Eps 3 Naga Merah - Khu Lung
Baca online Naga Merah - Khu Lung
Cersil Naga Merah - Khu Lung.
Selagi orang banyak sedang dibikin kesima oleh kejadian tersebut, suara seperti suara setan yang menyeramkan mendadak kedengaran lagi, yang kemudian disusul oleh melayang turunnya sesosok bayangan merah, terus menerkam Tan Liong.
Mulanya bayangan merah itu sesungguhnya sangat luar biasa cepatnya.
Begitu sampai didepan Tan Liong, sudah lantas keluar serangan dari tangannya dari pemuda itu.
Tan Liong lantas sadar dari lamunannya.
Ia loncat menyingkir kesamping dalam usahanya mengelakkan serangan gelap tersebut.
Bayangan merah itu tepat pada saat Tan Liong mengelit kesamping lantas menyambar badan gadis yang memakai pakaian merah, yang sudah menggeletak terlentang ditanah, dan cepat laksana angin sudah balik kembali ke tempat jauh.
Orang baju merah yang unjukkan diri belakangan ini juga seluruh pakaiannya serba merah.
Tan Liong tidak menduga bahwa Naga Merah palsu yang kedua ini bisa turun tangan secara tiba-tiba juga lebih mengherankan lagi dia menolong Naga Merah palsu yang muncul duluan.
Ketika itu ia lantas membentak keras.
"Kemana kau?"
Berbareng dengan ditutupnya perkataannya dengan kecepatan bagaikan kilat tahu-tahu ia sudah mendekati dua Naga Merah palsu itu.
Tan Liong yang menemukan beberapa kali kejadian aneh dan yang pernah pula memakan lima butir buah sakti maka kemahirannya dalam hal mengentengi tubuh diseluruh
KANG ZUSI jagat pada dewasa itu barangkali sukar ditemukan yang keduanya.
Setelah Tan Liong melesat tadi, dengan beberapa kali enjot kaki secara beruntun-runtun ia sudah berhasil menghadang perjalanannya dua Naga Merah palsu itu.
Didepan mereka dengan suara bengis, ia membentak.
"Stop! Kalau tidak berhenti, hati-hati! akan kuambil jiwa kalian berdua!"
Bentakan Tan Liong itu ternyata memungut hasil.
Naga Merah palsu kedua yang memondong Naga Merah palsu satunya lagi yag terluka segera hentikan gerakannya.
Tan Liong ketawa menyeringai, kemudian berkata.
"Kalian sungguh berani mati! Aku tidak sangka kalian begitu berani menggunakan nama Suhu, menyamar Naga Merah. siapa kau sebetulnya? Lekas jawab!"
Naga Merah palsu kedua perdengarkan suara ketawa dinginnya yang janggal terdengarnya lalu menjawab.
"Jikalau demikian halnya, Naga Merah itu benar-benarkah suhumu?"
"Kalau ya bagaimana?"
"Sungguh beruntung bagiku, aku justru sedang mencarinya!"
"Apa dengan kepandaianmu itu kiramu pantas bertemu suhu?"
Naga Merah tiruan yang kedua itu lantas ketawa bergelak-gelak dan katanya kemudian.
"Hai, anak muda, aku disini akan beritahu padamu, orang lain boleh takut padamu. Tapi aku.. hhmm! Orang baru semacam kau tidak ada dibiji mataku! Jikalau kau tidak percaya boleh coba-cobalah! Lagi yang lain kau bagiku berani membuka rahasiaku, hutang ini harus diperhitungkan sekalian."
Tan Liong diam-diam telah mengerahkan seluruh semangatnya. Sambil ketawa hambar, ia berkata.
"Itulah jalan yang paling baik!"
Dan ia lambat-lambat menghampiri si Naga Merah palsu.
Naga Merah palsu yang kedua itu agaknya benar-benar tidak pandang mata terhadap anak muda dihadapannya itu, ketika itu hanya keluar suara dari hidungnya, dengan gerakan enak-enakan diarahnya Naga Merah yang pertama yang sedang terluka, kemudian ia berkata pula.
"Bagaimana cara kita bertanding?"
"Bertanding dengan cara bagaimana juga boleh, toh ketika ada calon-calon pendiri kuburan kemua."
"Hmm! Kau mampu?"
"Boleh dirasakan!"
Sehabis mengucapkan pertanyaan itu, Tan Liong sudah makin dekat pada Naga Merah yang datang belakangan ini. Naga Merah ini berkata pula.
"Tuan sebelum pertandingan dimulai, ada satu syarat!"
"Syarat apa?"
Tanya Tan Liong dingin.
"Jikalau kau kalah dalam pertempuran ini, selanjutnya kau tidak boleh mencampuri dalam urusanku yang bakal datang!"
"Dan kalau kau kalah, bagaimana?"
Balak mengejek si pemuda.
"Kita berdua serahkan nasib kepada Tuhan! bagaimana kesudahannya tentu Dialah yang menentukan."
"Boleh!"
"Bolehkan kita bertempur secara sopan?"
"Maksudmu?"
Tanya Tan Liong heran.
"Kau dan aku masing-masing mundur satu tombak. Dengan jarak terpisah sejauh itu kita menyerang dengan tangan kosong sekali saja. Siapa mundur lebih jauhan, dihitung kalaih. Bagaimana?" -o0o0dw0o0o-
Jilid ke . 8 TAN LIONG MENDENGAR ITU LANTAS cepat mengerjakan pikirannya.
"Apa ini bukan kau sengaja cari jalan kematianmu sendiri? Aku sudah makan lima biji buah sakti, adanya lagi bantuan ilmu tingkat tinggi dari golongan Buddha, bagaimana mampu kau menyambuti seranganku dari jarak sebegitu?"
Setelah berpikir demikian, lantas katanya.
"Pertandingan cara sopan ini baik sekali. Jikalau kita sama-sama mundur dalam jarak yang sama, selanjutnya kita boleh masing-masing mengambil jalan sendiri-sendiri, siapapuun tidak boleh mengganggu yang lain. Kalau salah seorang belum puas, boleh mencari yang lain itu untuk bertanding lagi."
"Kau tidak usah kuatir kalau bisa sendikit saja kau gerakkan badanku, kau boleh jalan sesukamu, tidak nanti aku melarang."
"Itu paling bagus. Mulut laki-laki sekali keluar katanya tidak dapat ditarik pulang."
Demikian kata si Naga Merah, lalu mundur.
Tan Liong meskipun tidak terlalu memandang kepandaian Naga Merah itu tetapi karena sudah banyak korban jiwa telah direnggutnya, maka kepandaiannya sudah barang tentu ada harganya juga.
Ketika itu ia lantas ketawa hambar dan juga mundur satu tombak.
Dengan demikian jarak antara kedua orang itu kini telah menjadi dua tombak tepat.
Dikalangan kini nampak dua bayangan manusia satu bercorak merah darah, satu berbaju kelabu yang masing-masing berdiri tegak laksana gunung.
Masing-masing saling mengawasi lawan tanpa berkedip, seluruh kekuatante tenaga kedua pihak tentu sudah disiapkan.
Tiba-tiba selagi dua orang itu masing-masing pada menlangkah mundur setombak dari kejauhan tampak datang berpuluh-puluh bayangan orang yang lantas mengambil tempat disekitar mereka.
Tan Liong mengawasi orang-orang itu dengan sorot mata tajam, diam-diam ia terperanjat, sebabnya ialah orang-orang yang baru muncul itu ternyata adalah Pek cie Taysu dari Siao lim pay dan Ceh sim Siansu beserta anak buahnya yang kesemuanya berjumlah lebih dari sepuluh jiwa.
Tak akan disangsikan kedatangan orang Siao Lim Pay ini tentu sedikit banyak ada hubungannya dengan Naga Merah yang pada beberapa hari berselang pernah mengadakan pembunuhan secara besar-besaran dengan senjata peledak milik Pek Lek cu!
Maka setelah munculnya orang-orang Siao lim pay itu suasana mendadak menjadi runyam.
Naga Merah pertama itu juga memandang orang yang baru datang dengan sorot mata tajam lalu terdengar suara ketawa dinginnya namun tidak mengatakan apapun juga.
Pek cie Taysu dan sepuluh orang lebih anak muridnya mengawasi dengan sorot mata gusar pula, semua pada berdiri disekitar si merah dan si kelabu.
Keadaan itu dapatlah dibayangkan apabila si Naga Merah yang baru muncul belakangan ini dalam pertandingan berakhir seri, oarng-orang dari Siao lim pay dan anak muridnya sudah tentu akan turun tangan dan menghantamnya.
Apa bila hal demikian betul-betul kejadian bagi "Naga Merah"
Ini, sungguh bukan merupakan sesuatu yang menguntungkan. Pada saat ini Naga Merah lantas berkata.
"Apakah sudah boleh dimulai?"
Si merah itu, semangatnya seakan-akan bangun serentak, Seluruh kekuatan tenaganya sudah tersalur pada kedua belah tangannya.
Ia mengerti tentunya bahwa dalam pertandingan kali ini besar sekali hubungannya dengan nama baik dirinya sendiri dan nama suhunya lebih lebih lagi.
Maka seketika itu jawabnya.
"Baik!! Baik!! Seakrang kita boleh mulai."
Malam yang sunyi itu kembali diliputi suasana darah panas.
Suara bentakan mendadak terdengar nyaring.
Tan Liong setelah selang sesaat mendengar seruan itu, lebih dulu melancarkan serangannya dengan dua tangannya.
Tetapi baru saja kedua tangan pemuda ini diangkat tingi-tinggi, Naga Merah juga telah mendorong dengan kedua tangannya.
Dari situ meluncur keluar angin dingin yang tajam.
Pertandingan dengan cara mengandalkan kekuatan tenaga dalam masing-masing itu, sedikitpun tak boleh menggunakan akal bulus.
Apa bila disalah satu pihak kekuatan tenaganya berkurang, segeralah akan dapat diketahui oleh para penonton siapa yang unggul dan siapa yang bakal keteter.
Kedua rupa kekuatan yang meluncur keluar dari kedua pihak yang segera beradu itu, lantas menimbulkan suara menggelegar yang amat nyaring!
Tan Liong merasa hatinya mendidih, badannya bergoyang dan tanpa sadar sudah mundur setindak.
Tatkala dilihatnya pihak lawan, wajahnya berubah pucat pasi seketika!
Naga Merah ternyata hanya tergeser setengah tindak saja.
Bukan alang kepalang kagetnya Tan Liong, kekuatan Naga Merah ini nyatanya tidak dibawah kepandaiannya sendiri.
Itulah yang menyebabkan ia berdiri terus ditengah-tengah lapangan, sekali sang lawan telah datang menghampirinya.
Hampir dekat Naga Merah itu lantas berkata dingin.
"Dalam pertandingan ini sulit dikatakan siapa menang, siapa kalah. Sejak saat dan detik ini kau carilah jalanmu sendiri, sedang aku boleh mengambil jalanku sendiri. Dikemudian hari, apabila kita saling berjumpa pula, masih perlu bertanding sekali lagi."
Setelah mengucapkan perkataannya itu, Naga Merah lantas balik lagi ditempat dimana Naga Merah yang duluan menggeletak, ia bungkukkan badan setelah memondongnya tanpa menoleh lagi kearah Tan Liong lantas ngeloyor.
Tan Liong merasa gusar, berbareng cemas pula hatinya.
Sungguh mendelu dan kesal hatinya mengapa sampai tidak berdaya menjelaskan sebab-sebabnya atau latar belakangnya kedua Naga Merah itu menyamar dan memakai nama suhunya.
Dan apa lebih dicemaskan, ia hanya dapat mengawasi berlalunya kedua orang merah itu dengan lenggang tenang.
Oleh karena tadi telah ditetapkan dengan perjanjian, tentu tak dapat ia turun tangan atau menghalangi berlalunya dua Naga Merah itu.
Tetapi pada ketika Naga Merah yang memondong Naga Merah yang terluka berlalu dari tempat tersebut lantas terdengar suara Pek Cie taysu yang mengatakan nama Buddha, kemudian bagai terbang layaknya sudah menghadang perjalanan kedua Naga Merah itu.
Begitu Pek Cie Taysu menggerakkan badan, seluruh orang-orang siao lim pay juga pada bertindak semua telah mengurung dua "Naga Merah"
Yang akan berlalu itu. Naga Merah yang sehat lantas ketawa sejenak serta katanya.
"Bagaimana? Apa kalian kawanan kepala-kepala gundul ini ingin antar jiwakah?"
"Sicu telah merenggut jiwa-jiwa enam puluh orang lebih anak murid partai kami, bagaimana harus dijelaskan lagi dengan perbuatanmu ini...?"
Pek cie taysu berkata demikian, kedua tangannya terangkat dan mulutnya lantas menyebut lagi nama Buddha.
"Ouw!! cuma karena urusan itu? Kedatangan kalian tentu untuk mengadakan perhitungan dengan kami bukan?"
Ceng sim siansu dengan wajah tak berubah lantas berkata dengan suara kasar.
"Benar! Seperti pepatah, hutang darah bayar darah. Kini kami akan menagih jiwa enam puluh jiwa lebih anak murid partai kami."
Naga Merah yang segar ini dongakkan kepala, ia ketawa terbahak-bahak, lantas katanya.
"Jikalau kalian masih ingin mencoba-coba rasanya bom Pek Lek tan boleh coba ini sekali lagi."
Perkataan itu membuat semua anak murid Siao lim pay berubah wajahnya.
Didalam tangan Naga Merah itu memang benar, entah dari mana dan kapan diambilnya, ada sebuah bom kecil mungil Pek Lek tan.
Jika pada waktu itu benar-benar bom peledak Pek lek tan itu diledakkan lagi, maka akan musnahlah anak murid Siao lim pay yang datang kesitu.
Karena itu, tidaklah mengherankan jika setelah si Naga Merah menyebut Pek lek tan, sekalian muridnya Siao lim pay tak seorang pun tak tegak bulu romanya.
Pek cie Taysu kerutkan alisnya yang putih, didalam hatinya.
"Kehebatan bom ini luar biasa, kalau sekali ini meledak lagi, tentu akan mengambil jiwa lebih banyak....Tapi Goan beng supek sudah keluarkan perintah tangkap hidup-hidup Naga Merah ini. Kalau dibiarkan terus.. dia..."
Dia rupanya tak banyak pikir lagi. Matanya terus mengawasi murid-murid Siao lim pay, sedang tanpa melihat orangnya, ia berkata.
"Naga Merah begitu tidak pandang mata pada kita, sesudah mengambil enam puluh jiwa kawan-kawan kita lebih, dosa ini tidak bisa kita antapi begitu saja. Dengar! Semua yang ingin membela keadilan, janganlah dibiarkan Naga Merah ini setapakpun melangkah keluar dari daerah sini! Untuk siapa yang tidak suka turut perintah, akan diambil tindakan berdasarkan pelanggaran terhadap perintah atasan!"
Semua anak murid Siao lim yang mendengar perkataan itu sudah bangun nyalinya, Mereka agaknya dapat memahami bahwa dengan perbuatannya, Naga Merah didepannya ini yang membom Siao lim pay pun mengakibatkan jatuhnya banyak korban manusia, membuat gereja itu mengalami bencana paling hebat dalam sejarah.
Maka jikalau tidak berhasil menangkap Naga Merah dibawa kepengadilan partai, lagi masa baiknya Siao lim pay benar-benar akan merupakan suatu kehilangan muka dan nama siao lim pay akan jatuh paling bawah sekali diantara partai-partai.
Oleh karena itulah, semua anak murid siao lim pada waktu itu tanpa memperdulikan bahwa kali ini bertindak dengan mempertaruhkan jiwa, lantas pada berdaya sebisa-bisanya untuk menangkap si Naga Merah gadungan itu.
Naga Merah yang mendengar perkataan Pek cia Taysu terhadap murid-muridnya lantas berkata sambil ketawa dingin.
"Kalau begitu, boleh kita coba-coba saja!"
Serunya.
Perkataan yang terakhir itu masih terkulum dibibirnya, bayangan merah sudah nampak melesat bagai terbang!
Baru saja badannya Naga Merah itu bergerak, Ceng sim Siansu sudah mendahului yang lain-lain turun tangan.
Dengan dibarengi suara bentakannya, badannya si hweshio yang tinggi gemuk itu sudah melesat dan menghadang perjalanannya si Naga Merah gadungan sambil melancarkan serangan tangannya.
Pada saat Ceng sim siansu melancarkan serangannya itu, Pek cia Taysu juga sudah bergerak mengirim serangan beruntun sampai dua kali.
Dua Hweshio itu merupakan tokoh-tokoh terkuat dalam golongan Siao Lim pay.
Serangannya yang demikian cepat serta hebatnya kekuatan tangan mereka dalam dunia kangouw sebetulnya jarang ada tandingannya.
Murid-murid Siao lim yang lainnya ketika menampak pek cia dan Ceng Sim para tetua mereka sudah pada turun tangan, juga lantas bergerak serentak dengan wajah beringas mereka menghadang atau menutup jalan kaburnya si Naga Merah gadungan ini.
Suasana dalam kalangan itu sangat gawat.
Sekalian anak murid Siao lim pay yang dikirim serta pada hari itu rata-ratanya merupakan tenaga-tenaga pilihan partai tersebut.
Kepandaian mereka satu sama lain hampir tidak berselisih sama sekali degan Pek cia taysu dan Ceng sim Siansu.
Ketika si "Naga Merah"
Gadungan itu diserang berbareng oleh Pek Cia dan Ceng Sim, tampak tangannya mengebut dan dengan satu gerakan yang indah dipadang tahu-tahu sudah keluar dari gerakan serangan kedua jago Siao lim tadi, sehingga serangan hebat yang datang mengenai tempat kosong.
Gerakan badan yang begitu indah dan luar biasa anehnya, mau tidak mau menggetarkan juga hati setiapa orang anak murid siao lim pay yang sengaja dikirim datang kesitu.
Dan Naga Merah itu nampak masih berdiri tegak seperti gunung tanpa memperlihatkan gerakan apapun lagi.
Pek Cie taysu dan Ceh sim siansu pada berubah wajahnya, untuk kedua kalinya mereka lambat-lambat maju menghampiri si Naga Merah yang hendak kabur itu.
Tan Liong yang turut menyaksikan keadaan disitu, coba-coba mengukur kekuatan kedua belah pihak.
Ia merasa untuk tidak turun tangan sendiri memberi bantuan bagi pihak manapun.
Maka setelah melirik pada si Naga Merah sejenak, lalu melompat melesat kembali kedalam perkampungan.
Berbarengan pada ketika Tan Liong meninggalkan tempat tersebut, Pek cie taysu dan Ceng sim Siansu telah sama-sama mengirim serangan maut mereka.
Tan Liong dalam waktu sekejap telah kembali masuk perkampungan.
Ketika matanya menyapu keadaan sekitar tempat itu, orang-orang kuat dunia kangouw yang tadinya pada menyembunyikan diri ditempat kegelapan sebagian besar sudah berlalu dengan membawa perasaan masing-masing.
Sedangkan Koan Beng dan Cu Lian masih berdiri saling belakang membelakangi.
Dengan penuh rasa kuatir mata suami istri itu nampak ditujukan kearah jauh, agaknya mereka sejak tadi berbuat demikian, seakan-akan tidak suka perpisahan dalam menanti ajal.
Tan Liong yang balik kembali ketempat tersebut tanpa merasa lalu menghela napas, ia sendiri barusan oleh karena tergoda cemburu dan benci hampir-hampir secara tak langsung menamatkan riwayat pasangan suami istri yang berbahagia ini.
Memikir hal demikian keseluruhannya kembali, dalam otaknya lain mendadak timbul rasa penyesalannya.
Apa bila pada saat itulah dapat melihat kembali wajah yang pernah dikagumi dapat hidup terus dalam keadaan berbahagia, bukankah ia sendiri juga akan turut merasa terhibur hatinya?
Manusia pada hakekatnya cinta itu bersifat memberi, sama sekali bukan dengan faham "Memiliki".
Memikir demikian, ia ketawa puas, akan tetapi apa yang diperlihatkan dalam senyumnya itu tetap ada sedikit kepedihan dihatinya.
Setelah itu ia lantas berindap-indap menghampiri Koan Beng seraya katanya setelah dekat sekali.
"Saudara Koan, Naga Merah sudah pergi!"
Koan Beng dan Cu Lian seakan-akan baru sadar daripada kekuatiran hebat mereka keduanya mengawasi keadaan sekitar rumah mereka, lalu hampir berbarengan pula bertanya, nyata-nyata keduanya bersangsi.
"Naga Merah sudah kabur?"
"Ya! dia sudah kabur!"
Koan Beng menghela napas panjang, ia lalu berkata seakan-akan sedang berkata kediri sendiri.
"Kita seolah-olah dipungut kembali jiwa kita dari lobang kubur!"
Lalu sambil memandang dengan sorot mata kagum dan penuh rasa terima kasih, lalu berkata.
"Kami suami istri malam ini tidak sampai direnggut jiwanya oleh Naga Merah adalah jasa saudara Tan. Untuk itu kami berdua, suami istri selalu mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya selanjutnya...."
Tan Liong lantas mengucapkan mencegah ucapan itu diucapkan, sedang ia sendiri lantas berkata.
"Saudara Koan, tidak usah begitu merendah. Saling membantu sesama manusia dalam bahaya adalah kewajiban bagi setiap orang kangouw. Apa yang perlu dikatakan segala ucapan syukur dan terima kasih segala? Dan bom Pek Lek tan itu sekarang harap kalian kembalikan padaku!"
Saat Koan Beng dan cu Lian lalu mengembalikan bom masing-masing ditangan mereka.
Sedang kedua biji mata Cu Lian yang merah mengembang air mata yang agaknya mengandung perasaan cinta kasih seperti dahulu, membuat Tan Liong bergetar hatinya, ucapannya yang paling belakang juga bernada agak gemetaran.
Ia memang pernah mengimpi-impi dan menanti-nantikan pada suatu hari, apabila sudah kembali ia dari perantauannya, mencari sang kekasih ini ia akan menubruk dan merangkul serta memeluk cium padanya untuk mengutarakan cinta kasihnya yang sejati...
Tetapi impian yang muluk-muluk itu sekembalinya ia dari perantauan, telah musnah semua seperti asap tertiup angin.
Dan yang lebih celaka, sekarang ini si dia yang dalam kenang-kenangannya ternyata sudah menjadi istri orang.
Mengingat itu semua perasaan sedihnya sudah tak terbendung lagi oleh kelopak matanya.
Ia tidak berani memandang wajah bekas kekasihnya itu sambil melengos menepis air atanya yang sudah mengembang.
Ia agaknya telah mengetahui bahwa dibalik pandangan mata bekas kekasihnya itu, ada apa-apa yang akan diberitahukan kepadanya....
Dengan perasaan terharu ia menghela napas panjang kemudian berkata.
"Saudara Koan, silahkan kalian berdua masuk kedalam. Malam telah larut, angin berhembus semakin dingin. Sekarang siaute ingin minta diri."
"Apa?? Saudara Tan mau pergi??"
"Ya.. siaute harus pergi!"
Berkata Tan Liong.
"Karena Naga Merah sudah pergi, urusan hari ini disini sudah selesai. Siaute sendiri karena ada urusan lain yang penting terpaksa harus pergi malam ini juga!"
"Ini mana boleh? Sepenting-pentingnya urusanmu, kau telah menolong kami sekeluarga, budimu yang sebesar gunung sampai kapan lagi bisa kami balas? Jikalau malam ini saudara Tan tidak memberi kesempatan menyatakan rasa hormat kami kepadamu, hal ini sungguh-sungguh akan membuat ganjalan hati untuk selama-lamanya."
Demikian Koan Beng berkata tertahan, bagi yang mendengarnya.
Tan Liong maklum perkataan yang diucapkan Koan Beng itu keluar dari lubuk hati yang jujur, hatinya terharu juga.
Sambil kertak gigi, otaknya terus dikerjakan.
"Apakah aku bisa terus berdiam lebih lama?"
Pikirnya "Apakah aku harus melihat dia lebih lama lagi?
Akh yang sudah biarlah sudah.
Perlu apa harus membiarkan segala hal-hal yang sudah lalu meninggalkan suatu luka parah dalam hati yang tak mungkin dapat kuhapuskan "
Oleh karena adanya pemikiran demikian Tan Liong lantas berkata, sambil geleng-gelengkan kepala dan ketawa getir.
"Maksud baikmu terpaksa hanya bisa kuterima dalam hati, aku tidak bisa merepoti kalian lebih lama!"
"Saudara Tan! Sungguh kau terlalu sekali, sedikit tidak memberi muka kepada Siaute!"
"Bukan begitu maksud Siaute, barusan siaute sudah katakan, siaute karena masih mempunyai urusan penting perlu malam ini juga membereskannya!"
Demikian Tan Liong tetap dengan pendirian semula.
"Betapapun besarnya urusanmu itu toh tidak begitu perlu diurus begitu cepat sampai malam-malam harus berangkat?"
Tan Liong mendengar perkataan Koan Beng yang terakhir ini lalu memandangnya sejenak, sedang hatinya berkata.
"Jika aku diam disini lebih lama, mungkin kejadian-kejadian lain akan datang susul percideraan hebat antara kalian suami istri juga pasti akan timbul. Padahal aku sendiri sebetulnya juga ingin berdiam lebih lama."
Pada waktu itu Cu Lian lantas menyeletuk sambil ketawa menanya.
"Tan Siauhiap, mengapa kau begitu tergesa-gesa?"
Tan Liong mengangkat muka sekilas, ditatapnya wajah bekas kekasihnya itu.
Dalam sepasang matanya yang jeli, jelas terlihat suatu permohonan yang amat sangat supaya tidak ditolaknya permintaan kali ini.
Tan Liong tundukkan kepala lagi, diam-diam bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Mengapa tidak berani berdiam lebih lama? Apa perlu aku terus malu singkirkan dari dia?"
Akan tetapi pertanyaan yang timbul dalam otaknya itu, ia sendiripun tak dapat menawabnya.
Keinginan serta akal budi dalam otaknya pada saat itu telah merupakan soal yan ruwet.
PErasaan semacam demikian bagi manusia yang pernah gagal dalam asmara, mudah sekali dapat memahami bahwa dia itu dalam waktu sekejapan saja akan berubah sikap akan menimbulkan suatu akibat yang hebat.
Akhirnya Tan Liong balas menanya.
"Apa kau menghendaki aku berdiam lebih lama?"
Pertanyaan pemuda itu membuat orang yang ditanya melengak.
Jelas sudah baginya pertanyaan Tan Liong yang ditujukan padanya itu terlalu aneh dan asing yang tidak sangka-sangkanya akan didengar oleh telinganya, hal ini membuat Cu Lian sekian lama tak mampu menjawab.
Akhirnya setelah mikir lama, Cu Lian menjawab.
"Ya, kami mengharap supaya kau suka berdiam sebagai tamu lebih lama."
Tan Liong tersenyum segan. Dengan perasaan terharu ia menggeleng-gelengkan kepala dan katanya.
"Tidak usah. Tentang hal menolong kalian tiga orang, memang merupakan suatu kewajiban mutlak bagi orang-orang kangouw. Lalu dari itu tidak ada apa-apanya yang perlu dikatakan segala. Tidak begitu dengan aku sendiri, Urusan lama masih belum dibereskan, tidak suka aku menerima urusan-urusan baru lagi. maka... maka... makanya itulah aku harus pergi."
Setelah berkata demikian, dengan nada ditandaskan pula, Tan Liong tanpa berani mencuri lihat wajah bekas kekasihnya, lantas berlalu dengan tindakan lambat-lambat.
Koan Beng lalu memburunya, serta katanya cemas.
"Mengapa saudara Tan harus membuat siaute terlalu tidak enak? Berdiamlah disini barang sejenak."
Baru selesai suaranya Koan Beng, tiba-tiba satu suara merdu menyambungi perkataannya.
"Astaga..Koan siauhiap, apa perlu kau membawa-bawa serigala masuk kedalam kamar?"
Suara yang datangnya secara tiba-tiba itu membuat Tan Liong dan Cu Lian berubah wajahnya.
Tatkala mereka mengawasi dari mana datangnya suara tadi, disitu telah berdiri si iblis wanita terkenal dalam dunia kangouw, yakni Yao lie lu yang entah berapa lama mendengar pembicaraan antara mereka.
Munculnya Yao lie lu yang secara mendadak itu betul-betul mengejutkan Tan Liong dan Cu Lian.
Meskipun Cu Lian tidak mengenal iblis wanita ini, akan tetapi ucapan iblis itu yang mengatakan mengajak serigala masuk kedalam kamar, sudah cukup mengerikan bagi pendengarannya.
Koan Beng ketika mendengar perkataannya itu, juga terperanjat.
Maka lekas-lekas balas menanya.
"Nona berkata begitu? apa..."
Yao lie lu menyeringai, selang sesaat lalu katanya.
"Kau tanya apa maksudmu? Apa tuan enggan istrimu itu..."
Belum selesai Yao lie lu berkata, mendadak kedengaran suara Tan Liong mengguntur.
"Tutup mulut!"
Dan dibarengi dengan kata-katanya, badannya sudah berada didekat Yao lie lu si iblis wanita. Yao lie lu menatap wajah Tan Liong, kemudian katanya pula.
"Perlu apa kau begitu gelisah? Perkataanku toh belum habis semua."
Tan Liong merasa dipermainkan, maka gusarnya juga sudah memuncak.
Apa bila benar-benar Yao lie lu membeberkan perhubungan antara Cu Lian dengan dirinya sendiir, betapa hebat akibatnya ia tak berani membayangkan.
Maka itulah tadi ia menggeram dan begitu mendengar lagi kata-katanya iblis wanit ini, lalu membentak pula.
"Diam! kalau kau ngaco belo tidak karuan, akan kuambil jiwamu. mengerti?"
Yao lie lu agaknya tidak perhatikan segala gertak sambal Tan Liong. Karena saat itu ia sudah berkata pula menghadap Koan Beng dengan nada dingin.
"Koan siauhiap, kau mau aku mengatakan atau tidak?"
Koan Beng orangnya cerdik sekali.
Sekali saja mendengar pertanyaan iblis wanita itu, sudah timbul kecurigaannya.
Sekarang kembali mendengar pertanyaan wanita ini, lantas bertambah-tambah kecurigaannya.
Ini juga menimbulkan pikirannya yang bukan-bukan.
"Apakah istriku pernah berhubungan dengan orang she Tan ini?"
Demikian mungkin pikirannya.
Dari sini lalu ia menghubung-hubungkan pula dengan kejadian-kejadian sebelumnya, bagaimana keadaan Tan Liong ketika pertama kali bertemu dengan Cu Lian istrinya..
betapa pula mengingat si pemuda baju kelabu yang dihormatinya itu mendadak pergi kemudian balik kembali, lalu terbayang pula ketika Tan Long berhadapan dengan Cu Lian seperti orang melamun.
Serentetan perkiraan-perkiraan ini seakan-akan air bah menjebol benaknya, memecahkan otak...
Berpikiran sapai kepada hal-hal demikian, orang she Koan ini merasakan kepalanya pening.
Akan tetapi karena ia orang yang penuh maklum, meski didalam memikir hal-hal sewaktu pertemuan dengan Tan Liong diwajahnya tidak memperlihatkan perubahan apapun, hanya mulutnya menanya dengan nada dingin pula.
"Sebetulnya ada urusan apa yang hendak nona katakan boleh saja ucapkan, apa lagi saudara Tan ini memang bukan orang luar."
Cu Lian pucat seluruh wajahnya.
Hatinya berdebaran dalam saat beberapa detik itu, roh-nya seolah-olah berpulang pergi dari badan kasarnya yang membuatnya seakan-akan otaknya tak berisi lagi.
Yao lie lu berkata sambil cengar-cengir.
"Apa kau tidak takut sahabatmu gusar?"
Koan Beng lalu balik menghadap Tan liong, kepadanya ia berkata "Aku kira saudara Tan tidak berkeberatan bukan?"
Tan Liong terpaksa kertak gigi, sudah tak dapat dikendalikan lagi berkobarnya angkara murka yang memenuhi dadanya.
Mendadak ia menggeram keras lalu tampak tangan kanannya terayun, mencari sasaran pada tubuhnya Yao lie lu.
Serangan demikian dahsyatnya dilakukan dalam waktu singkat, mendadak dan cepat pula.
Tan Liong sebetulnya sudah sangat benci sekali terhadap wanita iblis itu, dalam hatinya sudah timbul tekadnya akan mengambil jiwa iblis wanita jahat itu dalam segebrakan saja.
Semua dan apa yang sudah terjadi dirumahnya itu, membuat tuan rumah ini kini jelas dan terang segala soal-soal yang terlintas dalam otaknya itu, dikatakan tidak hanya merupakan alasan-alasan saja, sebab apabila tidak demikian mengapa Tan Liong terus senantiasa menghalangi Yao lie lu membuka mulut?
Berpikir sampai disitu, perasan jelas dan takutnya mendadak meluap-luap.
Perasaannya itu lantas mempengaruhi hebat peasaan hati dan budi pekertinya.
Tatkala dilihatnya lagi Tan Liong menyerang badannya pun sudah melayang serta menghadang didepan Yao lie lu.
Si pemuda baju kelabu sendiri melihat Koan Beng sebagai tuan rumah menghadang seperti sengaja menjadikan badannya sebagai umpan, lantas menarik cepat serangannya kembali kemudian sudah lompat mundur sejauh tiga kaki.
Koan Beng lalu berkata sambil tertawa dingin.
"Perlu apa saudara Tan bersikap sedemikian kasar melarang orang lemah berbicara? Ada urusan apa, biarlah dia katakan . Mengapa tidak boleh?"
Perkataan Koan Beng si tuan rumah itu membuat Tan Liong semakin gusar, wajahnya dari pucat menjadi biru, dadanya bergelombang turun naik, gusar sekali ia. Yao lie lu sendiri lalu berkata dingin.
"Karena dia tidak memperbolehkan aku bicara, tidak ada perlunya aku katakan lagi."
Koan Beng lalu berubah bengis wajahnya, sambil menyeringai lantas berkata.
"Saudara Tan, tidak kau ijinkan wanita lemah ini menjelaskan persoalannya?"
Pertanyaan itu langsung tepat mengenai hatinya Tan Liong.
Ia lantas bungkam tak berkata, hatinya perih bagai ditusuk jarum sakit sekali hatinya.
Bagaimana dalam keadaan serupa itu ia dapat menjawab?
Ia hanya berdiri bagai kesima lama dalam keadaan demikian, tiba-tiba kedengaran lagi suara Koan Beng yang ketawa bergelak-gelak.
Dikatakan ketawa mirip orang nangis atau lebih tepat lagi bolehlah dikatakan suara tangisannya burung hantu atau orang hutan menangis yang dapat membuat bulu roma orang yang mendengarnya mengkirik.
Cu Lian dengan wajah pucat membiru mendadak menubruk Koan beng seraya katanya.
"Engko Beng, kau kenapa?"
Koan Beng mengebaskan tangannya dan mendorong pergi badan Cu Lian yang memeluknya, lalu bentaknya dengan suara bengis.
"Enyah kau dari sini!"
Tindakan getas mendadak pula itu membuat Cu Lian kaget bukan kepalang, kepalanya seperti disambar petir, pening mundur terhuyung-huyung.
Dengan wajah penuh rasa kuatir dan takut trus dilihatnya sang suami yang agaknya seperti telah berkehendak membunuh.
Lama sekali......
Cu Lian menjerit dan menangis sekuatnya, perasaan harga diri seorang wanita telah terpukul hebat.
Setahun lebih lamanya hidup rukun dan bahagia dengan suaminya itu sampai menghasilkan putera lucu yang kecil mungil.
Selama waktu itu belum pernah dilihatnya kelakuan sekasar suaminya.
Maka betapa tidak nyeri hatinya ketika kali ini dijoroki dengan demikian dihadapan orang banyak.
Sebetulnya hatinya sedang menderita sangat, segala penderitaan dan kepahitan hatinya lantas meluap, menimbulkan marah dan geram rasa hatinya.
Tan Liong merasa hatinya seperti teriris-iris, peristiwa yang ditakutinya itu akhirnya betul juga kejadian..
Koan Beng dengan wajah bengis penuh diliputi kegusaran yang meluap-luap perlahan-lahan bertindak menghampiri Tan Liong, sedang mulutnya lantas terbuka.
"Saudara Tan."
Katanya.
"Kiranya karena adanya istriku disini maka kau datang kemari? Betul atau tidak?"
Otaknya Tan Liong pada saat itu kalau mau dikata boleh disebut kosong melompong.
Ucapannya Koan Beng situan rumah benar-benar melukai hatinya dalam sekali.
Perasaan harga dirinya juga lantas seperti direnggut orang begitu saja.
Koan Beng sesudah ketawa sepuasnya lantas berkata lagi.
"Siaute juga terlalu mempercayai orang. Anggapan siaute betul-betul saudara Tan hendak menolong keluarga jiwa kami dari bahaya maut. Tapi kiranya.... Hmmm..! begitukah kesudahannya? Tidak nyana, saudaraku yang baik dulu sudah saling mengenal, barangkali lama sekali baru memberi bantuan kepada siaute. bukankah?"
Perkataannya itu lalu disusul oleh ketawanya, kekuatannya sudah mirip orang gila.
Tan Liong tidak dapat membedakan apa yang tersimpan dalam hatinya saat itu seakan-akan hanya merasakan sang hati telah menjadi rontok...
Koan Beng mendadak putar tubuhnya dengan perlahan pula menghampiri Cu Lian, kala itu kegusarannya telah menutup pikiran warasnya.
Ia sebagai seorang cerdas sudah tidak dapat memakai otaknya lagi, pedang telah terhunus dari sarungnya, wajahnya bengis menakutkan, sorot matanya bagai menyala-nyala marong merah membara sedekatnya kepada sang istri mendadal bergetar keluar katanya.
"Adik Lian, kau dengan orang she Tan ini, pernah melakukan perhubungan macam apa? Lekas jawab!"
Pedang panjang itu dikala itu seolah-olah mengeluarkan sinar biru yang menakutkan.
Jelas pada maksud itu sudah timbul napsu membunuhnya, malah untuk merenggut jiwa istri sendiri!
Dengan terisak-isak Cu Lian lantas berkata.
"Engko Beng, kau jangan salah sangka... Engko Beng...."
"Salah sangka?.. Hahaha... salah paham... Bagaimana aku bisa salah?.. Kalau kau tidak segera buka mulut mengatakan yang sebenarnya, lihat pedang ini! Aku akan lekas mencabut nyawamu!"
Cu Lian mengkirik.. Cepat lagi katanya sambil menangis.
"Engko Beng, aku tidak sekalipun pernah melakukan segala perbuatan yang merusak dan melanggar hati nuraniku. Percayalah padaku!"
"Itulah justru karena aku terlalu mempercayaimu, kau lantas berbuat sekehendak hati, itu perbuatan yang memalukan, tahu tidak?"
Wajahnya Cu Lian mendadak berubah, Tiba-tiba seperti mendapat dorongan semangat baru karena herannya ia lantas balik menatap sang suami yang terus mengawasinya sejak tadi.
Ia tidak bisa terus membiarkan Koan Beng menghinanya.
Setelah memesut kering air mata yang membasahi kedua belah pipinya lalu berkata dengan suara nyaring.
"Aku ingin juga kau jelaskan, Semenjak kapan kau kau lihat atau dengar melakukan perbuatan yang tidak tahu malu itu!"
"Ha..ha.. itu orang she Tan sekarang masih berjogrok didepanmu, apa itu bukan kenyataan?"
Cu Lian lantas membentak bengis.
"Kau bajingan!!"
"Benar, kalau aku orang she Koan, bajingan, lantas kau sendiri tentunya bangsat. Aku memang bajingan kalau bukan tidak akan ku pakai topi hijau atas kepala ini, kau tahu?"
Koan Beng saat itu sedang berkobar hawa amarahnya, maka perkataannya juga tidak mengenal pula batas kesopanan, Perkataan yang tidak lebhi sedap didengar pada kala itu bukan tidak mungkin pula keluar dari mulutnya.
Cu Lian sekalian tidak pernah menyangka Koan Beng suami yang selamanya dicintainya itu dapat mengeluarkan kata-kata yang tidak sedap didengar itu malah terhadapnya sekali, maka sambil gertak gigi lantas gerakkan tangannya dan melayang menampar pipinya Koan Beng.
"PLOK!!"
Tamparan itu nyatanya mengenai jitu entah mengapa suami itu tidak berjaga-jaga sama sekali. Setelah ketawa terbahak-bahak lalu katanya lagi.
"Perbuatanmu ini bagus sekali..."
Berhenti ia barang sejenak lalu lantas menyambung lagi.
"Aku sekarang benar-benar maui jiwamu!"
Baru saja mengakhiri perkataannya pedangnya yang tajam berkilat sudah menyerang Cu Lian.
Suatu tragedi rumah tangga yang memilukan hati sudah akan terjadi dirumah itu kalau saja tidak lekas-lekas datang bintang penolong.
Itulah suatu bentakan keras yang datangnya secara tiba-tiba yang juga diselingi kata-katanya.
"Saudara Koan, kau kenapa menjadi kalap?"
Berbareng dengan itu, pergelangan tangan Koan Beng sudah tercekal.
Suara itu, tuan rumah mengenalnya adalah suara Tan Liong yang mengatakan, dan gerakan tangan tadi tentu pula Tan Liong pula yang melakukannya.
Ia melakukan gerakannya itu dengan sopesan tangan rupanya.
Karena saat itu jgua pedang tajam yang tercekal dalam tangan Koan Beng sudah mencelat jatuh ke lantai.
Tetapi perbuatannya itu sekalipun sudah berhasil menghindarkan malapetaka bagi Cu Lian, namun dengan sendirinyapun perasaan gusar yang lebih besar telah timbul dalam hatinya Koan Beng.
Dalam keadaan demikian itu, Koan Beng situan rumah mau mencoba lebih kuat, disangkanya Tan Liong dengan Cu Lian pernah mengadakan hubungan gelap yang tidak patut, Maka seketika itu dengan timbulnya pikiran itu, lalu tertawa bergelak-gelak.
"Tan Liong!.. Ha..ha.. bagus sekali! Kau adalah Tan Liong! Aku selamanya tak akan pernah melupakan kau pernah menolong jiwaku.. Ya.. kau pernah merupakan tuan penolongku.."
Setelah tertawa sepuas-puasnya tiba-tiba ia menyambar pedang panjangnya yang terletak ditanah, kemudia dengan senjata tajam itu, Ia membabat pinggang Tan Liong secara kalap.
Serentetan serangan telah dilakukan oleh tuan rumah ini, hal mana membuat Tan Liong mundur berkali-kali mengelitnya.
Setelah itu lalu dengan suara keras berseru.
"Saudara Koan, Tahan!! Dengar dulu penjelasanku!"
"Ha..Ha.. Penjelasan apa lagi? Kau sudah terlalu jelas bukan?"
Setelah berkata demikian, Koan Beng beruntun lagi sampai tiga kali melancarkan serangan mematikan dengan pedangnya.
Koan Beng pada kala itu telah berubah macam orang gila, Penassaran sekali ia agaknya, setiap serangannya dikelit demikian mudah, tetapi ia juga terus bertekad hendak membunuh Tan Liong dengan pedangnya.
Gerakan-gerakan ujung pedang yang berkilauan itu membuat Tan Liong tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk menangkis maka terpaksa ia main mundur dan mundur terus.
Jikalau bukan karena kepandaian Tan Liong yang dapat diatur sekehendak hati itu barangkali kalau bukan lawannya tentu ia sendiri yang akan terluka.
Dalam cemasnya Tan Liong membentak lagi.
"Stop! Saudara Koan, kau gunakanlah pikiran warasmu. Kau harus mendengar dulu penjelasanku..."
"Penjelasan? Ha..ha.. Penjelasan dibawah putusan pedang bukankah lebih indah menarik? Tidak banyak waktu yang terbuang..Ha..ha..."
Setelah itu kembali pedang berkelebatan empat kali beruntun telah meluncur pula serangan mematikan dari pihaknya tuan rumah!
Perbuatan Koan Beng yang sudah seperti orang kerasukan setna itu terpaksa dilayani Tan Liong pula.
ia sedikit banyak merasa tidak bersalah.
Diperlakukan sedemikian rupa lantas timbul pula gusarnya terhadap tuan rumah ini.
"Apa benar saudara Koan tidak sudi mendengar penjelasanku lagi?"
Katanya.
"ha..ha.. tidak perlu adu bacot!"
Dan jawaban itu kembali disusul dengan ujung pedangnya yang sudah berklebatan mengarah setiap bagian penting dari anggota badannya.
Beberapa kali Tan Liong menghindar, hampir pual dia menjadi sasaran ujung pedang situan rumah.
Ketika mendengar pernyataan Koan Beng yang terakhir itu, lalu mengambil keputusan untuk tidak banyak bicara pula dengna tuan rumah itu.
Oleh sebab karena berpikiran demikian ia lantas balas menyerang dua kali dengan tangan kosong.
Serangan itu tidak keras, hanya ditujukan kebagian pinggang lawan, maksudnya untuk meredekan amarahnya Koan Beng yang berkobar-kobar!
Siapa tahu dalam cemasnya telah ia menggunakan gerak tipu terampuhnya Jit Hoat dan Ie ya Hai hoa yang terbagus dan yang terampuh dalam ilmu silat chim Liong Cap pek sek.
Tidaklah mengherankan baru dua serangna itu meluncur keluar, lantas terdengar suara beledukan yang amat nyaring.
Koan Beng terpental badannya seperti didorong gunung yang berjalan.
Anak muda ini menjerit keras dan lantas rubuh ditanah dengan mulut menyemburkan darah!
Tan Liong kesima dan berdiri macam terpaku.
Cu Lian menjerit keras dan terus lari menubruk Koan Beng suaminya yang rubuh menggeletak ditanah.
Tan Liong pada kala itu merasa kepalanya seperti diputar-putar, otaknya serasa terbang disambar geledek.
Kepada dirinya atas penyesalannya berkata "oo Tuhan, Aku tadi sudah berbuat apa??"
Lama sekali...
Koan Beng telah dapat bergerak pula.
Ditahannya rasa nyeri dibadannya, Perlahan-lahan coba bangkat dan duduk ditanah.
Dipesutnya darah yang mengalir diujung bibirnya, kemudian dengan sedih katanya.
"Orang she Tan, perlakuan mu ini dilain waktu kita bikin perhitungan lagi."
Setelah itu didorongnya badan Cu Lian yang mendekapnya, sambil kuatkan diri sebisa-bisa tanpa mengawasi sang istri lagi, ia berjalan dengan tindakan sempoyongan.
Cu Lian lantas berseru dengan wajah yang sudah sember.
"Engko Beng, kau harus dengar keteranganku dulu!"
Tetapi yang diserukan tidak mau menoleh.
Sudah jelas dari sini, tentu dia suka mendengar sekalipun keterangan istrinya sendiri.
Tan Liong tidak menghalangi pula, ia tahu penjelasan sudah tiada berguna lagi.
Iapun maklum Koan Beng telah salah paham.
ia mengerti pula tuan rumah itu mengira ia menolong keluarga mereka itu dari cengkraman Naga Merah karena adanya Cu Lian.
Memang pada waktu dulu Cu Lian dengannya pernah mengalami suatu masa percintaan yang luar biasa manisnya.
akan tetapi hal itu terjadi sebelum Cu Lian mendirikan rumah tangga.
Maka kini tinggalkan begitu saja, ia lantas mengatakan dalam hatinya kalau Koan Beng tidak dapat membedakan mana yang benar dan mama yang salah!
Dan tat kala Tan Liong alihkan perhatiannya kepada Cu Lian, dilihatnya wanita muda itu berdiri seperti patung, kedua belah pipinya telah basah semua dengan air mata dan biji-biji matanya yang memerah karena terlalu banyak menangis, kala itu ia ini tengah mengawasi belakang punggungnya Koan Beng yang sedang berlalu.
Sangat terharu Tan Liong melihat kejadian demikian, ia tidak nyana setelah menolongi tiga jiwa kemudian membawa akibat sedemikian hebat bagi keluarga yang ditolongnya itu.
Timbulnya tragedi hebat ini semua karena gara-gara Yao Lie lu siiblis wanita.
Dan tatkala Tan Liong pun ingat hal demikian, hawa amarahnya pun bergolak-golak pula.
Dialah lagi matanya kepada wanita iblis itu, ditatapnya dalam-dalam dengan sorot mata penuh nafsu membunuh.
Lama, setelah ketawa bergelak lantas berkata bengis.
"Yao lie lu, semua kejadian dalam rumah ini adalah karena kau! Untuk ganjarnya tidak boleh tidak aku harus membunuhmu!"
Setelah itu dengan tindakan lambat-lambat, Tan Liong menghampiri Yao lie lu kemudian cepat bagaikan kilat menyerang tiga kali beruntun.
Tan Liong sudah pikir matang, takkan melepaskan Yao lie lu si iblis ini, sebab pada pikirnya apabila tidak diganggu oleh kedatangannya Yao lie lu, takkan mungkin timbul kesalah pahaman tuan rumah terhadapnya dan istrinya.
Bagaimana bisa terjadi drama yang menggenaskan tersebut kalau tidak datang bibit bencananya dari mulut mungil Yao lie lu.
Maka ia lantas mengirim serangannya, betapa hebat serangan itu sukarlah dikatakan lagi, karena gemas dibarengi rasa gusar oleh penyerangnya!
KEPANDAIAN dan kemahiran silat yang diyakini Yao lie lu pun tak dapat di pandang ringan.
Namun meski dua kali serangan yang dilancarkan itu dapat dihindarkan, tetapi serangan ketiga tak dapat dielakkannya lagi...
Maka seketika itu badannya yang kecil ramping lantas terpental ketengah udara, mulutnya menyembur darah.
Dan orangnya lantas jatuh terlentang ditanah.
Tan Liong sekali lagi kesima.
Tetapi sebentar kemudian tertawa terbahak-bahak serta kemudian lagi berkata "Yao lie lu, habis jiwamu!"
Berbareng dengan itu tangan kanannya terangkat tinggi, kembali hendak menyerang Yao lie lu.
Apa bila ini serangan Tan Liong ini tepat mengeai muka sasarannya pasti sudah akan melayang jiwa iblis wanita itu seketika.
Tetapi ketika tangan kanan Tan Liong beru terangkat, mendadak terdengar orang berseru "Perbuatan tuan sungguh terlalu kejam!"
Demikian susulan kata-katanya, Dan suara itu dibarengi dengan gulungan angin hebat yang seakan-akan mau mencaplok badan Tan Liong.
Tan Liong pun terkejut mendengar perkataan itu tadi, seketika ia menghentikan dan menarik kembali serangannya sambil mundur beberapa kaki, ketika menoleh lantas melihat didepan matanya ada berkelebatan beberapa bayangan manusia.
Ternyata sepuluh orang-orang tua telah berdiri dihadapannya.
Kesepuluh orang tua itu berlainan bentuk maupun rupanya.
Ada yang gemuk ada yang kurus.
Ada yang tinggipun tidak ketinggalkan kedapatan pula si katai.
Hanya satu yang merupakan ciri bersamaan dari kesemuanya, semua sepuluh sepuluhnya orang itu jidatnya menonjol keluar, nyata sekali dan sepasang matanya memancarkan sinar tajam laksana belati.
Kala itu Tan Liong pun belum mengetahui sepuluh orang tua tadi ada orang-orang dari golongan mana, maka lantas katanya dengan suara menyatakan kegusarannya.
"Kalian kawanan tua bangka yang mau masuk lobang kubur ini mau bikin apa. Kalau kalian campur tangan dalam urusanku dengan Yao lie lu, awas. Aku juga sekalian akan ambil jiwa-jiwa tua kalian!"
Satu antaranya dari sepuluh orang tua itu lantas ketawa bergelak-gelak dan kemudian berkata.
"Tuan sungguh takabur kata-katamu. Apa kau sangka kami orang-orang Thian seng hwee boleh diperlakukan sembarangan?"
"Tidak perduli kalian orang-orang dari Thian seng hwee atau See seng hwee semua harus menggelinding pergi dari sini! kalau membangkang aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi!"
Kesepuluh orang tua itu dengan berbaris rapi seperti diatur satu-satu, sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
Salah seorang diantaranya lantas membungkuk memberi pertolongan pada Yao lie lu yang terbaring ditanah dengan memberikan sebutir pil obat kedalam mulutnya.
Tan Liong yang menyaksikan tingkah laku orang tua itu, lantas mengambil kesimpulan kalau Yao lie lu itu tentu ada hubungan apa-apa dengan Thian seng hwee, tetapi ini juga yang membangkitkan kegusarannya.
"Taruh Yao lie lu kembali!"
Bentaknya seketika. Seorang yang berdiri paling kanan dalam barisannya lantas berkata sambil ketawa bergelak-gelak.
"Perkataanmu kau ucapkan enak sekali!"
Dengan kegusaraan yang sudah memuncak, Tan Liong berkata lagi dingin! "Kalau begitu kalian semua cari mampus!!"
Satu diantaranya lantas dengan dingin menjawab "Belum tentu, bung!"
Tan Liong biar bagaimana sudah tidak dapat menahan kegusarannya lagi. Mendadak ia berseru keras.
"Kalau begitu, kalian coba saja!"
Dan berbareng dengan bentakannya itu ia lantas lompat melesat sambil melancarkan dua serangan beruntun!
Sewaktu Tan Liong baru saja melancarkan serangannya, sepuluh orang tua membentak dengan serentak berbareng dengan itu juga sudah pada mendorong keluar tangan masing-masing, hingga kekuatan tangan dari sepuluh orang itu juga meluncur keluar seperti air gelombang yang sedang mengamuk, menerjang kearah Tan Liong.
Kekuatan tangan yang mengandung kekuatan tenaga dalam yang sanga thebat itu, betapapun tingginya kepandaian ilmu silat dan kekuatan tenaga dalam Tan Liong juga tidak akan sanggup menahan.
Maka seketika itu ia lantas melesat tinggi keatas untuk menghindarkan serangan sepuluh orang tua itu.
Ditengah udara badannya berputaran kemudian menungkik turun bagaikan burung elang yang hendak menyambar mangsanya, dua tangannya dengan berbareng melancarkan empat kali serangan.
Sepuluh orang tua itu merupakan orang-orang terkuat dalam perkumpulan Thian seng hwee, tinggi ilmu silat mereka jarang jarang tertampak didunia Kang-zsouw.
Ketika menghadapi serangan Tan Liong secara demikian lantas geser kakinya untuk mundur kemudian lantas menyambut dengan serangan tangan pula.
Kedua pihak sama-sama melancarkan serangan yang sama cepatnya.
Sepuluh orang tua itu karena jumlah orangnya ada banyak, sudah tentu kekuatannya menang diatas angin.
Pada saat itu, sesosok bayangan orang dengan tindakan lambat-lambat berjalan masuk kedalam rumah, itulah Cu Lian.
Apa yang terjadi barusan, dalam hati sanubarinya seolah-olah sudah menggores sangat dalam, biar bagaimana ia tidak dapat melupakan itu drama rumah tangganya yang sudah melukai hatinya.
Ia cinta Tan liong tapi juga cinta suaminya.
Tan Liong adalah bekas kekasihnya sejak masih sama-sama kanak-kanak, sedangkan Koan Beng adalah suaminya.
Sekarang Koan Beng sudah meninggalkan padanya dalam keadaan gusar, kesalah pahaman ini entah bagaimana harus dijelaskannya.
Soal yang paling menyedihkan bagi seorang wanita tak ada yang lebih hebat daripada kesalahan faham yang timbul dari suaminya, dalam hal ini buat Cu lian sudah tentu tidak terkecuali.
Suaminya telah timbul salah paham terhadap kesuciannya, bagaimana tidak membuat ia bersedih?
Dengan air mata berlinang ia berkata kepada diri sendiri.
"sekarang suruh aku harus bagaimana menjadi orang lagi?....."
Hatinya pilu, air mata mengalir semakin deras sehingga membasahi bajunya.
Suara bentakan terdengar amat riuh dan memekakkan telinga, tapi ia tak memandang kearahnya Tan Liong lagi, hakekatnya ia pun sudah tidak mepunyai keberanian untuk mengawasi dia lagi.
Untuk sesaat itu, Tan Liong yang dengan seorang diri melawan sepuluh orang tua itu nampaknya masih susah ditetapkan siapa sebetulnya yang lebih unggul.
walaupun ia ada mempunyai kepandaian ilmu silat yang sudah tidak ada taranya, tapi jika ingin merubuhkan lawannya itu dengan mudah juga bukan soal gampang.
Sebentar saja setengah jam sudah berlalu.
Tan Liong saat itu juga agaknya sudah sengit benar, tiba-tiba ia lompat melesat menggunakan gerak tipu Goat Long hoat cian, cepat bagaimana kilat menyerang lawannya.
Setelah meluncurnya dua serangan hebat itu lantas disusul oleh jeritan ngeri ternyata sudah ada orang yang menjadi korban.
Dalam pada itu, orang tua yang memondong dirinya Yao lie lu itu ketika melihat gelagat kurang baik, lalu membentak dengan suara keras dan tubuhnya melesat keluar.
Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian lantas menggeram.
"Kau hendak lari kemana?"
Tubuhnya lalu melesat jauh untuk mencegat lari orang tua itu, kemudian menyerang dengan tangannya.
Tubuh orang tua yang masih belum terluka, ketika melihat Tan Liong melancarkan serangan terhadap kawannya, lalu balik menerjang dan masing-masing melancarkan serangan.
Tan Liong dengan wajah penuh kegusaran tangannya merogoh kedalam saku, dari situ mengeluarkan sebuah bom Pek lek tan, kemudian membentak dengan suara bengis.
"Aku suruh kau kawanan tua bangka ini mampus semua dalam keadaan hancur lebur seperti bubur.."
Berbareng itu, bom didalam tangannya lantas disambitkan kearah orang-orang tua itu.
Kebetulan saat itu Cu Lian sudah pergi lagi dari rumahnya sambil menggendong oroknya.
Tan Liong segera gerakkan tubuhnya lompat melesat menubruk Cu Lian dengan kecepatan bagaikan kilat, kemudian dengan mengempit tubuhnya Cu Lian, ia melesat jauh meninggalkan tempat ledakan.
-o0o0dw0o0o-
Jilid ke .
9 Ia mengerti bahwa bom Pek lek tan itu kekuatannya sangat dahsyat.
kalau sudah meledak, tempat sekitarnya sepuluh tombak persegi tidak ada satu baik manusia maupun binatan atau tumbuhan yang terluput.
Maka itu, ia lantas menyingkir dirinya Cu liam dalam waktu sesingkat-singkatnya dari tempat yang berbahaya itu.
Mendadak terdengar suaranya orang tua yang membawa dirinya Yoa lie lu yang membentak dengan suara keras.
"Hei, itu ada pek lek tan"
Keluar dari mulutnya, sudah dibikin putus oleh suara menggelegar, bom Pek Lek tan yang hebat itu, untuk kesekian kalinya telah meledak dikampung sepi sunyi itu.
Api berkobar disana sini, tanah terbang berhamburan!
Suara ledakan yang begitu hebat memekakan telinga.
Akhirnya disusul suara jeritan ngeri yang bisa membuat bulu roma pada berdiri.
Lama.....
lama sekali!
Suara ledakan sudah berhenti, asap tebal perlahan-lahan mulai sirap.
Tinggal bekas dan akibat ledakan bom itu terbentang dihadapan mata, sebatang pohon tumbang dan terbakar habis daun-daunnya, sembilan diantaranya sepuluh orang tua itu semua telah menjadi korbannya bom yang dahsyat itu.
Potongan tangan dan kaki manusia berhamburan disana sini.
Keadaan itu sesungguhnya sangat mengerikan, satu orang tua yang lolos dari kematian ialah yang mengempit badannya Yao lie lu dan sedang kabur, namun juga terluka parah, didalamnya mulutnya menyemburkan darah segar.
Jikalau tidak karena ia yang mengetahui dulu mungkin ia akan mengalami nasib serupa dengan kawan-kawannya, termasuk Yao lie lu pula.
Kala itu terpaksa ia menahan rasa sakit dari luka-lukanya, setelah suara ledakan bom itu sirap, ia lantas lompat melesat dan menghilang ke tempat gelap.
Yang masih ada hanya bangkai-bangkainya itu sembilan orang tua yang sudah pada kutung kaki tangan atau kepalanya, selain dari pada itu, suasana sudah pulih kembali seperti semula, sunyi senyap, tapi kini harus ditambah dengan perkataan mengerikan.
Tan Liong yang sudah kendor hawa amarahnya, sekilas memandang wajahnya Cu Lian yang berada disampignya, ia dapat lihat bekas kekasihnya itu penuh air mata, wajahnya pucat pasi, tapi orok yang digendong digegernya, malah dengan matanya yang lebar, mengawasi Tan Liong.
Tan Liong merasa sangat terharu, dengan suara serak ia berkata.
"Adik Lian..."
Hatinya merasa pilu, air matanya hendak keluar, tapi ia tidak membiarkan air mata itu sampai keluar, ia tindas perasaannya.
Cu Lian sudah kehilangan cantiknya dimasa gadis, dan apa yang ada padanya sekarang itu hanya satu, parasnya seorang wanita muda yang muram dan patut dikasihani.
Ia angkat kepalanya memandang Tan Liong tapi pandangan mata itu nampaknya sudah tidak ada sinarnya.
Ia ingin dapatkan kembali kenangannya yang sudah hilang diwajah Tan Liong.
Atas ia merasakan bahwa wajah pemuda disampingnya itu agaknya merasa sangat asing....
Jarak antara mereka ada begitu dekat, hampir saja bisa didengar suara tarikan nafas masing-masing.
Sepintas lalu, keadaan itu agaknya seperti apa yang telah lalu mereka pada saling berpandangan, perbedaan satu-satunya ialah sang kekasih itu sekarang sudah bersuami, perkataan merdu merayu seperti yang sudah-sudah tidak terdengar lagi dari mulutnya dan sebagai gantinya adalah suara hati yang menyedihkan!
Ada suatu pepatah yang berkata, Dimusim kembang rontong berjumpa lagi dengan kau!
Cu Lian berjumpa lagi dengan bekas kekasihnya.
Tapi bukan merupakan suatu kebahagiaan melainkan suatu kesengsaraan!
Dalam keadaan demikian, sudah tentu masing-masing cuma bisa membisu, sebab segala ucapan yang dulu apa manis seperti madu kini mungkin bisa bertukar pahit seperti empedu.
Air mata seolah-olah air bah yang membobol bendungan, dengan melalui kedua pipinya membasahi bajunya....
Cu Lian menangis tapi tidak ada suaranya, menangis tanpa suara ini entah betapa lebih memilukan daripada menangis bersedu sedan.
Air mata turun seperti hujan gerimis dan itu paras yang sudah tidak asing lagi perlahan-lahan mulai samar-samar....
Akhirnya ia pejamkan matanya dengan tangannya ia memesut air mata yang agaknya sukar dibendung, kemudian dengan suara sedih katanya.
"Apakah kau engko Liong, engko Liong yang pada beberapa tahun dulu....?"
Suara itu kedengarannya sangat memilukan hati. Dengan perasaan terharu, Tan Liong anggukkan kepala,jawabnya perlahan.
"Ya! aku adalah Tan Liong yang dulu itu."
"Rasa-rasanya kita seperti mengimpi..."
"Ya. seperti dalam mimpi... antara impian dan kenyataan tidak seberapa banyak bedanya."
Cu Lian ketawa getir, kemudian katanya.
"Dan kita selanjutnya bagaimana harus berbuat...?"
"Tidak bisa apa-apa.. cuma engko Bengmu sudah pergi..."
"Sudah pergi? O.ya! dia sudah pergi. Dan kemana perginya?"
"Aku tidak tahu!"
"Kenapa dia pergi? Apa dia salah paham dan karena anggapnya diantara kita pernah terjadi hubungan yang tidak beres?"
"Barangkali begitu.."
Kembali Cu Lian ketawa getir, cuma sesekali baru ia membuka mulut pula.
"Engko Liong,"
Katanya "Apa kau masih ingat, kita waktu dulu lama sekali bukankah juga pernah bicara demikian?"
"Ya! masih ingat!"
"Tapi apa bedanya dengan sekarang?"
"Seorang gadis yang dulu cinta padaku, sekarang sudah mempunyai rumah tangga!"
"apa dia sudah berubah?"
"Ya! dia berubah, jauh sekali!"
"Apa dia itu seperti adik Lianmu yang dulu itu?"
"Dia..."
"Tidak! Maksudku apa hatinya sudah berubah?"
Tan Liong sedih dalam hati. Dengan memaksakan diri, menjawab juga.
"Ya, hatinya sudah berubah!"
Cu Lian mendadak mendongak mengawasi wajah Tan Liong, kemudian katanya.
"Apa kau masih selalu memikirkannya?"
"Ada kalanya begitu...."
"Apa benci kau padanya?"
"Antara cinta dan benci, sedikit sekali bedanya."
"Kenapa kau tidak membunuhnya saja atau membiarkan dia terbunuh?"
Tan Liong kaget.
"Bunuh dia?"
Tanyanya kaget.
"Kenapa harus kubunuh dia?"
Cu Lian ketawa sedih.
"Jikalau kau tidak lupa atau masih ingat, dia dengan kau pernah sumpah sehidup semati, ingatkah kau ketika pada masa itu kau tinggalakan pernah dia mengatakan kalau dia berubah hati atau bercabang, bersedia mati kau bunuh bukan?"
Semua kejadian yang lalu seakan tusukan pedang tajam menancap diulu hatinya Tan Liong. Darah.. darah menyesak diulu hati. Tan Liong gigit bibir dan kerutkan kening.
"Memang"
Katanya kemudian "Semula ada keinginanku membunuhnya, yakni ketika pertama aku menemuinya."
"Lalu mengapa tidak?"
"Aku tidak bisa.."
"Kenapa? Apa masih cinta kau padanya?"
Tan Liong menggeleng kepala seraya katanya.
"Tatkala untuk pertama kali aku bertemu dengan dia, benci sekali aku padanya. Semua kejadian-kejadian masa lalu tegas mengingatkan kau, kau tidak boleh membiarkan lain orang mendapatkannya. Dia pernah menjadi pendusta besar. Dia penipu dan perampas hati dan cintamu. Kau tidak bisa memaafkannya!"
Demikian semula timbul pikiran dalam hatiku!"
"Ya. kau seharusnya tidak mesti memaafkan begitu saja orang macam dia itu."
"Tapi.. akhirnya kan kumaafkan juga dia? Aku dengan matamku dapat melihat wanita yang pernah merebut hatiku hidup dalam kebahagiaan, bukankah hatiku juga sudah merasa mendapat hiburam budi pekertiku memberikan aku pengeritam, aku harus dan mesti maafkan bekas kekasihku itu biar kuberikan kelonggaran untuk mengecap kebahagiaan abadi..."
"Apa anggapmu mereka sejak dulu selalu berbahagia?"
"Dalam penglihatanku tidak salahkan kalau kukatakan bahagia."
Cu Lian menyeringai, sepintas lalu terpandang dia berseri-seri.
"Dilihat sepintas lalu memang kelihatan kami suami istri bahagia, tetapi..... dalam hatiku... ada satu bayangan setan yang selalu datang menggoda.... Itulah dia. itu orang atau memedi yang telah menempati hatiku yang seharusnya ditempati oleh Koan Beng."
"Kalau kau ingat selalu padanya, aku yakin kau tidak sampai berumah tangga dengan Koan Beng."
"Memang dalam hal ini tidak bisa kau dimenangkan. Siapapun tak dapat maafkan aku. Disini aku tidak perlu berbantahan. Semua adalah salahku. Bagaimanapun juga sang waktu berlalu cepat. waktu yang berlalu itu tak dapat ditarik kembali! Dan aku mengingat hal itu. Sedih rasa hatiku. Apa yang bisa juga kukatakan, aku tetap mengingat kepadnaya. Aku dengan segala penderitaan setiap hari siang dan malam selalu menantikannya, empat tahun sudah berlalu, tapi selama jangka waktu itu jangka dan pengorbanan hati serta kesengsaraan sudah tidak tahu berapa besarnya. aku tidak pernah lupa pada sumpah bersama yang kita ucapkan waktu dulu. Tapi akhirnya aku menyerah kalah dan desakan ayahku yang menyuruh aku kawin dengan Koan Beng... Pada mulanya anggapku aku sebisa-bisa akan menjadi seorang istri yang bijaksana, tetapi nyatanya gagal. Segala kasih sayang yang dicurahkan Koan Beng kepadalu tak pernah sekalipun menempati seluruh hatiku."
Bicara sampai disini ia menarik nafas kemudian lanjutnya.
"Jikalau malam yang sunyi itu tiba dan impian lama membayang lagi dalam otakku, aku selalu ingat pada seseorang, aku pernah mengeluarkan kata-kata pada diriku sendiri, dia kembali menengok aku membikin mati aku, sekalipun aku akan serela-relanya."
Kembali ia menelan ludah, lalu lanjutnya.
"Sampai pada saat anakku yang kesatu lahir dan aku yang bermaksud hendak memperingatkan hubungan antara kita masa lampau sengaja ku berikan nama Ie Liong pada anak pertamaku itu."
Ie Liong artinya mengenangkan Liong, maksudnya supaya dapat meringankan beban hidup menderita yang dialami Cu Lian terhadap Tan Liong.
Bicara sampai disitu, pipinya sudah basah oleh air mata.
Tetapi agaknya ia hendak tekan perasaan hatinya sebisa-bisanya dengan sedih ia berkata pula.
"Terhadapnya sesungguhnya aku sangat menyesal, aku mengerti dalam sekali cintaku padanya.
Akan tetapi apa yang harus kukatakan sekarang?
Segalanya sudah jadi begini, Tidak!
Semua perkataan itu sebetulnya tiada berguna lagi..
Yang menjadi kenyataan, biarlah bagaimana walaupun hampir bersamaa tetapi biar bagaimana, masih tetap terpisah oleh suatu jarak.
Kenang-kenangan manis yang indah, kebahagian penuh yang diharap-harapkan akhirnya hanya sbagaiimpian yang sebentar hilang tertiup awan
KANG ZUSIdan setelah itu akan buyar dan orangnya mendusin lagi, yang datang menyusul hanya suatu kehidupan atau hari-hari yang menyedihkan.
Kita selanjutnya mesti meneruskan hari-hari malang kita itu sampai hari tua.
tapi hari hari malang dan jiwa yang lambat laun akan jadi tua itu memperingatkan juga pada kita untuk selamanya harus mengenangkan hari-hari yang manis dimasa lalu, sekalipun hanya dalam kenangan atau kalaupun ada kejadian bolehlah dalam waktu sekejap saja."
Seluruh perkataan Cu Lian yang diucapkan panjang lebar, nadanya mengharukan, membuat orang yang mendengar akan mengalir air matanya pula.
Tan Liong berdiri membisu, tidak sepatah perkataanpun bisa keluar dari mulutnya.
Cu Lian menyeringai sekali lalu berkata pula.
"Kesalahan toh sudah kejadian dan kesudahannya begini rupa. Yang harus dicegah, jangan sampai kesalahan yang lebih besar timbul dalam hati kita!... Aku tahu, perkawinanku dengan Koan Beng suatu kesalahan besar. Tapi tidak bleh aku tidak ceritakan padanya, hingga kesalahan yang sudah ada akan jadi lebih besar.."
"Ya!"
Bersuara Tan Liong juga.
"Kita tidak boleh salah terus menerus..Hari-hari yang manis antara kita pada masa lampau biarlah menjadi kenang-kenangan saja selamanya dalam hati sanubari kita."
Cu Lian agaknya merasa terhibur hatinya, senyum sekarang yang nampak adalah senyuman yang wajar. Tetapi kemudian berkata pula ia bersungguh-sungguh.
"Benar kau tidak akan membunuhku?"
"Mengapa dan dengan alasan apa kau akan kubunuh? Selanjutnya bukankah kita juga bisa hidup dan mengecap yang manis-manis?"
Cu Lian bergerak-gerak bibirnya seakan-akan hendak mengutarakan sesuatu, tetapi akhirnya selalu diurungkan. Lama sekali, akhirnya baru berkata lagi.
"Jikalau sudah menjadi pendirianmu begitu, aku juga tidak ingin bicarakan soal apa-apa lagi, aku juga perlu pergi. Akan kucari Engko Beng, akan kujelaskan semua sampai terang padanya."
Setelah itu perlahan-lahan ia berjalan, Tan Liong tidak memanggilnya kembali, hanya diawasinya saja dibelakangnya bekas kekasihnya itu, yang kian lama kian menghilang dari pandangan matanya.....
Kembali terdengar suara teriakannya Cu Lian dari tempat jauh yang berkata.
"Engko Kang Liong, selanjutnya aku minta dan janganlah kau pikirkan aku. Hari-hari indah yang manis-manis itu sudah berlalu, impian yang sudah buyar tak dapat perlu lagi dicari-cari, lupakanlah semua kenangan lama......"
Kalau perkataan yang terakhir itu masuk dalam telinganya Tan Liong, bayangan Cu Lian sudah tidak kelihatan lagi, ditelan malam gelap.
Kini tinggallah Tan Liong seorang, berdiri dia menjublak bagaikan patung, sedang dalam melamunnya itu ia berakta sendiri.
"Ya, sudah lalu! Tidak guna memikirkan kenangan lama, tidak perlu memikirkan waktu yang telah lalu, boleh kuanggap sebagai impian tegang saja. Tak perlu kujadikan beban kesengsaraan hatiku dalam dan keremhan hidupku."
Karena berpikiran demikian, hatinya lalu dirasa lega sedikit.
Meskipun segala kenangan masa lampau tak terlupa semuanya, tetapi toh itu sudah dianggapnya sebagai impian yang menyegarkan saja.
Dengan pikiran limbung perlahan-lahan ia meninggalkan tempat kediaman bekas kekasihnya itu.
Dari jauh ia dengar suara bentakan ramai.
Ia lalu lompat melesat dan lari secepat terbang menuju ketempat dari mana datangnya suara itu.
Dalam waktu sekejap saja sudah sampai ditempat itu.
Apa yang disaksikan membuat hatinya berdebar-debar.
Entah saja kapan, disitu setelah terjadi pertarungan sengit lagi dengan orang-orang partai Siao lim pay dengan Naga Merah, si merah itu.
Ketika Tan Liong tiba ditempat tersebut, diantara orang-orangnya siao lim pay sudah lima orang yang tewas terkena senjata mautnya Naga Merah itu, Ceng Sim siansu sendiri rupanya terluka berat, saat itu ia sedang duduk bersila mengobati lukanya.
Ditanah ada lagi menggertak lima orang sudah menjadi bangkai yang keadaannya serta seluruh tubuhnya koyak-koyak tak karuan.
Tan Liong yang menyaksikan itu semua kejadian yang terbentang didepan mata, lantas berkobarlah semangatnya, nafsu membunuhnya timbul seketika.
Perbuatan Naga Merah itu sebetulnya terlalu dan terlalu ganas!
Sekalipun Tan Liong tidak mengetahui diantara Naga Merah palsu itu dengan siao lim pay ada permusuhan apa, tetapi ketika menyaksikan perbuatannya demikian kejam, akhirnya membuat ia panik dan naik darah.
Seketika itu juga ia lantas berseru.
"Ya Tuhan!"
Dan berbareng dengan itu orangnya pun sudah terbang melesat, tahu-tahu sudah berada didepan si Naga Merah palsu.
Suara teriakan Tan Liong tadi mengguntur seakan-akan geledek yang memekakkan setiap telinga yang mendengar.
Pek cie taysu dengan empat anak murid siao lim pay yang sedang bertempur lantas pada bergerak mundur.
Naga Merah mengawasi Tan Liong sejenak lalu membuka suara.
"Tuan ingin bertanding lagi?"
Tanyanya Tan Liong berubah wajahnya, seketika itu juga jawabnya.
"Aku cuma ingin menanya, siao lim pay dengan kau ada permusuhan apa sampai kau turun tangan begitu ganas?"
"Tentang ini bukan bagian tuan menanya."
"Kalau kau berani mengganggu seujung rambut orang-orang siao lim pay lagi, semua perjanjian kita tadi langsung jadi batal!"
"Apa kau yakin kau mampu mengendalikan kehendakku?"
"Bagaimana jadinya, kita coba-coba lagi. Tapi yang mesti kau harus berhenti turun tangan."
Sehabis berkata demikian, Tan Liong lalu menggerakkan lagi kakinya berdiri tepat di depan si Naga Merah. Pada saat itu terdengar suaranya Pek cie taysu.
"Harap sicu jangan ikut campur dalam urusan ini!"
Katanya.
"Naga Merah yang kau katakan palsu ini sudah membunuh banyak sekali anak murid siao lim kami. Dosa yang harus ditanggungnya tak bisa diampuni. Partai kami pasti akan menangkap dan mengadili Naga Merah gadungan ini.."
Naga Merah yang dikatakan Tan Liong bukan yang sebenarnya itu sewaktu mendengar perkataan Pek cie taysu lalu terbahak-bahak ketawa, katanya.
"Hweeshio, orang ini toh tidak suka usulmu."
Tan Liong merah wajahnya seketika. Dalam hati, diam-diam ia berkata.
"Pek cie taysu kalau sudah mengatakan begini, tak perlu lagi aku cari kerepotan. Siao lim pay dengan aku sendiri tak bermusuhan dan aku toh sudah urungkan niat hendak mem-bom gereja orang-orang itu. Tetapi orang yang menghajar ibuku, sepantasnya mesti kucari sampai ketemu."
Selama waktu itu, Pek cie taysu sudah mengadakan penyerangan pula.
Kedua lengan jubahnya nampak terkebut, dikebaskan kebadannya si Naga Merah dan setelah itu terus disusul dengan serangan beruntun sampai dua kali.
Turun tangannya Pek Cie taysu untuk kedua kalinya dilakukan dengan sepenuh tenaga dan kecepatannya laksana angin.
Empat sisa anak murid Siao lim pay yang masih hidup sambil menggeram serentak juga turun tangan melihat pemimpinnya bergerak sudah.
Tan Liong hanya ketawa dingin, perlahan-lahan ditinggalkannya tempat tersebut.
Tiba-tiba dari jarak kejauhan terdengar pula suara bentakan orang yang terkadang seolah-olah teriakan suara perempuan.
Tan Liong mendengar itu, dalam hati merasa terheran-heran.
Selagi baru ia hendak enjot kaki lari ketempat itu, lantas terdengar suara Naga Merah yang rupanya sedang membentak Pek cie taysu.
"Pek cie taysu...aku ada urusan lain yang penting ingin jalan dulu, sampai ketemu di lain hari.."
Setelah itu lantas benar-benar melangkah kemudian hanya bayangan merah yang kelihatan, dalam waktu sekejapan ahhh..
kemana dia perginya ditelan malam gelap.
Naga Merah itu bisa berlalu dengan cara demikian mudah dibawah kepungan lima anak murid pilihan partai Siao lim pay, kelincahannya sudah boleh dihitung dari tingkatan yang tak ada taranya.
Menghilang lenyapnya bayangan merah atas Naga Merah itu membuat Pek cie taysu penasaran, jelas dari wajahnya yang merah padam.
Karenanya sebaba tidak berhasil menawah hidup-hidup Naga Merah itu tentu saja siapapun dapat membayangkan kegusarannya.
Ditambah lagi tewasnya lima jiwa murid siao lim pay dan terlukanya Ceng sim siansu lebih-lebih menambah kemarahannya Pek cie taysu.
Tetapi apa daya?
Daya tak ada, orang yang menjadi musuh besarnya telah lolos.
Ia hanya dapat berdiri dengan gigi bercatrukan dan badan menggigil.
Sementara itu suara-suara seperti orang bertempur yang lapat-lapat terdengar juga suaranya orang perempuan, menggerakan hati Tan Liong.
Ia ini dengan kecepatan bagaikan kilat lari menuju ketempat tersebut tanpa memperdulikan nasib Pek Cie taysu.
Dalam waktu sekejapan saja ia sudah sampai ditempat darimana tadi didengarnya ada suara bentakan-bentakan.
Ketika menyaksikan apa yang terjadi, wajah Tan Liong berubah seketika.
Disitu ternyata ada lima sampai enam hweeshio yang mengepung seorang wanita.
Perempuan yang disebut ini pada ujung bibirnya tampak berdarah dan mengetel turun, rupanya ia sudah terkena entah berapa kali pukulan.
Dan ketika Tan Liong melihat wajah wanita itu, kembali terperanjat sekali dia.
Sebab wanita yang dikepung dan sudah terluka itu ternyata adalah Hoan Giok Hwa yang secara diam-diam pergi ke kelenteng Ban hui sie digunung Ngo-bie san dengan maksud hendak mencari Soat som yang sudah ribuan tahun umurya.
Jikalau Tan Liong menduga tidak salah, kelima orang hweeshio itu tentu juga adalah muridnya orang-orang dari gunung Ngo bie san.
Pada ketika itu Tan Liong sudah mendengar suara seorang pengepung wanita itu membentak lagi dengan suaranya yang keras.
"Budak hina, Kali ini akan kuantarkan jiwamu pulang ke akhirat!"
Ternyata yang membentak tadi adalah seorang hweeshio gemuk besar.
Badannya yang begitu gemuk, badannya yang begitu besar, tidak mengurai kecepatan dan kelincahannya.
Sebentar saja mencelat dan seakan-akan sedang menerkam, mencengkram Hoan Giok Hoa.
Orang yang diserang kali ini rupanya tak berdaya lagi, mulutnya menyemburkan darah!
Tan Liong terkejut sekali.
Lantas dia menggeram serta terus menerjang kearah lima Hweshio itu sambil membentak.
"Kawanan kepala gundul! kira-kira sedikit kau turun tangan!"
Ucapannya ini disusul dengan satu serangan angin dahsyat yang mendorong rombongan lima orang hweeshio mundur.
Dorongan angin serangan Tan Liong yang mendadak itu membuat kawanan hwesio cari Ngo bie pay pada kaget.
Mereka lantas mengawasi Tan Liong dengan mata melotot.
Dan tatkala mereka mengetahui siapa yang datang, salah seorang diantaranya, orang yang berperawakan besar gendut, dengan wajah beringas "Hai, bocah!
Anak siapa kau?
Mau apa kau ikut-ikutan?"
Seorang lagi lantas berseru.
"Apa kau mau jadi pembelanya?"
"Kalian berlima semua adalah murid-murid golongan Buddha, Perbuatan kalian yang berniat menumpas seorang wanita lemah, kau katakan keterlaluan atau tidak?"
Perkataan berupa jawaban yang mengejek itu membuat kelima hweeshio itu melongo, sampai merah wajah mereka semua.
Tetapi si hweeshio gendut itu agaknya tidak mau pusingi itu semua, dengan tatap beringas ia berkata dingin.
"Sungguh tidak nyana, bocah kemaren sore seperti kau sudah bisa mengajar orang yang sudah setua Hudyamu! Kalau kau ingin tahu budak hina ini bukan cuma tidak pandang mata partai kami, juga sudah berani mati curi soat som berumur ribuan tahun milik partai kami. Kau katakan sekarang itu, pantas atau tidak? Kami harus membunuhnya, kalau kau ikut campur dalam urusan ini akan kutamatkan riwayatmu sekalian. Mengerti?!!"
Sehabis berkata dengan tindakan perlahan dihampirinya si pemuda. Tan Liong hanya ganda ketawa kemudian berkata.
"Hweeshio kepala gundul, sebatang Soat som perlukah sampai membuat kau ingin merengut jiwa seorang wanita?"
Sekali lagi katanya.
"Apa sebatang soat som itu senilai harganya dengan jiwa manusia seorang?"
"Budak hina itu terlalu menghina, Karena itu kami tak sudi melepaskannya begitu saja. kau tutup mulut!"
Tan Liong dongakkan kepala dan lantas ketawa terbahak-bahak! Kemudian lagi baru berkata menegaskan.
"Siapa saja asal berani turun tangan dia paling dulu harus merasakan pukulanku ini!"
Ebook by .
Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com Sambil berkata demikian, Tan Liong mengepalkan tangannya.
Dan sambil mengawasi terus gerak-gerik kelima hweeshio itu, perlahan-lahan ia bertindak menjauhi mereka.
Pikirkan apabila ada seorang saja diantara kelima orang hweeshio itu turun tangan lagi menyerang Hoan Giok hoa, ia akan segera turun tangan menghajar lebih dulu.
Suasana malam disitu tegang, hweeshio gemuk dengan lagak sombong berkata.
"Kami justru ingin mencoba!"
Setelah itu lantas badannya melesat balik menyerang Hoan Giok Hoa! Akan tetapi baru saja hweeshio gemuk itu bergerak ditengah udara, Tan Liong dengan suaranya yang keras mengguntur sudah membentak.
"Kau cari mampus!"
Berbareng dengan itu, badannya juga bergerak, tangan kanannya terayun dan menyerang si hweeshio gemuk itu.
Serangan Tan Liong itu dilakukan secepat kilat.
Selagi serangan hweeshio gemuk itu meluncur, serangan tangan Tan Liong yang mengandung angin hebat juga sudah meluncur keluar.
Hweeshio gemuk itu sama skeali tidak pernah menduga kalau Tan Liong yang masih muda gesitnya demikian rupa.
Kala itu hatinya ciut ketakutan.
Dengan cepat ditarik pulang tangannya, sedangkan tubuhnya sudah melompat kesamping.
Akan tetapi serangan Tan Liong terayun lebih cepat.
Sebelum hweeshio gemuk itu dapat menyingkir, tangan kiri Tan Liong sudah menyusulnya satu serangan yang dibarengi dengan bentakannya.
"Kepala gundul, sambutlah!!"
Belum habis perkataannya, badan hweeshio gemuk gundul itu sudah dibikin terbang terkena serangan anginnya Tan Liong untuk mudah jatuh meloso ditanah!
Empat hweeshio yang lain ketika menyaksikan kawannya sudah rubuh oleh pemuda itu dalam tempo yang tidak makan waktu dia jurus sudah menjadi ketakutan.
Dengan beringas Tan Liong mengawasi kawanan hweeshio itu kemudia berkata dengan suara dingin.
"Siapa tidak takut mati, boleh coba-coba maju lagi!"
Tetapi keempat hweeshio Ngo bie pay itu tidak seorangpun ada yang berani bergerak.
Kekuatan serta kelincahan Tan Liong benar-benar menghancurkan semangat bertempur mereka.
Tan Liong yang sudah agak tenang berkata pula.
"Kalau sudah takut lantas enyah dari sini! Sekali lagi kuberitahukan, apabila sekali lagi kulihat ada kejadian apa-apa atas diri nona ini, aku pasti bikin rata sarang kalian digunung Ngo bie san!"
Seorang hweeshio kurus kecil yang berdiri dipaling kanan lantas menanya dengan suara dingin.
"Siao sicu, harap tinggalkan namamu yang mulia. Rekening malam ini pasti kami anak Ngo bie pay akan perhitungan atas dirimu."
"Aku bernama Tan Liong. enyahlah!"
Jawabnya Tan Liong sambil ketawa bergelak-gelak.
Empat hweeshio itu saling memberi isyarat, satu diantarnya lantas menyambar tubuhnya itu hweeshio gemuk yang terluka lantas meninggalkan tempat tersebut, sebentar kemudian sudah menghilang ditempat gelap.
Tan Liong berjongkok memeriksa dirinya Hoan Giok Hoa yang terluka dan jatuh pingsan ditanah, hatinya merasa perih.
Untuk kepentingan dirinya gadis ini dengan tanpa menghiraukan dirinya sendiri, diam-diam sudah pergi ke gunung Ngo bie san untuk mencuri Soat som yang usianya sudah ribuan tahun, perbuatan dan pengorbanan yang begitu agung, bagaimana tidak membuat Tan Liong merasa bersedih dan bersyukur?
Tidak perlu disangkal lagi, bahwa Hoan Giok hoa memang benar-benar menyintai Tan Liong.
Tapi ia mana tahu bahwa Tan Liong ada seorang pemuda yang sudah pernah terluka hatinya karena gagal dalam percintaannya, maka sekarang ia tidak berani gampang main-main lagi dengan api asmara.
Didalam keadaan demikian apakah cintanya Hoan Giok Hoa nanti akan berakhir dengan suatu kebahagiaan?
Sudah tentu semua ini tidak dapat diramalkan oleh orang luar!
Tan Liong yang menyaksikan keadaannya Hoan Giok Hoa diam-diam menghela napas, kemudian dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, ia coba menurut tiga jalan darah penting ditubuh si nona.
Pengobatan cara demikian telah menggunakan waktu hampir dua jam, dan ketika Hoan Giok Hoa siuman kembali, matahari ternyata sudah naik tinggi.
Kedua pipinya Hoan Giok hoa perlahan-lahan sudah kelihatan merah, ia membuka matanya mengawasi Tan Liong yang berjongkok disisinya, lalu menanya dengan perasaan agak sangsi "Engko Liong,apakah kita ketemu didunia ini?"
"Aku belum mati!"
Matanya Hoan Giok hoa yang redupnya memperlihatkan sikap kebingungan lama sekali baru dapat berkata sambil tersenyum.
"Sekarang aku tahu engko Liong tentu kau yang menolongku bukan?"
"Ya, aku yang menolongmu, mengapa kau diam-diam pergi kegunung Ngo bie san?"
Demikian Tan Liong dengan sahutannya ia lantas disambungi pertanyaan.
"Engko Liong, aku pergi toh guna kepandaianmu."
Kata lagi Hoan Giok hoa.
"Aku tahu, oleh karena aku, kau mau melakukan pencurian Soat som. Kalau setindak saja aku terlambat datang tadi, bukankah perbuatanmu itu akan membuat aku menyesal tak habisnya. Dengan cara begitu kau tidak langsung membikin hidupku tidak enak selalu."
"Jikalau kau bisa tahu kematianku karenamu sudah puas hatiku. Apalagi yang harus dibuat jadi pikiran? Engko Liong dengan tidak sengaja karena perbuatanku aku melukai kau, Atas itu sudikah kau maafkan aku?"
"Tentu aku tidak gusar. Juga aku sedia memaafkan."
"Engko Liong, kau baik sekali!"
Diwajahnya nona itu sekilas tampak senyum ayu disertai pula dengan ketawanya yang masih bersih tak bernoda.
Tidak!
Seharusnya lebih mirip kalau dikatakan setangkai bunga tulip yang sedang mekar!
Tan Liong berdebaran hatinya tidak berani ia memandang terlalu lama pada paras cantik yang menggiurkan itu, perlahan-lahan ia lalu menunduk.
Hoan Giok Hoa memasukkan tangannya kedalam saku, sebentar kemudian dari dalam lantas keluar sebatang Soat som sepanjang satu lahan lebih yang lantas diangsurkan kepada Tan Liong secara, katanya.
"Engko Liong, meski aku harus menderita luka-luka yang tak berarti ini, tapi aku berhasil juga mendapatkan soat som yang umurnya ribuan tahun ini. Sekarang kau makanlah!"
Memandang sebatang Soat som itu, Tan Liong merasa jantungnya berdebaran makin keras.
Hampir-hampir air matanya tak tertahan keluar.
Soat som itu meskipun hanya sebatang, namun didalamnya terkandung entah berapa besarnya pengorbanan cinta serta kasih sayangnya Hoan Giok Hoa.
Hoan Giok Hoa dengan pergi menempuh bahaya dan tanpa menghiraukan bahaya untuk dirinya sendiri mendapatkan Soat Som, itu cinta kasih seorang sahabat yang diunjukkan olehnya sesungguhnya sangat berharga sekali.
Lama sekali, akhirnya Tan Liong menghela nafas serta katanya.
"Nona Hoan, lukaku semua sudah sembuh. Soat som ini biar kau sajalah yang makan atau boleh juga disimpan untuk keperluan dilain waktu."
"Engko Liong, meskipun luka-lukamu betul sudah sembuh, tapi biar bagaimana harus kau yang menyimpan barang ini.... Kalau tidak begitu, hatiku akan merasa sedih."
Dimatanya waktu itu namapk sinar terang, tetapi agak lemah seperti orang mitna minta supaya dikasihani.
Hal ini membuat Tan Liong tak berdaya hendak menolak terus-terusan.
Bagitulah akhirnya ia mengulurkan tangannya menjemput sebatang Soat som tersebut.
Hoan Giok Hoa kini kelihatan berseri-seri wajahnya jelas sekali ia bergirang.
"Engko Liong,"
Katanya sambil ketawa "Kau baik sekali!"
Terhadap anak dara yang masih suci bersih serta jujur dan polos ini, Tan Liong sudah mendapat kesan baik sekali.
Ia merasa berat dan menyesal sekali terhadapnya, sebab bagi cinta kasih yang diberikan kepadanya yang begitu suci bersih tidak dapat dibalasnya sebagaimana layaknya.
Ia adalah seorang pemuda yang pernah gagal dalam cinta, tidak suka ia membiarkan hatinya tercuri lagi oleh orang lain, tidak suka ia menempatkan hati gadis suci murni ini dalam hatinya.
Saat itu Hoan Giok hoa sudah lompat bangun, dengan sorot mata yang mengandung rasa penuh kasihan mengawasi Tan Liong, pemuda pujaannya, kemudian membuka mulut.
"Engko Liong"
Katanya.
"apa kau betul-betul suka padaku?"
"Ya, suka sekali!"
"Engko Liong,"
Katanya pula.
"Kau baik sekali, aku juga suka sekali padamu!"
Tan Liong yang sudah mulai tenang hatinya, lantas bergelora pula. Ia lalu mencoba mengarahkan pembicaraan kelain soal.
"Nona Hoan, kau bermaksud mau kemana?"
"Kau suka kemana, kesitu aku ikut!"
Tan Liong diam-diam mengeluh dalam hatinya, Hatinya mendelu.
"Ini mana boleh?"
Katanya sedih.
"Aku masih banyak urusan yang masih belum beres!"
"Engko Liong, apa kau jemu terhadap tingkah laku ku?"
"Sama sekali tidak!"
"dan lalu karena apa?"
"Tidak apa-apa!"
"Kenapa kau tidak suka berada bersama-sama denganku?"
"Sebab ada urusan terlalu penting yang harus kubereskan secepat mungkin."
"Engko Liong, aku tidak akan menyusahkan kau lagi. Aku hanya merasa, apa bila tidak bersama-sama kau, aku merasa kosong, hampa, dan duka hatiku. Maka itu tadi aku minta pada kau, bolehkah aku ikut kau pergi kemana kau menuju?"
Tan Liong kerutkan kening. Diam-diam ia lalu berkata dalam hati sendii.
"Aku harus pergi Ciong lam san sekali memperbaiki keadaan disana dan dari situ aku akan terus mencari potongan mangkok pecah yang lain. lalu dari situ lagi niatku ingin mencari ayah dan siao hun jie Tiao bun Bun. Kalau dalam saat yang genting semuanya itu Hoan Giok hoa ada disampingku, sedikit pasti akan merupakan beban yang akan merepotkan, tetapi kalau kujelaskan semua persoalanku ini, bisa jadi juga dia tidak mau mengerti."
Memikir sampai disitu, ia sudah membuka mulut.
"Nona Hoan,"katanya.
"Aku tahu kau suka terhadapku pun demikian juga aku terhadapmu. Tetapi karena aku masih mempunyai beberapa urusan penting yang harus dan mesti dibereskan sendiri aku kira sementara ini kita tidak bisa bersama-sama. Harap kau suka memikiran juga pendirianku nanti, jiakalau urusanku sudah beres semua pasti aku akan datang menjemputmu dan tidak akan berpisahan lagi dengan kau."
Hoan giok hoa mendengar putusan itu, merasa sedih hatinya.
"ENgko Liong"
Katanya dengan nada pilu.
"Kalau kau tidak mengijinkan aku turut pergi ya sudahlah, sebab kalau aku memaksa, kau pasti tidak suka padaku lagi selanjutnya, betul tidak?"
Bicara sampai disitu, matanya nampak merah, mengembang air mata, yang lantas ditutupinya dengan kedua belah tangannya sambil terisak-isak.
Tan Liong mengeluh dalam hati.
Ia sedianya ingin mengatakan lagi sepatah kata, namun ia tidak tahu bagaimana harus memulai percakapan pula tidak tahu ia bagaimana harus menghibur hati anak dara yang masih putih bersih ini.
Sambil ketawa-ketawa sedih akhirnya Hoan giok hoa berkata juga.
"Engko Liong, pergilah. Aku maklum bagaimana risau hatimu, tapi bicara banyak juga tak ada gunanya. Kau pergilah dengan hati lega."
Dua butir air mata sebesar biji kacang akhirnya tanpa dapat dicegah lagi menetes jatuh.
Tan Liong tetap masih dalam keadaan membisu.
Perlahan-lahan dibaliknya badannya, selagi hendak berlalu mendadak dikejutkan oelh suatu kejadian yang ganjil.
Sebab kala itu dibelakang dirinya entah sejak kapan telah berdiri seorang nenek tua yang kelihatannya sudah loyo sekali.
Nenek tua itu memegang sebuah tongkat dari bambu, wajahnya keriputan penuh, wajahya pucat lesu.
Ini merupakan suatu bukti bahwa sang waktu yang tidak mengenal kasihan telah mengaruniai padanya usia sedemikian tua hingga keriput wajahnya.
Nampak si nenek duduk tenang dibelakang batu besar, matanya terpejam.
Tan Liong dalam hati merasa heran dan agak bercekat.
Nenek tua itu hanya dua tiga kaki saja dibelakangnya tadi ketika ia berhadap-hadapan dengan Hoan Giok Hoa tanpa dirasanya, bukankah itu merupakan suatu hal yang janggal?
Sesaat lamanya Tan Liong menjublak tak bergerak, matanya terus menyelusur seluruh tubuh nenek tua itu dengan segala macam pertanyaaan dalam hati.
Sebentar kelihataan nenek itu membuka kedua biji matanya.
Sinar matanya yang tajam berapi mengawasi Tan Liong dari atas sampai kebawah, lalu berkata agaknya ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Bocah keras sekali hatimu. Kau tega sekali melihat nona yang cintanya sepenuh hati terhadapmu menderita hatinya dan akan kau tinggalkan begitu saja, AKh, Didalam dunia ini yang paling tolol benar-benar adalah hatinya seorang gadis yang sedang dalam mabuk asmara....."
Tan Liong yang mendengar perkataan itu, wajahnya dirasakan panas seperti membara, sampai kekuping-kupingnya sudah merah semua.
"Bolehkah kiranya aku yang rendah mengetahui locianpwee ada golongan atau asal partai mana? Mengapa tidak apa-apa terus menggoda boanpwee?"
Hoan Giok Hoa yang agaknya baru mengetahui akan adanya nenek itu lalu berkata juga.
"Locianpwee, Engko Liong ini benar-benar mempunyai urusan. Tidak pantas juga aku memberati bebannya dengan adanya aku disampingnya. Jangan kau tertawakan padanya, jangan sampai membuat dia gusar terhadapmu."
Nenek tua itu mengawasi Hoan Giok Hoa sejenak lalu berkata sambil ketawa hambar.
"Budak licik, apa ayahmu bernama Hoan Bun Liang?"
"Ya. memang benar. Locianpwee kenal nama itu, apa kenal juga dengan ayah?"
Nenek tua itu setelah mendengar perkataan berupa jawaban itu, keriput diatas wajahnya nampak bergerak-gerak lalu berkata seakan-akan mengomeli diri sendiri.
"Ah..aku tolol! Kenapa begitu goblok aku ini? Kenapa ini? Kenapa aku mau mengurusi soal beginian?"
Setelah itu lalu ia berkata pula.
"Ini benar-benar akan membawa buntut yang tak baik, karena sudah terlanjur sudah berkata, terus terang aku mengatakan, buntut dari ini pasti akan merupakan suatu drama yang menyedihkan."
Perkataan itu seperti diucapkan pada dirinya sendiri, maka pertanyaan Hoan Giok Hoa tidak dijawabnya sama sekali. Lalu ia melirik Tan Liong seraya katanya.
"Bocah, kau inikah itu Naga Merah yang baru muncul di dunia kangouw?"
Pertanyaan nenek tua itu membuat pucat wajah Tan Liong.
Tanpa sadar pula ia sudah mengider sejauh satu kaki kebelakang.
Matanya dengan terbelalak lebar terus ditujukan kewajah si nenek yang keriputan.
Pertanyaan tadi benar-benar membuatnya kaget.
Sedikitpun tak pernah timbul dalam pikirannya kalau si nenek tua keriputan ini mendadak dapat menyebutkan asal-usulnya dengan jitu sekali.
Nenek tua itu unjukan senyum tuanya lalu berkata pula.
"Bocah, kau heran? Tidak usah. Aku toh tidak salah kata bukan?"
"siapa yang memberitahukan hal itu pada cianpwee...?"
Diwajah nenek itu lantas tertampak perubahan besar. Sambil tertawa menyeramkan ia lantas berkata.
"Aku justru sedang mencari-cari kau!"
Dengan sorot matanya yang dingin lantas ditatapnya wajah si pemuda. Tan Liong menenangkan pikirannya sebisa-bisanya lalu dengan dingin pula berkata.
"Locianpwee, kau si orang tua mencari-cari aku ada urusan apa?"
"Kenapa kau muncul di dunia kangouw dengan menyaru dan mengambil nama Naga Merah?"
Tan Liong mendadak gusar.
"Bagaimana locianpwee bisa berpendapat kalau aku menyaru?"
Nenek itu kembali berubah wajahnya, dengan gusar berkata lagi.
"Akuilah terus terang, bisa jadikah Naga Merah berumur semuda kau?"
"Jikalau Naga Merah itu suhuku bagaimana?"
Nenek itu pentang lebar-lebar matanya, ia menggerendeng seorang diri.
"Ya, benar. Bagaimana aku bisa lupa kalau kau muridnya..."
Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula sambil mengawasi Tan Liong "Dan suhumu itu sekarang ada dimana?"
Tan Liong yang waktu itu belum mengetahui riwayat dan tingkat hidupnya nenek tua itu maka lalu timbul maksudnya ingin membohongi si nenek. Setelah mengambil keputusan demikian, lalu menjawab.
"Suhu sudah wafat!"
"Apaa??"
Nenek itu menjerit kaget.
Keriput diwajahnya bergerak semua.
Agaknya hatinya waktu itu sedang tergoncang keras.
Lama sekali........
Nenek itu perlahan-lahan mulai reda ketegangan diwajahnya, lalu berkata pula.
"Aku tanya sekali lagi apa kau mengatakan apa tadi?"
"Suhu sudah wafat!"
"Apa benar katamu?"
"Apa dikira boanpwee membohongi cianpwee?"
Nenek itu mendeliki matanya dan dengan gusar berkata.
"Dia sebenarnya sudah mati apa belum? Kau jawab sebenarnya..."
Tan Liong tidak menjawab pertanyaan si nenek yang sedang gusar, sebaliknya malah balas menanya.
"Sukakah Locianpwee memberitahukan ada hubungan apa antara Locianpwee dengan suhu?"
Nenek itu kembali mendelikkan matanya berkata pula dengan gusar.
"Tidak perlu banyak bacot! kau jawab dulu! Akh....."
Mendadak ia menghela napas, lalu katanya pula dengan nada agak mereda.
"kalau aku tidak mengingatkan kau terlalu kecil dengan tingkah lakuku seperti ini, siang-siang sudah ku kirim jiwamu keneraka! sekarang aku tanya lagi, Dia betul-betul sudah mati apa belum?"
Tan Liong masih tidak tergerak hatinya, ia tidak takut, maka ia menyahut.
"Locianpwee dengan suhu ada hubungan apa? Suhu pernah berpesan pada siapa saja tidak boleh dikatakan hal yang sebenarnya,apa lagi segala urusan yang terjadi pada masa hidupnya, yang dikatakan semua adalah dalam tanggungan boanpwee."
Nenek itu badannya gemetaran. Jelas sekali sekarang gusarnya, lantas berkata lagi.
"Apa kau kira kau sibocah ini mampu menanggung semuanya?"
"Boanpwee justru tidak percaya ada suatu soal yang tidak mampu boanpwee tanggung sendiri."
Nenek itu berubah wajahnya seketika, mendadak ia melompat melesat dan tongkat bambunya menyerang Tan Liong.
Serangan itu cepatnya luar biasa.
Sampai Tan Liong yang diserang tidak mengetahui kearah mana si nenek mau menghajar tubuhnya.
Hoan Giok hoa sudah pucat seluruhnya, suara jeritan lantas melengking panjang dari mulutnya.
Tetapi dengan tiba-tiba si nenek tua menarik kembali meluncurnya tongkat bambu dan badannya lantas ditarik mundur sekalian.
Entah itu karena jeritan si nona ataukah karena kemauannya sendiri, tetapi jelasnya ini membuat Tan Liong keheran-heranan.
Nenek itu berkata lagi dengan dingin.
"Kau terlalu kecil. Aku berjanji tidak akan turun tangan terhadap anak dari tingkatan muda. Kau beritahukan padaku dimana suhumu?"
Tan Liong meskipun merasa semua kejadian tadi diluar dugaan dan merasa heran terhadap perbuatan si nenek yang mendadak tarik kembali serangannya taid, tapi tatkala mendengar perkataan si nenek yang belakangan ia juga merasa penasaran.
"Karena boanpwee masih kecil bukan tandingan kalau turun tangan atas diri boanpwee begitu maksud cianpwee?"
"Bukan cuma orangnya masih kecil, jiwanya juga kecil!"
Tan Liong berubah wajahnya. Dengan dingin ia menatap si nenek dan katanya.
"Locianpwee dengan suhu siapa lebih tinggi tingkatannya?"
"Setingkat!"
"Dan Locianpwee dibanding dengan Yo Sie Peng, tingkatan siapa lebih tinggi?"
Nenek itu tercengang agaknya, lalu jawabnya.
"Barangkali ia lebih tinggi setingkat dari padaku."
Tan Liong ketawa bangga dan lantas berkata lagi.
"Jika aku muridnya Yo Swie Peng bagaimana?"
Pertanyaan ini sesungguhnya diluar dugaan si nenek. Ia sekarang jadi tak dapat meraba-raba apa yang diartikan dengan kata-kata si anak muda. Tapi tidak urung diapun lantas menjawab.
"Kalau kau murid Yo Swie Peng boleh dikata dengan aku kau sejajar juga. Tapi kau si bocah kecil ini sesungguhnya terlalu banyak membual, Yo Swie Peng dari Ciong lam pay sudah meninggal dunia pada tujuh sampai delapan puluh tahun yang lalu, kau mau mengaku dia gurumu, cara bagaimana kau angkat dia?"
"Tentang ini, locianpwe tidak perlu campur tahu. Dan sekarang boanpwee mau tanya lagi, Kalau boanpwee ada Ciangbunjinnya Ciong lam pay, maka antara kita berdua tingkatan siapa yang lebih tinggi?"
Nenek itu agaknya terkejut, saat itu ia lantas berkata dengan diiringi ketawa aneh.
"Lucu sekali, sungguh lucu! bocah kau terlalu memikir yang bukan-bukan."
"Locianpwee, kau jawablah dulu pertanyaan boanpwee barusan."
"Bocah, kalau kau benar-benar adanya Ciang bun jin Ciong lam pay, tingkatanmu lebih tinggi setingkat daripadaku. Kau dengar?"
Tan Liong ketawa bergelak-gelak dan lantas berkata.
"Kalau begitu, diriku tidak bisa kau sebut terlalu kecil bukan?"
"Benar! Kalau kau betul Ciang bun jin Ciong lam pay, kedudukanmu masih setingkat lebih tinggi diatasnya."
"Dan kau boleh turun tangan melawanmu."
Si nenek tua wajahnya berubah lagi dan berkata dingin.
"Sekalipun kau betul Ciang bun jin Cion lam pay, tapi kau jauh dari bawah ketekku."
Tan Liong diam-diam mengerjakan pikirannya.
Perkataan si nenek memang ada benarnya.
Meski tingkatannya tidak lebih rendah dari pada si nenek, akan tetapi kalau ditinjau dari sudut penyerangan si nenek dengan tongkatnya tadi, memang Tan Liong pasti bukan tandingannya.
Karena memikir demikian, Tan Liong lalu berkata pula.
"Tapi kalau kemudian kita saling berjumpa pula, kau tidak bisa mengatakan tingkatanku terlalu kecil bukan?"
Nenek itu parasnya berubah pula.
"Bocah"
Tanyanya dingin.
"Benarkah kau Ciang bunjinnya Ciong lam pay?"
Dengan sikap keren Tan Liong menjawab.
"Nenek tua, harap suka tahu diri sedikit, Aku ini Ciang bun jin Ciong lam pay. Tidak sepantasnya kau panggil aku bocah.!"
Nenek itu ketawa meringis, lalu katanya lagi.
"Kau terlalu jumawa! Tapi sudahlah. biar kau mulai saat ini ku panggil Ciang bun jin. dan aku ingin menanya pada Ciang bun jin, Naga Merah itu sebetulnya sudah mati atau belum?"
Tan Liong ketawa bangga lantas berkata.
"Kalau begitu, dengan kedudukanku sebagai Ciang bun jin ciong lam pay ingin lebih dulu aku menanya padamu, kau dengan Naga Merah pernah apa?"
Pertanyaan itu dikatakan sepatah demi sepatah dengan sikap keren dan berwibawa. Si nenek rupanya gusar sekali, selagi hendak mengumbar kemarahannya mendadak ia menarik nafas perlahan dan berkata.
"Sudah.. sudah! Aku si nenek tua selama beberapa puluh tahun baru kali ini menemukan lawan seperti kau. Kalau Naga Merah suruh kau membunuh orang, aku percaya dia pasti pernah memberitahukan padamu asal-usul sepasang tusuk konde batu giok berukiran Naga Merah ini."
Dan sambil berkata demikian, ia sudah menarik keluar sebuah benda dari atas sanggulnya yang lantas diangsurkan kepada Tan Liong untuk diperiksakan kebenarannya.
Tan Liong yang menyambuti tangannya agak menggetar, ia jelas telah melihat tusuk konde batu giok itu juga memperlihatkan ukiran Naga Merah, bentuknya serupa setali tiga dengan yang miliknya sendiri.
Sesaat lamanya Tan Liong dalam keadaan berdiam begitu, entah apa yang akan diperbuatnya.
"Nenek ini ada menyimpan juga tusuk konde Naga Merah, pasti ada hubungan erat dengan suhu.."
Demikian pikirnya kemudian.
"Tentang ini, Naga Merah sendiri belum pernah memberitahukan kepada kami."
Demikian jawabnya.
"Bukankah ciang bun jin tadi pernah berkata, semua urusannya Naga Merah dalam tanggunganmu? aku percaya kaalu kau juga mesti tahu segala yang menyangkut soal itu. akh lantas asmara seperti juga dalam impian tiga puluh tahun sudah berlalu. Manusia didunia hidup berapa lama?... Perlu apa aku mesti memikiri itu semua?.."
Setelah berkata demikian perlahan-lahan ia membalik badan dan bertindak pergi. -o0o0dw0o0o-
Jilid ke .
10 Tan Liong tidak dapat meraba-raba asal usulnya nenek itu, hanya dari ucapan terakhirnya tadi sedikit ia mau menduga bahwa nenek itu dengan Naga Merah atau suhunya tentu pernah melibatkan diri dalam alunan asmara.
Waktu itu sedianya ia ingin memanggil nenek itu kembali, tetapi suatu pikiran lantas melintas dalam otaknya dan dalam hati diam-diam ia berpikir .
"Hati manusia susah diduga. Aku tidak boleh hanya berdasar atas sebentuk konde ini lantas memberitahukan keadaannya Naga Merah. Apalagi Naga Merah suhuku, kalau diketemukannya dan mendadak dia turunkan tangan jahat, bukankah seperti juga aku yang membunuh suhu sendiri ?"
Oleh karena berpikiran demikian, terpaksa ia mengurungkan niatnya yang hendak memanggil nenek tua itu kembali.
Dan dalam waktu sekejapan itu si nenek sudah tidak lagi di depan matanya.
Tatkala ia berpaling dan mencari Hoan Giok Hoa, nona ini masih tetap berdiri tak bergerak.
Tan Liong kembali menarik nafas perlahan.
Lalu panggilnya .
"Nona Hoan."
"Ng."
Demikian sahut orang yang dipanggil, perlahan.
"Kau tahukah nenek tua tadi itu ?"
Melanjutkan lagi Hoan Giok Hoa. Tan Liong mengawasi Hoan Giok Hoa lagi sejenak, lalu berkata .
"Kedatangan nenek tua tadi itu sangat aneh. Pasti sekali akan kutanyakan halnya pada suhu."
"Engko Liong, benarkah kau itu si Naga Merah yang muncul di dunia Kang-zsouw dan yang suka membunuh orang ?"
Pertanyaan si nona membuat Tan Liong berubah wajahnya dan pemuda ini dengan suara bengis berteriak .
"Selanjutnya kau tidak boleh menanya soal ini, juga tidak boleh kau katakan pada siapa pun juga !"
Perubahan sikap yang diperlihatkan Tan Liong kepada Hoan Giok Hoa itu membuat nona ini ketakutan dan mundur setindak lebih dan lantas menekap mukanya dengan membawa isak tangisnya di kedua belah tangannya itu.
Tan Liong terbengong.
Suatu perasaan menyesal yang amat besar mendadak muncul dalam hatinya.
Dengan perlahan ia berjalan menghampiri Hoan Giok Hoa seraya katanya .
"Nona, barusan aku, barusan aku tidak sengaja, sukakah kau maafkan perbuatan kasarku tadi ?"
Tangannya juga diletakkan ke atas bahunya Hoan Giok Hoa dan lantas mengurai-uraikan rambutnya.
Hoan Giok Hoa lalu jatuhkan diri dalam pelukannya si pemuda dan lantas menangis dengan suara sedih.
Suaranya sangat memilukan sekali.
Tan Liong tanpa merasa telah memeluk erat-erat tubuh rampingnya Hoan Giok Hoa.
Suatu perasaan yang disembunyikan bertahun-tahun, semua sedetik itu juga sudah meledak, seakan-akan air sungai yang mengalir deras yang takkan mungkin terbendung lagi.
Perasaan manusia sesungguhnya memang aneh.
Timbul atau meluapnya perasaan itu kadang terjadi di luar kekuasaan manusia itu sendiri, begitulah halnya dengan pemuda yang merangkul Hoan Giok Hoa.
Tangan yang sekasar dan kuat itu semakin lama semakin erat merangkul, bibirnya kadang menempel di atas pipi si nona yang sudah basah dengan air mata … Ciuman yang seperti bara api hangatnya membikin lumer hati mereka dalam keadaan tidak berdaya.
Setelah mengalami kedukaan bertahun-tahun, dan mengalami kegembiraan, air mata kedukaan Hoan Giok Hoa sudah dibikin kering oleh ciumannya Tan Liong.
Akan tetapi air mata yang baru telah menggantikan semua air mata tadi, itulah air mata kebahagiaan.
Air mata yang belakangan keluar sebagai lambang kegirangan yang meluap-luap dari perasaan hatinya itu.
Ciuman itu demikian mesranya, itulah ciuman pertama yang diharapkan semenjak bertahun-tahun lamanya.
Bagaimana kalau si nona tidak bergirang ?
Lama sekali… kedua manusia itu tenggelam dalam lautan asmara… Tan Liong tiba-tiba mendorong tubuhnya Hoan Giok Hoa, dengan tenang ia mengawasi gadis yang masih suci bersih itu, dalam hatinya lantas timbul suatu penyesalan yang besar.
Maka ia lantas berkata .
"Nona Hoan, aku sudah menghina kau, harap maafkan sebesar-besarnya "
"Tidak engko Liong, aku betul betul cinta padamu, perbuatanmu itu apa salahnya ?"
"Aku tahu, begitu dalam cintamu padaku, tapi adik Hoa, sekarang terpaksa aku terus pergi, … "
Pergilah. Aku sekarang tidak lagi akan memaksa ikut, aku hanya mengharap selanjutnya kau suka mencari aku lagi…
"Tentu aku pasti akan mencari kau lagi, dimana juga kau berada."
Setelah berkata demikian, ia lantas mencelat dan menghilang dari depan matanya Hoan Giok Hoa.
Tan Liong akhirnya dengan mengeraskan hati terus lari dan terus lari.
Yang menjadi tujuannya adalah bukit Pek Kut Gan.
Disitu ada berdiam suhunya.
Apa yang ketinggalan pada saat itu hanya seorang anak dara yang sedang mabok dilanda asmara yang cuma bisa menangis tersedu sedu.
Sungguh kasihan gadis yang mabok asmara, apa yang kau dukakan ?
apakah dia benar-benar tidak bisa kembali lagi ?
Sungguh di dalam dunia yang paling tolol adalah hatinya anak dara yang sedang dimabok cinta… Dengan hati pilu ia mengawasi belakang bayangan Tan Liong, tetapi ia adalah seorang gadis yang suci bersih dan jujur.
Ia tidak ingin membuat Tan Liong sampai bersedih oleh karenanya.
Tan Liong juga mengerti perasaan Hoan Giok Hoa pada saat itu.
Akan tetapi ia masih mempunyai banyak pekerjaan dan tugas berat yang perlu diselesaikan.
Setelah ia meninggalkan Hoan Giok Hoa, ia lalu mengambil jalan yang menuju Pek Kut Gan, di gunung Hoa San.
Hari itu ia telah tiba di tempat tersebut.
Temat itu masih tetap seperti dulu, di seluruh bawah kaki bukit tertampak banyak tulang belulang berserakan laksana batu gunung.
Tulang tulang itu adalah tulangnya para tokoh ternama di dunia Kang-zsouw yang terbinasa dalam pertemuan para jago di bukit tersebut pada tiga puluh tahun berselang.
Keadaan demikian itu masih tak ada bedanya sedikitpun ketika dia pada waktu dulu berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Diperlambatnya gerak kakinya, dengan perlahan-lahan ia berjalan maju menyusuri kaki bukit tersebut.
Di ujung kaki bukit terdapat sebuah rimba.
Rimba ini tidak seberapa luas, akan tetapi di seluruh tempat lebat ditumbuhi pepohonan.
Dengan tindakan lebar lalu dimasukinya rimba tersebut, sebentar kemudian sudah keluar pula ia dari rimba itu.
Kini apa yang terbentang di hadapannya adalah satu jalanan selat kecil yang sempit, jalanan lembah ini hanya dapat dilalui oleh seorang manusia saja agaknya.
Dengan mengambil jalan sempit itu Tan Liong terus berjalan maju ke depan.
Dan selagi Tan Liong berjalan pada jalan yang sempit itu, dari dalam rimba tiba-tiba nampak berkelebat sesosok bayangan manusia.
Bayangan ini terus menujukan matanya ke belakang punggung Tan Liong, sebentar-bentar kedengaran ia ketawa sendiri.
Sedangkan Tan Liong sendiri agaknya tak merasa dan tak mengetahui kalau di dalam rimba yang baru saja dilalui itu ada orang yang mengintainya.
Setelah melalui jalan rimba yang sempit itu, dalam waktu sekejapan ia telah melalui jarak lima puluh tombak lebih.
Di Ujung jalanan itu ada sebuah lembah yang luasnya kira-kira setengah lie.
Di dalam lembah itu terdapat banyak batu cadas, beraneka warna dengan bentuknya yang berlainan serta banyak pula pepohonan lebat.
Tan Liong mengamat-amati sebentar keadaan di lembah tersebut dan berjalan kembali menuju ke lamping bukit sebelah kanan.
Selagi berjalan itu tiba tiba telinganya mendengar bentakan .
"Siapa !"
Suara itu bagi Tan Liong sudah tidak asing lagi. Dikenalnya itu sebagai Naga Merah sendiri. Maka Tan Liong menyahut dengan suara bernada sangat hormat "Suhu. Liong Jie kembali."
Selama berbicara itu Tan Liong sudah berada di lamping bukit yang batu cadasnya licin berkilat laksana cermin muka.
Di sinilah tertampak sebuah guha kecil, dan satu kepala yang berambut putih seluruhnya waktu itu sedang ditongolkan keluar di lubang guha tersebut.
Disamping bukit yang licin berkilat laksana cermin muka itu terdapat lagi semacam pintu yang dapat menutupi guha tersebut.
Itu adalah gua dimana Naga Merah yang asli disekap orang.
Orang yang mengurungnya adalah Lam Kek Sian Ong.
Kejadiannya sudah beberapa puluh tahun yang silam.
Di sebelah kanan pintu itu terlihat sebuah kunci, yang dipergunakan untuk mengunci pintu guha itu untuk beberapa tahun lamanya.
Selama itu belum pernah ada seorang pun yang dapat membukanya.
Sekalipun Naga Merah telah menggunakan seluruh kekuatan tenaganya, terhadap pintu itu ia tak berdaya, tak dapat membuka sama sekali.
Maka di dalam gua tersebut ia telah berdiam karena dikurung, tiga puluh tahun lamanya.
Sinar matahari atau keadaan luar yang dapat dilihat oleh Naga Merah hanya dari gua kecil itulah, pintu yang dibuatkan khusus oleh Lam Kek Sian Ong.
Saat itu Naga Merah dengan wajahnya yang penuh keriputan dimakan usia tua setelah mengawasi Tan Liong sejenak, lalu berkata dengan sikap dingin .
"Tan Liong, bukankah pernah kukatakan padamu ! Kau tidak boleh panggil aku suhu !"
"Ya Suhu,"
Berkata Tan Liong dengan hati terkejut.
"Lagi-lagi suhu ! Sekali lagi kuperingatkan, selanjutnya tidak boleh kau sebut aku suhu. Dengar ?"
Tan Liong maklum akan adat Naga Merah itu, maka ketika itu lantas dirobahnya sebutan yang tadi dengan panggilan.
"Locianpwee, aku mengerti."
Katanya. Cuma oleh karena kau telah menurunkan pelajaran silat padaku, sudah selayaknya bukan kalau kubahasakan kau suhu ? "
Dengan sinar matanya yang terang berapi-api, Naga Merah menatap wajah Tan Liong sejenak, kemudian berkata setelah menghela napas .
"Tan Liong, Saat itu bukankah pernah kuberitahukan padamu membunuh delapan orang dengan perjanjian, begitu kau sudah tak perlu lagi anggap aku guru dan kau juga bukan muridku ! Lagipun, kau adalah muridnya Yo Sui Peng yang berarti pula kau harus mau menjadi ketua partai Ciong Lam Pay. Dan sebagai ketua, bagaimana aku ada mempunyai derajat setinggi itu menjadi suhumu ? Kecuali itu, tingkatanmu sekarang pun sudah jauh lebih tinggi padaku, maka aku Cuma berharap Ciangbunjin, selanjutnya tak usah menyebutku dengan nama itu."
Tan Liong dengan muka merah karena malu mengangguk saja. Sementara itu Naga Merah terdengar berkata pula .
"Hari ini "
Katanya "kau balik ke Pek Kut Gan membawa berita apakah ?"
"Di dunia Kang-zsouw telah muncul dua orang yang mengaku bernama Naga Merah"
Naga Merah berubah wajahnya seketika.
"Apa ?!"
Dia berseru.
"Di dunia Kang-zsouw ada muncul dua Naga Merah ?"
"Benar, maka itulah aku sengaja datang kemari ingin memberitahukan kepadamu …"
Dan ia lalu menuturkan segala sepak terjang dan perbuatan Naga Merah tiruan yang telah menggegerkan dunia Kang-zsouw. Naga Merah setelah mendengarkan cerita Tan Liong lalu berkata sambil ketawa.
"Tidak nyana ada orang yang begitu besar nyalinya, Hmmm ! Kalau sja aku bisa keluar gua ini, pasti akan kuhancur leburkan tulang tulang dua Naga Merah yang menyaru itu !"
Gemas sekali dia mengucapkan kata-katanya itu, di wajahnya yang kurus karena keriputan nampak tegas roman gusarnya. Si orang tua mengawasi Tan Liong sejenak, kemudian berkata pula .
"Dan bagaimana orang tugas yang kuberikan padamu ? Delapan orang itu adakah semua telah kau bereskan ?"
Tan Liong terperanjat. Ia buru-buru menyahut.
"Cuma tinggal seorang yng belum dapat kuambil jiwanya."
"Siapa ?"
"Ciang Hay Sin Kun "
"Kenapa tidak sekalian kau ambil jiwanya ?"
"Ciang Hay Sin Kun di kalangan Kang-zsouw namanya sudah harum terkenal sebagai orang dari golongan orang baik-baik. Entah apakah sebabnya sampai Loocianpwee menitahkan padaku membunuhnya ?"
Naga Merah tundukkan kepala ketawa dia puas-puas.
Suara ketawanya menggema keras sampai seluruh lembah seolah-olah goncang tak tahan menerima suara tertawa si orang tua.
Suara tertawa mendadak berhenti dan orang tua itu buka mulut tiba-tiba.
"Benar ! Benar ! Ciang Hay Sin Kun pada beberapa tahun belakangan ini dengan memakai kedok sebagai orang dari golongan orang baik-baik telah membuat namanya terkenal dalam dunia Kang-zsouw ! Akan tetapi … akh Dia… secara diam-diam entah telah mengambil beberapa banyak jiwa manusia…"
Mendengar itu bukan kepalang kagetnya si anak muda. Lekas dia bersuara.
"Ciang Hay Sin Kun diam-diam melakukan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya ?"
Demikian tanyanya.
"Aku suruh kau membunuhnya sudah tentu tidak bisa salah lagi. Kau lakukan saja dengan hati bulat, pasti takkan salah."
Tan Liong diam-diam mengernyitkan keningnya.
Dengan nama dan kedudukan sebagai Ciang Hay Sin Kun, kalau sampai dengan diam-diam melakukan pembunuhan rupanya memang ada suatu hal yang mungkin saja bisa kejadian.
Kenyataannya di dalam masyarakat dunia Kang-zsouw berapa banyakkah orang benar ?
Banyak orang menggunakan kedok palsu, pura-pura berbuat baik antara sesamanya, tetapi dibalik itu semua melakukan perbuatan terkutuk yang lebih buruk dari pada perbuatan manusia jahat, begitulah ia berpikir dalam hatinya.
Selagi masih berpikir itu, terdengar suara Naga Merah berkata pula .
"Selain daripada itu masih adakah lain urusan ?"
Tan Liong nampak berdiam diri sejenak, baru menyahut.
"Locianpwee, apakah di kalangan Kang-zsouw masih ada lain tusuk konde berukiran Naga Merah ?"
Naga Merah, demikian orang tua itu mendengar pertanyaan itu agaknya tak mengetahui dan tak dapat menebak apa yang sedang dipikir dalam hati pemuda itu, ia hanya menjawab "Tidak ada."
Tan Liong rupanya bingung atau keheranan menanya pula .
"Apa betulkah tak ada yang lain ?"
"Dalam ingatanku, berani kupastikan, tak ada keduanya."
"Ini benar-benar heran .."
"Beberapa hari belakangan ini aku melihat seorang perempuan tua. Dia memberikan aku sebuah tusuk konde yang berukiran Naga Merah, mirip dengan kepunyaanmu..."
Belum lagi Tan Liong bicara, Naga Merah kelihatan berubah-ubah wajah. Orang tua itu lantas buka mulut .
"Dimana tusuk konde itu sekarang ?"
Dia berkata itu dgn suara gemas.
Tan Liong lalu mengambil satu benda dari sakunya, yang lantas diangsurkan ke tangan Naga Merah melalui lubang pintu gua.
Naga Merah setelah menyambuti tusuk konde itu di wajahnya lantas terlihat suatu roman yang memperlihatkan tergetarnya sang hati.
Lama sekali, ia baru berkata .
"Dimana orang itu sekarang ?"
"Dia sudah pergi"
"Tiga puluh tahun sang waktu berlalu …. Aku tak tahan menunggu lagi.. Tidak boleh tidak aku mesti keluar dari sini !"
Begitulah si Naga Merah berkata-kata seperti terhadap dirinya sendiri dengan sikap yang memperlihatkan getaran hatinya yang sangat hebat.
Akan tetapi apakah ia bisa keluar dari gua itu ?
Sudah tentu, sebelum mendapatkan anak kunci dari Lam Kek Sian Ong, biar bagaimana pun tak dapat dia keluar dari situ.
Maka saat itu dengan mata mendelong dipegang-pegangnya kunci yang ada di depan pintu itu, perasaan hatinya entah bagaimana saat itu.
Tan Liong yang menyaksikan sikap si Naga Merah, berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, tiba-tiba juga ingat dengan sepotong pecahan mangkok, benda pusaka luar biasa di dalam dunia, yang sekarang sudah tiada di tangannya.
Maka ia lantas berkata .
"Locianpwee, menyesal sekali pecahan mangkok yang kau berikan padaku."
"Bagaimana ?"
"Telah hilang .."
"Ow !"
Seru Naga Merah kaget.
"Dengan cara bagaimana barang itu hilang dari tanganmu ?"
Tan Liong dengan terus terang lalu memberi tahukan segala kejadian yang bersangkutan dengan benda pusaka itu, sepotong pecahan mangkok itu yang dirampas oleh si wanita baju merah dalam soal pertaruhan ilmu silat.
Naga Merah yang mendengarkan pertaruhan itu dengan asyik wajahnya lantas berubah.
Dengan wajah gusar dia berkata .
"Tan Liong, bukankah sudah kuberitahukan padamu, sepotong pecahan mangkok itu jangan sekali-kali hilang ! Apa kau lupa pesanku ?"
Tan Liong kaget dalam hati hanya bungkam, dia tak dapat menjawab. Naga Merah lalu berkata pula .
"Aku berikan batas waktu setengah bulan mulai saat ini, pecahan mangkok itu harus kau dapatkan kembali ! Kalau gagal, tak dapat perbuatanmu menghilangkan barang itu kumaafkan, mengerti ?"
Dengan badan gemetaran Tan Liong terpaksa menyahut "Locianpwee, aku pasti akan berusaha untuk ambil kembali pecahan mangkok itu …"
Naga Merah agak tenang rupanya, lalu berkata pula .
"Kalau begitu, kau sudah cari Lam Kek Sian Ong atau belum ?"
"Lam Kek Sian Ong seolah-olah burung liar tak mempunyai kediaman tetap, kemana harus aku mencari?"
Naga Merah mendengar itu alisnya nampak berkerut, dalam hati diam-diam berpikir .
"Itu memang sebenarnya, Ong Khim San sampai mendapat julukan Lam Kek Sian Ong sudah tentu jejaknya sukar diketahui oleh orang-orang dunia Kang-zsouw."
Oleh karena beranggapan demikian maka ia lantas berkata .
"Sudahlah, pergilah kau sekarang. Aku tunggu disini setengah bulan kemudian. Dan jangan lupa kau harus membunuh Ciang Hay Sin Kun, carilah juga Lam Kek Sian Ong, kepadanya kau mintakan anak kuncinya."
Tan Liong mengangguk lantas balikkan tubuh dan berlalu.
Naga Merah mengawasi berlalunya Tan Liong, saban-saban unjukkan sikap seperti hendak mengucapkan apa-apa, tetapi akhirnya selalu diurungkan.
Ia hanya tiap tiap kali menarik napas.
Wajahnya yang penuh keriputan kemudian menghilang dari lubang gua.
Tan Liong selagi jalan keluar dari jalanan lembah yang sempit kecil itu dari dalam rimba tiba-tiba terdengar suara orang ketawa keras.
Mendengar itu Tan Liong terperanjat.
Ia lalu mengawasi terus ke arah rimba, lalu membentak .
"Siapa !"
Berbareng dengan itu badannya secepat kilat sudah bergerak melesat masuk rimba.
Gerakan Tan Liong itu dilakukan cepat sekali mendadakan pula.
Tiba-tiba di depan matanya berkelebat satu bayangan hitam.
Seseorang sudah berdiri menghadang di hadapannya.
Tan Liong terkejut.
Tanpa merasa kakinya telah bergeser mundur dua tindak.
Tatkala menengadah, mukanya mengawasi orang itu, ternyata ia adalah Pek Lek Cu yang merupakan salah seorang dari Bu Lim Sam Cu.
Pek Lek Cu bisa mendadak muncul di tempat tersebut, benar-benar membuat terperanjat hatinya anak muda itu.
Pek Lek Cu nampak berputaran matanya dengan suara dingin menanya .
"Bocah, di jalanan sempit ini bukankah ada berdiam si Naga Merah ?"
Pertanyaan itu membuat terkejut Tan Liong hingga wajahnya berubah seketika. Ia lalu menanya dengan suara dingin.
"Kalau ya kau mau apa, dan kalau tidak bagaimana ?"
Pek Lek Cu ketawa bergelak-gelak.
"Kalau begitu tidak sia sia jerih payahku mau carinya. Di dalam bukit Pek Kut Gan ini benar saja ada hubungannya dengan Naga Merah. Aku sekarang ingin menggunakan bom Pek Lek Tan menghancurkan lembah ini !"
Tan Liong terperanjat.
"Jikalau kau berani membom lembah ini, awas akan kuambil jiwa anjingmu !"
Perkataan Tan Liong itu agaknya di luar dugaan Pek Lek Cu. Sambil mengawasi wajah Tan Liong yang nampak gusar, dalam hatinya terperanjat juga. Ia lalu bertanya .
"Kalau begitu kau ada hubungankah dengan Naga Merah ?"
"Tidak salah !"
"Apa yang diduga oleh Ciang Hay Sin Kun ternyata sedikitpun tidak meleset. Bocah , kau ternyata benar-benar ada hubungan dengan Naga Merah. Ha Ha "
"Pek Lek Cu ! Kau ketawakan apa ?"
Pek Lek Cu lalu berhenti ketawa, dan berkata .
"Aku mau menghancur leburkan lembah ini, Kau mau apa ? Kau bisa apa?"
"Kalau begitu, coba coba saja !"
Berkata Tan Liong dingin.
Setelah mana ia maju setengah tindak, agaknya sudah siap hendak melakukan serangan.
Pek Lek Cu wajahnya berubah seketika.
Saat itu sudah timbul napsu membunuhnya, tetapi dengan sadar tiba tiba ia menjadi tenang kembali dan lantas menanya "Aku ingin tanya, kau dengan Naga Merah ada hubungan apakah ?"
"Mengenai hal ini tak ada hakmu menanya !"
"Jikalau kau tidak menjawab terpaksa akan ku bom juga lembah ini !"
"Pek Lek Cu ! Jangan kau lupa ! Akupun masih ada bom Pek Lek Tan. Jikalau berani kau bom lembah ini, awas ! Aku takkan mengerti, akan kulemparkan juga bom Pek Lek Tan ini ke gunung Bu Tong San dan Ngo Bie San. Aku kepingin lihat apa hasilmu dengan perbuatanmu adakah memadai dengan akibat dari dua bom yang kulemparkan nanti ?"
Perkataan itu benar-benar membuat Pek Lek Cu pucat wajahnya seketika.
Memang betul pada saat itu di tangan Tan Liong terlihat sisa tiga buah bom Pek Lek Tan yang didapatnya dari Pek Lek Cu sendiri, hasil kemenangannya dalam pertandingan ilmu silat secara lisan.
Apabila Tan Liong menggunakan bom Pek Lek Tan itu membom Bu Tong San dan Ngo Bie San, maka tiga partai besar dalam rimba persilatan sudah tentu tidak mau mengerti terhadap orang yang membuat bom tersebut, yakni Pek Lek Cu sendiri.
Perbuatan Naga Merah tiruan yang telah membom gereja Siao Lim Sie Sudah membuat Siao Lim Pay menaruh dendam kesumat terhadap perbuatannya Pek Lek Cu.
Apabila sekali lagi Tan Liong menggunakan bom Pek Lek Tan menghancurkan Bu Tong Pay dan Ngo Bie Pay, maka tak dapat disangkal lagi tentu akan menimbulkan persengketaan hebat antara tiga partai besar dengan Pek Lek Cu.
Bagaimana sanggup ia menerima dan membereskan soal itu ?
Maka setelah berdiam agak sejenak, nyalinya lantas kuncup seketika.
Terpaksa ia berkata pada Tan Liong dengan suara dilunakkan sedikit.
"Bocah, kau benar-benar lihay."
"Apa kau sendiri tidak cukup lihay ?"
Pek Lek Cu menarik napas perlahan.
"diantara aku dengan Naga Merah sebetulnya ada hubungan apakah ? tentang ini aku masih tidak tahu. Cuma Naga Merah telah merusak namaku dan mendapat banyak musuh. Apakah suruh aku diam saja dan tidak mencari untuk membunuhnya ?"
Tan Liong tertawa hambar.
"Apa anggapmu Naga Merah yang muncul di dunia Kang-zsouw sekarang ini benar-benar ada Naga Merah asli yang muncul pada tiga puluh tahun berselang ?"
Ditanya demikian Pek Lek Cu melongo. Lama sekali baru ia bisa buka mulut .
"Apa itu bukan Naga Merah yang asli ?"
"Betul ! Dua ekor Naga Merah yang muncul belakangan ini adalah barang-barang palsu dan tiruan."
"Kalau begitu, Naga Merah yang sebenarnya adakah benar berdiam di lembah ini ?"
"Benar !"
"Kalau begitu dan kalau benar Naga Merah yang sebenarnya belum muncul muka, aku juga tak perlu cari padanya. Sekarang aku ingin mencari dua ekor Naga Merah yang katamu barang tiruan dan palsu untuk membuat perhitungan."
"Tapi jangan lupa untuk pergi ke Laut Utara mengambil pedang Hian Peng Kiam ya ?"
Pek Lek Cu ketawa meringis.
Selagi hendak buka mulut menjawab tiba-tiba dilihatnya Tan Liong bergerak, sebentar saja sudah berlalu dari depan matanya.
Pek Lek Cu Cuma bisa gertak gigi, dalam hati diam diam ia berpikir.
Aku Pek Lek Cu benar-benar sudah kejengkal di tangan anak muda ini… sudah kalah bertaruh, mau tak mau harus juga pergi ke Laut Utara mengambil pedang Hian Peng Kiam.
Lalu dengan perasaan masgul dengan diam diam ia meninggalkan bukit Pek Kut Gan itu.
Pek Lek Cu mulai melakukan perjalanannya ke Utara.
Ia mengambil jalan melalui kota Hap Hai Hong yang dan pada hari ketiganya ia sudah sampai di kota Chie Ciu.
Chie Ciu adalah salah satu kota besar di dalam provinsi Kang-zsouw.
Setibanya Pek Lek Cu tersebut, dia sudah lantas mencari rumah makan dan bersantap.
Karena saat itu sudah menjelang malam dan di jalanan besar sudah mulai orang memasang lentera.
Tatkala Pek Lek Cu keluar dari rumah makan sambil memandang pemandangan malam di kota Chie Ciu, tanpa merasa ia menarik nafas lagi.
Selagi hendak melanjutkan perjalanannya,lagi dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara orang menegur .
"Sahabat, di depan bukankah Pek Lek Cu yang namanya kesohor di dunia Kang-zsouw ?"
Ditegur secara mendadak demikian Pek Lek Cu terperanjat.
Tatkala ia berpaing, dilihatnya di sebelah belakang, di tempat sejarak lima kaki daripadanya sudah berdiri tiga orang tua.
Maka ia lantas menjawab sambil ketawa .
"Benar, Lohu adalah Pek Lek Cu. Entah tuan tuan sendiri orang pandai dari manakah ?"
Itu orang tua yang berdiri di ujung paling kanan yang badannya tinggi kurus, lantas unjuk ketawa dingin lalu berkata .
"Pek Lek Thay Hiap namanya sangat kesohor di dalam dunia Kang-zsouw. Sudah tidak mengenal kami bangsa cecere. Cuma kami ingin tanya pada Pek Lek Thay Hiap, perkumpulan kami entah pernah berbuat kesalahan apakah dengan tuan ?"
Pertanyaan itu benar benar membuat Pek Lek Cu seperti tenggelam dalam kabut yang teramat gelap.
Sedikitpun tak dapat ia menangkap apa yang dimaksud dengan kata kata orang tua tadi itu.
Maka setelah berdiri menjublak sekian lama, barulah ia buka mulut.
"Pertanyaan tuan ini apakah artinya ?"
Begitulah tanyanya. Orang tua itu kembali unjukkan ketawa meringis, katanya .
"Pek Lek Tay Hiap, perlu apakah mesti berlagak pilon ? Perkumpulan kami, Thian Seng Hwee meskipun Cuma terhitung sebagai suatu perkumpulan kecil yang tak berarti dalam dunia Kang-zsouw, tapi dengan kau Pek Lek Tay Hiap, kami tak pernah menerbitkan salah. Namun demikian murid tuan dengan bom Pek Lek Tan telah membinasakan sembilan anggota perkumpulan kami yang terkuat. Bagaimana kau hendak menjelaskan dalam soal ini ?"
Perkataan itu membuat Pek Lek Cu kaget sekali.
Kiranya tiga orang tua itu adalah anggota dari perkumpulan Thian Seng Hwee, itu perkumpulan besar yang belakangan ini saja munculnya di dunia Kang-zsouw yang dalam waktu sekejapan saja sudah mengangkat nama hingga hampir hampir berendeng dengan tiga partai besar yang lain.
Dan hal yang membuat Pek Lek Cu lebih terheran-heran ialah ia sendiri belum pernah menerima muridl.
Orang tua itu mendadak mengatakan muridnya telah membinasakan sembilan anggot perkumpulan Thian Seng Hwee dengan bom Pek Lek Tan.
Hal itu sesungguhnya membuat ia berada di antara gelap dan terang.
"Kau kata"
Katanya kemudian "
Muridku menggunakan bom Pek Lek Tan membinasakan sembilan orang anggota perkumpulanmu yang terkuat ? Apakah itu tidak salah ?"
"Apakah Pek Lek Cu Tay Hiap tidak mengetahui persoalannya ? "
Balas tanya orang tua yang tadi dengan nada mengejek. Pek Lek Cu sudah naik darah.
"Kentut !"
Demikian dia berseru.
"Sejak kapan kalian tahu Pek Lek Cu menerima murid ? Awas aku nanti benar-benar suruh kalian merasakan bagaimana bom Pek Lek Tan ini nikmatnya."
Kiranya tiga orang tua itu adalah tiga kepala cabang dari tiga tempat yang tergabung dalam perkumpulan Thian Seng Hwee.
Pada beberapa lama berselang ketika Tan Liong membunuh sembilan tokoh terkuat orang orangnya terkuat Thian Seng Hwee di kota Khay Hong, hal mana telah mengejutkan dan menggemparkan perkumpulan Thian Seng Hwee.
Maka ketua perkumpulan tersebut, yang hanya dikenal dengan nama julukannya Bong Bin Sin Kiam (Ahli pedang berkedok) setelah mengetahui soal tersebut lantas mengutus tiga orangnya yang paling kuat untuk mencari Pek Lek Cu lebih dulu agar persoalan tersebut dapat dibereskan.
Siapa tahu perbuatan itu adalah hasi perbuatan Tan Liong.
Sudah barang tentu Pek Lek Cu tidak mengetahui sama sekali.
Dan kini setelah ia mendengar kata bahwa muridnya telah membom mati sembilan orang anggota Thian Seng Hwee, lantas timbul anggapannya bahwa orang orang Thian Seng Hwee sengaja mencari setori dengannya, sudah barang tentu pula kalau darahnya lantas naik seketika.
Saat itu orang tua tinggi kurus tadi berkata pula sambil ketawa menyeringai .
"Bom Pek Lek Tan meski namanya sangat besar dalam dunia Kang-zsouw, tenaga bomnya sangat dahsyat, akan tetapi perkumpulan Thian Seng Hwee tidak akan membiarkan orang-orang yang membinasakan anggota perkumpualn lepas begitu saja."
Perkataan orang tua yang belakangan ini mengandung arti kata mengancam hingga keadaan pada detik itu lantas menjadi tegang sendirinya.
Pek Lek Cu justru adalah seorang perasaan.
Ketika mendengar perkataan tersebut, ia lantas menyahut sambil ketawa gelak .
"Apabila kalian bermaksud hendak berantem ? Mari kulayani."
Orang tua itu menjawab segera .
"Benar ! Jikalau Pek Lek Tay Hiap tidak suka memberi keadilan, kami ingin sekali melihat apakah Pek Lek Tan, bom yang sangat kesohor iatu dapat mengambil jiwa kami atau tidak ?"
Jawabannya itu pedas di telinganya Pek Lek Cu. Wajahnya merah membara. Sambil berjingkrak-jingkrak, dia berkaok-kaok .
"Bagus ! Kalian berani begitu kurang ajar dan jumawa. Akupun ingin sekali tahu kalian berapa tinggi sih kepandaiannya ?"
Berbareng dengan itu, lantas ia melakukan serangan dengan tangan kosong.
Pek Lek Cu adalah salah seorang dari tiga Cu atau Bu Lim Sam Cu, sudah tentu bukanlah orang sembarangan.
Kekuatan serangan tangannya yang demikian hebat dibarengi dengan keluarnya tenaga dalamnya menyapu ketiga orang tua di hadapannya.
Tiga orang tua itu adalah tiga tokoh paling kuat dalam perkumpulan Thian Seng Hwee, kepandaian ilmu silat mereka pun termasuk dalam golongan orang orang kelas wahid.
Ketika mendapat serangan mendadak, tiga orang tua itu sambil ketawa dingin sambil geser sedikit tubuhnya, serentak mereka mengangkat tangan menyambut serangan tersebut.
Kekuatan tenaga gabungan tiga orang itu sudah tentu hebatnya bukan main.
Maka sebentar lalu terdengar suara dentuman hebat kekuatan tenaga dalam dua pihak telah berbenturan hingga oleh karenanya lantas timbul angin santer yang meniup keras tanah dan debu debu di sekitar tempat tersebut.
Pek Lek Cu bergerak lagi.
Ia kali ini setelah membentak keras .
"Coba sambut Ini bom Pek Lek Tan !"
Benar benar bentakan ini mengejutkan tiga orang tua itu.
Mereka rupanya agak jeri, maka serentak mereka lompat mundur.
Di dalam tangan Pek Lek Cu saat itu sama sekali tak kelihatan bom Pek Lek Tan.
Kalau tadi ia mengatakan demikian, melulu untuk menggertak dan mengejutkan lawannya supaya dapat ia melancarkan serangan lanjutan dengan tenaga penuh.
Maka tatkala ketiga orang tua itu sedang mundur tergopoh gopoh, Pek Lek Cu mendadak melesat ke depan, dengan tangan kanan menggunakan gerak tipu Mendorong Gunung, Membendung Air Lau, tangan kirinya menggunakan tipu Gelombang Air Laut Menerjang Pantai, melakukan serangan terhadap ketiga orang tua itu dengan hebat.
Serangan yang memakai dua tangan berbareng itu bukan Cuma hebat saja, mengerikan, karena orang yang menyerang telah memusatkan seluruh kekuatannya, tatkala kena pada sasarannya, dua orang yang menjadi sasaran pertama lantas roboh menjerit-jerit.
Seorang lainnya pun telah tersapu oleh kekuatan serangan Pek Lek Cu hingga darah segar lantas tersembur keluar dari mulutnya.
Badannya mundur sempoyongan beberapa langkah, baru bisa berdiri tegak lagi.
Pek Lek Cu tertawa bergelak-gelak, dengan suara bangga ia berkata .
"Orang orang yang Cuma sebegini kepandaiannya berani cari setori dengan tuan besarmu ? Lekas enyah dari sini !"
Orang tua yang tinggal seorang itu sambil menahan rasa sakit pada luka-lukanya masih dapat menyahut .
"Bagus ! Di kemudian hari perkumpulan kami pasti akan membayangi tuan untuk membuat perhitungan."
Orang tua itu kemudian lantas membimbing kedua orang kawannya yang luka-luka dan menghilang dari depan mata Pek Lek Cu.
Pek Lek Cu hanya menyaksikan berlalunya ketiga orang itu, sambil menyeringai, tetapi selagi hendak berlalu, di belakangnya mendadak terdengar suara orang ketawa yang kemudian disusul dengan kata-katanya .
"Hai Si setan tua Pek Lek Cu ! Bagus sekali perbuatanmu "
Tatkala Pek Lek Cu memalingkan mukanya, di situ lantas terlihat kenalan lamanya, yakni Ciang Hay Sin Kun, Pendekar Kalong dan Yan San It Hiong bertiga.
Melihat ketiga orang kawannya itu muncul lagi berbareng di tempat tersebut, Pek Lek Cu terkejut juga.
Seketika itu lantas sambil bersenyum menyahut .
"Kalian bertiga hendak kemanakah ?"
Ciang Hay Sin Kun sambil senyum-senyum menjawab .
"Setan tua Pek Lek, barusan kau sudah salah tindak. Tiga orang kuat dari Thian Seng Hwee itu bukankah pernah mengatakan bahwa muridmu yang membom sembilan orang anggota perkumpulannya, bukan ?"
Pek Lek Cu berdekat hatinya, tetapi ia masih menjawab .
"Benar, Kenapa salah ?"
"Tahukah kau siapa yang mereka maksud dengan muridmu itu ?"
"Aku toh belum pernah terima murid ? Apa kalian tidak tahu ?"
"Benar, tapi orang-orang Thian Seng Hwee tentu anggap kau punya murid."
"Apa alasannya ?"
"Bukankah kau pernah bertaruh dengan seseorang ? Dan kau toh sudah kalah tiga bom Pek Lek Tan oleh seorang anak muda baju kelabu ?"
Pek Lek Cu tepok kepalanya sendiri .
"Apa bocah itu yang menggunakan bom itu membunuh orang-orangnya Thian Seng Hwee ?"
"Tepat "
"Bocah itu benar-benar keparat ! Kejam sekali dia !"
Pek Lek Cu mengangguk.
"Tentang ini aku pun tahu"
Katanya "tapi bocah itu begitu berani coba main api di depan mataku. Ini benar-benar tidak mengukur dirinya sendiri". Ciang Hay Sin Kun anggukkan kepala. Mendadak ia tepok kepalanya lalu berkata .
"Kabarnya ketua Thian Seng Hwee si Ahli Pedang Berkedok kini sudah berserikat dengan perkumpulan Hian Peng Kauw dari Lautan Utara. Rupa-rupanya sudah ada maksud mereka ingin menjagoi dunia Kang-zsouw dan menggunakan kesempatan itu berangkali mau mengikis habis-habisan semua partai kecil di kalangan Kang-zsouw. Kabarnya Ciong Lam Pay merupakan sasaran mereka yang pertama. Tiga hari belakangan ini kudengar partai itu kedatangan ultimatum dari Thian Seng Hwee. Mereka mengancam supaya dalam waktu sepuluh hari paling lambat, orang-orang kuat Ciong Lam Pay agar masuk menjadi anggota Thian Seng Hwee. Jikalau tidak, partai itu katanya hendak diratakan dengan tanah."
"Apa betul ada kejadian semacam itu ?"
Pek Lek Cu tanya, terkejut sekali dia.
"Mengapa tidak ?
Kau tahu sendiri bukan keadaan Ciong Lam Pay dewasa ini sejak terjadinya bentrokan dengan Ngo Bie Pay dan telah bertempur beberapa tahun lamanya, maka orang-orangnya yang kuat boleh dikata tidak seberapa lagi jumlahnya.
Dan sejak ketua partainya Yo Sui Peng menghilang tak karuan paran, partai itu sekarang di bawah pimpinan murid kepala Yo Sui Peng yaitu Oey Ju Hie.
Tapi oleh murid kepalanya ini pimpinan tak lama dipegang karena tahun lalu dia meninggal secara mendadak.
Dan jabatannya lantas terjatuh ke tangan anak perempuan satu-satunya yaitu Oey Bwee Cian boleh dikata ciangbunjin sementara.
Kalau ditilik dari dekat keadaan partai itu yang begitu merosot jauh, besar kemungkinannya bisa juga ditelan Thian Seng Hwee.
Pek Lek Cu hanya dapat berseru .
"Ow !"
Matanya nampak merah beringas.
"Aku dengar kabar pula, katanya itu nenek kukoay Kiat Hun Koay Po yang pada tiga puluh tahun dulu diberitakan orang hilang, kini sudah menjadi anggota Thian Seng Hwee."
Pek Lek Cu lantas memotong "Apa ? Kiat Hun Koay Po sudah menjadi anggota Thian Seng Hwee ? "
"Benar. Jika dilihat keadaannya, dengan adanya Kiat Hun Koay Po di situ, perkumpulan Thian Seng Hwee itu bagaikan macan tumbuh sayap bukan ?"
Berita itu benar benar membuat Pek Lek Cu terkejut sekali.
Setahunya nenek beradat ganjil Kiat Hun Koay Po itu pada tiga puluh tahun yang lalu namanya sangat kesohor di dunia Kang-zsouw.
Kepandaian silatnya jauh lebih tinggi dari pada Naga Merah, jago terkuat dari tiga Cu.
Jikalu benar-benar nenek itu telah menjadi anggota Thian Seng Hwee, entah bagaimana akan jadinya dunia Kang-zsouw kemudian hari.
"Kalau begitu, kalian bertiga apakah mau pergi ke Ciong Lam Pay menonton keramaiannya ? "
Demikian tanya Pek Lek Cu.
"Kau menduga tepat."
Kata Ciang Hay Sin Kun.
"Dan kalau kita anggap cukup tenaga kita, mau ulur tangan memberi bantuan untuk partai itu. Dan kau sendiri mau kemana ?"
"Aku mau pergi ke Lautan Utara mengambilkan pedang Hian Peng Kiam untuk bocah itu."
"Kalau begitu berpisahan di sini sajalah dulu."
Kata Ciang Hay Sin Kun pula. Suaranya tawar. Selagi Ciang Hay Sin Kun hendak berlalu, Pek Lek Cu tiba-tiba berseru nyaring .
"Ha"
Dan wajahnya lantas berubah pucat. Kejadian yang datangnya mendadak itu membuat Ciang Hay Sin Kun bertiga terkejut.
"Pek Lek Setan Tua, kau kenapa ?"
Tegur si Pendekar Kalong.
Pendekar Kalong itu melihat Pek Lek Cu dengan wajah ketakutannya, menunjukkan terus matanya ke ujung bajunya Ciang Hay Sin Kun.
Ternyata di ujung bawah baju yang dipakai Ciang Hay Sin Kun entah sejak kepan ada tertancap itu tusuk konde berukiran Naga Merah yang menggoncangkan dunia Kang-zsouw.
Ini adalah untuk kesembilan belas kalinya tusuk konde maut itu muncul di dunia rimba persilatan.
Si Pendekar Kalong dan Ciang Hay Sin Kun agaknya telah mendapat firasat apa-apa.
Seketika itu matanya mengikuti pandangannya Pek Lek Cu.
Dan seketika itu pula membuat Ciang Hay Sin Kun dan Pendekar Kalong pada berubah wajahnya.
Setelah menjublak sekian lamanya, Pek Lek Cu baru dapat mengeluarkan perkataan .
"tusuk konde Naga Merah…"
Ucapan yang keluar dari mulut Pek Lek Cu itu serentak membuat suasana berubah jadi tegang.
Barangkali tak usah Pek Lek Cu membuka mulut, mereka akan tahu juga adanya tusuk konde perlambang maut itu.
Ciang Hay Sin Kun wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.
Tangannya memegang tusuk konde di ujung bajunya itu nampak gemetar.
Kejadian itu benar-benar di luar dugaan semua orang.
Tusuk konde maut itu bisa jadi mendapat alamat di atas bajunya Ciang Hay Sin Kun mengapakah ?
Suasana yang tadinya tenang tentram kini diliputi oleh ketegangan dan keseraman.
Untuk sesaat lamanya tak seorang pun dapat membuka mulut.
Lama sekali baru terdengar suara Ciang Hay Sin Kun yang berkata setelah menarik napas perlahan.
"Sungguh tak nyana."
Katanya.
"tusuk konde ini bisa menancap di badanku."
Ucapan sesingkat itu memberatkan perasaan dan pikiran orang-orang yang ada di situ.
Dan peristiwa yang menggemparkan itu dengan cepat telah tersiar di kalangan Kang-zsouw.
Pada umumnya tidak seorang pun akan percaya kalau tusuk konde Naga Merah itu bisa terdapat di badan Ciang Hay Sin Kun.
Esok harinya Ciang Hay Sin Kun, Pendekar Kalong, Yan San It Hiong telah sampai berbareng di kota Lok Yang.
Oleh karena munculnya tusuk konde Naga Merah telah membuat tiga tokoh kuat dari rimba persilatan diliputi oleh perasaan takut dan ngeri.
Ciang Hay Sin Kun memikirkan dirinya sendiri, rasanya pernah bermusuhan dengan Naga Merah.
Bagaimana tusuk konde lambang maut itu bisa jatuh di badannya ?
Benar benar membuat orang tak habis pikir.
Mereka sebenarnya ingin pergi ke gunung Ciong Lam San.
Tetapi setelah dengan mendadak menerima tusuk konde lambang maut itu, terpaksa mereka urungkan niat pergi ke Ciong Lam San itu dan sudah bersiap sedia untuk menghadapi Naga Merah.
Hari itu mereka menetap di rumah penginapan Thay Pek Khek Cau.
Buat penduduk kota Lok Yang, rumah penginapan itu hampir semua orang tahu.
Rumah penginapan itu bukan Cuma mempunyai hiasan megah dan banyak kamarnya, hidangan araknya juga sudah kesohor keman-mana.
Tatkala Ciang Hay Sin Kun bertiga masuk ke rumah penginapan itu, sudah waktunya orang-orang pasang lampu.
Dalam waktu demikian hampir semua tempat duduk penuh oleh para tamu yang sedang bersantap malam.
Mereka bertiga coba mencari tempat duduk dan kebetulan di tempat yang berdekatan jendela ada orang yang baru saja bangun, maka tempat itu lantas diserbu oleh mereka tiga orang.
Setelah memesan beberapa rupa hidangan, mereka bertiga kembali membicarakan soal tusuk konde yang dianggap sebagai lambang maut itu.
Pendekar Kalong setelah berpikir sejenak, lantas berkata .
"Loko, kau pikir tusuk konde itu siapa yang menancapkan di bajumu ?"
"Mana aku bisa tahu ?"
Jawab Ciang Hay Sin Kun.
"Kau pikir apakah tak bisa jadi perbuatannya bocah itu ?"
"Siapa maksudmu ?"
"Bocah yang memakai baju abu-abu, yang menang tiga bom Pek Lek Tan ?"
Ciang Hay Sin Kun bercekat hatinya, wajahnya nampak kebingungan, dalam risaunya ia hanya dapat menjawab .
"Rasanya tidak mungkin…"
"Belum tentu lho, dia adalah murid satu-satunya dari si Naga Merah, sudah tentu besar kemungkinannya bisa saja berbuat begitu."
Belum lagi habis perkataan Pendekar Kalong, Yan San It Hiong tiba-tiba berseru kaget dan berkata .
"Apakah itu bukan dianya ?"
Maka mereka lalu tujukan ke sudut meja di sebelah timur, disitu terlihat seorang anak muda baju kelabu sedang makan minum seorang diri.
Dia adalah Tan Liong.
Pendekar Kalong berubah wajahnya.
Dengan suara perlahan lalu berkata .
"Benar, itulah dianya. Kau kata, tusuk konde ini mungkin dia yang menancapkan di bajumu ?"
Ciang Hay Sin Kun kembali menggeleng dan menjawab .
"Rasanya tidak boleh jadi …"
Pada saat itu di undak-undakan loteng tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari orang berjalan.
Hal ini membuat para tetamu yang sedang makan atau minum lantas mengawasi ke tangga loteng itu.
Dan apa yang dilihat oleh mereka ?
Dua gadis muda berpakaian serba merah sudah berdiri di mulut tangga loteng.
Dua gadis baju merah itu benar benar sangat cantik.
Seorang di antaranya, menujukan matanya ke segala jurusan, agaknya sedang mencari tempat lowong.
Pelayan rumah makan yang di belakang mereka lantas berkata sambil unjuk muka manis .
"Nona-nona harap suka menunggu sebentar, tentu akan ada tempat kosong."
Seorang di antara gadis itu yang badannya agak tinggi lantas dengan suaranya yang bagai burung kenari berkata .
"Apa sudah tak ada tempat lain ?"
"Tidak ada"
Begitulah si pelayan menjawab.
Tan Liong yang saat itu juga angkat kepala matanya justru beradu dengan dua bola mata gadis baju merah yang tinggian itu.
Gadis itu seperti terperanjat sedikit, tetapi hanya sekejap lalu terdengar suara ketawanya yang merdu, kemudian kepada kawan di sampingnya, gadis yang agak kecil, berkata .
"Adik, mari kita kesana."
Dan ia menarik tangan si adik itu ke tempat duduk Tan Liong.
Semua tetamu yang ada di loteng itu hampir menujukan mata mereka kepada dua gadis baju merah itu.
Tan Liong yang mengawasi kedatangannya dua gadis baju merah itu terkejut dalam hatinya.
Sebabnya salah seorang di antara mereka yang badannya lebih pendek sedikit seperti pernah dilihatnya entah dimana, dan waktu kapan sudah lupa dia.
Ia tak berani memandang lebih lama karena saat itu dua gadis baju merah sudah berdiri di hadapan mejanya hingga membuat anak muda itu berdebar-debar hatinya.
Suara yang merdu terdengar dalam telinganya .
"Tuan, bolehkah kita numpang duduk di sini ?"
Tan Liong sesaat lamanya bungkam tak dapat menjawab, tetapi kemudian lantas menyahut .
"Jikalau nona tidak menganggap terlalu sulit pergaulan lelaki dan wanita, silahkan saja."
"Kalau begitu, kami ucapkan terima kasih kami terlebih dahulu."
Pelayan itu ketika melihat Tan Liong suka memberikan tempat duduk kepada tetamu tetamu manisnya itu, sudah merasa gembira. Maka sambil unjuk sikap manisnya lagi lantas ia menanya .
"Nona-nona ingin bersantap apakah ?"
Gadis yang lebih tinggi badannya itu setelah duduk terus mengawasi meja sebentar lalu berkata .
"Kau sediakanlah hidangan sama seperti yang tuan ini minta, cukuplah."
Pelayan rumah makan itu agaknya merasa heran, sambil ketawa lebar mengawasi hidangan yang dipesan Tan Liong kemudian setelah menyahut .
"Baik"
Lantas berlalu.
Kejadian itu sangat menarik perhatian sekalian tetamu di situ, tidak terkejut dengan Ciang Hay Sin Kun bertiga.
Sebab dua gadis dengan seorang pemuda yang masing masing agaknya, dibawah sorot mata begitu banyak tetamu, tanpa mengindahkan peraturan keras yang ada pada jaman itu, telah duduk makan minum di satu meja bersama-sama.
Untuk sesaat lamanya Tan Liong merasa seperti duduk di atas jarum.
Hatinya merasa dak dik duk.
Karena semenjak dijelmakan hingga menjadi manusia dewasa itu belum pernah mengalami kejadian itu.
Kecantikan dan kepolosan dua gadis itu benar-benar mengejutkan semua orang.
Kejadian itu bukan hanya membuat Tan Liong merasa kikuk dan kaget.
Ciang Hay Sin Kun bertiga pun merasa heran melihat tindakan yang diambil oleh dua gadis itu.
Pendekar Kalong sambil kerutkan kening berkata perlahan .
"Loko, itu gadis yang lebih kecil badannya, rasa-rasanya pernah kulihat."
Ciang Hay Sin Kun dan Yan San It Hiong yang mendengar perkataan kawannya itu, matanya tidak ditujukan kepada gadis baju merah yang berbadan agak kecilan itu lalu menjawab dengan serentak .
"Benar, dimana rasanya kita pernah melihat."
Apa yang dipikir oleh Ciang Hay Sin Kun bertiga, ada serupa dengan pikirannya Tan Liong, sebab mereka rasanya pernah melihat gadis baju merah yang badannya agak kecil itu.
Para tamu yang pada dahar minum di rumah makan Thay Khek Cau itu juga hampir semua merasa heran terhadap dirinya dua gadis itu.
Tan Liong minum sendirian sambil tundukkan kepala, ia seolah-olah tidak mempunyai itu keberanian untuk angkat kepala sebab jika ia angkat kepalanya, matanya sudah pasti akan kebentrok dengan pasang matanya dua dara di hadapannya itu.
Saat itu pikirannya sedang bekerja keras, entah dimana ia pernah melihat wajahnya gadis yang badannya agak kecil itu ?
Saat itu pelayan rumah makan sudah mengantarkan hidangan yang dipesan oleh dua gadis baju merah itu.
Gadis yang badannya agak besaran itu mengawasi Tan Liong yang sedang minum sendirian sejenak, lalu berkata kepada adiknya sambil tertawa hambar .
"Adik, sungguh tidak enak sekali, oleh karena memberi tempat bagi kita, sampai orang tidak berani angkat kepala, kau kata ada mirip dengan kelakuannya satu gadis tua tidak ?"
Ucapan yang dikeluarkan dari satu mulut kecil mungil dengan nada suara sangat merdu, namun ada mengandung ejekan, telah membuat para tetamu yang mendengarnya pada merasa geli, sedangkan Tan Liong yang mendengar itu, segera mengerti bahwa perkataan itu ditujukan kepada dirinya, maka ketika itu wajahnya lantas merah kemalu-maluan.
-o0o0dw0o0o-
Jilid ke . 11 Gadis baju merah itu sesungguhnya sangat keterlaluan. Gadis yang kecilan itu ketawa dan menjawab.
"Enci, jangan menyakiti hatinya, kau lihat orang sampai merah mukanya."
Sang enci itu ketawa cekikikan.
"Kau jangan menganggap dia seperti gadis tua akan tetapi orangnya hehh! Sungguh tak boleh dibuat gegabah."
"Bagaimana enci bisa tahu? "
"Sebentar aku bisa beritahukan padamu, siapa adanya dia. Kau nanti akan percaya perkataan encimu."
Kedua gadis itu bicara seenaknya saja.
Agaknya tak pernah mereka melihat adanya Tan Liong didepannya.
Hal ini bukan cuma membuat Tan Liong merasa panas wajahnya, tetapi juga membuat ia tidak enak duduk di situ, Karena merasa sudah tak dapat menahan sabarnya lagi Tan Liong tiba-tiba angkat kepalanya, matanya menyapu dua gadis itu dan berkata dengan suara dingin.
"Harap nona-nona suka pegang derajat sedikit supaya kita tidak sampai melukai hati masing-masing."
Gadis yang agak besaran itu sambil ketawa berkata.
"Adik, tidak salah toh ucapanku tadi. Sekarang kelihatannya dia sedang gusar."
Sang adik, gadis yang kecilan itu rupanya merasa kasihan, maka lantas menyahut.
"Enci, sudahlah."
Sang enci ketawa dan menyahut.
"Baiklah aku tak akan berkata apa-apa lagi. Cuma, adikku yang baik, janganlah kau pikir yang tidak-tidak."
Perkataan yang mengandung arti dalam itu membuat si adik wajahnya merah seketika, lantas berkata pada encinya itu.
"Enci, jangan omong segala yang bukan-bukan! Aku tak senang.
"Mereka lantas mulai melahap hidangannya.
Dan selagi mereka berdua menyikat makanannya suasana kembali tenang.
Tan Liong kembali memikirkan tentang gadis yang kecilan itu.
Yang jelas masih berbayang dimatanya seperti pernah melihat.
Dan sekarang ia mulai mengingat-ingat ......
"Siapapun takkan menduga dan tak ada orang yang percaya bahwa di dalam sebuah rumah makan yang selalu penuh sesak dengan tetamunya itu sebetulnya sedang diliputi oleh suasana gawat yang setiap saat bisa meledak!
Dan suasana tegang itu sedetik demi sedetik telah meningkat kepuncaknya tanpa diketahui orang......
Agaknya Pendekar Kalong yang mempunyai ingatan tajam sedikit daripada kawan-kawannya, stelah mengawasi Tan Liong dan gadis baju merah itu sejenak, dalam otaknya tiba-tiba seperti ingat sesuatu.
Dan dengan suara perlahan lalu berkata pada dua kawan lainnya.
"Loko, aku sekarang telah mendapat suatu pikiran."
"Pikiran apa?"
"Bukankah Loko telah menerima tusuk konde Naga Merah?"
"Apa perlumu menanyakan soal itu lagi. Diamlah."
"Justru aku mau membicarakan soal itu. Tusuk konde itulah yang mungkin ditinggalkan oleh bocah itu. Dan apa sebabnya aku bisa pikir sampai kesitu sudah tentu bukan tanpa sebab. Bocah itu adalah murid si Naga Merah. Dan tusuk konde yang pertama muncul di dunia Kang-zsouw sudah tentu adalah perbuatannya."
Ciang hay Sin kun mengangguk. Pendekar Kalong berkata pula.
"Tapi kita harus sedikit berlaku hati-hati tidak perduli siapapun yang memberi tusuk konde itu padamu pertama yang harus kita ambil tindakan mendekati dia. Jangan sampai dia mendekati kita barang setengah tindak saja. Jikalau tusuk konde itu orang lain yang menimpukkan, berarti kita telah mendapat satu pembantu berharga."
Pikirnya Pendekar Kalong itu memang benar masuk di akal. Maka setelah mengangguk Ciang hay Sin kun lantas berkata.
"Baiklah, setelah nanti dua gadis baju merah itu pergi, kesanalah kau."
Tetapi pada saat itu suatu kejadian yang menakutkan telah terjadi dengan tiba-tiba.
Tan Liong setelah mengasah otaknya, mengingat ingat siapa adanya gadis baju merah itu, dan ia lantas ingat seseorang.
Setelah berseru.
"Aaaa!"
Tangan kananya lantas menggebrak meja sehingga lantas terdengar suara keras, dan mangkok cangkir pada jungkir balik pada pecah kemana-mana membuat kaget semua tetamu yang sedang makan minum di situ.
Tepat pada saat Tan Liong menggebrak meja tadi kedua gadis itu lantas melesat lompat ke samping.
Seketika itu juga para tetamu lantas pada meninggalkan tempat duduk masing-masing mereka tak mengetahui apa sebetulnya yang telah terjadi.
Tan Liong dengan sorot mata berapi-api menatap dua gadis baju merah itu.
Ia lantas berkata.
"Aku kira siapa! Tidak tahunya kalian si Dua Naga?"
Tan Liong sudah dapat ingat bahwa gadis baju merah yang badannya agak kecilan itu adalah itu Naga merah palsu yang dulu pernah dilukainya dalam suatu pertarungan sengit disuatu desa dalam kota Kay hong.
Perkataan Tan Liong sesingkat itu tambah membingungkan para tamu yang berada di situ.
Pada saat itu dari bawah kelihatan berjalan naik kasir rumah makan itu.
Ketika melihat keadaan demikian lantas ketakutan setengah mati.
Dengan badan gemetaran si pemilik rumah makan berkata.
"Apa sebetulnya yang terjadi? "
Para tamu agaknya merasakan hawa panas dan suasana gawat dirumah makan tersebut, maka pada lari serabutan turun ke bawah dan meninggalkan tempat di atas itu.
Sekarang di ruangan yang luas itu hanya tinggal tiga orang muda itu, dan gadis baju merah yang besaran itu lantas berkata.
"Benar. Kau ternyata jeli, dapat lagi mengenal orang."
Tan Liong ketawa besar kemudian berkata.
"Perhitungan antara kita sudah harus dibereskan sekali lagi."
Setelah berkata begitu perlahan-lahan ia mendekati si gadis baju merah.
Kejadian itu membuat Ciang hay Sin kun dan dua kawannya yang lain pada terperanjat.
Mereka tak tahu ada permusuhan apa antara Tan Liong dengan dua gadis itu.
Gadis yang besaran itu berkata pula.
"Antara kau dengan aku sebetulnya laksana air sumur yang tak pernah terganggu oleh air sungai. Perlu apa harus melakukan pertempuran mati-matian! Lagipun orang yang mencari kau, jumlahnya terlalu besar. Apa lagi malam ini masih perlu kau menyelesaikan satu tugas menggempur si manusia gaib, bukan? "
Pertanyaan itu membikin Tan Liong kaget dalam hatinya.
Apakah perbuatan yang menaruhkan tusuk konde di atas dirinya Ciang hay Sin kun sudah diketahui olehnya?
Tetapi kemudian ia bisa berpikir dengan otak dingin.
Soal itu tak terlalu bisa diherankan, sebab jikalau bukan mereka sudah tentu adalah Tan Liong sendiri yang berbuat.
Kini si pemuda mendengar gadis yang besaran itu buka mulut pula.
"Adik,"
Katanya.
"Mari kita pergi. Berkelahi di atas loteng orang, bisa bikin pecah piring mangkok, ini bisa membikin kita berabe."
Setelah berkata begitu tanpa memandang Tan Liong lagi ia sudah putar badan dan turun ke bawah. Tan Liong mendadak lompat dan menghadang di hadapan mereka, berkata dengan nada dingin.
"Nona-nona ingin pergi tidak semudah itu."
Gadis yang besaran itu lantas berkata.
"Dan yang kau inginkan? "
"Yang aku inginkan? Oho! Gampang sekali. Bereskan dulu urusan kita, yang lain boleh pikir belakangan."
Gadis yang besaran itu berdiri alisnya, dan berkata.
"Kalau memang maksudmu ingin berkelahi bolehlah. nanti pukul tiga tengah malam kita berjumpa lagi dikelenteng tua yang dari sini kira-kira letaknya lima lie."
"Apa ini akal muslihatmu menunda waktu? "
"Apa kau kira aku takut padamu? "
"Aku toh tak pernah kata kalian takut padaku? "
"Ingatlah! Berkelahi juga boleh, tapi jangan di sini. Kalau barang orang pecah, aku sih tak suka mengganti segala kerugiannya."
Setelah berkata begitu, tanpa menanti jawaban setuju atau tidaknya Tan Liong, lantas mereka turun ke bawah melewati sisinya Tan Liong.
Kali ini Tan Liong tidak mencegah dua gadis itu.
Anggapnya perkataan dua gadis itu cukup beralasan.
sebab jikalau memecahkan barang orang lain, sebetulnya memang berabe juga.
Maka seketika juga ia merogoh sepotong uang perak yang diberikan pada kasir.
"Uang ini selain untuk membayar hidangan kami, juga untuk mengganti kerugian barang-barang yang pecah tadi."
Setelah itu ia sendirian dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Ciang hay Sin kun, Pendekar kalong dan Yau san It hiong bertiga tatkala menyaksikan peristiwa tadi mendadak ingat sesuatu.
Pendekar Kalonglah yang buka mulut terlebih dahulu.
"Ciang hay Loko dengarlah aku."
Katanya.
"Barusan, itu gadis baju merah kata pemuda itu malam ini perlu menggempur itu orang gaib bukan?"
Ciang hay sin kun mengangguk matanya bersinar. Pendekar Kalong berkata pula.
"Loko ada mempunyai julukan ‘manusia gaib’ di suatu masa. Dari mulut gadis baju merah tadi itu orang meninggalkan tusuk konde itu atas dirimu tentu adalah bocah itu."
"Ini benar-benar membuatku tak habis pikir. Aku tahu bocah itu sama sekali tak pernah mempunyai permusuhan."
Keterangan Ciang hay Sin kun membuat dua kawannya melongo. Mereka agaknyapun tak mengerti. Suasana sunyi. Lama sekali ...... baru terdengar lagi suaranya Pendekar Kalong.
"Loko batas waktu yang diberikan oleh tusuk konde itu kapankah? "
"Malam ini."
Saat itu Yan san It hiong yang semenjak tadi selalu bungkam, mendadak buka mulut.
"Jiwi Loheng, aku sekarang ingat. Itu gadis yang kecilan tadi bukankah si Naga Merah tiruan yang dilakukan bocah tadi itu di kota Koay hong?"
Dengan perkataannya Yan san It hiong itu kini telah membuat Ciang hay Sin kun dan Pendekar Kalong mengingat kembali semua kejadian yang pernah mereka saksikan maka dalam hati lantas berpikir.
"Pantas seperti pernah lihat. Kiranya si Naga Merah tiruan ...."
Pendekar Kalong lantas berkata.
"Benar dan gadis baju merah tadi sudah ingat aku, betul merekalah yang menyaru Naga Merah."
Dengan adanya pertukaran pikiran itu membuat Ciang hay Sin kun bercekat hatinya.
Sekarang ia dapat memastikan bahwa tusuk konde Naga Merah perlambang maut yang disematkan atas bajunya jikalau bukan Tan Liong tentu adalah dua gadis baju merah itu yang berbuat.
Dan di antara ketiga orang itu entah siapa yang melakukan ini yang membuat Ciang hay Sin kun belum dapat memecahkan persoalannya.
Tidak demikian halnya dengan Pendekar Kalong, orang ini dalam pikirannya, melihat dari apa yang terjadi barusan ada kemungkinan besar bahwa orang yang memberi tusuk konde itu pada kawannya pasti adalah Tan Liong si pemuda baju kelabu.
Dan untuk mendapat kepastiannya ia lalu memikir hendak mengikuti perginya pemuda itu lebih lanjut.
Maka lantas diutarakannya pikirannya itu kepada dua orang kawannya.
"Sekarang telah kita ketahui yang memberi tusuk konde itu pasti adalah bocah itu atau salah satu dari dua gadis baju merah tadi.
Tapi siapa yang berbuat begitu berani perlu kita bikin penyelidikan.
Mari kita turun ke bawah, kita lihat mereka bertempur."
Pikirannya itu mendapat sambutan setuju dari dua kawan lainnya.
TAN LIONG mengikuti dua gadis baju merah tadi.
malam itu juga setelah sampai di sebuah rimba yang luasnya kira-kira tiga lie persegi dan gadis baju merah itu baru menghentikan langkah mereka.
Oleh karena sangat membenci pada perbuatan dua Naga Merah tiruan yang melakukan pembunuhan terus menerus maka malam itu Tan Liong telah menetapkan suatu keputusan mereka harus menjelaskan sebab-sebab semua peristiwa yang lalu.
Maka Tan Liong setelah mengawasi dua gadis baju merah itu sejenak lalu dengan nada dingin berkata.
"Mengapa kalian menyaru dan memakai nama Naga Merah melakukan kejahatan? Lekas jawab ! "
Gadis baju merah yang besaran itu sambil ketawa dingin menjawab.
"Perduli apa kau ! Seandainya benar kami menggunakan nama Naga Merah, kau mau apa? "
Berhenti si gadis sejenak, setelah mengawasi adiknya berkata pula.
"Adik dulu yang melukai kau adalah dia ini? "
Gadis yang badannya agak kecilan memandang Tan Liong sejenak dengan sorot mata gusar tetapi kegusarannya itu agaknya hanya sekejap saja dan lantas lenyap tak kelihatan lagi.
Wanita itu hanya memperlihatkan senyum ewah sambil mengawasi si kakak berkata.
"Aku benci suruh aku bikin dia mati? "
"Kepandaianmu masih dibawahnya, kau bukan tandingannya? "
"Kalau begitu apa enci ingin mewakili membunuhnya? "
Sang enci itu mengawasi adiknya sejenak, mendadak dari sorot mata si enci tampak berubah.
Ia seperti melihat apa-apa yang kurang beres ......
Dan apa-apa yang dilihat olehnya itu, dalam perhubungan antara pria dan wanita, ada sangkut pautnya erat sekali.
Iapun dapat merasakan itu apa yang sedang dipikir adiknya pada waktu itu, agaknya telah juga masuk diakalnya.
Dalam sejarah kehidupannya, gadis-gadis yang sebaya dengan mereka, yang saat itu sudah mendekati usia dua puluh tahun, sudah sewajarnya kalau muncul perasaan "apa-apa"
Itu. Mengingat akan hal itu, dengan sendirinya wanita yang besaran itu memandang Tan Liong sejenak lalu berkata kata pada dirinya sendiri.
"Memang kalau bisa mendapat kawan hidup seperti orang ini kita juga tidak kecewa dalam penghidupan."
Karena hatinya berpikir demikan pipinya lantas menjadi merah dadu. Tan Liong yang melihat dua gadis itu masih berdiri tegak, wajahnya lantas berubah dan ia lantas berkata dengan suara gusar.
"Apa sebabnya nona harus menggunakan nama Naga Merah! Bukankah lebih baik lekas menjawab? Apa perlu aku turun tangan lebih dulu?"
Gadis yang agak besaran itu melirik Tan Liong dengan sudut matanya, hatinya berdebar. Pada saat itu barangkali pemuda itu sudah ingin membunuh sekali. Maka lantas sang kakak ini menjawab.
"Kami kakak beradik bolehkah lebih dulu mengetahui nama tuan yang mulia?"
Jawaban berupa pertanyaan itu sesungguhnya jauh diluar dugaan Tan Liong.
Sungguh tak pernah ia menyangka kalau dua gadis baju merah itu bukan saja tidak menjawab langsung pertanyaannya, sebaliknya malah menanyakan namanya.
maka seketika itu ia hanya meloncat tak dapat menjawab.
"Kita toh akan berkelahi, perlu apa dengan soal nama segala? Tak perlu"
Gadis yang agak besaran itu ketawa suaranya merdu sekali, kemudian berkata lagi!
"Justeru karena kita hendak berkelahi aku tidak menanya.
Bagaimana harus berkelahi tanpa mengetahui lawan yang kita kalahkan?
Tentu akan ditertawakan orang saja."
Tan Liong merasa kewalahan, terpaksa menjawab.
"Namaku Tan. dan nona berdua? "
"Enciku bernama Chie Peng, aku sendiri Chie Cui"
Nyeletuk si adik.
Chie Peng agaknya tak senang namanya diberitahukan kepada orang lain, ditatapnya wajah adiknya itu sejenak, anggapnya sang adik itu terlalu cepat dan terlalu gegabah memberikan jawaban.
Chie Cui yang dipelototi oleh si enci, terkejut sekali.
Sambil balik menatap wajah encinya itu, berkata.
"Enci, apakah aku salah kata? "
"Adik, aku toh tidak katakan kau salah kata?"
Jawab sang enci sambil menghela napas.
Chie Cui tersenyum.
dari sini da[at dilihat pebedaan sifat kedua gadis itu.
Yang satu yakni yang besaran hati-hati sikapnya sedang adiknya masih bersifat kekanak-kanakan.
"Nama masing-masing sudah tahu sekarang boleh kita berkelahi."
Menantang Tan Liong dengan sikap dingin.
"Tuan, kita tahu bahwa orang yang kau ingin ajak berkelahi malam ini belum tentu adalah kita orang!"
Kata Chie Peng sambil ketawa dingin. Ia berhenti sejenak, matanya yang jeli mengawasi keadaan disekitarnya lalu berkata pula.
"Orang yang hendak mencari kau sudah datang semua ......"
Perkataan tu membuat Tan Liong diam-diam terperanjat.
Ia mengawasi keadaan sekitarnya, tiba-tiba ada muncul lima orang tua.
Menyaksikan keadaan demikian Tan Liong segera mengerti bahwa dua gadis she Chie itu telah memancing padanya datang kemari, memang ada maksudnya.
Karena itu.
maka seketika itu alisnya lantas berdiri, dengan wajah penuh hawa amarah ia berkata sambil tertawa mengejek.
"Nona nona telah memancing aku yang rendah datang kemari, agaknya sudah nona rencanaknan lebih dulu.
Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 2
Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 5