Eps 14 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
"Adikku, adik Ko adalah sucimu dan akupun kau sebut sebagai cici, masakah kau masih menganggap kami semua adalah orang orang asing? Bila kau ingin membunuh Yu Pia lam, kami tak akan ikut serta membonceng kebolehanmu, tapi untuk menghancurkan perkumpulan Thian che kau untuk membuatkan pembalasan dan menegakkan keadilan bagi perkumpulan perkumpulan dalam dunia persilatan, kami merasa punya hak untuk ikut serta, masa engkau masih menolak harapan kami ini?"
"Huuuh..... besar amat omongnya, memang dianggap gampang untuk melakukan apa yang baru diucapkan itu?"
Seorang menimpali dengan suara yang dingin Menyusul ucapan yang dingin yang kaku itu, dari balik hutan kurang lebih lima kaki ditempat mereka berada muncullah seorang laki-laki setengah baya yang berjenggot panjang.
Berubah hebat paras muka Buyung Thay sesudah mengetahui siapa gerangan yang datang, hawa nafsu membunuhnya seketika itu juga menyelimuti seluruh wajahrya.
"Oooh..... Tamu berjenggot indah Huan Kang!"
Seru Hansiong Ki pula dengan suara tertahan.
Sebagaimana pernah diketahui, oleh karena si Tamu berjenggot indah Huan Kang gagal untuk mendapatkan cinta kasih dari Buyung Thay, ia telah melimpahkan segala kemarahannya kepada Han siong Ki, bahkan untuk itu dia telah menggunakan ilmu "Kuay-ciang-cong-to"
Telapak tangan kilat sembunyi golok untuk melukai pemuda itu. Maka dikala musuh bebuyutan saling bertemu muka, merah membaralah sepasang mata Han-siong Ki dibuatnya, dia lantas mendengus dingin.
"Hmmm... ! Orang she-Huan kembali kita bertemu muka, tentunya engkau masih belum lupa bukan dengan hutang piutang kita dimasa lalu?"
Dengan gemas bercampur mendongkol si Tamu berjenggot indah Huan-Kang melotot sekejap kearah Buyung-Tnay, kemudian ia baru berpaling ke arah Han-siong-Ki seraya katanya.
"Tentu saja aku tak akan melupakannya setiap saat aku selalu menantikan datangnya petunjuk dari kamu sekalian!"
"Kalau meinang demikian, bagus sekali!"
Han siong-Ki bergerak maju kedepan.
"Tunggu sebentar.....!"
Tiba-tiba si tamu berjenggot putih kembali berseru.
"Perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan?"
Sorot mata si tamu berjenggot indah Huan-Kang sekali lagi menatap wajah Buyung Thay, Kemudian dengan suara yang dingin kembali dia berkata.
"Han-siong-Ki sejak dulu sampai sekarang perempuan cantik adalah pembawa bencana, kau akan runyam sekali dibuatnya oleh kegemaranmu sendiri....."
Oleh perkataan yang tak diketahui ujung pangkalnya ini, Han-sioag-Kie merasakan hatinya bergetar keras.
"Huan-Kang, apa maksudmu dengan perkataan itu....?"
Diapun menegur dengan nyaring.
"Heeehhh.....heeeehhh..........heeehhh bukankah teman perempuanmu telah lenyap tak membekas?"
Ejek si tamu berjanggut indah Huan Kong sambil tertawa seram "Heehhh.......hehhhh.........heehhh.. .. Jangan panik dulu ciangbunjin, bukankah teman perempuanmu itu bemarua Go Siau-bi?"
Gelak tertawa yang tersungging diujung bibir orang itu makin sadis.
Han-siong Ki merasakan debaran jantungnya berdetak keras, demikian pula dengan Buyung Thay serta Ko Goan-cun.
wajah mereka segera menunjukan sikap yang tegang.
"Dirimana kau bisa tahu?!"
Han-siong Ki membentak penuh emosi sambil melangkah setindak kedepan "Hmn.....!
Tentu saja aku tahu, bahkan mungkin satusatunya orang yang mengetahui duduknya peristiwa itu dengan jelas!
"Sees........sekarang .......sekarang dia ada dimana?"
Suara Han-siong Ki rada gemetar.
'"Kau hendak menerima kembali mayatnya?'' Huan Kang balik bertanya dengan wajah sinis.
Ucapan tersebut seakan akan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, dengan badan gemetar keras Han-siong Ki mundur sempoyongan sejauh beberapa langkah, hampir saja dia jatuh pingsan saking kagetnya, sebab bila didengar dari nada ucapan tersebut, jelas menunjukan bahwa Go Siau bi sudah tiada lagi.
"Huan Kang, teraigkan perkataanmu sejelas-jelasnya!"
Teriak Buyung Thay marah.
"Haaahhh.....haahh....,.haahh......tentu saja harus diterangkan sejelas-jelasnya"
Sahut Tamu berjenggot indah Huan Kang sambil tertawa dingin tiada hentinya "kalau tidak demikian lantas buat apa kutampilkan diri disini?"
"Ayoh cepat katakan, siapa yang telah melakukan perbuatan keji itu?"
Teriak Han-siong Ki sambil menggigit bibir menahan emosi.
"Semestinya orang itu sudah bisa kau duga sendiri."
"Siapa?"
"Seorang perempuan yang ingin mengangkangi dirimu, seorang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan!"
Suatu ingatan segera melintas dalam benak Han siong Ki, dengan nada agak gemetar tanyanya lagi.
"Siapakah orang itu?"
Sinar mata si Tamu berjenggot indah Huan Kang yang sinis pelan pelan dialihkan ke tubuh Buyung Thay lalu dengan suara menghina katanya dengan tajam.
"Ratu tawon, sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada kekasihmu itu"
Sekujur badan Han siong Ki bergetar keras, hampir meledak dadanya saking mendongkolnya .
Paras muka Buyung Thay sendiripun telah berubah jadi hijau membesi, teriaknya penuh kebencian "Huan Kang, jika kau tidak kubunuh, aku bersumpah tak akan hidup sebagai seorang manusia"
Ditengah satu bentakan keras, tubuhnya yang ramping mendadak melompat keudara, kemudian dengan garangnya menerkam diri si Tamu berjenggot indah Huan Kang yang berada dihadapannya...
"Berhenti kamu"
Suatu bentakan nyaring kembali menggelegar di udara, berbareng dengan suara bentakan itu, segulung angin pukulan yang keras bagaikan tindihan bukit karang melanda kedepan.
Waktu itu Buyung Thay sedang melambung di udara, termakan oleh tenaga pukulan yang sangat kuat itu, badannya tergetar keras dan merosot kembali ketanah, malah dengan sempoyongan perempuan itu harus mundur beberapa langkah lagi sebelum akhirnya dapat berdiri tegak.
Hawa napsu membunuh yang tak terkirakan tebalnya menyelimuti wajah Han siong Ki, ditatapnya wajah Buyung Thay lekat lekat, lalu menggertak gigi menahan emosi teriaknya.
"Sungguh tak kusangka kalau dibilik wajahmu yang begitu cantik bak bidadari dari kahyangan, sebetulnya memiliki hati yang lebih keji daripada racunnya kalajengking"
Si nona baju hitam Ko Goan cun juga berubah wajah oleh perubahan situasi itu.
Hek pek siang yau bergerak cepat, tanpa mengucapkan sepatah katapun satu dari kiri yang lain dari kanan segera mengancam Buyung Thay dengan bengisnya.
Setelah terjadi perubahan besar dalam arena tersebut, si Tamu berjenggot indah Huan Kang juga tidak banyak bicara lagi, diam diam ia ngeloyor pergi dari sana lalu kabur kedalam hutan.
Tak terlukiskan rasa gusar yang berkobar didada Buyung Thay, mukanya sebentar jadi hijau sebentar kemudian jadi merah, matanya yang berapi-api hampir melotot keluar, sekujur badannya gemetar keras menahan emosi yang makin meluap.
Dengan tatapan mata yang tajam Han-siong-Kie menatap sekejap wajah Hek-pek-siang-yau dan Ko-Goan cun, kemudian dengan suara yang keras ibaratnya guntur yang membelah bumi, ia berseru "Mundurlah kalian bertiga...."
Hawa napsu membunuh yang begitu tebalnya menyelimuti wajah pemuda ini, membuat siapapun yang memandangnya merasakan hatinya bergidik, tanpa berani membantah ketiga orang itu lantas mundur satu kaki kebelakang.
Selangkah demi selangkah Han-siong-Kie maju ke muka mendekati Buyung-Thay, lalu ujarnya dengan suara tajam;
"Buyung-Thay aku hendak membunuh kau! Bersiap-siaplah untuk menerima kematianmu itu..."
Dengan tubuh bergetar keras Buyung-Thay mundur satu langkah, kemudian katanya dengan nada gemetar.
"Kau......kau.....jadi kau percaya dengan perataannya?"
Han-siong-Kie tidak segera menjawab, otaknya berputar keras untuk memikirkan masalah tersebut, pada hakekatnya peristiwa lenyapnya Go-Siau bi merupakan suatu kejadian yang mencurigakan bukankah Buyung-Thay telah menawarkan diri untuk melindungi keselamatan gadis itu?
Kalau ditinjau dari kepandaian silat yang dimilikinya, rasanya tak mungkin kalau sampai terjadi peristiwa ini, apalagi suatu peristiwa yang terjadinya sangat kebetulan......sudah tentu lain ceritanja kalau dibalik kesemuanya itu terdapat suatu kesengajaan.
Maka setelah berpikir sekian waktu, dengan wa jah yang tetap kaku anak muda itu membentak.
"Hmm.......penjelasan apalagi yang harus kuberikan kepadamu? Kalau tidak kupercayai perkataannya, memangnya aku harus percaya dengan perkataanmu?"
Rupanya Buyung-Thay cukup menyadari betapa tidak menguntungkannya posisinya saat itu, perhatiannya segera dialihkan kembali ke muka, tiba tiba ia berteriak.
"Huan-Kang, kau bangsat terkutuk......serahkan selembar jiwa anjingmu.......!"
Menyusul teriakan tersebut, tubuhnya melambung ke udara kemudian secepat sambaran kilat meluncur ke dalam hutan untuk mengejar jejak laki laki tadi.
Han siong Kie tidak menyangka kalau perempuan cantik itu akan mengambil tindakan untuk kabur dari situ, untuk sesaat ia tak sempat melakukan penghadangan, maka tubuhnya lantas melejit dan menyusul pula dibelakangnya.
Dalam sekejap mata, Buyung Thay sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula, sedang jauh didepannya tampak pula sesosok bayangan manusia sedang kabur terbirit birit.
Han siong Kie tak ingin musuhnya teriepas dengan begitu saja, dia mengumpulkan hawa murninya lalu seenteng asap secepat kilat pemuda itu melakukan pengejaran ketat dari belakang.
Dalam waktu singkat, mereka telah menembusi hutan itu dan tiba diluar hutan yang lebih lapang tanahnya.
Dalam pada itu selisih jarak antara Buyung Thay dengan Huan Kang pun kian lama kian bertambah dekat sehingga akhirnya jarak mereka tinggal lima kaki...
"Huan Kang Bangsat berhenti pengecut! Berhenti kau....ayoh serahkan jiwa anjingmu itu kepadaku"
Buyung Thay kembali mencaci maki penuh kebencian.
Tapi si Tamu berjenggot indah Huan Kang sama sekali tidak memberi tanggapan bahkan menggubrispun tidak, seakan akan dia tak pernah mendengar seruan tersebut, larinya malahan diperkencang.
Habislah kesabaran Buyung Thay menghadapi musuh yang amat dibencinya itu, segenggam jarum toh hun ciam segera disiapkan, kemudian dengan sistim penyambitan yang luar biasa dia tebarkan jarum jarum maut tersebut kedepan.
Jerit kesakitan segera berkumandang diudara, si Tamu berjenggot indah Huan Kang maju beberapa langkah dengan sempoyongan, kemudian roboh terjungkal diatas tanah.
Melihat musuhnya sudah roboh, Buyung Thay menerjang makin dekat, ia tak sudi memberi kesempatan hidup bagi lawannya, sambil melakukan tubrukan kilat telapak tangannya segera diayun kebawah....
"Tahan."
Bentak Han siong Ki.
Sayang bentakan itu terlambat dengan diiringi suatu benturan yang keras, batok kepala si Tamu berjenggot indah Huan Kang kena dihantam sampai hancur berantakan, darah dan isi otak segera bertebaran kemana mana.
"Buyung Thay, kau benar benar keji "
Geram Han siong Ki sambil menahan rasa dongkolnya.
"Han siong Ki, kau..."
"Hmmm memangnya kau anggap aku bodoh? Kau anggap aku tidak mengenal tipu muslihatmu?"
"Heeehhh... heehhh.... heeehhhh... membunuh untuk menghilangkan bukti, memangnya kau anggap dengan perbuatanmu itu maka aku percaya dengan obrolan? Hhmm, jangan berpikir terlampau kekanak kanakan"
Buyung Thay tidak berbicara, ia menggigit bibir sambil membungkam dalam seribu basa, air mata bercucuran membasahi pipinya yang lembut dan putih, tubuhnya gemetar keras menahan emosi yang meluap-luap.
mengenaskan sekali keadaannya.
"Buyung Thay"
Kembali Han siong Ki mernbentak keras.
"setelah Huan Kang kau bunuh, sekarang tibalah pada giliranmu untuk menerima kematian.... ayo, bersiap siaplah untuk menghadapinya "
Begitu kata kata tersebut berakhir, diiringi bentakan nyaring sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.
"Blaang..."
Jerit kesakitan menggema di angkasa, Buyung Thay termakan oleh pukulan itu dengan telak, darah kental berhamburan dari mulutnya, sedang tubuhnya yang mungil mencelat sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.
Oleh peristiwa yang tak terduga ini, Han siong Kie malahan berdiri tertegun, mimpipun ia tak menyangka kalau Buyung Thay sama sekali tidak memberi perlawanan terhadap serangannya itu.
Buyung Thay sendiri bangkit berdiri dengan sempoyongan, meski isi perutnya sudah terluka namun ia berusaha untuk menahan diri, ditatapnya pemuda itu dengan pandangan benci dan sedih, lalu makinya dengan penuh rasa gemas.
"Han siong Keng, kau adalah makhluk berdarah dingin Kau adalah makhluk yang tidak berperasaan"
"Hmm.... perduli apapun yang hendak kau ucapkan, pokoknya aku tak bisa mengampuni nyawamu dengan begitu saja, ini hari aku akan mencabut jiwamu"
Seru Han siong Kie keras, hawa napsu membunuhnya masih jelas menyelimuti wajahnya.
"Han siong Ki, anggaplah mataku memang buta, anggaplah aku Buyung Thay memang seorang bernasib jelek sehingga bisa berkenalan dengan manusia macam kau"
Han siong Ki melangkah maju tiga tindak ke depan, diapun berseru dengan suara lantang.
"Hmm Aku juga menyesal sekali, kenapa semenjak dulu masih percaya dengan perkataan perkataan manis dari kau si perempuan cantik berhati ular" . Sambil menggigit bibirnya menahan emosi, Buyung Thay sedikit merintih, darah kental kembali bercucuran membasahi ujung bibirnya. Sikap maupun mimik wajahnya waktu itu sungguh mengenaskan sekali, membuat siapapun orang melihatnya ikut beriba hati. Tapi Han siong Kie sudah tidak tertarik lagi oleh sikap mengenaskan itu, diapun tidak mempunyai rasa kasihan atau sayang terhadap perempuan cantik tersebut, apa yang dia pikirkan sekarang adalah rasa benci, rasa dendam yang berkobar kobar, apa yang ada sekarang cuma hawa napsu membunuh yang sangat tebal. Tiba tiba telapak tangannya diayunkan ketengah ndara, lalu ujarnya dengan keras.
"Perempuan siluman berhati kejam, hutang darah dibayar darah, hutang nyawa bayar nyawa, kalau tidak terlalu penasaran rasanya bila sekarang juga kurenggut nyawamu"
Begitu kata kata terakhir diucapkan keluar, diiringi bentakan nyaring sebuah pukulan maha dahsyat telah dilepaskan kedepan membacok tubuh lawannya...
"Tunggu sebentar"
Serentetan bentakan nyaring menggelegar diudara, menyusul suara bentakan itu, segulung hawa pukulan yang kuat bagaikan gulungan ombak ditengah samudra menyapu datang dari arah samping, kekuatan tersebut membuat serangan dari Han siong Ki itu tertumbuk hingga miring kesamping..
Ternyata orang yang barusan melancarkan serangan itu tak lain adalah Ko Goan cun.
Rupanya Buyung Thay sangat tersinggung perasaannya oleh sikap Han siong Ki yang begitu mendesak.
dari sedihnya dia menjadi nekad, tiba tiba telapak tangannya diayun keudara lalu teriaknya menahan geram yang berkobar kobar "Han siong Ki, mari kita adu nyawa dan mati bersama"
Dalam genggamannya ia sudah disiapkan berpuluh-puluh batang jarum Toh hun ciam, seandainya jarum jarum itu sampai disemburkan ke angkasa, niscaya setiap jago yang hadir disekitar arena akan termakan oleh serangan tersebut.
Dengan kaget dan perasaan yang ngeri Han siong Ki mundur beberapa langkah ke belakang..
"Kau berani bertindak sekeji itu?"
Teriaknya menahan geram yang makin menjadi.
"Kenapa tidak berani?"
Buyung Thay balas menggertak sambil menggigit bibir.
Hek pek siang yau, sepasang silumen hitam dan putih sudah bersiap siaga melakukan terkaman, tapi kedua orang itu tak berani bertindak secara gegabah, sebab sebelum Han siong Ki menurunkan perintahnya, mereka berdua harus tunduk di bawah perintah ketuanya.
Ko Goan cun sendiri, ketika menyaksikan adegan tersebut segera serunya dengan penuh emosi.
"Enci Buyung, kalau ada persoalan marilah kita bahas secara baik baik, kenapa harus terburu nafsu dan mengikuti angkara murka yang berkobar dihati? Tenangkan dulu hatimu cici, mari kita bersama sama memecahkan persoalan ini dengan otak dingin"
Buyung Thay menghela napas panjang, pelan pelan dia turunkan kembali tangannya.
"Han siong Ki"
Ia berkata kemudian dengan rasa sedih dan perasaan yang tersayat sayat.
"untuk kali ini baiklah kutelan semua sikap kasarmu itu tanpa membalas, yaa. semoga saja dikemudian hari kau tak akan menyesal dengan sikapmu itu... selamat tinggal dan sampai jumpa lagi lain kesempatan"
Begitu selesai berkata, dia lantas menjejakkan kakinya ditanah dan melayang pergi dari situ.
Bayangan merah tampak berkelebat lewat, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan yang lebat.
Han siong Ki hanya bisa berdiri termangu mangu tanpa mengerti apa yang harus dilakukan, untuk sesaat dia hanya bisa mematung dengan mulut membungkam dalam seribu basa.
si nona baju hitam Ko Goan cun mengernyitkan pula sepasang alis matanya, ujarnya kemudian.
"sute, tidak pantas kalau engkau bersikap sekasar itu terhadap seorang perempuan, sekalipun dia bersalah misalnya, tidak perlukah kau bersikap seolah-olah hendak membunuhnya, bagai manapun juga duduknya persoalan tali belum jelas Berilah kesempatan baginya untuk membela diri, rasanya tidak ada salahnya bukan?"
"Huuh... Apa yang harus kuragukan lagi tentang perbuatan kejinya itu? Kenapa pula orang itu harus diberi kesempatan untuk membela diri? Percuma, hanya membuang waktu waktu belaka"
Tukas Han siong Ki ketus, sementara sorot matanya memandang kejauhan tanpa berkedip.
"Sute Sebelum kau mendapat bukti yang nyata yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar melakukan kesalahan, janganlah kau lontarkan tuduhan itu, selidiki dulu duduknya persoalan sampai menjadi jelas, siapa tahu kalau penilaianmu sekarang adalah penilaian yang keliru"
"Dengan dasar apa suci dapat mengatakan kalau aku mungkin keliru..?"
Ko Gan cun menghela napas panjang.
"Aaaai... Terus terang saja kukatakan, semenjak awal kemunculan laki-laki tadi, aku sudah merasakan sesuatu perasaan yang aneh, aku lihat dibalik sorot mata orang she Huan itu seakan akan memancarkan rasa cemburu yang amat tebal, lagi pula mukanya licik dan sangat mirip dengan seorang manusia berbahaya yang banyak tipu muslihatnya, siapa tahu kalau laki-laki she Huan itu memang sengaja..."
Meskipun nona baju hitam itu tidak melanjutkan katakatanya, tapi Han siong Kie sudah memahami apa yang hendak dia katakan, kontan saja perasaannya bergetar keras.
"Benar juga ucapan tersebut"
Demikian pikirnya dihati.
"sepanjang pengetahuanku si tamu berjenggot indah Huan Kang selalu mengejar Buyung Thay agar mau menerima cintanya, tapi Buyung Thay selalu menolak pernyataan cintanya itu, siapa tahu karena gagal mendapatkan cinta maka timbul rasa benci dihatinya dan menggunakan sifat fitnahan ini untuk mencelakai jiwanya....? Tapi... aaai, Buyung Thay kan bisa membela diri dan membantah tuduhan tersebut? Kenapa ia harus membunuh orang she Huan tersebut? Bukankah membunuh orang itu sama juga artinya melenyapkan saksi sebagai tindakan untuk menutupi kejahatan yang telah dilakukannya ?"
Berpikir sampai disini, pemuda itupun menggeleng.
"Aku rasa tak mungkin"
Katanya.
"dia jelas mempunyai kesempatan untuk membantah dan membela diri sendiri? Tapi ia tidak berbuat demikian, ia malah membunuh Huan Kang untuk menutupi perbuatannya "
"Tapi.. sute, mungkin juga serangan keji itu dia lancarkan lantaran hatinya sedang marah dan diliputi rasa benci, kadangkala bila seseorang sudah mata gelap, tindakan apapun bisa dilakukan."
Han siong Ki menggelengkan kepalanya berulang kali.
"suci, pikiran dan perasaanku sedang kalut, janganlah kita bicarakan persoalan ini lebih dulu, kalau hendak mempersoalkan kembali masalah itu, kita toh bisa membicarakannya lain saat"
Pintanya.
"dan lagi, sekalipun kau banyak bicara, aku toh tak akan melepaskannya dengan begitu saja."
Tapi Ko Goan cun tidak berhenti sampai disitu saja, ia berkata lebih jauh.
"selain daripada itu, andaikata Go siau-bi benar benar telah mati, lalu dimanakah jenasahnya? Kenapa tidak kau tanyakan persoalan ini hingga menjadi jelas?"
Han siong Ki mnghentak hentakkan kakinya ke tanah.
"Benar.. ucapan itu memang benar, sialan Kenapa aku tak bisa berpikir sampai kesitu? Kenapa persoalan ini tidak kutanyakan kepadanya?"
Dengan penuh rasa menyesal kembali dia menghela napas.
"Lalu.. apa yang musti kita lakukan sekarang?"
Nona ita bertanya kemudian-"Apa lagi...? Tentu saja menyatroni Lian huan tau dan kita sikat orang orang Thian che kau"
"Kalau memang begitu, apa yang harus kita tunggu lagi? Ayoh berangkat...."
Maka berangkatlah keempat orang itu menuju ke arah barat dengan kecepatan penuh.
Han siong Ki betul betul merasa pikirannya kalut dan tak tenteram, pemuda itu merasa seakan akan sedang kehilangan sesuatu, rasa sedih yang terjadi dengan tiba tiba ini membuat otaknya jadi berat dan matanya berkunang kunang.
Sekarang ia baru merasakan apa artinya hidup, bagaimana sengsaranya hidup dan apa yang dimaksudkan dengan romantikanya orang hidup Satu satunya orang yang paling dikasihi Tonghong-Hui telah mati, mati karena adat, berkorban demi cinta kasihnya yang tak akan kesampaian.
Sedang Go siau bi, orang yang tak dicintai, tapi mau tak mau harus dicintai sekarang sudah mati juga.
Dari sana diapun lantas teringat pula akan kematian gurunya Mo tiong ci mo, kematian dari Thio sau-kun, kematian dari adiknya Han siong Hiang.
Kematian...
yaaa kematian memang tak bisa dipisah pisahkan dengan manusia hidup, kematian bisa terjadi setiap saat dan setiap saat waktu walau ada dimanapun jua.
Jarak sejauh sepuluh li, dalam waktu singkat telah ditempuh, Lian huan tau, Markas besar perkumpulan Thian che-kau telah berada didepan mata mereka.
Han siong Ki mengulapkan tangannya mencegah rekan rekannya melanjutkan perjalanan memasuki lembah tersebut, lalu kepada Hek pek siang yau pesannya.
"Berjaga-jagalah dimulut lembah ini, jangan biarkan seorang manusiapun lolos dari sini dalam keadaan selamat"
"Terima perintah"
Dua orang siluman itu mengiakan-Tiba tiba siluman hitam seng Khe ki berkata dari samping.
"ciangbunjin, tecu ada satu permintaan yang hendak kuajukan kepadamu, apakah ciangbunjin bersedia mengabulkannya?"
"Apa permintaan itu? Katakan"
"sekarang, Hun-si mo ong telah menjadi kepala pelindung hukum dari perkumpulan Thian che kau dan iblis tua itu mempunyai ikatan dendam berdarah dengan perguruan tecu."
"Oooh... aku mengerti, tak usah kuawatir, orang itu pasti tak akan kubunuh, dia tentu akan kuserahkan kepada kalian berdua"
Sela si anak muda itu cepat.
"Terima kasih ciangbunjin"
Dalam keadaan seperti ini, yang tinggal dalam benak Han siong Kie sekarang hanyalah kobaran api dendam yang menyala nyata, semua kesedihan dan kemurungan yang semula menyelimuti hatinya, kini sudah lenyap tak berbekas.
Maka setelah diawasinya sekeliling mulut lembah itu dengan tatapan mata tajam, ujarnya kepada Ko Goan cun "Suci, harap kaupun bersedia menantikan kedatanganku diluar lembah saja"
"Tapi...sute...."
Si nona berbaju hitam itu kelihatan agak keberatan.
"Jangan membantah lagi suci"
Tukas pemuda itu cepat.
"harap kau dapat memaklumi kesulitan yang kuhadapi, ketahuilah suci, aku telah bersumpah akan membalas dendam dengan tanganku sendiri, aku tak ingin orang lain membantu usahaku ini"
"Tapi.... sute, Lian hun tau adalah suatu lembah yang sangat berbahaya, setiap langkah yang keliru dapat mengakibatkan datangnya bencana "
"lbu telah menghadiahkan peta lembah tersebut kepadaku, dan lagi akupun sudah berpengalaman sebanyak dua kali masuk keluar dalam lembah ini, aku yakin lembah tersebut masih belum dapat menyesatkan diriku"
"Tapi kau musti tahu sute, jago jago yang tergabung dalam perkumpulan Thian ce kau tak terhitung jumlahnya, lagipula ilmu silat yang mereka miliki rata rata sangat lihay, aku kuatir dengan kekuatan sute seorang..."
"Huuh... kalau cuma manusia sebangsa kurcaci kurcaci itu masih belum kupandang sebelah matapun, suci tak usah kuatir Lihat saja kemampuanku untuk menyikat habis mereka"
"Sute, Jadi kau telah bersikeras untuk menempuh bahaya dengan kekuatanmu seorang diri?"
"Yaa suci, sebab inilah yang kuharap harapkan selama ini dan harapan tersebut tak akan kusia siakan setelah kesempatan yang kutunggu tunggu itu telah tiba"
Ko Goan cun termenung sebentar, akhirnyapun dengan perasaan apa boleh buat dia mengangguk.
"Baiklah Kalau toh hal ini sudah merupakan keputusanmu, aku tak bisa memaksanya lebih jauh, aku hanya dapat mengucapkan kepadamu semoga kau sukses dan dapat membalaskan dendam kesumatmu. Berangkatlah sekarang"
Han siong Ki tidak banyak bicara lagi, dia lantas menggerakkan badannya dan menyerbu kedalam mulut lembah.....
"Berhenti? Bangsat dari mana yang begitu berani memasuki lembah kami."
Serentetan bentakan nyaring menggelegar di angkasa.
Berbareng dengan menggelegarnya bentakan itu, beberapa sosok bayangan manusia munculkan diri dari balik bebatuan dan menghadang jalan pergi pemuda itu.
Han siong Ki tidak berkata apa apa, mengucapkan sesuatupun tidak, ia malah tancap gas menyerbu ke dalam lembah tersebut dengan lebih gencar, jari tangan dan telapak tangannya diayun berbareng melepaskan serangan-serangan yang mematikan.
Jerit kesakitan yang memilukan hati barkumandang memenuhi seluruh lembah tersebut, cukup dalam beberapa kali bentrokan saja, lima sosok mayat telah menggelepar didepan lembah itu.
Han siong Ki tertawa dingin, selesai membinasakan musuhnya, dia melanjutkan perjalanan menyerbu lebih dalam lagi...
Desingan tajam yang berkumandang karena ujung baju tersampok angin kembali menggema di angkasa, tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa menyerbu datang, mereka adalah tiga orang kakek berbaju hitam...
Menyaksikan kedatangan lawan, Han siong Ki berhenti bergerak, lalu dengan pandangan mata yang bengis danpenuh pancaran sinar membunuh ia menatap musuhnya bergantian.
Tampaknya salah seorang diantara ketiga orang kakek itupun mengenali siapa musuhnya, terdengar ia menjerit kaget.
"Haahhh.....manusia bermuka dingin"
Tanpa banyak bicara dia lantas putar badan dan kabur terbirit birit ke dalam lembah, sementara dua orang kakek yang tertinggal berdiri mematung ditempat semula dengan wajah menunjukkan rasa ketakutan yang menghebat.
"serahkan saja kedua orang itu kepada tecu, ciangbunjin"
Seruan nyaring berkumandang.
Dua sosok bayangan hitam meluncur tiba, menyusul kemudian dua kali jeritan kesakitan berkumandang diangkasa, tahu tahu diatas tanah telah bertambah dengan dua sosok mayat yang hancur berlumuran darah, tentu saja serangan tersebut dilancarkan oleh Hek pek siang yau.
Melihat kelihayan ilmu silat yang dipunyai siltuman hitam putih itu, Ko Goan cUn si nona baju hitam itu merasa terkejut.
Sebagaimana telah diketahui, oleh karena Hek pek Siang yau pernah makan Bak ci yang berusia seribu tahun, maka dia menjadi awet muda dan sepintas lalu usianya kelihatan seperti baru dua puluh tahunan, padahal kalau dihitung yang sebenarnya maka usia mereka berdua sudah mencapai tujuh puluh tahun lebih.
Sejak wajah mereka pulih kembali menjadi wajah aslinya dalam telaga beracun dilembah hitam, orang persilatan boleh dibilang sedikit sekali yang mengetahui muda mudi yang gagah dan cantik itu sebetulnya tak lain adalah sepasang siluman hitam putih yang kesohor itu.
Sementara suasana telah menjadi hening kembali, tiba tiba terdengar suara tertawa cekikikan berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul suara tersebut muncullah seorang nona cantik jelita yang berusia dua puluh tahunan, ia mengenakan baju berwarna hijau pupus.
Ketika Han siong Ki memandang wajah gadis itu untuk pertama kalinya, tiba tiba saja ia berseru kaget lalu mundur satu langkah tanpa disadarinya.....
Ia merasa potongan wajah nona itu sangat dikenal olehnya, hanya dia lupa nona itu pernah ditemuinya dimana?
-ooo0dw0ooo-BAB 97 WALAUPUN gadis itu dikenal olehnya, kendatipun tak di ingat lagi wajah tersebut pernah ditemuinya dimana, namun anak muda itu segan untuk berpikir lebih jauh, sebab sebagai seorang jago dibawah pimpinan perkumpulan Thian che kau, itu sama pula artinya dengan nona itu adalah musuh besar yang harus dihadapinya.
Sementara itu, si nona baju hijau telah memandang sekejap mayat yang menggelepar ditanah itu lalu seolah olah tak pernah menemui kejadian apapun ia tersenyum kepada Han siong Ki.
"Jadi engkau toh yang disebut orang sebagai Manusia bermuka dingin....?"
Tegurnya.
"Ehmm...iya"
"Hui.. Betul-betul bukan nama kosong belaka, tampaknya kau memang seorang manusia berdarah dingin...."
Han siong Ki segan untuk membantah lebih lama dengan lawannya, dia lantas mendengus, tenaga serangannya disiapkan dan pemuda itu siap untuk menerjang kedalam lembah....
"Tunggu sebentar"
Tiba tiba si nona baju hijau itu membentak.
Ketika ujung bajunya dikebaskan kedepan segulung hawa pukulan yang kuat dan keras segera menggulung kedepan saking keras dan kuatnya serangan itu membuat Han siong Ki tak sanggup berdiri tegak dan mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan.
"Hebat betul kepandaian silat yang dimiliki perempuan ini, tampaknya dia tak boleh dianggap enteng"
Sementara pemuda itu masih melamun, gadis tersebut telah menegur dengan suara yang merdu.
"Manusia bermuka dingin, mau apa engkau datang kewilayah Lian huan tau ini?"
"Membantai manusia"
Jawaban dari Han siong Ki itu bukan saja dingin dan kaku, bahkan tak sedap didengar.
"oooh... sungguh besar amat kata-katamu, siapa yang hendak kau bantai?"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau mulai dari kaucunya sampai keroco-keroconya adalah sasaran dari pembantaianku kali ini"
Tiba tiba terdengar siluman putih Hong Ing ing menggunakan ilmu menyampaikan suaranya berbisik kepada Han siong Ki.
"Lapor ciangbunjin, nona berbaju hijau itu merupakan salah satu diantara jago jago yang lolos dari kurungan benteng maut beberapa hari berselang, ilmu silatnya cukup tangguh"
Han siong Ki anggukkan kepalanya tanda mengerti. Waktu itu, si nona baju hijau kembali berkata sambil tertawa cekikikan dengan suara yang merdu.
"Manusia bermuka dingin, kenapa tidak kau tanyakan kepada nonamu siapakah aku ini?"
"Hmm Segan aku untuk menanyakan persoalan persoalan seperti itu, pokoknya setiap anggota perkumpulan Thian che kau jangan harap bisa lolos dari tanganku dalam keadaan selamat"
"Waduuh... waduh... kalau bagitu nonamu juga termasuk salah seorang yang hendak kau bunuh?"
"Tentu saja"
Paras muka si nona baju hijau itu kontan berubah hebat, serunya dengan nada geram.
"Jangan terlalu tekebur lebih dulu wahai manusia bermuka dingin, hmmm... Sebelum impian dapat terwujud, lebih dahulu cobalah untuk mendobrak pertahananku"
Han siong Kie mendengus dingin, sebagai seorang pemuda yang keras kepala dan tak sudi tunduk kepada orang lain, tentu saja ia agak tersinggung oleh tantangan musuhnya.
Maka tanpa banyak berbicara, telapak tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah bacokan maut dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Nona berbaju hijau itu sama sekali tak gentar, telapak tangannya diayun pula kedepan untuk menangkis datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.
"Blaaang...."
Suatu benturan kekerasan tak bisa dihindari lagi, dengan sempoyongan nona berbaju hijau itu mundur selangkah ke belakang, tapi pemuda itupun ikut mundur kebelakang, kejadian ini kontan saja membuat Han siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, cepat pikirnya didalam hati.
"sungguh teramat sempurna tenaga dalam yang dimiliki gadis ini, tak kunyana diapun berilmu sehebat ini"
Makin berpikir hatinya merasa semakin penasaran, akhirnya tenaga si mi sinkang yang maha dahsyatpun dihimpun kedalam tubuhnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapak tangannya didorong kemuka untuk melepaskan sebuah pukulan.
Kabut putih yang sangat tebal menyelimuti seluruh angkasa, ngeri juga nona berbaju hijau itu menghadapi serangan dahsyat tersebut, tapi ia tak mau mundur dengan begitu saja, maka ditangkisnya ancaman tadi dengan keras lawan keras..
Benturan keras kembali bergelegar diangkasa, ditengah benturan itu kedengaran seseorang mendengus tertahan, menyusul kemudian nona baju hijau itu terdorong mundur sejauh delapan langkah lebih, dua gumpal darah kental mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Penyerbuan yang dilakukan Han siong Ki saat ini boleh dibilang dilaksanakan dengan membawa rasa dendam dan benci yang luar biasa, bayangkan saja apakah ia suka memberi ampun kepada musuhnya dengan begitu saja?
Begitu tubrukan dilancarkan, sebuah pukulan yang maha dahsyat dengan kecepatan bagaikan kilat langsung dihantamkan keatas wajah musuhnya.
Si nona baju hijau itu melejit sambil menghindar kesamping, gerakan tubuhnya enteng dan lincah, kecepatan geraknya juga cukup menggetarkan hati orang.
Meleset dengan serangannya yang pertama, Han siong Ki segera menghardik dengan suara dingin.
"Jangan berkelit melulu, coba rasain lagi sebuah pukulanku ini, bila kau tidak mampu itulah berarti nasibmu masih terlampau mujur untuk suatu kematian"
Desakan demi desakan yang dilakukan pemuda itu akhirnya membangkitkan juga hawa amarah dihati si nona baju hijau, mukanya berubah hebat, sepasang matanya berapi-api, serunya dengan geram.
"Wahai manusia bermuka dingin, jika aku Cui-hoa siancu Ting Hong jeri kepadamu, sepanjang masa aku tak nanti akan menggunakan marga Ting lagi..."
Sebenarnya Han siong Ki sudah menyiapkan sebuah pukulan yang luar biasa dahsyatnya, akan tetapi setelah mendengar nama yang diperkenalkan nona itu, mendadak sontak saja ia tarik kembali tangannya mentah mentah, serunya dengan hati bergetar.
"Jadi kau yang bernama Ting Hong?"
Sementara dalam hatinya ia berpikir kembali.
"Tak heran kalau aku merasa kenal sekali dengan wajahnya, rupanya dia tak lain adalah gadis yang dilukis dalam dinding gua salju dibukit ciong san..."
Dalampada itu si nona baju hijau itu telah menyahut.
"Yaa benar, ada apa?"
"Kalau begitu kau adalah putrinya sijelek dari sin ciu?"
Kali ini paras muka Cui hoa siancu Ting Hong berubah sangat hebat, setengah tercengang dia berseru.
"Eeeh ....darimana kau bisa tahu kalau si Jelek dari sin ciu adalah ibuku"
Tapi sebelum Han siong Ki memberikan jawabannya, tiba tiba dari kejauhan muncul tiga sosok bayangan manusia, dengan kecepatan luar biasa ketiga sosok bayangan itu meluncur datang...
Han siong Ki menengadah, begitu tahu siapa yang datang, paras mukanya berubah, kepada Hek pek siang yau segera katanya.
"Itu dia, orang yang kalian cari cari sudah datang, hadapilah dia dengan kekuatan kamu berdua. biar anak muridnya itu aku yang basmi"
Ucapan si anak muda itu memang tak salah, sebab yang datang tak lain adalah Hun si mo ong dan im yang siang sat.
Sepasang siluman hitam putih tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lagi, mereka melompat ke muka dengan gerakan yang lincah lalu menghadang jalan pergi HHun si mo ong, teriaknya hampir berbareng.
"Bajingan tua, serahkan jiwa anjingmu"
Hun si mo ong tertawa seram.
"Heehhh.... heehhh.... heeehhh....bocah busuk, apa yang kau teriakkan macam setan menjerit?"
Tanpa banyak bicara lagi dia memandang sekeliling gelanggang, lalu berpaling pula keatas wajah Han siong Ki.
Sementara itu, Cui hoa siancu Ting Hong hanya berdiri termangu mangu, disatu pihak ia sudah terpikat oleh kegagahan dan ketampanan Han siong Ki, dilain pihak diapun merasa agak ragu ragu oleh sikap pemuda itu, benarkah dia mempunyai hubungan yang intim dengan ibunya?
"Hun si mo ong"
Kedengaran siluman hitam seng Keh ki sedang membentak dengan marah.
"bersiap siaplah menghadapi kematianmu, sisa sisa anak murid Thian it bun khusus datang kemari untuk membuat perhitungan dengan kau"
Pucat pias wajah Hun si mo ong karena kaget, dengan hati yang ketakutan ia mundur selangkah lebar ke belakang.
Hek pek siang yau berdiri kaku dengan wajah diliputi rasa dendam dan benci yang menyala nyala, napsu membunuh menyelimuti wajahnya dengan tebal, mereka berdua telah bersiap siaga melakukan penyerbuan kedepan..
Im yang siang sat, sepasang malaikat hawa dingin dan panas ikut maju kemuka untuk membantu gurunya, tapi Ko Goan cun atau si nona baju hitam itu sudah bergeser ke kiri menghadang jalan pergi Yang sat (malaikat hawa panas) Ko su khi sedangkan Han siong ki menghadang jalan lewat dari Im sat (malaikat hawa dingin) Mo siu ing.
Suatu pertarungan sengit tak terhindar lagi, semua pihak sama sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bertempur dan saling merobohkan musuhnya.
Hek pek siang yau bertujuan membalas dendam membalas sakit hati atas dibasminya partai Thian it bun, perguruan mereka dimasa lalu, bisa dibayangkan bagaimana nekad dan gencarnya serangan demi serangan yang mereka lancarkan dengan penuh rasa dendam itu, untuk sesaat keadaan mereka masih seimbang.
Hun si mo ong memang terhitung juga seorang tokoh silat berilmu tinggi, sekalipun dikerubuti dua orang musuh lihay sekaligus, ternyata posisinya masih mantap dan perlawanannya cukup gigih.
Keadaan Ko Goan cun melawan Yang sat Ko su khi juga seimbang, untuk sesaat susah untuk menemukan siapa yang lebih unggul diantara mereka berdua...
Hanya Im yang Mo siu ing yang kewalahan menghadapi serangan serangan Han siong Ki yang gencar, hanya cukup didalam tiga gebrakan saja ia sudah didesak sehingga tak mampu melancarkan serangan balasan.
Cui hoa siancu Ting Hong yang menganggur di samping arena, beberapa kali kelihatannya hendak turun tangan, tapi setiap kali pula dia batalkan niatnya itu...
Mendadak terdengar jeritan ngeri yang mengerikan berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh dari malaikat hawa dingin Mo siu ing tampak terlempar kebelakang sejauh satu kaki dengan sempoyongan, rupanya ia sudah kena terhajar oleh tenaga pukulan si mi sin kang dari Han siong Ki sehingga muntah darah, keadaannya sedikit tampak payah.
"Malaikat hawa dingin"
Han siong Ki berteriak sambil menggigit bibir menahan geramnya.
"masih ingat bukan dengan apa yang pernah kuucapkan tempo hari? Bila kita berjumpa muka lagi, maka kau akan kubunuh?"
"Manusia bermuka dingin, jangan harap apa yang kau inginkan itu bisa terwujut"
Teriak malaikat hawa dingin Mo siu ing dengan sinar mata memancarkan rasa benci yang hebat.
Sembari berkata tubuhnya melejit sambil menerkam ke depan menyerang Han siong Ki, sepasang telapak tangannya menyapu ke angkasa menciptakan selapis bayangan cakar yang tebal, dengan hebatnya bayangan cakar itu mengurung disekitar batok kepala lawan.
Ilmu cengkeram yang dimiliki malaikat hawa dingin Mo siu ing terhitung ilmu nomor satu dalam dunia persilatan, diapun terhitung jago nomor wahid dalam ilmu jenis yang sama, bisa kita bayangkan betapa mengerikannya serangan yang dilancarkan dengan tekad itu, kontan Han siong Ki terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.
Dipihak lain pertarungan antara Ko Goan cun melawan malaikat hawa panas masih berlangsung dengan serunya, menang kalah untuk sesaat sukar untuk ditentukan.
Pertarungan mati matian antara Hek pek siang yau melawan HHun si Mo ong juga berlangsung amat seru, tampaknya untuk sesaat siapa unggul siapa kalah belum dapat ditentukan.
Hawa napsu membunuh yang berkobar dihati Han siong Kie makin memuncak.
tujuannya memasuki Lian huan tau itu untuk menuntut balas, tentu saja ia merasa segan untuk membuang banyak waktu disini, maka sesudah berpikir sebentar akhirnya ia membentak.
ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dilancarkan berbarengan waktunya, jurus jurus mautpun menggulung keluar susul menyusul.
Kalau juga pukulan pukulan biasa masih mendingan, ternyata dalam serangan tersebut pemuda itu telah sertakan juga hawa sakti si mi sinkang yang dahsyat, jangankan baru malaikat hawa dingin Mo siu ing, sekalipun gurunya Hun si moong juga tak akan tahan.
Tak ampun lagi, satu pukulan keras bersarang telak dibadan si malaikat hawa dingin, membuat lawannya segera mencelat ke belakang.
Oleh jeritan kesakitan dari malaikat bahwa dingin itu, malaikat hawa panas Ko su khi menjadi amat terkejut, konsentrasinya otomatis menjadi buyar.
Syarat terutama yang harus diperhatikan kawanan jago dalam suatu pertarungan adalah konsentrasi yang sempurna, apalagi dengan kekuatan yang seimbang, seseorang lebih lebih harus memperhatikan benar benar setiap ancaman musuhnya.
Karenanya, ketika malaikat hawa panas Kosu khi pecah perhatiannya, Ko Goan cun segera manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik baiknya, ilmu pukulan Hui huan pat ciang secepat sambaran kilat dilancarkan secara gencar.
"Blaaang"
Ditengah benturan keras, Malaikat hawa panas Ko su khi mendengus tertahan sambil muntah darah kental tubuhnya secara beruntun mundur belasan kaki ke belakang.
Waktu itu pertarungan antara Hek pek siang-yau melawan Hun si mo ong telah mencapai pada puncaknya, makin bertarung suasana makin tegang dan mara bahaya semakin besar mengancam tiba, pertarungan sesengit ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan ratusan tahun belakangan ini.
Han siong Ki sendiri sehabis menyarangkan sebuah pukulannya ditubuh lawan, ia lantas melejit dan memburu ke hadapan malaikat hawa dingin Mo siu ing, telapak tangannya diangkat ke udara siap melancarkan sebuah pukulan maut...
Padahal keadaan si malaikat hawa dingin Mo siu ing waktu itu sudah kepayahan apalagi setelah isi perutnya terluka parah, menghadapi ancaman yang sudah berada didepan mata itu ia cuma bisa pejamkan mata sambil menantikan datangnya saat kematian.
Tiba tiba....
ketika serangan sudah hampir mencapai pada sasarannya, Han siong Ki menarik kembali serangannya itu, gelengkan kepala, menghela napas panjang dan putar badan masuk ke dalam lembah.
Sebagaimana diketahui, Han siong Ki bisa berhasil menguasahi ilmu si mi sinkang, kesemuanya itu adalah berkat sarung tangan Hud jiu po pit yang diberikan malaikat hawa dingin kepadanya, meskipun benda itu dimenangkan olehnya dalam Suatu pertarungan, tapi kebaikannya itu tak dapat terhapus dengan begitu saja, maka ia merasa tak tega untuk melancarkan serangan maut yang bisa mengakibatkan kematian bagi orang itu.
Baru beberapa langkah Han siong Ki berjalan, ketika secara mendadak sesosok bayangan manusia menghadang jalan perginya .
"Manusia bermuka dingin berhenti kau"
Bentaknya. Han siong Ki berhenti sambil menengadah, ternyata orang yang menghadang jalan perginya itu bukan lain adalah cui hoa siancu Ting Hong.
"oya, hampir saja aku melupakan orang ini"
Demikianlah pikirnya "bagaimanapun jua, aku harus mengucapkan si Jelek dari sin ciu juga bisa terwujud"
Tapi sebelum anak muda itu mengucapkan sesuatu Cui hoa Ting Hong siancu telah berkata lebih dulu.
"Manusia muka dingin, engkau kenal dengan ibuku?"
"Benar... bukan saja kenal bahkan akupun masih mempunyai sebuah janji dengan ibumu"
"Masih mempunyai sebuah janji? janji apakah itu? apa kau bisa memberitahukan padaku?"
"Tentu saja aku telah berjanji kepada ibumu untuk menemukan kau, kemudian membawa kamu pulang kerumah"
"Aku tidak percaya"
Teriak Cui hoa siancu Ting Hong dengan paras muka berubah hebat.
"Engkau tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan?"
Pemuda itu menegaskan.
"Tentu saja aku tidak percaya, kenapa harus kupercayai perkataanmu itu dengan begitu saja?"
"Tahukah engkau? Karena berusaha untuk menemukan kembali jejakmu, ayahmu sudah lima tahun lamanya berkelana dalam dunia persilatan, bahkan ibu dan ayahmu cekcok dan tidak akur lantaran kau..."
"Aaaah, masa iya?"
"Terserah mau percaya atau tidak, pokoknya aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya, dan untuk mewujudkan janjiku itu, terpaksa aku harus menghantar kau pulang kerumah ibumu"
"Mengapa kau bisa mempunyai janji dengan ibuku?".
"Karena aku pernah memperoleh sebutir pil si mia Kim wan dari ibumu maka..."
"Maka engkau melakukan pencarian ini baginya?"
Ting Hong menyela sambil mencibirkan bibirnya.
"Yaa, apa yang nona katakan memang benar"
"Tapi sayang sekali sekarang aku masih belum bisa pulang kerumah... dan lagi akupun tak ingin pulang"
"Kenapa?"
"Sudah sepuluh tahun lamanya aku disekap dalam rumah batu di benteng maut, Thian che kau lah yang telah menolong aku terlepas dari kurungan, maka dewasa ini aku harus membayar dulu hutang budi ini kepadanya, selain daripada itu, semua rekan rekan senasib yang pernah disekap dalam benteng maut mempunyai suatu tujuan yang sama..."
"Apakah tujuan kalian yang semua?"
Han siong Ki ingin tahu dan bertanya agak tercengang.
"Tujuan kami adalah menghancurkan Benteng maut dan membumi ratakan bangunan itu dengan tanah"
Berdebar jantung Han siong Ki setelah mendengar perkataan itu, mimpipun ia tak mengira kalau kawanan gembong iblis yang berhasil terlepas dari benteng maut telah dipergunakan tenaganya oleh Thian che kaucu demi keuntungan pribadinya.
Sekarang, Benteng maut dijaga oleh ibunya, sucounya dan siau susioknya, maka berbicara soal pertahanan rasanya tak akan sampai menjadi satu masalah yang pelik, cuma dengan adanya rencana musuh yang bisa gawat, otomatis gerakan itu akan sangat mempengaruhi rencananya sendiri untuk melakukan pembalasan dendam.
"Benteng maut selamanya tetap akan jaya, benteng maut selamanya tetap akan berdiri kokoh dalam dunia persilatan, jangan harap apa yang kalian rencanakan bisa terwujud"
Serunya kemudian dengan suara dingin.
"Huuuh... jangan bermimpi"
Ting Hong mendesis dengan nada penuh penghinaan. Paras muka Han siong Ki berubah jadi serius, katanya lagi.
"orang she Ting, terus terang kuberitahukan kepadamu, and ikata aku tidak terikat oleh janjiku sendiri dengan ibumu, maka sekarang engkaupun tak akan lolos dari suatu kematian"
"Manusia bermuka dingin"
Ting Hong berteriak dengan paras muka berubah hebat.
"Kau terlampau tekebur, ingin masuk lebih jauh ke dalam lembah ini, kau harus berusaha mengalahkan aku lebih dahulu "
Han siong Ki tahu keadaan sudah meruncing, diapun cepat mengambil keputusan.
"sekarang, masalah membalas dendam jauh lebih penting dari persoalan lainnya, kenapa tidak kusingkirkan dia lebih dahulu? sehabis membalas dendam ia baru kutangkap untuk dikirim kembali ke gua salju dibukit Ciong san..."
Karena berpikir begini, diapun membentak dengan suara keras.
"Ayoh menyingkir kau"
"Tunggu sebentar..."
Gadis itu kembali berseru dengan suara lantang.
"Apa yang hendak kau katakan lagi?"
"Kau membutuhkan obat si mia kim wan dari ibuku untuk apa?"
"Untuk apa ....? Tentu saja untuk menolong jiwa seseorang"
Sahut pemuda itu.
"Manusia macam apakah yang hendak kau tolong?"
Han siong Ki sedikit tercengang selain kurang sabar, tapi sahutnya jugs dengan jujur.
"Dia adalah seorang gadis yang bernama Go siau bi Enmm, sudah cukup jelas?"
"Go siau-bi namanya?"
"Yaa benar, ada apa?"
"Kalau begitu obat tersebut sudah tidak ada gunanya lagi baginya, obat tersebut bisa kau kembalikan kepada ibuku"
"Kenapa.."
Han siong Ki bertanya dengan hati yang amat terperanjat "Kau kenal dengan gadis itu?"
"Ehmmm, benar"
"sekarang ia berada dimana?"
"Kau ingin tahu?"
"Yaa, aku ingin tahu"
Suara Han siong Kie lcedengaran sedikit gemetar karena emosi. Cui hoa siancu Ting bong termenung dan berpikir lagi beberapa saat lamanya, kemudian diapun bertanya lagi.
"sebenarnya dia itu apa mu?"
"Dia adalah calon isteriku"
Sekali lagi paras muka Ting Hong berubah hebat, tapi sebelum dara itu berbicara lagi, Han siong Kie dengan perasaan tak sabar telah mendesak lebih jauh.
"Harap kau suka beritahu kepadaku, bagaimanakah keadaannya dewasa ini? Tentunya kau tidak merasa keberatan bukan?"
"Beritahu kepadamu sih boleh-boleh saja, hanya..."
"Hanya kenapa?"
"Tentu saja ada syaratnya"
Menurut pengakuan si tamu berjenggot indah Huan Kang menjelang saat kematiannya, Go siau bi telah tewas ditangan ratu tawon Buyung Thay, tapi sekarang Ting Hong telah mengucapkan kata-kata semacam itu, tak heran kalau Han siong Ki merasa kaget bercampur tercengang, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana baiknya.
Tapi akhirnya diapun berkata.
"Apakah syaratmu? Cepatlah katakan keluar"
Ting Hong tidak langsung menjawab, ia tampak termenung beberapa saat lamanya, kemudian tertawa misterius.
"Kabar tentang gadis she Go itu bisa saja kuberitahukan kepadamu sekarang juga, sedang soal syaratnya lebih baik dibicarakan lain kali saja, asal kau ingat saja selalu bahwa kau masih berhutang sebuah syarat kepadaku itu sudah lebih dari cukup,"
Han siong Ki sudah tak sabar untuk menunggu lebih jauh, ia mendesak lebih jauh.
"Baik, akan kuingat selalu syaratmu itu, Nah sekarang katakanlah jejak gadis itu kepadaku"
"Sekarang Go siau bi berada dalam cengkeraman orang orang Thian che kau..."
"ooooh... jadi dia belum mati?"
Rasa kaget yang dialami Han siong Ki waktu itu benar benar sukar dilukiskan dengan kata kata, suaranya sampai kedengaran agak gemetar.
"Yaa, dia belum mati oleh karena itulah seperti telah kukatakan tadi, obat si mia kim wan sudah tak berguna lagi baginya"
"Tapi.... tapi... hal ini tak mungkin terjadi, dia.... dia.... mana mungkin belum mati?"
"Apa?Jadi kau sangat berharap agar dia cepat-cepat masuk keliang kubur...?"
"Bukan begitu maksudku, sewaktu kami berpisah tempo hari, jiwanya hanya bisa hidup sepuluh hari lagi, itupun berkat kemanjuran obat ci-goan wan dan sekarang..."
"Waah....kalau soal itu aku kurang begitu tahu, tapi pokoknya sampai sekarang dia masih hidup dan aku rasa asal dia masih hidupkan beres? Kenapa musti persoalkan urusan tetek bengek lainnya?"
Kata Ting Hong dengan suaranya yang merdu seperti burung nuri yang lagi berkicau dipagi hari.
Setelah mendengar perkataan itu, Han siong Ki baru sadar dari lamunannya, sekarang ia baru merasa bahwa Buyung Thay kena difitnah, bahkan terfitnah secara keji, dia pasti akan menanggung rasa penasaran yang hebat akibat perbuatannya...
Diam-diam pemuda itu mulai menyesal, dia tak menyangka kalau si Tamu-berjenggot-indah Huan Kang begitu kejamnya, lantaran gagal soal bercinta ternyata dia begitu tega untuk melaksanakan siasat sekeji dan sebusuk itu....
diam-diam ia merasa bergidik sendiri, rupanya rasa cemburu bisa mendatangkan rasa benci yang menyala-nyala, dan Huan Kang merupakan satu bukti yang paling jelas.
Helaan napas panjang berkumandang memecahkan kesunyian, Buyung Thay pernah menolong jiwanya sampai di»a kali, tapi sekarang, karena Kecerobohannya ia telah bentrok dengan perempuan itu, malahan nyaris jiwanya akan dicabut olehnya, berbicara sesungguhnya, peristiwa itu cukup mendatangkan pukulan batin yang tak terkirakan besarnya untuk perempuan itu.
"Aaai..........aku telah bersalah padanya, aku telah bersikap terlampau kasar kepadanya...."
Tanpa disadari pemuda itu bergumam sendiri dengan suara yang lirih. -ooo0dw0ooo-
Jilid 48
"EEEH...... kau telah berbuat salah kepada siapa?"
Cui hoa siancu Ting Hong bertanya dengan wajah tertegun.
"Aku rasa aku tidak mempunyai keharusan untuk menjawab pertanyaanmu itu"
Tukas pemuda itu ketus. Sehabis berkata, dia lantas menggerakkan tubuhnya siap berlalu dari sana....
"Eeeh....tunggu sebentar manusia muka dingin"
Teriak Ting Hong lagi sambil mengayunkan telapak tangannya.
"nonamu masih bertugas disini, maka sebagai musuh kita harus beradu kepandaian lebih dulu sebelum berlalu dari sini"
"Bagus, kalau begitu sambutlah seranganku ini"
Diiringi bentakan keras yang memekikkan telinga, secara beruntun Han siong Ki melancarkan tiga buah serangan berantai.
Tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak ditengah samudra seperti gelombang dahsyat yang menghanyut-kan melanda keluar susul menyusul, oleh tekanan yang maha dahsyat itu, Ting Hong terdesak sampai mundur delapan langkah ke belakang.
Begitu gadis itu terdesak mundur, maka terbukalah sebuah jalan lewat bagi pemuda itu, Han siong Ki tidak menyia nyiakan kesempatan baik itu, dengan gerakan tubuh seperti sukma gentayangan tahu tahu dia sudah menyelinap masuk kedalam lembah.
Menyaksikan anak muka itu menyusup ke dalam lembah, sekulum senyuman aneh yang sukar dilukiskan apa artinya tersungging diujung bibir nona itu, kemudian sambil membentak keras dia segera melakukan pengejaran dari belakang.
Sementara itu, empat orang kakek telah munculkan diri dari balik lembah dan menghadang jalan pergi anak muda itu.
Sejak kehadirannya di lembah Lian huan tau, napsu membunuh yang berkobar didada Han siong Ki sudah tak terkendalikan lagi, apalagi mengingat dendam kesumatnya yang luar biasa, maka begitu jalan perginya dihadang oleh empat orang kakek kekar tanpa mengucapkan sepatah katapun dia lantas menerjang kedepan dan langsung menumbuk musuh musuhnya.
Ditengah desingan suara suitan yang memekikkan telinga, ilmu jari Tong Kim ci telah dilancarkan secara beruntun Bentakan demi bentakan nyaring menggelegar memenuhi angkasa, ke empat orang kakek itu masing masing melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan, kekuatannya ibarat gulungan ombak dahsyat yang menghantam tepian pantai, hebat sekali kekuatannya.
Jerit kesakitan tiba tiba berkumandang memecahkan kesunyian, percikan darah berhamburan kemana mana.
salah seorang diantara empat penyerang itu tahu-tahu sudah termakan tusukan jari tangan yang maha dahsyat itu hingga dadanya berlubang hingga tembus kepunggung, dengan cucuran darah yang amat deras badannya tersungkur ketanah untuk tidak bangun selama lamanya.
Han siong Ki sendiri, walaupun serangannya berhasil mematikan salah seorang musuhnya, tapi oleh desakan tenaga pukulan yang maha dahsyat dari lawan-lawannya itu, dia kena dipaksa untuk melayang turun kembali keatas permukaan tanah.
Hanya selisih waktu beberapa detik saja, deruan ujung baju tersampok angin kembali berkumandang memecahkan kesunyian, beberapa sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa melayang masuk kedalam lembah dan serentak mengurung Han siong Ki ditengah gelanggang.
Tiba tiba dari luar lembah secara lapat-lapat terdengar pula jerit kesakitan yang mengerikan.
Han siong Ki tahu, itulah jeritan dari Hun si mo ong atau dengan perkataan lain Hok pek siang yau telah berhasil mewujudkan cita citanya untuk membuat perhitungan atas kematian saudara dalam perguruannya .
Waktu itu Cui hoa sian cu Ting Hong telah mengejar tiba pula ditepi arena, dia berdiri bersama-sama dengan kawanan jago dari perkumpulan Thian che kau lainnya.
Apa yang diduga Han siong Ki ternyata memang benar, Hun si mo ong telah tewas ditangan Hek pek siang yau berdua.
Begitu musuh besar perguruannya berhasil dibunuh dan dendam kesumat yang tertanam dihati mereka selama banyak tahun berhasil dituntut balas, sepasang siluman hitam putih itu berlutut ditanah menghadap ke selatan, lalu dengan suaranya yang lirih mereka berdoa.
"oooh.... suhu, arwahmu dialam baka tentunya dapat menyaksikan apa yang baru terjadi disini, tecu telah berhasil membunuh musuh besar kita yang terakhir..."
Selesai berdoa mereka lantas bangkit berdiri, sekarang sinar mata mereka yang bengis dialihkan keatas wajah Im yang siang sat (sepasang malaikat hawa panas dan dingin) yang sedang memeluk jenasah gurunya sambil menangis tersedu sedu.
Tapi sebelum kedua orang siluman itu melancarkan serangannya yang mematikan, sinona baju hitam Ko Goan cun sudah maju kemuka sambil katanya kepada kedua orang itu.
"Lepaskanlah muridnya, kasihan ke dua orang itu"
Ko Goan cun sebagaimana diketahui adalah kakak seperguruan dari Han siong Ki, maka bagaimanapun juga sepasang siluman hitam putih menaruh tiga bagian rasa hormat dan segan kepadanya.
Karenanya, ketika mendengar perkataan itu siluman putih Hong Ing ing lantas bertanya dengan suara keheranan.
"Kenapa?"
"seandainya sepasang siluman itu pantas diberi kematian, semenjak tadi ciangbunjin kalian sudah turun tangan terhadap mereka, tapi buktinya ia tidak berniat untuk melakukannya, bukankah itu berarti bahwa ciangbunjin kalian tidak berniat dengan jiwa mereka berdua?"
Padahal seperti telah diketahui Han siong Ki melepaskan malaikat hawa dingin, hal itu disebabkan karena ada hubungannya dengan sarung tangan Hud jiu popit.
Walau demikian, siluman putih Hong ing ing mengangguk juga selesai mendengar perkataan itu, diapun mundur dua langkah kebelakang.
Im yang siang sat yang terluka parah pelan pelan bangkit berdiri, dengan bersusah payah dan menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya mereka berusaha untuk bangkit dan menggotong jenasah guru mereka Hun si mo ong....
"Tunggu sebentar"
Tiba tiba serentetan suara bentakan menggelegar diangkasa, menyusul bentakan nyaring itu, sesosok bayangan putih dengan kecepatan luar biasa melayang masuk kedalam arena.
orang itu tak lain adalah Buyung Thay.
Dengan tatapan mata yang sangat tajam Buyung Thay memandang sekejap wajah Malaikat hawa dingin dan panas, kemudian ucapnya dengan suara yang lirih.
"Serahkan jenasah itu kepadaku"
Tindakan dari Buyung Thay ini sangat mengejutkan dan mencengangkan hati semua orang yang hadir disekitar arena, betapa tidak?
Setelah berlalu dari tempat itu ternyata ia muncul secara tiba-tiba dan tujuannya tak lain adalah untuk mengambil jenasah dari Hun si mo-ong, siapa yang tak heran dengan kejadian ini?
"Mengapa jenasah guruku harus kuserahkan kepadamu?"
Kata malaikat hawa panas Ko su khi sambil menggigit bibir.
"sebab itulah keinginan gurumu selama masih hidupnya, dan aku hanya ingin mewujudkan apa yang dikehendaki gurumu" -ooo0dw0ooo-BAB 98
"KEINGINAN guru kami semasa hidupnya?"
Sepasang malaikan hawa dingin dan panas bertanya keheranan.
"Yaa benar, semasa dia masih hidup pernah berpesan kepadaku, agar jenasahnya bila ia telah mati nanti bisa dikubur menjadi satu dengan kerangka mendiang guruku"
"oooh... jadi kalau begitu mendiang gurumu adalah Toh hun sian ci si dewi cantik pencabut nyawa?" .
"Yaa betul"
"Apakah jenasah guru kami akan kau bawa pergi sekarang juga."
Kedua orang malaikat itu bertanya lagi agak ragu.
"sekarang aku masih ada urusan yang harus diselesaikan lebih dahulu, lebih baik kalian berdua saja yang memboyong jenasah guru kalian itu menuju bukit Pek in hong dibukit Ciong san, tunggu aku disana. selesai urusan pribadiku, aku akan segera menyusul kesana"
Malaikat hawa panas Ko su-khi dan malaikat hawa dingin Mo siu ing mengangguk lirih, tanpa berbicara lagi berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.
Belum jauh dua orang itu berlalu, dari balik lembah kembali bermunculan puluhan sosok bayangan manusia, dengan kecepatan yang luar biasa mereka menerjang kedepan dan menyebarkan diri membentuk posisi mengepung.
Sepasang siluman hitam dan putih saling berpandangan sekejap.
cepat mereka menyongsong kedatangan orang orang itu, sebagaimana telah diketahui, kedua orang itu mendapat perintah dari Han siong Ki untuk mempertahankan mulut lembah dan tidak membiarkan seorang manusiapun orang hendak kabur, lolos dalam arena..
Jerit-jeritan kesakitan berkumandang silih berganti, terjangan terjangan yang dilakukan kedua orang siluman itu sebera mendatangkan hasil yang mengenaskan.
Sementara pertarungan berkobar dengan dahsyatnya tiba tiba Ko Goan cun menghampiri Buyung Thay yang masih berdiri disana, lalu katanya dengan lirih.
"Enci Buyung, siau moay atas nama suteku mohon maaf yang sebesar besarnya kepadamu"
"Minta maaf? Dalam soal apa dia minta maaf kepadaku?"
Tanya perempuan cantik itu.
"Go siau bi sudah ada kabar beritanya, ternyata nona itu belum mati, ia masih hidup didunia ini"
"ooooh .....jadi Go siau bi sudah ada kabar beritanya dan ia masih hidup?"
"Yaa benar, dan cui hoa siansu Ting Honglah yang mengungkapkan kejadian ini kepada adik seperguruanku, katanya Go siau bi berada dalam cengkeraman orang orang Thian che kau"
Sehabis mendengar perkataan itu, Buyung Thay tertawa penuh kepedihan.
"Ia tak akan menyalahkan dia sebab tertawannya Go siau bi oleh musuh masih berada dalam tanggung jawabku"
"Aku tak menyangka kalau perbuatan dari orang orang Thian che kau begitu rendah, hina dan tak tahu malunya..."
Kata Ko Goan cun sambil menahan geramnya. Buyung Thay tidak berucap sesuatu, mendadak seperti lagi diburu urusan penting, serunya agak terburu buru.
"Maaf, aku harus pergi sekarang, selamat tinggal"
Sekali menjejakan kakinya ke tanah, ia lantas kabur dari tempat itu dengan gerakan cepat.
Dalam pada itu, sepasang siluman hitam putih sudah melancarkan pukulan pukulan yang mematikan untuk menumpas musuh musuhnya, dalam waktu singkat kawanan jago lihay dari Thian che-kau itu sudah diobrak abrik sampai tercerai berai, jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang saling menyusul membuat siapapUn yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Bagaimana dengan Han siong Ki?
Kiranya ia sudah dihadang oleh belasan orang jago lihay dilorong lembah tersebut.
Masih mendingan kalau kawanan jago yang melakukan pengepungan cuma kawanan jago biasa, kali ini Han siong Ki dikurung oleh jago jago lihay yang sebagian besar adalah para bekas tawanan yang berhasil melepaskan diri dari sekapan benteng maut, rasanya bisa kita bayangkan sendiri betapa hebatnya ilmu silat yang mereka miliki.
Tujuan Han siong Ki menyatroni lembah Lian huan tau memang untuk mencuci lembah tersebut dengan darah, iapun segan untuk banyak bicara, begitu saling bertemu, serangan serangan mautpun lantas dilancarkan.
Tampak pemuda itu sedang mendengus dingin, hawa murninya dihimpun menjadi satu dalam tubuhnya, kemudian "Weeeesss"
Dia bacok tiga orang kakek yang muncul dari hadapannya.
Bersamaan waktunya ketika Han siong Ki melancarkan bacokan kedepan diantara kawanan jago lihay yang mengepung dari belakang, tiba tiba menyambar datang dua bilah pedang tajam yang menusuk kepunggungnya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Padahal waktu itu Han siong Ki sedang melancarkan serangan dengan tenaga penuh, merasakan tibanya hawa pedang yang mengurung sekujur tubuhnya, sadarlah pemuda kita bahwa sipenyerang itu berilmu tinggi, sebab ia dapat merasakannya dari hawa pedang yang se akan akan menyayat tubuhnya.
Dalam keadaan demikian, untuk berpaling sambil menangkis jelas sudah tak sempat lagi, dalam kaget dan marahnya, serangannya diperketat berbareng itu juga badannya menerkam maju kedepan.
Si mi sinkang memang betul betul merupakan suatu ilmu pukulan yang maha dahsyat, ternyata tak seorangpun yang sanggup untuk menghadapi serangan tersebut.
Tiga jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, tiga orang kakek itu terhajar telak sehingga tubuhnya mencelat sejauh dua kaki lebih dari posisinya semula.
Han siong Ki sendiri langsung melayang turun di posisi dimana ketiga orang kakek itu semula berdiri, ia putar badan secepat kilat, sementara dua bilah pedang yang menyergap tiba itu seperti bayangan yang menempel dibadan mengejar terus dengan ketatnya, dalam keadaan begini cepat cepat sebuah pukulan dilancarkan..
Hawa serangan yang kuat seperti gulungan ombak disamudra menyapu kedepan, ketika membentur dua bilah pedang tersebut seketika menimbulkan suara dentingan nyaring...
Dua orang laki laki setengah baya yang melancarkan sergapan itu merasakan tangannya bergetar keras, hampir saja cekalan pada gagang pedang itu terlepas, secara beruntun dia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, wajahnya menunjukkan rasa kaget dan ketakutan.
Sementara dua orang laki laki bersenjatakan pedang itu masih berdiri tertegun dengan hati yang berdebar keras, Han siong Ki telah manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik baiknya, ia menerkam ke muka seperti harimau terluka.
Hebat sekali tubrukannya itu, kecepatan gerak tubuhnya boleh diibaratkan sukma gentayangan yang melintas lewat.
Jerit kaget menggema memecahkan kesunyian, sebelum mengetahui apa yang terjadi, dua orang laki-laki setengah baya itu sudah kena tertotok jalan darah matinya, tanpa mendengus lagi mereka terkapar ditanah dan tewas seketika itu juga, sedang kedua belah pedang mereka tahu-tahu sudah berpindah tangan.
Belum pernah terjadi dalam dunia persilatan dewasa ini bahwa ada orang bisa melancarkan serangan dengan cara sehebat itu, kontan saja semua jago silat yang hadir disana pada tertegun dengan perasaan takut bercampur ngeri.
Han siong Ki menatap ke tujuh pria dan satu wanita yang berada dihadapannya dengan pandangan yang tajam dan menggidikkan, lalu sepasang pedang yang berhasil dirampas dari musuhnya itu tiba-tiba dilontarkan kemuka hampir bersamaan waktunya.
Dahsyat sekali tenaga sambitan itu, bukan saja kekuatannya luar biasa, kecepatannya juga mengerikan.
Dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan kesunyian, dua orang diantaranya tujuh laki-laki seorang perempuan itu kena ditembusi ulu hatinya oleh sambitan pedang itu, tubuh mereka segara terjungkal ke tanah dengan darah bercucuran, saking kerasnya tenaga sambitan itu, bukan saja pedang pedang itu sudah tembus keluar dari punggung mereka, bahkan pedang tersebut masih mempunyai kekuatan untuk meluncur kedepan menancap diatas dinding karang dan tembus hingga tinggal gaggng pedangnya belaka.
Lima orang jago lainnya jadi keder dan melarikan diri terbirit-birit keluar lembah, mereka ngeri sekali menghadapi musuhnya yang teramat lihay itu.
Selama yang lain ribut-ribut, cuma Ting Hong seorang yang tetap berdiam diri, ia tidak mencoba untuk kabur juga tidak melakukan perlawanan seakan akan kejadian yang baru berlangsung dihadapan matanya sama sekali tidak berhubungan dengan dirinya.
Han siong Ki melirik sekejap kearahnya, pemuda itupun tidak berbicara apa apa, dia putar badan dan melanjutkan perjalanannya menuju kelembah Lian huantau.
Tiba-tiba dari arah belakang berkumandang suara jeritan ngeri yang susul menyusul, jelas lima orang jago lihay yang kabur keluar lembah itu sudah kena dibunuh orang.
Tanpa berpalingpun Han siong Ki tahu siapa yang melakukan perbuatan itu, ia perkencang larinya menuju kedepan.
Hanya ada satu tujuan baginya pada saat ini, yakni menemukan Thian che kaucu Yu Pia lam, serta melakukan pembalasan dendam atas sakit hatinya selama ini.
Sepanjang perjalanan menembusi lembah itu, ia tidak temukan hadangan, malah sesosok bayangan manusiapun tidak nampak lagi.
Selang sesaat kemudian, sampailah pemuda itu didepan serentetan bangunan megah yang berpotongan seperti istana.
Kalau ditinjau dari betapa megah dan kokohnya bangunan istana tersebut, dapat diduga bahwa tempat itu kemungkinan besar adalah letak markas besar dari perkumpulan Thian che kau.
Tapi ada satu hal yang kelihatan janggal dan aneh sekali, ternyata suasana disekeliling bangunan istana itu sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh angkasa, terasalah betapa seram dan ngerinya keadaan disitu..
Markas besar perkumpulan Thian che kau yang tersohor ternyata berada dalam keadaan kosong tanpa penghuni, peristiwa ini benar benar merupakan suatu kejadian yang aneh dan tak masuk diakal.
Dengan perasaan sangsi Han siong Ki memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sekali menjejak kakinya diatas permukaan tanah, dia melayang masuk keatas pelataran diujung undak undakkan batu didepan pintu gerbang itu Sementara sianak muda itu masih celingukan kesana kemari ....
mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.
"Manusia bermuka dingin telah tiba"
Menyusul seruan itu, pintu gerbang berwarna merah yang penuh dengan ukiran indah itu pelan-pelan bergeser kesamping dan terpentang lebar-lebar...
Dengan terbukanya pintu gerbang tersebut Han siong Ki dapat menyaksikan pula semua pemandangan yang terbentang didepan matanya, apa yang kemudian terlihat membuat darah panas ditubuh anak muda itu mendidih, matanya jadi melotot besar dan kegusarannya memuncak.
Yu Pia lam ketua dari perkumpulan Thian che kau itu duduk dengan agungnya dikursi kebesaran, dibelakang tubuhnya berdirilah empat orang laki-laki dan empat orang perempuan, kedua belah sisi kursi kebesaran itu berderet pula kursi kursi yang ditempati kurang lebih tiga puluh orang jagoan lihay.
Yu Pia lam masih duduk dikursi utamanya dengan kain kerudung hijau menutupi wajahnya, hanya sepasang matanya yang tajam nampak dari luar, itupun memancarkan cahaya hijau yang menggidikan hati.
"Yu Pia lam Bajingan keparat, bangsat terkutuk. menggelinding keluar kau dari situ"
Teriak Han siong Ki dengan wajah merah padam dan mata melotot besar.
suasana dalam ruangan itu tetap bening dan sepi, tiada jawaban yang kedengaran.
Suasana dalam ruangan itu tetap hening dan sepi, tiada jawaban yang kedengaran.
Habislah kesabaran Han siong Ki, dia melayang masuk kedalam ruangan, lalu sambil menuding kearah Thian che kaucu itu teriaknya dengan penuh rasa geram.
"Yu Pia lam tahukah engkau siapakah aku ini?"
"Heeehhh..... heeebhh.... heeehhh... putra-nya Han Si wi, bukankah begitu "
Sahut Thian che kaucu dengan seram. Menyinggung nama ayahnya, kemarahan dan rasa dendam yang berkecamuk didalam dada Han siong Ki makin menjadi, kembali dia berteriak dengan penuh kebencian.
"Yu Pia lam, ini hari aku akan membuat darahmu setetes demi setetes mengalir keluar sampai habis, kemudian tubuhmu akan kucincang menjadi berkeping keping dan menghancurkannya hingga musnah"
"Woouw, besar amat bacotmu itu Bocah keparat, jangan sok bicara besar, pikir dulu dengan otakmu, sanggupkah engkau melakukan kesemuanya itu."
"Hmmm... jika tak percaya, kenapa tidak mencobanya sendiri?"
"Manusia bermuka dingin Simpan dulu semua sikap tekeburmu itu, sebelum kematianmu menjelang tiba, teriebih dahulu akan kupersilahkan engkau untuk berjumpa dengan seseorang"
Dia lantas bertepuk tangan, dari sudut ruangan sebelah kanan segera terbuka sebuah pintu rahasia, dari balik pintu rahasia itu tampaklah seorang perempuan duduk terikat diatas sebuah kursi, gadis itu sedang menatap kearah depan dengan padangan kaku.
"Adik Bi"
Han siong Ki segera berteriak dengan penuh perasaan emosi.
Yaa, gadis yang terikat diatas kursi itu tak lain adalah Go siau bi yang telah lenyap selama banyak waktu belakangan ini.
Tanpa banyak berbicara lagi, dengan suatu gerakan secepat kilat Han siong Ki menerjang maju kedepan, jari tangannya segera bergerak cepat mematahkan semua tali yang membelenggu tubuh gadis itu serunya lagi dengan penuh rasa emosi.
"Adik Bi, kau tentunya sangat menderita bukan?"
Tapi sebelum kata kata itu selesai diucapkan, tiba tiba dengan suatu gerakan yang cepat dan tepat Go siau bi melancarkan sebuah serangan kilat ke atas jalan darahnya.
Mimpipun Han siong Ki tak menyangka kalau Go siau bi secara tiba tiba melancarkan sebuah totokan kilat keatas tubuhnya, ingatan kedua belum sempat melintas lewat, beberapa buah jalan darahnya sudah tertotok, dan tak ampun tubuhnya segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Dua orang laki laki bertubuh kekar segera munculkan diri, satu dari kiri yang lain dari kanan segera meringkus tubuhnya menelikung badannya sehingga ia betul betul tak dapat berkutik lagi.
Setelah anak muda itu dapat diringkus, Go siau bi menyeka raut wajahnya, samaran orang itu segera terhapus sehingga tampaklah wajah aslinya, ternyata dia tak lain adalah seorang perempuan muda yang genit dan berparas jalang.
Pihak lawan ternyata menggunakan seorang perempuan muda yang menyamar sebagai Go siau bi untuk memancing Han siong Ki masuk perangkap.
peristiwa ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang sama sekali tak terduga sebelumnya.
Kini si anak mula itu sudah tak dapat berkutik lagi, nasibnya telah jatuh ditangan lawan, sekalipun Han siong Ki merasa teramat gusar sehingga matanya melotot besar dan mukanya berubah jadi merah membara, tapi apa gunanya?
sekalipun dia marah marah juga tak mungkin bisa merubah kenyataan yang telah terbentang didepan mata.
Dua orang laki laki kekar itu dengan mencengkeram tubuh Han siong Ki segera menggusurnya ke ruang tengah.
Thian che kaucu Yu Pia lam segera bangkit berdiri, kepada anak buahnya yang duduk disekelilingnya ia berkata.
"Pun kaucu hendak membicarakan soal persengketaan pribadi dengan sahabat she Han ini, harap kalian semua suka mengundurkan diri untuk sementara waktu"
Para jago yang duduk dikedua belah sisinya itu sama sama bangkit berdiri dan siap mengundurkan diri dari situ.
"Lapor kaucu"
Tiba tita seseorarg berkata "hamba ada beberapa patah kata ingin diucapkan keluar lebih dahulu"
Orang yang barusan berbicara itu adalah salah seorang dari ketiga orang Tongcu yang hadir di sana,Tok kun si Dewa racun Yu hua.
"Yu tongcu, apa yang hendak kau sampaikan? Katakan saja berterus terang "
Yu Pia lam menanggapi.
"Tentunya kaucu tidak akan menghancurkan dirinya bukan?"
"Maksudmu?"
"Menurut pendapat hamba yang bodoh, sepantasnya kalau kaucu pertimbangkan pula kedudukannya dewasa ini Kemungkinan besar hal ini akan mendatangkan keuntungan besar bagi rencana kaucu sendiri"
"Ehmm.. akan kupertimbangkan baik baik usulmu itu, asal memang demikian, tentu saja bisa kuputuskan nanti"
"selain daripada itu"
Ujar Yu Hua lagi dengan perlahan.
"lebih baik kaucu pertahankan pula seluruh kepandaian silat yang dimilikinya itu, tentunya kaucu tak keberatan bukan?"
"Mempertahankan kepandaian silatnya..."
Tiba-tiba sekujur badan Thian che kaucu bergetar keras.
"Yaa benar, pertahankan segenap kepandaian silatnya yang dimilikinya Atau mungkin kaucu keberatan?"
"Yu Tongcu"
Ujar Thian che kaucu Yu Pia lam dengan wajah bersungguh sungguh.
"sudah kau bayangkan bagaimana akibatnya andaikata dia sampai terlepas dari tangan kita?"
"sudah hamba pikirkan persoalan ini matang matang, dani hamba cukup mengetahui akibatnya"
"Mungkinkah itu?"
"sudah hamba pikirkan, Asal orang ini bisa kita gunakan tenaganya untuk berpihak kepada kita, maka kedudukan tertinggi bagi umat persilatan yang kita idam idamkan selama ini dengan gampangnya bisa kita raih dan kita miliki untuk selamanya"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh apakah Yu Tongcu tidak merasa bahwa jalan pikiranmu itu terlampau kekanak kanakan?"
Tiba tiba Yu Pia-lam tertawa tergelak dengan kerasnya.
"bagaimanapunjuga dia toh masih merupakan seorang ciangbunjin dari perguruan Thian lam, lagipula antara dia dengan aku...."
Berbicara sampai disini, tiba tiba ia tutup mulutnya dan membungkam, tentu saja ia tak dapat mengumumkan soal sengketa berdarahnya dengan Han siong Ki sehingga semua orang persilatan mengetahui rahasia ini dan sama sama mengutuknya.
sementara itu, si dewa racun Yu Hua kembali telah berkata dengan suara perlahan.
"Kaucu, hamba berharap bila kau sudah selesai memeriksanya, maka kaucu bersedia untuk serahkan orang itu kepada hamba, biar hambalah yang menaklukan dirinya"
"Apakah Yu Tongcu mempunyai kemampuan untuk menaklukkan dirinya?"
Yu Pia lam masih agak ragu.
"Kaucu Tampaknya engkau telah melupakan kemahiran yang paling hamba andalkan"
Seakan akan baru saja menyadari akan sesuatu, tiba tiba Thian che kaucu menengadah dan tertawa terbahak bahak.
"Haaaahhh.... haaahh... haaahhh... bagus, bagus kecuali Yu tongcu yang boleh tetap tinggal disini, harap saudara saudara yang lain mengundurkan diri untuk sementara waktu"
Baru saja ucapan tersebut selesai diucapkan tiba tiba dari depan pintu muncul seorang laki laki berbaju ringkas yang masuk dengan langkah tergesa gesa, sesampainya dihadapan Yu Pia lam, orang itu berlutut dan berkata nyaring.
"Tecu ada berita yang hendak dilaporkan"
"Cepat katakan."
"Diluar lembah Lian huan tau telah kedatangan musuh sebanyak lima ratus orang lebih, kekuatan itu terdiri dari jago jago pelbagai partai dan perkumpulan, mereka dipimpin oleh pengemis dari selatan, tiang lo perkumpulan pengemis"
Walaupun jalan darah Han siong Ki masih tertotok pada waktu itu, namun kesadarannva tidak hilang, setiap patah kata tersebut dapat ia dengar dengan amat nyata.
Ketika Dewa racun Yu Hua mengucapkan kata-katanya tadi, ia merasa hatinya ngeri bercampur seram, ia cukup mengetahui keahlian si makhluk racun tua itu dalam menggunakan bahan bahan beracunnya, sebagai seorang yang cerdik diapun dapat menarik kesimpulan dari makna ucapan yang diutarakannya tadi, rupanya ia hendak menggunakan pengaruh obat racun tertentu untuk menghilangkan daya akal dan kesadarannya, lalu setelah ia kehilangan kesadaran dan pikirannya, maka tenaganya akan dipergunakan pihak Thian che kau untuk mewujudkan citacitanya.
Seandainya hal itu sampai terjadi, keadaan tersebut boleh dibilang betul-betul mengerikan-Dan sekarang pengemis dari selatan telah menghimpun semua kekuatan dari perkumpulan dan partai partai persilatan yang pernah merasakan kekejaman Thian che-kau untuk melakukan pertarungan berdarah dengan Thian che kau, padahal ia sendiri sedang berada ditangan musuh, diam diam iapun merasa seram atas akibat yang mungkin akan dialami engkoh tuanya...
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, terdengar Thian che kaucu menengadah dan tertawa latah.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... lengan belalang ingin menahan putaran roda pedati.... Huuh betul betul sekawanan manusia yang tak tahu diri, saudara saudara sekalian Ayohlah masing masing menempatkan diri pada posisinya masing masing, tumpas semua bangsat yang berani bikin gara gara di lembah Lian huan tau itu dan menguburnya semua disini"
"Terima perintah"
Suara sahutan yang keras dan gemuruh bagaikan guntur yang menggelegar diangkasa berkumandang dalam ruangan itu, serentak kawanan jago itu bangkit dan mengundurkan diri dari ruangan tersebut untuk melakukan penghadangan-Sekarang, didalam ruangan tinggal Thian che kaucu beserta ke delapan orang pelayan laki perempuannya, si Dewa racun Yu Hua, perempuan jalang yang menyaru sebagai Go siau bi, Han siong Ki serta dua orang laki-laki kekar yang meng cengkeram tubuhnya.
Gagal melakukan pembalasan dendam, sekarang malahan terjatuh ketangan musuh, saking gelisah dan tidak tenangnya Han siong Ki muntah muntah darah segar dengan mata melotot dan wajah merah padam karena menahan garamnya ia berteriak.
"Yu Pia lam, sekalipun semasa hidup aku tak dapat melahap dagingmu, setelah mati aku pasti akan merengut nyawa anjingmu"
"Haaaahhh... haaahhhh... haaahh... Han-siong Ki, segala sesuatunya telah terlambat, apa gunanya kau berteriak teriak macam anjing budukan yang lagi menyalak?"
Berbicara sampai disitu dia lantas berpaling, kemudian serunya dengan lantang.
"Bawa orang itu kemari"
Nyonya muda yang berwajah jalang itu mengiakan dan masuk kedalam pintu rahasia tersebut, tak selang beberapa saat kemudian dia telah muncul dengan membawa seorang gadis yang berpakaian tak karuan, berambut kacau dan bermata pudar.
Gadis itu tak lain adalah Go siau bi yang dicemaskan dan dikuatirkan keselamatan jiwanya selama ini.
Seketika itujuga Han siong Ki merasakan hatinya bagaikan disayat sayat dengan golok.
hampir saja dia jatuh tak sadarkan diri Sementara itu, ketua perkumpulan Thian che-kau Yu Pia lam kembali memperdengarkan suara gelak tertawa seramnya yang memekikkan telinga, suara itu nyaring seperti auman serigala kelaparan, sungguh bikin hati orang jadi mengkirik.
Setelah puas tertawa seram, dia baru berkata dengan nada yang menggidikkan hati.
"Han siong Ki... Mumpung pikiran dan kesadaranmu masih utuh dan segar bugar, maka kaucumu ingin berterus terang kepadamu, ketahuilah tidak lama kemudian Yu Tongcu akan memberi sebutir obat yang dibuat secara khusus untukmu, dan sejak itulah engkau dan gadis she Go itu anak buah perkumpulan kami yang paling setia dan paling bisa diandalkan, kalian berdua masih tetap dapat bersatu sebagai suami istri, tapi kekuatan tenaga dalam yang kalian miliki akan membuat perkumpulan kami ibaratnya harimau tumbuh sayap. sejak kini dunia persilatan akan berada ditanganku, dan kekuatan kami tak akan terkalahkan untuk selamanya..."
Setelah jalan darahnya kena ditotok, Han siong Ki sama sekali tak mampu untuk menghimpun kembali segenap tenaga dalamnya, meski begitu telinganya dapat mendengar dan mulutnya dapat berbicara.
Betapa geram dan marahnya dia sehabis mendengar perkataan itu, giginya sampai bergemrerutukan menahan rasa bencinya yang meluap luap.
"Yu Pia lam"
Dia berteriak dengan suara yang keras dan nyaring.
"tutup mulut anjingmu Kalau aku tak sampai mati..."
"Haaahhh.... haaahhh.... haaaahhh... jangan khawatir, kau tak bakat mati Kaucumutak nanti sampai merenggut nyawamu... dengarkan baik-baik oleh karena hubunganmu yang sangat erat dengan perkumpulan Thian lam, tak lama lagi perguruan tersebut akan masuk kedalam organisasi perkumpulan kami, dan engkau akan menjadi pembantu yang paling setia untuk menumpas setiap orang yang berani memusuhi diriku, selain daripada itu, kau pun akan membantu untuk meratakan benteng maut dengan tanah, membunuh sucoumu, susiokmu dan haaahhhh... haaahhh..."
Semakin berbicara ia merasa semakin bangga sehingga akhirnya gelak tertawa yang dia perdengarkan itu penuh dengan perasaan latah, bangga gembira dan kejam.
Yaa, pada hakekatnya peristiwa semacam itu memang terlampau menakutkan, setelah kehilangan pikiran dan kesadarannya maka pemuda itu akan berubah menjadi sebuah boneka tak bernyawa belaka, setiap perintah dan kata kata orang akan dituruti dengan begitu saja, bukan saja dapat melakukan semua perbuatan yang tak diinginkannya, bahkan diapun tak akan mengenali kembali mana sanak mana keluarga...
"Yu Pia lam kau lebih busuk dari seekor binatang, kau tidak berperikemanusiaan, kau bajingan terkutuk..."
Saking dipengaruhi oleh golakan emosi yang meluap luap.
si anak muda itu tak sanggup mempertahankan diri lagi, sekali lagi muntah darah kental.
Sepanjang kejadian itu berlangsung, Go siau bi hanya berdiri kaku seperti orang bodoh, terhadap semua peristiwa yang berlangsung dihadapannya, bukan saja ia tidak memberikan reaksi apa apa, malahan seakan akan ia tidak merasa bahwa ada sesuatu kejadian tak beres yang sedang berlangsung dihadapannya.
Betapa gembiranya Thian che kaucu menghadapi kejadian itu, ia menengadah lalu tertawa terbahak bahak.
Seorang musuh bebuyutan yang selalu mengancam keselamatan jiwanya, seorang jago lihay yang berilmu tinggi sebentar lagi akan menjadi seorang boneka yang akan setia sampai mati kepadanya, betapapun juga, kejadian ini pasti akan menggembirakan hatinya.
Ia tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki Han siong Ki amat dahsyat, sekali akal pikirannya terpengaruh oleh obat bius sehingga melupakan segala galanya, maka pemuda itu akan merupakan salah sebuah senjatanya yang paling ampuh untuk membantai musuh musuhnya.
Ditambah pula Yu Pia lam memang berambisi untuk menguasahi seluruh jagad dan mengangkat dia sendiri menjadi kaisarnya, dengan dimilikinya senjata-senjata ampuh tersebut, maka tak usah di ragukan lagi tak lama kemudian cita citanya akan dapat terwujud.
Sementara itu, laki laki yang memberi laporan tadi menyerbu masuk kedalam ruangan lagi dengan terbirit birit, dengan napas yang tersengka1 sengkal terdengar ia berseru.
"Laa.....laapor....kaucu....."
"Ada urusan apa?"
Thian che kaucu Yu Pia-lam bertanya dengan nada rada segan.
"Didalam lembah telah bermunculan dua orang perempuan berkerudung yang amat misterius, tampaknya kedua orang itu hapal sekali dengan semua perlengkapan serta alat alat jebakan yang berada didalam lembah ini mereka sudah menghancurkan tiga buah alat jebakan dan menerjang lewat dua buah pos penjagaan.
"Aaah.... ada kejadian seperti itu?"
Thian che kaucu berteriak sambil menggebrak meja "kurang ajar, biarpun kaucu pergi lakukan pemeriksaan sendiri. .."
Dia lantas berpaling dan teriaknya.
"Yu Tongcu"
"Hamba berada disini"
"Pemuda ini kuserahkan kepadamu dan harap engkau segera turun tangan, berapa lama yang dibutuhkan sampai obat tersebut mulai bereaksi dan menunjukkan hasilnya?"
Si Dewa racun Yu Hua membungkuk diri memberi hormat, sahutnya dengan lirih.
"Kurang lebih setengah jam"
"Bagus Menggunakan kesempatan yang ada sekarang, kuperintahkan kepadamu untuk segera turun tangan dan robahlah pemuda tersebut menjadi seseorang yang berguna bagiku"
"Hamba terima perintah Akan hamba laksanakan semuanya itu dengan sebaik-baiknya....."
Thian che kaucu pun tidak banyak berbicara lagi, buru buru ia bangkit berdiri dan menuju ke ruangan luar, delapan orang laki-laki dan perempuan serta laki-laki yang pemberi laporan tadi ikut beranjak dan berlalu mengikuti di belakang ketuanya.
Sepeninggal orang-orang itu, si dewa racun Yu Hua segera ulapkan tangannya seraya berkata.
"Gusur orang itu menuju ruang rahasia nomor dua"
Han siong Ki benar-benar merasa gusar sekali, matanya melotot besar sekali, mukanya merah padam hingga otot otot hijaunya pada menongol keluar, sayang jalan darahnya sudah tertotok sehingga walaupun dia tahu bahwa jiwaya terancam bahaya maut, toh tiada suatu perlawananpun yang bisa dilakukan, kendatipun demikian ia merasa tak rela membiarkan dirinya dipergunakan orang, ia merasa daripada tenaga dan kepandaian silatnya dipergunakan musuhnya untuk berbuat jahat, lebih baik kalau ia mati saja.
Ya a, pada hakekatnya memang kematianlah yang dapat menghentikan semua siksaan, semua penderitaan yang dirasakan oleh manusia yang hidup didunia ini.
Ia tak mau menjadi seorang penjagal, seorang penjagal yang membunuh rekan-rekan persilatan Ia tak mau nama baik perguruan Thian lam pay hancur dan musnah ditangannya Iapun tak mau membiarkan tenaganya dipergunakan untuk menghancurkan benteng maut, membantai sanak keluarga sendiri...
Tapi, apa yang bisa dia harapkan kecuali berdoa kepada Yang Kuasa, agar dia yang maha besar dapat membantunya dan membebaskannya dari segala pederitaan serta semua percobaan hidup, sungguh sungguh suatu peritiwa yang menakutkan sekali.
Tapi, kematian baginya dewasa ini merupakan suatu perbuatan yang teramat sukar untuk dilaksanakan-Sebab masih begitu banyak urusan, masih begitu banyak tugas yang belum diselesaikan, ia merasa jika harus mati sebelum tugas tugas pentingnya diselesaikan, maka dia akan mati dengan hati yang tak rela, dia akan mati dengan mata tak meram.
Selang sesaat kemudian, ia dan Go siau bi telah dibawa masuk ke dalam sebuah ruang kecil yang begitu rapat sehingga hampir tak ada angin yang berhembus masuk ke sana.
"Harap kalian bertiga suka mengundurkan diri dari sini"
Kata si Dewa Racun Yu Hua kemudian setelah kedua orang tawanan tersebut dibaringkan dalam ruangan itu.
Dua orang laki laki kekar dan perempuan berwajah jalang itu segera bungkukkan badannya memberi hormat, lalu mengundurkan diri dari ruang rahasia tersebut.
Han siong Ki dan Go siau bi diletakkan diatas sebuah pembaringan kayu dalam ruangan itu.
Setelah menutup pintu rahasia itu, pelan pelangi Dewa racun Yu i-Hua berjalan menghampiri pembaringan kayu dimana Han siong Ki dan Go siau bi berbaring.
"Yu Hua"
Han siong Ki segera membentak penuh kegusaran.
"engkau berani melakukan perbuatan yang keji, buas dan tidak berperi kemanusiaan ini?"
Si Dewa racun Yu Hua tertawa misterius, tiba-tiba ia lancarkan sebuah serangan yang menotok jalan darah ditubuh kedua orang itu Sesudah kena totokan tersebut, Han siong Ki seketika itu juga merasakan peredaran darah dalam tubuhnya berjalan lancar, hawa murni yang semula terasa tersumbatpun kini telah berjalan lancar kembali, kontan dia melompat turun dari atas pembaringan dan sekali hantam dia bacok dada si Dewa racun Yu Hua...
"Engkoh Ki ... kau.... jangan dihantam...."
Jeritan kaget bergema diudara. Sayang terlambat.
"Blaaang"
Sebuah pukulan yang keras telah bersarang didada Yu Hua, diiringi jerit kesakitan yang keras, darah kental muntah keluar dari mulutnya, tubuh si Dewa racun Yu Hua mencelat kebelakang dan tersungkur ditanah.
Setelah melepaskan serangannya, Han siong Ki baru menyadari bahwa kejadian yang baru dihadapinya sedikit aneh, tapi untuk membatalkan kembali serangannya jelas tak mungkin maka..
akibatnya bersaranglah pukulan itu didada lawan dengan telak.
"Engkoh Ki...dia... dia bermaksud baik kepadamu"
Han siong Ki berpaling, ia lihat Go siau bi sudah menggelinding ke lantai dari atas pembaringan, ketika itu dia sedang berusaha untuk bang berdiri, tapi baru setengah jalan tubuhnya kembali roboh terjungkal ke atas tanah.
"Adik Bi, kau...."
Dengan penuh kegelisahan Han siong Ki memburu kedepan dan membopong gadis itu dari tanah dengan sikap yang sangat hati hati.
"Lepaskan aku Tolonglah dia lebih dahulu..."
Untuk sesaat Han siong Ki merasakan pikirannya kalut dan tak karuan, dengan kebingungan ia baringkan kembali Go siau bi keatas pembaringan, kemudian menghampiri si dewa racun Yu Hua yang masih terkapar diatas tanah itu....
Tapi sebelum ditolong, si Dewa racun Yu Hua sudah bangkit berdiri dengan sempoyongan, dia mengeluarkan beberapa biji obat dan segera ditelannya, kemudian katanya dengan lirih.
"Mari kita tinggalkan tempat ini"
"Tinggalkan tempat ini....?"
Dengan hati kaget, heran hampir tak percaya han siong Ki berseru tertahan, sebab bagaimanapun juga peristiwa ini betul-betul diluar dugaannya.
"Yaa, mari kita segera tinggalkan tempat ini"
Dewa racun Yu Hua menegaskan kembali kata katanya.
"Sebenarnya apa maksudmu?"
"Meskipun aku Yu Hua disebut orang sebagai dewa racun, tapi aku masih dapat membedakan mana budi dan mana dendam. Tatkala berada ditelaga racun lembah hitam tempo hari, kau telah selamatkan selembar jiwaku, maka hari ini aku pun menolong engkau lolos dari cengkeraman musuh, dengan perbuatanku ini berarti aku telah membayar hutang budi tersebut, sejak kini kita berdua sama sama tidak berhutang budi, semuanya telah impas"
Terharu sekali hati Han siong Ki setelah mendengar perkataan Utu, dia merasa bahwa si dewa racun Yu Hua meski berasal dari golongan kaum sesat, namun ia tidak melupakan jiwa dan semangat seorang umat persilatan yang sejati.
Sekarang ia baru mengetahui maksud hati yang sebenarnya dari orang ini, diapun baru paham apa sebabnya si dewa racun Yu Hua mengajukan usul tadi kepada ketuanya, ternyata dibalik batu ada udangnya, ia memang mempunyai maksud maksud tertentu dibalik rencananya itu.
Dengan perasaan terharu bercampur terima kasih dia lantas maju kedepan dan memberi hormat katanya penuh nada penyesalan-"Maafkanlah kekasaran dan kegegabahanku tadi sehingga tindakanku itu sudah melukai diri anda, harap kau suka memaklumi keadaan tersebut dan bersedia memaafkannya"
"Engkau terlalu merendah, apa gunanya kaupikirkan urusan sekecil itu? Luka sekecil ini tak nanti sampai mengakibatkan kematianku"
"Meski demikian, aku merasa tidak tenteram dan berdosa oleh perbuatanku ini"
Si Dewa racun Yu Hua tak ingin membicarakan persoalan itu sampai berlarut-larut, tiba tiba diaalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.
"Jalan darah nona Go yang tertotok berlangsung terlampau lama aku rasa untuk sesaat peredaran darahnya belum bisa pulih kembali seperti sedia kala, ada baiknya kalau kalian berdua cepat-cepat tinggalkan tempat ini..."
"Bila engkau lepaskan kami pergi, Yu Pia lam tentu tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja, bagaimana tanggung jawabmu nanti dihadapannya?"
Han siong Ki bertanya agak khawatir. si Dewa racun Yu Hua tertawa getir.
"Sudah lama aku berniat untuk meninggalkan tempat ini, dan aku rasa inilah kesempatan yang paling baik bagiku untuk mewujutkan keinginanku itu"
Sehabis berkata dia lantas membuka pintu rahasia tersebut dan menyelinap keluar, sesaat kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Menyaksikan semua yang terjadi Han siong Ki berdiri termangu mangu, lama sekali ia baru berpaling kearah Go siau bi seraya ujarnya.
"Adik Bi, kau sudah tidak apa bukan ....?"
"Engkoh Ki, aku tak apa apa"
Jawab Go siau bi lirih.
"membalas dendam adalah urusan yang sangat penting, jangan kau perdulikan aku lebih dulu, laksanakan tugas beratmu itu"
"Apa maksudmu..? Kenapa aku tak boleh mengurusi engkau ....? Adik bi, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Aku ....mungkin...mungkin aku tak sanggup untuk hidup lebih lanjut"
"Apa ..... Kau....kau...."
"sejak di tawan dan dibawa kemari, setiap hari aku harus minum sebutir Thian tay wan untuk menyambung hidupku, dan sekarang...."
Han siong Ki segera tertawa ringan, walaupun gadis itu tidak melanjutkan kata katanya namun ia cukup memahami apa yang dimaksudkan, dari sakunya dia mengambil keluar obat si mia kim-wan pemberian dari sin ciu it cho tersebut, lalu katanya dengan lembut.
"Adik Bi, telanlah obat ini"
"Apaan itu? obat apa?"
"si mia kim wan.. obat paling mujarab didunia ini"
"ooooh ...."
Go siau bi berseru tertahan, ditatapnya wajah Han siong Ki dengan sinar mata yang lembut, dia bangkit dari pembaringannya dan menerima obat itu lalu dimasukkan kedalam mulutnya, tak terkirakan rasa hangat dan mesra yang timbul dari dasar hatinya.
Sekali lagi Han siong Ki menutup kembali pintu ruang rahasia itu, kata katanya dengan perlahan.
"Adik Bi, biar kubantu menyalurkan hawa murni kedalam tubuhmu, daya kerja obat itu tentunya akan lebih cepat menyebar keseluruh bagian tubuhmu."
Tiba tiba ....Go siau bi menjerit keras, tubuhnya menggelinding diatas pembaringan seperti orang sekarat.
Menyaksikan kejadian itu, Han siong Ki merasa amat kaget, cepat dia memburu kemuka dan membopong tubuhnya, tapi paras muka gadis itu sudah berubah jadi hijau membesi, bibirnya terkatup rapat, matapun terpejam rapat rapat.
Kejadian tersebut segera menggetarkan hati pemuda kita, pikirnya.
"Jangan jangan obat si mia kim wan yang kudapatkan adalah obat yang palsu? Tapi... hal ini mana mungkin bisa terjadi? Rasanya tidak ada kepentingan bagi siJelek dari sin ciu untuk memberikan sebutir obat palsu kepadaku.... tapi, kalau bukan palsu kenapa setelah minum obat itu Go siau bi menunjukkan perubahan yang mengerikan??"
Setelah termenung sebentar, dia berpikir lebih jauh.
"Hmmm .... Andai kata terbukti nanti bahwa obat si mia kim wan yang kudapatkan adalah obat yang paisu.. pertama Ting Hong yang akan kubunuh, kemudian akan kuobrak abrik gua saiju di bukit Ciong san untuk membalas sakit hati ini ...."
Berpikir sampai disini dengan hati yang kebat kebit dia lantas memeriksa denyutan jantung dari gadis itu ....
Tapi apa yang ditemuinya?
Napas Go siau bi telah berhenti, denyutan nadinya telah berhenti juga.
Gadis itu telah menghembuskan napasnya yang terakhir.
Yaa, selembar nyawa gadis itu ternyata telah direnggut oleh sebutir pil si mia kim wan yang dianggap sementara orang sebagai obat yang paling mujarab didunia itu....
Bagaikan disambar geledek ditengah hari bolong, Han siong Ki merasakan sekujur badannya mengejang keras, mukanya pucat pias, dengan sedih serunya.
"Adik Bi.... oooh, adik Bi... akulah yang telah mencelakai jiwamu ....." -ooo0dw0ooo-BAB 99 DIPELUKNYA jenasah Go siau bi erat-erat, lama sekali pemuda itu berdiri kaku dalam ruangan tersebut, untuk sesaat dia seperti kehilangan semua kesadarannya, ia merasa pikirannya kosong melompong, tiada sesuatu apapun yang tertinggal dalam benaknya. Go siau bi ternyata meninggal dunia ditangannya, mimpipun ia tak pernah menyangka sampai ke situ. Setelah berapa lama sudah lewat,.. tiba tiba dari luar ruangan rahasia terdengar suara beberapa kali ketukan lirih. Bagaikan dipagut ular berbisa, Han siong Ki segera sadar kembali dari lamunannya, ia baru teringat bahwa dirinya masih berada dalam sarang naga gua harimau, diapun teringat kembali akan Thian che kaucu musuh besarnya, yang mati tak mungkin hidup kembali, kenapa dia tidak berusaha untuk membalas dendam lebih dahulu? Akhirnya diapun membaringkan tubuh Go siau bi diatas pembaringan kayu itu, gumamnya lirih.
"Adik Bi, maafkanlah daku, setelah membalas dendam, aku pasti akan membawa engkau tinggalkan lembah ini, akan kucari-kan tempat yang indah sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir"
Selesai berdoa, ia baru putar badan dan membuka pintu rahasia tersebut...
"Kraaak."
Tiba tiba dari luar pintu terdengar seseorang menjerit lengking, sesosok bayangan manusia mundur kebelakang dengan langkah sempoyongan, Dengan tatapan yang tajam Han siong Ki menengadah, ia segera temukan bahwa orang yang mengetuk pintu itu tak lain adalah perempuan muda bermuka jalang yang pernah menyaru sebagai Go siau bi dan melancarkan sergapan kilat yang mengakibatkan dirinya tertotok itu, kontan saja hawa amarahnya menerjang sampai dibenak, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, karena ulah perempuan jalang itu hampir saja selembar jiwanya melayang.
Rupanya perempuan muda itupun menyadari bahwa orang yang berada di hadapannya sekarang bukan Dewa racun Yu -Hua seperti yang diduganya semula, melainkan musuhnya yang disegani, dengan penuh ketakutan perempuan itu mundur beberapa langkah kebelakang, serunya dengan nada tergagap.
"Kau.... kau... kau tidak mampus.? Di... dimana Yu.... Yu Tongcu..."
"Aaah kamu perempuan sialan, tak usah banyak ngebacot"
Teriak Han siong Ki sambil melompat kehadapan perempuan itu.
"rasain dulu sebuah bacokanku ini sebelum menanyakan soal lain. ."
Segulung angin pukulan sangat keras meluncur ke depan, perempuan jalang itu tak sangguc menghindarkan diri lagi, dadanya sebera kena diterjang dengan telak....
diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, perempuan itu mencelat kebelakang dan tewas dalam keadaan yang mengerikan.
Han siong Ki tidak memeriksa keadaan musuhnya lagi, begitu perempuan tersebut kena dihajar diapun meloncat keluar dari ruangan rahasia itu untuk mencari mangsa baru.
Ketika ia keluar dari ruang utama, dari arah depan muncul belasan sosok bayangan manusia yang memapaki jalan perginya, mereka datang rupanya karena mendengar suara gaduh disana.
Rasa benci Han siong Ki terhadap musuh musuhnya betul betul sudah merasuk sampai ketulang sumsum, dalam keadaan demikian ia sama sekali tak sudi untuk buang waktu hanya untuk meneliti siapa yang datang, begitu menyaksikan munculnya belasan sosok bayangan manusia, tenaga murni si mi sinkang yang dimilikinya segera dihimpun sampai dua belas bagian besarnya, kemudian dilontarkan kearah mana datangnya bayangan bayangan manusia itu.
Gulungan gelombang hawa udara berwarna putih melanda kearah depan dengan dahsyatnya, ketika saling membentur dengan tubuh manusia manusia itu, sebera terdengarlah suatu benturan kekerasan yang memekikkan telinga, menyusul kemudian jeritan jeritan ngeri yang cukup mendirikan bulu roma berkumandang saling bersahutan, dalam sekejap mata diatas tanah telah membujur dua belas sosok mayat.
Hanya dalam satu gebrakan saja, anak muda itu sanggup membinasakan dua belas orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau, kekuatan tenaga dalam sedahsyat itu boleh dibilang belum pernah dijumpai dalam kolong langit dewasa ini.
Pembantaian tersebut baru saja berlangsung, dari kejauhan kembali terdengar suara ujung baju tersampek angin berkumandang tiba.
Kembali ada belasan sosok bayangan manusia melayang datang dengan kecepatan tinggi.
Kali ini yang datang adalah Thian che kaucu Yu Pia lam, dia datang bersama-sama ke delapan orang kacung laki laki dan dayang dayang kecilnya...
Baru saja melayang turun kedalam ruangan itu, Thian che kaucu telah menjerit kaget, dia mengira Han siong Ki sudah menjadi kalap setelah dicekoki obat racun dari si Dewa racun Yu Hua, dan saking kalapnya maka ia telah melakukan pembunuhan secara besar besaran tanpa pilih bulu lagi...
"Yu Tongcu, dimana kau?"
Segera teriaknya dengan suara lantang.
Namun suasana disekitar tempat itu tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, tiada jawaban yang kedengaran.
Merah membara sepasang mata Han siong Ki berhadapan dengan musub besar yang dibencinya, hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya benar benar sangat tebal, ia melototi terus wajah Thian che kaucu tanpa berkedip.....
dari sorot matanya yang buas, rasanya kalau bisa pemuda itu hendak menelan musuhnya bulat bulat.
Lama kelamaan Thian che kaucu merasakan juga keadaan yang tidak beres, dengan nada menyelidik teriaknya.
"Manusia bermuka dingin, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami semua?"
"Heeehhh... heeehhh... heeehhhh... Yu Pia lam""
Jawab Han siong Ki sambil tertawa dingin "akan kuhancur lumatkan tubuhmu jadi berkeping-keping."
Menggidikkan hati suaranya, membuat ketua dari perkumpulan Thian che kau itu tanpa sadar berdiri dengan hati bergidik, bulu romannya pada bangun berdiri Tapi dengan cepat pula Thian che kaucu menyadari bahwa suatu perubahan yang tak terduga telah berlangsung disitu, cepat dia ulapkan tangannya sambil berseru.
"Geledah sekeliling tempat ini"
Delapan orang bocah laki laki dan perempuan itu segera mencabut keluar pedang masing masing dan serentak menerjang kedalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan.
Setelah kedelapan orang anak buahnya menyebarkan diri, Thian che kaucu Yu Pia lam baru menyeringai dan tertawa seram, ia maju menyongsong kedatangan Han siong Ki, dalam waktu singkat sepasang telapak tangannya telah berubah jadi putih bening seperti susu, rupanya jagoan lihay dari perkumpulan Thian che kau ini telah mengerahkan ilmu Hua goan sin khi yang paling diandalkan itu untuk melakukan perlawanan-Waktu itu, Han siongKi memang sudah diliputi oleh rasa benci dan gusar yang luar biasa, akan tetapi ia tak berani bertindak gegabah, ilmu Si mi sinkang yang dimilikipun menjadi satu siap siap melakukan perlawanan-Makin lama selisih jarak atara kedua belah pihak telah semakin dekat dari tiga kaki sekarang sudah diperpendek sehingga akhirnya tinggal delapan depa belaka.
"Lihat serangan"
Tiba tiba Yu Pia lam membentak keras.
Mengikuti dengusan seram yang memekikkan telinga itu, serentetan cahaya merah keemas emasan yang bercampur baur diantara gulungan angin puyuh yang maha dahsyat segera menyapu ke tubuh Han siong Ki.
Si anak muda itu semakin tak berani gegabah, cepat cepat sepasang telapak tangannya diayun ke depan, kabut putih yang tebal dan tajam dengan cepat menyambar pula ke depan menyongsong tibanya ancaman musuh yang maha dahsyat itu.
"Blaaang"
Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga menggelegar diangkasa, dalam benturan itu kedua belah pihak sama sama tergetar mundur beberapa langkah, hanya untuk Thian che kaucu dia mundur tiga langkah lebih banyak ketimbang si anak muda itu.
Begitu terdorong mundur, dengan cepat Han siong Ki menerjang maju lagi dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat dia sudah lancarkan sembilan buah pukulan berantai yang kesemuanya disertai tenaga pukulan yang lebih hebat dari amukan angin topan.
Thian che kaucu harus berkelit kesana kemari untuk melepaskan diri dari serangkaian pukulan musuh yang datang secara bertubi tubi itu, setiap kali ada kesempatan, diapun melepaskan pukulan pukulan balasan.
Pertarungan yang amat sengit dan maha seru pun segera berlangsung, belum pernah dalam dunia persilatan terjadi pertarungan seramai ini.
Dalam waktu singkat, kedua belah pihak sudah saling menyerang sebanyak tiga puluh gebrakan lebih, dalam pertarungan adu jiwa dan adu tenaga, ini, untuk sementara waktu siapa menang siapa kalah masih sukar untuk ditentukan.
Tiba tiba...
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang susul menyusul, jeritan tersebut semuanya berlangsung dari dalam ruangan.
Tercekatlah hati Thian che kaucu mendengar jeritan tersebut, segera pikirnya.
"Apa yang telah terjadi? Jangan jangan didalam ruanganpun terdapat musuh yang tersembunyi? Kalau tidak, mengapa anak buahku pada menjerit kesakitan?"
Thian che kaucu keheranan, maka Han siong Ki lebih lebih tercengang lagi, ketika meninggalkan tempat itu, kecuali mayat Go siau bi yang masih ada didalam ruang rahasia, sepanjang jalan menuju ke ruangan tersebut boleh dibilang ia tidak melihat ada seorang manusiapun, lalu dari mana munculnya manusia d idalam ruangan belakang?
sesuatu kejadian yang sangat aneh "Blaaaaang Blaaaaaang"
Bersosok-sosok bayangan manusia terlempar keluar dari ruangan itu dan tergelepar diatas tanah tanpa berkutik lagi.
Jumlah tubuh tubuh yang kaku menjadi mayat itu tidak banyak pun tidak sedikit, jumlahnya persis delapan sosok.
Dalam sekejap mata delapan orang bocah laki laki dan bocah perempuan itu sudah tewas ditangan orang tanpa berhasil melakukan suatu perlawanan yang berarti, kejadian ini bukan saja sangat aneh, andaikata tiada kenyataan mungkin orang tak akan mempercayainya dengan begitu saja.
Thian che kaucu berteriak kalap.
secara beruntun dia lancarkan tiga buah pukulan paling dahsyat untuk memaksa Han siong Ki terdesak mundur beberapa langkah kebelakang, begitu musuhnya mundur dia lantas manfaatkan kesempatan yang sangat baik itu untuk melejit ke udara dan menerobos masuk kedalam ruangan-..
"Yu Pia lam sekalipun engkau punya sayappun jangan harap bisa lolos dari tanganku"
Sambil berteriak, Han siong Ki segera melakukan pengejaran dengan ilmu gerakan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan, secepat sambaran kilat ia hadang jalan pergi gembong iblis itu.
"Blaaaaang"
Ditengah benturan keras, dengusan tertahan berkumandang memecah-kan kesunyian, Thian che kaucu kena dihajar kembali sehingga terpental dan melayang balik ke posisinya semula.
Suatu pertarungan sengitpun tak bisa dihindari lagi, kedua belah pihak sama sama menggunakan segenap kekuatan dan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk saling merobohkan dan saling membunuh.
Pertarungan sengit semacam ini jauh lebih dahsyat dan ramai dari pertarungan apapun yang pernah terjadi selama ini dalam dunia persilatan, andaikata ada orang yang mengikuti jalanya pertarungan ini, niscaya mereka akan bergidik dan berdiri dengan mata terbelalak.
Akhirnya dengusan kesakitan berkumandang juga memecahkan kesunyian, dengan sempoyongan Thian che kaucu mundur kebelakang, sebagian besar kain kerudung penutup mukanya sudah berubah jadi merah karena pancaran darah kental.
Puluhan sosok bayangan manusia tiba tiba muncul dari empat penjuru, sebelum tiba ditempat sasaran, serangkaian senjata rahasia yang amat ketat berhamburan diangkasa dan mengurung sekujur badan Han siong Ki.
Han siong Ki memutar sepasang telapak tangannya satu lingkaran didepan dada lalu didorong kemuka dengan sepenuh tenaga.
Termakan oleh tenaga pukulan yang sangat kuat itu, seluruh senjata rahasia yang menyergap datang itu terpencar dan bercerai berai kesana ke mari ada yang meluncur balik kepada pemiliknya ada pula yang malah menyerang rekan rekannya sendiri..
Ditengah kekalutan yang makin menjadi, Thian che kaucu Yu Pia lam tak mau menyia-nyiakan kesempatan baik itu, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dia menghimpun tenaga Hua goan sin-khi yang maha dahsyat itu, kemudian melancarkan sergapan kilat dari samping.
Ketika itu Han siong Ki sedang menghadapi serangan senjata rahasia yang amat gencar, merasakan datangnya ancaman tersebut, dalam gugupnya cepat dia menangkis sebisanya...
Tapi akibatnya dari tangkisan yang tanpa disertai dengan persiapan matang itu mengakibatkan kerugian dipihak pemuda itu, ditengah dengusan tertahan, Han siong Ki mundur delapan langkah kebelakang dengan langkah sempoyongan.
Bayangan manusia melintas datang dari empat penjuru, dalam waktu singkat Han siong Ki sudah terkurung lagi ditengah kurungan lawan.
Mengira musuhnya sudah, terhadang jalan perginya, Thian che kaucu sekali lagi melompat ke udara dan menerjang masuk ke dalam ruang belakang.
Han siong Ki meraung keras bagaikan harimau terluka, dengan menghimpun tenaga dalamnya hingga mencapai dua belas bagian, tiba tiba dia melancarkan serangan dengan jurus Mo gwe lian goan (api setan membakar tanah rerumputan).
Selapis bayangan telapak tangan yang amat rapat, seperti awan yang melayang diangkasa segera menyelimuti sekeliling tempat itu, diantara amukan angin puyuh yang menyapu kian kemari, bayangan manusia yang mengurung disekitar tempat itu segera tercerai berai tak karuan-Begitu berhasil memukul mundur musuhnya, Han siong Ki segera menjejakkan sepasang kakinya keatas tanah lalu melompat keluar dari kepungan musuh, dengan kecepatan paling tinggi dia mengejar pula dibelakang Thian che kaucu masuk keruang belakang.
Tapi ketika ia tiba diruangan itu, apa yang terbentang didepan matanya membuat sianak muda itu tertegun, ternyata pada saat itu Thian che kaucu sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan perempuan berkerudung.
Sekilas pandang, pemuda itu merasa bahwa perempuan berkerudung itu mempunyai potongan badan yang sangat dikenal olehnya, hanya untuk sesaat ia tak dapat menduga potongan badan siapakah itu, tapi yang pasti dia adalah salah seorang diantara dua orang perempuan berkerudung yang dilaporkan mata mata Thian che kau tadi.
Dan tak bisa diragukan lagi, perempuan berkerudung ini juga yang telah membinasakan delapan orang bocah laki dan perempuan itu...
-ooo0dw0ooo-
Jilid 49 BISA ditarik kesimpulan pula bahwa perempuan ini pasti bukan perempuan sembarangan, karena dari ilmu silatnya bagitu tinggi dan keberaniannya untuk menyatroni lembah Lian huan tau yang kesohor sebagai sarang naga gua harimau itu, tak mungkin orang biasa berani melakukannya.
Puluhan orang jago lihai yang kena hantam sampai tercerai berai diluar ruangan tadi kini sudah berkerumun masuk ke pintu ruangan.
Han siong Ki bertindak tidak sungkan-sungkan lagi, kesepuluh jari tangannya bekerja cepat, desingan angin tajam berdesingan disisi telinga belasan buah serangan maut disebar luaskan keempat penjuru.
Jerit ngeri sekali lagi berkumandang susul menyusul, lima orang jago lihay yang datang lebih dahulu segera kena terhajar sampai dadanya berlubang tembus sampai ke punggung, mereka pada tergelepar diatas genangan darah tanpa bernyawa lagi.
Menyaksikan kematian rekan rekannya yang begitu mengerikan, sisanya yang lain jadi ketakutan setengah mati, dengan perasaan amat takut mereka mundur sejauh dua kaki lebih dan tak berani maju lebib kedepan lagi.
"Bocah keparat, bajingan cilik, rupanya kau mamang sudah bosan hidup lebih lama lagi."
Ditengah bentakan yang amat keras, Thian-che kaucu putar badannya sambil melancarkan serangan dahsyat, angin pukulan yang amat kencang segera meluncur kedepan menghajar tubuh si anak muda itu.
Han siong Ki segera putar badannya secepat kilat, kemundian secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai...
Hampir bersamaan waktunya, manusia berkerudung itupun melancarkan sebuah serangan dahsyat ke tubuh Thian che kaucu, tiga pihak sama-sama melancarkan serangan secepat kilat, waktunyapun boleh dibilang hampir bersamaan.
Selihay-lihay tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu, setelah digencet oleh musuhnya dari kedua arah yang berlawanan, ia kewalahan juga dibuatnya.
"Blaang"
Diiringi dengusan tertahan, Thian che kaucu mundur dengan sempoyongan ke sudut dinding ruangan. Dengan pendangan matanya yang jeli, Han siong Ki menatap tajam perempuan berudung itu, lalu tegurnya.
"Saudara, engkau adalah jagoan lihay dari mana?"
"Tentang soal ini lebih baik kau tak usah banyak bertanya"
Sahut si perempuan berkerudung itu dingin.
"Kalau demikian adanya, aku minta agar engkau segera mengundurkan diri dari ruangan ini"
"Andaikata aku menolak"
Perempuan berkerudung itu berseru secara tiba-tiba. Han siong Ki berpikir sejenak. sebelum akhirnya menjawab.
"Aku tak ingin menghalangi segala perbuatan yang hendak kau lakukan tapi aku minta agar engkau jangan mencampuri urusanku ini"
"Mencampuri urusanmu..? Tahukah engkau persoalan apa aku datang kemari?"
"Aku tak ingin tahu karena urusan apa kau datang kemari, pokoknya yang pasti aku tidak ingin urusanku dengan Yu Pia lam dicampuri oleh pihak ketiga"
Perempuan berkerudung itu segera tertawa dingin.
"Heeheeheh kalau aku sih segan untuk mencampuri urusan macam begitu, bila kau punya kepandaian untuk membereskan jiwa anjingnya, aku malah merasa gembira sekali karena dengan begitu aku tidak usah membuang tenaga dengan percuma"
Pelan-pelan Han siong Ki mengalihkan sorot matanya keatas tubuh Thian che kaucu, kemudian dengan nada suara penuh mengandung hawa napsu membunuh yang hebat ia berseru.
"Yu Pia lam, kalau aku tak mati maka engkaulah yang harus mampus, lihatlah seranganku ini"
Ditengah bentakan keras yang memekikkan telinga, telapak tangannya dilontarkan seperti bayangan, dia langsung mengurung sekujur badan Thian che kaucu dan menghajar batok kepalanya.
Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, Thian che kaucu tertawa seram, segenap tenaga sakti Huan goan Kin ki yang dimilikinya dihimpun menjadi satu untuk menyambut datangnya ancaman tadi..
Dalam keadaan tak sempat untuk menyerang dengan si mi sinkangnya dalam tenaga penuh Han siong Ki kena dipaksa mundur lima depa kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman maut yang mengerikan itu .
Bentakan-bentakan keras kembali menggelegar diudara, para jago yang sudah mengincar semenjak tadi dari luar ruangan sekarang serentak menyerbu masuk kedalam ruangan dengan hebatnya.
Tiba-tiba perempuan berkerudung itu melejit keudara lalu menyumbat didepan pintu ruangan, sekaligus dia lancarkan tiga buah serangan berantai untuk memaksa kawanan jago itu terdesak sampai turun kembali dari undak-undakan batu.
Segenap pikiran maupun perhatian Han siong Ki ketika itu sudah dipusatkan menjadi satu untuk membuat perhitungan berdarah, dalam keadaan demikian ia tak sempat untuk memecahkan perhatiannya untuk mengurusi yang lain, dengan begitu tindakan yang diambil perempuan berkerudung tersebut justru malah sangat membantu dirinya.
Bentakan nyaring sekali lagi menggelegar diudara, sekali lagi Han siong Ki dan Thian che kaucu terlibat dalam suatu pertarungan mati-matian yang amat seru.
Deruan angin kencang, bacokan yang menggelegar bagaikan guntur membuat seluruh ruangan diamuk oleh angin topan yang kencang, bukan saja meja dan kursi beterbangan diangkasa, bumipun seakan-akan ikut bergoncang terpengaruh tenaga serangan itu.
Rupanya kedua belah pihakpUn sama-sama menyadari bahwa pertarungan tersebut tidak akan berakhir sebelum salah satu pihak roboh dalam keadaan tak bernyawa, sedang bagi Thian che kaucu, pertarungan ini bukan saja merupakan pertarungan yang mempertahankan jiwanya, tapi mempertaruhkan keutuhan Thian che kau, bila dia kalah dalam pertarungan itu berarti Thian che kau juga akan musnah untuk selamanya dari muka bumi.
oleh sebab itulah dalam melakukan pertarungan itu kedua belah pihak samasama menggunakan jurus serangan.
yang terkeji, untuk mengancam bagian bagian tubuh yang terpenting dibadan musuh..
Ditengah ketegangan yang mencekam seluruh ruangan, tiba-tiba dari arah pintu ruangan berkumandang suara gelak tertawa aneh yang menyeramkan disusul kemudian muncullah dua orang manusias aneh bermuka seram seperti setan dengan perawakan tubuh tinggi kurus persis seperti sebatang bambu, mereka mengenakan jubah hijau sepanjang lutut dan jubah kuning yang longgar.
Tatkala menyaksikan kemunculan dua orang itu manusia berkerudung tersebut tampak agak bergemetar tubuhnya karena kaget, dengan suara yang dingin diapun berseru.
"Huuh...
sungguh tak disangka Bok sik Ji-kek (dua tamu sakti kayu dan batu) yang termashur namanya dimana-mana, ternyata bersedia menjadi kaki tangannya perkumpulan Thianche-kau peristiwa ini betul-betul merupakan suatu kejadian yang luar biasa, tindakan kalian takut bahwa perbuatan memalukan seperti itu akan ditertawakan oleh rekan-rekan sesama dunia persilatan?
Mendengar teguran tersebut, untuk sesaat lamanya sepasang tamu sakti kayu dan batu itu berdiri tertegun, mereka tak mampu mengucapkan sepatan kata pun.
Selang sesaat kemudian, si tamu kayu sakti baru melototkan sepasang matanya yang aneh dan menatap musuhnya dengan sinar mata buas.
dengan nada suaranya yang serak seperti genta bobrok itu dia menghardik keraskeras.
"Dari pengetahuanmu yang begitu luas sehingga dapat mengenali siapakah kami berdua, dapat kuduga bahwa kamu pastilah bukan seorang manusia yang tidak bernama....."
"Tepat sekali perkataanmu itu, justru aku adalah seorang manusia yang tidak bernama!"
Tukas manusia berkerudung hitam itu dengan suaranya yang tajam. Tamu batu sakti membereskan, ikatan pinggang pada jubah kucingnya, lalu dengan suara yang tak kalah paraunya diapun berseru aneh.
"Jadi kalau begitu, engkau berasal satu aliran dengan simuka dingin ini?"
"Boleh dibilang memang begitulah,'"
"Bagus,...bagus......! Kalau begitu, kau sudah ditentukan untuk mampus!"
Serentetan gulungan angin serangan berhawa dingin yang merasuk ketulang tiba-tiba meluncur kemuka dan menggulung keatas tubuh perempuan berkerudung itu.
Rupanya si perempuan berkerudung itu cukup mengetahui betapa lihaynya serangan lawan, cepat ujung bajunya dikebaskan kesamping, seketika itu juga angin dingin itu disapu hingga lenyap tak berbekas, kehebatannya ini bukan saja membuat sepasang tamu kayu dan batu sakti jadi melongo, kawanan jago lihay yang berada disekitar tempat itupun sama-sama tertegun dibuatnya.
"Saudara berdua, kuanjurkan kepada kalian berdua agar cepat-cepat menarik diri dari persoalan ini, mumpung keadaan masih belum terlambat.."
Kembali perempuan berkerudung itu berkata.
"Heeeehhh.......heeehhh.......heehhh .... besar amat bacotmu perempuan rendah"
Teriak dua orang manusia aneh itu dengan berang "jangan kau anggap sepasang tamu sakti bisa dipermainkan si enaknya, Hmm! Kami berdua bukan manusia yang suka dipermainkan........"
Diiringi suara bentakan yang amat nyaring, Bok si-ji-kek atau sepasang tamu batu dan kayu sakti menerjang maju kemuka, mereka serentak lancarkan serangan yang b;rtubitubi, semua serangan yang dipergunakan merupakan jurusjurus ampuh yang jarang ditemui di kolong langit dewasa ini, dalam keadaan demikian, sedikit meleng saja bisa mengakibatkan suatu kematian yang mengerikan.
Tapi ilmu silat yang dimiliki perempuan berkerudung itupun bukan kepandaian sembarangan, maka kedua belah pibakpun segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.
Dalam pada itu, suasana dalam ruanganpun tak kalah serunya......,pertarungan antara Han siong Ki melawan Thianche-kaucu sudah berlangsung mencapai seratus jurus lebih, dibawah serangan-serangan yang gencar, Thian-che kaucu mulai tunjukkan tanda-tanda kalah, ia didesak sedemikian hebatnya sehingga posisinya bukan saja sangat tidak menguntungkan bahkan terancam mara bahaya....
Han-siong Ki sendiri, begitu mendapat angin untuk meneler lawannya, serentak dia lancarkan serangkaian serangan yang ganas dan dahsyat.
Tiba-tiba terdengar jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian, ketika semua orang berpaling, maka tampaklah kain kerudung yang dikenakan Thian-che-kaucu sudah tersambar hingga terlepas, segera tampaklah seraut wajah lima puluh tahunan yang sinis tapi gagah.
"Haaah....?! Bukankah dia adalah Sim Si-kiat?"
Tiba-tiba sepasang tamu batu dan kayu sakti berteriak keras menyusul kemudian mereka tarik kembali serangannya dan melompat mundur kebelakang.
Dengan mundurnya kedua orang itu, si perempuan berkerudung itupun menarik kembali serangannya sambil mundur, katanya.
"Kalian berdua tak usah heran atau tercengang, pada hakekatnya Sim Si-kiat itu sebenarnya, adalah Yu Pia lam dan Yu Pia lam adalah sim si kiat, dua orang itu meski berbeda nama tapi orangnya sama, hm, memangnya baru tahu sekarang ?"
"Dia.. dia toh murid kepala dari Tengkorak maut?"
Tamu kayu sakti berseru dengan mata melotot.
"Murid kepala apa?. Lebih tepat kalau dikatakan sebagai murid murtad dari benteng maut"
"Aah. hal ini... mana mungkin bisa terjadi"
"Kenapa tak mungkin terjadi? Untuk mencapai apa yang diharapkan ia memang gunakan segala macam tipu muslihat yang keji untuk melakukannya mengganti nama menyusup ke perguruan orang, memangnya kau anggap dia adalah seorang yang alim ?"
"Dan..kau mengetahui semua ?"
"Tentu saja Kalian berdua tersekap dalam benteng maut lantaran dalam hal ilmu silat kamu berdua tak bisa menandingi kelihayan pemilik benteng maut tapi Yu Pia lam, bangsat ini menyelamatkan kamu berdua serta jago-jago silat lainnya adalah karena ingin mewujudkan ambisinya untuk memusnahkan benteng maut dari muka bumi, dia gunakan kekuatan yang kalian miliki untuk memusuhi musuh besarnya, dia hendak menjadi kaisar dalam dunia persilatan, bila kalian semua mau dibohongi olehnya dan ditipu mentah-mentah olehnya, maka itu berarti kalian semualah orang-orang goblok"
Mendengar semua ucapan tersebut sak-kek-si tamu batu sakti saling berpandangan sekejap dengan Bok-kek si tamu kayu sakti, kemudian ujarnya dengan lirih.
"Toako, kalau memang demikian kenyataannya, buat apa kita tetap berada disini ? Ayoh pergi "
Si tamu kayu sakti manggut-manggut dan mereka berdua pun segera mengundurkan diri dan berlalu dari sana.
Belasan orang jago-jago lihay dari perkumpulan Thian che kau yang ada disekitar tempat itu sama-sama berdiri kaku seperti patung arca, sejak menjadi anggota perkumpulan, baru pertama kali ini mereka saksikan raut wajah asli dari kaucu mereka, tentu saja tentang perkataan dari perempuan berkerudung itu mereka merasa setengah paham setengah tidak.
Sementara itu suara pertarungan yang amat seru dan suara bentakan-bentakan nyaring berkumandang semakin dekat, jelas ada orang yang telah berhasil menjebolkan pertahanan yang berlapis-lapis dalam lembah tersebut dan semakin mendekati markas tersebut.
Setelah mencopot kain kerudung hitam yang menutupi wajah Yu Pia lam, sambil menggertak gigi menahan rasa bencinya Han siong Ki berkata.
"Yu Pia lam, dua ratus lembar jiwa keluarga Han telah kau bantai dengan cara yang paling licik, paling keji dan paling jahat, hutang darah yang bertumpuk-tumpuk ini harus kau tebus dengan darah dari anggota-anggota perkumpulan Thian che kau"
Pada saat ini, keadaan Thian che kaucu ibaratnya gendewa yang sudah ditarik hingga tegang, keadaan yang kritis itu memaksa gembong iblis tersebut secara beruntun mundur beberapa langkah kebelakang, sekarang punggungnya sudah menempel disisi dinding ruangan, boleh dibilang ia sudah terdesak dan tak ada jalan untuk kabur lagi.
Ditengah bentakan yang ama nyaring..
Thian che kaucu menerkam kemuka dengan kalap.
sepasang telapak tangannya melancarkan bacokan kedua arah yang berlawanan, terhadap ancaman yang membayangi tubuhnya itu bukan saja ia tidak menyingkir, memandang pun tidak.
Pertarungan semacam ini tak ubahnya seperti pertarungan adu jiwa, jelas tujuannya adalah untuk memaksa musuhnya sama-sama luka parah.
Tindakannya yang nekad ini sama sekali di luar dugaan Han siong Ki, malah waktu untuk memilih mana yang baik pun tak sempat lagi.
"Duuuk Duuk."
Dua kali benturan nyaring menggelegar diangkasa, menyusul kemudian dua kali dengusan kesakitan menggema memecahkan keheningan.
Han siong Ki muntah darah segar, dengan sempoyongan dia mundur sejauh satu kaki lebih, badannya terasa gontai kesana kemari.
Demikian pula keadaannya dengan Thian che kaucu, punggungnya menempel diatas dinding ruangan, darah segar segumpal demi segumpal muntah terus dengan derasnya, muka yang menyeringai tampak mengerikan sehingga ibaratnya setan iblis.
Suara pertarungan yang berlangsung diluar ruangan kedengaran semakin ramai, beratus-ratus sosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa menerjang masuk kedalam markas.
Demikian keras dan ramainya suara itu, seakan-akan hendak memberitahukan kepada seluruh jagad bahwa hari kiamat bagi Thian che kaucu sudah menjelang tiba.
Diantara kerlipan cahaya api beberapa puluh sosok bayangan manusia sudah mulai menyerang kedalam ruangan itu.
Perempuan berkerudung itu membentak berulang kali, dengan ketatnya ia menjaga pintu ruangan tersebut.
Setelah terjadi benturan kekerasan tadi, Han siong Ki beristirahat sebentar untuk mengatur napas, kemudian selangkah demi selangkah ia maju menghampri Thian che kaucu yang masih menempel diatas dinding ruangan itu.
"Sreet sreet.."
Setiap langkah kaki dari anak muda itu seakan-akan mendatangkan perasaan seram yang mencekam perasaan setiap orang.
Thian che kaucu sendiri dengan tubuh menempel diatas dinding pelan-pelan mulai bergeser kesamping.
"Hati-hati Bangsat itu hendak melarikan diri"
Peringatan itu berasal dari perempuan berkerudung itu, sementara dia berseru, sepasang telapak tangannya bergerak kesana kemari menghadang setiap jago yang berusaha menerjang masuk kedalam ruangan itu...
Mendengar suara peringatan itu, Han siong Ki merasa terkejut, dengan cepat dia melompat ke depan, tangan kanannya secepat sambaran kilat melancarkan sebuah serangan untuk mencekal tubuh lawannya..
Tiba-tiba di atas dinding ruangan muncul sebuah celah, menyusul kemudian Thian che kaucu dengan cekatan menyusup ke dalam celah didinding tadi untuk melarikan diri.
Cengkeraman dari Han siang Ki menyambar kemuka, dengan tepat sekali ia berhasil mencengkeram lengan kiri lawan.
Merasakan lengan kirinya kena dicengkeram Thian che kaucu berusaha meronta dengan sekuat tenaga tapi tak berhasil, sementara celah-celah yang membuka diatas dinding mulai merapat.
Han siong Ki membetot dengan sekuat tenaga dengan dengusan kesakitan terdengar menggema dari balik celahcelah ruangan, percikan darah kental segera berhamburan kemana-mana, tahu-tahu ditangannya telah berhasil mencengkeram sebuah kutungan lengan yang masih mengucurkan darah kental, sedang Thian che kaucu sendiri menggunakan kesempatan itu melarikan diri kedalam ruangan rahasia.
Jeritan-jeritan kaget sementara itu menggema diluar ruangan, keras sekali suaranya, mewarnai suasana hiruk pikuk yang kian menjadi.
Dengan gemas Han siong Ki membanting kutungan lengan itu keatas tanah, lalu dengan sekuat tenaga melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas dinding ruangan yang penuh dengan noda darah itu.
"Blaang "
Benturan yang keras menggoncangkan seluruh ruangan itu, debu dan pasir berguguran dari atas dinding...banyak atap yang berjatuhan ketanah, tapi dinding itu tetap utuh seperti sedia kala, kiranya dinding tadi terbuat dari baja yang kuat sekali, kecuali menimbulkan suara beruntun keras yang memekikkan telinga.
hampir boleh di bilang dinding itu utuh dan tidak rusak..
Han siong Ki semakin gusar, matanya jadi merah padam karena merahnya, ia merasa berat hati membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja, karena itu sepasang telapak tangannya kembali diayunkan kedepan.
Sementara itu belasan sosok bayangan manusia kembali sudah menerjang masuk kedalam ruangan.
Tiba-tiba Han siong Ki putar badan dengan cepatnya, dengan menghimpun tenaga penuh, telapak tangannya segera diayun ke sana melancarkan sebuah bacokan kilat.
"Blaang"
Jerit kesakitan kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dua sosok bayangan manusia mencelat ke belakang dan terkapar ditanah dalam keadaan tak bernyawa.
Menyaksikan keganasan musuhnya, jago-jago lainnya jadi jeri dan ketakutan, mereka sama-sama mengundurkan diri dari ruangan dan berusaha untuk menjauhkan diri dari lawannya.
Sekali lagi Han siong Ki putar badannya, dia berusaha menemukan tombol-tombol rahasia di atas dinding untuk membuka pintu rahasia tersebut.
"Tak usah buang waktu dengan percuma sahabat"
Kata perempuan berkerudung itu tiba-tiba.
"ia sudah pergi jauh, sekalipun tombol rahasianya kau temukan juga tak akan berhasil untuk menyusul dirinya"
Pelan-pelan Han siong Ki memutar badan.
"siapakah engkau sahabat? "
Tegurnya.
"Kita hanya bertemu secara kebetulan, sebentar lagipun akan berpisah kembali, buat apa kau tanyakan soal nama? Daripada buang waktu hanya untuk menanyakan nama orang lain, kenapa tidak kau tolong nona yang sedang ketimpa kemalangan itu lebih dahulu"
"Kau... kau... darimana kau tahu ?"
"Tentu saja aku tahu "
Jawab perempuan berkerudung itu singkat. Sekujur badan Han siong Ki menggigil menahan emosi, sambil menggigit bibir, ujarnya dengan penuh kebencian "Dia telah tewas"
"Apa ? Go siau bi telah mati"
"Yaa, jenasahnya sampai sekarang masih berbaring didalam ruang rahasia dibelakang sana"
"Kenapa mati? Aku yang mengakibatkan kematiannya?"
Kelihatan sekali kalau perempuan berkerudung itu merasa terkejut sehingga suarapun kedengaran agak gemetar.
"obat si mia kim wan yang kudapatkan ternyata palsu."
"Siapa yang mengatakan bahwa obat Si mi kim wan itu palsu?"
Tiba-tiba dari belakang meja sembahyang ditengah ruangan itu berkumandang suara seseorang.
Menyusul ucapan tersebut, muncullah seorang nona berbaju hijau maju ke depan dengan langkah lemah gemulai.
Nona berbaju hijau itu bukan lain adalah Cui hoa siancu si dewi cantik bunga cui, Ting Hong adanya.
Menyaksikan kemunculan si nona itu, dengan sorot mata yang mengandung cahaya buas Han siong Ki menatap wajahnya tajam-tajam, lalu teriaknya dengan suara menyeramkan "Ting Hong, aku hendak membunuh engkau"
"Membunuh aku? Kenapa ? "
Paras muka Cui hoa siancu Ting Hong tampak sedikit berubah.
"Engkau akan kubunuh lebih dulu, lalu akan kucari ibumu untuk membikin perhitungan"
"Membuat perhitungan ? Perhitungan apa ?"
"Ia telah menggunakan obat mustika si mia kim wan yang palsu untuk membunuh orang."
"siapa yang telah terbunuh?"
Kembali nona itu bertanya..
"Calon istriku..."
"Aaah masa ia benar-benar telah mati?"
"Memangnya kau anggap aku cuma lagi membohongi dirimu...?"
"siapa yang telah mati?"
Kembali seseorang perempuan berkerudung munculkan diri dengan tergesa-gesa.
Pertarungan yang berlangsung diluar ruangan masih tetap berlangsung, hanya kali ini suara pertarungan itu tidak sesengit pertarungan yang berlangsung sebelumnya.
-ooo0dw0ooo-BAB 100 HAN SIONG KI mengalihkan sinar matanya keatas wajah perempuan berkerudung yang baru saja munculkan diri itu, dia hendak mengucapkan sesuatu tapi segera dibatalkan, karena perempuan itu telah melepaskan sendiri kain kerudungnya.
Apa yang diduga pemuda itu memang tidak keliru, dia bukan lain adalah kakak seperguruannya Ko Goan cun.
"siapa yang telah mati?"
Sekali lagi Ko Goan cun bertanya.
"Go siau bi"
"Aaaah... masa Go siau bi benar-benar sudah mati?"
Cui Hua siancu Ting Hong yang berada disampingnya tibatiba tertawa misterius.
"Andaikata ia belum mati bagaimana?"
Katanya kemudian Begitu pertanyaan tersebut diutarakan ke luar serentak semua orang berdiri tertegun, siapa yang bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati?
Bukankah pertanyaan itu adalah suatu pertanyaan yang terlampau aneh..?
Han siong Ki segera, mendengus dingin.
"Hmm. Mati hidup seorang manusia bukan permainan kanak-kanak, aku tidak biasa untuk mengguraukan persoalan seperti itu"
Senyuman yang semula menghiasi wajah Cui Hoa siancu sekali lenyap pula tak berbekas "Manusia bermuka dingin"
Katanya pula.
"kalau engkau kurang percaya bagaimana kalau sekarang juga kita pergi bersama-sama untuk membuktikan kebenaran dari ucapanku ?"
"Sutee ayo cepat membawa jalan buat kami". sela Ko Goan cunpula dengan cepat.
"siapa tahu kalau...."
Dengan perasaan apa boleh buat, Han siong Ki mengangguk.
dia lantas berjalan lebih dahulu menuju ke ruang belakang, dan sesaat kemudian sudah tiba didalam ruangan rahasia mayat Go siau-bi masih membujur diatas pembaringan kayu itu.
Cui Hoa siancu Ting Hong segera maju beberapa langkah ke depan, dipegangnya nadi Go siau Bi kemudian diperiksanya dengan seksama kemudian dengan wajah bersungguhsungguh ia berkata.
"Manusia bermuka dingin, bila lewat setengah jam lagi, dia Akan benar-benar mati, bahkan kali ini dia mati ditanganmu sendiri.."
"Jadi...jadi dia belum mati sekarang ?"
Perasaan Han siong Ki pada waktu itu yaa kaget yaa girang, saking terharunya sampai perkataanpun jadi tergagap.
"oleh karena obat si mia kim wan mempunyai daya kerja yang terlampau dahsyat, maka barang siapa menelan obat tersebut maka seluruh peredaran darahnya akan menjadi beku dan pernapasannya berhenti dalam keadaan begini maka seseorang yang memiliki tenaga dalam cukup sempurna harus membantunya seketika itu juga untuk melumerkan daya kerja obat tadi, andai kata terlambat setengah jam saja maka jiwanya tidak akan tertolong lagi, coba bayangkan sendiri, seandainya sampai terjadi peristiwa seperti ini, siapakah yang harus kau tuntut?."
Sekarang Han Siong Ki baru menyesali sikap cerobohnya yang mengakibatkan terjadinya peristiwa semacam ini, seandainya ia minta keterangan yang sejelas-jelasnya ketika minta obat mujarab itu mungkin tak akan sampai terjadi peristiwa seperti ini, untung sekarang berjumpa dengan Ting Hong.
coba kalau tidak ?
Bukankah nyawa Go siau bi akan melayang dengan penasaran Teringat sampai ke soal itu, diam-diam anak muda itu merasa bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri.
Dengan perasaan yang masih sangsi, pelan-pelan dia menghampiri anak dara itu, kemudian diperiksanya denyut jantung yang semula sudah berhenti itu..
Betul juga Ternyata keempat anggota badannya masih hangat, denyutan nadipun masih berjalan seperti sedia kala meski hanya denyutan yang lirih.
Secepat kilat Cui Hoa siancu Ting Hong menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh Go siau bi, kemudian telapak tangan kanannya ditempelkan pada jalan darah Thian to hiat, sementara telapak tangan kirinya ditempelkan pada jalan darah Meh keng hiat, hawa murninya yang cukup sempurna sedikit-sedikit di salurkan ke dalam tubuh Go siau bi yang masih menggeletak itu...
Seperminum teh kemudian, dengusan napas Go siau bi kedengaran semakin keras, paras mukanya juga makin bertambah semu merah, sebaliknya Ting Hong mulai kepayahan, keringat bercucuran membasahi seluruh badannya, pucat pias wajahnya, bahkan sekujur badannya tampak sedikit gemetaran-Menyaksikan kesemuanya itu dari sisi arena Han siong Ki merasa berterima kasih bercampur menyesal.
Tiba-tiba Ting Hong membuyarkan telapak tangannya, lalu kepada Han siong Ki ujarnya.
"Bantulah dia dengan menyalurkan hawa murnimu lewat jalan darah mia bun hiat, maka kesehatan tubuhnya segera akan pulih kembali seperti sedia kala"
Sembari berkata dia lantas bangkit berdiri Han siong Ki menjura sambil mengucapkan rasa terima kasihnya, katanya lebih jauh.
"Karena kurang teliti dan berbuat sedikit ceroboh, hampir saja kusalahi diri nona, untuk bantuanmu sebelum dan sesudahnya kuucapkan banyak-banyak terima kasih"
Dengan membelalakkan sepasang matanya yang jeli, bening dan besar itu cui Hoa siancu Ting Hong mengawasi beberapa kejap wajah Han siong Ki yang tampan dengan wajah termangu dalam waktu yang amat singkat itu perubahan terjadi diatas wajahnya, lalu ujarnya dengan suara lirih.
"Aaah.... engkau terlalu banyak adat"
Seraya berkata diapun bangkit berdiri dan putar badan meninggalkan ruang rahasia tersebut.
Sebagaimana telah dikatakan tadi, maka sepeninggalnya Ting Hong, Han siong Ki segera menempelkan telapak tangan kananya diatas jalan darah Mia bun hiat di tubuh Go siau bi, hawa murninya disalurkan segulung demi segulung untuk membantu dara itu.
Tak selang berapa lama kemudian, Go siau bi telah menarik napas panjang, dia mambuka matanya kembali.
Melihat gadis itu sudah membuka matanya, kembaii Han siong Ki menarik pula telapak tangannya, dengan penuh kegembiraan dia berseru.
"Adik Bi, engkau sudah sehat kembali bukan?"
Go siau bi melompat bangun dari pembaringannya, ia menyapu sekejap sekeliling ruangan itu dengan pandangan kaget, kemudian serunya dengan lirih.
"Dimanakah aku berada saat ini?"
"Engkau masih tetap berada dalam markas besar perkumpulan Thian che kau"
Dengan biji matanya yang jeli Go siau bi menatap sekejap semua orang yang berada dalam ruangan itu, dan Han siong Ki segera memperkenalkan mereka kepadanya, tapi ketika akan memperkenalkan perempuan berkerudung itu, dia jadi malu sendiri sebab sampai sekarang dia sendiripun tak tahu siapakah dia, cuma tahu kalau perempuan misterius itu juga datang kesitu untuk menyatroni orang-orang Thian che kau.
Tampaknya perempuan berkerudung itupun cukup menyadari akan keadaan tersebut, sambil tertawa ringan segera ujarnya.
"Nona Go, kuucapkan selamat kepadamu karena terlepas dari kematian, hidupmu di kemudian hari pasti akan diberkahi banyak rejeki. Walaupun Thian che kaucu lolos dengan membawa luka yang cukup parah, akan tetapi tidak sedikit anak buahnya yang masih melakukan perlawanan dengan tangguh, aku rasa kita harus segera pergi untuk menyelesaikan persoalan ini.."
Meskipun separuh kata yang pertama ditujukan kepada Go siau bi, tapi jelaslah sudah bahwa kata-kata yang terakhir tidak lain ditujukan diri Han siong Ki.
Dengan pandangan sangsi Han siong Ki memandang sekejap kearah perempuan berkerudung itu, lalu dengan benak yang dipenuhi oleh teka teki yang tak terjawab, dia ulapkan tangannya.
"kalau memang begitu, ayo kita segera berangkat" . Maka berangkatlah beberapa orang itu meninggalkan ruang rahsia tersebut. ketika mencapai tanah lapang diluar ruang tengah, disana terlihat betapa banyaknya bayangan manusia yang bersimpang siur, mayat terkapar disana sini, bahkan suara pertarungan masih terdengar di tempat yang agak jauh. Ketika Han siong Ki munculkan dirinya, beberapa sosok bayangan manusia segera memburu kedepan...
"saudara cilik"
"Han sauhiap"
"siau sicu"
Di tengah suara panggilan yang hiruk pikuk, si Pengemis dari selatan, si padri dari utara, si dewa berjalan dalam tanah dan beberapa orang kakek yang tak diketahui namanya bermunculan disitu dan mengerumuni Han siong Ki bagaikan lagi mengerumuni seorang tokoh persilatan saja.
Dengan sikap yang merendah Han siong Ki memberi hormat satu demi satu kepada beberapa orang itu Dalam pembicaraan itulah diketahui bahwa Pengemis dari selatan adalah pemimpin dalam operasi kali ini diapun menerangkan bahwa kawanan jago yang bergabung dalam beberapa perkumpulan dan partai persilatan yang pernah merasakan kekejian Thian che kau telah bersatu padu untuk bersama-sama mendobrak kelaliman dan kekejaman orangorang perkumpulan Thian che kau.
Tentu saja seandainya tiada Han siong Ki beberapa orang yang secara kebetulan bertindak sebagai panglima pembuka jalan bagi mereka, kemungkinan besar yang diselenggarakan Pengemis dari selatan kali ini lebih banyak gagalnya daripada mendapat sukses besar.
"omitohud"
Terdengar padri dari utara berseru memuji keagungan sang Budha.
"sausicu perkumpulan Thian che kau berambisi besar, mereka bukan saja mencelakai nyawa sesama umat persilatan, bahkan bercita-cita merajai seluruh kolong langit. Maka ketika semua partai dan perkumpulan ketika mendengar rencana ini segera bersatu padu melakukan operasi seperti apa yang kemudian terjadi pada hari ini, kalau ingin tahu rahasia kesuksesan kami kali ini, maka boleh dibilang Buyung li-siculah yang paling berjasa bagi kami"
"Buyung li-sicu? siapakah dia?"
Han siong Ki bertanya dengan hati terkejut. Dewa berjalan dalam tanah yang gemuk lagi cebol sehingga mirip badan yang membengkak itu sebera tertawa cekikikan.
"Hiih... hiiih... hiih... masa kau tak tahu? Dia kan yang paling cantik didunia ini..."
"Maksudmu Buyung Thay? "
Si anak muda itu coba menegaskan ucapan rekannya itu.
"Betul Betul saudara cilik, kau memang lihay, sekali tebak lantas mengenalinya"
"See... sebenarnya apa..apa yang terjadi?"
Anak muda itu gelagapan. Pengemis dari selatan mengetukkan tongkat tah kau pang (tongkat penggebuk anjing) nya ketanah kemudian sahutnya dengan wajah bersungguh-sungguh.
"saudara cilik, seandainya rekan Buyung tak melukiskan peta lembah ini lebih dulu sehingga menerangkan semua jebakan dan kekuatan yang ada dalam lembah ini kepada kita, kemudian menyusun pula rencana yang matang untuk mengimbangi kerja sama antara gerakanmu dengan gerakan kami, coba bayangkan sendiri memangnya didunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulannya sehingga semuanya bisa berlangsung hampir bersamaan waktunya? selain dari itu kendatipun aku sipeminta-minta tua sudah bosan hidup tidak.. nanti akan kubawa pula rekan-rekan sekumpulanku untuk datang kemari cuma untuk menghantar nyawa masing masing? Haahh.. haaahh... saudara cilik jangan kau anggap saudara tuamu sudah sinting, dan otaknya miring"
Sekarang Han siong Ki baru memahami duduk perkara yang sebenarnya, dengan adanya kejadian ini maka rasa menyesalnya terhadap Buyung Thay juga semakin bertambah mendalam, mimpipun dia tak menyangka kalau Buyung Thay adalah seorang perempuan yang baik dengan maksud hati yang sangat mulia.
Maka dengan penuh perasaan cemas diapun bertanya.
"Engkoh tua, saat ini Buyung Thay berada dimana.?"
"oooh... dia..?"
Tapi sebelum pengemis dari selatan sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba perempuan berkerudung itu menyela dari samping.
"kalau ingin bercakap-cakap lebih baik di samping nanti saja, sekarang lembah Liau huan tan sudah dimusnahkan dan tujuan kalianpun sudah tercapai, aku rasa lebih baik cepatcepatlah mengundurkan diri dari tempat ini"
Mendengar ucapan tersebut, serentak semua orang yang ada dalam arena amat terperanjat.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
Pengemis dari selatan segera bertanya dengan mengernyitkan alis matanya.
"Mau percaya atau tidak terserah pada kalian sendiri, pokoknya aku hanya dapat memperingatkan demikian saja."
Han siong Ki lantas mengalihkan sorot matanya memandang rekan-rekannya yang berada dalam ruangan tersebut, lalu katanya.
"Lebih baik kalian semua mengundurkan diri terlebih dahulu dari lembah ini"
"Bagaimana dengan engkau?"
Go siau bi bertanya dengan alis matanya berkernyit.
"Sebelum menemukan kembali Yu Pia lam aku bersumpah tak akan meninggalkan lembah ini."
"Heh... heeh... heehh Yu Pia lam sudah berada di luar lembah sejak tadi, apa yang hendak kau nantikan lagi di tempat ini?"
Ejek perempuan berkerudung itu sambil tawa dingin.
"Tapi, tapi lengannya sudah kutung dan luka cukup parah, mana mungkin dia bisa.."
Tapi sebelum ucapan Han siong Ki itu sempat diselesaikan, perempuan berkerudung itu sudah berkata lagi.
"Memangnya kau anggap didalam lorong rahasia tersebut tak ada orang yang siap menolong nyawanya? " . Seketika itu juga Han siong Ki terbungkam, tapi rasa gusar dan dendamnya tidak mereda karena itu, ia merasa walaupun harus terbang ke langit atau masuk kebumi, dia bersumpah tak akan melepaskan musuh besarnya dengan begitu saja.
"Aaaah... kalau ku analisa perkataan dari perempuan berkerudung ini, jangan-jangan dia tahu kemana kaburnva bangsat itu..."
Ingatan tersebut tiba-tiba saja melintas dalam benaknya. Berpikir demikian dengan suara dalam diapun bertanya.
"Nona, apakah engkau tahu kemana perginya Yu Pia lam setelah melarikan diri dari tempat ini?"
Perempuan berkerudung itu segera tertawa dingin.
"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh Han siong Ki engkau sebut aku sebagai nona, apakah kau sudah tahu kalau aku bukanlah seorang perempuan yang pernah menikah?"
Mendengar sindiran tersebut merah padamlah selembar wajah anak muda itu saking jengahnya, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan tersebut..
Seakan-akan sedang menyindir lawan berbicaranya, perempuan berkerudung itu kembali berkata..
"Han siong Ki, sebut saja kau dan aku secara langsung, bukankah sebutan itu jauh lebih enak kedengarannya daripada sebutan nona atau sebutan lainnya"
Han siong Ki semakin tergagap lagi setelah mendengar sindiran tersebut, tapi setelah termenung sebentar akhirnya sambil tebalkan mukanya dia berkata..
"Apakah engkau tahu kemana larinya Thian che kaucu setelah kabur dari sini ?"
"Tahu"
"Bersediakah engkau menerangkan rahasia tersebut kepadaku?"
Kembali pemuda itu berkata.
"Tentu saja boleh, cuma kita harus mengundurkan diri lebih dahulu dari lembah lian huan tau ini?"
Setelah perempuan tersebut berkata demikian maka dengan perasaan apa boleh buat Han siong Ki mengangguk.
"Baiklah kalau memang begitu"
Katanya.. Kepada pengemis dari selatan serta kawanan jago lainnya yang berkumpul disana dia berseru.
"Engkoh tua, saudara sekalian, ayolah kita bersama-sama mengundurkan diri lebih dulu dari sini."
Dibawah komando pengemis dari selatan, maka semua jago persilatan yang menyerbu masuk ke lembah Liau huan tau dari pelbagai arah itupun sama-sama berkumpul untuk kemudian bergerak menuju keluar lembah.
Setelah semua jago berangkat, Han siong Ki berpaling ke arah Cui hoa siancu seraya ajaknya pula.
"Nona Ting, mari kita melakukan perjalanan bersama-sama, tidak keberatan bukan?"
"Tentu saja "
Sahut nona Ting Hong. Kata-kata "tentu saja"
Itu kedengarannya agak menyolok.
ini membuat perasaan Han siong Ki sedikit bergerak.
Tapi dia tidak mempersoalkan lebih jauh menyusul dibelakang pengemis dari selatan beserta rombongan, berangkatlah mereka menuju ke luar lembah.
Setelah menempuh perjalanan beberapa li, tiba-tiba dengan kuping berkerut Han siong Ki berpaling kepada Go siau bi sekalian, ujarnya.
"suci, adik bi kalian berangkatlah satu langkah lebih dulu, nantikan aku diluar lembah"
"sute apa yang hendak kau lakukan lagi ?"
"Kalian berangkat sajalah keluar lembah, aku cuma pergi sebentar saja, sejenak pasti sudah menyusul kamu semua "
Tidak menanti jawaban lagi dia lantas putar badan dan balik menuju kearah markas besar perkumpulan besar perkumpulan Thian che kau, ternyata telah menemukan bahwa perempuan berkerudung yang misterius itu tidak turut serta bersama mereka, maka karena rasa tercengang dan ingin tahunya diapun berangkat kembali menuju ke markas untuk mengetahui apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.
Belum lagi Han siong Ki berjalan balik menuju ke markas, tiba-tiba dihadapan matanya nun jauh didepan sana terbiaslah selapis cahaya api yang berkobar dengan hebatnya hingga menjulang tinggi ke angkasa, jalan didepan sana telah terjadi kebakaran hebat.
Menyaksikan apa yang terbentang didepan matanya, pemuda itu lantas teringat dengan ucapan dari perempuan berkerudung sebelum mereka berlalu tadi, segera pikirnya.
"Jangan-jangan kobaran api yang mengakibatkan terjadinya kebakaran itu adalah hasil dari perbuatannya ? Tapi.."
Belum habis ingatan tersebut melintas ketika dilihatnya anak buah perkumpulan Thian che kau sedang melarikan diri terbirit-birit kesana kemari, rupanya kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba itu telah memaksa kawanan jago dari Thian che kau yang semula pada menyembunyikan diri terpaksa harus munculkan diri guna menyelamatkan jiwa masingmasing .
Dengan kilatan mata yang buas Han siong Ki memandang sekejap suasana kebakaran yang sedang berlangsung dihadapan matanya itu, kemudian sambil membentak ia menerkam ke muka, setiap jago musuh yang dijumpainya segera dibantai secara keji hanya dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat telah tergelepar di tanah.
Tapi aneh sekali, sepanjang perjalanannya berjalan balik ke markas, bayangan tubuh dari perempuan berkerudung itu tetap lenyap tak membekas, jangan ditemukan, malahan bayangannya pun tidak.
Dalam sekejap mata seluruh bangunan markas besar perkumpulan Thian che kau yang megah dan anggun itu sudah dimakan jago merah, kebakaran yang kian hebat menghabiskan semua barang yang berada ditempat itu.
Perkumpulan terbesar dan termegah di kolong langit dewasa ini, telah musnah oleh kebakaran yang maha besar, agaknya perkumpulan itu memang sudah ditakdirkan musnah menjadi abu.
Oleh karena Han siong Ki tidak berhasil menemukan apa yang dicari, terpaksa dia balik keluar lembah dengan kecepatan kilat..
Hebat sekali kebakaran yang sedang berlangsung waktu itu, asap hitam sampai membumbung keangkasa dan menyelimuti semua lembah tersebut hingga suasana jadi gelap..
Waktu itu semua jago sedang menantikan kemunculannya dengan hati yang cemas, ketika akhirnya Han siong Ki munculkan diri, semua orang menjadi amat gembira, diantaranya tentu saja Go siau bi yang paling senang melihat kemunculan anak muda itu.
Mulut lembah Lian huan tau telah berubah menjadi bukit mayat lautan darah, tak usah diragukan lagi itulah akibat dari perintah yang diturunkan Han siong Ki kepada sepasang siluman hitam putih...
Cepat si anak muda itu maju menghampiri pengemis dari selatan dan memberi hormat kepadanya sesampai dia disana, ujarnya kemudian dengan perlahan.
"Engkoh tua, bukankah tempo hari aku pernah berpesan kepadamu agar mencarikan jejak seorang perempuan yang bernama Ting Hong?"
"Sekarang kutarik kembali permohonan tersebut"
"Kenapa ?"
Pengemis tua yang merupakan tianglo dari perkumpulan kay pang ini bertanya keheranan.
"Sebab gadis yang kucari itu kini telah kutemukan jejaknya. , ."
Seraya berkata sorot matanya lantas memandang sekeliling tempat itu untuk menemukan jejak Ting Hong, tapi aneh sekali, ternyata jejak Cui hoa siancu Ting Hong juga tidak berada disana, hal ini membuat hatinya diam-diam merasa sangat gelisah, andaikata Ting Hong pergi dan tak kembali lagi, kemana dia harus mencari kembali jejak dara itu?
Dan bagaimana pula pertanggungan jawabnya terhadap siJelek dari sinciu?
sebab bagaimana pun dia telah berjanji sendiri kepada perempuan itu bagaimanapun yang terjadi nona itu harus dihantar sampai kehadapan ibunya.
Sementara si anak muda itu masih melamun si dewa yang berjalan dalam tanah telah tertawa cekikikan sambil menepuk bahu Han siong Ki ujarnya.
"Siau lote, maafkanlah aku pun tidak bisa menemani engkau terlalu lama disini, aku hendak pergi duluan yaaa"
"Loko apakah sampai sekarang engkau masih berdiam dalam gudang arak dibawah tanah itu?"
Sapa Han siong Ki juga sambil tertawa tergelak menahan gelinya.
"Heeh heeh heeh betul, aku masih ada disitu Han siau lote, bila ada urusan mau cari aku, datang saja kerumahku dan sekali panggil pasti aku akan segera munculkan diri"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling sambil ulapkan tangannya kepada si pengemis dari selatan katanya.
"Pengemis tua, bila kau punya kegembiraan untuk berkunjung kerumah.. jangan lupa membawa beberapa ekor ayam panggang, kita berpesta pora disana sampai mabok beberapa hari setuiu bukan?"
Ketika kata-kata yang terakhir itu di ucapkan keluar, tubuhnya sudah berada beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.
Sepeninggal si cebol yang suka berjalan di bawah tanah itu, dengan alis mata yang berkernyit, pengemis dari selatan baru menatap pemuda kita katanya.
"Saudara cilik, aku dengar Thian che kaucu berhasil melarikan diri dari cengkeramanmu? "
"Ya, dia berhasil kabur Maaf, semuanya itu adalah salahku yang terlalu gegabah sehingga dia berhasil kabur lewat jalan rahasia, meski demikian..."
"Kenapa?"
"Perempuan berkerudung yang misterius itu telah berjanji akan memberitahukan kemana kaburnya bangsat tua tersebut"
"Apakah engkau perlukan kekuatan dari pihak Kaypang kami untuk bantu melakukan penggeledahan? "
"Aku rasa hal ini tak perlu dilakukan lagi, terima kasih banyak atas kesediaanmu?"
"Kalau memang engkau tidak membutuhkan bantuan dari kami semua lagi, baiklah kalau begitu biar aku si pengemis tua mempersilahkan rekan-rekan sealiran kita untuk berangkat dan kembali ke rumahnya masing-masing"
"Memang ada baiknya sahabat sekalian kembali ke rumahnya masing-masing, sebab perkumpulan Thian Che kau telah berhasil kita tumpas, markas besarnya yang megah juga telah terbakar jadi abu, semoga tak lama kemudian partaipartai dan perkumpulan-perkumpulan yang pernah tertindas dimasa lalu, sekarang bisa tumbuh dan berdiri kembali"
"saudara cilik", pengemis dari selatan lantas menyela.
"aku rasa aku si pengemis tua juga harus pulang ke markas lebih dulu, eeeh.... Iya, aku hampir lupa Kapan kau undang aku semua untuk minum arak kegiranganmu??"
Mendengar pertanyaan tersebut, Go siau bi yang berada disisinya jadi malu sekali, dengan wajah merah padam dia tundukkan kepalanya rendah-rendah. Han siong Ki sendiri segera tertawa getir.
"Engkoh tua"
Sahutnya "asal dendam kesumat yang siaute tuntut sudah berhasil mendapat penyelesaian, pasti akan kukirim orang untuk mengundang kehadiran kalian semua."
"Haah... haah.. haaah... baik-baiklah, kalau begitu sampai jumpa di lain waktu"
Maka berangkatlah Pengemis dari selatan memimpin rombongan jago-jago silatnya meninggalkan tempat itu.
Suatu pertarungan yang menggetarkan langit dan bumipun berakhir sampai disitu, suasana disekeliling mulut lembah pulih kembali dalam keheningan.
Sekarang, disana hanya tinggal Han siong Ki, sepasang siluman hitam putih, Ko Goan cun dan Go siau bi lima orang..
Ko Goan cun yang selama ini hanya berdiam diri belaka, tiba-tiba berkata dengan nada berat hati.
"sute, sekarang adik Bi sudah sehat kembali dan terlepas dari segala ancaman mara bahaya, itu berarti aku harus mohon pamit, bila dikemudian hari ada kesempatan, harap engkau suka berkunjung ke tebing Kiu ci san untuk bermain"
Han siong Ki mengangguk dengan sedih.
"Lantaran persoalan dari adik Bi, aku membuat suci harus berlarian kesana kemari dengan susah payah, kejadian ini benar-benar membuat hatiku tak enak. suci, aku tak bisa mengatakan lain kepadamu kecuali rasa terima kasihku ynng amat besar atas kebaikanmu. Dikemudian hari bila ada kesempatan aku pasti akan mengunjungi subo"
Setelah itu Ko Goan cun juga menyampaikan beberapa pesan kepada Go Siau bi, setelah itu baru berpisah dan berangkat kembali ke bukit Kiu cu san.
Menanti bayangan punggung dari Ko Goan cun pun ikut lenyap dari pandangan mata, Go siau bi baru berkata.
"Engkoh Ki, bukankah engkau sedang mencari diri Cui Hoa siancu Ting Hong?"
Mula-mula Han siong Ki agak tertegun, menyusul kemudian diapun mengangguk.
"Yaa benar Bagaimanapun juga, perempuan itu kucari sampai dapat, sebab ketika aku memohon obat mustika si mia kim wan dari ibunya tempo hari, aku telah berjanji kepada si Jelek dari sin ciu untuk menemukan kembali putrinya dan menghantar kembali ke gua salju di bukit Ciong san"
"Engkoh Ki"
Katanya kembali.
"aku lihat persoalan ini bukankah suatu persoalan yang sederhana..."
"Heh....apa maksudmu dengan perkataanmu..."
Pemuda itu berseru dengan wajah keheranan "Aku lihat dia sudah jatuh cinta kepadamu dalam pandangan yang pertama ."
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Ki segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaaah... haaah... adik Bi, engkau memang pandai sekali bergurau"
"Tidak Aku sama sekali tidak bergurau, dan aku harap engkau mengakui bahwa seorang gadis sering kali jauh lebih lihay dalam soal pengamatan terhadap gerak gerik seseorang daripada seorang pria, mau percaya atau tidak terserah pada dirimu sendiri, tuh dia berada disana, cepatlah pergi kesana untuk menemukannya."
Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Go siau bi tersebut, Han siong Ki segera berpaling.
betul juga tak jauh dari hadapannya terdapat sebatang pohon besar dan dibalik pohon itu secaca lapat-lapat tampak sesosok bayangan merah berdiri disana, maka tanpa berpikir panjang lagi dia lantas menghampiri batang pohon tersebut.
Sedikitpun tidak salah, dibelakang pohon benar-benar berdiri seorang gadis dan gadis itu bukan lain adalah Cui hoa siancu si dewi Cantik bunga Cui, Ting Hong adanya.
Sekali melompat Han siong Ki telah tiba dihadapannya, tapi ketika menyaksikan mimik wajahnya pada waktu itu, seketika itu juga Han siong Ki berdiri tertegun dengan perasaan amat terkejut.
Ternyata wajah gadis ini sudah basah oleh noda air mata, kiranya ia bersembunyi disitu karena sedang menangis terisak dengan amat sedihnya...
"Nona Ting"
Diapun menyapa. Ting Hong menyeka air matanya dan berpaling.
"Aku tahu engkau datang untuk menyeret aku pulang, aku tahu engkau hendak membawa aku pergi menghadap ayah dan ibuku.. bukankah begitu.. ?"
Bisiknya dengan pedih. Han siong Ki tertawa jengah.
"Nona Ting, apakah kau tega membiarkan ayah dan ibumu setiap hari merindukan dan memikirkan dirimu. Apakah engkau tidak kasihan melihat penderitaan mereka berdua.. ?"
"Tentang soal itu aku tahu.."
"Kalau sudah tahu, hal ini jauh lebih baik lagi"
Tukas Han siong Ki cepat. Tapi Ting Hong segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"Jangan keburu bersenang hati lebih dahulu"
Katanya "
Wahai manusia bermuka dingin, tentunya kau belum melupakan tentang sebuah persoalan yang pernah kau sanggupi bukan "
"sebuah persoalan yang pernah ku sanggupi? Persoalan apakah itu?"
Han siong Ki makin tertegun.
"Tentu kau masih ingat bukan, sewaktu hendak masuk kelembah Lian huan tau, engkau telah berjanji akan memenuhi sebuah syarat yang kuminta, tentunya kau tidak berusaha untuk mengingkari janji yang telah kau katakan sendiri bukan"
"ooooh kiranya soal itu Tentu saja tentu saja aku tak akan mengingkari janji yang pernah kuucapkan nona Ting segera katakanlah apa permintaanmu itu, asal permintaan tersebut bisa kulakukan pasti akan kupenuhi dengan segera" .
"Dan pasti kau akan melaksanakan dengan segera?"
Ting Hong segera menegaskan.
"soal ini.. tentu saja"
"Permintaan apapun?" , gadis itu sekali lagi menegaskan kata-katanya.. Suatu firasat melintas dalam benak Han siong Ki, tapi saat ini keadaan ibaratnya nasi yang telah menjadi bubur, terpaksa dengan keraskan hatinya dia mengiakan.
"Tentu saja.."
Sekulum senyum yang manis dan hangat seindah bunga mawar yang mekar di musim semi tersungging diujung bibirnya, sambil tersenyum malu-malu tiba-tiba gadis itu bertanya.
"Han siong Ki, cintakah engkau kepadaku?"
Ucapan yang blak-blakan dan langsung itu menyinggung ke tujuan ini seketika itu juga membuat Han siong Ki berdiri terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat lamanya dia tak mampu berkata-kata.
Akhirnya setelah gelagapan sendiri setengah harian lamanya, dia baru mampu bertanya.
"Nona... apa... apakah itulah permintaanmu.. ? Apakah itulah syarat yang kau ajukan?"
"Jangan kau persoalkan tentang masalah ini, katakan saja kepadaku, cintakah engkau kepadaku ?"
"Tentang soal ini.."
"Tidak cinta ? sedikitpun tidak mencintaiku . ?"
Nona itu mendesak lebih jauh. Han siong Ki tertawa getir.
"Aku telah dijodohkan ibuku dengan seorang gadis, selain daripada itu akupun.."
"Kan masih ada seorang gadis yang betul-betul kau cintai dengan setulus hatimu yang bernama Tonghong Hui. tapi kemudian ia telah mati bukan.. ?"
Sambung Ting Hong cepat.
Paras muka Han siong Ki berubah hebat, secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang.
Perasaan anak muda itu betul-betul kaget bercampur tercengang, dia tidak habis mengerti kenapa Cui hoa siancu Ting Hong bisa mengetahui dengan begitu jelas bahwa hatinya benar-benar sangat mencintai Tonghong Hui, bahkan mengetahui pula bahwa Tonghong Hui telah mati, padahal perkenalannya dengan gadis itu baru berlangsung tidak sampai setengah harian lamanya.
Sementara dia masih melamun, Ting Hong telah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Meskipun secara resmi Go Siau bi adalah istrimu yang sah, tapi aku tahu bahwa engkau sama sekali tidak mencintainya dengan hati yang bersungguh-sungguh"
Han siong Ki semakin kaget bercampur tercengang sehabis mendengar perkataan itu, sekali lagi dia mundur satu langkah lebar, kebelakang, teriaknya dengan penasaran.
"siapa yang bilang kalau aku tidak mencintai istrinya ?" -ooo0dw0ooo-BAB 101
"ENGKAU mencintainya karena berdasarkan peraturan, kau cinta karena ingin menjadi anak yang berbakti ingin mengikuti, adat karena dia sudah menjadi calon istrimu lagipula ibumu yang menjodohkan, maka terpaksa untuk menjaga nama kau mengawininya, bukankah begitu Hmmm bila kau menyangkal itu berarti bahwa engkau sedang menipu dirimu sendiri"
Setiap patah kata yang diucapkan Ting Hong, seakan-akan pukulan martil yang menghajar hati Han siong Ki, tak kuasa lagi peluh dingin membasahi sekujur badannya.
"Kau.. kau, berdasarkan apa engkau berani mengatakannya begitu?"
Serunya kemudian tergagap.
"Apa yang kudasarkan? Tentu saja aku berbicara berdasarkan kenyataan"
"Nona Ting, katakan saja terus terang, apa maksud dan tujuanmu yang sebenarnya mengucapkan kata-kata seperti itu?"
"Maksud dan tujuanku..? Tentu saja aku dapat berbicara demikian karena aku cinta kepadamu."
Keterusterangan dan keberanian gadis itu bicara secara blak-blakan membuat Han siong Ki jadi tersipu dan menjadi malu sendiri.
Cui hoa siancu Ting Hong, bukannya seorang gadis yang tidak cantik, potongan badannya juga tidak kalah dengan potongan badan dari Go siau bi, akan tetapi kecantikan wajah seseorang bukanlah merupakan faktor terpenting bagi suatu cinta, apalagi Han siong Ki adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, setelah semua perasaan cinta kasihnya dilimpahkan kepada Tonghong-Hui, ia merasa bahwa sepanjang hidupnya sekarang tak mungkin akan mencintai gadis lain-walau gadis itu memiliki kecantikan bak bidadari dari kahyangan.
Buyung Thay, perempuan paling cantik di kolong langit untuk masa itupun tidak berhasil menundukkan hati anak muda ini, apalagi hanya seorang gadis muda seperti Ting Hong, tentu saja pengharapannya itu tak akan menghasilkan apa-apa.
"Engkau cinta kepadaku?"
Akhirnya sianak muda itu kembali bertanya dengan lirih.
"Yaa, aku cinta kepadamu"
"Tapi, apakah nona Ting mengetahui bagaimanakah jalan pikiranmu pada saat ini?"
"Bukankah engkau tak akan mencintaiku?"
Ucap Ting Hong sambil mencibirkan bibirnya.
"Tepat sekali perkataan dari nona Ting"
"oooh..kalau cuma perkataan itu sih tak menjadi soal, toh aku mempunyai hak untuk mengajukan satu permintaan dan engkau telah menyanggupinya, sekarang Go siau bi sudah kembali kesisimu dengan aman. aku rasa tentunya engkau tidak akan mengingkari janji yang telah kau ucapkan sendiri bukan?"
Tercekatlah hati Han siong Ki setelah mendengar perkataan itu, Ia tahu tak mungkin baginya untuk menghindari kejadian tersebut, maka dengan sikap apa boleh buat dia berkata.
"Nona Ting, apakah kau menggunakan hal ini sebagai pertukaran syarat dengans diriku"
"Mungkin juga begitu, mungkin juga tidak. kau harus mengatakannya lebih dahulu, apakah janji yang pernah kau ucapkan tempo hari sampai sekarang masih berlaku?"
"setiap patah kata yang diucapkan oleh seorang laki-laki sejati tak akan diingkari kembali, tentu saja setiap patah kata yang kuucapkan tetap berlaku"
"Bagus..."
Seru Ting Hong kemudian.
"wahai Han siong Ki, kau anggap aku benar-benar telah jatuh cinta kepadamu?"
Pertanyaan yang balik diajukan kepada anak muda itu kontan membuat Han siong Ki tertegun, bagaimanapun juga ia tak berhasil untuk menebak jitu maksud dan tujuan yang sebenarnya dari lawannya ini.
Sementara itu Ting Hong masih menengadah sambil tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haaahh... haaahh.. haaahhh... Han siong Ki legakanlah hatimu, Aku Ting Hong masih belum termasuk seorang perempuan tak tahu malu yang mengemis cinta kepadamu."
"Aku tahu cinta antara muda mud Harus berkembang secara alami harus muncul dari hati yang jujur, cinta tak akan mungkin diperoleh dari suatu pemaksaan atau suatu pengemisan yang memalukan."
"Bila seorang mengerti apa anti cinta yang sebenarnya, maka dia tak akan memilih cara semacam itu untuk mendapatkan cintanya."
"Cinta semacam itu hanya akan mendatangkan penderitaan dan siksaan belaka daripada suatu kebahagiaan dan aku rasa aku tak sudi mendapatkan cinta yang penuh dengan siksaan dan penderitaan semacam itu.."
"Aaaai.. sungguh tak kusangka nona Ting adalah seorang gadis yang berpandangan luas, kalau begitupun aku dapat berlega hati"
Kata Han siong Ki kemudian sambil menghembuskan napas panjang "Aku tidak menerima ucapan semacam itu, terimalah kembali kata-kata sanjungan itu"
"Baik kalau begitu, harap nona Ting segera mengajukan syaratmu, sebab aku tak dapat menunggu dirimu terlalu lama lagi"
Sementara pembicaraan antara mereka berdua masih berlangsung, diam-diam tanpa menimbulkan jejak suarapun, tampak sesosok bayangan manusia menyusup keluar dari tempat persembunyiannya dan berlalu dari sana.
"siapakah orang itu? Tak seorangpun yang tahu"
Dalam pada itu Ting Hong telah berkata dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
"syarat yang hendak kuajukan sebenarnya kurang begitu menyenangkan bagimu, tapi.. yaaa apa boleh buat?"
"Tak usah berputar-putar lagi, apapun syaratmu itu ayolah cepat utarakan secara terus terang."
"Aku minta engkau bersedia menghapuskan janjimu dengan ibuku, sanggup bukan?"
"Kenapa?"
Han siong Ki bertanya dengan wajah tercengang dan perasaan tidak habis mengerti.
"sebab sampai detik ini aku masih belum suka berjumpa muka dengannya, akupun belum ingin pulang kembali ke rumahku digunung salju yang sepi dan jauh dari keramaian dunia"
Han siong Ki sebera menolak sambil gelengkan kepalanya.
"Tidak. aku tak bisa penuhi kehendakmu itu"
Paras muka Ting Hong seketika itu juga berubah hebat, serunya dengan suara yang dingini "Ingatlah baik-baik manusia she Han, apa yang kuajukan sekarang merupakan sebuah syarat yang harus kau penuhi, bukankah telah kau katakan tadi bahwa perkataan yang telah diucapkan oleh seorang laki-laki sejati untuk selamanya tak dapat dirubah kemnbali, apakah engkau menyesal dengan janjimu?"
"Justru karena aku tak ingin mengingkari janji, justru karena aku harus memegang teguh ucapan dari seorang lakilaki, maka aku tak dapat mengingkari janjiku kepada ibumu" -ooo0dw0ooo-
Jilid 50
"AKU tidak ambil perduli, segala janjimu terhadadap ibuku, pokoknya kau harus terima syaratku titik"
"Maaf nona Ting, bila permintaan lain yang kau ajukan kepadaku, tentu akan kulakukan dengan senang hati, tapi dalam soal ini aku benar-benar tak dapat memenuhi keinginanmu, aku tetap akan memegang teguh janjiku terhadap ibumu" .
"Jadi engkau bersikeras akan menghantar aku pulang kegua salju dibukit Ciong-san?"
"Tentu saja"
"Andaikata aku bilang tidak mau? Lantas apa yang hepdak kau lakukan?"
"Maaf nona, engkau tak dapat mengajukan pilihan lain, demi memenuhi janji terhadap ibumu, terpaksa aku harus menyalahi engkau. bila kau tetap membangkang, maka aku akan menggunakan kekerasan."
"Ooooh.... jadi engkau hendak menawan diriku dan menghantarnya pulang ke rumah?"
"Yaaa"
Jawab Han siong Ki dengan suara yang dingin dan tak sedap didengar.
"andaikata nona Ting tetap keras kepala dam tak mau pulang sendiri ke gua salju, siapa tahu kalau terpaksa aku harus menggunakan cara tersebut untuk mencapai tujuanku?"
Paras muka Ting Bong berubah hebat, dengan gusar dia lantas berteriak keras.
"Han siong Ki, kau jangan sok jagoan, ketahuilah pemaksaan yang berlarut-larut bisa membuat orang jadi nekad"
"Aku tidak sok jagoan nona, akupun tidak memaksa dirimu terlalu berlebihan, aku hanya herbuat seperti apa yang harus kulakukan"
"sudahlah, kau tak usah mengajukan alasan yang dibuatbuat"
Tukas si nona kemudian.
"Lebih baik masing masing menempuh jalannya sendiri-sendiri dan anggaplah hal ini sebagai suatu pertukaran syarat "
"Maaf nona, sebagaimana telah kukatakan tadi permintaan dari nona tak dapat kupenuhi"
"Hmm" . Ditengah dengusan yang amat dingin, tiba tiba Ting Hong menjejakkan kakinya ke tanah, kemudian melambung ke udara dan melayang menuju kedalam hutan. Gerakannya ini boleh dibilang cepat sekali bagaikan sambaran kilat, sayang meskipun nona itu cepat, ternyata Han siong Ki bergerak lebih cepat lagi, cukup dalam sekali kelebatan saja tahu-tahu ia sudah menghadang dihadapannya.
"Han siong Ki engkau sungguh sungguh hendak mengajak aku bertempur...?"
Teriak Ting Hong dengan marah.
"Bilamana hal itu merupakan suatu keharusan, maka aku tak akan membantahnya"
"Kalau memang begitu sekarang juga lakukanlah, tak usah kau tunggu sampai tiba saat yang kau maksudkan sebagai suatu keharusan"
Ditengah bentakan yang amat nyaring, telapak tangannya segera diayun kedepan melancarkan sebuah serangan kilat ke tubuh Han siong Ki.
Sepintas lalu serangan tersebut tampaknya amat sederhana dan sangat biasa, tapi justru dibalik kesederhanaan tersebut tersimpanlah pelbagai perubahan yang luar biasa sejak ia melepaskan serangan sampai bayangan telapak tangannya hampir menyentuh ditubuh lawan, secara beruntun dia telah mengganti dengan tiga macam jurus serangan yang berbeda.
Ting Hong, gadis cantik itu memang luar biasa, begitu dia mangatakan hendak menyerang lantas melancarkan serangan, kejadian semacam ini sungguh berada diluar dugaan orang.
Sedikit banyak Han siong Ki msmpunyai pikiran segan untuk melangsungkan pertarungan dengan gadis itu, maka menghadapi serangan yang bertubi tubi itu secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang.
Gagal dengan serangannya yang pertama, Ting Hong segera merubah jurus serangannya, sekali lagi dia menyergap diri Han siong Ki dengan serangan-serangannya yang cepat bagaikan sambaran kilat.
Han siong Ki mainkan sistim pertahanan dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, dia mengunci seluruh bagian tubuhnya yang penting hingga terhindar dari serangah lawan, dalam keadaan demikian meskipun jurus serangan dari Ting Hong termasuk suatu gerak serangan yang aneh dan luar biasa, tapi semua serangan itu tak satupun yang berhasil mencapai sasarannya, melihat kenyataab tersebut dara itu baru terkesiap.
buru-buru ia robah kembali serangannya.
Dikala Ting Hong sedang merubah jurus serangannya untuk memperketat posisi sendiri, tiba-tiba Han siong Ki menerobos maju ke depan sambil melancarkan serangan denganjurus Moong kou ciat (raja iblis menyembah loteng istana) jurus ini merupakan salah satu jurus serangan yang paling ampuh diantara tiga jurus serangan terampuh dalam ilmu Mo mo ciang hoat, malahan kalau dihitung-hitung maka jurus serangan inilah serangan terampuh diantara tiga jurus serangan lainnya..
"Blaaaang"
Suatu benturan kekerasan tak dapat dihindari lagi, ditengah dengusan tertahan tubuh Ting Hong mencelat sejauh delapan depa lebih dariposisinya semula.
"Nona Ting"
Dengan dahi berkerut Han siong Ki segera menegur "kuanjurkan kepadamu lebih baik dengarkan saja semua nasehatku, mari lah ikut aku dan kita pulang kegua salju dibukit Ciong-san untuk berkumpul kembali dengan orang tuan u!"
"Tidak!"
Jawab Ting Hong dengan tegas, jelas sekali hatinya sedang marah, terbukti dari bibitnya yang digigit kencang-kencang.
"Baiklah nona Ting"
Kata Han-siong Ki kembali "kalau toh engkau tak mau mendengarkan nasehatku, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan untuk menghadapi dirimu!"
Dengan satu gerakan yang amat cepat sianak muda itu menerkam mangsanya, sepasang jari tangannya yang dipentangkan lebar seperti kaitan ba ja yang sangat kuat mengcengkeram pergelangan tangan musuh dengan cepat, gerak serangan ini mendadak, cepat dan tepat.
Ting Hong sendiri bukanlah seorang manusia sembarangan, dengan suatu gerakan yang sebat dia tarik pergelangan tangannya kebelakang, begitu terhindar dari cengkeram tersebut, telapak tangan' nya berbalik kedepan dan secara beruntun inelan carkau tiga buah serangan berantai.
Han-siong Ki rnemang memiliki banyak sekali jurus-jurus serangan mematikan yang luar biasa dahsyatnya, tapi pemuda itu tak berani mengguna kannya secara gegabah, sebab ia kuatir kalau serangannya yang teramat dahsyat itu bisa msngaki batkan musuhnya terluka.
Pada hakekatnya andiikata ia tidak didesak terus sehingga terpaksa harus turun tangan, pemuda itu merasa segan untuk turun tangan, tentu saja melukai gadis itu lebih-lebih tak mungkin akan dilakukan olehnya...
Tapi bila ia tidak mengeluarkan jurus-jurus serangannya yang mematikan, untuk sesaat gadis itu pun tak mampu mengapa-apakan musuhnya, keadaan semacam ini membawa anak muda itu menjadi serba susah...
Demikianlah, ketika Ting Hong secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai, Han siong Ki terdesak hebat sehingga tanpa bisa dicegah lagi dia mundur bebsrapa langkah untuk menghindarkan diri Begitu si anak muda itu mundur, Ting Hong segera manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, dia melompat keudara dan berusaha melarikan diri dari situ.
"Nona Ting, kau tak dapat pergi, percuma usahamu untuk kabur dari sini"
Bentak Han siong Ki dengan dingin. Sekali lagi dia menjejakkan kakinya keatas tanah dan berkelebat kedepan untuk menghadang jalan perginya.
"Han siong Ki, engkau terlalu mendesak diriku, ketahuilah binatang yang terpojokpun akan melawan, apalagi manusia."
Bentak Ting Hong dengan geramnya.
"Weeeessss"
Sebuah pukulan yang bertenaga amat besar segara dilontarkun kedepan untuk menghajar dada Han siong Ki.
Sianak muda itu tahu bahwa gadis itu berusaha untuk melarikan diri dari cengkeramannya, maka dengan cepat hawa si mi sikangnya dikerahkan untuk melindungi seluruh badan-..
"Blaaaang"
Diiringi jeritan kaget, pukulan tersebut bersarang telak pada sasarannya.
Serangan yang dilancarkan Ting Hong itu dengan tepat menghantam diatas dada Han siong Ki, walaupun dia mengandalkan hawa saktinya untuk melindungi badan toh serangan tersebut cakup membuat hawa darah didalam dadanya bsrgolak keras, matanya terasa berkunang kunang dan kepalanya pusing tujuh keliling, meski demikian, diapun berhasil pula mencengkeramkan pergelangan tangan kanan Ting Hong yang digunakan untuk melancarkan serangan itu..
"Lepaskan aku!"
Teriak nona itu dengan geram bercampur mendongkol.
"Maaf"
Aku tak dapat memenuhi harapanmu itu Ting Hong meronta dengan sekuat tenaga, tapi tidak berhasil melepaskan diri dari cengkeraman itu, akhirnya dia jadi nekad, telapak tangan kirinya tiba tiba diayunkan ke depan menghajar tubuh musuh yang cuma terpaut beberapa inci saja itu.
Han siong Ki menyingkir ke samping dengan cekatan, cengkeramannya pada pergelangan tangan musuh segera diperketat.
Oleh gencetan yang sangat kuat itu, Ting Hong mendengus tertahan, tangannya segera terkulai kembali_ke bawah, sementara tatapan matanya penuh memancarkan rasa benci, marah dan mendendam, demikian mendalamnya rasa benci nona itu hingga cukup membuat orang yang memandangnya jadi ikut bergidik.
Tampaknya dari kenekatan dan kekerasan kepala nona itu, ia lebih rela dirinya mati dari pada pulang ke rumah...
Tapi mengapa ia sampai bersikap demikian?
Suatu misteri yang rasanya sukar untuk mendapatkan jawabannya!
Han-siong Ki tak mau pusing-pusing memikirkan persoalan itu, dengan suatu gerakan cepat dia totok jalan darah gadis itu, kemudian ia putar badannya herdak memanggil sepasang siluman hitam putih......
Sebelum sesuatu tindakan dilakukan, tiba-tiba terdengar serentetan suara yang amat menyeramkan berkumandang datang.
"Manusia bermuka dingin, apa yang hendak kau lakukan?"
Mengikuti berkumandangnya ucapan tersebut kurang-lebih dari arah tiga kaki dihadapannya muncullah sesosok bayangan marusia yang bergerak sangat enteng seperti sukma gentayangan.
Menyaksikan kemunculan bayangan manusia itu berdebarlah jantung Han-siong Ki saking ngerinya, dia mengamati orang itu dengan lebih seksama lagi......
Ternyata orang itu adalah seorang laki laki tampan berbaju putih yang telah berusia tiga puluh-tahunan, meskipun tampan wajahnya, sayang diantara alis matanya tampak terlintas suatu sikap yang licik dan bengis, sehingga terasa kurang sedap dipandang mata.
Setibanya di tengah arena, laki-laki berbaju putih itu memandang sekejap kearah Ting Hong yang menggeletak ditanah dengan jalan darah tertotok itu, kemudian dengan hawa membunuh yang menghiasi wajahnya tebal-tebal, ia berkata seram.
"Lepaskan orang itu!"
"Hmmm! Siapa engkau?"
Tegur Han-siong Ki tak kalah ketusnya. Laki-laki itu tidak menjawab, sebaliknya mengulangi kembali kata-katanya.
"Aku memerintahkan kepadamu untuk segera melepaskan dirinya!"
"Huuuh......dengan dasar apa engkau memerintah diriku untuk lepaskan dirinya?"
"Dengan dasar apa.? Heehh... heeehhh... heeehhh... tahukah engkau bahwa dia adalah kekasihku?"
Mendengar pengakuan tersebut Han siong Ki merasakan hatinya bergetar keras.
"Ting Hong adalah kekasihmu?"
Ia menegaskan.
"Yaa, benar"
"sayang seribu kali sayang, ia tak dapat kuserahkan kepadamu dengan begitu saja"
"Apa yang siap kau lakukan terhadap dirinya.?"
Teriak laki laki berbaju putih itu sambil maju tiga langkah lebar kedepan.
"Dia hendak kuserahkan kembali pada ibunya"
Untuk sesaat laki-laki berbaju putih itu terkejut, tapi hanya sejenak. la segera tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh.... omong kosong, ayoh sebetulnya dia akan kau lepaskan tidak?"
"Tidak"
"Bangsat, kalau begitu engkau memang sudah bosan hidup" . Diiringi bentakan nyaring, laki-laki berbaju putih itu menerjang maju kemuka dan serangan tersebut cukup membuat hawa didalam dadanya bergolak keras, matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing tujuh keliling, meski demikian, diapun berhasil pula mencengkeramkan pergelangan tangan kanan Ting Hong yang digunakan untuk melancarkan serangan.
"Lepaskan aku"
Teriak nona itu dengan gemas bercampur mendongkol.
"Maaf, aku tak dapat memenuhi harapanmu"
Ting Hong meronta dengan sekuat tenaga, ia tidak berhasil melepaskan diri dari cengkeraman itu, akhirnya dia jadi nekad, telapak tangannya tiba-tiba diayunkan ke depan menghajar musuh yang cuma terpaut beberapa inci saja.
Han siong Ki menyingkir ke samping dengan cekatan, cengkeramannya pada pergelangan tangan musuh segera diperketat.
Oleh gencetan yang sangat kuat itu, Ting Hong mendengus tertahan, tangannya segera tertarik kembali ke bawah, sementara tatapan matanya penuh memancarkan rasa benci, marah, dengan cepatnya bagaikan kilatan cahaya tahu tahu ia sudah berada dihadapan Han siong Ki dan segera melancarkan sebuah totokan kilat kemuka.
Waktu itu, Han siong-Ki sedang mencengkeram jalan darah penting dipergelangan tangan Ting Hong, tentu saja ia tak dapat berkelit, telapak tangan kirinya segera diputar satu lingkaran kemudian dengan menggunakan jurus serangan yang tak kalah ganasnya dia balik membacok pergelangan tangannya...
Menyaksikan datangnya serangan yang begitu dahsyat dan berat, laki laki baju putih itu merasa terkesiap.
cepat ia menarik kembali serangannya sambil mundur tiga langkah ke belakang.
Sementara itu, dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa telah melayang masuk kedalam arena pertarungan..
Siapakah mereka?
Dua orang itu tak lain adalah Hek pek siang yau sepasang siluman hitam dan putih.
Melihat kehadiran dua orang pembantunya, Han siong Ki segera merentangkan sepasang tangannya dan melemparkan tubuh Ting Hong kearah siluman putih Hong-ing ing.
"Jaga dia baik-baik"
Perintahnya.
"lindungi dia jangan sampai kena direbut lawan"
Siluman putih Hong Ing ing mengiakan, dengan cekatan dia maju kedepan untuk menyambutnya .
Tampaknya lelaki baju putih itu merasa ada kesempatan baik untuk merebut kembali pacarnya dari tangan musuh, tiba tiba ia menerjang kemuka dengan kecepatan yang luar biasa, tangannya seperti kuku garuda segera menyambar tubuh Ting Hong yang masih melayang ditengah udara itu....
"Bangsat keparat Kau tak usah mencoba bermain gila dihadapanku, enyah kamu dari sini"
Siluman hitam seng Keh ki membentak keras. Diiringi suatu bentakan yang amat nyaring, dia melancarkan sebuah cukulan yang sangat hebat dari sisi arena.
"Blaaang"
Ditengah benturan yang sangat keras, laki laki berbaju putih itu terpental kembali ketempatnya semula, sementara siluman putih Hong Ing ing telah menyambar dan menerima tubuh Ting Hong yang dilontarkan ke arahnya itu.
Tak terkirakan rasa gusar laki laki berbaju putih itu, dengan muka merah membara ia berseru sambil menggigit bibir...
"Han siong Ki, kau manusia keparat Aku bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu, aku akan menggunakan segala daya upaya untuk mencabut nyawa anjingmu."
"Heeehhh.... heeehhhh... heeeehhh..."
Han siong Ki ketawa dingin tiada hentinya, dengan wajah yang tetap dingin dan kaku ia berkata lebih jauh.
"saudara, aku harap engkau bersedia menjawab dengan sejujurnya, benarkah dia adalah kekasihmu?"
"siapa yang menyangkal kalau dia bukan kekasihku?, Tentu saja dia adalah pacarku yang sebenarnya"
"Kalau toh memang begitu, aku rasa engkau pasti mempunyai nama bukan? Katakanlah dulu siapa namamu?"
"Hhmmm .Aku merasa tidak mempunyai keharusan untuk menyebutkan namaku padamu"
"Kalau toh engkau segan untuk menyebutkan namamu, aku harap engkau tinggalkan tempat ini.. saja"
"Boleh saja kalau menginginkan aku pergi dari sini, tapi dia harus kau lepaskan lebih dulu"
"Bukankah kau adalah kekasihnya? Kenapa tidak kau cari dirinya dirumah ibunya? Kalau hendak menemui dirinya lagi, silahkan saja mendatangi gua salju dibukit Ciong san"
"Tidak Tidak bisa Dia tak dapat pergi dengan begitu saja"
Lama kelamaan Han siong Ki dibuat jengkel juga oleh keketusan musuhnya, kontan ia mendengus dingin-"HHmm saudara, sebenarnya apa yang hendak kau lakukan? Katakan saja berterus terang"
Laki laki berbaju putih itu tidak langsung menjawab, ia cabut keluar sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya berkilat, kemudian ketika senjata itu digetarkan maka tampaklah kilatan cahaya pedang yang mengembang sampai sepanjang tiga depa.
"Kau tak usah banyak ngebacot lagi, ayoh Kita bereskan saja persoalan ini dengan kekerasan"
Demikian teriaknya.
"Huuuh Dengan mengandalkan kepandaianmu itu, kau hendak menantang aku untuk berduel?"
"Kenapa? Memangnya kau anggap aku tak sanggup untuk menandingi kepandaianmu?"
"Heeehhh...heeehhh...heeehhh... aku kuatir kalau engkau masih belum berhak untuk bermain denganku"
Tak terkirakan rasa gusar laki laki berbaju putih itu, dia merasa ucapan tersebut merupakan suatu penghinaan baginya, sambil membentak nyaring, pedang pendeknya segera digetarkan semakin kencang, hingga kini cahaya tajam yang memancar keluar mencapai sejauh lima depa...
Siluman hitam seng Keh ki tak ingin ketuanya menghadapi sendiri pertarungan itu, dia cepat maju ke muka seraya berseru.
"Ciangbunjin, harap engkau suka mundur kebelakang, serahkan saja orang ini kepada tecu"
Laki laki berbaju putih itu semakin gusar, ia mendengus dingin, pedangnya diputar semakin kencang menciptakan selapis hawa pedang yang tajam dan mengerikan untuk mengurung sekujur badan siluman hitam itu.
Siluman hitam Seng Keh-ki sendiri cukup mengetahui lihaynya ancaman tersebut, cepat badannya mengigos delapan depa kesamping, begitu terlepas dari ancaman cahaya pedang musuh...........
Sreet!
Sreeet!
Secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai.
Laki-laki berbaju putih itu segera menarik kernbali serangannya, tiba-tiba dia mengayunkan tangannya kedepan, pedang pendek itu segera terlepas dari cekatannya menembusi hawa pukulan siluman hitam yang sangat kuat dan langsung mengancam kearah dadanya.
Tindakan ini boleh dibilang luar biasa sekali, bukan saja serangan dilancarkan secara tiba-tiba bahkan kehebatannya tak terkirakan, dalam keada an demikian, sekalipun ilmu silat yang dimiliki siluman hitam jauh lebih lihaypun sulit rasanya untuk menghindarkan diri dari sergapan kilat yang terduga ini.......
"Criiiing........!"
Tiba-tiba terdengar suara gemerincingan nyaring menggema diangkasa.
Cahaya pedang tersebut setelah membentuk gerakan satu setengah lingkaran busur segera meluncur kembali ke tangan laki-laki baju putih itu.
Kiranya Han-siong Ki sudah was-was dan memperhatikannya dengan seksama, begitu ia saksikan betapa lihaynya ilmu pedang lawan yang disertai dengan tenaga dalam yang dahsyat itu, maka dikala laki-laki tersebut melontarkan pedang pendeknya melakukan sergapan maut, secepat kilat diapun melancarkan sebuah serangan jari tangan yang tajam.
Untung serangan tersebut bersarang telak diujung pedang itu, sehingga pada detik yang terakhir ia berhasil menyampok jatuh pedang itu dan menyelamatkan jiwa rekannya.
Siluman hitam Seng Keh-ki sendiri, kendatipun berhasil lolos dari ancaman bahaya maut, tak urung peluh dingin sempat mengucur juga memba sahi seluruh tubuhnya.
Dia ingin maju lagi ke depan, tapi Han-siong Ki segera ulapkan tangannya seraya berkata.
"Kau mundur saja ke belakang, biar aku yang membereskan sendiri orang ini"
Dengan wajah tersipu sipu, siluman hitam segera mengundurkan diri dari tempat itu.
Laki laki berbaju putih itu sendiri memandang sekejap kearah Han siong Ki dengau pandangan terperanjat, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menerjang ke muka sambil melepaskan serangkaian serangan yang maha hebat.
Waktu itu, Han siong Ki benar-benar sudah diliputi hawa amarah yang menyala-nyala, hawa sakti si mi sinkang nya disalurkan hingga mencapai sepuluh bagian, kemudian dibabatnya ke tubuh lawan yang kebetulan sedang menerjang tiba itu.
Kabut putih yang amat tebal sebera menggulung-gulung bagaikan permainan ombak di samudra, seseorang tampak mendengus tertahan, menyusul kemudian laki-laki berbaju putih itu terlempar sejauh dua kaki lebih ke belakang.
Pada saat yang bersamaan ketika laki-laki berbaju putih itu mencelat ke belakang, tampaklah sekilas cahaya putih yang menyilaukan mata meluncur ke muka dan mengancam dada Han siong Ki.
Kiranya sewaktu laki-laki berbaju putih itu melancarkan tubrukan kemuka tadi, sekalian diapun melontarkan pula pedang terbangnya untuk melukai lawan.
Padahal waktu itu Han siong Ki sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk melancarkan serangan, tak terkirakan rasa kagetnya menyaksikan munculnya kilatan cahaya pedang yang tahu-tahu sudah muncul dihadapan matanya, dalam keadaan begini, sekuat tenaga ia membuang tububnya kesamping...
Sayang terlambat, tiba-tiba ia merasa kesakitan yang luar biasa hingga merasuk kedalam tulang, ternyata lengan kirinya sudah kena ditembusi oleh pedang terbang itu hingga terluka, darah mengucur keluar dengan derasnya......
Cepat cepat ia totok beberapa buah jalan darahnya untuk menghentikan aliran darah tersebut.
Pedang terbang itu sendiri, oleh karena pada pangkal gagangnya terikat oleh seuntai rantai yang kuat, maka begitu berhasil mengenai sasarannya, cepat pedang tersebut ditarik kambali kebelakang.
Luka dalam yang ditarik laki-laki berbaju putih itu tidak terlampau parah, terbukti dia lantas melompat bangun dan berusaha melarikan diri dari situ.
Han siong Ki merasa penasaran sekali, apalagi setelah terluka, hawa napsu membunuhnya makin menyelimuti wajahnya, dengan gerakan cahaya kilat lintasan bayangan dia menyusup ke depan dan menghadang jalan pergi orang itu kemudian secara beruntun ia lancarkan lima buah serangan berantai yang rata rata bertenaga penuh.
Bukan saja serangan tersebut cepatnya luar biasa, bahkan disertai juga tenaga dalam sebesar dua belas bagian, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.
Selihay lihaynya laki laki berbaju putih itu, mana mungkin dia sanggup menghadapi lima buah serangan berantai itu, jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, sambil muntah muntah darah kental, tubuhnya terpental kurang lebih tiga kaki jauhnya dari tempat semula dan tak sanggup bangkit kembali.
Hawa napsu membunuh dari Han siong Ki tidak karena kejadian itu lantas padam.
begitu musuhnya roboh ia menerjang maju lebih ke depan sskali lagi telapak tangannya diayun kebawah untuk melancarkan sebuah serangan yang mematikan.
Seandainya serangan tersebut bersarang telak di tubuh orang itu, tak ampun lagi laki laki berbaju putih itu pasti akan terhajar sampai hancur dan remuk berkeping-keping......
Untunglah disaat yang amat kritis itulah tiba tiba dari arah samping muncul segulung angin pukulan maha dahsyat yang langsung menggulung ke tubuh Han siong-Ki.
Merasakan betapa beratnya ancaman itu, anak muda itu segera menarik kembali serangannya sambil mundur dengan hati terkejut.
Ketika penyergap itu diamati dengan lebih seksama lagi, maka terlihatlah bahwa orang yang barusan melancarkan serangan itu bukan lain adalah, perempuan berkerudung yang misterius itu.
Kemunculan si perempuan berkerudung yang tepat menghalangi niatnya untuk melukai pemuda berbaju putih itu, sungguh jauh diluar dugaan Han siong Ki, untuk sesaat pemuda itu tertegun.
"Eeh sebenarnya apa maksudmu menghalangi niatku untuk menghajar mampus bangsat itu....?"
Teriak pemuda itu kemudian dengan kemarahan yang belum mereda.
"Hmmmm"
Perempuan berkerudung itu mendengus dingin.
"bukankah engkau pernah menerima kebaikan dari Ting Hong maupun ibunya? Mengapa kau hendak membinasakan kekasihnya sekarang? Tidakkah engkau merasa bahwa tindakanmu itu ibaratnya air susu yarg dibalas dengaa air tuba..?"
Mendengar perkataan itu, Han siong Ki jadi amat terkejut, tanpa disadari ia mundur satu langkah lebar ke belakang.
Tepat sekali ucapan tersebut Bagaimanapun juga ia memang tak pantas membinasakan laki laki berbaju putih itu, sebab diantara mereka tak pernah terikat sengketa atau perselisihan yang harus diakhiri dengan suatu pertumpahan darah.
Untuk sesaat lamanya anak muda itu termenung dan tak tahu apa yang harus dilakukan...
mendadak ia seperti merasakan kehilangan sesuatu, dengan mata yang tajam iapun celingukan kesana kemari seperti mencari seseorang, agaknya ia tidak temukan diri Go siau bi ada bersama mereka, maka diapun berseru.
"Eeeh.. aneh benar, kemana ia telah pergi? Kenapa tidak nampak batang hidungnya?"
"siapa yang kau cari....? Go siau-bi maksudmu?"
Sela perempuan berkerudung itu "Yaa, dia... dia ada dimana?".
"Dia telah pergi"
"Apa? Dia telah pergi..?"
Kata Han siong Ki dengan perasaan tak karuan, saking kagetnya sampai nada suaranya juga kedengaran agak gemetar....
"Ya, dia sudah pergi Maafkanlah daku, aku telah berusaha dengan sepenuh tenaga untuk menghalangi kepergiannya, tapi sayang... usahaku itu gagal. akhirnya aku tetap tidak berhasil untuk menahan dirinya agar jangan pergi"
"Kemana ia telah pergi?"
"Siapa yang tahu?"
Han-siong Ki jadi panik sekali, dia segera menjejakkan kakinya siap meninggalkan tempat itu.....
"Ciangbunjin tunggu sebentar!"
Tiba tiba siluman hitam Seng Keh-ki memanggil dengan hormat, dia lantas menghampiri ketua perguruannya.
"Ada urusan apa?"
Tanya pemuda itu sambil menghentikan gerakan tubuhnya.
"Tecu telah menemukan surat yang ditinggalkan nona Go, barap ciangburjin suka memeriksanya lebih dulu!"
Seraya berkata dia lantas mengangsurkan sepucuk surat ketangan ketuanya.
Tampaknya Han-siong Ki sudah mendapat firasat jelek, ia tahu ada suatu kejadian yang luar biasa dan tak diinginkan terjadi, tanpa sadar sekujur badannya menggigil keras, jantungnyapun ikut berdebar kencarg, peluh sebesar kacang kedelai membasahi seluruh kening dan tubuhnya........
Dari tangan siluman hitam disambutnya selembar kain potongan yang penuh dengan tulisan, tampaknya kain itu sengaja dirobek dari bajunya sebagai pengganti kertas.
Tulisan diatas kain itu ditulis dari arang, ini menunjukkan betapa kalut dan bingungnya pikiran Go Siau-bi ketika menyusun kalimat dan menulisnya dikain tersebut.
Memegang kain yang penuh berisikan tulisan itu Han-siong Ki tak dapat menahan emosinya, tangan yang memegang kain itu tampak sedikit menggigil.
Untuk sesaat pemuda itu memejamkan matanya ketika perasaan dan pikirannya telah menjadi tenang kembali, ia baru membuka matanya dan membaca surat tersebut.....
-ooo0dw0ooo-Bab 102 TERBACALAH surai itu berbunyi demikian;
"Engkoh Ki yang kusayangi; Bila kau sedang membaca surat ini, maka aku sudah jauh berada disisimu, maafkanlah kepergianku yang kulakukan secara diam-diam ini aku tak ingin pergi sepengetahuanmu, maafkanlah aku karena aku pergi tanpa pamit!
Selama hayat masih dikandung badan, aku akan tetap mencintaimu, semua kasih sayangku padamu akan kusimpan terus dihati sampai akhirnya kubawa kembali ke liang kubur.
Ketahuilah engkoh Ki, aku amat mencintai dirimu baik semasa masih hidup maupun setelah aku mati nanti, cintaku kepadamu tak akan padam tak akan sirna karena alasan apapun jua.
Aku tahu, cinta adalah suatu pengorbanan, cinta yarg suci dan murni bukanlah membutuhkan suatu pembalasan yang setimpal, atau dengan perkataan lain, aku tak akan menggubris apakah engkau mencintai aku atau tidak, tapi yang pasti aku amat mencintaimu, inilah cintaku yang pertama, juga cintaku yang terakhir kalinya, semua kasih sayangku telah kupersembahkan hanya untuk mu seorang.
Sampai sekarang, walaupun antara kau dan aku belum pernah melakukan hubungan sebagai suami istri, tapi diatas kertas aku telah menjadi istrimu yang sah, maka sampai matipun aku tetap akan menjadi setannya keluarga Han.
Perkawinan kita adalah suatu kekeliruan yang besar, aku rasa dalam hal ini ergkaupun tak akan menyangkal.
Setiap apa yang pernah dikatakan nona Ting, cinta antara seorang laki-laki terhadap seorang pe rempuan harus tumbuh secara siam.
harus muncul dari dasar hati yang dalam, cinta tak dapat di peroleh dari suatu penekanan, suatu paksaan atau mengemis dari orang lain.
Aku cukup memahami arti dari ucapan itu, akupun dapat menarik kesimpulan dari perkataan itu bahwa cinta yang didapat dari mengemis atau suatu pernaksaan adalah cinta yang palsu, cinta yang tidak sungguh-sungguh, bukan kebahagiaan yang akhirnya akan di peroleh melainkan suatu siksaan, suatu penderitaan sepanjang hidup.
Setelah memahami keadaan yang sebenarnya, ma ka kuputuskan untuk pergi meninggalkan kau!
Engkoh Ki!
Aku tahu engkau akan bersedih hati, kau akan merasa tertekan jiwanya, sebab engkau adalah seorang yang berhati panas meski diluafan wajahmu tampak selalu dingin.
Tapi.....yaa, aku minta kau tak usah terlalu menyalahkan dirimu sendiri, aku pergi karena maksud hatiku sendiri, sebab dengan demikian pc rasaan kita berdua akan mendapat ketenteraman dan ketenangan.
Berat rasanya kutinggalkan dirimu, tapi kau tak usah kuatir, dimanapun aku berada sejak kini, hatiku selalu hanya untukmu, pikiran dan perasaanku akan selalu mendampingi dirimu.
Semoga kau bahagia selalu.
Salam penuh kerinduan dari, Adik Siau-bi.
Bagaikan seseorang yang tercebur kedaiam gudang es yang sangat dingin, Han-siong Ki merasakan sekujur badannya jadi beku dan kaku, mu kanya puoat pias seperti mayat, untuk sesaat lama mya ia tak tahu api yang musti dilakukan.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pembicaraannya dengan Ting Hong belum lama berselang mengakibatkan kepergian Go Siau bi tanpa pamit Tiba-tiba pandangan matanya jadi gelap tubuh nya jadi sempoyongan dan hampir saja roboh ke-tanah, untuk pertama kalinya ia merasakan suatu kekosongan, untuk pertama kalinya ia merasa kesepian dan hidup yang tak berarti, semua siksaan dan penderitaan dalam hatinya membuat pemuda itu tanpa terasa merintih......
Tonghong Hui, gadis yang disayang dan dicintai dengan segenap jiwa raganya telah mati!
Go Siau-bi, bakal istrinya yang selalu terbuai diantara permainan, hidup yang serba menyedihkan kini telah pergi!
Sekuat tenaga ia menarik narik rambut sendiri, darah mengucur keluar dari sela sela jari tangannya, tampaknya pemuda itu hendak menggunakan siksaan badan untuk mengurangi rasa siksaan yang dialami batinnya.
Sepasang siluman hitam putih hanya bisa memandang tingkah laku ketuanya dengan wajah tertegun, mereka tak berani memberi komentar, apalagi menghiburnya dengan kata-kata yang manis.
Ting Hong terkapar dengan jalan darah tertotok, sedangkan laki laki berbaju putih itu berbaring tak sadarkan diri karena isi perutnya yang terluka parah, terhadap adegan yang sedang berlangsung didepan matanya tentu saja mereka tidak merasa apa-apa.
Akhirnya perempuan berkerudung itulah yang maju beberapa langkah ke muka, lalu berkata dengan suara yang berat dan dalam.
"Han siong Ki Ingat baik-baik, perpisahanmu ini hanya suatu perpisahan untuk sementara waktu saja, bukan suatu perpisahan karena kematian, kenapa engkau musti berkeluh kesah seperti seorang manusia yang tak bersemangat? Memangnya dikemudian hari kau tak bisa mencari dirinya lagi? Memangnya.. di kemudian hari engkau sudah tak punya kesempatan untuk bertemu lagi dengannya? Kau harus ingat, apa yang harus kau lakukan lebih dahulu pada saat ini"
Bagaikan disambar geledek disiang hari bolong ucapan tersebut segera menyadarkan kembali si anak muda itu dari lamunannya.
Dengan sekujur badan bergetar keras, Han siong Ki memandang sekejap kearah perempuan berkerudung itu dengan pandangan penuh berterima kasih, setelah memberi hormat kepadanya iapun berkata.
"Bukankaht engkau pernah berjanji kepadaku akan memberitahukan kemana kaburnya Thian che kaucu?"
"Yaa betul"
Sahut perempuan berkerudung itu sambil mengangguk.
"tapi sebelum kau pergi mencari gembong iblis itu ditempat persembunyiannya, terlebih dahulu engkau harus selesaikan dahulu masalah yang sedang kau hadapi sekarang"
Han siong Ki segera mengalihkan perhatiannya ke atas wajah siluman hitam seng Keh ki dan siluman putih Hong mg ing, lalu ujarnya, dengan suara tegas.
"Aku sebagai ciang bun jin bersedia memberi ijin kepada kalian berdua untuk mengundurkan diri dari perguruan Thian lam pay"
Mendengar perkataan itu, sekujur badan siluman putih maupun siluman hitam bergetar keras, cepat-cepat mereka jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"oh.... ciang bunjin"
Rengek mereka berbareng "dosa dan kesalahan apakah yang telah tecu lakukan, sehingga engkau begitu tega mengusir kami berdua dari perguruan?"
"Kalian berdua telah salah artikan maksud hatiku, ayoh bangunlah lebih dulu"
"Harap ciang bunjin bersedia memberi penjelasan lebih dulu sebelum tecu berdua bangun berdiri"
Dengan pandangan yang tajam Han siong Ki mengawasi kedua orang anak buahnya itu, kemudian sepatah demi sepatah kata dia berkata.
"Kalian berdua adalah sisa anak murid Thian it-bun yang masih hidup di dunia hingga saat ini, apakah kalian berdua tiada berniat untuk membangun kembali perguruanmu serta membalas budi kebaikan yang pernah kalian terima dari gurumu dimasa lalu?"
Agak kaget kedua orang itu ketika mendengar perkataan tersebut, dengan suara gemetar siluman hitam lantas berkata.
"Tecu suami istri bersumpah untuk mengikuti ciangbunjin sepanjang masa, tecu tak ingin mengingkari sumpah yang telah tecu ucapkan sendiri"
"Tapi aku kan memberi ijin khusus kepada kalian berdua untuk meninggalkan perguruan?"
"Tecu berdua tidak berani, tecu berdua tetap ingin mendampingi diri cianbunjin"
"Bagaimana kalau kataku barusan merupakan suatu perintah? Apakah kalian berdua juga ingin membangkang perintahku?"
"Tentang soal ini... tentang soal ini..."
Untuk sesaat siluman putih maupun siluman hitam jadi tergagap, mereka tak taliu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
"Ayoh bangun"
Sekali lagi Han siong Ki memerintahkan kedua orang itu untuk bangkit.
Kali ini dua orang siluman tersebut tak berani membangkang, merekapun bangkit berdiri.
Setelah kedua orang itu berdiri, dengan wajah yang keren dan bersungguh sungguh Han siong Ki berkata lagi.
"Sekarang dengarkan baik baik perkataanku, bawalah Ting Hong dan hantar dia ke gua salju dibukit ciong san, serahkan gadis ini kepada ibunya si Jelek dari Sin Ciu, katakan kepadanya bahwa aku telah menepati janjinya dengan menghantar putrinya, katakan juga bahwa perbuatanku ini sebagai tanda balas budi atas hadiah obat mustikanya. Selesai melaksanakan tugas tersebut, kalian berdua boleh pergi sesuka hati kalian dan kalian pun tak usah datang menjumpai diriku lagi"
Sepasang siluman hitam dan putih segera menunjukkan wajah keberatan, malah siluman putih Hong Ing ing segera berkata dengan kepala tertunduk.
"ciangbunjin, harap engkau bersedia untuk menarik kembali perintahmu, tecu bersedia mendampingi ciangbunjin sampai akhir masa"
Walaupun dihati kecilnya Han siong Ki merasa sangat terharu, namun diluaran ia tetap bersikap dingin dan hambar..
"Tidak"
Tampiknya "setiap patah kata yang telah kuucapkan, selamanya tak akan ku ubah kembali"
Ucapan tersebut membuat sepasang siluman salting berpandangan beberapa kejap, akhirnya siluman hitampun berkata pula dengan nada yang sangat menghormat.
"Tecu berdua bersedia turut perintah, namun tecupun mempunyai satu permintaan, apakah ciangbunjin bersedia untuk mengabulkannya?"
"Apakah permintaan kalian itu? Coba kalian katakan secara berterus terang"
"Ijinkanlah kami untuk menyebut ciangbunjin sebagai tuan majikan sebagaimana sebutan kami dahulu, dan sebutan tersebut rasanya tak mungkin bisa tecu rubah lagi selama tecu berdua masih hidup didunia ini"
Han siong Ki benar benar merasa sangat terharu dengan penuh luapan emosi sahutnya.
"Baiklah, aku tahu betapa besarnya cinta kasih kalian berdua kepadaku, rasanya kurang baik bila kutampik juga permintaan kalian ini, anggaplah kukabulkan keinginan kalian itu"
"Terima kasih banyak atas kebijaksanaan tuan majikan"
Dua orang siluman itu berseru dengan gembira.
"sudahlah, kalian tak usah membuang banyak waktu lagi, Nah sekarang berangkatlah"
"Selamat tinggal tuan majikan"
Sekali lagi dua orang siluman itu memberi hormat, kemudian baru bangkit berdiri.
siluman putih Hong Ing ing pun segera menyambar tubuh Cui hoa siancu Ting Hong, dan kedua orang itu pun berangkat menuju ke gua salju dibukit Ciong san.
setelah bayangan tubuh mereka hilang dari pandangan, perempuan berkerudung itu baru menuding kearah laki laki berbaju putih itu seraya ucapnya.
"Engkau tahu siapakah orang ini?"
"Tidak tahu"
Dengan kebingungan Han siong Ki gelengkan kepalanya berulang kali.
"Dia adalah cucu muridnya Huan yu-it koay (manusia paling aneh dari seluruh jagad) yang bernama Ciong pin"
"Jadi dia adalah ahli waris dari Thian che kau cu Yu Pia lam?"
Seru Han siong Ki kemudian dengan wajah berubah hebat.
"Benar"
Si anak muda itu segera mendengus dingin, selangkah demi selangkah ia maju ke depan menghampiri orang itu...
Mimpipun ia tak menyangka kalau laki-laki berbaju putih itu tak lain adalah muridnya Yu Pia lam.
"Eeh....eehh nanti dulu, apa yang hendak kau lakukan?"
Perempuan berkerudung itu segera meng hadang jalan perginya . Dengan napsu membunuh yang berkobar kobar sahut Hansiong Ki dengan nada menyeramkan.
"Aku hendak membinasakan dahulu bangsat ini"
"Tidak.. Tidak bisa.. orang ini tak boleh kau bunuh..."
"Kenapa?".
"Pertama, dia adalah pacarnya Ting Hong, engkau tak boleh merusak masa depan seorang perempuan. Kedua, meskipun Yu pia lam mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan dirimu, tapi tiada ikatan dendam apa apa dengan dirinya, menurut apa yang kuketahui, ia belum pernah melakukan sesuatu gerakan dalam perkumpulan Thian che kau, diapun tak pernah membantu kaum penjahat melakukan kejahatan, selama ini dia hanya berada disamping Huan yu it koay, jarang sekali munculkan diri didalam dunia persilatan."
"Dengan pandangan terperanjat Han siong Ki mengawasi perempuan berkerudung itu, ia benar-benar heran dan tercengang atas usulnya......
siapakah dia sebenarnya?
Mengapa ia begitu paham dan mengusahi tentang semua persoalan tersebut?
sebenarnya dia adalah seorang kawan atau lawan?
Mengapa ia selalu membantu dirinya?
sekalipun demikian, rasa bencinya terhadap Yu Pia lam maupun anak buahnya sudah boleh dibilang merasuk ke tulang sum-sum, dia tak ingin melepaskan setiap orang yang mempunyai hubungan dengan Yu Pia lam.
Maka dengan suara dingin ia berseru.
"Tidak Bagaimanapun juga dia harus kubunuh"
Kedengarannya perempuan berkerudung itupun dibuat gusar oleh kekerasan hati pemuda itu, serunya pula.
"Han siong Ki, kini perkumpulan Thian che kau sudah hancur dan porak poranda, yang masih tersisa tinggal gembong penjahatnya Yu Pia lam seorang, jika engkau hendak melakukan pembasmian maka sepatutnya iblis itulah yang kau bunuh. Pepatah kuno pernah berkata begini, dosa dari guru janganlah dituntut pada sang murid, apakah engkau sudah lupa bahwa siJelek dari sin ciu telah menghadiahkan obat mustika kepadamu, sedang Ting Hong telah menyembuhkan pula luka yang diderita Go siau bi, sekalipun engkau tidak memberi muka kepada orang she Ciong ini, sepantasnya kalau kau ingat jasa pacarnya..."
"Baik,...baiklah.... dia kulepaskan"
Sahut Han siong Ki kemudian dengan perasaan apa boleh buat.
"sampai detik ini, dia masih belum tahu dengan segala perubahan yang telah terjadi dalam lembah Lian huan tan, jika engkau hendak mencari Yu Pia lam maka dialah petunjuk jalan yang paling tepat bagimu..."
"Dia? Dia bersedia menjadi penunjuk jalan ku untuk mencari gurunya?"
"Tentu saja kalau terang terangan dia akan menolak, maksudku kuntitlah dia secara diam diam dari belakang, maka akhirnya engkau akan dibawa kesarang gurunya"
"ooooh... kiranya begitulah maksudmu hm..... sekarang aku sudah mengerti"
"Nah kalau sudah mengerti, bersembunyilah lebih dulu untuk sementara waktu, akan kubangunkan dia"
Han siong Ki mengangguk.
dia lantas melayang pergi beberapa kaki jauhnya dari tempat semula, dan menyembunyikan diri.
setelah si anak muda itu baik baik menyembunyikan diri, perempuan berkerudung itu baru menotok beberapa buah jalan darah penting di tubuh laki laki berbaju putih itu, diiringi suara rintihan lirih, laki laki berbaju putih itu sadar kembali dari pingsannya.
Perempuan berkerudung itu lantas mengambil keluar dua butir pil yang segera diserahkan kepadanya seraya berpesan.
"sekarang jangan bergerak lebih dulu, salurkan hawa murnimu dan sembuhkan lebih dahulu luka yang kau derita"
Dengan pandangan berterima kasih bercampur curiga dan takut laki laki berbaju putih itu mengerling sekejap kearah perempuan berkerudung itu, kemudian ia meronta bangun dan mulai menyalurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka yang dideritanya itu.
Kurang lebih setengah jam kemudian, laki-laki berbaju putih itu sudah menyembuhkan luka yang dideritanya, sambil bangkit berdiri dia lantas menjura dalam-dalam.
"Terima kasih banyak atas budi pertolongan anda yang tak terkirakan besarnya ini"
"Tak usah banyak adat"
Tukas perempuan berkerudung itu dengan nada yang dingin.
"Bolehkah aku tahu siapa namamu?"
"Aku rasa soal nama bukanlah suatu soal yang penting, lebih baik tak usah kau tanyakan"
Untuk sesaat laki laki berbaju putih itu tertegun, tapi selang sesaat kemudian diapun berkata lagi.
"Tolong tanya..."
"Engkau ingin mengetahui jejak dari Cui hoa siancu Ting Hong?"
Tukas perempuan berkerudung itu.
"Yaa, benar" .
"Gadis itu dapat kau temukan kembali, digua salju bukit Ciong san Dan ada satu hal dapat kuberitahukan kepadamu, sampai kini ia tetap aman dan sehat wal-afiiat tanpa kekurangan sesuatu apapun"
Dengan gemas dan penuh kebencian laki laki berbaju putih itu berseru lagi.
"Hutang piutang ini pasti akan kutagih kepada manusia bermuka dingin, walau apapun resikonya" .
"Soal balas membalas adalah urusanmu sendiri, sekarang engkau boleh pergi"
Kemudian tanpa menunggu jawaban lagi, perempuan berkerudung itu segera putar badan dan berlalu lebih dulu dari sana.
Untuk sesaat lamanya laki-laki berbaju putih itu berdiri termangu, tapi akhirnya diapun menggerakkan tubuhnya dan berlalu dari sana.
Han siong Ki yang sudah bersiap sedia sajak tadi dari tempat persembunyiannya, diam diam mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan menguntit dibelakang laki laki berbaju putih itu.
Ketika fajar telah menyingsing keesokan harinya, sampailah mereka didepan sebuah lembah yang amat sunyi, laki laki berbaju putih itu segera menggerakkan tubuhnya, dalam beberapa kali kelebatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik mulut lembah tersebut.
Menyaksikan hal itu, Han siong Ki lantas berpikir didalam hati kecilnya "Aaah....
kemungkinan besar disinilah tempat persembunyian dari Huan-yu it-koay, entah Thian che kaucu Yu Pia lam juga berada disini atau tidak?."
Sementara berpikir sampai disitu, dia lantas melanjutkan langkahnya masuk kedepan...
Tiba tiba dari arah depan sana berhembus datang bau busuk mayat yang tajam dan memuakkan bikin siapapun yang mencium bau tersebut menjadi muak dan ingin muntah.
serta merta sorot matanya dialihkan kearah mana berasalnya bau busuk itu, tetapi apa yang kemudian terlihat membuat sekujur badannya menggigil keras, bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Dimulut lembah tersebut, tergantunglah sebuah papan kayu yang dipantekkan diatas sebatang pohon besar, diatas kayu tersebut terteralah beberapa huruf yang ditulis dengan huruf yang sangat besar.
Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 10
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 5