Ceritasilat Novel Online

Pukulan Naga Sakti 2

Eps 2 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.

"Dengan mengingkari liang-sim, mereka telah merampas lukisan Enghiong to milikmu, kemudian demi ilmu silat yang berada di balik enghiong to tersebut mereka saling membunuh, heeehhh..... heeehhh.... heeehhh.... itulah tampang-tampang yang sebenarnya dari kaum lurus dalam dunia persilatan, heeehhh..... heeehhhh...."

Thi Eng khi merasa hatinya makin bergolak keras, mendadak teriaknya keras-keras .

"Sekarang lukisan Enghiong to ku itu sudah dirampas siapa?"

Kakek botak tersebut tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... lohu selalu hanya memikirkan dirimu, maka lukisan Enghiong to tersebut pun telah kurampas kembali. Baik, anggap saja sebagai hadiah pertempuran dari suhu untukmu, terimalah kembali lukisan itu!"

Dari balik sakunya dia lantas mengeluarkan gulungan lukisan tersebut....

Lukisan itu bagaikan ada sukmanya saja, setelah berputar satu lingkaran ditengah udara segera melayang ke tengah Thi Eng khi.

Dengan cepat Thi Eng khi menyambut lukisan itu, lalu katanya emosi .

"Kalau begitu, Hong im siu Sang Thong adalah penyaruan darimu!"

Inilah kecurigaan yang selalu tertanam di hati Thi Eng khi, sekarang dia ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya.

"Lohu bergelar Huam im sing ang, soal ilmu menyamar mah urusan sepele, asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, akupun bisa menghadiahkan kitab pusaka Huan im poo liok tersebut untukmu."

"Aku tidak percaya? Aku tidak percaya!"

Seru Thi Eng khi sambil menggeleng.

"Hong im siu Sang Thong berperawak tinggi besar, soal perawakan tak mungkin bisa dilakukan hanya dengan jalan menyaru saja."

Huan im sin ang tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh..... jika ilmu sakti yang tercantum di dalam kitab pusaka Jit sat hian im cing keng telah berhasil dilatih dengan sempurna, maka soal merubah badan bisa dilakukan sekehendak hati sendiri, jika kau tidak percaya aku akan membuktikannya di hadapanmu...."

Sambil membungkukkan badannya, tiba-tiba terdengar bunyi gemerutuknya tulang yang amat keras bergema di angkasa, lalu tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi lebih tinggi beberapa kali lipat.

Senyuman segera menghiasi bibirnya, dia mengira kali ini Thi Eng khi tak akan menaruh curiga lagi dan murid yang baik inipun pasti akan diperoleh.

Siapa tahu Thi Eng khi segera tertawa dingin tiada hentinya .

"Semua tingkah laku dan perbuatan lotiang selama menjadi Hong im siu sudah banyak yang siauseng saksikan, begitu banyak jago lihay yang berada di dalam perkampungan Ki hian san ceng juga tak seorangpun yang sanggup mengalahkan dirimu, itu menunjukkan kalau ilmu silat yang lotiang miliki benar-benar luar biasa sekali, cuma kau bilang mereka lupa akan keadilan dan kebenaran dengan berbuat semena-mena, tolong tanya bagaimana pula dengan perbuatan yang telah kau lakukan sendiri selama ini!"

Huan im sin ang merasa kecewa sekali dia tidak menyangka kalau Thi Eng khi bakal memutar balikkan pembicaraan hanya bertujuan untuk memakinya.

Kontan saja timbul ingatan jahat dalam hatinya, sambil menyeringai seram katanya.

"Keparat cilik baik-baik kuberi arak kehormatan kepadamu, kau tak mau, arak hukuman malahan yang dipilih, baik! Hari ini aku akan memaksamu untuk mengangkat diriku menjadi gurumu, kau tidak mau juga harus mau, kalau tidak maka jangan harap bisa tinggalkan puncak Bong soat hong dalam keadaan selamat."

"Hmm! Siauseng tidak takut dengan ancaman sekalipun kau hendak membacokku sampai mati, aku juga tidak akan mengangkat dirimu menjadi guruku!"

Tak terlukiskan kemarahan Huan im sin ang sesudah mendengar perkataan itu, segera bentaknya.

"Bocah keparat, kau pingin mampus!"

Sepasang tangannya segera disentilkan bersama kedepan, sepuluh gulung desingan angin tajam segera mengurung seluruh jalan darah penting di tubuh Thi Eng khi.

Keadaan Thi Eng khi waktu itu ibaratnya seekor domba yang siap disembelih, jangankan melarikan diri, bahkan ingatan tersebut belum lagi melintas dalam benaknya dia sudah roboh terkapar diatas tanah.

Seluruh tubuh Thi Eng khi menjadi terbelenggu dan tak mampu berkutik lagi, setelah menghela napas panjang, ia pejamkan mata dan pasrah kepada nasib.

Begitu berhasil menguasai Thi Eng khi, Huan im sin ang masih tetap berusaha untuk melunakkan hati pemuda itu, katanya dengan lembut .

"Orang yang sudah mati tak bisa bangkit kembali kalau kau tetap keras kepala semacam begini maka hasilnya hanya akan menambah setan penasaran saja di akhirat, sekali lagi lohu memberi kesempatan yang terakhir kepadamu, jawabanmu akan mempengaruhi mati hidupmu!"

Thi Eng khi tetap membungkam dalam seribu bahasa, tak sepatah katapun yang diucapkan. Dengan suara keras, Huan im sin ang segera membentak .

"Sudah kau dengar belum ucapan dari lohu itu?"

Thi Eng khi masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Huan im sing ang menjadi gusar sekali, kembali dia mengayunkan jari tangannya, segulung desingan angin tajam segera meluncurkan ke depan dan menghajar bahu kanan Thi Eng khi.

Sekujur badan pemuda itu segera menggigil keras, bagaikan tercebur ke dalam gudang es saja, kontan saja seluruh badannya menjadi kaku.

Akan tetapi dia masih tetap menggertak gigi menahan diri, tak sepatah katapun yang diucapkan.

Huan im sing ang bertambah gusar lagi sehingga sekujur badannya gemetar keras, sebuah pukulan kembali dilontarkan membuat tubuh Thi Eng khi segera terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Tubuh Thi Eng khi terkena serangan Jit sat ci dari Huan im sin ang lebih dulu, kemudian termakan oleh pukulan tersebut, halmana membuat napasnya menjadi lemah dan tak sanggup untuk merana kembali.

Melihat kejadian ini, Huam im sin ang tertawa terbahak-bahak, serunya kembali .

"Barang siapa terkena ilmu jari Jit sat ci dari lohu maka jiwanya tak akan tertolong lagi, ditambah kalau terkena pukulan Im hong tou kut ciang sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan juga tak akan bisa menolong jiwamu, nah , silahkan saja kau rasakan penderitaan itu!"

Seusai berkata, dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari tempat itu.

Tak lama setelah bayangan tubuh Huan im sin ang lenyap dari pandangan mata, dari atas sebatang pohon siong ditepi puncak bukit itu melayang turun seorang hwesio berusia pertengahan, dengan gerakan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat dia sudah tiba disisi tubuh Thi Eng khi.

Tampak airmata hwesio itu jatuh bercucuran dengan derasnya, sedang mulutnya berguman tiada hentinya .

"Bocah wahai bocah, seandainya tidak kuturuti jejakmu sepanjang jalan, mana mungkin kau masih bisa hidup terus?"

Dengan cepat dia membuka baju yang dikenakan Thi Eng khi, mengeluarkan sebuah botol porselen berwarna biru, mengeluarkan tiga butir pil dan secara berhati-hati sekali memasukkan sebutir diantaranya kemulut Thi Eng khi, sedang dua lainnya dimasukkan kembali kedalam botol porselen itu kemudian dimasukkan kembali ke saku Thi Eng khi.

Kemudian dia membopong pemuda itu menuju kedalam sebuah gua dibawah bukit dan membaringkannya diatas tanah.

Dengan suatu gerakan yang cepat dan memusatkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dia mengayunkan kesepuluh jari tangannya untuk menotok tiga puluh enam buah jalan darah penting disekujur badan Thi Eng khi.

Selesai menotok ketiga puluh enam buah jalan darah tersebut, sinar mata si hwesio setengah umur yang semula bercahaya tajam kini menjadi amat redup, tampaknya dia sudah banyak mengorbankan tenaga dalamnya.

Akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja, setelah mengatur sebentar tenaga dalamnya dan kekuatan itu sudah pulih kembali, dengan cara yang sama kembali dia lancarkan totoknya disekujur badan pemuda itu.

Keadaan itu secara beruntun dilakukan tujuh kali, mukanya yang semula segar kini sudah menjadi pucat pias dan sayu, seakan-akan dalam waktu singkat ia telah menjadi tua beberapa puluh tahun, sedangkan air mata yang berada di sudut matanya tak pernah mengering kembali.

Sungguh aneh dan mencurigakan sekali gerak-gerik dari hwesio tersebut....?

Perhatian serta cinta kasihnya kepada Thi Eng khi sudah jelas melebihi perhatian dan cinta kasih seorang pendeta terhadap umatnya.

Apalagi jika dilihat dari tindakannya yang merogoh ke saku Thi Eng khi serta mengeluarkan pil mestika Toh mia kim wan jelas sekali terhadap keadaan dari pemuda tersebut.

Hwesio setengah umur yang sebenarnya gagah dan segar, setelah mengalami banyak pengorbanan tenaga dalam berubah menjadi lemas dan sayu sekali.

Akan tetapi ketika dilihatnya paras muka Thi Eng khi berubah menjadi segar kembali, airmata sekali lagi berderai membasahi pipinya, sementara sekulum senyuman lega menghiasi bibirnya.

Ia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekejap sekeliling gua itu, kemudian sambil berkerut kening gumamnya .

"Tempat ini bukan suatu tempat yang cocok untuk merawat luka, tampaknya terpaksa aku harus membopongnya turun gunung."

Maka diapun membopong Thi Eng khi dan diam-diam menuruni bukit Bong soat hong.

Di sebuah mulut selat Wu sia, dia mencari sebuah kuil kecil yang jauh dari keramaian manusia, lalu dibuatkan sebuah pembaringan kecil dari bambu dan membaringkan Thi Eng khi diatasnya.

Setelah otot tubuhnya dilukai oleh Huan im sin ang dengan ilmu totokan Jit sat cinya, kemudian termakan sebuah pukulan dahsyat lagi, sebetulnya Thi Eng khi sudah tidak berharapan untuk melanjutkan hidupnya, untung saja dia menyimpan obat mestika Toh mia kim wan dalam sakunya, ditambah lagi tenaga dalam hwesio setengah umur itu amat sempurna dimana ia berhasil menembusi otot-otot ditubuh pemuda yang tersumbat mati oleh totokan Jit sat ci, maka selembar jiwa pemuda itupun berhasil ditolong dari jurang kematian.

Begitulah, dibawah perawatan yang teliti selama tujuh hari lamanya pemuda itu baru berhasil memulihkan kembali kesadarannya.

Akan tetapi si hwesio setengah umur itupun sudah banyak kehilangan tenaga dalamnya sehingga berubah menjadi kurus kering bagaikan kulit pembungkus tulang.

Sewaktu Thi Eng khi membuka matanya untuk pertama kalinya, hwesio setengah umur itu kelihatan emosi sekali sehingga matanya yang sayu tiba-tiba mencorong kembali sinar tajam.

Thi Eng khi segera melompat bangun dan duduk, sapanya dengan wajah kebingungan .

"Mengapa aku bisa berada disini?"

Hwesio setengah umur itu segera membaringkan kembali pemuda itu agar tetap tiduran, lalu bisiknya .

"Siau sicu, lukamu terlampau parah, lebih baik berbaringlah dulu selama tiga hari sebelum boleh turun dari pembaringan!"

Thi Eng khi segera teringat kembali kejadian di bukit Bong soat hong tersebut, tak kuasa lagi dia segera bertanya .

"Siansu kah yang telah menyelamatkan selembar jiwaku?"

Dengan wajah berseri hwesio setengah umur itu berkata .

"Jasa itu bukan berada di tangan siauceng sebab yang sebetulnya menolong jiwamu adalah obat mestika yang siau sicu bawa sendiri."

Thi Eng khi segera tertawa dengan penuh rasa terima kasih, katanya dengan cepat .

"Sekalipun siauseng membawa obat mestika seandainya bukan siansu yang membantuku untuk memasukkan pil itu kedalam mulutku, selembar jiwaku juga akan tetap melayang. Itulah sebabnya budi kebaikan dari siansu tak akan kulupakan untuk selama-lamanya."

Kembali hwesio setengah umur itu tertawa.

"Aaaah... hanya secara kebetulan saja kita bersua dan membantumu, harap siau sicu jangan terlalu memikirkannya didalam hati, sekarang cepat atur pernapasanmu satu kali, coba periksalah seluruh badanmu apakah ada yang masih tidak sehat, kalau ada, cepat katakan kepada siauceng, agar bisa diusahakan pengobatannya."

Baru saja Thi Eng khi hendak berkata lagi dia segera dicegah oleh hwesio setengah umur itu sambil tersenyum.

Terpaksa dia memejamkan matanya dan mengerahkan Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk mengelilingi seluruh nadi penting dan jalan darah didalam tubuhnya setelah mengitari satu kali seluruh badannya, dia segera merasa bahwa tenaga dalamnya amat segar dan malahan bertambah hebat beberapa kali lipat dibandingkan sebelum terluka dulu.

Kenyataan ini segera menggirangkan hatinya, sambil melompat bangun dia lantas menjura seraya berseru .

"Siansu benar-benar sangat lihay, bukan saja siauseng merasakan seluruh tubuhku menjadi segar kembali, bahkan tenaga dalamku lebih sempurna beberapa kali lipat daripada sebelum terluka dulu ...."

Sekilas rasa kaget bercamput tercengang melintas diatas wajah hwesio setengah umur itu, kemudian sambil berseru tertahan dia pegang urat nadi dari Thi Eng khi dan memeriksanya, dengan suara lirih dia berbisik .

"Siau sicu, coba aturlah tenaga dalammu mengelilingi seluruh badan, akan siauceng periksa keadaanmu."

Thi Eng khi menurut dan segera melakukan seperti apa yang dikatakan itu.

Dengan cepat hwesio setengah umur itu memegang urat nadinya dan memeriksa sebentar, tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi bibirnya dia lantas berkata .

"Siau sicu, kau pasti pernah menerima suatu kemukjijatan atau pernah makan obat aneh yang bisa membantu menambah tenaga dalammu, oleh pengaruh tenaga dalam yang sianceng salurkan ke dalam tubuhmu, obat itu sudah mulai menunjukkan reaksinya dan menyebar ke seluruh badan bila kau melatih lagi tenaga dalammu selama beberapa hari maka menunggu daya kerja obat itu sudah mulai menyebar keseluruh badan, tenaga dalam siau sicu akan memperoleh kemajuan yang luar biasa pesatnya, terlebih dahulu siau ceng mengucapkan selamat untukmu."

Berkedip sepasang mata Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu, setelah menatap hwesio itu beberapa saat lamanya, diapun manggut-manggut.

"Keempat orang supek dan susiokku pernah memberikan empat macam obat mestika kepadaku, tapi sayang berhubung tenaga dalamku belum cukup sempurna maka tak sanggup membuyarkan kerja tenaga obat tersebut, tapi menurut keempat orang supek dan susiokku, untuk bisa menyebarkan daya kerja keempat macam obat itu hingga meresap ke seluruh badan, maka harus dipakai ilmu Pek hui tiau yang tayhoat, apakah kepandaian yang dipergunakan siansu adalah ....."

"Yaa, betul! Ilmu yang siauceng pergunakan memang ilmu Pek hui tiau yang tayhoat!"

Thi Eng khi semakin tercengang lagi, serunya .

"Pek hui tiau yang tayhoat adalah sinhoat tenaga dari aliran Thian liong pay, darimana siancu bisa mempelajarinya ?"

Paras muka hwesio setengah umur itu agak berubah, agaknya ia sedang merasakan gejolak perasaan yang luar biasa sekali, akhirnya setelah mengucapkan puji syukur keagungan Sang Buddha.

"Omitohud!"

Dengan wajah hambar katanya .

"Seorang sahabatku dari Thian liong pay telah mewariskan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat kepada siauceng, sungguh tak disangka puluhan tahun kemudian siauceng kembali mempergunakan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat untuk menolong siau sicu sebagai ciangbunjin dari partai Thian liong pay, tampaknya segala sesuatu telah diatur menurut takdirnya, betul bukan siau sicu?"

Thi Eng khi termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia bertanya .

"Siausu darimana kau bisa tahu kalau siauseng adalah ketua dari partai Thian liong pay?"

Menghadapi pertanyaan tersebut, hampir saja hwesio setengah umur itu hendak membeberkan kejadian yang sesungguhnya, tapi akhirnya ia berhasil menahan diri, katanya sambil menghela napas panjang.

"Thian liong kim kiam adalah pedang dari seorang ketua Thian liong pay, siau sicu membawa pedang tersebut berarti kau pastilah seorang ketua dari perguruan itu!"

"Aaah! Betul, siauseng memang goblok sehingga musti mengajukan pertanyaan tersebut."

Sementara itu, hwesio setengah umur itu telah bertanya kembali.

"Siau sicu, apakah kau she Thi bernama Eng khi?"

Sekali lagi Thi Eng khi dibikin kebingungan setengah mati, akhirnya sambil menatap hwesio itu lekat-lekat tanyanya .

"Siansu, sebenarnya siapakah kau?"

Hwesio setengah umur itu mengenyitkan alis matanya dan menjawab.

"Siauceng bergelar Huang oh!"

"Tolong tanya siansu, kenapa kau bisa mengetahui begitu jelas tentang diri siau seng?"

Huang ho siansu juga tertawa dan tidak menjawab. Setelah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba Huang ho siansu berkata lagi .

"Siauceng bersedia menghadiahkan ilmu tenaga dalam Pek hui tiau yang tayhoat dan ilmu pedang Thian liong kiam hoat kepada siau sicu, apakah siau sicu bersedia untuk mempelajarinya?"

Tekad Thi Eng khi memang sebelum menjayakan nama Thian liong pay dengan ilmu silat aliran perguruannya, dia tak akan mempelajari kepandaian aliran yang lain, ketika mendengar kalau Huang oh siansu bersedia mewariskan ilmu silat aliran Thian liong pay kepadanya, ia merasakan jantungnya berdebar keras.

Tapi sebelum mengucapkan sesuatu, satu ingatan lain segera melintas dalam benaknya, ia berpikir .

"Siansu yang telah menyelamatkan jiwaku ini berbicara kurang leluasa dan banyak hal yang mencurigakan sekali, sebelum mengambil keputusan aku harus menanyakan dulu keadaannya sampai jelas."

Berpikir sampai disitu, ia lantas menatap wajah Huang ho siansu lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan serius .

"Walaupun siauseng telah menerima jabatan sebagai ketua dari partai Thian liong pay tapi berhubung aku masuk perguruan agak lambat, tidak banyak yang kuketahui tentang kejadian Thian liong pay dimasa lampau, barusan siansu bilang ada hubungan dengan cianpwe dari partai kami, apakah kau bersedia memberi penjelasan lebih dahulu tentang masalah ini?"

Huang oh siansu berkerut kening dan termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata .

"Kejadian ini sudah berlangsung pada dua puluh tahunan berselang, untuk sesaat sulit bagiku untuk memulai kisah ceritanya, begini saja, bagaimana kalau siau ceng menceritakan suatu kisah cerita saja kepadamu?"

Thi Eng khi segera mengangguk.

"Siauseng siap mendengarkan ceritamu itu."

Huang oh siansu termenung sebentar seperti membayangkan kembali kejadian di masa lalu, kemudian dengan suara berat katanya .

"Dua puluh tahun berselang, dalam dunia persilatan muncul dua orang yang berbakat bagus, kedua orang itu sama-sama berilmu tinggi dan sama-sama gagahnya, berhubung antara nama mereka sama-sama memakai tulisan giok maka mereka disebut sebagai Bu lim siang giok (sepasang kemala dari dunia persilatan)."

Berbicara sampai disitu, dia melirik sekejap kearah Thi Eng khi kemudian melanjutkan .

"Yang seorang adalah ayahmu yang bernama Lan ih cu tok (pangeran berbaju biru) sedangkan yang satunya lagi bernama Gin san kiam kek (pendekar pedang baju perak) Ciu Cu giok. Kedua orang itu mempunyai cita-cita yang sama serta semangat yang sama pula, kemana mereka tiba kaum sesat segera terbasmi dan nama besar mereka makin meningkat, sehingga akhirnya jadilah manusia yang paling kosen diantara angkatan muda. Tetapi walaupun kedua orang itu bersahabat akrab, tapi kedua belah pihak sama-sama tinggi hati, maka dalam hal ilmu silat, kedua belah pihak sama-sama merasa tidak puas dan tidak takluk. Rupanya kedua orang itu tahu bahwa hal mana merupakan penghalang dari persahabatan mereka, maka secara berterus terang kedua belah pihak sama-sama mengutarakan isi hatinya, bahkan untuk menghilangkan perintang tersebut, kedua belah pihak secara terbuka saling bertukar ilmu silatnya masing-masing, Lan ih cu tok mewariskan ilmu Pek hui tiau yang tay hoat dan ilmu pedang Thian liong kiam hoat kepada Gin san kiam kek Ciu Cu giok, sedangkan Gin san kiam kek mewariskan ilmu sakti Ban liu kui tiong serta ilmu pedang Liu soat kiam hoatnya kepada Lan ih cu tok Thi tiong giok."

Jilid 5 Thi Eng khi segera merasakan pergolakan emosi yang luar biasa sekali dengan sorot mata yang tajam dia awasi hwesio itu lekatlekat, sebab dia tahu orang ini adalah salah satu diantaranya Ayahnya dan Ciu Cu giok ....

Makin bercerita, Huang oh siansu semakin lancar lagi sambungnya lebih jauh .

"Secara terbuka mereka saling mewariskan ilmu pedang dan simhoat tenaga dalamnya kepada yang lain, ternyata akibat dari perbuatan tersebut, mereka saling menaruh hormat kepada yang lainnya, tapi siapakah lebih lemah, ingatan tersebut belum pernah hilang dari benak mereka. Maka pada dua puluh tahun berselang, mereka berjanji untuk melakukan pertandingan selama tujuh hari tujuh malam didalam sebuah hutan yang jauh dari keramaian manusia, dalam pertarungan selama tujuh hari tujuh malam itu, ternyata terbukti bahwa kekuatan mereka adalah seimbang dan sukar diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah."

Dalam benak Thi Eng khi segera terlintas satu bayangan ....

dalam sebuah hutan yang terpencil, dua orang kerabat yang masih muda melangsungkan pertarungan selama tujuh hari tujuh malam dalam keadaan letih, mereka masih bertarung terus dengan serunya .....

Tak tahan lagi dia segera menghela napas panjang, katanya .

"Padahal apa perlunya berbuat begini?"

Huang oh siansu mendesah sedih.

"Aaai .... betul seandainya pada waktu itu kami bisa mempunyai perasaan seperti siau sicu sekarang, tak akan terjadi peristiwa yang amat tragis itu"

Thi Eng khi segera merasakan hatinya bergetar keras, apalagi bila teringat dengan pesan terakhir dari kakeknya, bisa diduga akhir dari pertarungan itu sudah pasti adalah suatu akhir yang amat tragis, kemungkinan besar yang menjadi korban adalah ayahnya sendiri.

Meski kejadian ini sudah berlangsung pada belasan tahun berselang, tapi dalam perasaannya seakan-akan kejadian itu berlangsung didepan mata, tanpa terasa lagi dengan perasaan tegang, serunya .

"Ooooh... akhirnya apakah mereka berhasil menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah?"

Huang oh siansu tertawa getir.

"Betul, akhirnya salah seorang diantaranya berhasil menang setengah jurus, sedangkan yang lain dikalahkan setengah jurus."

Thi Eng khi sangat berharap kalau yang kalah bukan ayahnya, buru-buru ia bertanya.

"Siapa yang dikalahkan setengah jurus?"

Huang oh siansu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, tapi gelak tertawa itu membawa nada sedih yang luar biasa, lama, lama sekali dia baru berkata.

"Siauceng menyebut diriku sebagai Huang oh (lupa diri sendiri), bahkan tentang aku sendiripun sudah lupa, mana mungkin aku masih ingat siapa yang menang dan siapa yang kalah!"

Seluruh wajah Thi Eng khi telah dibasahi oleh air mata, dengan suara rendah katanya .

"Apakah cerita tersebut berakhir sampai disini saja?"

"Akhirnya orang yang kena dikalahkan itu berhubung merasa malu terhadap perguruannya, lagipula pikirannya tak bisa terbuka, dengan membawa malu dia menggorok leher sendiri bunuh diri, sedangkan yang lain lagi karena sedih kehilangan teman akrabnya, segera mencukur kepalanya menjadi hwesio!"

Mendengar sampai disitu, Thi Eng khi segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja dia tak sanggup untuk berdiri tegak lagi, sambil memegang ujung jubah dari pendeta itu serunya .

"Siapakah kau orang tua yang sebenarnya?"

Dia masih berharap orang yang bunuh diri itu bukan ayahnya, maka dia telah mengubah panggilannya dari siansu menjadi "kau orang tua"

Setitik cahaya aneh memancar keluar dari balik mata Huang oh siansu, dengan suara tegas, sahutnya .

"Siauceng adalah Huang oh!"

Thi Eng khi merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat dia menarik kembali tenaga yang mencengkeram diatas jubah Huang oh siansu tersebut, kemudian sambil memegangi kepalanya sendiri dia merasa murung sekali.

Dia berusaha untuk menyakini bahwa Huang oh siansu yang berada di hadapannya adalah ayahnya sendiri, tapi bagaimanapun dia mencoba untuk membayangkan ternyata sama sekali tidak menemukan setitik alasanpun sebagai tempat berpijak.

Terutama sekali wajahnya yang kurus dan sayu itu, pada hakekatnya sama sekali tidak cocok dengan gelarnya sebagai seorang lelaki yang sangat tampan.

Padahal darimana dia bisa tahu kalau kesayuan wajah Huang oh siansu itu adalah akibat dari usahanya untuk mengobati luka yang dideritanya, karena terlalu banyak mengorbankan tenaga dalamnya maka begitulah jadinya.

Menyusul kemudian diapun mencoba untuk membayangkan Huang oh siansu sebagai Gin san kiam kek Ciu Cu giok.

Pertama, ia mengetahui Pek hui tiau yang tayhoat yang dimilikinya berasal dari seorang temannya dari Thian liong pay, maka itu berarti dia bukanlah ayahnya sendiri, kalau dia bukan ayahnya itu berarti orang itu adalah Ciu Cu giok.

Kedua, didalam berbincang-bincang sikapnya selalu ragu dan risau, jelas inilah penampilan dari semacam kejiwaan karena menyesal kepada keturunan rekannya yang telah tiada.

Ketiga, dia hendak mewariskan ilmu simhoat tenaga dalam Pek hui tiau yang tayhoat serta Thian liong kiam hoat kepadanya, sudah pasti hal ini dimaksudkan untuk mengurangi beban perasaannya yang terlampau menyiksa.

Atas ketiga hal tersebut diatas, Thi Eng khi lantas memutuskan kalau Huang oh siansu sudah pasti bukan ayahnya melainkan seorang dari Bu lim siang giok yaitu Gin san kiam kek Ciu Cu giok.

Perasaannya saat itu kalut sekali, pendeta yang berada di hadapannya sekarang pernah menjadi sahabat karib ayahnya, dan kini adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya, tapi ayahnya justru mati ditangannya, sehingga boleh dibilang dia adalah musuh besar pembunuh ayahnya.

Berpikir demikian, hampir saja dia tak sanggup mempertahankan diri, perasaannya betul-betul menjadi amat kalut.

Untung saja, pemuda ini sudah kenyang belajar ilmu sastrawan dan berjiwa amat besar, setelah dipikirkan lebih seksama lagi, dia merasa Gin san kiam kek Ciu Cu giok sebetulnya juga tidak berdosa, malah musibah yang dialaminya hampir tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami ayahnya.

Andaikata kedudukan kedua orang itu berbalikan, apakah dia bisa menuduh ayahnya telah melakukan suatu kesalahan?

Sedang arwah ayahnya di alam baka, tentu tidak mengijinkan pula dirinya untuk bersikap demikian.

Begitu pendapat tersebut melintas dalam benaknya, dia segera merasakan dadanya menjadi lapang, rasa sedih menjadi hilang dan kobaran api dendam yang memancar dari balik matanya banyak yang luntur .....

Selama ini Huang oh siansu mengawasi terus perubahan wajah Thi Eng khi dengan perasaan berat, ketika dilihatnya mimik muka anak muda itu berubah menjadi tenang kembali, diam-diam ia baru menghembuskan napas lega, diam-diam pujinya.

"Nak, kau berjiwa besar dan pandai menimbang berat ringannya persoalan, kau lebih hebat daripada ayahmu dulu!"

Pelan-pelan Thi Eng khi mendongakkan kepalanya, dengan sorot mata yang tajam tapi tulus, ia menatap wajah Huang oh siansu, kemudian ujarnya pelan .

"Siansu, boanpwe telah tahu siapakah dirimu, meski ayahku telah kalah setengah jurus sehingga bunuh diri, boanpwe tak berani membuat keonaran atas dasar kejadian itu apalagi membalas dendam, tapi kekalahan setengah jurus itu akan kurenggut kembali disuatu saat. Sekarang ilmu silat yang boanpwe miliki belum jadi, sulit bagiku untuk bertanding denganmu, maka berilah waktu selama dua tahun, sampai waktunya boanpwe pasti akan minta petunjukmu lagi disini!"

Sebenarnya Huang oh hwesio sedang bergirang hati karena kebesaran jiwa pemuda itu tapi keningnya segera berkerut setelah mendengar perkataan dari Thi Eng khi itu, diam-diam ia menghela napas dan berpikir .

"Nak, mengapa dalam hal inipun pikiranmu tak bisa dibuka?"

Tapi diluaran ia tetap menjawab .

"Baik, dua tahun kemudian siauceng pasti akan menunggu kedatanganmu disini!"

Setelah berhenti sebentar, terusnya .

"Sekarang sudah seharusnya siauceng mewariskan ilmu simhoat Pek hui tiau yang dan Thian liong kiam hoat dari partai Thian liong pay itu kepada siau sicu."

Tadi sebenarnya terlintas dalam benak Thi Eng khi untuk meminta petunjuk kepada Huang oh siansu tentang bagaimana caranya membebaskan pengaruh totokan dari Jit sat ci, tapi sekarang bukan saja ingatan tersebut sudah dilupakan, bahkan ingatan untuk minta belajar ilmu sakti Thian liong pay pun diurungkan, bahkan ia semakin bertekad untuk tidak pulang ke Huay im untuk sementara waktu.

Sebab dia hendak menemukan kembali kitab Thian liong pit kip yang telah hilang bersama lenyapnya kakeknya itu, lalu dengan mengandalkan kekuatan sendiri untuk menegakkan kembali nama besar Thian liong pay serta membalaskan sakit hati dari ayahnya.

Iapun bertekad untuk menampik maksud baik dari Huang oh siansu tersebut, maka dengan sopan dia berkata .

"Budi kebaikan siansu pasti akan kubalas, boanpwe ingin mohon diri lebih dahulu!"

Setelah menjura, dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari sana.

Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, berarti penawaran itu telah ditampik, Huang oh siansu segera tertawa paksa katanya .

"Siau sicu amat gagah dan perkasa, dikemudian hari pasti akan berhasil dengan sukses, cuma contoh didepan mata sudah jelas, aku harap sicu suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum mengambil keputusan."

Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, dia berhenti seraya berpaling, serunya .

"Boanpwe menerima nasehat itu!"

Dalam waktu singkat, dia sudah berada hampir satu kaki jauhnya dari tempat semula.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berwarna perak muncul dari belakang sebuah batu, kemudian dengan cepat menghadang jalan pergi Thi Eng khi.

Thi Eng khi sendiri hanya merasakan ada selapis kabut putih melayang didepan matanya, tanpa terasa dia mundur selangkah ketika mendongakkan kembali kepalanya, dia menjadi terbelalak dengan wajah berubah menjadi merah.

Ternyata orang yang menghadang jalan perginya itu adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, rambutnya yang panjang terurai sebahu, bajunya perak berkibar terhembus angin, kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.

"Thi siauhiap!"

Terdengar gadis itu berseru sambil berkerut kening.

"harap tunggu sebentar, siau li ingin mengucapkan beberapa patah kata kepadamu!"

Kemudian sambil melintas dari samping Thi Eng khi, dia menyelinap ke hadapan Huang oh siansu dan menubruk ke dalam pelukannya.

"Oooh ayah!"

Pekiknya sedih.

"sungguh rindu anakmu Ting-ting!"

Dengan cepat Huang oh siansu mendorong gadis itu sambil berseru dengan gugup .

"Nona, jangan salah melihat orang, pinceng adalah Huang oh, sama sekali tidak kenal denganmu!"

Noan berbaju perak itu agak tertegun, kemudian sambil menubruk kembali ke pelukan pendeta itu, serunya .

"Ooh ayah! Semua percakapanmu dengan Thi siauhiap telah kudengar, apakah kau benar-benar sudah lupa dengan putrimu sendiri Ting-ting ....?"

Oleh karena suatu alasan, Huang oh siansu tidak mau mengakui asal-usulnya dengan Thi Eng khi, sedang terhadap gadis yang bernama Ting-ting inipun dia merasa amat rikuh, sebab dia sudah tahu putri siapakah dia, padahal berbicara dari situasi yang sedang dihadapinya itu, mustahil baginya untuk menyangkal.

Maka dengan perasaan apa boleh buat, pendeta itu cuma manggut-manggut belaka.

Melihat itu, Ciu Ting ting segera berseru .

"Ibu telah memberitahukan segala sesuatunya kepada Ting ji, ketika kau orang tua meninggalkan rumah, Ting ji baru dilahirkan dua bulan, tentu saja kau orang tua tak akan kenal dengan Ting ji. Tapi sekarang Ting ji telah berhasil mempelajari ilmu pedang Liu soat kiam hoat milik kau orang tua, bila Ting ji sudah memainkan ilmu pedang tersebut, kau orang tua pasti akan yakin jika Ting ji bukan cuma mengaku -ngaku saja .... !"

Dalam keadaan begini ternyata Ciu Ting-ting masih bisa berpikir secermat itu, dari sini dapat diketahui bahwa dia memang seorang gadis yang luar biasa.

Begitulah, seusai berkata dia lantas meloloskan pedangnya, setelah memberi hormat kepada pendeta itu, diapun mainkan ilmu pedang Liu soat kiam hoat itu satu jurus demi satu jurus.

Selapis cahaya keperak-perakan dengan cepat membungkus seluruh tubuhnya yang langsing itu.

Hawa pedang menderu-deru, angin tajam menyapu keempat penjuru.

Thi Eng khi dipaksa tak kuat berdiri tegak sehingga tanpa terasa dia mundur beberapa langkah.

Sepasang mata Huang oh siansu berkedip-kedip seakan-akan dari tubuh Ciu Ting ting, ia terbayang kembali bayangan tubuh dari sobatnya yang telah tiada itu, sambil menghela napas dia lantas bergumam .

"Terpaksa aku harus bersikap demikian!"

Dengan cepat, ia mengambil suatu keputusan aneh.

Ketika menyelesaikan ke delapan puluh satu jurus ilmu pedang Liu saot kiam hoat itu, paras muka Ciu Ting ting masih tetap tenang, napasnya tidak memburu, mukanya tidak merah, seakan-akan ia tak pernah melakukan sesuatu apapun.

Huang oh siansu tidak menyangkal, juga tidak mengakui, dia hanya tersenyum dengan mulut membungkam.

Tapi justru melihat senyuman tersebut, perasaan Ciu Ting ting menjadi sangat lega, dengan cepat dia membaringkan diri dalam pelukan pendeta itu.

Dengan lemah lembut, Huang oh siansu membelai rambutnya yang lembut, kemudian katanya sambil tertawa .

"Pinceng Huang oh, panggillah aku dengan sebutan Huang oh siansu saja!"

"Baik!"

Jawab Ciu Ting ting sambil tersenyum.

"pendeta memang tak boleh punya anak, kemudian hari aku akan memanggil ayah sebagai Huang oh siansu."

Thi Eng khi yang menyaksikan adegan pertemuan ayah dan anak itu kemudian membayangkan nasib yang menimpa dirinya sendiri, tanpa terasa timbul rasa sedih dalam hatinya, ia merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan setetes air mata jatuh berlinang.

Padahal mana ia sangka kalau Huang oh siansu sesungguhnya adalah ayahnya sendiri, Ciu Ting ting yang sekarang sedang mengecap kebahagiaan itulah baru seorang anak yang benar-benar patut dikasihani.

Dengan senyuman dikulum Ciu Ting ting berjalan ke hadapan Thi Eng khi, kemudian setelah memberi hormat katanya .

"Siaumoy Ciu Ting ting benar-benar ikut berduka cita atas kematian empek Thi, selain itu juga memohonkan maaf bagi ayahku atas perbuatannya di masa lalu!"

Sikapnya supel, ucapannya bersungguh-sungguh dan cukup membuat orang merasa terharu. Cepat-cepat Thi Eng khi menyeka air mata yang membasahi wajahnya, kemudian sambil tertawa paksa, sahutnya .

"Ucapan Ciu lihiap terlampau serius, siaute sama sekali tidak bermaksud untuk membenci ayahmu."

"Sungguh?"

Seru Ciu Ting ting sambil berkenyit alis.

"Siaute berbicara dengan sejujurnya."

"Kalau begitu kau akan membatalkan juga perjanjianmu untuk bertemu pada dua tahun kemudian?"

"Sebagai anak sudah seharusnya menjunjung nama baik orang tua, pertemuan dua tahun kemudian tak berani siaute lupakan."

Jawab Thi Eng khi tegas. Dengan wajah bersungguh, Ciu Ting ting segera berseru .

"Siaute justru ingin minta petunjuk dari Thi siauhiap mengenai persoalan ini."

Thi Eng khi agak tertegun.

"Dalam hal apakah siaute telah berbuat tidak sepantasnya?"

"Thi siauhiap, tolong tanya apa yang sebenarnya hendak kau buktikan di dalam pertemuan dua tahun kemudian?"

Thi Eng khi belum pernah berbicara dengan kaum gadis, jangan dikata mukanya sudah memerah sedari tadi, bahkan kekosenannya entah mengapa juga turut lenyap tak berbekas, dia hanya bisa menggerakkan bibirnya tanpa sepotong perkataanpun yang bisa diucapkan.

Dengan wajah sedih kembali, Ciu Ting ting berkata .

"Ayahmu dan ayahku disebut orang Bu lim siang giok, sesungguhnya hubungan persahabatan mereka sangat karib. Buktinya, akibat dari kematian ayahmu, ternyata ayahku juga telah meninggalkan anak bininya untuk hidup mengasingkan diri sebagai seorang pendeta, dari sini bisa diketahui betapa dalamnya rasa sedih yang mencekam perasaannya."

Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata .

"Hanya dikarenakan ingin menangnya sendiri, kedua orang tua kita telah menciptakan keadaan yang begini tragis, sedang sekarang Thi siauhiap ingin melanjutkan kembali tragedi itu dengan kejadian lain, siaumoy yang bodoh jadi ingin bertanya, sesungguhnya apa maksud dan tujuan siauhiap yang sebenarnya?"

Thi Eng khi merasakan pikiran maupun perasaannya menjadi sangat kalut, untuk sesaat lamanya ia menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab ucapan tersebut.

Terdengar Ciu Ting ting kembali berkata .

"Bila siauhiap bersikeras ingin membuktikan kalau ilmu silat aliran Thian liong pay melebihi kepandaian ayahku, bagaimana seandainya siaumoy mewakili ayahku mengaku kalah .....? Kalau tidak, aku mohon dengan sangat agar kau bersedia memandang pada hubungan persahabatan kedua orang tua itu untuk menghapuskan masalah tersebut sampai disini saja!"

Paras muka Thi Eng khi berubah agak memucat, ia merasa setiap perkataan dari Ciu Ting ting sangat masuk akal sekali, sehingga pikiran sendiripun terasa menjadi ikut goyah.

"Thi siauhiap, apakah kau menganggap ucapan siaumoy itu tidak bisa diterima dengan akal sehat?"

Terdengar Ciu Ting ting kembali berseru dengan lantang.

Thi Eng khi adalah seorang lelaki yang berjiwa besar, bukan saja ia mau tahu keadaan orang juga berani mengakui kesalahannya sendiri.

Ia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...... haaahhh..... haaahhh....... terima kasih banyak nona Ciu atas nasehatmu yang telah membebaskan aku dari kebimbangan, terimalah hormat dari siaute!"

Dengan sungguh-sungguh dia lantas menjura dalam-dalam. Menyusul kemudian, dia pun memberi hormat kepada Huang oh siansu sembari berkata .

"Siansu dan ayahku adalah sahabat karib bila boanpwe telah bertindak kurang sopan tadi, harap siansu pun bersedia untuk memaafkan."

Huang oh siansu menjadi girang setengah mati, sebentar dia memandang kearah Ciu Ting ting, sebentar kemudian memandang ke arah Thi Eng khi lalu katanya sambil tertawa .

"Pinceng benar-benar merasa banyak berhutang kepada kalian!"

Sekali lagi Thi Eng khi memberi hormat.

"Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu!"

Dengan langkah lebar, dia lantas menuruni bukit. Dengan cepat, Ciu Ting ting memburu ke depan seraya berseru .

"Thi siauhiap, kalau memang kau sudah menyadari, mengapa tidak mempelajari Pek hui tiau yang dan Thian liong kiam hoat lebih dahulu sebelum pergi!"

Thi Eng khi tidak berbicara apa-apa lagi, tanpa berpaling dia melanjutkan perjalanannya ke depan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Melihat itu, Ciu Ting ting segera bergumam .

"Aaai .... dia ..... dia pergi juga sambil mengeraskan hatinya!"

"Seandainya Thi siauhiap tetap tinggal di sini, pinceng juga tak akan mewariskan apa-apa kepadanya,"

Ujar Huang oh siansu.

"kepergiannya ini justru merupakan pilihan yang paling tepat, pinceng malah merasa kagum sekali kepadanya!"

"Dia bakal ke mana?"

Tanya Ciu Ting ting dengan perasaan agak kuatir.

"Bila dugaan pinceng tidak salah, kemungkinan besar dia sedang pergi mencari kitab pusaka Thian liong pit kip perguruannya."

Sesungguhnya Huang oh siansu memang menaruh rasa sesal terhadap keturunan sahabat karibnya ini, maka ketika dilihatnya gadis itu seperti menaksir putranya, sekulum senyuman riang segera tersungging diujung bibirnya.

Dengan gerakan yang amat cepat Thi Eng khi menuruni bukit Thi san dan melanjutkan perjalanannya dengan menelusuri sungai Tiang kang.

Sepanjang perjalanan, pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, ia merasa bisa jaya atau tidaknya partai Thian liong pay tergantung pada berhasil atau tidaknya ia menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut.

Sedang satu-satunya kemungkinan untuk berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip adalah menuju keluar perbatasan dan mengunjungi Tiang pek lojin yang diminta kakeknya untuk menyampaikan pesan terakhirnya itu ......

Maka diapun bertekad untuk berangkat keluar perbatasan dan untuk sementara waktu tidak kembali ke kota Huay im.

Pengalaman pahit di perkampungan Ki hian san ceng serta mara bahaya yang dialaminya di bukit Bong soat hong, membuat pengetahuan serta pengalamannya semakin bertambah.

Sepanjang jalan dia selau berusaha untuk bertindak hati-hati dan menghindari segala kejadian yang tak diinginkan, benar juga, dengan lancar akhirnya tibalah dia di Si hong ko.

Asal dia sudah melampaui tembok besar maka wilayah tersebut sudah disebut sebagai luar perbatasan.

Pada saat yang bersamaan dengan tibanya Thi Eng khi di kota So hong ko, seorang pendeta dan seorang tosu yang mencurigakan gerak-geriknya bermunculan pula di sekitar pemuda itu sambil diamdiam menguntit perjalanan anak muda tersebut.

Thi Eng khi langsung mencari rumah penginapan untuk beristirahat, seusai makan malam dia memanggil pelayan untuk mencari keterangan tentang luar perbatasan serta seseorang yang bernama Tiang pek lojin.

Ternyata Tiang pek lojin mempunyai nama yang amat tersohor di luar perbatasan, hampir setiap orang mengetahui namanya dan setiap orang tahu siapakah dirinya.

Mengetahui akan hal itu, Thi Eng khi menjadi tidak kuatir kalau tak sampai bertemu dengan Tiang pek lojin, maka saking girangnya semalaman ia hampir tak bisa tidur.

Keesokan harinya.

sebelum fajar menyingsing, ia sudah melangkahkan kakinya di luar perbatasan.

Perasaannya waktu itu selain agak terpengaruh emosi, juga merasa agak kuatir.

Emosi karena tujuannya hampir sampai dan kabar berita tentang kitab pusaka Thian liong pit kip juga segera akan terungkap.

Ia kuatir karena tak tahu manusia macam apakah Tiang pek lojin itu?

Apakah dia juga seperti orang kenamaan yang pernah dijumpainya dalam perkampungan Ki hian san ceng, meski bernama besar tapi sombongnya bukan kepalang, andaikata memang demikian, itu berarti tipis harapan baginya untuk bisa mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut.

Begitulah, dengan perasaan yang gundah dan pikiran yang kalut, entah beberapa jauh ia sudah melanjutkan perjalanannya.

Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang serak tua .

"Siauhiap memakai jubah baju biru dan menyoren pedang Thian liong kim kiam, apakah kau adalah anak murid Thian liong pay?"

Mendengar teguran itu, Thi Eng khi merasa terperanjat, ia tidak segera menjawab melainkan mengamati orang tersebut dengan sinar mata yang tajam.

Tampak olehnya orang yang berbicara itu berperawakan tinggi besar, berwajah merah bersinar dan berambut memutih semua, matanya tajam bagai sembilu, jelas merupakan seorang jago silat yang berilmu tinggi .....

Dengan cepat, Thi Eng khi menjawab .

"Aku adalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, tolong tanya siapakah nama lotiang?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek tersebut setelah mendengar perkataan itu, dengan kejut bercampur girang, serunya tertahan .

"Oooh..... rupanya kau adalah Thi ciangbunjin dari partai Thian liong pay yang namanya menggetarkan daratan Tionggoan, aku si orang tua adalah Tam ci toa tiau (rajawali besar bersayap tunggal) Ting Tian yu ......! Maaf bila aku bersikap kurang hormat!"

Sikapnya segera berubah menjadi amat serius.

Thi Eng khi menjadi agak curiga, dia merasa tingkah laku dari Tam ci toa tiau Ting Tian yu terlampau berlebih-lebihan, sebab menurut pengalamannya, tak mungkin orang akan bersikap begitu hormat terhadap seorang ketua dari Thian liong pay yang sudah daluwarsa.

Maka diapun tidak berbicara apa-apa lagi selain mendengus dingin.

Siapa tahu, wajah Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera menunjukkan sikap yang amat gelisah, buru-buru tanyanya lagi .

"Cianbunjin, persoalan apa yang membuatmu tak senang hati?"

Sikapnya tampak malah semakin menaruh hormat lagi, seakanakan kuatir kalau sikapnya itu kurang hormat.

"Ting tayhiap, apakah kau sedang bermain sandiwara dihadapanku?"

Tegas Thi Eng khi dengan wajah dingin.

Tam ci toa tiau Ting Tian yu adalah seorang anak buah Tiang pek lojin yang mempunyai kedudukan yang cukup tinggi.

Selain itu, dia juga memiliki iman yang tebal.

Dengan cepat dia sadar bahwa Thi Eng khi terlalu banyak curiga.

Maka sambil menghela napas katanya .

"Semua jago persilatan yang berada di luar perbatasan hampir sebagian besar menaruh hormat kepada partai anda, puluhan tahun bagaikan sehari ..... aaai! Harap siauhiap jangan salah paham, aku sama sekali tidak mempunyai maksud lain!"

Thi Eng khi menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian .

"Kalau didengar dari perkataan Ting tayhiap, rupanya kalian sudah mengetahui jelas atas semua musibah yang menimpa partai kami di wilayah Tionggoan?"

"Tangcu kami sangat menaruh perhatian terhadap situasi dalam dunia persilatan, oleh sebab itu seringkali kami mengutus orang untuk mencari tahu situasi dalam dunia persilatan, akulah yang sebenarnya ditugaskan untuk menyambut kedatangan Thi ciangbunjin."

Mencorong sinar aneh dari balik mata Thi Eng khi yang terbelalak besar katanya .

"Siapakah Tangcu kalian? Mengapa dia menaruh perhatian khusus kepadaku?"

"Tangcu kami adalah orang yang hendak dikunjungi Thi ciangbunjin dalam perjalanan kali ini."

Dengan cepat Thi Eng khi berpikir .

"Jangan-jangan Tiang pek lojin sudah mengetahui akan maksud kedatanganku? Maka dia sengaja menggunakan cara begini untuk menyumbat dulu mulutku sehingga aku merasa sungkan untuk meminta kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut? Hmmm! Kali ini aku tak akan mempedulikan soal peraturan dunia persilatan."

Padahal dia sama sekali tidak memahami peraturan dunia persilatan, apa yang terpikir olehnya sekarang tak lebih hanya suatu reaksi belaka ..... Setelah termenung sebentar, katanya kemudian .

"Ooh.....! Rupanya Ting tayhiap adalah orang yang diutus Tiang pek lojin untuk menyambut kedatanganku, sungguh membuat hatiku terharu sekali."

"Tangcu kami lebih dikenal orang luar perbatasan sebagai It tek ang, sedangkan sebutan Tiang pek lojin sudah jarang sekali dipergunakan lagi,"

Tam ci toa tiau Ting Tian yu menerangkan.

Terhadap manusia yang bernama It tek ang ini Thi Eng khi boleh dibilang tidak begitu mengerti, tapi menggunakan julukan "It tek" (budi luhur) sebagai julukannya sesungguhnya dirasakan sebagai sesuatu takabur, maka dalam hati kecilnya segera timbul perasaan antipatik hingga tanpa banyak berbicara lagi, dia melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar.

Si rajawali besar bersayap tunggal Ting Tian yu juga tidak berkata apa-apa lagi, dengan kencang dia mengikuti dibelakangnya.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, perjalanan sudah dilakukan cukup jauh, tapi sepatah katapun mereka tidak berbicara.

Mendadak dari kejauhan sana tampak debu membumbung tinggi ke angkasa, menyusul kemudian tampak seekor kuda dilarikan kencang melaju ke arah mereka.

Dalam waktu singkat, ia sudah berada di depan Thi Eng khi berdua, belum lagi kudanya berhenti, sesosok bayangan manusia sudah melompat meninggalkan pelana, kemudian dari tengah udara terdengar seseorang berseru dengan nyaring .

"Paman Ting, bocah muda inikah orangnya?"

Ternyata yang muncul adalah seorang nona yang berwajah cantik tapi binal, wajahnya yang keras menunjukkan bahwa dia seorang gadis yang tidak takut langit tidak takut bumi.

Mendengar dirinya dipanggil "Siaucu"

Thi Eng khi merasa mendongkol sekali, dengan kening berkerut dia lantas melengos kearah lain dan enggan bertemu dengannya.

Tam ci toa tiau Ting Tian Yu membuat muka setan kepada nona itu, lalu menggerakkan tangan memberi kode, setelah itu dengan suara berat sengaja serunya .

"Bocah perempuan, makin lama semakin tak tahu adat, Thi siauhiap adalah seorang ketua dari suatu partai persilatan, berani betul kau bersikap kurang ajar!"

Karena didengarnya nona itu sudah ditegur, Thi Eng khi merasa rikuh sendiri, maka buru-buru ia berpaling sambil bersiap-siap hendak menjumpainya.

Tampak nona binal itu telah berseru sambil menarik muka .

"Di luar perbatasan, sebutan "Siaucu"

Masih lebih terhormat dan hangat daripada sebutan tayhiap. Hei! Menurut kau, lebih baik kusebut dirimu sebagai siauhiap atau Siaucu?"

Agaknya Thi Eng khi tidak menyangka kalau pihak lawan begitu terbuka dan terang-terangan, untuk sesaat dia menjadi gugup sendiri dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Setelah tertegun dengan perasaan apa boleh buat, dia baru berkata .

"Aku ....... aku ..... terserah pada nona sendiri mau menyebut apa kepadaku ...."

Ketika dilihatnya Thi Eng khi mendapat malu, Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera tertawa terbahak-bahal.

"Thi ciangbunjin, mari kita perkenalkan."

Sambil menarik nona itu, terusnya .

"Dia adalah cucu kesayangan Tangcu kami, orang menyebutnya Pek leng siancu So Bwe Leng, nona So!"

Tidak menunggu Tam ci toa tiau Ting Tian yu memperkenalkan Thi Eng khi, dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng telah berseru lebih dahulu .

"Kau adalah cucunya Keng thian giok cu Thi yaya dari partai Thian liong pay, anaknya paman Thi dan ketua partai saat ini Thi Eng khi Thi siauhiap! Betul bukan?"

Di tengah gelak tertawa merdunya, dia lantas melompat naik keatas kudanya dan membedalnya kencang-kencang.

"Paman Ting!"

Terdengar ia berseru keras "Kau tak boleh sampai kurang hormat terhadap tamu, aku akan berangkat duluan!"

Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera menuntun dua ekor kuda yang dibawa oleh si nona tadi, kemudian sambil menyerahkan seekor kuda berbulu hitam kepada Thi Eng khi, katanya .

"Kuda ini kuda mestika Meh giok poo be milik tangcu kami, mari kita lanjutkan perjalanan siauhiap!"

Sikapnya terhadap pemuda itu tampak lebih akrab lagi.

Thi Eng khi bukanlah seorang yang mengerti soal kuda, dia mengira ucapan dari Tam ci toa tiau Ting Tian yu hanya merupakan suatu penampilan bahwa Tiang pek lojin amat menaruh hormat kepadanya.

Dasar pemuda itu memang sudah menaruh benih curiga, sebelum bersua sendiri dengan Tiang pek lojin, dia enggan banyak bicara, maka tanpa banyak basa basi lagi dia melompat naik keatas kuda Meh giok poo be yang dibilang mestika itu.

Benar juga, Thi Eng khi segera merasa bahwa kuda itu dapat bergerak dengan cepat dan enteng sekali, untuk mengimbangi kecepatan lari kudanya itu, ternyata kuda yang ditunggungi Tam ci toa tiau Ting Tian yu harus dilarikan sekencang-kencangnya.

Setelah ada bukti tersebut, walaupun Thi Eng khi tidak memiliki pengetahuan tentang kuda, dia dapat juga mengetahui kalau kuda itu memang benar-benar bukan kuda sembarangan.

Tanpa terasa segera pujinya .

"Sungguh seekor kuda jempolan yang sangat hebat!"

Sambil tertawa Rajawali besar bersayap tunggal Ting Tian yu berkata lagi .

"Siauhiap, bila kau ada minat, apa salahnya untuk melarikan kuda itu secepat-cepatnya untuk mencoba sampai dimanakah kehebatan kuda mestika ini?"

Thi Eng khi menjadi sangat tertarik, dengan cepat dia menghempit kakinya kencang-kencang dan mencemplak kudanya, diiringi suara ringkikan panjang dengan cepat kudanya membedal ke depan dengan amat cepatnya.

Setelah dicoba, ia baru kaget bercampur kagum, serunya dihati .

"Ooooh.... ternyata yang dinamakan kuda mestika yang bisa lari seribu li dalam sehari bukan cuma kata-kata bualan didalam buku bacaan saja ......"

Setelah dilarikan sekian waktu, bayangan tubuh Tam ci toa tiau Ting Tian yu yang berada di belakang ternyata sudah lenyap dari pandangan mata.

Thi Eng khi segera menarik tali les kudanya dan memperlambat lari kuda itu, maksudnya hendak menunggu kedatangan Tam ci toa tiau Ting Tian yu.

Siapa tahu sekalipun sudah ditunggu sekian waktu, yang ditunggu-tunggu belum nampak juga sementara bayangan kota sudah kelihatan di depan sana, maka diapun melarikan kudanya menelusuri jalan raya kota itu.

Waktu itu adalah saat ramai-ramainya orang berlalu lalang dalam kota tadi, entah kenapa secara tiba-tiba suasana menjadi sangat hening, semua orang yang berada disekeliling tempat itu menunjukkan sikap yang amat menghormat sekali, sementara mereka yang kebetulan berada ditengah jalan segera menyingkir kesamping sambil membungkukkan badan memberi hormat.

Thi Eng khi mengira dari belakangnya muncul seorang pembesar, buru-buru dia berpaling, tapi disana tak nampak seorang manusiapun.

Dengan perasaan bingung, ia lantas berpikir .

"Mungkinkah mereka menunjukkan sikap menghormat karena aku adalah seorang ketua dari Thian liong pay? Mungkinkah nama Thian liong pay meskipun dicemooh didaratan, tapi masih dihormati oleh orang-orang luar perbatasan?"

Ia merasa hal ini mustahil, sehingga tanpa terasa menggelengkan kepalanya berulang kali. Mendadak ia seperti menyadari akan sesuatu, segera berpikir lebih jauh .

"Aah! Benar, Meh giok poo be adalah kuda tunggangan It tek ang! Tampaknya kedudukannya It tek ang di luar perbatasan selain disanjung dalam dunia persilatan, juga dihormati oleh setiap penduduk."

Dia tak ingin membonceng ketenaran orang maka buru-buru dia melompat turun dari kuda dan berjalan sambil menuntun kuda tunggangannya itu.

Setelah menembusi sebuah jalan raya, sampailah pemuda itu didepan sebuah rumah makan, sementara ia sedang mempertimbangkan apakah akan menunggu kedatangan Tam ci toa tiau atau tidak, tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelabat lewat.

Tahu-tahu So Bwe leng sudah muncul di depan matanya, dengan serius dia lantas berseru .

"Thi ciangbunjin, silahkan masuk ke dalam untuk beristirahat!"

Seorang pemuda baju hijau segera muncul untuk menyambut kuda Meh giok poo be itu.

Thi Eng khi tak enak untuk menampik, maka dia lantas masuk kedalam rumah makan itu.

Dalam rumah makan tersebut telah disiapkan hidangan yang lezat sekali.

Thi Eng khi dipersilahkan untuk duduk di kursi utama, sementara So Bwe leng menemaninya di samping.

Kali ini So Bwe leng sangat jarang berbicara, bukan saja sopan santun, sikapnya juga amat menaruh hormat, bagaikan sikap seorang dayang terhadap majikannya.

Thi Eng khi merasa canggung sekali dalam suasana begini, ia merasa gerak geriknya menjadi tidak bebas.

Untung saja pada saat itulah Tam ci toa tiau Ting Tian yu berjalan masuk, terdengar ia tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh.... Haaahhh.... haahhh.... Hian titli kalau yayamu sampai tahu kalau kau sedang mempermainkan Thi siauhiap, jangan salahkan aku jika kau dicaci maki habis-habisan!"

Sambil berkata dia lantas berjalan ke samping meja dan duduk disitu.

"Aah, dia kan seorang ketua dari suatu perguruan besar,"

Seru So Bwe leng dengan cepat.

"kalau aku tidak menaruh hormat kepadanya, apakah ia tidak akan mentertawakan orang persilatan diluar perbatasan yang pasti dibilangnya tak tahu sopan santun."

Seraya berkata, dengan sepasang biji matanya yang jeli, dia awasi Thi Eng khi lekat-lekat. Menghadapi situasi semacam ini, Thi Eng khi menjadi amat rikuh. Katanya kemudian smabil tertawa .

"Entah kesalahan apakah yang telah kuperbuat terhadap nona? Harap nona suka memberi petunjuk, lain kali pasti akan kuperhatikan secara baik-baik."

Sambil mengerdipkan sepasang matanya yang besar, So Bwe leng segera berkata .

"Kecuali kalau dengan tulus iklas kau bersedia dipanggil sebagai Siaucu (bocah keparat) olehku, kalau tidak, aku akan selalu menganggap kau bagaikan malaikat!"

Rupanya dia masih dikarenakan rasa dongkolnya di tengah jalan tadi, atau mungkin saja dia memang mempunyai tujuan lain.

Tampaknya Thi Eng khi benar-benar merasa takut dengan permainan nona itu, terpaksa katanya sambil tertawa .

"Jika nona So lebih suka memanggil Siaucu kepadaku, panggillah dengan sebutan Siaucu!"

So Bwe leng menjadi girang sekali ketika dilihatnya pemuda itu sudah takluk, katanya sambil tertawa .

"Tidak berani, tidak berani ...."

Tam ci toa tiau Ting Tian yu kuatir nona itu menggoda lebih jauh, buru-buru dia mengambil mangkok dan sumpit seraya berkata .

"Hayolah bersantap dulu! Kita masih harus melanjutkan perjalanan jauh!"

Sambil tertawa terbahak-bahak So Bwe leng segera menghadiahkan sepotong babi gemuk kepadanya.

"Silahkan! Silahkan!"

Serunya .

Selama hidup Thi Eng khi paling tidak doyan babi.

Tapi sekarang mau tak mau dia mesti telan babi itu dengan kening berkerut sekalipun.

Ia sudah pernah merasakan kelihayan nona cilik itu, dia tak berani mencari gara-gara lagi dengannya.

Begitulah, sepanjang jalan Thi Eng khi harus selalu bersikap hatihati, apalagi menghadapi So Bwe leng yang sering menggodanya.

Sepuluh hari perjalanan kemudian, akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan.

Benteng keluarga So bukan suatu kota yang terlampau besar, tapi kedudukannya diluar perbatasan hampir setaraf dengan kedudukan Bu tong pay dan Siau lim pay didaratan Tionggoan.

Sebab disinilah tempat tinggal It tek ang (Tiang pek lojin) So Seng pak yang merupakan pemimpin umat persilatan di luar perbatasan.

Benteng keluarga So letaknya di luar kota sebelah barat daya, waktu itu benteng terbuka lebar, beratus orang anggota benteng berbaris rapi dikedua belah sisi jalan.

Thi Eng khi sekalian dengan melewati sambutan yang meriah langsung menuju ke pintu benteng dan turun dari kuda.

Seorang kakek berusia lima puluh tahunan dengan senyuman dikulum segera menyambut kedatangan mereka.

"Ayah!"

Teriak So Bwe leng sambil memburu ke depan,"aku telah menyambut kedatangan Thi siauhiap!"

Tak usah disinggung lagi, kakek itu bukan lain adalah ayah So Bwe leng, Na im siusu (sastrawan penggaet awan) So Ping gwan adanya.

Thi Eng khi segera memburu ke depan beberapa langkah, setelah memberi hormat katanya .

"Sikap dari empek sungguh membuat boanpwe merasa malu sendiri!"

Ternyata di dalam perjalanan sepuluh hari ini, Thi Eng khi telah mendapat tahu kalau It tek ang So Seng pak adalah sahabat karibnya Keng thian giok cu selama puluhan tahun, ketika mengetahui dunia persilatan mencemooh partai Thian liong pay yang hancur, So Seng pak merasa mendongkol sekali.

Oleh sebab itu, semua kecurigaan yang semula mencekam perasaannya seketika tersapu lenyap.

Sementara Na im siusu So Ping gwan sambil menggandeng tangan Thi Eng khi segera berseru dengan senyuman dikulum .

"Silahkan masuk siauhiap, ayahku sedang menantikan kedatanganmu dalam ruang dalam!"

Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan duluan.

Setelah masuk ke dalam ruangan, Thi Eng khi menyaksikan diatas kursi kebesaran duduk seorang kakek berambut putih yang berperawakan tinggi besar dan berwajah keren.

Ketika kakek itu menyaksikan kedatangan Thi Eng khi, dengan perasaan tergetar keras segera bangkit berdiri.

Buru-buru Thi Eng khi maju ke depan sambil memberi hormat, serunya dengan pelan .

"Boanpwe Thi Eng khi menjumpai So yaya!"

It tek ang So Seng pak segera menahan bahu Thi Eng khi dan tidak membiarkannya menyembah, setelah mempersilahkan duduk dan mengamati wajahnya beberapa saat, tiba-tiba ia menghela napas panjang, katanya .

"Meski Thi lo gagah perkasa, sungguh tak nyana pada akhirnya dia telah melakukan juga suatu kesalahan besar."

"Kakekku telah melakukan kesalahan apa?"

Tanya Thi Eng khi dengan perasaan terkejut. It tek ang So Seng pak segera tertawa.

"Maksud lohu, bila ia tahu kalau cucunya sehebat ini, maka seharusnya dia tidak merasa putus asa ...."

Thi Eng khi baru memahami maksud kakek tersebut, setelah mendengar perkataan itu buru-buru katanya .

"Boanpwe bodoh dan tak becus, tidak pantas mendapat pujian dari kau orang tua, sesungguhnya ketika kakek meninggalkan rumah, boanpwe belum dilahirkan ...."

"Aaah.... rupanya begitu!"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya .

"Jauh-jauh siauhiap datang kemari, apakah kau ingin menyaksikan masalah kakekmu?"

"Benar!"

Jawab Thi Eng khi sambil mengangguk.

"menurut wasiat kakek, boanpwe tidak seharusnya terjun kembali ke dunia persilatan....."

"Itulah kesalahan kakekmu,"

Sela It tek ang So Seng Pak.

"seandainya waktu itu dia tahu kalau dirinya bakal mempunyai cucu seperti kau, sudah pasti tindakan yang diambilnya akan berbeda."

Secara ringkas Thi Eng khi lantas menceritakan apa yang dialaminya bersama Thian liong ngo siang, bagaimana dia diangkat menjadi ketua, bagaimana menemukan kitab Thian liong pit kip telah dibawa kakeknya dan lain-lain.

Mendengar cerita tersebut, It tek ang So Seng pak segera tersenyum, katanya .

"kalau begitu, selain mencari tahu kabar berita kakekmu, kau juga bermaksud untuk mencari kitab pusaka Thian liong pit kip yang hilang itu ....?"

"Benar!"

Jawab Thi Eng khi berterus terang.

"boanpwe memang datang karena persoalan itu, mohon So yaya suka memberi petunjuk kepada diri boanpwe...."

It tek ang So Seng pak segera menghela napas panjang, katanya .

"Thi siauhiap, tahukah kau akan hubungan lohu dengan kakekmu itu....."

Ketika Thi Eng khi mendengar It tek ang berulang kali memanggilnya dengan sebutan siauhiap lama kelamaan ia merasa canggung juga, tak tahan segera tukasnya .

"So yaya, bila kau tidak memandang asing diriku, harap memanggil boanpwe dengan sebutan nama saja."

It tek ang segera tertawa tergelak.

"Haahhh..... haaahhhh.... haaahhh.... kalau kau sendiri selalu menyebut diri sebagai boanpwe, bagaimana mungkin aku bisa memanggil dirimu dengan sebutan yang lebih rapat?"

Thi Eng khi merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka dengan wajah memerah buru-buru serunya minta maaf.

"So yaya, Eng ji tahu salah!"

Baru saja dia minta maaf, So Bwe leng tahu-tahu sudah menyelonong masuk ke dalam ruangan sambil menubruk ke dalam pangkuan kakeknya dia berseru manja .

"Yaya, diapun selalu menganggap diriku sebagai orang luar!"

It tek ang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh.... budak ingusan, kau pandainya cuma menggoda orang, kenapa kau tidak memanggil engkoh dulu kepadanya?"

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi tak ingin kurang hormat lagi, maka buru-buru serunya .

"Adik Leng"

Buru-buru So Bwe leng memberi hormat seraya memanggil pula dengan merdu .

"Engkoh Eng!"

Sambil memegangi tangannya kakeknya dia mengawasi wajah pemuda itu, sedang sikapnya juga secara tiba-tiba menjadi alim dan sopan santun .....

It tek ang segera tertawa kepada Thi Eng khi ujarnya lebih jauh .

"Ketika lohu baru terjun ke dunia persilatan aku telah berkenalan dengan kakekmu dikota Hang ciu, karena saling mengagumi, kami melakukan pertandingan ilmu silat selama sepuluh kali dan mengikat diri menjadi sahabat. Kemudian lantaran lohu mengagumi ilmu silat kakekmu yang lebih lihay setingkat daripada kepandaian lohu, secara sukarela aku mengundurkan diri keluar perbatasan dengan harapan bisa berjuang di sana, puluhan tahun perjuangan akhirnya menghasilkan seperti apa yang kuperoleh sekarang ...... selama sepuluh tahun ini hubungan persahabatan kami masih berlangsung dengan akrab dan hangat ....."

Sesudah menghela napas panjang, terusnya .

"Dua puluh tahun berselang, lohu mendapat kabar kalau kakekmu tiba-tiba pergi meninggalkan rumah tanpa diketahui sebab musababnya, baru saja aku akan mengutus orang untuk menyelidiki peristiwa ini, mendadak datang seorang penduduk disekitar tempat ini yang menyerahkan sebuah bungkusan, ketika kubuka bungkusan tersebut, ternyata isinya adalah barang peninggalan dari kakekmu ...."

"So yaya, jadi kau sama sekali tidak berjumpa dengan kakekku?"

Sela Thi Eng khi. It tek ang menghela napas panjang, katanya lagi .

"Kakekmu menyuruh penduduk asli tersebut menyampaikan pesan yang meminta lohu menghantar bungkusan tersebut kembali ke partai Thian liong pay didaratan Tionggoan, waktu itu aku segera berangkat bersama penduduk asli itu untuk menuju ke tempat pertemuan mereka dengan harapan bisa membereskan jenasahnya, siapa tahu kakekmu tidak nampak ada di situ, lohu menjadi sedih sekali, aku mengira jenasahnya mungkin sudah dilarikan binatang buas, maka dengan perasaan sedih akupun berangkat ke daratan Tionggoan untuk menyerahkan bungkusan itu kepada kalian. Mengenai apa isi bungkusan tersebut, lohu tidak membukanya maka juga tidak tahu, masa dia tidak mengembalikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut?"

Thi Eng khi telah mengalihkan perhatiannya pada penduduk asli tersebut, dengan cepat dia berkata .

"Kalau begitu, sekarang kita cuma bisa mendapat keterangan dari penduduk asli itu!"

It tek ang menghela napas panjang.

"Setelah kejadian, berulang kali lohu sudah menanyai orangorang itu, tapi dia tak lebih cuma menjalankan pesan orang saja dan soal lain tidak diketahuinya, lagi pula orang itu sudah meninggal pada tiga tahun berselang."

Thi Eng khi segera merasakan kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, segenap harapannya terasa musnah dan lenyap tak berbekas. It tek ang cepat-cepat menghibur.

"Ing ji, kau tak usah terlalu bersedih hati, terbayang ketika sepuluh kali aku beradu kepandaian dengan kakekmu meski kalah sedikit namun selisihpun tidak terlalu banyak, aku yakin pasti dapat membuatmu menjadi seorang jagoan yang termashur dalam dunia persilatan dan membangun kembali nama besar Thian liong pay. Dengan bakatmu itu, aku rasa dalam dua tahun saja seluruh kepandaian silat yang kumiliki sudah dapat kau pelajari, apakah kau memiliki kesabaran itu?"

Thi Eng khi tahu kalau It tek ang mempunyai maksud baik terhadapnya, tentu saja kakek tersebut tidak menduga kalau ia sudah bertekad untuk mempelajari ilmu silat perguruannya lebih dulu sebelum mempelajari ilmu silat aliran yang lain.

Maka dengan perasaan minta maaf katanya .

"So yaya berhasrat mendidikku menjadi orang, seharusnya Eng ji merasa bergembira hati, tapi bagaimanapun juga Eng ji adalah seorang ketua dari Thian liong pay, orang bisa menertawakan diriku seandainya dalam bertempur nanti ilmu silat yang kupergunakan adalah ilmu silat bukan aliran Thian liong pay. Oleh sebab itu, terpaksa Eng ji harus menampik maksud baik kau orang tua."

Mendengar perkataan itu, It tek ang segera tertawa terbahakbahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh.... bagus! Bagus! Bocah, kau punya semangat! Besok akan kuajak dirimu untuk melakukan penyelidikan lagi di sekitar tempat kakekmu mendapat musibah, coba kita lihat bagaimanakah kemujuranmu."

Thi Eng khi menjadi girang sekali, buru-buru ia bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada It tek ang.

Sementara itu, dari luar pintu berjalan masuk seorang centeng yang segera membisikkan sesuatu ke sisi telinga It tek ang.

Mendengar itu, It tek ang segera berpaling ke arah Thi Eng khi sembari bertanya .

"Eng ji, sepanjang jalan kemari, tahukah kau kalau ada seorang hwesio dari Siau lim pay dan Tosu dari Bu tong pay yang menguntil dirimu secara diam-diam?"

Terbayang kembali akan kebaikan dari Keng hian totiang dan Ci kay taysu, Thi Eng khi lantas mengira kalau hwesio dan tosu itu adalah dua orang jago yang diutus Siau lim pay serta Bu tong pay untuk melindungi keselamatan jiwanya, maka sambil tersenyum dia menjawab.

"Siau lim pay maupun Bu tong pay sangat bersahabat dengan Eng ji, boleh jadi kedua orang itu memang diutus untuk melindungi Eng ji secara diam-diam, So yaya! Harap kau jangan menyusahkan mereka."

It tek ang manggut-manggut, kepada centeng itu pesannya .

"Hwesio dan tosu itu bukan orang jahat, baik-baik layani mereka."

Centeng itu mengiyakan dan segera mengundurkan diri.

Hari itu juga Thi Eng khi dapat merasakan pelayanan paling ramah yang pernah dialaminya semenjak meninggalkan rumah, apalagi dilayani So Bwe leng yang binal dan pandai berbicara, membuat seluruh kemurungan dalam hatinya dapat diusir keluar dari benaknya.

Malam itu, Thi Eng khi dihantar menuju ke sebuah bangunan mungil ditengah kebun, menurut orang tua itu, bangunan tersebut dulunya khusus dipakai untuk menyambut kedatangan kakeknya Keng thian giok cu.

Dari sini dapat diketahui betapa tulusnya persahabatan It tek ang dengan kakeknya tanpa terasa Thi Eng khi merasa terharu sekali.

So Bwe leng berbicara terus tanpa hentinya, ada saja bahan cerita yang muncul dari benaknya hingga larut malam dia baru berpamit dari kamar Thi Eng khi dengan perasaan berat, sebelum pergi dia sempat berpesan dengan sungguh-sungguh.

"Engkoh Eng, bila besok kau akan pergi bersama yaya, jangan lupa memanggil aku ya!"

Sepeninggalan So Bwe leng, Thi Eng khi segera naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya, untuk pertama kali dalam hidupnya dua bayangan tubuh gadis cantik muncul bersama di dalam benaknya.

Dia berusaha untuk membanding-bandingkan kedua gadis itu tapi kenyataannya makin dibandingkan pikirannya semakin bingung.

Belum lagi hasilnya diperoleh, tahu-tahu ia sudah mulai terlelap tidur.

Mendadak dari luar pintu berkumandang suara ketukan lirih, Thi Eng khi merasa terkejut dan segera sadar kembali dari tidurnya, buru-buru ia turun dari atas ranjang.

Dari luar jendela terdengar seseorang berbisik dengan suara yang rendah dan berat.

"Setan tua itu jahat dan licik, ia bermaksud busuk kepadamu Thi siauhiap! Cepat bangun dan buka pintu, lolap ada rahasia penting hendak disampaikan kepadamu."

Untuk sesaat lamanya Thi Eng khi tak bisa membedakan apakah berita itu benar atau tidak, dia lantas membuka pintu dan berjalan keluar.

Tampak seorang hwesio berdiri di tengah halaman, ketika melihat pemuda itu munculkan diri, segera ia menggapenya sambil berseru .

"Cepat kabur!"

Disambarnya tangan Thi Eng khi kemudian dengan melompati dingin pekarangan kabur menuju ke arah pegunungan di belakang benteng sana.....

Di satu pihak hwesio itu menyeret Thi Eng khi meninggalkan kamarnya, di pihak lain muncul seorang tosu dalam ruangan itu, ia mengeluarkan dua benda dan segera diletakkan diatas meja, kemudian ditekan kuat-kuat sehingga diatas permukaan meja itu muncul bekas dari dua macam benda tersebut.

Kemudian ia baru melompat keluar dari kamar dan kabur dari tempat tersebut.

Keesokan harinya, suasana dalam benteng keluarga So menjadi sangat gempar ketika mengetahui lenyapnya Thi Eng khi.

It tek ang So Seng pak segera memburu kekamar Thi Eng khi, begitu melihat dua buah bekas di meja baca itu, kontan saja hawa amarahnya berkobar.

So Bwe leng dengan perasaan ingin tahu segera bertanya .

"Yaya, bekas apakah ini? Apakah engkoh Thi sudah dilarikan oleh mereka?"

"Kurang ajar benar orang-orang Siau lim pay dan Bu tong pay,"

Seru It tek ang So Seng pak dengan marah.

"berani betul tidak pandang sebelah mata kepadaku dan membuat keonaran disini, kalau tidak kuberi sedikit pelajaran, malu aku menjadi seorang jagoan dari luar perbatasan!"

Sambil berpaling dan melotot ke arah So Bwe leng, serunya .

"Budak, cepat panggil kemari ayahmu!"

Sambil menjulurkan lidahnya So Bwe leng mengiakan, segera dia lari keluar dari kamar.

Tak lama kemudian Na im siusu So Peng gwan sudah diajak menuju kamar itu.

Begitu melihat kedatangan Na im siusu It tek ang segera berseru dengan nyaring .

"Siau lim pay dan Bu tong pay sungguh terlalu menghina orang, berani benar mereka menculik orang dari dalam benteng kita. Segera turunkan tanda perintah Mek yu ciam leng dan kumpulkan Tiang pek sam nio (tiga burung dari bukit Tiang pek), Hek san cap pwe khi (delapan belas penunggang kuda dari Hek san), Pek sui su kui (empat setan dari Pek sui) dan Boan san siang koay (sepasang siluman dari Boan san) untuk mengikuti aku menuju ke daratan Tionggoan. Kemudian kau kumpulkan lagi segenap jago nomor wahid di luar perbatasan dan didalam setengah bulan kemudian menyusul aku didaratan! Hmm! Akan kulihat, dengan mengandalkan apakah sehingga mereka begitu berani berani berbuat kurang ajar!"

Na im siusu So Peng gwan membuka mulut ingin berbicara, tapi segera dicegah It tek ang sambil katanya .

"Keputusanku sudah bulat, urusan lain aku masih bisa menerimanya, tapi kalau ada orang berani menghina dan menganiayanya Thian liong pay, aku tak bisa berdiam diri saja!"

Sekalipun It tek ang sudah tua usianya, namun wataknya masih berangasan, apalagi kalau sudah marah, keputusan yang telah diambil untuk mencoba kekuatan Siau lim pay dan Bu tong pay tak bisa diurungkan lagi.

So Bwe leng yang berada disampingnya dengan cepat membakar hati kakeknya, serunya .

"Betul yaya, jika kau tidak bisa membalas dendam buat engkoh Eng, percuma menjadi jagoan disini!"

"Budak sialan!"

Na im siausu So Peng gwan segera membentak.

"siapa yang suruh kau banyak usul disini? Hayo cepat enyah dari tempat ini!"

So Bwe leng segera menarik wajahnya menunjukkan wajah yang pantas dikasihani, pelan-pelan dia melangkah keluar dari situ, sementara sepasang matanya dialihkan kearah kakeknya minta bantuan.

It tek ang memang paling sayang dengan cucu perempuannya itu, dia segera mendengus .

"Nak, bereskan juga barangmu, besok ikut yaya berangkat ke daratan Tionggoan untuk menambah pengalaman!"

So Bwe leng segera membuat muka setan kepada ayahnya, kemudian cepat-cepat melompat pergi.

Na im siusu So Peng gwan yang menyaksikan keadaan ini cuma bisa menggelengkan kepalanya belaka, diapun segera beranjak pergi untuk melaksanakan tugasnya.

Thi Eng khi diseret oleh hwesio itu menuju keluar benteng, tak lama kemudian mereka sudah menelusuri tanah perbukitan, satu jam sudah mereka melakukan perjalanan, namun hwesio tersebut belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Lama-kelamaan Thi Eng khi menjadi curiga, ia merasa heran kenapa hwesio itu menyeretnya pergi sejauh itu.

Maka sambil menghentikan larinya dia lantas berseru.

"Siansu, ada urusan apakah kau? Kalau ingin berbicara, lebih baik di tempat ini saja!"

Mendadak hwesio itu berhenti dan tertawa seram.

"Heeehh.... heeehh.... heeehhh.... begitupun boleh juga, bagus, bagus, Thi ciangbunjin! Coba kau teliti dulu siapakah lolap?"

Sambil berkata dia membalikkan badan dan maju mendekat si anak muda itu. Dengan sinar mata yang tajam, Thi Eng khi mengawasi wajahnya, kemudian jeritnya kaget .

"Huan im sin ang! Rupanya kau ....."

Huan im sin ang segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh..... jangan kau anggap setelah lolos dari kematian di puncak Bong soat hong, maka kau sudah dapat meloloskan diri dari cengkeramanku."

Pelan-pelan Thi Eng khi dapat menenangkan kembali hatinya, sambil tertawa dingin, ia berkata .

Jilid 6

"Jauh-jauh datang kemari, apa sebenarnya tujuanmu?"

Huan im sin ang memutar sepasang biji matanya, lalu mendengus .

"Hmm! Masih seperti kata-kataku semula, kau harus belajar ilmu silat bersama lohu!"

"Kau anggap mungkinkah aku dapat meluluskan permintaanmu itu?"

Teriak Thi Eng khi.

"Kalau kau tidak meluluskan, maka kubunuh dirimu!"

"Aku tahu, sudah pasti kau tak akan melepaskan diriku, cuma selain itu tentunya kau masih ada rencana yang lain bukan? Terkejut sekali Huan im siu ang setelah mendengar perkataan itu, bentaknya .

"Darimana kau bisa berkata demikian?'' Thi Eng khi mendengus dingin.

"Hmm, aku tahu kalau kau datang bersama seseorang yang menyaru sebagai orang tosu, dengan kemampuan yang kau miliki, apa perlunya membawa seorang pembantu untuk membunuhku? Dan lagi, kalau ingin turun tangan juga kau tak usah melakukannya diluar perbatasan! Hmm. Coba pikirlah kalau kau tiada tujuan lain kenapa berbuat demikian?"

Ketika rahasianya ditebak secara jitu. Huan im sin ang segera merasa bahwa kecerdasan Thi Eng khi benar benar mengerikan sekali, hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajahnya.

"Bocah keparat, kau memang kelewat pintar, orang pintar semacam kau tak boleh dibiarkan hidup terus, tapi memandang diatas kecerdikanmu itu, boleh saja kuterangkan duduk persoalan sebelum membikin mampus dirimu."

Setelah berhenti sebentar, dengan senyuman licik menghiasi bibirnya, ia melanjutkan .

"Dirumah makan bukit Wu san kutemui kau masih hidup segar bugar, bahkan tanda terluka pun tak ada, waktu itu timbul rasa heran dalam hati, sebetulnya ingin kutanyai keadaan yang sesungguhnya kemudian baru menghadiahkan sebuah pukulan, tapi kemudian ketika kulihat kau berangkat keluar perbatasan untuk mencari So lojin, niatku itu segera kuurungkan..."

"Rencana busuk apa yang kau dapatkan?"

"Heeehhh...heeehhh ..heeehhh... sekarang rencanaku telah dilaksanakan, kau si bocah keparat juga bakal mampus, tentu saja lohu akan terangkan semuanya kepadamu!"

"Hmm, omongan manusia sesat semacam kau belum tentu benar, akupun belum tentu akan mendengarkan obrolanmu itu!"

"Heeehhh..... heeehhh.... heehhh..... menggunakan kesempatan selama kunjunganmu keperbatasan untuk mencari So lojin, aku telah melepaskan api didalam dunia persilatan... Soal ini, kau bersedia untuk mendengarkan tidak?"

Thi Eng khi menjadi tertegun, lalu ujarnya .

"Hmmm, apakah ucapanmu itu bukan hanya mengigau belaka?"

"Igauan? Hmmm, apakah kau lupa bahwa lohu masih mempunyai seorang rekan yang lain?"

"Benar, dia ada dimana sekarang?"

"Hmmm...hmmm... tentu saja dia masih ada urusan yang harus diselesaikan, lohu bertugas memancingmu datang kemari, sedangkan dia akan masuk ke dalam kamarmu dan menggunakan Pek giok pay dari partai Siau lim serta Thi kiam leng dari partai Bu tong untuk membuat dua buah bekas diatas meja baca!"

Setelah mendengar perkataan itu, Thi Eng khi baru merasa amat terkejut, segera-teriaknya .

"Sungguh?"

"Haaahhh....haaahhh....haaahhh...."

Huan im sin ang Cuma tertawa terbahak-bahak. Thi Eng khi menjadi naik pitam, teriaknya lagi .

"Iblis keparat, kalau ingin mencari urusan denganku, cari saja langsung kepadaku, mengapa mesti menfitnah orang lain?"

Sahut Huan im sin ang sambil tertawa bangga .

"Partai Siau lim dan partai Bu tong mentang-mentang menganggap dirinya partai lurus, dimana saja mereka selalu unjukkan sikap angkuh, Hmm! Lohu paling benci dengan gaya semacam itu, maka sengaja kucarikan sedikit keramaian buat mereka agar bertarung dengan So lo jin! Haaah....haaah .... haaahhh..... akibat dari pertarungan ini maka suatu pertempuran sengit antara jago diluar perbatasan dan daratan Tionggoan pasti akan segera berkobar!"

Mimpipun Thi Eng khi tidak menyangka kalau iblis tua ini sedemikian kejinya, lama sekali ia berdiri tertegun saking mendongkolnya, lama sekali akhirnya dia baru berkata dengan gemas .

"Iblis laknat kalau melihat tampangmu mah tidak mirip orang edan, sebenarnya apa tujuanmu menerbitkan badai dalam dunia persilatan?"

Mendengar ucapan itu, mendadak sekujur badan Huan im sin ang gemetar keras, sahutnya sambil menggertak gigi.

"Lohu bernama Ui Sam ciat, kemunculanku sekarang adalah untuk membasmi seluruh dunia persilatan guna membalas dendam bagi kematian toakoku Ui It peng!"

Berbicara sampai disitu, mendadak dengan wajah mengerikan, ia membentak keras .

"Bocah keparat, sudah puas bukan? Sekarang, serahkan selembar nyawa anjingmu itu!"

Weess.....!

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke atas tubuh Thi Eng khi.

Dengan latihan yang amat tekun, ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimiliki Thi Eng khi sebenarnya sudah mancapai puncak kesempurnaan, apalagi ketika mendapat pengobatan dari Huang oh siansu, terpengaruh oleh tenaga Pek hui tiau yang tayhoat yang digunakan hwesio tersebut, keempat macam obat mustika yang mengeram dalam tubuhnya telah dibaurkan oleh tenaga itu sehingga akibatnya tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu memperoleh kemajuan yang makin hebat.

Selain itu, setelah memperoleh dua kali pengalaman di Ki hian san ceng maupun Bong soat hong, dia tahu bahwa ilmu silat amat penting bagi seseorang yang berkelana dalam dunia persilatan.

Oleh sebab itu, setiap kali ada kesempatan, dia selalu memperdalam pelajaran ilmu silat yang diajarkan Thian liong ngo siang kepadanya, yakni tiga jurus telapak tangna, tiga jurus ilmu jari, tiga jurus ilmu pedang dan tiga jurus ilmu pukulan.

Selama beberapa bulan ini, boleh dibilang dia memiliki kematangan yang cukup menyakinkan didalam kedua belas jurus ilmu silat perguruannya itu, otomatis kedahsyatannya juga luar biasa.

Sebaliknya Huan im sing ang masih menganggap pemuda itu seperti dulu, dalam serangan yang pertama ini, dia tak lebih hanya menggunakan tenaga sebesar tiga bagian.

Dalam perkiraan Thi Eng khi waktu itu dia pasti akan tewas oleh serangan lawannya yang begitu dahsyat dalam benci dan gusarnya, sambil menggertak gigi, dia bertekad akan menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, sekalipun tak bisa mati bersama, paling tidak dia ingin melukai iblis tua itu.

Maka buru buru dia merendahkan pinggangnya ke bawah, lalu sepasang telapak tangannya didorong ke depan untuk menyambut datangnya serangan itu.

Iblis tua itu tertawa sinis, baru saja dia hendak mengejek, tiba tiba diketahui keadaan tidak beres, segera bentaknya .

"Bocah keparat, ternyata kau berani menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya"

Untuk menambah kekuatannya ditengah jalan jelas tak sempat maka tak bisa dihindari lagi, suatu bentrokan kekerasan segera terjadi ditempat itu.

"Blaaamm............!"

Ditengah ledakan keras, ternyata Thi Eng-khi berhasil menang diatas angin. Berhasil dengan serangannya yang pertama, Thi Eng khi tak berani berayal lagi, segera bentaknya.

"Iblis tua sambut pula sebuah pukulanku ini!"

Sebuah pukulan yang amat dahsyat segera dilontarkan kedepan, deruan angin pukulan makin kencang, sudah jelas kekuatannya jauh diatas serangan yang pertama tadi.

Waktu itu Huan im sin ang masih berdiri tertegun, dalam keadaan gugup ia tak sempat menghimpun tenaga lagi, untuk ke dua kalinya dia kena didesak sehingga mundur setengah langkah.

Sekarang Huan im sin ang baru tahu kalau dia sudah salah menilai kekuatan musuhnya, dalam keadaan gusar yang memuncak, tak kuasa lagi dia tertawa seram.

Dengan wajah menyeramkan, dia membentak keras.

"Bocah keparat, sudah saatnya bagimu untuk pulang ke rumah nenekmu ......"

Telapak tangan kirinya segera diayunkan ke depan, bersamaan waktunya lengan kanan juga diangkat menyentilkan serangan ilmu jari segulung desingan angin tajam diikuti pukulan gencar langsung meluncur ke tubuh Thi Eng khi.

Si anak muda itu tak menyangka kalau musuhnya sangat lihay, setelah beberapa kali berhasil lolos dengan selamat, disangkanya kepandaian yang dimiliki Huan im sin ang tak lebih cuma begitu saja.

Meski dia juga melihat kalau Huan im sin ang melancarkan ilmu pukulan dan ilmu jari hampir bersamaan waktunya, ia tidak gentar, sepasang tangannya segera didorong kemuka untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Ternyata keadaannya kali ini jauh berbeda tenaga pukulan lawan terasa bagaikan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra yang melanda tiba, segenap kekuatan yang dipancarkan olehnya kena didesak ke kedua belah samping, berbareng itu juga segulung desingan angin tajam langsung berputar dan meluncur kearahnya.

Menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan, si pemuda bermaksud untuk berkelit, sayang keadaan sudah terlambat dan ia merasa tidak bertenaga lagi.

Kontan saja sekujur badannya terasa bergetar keras, tenggorokannya terasa anyir, tubuhnya segera terlempar sejauh dua kaki lebih dan nyaris terjatuh ke dalam jurang.

Untung saja dalam saat-saat terakhir serangan jari lawan masih sanggup ditangkis oleh angin pukulannya sehingga kehilangan sasaran dan tak sampai menghajar jalan darah Ji kan hiat ditubuhnya.

Tapi sekalipun begitu toh ia terluka parah, darah segar muncrat keluar dari mulutnya dan untuk sesaat tak sanggup bangkit berdiri.

Berbaring diatas tanah, pemuda itu merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, dia tidak tahu kalau tubuhnya sudah menempel di tepi jurang.

Dengan suara gelisah Huan im sin ang segera berteriak .

"Hati-hati pinggirmu adalah jurang yang sangat dalam."

Huan im sin ang bisa berteriak demikian, bukan lantaran ia gelisah karena menguatirkan keselamatan pemuda itu.

Sesungguhnya dia tak ingin kesalahan yang pernah diperbuatnya itu sampai terulang kembali, ia bertekad untuk membunuh Thi Eng khi tepat di depan matanya sehingga buktinya ada.

Padahal Thi Eng khi sedang berbaring di tepi jurang, ini membuatnya tak sanggup turun tangan , sebab sekali bertindak salah hingga tubuh Thi Eng khi jatuh ke dalam jurang bisa jadi peristiwa di puncak Bong soat hong di bukit Wu san akan terulang kembali.

Sesungguhnya tujuan orang ini boleh dibilang sangat keji, siapa tahu masih mendingan seandainya dia tidak berteriak, akibat dari teriakan tersebut, keadaan bertambah runyam.

Thi Eng khi sendiripun pada mulanya merasa bingung dan tidak habis mengerti setelah mendengar teriakan itu, dia merasa tindakan dari iblis tua itu seakan akan sangat bertentangan sekali dengan tujuan yang sebenarnya, tapi sejenak kernudian ia lantas memahami maksud serta tujuan yang sebenarnya dari iblis tua itu.

Kontan saja hawa amarahnya berkobar, dengan dingin dia berkata.

"Aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, tak perlu kau risaukan!"

Sembari berkata dia malah melejit dan bergeser makin mendekat sisi tebing jurang tersebut.

Iblis tua itu menjadi sangat rikuh dan serba salah, telapak tangannya sudah diangkat keatas siap diayunkan, tapi dahinya segera berkerut dan telapak tangan itu terhenti di tengah jalan.

Selang sesaat kemudian, ia menurunkan kembali lengannya, kemudian setelah tertawa seram katanya.

"Jadi kau anggap setelah berbuat demikian maka kau bisa lolos dari kematian? Heeehhhh.... Heeehhh.... Heeehhhh..... lohu akan mencoba untuk saling bertahan dengan dirimu!"

Ketika itu Thi Eng khi berada diatas sebuah batu datar ditepi tebing jurang, sekalipun tak mungkin menerima sergapan dari musuhnya,namun berada dalam pengawasan orang terus menerus memang bukan sesuatu yang aneh dirasakan.

Maka darahnya mendidih setelah mendengar ucapan dari iblis tua itu, segera katanya dengan marah .

"Iblis laknat! Walaupun aku tak bisa lolos dari tanganmu hari ini, tapi kaupun jangan harap bisa membalaskan dendam bagi kematian kakakmu! Kau anggap dengan kekuatanmu seorang mampu untuk memusuhi seluruh umat persilatan di dunia ini?"

Iblis tua itu tertawa seram, dia mengangkat tangannya keatas dan berkata dengan santai .

"Dengan mengandalkan cap sa tay poo (tiga belas pangeran) yang berada di bawah pimpinanku pun seluruh dunia persilatan dapat kukuasai, buat apa lohu mesti turun tangan sendiri!"

Sekalipun posisinya sudah berada dalam keadaan terancam, namun Thi Eng khi sama sekali tidak melepaskan kesempatan untuk menyelidiki keadaan lawan, maka dengan wajah santai sekali tidak berubah, katanya dengan dingin.

"Siapa yang dimaksudkan dengan Cap sa tay poo itu? Belum pernah kudengar tentang nama tersebut, hei, jangan mencoba untuk main gertak sambal!"

Kembali iblis tua itu tertawa seram.

"Heeehhh... heeehh....heeehhh......buat apa kau musti memancing dengan kata-kata yang memanaskan hati? Sekalipun lohu tidak becus juga tak akan membohongi manusia yang hampir mampus seperti kau! Cap sa Tay poo yang berada dibawah pimpinan lohu terdiri dari pelbagai anggota dalam partai besar dunia persilatan. mereka adalah Ci nian taysu dari Siau lim pay, It tin totiang dari Bu tong pay, Put wi sianseng dari Hoa san pay, To kak thi koay (Kaki tunggal bertoya besi) dari Kay pang, Lak bin wangwe (hartawan berwajah enam dari keluarga Tong, Siau bin kim kong (malaikat raksasa berwajah senyum) dari Cing sia pay, It ci kiam (pedang satu huruf) dari Tiong lam pay, Tho hoa soh li (gadis suci bunga tho) dari pulau Soh sim to, Giok ciang lo sat (iblis wanita bertoya kemala) dari Ciang hong wan, ditambah lagi dengan Hui hong kiam (pedang angin berpusing) Lok yap bian hong (hembusan angin daun berguguran) dan Hek bin bu pah (raja lalim bermuka hitam) sekalian tiga belas orang"

Selesai mendengar nama-nama tersebut, Thi Eng khi diam diam merasa terperanjat sekali.

Sebab kenyataannya ke tiga belas orang itu masing-masing tersembunyi didalam setiap partai besar, sebagai musuh dalam selimut sesungguhnya mereka benar benar menakutkan sekali.

Sebagai seorang pemuda berjiwa ksatria, sekalipun jiwanya berada diujung tanduk.

Dan berbahaya sekali, apalagi soal dunia persilatan sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya, tapi ia tetap merasa murung dan gelisah.

Setelah berpikir keras sekian lama mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya.

la lantas mengawasi iblis tua itu sambil berlagak seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, sementara tangannya yang lain disembunyikan dibalik punggung dan mengerahkan tenaganya untuk mengukir nama-nama yang telah didengar tadi diatas batu cadas.

Sebagai pemuda yang cerdas dan cekatan dalam waktu singkat nama serta asal usul dari ketiga belas pangeran Cap sa tay poo itu sudah selesai terukir diatas batu.

Mendadak timbul satu persoalan dalam benaknya, maka sambil melanjutkan tulisannya.

dia bertanya lagi .

"Iblis laknat! Kalau memang Cap sa tay poo itu disisipkan ke dalam partai-partai besar, sekalipun ilmu silat mereka lebih lihaypun tak akan lebih hebat daripada ciangbunjinnya sendiri, mana mungkin mereka sanggup untuk melakukan pemberontakan?"

Iblis tua itu segera tertawa seram.

"Heeehhh......... heeehhh......... heeehhh........... tentu saja lohu telah mewariskan kepandaian lain kepadanya......"

Mendadak ia seperti merasakan sesuatu, matanya yang buas segera berputar, kemudian bentaknya.

"Bocah keparat, apa yang sedang kau lakukan?"

Ditengah bentakan keras, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

Waktu itu Thi Eng khi sedang menulis nama dan asal usulnya, ketika merasa gelagat tidak beres, dia menjadi terkejut sekali untuk membalas jelas tak bertenaga lagi, terpaksa dia melejit dan menggelinding masuk kedalam jurang.

Dengan cepat Iblis tua itu menyusul ketepi jurang, ketika melongok kebawah dan menyaksikan kabut tebal menyelimuti dasar jurang tersebut, tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan kembali tertawa rerbahak bahak dengan bangganya.

"Haaahh......haaahh. haaahhh.....jurang ini begini dalam, sekalipun nasibmu sangat mujur pun lohu tidak percaya kalau kau bisa selamat dari musibah ini!"

Seraya berkata ia membalikkan badannya ketika melihat tulisan diatas batu paras mukanya agak berubah, tapi sejenak kemudian timbul rasa sayang diatas wajahnya.

"Aaai..... betul-betul sayang sekali,"

Gumannya.

"bakat yang begitu bagus tak bisa lohu pergunakan, jangan salahkan kalau lohu terpaksa harus mengambil tindakan keji....."

Dengan uring-uringan dia lantas berlalu dari situ.

Thi Eng khi tak sudi mati ditangan iblis keji tersebut, maka sewaktu menyaksikan sapuan kilat dari Huan im sin ang menyambar datang, buru-buru dia maju kedepan dan menggelinding masuk kedalam jurang.

Pemuda itu memang seorang manusia yang berotak cerdas, sekalipun ia merasa perbuatannya terjun kedalam jurang telah menyia-nyiakan harapan ibunya, tapi ia sama sekali tidak takut, sebab dia merasa yakin kalau jiwanya tentu melayang.

Malahan ketika mendengar suara deruan angin dan menyaksikan pemandangan disekelilingnya yang meluncur lewat sangat cepat timbul suatu kesan yang menarik dalam hatinya.

Setelah melewati kabut yang amat tebal pemandangan disekelilingnya menjadi lebih terbuka, dasar lembahpun tampak jelas sekali.

Hutan pohon Bwe yang lebat dengan bunga yang harum, mendatangkan suatu pemandangan yang indah menawan.

Sambil tertawa pikirnya kemudian.

"Tempat ini benar-benar merupakan suatu. tempat yang paling ideal untuk mengubur jenasahku.... !"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, mendadak dijumpai ada seorang kakek berambut putih sedang duduk bersila tepat dibawahnya.

Kakek itu duduk tak berkutik sambil menundukkan kepalanya kalau dilihat dari keadaannya, mungkin ia sedang bersemedi.

Terbayang kembali akan akibat yang ditimbulkan dari tubuhnya yang terjatuh ke bawab itu, Thi Eng khi merasakan hatinya tergetar keras, buru-buru dia menggerakkan keempat anggota badannya menggeserkan badannya lebih kesamping, daripada sebelum meninggal dia musti menyusahkan pula orang lain Siapa tahu meski badannya sudah berusaha untuk bergeser ke samping, tapi kenyataannya entah disebabkan daya luncur tubuhnya terlampau cepat atau karena persoalan lain, usahanya itu sama sekali tidak mendatangkan hasil apa apa.

Dalam keadaan demikian, ia cuma bisa membenci akan ketidakbecusan dirinya, terpaksa dengan sekuat tenaga dia berteriak keras.

"Hei lotiang yang berada dibawah. cepat menyingkir ! Siauseng terjatuh kebawah cepat minggir! Cepat minggir! Cepat -cepat minggir!"

Agaknya kakek dibawah itu seorang yang tuli, sekalipun ia sudah berteriak sampai serak tenggorokan, ternyata sama sekali tiada reaksi apapun.

Padahal pada waktu Thi Eng khi berada lebih kurang sepuluh kaki saja dari dasar lembah, Ia lantas berseru tertahan dan memejamkan matanya rapat-rapat dalam detik tersebut pelbagai ingatan berkecamuk didalam benaknya, ia merasa waktu yang amat singkat itu bagaikan beratus ratus tahun lamanya mungkin inilah pengalamannya menjelang kematian, cuma sayang ia sudah tak dapat memberitahukan kepada orang lain lagi.

"Kraaakk.........!"

Ia merasakan tubuhnya seperti menyentuh sesuatu benda, satu ingatan segera melintas dalam benaknya .

"Aduuuuh.............habis riwayatku!'' Dia mengira jiwanya pasti akan melayang meninggalkan raganya. Padahal ia sudah dirangkul oleh kakek berambut perak didasar lembah itu dan sama sekali tidak menderita luka apa-apa. Hanya mengandalkan sepasang tangannya, ternyata kakek berambut perak itu sanggup menahan tubuh Thi Eng khi yang terjatuh dari ketinggian ratusan kaki, dari sini dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya boleh dibilang luar biasa lihaynya. Setelah menyambut tubuh Thi Eng khi ke dalam pelukannya, kakek itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhh........... haaahhhh........... haaahhhhh...... mana lohu bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kau terancam bahaya ? "

Seraya berkata dia lantas menundukkan kepalanya memperhatikan pemuda yang berada dalam pelukannya itu, tapi selang sesaat kemudian sekujur badannya bergetar keras, ia agak tidak percaya kalau di dunia ini terdapat orang dengan bakat yang begitu bagus.

Dengan cepat dia mengucak matanya dengan tangan kiri, kemudian dengan sinar mata berkilat ditatapnya wajah Thi Eng khi lekat-lekat.

Makin dilihat ia merasa hatinya semakin bergetar, perasaannya juga semakin emosi dengan wajah kalut bercampur girang dia melemparkan tubuh pemuda itu ke tanah kemudian lompat bangun dan menari-nari seperti orang kalap.

Setelah mencapai permukaan tanah, Thi Eng khi segera merasakan hatinya bergetar kera, apalagi teringat kejadian yang baru dialaminya, buru-buru ia membuka matanya lebar-lebar.

Ketika dilihatnya keadaan si kakek Yang lebih mirip orang gila itu, dia seperti terkesima kemudian menggigit tangan sendiri keraskeras.

Mungkin karena terlalu keras gigitannya menjadi tak tahan sehingga menjerit kesakitan.

Sesungguhnya kakek itu tidak gila, cuma karena sudah lama hidup mengasingkan diri maka perubahan sikapnya menjadi sangat kentera.

Diapun tersadar kembali ketika mendengar jerit kesakitan dari anak muda itu ketika mengetahui kalau ia sudah bertindak kelewat batas dengan wajah memerah karena jengah katanya .

"Nak, parahkah luka yang kau derita?"

"Oooh tidak"

Sahut Thi Eng khi sambil tertawa getir.

"aku cuma menggigit diriku sendiri."

Setelah agak tertegun, kakek itu segera memahami apa yang terjadi, katanya lagi sambil tertawa .

"Oooh.......... jadi kau mengira dirimu sudah mati?"

Paras muka Thi Eng khi berubah makin memerah terpaksa dia manggut-manggut.

Kakek itu segera menarik tangan kanan Thi Eng khi dan menempelkan ketiga jari tangannya diatas nadi pemuda itu, kemudian katanya .

"Hei pemuda, kalau sedang berjalan masti berhati-hati, untung kau bertemu dengan aku hari ini, coba kalau tidak. mana mungkin kau bisa bernyawa lagi? Coba kuperiksa apakah isi perutmu sudah terluka atau tidak ......?"

Tiba tiba dia berkerut kening, kemudian sambil menarik kembali tangannya dia berseru .

"Oooh .........rupanya kau dihajar orang!"

"Tidak!"

Sahut Thi Eng khi sambil menggeleng.

"aku sendiri yang melompat kebawah, cuma.."

Kakek itu segera menghela napas panjang ujarnya .

"Lukamu tidak parah, asal bersemedi sebentar keadaan lukamu itu akan sembuh kembali seperti sedia kala. Bagi seorang lelaki sejati, tidak boleh mempunyai ingatan untuk mengambil keputusan pendek, jika berjumpa lagi dengan urusan dikemudian hari, kau mesti perkeras hatimu, hati mesti tabah untuk menghadapi kenyataan, dengan begitu baru tidak menyia-nyiakan pendidikan dan budi kebaikan orang tuamu. Sesungguhnya persoalan apakah yang membuat pikiranmu menjadi sempit?"

Sikap si kakek yang sok memberi nasehat itu hanya membuat Thi Eng khi menyengir pahit.

Padahal banyak hal yang berkecamuk dalam benaknya, oleh karena ia tak bisa memberi penjelasan lebih jauh, terpaksa sambil tertawa getir katanya .

"Terima kasih banyak lotiang atas petunjukmu, cuma, sulit buatku untuk menjelaskan persoalan ini hanya dengan sepatah kata saja...."

"Anak muda, jika kau sudah tahu salah dan mau berubah. Hal itu bagus sekali"

Kata si kakek dengan wajah lembut.

"urusan yang lewat tak perlu disinggung lagi, sekarang lohu akan membantumu untuk menyembuhkan luka yang kau derita. Kau sendiri berusahalah untuk membantu dari dalam!"

Selesai berkata telapak tangannya segera ditempelkan diatas punggung Thi Eng khi.

Sianak muda itu menurut dan segera menghimpun tenaga dalamnya dan mengerahkan tenaga Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk mengelilingi seluruh badannya.

Mendadak bagaikan dipagut ular beracun, si kakek itu menarik kembali tangannya, kemudian dengan wajah sungguh-sungguh katanya .

"Nak, aku lihat Sian thian bu khek ji gi sin kang yang kau miliki sudah mencapai puncak kesempurnaan, apakah kau adalah anak murid perguruan Thian liong pay?"

Menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak, sambungnya .

"Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh..... kau memakai baju berwarna biru, pinggangmu menyoren pedang Thian liong kim kiam sudah pasti bukan anggota Thian liong pay saja, lohu sungguh tolol sekali, aku cuma melihat garis mukamu belaka dengan melupakan dandananmu, bukankah hal ini lucu sekali."

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi segera berpikir .

"Thian liong pay benar-benar bukan bernama kosong belaka, bahkan seorang kakek yang lama mengasingkan diri di luar perbatasanpun mengetahui nama Thian liong pay ...."

Berpikir demikian, ia lantas menjawab dengan gembira.

"Boanpwe adalah ciangbunjin angkatan ke sebelas dari partai Thian liong pay!"

"Oooh....ooh......."

Sesudah termenung beberapa saat lamanya, kakek itu baru berkata lebih jauh .

"Tahukah kau tentang manusia yang bernama Keng thian giok cu Thi keng ...."

"Dia orang tua adalah mendiang kakek boanpwe!"

"Lantas siapa pula namamu?"

Tanya kakek itu cepat-cepat.

"Boanpwe bernama Thi Eng Khi!"

Selapis rasa kaget dan tercengang melintas diatas wajah kakek itu, pikirannya terasa sangat kalut dan pelbagai macam perasaan berkecamuk dalam benaknya, ia sendiri pun tak tahu bagaimana perasaannya waktu itu...........

Akhirnya dia menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca dan hampir saja air matanya jatuh berlinang.

Ternyata kakek itu tak lain adalah kakek Thi Eng khi sendiri, orang menyebut sebagai Keng thian giok cu dan merupakan ciangbunjin angkatan ke sembilan dari Thian liong pay.

Dua puluh tahun berselang, ketika ia menemukan bahwa putra kesayangannya yang merupakan satu-satunya ahli waris dari Thian liong pay mencukur rambut menjadi pendeta karena kematian sahabatnya, meski dihati merasa seribu kali "menolak"

Tapi untuk menghormati keinginan putranya, terpaksa dia menghela napas dan meninggalkan putra kesayangannya itu....

Dalam sedihnya dia menjadi putus asa dan segera berkelana jauh keluar perbatasan, dan mengunjungi gua Thian liong tong thian yang merupakan pusat dari tempat berdirinya partai Thian liong pay di masa lalu.

Berhubung gua Thian liong tong thian merupakan tempat berdirinya partai Thian liong dan merupakan tempat bersemayannya ciangbunjin-ciangbunjin partai Thian liong pay angkatan sebelumnya, maka tempat itu sangat dirahasiakan sekali letaknya, setiap ciangbunjin dari tiap generasi hanya mendapat tahu tempat tersebut dari ciangbunjin angkatan sebelumnya.

Setelah masuk ke dalam gua Thian liong tong thian, Thi Keng menuruti peraturan perguruannya bersembahyang didepan cousunya dan mengembalikan Thian liong pit kip kedalam gua itu, kemudian menyampaikan pula perintahnya untuk menutup perguruan Thian liong pay.

Dia sendiripun berdiam di gua Thian liong tong thian untuk menebus dosanya yang telah memutuskan keturunan dalam partai Thian liong.

Ketika Thi Keng meninggalkan partai Thian liong pay, Thi Eng khi belum dilahirkan di dunia ini, sudag barang tentu diapun tidak mengetahui bagaimanakah bakat serta watak pemuda tersebut, itulah sebabnya ketika menyampaikan perintah untuk menutup partai, diapun melarang putra-putri Thi Tiong giok untuk mempelajari ilmu silat.

Seandainya dimasa itu Thi Keng tidak cepat-cepat menurunkan perintahnya, tapi menunda setahun lagi, sehingga dia berkesempatan menyaksikan kelahiran Thi Eng khi, sudah barang tentu dunia persilatanpun tak akan mengalami keadaan seperti sekarang ini.

Ketika Thi Keng menyaksikan cucu Kesayangan ternyata bertubuh tegap berbakat bagus dan berwajah tampan, bahkan jauh melebihi putranya sendiri Thi Tiong giok apalagi terbayang kembali akan tindakannya yang gegabah di masa muda dulu, rasa malu dan sesal segera muncul didalam hatinya.

Oleh sebab itu, dia merasa malu sekali untuk mengakui asalusulnya sendiri.

Thi Eng khi segera mengedipkan matanya menyaksikan sikap kakek itu seperti sangat tidak tenang, tegurnya kemudian .

"Lotiang, apakah kau kenal dengan kakekku?"

Sekuat tenaga Keng thian giok cu Thi Keng mengendalikan pergolakan emosi didalam hatinya, lalu menggeleng.

"Lohu dengan kakekmu cuma kenal begitu saja, kami tidak bersahabat kental!"

Thi Eng khi tak pernah jumpa dengan kakeknya, dia hanya pernah melihat wajahnya lewat lukisan yang dibuat pada empat puluh tahun berselang, tentu saja raut wajah dulu dan sekarang jauh sekali perbedaannya.

Oleh karena itu, Thi Eng khi sama sekali tidak mengetahui kalau kakek yang berada di hadapannya kakeknya sendiri.

Begitulah, dengan sikap yang amat menghormati ujarnya .

"Locianpwe, apakah kau bersedia untuk memberitahukan namamu, agar bisa boanpwe ingat terus di dalam hati?"

Keng thian giok cu Thi Keng mengerdipkan matanya lalu tertawa getir, sahutnya .

"Aaaah..... aku mah orang liar yang sudah lama melupakan namaku, sebut saja aku sebagai Bu beng kongkong."

Kemudian tanyanya .

"Usia lohu sudah mendekati seratus tahun, tentunya tidak menjadi soal bukan kalau kau mesti menyebut kongkong kepadaku?"

Diam-diam Thi Eng khi merasa keheranan, pikirnya .

"Aneh kenapa orang inipun seseorang yang lupa dengan nama sendiri? Keadaannya tak jauh berbeda dengan hwesio setengah umur yang pernah kujumpai di bukit Wu san."

Berpikir sampai disitu, diapun tidak bertanya lagi, dengan hormat panggilnya .

"Bu Beng kongkong!"

Keng thian giok cu Thi Kerg tertawa terkekeh-kekeh, kemudian duduk ditanah, kepada Thi Eng khi serunya .

"Nak, duduklah kemari Bu beng kongkong ada persoalan hendak ditanyakan kepadamu"

Thi Eng khi menurut dan duduk didepan kakek tersebut, lalu ujarnya sambil tertawa .

"Beberapa bulan berselang, boanpwe masih bukan seorang anggota persilatan karena itu pengetahuanku mengenai urusan dunia persilatan masih cetek sekali. Mungkin aku akan membuat kongkong menjadi kecewa."

Keng thian giok cu Thi Keng tertawa lebar .

"Aaah, tidak menjadi soal apa yang kutanyakan kepadamu pasti kau ketahui!"

Setelah berhenti sebentar, diapun bertanya lagi .

"Sejak kapan kau menjabat sebagai ketua dari partai Thian liong pay?"

"Bulan delapan tanggal sembilan belas tahun berselang sampai sekarang baru sekitar sepuluh bulan."

Keng thian giok cu Thi Keng manggut-manggut.

"Kalau begitu coba ceritakanlah keadaan partaimu semenjak ditinggalkan kakekmu!"

Thi Eng khi menjadi sangsi untuk beberapa saat lamanya tapi setelah termenung dan berpikir beberapa saat, akhirnya diputuskan untuk menceritakan semua yang diketahui olehnya.

Sebab ia merasa Bu beng kongkong adalah seorang kakek yang berwajah lembut serta jujur, sudah pasti dia bukan orang jahat, apalagi dia telah melepaskan budi kepadanya, tidak sepantasnya kalau dia merahasiakan sesuatu kepadanya.

Ketika ia selesai bercerita Keng thian giok cu Thi Keng kembali mengajukan beberapa pertanyaan sekitar hal-hal yang tidak dipahami olehnya, dengan cepat pemuda itu merasa bahwa Bu beng kongkong sesungguhnya adalah seorang kakek yang teliti sekali.

Persoalan apapun dia tanyakan, bila menjumpai hal-hal yang tidak dimengerti, dia selalu menyelidiki sampai menjadi terang semua duduknya persoalan.

Ia cuma merasa heran dengan watak Bu beng kongkong yang aneh dan istimewa itu, tapi tidak menaruh perhatian bahwa berulang kali secara diam-diam Bu beng kongkong telah membesut air matanya.

Ketika Keng thian giok cu Thi Keng mendapat tahu keadaan yang sebenarnya, ia merasa sedih juga menyesal sekali, sambil memejamkan mata ia termenung sampai lama sekali.

Kemudian sambil mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Thi Eng khi dengan sinar mata yang tajam, serunya dalam-dalam.

"Lohu bertekad untuk mewariskan segenap kepandaian yang kumiliki kepadamu agar kau bisa mencapai kebahagiaan bagi umat manusia didunia ini agar bisa mengangkat nama Thian liong pay hingga jaya diseluruh kolong langit!"

Thi Eng khi pernah menderita kerugian besar karena dipaksa belajar ilmu silat.

maka hatinya menjadi tak senang hati setelah mendengar perkataan itu, apalagi setelah mendengar ucapan si kakek yang mengatakan bahwa "agar bisa mengangkat nama Thian liong pay hingga jaya diseluruh kolong langit"

Itu dia merasa ucapan tersebut mencurigakan sekali.... Karenanya, sambil membusungkan dada ia lantas berkata .

"Boanpwe pernah brsumpah, sebelum belajar ilmu sakti yang tercantum di dalam kitab pusaka Thian liong pit kip, aku tak akan belajar ilmu silat aliran lain, maksud baik Bu beng kongkong biarlah boanpwe terima di dalam hati saja!"

Mula-mula Keng thian giok cu Thi Keng agak tertegun, menyusul kemudian diapun manggut-manggut berulang kali.

"Seandainya kau tidak berhasil menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut apa yang hendak kau lakukan?"

"Andaikata kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut tidak berhasil kutemukan maka sepanjang hidup aku tak akan membicarakan soal ilmu silat lagi, aku akan menghabisi nyawaku untuk menebusi dosaku ini terhadap perguruan!"

Mendengar perkataan itu, air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Keng thian giok cu Thi Keng.

"Nak, kau keliru besar,"

Katanya "ketahuilah bahwa ilmu silat yang ada di dunia ini berasal dari satu sumber, sekalipun terdapat banyak aliran perguruan di dunia ini tapi sumber dari kepandaian mereka sesungguhnya adalah satu.

Apalagi sebagai seorang manusia yang bercita-cita luhur, kau harus mempunyai pandangan yang terbuka serta jiwa yang besar, dengan begitu masalah besar baru bisa diselesaikan, aku lihat watak keras kepalamu itu perlu diperbaiki dan bila perlu dilenyapkan sama sekali ...."

Sesungguhnya Thi Eng khi bukan seorang yang keras kepala, dia bisa mengambil ketetapan begitu lantaran dia mempunyai kesulitan yang tak dapat dikatakan kepada orang lain, sebagai seorang ketua yang bertanggung jawab untuk membangun kembali nama baik partai Thian liong pay didunia ini, sudah barang tentu dia enggan memperjuangkan cita-citanya tersebut dengan mempergunakan ilmu silat dari aliran lain.

Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu berkata .

"Nasehat dari Bu beng kongkong pasti akan kuperhatikan dengan seksama, boanpwe merasa berterima kasih atas perhatiannya ini, cuma mengenai belajar silat sesungguhnya bukan keras kepala yang menyebabkan boanpwe berkeputusan demikian adalah karena soal lain yang menyebabkan boanpwe terpaksa harus berbuat begini, harap kau sudi untuk memakluminya."

Terdorong oleh pergolakan emosi, Keng thian giok cu Thi Keng tak bisa mengendalikan diri lagi, dia lantas mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring.

Tenaga dalam yang dimilikinya memang amat sempurna, begitu suara pekikannya bergema diudara, tampak pohon bwe disekitar tempat itu bergoncang keras seperti terhembus angin, kabut tebal di angkasa pun seakan-akan terhembus buyar kemana-mana.

Diam-diam Thi Eng khi terkejut sekali setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Bu beng kongkong, tapi wajahnya sama sekali tidak berubah, menahan sekulum senyuman sempat menghiasi wajahnya.....

Tiba-tiba Keng thian giok cu Thi Keng memperlihatkan wajah gusar, dari sakunya dia mengeluarkan se

Jilid kitab kecil berwarna kuning dan diberikan ke tangan Thi Eng khi, kemudian ujarnya dengan suara yang dingin seperti es .

"Tempat ini merupakan suatu jurang terpencil dengan empat penjuru dikeliling dinding curam, bila kau tidak mempelajari ilmu silat dari lohu ini, jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini. Hidup juga kau sendiri, mati juga kau sendiri, setahun kemudian lohu akan datang lagi untuk menengok dirimu, nah. Baik-baiklah menyesuaikan diri!"

Seusai berkata.

tidak melihat dengan gerakan apakah dia melompat, tahu-tahu tubuhnya sudah melambung di tengah udara kemudian lenyap tak berbekas dari pandangan mata.

Thi Eng khi segera mendongakkan kepalanya dan berteriak keras .

"Aku Thi Eng khi adalah seorang lelaki sejati, aku tak sudi menerima ancamanmu itu, setahun kemudian silahkan saja datang kemari, coba kau buktikan sendiri apakah aku akan berusaha meloloskan diri dengan mengandalkan kepandaian silatmu itu!"

Sementara itu, Keng Thian giok cu Thi Keng telah berada di dalam sebuah gua kecil di tebing terjal tersebut, dengan air mata bercucuran dia mengangguk berulang kali, gumamnya .

"Nak, kau memang cucu yaya yang paling baik, kau terlalu baik, yaya merasa gembira sekali."

Thi Eng khi duduk kembali sejenak ditempat semula, lalu berdiri dan memasukkan kitab kecil itu kedalam sakunya.

Oleh karena dia sedang mendongkol maka kitab tersebutu sama sekali tidak diperiksa isinya, bahkan memandang sekejappun tidak.

Menyusul kemudian, diapun melakuka pemeriksaan yang seksama disekeliling dinding tebing itu dengan harapan bisa menemukan tempat untuk berteduh, sehingga ia bisa menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk berlatih tekun ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya itu.

Tapi sayang usahanya itu sia-sia belaka sekalipun seluruh dasar jurang sudah diperiksa, ia tidak berhasil menemukan tempat yang bisa dipakai untuk berteduh, karena itu selama beberapa malam berikutnya terpaksa ia musti menginap di udara terbuka.

Kemudian ia menemukan pada dinding tebing sebelah timur, lebih kurang tiga kaki dari permukaan tanah terdapat dua batang pohon siong yang berdaun lebat, tempat itu bisa dipakai untuk tempat berteduh.

Sayangnya, kendatipun tenaga dalam yang dimilikinya sudah teramat sempurna, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya mempergunakan ilmu meringankan tubuh, itulah sebabnya sekalipun dinding tebing itu cuma tiga kaki, namun sulit baginya untuk merangkak ke atas.

Untung saja kecerdasannya luar biasa, setelah berpikir sebentar, ia segera memperoleh suatu ide yang bagus sekali.

Dengan cepat pedang Thian liong kim kiam yang tersoren dipinggangnya dicabut keluar, setelah itu dengan mempergunakan pedang Thian liong kim kiam itu sebagai tempat berpegangan, selangkah-selangkah dia mendaki keatas tebing itu, tak lama kemudian tibalah pemuda tersebut dibawah pohon siong tadi.

Setibanya dibawah pohon siong tersebut, mendadak ia menemukan sebuah gua batu di belakang pohon tadi, diatas gua terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan empat huruf besar, tulisan itu berbunyi demikian .

"THIAN-LIONG-TONG-THIAN"

Timbul perasaan heran didalam hatinya, tanpa berpikir panjang lagi ia lantas berjalan menuju kedalam gua.

Mulut gua itu amat sempit dan cuma bisa dilewati satu orang saja, akan tetapi setelah berada dalam gua itu maka dijumpainya ruangan didalam sana luas sekali, lagi pula suasana terang benderang, tidak diketahui darimanakah datangnya cahaya penerangan tersebut.

Saat itu Thi Eng khi sudah tidak berminat lagi untuk menyelidiki persoalan-persoalan yang tidak penting, sebab dia sudah tertarik perhatiannya oleh dua belah pintu gerbang yang memancarkan cahaya keemasan-emasan didasar gua tersebut.

Didepan pintu gerbang terdapat sebuah lapisan batu kemala putih yang tinggi tebal dan memancarkan cahaya berkilauan, orang harus berdiri diatas lapisan batu kemala putih itu sebelum mencapai gelang pintu.

Thi Eng khi melompat naik keatas lapisan batu kemala putih itu kemudian menggetarkan gelang pintu itu beberapa kali, akan tetapi pintu tersebut sama sekali tidak bergeming barang sedikitpun juga, kenyataan ini membuat hatinya merasa terkejut bercampur keheranan, ia tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Sekuat tenaga dia berusaha untuk mendorong pintu gerbang itu, tapi hasilnya nihil sebab pintu gerbang tersebut sama sekali tidak bergeming barang sedikitpun juga.

Ketika usaha itu dicoba beberapa kali lagi tanpa hasil, akhirnya pemuda itu menjadi putus asa.

Tanpa sengaja tiba-tiba matanya memandang ke lapisan "batu kemala putih yang diinjaknya itu, lamat-lamat terbaca olehnya beberapa kalimat yang tertera diatas lapisan batu kemala tersebut.

Tulisan tersebut berbunyi demikian .

"Tempat ini adalah gua Thian liong tong thian, selain anak murid Thian liong pay dilarang masuk ke dalam gua ini. Untuk masuk kedalam gua, silahkan mengerahkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang sebanyak tiga kali kelilingan badan pintu tersebut otomatis akan membuka dengan sendirinya."

Selesai membaca beberapa huruf tulisan tersebut, Thi Eng khi merasa terperanjat sekali, dengan cepat dua ingatan melintas di dalam benaknya .

Pertama, gua ini sudah pasti mempunyai hubungan yang erat sekali dengan partai Thian liong pay.

Kedua Bu beng kongkong mungkin sekali adalah anggota Thian liong pay, tapi siapakah dia?

Teringat akan Bu beng kongkong, diapun teringat pula dengan kitab kecil berwarna kuning yang berada dalam sakunya, itu dia beranggapan bahwa kitab kecil tersebut mungkin dapat mengungkapkan jawaban siapa gerangan kakek yang bernama Bu beng kongkong tersebut.

Dengan cepat dia mengeluarkan kitab kecil tersebut dari dalam sakunya dan dilihat dengan seksama.

Yaa, ampun!

Apa yang telah terjadi?

Tampak kitab itu sangat mungil dan indah bentuknya, pada halaman yang terdepan tertera empat huruf besar yang indah sekali....

tulisan itu berbunyi .

"THIAN LIONG PIT KIP"

Sekujur badan Thi Eng khi gemetar keras dengan cepat dia lari keluar dari dalam gua tersebut, kemudian sambil menggertakkan giginya menahan pergolakan emosi, gumamnya .

"Yaya! Yaya! Rupanya kau orang tua adalah yaya!"

Dia menerjang keluar dari dalam gua dengan perasaan bimbang dan tak menentu, dia lupa kalau diluar gua itu terbentang jurang yang tiga kaki dalamnya.

Karena kurang berhati-hati, kakinya segera menginjak ditempat kosong, tak ampun tubuhnya terjerumus pula kedasar jurang itu.

Untung saja tenaga dalam yang dimiliki cukup sempurna sehingga tubuhnya sama sekali tidak terluka, sambil merangkak bangun, dia mendongakkan kepalanya dan berteriak keras .

"Yaya! Yaya! Kenapa kau tak mau mengenali dirimu dihadapan Eng ji ....?"

Angin gunung berhembus lewat dari atap, puncak membawa awan putih bercampur kabut yang tebal, suara teriakan dari Thi Eng khi tersebut hampir boleh dibilang sama sekali tertelan.

Puluhan tahun menanggung rindu, ternyata tidak mendatangkan hasil apa-apa, saking sedihnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, sambil gemetar keras Thi Eng khi tersadar kembali dari pingsannya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa pemuda itu mendaki kembali ke atas bukit dan masuk kembali ke dalam gua Thian liong tong thian, ia bermaksud untuk mendalami ilmu yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut di dalam gua itu.

Ketika melangkah diatas lapisan batu kemala putih itu dia mengerahkan tenaga Sian thian bu khek ji gi sin kangnya untuk mengelilingi seluruh badan, segera terasalah segulung hawa dingin yang menyebarkan memancar masuk lewat dasar kakinya dan menyebar keseluruh anggota tubuhnya, tak sampai satu lingkaran tubuh dia sudah merasakan tubuhnya seakan-akan menyatu dengan lapisan batu kemala putih itu.

Setelah mengitari tubuhnya tiga kali, pintu gerbang berwarna emas yang semula tertutup rapat mendadak terbuka lebar dengan menimbulkan suara yang amat nyaring.

Thi Eng khi ragu-ragu sejenak, kemudian diapun melangkah masuk kedalam ruangan.

Sebuah lorong batu yang lebarnya puluhan kaki terbentang jauh ke dalam sana, tiada cahaya lentera dalam lorong itu, akan tetapi suasananya terang benderang bagaikan disiang hari saja.

Dengan langkah lebar Thi Eng khi berjalan masuk kedalam lorong itu, diujung lorong merupakan sebuah ruang istana yang terbuat dari batu kemala hijau, didepan ruangan tergantung sebuah papan nama yang bertuliskan.

"KUI TIN HU"

Setelah memasuki ruangan, ditengah ruangan tersebut terlihatlah seorang siucay berusia pertengahan yang memakai baju berwarna biru sedang duduk bersila, sebelah kanan tampak dua belas buah gundukan tanah beralas batu kemala yang membentuk naga melingkar, diatasnya duduk empat orang kakek berbaju biru, disebelah kiri pun tampak dua belas lapisan batu kemala berbentuk naga melingkar tapi hanya ditempati oleh tiga orang kakek berbaju biru.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang antik sekali, diatas meja tampak sebuah tempat dupa yang berwarna hitam pekat, entah terbuat dari bahan apa?

Asap tipis mengepul keluar dari dalam pendupaan itu dan menyebar ke seluruh ruangan sehingga mendatangkan perasaan segar dan nyaman bagi siapapun.

Thi Eng khi tahu bahwa beberapa orang kakek itu sudah pasti adalah para angkatan tua dari Thian liong pay, maka sambil memperingan langkahnya ia maju kedepan, setelah itu sambil memberi hormat katanya .

"Tecu Thi Eng khi ciangbunjin dari angkatan sebelas menghunjuk hormat buat para Cousu!"

Dengan hidmat, dia memberi hormat sebanyak tiga kali kepada kakek-kakek itu, tapi sampai lama sekali belum ada juga yang menjawab ataupun menggubris.

Thi Eng khi tak berani bangkit berdiri, diam-diam ia mencoba untuk melirik ke depan tampak ke delapan kakek itu tetap duduk sambil memejamkan mata , mukanya serius agaknya seperti lagi semedi, maka dengan lantang serunya lagi .

"Tecu Thi Eng khi menghunjuk hormat buat para Cousu!"

Belum juga kedengaran suara jawaban.

Baru saja timbul rasa heran dalam hatinya, tiba-tiba ia menemukan sebuah tugu peringatan terpancang dibelakang orangorang itu, diatas batu peringatan tadi tertera beberapa huruf yang garis besarnya menerangkan bahwa istana Kui tin hu merupakan tempat bersemayan dari para ciangbunjin partai Thian liong generasi yang lalu.

Setelah membaca tulisan itu, Thi Eng khi baru mengerti rupanya beberapa orang cousu itu sudah berpulang ke alam baka.

Ketika dihitung, ternyata jumlah orang yang ada dalam ruangan itu hanya delapan orang, ini membuktikan kalau kakeknya tak ada disana, kalau tidak, kakeknya sebagai ciangbunjin angkatan ke sembilan tentu saja merupakan orang yang ke sembilan dalam ruangan tersebut.

Dari sini maka terbuktilah sudah bahwa kakek yang menghadiahkan kitab pusaka Thian liong pit kip kepadanya itu tak lain adalah kakeknya.

Setelah melakukan pemeriksaan sekejap ia tak berani berdiam terlalu lama disana, pelan-pelan pemuda itu menuruni ruang tengah, menelusuri lorong batu dan melangkah keluar dari pintu gerbang.

Baru saja kakinya menginjak diatas lapisan batu kemala putih itu, pintu gerbang di belakangnya menutup sendiri secara otomatis.

Suasana disekeliling tempat itu amat sepi hening dan tak kedengaran sedikit suarapun tapi ia tidak merasa kesepian, bukan saja kitab pusaka Thian liong pit kip milik perguruannya telah ditemukan kembali, selain itu dia pun tahu kalau kakeknya masih hidup didunia ini.

Dengan tenang diapun duduk diluar gua itu, mengeluarkan kitab pusaka Thian liong pit kip dan mulai mempelajarinya dengan seksama.

Disebelah barat kota Teng hong dalam bilangan propinsi Hoo lam terdapat sebuah bukit yang bernama bukit Siong san, disebelah utara tanah perbukitan itu berdiri sebuah bangunan kuil yang sangat besar dan megah, itulah kuil Siau lim si yang termashur namanya diseluruh dunia persilatan.

Suatu hari, ketiga mendekati waktu senja, dari atas jalan raya dibawah bukit muncul dua ekor kuda tinggi besar yang dilarikan ke arah kuil dengan kecepatan tinggi.

Kedua ekor kuda itu merupakan kuda jenis utara yang tinggi besar, dalam sekejap mata kuda-kuda itu sudah sampai tiba di depan kuil.

Diiringi suara ringkikan panjang, kedua ekor kuda itu segera mengangkat kaki depannya ke atas sambil menghentikan larinya.

Seorang gadis cantik segera melenjit keudara, alau dari tengah udara ia menyambar tali les kuda lain yang ditunggangi seorang kakek, kemudian melayang turun keatas tanah.

Gerak gerik gadis itu lincah dan gesit sekali, begitu mencapai permukaan tanah, dia berpaling dan tertawa, seakan-akan tak pernah mengalami sesuatu hal, ujarnya .

"Paman Ting, kau tunggu saja diatas kudamu!"

Tak usah disinggung lagi, kedua orang itu bukan lain adalah cucu kesayangan Tiang pek lojin (It tek ang) So Seng pak yakni Pek leng siancu So Bwe leng serta lotoa dari Tiang pek sam nio (tiga burung dari bukit Tiang pek) Tam co toa beng (rajawali sakti bersayap tunggal) Ting Tian yu.

Setelah Tiang pek lojin So Seng pak menyaksikan Thi Eng khi keturunan dari sahabat karibnya yang sedang bertamu dalam bentengnya diculik orang, dalam gusarnya dia segera memimpin para jago dari luar perbatasan untuk menyerbu ke daratan Tionggoan, menurut bukti yang ada, maka pertama-tama dia mendatangi kuil Siau lim si lebih dahulu.

Dia adalah pemimpin dari luar perbatasan, tentu saja kegagahannya jauh berbeda dengan orang lain, sebelum melakukan sesuatu tindakan, dikirimnya kartu pemberitahuan lebih dulu, kemudian baru mendatangi tempat itu untuk melakukan suatu penyelesaian.

So Bwe leng yaag manja dan suka keramaian berhasil membujuk kakeknya untuk mengirim dirinya sebagai utusan, ditemani oleh Tam ci toa beng berangkatlah mereka menuju ke kuil Siau lim ci.

Dasar masih muda dan lagi binal, begitu melompat turun dari kudanya, seperti seekor kupu-kupu langsung melompati tujuh belas buah undak-undakan batu dan menyerbu masuk keruang tengah.

Pada saat itulah, dari dalam kuil melompat keluar dua orang pendeta berusia pertengahan, sambil menghadang dihadapannya, mereka menegur .

"Omitohud, tempat ini adalah tempat suci sang Buddha, harap nona berhenti!"

Meski tak senang hati, Pek leng siancu So Bwe leng enggan menumbuk kedua orang hwesio tersebut, terpaksa dengan kening berkerut katanya .

"Aku hendak mencari hwesio gede dari kuil ini untuk membincang-bincang... !"

Ucapan tersebut amat tak sedap didengar, kontan saja paras muka salah seorang pendeta yang kurang tebal imamnya berubah hebat, sambil memperkeras suaranya, dia berseru .

"Peraturan kuil kami menetapkan bahwa setiap orang perempuan dilarang masuk ke dalam ruangan, jika li sicu ada urusan sampaikan saja kepada siauceng!"

Dengn kening berkerut Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa dingin .

"Heehhh.... heeehhh... heeehhhh.... apa sih hebatnya dengan suatu kuil kecil di tempat tercokolnya kawanan hwesio cilik? Andaikata kau tidak berbicara begitu, mungkin nona masih bisa diajak berunding, tapi sekarang, aku bersikeras hendak melihatnya!"

Sehabis berkata, sepasang telapak tangannya direntangkan dan melepaskan pukulan.

"Blaaammmm.....!"

Dua orang hwesio itu masing-masing mundur sejauh tiga langkah lebih.

Menggunakan kesempatan itu, dengan cekatan dia menerobos masuk ke ruang tengan, kemudian sambil bertolak pinggang dan tertawa tergelak tiada hentinya dia berseru .

"Sekarang aku sudah masuk ke dalam, mau apa kalian?"

Kedua orang hwesio ini adalah murid angkatan kedua dari kuil Siau lim si, yang seorang bernama Bu ki, yang lain bernama Bu wan, kepandaian silat yang dimilikinya terhitung tangguh sekali di dalam dunia persilatan, siapa tahu mereka kena dipecundangi oleh seorang nona yang masih sangat muda, hal ini segera dianggapnya sebagai suatu peristiwa yang amat memalukan.

Serentak kedua orang itu membentak keras dan siap menerjang ke depan untuk melakukan sergapan lagi.

Tapi saat itulah suatu bentakan menggeledek menggema dari dalam ruangan kuil .

"Bu ki, Bu wan, jangan kurangajar!"

Sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, dan muncullah seorang hwesio gemuk pendek yang berusia lima puluh tahunan.

Bu ki hwesio dan Bu wan hwesio segera menghentikan gerakan tubuhnya, kemudian sambil merangkap tangannya di depan dada ia berseru .

"Tecu ......"

Pek leng siancu So Bwe leng kembali tertawa cekikikan, serunya dengan merdu .

"Aaah .... tak menjadi soal, memukul hwesio di dalam kuil hwesio, itu baru berarti namanya! Tak usah sungkan-sungkan, kalian bertiga boleh maju bersama-sama."

Hwesio gemuk pendek inijauh lebih tinggi kedudukannya daripada Bu ki hwesio dan Bu wan hwesio, sudah barang tentu imamnya juga jauh lebih tebal, ketika dengar perkataan itu, dia tidak merasa gusar, malah katanya sambil tertawa .

"Anak murid kalangan Buddha tak akan melukai orang secara sembarangan, li sicu pandai benar bergurau!"

Pek leng siancu So Bwe leng memutar biji matanya sebentar, lalu katanya dengan lantang.

"Kalau begitu, kau tak akan menghalangi nonamu masuk ke dalam kuil bukan?"

Hwesio gemuk pendek itu merupakan murid angkatan pertama dari kuil Siau lim si, dia menjabat sebagai kepala penerimaan tamu dari kuil tersebut, orang persilatan menyebut sebagai Thi ciang ceng (pendeta toya baja) Go Tong hwesio.

Hwesio ini bukan saja pengalamannya luas, pengetahuannya juga matang, ia sudah pandai menilai kemampuan orang.

Dari setiap gerakan yang dilakukan oleh Pek leng siancu So Bwe leng, ia sudah tahu kalau gadis yang masih muda usia ini sesungguhnya memiliki ilmu silat yang jauh diatas kepandaiannya.

Dengan nama besar kuil Siau lim si yang begitu tersohor dalam dunia persilatanpun tak sampai mengkederkan hatinya, bahkan dengan begitu beraninya datang mencari gara-gara, dari sini dapat diketahui kalau di belakang sinona pasti terdapat tulang punggung lain yang menunjang dirinya.

Diapun sadar, kendatipun dengan kekuatan yang dimiliki mereka bertiga, menahan gadis itu bukan suatu pekerjaan yang sukar tapi tindakan semacam itu sudah jelas bukan suatu tindakan yang bisa menyelesaikan masalahnya, malahan bisa jadi akan mendatangkan kesulitan yang lebih besar lagi bagi kuilnya.

Apalagi pada detik itu dia masih belum memahami maksud kedatangan sinona tersebut, maka Go to hwesio mengambil keputusan untuk menahan diri dan tidak mengambil tindakan secara gegabah.

Siau lim si bisa mempunyai sejarah yang panjang didalam dunia persilatan bukan lantaran mereka memperolehnya karena mujur, tapi dalam ilmu silat mereka memang betul-betul memiliki kemampuan yang lain daripada yang lain.

Demikianlah dengan senyuman masih menghiasi ujung bibirnya, Go tong hwesio berkata.

"Seandainya li-sicu datang kemari untuk menyembah kepada Buddha, sudah barang tentu akan pinceng sambut dengan segala kehormatan!"

Pek leng siancu So Bwe leng rneski binal orangnya tapi ia masih polos dan suci bersih, tadi dia sengaja mengacau karena menganggap Thi Eng khi benar-benar sudah ditawan oleh pihak Siau lim si, maka sebelum mengutarakan maksud kedatangannya, ia berniat memberi sedikit pelajaran kepada mereka.

Tapi, setelah dilihatnya hwesio itu sama sekali tidak gusar, bahkan tenang-tenang saja ia menjadi rikuh sendiri untuk melanjutkan perbuatannya, maka sambil tertawa katanya.

"Kau si hwesio masih terhitung seorang yang jujur, nonamu tak ingin membuat kekacauan tanpa sebab, maka memandang diatas wajahmu, nona akan menyampaikan maksud kedatanganku itu!"

Sekalipun sikapnya sudah jauh lebih lembut namun ucapannya masih tak sedap kedengarannya. Gotong hwesio cuma bisa tertawa diwajah, mendongkol didalam hati, katanya kemudian .

"Harap li sicu bersedia memberi petunjuk!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera mengebaskan ujung bajunya kedepan, serentetan cahaya putih dengan kecepatan luar biasa meluncur ke tengah ruangan.

"Tiga hari kemudian, kakekku akan berkunjung sendiri kemari untuk menyambangi hwesio tua kuil kalian!"

Serunya dengan serius.

"Kakek nona adalah ......"

Sambil menarik, Pek leng siancu SO Bwe leng segera menukas .

"Tanda pengenalnya disitu, buat apa kau musti banyak bertanya lagi?"

Seusai berkata, dia lantas mambalikkan badannya dan meluncur keluar dari dalam ruangan. Bu ki hwesio dan Bu wan hwesio segara membungkukkan badannya memberi hormat katanya.

"Lapor susiok, perlukan kita menghadang jalan perginya?"

"Biarkanlah ia pergi!"

Jawab Go tong hwesio sambil mengulapkan tangannya.

Dia lantas melompat ke atas dan meluncur ke tiang penglari dari ruangan tersebut sewaktu melayang turun kembali ke atas tanah, ditangannya telah bertambah dengan sebuah benda persegi enam berbentuk bunga salju yang terbuat dari perak putih dan besarnya cuma beberapa inci.

Bu ki hwesio maupun Bu wan hwesio tak bisa menebak tanda pengenal dari siapakah benda berbentuk bunga salju yang terbuat dari perak putih itu, baru saja akan bertanya, Go tong hwesio dengan wajah hijau membesi telah berseru .

"Tiang pek lojin, bagus sekali perbuatanmu!"

Dia membalikkan badannya dan melompat masuk keruangan belakang.

CIANGBUNJIN dari partai Siau lim duduk diruang tengah dalam kamar semedinya, di sekelilingnya duduk keempat orang Kim kong dari Siau lim pay yakni Ci kay taysu, Ci hui taysu, Ci leng taysu dan Ci-nian taysu.

Disamping ruang berdiri Thi ciang ceng (pendeta toya baja) Go tong hwesio, ia telah melaporkan tentang tantangan dari Tiang pek lojin dan menantikan perintah dari ketuanya.

Ketua dari Siau lim pay duduk tenang dengan mata terpejam, setelah termenung beberapa saat lamanya, mendadak ia membuka matanya lebar-lebar dan menatap wajahnya Ci kay taysu dengan sinar mata berkilat tajam.

Katanya dengan suara dalam .

"Ci kay sute, menurut pendapatmu apa maksud kedatangan Tiang pek lojin kemari?"

Dengan perasaan tidak habis mengerti Ci kay taysu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tecu bodoh dan tak bisa menebaknya!"

Jilid 7 MENYUSUL kemudian, Ci hui taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu mengemukakan pula keheranan dan ketidak mengertian mereka.

Ketua Siau lim pay segera menghela napas panjang, tiba-tiba serunya dengan lantang.

"Dimana Go sin?"

"Tecu siap menanti perintah!"

Seseorang menjawab dari luar ruangan.

"Pergi kekamar Sian hong dan bawa kemari kotak bambu hijau tempat tanda pengenal!"

Tak lama kemudian, Go sin hwesio telah muncul sambil membawa sebuah kotak panjang terbuat dari bambu hijau, kemudian dengan sepasang tangannya dipersembahkan kehadapan ketuanya.

Ciangbun Hongtiang segera berpesan .

"Serahkan kepada Ci kay susiok untuk diperiksa!"

Go sin hwesio menurut dan serahkan kotak panjang bambu hitam itu kepada Ci kay taysu, kemudian mengundurkan diri dari situ.

Ketika Ci kay taysu membuka kotak itu dan diperiksa isinya, ternyata kotak itu hanya berisikan secarik kertas putih.

Dengan cepat kertas itu diambilnya, kemudian dibaca isinya, apa yang kemudian terbaca segera membuat paras mukanya berubah hebat, dengusan napasnya juga memburu.

Ciangbun hongtiang memandang sekejap ke arah Ci hui taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu, setelah itu ujarnya.

"Sute bertiga belum mengetahui keadaan yang terjadi, Ci kay sute! Coba kau bacalah secara lantang isi surat tersebut!"

Ci kay taysu menurut dan segera membaca isi surat itu dengan suara lantang .

"Dengan alasan ketua partai Thian liong pay angkatan kesebelas telah ditawan oleh partai kalian dan Bu tong pay. Tiang pek lojin So Seng pak akan datang ke kuil Siau lim si untuk menerbitkan keonaran, padahal yang benar mereka berniat menghancurkan partai kalian agar ambisinya untuk menguasahi daratan Tionggoan bisa tercapai. Untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan sengaja kuberi peringatan inl agar kalian bisa membuat persiapan yang diperlukan. Tertanda. orang yang ada maksud"

Ketika Ci kay taysu selesai membaca isi surat tersebut, suasana dalam ruangan segera tercekam dalam keheningan yang luar biasa.

Akhirnya Ci kay taysu menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata .

"Tak bisa dipercaya! Tak bisa dipercaya! Menurut apa yang kuketahui, Tiang pek lojin adalah seseorang yang lurus, jujur dan bijaksana, mana mungkin ia bisa mempunyai jalan pemikiran yang demikian latahnya......?"

"Tapi orang toh sudah berada didepan pintu, masa hal ini bisa suatu ceritera bohong saja!"

Kata Ci hui taysu.

"Menurut pendapat siaute,"

Kata Ci nian taysu.

"lebih baik kita percaya dulu daripada tidak percaya, bersiap-siap lebih duluan toh tidak ada salahnya."

"Tiang pek lojin memiliki kepandaian yang luar biasa sekali,"

Ujar Ci leng taysu serius.

"aku kuatir ciangbun suheng sendiripun ....."

Mendadak ia menghentikan kata-katanya, melirik sekejap ke arah ketuanya dan tidak berbicara lagi. Ciangbun hongtiang sekali lagi menghela napas panjang.

"Aaai .... Aku masih ingat cerita orang pada puluhan tahun berselang, dalam sepuluh kali pertarungan antara Tiang pek lojin melawan Keng thian giok cu Thi locianpwe dari Thian liong pay, akhirnya dia baru dikalahkan dalam setengah jurus. Kejadian itu membuatnya mengasingkan diri ke luar perbatasan dan membangun kekuatan baru di situ, kesemuanya itu membuktikan kalau So lo tidak mempunyai ambisi apa-apa, sungguh bikin orang tidak habis mengerti."

"Aaaai.... menurut pendapatku, kejadian ini mencurigakan sekali dan pantas untuk dicurigai, cuma, puluhan tahun-tahun lamanya So lo selalu jujur dan bijaksana, siapa tahu kalau kemunculannya kali ini adalah bertujuan untuk melenyapkan badai pembunuhan yang mulai mengancam dunia persilatan? Yang paling menguatirkan adalah jika ada orang bermain dalam air keruh dan menunggangi keadaan tersebut demi kepentingannya."

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba saja Ci kay taysu teringat kembali akan perbuatan Huan im sin ang yang bermaksud mengadu domba para jago ketika berada di perkampungan Ki hian san ceng tempo hari.

Seperti serentetan hatinya, dia lantas berseru.

"Entah dimana datangnya surat itu? Apakah di ciangbun suheng bersedia memberi petunjuk?"

Ciangbun hongtiang menunduk sedih, sahutnya .

"Surat ini kutemukan dalam kamarku pagi tadi."

Mendengar perkataan tersebut, ke empat orang kim kong saling berpandangan muka dan tidak berbicara apa-apa lagi.

Harus diketahui ketua dari partai Siau lim ini memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tapi kenyataannya orang yang memberi peringatan tersebut dapat meninggalkan surat peringatan tanpa diketahui, dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu sangat mengerikan hati.

Tanpa terasa keempat orang pendeta itu saling berpandangan dengan perasaan terkesiap.

Tiba tiba ketua dari Siau lim pay itu berpaling, kemudian serunya dengan suara lantang .

"Go tong, turunkan perintah untuk mempersiapkan barisan Lo han toa tin....."

Go tong hwesio mengiakan dan segera mengundurkan diri dari tempat tersebut, ketika Ci kay taysu menyaksikan ketuanya hendak mempergunakan barisan Lo han toa tin untuk menghadapi Tiang pek lojin, dengan kening berkerut segera tegurnya .

"Ciangbun suheng, apakah tindakan ini tidak kurang baik?"

"Jika ada persiapan bencana baru dapat diatasi, So Seng pak bukan seorang jago yang gampang untuk dihadapi, sampai waktunya kita mengambil tindakan menurut keadaan saja!"

DALAM suasana tegang dan kesiagaan penuh kuil Siau lim si dapat melewati dua hari masa yang aman.

Didalam dua hari ini, mereka sendiripun tak dapat menebak gerak gerik serta kekuatan yang sebenarnya dari Tiang pek lojin.

Puluhan orang jago lihay dari luar perbatasan yang dipimpin langsung oleh Tiang pek lojin dengan terang-terangan menginap disebuah rumah penginapan yang terbesar dikota Teng hong, segala sesuatunya dilakukan secara terang-terangan, sedikitpun tidak tampak tersembunyi atau melanggar kebiasaan dunia persilatan tidak malu ia disebut sebagai seorang pemimpin dunia persilatan.

Besok adalah saat perjanjian yang telah ditetapkan.

Untuk menghadapi tantangan yang akan terjadi besok pagi segenap anggota Siang bun ia memerintahkan untuk beristirahat semenjak pagi, agar semua orang bisa memiliki tenaga yang segar untuk menghadapi peristiwa besok pagi.

Waktu sudah melewati kentongan ketiga selain penjagaan yang dilakukan dengan ketat, suasana dalam kuil itu diliputi oleh keheningan yang mencekam.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari bawah bukit berkumandang suara pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga, pada mulanya suara pekikan tersebut masih berada di tempat yang sangat jauh, tapi sesaat kemudian tahu-tahu sudah dekat sekali dengan kuil itu, Meski penjagaan disekitar kuil Siau lim si amat ketat, penjagapun terdiri dari jagoan yang lihay, akan suara pekikan itu dengan mudahnya dapat bergerak langsung menuju ketengah ruangan.

Mendengar suara pekikan itu dengan terkejut Ciangbun hongtiang membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan, pada saat yang bersamaan pula suara pekikan itupun telah sampai disitu.

Dengan kening berkerut dia mengawasi si kakek berambut putih yang berada dihadapannya, kemudian sambil tertawa dingin katanya dengan suara dalam.

"Rupanya So tayhiap yang telah berkunjung datang, tak heran kalau tiada anggota kuil yang bisa menghalangi kedatanganmu, tolong tanya ada urasan apa So tayhiap malam-malam berkunjung kemari? Apakah kau sudah lupa dengan janji kita besok?"

Tiang pek lojin So Seng pak segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh....... Haaahh........ haaahh.... lohu bermaksud untuk berbicara secara baik-baik lebih dulu sebelum menggunakan kekerasan sebelum pertarungan berlangsung aku ingin berbincangbincang secara pribadi lebih dulu denganmu apakah tidak boleh?"

"Kalau memang ingin berbicara katakan saja terus terang, lolap sama saja bisa menerimanya."

Sementara pembicaraan berlangsung, Sreet!

Sreet!

Sreet!

Diiringi desingan angin tajam, Ci kay taysu, Ci hui-taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu telah bermunculan disana dan membentuk posisi setengah lingkaran dibelakang tubuh Tiang pek lojin.

Dengan pandangan dingin, Tiang pek lojin memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan sikap acuh tak acuh katanya .

"Lohu datang dari jauh sebagai tamu, masa kalian tidak tahu cara untuk menerima tamu?"

Sambil tertawa dingin, ia mendongakkan kepalanya dan bersikap sangat angkuh.

Ciangbun hongtiang memandang sekejap kearah keempat orang sutenya, kemudian setelah memuji keagungan sang Buddha, ujarnya dengan serius .

"Lolap kurang hormat, harap So tayhiap jangan menyalahkan, silahkan......... !"

Dia membuka pintu ruangan dan berjalan masuk lebih dahulu.

Tiang pek lojin berjalan diantara kepungan lima orang dan masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, tanpa menunggu ucapan orang, dia langsung mengambil tempat duduk, sikapnya angkuh, tinggi hati dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap lawannya.

Menyaksikan perbuatan kakek itu, hawa amarah segera memancar keluar dari wajah empat orang taysu itu.

Diam-diam ciangbun hongtiang dari partai Siau lim memberi tanda kepada keempat orang sutenya agar menahan diri, ia kuatir kalau adik seperguruannya tak kuasa menahan diri sehingga melakukan perbuatan yang merugikan nama baik partai.

Pelan-pelan ciangbun hontiang dari Siau lim pay duduk dihadapan Tiang pek lojin.

Keempat orang taysu lainnya berdiri di kedua belah samping, berada di depan orang luar, mereka tak berani mengambil tempat duduk sejajar dengan ketuanya.

Pelan-pelan paras muka Tiang pek lojin berubah menjadi lembut dan tenang, ujarnya kemudian .

"Hwesio tua, dapatkah kau tebak apa maksud kedatangan lohu pada malam ini?"

Dengan wajah serius sahut ketua dari Siau lim pay .

"Lolap tidak habis mengerti dengan keperluan apakah So tayhiap mengadakan janji dengan kami untuk datang berkunjung kemari?"

Sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, dia enggan untuk menebak maksud kedatangan orang secara sembarangan, tapi dibalik ucapannya itu lamat-lamat mengandung nada tegoran.

Tiba-tiba Tiang pek lojin bergumam sendiri .

"Kedatangan lohu bukan pada waktunya, apakah toa hwesio merasa agak tidak senang hati?"

Ketua dari Siau lim pay itu mengerutkan dahinya, kemudian pelan-pelan menjawab .

''Kemampuan So taybiap untuk berjalan di angkasa memang tak bisa dibandingkan dengan orang, betul kuil kami kecil, tapi kemampuan untuk menahan diri masih kumiliki, harap So tayhiap jangan memikirkan yang bukan-bukan."

Tiba-tiba Tiang pek lojin menghela napas panjang, katanya lagi .

"Lohu ada niat untuk membatalkan perjanjian untuk menyambangi ke atas bukit, maka sengaja aku datang untuk mengajak toa hwesio merundingkan persoalan ini, harap toa hwesio jangan menyalahkan diriku yang telah mendatangi kuil malammalam!"

Mendengar perkataan itu, ketua dari Siau lim pay tersebut tertawa terbahak-bahak.

"Haaah........ haaahhhh.......... Haaahhh..... kenapa So tayhiap berkata begitu, baiklah, lolap akan mendengarkan perkataanmu itu."

Tiang pek lojin memandang sekejap kearah Ci kay taysu sekalian berempat, sementara mulutnya tetap membungkam, agaknya ia ada maksud untuk mempersilahkan orang-orang itu pergi dahulu meninggalkan tempat tersebut.

Siau lim Su toa Kim kong adalah orang-orang yang cukup berpengalaman dalam masalah dunia persilatan, tentu saja mereka pun memahami arti kata dari sikap musuhnya.

Ci kay Taysu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan mengajak ketiga orang sutenya memberi hormat kepada Ciangbun suhengnya seraya berkata .

"Tecu sekalian berempat akan mohon diri lebih dulu dari tempat ini.... !"

Selesai berkata rnereka telah bersiap-siap untuk mengundurkan diri dari tempat itu. Tapi dengan cepat ketua dari Siau lim pay itu mengulapkan tangannya sembari berkata .

"Tak ada halangan buat Sute berempat untuk tetap berada disini, So tayhiap adalah seseorang yang periang dan berjiwa terbuka kalian tak usah berlagak sok pintar."

Sesungguhnya keempat toa kim kong itu pun merasa tidak berlega hati untuk membiarkan ciangbun suhengnya berbicara empat mata dengan Tiang pek lojin, mereka kuatir ketuanya menderita kerugian, permohonan diri yang diucapkan tadi tak lebih hanya suatu sopan santun belaka dan mereka memang tidak benarbenar berniat begitu.

Maka setelah mendengar perkataan dari ciangbun suhengnya itu, merekapun segera membatalkan niatnya untuk mengundurkan diri, sambil tersenyum mereka balik kembali ke tempatnya semula.

Entah apa sebabnya, ternyata Tiang pek lojin berubah menjadi bertebal muka dan tak tahu malu, tiba-tiba katanya kembali .

"Lohu bermaksud untuk berbicara empat mata saja dengan lo hwesio......!"

Ketua dari Siau lim pay itu segera tersenyum, sahutnya .

"Keempat orang suteku bukan orang luar, jika So tayhiap ingin berbicara, lebih baik katakan saja dengan terang-terangan."

Agak memerah paras muka Tiang pek lojin karena jengah, untuk menutupi rasa malunya itu sengaja ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh...Haaahhh... Haaahhh... kalau begitu lohu akan berbicara secara blak-blakan!"

Baik ketua dari Siau lim pay maupun keempat orang Kim kong itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, dengan tenang mereka menantikan pembicaraannya lebih jauh.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Tiang Pek lojin berkata dengan serius .

"Asalkan kuil kalian bersedia untuk menyerahkan Si li cu berwarna merah kepadaku, lohu segera akan mengalihkan pasukan ke bukit Bu tong dan sejak kini tak akan mengusik kuil kalian lagi."

Si li cu dari kuil Siau lim si semuanya terdiri dari tiga macam, yakni putih, merah dan hitam, benda itu dibentuk oleh para ciangbunjin pada generasi yang lalu.

Selama ratusan tahun belakangan ini, banyak sekali Si li cu warna putih dan hitam yang berhasil dibentuk, sedangkan Si li cu warna merah hanya berhasil dibuat oleh ciangbunjin angkatan ke lima, sebab itu Si li cu warna merah dianggap sebagai benda mustika oleh pihak Siau lim si.

Sekarang, Tiang pek lojin ternyata menghendaki pihak Siau lim menyerahkan benda tersebut, bukankah hal ini merupakan suatu pemaksaan yang sewenang-wenang?

Tak heran kalau kelima orang hwesio dari Siau lim si itu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Ketua dari Siau lim si itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan gusarnya, kemudian dengan wajah berubah serunya lantang .

"So tayhiap, apakah kau beranggapan bahwa pertemuan yang berlangsung besok pasti dimenangkan oleh pihakmu? "Hmmm..... tak perlu menunggu sampai besok sekarangpun bisa kubuktikan kenyataanya!"

Sahut Tiang pek lojin sambil menunjukkan sikap yang aneh sekali. Ketua dari Siau lim si itu benar-benar dibikin naik pitam, sambil tertawa dingin katanya .

"Bagus sekali! Bagus sekali! Ci kay sute, harap kau menuju kehalaman belakang dan perintahkan orang untuk memasang lampu, kalau memang So tayhiap ada kegembiraan untuk melakukan hal ini, lolap bersedia untuk mengiringi kehendakmu!"

Ci kay taysu mengiakan dan siap berlalu dari situ. Tapi Tiang pek lojin telah goyangkan tangannya berulang kali sambil tertawa seram katanya .

"Tidak perlu lohu tak ingin terlalu menyusahkan kalian semua, bagaimana kalau kita mencoba beberapa gebrakan ditempat ini saja?"

Soal lagaknya yang besar masih bisa ditahan, tapi sindirannya yang pedas cukup membuat orang merasa tak kuasa menahan diri.

Sebelum ciangbun suhengnya mengucapkan sesuatu Ci nian taysu sudah tak kuasa menahan diri lagi, dia segera membentak gusar.

"So Seng pak, kau benar-benar tidak memandang sebelah mata kepada kami, pertama-tama biar pinto yang meminta petunjukmu terlebih dulu!"

Tiang pek lojin melototkan matanya sambil mendengus.

"Hmm....! Usiamu belum mencapai enam puluh tahun, masa latihanmu masih sangat terbatas, tak nanti kau bisa menahan tiga buah seranganku. Lohu rasa, ada baiknya kalian suheng te berlima maju bersama-sama saja!"

Ketua Siau lim pay dan ke empat Kim kongnya mempunyai kedudukan yang amat tinggi didalam dunia persilatan, jangan dibilang lima orang mengerubuti satu orang, sekalipun secara bergilir mereka turun tanganpun tak akan dilakukan, sebab jika hal ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bukankah nama besar partai Siau lim akan tercoreng?

Tiang pek lojin bisa berbicara besar karena dia tahu bahwa dirinya tidak terjerumus dalam keadaan yang berbahaya, sehingga ucapan yang diutarakan pun menjadi tak sedap didengar.

Itulah sebabnya perkataan dari Tiong pek lojin dengan cepat mengorbarkan hawa amarah dari ketua Siau lim beserta ke empat Kim kongnya.

Ci nian taysu tak kuasa menahan diri lagi sambil membentak keras ia maju menyerang dengan ilmu pukulan Siau lim sin kun sambil menuju tubuh Tiang pek lojin bentaknya .

"Bisa atau tidak, kita coba dulu baru berbicara kemudian!"

Tiang-pek lojin tertawa sinis, sambil mengangkat telapak tangannya keatas dan memdorongnya kemuka dia berkata .

"Jika kau tak tahu diri, jangan salahkan diri lohu lagi."

Ci nian taysu bisa menjadi salah satu dari Su toa kim kong dalam partai Siau lim karena ilmu pukulan Bu im sin kangnya sudah mencapai kesempurnaan delapan bagian dalam dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang tidak seberapa orang yang mampu menghadapi pukulannya itu.

Selihay-lihaynya tenaga dalam yang dimiliki Tiang pek lojin tidak seharusnya dia berani memandang enteng musuhnya maka ketika semua orang menjumpai sikap acuh musuhnya itu, diam-diam mereka menjadi girang, dianggapnya dalam pertarungan pertama ini paling tidak pihak mereka akan berhasil meraih keuntungan.

Siapa tahu kenyataannya sungguh jauh di luar dugaan, mendadak sekujur badan Ci nian taysu mengejang keras akhirnya tak sanggup berdiri tegak, secara beruntun dla mundur empat lima langkah dan akhirnya muntah darah segar, jelas isi perutnya sudah mengalami luka yang tidak ringan.

Ketika dua gulung angin pukulan saling membentur tadi, dalam ruangan sama sekali tidak terjadi goncangan apa-apa, dari sini bisa diketabui kalau kepandaian silat yang dimiliki kedua belah pihak benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Tampaknya Tiang pek lojin berhasil untuk membuat kejutan dengan serangannya itu, maka diantara serangan yang dipergunakan itu, diam-diam ia sertakan pula tenaga serangan Jit sat ci yang maha lihay itu.

Akhirnya bukan saja Ci nian taysu terkena serangan itu sampai luka dalam, bersama itu juga jalan Ciang bun hiat ditubuhnya juga terkena totokan.

Begitu hawa murninya tak bisa dihimpun, kontan darah segar muntah keluar dan akhirnya ia roboh tak sadarkan diri.

Setelah jatuh pingsan, sudah barang tentu dia pun tak dapat menceritakan bila ia sudah kena disergap lawan secara licik.

Tiang pek lojin sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk melakukan penyelidikan, sambil tertawa tergelak serunya kemudian .

"Bagaimana hasilnya? Lohu tidak sengaja omong besar bukan?"

Ci hui taysu segera maju ke depan, kemudian katanya .

"Tak usah banyak berbicara lagi, silahkan kau menerima sebuah pukulan dari pinto ini!"

Ditengah pembicaraan tersebut, tubuhnya segera merendah ke bawah, sepasang telapak tangannya dengan disertai tenaga penuh langsung menyerang jalan darah Siau yau hiat dipinggang Tiang pek lojin dengan jurus Thian tee kay tay (langit bumi terbuka lebar).

Sesudah berhasil mengalahkan Ci nian taysu dalam satu gebrakan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna, kali ini Tiang pek lojin telah merubah sistim pertarungannya ketika menghadapi Ci hui taysu, dia hendak menangkan musuhnya dengan mengandalkan jurus serangan agar musuh bisa mengetahui kemampuannya yang sebenarnya.

Begitulah, sambil tersenyum dia tetap berdiri tegak ditempat semula, kemudian dengan mengandalkan tangan kirinya melancarkan serangan balasan, ia cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ci hui taysu dengan jurus Ing kan im san (menggaet kepala memandang bukit).

Ci hui taysu segera merasakan munculnya segulung hawa dingin yang merasuk tulang langsung menyusup ke dalam nadinya, ia menjadi bergidik dan bersin beberapa kali, peluh dingin jatuh bercucuran muka menjadi pucat pias seperti mayat dan segenap tenaga dalamnya menjadi punah tak berwujud.

Melihat musuhnya telah kena dipecundangi, Tiang pek lojin tertawa terbahak-bahak katanya .

"Haaahhh.... Haaahhhh..... haaaahhhhh.... ternyata yang dinamakan Su toa kim kong dari partai Siau lim tidak lebih hanya begitu saja, hayo enyah kau dari sini!"

Ketika telapak tangannya dikebaskan kemuka, tubuh Ci hui taysu yang tinggi besar itu sudah terlempar jauh keluar jendela.

Paras muka Ci kay taysu dan Ci leng taysu segera berubah menjadi hijau membesi, tampaknya mereka sudah berniat untuk turun tangan.

Hongtiang dari Siau lim pay pun melototkan matanya bulat-bulat, ujarnya kemudian .

"Sebelum partai kita berada didalam posisi antara hidup dan mati, harap sute berdua tenangkan sedikit hati kalian, hari ini kita cuma bertujuan untuk mengukur kepandaian masing-masing, dua orang yang mencobapun sudah lebih dari cukup!"

Tampaknya tujuan Tiang pek lojin telah tercapai pula, paras mukanya berubah menjadi jauh lebih lunak, lalu katanya .

"Hari ini memang bermaksud untuk menjajal kepandaian, maka kita hanya membatasi saling menutul, tapi besok dalam pertemuan resmi aku tidak akan bertindak sesungkan ini lagi, hui toa hwesio pikirkan yang matang dan besok beri aku jawaban, sekarang maaf kalau lohu tak akan menemani lebih lama lagi"

Begitu ucapan yang terakhir diutarakan, tubuhnya sudah melayang keluar lewat jendela dan melompat naik keatas atap rumah.

Ci kay taysu dan Ci leng taysu berdua segera membentak keras kemudian bersiap sedia mengejar dari belakang.

"Sute berdua, kembali! Biarkan saja dia pergi!"

Seru ketua Sim lim pay dengan cepat.

Ci kay taysu dan Ci leng taysu segera mundur kembali kedalam ruangan, dengan wajah membesi mereka membungkam dalam seribu bahasa.

Penghinaan tersebut memberikan pukulan batin yang cukup berat bagi mereka, didalam hati kecil mereka secara lamat-lamat mulai tumbuh perasaan dendamnya terhadap Tiang Pek lojin.

Akhirnya ketua dari Siau lim pay itu menghela napas panjang, kemudian katanya .

"Tenaga dalam yang dimiliki orang itu jauh diluar dugaanku, Ci kay sute harap kau undang keluar lencana Liok giok leng dan meminta tiga malaikat untuk tinggalkan pertapaan serta siap menghadapi pertemuan besok."

Siau lim sam sian (tiga malaikat dari kuil Siau lim) adalah saudara seperguruan ciangbunjin angkatan yang lalu, atau merupakan paman guru dari ketua yang sekarang, mereka merupakang tianglo yang berkedudukan paling tinggi dalam partai Siau lim.

Oleh karena usianya yang telah lanjut dan kedudukannya yang tinggi, mereka jarang sekali mencampuri urusan di dalam kuil.

Tapi situasi yang dihadapi partai Siau lim pada saat ini jauh berbeda, apalagi dihadapkan pada ancaman Tiang pek lojin yang maha dahsyat, mau tak mau terpaksa mereka memutuskan untuk mengundang kehadiran ketiga orang malaikat tersebut.

Kepergian Ci kay taysu amat cepat, tapi kembalinya juga lebih cepat begitu melangkah masuk ke dalam kamar hontiang, dengan napas agak memburu dan suara gemetar, lapornya .

"Lapor ciangbunjin suheng, lencana leng giok leng telah hilang dicuri orang!"

"Apa?"

Teriak ketua dari partai Siau lim itu dengan tubuh yang bergetar keras.

"Lencana Liok giok leng telah hilang dicuri orang!"

Ulang Ci kay taysu sekali lagi.

Sinar sang surya yang berwarna kuning emas telah memancar ditengah lapangan luas di dalam lingkaran dinding pekarangan kuil Siau lim si.

Udara sangat bersih dan cerah, tidak ada angin yang berhembus dan suasana terasa gerah dan tak tahan di badan.

Sejak tadi perasaan setiap pendeta dalam kuil Siau lim si telah bergelora dengan hebatnya, mereka serasa mendidih dengan hebatnya....

Kejadian semalam telah tersebar luas diseluruh kuil setiap anggota kuil Siau lim telah mengetahui kalau Tiang pek lojin telah mendatangi kuil mereka semalam dan melukai Ci hui taysu serta Ci nian taysu.

Peristiwa tersebut dengan cepat mengobarkan semangat dan rasa dendam segenap pendeta terhadap musuhnya.

Yaa, peristiwa ini boleh dibilang merupakan suatu penghinaan yang belum pernah dialami Kuil Siau lim si selama beberapa ratus tahun belakangan ini.

Sekalipun ketua partai Siau lim merupakan seorang pendeta yang beriman tebal, kali ini diapun sudah tak sanggup untuk mengendalikan perasaannya lagi.

Mendekati tengah hari, dari luar kuil tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai, seorang kakek bermuka merah berambut putih dengan memimpin sepasukan jago pelan pelan berjalan mendekat.

Kuda kuda itu dilarikan masuk kedalam kuil dan berhenti tepat ditengah lapangan didepan kuil Toa hian tian.

Kuda itu berjumlah dua puluh delapan ekor sedang penunggangnya hanya dua puluh enam orang, dua ekor kuda yang terakhir tidak nampak penunggangnya melainkan dipasang dengan tandu yang hijau dirubah bentuknya.

Tandu itu tidak terlalu tinggi dan tak mungkin bisa diisi orang, tapi apakah isinya.

Semua orang sudah turun dari kudanya namun dua ekor kuda bertandu itu tetap berdiri tegak disitu tiada ornag yang menghampirinya, kecuali ringkikan kuda dan depakan kaki kuda yang memecahkan keheningan.

Dalam lapangan tersebut tidak Nampak seorang pendetapun, ini menunjukkan kalau pihak Siau lim si memang sengaja hendak memandang rendah dan sinis terhadap kehadiran mereka.

Sebenarnya Tiang pek lojin sudah diliputi kemarahn apalgi setelah menyaksikan kejadian ini, amarahnya kontan saja makin memuncak, rambutnya pada berdiri semua bagaikan landak, matanya melotot besar seperti gundu.

Setelah mendengus dingin, sumpahnya .

"Orang Siau lim, laknat semua kalian!"

Baru selesai perkataan itu dilontarkan, dua orang kakek berbaju hijau yang berusia lima enam puluh tahunan dan berperawakan tinggi besar telah melompat maju kedepan.

Kedua kakek berbaju hijau itu bersamaan Tam ci toa tiau (rajawali raksasa bersayap tunggal) Ting Tian yu disebut Tiang pek sam nio.

Ting Tian yu adalah ketua dari ketiga burung tersebut dan merupakan lotoa sedang mereka berdua adalah loji Meh yu tok tin (Burung beracun berbulu hitam) Ko Thian lay serta losam Thi cui Wu ya (burung gagak berparuh baja) Tan Peng.

Tiang pek sam nio adalah keponakan dari Tiang pek lojin sendiri, mereka merupakan orang-orang yang paling dipercaya oleh kakek sakti tersebut.

Sementara itu loji si burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay serta siburung gagak berparuh besi Tan Peng telah melompat kedepan.

Dengan suara keras Si burung gagak berparuh baja Tan Peng berkata lantang .

"Anjing buas cuma tunduk dengan tongkat besar, berbicara soal cengli dengan mereka sama sekali tak ada gunanya, harap kau orang tua memberi ijin kepada kami berdua untuk membalaskan dendam bagi kematian saudara kita."

Tiang pek lojin mengerutkan dahinya kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun mengangguk.

Dengan suatu gerakan cepat, burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay dan burung gagak berparuh baja Tan Peng segera menerjang maju ke depan pintu kuil.

Setelah melewati tanah lapang yang luas, sampailah kedua orang itu dibawah undak-undakan batu didepan istana Toa hiong po tian.

Burung gagak berparuh baja Tan Peng segera berseru kepada saudaranya .

"Loji, kau tunggu saja ditempat ini, bila ada hwesio gundul yang berani kabur dari sini, diberi sedikit pelajaran agar tahu rasa."

"Beberapa orang yang musti kurobohkan?"

Tanya Ko Thian lay.

Si burung gagak berparuh besi memperlihatkan kedua jari tangannya, lalu baru melangkah ke atas batu undak-undakan batu itu.

Burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay berhenti sebentar dibawah undak-undakan batu itu, tidak tampak dia melakukan gerakan apa-apa, tahu-tahu sambil tertawa dia telah berjalan balik dari tempat semula.

Sedangkan si burung gagak berparuh baja telah selesai menaiki undak-undakan batu itu dan menghampiri pintu gerbang ruang Toa hiong po tian, diam-diam hawa murninya segera dihimpun, baru saja akan menggempur pintu gerbang tersebut dengan kekerasan, mendadak pintu besar berlapiskan emas itu telah membuka dengan sendirinya.

Dibalik pintu penuh dengan kawanan hwesio yang berdiri berjejal disana...

cuma anehnya, para hwesio itu tiada seorangpun yang berkutik dari tempat semula.

Paras muka burung gagak berparuh baja Tan Peng segera berubah menjadi merah padam, setelah tertawa serak dengan tersipu-sipu dia balik kembali dari situ.

Mungkin karena ia tidak memperoleh kesempatan untuk mendemostrasikan kehebatannya maka jagoan ini merasa rikuh.

Setelah pintu istana terpentang lebar, para hwesio yang berkumpul didalam ruangan sama sekali tidak berdesakan keluar.

Mula-mula terdengar dulu suara genta kemudian bergema suara tambur, menunggu suara genta dan tambur berbunyi bersama, dari ruangan baru muncul sepasang hwesio cilik berbaju kuning.

Dibelakang hwesio cilik itu adalah delapan belas orang hwesio berlhasa merah, dibelakangnya baru ketua dari Siau lim pay, sedangkan para pendeta sisanya dengan teratur sekali mengikuti dibelakang ketuanya.

Andaikata persiapan semacam ini dipergunakan untuk menyambut kedatangan tamu agung, maka boleh dibilang hal ini merupakan suatu ucapan penyambutan yang besar sekali, tapi kalau digunakan untuk penyelesaian suatu pertikaian dunia persilatan maka menjadi berbeda sekali artinya.

Hal mana tak baik mengartikan bahwa ke dua belah pihak tak perlu membicarakan persoalan ini secara sungkan-sungkan lagi.

Ketika Tiang pek lojin menyaksikan cara Siau lim pay didalam menyambut kedatangannya itu, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam sambil mendongakkan kepalanya dia tertawa tergelak tiada hentinya.....

Sementara itu kedua orang hwesio cilik yang berjalan di paling muka telah menuruni undak-undakan batu, sedangkan ketua Siau lim pay juga belum jauh meninggalkan pintu ruangan.

Pada saat itulah mendadak dua orang hwesio cilik yang berada dipaling muka itu berpekik keras, kemudian secara ganas membalikkan badan dan menyerang ke delapan belas orang hwesio berbaju merah yang mengikuti dibelakangnya.

Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini sangat mengejutkan dua orang hwesio yang berada tepat dibelakangnya, sementara mereka masih tertegun, pukulan keras yang dilancarkan hwesio cilik itu dengan telak melukai mereka berdua hingga robohlah kedua orang itu keatas tanah.

Keadaan dari kedua orang hwesio cilik itu ibaratnya anjing yang sudah gila, begitu bertemu orang serangan segera dilancarkan dalam waktu singkat kedelapan belas orang hwesio itu menjadi kacau balau tidak karuan.

Sebenarnya kedelapan belas Lo han itu rata-rata berilmu tinggi, tapi lantaran peristiwa itu terjadinya sangat mendadak, dalam tercengangnya pendeta-pendeta itu menjadi lupa untuk membekuk kedua orang hwesio cilik yang sedang kalap tersebut.

Para jago dari luar perbatasan menjadi sangat bergirang hati setelah menyaksikan kejadian itu, semua rasa mendongkol dan ketidaksenangan hati segera tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Sebaliknya para jago dari Siau lim pay, mulai dari ketuanya sampai ke anak buahnya sama-sama berubah muka, dengan wajah hijau membesi mereka melototi musuhnya dengan penuh kegusaran.

Sepasang alis mata ciangbun hongtiang mengerut kencang, sepasang matanya merah berapi-api, dengan suara dalam bentaknya .

"Go li, Go hian! Bekuk kedua orang itu gusur pergi dari situ ........"

Diantara delapan belas Lohan segera muncul dua orang hwesio setengah tua yang berusia lima puluhan tahunan seorang menghadapi seorang hwesio cilik, dengan cepat pertarungan berlangsung.

Gerak gerik kedua orang hwesio cilik itu sungguh lincah sekali, kepandaian sakti aliran Siau lim yang dipahami juga sudah mencapai beberapa bagian kesempurnaan, apalagi dalam keadaan hilang kesadarannya kemampuan yang mereka tunjukkan berlipat kali lebih dahsyat dari keadaan semula.

Akibatnya meski Go li hwesio dan Go hian hwesio sudah bertarung sebanyak lima gebrakan, mereka belum berhasil membekuk kedua orang hwesio cilik itu.

Menyaksikan kejadian tersebut para jago dari luar perbatasan segera tertawa terbahak-bahak.

Go li hwesio dna Go hian hwesio segera merasa kehilangan muka, lantaran malu mereka jadi naik darah, dengan cepat ilmu Cap Pwe lohan jiu yang maha dahsyat dipergunakan, tapi pada jurus yang kesembilan mereka baru berhasil menaklukkan kedua orang hwesio cilik itu.

Begitu kedua orang hwesio tadi terbekuk, mereka segera roboh tak sadarkan diri diatas tanah, buih putih meleleh keluar tiada hentinya dari ujung bibir mereka.

Tak usah diterangkan pun semua orang sudah tahu kalau mereka kena dipecundangi orang dengan obat beracun.

Sementara itu dari dalam ruang kuil telah muncul empat orang hwesio muda yang segera menggotong ke dua orang hwesio cilik itu masuk.

Selama ini kuil Siau lim si tersohor karena peraturannya yang keras serta anggotanya yang disiplin, akan tetapi dengan terjadinya peristiwa itu, otomatis nama baik partaipun ikut tercemar.

Dengan suara dalam ketua dari Siau lim pay itu berseru .

"Harap semua pendeta mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi badan, delapan belas Lo han berjalan dipaling depan!"

Kedelapan belas orang hwesio itu segera menyusun barisan kembali dan menuruni anak tangga batu itu dengan wajah serius.

Pada mulanya para pendeta itu masih kuatir terutama mereka yang merasa tenaga dalamnya agak cetek mereka kuatir bila sampai keracunan lagi seperti rekannya, tapi sampai segenap anggota menuruni undak-undakan tersebut ternyata tak seorangpun yang mengalami musibah lagi.

Dari sini dapat diketahui bahwa si burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa dalam kepandaian beracun buktinya dia bisa mempergunakannya seperti apa yang diinginkan hati kecilnya.

Dari dua tiga ratus orang anggota kuil Siau lim si, kecuali sebagian yang mendapat tugas untuk menjaga ruangan dalam, hampir seratus lima enam puluh orang anggota Siau lim pay yang hadir ditengah lapangan saat ini.

Berarti hampir separuh lapangan telah dipenuhi oleh mereka.

Padahal para jago dari luar perbatasan hanya berjumlah dua puluh enam orang, sudah jelas dalam hal jumlah mereka masih ketinggalan jauh, meski begitu, para jago dari luar perbatasan sama sekali tidak menunjukkan rasa jeri atau takut bahkan sama sekali tidak ambil perduli.

Menunggu para pendeta dari kuil Siau lim si telah turun semua dari undak-undakan batu, Tiang pek lojin baru mengulapkan tangannya menitahkan para jago dari luar perbatasan untuk tetap berdiri ditempat, kemudian didampingi dua orang kakek tua mereka berjalan ke tengah arena dengan langkah lebar.

Ciangbunjin hongtiang dari Siau limpay segera ulapkan tangannya pula, dengan didampingi Ci kay taysu disebelah kiri, Ci leng taysi di sebelah kanan, mereka bertiga maju ke depan menyongsong kedatangan Tiang pek lojin bertiga.

Peristiwa semalam rupanya masih mendendam dalam hati hwesio tua ini, tiada senyuman ramah yang menghiasi bibirnya, setelah mengucapkan "Omitohud"

Katanya kemudian .

"Lo sicu, apakah benar-benar tak mau lepas tangan?"

Sebenarnya ucapan itu merupakan kelanjutan dari pembicaraannya semalam, tapi justru gampang menimbulkan kesalahan paham yang seolah-olah mengartikan kedatangan Tiang pek lojin tersebut.

Betul juga, so Seng pak atau Tiang pek lojin segera tertawa dingin, kemudian katanya .

"Ci long, sungguh tak kusangka kau sebagai seorang ciangbunjin dari suatu perguruan besar, namun tindak tandukmu begitu rendah dan tak tahu malu!"

"Ci long, Ci long, kau anggap nama tersebut pantas kau sebut sebut!"

Bentak Ciangbunjin hongtiang dengan amat gusar. Tiang pek lojin segera tertawa seram.

"Heehhh..... heeehhhh.... heehhh..... ketika lohu bersama Tong sian sang jin berkelana dalam dunia persilatan tempo hari, kau masih seorang bocah cilik, apa salahnya kusebut kau dengan sebutan Ci long?"

"Kau benar-benar terlalu menghina orang, lolap sudah tak tahan dibuatnya!"

Bentak Ci long siansu dengan amat marahnya. Sekali lagi Tiang pek lojin tertawa seram.

"Kau mcmpermalui perguruanmu, mencari penyakit buat diri sendiri, kenapa sekarang malah menyalahkan orang lain."

Mendadak Ci long siansu tertawa keras pula, kemudian serunya.

"Lolap selalu melangkah menurut peraturan, selamanya tak pernah melakukan suatu perbuatan yang merugikan orang, atas dasar apa kau menuduh aku telah mempermalukan nama perguruan?"

"Kurangajar, kau anggap lohu sembarangan menfitnah!"

Teriak Tiang pek lojin dengan teramat gusarnya. Ci long siansu tak mau kalah, sambil tertawa dingin dia berseru pula .

"Bagaimanakah watak Suma Ciau, orang jalanpun pada tahu! Sekalipun kau main fitnah, apapula gunanya!"

"Lohu punya bukti!"

"Hmm.... bukti apa? Jika hatimu sudah mempunyai maksud jahat, sekalipun ada bukti juga tak akan bisa mengelabuhi bocah berusia tiga tahun dari daratan Tiorggoan!"

Tiang pek lojin geram sekali, sambil menggigit bibir bentaknya keras-keras .

"Ketua Thian liong pay angkatan ke sebelas Thi Eng khi telah dipaksa mengasingkan diri jauh ke luar perbatasan, ternyata kalian orang-orang Siau lim dan Bu tong tidak rela melepaskannya dengan begitu saja, bahkan diam-diam menyusup masuk kedalam benteng lohu dan menculiknya pergi. Bayangkan saja tindakan yang pantas dilakukan oleh kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya manusia dari golongan lurus di daratan Tionggoan!"

Setelah berhenti sebentar, dengan gusar lanjutnya lebih lanjut.

"Sekarang Thi Eng khi berada di mana? Cepat serahkan kepadaku! Lohu dengan Keng Thian giok cu Thi tayhiap adalah sahabat sehidup semati aku tak bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kejadian ini berlangsung di depan mataku."

"Gara-gara membelai Thi ciangbunjin sewaktu berada di perkampungan Ki hian san ceng, suteku Ci kay telah menyalahi dia, Sangkoan loji, peristiwa ini diketahui oleh setiap umat persilatan didunia ini, kini Thi ciangbunjin lenyap diluas perbatasan, atas dasar apa kalian menuduh kuil kami?"

Tiang pek lojin tertawa seram, sambil berpaling segera bentaknya .

"Bawa kemari barang buktinya!"

Tam ci toa tiau Ting Tian yu muncul dengan langkah lebar sambil membawa sebuah meja besar, kemudian meja itu diangkat tinggitinggi dan permukaannya diperlihatkan kepada para pendeta tersebut.

Kemudian dengan sinar mata yang tajam seperti sembilu Tiang pek lojin mengawasi wajah ciangbun hongtiang tajam-tajam, katanya .

"Setelah menculik orang lantas meninggalkan tanda, tindakan ini sebenarnya merupakan suatu tindakan yang berani, kenapa sekarang tidak berani mengakuinya?"

Begitu menyaksikan bekas cap Liok giok leng diatas meja tersebut, paras muka Ci long siansu berubah hebat, segera bentaknya .

"Kau berani mencuri barang orang, kemudian menfitnah orang semaunya sendiri, hmm! Suatu ketika kau pasti akan memperoleh ganjaran atas perbuatanmu itu!"

Rupanya ia menganggap Tiang pek lojin berambisi untuk merajai daratan Tionggoan maka sengaja mencuri lencana, meninggalkan bekasnya di meja dan dipakai sebagai bukti.

Tiang pek lojin tidak menyangka sampai kesitu, dia menganggap pihak lawan tak tahu malu dan ingin mungkir, maka sambil tertawa ia bertepuk tangan lagi tiga kali.

Setelah tiga kali tepukan tangan itu lewat, muncul dua orang sambil menuntun kuda bertandu itu menghampiri tengah arena.

"Sekarang akan kutunjukkan lagi sebuah bukti yang nyata,"

Ujar Tiang pek lojin kemudian sambil mendongakkan kepalanya.

"coba lihat, apa yang bisa kaukatakan lagi."

Menyusul kemudian, pesannya .

"Hantar mereka kepada ciangbunjin agar bisa dilihat lebih jelas, coba kita lihat apalagi yang hendak dia ucapakan!"

Dua orang segera maju dan menurunkan tandu tersebut dari punggung kuda, lalu digotong dan diletakkan didepan ciangbunjin hongtiang dari kuil Siau lim si.

Rupanya Ciangbunjin dari Siau lim si itu tidak bisa menebak permainan setan apa yang sedang dipersiapkan Tiang pek lojin, baru saja dia akan maju untuk melakukan pemeriksaan, Ci kay taysu yang berada disisinya telah berkata .

"Ciangbun suheng, kau tak boleh menyerempet bahaya, biar tecu saja yang melakukan pemeriksaan itu!"

Dengan langkah lebar dia lantas maju kedepan.

Ci kay taysu cuma maju beberapa langkah dan tidak berani terlampau dekat dengan tandu tersebut, lalu dengan mempergunakan tenaga pukulannya dia menyingkap kain yang menutupi tandu tersebut.

Ternyata dalam tandu tadi tergeletak dua sosok mayat dari lelaki bertubuh kekar, mata mereka terbelalak lebar dengan mulut melongo, kematiannya benar-benar mengenaskan.

Sambil tertawa dingin, Tiang pek lojin lantas berkata .

"Coba kalian periksa, ilmu pukulan apakah yang menyebabkan kematian mereka berdua?"

Maksud dari perkataan itu, tentu saja mempersilahkan Ci kay taysu untuk melakukan pemeriksaan.

Kali ini Ci kay taysu tidak ragu-ragu lagi, dia lantas membungkuk dan menyingkap pakaian yang dipakai kedua orang lelaki itu, tapi diatas dadanya tidak Nampak luka apa-apa.

Baru saja dia hendak bertanya, Tiang pek lojin telah berkata lagi .

"Lukanya berada diatas Pay sim hiat!"

Ci kay taysu segera membalikkan jenasah itu, apa yang kemudian terlihat segera membuat hatinya menjadi tertegun, hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sementara itu Tiang pek lojin telah berkata lagi .

"Dua orang saudara yang mati secara mengenaskan itu adalah Kim piau Gin kiam (ruyung emas pedang perak) dari delapan belas penunggang kuda bukit Hek san, mereka dibunuh oleh pukulan Toa lip kim kong ciang selama dirumah penginapan Tenghong aku rasa pukulan semacam ini hanya ada didalam partai Siau lim bukan!"

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ci kay taysu mengundurkan diri kehadapan ciangbun suhengnya dan manggutmanggut mengakui kematian Kim pian gin kiam di atas pukulan Toa lip kim kong ciang dari partai Siau lim.

Pada mulanya ketua dari Siau lim pay itu merasa keheranan, tapi tak lama kemudian timbul satu ingatan didalam benaknya, dia menganggap kedua orang ini mungkin tewas ditangan murid-murid partainya semalam ketika kedua orang itu mengikuti Tiang pek lojin melakukan pengacauan semalam, maka sambil tertawa dingin katanya .

"Kau sendiri bisa melukai orang, mengapa murid-murid partai kami tak boleh membunuh untuk membela diri? Hmmm, sekalipun kau jelajahhi seantaro jagad, teorinya juga tetap sama semua!"

Tiang pek lojin menganggap pihak lawan lagi-lagi hendak mungkir maka hawa amarahnya kontan saja makin berkobar, dia tak mau mengalah dengan begitu saja, sambil membentak keras teriaknya .

"Sekalipun lohu telah melukai hwesio-hwesio kalian mau apa pula kau? Bila kalian tiudak segera menyerahkan Thi Eng khi kepadaku jika napsu membawa lohu sudah berkobar, hmmm! Perbuatan yang lebih kejipun masih sanggup kulakukan!"

Tentu saja orang yang melukai Ci hui taysu dan Ci nian taysu semalam bukan Tiang pek lojin asli, sedangkan orang yang membunuh Kim pian gin kiam juga bukan anak murid Siau lim pay.

Tapi siapakah yang telah melakukan kesemuanya ini?

Saya rasa para pembaca pasti dapat menebah sendiri bukan?

Sayangnya kesalahan paham semacam ini justru tidak mudah untuk diselesaikan, andaikata kedua belah pihak tidak bernama besar, urusan mungkin diselesaikan lebih gampang, tapi kenyataannya kedua belah pihak sama-sama orang ternama dalam dunia persilatan, biasanya orang ternama sok gengsi dan tidak mau saling mengalah, otomatis dalam setiap perdebatan pun masingmasing pihak mempertahankan pendapatnya sendiri.

Akibatnya bukan makin beres masalahnya, sebaliknya makin lama urusan semakin bertambah runyam.

Pembicaraan masing-masing pihak makin kaku dan keras, kecerdasan mereka tertutup oleh kobaran api amarah terutama sekali Ci long siansu yang merasa nama baik partainya tercemar, lencara Liok giok lengnya tercuri, semua pertanggungan jawab yang harus dipikulnya itu membuat dia tak ingin berpikir lebih jauh lagi.

Segera ketika dia mengebaskan ujung jubahnya, para pendeta yang berada dibelakangnya dengan cepat menyebarkan diri membentuk sebuah barisan yang terdiri dari tujuh puluh dua orang, sedangkan pendeta-pendeta lainnya serentak menyebarkan diri dan berjaga-jaga diruang depan Toa hong po tian.

Ci long siansu gagal meminta bantuan Siau lim sam seng untuk mengatasi kemelut tersebut, maka diapun cukup memahami kekuatan sendiri, dia tahu dengan mengandalkan kekuatan dari mereka beberapa orang, sudah pasti bukan tandingan dari Tiang pek lojin maka dia tak berani menyerempet bahaya, begitu maju barisan Lo han toa tin segera dipersiapkan.

Barisan Lo han tin merupakan salah satu kepandaian sakti dalam kuil Siau lim si, kekuatannya betul-betul luar biasa sekali.

Barisan ini mengambil delapan belas orang sebagai dasar kekuatan yang diamdiam mengandung unsur cap pwe lo han jadi paling tidak harus ada delapan belas orang baru bisa berbentuk.

Tapi barisan Lo han tin yang dibentuk kali ini terdiri dari tujuh puluh dua orang, itu berarti barisan besar itu memang khusus dipersiapkan untuk menghadapi ke dua puluh enam orang musuh yang datang dari luar perbatasan, sebab menurut perhitungan Ci long taysu, kekuatan tersebut sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kekuatan lawan......

Begitulah, setelah barisan dipersiapkan, Ci liong siansu berkata dengan dingin .

"Siau lim si telah bersiap sedia menerima petunjuk yang lihay dari kalian semua!"

Selesai berkata dia lantas mengajak Ci kay taysu dan Ci leng taysu untuk menerobosi barisan Lo han tin dan naik ke atas undakundakan batu, rupanya mereka bermaksud untuk menonton jalannya pertempuran itu dari tempat atas.

Tiang pek lojin menjadi semakin naik pitam ketika dilihatnya sikap Ci long siansu begitu angkuh dan tak sudi turun tangan melawan dirinya, seraya mendengus ujarnya kemudian.

"Hmmm! Kalau cuma barisan Lo han tin mah masih belum lohu pandang sebelah matapun, jika lohu tak mampu menerobos keluar dari barisan ini, mulai detik ini aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi didalam daratan Tionggoan!"

"Silahkan!"

Ci long siansu cuma mengucapkan sepatah kata yang amat sederhana itu.

Kemudian tidak berbicara lagi.

Tampaknya dia benar-benar telah mambenci Tiang pek lojin hingga merasuk kedalam tulangnya.

Meskipun perkataan Tiang pek lojin diucapkan dengan sombong dan tinggi hati, namun gerak geriknya sangat berhati hati sekali, dia memilih Boan san siang koay (sepasang manusia aneh dari bukit Boan san) Cia bersaudara, Tiang pek sam nio dan Sui pek su kui (empat setan dari Pek sui) sekalian berdelapan sebagai pembantunya.

Dengan demikian sembilan orang masuk bersama kedalam barisan Lo han tin yang terdiri dari tujuh puluh dua orang, atau dengan perkataan lain mereka harus satu lawan sembilan.

Ke sembilan orang itu mengambil posisi dengan kedudukan Kiukiong, begitu posisi sudah diambil, Tiang pek lojin baru berpekik nyaring sambil katanya .

"Sekarang lohu sekalian telah masuk ke dalam barisan, jika ada permainan lain silahkan ditunjukkan!"

Dari dalam jubahnya ketua dari Siau lim pay itu mengeluarkan selembar panji kecil berwarna kuning, setelah diangkat tinggi-tinggi ke atas kepala, panji itu diputar tiga kali ditengah udara, barisan Lo han tin pun segera berputar pula mengelilingi Tiang pek lojin sekalian bersembilan......

Pada mulanya masih tampak gerakan bayangan manusia, tapi lambat laun gerakan itu dari lambat menjadi cepat, sehingga akhirnya bayangan manusia sukar dilihat jelas selain segulung pusaran angin puyuh yang berwarna abu-abu saja yang bergerak menekan ke tengah arena.

Tiang pek lojin segera membentak keras .

"Kiu ciau lian huan!"

Ke sembilan orang itu segera saling bergandengan tanpa antara yang satu dengan lainnya kemudian membentuk sebuah lingkaran bulat yang berputar menurut arah kebalikan dari arah perputaran barisan Lo han tin.

Akibat dari gerakan itu, segera muncul juga segulung tenaga tekanan dahsyat yang mengembang ke arah luar dari membendung tenaga tekanan yang terpancar dari barisan Lo han tin ke arah dalam itu.

Begitulah, kedua belah pihak sama-sama saling beradu tenaga hampir selama sepertanak nasi lamanya, sekalipun Lo han toa tin terdiri dari tujuh puluh dua orang, nyatanya mereka tak banyak berkutik menghadapi sembilan gelang berantai Kiu ciau lian huan yang dibentuk oleh lojin bersembilan.

Ditinjau dari sini, bisa ditarik kesimpulan bahwa keberangkatan Tiang pek lojin memasuki daratan Tionggoan ini disertakan pula dengan suatu persiapan yang matang, jadi tak bisa dibilang kalau dia datang tanpa maksud tertentu.

Pertarungan kembali berlangsung setengah pertanak nasi lagi, tapi keadaan tetap seimbang dan saling bertahan, melihat itu ciangbunjin dari Siau lim pay mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian menggerakkan panji kuningnya tiga kali.

Serentak ke tujuh puluh dua orang pendeta dari Siau lim si itu menghentikan gerakan tubuhnya bagaikan tujuh puluh dua buah tonggak batu mereka berdiri tak berkutik ditempat semula.

Tiang pek kiu hiong (sembilan jago dari Tiang pek san) menghentikan pula gerak perputaran mereka ditengah gelak tertawa Tiang pek lojin yang amat keras.

Setelah tergelak-gelak beberapa saat, Tiang pek lojin berkata .

"Gerak pertama dari Siau lim Lo han tin yaitu Kun tun jut kay (alam semesta bara tercipta) tak lebih cuma begitu saja, lohu telah merasakan kehebatannya!"

Siau lim ciangbunjin tidak berbicara apa-apa, panji kuningnya kembali diangkat dan dikibarkan tiga kali ke kiri empat kali ke kanan.

Tujuh puluh dua orang yang berada dalam barisan Lo han tin sekali lagi melakukan perputaran.

Cuma gerakan perputaran yang mereka lakukan dengan gerakan yang lamban sekali, didalam perputaran tadi, ketujuh puluh dua orang dalam barisan tahu-tahu telah memecah diri menjadi sembilan kuntum barisan kecil yang berbentuk bunga bwe, yakni empat didalam lima diluar, masing-masing kelompok kecil itu berputar terus tiada hentinya, sambil berputar mereka melingkari terus Tiang pek lojin sekalian bersembilan.

Tiang pek lojin memperhatikan sekejab perubahan barisan lawan, kemudian segera berpekik nyaring, menysul pekikan tersebut kesembilan orang itu mendadak mempersempit lingkaran posisi mereka, dengan punggung menempel punggung mereka Berdesakan menjadi satu hingga sepintas lalu tampak kacau seperti tiada peraturan, dalam kenyataan mereka telah membentuk sebuha barisan segi delapan yang mengandung perubahan Im yang ngo heng.

Tiang pek lojin sebagai puncak pimpinan berada di tengah, sedangkan delapan orang lainnya menempel disekitarnya, maju mundur semuanya mengambil posisi bersudut delapan.

Selain itu setiap orang berdiri dengan telapak tangan kanan dirintangkan ke depan dada, tangan kiri disembunyikan ke belakang dan saling bergandengan tangan.

Tiang pek lojin memperhatikan sekejap keadaan disekeliling sana, sepasang tangan terjulur kebawah dengan telapak tangan menghadap keluar, tiada hentinya dia memperdengarkan suara pekikan yang amat nyaring .......

Kedua kelompok kekuatan kembali saling berputar sambil menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan, waktupun berlalu di tengah keheningan dan ketenangan.

Sekalipun diarena berkumpul ratusan orang jago, namun selain langkah kaki para hwesio yang berada dalam barisan Lo han tin tak kedengaran sedikit suarapun disana seakan-akan napas semua orang telah terhenti sama sekali.

Sekalipun demikian, semua orang tahu bisa serangan dimulai niscaya kehebatannya melebihi apapun, dapatkah Tiang pek lojin bersembilan menahan serangan berantai dari Siau lim lo han tin, hal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar.

Mendadak panji kecil di tangan Siau lim ciangbunjin itu diayunkan ke bawah, henbusan angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepat meluncur keluar dari tiap barisan kecil berbentuk bunga bwe itu mengarah tengah arena.

Didalam serangan itu telah terlebur segenap tenaga yang dimiliki delapan orang jago Siau lim si kedahsyatannya betul-betul mengerikan sekali.

Menanti angin pukulan itu sudah mendekati tengah arena Tam ci toa tiau Ting Tian yu yang persis berada di hadapan serangan tadi baru membalikkan telapak tangannya dan menyongsong datangnya ancaman tersebut, ternyata kekuatan kedua pihak sama-sama tangguh dan tak ada yang menang tak ada yang kalah.

Hal ini bukan dibilang tenaga dalam yang dimiliki Tam ci toa tiau Ting Tian yu sanggup menahan tenaga gabungan dari kedelapan orang jago Siau lim si, adalah segenap tenaga dalam dari Tiang pek lojin bersembilan telah digabungkan menjadi satu dan bersamasama menerima serangan tadi.

Menyusul serangan yang pertama, serangan-serangan berikutnya segera bermunculan menghajar pusat barisan secara bergantian.

Tanpa gentar sedikitpun juga, Tiang pek lojin sekalian beruntun menyambat kesembilan buah serangan itu.

Barisan Lo han tin sekali lagi berputar pukulan demi pukulan dilontarkan ke tengah arena menghajar kesembilan orang lawannya, dengan begitu kesembilan orang jago dari luar perbatasan itupun menjadi sasaran pukulan.

Tiang pek lojin yang berada ditengah arena sudah mulai mengebulkan asap putih dari kepalanya, sepasang tangan diputar dibalik berulang kali, tenaga dalamnya telah terhimpun mencapai dua belas bagian untuk menghadapi ancaman-ancaman yang datang dari delapan penjuru.

Sesudah menyambut Sembilan kali sembilan, delapan puluh satu buah pukulan, Tiang pek lojin nampak kehabisan tenaganya sehingga gerak geriknya juga menjadi lebih lamban.

Sekalipun demikian, Ci long siansu yang memegang pucuk pimpinan dari atas undak-undakan batu merasa terperanjat sekali.

Sebagaimana diketahui Siau lim Lo han tin sudah lama tersohor didalam dunia persilatan, sepanjang sejarah belum pernah barisan itu diturunkan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya seperti sekarang ini.

Atau dengan perkataan lain, bila barisan telah bergerak didalam Sembilan pukulan yang kemudian dilancarkan itulah pihak musuh pasti terluka atau tewas.

Tapi kenyataannya sekarang Tiang pek lojin sekalian sanggup menerima delapan puluh satu buah pukulan tanpa kalah, bayangkan saja bagaimana mungkin Ci long siansu tidak merasa terperanjat.

Begitulah, setelah menyambut delapan puluh satu buah pukulan, mendadak Tiang pek lojin berpekik nyaring, lalu katanya .

"Kehebatan Pek tian kim kong dan Siau lim lo han tin telah lohu rasakan kehebatannya, sekarang lihatlah bagaimana kemampuan lohu untuk menjebolkan barisan ini!"

Selesai berkata, kepada delapan anak buahnya dia berseru .

"Air raksa tumpah ditanah!"

Seketika itu juga tampaklah Tiang pek lojin bersembilan bagaikan letupan bunga api memancar keempat penjuru dan menerobos masuk lewat celah-celah dalam barisan Lo han tin.

Melihat gerakan musuh itu, Siau lim ciangbunjin segera menggerakkan panji kuningnya, sekali lagi bentuk barisan Lo han tin mengalami perubahan dan berhenti bergerak, tujuh puluh dua orang berdiri kaku di tempat sambil menyalurkan hawa murninya membentuk selapis dinding hawa yang kuat untuk mencegah kesembilan orang yang berada dalam barisan melarikan diri dari kepungan.

Tiang pek lojin segera melambung ketengah udara dan tiba-tiba menjebolkan pertahanan ketiga dari barisan Lo han tin yang disebut Thian loo tee wang.

Begitu melayang turun diluar arena, sambil tertawa terbahakbahak serunya .

"Lohu toh sudah lolos dari barisan!"

"Kau telah mempergunakan ilmu Hun hua sip hong (memecah belah sepuluh penjuru) untuk melepaskan diri dari kepungan dan mematahkan pertahanan barisan Lo han tin, tapi toh cuma kamu seorang yang lolos, kemampuan semacam itu belum bisa terhitung sebagai suatu kepandaian hebat!"

Sekalipun ia berkata demikian, hatinya benar-benar merasa terperanjat, sebab sekalipun hanya satu orang yang berhasil lolos, nama besar Lo han tin tetap tercoreng.

Sikap Tiang pek lojin yang berada diluar barisan ternyata santai sekali, sambil tertawa terbahak-bahak, katanya .

"Lohu tak lebih hanya keluar lebih duluan, aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa lohu masih sanggup menjebolkan barisan Lo han tin kalian itu dengan mengandalkan tenaga murni, sedang mereka berdelapanpun mempunyai cara sendiri untuk meloloskan diri, kau si hwesio tua tak usah merisaukan keadaan mereka!"

Sehabis berkata kembali dia berpekik nyaring, baru saja pekikan itu berkumandang, suasana didalam barisan Lo han tin menjadi kacau balau tidak karuan, ternyata para pendeta itu melepaskan anak buah Tiang pek lojin dan sebaliknya malah bertarung sendiri.

Menyaksikan kejadian itu paras muka Siau lim ciangbunjin berubah hebat, dia tahu pihak lawan pasti telah berbuat sesuatu sehingga menyebabkan keadaan berubah menjadi begitu.

Buru-buru panji kuningnya dikibarkan berulangkali dengan harapan untuk memenangkan kembali suasana yang serta kalut.

Dalam detik itulah, delapan orang anak buah Tiang pek lojin telah meloloskan diri dengan selamat dari dalam barisan.

Sementara itu, ketujuh puluh dua orang nwesio yang berada dalam sebuah barisan seperti pula keadaan dari kedua orang hwesio cilik tadi, mereka kehilangan kesadarannya dan bertarung sendiri dengan hebatnya.

Menghadapi keadaan tersebut, Siau lim ciangbunjin baru benarbenar merasa agak gugup dan kelabakan, disamping harus menghadapi Tiang pek lojin yang berhasil meloloskan diri dari barisan, diapun tidak tega hati menyaksikan tujuh puluh dua orang muridnya menjadi kalap.

Jilid 8 CI KAY TAYSU dan Ci leng taysu demikian cepat terjun ke dalam barisan Lo han tin dan bekerja keras untuk menotok roboh semua muridnya yang gila itu satu per satu.

Menanti suasana telah pulih kembali dalam ketenangan, dengan perasaan lega Ciangbunjin dari Siau lim pay itu baru tertawa sedih kepada Tiang pek lojin katanya .

"Sekarang apa yang hendak kau lakukan?"

"Lohu hendak masuk ke dalam kuil dan mencari jejak Thi Eng khi"

Seandainya Siau lim si benar-benar digeledah oleh Tiang pek lojin, maka bukan saja nama besarnya akan musnah dari dunia persilatan, mungkin keadaannya akan jauh lebih parah daripada keadaan yang dialami partai Thian liong pay.

Akibat tersebut tentu saja dipahami baik oleh Ci long siansu maupun Tiang pek lojin, sebab itu suatu pertarungan baru tampaknya segera akan berlangsung.

Disaat yang amat kritis itulah, mendadak terdengar Pek leng siancu So Bwe leng menjerit lengking.

Ketika Tiang pek lojin sekalian berpaling, tampaklah sesosok bayangan manusia sedang melarikan Pek leng siancu So Bwe leng dari tempat itu ........

Dengan gusar Boan san siang koay, dua orang anak buah Tiang pek lojin membentak keras, kemudian segera melakukan pengejaran dari belakang .....

Tiang pek lojin sebagai seorang jago kawakan dari dunia persilatan juga cukup mengerti bahwa penculik itu bukan manusia sembarangan, sekalipun telah dikejar anak buahnya, urusan tak akan bisa dibereskan.

Maka buru-buru serunya kepada ketua dari Siau lim pay.

"Anggap saja kau lagi beruntung hari ini, kita berjumpa lagi dilain waktu!"

Kemudian kepada para jago dari luar perbatasan, serunya .

"Kalian kembali dulu ke kota Teng hong untuk menunggu perintah!"

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu tubuhnya telah melayang melewati dinding pekarangan......

Jauh memandang ke sana, ia saksikan Boan san siang koay dan orang yang di kejarnya itu telah berada dua tiga puluh kaki jauhnya dari tempat semula.

Tiang pek lojin memang benar benar memiliki kepandaian yang melampaui orang lain, dalam sekali lompatan tubuhnya telah berada sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula, kemudian dalam beberapa pula lompatan kemudian telah berhasil melampaui Boan san siang koay.

Akan tetapi jaraknya dengan orang yang menculik Pek leng siancu masih terpaut empat lima kaki.

Saat itu jalan darah ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng telah tertotok, ketika menyaksikan kakeknya melakukan pengejaran, kecuali mengucurkan air mata karena girang tak sepatah katapun bisa diucapkan.

Gerakan tubuh Tiang pek lojin benar-benar sangat cepat ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya, dalam waktu singkat ia telah berhasil mendekati sampai dua kaki.

Tapi dikala Tiang pek lojin hendak menerjang lebih kedepan itulah mendadak orang yang dikejar tersebut membalikkan tangannya sambil melepaskan setitik cahaya putih ke belakang.

Dengan cekatan Tiang pek lojin menyambar cahaya putih tersebut terasa benda itu sangat enteng sewaktu diperhatikan lebih teliti ternyata isinya adalah selembar kertas.

Tanpa menghentikan gerak tubuhnya, Tiang pek lojin melanjutkan pengejarannya lebih ke depan.

Tampaknya orang yang berada didepan itu ada maksud untuk membiarkan musuhnya mendekat, tapi begitu musuh tinggal satu dua kaki dari badannya, selembar kertas segera disambitkan ke belakang.

Lalu menggunakan gerakan tadi, ia merendahkan badan dan mempercepat gerak larinya sehingga meninggalkan Tiang pek lojin jauh dibelakang sana.

Tiang pek lojin menggertak giginya kencang-kencang, dengan mengerahkan tenaganya sebesar dua belas bagian, dia mempercepat pula gerakan tubuhnya untuk melesat lebih kedepan.

Gerakan tubuh orang yang berlarian di depan itu kian lama kian bertambah cepat, bukan saja Tiang pek lojin tidak berhasil mendekatinya lagi, malahan selisih jarak mereka kian lama kian bertambah besar.

Dua sosok bayangan manusia bagaikan dua titik bintang meluncur ditengah pegunungan dengan kecepatan tinggi, puluhan li kemudian mendadak orang itu membelokkan badannya menuju ke arah tanah pegunungan Tay si san, tapi baru melewati beberapa tikungan, bayangan tubuhnya tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.

Sejak terjun di dunia persilatan pada puluhan tahun berselang kecuali kalah ditangan Keng thian giok cu Thi Keng, belum pernah Tiang pek lojin kalah ditangan orang lain.

Siapa tahu sekarang dia harus menghadapi seseorang yang lihay sekali ilmu meringankan tubuhnya, kejadian ini boleh dibilang benarbenar merupakan suatu pukulan baginya.

Diapun menyadari sekalipun dicari juga tak ada gunanya, sebab musuh telah hilang tak berbekas, akhirnya dengan mendongkol dia periksa kertas-kertas ditangannya.

Ternyata diatas kertas itu hanya tercantum dua patah kata yakni.

"Menunggu janji!"

Dilihat dari sini dapat diketahui bahwa tindakannya menculik Pek leng siancu merupakan suatu tindakan yang diputuskan secara mendadak, dan bukan merupakan tindakan yang terencana, oleh karena belum dapat menentukan langkah berikutnya, terpaksa dia mempersilahkan Tiang pek lojin untuk "menunggu janji"

Setelah membaca tulisan itu. Tiang pek lojin menghela napas panjang, ia mulai bertanya pada diri sendiri .

"Mengapa aku harus mencari penyakit buat diri sendiri?"

Jelas lantaran cucu kesayangannya diculik orang, dia menjadi menyesal sekali atas tindakannya memasuki daratan Tionggoan.

Tapi ingatan tersebut hanya sebentar melintas didalam benaknya, menyusul kemudian dengan sinar mata yang mencorong cahaya tajam serta mengepal sepasang tangannya kencang-kencang dia berseru .

"Tidak! Aku tak boleh kehilangan orang ini didaratan Tionggoan!"

Selesai berkata, dengan langkah lebar dia lantas berjalan balik melalui jalan semula.

Sementara itu dengan napas terengah-engah Boan san siang koay telah menyusul ke sana, ketika menyaksikan Tiang pek lojin pulang seorang diri, mereka segera memahami perasaan orang tua itu, maka tak sepatah katapun yang diucapkan.

Dua bersaudara Cia yang berjulukan Boan san siang koay ini terhitung jago-jago lihay yang nama besarnya hanya sedikit dibawah Tiang Pek lojin, atau dengan perkataan lain mereka masih terhitung jagoan ternama diluar perbatasan.

Selama ini sikap Tiang pek lojin terhadap mereka juga teramat sungkan, maka setelah menyaksikan keadaan mereka itu, sambil tertawa getir dia lantas berkata lebih dulu .

"Saudaraku, hari ini kita benar-benar jatuh kecundang ditangan orang lain!"

"Siaute berdua tak ada gunanya, cuma membuat toako risau saja!"

Kata Cia Lok cepat-cepat dengan rikuh. Tiang pek lojin segera tertawa nyaring.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... mana bisa kusalahkan kalian berdua? Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu memang luar biasa hebatnya, mari kita pulang dulu untuk membicarakan persoalan ini lebih lanjut."

Dalam perjalanan pulang, dengan murung bercampur kesal Tiang pek lojin berkeluh kembali .

"Aaaai tidak kusangka Bwe leng si bocah inilah yang harus menderita lebih dulu!"

Buru buru Ji koay Cia Leng menghibur .

"Bwe leng sibocah perempuan ini binal tapi cerdik, aku kuatir bukan dia yang bakal menderita, sebaliknya orang itu sendirilah yang bakal dibuat pusing kepala!"

Terbayang kembali kebinalan cucu kesayangannya, tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, dia manggutmanggut.

"Yaa, semoga saja bocah ini tidak memalukan kita semua!"

Katanya.

Demikianlah, oleh karena keadaan yang dihadapi.

untuk beberapa saat lamanya tak mungkin bagi Tiang pek lojin sekalian untuk meninggalkan propinsi Hoo-lam, maka merekapun berdiam di kuil Tiong gak bio dibukit Tay si san.

Dengan cepat kuil Tiong gak bio dirubah menjadi basis pertahanan para jago dari luar perbatasan untuk melampiaskan dendamnya terhadap orang-orang Tionggoan.

Sementara itu, pihak Siau lim si juga tidak terima setelah menderita kekalahan total itu, kecuali mengutus orang untuk menghubungi pihak Bu tong pay, merekapun membagi surat undangan Enghiong tiap kepada segenap umat persilatan untuk bersiap-siap melangsungkan pertarungan seru melawan Tiang pek lojin.

Para jago luar perbatasan di bawah pimpinan So Ping gwan yang ada diluar perbatasan, seperti rencana semula serombongan demi serombongan berdatangan ke kuil Tiong gak-bio dan bergabung dengan rekan-rekannya, ini membuat kekuatan dari Tiang pek lojin kian hari kian bertambah besar.....

Selain daripada itu, terdapat pula para jago daratan Tionggoan yang tidak puas dengan kenyataan, atau simpatik terhadap Tiang pek lojin tidak sedikit pula diantara mereka yang bergabung dengan pihak jago-jago dari luar perbatasan.

Maka kuil Tiong gak bio berubah menjadi pusat kekuatan orangorang persilatan di dunia ini, peristiwa tersebut pun menggemparkan seluruh kolong langit.

Sebagai pihak lawan, kuil Siau lim si pun berubah menjadi pusat himpunan para jago dari pelbagai perguruan besar.

Tentu saja, situasi semacam ini bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam satu dua hari saja, tapi keadaan setelah satu tahun.

Tiang pek lojin berusaha keras untuk mengembangkan kekuatan sendiri, diapun menyebar orang keempat penjuru dunia untuk mencari jejak Pek leng siancu So Bwe leng.

Oleh karena pelbagai alasan inilah sekalipun antara pihak Tiong gak bio dengan kuil siau lim si terjadi perang dingin, pertempuran berdarah belum pernah sampai terjadi.

Yang lebih aneh lagi adalah surat yang diterima Tiang pek lojin ketika Pek leng siancu So Bwe leng terculik tempo hari, tulisan 'menunggu janji"

Tersebut ternyata tetap merupakan "menunggu janji", sama sekali tiada kabar berita yang baru.

Tentu saja selama masa tersebut juga merupakan suatu masa lenyapnya Thi Eng khi dari dunia persilatan.

Padahal kalau dibicarakan sebenarnya, pertikaian antara jagojago luar perbatasan dengan daratan Tionggoan hanya dibebaskan oleh hilangnya Thi Eng khi, jadi seandainya Thi Eng khi bisa muncul kembali dalam dunia persilatan siapa benar siapa salahpun segera akan terbukti.

Sebab itulah baik pihak Siau lim dan Bu tong, maupun pihak Tiang pek lojin seringkali murung dan kesal karena Thi Eng khi tidak berhasil ditemukan.

Terutama sekali pihak Siau lim dan Bu tong pay, semua harapan mereka hampir boleh dibilang tertumpu diatas pundak Thi Eng khi, mereka beranggapan asal Thi Eng khi sudah munculkan diri, maka Tiang pek lojin tidak akan mempunyai alasan lagi untuk bercokol didalam daratan Tionggoan.

Maka kedua partai besar itu segera mengutus orang-orangnya untuk mencari jejak Thi Eng khi, ketika gagal menemukan jejak pemuda itu, mereka mengalihkan perhatiannya pada sisa anggota Thian liong pay dengan harapan bisa menemukah beberapa buah berita tentang jejak sianak muda itu.

Kejadian aneh memang seringkali bisa dijumpai dikolong langit, selama hampir dua puluh tahun lamanya, anak murid Thian liong pay tercerai berai dalam dunia persilatan, dicemooh orang, dihina dan dipandang hina orang, tak seorangpun yang memperdulikan nasib mereka.

Tapi sekarang, dikala semua orang mencari mereka, ternyata seorang manusiapun tidak berhasil ditemukan.

Hal ini bukan berarti anak murid Thian liong pay sudah punah dari dunia persilatan adalah disebabkan murid Thian liong pay sudah tak berani muncul kembali didalam dunia persilatan.

Sebab setiap kali ada orang berhasil menemukan seorang anggota Thian liong pay, secara tiba-tiba saja orang itu lenyap tak berbekas tak ketahuan rimbanya, bayangkan saja bagaimana mungkin anak murid Thian liong pay berani munculkan dirinya lagi didepan dunia persilatan?

Maka mereka semakin merasakan kejamnya dunia, meski jagat itu luas namun sudah tiada tempat berpijak lagi bagi mereka, demi menyelamatkan diri, mau tak mau terpaksa mereka harus menyembunyikan diri agar jangan sampai tertimpa bencana.

Dengan punahnya anak murid Thian liong pay, orangpun mulai mengalihkan perhatiannya pada Thian he tit it keh di kota Huay im, dalam anggapan mereka sudah tentu Thian liong ngo siang ada di rumah.

Tapi laporan yang kemudian diterima pihak Siau lim pay dan Bu tong pay adalah kosongnya rumah yang dinamakan rumah nomor satu dikolong langit itu.

Thian liong ngo siang seakan akan ikut musnah pula dari dunia ini.

Orang menjadi curiga bercampur kecewa semua orang bertanyatanya kenapa Thian liong pay bisa lenyap dengan begitu saja?

Dalam suasana yang serba kalut inilah, tiba-tiba di puncak Wong soat hong dibukit Wu san berdirilah sebuah organisasi yang dinamakan Ban seng kiong, cuma kemunculannya tidak terlalu diperhatikan orang, sebab segenap perhatian orang telah tertarik oleh ketegangan yang berlangsung antara pihak Siau lim si dengan pihak Tiong gak bio.

Maka Ban seng kiong pun muncul dari celah perhatian orang, dengan cepat kekuasaan mereka membentang dari wilayah Kanglam sampai ke Kangpak.

Siapakah pemilik dari istana Ban seng kiong?

Tak seorangpun yang tahu dan tak seorangpun yang menyelidiki, sebab sekalipun ada yang melakukan penyelidikan juga belum tentu bisa memperoleh kabar berita apa-apa.

Ketegangan antara Siau lim si dan Tiong gak bio tak mungkin bisa dibiarkan berlangsung terus, akhirnya suatu bentrokan kekerasan sudah pasti akan terjadi.

Maka Tiang pek lojin telah mengirirn sepucuk surat tantangan kepada pihak Siau lim si untuk melangsungkan penyelesaian atas pertikaian mereka pada dua bulan mendatang, tepatnya bulan delapan tanggal lima belas.....

Ketika berita ini tersiar dalam dunia persilatan, seluruh dunia terasa menjadi gempar.

Para jago persilatan berdatangan dari empat arah delapan penjuru dan bersama-sama berangkat menuju ke bukit.

Tiong san.

Hari itu, di depan loteng penerima tamu yang paling besar dan paling baik di kota Kho cong, tiba-tiba muncul seorang gadis baju merah yang menggembol pedang serta seorang lelaki bermuka merah yang menyelipkan sebuah kampaknya di pinggang.

Gadis berbaju merah itu mempunyai tubuh yang kecil mungil dan berparas muka cantik jelita.

Sebaliknya lelaki bermuka hitam itu berbadan kekar dan tegap.

Ketika kedua orang itu melakukan perjalanan bersama, terlihat sesuatu ketidak serasian yang menyolok sekali.

Sepasang kawan yang tak serasi ini berdiri agak lama ditengah jalan sambil mengawasi loteng Ing peng loo tersebut, kemudian lelaki bermuka hitam itu menegur .

''Hei, pelayan, dalam kota Kho cong ini, rumah penginapan manakah yang termasuk rumah penginapan terbaik?"

Suaranya keras bagaikan geledek dan sangat menggetarkan perasaan setiap orang. Pelayan itu cepat-cepat lari menghampiri lelaki itu dan sambil munduk-munduk sahutnya .

"Toaya, tepat sekali bila kau bertanya kepada hamba, siapa lagi yang tidak tahu kalau rumah penginapan paling besar dan paling baik di kota Kho cong ini adalah lng peng loo? Apakah kau ingin kamar kelas satu? Silahkan masuk, silahkan masuk!"

Lelaki bermuka hitam itu tidak memperdulikan ucapan pelayan itu, dengan merendahkan suaranya dia berbisik kepada si nona berbaju merah yang berada disisinya .

"Nona, bagaimana pendapatmu tentang tempat ini?"

Nona berbaju merah itu tidak menjawab, hanya mengangguk lirih, gayanya sangat sok. Saat itulah lelaki bermuka hitam itu baru berseru dengan suara kasar dan keras .

"Semua penginapan akan toaya borong!"

"Tapi, dalam penginapan kami seluruhnya terdapat tiga puluh enam buah kamar, kau..."

Maksudnya hanya berdua saja masa memerlukan kamar sebanyak itu?

Belum lagi pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, lelaki bermuka hitam itu sudah melototkan matanya besar-besar, dengan sinar mata setajam sembilu dia menatap wajah pelayan itu lekatlekat, kemudian tukasnya .

"Kau kuatir toaya tak sanggup membayar?"

Dari sakunya dia mengeluarkan sekeping emas yang memancarkan cahaya kuning yang amat menyilaukan mata.

Seketika itu juga sepasang mata pelayan itu terbelalak lebarlebat, cepat dia membungkukkan badan dan mengambil emas tersebut, lalu setelah dijilat teriaknya sambil melompat.

"Emas! Emas! Betul-betul emas murni!"

Menyaksikan sikap serta tingkah laku dari pelayan itu, lelaki bermuka hitam tadi segera tertawa seram, dengan gaya lebih sok dan suara yang kasar teriaknya .

"Anggap saja emas itu sebagai uang muka, semua kamar di penginapan ini toaya borong! Setiap orang yang berada di penginapan ini pun harus diusir keluar!"

Waktu itu sang pelayan sedang memegang emas murni itu sambil melamun, tapi setelah mendengar ucapan tersebut, dia baru tersentak bangun dari mimpinya.

Sebagai pedagang tentu saja ada peraturan sebagai pedagang, tentunya dia tak berani menyalahi tamu yang datang lebih duluan, maka sambil meringis katanya .

"Toaya......... toaya.... hamba ... hamba ... akan berusaha untuk menjaga ketenangan disini, begitu toh boleh bukan?"

Kembali lelaki bermuka hitam itu melototkan matanya bulat-bulat, serunya .

"Pokoknya toaya hanya tahu akan memborong semua kamar yang ada dirumah penginapan ini, cepat bawa nona melihat kamar, siapa tak mau pindah, suruh dia datang mencariku!"

Sesungguhnya ucapan tersebut boleh dibilang terlalu mencari menangnya sendiri. Seketika itu juga terdengar ada orang tidak puas, sambil tertawa dingin serunya .

"Dunia saat ini sudah berubah menjadi dunia apa? Benar-benar manusia tak tahu diri!"

"Siapa itu?"

Bentak lelaki bermuka hitam itu dengan seramnya.

"cepat menggelinding keluar!"

Dari dalam rumah penginapan itu segera berjalan keluar seorang sastrawan berusia pertengahan, sambil tertawa dia menjawab .

"Setan jelek dari mana yang berani berkoak-koak disini......."

Sikapnya jumawa sekali, kepalanya mendongakkan keatas dan sama sekali tak pandang sebelah matapun kepada orang lain.

Setibanya di depan pintu penginapan, dia baru mengalihkan sorot matanya ke wajah orang itu .....

Kontan saja kata-kata makian selanjutnya tidak mampu dia lanjutkan lagi, dengan badan gemetar dan kata-kata yang tersendatsendat serunya .

"Ooh.... Rupanya Hek.... Hek bin bu pah (manusia bengis bermuka hitam) Cu tayhiap, siau..... siauseng Oh Thian tak tahu kalau kau ...... kau yang datang ..... harap sudi dimaafkan!"

Hek bin bu pah Cu Thi gou segera mengayunkan ujung bajunya dan melemparkan sastrawan berusia setengah umur itu ketengah jalan, kemudian bentaknya dengan suara keras .

"Enyah kau dari sini, hari ni aku orang she Cu tidak punya kegembiraan untuk mengumbar amarah denganmu!"

Cepat-cepat sastrawan setengah umur itu mengiakan berulang kali, dengan menggelinding sambil merangkak dia segera melarikan diri dari tempat itu.

Sastrawan setengah umur itu sebenarnya merupakan seorang jago persilatan yang tersohor dalam dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Im yang sam (kipas im yang) Oh Thian, kalau dibandingkan dengan hek bin bu pah meski kalah setingkat, tapi setelah dia melarikan diri terbirit-birit siapa lagi yang berani membangkang?

Maka serentak semua orang berseru.

"Dia adalah Hek bin bu pah Cu tayhiap!"

Maka satu demi satu pun mereka pindah dari rumah penginapan tersebut secara sukarela.

Sudah semenjak sepuluh tahun berselang Hek bin bu pah Cu Thi gou terjun ke arena persilatan, belum lagi umurnya mencapai tiga puluh tahun, namanya sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, siapapun menaruh tiga bagian rasa jeri kepadanya.

Tak lama, dari ujung jalan sebelah depan sana terdengarlah suara roda kereta yang bergema datang.

Dengan cepat Hek bin bu pah Cu Thi gou serta nona berbaju merah itu membereskan pakaiannya dan berdiri keren disitu sambil menunjukkan sikap hendak menyambut kedatangan tamu.

Sebuah kereta besar berwarna hijau, didampingi dua puluh empat orang nona berbaju merah serta dua puluh orang lelaki berbaju ringkas berhenti didepan pintu penginapan.

Tirai kereta disingkap dan pelan-pelan berjalan keluar seorang gadis berbaju hijau.

Tiba-tiba saja semua orang merasakan matanya menjadi silau, lalu seruan tertahan berkumandang dari sekitar sana.

"Oooh..... cantik benar!"

Gadis berbaju hijau itu bukan cuma cantik saja bahkan dari sekujur badannya seakan-akan memancar semacam daya hidup yang segar, daya hidup tersebut bisa membuat seorang kakek tua renta yang loyopun segera merasakan dirinya jauh lebih muda berapa tahun setelah melihatnya.....

Tapi kalau dilihat dari gayanya sewaktu turun dari kereta, dengan cepat mendatangkan pula kesan bahwa nona itu masih kecil dan belum tahu urusan, dengan langkah yang santai dia melompat masuk kedalam rumah penginapan tersebut.

Seorang nona berbaju merah segera menghampirinya sambil berbisik .

"Kiongcu, kalau jalan jangan terlalu tergesa-gesa, jangan sampai dilihat orang lain sebagai suatu lelucon!"

Nona berbaju merah itu hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, dengan cepat dia membawa nona berbaju hijau itu menelusuri serambi dan menuju kehalaman belakang.

Dihalaman belakang sana terdapat tiga buah bangunan yang mungil, bunga yang indah tumbuh dimana-mana, suasana amat tenang dan nyaman.

Setelah berada dalam bangunan mungil itu nona berbaju hijau itu baru buru-buru melepaskan selembar topeng kulit manusia, kemudian sambil menghembuskan napas panjang keluhnya .

"Benar-benar menyesakkan napas!"

Paras muka si nona berbaju hijau itu setelah melepaskan topengnya ternyata tiga bagian lebih cantik daripada sewaktu mengenakan topeng kulit manusia, cuma sayang masih terlampau bersifat kekanak-kanakan.....

Yaa, siapa yang menyangka kalau seorang gadis secantik itu justru harus mengenakan selembar topeng kulit manusia, kejadian ini benar-benar mengherankan sekali.

Ketika dilihatnya nona berbaju hijau itu melepaskan topengnya, dengan terkejut nona berbaju merah itu berseru .

"Kiongcu, mengapa kau tak mau menuruti pesan dari sancu?"

Nona berbaju hijau itu segera berkerut kening, kemudian sambil melototkan matanya yang jeli, dia menegur .

Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 4

Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert