Ceritasilat Novel Online

Misteri Pulau Neraka 6

Eps 6 Misteri Pulau Neraka - Gu Long

Baca online Misteri Pulau Neraka - Gu Long

Cersil Misteri Pulau Neraka - Gu Long.

"Anak muda, bagaimana mungkin kau bayangkan? Aaaai, perasaannya waktu itu........aaai, semisalnya secara tiba-tiba lohu teringat bermain layang-layang di musim semi, menangkap jangkrik di musim paras, dan mencuri buah tomat dimusim gugur dan berperang-perangan salju dimusim dingin, tapi.......kemanakah aku harus mencari? Kemana aku harus melihat. Seorang diri aku mesti duduk dalam loteng kecil sambil menahan rasa dongkol, melotot pemandangan di depan mata namun tak berani membayangkannya...."

"Mengapa tak berani membayangkannya?"

Tanya Oh Put Kui sambil tertawa geli.

"Sebab bila aku sampai membayangkannya, niscaya aku tak akan tahan untuk hidup terus di dalam bangunan loteng ini."

Diam-diam Oh Put Kui merasa kagum atas kejujuran kakek ini untuk menepati janji, maka katanya kemudian .

"Kau orang tua benar-benar memegang janji !"

Kakek latah awet muda mengalihkan sorot matanya memandang sekeliling tempat itu, kemudian sambil mengelus jenggot dia berkata lagi dengan suara rendah .

"Bocah muda, meskipun aku tak berani melongok keluar dari jendela tersebut, namun aku mampunyai akal lain, tahukah kau bagaimana caranya ......"

"Boanpwe ingin tahu !"

Ucap Oh Put Kui tertawa. Setelah tertawa misterius Kakek latah awet muda berkata .

"Aku tak dapat meninggalkan bangunan loteng itu, namun ingin pula menyaksikan pemandangan di luar sana, maka saban hari akupun membuka atap loteng itu separuh bagian....."

Mendengar sampai disitu, Oh Put Kui sudah tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa terbahak-bahak.

"Caramu itu memang sangat jitu, membuka atap loteng memang suatu akal yang hebat."

Kakek latah awet muda tertawa.

"Bocah muda, aku percaya selain aku Ban Sik thong, tak nanti ada orang lain yang dapat menemukan cara seperti itu. Walaupun tetap duduk tak bergerak di dalam loteng, namun dunia luas telah berada dibawah pandangan mataku."

Dalam pada itu si Raja diraja dari kaum iblis, pedang sakti bertenaga raksana Kit Put-sia telah berkata kepada si Kakek latah dengan senyum aneh menghiasi wajahnya .

"Ban tua, kesepuluh mata uang tersebut akan menjadi milikmu untuk selamanya."

Setelah menyambut uang perak tersebut, Put lo-huang-siu segera menekan mata uang tadi kuat-kuat. Tak ampun uang logam rangkap sepuluh tersebut hancur lebur menjadi bubuk.

"Ilmu Toa-lek-kim-kong-jiu yang sangat hebat !"

Puji Oh Put Kui sambil tertawa.

Perlu diketahui, bagi seorang yang bertenaga dalam sempurna, untuk melebur emas meretakkan batu bukan hal-hal yang menyulitkan.

Tapi untuk menghancurkan baja dan logam menjadi bubuk tanpa mengalami kehancuran lebih dulu bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Agak emosi Kit Put-sia berseru pula sambil tertawa .

"Aku pikir tiada manusia kedua di dunia saat ini yang mampu mencapai tigkat kesempurnaan dalam ilmu jari seperti apa yang Ban tua miliki...."

Selesai meremukkan logam-logam tersebut, Kakek latah awet muda baru berseru sambil tertawa terbahak-bahak .

"Kit Put-sia, akhirnya aku berhasil mengungguli dirimu!"

"Nasib mujur memang berada dipihak kau orang tua, tentu saja boanpwe harus mengaku kalah."

Umpakan ini kembali menyenangkan hati kakek latah.

"Siapa bilang tidak? Kalau diantara kalian ada yang berani bertaruh lagi kepadaku, pasti akan kulayani tantangan tersebut."

"Aaaahh, tidak berani ! Tidak berani ! Sekalipun boanpwe ingin mengajak bertarus lagi, ini tentu kulakukan bila nasib kau orang tua sedang jelek, kalau tidak, aku bisa menggadaikan celana karena kalah ditanganmu."

Lagi-lagi umpakan tersebut mengena di hati kakek latah, kontan dia memicinkan mata sambil tertawa tergelak.

"Kit Put-sia, tak nyana kaupun akan menjumpai hari naas seperti hari ini!"

"Ban tua, tiada manusia yang tidak takut kalah di dunia ini?"

Ucapan ini segera mengundang gelak tertawa riuh dari semua hadirin yang berada dalam ruangan.

Mendadak Kakek latah awet muda berhenti tertawa, kemudian sambil menyodorkan tangannya kehadapan Kit Put-sia, katanya .

"Kit Put-sia, aku ingin meminjam sesuatu benda darimu!"

"Kau ingin meminjam apa?"

Kit-put-sia tertawa,"

Bila kau orang tua berminat mengunjungi kota Tiang-seng ini, selesai bersantap malam nanti boanpwe bersedia menemani kau orang tua bersama Oh lote dan pengemis sakit Lok untuk berjalan-jalan."

Dengan cepat kakek latah awet muda manggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, aku cuma ingin menyaksikan sebuah benda mestika mu saja..."

"Aaaah, mestika apa yang bisa menarik perhatian kau orang tua.....?"

"Kudengar, tusuk konde menghancurkan tulang yang merupakan salah satu dari Bulum jit-tin sudah terjatuh ditanganmu, sudah lama kudengar nama besarnya tanpa sempat melihatnya, maka aku ingin sekali melihatnya sekejap..

"Perkataan ini sama sekali diluar dugaan Oh Put Kui, dia tak menyangka kalau kakek latah akan mendahului dia untuk mengajukan permintaan tersebut. Dengan perasaan berterima kasih dia memandang sekejap kearah kakeh latah awet muda, bahkan setelah itu mengawasi pula perubahan wajah Raja si raja dari kaum iblis Kit Put-shia. Gembong iblis itu memang sangat lihay, mendengar ucapan tersebut ia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........Ban tua, kalau cuma masalah sekecil ini, mengapa tidak kau ucapkan sedari tadi ?"

Setelah berhenti sejenak ia bangkit berdiri dan berkata kembali .

"Tusuk konde penghancur tulang boanpwe simpan dikamar baca, harap kau orang tua duduk menanti, boanpwe akan segera mengambilkan, harap kau orang tua jangan mentertawakan setelah melihatnya nanti......"

Belum selesai dia berkata, dengan langkah lebah dia sudah berjalan menuju kesisi kiri.

Tidak sampai seperminum teh kemudian, Kit Put-shia sudah muncul kembali dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna emas.

"Ban tua!"

Ucapnya kemudian.

"Inilah tusuk konde penghancur tulang...."

Sambil berkata dia membuka penutup kotak itu dan mempersembahkan isinya kehadapan Put-lo-huang-siu.

Sekali lagi Oh Put Kui dibuat tertegun, kejadian ini sama sekali diluar dugaannya.

Ia tak mengira kalau Kit Put-shia akan bersikap supel dan berlapang dada, bahkan benar-benar mengeluarkan tusuk konde penghancur tulang miliknya.

Kakek latah awet muda menyambut kotak emas itu dan memandang sekejap tusuk konde penghancur tulang tersebut, tiba-tiba katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kit Put-shia, darimana kau membeli tusuk konse kemala ini?"

"Aaaai......masa dibeli?"

Seru Kit Put-shia sambil menggeleng.

"Konon racun dari tusuk konde ini ganas sekali, bila bertemu darah segera akan menghancurkan tulang, benarkah demikian ? Kit Put-shia, darimana kau peroleh benda berharga itu?"

"Boanpwee berhasil merampasnya dari tangan seorang gembong iblis,"

Kata Kit Put-shia tertawa. Sudah merampas, berani mengaku di depan umum, kejujuran Kit Put-shia benar-benar mengagumkan.

"Bocah keparat, kau tidak kuatir akan dituntut orang karena main rampas?"

Teriak kakek latah sambil tertawa tergelak. Kit-put-sia ikut tertawa.

"Ban tua, orang tesebut merupakan seseorang gembong iblis besar ! Boanpwe sadar atas kejahatan serta kekejaman orang ini, bila benda seperti itu terjatuh ketangan gembong iblis macam begini, niscaya banyak korban yang akan jatuh diantara umat persilatan !"

"Maka kau pun merebutnya dari tangan orang itu?"

Sambung kakek latah sambil tertawa.

"Padahal bukan terhitung dirampas, sebab boanpwe telah membinasakan gembong iblis tersebut !"

"Siapa sih orang itu?"

Tanya kakek latah awet muda dengan kening berkerut.

"Caycu dari delapan markas bukit kunsan ditelaga Tong-ting-ou, Liong-li ci-ciu "naga merah ditengah ombak"

Ciu Khong!"

Kakek latah segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ehmm, belum pernah kudengar tentang orang ini, agaknya dia cuma seorang manusia tak bernama...Kit put-sia, pernahkan kau bertanya darimana dia peroleh tusuk konde penghancur tu ang ini ?"

Kembali Kit-put-sia tertawa .

"Boanpwe sih pernah bertanya dan Ciu Khong pernah memberitahu kepadaku, dia adalah Thian-be-kim clong "tombak emas kuda langit"

Im Tiong-hok yang menghadiahkan benda tersebut kepadanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke empat puluh !"

Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, Oh Put Kui sudah dibuat tertegun.

Sedangkan si pengemis sakti menggaruk-garuk telinganya yang sebetulnya tidak gatal.

Sedang kakek latah awet muda malah tertawa terbahak-bahak.

"Manusia macam apa sih Im Tiong-hok tersebut?"

"Liok-lim Bengcu dari tujuh propinsi di wilayah selatan!"

"Waaah, kalau begitu belum terhitung seorang manusia luar biasa....."

"Di dalam pandangan kau orang tua, tentu saja Im Tiong-hok bukan terhitung seorang manusia luar biasa."

"Tentunya kaupun tak akan memandang sebelah matapun kepadanya bukan?"

Baru selesai dia berkata, tusuk konde kemala berbentuk tiga inci panjangnya itu sudah diambil keluar dan diperlihatkan dihadapan Oh Put Kui, lalu katanya lagi sambil tertawa .

"Bocah muda, bagaimana kalau kita mencari kelinci percobaan untuk menjajal keampuhan dari benda ini ?"

"Tidak usah dicoba lagi,"

Oh Put Kui menggeleng,"

Kalau cuma untuk membuktikan saja kita mesti membunuh orang, waah.....rasanya boanpwe tidak tega !"

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Tampaknya kau sudah dididik menjadi jelek oleh gurumu itu, kelewat sok alim!"

"Aaaah, masa kau orang tua tidak percaya dengan perkataan dari Sia-cu?"

Kata Oh Put Kui sambil tertawa hambar. Kakek latah awet muda tertawa. Yaa, aku memang kurang percaya...."

"Tapi boanpwe justru amat mempercayai perkataan dari Siacu ini,"

Seru Oh Put Kui. Kakek latah awet muda mengerutkan dahinya sejenak, akhirnya ia tertawa tergelak .

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........kalau toh kau bocah muda sudah percaya, apa lagi yang mesti lohu katakan ?"

Ia masukkan kembali tusuk konde tersebut ke dalam kotak emas lalu menutup kembali kotak itu dan katanya kepada Kit Put-sia sambil tertawa aneh .

"Ambillah kembali bocah keparat dan simpan baik-baik, siapa tahu suatu hari aku membutuhkan tusuk konde ini? Sampai waktunya kau jangan pelit lho !"

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........asal kau orang tua mau pakai, sekarangpun boleh membawanya pergi."

Seru Kit Put-sia sambil tertawa tergelak. Kebesaran jiwa kit Put-sia sungguh membuat orang merasa terperanjat.

"Aaah, tidak usah, aku mah tak pingin mencari kesulitan macam begitu, bila sampai berita tersebut tersiar dalam dunia persilatan, kawan manusia yang tak punya mata niscaya akan mengatur rencana untuk mengerjai diriku, nah kalau sampai begini, aku akan kehabisan daya untuk mencegah mereka......"

"Kalau memang begitu, biar boanpwe simpankah dahulu untukmu."

Setelah menyimpan kembali kotak emas tersebut, sambil tertawa katanya kepada si Pengemis dari kota naga Ku Yu Gi .

"Saudara Ku, umumkan kepada semua sahabat di dalam kota ini, Sia-cu tidak menerima tamu !"

"Kit-put-sia, masa kau menerima tamu sampai jauh malam?"

Sela kakek latah sambil tertawa. Kit-put sia tertawa.

"Bila rakyat dalam kota menemui kesulitan, kebanyakan mereka akan datang mencariku di saat malam telah tiba. Oleh sebab malam ini kau orang tua dan Oh lote sekalian berada di sini, maka boanpwe sudah sepantasnya melayani kau orang tua. Jadi tak ada waktu lagi bagiku untuk menemui mereka."

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dan tertawa tergelak Kakek latah awet muda berkata .

"Tidak usah, tidak usah. Lohu akan pergi sekarang juga!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Kit Put-sia, katanya buru-buru sambil tertawa .

"Sepeninggal kau orang tua nanti, entah sampai kapan baru akan berkunjung. Apa salahnya kalau kau menginap untuk beberapa hari lagi disini? Lagipula Oh Lote dan Lok sin-kay baru pertama kali berkunjung kemari....."

Pengemis pikun yang selama ini cuma membungkam terus segera menimbrung setelah mendengar ucapan itu .

"Kit siacu, kami masih ada urusan lain"

"Tepat sekali perkataan si pengemis cilik."

Sambung kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak,"

Kami masih ada urusan penting, sehingga tak bisa tinggal lebih lama lagi disini......"

Kakek berambur putih ini memang aneh sekali wataknya, begitu berkata hendak pergi ia segera berangkat meninggalkan ruangan tersebut dan beranjak keluar.

Tentu saja Oh Put Kui dan pengemis pikun harus mengikuti pula di belakangnya.

Sekilas senyuman sinis dan licik sempat memancar keluar dari balik wajah Kit Put-sua, namun dengan cepat ia menjura sembari berkata .

"Kalau memang begitu, biar boanpwe mengantar kau orang tua sampai keluar dari kota....."

Sepeninggal kota kematian, pengemis pikun sudah ribut hendak mengambil kuda tunggangannya. Tapi Oh Put Kui tidak setuju. Kakek latah awet muda lebih-lebih tidak setuju.

oodwoo

Jilid 19 Dengan demikian, terpaksa si pengemis pikun harus mengikuti dibelakang mereka berdua dengan napas terengah -engah.

Setelah berjalan keluar dari tanah perbukitan Ci-lian san, mendadak Oh Put Kui teringat dengan janjinya dengan Jian Ji-hu su (Kakek menyendiri seribu Ji) Leng Siau Thian.

Maka pikirannya kemudian .

"Dari sini menuju ke bukit Ho lan-San tidak terlampau jauh, lagipula memang searah, mengapa aku tidak sekalian berkunjung ke situ ?"

Berpikir demikian, dia pun lantas berkata .

"Ban Tua, boanpwa ingin berkunjung sebentar ke bukit Ho-lan-san .......!"

"Mau apa kau ke bukit Ho-lan-san ?"

Tanya kakek latah awet muda agak tertegun.

"Menyambangi seorang tokoh dari dunia persilatan !"

"Tokoh dunia Persilatan?"

Kakek latah berkerut kening sambil tertawa.

"Benar !"

Setelah termenung sejenak, kakek itu bertanya lagi .

"Sadari kapan sih bukit Ho-lan-san dihuni seorang tokoh persilatan ? Siapa orangnya ?"

"Leng Siau-thian !"

Kontan saja kakek latah tertawa terbahak -bahak.

"Uuuuhhh, si Leng Siau-thian juga terhitung tokoh persilatan ? Bocah muda, kau memandang orang itu kelewat tinggi."

"Benteng kuno yang didiami Leng Siau-thian, belakangan ini sudah dianggap oleh kawan kawan persilatan sebagai Benteng nomor saru dari dunia persilatan, jadi ia sendiri pun sudah termasuk dalam deretan orang-orang terhormat !"

"Waaduh, waaduh ... baru dua puluh tahun tak muncul, nampaknya dunia persilatan telah berubah sama sekali, si anjing. Si kucing pun berani menganggap diri sok jagoan."

"Sepuluh Tahun bida merubah arus sungai dari timur kebarat, apalagi manusia ?"

Kakek latah awat muda agak tertegun, tiba-tiba saj dia meghela napas panjang .

"Aaaai, inilah yang dinamakan ombak belakang sungai Tiang Kang mendorong ombak didepannya, orang baru menggantikan orang lama. Anak muda, kalau toh kau merasa perlu berkunjung kesana, baiklah, akan kutemani."

"Terima kasih..."

"Berhubung mereka harus berbicara sambil meneruskan perjalanan, maka gerak itu tubuh mereka menjadi lambat, dengan cepatnya si pengemis pikun berhasil menyusul mereka."

"Lote apa yang kau terima kasihmu ? memang kau berhasil memperoleh kebaikan ?"

Teriaknya langsung. Oh Put Kui segera tertawa tergelak setelah m,endengar ucapan itu .

"Waah .... Nampakanya sifat rakus dab tamak Lok jian hari kian bertambah besar saja."

Tentu saja, aku si pengemis kan rutin dan hidup sengsara... hei empek jenggot putih, bila kau memberi kebaikan buat si bocah muda itu, jangn lupa bagian untuk aku si pengemiscilik!"

"Aaah, kau si pengemis cilik betul-betul tak becus,"

Kakek latah kontan melotot.

"sekalipun aku ingin memberi sesuatu kebaikan untukmu, paling tidak mesti kupertimbangkan dulu tiga samapi lima tahun lamany."

"Waaah, mana mungkin ?"

Pengemis pikun menjulurkan lidahnya.

"kalau mesti menunggu samapai tiga lima tahun, jenggotku bisa pada memutih semua."

"KALAU mau menunggu, silahkan saja menunggu, kalau enggan menunggu, aku toh tidak memaksamu !"

Kakek latah tertawa."

Pengemis pikun kembali menghela napas.

"Aaaai, baiklah akan ku tunggu..."

Kemudian sambil berpaling kearah Oh Put Kut, bisiknya lirih .

"Lote, sebenarnya kebaikan apa sih yang kau peroleh darinya ?"

Oh Put Kui tertawa tergelak dan menggeleng kepalanya berulang kali .

"Kebaikan apa sih? Siaute Cuma berterima kasih lantaran Ban tua bersedia menemani aku mengunjungi benteng nomor wahid dari dunia persilatan di bukit Ho-lan-san !"

Mendengar ucapan tersebut, pengemis pikun kontan berhenti dan tak mau berjalan lagi 1"

"Lagi-lagi naik gunung? Waah, lote ! Payah, payah ... aku sudah tak kuat berjalan lagi !"

Terpaksa Oh Put Kui menghentikan pula langkahnya, kemudian ujarnya sambil tertawa .

"Lok loko, masa kau lupa ? Bukankah Leng tua meminta kita berkunjung bersama kesana ?"

"Ogah, aku sudah tak mampu berjalan lagi ..."

Pengemis pikun gelengkan kepalanya berulang kali.

"Loko, nampaknya kau memang sengaja hendak merusak pusaranku didepan orang ?"

"Siapa sih yang akan merusak pasaranmu ? Toh di kelurga leng tak ada nona cakep yang menungguku, buat apa aku mesti kesana ? Lote, aku belum menegurmu atas ........."

Belum habis di aberkata, kakek latah awet muda yang sudah berjalan satu didepan dan sewaktu tidak melihat kedua orang rekannya menyusul belakangnya, tahu-tahu sudah muncul pula dihadapan mereka.

"Hei penegemis cilik, mau apa kau ?"

Tegurnya dengan suara menggeledek.

"Aku sudah mampu berjalan lagi, tapi bocah muda ini memaksaku hendak naik kebukit Ho-lan-san, maka aku menolak ajakannya, aku ingin beristirahat saja dulu ..."

"Hmmmm, kau sipengemis cilik pingin molor rupanya ?"

Teriak si kakek latah dengan mata melotot.

"Tidak ... aku benar -benar sudah tak kuat berjalan lagi ..."

"Benar-benar sudah tidak kuat coba kau lihat, kakiku sudah pada melepuh aduuuh ... aduuuh .... Sakit amat !"

"Ooh sakit ? Mari, biar kuperiksa ..."

Sambil berkata di membungkukkan badan dan siap mengangkat kaki kanan pengemis pikun.

Begitu melihat kelima jari tangansi Kakek latah yang hendak memegang kakinya menggunakan ilmu Ki-na-jiu hoat yang lihay.

Serta merta wajah pengemis pikun berubah hebat.

Dengan cepat di melompat setinggi delapan kaki, kemudian teriaknya keras-keras .

"Sudah cukup, cukup, aku aku dapat berjalan lagi ....!"

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh aku sudah tahu, kau pasti akan sembuh dan pasti bisa melanjutkan perjalanan kembali .....! Benteng nomor wahid dari dunia persilatan terletak di punggung bukit Ho-Lan san. Tempat itu merupakan sebuah bukit yang curam, suatu tempat dengan medan yang amat berbahaya. Kalau dibilang tempat tersebut merupakan benteng terbesar dalam dunia persilatan, mungkin orang akan tertawa geli sampai copot giginya. Sebab seluruh bangunan tidka lebih hanya terdiri dari belasan rumah. Tapi kalau dibilang benteng ini merupakan benteng terkokoh pertahannya dan paling sukar ditembusi, hal ini memang cocok benar dengan keadaanya. Sebab dinding di sekeliling bangunan benteng itu berupa tebing karang yang kokoh dan curam. Bila seseorang ingin memasuki benteng tersebut, maka di harus menyebrangi dahulu jembatan gantung yang berada di antara sela-sela dinding karang. Waktu itu, si kakek latah awet muda, Oh Put Kui serta pengemis pikun bertiga telah tiba di bawah tobing curam yang tingginy mencapai sepuluhribu kaki itu. Memandang ke atas ternyata mereka tak berhasil menemukan jalan menuju benteng. Melihat keadaan tersebut, kakek latah awet muda menggelangkan kepalanya berulang kali sambil berkata .

"Banyak benar penyakit yang di diindap Leng Siauw thian ini, masa mau membangun rumahpun di bangun di atas puncak karang yang dikelilingi tebing terjal, apa tak repot untuk naik turun ?"

Sambil tertawa Oh Put Kui menyahut .

"Biarpun untuk naik turun tidak leluasa, namun tempat ini berbahaya dan strategis. Bila ada orang ingin berniat jelek terhadap majikan dalam benteng, tidak gampang baginya untuk menyerang masuk."

"Ehmm, mungkin benar ucapanmu itu ..... aaai, tapi bagaimana cara kita untuk menyuruh mereka membuka pintu ?"

Baru saja Oh Put Kui tertawa, pengemis pikun sudah berteriak keras-keras .

"Lebih baik kita naik keatas tebing karang ini lebih dul, toh kita tak usah takuti karang tersebut ?"

"Betul, memang betuk, kau si pengemis cilik memang sangat menyenangkan di bidang ini."

Puji kakek latah sambil tertawa tergelak. Tapi Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya berulang berulang kali, katanya .

"Ban tua, boanpwe rasa lebih baik kita berteriak dulu beberapa kali, atau......."

Setelah berhenti sejenak, lanjutanya samabil tertawa .

"Menurut aturan, dibawah sisni mestinya terdapat bagian pintu atau tempat untuk memberi tanda akan datangnya tamu, kalau tidak, semisalnya ada yang berkunjung kemari, bagaimana mungkin orang didalam benteng bisa mengetahuinya ?"

Kakek latah mengangguk berulang kali.

"Ehmmm, memang masuk diakal juga perkataan bocah muda ini, bagaimana kalau kita segera mencarinya ?"

Kemudian seperti orang bermain petak saja. Dia mulai meraba-raba diseputar tabing karang tersebut. Pengemis pikun tidak turut membantu, dia malah duduk di tanah sambil memejamkan matanya ?"

Sambil tersenyum Oh Put Kui mengalihkan sorot matanya sambil memeriksa sekitar dinding karang disitu.

Kemudian secara tiba-tiba saja dia berjalan menuju kedepan dinding batu yang ditumbuhi rumput dan semak belukar yang lebat.

Rupanya diatas dinding batu karang tersebut terdapat ksebuah gelang tembaga yang bersinar terang.

Tapi, oleh sebab tetutup dibalik semak belukar yang lebat maka seandainya tidak diperhatikan dengan seksama, memang sukar untuk menemukannya.

Oh Put Kui segera memegang gelang tembaga tersebut dan mencoba untuk membetotnya, lalu sambil tertawa ia berkata .

"ban tua, boanpwe sudah berhasil menemukannya !"

Dalam pada itu Put-Lo huang-siu telah mengerahkan tenaga saktinya dengan menempelkan seluruh badannya diatas diding batu yang licin dan berkilat itu, kemudian sambil meluncur kesana dan kemari, ia tertawa cekikikan tiada hentinya.

Begitu Oh Put Kui tertawa tergelak, serentak sepasang telapak tangannya di tarik kembali sehingga tubuhnya meluncur jatuh kebawah dengan cepat.

Biarpun terperosok jatuh kebawah, namun bukan berarti tubuhnya terbanting mencium tanah.

Menggunakan kesempatan tersebut dia malah bersalto bebrapa kali sehingga dapat hinggap di tanah dengan manis dan indah.

"Hei anak muda, kau berhasil menemukannya ? Coba lihat bagaimana dengan ilmu kecapung berjumpalitanku tadi ? bila kau pingin belajar. Akan kuajarkan kepadamu secara gratis."

"Waaah, kalau boanpwe sih tidak berani mempelajari ilmu semacam itu."

Tampik Oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"sebab kalau benar-benar ingin belajar, sudah seharusnya belajar ilmu capung terbang ke angkasa .... Apalagi boanpwe pun tak berdaya melalap begitu banyak hidangan yang enak dan lezat-lezat."

"Hei anak muda apa hubungannya antara kecapung dengan hidangan lezat ?"

"Kalau aku mesti belajar kecapung berjumpalitan, itu berarti kepalaku mesti ada di bawah dan kakiku di atas, apa hidangan lezat yang kumakan tak bakal tumpah keluar semua ?"

Put-Lo huang-siu menjadi tertegun.

"Ohh... betul juga perkataanmu itu, heran mengapa belum pernah kupikirkan hal tersebut ?"

Belum selesai dia berkata, mendadak dari atas tebing karang sana, telah berkumandang suara bentakan nyaring.

"Siapa di situ ?!"

Sambil mendongakkan kepalanya Oh Put Kui segera menyahut .

"Oh Put Kui dari bukit Gan tang-san sengaja dating menyambangi poocu !"

Orang yang berada diatas tebing itu berseru tertahan kemudian cepat-cepat menarik kembali kepalanya. Tak selang berapa saat kemudian, sebuah tangga diturunkan dari atas tebing karang tersebut.

"Poocu mempersilakan kalian untuk naik !"

Teriakan nyaring bergema lagi dari atas tebing.

Oh Put Kui berkerut kening, tapi tanpa banyak berbicara dia segera merambut naik ke atas bukit dengan mendaki pada anak tangga tersebut.

Put-Lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak, ia tidak mendaki malalui tangga yang tersedia sebaliknya malahan mendaki lewat tebing karang yang tegak lurus lagi licin itu.

Setiap kali kakinya menginjak, guguran bubuk batu berhamburan ke mana-mana.

Pengemis pikun yang melihat kejadian ini kontan saja bersorak memuji, tapi sayang dia tak berkemapuan untuk berbuat demikian, maka terpaksa ia mengikuti jejak Oh Put kui dengan selangkah demi selangkah merambat naik melalui anak tangga yang tersedia.

Tak lama kemudian, mereka bertiga telah sampai di puncak tebing karang tersebut.

Ternyata tangga yang diturunkan kebawah tadi tergantung langsung dari depan pintu gerbang benteng itu.

Jadi ketika Oh Put Kui dan pegemis pikun sampai di ujung tengga tersebut, mereka telah mencapai pintu benteng.

Sebaliknya Put-lo huang-siu tidak melewati pintu gerbang, melainkan langsung memangati dinding benteng tersebut.

"Hoi anak muda"

Serunya.

"aku akan langsung melewati dinding tembok dan masuk ke dalam sana akan kutunggu kedatangan di depan situ .........!"

Begitu selesai berkata, bayangkan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Oh Put Kui berdiri termenung didalam pintu sambil berputar otak tiada hentinya, dia heran apa sebabnya tidak menyaksikan, Leng-siau-thian menampilkan diri.

Sudah barang tentu dia pun tidak menjumpai Leng Cui cui yang penuh daya tarik tersebut.

Di balik pintu gerbang hanya berdiri tegak empat lelaki kekar dengan pedang terhunus.

Dandanan ke empat orang ini tidak jauh berbeda dengan dandanan dari para busu pelindung rumah-rumah orang kaya.

"Apakah Leng Poocu ada di rumah ?"

Tegur Oh Put Kui kemudian sambil berkerut kening. Berhubung di melihat ketidak beresan wajah ke empat orang ini, maka caranya berbicara pun tidak sungkan-sungkan.

"Ada!"

Sahut salah seorang dari keempat lekaki tersebut.

"Apakah kalian bisa memberitahukan ke dalam, katakan kalau Oh Put Kui datang berkunjung ......."

Kata Oh Put Kui lagi sambil ketawa. Salah seorang dari ke empat lelaki itu kembali menggeleng.

"Tidak lebih baik kana sendiri saja yang masuk ke dalam !"

"Sialan, beginikah sara kalian menerima tamu ?"

Tegur pemuda itu mulai naik pitam. Tiba-tiba lelaki kekar itu tertawa dingin.

"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh ...... aku toh bukan anak buah dari keluarga Leng. Lebih baik cara berbicara kalian sedikitlah lebih hati-hati !"

"Apa?"

Penegmis pikun tertegun, kalian bukan anak buah keluarga Leng? Lantas maua apa berdiri di situ ?"

Kembali lelaki kekar itu tertawa seram.

"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh ...... Buat apa kau banyak bertanya ? Masuk saja dan periksa sendiri !"

Oh Put Kui mulai terperanjat setelah menyaksikan kejadian ini, dia lantas menegur pula.

"Kalian berempat berasal dari mana ? Apakah ada sakit hati dengan Leng poocu?"

"Majikan kami berada di dalam, masuk saja ke sana. Kau akan segera tahu dengan lebih jelas lagi."

Oh Put Kui semakin terperanjat lagi, di kuatir benteng ini sudah tertimpa suatu bencana.

Tapi yang membuatnya agak lega adalah ke empat orang ini tidak sampai encegah dirinya masuk ke dalam.

Ini menunjukan kalau mereka yang datang belum tentu adalahkaum sesat atau kaum iblis, kalau tidak mustahil mereka akan membiarkan dirinya masuk ke dalam.

Pengemis pikun segera mendengus dingin "Hmmm, kau anggap akau si pengemis benar-benar tak berani masuk kedalam ?

Hm"

Begitu selesai berkata, dia segeramelangkah maju ke depan, melalui tengah-tengah ke empat lelaki kekar itu dan menuju ke ruangan dalam.

Oh Put Kui segera menjura pula kepada ke empat orang itu, kemudian meyusul pula ke dalam.

Ketika mereka mereka berdua memasuki ruang tengah yang luasnya Cuma dua kaki itu, dengan cepat disaksikan dalam ruangan berdiri berderet lima orang lelaki kekar dengan dandanan yang tak jauh berbeda dengan dandanan ke empat orang tadi.

Sewaktu mereka berdua masuk ke dalam, ternyata ke lima orang lelaki itu tidak menggubris bahkan seakan-akan tidak melihat kehadiran mereka disitu.

Sambil tersenyum Oh Put Kui menembusi pintu ruangan dan masuk ke dalam.

Pengemis pikun segera menyusul dibelakangnya.

Dibelakang ruangan tengah adalah sederet bangunan rumah yang terdiri dari tiga bilik.

Disitu berdiri pula laki-laki kekar berpakaian ringkas, jumlahnya mencapai sembilan orang lebih.

Sedang dalam ruangan penuh dihadiri manusia-manusia berwajah seram.

Pemilik benteng nomor wahid dari dunia persilatan si kakek menyendiri seriba li Leng shiu-thian duduk disisi kir ruangan, dibelakangnya berdiri seorang lelaki dan seorang perempuan.

Yang perempuan memakai baju berwarna hijau pupus, rambutnya panjang terurai sebahu, waktu itu dengan wajah gusar dan tangan meraba gagang pedang yang tersoren dipinggangnya sedang melototi sembilan orang yang duduk disebelah kanan dengan, wajah penuh kegusaran ......"

Oh Put Kui cukup kenal perempuan ini, sebab dia adalah Leng Cui-cui berdiri pula seorang sastrawan yang berusia tiga puluh tahunan.

Ia berdiri sambil bergendong tangan, wajahnya menunjukan sikap yang sangat hambar.

Sedang disisi kanan ruangan itu hadir ke lima orang kakek.

Dari kelima orang kakek tersebut, Oh Put Kui hanya kenal seorang saja yaitu Cu-ihmo-kiam (pedang iblis berbaju merah) Suma Hian, sedang ke empat lainnya tak pernah di jumpai ....,...

Tapi si pengemis pikun itu agaknya seperti mengenali mereka.

Sebab setelah berseru kaget, tiba-tiba ia berseru sambil tertawa tergelak.

"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh ...... bagus sekali, tampaknya kalian semua si anak iblis telah berkumpul disini...."

Belum habis pengemis pikun berbicara Leng Siau-thian telah bangkit berdiri. Hawa amarah dan perasaan tak senang menyelimuti wajahnya kini sudah tersapu lenyap hingga tak berbekas.

"Oh lote !"

Serunya cepat.

"kan benar-benar seorang yang bisa dipercaya, aku malah mengira kau takkan kemari !"

Buru-buru Oh Put Kui menjura dan menyambut sambil tertawa.

"Sepanjang perjalanan tanpa berhenti boanpwe datang kemari, siapa sangka gara-gara ada peristiwa lain, aku sampai tertunda perjalananku selama empat lima hari !"

Dengan langkah lebar dia masuk keruang dalam.

Dia pun dengan berani sekali menyambut sambutan hangat dari sepasang mata yang indah dan jeli tersebut.

Senyuman Leng Cui-cui betul-betul sangat indah, manis dan hangat......

Sedang kelima orang kakek disisi kanan kelihatan agak tertegun, agaknya kemunculan Oh Put Kui dan pengemis pikun secara tiba-tiba disana sama sekali diluar dugaan mereka.

Terutama sekali bagi si pedang iblis berbaju merah suma hitam.

Sesudah tertegun beberapa saat, dia lantas membisikan sesuatu disisi telinga dua orang kakek berbaju hitam yang duduk di sampingnya.

"Terhadap gerak gerik mereka itu, Oh Put Kui berlagak seolah-olah tidak melihatnya. Tanpa sungkan ia segera mengambil tempat duduk di samping Jian-hu-siu. Pengemis tua lebih hebat lagi, tanpa banyak bicara dia pun duduk disamping ke-lima orang kakek itu. Setelah memandang sekeja sekeliling arena dengan sorot mata yang tajam, tiba-tiba Oh Put Kui berkata dengan kening berkerut .

"Leng tua, sewaktu masuk benteng tadi boanpwe seperti tidak bertemu dengan seorang anak buahpun, apakah di dalam benteng telah timbul suatu kejadian ?"

Jiau lihu-siu Leng Siau-thian tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ........haaahhh...... haaahh...... dugaan lote memang tepat sekali, dalam benteng kami memang telah timbul suatu kejadian besar."

Oh Put Kui mengerti, sudah pasti peristiwa ini timbul karena ulah dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian, walaupun demikian ia toh tetap bertanyalagi .

"Leng tu, sebetulnya apa yang telah terjadi dengan benteng kalian ini ?"

Leng Sia-thian mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejab ke lima orang kakek itu, lalu sahutnya sambil tertawa .

"Gedung Sian hong-hu yang menggetarkan seluruh dunia persilatan telah datang mencari gara-gara dengan diriku ! "Gedung Sian hong-hu ?"

Kali ini Oh Put Kui benar-benar dibikin tertegun, dia tidak habis mengerti apa sebabnya pihak Sian-hong-datang mencari cari gara-gara dengan pihak Bu-lim-tit-it-poo.

Maka setelah termangu beberapa saat, dia bertanya lagi ;

"Perselisihan apa sih yang telah terjalin antara Leng tua dengan si kakek malaikat?"

"Aku sama sekali tidak mempunyai perselisihan apa-apa dengan Sengsiu."

Leng Siau thian mengeleng.

"kejadian ini timbul dikarenakan padang Hiam-peng-kiam tersebut ...... aku tak pernah mengira kalau benda mestika milik keluarga kami ini bisa mendatangkan banyak kesulitan bagi kami semua."

Oh Put Kui tersenyum.

"AOoh, aku pun tidak menyangka kalau pihak Sian hong hu ikut serta di dalam persoalan ini!"

Pada saat itulah, si kakek yang duduk di tengah diantara lima orang laiannya tertawa dingin secara tiba-tiba, kemudian berkata .

"Pedang Hian-peng-kiam adalah milik Seng-siu, aku harap pembicaraanmu jangan bernada menyindir."

Baru sekarang Oh Put Kui memperhatikan sekejap wajah si kakek tersebut.

Ia saksikan kakek ini berwajah antik, alis matanya putih, kepalanya botak dan wajahnya bersih, sama sekali tidak mencerminkan hawa sesat barang sedikitnya jua.

Sambil tertawa hambar dia lantas menegur "Siapa sih ka orang tua ?"

Kakek beralis putih itu mendengus dingin "Hmmmm, kalua aku saja tidak kau kenal, ini menandakan kalu pengalaman serta pengetahuan betul-betul sangat cupat !"

Kalau didengar dari nada pe,bicaraannya kakek ini mungkin bernama besar. Oh put Kui tertawa seram.

"Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., sebenarnya aku memang seorang yang pengetahuan cetek namun bila nama besarmu betul-betul seperti nada pembicaraanmu tadi, semestinya aku pun pernah mendengarkannnya."

"Kurang ajar !"

Teriak kakekk beralis putih itu dengan mencorong sinar biru dari balik matanya.

"Bocah keparat, besar amat nyalimu ...."

"Bila nyaliku kecil, tak nanti tak berani didatangani orang lain !"

Ucapan tersebut segera membuat si kakek beralis putih itu tertegun, lalu seruya sambil tertawa dingn .

"Apakah kau adalah sang pemuda yang telah berkunjung kepulau neraka tersebut ? sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan kaku pada hari ini ! Meski begitu ...."

Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa terbahak-bahak dia melanjutkan .

"hei boacah keparat,kau bisa berkunjng ka pulau beraka dengan selamat hal ini hanya satu kebetulan saja, siapa saya sudi melukai seorang pemuda berbakatbagus seperti kau ?"

Atau dengan perkataan lain,a di hendak menegaskan kepada Oh Put Kui bahwa keberhasilan lolos dari pulau tersebut tak lain karena dia mengandalkan bakatnya yang baik.

Kontan saja Oh Put Kui mendengus.

Hmmmm, kalu begitu kau tentu sudah pernah berknjung kepulau itu ?"

"Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., aku sih belum sudi untuk berkunjung kesana !"

Kakek beralis putih itu tertawa dingin.

"Haaaahhh...haaaaahh...haaaaahh...., saudara benar-benar terlalu menilai tinggi kemampuan sendiri !"

"Oh lote,"

Tiba-tiba Leng Siau-thian berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kakek ini adalah pelatih kepala dari gedung Sian-hong-hu, orang menyebutnya Toh-min-sin.-huan (panji sakti penrenggut nyawa) Ku Bun-wi !"

Tampaknya Leng Siau-thian tak ingin kedua orang itu saling menyindir tiada hentinya, maka dia sengaja memperkenalkan orang itu.

Oh Put Kui sama sekali tidak menunjukan perubahan apapun, hanya ujarnya sambil tertawa hambar .

"Oooh..... rupanya Ki-sik-sancu ! kalau begitu aku telah bersikap kurang hormat ?"

Mendengar itu, iar muka panji sakti perenggut nyawa Ku Bun-wi segera terlintas sedikit perasaan gembira. Sudah cukup lama sebutan "Ki-sik-sancu"

Tersebut tak pernah disinggung orang lain.

Tapi kenyataan sekarang.

Oh Put Kui dapat menyebut nama tersebut, ini menunjukan kalu angakatan tua dari pemuda ini tertu sudah pernah membicarakan hal-hal yang menyangkut kehebatannya di masa silam.

Berpikir begitu, dengan wajah yang jauh lebih cerah kakek itu berkata sambil tertawa .

"Kalau dilhat dari kemampuan untuk menyebutkan julukanku di masa lampau, hal ini menandakan kalau kau meang mempunyai sedikit asal usul yang mengagumkan"

Oh Put Kui tertawa tergelak "Haaahh ....haaahh ....

Haaahh..........

Sudah lama ku dengar asala usul saudara, yaa, sipaa yang tidak kenal denganpengalima perang nomor satu dari Cengthian-kui-ong, (raja setan penggetar langit) Wi Thian yang?"

Rupanya tertawa Ku Bun-wi segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dunia meang selalu berputar, kau tak usah menyindir diriku lagi"

Tiba-tiba nada suaranya berubah menajdi lembut dan halus. Hal ini kembali membuat Oh Put Kui tercengang.

"Saudara telah bergabung dengan pihak Sian-hong-hu, semestinya kau harus memahami watak dari Wan-sing-seng-siu, apakah cara kalian mengincar barang mestika milik orang lain tidak menyimpang dari pesan terakhir Seng-siu?"

Tiba-tiba Oh Put Kui telah membawa pokok pembicaraan kembali ke amsalah semula Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia menambahkab .

"Sebelum kedatangan saudara kemari, sudahkah kau mendapatkan persetujuan dari anak keturunan Seng-siu ?"

Si Panji sakti pereggut nyawa Ku Bun-wi tertawa hambar.

"Tanpa persetujuan dari majikan muda kami, masa akua berani datang kemari ?"

Oh Put Kui segera berkerut kening.

"Sepengetahuanku, pedang Hian-peng-kiam adalah milik keluarga Leng. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan sebagai milik Wan-sing-seng-siu ? Aku benar-benar merasa tidak habis mengerti ......"

Ku Bun-wi tertawa lagi.

"Aku rasa, Leng Siau-thian pasti akan lebih mengerti ketimbang kau sendiri."

Dengan kening berkerut, Oh Put Kui segera berpaling ke arah Leng Siau-thia, kemudian tanyanya .

"Leng tua, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"

Leng Siau-thian menghela napas dan menggelangkan kepalanya berulang kali .

"Aaaai ..... apabila kejadian ini dibicarakan kembali, sungguh akan membangkitkan rasa diriku saja."

"Kalau memang begitu, kau tak usah menyinggung lagi masalah terebut !"

"Lote, kau tak usah membantu lagi untuk menutup-nutupi kejadian terebut."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia meneruskan .

"Semata aku masih muda dulu, aku telah kehilangan pedang ini di bukit Thay-san."

"Kepandaian silat yang kau miliki waktu itu, sudah pasti tak bisa dibandingkan dengan kemampuan sekarang bukan ?"

Salah Oh Put Kui sambil tertawa.

"Yan, memang begitulah, dikerubuti oleh tiga orang gombong iblis yang sangat lihay akhirnya aku menderita luka parah dan kehilangan pedang Hian-peng-kiam milik keluargaku itu, kemudian ke tiga orang gembong iblis tewas pula ditangan Wan-sin-sang-siu Nyoo tayhiap. Sedang saat itulah pedang Hian-peng-kiam menjadi milik Wan-sin-sang-siu !"

"Leng tua, bukankah Ceng-thian-kui ong juga pernah menuntut pedang tersebut dari tanganmu?"

Ucap Oh Put Kui sambil tertawa. Leng Siau-thian menghela napas panjang.

"Aaaai, sejak Nyoo thayhiap mendapat pedang itu, dia merasa sayang sekali dengan benda ini sebelum akhirnya dihadiahkan kepada putri kesayangannya Nyoo Sian -sian, tapi gara-gara pedangan itu nyaris nona Nyoo Sian-sian kehilangan nyawanya !"

"Waaah, kalau begitu pedang tersebut memang membawa firasat kurang baik."

Ucap Oh Put Kui pula sambil menggelangkan kepalanya.

"Pengalaman yang dialami nona Nyoo hampir serupa dengan diriku, dalam keadaan terluka parah ia kehilangan pedang tersebut tapi kemudaian ke liam orang yangmerebut pedang milik nona Nyoo itu terbunuh ditangan si raja setan ...."

"Ooh, jadi pedang Hian-peng kiam tersebut jatuh ketangan si raja setan ?"

"Benar !"

Leng Siau-thian manggut-manggut.

"Kalau begitu, kedatangan cong-huhoat dari Siang-hong-hu juga dikarenkan pedang Hian-peng-kiam tersbut ?"

Nada lain dari perkataan itu adalah seakan-akan dia tak percaya kalau kedatang Ku Bun-wi hanya dukarenakan hednak meminta kembali pedang tersebut. Leng Siau thian menggut-manggut berulang kali.

"Yaa, betul, Ku huhoat memang datang kemari untuk meminta kembali pedang tersebut."

Sekali lagi Oh Put Kui memandang sekejab sekeliling arena, kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Kalau begitu. Ketua dari Su tay-kiam -wi pelaya pedang"

Dibawah pimpinan Raja setan pengetar langit Wi Thian-yang, si pedang iblis berbaju merah Su-ma Hian ayhiap juga datang karena ingin minta kemabli pedang itu ?"

Begitu pertanyaan tersebut diantarakan, Ku-Bun-wi segera menjadi tertegun, rupanya pertanyaan ini sama sekali diluar dugaannya "Hei, anak muda! Kau kenal dengan Su-maHian?"

"Apakah saudara tidak menyangka?"

Oh Put Kui tertawa . Dengan kening berkerut Toh-Mia-Siu-huan Segera berkata .

"Saudara datang kemari sebagai tamu, aku pun datang kemri sebagai tamu, mengapa tudan rumah belum berkata apapun, kau malah mengoceh tida hentinya?"

Agaknya Ku Bun-wi merasa keheranan apa sebabnya Oh Put Kui seperti sentimen dengannya.

Bahkan Ji-li-hu-siu sendiripun seolah-olah bersedia tunduk di bawah perkataannya.

Mendengar pertanyaan itu.

Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak .

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Sekarang kau tak usah keheranan, kau toh akan mengetahui dengan sendirinya ......"

Lalu sambil berpaling katanya pula kepada Suma Hian .

"Suma Hian, baik-baiklah kau selama ini?"

Terhadap Leng Siau-thian sekeluarga maupun terhadap pengemis pikun yang duduk tak jau dari sisinya, boleh dibilang si pedang iblis berbaju merah Suma Hian tidak merasa takut, tapi terhadap Oh Put Kui yang pernah mengndurkan dirinya dan mengusir Tiang-siau-san-ang dari perkampungan Tang-mo-sen-ceng ini dia betul betul merasa amat keder.

Oleh sebab itu terpaksa dia harus memnyahut sambil tertawa .

"Oh sauhiap. Baik baikkah kau ?"

"Suma Hian, agaknya aku harus menyampaikan ucapan selamat lebih dulu kepadamu."

"Apa maksud sauhip berkata demikian ?"

Suam Hian tertegun.

"Bukankah majikan kalian telah muncul kembali didalam dunia persilatan ? Apa hal semacam ini tidak pantas untuk diberi selamat,.....?"

Suma Hian segera tersenyum.

"Ooh, rupanya kejadian ini yang sauhiap maksudkan ! Aku pernah dengar orang bilang kalu majikan kami telah lolos dari kurungan, tapi hingga kini aku belum penah berjumpa dengan majikan kami itu....!"

"Ooh, bukan ! Bukan !"

Suam Hiat menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Aku datang kemari atas undangan dari saudaraku !"

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Kalu begitu aku telah salah menduga !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba tiba katanya lagi kepada Ku Bun-wi .

"Ku Tayhiap, aku belum pernah bertemu dengan beberapa orang rekaman itu!"

Suatu perkataan yang amat sombong, sudah jelas dia mengharapkan perkenalan dengan ketiga orang kakek itu, namun tidaksudi mempergunakan kata memohon. Ku Bun-wi segera berkerut kening, lalu katanya .

"Ooh, kau ingin aku perkenalkan dengan rekan-rekanku ini ?"

"Aku tak ingin berbicara dengan orangorang tak bernama !"

Ucapan ini lebih angkuh lagi, sedemikan angkuhnya sehingga si pengemis pikun pun sedikit agak tertegun.

Walaupun dia sudah bekumpul selma banyakwaktu dengan pemuda ini, namun ia tahu bahwa pemuda yang tangguh ini bukan seorang manusia yang tinggi lain.

Tapi kenyataannya sekarang, dia seolah olah telah berganti menjadi orang lain.

Sudah barang tentu pengemis pikun tak dapat menduga apa yang sedang dipikirkan oleh Oh Put Kui sekarang.

Agaknya Oh Put Kui telah melihat kalu Bu-lim-tit-it-poo sedang terancam oleh bahsa maut yang amat gawat.

Maksud kedatangandari Ku Bun-wi sekalian agakanya bukan untuk minta pedang tersebut, ia percaya majikan muda dari gedung Sian-hong-hu, si naga sakti pedang kilat Nyoo Ban-wi telah melihat bagaima di mengambil pedang Hian-png-kiam tersebut dan menghadiahkan sepada Lamkiong Ceng suami istri.

Tapi kenyataan sekarang, dia justru telah mengutus KU Bun-wi untuk meminta kembali pedang tersebut, bukan hal ini jelas ada udang di balik batu ?

Oleh sebab itu dia megambil keputusan untuk meghadapi KU Bun-wi dengan sepenuh tenaga.

Bahkan ia tak segan-segan untuk bertarung mati-matian didalm benteng ini.

Dan sekarang, tiga orang kakek yang duduk tak jauh dari ku bun-wi telah menunjukkan sikap gusar, enam pasang mata mereka yang memancarkan cahaya api mengawasi Oh Put Kui tanpa berkedip.

Dengan alis mata berkenyit KU Bun-wi membentak nyaring .

"Kau si bocah keparat benar-benar kelewat jamawa......."

Tapi setelah berhenti sejenak. Dia menuding kearah ke tiga orang kakek itu sambil berkata .

"Kedua orang kakek berbaju hitam ini adalah saudara angkat dari Suma Hian, orang menyebutnya Ci-sim thi kiam (peang baja berhati merah) Hui wong-ki dan Lui-ing-Huang-kiam (pedang latah irama guntar) The tay-hong ...... Berkilat sepasang mata Oh Put Kui setelah mendengar nama itu, katanya kemudian sambil tertawa .

"Bagus sekali, tampaknya tiga dari empat pelayan pedang telah hadir disini !"

Sementara itu KU Bun-wi telah menuding lagi kearah kakek berjubag abu-abu lainnya semabari berkata .

"Sedangkan dia adlah Hek-pek-sin-kiam "pedang sakti hitam putih"

Pak Cau-kun yang amat tersohor namanya didalam dunia persilatan ....."

"Betul,"

Kali ini Oh Put Kui menjura.

"Pak tayhiap memang seorang yang ternama, aku senang berjumpa denganmu !"

Dalam dunia persilatan Pak Cau-kun terhitung seorang manusia yang adil dan bijaksana, sekalipun pada mulanya di turut di buat gusar oleh sikap Oh Put Kui yang jumawa, namun setelah menyaksikan pemuda itu hanya menjura kepadanya seorang, seketika itu juga rasa gusarnya hilang lenyap tak berbekas.

Kakek bercambang yang gagah perkasa in kembali tertaw nyaring, katanya .

"Terima kasih Oh sauhiap !"

Oh Put Kui kembali tertawa.

"Aku tahu, Pak tayhiap selama ini termashur karena berhati baja, tidak pandangbulu adil dan menghadapi setiap persoalan dengan adil dan bijaksana, bolehkah aku tahu kedatanganmu pada hari ini dengan membawa maksud apa ? Ataukah Pak tayhiap pun menganggap pedang Hiam-peng-kiam tersebut memang sudah sepantasnya menjadi milik Sian-Houng-hu ........?"

Pak Cau kun tidak menyangka kalua Oh Put Kui akan mengajukan pertanyaan tersebut untuk beberapa saat dia menjadi tergagu dan mukanya berubah menjadi marah padam.

Untuk beberapa saat lamanya kakek yang bijaksana ini tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Oh Put Kui takut Pak Cau-kun kehilangan muka, maka sambil tertawa kembali ketanya kepada KU Bun-wi .

"Ku sauhiap, tahukah kalian bahwa kedatangan kamu semua utuk minta kembali pedang tersebut dari tangan Leng poocu adalah suatu tindkan yang keliru ?"

Ku Bun-wi tertawa dingin.

"Bocah muda, tampaknya kau memang sengaja hendak mencari gara-gara denganku ?"

"Itu mah tidak, sebab semenjak setengah bulan berselang pedang Hian-peng-kiam tersebut berhasil kurebut dari tangan seorang jago jihay dan kini telah kuhadiahkan pula kepada orang lain !"

"Apa kau bilang ?!"

Seru Ku Bun-wi tertegun.

"Pedang Hian-peng-kiam tersebut telah kuhadiahkan kepada siapa?"

"Soal ini tak usah kau tanya, pokoknya kalu kau menginginkan pedang tersebut, tak salah lagi kalau memintanya dariku .....,"

"Huuuh, kau ini terhitung manusia apa?"

Belum habis KU Bun-wi berbicara, tiba-tiba saja dia melompat bangaun dari kursinya. Kemudian dengan wajah berubah menjadi amat menyeramkan dia menuding Oh Put Kui sambil mengumpat .

"Manusia yang tak tahu diri, kau berhasil melukai akua ..... Umpatan dari KU Bun-wi ini disambut oleh Oh Put Kui dengan wajah tertegun .

"Aku sama sekali tidak menggerakkan Ku bin wi ini disambut oleh Oh Put kui dengan wajah tertergun.

"Aku sama sekali tidak menggerakkan tubuhku, sejak kapan aku telha melukaimu?"

Serunya. Dari dalam mulutnya Ku bun wi mengngeluarkan separuh potong giginya yang patah kemudian berteriak.

"Coba lihat apakah ini bukan hasil perbuatanmu? Aku ......"

Mendadak dia membungkam.

Sebab dia teringat sewaktu sedang mengumpat Oh Put kui tadi, si anak muda itu memang tetap duduk di tempat tanpa bergerak barang sedikitpun jua.

Ini berarti ada orang lain yang telah menyerangnya secara diam -diam.

Tapi siapakah dia?

Setelah berhasil menenangkan diri, mendadak bentaknya keras -keras;

"Leng Siau-thian, sebenarnya kau telah menyembunyikan manusia keledai didalam bentengmu dan berani menyerang diriku secara diam-diam......"

Mendengar perkataan tersebut, Leng Siau-thian tertegun.

"Saudara Ku. Untuk menghadapi kau. Aku leng Siau-thian tidak usah memakai cara seperti ini......."

Dengan jawaban tersebut, KU Bun-wi menjadi tergagap dan tak mampu menjawab lagi. Tapi tak tahan kemudian ia memandang sekejab di sekeliling tempat itu, kemudian umpatnya .

"Bangsa tikus tak bermata manakah yang berani ......"

Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, mendadak seluruh tubuh KU Bun-wi berjungkal dari atas kursinya.

Menyusul suara tertawa aneh bergema memecahkan keheningan diseluruh ruangan tersebut.

Mendengar suara tertawa mana , Oh Put kui segera tertawa.

Sejak ia mendeugar suara tguran dari KU Bun-wi tadi, ia sudah mengetahui siapakah yang telah melakukan perbuatan tersebut.

Semenjak masuk kedalam benteng.

Dia tidak meliahat Put-lo-huang-siu Ban Sik-thong sedang menampakan diri.

Maka dia segra mengarti kalau kakek terebut sedang bermain gila.

Betul juga dugaanya, dia mencari gara-gara dengan Ku Bun-wi.

Bantingan yang menyebabkan KU Ban-wi terjengkal ke atas tanah kali ini benar-benar tidak ringan.

Ku Bun-wi segera merangkak bangun dari atas tanah, kemudian denagn perasaan mendongkol dia mencak-mencak sambil megumpat kalang kabut.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelabat lewat, dari atas sebatang pohon siong melayang turun se sosok bayngan manusia, bayangan itu muncul bagaika malaikat langit turun dari khayangan, setelah menampakan diri maka tampaklah bahwa orang tersebut tak lain adalah Put-lo-huang-siu..

Begitu mencapai permukaan tanah, kakek itu lantas menuding keara KU Bun-wi dan berseru sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Siau-kokoay, jumpalitanmu kali ini kurang menarik .... Bagaimana kalau diulang sekali lagi Tatkala si kakek sedang melayang turun ke atas permukaan tanah tadi, sebenarnya Ku Bun-wi masih mencak-mencak sambil mengumpat kalang kabut dengan gusarnya, bahkan dengan sepenuh tenaga menerkam orang itu seraya melancarkan dua pukulan. Tapi setelah mendengar sebutan "Siau-kokoay"

Tersebut, ia benar-benar meraskan sukmanya serasa melayang meninggalkan rasanya.

Tubuh yang semula masih melncur kedepan sambil melancarkan kedepan sambil melancarkan terkaman, kini merosot turun ke bawah dengan cepat.

Bukan hanya merosot ke bawah saja.

Bahkan begitu mencapai tanah ia lantas menjejak kakinya ke bumi dan melejit kebelakang sejauh beberapa kaki.

Tentu saja ia berbuat demikian karena tak ingin dibikin jumpalitan sekali lagi.

"Put-lo-huang-siu kah disitu....."

Suara teguran dari Ku bun-wi kedengaran setengah parau.

Ia berdiri sejauh dua kaki lebih dari posisi semula dan mengawasi Put-lo huang siu dengan pandangan termangu-mangu "Bagaimana ?

sudah tidak kenal lagi dengan diriku?"

Tegur Put-lo-huang-siu sambil tertawa.

"Terhadap kau orang tua, masa boanpwe bisa tidak mengenali ?"

Sahut Ku Bun-wi dengan alis mata berkenyit.

"Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., kalau toh kenal, mengapa masih berani mencaci maki ?"

"Tadinya boanpwe tidak tahu kalau kau orang tua yang datang!"

Suara Ku Bun-Wi kedengaran jauh lebih lirih.

"Kau benar benar tidak tahu ?"

Agaknya Ku Bun-wi cukup mengenali tabiat dari si orang tua ini, kalau tidakbiarpun boanpwe punya nyali setinggi langit pun takkan berani bersikap kurang ajar kepadamu ....."

Memandang paras muka Ku Bun-wi yang begitu mengenaskan, mendadak Pui-lo-huang siu tertawa terbahak-bahak,katanya kemudian .

"Siau-kukoay, aku hanya menggodamu saja, sana, pulanglah ke tempat dudukmu semula"

Seusai berkata, dengan langkah lebar dia berjalan ke kursi utama dan duduk tanpa sungkan-sungkan, setelah itu ujarnya kepada Oh Put Kui sambil tertawa .

"Hei anak muda, kau benar-benar kelewajumawa!"

"ban tua"

On Put Kui tertawa.

"bagi boat anpwee, semakin jumawa orang yang kujumpai. Aku pun bersikap lebih jumawa lagi"

"Benar! Benar! Cara ini memang paling manjur kalau digunakan untuk menghadapi mereka yang jumawa, tempo hari justru dengan kubikin Thian-tok-siang ciat setengah mati saking mendongkolnya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba sapanya pula kepada Legn Siau-thian.

"Leng Siau-thian baru maju kedepan untuk memberi hormat, sahutnya .

"Berkat doa restu kau orang tua, aku selalu berada dalam keadaan sehat wal'afiat."

Put lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh.......... Kau memang jujur. Wahai Leng Siau thian, bila aku tidak datang saat ini, benteng yang kau sebut sebagai Bu-lim-tit-it-poo ini pasti tak akan berada dalam keadaan aman tentram lagi."

Leng Siau-thian tertawa jengah.

"Yaa, kesemuanya ini memang berkat kasih sayang kau orang tua terhadap boanpwe."

Put-lo-huang siu segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh...... tidak usah, sekarang Lohu sudah mempunyai pengganti !"

Leng Siau thian tertegun, sebelum ia mengucapkan sesuatu, kakek itu sudah menuding kearah Oh Put Kui sambil berkatalagi .

"Segala sesuatunya akan diselenggarakan oleh anak muda itu, tak usah kuatir."

"Ooh, rupanya kau orang tua hendak melepaskan diri dari sampur tangan persoalan ini ?"

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh...... tepat, tepat sekali ! Dengan kehadiran Oh Put Kui si bocah ini, aku boleh berpeluk tangan belaka dengan hati lega, coba lihatlah, bukankah si anak muda tersebut jauh lebih jumawa ketimbang akua ?"

oodwoo

Jilid 20

"OH LOTE ADALAH SEORANG jago muda yang berbakat hebat, biarpun jumawa tidak berarti kurang sedap di pandang."

"Betul, hei anak muda, sudah kau dengar itu ? Leng Siau-thian mengatakan kejumawaanmu itu amat menawan hati ! Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ..... anak muda, nampaknya aku memang tak salah memilih orang !"

Oh Put Kui segera tertaw hambar.

"kau orang tua jangan kelewat awal mengutarakan kata-kata semacam itu, ketahuilah tidak sedikit penyakit yang boanpwee miliki ......!"

Put-lo-huong-siu segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Hanya manusia yang punya penyakit barulah memiliki watak, anak muda, aku tak bakal menyesal !"

Dari perkataan tersebut, seakan akan dia sudah menegaskan kalau Oh Put Kui sudah pasti akan menjadi penggantinya. Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Locianpwee, kau anggap boanpwee benar-benar akan menjadi penggatimu ?"

"Siapa sih yang sedang bergurau denganmu ?"

Put lo-huang-siu menedlik besar.

"Tapi, tidaklah kau orang tua bertanya kepada boanpwee, bersedia, bersedia ataukah tidak."

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., buat apa mesti ditanyakan lagi? Bagi kau si orang muda, apakah hal ini bukan berarti pucuk dicinta ulam tiba ?"

Mendadak Oh Put Kui mendongakan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Ban tua anggapanmu itu keliru besar."

"Kenapa?"

Put-lo-huang-siu tertegun.

"Jadi kan benar-benar tidak bersedia?"

"Memang begitulah maksudku!"

Mendadak Put-lo-huang-siu melompat bangun dan melejit kehadapan Oh Put Kui, kemudian jeritnya.

"Kau berani ?"

"Mengapa boanpwee tidak berani ?"

"Kau tidak takut lohu akan memunahkan semua kepandaian silat yan kau miliki ?"

Put lo-huang-siu mencoba untuk mengertak. Oh Put Kui tertawa hambar.

"Boanpwee toh tidka menyusahi dirimu, mengapa kau orang tua hendak memusnahkan ilmu silat yang boanpwee miliki ?"

"Jika kau tidak menyanggupi permintaan lohu, ini berarti kalau telah menyalahi diriku, hei anak muda, kau jangan anggap setelah mempunyai dua orang tulang punggung maka bisa berbuat semaunya sendiri. Ketahuilah akupun sama saja tak sungkan-sungkan terhadp tay-gi maupun Thian-liong !"

Oh Put Kui tertawa.

"Boanpwee sudah tahu, guruku dan susiok memang seringkali menyinggung tentang dirimu."

Perkataan ini benar-benar menimbulkan perasaan gembira bagi Put-lo-Huang-siu.

Jelaslah sudah, biarpun diluarnya Put-lo Huang-siu Mengatakan akan bersikap begini begitu terhadap Tay-gi sangjin serta Tiang-liong sanjin, padahal dia merasa kagum dan hormat sekali terhadap ke dua orang tokoh persilatan tersebut.

Pelan-pelan paras muka kakek itu berubah menjadi lunak kembali, katanya kemudian sambil tertawa .

"Biarpun mereka sering menyinggung tentang diriku dihadapanmu ...."

"Suhu dan susiok bukan Cuma seringkali menyinggung tentang kau orangtua dihadapan boanpwee, bahkan berpesan kepada boanpwee agar didalam tindak-tandukku dimasa depan harus banyak belajar dari kau oarang tua."

"Sungguhkah itu ?"

Si kakek bertambah gembira "Wah anak muda, gurumu memang cukup memahami perasaanku."

Dalam hati kecilnya Oh Put Kui meras geli, tapi di luar dia berkata lagi .

Guru boanpwee pernah hilang, kau adalah seorang tua yang tak suka mengikuti peraturan dan adat istiadat, setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan tak pernah melanggar kebesaran dan ajaran Thian, pada hakekatnya kau merupakan seorang tokoh berhati mulia."

Mendadak Put-lo-huang-siu tertawa.

"Bocah muda, gurumu melukiskan diriku keliwat baik!"

"Ban tua, apakah kau pernah melakukan perbuatan yang melanggar ajaran Thian ?"

Tiba-tiba pemuda itu bertanya. Cepat-cepat Put-lo-hiang siu menggelang.

"Tentu saja tidak pernah, sejak dilahirkan didunia ini, belum pernah kulukai seorang manusia pun !"

Mendengar perkataan mana, Oh Put Kui segera ikut menggelengkan kepalanya .

"Sewaktu berada di loteng kecil tempo hari, bukankah kau pernah bilang selama terkurung disitu maka kau membunuh orang untuk mengisi waktu tenggang? Mengapa kau mengatakan tak pernah membunuh orang semasa hidupnya ?"

Merah jengah se ember wajah Put lo-huang-siu, katanya kemudian sambil tertawa .

"Anak muda, terus terang sajakau bilang, tempo hari aku hanya mengibul !"

"Mengibul ? jadi kau benra-benar tak pernah membunuh orang?"

"Selama ini aku Cuma menakut-nakuti orang lain saja, biar[un menghadapi manusia bengis berhati kejipun, paling bater aku hanya menusnahkan ilmu silatnya saja!"

Mendadak Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Ban tua, apakah boanpwee termasuk seorang manusia bengis keji ?"

Cepat-cepat Put-lo-hiang-siu menggeleng.

"Tentu saja bukan, masa kau manusia bengis berhati keji ....?"

"Nah, itulah dia, kalau toh memang begitu apa sebabnya kau hendak memusnahkan ilmu silatku ?"

"Soal ini ... dengan memerah kakek itu tertawa jengah.

"Aku Cuma ingin menggertakmu !"

"Untung aku tidak takut digertak, coba tidak, bukankah bida berabe jadinya?"

Put-lo-hiang-siu menghela napas panjang.

"Aaaai... betul juga, kau si anak muda memang tidak samapai kena digertak, tampaknya aku bakal menggung kecewa !"

"Kau orang tua tak perlu kecewa, asal kau ingin meminta bantuanku, sudah pasti akan kulaksanakan perintahmu tersebut!"

"Sungguh ?"

Teriak kakek ituamat girang.

"Selamanya apa yang telah kuucapakan tentu kulaksanakan dengan sungguh-sungguh! "Aaaai ..."

Kembali kakek itu menghela napas panjang.

"anak muda, kalau kau megatakan hal ini sadari tadi, bukankah sudah beres ? Bikin aku merasa kuatir saja ..."

Berbicara sampai disitu, dia lantas melompat balik ke kursinya dan duduk kembali. Oh Put Kui tertawa geli di hatio, pikirnya .

"Sikakek ini benar-benar, lucu dan menawan hati ..."

Biarpun demikian, ia toh menyahut juga .

"Ban tua, sekarang perintah apa yang hendak kau sampaikan kepadku?"

Sambil memejamkan matanya rapat-rapat, Put-lo-huang-siu berkata .

"hei anak muda, hari ini akan kusuruh kau laksanakan permintaanku yang pertama!"

"Katakanlah!"

"Bereskan kesulitan yang sedang dialami Leng-Siau Thian!"

"Tak usah disuruhpun aku juga akan berbuat demikian,"

Batin Oh Put Kui. Namun shutnya juga .

"Aku turut perintah!"

Waktu itu Leng Siauw-yhian sudah balik kembali ketempat semula, mendengar perkataan itu buru-buru dia bangkit berdir sembari ujarnya .

"Aaaah, mana boleh jadi, lebih baik biar aku sendiri yang merundingkan persoalan tersebut dengan sandara Ku!"

Mendadak Oh Put Kui berkata sambil tertawa .

"Leng tua, pedang Hian-peng-kiam tersebut telah kuhadiahkan kepada putri dan menantumu sebagai hadiah perkawinan mereka, tapi sekarang muncul segelincir manusia yang ingin merampas pedang tersebut, sewajarnya kalu akupula yang tampilkan diri untuk menyelesaikan masalah tersebut."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpaling kearah KU Bun-wi sekalian berlima sembari berkata .

"Bukankah kedatangan kalian berlima untuk mendapatkan pedang ini ? Aku bersedia untuk menyelesaikan maslah ini dengan kalian ...."

Menghadapi keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya ini, Ku Bun-wi sudah mempunyai rencana untuk mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Dia tahu, dengan kepandaian yang dimiliki mereka berlima, tak nanti bisa menandingi kehebatan dari Put-lo-huang-siu.

Sekalipun demikian, dia enggan menunjukkan kelemahannya dihadapan Oh Put Kui, mendengar ucapan mana, katanya sambil tertawa hambar .

"Apabila kau ingin melibatkan diri dalam kasus ini, terpaksa aku harus menyalahi dirimu."

Mendadak dia memandang sekejab kearah Put-lo-huang-siu, kemudian melanjutkan .

"Cuma saja, memandang diatas wajah emas dari Ban tua, hari ini kita sudahi masalah tersebut samapai disini!"

Tampaknya saja dia seperti bersedia mengalah, tapi tak sudi memberi muka untuk Oh Put Kui.

"Ku tayhiap, apa maksud perkataanmu itu""

Desak Oh Put Kui tiba-tiba. Ku Bun-wi tertawa dingin.

"Selewatnya hari ini, dimana kita bersua di situ kita selesaikan perselisihan perselisihan kita ini."

Mendengar perkataan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak .

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalian takut ban Locianpwee melibatkan diri didalam persoalan ini sehingga lebih suka mengundurkan diri saja dari sini?"

Ku-Bun-wi tertawa dingin pula .

"Justru karena kami menghormati Ban Locianpwee !"

Belum selesai Ku Bun-wi berkata, Put-lo-huang-siu sudah tertawa terbagak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Siau-kukoay, aku akan mencampuri urusan kalian semua, apapun yangkalian suka lakuakan, silahkan saja melakukannya, tak usah kuatir aku akan mencampuri urursan ini!"

Oh Put Kui juga berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak .

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kecuali kalian semua tidak akan menyinggung lagi masalah pedang Hian-peng-kiam tersebut, kalau tidak semua perselisihan bersedia kuselesaikan pada hari ini juga!"

Ku Bun-wi berkerut kening, lalu katanya ketus .

"Tampaknya kau tak ingin melepaskan kami semua meninggalkan tempat ini ?"

"Aku hanya berharap semua masalah dapat dijelaskan sehingga duduknya perkara menjadi terang."

"Majikanmuda kami bertekad hendak mendapatkan pedang Hian Peng Kiam tersebut!"

Ujar Ku Bun-wi kemudian samabil tertawa dingin.

"Sungguhkah itu?"

"Aku pun tidak terhitung seorang manusia yang suka berbicara mencla-mencle, lihat saja nanti !"

"Aku tak akan menunggu sampai nanti, sekarang juga persoalannya akan kubikin jelas !"

"Bagaimana caranya untuk bikin jelas ?"

Tanya Ku Bun-wi agak tertegun.

"kau hendak menyuruh aku mengakui apa? Tak bakal ku kabulkan permintaan itu."

"Tidak megabulkan poun harus dikabulkan juga!"

Tukas Oh Put Kui sambil tertawa dingin.

oOdwOooOdwOooOdwOooo Bebera kata dari Oh Put Kui ini diutarakan dengan nada yang amat ketus.

Seolah-olah dia menganggap bagaimanpun jua, si panji sakti perenggut Nyawa Ku Bun-wi pasti akan menyanggupi permintaannya ini.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku Bun-wi, dengan gusar teriaknya .

"Jika aku tak akan mengabulkan, mau apa kau?"

Oh Put Kui seger tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalau begitu terpaksa kalian akan kutahan disini samapi kau berlima menyanggupi permintaan itu."

Kontan saja Ku Bun-wi melotot besar, sedangkan Hakim sakti hitam putih Pak Cau Kun melotot marah, rambut dan cambangnya pada berdiri tegak semua bagaikan landak.

"Bocah ingusan yang masih bau tetek, kau berani amat ngebacot yang bukan-bukan !"

"Jika kau tidak percaya, mengapa tidak di coba saja ?"

Hek-pek-sin-poan Pak Cau-kun terhitung seorang lelaki berhati keras yangtak pernah tunduk pada siapapun, selama tiga puluh tahun ini dia tak pernah mau bersikap lunak kepada oranglain.

Entah beberapa banyak manusia jumawa yang telah disikat olehnya.

Maka dari itu, begitu Oh Put Kui menyelesaikan kata-katanya, ia segera bangkit berdiri, kemudian serunya sambil tertawa dingin .

"Aku justru tidak percaya !"

Sambil berkata, dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan ...... Oh Put Kui tertawa dingin, secepat sambaran kilat dia menyelinap kedepan.

"Sebelum kau memberikan janjian, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini barang selangkahpun !"

Serunya. Tahu-tahu dia sudah menghadang dihadangan Hek-pek-sin-poan Pak Cau-kun. Hek-pek-sin-poan Pak Cau-kun mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalau kau mah belum pantas, ayo cepat enyah dari sini!"

Sebuah pukulan segera dilontarkan keatas Oh Put Kui. Oh Put Kui sama sekali tidak bergerak dari posisinyasemula, katanya sambil tertawa dingin .

"Kecuali kau annggap untuk membunuh aku dalam sekali pukulan saja, kalau tidak, kau harus tetap tinggal disisni !"

"Bluukkk ..... !"

Pukulan tersebut benar-benar bersarang telak ditubuhnya, tapi serangan tersebut sama sekali tidak memberikan hasil apa-apa.

Oh Put Kui masih tetap berdiri tegak seperti bukit karang.

Sebaliknya Hek-pek-sin-poan Pak Cau Kun justru memperlihatkan rasa terkejut dan tercengangnya yang luar biasa.

Jangan-jangan sianak muda ini berotot kawat tulangbesi ?

Klau tidak, mengapa serangannya tidak mempan sama sekali ?

Padahal Pak Cau kun cukup mengetahui daya kekuatan dari serangan sendiri, biarpun baja yang keras pun pasti akan terhajar menajdi tujuh pasti akan terhajar menjadi tujuh delapan bagaian oleh tenaga pukulannya yang maha dahsyat tersebut ......

Menyaksikan sikap Hek-pek-sin poan Pak Cau Kun yang berdiri melongo seperti orang bodoh itu, Oh Put Kui segera berkata sambil tertawa .

"Serangan yang kau lakukan ternyata tidak mampu membodohkan aku, lebih baik kau pulang dan duduk kembali!"

Hekpen-sin poan tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata lagi .

"Sungguh ,... sngguh suat kejadian yang aneh ...."

"Kau tak usah keheranan, sejak kecil aku sudah hidup bersama binatang buas, jadi akupun sudah terlatih ilmu kebal, yang mampu manahan serangan lawan, pukulanmu tadi sih belum berarti apa-apa bagi dirku!"

Hek-pek-poan Pak Cau Kun menggelangkan kepalanya berulang kali sambil tertawa dingn .

"Aku tidak percaya, aku tidak percaya..."

"Kalau tidak percaya, mengapa tidak mencoba sekali lagi?"

"betul! Aku memang justru akan mencoba sekali lagi...."

Begitu selesai berkata, sebuah pukulan kembali dilontarkan ke depan.

Dalam serangan yang dilancarkan olehnya kali ini, dia telah sertakan tenaga sebesar dua belas bagian.

Diam-diam Pak Cau Kun berpikir .

"Biarpun kau si bocah berotot kawat tulang besi, sembilan puluh persen tak akan dengan menyambut seranganku ini keras lawan keras."

Didalam waktu singkat tepi telapak tangannya telah menyentuh bahu kanan Oh Put Kui.

Mendadak .....

Hek-pek-sin-poan membentak gusar, tubuhnya melompat mundur ke belakang dengan sangat cepat.

Mundurnya kalai mencapai jarak sejah dua kali lebih.

"Kau....kau... kepandaian silat apakah itu?"

Seru Pak Cau Kun tertegun.

Serangan yang dilancarkan dengan tenaga sebesar dua belas bagaian itu ternyata barhasil dipunahkan oleh Oh Put Kui sehingga hilang lenyap tak berbekas.

Bukan begitu saja.

Lamat-lamat dia merasakan badannya sehingga nyaris terbang ke angkasa, coba kalau tenaga dalam yang dimilikinya tidak terlalu tinggi, sudah pasti kerugian yang dideritanya akan semakin bertambah besar.

Sambil tertawa hambar Oh Put Kui berkata .

"Sekarang kau tentunya sudah percaya bukan?"

"Tidak, aku tetap tidak percaya !"

Seru Hek-pek-sin-poan dengan mata melotot dan teramat gusar.

Manusia ini betul-betul keras kepala, mendadak dari balik jubag panjangnya dia mencabut keluar sebatang pena emas yang panjangnya beberapa depan.

Kemudian sambil tertawa dingin dia maju kearah Oh Put Kui dengan langkah lebar.

Melihat itu, sambil tertawa Oh Put Kui berkata .

"Saudara disebut si pena sakti. Itu berarti kepandaian silatmu dalam permainan poan koan pit pasti hebat, aku bersedia mencoba kelihayan ilmu silatmu dengan tangan kosong!"

Sikap dari si anak muda ini ternyata lebih keras kepala lagi.

Sekalipun musuh yang dihadapinya adlah seorang jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan,namun dia tak bersedia mengahadapinya dengan mempergunakan senjta tajam.

Saking mendongkolnya Hek-pek-siu-poan Pak Cau Kun sampai melotot besar landak, bentaknya dengan marah .

"Bocah keparat, kau tak usah takabur!"

Secepat kilat pena emasnya diayunkan kedepan dan mengurung lima buah jalan darah penting didepan dada Oh Put Kui.

Oh Put Kui tertawa hamabar, menddak kelima jari tangannya dipentangkan lebar-lebar, kemudian sambil mengerahkan ilmu Hun kong-cho-im (memisah cahaya menangkap bayangan ) dia cengkeram pena ems la.

Hek-pek-siu-poan sangat terperanjat, tiba-tiba pena emasnya ditekan kearah bawah.

Ditengah gelak tertawa Oh Put Kui yang amat nyaring, mendadak Pak Cau Kun kehilangan bayangan tubuh lawannya.

Kenyataan tersebut tentu saja disambut Hek-pek-siu-poan Pak Cau Kun dengan perasaan amat terperanjat.

"Aaah. Ilmu langkah Tay-siu Huan-ipoh!"

Pekiknya dihati.

Namun gerakan tubuhnya sama sekali tidk berhenti, secepat kilat dia memutar badannya kemudian penanya disodok kedepan dengan cepat.

Didalam perkiraannya, kali ini Oh Put Kui psti mengandalkan ilmu langkah tay Siu-huan im-poh nya untuk menyelinap kebelakang tubuhnya, maka sewaktu membalikkan badan, pena emasnya kembali disodokkan ke muka.

Siapa tah ketika badannya berputar sambil melancarkan serangan tadi, dari belakang tubuhnya kembali bergema suara tertaw ringan dari Oh Put Kui telah balik kembali ke posisinya semuala.

Dengan perasaan terkesiap Hek-pek-siu-poan berseru .

"Apa hubunganmu dengan Mi-sim-kui-to (sitosu setan pembingung hati) "Sahabat!"

Sahut Oh Put Kui tersenyum. Hek-pek-siu-poan segera mneunjukan sikap sama sekali tidak percaya, serunya cepat .

"Kau tidak terlalu jujur!"

Nada suara dari Pak Cau Kun saat ini sama sekali telah berubah, kesombongannya sudah bekurang separuhnya. Sambil tertawa Oh Put Kui segera berkata .

"Tampaknya kau tidak mau percaya engan begitu saja terhadap setiap masalah yang dijumapai, apapun yang dikatakan lawan, aku tetap akan mempercayainya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba ia menarik wajahnya seraya berkata lagi .

"Kedudukan Pak Tayhiap dalam dunia persilatan cukup bersih, aku benar-benar tak tega untuk memberi kejelakan yang kulewat batas kepdamu apabila Pak tayhiap masih mendesak terus, terpaksa aku harus melakukan yang lebih kasar, tapi bila kua tahu harap Pak Tayhiap jangan marah."

Nada suara dari Oh Put Kui pun turut berubah menjadi jauh lebih sungkan.

Tapi nada suaranya masih tetap membikin hari orang puas dan tidak tahan.

Sesudah tertegun beberapa saat lamanya.

Hek-pek-siu-poan baru berkata .

"Mau apa kau? Masa aku takut kepadamu ?"

"Kalau begitu Pak Tayhiap tak sudi kembali ke tempat duduk semula ....?"

Kata Oh Put Kui sambil tertawa dingin. Oh Put Kui segera terbahak-bahak .

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., sekalipun aku seorang manusi rudhiu , namun belum sampai sehina itu derajatku sehingga mesti menjadi seorang kuli pemikul tandu !"

"Belum habis di berkata, mendadak telinganya menangkap suara bisikan dari Put-lo-huang-siu Ban Sik-tong yang berkata dengan ilmu menyampaikan suara .

"Bocah muda, bekuk saja orang tua itu dan kembalikan kebangkannya!"

Oh Put Kui menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan tersebut, segera pikirnya.

"Memangnya pekerjaan yang gampang untuk mencengkeramnya dan di kembalikan kebangku semula?"

Dia cukup sadar, tenaga dalam yang dimilikinya masih belum mencapai ketingkatan yang sedemikian tingginya itu.

Sementara dia masih berpikir dengan sangsi terdengar suara bisikan dari kakek itu berkumandang lagi .

"Hey anak muda, mengapa kau tidak mencobanya?"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Oh Put Kui, dia tahu sudah pasti Put-lo-huang-siu telah bersedia membantunya secara diam-diam.

Sorot matanya segera dialihkan kembali ke arena, baru saja dia hendak berbicara ....

Tiba tiba Hek pek sin-poan (hakim sakti hitam putih) telah berkata lagi .

"Hey bocah keparat, kalau toh kau enggan menggotong kembali aku ke tempat semula, aku pun bersumpah tak akan balik sendiri ke situ ...."

"Bagus sekali,"

Pikir Oh Put Kui segera.

"Kau telah memberi kesempatan kepadaku untuk dapat berbicara lagi."

Maka sambil tertawa hambar katanya .

"Tampaknya saudara benra-benar keras kepala dan kolot!"

Seusai berkata, Oh Put Kui melayangkan pandangan matanya dengan sinar tajam, kemudian bentaknya keras-keras .

"Silahkan saudara kembali ke tempat duduk sendiri!"

Sepasang tangannya digetarkan bersama kemuka, kesepuluh jari tangannya dari jarak beberapa kaki segera dilakukan tiga kali segerakan mencengkeram ke tubuh si Hakim saksi hitam putih Pak Kun-jau tersebut.....

Pak Kun-jiau tertawa tergelak .

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., bocah keparat, kepandaian silat yang kau miliki itu masih belum cukup tangguh untuk memindahkan aku ...."

Tapi sebelum perkataan itu selesai diutarakan, dia sudh membungkam dalam seribu bahasa.

Sebab pada saat itu Pak Kun-Jiau telah menjumpai tubuhnya sudah meninggalkan permukaan tanah setinggi tiga depan lebih dan melayang kedepan.

Sekuat dia berusaha untuk meronta dan melepaskan diri dari pengaruh cengkeman tersebut, namun sayang usahanya itu sama sekali tidak memberikan hsil apa-apa, tubuhnya tetap melayang kedepan dan kembali ke bangkunya semua.

Setelah lawannya di kirim balik ke kursi semuala, Oh Put Kui baru menurunkan kembali tangannya dan berkata sambil tertawa hambar .

"Nah saudara, coba kau lihat bagaimanakah kemampuanku ini...,"

Hakim sakti hitam ptih Pak kun-jai seger terbungkam dalam seribu bahasa .

Sudah jelas si kakek yang keras kepala ini sudah dibikin jengkel sampai hampir semaput rasanya.

Si pengemis sinting yang duduk disampingnya kontan saja menggelengkan kepalanya sambil tertawa tergelak .

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., lote, wahai loteku, jangan bicara terus menerus, tahukah kau bahwa Pak Tayhiap sudah hampir semaput lantaran dongkolnya ....?"

"Lok loko, Jangan salahkan aku, siapa suruh dia tak tahu diri dan mencari penyakit buat diri sendiri...."

Kata Oh Put Kui sambil menggelangkan kepalannya dan menghela napas.

"Lote, aku rasa kau pun kelewat batas dengan seranganmu itu."

"Aaaah, apakah lok lote merasa kasihan kepadanya?"

Kata Oh Put Kui sambil tertawa.

"Aku si pengemis memang selamanya berbelas kasihan kepada siapa saja, tapi lote... aku kan tidak berbelas kasihan kepada Pak Kun-jiau, aku Cuma meras tua bangkotan tersebut mengenaskan sekali dan patut dikasihani."

Oh Put Kui tertawa hambar. Ia tidak menggubris si pengemis sinting lagi, sambil berpaling kearah KU Bun-wi, katanya kemudian .

"ku congkau-lian, bagaimana dengan persoalan pedang Hian-peng-kiam tersebut ?"

Panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi mengerutkan dahinya, dia memandang sekejab kearah pedang setan baju merah Suma Hian serta dua orang berpedang lainnya, lalu sambil tertawa katanya .

"Aku tahu lote memiliki ilmu silat yang luar biasa semestinya aku harus memenuhi janji ...."

"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu."

Tapi secara tiba-tiba si panji sakti pencabut nyawa menggelengkan kepalanya lagi sambil berkata .

Hanya saja, perintah dari atasan kami sukar dibantah, oleh sebab itulah kami pun sulit untuk memenuhi janji tersebut !"

"Jadi kalian ber empat mempunyai jalan pemikiran yang sama seperti Pak tayhiap?"

Tanya Oh Put Kui pelan sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Sikapnya yang sombong dan tinggi hati ini pada hakekatnya seperti tak memandang sebelah mata pun terhadap Ku Bun-wi sekalian.

Sementara itu Leng Cui-cui sudah meras kan hatinya berdebar keras, keringat dingin bercucuran keluar membasahai seluruh tubuhny, ia benar benrta merasa kuatir sekali.

Sebab dia tahu ke empat orang itu memiliki kepandaian silat yang amat hebat, bahkan ayahnya pun hanya bisa bertarung seimbang bila seorang melawa seorang.

Namun kenyataannya sekarang, disaat Oh Put Kui jelas tahu kalau pihak lawan sengaja mencari gara-gara dengannya, ia justru memejamkan matanya rapat-rapat, bukankah tindakan ini jelas sudah melanggar pantangan terbesar bagi seorang umat persilatan ?

Betul juga apa yang dia duga, baru saja Oh Put Kui memejamkan matanya rapat-rapat, empat sosok bayangan manusia sudah menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Ku Bun-wi, Suma Hian, Hui Bong Ki dan The Tay hong serentak menyerbu ke muka, delapan buah telapak tangan mereka bagaikan segulung dinding angin pukulan langsung mengurung seluruh tubuh Oh Put Kui rapat-rapat.

Pada saat itu pula Oh Put Kui membuka matanya lebar-lebar.

Dia segera tertawa seram, kemudian tubuhnya melejit ketengah udara dengan kecepatan tinggi.

Kembali leng Cui-cui menjerit kaget."

Oh kungcu, kau ...."

Dia telah melihat bahwa tindakan Oh Put Kui yang melejit ketengah udara itu lagi-lagi merupakan suatu pelanggaran yang besar sekali ....

Sandainya empat orang musuhnya menyerang bersama secara ganas.

Bukankah Oh Put Kui akan mengalami kesulitan untuk menghindarkan diri?

Oleh sbab itulah dia menjerit saking kagetnya.

Tapi kenyataannya sama sekali tidak sejelek apa yang dibayangkan semula.

Baru saja Oh Put Kui melejit ketengah udara, keempat orang itu benar-benar membalikkan telapak tangannya sambil melepaskan serangan bersama.

Tapi kenyataannya Oh Put Kui telah bertindak jauh lebih pintar dari pada musuh-musuhnya itu.

Disaat keempat gulung angin pukulan itu dilontarkan kepadanya, secepat sambaran anak panah dia meluncur kembali ke atas permukaan tanah.

Dengan tindakan yang diambil olehnya itu, secara otomatis angin pukulan yang di lontarkan keempat orang itupun mengenai sasaran yang kosong.

Bukan Cuma begitu, berhubung sepasang tangan keempat orang itu sedang diayunkan keatas, dengan sndirinya pertahanan pada bagian dadanya menjadi sama sekali terbuka.

Begitu turun kembali keatas permukaan tanah.

Oh Put Kui segera tertawa keras.

Ditengah gelak tertawa yang amat keras itulah, secepat kilat dia berputar satu lingkaran didepan keempat orang itu."

Plaaaakk ..........plaaaakk.......... plaaaakk...."

Terdengar tiga kali suara benturan yang amat nyaring.

Tahu-tahu masing-masing orang sudah termakan oleh sebuah pukulan.

Namun saja, biarpun suara benturan itu kedengarannya sangat nyaring, sesungguhnya kekuatan yang dipergunakan amat lemah.

Oleh sebab itulah kendatipun setiap serangan bersarang telak diatas bagian yang mematikan diatas dada mereka, namun bagi keempat orang jago lihay tersbut, keadaan itu Cuma menimbulkan sedikit rasa sakit saja, bagaikan anak kecil yang memukul nyamuk diatas tubuh mereka ...,.

"Aaaah, Oh kongcu! Kau memang benar-benar sangat hebat...."

Tanpa sadar Leng Cui-cui berseru memuji.

Oh Put Kui segera berpaling dan melemparkan sebuah senyuman kearahnya Jangan dilihat senyuman tersebut hanya senyuman bias, namun bagi pandangan Leng Cui-cui yang menaruh hati kepada lawan, senyuman tersebut bagaikan runtuhnya sebuah bukit karang, sangat menggetarkan perasaan hatinya.

Kontan saja selembar pipinya berubah menjadi merah padam karena jengah .....

Sementara itu jantungnya turut berdebar keras, mukanya teras merah dan kepalanya tertunduk rendah-rendah .....

Namun dia toh tak tahan sempat melirik sekejap ke arah pemuda itu dengan pandangan penuh perasaan cinta.

Sayang sekali Oh Put Kui tak sampai lagi memperhatikan kadaan tersebut, sebab keempat lawannya telah menyerang lagi secara ganas dan membabi buta.

Biarpun Oh Put Kui hanya menepuk dada mereka secra pelan dengan maksud untuk menggertak mereka.

Agar orang-orang itu tahu diri dna segera mengundurkan diri.

Namun kejadian ini diterima oleh keempat orang tersebut sebagai suatu penghinaan yang amat besar, jauh lebih nista dari pada membinaskan mereka sekaligus.

Itulah sebabnya didalam keadaan gusar dan malunya, mereka jadi nekad dan segera menyerang dengan cara beradu jiwa.

Agaknya Oh Put Kui pun sudah menduga bakal terjadi akibat seperti ini, oleh sebab itu disaat empat musuhnya menyerang secara membabi buta, dia justru menghadapi mereka secara tenang dan santai.

Dengan mengandalkan ilmu gerakan tubuh Tay-siu-huan-im-poh, seperti setan gentayangan saja tubuhnya bergerak kian kemari, sebentar kedepan sebentar ke belakang, dia selalu berkelabatan di antara serangan-serangan empat lawannya.

Melihat seperti apa yang diharapkan, Suma Hian segera bekaok kaok penuh kegusaran.

Si pedang latah irama guntur The tay-hong juga melototkan sepasang matanya yag ber api-api sambil berteriak seperti orang gila.

Sayangnya biarpun mereka berkaok-kaok dengan suara yang keras, jangan lagi merobohkan lawannya, untuk menjawil ujung baju dari Oh Put kui pun tak pernah berhasil.

Sehingga kurang tepatlah kalau dikatakan pertaruhkan tersebut merupakan suatu pertarungan adu jiwa yang mempertaruhkan mati dan hidup mereka.

Pada hakekatnya keadaan tersebut lebih mirip dengan Oh Put Kui yang memipin ke empat orang itu untuk bermain petak dan berlarian kian kemari.

Pengemis sinting tak bisa menahan diri lagi, akhirnya dia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh......haaahhh...... haaahhh...... lote, nampaknya kau sedang melihat monyet bermain akrobat ? Kali ini, aku si pengemis tua benar. The Tay hong dikenal orang sebagai si pedang latah irama guntur, sudah barang tentu dia memiliki kekuatan yang luar biasa dilancarkan segera terasa deruan angin dan guntur yang sangat memekikkan telinga. Oh put kui yang menjumpai keadaan tersebut tertawa terbahak-bahak .

"Haaahh... haaahhh... haaahhh.... Suatu permainan ilmu pedang yang sangat hebat, tidak malu disebut sebagai pedang latah irama guntur!"

Dalam pembicaraan tersebut, Oh Put kui telah menghindarkan diri dari serangan pedang The Tay hong itu.

Sementara itu Mi-ih-mo-kiam Suma Hiang telah meloloskan pula pedang andalannya.

Serangan gencar yang kemudian dilancarkan oleh kedua bilah pedang tersebut tak ....

Benar terbuka sepasang mataku, ternyata ke empat pengawal pedang dari Ceng-thian-kui-ong tidak lebih hanya sekawanan monyet yang pandai bermain akrobatik saja..."

Ejekan dari si pengemis sinting ini kontan saja membuat Ku Bun-wi berempat murka, ia makin kehilangan muka.

-oOdwOo0dw0oOdwOo-Mendadak terdengar pedang latah irama guntur The Tay-hong membentak keras.

"Bocah keparat, aku akan beradu jiwa denganmu!"

Dengan cepat dia memutar tangan kanannya, kemudian meloloskan pedangnya.

Cahaya emas segera memancar ke empat penjuru, secara beruntun lima buah serangan berantai telah dilancarkan, bisa dibandingkan dengan enteng dan ringannya serangan pukulan tadi.

Di dalam keadaan seperti ini, jangan harap Oh Put Kui bisa melayani datangnya semua ancaman tersebut dengan mengandalkan ilmu langkah Tay-siu-huan-im-poh saja.

Selain desingan angin pedang yang menderu-deru dan amat menyayat badan, diapun harus waspada untuk menghadapi serangan-serangan gencar dari Ku Ban-wi dan Hu Bong-ki dengan pukulan tangan kosongnya...

Satu ingatan segera melintas dalam benak Oh Put Kui, tiba-tiba dia berpekik nyaring lalu tubuh nya meluncur keluar dari arena Si pedang latah irama guntur The tay-hong mengira Oh Pot K"i hendak berusaha untuk melarikan diri, ia segera membentak keras.

"Pingin kabur? Jangan bermimpi di liang hari bolong bocah keparat."

Bagaikan seekor burung elang dia segera melejit ke tengah udara dan langsung mengejar kearah Oh Put Kui.

Biarpun gerakan tubuh Oh Put Kui sangat cepat, pengejaran yang dilakukan olehnyapun tidak terhitung lambat.

Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Oh Put Kui sebenarnya tidak bermaksud untuk melarikan diri.

Apa yang dilakukan pemuda tersebut tak lebih hanya mengulurkan tangannya mengambil sesuatu dari atas kursi yang semula di dudukinya.

Selain itu, diapun segera membalikkan badannya sambil menubruk kembali.

Dengan tindakan yang dilakukan olehnya itu, berarti dia saling bertemu dengan si pedang latah irama guntur The Tay Hong.

Hanya kali ini, didalam genggaman Oh Put Kui telah bertambah dengan sebilah pedang berkarat Dan pedang karat tersebut secara kebetulan sekali menyambut datangnya bacokan pedang Lui-ing Kiam dari The Tay hong.

Menyaksikan kejadian ini, The Tay-hong merasa gembira, segera serunya.

"Bocah keparat, nampaknya kau sedang mencari mampus!"

Pedang Lui-lng Kiam adalah sebilah pedang mestika yang tajamnya luar biasa, jangan lagi hanya sebilah pedang karat, biar pun sebilah pedang mestika pun niscaya akan kutung bila terpapas.

The Tay-hong merasa sangat yakin bahwa pedang karat milik Oh-put Kui tersebut pasti akan terpapas kutung menjadi dua oleh bacokan senjatanya, dan sampai waktunya "Sudah pasti bocah keparat itu akan menemui suatu musibah yang luar biasa."

Sebab menurut perhitungannya, dengan kekuatan serangan pedangnya, bisa jadi pergelangan tangan kanan Oh Put Kui akan turut terpapas kutung oleh bacakan pedangnya itu.

Tak heran kalau dia segera bersorak kegirangan "Traaang tranng trring !"

Dengan cepat ke dua bilah pedang itu sudah saling beradu satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara dentingan yang amat nyaring.

Bersamaan dengan menggemanya suara dentingan keras itu, The Tay-hong mundur beberapa langkah ke belakang dengan ketakutan.

Ternyata pedang karat dari Oh Put Ku tidak kutung seperti apa yang diduganya semula.

Dengan perasaan terkesiap bercampur cemas cepat-cepat dia menarik kembali pedang Lui-ing-kiam nya sambil mundur kebelakang, Apa yang kemudian terlihat?

Ternyata diatas tubuh pedang Lui-ing kiam nya telah muncul dua buah gumpilan yang cukup besar, ini berarti pedang mestikanya telah berubah menjadi pedang cacad irama guntur.

The Tay-hong sungguh dibuat tertegun oleh kejadian tersebut.

Didalam keadaan seperti ini, sekalipun Oh Put Kai memenggal batok kepalanya sekalipun, sudah pasti dia tidak akan merasakannya.

Tentu saja Oh Put Kai tak akan melakukan perbuatan seperti ini.

"Sungguh tajam pedang dari The tayhiap "

Tanpa menggerakkan tubuhnya Oh Put Kui memperdengarkan suara tertawanya yang kering namun penuh dengan ejekan itu.

The Tay-hong masih juga tidak bergerak, dia masih juga mengawasi pedang andalannya dengan wajah tertegun, seakan-akan tidak merasa apa gerangan yang terjadi.

Dengan cepat Suma Hian, Hai Bong-ki dan Ko Ban-wi berlarian mendatang, mereka bukannya kuatir Oh Put Kui bakal melancarkan serangan berikut untuk melukai li pa-dang latah irama guntur The Tay-hong.

Mereka hanya merasa tercengang apa sebabnya The Tay-hong sampai berdiri termangu-mangu.

Sebab di dalam pertarungan yang sedang berlangsung seru tadi, secara tiba-tiba saja mereka telah kehilangan jejak Oh Put Kui menanti mereka membalikkan badan untuk mencari Oh Put Kui.

lawannya itu sudah beradu pedang dengan The Tay-hong.

Bentrokan tersebut tidak lebih hanya berlangsung satu kali saja.

tapi apa sebabnya The tay-hong berdiri termangu?

Tanpa terasa ke enam buah sorot mati mereka bersama-sama dialihkan ke arah pe dang irama guntur tersabet.

Tiba-tiba paras muka mereka bertiga pula turut berubah sangat hebat.

Kemudian terdengar Ku Bun wi berseru tertahan.

"Apakah pedang saudara The menjadi gumpil?"

Sedangkan Hui Bong-ki dengan kening berkerut segera mengawasi pedang karat milik Oh Put Kui itu lekat-lekat, kemudian katanya dengan suara dalam .

"Apakah pedangmu itu adalah pedang karat Cing-peng kiam milik Thian yang-yu-cu (pengembara dari ujung langit) Oh Sian tay hiap dimasa lalu?"

Begitu mendengar nama pedang karat "Cing peng-kiam", semua hadirin segera dibuat tertegun dan gempar. Bahkan Put lo noangsiu (kakek latah awet muda) pun ikut membuka matanya sambil menegur.

"Hei anak muda, apakah pedang itu milik gurumu?"

"Betul!"

Sahut Oh Put Kui sambil tertawa Mendadak si kakek latah awet muda itu tertawa tergelak.

"Hey anak muda, kau tidak sepantasnya mempergunakan pedang tersebut dalam kejadian semacam ini."

"Mengapa?"

Tanya pemuda itu melongo. Sekali lagi Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.

"Anak muda, selama pedang tersebut berada di tangan gurumu, dalam sepanjang hidup nya ia hanya pernah mempergunakan sekali saja."

"Boanpwe tidak mengetahui tentang persoalan ini, tapi kapan sih guruku pernah mempergunakannya?"

"Kejadian ini berlangsung sebelum dia mencukur gundul kepalanya, dengan pedang tersebut ia telah bertarung melawan golok nomor wahid dari kolong langit yang disebut Golok penggetar langit milik Cian Thian-oh seorang tokoh silat yang disebut orang Rasul sakti dari jagad."

"Siapa yang menangkan pertarungan itu? Bagaimana pun dia tak ingin nama perguruannya ternoda, karena itu dia ingin mengetahui hasil dari pertarungan tersebut.

"Sudah barang tentu Oh Sian yang unggul"

Jawab kakek latah awet muda sambil tertawa.

"kalau tidak, bagaimana mungkin Cian Thian-oh bisa mengundurkan diri sedemikian ini? Kalau dihitung-hitung, peristiwa itu sudah berlangsung delapan puluh tahun lamanya."

Apakah maksudmu mengutarakan kisah tersebut adalah minta kepada boanpwee agar tidak sembarangan mempergunakan pedang karat milik guruku ini apabila tidak terpaksa karena menghadapi musuh yang benar-benar tangguh ?"

"Kau memang cerdik sekali, coba bayangkan sendiri, dengan kemampuan yang kau miliki, pedang biasa yang berada ditanganpun tak kalah dengan pedang mestika, mengapa kau mesti mengandalkan pedang karat Cing-peng-kiam yang tajam untuk meraih kemenangan ?"

Oh Put Kui lantas tertawa terbahak-bahak, dia segera melontarkan pedang karat tersebut ke arah kakek itu.

"Kakek Ban !"

Serunya.

"kuserahkan pedang ini kepadamu untuk kau simpan bila kau menganggap boanpwe pantas memakainya, serahkanlah kepada boanpwee nanti nya."

"Tepat sekali"

Kakek latah awet muda tertawa, baiklah, akan kusimpankan untukmu. Karena tindakanmu ini tepat sekali, aku yakin tak akan ada yang berani merampasnya. Hey bocah cilik, kan ternyata licik sekali."

"Boanpwee tidak licik, cuma aku mau memakai wibawamu untuk menakut-nakuti orang."

Kakek latah awet muda segera tertawa terpingkal-pingkal, serunya kemudian.

"Baik, baik, aku akan menyimpankan untukmu !"

"Terima kasih banyak !"

Kemudian pemuda itu berpaling ke arah Leng Siau-thian sambil katanya pula .

"Kakak Leng, bolehkah boanpwee meminjam sebilah pedang ?"

Sebelum Leng Siau-thian menjawab, Leng Cui-cui telah menyela.

"Oh kongcu, biar kupinjamkan pedangku ini ..."

Dia segera meloloskan pedang milik sendiri dan segera disodorkan ke muka. Sambil tertawa Oh Put Kui manggut-manggut, lalu sambil menerima pedang itu katanya .

"Banyak terima kasih nona !"

Dengan wajah memerah Leng Cui-cui tertawa. katanya .

"Gara-gara urusan keluargaku kongcu tat segan-segan bermusuhan dengan orang lain apa salahnya kalau aku meminjamkan sebilah pedang untuk kongcu? Apalagi memang sudah sewajarnya kalau kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan kongcu....,."

Hampir saja Oh Put Kui dibuat tergiur oleh sikap si nona yang halus lembut dan penuh daya tarik itu.

Untung saja Leng Cui-cui telah memberi hormat dan segera membalikkan badan untuk beranjak pergi dari situ.

Saat itulah Oh Put Kai baru menggetarkan pedangnya, segera terasa olehnya pedang itu beratnya hanya sepertiga daripada berat pedang karat Cing-peng-kiam yang dipergunakan olehnya tadi.

Tak tahun dia merasa tertawa geli sendiri sambil berpikir.

"Enteng benar pedang yang dipergunakan oleh kaum wanita,..."

Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan tersebut, mendadak ia mendengar si pedang latah irama guntur The tay-hong sedang menangis tersedu-sedu.

Oh Put Kui menghadapi kejadian tersebut menjadi tertegun, dia benar-benar dibuat keheranan oleh kejadian tersebut.

Padahal orang itu sudah tua kalau tak bila dibilang sudah kakek-kakek, tapi mengapa dia masih juga menangis?

"Yaa, kakek itu nampak menangis sangat sedih, bahkan sedihnya bukan alang kepalang The Tay-hong telah berjuang hampir sepanjang hidupnya dengan mengandalkan pedang irama guntur untuk memperoleh gelar sebagai si pedang latah irama guntur, sungguh tak disangka pedang irama gunturnya telah dibuat cacat oleh seorang bocah muda, bayangkan saja siapa yang tak akan sedih menghadapi keadaan seperti ini?

Isak tangis The Tay-hong yang begitu memedihkan hati itu kontan saja membuat amarah yang semula menyelimuti wajah Ka Bun wi hilang lenyap tak berbekas.

Dia se olah-olah telah kehilangan semangat nya untuk bertempur.

Bahkan si pedang iblis baju merah Suma Hianpun ikat menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Hanya si pedang baja berhati merah Hui Bong-ki seorang masih tetap mencerminkan kemarahan yang membara.

Ditatapnya Oh Put Kui sekejap, kemudian katanya sambil mendengus dingin.

Dengan mengandalkan senjata mestika kau telah membuat gumpilnya pedang mestika Hong-te ku, kemenangan semacam itu tak bisa dibilang suatu kemenangan yang gemilang, Hui Bong Ki memang seorang manusia yang tak becus, namun ingin Sekali kucoba berapa jurus ilmu pedangmu yang hebat, itu!"

"Ooh, Hui tayhiap bermaksud menantangku bertarung? Boleh-boleh saja, tentu akan kulayani keinginanmu itu!"

Kata Oh-Put Kai sambil tertawa. Dia segera mempersiapkan pedangnya, lalu berkata lagi.

"Pedang ini bukan termasuk pedang mestika yang tajam, apakah Hui tayhiap setuju bila kupergunakannya?"

Hui Bong Ki tertawa dingin. Heehhh...heehh...heeehhh... pedang itu toh sudah berada dalam genggamanmu, buat apa kau mesti banyak bertanya?"

Dengan kening berkerut tiba-tiba saja dia meloloskan senjata andalannya.

"Criinggg"

Serentetan cahaya merah segera memancar ke empat penjuru.

Agaknya inilah pedang andalan Hui Bong-ki yang disebut pedang baja hati merah.

Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli di dalam hati, pikirnya.

oodwoo

Jilid 21

"Benar benar sebilah pedang mestika, meski Hui Bong-ki nampaknya saja seorang yang kasar dan tak berotak. ternyata dia jauh lebih cermat dan licik ketimbang The Tay-hong "Dia melarangku mempergunakan pedang mestika, padahal pedang yang ia pergunakan justru merupakan pedang mestika, benar-benar suatu tindakan yang luar biasa..."

Meskipun dalam hati kecilnya berpikir demikian, namun diluaran dia justru berkata sambil tertawa hambar.

"Tampaknya pedang baja milik Hui-tayhiappun termasuk semacam benda yang amat termashur"

"Termashur atau tidak. asal sudah dicoba kau toh akan mengetahui dengan sendirinya"

Jengek Hui Bong-ki sambil tertawa dingin.

Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja pedangnya digetarkan melancarkan serangan-oh Put Kui masih tetap berdiri tenang ditempat semula tanpa bergerak barang Sedikitpun jua .

Kembali Hui Bong-ki tertawa dingin sambi membentak.

"Hey, hati-hati..."

Pedang bajanya segera memancarkan selapis cahaya merah yang segera menyelimuti seluruh angkasa.

oh Put Kui mencoba untuk melayangkan pandangan matanya kesekeliling tempat itu, dia jumpai getaran dari pedang Hui Bong-ki tersebut dapat menciptakan dua puluh satu buah cahaya pedang yang bersama-sama menyerang kearahnya, diam-diam ia mengangguk kagum atas kemampuan tersebut.

Namun pedang yang berada ditangannya masih tetap dihadapkan kebawah tanpa bergerak.

Menanti ujung pedang dari HuBong-ki tersebut sudah hampir mencapai depan dadanya, baru dia bertindak.

Tidak nampak dia menggerakkan lengannya, tahu-tahu saja pergelangan tangannya miring kesamping lalu pedangnya ditusukkan kearah atas...

"Traaanggg...."

Secara tepat sekali ujung pedangnya itu mencukil tubuh pedang Hui Bong-ki sehingga mencelat kesamping.

Tindakan oh Put Kui yang menghadapi musuh dengan ketengangan ini segera memanding tempik sorak dari Leng cui-cui Seban dari kedua puluh satu kuntum bunga pedang yang dilancarkan oleh Hui Bong-ki itu, bunga pedang manakah yang merupakan serangan sebenarnya merupakan suatu hal yang sulit untuk ditentukan secara tepat sekali.

Kecuali bila kau berani menggerakkan pedangnya dan menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Sudah barang tentu oh Put Kui enggan menghamburkan tenaga dengan begitu saja.

Itulah sebabnya dia menantikan gerakan musuh berikutnya dengan suatu sikap yang sangat tenang.

Dan kenyataannya, dengan mengandalkan suatu kebasan yang sangat ringan saja dia telah memberikan hasil yang gemilang.

Pada saat itulah sipedang baja hati merah Hui Bong Ki merasakan tenaga getaran yang terpancar keluar dari pergelangan tangan oh Put Kui itu besarnya bukan kepalang, hal ini sungguh membuat hatinya merasa terkejut sekali.

Sekrang dia tak berani bertindak secara gegabah lagi.

Pedang bajanya segera diputar, kemudian secara beruntun dia melancarkan tujuh buah serangan berantai Kali ini oh Put Kui sama sekali tidak mengangkat pedangnya, dia cuma menggerakkan tubuhnya sambil menghindar ke samping, lalu dalam tiga langkah saja dia sudah melepaskan diri dari ancaman serangan musuh...

Kemudian katanya sambil tersenyum.

"Sungguh cepat gerakan pedang dari Hui tayhiap"

Ketika melihat ketujuh buah serangan pedangnya mengalami kegagalan total, Hui Bong Ki merasakan hatinya amat terkesiap. Tapi ia merasa tak puas, dengan segera teriaknya lagi.

"Hey, bocah keparat, apakah gurumu hanya mengajarkan kau untuk menghindarkan diri?"

Mendingan kalau dia tidak mengucapkan kata-kata tersebut, begitu perkataan diucapkan, bencana pun segera muncul didepan mata.

oh Put Kui memang seorang pemuda yang tidak gampang marah, akan tetapi jikalau ada orang berani memandang hina atau mencemooh angkatan tuanya, maka dia bisa gampang marah jauh melebihi siapa pun.

Apa yang dikatakan Hui Bong Ki tersebut sama artinya seperti memaki gurunya, bayangkan saja apakah dia bisa menerima keadaan tersebut dengan begitu saja?

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu dengan suara dingin berkata.

"Hui Bong Ki, pada hakekatnya kau sedang mencari penyakit buat diri sendiri.."

Begitu selesai berkata pedangnya yang tipis itu tiba-tiba diangkat ke atas.

Sementara itu sorot matanya yang tajam mengawasi musuhnya itu tanpa berkedip.

sementara itu Hui Bong Ki masih belum tahu kalau oh Put Kui telah dibikin gusar oleh ulahnya, dia pun tidak tahu kalau perkataan yang diucapkan tanpa sengaja tadi telah menimbulkan amarah dari si gembong iblis kecil ini.

Bukannya tahu diri, Hui Bong Ki justru bersikap lebih kaku, tiba-tiba dia membentak lagi.

"Bocah keparat, tak usah ngebacot dulu coba kita lihat saja nanti siapa yang lagi mencari penyakit buat diri sendiri."

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tapi yang jelas orang itu bukan aku"

Begitu selesai berkata, pedangnya sudah diangkat hingga mencapai batas alis mata. Hui Bong-ki tak mau menunjukkan kelemahannya diapun tertawa dingin sembari berseru.

"Hey keparat, buat apa sih kau banyak berlagak di hadapanku?"

Dalam pada itu, pedang dari oh Put Kui sudah diangkat hingga mencapai alis matanya dan tidak diangkat lebih keatas lagi.

Begitu perkataan lawan selesai diutarakan, dia segera menjawab dengan suara hambar.

"Orang she Hui, kalian empat jago pedang termashur karena permainan pedangnya, aku percaya kalian pasti memiliki ilmu pedang yang jauh melebihi orang lain bukan?"

"Tentu saja"

Sahut Hui Bong ki sambil tertawa seram. oh Put Kui manggut-manggut, katanya lebih jauh.

"Hari ini, aku akan menyuruh kalian empat jago pedang menyaksikan sesuatu agar menambah pengetahuan kalian-"

"Pengetahuan apa?"jengek Hui Bong-ki sambil tertawa dingin.

"Apakah menyaksikan jurus sakti mengangkat pedang menutupi mataharimu ini...?"

Oh Put Kui segera tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tepat sekali perkataanmu itu, aku akan menyuruh kau menyaksikan jurus seranganku ini, bahkan aku akan membuat kau sipedang baja hati merah kehilangan pedang dan kehilangan jari tangan didalam satu gebrakan ini juga"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... betul-betul tekebur,"

Hui Bong-ki tertawa tergelak.

"siapa yang mau percaya kalau kau sanggup menjatuhkan pedangku dan mengutungi jari tanganku dalam satu jurus saja? Hmmm. biar setanpun pasti tak akan percaya. Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong"

Tiba-tiba oh Put Kui berkata sambil tertawa hambar.

"Hui Bong-ki, tiba-tiba saja aku merasa kasihan kepadamu, seandainya kukutungi jari jari tanganmu itu, bukankah selanjutnya kau tak akan mampu mengunakan pedang lagi? Aku merasa cara semacam ini sedikit kelewat keji..."

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... jadi kau menaruh belas kasihan kepadaku"

Gelak tertawa Hui Bong kisemakin keras. Oh Put Kui balas tertawa.

"Itulah sebabnya aku ingin mengubah dalam satu gebrakan membuatmu kehilangan pedang terpapas rambutnya, bagaimana menurut pendapatmu?"

Rupanya manusia yang bernama pedang baja hati merah Hui Bong ki ini tak berbeda keadaannya dengan sipengemis sinting, mempunyai rambut yang kusut dan awut awutan tak karuan, bukan saja tidak disisir bahkan dibiarkan tergantung begitu saja dibelakang bahunya.

Dalam satu gebrakan bisa memaksa orang untuk melepaskan pedang dan kehilangan jari tanganpun sudah merupakan suatu kejadian yang sulit untuk dipercayai.

Apalagi oh Put Kui mengatakan sekarang bahwa di dalam satu gebrakan saja dia akan memapas rambut dari si pedang baja hati merah Hui Bong ki, bukankah ucapan semacam itu lebih mendekati sebagai bualan belaka...?

Oleh karena itulah Hui Bong Ki tertawa tergelak tiada hentinya...

"Bocah keparat, aku ingin sekali mengetahui sampai dimanakah kehebatanmu itu"

Katanya kemudian-Oh Put Kui masih tetap tersenyum tenang.

"Sebetulnya aku memang berniat untuk menambah pengetahuan kalian, cuma saja, aku mempunyai syarat."

"Syarat apa?"

Tanya Hui Bong Ki tertegun.

"ataukah kau sudah sadar kalau bualanmu terlampau tinggi sehingga sekarang ingin mencari alasan untuk menyulitkan diriku sekalian, dengan begitu kau bisa memperoleh alasan untuk mengundurkan diri?"

Oh Put Kui tertawa dingin-"Lebih baik kau jangan menilai maksud baik seseorang dari balik kacamata kepicikan dan kemunafikanmu itu"

Kemudian dengan wajah serius, dia berkata lebih jauh.

"Andaikata dalam satu gebrakan nanti aku berhasil memaksa Hui tayhiap melepaskan pedang dan memapas kutung rambutmu itu, aku mengharap kalian berjanji untuk melanjutkan tak akan menyinggung masalah pedang Hian Peng Kiam lagi, dan lagi kalian pun harus berjanji untuk tidak mencari kesulitan lagi terhadap seluruh keluarga Leng dan orang yang memegang pedang Hian Peng Kiam tersebut"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... baik, aku setuju,"

Hui Bong Ki tertawa tergelak^ "bukan cuma soal itu saja, sekalipun kau menghendaki batok kepalakupun aku pasti akan menyanggupi, sebab aku sudah tahu, bualan dari kau si bocah keparat sudah keterlaluan sekali"

Dari perkataan tersebut dapat diketahui kalau dia memang sama sekali tak percaya kalau oh put Kui memiliki kemampuan tersebut.

Bukan cuma tak percaya kalau oh Put Kui mempunya kemampuan itu, bahkan di dalam anggapan si Pedang baja berhati merah Hui Bong Ki, biarpun si kakek latah awet muda turun tangan sendiripun belum tentu ia mampu berbuat demikian.

Tak heran kalau ia segera menyanggupi permintaan mana tanpa pikir panjang lagi.

oh Put Kui tertawa hambar tiba-tiba ia berpaling ke arah Ku Bun-wi sambil bertanya pula.

"Bagaimana dengan Ku tayhiap?"

Sekalipun Ku Bun-wi tahu dengan pasti bahwa oh Put Kui memiliki kepandaian silat yang sangat hebat, namun ia memiliki jalan pikiran yang sama seperti Hui Bong Ki, dia menganggap mustahil kemampuan oh Put Kui untuk memaksa Hui Bong Ki melepaskan pedang dalam satu gebrakan saja, apa lagi memapas rambutnya.

Maka sewaktu oh Put Kui mengajukan pertanyaannya, dia pun menjawab dengan segera.

"Aku setuju"

Belum lagi oh Put Kui bertanya kepada si Pedang iblis berbaju merah Suma Hian, orang she Suma itu sudah berseru dengan suara lantang.

"Aku dan The sute setuju sekali, cuma bagaimana andaikata kau gagal memaksa Hui Samte melepaskan pedangnya dan memapas kutung rambutnya dalam satu geberakan?"

Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku segera akan membalikkan badan dan berlalu dari sini, dan tak akan pernah mencampuri urusanmu dengan keluarga Leng lagi"

"Bagus sekali, kita tetapkan dengan sepatah kata itu saja"

Seru Suma Hian sambil tertawa tergelak.

"Hmmm, cuma kuperingatkan, setelah menyanggupi kalian jangan menyesal dibelakang hari."

Dengus sang pemuda lagi.

"Kami semua belum pernah mengingkari janji yang telah diucapkan sendiri"

"Bagus sekali Nah, Hui tayhiap. kau harus berhati-hati"

Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja tangan kirinya memencet tombol pada gagang pedang yang diangkat setengah depa diatas alis mata itu sehingga menimbulkan suara dengungan yang keras dan amat memekikkan telinga.

"Banyak betul penyakit dari bocah keparat ini"pikir Hui Bong-ki dengan kening berkerut. Belum sempat mengucapkan sesuatu, tahu tahu oh Put Kui sudah menggerakkan senjatanya. Tiba-tiba saja mengayunkan tangan kanannya kedepan dengan kecepatan tinggi... Pedang tersebut segera memapas kedepan dan segera menutul keatas pedang yang berada dalam genggaman Hui Bong-ki. Menyaksikan serangan ini, diam diam Hui Bong-ki tertawa geli, pikirnya.

"Dengan mengandalkan jurus serangan yang begitu lamban, bagaimana mungkin..."

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi silau.

Dengan perasaan terkesiap dia hendak mundur kebelakang, tapi secara tiba tiba saja tangan kanannya seperti ditindih dengan suatu kekuatan yang berpuluh laksa kati beratnya.

"Traaaanggg..."

Seluruh lengan kanan Hui Bong-ki menjadi kaku, kesemutan dan seolah-olah kehilangan rasa.

Belum sempat dia menghindarkan diri dari ancaman itu, kembali batok kepalanya terasa dingin seperti disambar dengan angin yang sangat tajam.

Entah apa yang sesungguhnya telah terjadi, terbukti pedangnya benar-benar sudah mencelat sejauh berapa kaki dan terlepas dari genggamannya.

Bukan cuma begitu, malah segenggam rambutnya turut terpapas kutung dan beterbangan menjatuhi seluruh tubuh sendiri.

Hui Bong-ki benar-benar tertegun, berdiri bedoh dengan mata mendelong sekujur badannya betul-betul merasa lemas sekali seperti tak bertenaga.

Sebaliknya oh Put Kui masih tetap berdiri ditempat semula dengan senyum dikulum.

Pedangnya masih juga dijulurkan kebawah persis seperti posisi semula, seakan-akan dia sama sekali tidak pernah menggerakkan senjata tersebut untuk melancarkan serangan-lmu pedang yang demikian cepat dan mengerikan hati itu kontan saja membuat Leng Siauw-thian sekalian berdiri termangu dengan mulut terbUka lebar-lebar dan mata melotot besar.

Lama kemudian baru terdengar Leng cui-cui menjerit kaget .

"Ooh... suatu ilmu pedang yang sangat hebat"

Sedangkan kakek latah awet muda berkata pula sambil tertawa terbahak bahak.

"Hey anak muda, apakah jurus serangan yang kau pergunakan itu adalah Thian-Lui-it ki (Gempuran hebat guntur langit)...?"

Oh Put Kui segera tertawa tergelak pula.

"Ban tua, tampaknya kau seperti mengenali setiap jenis ilmu silat yang berada dikolong langit ini. Betul sekali, jurus serangan yang boanpwee pergunakan ini adalah jurus gempuran hebat guntur langit"

"Hey bocah muda, memangnya kau lupa? Akukan tahu segala-galanya..."

"Waaah, tampaknya nama besarmu itu memang bukan cuma nama kosong belaka"

"Haaahhh... haah... haaah... sudah sepantasnya bila kau mempercayai hal tersebut semenjak dulu, cuma kau merasa amat heran, darimana kau pelajari ilmu pedang guntur langit itu?"

"Boanpwee berhasil mempelajari dari pulau neraka"

"Aaah, betul mengapa aku sampai lupa kesitu..."

Kakek latah awet muda segera termanggut-manggut. Dalam pada itu, sipedang baja berhati merah Hui Bong Ki telah membungkukkan badan dan memungut kembali pedang bajanya.

"Nah, sekarang kalian boleh pergi dari sini."

Kata oh Put Kui kemudian kepada keempat orang lawannya sambil tertawa.

"aku percaya kalian tentu tak akan mengingkari janji"

Sekarang The Tay-hong sudah berhenti menangis, paling tidak ia merasa keadaannya jauh lebih baik ketimbang keadaan yang dialami sipedang baja berhati merah.

Tiba-tiba terdengar Ku Bun-wi menghela napas panjang sembari berkata.

"Kesaktian ilmu pedang yang saudara miliki sungguh mengagumkan sekali, apa yang sudah kami janjikan, sudah barang tentu akan kami laksanakan pula, namun kami harnya bisa menjamin kami sendiri dan tak bisa bertanggung jawab atas usaha dari anggota Sian-hong-hu yang lain bila mereka datang lagi kemari..."

Oh Put Kui yang mendengar ucapan tersebut segera mengerutkan dahinya rapat rapat. Pada saat itulah sipedang iblis berbaju merah Suma Hian telah berkata pula.

"Apa yang saudara Ku ucapkan memang merupakan suatu kenyataan, sekalipun oh kongcu menahan kami berlima disini pun, kami hanya bisa berjanji bahwa kami berlima tidak akan mencampuri urusan ini lagi, sedangkan mengenai jalan pemikiran dari majikan muda istana Sian hong-hu... yaa, bagaimana mungkin kami bisa menghalangi segala tindakannya...?"

Oh Put Kui manggut-manggut pelan, dia tahu apa yang diucapkan ke lima orang kakek itu memang benar dan tak bisa disalahkan. Maka sambil tersenyum katanya.

"Baiklah, aku setuju dengan apa yang kalian katakan, cuma aku berharap sekembalinya kalian ke istana nanti, sampaikan kepada Nyoo Ban-bu, lebih baik dia tahu diri daripada kedua belah pihak saling bentrok lebih jauh"

"Apa yang oh sanhiap ucapkan tentu akan kusampaikan"

Sahut Ku Bun-wi cepat. Kemudian setelah berhenti sejenak. dia berkata kepada di Hakim sakti hitam putih Pak Kun jiu yang masih duduk dikursi sambil tertawa.

"Saudara Pak. mari kita pulang saja"

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi lebih dulu.

Tanpa banyak berbicara Pak Kun jin, Suma Hian, Hui Bong Ki, The Tay-hong serta kesembilan orang lelaki kekar yang berada di luar ruangan itu bersama-sama berangkat meninggalkan Benteng nomor wahid dari dunia persilatan-Ancaman bahaya maut akhirnya dapat dilalui dengan selamat, rasa terima kasih yang menggelora didalam dada Leng Siau-thian sungguh tak dapat diucapkan dengan kata-kata.

Perasaan Leng cui-cuipun bagaikan bunga yang sedang mekar, sekulum senyuman manis yang penuh pancaran rasa cinta memancar keluar dari wajahnya yang ditujukan semua kepada oh Put Kui.

Sedangkan oh Put Kui sendiri justru secara diam-diam merasa amat terkejut.

Dalam keadaan begini dia tak dapat menerima limpahan cinta kasih muda mudi, sebab diatas bahunya masih memikul beban pembalasan dendam atas terbunuhnya kedua orang tua Sekalipun berbicara yang sesungguhnya, dia sendiripun merasa senang sekali dapat bertemu dengan nona tersebut...

Diantara sekian orang yang hadir, hanya sipengemis sinting seorang nampak paling santai, tiada hentinya dia mengacungkan ibu jarinya sambil memuji kelihayan dan kehebatan dari jurus pedang yang dipergunakan oh Put Kui tadi.

Si kakek latah awet muda hanya memeluk pedang karat yang dititipkan kepadanya itu sambil tertawa tergelak..

Tak lama setelah semua anggota istana sian-hong-hu berlalu, kakek menyendiri seribu li Leng Siau thian baru teringat kalau putranya belum kenal dengan oh Put Kui sekalian-Sambil mengumpat kepikunan sendiri, cepat-cepat dia menyuruh putranya Leng Yok peng untuk menjumpai ketiga orang itu.

Leng Yok-peng yang mempunyai julukan sebagai Tui-sim-sin-jin (tangan sakti penghancur hati) ini benar-benar mempunyai kesan persis seperti namanya, dingin dan kaku tanpa basa basi.

Begitu selesai memberi hormat kepada tiga orang tamunya, tanpa banyak cincong dia segera mengundurkan diri dari situ.

Leng Siau-thian yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berkata.

"Ban tua, saudara Lok oh sauhiap. harap kalian hangan marah, anakku yang satu ini memang tidak suka bergaul dengan siapapun, orangnya kolot dan suka menyendiri"

Mendengar perkata an, sikakek latah awet muda segera mendelik besar sambil berkata.

"Setiap orang mempunyai kemauan sendiri-sendiri kenapa sih kau mesti mengurusi kemauanmu? Leng Siau-thian, kau jangan lagi menganggap anakmu itu masih anak kecil, biarkan saja dia pergi dari sini..."

"Kalau Ban tua-pun berkata demikian, apa lagi yang bisa boanpwee katakan?"

Kata Leng siauw thian sambil tertawa sesudah mendengar perkataan itu.

"aku hanya kuatir, dengan watak anakku yang dingin dan kaku itu, bisa jadi dia akan menderita kerugian besar dikemudian hari"

"Leng tua tak usah kuatir"

Kata oh Put Kuipula sambil tertawa.

"justru sikap hidup putramu itu tidak sudi mencari pamor dan rebutan nama dan kedudukan dengan orang lain merupakan suatu tindakan yang terpuji, keadaannya inijauh lebih baik daripada mereka yang mempunyai banyak kawan di dalam dunia persilatan"

Leng Siauw-thian tertawa terbahak=bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahhh... semoga saja apa yang dikatakan oh sauhiap memang terwujud"

Tiba-tiba pengemis sinting mengerutkan keningnya secara mendadak lalu berkata.

"Tauke Leng, aku si pengemis memang kere, dapatkah kau menghadiahkan semangkuk nasi lebih dulu untukku?"

Sudah jelas perutnya mulai lapar sehingga dia berkaok kaok tanpa rikuh... Merah jengah selembar wajah Leng Siauw-thian setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat serunya.

"Aku benar-benar sudah lupa... maaf maaf... biar sekarang juga kuperintahkan mereka untuk mempersiapkan sayur dan arak yang hangat..."

"Ayah, biar aku saja yang pergi"

Cepat cepat Leng cui-cui berkata sambil tertawa. Dia membalikkan badan lalu kabur dari situ dengan cepat. Leng Siauw-thian segera berkata lagi dengan nada minta maaf.

"Saudara Liok, maaf kalau siaute telah melupakan hal ini..."

"Tidak usah minta maaf"

Pengemis sinting tertawa aneh.

"Leng loko, asal ada makanan saja, aku si pengemis tua tak pernah marah kepada orang lain..."

Ucapan tersebut kontan saja diambut oleh kakek latah awet muda sekalian bertiga dengan gelak tertawa yang keras.

oOdwOo0dw0oOdwOo Pemilik benteng nomor wahid dari dunia persilatan Leng Siau-thian mengumumkan secara tiba tiba kepada dunia persilatan bahwa ia akan mengundurkan diri bahkan menutup bentengnya yang disebut benteng nomor wahid tersebut.

Tentu saja, kejadian ini segera menggemparkan seluruh umat persilatan yang mengetahuinya .

Mengapa Leng Siau-thian hendak mengundurkan diri?

Mengapa dia hendak menghapus nama bentengnya sebagai benteng nomor wahid dari dunia persilatan?

Dengan nama besar dan kedudukan Leng Siau-thian dalam dunia persilatan, siapa yang berani mengusik dan mengganggunya?

Setiap orang yang berperasaan tajam segera merasa bahwa dibalik peristiwa tersebut tentu ada sesuatu yang tidak beres.

Tapi, mereka tak berhasil menggali keluar alasan tersebut.

Mungkin, kecuali Leng Siau-thian seorang siapapun tidak tahu apa sebabnya bisa begitu.

Atau paling tidak masih ada juga yang tahu, meski sedikit sekali Dan mereka lain adalah oh Put Kui, pengemis sinting dan kakek latah awet muda.

Sebab berbicara yang sebenarnya, ide tersebut justru muncul dari benak oh Put Kui.

Ia merasa bahwa tujuan dan sasaran dari pihak istana sian-hong-hu dan Raja setan penggetar langit wi Thian-yang adalah nama besar Benteng nomor wahid dari dunia persilatan, itu berarti selama Leng Siau-thian sekalian bersama anak buahnya bila masih berdiam dibukit Ho lan-san, maka cepat atau lambat akhirnya tentu akan bentrok juga dengan pihak mereka.

Padahal pihak lawan mempunyai kekuatan yangj auh lebih besar dan kedatangan merekapun tak bisa diduga sebelumnya, bagaimana akibatnya sunguh amat sulit untuk diramalkan sebelumnya.

Sebagai seorang lelaki sejati yang pandai dan tahu keadaan, sudah barang tentu mereka tak ingin mengorbankan diri secara konyol, karena itu satu-satunya jalan adalah menghindarkan diri dari sana.

Maka diapun menganjurkan kepada Leng Siau-thian agar untuk sementara waktu pindah dulu keperkampungan Siu-leng-ceng milik Lamkiong ceng...

Ternyata usul tersebut disetujui oleh Leng Siau-thian, sebagai seorang jago silat kawakan dia cukup memahami maksud baik dari oh Put Kui tersebut.

Begitulah, nama besar Benteng nomor wahid dalam dunia persilatanpun segera terhapus dari keramaian dunia.

Dan Leng Siau-thianpun mengumumkan pengunduran dirinya.

Setelah berdiam dibukit Ho lan san selama tiga hari, oh Put Kui pun segera memohon diri.

Dia bersama kakek latah awet muda dan pengemis sinting meneruskan perjalanannya menuju ke selatan.

Sedangkan sang tuan rumah Leng Siau-thian segera memboyong keluarganya pindah rumah.

Adapun perjalanan oh Put Kui menuju ke selatan kali ini adalah untuk mencari si Bangau sakti dibalik mega.

Ia merawa wajib untuk mencari tahu dulu masalah sekitar siapa yang telah mengambil tusuk konde penghancur tulang dari tubuh ibunya, sebelum ia dapat mengembara dalam dunia persilatan dan membalas dendam dengan perasaan tenang.

oleh sebab itu, dia bersikeras hendak menemukan si Bangau sakti dibalik mega lebih dulu.

Markas besar dari Liok-lim Bangau tujuh propinsi diwilayah Kanglam ini terletak di gedung Tiong-gi-hu dalam kota Lam-cong.

Kakek latah awet muda segera mengusulkan untuk mengambil jalan darat sampai di Kang ciu, lalu dari Kang-ciu berganti lewat jalan air menuju kota Lam cong dengan melewati telaga Phoa-yang-oh dan menelusuri sungai ci ciang-kang.

Sudah barang tentu pengemis sinting menyatakan persetujuannya, terhadap setiap perkataan dari kakek latah awet muda ia memang tak pernah barani mengucapkan kata "tidak".

Bagi oh Put Kui hal tersebut sama saja, baginya entah lewat jalanan yang manapun, yang penting asal dapat bertemu dengan im Tlong-hok seCepatnya sehingga musuh besat pembunuh ibunya juga seCepatnya diketahui.

Tak sampai sepuluh hari kemudian, mereka sudah tiba di kota Kang ciu.

tapi mereka justru tak berhasil menyewa sebuah perahupun di dermaga kota Kang ciu yang begitu besar.

Hal ini tentu saja membuat si kakek latah awet muda merasa sangat berduka hati.

orang tua ini bukan cuma bersedih hati saja, bahkan amarahnya segera berkobar.

Semakin tidak berhasil mendapat sewaan perahu, dia semakin bertekad untuk mencari perahu hingga dapat.

Sebenarnya oh Put Kui hendak berganti melewati jalan darat saja, namun kakek latah awet muda bersikeras dengan pendiriannya.

Akibatnya terpaksa mereka harus beristirahat semalam di kota Kang ciu tersebut.

oh Put-kui minta kepada pemilik rumah penginapan untuk mengusahakan perahu sewaan, namun alhasil gagal juga usaha tersebut, konon semua perahu yang ada telah diberong oleh seseorang dengan biaya sewa yang tinggi.

Mengenai siapa yang telah memborong semua perahu sewaan tersebut, ternyata pemilik rumah penginapan tersebut tidak berhasil untuk memperoleh keterangan.

Mengetahui keadaan tersebut, kontan saja kakek latah awet muda mencak-mencak sambil mengumpat.

Sebaliknya oh Put Kui dengan kening berkerut dan wajah masgul duduk termenung tanpa bicara.

Namun akhirnya dia berhasil mendapatkan sebuah jalan baik, ujarnya kemudian.

"Lloktua, apakah dikota Kang-ciu inipun terdapat anggota Kay-pang..."

Pertanyaan tersebut dengan cepat menyadarkan kembali sipengemis sinting. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, segera serunya keras keras.

"Aaaai, aku sipengemis betul-betul sangat bodoh, mengapa tidak pernah kupikir sampai kesitu? Yaa, nampaknya makin tua aku sipengemis semakin pikun... biar aku segera pergi mencari mereka"

Sambil menggerutu dia segera beranjak pergi dari situ. Seperminum teh kemudian, sipengemis sinting telah muncul kembali dengan disertai seorang pengemis setengah umur.

"Ban tua, oh lote, orang ini adalah tongcu dari kantor cabang Kay-pang untuk kota Kang-ciu yang disebut orang si ular aneh Wan Sam"

Kemudian kepada pengemis setengah umur itu bentaknya .

"Ayoh cepat menjumpai Ban locianpwee dan oh lote ku"

Dengan hormat sekali pengemis setengah umur itu menjura kepada kedua orang itu, kemudian katanya .

"Boanpwee Wan Sam menjumpai cianpwee berdua"

Oh Put Kui mengangguk tanda membalas hormat, sebaliknya kakek latah awet muda tetap tak berkutik dari posisi semula, malahan teriaknya keras keras .

"Apakah kau adalah kongcu dari kantor cabang kota Kang ciu?"

"Benar"

Sahut Wan Sam sambil menundukkan kepalanya.

"Mengapa disekitar wilayah Kang ciu tidak dijumpai sebuah perahu pun yang dapat disewa?"

"Menurut apa yang boanpwee ketahui, semua perahu yang ada dikota Kang ciu ini sudah disegel secara paksa oleh orang"

"Apa? Siapa yang begitu berani?"

"Menurut apa yang hamba ketahui, orang itu adalah putri kesayangan dari pemilik istana Sian hong-hu di ibu kota"

Sian hong-hu?

Lagi lagi ulah istana Sian hong-hu?

Lantas permainan apakah dibalik kesemuanya ini?

Untuk sesaat mereka bertiga sama sama dibuat tertegun...

Dalam tertegunnya oh Put Kui segera bertanya .

"Wan tong cu, benarkah kau tahu secara pasti bahwa semua perahu yang berada di Kang ciu ini telah disegel secara paksa oleh orang-orang yang dikirim pihak Sian hong-hu? Mengapa pemilik rumah penginapan ini bilang kalau semua perahu disewa orang?"

Wan Sam segera tertawa.

"Dalam persoalan ini, pihak Sian-hong-hu telah bekerja secara cermat dan rahasia, semua pemilik perahu dibikin takut oleh gertak sambal orang-orang Sian-hong-hu yang berilmu silat tinggi, karenanya terpaksa mereka beralasan perahunya sudah disewa orang"

"Lantas darimana kau bisa mengetahui, kejadian ini semakin jelasnya?"

Tanya kakek latah awet muda.

"Anak buah hamba banyak yang bekerja sebagai kuli kasar diperahu, oleh karena itulah Boanpwee mengetahui dengan jelas, bahkan sebagian besar telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang Sian hong-hu menggertak pemilik-pemilik perahu itu, dengan demikian boanpwee pun dapat mengetahui keadaan tersebut dengan sejelas-jelasnya"

"Keluarga Nyoo tersebut betul-betul keluarga telur busuk"

Umpat kakek latah awet muda penuh rasa geram.

"Ban tua, berbicara sesungguhnya Nyoo Thian wi adalah orang baik,"

Pengemis sinting segera berkata sambil tertawa.

"cuma sayang orang yang baik hatinya selalu diberkahi usia yang pendek. Wan-sin-seng-siu (kakek suci berhati mulia) telah menjadi kakek mampus"

"Yaaa..."

Sambung oh Put Kui sambil menghela napas.

"siapa yang mengira kalau keturunannya justru menjadi seorang manusia lalim yang tidak tahu diri."

"Huuh, kentut anjing"

Seru kakek latah awet muda sambil tertawa dingin.

"siapa bilang dia kakek suci berhati mulia? Seandainya Nyoo Thian-wi betul-betul berhati mulia, mau apa dia berdiam di ibu kota? Saban hari mengandaikan hubungannya dengan pembesar kerajaan ching untuk berbuat semena-mena dimana-mana masih berani memakai gelar berhati mulia? Huuuh, mau muntah rasaku setelah mendengar kata-kata tersebut."

Satu ingatan segera melintas di dalam benak oh Put Kuisesudah mendengar perkataan itu. Sebaliknya pengemis sinting segera berkata sambil tertawa .

"Ban lopek, siapa tahu kalau Nyoo Thian-wi mempunyai maksud tujuan yang lain?"

"Aaah, kau cuma tahu berkentut,"

Seru kakek latah awet muda sambil tertawa dingin lagi.

"seandainya Nyoo Ban-wi betul-betul seorang lelaki berhati mulia dan bijaksana, mengapa dia tak pernah mengadakan hubungan dengan si tamu baju putih Ibun Hau?"

Seketika itu juga pengemis sinting dibuat terbungkam dalam seribu bahasa oleh ucapan kakek latah tersebut.

Yaa, berbicara yang sebenarnya, mengapa si kakek suci berhati mulia Nyoo Thian-wi tak pernah mengadakan hubungan dan pergaulan dengan orang orang dari golongan lurus?

Bukan begitu saja, bisa dipikirkan kembali, Nyoo Thian wi malahan tak pernah berhubungan pula dengan orang orang dari istana ceng-thian ciangkun yang berada di ibu kota.

Bukankah kejadian ini aneh sekali ?

Kali ini, sipengemis sinting benar benar dibuat "sinting"

Oleh kejadian tersebut.

Sebaliknya oh Put-kui yang menjumpai pengemis sinting segera dibuat terbungkam dengan kening berkerut setelah mendengar perkataan tersebut menjadi terCengang dan keheranan.

Dia tak mengerti, mengapa Nyoo Thian wi tak dapat dianggap seorang lelaki setia yang mulia dan bijaksana karena dia tak mempunyai hubungan dengan si tamu baju putih Ibun Hau.

Apakah si tamu baju putih Ibun Hau melambangkan sesuatu?

Pikir punya pikir, akhirnya dia tak bisa menahan diri lagi dan segera bertanya.

"Ban tua, siapa sih ibun Hau tersebut?"

Oh Put Kui hanya tahu sitamu baju putih ibun Hau serta kakek bayangan semu berbaju hijau Samwan To disebut orang sebagai Sepasang kakek sakti dari Thian-tok dan berdiam di puncak Thian-tok-hong bukit Hang san.

Dan lagi diapun tahu kalau kedua orang ini memiliki ilmu silat yang betul-betul sangat lihay.

Selain itu, dia boleh dibilang tidak mengetahui apa-apa.

Mendengar pertanyaannya itu, tiba tiba saja kakek latah awet muda berkata sambil tertawa aneh .

"Bocah muda, apakah sampai sekarang suhu dan susiokmu belum pernah menyinggung soal kedua orang kakek ini dihadapanmu? Tampaknya gurumu itupun orang bodoh."

"Belum pernah suhu membicarakan masalah asal usul tokoh persilatan dengan boanpwee"

Kata oh Put Kui sambil tertawa.

"Beginipun ada baiknya juga, dari pada kau menaruh hormat kepada orang lain setelah kau mengetahui asal usul mereka, bukan begitu?"

Ucap kakek latah sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"aaaai, muridnya saja begitu latah, apalagi gurunya..."

Oh Put Kui segera tertawa geli.

"Suhu enggan membicarakan asal usul tokoh persilatan dengan boanpwee, hal ini dikarenakan suhu tak ingin boanpwee terlibat didalam urusan budi dan dendam orang-orang persilatan-"

"Tapi benarkah begitu? Bagaimana buktinya sekarang? Bukankah kaupun terlibat juga?"

"Walaupun boanpwe terlibat juga, namun hal ini muncul karena kemauan boanpwee sendiri,"

Kata oh Put Kui sambil menghela napas. Kontan saja kakek latah awet muda mendelik besar .

"Mana mungkin ada orang melibatkan diri dalam urusan dunia persilatan karena kemauan sendiri? Hey anak muda, kadangkala kau kelihatan amat pintar dan hebat, mengapa ada kalanya justru begitu pikun dan sangat bodoh?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kakek itu berkata lebih jauh dengan wajah bersungguh-sungguh .

"Nah anak muda, dengarkan baik-baik..."

Melihat sikap tersebut oh Put Kui segera tertawa .

Jarang sekali dia melihat si kakek latah awet muda ini berbicara dengan wajah begitu serius, sehingga nampaknya sekarang ia sangat lucu dan menggelikan hati.

"Boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"

Sahutnya dengan cepat. Kakek latah awet muda mengangkat kepalanya dan menghela napas panjang, kemudian ujarnya dengan suara pelan .

"Anak muda, si tamu baju putih ibun Hau adalah Kaisar dari dinasti yang lalu"

Oh Put Kui benar-benar sudah menyangka akan persoalan ini.

Semenjak ia mengunjungi Permaisuri Thian-hiang, ia sudah mengetahui bahwa banyak sekali umat persilatan yang bercita-cita hendak menegakkan kembali kejayaan serta kekuasaan dinasti yang lampau.

oleh sebab itulah dia sudah menduga kalau ibun Hau adalah seorang tokoh silat dari golongan tersebut.

"Ban tua, bagaimana sih kedudukan lojin ini didalampemerintahan dinasti yang lalu?"

Menurut dugaan oh Put Kui si tamu baju putih ibun Hau tentu seorang menter atau pembesar kerajaan. Namun jawaban dari Kakek latah awet muda justru membUatnya sangat tercengang .

"Anak muda, ibun Hau tidak lebih cuma seorang penyusun naskah kuno dari gedung Han-lim-wan"

"Lantas yang satunya lagi?"

Tanya oh Put-kui dengan kening berkerut kencang.

"Siapa yang kau maksudkan? Kalau tanya, bertanyalah dengan jelas..."

Kata Kakek latah sambil tertawa.

"Boanpwee maksudkan Samwan lojin tersebut."

"Ooh, kau maksudkan si kakek bayangan semu baju hijau Samwan To...?"

"Betul"

"Samwan To adalah teman membaca dari Kaisar Hun-tiong-liat..."

Sekarang oh Put-kui baru paham, ternyata sepasang manusia sakti dari Thian tok ini tidak memiliki kedudukan yang tinggi, tapi justru merupakan seorang kawan dekat kaisar.

Tak heran kalau kakek latah awet muda menuduh Nyoo Thian-wi sebagai kurang "bijaksana dan setia"

Lantaran dia tidak mempunyai hubungan dengan si tamu baju putih ibun Hau.

Ini berarti hanya manusia sebangsa ibun Hau saja baru pantas menyandang gelar "bijaksana dan setia".

Sambil tertawa hambar oh Put-kui segera berkata .

"Kalau begitu, Nyoo Thian-wi benar-benar seorang manusia yang patut dicugigai."

Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh..., soal mencurigakan atau tidak merupakan satu persoalan yang lain, sekarang orangnya sudah mati, pada hakekatnya tak mungkin bisa diselidiki kembali, cuma yang paling menggemaskan adalah aku sudah hidup terkurung selama sepuluh tahun lebih di loteng tingkat dua, kalau tidak..."

Mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, sambil melompat bangun segera serunya.

"Habis sudah riwayatku, aku sudah terkena siasat busuk dari Kit Put-sia"

"Kau orang tua terkena siasat busuk macam apa dari Kit Put-sia...?"

Tanya oh Put=kui terkejut. Sambil memukul dada sendiri saking mendongkolnya, kakek latah awet muda berkata .

"Seandainya aku tidak terkurung selama dua puluh tahun, asal usul dari Nyoo Thian-wi sudah pasti telah berhasil kuselidiki... tapi akhirnya, aaaai... hanya disebabkan dorongan emosi saat muda, aku dibuat tak karuan jadinya..."

"Jadi semenjak dua puluhan tahun berselang kau orang tua sudah menaruh curiga terhadap Nyoo Thian-wi?"

Satu ingatan segera melintas da lam benak oh Put-kui. Kakek latah awet muda tertawa dingin.

"Nyoo Thian-wi berusaha menarik simpatik umat persilatan dengan menggunakan budi yang kecil. Didepan mata orang lain, memang dia pantas disebut kakek suci, tapi dalam pandanganku justru tak ada harganya seperti kentut anjing. Coba bayangkan, kapan dia pernah memotong batok kepala gembong iblis atau pembunuh keji mana pun dari persilatan?"

"Ban tua bukankah dia pernah membunuh seorang gembong iblis yang bernama Raja Setan Penggetar Langit?"

"Anak muda, seandainya pada empat puluh tahun berselang Nyo Thain-wi pernah melenyapkan Raja Setan Penggetar Langit, mengapa empat puluh tahun kemudian kau justru telah berjumpa lagi dengan Raja Setan Penggetar Langit di perkampungan Siu-ning-ceng? Mungkinkah orang itu gadungan? Kalau tidak, bukankah orang yang terbunuh pada empat puluh tahun berselang adalah gadungan?"

Pertanyaan yang diajukan oleh kakek latah tersebut kontan saja membuat oh Put Kui menjadi tertegun.

Peristiwa semacam ini memang belum pernah dibayangkan sebelumnya...

Mendadak kakek latah awet muda berteriak kembali dengan suara yang keras .

"Anak muda, apakah kau sudah mengerti?"

"Masih belum begitu mengerti"

"Tidak begitu mengerti?"

Kakek latah awet muda berkerut kening.

"jadi kau tidak percaya dengan dugaanku ini?"

"Aah, masa boanpwee berani tak percaya? cuma masih ada banyak hal yang sangat mencurigakan."

"Tentu saja. kalau masih tiada kecurigaan, masa aku berani mengatakan hanya dugaan?"

Oh Put Kui merasa apa yang dikatakan memang merupakan suatu perkataan yang Sejujurnya. Sekalipun demikian, dimulut dia berkata juga .

"Ban tua, bila dibicarakan menurut keadaan didepan mata, Nyoo Thian-wi yang sudah mati sudah tentu tak perlu kita urusi lagi, tapi paling tidak keturunan dari Nyoo Thian-wi telah menunjukkan perlakuan yang salah dan melakukan perbuatan jahat."

"Bagaimana kalau kita kuntil mereka?"

Kata kakek latah awet muda sambil manggut-manggut.

"Menguntit mereka?"

Oh put-kui tertegun.

"tapi Boanpwee hendak pergi ke Lam-cong."

"Anak muda. paling tidak kita harus membuat jelas duduk persoalan tentang kapal-kapal yang disegel di Kang-Ciu ini sebelum pergi."

Kemudian tanpa memperdulikan Oh Put-kui lagi, ia segera berpaling ke arah si Ular Aneh Wan-sam sambil membentak.

"Tahukah kau apa sebabnya orang she Nyo itu menyegel semua perahu yang ada disini?"

"Boanpwee dengar, hal ini sengaja dilakukan karena hendak menghadapi perkumpulan Pay-kau."

Jawab Wan-sam perlahan, jangankan bersuara keras, mau menghembuskan napas keras-keras pun tak berani.

"Hahaha, perselisihan apa yang telah terjadi antara pihak Sian-Hong hu dengan Pay-kau?"

"Menurut laporan yang boanpwee terima, persoalan ini timbul karena perselisihan murid pertama ketua Pay-kau yang disebut si Tamu Tanpa Bayangan penghancur hati Ciu It-Cing dengan majikan muda dari Sian-Hing hu, Nyo Ban-bu."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Oh Put Kui terkesiap.

Padahal antara Ciu It-cing dan Nyo Ban-Bu tidak terjadi sesuatu perselisihan yang terlau besar ketika berada dalam perkampungan Siu-ning-ceng, tapi kenyataan Nyoo Ban-bu begitu menaruh dendam sehingga tidak segan-segan melakukan tindakan pembalasan secara besar-besaran, ini berarti dibalik kesemuanya itu sudah pasti masih terselip hal-hal lain yang luar biasa.

Sementara itu kakek latah awet muda telah berkata sambil tertawa tergelak .

"Wan Sam, apakah markas besar perkumpulan Pay Kau berada di Seng-ciu...?"

"Benar, berada di Seng-ciu"

"Sungguh aneh sekali, mengapa orang she Nyoo itu justru menyegel semua kapal yang berada di Kang ciu?"

"Sebab Kaucu dari Pey-kau sudah berada di Kang ciu sekarang"

Sahut Wan Sam sambil tertawa. Kakek latah awet muda kontan saja tertawa tergelak .

"Haaahhh... haaahh... haaahh...jadi Li cing-siu pun sudah datang ke Kang ciu? Kalau begitu tak ada yang aneh lagi Wan Sam, tahukah kau mengapa Li cing siu bisa datang ke Kang ciu ini?"

Kelihatan sekali kalau Wan Sam banyak tahu tentang persoalan dunia persilatan, dari sini dapat dibuktikan betapa tajamnya pendengaran dari orang-orang Kay pang, mungkin jauh melebihi perkumpUlan manapun juga.

Baru selesai si kakek latah awet muda berkata, Wan Sam telah menyahut sambil tertawa.

"Li KaucU datang kemari berhubung sejumlah barang kiriman telah ditahan orang secara paksa, karenanya dia khusus datang sendiri untuk menyelesaikan persoalan tersebut."

Baru selesai Wan Sam berkata, si Pengemis pikun dengan kening berkerut telah menggeleng sambil berkata.

"Wan-tongcu, siapa yang punya nyali sedemikian besarnya hingga berani membegal barang milik Pay-Kau?"

"Betul"

Kata Kakek latah pula.

"Siapa yang begitu bernyali sehingga berani mengusik Li Cing-Siu?"

oodwoo

Jilid 22

"Konon orang itu adalah Tiga padri dari See-ih!"

Bisik Wan Sam dengan wajah agak takut.

"Apa? Tiga orang hweesio pelindung hukum dari kuil Bhudala-si?"

Seru pengemis sinting terperanjat.

"Yaa, hambapun mendengar hal ini dari anggota Pay-kau!"

"Aneh sekali, kenapa padri dari See-ih itu jauh-jauh datang ke Tionggoan hanya berniat membegal barang milik Pay-kau? Betul-betul suatu kejadian yang aneh sekali."

"Wan Sam,"

Kata kakek latah kemudian sambi tertawa.

"apakah ketiga orang hweesio yang kau maksudkan itu benar-benar berasal dari wilayah Tibet?"

"Boanpwee mendapat kabar ini dari anggota Pay-kau, rasanya tak bakal salah lagi!"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu pasti akan ramai sekali!"

Seru kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak. Sebaliknya Oh Put Kui bertanya dengan kening berkerut .

"Ban tua, siapa sih ketiga padri dari See-ih itu?"

"Aku sendiripun tidak tahu, aku cuma tahu ilmu Tay-jiu-eng dari para lhama Tibet merupakan semacam ilmu silat yang betul-betul luar biasa, hanya saja mereka amat jarang berkunjung ke daratan Tionggoan dimasa lalu, sehingga aku sendiripun belum sempat menyaksikan kehebatan dari ilmu silat mereka!"

"Ban tua, selama dua puluh tahun belakangan ini, mereka sudah beberapa kali berkunjung kemari !"

"Benarkah itu? Apakah ilmu Tay-jiu-eng masih bisa ditandingkan dengan ilmu Hud-im-hian-hong-jiu?"

"Selisih jauh sekali!"

"Waaah, kalau begitu tiada sesuatu yang istimewa..."

Gairah kakek latah segera berkurang setelah mendengar perkataan itu.

"Cuma saja..."

Pengemis sinting segera menambahkan sambil tertawa.

"jagoan yang kujumpai tempo hari hanya golongan kelas tiga dan empat saja."

"Kalau begitu, bukankah ilmu Tay-jiu-eng terhitung cukup hebat juga?"

Seru kakek latah cepat sambil tertawa tergelak.

"Sudah barang tentu begitu, aku tahu ilmu silat dari golongan Mi-tiong termasuk ilmu silat tingkat atas."

"Bagus sekali, aku ingin sekali mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari kaum lhama tersebut."

"Ban tua, besok kita harus melanjutkan perjalanan,"

Oh Put Kui segera menyela dengan kening berkerut.

"Eeeh... kau tak usah terburu napsu,"

Seru kakek latah sambi lmenggeleng.

"keramaian semacam ini harus kuhadiri untuk turut menyaksikannya..." ----------------------"Ban tua, kalau begitu terpaksa boanpwee harus berangkat seorang diri lebih dulu,"

Ucap Oh Put Kui kemudian dengan perasaan apa boleh buat. Kakek latah awet muda menjadi tertegun tapi sejenak kemudian serunya lagi sambil tertawa tergelak .

"Kau berani?"

"Mengapa boanpwee tak berani?"

Oh Put Kui balas berseru setelah sempat tertegun sejenak.

"Sebelum memperoleh persetujuanku, kau harus tetap tinggal disini secara baik-baik."

Sebetulnya Oh Put-kui hendak membantah ucapannya itu, tapi diapun mengerti bahwa berdebat hanya berarti membuang tenaga dengan percuma, sudah pasti kakek tua yang kolot ini tak akan memberi ijin kepadanya.

Terpaksa ujarnya sambil tertawa getir.

"Ban tua, aku harus menunggu sampai kapan lagi?"

"Aku sendiripun tidak tahu!"

Sahut si kakek latah sambil tertawa senang. Mendadak orang tua itu teringat akan sesuatu, maka kepada si ular aneh Wan Sam katanya pula.

"Wan Sam, tahukah kau kapan pihak Sian-hong-hu hendak melancarkan serangannya terhadap pihak perkumpulan Pay-kau?"

"Malam nanti!"

"Apa? Mengapa tidak kau katakan semenjak tadi?"

Teriak kakek awet muda dengan marah.

"atau mungkin kau memang sengaja hendak mempermainkan diriku?"

Pucat pias selembar wajah Wan Sam karena kaget bercampur takut, buru-buru dia menyahut.

"Boanpwee tidak berani!"

Kalau begitu, ayoh cepat suruh pelayan mempersiapkan hidangan..."

Kata kakek latah awet muda kemudian sambil mengulapkan tangannya kepada pengemis sinting.

Sang pengemis menyahut dan segera beranjak pergi dari situ.

Ketika Oh Put-kui mendengar bahwa peristiwa itu akan berlangsung malam nanti, dalam hati kecilnya dia merasa gembira sekali, katanya kemudian sambil tertawa.

"Ban tua, kau tak usah terburu napsu, sekarang toh baru mendekati tengah hari..."

"Bocah muda, tahukah kau berapa jauhkah jarak antara tempat ini dengan tempat berlangsungnya pertarungan itu?"

Seru sang kakek sambil tertawa dingin. Oh Put-kui menjadi tertegun, lalu pikirnya.

"Bagaimana mungkin aku bisa tahu?"

Karena itu diapun menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau toh tidak mengetahui berapa jauh tempat tersebut, bila kita tidak berangkat sekarang juga, memangnya kau anggap masih keburu sampai di situ?"

Oh Put-kui kembali menggelengkan kepalanya berulang kali. Sambil tertawa Wan Sam segera menyela "Locianpwee, boanpwee pun sudah menyelidiki tempat yang hendak mereka pergunakan untuk bertarung itu!"

"Waaah, tampaknya kau si pengemis kecil pandai juga untuk bekerja, ayoh cepat katakan kepadaku, dimanakah peristiwa itu hendak berlangsung?"

Seru kakek latah kegirangan.

"Kuil Pau-in-si diluar kota Kang-ciu!"

"Dekatkah tempat itu?"

"Dekat sekali, paling banter cuma tiga li dari batas kota!"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu masih keburu..."

Tapi kemudian secara tiba-tiba kakek itu berkata lagi.

"Wan Sam, tahukah kau kapan waktu yang telah mereka tentukan?"

"Kentongan ke dua nanti!"

Kakek latah awet muda segera tertawa tanpa mengucapkan kata-kata lagi, sedangkan Oh Put-kui segera menyela pula.

"Wan tongcu, perjanjian di kuil Pau-in-si ini ditentukan oleh siapa? Aapakah pihak keluarga Nyoo yang menentukan?"

"Bukan! Tantangan itu dibuat antara pihak Pay Kau dengan tiga padri dari wilayah See-ih!"

"Kalau begitu pihak Sian-hong-hu yang sedang bermain setan dibalik kesemuanya itu,"

Kata Oh Put Kui tertawa.

"Boanpwe pun menduga sampai ke situ, itulah sebabnya boanpwe telah mengutus anggota kantor cabang kamu untuk bersembunyi lebih dulu di sekitar kuil Pau-in-si pada malam nanti, bilamana pergi kami siap akan membantu pihak Pay Kau!"

"Wah, tidak kusangka kau si pengemis kecil pun masih tahu soal setia kawan!"

Kakek latah segera menghentikan tertawanya.

"Selama ini perkampungan kami mempunyai hubungan yang sangat erat dan akrab dengan pihak Pay Kau, oleh sebab itu walaupun boanpwe tahu kalau tindakan yang kuambil merupakan tindakan yang tahu diri, namun kamu pun tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan rekan kami di gontok orang habis-habisan."

"Wan tongcu, apakah kau sudah tidak percaya lagi terhadap pihak Sian-hong-hu?"

Tiba tiba Oh Put Kui menyela sambil tertawa.

Pertanyaan ini sudah jelas mengundang maksud dan tujuan yang amat dalam.

Sebab bagaimanapun juga orang-orang dari pihak Sian-hong-hu merupakan anak murid Kakek suci, paling tidak, mereka adalah orang-orang yang pantas dihormati dan disegani oleh setiap anggota perkumpulan dan partai mana pun yang ada dikolong langit, andaikata, terjadi persoalan maka sudah sewajarnya bila anggota partai lain membantu pihaknya.

Akan tetapi kenyataannya sekarang, pihak kay-pang lebih suka membantu Pay-kau untuk memusuhi para anak murid dari kakek suci, hal ini menunjukkan kalau si ular aneh Wan Sam sudah menaruh rasa tak percaya lagi terhadap tingkah laku dan perbuatan dari orang-orang Sian-hong-hu, paling tidak perintah ini diturunkan dari markas besar perkumpulan Kay-pang.

Kalau bukan begiut, sudah pasti Wan Sam tak akan berani mencampuri perselisihan semacam itu.

Benar juga, baru saja Oh Put Kui menyelesaikan perkataannya, Wan Sam segera berkata sambil tertawa .

"Apa yang diucapkan kongcu memang benar, semenjak boanpwee mengetahui kalau kuku garuda dari Sian-hong-hu banyak melakukan perbuatan terhina dengan menindas kaum lemah dan rakyat kecil, boanpwee segera mangambil keputusan untuk membantu pihak Pay-kau dengan sepenuh tenaga..."

Berhubung pengemis sinting membahasai Oh Put Kui sebagai saudara, oleh karena itu dia pun harus membahasai diri sendiri sebagai boanpwee. Oh Put Kui kembali tertawa hambar.

"Apakah pihak markas besar perkumpulanmu mengetahui tentang keputusan yang kau ambil ini?"

"Tidak tahu,"

Wan Sam menggeleng.

"Seandainya kau telah menyalahi pihak Sian-hong-hu, apakah pangcu mu tak akan menyalahi dirimu?"

Tiba-tiba Wan sam tertawa tergelak dengan suara yang amat nyaring, kemudian serunya.

"Selamanya boanpwe bekerja hanya berdasarkan atas kebenaran, entah pihak itu dari golongan mana pun, yang salah harus ditindak dengan tegas. Andaikata setelah kejadian tersebut pangcu menegurku, boanpwe pun berani menerima segala resiko dan akibatnya!"

Mendengar sampai disini, Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak, lalu pujinya.

"Betul-betul seorang lelaki sejati!"

Sebaliknya kakek latah awet muda ikut berkata pula sambil tertawa tergelak.

"Laksanakan saja dengan hati tenang, biarpun ada kejadian yang bagaimana pun besarnya, biar aku yang tanggung!"

Wan Sam menjadi kegirangan setengah mati, cepat-cepat dia berseru sambil tertawa.

"Banyak terima kasih loocianpwe... cuma boanpwe pun percaya, sekalipun boanpwe melakukan perbuatan ini, pangcu kami tentu tak akan menegur apalagi menyalahkan tindakanku ini."

"Betul. aku tahu Kongcu Liang si bocah kecil itu cukup pandai membedakan persoalan..." --------------------Kentongan pertama sudah lewat. Cahaya lentera bersinar amat terang disekitar kuil Pau-in-si yang terletak diluar kota Kang-ciu Tapi suasana disitu amat sepi, tidak terdengar suara genta, tidak terdengar suara orang membaca doa, tidak terdengar pula manusia yang hiruk pikuk. Suasana dalam ruangan Wau-tong-poo-tiang pun sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun. Hanya asap dupa dari balik hiolo yang mengepulkan asap harumnya memenuhi seluruh ruangan, Didepan ruangan dekat hiolo tersebut, duduk tiga orang lhama berbaju kuning. Tampaknya mereka sedang bersemedi, sehingga keadaannya tidak berbeda dengan orang mati. Pada saat itulah... Tampak dua sosok bayangan manusia melayang turun dari tengah udara dengan gagah dan angkernya. Gerakan tubuh dari kedua sosok bayangan manusia itu sungguh amat cepat, mereka bukannya melayang turun keatas permukaan tanah, melainkan meluncur masuk kebalik rimbunnya dedaunan ditengah pelataran tersebut. Meskipun gerakan tubuh kedua orang itu cepat sekali, namun didalam kenyataannya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun, bahkan dedaunan dibalik pepohonan itupun tidak sampai bergetar, dari sini dapatlah disimpulkan bahwa kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu benar-benar hebat sekali. Begitu melayang masuk kebalik dedaunan, kedua orang itu segera menyembunyikan diri baik-baik. Kemudian salah seorang diantaranya segera menongolkan kepalanya Ternyata orang itu adalah Oh Put Kui. Lantas siapakah seorang yang lain ? Kakek latah awet muda atau pengemis sinting? Setelah menongolkan kepalanya dan memeriksa sekejap keadaan disekeliling tempat itu, Oh Put Kui segera berkata kepada rekannya itu.

"Ban tua, kalau ditinjau dari sikap ketiga orang lhama yang sedang bersemedi itu nampak begitu tenang, bisa diduga kalau ilmu silat yang dimiliki tentu hebat sekali, delapan puluh persen dia adalah jago lihay kelas satu dari golongan Mi tiong!"

Rupanya rekan yang seorang lagi adalah Kakek latah awet muda. Kakek latah awet muda manggut-mangut, lalu dengan ilmu menyampaikan suara pula dia menjawab.

"Hey anak muda, kau harus baik-baik mempersiapkan diri, aku akan periksa keadaan disekeliling tempat ini, daripada setelah sampai waktunya untuk turun tangan nanti, kau belum selesai mempersiapkan diri!"

"Ban tua, memangnya kau anggap boanpwee adalah manusia yang tak berguna?"

Seru Oh Put Kui sambil tertawa.

Sementara itu, dari atas atap ruang tengah telah melongok keluar pula sebuah kepala manusia.

Ternyata orang itu adalah si pengemis sinting.

Rupanya dia sadar kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya kurang sempurna sehingga tak berani menyembunyikan diri diatas pohon tersebut, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terpaksa dia mendaki ke atas atap ruangan dan menyembunyikan diri disana.

Kakek latah awet muda dan Oh Put Kui segera dapat menjumpai jejaknya.

Cuma mereka sama sekali tidak menyapa, sebab Oh Put Kui kuatir kepandaian silat yang dimiliki ketiga orang Lhama itu terlalu tinggi sehingga sapaannya akan segera mengejutkan mereka bertiga.

Pada saat itulah kakek latah awet muda menangkap suara langkah serombongan manusia yang datang dari kejauhan.

Pada mulanya ida mengira rombongan manusia itu tentulah Li Cing-siu dan anak buahnya dari perkumpulan Pay kau.

Tapi setelah diamati lagi dengan seksama, segera ditemukan olehnya bahwa gerak gerik kawanan manusia itu sangat mencurigakan bahkan seakan-akan berusaha untuk menyembunyikan diri dari pandangan orang lain...

Menyaksikan hal ini, kakek latah awet muda segera tertawa tergelak kegelian.

Kalau ditinjau dari gerak gerik mereka itu, sudah jelas rombongan manusia itu adalah orang-orang dari istana Sian-hong-hu...

Diam diam ia bersyukur karena mereka bertiga datang selangkah lebih awal, kalau tidak, sudah pasti tempat persembunyian mereka akan diketahui oleh orang orang dari Sian-hong hu.

Tampaknya Oh Put Kui juga sudah mengetahui akan kehadiran mereka, ia segera berbisik.

"Ban tua nampaknya ada orang sedang menyembunyikan diri disekeliling tempat ini!"

"Yaa, nampaknya orang-orang dari Sian-hong-hu!"

Pada saat itulah dari kejauhan sana kembali berkumandang datang suara langkah kaki manusia.

Lalu nampak munculnya belasan pedang obor yang menerangi serombongan manusia mereka berjalan langsung menuju ke kuil Pau-in-si.

Agaknya rombongan yang datang kali ini adalah orang-orang dari pihak Pay Kau.

Dengan sorot mata Oh Put Kui yang tajam, segera terlihat olehnya bahwa rombongan Pay Kau terdiri dari dua puluhan orang.

Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu cepat, jarak sejauh dua li tersebut ditempuh dalam waktu seperminum teh lamanya.

Menanti rombongan tersebut sudah berada didepan kuil, Oh Put Kui baru dapat melihat dengan jelas wajah-wajah rombongan tersebut.

Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang kakek berambut putih yang mengenakan jubah seorang imam.

Dia mempunyai raut wajah yang bersih dan sikap yang lembut, langkah tubuhnya sangat ringan, sikapnya berwibawa sehingga memberi kesan anggun bagi siapapun yang melihatnya.

Oh Put-kui tahu, orang itu tentulah Huan-im cinjin Li Cing-siu dari Pay-kau.

Dibelakang kakek itu adalah dua orang kakek berusia tujuh puluh tahunan, seorang berpakaian imam dan seorang lagi berpakaian preman.

Dibelakang kedua orang kakek itu adalah tamu tanpa bayangan penghancur hati Ciu It-cing.

Dibelakang Ciu It-cing adalah seorang tosu setengah umur dan seorang sastrawan setengah umur.

Sedangkan dibelakang kedua orang itu adalah kawanan lelaki kekar berdandan kelasi.

Tatkala rombongan tersebut tiba didepan ruangan, dari kejauhan sana terdengar suara kentongan berbunyi dua kali.

Mendadak tiga orang lhama itu membuka matanya bersama-sama...

Salah seorang diantaranya, seorang pendeta berusia tujuh puluh tahunan yang bermuka dingin menyeramkan segera berseru sambil tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Li sicu benar-benar seorang yang memegang janji, datang tepat pada saatnya...!"

Kakek berambut putih yang berbaju imam itu segera tertawa hambar.

"Untuk memenuhi undangan dari siansu bertiga, tentu saja aku tak berani datang terlambat."

"Li sicu pandai juga merendah..."

Kata lhama itu kemudian sambil tertawa, lalu sambil menuding ke sebuah kasur ditengah ruangan, katanya lagi.

"Silahkan duduk dulu sebelum berbincang bincang!"

Kakek berdandan tosu dan dua kakek di belakangnya segera mengambil tempat duduk dibantal bantal yang sudah tersedia di hadapan ketiga orang lhama itu.

Sedangkan Siu It-cing sekalian berdiri berjalan ketiga orang kakek itu.

Sesudah mengambil tempat duduk, kaucu dari Pay Kau, Li Cing-siu baru berkata dengan suara dalam.

"Tentang kehadiran Pu Khong siansu bertiga di daratan Tiong-gona sudah lama kudengar, hanya tidak kupahami apa sebabnya siansu justru menyegel beratus buah kapal dari perkumpulan kami yang ada di Kang-ciu sekarang sehingga menyebabkan perkumpulan kami menderita kerugian yang cukup besar?"

Put-khong lhama segera tertawa tergelak"

"Haaahhh... haaahhh...haaahhh.... Li sicu, berbicara yang sebenarnya, tindakan lolap dengan menyegel beratus buah kapal kalian itu merupakan suatu transaksi perdagangan."

"Transaksi perdagangan?"

Tanya Li Cing-siu menjadi tertegun.

"harap siansu jangan bergurau, tahukah kau bahwa gara-gara ulahmu itu menyebabkan perkumpulan kami telah kehilangan langganan terbesar dari kota Kim-leng? Hmmm, masa siansu masih berkata demikian, bukankah perbuatanmu ini sama artinya dengan mengejek diriku?"

Dari perkataan itu bisa diketahui kalau kaucu dari Pay-kau ini benar-benar sudah amat gusar, hanya saja dia masih berusaha untuk mengendalikan diri agar amarahnya tidak sampai meledak...

Put-khong siansu kembali tertawa licik.

"Li sicu, lolap akan membeli semua perahumu itu!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Li Cing-siu setelah mendengar perkataan itu, dengan lantang diapun berkata.

"Kalau begitu siansu memang benar-benar bermaksud untuk mencari gara-gara dengan perkumpulan kami."

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... apakah kaucu merasa keberatan untuk menjual perahu-perahumu itu?"

"Semua kayu dari perahu-perahu tersebut merupakan pesanan dari seorang langgananku, bagaimana mungkin aku boleh menjualnya lagi kepadamu? Apalagi si pemesanpun belum tentu akan menyetujui jual beli ini?"

"Aaah, soal si pemesan sih urusan kecil, lolap pasti dapat memaksanya untuk menyetujui."

Tiba-tiba Li Cing-siu menarik muka lalu berkata.

"Menurut peraturan dari perkumpulan kami, bilamana barang pesanan belum tiba ditempat tujuan maka siapapun tak boleh mengusiknya, jikalau siansu bersikeras hendak membelinya, tunggulah sampai aku mengirim semua perahu itu ke Kim-leng dan menyerahkan kepada pemesannya, kemudian siansu baru mengadakan jual beli sendiri dengan pemilik barang itu."

"Hmmm, sayang sekali lolap tidak mempunyai banyak waktu..."

Kata Put-khong siansu sambil tertawa dingin. Ki Siu-cing tertawa dingin pula.

"Sebelum barang pesanan itu tiba ditempat tujuan, bila siansu memaksa terus sama artinya dengan ingin bermusuhan dengan perkumpulan kami."

Baru saja perkataan dari Li Siu cing itu selesai diutarakan, lhama tua bertubuh kurus yang duduk disisi kiri Put-khong siansu itu sudah tertawa panjang sambil menyela.

"Sejak kedatangan Li Kaucu dengan memimpin segenap kekuatan, kau telah menganggap lolap sebagai musuh!"

"Apakah Wi cay siansu tidak menganggap perkataanmu itu ingin mencari menangnya sendiri,"

Kata Li Cing-siu dengan suara dalam. Oh Put Kui yang mendengarkan pembicaraan tersebut, diam-diam segera berpikir .

"Kalau didengar dari nama yang mereka pergunakan itu, nampaknya mereka melepaskan diri dari kependetaannya dan kembali menjadi orang swasta..."

Belum habis Oh Put Kui berpikir, Wi-cay siansu telah berkata lagi dengan suara keras.

"Kapan sih lolap ingin mencari menangnya sendiri?"

Sambil tertawa dingin Li CIng-siu berseru.

"Tanpa sebab musabab kalian menahan semua barang kami, bukankah tindakan tersebut sudah jelas mencerminkan sikap permusuhan kalian terhadap perkumpulan kami? Hari ini aku datang kemari sebetulnya berniat untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik..."

Wi-cay siansu tertawa terbahak-bahak, sebelum dia sempat berkata lagi, si lhama gemuk yang duduk di sebelah kanan Put Khoong-siansu telah berkata pula smabil tertawa terkekeh-kekeh .

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Li Kaucu, aku si hwesio gemuk paling suka untuk berbicara secara baik baik, coba kau terangkan dulu bagaimana cara penyelesaianmu yang kau anggap baik?"

"Biala Ha-ha siancu memang suka penyelesaian secara baik-baik, hal ini tentu saja lebih baik,"

Seru Li Cing-siu dengan kening berkerut dan suara keras.

"sekarang harap kalian bertiga untuk menurunkan perintah kepada anak buahmu untuk mengembalikan semua barang milik kami, sekalipun kami terlambat lima hari dari batas waktu penyerahan yang telah ditetapkan, tak nanti aku akan menuntut ganti kerugian dari kalian bertiga."

Oh Put Kui tertawa geli, pikirnya tiba-tiba.

"Hwesio ini memang tepat jika dipanggil Ha-ha siansu, nyatanya dia memang suka sekali tertawa haha hihi..."

Sementara itu Ha-ha siansu telah menggelengkan kepalanya sambil berkata.

"Tidak bia, cara penyelesaian kami yang dianggap baik hanya satu saja."

"Penyelesaian yang bagaimana?"

Tanya Lo Cing-siu marah. Kembali Ha-ha siansu tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... jual semua barang itu kepada lolap, bukan saja lolap akan membayar semua harganya, bahkan akan kubayar beaya pengiriman lima kali lipat lebih besar."

Li Cing-siu segera melompat bangun, lalu sambil menuding ke tiga orang pendeta itu serunya.

"Tampaknya kalian bertiga hendak mengandalkan ilmu silat dari golongan Mi-tiong untuk berbuat semena-mena sehingga tidak memandang sebelah matapun kepadaku, tapi aku perlu memberitahukan kepada kalian, jika kalian beranggapan demikian maka anggapan kalian itu keliru besar sekali." -----------------------Ha ha siansu kontan saja melompat dari tempat duduknya dan bersiap sedia untuk melancarkan serangan. Begitu ia bangun berdiri, maka tampaklah perawakan tubuhnya yang bulat persis seperti bola daging. Berbicara soal tinggi badan, dia sebanding dengan pengemis sinting, tapi perawakan tubuhnya justru empat kali lipat lebih besar daripada tubuh si pengemis sinting. Oh Put Kui yang menyaksikan hal tersebut hampir saja tertawa tergelak saking gelinya. Ha-ha siansu kembali berseru sambil tertawa tergelak.

"Jadi Li kaucu bersikeras tak mau menjualnya?"

"Lebih baik siansu tak usah bersilat lidah lagi,"

Tukas Li Cing-siu sambil tertawa dingin. Baru selesai ia berkata, kakek berbaju hitam yang berada disisinya telah membentak gusar.

"Kaucu, bekuk saja ketiga orang keledai gundul ini, masa dia tak akan membebaskan barang-barang kita?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Tio Sian-hau, nampaknya bacotmu makin lama semakin bertambah besar,"

Kata Ha-ha siansu tiba-tiba.

"aku lihat dulunya kau toh belum pernah mempunyai nyali sedemikian besarnya..."

Baca Juga: Elang Pemburu Gu Long

Baca Juga: Kekaisaran Rajawali Emas 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert