Ceritasilat Novel Online

Pedang Tanpa Perasaan 2

Eps 2 Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung

Baca online Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung

Cersil Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung.

Tan Liang dan Liu Hou tampak merenung memikirkan kira-kira siapa orang yang berpenampilan demikian di dunia kang ouw.

Tetapi wajah Tao Ling langsung pucat pasi.

Tidak disangka-sangka dengan susah payah dia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di gedung itu.

Ternyata ketiga iblis itu masih mengejar mereka.

Dalam keadaan panik, dia sendiri sampai kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.

Kalau mengingat suara tawa si gemuk pendek yang aneh dan menyeramkan, seluruh bulu kuduk Tao Ling langsung merinding.

Bagi dia sendiri masih tidak apa-apa, tetapi Lie Cun Ju sedang terluka parah.

Mana mungkin dia sanggup mendengar berita yang mengejutkan itu.

Begitu perasaannya kacau, kembali dia memuntahkan darah segar.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang aneh itu, dan ketiga iblis itu pun sudah berdiri di depan pintu kamar.

Melihat ketiga orang itu langsung menerobos ke dalam kamar, mula-mula Tan Liang agak tertegun, kemudian wajahnya menyiratkan perasaan kurang senang.

"Siapa kalian?"

Bentaknya sinis.

Tetapi si gemuk pendek itu tidak menyahut, dia saling lirik dengan kedua saudaranya.

Tubuh si laki-laki tinggi kurus langsung berkelebat.

Sebelah lengannya menjulur ke depan, dia langsung menyerang Tan Liang.

Selama hidupnya, entah sudah berapa banyak mara bahaya yang dihadapi si Harimau Bersayap Emas Tan Liang.

Tentu saja dia tidak merasa takut, malah tertawa terbahakbahak.

Tubuhnya bergerak sedikit untuk menggeser ke samping, tetapi lengan si lakilaki kurus yang panjang itu memainkan jurus yang aneh.

Padahal terang-terangan sebuah pukulan sedang diarahkan kepada Tan Liang, tetapi di tengah jalan, telapak tangannya itu mengatup dan berganti menjadi tinju.

Tangannya seperti mempunyai mata dapat menggeser ke arah mana pun Tan Liang bergerak.

Lagipula serangannya tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Tan Liang bukan jago kelas satu di dunia kang ouw.

Dia sebagai seorang Cong piau tau dari perusahaan piau kiok.

Pengalamannya cukup banyak dan pengetahuannya juga luas sekali.

Setidaknya setiap ilmu pukulan yang terkenal di kolong langit ini, dia pernah mendengarnya.

Akan tetapi jurus partai mana yang dikerahkan laki-laki bertubuh tinggi kurus ini?

Dia tidak pernah mendengar ada ilmu pukulan seaneh ini di dunia kang ouw.

Tan Liang tidak berani menyambut dengan kekerasan.

Dia berusaha menghindar dari serangan laki-laki bertubuh tinggi kurus itu.

Tetapi orang itu masih juga memainkan jurus yang sama.

Hanya saja tinjunya membuka dan jari tangannya melakukan penyerangan dengan mencengkeram Tiga kali perubahan ini membuat hati Tan Liang tercekat.

Ilmu kepandaiannya sendiri terhitung tidak rendah, tapi tidak pernah dia menyaksikan perubahan jurus seaneh ini.

Sekitar kurang dari satu depa Tan Liang dengan penuh pukulan, tinju, dan cakar.

Dia menyadari bahwa dirinya telah berhadapan dengan musuh yang tangguh.

Terdengar suara Crep!

Pecut lemasnya segera dilepaskan dan tidak mau menghadapi lawan dengan tangan kosong.

Tetapi ketika Tan Liang baru saja melepaskan pecut lemasnya, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan ngeri dari mulut Liu Hou.

Hubungan Tan Liang dengan Liu Hou sangat akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung.

Mendengar suara jeritan sahabatnya itu, pikirannya langsung terpecah, tangannya tanpa sadar merenggang dan tahu-tahu pecut lemasnya sudah direbut oleh si laki-laki bertubuh tinggi kurus.

Kemudian disusul dengan suara Blam!

Dadanya telah terhantam telak oleh pukulan lawan.

Dalam keadaan panik, Tan Liang masih sempat menolehkan kepalanya.

Dia melihat Liu Hou sudah terkulai di atas tanah, mati dengan bersimbah darah.

Rupanya ketika laki-laki bertubuh tinggi kurus mulai bergebrak dengan Tan Liang, perempuan yang dipanggil 'sam moay' segera menghunus sepasang goloknya dan menerjang ke arah Liu Hou.

Liu Hou yakin terhadap kekuatan sendiri.

Dia menangkis serangan perempuan itu dengan golok lebarnya.

Tidak disangka begitu saling membentur, goloknya langsung terpental.

Golok di tangan kiri perempuan itu langsung menancap ke dalam ulu hatinya!

Sedangkan Tan Liang yang terkena hantaman si laki-laki tinggi kurus langsung merasa dadanya seperti mendidih.

Tubuhnya terhuyung-huyung.

Si Tinggi kurus mengeluarkan suara tawa yang aneh.

Pukulan kedua langsung dilancarkan.

Kali ini, Tan Liang bahkan tidak sempat bersuara sedikit pun.

Tubuhnya terpental ke dinding kamar dengan keras, kemudian terkulai jatuh dan mati seketika dengan beberapa tulang belulang yang patah.

Keempat orang itu hanya bergebrak dalam waktu yang singkat.

Ternyata sudah berhasil memperlihatkan pihak mana yang kalah dan pihak mana yang menang.

Tao Ling yang duduk di samping Lie Cun Ju merasa hatinya diguyur air dingin.

Tetapi biar bagaimana pun dia tidak bersedia melarikan diri atau meninggalkan pemuda itu.

Tampak perempuan tadi dan si laki-laki tinggi kurus membalikkan tubuh dan berlari keluar.

Baru saja mereka meninggalkan kamar itu, dari luar berkumandang serentetan jeritan yang menyayat hati.

Keadaan di luar sana tampaknya kalang kabut.

Si laki-laki bertubuh gemuk pendek malah tertawa terkekeh-kekeh.

Dia melangkahkan kakinya menghampiri Tao Ling dan lie Cun Ju.

Tao Ling sadar mereka sulit menghindarkan diri dari ancaman bahaya kali ini.

Daripada mati konyol, lebih baik mengadu jiwa, pikirnya dalam hati.

Dia segera melepaskan pedang ernas dan perak dari selipan pinggangnya kemudian menerjang ke arah si gemuk pendek.

Tetapi baru saja ruangan kamar itu dipenuhi cahaya yang berkilauan, orang itu sudah menghantamkan sebuah pukulan dan membuat sepasang pedang Kim Gin Kiarn itu terpental jauh.

Belum sempat Tao Ling berdiri dengan mantap, sebuah pukulan lainnya sudah meluncur ke arahnya.

Tao Ling merasa telapak tangan orang itu masih belum menyentuh dadanya.

Hanya serangkum kekuatan telah menerpanya dengan kencang.

Tubuhnya bagai ditimpa besi seberat ribuan kati.

Matanya langsung berkunangkunang, tubuhnya limbung dan Hooaakkk!

Dia memuntahkan segumpal darah segar.

Tapi gerakan tubuhnya masih belum berhenti, kakinya terhuyung-huyung ke belakang, kemudian secara kebetulan jatuh menimpa tubuh Lie Cun Ju.

Terdengar pemuda itu menjerit histeris.

Tampaknya tekanan tubuh Tao Ling membuat lukanya bertambah parah beberapa kali lipat!

Tao Ling merasa dirinya hampir jatuh tidak sadarkan diri begitu tubuhnya menimpa Lie Cun Ju.

Tetapi dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, dia masih sempat mendengar suara perempuan itu berkata.

"Toako, satu pun tidak ada yang tertinggal, mari kita pergi!"

Tao Ling masih berusaha memberontak, tetapi tiba-tiba dadanya terasa sakit, si Gemuk Pendek sudah melancarkan kembali pukulannya yang kedua.

Dia hanya merasa isi perutnya seperti membrendel dan kacau balau.

Tubuhnya hanya sempat bergerakgerak sedikit kemudian terdiam.

***** Entah berapa lama telah berlalu, Tao Ling tersentak sadar oleh rasa sakit dan perih.

Dia ingin membuka matanya, tetapi kelopak matanya tidak bisa digerakkan sedikit pun.

Seluruh tubuhnya bahkan seluruh isi perutnya bagai ditusuk ribuan jarum yang telah dipanaskan di atas bara api.

Karena sakitnya sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata.

Dalam tenggorokannya seakan ada segumpal darah yang telah membeku, sehingga sulit baginya meskipun hanya menelan ludah saja.

Jangan kan berbicara, merintih pun Tao Ling tidak sanggup.

Tetapi, ketika dia sudah tersadar.

Meskipun matanya tidak bisa membuka, mulutnya tidak bisa bicara, tetapi telinganya masih bisa mendengar, walaupun suara yang ada di sekelilingnya hanya sayup-sayup seakan jauh sekali.

Dia merasa ada seseorang di dalam kamar itu yang terus bolak balik.

Kadang suara langkah kakinya berhenti di sampingnya, kemudian menjauh lagi seakan meninggalkannya.

Saat itu, kecuali pasrah pada nasibnya sendiri, Tao Ling tidak sanggup melakukan apaapa lagi.

Tidak lama kemudian terdengar seseorang berkata.

"Meskipun kedua orang ini masih ada setitik nafas, tapi seluruh isi perutnya sudah tergetar. Meskipun bisa mendapatkan obat yang mujarab, takutnya nyawa mereka hanya tinggal beberapa kentungan saja."

Suara itu terdengar terlontar dari mulut orang yang sudah tua.

"Belum tentu. Aku juga tidak mengharapkan mereka tertolong. Pokoknya salah satu dari mereka bisa berbicara beberapa patah kata, cukup."

Suara yang satu ini terdengar nyaring dan merdu. Seakan terlontar dari mulut seorang anak gadis berusia lima belasan tahun.

"Kalau begitu kita coba saja."

Terdengar orang yang sudah tua berkata lagi.

Tao Ling merasa ada sebuah telapak tangan yang panas membara menempel di punggungnya.

Lukanya saat itu memang parah sekali, sampai dia sendiri tidak dapat membayangkan keparahannya itu.

Kalau dalam keadaan seperti ini, dia tidak mengalami kematian, boleh dibilang merupakan suatu keajaiban.

Ketika tangan itu menempel di punggungnya, gadis itu merasa nyeri yang tidak terhingga.

Sesaat kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Ketika Tao Ling tersadar kembali, rasa sakitnya sudah jauh berkurang.

Tapi seluruh persendian dan tulang belulangnya masih ngilu dan lemas, seperti terlepas atau beruraian di dalam kulit.

Tao Ling tidak mempunyai tenaga sedikit pun.

Niatnya ingin membuka mata untuk melihat dimana dirinya berada, tetapi tidak ada kekuatan sama sekali.

Sedangkan tubuhnya terasa terguncang-guncang dan terdengar suara berderakderak.

Rasanya dia berada di dalam sebuah kereta yang sedang melaju.

Tao Ling berusaha menenangkan pikirannya.

Mula-mula dia mencemaskan keadaan Lie Cun Ju.

Dengan menenangkan perasaannya, Tao Ling mencoba mengingat pembicaraan kedua orang yang didengarnya tempo hari.

Kemungkinan Lie Cun Ju belum mati, hanya dia tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.

Dalam hati Tao Ling menarik nafas panjang, Kembali gadis itu merasa ada orang yang membuka mulutnya dan menuangkan sejenis cairan.

Cairan itu harum dan menyejukkan perutnya.

Perasaannya juga lebih segar.

Dia mendengar anak gadis itu berkata.

"Lihat! Dia tidak mati kan? Malah sudah jauh lebih segar dari beberapa hari sebelumnya."

"Meskipun tidak mati, tetapi takutnya dia tidak bisa bergerak lagi selamanya dan menjadi orang cacat yang tidak dapat berbicara!"

Terdengar suara orang tua menyahut.

Selesai pembicaraan, keadaan menjadi hening kembali.

Hati Tao Ling dilanda rasa sedih yang tidak terhingga mendengar pembicaraan mereka.

Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Waktu itu aku datang ke Si Cuan mengikuti kedua orang tuaku. Kata mama ada urusan yang penting sekali. Tetapi aku tidak tahu urusan apa yang dimaksudkan. Malah tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Padahal kota Si Cuan saja belum sampai. Bahkan aku sendiri tidak tahu dimana sekarang aku berada?"

Hati Tao Ling kembali terasa pilu mengingat nasibnya.

Tujuh-delapan hari telah berlalu, Tao Ling masih belum sanggup membuka kedua matanya.

Kadang-kadang dia jatuh tidak sadarkan diri.

Tapi kadang-kadang dia tersadar kembali.

Hanya satu hal yang disadarinya, bahwa dia memang berada di atas sebuah kereta kuda.

Lagipula selama tujuh-delapan hari ini, kereta kuda itu tidak pernah berhenti sekalipun!

Setiap kali mengingat dirinya akan menjadi orang cacat, hati Tao Ling terasa perih kembali.

Kalau ditilik dari kecepatan kereta itu dan tidak pernah berhenti melakukan perjalanan selama tujuh-delapan hari, rasanya mereka sudah menempuh ribuan li.

Entah kemana kedua orang itu akan membawa dirinya?

Tiga-empat hari kembali berlalu.

Tao Ling merasa nyeri di seluruh tubuhnya sudah lenyap.

Dia berniat membuka matanya.

Karena itu dia mengerahkan semua kekuatannya dan ternyata dia berhasil.

Begitu matanya membuka, Tao Ling merasa ada seberkas cahaya putih yang menutupi pandangannya.

Mula-mula dia terkejut sekali.

Untuk sesaat dia sampai tertegun.

Tetapi setelah terbiasa, dia baru dapat melihat dengan jelas.

Rupanya cahaya putih yang terlihat olehnya adalah tirai kereta.

Begitu putihnya sehingga menyilaukan mata.

Entah terbuat dari bahan apa.

Di bagian jendela dan atas pintu kereta juga terdapat rumbairumbai berwarna putih keperakan.

Indah sekali.

Meskipun Tao Ling sudah sanggup membuka mata, namun kepalanya masih belum sanggup digerakkan.

Jadi yang dapat terlihat olehnya hanya atap kereta.

Pokoknya sebatas kerlingan matanya.

Tiba-tiba angin berhembus, rumbai-rumbai dari benang putih tersingkap karena hembusan angin itu, Tao Ling dapat melihat bahwa udara saat itu cerah sekali.

Dia juga melihat hamparan cakrawala yang putih membentang.

Dia tidak tahu dimana dirinya berada.

Ingin sekali dia memhuka mulut mengatakan sesuatu, tetapi sedikit suara pun tidak dapat tercetus dari tenggorokannya.

Dalam keadaan seperti itu, kembali beberapa hari dilewati.

Kereta itu masih terus melaju.

Sekarang Tao Ling sudah dapat membedakan arahnya.

Mereka menuju ke barat.

Dan setiap menjelang malam ada seseorang yang menyuapkan cairan yang harum ke mulutnya.

Tao Ling memperhatikan orang yang menyuapkan cairan kepadanya.

Tetapi kedua orang itu seakan menghindarkan pandangan matanya.

Karena itu Tao Ling hanya dapat melihat tangan mereka.

Tangan yang satunya kurus seperti tengkorak.

Uraturatnya yang berwarna hijau bersembulan.

Warna kulitnya kusam.

Tetapi tangan yang satunya justru halus seperti sutera.

Warnanya merah dadu yang segar dan kukunya panjang-panjang berbentuk indah.

Malah diusapkan sejenis cairan dan bunga-bungaan, terlihat seperti merah menyala.

Sekali lihat saja dapat dipastikan bahwa tangan itu milik seorang gadis yang cantik.

Dan Tao Ling yakin suara gadis itulah yang didengarnya beberapa hari yang lalu.

Tetapi dia tidak habis pikir siapa kedua orang itu?

Beberapa hari kemudian, kepala Tao Ling mulai bisa digerakkan.

Dia juga melihat kereta tempat dirinya terbaring merupakan sebuah kereta yang mewah.

Di samping bantalnya menggeletak sepasang pedang emas dan perak.

Di bagian kepalanya duduk dua orang yang mengenakan pakaian putih keperakan.

Namun mereka mebelakangi Tao Ling sehingga gadis itu tidak dapat melihat wajah mereka.

Tao Ling hanya dapat melihat sekilas orang itu dari samping.

Yang satu adalah seorang laki-laki berusia lanjut.

Rambutnya penuh dengan uban berwarna keperakan.

Yang satunya lagi mepunyai rambut sehalus sutera, hitamnya bekilauan.

Tentu saja gadis bertangan indah yang dilihatnya beberapa hari yang lalu.

Keempat ekor kuda yang menarik kereta itu juga berwarna putih keperakan.

Derap kaki kuda itu teratur dan larinya cepat sekali.

Selama dua puluhan hari ini, kemungkinan mereka sudah menempuh perjalanan sejauh tiga ribuan li.

Tao Ling ingin menggunakan kesempatan ketika disuapi cairan harum untuk melihat jelas wajah kedua orang itu.

Tetapi malam itu mereka tidak menyuapinya apa-apa.

Pagi hari keduanya, Tao Ling merasa perutnya nyeri karena kelaparan.

Tanpa sadar dia mengeluarkan suara rintihan.

Boleh dibilang ini merupakan pertama kalinya mulut Tao Ling mengeluarkan suara selama dua puluhun hari belakangan.

Begitu mulutnya mengeluarkan suara rintihan, gadis itu membentak nyaring kemudian, Sret!

Seberkas cahaya keperakan memercik berkilauan.

Ternyata sebuah pecut panjang berwarna keperakan pula.

Keempat ekor kuda itu langsung menghentikan derap kaki mereka.

Gadis itu pun menolehkan kepalanya dan bertemu muka dengan Tao Ling.

Tao Ling merasa pandangan matanya menjadi terang.

Seakan dirinya berada di khayangan.

Perasaannya menjadi nyaman dan lega.

Ternyata kecantikan gadis itu sulit diuraikan dengan kata-kata.

Begitu cantiknya sampai Tao Ling merasa dirinya bertemu dengan bidadari.

Rambutnya terurai sepanjang bahu, dia tidak mengenakan perhiasan apa-apa.

Alisnya melengkung indah dan bulu matanya lentik.

Bola matanya berkilauan seperti sebuah telaga yang bening.

Hidungnya mancung, bibirnya tipis mempesona.

Begitu cantiknya sampai-sampai Tao Ling curiga dirinya bukan bertemu dengan manusia biasa, melainkan peri atau dewi khayangan.

Padahal Tao Ling sendiri bukan gadis yang jelek, tetapi kalau dibandingkan dengan gadis itu, ternyata tidak ada apaapanya.

"Akhirnya kau bisa berbicara juga, bukan?"

Ujar gadis itu tersenyum.

Selama dua puluh hari lebih, sudah berkali-kali Tao Ling mendengar suara gadis itu.

Hatinya ingin sekali berbicara dengannya.

Oleh karena itu, dia berusaha dengan susah payah untuk menyahut.

"I...ya..."

Suara itu begitu lirih sampai Tao Ling sendiri hampir tidak mendengarnya. Tetapi gadis berpakaian putih ternyata dapat mendengarnya.

"Bagaimana menurut pendapatmu, akhirnya aku bisa menolongnya juga, bukan?"

Gadis itu tertawa cekikikan seakan senang sekali. Dia memalingkan kepalanya kembali.

"Kalau kau sudah bisa berbicara, dapatkah kau menjawab pertanyaanku?"

Tao Ling menganggukkan kepalanya.

Keadaan Tao Ling sekarang ini, kalau dibandingkan dengan dua puluhan hari yang lalu, yang boleh dibilang sebelah kakinya sudah menginjak di alam kematian, tentu jauh lebih baik.

Tetapi apabila ingin membuka mulut berbicara, tentu harus mengerahkan seluruh kekuatannya.

Tetapi meskipun suara gadis itu lembut dan merdu didengar namun di dalamnya seakan terkandung kekuatan yang memaksa siapa pun menuruti kehendaknya.

Walaupun Tao Ling juga seorang gadis, tapi dia merasakan bahwa pengaruh nada suara gadis itu yang seakan tidak boleh dibantah.

Karena itu sekali lagi dia berkata dengan susah payah.

"Katakanlah!"

Tiba-tiba tubuh gadis itu berkelebat. Tao Ling belum sempat melihat gerakan apa yang digunakan gadis itu, tahu-tahu orangnya sudah berada di sampingnya. Dia bertanya dengan suara berbisik.

"Apakah kau mengenal Seebun locianpwe?"

Tao Ling tertegun. Kemudian dia berpikir.

"Siapa Seebun locianpwe yang dimaksudkannya?"

Dia sendiri belum pernah mendengar nama orang ini. Karena itu dia menggelengkan kepalanya. Wajah gadis itu memperlihatkan mimik yang aneh. Tetapi dalam sekejap mata sudah pulih kembali seperti semula.

"Tahukah kau, siapa orang yang melukaimu?"

Tao Ling menggelengkan kepalanya kembali.

Karena dia memang tidak tahu siapa ketiga orang yang menggunakan topeng merah itu.

Tiba-tiba wajah gadis itu menyiratkan kepanikan.

Dalam sesaat, hampir saja Tao Ling tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri.

Karena di wajah gadis yang secantik bidadari itu tiba-tiba terlihat senyuman yang dingin.

Walaupun dalam sekejap mata keadaan gadis itu sudah pulih kembali seperti sedia kala.

Tetapi Tao Ling sudah merasakan berbagai penderitaan selama hari-hari belakangan ini.

Karena itu timbul kewaspadaan dalam hatinya.

Apalagi bila ia ingat gadis itu pernah mengucapkan kata-kata 'Aku juga tidak ingin mereka tertolong, pokoknya salah satu dari mereka bisa berbicara beberapa patah kata, cukup', ketika dia tersadar setelah terkena pukulan si laki-laki bertubuh gemuk pendek itu.

Kalau begitu, selama dua puluh hari ini mereka berusaha susah payah membangkitkan dirinya dari jurang kematian hanya ingin mendengar beberapa patah kata dari mulutnya.

Sama sekali bukan karena ingin menolongnya.

Tapi, Tao Ling juga merasa bingung, apa yang ingin diselidiki gadis itu dari mulutnya?

Di saat itu pikiran Tao Ling sangat bingung.

"Apakah kau juga tidak ingat, bagaimana rupa orang itu?"

Tanya gadis itu.

"Kouwnio, di ... mana Lie ... toako?"

Tao Ling balik bertanya.

"Maksudmu, orang yang terluka bersama-samamu itu?"

Tao Ling menganggukkan kepalanya.

"Lukanya terlalu parah, meskipun kami berniat menolongnya juga tidak mungkin berhasil. Belasan hari yang lalu, kami sudah melemparkannya di tepi jalan."

Hati Tao Ling terasa pilu.

Di benaknya terbayang sinar mata Lie Cun Ju.

Meskipun gadis itu mengatakan lukanya parah sehingga sulit tertolong lagi, karena itu mereka melemparkannya ke tepi jalan.

Kalau dibayangkan, lebih banyak kemungkinan sudah matinya daripada hidupnya.

Mengingat hal yang menyedihkan, pelupuk matanya jadi basah.

Dua bulir air mata menetes dari sudut matanya.

Terdengar dia menarik nafas panjang.

"Cepat kau katakan, siapa yang melukai kau dan orang she Lie itu, juga yang membunuh Harimau Bersayap Emas Tan Liang, kemudian wakilnya Liu Hou dan belasan orang pegawai 'Ling Wei piau ki'?"

Tanya gadis itu kembali.

Hati Tao Ling terkejut sekali mendengar kata-katanya.

Ternyata karena dirinya menumpang di gedung itu, belasan orang sampai kehilangan nyawanya.

Cara turun tangan ketiga orang itu benar-benar keji dan bedarah dingin.

"Jum ... lah musuh ... ada tiga . .. orang ... Dua ... laki-la ... ki dan sa ... tu pe ... rem ... pu ... an, se ... muanya ... me ... ngena ... kan to ... peng ... berwar . .. na me ... rah da ... rah!"

Jawab Tao ling.

"Rupanya mereka!"

Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Bagus. Semuanya sudah jelas. Kita sudah boleh melanjutkan perjalanan,"

Sahut orang tua dengan tanpa menolehkan kepalanya sama sekali.

"Betul,"

Sahut gadis itu.

Cahaya perak berkelebat, gadis itu sudah kembali ke tempat semula.

Tao Ling tidak mengerti apa yang akan dilakukannya.

Tiba-tiba pecut keperakan di tangan gadis itu melayang ke atas, Creppp!

arahnya menuju Tao ling.

Tentu saja Tao Ling terkejut sekali.

Tetapi tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali.

Terpaksa dia membiarkan perbuatan gadis itu.

Ketika pecut itu mengenai dirinya, dia tidak merasa sakit.

Tetapi Tao Ling merasa kalau pecut itu menekuk dan melilit tubuhnya.

Kemudian gadis itu menghentakkan tangannya sehingga tubuh Tao Ling pun terangkat.

Begitu gadis itu mengibaskan tangannya, tubuh Tao Ling terlempar sejauh dua depa dari kereta, terhempas di tanah.

Dari dalam mulutnya menyembur darah segar dalam jumlah yang sangat banyak.

Secara sekonyong-konyong gadis itu mengulurkan pecutnya melemparkan' tubuh Tao Ling keluar dari kereta.

Meskipun kejadiannya hanya sekejap mata, namun pikiran Tao Ling masih sadar.

Dia teringat sepasang pedang emas dan perak yang menggeletak di samping bantalnya.

Sepasang pedang itu membawa pengaruh besar bagi dirinya.

Biar bagaimana pun dia tidak ingin kehilangan pedang itu.

Tapi baru saja tubuhnya menghempas di tepi jalan, tiba-tiba matanya melihat dua berkas cahaya yang berkilauan.

Gerakannya seperti cahaya kilat.

Cep!

Cep!

terdengar suara sebanyak dua kali.

Ternyata sepasang pedang emas dan perak itu juga dilontarkan keluar dengan pecut di tangan gadis tadi.

Sedangkan jatuhnya tepat di samping leher Tao Ling.

Tubuh Tao Ling tidak dapat digerakkan.

Dengan mata membelalak dia melihat kereta kuda itu meluncur pergi dengan cepat.

Pada saat itu, dia baru melihat bahwa kereta kuda itu juga berwarna putih keperakan.

Rumbai-rumbai benang yang menghiasi tepian kereta melambai-lambai ketika kereta itu bergerak.

Tidak lama kemudian, kereta kuda itu hanya tinggal tampak setitik warna perak di kejauhan.

Tao Ling berusaha mempertahankan kesadarannya.

Dia benar-benar tidak dapat menduga apakah gadis dan orang tua itu terhitung orang dari golongan lurus atau sesat.

Dia juga tidak dapat menduga siapa mereka?

Tadinya dalam hati Tao Ling timbul kebencian yang dalam.

Tetapi setelah dipikirkan matang-matang, dia merasa tidak sepantasnya membenci mereka.

Biar bagaimana mereka telah menolongnya.

Bila tidak mungkin di gedung "Ling Wei Piau ki' dirinya sudah terkapar menjadi mayat.

Walaupun akhirnya dia harus mati juga, namun setidaknya dia sudah memperpanjang kehidupannya selama dua puluh hari lebih.

Hatinya menertawai dirinya sendiri.

Apa artinya hidup lebih lama dua puluhan hari?

Sedangkan dirinya sendiri tidak tahu dimana sekarang dia berada, apalagi setelah mati, tidak mungkin ada yang menemukannya.

Beberapa tahun kemudian, dirinya hanya tinggal onggokan tengkorak dan tulang-tulang putih.

Dengan perasaan sedih Tao Ling memejamkan matanya.

Selama beberapa kentungan dia berada di antara sadar dan tidak.

Hari lambat laun menjadi gelap.

Rembulan jernih seperti air telaga.

Sinarnya menyoroti sepasang pedang emas dan perak di samping lehernya sehingga tampak berkilauan.

Tao Ling menolehkan kepalanya menatap sepasang pedang emas dan perak itu, di dalam hatinya timbul lagi secercah harapan.

Sepasang pedang emas dan perak ini sangat terkenal di dunia kang ouw.

Seandainya ada orang yang melewati tempat ini, kemungkinan dirinya akan tertolong.

Mata Tao Ling masih mengerling ke samping menatap sepasang pedang itu lekatlekat.

Tiba-tiba angin berhembus.

Hidungnya mengendus serangkum hawa yang harum.

Hanya mencium baunya saja perasaannya sudah jauh lebih nyaman dan segar.

Ketika matanya memperhatikan dengan seksama, dia melihat ada semacam tumbuhan disamping sepasang pedang emas dan perak.

Daunnya berwarna ungu, ukurannya lebih tinggi sedikit dari rum put biasa.

Tanaman itu melambai-Iambai karena gerakan angin, pemandangan pun menjadi indah sekali.

Di bagian atas tanaman itu tumbuh empat butir buah berwarna merah sebesar kelengkeng.

Merahnya demikian indah.

Meskipun Tao Ling harus memiringkan kepalanya dan melihat dengan susah payah, tapi rasanya sayang untuk mengalihkan pandangannya.

Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara pletok!

yang lirih, sebutir buah pecah.

Buah itu meneteskan air yang baunya harum sekali.

Kebetulan tetesannya jatuh di bibir Tao Ling.

Gadis itu segera menjulurkan lidahnya dan menjilat cairan buah itu.

Rasanya manis, begitu masuk ke dalam mulut harumnya semakin menjadi-jadi.

Sisa cairan itu menetes di atas tanah lalu meresap ke dalam dan menjadi kering.

Pada saat itu Tao Ling sudah tahu bahwa keempat butir buah itu adalah buah sian tho atau buah dewa yang langka.

Kemungkinan apabila dia makan semua buah itu, lukanya bisa lebih cepat pulih atau mungkin tenaga dalamnya bisa bertambah.

Walaupun jarak buah itu sangat dekat, tetapi Tao Ling tidak menemukan akal untuk memakannya.

Dia hanya dapat memandang lekat-lekat seperti orang rakus.

Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara pletak!

sebutir buah pecah lagi, dan cairannya pun menetes ke dalam mulut Tao Ling.

Dengan rakus Tao Ling menjilatinya.

Jarak pecahnya buah yang satu dengan buah yang lainnya hanya kurang lebih sepeminum teh.

Tao Ling merasa jantungnya berdebar-debar.

Di dalam tubuhnya mengalir hawa yang hangat.

Perasaan ini pasti dimiliki oleh orang yang normal.

Padahal selama dua puluhan hari, Tao Ling justru tidak merasakannya.

Bahkan sebelumnya detak jantungnya merasa lemah seperti lampu kehabisan minyak.

Kali ini, Tao Ling semakin yakin dengan dugaannya.

Buah itu pasti buah langka yang mempunyai khasiat besar untuk menyembuhkan luka dalam.

Dia hanya meneguk belasan tetes cairan dari buah itu, tetapi perasaannya sudah jauh lebih segar.

Berarti faedah buah itu sudah terlihat.

Seandainya dia bisa makan sisa buah yang tinggal dua butir lagi, bukankah keadaannya akan semakin baik?

Apabila seseorang mencapai detik kematian, pasti akan memikirkan cara untuk menyelamatkan diri sendiri.

Pasti ada semacam kekuatan yang mendesak hati kecilnya untuk mempertahankan nyawanya.

Begitu pula Tao Ling, kehangatan yang mengalir dalam tubuhnya seakan memberinya kekuatan.

Dengan sekuat tenaga dia memiringkan kepalanya.

Walaupun dia belum sanggup mengangkat kepalanya, tetapi dia berusaha untuk menjulurkan lehernya agar dapat menggigit buah itu.

Tetapi biar bagaimana dia berusaha, jaraknya dengan buah itu masih terpaut sedikit.

Persis seorang anak berusia dua tahun ingin meraih suatu benda di atas meja.

Apalagi keadaan Tao Ling sedang terluka parah.

Dia ingin meraih buah itu rasanya sesulit terbang di angkasa.

Hampir kehabisan tenaga Tao Ling meluruskan kepalanya kembali.

Dia beristirahat sejenak.

Sesaat kemudian dia memberontak lagi untuk berusaha mencapai buah tadi.

Kali ini, dia benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya.

Matanya melihat bibirnya hampir menyentuh buah itu.

Dia membuka mulutnya lebar-lebar tetapi tetap saja masih terpaut sedikit.

Tao Ling membuka mulutnya lebar-lebar menunggu.

Dalam hati dia berpikir, seluruhnya ada empat butir buah, sekarang yang dua sudah pecah dan cairannya menetes ke dalam mulutnya.

Mungkin apabila dia menunggu sebentar lagi, salah satu dari buah itu pasti akan pecah pula.

Demikian pula buah yang satunya.

Asal dia menunggu dengan mulut terbuka, apabila kedua butir buah itu pecah, tetesannya pasti akan jatuh ke mulutnya pula.

Tetapi sampai cukup lama dia menunggunya, kedua butir buah itu tidak pecah-pecah juga.

Begitu tegangnya hati Tao Ling, sehingga hampir saja dia semaput.

Di saat hatinya sedang gelisah, tiba-tiba telinganya mendengar suara dentingan.

Ting!

Ting!

Ting!

Suara itu lirih tapi beruntun.

Sumber suara itu dari samping tubuhnya.

Ketika dia menolehkan kepalanya untuk melihat bunyi apa yang terdengar di telinganya, Tao Ling tiba-tiba tercekat hatinya.

Rupanya dia melihat seekor ular kecil sebesar telunjuk tangan.

Tubuh ular itu belangbelang kombinasi merah putih.

Merahnya seperti bunga Tho, sedangkan putihnya seperti salju.

Di bagian ekor ular itu terdapat sepasang keliningan kecil yang terikat.

Ular itu sedang melata ke arah tanaman tadi.

Setiap kali tubuhnya bergerak, keliningan di ekornya pun saling membentur dan menimbulkan suara dentingan.

Dalam sekejap mata, ular itu tampak semakin mendekat.

Dengan menggunakan bagian ekornya, ular itu mendongakkan kepalanya ke atas.

Dua kali mencaplok, kedua butir buah yang masih tersisa itu langsung masuk ke dalam mulutnya.

Tao Ling yang sudah bersusah payah menunggu di bawah tanaman itu tidak berhasil mengangkat kepalanya untuk menggigit buah itu.

Namun ular kecil itu datang dengan menggerak-gerakkan ekornya memaplok seenaknya.

Hati Tao Ling benci sekali.

Dia melihat ular kecil itu kembali menggerak-gerakkan ekornya melata dengan tenang setelah menikmati kedua butir buah tadi.

Lagaknya seakan mengejek Tao Ling.

Hal ini membuat perasaan si gadis semakin mendongkol.

Tanpa disadari mulut Tao Ling masih terus membuka.

Ular kecil itu merayap di lehernya dan hampir saja menyentuh giginya.

Tiba-tiba hati Tao Ling tergerak, seandainya buah itu memang buah dewa yang langka, sedangkan saat ini baru saja masuk ke dalam mulut ular kecil itu, pasti khasiatnya masih ada.

Mengapa dia tidak menggigit ular itu saja sampai putus?

Bukankah sama saja dia yang menelan buah tersebut?

Diam-diam Tao Ling sudah mengambil keputusan.

Demi mempertahankan nyawanya, otak Tao Ling tidak memikirkan hal lainnya lagi.

Dia terus membuka mulutnya lebarlebar dan menanti ular itu merayap lewat sekali lagi.

Padahal di hari biasa, jangan kan menggigit seekor ular.

bahkan menyentuhnya saja, Tao Ling merasa jijik.

Tiba-tiba ular itu merayap ke atas leher Tao Ling, kemudian mendongakkan kepalanya seakan ingin memandang gadis itu dengan seksama.

Tanpa menunda waktu lagi, Tao Ling mengerahkan seluruh kekuatannya dan dicaploknya kepala ular itu bulat-bulat.

Ketika Tao Ling mencaplok kepala ular itu, keadaannya sendiri sudah setengah sadar.

Bahkan seperti orang gila.

Padahal kalau dilihat dari bentuk ularnya saja, siapa pun bisa menduga bahwa ular itu seekor ular yang sangat berbisa.

Kalau Tao Ling sadar, dia juga tidak akan menelannya bulat-bulat.

Dalam pikiran Tao Ling, yang penting dia harus mendapatkan kedua butir buah yang sudah masuk ke dalam mulut ular itu.

Karenanya, Tao Ling menggigit dengan giginya kuat-kuat, sampai sekian lama dia tidak melepaskannya.

Terdengar ekor ular itu mengeluarkan suara dentingan yang terus menerus.

Ular itu rupanya kesakitan dan berusaha memberontak.

Bahkan berkali-kali ekornya sempat menghempas pipi dan kening Tao Ling.

Gadis itu tidak perduli.

Dia terus menggigit kepala ular itu.

Sesaat kemudian dia merasa ada cairan yang masuk ke dalam tenggorokannya.

Entah darah ular atau air buah tadi, Tao Ling tidak sempat merasakannya lagi.

Hampir dua kentungan lamanya dia menggigit kepala ular itu, kemudian lambat laun dia tertidur.

***** Entah berapa lama kemudian, Tao Ling merasa kelopak matanya terasa perih.

Ketika dia membuka matanya kembali, ternyata matahari sudah tinggi.

Jadi saat itu adalah siang hari keduanya.

Begitu Tao Ling memperhatikan ternyata mulutnya masih menggigit kepala ular itu.

Dengan gugup memuntahkannya, puih!

Kepala ular yang sudah terputus itu termuntahkan keluar, tetapi bagian tubuh dan ekor ular itu masih menggeletak di lehernya.

Tao Ling merasa bagian lehernya agak gatal, tanpa sadar dia mengulurkan tangannya dan membuang tubuh ular itu jauh-jauh.

Ketika ular itu sudah melayang jauh, dia baru tersentak sadar, hatinya gembira sekali, dengan nada parau dia berteriak.

"Aku bisa bergerak!"

Sebelurn tertidur, Tao Ling telah berusaha sekuat tenaga untuk mendongakkan kepalanya karena ingin mencaplok kedua butir buah dewa tadi.

Tetapi biar tenaganya sampai habis, dia tetap tidak sanggup menggigit buah itu.

Padahal bagi orang lain hanya perlu memhungkukkan tubuhnya untuk memetik, namun bagi Tao Ling justru sulitnya bukan kepalang.

Padahal saat ini, tanpa disengaja dia membuang bangkai ular tadi, ternyata dia sudah bisa bergerak seperti orang biasa.

Bagaimana hatinya tidak menjadi senang.

Cepat-cepat Tao Ling menumpu kedua tangannya di atas tanah kemudian bangun dan duduk.

Dengan tanpa menguras tenaga, kemudian dia berdiri, perasaannya seperti orang yang baru bangun tidur.

Apa yang dialaminya selama dua puluhan hari seperti sebuah mimpi buruk yang panjang.

Di lain pihak, apa yang dialaminya selama dua puluhan hari ini memang merupakan kenyataan.

Tao Ling tidak ingin memikirkan hal-hal lainnya.

Dia segera duduk bersila dan mencoba peredaran hawa murni da lam tubuhnya.

Padahal bagi setiap pesilat asalkan latihan, hawa murni di dalam tubuh otomatis akan beredar sendiri.

Tetapi kali ini meskipun Tao Ling telah mengosongkan pikiran dan memusatkan perhatian, namun dia tidak merasakan apa-apa.

Persis orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali.

Rasanya hawa murni di dalam tubuhnya terlalu meluap sehingga bergerak dengan kacau tanpa bisa dihimpun.

Ilmu kepandaian Tao Ling pada dasarnya belum tinggi.

Dia juga tidak tahu apakah yang dirasakannya ini merupakan bencana atau keberuntungan, yang paling penting dia sudah bisa bergerak.

Cepat-cepat dia mencabut sepasang pedang emas dan perak.

Ketika dia melirikkan matanya, dia melihat tanaman buah dewa itu sudah layu.

Meskipun tanaman itu sudah layu, tetapi Tao Ling bisa bergerak pasti karena khasiat buahnya.

Tao Ling berpikir dalam hati, buah yang demikian berkhasiat, pasti daun dan akarnya berfaedah juga.

Karena itu, Tao Ling segera menggunakan salah satu pedangnya untuk mengorek tanaman itu.

Bahkan akarnya pun dicabutnya sekaligus.

Setelah itu dia mengepal-ngepalkannya sehingga menjadi bulatan kecil lalu dimasukkannya ke dalam saku pakaian.

Setelah itu Tao Ling memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Dia baru memperhatikan dirinya berada di sebuah padang rumput yang luas.

Di kejauhan terlihat pegunungan menjulang tinggi yang bayangan puncaknya penuh diselimuti salju yang putih bersih.

Pemandangan yang indah sekali, tetapi tidak terlihat adanya seorang manusia pun atau asap yang mengepul dari rumah penduduk.

Tao Ling merenung.

Kereta itu sudah melakukan perjalanan selama dua puluh hari lebih.

Apahila berangkatnya dari Hu Pak dan terus menuju ke arah barat, pasti jarak yang ditempuhnya sudah hampir mencapai tiga ribuan li.

Berarti dirinya sekarang berada di wilayah Si Yu (Sekarang disebut Tibet).

Sekarang dirinya sudah sehat.

Yang paling penting tentu mengambil jurusan timur, dia ingin mencari Lie Cun Ju yang dilemparkan oleh gadis cantik itu ke tepi jalan.

Karena itu, dia segera memasukkan sepasang pedang emas dan perak ke dalam selipan pinggangnya dan berjalan menuju timur.

Hampir setengah harian dia berjalan, bahkan dia sempat memburu beberapa ekor kelinci yang kemudian dibakarnya dengan api unggun dan dijadikan pengisi perut.

Perasaannya sudah jauh lebih segar.

Tenaganya juga pulih kembali.

Tetapi bagian lehernya masih terasa gatal sekali.

Selama setengah harian Tao Ling berjalan, tidak menemukan sebuah sungai pun.

Karena itu Tao Ling tidak dapat melihat apa yang terdapat di bagian lehernya yang masih terasa begitu gatal.

Di permukaan tanah yang penuh dengan rerumputan masih terlihat jejak roda kereta.

Tao Ling berpikir, seandainya dia mengikuti jejak kereta itu, pasti ada harapan menemukan Lie Cun Ju.

Walaupun kemungkinan pemuda itu sudah mati, setidaknya Tao Ling dapat menguburkannya dengan layak.

Ketika malam tiba, dia menemukan sebuah hutan kecil dan terpaksa bermalam di sana.

Pagi-pagi dia sudah bangun.

Baru berjalan tidak seberapa jauh, tiba-tiba dia melihat dua ekor kuda pilihan yang berlari ke arahnya dengan cepat.

Penunggang kuda itu terus melarikan kudanya sembari menundukkan kepalanya ke bawah seakan sedang mencari sesuatu.

Tao Ling seorang gadis yang berotak cerdas.

Dia langsung mengerti apa yang sedang dilakukan kedua penunggang kuda itu.

Akh!

Orang-orang itu pasti mengikuti jejak roda kereta.

Mungkinkah mereka sedang mengejar si orang tua dan gadis yang cantik itu?

Ketika Tao Ling memutar pikirannya, kedua ekor kuda itu sudah sampai di depan matanya.

Tao Ling mendongakkan kepala.

Kedua orang itu juga sudah melihatnya, tetapi yang aneh mereka menatapnya dengan mimik wajah menyiratkan perasaan kaget yang tidak terkirakan.

Wajah kedua orang itu hampir mirip, kemungkinan memang dua bersaudara.

Usianya sekitar lima puluhan.

Wajah mereka bersih dan lembut.

Seandainya mereka tidak menunggang kuda dan di bagian pinggang tidak menyembul sebuah senjata yang bentuknya aneh, Tao Ling pasti mengira kedua orang itu pelajar atau sastrawan yang tidak mengerti ilmu silat.

Kedua orang itu menatap Tao Ling sekilas, kemudian salah satunya berseru.

"Lie kouwnio, apakah kau melihat sebuah kereta berwarna keperakan yang ditarik empat ekor kuda berwarna putih lewat di tempat ini?"

Ketika mendengar kedua orang itu menyapanya 'Lie kouwnio', Tao Ling agak tertegun.

Tetapi setelah dipikirkan sejenak, dia langsung mengerti.

Pasti karena sepasang pedang emas dan perak yang terselip di pinggangnya maka kedua orang itu mengira dia keturunan Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan.

Dia segera mendongakkan wajahnya dengan maksud ingin menjelaskan siapa dirinya.

Tidak tahunya, begitu dia mendongakkan kepala, kedua orang itu langsung menarik tali pe-ngendali kudanya dan mundur beberapa tindak.

Wajah mereka menyiratkan perasaan takut.

Setelah saling pandang dengan saudaranya sekilas, mereka langsung menarik kembali tali laso bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Hei! Kalian ingin mengejar kereta itu? Tapi harap kalian beritahukan dulu, tempat apa ini?"

Teriak Tao Ling. Salah satu dari orang itu langsung menghambur ke depan sejauh tiga-empat depa. Sedangkan yang satunya lagi malah berhenti sejenak kemudian berkata.

"Lie kouwnio, ini wilayah Tibet. Kau lihat gunung itu? Itulah gunung Thian San. Lie kouwnio, apabila kau tidak menemui Leng Coa ki cu jin (Pemilik rumah ular sakti) untuk mengobati penyakit keracunanmu itu, mungkin tidak sampai sore hari kau akan menemui kematian. Kami sudah lama mendengar nama besar ayahmu, sengaja memberitahukan hal ini!"

Hati Tao Ling dilanda kebingungan.

Dia berpikir dalam hati, kalau dua hari yang lalu, aku memang hampir menemui kematian, tetapi sekarang aku toh dalam keadaan baikbaik saja, untuk apa aku memohon seseorang meminta dia untuk menyembuhkan entah penyakit keracunan apa?

Siapa pula pemilik rumah ular sakti yang dikatakannya?

"Toako, mari kita pergi!

Jangan menimbulkan masalah lagi!"

Ucap penunggang kuda yang satunya lagi.

"Jite, ucapanmu salah sekali. Kita toh memang harus mati, apalagi yang harus ditakutkan?"

Kemudian keduanya pun menarik nafas panjang.

"Entah siapa nama Hong wi yang mulia? Mengapa aku harus memohon pertolongan pemilik rumah Ular sakti, dapatkah kalian menjelaskannya?"

Tanya Tao Ling.

"Kami mendapat julukan Sepasang Elang ..."

Tao Ling tidak menunggu orang itu menyelesaikan ucapannya, dia segera menjura dalam-dalam.

"Oh! Rupanya Elang Besi Ciang Pekhu?"

Orang itu menganggukkan kepalanya.

"Dia itu adik kandungku, Ciang Ya Hu!"

Katanya sambil menunjuk ke arah orang yang satunya lagi.

Rupanya kedua orang itu yang mendapat julukan Sepasang Elang dari Hian Tiong.

Mereka berasal dari keluarga Ciang.

Mereka tinggal di sebuah pulau di tengah danau dan hidup dengan mewah.

Keluarga Ciang merupakan salah satu keluarga terkaya di dunia kang ouw.

ilmu mereka juga cukup tinggi, maka nama mereka tersohor sekali.

Lagipula sejak kecil senang mempelajari berbagai ilmu dari berbagai aliran.

Menurut selentingan di luaran, kedua orang itu bahkan pernah berguru kepada Pun Cing Sian Sing dari Bu Tong Pai di Hok Kian.

Mereka menjadi murid tidak resmi dari tokoh Bu Tong Pai itu.

Hal ini karena Pun Cing Sian Sing melihat watak kedua orang ini yang berjiwa pendekar.

Juga merupakan tokoh yang disegani baik oleh hek to maupun pek to di dunia bu lim.

Tao Ling merasa gembira dapat bertemu dengan kedua orang itu.

"Apakah kalian berdua ingin mengejar kereta itu? Aku justru dilemparkan dari kereta itu oleh seorang gadis cantik dan seorang laki-laki tua. Tetapi itu terjadi dua-tiga hari yang lalu!"

Si Elang besi Ciang Pek Hu memandangnya dengan terperanjat.

"Kau dilemparkan dari kereta itu? Dia tidak membunuhmu?"

Kedua orang itu terperanjat.

"Mungkin karena dia menganggap aku tidak mungkin hidup lagi, tapi kenyataannya aku justru hidup kembali."

Tao Ling tertawa getir. Si Elang besi Ciang Pek Hu menarik nafas panjang. Dia tidak bertanya lebih jauh.

"Lie kouwnio, dengarlah nasehatku, dari sini ke arah timur, kurang lebih sepuluh li, ada sebuah sungai kecil, airnya jernih sekali. Mudah dikenali, di sampingnva ada heberapa pondok yang dikelilingi pohon Liu. Di sanalah tempat tinggal pemilik rumah ular sakti. Racun aneh yang mengendap di tubuhmu, kemungkinan hanya dia yang bisa menawarkannya. Cepatlah kesana memohon pertolongannya!"

"Terima kasih atas petunjukmu, tapi tadi kau mengatakan biar bagaimana kalian toh akan mati, apa maksudmu?"

"Lie kouwnio, biar kami katakan juga percuma ..."

Berkata sampai di sini, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang teringat olehnya.

"Lie kouwnio, ada sedikit urusan yang ingin kami minta bantuanmu, apakah kau tidak keberatan?"

Tao Ling sendiri seorang gadis yang berjiwa pendekar dan berbudi luhur, seperti ayahnya. Dia segera menganggukkan kepalanya.

"Harap Ciang cianpwe katakan saja!"

Jawab Tao Ling.

"Apabila pemilik rumah ular sakti bersedia mengobatimu, tolong kau sampaikan kepadanya bahwa sepasang elang dari Hian Tiong mengirim salam. Juga katakan kepadanya bahwa kami saat ini dikejar oleh kereta putih itu. Keadaan kami sangat gawat. Harap dia mengingat hubungan lama dan datang secepatnva memberikan pertolongan!"

Ujar si Elang Besi Ciang Pek Hu.

Tao Ling mendengarkan dengan penuh perhatian sampai Ciang Pek Hu menyelesaikan kata-katanya.

Diam-diam hatinya menjadi bingung.

Ciang Pek Hu mengatakan bahwa mereka dikejar oleh kereta putih itu dan keadaannya gawat sekali sehingga meminta pertolongan dari pemilik rumah ular sakti.

Tetapi kenyataannya kereta itu sudah lewat tiga hari yang lalu dan jauhnya dari tempat ini mungkin ada lima ratus li.

Apalagi tadi mereka mengatakan bahwa mereka ingin mengejar kereta itu!

Tampaknya Ciang Pek Hu dapat melihat kebimbangan hati Tao Ling.

"Lie kouwnio, usiamu masih muda sekali. Di dalam dunia kang ouw bariyak peristiwa aneh yang tidak dapat kau pahami. Asal kau sampaikan perkataan kami tadi kepada orang yang itu, kami sudah terima kasih!"

Ucap Ciang Pek Hu sambil lertawa getir.

"Baik."

Tao Ling menganggukkan kepala.

Tao Ling tahu bahwa kedua orang ini berjiwa pendekar.

Kata-katanya tadi pasti mempunyai alasan tersendiri.

Ciang Pek Hu menarik tali kendali kudanya.

Kedua ekor kuda pilihan itu pun melesat pergi bagai terbang.

Dalam sekejap mata tinggal dua titik bitam tampak di kejauhan, Tao Ling berdiri termangu-mangu beberapa saat.

Gadis itu ingat ucapan Ciang Pek Hu yang mengatakan dirinya terkena racun yang aneh, mungkin ada hubungannya dengan ular kecil yang digigitnya.

Tetapi kalau dia pergi menemui pemilik rumah ular sakti, tentu dia tidak bisa mencari Lie Cun Ju lagi.

Tao Ling teringat ucapan si gadis cantik pemilik kereta perak.

Gadis itu melemparkan Lie Cun Ju ke tepi jalan sudah belasan hari yang lalu.

Apabila benar, kemungkinan Lie Cun Ju saat ini sudah mati.

Hatinya menjadi bimbang untuk memutuskan apa yang harus diperbuatnya.

Tiba-tiba di kejauhan berkumandang suara batuk kecil.

Tao Ling menolehkan kepalanya.

Dia melihat di kejauhan ada sesosok bayangan.

Bentuk sosok gemuk membengkak, dengan bertumpu pada sebatang bambu dan menghampiri ke arahnya dengan lambat.

Ketika Tao Ling melihat orang ilu masih berada di kejauhan, hatinya sudah terkesiap.

Karena barusan dia mendengar suara batuk kecil seperti jaraknya tidak seberapa jauh.

Sedangkan di tempat yang demikian terpencil tidak mungkin ada orang tua yang datang, orang itu pasti seorang tokoh bu lim yang sakti.

Ketika pikiran Tao Ling masih melayang-layang, jarak orang itu sudah semakin dekat.

Tampak tubuhnya seperti limbung, dengan sebatang bambu sebagai penumpu.

Jalannya lambat sekali.

Tetapi kenyataannya bahkan cepatnya tidak terkirakan.

Karena dalam sekejap mata, orang itu sudah tidak jauh darinya.

Sekali lagi Tao Ling terperanjat, karena orang yang ketika dilihatnya dari kejauhan itu tampak gemuk membengkak.

Akan tetapi setelah dekat ternyata dia sedang memanggul orang.

Dua orang yang merapat menjadi satu.

Dari jauh bentuknya seperti bagian atas tubuh orang itu membengkak.

Pantas kalau pertama-tama Tao Ling terkejut, karena dia melihat bentuk tubuh orang itu yang aneh dan cara jalannya yang seperti merayap tetapi kenyataannya cepat bukan main!

Sedangkan orang yang dipanggulnya, kepalanya tertunduk dan wajahnya tidak dapat terlihat jelas.

Tetapi bentuk tubuh dan pakaiannya tidak akan dilupakan oleh Tao Ling.

Dialah Lie Cun Ju yang dirindukannya selama hampir satu bulan.

Orang tua itu masih melangkah menghampiri dengan bantuan batang bambu di tangannya.

Dia seakan tidak melihat keberadaan Tao Ling.

Dilewatinya gadis itu tanpa melirik sedikit pun.

Tao Ling termangu-mangu melihat Lie Cun Ju yang dipanggul orang tua itu.

Justru di saat yang beberapa detik itu, tahu-tahu si orang tua sudah melangkah sejauh tigaempat depa.

"Lie toako, lo pek, tunggu dulu!"

Tao Ling memanggil dengan panik.

Orang tua itu seakan tidak mendengar panggilan Tao Ling.

Dia terus melangkahkan kakinya.

Dengan gugup Tao Ling mengejarnya dari belakang.

Tetapi, biar bagaimana Tao Ling mengempos semangatnya mengejar, tetap saja dia ketinggalan beberapa depa di belakang orang tua itu.

Malah jarak mereka semakin lama semakin jauh.

Tidak lama kemudian, yang tampak hanya bayangan punggungnya.

Pakaiannya melambai-lambai, rasanya sulit menyusul kedua orang itu.

Tapi, mana mungkin Tao Ling menyudahinya begitu saja?

Biarpun orang tua itu sudah jauh sekali, dia tetap mengerahkan segenap kemampuannya mengejar ke depan.

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, tiba-tiba dia melihat sebuah sungai kecil.

Jernihnya bukan main.

Bahkan batu-batu kerikil yang ada di dalam air bisa dihitung karena terlihat jelas sampai ke dasarnya.

Di seberang sungai ada beberapa batang pohon Liu yang sudah tua.

Pemandangan di tempat itu hampir mirip dengan daerah Kang Lam.

Tiba-tiba hati Tao Ling tergerak.

Dia ingat kata-kata yang diucapkan Ciang Pek Hu.

Dia mempunyai dugaan bahwa tempat ini mungkin kediaman Tuan Ular Sakti.

Mungkinkah orang tua yang bertemu dengannya tadi Tuan Ular Sakti?

Setelah merenung sejenak, sepasang kakinya langsung menghentak dan meloncat ke seberang sungai.

Dia mendarat turun di depan pepohonan Liu tadi.

Dia melihat di batang pohon Liu yang terbesar terukir tiga huruf, 'Leng Coa ki' (Rumah kediaman Ular Sakti).

Mungkin ketika mengukir tulisan itu, pohon tersebut belum sebesar sekarang, karena itu bentuk tulisannya jadi melebar tidak teratur.

Tapi untungnya masih bisa terbaca.

Dugaan Tao Ling tidak salah, apalagi di samping beberapa pohon itu ada beberapa pondok.

Baru saja kakinya berjalan setengah tindak, sekonyong-konyong dia menyurutkan langkahnya kembali.

Ternyata ketika dia mendongakkan kepalanya, di atas pohon terdapat kira-kira delapan ekor ular yang besarnya selengan manusia dewasa dan panjang kurang lebih satu depaan.

Ular-ular itu sedang merayap turun dan menghadang jalannya.

Warna ular itu sama seperti warna daun pohonnya sehingga bila tidak diperhatikan dengan seksama, pasti tidak terlihat.

Diam-diam Tao Ling berpikir dalam hati.

Ketujuh-delapan ekor ular itu pasti berbisa sekali.

Biarpun ular biasa saja sudah tidak mudah dihadapi, apalagi ular berbisa.

Apalagi kedatanganku kemari, ada sedikit permohonan kepada pemilik rumah.

Kediamannya itu dinamakan Leng Coa ki (Rumah kediaman Ular Sakti), dengan demikian kemungkinan ular-ular ini adalah peliharaannya.

Seandainya aku sampai melukai ular peliharaannya, bukankah mencari masalah baru dengan pemilik rumah itu?

Dengan dasar pikiran demikian, Tao Ling segera menyurutkan langkahnya mundur beberapa tindak, kemudian berseru dengan lantang.

"Boanpwe Tao Ling, ada urusan penting ingin menemui cu jin, mohon kesediaan cu jin mengijinkan boanpwe masuk ke dalam!"

Baru saja ucapannya selesai, segera terdengar sahutan dari mulut seorang kakek tua.

"Biar urusan yang bagaimana pentingnya, tetap harus menunggu beberapa saat!"

Ternyata orang yang tinggal di pondok ini bukan orang yang menyepikan diri dan tidak bersedia bertemu dengan orang luar.

Buktinya sekali mengajukan permohonan, langsung mendapat jawaban darinya.

Suaranya terdengar sudah tua sekali.

Mungkin memang orang tua yang ditemuinya di perjalanan tadi.

Dia menyuruh tamunya menunggu beberapa saat.

Toh Tao Ling tidak ada urusan lainnya apa salahnya menunggu beberapa saat?

Dengan menyilangkan tangannya di depan dada, Tao Ling berjalan mondar mandir di sekitar pepohonan itu.

Saat itu dia baru memperhatikan bahwa di ranting-ranting pohon itu terdapat ular-ular kecil yang berbisa dan jumlahnya harnpir tidak terhitung.

Melihat ular-ular kecil itu, hati Tao Ling agak takut.

Dia terus mengundurkan diri sehingga tidak terasa sudah sampai di tepian sungai.

Saat itu dia baru bercermin pada permukaan air sungai yang jernih.

Saking terkejutnya dia sampai menyurut mundur beberapa langkah.

Hampir saja dia tidak mempercayai pandangan matanya sendiri.

Setelah menenangkan hatinya, dia baru melangkah mendekati tepian sungai kembali.

Sekali lagi dia berkaca di permukaan sungai.

Ternyata apa yang dilihatnya tidak berubah.

Entah sejak kapan, di bagian lehernya penuh dengan bercak-bercak merah yang besar kecilnya tidak sama.

Bentuknya seperti bunga Tho.

Bahkan di wajahnya juga sudah terlihat beberapa bercak yang sama.

Padahal Tao Ling seorang gadis yang cantik.

Kulitnya putih bersih.

Tetapi dengan adanya bercak-bercak merah, wajahnya menjadi lain bahkan membawa kesan agak mengerikan.

Saat itu juga, Tao Ling baru sadar mengapa sepasang Elang dari Hian Tiong terkejut sekali ketika pertama kali melihatnya.

Rupanya wajahnya penuh dengan bercak-bercak merah itu.

Mungkin mereka menyangka telah bertemu dengan makhluk aneh.

Hal ini tidak mengherankan, sedangkan Tao Ling sendiri saja sempat terkejut setengah mati ketika pertama bercermin di permukaan air sungai itu.

Di samping itu, Tao Ling juga bingung, dari mana datangnya bercak-bercak merah itu?

Sampai sekian lama dia berdiri dengan termangu-mangu.

Matanya memandangi permukaan air sungai.

"Siapa yang mencari aku?"

Tao Ling mendengar suara.

Tao Ling terkejut setengah mati, dia langsung menolehkan kepalanya.

Orang yang berdiri di bawah pohon Liu yang besar itu ternyata memang kakek yang dilihatnya memanggul Lie Cun Ju tadi.

Dia mengenakan pakaian berwarna abu-abu, tubuhnya kurus seperti lidi.

Tangannya masih menggenggam batang bambu.

Kakek itu mengenakan jubah besar.

Dilihat dari jauh seperti sehelai jubah yang digantungkan di bawah pohon.

Tao Ling segera maju ke depan dan menjura dalam-dalam.

"Boanpwe Tao Ling menghadap locianpwe!"

"Tidak usah banyak peradatan. Apakah kedatanganmu ini ingin memohon aku menawarkan racun yang mengendap dalam tubuhmu?"

Tanya orang tua itu sambil mengangkat batang bambunya dan menahan gerakan tubuh Tao Ling.

"Pasti aku terkena sejenis racun yang aneh makanya timbul bercak-bercak merah di seluruh wajah dan leher. Tapi aku tidak merasakan apa-apa, hanya sedikit gatal di bagian leher. Lebih penting menanyakan keadaan Lie toako,"

Ujar Tao Ling dalam hati.

"Locianpwe, orang ... yang kau panggul tadi ... adalah sahabat baik boanpwe. Bagaimana keadaannya sekarang?"

Tanya gadis itu.

"Hm! Delapan bagian hampir mati,"

Dengus orang berjubah abu-abu itu.

"Locianpwe, apakah masih ada harapan untuk menolongnya?"

Tao Ling bertanya dengan panik.

"Kalau sudah sampai di Leng Coa ki otomatis akan tertolong!"

Hati Tao Ling menjadi lega mendengar jawaban orang tua itu.

Hitung-hitung rejekinya dan Lie Cun Ju cukup besar.

Setelah melalui beberapa kali cobaan, ternyata masih bisa meloloskan diri dari kematian.

Justru ketika hatinya masih merasa senang, dia mendengar orang tua itu berkata lagi.

"Tetapi kau sendiri, aku tidak berjanji bisa menyembuhkannya!"

"Apakah racun yang mengendap dalam tubuhku demikian hebat?"

Tao Ling bertanya dengan hati terkesiap.

"Apakah ular yang menggigitmu itu warnanya belang-belang merah putih dan bagian ekornya terdapat sepasang keliningan serta besarnya setelunjuk tangan? Ular itu bernama Tho hua mia (Nasib bunga Tho), setelah digigit olehnya, di seluruh wajah timbul bercak-bercak merah, lalu tidak bisa tertolong lagi!"

"Locianpwe, ular itu tidak menggigit boanpwe, tapi boanpwe yang menggigitnya,"

Jawab Tao Ling dengan tertawa getir.

"Omong kosong!"

Orang tua itu terkejut bukan main.

"Mana mungkin boan pwe berani berbohong?"

Tao Ling segera menuturkan secara ringkas apa yang dialaminya setelah terlempar dari kereta yang ditumpangi gadis cantik itu.

Orang tua itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sepasang matanya menatap Tao Ling dengan tajam ketika gadis itu menyelesaikan ceritanya.

"Kalau hegitu, Tho Hua Mia mati di tanganmu?"

Hati Tao Ling terkejut melihat orang tua itu tiba-tiba menjadi marah. Dia memberanikan dirinya menjawab.

"Boanpwe tidak tahu ular itu peliharaan locianpwe sehingga dalam keadaan terpaksa, boanpwe menggigitnya sampai mati."

Wajah orang tua itu berubah lembut kembali.

"Mari ikut aku ke dalam pondok."

Dia membalikkan tubuhnya dan melalui beberapa batang pohon liu tersebut.

Tao Ling segera mengikutinya dari belakang.

Ular-ular yang melingkar di atas ranting-ranting pohon seakan takut sekali kepada si orang tua.

Mereka menyurutkan tubuhnya dan bersembunyi di balik gerombolan dedaunan.

Diam-diam Tao Ling merasa heran.

Setelah masuk ke dalam pondok, Tao Ling melihat keadaan di dalamnya sangat teratur dan rapi.

Kursi dan meja juga bersih sehingga tidak terlihat setitik debu pun.

Tao Ling sadar orang tua ini pasti menyukai kebersihan.

"Tanpa disengaja kau telah makan dua butir buah merah itu. Namanya Te hiat ko (Buah darah bumi). Buah itu memang aneh, juga langka. Bila tidak melihat darah manusia, selamanya buah itu tidak akan matang. Pada saat itu lukamu parah sekali, kau memuntahkan darah beberapa kali. Darah itulah yang terhisap oleh buah Te hiat ko itu sehingga secara kebetulan kau berhasil menikmati cairannya yang menetes ke dalam mulutmu. Hal ini membawa suatu keberuntungan bagi dirimu. Dengan bantuan cairan buah itu, racun ular kecil itu jadi terdesak di salah satu bagian tubuhmu, tidak terpencar kemana-mana. Kalau tidak tentu saat ini kau sudah mati. Tidak usah khawatir, dengan bantuanku, racun itu pasti dapat terdesak keluar. Tapi ... apakah akar dan daun pohon Te hiat ko itu sempat kau cabut atau tidak?"

"Ada!"

Sahut Tao Ling.

Dia segera mengeluarkan kepalan akar dan daun tanaman itu dari dalam saku pakaiannya.

Orang tua itu seakan melihat benda pusaka saja, dia langsung mengulurkan tangannya menyambut akar dan dedaunan itu "Ikut aku!"

Katanya kemudian.

Mereka masuk ke ruangan yang lain.

Di sana terdapat berbagai jenis botol yang terbuat dari batu kumala.

Botol-botol itu berjejer pada sebuah rak yang menempel di dinding pondok.

Di atas sebuah balai-balai, berbaring Lie Cun Ju.

Ketika Tao Ling memperhatikannya dengan seksama, dia terkejut setengah mati.

Tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut.

Ternyata wajah Lie Cun Ju saat itu pucat pasi dan demikian putihnya seperti selembar kertas.

Tampangnya bahkan lebih tidak enak dilihat daripada orang mati sekalipun.

Padahal ini sudah ada dalam dugaan Tao Ling, tapi dia tetap merasa terkejut juga ketika melihatnya langsung.

Apalagi di atas tubuh Lie Cun Ju terdapat beberapa ekor ular kecil berwarna kebirubiruan.

Dapat dipastikan semuanya merupakan ular berbisa dan ular-ular itu bukan hanya merayap di tubuh Lie Cun Ju, bahkan membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit setiap urat darah yang penting di tubuh pemuda itu.

Melihat keadaan itu, jantung Tao Ling langsung berdegup keras.

Perasaannya memang sangat mengkhawatirkan keadaan Lie Cun Ju.

Dia langsung mempunyai pikiran "Kakek tua ini pasti bukan orang baik-baik."

Membawa pikiran itu, dia segera membalikkan tubuhnya kemudian membentak.

"Apa yang kau lakukan pada diri Lie toako?"

Orang tua aneh itu hanya menundukkan kepalanya mempermainkan akar dan dedaunan yang diberikan oleh Tao Ling tadi. Terhadap pertanyaan Tao Ling yang kasar, dia seakan tidak mendengarnya.

"Kau mencelakai Lie toako sedemikian rupa, kau malah mengatakannya sedang menolongnya!"

Tao Ling membentak lagi sambil melangkahkan kakinya.

"Siapa yang mencelakai Lie toakomu?"

Tanyanya dingin.

Tao Ling tidak tahu masalah yang sebenarnya, dia menganggap orang tua itu mencelakai Lie Cun Ju malah sengaja mungkir.

Pemuda itu sudah melalui berbagai penderitaan bersama-sama dengannya, meskipun kokonya, Tao Heng Kan membunuh Li Po, abangnya Lie Cun Ju, tetapi hubungan mereka baik-baik saja.

Apalagi di dalam hati sudah timbul perasaan sukanya kepada pemuda itu, mana sudi dia menerima begitu saja Lie toakonya dicelakai orang?

Pokoknya dia harus membalaskan dendam bagi Lie toako!

Walaupun Tao Ling menyadari bahwa orang tua itu bukan tokoh sembarangan, tetapi hawa amarah dalam dadanya telah meluap.

Dia tidak berpikir panjang lagi.

Cring!

Dia mencabut pedang dari selipan ikat pinggangnya kemudian melancarkan sebuah serangan ke arah si orang tua!

Wajah kakek itu langsung berubah melihat tindakannya.

"Bocah cilik, tampaknya kau benar-benar sudah bosan hidup?"

Tubuhnya hanya menggeser sedikit.

Serangan Tao Ling segera melesat lewat di sampingnya.

Sejak meneguk cairan buah Te hiat ko, tenaga dalam Tao Ling sudah bertambah kuat.

Gerakan tubuhnya juga jauh lebih ringan, hanya saja dirinya sendiri belum menyadarinya.

Sampai keadaannya menjadi panik karena memikirkan keselamatan Lie Cun Ju, dia melancarkan jurus serangan ke arah orang tua tadi.

Hatinya baru terkesiap, diam-diam dia berpikir dalam hati.

Tia sering mengatakan aku tidak becus mempelajari Pat Sian Kiam.

Setelah bertahuntahun melatihnya masih belum menunjukkan kebolehan apa-apa.

Kalau dibandingkan dengan koko, terpautnya jauh sekali.

Tetapi seranganku ini cepat dan keji, sehingga jurus Menteri mempertahankan negara ini menunjukkan kehebatannya.

Nyalinya jadi besar menemukan kemajuan dirinya.

Melihat orang tua itu mengelakkan serangannya, tubuhnya segera berputar dan melancarkan jurus Sastrawan Meniup Seruling.

Pedangnya mula-mula dilintangkan seperti orang yang sedang meniup seruling, kemudian kakinya maju setengah tindak dan sekonyong-konyong pedangnya menghunjam ke depan.

Timbul bayangan bunga-bunga dari gerakan pedangnya, cahaya keperakan berkilauan.

Pedangnya bergerak lurus mengancam tenggorokan si Orang tua.

Kakek tua itu mengeluarkan suara dengusan dingin dari hidungnya.

"Benar-benar bocah yang belum mengerti urusan!"

Tubuhnya disurutkan, kakinya tidak bergerak. Dengan mudah lagi-lagi dia menghindarkan diri dari serangan Tao Ling! Hati gadis itu semakin lama semakin sewot.

"Gerakan kakek ini aneh sekali,"

Pikirnya dalam hati.

Seandainya saat ini dia bisa berpikir dengan tenang dan kepala dingin, meskipun ilmunya mengalami kemajuan, tetapi dua kali berturut-turut dia melancarkan serangan dan semuanya dapat dihindarkan dengan mudah oleh orang tua itu.

Hal ini membuktikan ilmu kepandaian orang tua itu jauh lebih tinggi daripadanya.

Apabila dia langsung menghentikan serangannya, mungkin tidak sampai menimbulkan berbagai masalah di hari kelak.

Tetapi sayangnya dia terlalu panik melihat keadaan Lie Cun Ju.

Orang yang dilanda emosi memang biasanya tidak berpikir panjang.

Dua kali serangannya yang gagal malah membuat hati Tao Ling semakin panas.

Pergelangan tangannya digetarkan.

Pedangnya diputar kemudian tiba-tiba tubuhnya menerjang ke depan.

Dengan posisi agak miring, dia mengerahkan jurus Kakek Tua Menunggang Keledai.

Serangannya yang ketiga kali ini semakin hebat dan ganas.

Mimik wajah orang tua itu sejak tadi memang sudah tidak enak dipandang.

Ketika serangan ketiga Tao Ling meluncur datang, wajahnya yang tersorot cahaya pedang malah menyiratkan kegusaran.

Tangan kanannya memasukkan akar dan dedaunan Te hiat ko ke dalam jubahnya.

Tubuhnya bergerak sedikit dengan gaya tenang dia malah maju menyongsong pedang Tao Ling yang sedang meluncur ke arahnya.

Tiba-tiba tangannya yang seperti tengkorak itu mengulur ke depan.

Belum sempat Tao Ling menghindar, tahu-tahu pergelangan tangannya telah dicengkeram oleh orang tua itu.

Tao Ling merasa terkejut, mendadak serangkum angin kencang sudah menahan gerakan pedangnya.

Hatinya terkesiap.

Saat itu dia baru teringat, kakek ini berilmu tinggi.

Seandainya dia ingin membunuh Lie Cun Ju, tentu dia tidak akan menggunakan ularnya yang kecil-kecil tapi berbisa itu.

Keadaan Lie Cun Ju sedang terluka parah.

Sekali hantam saja nyawanya pasti melayang Ketika dia ingin menanyakan hal itu sampai jelas, terlambat sudah.

Tangan orang tua yang seperti tengkorak itu telah mencengkeram pergelangan tangannya erat-erat.

Persendian pergelangan tangannya terasa nyeri bukan kepalang.

Keringat yang membasahi keningnya menetes dengan deras.

Orang tua itu memuntir tangan Tao Ling.

Gadis itu merasa setengah badannya seakan lumpuh.

Kelima jari tangannya merenggang, pedang perak pun terlepas dari tangannya.

Terdengar orang tua itu membentak dengan suara yang dalam.

"Sudah dua puluh tahun lebih, tidak ada seorang pun yang berani turun tangan kepadaku. Siapa kau sehingga nyalimu demikian besar, hah?"

Tadinya Tao Ling masih ingin berdebat, tetapi pergelangan tangannya masih dicengkeram oleh kakek tua itu.

Dia mencoba menghimpun hawa murni dalam tubuhnya untuk memberikan perlawanan, ternyata rasa sakitnya semakin menjadi.

Keringat dingin mengucur semakin deras.

Maka dia tak sanggup lagi membuka suara.

Tampak sepasang mata orang tua itu memancarkan hawa pembunuhan yang tebal.

Hati Tao Ling semakin merasa ketakutan.

Baru saja dia berusaha berteriak, tiba-tiba dari luar pondok berkumandang suara seorang gadis yang nyaring dan merdu.

"Apakah Leng Coa Sian Sing ada di rumah? Ular-ular peliharaanmu semuanya tidak becus."

Wajah orang tua itu tiba-tiba berubah.

Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Tao Ling mengendur.

Tetapi belum sempat gadis itu melakukan gerakan apaapa, jalan darah di bawah leher dan pundaknya sudah tertotok.

Cara turun tangannya cepat sekali.

"Antara aku dan kalian selamanya tidak pernah ada hubungan apa-apa. Untuk apa kau mencariku?"

Ujar orang tua itu dengan nada marah.

Saat itu jalan darah Tao Ling sudah tertotok.

Gadis itu tidak bisa bergerak atau bersuara.

Tetapi telinganya masih dapat mendengar dengan jelas.

Dia mengenali suara di luar pondok seperti suara si gadis secantik bidadari yang melemparkannya keluar dari kereta.

Terdengar gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Leng Coa Sian Sing, tempat tinggal kita demikian dekat, sejak dulu seharusnya kita mempunyai hubungan. Karena itu, aku sengaja datang berkunjung. Mengapa sian sing malah tampaknya kurang senang?"

Ujar gadis yang ada di luar pondok itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Leng Coa Sian Sing (si kakek tua) bimbang sejenak, kemudian dia keluar juga dari ruangan itu sekaligus merapatkan pintunya.

Tao Ling tidak bisa melihat keadaan di luar.

Akan tetapi dia masih bisa mendengar pembicaraan antara Leng Coa Sian Sing dengan gadis itu.

"Ada petunjuk apa yang hendak kau berikan? Silakan katakan langsung!"

Nada suaranya terdengar agak angkuh, namun di dalamnya terselip sedikit kekhawatiran. Sekali lagi gadis itu tertawa cekikikan.

"Aku mendengar berita, bahwa salah satu dari dua orang yang kupungut tempo hari dan kuanggap akan menjadi mayat, bahkan kau hidupkan lagi. Seandainya orang itu benar-benar tidak mati, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya."

"Aneh! Aku tinggal di sini sudah lama, selamanya tidak pernah menginjakkan kaki keluar dari wilayahku ini, mana mungkin ada orang yang kutolong?"

Suara tertawa gadis itu masih terdengar terus.

"Leng Coa sian sing, harap jangan mungkir lagi. Orang yang melihatmu itu sudah mengatakan terus terang. Masalah ini besar sekali. Selamanya kau hidup menyempilkan diri di tempat ini, untuk apa tanpa sebab musabab kau mencari perkara karena orang itu?"

Ucap gadis cantik itu sambil tertawa terkekeh-kekeh yang tiada henti-hentinya.

"I kouwnio, apa yang kau katakan, aku tidak mengerti sama sekali!"

Leng Coa sian sing tertawa dingin.

"Leng Coa sian sing, taruhlah di hadapanku kau masih bisa mungkir. Kau sudah menyembunyikan orang itu, tetapi kau ingin mengelabui aku. Tapi biar bagaimana kau tidak bisa mengelabui tiga iblis keluarga Lung dari gunung Ling San, Kui Cou,"

Ujar gadis cantik itu sambil tertawa terbahak-bahak. Leng Coa Sian Sing tampaknya terkejut setengah mati. Untuk sesaat dia sampai berdiam diri.

"Tiga Iblis dari Keluarga Lung? Tiga Iblis dari Keiuarga Lung?"

Nada suaranya mengandung kegentaran yang tidak terkirakan.

"Tidak salah. Tiga Iblis dari Keluarga Lung. Secara diam-diam mereka telah menyusup ke wilayah barat ini. Karena orang yang kau tolong itu sudah memergoki mereka. Maka dari itu, biar bagaimana pun mereka ingin membunuh orang itu. Coba kau pikirkan baik-baik, apakah kau sendirian sanggup menghadapi mereka?"

Sekali lagi Leng Coa Sian Sing terdiam. Tao Ling yang ikut mendengarkan sampai mengernyitkan keningnya.

"Tiga iblis dari keluarga Lung yang disebut gadis itu pasti ketiga orang bertopeng yang mencelakai aku dan Lie toako itu. Selama ini aku sering mendengar cerita tentang tokoh-tokoh di dunia kang ouw dari ayah dan ibu. Mengapa belum pernah mendengar mereka menyebut nama Tiga Iblis Keluarga Lung dari gunung Liang San di Kui Cou?"

Gumam Tao Ling dalam hati.

"I kouwnio, orang yang kau katakan itu laki-laki atau perempuan?"

Tanya Leng Coa Sian Sing.

"Leng Coa Sian Sing, apakah kedua orang itu benar-benar tertolong olehmu? Kalau memang benar, aku menginginkan kedua-duanya. Entah Leng Coa Sian Sing bersedia memandang muka ayah dan menyerahkannya kepadaku?"

Hati Tao Ling panik sekali mendengar permintaan gadis itu.

Dia sadar meskipun wajah Leng Coa Sian Sing selalu dingin dan tidak enak dilihat, tapi bagaimana pun dia merupakan tuan penolong bagi Lie Cun Ju.

Saat ini pemuda itu masih terbaring di atas balai-balai, wajahnya pucat pasi, namun setidaknya masih hidup.

Sedangkan gadis itu memang cantik jelita bagai bidadari, tapi hatinya kejam, dan turun tangannya keji.

Seandainya terjatuh ke tangan gadis itu, tentu akibatnya mengerikan.

Karena itu, dia berharap Leng Coa Sian Sing menolak permintaannya.

Leng Coa sian sing merenung sekian lama.

Kemudian baru terdengar suaranya kembali.

"I kouwnio, ada sesuatu yang ingin kutanyakan,"

Tanya orang tua itu.

"Mengapa Leng Coa Sian Sing demikian sungkan? Ada apa silakan katakan saja."

"Kedua orang itu, baik yang iaki-laki maupun yang perempuan tidak memiliki ilmu yang seberapa hebat. Boleh dibilang bocah masih ingusan dalam ilmu silat. Tapi mengapa tiga iblis dan Nona I sendiri demikian memandang tinggi mereka dan mengejarnya sampai kemana pun?"

Ujar Leng Coa Sian Sing. Gadis itu berdiam diri beberapa saat.

"Tiga iblis dari keluarga Lung mengejar mereka karena jejak mereka datang ke wilayah barat secara tiba-tiba dipergoki oleh kedua orang itu. Mengenai aku sendiri, Leng Coa sian sing, bisakah kau mengurangi rasa ingin tahumu?"

"I kouwnio, apakah kau kira bisa menggertak aku?"

Sahut orang tua itu.

Pembicaraan kedua orang itu terdengarnya sungkan sekali.

Tetapi dari nadanya siapa pun dapat mengetahui bahwa mereka sedang saling berkutet, dan siapa pun tidak ada yang sudi mengalah.

Lagi-lagi gadis itu tertawa cekikikan.

Suara tawa itu demikian merdu, tetapi di dalamnya terselip pengaruh yang kuat dan membuat orang bergidik.

"Leng Coa sian sing, dengan kekuatanku seorang diri, tentu saja aku tidak berani menekanmu. Tetapi siok siok (paman) ku masih ada di luar. Dia sedang menunggu jawaban dariku ..."

Tao Ling yang mendengarkan pembicaraan mereka dari ruang satunya langsung menyadari, bahwa orang yang dipanggil siok-siok oleh gadis itu pasti si orang tua bertubuh kurus yang ikut menyuapinya di dalam kereta tempo hari.

Entah apa yang dikatakan Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling berusaha mendengarkan dengan seksama.

Tetapi keadaan di ruang satunya bahkan sunyi senyap.

Sampai beberapa saat baru terdengar Leng Coa Sian Sing berbicara.

Namun suaranya begitu lirih sehingga Tao Ling tidak berhasil men-dengarkannya.

"Kalau begitu, sekarang aku mohon diri!"

Sahut gadis itu. Tao Ling memang tidak tahu apa yang dibicarakan Leng Coa Sian Sing kepada gadis itu, tetapi mendengar gadis itu berpamitan, setidaknya perasaan Tao Ling menjadi lega.

"Maaf tidak mengantar ... sampaikan salam kepada ayah dan pamanmu!"

Ucap Leng Coa Sian Sing.

Suara pintu terbuka disusul dengan suara ringkikan kuda lalu derap langkahnya yang menjauh.

Pasti gadis cantik itu datang dengan keretanya yang mewah dan sekarang sudah pergi lagi.

Tidak lama kemudian, Leng Coa Sian Sing masuk lagi ke dalam rumah.

Dia menatap Tao Ling beberapa saat.

Pandangan matanya agak aneh.

Tetapi Tao Ling tidak bisa menerka apa maksud hatinya.

Orang tua itu mengulurkan tangan dan menepuk kedua jalan darahnya yang tertotok.

Sekarang Tao Ling bisa bergerak juga bisa berbicara.

Dia segera bertanya kepada Leng Coa sian sing.

"Locianpwe, apakah I kouwnio itu sudah pergi? Siapa dia sebetulnya?"

"Tidak lama lagi kau pasti tahu sendiri, buat apa bertanya?"

Ujar Leng Coa Sian Sing sambil tersenyum aneh.

Tao Ling tidak tahu apa yang terkandung dalam hati kakek itu.

Terpaksa dia menghentikan pertanyaannya.

Leng Coa Sian Sing mengulurkan tangannya mengambil salah sebuah botol dari ratusan botol yang berjajar di rak dinding.

Dituangkannya tiga butir pil kemudian berkata.

"Minumlah tiga butir pil ini! Dalam waktu satu kentungan kecuali mengedarkan hawa murni dalam tubuh, tidak boleh sembarangan bergerak. Besok bila melihat ada bercak-bercak merah di telapak tanganmu, kau baru temui aku lagi!"

Tao Ling melihat orang tua itu sudah melupakan urusan pertarungan mereka tadi. Hatinya malah jadi tidak enak.

"Locianpwe, maafkan kesalahan boanpwe tadi!"

Ucap Tao Ling "Tidak perlu banyak bicara!"

Tukas orang tua itu.

"Locianpwe, entah bagaimana keadaan Lie toako? Apakah membahayakan jiwanya?"

Tanya Tao Ling sambil matanya melirik Lie Cun Ju.

Leng Coa Sian Sing tersenyum.

Senyumannya kali ini juga terasa tidak wajar.

Sekali lagi Tao Ling tertegun.

Entah apa yang dirahasiakan orang tua ini?

Setelah tersenyum, Leng Coa Sian Sing berkata dengan perlahan.

"Di saat kau mendesak racunmu ke telapak tangan, mungkin dia sudah dapat berbicara."

Tao Ling melihat keseriusannya.

Rasanya orang tua itu tidak mungkin berdusta.

Perasaan Tao Ling jadi lega.

Dia segera menepi ke sudut ruangan dan bersila sambil memejamkan mata.

Sejak meneguk cairan buah Te hiat ko, aliran darah Tao Ling beredar dengan lancar.

Hawa murni dalam tubuhnya bahkan seperti meluap-luap.

Tidak berapa lama kemudian, dia memusatkan seluruh konsentrasinya untuk mendesak racun di dalam tubuhnya ke bagian telapak tangan.

Meskipun demikian, suara di sekelilingnya masih bisa terdengar dengan jelas.

Entah berapa lama dia duduk bersila, tiba-tiba telinganya mendengar suara Leng Coa Sian Sing.

"Racun ular itu sudah terdesak ke bagian telapak tanganmu. Kau sudah boleh bangun sekarang!"

"Masa begitu cepat sudah satu kentungan?"

Tanya Tao Ling bingung. Tao Ling membuka mata dan menolehkan kepalanya. Tampak Lie Cun Ju sudah duduk bersandar. Wajahnya tampak masih pucat, tetapi dia sudah bisa tersenyum.

"Lie toako, apakah kau sudah sembuh?"

Tao Ling bertanya dengan gembira.

"Boleh dibilang aku sudah sampai di depan pintu neraka, tetapi ditarik kembali,"

Sahut Lie Cun Ju.

Tao Ling masih ingin berbicara dengan Lie Cun Ju, tetapi dicegah oleh Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling menolehkan kepalanya.

Tampak tangan orang tua itu menggenggam sebatang jarum sepanjang tiga inci, sinarnya berkilauan.

"Rentangkan telapak tanganmu, aku akan mengeluarkan cairan racun di dalamnya!"

Tao Ling mengulurkan telapak tangannya.

Hatinya terkejut tidak kepalang.

Tampak telapak tangannya penuh dengan bercak-bercak merah berbentuk bunga bwe.

Begitu indahnya sehingga tampak seperti lukisan.

Tetapi kalau dipandang lama-lama agak mengerikan seakan mengandung sesuatu kegaiban yang sesat.

Baik telapak tangan kiri maupun kanan, kedua-duanya dipenuhi bercak yang sama.

Tao Ling sudah melihat kehebatan Leng Coa Sian Sing menyembuhkan Lie Cun Ju.

Hatinya semakin yakin dengan keahlian orang tua itu.

Kedua telapak tangannya diulurkan ke depan dan diletakkan di atas meja.

Leng Coa Sian Sing segera menusuk bagian tengah gambar bunga Tho yang ada di telapak tangan gadis itu dengan jarumnya.

Kemudian dengan menggunakan jari tangannya dia menekan pinggiran bercak bunga Tho itu.

Jarum emas yang digunakan Leng Coa Sian Sing cukup besar.

Tao Ling yakin, asal sekitar tempat yang ditusuk tadi ditekan kuat-kuat, racun ular tadi pasti akan menyembur keluar.

Tetapi setelah menekan heberapa kali, tampak wajah Leng Coa Sian Sing menunjukkan perubahan.

Warna bercak bunga Tho di telapak tangan Tao Ling masih berwarna merah segar, tidak memudar sedikit pun.

"Aneh sekali!"

Dia mencabut jarum tadi.

Dan ditusukkannya kembali ke bercak bunga Tho yang kedua.

Di setiap telapak tangan Tao Ling memang ada bercak lima kuntum bunga Tho.

Tetapi sampai semuanya ditusuk dan ditekan oleh Leng Coa Sian Sing, bercak itu tetap saja tidak ada setitik pun racun ular yang keluar.

"Locianpwe, apakah racunnya tidak dapat dikeluarkan?"

Tanya Tao Ling penasaran. Leng Coa Sian Sing tidak langsung menjawab. Dia mengulurkan tangannya untuk meraba denyut nadi di pergelangan tangan Tao Ling. Kemudian dia menyimpan kembali jarum emasnya.

"Racun-nya tidak dapat dikeluarkan lagi!"

Ucapnya.

"Tapi, a ... ku tidak apa-apa?"

Ucap Tao Ling tertegun.

"Kau tidak akan apa-apa!"

Sahut Leng Coa Sian Sing. Tadinya Tao Ling mengira Leng Coa Sian Sing hanya membesar-besarkan hatinya.

"Locianpwe, katakan terus terang!"

"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya!"

Berkata sampai di sini, dia menjadi bimbang sesaat. Kemudian dia baru melanjutkan kembali kata-katanya.

"Lain kali apabila kau bergebrak dengan seseorang, harap jangan menggunakan kekerasan. Terlebih-lebih terhadap saudara kandungmu atau saudara seperguruanmu sendiri, jangan sekali-kali mengadu pukulan!"

"Locianpwe, apa maksud kata-katamu barusan?"

Tanya Tao Ling. Hatinya bingung setelah mendengar nasehat dari Leng Coa Sian Sing.

"Pokoknya kau turuti saja perkataanku tadi. Tidak usah banyak tanya!"

Ucap Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling tahu, percuma dia bertanya terus, karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

Enam hari telah berlalu.

Luka dalam yang diderita Lie Cun Ju sudah mulai sembuh.

Dia sudah bisa bergerak dan berjalan.

Pada hari ketujuh, Tao Ling sedang berbincangbincang dengan pemuda itu di ruangan dalam.

Tiba-tiba mereka mendengar suara seorang gadis.

"Leng Coa Sian Sing, aku datang untuk memenuhi perjanjian!"

Begitu mendengar suara itu, Tao Ling segera mengenalinya bahwa itu suara si gadis berpakaian putih.

Hatinya terkejut sekali.

Dari celah pintu dia mengintip keluar.

Dia melihat gadis itu sudah masuk ke dalam pondok.

"Ternyata kedatangan I kouwnio tepat waktu sekali!"

Sambut Leng Coa Sian Sing. Lie Cun Ju yang duduk di samping Tao Ling segera melihat perubahan hebat pada wajah gadis itu.

"Tao kouwnio, siapa yang datang?"

Tanyanya lirih. Dengan tergesa-gesa dan nada berbisik Tao Ling segera menceritakan pengalamannya ketika ditolong gadis itu. Tiba-tiba wajah Lie Cun Ju juga jadi pucat pasi.

"Dia bermarga I?"

Tanya Lie Cun Ju. Tao Ling tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.

"Bagaimana dengan luka kedua orang itu?"

Tanya gadis itu lagi.

"Sudah sembuh. I kouwnio adalah orang yang aku percayai. Apakah benda yang sudah dijanjikan itu dibawa? Kalau tidak, aku tidak akan menyerahkan kedua orang itu kepada kouwnio!"

Sahut Leng Coa Sian Sing.

Mendengar sampai di sini, hati Tao Ling semakin terkesiap.

Tidak heran Leng Coa Sian Sing mengobati mereka dengan hati-hati, ternyata dia menginginkan suatu benda dari Si Gadis Cantik itu.

Benar-benar hati manusia sulit diraba!

Tao Ling segera menoleh kepada Lie Cun Ju.

Pemuda itu memberikan isyarat dengan tangannya sambil berkata.

"Tao kouwnio, kita tidak boleh terjatuh ke tangan orang she I itu!"

Dalam keadaan gugup Tao Ling mengintip lagi dari celah pintu.

Tampak gadis itu mengeluarkan sebuah lencana berbentuk persegi dan panjangnya satu cun.

Warnanya keperakan berkilauan.

Tidak terlihat jelas tulisan apa yang tertera di atasnya.

"Ayah bilang, penggunaan tiga kali terlalu banyak. Kau hanya boleh menggunakannya sebanyak dua kali, kemudian langsung dikembalikan!"

Kata gadis itu.

Ketika melihat lencana perak itu, hati Tao Ling agak tergerak.

Dia rasanya pernah mendengar orang mengatakan sesuatu tentang lencana semacam itu.

Tetapi karena hatinya sedang panik, untuk sesaat dia tidak bisa mengingatnya kembali.

Tampaknya masih ada sedikit pembicaraan yang akan berlangsung di antara mereka.

Mengapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri?

Tao Ling dan Lie Cun Ju bergegas meloncat keluar lewat jendela.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju dan berlari ke depan.

Baru berlari sejauh dua depa, dia sudah mendengar suara gadis itu bertanya.

"Leng Coa Sian Sing, dimana kedua orang itu?"

"Eh? Tadi mereka masih ada di sini. Mungkinkah mereka sudah melarikan diri?"

Jawah Leng Coa Sian Sing dengan nada terkejut.

Pada saat ini Tao Ling baru menyadari bahwa tujuh hari yang lalu, Leng Coa Sian Sing telah menghianati mereka bahkan menukar jiwa mereka dengan sesuatu benda!

Karena itu, setelah si Gadis yang cantik itu pergi, dia memperlihatkan sinar mata dan senyuman yang aneh.

Tanpa berpikir banyak lagi, Tao Ling segera menyeret tangan Lie Cun Ju dan bersembunyi di balik sebatang pohon Liu yang besar.

"I kouwnio jangan gusar, asal mereka belum terlalu jauh, dengan seruling pemanggil ular ini, kau tidak takut mereka bisa terbang kemana!"

Kemudian Tao Ling dan Lie Cun Ju juga mendengar suara seruling yang memekakan telinga.

Suaranya melengking dan semakin lama nadanya semakin tinggi.

Baru saja suara seruling itu berbunyi, langsung terdengar suara desiran di sana sini.

Ketika melihat ke sekitarnya, kedua orang itu langsung terkejut setengah mati.

Ternyata di sekitar mereka bermunculan ular-ular yang entah jumlahnya berapa banyak dan berbagai jenis.

Mereka bergerak keluar karena mendengar irama seruling yang ditiup Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling dan Lie Cun Ju sadar.

Leng Coa Sian Sing tidak tahu berapa lama mereka melarikan diri, karena itu dia menggunakan seruling untuk memerintahkan ularularnya agar mengejar.

Mereka khawatir apabila nada seruling itu bertambah tinggi, mereka pasti sulit meloloskan diri dari tempat itu.

Dalam keadaan panik, dengan tanpa sadar mereka menolehkan kepalanya.

Tampak di tepi sungai berhenti sebuah kereta berwarna putih keperakan, sinarnya berkilauan.

Keempat ekor kuda yang menarik kereta itu sedang meringkik-ringkik dengan keras.

Hati Tao Ling tergerak.

Tanpa ragu sedikit pun dia langsung menyeret tangan Lie Cun Ju.

Mereka berlari menuju kereta tersebut.

Meskipun keadaan Lie Cun Ju sudah pulih, tetapi luka yang dideritanya tempo hari terlalu parah, apalagi dia tidak mendapatkan buah berkhasiat tinggi Te hiat ko seperti Tao Ling.

Saat ini dirinya seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat, sebagaimana biasanya orang sehabis menderita sakit parah.

Sesampainya di samping kereta, nafasnya tersengal-sengal.

Saat itu Tao Ling juga tidak memperdulikan lagi batas antara laki-laki dan perempuan.

Dia langsung membopong tubuh pemuda itu naik ke atas kereta, dia sendiri juga loncat ke dalam.

Suara irama seruling yang ditiup Leng Coa Sian Sing semakin melengking.

Terasa angin berdesir-desir, ratusan ular berbisa menyembulkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya serta melata ke arah kereta.

Ada beberapa ekor yang geraknya lebih cepat.

Binatang melata itu sudah sampai di sisi kaki kuda, sehingga kuda itu ketakutan dan meringkik terus.

Tao Ling segera mengeluarkan beberapa batang senjata rahasia dan dilontarkannya ke arah ular-ular itu.

Tangannya yang sebelah sekaligus menggerakkan tali kendali.

Keempat ekor kuda itu pun melesat secepat kilat meninggalkan tepi sungai itu.

Saking cepatnya kereta itu, telinga Tao Ling dan Lie Cun Ju sampai mendengar suara angin menderu-deru dari kiri kanan kereta.

Mereka bagai melayang di atas angkasa dengan mengendarai awan.

Dalam hati Tao Ling kagum sekali dengan kuda-kuda pilihan itu.

Ketika dia menolehkan kepalanya, Leng Coa ki hanya tinggal tampak setitik hijau yang kecil saja.

Dalam waktu yang sangat singkat, mereka sudah menempuh jarak tujuh-delapan li.

Masih belum terlihat ada orang yang mengejar.

Tao Ling baru bisa menghembuskan nafas lega.

"Lie toako, kali ini kembali kita berhasil meloloskan diri dari kematian!"

Ucap Tao Ling samhil menolehkan kepalanya ke arah Lie Cun Ju.

"Takutnya belum tentu!"

Sahut pemuda itu. Di samping kereta Tao Ling menemukan pecut perak yang digunakan gadis cantik itu. Dia melontarkannya dua kali. Kereta kuda itu meluncur semakin cepat.

"Meskipun gadis she I itu mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, tetapi belum bisa dia mengejar kereta kuda ini,"

Kata Tao Ling.

"Tao kouwnio, apakah kau tidak pernah mendengar orang mengungkit soal Gin leng hiat ciang (Lencana perak telapak darah)?"

Tao Ling langsung tertegun. Hampir saja dia terjatuh dari kereta kuda.

"Betul. Tadi aku justru melihat gadis itu menyerahkan sebuah lencana berwarna keperakan kepada Leng Coa sian sing!"

Serunya "Aih! Apabila benar Gin leng hiat ciang I Ki Hu yang mencari kita, rasanya kita tidak mungkin bisa meloloskan diri!"

Mendengar Lie Cun Ju mengungkit soal Gin leng hiat ciang, hati Tao Ling semakin ketakutan.

Tentu bukan tidak ada sebab musababnya, karena empat huruf itu, boleh dibilang tidak ada seorang pun di dunia kang ouw yang tidak mengetahuinya.

Tetapi orang yang benar-benar berani menyebutnya, justru sedikit sekali.

Bukan karena apaapa, tapi karena takut ditimpa bencana.

Rupanya Gin leng hiat ciang I Ki Hu sudah terkenal sejak belasan tahun yang lalu.

Tetapi saat itu, dia belum berhasil melatih ilmu telapak darah.

Bahkan ilmu warisan Mo Kau pun baru dilatihnya sampai tingkat keenam.

Tadinya I Ki Hu seorang sastrawan gagal.

Malah kalau tidak salah dia tidak mengerti ilmu silat sama sekali.

Namun ketika sedang berpesiar melihat-lihat keindahan pemandangan, seorang gadis yang ternyata putri tunggal Cousu Mo Kau (Agama sesat) saat itu secara kebetulan melihatnya dan jatuh cinta kepadanya.

Gadis itu bukan main jeleknya.

Sedangkan I Ki Hu seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Tentu saja dia tidak akan tertarik kepada gadis yang sedemikian buruk rupanya.

Tetapi sebagai seorang rakyat jelata, mana mungkin dia bisa melawan kekuatan Mo Kau yang namanya sudah tersohor sejak ratusan tahun yang lalu?

Dalam keadaan terpaksa, dia pun menikah dengan putri Mo Kau itu.

Tapi pada dasarnya I Ki Hu adalah manusia yang cerdik.

Sikapnya pun hati-hati.

Setelah menikah dengan gadis Mo Kau itu, tidak sekalipun dia menunjukkan sikap kurang senangnya.

Dengan keras dia melatih ilmu warisan Mo Kau yang paling hebat.

Gadis itu mengira suaminya mencintainya dengan setulus hati.

Para jago Mo Kau diperintahkan mengelilingi seluruh dunia untuk mendapatkan berbagai dedaunan atau rerumputan yang dapat menambah kekuatan.

Dia mencekoki suaminya dengan berbagai obat-obatan berkhasiat tinggi.

Dalam waktu sepuluh tahun, ilmu Mo Kau I Ki Hu sudah mencapai tingkat keenam.

Berarti lebih tinggi dari Cousu Mo Kau dan putrinya sendiri.

Saat itu, seluruh bu lim masih belum tahu bahwa di dalam Mo Kau telah muncul seorang jago berilmu tinggi.

Sampai I Ki Hu memalingkan wajahnya dari putri iblis itu.

Dia memperhitungkan kebencian yang terpendam di dalam hatinya selama bertahun-tahun.

Dia mengungkit masalah ketika dia dipaksa menikah dengan putri Mo Kau itu.

Bahkan kata-katanya yang manis selama sepuluh tahun ini ternyata palsu semuanya.

Akhirnya terjadi pertarungan antara I Ki Hu dengan cousu Mo Kau dan putrinya.

Perlu diketahui bahwa ilmu Mo Kau mempunyai satu keistimewaan.

Setiap kali tingkatannya naik, maka tenaga dalam orang itu pun bertambah satu kali lipat.

Pada saat itu, ilmu yang dilatih cousu Mo Kau baru mencapai tingkat kelima.

Sedangkan putrinya malah baru mencapai tingkat keempat.

Dalam tiga puluh jurus saja, cousu Mo Kau sudah berhasil dibunuh oleh I Ki Hu.

Sedangkan putrinya terluka parah.

Enam Tancu Mo Kau yang terdiri dari enam orang jago pengurus cabang pusat, timur, utara, selatan, barat, serta pendopo langit (bagian hukum) ikut mengeroyok I Ki Hu.

Namun mana mungkin kepandaian mereka dapat menandingi menantu cousu Mo Kau itu?

Malah malangnya, mereka berenam mati di tangan I Ki Hu.

Ketika dia hendak turun tangan membunuh putri cousu Mo Kau, perempuan itu berkata.

"Perasaanku terhadapmu keluar dari hati yang setulusnya. Mungkin dulu aku tidak seharusnya memaksamu menikah denganku. Setelah kita menikah, aku selalu baik terhadapmu. Akan tetapi kau menghina aku buruk rupa. Sekarang kau malah memalingkan kepala, aku memang kalah denganmu, tetapi sekarang aku sedang mengandung anakmu. Bagaimana kalau kau beri aku kesempatan untuk melahirkan dulu anak ini, kemudian baru bunuh diri?"

I Ki Hu sudah menelan segala penderitaan dan menahan kebenciannya selama sepuluh tahun.

Hatinya juga keji sekali.

Dia tidak mempunyai sedikit perasaan pun terhadap putri Mo Kau itu.

Ternyata dia tidak mengabulkan permintaan putri ketua Mo Kau itu dan bersiap turun tangan membunuhnya.

Saat itu putri ketua Mo Kau sedang hamil tujuh bulan.

Begitu melihat wajah I Ki Hu menyiratkan hawa pembunuhan, dia segera menghimpun hawa murninya dan mendesak janinnya keluar dari rahim.

Kemudian dia sendiri memotong nadi tangannya dan mati seketika.

I Ki Hu melihat bayi yang terlahir itu seorang bayi perempuan.

Wajahnya justru bertolak belakang dengan ibunya.

Walaupun dipaksa lahir dalam keadaan prematur, tetapi suara tangisannya nyaring dan lantang.

Pipinya berona kemerahan.

Sungguh seorang bayi yang cantik.

Tadinya I Ki Hu sudah mengangkat tangannya hendak menghantam kepala bayi itu.

Tetapi melihat bayi itu begitu menarik dan lucu, timbul juga perasaan sayangnya sebagai seorang ayah.

Dia segera memutuskan tali pusat bayi itu kemudian melepaskan mantelnya serta digunakan untuk membungkus bayi yang masih merah itu.

Para pembaca, cerita yang dikisahkan di atas tidak ada hubungannya lagi dengan cerita ini.

Tetapi bayi yang dilahirkan secara paksa itu justru si gadis cantik berpakaian putih yang kemudian diberi nama I Giok Hong!

Dalam waktu dua kentungan, I Ki Hu membunuh ketua Mo Kau, putri tunggalnya serta keenam kepala cabang partai itu.

Sisa murid Mo Kau yang masih cecere mana mungkin melakukan perlawanan terhadap I Ki Hu.

Dengan panik mereka berusaha menyelamatkan diri masing-masing.

Selesai memhunuh tokoh-tokoh penting partai itu, I Ki Hu pun melangkah keluar dari markas pusat Mo Kau.

Dia menimbun ratusan batang kayu bakar di sekeliling gedung itu kemudian disiramnva dengan minyak tanah.

Kemudian api pun menvala dengan berkobar-kobar.

Dalam waktu satu hari satu malam gedung bekas markas Mo Kau yang besar itu punah dilalap si Jago merah.

Dengan demikian, partai Mo Kau yang pernah mengejutkan dunia bu lim selama tiga ratus tahun itu pun hilang dari permukaan bumi.

Tidak sampai tiga bulan, peristiwa ini sudah tersiar ke seluruh dunia kang ouw.

Sekaligus nama I Ki Hu juga terangkat ke atas.

Tidak sedikit tokoh-tokoh yang mempunyai hubungan baik dengan pihak Mo Kau mencarinya untuk membalas dendam.

Namun satu persatu berhasil dikalahkan oleh I Ki Hu.

Bahkan Tocu dari Hek cui to (Pulau Air hitam) di wilayah Pak Hai yakni Hek kiam Cui Hun 'Pedang hitam pengejar sukma' Ci Cin Hu yang tergolong jago kelas satu dari golongan hitam juga turun tangan sendiri.

Akhirnya I Ki Hu terluka karena tangan tokoh yang satu ini.

Tapi sayangnya dia tidak membasmi I Ki Hu dan membiarkannya pergi begitu saja.

Hal ini justru menimbulkan bencana bagi Ci Cin Hu.

Dua tahun kemudian, ilmu Mo Kau yang dilatih I Ki Hu sudah mencapai tingkat ketujuh.

Bahkan dia berhasil melatih ilmu telapak darah yang terkenal paling sulit dipelajari dalam aliran Mo Kau.

I Ki Hu langsung menyeberang ke laut utara dan mencari Hek kiam cui hun Ci Cin Hu untuk membalas kekalahannya tempo hari.

Seluruh anggota pulau Air hitam baik yang masih ada hubungan darah dengan Ci Cin Hu maupun ketiga muridnya, semua mati di tangan I Ki Hu.

Ci Cin Hu sendiri mati di bawah telapak darah lawannya ini.

Cara turun tangannya sungguh telengas.

Seluruh bu lim sampai meleletkan lidah mendengar berita ini.

Kemudian dia mendengar selentingan di dunia kang ouw bahwa Ci Cin Hu masih mempunyai seorang putra yang usianya belum ada satu tahun.

Kebetulan di saat terjadi pembantaian, bayi lakilaki itu tidak ada di tempat.

Hal ini menimbulkan keresahan bagi I Ki Hu.

Dia mengelilingi dunia untuk menemukan bayi laki-laki itu.Maksudnya tentu ingin membasmi rumput sampai ke akar-akarnya.

Di mana pun dia singgah selalu ada tokoh berilmu tinggi di dunia bu lim yang terbunuh di bawah telapak darahnya.

Karena itu, namanya semakin terkenal.

Lencana perak yang dikeluarkannya mendapat julukan 'bertemu dengan lencana laksana bertemu dengan orangnya sendiri'.

Walaupun seorang bocah cilik yang membawa lencana itu, sedangkan Anda kebetulan seorang tokoh kelas satu di dunia bu lim, tapi Anda pasti tidak berani memandang rendah bocah itu.

Dengan demikian I Ki Hu malang melintang di dunia bu lim selama tiga-empat tahun.

Entah dia berhasil menemukan putra Ci Cin Hu atau tidak.

Kemudian dia jarang lagi berkecimpung di dunia persilatan.

Orang-orang bu lim hanya tahu dia menetap di wilayah Tibet.

Walaupun orangnya sendiri sudah jarang muncul, tetapi mengungkit nama Gin leng hiat ciangnya, masih banyak orang yang merasa gentar.

Selama beberapa tahun belakangan ini, ilmu Mo Kau sin kangnya malah sudah mencapai tingkat sembilan.

Coba bayangkan saja, dengan kepandaian Tao Ling dan Lie Cun Ju.

Mungkinkah mereka berani melawan I Ki Hu?

Jangan kan mereka berdua, bahkan pasangan suami istri Pat Kua kim gin kiam, Lie Yuan dan pasangan suami istri Pat Sian kiam Tao Cu Hun sendiri juga tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap iblis yang satu ini!

Sementara itu, Tao Ling berusaha menenangkan hatinya.

Dia hanya berharap lebih cepat meloloskan diri.

Berkali-kali dia mengayunkan pecut di tangannya.

Keempat ekor kuda pilihan itu pun semakin kalap larinya.

Dalam waktu dua kentungan, mereka sudah menempuh perjalanan sejauh tujuh puluhan li.

Matahari sudah mulai turun ke ufuk barat.

Baru saja perasaan Tao Ling agak senang, tetapi ketika melihat ke arah matahari di depannya dia merasa terkejut bukan kepalang.

"Lie toako, celaka!"

Teriaknya panik.

"Ada apa?"

Tanya Lie Cun Ju ikut gugup.

"Kau lihat matahari itu? Kita justru melaju menuju barat. Bukankah kita semakin mendekati tempat tinggal si raja iblis I Ki Hu?"

Jawab Tao Ling sambil menunjuk ke depan.

"Cepat belokkan kudanya! Cepat!"

Ucap Lie Cun Ju dengan terkejut.

Dengan sekuat tenaga Tao Ling menarik tali laso pengendali keempat ekor kuda itu.

Dia bermaksud memutar arah hewan-hewan itu.

Tetapi kuda-kuda itu justru tidak sudi mendengarkan perintahnya.

Tao Ling menambah tenaganya dan menarik sekali lagi tali kendali itu erat-erat.

Kuda-kuda itu hampir tidak sanggup melawan tenaga Tao Ling.

Terdengar ringkikan yang keras, kuda mulai membelok arah.

Namun tiba-tiba trakkk!

tubuh Tao Ling hampir terpental ke belakang karena tali kendali yang digenggamnya putus.

Begitu tali kendali itu putus, kuda-kuda itu kembali meluruskan derap kakinya dan melesat menuju arah semula.

Kalau Tao Ling hanya seorang diri, mungkin dia akan nekat loncat dari dalam kereta.

Tetapi Lie Cun Ju baru sembuh dari luka parah, tentu dia tidak sanggup terbanting keras-keras di atas tanah.

Bahkan kemungkinan luka dalamnya akan kambuh kembali.

Seandainya Tao Ling bermaksud meninggalkan Lie Cun Ju untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tentu dia tidak perlu menunggu sampai hari itu.

Ketika di atas perahu menghadapi ketiga iblis keluarga Lung, tentunya dengan mudah dia dapat meloloskan diri dari maut.

Juga tidak perlu menanggung luka parah ketika berada di gedung 'Ling Wei piau kiok'.

Meskipun telah timbul permusuhan di antara keluarga Lie dan keluarga Tao, tetapi hubungan antara Tao Ling dengan Lie Cun Ju justru baik sekali.

Bahkan mereka tidak mempersoalkan permusuhan di antara keluarga mereka.

Ketika keempat ekor kuda itu berlari semakin kencang, bukan saja Tao Ling tidak meloncat keluar meninggalkan Le Cun Ju, dia bahkan memeluk tubuh pemuda itu erat-erat seakan takut dia terjatuh keluar kereta.

Beberapa kentungan kembali berlalu, tampak keempat ekor kuda itu berlari masuk ke dalam sebuah lembah.

Di permukaan lembah rasanya ada dua orang yang menjura ketika melihat kereta kuda itu lewat.

Tampangnya seperti sepasang elang dari Hin Tiong.

Tetapi karena laju kereta itu terlalu cepat, Tao Ling tidak sempat melihat mereka dengan jelas.

Kuda itu terus melesat ke depan, di bagian samping dan belakang kereta timbul kepulan debu yang tebal.

Tetapi setelah masuk ke bagian dalam lembah itu keempat kuda itu pun melambat.

Dari bagian depan terasa angin berhembus sepoi-sepoi sehingga menimbulkan perasaan sejuk dan nyaman, membuat semangat seseorang tergugah.

Tao Ling dan Lie Cun Ju mengedarkan pandangan matanya.

Tampak sekeliling lembah itu penuh dengan bukit-bukit yang tinggi dan rendah.

Bagian tengah lembah itu terdiri dari padang rumput yang luas.

Dari tembok-tembok bukit menjuntai tanaman merambat yang berbunga putih sebersih salju dan menampakkan pemandangan yang indah.

Di sebelah bawah bukit bagian utara, terdapat sebuah batu alam berwarna putih.

Begitu indahnya pemandangan di tempat itu seakan taman firdaus.

Di sisi kiri kanan batu putih itu terdapat dua buah kolam berbentuk bundar.

Airnya beriak-riak dan jernih sekali!

Tao Ling dan Lie Cun Ju dibawa kereta kuda sampai ke tempat itu.

Menghadapi pemandangan yang demikian indahnya, hati mereka tidak gembira sedikit pun.

Bahkan semakin ketakutan.

Karena mereka dapat menduga, kuda-kuda pilihan itu mengenal jalan dengan baik.

Dan mereka dibawa menuju tempat tinggal Gin leng hiat dang I Ki Hu!.

Kedua orang itu tertegun beberapa saat.

Baru saja mereka bermaksud meloncat turun dari kereta untuk menentukan langkah selanjutnya, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan melesat dari samping kanan.

"Siocia sudah pulang? Ayahmu memang sedang menantikan kedatanganmu!"

Seru orang itu.

Dalam sekejap mata orang itu sudah sampai di sisi kereta.

Ketika bertemu pandang dengan Tao Ling dan Lie Cun Ju, orang itu langsung tertegun.

Tao Ling mengenali bahwa orang yang datang itu adalah kakek yang bersama si gadis cantik dalam kereta tempo hari.

"Aih! Rupanya kalian. Mengapa kalian datang kemari? Mengantarkan kematian?"

Kakek itu mengeluh sambil menarik napas panjang.

Tao Ling sungguh tidak menduga, sepanjang perjalanan mereka menemui mara bahaya.

Bahkan Leng Coa sian sing menyembuhkan mereka dengan tujuan mendapat sesuatu dari I Giok Hong.

Dan di kediaman Gin leng hiat ciang ini, ada orang yang menaruh perhatian kepada mereka!

"Loya, mohon ulurkan budi, tolonglah kami!"

Kata Tao Ling cepat. Kakek itu menolehkan kepalanya kemudian menggeleng dua kali.

"Aku tidak sanggup menolong kalian!"

Sambil berkata demikian, kakek itu berulang kali mencibirkan bibirnya ke arah mulut lembah.

Tao Ling tahu kakek ini berniat menolong mereka, cepat-cepat dia memapah Lie Cun Ju dan membantunya turun dari kereta.

"Loya, budi pertolonganmu tidak akan kami lupakan. Mohon tanya siapa panggilan Loya?"

Tanya Tao Ling dengan suara berbisik.

Kakek itu tidak menjawab.

Malah dia melangkah meninggalkan mereka.

Tao Ling tahu kakek itu takut mengejutkan si raja iblis I Ki Hu.

Cepat-cepat dia mengundurkan diri ke mulut lembah.

Belum lagi dia menggerakkan kakinya untuk berlari, dari dalam lembah terdengar seseorang bertanya.

"Siapa yang mengunjungi lembahku ini?"

Tao Ling dan Lie Cun Ju tertegun.

Ketika memalingkan kepalanya, ternyata di samping kereta sudah berdiri seseorang.

Tadi mereka melangkah mundur menuju mulut lembah.

Berarti pandangan mata mereka menghadap ke dalam.

Saat itu mereka belum melihat siapa-siapa.

Sekarang begitu mereka membalikkan tubuhnya, orang itu sudah berdiri di samping kereta.

Benar-benar tidak bisa dibayangkan bagaimana dia bisa sampai ke tempat itu!

"Hamba juga tidak tahu siapa mereka.

Hamba hanya melihat mereka datang dengan kereta siocia.

Begitu kereta berhenti, mereka langsung turun dan berjalan keluar.

Mungkin teman-teman siocia, hamba tidak berani bertanya,"

Jawab kakek itu.

Orang itu mengeluarkan suara seruan lalu memandang ke arah Tao Ling dan Lie Cun Ju.

Tao Ling mendongakkan wajahnya.

Tampak usia orang itu sekitar lima puluhan.

Dia mengenakan pakaian seperti sastrawan berwarna hijau.

Lengan dan bagian bawah pakaiannya melambai-lambai karena hembusan angin.

Penampilannya berwibawa.

Di bawah dagunya tumbuh jenggot yang teratur rapi.

Matanya berkilauan, alisnya berbentuk golok.

Wajahnya putih bersih.

Walaupun sudah setengah baya, ketampanannya masih terlihat jelas.

Sepasang tangannya disilangkan di bagian belakang.

Sinar matanya seperti cahaya kilat dan saat itu sedang menatap Tao Ling dan Lie Cun Ju dengan tajam.

Hati Lie Cun Ju tercekat setengah mati.

Dia tahu laki-laki setengah baya ini pasti Gin leng hiat ciang I Ki Hu, si raja iblis yang paling ditakuti di seluruh dunia bu lim.

"Cepat pergi!"

Ucap Tao Ling.

Lambat sedikit tamatlah riwayat kita.

Tao Ling sendiri sudah dapat menduga siapa orang itu.

Maka dia cepat menarik tangan Lie Cun Ju.

Lie Cun Ju membalikkan tubuhnya dengan tergesa-gesa, tetapi baru saja kaki mereka hendak melangkah, di belakang mereka sudah terdengar suara orang tadi.

"Kalian berdua, harap tunggu sebentar!"

Ujarnya.

Suaranya lembut sekali, tidak memaksa.

Tetapi suara itu justru keluar dari mulut Gin leng hiat ciang I Ki Hu, siapa yang berani membantah?

Kedua orang itu segera membalikkan tubuhnya.

Namun lagi-lagi mereka tertegun, ternyata baru saja kata-katanya selesai, orangnya sudah berdiri di hadapan mereka.

Padahal jarak mereka dengan I Ki Hu tadinya kira-kira lima-enam depa, benar-benar membuat orang bingung.

Bagaimana cara orang itu melangkah sehingga bisa sampai secepat itu.

Tao Ling khawatir Lie Cun Ju mengatakan hal yang membuat orang itu marah.

Cepat dia menjura dalam-dalam.

"Entah Locianpwe ingin memberikan petunjuk apa?"tanyanya sopan. I Ki Hu memperhatikan Lie Cun Ju beberapa saat.

"Siapa namamu?"

Tanyanya tiba-tiba. Mendengar nada suaranya yang lembut, Lie Cun Ju juga ikut menjura memberi hormat.

"Boanpwe Lie Cun Ju, ayah berjuluk Pat Kua kiam, Lie Yuan."

Sepasang alis I Ki Hu menjungkit ke atas. Sekali lagi dia memperhatikan Lie Cun Ju dengan seksama. Tiba-tiba dia menanyakan sebuah pertanyaan yang benar-benar tidak manusiawi.

"Apakah Pat Kua kiam Lie Yuan itu ayah kandungmu?"

Lie Cun Ju merasa mendongkol juga geli mendengar pertanyaan ini.

Untung saja sikapnya masih kekanak-kanakan, dia hanya menganggap pertanyaan I Ki Hu itu lucu sekali.

Apabila orang lain yang mendapat pertanyaan seperti itu, pasti marah besar.

"Sudah tentu Lie Yuan ayah kandung boanpwe!"

I Ki Hu malah tertawa dingin dua kali.

"Takutnya justru belum tentu!"

Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya.

Tidak terlihat bagaimana tubuhnya bergerak.

Padahal tangannya tidak bisa menjangkau tubuh Lie Cun Ju, tetapi entah mengapa tahu-tahu lengan baju pemuda itu sudah tercengkeram oleh jari tangannya.

Terdengar suara bret!

Ternyata lengan baju luar dalam pemuda itu ditariknya kuat-kuat sehingga terkoyak semua.

Lie Cun Ju terkejut setengah mati.

Tetapi karena dia baru sembuh dari luka parah, mana berani dia melawan I Ki Hu?

Setelah lengan pakaiannya terkoyak, dia baru menyurut mundur satu langkah.

Tao Ling yang berdiri di samping dapat merasakan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Cepat-cepat dia maju dua langkah dan menghadang di depan Lie Cun Ju.

"Locianpwe, meskipun kami berdua bersalah masuk ke dalam lembahmu, tapi ..."

Dalam keadaan panik, Tao Ling mengucapkan kata-kata itu.

Tapi belum sempat diselesaikannya, lengan I Ki Hu sudah mengibas sedikit.

Tao Ling merasa ada serangkum tenaga yang lembut namun kuat sekali menerpa ke arahnya.

Tubuhnya menjadi limbung dan terpental sejauh beberapa langkah.

Tangan I Ki Hu masih mencengkeram lengan Lie Cun Ju.

Matanya yang menyorotkan sinar tajam memperhatikan seluruh lengan Lie Cun Ju dengan seksama.

Hati Tao Ling takut dan bingung.

Dia tidak mengerti apa yang dilakukan raja iblis itu.

Tetapi dia juga sadar bahwa dirinya bukan tandingan I Ki Hu.

Karena itu terpaksa dia pasrah dengan nasib mereka.

I Ki Hu memperhatikan beberapa saat, kemudian dia melepaskan cengkeraman tangannya.

"Dimana pasangan suami istri Lie Yuan sekarang?"

Tanyanya kembali.

Lie Cun Ju baru sempat menghembuskan nafas lega.

Tetapi benaknya langsung bergerak.

Iblis ini tiba-tiba menanyakan tentang orang tuanya.

Tampaknya niat orang ini tidak baik.

Karena itu dia menjawab.

"Kami berpisah di Si Cuan. Sudah lebih dari sebulan tidak pernah bertemu. Entah dimana mereka sekarang?"

I Ki Hu mendengus dingin kemudian membalikkan tubuhnya.

Tao Ling melihat orang itu menyudahi persoalan begitu saja, hatinya hampir melonjak kegirangan.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara seruan yang merdu dari mulut lembah.

"Huh! Kalian berdua melarikan keretaku, tidak tahunya malah datang kesini."

Hati Tao Ling seperti diganduli beban berat secara tiba-tiba.

Entah kesialan apa yang sedang merasuki dirinya sehingga begitu banyaknya masalah yang tidak habishabisnya, pikirnya dalam hati.

Tampaknya sejak awal hingga akhir, mereka tetap tidak dapat meloloskan diri dari cengkeraman orang-orang itu.

Mereka berdua tidak mempunyai permusuhan apa pun dengan tiga iblis dari keluarga Lung.

Tapi mereka dikejar-kejar bukan tanpa alasan.

Karena kedatangan mereka ke wilayah barat itu tanpa disengaja kepergok oleh dia dan Lie Cun Ju.

Tetapi antara dia dengan gadis itu justru tidak ada kaitan apa pun.

Mengapa dia terus mengejar mereka tanpa berhenti sebelum berhasil mendapatkannya?

Tao Ling benar-benar tidak habis pikir.

Diam-diam dia berpikir, untung tak dapat dihindar, malang tak dapat ditolak.

la pun membalikkan tubuhnya dan berkata dengan suara lantang.

"I kouwnio, aku rasa kita tidak pernah saling mengenal, tetapi mengapa berkali-kali mendesak .kami dan tidak bersedia melepaskan kami?"

Gadis cantik itu melesat datang dari luar lembah. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.

"Tao kouwnio, kapan aku pernah mendesakmu, jangan sembarangan berbicara lho!"

"Kalau kau memang tidak berniat mendesak kami, harap biarkan kami meninggalkan tempat ini, kami tentu akan berterima kasih sekali kepadamu!"

Ucap Tao Ling.

Kalian di tengah perjalanan diserang oleh tiga iblis dari keluarga Lung.

Apabila bukan aku yang memberikan pertolongan, tentu saat itu kalian sudah menjadi mayat.

Kebetulan pula aku membawa kalian ke wilayah barat ini sehingga kau bisa bertemu dengan Leng Coa sian sing.

Masa kau begitu mudah melupakan budi seseorang?"

Mendengar kata-katanya yang tajam, untuk sesaat Tao Ling terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

"Giok Hong, kau sudah meninggalkan lembah selama beberapa bulan. Bagaimana urusannya sudah beres?"

Tanya I Ki Hu Gadis yang cantik itu memang putri tunggal I Ki Hu, I Giok Hong.

"Hampir beres. Kuncinya ada pada diri Tao kouwnio ini."

Tao Ling semakin bingung mendengar ucapannya.

Entah 'urusan' apa yang mereka maksudkan.

Dan mengapa jarak yang beribu-ribu li bisa mengaitkan dirinya?

Terdengar mulut I Ki Hu mengeluarkan seruan terkejut.

"Ah! Tao kouwnio, benda itu tidak ada artinya bagimu, lebih baik keluarkan saja!"

Seru I Ki Hu.

"Apa yang locianpwe dan I kouwnio katakan. aku sama sekali tidak mengerti!"

Ucap Tao Ling dengan rasa bingung.

"Tao kouwnio, jangan pura-pura bodoh. Tempo hari aku mengira kau adalah Lie kouwnio, maka setelah menanyakan jejak tiga iblis dari keluarga Lung aku melepaskanmu begitu saja Sekarang aku baru tahu rupanya kau she Tao. Aku ingin bertanya kepadamu, mengapa Pat Sian kiam Tao Cu Hun dan istrinya Sam jiu Kuan Im Sen Cing yang sudah enakenakan tinggal di Kang lam malah meninggalkan tempat itu kemudian datang ke Si Cuan yang jaraknya demikian jauh?"

Tanya I Giok Hong sambil tertawa terkekehkekeh.

"Memang selama beberapa tahun terakhir ini, ayah dan ibu menetap di Kang Lam, tetapi mereka tergolong orang-orang yang suka berpesiar. Apa anehnya datang ke Si Cuan?"

Ucap Tao Ling.

Apa yang dikatakan Tao Ling merupakan hal yang sebenarnya.

Ayah dan ibunya sejak menikah sudah tinggal di wilayah Kang Lam.

Tetapi mengapa mereka tiba-tiba meninggalkan tempat itu dan jauh-jauh datang ke Si Cuan.

Bahkan perjalanan pun seakan dirahasiakan, Tao Ling memang tidak tahu apa-apa.

"Tia, anak sudah menyelidiki dengan jelas. Benda itu memang didapatkan oleh Tao Cu Hun. Asal kita mendesak budak ini, tidak perlu takut dia tidak menjawabnya dengan jujur!' ujar I Giok Hong sambii menolehkan kepalanya menghadap I Ki Hu.

"Kalau begitu, benda itu belum tentu ada padanya? Apakah kau sudah menyelidiki jejak pasangan suami istri Tao Cu Hun?"

Tanya I Ki Hu dengan sepasang alis menjungkit ke atas.

"Pasangan suami istri Tao Cu Hun sempat menetap beberapa hari di kediaman Kuan Hong Siau. Tetapi putranya justru membunuh putra Pat Kua kiam Lie Yuan. Dengan demikian timbul perselisihan da lam kedua keluarga. Sedangkan entah bagaimana, tiba-tiba pasangan suami istri Lie Yuan tertotok jalan darahnya oleh seseorang. Sejak itu jejak Tao Cu Hun Suami istri dan putranya Tao Heng Kan menjadi tidak jelas,"

Sahut I Giok Hong. Masalah yang rumit ini diterangkan dengan santai oleh I Giok Hong. Tetapi I Ki Hu memang manusia jenius, ternyata dia bisa mengerti jalan cerita putrinya.

"Bagaimana dengan pasangan suami istri Lie Yuan? Kemana mereka sekarang?"

"Tia, buat apa kau menanyakan orang itu? Meskipun Lie Yuan dan Tao Cu Hun sempat berkenalan di perjalanan dan kemudian terjadi perselisihan karena putra-putra mereka, tetapi rasanya Lie Yuan tidak mungkin mengetahui persoalan itu!"

Jawab I Giok Hong.

"Kau tidak usah perduli. Asal kau heritahukan dimana adanya pasangan suami istri Lie Yuan sekarang!"

Lie Cun Ju yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan di antara ayah dan putrinya itu segera mengetahui adanya niat kurang baik di hati I Ki Hu ketika dia menanyakan jejak kedua orang tuanya.

Hatinya menjadi panik.

Dia berharap I Giok Hong tidak tahu apa-apa.

Akan tetapi ternyata I Giok Hong menjawab.

"Menurut kabar yang aku dapatkan, secara tiba-tiba pasangan suami istri Lie Yuan tertotok jalan darahnya oleh seseorang di atas perahu Tao Cu Hun. Bahkan Kuan Hong Siau dan salah seorang anggota keluarga Sang yang terkenal ahli ilmu totokan juga tidak sanggup membebaskan jalan darah mereka. Karena itu Kuan Hong Siu sendiri yang mengantarkan mereka ke Si Cuan untuk menemui dedengkot keluarga Sang, yakni si kakek berambut putih Sang Hao untuk memohon pertolongannya!"

"Oh? Ada kejadian seperti itu? Lalu apakah kau tahu siapa yang menotok jalan darah pasangan suami istri itu?"

I Ki Hu bertanya dengan terkejut.

"Yang anehnya, di atas perahu Tao Cu Hun saat itu terdapat belasan tokoh-tokoh berilmu tinggi. Tetapi tidak ada seorang pun yang sempat melihat siapa yang melakukannya. Lagipula, ketika orang-orang itu berada di atas perahu, tiba-tiba perahu itu terbelah menjadi dua bagian seakan tiba-tiba ada yang membelahnya. Mengenai hal ini anak sendiri kurang yakin. Mungkin hanya desas desus yang dilebih-lebihkan oleh orang-orang dunia kang ouw,"

Sahut I Giok Hong.

Apa yang dikatakan oleh I Giok Hong adalah kenyataan yang didengarnya dari mulut orang.

Tetapi dia tidak percaya di dunia ini ada orang yang mempunyai kemampuan sehebat itu.

Karenanya dia baru mengucapkan kata-kata tadi.

Tetapi setelah mendengar cerita putrinya, wajah I Ki Hu malah berseri-seri.

Dia meremas-remas tangannya sendiri.

"Aneh sekali! Mungkinkah dia yang melakukannya?"

Katanya seakan bergumam seorang diri. Lie Cun Ju, I Giok Hong bahkan Tao Ling menjadi bingung.

"Tia, siapa dia yang kau maksudkan?"

Tanya I Giok Hong. I Ki Hu tidak menjawab, dia tertawa terbahak-bahak. Sesaat kemudian dia baru berkata kembali.

"Kebetulan sekali! Kebetulan sekali! Giok Hong, cepat kau berkemas, aku akan mengajakmu mengadakan perjalanan ke Si Cuan, biar kau juga mengenal ilmu warisan keluarga Sang!"

"Kesana untuk menemui pasangan suami istri Lie Yuan?"

Tanya I Giok Hong heran.

"Tidak salah,"

Jawab I Ki Hu.

"Lalu, bagaimana dengan kedua orang ini?"

I Giok Hong menunjuk Tao Ling dan Lie Cun Ju. I Ki Hu melirik mereka sekilas.

"Bukankah kau selalu menginginkan seseorang melayanimu? Dasar ilmu silat gadis ini boleh juga. Terimalah dia sebagai dayangmu! Mengenai bocah itu ..."

Berkata sampai di sini, I Ki Hu mengernyitkan keningnya.

"Biar dia Gin Hua kok (Lembah bunga perak), nama lembah tempat tinggal I Ki Hu saja. Setelah kita kembali baru diputuskan kembali."

Selesai berkata, terdengar I Ki Hu berteriak.

"Lo Jit! Lo Jit!"

Seorang kakek segera menyahut dan muncul di tempat itu. Ternyata orang tua yang duduk sekereta dengan I Giok Hong tempo hari. I Ki Hu menunjuk kepada Lie Cun Ju.

"Bocah ini, harus kau perhatikan. Jangan sampai dia melarikan diri dari Gin Hua kok. Aku akan melakukan perjalanan jauh. Apabila ada orang yang menanyakan diriku, suruh dia tinggalkan pesan. Katakan bahwa sekembalinya nanti, aku akan menemuinya!" 'Lo Jit' menganggukkan kepala. Dia menghampiri Lie Cun Ju. Saat itu hati Tao Ling dan Lie Cun Ju justru sedang dilanda hawa amarah. Mereka tidak sudi dipisahkan. Lagipula Tao Ling sendiri juga putri seorang tokoh yang mempunyai nama besar di dunia bu lim. Mana sudi dia diangkat sebagai dayang I Giok Hong? Dialah yang mulamula memprotes.

"I locianpwe, bila Anda masih mempunyai urusan penting, kami berdua bisa meninggalkan tempat ini. Meskipun ilmu silat kami tidak seberapa, tapi juga tidak sudi menerima hinaan begitu saja!"

"Budak cilik! Kau tidak sudi menjadi dayang putriku?"

I Ki Hu tertawa dingin. Wajah Tao Ling merah padam saking marahnya.

"Tentu saja aku tidak sudi!"

"Budak cilik, coba kau bandingkan sendiri, baik mutu orangnya, ilmu silatnya, pendidikannya, dan pengetahuannya. Apakah kau sanggup menandingi sepersepuluhnya saja? Sebagai dayangnya, berarti derajatmu terangkat, tahu?"

Ucap I Ki Hu dengan tertawa dingin.

Tao Ling melirik kepada I Giok Hong.

Gadis itu berdiri di sudut seperti dewi khayangan.

Seakan ingin Tao Ling meneliti di bagian apa dia sanggup menandinginya.

Tetapi meskipun demikian, apakah berarti dia harus menerima penghinaannya begitu saja?

Tao Ling merenung sejenak, kemudian dia baru menyahut.

"Apa yang dikatakan locianpwe memang benar. Tetapi setiap manusia mempunyai pendirian masing-masing. Untuk apa locianpwe memaksakan kehendak sedemikian rupa?"

Sahut Tao Ling setelah merenung sejenak.

"Giok Hong, bagaimana menyelesaikannya, terserah kau sendiri!"

Kata I Ki Hu dengan wajah yang menyiratkan kemarahan.

"Kau tidak sudi menjadi dayangku?"

Tanya I Giok Hong sambil tertawa cekikikan.

Kebetulan Tao Ling sedang memandang ke arahnya.

Dia melihat kecantikan gadis itu demikian sempurna.

Tetapi di balik kecantikannya tersirat hawa pembunuhan yang tebal.

"Aku tidak sudi!"

Sahutnya tegas.

Hati Tao Ling bergidik.

Akan tetapi pada dasarnya dia memang keras kepala.

I Giok Hong mendengus dingin.

Tidak terlihat bagaimana dia bergerak.

Tao Ling hanya sempat melihat kelebatan cahaya yang menyilaukan.

Bahkan ingatan untuk menghindarkan diri pun belum sempat melintas di benaknya.

Tahu-tahu dari bagian jidat kepala sanipai dada kirinya terasa sakit dan perih.

Dia mengulurkan tangannya meraba jidatnya sendiri.

Ternyata tangannya terdapat noda darah.

Ketika dia menolehkan kepalanya, dia melihat tangan Giok Hong sudah menggenggam sebuah pecut.

Tentu dalam keadaan tidak terduga-duga, Tao Ling telah dicambuknya satu kali.

Padahal Tao Ling sadar, bagaimana pun gadis itu putri tunggal Gin leng hiat ciang I Ki Hu.

Ilmunya pasti tinggi sekali.

Tetapi dia belum rnenyangka sampai sedemikian tingginya ilmu kepandaian I Giok Hong.

Barusan dia dicambuk sekali oleh gadis itu, bahkan tidak sempat melihat gerakan tangannya.

Hatinya semakin marah dan benci.

Dia sengaja membusungkan dadanya dan berteriak.

"Aku tetap tidak mau!"

Baru saja kata 'mau' terucap dari bibirnya, terdengar I Giok Hong kembali tertawa dingin.

Cahaya perak berkilauan, pecut itu kembali melayang ke arahnya.

Tentu saja kali ini Tao Ling sudah bersiaga.

Begitu melihat pecut itu menyambar ke arahnya, dia segera menggeser tubuhnya.

Namun anehnya kemana pun dia menggeser, pecut di tangan I Giok Hong terus mengejarnya.

Bagian kiri wajahnya sampai bagian kanan dadanya kembali kena cambuk I Giok Hong.

Rasa perihnya bukan kepalang.

Hati Tao Ling justru semakin marah dan benci.

"Cambuklah terus! Pokoknya aku tetap tidak sudi!"

Teriaknya.

Dari samping kiri, Lie Cun Ju melihat wajah kekasih hatinya telah terdapat dua jalur berdarah.

Dia tidak tahu apakah gadis itu terluka atau tidak di bagian tubuh lainnya.

Hatinya terasa perih sekali.

Cepat dia maju ke depan menghadang di depan Tao Ling.

"I kouwnio, kalau kau masih ingin mencambuk terus, cambuk saja aku!"

I Giok Hong tertawa cekikikan dengan merdu.

"Rupanya kau romantis juga!"

Ejeknya.

"Pokoknya selama aku masih hidup, aku tidak bisa melihat Tao kouwnio menderita!"

Ucap Lie Cun Ju.

"Bagus sekali!"

Tubuhnya bergerak, Tar!

Tar!

Tar!

Cahaya perak seperti ular sakti yang tertimpa cahaya kilat.

Kelebatannya berturut-turut, dengan lima bagian tenaga dia mencambuk Lie Cun Ju!

Tadi ketika mencambuk Tao Ling, I Giok Hong hanya menggunakan tenaga yang ringan.

Karena itu tidak menimbulkan suara apa-apa.

Tetapi saat ini dia sudah menggunakan lima bagian tenaganya.

Kekuatannya dapat dibayangkan.

Ketika cambuk itu melayang datang, Tao Ling bermaksud mendorong tubuh Lie Cun Ju agar terhindar dari pecut itu, tetapi kecepatan tangan I Giok Hong sungguh mengagumkan.

Belum sempat Tao Ling mengulurkan tangannya.

Keempat kali cambukan itu sudah tepat mengenai sasarannya.

Setelah terluka parah, Leng Coa sian sing merawat Lie Cun Ju dengan hati-hati.

la menggunakan ularnya yang kecil-kecil merayap di tubuh pemuda itu dan menggigit beberapa buah jalan darahnya.

Tujuannya justru membiarkan hawa ular yang berkhasiat itu menyusup ke dalam jalan darah di tubuh Lie Cun Ju.

Dengan demikian selembar jiwa pemuda itu baru bisa tertolong.

Tetapi karena keadaan lukanya tempo hari terlalu parah, maka kekuatannya telah lenyap.

Keadaannya tidak beda dengan seorang pelajar yang lemah.

Begitu terkena sambaran pecut di tangan I Giok Hong, dia merasa seluruh tubuhnya dilanda rasa perih yang tidak terkirakan.

Tubuhnya limbung dan akhirnya dia pun jatuh di atas tanah.

Namun tidak setitik pun dia mengeluarkan suara erangan.

Baru saja Lie Cun Ju terjatuh, Tao Ling segera memburu ke depan.

Tetapi pecut kembali bergerak sebanyak dua kali.

Tubuh Lie Cun Ju tergulung pecut itu dan dibuat seperti bola yang menggelinding kesana kemari.

Hati Tao Ling pedih sekali melihat keadaan Lie Cun Ju.

Matanya menyorotkan kemarahan yang berapi-api.

Dengan marah dia berteriak.

"I kouwnio, perbuatanmu ini mungkin bisa mengakibatkan kematian bagi kami. Tetapi ingat, manusia jahat sepertimu pasti akan mendapat akibatnya!"

Selesai berkata, terdengarlah suara Trang!

Trang!

sebanyak dua kali.

Pedang emas dan perak sudah dihunus oleh Tao Ling.

Tangan gadis itu menggenggam sepasang pedang emas dan perak.

I Giok Hong seakan belum melihatnya.

Tao Ling juga tidak perduli apakah dia hanya berpura-pura atau memang belum melihatnya.

Dia segera menjalankan jurus Menteri mempertahankan negara sepasang kakinya menghentak, orang dan sepasang pedang langsung menerjang ke arah I Giok Hong.

Cahaya pedang bak pelangi.

Melihat pedang itu sudah hampir mengenainya, I Giok Hung baru memutar tubuhnya sekaligus menggerakkan pergelangan tangannya, pecutnya melayang keatas.

Jurus Menteri mempertahankan negara yang dilancarkan oieh Tao Ling merupakan salah satu jurus Pat Sian kiam yang paling hebat dan mengandung kekejian.

Lagipula sasarannya di titik pusat, yakni jidat, tenggorokan, jantung dan pusar manusia.

Pedang itu mengeluarkan cahaya yang berkilauan.

Tampaknya sekejap lagi akan menghunjam tubuh gadis itu.

Tetapi pecut di tangan I Giok Hong melayang datang menyambutnya.

Sinar keperakan berkelebat.

Dengan rapat pecut itu menyusup masuk ke dalam cahaya emas dan perak!

Tao Ling dapat merasakan keadaannya yang tidak menguntungkan.

Tetapi dia sudah bertekad untuk mengadu nyawa.

la tidak perduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri.

Dengan mengerahkan tenaganya dia mendorong sepasang pedang itu ke depan.

Tampaknya ia benar-benar ingin menusuk I Giok Hong sampai terluka, kalau bisa mati seketika.

Tetapi belum sempat dia mendorong sepasang pedang itu, tahutahu pergelangan tangannya sudah tergulung bagian ujung pecut.

Serangkum rasa sakit membuat pergelangan tangannya menjadi ngilu.

Kelima jari tangan pun merenggang.

Pedang emas pun terjatuh di atas tanah dengan menimbulkan suara Trang!

Tidak menunggu sampai dia menggerakkan pedang peraknya, kembali pergelangan tangan kirinya terasa nyeri.

Pedang perak pun terlepas jatuh.

I Giok Hong tertawa cekikikan.

Tiba-tiba Tao Ling merasa bagian lehernya mengencang.

Ternyata pecut itu sudah melilit di lehernya.

"Kalau aku menghentakkan sedikit saja pecut ini, nyawamu pasti sulit dipertahankan lagi, jawab! Apakah sekarang kau sudah bersedia menjadi dayangku?"

Kemarahan dalam hati Tao Ling telah meluap-luap. Baru saja dia bermaksud menjerit 'Tidak!', tiba-tiba dia mendengar 'Lo Jit' berkata.

"Tao kouwnio, ada pepatah yang bagus sekali, 'seorang pendekar pandai melihat keadaan'. Seandainya kau menjawab tidak, bukan hanya kau seorang diri yang mengantarkan nyawa dengan sia-sia, bahkan nyawa Lie kongcu pun sulit dipertahankan. Seandainya kau bersedia menurut kepada siocia, yang kau dapatkan hanya keuntungan bukan kerugian. Untuk apa kau tetap kukuh pada pendirianmu?"

Tao Ling menolehkan kepalanya.

Dia melihat sepasang mata 'Lo Jit' menyorotkan sinar kasih sayang dan saat itu sedang menatapnya lekat-lekat.

Meskipun Tao Ling tidak tahu siapa 'Lo Jit' itu sebenarnya, tetapi dia dapat membayangkan bahwa orang tua itu juga seorang tokoh dunia persilatan.

Kalau tidak, mana mungkin I Giok Hong sudi memanggilnya paman?

Lagipula ketika mereka masuk ke dalam Gin Hua kok, orang tua ini memang sudah menunjukkan sikap ingin menolongnya.

Apabila dia menuruti nasehatnya, tentu untuk sementara dia bisa hidup terus.

Tetapi bagaimana melampiaskan kekesalan batinya karena diperlakukan secara semena-mena oleh Giok Hong?

Sampai sekian lama dia tetap tidak menyahut 'Lo Jit' malah tertawa terbahak-bahak.

"Tao kouwnio, ada lagi sebuah pepatah yang bagus, 'Seorang manusia sejati ingin membalas dendam, sepuluh tahun pun tidak terlambat'. Padahal kalau kau mengingat lagi sejarah negara kita ini, berapa banyak menteri yang dikalahkan oleh musuh bahkan sempat menjadi tahanan perang dan dijadikan bulan-bulanan. Tetapi setelah berhasil meloloskan diri, mereka segera menyusun kekuatan, bahkan ada yang sampai belasan tahun baru menyerang kembali dan menebus kekalahan tempo dulu. Toh akhirnya mereka berhasil juga. Kalau hatimu masih tidak bersedia, ingat akibatnya. Tetapi bila kau seorang yang cerdik dan dapat berpikir panjang, aku nasehati agar kau terima saja. Tao Ling terkejut setengah mati. Diam-diam dia bepikir dalam hati. Mengapa kakek ini demikian berani mengeluarkan ucapan seperti ini di hadapan I Ki Hu dan putrinya? Apakah dia tidak merasa takut kepada mereka berdua? Justru ketika hatinya masih mengkhawatirkan kakek tua itu, terdengar I Giok Hong tertawa terkekeh-kekeh.

"Apa yang dikatakan Lo Jit memang benar. Asal kau mempunyai kemampuan, sepuluh tahun kemudian ingin membalas dendam juga tetap kusambut dengan baik!"

Pada dasarnya Tao Ling memang seorang gadis yang cerdas.

Mendengar ucapan I Giok Hong, dia segera sadar bahwa baik I Ki Hu ataupun putrinya merupakan orangorang yang angkuh dan memandang hebat diri mereka sendiri.

Mereka menganggap tidak ada orang lagi di dunia ini yang sanggup melawan mereka.

Kata-kata atau nasehat 'Lo Jit' tadi, boleh dibilang meraba dengan tepat isi hati mereka.

Bukan saja kedua orang itu tidak marah, malah senang mendengarnya.

Kalau begitu, Lo Jit juga orang yang pintar.

Dia bisa mengikuti perkembangan yang ada di depan matanya.

Setelah merenung sejenak, dia memaksa dirinya menahan kekesalan hatinya.

"Baik, aku bersedia!"

katanya.

"Jadi dayang juga ada peraturannya. Sekarang kau panggil dulu ayahku satu kali, kemudian panggil aku satu kali juga!"

Ucap I Giok Hong sumbil tersenyum.

Dada Tao Ling hampir saja meledak mendapat hinaan sedemikian rupa dari I Giok Hong.

Tetapi sinar matanya kembali bertemu pandang dengan 'Lo Jit', akhirnya dia menahan juga kemarahan hatinya.

"Siocia, Lo ya!"

Panggilnya.

"Coba kau menurut dari tadi, tentu tidak perlu merasakan sakitnya pecutku, bukan?"

I Giok Hong tertawa terbahak-bahak.

***** Tao Ling tidak menyahut sepatah kata pun.

Tangan 1 Giok Hong mengendur.

Pecut yang melilit leher Tao Ling pun terlepas seketika.

Tao Ling cepat-cepat menghambur kepada Lie Cun Ju.

Dia melihat bagian tangan, lengan, wajah pemuda itu dipenuhi dengan jalur berdarah.

Hatinya perih sekali.

Lie Cun Ju berusaha memberontak untuk bangun.

"Tao kouwnio, aku hanya menyusahkanmu!"

Meskipun ucapan Lie Cun Ju sangat sederhana, tetapi di dalamnya terkandung kasih sayang yang tidak terkirakan!

Hati Tao Ling semakin pilu mendengarnya.

Tanpa dapat ditahan lagi air matanya mengalir dengan deras.

Lie Cun Ju memandangnya dengan terpaku.

"Tidak usah bersedih terus. Asal kau menurut semua perkataanku baik-baik, sekembalinya dari Si Cuan, kalian toh masih dapat bertemu muka. Kau menjadi dayangku, dia menjadi penjaga keamanan di Gin hua kok ini. Bukankah merupakan hal yang menggembirakan?"

Kata gadis cantik Giok Hong itu. Tao Ling hampir tidak dapat menahan kepiluan di hatinya. Dia langsung berdiri.

"Cepat siapkan kereta kuda, kita harus berangkat sekarang juga! Tia, kau tidak membawa apa-apa?"

Terdengar suara ucapan Giok Hong.

"Tentu ada yang harus kubawa."

Tampak bayangan tubuhnya bagai gumpalan asap, dalam sekejap mata sudah berada pada jarak lima depaan.

Sekali lagi tubuhnya berkelebat, tahu-tahu sudah menyusup ke dalam rumah.

Kecepatan gerakan tubuhnya membuat mata Tao Ling membelalak dan mulut membuka.

Tidak berapa lama kemudian, I Ki Hu sudah keluar kembali.

Tetapi kedua tangannya masih kosong, tidak terlihat dia membawa apa pun.

Sementara itu, I Giok Hong memerintahkan Tao Ling naik ke dalam kereta.

Setelah masuk ke dalam, Tao Ling melirikkan matanya kepada Lie Cun Ju.

Matanya menyorotkan keperihan hatinya berpisah dengan pemuda itu.

Namun tali kendali kuda sudah dihentakkan.

Keempat ekor kuda itu segera meringkik dan menggerakkan kakinya.

Dalam sekejap mata kereta itu sudah meluncur keluar dari Gin Hua kok.

Lie Cun Ju terkulai di atas rerumputan.

Dia ingin berdiri dan berlari menuju mulut lembah untuk melihat Tao Ling sekali lagi.

Tetapi baru saja dia berdiri, kakinya sudah terasa lemas dan jatuh kembali.

Hatinya sedih sekali.

Tanpa dapat ditahan lagi.

Dia menarik nafas panjang.

Tampak 'Lo Jit' membungkukkan tubuhnya dan memperhatikan 'keadaannya.

Berkali-kali Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Locianpwe, nasehatmu kepada Tao kouwnio memang tidak salah. Tetapi watak gadis yang satu ini, di luar lembut, dalamnya keras. Mana sudi dia mendapat tekanan dari orang atau mendengar perintah orang? Seandainya dia memendam kekesalannya dalam hati, maka darah di sekitar hatinya akan membeku serta menimbulkan luka dalam yang parah. Tetapi apabila dia membangkang, penderitaan apa lagi yang akan diterimanya bukankah sudah dapat dibayangkan? Aih!"

Ucap Lie Cun Ju.

"Ci kongcu, Thian menggerakkan hati si raja iblis itu untuk meninggalkan Gin Hua kok, ternyata penderitaan dan hinaan yang kuterima selama belasan tahun tidak siasia!"

Katanya dengan nada berbisik.

"Locianpwe, bagaimana kau memanggilku barusan?"

Tanya Lie Cun Ju bingung.

"Aku memanggil kau Ci kongcu!"

Lo Jit tersenyum misterius.

"Locianpwe jangan bercanda, aku she Lie, bukan she Ci!"

Selesai berkata, ia teringat I Ki Hu menanyakan apakah dia anak kandung Pat Kua kiam Lie Yuan, hatinya semakin tidak mengerti.

'Lo Jit' tidak menyahut.

Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di mulut lembah.

Dia melongokkan kepalanya keluar untuk melihat keadaan di kiri kanannya.

Tampak debu beterbangan.

Kereta kuda berwarna putih itu sudah berada di kejauhan dan tidak berapa lama kemudian tinggal tampak titik berwarna keperakan.

Setelah yakin majikan dan nonanya sudah pergi, Lo Jit baru melesat kembali ke samping Lie Cun Ju.

"Ci kongcu, aku khawatir kau sendiri tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Sekarang kau ikut aku dulu!"

Dia memapah tubuh Lie Cun Ju lalu berjalan menuju sebelah kanan lembah.

Mereka sampai di depan sebuah pintu batu.

Lo Jit mendorong batu besar itu kemudian terlihat sebuah celah yang cukup lebar.

Lo Jit membungkukkan tubuhnya sedikit dan masuk ke dalam, Lie Cun Ju pun mengikutinya.

Setelah berjalan heberapa depa, pandangan mata pun jadi leluasa.

Ternyata di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas.

Sekali lagi Lo Jit melongok keluar.

Lie Cun Ju tidak melihat adanya orang lain di lembah itu.

Tetapi sikap Lo Jit masih demikian hati-hati.

Diam-diam dia menyadari urusan ini pasti rahasia sekali.

Tadinya Lie Cun Ju berdiri dengan punggung bersandar di dinding batu.

Lo Jit keluar melihat-lihat keadaan.

Setelah kemhali lagi, dia berjalan menuju sebuah tempat tidur batu.

Kemudian dia mengerahkan tenaganya untuk mengangkat batu itu.

Ternyata batu yang berbentuk persegi dan setebal kasur tempat tidur itu terangkat olehnya.

Lie Cun Ju sama sekali tidak tahu apa yang dilakukannya.

Setelah batu itu terangkat, Lie Cun Ju melihat tempat tidur itu sekarang terdapat lekukan di dalamnya, besarnya sama dengan batu tadi.

Tetapi warna batu yang menjadi alas di dalamnya berwarna abu-abu pekat.

Ketika perasaannya sedang bingung, Lo Jit sudah membimbingnya dan menyuruhnya tidur di atas lekukan batu itu.

Baru saja Lie Cun Ju merebahkan dirinya, ia langsung berteriak sekeras-kerasnya kemudian bermaksud melonjak bangun.

Rupanya ketika Lie Cun Ju baru membaringkan tubuhnya di atas batu itu, ternyata dia merasa dirinya seakan dilemparkan ke dalam kolam berisi air es.

Serangkum hawa dingin yang menggigilkan menyusup sampai ke dalam tulang sumsumnya.

Apalagi bagian tubuh yang terkena pecutan I Giok Hong, perihnya tidak terkatakan.

Pada dasarnya tubuh Lie Cun Ju memang sudah lemah sekali.

Bahkan ketika berdiri saja harus menyandarkan punggungnya ke dinding batu.

Tetapi rasa dingin yang menusuk dari alas batu yang ditidurinya ternyata sanggup membuat dia melonjak bangun!

Baru setengah dia melonjakkan tubuhnya, tangan si kakek tua sudah mendorongnya keras-keras.

Tubuhnya terhempas kembali ke atas alas batu tersebut.

Bahkan belum hilang rasa terkejut di hati Lie Cun Ju, kakek tua itu sudah mengulurkan tangannya kembali dan menotok dua buah jalan darahnya.

Tentu saja Lie Cun Ju tidak dapat bergerak lagi setelah jalan darahnya tertotok.

Dia merasa segulung demi segulung hawa dingin menyusup ke dalam pori-pori di seluruh tubuhnya.

Dalam waktu yang singkat, keempat anggota tubuhnya sudah mulai kaku.

Meskipun Lie Cun Ju masih bisa bicara, tetapi rahang mulutnya sulit dibuka, lidahnya terasa beku.

Sampai beberapa lama, dia baru sanggup memaksakan diri berkata.

"Lo ... cianpwe ... an ... ta ... ra ... kita ... tidak ... a ... da ... per ... musuh ... an ... apa ... pun ... mengapa kau ..."

Tubuhnya menggigil, dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.

"Ci kongcu, tahukah kau siapa aku?"

Kata orang itu serius.

Saking dinginnya, wajah Lie Cun Ju sudah berubah menjadi kehijauan.

Dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Matanya memandang Lo Jit seakan menunggu kelanjutan kata-katanya.

"Kau sudah mengikuti pasangan suami istri Pat Kua kiam Lie Yuan sekian lama, tentunya pengetahuanmu tentang dunia kang ouw juga cukup luas. Pernahkah kau mendengar bahwa belasan tahun yang lalu di dunia kang ouw, khususnya golongan hitam ada seorang perampok yang selalu malang melintang seorang diri. Julukannya Hantu tanpa bayangan. Senjatanya sebatang golok dan sepasang cambuk. Orang itu she Seebun bernama tunggal Jit?"

Mendengar kata-katanya, dalam hati Lie Cun Ju tertegun.

Meskipun orang bernama Seebun Jit itu sudah belasan tahun tidak terdengar kabar beritanya, tetapi namanya masih tersohor di kalangan orang-orang bulim.

Menurut berita yang pernah didengarnya, baik gwa kang maupun lwekang orang ini tinggi sekali.

Meskipun orang dari golongan hitam, tetapi wataknya cukup baik.

Jiwanya besar.

Malah Seebun masih bersaudara dengan hwesio angkatan tertinggi dari Go Tai bun, yakni ciang bun jinnya Bu Kong taisu.

Mungkinkah 'Lo Jit' yang ada di hadapannya ini tokoh yang bernama Seebun Jit?"

Karena pikirannya melayang-layang, tanpa disadari rasa nyerinya jauh berkurang. Bahkan tanpa disengaja dia bertanya.

"Apakah locianpwe ini Seebun Hiap to (Perampok budiman)?"

"Tidak salah. Tidak disangka usiamu yang demikian muda tetapi sudah pernah mendengar namaku."

"Seebun cianpwe, cepatlah kau bangunkan aku ... dari tempat tidur batu ini!"

"Ci kongcu, ketika kau masih kecil, mungkin kau juga pernah tidur di atas tempat tidur batu ini, hanya saja kau sudah lupa!"

Hati Lie Cun Ju semakin curiga, dia berusaha memberontak, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.

"Seebun cianpwe, bagaimana mungkin aku pernah tidur di atas alas batu ini?"

"Kalau dikisahkan, ceritanya cukup panjang. Kau harus sabar mendengarkannya."

Seebun Jit menarik napas panjang, kemudian dia memulai ceritanya.

"Ketika usiamu baru menginjak tujuh bulan, di keluargamu terjadi perubahan besar dan mengerikan. Ayah ibumu mati, kakak serta adikmu terbunuh. Keadaan waktu itu benar-benar ..."

Lie Cun Ju seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Mendengar kata-kata Seebun Jit, wajahnya langsung berubah.

"Seebun cianpwe, mengapa kau bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?"

"Kau kira Pat Kua kim gin kiam, pasangan suami istri Lie Yuan benar-benar orang tua kandungmu?"

Tanpa disadari, seluruh perhatian Lie Cun Ju tercurah pada cerita orang tua itu.

Sejak dia mengerti urusan, dia tidak pernah curiga dengan riwayat hidupnya sendiri.

Tetapi sekarang, bukan hanya Gin leng hiat ciang I Ki Hu yang curiga dia bukan anak kandung Pat Kua kim gin kiam Lie Yuan, bahkan Hantu tanpa bayangan Seebun Jit ini juga yakin dia bukan anak kandung pasangan suami istri itu.

Masalah sebesar ini, dulu belum pernah terbayangkan olehnya, bahkan bermimpi pun tidak.

Oleh karena itu, untuk sesaat dia lupa dengan rasa nyeri yang melanda dirinya.

"Seebun cianpwe, lalu siapa orang tua kandungku sebenarnya? Mereka mati di tangan siapa? Benarkah aku she Ci?"

Tanyanya beruntun. Mungkin karena lupa dengan rasa sakitnya, pertanyaan Lie Cun Ju juga dapat dicetuskan dengan lancar.

"Tidak salah, kau memang she Ci. Ayahmu adalah pemilik alas batu Ban nian si ping (Endapan es laksaan tahun) yang merupakan salah satu pusaka yang menjadi incaran tokoh-tokoh bu lim ..."

Mendengar sampai di sini, wajah Lie Cun Ju semakin menyiratkan rasa terkejutnya.

"Maksudmu, aku putra Tocu (pemilik pulau) Hek Cui To, Ci Cin Hu?"

"Tidak salah. Tadi aku justru khawatir si raja iblis itu mengenalimu!"

Sejak kecil sampai besar, entah berapa kali sudah Lie Cun Ju mendengar kisah dendam antara I Ki Hu dengan tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu.

Mula-muia I Ki Hu berhasil dikalahkan oleh Ci Cin Hu.

Tetapi beberapa tahun kemudian, I Ki Hu datang kembali ke Hek Cui to mencari Ci Cin Hu.

Dengan ilmu telapak darahnya yang menggetarkan dunia persilatan, I Ki Hu membasmi seluruh keluarga dan anggota Hek Cui to.

Seluruh penghuni pulau itu habis dibunuh oleh I Ki Hu.

Yang tersisa hanya seorang putranya yang usianya belum mencapai satu tahun.

Selama beberapa tahun ini, menurut kabar burung, I Ki Hu terus berusaha menemukan bayi yang tidak sempat dibunuhnya itu.

Ketika Lie Cun Ju mendengar orang mengisahkan cerita itu, diam-diam dalam hati dia sering mendoakan keselamatan sang bayi laki-laki agar jangan sampai ditemukan oleh I Ki Hu.

Tetapi mimpi pun dia tidak pernah membayangkan bahwa bayi kecil yang sempat menjadi perhatian kalangan orang-orang kang ouw itu adalah dirinya sendiri.

Sampai sekian lama dia termangu-mangu.

Kemudian baru berkata.

"Apakah yang kau katakan itu benar adanya?"

"Mana mungkin palsu?"

"Mengapa kau begitu yakin aku putra Ci Cin Hu?"

Tanya Lie Cun Ju iagi.

"Padahal urusannya sudah berlalu begitu lama. Ketika pertama kali aku melihatmu, usiamu baru lima bulan. Tentu saja aku tidak dapat mengenalimu. Tetapi sekarang, wajahmu persis dengan ayahmu ketika muda. Tidak ada perbedaan sedikit pun. Mana mungkin aku tidak bisa mengenalimu?"

"Seebun cianpwe, benda ada yang sama, manusia banyak yang mirip. Kalau mengambil kepastian dari rupa yang sama saja, bagaimana bisa membuktikan bahwa aku benar-benar putra Tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu? Apalagi ayah ibuku sangat baik terhadapku. Aku benar-benar tidak percaya kalau mereka bukan orang tua kandungku."

"Di balik semua ini pasti ada yang tidak kauketahui. Biar aku menjelaskannya dengan terperinci."

"Katakan saja!"

Pada saat itu, seluruh tubuhnya masih terasa nyeri karena dinginnya alas batu yang bernama Ban nian si ping itu.

Tetapi karena seluruh perhatiannya tercurah ke masalah lain, dia jadi tidak merasakannya.

"Pada waktu itu, I Ki Hu datang ke pulau Hek Cui to. Sebetulnya ayah dan ibumu tidak mungkin kalah dengan cara yang demikian mengenaskan. Tetapi mereka sedang berlatih semucam ilmu yang sakti. Hati si raja iblis I Ki Hu keji sekali. Begitu datang ke Hek Cui to, dia tidak muncul secara terang-terangan. Semalam penuh dia mencari kesempatan yang baik. Setelah mendapat kesempatan yang baik, dia langsung menerjang ke dalam gedung rumahmu. Kedua orang tuamu sedang bersemedi melatih ilmu, dia langsung membunuh. Mereka tanpa sempat memberikan perlawanan sedikit pun. Setelah berhasil, dia menghabisi seluruh anggota keluargamu dan penghuni pulau lainnya."

"Kalau aku memang putra Ci Cin Hu, mengapa aku bisa meloloskan diri dari pembantaian yang keji itu?"

Tanya Lie Cun Ju.

"Sebulan sebelumnya, kau dibawa pergi oleh inang pengasuhmu meninggalkan Hek Cui to untuk mengunjungi nenekmu. Karena itu kau selamat dari pembunuhan malam itu."

"Siapa pula nenekku itu?"

"Dia orang tua juga mempunyai nama besar di dunia kang ouw, julukannya Liong Po (Nenek naga) Chi Go Nio. Pada saat itu, dua bulan sebelumnya aku sempat berkunjung ke Hek Cui to. Kami pernah bertemu muka satu kali. Dua bulan kemudian, aku mempunyai sedikit urusan dengan ayahmu dan ingin menemuinya, Tetapi ketika aku baru tiba di tepi laut, aku langsung mendengar bencana yang menimpa keluarga besar Hek Cui to. Cepat-cepat aku menuju pulau itu untuk membuktikan kebenarannya. Ternyata rnemang benar. Ayahmu pernah menanam budi yang besar kepadaku, karena itu aku pun menguburkan semua mayat yang ada dalam pulau itu. Kemudian aku pun teringat kepadamu. Menurut berita yang kudapatkan. hanya kau seorang yang sempat meloloskan diri dari pembantaian itu. Sedangkan aku tahu di mana kau berada. Bergegas aku menyusul ke rumah nenekmu, Ciu Go Nio. Tetapi di tengah perjalanan, kembali aku mendengar berita bahwa scluruh anggota keluarga di rumah nenekmu itu juga habis terbunuh oleh I Ki Hu. Tetapi yang melegakan hatiku justru mendengar kabar bahwa iblis itu tidak herhasil menemukan bayi itu. Mengenai bagaimana kau bisa meloloskan diri untuk kedua kalinva, aku sama sekali tidak tahu."

Meskipun Seebun Jit menuturkan cerita itu dengan serius, tapi Lie Cun Ju tetap tidak percaya.

"Tocu Hek Cui to mempunyai tiga orang putri dan tiga orang putra termasuk dirimu. Yang anehnya setiap anak laki-laki maupun perempuan, di lengannya pasti ada andeng-andeng berwarna merah. Karena itu, ketika si raja iblis I Ki Hu melihatmu, dia langsung mengoyak lengan bajumu,"

Ujar Seebun Jit meneruskan ceritanya.

"Tetapi di lenganku tidak ada andeng-andeng merah sedikit pun."

"Pasti pasangan suami istri Lie Yuan teiah menghilangkan andeng-andeng di lenganrnu itu"

Kata Seebun Jit.

"Seebun cianpwe, aku tetap tidak percaya dengan ceritamu!"

Ujar Lie Cun Ju sambil meng-gelengkan kepala. Sekonyong-konyong terlihat perubahan di wajah Seebun Jit, kemudian dengan tergesa-gesa dia melesat keluar.

"Seebun ciangpwe, ada apa?"

Tanya Lie Cun Ju.

Tampak Seebun Jit berhenti sebentar di depan pintu batu.

Kemudian dia melongokkan kepalanya keluar.

Wajahnya menyiratkan perasaan terkejut.

Terdengar dia seperti menggumam seorang diri.

"Aneh! Tadi terang-terangan aku mendengar suara seseorang, mengapa aku tidak melihat siapa-siapa?"

Gumam Seebun Jit.

"Seebun cianpwe, mungkinkah si raja iblis I Ki Hu tiba-tiba kembali lagi?"

Tanya Lie Cun Ju dengan tegang.

"Jangan khawatir, sebelum sampai di Si Cuan dan bertemu dengan pasangan suami istri Lie Yuan, dia tidak mungkin kembali kesini!"

Jawab Seebun sarnbil tertawa getir.

"Untuk apa I Ki Hu ingin bertemu dengan kedua orang tuaku?"

"Kau toh tidak percaya dengan kata-kataku. Tetapi si raja iblis I Ki Hu begitu melihatmu langsung mencurigai bahwa kaulah bayi yang dulu dicari-carinya. Tentu tujuannya untuk membasmi rumput sampai ke akar-akarnya. Tetapi dia tidak menemukan andeng-andeng merah di lenganmu. Karena itu dia belum yakin dengan dugaannya sendiri. Dia sengaja menahanmu di Gin Hua kok ini dan pergi ke Si Cuan mencari pasangan suami istri Lie Yuan untuk menanyakan riwayat hidupmu sampai sejelas-jelasnya. Kalau belum ada kepastian, mana mungkin dia sudi kembali lagi kemari?"

Lie Cun Ju terdiam beberapa saat.

Diam-diam dia membayangkan kembali sikap orang tuanya sejak kecil sampai dewasa terhadapnya.

Sesungguhnya tidak ada yang dapat dicurigai.

Tidak terlihat sedikit pun titik terang yang menyatakan mereka bukan orang tua kandungnya.

Bahkan sikap mereka lebih baik daripada kepada kokonya Li Po.

Lagipula andeng-andeng merah yang dikatakan Seebun Jit sebagai tanda kelahiran khas keluarga Ci Cin Hu tidak terdapat pada dirinya.

Bahkan sedikit luka bekas guratan pisau pun tidak ada.

Seandainya benar pasangan suami istri Lie Yuan menghilangkan tanda itu, pasti sedikit banyaknya akan meninggalkan bekas luka.

Tetapi, meskipun demikian, Lie Cun Ju juga tidak bisa tidak percaya sama sekali dengan keterangan Seebun Jit.

Pertama, dia tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Seebun Jit, bahkan perlakuan orang tua itu sangat baik terhadapnya.

Kedua, cara bicara orang tua itu juga penuh keyakinan dan tidak dibuat-buat.

Karena itu sampai cukup lama dia terdiam kemudian baru berkata lagi.

"Seebun cianpwe, biar bagaimana, urusan ini menyangkut riwayat hidupku sendiri. Aku ingin menanyakannya kepada kedua orang tuaku agar persoalannya menjadi jelas. Harap kau bebaskan totokan di tubuhku. Aku ingin pergi ke Si Cuan untuk menemui ayah dan ibuku."

"Ci kongcu, ayahmu meninggal dengan cara yang mengenaskan. Meskipun aku ini orang golongan hitam, tapi hitung-hitung aku masih mempunyai hubungan saudara dengan ayahmu. Boleh dibilang seluruh bu lim tahu bahwa kematian ayahmu berlangsung di tangan I Ki Hu. Tetapi ternyata tidak ada seorang pun yang berani menampilkan diri menuntut keadilan. Hanya aku sendiri yang tiga kali berturut-turut mendatangi Cin Hua kok untuk membalaskan dendam bagi orang tua dan saudarasaudaramu. Tetapi sayangnya tiga kali berturut-turut pula aku mengalami kekalahan. Akhirnya aku berpura-pura takluk kepadanya dan menjadi pelayannya. Pokoknya selama gunung masih menghijau, hutan masih ada, jangan takut tidak ada kayu bakar. Selama belasan tahun ini aku menahan segala penderitaan dan hinaan. Sekarang aku sudah menemukanmu. Tetapi kau malah ingin pergi ke Si Cuan untuk menemui pasangan suami istri Lie Yuan. Bagaimana kalau di sana kau bertemu dengan si raja iblis I Ki Hu. Coba kau pikirkan sendiri! Apakah ilmu silatmu sekarang dapat menandingi kepandaian si raja iblis itu?"

Mendengar nada bicara Seebun Jit yang semakin lama semakin serius, hati Lie Cun Ju semakin bimbang.

"Lalu, entah berapa puluh tahun lagi ilmu silatku baru bisa menandingi kepandaian si raja iblis itu?"

"Urusan ini sulit dikatakan. Tetapi batu yang kau tiduri sekarang merupakan endapan es atau salju di gunung Thai san selama ribuan lahun. Bagi orang yang melatih ilmu silat, khasiatnya besar sekali. Asal kau bisa menahan penderitaan dan tidur di atasnya selama tujuh hari berturut-turut, ilmu silatmu akan pulih kembali. Bahkan tenaga dalammu akan berlipat ganda. Mengenai urusan kelak, terpaksa melihat peruntunganmu sendiri! Aku akan membebaskan totokan di jalan darahmu. Tetapi kau harus ingat, selama tujuh hari tujuh malam, biar ada rasa sakit yang bagaimana pun, kau tetap tidak boleh bangun dari alas batu itu. Bahkan duduk pun tidak boleh. Pokoknya kau harus berbaring terus. Kalau tidak, mungkin ilmu silatmu selamanya tidak pernah bisa pulih kembali!"

Sembari berkata, dia mengulurkan tangannya menepuk jalan darah di tubuh Lie Cun Ju.

Pemuda itu tadi mendengarkan cerita Seebun Jit tentang riwayat hidupnya yang misterius.

Seluruh perhatiannya tercurah kesana.

Dengan demikian penderitaannya tanpa sadar tidak terasa begitu parah.

Tetapi sekarang tiba-tiba Seebun Jit membebaskan totokannya.

Dia merasa segulung demi segulung hawa dingin menyusup ke seluruh tubuhnya dan membuat rasa nyerinya semakin menjadi-jadi.

Siksaan itu bukan main hebatnya.

Tetapi dia terus mengingat ucapan Seebun Jit.

Seandainya ucapan orang itu benar, maka dirinya tidak akan menjadi orang cacat lagi.

Walaupun penderitaan ini sedemikian hebatnya, tapi dia tetap menggeretakkan giginya erat-erat dan menahannva Sementara itu, Seebun Jit terus mondar-mandir di dalam ruangan batu dengan wajah serius.

***** Kurang lebih setengah kentungan kemudian, kulit tubuh Lie Cun Ju sudah kebal.

Tetapi rasa dingin bahkan menyusup ke dalam tulang belulangnya.

Rasa nyerinya benar-benar rnembuat dirinya hampir tidak tahan.

Seandainya Ban nian si pemilik Tocu Hek Cui to ini tidak demikian terkenal dan menurut kabar bisa menambah kekuatan tenaga dalam di tubuh seseorang bahkan merupakan pusaka yang menjadi incaran tokoh-tokoh bu lim, Lie Cun Ju juga tidak akan percaya dengan kata-kata Seebun Jit.

Sembari menahan penderitaan yang hebat, Lie Cun Ju berusaha mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya.

Ketika dia menoleh kepada Seebun Jit, dia melihat orang tua itu berulang kali berdiri di depan pintu batu dan melongokkan kepalanya keluar.

Telinganya seakan mendengarkan suara dengan seksama.

Mimik wajahnya semakin lama semakin memperlihatkan rasa terkesiapnya.

Seakan bukan satu-dua kali, dia menemukan ada gerak gerik di luar pintu batu itu.

Lie Cun Ju sadar ilmu silatnya saat ini bagai bumi dan langit dibandingkan dengan Seebun Jit.

Seandainya ada gerak-gerik apa-apa, dia pun tidak bisa mendengarnya.

Hatinya berharap dapat melewati tujuh hari tujuh malam dengan tenang meskipun dia harus menanggung penderitaan yang hebat.

Dengan demikian ilmunya bisa pulih kembali dan dirinya tidak sampai menjadi orang cacat.

Tetapi kenyataan memang sering bertentangan dengan harapan seseorang.

Tiba-tiba saja dia melihat wajah Seebun Jit berubah kelam.

Tubuhnya bergerak laksana terbang.

Tangannya mengulur dan meraih sebuah buntalan yang tergantung di dinding batu.

Kemudian terdengar suara Cring!

Cring sebanyak dua kali.

Dia berkelebat kembali ke depan pintu goa.

"Siapa yang berulang kali mengintai di dalam Gin Hua kok?"

Harap lekas sebutkan nama!"

Suara bentakannya itu bergelombang sampai ke tempat yang jauh. Tidak lama kemudian terdengar suara seorang perempuan berkumandang dari kejauhan.

"Apakah pemilik lembah Gin Hua kok, I Lo sian sing ada di tempat?"

Begitu mendengar suara itu, hati Lie Cun Ju langsung tercekat. Wajah Seebun Jit juga berubah hebat. Dia membalikkan tubuhnya.

"Ci kongcu, tidak perduli apa pun yang terjadi di luar, kau harus ingat. Jangan sekalikali turun dari alas batu itu. Setelah keluar nanti, aku akan menutup pintu batu goa ini. Yang penting kau harus beristirahat!"

Kata Seebun Jit.

Sembari berbicara, dia melepaskan buntalan kain yang dipegangnya.

Cahaya berkilauan memenuhi seluruh ruang batu itu.

Dia mengeluarkan dua macam senjata yang bentuknya aneh.

Nama Seebun Jit memang terkenal di kalangan dunia kang ouw.

Salah satu senjatanya yang istimewa adalah sebuah pecut yang memiliki lima cabang.

Masing-masing cabang itu terkait gerigi besi berbentuk setengah lingkaran yang tajamnya bukan main.

Seebun Jit mendapat julukan Hantu tanpa bayangan.

Senjata andalannya sebilah golok dan sepasang cambuk.

Cambuk itu memang terdiri dari dua utas.

Tetapi menggunakannya tidak perlu dua tangan karena dapat dijadikan satu.

Sedangkan goloknya juga aneh.

Lebarnya tidak seperti golok biasa.

Bentuknya juga tidak melengkung, bahkan lebih mirip batangan besi berbentuk persegi empat.

Tetapi di kedua sisinya bergerigi juga.

Karena mengenali suara perempuan itu, Lie Cun Ju jadi mengkhawatirkan keselamatan Seebun Jit.

"Seebun cianpwe, kau harus berhati-hati!"

"Di dalam Gin Hua kok ini ada nama besar si raja iblis I Ki Hu, aku yakin mereka juga tidak berani berbuat apa-apa!"

Ujar Seebun Jit.

Dia memasukkan sepasang cambuknya ke dalam selipan ikat pinggang.

Setelah itu dia melesat keluar dari ruangan batu itu.

Kemudian dia mendorong sebuah batu besar untuk menahan di depan pintu tadi.

Setelah itu dengan perlahan-lahan dia menerobos taman bunga dan berjalan menuju mulut lembah.

"Gin Hua kok dengan kalian selamanya tidak ada hubungan apa-apa. Untuk apa kalian datang kemari?"

Tanya Seebun Jit dengan nada dingin.

Baru saja ucapan Seebun Jit selesai, tiba-tiba dari mulut lembah bekelebat beberapa bayangan.

Ternyata di sana sudah bertambah tiga orang.

Tiga orang itu mengenakan topeng berwarna merah darah.

Dari topeng itu menyembul sepasang mata, warnanya menyeramkan, sehingga membuat orang yang melihatnya timbul perasaan ngeri.

Jilid 3________ Orang yang di tengah bertubuh gemuk pendek, di sebelah kirinya seorang perempuan, hal ini terlihat dari bentuk tubuhnya.

Sedangkan di bagian kanan berdiri seorang lakilaki bertubuh tinggi kurus.

Ketiga orang ini memang iblis keluarga Lung dari Kui Cou.

Yang gemuk sebagai saudara tertua, namanya Lung Goan Po.

Orang yang bertubuh tinggi kurus saudara kedua, namanya Lung Sen.

Sedangkan yang perempuan menduduki tangga terakhir, namanya Lung Ping!

Ketika masih berada di dalam goa batu, Lie Cun Ju dan Seebun Jit sudah mendengar suara perempuan itu.

Karenanya mereka pun mengetahui bahwa yang datang adalah tiga iblis keluarga Lung.

Lie Cun Ju pernah kena batunya ketika bertemu dengan mereka di tengah sungai.

Karena itu dia mengenali suaranya.

Sedangkan pengetahuan dan pengalaman Seebun Jit sangat luas, dia juga senang menjelajahi dunia.

Ketika dunia bu lim belum mengenal nama tiga iblis dari keluarga Lung, dia sudah sempat bertemu dengan mereka beberapa kali.

"Rupanya kalian. Ada perlu apa kalian datang kemari?"

Tanya Seebun Jit dengan nada dingin.

Ketiga iblis dari keluarga Lung tidak menyahut.

Mereka langsung melepaskan topeng penutup wajah mereka yang warnanya seperti berlumuran darah.

Perasaan Seebun Jit langsung tertegun.

Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menyurut mundur tiga langkah.

Sewaktu berkunjung ke Kui Cou tempo dulu, kakek itu sudah pernah mendengar orang mengatakan bahwa ketiga iblis keluarga Lung memang tiga bersaudara.

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 1

Baca Juga: Hong Lui Bun 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert