Ceritasilat Novel Online

Misteri Pulau Neraka 5

Eps 5 Misteri Pulau Neraka - Gu Long

Baca online Misteri Pulau Neraka - Gu Long

Cersil Misteri Pulau Neraka - Gu Long.

"Selama hidup lohu paling takut kalau dijadikan seorang juri, sebab kalau kurang berhati-hati bisa mendatangkan resik buat diri sendiri, apalagi kalai penilaiannya dianggap kurang jujur, waaah ...... bisa-bisa nyawa turun melayang."

oodwoo

Jilid 15 OH PUT KUI merasa geli sekali sesudah mendengar perkataan itu, hampir saja meledak gelak tertawanya.

Dia tak menyangka kalau gembong iblis tua inipun pandai sekali menggona orang.

Im Tiong hok kelihatan agak tertegus, kemudian serunya lagi .

"Siau tua, disini hanya kau seorang yang sanggup!"

Sebenarnya dia hendak mengatakan begini.

"Hanya kau seorang yang pantas menjadi juri untuk pertaruhan kami,"

Tapi secara tiba-tiba ia teringat kalau ke lima orang ciangbunjin dari lima partai besarpun turut hadir disana, maka terpaksa ucapan mana ditarik kembali mentah-mentah.

Dia tak ingin gara-gara salah ucapan berakibat kemarahan dari para diangbunjin dari lima partai besr itu, sebab hal mana Cuma akan mendatangkan kerugian saja bagi dirinya.

Dari sikapnya ini bisa disimpulkan pula kalau orang ini amat teliti dan berhati-hati dalam setiap tindakannya.

Siau lojin tetap menggelengkan kepalanya seraya berkata .

"Bocah muda, lohu enggan menjadi juri ... Cuma lohu bisa memilihkan penggantinya dengan tepat, biar dia saja yang mewakili lohu dalam menengahi masalah ini !"

Mendengar ucapan terebut, Im Tiong-hok segera berseru sambil tertawa lebar .

"Jika kau orang tua yang pilihkan, hal ini pasti tak bakal salah lagi...."

Siau lojin tersenyum, dia segera berpaling ke arah Oh Put-kui sambil bertanya .

"Hei bocah muda. Tolong merepotkan kau sebentar !"

"Aku ?"

Oh Put-kui tertawa geli.

"memangapa kau orang tua musti memberikan kesulitan buat boanpwe ?"

"Anak muda, kau dapat mewakili lohu, kesulitan apa sih yang kau kuatirkan ?"

Sorot matanya segera dialihkan ke Im Tiong-hok yang masih berdiri dengan kening berkerut, kemudian melanjutkan .

"Bocah muda ini bernama Oh Put-kui, Long-cu-koay-hiap (pendekar aneh gelandangan) yang termasyur dalam dunia persilatan belakangan ini, tapi bocah ini menyebut dirinya sebagai si Gelandangan yang tidak kenal siapa-siapa. Bila dia yang mewakili lohu untuk menengahi persoalan ini, tanggung tak bakal terjadi kebocoran-kebocoran yang tak diinginkan, bagaimana ? Puas tidak ?"

Sesungguhnya Im Tion-hok masih berdiri dengan wajah termangu, tapi setelah mengetahui dia adalah Oh Put-kui, seketika itu juga rasa tertegunnya hilang lenyap tak membekas, sebagai antinya sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibirnya, sahutnya dengan lancang .

"Boanpwe percaya kau orang tua tak bakal salah memilih !"

Kemudian sambil mengalihkan sinar matanya ke wajah Oh Put-kui, dia melanjutkan .

"Saudara Oh, aku orang she Im memohon kesediaan saudara Oh !"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Oh Put-kui bangkit berdiri, ujarnya sambil tertawa .

"Saudara Im kelewat sungkan ! Siaute kuatir tak bisa memenuhi harapanmu itu."

Sambil tertawa Im Tiong-hok mempersilahkan Oh Put-kui untuk berjalan lebih dulu.

Oh Put-kui menjura lalu maju ke tengah arena dengan langkah lebar ....

Kepada Lamkiong Ceng, Im Tiong-hok segera berkata sambil tertawa.

"Saudara Lamkiong kenal dengan saudara Oh ?"

"Lamkiong Ceng segera tertawa.

"Saudara Oh masih terhitung tuan siaute, tentu saja aku kenal dengannya."

Setelah berhenti sejenak, dia menjura kepada Oh Put-kui sambil berkata .

"Merepotkan saudara Oh saja ?"

Oh Put-kui tersenyum, lagaknya mirip juga dengan seorang angkatan tua dari dunia persilatan.

"Harap kalian berdua berdiri saling berhadapan dengan selisih jarak delapan depa !"

Im Tiong-hok serta Lamkiong ceng menurut sekali, serentakan mereka berdua memisahkan diri kekiri dan kanan lalu berdiri saling berhadapan ....

Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put-kui, serunya sambil tertawa .

"Begitu siaute memberi komando, harap kalian berdua segera melancarkan serangan !"

Mendadak dia berpaling ke arah Mo kiam-huan-say"

Singa latah pedang iblis... Kit Hu-seng seraya berseru .

"Saudara Kit, harap kau sudi membantu siaute untuk menghitung jumlah jurus serangan yang mereka lakukan."

"Siaute siap membantu !"

Sahut Kit Hu-seng sambil bangkit berdiri. Sambil tertawa kembali Oh Put-kui berkata .

"Jika sudah genap seratus gebrakan dan menang kalah masih belum diketahui, harap saudara Kit sudi memberi tanda agar jangan smapai menyalahi peraturan!"

"Siaute mengerti!"

Sambil tertawa Oh Put-kui manggut-manggut, sorot matanya segera dialihkan kembali ketubuh kedua orang itu, mendadak bentaknya dengan suara parau .

"Mulai !"

Begitu bentakan diutarakan, dua sosok bayangan manusia secepat sambaran kilat menerjang masuk ke tengah arena.

"Bilaaammmm....!"

Begitu maju bertarung, pada jurus yang pertama mereka sudah saling beradu kekerasan satu kali.

Begitu telapak tangan masing masing saling beradu, kedua orang itu segera saling berpisah.

Tapi begitu mundur mereka maju kembali untuk saling beradu kekuatan lebih jauh.

Secara beruntun terjadi tujuh kali benturan nyaring yang menggelepar diseluruh angkasa, sedemikian hebatnya benturan tersebut membuat seluruh ruangan ikut bergoncang keras.

Tampaknya kedua belah pihak sama sama enggan mengalah, kendatipun dalam peraturan ditentukan mereka hanya boleh saling menowel saja, namun apa bedanya pertarungan yang sedang berlangsung sekarang dengan suatu peraturan adu jiwa ?

Im Tiong-hok dan Lamkiong Ceng saling bertarung sepuluh gebrakan lebih, akan tetapi menang kalah masih belum bisa diketahui.

Siapa pun tidak menyangka bahwasanya Im Tiong-hok yang nampak halus lembut ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna.

Sebaliknya Lamkiong Ceng yang sebetulnya termashur karena kekuatan pukulannya kali ini tidak berhasil memperlihatkan keunggulan apa apa kendatipun pertarungan adu kekuatan telah berlangsung belasan gebrakan lebih.

Tak heran kalau Lamkiong Ceng menjadi bersedih hati oleh kenyataan tersebut.

Tampak ia menggertak giginya kencang-kencang sementara dari balik matanya mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati.

Ditengah suara pekikan nyaring yang menggetar sukma, mendadak tubuhnya melejit setinggi tiga kali setengah udara.

Rupanya dia telah mengeluarkan ilmu andalan dari si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok ...

"Aaah, delapan belas pukulan naga terbang!"

Kedengaran ada orang menjerit kaget.

Memang tak salah lagi, Lamkiong Ceng memang telah mengeluarkan ilmu delapan belas pukulan naga terbang yang maha dahsyat itu.

Begitu tubuhnya melejit ketengah udara, sebuah pukulan segera dilancarkan dengan jurus Cian-liong gi-si (naga sakti mencukur jenggot) Begitu angin pukulan dilancarkan, tiga kaki disekitar Im-Tiong-hok berdiri segra diliputi oleh hawa serangan yang menggidikkan hati, Terkesiap hati Im-Tiong-hok sesudah menyaksikan kejadian itu, dia tidak menyangka kalau delapan belas pukulan naga terbang ternyata memiliki kedahsyatan yang begitu mengerikan.

Akan tetapi dia adalah seorang ahli yang berpengalaman karenanya meski dibikin terkejut, hatinya tak sampai gugup menghadapi ancaman yang tiba.

Dengan cepat Im-Tiong-hok merendahkan tubuhnya ke bawah, telapak tangan kanannya dibalik dari bawah menuu keatas dan menyongsong datangnya angin pukulan dari Lamkiong Ceng, segulung angin serangan segera meluncur keluar.

Berbareng itu juga, tangan kirinya diputar dari luar menuju kedalam, kemudian melepaskan sebuah sentilan jari.

Tenaga pukulan Lamkiong Ceng yang berat seperti tindihan bukit Thay-san itu serta merta kena terbendung sehingga tenaga serangan itu miring kesamping.

"Blaaammmm ........!"

Suara benturan keras yang memekikkan telinga segera bergema diangkasa.

Sebuah lubang sebesar satu kaki segera muncul diatas permukaan lantai yang terdiri dari batu hijau keras itu.

Dari sini bisa diketahui kalau tenaga pukulan dari Lamkiong Ceng tersebut cukup ganas dan mengerikan.

Kawanan jago yang berada di luar ruangan sama-sama menjulurkan lidahnya setelah menyaksikan kejadian ini.

Siapa pun mengetahuinya bahwa batok kepala manusia tidak lebih keras dari pada lantai ubin hijau tersebut, kalau batu yang begitu kers saja kena dihajar berlubang.

Apalagi batok kepala manusia."

Begitu serangan Lamkiong Ceng dilancarkan, tubuhnya meminjam daya pental tenaga pukulan sendiri melompat mundur sejauh lima depa dari posisi semula.

Im Tiong hok tidak manfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan pengerjaran.

Sesungguhnya dia bisa saja menggunakan peluang itu untuk maju mendesak sambil melancarkan serangan balasan, setelah ia berhasil memukul mundur ancaman dari Lemkiong Ceng dengan mengandalkan ilmu pukulan Kan-lei-ciang ajaran Thian-hiun cinjin dan Ciang-mo-ci ajaran It-im taysu tiga orang gurunya.

Namun diapun lantas menduga bahwa Lamkoong Ceng pasti telah mempersiapkan seangan berikutnya dengan melancarkan delapan belas pukulan naga terbangnya lagi, padahal untuk bergerak ditengah udara, pihak lawan jauh lebih cepat dan cekatan daripada diri sendiri.

Sandainya dia melakukan pengerjaran tersebut, hal ini sama artinya dengan ia memperlihatkan kelemahan pada pertahanan sendiri, bisa jadi ia sendiri yang justru akan kena dipecundangi.

Itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk tetap berdiri tenang ditempat semula tanpa bergerak.

Gagal dengan serangannya tadi, Lamkiong Ceng segera menerjang maju lagi sambil melancarkan serangan.

Im-Tiong-hok tertawa terbahak-bahak, dia mengayunkan telapak tangannya pula menyongsong datangny ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat kembali dalam suatu pertempuran yang benar-benar amat seru.

Kit Hu-seng yang bertugas menghitung jurus serangan, berdiri disisi arena dengan sepasang mata melotot besar.

"Lima puluh dua... lima puluh enam...... empat puluh...."

Dengan suara keras dia menghitung terus tiada hentinya.

Oh Put Kui sendiripun mengikuti jalannya pertarungan yang sedang berlangsung diarena dengan penuh perhatian.

Bukan saja dia mengawasi menang kalah kedua orang itu dengan seksama, lebih lagi dia perhatikan jurus serangan yang digunakan kedua orang itu, terlebih-lebih ilmu pukulan delapan pukulan delapan belas pukulan naga terbang milik Lamkiong Ceng.

000d0w000 Setelah diperhatikan sekian lama dia segera menerumakan bahwa ilmu pukulan tersebut memang lihay, apalagi jika bisa memperoleh perubahan-perubhan disana siui, pada hakekatnya merupakan ilmu pukulan yang ganas, dasyat, tepat daha mematikan.

Sekilas pandangan, Lamkiong Ceng yang bertarung dengan menganlkan ilmu pukulan tersebut memang lihay, apalagi jika bisa memperoleh perubahan-perubahan disana sini, pada hakekatnya merupakan ilmu pukulan yang ganas, dashyat, tepat dah mematikan.

Sekilas pandangan, Lamkiong Ceng yang bertarung dengan mengandalkan ilmu depan belas pukulan naga terbang seperti berhasil merebut posisi yang menguntungkan, seluruh angkasa seakan-akan sudah dipenuhi oleh bayangan tubuh Lamkiong Ceng saja.

Bahkan suasana diluar ruangan sudah berubah menjadi gadung sekali karena dipenuhi suara tepuk tangan dan sorak sorai dari para jago.

Akan tetapi Oh Put Kui mengerti dengan pasti, taktik pertarungan yang dipakai Im Tiong-hok adalah taktik "menaklukkan gerak dengan ketenangan., suatu taktik ilmu silat tingkat tinggi.

Percuma saja Lamkiong Ceng menyerang dengan sepenuh tenaga dengan percuma, Sebaliknya Im Tiong-hok justru berada dalam posisi yang lebih menguntungkan, sebab lebih sedikit tenaga yang dipergunakan oleh.

Setelah perminum the kemudian ...

"Delapan puluh sembilan....sembilan puluh tiga... sembilan puluh lima..."

Sekarang sudah tinggal lima jurus saja !

Akan tetapi menang kalah antara kedua orang itu masih belum bisa ditentukan, Dengan perasaan tercengang Oh Put Kui segera berkerut kening.

Sudah jelas Im Tiong-hok mempunyai kesempatan untuk meraih kemenangan, tapi mengapa ia tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja ?

"Sembilan puluh sembilan!"

Kit Hui-seng berteriak nyaring.

"sekarang tinggal jurus yang terakhir..."

Disaat Kit Hui-seng meneriakkan angka ke "sembilan puluh sembilan"

Itulah tubuh dua orang yang sedang bertempur itu menadak saling berpiah satu sama lainnya.

Bukan hanya berpisah saja bahkan masing-masing pihak berdiri dak berkutik.

Menyaksikan kejadian itu, Oh Put Kui segera tertawa, ia segera mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Dia tahu, kedua orang sama sama ingin mencari cara yang paling baik untuk meraih kemenangan pada jurus serangan yang terakhir ini, mencari akan bagaimana caranya untuk mengalakan pihak lawan dalam satu gebrakan saja.

Para muka Lamkiong Ceng berubah menjadi seius sekali, dadanya nampak naik turun tak menentu, napasnya tersengkal sengkal.

Sebaliknya Im Tiong-hok berdiri tenang seperti patung arca, sorot matanya yang tajam sedang mengawasi tiada hentinya wajah Lamkiong Ceng.

Akhirnya Im Tiong-hok tertawa terbahak bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh...., saudara Lamkiong, jurus serangan yang terakhir ini tak usah dilanjutkan lagi!"

Ucapan tersebut kontan saja membuat Lamkiong Ceng menjadi tertegun dan tidak habis mengerti.

Demikian juga dengan kawasan jago yang hadir baik di dalam ruangan maupun diluar ruangan.

Bahkan Oh Put Kui yang bertindak sebagai juri pun turut tercengah dibuatnya.

Setelah tertegun sesaat, Lamkiong Ceng segera membentuk dengan nyaring.

"Menang kalah akan segera ditentukan dalam jurus serangan serangan yang terakhir ini, apakah saudara Im merasa takut untuk melanjutkan pertarungan ini......? "Saudara Lamkiong."

Kata Im Tiong-hok sambil tertawa.

"dalam sembilan puluh sembilan jurus yang telah lewat, kitahannya berrung seimbang, dari mana kau bisa tahu kalau dalam gebrakan yang terakhir ini meng kalah dapat ditentukan ? Oleh karena itu, siaute rasa ta usah dilanjutkan lagi pertarungan ini !"

"tidak bisa !"

Pertarungan ini hasur dilanjutkan sampai selesai,"

Teriak Lamkiong Ceng dengan kening berkerut.

"Saudara Lamkiong, kau betul betul seorang yang amat keras kepala ....!"

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... kalau sudah ada permulaannya mana boleh tiada akhirnya ?Saudara Im, kau harus berhati hati .....,"

Sambil berkata, pelan pelan dia bergerak maju kemuka. Im Tiong-hok segera menghela napas panjang, bisiknya lirih .

"Saudara Lamkiong, tampaknya sebelum melihat peti, kau tak akan mengucurkan air mata ......"

Lamkiong Ceng sama sekali tidak berbicara apa, apa, dia tetap maju kedepan selangkah demi selangkah.

"Baiklah,"

Ucap Im Tiong-hok kemudian sambil tertawa hambar.

"siaute akan memenuhi harapanmu itu...."

Selesai berkata, mendadak dia melompat, maju kemuka sambil melancarkan.

Telapak tangan kanannya diayunkan kemuka menghantam tubu Lamkiong ceng.

Menyaksikan tibanya serangan nama, Lamkiong Ceng berpekik nyaring lalu melejit, kembali ke tengah udara.

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan kewabah menghajar sepasang bahu Im Tiong-hok......"

Melihat jalan darah Cian-keng-hiat dada seasang bahunya terancam.

Im Tiong-hok tertawa berbahak-bahak, dia menerobs Lamkiong Ceng dari tenaga udara itu, lalu melayang turun delapan depa dari posisi semula.

Seandainya dia melancarkan serangan balasan pad asaat itu, niscaya Lamkiong Ceng tak akan lolos dari ancaman bahasa maut tersebut.

Namun ia tidak berbuat demikian, sebab seratus jurus yang diinjak telah penuh.

Demikian juga halnya dengan Lamkiong Ceng, tatkala engkeramanna mengenai sasaran yang kosong, seratus jurus sudah tercapai.

"Seratus jurus!"

Kit Hu-seng segera berteriak keras. Lamkiong Ceng segera melayang turun ke tanah, kemudian sambil menggelengkan kepalanya dia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Im, kita benar benar seimbang dan sukar di tentukan siapa yang lebih unggul diantara kita ...."

Namun belum selesai perkataan itu dilanjutkan, mendadak ia menjadi tergegun dan segera membungkam.

Sebab dia menyaksikan uung baju sebelah kirinya telah bertambah dengan seuah lubang kecil.

Hal ini menunjukkan kalau dia sudah menderita kekalahan yang mengenaskan dalam pertarungan beruaha, coba kalau pihak lawan tidak bermaksud melukai orang, niscaya dia sudah ......

Tapi Im Tiong-hok segera menyambung kembali perkataan itu .

Ilmu silat saudara Lamkiong memang sangat hebat, siaute bisa tidak menderita kekalahan, al ini benar-benar merupakan suatu keberuntungan besar ........"

Sesudah berhenti sejenak, mendadak dia menghampiri Oh Put Kui sambil tertawa tergelak, katanya .

"Terima kasih atas bantuan saudara Oh!"

Dalam ada itu, Oh Put Kui telah menyaksikan juga sebuah lubang kecil yang muncul diujung baju Lamkiong Ceng. Maka setelah menatap sekejap wajah Im Tiong-hok, dia dalam pertaruhan ini....."

Belum lagi ucapan "kau yang menang"

Sempat diutarakan. Im Tiong-hok telah menukas sambil tertawa terbahak-bahak .

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Oh, pertaruhan ini memang meruakan pertaruhan terbesar yang pernah siaute lakukan selama hidupku, untuk saja keadaan selambang dan tiada yang menang tiada yang kalah, benar-benar suatu kejadian yang amat mujur sekali !"

Oh Put Kui dapat menangkap kerdipan mata Im Tiong-hok kepadanya, maka dia segera tahu kalau orang itu ada maksud untuk menjaga nama baik Lamkiong Ceng.

Pengantin lelaki menderita kalah total pada upacara perkawintannya, kalau hal ini sampai terjadi maka peristiwa tersebut benar-benar merupakan satu kejadian yang sangat tragis.

"Benar, dalam pertaruhan ini kedua belah pihak memang tiada yang menang dan tiada yang kalah!"

Serunya kemudian cepat. Begitu selesai berkata, dia lants membalikkan badan dan berjalan kembali ke tempat duduknya. Tapi, saat itulah Lamkiong Ceng telah berteriak lagi dengan suara lantang.

"Saudara Oh, kau jangan pergi dulu !"

Sementara itu Oh Put-kui telah kembali ke tempat duduknya semula, mendengar perkataan itu terpaksa dia bangkit berdiri dan berkata sambil tertawa .

"Saudara Lamkiong, kepandaianmu seimbang dengan kepandaian saudara Im, menang kalah sukar ditentukan, aku lihat soal pertaruhanpun menjadi dibatalkan ! sedangkan mengenai nyawa dari keenam orang cay-cu, menurut pendapat siaute lebih baik diselidiki dulu sampai jelas selewatnya hari perkawinan kalian, jika terbukti seperti apa yang saudara Im dikatakan tadi dan keenam keenam orang itu terbukti banyak melakukan kejahatan, sudah sepantasnya saudara mengucapkan banyak terima kasih kepada saudara Im ........."

Setelah berhenti sebentar, kembali dia menghela napas panjang dan melanjutkan. Selesai menjura, dia perpaling pula ke arah Im Tiong-hok sambil melanjutkan .

"Saudara Im, beberapa hari lagi pasti siaute akan mengutus orang buat menyelidiki tindak tanduk ke enam orang anak buahku itu, bila mereka benar-benar telah melakukan perbuatan yang jahat, siaute pasti akan berterima kasih sekali kepada saudara Im..."

Sesudah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan .

"Cuma, seandainya apa yang saudara Im ucapkan tidak benar, sambil waktunya siaute pasti akan menuntut keadilan kepada saudara Im atas nasib keenam orang anak buahku itu !"

Im Tiong-hok segera tertawa berbahak-bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Lamkiong, setiap saat siaute akan menantikan pembalasan dari saudara .... Cuma sebelumnya siaute ingin berbicara, dulu, seandainya dikemudian hari kau berhasil menelidiki dosa dan kesalahan yang pernah di lakukan ke enam orang anak buahmu, maka kau tak boleh memutar balikkan duduknya persoalan sehingga demi jaga nama baik sendiri, kau lantas menuntut balas kepada siaute!"

Ketika itu Lamkiong Ceng sudah merasa amat menyesal disamping rasa kagum yang luar biasa terhaap Im Tiong-hok, soal mencari balas dan lain sebagainya yang diucapkannya barusan tak lebih hanya suatu pertanggungan jawab belaka terhadap khalayak umum.

Maka dikala Im Tiong-hok menyelesaikan perkataannya, sambil tertawa dia lantas berseru .

"Saudara Im, apakah kau tidak mempercayai siaute lagi ? "Oooh, tentu saja percaya !"

"Bila saudara Im memang menaruh kepercayaan kepada siaute, harap kau jangan banyak bicara lagi ...."

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... baik baik, siaute akan turut perintah."

Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling arena, mendadak ujarnya lagi sambil menjura .

"Siaute hendak mohon diri lebih dulu !"

Lamkiong Ceng menjadi tertegun.

"Kenapa? Mengapa saudara Im terburu-buru hendak pergi ? serunya.

"Sebenarnya kedatangan siaute ke wilayah Kanglam ini disebabkan ada persoalan yang hendak diselesaikan, justeru kaena kudengar saudara Lamkiong menikah, maka kusesampingkan masalah tersebut untuk sementara guna ikut datang menyampaikan selamat."

"Aaaah, bukankah hal itu disebabkan pelayanku yang kurang baik?"

"Siaute benar-benar amat terburu-bru, bila kurang hormat, harap saudara Lamkiong, sudi memakluminya, untuk berterima kasih saja tak sempat, masa aku marah karena pelayanan yang kurang baik ?"

Setelah berhenti sejenak, dia menjura keempat penjuru, kemudian melanjutkan .

"Sobat sekalian. Im Tiong-hok terpaksa harus pergi dengan terburu-buru, bila ada kesalahan harap dimaafkan, jika kalian ada wkatu pergi ke kanglam, jangan lupa mampir ditempatku...."

Selesai berkata, dia lantas melayang pergi meninggalkan tempat terseut.

Ia datang sangat tiba-tiba, pergi pun amat mendadak, yang tertinggal hanyalah henaan napas panjang dan pujian dari para hadirin.

Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa .

"Orang ini benar-benar memiliki kewibawaan yang mengagumkan."

"Betul,"

Sahut Siau lojin sambil tertawa.

"ucapanmu memang tepat sekali anak muda."

"Dia datang dengan sikap yang angkuh, pergi dengan sikap yang hormat dan merendah, suatu perpaduan yang luar biasa sekali, boanpwe lihat saat bersatunya kaum Liok-lim di utara dan selatan sudah tak jauh lagi."

"Tentu saja, lohu memang sudah mengetahui akan hal ini."

"Dari mana kau bisa tahu?"

Tanya Oh Put Kui keheranan. Siau lojin tertawa.

"Hal ini menyangkut rahasia langit. Anak muda, lebih baik kau jangan bertanya dulu." 0000d0w000 Upacara perkawinan berlangsung sampai larut malam, cahaya lampu masih menerangi seluruh perkampungan siu-ning-ceng. Tapi di atas seuah loteng di belakang bangunan gedung pun di kejauhan sana, suasana justru gelap gulita tak nampak setitik cahayapun. Di tengah kegelapan itulah nampak ada bayangan manusia sedang bergerak-gerak. Semua berjumah tiga sosok, mereka bergerak amat lamban di atas bangunan loteng itu. Slaah seorang diantara mereka, tampaknya sanggup melihat dalam kegelapan dengan jelas, buktinya kalau orang lain hrus berjalan tertitah di tengah kegelapan, maka dia bisa berjalan dengan santai, seakan-akan di tempat yang terang. Tak selang berapa saat kemudian, seluruh bangunan loteng tingkat kedua ini telah mereka periksa dengan seksama, namun tampaknya mereka amat kecewa.

"Saudara Kau, jangan jangan kau salah mendengar/"

Suara Oh Put Kui kedengaran brisik. Rupanya tiga sosok bayangan manusia yang sedang berjalan ditengah kegelapan itu adalah Oh Put Kui, pengems sinting Lok Jin-khi serta petani dari Hosay Kau Cun-jin."

"Tak mungkin saah!"

Jawab au Cun-jin pula setengah berbisik.

"Persekonngkelan, Lamkiong Ceng dan Kit Put sia merupakan suatu peristiwa yang sesungguhnya,"

"Saudara Kau, bilang mereka bersekongkel tapi apa sebabnya putra Kit-put-sia yakni singa latah pedang iblis Kit Hu-seng seperti tidak begitu kenal dengan Lamkiong Ceng?"

Kau Cun-jin segera tertawa rendah.

"Kongcu, Kit Hu-seng amat jarang tinggal dalam lembah iblis saakti, selain itu Ki Put-sia tidak pernah mau mempergunakan tenaga dari putra kesayangannya ini !"

"Mereka kan ayah dan anak kandung, masa terhadap anak sendiripun tidak percaya ?"

Seru Oh Put Kui sambil tertawa.

"Sejak kecil Kit Hu-seng dibesarkan oleh Ibunya."

"Siapa sih ibu Kit Hu seng ?"

"Dia adalah Kim teng-sin-yu nenek sakti dari puncak Kim-teng yang turut terbunuh dibukit Go-bi!"

"Ooo....."

Oh Put Kui yang berada di balik kegelapan nampak tertegun.

"Jadi kim-ten-sin-yu adalah ibu Kit Hui seng?"

Serunya kemudian terkejut.

"Yaa, dan urusan ini diketahi oleh setiap umat persilatan!"

Berkilat tajam sepasang mata Oh Put Kui dibalik kegelapan, kembali ia berkata sambil tertawa.

"Kalau begitu ilmu silang yang dimiliki Kit Hu-seng juga merupakan warisan dari ibunya?"

"Bukan!"

Tiba-tiba pengemis sinting menimberung sambil tertawa.

"lote, Kit Hu seng adalah murid Ceng-thian-sin-ciang (Pukulan sakti penggetar langit) Cian Hau, itulah sebabnya dia jadi ketularan sikap gagah dan bijaksananya !"

Oh Put Kui tidak mengira kalau Kit Hui seng adalah anak murid dari Cian Han. Setelah menghela napas rendah katanya .

"Apakah ilmu silatnya berasal dari gedung Ceng thian ciangkun-hu? "Siapa bilang tidak ?"

"Lok loko, Cian Han adalah panglima ternama pada pemerintah dinasti yang lalu, diapun merupakan seorang pendekat aneh ketika itu. Bagaimana mungkin dia bisa menerima putra seorang gembong iblis menjadi muridnya?"

"Lote, kalau soal itu mah kau tak bakal mengetahui lebih banyak daripada aku si pengemis tua."

"Tentu saja, siapa bilang aku mengetahui lebih banyak dari pada loko ?"

Jawab Oh Put Kui tertawa. Umpakan tersebut langsung termakan oleh pengemis sinting. Terdengar dia tertawa lirih dengan banga, lalu berkata .

"Lote, kau memang pandai sekali mengumpak ! Sudah jelas aku si pengemis tua tahu kalau kau lagi mengumpakku, tapi hatiku justru merasa amat nyaman sekali.... Saat lote, aku benar-benar takluk kepadamu !"

Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa, katanya .

"Engkoh tua, kau jangan membawa persoalan kelewat jauh !"

Pengemis sinting tertawa.

"Lote, tahukah kau Kim-teng-sin yu sebenarna bernama siapa ?"

"Engkoh tua, pertanyaanmu sama artinya dengan pertanyaan kepada orang orang buta, mana aku bisa tahu ?"

"Dia bernama Cian Sian-koh!"

"Aaaah, mengerti aku sekarang, kalau begitu Cian Han dan Kim-teng-sin-y tentu saudara sekandung."

"Tepat sekali!"

Teriak sipengemis lupa diri.

"Sssstt... pelan sedikit ..."

Buru-buru Oh Put Kui menegur dengan kening berkerut. Ditengah kegelapan pengemis sinting membuat muka setan, kemudian sahutnya berulang kali .

"Baik, baik!"

Pada saat ituah Kau Cun-jin turut menimbrung .

"Kongcu, menurut penyelidikan ku, tusuk konde pemunah tulang Ngo-im-hua-kut-cha memang disembunyikan dalam loteng kecil dikebuh belakang perkampungan Siu-nin-ceng!"

"Tapi, kita sudah menggeledah loten ini sampai dua tingkat !"

Seru Oh Put Kui dengan kening berkerut.

"Tapi kan masih ada satu tingkat ?"

Kata Cun-jin sambil tertawa.

"Masih ada setingkat ? saucara Kau, kau bilang atap dari loteng tingkat kedua ini ?"

"Benar !"

"Tapi disini toh tiada pintu yang menghubungkan tempat tersebut?"

Kata Oh Put Kui berkerut kening.

"Aku si orang tua tahu !"

Sambil berkata ka Cun-jin lantas berjalan menuju kesebuah sudut ruangan itu.

"Kongcu, tianglo, harap kalian mengikuti aku.

"ajaknya kemudian. Mereka berdua berjalan menyusul dibelakang Kau Cun-jin, sementara itu sebuah langit-langit sudah disingkirkan dan mereka bersiap-siap melompat naik keatas atas loteng itu. 000d0w000 Mendadak........ terdengar suara tertawa dingin berkumandang datang dari balik celah itu. Hoo-see le-nong (petani tua dari Hoo-see) Kau Cun-jin serentak mundur kebelakang dengan gerakan secepat kilat, dia betul-betul merasa terperanjat.

"Ada orangnya ? bisik Oh Put Kui dengan sorot mata berkilat tajam.

"Kongcu, kejadian semacam ini tak pernah kuduga sebelumnya, satu-satunya cara yang terbaik sekarang, menurut pendapatku adalah berusaha naik keatas dan membungkam mulut saksi hidup itu......"

Ehmmm, miggirlah Kau loko, biar siau orang itu, begitu aku naik, kalian segera mengikuti dibelakangku, siaute percaya orang yang berada diatas loteng itu akan berhasil melukai kalian!"

"Lote, kau harus berhati-hati!"

Bisik pengemis sinting.

"Jangan kuatir......"

Begitu selesai berkata, dia lantas menarik langit-langit ruangan itu dan menghimpun tenga dalamnya sambil bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tak selang beberapa saat kemudian, mendadak tubuhnya melayang naik keatas secara pelan-pelan.

Bagaian segumpal awan, pelan-pelan adannya melambung dan meluncur ditengah udara.

Dalam pada itu, dari atas ruang loteng tersebut tidak terdengar suara lagi kecuali suara tertawa dingin tadi.

Dengan suatu gerakan yang cepat Oh Put Kui melayang kemulut masuk ruang loteng itu, tapi anehnya ternyata tidak terasa ada kekuatan yang menghalangi gerak majunya hal mana kontan saja membuat anak muda tersebut merasa keheranan.

Kalau memang disitu ada orang, mengapa tidak muncul kekuaran yang menghalangi gerak melambungnya ?

Sementara ingatan tersebut masih melintas dalam benaknya, sang tubuh masing melambung terus keatas.

Pada saat pinggangnya hendak menembusi langit langit ruangan itulah mendadak terdengar suara tertawa dingin, kemudian terasa ada segulung tenaga tekanan yang sangat berat menghantam tiba.

Oh Put Kui jadi terperanjat sekali, dia merasa bahwasanya ke hutan tenaga tekanan yang menindih tubuhnya sedemikian hebat, pada hakekatnya beum pernah di jumpai sebelumnya.

Seketika itu juga, tubuhnya yang sedang melambung ketengah udara itu terhenti setangah jalan.

Tapi, dia tidak melayang turun kembali kebawah.

Sebab dengan mengandalkan ilmu Kiu-pian tay-sian sinkang ajaran perguruannya dia masih sanggu mempertahankan diri, hanya yang diherankan adalah mengapa kekuatan lawan sanggup beradu seimbang dengan kemampuan sendiri...."

Kenyataan tersebut hampir saja membuat Oh Put Kui tidak percaya.

Sementara itu, orang yang sedang berada dalam ruang lotenganpun hampir tidak percaya dengan kenyataan yang beraa di depan mata.

Sudah duapulh tahunan lamanya dia berdiam dalam ruang loteng ini, dan selama dua puluh tahun ini, baru pertama kali ada orang yang tidak kena dipukul mundur oleh tenaga saksinya.

Berhubung sudah kelewat lama dia tinggal dalam kegelapan, maka dia dapat melihat jelas kalau orang yang melayang masuk kedalam ruangan itu tak lain adalah seorang pemuda berumur dua puluh tahunan.

Kenyataan ini benar-benar membuat hatinya sangat terperanjat.

Dia tak habis mengerti, apa sebabnya bocah muda itu bisa memiliki kepandaian silat yang begitu hebat, bahkan yang dipakai mirip sekali dengan ilmu Kiu-pian-tay-sian singkang dari sahabat karibnya.

Begitulah, sementara kedua orang out masih memutar otak, masing-masing pihak sudah saling berhadapan hampir setengah perminum teh lamanya.

Kini Oh Put Kui sudah mulai merasa sedikit tak tahan, tubuhnya hampir saja tenggelam ke bawah.

Mendadak....

saat itulah dia merasa daya tekanan di luar badannya menjadi enteng, lalu terdengar seseorang berkata sambil tertawa.

"Naiklah ke atas! Lohu bersedia untuk bersahabat denganmu..."

Dalam tertegunnya, Oh Put Kui melangkah masuk ke dalam ruangan loteng itu.

Anak muda ini memiliki juga kemampuan untuk melihat dalam kegelapan, maka setibanya di dalam ruangan, dia lantas dapat melihat segala sesuatu yang terbentang disana.

Ternyata luas loteng itu hanya tiga kaki lebih, empat dinding kosong melompong tak ada sesuatu bendapun, di tengah ruangan duduklah bersila seorang kakek.

Rambut putih kakek itu terurai sedada, bercampur baur dengan jenggot putihnya yang memanjang, hampir tak dapat dibedakan mana yang rambut dan mana yang jenggot.

Selemar wajahnya, ada sebagian yang tersembunyi di balik rambut dan jenggotnya yang putih.

Oh Put Kui segera menemukan bahwa raut wajah kakek itu sangat dikenal oleh, seakan-akan mereka sering berjumpa, namun untuk sesaat dia tak teringat dimanakah mereka pernah bersua ?.

Alis mata kakek itu sangat tipis, lagi pula belum berubah memutih.

Mulutnya besar sekali, akan tetapi belum berkeriput, sedang kulit mukanya merah segar seperti bayi.

Sepasang matanya bulat sekali, bulan membawa sifat kekanak-kanakan.

Bajunya berwarna coklat tampat amat bersih, sepanjang tangannya diletakkan keatas lutut, sedangkan wajahnya nampak tersenyum ramah.

Diam-diam Oh Put Kui merasa amat terperanjat, sebab dia menemukan kalau ilmu silat yang dimiliki kakek berambut putih ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa hingga pada hakekatnya sudah kembali kealam anak-anak.

Terhadap manusia seperti ini, dia tak ingin bersikap kurang homat.....

"Bila boanpwe Oh Put Kui telah salah masuk kemari, harap kau orang tua .... Kakek berambut putih itu tertawa aneh, sebelum anak muda itu selesai berbicara, dia telah menukas .

"Lohu tidak perduli siapakah kau, tapi kalau dilihat dari kemampuanmu untuk menerima serangan Hui-sik-singkang lohu, sepantasnya kalau kau terhitung jago nomor wahid dikolong langit, nah anak muda, dengan usia semuda itu hebat, kenyataan ini sungguh membuat lohu merasa gembira sekali..... oleh karena itulah aku melanggar kebiasaan dengan mengijinkan kau naik ke loteng......."

Mungkin lantaran gembira, dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Tergerak hati Oh Put Kui sesudah mendengar itu, sambil menjura segera ujarnya .

"Locianpwe kelewat memuji diriku, membuat boanpwe menjadi malu sendiri, boleh kah aku tahu siapa nama cianpwe?"

"Bocah, kau tak usah bertanya siapa namaku, sekarang jarab dahulu yang kau gunakan untuk melompat naik keatas tadi adalah Kui-pian-tay-sian sincang ?"

Terkesiap sekali perasaan Locianpwe sesudah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa .

"Darimana Locianpwe bisa mengetahui kepandaian sakti dari perguruannya. Kakek tersebut tidak menjawab, pertanyaan orang, sebaliknya sambil menatap wajah anak muda itu lekat-lekat, katanya lagi sambil tertawa. Bocah muda, apa hubunganmu dengan Oh Siau ?"

Oh Put Kui semakin terkejut lagi setelah mendengar nama itu disinggung, segera pikirnya .

"Heran, mengapa orang tua ini bisa mengetahui nama preman dari empekku yang juga merupakan guruku ? jangan -jangan dia adalah sahabat karib guruku?"

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa sikapnya menjadi jauh lebih menghormat, sahutnya cepat .

"Dia adalah empekku, juga merupakan guru koanpwe!"

Kakek berambut putih itu segera tertawa panjang.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... tak heran kalau kau memiliki kepandaian silat sedemikian lihaynya, anak muda, ternyata kau adalah muridnya ! Oh Sian bisa mempunyai ahli waris seperti kau, Lohu benar-benar ikut merasa gembira ......haaahhh........ haaahhh........"

Sambil berkata, kakek itu tertawa tergelak tiada hentinya.

"Apakah locianpwe kenal dengan guru locianpwe?"

Tanya Oh Put Kui kemudian serius. Kakek itu menghentikan gelak tertawanya, lalu berteriak.

"Jika tidak kenal, bagaimana mungkin aku bisa menyebutkan namanya? Tolol !"

Sementara Oh Put Kui masih tertegun, kakak itu sudah brkata lagi sambil tertawa .

"Kau bilang siapa namamu? Oh.... Ooh....... Oh Tuh (pikun)? Oh Put Kui ingin tertawa tapi tak berani terpaksa sahutnya dengan sopan .

"Boanpwe Oh Put Kui !"

Bagus sekali, bocah muda, kau berai memakai nama Oh Put Kui, apakah ingin niru sastrawan Tau Ciu-beng?"

"Aaaaaah..................boanpwe mana berani berbuat begitu? Harap kau orang tua jangan mentertawakan?"

"Kalau memang begitu, mengapa kau menggunakan nama seaneh itu untuk namamu?"

"Guruku yang memberi nama tersebut untuku !"

"Oooh, jadi Oh siang yang mencarikan nama itu ?"

Si kakek nampak tertegun.

"Benar, guruku yang memberi !"

Kakek itu menundukkan kepalanya dan termenung sebentar, kemudian katanya .

"Anak muda, apakah kau pernah bertanya kepada Oh Sian, mengapa ia memberikan nama seaneh itu untukmu?"

Oh Put Kui segera tertawa.

"Aaaah, kalau angkatan tua yang memberi, masa boanpwe berani banyak bertanya ?"

"Bagus sekali, anak muda, kau ...."

Mendadak kakek itu tertawa tergelak.

"benar-benar tak kuangka kalau kau adalah seorang yang ahli dalam agama To !."

Diam-diam Oh Put Kui ternayata geli pikirnya .

"Benarah aku ahli dalam agama To ? Rupanya Cuma Thian yang tahu.......

"namun di luaran dia menjawab .

"Boanpwe pernah membaca buu para Nabi, sebab it boanpwe tak berarti melangar perintah dari pada Nabi.

"Menganggur benar kau rupanya."

Seru si kakek sambil menggeleng.

"lou paling takut kalau mendengar orang menyinggung soal Nabi anak muda ! Jika kau berani menyinggung soal itu lagi, lohu akan segera mengusirmu dari sini. Oh Put Kui tidak menyangka kalau kakek berambut putih itu membenci kata "Nabi"

Tapi dia tahu kebnnyakan kebanyakan orang perliharaan persilatan memang mempunyai penyakit aneh. Maka katanya kemudian sambil tertawa .

"Ka1au begitu,"

Boanpwe tidak akan nyinggung lagi !"

Saat itulah si kakek baru berseri kembali, katanya kemudian.

"Nah, begitulah baru lumayan."

Setelah berhenti sejenak, dia bergerak kembali "

"Anak muda, siapakah kedua orang yang berada di loteng tingkat kedua itu ?"

"Temanm Boanpwe! Jawab Oh Pit kui tertawa. Temanmu?"

Kakek itu segera melotot besar, Lohu sudah tahu mereka adakah temanu, kakau tidak, masa kalian bisa melakukan perjalanan bersama-sama?

Lohu ingin tahu, siapakah mereka ?

Oh Pit kui tidak habis mengerti menga kakek ini sebentar menjadi marah sebentar menjadi marah sebentar menjadi girang.

Perubahan perasaannya berlangsung mendadak sekali.

Akan tetapi terpaksa dia menyambut juga sambil tertawa "Dia adalah anggota Kay-pang!"

"Haaahhh.. .haaahhh...haaahhh.... tak bisa dianggap sebagai manusia luar biasa! Siapa nama mereka? Apakah Kongsun Liang sibo cah kecil itu?"

Walauputi Oh Put Kui mendengar kakek ini menyebut ketua Kay-pang sekarang.

Lok Soug-tui-hun-siu (kakek bintang sakti pengejar sukma) Kongsun Liang sebagal bocah kecil, akan tetapi dia sudah tahu kalau kakek ini merupakan seorang Locianpwe dalam dunia persilatan, maka ia tak menajadi heran dibuatnya.

Setelah tertawa hambar, katanya sambil menggelengku kepala tiga berulang kali.

"Bukan, bukan Kougsu pangcu, dia adalah adik seperguruannya, sipengemis pikun Lok Jin-khi serta seorang tongcu kantor cabangnya di Shia Kam, Kau Cun-jin adanya! Kakek itu menjadi tertegun setelah mendengar kata kata itu, serunya tercengang.

"Kongsun Liang telah menjadi pangcu?"

"Yaa, sudah hampir dua puluh tahun lamanya!"

Kembali kakek itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.........jiaaahhh.........haaahhh.........betu1, Lohu sudah hampir dua puluh tahun lamanya ditiggal disini......"

Dibalik gelak tertawanya itu seakan akan diliputi olah perasaun sedih yang amat tebal. Sambil tertawa Oh Put hui bertanya 1agi.

"Apakah kau sudah berdiam hampir dua puluh tahun lamanya disini?"

"Kenapa?"

Seru sikakek dengan mata melotot.

"apakah kau anggap aku tak tahan berdiam disini?"

"Tentu saja tahan....., cuma, suaranu begitu keras bagaikan geledek, apakah tidak kuatir kedengaran anggota perkampungan Siu-ning-ceng? Bila mereka sampai datang kemari melakukan pemeriksaan loanpwe bisa berabe dibuatnya.........."

"Kau anggap mereka berani?"

Seru si kakek sambi1 tertawa tergelak.

"lima puluh kaki disekitar loteng kecil yang dihuni lohu ini merupakan daerah terlarang, siapapun tak boleh mendekati kemari......"

"Kalau begitu boanpwe merasa lega !"

"Kalau tidak lega lantas mau apa.........?"

Kembali si kakek melotot sampai membentak.

Oh Put Kui jadi tertegun dibuatnya Oleh suara bentakan itu, kalau tidak lega lantas bagaimana ?

Untuk sesaat dia tak mampu memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.......

Tampak kakek itu tertawa lagi katanya lebih jauh "Bocah muda, kau bilang orang yang berada dibawah loteng itu adalah si pikun kecil Lok Jin-khi?"

"Benar, benar dia "

Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak. Haaaahhh......... haaaahhh......... haaaahhh.........suruh dia naik! Suah lama sekali lohu tak menggoda si pengemis cilik ini."

Diam-diam Oh Put Kui merasa amat girang, sejak dia tak berani bertanya sewaktu menanyakan nama kakek tersebut, hingga kini dia tak berani hertanya lagi.

maka setelah mendengar perkataan itu dia lantas tahu kalau si Pengemis pikun Lok Jin-khi saling mengenal dengan orang ini, meski seakrang dia tak berhasil mengorek nama kakek tersebut.

dari si pengemis pikun nanti, hal mana pasti bisa berhasil.

Maka setelah mengiakan, dia berjalan menuju ke arah pintu celah langit langit ruangan, kermudian berteriaknya.

"Lok loko, naiklah! Saudara Kau, harap kau menanti sebentar dibawah sana !"

Sejak Oh Put Kui naik keatas loteng tadi pengemis pikun serta Kau Cunjin selalu merasa kuatir, segenap perhatian mereka diarahkan keatas loteng untuk mengikui jalannya pembicaraan.

Maka begitu Oh Put Kui berteriak memanggil, pengemis pikun segera mengiakan sambi1 melompat keatas.

Sehebat-hebatnya pengemis pikun Lok Jin-khi, dia masih belum berhasil melatih ilmu melihat dalam kegelapan, tak heran kalau pemandangan lima depa dihadapanya sudah tidak terlihat jelas olehnya.

"Lote, apakah orang yang meughuni diatas ruangaa loteng itu adalah seorang tokoh persilatan ?"

Saking gelisahnya, dia bertanya sambil mencengkeram tubub Oh Put Kui kencang-kencang. Oh Put Kui segera tertawa.

"Dia adalah seorang boanpwe berambut putih, loko, dia kenal baik denganmu !"

"Aaaah, masa iya?"

Seru pengemis pikun sambil mendongakkan kepala.

"Kejadian ini benar-benar tak pernah kusangka........."

Belum selesai dia berkata, kakek berambut putih itu sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh......pengemis cilik, masih ingat dengan gula-gula pemberian lohu? puluhan tahun tak bersu, apakah kediua biji gigi gerahammu sudah tumbuh keluar? "Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh...... hingga hari ini lohu rnasih ingin tertawa tergelak tiap kali terbayang mimik wajahmu, ingusmu serta air matamu ketika kau sipikun cilik kehilaugan gigimu....."

Menyusul perkataan itu, dia tertawa tergeletak tiada hentinya.

Si Pengemis pikun Lok Jin-khi nmampak tertegun setengah harian lamanya, mula-mula dia agak tertegun, menyusul kemudian menjadi termagu seperti orang bodoh.

Akhirnya dia ketularan gelak tertawa karek tu dan turut tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh......,rupanya kau si orang tua, bukankah kau adalah empek si bocah binal berjenggot putih ?"

Sambil berkata kembali pengemis pikun tertawa tergelak.

Oh Put Kui yang mendengarkan dari sisi arena, menjadi menggelengkan kepalanya berulang kali.

Sebutan macam aakah itu ?

Empek bocan binal berjenggot putih

oodwoo

Jilid 16 Kalau dilihat dari usia pengemis pikun sekarang, sesungguhnya dia sudah terhitung cukup tua.

Tapi kalau didengar dari penuturan si kakek tadi, ketika pengemis pikun masih suka makan gula-gula, kakek tersebut sudah mempunyai jenggot berwarna putih.

Lantas berapakah usia si kakek itu ?

Kalau dihitung-hitung, bukanlah usianya paling tidak diatas seratus dua puluh tahun?

Oh Put Kui lantas berbisik disisi telinga Pengemis pikun.

"Lok Loko, siapa sih locianpwe ini?"

"Lote, kakek ini bernama Pok-huat-wan-tong, put-lo-huang-siu (Bocah binal berambut putih, kakek latah awet muda)!"

Mendengar nama itu, Oh Put Kui menjadi amat terperanjat, tanpa terasa dia berseru.

"Jadi dia adalah Ban Sik-thong, Bau lo cianupwe?"

"Haaahhhh.....haaahhhh....... haaahhhh.......kalau bukan dia, siapa lagi?"

Sahut pengemis pikun tertawa tergelak.

Sementara itu si Bocah binal berambut putih.

Kakek latah awet muda Ban Sik-thong masih tertawa tergelak terus tiada hentinya.

Oh Put Kui membelalakkan matanya lebarlebar, setelah menyaksikan sikap lucu, aneh dan mulut si kakek aneh yang ternganga lebar itu, dia segera menjadi sadar kembali.

Sekarang dia baru tahu mengapa sewaktu berjumpa dengan si kakek tadi, terasa olehnya kalau raut wajahnya seperti amat dikenal.

Rupanya sikap maupun tingkah laku kakek itu mirip sekali dengan si Pengemis pikun.

Sedangkan mimik wajahnya justru mirip sekali dengan Khi-lok-sian-tong (bocah dewa kegembiraan).

Tak heran kalau dia seperti amat mengenal dengan raut wajah orang ini.

Selain daripada itu, Oh Put-kui juga teringat akan pesan dari Oh Ceng-thian, kakek yang menghuni di Pulau Neraka yang kini telah diketahui sebagai ayah kandung sendiri itu.

Dia pernah berpesan, bilamana perlu dan ingin mengetahui lebih jelas tentang hal-hal yang penting, maka dia dipersilahkan mencari Bau-si-thong (Segala persoalan dipahami) Ban Sik-tong.

Tentu saja kakek ini sesungguhnya tidak usah dicari lagi, sebab putra Oh Ceng-thian yang sebenarnya tak lain adalah dia sendiri.

Tapi, sungguh tak disangka meskipun dia tak mempunyai rencana untuk mencarinya, mereka telah berjumpa tanpa sengaja...

Mungkin inilah yang dinamakan jodoh atau.....

Teringat akan julukan si kakek sebagai Ban-si-thong (segala persoalan dipahami) dia lantas berpikir lebih jauh, andaikata kakek ini bersedia membantunya, siapa tahu dendam sakit hatinya bisa segera terbalaskan....

Sementara Oh Put-kui masih termenung, pengemis pikun menegur secara tiba-tiba dengan perasaan tercengang .

"Lote, mengapa kau?"

"Aaah siaute baru teringat akan suatu persoalan, maka aku jadi melamun dibuatnya."

"Apakah kau ingin memohon petunjuk dari Ban-si-thong locianpwe ini akan suatu persoalan?"

"Yaa, siaute memang mempunyai maksud untuk berbuat begitu.... Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.....haaahh...... haaahh..........saudaraku, bila kau benar-benar mempunyai niat tersebut, maka akan sia-sia tertegun setelah mendengar ucapan mana, serunya .

"Mengapa ? Locianpwe ini......"

Tidak menanti si anak muda itu menyelesaikan perkataannya, pengemis pikun telah menukas sampil tertawa .

"Kau anggap si bocah binal tua ini benar-benar memahami setiap persoalan yang ada di dunia ini?"

"orang persilatan rata-rata berkata demikian....."

"Aaah, itu mah cuma kentut busuk belaka!"

Potong pengemis pikun sambil tertawa.

"Loko, sewaktu berada di Pulau neraka tempo hari, ayahku pun pernah berpesan agar aku datang mencarinya....."

"Ayahmu suruh kau mencarinya karena dia "berharap"

Agar kau bisa meminjam nama besarnya untuk menyuruh orang lain mewakilinya mencarikan berita kemana-mana....."

Sekalipun Pengemis pikun orangnya, agak ketolol-tololan, akan tetapi terhadap ayah Oh Pat Kui, tentu saja dia tak berani sembarangan berbicara, dia kuatir ucapan yang salah bisa berakibat saudara ciliknya itu menjadi marah.

Seperti memahami akan sesuatu, Oh Pat Kui segera tertawa, katanya kemudian.

"Engkoh tua, siaute sudah mengerti, rupanya yang dimaksudkan sebagai memahami dalam kata Ban-si-thong tersebut, sesungguhnya harus ditambah dengan sebuah kata "tidak,"

Bukan begitu?"

"Seharusnya hal ini bisa kau pahami sejak tadi........"

Sambil tertawa kembali Oh Put Kui berkata .

"Orang persilatan menggunakan cara seperti ini untuk menyindir cianpwe ini, apakah tidak kuatir kalau dia sampai marah?"

Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh........haaaaahhhh......... haaaaahhhh.........jika dia bisa marah, tak nanti orang lain akan menyebutnya sebagai si Bocah binal berambut putih, kakek latah awet muda. Saudara cilik, sepanjang hidupnya dia tak pernah marah......"

Belum selesai dia berkata, si kakek latah awet muda telah berteriak secara aneh.

"Pengemis cilik, kalau banyak berbicara begitu apakah kau tidak merasa lidahmu menjadi kaku? Hati-hati kalau sampai menggusarkan lohu, kali ini bukan cuma gula-gula saja yang kuberikan kepadamu......"

Mendengar ancaman tersebut, dengan wajah ketahukan pengemis pikun segera menjawab.

"Yaaa, kaku, kaku, lidahku sudah kaku. Harap kau orang tua jangan mencopot gigiku lagi......"

Tampaknya kakek itu merasa bangga sekali, kembali dia berteriak lantang .

"Jangan takut pengemis cilik, lohu sudah bilang tak akan menghadiahkan gula-gula untukmu, kali ini aku hendak memberi hadiah lain kepadamu........"

"Hadiah apa? Hiiiiiihhhh.......hiiiiiihhhh......... hiiiiiihhhh.........tentunya lebih enak ketimbang gula-gula bukan?"

Seru pengemis pikun sambil tertawa cekikikan.

"Tentu saja, tentu saja! Aku rasa kau si pengemis tua cilik pasti belum pernah mencicipinya!"

Mendadak kakek itu tertawa terpingkal-pingkal sampai membungkukkan pinggangnya, setengah harian lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat itulah pengemis pikun baru berteriak lagi dengan suara yang parau .

"Empek jenggot putih, kau memang pelit, aku pengemis tak akan menggubrismu lagi......."

Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan turun dari ruangan loteng itu.

Jangan dilihat si kakek itu sedang tertawa terpingkal-pingkal, kenyataannya setiap gerak-gerik pengemis pikun itu dapat terlihat olehnya dengan jelas sekali.

Baru saja dia membalikkan badang, kakek itu sudah berteriak dengan lantang .

"Eeeh......jangan molor dulu, pengemis cilik, kemari kau, segera akan kuhadiahkan kepadamu!"

Sambil bersorak gembira, pengemis pikun segera membalikkan badan dan lari mendekat. Oh Put-kui yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam tertawa geli, pikirnya .

"Kedua orang tua bangka ini memang dasarnya sepasang......"

Sementara itu si kakek latah awet muda Ban Sik-thong sudah mengambil sebuah bungkusan kecil dari bawah kasur duduknya dan diangsurkan kepada Pengemis pikun Lok jin-khi.

Setelah menerima benda tadi, Pengemis pikun merasa bungkusan itu adalah sebuah benda yang lunak sekali.

Dia lantas mengira isinya adalah gula-gula.

"Aneh, ini mah gula-gula, aku tak suka!"

Segera teriaknya.

"Bukan, bukan!"

Jawab Kakek latah awet muda sambil tertawa.

"benda itu adalah kueh kim-ciau-ni yang khusus lohu bikin untuk dimakan pada tahun baru nanti. Sekarang kau boleh mencicipinya lebih dulu"

"Sungguh!"

Seru pengemis pikun sambil membuka bungkusan itu.

"Buat apa lohu membohongi dirimu?"

Jawab kakek latah awet muda dengan wajah serius.

Sementara itu pengemis pikun telah membuka bungkusan itu, benar juga isinya adalah sebuah bungkusan itu, benar juga isinya adalah sebuah gumpalan benda yang berwarna hitam kekuning-kuningan.

Sambil bersorak gembira dia lantas menjejalkan benda tersebut ke dalam mulutnya.

Tapi sesaat kemudian dia berkerut kening sambil mengunyah Kim-cau-ni gumamnya berulang kali .

"Tidak, manis, tidak manis, bahkan rasanya agak bau amis dan busuk......"

Sementara pengemis pikun melahap Kim cau-ni tadi, kakek latah awet mudah tertawa semakin terpingkal-pingkal, sedemikian kerasnya dia tertawa sampai rambut dan jenggotnya turut terguncang keras.

Apalagi setelah mendengar pengemis pikun mengatakan "tidak manis......", gelak tertawanya semakin menjadi-jadi sampai hampir tak sanggup bernapas.

Oh Put Kui menjadi tertegun dibuatnya.

Mengapa Kakek latah awet muda bisa tertawa terpingkal-pingkal karena kegelian?

Mungkin dibalik benda yang disebut kueh Kim-cau ni itu masih ada hal-hal yang tidak beres?

Mendadak Kakek latah awet muda berhenti tertara, lalu menegur .

"Pengemis cilik, bukanlah kueh Kim-cau ni itu merupakan sebuah makanan yang pasing aneh rasanya di dunia ini?"

"Bukan cuma aneh saja baunya, luar biasa sekali rasanya!"

Jawab pengemis pkun sambil mengunyah terus.

"Bagaimana luar biasanya?"

"Tidak manis, tidak pedas, tidak kecut tapi terasa agak getir, agak amis serta bau pesing yang sukar ditahan, kueh ini dibuat dari bahan apa sih? Mengapa rasanya jadi campur aduk tak karuan?"

"Pengemis cilik, kau benar-benar seorang manusia yang tak tahu mutu barang!"

Pengemis pikun menggelengkan kepadanya berulang kali, sahutnya cepat .

"Mungkin kau sendiri yang tahu bahan, suah pasti kau ditipu orang selagi membeli bahan makanan itu, masa kue ini kau buat dengan bahan yang bermutu begini rendah. Hmmmm, syaang dengan uangmu."

Tiba-tiba Kakek latah awet muda bisa tertawa tergelak.

Haaaahhhh............haaaahhhh............

haaaahhhh............

bukan!

Bukan begitu!

Bahan-bahan tersebut bukan kubeli dari orang lain, melainkan milik lohu sendiri......"

Kali ini pengemis pikun dibikin tertegun.

"Dari mana kau bisa mempunyai bahan untuk membuat kueh?"

Serunya keheranan.

"Dari tubuhku sendiri!"

"Haaaah, mana mungkin bahan dari tubuh mu bisa dibikin kueh Kim-cau-ni.....?"

Pengemis pikun makin terperanjat.

"Tentu saja mungkin!"

"Aku tidak percaya!"

Sambil menahan rasa gelinya, tiba-tiba Kakek latah awet muda bertanya lirih .

"Pengemis cilik, apakah tiap hari kau kencing ?"

"Kau tidak kencing, bisa kembung perutku!"

"Nah, itulah dia....."

Seru Kakek latah awet muda sambil tertawa cekikikan. Pengemis pikun turut tertawa tergelak.

"Apa sih hubungannya antara kencing dengan kueh Kim-cau-ni........."

Mendadak paras mukanya berubah hebat, lalu sambil membungkukkan badan ia muntah-muntah.

Bocah binal berambut putih, Kakek latah awet muda segera menepukkan sepasang tangannya ke bawah, lalu tidak nampak bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya sudah melambung setinggi tiga depa lebih.

Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak serunya .

"Aduuh jeleknya, aduh jeleknya......pengemis makan tahi malah dipuji gurih."

Sekarang Oh Put Kui baru tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, dia turut tertawa terbahak-bahak.

Mimpipun dia tak menyangka kalau Kakek itu akan menghadiahkan segumpal tahi untuk pengemis pikub.

Sementara itu, pengemis pikun sudah muntah-muntah hebat sampai keluar semua air kuningnya.

Akan tetapi gumpakah kueh Kim-cau-ni yang ditelannya tadi belum juga ikut termuntahan keluar.

Terdengarh dia sambil muntah sambil mencaci maki tiada hentinya .

"Empek tua, kau si telur busuk, tua-tua keladi.....kau berani mempermainkan aku si pengemis....baik, aku tak akan bergurau lagi denganmu seumur hidup.....uuuh.....uuuh ..........uuuuhhh......"

Meski punya maki tiba-tiba saja pengemis pikun menangis tersedu-sedu..... Melihat pengemis itu sudah menangis, Kakek latah awet muda segera berhenti tertawa, buru-buru serunya .

"Pengemis cilik, sudahlah, jangan menangis, kalau menangis bukan seorang enghi-ong! Coba kau lihat, pernahkan empek tua menangis? Empek tua adalah seorang enghi ong besar, tahukan kau? Ayolah tirulah aku......."

"Meniru kau? Waaah, dunia bisa kacau balau jadinya........"

Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu hampir saja meledak gelak tertawanya.

Kini pengemis pikun seakan-akan berubah menjadi seorang bocah nakal yang baru berusia tiga tahun.

Sedang Kakek latah awet muda sedang membujuknya agar jangan menangis......

Akhirnya setelah dibujuk hampir setengah harian lamanya, pengemis pikun baru berhenti menangis.

"Pengemis cilik, nah begitulah baru mirip seorang enghiong,"

Seru Kakek latah awet muda sambil tertawa. Dengan mata melotot pengemis pikun segera melompat bangun dari pelukan kakek itu, segera teriaknya .

"Anjing budugan ! Aku tak mau jadi enghiong, besok aku harus mencekokimu dengan sebaskom air kencing!"

"Haaahh......haaahhh......haaahh.....boleh, boleh saja, asal kau mampu saja !"

"Tunggu saja tanggal mainnya,"

Teriak pengemis pikun lagi penuh kegemasan,"

Aku bertekad hendak mencekokimu......"

"Haaaahhh.....haaaahhhh........haaaahh.....baik, akan kutunggu! Akan kutunggu.."

Mendadak dia berhenti tertawa, lain serunya .

"Pengemis kecil, cepat duduk dan mengatur pernapasan!"

"Tak usah, aku sengaja tak mau menurut perkataanmu, mau apa kau?"

Teriak pengemis pikun dengan gusar.

"Tak mau menurut ya sudah. Cuma kalau smapai Kim cau-ni itu terbuang dengan percuma, jangan salahkan aku nanti!"

Pengemis pikun jadi tertegun.

"Kim-cau-ni apa lagi? Paling banter juga tahu anjing!"

Serunya sambil menahan geram. Kembali Kakek latah awet muda tertawa tergelak.

"Haaaahhh........haaa.......haaaahhh.....pengemis cilik kau jangan mencaci maki lagi! Sudah cukup parah lohu kenakan maki.....cuma paling baik kalau kau menuruti saja perkataanku. Duduklah dan mengatur pernapasan lebih dulu, pokoknya besar sekali manfaat yang bakal kau peroleh !"

"Mengapa?"

Tanya pengemis pikun kemudian setelah termangu-mangu beberapa saat. Sekali lagi kakek itu tertawa nyaring.

"Sudahlah, tak usah kau tanyakan lagi, kita bicara kan setelah kau selesai mengatur pernapasan nanti!"

Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak, Pengemis pikun duduk bersila diatas tanah.

Kemudian setelah menarik napas panjang-panjang, dia memejamkan mata dan mengatur napas.

Sambil tersenyum Kakek latah awet muda memandang sekejap kearah Pengemis pikun, kemudian dengan perasaan puas manggut-manggut, dia mengelapkan tangannya kepada Oh Put Kui dan serunya .

"Bocah muda, kemari kau!"

Dengan sikap yang amat menghormat Oh Put Kui maju mendekat.

Mendadak.......dengan suatu gerakan yang amat cepat kakek itu mencengkeram tubuhnya.

Sementara Oh-put kui masih tertegun, mendadak dia merasa lengan kanannya yang kena dicengkeram itu seperti memperoleh suatu tekanan yang amat berat.

Dengan perasaan terkejut dia lantas mengerahkan tenaganya untuk melawan.

"Kau orang tua......."

Sambil tertawa Kakek latah awet muda menggelengkap kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa .

"Bocah muda, ilmu Kin-paiu-tay-isian sim-kang mu baru berhasil mencapai lima bagian kesempurnaan !"

"Boanpwe memang bodoh, hingga sukar untuk mencapai kemajuan yang pesar...."

"Soal usia memang mempengaruhi dalam hal kesempurnaan, keadaan seperti ini tak bisa kelewat dipaksakan, anak muda, asal kau mau berlatih tekun setiap hari, tak sampai sepuluh tahun niscaya kau sudah berhasil melampaui gurumu!"

Oh Put Kui merasakan hatinya begetar keras setelah mendengar ucapan itu, sahutnya cepat .

"Terima kasih banyak atas pujian kau orang tua, boanpwe tidak berani berpikiran demikian."

"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......siapa bilang, kalau pikiran ini dinamakan khayalan? Bocah muda, ucapan lohu tak bakal salah....."

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh .

"Anak muda, kalian bertiga main sembunyi-bunyi mendatangi lotengku ini, sebenarnya apa yang hendak kalian curi?"

Mendengar pertanyaan itu, Oh Put Kui segera berpikir di dalam hati .

"Aaaah, rupanya dia telah membawa pembicaraan kembali ke pokok persoalan,"

Berpikir demikian sahutnya .

"Boanpwe datang untuk mencari sebuah benda !"

"Di loteng ini ada benda apa? Kau sedang memaki lohu?"

Seru si kakek sambil melotot.

Oh Put Kuitidak menduga bila jalan pikiran Bocah binal berambut putih, Kakek latah awet muda bisa begini cepatnya, bahkan caranya menghubungkan satu masalah dengan masalah lain bisa begini cepatnya.

Dia tahu bila dirinya telah salah bicara tadi, buru-buru sahutnya cepat .

"Boanpwe tak berani memaki lohu, Boanpwe memang benar-benar datang buat mencari barang peninggalan seorang leluhur kami !"

"Kau bilang Oh Sian adalah empekmu, kalau begitu kau pastilah putra Oh Cengthian!"

Kata Kakek latah awet muda kemudian sambil tertawa keras.

"Benar, dugaan locianpwe memang tepat sekali!"

"Siapakah ibumu ? Pek-ih aug-hud (baju putih kebasan merah) Lan Hong ataukah Kuay-ko hoat-cu (pemilik lembah kebahagiaan) Kiau Ko-jin?"

Mendengar pertanyaan itu, Oh Put-kui menjadi tertegun.

Kuay-hoat-kokcu Kiau Ko-jin ?

Bukankah perempuan cantik dari dunia persilatan ini termasyur sebagai seorang iblis wanita ?

Apakah dia dengan ayah.....

Si anak muda itu tak berani berpikir lebih jauh, dengan wajah serius dia lantas menjawab .

"Mendiang ibukum adalah Pek-ih-ang-hud!"

"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......akhir nya bocah perempuan Lan yang berhasil memenangkan persaingan ini....."

Seru si kakek sambil tertawa tergelak. Mendadak dengan mata melotot dia berteriak .

"Bocah muda, apa kau bilang ? Mendiang ibumu ? Apakah ibumu telah meninggal dunia ?"

"Yaa, sudah meninggal!"

Sahut Oh Put kui sedih.

"Apa yang menyebabkan kematiannya "

Kena penyakit ?"

"Tidak, dia dibunuh oleh musuhnya."

"Telur busuk, bagaimana dengan ayahmu?"

Seru si kakek mendadak dengan penuh kegusaran.

"Ayahku tak bisa bergrak dengan bebas lagi."

"Bocah muda, mengapa kau sendiri tidak berusaha untuk membalas dendam?"

Diam-diam Oh Put Kui berpikir .

"Siapa bilang aku tidak berusaha untuk membalas dendam? Tapi....siapakah musuh besarku?"

Berpikir demikian, dia lantas menjawab .

"Beanpwe tidak tahu siapakah musuh besarku itu!"

"Apakah Oh Sian tidak menerangkannya kepadamu?"

Seru Kakek latah awet mudah dengan mata melotot.

"Suhu pun tidak berhasil mengetahui akan hal ini."

"Apakah ayahmu juga tidak berhasil menyelidiki siapa pembunuh keji itu?"

Sambung Kakek latah awet muda cepat dengan alis mata berkenyit kencang.

Sebenarnya Oh Put Kui hendak menerangkan bahwa ayahnya tersekap dalam pulau neraka hingga ia tak mampu untuk melakukan penyelidikan sendiri, akan tetapi sewaktu ucapan mana sudah sampai disisi bibir, dia segera berganti nada .

"Benar, ayahku pun tidak mengetahui akan hal ini!"

Kakek latah awet muda pelan-pelan memejamkan matanya rapat-rapat, lalu berkata lirih .

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Boanpwe sedang mencari sebatang tusuk konde Ngo-im-hua-kut-ciam milik mendiang ibuku !"

Mendengar itu, mencorong sinar tajam dari balik mata kakek latah awet muda, serunya dengan cepat .

"Bocah muda, siapa yang mengatakan kalau tusuk konde pelarut tulang itu berada diloteng ini?"

"Orang perkampungan ini yang mengatakan !"

"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......boca h muda, lagi-lagi kau tertipu !"

"Jadi tusuk konde pelarut tulang tidak berada diloteng ini?"

Kakek latah awet muda tidak menjawab apa yang ditanyakan Oh Put Kui, malah sebaliknya bertanya sambil tertawa .

"Anak muda, sudah berapa lama ibumu terbunuh ?"

"Waktu itu boanpwe masih berumur tiga tahun."

"Dan sekarang, berapa usiamu?"

"Dua puluh satu tahun!"

Kakek latah awet muda segera tertawa.

"Itu berarti sudah hampir sembilan belas tahun bukan? Tapi lohu sudah hampir dua puluh tahun tinggal di loteng ini, bila tusuk konde pelarut tulang itu berada disini, masa lohu tidak mengetahuinya". Oh Put Kui segera manggut-manggut.

"Yaa, perkataan kau orang tua memang benar!"

Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak ujarnya lagi sambil menggelengkan kepalanya berulang kali .

"Tapi, kabar ini justru bersumber dari mulut Lamkiong Ceng sendiri....."

"Bocah muda, apakah kau merasa keheranan mengapa Lamkiong Ceng membohongimu?"

"Yaa, boanpwe memang tidak habis mengerti akan hal ini!"

"Sebenarnya sederhana sekali, loteng kecil ini ibaratnya mulut harimau, setiap orang yang datang kemari hanyak ingin mencari benda mustika, jadi sebenarnya ditempat ini hanya tersedia sebuah jalan saja, yaitu bisa masuk jangan harap bisa keluar lagi! "Mengapa bisa demikian?"

Tanya Oh Put Kui tertegun.

"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......meg napa tidak bisa? Bila disini terdapat seorang jago macam lohu, tolong tanya jago dari manakah yang bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat?"

Dengan perasaan terperanjat Oh Put Kui berseru .

"Jadi kau orang tua sudah membunuh banyak orang?"

"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......apa salahnya kalau kubunuh beberapa orang manusia yang kemaruk akan harta?"

Sesudah berhenti sejenak, sambil menghela napas dia berkata .

"Apalagi hanya pekerjaan ini saya yang bisa lohu lakukan untuk menghibur diri!"

Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali. Baru pertama kali ini dia mendengar kabar seperti itu, membunuh orang hanya bertujuan untuk menghibur diri.

"Locianpwe, menurut pendapatmu, apakah hal ini sebenarnya merupakan sebuah perangkap?"

"Yaa, hampir begitulah! Mereka ingin memperalat lohu untuk melenyapkan musuh-musuh tangguhnya...."

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata kakek itu, serunya sambil tertawa tergelak .

"Anak muda, lohu sudah mengerti sekarang......."

"Apa yang kau pahami?"

Tanya Oh-Put-Kui terperanjat.

"Lohu tak boleh melukai orang lagi!"

"Aaaah.......tentu saja, aku tahu kalau kau orang tua adalah seorang yang berbudi luhur."

Kakek latah awet muda segera tertawa aneh.

"Lohu berbuat demikian bukan dikarenakan aku berbudi luhur, hanya saja lohu tak ingin membantu orang lain untuk membunuhi orang, apalagi menjual tenaga buat musuh besar, bukanlah perbuatanku ini ibaratnya perbuatan telur busuk tua?"

Mendengar perkataan ini, diam-diam Oh Put Kui tertawa geli, segera pikirnya .

"Siapa bilang kau tidak tolol, sekarang pun kau sudah terhitung seorang telur busuk tua!"

Tapi diluaran, dia segera bertanya .

"Kekek Ban, mengapa kau berdiam selama dua puluh tahun lamanya ditempat ini?"

Mendengar perkataan tersebut. Kakek latah awet muda menjadi naik darah, segera sahutnya .

"Kau anggap lohu sudah edan, mau berdiam selama dua puluh tahun ditempat semacam ini?"

Mendengar itu, Oh Put kui menjadi terkejut. Dia tak mengira kalau kakek ini cepat marah, cepat gembira dan cepat murung. Buru-buru serunya sambil tertawa paksa.

"Boanpwe tidak bermaksud demikian, aku hanya heran, mengapa kau orang tua.....,"

"Sudah, jangan ditanyakan lagi !"

Mendadak Kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali, setelah menghela napas panjang, sambungnya .

"Aaai, semua ini gara-gara lohu terlalu jujur tehadap orang lain."

"Aku tahu, kau orang tua memang seorang yang berhati jujur dan polos...."

Ternyata ungkapan tersebut membuat si kakek menjadi girang sekali, katanya lebih jauh .

"Seandainya lohu tidak terlalu polos dan jujur, bagaimana mungkin Jut Put bisa mengurung lohu disini ?"

Oh Put-kui pura-pura terkejut, serunya cepat .

"Apakah kau maksudkan Bau-mo-ci-mo., Tai-kek-sin-kiam (Iblis diantara iblis pedang sakti tenaga raksasa ? Ilmu silatnya lihay sekali !"

"Huuuh, iblis diantara iblis apa ? Kentut anjing. Sedang soal pedang sakti tenaga raksasa, hmm, dia masih belum tahan menghadapi seujung jariku, hitung-hitung saja Thian masih memberi usia panjang kepadanya !"

Oh Put-kui tertawa geli di dalam hati pikirnya .

"Siapa yang kentut anjir ? Kalau orang lain dan dia tak tahan seujung jarimu, mengapa orang lain bisa mengurungmu selama dua puluh tahun lamanya disini ?"

Bagaimanapun juga, pikiran tersebut tidak berani diutarakan terang-terangan, maka katanya kemudian .

"Benar juga perkataanmu, kalau begitu kau orang tua harus meninggalkan tempat ini dan membuat perhitungan dengannya !"

Ketika mendengar perkataan itu, mendadak kakek latah awet muda menghela napas panjang, katanya lirih .

"Aaaai, tak mungkin lagi bagiku untuk meninggalkan tempat ini."

"Kenapa ?"

"Jut Put-shia telah membelenggu lohu"

"Bagaimana caranya membelenggumu ?"

"Dia telah bertaruh dengan lohu dan ia berhasil menangkan diriku dalam pertaruhan itu."

Kembali Oh Put Kui berpikir .

"Aaaah, dugaanku memang tak salah, si kakek binal ini memang sudah terjebak oleh akal bulus iblis tua itu."

Maka sambil tertawa dia berkata .

"Bagaimana bisa kalah ? Seharusnya dia tak akan berhasil menangkan kau orang tua ?"

"Yaa, harus disalahkan diriku sendiri, coba kalau aku tidak lagi mabuk arak, tak mungkin aku bakal tertipu oleh anjing cilik itu......"

"Bagaimana cara kalian bertaruh?"

Tiba-tiba paras muka kakek latah awet mudah berubah menjadi merah padam, katanya.

"Dia menantang lohu untuk bertaruh mata uang !"

"Mata uang?"

Oh Put Kui segera tertawa tergelak sampai terpingkal-pingkal.

Pada mulanya ia menduga taruhan mereka berdua pasti merupakan suatu pertaruhan besar, tak tahunya yang mereka pertaruhkan hanya permainan anak kecil saja.

Sambil tertawa getir kembali kakek latah awet muda berkata .

"Lohu yakin kepandaianku di dalam permainan ini sangat hebat. Siapa tahu Kit Put shia jauh lebih lihay daripada diriku, sepuluh buah mata uang yang dilemparkan ternyata semuanya berada dalam keadaan terbalik....."

Oh Put-kui tertawa geli setelah mendengar perkataan itu, pikirnya dengan cepat .

"Tentu saja Kut Put-shia bisa berbuat demikian, sebab orang lain telah sertakan tenaga dalam di dalam permainan itu."

Dia cukup mengetahui watak kakek latah awet muda ini, dia tahu dalam permainan tersebut sudah pasti kakek itu tidak menggunakan tenaga dalamnya, melainkan bermain dengan cara seperti orang awam.

Sebaliknya Kit-Put-shia pasti sudah menyertakan permainan curang dalam permainan tersebut.

Bayangkan saja tipisnya sebuah mata uang, bila seseorang menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam mata uang tersebut, apa salahnya untuk memutar balikkan sebuah mata uang ?

Belum selesai dia berpikir, kakek latah awet muda sudah berkata lagi sambil menghela napas .

"Begitulah, setelah lohu kalah maka akupun harus disekap selama duapuluh tahun disini .....

"Sekarang dua puluh tahun sudah lewat, apakah kau orang tua boleh ke luar dari sini?"

Tanya Oh Put kui sambil tertawa. Kakek itu menggelengkan kepala berulang kali, sahutnya .

"Sepuluh hari lagi akan genap dua puluh tahun, cuma ketika lohu menderita kalah dulu, aku pernah sesumbar bahwa dua puluh tahun kemudian aku pasti akan mengalahkan dia....."

"Kalau tak bisa mengalahkah dia ?"

"Yaa, apa boleh buat. Terpaksa aku akan berdiam selama dua puluh tahun lagi disini!"

Kata si kakek sambil menghela napas. Oh Put-kui segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......kali ini kau orang tua pasti akan menang!"

Mendadak kakek latah awet muda merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah mata uang, lalu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata .

"Sukar untuk dibilang, sukar untuk dibilang ! Setiap hari lohu selalu berlatih melemparkan mata uang sebanyak sepuluh kali, akan tetapi aku tak pernah berhasil menyamai permainan dari Kit Put-shia, oleh karena itu lohu tahu, sulit bagiku untuk meraih kemenangan darinya...."

"Kakek Bau asal kau membawa boanpwe serta dalam pertaruhan itu, kutanggung kau pasti menang."

"Boleh saja membawamu serta, tapi kau tak boleh mengacau secara diam-siam, kalau tidak, sekalipun bisa menang juga tak bisa masuk hitungan!"

Diam-diam Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali, dia merasa kakek ini kelewat jujur. Akan tetapi diluarnya dia menyahut sambil tertawa .

"Tentu saja, maa boanpwe berani mengacau ? Justru karena boanpwe mempunyai kepandaian yang lebih hebat dalam permainan mata uang ini, maka aku tak percaya kalau Kit Put-sia bisa menang....."

"Sungguhkah itu? Kalau begitu cepat ajarkan kepada lohu......"

Seru kakek latah awet muda kegirangan.

Padahal Oh Put Kui tidak memiliki kepandaian apa-apa, dia tak lebih hanya bicara sekenanya.

Kini, si kakek latah awet muda menyuruh mengajarkan cara tersebtu kepadanya, hal ini kontan saja membuatnya kesulitan.

Tapi sambil tertawa dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lainnya, katanya .

"Kakek Bau, persoalan ini tak usah terburu-buru untuk dilakukan hari ini, sekarang boanpwe justru mempunyai persoalan yang tidak kupahami, kumohon kau orang tua sudi memberi petunjuk kepadaku......."

"Baiklah, coba kau tanyakan."

"Kau orang tua mengatakan kalau tusuk konde pelumat tulang tidak berada disini, sebaiknya Lamkiong Ceng bilang tusuk konde itu berada di loteng ini, menurut pendapatmu apakah dibalik kesemuanya ini terselip suatu intrik tertentu ?"

"Yaa, itulah yang dinamakan siasat meminjam pisau membunuh orang......."

"Mengapa mereka hendak melakukan perbuatan meminjam golok membunuh orang?"

"Mungkin saja mereka hendak membasmi semua orang yang ada sangkut pautnya dengan tusuk konde pelumat tulang itu !"

Tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, kembali ujarnya sambil tertawa .

"Kakek Bau, jadi kalau begitu jejak tusuk konde pelumat tulang itu pasti diketahui oleh Lamkiong Ceng atau Kit Put-sia?"

"Tentu saja ?"

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put Kui, serunya lagi .

"Kalau begitu, kemungkinan besar Kit Put-shia adalah musuh besar pembunuh ibuku?"

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak.

"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......mana mungkin hal ini bisa terjadi? Anak muda, kau berpikir kelewat jauh !"

"Locianpwe, bila Kit Put-sia bukan pembunuh ibu boanpwe, mengapa dia sengaja menyiarkan berita bohon yang mengatakan tusuk konse pelarut tulang berada disini? Mengapa dia gunakan siasat meminjam pisau membunuh orang ?"

Kakek latah awet muda tertegun.

"Emmm, benar juga perkataanmu itu,"

Serunyam "anak muda, perkataanmu itu memang masuk diakal !"

"BOANPWE rasa, Kit-put-sia sangat mencurigakan di dalam peristiwa ini......"

Kembali Oh Put Kui berkata.

"Emmm, sekaran lohu juga mulai percaya kalau dia memang sedikit mencurigakan!"

Tiba-tiba dengan wajar sedih Oh Put Kui berkata .

"Locianpwe, boahpwe ingin mohon diri lebih dulu !"

"Kau hendak pergi?"

Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu!"

"Kau hendak pergi ?"

Seru Kakek latah awet muda tercengang.

"Yaa, keinginan boanpwe untuk pergi ibaratnya anak panah yang sudah berada di atas gendewa!"

"Hai ini mana boleh jadi ? Bukanlah kau hendak mengajarkan lohu untuk bermain lembaran mata uang? Kau harus mengajarkan dulu kepadaku sebelum pergi !"

Dengan cepat Oh Put Kui menggeleng.

"Dendam sakit hati terbunuhnya ibuku harus segera boanpwe balas, sebelum hal ini terlaksana, hatiku tak akan merawa tenteram.......biar cara tersebut kuajarkan kepadamu setelah boanpwe selesai membalas dendam nanti !"

"Tidak bisa !"

Teriak si Kakek latah dengan gusar.

"menunggu sampai kau selesai membalas dendam, apa gunanya aku mempelajari cara kepandaianmu itu ?"

Oh Put Kui segera tertawa.

"Kenapa kau orang tua bersikeras untuk mempelajarinya lebih dulu ? Kit Put shia..... Mendadak ia membungkam, karena sekarang dia sudah memahami maksud hati dan si bocah binal berambut putih, Kakek latah awet muda tersebut......."

Rupanya dia kuatir ia berhasil membalas dendam dengan membinasakan Kit Put-sia sehingga kakek itu akan kehilangan patnernya untuk bertaruh, seandainya hal ini sampai terjadi, bukankah seumur hidup ia bakal terkurung terus disitu ?

Sambil tertawa geli kembali Oh Put Kui berkata .

"Kakek Bau, aku cukup memahami maksud hatimu itu !"

Kakek latah awet muda mengangguk berulang kali, katanya kemudian .

"Jika kau sudah memahami maksud lohu, maka kau tak boleh mohon diri lebih dulu."

Oh Put Kui tertawa pedih, sahutnya .

"Baik, boanpwe bertekad akan menunggumu selama sepuluh hari !"

"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......nah, begitu baru anak penurut, anak muda!"

Seru kakek latah awet muda sambil tertawa terbahak-bahak.

"Boanpwe sampai disitu, kembali dia membungkam. Sebab dia telah menyanggupi permintaan kakek latah awet muda, tentu saja sesuatu yang telah disanggupi tak bisa dirubah lagi, meski begitu timbul juga perasaan yang aneh di dalam hatinya. Munculnya pertentangan batin ini segera membuatnya menutup mulut rapat-rapat. Kakek latah awet muda segera tertara terbahak-bahak.

"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......tak usah risau anak muda, sekalipun harus menunggu sepuluh hari lagi juga tak menjadi soal."

Sementara mereka berbicara sampai disitu, mendadak si Pengemis pikun Lok Jin-hi yang sedang duduk bersila sambil mengatur pernapasan itu menarik napas dalam-dalam tampaknya dia sudah menyelesaikan latihan semedinya.

Di tengah kegelapan, sepasang mata pengemis pikun kelihatan bersinar tajam bahkan jauh lebih tajam dari keadaan semula.

Hal ini membuktikan kalau gumpalan tahi yang dimakannya itu bukan sia-sia belaka.

Sambil memandang ke arah pengemis pikun, kakek latah awet muda berkata sambil tertawa .

"Hei, pengemis cilik, kueh Kim-cau-ni buatan lohu dengan bahan baku dari badan ku ini tidak jelek bukan ?"

Suasana hening menyelimuti ruang penerima tamu perkampungan Siu-ning-ceng.

Ketua siau-lim-pay Hu-sin siansu dengan berkerut kening duduk dihadapan keempat orang ciangbunjin partai lainnya, beberapa kali terdengar dia menghela napas panjang.

Suasana hening dan murung tampak menyelimuti seluruh ruangan tersebut.

Paras muka Han-sian-hui-kiam Wie Sin dari Kay-pang diliputi hawa kegusaran, tampaknya kelima orang ciangbunjin itu sedang dirisaukan oleh sesuatu masalah besar.

Saat ini, suasana diliputi oleh keheningan yang mencekam......

Meskipun paras muka kelima orang itu berubah amat serius dan gusar, akan tetapi tak seorangpun yang buka suara.

Kentongan ke empat sudah lewat.

Cui-sian sangjiu yang memejamkan matanya itu mendadak membuka matanya sambil menghardik .

"Siapa yang sedang mengintip diluar jendela ?"

Bentakan ini kontan saja membangkitkan rasa terkesiap bagi ke empat ciangbunjin lainnya.

Pendatang sudah berada di depan pintu jendela, mengapa mereka tidak mendengar sesuatu ?

Gelak tertawa ringan segera bergema dari luar ruangan, menyusul kemudian seseorang menyahut .

"Tajam amat pendengaran sangjin ! Boanpwe baru saja tiba, jejakku segera ketahuan !"

Cui-sian sanjin tertawa hambar.

"Ilmu meringangkan tubuh yang siau-sicu miliki pun sangat lihay sekali, kedatanganmu ditengah malam buta ini tentu mempunyai maksud tertentu, mengapa siau-sicu tidak masuk kedalam untuk berbincang-bincang?"

Kembali dari luar jendela berkumandang suara tertawa ringan.

"Boanpwe akan turut perintah..........."

"Kraaaaakkk !"

Pintu kamar dibuka orang, diantara bergoyangnya sinar lentera tahu-tahu dalam ruangan telah tambah dengan seorang pemuda berbaju kuning.

Dia adalah Yu-liong-kuay-kiam (naga sakti pedang kilat) Nyoo Ban-bu.

Cut-sian sangjin merasa sedikit ada diluar dugaan, serunya sambil tertawa .

"Nyoo sicu kah?"

Keempat ciangbunjin lainnya turut berkerut kening pula, kejadian ini diluar dugaan mereka.

Dalam perkiraan mereka semula, oleh karena tenaga dalam yang dimiliki orang itu sedemikian hebat sampai kehadirannya hingga ditepi jendelapun tidak disadari, maka delapan puluh persen dia adalah Long-cu-koay-hiap (pendekar aneh pengembara) Oh Put Kui !

Tak tahunya yang muncul adalah Nyoo Ban-bu.

Nyoo Ban-bu memandang sekejap wajah ke lima orang ciangbunjin itu, lalu sambil menjura katanya !

"Bila kedatangan boanpwe ditengah malam buta ini mengganggu ketenangan kalian, harap kalian sudi memaafkan !"

Ucapannya sangat merendah dan cukup tahu sopan.

"Silahkan duduk !"

Kata Cui-sian sangjin sambil tertawa.

Nyoo Ban-bu membungkukkan badannya memberi hormat, lalu duduk disebuah kursi yang berada barisan paling bawah.

Dengan kening berkerut, ketua Hna-san pay si Kakek pedang pengejar angin Bwee Kun-peng menegur .

"Keponakan Nyoo, ada urusan apa kau muncul secara tiba-tiba disini ......?"

Nyoo Ban-bu tertawa.

"Boanpwe mempunyai persoalan yang serasa mengganjal dalam hatiku, sebelum persoalan itu menjadi terang, sukar rasanya bagiku untuk tidur dengan nyenyak dan makan dengan nikmat, itulah sebabnya boanpwe sengaja datang kemari untuk memohon petunjuk dari taysu sekalian !"

"Masalah pelik apakah yang sedang Nyoo sicu hadapi?"

Tanya Hiang-leng totiang dari Bu-tong-pay sambil tertawa. Sekilas perasaan gusar bercampur sedih menghiasi wajah Nyoo Ban-bu, kemudian katanya .

"Boanpwe ingin bertanya tentang kisah terbunuhnya mendiang ayahku!"

"Nyoo sicu, apakah kau sudah tahu Kakek malaikat dibunuh oleh siapa?"

Tanya Hian-leng totiang lagi serius. Nyoo Ban-bu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Justru persoalan inilah yang membuat boanpwe merasa kesal, murung dan sedih!"

"Omintohud! Mengapa siau-sicu mest kesal?"

Ucap ketua Siau-lim-pay Hui-lin-tasyu.

"Pembunuh keji itu terlampau licik, dia menyangkal melakukan pembunuhan tersebut, meski boanpwe dibara oleh api dendam, sayang sekali kekurangan bukti untuk menantangnya berduel.........."

"Kalau kudengar dari perkataan siau-sicu itu, tampaknya kau sudah mengetahui siapakah pembunuh keji itu?"

"Benar, boanpwe memang sudah tahu !"

"Siapakah dia?"

Cepat Hian-leng totiang bertanya.

"Hui Lok !"

Mungkinkan ia Kakek pelenyap hati Hui Lok ? Untuk sementara waktu Hui-sin taysu berempat berdiri tertegun dengan wajah melongo.

"Siau-sicu, apakah kau percaya dengan perkataan dari Cen-thian-kui-ong (raja setan penggetar langit) dengan begitu saja ?"

Kata Cui-sian sangjin tiba-tiba sambil tertawa hambar.

"Boanpwe sudah mempunyai bukti yang bisa ditelusuri!"

Nyoo Ban-bu dengan gusar.

"Hui Lok benar-benar merupakan manusia yang pantas dicurigai!"

"Bukti apa yang bisa ditelusuri !"

"Sewaktu mendiang ayahku terbunuh, Hui Lok pernah muncul di ibu kota !"

"Siapa yang melihat ?"

"Kit Bun-siu tayhiap !"

"Si kutu buku itu?"

Han-sian-hui-kim Wici Bin agak tertegun setelah mendengar nama tersebut.

"Yaa, si kutu buku pena emas Kit tay-hiap yang menyaksikan hal ini !"

Tiba-tiba Hu-sin siansu berkata sambil tertawa .

Meskipun hui sicu pernah muncul di ibukota, belum tentu dia ada kaitannya dengan terbunuhnya Kakek malaikat.

Lebih baik siau-sicu bersikap lebih teliti !"

"Ciangbun tasysu hanya tahu satu tidak mengetahui kedua,"

Ucap Nyoo Ban-bu sambil tertawa dingin.

"bukan saja Hut Lok telah muncul di ibukota waktu itu, bahkan keesokan harinya dia pergi dari kota itu dengan tergesa-gesa !"

Tiba-tiba Bwe Kunpeng tertawa seram lalu katanya .

"Apabila dia mempunyai urusan penting, tentu saka harus berlalu dengan tergesa-gesa."

Kembali Nyoo-Bau bu tertawa dingin.

"Aaah, masa ada kejadian yang begitu kebetulannya di dunia ini ? Adalagi pelatih dari keluarga boanpwe Toh-min-huan (panji sakti perenggut nyawa) Ku Bun-wi pernah bersua muka dengannya waktu itu !"

"Sungguhkah perkataan dari siau-sicu ini ?"

Hian leng totiang menjerit kaget.

"Tiada kepentingan bagi boanpwe untuk berbohong, sekarang Ku Bun-wi masih berada dalam gedung siau-hong-hu, tidak ada salahnya kalau ciangbunjin berlima mengikuti boanpwe untuk berkunjung ke sana dan menanyakan sendiri masalah tersebut!"

"Lohu memang akan ke sana untuk menanyakan persoalan ini !"

Kata Bwe Kun-peng dengan marah.

"seandainya Ku Bun-wi benar-benar pernah tertemu dengan Hui Lok maka sembilan puluh persen Kakek malaikat tewas oleh Hui Lok."

Sekilas rasa girang segera menghiasi wajah Nyoo Ban-bu."

Sayang sekali ke lima orang ciangbunjin itu tidak melihat akan perubahan ini. Hui-sin taysu menghela napas rendah, kemudian berkata .

"Lolap tidak mengira kalau Hui sicu adalah manusia yang berhati keji......"

"Taysu, jangan kau lupakan julukannya si kakek pelenyap hati !"

Seru Wici Bin sambil tertawa dingin.

"jikalau kakek malaikat memang terbunuh olehnya, ini berarti peristiwa berdarah lainnyapun sembilan puluh persen merupakan hasil karya iblis tua ini juga."

Cui-sian sangjin mengerutkan keningnya, setelah merenung sejenak ia berkata .

"Aku lihat peristiwa ini perlu diselidiki dulu hingga jelas dan terang !"

"Sejak kematian mendiang ayahku, hingga kini masalahnya belum pernah jelas. Hal mana membuat boanpwe tak pernah merasa tenang,"

Kata Nyoo Ban-bu lagi dengan penuh kebencian,"

Ciangbun taysu berilmu, kalian adalah tokoh-tokoh persilatan yagn selalu menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilaan, oleh sebab itulah boanpwe sengaja datang mengganggu di tengah malam buta ini dengan harapan ciang bun taysu berilmu sudi mencarikan keadilan bagi boanpwe."

Hian-leng totiang segera manggut-manggut.

"Siau-sicu, di dalam persoalan ini tentu saja pinto sekalian tak bisa berpelak tangan belaka !"

Bwe Ku-peng tertawa terbahak-bahak pula seraya berkata .

"Lohu berlima sempat menyaksikan akiat dari keempat peristiwa pembunuhan itu, meski keponakan Nyoo tidak kemari, lohu sekalipun tak nanti akan berpeluk tangan belaka !"

Lima orang ciangbunjin ini memang cukup jujur dan terbuka......

Mereka selalu tidak percaya kalau Hui Lok adalah seorang pembunuh keji, mereka selalu berusaha untuk membelai Hui Lok, tapi begitu kenyataan sudah muncul di depan mata, merekapun segera melepaskan pendapatnya tersebut, mereka ingin menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan...

Agaknya Nyoo Ban-bu sudah menduga akan hasil yang akan dicapai dalam kunjungannya kali ini.

Hanya saja, sia tak mengira kalau hasil tersebut bisa diraih olehnya dengan cara yang begitu mudah.

"Kesedihan cianpwe sekalian untuk membantu diriku dalam persoalan ini, sungguh membuat boanpwe merasa berterima kasih sekali, budi kebaikan ini entah sampai kapan baru dapat kubayar ........."

oodwoo

Jilid 17

"Omintohud, perkataan sicu terlampau serius!"

Kata Hui-in taysu sambil merangkap tangannya didepan dada.

"ayah mu telah memberikan kebahagiaan bagi umat persilatan, budi kebaikannya tersebar sampai dimana-mana, bagaimana mungkin lolap sekalian akan berpeluk tangan belaka dalam peristiwa ini? Asalkan dapat membalaskan dendam bagi kematian Kakel malaikat, meski lolap sekalian harus mengorbankan selembar jiwapun kami bela......"

Sekilas warna semu merah menghiasi pula wajah Han-sian-hui-kiam Wici Bin, agaknya diapun agak emosi.

"Saudara Nyoo, mari kita berangkat sekarang juga ke ibokota!"

Serunya. Seraya berkata dia lantas melompat bangun.

"Wici lote,"

Kata Cui-sian siangjin sambil tertawa.

"apakah kau akan pergi tanpa pamit dulu dengan tuan rumah?"

Wici Bin tertawa dingin.

"Taysu, apa sih maksud kedatagnan kita kemari? Memangnya kita datang untuk memberi muka kepada manusia malaikat berpenyakitan Lamkiong Ceng? Berapa besar sih pamor dari Lamkiong Ceng tersebut .....?"

"Tentu saja, pamornya tak pantas untuk kita hormati,"

Sambung Bwee Kun-peng sambil tertawa.

"Yaa, rasanya pinto sekalian memang belum perlu untuk mencari muka dengan mereka!"

Sambung Hiang-leng tootiang sambil tertawa pula.

"Itulah sebabnya aku rasa lebih baik kita tak usah berpamitan lagio dengan mereka"sambung wici Bin cepat sambil tertawa dingin. Cui-siun sanjin memandang sekejap kearah Hui sin taysu, kemudian setelah tertawa getir dia berkata .

"Bila pergi tanpa pamit, apakah perbuatan ini tidak akan menurunkan derajat sendiri?"

"Kalau begitu tinggalkan saja beberapa tulisan?"

Ucap Hui-sin taysu kemudian sambil tertawa sedih. Baru selesai dia berkata, Wici Bin telah menyambar pena yang berada di meja dan menulis beberapa huruf besar di atas dinding ruangan .

"Kami hatuskan banyak terima kasih atas pelayanan anda !"

Kemudian sambil tertawa dia berseru.

"Ayo berangkat !"

Tanpa mengucapkan sesuatu lagi berangkatlah ke enam sosok bayangan manusia itu meninggalkan tempat tersebut.

Kepergian ke lima ciangbunjin dan majikan muda gedung Sian-hon-hu pedang kilat naga sakti Nyoo Ban-bu tanpa pamit sama sekali tidak menggemparkan tuan rumah maupun para tamu yang berada di perkampungan Siu-ning-ceng.

Perjamuan yang meriah berlangsung terus menerus sampai setengah bulan lamanya.

Kian hari pari jago persilatan yang menghadiri perjamuan pun semakin bertambah kurang.

Tapi jago-jago dari golongan rimba hijau justru makin hari semakin bertambah banyak.

Ketika mencapai hari yang ke lima belas, satu-satunya jago persilatan yang belum pergi dari situ hanyalah Pat-huang-it-koay kakek setan berhati cacad Siau Lun seorang.

Mungkin gembong iblis tua ini ingin berkumpul lebih lama lagi dengan sobat lamanya yang mengangkat nama bersama-sama dia, si kakek pelenyap hati Hui Lok, oleh sebab itu dia tetap tinggal disitu.

Kit Hu-seng, Ciu It-ceng dan Leng Seng luan telah berpamitan pada hari ke empat.

Oh Put-kui dan Lok Sin-kay berpamitan pada hari ke sepuluh.

Sewaktu hendak pergi meninggalkan tempat, secara khusus Jian-lihu-siu (kakek menyender) Leng Siau-tian menghantar mereka sampai sejauh sepuluh li.

Leng lojin minta kepada Oh Put-ui agar seusainya melakukan pekerjaan sudi mampir di Bu-lim-tit-it-po (Beteng nomor wahid dunia persilatan), karena tempat itu tak jauh letaknya dari Ci-lian san, sedang Oh Put-kui hendak pergi ke bukit Ci-lian-san.

Oh Put-kui mengabulkan permintaan tersebut.

Hal ini bukan dikarenakan Leng lojin mendesaknya terus.

Rupanya ada sepasang masa yang jeli dan bening secara diam-siam memohon kepadanya, dia tak tega untuk menampik permintaan dari pemilik sepasang mata yang jeli itu.

Oleh sebab itu dia mengabulkan permintaan mana.

Dia berjanji akan berkunjung ke Bu-lim-tit-it-poo seusainya melakukan pekerjaan di bukit Ci-lian-san nanti.

Oh put-kui tidak terbiasa menunggang kuda, ia terbiasa berkelana, terbiasa pula berjalan kaki.

Baginya menunggang kuda malah sangat merepotkan.

Si Pengemis pikun menunggang kuda sambil membawakan lagu Lian-hoa-lok, sambil menyanyi mulutnya tak henti sibuk pula mengunyah kueh yang diperolehnya dair perkampungan Siu-ning-ceng tadi.

Bayangkan saja kalau ada orang mengunyah makanan sambil menyanyi, hancur pasti suara nyanyiannya.

Maka tak heran kalau nyanyian Lian-hoa-lok yang dibawakan olehnya itu membuat orang merasa bising dan kesal.

Oh Put-kui benar-benar tak kuat menahan kesemuanya itu.

Baginya jauh lebih enak mendengar suara ranting yang bergoyang terhembus angin ketimbang mendengarkan suara sengak yang tak sedap didengar itu.

Dua ekor kuda jempolan membawa dua tokoh persilatan yang gagah perkasa, tidak sampai seharian sampailah mereka di pegunungan Ci-lian-san.

Dengan hadiah sekeping uang perak, Oh Put-kui menitipkan kudanya di rumah seorang petani, lalu menghembuskan napas panjang, kepada si Pengemis pikun serunya sambil tertawa.

"Lok loko, waaah.....binatang itu benar-benar telah menyiksa aku !"

"Lote, dasar kau memang ditakdirkan bernasib kere, ada binatang yang mewakili kakimu, kau malah merasa tersiksa.....huuuhh, dasar jiwa kera....."

Seru Pengemis pikun setelah tertegun beberapa saat. Oh Put Kui tertawa.

"Meskipun jiwa siaute jiwa kere, aku mah enggan untuk menjadi ketua Kay-pang."

Tak tahan Pengemis pikun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu.

"Saudaraku, kau memang terlalu besar ambisi, siapa sih yang menyuruh kau menjadi ketua Kay-pang ? Kalau kau sampai menjadi ketua kami, waaahh....anggotanya bisa lebih miskin lagi sampai membeli celanapun tak punya uang !"

"Haaahh......haaahhh.......haaahh.....benar, tepat sekali ucapanmu itu."

Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak.

"coba balau bukan demikian, aku tentu akan mencoba untuk menjadi ketua Kay-pang...."

"Lebih baik jangan kau coba, kalau tidak bisa jadi aku pengemis tua terpaksa harus berkhianat"

Sambil bergurau mereka berdua meneruskan perjalanannya menelusuri jalan setapak menuju ke atas gunung. Setelah melalui empat buah tebing rendah habis sudah kesabaran pengemis pikun.

"Saudaraku, mungkinkah keparat she Ban itu tak akan datang kemarin.....? Oh Put Kui segera menggeleng. Seandainya kau, mungkinkah kau tak akan kemari ?"

"Mengapa tidak datang ? Memangnya dalam loteng kecil itu terdapat sesuatu yang bisa diharapkan ?"

Sahut pengemis pikun sambil tertegun.

"Nah, itulah dia ! Makanya kakek Ban pasti akan datang kemari......"

"Kalau datang seharusnya sudah datang, jangan-jangan dia menunggu kita dimulut lembah Sin-mo-kok ?"

"Bisa jadi demikian....."

Oh Put Kui tertawa.

Belum habis dia berkata, mendadak tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dari tengah udara.

Pengemis pikun yang berada di depan menjadi amat terperanjat, buru-buru dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan ke depan.

"Bluuuuukkk........."

Bayangan manusia yang meluncur datang dari tengah udara itu segera terhajar telak dadanya oleh tenaga pukulan dari Pengemis pikun tersebut.

Namun anehnya, meskipun serangan dari Pengemis pikun itu bersarang telak ditubuh lawan, namun alhasil bagaikan menghantam diatas sebuah benda yang sama sekali tak bertenaga.

Baru saja Pengemis pikun berseru tertahan, bayangan manusia itu sudah meluncur kembali ke tengah udara.

Tiba-tiba saja bayangan hitam itu menerkam lagi dengan kecepatan luar biasa.

Tergopoh-gopoh Pengemis pikun mengayunkan sepasang telapan tangannya ke depan, sepenuh tenaga dia menghantam bayangan hitam tersebut.

Tapi bayangan hitam itu sudah menerjang lagi dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Seketika itu juga sekujur badan Pengemis pikun terkurung oleh bayangan hitam tadi.

Oh-put-kui yang berada disisi arena sampai tertegun menyaksikan peristiwa ini.

Sebab semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu singkat, belum sempat dia menggerakkan badannya pengemis pikun itu sudah tercengkeram oleh bayangan hitam itu.

Kalau dibilang tercengkeram maka lebih tepat kalau seluruh badan pengemis pikun itu terkurung ketat.

Waktu itu, bayangan hitam tadi sudah mengurung sekujur badan pengemis pikun sehingga tak terlihat lagi.

Dengusan bergema dari mulut si pengemis pikun, dengan terkejut buru-buru Oh put-kui siap melancarkan serangan untuk menolong.

"Bocah muda, jangan urusi dia, biar pengemis busuk ini merasakan sedikit pelajaran, siapa suruh dia menyebutku tua bangka dibelakang orang !"

Kalau didengar dari suaranya, ternyata orang itu adalah kakek latah awet muda.

Oh Put-kui segera menarik kembali tangannya yang siap melancarkan serangan itu.

Berpaling kemuka, ia melihat diatas sebatang pohon siong raksasa lebih kurang tiga kaki di hadapannya duduk seorang kakek berambut putih yang berjubah panjang, dia tak lain adalah Bau Sik thong adanya.

Sambil menggantungkan kakinya kebawah dan memutar sepasang tangannya, dia membuat muka setan kearah Oh Put-kui.

Ketika Oh Put-kui berpaling ke arah pengemis pikun, waktu itu sang pengemis pikun, sedang dibuat kalang kabut setengah mati, sementara dari balik hitam itu menongol sebuah kepala.

Oh Put kui tak bisa menahan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa terbahak-bahak.

Ternyata gumpalan bayangan hitam itu tak lain adalah sebuah pakaian milik Put-lo hu ang-siu (kakek latah awet muda).

Sekalipun begitu, pengemis pikun sudah cukup dibuat kalang kabut tak karuan.

Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-hu ang-su menuding ke arah pengemis pikun sembari berseru .

"Pengemis busuk, tenaga pukulanmu masih terlampau cetek....."

Sementara itu pengemis pikun telah berhasil melepaskan jubah panjang tersebut dari atas kepalanya, kontan saja dia mencak-mencak sambil mengumpat .

"Sialan, kau berani mempermainkan aku...."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba jubah panjang yang berada ditangannya itu melayang kembali ke udara.

Pengemis pikun sudah merasakan penderitaan oleh jubah mana, maka melihat jubah tersebut melayang ke udara, kotan saja dia menjatuhkan diri bergelinding di atas tanah.

Pada dasarnya dia berperawakan rendah lagi kurus, apalagi sedang merendahkan tubuhnya, maka gelindingannya itu mirip sekali dengan baskom air, dalam waktu singkat dia sudah berada sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.

Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-hu ang-siu berseru kepada Oh Put-kui .

"Haaahhh.....haaahh........haaaahhhhh.....bocah muda, pernah melihat telur busuk menggelinding? Permainan dari pengemis busuk itu memang indah sekali ?"

Ditengah gelak tertawanya, jubah hitam jadi tahu-tahu sudah melayang kembali ke tangannya.

"Ban tua,"

Ujar Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

"permainan jubah panjang jaring terbang menangkap kura-kura emasmu sungguh hebat ! Baru pertama kali ini selama hidup boanpwe menyaksikan demonstrasi yang begitu indah."

"Haaahh........haaahh......haaahh.....bocah muda, julukanmu memang tepat sekali,"

Seru Put-lo-huagn-siu.

"jubah panjang jaring terbang menangkap kura-kura emas....tepat ! Tepat sekali ! Pengemis busuk itu memang seekor kura-kura emas !"

Tapi sejenak kemudian dia sudah berteriak kembali .

"Kurang cocok, kurang cocok ! Gara-gara pengemis busuk ini menggelinding di atas tanah, jubah panjang baruku menjadi hitam dan kotor. Dia harus disebut kura-kura busuk !"

Mendadak itu, Oh Put Kui tertawa terpingkal-pingkal sampai terbungkuk-bungkuk. Tapi pengemis pikun Lok Jin ki yang baru saja merangkak bangun menjadi sewot dan mencak-mencak sambil mencaci maki.

"Sialan, sialan, kurang ajar betul.....................kalian yang tua maupun yang muda sama-sama telur busuknya !"

Menyaksikan keadaan pengemis pikun Lok Jin-ki yang mengenaskan itu, gelak tertawa Oh Put Kui yang sebenarnya mulai mereda, sekarang meledak dan berderai kembali.

Dengan langkah lebar Put-lo-huang-siu berjalan kehadapan pengemis pikun, kemudian sekali mencengkeram dia mengangkat tubuhnya seperti menangkap anak ayam saja.

Kini Oh Put Kui baru tahu kalau perawakan tubuh Kakek latah awet muda Ban Sik-hong ini satu kali lipat lebih besar daripada perawatak tubuh pengemis pikun.

"Ayo jawab, kau masih berani mengumpat lagi tidak? Pengemis busuk....."

Hardiknya. Dicengkeram macam anak ayam, pengemis pikun menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak..........tidak.......tidak berani !"

Put-long-huang-siu segera menggetarkan tangannya, tubuh pengemis pikun segera terlempar ke udara sehingga jatuh berjumpalitan.

"Sudah berapa ratus kali kuampuni kau si....si pengemis busuk....?"

Teriak Put lo-huagn-siu sambil menarik-narik rambut ubannya.

Pengemis pikun melejit dan melompat bangun dari atas tanah, kemudian setelah membersihkan tubuhnya dari debu, dengan mata melotot dan sikap rikuh sahutnya sambil tertawa .

"Agaknya...........agaknya keseratus tiga puluh tujuh kalinya......"

Put-lo-huang-siu tertawa tergelak.

"Haaahh............haaahh............haaahh............betul ini adalah yang keseratus tiga puluh tujuh kalinya, bagaimanapun juga umurmu memang masih muda enam puluh sembilan tahun daripada aku, tentu saja daya ingatmu jauh lebih baik daripada aku sendiri."

Oh-put-kui yang mendengar perkataan itu tak bisa menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak-bahak.

Mungkin pengemis pikun tidak berani melawan Put-lo-huang-siu, tapi tidak demikian dengan Oh-put-kui.

Begitu anak muda tersebut tertawa, kontan saja dia melototkan sepasang matanya bulat.

"Saudaraku, rupanya kau senang melihat aku menderita ? Baik, tunggu saja nanti ! Asal kau berani berkumpul bersama tua bangka celaka ini, pasti ada permainan yang sedan untuk kau nikmati."

"Mungkin hal itu benar."

Oh Put Kui menggeleng, tapi paling tidak bukan berada di depan mata sekarang !"

"Bocah muda, perkataanmu itu memang benar,"

Sela Put-lo-huang-situ dengan cepat.

"apabila kau ingin bermain kembangan, bila kau telah dewasa nanti, aku pasti akan melayanimu sampai puas."

"Nah bagaimana?"

Ejek pengemis pikun sambil tertawa tergelak.

"tunggu saja tanggal mainnya saudaraku !"

Oh Put Kui masih saja tertawa hambar.

"Bila urusan yang penting telah selesai, boanpwe pasti akan menemani Ban tua buat bermain-main !"

Ucapnya. Put-lo-huang-siu yang mendengar ucapan itu lantas saja menjadi mencak-mencak kegusaran.

"Bocah keparat, tampaknya kau lebih becus ketimbang pengemis busuk itu ! Hei pengemis busuk, kau dengar tidak ? Orang lain begitu gagah, tidak pengecut macam kau saja !"

Pengemis pikun bertepuk tangan sambil bersorak sorai.

"Asalkan kau tidak mencariku, soal becus atau tidak bukan masalah buat aku si pengemis...."

"Itu tak mungkin, aku sudah terbiasa bergaul dengan kaum miskin, jadi meskipun kau tidak ingin berhubungan dengan akupun tak mungkin, lohu akan segera menjadi hu-ting Beng untuk minta orang..... Oh Put Kui tertawa sendiri setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.

"Orang tua itu benar-benar berhati lurus orang lain enggan berhubungan dengannya, teryata dia hendak mencari ketuanya untuk menuntut orang......"

Pada saat itulah pengemis pikun buru-buru berseru .

"Sayang sekali locianpwe, guru aku si pengemis tua sudah tidak menerima tamu lagi."

"Benarkah begitu?"

Put-lo-huang-siu tertawa.

"pengemis cilik, apakah gurumu tidak menjadi ciangbunjin lagi ?"

Mendengar ucapan mana, dengan wajah serius Pengemis pikun menyahut .

"Gutuku sudah mengundurkan diri !"

"Gurumu itu benar-benar tak becus, kalau tidak menjadi ketua, dia ingin menjadi apa ?"

"Guruku suka akan kebebasan, oleh sebab itu dia tak ingin menjadi seorang ketua yang terikat gerak-geriknya......"

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........kehidupa n bebas kentut anjing, paling-paling dia malas dan ogak bekerja."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan mata melotot besar dia berkata lagi .

"Lantas siapa yang telah menjabat kedudukkan sebagai ciangbujin ?"

"Konsun toa-suheng !"

Kembali kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........begitu gurunya begitu pula penggantinya. Hu Teng-beng memang rongsokan yang tak becus, maka dia mencari Konsun Lian yang tidak doyan tertawa utnuk meneruskan jabatannya ! Coba kalau aku, sudah pasti aku akan mencari ji-suhengmu pengemis pengembara Lui Sian-bu untuk memangku jabatan itu............."

"Untung saja bukan kau yang memilih.........."

"Hmmm, memangnya aku tidak berhak untuk melakukan pemilihan tersebut ?"

Dipelototi oleh kakek tersebutm pengemis pikun menjadi amat terperanjat, buru-buru dia berkata .

"Berhak, berhak ! Kau orang tua adalah seorang tokoh silat yang berkedudukan tinggi, kedudukannya diatas semua ketua dari pelbagai partai tentu saja kau sangat berhak............."

Jangan dilihat pengemis pikun itu bodoh, ucapan yang diutarakan kontan saja membuat Put-lo-huang siu senangnya setengah mati. Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak .

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........sangat berarti, sangat berarti ! Pengemis busuk, coba kau lihat, apakah gayaku mirip sekali dengan gaya seorang tokoh silat yang berkedudukan diatas para ciangbunjin lainnya ?"

Sambil berkata dia mencabut tiga lembar rambut putih dari atas kepalanya.

Kemudian setelah membenahi jubahnya dan membusungkan dada, dengan gaya yang dibuat-buat dia maju beberapa langkah ke arah depan.

"Nah, mirip tidak ?"

Serunya. Pengemis pikun segera menutupi mulutnya menahan rasa geli, kemudian setelah mendengus sahutnya .

"Mirip ! Mirip sekali ! Pada hakekatnya mirip malaikat dari kahyangan....."

Dengan bangga Put-lo-huagn-situ tertawa tergelak, kemudian sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya pula .

"Bocah muda, bagiamana penurut pendapatmu ?"

Waktu itu Oh Put Kui sudah kegelian setengah mati hingga napasnya seperti menjadi sesak, mendengar pertanyaan tersebut, sahutnya dengan cepat .

"Meski tidak tepat keseluruhannya.....tapi berbeda pun tidak banyak......."

"Kenapa? Kau tidak puas?"

Put-lo huang-siu merasa agak tertegun oleh perkataan mana. Oh Put Kui tertawa.

"Bukan begitu.......cuma kau kelewat kurus lagi jangkung, tidak mencerminkan wajah orang yang punya rejeni besar........."

Put-lo-huang-sia segera tertawa tergelak.

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........cuma begitu saja ?"

"Begitupun sebenarnya sudah lebih dari cukup......"

Pikir Oh Put Kui dihati. Namun diluar segera sahutnya .

"Yaaa, hanya dalam hal itu saja yang agak mirip."

"Kalau cuma itu mah gampang sekali, aku akan segera berubah sedikit bentuk wajah dan perawakanku !"

Ucapan ini segera membuat Oh Put Kui terkejut. Dia tidak habis mengerti dengan cara apakah tua bangka ini akan merubah dirinya ? Maka dengan perasaan tercengang dan ingin tahu dia berseru .

"Kau orang tua dapat merubah diri ?"

"Tentu saja! Kalau tidak mana mungkin aku bisa dikatakan sebagai manusia yang serba bisa?"

Pengemis pikun yang berada disisi arena segera bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........kalau begitu beribahlah, berubahlah menjadi seekor kura-kura..........."

Belum habis kata tersebut diutarakan, cepat-cepat dia menutup mulutnya kembali. Untung saja Oh Put Kui menimpali .

"Boanpwe sangat tidak percaya dengan ucapanmu itu."

Tiba-tiba Put-lo-huang-siu tertawa aneh, kemudian ujarnya sambil tersenyum .

"Bocah muda, kau ingin membuktikan sendiri perkataanku tadi.............?"

Oh Put Kui memang ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri atas ucapannya itu.

Put-lo-huang-sium tertawa terbahak-bahak, mendadak ia menggetarkan sepasang bajunya, rambut putihnya bergetar keras dan tubuhnya yang jangkung lagi kurus itu tiba-tiba saja menyusut menjadi satu depa lebih pendek.

Bukan begitu saja, dengan makin pendeknya sang tubuh maka badannyapun makin menjadi gemuk.

Dengan perasaan terkesiap Oh Put Kui tertawa, lalu serunya .

"Ban tua, ilmu sakti perubah bentuk badan ini sungguh hebat dan luar biasa!"

"Bocah busuk, kau bilang ilmu apa ? Ilmu perubah bentuk badan........?"

"Memangnya masih ada nama lain ?"

"Tentu saja, kepandaian sakti itu bernama Tah-thian sin-kang (ilmu sakti perogoh langit)!"

"Ilmu sakti perogoh langit?"

Oh Put Kui tertegun dan berdiri melongo.

Ia belum pernah mendengar nama tersebut, pada hakekatnya mendengar orang berkatapun tidak.

Bukan cuma dia, pengemis pikun sendiripun dibikin berdiri bodoh.....

Sejak kapan dalam dunia persilatan terdapat ilmu sakti perogoh langit?

"Boanpwe kurang berpengalaman sehingga nama itu belum pernah kudengar....Ban tua apakah kau orang tua yang memberi nama sendiri atas kepandaianmu itu ?"

Put-lo-huang-situ tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........memang nya tidak boleh untuk memberi nama atas sebuah kepandaian yang diciptakannya sendiri ?"

Oh Put Kui tertawa.

"Apabila orang persilatan dapat menciptakan semacam kepandaian sakti, maka hal mana merupakan suatu peristiwa besar yang pantas dikagumi. Mengapa sih kau orang tua mencurigai sikap orang lain......?"

"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu itu, tampaknya kau tak percaya dengan perkataan lohu !"

"Boanpwe tidak brani, boanpwe justru sangat kagum dan hormat padamu."

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........sudah seharusnya memang demikian !"

Sikapnya saat ini berbeda sekali dengan sikapnya tadi, memang tak salah lagi kalau dia nampak keren dan berwibawa sekali, cuma wajahnya masih tetap memancarkan sifat kekanak-kanakan.

Pengemis pikun yang berada di sisinya kembali menyindir .

"Loacianpwe, tampangmu sekarang memang mirip sekali dengan tampang tokoh silat yang dikagumi dan dihormati orang !"

Pengemis pikun mengerling sekejap ke arahnya, kemucian berkata .

"Pengemis busuk, aku tahu kalau perkataanmu itu macam kentut anjing semua!"

Lalu sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya lebih jauh .

"Bagaimana menurut pendapatmu bocah muda ?"

Oh Put Kui tertawa.

"Yaa, memang rada miri ! Cuma.........."

Belum habis perkataan itu diutarakan, si kakek sudah berkerut kening.

"Cuma kenapa lagi? Aaaai....si bocah muda benar-benar sukar dihadapi....."

Oh Put Kui yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa geli dibuatnya.

Sulit untuk dihadapi ?

Kau mirip dengan tokoh silat atau tidak, apa pula sangkut pautnya denganku ?

Cuma diluaran ia tetap berkata .

"Aku lihat wajahmu itu menunjukkan sikap yang kelewat binal......."

Put-lo-huang-siu tertawa geli oleh perkataan itu.

"Waaah, kalau soal ini mah tak bisa di rubah lagi, bocah muda, lohu sudah hidup hampir tiga kali enam puluh tahun, tapi penyakit diwajahku ini tak pernah berhasil kurobah."

"Locianpwe polos dan jujur, tentu saja hal ini sukar untuk dirubah......."

"Haaahhh................haaahhhh............ haaahhhh............benar-benar sekali, aku memang polos dan jujur, Put-lo-huang-siu tertawa tergelak.

"bocah mudah, bagaimana kalau kita membentuk partai jujur dan polos ? Kau sebagai ketuanya dan aku......"

Setelah termenung sejenak, dia melanjutkan sambil tertawa .

"Biar aku sebagai pembantunya saja !"

Baru saja Oh Put Kui hendak membuka mulut, Pengemis pikun yang berada disisinya sudah berteriak keras .

"Kau seharusnya menjadi Tay-sang ciang-bunjin !"

Tiba-tiba paras musa Put-lo-huagn-siu berubah menjadi merah padam, serunya .

"Waaah, hal ini mana boleh jadi? Lohu sangat senang dengan bocah muda ini, apabila aku menjadi Tay-sang ciangbunjin, toh akibatnya aku tak dapat duduk sejajar dengannya? Dia pasti akan bersikap hormat, gugup dan munduk-munduk bila bertemu aku.......waaah, ini kurang sedap! Pengemis busuk, idemu itu kurang cocok dan berkenan dihati......"

Oh Put Kui yang mendengar ocehannya itu diam-diam merasa kegelian sendiri.

Ban Sik-thong benar-benar seorang manusia yang polos dan lucu.....

Untuk mendirikan suatu partai dalam dunia persilatan sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang gampang, tapi kakek itu berbicara dengan begitu santai, bukanlah hal ini merupakan sesuatu kejadian yang lucu sekali?

Sambil tertawa pengemis pikun berkata lagi .

"Locianpwe, jika kau mesti menjadi pembantunya, Oh Lote, ini baru mengenaskan namanya!"

Dengan cepat Put-lo-hung-siu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Mati demi rekan adalah sesuatu yang luhur, pengemis busuk, sia-sia saja kehidupanmu di dunia ini, masa teori semacam inipun tidak kau pahami? Sungguh tak berguna......"

"Baik, kalau begitu aku si pengemis akan memberi kedudukan lain untukmu...."

Seru pengemis pikun lagi. Lagaknya kali ini pada hakekatnya jauh lebih besar daripada Put-lo-huang-siu. Oh Put Kui menjadi geli rasanya, dia segera berpikir .

"Pengemis pikun ini seharusnya dirubah menjadi pengemis pikun latah......"

Sementara itu Put-lo-huang-siu dibikin kegirangan setengah mati, dia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh..........bagus, bagus sekali, pengemis busuk! Coba katakanlah idemu itu !"

"Lebih baik kau jadi ciangbunjin, saudara cilik ini menjadi pembantumu, sedangkan aku menjadi kasir saja, bagaimana ?"

"Kau sebagai kasir? Buat apa kita mempunyai kasir?"

Seru Put-lo-huang siu sambil berkerut kening. Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.

"Sewaktu pembukaan nanti, orang pasti akan memberi hadiah padamu, bila ak ada seorang kasir yang bisa dipercaya, bukanlah urusan akan berabe ?"

"Tidak bisa,"

Put-lo-huang-siu menggeleng.

"kalau kau si pengemis yang menjadi kasir, itu namanya memendam bakat bagus, lebih baik aku mencarikan kedudukan lain saja bagimu......."

"Tidak, aku tidak mau, aku ingin menjadi kasir saja."

Ngotot pengemis pikun sambil menggeleng. Bagaikan sedang membujuk anak kecil. Put-lo-huang-siu segera berseru .

"Lok kecil, pengemis baik.....percuma menjadi kasir. Meski kedudukannya lumayan tapi tergantung dari paras muka orang, bila orang-orang tak senang hati, jau harus membungkukkan badan sambil tertawa, pengemis, masa kau tahan ? Itu bukan pekerjaan yang enak..........."

"Tidak ! Tidak ! Aku harus menjadi kasir, aku harus menjadi kasir !"

Ngotot pengemis pikun.

Melihat dua orang kakek berusia ratusan tahun masih bersikap macam anak kecil saja.

Oh Put Kui menjadi meringis sambil menahan gelinya.

Diam-diam dia tertawa terpingkal-pingkal.

Agaknya Put-lo-hung-siu sudah kehabisan akal, sambil tertawa dia lantas berkata .

"Pengemis cilik, apa sih enaknya menjadi seorang kasir? Aaaai.........kau memang............."

"Sebagai seorang kasir tentu saja ada enaknya !"

Kata pengemis pikun sambil mencibir.

"Coba katakan apa enaknya ? Kalau ada kebaikannya saja, aku pasti akan setuju!"

Tiba-tiba paras muka pengemis pikun berubah menjadi merah padam, katanya .

"Dalam hidupku aku belum banyak mengenal barang-barang berharga, maka jika aku si pengemis sudah menjadi kasir, pasti akan kupelajari lebih mendalam benda-benda bulat yang berharga itu, sehingga kalau dikemudian hari aku berkesempatan mendapatnya, benda itu tak sampai kubuang dengan percuma."

Kali ini Oh Put Kui tak sanggup menahan diri lagi, dia tertawa terpingkal-pingkal sampai terduduk dikursi.

Gelak tertawa Put-lo-huagn-siu pun amat keras sampai menggetarkan seluruh angkasa.

Hanya pengemis pikun seorang tidak tertawa, dia malah bertanya keheranan .

"Mengapa kalian tertawa kegelian? Aku toh berbicara dengan sejujurnya?"

Benar, ia memang berbicara dengan sejujurnya.

Tapi di dunia ini memang banyak terdapat kejadian aneh.

Semakin jujur seseorang berbicara, sering kali justru semakin membuat sakitnya perut orang yang tertawa kegelian.

Semakin tidak jujur seseorang berbicara malahan sering kali akan kelihatan kesudian dan keangkerannya.

Setengah harian kemudian, Oh Put Kui baru dapat menahan rasa gelinya, ia lantas berkata .

"Lok loko, kalau hanya ingin mempelajari soal mutiara atau permata, tidak usah mesti jadi kasir, kau toh bisa minta petunjuk dari orang lain ?"

"Tidak!"

Kembali pengemis pikun menggeleng.

"apabila kedudukanku hanya sedikit dibawah kalian berdua saja, sangat memalukan bila aku mesti belajar dari orang lain cuma dikarenakan pengetahuan semacam itu....."

"Apakah kau kuatir orang lain memandang rendah kau si pengemis....."

Sekali lagi paras muka pengemis pikun berubah menjadi merah padam karena jengah sahutnya lagi .

"Kalau cuma dipandang rendah mah urutan kecil, vila pamor lote dan Ban tua sampai merosot, apakah aku si pengemis bisa menahan diri?"

Mendengar perkataan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa.

"Nah, begitu baru enak didengar....."

"Apanya yang enak didengar?"

Tiba-tiba Put-lo-huang-siu mengumpat.

"pengemis cilik, tampaknya kau masih mempunyai sesuatu maksud tertentu!"

"Darimana kau bisa tahu?"

Pengemis pikun agak tertegun. Tapi setelah berbicara, dia baru tahu salah. Kalau toh dia memang mempunyai maksud lain, apakah hal ini boleh diutarakan kepada orang lain?"

Oleh sebab itu dia lantas membungkam dalam seribu bahasa dan tidak berbicara lagi.

"Bagaimana? Sudah mengaku?"

Ejek Put-lo-huang-siu lagi sambil tertawa tergelak. Kali ini pengemis pikun benar-benar tak dapat berbicara lagi.... Put-lo-huang-siu yang menyaksikan hal ini segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh................haaahhhh............ haaahhhh............sudahlah, jangan harap kau bisa menjadi kasir dalam sepanjang hidupmu, hmmm! partai belum didirikan, kau si pengemis sudah berniat jahat dengan maksud hitam makan hitam, hal ini mana boleh jadi?"

Kemudian sambil mencibirkan bibir serunya lagi.

"Sudahlah, aku tidak jadi mendirikan partai polos dan jujur lagi......lebih baik bubar saja."

Oh Pu Kui yang mendengar perkataan itu kontan saja tertawa terbahak-bahak, pikirnya .

"Ini memang tindakan yang bagus, didirikan cepat, dibubarkannya lebih cepat lagi....."

"Bubar ya bubar !"

Kata pengemis pikun sambil mencibir.

"biar miskin aku si pengemis tak akan sampai miskinya luar biasa, apalagi dalam sakuku masih ada beberapa lembar ribuan tail emas !"

Rupanya dia teringat kembali dengan lembaran uang emas yang berada di dalam sakunya. Tiba-tiba Put-lo-huang-siu tertawa dingin, serunya .

"Aku tak kepingin, akupun punya........"

Sambil berkata dia mengeluarkan kembali mata uang tembaga yang akan dipakai buat bertaruh lagi dengan pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia itu. Lalu kepada Oh Put Kui katanya sambil tertawa .

"Bocah muda, coba kau lihat, bukanlah uang tembagaku jauh lebih banyak ketimbang uang kertas itu ?"

Oh Put Kui tak mampu menjawab.

Bertemu dengan dua manusia macam mereka, dia cuma dapat tertawa getir belaka.

Sementara itu pengemis pikun telah mengeluarkan lembaran uang lima ribu tail emas yang masih tersisa dalam sakunya, kemudian setelah digapai-gapaikan di tengah udara, dia mencium uang kertas itu dengan mesra sebelum dimasukkan lagi ke dalam sakunya.

Sayang sekali perbuatannya itu sama sekali tak diperhatikan oleh Put-lo-huang-siu.

Sorot mata kakek bersipat kanak-kanak ini hanya mengawasi mata uang tembaganya itu tanpa berkedip.

Berapa saat kemudian, Put-lo-huang-siu baru menghela napas panjang, ujarnya .

"Uang, okh uang......bila kau tak dapat mengungguli Kit Put-sia lagi, aku akan menggigitmu sampai hancur berkeping-keping......"

"Ban tua, kali ini kau pasti unggul !"

Seru Oh Put Kui sambil tertawa.

"Sungguh ?"

Put-lo-huang-siu benar-benar merasa girang sekali.

"Bocah muda, moga-moga saja ucapanmu itu benar, ayo berangkat......."

Begitu bilang berangkat, dia benar-benar berangkat, tampak bayangan hitam berkelebat lewat tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah berada sepuluh kaki dari tempat semula.

Oh Put Kui mengelapkan tangannya ke arah pengemis pikus, kemudian tak berayal dia mengejar dibelakang Put-lo-huang-siu.

GERAKAN tubuh Put-lo-huang-siu benar-benar cepat bagaikan sambaran kilat.

Meskipun Oh Put Kui dan pengemis pikun sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, toh masih tetap ketinggalan sejauh puluhan kaki dibelakangnya, mereka tak pernah berhasil menyusuli kakek berambut putih itu.

Terutama sekali pengemis pikun, bukan saja ia tertinggal sejauh puluhan kaki dibelakang Put-lo-huang-siu, bahkan masih ketinggalan sejauh sepuluh kaki lebih dibelakang Oh Put Kui.

Sesampainya dimulut lembah Sin-mo-kek, mereka baru berhasil menyusul kakek ini.

Bukan, bukan mereka berhasil menyusul Put-lo-huang-siu, melainkan Ban Sik-thong yang duduk menunggu kedatangan mereka.

"Sudah sampai !"

Oh Put Kui mendongakkan kepalanya memandang puncak Thian-cu-hong yang dilapisi salju di depan sana, lalu memandang puncak Gin-yu-hong disisi kananya, dia tahu mereka sudah sampai ditempat tujuan.

"Biar boanpwe yang berjalan dimuka sebagai pembawa jalan......."

Oh Put Kui tersenyum, dia segera bergerak lebih dulu menuju kedalam mulut lembah yang diapit dua buah bukit itu.

"Tunggu dulu,"

MendadakPut-lo-huang-siu menghalangi jalan perginya,"

Mari kita beristirahat dulu."

"Boanpwe tidak lelah!"

"Kau mungkin tidak lelah, tapi orang lain sudah kepayahan hampir modar......"

Mendengar ucapan mana, Oh Put Kui segera menyadari apa gerangan yang dimaksudkan.

Dia berpaling kearah pengemis pikun, dijumpainya pengemis itu sedang bermandikan keringat.

Maka sambil tertawa hambar dia duduk .

"Boanpwe turut perintah!"

Waktu itu Put-lo-huang-siu sedang duduk diatas sebuah batu gunung dekat mulut lembah, memandang jalan setapak yang membentang hingga kedalam lembah tersebut, mendadak ujarnya sambil tertawa .

"Dua puluh tahun lewat dengan cepat sekali......."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya sesudah menghala napas .

"Kesalahan bukan dipihak lohu, siapa sih yang bisa menahan diri .......?"

Oh Put Kui membungkam dalam seribu bahasa, dia sedang mengatur napas.

Sebaliknya pengemis pikun berbaring dengan napas yang terengah-engah.

Mereka semua membungkam, tak seorangpun yang menjawab pertanyaan dari Put-lo-huang-siu tersebut.

Lebih kurang sepertanak nasi kemudian, mendadak Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak sambil berkata lagi.

"Nah anak muda sekalian, sudah cukup, kita harus berangkat !"

Oh Put Kui dan pengemis pikun bersama-sama membuka sepasang mata mereka. Mendadak sekilas senyuman menghiasi sorot mata Oh Put Kui.

"Kau orang tua."

Ternyata Put-lo-huang-siu yang berada dihadapannya lagi-lagi sudah berubah benduk. Kini dia berubah menjadi lebih pendek lebih gemuk.

"Sewaktu aku berjumlah dengan Kit Put-sia tempo hari, beginilah tampang wajahku, maka hari ini akupun ingin menjumpainya lagi dengan tampang semacam ini, hei bocah muda, kau keheranan ?"

"Tidak, aku tak merasa heran !"

Sahut Oh Put Kui sambil tertawa.

"cuma ilmu Toh thian-sin kang milik kau orang tua ini benar-benar memiliki perubahan yang luar biasa sekali, membuat boanpwe merasa bingung saja."

Put lo-huang-siu tertawa aneh.

"Ilmu kepandaian Toh-thian-sin-kang milikku ini memiliki kemampuan untuk merogoh langit mencipta bumi, tentu saja luar biasa sekali, bocah muda, inginkah kau belajar kepandaian ini ?"

"Aaah, boanpwe merasa kalau diriku ini bodoh, kau orang tua tak usah memikirkannya."

Terbelalak lebar mata Put-lo-huang-siu setelah mendengar perkataan itu. Rupanya dia tak mengira kalau Oh Put Kui bakal menampik tawarannya itu.

"Hei bocah muda, kau sombong amat!"

Serunya dengan mata melotot.

"Boanpwe tidak sombong, melainkan menyadari akan keterbatasan kemampuan sendiri, oleh karena itu tak berani memikirkan hal yang bukan-bukan !"

"Heeehh.......heeehh............ heeehh............jadi kau tak mau mempelajari kepandaian ini?"

Put-lo-huang-siu tertawa seram.

"Tak ingin !"

Mendadak berkilat sepasang mata Put-lo-huang-siu, katanya lagi sambil tertawa.

"Tampaknya kau anak muda pernah mempelajari ilmu Sut-kut-sin-kang (ilmu sakti menyusut tulang?") "Yaa, betul,"

"Kau yakin sudah mencapai berapa bagian tingkat kesempurnaan ?"

Walaupun Oh Put Kui tidak mengerti apa sebabnya Put-lo-huang-siu mengajukan pertanyaan tersebut, namun dia tetap menjawab dengan sejujurnya .

"Apabila boanpwe mengerahkan segenap tenaga yang kumiliki maka tubuhku bisa menyusut sampai tiga depa lebih !"

Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh..........tidak bisa dianggap jelek, bocah muda, dapatkah kau menggunakan tenaga saktimu itu untuk menambah perawakan sendiri ?"

"Boanpwe tidak memiliki kepandaian tersebut."

Oh Put Kui menggeleng. Put-lo-huang-siu segera tertawa misterius dan tak mendesak lebih jauh, hanya ujarnya .

"Mari berangkat, kita menangkan dulu Kit Put-sia sebelum membicarakan masalah lain !"

Lagak dari pihak Huang-si-sia (Kota kematian) sungguh besar sekali.

Baru masuk lembah sedalam setengah li, sudan nampak dinding kota yang tinggi sepanjang lima li.

Diam-diam Oh Put Kui mencoba untuk mengukur luas kota tersebut, ia merasa paling tidak mencapai berapa ribu bau.

Diatas bukti ci-lian-san ternyata memiliki tanah lembah yang begini luas, benar-benar suatu kejadian yang sama sekali diluar dugaan siapapun.

Tiba dipinggiran kota, diam-diam Oh Put Kui semakin terperanjat lagi.

Tinggi dinding kota tersebut ternyata mencapai empat kaki lebih.....

Ditambah pula dengan sungai pelindung kota yang digali dengan tenaga manusia, bila ada orang ingin melewati sungai dan memanjat dinding kota itu, paling tidak dia harus mampu melompati sejauh tujuh kaki lebih.

Tak heran kalau kota kematian ini dianggap sementara umat persilatan sebagai daerah terlarang.

Sekalipun hanya ingin masuk saja sulitnya bukan main.

Kini, mereka berdiri disamping jembatan gantung ditepi sebuah pintu gerbang.

Diatas pintu gerbang tersebut tercantum sebuah papan nama besar yang bertuliskan tiga huruf besar .

"TIANG-SENG-SIA". Untuk beberapa saat dia berdiri tertegun, Tiang-seng-sia? Bukankah mereka hendak mengunjungi kota kematian ? "Ban tua, jangan-jangan kita salah tempat?"

Kata Oh Put Kui kemudian,"

Bukankah kita akan berkunjung ke kota kematian? Tapi.......coba kau lihat, bukanlah papan nama diatas pintu kota itu beraksara tiang-seng-sia?"

Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh..........sesungg uhnya kota ini aslinya bernama Tiang-seng-sia, soal nama kota kematian tak lain hanya merupakan julukan yang diberikan sahabat persilatan atas tempat ini !"

Oh Put Kui segera tertawa, ia baru mengerti apa gerangan yang sesungguhnya terjadi.

"Ooh, rupanya kesalahan berita saja....."

Ia jadi teringat dengan julukan pulau neraka, bukankah pulau tersebut sebenarnya bukan bernama pulau neraka ?

Maka dengan cepat dia dapat memahami hubungan antara kota kematian dengan kota Tiang-seng-sia tersebut.

Berbeda sekali dengan reaksi si pengemis pikun.

"Saudara cilik, aku si pengemis benar-benar dibuat kebingungan, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"

Serunya.

"Mungkin orang yang bisa memasuki kota ini jarang sekali bisa keluar dengan selamat, maka beginilah jadinya !"

Pengemis pikun semakin tertegun lagi setelah mendengar ucapan tersebut.

"Meskipun begitu, toh tidak seharusnya berubah nama suatu kota dengan sekehendak hatinya sendiri, teriaknya.

"Mengapa tidak bisa?"

Put-lo-huang-siu melotot besar.

"pengemis goblok, coba bayangkan saja, barang siapa memasuki kota ini pasti akan mati penasaran,apakah tidak cocok kalau kota ini disebut kota kematian?"

"Ooh.....rupanya cuma begitu ?"

Seru pengemis pikun setelah kena damprat.

Yaa, sesungguhnya memang cuma begitu.

Tapi kalau Put-lo-huang-siu tidak berkata mungkin sepanjang hidupnya pengemis pikun tak akan mengerti.

Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli karena sikap pengemis tersebut.....

Dengan nada mangkel Put-lo-huang-siu mengumpat lagi.

"Sebenarnya memang hanya begitu saja, sayang sekali otak kau si pengemis adalah otak udang, maka teori yang begini sederhana pun tidak kau pahami......"

Pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa.

"Umpatan dari kau orang tua memang tepat sekali, aku si pengemis memang berotak udang, benar-benar tak berguna....."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari arah kota bergema, suara ledakan mercon.

Disusun kemudian dengan dua ledakan.

Kalau mercon dibunyikan dalam lembah yang bergaung, bayangkan saja betapa nyaringnya suara tersebut.

Oleh karena itu si pengemis pikun dibuat terperanjat sekali.

"Waaah, apa-apaan itu ?"

Put-lo-huang-siu tampak bangga sekali, sahutnya dengan cepat .

"Mercon itu dibunyikan sebagai tanda menyambut kedatanganku, lihat saja nanti, Kit Put-sia akan segera munculkan diri."

Berbicara sampai disitu dia lantas mendongakkan kepalanya dan berteriak keras.

"Kit-Put-sia wahai Kit Put-sia, kau bocah dungu tak nanti akan berhasil membelengguku kali ini !"

"Yaa, kau orang tua pasti akan menang!"

Timbrung Oh Put Kui sambil tertawa.

"Bocah muda, aku betul-betul tak boleh kalah kali ini !"

Pada saat itulah.....Pintu baca yang tebalnya setengah depa itu sudah terbentang lebar.

Tiga orang kakek berusia di atas delapan puluhan munculkan diri dari balik pintu.

Satu diantaranya segera menjura sambil tertawa tergelak, sapanya .

"Ban tua, selamat bersua kembali !"

Put-lo-huagn siu tidak membalas hormat malah serunya sambil tertawa aneh .

Keparat, kau sudah menangkan uang tembagaku, mengurungku selama dua puluh tahunan, hari ini baru bertemu sudah menyindir diriku habis-habisan, hal ini benar-benar membuat aku tak tahan!"

Sambil mengomel dia langsung melompat naik keatas jembatan gantung dan bergerak ke depan.

Oh Put Kui dan pengemis pikun segera mengikuti dibelakangnya dengan ketat.

Sementara itu, Oh Put kui sudah memperhatikan sekejap wajah si kakek yang menjura sambil berbicara itu.

Tampaknya pemilik kota kematian yang disebut orang iblis diantara iblis, pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia ini jauh berbeda dengan putranya si singa latah pedang iblis.

Dia termasuk seorang kakek ceking yang kurus mana kering lagi tubuhnya.

Ketinggian badannya tidak sampai setengah depa dari si pengemis pikun.

Wajahnya kurus, alisnya botak, kepalanya gundul dan jenggot kambingnya sepanjang tiga inci persis menutupi mulutnya yang penyok karena ompong.

Ia mengenakan baju mera yang dibagian dadanya bersulamkan seekor rajawali emas yang sedang mementang sayap.

oodwoo

Jilid 18 Rasanya kecuali sulaman si rajawali emas yang mementang sayap itu boleh dibilang kakek ceking seperti kena serangan penyakit t.b.c, ini tiada pancaran kegagahan sebagai seorang iblis diatas iblis........

Sementara itu mereka sudah sampai dihadapan si iblis diantara iblis pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia, tuan rumahpun menjura sambil mempersilahkan tamunya masuk, sedang matanya mengawasi wajah Oh Put Kui beberapa kejap.

Walaupun wajahnya memperlihatkan rasa kaget dan tercengang, namun ia sama sekali tak mengajukan sepatah katapun.

Dalam pada itu Put-lo-huang-siu telah memasuki ke dalam kota, maka sambil membusungkan dada Oh Put Kui dan pengemis pikun ikut mengangkat dada sambil menyusul dibelakangnya.

"Bagus sekali ! Tempat ini benar-benar merupakan sebuah kota yang amat ramai."

Setelah masuk ke dalam kota, pengemis pikun menyaksikan kedua belah sisi jalan terdapat anyak orang yang berjual beli, sehingga tak kuasa lagi ia berteriak keras.

Oh Put Kui sendiripun merasa terkejut dengan kejadian tersebut.

Ia tak menyangka kalau kota kematian ternyata hanya nama belaka, sedangkan kenyataannya berupa sebuah kota sungguhan, Walaupun para pedagang yang berjualan serta para langganan yang belanja disitu hampir semuanya temasuk gembong-gembong iblis dari dunia persilatan, namun dilihat suadana pasar yang terbentang disitu, sudah cukup membuat orang melupakan segala peristiwa yang berhubungan dengan pembunuhan dan darah.

Yang lebih membuat orang tercengang adalah penghuni dari kota tersebut.

Ternyata seratus persen penghuninya adalah para gembong iblis yang dapat membunuh orang tanpa berkedip.

Dari sini dapatlah disimpulkan kalau Kit Put-sia memang seorang manusia yang luar biasa.

Dengan cepat mereka sudah melalui tiga buah jalanan besar sebelum tiba di tempat kediaman Kit Put-sia.

Tempat tinggal gembong iblis ini sekali lagi membuat Oh Put Kui merasa terkejut sekali.

Semula dia mengira siraja iblis diantara iblis ini pasti berdiam di dalam sebuah bangunan rumah yang megah dan mewah melebihi sebuah istana raja.

Sekalipun tidak lebih mewah daripada sebuah keraton, paling tidak rumahnya akan lebih megah daripada rumah seorang hartawan atau rakyat disekitarnya.

Tapi setelah Kit-Put-sia mempersilahkan mereka memasuki sebuah bangunan rumah, Oh Put Kui baru melongo.

Ternyata rumah yang didiami oleh Raja diraja dari kaum iblis ini tak lebih hanya sebuah rumah biasa, rumah sederhana seperti kebanyakan pedagang.

Sedangkan si iblis itu sendiri pun seorang pedagang beras yang memakai merek.

Warung beras Put-sia.

Peristiwa ini benar-benar diluar dugaan siapapun juga.

Pengemis pikun yang menyaksikan kejadian tersebut segera menggelengkan kepalanya berulang kali, cuma dia sungkan untuk mengutarakan keluar maka selama ini tiada komentar yang kedengaran.

Dagang beras milik Kit-put-sia memang cukup besar dan ramai, pembantunya saja sudah mencapai belasan orang, bahkan langganan yang membeli beras seperti sedang antri karcis saja penuh sesak dan amat ramai..

Beginikah bentuk kota kematian yang digembar gemborkan orang sebagai kota yang mengerikan ?

Benarkah Kit Put sia adalah raja diraja diantara iblis yang menjadi pemilik kota kematian ini ?

Di tengah keheningan yang mencekam, mereka telah diundang masuk ke ruangan tamu.

Dengan penuh keramahan Kit Put-sia mempersilahkan mereka duduk, tak lama kemudian hidangan lezatpun dihidangkan.

Setelah suasana hening sejenak.

Kit Put sia segera bangun berdiri dan menjura keempat penjuru, lalu ucapnya sambil tertawa.

"Ban tua, mari kita bersantap dulu sampai kenyang sebelum membicarkaan lagi taruhan kita dua puluh tahun berselang !"

Put-lo-huang-siu memang sudah dua puluh tahunan hidup menyendiri dan dihari-hari biasa hanya makan buah-biahan serta air tawar untuk melanjutkan hidupnya.

Begitu mengendus bau harumnya hidangan, tanpa banyak bicara lagi ia langsung menyikat hidangan tersebut dengan rakusnya.

"Bagus, bagus sekali, biar kita bersantap dulu sebelum berbicara lebih jauh..."

Semenatara itu Oh Put Kui sudah memperhatikan keadaan disekeliling sana, terutama dua orang kakek lain yang turut hadir pula di dalam meja perjamuan.

Yang seorang berperut gemuk, berwajah soleh dan bermuka bulat, dandangan seorang pedagang besar.

Sedangkan yang lain berjenggot panjang dan berwajah cerah, wajah seorang guru sekolah.

Ia belum pernah mendengar tentang kedua orang tersebut, maka dia ingin menanyakan hal ini kepada si pengemis pikun.

Sayang ia tak sempat untuk banyak bertanya, sebab si pengemis pikun sudah keburu terlelap dalam hidangan yang berlimpah ruah.

ENTAH berapa puluh cawan arah sudah berpindah ke perut Put-lo-huagn-siu, mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, sambil meletakkan kembali cawannya, ia menuding kearah Oh Put Kui seraya berkata .

"Kit Put-sia bocah keparat, bila aku datang mengajak dua teman, harap kau jangan gusar !"

Kit Pus-sia segera tersenyum.

"Sahabat Ban tua berarti sahabatku pula, aku merasa bangga bisa memperoleh kunjungan ini, masa aku marah ?"

Put-lo-huang-siu kembali tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaaahhhh...........haaaaahhh..........haaaaahhh..........be tul, watak macam inilah yang amat mencocoki seleraku !"

Setelah berhenti sejenak dan mencomot sebuah paha ayam, dia berkata lagi .

"Bocah keparat, justru karena watakmu itu pula, aku sampai terperangkap oleh tipu muslihatmu !"

Kit Put-shia tetap tertawa hambar.

"Mana mungkin kau Ban tua bisa tertipu olehku? Kemenangan yang berhasil Kit Put-shia peroleh tempo hari, tak lebih hanya suatu kemenangan untung-untungan saja."

Sebuah umpakan yang gampang mengena sasaran.

"Hei, bocah keparat, apakah kau jujur?"

Put-lo-huang-siu segera menegur sambil tertawa senang.

Rupanya dia menganggap Kit-put-sia telah berbicara dengan sejujurnya.

Untung Oh Put Kui cepat-cepat menyumbat mulutnya dengan sepotong daging ang-sio bak, coba kalau tidak, nasi semalam tentu akan turut menyembur keluar saking gelinya.

Ia tidak menduga kalau dikolong langit terdapat manusia yang begitu gobloknya.

Sementara itu Kit-put-sia telah berkata lagi .

"Ban-tua, bagaimana dengan nasibmu hari ini ?"

"Bagus sekali, ini kali kau si bocah keparat tentu akan menderita kekalahan total!"

Berbicara sampai disitu, sambil tertawa Put-lo-huagn-siu berpaling kearah, Oh Put Kui, lalu katanya lagi .

"Hei, anak muda! Bagaimana nasibku menurut pendapatmua?"

"Tentu saja baik sekali,"

Sahut Oh Put Kui tertawa.

Walaupun Oh Put Kui tersenyum, namun hati kecilnya merasa amat terperanjat, sekarang ia telah mengetahui betapa lihaynya Kit Put-sia untuk mempergunakna titik kelemahan lawannya untuk memancing musuh masuk perangkap, hal mana membuatnya menggelengkan kepala dan menghela napas panjang....

Kelicikan dan kelihayan Kit Put sia benar-benar menakutkan sekali.....

Sementara itu Put-lo-huang-siu telah berhenti tertawa tergelak, kemudian ujarnya secara tiba-tiba .

"Kit Put-sia, tahukah kau siapakah kedua orang sahabatku ini....?"

"Boanpwe tahu,"

Kit Put-sia tertawa hambar. Jawaban ini membuat Put-lo-huang-siu tertegun.

"Kau tahu? Kalian pernah bersua? Pernah kenal?"

Sambil tertawa Kit Put-sia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Boanpwe belum pernah berjumpa dengan kedua sahabat ini, namun nama besar mereka sudah cukup terdengar dimana-mana, apalagi dapat menempuh perjalanan bersama kau orang tua, sudah pasti mereka memiliki nama tenar di dunia ini."

Umpakan tersebut sekali lagi menyenangkan hati Put-lo-huang-siu, serunya cepat.

"Bocah keparat, kau memang hebat, kau memang betul-betul sangat hebat !"

Sekali lagi Kut Put-sia tertawa.

"Ban tua, sahabat muda ini adalah orang yang paling tersohor di kolong langit dewasa ini. Long-cu-koay-hiap (Pendekar aneh gelandangan) Oh Put Kui, bukanlah begitu?"

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaaahhhh........haaaaahhh..........haaaaahhh..........betu l, betul sekali..."

Serunya. Tapi kemudian dengan wajah tertegun dia berpaling ke arah Oh Put Kui sambil bertanya pula .

"Bocah muda, kau bernama Pendekat aneh gelandangan?"

Oh Put Kui sendiripun merasa terperanjat sekali setelah ia mendengar Kit Put-sia bisa menyebutkan namanya lengkap julukannya secara jitu.

Ia baru merasa sekarang, Kit Put sia benar-benar seorang manusia yang luar biasa hebatnya...

Itulah sebabnya Oh Put Kui segera berkerut kening dan termangu-mangu.

Menati Put-lo-huang-siu menegurnya sekali lagi, ia baru terkejut dan menyahut sambil tertawa .

"Soal ini boanpwe sendiripun kurang tahu, mungkin sobat-sobat dunia persilatan yang memberikan julukan itu kepadaku !"

"Hei bocah muda, tak nyana kalau kau mempunyai nama besar,"

Seru Put-lo-huang-siu sambil tertawa,"

Kalau begitu aku telah memandang rendah akan ditimu!"

Oh Put Kui segera tersenyum.

"Kau orang tua jangan menyindir aku terus menerus....."serunya cepat. Dalam pada itu Kut Put sia telah menjura kepada si pengemis pikun sambil berseru. Aku pikir kau adalah Lok sin-kay (pengemis sakti Lok) bukan.....?"

Sebuah panggilan yang amat sedap didengar, bukan saja setengah mengumpat, kata "pikun"

Pun turut dilenyapkan. Pengemis pikun berkerut kening lalu meneguk secawan arak, sambil manggut-manggur ia menyahut .

"Yaa, memang aku si pengemis, Kit sia-cu ternyata masih ingat dengan diriku, sungguh merupakan suatu kebanggaan bagiku."

Terhadap sikap si pengemis pikun yang angkuh itu. Kit Put-sia sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap, malahan sambil tertawa nyaring ia berkata lagi .

"Perkataan dari sin-kay sungguh membuat aku tak berani menanggungnya."

Pengemis pikun tertawa hambar tanpa menjawab, dia memusatkan kembali perhatiannya untuk meneguk arak.

Kit Put-shia sama sekali tidak kehilangan sikapnya sebagai seorang tuan rumah, sorot matanya kembali dialihkan ke wajah Oh Put Kui, kemudian katanya lagi sambil tertawa .

"Oh sauhiap, nama besarmu sudah tersebar sampai dimana-mana belakangan ini, terutama sekali atas keberanianmu untuk mengunjungi pulau neraka, benar-benar merupakan tindakan yang luar biasa sekali....."

Oh Put Kui tersenyum.

"Pujian dari Kit siacu membuat aku merasa malu....."

"Hei, bocah cilik, apa sih pulau neraka itu?"

Mendadak Put-lo-huang-siu bertanya. Oh Put Kui merasa enggan untuk memberi keterangan mengenai pulau neraka tersebut, maka sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali katanya .

"Aaaaah, itu mah nama dari sebutan pulau neraka kecil ditengah lautan timur..."

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........apa sih arti dari sebuah pulau kecil? Di lautan timur memang banyak terdapat pulau-pulau kecil, bocah kecil, kau tak berlagak sok rahasia."

"Justru jalan pemikiran boanpwe persis dengan jalan pemikiran kau orang tua!"

Oh Put Kui tertawa. Baru selesai dia berkata, Kit Put-shia telah berseru lagi sambil tertawa .

"Ban tua, pulau ini bukan pulau sembarangan, pulau tersebut aneh sekali! Seandainya oh sauhiap hendak berkunjung kesitu, mungkin hingga hari ini belum ada orang yang berani berkunjung kesana......."

Perkataan ini dengan cepat menarik perhatian Put-lo-huangsiu, cepat-cepat katanya .

"Aaaaah, masa ada kejadian seperti ini ? mengapa kau belum pernah mendengarnya?"

Oh Put Kui tertawa geli, pikirnya .

"Sialan benar orang ini, dua puluh tahun tak pernah meninggalkan bangunan loteng tersebut, bagaimana mungkin kau bisa mengetahui persoalan-persoalan yang terjadi di dalam dunia persilatan ?"

Berbeda sekali dengan niat Kit Put-shia, dia memang ingin menggunakan kisah cerita tersebut untuk membikin Ban Sik-tong si kakek latah ini menjadi kelagapan.

"Ban tua, aku mengetahui akan hal ini dengan jelas,"

Serunya kemudian.

Menyusul diapun menceritakan keadaan dari pulau neraka tersebut disamping menambah bumbu dan kecap disana sini.

Sehingga orang-orang penghuni pulau tersebut dilukiskan jauh lebih hebat daripada siluman.

Setelah itu diapun menyanjung Oh Put Kui setinggi langit.

Oh Put Kui segera berkerut kening setelah mendengar perkataan itu, namun ia tetap membungkam tidak mengucapkan sepatah katapun juga.

Sebaliknya pengemis pikun tertawa terkekeh-kekeh sampai sakit perutnya.

Hanya Put-lo-huang siu seorang yang nampak tertarik dan kesamaan dengan kisah cerita tersebut, tanyanya tiba-tiba .

"Bocah muda, makhluk macam apa sih yang berdiam di pulau itu ?"

Pertanyaan ini ditujukan kepada Oh Put Kui, dan bila didengar dari kata "makhluk"

Yang digunakan, bisa diketahui bahwa Put-lo-huang-siu sudah mempercayai delapan puluh persen kalau manusia yang berdiam di pulau tersebut bukan manusia baik-baik. Oh Put Kui tertawa hambar.

"Hanya tujuh orang kakek !"

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........hanya tujuh orang kakek?"

Kakek latah awet muda tertawa tergelak.

Oh Put Kui manggut-manggut.

Sebaliknya raja diraja dari kaum iblis Kit Put-sia merasa agak terperanjat, demikian pula dengan dua orang kakek yang duduk di sisinya.

Wajah mereka nampak agak berubah !

"Hei, bocah muda, apakah tujuh siluman tua?"

Terdengar Put-lo-huang-siu bertanya lagi dengan mata melotot. Paras muka Oh Put Kui agak berubah, serunya cepat .

"Bukan siluman, melainkan tujuh pendekar besar dari dunia persilatan !"

"Tujuh pendekar besar?"

Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak,"

Haaahhh........belum pernah kudengar ada jago-jago sebangsa pendekar besar tinggal ditengah lautan timur, hei bocah muda, pandai amat kau berbohong?"

"Aku berbicara dengan jujur, kalau tak percaya tanya saja kepada Lo-sin-kay, dia yang menemani aku berkunjung ke situ!"

Oh Put Kui berkata sambil tertawa. Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-huang-siu lantas berpaling, kemudian tanyanya .

"Hei pengemis cilik, benar ah itu?"

Pengemis pikun mendengus sambil manggut-manggut.

"Benar, cuma tujuh orang kakek !"

"Tujuh orang? Tujuh orang yang mana?"

Teriak kakek latah dengan mata semakin melotot,"

Pengemis cilik, kau tak usah menjual lagak dihadapanku, kau pasti mengetahui penyakitku bukan? Nah, lebih baik jangan belajar yang jelek!"

Buru-buru pengemis pikun menghabiskan sepotong paha ayam, lalu katanya .

"Mereka adalah Bu-lim-jit-koay (tujuh manusia aneh dari dunia persilatan) yang termashur sekali dimasa lalu."

"Siapa?"

"Bu-lim-jit-koay!"

Kembali Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak .

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........rupanya rombongan anak muda itu......haaahhh....sungguh menarik, sungguh menarik, sejak dulu aku sudah bilang ke tujuh orang bocah muda itu memang berbakat bagus, nyatanya sekarang mereka dapat menakut-nakuti orang lain."

Perkataan semacam ini segera membuat Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali. Sedangkan Kit-put-sia berubah wajahnya, ia berseru keras .

"Aaaah, sungguh tak nyana kalau orang yang berdiam di pulau tersebut adalah Kuloko sekalian tujuh bersaudara...."

"Hei bocah muda, bila urusan disini telah selesai, bagaimana kalau kita bermain-main kesitu?"

Ajak Put-lo-huang-siu,"

Sudah lama aku tak pernah bersua dengan ketujuh orang sobat kecil yang berhubungan akrab dengan diriku itu!"

"Boanpwe turut perintah!"

Setelah tahu kalau Put-lo-huang-siu kenal baik dengan ketujuh kakek tersebut, tentu saja sikapnya menjadi lebih sungkan, bagai mana tidak?

Sebab diantara tujuh orang itu terdapat pula ayahnya.

Sambil tersenyum Ki put-sia berkata pula "Oh sauhiap, sudah setengah harian kita berbincang-bincang namun belum berkesempatan untuk memperkenalkan kedua orang sahabat karibku ini."

Sambil menuding kakek gemuk yang berdiri disisinya, dia berkata .

"Ini adalah peronda dari Tiang-seng sis kami ini, orang menyebutnya sebagai Liong-sia-siang-in (Saudagar sakti dari kota naga) Ku Yu-gi, Ku tayhiap, pernahkah lote mendengar akan nama ini.........?"

Agak geli juga Oh Put Kui setelah mendengar nama itu, pikirnya kemudian .

"Kalau dilihat dari tampangnya, dia memang lebih mirip seorang saudagar!"

Buru-buru sahutnya merendah.

"Selamat bersuo!"

Lalu Kit Put-sia mengalihkan kembali sorot matanya kearah rekannya yang lain, lalu berkata lagi .

"Dan dia adalah salah seorang pelindung kota ini, Tang-gay-jut-su (Pertama dari tebing timur) Leng Bwee-siang!"

Nama besar Leng Bwee-siang sudah pernah didengar oleh Oh Put Kui, dia adalah salah seorang tionglo kaum preman dari perguruan Siau-lim-pay. Sambil tertawa dan menjura dia lantas berkata pula .

"Selamat bersua!"

"Nama besar Oh lote pun sudah lama aku dengar!"

Kata Leng Bwee siang pula sambil tertawa hambar.

Pengemis pikun memang sudah pernah bersua dengan kedua orang ini, dengna cepat mereka terlibat dalam Pembicaraan yang asyik.

Berbeda sekali dengan si Kakek latah awet muda, dia sudah kehabisan kesabaran.

"Bocah muda she Kit, mari kita bertarus lagi!"

"Kau sudah kenyang belum?"

Tanya Kit Put-sia tertawa.

"Terhadap hidangan yang diberikan secara gratis, aku tak pernah mencicipi saja tak usah membuang banyak waktu lagi, sekarang aku sudah tak sabar lagi untuk mulai bertaruh....."

Dari sakunya dia mengambil keluar sepuluh biji mata uang tembaganya sambil bersiap-siap bertaruh. Melihat ke sepuluh biji mata uang tersebut, Kit Put-sia segera tertawa tergelak.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........Ban tua, nampaknya kau sudah menyimpan ke sepuluh biji mata uang tersebut hampir selama dua puluh tahun lamanya?"

"Coba kau lihat tulisan diatasnya, sudah pada luntur, tanpa usia dua puluh tahun, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?"

Jawab Kakek latah pula sambil tertawa.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........betul, cepat sekali...."

Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak dia menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata lagi .

"Ban tua, kali ini kita harus menggunakan mata uang tembaga yang baru."

"Mengapa?"

Tanya Kakek latah tertegun.

"Tulisan diatas uang logam tersebut sudah tidak jelas dan buram, apalagi bobotnya berkurang, oleh karena itu boanpwe rasa untuk adilnya kita mesti mengganti dengan uang tembaga baru."

Tanpa berpikir panjang si Kakek latah segera tertawa tergelak.

"Betul, betul sekali ! Asal adil, aku pasti setuju !"

Kit Put-sia segera berpaling kepada si petapa dari tebing timur Lang Bwee siang, kemudian katanya sambil tertawa .

"Saudara Leng, tolong ambillah sepuluh biji mata logam untuk kupinjamg sebentar!"

Sambil tertawa Leng Bwee-siang mengiakan dan berlalu dari ruangan tersebut.

Kit Put-shia segera menitahkan kepada anak buahnya untuk membereskan semua mangkok piring dengan menggantinya secawan air teh wangi....

Tak selang beberapa saat kemudian si pertapa dari tebing timur Leng Bwee-siang telah muncul kembali dengan membawa sepuluh biji mata uang logam.

Dengan sorot mata yang tajam Oh Put Kui segera memperhatikan sekejap kesepuluh biji mata uang logam itu.

Ia tidak menemukan sesuatu gejala yang mencurigakan, kesepuluh biji mata uang itu memang mata uang logam asli.

Ia tahu, Kit Put-shia adalah seorang manusia yang licik dengan tipu muslihat yang sangat banyak, mustahil dia akan bermain gila terhadap mata uang tersebut, ini menunjukkan kalau permainan setannya sudah pasti berada ditangannya.

Dalam pada itu si kakek latah awet muda telah menyambar mata uang itu serta dicobanya beberapa kali, kemudian sahutnya sambil manggut-manggut .

"Bagus sekali ! nah, bocah muda, siapa yang akan melemparkan mata uang ini lebih dulu ?"

"Setiap orang memperoleh kesempatan untuk melempar tiga kali, siapa dahulu siapa belakangan sama-sama saja,"

Sahut Kit Put shia tertawa.

"Tapi kita harus ada yang mulai dulu, bukan?"

"Kalau begitu, kau saja yang mulai lebih dulu !"

Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........jangan lupa anak muda, kita sedang bertaruh, jadi kau tak udah sungkan lagi......"

Kit put-sia tertawa.

"Boanpwe bukannya bersungkan kepadamu, oleh sebab tempo hari aku sudah meraih kemenangan, maka kali ini sudah sopan tasnya kalau engkau yang melemparkan lebih dulu, apalagi seandainya boanpwe yang kalah, paling banter cuma rugi, sepuluh biji mata uang logam tersebut, berbeda sekali bila kau yang kalah....."

"Bocah keparat, kau anggap pasti kalah?"

Put -lo huang-siu semakin gusar.

Tampaknya ia benar-benar dibuat gusar sekali oleh perkataan tersebut.

Kejadian ini dengan cepat menimbulkan pula rasa was-was Oh Put Kui terhadap segala tipu muslihat Kit-put-sia.

Tampaknya Kit-put-sia memang selalu berhasil mengendalikan perasaan dari si kakek latah awet muda, dalam keadaan gusar bagaimana mungkin si kakek latah mengungguli Kit-put-sia yang selalu dapat menguasai perasaan hatinya ?

Diam-diam Oh Put Kui semakin meningkatkan kejelian matanya dan kewaspadaannya atas keadaan disekeliling tempat itu.

Dalam pada itu Kit Put-sia telah berkata lagi sambil tertawa .

"Aaaah, masa boanpwe berani mengatakan kau orang tua pasti akan kalah? Cuma kau pikir terlalu tidak adil bila kita mesti bertaruh kau akan berdiam dua puluh tahun lagi di dalam bangunan loteng tersebut...."

"Kit Put-sia, aku toh bersedia melakukan hal ini dengan kemauan sendiri !"

Kit Put sia segera tersenyum licik, sebab apa yang menjadi tujuannya telah tercapai.

"Kegagahan locianpwe sungguh jarang ditemukan dalam kolong langit dewasa ini,"

Serunya kemudian.

"Ban tua, silahkan kau melempar lebih dulu!"

Oleh ucapan demi ucapan yang diutarakan oleh Kit Put-sia tersebut, disamping Put lo huang-siu merasa amat gusar, diapun dibikin girang oleh umpakan lawan.

Begitu lawan mempersilahkan dia untuk mulai, dengan tergesa-gesa dia mengambil mata uang logam itu kemudian membaliknya dengan huruf "Nian"

Menghadap semua keatas.

Oh Put Kui yang bermata jeli segera dapat melihat sesuatu yang kurang menguntungkan, sebab ketika ke sepuluh biji mata uang tersebut berada di tangannya, berarti seluruh telapan sampai ujung jari tengah dan telunjuknya dipenuhi oleh mata uang dengan bobor yang berbeda.

Ini berarti pula setelah mata uang dilemparkan, tenaganya menjadi tidak seimbang.

Agaknya si kakek latah tidak berpikir sampai ke sana.

Dengan perasaan gelisah Oh Put Kui mencoba untuk memberi petunjuk kepada kakek tersebut, maka ujarnya sambil tertawa .

"Ban tua, apakah mata uang tersebut tak bisa kau lemparkan ke atas meja ?"

"Siapa yang bilang ?"

"Kalau memang begitu, mengapa kau tak mencoba untuk melemparkannya ke luar ?"

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........bocah muda, kalau aku melemparkan kelewat keras, niscaya mata uang tersebut akan membalik sampai dua kali."

Oh Put Kui kembali tertawa, ia tahu jalan pikiran si kakek latah kelewat sempit, ia hanya kuatir kalau mata uangnya sampai terbalik sehingga menunjukkan permukaan yang merupakan kebalikannya.

Padahal seandainya kakek itu dapat berpikir untuk melemparkan secara lurus keatas udara, bukankah semua mata uang akan melayang turun juga secara lurus ?

Sambil tertawa hambar kembali ucapnya .

"Mengapa kau tidak mencoba melemparkannya ke atas ?"

"Tidak usah dicoba lagi, aku sudah dua puluh tahun berpengalaman dalam soal lempar melempar ini."

Selesai berkata iapun melemparkan mata uang tersebut ke atas meja.

Alhasil dari sepuluh mata uang tersebut, hanya tujuh biji yang menghadap secara benar, sedangkan tiga lainnya menunjukkan permukaan yang berhuruf "nian".

Dengan kening berkerut kakek latah awet muda segera berguman agak mendongkol .

"Sialan, mengapa hanya tujuh biji ? Pada hal tempo hari bisa mencapai delapan biji, benar-benar kelewat sial aku ini......"

Dalam pada itu Kit Put-shia telah mengambil mata-mata uang tersebut dan meletakkannya keatas tangan. Oh Put Kui segera mengerahkan tenaga dalamnya pula bersiap-siap mengacau...

"Kit Put-shia segera menyebarkan mata uang itu kemeja......

"Delapan!"

Teriak Put-lo-huang-siu tertawa tergelak,"

Hei bocah keparat, kali ini kau melempar jauh lebih jelek dari pada dulu, sepuluh dikurangi dua menjadi delapan biji saja."

Paras muka Kit Put-shia nampak aneh sekali, ia tertawa dan menyahut .

"Yaa, lain dulu lain sekarang, tampaknya bakal menang kali ini......."

"Nasibku memang lagi mujur kali ini, tanggung akan kuraih hasil secara penuh......"

Kakek latah segera mengambil kembali mata uang itu dan melemparkannya keatas meja.

"Kali ini memperoleh angka sepuluh !"

Tiba-tiba Oh Put Kui berseru sambil berseru sambil tertawa hambar.

"Benarkah itu?"

Kakek latah tertawa tergelak.

Ketika dia mengalihkan sorot matanya ke meja, betul juga, kesepuluh biji mata uang tersebut semuanya menunjukkan angka "sepuluh".

Tak terlukiskan rasa gembira kakek latah awet muda setelah menyaksikan kejadian ini, kontan ia berteriak .

"Bagaimana sekarang, Kit Put shia ?"

"Tampaknya kau memang akan memenangkan taruhan ini....."

Sahut Kit-put-shia dengan kening berkerut.

"Ayo cepat lempar, aku sudah tidak sabar untuk mengungguli dirimu,"

Teriak Put-lo-huang-siu lagi.

Kit-put-sia tertawa hambar, dipungutnya mata uang itu, diletakkan ditangan kemudian dilemparkan ke atas meja.

Sambil memandang kearah meja, tiba-tiba Oh Put Kui berseru sambil tertawa .

"Sembilan!"

Ternyata mata uang itu memang hanya sembilan biji yang menunjukkan "sepuluh"

Agak tertegun Kit-put-sia berdiri ditempat, keningnya berkerut, tapi kemudian katanya sambil tertawa .

"Ban tua, ini berarti seri buat dua babak pertama, nah babak yang terakhir ini akan menentukan menang kalah kita berdua."

Kakek latah awet muda nampak gembira sekali, dia tertawa terbahak-bahak.

"Pada dua babak pertama aku sudah mengungguli dirimu, asal babak ketiga ini berakhir dengan seri saja berarti aku sudah dapat mengungguli.....nah lihatlah hasilnya..."

Sambil berkata dia mengambil mata-mata uang itu dan melemparkan untuk ketiga kalinya.

"Lagi-lagi angka sepuluh!"

Teriak Oh Put Kui lantang.

Dengan paras muka berubah Kit Put-sia segera mengalihkan perhatiannya ke atas meja.

Benar juga, lagi-lagi mencapai angka sepuluh.

Ditengah gelak tertawa Put-lo huang-siu yang diliputi kegembiraan, Kit Put-sia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas, katanya .

"Ban tua, kau yang telah memenangkan taruhan kali ini !"

Sambil berkata ia lantas mendorong kesepuluh biji mata uang tersebut ke hadapan lawannya.

Dalam pada itu si kakek latah awet muda hanya mengawasi kesepuluh biji mata uang tersebut dengan mata melotot dan sama sekali tak berkedip.

Melihat itu, Pengemis pikun segera berteriak keras-keras di tepi telinganya .

"Hei, si jenggot putih, kau telah menang !"

Teriakan ini keras sekali ibarat guntur yang membelah bumi di siang hari bolong. Namun Kakek latah awet muda tidak kaget atau terkejut, dia malahan menghela napas panjang.

"Duapuluh tahun........duapuluh tahun........akhirnya aku berhasil menang !"

"Ban tua, setelah unggul seharusnya kau merasa gembira."

Kata Oh Put Kui tertawa.

Dalam dugaannya semula, setelah berhasil menangkan taruhan ini niscaya Kakek latah awet muda akan mencak-mencak kegirangan, bahkan bisa jadi akan tertawa tergelak seperti orang gila.

Tapi kenyataannya, apa yang terjadi sama sekali diluar dugaan semula.

Kakek awet muda tidak melompat-lompat, tidak pula berteriak-teriak.

Hingga Oh Put Kui menyadarkan dirinya, ia tetap tidak terpengaruh oleh emosi.

"Hei, bocah muda, apakah lohu sudah boleh melihat matahari...."

"Tentu saja!"

Oh Put Kui sambil tertawa.

"Kau telah menangkan pertaruhan ini."

Kakek latah awet muda manggut-manggut kembali katanya .

"Bocah muda, aku tak perlu kembali lagi ke loteng kecil di perkampungan Sii-ning-ceng bukan ?"

"Ooh, tentu saja !"

Mendadak kakek latah awet muda memejamkan matanya rapat-rapat, lalu berkata.

"Anak muda, tahukah kau betapa sulitnya kehidupan selama dua puluh tahunan ini?"

Oh Put Kui tertawa.

"Walaupun boanpwe tidak ikut merasakannya, namun dapat kubayangkan sampai dimanakah penderitaan tersebut !"

Put-lo-huang-siu tertawa rawan.

Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 10

Baca Juga: Pendekar Setia 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert