Ceritasilat Novel Online

Naga Merah 4

Eps 4 Naga Merah - Khu Lung

Baca online Naga Merah - Khu Lung

Cersil Naga Merah - Khu Lung.

Orang kata bahwa dalam dunia ini yang paling kejam adalah hati wanita, rasanya perkataan itu sedikitpun tidak salah ......"

Berbareng dengan itu lantas badannya lantas melompat dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melancarkan dua kali serangan tanan kosong.

Serangan yang dilakukan secara tiba-tiba itu, sesungguhnya diluar dugaan Chie Peng, maka seketika itu hati gadis ini gelisah.

Sedangkan kekuatan tenaga dari serangannya Tan Liong saat itu sudah mengancam dirinya.

Chie Peng terpaksa dengan tersipu-sipu memutar tubuhnya, tangannya dikeataskan dan maju merangsak menyambuti serangan Tan Liong.

Suatu benturan kedua kekuatan lantas terdengar amat nyaring.

Di situ lantas timbul angin hebat, sampai tanah pada mengepul naik.

Pada saat itu tiba-tiba ada sesosok bayangan orang yang melayang turun di hadapan Tan Liong.

Pemuda itu terperanjat.

Sampai mundur dia dua tindak, tatkala ujung matanya melirik siapa orang yang datang secara tiba-tiba itu ternyata adalah seorang tua, ditangannya tergenggam sebuah tongkat besi.

Orang tua itu lantas menanya dengan sikap dan nada suaranya yang dingin.

"Adakah tuan ini yang bernama Tan Liong? "

Pada waktu itu empat orang tua yang lainnya yang mengikuti orang tua yang duluan sudah berbaris dan berdiri di hadapan Tan Liong.

Selagi Tan Liong baru saja hendak menjawab, terdengar suara merdunya Chie Peng yang berkata .

"Tan Siangkong, kami ingin minta diri lebih dulu. Sebagai orang-orang dalam kalangan Kang-zsouw, tak usah kuatir kita nanti tak bertemu lagi."

Sehabis mengucapkan perkataannya itu Tan Liong hanya melihat berkelebatnya dua bayangan merah, dua gadis jelita berbaju merah itu sudah lenyap dari pandangannya.

Tan Liong berubah wajahnya.

Meski ia telah mengetahui dua gadis itu tanpa dapat dicegah akan berlalu tetapi rupa-rupanya ia masih penasaran maka mendadak ia berseru.

"Ke mana kalian pergi ...... ?"

Dengan cepat badannya melesat juga arahnya ke tempat di mana dua wanita muda tadi menghilang.

Tetapi baru pemuda ini bergerak, lima orang tua yang menghadang dihadapannya mendadak pada mengirim serangan-serangan mematikan dengan tangan kosong.

Serangan tangan kosong yang dilancarkan oleh lima orang itu tergabung laksana gelombang air laut yang menyerbu pantai, hebatnya bukan buatan.

Oleh karena tahanan itu pula si pemuda dengan hati mangkel urungkan niatnya dan lantas melompat menepi menghindarkan serangan gabungan itu.

Dengan demikian maka kedua gadis baju merah itu juga sudah tak tampak bayang-bayangnya sekalipun lagi.

Tan Liong mengkal hatinya, dirasakan dadanya turun naik bergelombang matanya memancarkan sinar menakutkan.

Dengan gerakan lambat-lambat lantas dihampirinya kelima orang itu, agaknya sudah ingin menelan bulat-bulat dirinya lima orang tua tersbut.

Dia menggeram sambil kertak gigi.

Dan tanpa banyak bicara pula lantas menerjang lima orang tua itu sedang dalam hatinya sudah berpikir hendak menghabiskan nyawa kelima orang tua itu.

Diantara berkelebatnya bayangan tangan orang yang sudah kalap itu, dalam waktu sekejapan saja Tan Liong sudah melancarkan delapan kali serangan-serangannya.

Kemurkaan dan napsu membunuh telah mempengaruhi hati kecilnya anak muda itu.

Amarahnya benar-benar telah memuncak.

Sebab jikalau tak karena kelima orang tua itu tentu dua gadis baju merah itu takkan dapat lolos darinya dengan begitu mudah.

Serangan Tan Liong itu benar-benar hebat.

Diantara lima orang tua itu sudah dua orang yang bergelimpang jatuh terkena angin serangannya.

Darah segar lantas tersembur dari mulutnya masing-masing.

Tiga orang yang lain, melihat gelagat tidak menguntungkan lantas pada mundur teratur.

Tan Liong agaknya belum mau sudah.

Dengan wajah tetap beringas dihampirinya lagi sisa-sisa korbannya dengan suara nyaring.

"Apa maksud kalian mencari setori dengan tuan mudamu. Sekarang jangan harap kalian bisa kembali ke rumah dalam keadaan masih bernyawa !"

Menyaksikan sikap angkernya Pemuda itu, ketiga orang tadi pada bergidik tanpa terasa.

"Ada satu hal kami ingin tahu kepada tuan. Orang yang melemparkan bom Pek lek tan membunuh sembilan orang perkumpulan kami adakah tuan sendiri orangnya? "

Mendengar pertanyaan itu Tan Liong bercekat hatinya. Lantas dijawabnya dengan suara kuat-kuat.

"Apa tuan-tuan tiga orang tua ini dari Thian seng hwee ?"

Seorang diantara tiga orang itu menjawab dengan lantang.

"Benar !"

Tan Liong lantas dongakkan kepala dan ketawa bergelak-gelak.

"Membunuh beberapa gelintir manusia manusia semacam mereka saja apakah artinya ?"

Demikian katanya.

"Kalian kalau benarpun orang-orangnya Thian seng hwee rupanya malam ini juga harus menemani kawan-kawanmu yang Sembilan orang itu !"

Tiga orang tua itu mendengar perkataan tersebut pada terperanjat. Seorang diantaranya selagi hendak menjawab, sudah didahului lagi oleh Tan Liong.

"Aku ingin tanya dulu pada kalian benarkah perkumpulan Thian seng hwee pernah mengirim ultimatum ke partai Ciong lam pay minta supaya partai itu menakluk pada perkumpulan kalian dalam waktu sepuluh hari ?"

Orang tua yang dihadapi itu menjawab dengan senyum bangganya.

"Benar"

Katanya. Tan Liong ketawa bergelak-gelak lagi setelah itu mendadak wajahnya berubah keren dengan suara dingin berkata.

"Oleh karena itu sekarang kuampuni jiwa kalian tidak ingin kubunuh. Dan kalian lekas pergi dari sini, kabarkan pada ketua kalian bahwa aku dalam waktu tiga hari akan datang kesana kalau mereka tidak menarik kembali ultimatum itu. Kalian dengar? Katakan sekalian. Aku datang dengan membawa banyak bom Pek lek tan ingin menghancur leburkan pusat Thian seng hwee kalau tidak menurut !"

Baru saja Tan Liong menutup mulut dari jauh terdengar suara orang ketawa lalu kedengaran lagi suara itu yang berkata.

"Bocah, kau sungguh jumawa."

Tan Liong cepat menoleh di suatu tempat kira-kira tiga tombak dari padanya ada berdiri seorang wanita cantik pertengahan umur.

Tiga orang itu ketika melihat wanita cantik itu muncul secara mendadak, terperanjat juga agaknya.

Mereka serentak berlutut dan berkata.

"Nyonya .."

Perempuan cantik itu dengan sikap dan nada dingin berkata.

"Samwi Tongcu silahkan bangun"

Tiga orang tua itu dengan sikap sangat hormat sekali menyahut "Baik"

Dan lantas bangkit perlahan dan berdiri di samping.

Perempuan cantik pertengahan umur itu dengan matanya yang jeli mengawasi Tan Liong sejenak, lalu tertawa cekikikan kemudian ketika memalingkan matanya ke tempat di mana dua tongcu yang sudah rebah binasa ditanah berkata lagi.

"Bocah, kepandaianmu benar-benar tidak ringan dapat membunuh tiga tongcu perkumpulan kami membuktikan kau ada menyimpan kekuatan cukup tinggi. Semasa kau dalam usia mudamu ini kepandaian dan kekuatan tenagamu begitu hebat, sungguh amat mengagumkan."

Sehabis berkata kembali perempuan itu ketawa cekikikan.

Tan Liong mengetahui munculnya perempuan cantik pertengahan umur itu dapat muncul tiba-tiba tanpa ia mngetahui sendiri heran dalam hatinya.

Wanita itu sekalipun usianya sudah tak bisa dikatakan muda lagi, tetapi kecantikan parasnya sungguh luar biasa.

Kulit badannya yang sebegitu putih halus potongan atau raut mukanya yang begitu menyegarkan macam buah Co, benar-benar seperti bidadari baru turun dari kayangan.

Cuma sayang sedikit, diantara alis dan matanya yang tajam laksana gunting itu ada tersenyum kegenitannya.

Tan Liong dalam hati mengerti bahwa perempuan cantik pertengahan umur itu dalam perkumpulan Thian seng hwee pasti mempunyai kedudukan tinggi sekali, sebab kalau tidak tentu takkan ketiga orang tua tadi menyembah sujud begitu rupa sampai berlutut-lutut juga.

Ia lalu dengan sikap dan nada dingin bertanya "Apa kau juga orangnya Thian seng hwee ?"

Perempuan cantik pertengahan umur itu obral ketawanya yang merdu terdengarnya.

"Benar"

Katanya.

"Aku adalah salah satu orangnya Thian seng hwee. Sekarang giliranku bertanya, Kau sudah membunuh sebelas orang anggauta perkumpulan kami, bagaimana dengan perbuatanmu itu kau hendak menjelaskan?"

Wajahnya Tan Liong berubah segera. Dengan tegas menjawab lagi.

"Jangan kata cuma sebelas orang, pusat perkumpulan kalian sekalipun kalau dalam tempo tiga hari kemudian tak menarik kembali ultimatum mengancam Ciong lam pay, dapat dengan mudah sekali kuhancur leburkan dengan bom Pek lek tan."

"Ia barangkali tidak semudah yang tuan kira"

Begitu perempuan itu berkata lagi.

"Boleh coba saja"

Kata Tan Liong sinis.

"Pulanglah ke markasmu, beritahukan pada ketuamu kalau tak menarik ultimatum yang diberikan pada Ciong lam pay tahu sendiri. Lihat saja aku bisa atau tidak menghancur leburkan markas kalian itu !"

Sehabis mengucapkan perkataannya itu, tanpa memperdulikan lagi perempuan cantik itu Tan Liong lantas balikkan badan dan berlalu.

Perempuan cantik itu ketika melihat Tan Liong berlalu, lantas bergerak menghadang didepannya seraya berkata.

"Tuan,.."

"Barusan apa lagi yang perlu kita bicarakan ?"

Tegurnya Tan Liong gusar.

"Tuan telah membela partai Ciong lam pay apakah tuan mempunyai hubungan dengan partai tersebut ?"

"Perlu apa kau ingin tahu aku ada hubungannya dengan Ciong lam pay atau tidak ?"

"Kalau tidak ada hubungannya, kau tidak usah campur tangan dalam perkara partai itu."

"Kau terlalu bawel! Lekas enyah dari sini dan beritahukan pada ketuamu. Dalam waktu tiga hari suruh ia tarik lagi ultimatumnya untuk Ciong lam pay itu ! "

Perkataan itu membuat perempuan cantik itu berubah parasnya. Dia lantas berkata dengan sikapnya angkuh agung.

"Aku mewakili ketua membalas kata-katamu, perkumpulan kami takkan menarik kembali ultimatum itu."

Tang Liong berubah wajahnya. Napsu membunuhnya nampak jelas pada wajahnya, sambil ketawa bergelak-gelak berkata.

"Perkataanmu sungguh sombong! Kau toh bukan ketua? Omonganmu itu tak berlaku! "

"Setiap perkataan yang keluar dari mulutku, serupa dengan ancamannya ketua! "

"Jadi maksudmu, kau nyonya ketua? "

"Kalau ya bagaimana? Dan jika tidak apa maumu? "

"Kalau kau benar nyonya ketua, itu yang paling baik. Aku masih ada ucapan yang itu-itu juga sifatnya. Jikalau perkumpulanmu tidak menarik kembali ultimatum untuk Ciong lam pay itu, akan kuhancurkan pusat perkumpulan itu! Titik! "

Pada saat itu tiga Tongcu Thian seng hwee yakni tiga orang lihai yang berdiri di samping, ketiganya melompat melesat menghadang dihadapan Tan Liong.

Mereka agaknya hendak menantikan perintah dari perempuan cantik itu, tak lantas bertindak.

Mungkin asal saja perempuan itu membuka mulut mereka akan segera menyerang.

Dengan demikian kembali suasana berubah menjadi gawat.

Perempuan cantik pertengahan umur itu menatap wajah Tan Liong sejenak, lalu berkata.

"Jangan kata tuan dapat masuk ke pusat perkumpulan kami, sekalipun malam ini. Jikalau kau bisa pulang kerumah dalam keadaan selamat rasanya juga bukan soal gampang."

"Kalau begitu coba-coba saja sekarang kau buktikan ancamanmu itu."

Kata Tan Liong dan ia pun lantas bersiap sedia hendak menantikan segala kemungkinan.

Diparasnya perempuan pertengahan umur yang cantik molek itu tiba-tiba terkilas senyum iblisnya, matanya yang tajam mengawasi ketiga Tongcunya, lalu berkata dengan suara yang nyaring.

"Samwi Tongcu dengar perintah! "

"Teecu sekalian siap."

Demikian sahut tiga Tongcu itu serentak.

"Harap Samwi Tongcu tangkap bocah itu jangan coba-coba menentang. Ingatlah hukumannya orang yang melanggar perintah! "

Ketiga orang tua itu tetap dengan sikap hormatnya menjawab.

"Ya, baik."

Kemudian dengan lambat-lambat menghampiri Tan Liong. Pemuda itu dengan paras berubah dengan suara bengis berkata.

"Kau sendiri tidak mau gulung lengan baju mengantar jiwa? Apa Cuma bisamu menyuruh orang lain dijadikan kambing hitam? "

Setelah itu badannya lantas bergerak menerjang ke arah perempuan cantik itu.

Tetapi baru saja Tan Liong bergerak, tiga orang tua itu sudah mendahului dan melancarkan serangan hebat.

Tiga orang itu begitu bergerak turun tangan lantas menyusulkan serangan lanjutan yang dilancarkan begitu cepat dan gencar.

Sambil membentak dengan suara keras Tan Liong dengan kedua belah tangannya menyambutii serangan ketiga orang tua itu.

Tan Liong pada saat itu sudah seperti orang kalap.

Setiap serangan yang dilancarkannya selalu menggunakan seluruh kekuatan tangannya dan setelah menyambuti serangan ketiga orang tua itu lalu melesat kedepan perempuan cantik itu lagi dan mengirim satu serangan kepada orang itu.

Gerakan Tan Liong kali ini sungguh cepat dan gesit luar biasa.

Perempuan cantik pertengahan umur itu diam-diam juga terperanjat buru-buru melompat ke belakang barulah berhasil dapat menghindarkan serangan pemuda tadi.

Semua kejadian itu hanya makan waktu yang sangat singkat sekali.

Ketiga Tongcu itu selagi hendak turun tangan lagi, tiba-tiba terdengar suara si pemuda membentak.

"Kalian diam !"

Suara itu mengguntur terdengarnya, sampai telinga tiga orang tua Thian seng hwee itu seperti ketulian, dan benar saja mereka lantas pada berhenti tak bergerak lagi.

Diwajahnya Tan Liong saat itu terlihat jelas napsu membunuhnya yang selamanya belum pernah tertampak.

Dengan mata beringas perlahan-lahan dia berjalan menghampiri perempuan cantik itu sembari berkata dingin.

"Benar-benar kau mau suruh ketiga Tongcumu ini mengantar jiwa dengan cuma-cuma? Dan kau sendiri tak mau turun tangan? "

"Tingkat dan kedudukanmu terlalu kecil. Belum ada harganya aku turun tangan menangkapmu."

Begitulah jawaban yang keluar dari mulut perempuan cantik itu.

Untuk kesekian kalinya Tan Liong mendengar pula betapa orang ini mengatakan bahwa tingkat kedudukannya terlalu kecil, maka dengan wajah berubah bengis ia lantas berkata.

"Dan kau sendiri berapakah tinggi tingkat kedudukanmu? "

"Setidak-tidaknya jauh lebih tinggi dari pada Pangkatmu! "

Baru saja perempuan cantik itu menutup kata-katanya dibelakangnya tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Hu Hweethio, janganlah kau tempelkan emas atas parasmu sendiri. Tingkat dan kedudukanmu masih belum ada separuhnya dari bocah itu."

Mendengar perkataan yang tiba-tiba itu Tan Liong dan perempuan cantik itu diam-diam pada terkejut.

Ketika mereka menengok, diatas sebuah pohon besar yang terpisah kira-kira satu tombak jauhnya ada duduk nongkrong seorang tua yang rambutnya sudah putih tapi wajahnya merah sekali seperti anak-anak.

Orang itu ditangannya mencekal sebuag kebutan atau Hud tim yang biasa dibawa-bawa oleh kaum pertapa.

Perempuan cantik itu berubah lagi wajahnya, tiba-tiba badannya bergerak dan berdiri dibawah pohon besar itu dan membuka mulut bertanya.

"Kakek tua, kau orang pandai dari manakah? "

Kakek tua itu ketawa bergelak-gelak dan menyahut.

"Hu Hweethio perlu apakah kau sampai begitu gelisah? Kau ingin dengar, aku bisa beritahukan. kedudukan dan tingkat derajat bocah itu jauh lebih tinggi dari Pengkat apa yang kau miliki."

Berkata sampai disitu, matanya yang tajam menyapu ke arah Tan Liong dan kepada pemuda ini ia berkata.

"Ciang bun jin, bukankah kau hendak mencari Siao hun lie Cie Bun Bun? Itulah dianya! "

Perkataan itu telah membuat kaget pemuda itu sampai berjingkrak dia. Lalu dengan wajah berubah lantas bertanya.

"Pernyataan Locianpwee tadi benarkah?"

"Lohu ini kau lihat bagaimana tuanya. Lohu sudah hampir masuk lubang kubur, selamanya tak pernah membohong. Legakanlah hatimu, dengarlah kataku. Selain itu barangkali perlu juga kuberitahukan padamu, ketua Thian seng hwee, bahkan adalah Tan Ciang Bin, yang dulu terkenal sebagai ahli pedang yang lebih terkenal dengan nama julukan Bwee hoa Sin kiam. Dia sekarang hanya mengganti namanya menjadi Bong bin Sin kiam" . Tan Liong yang mendengar perkataan itu merasakan kepalanya seperti kena disambar petir, sungguh tak pernah disangkanya bahwa ketua dan wakil ketua perkumpulan Thian seng hwee ternyata adalah ayahnya sendiri dan Siao hun Lie Cie Bun Bun ibu tirinya. Maka seketika itu ia hanya dapat berdiri dengan wajah pucat. Perkataan itu juga membuat Siao hun lie sendiri diam-diam merasa jeri. Ia tidak habis pikir mengapa sampai orang tua asing itu dapat mengetahui segala urusan dalam Thian seng hwee. Untuk sesaat lamanya semua orang yang ada di situ dibikin terperanjat oleh kejadian ganjil yang datangnya secara tiba-tiba itu. Orang tua itu kembali tertawa bergelak-gelak dan lantas berkata.

"Ciang bun jin, ucapanku cuma sebegitu dan sekarang aku sudah harus pergi. Dilain waktu, apabila masih ada jodoh barangkali kita bisa bertemu kembali."

Perkataan yang terakhir itu baru saja keluar dari mulut orang tua muka merah itu, ternyata orangnya sudah lenyap entah kemana perginya.

Tan Liong ketika mendapat tahu bahwa perempuan cantik dihadapannya waktu itu sebenarnya adalah Siao hun lie Cie Bun Bun yaitu wakil ketua perkumpulan Thian seng hwee, maka nafsu membunuhnya sudah tak dapat dikendalikan lagi.

Keadaan ibunya selagi hendak menutup mata terbayang-bayang pula didepan matanya waktu itu.

Ia lantas mengeraskan hatinya bertekad hendak mengambil jiwa perempuan genit didepan matanya, semata-mata untuk menuntut balas bagi ibunya.

Mengingat sampai disitu ia lantas bergerak dan menerjang Siao hun lie sembari membentak.

"Siao hun lie! Bertahun-tahun lamanya aku cari kau dimana-mana, tak nyana malam ini kita bisa dipertemukan di sini. Ha, ha..... Sekarang aku maui jiwamu !"

Sehabis mengucapkan perkataan itu, tangannya lalu digerakkan menyerang Siao hun lie Cie Bun Bun dengan hebat.

Kegusaran Tan Liong saat itu agaknya sudah sangat memuncak.

Ibunya sendiri, apabila bukan karena gara-gara wanita genit di hadapannya ini, takkan sampai terbunuh oleh orang-orang partai Siao lim pay.

Siao hun lie Cie Bun Bun ketika melihat pemuda itu mulai turun tangan dengan serangan mautnya, hatinya terperanjat sekali.

Lantas diangkatnya tangannya maksudnya hendak menyambuti serangan itu sedang mulutnya lantas membentak.

"Bocah. Kau Ciang bun jin cabang persilatan mana ? "

Setelah berkata demikian masing-masing sudah pada mundur setengah tindak karena beradunya dua kekuatan mereka tadi. Tan Liong lantas ketawa bergelak gelak dan berkata.

"Perlu apa kau tanya-tanya dari partai manapun, aku apa pedulimu?

Kau seharusnya sendiri jangan sampai melupakan yang atas perbuatanmu dulu, mengambil lelaki orang yaitu Bwee hoa Sin kiam yang karena itu membuat Cui hoa Sian cu sampai menderita seumur hidupnya."

Perkataan Tan Liong itu telah membuat Siao hun lie pucat pias wajahnya dengan suara gugup menanya.

"Dan kau ...... Kau siapa? "

"Akulah anak tunggal Cui hoa Sian cu"

Siao hun lie bertambah kekagetannya. Tanpa merasa sudah mundur selangkah, dan dengan suara keget kembali bertanya.

"Kau puteranya Cui hoa Sian cu? "

"Ng !"

Jawab Tan Liong.

"Aku bukan Cuma hendak membunuh kau melulu tapi juga ingin megambil jiwa ayahku sendiri Tan Ciang Bin! "

Bukan kepalang kagetnya Siao bun lie pada saat itu.

Sungguh tak pernah disangkanya kalau pemuda dihadapannya itu adalah putera tunggal dari suaminya sendiri, putra Cui hoa Sian cu.

Seketika itu ia lalu ketawa dingin dan lantas bergerak.

"Jikalau kau tidak menyebutkan dari partai mana kau memegang jabatan ketua tak nanti aku turun tangan."

"Tapi aku harus paksa kau turun tangan dan mati ! "

Setelah berkata demikian Tan Liong dengan menggunakan tipu serangannya.

"Jit hoat Kauw hwi"

Dalam ilmu silatnya yang dinamakan Chim liong Cap pak sek, melakukan serangan tiba-tiba.

Tapi baru saja Tan Liong bergerak, tiga orang tua Tongcu-tongcu Thian seng hwee yang rupanya sejak tadi memperhatikan terus sikap pemuda itu sudah bergerak serentak menyerang dari tiga jurusan kepada Tan Liong.

Bukan main gusarnya pemuda ini ia merasa selalu dihalangi perbuatannya oleh tiga orang tua itu, maka sambil membentak keras "Kau cari mampus!"

Lantas mengeluarkan serangannya keatas tiga orang itu.

Tatkala kekuatan serangannya itu meluncur keluar, dua dari antara tiga orang tua itu lantas roboh menggeletak di tanah dengan mulut berlumuran darah.

Tan Liong lalu lompat melesat, kali ini yang diterjang adalah Siao hun lie si perempuan cantik itu.

Dengan kedua tangannya melancarkan serangan berbareng mengarah dua tempat dibadan perempuan itu.

Gerakan Tan Liong itu benar-benar mengejutkan Siao hun lie, wajah perempuan ini sudah begitu pucatnya sungguh tak pernah disangka kalau bocah yang dikatakannya rendah tingkatannya itu begitu tinggi kepandaiannya.

Siao hun lie terpaksa lompat mundur beberapa tindak menghindarkan serangan pemuda kalap itu maksudnya, sedang mulutnya masih dengan suaranya yang sok sokan berkata.

"Bocah, kalau kau tidak mengatakan kau ketua dari partai mana aku takkan turun tangan padamu ! "

Sambil gertak gigi Tan Liong terpaksa menjawab.

"Aku Ciang bun jinnya partai Ciong lam pay."

Siao hun lie berseru kaget kakinya mundur setindak. Tapi perasaan kagetnya itu sebentar sudah lenyap lagi. Kembali dengan paras muka berseri-seri perempuan cantik itu berkata.

"Kiranya kau inikah Ciang bun jin partai Ciong lam pay? Apakah buktinya?"

Dari dalam sakunya Tan Liong lantas mencabut keluar sebuah panji kecil.

Panji yang berbentuk segitiga itu ditengahnya bersulam sebuah lukisan sedangkan disisinya ada gambaran sulam juga, Naga Mas.

Tan Liong masukkan kembali panjinya dan berkata denan suara dingin.

"Sekarang aku akan turun tangan lagi? "

"Benar, sekarang marilah kita bergebrak dalam penentuan kita."

Hari ini Siao hun lie benar-benar dibikin kesima.

Sungguh tak pernah disangkanya ke satu anak muda yang berada dihadapannya itu ternyata adalah ketua dari partai Ciong lam pay.

Selain daripada kaget yang meliputi hatinya timbul lagi perasaan kuatir dan jerinya.

Tan Liong sebagai putra tunggal Cui hoa Sian Cu sudah barang tentu takkan gampang mau melepaskan musuh bebuyutannya.

Oleh karena itu tanpa disadari oleh kemauan, hatinya sudah gemetaran.

Dan tatkala matanya melirik Tan Liong anak muda itu perlahan-lahan sedang bertindak mendatangi.

Dalam niatnya pada waktu itu mendadak terkilas sesuatu pikiran.

Dia mengaku ketua Ciong lam pay, kalau berhasil dia pergi ke gunung Ciong lam san, ini akan merupakan suatu rintangan besar bagi rencana perkumpulan yang mau menelan partai itu.

Apa lagi ditangannya masih ada bom Pek lek tan.

Baiklah kugunakan kesempatan sebelum dia sampai ke gunung Ciong lam san, aku menyatroni dulu partai Ciong lam pay dan bikin musnah.

Siao hun lie itu selagi dalam keadaan melamun, dengan rencananya yang keji, Tan Liong sudah melancarkan serangan setelah menggeram keras.

Siao hun lie saat itu rupa-rupanya sudah mempunyai semangat tempur lagi, maka tatkala Tan Liong melancarkan dua kali serangannya ia lantas menggerakkan tangannya dan setelah berhasil menangkis serangan Tan Liong, badannya yang langsing lantas melesat keluar kalangan.

Perbuatan Siao hun lie itu jauh di luar dugaan Tan Liong.

Pemuda ini tak pernah menyangka kalau sampai perempuan itu berniat kabur.

Dan ketika mengetahui ternyata si perempuan genit itu sudah jauh lari dari padanya.

Maka seketika itu lantas ia membentak.

"Kau mau lari kemana? "

Dan berbareng dengan itu kakinya sudah menotol tangan hendak mengejar. Tapi baru saja Tan Liong bergerak, di belakang badannya ada orang membisiki.

"Tidak perlu dikejar, kau tak kan mungkin dapat menyandaknya."

Tan Liong kaget sekali.

Ketika berpaling, tidak jauh di belakang dirinya entah sejak kapan sudah berdiri seorang wanita muda yang mengenakan baju merah seluruhnya.

Wanita muda itu ternyata adalah itu gadis jelita yang dulu mencuri mangkok pecahnya yang sepotong itu.

Untuk sesaat lamanya Tan Liong terpaku ditempatnya.

Gadis baju merah itu unjuk senyumnya yang menggiurkan kemudian berkata dengan suara merdu.

"Tan Siangkong, apakah kau pikir kedatanganku ini begitu mengejutkan hatimu dan terlalu kurang ajar? "

Saat itu Tan Liong hanya mengawasi belakang punggung si perempuan pertengahan umur Siao hun lie yang perlahan-lahan menghilang dari depan matanya, sedang dadanya dirasakan seperti mau meledak.

Dengan sorot mata gusar ditatapnya wajah gadis baju merah itu sejenak, dan katanya.

"Jikalau tidak lantaran kau, aku yakin aku sudah menyandak perempuan keparat tadi! "

"Cuma memiliki kepandaian seperti sekarang ingin dapat mengejar Siao hun lie jangan mimpi.

Perlu kau tahu mengapa sampai Siao hun lie mendadak kabur.

Apa kau tahu?

Saat ini ia niat lekas-lekas kembali ke pusat perkumpulannya dan hendak menggempur gunung Ciong lam san secara besar-besaran."

Tan Liong terperanjat.

"Kau berkata tidak salahkah?"

"Jikalau kiramu salah, kau barangkali menyangkal dia takkan mungkin mau menggempur Ciong lam san, tentu dia tak mungkin tidak mau melayani kau. Justru karena sebelum naik gunung Ciong lam san ia hendak menggempur habis partai Ciong lam pay sebelum ada persiapan untuk melawan. Alasan ini bukankah sangat sederhana sekali? "

Tan Liong memikir sejenak memang benar juga.

Besar kemungkinannya sampai Siao hun lie mendadak kabur setelah mengetahui kalau yang sedang dihadapi adalah ketua Ciong lam pay yang masih memiliki bom Pek lek tan.

Gadis baju merah itu berkata pula.

"Jikalau benar-benar Thian seng hwee akan menggempur Ciong lam pay secara besar-besaran tentu semua orang-orang Ciong lam pay akan dibasmi habis barangkali juga gunung Ciong lam san akan dibumi hanguskan oleh mereka."

Bukan kepalang kagetnya Tan Liong mendengar petikan pikiran itu. Tanpa merasa badannya sudah terasa menggigil. Gadis baju merah itu berkata pula.

"Keadaan terlalu mendesak, sekarang cuma ada jalan untuk kau pilih. Lebih dulu pergi menyatroni Thian seng hwee atau pergi Ciong lam san menjaga serbuan mereka."

Tan Liong mengangguk dan berkata.

"Ya! Aku mesti mengobrak abrik pusat Thian seng hwee dulu. Kalau perlu bom Pek lek tan masih ada padaku."

Gadis baju merah itu kembali tersenyum manis dan berkata.

"Kalau begitu, satu orang yang malam ini sedang kau arah, jiwanya barang kali hendak kau bebaskan begitu saja bukan? "

Tan Liong mendengar perkataan itu terkejut sekali. Tak pernah sampai pada pikirannya mengapa sampai gadis baju merah di depannya ini pun mengetahui sepak terjangnya. Maka ia pura-pura menanya.

"Siapa maksudmu yang hnedak kuarah? "

"Apa perlu lagi aku menjelaskan?"

Begitu jawab si gadis baju merah dengan pertanyaan baliknya, Sejenak tak mendapat jawaban, lalu berkata pula.

"Cuma orang itu hendak ku tolong, bagaimana?"

"Jikalau maksudmu ingin menolongnya aku takkan mengerti! Kau yang akan kulabrak. Lagi pun, sepotong mangkokku itu, ada satu hari akan kembali ketanganku.?"

Sehabis mengucapkan perkataan itu, tanpa menanti jawaban gadis baju merah itu lagi ia sudah lompat dan menghilang.

Gadis baju merah itu mengawasi sambil bersenyum-senyum, dan sedangkan dalam hatinya lalu berkata-kata sendiri.

"Kau pergi ke pusat Thian seng hwee, dalam pertempuran antara ayah dan anak mungkin tak luput dari saling gebuk. Tapi apa kau yakin bisa keluar lagi dari pusat itu, rasanya masih belum tentu."

Setelah itu iapun bergerak dan sudah menghilang dalam sekejap kedalam rimba.

Ciang hay Sin kun yang kini menjadi pusat perhatian orang-orang rimba persilatan, karena ia sebagai sasaran dari Naga Merah yang ke sembilan belas, benar saja dalam waktu tiga hari itu tidak binasa oleh Naga Merah.

Apa sebabnya Naga Merah tidak muncul?

Apakah takut?

Hal itu telah menimbulkan berbagai duga dugaan di dalam rimba persilatan.

Sedangkan bagi Ciang hay Sin kun sendiri, tak tahu juga ia apa sebabnya.

Semula memang ia menduga bahwa orang yang menyambitkan tusuk konde Naga Merah itu adalah Naga Merah kedua, Tan Liong.

Tetapi kemudian memikir, agaknya tidak benar.

Satu peristiwa lain, yang menggetarkan dunia rimba persilatan adalah gerakan besar-besaran Thian seng hwee, yang mendadak mengirim anggota-anggotanya yang terlihai pergi berbondong-bondong mendaki gunung Ciong lam san.

Ciang hay Sin kun, Pendekar Kalong dan Yau san It Hiong pada hari ke empat ia dihitung semenjak hari setelah menerima tusuk konde maut, mengetahui benar kalau Naga Merah pasti tak muncul, lalu berbarengan ke gunung Ciong lam san.

-o0o0dw0o0o-

Jilid ke .

12 Mereka agaknya menganggap bahwa apabila ada tenaga cukup bermaksud hendak memberi pertolongan bagi partai yang malang itu agar terhindar dari bencana kemusnahan.

Malamnya pada waktu Thian seng hwee mengirim orang-orangnya pergi naik ke gunung Ciong lam san di markas besar perkumpulan tersebut yang letaknya di dalam lembah Lui in Kok di gunung Kim kiong san tiba-tiba muncul satu bayangan orang.

Bayangan itu bukan lain daripada Tan Liong sendiri.

Pemuda ini tiba ditempat tersebut pada jam dua tengah malam.

Ketika memasang mata segera dilihatnya seluruh lembah semua tertutup kabut tebal sedikitpun tak tampak bayangan orang.

Dengan tindakan cukup hati-hati diperiksanya dulu keadaan disekitarnya dan mengetahui bukit itu di mulut lembah ada mengapit dua puncak gunung yang menjulang tinggi keadaan tempat tersebut sesungguhnya sangat strategis.

Tan Liong yang menyaksikan keseluruh tempat diam-diam memikir.

"Jikalau lamping gunung yang sempit ini dijaga oleh satu orang lihai mungkin selain orang tentu binatang atau burung-burung juga tak dapat lalu."

Setelah menanti cukup lama dan kabut mulai menipis, dilihatnya dalam lembah banyak bayangan orang yang sedang berjalan keluar lembah.

Tan Liong saat itu sudah berlaku nekad.

Lantas lompat keluar dari tempat persembunyiannya, tetapi tiba-tiba dibikin kaget oleh kejadian yang mendadak terjadi di luar dugaannya.

Sebab, selagi badannya bergerak ke belakang, punggungnya tiba-tiba seperti ada orang yang menjambret, dan seseorang yang dengan suaranya yang adem berkata.

"Paling baik tuan jangan sembarang bergerak."

Dan tangan orang itu justru menekan jalan darah Kian kin hiatnya.

Ketika Tan Liong mengusahakan berpaling wajahnya berubah seketika.

Sebab orang yang mengancamnya dari belakang itu ternyata orang yang menyaru sebagai Naga Merah yakni Chie Peng.

Bukan kepalang kagetnya Tan Liong pada waktu itu.

Chie Peng sampai bisa menghampiri tempatnya, bahkan sampai berada didekatnya, sedikitpun ia tak merasa.

Padahal dalam hal ini adalah Tan Liong sendiri yang terlalu ceroboh.

Sebab dalam perkumpulan Thian seng hwee banyak orang-orang lihainya, sebelum Tan liong tiba di lembah Lui in kok di daerah satu lie seputar lembah itu, entah telah dipasang berapa banyak orang-orang Thian seng hwee sebagai mata-mata.

Maka ketika Tan Liong bersembunyi di belakang batu besar, semua gerak geriknya itu telah diketahui oleh Chie Peng yang justru sembunyi didekat tempatnya, hanya pemuda itu yang belum sadar saja.

Chie Peng dengan sikapnya yang acuh tak acuh berkata.

"Jikalau tuan berani ambil tindakan sedikit saja, akan kau tahu rasa, pasti mati kau di lembah ini."

Tan Liong berubah lagi wajahnya, didahinya keringat dingin mulai keluar.

Dan tatkala berpaling ke celah lembah, orang-orang Thian seng hwee itu sudah berjalan ke luar lembah ......

Jikalau orang-orang itu dibiarkannya keluar dari lembah Lui in kok, itu sama saja artinya membiarkan partai Ciong lam pay musnah.

Ia tahu bahwa dalam waktu singkat harus berdaya melepaskan diri dari ancaman si Naga Merah palsu ini, sebab apabila tidak berusaha keras, pasti segala rencananya akan tersia-sia saja, dan dalam arti kata lain, mengecewakan harapan ibunya.

Keringat dari dahinya turun semakin deras.

Dalam saat-saat demikian telinganya mendadak dengar suara perempuan dibelakangnya.

"Perlu apa tuan begitu gelisah? Tunggulah sebentar, pasti akan kulepas asal orang-orang kita itu sudah keluar semua dari lembah Kui in kok."

Sebab mati hidupnya Chiong lam pay adalah tergantung pada dirinya.

Apabila gagal pergerakannya kali ini, gagal pula semua rencana, dan hancur pasti Chiong lam pay musnah oleh orang-orang Thian seng hwee.

"Nona, benarkah kau tidak mau lepaskan tanganmu? "

"Siapa kata aku tak mau lepaskan kau? Itu cuma tunggu waktu saja."

"Jika nona tidak mau lepaskan, aku akan berlaku nekad."

Baru saja Tan Liong mengakhiri perkataannya itu, dilihatnya satu bayangan merah berkelebat dan Naga Merah tiruan yang satunya lagi, Chie Cui, juga sudah melayang sampai dihadapannya.

Gadis itu menatap Tan Liong sejenak parasnya berubah sedikit.

dengan suara terharu dipanggilnya sang enci.

"Enci ...."

Dan pada saat itu orang-orang perkumpulan Thian seng hwee telah keluar semua dari lembah Kui in kok.

Agaknya mereka sedang berjalan kegunung Ciong lam san.

Tan Liong yang melihat gelagat tidak dapat menahan gusarnya.

Apabila tak mampu ia mencegah perjalanan orang-orangnya Thian seng hwee pasti hancurlah Ciong lam pay.

Maka ia membentak dengan suara keras tanpa memperdulikan ancaman yang dari belakang itu, lantas badannya loncat kedepan bagaikan terbang.

Selagi Tan Liong berlaku nekad tadi, tangan Chie Peng yang mengancam jalan darah Kian kin hiat Tan Liong lantas dikerjakan.

Dalam keadaan serba kilat itu, meskipun Tan Liong berhasil lolos dari totokan mautnya Chie Peng tetapi tubuhnya seolah-olah layang-layang putus talinya, jatuh sempoyongan ditanah, dari mulutnya darah merah terus keluar.

Dari tempat jauh orang-orang lihai Thian seng hwee perlahan-lahan sudah menghilang dari depan mata.

Chie Cui berseru kaget.

"Enci ...... ! "

Dan kemudian jatuh menubruk dada anak muda itu ...... Melihat adiknya menubruk dirinya Tan Liong, hati Chui Peng tergoncang keras. Seketika itu lantas menjerit.

"Adik ! " . Badannya lantas melesat, menarik adiknya yang menubruk Tan Liong. Chie Cui memandang encinya sejenak, dengan suara sedih ia berkata.

"Enci, apa benar kau tega turun tangan terhadap dia? "

"Aku tidak mempunyai maksud melukai dirinya, cuma dia sendiri yang terluka keburu napsu."

jawabnya sang enci sambil menghela napas. Chie Peng mengawasi Tan Liong yang mulutnya sudah mengeluarkan darah, hatinya merasa pilu. Ia menanya kepada adiknya.

"Adik, dimana suhu? "

"Suhu berada di dalam ruangan pusat perkumpulan bersama-sama ketua kita."

Chie Peng berpikir sejenak, lalu berkata pula.

"Adik, apa kau suka padanya? "

Pertanyaan itu membuat tercengang Chie Cui, sebentar ia lantas balas menanyai.

"Apakah enci tidak suka padanya? "

Chie Peng ketawa menyeringai.

"Ya, encimu juga suka padanya. Tapi antara manusia dengan manusia, istilah suka itu ada mengandung maksud berlainan, tidak perlu disangkal lagi, antara kita berdua sudah sama-sama mencintai padanya."

"Enci semula bukankah kita hendak menolong padanya? Mengapa sekarang kau turun tangan kejam terhadap dirinya? Enci, aku lihat kau memang tidak suka padanya."

Dua butir air mata mengalir keluar dari kelopak matanya.

"Adik, bukan encimu hendak mengucapkan kata-kata yang tidak menggembirakan, meskipun kita mencintai padanya begitu dalam, tapi apakah dia juga mencintai kita? "

Tanya Chie Peng sambil menghela napas kemudian berkata pula.

"Mungkin kita sedang meniru perbuatannya ulat sutera yang melibat dirinya sendiri."

Dari pembicaraan mereka berdua, tidak perlu diragukan lagi, bahwa kedua gadis ini yang biasanya suka membunuh jiwa manusia seperti membabat rumput, kini terhadap dirinya Tan Liong telah timbul suatu perasaan luar biasa dalam hatinya yang selama ini tidak tahu apa artinya suka atau cinta.

Tapi, apakah perasaan cinta mereka itu bakal berhasil?

Ataukah seperti apa yang diduga oleh Chie Peng, bahwa mereka benar-benar menelan perbuatannya ulat sutera yang melibat dirinya sendiri?

Sudah tentu dalam hal ini siapapun tidak ada yang berani meramalkan.

Chie Cui dengan perlahan mengangkat tangannya yang putih halus, menyusut air matanya yang mengalir keluar tidak hnetinya, lalu berkata dengan suara sedih.

"Enci, kalau benar kita cinta padanya, tidak seharusnya kita membiarkan dia terluka."

"Ya, sucimu tadi sebenarnya tidak bermaksud turun tangan keji padanya, cuma dia sendiri yang agak keburu napsu."

"Apakah suci sekarang tidak mau menolong padanya? "

"Sudah tentu encimu akan menolong padanya."

"Kalau begitu lekas enci tolong padanya."

Chie Peng tertawa.

"Kalau ia nanti sudah sadar kembali, mungkinkah dia mau lepaskan kita orang begitu saja? "

"Kenapa? "

"Dia datang kemari adalah hendak mencegah supaya orang-orang kuat kita jangan sampai keluar dari lembah Lui in kok ini untuk menyerbu Ciong lam pay, tapi sekarang orang-orang kita itu sudah berangkat semua, jikalau ia sadar apakah kau kira dia mau mengerti? "

"Kalau begitu sekarang kita harus berbuat bagaimana? "

Chie Peng kerutkan keningnya dan berpikir sejenak, kemuadian berkata.

"Adik, betulkah kau ingin aku menolong padanya? "

Chie Cui membuka lebar matanya dengan perasaan bingung mengawasi sang enci, kemudian menanya.

"Apakah enci tidak akan menolong dia? "

"Baiklah, enci tolong padanya."

Chie Peng ketawa getir lalu anggukkan kepala, dengan tindakan lambat ia berjalan menghampiri Tan Liong.

Ia hendak menolong padanya, tapi seperti apa yang dikatakan olehnya sendiri Tan Liong setelah dibikin sadar, apakah dia mau melepaskan diri mereka begitu saja?

Inilah resikonya.

Kalau Tan Liong sadar kembali, pasti dia akan membunuh mati kedua saudara Chie itu.

Tapi oleh karena cinta, mereka sudah tidak perdulikan resiko itu lagi.

Saat itu Chie Peng sudah berada disampingnya Tan Liong, ia menghela napas panjang, kemudian angkat tangan kanannya, hendak menotok jalan darah Hoan bun hiat di belakang punggung Tan Liong.

Tapi, baru saja telunjuk jari tangan Chie Peng hampir menotok jalan darah tersebut, tiba-tiba terdengar suara orang berkata sambil ketawa dingin.

"Nona, dia tidak boleh ditolong! "

Chie Peng mendengar suara itu terperanjat.

Ketika ia menengok, segera dapat dilihat bayangan orang yang mengenakan baju hijau dengan cepat sudah melayang kehadapannya.

Orang itu bukan lain daripada Yao lie lu sendiri.

Diparasnya Yao lie lu yang cantik manis nampak tersungging senyuman yang menawan hati.

Kala itu dengan matanya yang jernih memandang Tan Liong yang menggeletak di tanah, lantas perdengarkan ketawa dinginnya.

Chie Peng dan adiknya begitu melihat munculnya Yao lie lu sudah mengetahui bahwa urusan ini akan timbul perobahan.

Yao li lu dulu pernah dilukai oleh Tan Liong.

Dan sekarang mana dia mau melepaskan pemuda itu begitu saja?

Mengingat hal itu, Chie Peng dan Chie Cui hatinya tidak enak.

Seketika itu Chie Cui lantas bergerak dan menghadang di depan Yao lie In.

dengan suara dingin ia menanya.

"Enci Tio, kau mau bikin apa? "

"Aku hanya menghendaki jiwanya!? "

Jawab Yao lie lu bersenyum.

Diparasnya Yao lie lu yang cantik itu kini nampak diliputi oleh kemurkaan.

Chie Peng ada seorang yang bisa memikir panjang.

Ketika itu ia menghitung hitung keadaannya di depan mata.

Sambil mengawasi sang adik ia berkata.

"Adik, mengapa kau berbuat begitu terhadap enci Tio? Mari sini! "

Perkataan yang keluar dari mulut Chie Peng itu telah membuat Chie Cui merasa bingung. Selagi hendak buka mulut memprotes, dilihatnya sang enci tertawa hambar dan berkata pula.

"Nona Tio, kau kata mau bunuh orang ini? "

"Benar! Aku mau ambil jiwanya! "

"Sebabnya? "

"Dulu aku pernah dihajar olehnya. Tidak boleh tidak aku harus membalas sakit hatiku."

"Nona Tio, kita sama-sama kaum wanita, perkataan yang akan kuucpkan aku percaya kau takkan menjadi gusar kepadaku, bukankah kau cinta padanya? "

Yao lie lu yang mendengar perkataan itu parasnya menjadi merah. Agak lama baru dapat berkata.

"Memang aku pernah cintakan dia. Tapi itu urusan sudah lalu! "

"Kalau begitu, nona dari perasaan cinta lantas berobah menjadi benci? "

Perkataan itu membuat selebar parasnya Yao Lie lu jadi merah. Perasaan malu lantas menjadikan gusarnya.

"aku mau bunuh dia, kalian mau apa?! "

Chie Peng tertawa dingin.

"Jikalau kau berani melanggar seujung rambutnya saja, dalam tiga jurus akan kusuruh kau cium tanah dengan mulut berlumuran darah!"

Yao lie lu bercekat hatinya.

Pikirnya, ucapan wanita itu memang bukan dilebih-lebihkan.

Kepandaian Chie Peng memang tinggi sekali, apa bila benar-benar dia turun tangan, tentu dia bukan tandingannya.

Oleh karena pikirannya demikian, maka ia lantas berkata.

"Kalau begitu, apa kau tetap akan menolongnya? "

"Benar! "

Yao lie lu lantas tertawa terbahak-bahak.

"Nona Chie, sekalipun kau menolong anak muda, dia juga tidak akan sudi terima budimu. Lagi pula, ketua kita sudah keluarkan perintah tidak boleh melepaskan orang ini!"

Chie Peng diam-diam berkata pada dirinya sendiri.

"Itu memang benar, sekarang Yao lie lu ada di sini, biar bagaimana tentu tidak bisa lepaskan Tan Liong begitu saja" . Dengan mata mendelik ditatapnya wajah Yao li lu sejenak, lalu berkata.

"Jikalau aku pasti mau tolong sadarkan dia, bagaimana? "

"Aku yakin kau tidak berani!"

Demikian Yao lie lu mengucapkan kata katanya sambil cengar cengir.

"Kalau begitu"

Kata Chie Peng dengan gayanya menantang.

"Aku tetap akan menolongnya! "

Setelah itu dia berjalan mendekati Tan Liong pula kedua tangannya hendak menepuk lagi. Yao lie lu parasnya berubah-ubah tak menentu. Dengan suara dingin berkata.

"Jikalau nona Chie paksa mau tetap menolong akan kubunuh dia lebih dulu."

Chie Peng seorang wanita yang tinggi hati.

Sebetulnya iapun ingin menyerahkan Tan Liong kepada ketuanya sendiri tetapi waktu mendengar Yao lie lu kata tidak berani menolong maka ia lalu mengambil keputusan tetap menolong anak muda itu.

Manakala Chie Peng gerakkan tangannya Yao lie lu pun telah siap saja.

Apabila Chia Peng turun tangan membuka totokan di jalan darah Tan Liong iapun agaknya akan terus turun tangan.

Suasana disitu seketika berubah jadi tegang disamping maksud baik yang terdorong oleh perasaan cinta masih ada lagi nafsu membunuh yang berkobar-kobar karena perasaan marah.

Chie Cui yang melihat keadaan begitu cepat menggerakkan badannya menghadang lagi di depan Yao lie lu.

Pada sat itu Chie Peng sambil keluarkan seruannya sudah menjulurkan jari tangannya dan menotok jalan darah Hoan hun hiatnya Tan Liong.

Ketika Chie Peng turun tangan Yao lie lu pun angkat tangan kanannya dan mengeluarkan serangan tangannya.

Kedua pihak turun tangan sama-sama cepat.

Ketika Chie Peng menepuk dengan tangan kanannya, kekuatan yang timbul dari telapak tanan Yao lie lu pun sudah menyusul.

Apabila serangan itu mengena sasaran yang tepat, jiwa Tan Liong niscaya akan melayang seketika itu juga.

Chie Peng keluarkan bentakan keras.

Dengan kecepatan luar biasa menggunakan tangan kiri menyambuti serangan Yao lie lu yang sudah hampir mengenai sasarannya.

Kemudian bahkan balas menyerang!

Setelah terdengar suara benturan ringan dari kekuatan dua wanita itu, badan Yao lie lu Nampak mundur setengah tindak.

Chie Peng dengan wajah keren membentak.

"Nona Tio! Jikalau kau tidak sayangi jiwamu cobalah menyerang sekali lagi! "

"Yao lie lu sekalipun mesti korbankan jiwanya, tidak bisa membiarkan kau menolongnya! "

Chie peng ketawa dingin.

"Kalau begitu."

Katanya.

"Mari kita coba-coba lagi! "

Tetapi sebelum badan Chie Peng bergerak Chie Cui sudah berada didepan Yao lie lu. Sejenak menengok kearah encinya, berkata.

"Encie, apa perlukan tenagaku membunuh orang ini? "

Berubah wajah Chie Peng.

"Jikalau dia berani turun tangan lagi bereskan saja jiwanya, habis perkara! "

Chie Cie mengangguk.

Keadaan bertambah genting.

Saat itu Chie Peng telah kerahkan lagi kekuatannya kepada kedua belah tangannya.

Sambil berseru dua jarinya digerakkan lagi menotok jalan darah Tan Liong.

Hampir bersamaan pada waktu itu Yao lie lu pun bergerak, dengan kedua belah tangannya berbareng keluarkan serangan yang ditujukan ke arah Tan Liong.

Chie Cui sudah barang tentu tidak membiarkan Yao lie lu berbuat sesukanya, lantas membentak.

"Akan kubunuh kau perempuan jahat! "

Dengan gerak tangannya yang begitu gesit tahu-tahu sudah memapaki serangan Yao lie lu sedang tangan kanannya lantas melancarkan satu serangan hebat.

Tiga wanita muda itu, hampir dalam sedetik, masing-masing telah turunkan tangan dalam tujuannya yang berlainan.

Mendadak pada ketika itu mendengar suara bentakan yang amat nyaring.

"Tahan! Kalian tiga nona kenapa baku hantam sendiri? "

Lenyapnya suara bentakan dan teguran itu disusul dengan masuknya sesosok bayangan orang ketengah lapangan.

Ketika wanita yang pada bergebrak itu terperanjat semuanya.

Mau tidak mau memaksakan diri mundur teratur.

Manakala mereka menoleh dan melihat siapa adanya yang datang itu, ternyata adalah seorang pria pertengahan umur yang berdandan bagai seorang terpelajar.

Ditangannya menyekal sebentuk kipas terbuat dari bahan besi agaknya kipas itu.

Dengan munculnya laki-laki itu Chie Peng beserta adiknya makin terperanjat.

Pria berdandan pelajar itu tujukan matanya bergantian kepada ketiga wanita itu lalu berkata sambil tersenyum.

"Nona-nona semua toh orang-orang sendiri. Kenapa sampai bertempur begitu sengit? "

Tiga orang yang ditegur demikian satu sama lain berpandangan sesaat lamanya tiada seorangpun yang keluarkan perkataan.

Chie Peng yang lebih cepat reda dari rasa gelisahnya, lalu ketawa dingin.

Dengan kerlingkan matanya yang tajam ditatapnya mata pria berdandan pelajar itu, kemudian katanya.

"Ciok Tongcu, kenalkah dengan orang ini? "

Pria pertengahan umur yang dipanggil Ciok tongcu itu adalah Tongcu dari bagian urusan dalam untuk perkumpulan Thian seng hwee yang bernama Ciok Eng Cay.

Setelah ditanya baik oleh Chie Peng, Ciok Eng Cay mengawasi sejenak Tan Liong yang masih menggeletak di tanah, lalu menggeleng-geleng kepala dan menjawab.

"Tidak kenal."

"Ciok Tongcu benar-benar punya mata tidak kenal Thay san. Orang ini adalah orang yang pernah membunuh sembilan orang lihai dari perkumpulan kita!"

Demikian Chia Peng keluarkan kata-katanya setengah menyindir. Ciok Eng Cay berubah sedikit wajahnya. Agak lama baru berkata.

"Apa nona tidak salah lihat orang? "

"Sedikitpun tidak! "

Ciok Eng Cay berubah lagi wajahnya. Di parasnya yang baik itu terlintas napsu pembunuhan, seketika itu berkata sambil ketawa dingin.

"Bocah ini sungguh besar nyalinya! Dia berani bertingkah sesukanya di lembah Lui in kok ini ...."

"Ciok Tongcu, kau pernah dengarkah ketua kita berpesan untuk mengusir orang ini hidup-hidup? "

"Tidak salah! Dan aku sekarang akan meringkusnya dan menggusurnya kedepan ketua kita biar dibereskan oleh ketua."

Sehabis berkata, lantas disambarnya badan Tan Liong kemudian lompat melesat menuju ke dalam Lui in kok.

Sedetik kemudian pelajar itu sudah menghilang diantara kabut gelap.

Chie Peng mengawasi Yao lie lu yang tengah terbengong-bengong dengan suara dingin berkata.

"Nona Tio, jalan itu yang paling baik. Bukankah? Kau tak bisa bunuh dia, akupun tak dapat menolongnya lagi ...... Biarkan ketua kita yang jadi hakimnya, itulah jalan yang terbaik.!"

Yao lie lu hanya bersenyum, sekali-kali tak menjawab.

Kemudian lompat melesat ke dalam lembah Kui in kok.

Chie Cui agaknya tak dapat menahan gelora hatinya lagi.

Seberlalunya Yap lie lu, lantas bertanya.

"Enci, kenapa kau biarkan Ciok Tongcu bawa dia pergi? "

Chie Peng mengawasi adiknya sejenak.

"Habis bagaimana lagi? "

Jawabnya.

"di depan mata Ciok Tongcu apa kau kira gampang bisa menolongnya? "

"Tapi tidak semestinya juga kau biarkan orang lain bawa dia pergi! "

"Adik, kau rupanya sudah terlalu tergila-gila kepada pemuda itu. Terhadap kita, dia sudah tanam bibit kebencian. Kalau dia kita sadarkan barangkali bisa."

Mendadak berhenti kata-katanya, mengawasi paras adiknya sejenak, berkata pula.

"Ciok Tongcu dalam perkumpulan kita tinggi sekali kedudukannya. Dia yang mengurus segala perkara dalam perkumpulan kita, dan kita yang sudah masak jadi anggota Thian seng hwee, tentu tak boleh mempunyai pikiran bercabang dan berkhianat. Apa adanya peraturan ini kau juga mau langgar? "

"Enci, aku mengerti itu. Tapi bagaimana dengan dia ......? "

Kata pula Chie Cui dan menarik napas panjang.

"Boleh kita pikirkan daya upaya lain untuk tolong dia, tapi nanti saja."

Chie Cui agaknya masih ingin buka suara tetapi kemudian batal.

Lantas terlihat paras sedihnya sedemikian rupa hingga dilihat encinya sangat mengharukan.

Sang enci ini hanya dapat mengangguk dan menarik napas tidak bisa kata apa-apa lagi.

Agak lama ......

Chie Peng gertak gigi.

Dalam hatinya pada waktu sesingkat itu juga timbul semacam perasaan ruwet yang tidak wajar.

Perasaan aneh yang timbul antara manusia dengan manusia.

Cinta kasih yang datang tidak terduga antara lelaki dan perempuan kadang-kadang memang sangat mengherankan.

Akan tetapi bagaimanakah akibatnya dengan timbulnya perasaan itu?

Sudah barang tentu dalam hal ini siapapun tidak berani memastikan hanya Tuhan Yang Maha Esa sendiri yang tahu nasib mereka.

Seketika itu Chie Peng menghela nafas panjang dan berkata.

"Adik, mari kita pulang ......"

Chie Cui mengangguk dengan perasaan sedih bertanya pula.

"Enci, benar kau suka menolongnya? "

"Adik, kau legakan hatimu. Aku pasti takkan membuat hatimu kecewa."

Chie Cui lantas ketawa.

Ketawanya itu begitu manis menggiurkan tetapi juga agak kekanak-kanakan.....

Chie Peng sambut ketawanya sang adik dengan ketawa getir.

Badannya lalu bergerak dan lari menuju ke depan lembah.

....

Dalam waktu sekejap saja hanya terlihat dua bayangan merah melintas yang lantas menghilang ke dalam kabut tebal.

S a m a r -s a m a r ......

Semua dalam keadaan gelap samar.

Tan Liong tidak tahu sudah berapa lama telah berlalu baru tersadar dalam keadaan samar-samar.

Apa yang terbentang dihadapan matanya semua kelihatan samar-samar ....

Dengan susah payah dicobanya memutar otak memikirkan semua kejadian yang lalu.

Tetapi semua apa yang telah terjadi itu bagai tersapu bersih, hanya samar-samat berkelebatan di dalam otaknya yang bagai kosong melompong.

Tiba-tiba ......

Suatu pikiran terlintas dalam otaknya lalu bertanya kepada dirinya sendiri.

"Apa yang sudah terjadi di gunung Ciong lam san ....? "

Pikiran itu hanya sepintas melewati otaknya yang membuatnya lantas menggigil bagai orang kedinginan.

Dicobanya merangkak bangun dari lantai tetapi baru bergerak sedikit rasa nyeri dan sakit yang amat sangat, membuatnya mau tak mau harus rebah kembali.

Di dalam telinganya tiba-tiba terdengar suara ketawa orang masuk.

Tan Liong yang mendengar suara itu diam merasa kaget.

Ia melongok ke arah darimana suara itu terdengar dan apa yang terbentang dihadapan matanya adalah beberapa jenis bayangan orang yang samar-samar.

Tan Liong terperanjat.

Dalam waktu sekejapan itu lantas kembali semua ingatannya yang tadi bubar.

Ia mengerti bagaimana telah terluka oleh seorang wanita baju merah.

Dan sekarang ini pasti sudah terjeblos dalam kamar tawanan perkumpulan Thian seng hwee.

Ingat sampai disitu, hatinya hampir lompat keluar.

Diam-diam mengeluh.

"Habis sudah Ciong lam pay."

Begitu ingat nasibnya Ciong lam pay, perasaan gusarnya lantas meluap.

Diam-diam dikeluarkannya tenaga dalamnya, menyalurkan kekuatan itu ke 36 lubang dalam darahnya.

Tan Liong memang ada seorang yang memiliki tenaga dalam yang sangat hebat.

Sebab dia pernah makan lima buah Leng cie yang berumur ribuan tahun.

Kekuatan tenaga dalamnya jadi tambah berlipat ganda.

Terhadap penyembuhan luka-luka sendiri atau memulihkan kekuatan dengan menyalurkan itu ke jalan darahnya, baginya amat mudah sekali.

Dalam waktu sekejap saja benar saja kekuatannya sudah bertambah, semangatnya terbangun kembali.

Lantas lompat dari lantai, tapi tatkala melihat keadaan diseputarnya, terperanjat hatinya bukan main.

Itu adalah ruang luas yang sangat mewah segala-galanya.

Di dalam ruangan itu lengkap terdapat segala macam alat rumah tangga.

Hiasan-hiasan berupa gambar atau tulisan-tulisan buah tangan orang-orang ternama yang terjajar diatas dinding tidak kurang dari 20 buah jumlahnya.

Tan Liong mengawasi sebentar sekitar ruangan itu, matanya kembali dialihkan ke tengah-tengah ruangan.

Dan apa yang dilihatnya ini?

Wajahnya tampak berubah-ubah, tak menentu.

Di tengah-tengah ruangan yang luas terdapat seseorang, orang berkedok.

Di kedua belah sisinya, mengapit dua puluh lebih, mereka itu agaknya para pengawal orang yang duduk di kursi besar itu.

Orang-orang di tengah ruangan itu semua mengawasinya dengan sikap garang dan mata mendelik lebar.

Tan Liong yamg menyaksikan keadaan demikian menjadi heran.

Untuk sesaat dia bungkam, namun telah sadar kalau dia di situ, tentu besar bahayanya, dia merasa seperti berdiam di sarang macan.

Sambil kertak gigi, dimasukkannya tangannya ke dalam saku, tangan itu telah menggenggam bom Pek lek tan!

Apabila keadaan mendadak berubah atau manakala dia tiba-tiba terancam bahaya, bom Pek lek tan kini telah siap hendak memusnahkan orang-orang di situ.

Dengan sendirinya suasana dalam ruangan luas itu lantas menjadi sangat tegang.

Selagi tangan Tan Liong menggenggam bom Pek lek tan orang berkedok itu tertawa bergelak-gelak dan kemudian berkata.

"Adakah tuan ini yang bernama Tan Liong? "

Yang ditanya tiada menjawab sebaliknya balas bertanya.

"Adakah kau yang menjadi ketua Thian seng hwee?"

"Tidak salah!"

Demikian suara orang berkedok itu dan kembali tertawa. Tampak berubah wajah Tan Liong. Kepalanya mendongak lalu tertawa bergelak-gelak kemudian.

"Kalau begitu kaulah yang bernama Tan Ciang Bin dengan gelarmu Bwee hoa Sin kiam, betulkah? "

Baru Tan Liong tutupkan katanya, Tongcu dari bagian hukum, Song Han Chiu lantas membentak keras.

"Tutup mulut ! Kau omong apa? "

Terdengar suara gigi Tan Liong berkertakan amat nyaring.

Keadaan seorang ibu yang menanti panggilan maut, terbayang kembali dalam otaknya Tan Liong .....

Semua kejadian yang telah lalu seakan-akan gambar hidup yang terpeta tegas dalam alam pikirannya.

Orang yang sedang dicarinya.

Tan Ciang Bin, kini sudah berada di depan mata.

dan ucapan si orang tua berjenggot putih juga mendadak balik lagi memasuki otaknya.

Orang itu adalah ayahnya sendiri !

Tidak usah disangkal, memang pernah terkenang beberapa kali wajah ayahnya.

Sedang diwaktu masih kanak-kanak, betapa besar pengharapannya untuk kasih sayang seorang ayah.

Akan tetapi Tan Ciang Bin belum pernah menjamahnya, walaupun hanya sekali.

Semenjak ia dijelmakan dalam dunia belum pernah ia merasakan kasih sayang seorang ayah bahkan sampai ibunya dibiarkan mesti mati karena hendak mencuri sebuah kitab ilmu silat.

Penderitaan sang ibu pada saat ia mau menutup mata, jeritannya yang menyayat hati ......

Siksaan sebelum menemui ajal semua terbayang kembali di dalam otaknya......

Sekarang Tan Liong hanya dapat kertak gigi.

dengan kuatkan perasaan hatinya ditarik kembali air mata yang sudah akan mengalir keluar.

Bom Pek lek tan yang tergenggam erat dalam tangannya sudah siap untuk disambitkan.

Apa yang terlihat pada air muka Tan Liong waktu itu adalah suatu sikap yang mencerminkan perasaan hatinya yang sudah tidak karuan.

Mendadak dia ketawa panjang sekali.

Suara ketawa itu bagaikan suara jeritan dari jiwanya yang sedang tertekan, dan dalam keadaan murka.

Siapa yang mendengar tak tahan untuk bisa menahan bulu romanya berdiri.

Setelah suara sirap dengan tindakan lambat-lambat dihampirinya Bong bin Sin kiam Tan Ciang Bin alias ayahnya sendiri dan lantas keluarkan bentakan amat nyaring.

"Tan Ciang Bin! Hari ini hari ajalmu! Akan kuambil jiwamu!"

Diparasnya yang tampan tampaknya napsunya membunuh yang sudah berkobar, cukup bisa bikin kuncup nyali setiap orang yang melihatnya. Bong bin Sin kiam Tan Ciang Bin tertawa getir, dan kemudian katanya.

"Tuan jangan keburu napsu dulu. Pembicaraan kita belum lagi selesai."

"Tidak ada yang begitu perlu untuk dibicarakan antara kita."

Tongcu bagian hukum Song Hun Chia lantas berkata sambil ketawa dingin.

"Bocah ! Kau benar-benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Kau menghina ......"

Bong bin Sin kiam ulapkan tangan mencegah Song Hun Chia lanjutkan ucapannya dan dia sendiri lantas menghadapi Tan Liong berkata.

"Kaukah Ciang bun jinnya partai Ciong lam? "

Mendengar disebutnya nama Ciong lam tergoncang hati si pemuda.

Betapa tidak?

Dia tahu perkumpulan Thian seng hwee telah mengirim laskarnya sepasukan yang berjumlah lebih dari tiga puluh jiwa untuk melakukan penyerbuan ke pusat Ciong lam pay dan sekarang belum lagi ketahuan bagaimana kesudahannya?

Mengingat itu hatinya semakin gusar berbareng pun tambah cemas dia.

"Tan Ciang Bin."

Bentaknya.

"Kau sudah mengirim orang-orang lihaimu mau bikin habis Ciong lam pay? "

"Benar! "

"Ada permusuhan apa Ciong lam pay dengan persekutuanmu? "

"Tentang ini Ciang bun jin tidak perlu tanya."

"Kau tahu aku ketua dari partai Ciong lam apa larangannya untuk aku bertanya? "

Bong bin Sin kiam ketawa.

"Ciong lam pay cuma satu partai kecil yang tak berarti. Apabila mau bergabung dengan perkumpulan kita dan memimpin dunia rimba persilatan alangkah baiknya nasib mereka."

"Jangan ngibul ! "

Hardikan Tan Liong itu begitu nyaringnya, sampai menggema lama diseluruh ruangan. Akan tetapi bagai tak tergugah sama sekali hatinya Tan Ciang Bin masih berkata dengan suaranya enak-enakan.

"Ciang bun jin, sukalah kau jangan terlalu umbar napsumu! "

"Tan Ciang Bin! Jangankan karena mengerudungi wajahmu dengan kedok hitam lantas aku tidak kenal kau siapa? Ingatlah kata-kataku ini. Nama Cui hoa Sian cu tidakkah kau lupakan? "

"Benar, aku sedikitpun tidak pernah lupakan nama itu."

Sahut Bong bin Sin kiam hambar suaranya.

"Dia suruh aku ambil jiwamu."

"Aku percaya kau masih belum punya kemampuan sampai disitu."

"Coba saja! "

Membentak Tan Liong, yang kemudian ayun tangannya dan sebuah bom Pek lek tan melesat keluar dari tangan itu.

Tan Liong sudah gusar benar saat itu.

Apa yang diperbuatnya tidak terlalu dipikir.

Dia cuma meniru dengan ayun bisa bikin hancur lebur orang-orang didepannya.

Tidak perlu disangsikan, apabila bom Pek lek tan meledak, semua orang yang ada dalam ruangan itu tidak bisa lepas dari bencana kematian.

Ruangan itu sendiri pasti hancur lebur!

Akan tetapi.

Bom Pek lek tan di tangan Tan Liong baru saja meluncur tampak sesosok bayangan bergerak gesit dan lincah gerakan badan itu tahu-tahu Bong bin Sin kiam tidak terlihat di kursi kebesarannya.

"Ciang bun jin, tidak boleh kau berbuat begitu......"

Setelah itu nampak berkelebat bayangannya dan hanya sekejap kembali nampak ia bercokol dikursinya.

Kepandaian dan gerakan badan Bong bin Sin kiam itu benar-benar mengejutkan hati penontonnya, dia bisa menggunakan kelincahan badannya yang begitu gesit menangkap bom Pek lek tan yang baru keluar dari tangan pelemparnya, bukan main tentu kemahirannya dapat diukur sampai dimana tingginya kepandaian ketua Thian seng hwee itu.

Tan Liong sendiri lebih-lebih terkejut, hampir terlompat dia.

Pada saat itu Bong bin Sin kiam sudah berkata sambil tersenyum.

"Tan Liong, kenapa kau berbuat semaumu ditempatku ini? Bom Pek lek tan ini kukembalikan padamu, kau sambutlah."

Nampak tangannya mengayun bom Pek lek tan melayang kembali kepada pelemparnya semula.

Tan Liong cepat tanggapi bomnya itu, ia merasa kaget kagum tapipun tidak hilang rasa gusarnya.

Untuk sesaat lamanya dia berdiri terpaku dengan wajah merah padam.

Saat itu Bong bin Sin kiam dengan sorot matanya yang tajam mengawasi orang-orangnya sejenak lalu berkata dengan nada suara dingin.

"Harap saudara-saudara keluar dulu sebentar."

Dua puluh orang lebih yang berdiri dikedua sisi Bong bin Sin kiam tadi lantas pada menyahut.

"Baik! "

Dan sebentar saja sudah pada berlalu meninggalkan ruangan itu.

Sekarang di dalam ruangan yang luas itu hanya tinggal Tan Liong dan Bong bin Sin kiam berdua saja.

Tan Liong ketawa dingin berulang-ulang dan kemudian berkata.

"Tan Chiang Bin, kau hendak main sandiwara apa? "

Bong bin Sin kiam menjwab dengan suara hambar.

"Anak, untuk pertama kali kita bertemu muka tidak sepantasnya kau memanggil aku secara demikian.! "

Tan Liong ketawa bergelak gelak dan berkata.

"Kalau begitu, aku harus bahasa apa kepadamu? "

"Aku adalah ayahmu ......"

Katanya Bong bin Sin kiam sambil tertawa getir.

"Aku justru tidak mempunyai ayah semacam kau ini."

Berkata Tan Liong sambil ketawa tergelak-gelak.

"Tak perduli kau ada mempunyai ayah semacam aku ini atau tidak toh tidak sepantasnya kau memanggil aku Tan Chiang Bin saja, setidak-tidaknya kau juga bahasakan aku Hwee thio atau ketua."

"Jikalau Ciong lam pay musnah didalam tanganmu, aku tidak mau mengerti terhadap kau."

"Itu ada urusan dikemudian hari.

Ini kita antara ayah dan anak telah bertemu dan berkumpul di sini, seharusnya merasa sedikit gembira sementara itu mengenai urusan selanjutnya kau nanti setelah keluar dari sini kita bicarakan lagi."

"Apakah kau juga pantas menjadi ayahku? Benar-benar lucu! "

Bong bin Sin kiam yang mendengar ucapan Tan Liong itu hatinya merasa pedih, perkataan Tan Liong itu seolah-olah pedang tajam yang menusuk ulu hatinya.

Pengharapan satu-satunya yang terkandung di hatinya selama banyak tahun itu, ialah bisa menemui muka anak lelaki satu-satunya itu.

Meskipun selama itu ia belum mencurahkan cinta kasihnya kepada anaknya tetapi sebagai satu ayah sudah tentu tidak dapat melupakan anaknya yang merupakan darah dagingnya sendiri.

Seperti apa yang sudah diduga anak laki-lakinya itu benar saja tidak mau mengenali diri ayahnya bagaimana kalau tidak membuat ia sedih?

Tapi jika dahulu ia tidak menanam bibitnya, bagaimana ia akan memetik buahnya seperti hari ini?

Maka cuma bisa menarik napas dan kemudian berkata.

"Tidak perduli kau mau kenal ayahmu ini atau tidak tokh tak perlu harus berhadapan dengan muka asam, kau duduklah dan mari kita bicara secara baik bolehkah? "

"Aku tadi tokh sudah kata bahwa diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi yang perlu dibicarakan."

"Ciang bun jin kau terlalu jumawa, kuberitahukan padamu jika tidak karena kau masih ada sedikit perhubungan darah dengan aku, dengan sikapmu terhadap aku ini siang-siang aku pasti sudah hajar kau sampai mampus."

Itu memang sebenarnya.

Bong bin Sin kiam Tan Chiang Bin sebagai ketua dari perkumpulan Thian seng hwee, pada waktu waktu biasanya dimana ada orang yang berani berlaku demikian terhadap dirinya?

"Kau bunuhlah aku, seperti juga kau membunuh mati ibuku ......"

Katanya Tan Liong sambil ketawa tergelak.

"Apa?"

Bong bin Sin kiam berseru kaget "Apa ibumu sudah meninggal dunia?"

"Kau jangan berlagak pilon, jikalau kau tidak sia-siakan padanya, bagaimana dia bisa mati? "

Ingat kematian ibunya, hatinya Tan Liong merasa pilu, hampir saja air matanya mengalir keluar!

Mendengar berita yang datangnya secara tidak terduga-duga itu, Bong bin Sin kiam nampak tercengang seketika lamanya ia duduk menjublek dikursinya.

Ia sungguh tidak nyana kalau Cui hoa Sian cu sudah meninggalkan padanya kealam baka ......

Terhadap isterinya itu ia merasa sangat menyesal untuk seumur hidupnya, tidak perlu disangkal lagi.

Ia pernah mencinta isterinya itu dengan sepenuh jiwa raganya, cuma lantaran tergoda oleh dirinya Siao hun lie Cie Bun Bun ia telah meninggalkan padanya.

Tapi ia tak dapat melupakan sang isteri itu, suka terbayang dalam otaknya, tapi ia tidak berani pulang menemui padanya, sebab ia tidak ingin membuat kekeliruan lagi.

Oleh karenanya ia harus membayar hutang yang berupa penderitaan batin dan perasaan menyesal terhadap isterinya itu sudah tentu hutang itu ada merupakan suatu hutang yang termahal di dalam dunia.

Tapi mau tidak mau ia harus membayar karena tidak seorangpun juga yang mau memaafkan padanya, Dan kini begitu mendengar kabar buruk itu sudah tentu ia merasa terkejut.

Ia coba tenangkan pikirannya kemudian baru berkata.

"Dia meninggal dunia dengan cara bagaimana?"

"Tentang ini kau tidak ada hak untuk menanya."

"Kenapa aku tidak boleh menanya?"

"Kau toh sudah sia-siakan padanya dengan dia sudah putus perhubungan maka tentang kematiannya apakah kau masih perlu ambil perhatian? "

Bong bin Sin kiam menggertak giginya dibalik kedoknya yang hitam nampak sepasang matanya yang tajam tiba-tiba ia berkata dengan suara gusar.

"Kau terlalu jahat! "

"Meskipun aku jahat tapi kejahatanku itu masih belum ada satu persepuluhnya kalau dibandingkan dengan kejahatanmu.

Kau telah sia-siakan isterimu sendiri dan lari dengan perempuan, perbuatanmu itu benar-benar ......"

"Tutup mulut ! "

Bong bin Sin kiam memotong dengan suara keras.

"Kalau kau masih berani membuka mulut secara sembarangan aku nanti akan memberi hajaran padamu."

"Salah, apakah aku salah bicara? "

Bong bin Sin kiam menghela napas panjang.

"Tan Liong, kelakuanmu terhadapku sesungguhnya terlalu sekali. Apa kita tidak bisa bicara dengan baik? Selewatnya hari ini dan selanjutnya apa kau suka berbuatlah menuruti kesukaanmu. Bolehkah begitu? "

Bong bin Sin kiam benar-benar sudah berlaku merendah.

Sebab orang ini sekarang justeru membutuhkan keterangan anak muda di depannya itu untuk mengetahui bagaimana cara kematiannya Cui hoa Sian cu?

Tetapi Tan Liong yang tetap tidak mau mengerti sudah menganggap sama sekali tidak mempunyai ayah semacam itu.

Maka ketika mendengar perkataan tersebut hanya ketawa dan berkata tawar.

"Tadi sudah kuputuskan dengan orang semacam kau ini tidak ada apa-apa lagi untuk dibicarakan! "

Bong bin Sin kiam merasa kehabisan akal lalu membentak dengan suara keras.

"Baik, kalau belum kuberi hajaran sedikit memang sikapmu terlalu sombong! "

Setelah mana nampak tubuhnya mencelat keatas lalu terdengar suara...

Plak!

Plak!

yang amat nyaring.

Tan Liong ternyata tidak mampu mengelakkan dua tamparan ayahnya itu.

Dan tamparan itu cukup keras, sampai Tan Liong merasa kepalanya berputar, dengan terhuyung-huyung mundur satu tindak, tanpa sadar mengusap kedua belah pipinya yang terasa panas.

"E e kau berani pukul aku?! "

"Ya! Aku sengaja pukul kau! Dan kau mau apa? "

Tan Liong ketawa bergelak-gelak.

"Dikemudian hari akupun akan balas kelakuanmu ini dengan dua tamparan! "

Katanya.

Bong bin Sin kiam agaknya tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, disamping merasa tidak berdaya menghadapi anak muda bandel itu.

Nampak dia berdiri merenung sejenak, lalu berkata dengan suara lunak.

"Tan Liong, bagaimana kalau kita bicara dengan syarat? Kau kata baik tidak? "

"Tidak ada apapun yang perlu dibicarakan antara kita! "

"Kata-kata yang jelas ini membikin marah orang yang mendengarnya, Tan Liong! Aku perintahkan kau! Bagaimana cara kematian ibumu! "

Berubah wajah Tan Liong.

"Ketua,"

Katanya dingin.

"Kau sabar sedikit! Aku adalah Ciong bun jin partai Ciong lam yang ke 13 sekali-sekali bukan anak buahmu! Dengan apa kau beri perintah kepadaku? Kalau mau dibicarakan secara sejujurnya tingkatanmu jauh lebih rendah di bawahku! Kau tahu?"

Selama beberapa tahun baru sekali ini Bong bin Sin kiam menemui perkara yang amat sulit jurusnya.

Ia dengan Tan Liong telah bicara setengah harian, tetapi masih belum menghasilkan apa-apa.

Akhirnya dengan terpaksa keraskan hati dengan nada menjengek berkata.

"Kau pun harus dengar jabatan Ciang bun jinmu itu hanya cuma berlaku beberapa hari ini saja. Ciong lam pay sudah akan runtuh dan takluk dengan perkumpulan kami! "

Dengan wajah berubah dan suara gusar Tan Liong berkata.

"Tan Ciang Bin! Kau pun harus dengar. Apabila Ciong lam pay kudapati hancur atau sebatang pohonan kutemui terpijak oleh orang-orangmu, kalau aku tidak bisa bikin musnah perkumpulan Thian seng hwee aku bukan seorang she Tan lagi!"

Bong bin Sin Kiam tertawa bergelak-gelak dan katanya.

"Setelah kau sampai di Ciong lam san nanti, Ciong lam pay sudah cuma tinggal namanya saja barangkali."

Mendengar perkataan demikian, Tan Liong tak dapat kendalikan amarahnya lagi. Dengan suara menggelegar dibentaknya orang di depannya.

"Kau kubunuh sekarang juga!"

Suara itu masih menggema dalam ruangan, badannya sudah melayang dengan kedua tangannya di depan ia keluarkan serangannya yang terampuh.

Kemurkaan hati anak muda itu pada ketika itu agaknya telah sampai pada puncaknya.

Serangan yang dikirimnya itu menggunakan tipu serangan Jit goat Kauw hwi dan Ie ya Hui hoa berbareng.

Gerakan badannya sesungguhnya cukup sebat dan hebat.

Bong bin Sin kiam juga dibikin gusar melihat tingkah laku Tan Liong yang dianggapnya terlalu sekali itu.

Manakala melihat Tan Liong turun tangan lantas ia nampak mengayun tangan kanannya, dari situ lantas meluncur kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat.

Peristiwa yang sangat mengenaskan akhirnya kejadian ......

diantara orang-orang yang mempunyai hubungan paling dekat antaranya seorang ayah dengan anaknya, waktu itu sedang saling hantam sendiri.

Dalam sejarah penghidupan manusia, kejadian itu janggal kejam dan mengenaskan mungkin tidak ada yang menandingi peristiwa saling hajar anak dan ayah itu.

Memang tidak kecuali dengan Tan Liong dan Tan Ciang Bin itu ayah dan anak yang keduanya sama mempunyai sifat tinggi hati dan sombong.

Tatkala dua kekuatan saling beradu lantas terdengar suara bergelegar yang amat hebat.

Tan Liong merasakan darahnya bergolak tiba-tiba dari mulutnya lantas melompat segumpalan darah segar, badannya sempoyongan dan lompat mundur beberapa tindak baru bisa berdiri tegak.

-o0o0dw0o0o-

Jilid ke .

13 TAN LIONG memang tadinya telah terluka di dalam.

Tentu tak akan sanggup lagi dia menyambuti serangan ayahnya itu.

Dan apabila Tan Ciang Bin tidak mengingat bahwa dia sedang berhantam dengan anaknya sendiri, cukup ditambah dengan dua bagian kekuatannya saja, Tan Liong saat itu pasti sudah menggeletak sebagai bangkai.

Tan Ciang Bin setelah keluarkan serangannya lalu lompat turun dari tempat duduknya dan tahu-tahu sudah menjambret ujung baju anaknya.

kelakuannya itu bagai burung elang menyambar anak ayam, diangkatnya badan Tan Liong dan membentak.

"Kalau tidak mau kau terangkan juga boleh segera pergi menemuinya! "

Tan Liong ketawa getir lalu berkata.

"Caramu yang sebentar-sebentar keras dan lunak bergantian seperti itu bukan sesuatu perbuatan ketua yang cerdik! "

"Mau tidak kau terangkan! "

Hardik Bong bin Sin kiam lagi dengan suara bengis.

"Tidak ! "

Jawaban yang nyata itu membuat mengkal hati ayahnya.

"Kalau kau tidak mau juga beritahukan padaku jangan sesalkan kalau aku akan berbuat ganas."

Sehabis berkata, tangan kanannya menekan keras, badannya Tan Liong diangkat ke atas dan dibikin bagaikan bola dilemparkan ke sebuah penglari besar di dalam ruangan tersebut.

Perbuatan Bong bin Sin kiam sebagai ayah sebetulnya terlalu kejam.

Apabila badan Tan Liong sampai membentur tiang penglari itu, sudah pasti batok kepalanya akan remuk dan jiwanya melayang disitu juga.

Tan Liong mengeluh.

"Tamat sudah riwayatku."

Tetapi suatu kegaiban mendadak jadi kenyataan.

Sesaat sebelum badan Tan Liong membentur tiang, mendadak sekali berkelebatan sesosok bayangan orang, dengan kecepatan bagai bayangan sudah menyambuti badan Tan Liong.

Hal ini bukan cuma membuat Tan Liong terheran-heran sedangkan Bong bin Sin kiam sendiri terperanjat bukan main.

Orang yang menyambuti badan Tan Liong yang mau membentur batu itu, ternyata adalah seorang nenek-nenek yang nama julukannya Hiat hun Koay po yang baru-baru ini menjadi anggota Thian seng hwee.

Hiat hun Koay po membaringkan perlahan badan Tan Liong di tanah, tongkat bambu ditangannya dimainkannya sebentar, lalu berkata dengan suara dingin.

"Tan Hweethio, perbuatanmu terlalu kejam! "

Tan Ciang Bin tenang-tenang saja saat menjawab.

"Ciang bun jin dari Ciong lam pay karena tidak pandang mata perkumpulan kita aku menghendaki jiwanya."

"Tan Hwee-thio, dia adalah ketua partai Ciong lam, kenapa kau berani berlaku tidak sopan padanya? Cuma dalam hal ini rasanya masih ada lain sebab. Kita terpaksa kembali kepada soal pokok. Apakah oleh karena dia tidak mau diberitahukan kau kematiannya Cui hoa Sin cu yang membuat kau gusar? "

Bong bin Sin kiam bungkam tak dapat menjawab, sama sekali tidak bisa keluarkan kata-katanya. Hiat hun Koay po berkata pula.

"Lagipun kalian berdua ada ikatan darah antara ayah dan anak, perbuatannya sungguh terlalu sekali."

Tan Liong lantas berkata sambil ketawa dingin.

"Dia sekarang menjadi orang yang sudah kehilangan sifat kemanusiaannya. sudah tentu tidak tahu gabungan darah antara ayah dan anak."

Tan Ciang Bin berkata dengan suara sengit.

"Jikalau sekali lagi berani kau keluarkan perkataan yang tidak senonoh lagi, akan kurobek mulutmu, tahu? "

Tan Liong ketawa nyengir, dan menjawab.

"Ketua, hal ini aku percaya memang bisa kau lakukan."

Hiat hun Koay po berubah wajah dengan suara sengit juga berkata.

"Ciang bun jin, kau tutup mulut dulu! Apa kau tidak mengindahi aku? "

Tan Liong mengangguk, dengan suara keras berkata.

"Mana bisa aku lupakan kau?

Ketika kita berada di Khay hong, kita pernah bicarakan tentang tingkatan dengan aku bahkan telah kau berikan padaku sebuah tusuk konde berukiran Naga Merah.

Cuma, kala itu aku sudah salah anggap sebagai orang baik-baik.

Tidak kunyana kau sekarang sudah masuk jadi anggotanya Thian seng hwee dan bercampur gaul dengan orang-orang terkutuk yang semacam ini ......"

Hiat hun Koay po menyambungi dengan suara dingin.

"Ciang bun jin, kau sungguh terlalu sombong."

Matanya lalu melirik ke arah Tan Ciang Bin dan lalu berkata pula.

"Hweethio, orang ini kedudukannya sebagai Ciang bun jin dari satu partai. Meskipun Ciong lam pay sudah akan musnah oleh kita ......"

Tan Liong segera memotong dengan suara dingin.

"Jikalau Ciong lam pay musnah oleh orang-orangnya Thian seng hwee akupun akan hancur leburkan sarang Thian seng hwee sama rata dengan bumi! "

Hiat hun Koay po mengawasi Tan Liong sejenak lalu berpaling kepada Tan Ciang Bin berkata.

"Tan Hweethio, tentang urusanmu aku tidak mengambil pusing.

Cuma boleh aku mengajukan usul padamu?

Ciang bun jin dari Ciong lam pay ini sangat sombong, dipaksa secara keras tidak nanti dia mau berkata.

dengan cara lunak sama saja.

Dalam hal ini kita bisa pakai cara keras dan lunak dengan berbareng."

Tan Ciang Bin bercekat hatinya. seketika bertanya.

"Bagaimana caranya? "

"Sekap dia di dalam kamar dalam air selama sepuluh hari atau setengah bulan. Coba dia mau bicara atau tidak? "

Tan Ciang Bin memikir usul ini ada benarnya sebab apabila anak bandel itu disekap dalam kamar tahanan dalam air dalam tempo sepuluh hari atau setengah bulan dan suruh dia menderita dulu mungkin ada harapan untuk di bicara.

Maka kepada Tan Liong denan suara dingin berkata.

"Kalau kau tidak diberi sedikit rasa kau tentu tidak tahu bagaimana lihainya perkumpulan kami.! "

Kali ini Tan Liong benar-benar gelisah.

Pikirnya apabila disekap dalam kamar tahanan dalam air baginya belum berarti apa-apa.

Akan tetapi di atas gunung Ciong lam san saat itu bila ada kejadian apa-apa, kalau tidak lantas bisa balik kesana bukankah sama artinya membiarkan partainya musnah?"

Oleh karena memikirkan nasibnya Ciong lam pay pikirnya sampai kusut dan gelisah. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa, hanya dalam buat hatinya berpikir sambil kertak gigi.

"Jikalau terpaksa apa boleh buat adu jiwa saja."

Setelah ambil putusan itu tidak antara lama bisa juga ia berkata dengan suara tenang.

"Tan Hweethio! Apa begini caramu memperlakukan seseorang dengan pangkat Ciang bun jin? "

Tan Ciang Bin ketawa dingin menjawab.

"Perduli apa kau Ciang bun jin dari mana kek."

Berhenti dia sejenak lalu panggil orang-orangnya.

"Hai, orang-orangku."

Sebentar kemudian dari luar berjalan masuk orang-orang tadi yang berada bersamanya di ruangan besar.

Mereka lantas berdiri di sampingnya dengan sikap yang menghormat sekali sedang Tongcu bagian hukum, Song Hun Chin lantas berkata dengan sikapnya yang sangat menghormat.

"Hunjuk beritahu kepada Hweethio, memanggil tocu sekalian ada keperluan apakah? "

Tan Ciang Bin keluarkan titah! "Tangkap ketua dari Ciong lam pay ini dan tutup dalam penjara air, jangan sekali-kali salah! "

Dengan keluarnya perintah itu, membuat suasana dalam ruangan itu seketika jadi tegang. Dua puluh lebih orang-orangnya Thian seng hwee menyahut.

"Ya! "

Dengan serentak, dan kemudian mendekati Tan Liong dalam sikap mau meringkus. Tan Liong dengan suara gusar membentak.

"Siapa tidak sukai lagi jiwanya boleh coba-coba main! "

Tongcu bagian hukum Song Hun Chin ketawa mengejek.

Sambil membentak keras tangannya menyerang mengarah ulu hati di badan Tan Liong.

Begitu melihat Song Hun Chin sudah mulai turun tangan, dua puluh orang lebih itu lantas menggeram bersama, semua pada bergerak hingga beberapa puluh tangan lantas bekerja berbareng.

Pertempuran itu benar-benar tidak adil.

Jangan kata saat itu memang Tan Liong sedang terluka, sekalipun masih segar bugar agaknya juga takkan sanggup melayani serangan dari begitu banyak orang.

Akan tetapi karena dia telah mengambil keputusan untuk adu jiwa, soal mati hidupnya sudah tak dipikirkannya lagi.

dengan keluarkan geraman hebat, di antara berkelebatnya banyak tangan satu tangan merogoh dan Tan Liong sudah melancarkan serangan sampai tiga kali.

Pada serangan itu telah keluar tangannya yang penuh, dimana sambaran angin tiba lantas tiga orang Thian seng hwee roboh menggeletak di tanah.

Tan Liong sebetulnya sudah tidak mempunyai kekuatan besar lagi untuk dikerahkan sepenuhnya.

Maka sekali keluar tiga kali serangan beruntunnya itu ditambah lagi adanya tekanan begitu hebat dari pihak musuh, sebentar merasakan kepalanya pusing berputar-putar mulutnya menyemburkan darah merah dan seketika itu dia ambruk di tanah.

Apa yang terjadi selanjutnya ia tidak tahu lagi ....

***d*w*** Entah berapa lama telah berlalu, akhirnya ia tersadar dari pingsan, ia hanya merasakan sekujur badannya dingin, depan matanya gelap tidak kelihatan apa-apa.

Dalam ingatannya ia masih bisa menduga-duga bahwa tempat itu tentunya adalah tempat tawanan di dalam air.

Teringat nama tempat itu dengan sendirinya lantas meraba-raba dengan tangannya dan benar saja tubuhnya kini sedang rebah di dalam air setengah badannya terendam hingga semua pakaiannya menjadi basah kuyup.

Rasa benci meluap-luap giginya sampai berkertakan.

dengan hati panas ia berkata kepada dirinya sendiri.

"Pasti ada satu hari nanti aku juga akan tutup kau dalam penjara air ini!"

Dengan gerakan lambat ia bangun duduk, rasa dingin menusuk keulu hatinya membuat sekujur badannya menggigil.

Dalam keadaan demikan ia agak merasa kehabisan akal hingga cuma bisa menghela napas panjang pendek air matanya hampir saja mengalir keluar.

Di dalam tempat tawanan seperti itu jangan harap ia bisa keluar lagi dan sudah tentu tidak ada orang yang akan datang memberi pertolongan.

Ia mengingat-ingat semua urusannya termasuk ....

hari depannya ia sendiri, ....

dan nasibnya partai Cong lam.

Apa yang paling dikuatirkan ialah soal mati hidupnya Ciong lam pay pada saat itu.

Rasa gemes dan benci hampir membikin hancur giginya sendiri yang sejak tadi digigit sampai berkeretukan.

Apalagi kalau ia ingat bahwa ayahnya sendiri kejam, hawa amarahnya semakin berkobar.

Dingin !

......

Hari berganti hari rasa dingin itu dirasakan semakin hebat.

Ia coba menghitung-hitung waktu dengan ingatannya, ia tahu bahwa saat itu ada tengah malam di musim kemarau.

Di sebagian tempat pada musim kemarau itu ada yang sudah mulai turun salju.

Ia yang setengah badannya terendam dalam air, ditambah lagi perasaan lapar yang mulai menjadi-jadi, penderitaan semacam itu sebetulnya ada sangat hebat.

Tiba-tiba ia ingat obat mujijat "Soat-som"

Yang sudah berumur ribuan tahun pemberian dari Hoan Giok Hoa. Barang itu ada merupakan barang pusaka simpanan partai Ngo bie pay. Cuma di gunung Ngo bie san yang ada tumbuh tanaman

KANG ZUSI itu, setiap seratus tahun baru berbunga sekali, seribu tahun baru sepuluh kali berbuah, seumur hidupnya manusia sukar untuk menemukan sekali saja.

Maka bagaimana khasiatnya rasanya dapat diduga sendiri.

Tan Liong masukkan tangannya ke dalam saku, mengambil keluar obat Soat-som, Kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan mulai dikunyah dengan perlahan.

Soat-som yang sudah ribuan tahun usianya itu benar-benar ada mempunyai khasiat luar biasa.

Tan Liong setelah mengunyah habis obat mujijat itu bukan saja luka-lukanya sudah sembuh sama sekali, rasa dingin yang tadi menyerang badannya begitu hebat juga sudah lenyap semua, bahkan kekuatan tenaga dalamnya dirasakan bertambah banyak.

Ia lantas duduk untuk mengatur pernapasannya, semangatnya terbangun seketika.

Tapi tatkala ia membuka matanya mengawasi keadaan sekitarnya, ia terpaksa menghela napas lagi.

Ia ulur tangannya meraba-raba dinding kamar itu ternyata dibikin dari besi dan baja seluruhnya.

Dalam hatinya lalu berpikir, dalam keadaan seperti ini, biar bagaimana tentu sudah tidak bisa keluar lagi.

Sang waktu dilewati dalam keadaan putus asa, penderitaan itu dirasakan sangat hebat.

Tiba-tiba .....

Telinganya menangkap satu suara yang sangat merdu.

"Tan Saingkong, kau berada di mana? "

Suara itu sangat halus, tapi jukup jelas.

Tan Liong semangatnya terbangun seketika ia coba pasang telinga dengan seksama, tapi hanya kedengaran suara mengalirnya air, di depan matanya tetap gelap gulita.

Ia merasa bergidik sendiri.

Diam-diam sudah siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan, kemudin ia membentak dengan suara perlahan.

"Siapa? "

Suara merdu dan perlahan terdengar ditelinganya.

"Tan Siangkong, aku! "

"Kau, siapa? "

"Yao lie lu! "

Mendengar nama itu, perasaan gusar timbul dalam otak Tan Liong.

Kalau bukan lantaran perempuan genit Cu Liang Koan Beng pasti tidak akan terjadi kesalah pahaman sampai begitu dalam.

Maka seketika itu ia lantas berkata dengan suara dingin.

"Perlu apa kau datang kemari? "

"Apa kau tidak ingin keluar dari sini? "

Perkataan itu mengejutkan Tan Liong, dalam hatinya lantas berpikir.

"Apakah kedatangannya itu benar-benar hendak menolong diriku? "

"Apakah kau hendak tolong aku keluar dari penjara air ini?"

Demikian ia menanya.

"Benar! "

Meskipun Tan Liong membenci wanita centil genit itu tapi karena saat itu ia datang hendak menolong dirinya, itu berarti penting hubungannya dengan nasibnya dikemudian hari, apalagi terhadap mati hidupnya partai Ciong lam pay.

Kalau ia bisa keluar dengan selamat dari tempat tawanan tersebut besar sekali artinya.

Maka tidak boleh tidak ia harus menekan perasaan gusar dan bencinya terhadap wanita itu.

Ia lalu balas menanya.

"Kedatangan nona ini barangkali bukan benar-benar hendak menolong diriku."

"Apakah kau masih membenci aku? "

"Kau telah membuat aku benci orang tanpa bisa memberi penjelasan, bagaimana aku tidak benci padamu? "

Terdengar suara Yao Lie lu menghela napas.

"Tan Siangkong, seperti bunyi pepatah kuno, ‘Dalam rasa cintanya, dalam pula rasa dengkinya’..... tentang ini aku percaya kau tentu sudah mengerti sendiri. Sekarang aku cuma ingin tanya kau sepatah kata saja, kau mau aku tolong atau tidak? "

Tan Liong setelah berpikir sejenak lalu menjawab.

"Peribahasa ada kata,’ Paling berat adalah budinya wanita cantik’. Hutang cinta kepadamu. aku yang rendah barangkali tak akan mampu membayar."

"Aku cuma tanya kau, mau aku tolong atau tidak?"

Ditanya demikian Tan Liong malah tidak bisa menjawab.

Karena ia merasa benci terhadap wanita centil dan genit itu, jika dirinya ditolong keluar dari tempat tawanan di dalam itu untuk selanjutnya sudah tentu ia harus diperlakukan lain dari biasanya.

Untuk sesaat lamanya ia terbenam dalam lamunannya sendiri, tak tahu bagaimana harus menjawab.

Kembali terdengar suara pertanyaannya Yao lie lu.

"Tan Siangkong, kuberitahukan padamu, di luar penjara air ini ada dijaga oleh banyak orang lihai dari perkumpulan kami.

Yao lie lu datang kemari dengan menempuh bahaya besar maka waktunya juga sangat mendesak.

Asal kau katakan saja dengan sepatah kata, kau menghendaki kematian atau masih ingin hidup?

Itu saja sudah cukup."

Tan Liong terperanjat, ia dapat mengerti maksudnya wanita itu, kata-kata Yao lie lu itu memang keluar dari hati sejujurnya, di luar tempat tawanan itu, kalau dijaga keras oleh orang-orang Thian seng hwee, hal itu memang tak berlebihan.

Tapi apakah ia harus membiarkan dirinya ditolong oleh wanita itu?

Soal ini ia tak dapat menetapkan dengan segera.

Jika tawaran itu diajukan oleh lain wanita, mungkin ia dapat menjawab dengan segera tapi dia adalah .....

Memang benar Yao lie lu dengan menempuh bahaya besar datang ketempat tersebut dan juga terdorong oleh rasa cintanya yang begitu besar terhadap dirinya, tapi wanita yang berpikiran cupat itu, kedatangnnya ke dalam tempat tawanan dalam air itu sudah tentu bukannya tanpa tujuan sama sekali.

Di dalam otaknya setelah berputaran sejenak ia lalu menjawab dengan suara hambar.

"Aku tadi sudah berkata, bahwa kecintaanmu itu barangkali aku tak mampu membalas."

"Kalau begitu kau tidak sudi aku tolong lagi? "

Tan Liong menghela napas ia tidak mau jawab. Terdengar suaranya Yao lie lu pula.

"Tan Liong, kau harus ingat kematianmu sendiri tak menjadikan soal, tapi mati dan hidupnya partai Ciong lam pay bukankah tergantung dalam tanganmu? "

Tan Liong yang mendengar perkataan itu dalam hati lantas berpikir.

"Itu memang benar, pada saat itu aku sebetulnya tak boleh terlalu menuruti hatiku sendiri sehingga membuat partainya Ciong lam pay musnah di dalam tanganku."

Karena berpikir demikian maka ia lantas menjawab.

"Kalau begitu kau sekarang ada di mana? "

"Akuberada dalam kamar tahanan ini juga."

"Baiklah, kalau kau suka menolong diriku sudah tentu aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih lebih dulu, tapi dengan cara bagaimana kita bisa keluar dari sini? "

Dalam kamar tahanan ini keadaannya gelap sekali meskipun jarak mereka berdiri hanya terpisah beberapa kaki saja jauhnya tapi dalam keadaan gelap gulita seperti itu mereka tidak dapat melihat satu sama lain.

Apa yang dikatakan Yao lie lu memang tidak salah.

Kalau perasaaan cinta itu ada begitu dalam, perasaan dengki juga dalam pula.

Ia ada mempunyai keyakinan bisa mendapatkan segala-galanya dari dirinya Tan Liong, jika ada lain wanita yang hendak merebut cintanya Tan Liong, ia bisa timbul rasa dengki dan bencinya yang begitu besar karena cintanya.

Semula dihadapannya Chie Peng dan adiknya karena ia tidak suka nanti dua saudara itu berhasil merebut cintanya Tan Liong, maka ia hendak membunuh dirinya si pemuda.

Ia mengerti jikalau membiarkan Chie Peng dan adiknya menolong dirinya Tan Liong selanjutnya jika ia ingin dapatkan cintanya Tan Liong itu berarti tambah sulit baginya.

Ia justeru ada seorang wanita yang berpikiran cepat, oleh karena itu maka ia hendak membunuh mati dirinya Tan Liong supaya siapapun tidak dapatkan cintanya pemuda yang dibuat rebutan itu.

Sekarang ia telah pertaruhkan jiwanya dengn menempuh bahaya kematian ia masuk kedalam kamar tawanan kang yang terendam air zusi itu jika ia berhasil menolong keluar dirinya Tan Liong dari kamar tawanan itu, sudah tentu cita-citanya akan terkabul.

Itulah hatinya seorang perempuan muda yang berpikiran cupat dan yang sedang dimabuk asmara.

Tan Liong mendadak merasakan ada satu tangan meraba-raba dirinya yang menyentuh bagian dadanya.

Tan Liong terkejut, ia mundur satu langkah.

Saat itu terdengar suaranya Yao lie lu.

"Tan Siangkong, aku sudah berada didepanmu."

Tan Liong mulai tenang pikirannya, ia lalu ulur tangannya untuk meraba tangannya Yao lie lu.

Sewaktu ia mencekal tangannya Yao lie lu hatinya berdebaran karena lengan lengan itu dirasakan dalam tangannya ada begitu halus.

Hatinya Yao lie lu sendiri juga tergoncang hebat di dalam kamar tawanan itu keadaannya sangat gelap hingga wajah orang yang berada di depan matanya juga tidak bisa tertampak jelas, jika tidak demikian mungkin Tan Liong dapat menyaksikan parasnya Yao lie lu yang merah membara.

Perlahan-lahan ia rapatkan dirinya kepada Tan Liong mulutnya berkata dengan suara yang hampir tidak kedengaran.

"Tan Siangkong, coba kau raba baju di badanku sudah basah kuyup keseluruhan! "

Tan Liong lalu ulur tangannya dan meraba badannya Yao lie lu.

Apa mau dikata tangannya telah menyentuh buah dada si nona.

Yao lie lu berdebar keras hatinya!

Tan Liong juga terkejut, perbuatannya yang tidak disengaja itu membuat hatinya merasa tidak enak tapi karena Yao lie lu diam saja, ia juga tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah menenangkan pikirannya, ia lalu berkata.

"Ya, bajumu basah semua! "

"Aku merasa dingin! "

Dengan tanpa sadar Tan Liong lalu peluk tubuhnya gadis itu, dalam saat demikian ia agaknya sudah lupa kalau ia tadinya ada membenci wanita tersebut.

Gelap merupakan sumbernya segala macam kejahatan itu ada suatu kenyataan yang tak usah disangkal kebenarannya,.

Banyak kejahatan di dalam dunia ini, yang terjadi diwaktu gelap.

Yao lie lu ....

itu perempuan centil genit yang sangat erotis cepat pikiran.

Demikian pula dalam soal cinta akhirnya telah dapatkan Tan Liong pada saat itu, seluruh tubuhnya menempel rapat di badannya itu anak muda yang menjadi idamannya.

Tan Liong memeluk erat tubuhnya Yao lie lu, hingga rasa hangat pada badannya seolah-olah hendak disalurkan ke dalam tubuhnya orang muda itu.

Karena kedua-duanya dalam keadaan basah kuyup, dalam keadaan demikian memang ada memerlukan rasa hangat untuk badannya.

Tetapi itu juga merupakan suatu daya penarik bagi setiap orang muda gampang terjerumus dalam kedosaan.

sebab dalam keadan demikian jarang yang mampu melawan godaan hati yang bergolak.

Tan Liong pernah membenci wanita muda itu.

Tetapi kini wanita itu tubuhnya sdang berada dalam pelukannya.

Rasa bencinya seolah-olah sudah lenyap seperti asap tertiup angin Yao lie lu cintakan Tan Liong itu merupakan suatu kenyataan yang tidak perlu dikata lagi.

Dengan tindakannya yang menempuh bahaya besar untuk masuk ke dalam penjara air itu, guna menolong si pemuda, ada merupakan suatu bukti nyata dari perasaan cintanya itu.

tetapi cinta wanita itu sifatnya egoistis, Hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dalam keadaan gelap gulita seperti itu, kecuali gemerciknya suara air masih ada lagi suara napas yang keluar dari hidungna dua muda mudi itu.

Yao lie lu pejamkan kedua matanya dan Tan Liong akhirnya tidak tahan perasaan hatinya dan mencium pipi gadis itu.

Perasaan hatinya yang bergolak dan timbul secara mendadak itu tidak memberikan pemuda itu dapat berpikir lebih panjang lagi.

Itu ada merupakan kodrat manusia, di dalam keadaan bernapas lupa kepada segala-galanya.

Tan Liong, yang pun tidak tahan godaan sang hati sudah lupakan semua perbuatannya wanita itu di masa lampau.

Perasaan hatinya Yao lie lu pada saat itu makin berdebar-debar.

Seluruh tubuhnya sudah dalam pelukannya Tan Liong .....

Sekonyong-konyong Tan Liong tersadar.

Didorongnya keras-keras badan langsingnya Yao lie lu dan berkata dengan suara perlahan.

"Harap suka maafkan aku. Dikemudian hari kita mungkin bisa sama-sama menderita."

Yao lie lu yang merasa badannya didorong mendadak oleh Tan Liong untuk sesaat nampak tercengang. Ia lantas berkata sambil ketawa getir.

"Tan Siangkong, apa kau masih benci padaku? "

Tercekat hatinya si pemuda. Lantas dialihkannya pembicaraan selanjutnya ke lain soal.

"Bagaimana bisa keluar dari sini? "

Tanyanya. Yao lie lu menjawab sambil ketawa getir.

"Ya, kita perlu dan mesti keluar.

Sebab aku sudah merasa puas telah dapatkan apa yang aku inginkan.

Ebook by .

Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com Tidak perduli ciumanmu itu ada mengandung rasa cinta atau tidak, namun itu akan menjadikan kenangan hidup bagiku untuk selama-lamanya."

Tan Liong hanya dapat menarik napas, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa. Yao lie lu berkata pula.

"Cuma, Tan Siangkong perlu kuberitahukan padamu. Hatiku ini sudah kuberikan hanya untukmu. Sekalipun menjadi setan, juga akan tetap disampingmu. Jikalau ada siapa saja yang ingin mendapatkan kau, aku takkan lepaskan orang itu!"

Tan Liong terperanjat.

Memang tidak seharusnya dia tadi mencium wanita itu, bagaimana kalau perbuatannya itu menjadikan akibat yang menakutkan dikemudian hari?

Setiap perbuatan tanpa pemikiran dan hanya melulu menuruti hawa napsu saja memang akan disusul oleh penderitaan yang tidak ada ujung tepinya.

Kembali terdengar suara Yao lie lu yang berkata.

"Tan siangkong, semua apa yang ada didalam isi hatiku sudah kujelaskan kepadamu. Sekarang kita harus keluar! "

Berhenti dia sejenak, lalu berkata pula.

"Di luar kamar tawanan ini terjaga keras oleh banyak orang lihai dari orang-orang perkumpulan. Jikalau hendak mengelabui mata orang-orang itu, sebetulnya bukan merupakan soal gampang."

"Kalau begitu dengan cara bagaimana nona tadi bisa masuk kemari? "

"Aku masuk melalui jalan sumber air jaraknya sampai kemari ada beberapa puluh tombak. Bisa masuk dengan jalan menyelam, melalui jalan masuk itu, paling cepat harus makan waktu kira-kira seminuman teh. tentang ini apa kau bisa kira-kira mengerjakan? "

Ini sangat menyulitkan bagi Tan Liong. Dia yang dibesarkan didaratan, dengan sendirinya tidak bisa berenang. Dapat atau tidak menyelam dalam waktu seminuman teh, masih merupakan pertanyaan diotaknya.

"Aku semenjak kecil selalu berkecimpung dalam kalangan air. Jangan kata berada dalam air tiga jam lamanya buat aku tidak merupakan soal. Apa kau rasa mempunyai kesulitan? "

"Aku rasanya tak mampu menyelam dalam waktu begitu lama."

"Eeh, kepandaian dan kekuatanmu itu untuk apa? Untuk menahan napas dalam waktu sebegitu pendek rasanya tak menjadi halangan besar bagimu, bukan?"

"Kita menyelam dengan melawan arus air atau mengikuti jalannya air? "

"Mengikuti jalannya air."

"Kalau begitu boleh kita coba."

Tan Liong berhenti berkata sejenak bagai orang ingat sesuatu, bertanya pula.

"Jalan yang menuju ke sumber air itu sampai di mana batasnya? "

"Satu danau kecil."

"Sebelum kau masuk kemari, apa perbuatanmu itu tak ada yang tahu? "

"Barangkali tidak."

"Jikalau kedatanganmu kemari itu ada yang tahu di sekitar danau kecil itu barangkali sudah dijaga keras. hal ini bagi kita keluar dari sini juga merupakan tindakan yang sangat berbahaya."

"Tidak mungkin, jangan kuatir."

"Dalam segala hal tidak boleh tidak kita harus pikirkan akibatnya. Jikalau ada seorang saja yang tahu dan kita dicegat di atas danau itu bagaimana? Coba kau kata benar atau tidak?"

"Itu barangkali tidak mungkin. seandainya perbuatanku tadi dipergoki orang terpaksa kita cari daya lain."

Karena merasa tak ada jalan lain lagi Tan Liong terpaksa suka turut rencananya wanita itu.

"Baiklah."

Demikian katanya kemudian. Yao lie lu menarik tangan Tan Liong dengan suara perlahan berkata.

"Mari ikut aku! "

Tan Liong terpaksa mengikuti Yap lie lu. Berjalan kira-kira lima tindak Yao lie lu tiba-tiba pendekkan badan dan berkata dengan suara perlahan.

"Setelah buka pintu air ini kita lantas bisa masuk ke jalan yang menuju sumber air."

Tangannya nampak meraba-raba dinding dengan sedikit tekanan terbukalah sebuah jalan dan pintu air terangkat.

Dari jalan sumber air lantas menggolak banyak air masuk.

Tan Liong berpikir jika bukan Yao Lie lu siapapun agaknya tak dapat memikir tentang tutup air itu.

Dalam pada itu terdengar suara disamping telinganya yang perlahan sekali.

"Tan Siangkong lekas kau tahan napasmu! Kita segera mulai menyelam di dalam air."

Tan Liong yang mendengar perkataan itu merasa hatinya tergoncang keras.

seketika itu dihirupnya dalam-dalam dan setelah itu menutup pernapasannya.

Pada saat itu Yao lie lu sudah menariknya menyelam ke dalam sumber air di bawah tutup pintu air itu.

Menyelam di dalam air merupakan pengalaman pertama bagi pemuda ini.

Apabila tidak ada Yao lie lu yang menyeret sebelah tangannya mungkin tidak tahu dia bisa menyelam atau tidak?

Akhirnya kedua muda mudi ini timbul juga dipermukaan air dari suatu danau kecil.

Danau itu bagai kobaran besar, luasnya kira-kira setengah lie persegi.

Terletak di sebuah bukit di dalam lembah Lui in kok.

Terpisah dengan pusat perkumpulan Thian seng hwee, cuma kira-kira seratus tombak jauhnya.

Saat itu hari sudah malam, Tan Liong dan Yao lie lu timbulkan kepala dipermukaan air buka mata dan mengawasi keadaan disekitar danau.

Benar tiada nampak sedikitpun pergerakan sunyi senyap.

Setelah mengetahui keadaan disekitarnya yang begitu tenang, Yao lie lu lantas buka mulut.

"Tan Siangkong, legakanlah hatimu.

Urusan ini tidak terlalu sulit seperti apa yang kau bayangkan.

Mari naikz!

Kaupun barang kali perlu selekasnya pergi ke gunung Ciong lam san.

Pada saat ini barangkali partaimu sedang mengalami pertumpahan darah yang sangat hebat."

Setelah itu ditariknya lengan si pemuda menyeretnya dengan jalan berenang ketepian danau.

Kalau mengingat masibnya Ciong lam pay Tan Liong tentu lantas akan kuatirkn keselamatan partainya.

Maka diikutinya saja ajakan Yao lie lu yang membawanya ketepian danau.

Angin malam berembus sepoi-sepoi hawa udara terasa amat dingin.

Ketika itu Yao lie lu sudah bertanya.

"Tan Siangkong apa kau perlu keringkan dulu pakaianmu sebelum berangkat? "

Tan Liong menggeleng.

"Tidak usah"

Jawabnya.

"aku perlu segera kembali ke Ciong lam san"

Setelah itu si pemuda putar tubuh dan akan meninggalkan Yao lie lu.

Mendadak ketawa dinginnya seseorang memecahkan kesunyian suasana malam.

Tan Liong dan Yao lie lu yang lantas dengar suara itu pada unjukkan muka kaget.

Si pemuda lantas menotolkan kakinya melesat ke arah dari mana datangnya suara tadi, Yao lie lu pun segera mengikuti jejaknya.

Sebelum dua pasang kaki menginjak bumi, mendengar lagi suara orang berkata dengan suaranya yang tawar.

"Yao lie lu! Sungguh besar nyalimu! Kau berani langgar peraturan perkumpulan dan masuk ke dalam penjara air menolong orang, kau tahu dosamu? Aku rasa kau tak sanggup memikul akibatnya! "

Yao lie lu yang mendengar kata-kata itu wajahnya pucat pasi seketika.

Lantas menoleh dan mengawasi ke belakang dan apa yang terlihat membuat hatinya ciut.

Orang yang perdengarkan kata-katanya tadi ternyata adalah Chie Peng serta adiknya.

Chie Peng mengawasi Tan Liong dan Yao lie lu sejenak lalu berpaling mengawasi adiknya berkata.

"Adik, legakanlah hatimu. Dia tak kan mati."

Tan Liong begitu melihat Chie bersaudara, lantas semangatnya berkobar.

Sebab, apabila bukan karena Naga Merah tiruan yang peranannya dipegang oleh Chie Peng dan saudara mudanya itu, dan kalau tak ada perbuatan Chie Peng tadi, tentu orang-orangnya Thian seng hwee sudah dilabrak habis.

Mengingat hal itu terdengar kertak gigi Tan Liong dengan sorot mata buat beringas mengawasinya Chie Peng dan kemudian berjalan dengan tindakan lambat-lambat.

....

Rasa benci sudah teramat dalam terhadap perempuan muda itu.

Kalau dapat rasanya ingin ditelannya hidup-hidup.

Chie Peng yang menyaksikan Tan Liong begitu beringas dengan napsu membunuhnya agak terkejut juga.

Agaknya orang ini telah memahami pemuda itu tak akan melepaskan dia dan adiknya begitu saja.

Dalam saat-saat kritis itu, Chie Peng si perempuan muda yang berpikiran tajam dan dapat menguasai ketenangan hatinya telah timbul perasaan duka dan pilu hatinya.

Tan Liong berkata pula dengan suara tawar.

"Chie Peng! tempo hari kalau bukan karena kau, aku tak akan sampai bisa kejeblos dalam penjara air! Tiga puluh lebih orang-orangnya Thian seng hweemu tidak nanti juga sampai ke gunung Ciong lam san! Kau! Perempuan beracun, ini aku menghendaki nyawamu! "

Matanya nampak semakin beringas perlahan-lahan menghampiri Chie Peng, dia sudah akan menghajar wanita di depannya itu. Chia Cui tiba-tiba nyeletuk.

"Tan Siangkong, apa kau mau membunuh enciku? "

Tanyanya. Dengan alis berdiri Tan Liong menjawab.

"Aku bukan cuma mau bunuh dia! Jiwamupun akan kuambil sekalian."

Chia Cui yang mendengar bentakan-bentakan itu, dalam hati kecilnya timbul perasaan sangat pilu.

air matanya hampir saja mengalir keluar.

Chie Peng ketawa getir.

Ditatapnya wajah Chie Cui adiknya itu yang sudah mengalirkan air mata.

Dengan suara dingin lalu berkata.

"Hidup manusia seperti dalam impian. Dalam waktu sekejap saja beberapa puluh tahun berlalu tanpa kita merasa pada akhirnya juga cuma merupakan segundukan tulang-tulang dibawah tanah

KANG ZUSI com.

Apa senangnya orang hidup?

Apa mesti takuti bayang-bayang kematian.

Tetapi satu-satunya hal yang akan disesalkan selama hidup tidak lain dari pada tak terwujudnya impian muluknya.

Perkataan itu diucapkan dengan nada suara yang memilukan sekali sehingga siapa yang mendengar mungkin akan tersayat hatinya.

Begitulah Tan Liong nampak pemuda ini tercengang sejenak tetapi lantas berkata sambil tertawa dingin.

"Itu benar! Sekarang akan kujadikan kalian tulang-tulang dibawah tanah."

Chie Peng ketawa panjang.

Suaranya dan kelakuannya mirip orang gila, membikin mengkirik bulu roma orang yang mendengarnya.

Setelah puas tertawa berpaling mengawasi adiknya sejenak, lalu berkata sambil ketawa dingin.

"Adik, apa yang kau buat sedih? Orang toh tidak akan suka terima perasaan hatimu."

Teralih pandangnya tertuju kepada muka Tan Liong lalu berkata pula.

"Tan Siangkong, kau meski berhasil bisa keluar dari tawanan dalam air tapi jejaknya nona Tio ada yang tahu. Sekarang ini ketua Thian seng hwee sedang mengadakan pertemuan dengan semua orang-orang lihai dari perkumpulan kami, semua mau menangkap kau dan nona Tio itu sekalian! "

Keterangan ini membuat Tan Liong dan Yao lie lu berubah wajahnya seketika. Tan Liong urung turun tangan terhadap Chie Peng sedetik itu bagai terlupa segala dendaman dengan suara cemas bertanya.

"Apa perkataanmu itu benar? "

"Apa kiramu aku perlu bohongi kau? "

Balas Tanya Chie Peng. Dalam parasnya Yao lie lu sesaat tampak kecemasan yang tak terhingga tapi kemudian seperti dipaksakan tertawa lalu berkata.

"Nona Chie, barangkali kalian sendiri yang memberitahukan pada mereka! "

Chie Peng yang dituduh secara demikian wajahnya segera berubah dan berkata dengan suara gusar.

"Nona Tio, jangan sembarang tuduh! Kami Chie bersaudara bukan orang-orang yang begitu rendah martabatnya! "

Yao lie lu kembali buka suara.

"Kecuali kalian dua orang enci adik, aku percaya dan yakin benar tidak akan ada orang lain tahu! "

Merah padam selembar wajah Chie Peng. Sambil ketawa menyengir berkata lagi.

"Nona Tio, kau bicara jangan asal buka mulut! "

Selagi Yao lie lu kembali ingin buka mulut, Tan Liong sudah bersuara.

"Benar! Cuma dua perempuan beracun ini yang baru bisa mengerjakan perbuatan jahat itu! Sekarang kuambil dulu jiwa kalian berdua! "

Baru keluar habis kata-katanya bergeraklah badannya.

Tangannya terulur panjang mencari sasaran di badan Chie Peng.

Berbareng pada ketika Tan Liong menyambarkan tangannya ke tubuh Chie Peng dari arah pusat tiba-tiba terdengar suara mengaung yang amat nyaring.

Apa yang dikatakan oleh Chie Peng mengambil jalan dari pintu air memang benar telah diketahui orang perbuatannya.

Tetapi orang yang memergoki perbuatan perempuan centil genit itu yang terus memberitahukan kepada ketua Thian seng hwee bukanlah Chie Peng bersaudara melainkan orang lain, kalau Yao lie lu menuduh dua bersaudara Chie itu semata-mata melulu untuk menyingkirkan kedua saingan berat itu.

Kini Yao lie lu mendengar suara itu bukan kepalang kagetnya nampak dari perubahan parasnya yang pucat seketika.

Dalam pada itu serangan yang dilancarkan oleh Tan Liong sudah disambut oleh Chie Peng.

Dengan suara bengis nona itu berkata.

"Tan Siangkong, kesalah-pahaman pasti akan ada satu hari dapat dijelaskan. Sekarang ini kalau kau masih belum mau pergi apa kau mau tunggu kematianmu di dalam lembah Lui in kok ini? "

"Tentang persengketaan antara kita lain hari kita perhitungkan kembali pasti tidak telambat."

Demikian sang adik melanjutkan.

Mendengar kata-kata dua saudara Chie itu Tan Liong tercengang.

Memang ada benarnya kata-kata dua saudara kang itu.

Cuma sebagaimana telah dibentangkan dibagian muka dia orang anak muda zusi yang berhati keras dan keras kepala tentu tidak gampang mau tunduk di bawah comkata-kata orang lain.

Seketika mendengar kata-kata itu lantas berseru.

"Kecuali kalian mati lebih dulu! Sebelum bisa ambil jiwa kau siluman perempuan, aku takkan pergi !"

Yao lie lu menyambungi kata-kata pemuda itu.

"Benar! Kalau kau belum bisa habiskan riwayat dua perempuan ini, dikemudian hari barangkali jiwamu sendiri yang akan melayang! "

Tan Liong yang sedang naik pitam, diojok lagi secara demikian oleh Yap lie lu, seperti kuga menyiramkan bensin ke api yang sedang berkobar-kobar.

Begitulah seketika itu juga terdengar geramannya, terus menerjang Chie Peng dengan serangkap kedua tangannya.

Kali ini pemuda ini turun tangan, cepat dan hebatnya bukan main.

Dalam waktu sekejap itu telah tiga serangan dilancarkan.

Chie Peng sambuti setiap serangan anak muda itu dengan ketawa dingin sedang di atas parasnya nampak kemurkaan besar.

"Tan Liong, Kalau benar-benar kau tidak sayangi diri sendiri aku selanjutnya tidak mau ambil perduli! "

Demikian dia berkata tangannya menyambuti serangan Tan Liong yang ketiga.

Apabila diukur dari sudut kekuatan Chie Peng dan Tan Liong memiliki tenaga yang boleh dikata berimbang.

Siapapun tidak bisa dikata berkekuatan lebih.

Tetapi Tan Liong yang telah memakan Soat-som kekuatannya bertambah entah berapa kali lipat.

maka tenaga anak muda tersebut pada saat itu jauh lebih besar daripada lawannya itu.

Chie Peng yang coba-coba sambuti serangan itu, merasa jauh lebih tinggi kekuatan pemuda tersebut daripada tenaganya sendiri.

Diam-diam mengalah dan mundur sampai dua langkah.

Tan Liong sebetulnya benci sekali kepada dua wanita itu.

Dia terlalu benci kepada mereka karena memerankan "Naga Merah"

Dan mengganas kepada orang yang tak bersalah dosa.

Ia tentu ingin membuka kedok rahasia dari mereka.

ditambah pula orang-orang Thian seng hwee yang mau pergi ke Ciong lam san, baru mau disergapnya mendadak dirintangi oleh Chie Peng maka rasa bencinya bertambah-tambah lagi.

Ingin rasanya dia meremas-remas badan dua perempuan itu.

Sebaliknya dengan Yao lie lu wanita mengandung lain maksud lagi.

Jikalau Tan Liong dapat sekaligus membunuh dua wanita itu setidak-tidaknya dia akan merasa bangga dan saingan beratnya hilang.

Maka manakala anak muda itu mulai keluarkan serangannya yang pertama tadi, dia lantas menyingkir kesamping.

Chie Peng yang diserang mendadak oleh Tan Liong.

Kelihatannya seperti sudah terpepet benar-benar, sedikitpun tidak kelihatan balasannya.

Amarahnya segera berkobar, kepada adiknya berseru.

"Adik! Hajar Yao lie lu sampai mampus! Jangan kasih hati padanya! "

Berkata demikian badannya melejit ke samping.

Lagi-lagi dia menghindari suatu serangan dari anak muda itu, dengan sama cepat menyerobot ke samping, dari sini mengadakan serangan balasan tapi cuma mampu menyerang sampai tiga kali.

Chie Cui yang mendengar perintah encinya lantas menerjang Yao lie lu.

"Enci Tio, kau sungguh jahat! "

Demikian serunya.

Yao lie lu melihat terjangan Chie Cui terkejut juga.

Pada saat itulah serangan Chie Cui sudah meluncur keluar.

Empat orang itu terpisah menjadi dua pertandingan.

pertempuran berjalan dengan amat seru.

Dari dalam pusat perkumpulan Thian seng hwee kembali terdengar suara mengaung, beberapa bayangan orang dengan cepat sudah sampai di danau kecil itu.

Keadaan kini tidak menguntungkan Tan Liong.

Apabila pemuda ini ataupun Yao lie lu sampai kena ditangkap oleh orang-orangnya Thian seng hwee, mungkin tak ada harapan hidup bagi mereka.

Tan Liong menyapu dengan sudut matanya, wajahnya lantas berubah.

Chie Peng lalu berkata pula.

"Tan Liong! Sekarang ini kalau kau ingin pergi masih dapat dan banyak kesempatannya. Sebentar lagi barangkali kau sudah tidak bisa bergerak dan tidak akan lolos dari orang-orangnya Thian seng hwee."

Tan Liong juga mendengar perkataan yang bersifat meratap seperti minta dikasihani itu merasa tak berlebihan kata-katanya.

Tetapi agaknya pengaruh amarah yang meluap-luap tidak dapat membunuh dua wanita itu belum merasa puas.

Lantas didesaknya Chie Peng yang diserang bertubi-tubi cemas hatinya.

Dengan suara memohon berkata lagi.

"Tan Siangkong, nasib Ciong lam pay dalam tanganmu. Apa lain hari kau takut tidak mendapat kesempatan mencari aku lagi untuk membalaskan sakit hatimu kepadaku? Sekarang ini kalau tidak pergi mau tunggu apa lagi? "

Perkataan Chie Peng itu keluar dari lubuk hatinya yang masih suci.

Tan Liong yang mendengar itu, tergerak juga akhirnya.

Kini perasaan ragu mulai menyerang diotaknya.

Tapi sedetik hanya dengan sedikit gerakan ia memutar badan.

Yao lie lu yang melihat sikap Tan Liong ingin kabur, terdengar menggeram hebat.

Dengan sengit ditamparnya Chie Cui, setelah itu lantas melayangkan badannya maksudnya ingin menyusul pemuda Tan yang sudah lari jauh.

Tetapi baru badannya bergerak Chie Peng sudah membentak keras.

"Yao lie lu,"

Kemudian nampak tangannya diayun melancarkan serangan hebat.

Dia benci Yao lie lu benci kepada sifat-sifat wanita centil itu yang bagai ular beracun.

Maka serangannya juga sebentar meluncur saling susul kesemuanya mengarah bagian-bagian maut di tubuh Yao lie lu.

Selagi Yao lie lu didesak hebat oleh Chie Peng, dalam keadaan yang memuncak kepada detik-detik bahaya, mendadak Tan Liong melayang turun kesitu.

"Jika kalian berani mengganggu seujung rambutnya Yao lie lu saja, aku segera ambil jiwa kalian dua orang!"

Demikian serunya tangannya memapaki satu serangan Chie Peng.

Chie Peng terkejut begitupun adiknya ketika mendengar perkataan itu lantas tarik mundur dirinya dan urung hendak menyerang terus-terusan.

Tan Liong menyambar pinggang Yao lie lu kembali melompat menjauh.

"Nona-nona Chie, dikemudian hari Tan Liong pasti akan cari kalian untuk memperhitungkan sakit hati hari ini! "

Chie Peng dan Chie Cui tidak mengejar, dengan beralasan mendelu mengawasi bayangan pemuda Tan Liong yang memayang nona cantik sampai hilang dibalik satu tikungan gunung-gunungan.

Tiba-tiba saja seruan riuh menyadarkan lamunan mereka.

Beberapa bayangan orang kiranya telah menghadang perjalanan Tan Liong.

Chie peng memburu, begitupun adiknya.

Ketika mengetahui keadaan didepan dia menghela napas, menoleh kepada adiknya dan berkata.

"Adik, cinta itu tidak bisa dipaksa.

Kita sengaja atang kemari dengan maksud membantu dan menyingkir dari lembah ini.

Siapa tahu dia bukan cuma tidak suka dan terima budi kita, malah lantas kita dicap sebagai orang tukang jual lidah, tentu dia anggap kita yang membocorkan rahasianya.

Apa lagi Tan Liong yang memang telah benci padaku, maka kesalah pahaman itu aku rasa tidak bisa dijelaskan gampang-gampang.

Keluar kata-katanya itu sedih nadanya.

Setelah berhenti sejenak, lalu berkata pula.

"Adik, jangan terlalu sedih hatimu, kesempatan selalu terbuka bagi siapapun. Suatu waktu pasti akan datang gilirannya kita diberi kesempatan, aku akan pasti berdaya sebisa-bisanya mendapatkan untukmu."

Chie Cui nampak menegang. Sesaat dalam keadaan membisu, kemudian berkata.

"Enci, apa bisa jadi Tan Siangkong telah cintakan enci Tio?"

Cie Peng menyela.

"Tentu dia terjeblos dalam jebakan Yao lie lu.

Dia cintakan perempuan itu masih susah diduga betul atau tidak.

Mari kita melihat keadaannya, kalau dia dalam keadaan bahaya mau tidak mau harus kita berikan tenaga kita."

Chie Cui yang mendengar itu terus berkata.

"Enci, kalau benar Tan Siangkong mencintai enci Tio jangan kita bunuh perempuan itu, Tan Siangkong orangnya begitu, kalau kita benci bunuh perempuan itu tentu kau akan dibencinya. Kau pikir itu betul apa tidak? "

Chie Peng memperhatikan sikap adiknya yang masih kekanak-kanakan itu, lalu berkata setengah menghela napas.

"Adik, kau terlalu jujur ......"

Baru ditutup kata-katanya, mendadak terdengar suara orang ketawa dingin.

Tatkala Chie Peng tujukan matanya ke arah Tan Liong lantas dilihatnya Tongcu dari urusan dalam Thian seng hwee yakni Ciok Eng Cay sedang bergerak, dengan tindakan lambat-lambat menghampiri pemuda itu.

Sedang orang-orang lihai lainnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh jiwa, telah mengurung pemuda tersebut bersama-sama Yao lie lu ditengah-tengah.

Suasana panas pastikan seketika dirasakan oleh mereka, pertempuran sengit mungkin akan segera dimulai.

Ciok Eng Cay menatap Tan Liong dan Yao lie lu sejenak, lalu tersenyum getir dan berkata.

"Nona Tio, kita melakukan kau begitu apakah kurang baiknya? Mengapa kau langgar peraturan kita, dengan menempuh bahaya menolongi ketua Ciong lam pay ini? Aku kira kau sudah bosan hidup barangkali." -o0o0dw0o0o-

Jilid ke . 14 Ketawanya yang seram lantas tertampak didepan wajahnya dengan kipas besi ditangannya siap hendak menerjang dua musuh mudanya itu. Tan Liong tiba-tiba berseru keras.

"Siapa yang berani coba menerjang mati bagiannya! siapa yang buka jalan akan kubiarkan dia hidup! "

Sambil mengempit kembali badan langsingnya Yao lie lu ia menerjang satu pojokan.

Ciong Eng Cay menggeram keras, tangannya terangkat dan dari situ lantas meluncur satu serangan yang amat dahsyat.

Begitu melihat Ciok Eng Cay bergerak, tongcu bagian hukum Sun chia lompat melesat menghadang di depan perjalanan Tan Liong.

Dengan cepat satu serangan tangan kosong dilancarkan ke muka.

Kedua orang lihai kelas wahidnya Thian seng hwee itu turun tangan berterang.

Dapatlah dibayangkan betapa hebat serangan gabungan mereka.

Tan Liong sekalipun tidak mengempit Yao lie lu mungkin akan merasa kerepotan menyambuti dua serangan dari dua jurusan itu.

Sesaat Yao lie lu mendadak buka mulut.

"Tan Siangkong, lekas lepaskan aku! Kau terjang dulu mereka."

Tan Liong yang mendengar seruan itu lantas turunkan badan wanita itu.

Dengan kedua tangannya lalu menyambuti serangan dari dua Tongcu itu.

Sebentar dia bergerak, dan dapat mengadakan serangan balasan.

sedang Yao lie lu dengan dua tangan dibentangkan terus menubruk Ciok Eng Cay!

Kedua belah tangan wanita centil genit ini bergerak, sebentar saja telah keluar delapan serangan secara beruntun.

Serangan bertubi-tubi yang dikirim dari tangan-tangan halusnya Yao lie lu itu ternyata dapat membikin Ciok Eng Cay kerepotan, sama sekali tidak bisa mengadakan pembalasan.

Pada waktu itu orang-orang yang lainnya dengan berbareng lantas menyerbu Yao lie lu.

Yao lie lu diserang serentak dari segala jurusan, Tan Liong terbengong.

Tetapi tidak sempat memikirkan mengapa bukan dia yang diserbu mendadak telinganya dengar geraman dari mulut Song hun chiu.

Orang ini dengan cepat telah menyambar pergelangan tangan Yao lie lu.

Tongcu itu dengan gelarannya Song hun chiu (Tangan maut) sudah barang tentu gerakan tangannya itu ganas dan telengas bagai pembawa maut.

Yao lie lu terperanjat, seketika itu loncat melesat menyingkir dari sambaran tangan Song hun chiu tapi tangan kiri si Tangan maut itu dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam sepenuhnya sudah menyambar pula.

Dua gerakan itu hampir berbarengan cepatnya.

Sambaran tangan itu sebentar berlalu Yao lie lu tahu-tahu sudah terpental jauh keluar kalangan.

Song hun chiu setelah menjatuhkan lawannya lantas buka suara.

"Ringkus dia jangan berbuat salah! "

Tiga puluh lebih orang-orangnya Thian seng hwee setelah mendengar perintah Song hun chiu bagai mendengar titah raja saja lantas maju semua menghampiri Yao lie lu yang telah menggeletak di tanah.

Tan Liong yang menyaksikan hal itu kaget sekali.

Meskipun ada rasa benci juga kepada Yao lie lu tapi biar bagaimana perempuan itu pernah menolongnya keluar dari kamar tawanan, tentu budi besar itu tak bisa dilupakannya.

Jikalau tidak apabila Yao lie lu sampai mati oleh orang-orang itu, tentu pikirannya takkan tenang.

Maka selagi orang-orangnya menghampiri yao lie lu, Tan Liong menggeram nyaring tangannya dikerjakan mencari sasaran.

Berbareng pada saat pemuda ini melancarkan serangan serangannya itu lebih dulu telah disambarnya badan langsingnya Yao lie lu dan lantas loncat keluar kalangan.

Tan Liong maklum tidak bisa sia-siakan waktu lebih lama lagi.

Keadaan sudah terlampau gawat.

Untuk keluar dari lembah Lui in kok rasanya akan lebih sukar lagi.

Maka lantas terkilas pikiran hendak berlaku nekad.

Dengan cepat tangannya menarik keluar bom Pek lek tannya yang ternyata masih ada tak diambil orang ketika ia dimasukkan kedalam penjara air.

Orang-orang dari Thian seng hwee itu yang mengetahui sasaran mereka telah direbut orang lalu pada menyerbu penolong Yao lie lu itu riuh rendah bunyinya suara suara geraman mereka.

Tangan kosong dan senjata-senjata tajam meluncur ke badan Tan Liong dengan berbareng.

"Sambut seranganku ini!"

Ini adalah seruan Tan Liong yang melihat semua orang menghampirinya.

Dia keluarkan bentakannya itu tangan kanannya nampak terayun.

Sebuah bom Pek lek tan ketika itu lantas keluar dari tangannya yang lantas juga terbang mengarah orang banyak itu.

Kalau Tan Liong tadi keluarkan kata-kata serangan tangan, maksudnya ialah untuk mengelabui pihak lawannya.

Orang-orang Thia seng hwee itu sama sekali tidak menyangka kalau Tan Liong telah keluarkan bom Pek lek tan-nya.

Song hun chiu dan Ciok Eng Cay tidak kecewa mendapat kedudukan tinggi dalam perkumpulannya.

semula mereka tak menduga kalau pemuda itu bisa menyerang dengan bom Pek lek tannya.

Dan manakala mereka sadar akan hal itu bom Pek lek tan telah meluncur ke arah orang banyak maka lantas berseru berbareng.

"Semua lekas mudur!, Bom Pek lek tan ! "

Dan mereka lebih dahulu telah melesat meninggalkan kalangan.

Tetapi seruan mereka itu rupanya terlambat sebentar lantas terdengar suara ledakan yang amat hebat.

Bom Pek lek tan yang mempunyai kekuatan amat dahsyat itu kini meledak di dalam lembah Lui in kok.

Suara ledakan itu menggetarkan bumi di seluruh lembah tersebut.

Tanah-tanah bergerak-gerak bagai telah terjadi bencana gempa bumi.

Suara ledakan itu lantas disusul dengan suara-suara jeritan saling susul yang membuat bulu roma bisa berdiri.

Sebentar kemudian tanah dan batu serta darah dan daging manusia berceceran dan beterbangan ketengah udara.

Keadaan disitu tidak banyak bedanya dengan keadaan di gereja Siao lim sie ketika di bom Pek lek tan oleh Naga Merah tiruan.

Sungguh mengenaskan sekali!

Kutungan-kutungan kaki atau tangan tampak berserabutan kemana-mana kecuali beberapa gelintir orang yang lolos dari bencana maut.

Tiga puluh orang lebih hampir semuanya musnah dimakan bom yang amat dahsyat itu.

Pembunuhan itu merupakan suatu peristiwa berdarah besar-besaran, sebab dalam waktu sekejap Thian seng hwee telah kehilangan beberapa puluh jiwa anak buahnya.

Setelah suara ledakan sirap, yang tertinggal disitu hanya darah berceceran kutungan-kutungan kaki atau tangan, potongan kepala atau daging-daging badan yang sudah tidak utuh lagi.

Tan Liong terlihat tertawa dan puas kembali mengempit tubuh Yao lie lu dan kaburkan kakinya menuju keluar lembah.

Tiba-tiba suara yang sangat seram terdengar bagai dibelakang telinganya.

"Ciang bun jin, perbuatanmu sungguh terlalu kejam! "

Tan Liong terkejut.

Manakala kepalanya mendongak tampak disuatu tempat sejarak satu tombak lebih sedang berdiri, ayahnya ......

ketua Thian seng hwee alias Tan Ciang Bin bergelar Bong bin Sin kiam.

Wajahnya Tan Liong lantas berubah tanpa merasa lantas mundur dua langkah ......

Yao lie lu ketika melihat Bong bin Sin kiam muncul secara mendadak wajahnya berubah seketika dengan perasaan takut setengah mati ia mundur dua langkah.

Begitu pula dengan Tan Liong, ia sungguh tidak menduga bahwa dalam keadaan kritis seperti itu ayahnya bisa unjukkan diri disitu!

Bong bin Sin kiam Tan Chiang Bin dengan sorot mata dingin menyapu mayat-mayat anak buahnya yang menggeletak di tanah lalu berkata sambil ketawa dingin.

"Ciang bun jin, perbuatanmu sesungguhnya terlalu kejam! "

Pada saat itu Tongcu dari bagian hukum Song hun chiu atau si Tangan maut Khut Jit Seng, Tongcu bagian urusan dalam Ciok Eng Cay, berdua dengan berbareng melesat untuk menghalangi berlalunya Tan Liong.

Suasana kembali menjadi tegang.

Tan Liong yang menyaksikan keadaan dihadapan matanya telah mengetahui bahwa hari itu jika ia hendak keluar dari lembah Lui in kok dalam keadaan selamat, itu seperti juga orang mimpi ditengah hari bolong!

Bong bin Sin kiam berkata pula sambil ketawa dingin.

"Ciang bun jin, bagaimana kau harus membayar utang darah ini? "

Tan Liong terpaksa berlaku nekad sambil ketawa dingin ia menjawab.

"Jikalau Ciong lam pay telah terganggu sedikit saja oleh orang-orangmu, orang-orang Thian seng hwee yang akan kubinasakan barangkali bukan cuma itu saja."

Bong bin Sin kiam ketawa bergelak-gelak.

"Kematian sudah berada didepan mata dan tokh masih berani buka mulut besar."

Demikian katanya, kemudian mengawasi Khut Jit Seng dan Ciok Eng Cay berdua lalu memerintahkan kepada mereka.

"Tangkap Yao lie lu !"

Mendengar itu Yao lie lu parasnya pucat bagaikan kertas.

Khut Jit seng dan Ciok Eng Cay menyahut dengan sikapnya yang menghormat dan selagi hendak menangkap dirinya Yao lie lu, Tan Liong telah membentak dengan suara bagaikan Guntur.

"Siapa yang menganggu seujung rambutnya Yao lie lu aku akan suruh dia mampus seketika!"

Dengn sorot mata beringas ia menghadap majunya Khut Jit Seng dan Ciok Eng Cay.

Dalam keadaan yang sangat genting itu, Yao lie lu mendadak ketawa ia merasa puas karena Tan Liong mau melindungi dirinya, suatu bukti kalau pemuda itu ada mencinta padanya.

Pikirnya dalam hati, sekalipun aku mati, tidak juga tidak menyesal!

Ia ketawa sepuasnya seolah-olah dalam jiwanya sudah mendapatkan apa yang diharapkan, dan barang yang diharapkan itu sudah cukup untuk dibuat kenangan seumur hidupnya.

.....

Melihat Khut Jit Seng dan Ciok Eng Cay tidak berani maju, Bong bin Sin kiam Tan Chiang Bin lalu membentak.

"Apa kalian berani melawan perintah?"

Khu Jit Seng dan Ciok Eng Cay ketakutan lalu menjawab dengan laku sangat menghormat.

"Teecu sekalian tak berani! "

"Kalau begitu lekas tangkap dirinya Yao lie lu! "

Khut Jit Seng dan Ciok Eng Cay lalu menerjang Tan Liong dengan berbareng, sambil pentang senjata kipas besinya Ciok Eng Cay menyerang bagian tengah dari Tan Liong Serangan Ciok Eng Cay itu ada cepat sekali Tan Liong yang seolah-olah sudah kalap juga lantas sambuti dengan serangan tangan kosong.

Dan selagi mereka masih saling menyerang, Khut Jit Seng tinggalkan Tan Liong menyerang dirinya Yao lie lu.

Yao lile lu melihat sudah tidak ada lain jalan maka terpaksa berlaku nekad ia sudah ambil keputusan hendak mengadu jiwa jikalau perlu.

saambil kertak gigi, ia melawan dengan nekad, tangannya sebentar saja sudah balas menyerang sampai lima kali dan kakinya menendang tiga kali, Bong bin Sin kiam berdiri disamping dengan tidak bergerak, ia anggap tidak ada perlunya turun tangan, sebab Ciok Eng Cay dan Khut Jit seng sudah cukup untuk menghadapi Tan Liong dan Yao lie lu.

Pada saat itu, Chie Peng bersama adiknya juga sudah tiba disitu.

Chie Peng dengan matanya yang jeli melirik keadaan dalam medan pertempuran, parasnya berubah seketika dalam hati diam-diam mengeluh, Habislah ....

Tan Liong karena tidak mau dengar perkataannya sehingga terjatuh lagi dalam tangannya orang-orang Thian seng hwee.

sekarang kalau hendak keluar dari lembah Lui in kok sudah tentu semakin sulit lagi.

Selagi Chie Peng masih memikiri nasibnya Tan Liong, Chie Cui dengan perlahan menghampiri Bong bin Sin kiam, lalu unjuk hormat kepada ketuanya itu sambil berkata.

"Teecu Chie Cui disini menemui hweethio."

"Nona Chie, tak usah memakai banyak peradatan, bangunlah."

Kata ketua dari Thian seng hwee itu.

Chie Peng juga memberi hormat kepada ketuanya.

kedua saudara itu lalu berdiri disampingnya Tan Chiang Bin, matanya ditujukan kepada empat orang yang sedang bertempur sengit itu.

Pada saat itu Yao lie lu nampak sudah didesak mundur oleh Khut Jit seng sehingga tidak bisa balas menyerang sama sekali, keadaannya sangat berbahaya.

Chie Peng kerutkan alisnya, ia sedang memikirkan suatu urusan penting yang menyangkut dirinya dan diri adiknya, urusan itu juga ada hubungannya dengan dirinya Tan Liong dan mereka dikemudian hari.

Suara bentakan terdengar berulang-ulang, diantara suara bentakan itu Khut Jit Seng sudah melancarkan serangannya yang hebat sampai empat kali serangannya yang sangat hebat itu membuat dirinya Yao lie lu sempoyongan dan mundur sampai lima langkah.

Kini baru Yao lie lu tahu kalau orang she Khut dengan julukannya Tangan Maut itu benar-benar mempunyai serangan tangan yang mematikan tapi ia yang sudah mengambil keputusan nekad dengan kertak gigi telah menyerbu Khut Jit Seng lagi dan melakukan serangan pembalasan sampai tiga kali.

Jika diukur dari kepandaian dan kekuatan mereka, kepandaian dan kekuatannya Yao lie lu masih dibawahnya Khut Jit Seng, Kalau sebegitu lama Khut Jit Seng masih belum bisa merubuhkan lawannya itu disebabkan karena Yaou lie lu sudah berlaku nekad dan hendak adu jiwa.

Yao lie lu terus melawan dengan seluruh kekuatan keras lawan keras seolah-olah sudah tidak memikirkan lagi keselamatan dirinya.

Sebentar saja badannya sudah mandi keringat, napasnya sengal-sengal.

Khut Jit Seng menyaksikan itu semua sambil ketawa dingin.

Dalam hatinya sudah berpikir bahwa dalam tiga jurus lagi ia bisa merubuhkan dirinya nona yang kalap ini.

Dengan tangan kanan menggunakan tipu serangan Giam li Tiam kui, ia menotok jalan darah Ciang thay hiat atas badannya Yao lie lu.

Serangan itu bukan saja dilakukan sangat cepat, tapi juga sangat ganas.

Yao lie lu terperanjat, ia buru-buru putar tubuhnya untuk mengelakkan serangan tersebut!

Tapi .....

Baru saja Yao lie lu menyingkir dari bahaya tersebut, sudah terdengar suara bentakannya Khut Jit seng.

"Yao lie lu, coba sambuti sekali lagi serangan ini."

Perkataannya itu dibarengi oleh meluncurnya satu serangan tangan yang menuju kearah dadanya.

Ia tahu bahwa serangan sehebat itu biar bagaimana ia sudah tidak mampu mengelakkan lagi!

Ia telah mengambil keputusan hendak mengadu jiwa dengan orang she Khui itu, maka sambil membentak ia telah mendorongkan kedua tangannya ......

Begitu serangan itu meluncur keluar dari tangannya mendadak darahnya dirasakan menggolak, badannya dibikin terpental sejauh satu tombak oleh serangan Khut Jit Seng tadi, sehingga jatuh roboh ditanah dan tidak ingat orang lagi.

Tapi Khut Jit Seng sendiri juga kena tolak oleh serangan Yao lie lu tadi, hingga mulutnya menyemburkan darah jika tidak karena terlalu meremehkan lawan barangkali ia tidak sampai demikian!

Setelah menyemburkan darah dari mulutnya, badannya sempoyongan dan kemudian duduk numprah ditanah.

Tan Liong menyaksikan dirinya Yao lie lu dibikin terluka oleh Khut Jit Seng, sehingga rubuh ditanah, juga merasa kaget.

Selagi masih dalam keadaan demikian, kipas besinya Ciok Eng Cay sudah menyerang dengan gencar sampai tiga kali.

Dari jauh orang-orangnya Thian seng hwee dalam jumlah tidak sedikit, sudah pada datang menyerbu, hingga Tan Liong terkurung ditengah-tengah Chia Peng yang menyaksikan keadaan di depan matanya mendadak seperti ingat sesuatu lalu berkata kepada adiknya.

"Adik, bawa Yao lie lu ini aku mau tangkap kembali ketua Ciong lam pay itu"

Chie Cui yang mendengar perintah encinya parasnya berubah.

Dengan perasaan kaget dan terheran-heran memandang encinya tetapi mulutnya tidak berkata apa-apa.

Chie Peng dengan sikap dan paras bingung berkata gusar.

"Apa kau tidak dengar? "

Chie Cui lagaknya merasa jeri lalu bergerak dan membawa Yao lie lu yang sudah tidak ingat orang lalu kembali pula kesamping Bong bin Sin kiam.

Pada waktu Chie Cui membawa Yao lie lu Chie Peng sudah bergerak menghampiri Tan Liong.

Wanita ini lantas berkata.

"Ciang bun jin, sebaiknya kau menyerah sajalah."

Diucapkannya perkataannya itu sambil melakukan serangan sampai empat kali.

Tan Liong yang melawan Ciok Eng Cay sudah merasa kewalahan, sekarang ditambah lagi dengan Chie Peng yang kekuatannya boleh dikata seimbang dengan kekuatannya sendiri, mana sanggup dia bertahan lagi?

Tetapi dasar Tan Liong seorang keras kepala.

Tidak suka menyerah mentah-mentah, begitulah dengan suara keras membentak.

"Aku akan bunuh kau si perempuan jahanam ini lebih dulu ....."

Dan seluruh kekuatannya dikerahkan kepada kedua tangannya berbalik menyerang Chie Peng.

Tetapi, pada saat itu juga serangan Ciok Eng cay yang hebat sudah dilancarkan kearah pundak Tan Liong.

Dua musuh lihai menggencet dari depan dan belakang sebetulnya sukar bagi Tan Liong untuk memberikan perlawanan.

Tetapi pemuda agaknyapun mengerti bahwa apabila kali ini sampai kena ditangkap oleh mereka, sudah tidak ada lain jalan rupanya selain kematian.

Oleh karena beranggapan demikian, Tan Liong pikir tidak boleh ia menyerah mentah-mentah atau menantikan ajal tanpa melawan.

Seakan-akan banteng terluka, waktu itu Tan Liong mengamuk hebat.

Tepat selagi kipas besi ditangan Ciok Eng Cay menyerang belakangnya, dia lompat tinggi, sengaja tidak menyingkir atau mengelit serangan lawan, sebaliknya malah merangsek dan balas menyerang dengan tenaga sepenuhnya.

Tetapi selagi Tan Liong memutar badannya mengadakan penyerangan bahaya bagi serangan Ciok Eng cay, Chia Peng sudah membentak lagi !"

Ciang bun jin, sambut seranganku ini! "

Jari tangannya secepat kilat bergerak menotok jalan darah di badan Tan Liong.

Tan Liong diam-diam mengeluh.

Selagi mau putar tubuh lagi, ternyata sudah terlambat.

Hanya terasa sekujur badannya kesemutan, dan lantas jatuh bergelimpang ditanah.

...

Semua kelihatannya seperti samar-samar.

Kepalanya dirasakan pening .....

dunia bagaikan kiamat.

......

Chie Peng lalu berkata sambil ketawa dingin.

"Kau sesungguhnya tidak mengukur dulu kekuatanmu sendiri. Apa kiramu lembah Lui in kok ini boleh bikin sembarangan menurut sesuka hatimu? "

Perempuan ini lalu membopong Tan Liong yang telah tak berdaya, kembali kebelakang Bong bin Sin kiam, berdiri berendeng dengan adiknya.

Chie Cui menengok mengawasi encinya.

Dilihatnya paras sang kakak itu bagai masih gusar, hingga ini membuatnya pilu dan sedih hampir-hampir air matanya keluar tak tertahan.

Adik ini agaknya tahu kalau enci itu gusar benar-benar, tidak suka lepaskan Tan Liong begitu saja.

Bong bin Sin kiam Tan Ciang Bin lantas berkata sambil ketawa bergelak-gelak.

"Aku ingin lihat apa kau Ciang bun jin ini bisa lolos dari tanganku atau tidak? "

Perkataan itu agaknya mengandung perasaan gusar. Setelah berhenti sejenak, perpaling dan lalu berkata kepada Chie Peng dan Chie Cui.

"Bawa kedua orang ini ke pusat dan tutup didalam penjara air. Aku akan segera kembali kesana."

Chie Peng menyahut dengan siap menghormat.

Sambil mengempit badan si pemuda Tan Liong yang sudah pusing, lari ke pusat.

Chie Cui merasakan hatinya bagai diiris-iris tanpa dapat dicegah lagi butiran air mata akhirnya keluar juga.

Tahu ia kalau Tan Liong sudah tak ada harapan buat ditolong lagi.

Orang-orang yang ada di situ tak seorang yang melihat kalau Chie Cui sedang kucurkan air mata.

Sebabnya saat itu perempuan muda ini sudah balik badan dan mengejar encinya.

Bong bin Sin kiam mengwasi bangkai anak buahnya yang berserakan ditanah dalam keadaan tak utuh anggota badannya itu.

Dengan perasaan sedih menghela napas berat.

Dalam waktu sedetik itu bagai dia mendapat firasat suatu kejadian yang menakutkan akan menimpa dirinya.

...

Pada saat itulah dia merasa, penghidupannya terlalu hambar ......

didalam jiwanya seakan-akan kekurangan sesuatu.

Ciok Eng cay mengawasi ketuanya yang berdiri termenung itu, semula mengira kalau sang ketua itu seorang berduka hati karena kematian anak buahnya begitu banyak, dan untuk menghibur dia coba berkata dengan sikap menghormat sekali.

"Hweethio, jangan terlalu berduka biarpun anak buah Thian seng hwee yang gugur ini sangat banyak asal Yao lie lu dan ketua Ciang lam pay dihukum menurut peraturan perkumpulan tentu akan puas semua arwahnya yang gugur itu."

Bong bin Sin kiam cuma dapat ketawa getir dan jawabnya.

"Ya, akan kubakar hidup-hidup dua binatang kotor itu! "

Kemudian dia tertawa tetapi suaranya kemudian berkata lagi.

"Kuburlah baik-baik semua jenasah ini."

Anak buah Thian seng hwee yang ada di situ yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh jiwa, menjawabnya serentak dan lalu menyatukan anggota-anggota badan yang sudah tidak karuan bentuknya itu.

Pandangan itu sungguh mengerikan.

Yang mengalami sendiri adalah orang-orangnya Bong bin Sin kiam dengan disaksikan sendiri oleh ketua itu, bagaimana peristiwa kematian semua anak-anak buahnya.

Ketua ini tundukkan kepala perlahan-lahan kemudian keluar helaan napas panjang.

Satu jam kemudian, Semua bangkai yang tidak utuh itu sudah dikubur dengan baik.

Bong bin Sin kiam balik ke pusatnya dengan diiringi oleh anak-anak buahnya yang masih hidup.

Pada saat itu dari dalam ruangan pusat berkumpul Thian seng hwee tampak bertindak keluar kurang lebih dua puluh orang lebih orang-orang tua yang berdiri di kedua sisi jalan masuk dengan sikap mereka yang menghormat sekali.

Bong bin Sin kiam menyapu wajah orang-orang itu, dengan sorot matanya yang tajam kemudian memasuki ruangan dengan tindakan lebar.

Seorang tua yang rambutnya sudah putih semua dari dalam ruangan menyambut Bong bin Sin Kiam, setelah memberi hormat lalu berkata.

"Teecu The Beng dari bagian penasihat disini menjumpai Hweethio."

"Tidak usah memakai banyak peraturan."

Demikian sang ketua itu berkata hambar. The Beng setelah menghaturkan terima kasih, lalu bangkit dan berkata lagi.

"Mohon keterangan dari Hweethio, apa orang-orang kita sudah berhasil menangkap ketua Ciong lam pay dan Yao lie lu itu? "

Mendengar pertanyaan tersebut Bong bin Sin kiam bagai terkejut. Seketika menjawab.

"Sudah."

"Tetapi dimana orangnya? "

"Orangnya"

Bong bin Sin kiam benar-benar merasa heran, jelas dari peryanyaan ini yang bernada gusar.

"Apa mereka dua budak itu tidak membawa kemari ketua Ciong lam pay dan Yao lie lu? "

"Siapa? "

"Chie Peng dan adiknya."

"Tidak pernah lihat mereka."

Ketua Thian seng hwee itu lantas ketawa bergelak-gelak.

Sunguh dia tak pernah menduga kalau Chie Peng dan Chie Cui berani menolong Tan Liong dan Yao lie lu.

Tetapi kenyataan sudah terang bagai kaca mau tak mau harus mengakui semua kebenarannya.

Apabila Chie Peng dan Chie Cui tidak kandung maksud menolong Tan Liong dan Yao lie lu, sudah barang tentu keduanya tidak berlaku demikian.

Sesudah ketawa dan paham Bong bin Sin kiam lalu berkata dengan suara dingin.

"Perintah sekalian anak buah Thian seng hwee! Tutup semua pos penjagaan! Siapapun yang lihat Chie Peng dan Chie Cui, tangkap kembali dan serahkan ke pusat."

Begitu titah keluar dari mulut ketua Thian seng hwee, semua anak buahnya kembali nampak repot.

Dari pusat, dengan cara yang boleh dikata paling cepat, meyebar perintah itu ke pos-pos penjagaan supaya melarang keluar setiap orang yang ingin keluar lembah.

Apa yang diduga oleh Bong bin Sin kiam tidak salah.

Chie Pang dan Chie Chi memang betul sudah menolong serta membawa Tan Liong dan Yao lie lu kabur.

Tatkala Bong bin Sin kiam suruh Chie Peng dan Chie Cui bawa Tan Liong dan Yao lie lu kembali ke pusat mereka dengan membawa orang-orang tawanan itu, tidak langsung ke arah pusat perkumpulan, sebaliknya dari kejalan ke luar lembah Lui in kok.

Chie Cui yang masih belum menyadari pikiran kakaknya tiba-tiba terbengong, dan memanggil sang enci itu.

"Enci! "

Chie Peng lalu balik badan, dengan suara dingin berkata.

"Adik, bukankah kau mau aku menolong dia? "

Chie Cui perlihatkan perubahan air muka. Badannya yang langsing itu gemetaran sejenak kemudian setelah agak tenang bertanya.

"Apa? Apa enci benar-benar mau tolong dia? "

"Benar!

Aku mau tolong dia.

Karena kau adik, aku merasda tidak boleh tidak mesti menolong orang.

meski perbuatan kita ini bahayanya amat besar, sebab bukan cuma Thian seng hwee yang tidak mau lepaskan kita begitu saja, tapi suhu sekalipun barangkali tidak ampuni perbuatan kita."

Demikian kakak ini berkata kepalanya mengangguk angguk.

Apa yang membuat Chie Cui kaget serta ketakutan, yakni urusan tersebut bisa kejadian sampai demikian menakutkan.

Sang adik inipun tidak akan menduga kalau encinya telah merobohkan Tan Liong sebab utamanya ialah melulu untuk membawa anak muda itu pergi.

"Enci, urusan ini telah berlangsung sampai begini ...... menakutkan ......"

Demikian Chie Cui menyatakan pikirannya kepada encinya.

"Benar, urusan sudah menjadi begini menakutkan lantaran mencintai satu orang sampai kita tidak sayang korbankan jiwa.

Jika Tan Liong tidak memaafkan kita lagi, selanjutnya tidak boleh tidak aku pasti akan bunuh mati padanya."

jawabnya sang enci sambil ketawa getir.

"Dengan cara bagaimana kita bisa keluar dari lembah Lui in kok ini? "

"Ingin keluar dari lembah Lui in kok sesungguhnya ada satu soal yang amat sulit."

"Jika tidak melalui pos penjagaan kita tidak berdaya keluar dari sini."

"Benar, kita harus melalui pos penjagaan".

"Jika harus melalui pos penjagaan, orang-orang yang bertugas menjaga dipos-pos tersebut sudah tentu tidak mengijinkan kita bawa keluar Tan Liong dan Yao lie lu."

"Maka kita harus adu jiwa."

"Apa enci pikir mau ambil jalan keras? "

"Benar."

"Ini ...... mana boleh? kita menolong dan membawa Tan Liong dan Yao lie lu pergi dan merupakan suatu pelanggaran besar. Mana bisa adakan pembunuhan lagi terhadap orang yang bertugas menjaga di pos? "

"Kalau begitu kita sudah tidak perlu tolong."

Chie Cui kertak gigi berkta dengan suara perlahan.

"Menolong sudah tentu harus. Sekalipun mesti berkorban dengan nyawa, harus kita lakukan itu."

Orang perempuan apabila sekali jatuh hati kepada seorang laki-laki boleh dikata lantas melupakan segala apa, sekedar hanya untuk menuruti bisikan sang hati.

Oleh karena soal cinta kedua wanita Thian seng hwee ini tidak sayang meninggalkan perguruan dengan menempuh bahaya maut telah membawa serta Tan Liong dengan mereka keluar dari lembah Lui in kok.

Tetapi apakah perbuatan mereka nanti mendapat ganjaran sepantasnya?

Buat sekarang masih merupakan suatu tanda tanya besar.

Keika itu Chie Peng sambil ketawa getir mengangguk perlahan sebagai jawaban atas pertanyaan adiknya lalu lompat melesat melanjutkan perjalanannya keluar dari Luo in kok.

Kecerdikan dan perhitungan Chie Peng ada begitu tepat sampai seorang jago kawakan dunia Kangouw sebagai Bong bin Sin kiam Tan Ciang Bin juga kena dikelabui.

Dan setelah mengetahui kalau dirinya diselomoti ternyata sudah kelambatan sejam lebih.

Chie Peng dan Chie Cui sudah melalui tiga tempat pos penjagaan dan sudah berhasil membunuh anak buah Thian seng hwee yang terhitung lihai.

Berita kematian ini tidak lama setelah Bong bin Sin kiam keluarkan perintahnya, sudah sampai kepusat perkumpulan Thian seng hwee.

Pada saat itu Chie Peng dan Chie Cui sudah tiba dipos pertama.

Asal dapat mereka melewati pos penjagaan pertama itu bahaya bagi Tan Liong dan Yao lie lu boleh dikata sudah lenyap.kalau Chie peng dan Chie Cui dapat melalui tiga pos penjagaan, itu semata-mata disebabkan karena petugas-petugas yang menjaga diposnya masing-masing belum mendapat perintah mencegat orang-orang itu, ketua Thian seng hwee belum keluarkan titah.

Dan selagi Chie Peng dan Chie Cui sampai dipos pertama penjaga dipos tersebut yang mendapat perintah ketua tidak mengijinkan setiap orang keluar dari situ.

Chie Peng dan Chie Cui yang tidak berani sia-siakan tempo berharga mereka sebentar saja sudah berada dekat dengan tempat penjagaan terakhir yang harus mereka lalui itu.

Pos pertama itu terletak diantara dua lamping gunung.

Siapa yang sudah keluar dari pos tersebut berarti sudah berada diluar lembah Lui in kok.

Ditengan-tengah bukit antara dua lamping gunung itu, telah bersembunyi barisan penjaga dari anak buah Thian seng hwee yang terpilih betul betul kepandaiannya.

Tatkala Chie Peng tiba disuatu tempat kira-kira masih sejarak tiga tombak dari pos pertama itu, sudah dicegat satu manusia.

Chie Peng begitu lekas melihat ada orang mencegat perjalanan sudah mendapat firasat tidak baik.

Dengan cepat wanita muda ini mundur beberapa tindak ketika melihat siapa adanya orang yang ditugaskan menjaga pos pertahanan pertama yakni Giok bin Lohan sendiri.

Gion bin Lohan sebetulnya adalah anak murid golongan Budha.

Dia ini gemar sekali akan pipi licin maka itulah yang menyebabkan dia terusir dari perguruannya.

Dan oleh karena kepandaian silatnya amat tinggi maka kemudian ia telah ditarik oleh Bong bin Sin kiam dijadikan salah satu anggota terpenting di dalam perkumpulan Thian seng hwee dan kemudian ditugaskan untuk menjaga tempat yang sangat strategis itu.

Begitu melihat Chie Peng dan adiknya muncul disitu.

Giok bin Lohan lantas berkata sambil ketawa dingin.

"Nona-nona berdua datang kemari, membuat aku seorang she Ho datang kelambatan harap dimaafkan. Chie Peng lantas menjawab sambil bersenyum.

"Ho Koancu, tidak perlu merendah begitu, kami dua saudara ......"

Giok bin Lohan memotong kata-kata itu.

"Nona-nona sangat menyesal sekali. Kami sudah terima perintah dari atasan tidak mengijinkan siapa saja keluar masuk dari tempat ini."

Lantas berubah seketika paras Chie Peng.

Agaknya dia mengerti yang Bong bin Sin kiam sudah mengetahui perbutannya sudah mengeluarkan perintah untuk menutup semua pos-pos penjagaan!

tetapi ia masih berpura-pura tenang dan berkata lagi.

"Apakah perintah itu berlaku juga bagi kita orang Thian seng hwee? "

"Setidak-tidaknya dua orang yang nona-noana bawa itu mesti ditinggalkan dulu di sini."

Demikian jawab Giok bin Lohan tertawa lagi.

Chia Peng gigit bibirnya sendiri tetapi kemudian mendadak tertawa.

Dengan sikap yang dibuat-buat menatap wajah Giok bin Lohan.

Kelakuan serta pandangan mata si jelita itu telah menggoncangkan iman penjaga pos pertama ini yang memangnya adalah satu orang yang gemar paras elok.

Chie Peng yang memiliki kecantikan alam bagai bidadari dengan sendirinya apabila membuat pandangan matanya mencoba hati laki-laki benar-benar menggiurkan dan meruntuhkan Giok bin Lohan.

"Ho Koancu kita bicaralah sekarang dari hubungan persahabatan antara orang-orang perkumpulan. Apa kau tidak suka pandang mukaku dan membuatkan kecualian dalam hal ini? "

Demikian Chie Peng kembali berkata tertawa manis sekali dia waktu itu. Giok bin Lohan dengan sepasang matanya yang merah menatap Chie Peng yang ayu itu, sejenak lalu tertawa dan berkata.

"Tapi ini adalah tugas."

Chie Peng mengawasi adiknya yang saat itu kelihatannya seperti orang tak mempunyai semangat lalu kertak gigi dan mendadak bertanya.

"Seandainya aku suka mengeluarkan tanda balas jasa kebaikanmu bagaimana? "

"Tanda balas jasa ?"

Begitulah balik tanya Giok bin Lohan heran sekali dia agaknya.

"Apa kau masih belum mengerti? Tanda balas jasa atau upah atau ganjaran apa yang bisa diberikan oleh orang perempuan sebagai kami kepada orang lain jenis kelaminnya?"

Jawaban Chie Peng itu bukan cuma membuat Giok bin Lohan sekalipun Chie Cui hampir terlompat dari berdirinya. Sang adik ini lantas berseru.

"Enci, kau ....."

Saat itu dari pusat perkumpulan telah terdengar suara tanda bahaya.

Banyak anak buah Thian seng hwee sudah berlari lari menuju kepos penjagaan pertama itu.

Chie Peng yang melihat keadaan amat bahaya itu lalu mendesak Giok bin Lohan.

"Ho Koancu bagaimana? "

Kini Giok bin Lohan sebaliknya sudah dibikin tidak berdaya.

benar-benar dia hampir tidak percayai telinganya sendiri.

Mana bisa Chie Peng yang ingin menolong jiwa orang rela korbankan kehormatannya sendiri sebagai tanda jasa apabila Giok bin Lohan suka lepaskan dia?

Ini benar-benar merupakan suatu hal yang tiada seorangpun mungkin akan percaya kebenarannya.

Tetapi justeru ada orang begitu gelo.

Agaknya Chie Peng sadar akan dirinya apabila tidak berkorban dan menggunakan daya upaya tersebut bukan saja jerih payah dan usahanya akan tersia-sia belaka, sekalipun jiwanya sendiri, adiknya dan tawanan itu, pun takkan luput dari bahaya kematian.

Karena merasa berhadapan dengan jalan buntu, begitulah Chie Peng mengambil keputusannya.

Sebenarnya itu terlalu gegabah, barangkali tidak setiap gadis berani melakukan.

Perbuatan itu berarti, bukan cuma bisa menolong semua orang, dia sendiripun akan selamat.

Meskipun hal itu akan merupakan penjelasan bagi keremajaan dikemudian hari, tetapi apalah daya apabila kenyataan kejam terlalu mendesak demikian rupa?

Seorang gadis cinta kepada pria idaman tanpa sayangi hari depannya sendiri, rusak ditangan seorang pemogoran.

Ya Allah!

Di mana ada kejadian lebih kejam daripada penyerahan diri seperti itu?

Chie Peng sementara itu telah mendesak lebih keras.

"Ho Koancu, lekaslah! Kalau kau tidak sudi terima usulan ini, terpaksa aku adu jiwa denganmu! "

Giok bin Lohan sendiri sebetulnya sudah terlalu lama mengincar dua dara manis bersaudara Chie itu.

Cuma saja pernyataan yang terus terang tadi dari Chie Peng sendiri membuat hatinya terkejut bukan main dan hampir tidak percaya akan pendengarannya semdiri.

Yang paling sedih adalah Chie Cui.

Dengan air mata berlinang-linang sang adik ini coba menegur.

"Encie, apa arti perkataanmu tadi? "

Chie Peng tidak memperdulikan pertanyaan adiknya, sebaliknya mendesak lagi dengan senyumannya yang manis menggiurkan bertanya lagi.

"Ho Koancu, kau begitu kejam membiarkan kami sebagai orang-orang perempuan mendapat celaka?

kau suka atau tidak terima syaratku tadi?

Jawablah dengan sepatah kata atau dengan satu anggukan sudahlah cukup."

"Nona Chie, barangkali ini punya akal muslihatmu lagi saja."

Demikian Giok bin Lohan yang berkata sambil menyengir.

Chie Peng tersenyum menggeliat-geliatkan badannya yang ramping lalu lambat-lambat menghampiri adiknya, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat, membuka totokan jalan darah dibadan Tan Liong!

Tetapi kemudian dengan kecepatan serupa menotok darah gagu anak muda itu.

Tan Liong yang merasa telah terbuka totokannya segera siuman kembali.

Kini dia mengetahui bahwa dia sedang dalam pondongan Chie Peng.

Diam-diam terperanjat sekali dia, cuma badannya yang kala itu terasa begitu lemas, jadi tidak berdaya sama sekali.

Chie Peng dengan sikap keras berkata kepada orang dalam pondongannya.

"Tan Siangkong kau jangan kaget. Sekarang kita sudah sampai dipos penjagaan pertama di lembah ini, kalian sudah tidak akan mendapat bahaya apa-apa lagi."

Tan Liong mendengar itu berubah wajahnya seketika. Berkata dengan suara gusar.

"Siapa sudi terima pertolonganmu ......"

Tetapi perkataan itu tidak bisa keluar dari mulutnya sebab jalan darah gagunya telah tertotok orang. Sementara itu Chie Peng sudah berkata pula sambil tertawa getir.

"Tan Siangkong, janganlah kau benci aku sampai begitu, sebab kalau bukan karena perbuatanku kau dengan Yao lie lu barangkali siang-siang tadi sudah tidak bernyawa lagi."

Kembali perempuan itu tertawa sedih dan berkata lagi.

"Cuma oleh karena aku suka kau, aku tidak sayang korbankan segala apaku.

Setelah kau bisa keluar dari lembah Lui in kok ini harus segera naik ke gunung Ciong lam san.

tidak perlu kau turuti napsu hatimu, perpisahan kita hari ini selanjutnya mungkin tidak bisa dipertemukan Yang Kuasa lagi ......"

Mengeluarkan kata-kata sedemikian itu dengan air mata mengalir deras dikedua belah pipinya .....

Setiap perkataannya terdengar demikian menyayat hati akan membikin hancur luluh hati setiap orang yang mendengarkan.

Barangkali walau terbuat dari besi dan baja sekalipun hati Tan Liong manakala mendengar kata-kata sebagai ratapan itu akan pecah juga akhirnya.

Chie Cui dengan air mata berlinang-linang berkata.

"Enci."

Katanya. Suaranya sedih.

"kau kenapa begini ......"

"Adik, tidak perlu kau berduka. Asal kau bisa hidup bahagia, encimu sudah merasa puas. Adik, bukankah begitu? "

"Tapi kau toh tidak perlu sampau berbuat begitu? "

"Ya, encimu sebetulnya boleh tidak perlu berbuatseperti itu, tapi kita semuanya akan mati di lembah Lui ik kok ini kalau tidak behitu. Sekali slah hendaknya jangan mengulangi lagi. Apa mengerti kau dengan filsafat yang mengatakan begitu? "

"Tapi aku akan menderita dalam batinku seumur hidup."

"Namun harus kau lupakan semua kejadian ini. Ingat musuh besar ayah bunda kita! Di dalam dunia yang fana ini barangkali masih bisa berkumpul lagi, perlu apa kau berduka?"

Sang enci ini mencoba perlihatkan senyum manisnya sebisa bisanya lalu berkata sambil menunduk

"Tan Siangkong aku pernah kata.

Manusia hidup apa senangnya dan apa yang ditakuti bukan?

Dan apa yang perlu dijadikan kenangan adalah impian yang tidak dapat dibuktikan.

Sudah tentu ada suatu hal yang sangat menyedihkan tapi asal di kemudian hari kau tidak melupakan itu perempuan yang bernasib celaka, aku juga sudah merasa puas."

Air mata gadis itu mengalir bercucuran sampai membasahi baju Tan Liong dalam pondongannya.

Tan Liong meski tidak tahu apa yang telah dikerjakan oleh dua perempuan itu tapi dari sikap dan percakapan antara mereka dapat juga mereka raba tentu gadis itu akan melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengan keinginannya sendiri.

Chie Peng sebisa-bisa coba menindas perasaan sedih dalam hatinya berkata pula.

"Tan Siangkong, perkataanku cuma bisa sampai di sini. Jikalau dikemudian hari kau tahu perbuatanku ini apa artinya, kau juga tidak perlu susah hati, mati hidupnya Ciong lam pay biar bagaimana harus ditengok! "

Sehabis berkata diserahkannya Tan Liong kepada Chie Cui seraya berkata.

"Adik lekas pergi jangan sampai kelambatan."

"Enci ......"

Demikian Chie Cui memanggil encinya setengah mengeluh.

Itu bagai pertunjukan yang menyedihkan sekali.

Meskipun bukan perpisahan antara yang mati dengan si hidup, akan tetapi kejadian demikian jauh lebih menyedihkan dari pada perpisahan maut, Kehormatan seorang gadis akan dikorbankan setelah mereka nanti keluar dari lembah Lui in kok.

Di dalam dunia ini mana ada peristiwa yang lebih celaka selain nasib celakanya Chie Peng itu.

Sudah tentu saat-saat terakhir dimana seseorang perlu pepisahan adalah saat-saat yang paling menyedihkan.

"Adik, apa kau masih belum mau lekas pergi? "

Demikian Chie Peng berkata kepada adiknya. Chie Cui masih saja berdiri kesima. Seperti sudah hilang segala ingatannya. Chie Peng gelisah hatinya lalu berkata dengan wajah bengis.

"Apa kau mau kita semua mati konyol dalam lembah Lui in kok."

"Enci, aku tidak bisa berpisah dengan kau."

Kata Chie Cui sambil meratap nangis.

Berubah wajah Chie Peng.

dalam gemasnya sang enci ini lantas menampar pipi adiknya.

Tamparan itu membikin Chie Cui terbengong mundur dua tindak sambil mengusap-usap pipinya mengawasi enci itu dengan mata mendelong.

Chie Peng sendiri juga terbengong seketika itu berkata lagi sambil ketawa getir.

"Adik, maafkan encimu yang tidak sengaja.

Kau tahu encimu sayang sekali padamu.

Belum pernah turun tangan kepadamu harap sekali ini kau maafkan aku lekaslah pergi.

Jangan kau membuat sedih lagi hati encimu jadilah satu anak yang baik."

Chie Cui seperti seorang yang sudah kehilangan seluruh ingatannya, sebab sejak kanak-kanak ia belum pernah berpisahan dengan encinya dan sekarang oleh karena mencinta seorang laki-laki encinya telah rela mengorbankan kebahagiaan seumur hidupnya sebagai syarat supaya ia bersama kekasihnya bis alolos dari tempat berbahaya itu bagaiman ia tega meninggalkan encinya?

Tapi dunia ini memang sifatnya kejam semua kenyataan yang dihadapinya membuat ia sudah tidak bisa memilih jalan lain.

Ia harus menghadapi semua kenyataan itu dngan hati tabah maka seketika itu ia lantas kertak gigi sambil mengucurkan air matanya ia kempit dirinya Tan Liong dan Yao lie lu terpaksa meninggalkan encinya.

Hampir berbarengan pada saat itu juga Giok bin Lohan dengan kecepatan kilat juga sudah menotok jalan darahnya Chie Peng.

Giok bin Lohan juga ada seorang cerdik, jika ia tidak menotok jalan darah Chie Peng dan membiarkan Chie Peng bertiga keluar dari Lui in kok kalau nanti Chie Peng mengadakan perlawanan, ia sendiri juga tidak berdaya menghadapinya.

Chie Peng yang sudah ditotok jalan darahnya, ia mengerti bahwa nasib malang yang akan menimpa dirinya tak dapat dihindarkan lagi!.

Untung ia sendiri yang ingin berbuat demikian demi keberuntungan adiknya dan laki-laki yang dikasihinya, hingga tidak perlu merasa takut lagi.

Giok bin Lohan setelah menotok dirinya Chie Peng ia lalu kempit si nona dan dibawa kabur ke arah sebuah goa yang sepi keadaannya.

Setelah merebahkan Chie Peng di dalam goa ia balik lagi ke tempat penjagaannya.

Pada saat itu orang-orang yang dikirim dari pusat sudah pada tiba di pos penjagaan itu.

Orang-orang itu berjumlah beberapa puluh jiwa, pemimpinnya adalah Tongcu urusan dalam, Ciok Eng Cay.

Giok bin Lohan menyambut Ciok Eng Cay sembari kemudian berkata.

"Hunjuk beritahu kepada Tongcu di pusat sebetulnya ada apa?

Kenapa ketua menitahkan menutup semua pos-pos penjagaan?

Ciok Tongcu, jikalau tidak membawa surat perintah dari ketua, anak buah yang menjaga di pos ini terpaksa tidak dapat ijinkan Tongcu keluar dari sini."

Perkataan Giok bin Lohan membikin Ciok Eng Cay sangat heran.

Kalau dipikir dari ucapannya itu, Giok bin Lohan agaknya belum mengendus perkara kaburnya Chie Peng dan adiknya dengan membawa serta Tan Liong dan Yao lie lu.

Diluarnya pertanyaan itu, Giok bin Lohan bukan cuma seakan-akan telah menyatakan belum pernah lihat Chie Peng dan saudaranya tetapi seperti juga sengaja tidak mengijinkan orang lain melewati pos keluar, hingga dengan demikian dapat juga dia mengelabui segala perbuatannya di depan Ciong Eng Cay.

Ciok Eng Cay sesaat terbengong, lalu berkata.

"Apakah Ho Koancu tidak lihat ada orang melalui pos penjagaan ini? Giok bin Lohan lantas menjawab ketus.

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 15

Baca Juga: Kedele Maut Khu Lung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert