk.

"Mengapa tidak kau akui semenjak tadi ? Adikku, mengapa tidak kau katakan sedari tadi?"

"Sebab ibuku tak ingin orang lain mengetahui asal usulnya yang sebenarnya"

"Tapi sekarang, engkau toh sudah mengungkapnya dihadapanku?"

"Yaa, karena aku tak ingin mengelabuhi dirimu"

Jawab Han siong Ki sambil tertawa jengah, Ucapan yang lembut dan penuh perasaan pancaran kasih ini segera melunakkan kembali sikap Buyung Thay, ia berkata lagi dengan suara yang lirih dan nada amat sedih.

"Dia telah melarang hubunganmu denganku, itu berarti tak boleh berhubungan lagi sejak kini"

Han siong Ki cuma mengangguk mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Buyung Thay sedikitpun tidak mengendorkan kesempatan itu, kembali ia bertanya lebih jauh.

"Bagaimana maksudmu sendiri? Apakah engkau juga akan memutuskan hubungan kita sampai disini saja?"

"Ehmm, bagaimana maksudmu?"

"Aku berharap agar hubungan diantara kita berdua masih dapat berlangsung seperti sedia kala"

Tak terkirakan rasa terhibur yang dialami Buyung Thay saat ini, sepanjang hidupnya belum pernah ia rasakan bagaimanakah rasanya bercinta yang sebenarnya dan dimasa masa menjelang setengah umur tiba tiba saja dia telah berjumpa dengan Han siong Ki, dan hatinya benar benar terpikat olehnya, meskipun dia tahu bahwa pelimpahan rasa cintanya ini tidak akan mendatangkan hasil apa apa, tapi ia tak dapat menguasahi diri, ia merasa cintanya yang meluapluap, sukar untuk dikendalikan apalagi dibendung lagi.

Sebaliknya bagi Han siong Ki sendiri, kendatipun semua sikap baiknya itu hanya didasari oleh rasa hutang budi belaka, toh kecantikan perempuan setengah umur itu cukup memikat hatinya, sebagai seorang manusia dengan berbagai titik kelemahannya, tentu saja ia tak dapat mengendalikan titik kelemahannya itu, tidak terkecuali pula diri si anak muda itu sendiri Setelah suasana hening untuk sesaat lamanya, Buyung Thay lantas menuding kearah Hek-pek-siang yau yang berdiri dikedua belah sisinya, diapun bertanya.

"siapakah kedua orang ini?"

"Dia adalah anak buah perguruan kami, shen Khe ki serta Hong ing ing, mereka berdua adalah suami istri"

"Hmmm... yang lelaki tampan yang perempuan cantik, mereka memang suatu pasangan yang amat ideal"

Sudah tentu dia tak akan meayangka kalau sepasang suami istri yang berada dihadapannya sekarang, bukan lain adalah Hek pek siang yau sepasang gembong iblis yang bikin hati kawanan jago baik dari golongan hitam maupun putih tergetar pada puluhan tahun berselang.

Selama ini sikap Hek pek siang yau hanya menghormat dan menyanjung kepada Han siong Ki seorang, bahkan sikap itu melebihi sikap seorang pelayan terhadap majikannya, sebaliknya kepada kawanan jago persilatan lainnya, dia selalu menjaga gengsi maupun kedudukan sendiri, oleh sebab itulah mereka selama ini hanya membungkam terus dalam seribu bahasa.

Suasana setelah hening sejenak.

akhirnya dipecahkan oleh Han siong Kie dengan ulapan tangannya.

"Ayoh kita berangkat"

"Engkau akan segera berangkat untuk memenuhi janji di bukit Kiu ci san?"

Tanya Buyung Thay.

"Tentu saja pergi kesitu, memangnya kau anggap aku hendak pergi kemana lagi?"

"Memangnya engkau membawa barang itu sekarang?"

"Barang apa?"

"Kitab pusaka sarung tangan l-Hud jiu po pit yang dituntut oleh pihak lawan"

Sebagaimana telah diketahui, sarung tangan Hud jiu po pit sudah disembunyikan oleh Han siong Kie didalam sebuah gua karang dalam lembah kematian, jangan toh barang itu sudah tak ada lagi, sekalipun ada didalam sakunya, belum tentu dia benar benar akan mempertimbangkan untuk menggunakannya sebagai barang pertukaran dengan nyawa Go siau bi.

Maka ketika mendengar pertanyaan tersebut, cepat dia menggeleng.

"Tidak. aku tidak membawa barang itu"

Sahutnya.

"Akan tetapi... bukankah... bukankah pemilik uang kuno Tong po lo sat menghendaki..."

Han siong Ki mendengus dingin, sebelum ucapan itu sempat diselesaikan, dia telah menukas.

"Kalau toh dia berani membegal Go siau bi dan dibawanya kabur, memangnya kau anggap aku bersedia melepaskan orang itu dengan begitu saja....? Hmm, jangan bermimpi di siang hari bolong"

"Agaknya dia menggunakan mati hidupnya Go siau bi untuk memaksa kau guna menyerahkan benda tersebut, apa yang hendak kau lakukan pada waktu itu."

"Soal ini lebih baik jangan kita bicarakan, kita rundingkan lagi setelah tiba pada saatnya saja"

Maka berangkatlah keempat orang itu melanjutkan perjalanannya menuju ke tebing Kiu ci-san. Berada ditengah jalan, tiba tiba Buyung Thay berkata begini.

"Adikku, apakah engkau sudah berhasil mendapatkan obat mustika si mi-kim wan tersebut?"

"Yaa, sudah kudapatkan"

"Benar engkau telah berhasil menemukan jejak dari si jelek dari sin ciu itu?"

"Tentu saja telah kutemukan, kalau tidak dari mana aku bisa mendapatkan pil mustika si mia kim wan ini?"

"Aaaai .... sungguh tak kusangka kalau Go siau bi bakal menjumpai kejadian diluar dugaan, adikku, cici benar benar merasa tidak tenteram hatiku setelah mengetahui kejadian ini"

"Peristiwa ini toh terjadinya diluar dugaan, Aku rasa cici sendiripun tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri, aku rasa persoalan paling penting yang harus kita bicarakan saat ini adalah bagaimana caranya menyelamatkan selembar jiwanya dari kesulitan. Aaaai.... sampai sekarang aku masih tidak habis mengerti, apa sebabnya si pemilik uang kuno Tong po lo sat menggunakan nyawa Go siau-bi sebagai sandera untuk memaksa aku menyerahkan kitab pusaka Hud jiu popit itu, kejadian semacam ini benar benar bikin pikiranku jadi pusing dan tidak habis berpikir"

"Yaa.... siapa tahu kalau dibalik kesemuanya ini masih terdapat hal hal lain yang patut dicurigai?"

Sela Buyung Thay sambil anggukkan kepalanya berulang kali.

Perjalanan ditempuh dengan cepatnya, meskipun bukit terjal dan jalan tebing yang harus mereka lalui, akan tetapi bagi beberapa orang jagoan yang berilmu tinggi ini, keadaan alam semacam itu masih belum cukup untuk menyulitkan mereka.

Bukit Kiu Ci san .....

Bukit itu adalah sebuah bukit karang yang tinggi, tegak lurus, suram dan gersang, sedemikian gersangnya tempat itu sehingga boleh dibilang tetumbuhan tak mungkin bisa tumbuh disitu.

Bukit itu dipandang dari kejauhan persis seperti bukit yang terjadi karena tumpukan beberapa potong batu aneh, sehingga kelihatannya bagaikan sebuah pagoda besi yang tinggi dan angker.

Oleh sebab diatas bukit itu terdapat sembilan buah putaran yang menyerupai gangsingan yang kian kepuncak kian mengecil maka bukit itu dinamakan bukit Kiu ci san.

Lohor itu, empat sosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa telah tiba didepan tebing batu karang itu.

Keempat orang itu bukan lain adalah Han siong Kie, Buyung Thay dan Hek pek siang yau.

Memandang tebing karang yang berbentuk aneh dan menjulang tinggi ke angkasa, keempat orang itu diam diam bergidik juga rasanya, karena keadaan medan yang harus mereka hadapi memang mengerikan sekali.

Setelah memperhatikan sejenak keadaan alam yang harus dihadapinya, Han siong Kipun berkata.

"Biar aku naik seorang diri, kalian semua tunggu saja dibawah tebing ini...."

"Aku akan mengiringi dirimu naik keatas tebing"

Sela Buyung Thay dengan cepat.

"Jangan Untuk sementara waktu kita masih belum mengetahui apa maksud serta tujuan Tong-po-lo-sat dengan perbuatannya itu, lebih baik biar aku naik seorang diri saja"

"Adikku, biarlah cici mengikuti kau, bila kita berjalan berduaan maka masing masing dapat saling tolong menolong bila harus menghadapi keadaan yang berbahaya"

"Aaah, aku pikir lebih baik aku berangkat sendirian saja, toh dalam surat peringatan yang mereka tinggalkan hanya mengundang kehadiran aku seorang?"

"Tapi... tapi adikku, aku merasa sangat tidak berlega hati...."

"Aaah Tenangkan saja hatimu cici, Manusia yang bernama Tong po lo sat toh bukan seorang jagoan super sakti yang mempunyai tiga buah kepala dan enam buah lengan? Legakan saja hatimu, percayalah aku masih sanggup untuk menghadapinya"

"Heehhh..... heehhh.... heehhh.. .."

Suara tertawa dingin yang menyeramkan tiba tiba saja berkumandang di angkasa.

Empat orang jago lihay itu mencoba untuk memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, namun tiada jejak apapun yang berhasil ditemukan, padahal gelak tertawa seram itu berasal dari suatu tempat yang dekat sekali letaknya dengan tempat mereka berada.

Waktu itu, mereka berempat berdiri dihadapan sebuah bukit karang yang gersang dan luas, hutan memang ada tapi jaraknya kurang lebih sepuluh kaki dari situ, jadi tak mungkin suara tertawa dingin tadi berasal dari balik hutan tersebut, lalu...

darimanakah asal suara tertawa dingin itu Sementara mereka masih kebingungan untuk mencari, sumber dari tertawa dingin itu seseorang telah berkata pula dengan nada yang menyeramkan.

"Heehhh... heehhhh... heeehhh... Tong po lo-sat memang bukan seorang manusia yang terdiri dari tiga kepala enam lengan, sebaliknya engkau manusia bermuka dingin juga belum tentu merupakan seorang manusia yang luar biasa"

Ucapan itu sangat dingin bagaikan salju, sekilas pendengaran sepertinya berasal dari tempat yang jauh, tapi setelah didengarkan lagi seakan-akan berasal dari tempat yang dekat, sekalipun mereka berempat memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, toh tidak berhasil juga untuk menemukan sumber dari suara tadi.

Tapi ada satu hal yang sudah pasti, yakni si pembicara tersebut apabila bukan Tong po lo sat pribadi, niscaya dia adalah anak murid atau para penjaganya.

Han siong Ki segera mendengus dingin.

"Hmmm siapa kau? Kalau memang seorang pemberani, semestinya segera menampilkan diri untuk berhadapan dengan aku, perbuatanmu macam begitu apakah tidak terlalu memalukan?"

Ejeknya.

"Manusia bermuka dingin, bukankah engkau datang kemari untuk memenuhi janji?"

"Yaa, aku memang datang untuk memenuhi janji"

"Huuh... Katanya saja seorang ketua dari Suatu perguruan besar, tak tahunya pergi datang masih butuh pengawal pribadi untuk mengiringinya, ketahuilah wahai manusia bermuka dingin, tebing Kiu ci san ini hanya mengijinkan engkau seorang untuk mendakinya"

Bagi Han siong Kie, perkataan itu masih tak seberapa menusuk pendengaran, tapi bagi pendengaran Buyung Thay, hal itu merupakan suatu ucapan yang penuh bernadakan sindiran, paras mukanya kontan berubah.

"Tebing Kiu ci san toh bukan telaga naga sarang harimau, memangnya ada siapa yang sanggup menghalangi keinginan aku Buyung Thay?"

"Kalau memang merasa mampu, kenapa tidak coba coba untuk mendakinya sendiri?"

Buyung Thay mendengus penuh kegusaran, dia melejit ke udara lalu dengan kecepatan luar biasa meluncur ke atas tebing batu karang itu .......

"cici, jangan.."

Cegah Han slong Kie setengah berteriak.

Tapi sudah terlambat, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir Buyung Thay sudah menghampiri dinding batu karang itu dan meluncur naik keatas.

Tiba tiba belum berapa kaki si ratu tawon itu berlalu, ketika secara tiba tiba dia mendengus tertahan, kemudian disusul badannya yang sedang melambung rontok dan meluncur jatuh kebawah.

Tak terkirakan rasa kaget Han siong Kie menyaksikan kejadian tersebut, cepat tubuhnya melayang ke tengah udara, setelah berjumpalitan satu lingkaran busur, ia menukik ke bawah dan menyambar tubuh Buyung Thay yang terlempar ke bawah itu..Menanti mereka sudah kembali ke tempat semula dan memeriksa keadaan luka yang dideritanya, bergidiklah dua orang jago lihay itu.

Ternyata diatas jidat Buyung Thay yang putih dan lembut itu, kini sudah bertambah dengan sebuah bayangan merah bekas tersambar uang kuno.

Dengan suatu lejitan Buyung Thay melompat turun dari rangkulan Han siong Kie, paras mukanya agak berubah hebat, ia berdiri termenung tanpa mengetahui apa yang musti dilakukan.

"cici, engkau tidak apa apa bukan?"

Tanya Han siong Kie kemudian dengan nada kuatir.

"Aku tidak apa apa, luka yang kuderitapun hanya luka kulit luar saja yang tidak penting"

Sementara mereka berdua masih bercakap cakap. suara tadi kembali telah berkumandang.

"Apa yang barusan kalian alami adalah sebuah peringatan, jika berani ngotot melakukan penyerbuan keatas tebing ini, maka uang kuno kami bukan melecetkan kulit belaka, tapi akan langsung menembusi batok kepala kalian...."

Dengan gemas, mendongkol bercampur jengkel Buyung Thay mendengus.

"Hmmm.. Melukai orang dengan cara main sergap. kau terhitung manusia gagah macam apa?"

Jengeknya. Siluman putih Hong Ing ing yang selama ini hanya membungkam, tiba tiba, berbisik dengan suara lirih.

"ciang bunjin, tecu sudah berhasil menemukan rahasia dibalik kemisteriusan lawan"

"Oya? Coba katakanlah...."

"Bukit karang ini pasti kosong tengahnya, bila dinding karang dibikin lubang lubang pengintaian lalu orangnya bersembunyi dalam lambung bukit dan mengintip keluar, bukankah mereka dapat menyaksikan semua gerak gerik kita dengan jelas sekali? Bukan saja kita tak tahu jejak meraka, justru merekalah yang mengontrol gerak gerik kita, hanya dengan alasan beginilah suara yang mereka pancarkan dari dalam seolah olah berkumandang dari kejauhan tapi kita mendengar seperti datangnya dari tempat yang dekat sekali."

Han siong Ki mengangguk berulang kali.

"Yaa, dugaan ini memang masuk diakal, aku mengerti sudah sekarang.. aku mengerti sudah sekarang"

"Manusia bermuka dingin"

Suara tadi kembali berkumandang memenuhi seluruh udara "sekarang engkau boleh melakukan perjalanan mendaki ke atas bukit"

Kali ini Han siong Ki benar benar pasang telinga memperhatikannya dengan seksama, betul juga, suara itu berasal dari lambung bukit karang tersebut, dan jaraknya dari hadapannya kurang lebih lima kaki tingginya dari permukaan tanah.

Dengan suara dingin serunya.

"saudara, tanpa sebab tanpa musabab engkau telah menggunakan cara yang keji untuk melukai rekan perjalananku, perbuatan itu menunjukkan bahwa engkau tak tahu sopan santun, maka sebagai peringatan, rasakanlah kelihayanku ini"

Ditengah bentakan tersebut, tubuhnya meluncur naik tegak lurus dengan permukaan tanah berbareng itu juga tangannya diayun kedepan, berpuluh puluh desingan angin tajam segera berhamburan keempat penjuru.

llmu jari Tong kim ci adalah suatu kepandaian sakti yang sanggup menembusi batu karang dari jarak lima kaki, apalagi dalam serangannya ini Han siong Ki telah menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.

"Criiit Criiiit...?"

Desingan tajam menderu deru, batu dan pasir berhamhuran kemana mana, dari atas dinding batu karang segera muncullah beberapa buah lubang kecil.

Jeritan kaget segera berkumandang dari dalam lambung batu karang tersebut, rupanya serangan itu sama sekali tak diduga olehnya.

Han siong Ki tidak menghentikan gerakan tubuhnya, kembali dia melejit dan melayang naik keatas lingkaran bukit yang pertama.

Yang dimaksudkan lingkaran bukit disini adalah garis garis lekukan yang alamiah, yang terdapat diatas dinding karang, karena bentuknya seperti lingkaran-lingkaran yang teratur maka sejauh memandang dari bawah, bentuk itu kelihatan indah sekali.

Dari kaki bukit sampai kepuncak bukit itu semuanya terdapat sembilan buah lingkaran yang teratur.

Han siong Ki tidak bergerak mengikuti lingkaran lingkaran tersebut badannya langsung meluncur keatas dengan gaya tegak lurus, dalam waktu singkat lingkaran demi lingkaran telah dilewati dengan begitu saja sehingga tibalah pemuda itu diatas puncak tebing.

Diantara batuan karang yang berbentuk aneh, duduklah seorang nenek berambut putih bagaikan salju, sepasang matanya terpejam rapat, terhadap kedatangan Han siong Ki itu bukan saja menggubris, membuka matanyapun tidak.

Sebenarnya Han siong Ki datang kesana dengan hati diliputi kegusaran, tapi sekarang dia kurang begitu leluasa untuk mengumbar hawa amarahnya itu, maka dengan suara dingin tegurnya.

"Apakah locianpwe yang bernama Tong po lo-sat?"

"Benar"

Jawab nenek tua itu meski dengan sepasang mata yang tetap terpejam.

"Aku Han siong Kie telah datang untuk memenuhi janji"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... rupanya engkau adalah seorang pemuda yang dapat dipercaya"

Jengek Tong po lo sat dengan suara yang dingin. Kemarahan yang semula dapat terkendali, seketika itu juga berkobar kembali sehabis mendengar perkataan itu, pemuda itu mendengus dingin.

"Hmmm .. Hanya disebabkan sepasang sarung pusaka Hud jiu popit, tak nyana cianpwe begitu sudi menggunakan cara yang rendah dan tak tahu malu untuk membelenggu seorang gadis yang menderita luka parah dan hampir mati... Hmm... hmm... apakah engkau tidak takut bahwa perbuatanmu itu akan ditertawakan oleh orang persilatan?"

"Apa yang kau katakan?"

Teriak Tong po lo sat penuh kemarahan.

Sepasang matanya yang terpejam, tiba tiba saja melotot besar, dua sorot mata yang tajam bagaikan sembilu mengawasi musuhnya tak berkedip.

di atas wajahnya yang penuh berkeriput terseliplah rasa kaget, tercengang dan marah.

Ditatap orang dengan ketajaman mata yang melebihi sembilu itu, Han siong Ki mundur selangkah dengan hati bergidik, pikirnya.

"Hebat amat tenaga dalam yang dimiliki nenek tua ini, aku tak boleh pandang enteng manusia semacam ini..."

Dengan suara yang tegas dan berat diapun berseru.

"Locianpwe, bagaimanapun juga engkau toh seorang manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, apakah engkau tidak merasa bahwa apa yang telah kau lakukan itu adalah suatu perbuatan yang sangat memalukan..."

"Bocah muda, apakah engkau dapat menerangkan perkataanmu itu jauh lebih jelas lagi?" -ooo0dw0ooo-BAB 95

"CIANPWE, apakah engkau hendak pungkiri apa yang telah kau lakukan?"

Tegur Han siong Kie.

"Hey bocah muda, makin bicara kau semakin melantur, coba kau katakan dulu apa yang kuhendaki atas kedatanganmu kemari..."

"Bukankah lantaran kitab pusaka Hud-jiupo-pit?"

Sambung Han siong Kie dengan nada setengah mengejek.

"Yaa betul, lantaran kitab pusaka sepasang sarung tangan Hud jiu popit"

"Maka itu kau menyandera dulu calon istriku, kemudian baru paksa orang untuk memenuhi keinginanmu, bukan begitu?"

Tiba tiba saja Tong -po lo sat meloncat bangun dari atas tanah, dengan penuh kemarahan dia membentak keras.

"Siapa yang telah menyandera bakal istrimu? Ayoh katakan siapa yang sudah main sandera?"

"Hmmm Kau tak usah berlagak pilon lagi, bukankah calon istriku Go Siau bi yang sedang terluka parah kau bawa kabur?"

"omong kosong"

"Kok omong kosong? Memangnya locianpwe ingin menyangkal perbuatan yang telah kau lakukan sendiri?"

"Eeeh... anak muda, sebenarnya apa maksud dari perkataanmu itu?"

Hawa napsu membunuh sudah menyelimuti seluruh wajah Han siong Ki, segera teriaknya dengan geram.

"Apabila Go siau bi terancam bahaya atau sampai cidera, Kiu ci san ini segera akan kuratakan dengan tanah"

"Anak muda, kalau bicara jangan sok tekebur dengan dasar apa engkau berani berkata demikian?"

"Hmmm....Jadi kau anggap aku lagi menuduh kau secara sembarangan? lihat nih, ayoh baca sendiri"

Sambil berkata sianak muda itu segera melemparkan surat peringatan yang masih disimpan dalam sakunya itu kehadapan sinenek.

Tong po lo sat menyambut surat peringatan itu tapi setelah dibaca isi suratnya, sontak saja paras mukanya berubah, alis matanya yang putih melentik, dengan dahi yang berkerut keras.

"cunji.... cunji....cunji..."

Gemerincingnya suara rantai yaag berhubungan dengan besi berkumandang memecahkan kebeningan, sebuah pintu batu yang tingginya beberapa kaki pelan-pelan bergeser kesamping dan muncul lah sebuab gua yang cukup besar.

Sesosok bayangan manusia menerobos keluar dari gua itu, dia adalah seorang gadis belasan tahun yang punya potongan cakep juga.

Agak berdebar jantung Han-sioag Ki menyaksikan semua peralatan yang ada disitu, rupa-rupanya tebing Kiu-ci-gan bukan sembaraugan tempat biasa terbukti dipasangnya pelbagai alat perlengkapan disitu.

Gadis belasan tahun itu memakai baju hitam dengan gaun hitam, mantel kulitnya juga hitam pekat dengan kulit badan yang putih bersih memberikan suatu persesuaian yang indah menawan hati.

"Suhu, ada urusan apa memanggil diriku?"' gadis itu bertanya dengan suara manja.

"Hmm......! Coba kau baca sendiri isi surat ini!"

Kata gurunya sambil mendengus. Gadis baju hitam itu menyambut! surat tersebut, kemudian dibaca dengan teliti, tiba-tiba ia berteriak.

"Suhu ini kan bukan tulisan tecu, darimana tecu bisa tahu dengan apa yang tertulis dalam surat ini?"

Mendengar jawaban muridnya, sekarang Tong-po lo-sat yang gantian tertawa dingin, dia lantas berpaling kearah Hansiong Ki dan ditatapnya peniudaritu lekat-lekat, kemudian tegurnya rada berang "

"Eeeh.........anak muda, terus terang saja katakan, sebetulnya kau lagi bermain gila apaan dengan diriku? Ayoh, sebutkan saja masih ada per mainan busuk apa yang sudah kau siapkan untuk mempermainkan diriku......."

Nenek itu geram, Han-siong Ki tak kalah mangkelnya, dengan jengkel dia berteriak.

"Permainan busuk? Huu........ kukatakan terus terang kepadamu, justru akulah yang ingin bertanya kepada cianpwe, permainan setan apa yang sedang kau siapkan terhadapku?"

"Manusia bermuka dingin!"

Akhirnya nona ba ju hitam itu menyela.

"kuakui memang surat peringatan telah kutinggalkan disitu, kuakui juga bahwa diatas pembaringan kulihat seorang gadis berbaring disitu, tapi setelah meninggalkan surat peringatan itu aku segera pergi dari sana, lagi pula surat peringatan yang sekarang kau tunjukkan kepada kami bukanlah surat peringatan yang kubuat, jadi aku harap kau jangan salah menaruh kesalahan paham kepada kami"

Han siong Ki jadi sangsi, dari sangsi timbullah kecurigaan, mungkinkah ada orang lain yang telah menculik Go siau bi?

Benarkah ada orang yang sengaja menukar surat peringatan itu dengan surat peringatan lain?

Dunia bukan sedaun kelor, mungkinkah kejadian yang serba kebetulan itu betul betul bisa terjadi?

"Tapi kalau dibilang tak percaya, sikap Tong po lo sat dan muridnya begitu bersungguh sungguh, rasa rasanya tak mungkin kalau mereka cuma bermain sandiwara belaka untuk menipunya..."

Sementara dia masih termenung, nona berbaju hitam itu sudah berkata lagi.

"Dalam surat peringatan tersebut, aku hanya menulis agar dalam sepuluh hari kau bersedia datang kebukit Kiu ci san untuk merundingkan sesuatu, soal lain sama sekali tak pernah kusinggung"

Mendengar perkataan itu, Han siong Ki merasa semakin gelisah, andaikata Go siau bi benar benar ditangkap orang lain, dengan tubuhnya yang terluka parah dan jiwanya terancam bahaya maut, akibatnya itu benar benar sukar dibayangkan dengan kata kata.

Maka sesudah termenung sebentar, dengan nada yang berat dan bersungguh sungguh ucapnya.

"Apa yang cianpwe katakan barusan, bisakah dipertanggungjawabkan kebenarannya?"

"Aaaah ..... mau percaya atau tidak terserah padamu sendiri, kalau mau percaya yaa syukurlah, kalau tidak aku juga tidak apa apa"

Untuk sesaat Han siong Ki berdiri termangu, akhirnya sesudah termenung sejenak katanya.

"Kalau begitu, aku hendak mohon diri lebih dahulu"

Selesai berkata dia lantas putar badan dan siap berlalu dari tempat itu "Eeeh... eeehh... tunggu sebentar"

Tong po lo-sat berteriak lantang.

"Apakah locianpwe masih ingin mengucapkan sesuatu lagi kepada diriku"

Tanya sang pemuda sambil berhenti.

"Tentu saja, kuperintahkan anak muridku untuk menyampaikan undangan kepadamu, sudah tentu ada urusan yang hendak dibicarakan, kalau tidak buat apa kuundang kehadiranmu?"

"Kalau memang begitu, cepat katakan"

"Darimana engkau dapatkan kitab pusaka Hud jiu popit yang tak bernilai harganya itu?"

"Aku rasa, aku tidak mempunyai keharusan untuk menjawab pertanyaan yang kau ajukan itu"

Paras muka Tong po lo sat berubah hebat, mukanya yang penuh berkeriput itu berkerut kerut, teriaknya.

"Bocah muda, kuanjurkan kepadamu, lebih baik berbicaralah terus terang, sebab keterus teranganmu justru akan memberikan keuntungan bagi dirimu sendiri"

Sejak awal kedatangannya tadi, Han siong Kie sudah berusaha menahan rasa mangkelnya dihati, tapi selama ini tiada tempat penyaluran untuk melepaskan kemangkelannya itu, dan sekarang pihak musuh telah mengakui meninggalkan surat peringatan tapi menyangkal telah menyandera Go siau bi, meski demikian jelas mereka telah akui bahwa tujuannya adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Hud jiu popit, bila persoalan demi persoalan dirangkai menjadi satu maka bisa ditarik kesimpulan bahwa penyangkalan musuh atas hilangnya Go siau bi tak dapat dipercaya.

Maka pemuda itupun mendengus dingin..

"Hmmm.... andaikata aku tak mau bicara, lantas apa yang akan kau lakukan terhadap diriku?"

"Hmm... aku kuatir kalau keinginanmu itu tak bisa terkabulkan dengan begitu saja"

"Aaah ....belum tentu"

Paras muka Tong pa lo sat berubah hebat, dengan mata yang bersinar tajam dia lantas membentak keras.

"Cunji, tangkap orang itu"

Nona berbaju hitam itu mengiakan, berbareng dengan seruan tersebut, tubuhnya secepat kilat menerjang ke muka sambil melancarkan sebuah cengkeraman ke tubuh Han siong Kie, hebat dan dahsyat cengkeraman itu bahkan disertai gerak serangan yang aneh.

Tersikap jaga Han siong Kie menghadapi cengkeraman kilat dari musuhnya, dengan gerakan tubuh Cahaya kilat lintasan bayangan, secepat sukma gentayangan dia menyingkir ke samping...

"Aaah...?"

Tiba tiba terdengar seruan kaget, tiba tiba gadis berbaju hitam menghentikan serangannya.

Tapi pada waktu itu Han siong Kie telah melepaskan serangannya, hembusan angin dahsyat bagaikan gulungan ombak di samudra meluncur kedepan dan tampaknya sesaat lagi akan menghantam diatas dada sinona berbaju hitam itu.

Untunglah disaat yang kritis itu, tiba tiba meluncur datang gulungan pukulan dari samping yang mana segera menumbuk angin pukulan dari Han siong Ki sehingga miring kesamping.

"Gerakan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan " , bisik nona berbaju hitam itu kaget bercampur tercengang. Suatu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Ki, agak heran juga pemuda ini sebab nona berbaju hitam itu ternyata bisa mengetahui nama serta asal usul gerakan tubuhnya. Paras muka Tongpo lo sat juga beberapa kali mengalami perubahan, selang sesaat kemudian ia baru berkata.

"Han siong Ki, engkau harus bicara terus terang dihadapanku, kalau tidak maka jangan harap kau bisa tinggalkan tebing Kiu-ci san dalam keadaan selamat"

Han siong Ki termasuk seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, tentu saja ia tak senang mendengar ucapan semacam itu, serta merta dia mendengus dingin.

"Hmmm Locianpwe, bukankah tujuanmu adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Hud-jiu po pit?"

"Benar selain itu.."

"Bagus"

Tukas anak muda itu cepat.

"akupun hendak memberitahukan kepadamu secara berterus terang, jangan toh kitab pusaka Hud jiu po pit sudah tidak berada disakuku lagi, kendatipun masih ada ditanganku, tak nanti akan kuserahkan kepadamu dengan begitu saja"

"Aku tak ingin mempersoalkan tetek bengek, aku hanya ingin tahu dari mana kau peroleh kitab pusaka Hud jiu po pit tersebut mengerti?"

"Maaf, sekarang aku tak mempunyai banyak waktu untuk menjawab pertanyaanmu itu, jika tak ada urusan lagi, maaf Aku hendak mohon diri lebih dahulu"

Selesai berkata dia lantas putar badan dan siap berlalu dari tempat itu...

Tapi beberapa langkah kemudian, terasalah bayangan manusia menyambar lewat, tahu tahu Tong po lo sat telah menghadang dihadapannya.

"Heeehhh.... heeehhh... heeeehhh... sebelum berbicara, jangan harap kau bisa lolos dari tempat ini dengan begitu saja"

Han siong Kie jadi berang, ia mendengus dingin.

"Tong po lo sat"

Teriaknya marah marah.

"bila meninjau dalam soal usia maka sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai cianpwe, janganlah kau anggap aku akan menyudahi persoalan pada saat ini sampai disinisaja... huuuh, terbukti akhirnya bahwa penculikan itu dilakukan oleh guru dan murid kalian berdua, Hmmm...."

Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar nona berbaju hitam itu berseru keras.

"Suhu, ada orang menyerbu ke atas tebing kita"

"Macam apakah orang orang itu...?"

"Seorang laki laki dua orang perempuan, mereka semua adalah pengiring orang ini, sekarang mereka sudah berhasil mencapai tingkat lingkaran kedua"

"Hajar mereka sesuai dengan peraturan kita"

Perintah nenek itu dengan tegas.

Nona berbaju hitam itu tidak banyak bicara lagi, dia lantas menyusup masuk kedalam liang gua tadi, jelas bukit Kiu ci san tersebut terdiri dari ruangan ruangan rahasia yang saling berhubungan dari atas sampai ke bawah.

Pelbagai ingatan lantas berkecamuk dalam benak Han siong Kie, ia merasa bahwa bukit Kiu ci san kemungkinan besar telah disiapkan alat-alat jebakan yang serba lihay, berbicara soal ilmu silat, terang dengan kemampuan Buyung Thay serta Hek pek siang yau yang termasuk jago jago tangguh dalam dunia persilatan, mereka tak gampang dikalahkan, tapi bagaimanakah seandainya diserang dengan menggunakan alat rahasia...

Makin dipikir pemuda itu merasa semakin kuatir, akhirnya diapun membentak keras.

"Lihat serangan"

Segulung hawa pukulan yang dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit Thay san, dengan cepatnya menggulung ke muka dan meluruk sekujur badan Tong po lo sat.

Nenek berkeriput itu tidak gentar, menghadapi serangan musuh yang dahsyat itu, cepat dia putar sepasang telapak tangannya dengan gerakan aneh, talu dengan cepat dibabatkan kedepan.

Ketika angin serangan dari Han siong Ki yang maha dahsyat itu saling bertemu dengan pukulan aneh si nenek.

tahu tahu saja kekuatan serangan pemnda itu lenyap dengan begitu saja.

Kejadian ini segera mengejutkan hati Han siong Ki, setelah tertegun sejenak, tiba tiba ia menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, lalu dengan ilmu Si mi Sinkang yang maha dahsyat, ia pancarkan segumpal asap berwarna putih untuk menghantam lawan.

Tong po lo sat cukup mengenal kelihayan serangan itu, cepat cepat badannya bergerak kesamping untuk menghindar...

Menggunakan kesempatan itu, Han siong Ki melayang mundur beberapa kaki kebelakang, setibanya ditepi tebing ia coba melongok kebawah...

Betul juga, tampaklah sesosok bayangan merah, sesosok bayangan hitam dan sesosok bayangan putih sedang bergerak menuju keatas puncak bukit itu, Hal ini mencemaskan hati pemuda itu, dengan menghimpun tenaga dalamnya cepat ia berteriak keras.

"Hey, kalian cepat mundur"

Tapi baru saja teriakan tersebut berkumandang, tampaklah sesosok bayangan putih meluncur jatuh ke bawah tebing bagaikan burung yang kena bidikan. Melihat itu, dia lantas menjerit dalam hati kecilnya.

"Aduuuh celaka, siluman putih pasti sudah kena disergap... waah, entah bagaimanakah nasibnya?"

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, serentetan bayangan telapak tangan yang disertai tenaga tekanan yang dahsyat tahu tahu sudah menggulung tiba dengan hebatnya dalam keadaan demikian, buru buru ia kabur sejauh bebertapa kaki ke belakang.

Paras muka Tong po lo sat dingin menyeramkan hawa napsu membunuh secara lapat lapat menyelimuti wajahnya, kembali ia membentak nyaring.

"Han siong Kie, benarkah kau bersikeras tak mau menjelaskan asal mula kitab pusaka Hud jiu popit itu kau dapatkan?"

"Tidak"

Sahut Han siong Kie ketus, hawa napsu membunuh telah menyelimuti juga wajahnya.

"Hmmm, baiklah.... kalau kau tak mau berbicara, maka akulah yang akan memaksa engkau untuk mengucapkannya keluar"

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, secepat sambaran kilat sepasang tangannya melancarkan cengkeraman maut ke depan, didalam cengkeramannya itu telah disertakan juga dengan jurus-jurus serangan yang ganas dan aneh.

Dalam waktu singkat, Han siong Kie merasakan semua jalan darah penting di sekujur badannya seolah-olah sudah terjatuh dibawah pengaruh cengkeraman lawan, ini menyebabkan hatinya jadi bergidik, cepat cepat sepasang telapak tangannya berputar lantas menyapu kedepan, dia gunakan sistim pertahanan dari ilmu pukulan Mo mo cianghoat untuk mengunci semua titik kelemahannya serta membendung pukulan pukulan musuh yang tertuju kearah badannya...

Tong po lo sat mengerahkan segenap kekuatannya untuk mencengkeram pemuda itu, siapa tahu serangan demi serangannya menemui kegagalan total semua, dalam keadaan demikian, nenek tua inipun merasa kagetnya luar biasa, ia sadar bahwa dirinya telah berjumpa dengan seorang musuh yang amat tangguh.

Tiba tiba ia membentak keras, serangannya mengalami perubahan, dari serangan mencengkeram sekarang berubah menjadi sebuah pukulan, dan dia langsung menghantam wajah lawan sementara tangan yang lain menjotos dada.

Sekalipun ancaman itu terhitung suatu ancaman yang berbahaya, tapi sistim pertahanan dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat memang terhitung suatu sistim pertahanan yang kuat sekali.

"Blaaaang... Blaaang..."

Benturan demi benturan berkumandang susul menyusul, ketika empat telapak saling bertemu, kedua belah pihak sama sama tergetar mundar selangkah kebelakang.

Menggunakan kesempatan sewaktu mundur, Han siong Ki segera menggunakan jurus Mo mo ko-ciat (raja iblis menyembah loteng istana) melancarkan serangan kilat kedepan.

Tong po lo sat tak mau mengalah dengan begitu saja, diapun menggunakan jurus Lioa huan-hou ki (naga melingkar harimau berbaring) untuk melangsungkan suatu pertarungan keras lawan keras.

Dengan demikian, suatu pertarungan yang amat sengitpun tak dapat dihindari, kedua belah pihak sama sama menggunakan jurus serangan dari suatu ilmu sakti dalam dunia persilatan untuk saling merobohkan-"Blang Blaang"

Benturan demi benturan berlangsung tiada hentinya, kedua belah pihak saling melakukan benturan kekerasan sebanyak sembilan kali dalam sekejap mata, oleh benturan tersebut masing masing pihak tergetar mundur ke belakang.

Dalam berlangsungnya pertarungan itu, serentetan jeritan ngeri yang amat lengking berkumandang lagi dari arah bawah, jaraknya tidak terlalu jauh dari puncak tebing tersebut.

Mendengar jeritan itu, Han siong Kie merasa sangat terperanjat, ia tahu kemungkinan besar Buyung Thay dan Hek pek siang yau sudah terancam mara bahaya.

Menguatirkan keselamatan rekan rekannya itu, hawa napsu membunuh semakin berkobar di dalam dada pemuda itu, hawa murninya dihimpun semakin dahsyat, sepasang telapak tangannya segera didorong kemuka dan kabut putih yang tebal pun cepat menggulung keluar dengan hebatnya.

Ternyata didalam gemas dan jengkelnya barusan, pemuda itu sudah mengerahkan tenaga sakti si mi sinkangnya mencapai dua belas bagian.

Tong po lo sat sudah pernah merasakan kelihayan dari ilmu pukulan tersebut, cepat diapun menghimpun tenaga dalamnya sekuat tenaga untuk menerima datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan.

Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga tak bisa dihindari lagi, Tong po lo sat mendengus tertahan, dengan percikan darah menodai ujung bibirnya, dia mundur satu kaki kebelakang.

Apa yang dikuatirkan Han siong Ki pada saat ini adalah keselamatan jiwa Buyung Thay bertiga, begitu serangan mautnya berhasil melukai nenek tua itu, dia lantas putar badan dan melompat ke tepi tebing...

Siapa sangka baru saja badannya mencelat ke udara tiba tiba ia merasakan munculnya gulungan angin berpusing yang mencengkeram sepasang kakinya...

Padahal waktu itu dia berada dalam keadaan tidak siap, serta merta badannya termakan oleh tenaga berpusing itu sehingga tubuhnya mencelat jauh beberapa kaki keudara.

"Aduhhh celaka...."

Jeritnya tertahan.

Dengan mengerahkan segenap kemam-puannya, dia berusaha menyelamatkan diri ditengah udara...

Tapi sebelum banyak yang bisa dilakukan, desingan angin jari telah menyambar datang dari samping dan "Blaang"

Jalan darah Han siong Ki tertotok telak, tubuhnya seketika itu juga roboh dan terjungkal keatas tanah.

Ketika tubuhnya mencium permukaan tanah berbatu itu, tiba tiba tempat dimana ia terjatuh itu terbukalah sebuah celah yang besar, maka tubuhnyapun segera terguling masuk lewat celah celah tadi dan jatuh kedalam sebuah ruang batu.

Keras sekali bantingan itu, ia merasakan matanya jadi berkunang kunang dan dadanya bergolak keras, tulang belulangnya terasa amat sakit seperti mau patah, andaikata jalan dlarahnya tidak tertotok dia benar benar pingin merintih kesakitan.

Ruang batu itu besar dan luas, sebuah mutiara yang memancarkan cahaya tajam menerangi seluruh ruangan dengan terangnya.

Disudut ruangan sana berbaring pula tiga sosok badan, mereka adalah Buyung Thay serta Hek pek siang yau, kenyataan tersebut membuat perasaan pemuda kita tercekat, mimpipun tak pernah disangka olehnya bahwa mereka berempat akan bersamaan terjatuh ketangan lawan.

Sementara dia masih melamun, Tong po lo sat pelan pelan berjalan masuk lewat sebuah pintu rahasia, dibelakangnya mengikuti pula si nona berbaju hitam itu.

Han siong Ki amat berang, matanya terasa jadi merah berapi api, tapi.....

apa gunanya marah?

Toh badannya sama sekali tak bisa berkutik.

Setelah berada dihadapan Han siong Ki, secara beruntun Tong po lo sat menotok pula empat buah jalan darah yang lain sebelum membebaskan totokan jalan darah yang pertama, dengan demikian Han siong Ki cuma merasakan sekujur badannya jadi lemas tak bertenaga, kecuali itu dia sudah dapat berbicara lagi.

"Nah, Han siong Ki sekarang mau kau katakan tidak dari mana kitab pusaka Hud jiu po pit itu kau dapatkan?"

Bentak si nenek kemudian dengan suara garang.

"Tong po lo sat"

Teriak Han siong Ki pula sambil menggigit bibir.

"menyesal sekali manusia macam kau juga bisa hidup setua ini. Huuuuh, perbuatanmu benar benar terkutuk, kau licik dan tak bernyali... perbuatanmu barusan cuma perbuatan dari bangsa kurcaci"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhhh... anak muda, kalau kejadian ini berlangsung enam puluh tahun berselang, batok kepala kamu berempat sudah hancur berantakan semenjak tadi, mendingan hawa amarahku sekarang sudah jauh berkurang. Nah, lebih baik jawab saja pertanyaanku dengan jujur. Darimana kau pelajari gerakan cahaya kilat lintasan bayangan itu? siapa yang mewariskan ilmu itu kepadamu?"

Kembali Han siong Kie merasakan hatinya bergerak, sebenarnya apakah tujuan lawan? Jangan-jangan.. Berpikir sampai disitu, dengan suara dingin segera sahutnya.

"Ilmu itu aku dapatkan dari Leng ku siangjin kenapa? Apa ada yang kurang beres?"

Paras muka Tong po lo sat berubah hebat, secara beruntun dia mundur beberapa langkah, kemudian dengan agak dipengaruhi emosi serunya tertahan.

"Apa? Leng Ku siangjin?"

"Yaa, benar Leng ku siangjin?"

"Apakah kau adalah ahli warisnya?"

"Boleh dibilang begitu"

"Apa maksudmu dengan perkataan itu?"

"Menurut aturan, dia orang tua mempunyai hubungan sebagai guru dan murid dengan diriku"

Raut wajah Tong po lo sat mengejang keras, sekujur badannya menggigil, nenek tua itu betul-betul dipengaruhi oleh emosi, tanyanya dengan suara agak gemetar.

"sekarang dia berada dimana?"

Dari pengaruh emosi yang mempengaruhi lawannya itu, sedikit banyak Han siong Kie sudah bisa memahami beberapa bagian duduk perkara yang sebenarnya, maka nada pembicaraannya juga ikut berubah jadi lebih halus dan lembut.

"Aku harus mengetahui lebih dahulu apa hubungan cianpwe dengan dirinya"

"Tentang soal ini, lebih baik tak usah kau tanyakan"

"Kalau memang begitu maafkanlah daku, aku tak dapat memberitahukan soal itu kepadamu"

Untuk sesaat Tong po lo sat berdiri termangu-mangu, tapi akhirnya dia baru berkata dengan suara sedih.

"Kami adalah suami istri"

"Suami istri.....?"

"Yaaa suami istri..."

Han siong Ki begitu terperanjatnya sampai untuk beberapa saat dia hanya bisa berdiri melongo, kalau begitu bukankah itu berarti bahwa Tong po lo sat bukan lain adalah ibu gurunya sendiri?

Jadi kalau begitu tujuannya mencari tahu asal usul kitab pusaka Hud jiu po pit dan asal usul ilmu silatnya adalah untuk masalah itu.

Sementara si anak muda itu masih termenung, nenek tua itu telah berkata lagi.

"Nah, sekarang dapat kau terangkan kepadaku, sekarang dia berada dimana?"

"Dia.... dia orang tua, sudah berpulang ke alam baka semenjak enam puluh tahun berselang."

Sekujur badan Tong po lo sat bergoncang keras hampir saja roboh terkapar ketanah.

"Dia....dia sudah mati?"

Bisiknya dengan suara yang gemetar.

"Yaa, dia sudah berpulang kealam baka"

"Aaah, kamu omong kosong Coba kutanya berapa usiamu tahun ini? Mana mungkin..."

"Secara kebetulan boanpwee mempunyai jodoh dengan beliau, tanpa sengaja kitab pusaka peninggalannya telah berhasil kutemukan"

Setelah mendengar penjelasan itu, Tong po lo-sat baru mengayunkan telapak tangannya, dengan ilmu totokan udara kosong dia menotok bebas jalan darah Han siong Ki.

Begitu mendapat kebebasan, serta merta sianak muda itu melompat bangun, kemudian sambil menjura dalam dalam dihadapan si nenek itu, ujarnya dengan penuh rasa hormat.

"Boanpwe menghunjuk hormat buat subo"

"sudahlah, tak usah banyak adat lagi Cepat kau ceritakan pengalamanmu itu kepadaku"

Maka berceritalah Han siong Ki tentang penemuan aneh yang dialaminya didalam hutan, bagaimana ia mendapat bantuan tenaga dalam dari se ekor kura kura ajaib, kemudian bagaimana dia belajar silat lagi dibawa bimbingan Mo mo ci mo...

Selesai mendengar kisah tersebut, dengan air mata bercucuran dan suara sesunggukan Tong po losat berkata begini.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 47 Berbicara sampai disini, sorot matanya lantas menyapu sekejap wajah Buyung Thay bertiga, kemudian dengan dahi berkerut serunya.

"suci, apakah mereka bertiga telah..."

Agak merah wajah sinona baju hitam itu sehabis mendengar teguran tersebut, sahutnya dengan cepat.

"Aaah... jalan darah mereka hanya tertotok, mereka bertiga adalah..."

"Yang berbaju merah itu bernama Buyung Thay, dia dengan aku adalah kakak beradik, sedang dua orang lainnya adalah adalah anak buahku, yang laki laki bernama seng Khe ki, sedang yang perempuan bernama Hong Ing ing, mereka adalah suami istri"

"ooooohh..."

Dengan cepat diapun turun tangan untuk membebaskan jalan darah mereka bertiga yang tertotok.

Begitu jalan darahnya ditepuk bebas, Buyung Thay dan Hek pek siang yau segera melompat bangun, tapi ketika sinar mata mereka menyapu sekejap ruangan batu itu, sikap mereka agak tertegun.

Han siong Ki tak ingin rekan rekannya kebingungan, maka diapun menerangkan kejadian yang telah berlangsung, sekalian memperkenalkan mereka bertiga kepada nona tersebut.

Begitulah, setelah saling berkenalan, sinona berbaju hitam itupun berkata.

"Maafkaniah kekasaran siau moay, yang telah membuat kalian bertiga sedikit menderita "

"Aaah....tidak berani"

Cepat cepat Hek pek siang yau menyahut dengan suara merendah.

Sedangkan Buyung Thay tetap membungkam, rupanya dia masih merasa rada penasaran dengan kejadian barusan, Tapi lantaran memandang wajah Han siong Ki, maka diapun cuma tersenyum belaka.

Selanjutnya sinona berbaju hitam itupun berkata lagi.

"Berbicara tentang ilmu silat, sudah pasti siaumoay bukan tandingan dari salah seorang diantara kalian bertiga, tapi oleh karena aku telah mengandalkan posisi yang lebih menguntungkan serta melancarkan sergapan dikala kalian bertiga tak siap sedia, maka jadilah kalian bertiga kena kuselomoti. Padahal berbicara sesungguhnya, bukit Kiu ci san ini mulai dari kaki bukit sampai puncak bukit boleh dibilang sudah dilengkapi dengan lorong lorong melingkar yang ada dibawah tanah, tiap tiap selisih jarak satu kaki tentu ada sebuah lubang pengintaian kecil, bila kita melepaskan senjata rahasia Kim-che-pi-auw dari lubang lubang diatas dinding tersebut, maka boleh dibilang serangan kami ini tak pernah meleset, tapi kenyataannya kalian bertiga bisa mencapai tingkat petunjuk, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silat yang kalian miliki memang betul-betul terhitung luar biasa!"

Han-siong-Ki tidak begitu menaruh perhatian terhadap pembicaraan yang sedang berlangsung, sebab dia masih menguatirkan keselamatan jiwa dari Go-Siau-bi.

Perkawinannya dengan Go-Siau-bi boleh dibilang adalah hasil karya dari ibunya, maka apabila Go-Siau-bi sampai mengalami sesuatu musibah yang berada diluar dugaan, bukan saja dia tak dapat mempertanggung jawabkan persoalan ini ter hadap ibunya, sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, ternyata ia tak mampu melindungi keselamatan jiwa seorang perempuan, apabila kejadian ini sampai tersiar didunia persilatan, sudah pasti kejadian tersebut akan sangat mempengaruhi nama baiknya.

Apalagi selain itu.

perasaan halusnya juga tidak mengijinkan dia untuk berpeluk tangan belaka.

Maka dengan perasaan gelisah, ujarnya kepada si nona berbaju hitam itu.

'Suci, bagaimana dengan bakal istriku Go Siau bi......

"Sute, masa engkau masih belum percaya dengan ucapanku?"

Tukas nona berbaju hitam itu dengan wajah sungguh-sungguh.

"Bukannya aku tidak percaya, tapi justru siaute ingin bertanya kepada diri suci, ketika engkau sedang meninggalkan surat peringatan itu, apakah kau temukan sesuatu pertanda yang mencurigakan hati?"

"Kejadian ini betul-betul merupakan suatu peristiwa yang tidak untung, dan rupanya orang, yang melakukan penculikan itu memang sengaja hendak manfaatkan kesempatan yang sangat baik itu, yaa...... memang terjadinya peristiwa ini terlampau kebetulan!"

"Padahal engkau tahu suci, Go Siau bi sudah menderita luka dalam yang sangat parah, aku kuatir bila tidak cepat diobati maka akibatnya ......, aaaai!"

Sebagai akhir dari perkataannya, pemuda itu menghela napas panjang. Buyung Thay yang selama ini hanya membungkam terus tiba-tiba menyela pelan dari samping "

Adik Ki selama engkau melakukan tugas itu, apakah kau temukan jejak dari orang orang yang patut dicurigai? Atau mungkin ada orang lain yang mengetahui rencana kerjamu itu lebih dahulu?"

Han siong Ki termenung juga beberapa saat lamanya, tapi karena tidak berhasil menemukan sesuatu jawaban yang memuaskan hati akhirnya dia mohon pamit.

"suci"

Katanya "tolong sampaikan kepada subo bahwa kami akan mohon diri" -ooo0dw0ooo-BAB 96 si Nona berbaju hitam Ko Goan cun mengernyitkan alis matanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia masuk kepintu rahasia, tapi selang sesaat kemudian ia telah munculkan diri "sute"

Katanya kemudian "pada saat ini perasaan suhu sedang murung dan tidak senang hati, dia segan menjumpai dirimu lagi, maka kalian boleh segera turun gunung, Akupun telah melapor kepada suhu untuk ikut serta diri sute untuk terjun kedalam dunia persilatan dan membantu menemukan kembali jejak bakal istrimu"

"Aaah... mana aku berani merepotkan suci untuk ikut ikutan berkeliaran kesana kemari?"

Buru-buru Han siong Ki berseru..

"Asal mula terjadinya peristiwa ini adalah lantaran ulahku, maka akupun merasa ikut bertanggung jawab dalam masalah ini, harap sute jangan menampik lebih jauh"

Han-siong Ki termenung sebentar, akhirnya diapun berseru.

"Kalau memang demikian, ayolah kita segera berangkat!"

Berangkatlah mereka berlima meninggalkan ruang batu itu menuruni bukit tersebut.

Bagi Hek-pek-siang-yau, mereka hanya tahu menghormati dan menuruti perintah Han-siong Ki maka kedua orang itu tidak rerasa kesal, berbeda dengan Han-siong Ki, Buyung Thay serta Ku Goan-cu yang terlibat dalam peristiwa itu perasaan mereka sangat dan murung sekali, Go Siau-bi telah lenyap tak berbekas, jejaknya sama sekali tidak ketahuan, sekalipun mereka sedang berusaha untuk melakukan pencarian, tapi tak tahu kemana harus mencarinya.

Orang yang meninggalkan surat peringatan itu rupanya mempunyai dua tujuan kesatu meminjam golok untuk membunuh orang, bila siasat itu tidak mendatangkan hasil mereka dapat menyandera untuk memaksakan tuntutan mereka, tapi apakah tujuan mereka sebenarnya amatlah sulit untuk diduga mulai sekarang, dan kemungkinan yang paling besar adalah soa "Dendam"

Kebetulan sekali, kejadian itu berbarengan dengan peristiwa Ko Goan-cun yang meninggalkan surat perjanjian, meski rada kebetulan sifatnya toh kenyataannya memang demikian.

Maka, satu-satunya penyesalan yang dapat dikatakan pada saat ini adalah kemungkinan orang tersebut sudah lama melakukan pengintaian, dan melibat ada kesempatan baik yang tersedia, dia segera memanfaatkannya dengan sebaikbaiknya.

Ditengah perjalanan, tiba-tiba Ko Goan-can menuding kemuka seraya serunya dengan merdu;

"Coba lihatlah kedepan sana, bila kita bergerak menuju ke barat, maka sepuluh li kemudian akan sampailah kita diwiiayah Lian-huan-tau!"

Ucapan tersebut serta merta mengobarkan api dendam, api benci yang berkecamuk didada Han-Siong Ki, dia lantas teringat kembali semua sakit hati yang terjalin antara dia dengan orang-orang Thian-che-kau.

Rupa-rupanya anak muda itu tak dapat mengendalikau perasaannya lagi, sambil berhenti berlari serunya.

"Tunggu sebentar!"

Dengan terperanjat beberapa orang itu menghentikan gerak tubuh mereka masing-masing.

"Adikku, ada apa?"

Buyung Thay bertanya dengan dahi berkerut karena heran.

"Aku minta engkau dan suci bersedia untuk berangkat setindak lebih duluan"

"Kenapa? Mau apa kau?"

"Aku hendak menyatroni Lian huan tau"

Nona baju hitam Ko Goan cun masih belum mengetahui tentang dendam kesumat yang terjalin antara Han-siong Ki dengan Thian che kaucu. Mendengar ucapan tersebut dia jadi tercengang.

"Mau menyatroni Lian huan tau? Markas besar perkumpulan Thian che kau yang termashur itu."

"Yaa betul"

"Kenapa? ada urusan apa antara kau dengan mereka?"

"Akan kubantai semua orang Thian che kau, akan kucuci bersih Lian huan tau dengan darah mereka"

"Apakah engkau mempunyai dendam dengan orang orang Thian che kau?"

Ko Goan cun bertanya lagi dengan tertegun.

"Yaa dendam kami lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari samudra "

"Adikku, kalau memang demikian ayoh kita berangkat bersama sama"

Seru Buyung Thay dengan paras muka berubah hebat.

"Tidak kalian tak boleh ikut"

"Kenapa?"

"Dalam soal pembalasan dendam, aku tak ingin meminjam tenaga orang lain untuk melakukannya "

"Tapi kau harus tahu adikku, kawanan jago yang dimiliki Thian che kau tak terhitung banyaknya, alat alat rahasia yang mereka miliki pun berlapis-lapis, sekalipun mengandalkan kekuatanmu dan kedua orang anak buahmu belum tentu..."

"Apa yang musti kutakuti?"

Tukas pemuda itu cepat.

Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 10

Baca Juga: Amarah Pedang Bunga Iblis 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert