Ceritasilat Novel Online

Pedang Tanpa Perasaan 3

Eps 3 Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung

Baca online Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung

Cersil Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung.

Tadinya mereka prajurit suku Biao.

Kemudian menurut berita yang tersebar di dunia kang ouw, tokoh utama dari golongan hitam Hek Leng sin kun berpesiar ke daerah Biao dan menetap di sana.

Kemudian ketiga saudara ini diterimanya sebagai murid.

Tetapi selamanya ketiga iblis dari keluarga Lung ini tidak pernah mengungkit tentang gurunya kepada siapa pun juga.

Apabila bergebrak dengan seseorang, selamanya musuh mereka tidak pernah dibiarkan hidup.

Karena itu tidak ada orang yang tahu sampai dimana ketinggian ilmu mereka dan keistimewaan yang mereka miliki.

Mereka juga selalu mengenakan topeng.

Bahkan setiap tokoh hitam yang takluk kepada mereka, dijadikan anak buah dan diharuskan mengenakan topeng serupa.

Ini merupakan peraturan bagi mereka.

Apabila mereka sampai melepaskan kedok atau topeng yang menutupi wajah mereka, itu tandanya mereka mempunyai dendam sedalam lautan dan turun tangan mereka pun tidak tanggung-tanggung lagi.

Karena teringat selentingan di luaran bahwa ketiga orang ini merupakan murid Hek leng sin kun dan begitu bertemu mereka langsung melepaskan topengnya, Seebun Jit jadi tertegun.

Tampak ketiga orang itu tidak berwajah buruk.

Setidaknya semua panca inderanya komplit.

Kalau ditilik dari usianya, ketiga orang itu paling sedikit sudah di atas empat puluhan tahun.

"Dari tempat yang jauh kalian berkunjung kemari. Sebetulnya ada keperluan apa? Harap katakan terus terang saja!"

Tanya kakek Jit.

"Apakah Anda Seebun Jit yang pernah bertemu muka dengan kami di Kui Cou tempo dulu?"

Tanya Lung Goan Po sambil batuk-batuk kecil.

Mendengar nada mereka yang tidak begitu garang, perasaan Seebun Jit pun agak lega.

Karena bagaimana pun, mereka terdiri dari tiga orang, sedangkan dia hanya sendirian, apakah dia sanggup mengalahkan mereka masih merupakan sebuah tanda tanya besar.

"Ingatan sam wi sungguh hebat. Cayhe memang Seebun Jit!"

Sahutnya.

Ketiga orang itu saling lirik sekilas.

Kemudian topeng di tangan mereka dilempar ke atas tanah.

Trang!

Rupanya topeng itu terbuat dari emas murni yang kemudian dilumuri lagi dengan sejenis zat pewarna.

Setelah melemparkan ketiga topeng itu di atas tanah, tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan Seebun Jit ...

Tentu saja Seebun Jit terkejut setengah mati.

Dia menduga mereka sedang menjalankan akal yang licik dan mencari kesempatan untuk mencelakainya.

Karena itu dia segera menghentakkan kakinya mencelat ke belakang sejauh beberapa tindak untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

Pecut bercabang limanya pun langsung dikeluarkan dari selipan ikat pinggang.

Tetapi saat itu juga Lung Goan Po mendongakkan wajahnya.

"Sahabat Seebun, jangan khawatir. Kecuali di hadapan guru kami yang berbudi, selamanya kami belum pernah menekuk lutut di hadapan siapa pun. Tetapi urusan ini gawat sekali, kami memohon bantuan sahabat Seebun. Kami sengaja datang kemari untuk memohon bantuanmu. Apabila sahabat Seebun bersedia mengabulkan, meskipun kami harus menjadi kerbau atau kuda di kehidupan mendatang, kami pun rela."

Seebun Jit mendengar nada bicara Lung Goan Po yang tulus, seakan tidak ada maksud jahat sedikit pun.

Juga tidak tampak berpura-pura.

Dia merasa aneh, meskipun kakek itu belum pernah bergebrak langsung dengan ketiga orang itu, tapi mereka cukup terkenal di dunia kang ouw.

Apalagi di wilayah Hun Kui.

Entah berapa banyak tokoh golongan hitam yang tidak berani menginjakkan kakinya ke wilayah itu, karena merupakan tempat tinggal ketiga iblis dari keluarga Lung ini.

Sekarang mereka seakan menghadapi suatu masalah besar yang entah apa, malah berlutut di hadapannya.

"Sam wi harap berdiri! Ada apa-apa bisa kita rundingkan baik-baik!"

"Sebelum sahabat Seebun mengabulkan, untuk selamanya kami tidak akan bangun!"

Kata Lung Goan Po.

Seebun Jit adalah tokoh yang sudah banyak makan asam garam.

Dia bisa melihat apa yang terkandung di dalam hati seseorang hanya dari mimik wajahnya.

Dia tahu ketiga orang ini ada sesuatu dan ingin memohon bantuannya, tetapi dia justru tidak habis pikir apa masalahnya?

"Terserah, katakan saja apa permohonan kalian itu!"

Wajah ketiga orang itu langsung beseri-seri mendengar jawaban Seebun Jit.

"Sekarang Anda tinggal di Gin Hua kok ini, tentunya Anda mempunyai hubungan yang baik dengan I losian sing. Kami bertiga ingin bertemu dengannya, harap Anda sudi mengantar kami kepada orang tua itu!"

Kata Lung Goan Po kembali.

Tadinya Seebun Jit mengira ada urusan sebesar apa sehingga mereka perlu meminta bantuannya, ternyata mereka hanya ingin bertemu dengan si raja iblis I Ki Hu.

Hampir saja dia tertawa geli.

"Kedatangan kalian sungguh tidak tepat. I Kokcu sedang keluar, tidak ada di dalam lembah!"

Tidak disangka-sangka wajah ketiga orang itu semakin bersseri-seri.

"Benar?"

"Tentu. Buat apa aku rnendustai kalian?"

"Dalam perjalanan menuju tempat ini, secara kebetulan kami bertemu dengan Leng Coa sian sing, dia mengatakan hahwa I kokcu menolong seorang laki-laki dan perempuan, apakah yang dikatakannya benar?"

"Tidak ..."

Hampir saja Seebun Jit kelepasan bicara.

Tetapi baru mengucap sepatah kata 'tidak', dia teringat sesuatu hal.

Rupanya ketiga orang ini takut berselisihan dengan I Ki Hu, karena itu mereka menggunakan akal licik untuk memancingnya.

Mendengar I Ki Hu tidak ada di lembah, wajah mereka semakin berseri-seri.

Lain secara tiba-tiba mereka menanyakan tentang Lie Cun Ju dan Tao Ling.

Di balik semua itu pasti ada apa-apanya.

"Tidak tahu menahu mengenai urusan ini!"

Seebun Jit memang manusia yang cerdas, meskipun dalam sedetik, dia mengalihkan jawabannya, namun tidak terlihat sedikit pun bahwa dia sedang berdusta. Lung Goan Po menarik nafas panjang.

"Sahabat Seebun benar-benar tidak bersedia berterus terang kepada kami?"

"Aku tinggal di Gin Hua kok, ada kejadian apa pun di sini, aku pasti tahu. Tapi aku memang tidak mengenal laki-laki dan perempuan yang ditolong kokcu."

"Mungkinkah Leng Coa sian sing mendustai kami? Aih! Sudahlah!"

Gumam Lung Goan Po.

Tiba-tiba ketiga orang itu melonjak bangun.

Seebun Jit langsung menggetarkan pergelangan tangannya.

Sepasang cambuk di tangannya mengeluarkan cahaya yang berkilauan.

Diam-diam dia bersiap siaga terhadap segala kemungkinan.

Tetapi tibatiba dia melihat wajah Lung Goan Po berubah pucat pasi.

Sepasang lengannya gemetar!

"Toako!

Kita toh masih bisa menemukan mereka!"

Teriak kedua saudara Lung Goan Po.

"Dunia begini luas. Kemana kita harus mencari mereka? Batas waktunya sudah sampai pula, untuk apa kita bercapai diri lagi?"

Ucap Lung Goan Po sambil menarik napas panjang.

Sembari berbicara, sepasang lengannya terus menggigil.

Kemudian terdengar suara Krek!

Krek!

dua kali.

Di kening laki-laki bertubuh gemuk pendek itu, tampak keringat dingin bercucuran.

Seebun Jit adalah seorang tokoh bu lim yang banyak pengalaman.

Melihat keadaan ini, dia tahu bahwa Lung Goan Po telah memutuskan seluruh urat nadi di kedua lengannya dengan paksa.

Hati Seebun Jit semakin curiga.

Dari kata-kata Lung Goan Po barusan, dia bisa menduga bahwa ketiga iblis itu mendapat perintah dari seseorang untuk menemukan Lie Cun Ju dan Tao Ling.

Bahkan diberikan batas waktu.

Seandainya sampai batas waktunya mereka masih belum menemukan kedua orang itu, mereka harus memutuskan urat-urat di kedua lengan mereka sendiri!

Orang yang berani bermusuhan dengan tiga iblis dari keluarga Lung, di dalam dunia kang ouw boleh dibilang dapat terhitung dengan jari tangan.

Seebun Jit sendiri juga mempunyai nama yang cukup terkenal di dunia kang ouw, tetapi dia pun tidak berani sembarangan mencari masalah dengan ketiga iblis ini.

Kecuali Gin leng hiat ciang I Ki Hu atau tokoh yang sebanding dengannya, Seebun Jit benar-benar tidak habis pikir siapa yang berani mendesak ketiga iblis dari keluarga Lung itu?

Seebun Jit merenung sejenak.

"Sahabat Lung, tunggu sebentar. Seandainya tidak berhasil menemukan seorang lakilaki dan perempuan itu, mengapa Anda sampai harus memutuskan seluruh urat di kedua lenganmu sendiri?"

Tanya kakek itu.

"Sahabat Seebun toh tidak tahu dimana kedua orang itu berada, untuk apa bertanya? Kami memberitahukan pun tidak ada gunanya."

Sembari berkata, dia menolehkan kepala kepada kedua saudaranya. Setelah itu berkata lagi.

"Kalian berdua masih tidak cepat turun tangan! Apalagi yang kalian tunggu? Meskipun kehilangan dua buah lengan, paling tidak masih ada selembar nyawa!"

Kata orang yang gemuk pendek sambil menahan sakit yang dideritanya.

Seandainya Seebun Jit seorang tokoh dari golongan lurus, tentu dia akan mendesak siapa orangnya yang memaksa mereka dan untuk apa mereka ingin menemukan Lie Cun Ju dan Tao Ling.

Dia juga akan mencegah perbuatan mereka bertiga yang memutuskan urat nadi lengan sendiri.

Tetapi pada dasarnya dia memang seorang tokoh dari golongan hitam.

Dia sadar seorang diri melawan mereka bertiga, lebih banyak ruginya daripada untungnya.

Lebih baik menunggu mereka memutuskan dulu urat nadi lengan masing-masing, dia baru tentukan langkah selanjutnya.

Karena itu, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Ternyata kedua adik Lung Goan Po juga mengikuti tindakan toako mereka memutuskan urat nadi di lengan masing-masing.

Tubuh mereka gemetar dengan hebat.

Keringat dingin membasahi kening.

Seebun Jit menunggu sampai pekerjaan mereka sudah selesai, baru tersenyum simpul.

"Entah siapa nama laki-laki dan perempuan yang kalian cari itu? Apabila kalian bisa menyebutkan namanya, mungkin aku bisa membantu!"

Wajah ketiga iblis dari keluarga Lung langsung berubah hebat.

"Rupanya kau memang tahu, mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?"

Teriak Lung Goan Po.

"Toako, jangan bersikap kasar! Sahabat Seebun, orang yang ingin kami cari bernama Tao Ling dan Lie Cun Ju!"

Lung Ping menjawab sambil mengerlingkan matanya pada toakonya.

Seebun Jit melihat kening ketiga orang itu dibasahi oleh keringat dingin.

Sepasang lengan mereka menjuntai ke bawah, belum lagi wajah mereka yang pucat pasi.

Dapat dipastikan bahwa urat nadi di lengan ketiga orang itu sudah putus.

Diam-diam hatinya merasa senang.

Seebun Jit menggetarkan cambuknya dan tertawa terbahak-bahak.

"Rupanya mereka yang kalian cari! Mengapa kalian tidak katakan dari tadi?"

"Rupanya Anda tahu dimana mereka sekarang berada?"

Tanya Lung Goan Po.

"Tentu saja tahu. Kalian tadi mengatakan kokcu menolong seorang laki-laki dan perempuan. Kedua orang itu bukan ditolong oleh kokcu, mereka bahkan datang sendiri."

"Dimana mereka sekarang?"

Tanya Lung Ping gugup.

Tentu Seebun Jit tidak mungkin mengatakan jejak Lie Cun Ju dan Tao Ling kepada ketiga iblis dari keluarga Lung itu.

Karena dia tahu mereka terdiri dari orang-orang yang keji dan selalu turun tangan dengan telengas.

Tentu mereka mengandung niat kurang baik.

Sekarang Seebun Jit melihat ketiga iblis itu karena sesuatu hal memutuskan urat nadi tangannya sendiri.

Dengan kekuatannya sendiri, kakek itu juga sanggup mengalahkan mereka dalam beberapa jurus saja.

Karena itu dia tidak merasa takut sedikit pun.

"Tao kouwnio pergi mengikuti kokcu. Sedangkan Lie Cun Ju masih ada di dalam lembah!"

Sahutnya tenang.

"Mengapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?"

Ketiga iblis itu bertanya sambil melangkahkan kakinya maju.

"Mengatakannya sejak tadi? Siapa yang tahu apa yang terkandung dalam hati kalian?"

Jawab kakek itu dengan nada mempermainkan.

"Baik. Kami akan mengadu jiwa denganmu!"

Ujar Lung Goan Po dengan nada marah.

Lung Goan Po yang pertama-tama bergerak.

Tubuhnya membungkuk sedikit, dengan nekat dia menyerudukkan kepalanya ke arah Seebun Jit.

Tenaganya begitu kuat sehingga mengejutkan!

Seebun Jit malah tertawa terbahak-bahak.

"Manusia tanpa lengan! Masih berani sesumbar? Apakah setelah mati ingin menjadi setan gentayangan?"

Tubuh kakek Jit berkelebat, pecut di tangannya langsung melayang ke depan.

Cahaya perak berkilauan.

Dalam sekejap timbul bayangan cambuk yang tidak terhitung jumlahnya.

Pecutan Seebun Jit itu juga terhitung keji sekali.

Walaupun tidak sampai mematikan, tetapi apabila Lung Goan Po sernpat tersambar pecutannya, paling tidak sebelah wajahnya langsung menjadi tidak karuan karena seluruh kulitnya terkelupas.

Lung Goan Po menggeserkan kepalanya sedikit, kedua lengannya masih menjuntai ke bawah.

Tetapi sepasang cambuk di tangan Seebun Jit seperti seekor naga sakti.

Cahaya terang memercik.

Tampaknya sekejap lagi, Lung Goan Po pasti akan terkena sambaran pecut itu.

Tetapi tiba-tiba, sepasang lengan Lung Goan Po yang tadinya menjuntai ke bawah langsung mengangkat ke atas.

Tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah cambuk Seebun Jit yang sedang menyambar ke arahnya.

Dalam waktu yang bersamaan, tangan kanannya juga menjulur ke depan mengirimkan sebuah pukulan ke dada Seebun Jit.

Gerakan kedua tangan ini benar-benar di luar dugaan Seebun Jit.

Hatinya terkesiap bukan kepalang.

Karena tadi dia melihat dengan kepala sendiri keringat dingin menetes membasahi kening Lung Goan Po.

Tangan mereka juga menimbulkan suara berderak-derak seperti tulang yang remuk, belum lagi tubuh mereka yang gemetar dan wajah mereka yang pucat pasi!

Ternyata, sepintar-pintarnya Seebun Jit, dia masih bisa dikelabui oleh Lung Goan Po.

Sebetulnya Seebun Jit bukan tokoh sembarangan, tetapi kali ini dia benar-benar bertemu dengan lawan yang seimbang.

Ternyata nama besar ketiga iblis dari keluarga Lung bukan nama kosong.

Kelicikan mereka tidak terduga oleh Seebun Jit.

Sementara Seebun Jit memang terkesiap bukan kepalang, namun di sisi lainnya untung dia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang dilatih selama puluhan tahun.

Dengan panik pergelangan tangannya ditekan ke bawah.

Yang digenggam olehnya masih sepasang cambuk bercabang lima.

Begitu dihentikan, cambuk itu melontar ke atas.

Ternyata dalam keadaan yang demikian terdesak, dia bisa menghindarkan serangan Lung Goan Po.

Tetapi biar bagaimana, penghindaran Seebun Jit itu boleh dikatakan dipaksakan sekali.

Sedangkan dalam waktu yang bersamaan, Lung Sen dan Lung Ping berdua juga menerjang ke arahnya dari kiri kanan.

Mereka menjulurkan lengan masing-masing dan mencengkeram ke depan.

Ternyata mereka berdua juga berpura-pura, sama halnya dengan toako mereka.

Sedangkan lengan mereka tidak cacat sedikit pun.

Pada dasarnya kepandaian Lung Sen dan Lung Ping memang tidak sembarangan.

Apalagi Seebun Jit menghindarkan diri dengan terpaksa sekali.

Empat buah lengan dari kedua orang itu meluncur dalam waktu yang bersamaan.

Plak!

Plak!

Plak!

Plak!

Empat kali pukulan sekaligus tepat mendarat di bagian kiri kanan punggung Seebun Jit.

Ilmu silat Seebun Jit sendiri memang tinggi sekali.

Begitu saling menggebrak dengan lawannya, meskipun seorang diri melawan tiga musuh, tetap saja dia bisa mempertahankan ketenangannya.

Hawa murni dalam tubuhnya memang sudah dihimpun sejak tadi.

Dengan demikian seluruh tubuhnya seperti terlindung hawa murninya.

Tiga lblis dari Keluarga Lung, masing-masing anggotanya mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah dilatih selama puluhan tahun.

Begitu Seebun Jit terhantam empat buah pukulan dari Lung Sen dan Lung Ping, dirasakan bagian kanan kiri pinggangnya bagai ditimpa besi seberat ratusan kati.

Telinganya sampai berdengung, matanya berkunang-kunang, tubuhnya bergetar, dan hampir saja tidak dapat mepertahankan keteguhan kakinya sehingga nyaris terjatuh!

Dalam keadaan panik, Seebun Jit merasa pinggangnya nyeri bukan main.

Nadi di pergelangan tangannya juga sempat tersampok kekuatan dari cengkeraman Lung Goan Po.

Sebelah tubuhnya terasa bagai kesemutan.

Di dalam hati ia baru sadar bahwa tiga iblis dari keluarga Lung sudah mempersiapkan akal licik sebelum datang ke tempat itu.

Kata-kata mereka yang menyatakan ingin meminta bantuannya hanya omong kosong belaka.

Tujuan mereka hanya ingin mengetahui apakah I Ki Hu ada di dalam lembah Gin hua kok.

Dan apakah Tao ling dan Lie Cun Ju benar di sana atau tidak.

Dirinya sendiri sudah malang melintang di dunia kang ouw selama puluhan tahun.

Pengalamannya sudah banyak, pengetahuannya luas pula, tetapi dia masih sempat terkecoh oleh Tiga Iblis dari Keluarga Lung itu.

Seebun Jit merasa benci sekali mengingat dirinya yang dibodohi mereka.

Diam-diam dia bertekad untuk menebus kekalahannya itu.

Namun dia juga sadar bukan hal yang mudah baginya.

Dia berusaha membesarkan hatinya.

Tetapi rasa sakit di pinggangnya hampir tidak tertahankan.

Kelima jari tangannya merenggang, cambuk di tangannya pun terlepas.

Matanya dipejamkan dalam keadaan tubuhnya terhuyung mundur beberapa tindak.

Di sudut sebelah sana, Lung Sen dan Lung Ping mengeluarkan suara tawa yang aneh.

Mereka lalu menerjang kembali dengan mengirimkan tendangan ke bagian dada Seebun Jit.

Sebelum tendangan mereka mengenai lawannya, terdengar Lung Goan Po berteriak dengan keras.

"Orang ini sudah lama berkecimpung di dunia kang ouw, kalian harus hati-hati!"

Lung Goan Po menyadari bahwa Hantu Tanpa Bayangan Seebun Jit ini bukan lawan yang mudah dihadapi sehingga dia mengingatkan kedua saudaranya, namun sudah terlambat.

Belum lagi tendangan keduanya berhasil mengenai sasarannya, tiba-tiba Seebun Jit sudah melangkah ke depan.

Dengan mata mendelik, mulutnya mengeluarkan suara bentakan kemudian tubuhnya melesat ke atas.

Dalam waktu yang bersamaan, tangan kirinya mengibas.

Tampak segurat cahaya seperti pelangi melintas, mengedari kaki Lung Sen dan Lung Ping yang sedang mengirimkan tendangan kepadanya.

Darah segar memercik, sementara Seebun Jit tertawa terbahak-bahak.

Dia menahan rasa sakit karena luka dalamnya, kemudian menyurut mundur setengah langkah.

Buk!

Buk!

Tiba-tiba Lung Sen dan Lung Ping jatuh terbanting di atas tanah.

Untung saja ilmu kepandaian kedua orang ini memang cukup tinggi.

Ketika melihat kelebatan cahaya golok, tiba-tiba saja hati mereka merasa ada firasat buruk.

Mereka memaksakan gerakan kaki yang sudah melayang keluar itu agar dapat ditarik mundur.

Namun, Seebun Jit justru terkenal di dunia kang ouw karena sebilah golok dan sepasang cambuknya yang aneh.

Panjang goloknya kira-kira empat ciok.

Tipisnya seperti selembar kertas.

Tetapi tajamnya jangan ditanyakan lagi.

Dibuat dari baja pilihan yang sulit didapatkan.

Bila sedang tidak digunakan, golok itu dapat digulung seperti sabuk pinggang.

Bisa disembunyikan di balik pakaian tanpa terlihat oleh lawan.

Bila dicabut keluar pun tidak tampak oleh mata lawan, tahu-tahu sudah tergenggam dalam telapak tangan.

Jurus yang digunakannya tadi diberi nama Lihat Golok Lihat Darah.

Karena itu kaki kiri Lung Sen dan Lung Ping langsung terkerat sebatas betis dan langsung jatuh tanpa dapat mempertahankan diri lagi.

Dalam keadaan terluka parah, Seebun Jit masih sanggup melawan tiga musuh sekaligus, bahkan melukai dua di antaranya.

Ilmu kepandaiannya benar-benar tidak dapat dipandang ringan.

Meskipun Lung Sen dan Lung Ping hanya terluka di bagian luar, tetapi lukanya justru di kaki yang merupakan anggota penting dari tubuh.

Mereka segera menutup jalan darahnya untuk menghentikan pendarahan.

Untuk sementara mereka tidak bisa berhadapan dengan musuh.

Seebun Jit memaksakan diri menghimpun hawa murni dalam tubuhnya.

Lung Goan Po menghambur ke depan melihat keadaan dua saudaranya.

Mengambil kesempatan itu Seebun Jit segera mengayunkan goloknya ke bagian punggung Lung Goan Po.

Gerakan golok menimbulkan cahaya seperti pelangi.

Kecepatannya sungguh mengejutkan.

Lung Goan Po menyambar kedua saudaranya kemudian mencelat ke depan sejauh beberapa depa.

Ayunan golok Seebun Jit memang bertujuan membuat Lung Goan Po menghindarkan diri untuk sementara.

Dia bukan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Melihat Lung Goan Po mencelat ke depan, dia juga menggeser kakinya dan memungut kembali sepasang cambuknya yang terlepas dari tangannya tadi.

Tampak tangan kirinya menggenggam goloknya yang berbentuk aneh, sedangkan tangan kanannya memegang cambuk bercabang lima.

Seebun Jit berdiri dengan tegak, penampilannya angker.

la mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara siulan panjang.

Kalau diperhatikan tidak seperti orang yang sudah terluka parah.

Padahal kenyataannya justru dalam keadaan terluka parah.

Semestinya, orang yang sudah terluka seperti Seebun Jit sekarang ini, tidak boleh menggunakan tenaga dalamnya untuk tertawa terbahak-bahak.

Karena akan menyebabkan lukanya semakin parah.

Namun Seebun Jit menyadari keadaan di depan matanya saat ini.

Sekarang tinggal Lung Goan Po yang masih bisa bertarung dengannya.

Apabila otaknya cerdas, dia bisa mendesak.

Seebun Jit terpaksa mundur terus dan mendekati Lung Sen serta Lung Ping.

Meskipun keduanya terluka dan terkulai di atas tanah, sepasang tangan mereka masih dapat digerakkan.

Tidak sampai dua puluh jurus, Seebun Jit pasti berhasil dikalahkan.

Yang jelas tubuhnya sendiri sudah terluka parah.

Saat ini seandainya dia berpura-pura tidak terluka, bahkan berlagak mencoba menantang ketiga orang itu, mungkin mereka malah menjadi ragu atau mungkin mereka malah mengundurkan diri untuk sementara!

Kedatangan ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung ini mempunyai tujuan tertentu.

Dan mereka tidak mungkin menyelesaikan masalahnya begitu saja.

Tetapi asal bisa mendapat kesempatan untuk mengatur nafas dan menjaga pintu batu agar mereka tidak menerobos masuk ke dalam, sudah lebih dari cukup.

Karena itu, Seebun Jit tidak memperdulikan keadaannya yang terluka parah dan sengaja mengeluarkan suara siulan panjang kemudian tertawa terbahak-bahak.

Setelah tertawa beberapa saat, dia mengayunkan golok di tangannya.

"Lung Lo toa, nyalimu sudah ciut?"

Ujarnya dengan suara keras.

Sesaat ketiga iblis dari keluarga Lung benar-benar terkecoh oleh sikap Seebun Jit.

Mereka saling pandang sekilas, kemudian Lung Goan Po memapah kedua saudaranya dan mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Hen! Jangan senang dulu, Seebun Jit! Hari ini tidak berhasil, besok kami pasti datang kembali! Tunggu saja!"

Sekali lagi Seebun Jit tertawa terbahak-bahak.

"Biar kapan pun kalian datang, asal aku ..."

Seebun Jit mengerutkan kening sedikit saja.

"Anggaplah aku bantu"

"Kata-kata yang bagus!"

Sembari memapah kedua orang saudaranya di kiri dan kanan, Lung Goan Po mendelik kepada Seebun Jit.

Meskipun Lung Sen dan Lung Ping berjalan dengan sebelah kaki, gerakan tubuh mereka tetap gesit.

Dalam sekejap mata, mereka sudah keluar dari lembah Gin Hua kok.

Seebun Jit sadar kepergian mereka kali ini demi menyembuhkan luka Lung Sen dan Lung Ping.

Setelah keduanya sembuh, mereka pasti kembali lagi.

Diam-diam Seebun Jit menarik nafas panjang.

Darah yang bergejolak di dalam dadanya sejak tadi, langsung tercurah keluar setelah perasaannya lebih lega.

"Hooakkkk!!!!"

Butiran darah memenuhi jenggotnya yang sudah memutih.

Hal ini membuat tampang Seebun Jit berubah seperti tua dalam waktu yang singkat.

Setelah memuntahkan darah segar, Seebun Jit menggunakan goloknya untuk menopang dirinya.

Baru saja kakinya hendak melangkah menuju pintu batu, entah mengapa begitu membalikkan tubuhnya, dari luar lembah sudah terdengar suara batukbatuk kecil.

Seebun Jit tersentak kaget.

Diam-diam hatinya khawatir, apabila di saat seperti ini datang lagi seorang musuh yang tangguh.

Sudah pasti dirinya tak sanggup menghadapinya.

Cepat-cepat dia menghapus darah di sudut bibir dan jenggotnya dengan ujung lengan jubahnya.

Setelah itu dia membalikkan tubuhnya kembali, tampak di mulut lembah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering.

Tampangnya licik dan tangannya menggenggam seekor ular hijau yang bentuknya aneh.

Ekor ular itu malah melilit di lehernya.

Panjangnya mungkin kira-kira tujuh ciok.

Seebun Jit memaksakan dirinya untuk mengembangkan seulas senyuman.

"Leng Coa sian sing, ada keperluan apa berkunjung ke Gin Hua kok?"

Seebun Jit sadar bahwa Leng Coa sian sing jarang berkecimpung di dunia kang ouw sehingga orang-orang yang tahu namanya pun sedikit sekali, tetapi ilmunya memang tinggi sekali.

"Sahabat Seebun, tampaknya luka yang kau derita tidak ringan?"

Ujar Leng Coa sian sing sambil tertawa terkekeh-kekeh. Seebun Jit tahu tidak mudah mengelabui orang yang satu ini. Karena itu dia tertawa getir.

"Terima kasih atas perhatianmu! Entah ada keperluan apa Leng Coa sian sing bertandang ke Gin Hua kok ini?"

Sekali lagi Leng Coa sian sing tertawa terkekeh-kekeh. Mimik wajahnya sungguh mencurigakan.

"Sahabat Seebun, apakah kau mengenali benda ini?"

Sembari berkata, dia mengeluarkan sebuah lencana berbentuk segi tiga yang ukurannya sebesar telapak tangan.

Lencana itu mengeluarkan cahaya berkilauan karena warnanya putih keperakan.

Seebun Jit tertegun melihatnya.

"Itukan lencana kokcu. Di dalam dunia bulim, siapa yang tidak kenal apa lagi tidak tahu?"

"Memang betul. Melihat lencana ini, merasa seperti bertemu dengan pemiliknya sendiri. Sahabat Seebun, harap kau serahkan Lie Cun Ju kepadaku!"

Seebun Jit terkejut sekali.

"Leng Coa sian sing, lencana itu hanya boleh digunakan satu kali saja. Setelah itu harus dikembalikan kepada kokcu. Benda yang demikian berharga, mengapa kau menggunakannya untuk tujuan yang satu ini?"

"Loheng tidak perlu ikut campur! Aku mempunyai pertimbangan sendiri."

Diam-diam Seebun Jit berpikir dalam hati, dia begitu memperhatikan Lie Cun Ju justru karena dia mengenali pemuda itu sebagai putra tocu Hek Cui to, sahabatnya.

Tetapi mengapa ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung dan Leng Coa sian sing juga menginginkannya?

"Sahabat Seebun, apakah kau berani membantah perkataan kokcumu sendiri?"

Tanya Leng Coa sian sing sambil menggoyang-goyangkan lencana di tangannya. Sinarnya semakin berkilauan. Seebun Jit mengangkat bahunya.

"Sayang orangnya sudah tidak ada di sini, apalagi yang dapat aku lakukan?"

Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.

"Tadi ketika kau bertarung dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung, orangnya masih ada di dalam lembah, kok tiba-tiba bisa tidak ada?"

Mendengar ucapan itu, diam-diam hati Seebun Jit terkesiap.

Dia langsung tersadar bahwa kedatangan Leng Coa sian sing ini bersamaan waktunya dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung.

Hanya saja dia sengaja menyembunyikan diri dan menunggu kesempatan baik!

Meskipun Seebun Jit belum mengerti mengapa Leng Coa sian sing dan Tiga Iblis dari Keluarga Lung menginginkan Lie Cun Ju, hatinya yakin mereka pasti berniat tidak baik.

Karena itu, dia segera menenangkan hatinya.

"Leng Coa sian sing hanya tahu soal satunya tetapi tidak tahu mengenai yang lainnya. Ketika Tiga Iblis dari Keluarga Lung datang, sebetulnya Lie Cun Ju sudah tidak ada di sini, aku hanya ingin mempermainkan mereka saja!"

Sahut Seebun Jit. Leng Coa sian sing merentangkan kedua tangannya kemudian mengangkat bahunya.

"Kalau kau bisa mempermainkan tiga iblis dari keluarga Lung, berarti kau juga bisa saja mempermainkan aku. Pokoknya aku tidak percaya apa yang kau katakan. Aku ingin memeriksa seluruh lembah ini."

Seebun Jit tertegun sejenak.

"Berani-beraninya kau!"

Bentaknya. Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.

"Dengan adanya lencana ini, kedudukanku sekarang sama dengan kokcu lembah ini. Kau yang berani-berani menentang pemegang lencana perak!"

Sahutnya.

Diam-diam Seebun Jit mengeluh dalam hati.

Dia melihat Leng Coa sian sing membawa lencana perak.

Seandainya sampai terjadi perkelahian dengan orang itu dan diketahui oleh I Ki Hu, pasti Raja Iblis itu akan marah besar.

Sama saja mengundang bencana.

Karena I Ki Hu sudah menyatakan dengan tegas bahwa bertemu dengan pemegang lencana perak, tidak perduli siapa pun, ibarat bertemu dengan dirinya sendiri.

Dengan demikian siapa pun tidak boleh menentang pemegang lencana itu.

Tetapi Seebun Jit pernah menerima budi besar dari tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu.

Dan sekarang dia berhasil menemukan putranya yang selamat tempo dulu.

Mana mungkin dia menyerahkan Lie Cun Ju kepada Leng Coa sian sing ini?

Karena itu, dia menyurut mundur dua langkah dan menggetarkan golok di tangannya.

"Leng Coa sian sing, kalau kau tetap berkeras ingin menggunakan lencana itu untuk menekan aku, maka aku juga tidak akan sungkan lagi!"

Kembali Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.

"Sahabat Seebun, sekarang kau sedang terluka parah, tetapi masih berlagak gagah. Kau bisa menggertak tiga iblis dari keluarga Lung sampai mereka mengundurkan diri. Tetapi kau tidak bisa menggertak aku. Apabila dalam tiga jurus, aku tidak dapat membuatmu terkapar di atas tanah menjadi mayat, benar-benar percuma nama besar Leng Coa sian sing yang telah dipupuk dengan susah payah selama ini."

Pergelangan tangan Leng Coa sian sing bergerak, ternyata dia melemparkan ular yang sebagian melilit di lehernya itu ke depan.

Ular itu seperti seutas cambuk lemas yang meluncur mengincar pundak Seebun Jit.

Melihat sikap dirinya yang berlagak gagah tidak sanggup menggertak Leng Coa sian sing, diam-diam hati Seebun Jit tercekat.

Ketika mengetahui Leng Coa sian sing menggunakan ularnya sebagai senjata, apalagi ular itu sedang meluncur kepadanya, cepat-cepat Seebun Jit membungkukkan tubuhnya sedikit sembari memaksakan dirinya sendiri menghimpun hawa murni dalam tubuh.

Golok di tangannya segera diangkat ke atas.

Tampak cahaya berkilauan saat golok itu menyambut tubuh ular yang sedang meluncur ke arahnya.

Leng Coa sian sing menghentakkan tubuh ular dari atas ke bawah.

Jurus-jurus kedua orang itu dilakukan dengan kecepatan yang hampir tidak tertangkap oleh pandangan mata.

Ujung golok bekelebat dan tepat mengenai tubuh ular itu.

Hati Seebun Jit merasa gembira melihat goloknya berhasil menebas tubuh ular itu.

Dia yakin ketajaman goloknya pasti akan memutus tubuh binatang melata yang dijadikan senjata oleh Leng Coa sian sing.

Diam-diam dia berpikir dalam hati, setelah ular itu terputus menjadi dua, dia baru menentukan kembali langkah berikutnya.

Ternyata perkembangannya justru di luar dugaan Seebun Jit.

Meskipun ketika goloknya bergerak ke atas tepat mengenai tubuh ular itu, tetapi Seebun Jit merasakan bahwa tenaga dorongan ular itu besar sekali, menyebabkan kakinya terhuyung-huyung setengah tindak ke belakang.

Dalam keadaan panik, dia sempat mendongakkan wajahnya melihat sekilas.

Ternyata goloknya berada di bawah perut ular itu.

Hatinya terkesiap setelah melihat tubuh ular tetap utuh.

Bahkan ular itu makin bertambah marah.

Ditekannya golok itu kuat-kuat.

Tapi tekanan itu membuat kepala ular menjadi semakin menjulur ke depan dan menunduk mengincar jalan darah terpenting di ubunubun kepala Seebun Jit.

Bukan main rasa terkejut Seebun Jit saat itu.

Cepat-cepat dia mengangkat cambuk di tangan kanannya, kemudian dilecutkannya ke atas sembari memiringkan kepalanya menghindari serangan ular.

Tetapi dia terlambat juga, sehingga jalan darah di bagian samping kepalanya terpatuk juga oleh ular itu.

Seebun Jit merasa di bagian samping kepalanya laksana tertimpa besi yang berat.

Bagian kepala sebelah mana pun merupakan tempat yang paling membahayakan apabila terbentur.

Memang tidak separah ubun-ubun kepala, tapi tetap saja membawa pengaruh yang hebat.

Begitu kepalanya terpatuk mulut ular itu, Seebun Jit merasa telinganya berdengung.

Matanya berkunang-kunang.

Kakinya limbung.

Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai tujuh-delapan tindak baru dapat berdiri dengan mantap.

Luka yang diderita oleh Seebun Jit semakin parah.

Meskipun dia tokoh kelas satu dari golongan hitam, tapi luka yang dideritanya membawa pengaruh hebat.

Untung saja tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali, sehingga sesaat dia masih bisa mempertahankan diri.

Sepasang matanya menatap ke arah Leng Coa sian sing lekat-lekat.

Tampak Leng Coa sian sing tetap maju menghampirinya, Seebun Jit segera mengeluarkan suara bentakan.

Baru saja dia ingin melancarkan serangan dengan tiba-tiba, untuk dapat meraih keuntungan di kala Leng Coa sian sing belum siap, tetapi tidak mendapatkan kesempatan sedikit pun.

Wajah Leng Coa sian sing mengembangkan senyuman yang licik.

Kelima jari tangannya mengencang pada bagian ekor ular.

Jelas saja ular itu kesakitan dan tibatiba menyentakkan kepalanya ke atas lalu diserudukkan ke bagian dada Seebun Jit.

Ular berbisa itu merupakan jenis yang langka.

Warna kulitnya bertotol-totol hijau sehingga tampak bagus sekali.

Kulitnya keras sekali, bahkan merupakan ular yang kulitnya paling tebal dan keras di antara seluruh jenis ular yang ada di dunia ini.

Karena itu pula, walaupun golok Seebun Jit sangat tajam, tetap saja tidak sanggup melukainya sedikit pun.

Lagipula tenaga ular itu kuat sekali.

Leng Coa sian sing menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengintai goa tempat bersemayam ular itu di daerah Cin Lam.

Baru kemudian berhasil menangkapnya.

Begitu sayangnya Leng Coa sian sing kepada ular yang satu itu sehingga dia memandangnya sama berharganya dengan nyawanya sendiri.

Dia memberi nama kepada ular itu dengan sebutan 'Cambuk kumala'.

Mungkin karena warna kulitnya yang mirip dengan batu kumala.

Justru dari nama yang diberikannya itu pula, Leng Coa sian sing mendapat ilham untuk menggunakannya sebagai senjata.

Kekuatan tenaga ular itu tidak kalah dengan seekor harimau ataupun singa.

Begitu membentur dada Seebun Jit yang tidak sempat menghindarinya, kembali dia menderita luka parah.

Seebun Jit langsung terkulai di atas tanah tanpa sanggup berdiri lagi.

Leng Coa sian sing mengeluarkan suara dengusan dan maju beberapa Iangkah.

"Seebun Jit, tanyakan pada dirimu sendiri apakah kau masih sanggup menyambut jurus ketigaku?"

Bentaknya sinis.

Seebun Jit memaksakan diri untuk mengatur pernafasannya.

Beberapa kali dia berusaha bangkit, tetapi karena luka yang dideritanya terlalu parah, tenaganya tidak ada sama sekali.

Akhirnya dia tetap terkulai di atas tanah dengan sepasang mata menyiratkan kegusaran.

"Leng ... Coa . .. sian sing, mengapa ... jurus ... keti ... gamu . .. belum ... di ... lancarkan juga?"

"Bagus! Kau benar-benar tidak malu disebut seorang laki-Iaki sejati. Tetapi aku justru ingin melihat sampai di mana kekerasan hatimu."

Mendengar kata-katanya, Seebun Jit yakin Leng Coa sian sing tidak akan membunuhnya langsung.

Mungkin dia akan menggunakan cara yang keji untuk menyiksanya.

Pikirannya lalu tergerak, seandainya dia dapat menghadapi Leng Coa sian sing, tetap saja dia tidak bisa menghindarkan diri dari tiga iblis keluarga Lung yang akan datang kembali.

Lebih baik menggunakan kesempatan di saat jalan darahnya belum tertotok oleh lawan untuk memutuskan urat nadinya sendiri.

Lagi pula mereka belum tentu dapat menemukan Lie Cun Ju yang disembunyikan di dalam ruangan batu.

Dengan demikian dia tidak perlu menerima berbagai penderitaan sebelum terbunuh.

Setelah mengambil keputusan, Seebun Jit langsung bermaksud menggunakan sisa tenaganya untuk memutuskan seluruh urat nadi di tubuhnya untuk membunuh diri.

Tiba-tiba dari luar lembah Gin Hua kok berkumandang suara derap kaki kuda.

Baik Leng Coa sian sing maupun Seebun Jit adalah tokoh-tokoh yang bepengetahuan luas.

Begitu mendengar suara derap kaki kuda, mereka langsung sadar bahwa tujuan orang itu pasti Gin Hua kok.

Tanpa dapat ditahan lagi keduanya jadi tertegun.

Di saat keduanya masih termangu-mangu, suara derap kaki kuda itu sudah semakin mendekat.

Kemudian tampak sesosok bayangan berkelebat, orang yang menunggang kuda itu sudah sampai di mulut lembah Gin Hua kok.

Serentak Leng Coa sian sing dan Seebun Jit menolehkan kepalanya ke arah mulut lembah.

Mereka melihat seekor kuda yang bersih mulus berwarna putih keperakperakan dengan seorang gadis yang memegang pecut berwarna sama melaju datang secepat kilat.

Orang ini bukan siapa-siapa, tetapi putri si Raja Iblis I Ki Hu yaitu I Giok Hong.

Begitu melihat I Giok Hong, hati Leng Coa sian sing berkebat-kebit.

Dia khawatir I Ki Hu juga menyusul dibelakang.

Begitu terkejutnya kakek itu, sehingga kakinya menyurut mundur satu langkah.

I Giok Hong hanya berhenti sebentar di depan lembah.

Kemudian mengayunkan pecutnya dan melesat datang.

Gerakan pecutnya demikian lemah seakan tidak mengandung tenaga sedikitpun.

Secepat kilat melayang kearah Leng Coa Sian Sing.

Manusia pecinta ular itu menghindarkan dirinya dengan panik.

Gerakan pecut I Giok Hong yang tampaknya lemah itu justru berkelebat bagai cahaya kilat.

Trak!!

Tahu-tahu lencana ditangan Leng Coa sian sing sudah terbelit oleh pecutnya dan melayang kembali kearah I Giok Hong.

Wajah Leng Coa sian sing langsung berubah hebat.

Kakinya terhuyung -huyung mundur beberapa tindak.

"I ....... kouwnio, lencana i ........ tu kau sendiri yang memberikannya kepadaku. Mengapa sekarang kau mengam ........ bilnya kembali?"

Kata Leng Coa sian sing gugup. I Giok Hong mendengus dingin. Lencana itu dimasukkan kedalam saku pakaiannya kemudian pecutnya diayunkan kembali.

"Leng Coa sian sing, setelah menerima lencana ayahku ini, ternyata kau berani mengumbar lagakmu di lembah Gin Hua kok. Cepat pergi dari sini!"

Selembar wajah Leng Coa sian sing tampak merah padam bagai dilumuri darah.

Perlahan -lahan dia mengundurkan diri.

Sesampainya di mulut lembah, dia melongokkan kepalanya.

Keadaan diluar lembah sunyi senyap.

Tampaknya I KI Hu tidak mengiringi kepulangan putrinya I Giok Hong.

Ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga kadang -kadang kedatangan dan kepergiannya persis setan gentayangan yang tidak menimbulkan jejak dan suara sedikitpun.

Kalau dilihat dari keadaan sekarag, tampaknya I Giok Hong memang hanya seorang diri.

Tetapi siapa tahu si Raja Iblis itu bersembunyi disuatu tempat dan belum mau menampakkan dirinya.

Meskipun hati Leng Coa sian sing mendongkol sekali, tetapi apabila dia sampai bergebrak dengan I Giok Hong, ada kemungkina I Ki Hu bisa muncul setiap saat.

Keadaan itu seperti perjudian yang hanya memegang besar atau kecil.

Hanya ada kemungkinan yang taruhannya bukan uang atau harta benda yang dapat dicari penggantinya, tapi nyawanya sendiri.

Karena itu Leng Coa sian sing termenung-menung beberapa saat.

Akhirnya dia tidak berani berspekulasi.

Dia melilitkan sebagian tubuh dan ekor 'cambuk kumala' ke lehernya.

Tubuhnya berkelebat dan menghilang di luar lembah.

Sebetulnya kakek Leng Coa sian sing tidak kembali ke Leng Coa ki (tempat tinggalnya).

Dia hanya berlari ke tempat yang agak jauh kemudian kembali lagi dengan mengambil jalan memutar.

Dia menyembunyikan dirinya di sekitar mulut lembah dan tidak berani masuk ke dalam.

Sejak kecil Leng Coa sian sing senang memelihara ular.

Semua kepandaian yang dimilikinya sekarang merupakan ilmu yang didapatkannya dengan meniru gerak gerik ular.

Bahkan ilmu ginkangnya lain daripada yang lain.

Dia dapat merayap di atas tanah dan pulang pergi seperti melayang di atas tanah dengan tubuh tiarap.

Bahkan tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Meskipun di luar lembah Gin Hua kok terdapat banyak pasir, tempat yang dilaluinya tidak meninggalkan jejak kaki sedikit pun karena dia bukan berjalan tapi melata seperti ular.

Setelah Leng Coa sian sing meninggalkan tempat itu, Seebun Jit baru bisa menghembuskan nafas lega.

Dia mendongakkan kepalanya.

"Sio ... cia, keda ... tanganmu sung ...gun tepat, se ... hingga se ... lembar nya ... waku ini tertolong."

Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas, seakan ia sedang ada keperluan penting.

"Siok-siok, kemana bocah she Li itu? Cepat suruh dia keluar, ayahku ingin menemuinya,"

Tukas I Giok Hong.

Hati Seebun Jit langsung tertegun.

Dia mengeluh dalam hati.

Aku berkelahi melawan tiga iblis dari keluarga Lung dan Leng Coa sian sing matimatian justru karena ingin mempertahankan Lie Cun Ju.

Tetapi kalau dilihat dari sikap I Giok Hong yang kalang kabut ini, tampaknya 1 Ki Hu juga mengandung niat tidak baik.

Seebun Jit menarik nafas panjang.

"Siocia, aku yang bersalah. Setelah kalian pergi tidak lama, datang tiga iblis dari keluarga Lung. Justru ketika aku sedang bertarung dengan sengit melawan mereka, ternyata bocah itu menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri."

Meskipun dalam keadaan mendadak Seebun Jit mengarang cerita bohong, tetapi nada suaranya sedikit pun tidak meragukan.

Namun I Giok Hong seorang gadis yang luar biasa cerdasnya.

Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Siok-siok, kau sedang mendustai aku."

"Siocia, masa hamba mempunyai nyali sebesar itu? Dia ... benar-benar sudah melarikan diri."

Wajah I Giok Hong berubah menjadi angker.

"Seebun Jit, pada dasarnya kau musuh besar Gin Hoa Kok. Mengingat ilmu kepandaianmu yang tinggi, tia menahan kau disini. Justru karena hal itu aku tidak segan-segan memanggil kau siok-siok. Tetapi kalau kau bermaksud macam-macam, aku tidak akan membiarkannya,"

Katanya.

Ketika Seebun Jit bermaksud berdebat, I Giok Hong sudah mengayunkan pecutnya ke atas tanah kemudian membalikkan tubuh dan berjalan pergi.

Seebun Jit segera menolehkan kepalanya.

Tanpa dapat ditahan lagi hatinya mengeluh celaka.

Ternyata arah yang dituju I Giok Hong justru pintu batu tempat Lie Cun Ju disembunyikan.

Di depan goa batu itu memang telah diganjal dengan sebuah batu besar.

Tapi Seebun Jit tahu I Giok Hong sejak kecil sudah dilatih oleh ayahnya sehingga meskipun usianya masih muda, kepandaiannya sudah tinggi sekali.

Batu besar itu tentu tidak sanggup menghalangi niat gadis itu.

"Socia, tunggu dulu!"

Teriak Seebun Jit. I Giok Hong menolehkan kepalanya sambil tertawa cekikikan.

"Rupanya kau menyimpan pemuda itu di goa batu tempat tinggalmu,"

Katanya.

Seebun Jit langsung tertegun.

Sekarang dia baru sadar bahwa bukan hanya kepandaiannya saja yang masih kalah dengan I Giok Hong.

Bahkan kecerdasannya pun terpaut jauh.

Sebetulnya I Giok Hong tidak tahu tempat Lie Cun Ju disembunyikan.

Tetapi saking paniknya Seebu Jit berteriak, itu sama halnya dengan memberitahukan kepada I Giok Hong.

Akhirnya Seebun Jit hanya dapat menarik nafas panjang.

Sekonyong-konyong, dia melompat bangun dengan tangan menumpu diatas tanah.

Dia berdiri juga berjalan maju beberapa langkah kemudian bersandar pada batang pohon.

Tampak I Giok Hong sudah sampai di depan pintu batu.

Pecut ditangannya diayunkan, Tar!

Sekali gerak saja batu besar itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti ledakan bom.

Batu besar yang beratnya paling tidak dua-tiga ribu kati itu langsung terpental ke atas kemudian pecah berhamburan.

Pada saat itu, I Giok Hong sedang berdiri di depan pintu goa.

Sekonyong -konyong batu besar yang mengganjal di depan pintu itu terpental ke atas dan pecah berhamburan.

Gadis itu merasa ada serangkum angin yang kuat melanda kearahnya.

Tetapi ia bahkan menerjang kedepan.

Melihat keadaan yang membahayakan, Seebun Jit sampai mengeluarkan suara seruan terkejut.

Tetapi I Giok Hong sejak kecil memang sudah dilatih keras oleh ayahnya.

Ilmu yang dimilikinya sesungguhnya tinggi sekali apabila mengingat usianya yang masih demikian muda.

Tubuhnya berdiri tegak.

Tangannya masih menggenggam pecut peraknya.

Sedangkan tali pecut itu masih melilit batu besar tadi.

Secepat kilat tangannya begerak mengayunkan pecut lalu ia sendiri menghindar ke samping sejauh beberapa tindak.

Pintu batu itu langsung terbuka karena batu yang mengganjalnya sudah pecah berantakan.

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat.

Cahaya pedang herkilauan.

Bahkan siapa sosok yang menerjang keluar itu, I Giok Hong masih belum sempat melihat dengan jelas.

Tahu-tahu sinar pedang sudah melintas dan meluncur ke arah dadanya.

"Bagus sekali,"

Bentak I Giok Hong.

Saat itu juga dia menarik nafas kemudian menyurutkan dadanya ke belakang.

Pedang itu masih terus mengincarnya.

Bahkan begitu sampai di depannya tampak pedang itu dijungkitkan sedikit ke atas.

Sret!

Pakaian di dadanya langsung terkoyak sepanjang tiga cun.

Wajah I Giok Hong yang cantik jelita langsung merah padam.

Tanpa menunda waktu lagi dia segera mengayunkan pecutnya untuk melilit pedang panjang itu kemudian ditariknya sekuat tenaga.

Sosok yang menggenggam pedang itu dapat merasakan senjatanya terlilit oleh pecut lawan.

Tentu saja dia tidak sudi membiarkannya, orang itu menghentakkan pergelangan tangannya ke belakang.

Ternyata gerakan ini tidak menguntungkan pihak mana pun.

Hati mereka sama-sama terkesiap.

Gebrakan mereka terjadi secara spontan.

Kedua orang itu saling tidak sempat memperhatikan siapa lawannya.

Sampai saat itu, mata mereka baru bertemu pandang.

Masing-masing mendongakkan kepalanya dan sama-sama tertegun.

Diam-diam I Giok Hong mengeluarkan seruan terkejut di dalam hatinya.

Pemuda ini tampan sekali, pikirnya.

Rupanya orang yang bergebrak dengannya adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluhan tahun dan mempunyai wajah tampan.

Tetapi sikap pemuda itu tidak menunjukkan kegagahan, bahkan seperti orang yang sedang dilanda pukulan batin yang berat.

Tangan kanannya menggenggam sebatang pedang dan kirinya memanggul seseorang.

Orang itu adalah Lie Cun Ju yang menjadi incaran orang banyak.

"Siapa kau?"

Bentak I Giok Hong. Pemuda itu malah menarik nafas panjang.

"Kouwnio, harap kau membiarkan aku pergi, jangan bertanya apa pun!"

I Giok Hong tertegun mendengar jawabannya.

Diam-diam dia memaki dalam hati.

Bagus sekali.

Kau kira Gin Hua kok ini merupakan tempat yang boleh kau datangi dan kau pergi sesuka hatimu?

Hawa murninya diedarkan, tenaga dalamnya disalurkan ke lengan kanan, dia sudah mengerahkan tenaga sebanyak delapan bagian.

Kemudian dia menarik lagi pecutnya dengan sekuat tenaga.

Pemuda itu terhuyung-huyung, tubuhnya limbung ke depan.

Tetapi di saat itu juga tiba-tiba pedangnya bergerak.

Timbul suara dengungan, ternyata dia melancarkan tiga totokan ke bagian dada I Giok Hong.

Seebun Jit sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan.

Pada mulanya dia juga tidak mengenal siapa pemuda itu.

Sampai pada gerakan pedangnya barusan, kakek itu baru terkesiap setengah mati.

"A ... pa hubunganmu dengan Pat Sian kiam Tao Cu Hun? Mengapa kau menggunakan jurus Pat sian kiam?"

Teriak Seebun Jit tanpa sadar .

Mendengar teriakan Seebun Jit, I Giok Hong segera mengendurkan jari tangannya.

Pedang dan pecut pun saling terlepas.

Kemudian dia memperhatikan pemuda itu dengan seksama, lalu mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Rupanya kau?"

Ujar I Giok Hong.

Melihat pedangnya tidak dililit lagi oleh pecut si gadis, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sret!

Sret!

Sret!

Sret!

Dalam sekejap mata dia melancarkan empat serangan.

Sinar pedang berkilauan dan gerakannya bukan main hebatnya.

Kali ini, I Giok Hong sudah bersiap sedia.

Gerakan tubuhnya selincah burung walet mengikuti kelebatan pedang pemuda itu.

Dalam keadaan yang benar-benar terjepit, berhasil juga dia menghindari keempat serangan tadi.

Saat pedang lawan belum sempat ditarik kembali, matanya mengukur dengan tepat.

Tiba-tiba jari tengahnya tampak meluncur ke depan dan menutul bagian tubuh pedang.

Terdengar suara Tuk!

Meskipun hanya tutulan sebuah jari tangan, tapi I Giok Hong sudah menggunakan tenaga sebanyak delapan bagian.

Saat itu juga, si pemuda merasa pedangnya seperti ditekan oleh batangan besi seberat ribuan kati.

Jelas saja pedangnya terpental ke samping namun tidak sampai terlepas.

Tangan kanan pemuda itu memang menggenggam sebatang pedang, dan tangan kirinya memanggul seseorang.

Maka begitu pedangnya terhempas ke samping, bagian dada menjadi terbuka.

Dalam waktu yang bersamaan, I Giok Hong mengayunkan pecut di tangannya.

Sinar perak berkilauan, berkelebat melalui bawah ketiaknya kemudian bergerak melingkar.

Pecut itu laksana seekor ular yang tiba-tiba sudah melilit dadanya.

Semakin lama lilitan itu semakin kuat, apalagi setelah I Giok Hong mengerahkan tenaganya.

Pemuda itu merasa tulang di sekitar rongga dadanya nyeri sekali sehingga dia berteriak kesakitan.

Namun dia tidak ceroboh, Pedang panjangnya dikibaskan ke arah tali pecut itu.

Pedang itu tepat mengenai sasarannya, tetapi pecut lemas itu tidak putus.

Pemuda itu dapat merasakan keadaannya yang tidak menguntungkan.

Dengan mengikuti gerakan pecut, pedang terus meluncur ke depan dan sekali lagi mengancam pergelangan tangan I Giok Hong.

Jurus yang satu ini dikerahkan sesuai perkembangan yang berlangsung.

Sebetulnya tidak ada keistimewaan apa-apa, tetapi dalam keadaan terdesak ternyata bermanfaat sekali.

Pedang itu sudah sampai pada sasaran, tetapi saat itu juga terdengar suara trak!

Ternyata pergelangan tangan I Giok Hong tidak terluka karena pedang itu tepat mengenai gelang batu giok yang dikenakannya.

I Giok Hong merasa dirinya tidak terluka.

Tetapi dia menyadari bahwa ilmu pedang pemuda itu ternyata tidak dapat dipandang ringan.

Sama sekali tidak boleh diberi kesempatan untuk menyerang terlebih dahulu.

Cepat-cepat dia menyurut mundur satu langkah.

Dengan sepenuh tenaga dia menarik pecutnya, maka tali yang melilit pemuda itu semakin menguat.

Terdengar pemuda itu meraung keras-keras kemudian melancarkan sebuah serangan lagi dalam keadaan terdesak.

Pecut di tangan I Giok Hong sudah membentuk lingkaran yang melilit dadanya.

Ketika dia mengerahkan tenaga dalamnya, lilitannya semakin menciut.

Pemuda itu harnpir tidak dapat menarik nafas karena dadanya terasa sesak.

Dengan panik dia mengedarkan hawa murninya dan memberontak sekuat tenaga.

Serangannya kali itu dilakukan dalam keadaan kalap.

Tentu saja membahayakan sekali.

Tetapi I Giok Hong tetap tenang.

Pecutnya ditarik ke samping sehingga gerakan pedang pun meleset dari sasaran yang sebenarnya.

Gadis itu kembali menjulurkan tangan kirinya ke atas dan lagi-lagi terdengar ketukan.

Kali ini dia menggunakan tenaga yang lebih besar, sedangkan pemuda itu sudah mulai lemah karena dadanya yang terasa sesak.

Seiring dengan suara ketukan itu pedang di tangan si pemuda terpental ke udara.

I Giok Hong merasa bangga sekali.

Dia tertawa terbahak-bahak.

"Jit siok, coba kau lihat bagaimana permainanku, lumayan bukan?"

Baru saja ucapannya selesai, pergelangan tangan kanannya menekan ke bawah.

Tibatiba pecutnya melayang ke atas dan jalan darah di pundak si pemuda sudah tertotok.

Setelah itu dia baru mengendorkan lilitannya lalu bergerak ke samping tiga langkah, sikapnya santai sekali.

Dia berdiri tegak sambil mengembangkan seulas senyuman manis.

Seebun Jit yang berdiri di samping melihat dengan jelas setiap gerakan tubuh I Giok Hong.

Meskipun dia tahu dirinya terlibat permusuhan yang dalam dengan I Ki Hu dan juga tahu kemenangan I Giok Hong yang berhati keji itu pasti membawa bencana baginya dan lie Cun Ju, tetapi dia juga tidak dapat menahan diri untuk menarik nafas panjang.

"Kepandaian yang hebat,"

Katanya. Meskipun pemuda tadi sudah tertotok jalan darahnya oleh I Giok Hong, tetapi mulutnya masih bisa bersuara. Dia mengedarkan hawa murninya untuk membebaskan dirinya dari totokan.

"Untuk apa kau menahan aku di sini?"

Katanya.

"Aku lihat wajahmu ada kemiripan dengan Tao Ling, lagi pula kau juga pandai memainkan jurus pedang Pat Sian kiam. Mungkinkah kau Tao Heng Kan yang membunuh Li Po di gedung Kuan Hong Siau kemudian melarikan diri menjadi buronan orang-orang kang ouw? Tentunya tebakan itu tidak salah, bukan?"

Jawab I Giok Hong sambil tersenyum.

Mendengar I Giok Hong menyebut namanya dengan tepat, Tao Heng Kan segera memejamkan matanya dan tidak berkata-kata lagi.

Wajah I Giok Hong justru semakin berseri-seri.

"Ternyata kau memang Tao Heng Kan. Ini yang dinamakan dicari-cari tidak ketemu, eh tahu-tahunya malah datang sendiri,"

Ujar I Giok Hong.

Tao Heng Kan sudah mengedarkan hawa murninya sebanyak dua kali.

Dia merasa jalan darahnya yang tertotok sudah hampir bebas.

Karena itu dia segera mengulur waktu agar dapat mengedarkan hawa murninya sekali lagi.

Matanya tetap terpejam.

Dia bertanya kepada I Giok Hong.

"Siapa kau? Untuk apa kau mencariku?"

Ilmu totokan dengan ujung pecut seperti yang dikerahkan I Giok Hong itu, setiap jurusnya mengandung tenaga dalam yang murni.

Jalan darah manapun yang tertotok, tidak mudah dibebaskan dengan hanya mengedarkan hawa murni saja.

Kecuali orang yang tenaga dalamnya sudah mencapai taraf kesempurnaan.

I Giok Hong sudah melihat bahwa lawannya adalah putra Pat Sian kiam Tao Cu Hun.

Ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukannya, karena itu dia hanya menggunakan tiga bagian ketika menotok jalan darah Tao Heng Kan.

Maksudnya agar pemuda itu dapat menjawab pertanyaannya dengan lancar.

Tetapi maksud hatinya itu justru memberi kesempatan bagi Tao Heng Kan.

I Giok Hong juga tidak menyadari bahwa tenaga dalam lawannya sudah cukup tinggi, bahwa tidak seberapa jauh apabila dibandingkan dengan dirinya.

Apalagi mempunyai dugaan bahwa anak muda itu bisa mengedarkan hawa murninya untuk melepaskan totokannya.

"Tentu saja ada urusan baru aku mencarimu. Aku ingin menanyakan dimana orang tuamu sekarang?"

Jawab I Giok Hong dengan tawa cekikikan.

"Aku tidak tahu,"

Jawab Tao Heng Kan segera. Dari sepasang inata I Giok Hong yang indah menyorot sinar yang tajam.

"Kau bertanding ilmu dengan putra Pat Kua kim gin kiam Lie Yuan yang bernama Li Po. Mengapa tiba-tiba kau membunuhnya? Apakah demi ..."

Tanyanya.

Baru berkata sampai di sini, Tao Heng Kan sudah mengedarkan hawa murni dalam tubuh untuk ketiga kalinya.

Dia merasa tubuhnya menjadi ringan dan sudah bisa bergerak lagi.

Tiba-tiba tangannya mengibas dan tiga titik sinar melesat keluar secepat kilat mengincar bagian dada I Giok Hong.

Dalam waktu yang bersamaan, kakinya menghentak dan melesat ke samping.

I Giok Hong sedang berbicara dengan Tao Heng Kan, jarak mereka dekat sekali.

Mungkin karena dia telah menotok jalan darah pemuda itu sehingga tidak khawtir bisa diserang secara mendadak olehnya.

Dia sama sekali tidak membayangkan Tao Heng Kan bisa menembus sendiri jalan darahnya yang tertotok, bahkan menyambitkan tiga batang senjata rahasia kepadanya.

Ilmu kepandaian I Giok Hong saat itu sebetulnya dapat menandingi jago bulim kelas satu yang mana pun.

Tetapi dalam keadaan tanpa persiapan sedikit pun, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Niatnya ingin mengayunkan pecut di tangannya, tetapi tidak keburu lagi.

Terpaksa dia menekuk sepasang kakinya dan berjongkok dengan kepala menunduk.

Ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Tao Heng Kan pun melesat lewat di atas kepalanya.

Jaraknya hanya tinggal beberapa cun.

Kalau saja gerakannya kurang sigap, pasti saat ini dia sudah terkapar di atas tanah dengan dada tertembus senjata rahasia.

Hawa amarah dalam dada I Giok Hong meluap seketika.

Cepat-cepat dia bangun dan membalikkan tubuhnya.

Tampak Tao Heng Kan sudah melesat sejauh dua depaan.

Kakinya mendarat tepat di samping pedang panjangnya yang dipentalkan oleh I Giok Hong tadi.

Kakinya menendang, pedang itu pun mencelat ke atas.

Bayangannya seperti pelangi melintas.

Pedang itu terbang ke depan, gerak tubuh Tao Heng Kan pun melesat mengikutinya.

Sembari terus berlari, tangannya menjulur ke atas meraih pedang yang sedang melayang turun itu.

Jaraknya sudah bertambah dua depa lagi.

Tahu-tahu dia sudah mencapai mulut lembah Gin Hua kok.

Tanpa menolehkan kepala sedikt pun, dia langsung berlari keluar.

I Giok Hong membentak dengan suara nyaring.

"Manusia she Tao! Jangan lari!"

Gerakan tubuhnya laksana terbang, dia menghambur ke arah kudanya yang berwarna putih perak.

Sekali loncat ia sudah menunggang di atasnya.

Pecutnya diayunkan dan menimbulkan suara Tarrr!

Baru saja dia ingin melarikan kudanya untuk mengejar Tao Heng Kan, tiba-tiba terdengar Seebun Jit berteriak.

"Siocia! Jangan dikejar!"

Sepasang alis I Giok Hong langsung menjungkit ke atas. Dia mendengus satu kali.

"Kau dan dia sama-sama prajurit yang sudah dikalahkan. Setelah aku menyelesaikan persoalanku dengan pemuda itu, aku akan kembali lagi untuk berhitungan denganmu."

Sembari berkata, dia menghentakkan tali kendali kudanya kemudian melesat ke depan.

"Siocia, apa yang kukatakan adalah demi kebaikanmu sendiri. Apakah kau melihat senjata rahasia apa yang disambitkannya tadi?"

Teriak Seebun Jit dengan gugup.

Sekali lagi I Giok Hong menghentakkan tali kendali kudanya dan memutar arah.

Orangnya serta pecut di tangannya menimbulkan cahaya perak yang melingkar sehingga tampak indah sekali.

Dia tidak menghentikan gerakannya, namun dari jauh masih terdengar teriakannya.

"Tidak perduli senjata rahasia apa pun yang digunakannya, pokoknya aku harus mengejarnya sampai dapat."

Ketika suaranya sirap, orangnya pun sudah menghilang di belokan mulut lembah.

Seebun Jit menarik nafas panjang.

Dengan menggunakan goloknya sebagai tongkat, dia ber-jalan tertatih-tatih sejauh beberapa depa.

Kemudian dipungutnya ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Tao Heng Kan tadi.

Senjata rahasia itu menyorotkan sinar yang berkilauan.

Seebun Jit memungutnya dan memperhatikannya dengan teliti.

Bentuknya benar-benar aneh.

Karena tidak sesuai dijadikan senjata rahasia.

Panjangnya satu cun lebih.

Ternyata benda itu adalah naganagaan dari emas murni yang buatannya halus sekali.

Seebun Jit masih menggenggam ketiga buah senjata rahasia itu.

Lalu dia menolehkan kepalanya kembali ke arah mulut lembah.

Terdengar dia menghela nafas panjang.

Baru saja dia ingin memasukkan ketiga buah naga emas tadi ke dalam saku bajunya, tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat di mulut lembah.

Rupanya Leng Coa sian sing sudah kembali lagi.

"Seebun Jit, orang yang melihat seharusnya mendapat bagian,"

Kata Leng Coa sian sing.

"Leng Coa sian sing, di tanganku sekarang ada tiga buah naga emas, apakah kau masih berani bergebrak denganku?"

Sahut Seebun Jit sambil melintangkan goloknya di depan dada.

"Di dalam lembah ini tidak ada orang lain seandainya aku membunuhmu, rasanya tidak mungkin ada yang mengetahui,"

Ucap Leng Coa sian sing dengan tawa cekikikan. Wajah Seebun Jit tidak menyiratkan perasaan takut sedikit pun. Dia malah tertawa terbahak-bahak.

"Leng Coa sian sing, sudah cukup lama kau mengasingkan diri di wilayah barat ini. Kehidupanmu tenang dan damai. Mengapa kau masih ingin menceburkan dirimu dalam kancah dunia bulim yang tidak habis-habisnya saling membunuh dan memperebutkan nama kosong? Pemilik naga emas ini bagai dewa yang sakti. Tidak ada hal yang tidak diketahuinya. Apabila kau berniat mengelabuinya, mungkin lebih sulit daripada terbang ke angkasa,"

Kata Seebun Jit. Wajah Leng Coa sian sing berubah hebat. Tampaknya dalam hati dia merasa agak takut, tetapi dalam sekejap mata penampilannya sudah pulih lagi seperti semula.

"Seebun Jit, waktu kematianmu sudah tiba, buat apa kau membuka mulut sesumbar yang tidak-tidak?"

Dia melangkah ke depan dua tindak.

'Cambuk kumala' yang rebah di tangannya langsung dikibaskan ke depan, tepat mengenai betis Seebun Jit.

Luka Seebun Jit sudah parah sekali.

Dia mempertahankan diri berdiri dengan goloknya sebagai penopang.

Begitu kena tersapu, Seebun Jit langsung jatuh ambruk di atas tanah.

Leng Coa sian sing maju ke depan satu langkah, kakinya sudah siap menginjak dada lawannya.

Tiba-tiba Seebun Jit melihat ada tiga sosok bayangan yang berkelebat di mulut lembah.

Diam-diam hatinya merasa girang.

"Leng Coa sian sing, ada orang yang datang,"

Katanya.

Pada saat itu Leng Coa sian sing juga sudah mendengar suara langkah kaki.

Hatinya tercekat.

Apalagi setelah Seebun Jit mengibaskan tangannya melemparkan ketiga buah naga emas itu ke tempat yang jauh.

Dalam waktu yang bersamaan, ketiga orang yang tadi berkelebat di mulut lembah juga sudah menghambur ke dalam.

Ternyata memang tiga iblis dari keluarga Lung.

Begitu melihat sinar berkilauan melesat lalu terjatuh di atas tanah, mereka segera menghampirinya.

Setelah melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah tiga buah naga-nagaan dari emas yang panjangnya satu cun lebih, wajah mereka langsung berseri-seri.

"Tong tian pao Hong! (Naga pusaka penembus langit)."

Seru mereka serentak.

Setelah mengeluarkan seruan tadi.

Tanpa bersepakat lagi ketiganya langsung menerjang ke arah tiga naga emas itu.

Leng Coa sian sing yang melihat ketiga iblis dari keluarga Lung akan memungut naga-nagaan dari emas, langsung panik.

'Dia berteriak sekeras-kerasnya.

"Tunggu dulu!"

Lupa sudah dia akan tujuan semula yang ingin membunuh Seebun Jit.

Tubuh-nya membalik lalu melesat bagai terbang, gerakannya memutar bagai angin topan.

Setelah tujuh-delapan kali putaran, dia langsung menerjang ke arah tiga iblis dari keluarga Lung.

'Cambuk kumala' di tangannya mengeluarkan suara desisan yang aneh.

Binatang itu menjulurkan kepalanya dan menyapu tiga orang itu.

Tiga iblis dari keluarga Lung mengeluarkan suara pekikan yang menyeramkan.

Mereka meloncat ke samping untuk menghindarkan diri.

Tetapi sekejap kemudian mereka berkumpul kembali dan mengurung Leng Coa sian sing.

Keempat orang itu pun terlibat perkelahian yang seru.

Tampak bayangan manusia berkelebat kesana kemari.

Bayangan ular yang mirip pecut lemas juga bergerak kian kemari.

Pertarungan itu sungguh sengit.

Sedangkan ketiga naga-nagaan dari emas itu belum sempat dipungut oleh siapapun dan masih menggeletak di atas tanah.

Seebun Jit melihat keempat musuhnya terlihat dalam perkelahian yang seru.

Matanya menatap lekat-lekat pada ketiga naga-nagaan dari emas yang tergeletak di atas tanah.

Hatinya timbul perasaan sayang.

Ketiga naga-nagaan dari emas itu merupakan benda yang diinginkan setiap tokoh persilatan di bulim.

Sekarang benda itu justru hanya berjarak tiga-empat depa di hadapannya.

Seebun Jit juga tahu, apabila dia merayap ke depan untuk memungut ketiga naganagaan dari emas itu, tiga iblis dari keluarga Lung beserta Leng Coa sian sing yang terlibat perbentrokan justru karena benda yang sama, pasti tidak akan membiarkannya.

Bisa jadi mereka malah bersatu untuk mengeroyok dirinya.

Dengan kata lain, meskipun Seebun Jit bisa mendapatkan ketiga naga-nagaan dari emas itu, dia pasti terbunuh di dalam lembah Gin Hua kok.

Menurut cerita yang tersebar di dunia kang ouw, naga-nagaan yang sejenis jumlahnya ada tujuh buah.

Walaupun dia bisa mendapatkan semuanya sekaligus, namun kalau akibatnya seperti itu, apa gunanya?

Seebun Jit merenung dengan termangu-mangu sekian lama.

Leng Coa sian sing dan tiga iblis dari keluarga Lung yang bertarung mati-matian juga tidak memperhatikan gerak gerik Seebun Jit.

Sebenarnya tidak ada kesulitan bagi tiga iblis untuk mengalahkan Leng Coa sian sing.

Semestinya manusia pemelihara ular itu sudah bisa dikalahkan sejak tadi.

Namun karena sebelumnya Lung Sen dan Lung Ping pernah terluka di tangan Seebun Jit, maka gerakan kaki mereka menjadi kurang gesit.

Sedangkan Leng Coa sian sing merasa, dirinyalah yang seharusnya mendapatkan ketiga ekor naga-nagaan itu.

Dengan menggunakan 'cambuk kumalanya sebagai senjata, dia mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi tiga iblis dari keluarga Lung.

Leng Coa sian sing memijit keras-keras bagian ekor ularnya.

Cambuk Kumala kesakitan, maka menjadi buas seketika.

Asal Leng Coa sian sing menggerakkan tangannya sedikit saja, ular itu langsung menyeruduk ke depan dengan kalap.

Serangannya merupakan gerakan yang sulit ditirukan oleh manusia.

Lagipula tindakannya kalap seperti tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri.

Inilah perbedaan ular dengan manusia.

Manusia, pasti mempunyai berbagai pertimbangan, sedangkan ular hanya ingin melepaskan dirinya dari rasa sakit.

Hal lain tidak diperdulikan.

Terdengar suara desisan yang semakin lama semakin keras.

Ular itu menyemburkan bisanya kesana kemari.

Tiga iblis dari keluarga Lung tidak berani melawan dengan kekerasan.

Karena itu, meskipun bertiga mereka mengeroyok satu orang, hasilnya sampai sekian lama tetap seimbang.

Seebun Jit sendiri sudah merayap sampai keluar mulut lembah.

Di kejauhan terlihat debu beterbangan di angkasa.

Tentu kuda I Giok Hong yang sedang mengejar Tao Heng Kan.

Seebun Jit menarik nafas panjang, setelah itu dia menepi untuk merawat lukanya.

***** Tao Heng Kan yang berlari secepat kilat meninggalkan Gin Hua kok, dikejar ketat oleh I Giok Hong di belakangnya.

Beberapa bulan yang lalu, ilmu kepandaian Tao Heng Kan masih belum terhitung apaapa, tetapi sejak pertandingan ilmu melawan Li Po di gedung kediaman Kuan Hong Siau, tampaknya dia menemukan suatu mukjijat yang membuat ilmu silatnya maju pesat.

Kalau tidak, ketika dia bertarung melawan I Giok Hong di dalam lembah Gin Hua kok tadi, tidak mungkin tenaga dalamnya bisa seimbang dengan gadis itu.

Meskipun ilmu silat Tao Heng Kan mengalami kemajuan pesat, tetapi saat itu dia sedang memanggul Lie Cun Ju.

Ditambah lagi tunggangan I Giok Hong yang merupakan kuda pilihan.

Maka semakin lama jarak kedua orang itu pun semakin mendekat.

Tao Heng Kan menolehkan kepalanya.

Tampak cahaya putih berkilauan.

Gerakan I Giok Hong dan kudanya seperti melesat tanpa memijak tanah.

Jarak mereka sekarang tinggal tiga-empat depa.

Dalam hati dia sadar tidak bisa lolos dari kejaran gadis itu.

Karenanya, dia segera menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan memaksakan kakinya berhenti berlari.

Setelah itu dia berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada.

"I kouwnio, antara kita tidak ada permusuhan apa pun. Untuk apa kau mendesakku sedemikian rupa?"

Baru saja ucapannya selesai, I Giok Hong sudah menyusul tiba.

Tangan kirinya menarik tali kendali kuda erat-erat, kemudian tubuhnya bergerak turun dengan lincah.

Dalam sekejap mata dia sudah berdiri di hadapan Tao Heng Kan sambil tertawa dingin.

Tangannya menunjuk kepada Lie Cun Ju yang ada dalam panggulan pemuda itu.

"Kau berani masuk ke dalam Gin Hua kok secara sembarangan. Hal itu sudah merupakan kesalahan besar. Apalagi kau berani menculik orang lembah itu."

"I kouwnio, aku menculik orang ini bukan atas kemauanku sendiri. Aku terpaksa melakukannya. Seandainya I kouwnio bisa melapangkan hati sedikit, aku juga tidak ingin bergebrak dengan nona. Dengan demikian masing-masing tidak akan mengalami kerugian apa-apa,"

Kata Tao Heng Kan sambil menarik napas panjang. I Giok Hong mendengus dingin.

"Kenapa? Kau kira kalau terjadi perkelahian, aku akan kalah di tanganmu?"

Bibir Tao Heng Kan bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya dia membatalkan niatnya. Kakinya menyurut mundur satu langkah.

"Kalau I kouwnio berkeras ingin berkelahi, silakan membuka serangan!"

Ujar Tao Heng Kan kemudian.

I Giok Hong adalah seorang gadis yang sangat cerdas.

Sejak tadi dia sudah melihat ada ucapan yang ingin dikatakan oleh Tao Heng Kan tetapi dibatalkannya.

Meskipun dalam hati dia merasa benci melihat tindakan Tao Heng Kan yang seenaknya menculik Lie Cun Ju dari lembah Gin Hua kok, malah ketiga batang senjata rahasia yang dilontarkannya hampir saja melukai dirinya, tetapi sejak Tao Heng Kan bertanding ilmu dengan Li Po di gedung kediaman Kuan Hong Siau, lalu membunuhnya tanpa sebab musabab yang pasti, hal ini sudah diketahui seluruh bu Hm, bahkan Tao Heng Kan dianggap sebagai tokoh yang misterius.

Ketika I Giok Hong menolong Lie Cun Ju dan Tao Ling yang hampir mati di dalam gedung 'Ling Wei piau kiok', dia justru mengira Lie Cun Ju adalah Tao Heng Kan.

Namun akhirnya ternyata dugaannya salah.

Karena itu dia merasa tidak memerlukan pemuda itu dan melemparkannya ke tepi jalan begitu saja.

Sekarang ini, di dalam hatinya justru timbul perasaan ingin tahu tentang diri pemuda tampan yang berdiri di hadapannya itu.

Sebetulnya apa yang membuat Tao Heng Kan tiba-tiba membunuh LiPo.

"Apa yang ingin kau katakan barusan? Mengapa akhirnya kau tidak jadi mengatakannya?"

Tanya I Giok Hong. Tao Heng Kan tertegun. Seakan dia menjadi bimbang karena I Giok Hong berhasil menebak isi hatinya. Tampak dia menarik nafas panjang.

"I kouwnio, seandainya terjadi perkelahian di antara kita, mungkin aku tidak dapat mengalahkanmu. Tetapi kalau kau sampai melukaiku sedikit saja, bisa menimbulkan kemarahan seorang tokoh besar. Mungkin ayahmu sendiri tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap tokoh yang satu ini."

I Giok Hong mendengar nada suara Tao Heng Kan yang serius dan wajahnya juga menandakan bukan orang yang sedang bergurau.

Tetapi dia tidak percaya di dunia bu lim ada tokoh yang ayahnya sendiri tidak berani mencari gara-gara dengannya.

Tapi di samping itu dia juga tahu Tao Heng Kan tidak berdusta.

Kemarahan dalam hatinya agak reda seketika, bibirnya tertawa sumbang.

"Kalau begitu, kau tidak ingin berkelahi denganku, justru karena kebaikanku sendiri?"

Wajah Tao Heng Kan menjadi merah padam. Dia merasa malu sekali.

"Memang demikianlah maksudku,"

Ujar Tao Heng Kan.

"Boleh saja aku tidak berkelahi denganmu, asal kau kembalikan orang yang kau panggul itu. Aku pun akan menyudahi urusan ini,"

Kata I Giok Hong.

Kata-kata dan tingkah laku I Giok Hong kali ini sudah terhitung sungkan sekali.

Karena Gin leng hiat dang I Ki Hu tidak pernah memandang sebelah mata terhadap siapa pun, sebagai putrinya jelas I Giok Hong mempunyai sifat yang sama.

Apabila dia bersedia melepaskan Tao Heng Kan begitu saja, bagi orang yang mengenalnya benar-benar merupakan suatu kejadian yang langka.

Bahkan I Giok Hong sendiri tidak mengerti mengapa dia demikian menaruh simpatik terhadap pemuda tampan yang ada di hadapannya ini.

Di dalam hati Tao Heng Kan juga dapat merasakan sikap istimewa I Giok Hong terhadap dirinya.

Tetapi dia benar-benar mempunyai kesulitan tersendiri yang membuatnya tidak dapat menyerahkan Lie Cun Ju.

Tao Heng Kan menyelinap ke dalam lembah Gin Hua kok untuk menculik Lie Cun Ju sebetulnya mendapatkan waktu yang tepat.

Karena pada saat itu Seebun Jit sudah terluka parah, I Ki Hu pun sedang bepergian.

Tetapi semua ini dilakukannya bukan karena dia sudah mengintai datangnya kesempatan.

Kalaupun saat itu Seebun Jit belum terluka dan I Ki Hu ada di dalam lembah Gin Hua kok, tetap dia harus menculik Lie Cun Ju.

Karena itu, mendengar permintaan I Giok Hong, dia terpaksa tertawa getir serta menggelengkan kepalanya.

"I kouwnio, aku tahu sikapmu yang rela melepaskan aku pergi begitu saja merupakan hal yang sulit ditemui. Tapi ... aku masih mempunyai satu permohonan, entah I kouwnio bersedia mengabulkannya atau tidak?"

Sembari berkata, sepasang mata Tao Heng Kan yang menyiratkan penderitaan menatap I Giok Hong lekat-lekat.

Gadis itu sendiri merasa bahwa selama ini hatinya belum pernah mempunyai perasaan yang demikian ganjil.

Tanpa terasa wajahnya menjadi merah.

Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Aneh sekali! Rasanya aku ingin mendengarkan perkataannya. Mengapa bisa mempunyai perasaan seperti ini? Apa sebabnya?"

Di dalam hatinya berpikir, tetapi mulutnya sudah langsung menjawab.

"Ada urusan apa? Silakan utarakan saja!"

Wajah Tao Heng Kan langsung berseri-seri.

Padahal sebelumnya wajahnya yang tampan selalu murung.

Tetapi begitu terlihat cerah, malah penampilannya semakin gagah.

Sungguh tidak mudah menemukan pemuda yang demikian tampan dan enak dipandang.

Tanpa dapat ditahan lagi, hati I Giok Hong bergetar.

"Seandainya I kouwnio bisa mengijinkan aku membawa Lie kongcu ini, seumur hidup aku tidak akan melupakan budi kebaikan nona,"

Ujar Tao Heng Kan.

Mendengar ucapannya, I Giok Hong menjadi tertegun.

Aku membawa Tao Ling mengikuti tia menuju Si Cuan yang jauh.

Tahu-tahu di tengah perjalanan, tia menghentikan kereta kuda dan berpesan wanti-wanti agar aku kembali ke Gin Hua kok dan membawa Lie Cun Ju menuju rumah kediaman keluarga Sang di Si Cuan.

Tia mengatakan kami akan bertemu di sana.

Bahkan ketika menyampaikan perintah itu, sikap tia serius sekali.

Sedemikian seriusnya sampai aku belum pernah melihatnya.

Ini berarti perintahnya itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Seandainya aku menemuinya dengan tangan kosong, kemungkinan aku akan mendapatkan hukuman berat, pikirnya dalam hati.

Seandainya permintaan Tao Heng Kan saat ini merupakan hal yang lainnya, mungkin I Giok Hong bisa mengabulkannya mengingat pemuda itu sudah menarik simpatinya.

Tetapi justru hal inilah satu-satunya permintaan yang tidak dapat dikahulkan.

Dia termenung beberapa saat.

Teringat kembali kata-katanya sendiri yang demikian tegas tadi, dia jadi tidak enak hati.

Bibirnya memaksakan seulas senyuman.

"Tao kongcu, urusan ini aku sendiri tidak bisa mengambil keputusannya."

Rona berseri-seri di wajah Tao Heng Kan sirna seketika.

"Apakah ayahmu menyuruhmu kembali ke Gin Hua kok untuk mengambil orang ini?"

I Giok Hong menganggukkan kepalanya.

"Dugaanmu memang benar."

Wajah Tao Heng Kan berubah hebat. Kakinya menyurut mundur beberapa langkah.

"I kouwnio, ini ... ini ..."

Sampai cukup lama dia tergagap tanpa dapat meneruskan kata-katanya. I Giok Hong merenung sejenak.

"Tao kongcu, apakah keadaanmu sama denganku? Yakni menculik orang ini bukan atas kemauan sendiri, melainkan atas desakan orang lain? Dan apabila kau tidak sampai membawa orang ini, kau akan tertimpa musibah besar?"

Wajah Tao Heng Kan pucat pasi. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Karena itu I Giok Hong justru semakin yakin bahwa dugaannya tidak salah.

"Kalau begitu, aku tidak usah menanyakan siapa orang itu. Aku sudah dapat membayangkan bahwa orang itu berilmu tinggi sekali. Biarpun kita bergabung menghadapinya, kita tidak sanggup mengalahkanriya ..."

Berbicara sampai di situ, wajahnya yang cantik kembali merah padam.

"Aku justru mempunyai sebuah jalan yang mungkin bisa menguntungkan kita bersama. Sekarang ini ayah dan adikmu sedang menunggu di Si Cuan. Bagaimana kalau kita bersama-sama menuju tempat itu dulu, setelah bertemu dengan tia dan adikmu, baru kita tentukan kembali langkah berikutnya."

Tao Heng Kan terkejut setengah mati mendengar keterangan I Giok Hong.

"Adikku bersama-sama dengan ayahmu sekarang?"

I Giok Hong menganggukkan kepalanya.

Baru saja gadis itu ingin menjawab pertanyaan Tao Heng Kan, tiba-tiba di belakangnya terdengar sebuah suara.

Suara itu persis seperti langit akan runtuh atau bumi membelah dalam waktu seketika.

Baik Tao Heng Kan maupun I Giok Hong sama-sama terkejut.

Serentak mereka menolehkan kepalanya.

Tampak dari lembah Gin Hua kok yang terlihat dari kejauhan ada empat orang yang berlari-lari kalang kabut.

Gerakan tubuh keempat orang itu cepat sekali.

Meskipun jaraknya sangat jauh, dapat dipastikan bahwa mereka adalah Leng Coa sian sing dan tiga iblis dari keluarga Lung.

Lari mereka bukan seperti tiga orang yang bersaudara itu mengejar seorang lawan, atau yang satu mengejar yang tiga.

Bahkan tampaknya keempat orang itu seperti melarikan diri secara serabutan seakan ingin menyelamatkan jiwa masing-masing.

Dua di antaranya, yakni Lung Sen dan Lung Ping malah tampak bergulingan karena terjatuh-jatuh.

Mereka lari kalang kabut, tampaknya seperti lupa bagaimana mengerahkan ilmu ginkang yang mereka kuasai.

I Giok Hong yang melihatnya sampai terheran-heran.

Gadis itu berpikir dalam hati.

"Keempat orang itu, tokoh-tokoh kelas satu di dunia bu lim. Mengapa tiba-tiba berlari-Iari seperti orang yang ketakutan? Mungkinkah tia sudah kembali ke Gin Hua kok?"

Baru saja I Giok Hong ingin menghambur ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang menggelegar.

Sumbernya dari lembah Gin Hua kok.

Gadis itu segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.

Tampak batu-batu dinding di mulut lembah terpental dan berhamburan sehingga menimbulkan debu-debu yang tebal.

Bahkan batu-batu itu melambung tinggi sampai kurang lebih tiga depa.

Rasa terkejut I Giok Hong tak terkirakan lagi.

Sejak kecil dia dibesarkan dalam lembah Gin Hua kok.

Bahkan dinding batu yang berhamburan itu merupakan tempat bermainnya ketika masih anak-anak.

Dia mengenal sekali kekokohan dinding batu itu.

Tetapi siapa orangnya yang mempunyai kekuatan demikian besar, yang mampu menghantam batu itu sehingga pecan berhamburan?

Karena terkejutnya, langkah kaki I Giok Hong terhenti.

Gadis itu tidak melangkah maju lagi.

Tampak Leng Coa sian sing dan tiga iblis dari keluarga Lung bergerak semakin cepat ke arahnya.

Gerakan keempat orang ini benar-benar menggunakan kecepatan yang semaksimal mungkin.

Suara ledakan di belakang semakin bergemuruh sehingga gendang telinga terasa ngilu.

Wajah keempat orang itu tampak semakin pucat pasi.

Dan saat itu sudah semakin mendekat ke arah I Giok Hong dan Tao Heng Kan.

Wajah mereka penuh dengan debu, keringat membasahi seluruh tubuh, dan sikap mereka tampak benar-benar panik.

Ketika sampai di depan I Giok Hong dan Tao Heng Kan, mereka sempat berhenti sejenak untuk menolehkan kepala melihat keadaan lembah Gin Hua kok.

Kemudian mereka sama-sama mengluarkan suara pekikan histeris lalu meneruskan langkah kaki mereka untuk berlari ke depan.

Hati I Giok Hong dilanda rasa penasaran yang tidak terkirakan.

Tanpa menunggu sampai jarak mereka terlalu jauh, dia langsung menghentakkan sepasang kakinya dan melesat melewati keempat orang itu.

Dalam sekejap mata dia berhasil melewati atas kepala keempat orang itu dan menghadang di depan mereka.

Pecut di tangannya segera diayunkan ke depan agar mereka tidak berani menerjang terus ke depan.

"Apa yang terjadi di dalam lembah?"

Bentaknya segera. Keempat orang itu tidak memberikan jawaban. Gerakan tubuh mereka terhenti.

"Minggir!"

Bentak Lung Goan Po.

Lung Sen dan Lung Ping segera bergerak ke samping dan terus berlari ke depan.

Sedangkan Leng Coa sian sing lebih licik.

Dari tadi dia sudah melihat tubuh I Giok Hong yang bergerak ingin menghadang mereka.

Baru saja I Giok Hong melayang turun, dia sudah membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu dengan mengambil jalan memutar.

I Giok Hong sadar, bahwa menghadang keempat orang dengan seorang diri itu bukan suatu hal yang mudah.

Ternyata ketiga orang lainnya melarikan diri tanpa memperdulikan apa pun.

Seandainya menghadapi Lung Goan Po seorang diri, I Giok Hong tentu tidak merasa khawatir.

I Giok Hong langsung mengeluarkan suara tertawa yang nyaring.

Pecut di tangannya diayunkan untuk mengirimkan sebuah totokan ke bagian dada Lung Goan Po.

"Ketiga orang yang lainnya sudah melarikan diri, kau kira kau dapat lolos begitu saja?"

Bentak I Giok Hong.

Melihat pecut di tangan I Giok Hong melayang ke arahnya, Lung Goan Po segera membungkukkan tubuhnya dan berguling di atas tanah.

Meskipun tubuh Lung berbentuk pendek gemuk, kecepatan gerakannya tidak sembarangan bisa diikuti orang lain.

Setelah bergulingan tiga kali, tahu-tahu tubuhnya sudah berada pada jarak sejauh lima depaan.

Pakaian I Giok Hong tampak mengibar-ngibar.

Tampaknya dia tidak sudi melepaskan orang itu begitu saja.

Pecut di tangannya kembali diayunkan.

Terdengar suara Tar!

Tar!

Tar!

Tar!

sebanyak empat kali.

Semuanya mengarah ke tubuh Lung Goan Po.

Keempat pecut itu bukan main cepatnya, orang lain yang menyaksikan pasti hanya sempat melihat lintasan cahaya perak.

Keempat serangannya mengenai tubuh Lung Goan Po.

I Giok Hong khawatir tenaganya terlalu kuat sehingga orang itu tidak kuat menahannya.

Apabila orang itu sampai mati, berarti gagal keinginan I Giok Hong untuk mengajukan pertanyaan.

Karena itu dia segera menyurutkan tenaganya.

Tetapi tidak disangka-sangka, kesempatan itu digunakan oleh Lung Goan Po.

Iblis itu mengeluarkan suara raungan dan menerjang ke arah I Giok Hong sambil mencengkeram.

Rangkuman angin yang kencang menerpa ke arah gadis itu.

I Giok Hong langsung tertegun.

Ketika gadis itu memperhatikan keadaan Lung Goan Po.

Dia heran melihat pakaian orang itu terkoyak di sana-sini kena lecutan pecut, tetapi kulitnya hanya meninggalkan jalur merah darah sebanyak empat tempat.

Dia tidak terluka parah hanya kulit tubuhnya yang lecet sedikit.

Saat itu I Giok Hong baru menyadari bahwa nama besar tiga iblis dari keluarga Lung ternyata bukan nama kosong.

Mereka masing-masing memiliki ilmu yang tinggi, bahkan menguasai sejenis ilmu yang dapat melindungi luar tubuh.

Mereka benar-benar bukan tokoh sembarangan.

Sikap I Giok Hong tinggi hati, seperti ayahnya sendiri.

Tanpa sadar dia berseru memuji.

"Ilmu kebal yang mengagumkan,"

Ucap I Giok Hong.

Tanpa menunggu terjangan Lung Goan Po sampai, tubuhnya segera menggeser ke samping, pecutnya disentakkan ke depan.

Terlihat tali pecut itu melayang, kemudian membentuk lingkaran serta mengincar telapak tangan Lung Goan Po yang sedang mencengkeram ke arahnya.

Pecut perak diayunkan dengan menggunakan jurus yang lihai sekali.

Ketika I Giok Hong dilarikan, I Ki Hu memberontak terhadap pihak mokau dan membunuh ketua serta beberapa pentolannya yang berilmu tinggi.

Setelah itu I Giok Hong dibawa serta menetap di lembah Gin Hua kok.

Kemudian mereka jarang muncul di dunia kang ouw, karena I Giok Hong masih terlalu kecil.

Sedangkan ilmu pecut ini diciptakan oleh I Ki Hu dengan menghabiskan waktu selama belasan tahun.

Dalam setiap jurusnya pecut itu dapat membentuk tiga buah lingkaran.

Ketika menghadapi Tao Heng Kan di Gin Hua kok, I Giok Hong justru menggunakan ilmu pecutnya yang hebat sehingga tubuh pemuda itu terlilit.

Ketika I Giok Hong mengayunkan pecutnya sehingga melingkar, tampaknya sekejap lagi tangan Lung Goan Po pasti akan terlilit.

Tetapi justru sampai pada waktunya, lakilaki bertubuh gemuk pendek itu mencelat ke udara dan tiba-tiba mengirimkan dua buah tendangan.

Tangannya yang tadinya bergerak mencengkeram malah ditarik kembali.

Sedangkan tubuhnya terlentang ke belakang seperti dalam posisi tertidur di tengah udara.

Manusia bukan burung, tentu saja tidak bisa tidur di awang-awang.

Lung Goan Po melakukan gerakan itu juga hanya sekejapan saja.

Tetapi kakinya yang tiba-tiba mengirimkan tendangan justru menggunakan jurus yang hebat sekali.

Sasarannya jantung I Giok Hong.

Pecut I Giok Hong luput dari sasarannya.

Melihat Lung Goan Po menggunakan jurus serangan yang aneh, I Giok Hong menjadi semakin bersemangat.

Dia tertawa merdu sambil menghentukkan sepasang kakinya.

Tubuhnya mencelat ke atas kurang lebih satu depa setengah.

Pakaiannya yang putih berkibar-kibar.

Bukan main indahnya.

Dengan melayang di udara, gadis itu menghentakkan pecutnya sehingga membentuk sebuah lingkaran dan ditujukan ke bagian leher Lung Goan Po.

Kali ini, tubuh Lung Goan Po sedang mencelat di tengah udara.

Sudah pasti dia tidak bisa menghindar lagi.

Apalagi gerakan pecut I Giok Hong cepatnya bagai kilat.

Tibatiba terdengar suara jeritan dari mulut Lung Goan Po.

Sepasang tangannya melindungi lehernya dengan panik.

Tetapi tetap saja terlambat.

Lehernya sudah terjerat oleh pecut I Giok Hong.

Setelah serangannya berhasil, I Giok Hong tetap tidak membiarkan lawannya begitu saja.

Dia mengerahkan tenaga dalamnya.

Lung Goan Po hampir putus nafasnya.

Begitu disentakkan oleh I Giok Hong, tubuh iblis itu langsung melayang di udara dan terlempar sejauh enam-tujuh depa.

Dia kelabakan setengah mati.

Terdengar suara buk!

Tubuhnya pun terhempas di atas tanah.

Pecut di tangan I Giok Hong laksana seekor ular yang hidup.

Lilitannya di leher Lung Goan Po begitu erat.

Baru saja tubuh iblis itu menghempas di atas tanah, I Giok Hong sudah menghentakkan pecutnya kembali sehingga sekali lagi tubuh lawannya melayang di udara.

Lalu dibanting lagi ke atas tanah.

Demikianlah dia melakukannya sebanyak tujuh-delapan kali berturut-turut.

Meskipun Lung Goan Po pernah mempelajari ilmu kebal, sehingga dia dapat melindungi bagian luar tubuhnya agar tidak terluka parah.

Tetapi berulang kali diangkat kemudian dibanting oleh I Giok Hong, mesti saja dia merasa isi perutnya seperti diaduk-aduk.

Apalagi leher merupakan anggota tubuh yang penting.

Nafasnya pun menjadi sesak serta matanya berkunang-kunang.

Hampir saja dia tidak dapat mempertahankan kesadarannya.

Setelah sembilan kali berturut-turut I Giok Hong mempermainkan Lung Goan Po, ia baru menghentikan gerakan pecutnya.

Terdengar nafas Lung Goan Po tersengalsengal.

I Giok Hong mengendurkan genggaman tangannya.

"Apa yang terjadi di dalam lembah? Cepat katakan!"

Bentak I Giok Hong.

Dada Lung Goan Po bergerak naik turun.

Tubuhnya terkulai di atas tanah.

Matanya mendelik ke atas, mana mungkin dia mempunyai tenaga untuk menjawab pertanyaan I Giok Hong.

I Giok Hong tertawa terkekeh-kekeh.

Dia melihat Tao Heng Kan masih berdiri dengan termangu-mangu sambil memondong Lie Cun Ju.

"Dasar goblok! Mengapa kau tidak menggunakan kesempatan di saat aku bergebrak dengannya untuk melarikan diri?"

Kata I Giok Hong.

Wajah Tao Heng Kan merah padam.

Dia menolehkan kepalanya dan menatap ke arah lembah Gin Hua kok.

I Giok Hong melihat wajah Tao Heng Kan yang tampak menyiratkan ketegangan dan ketakutan.

Matanya menatap ke arah Gin Hua kok lekat-Iekat.

I Giok Hong merasa heran, dia segera mengikuti pandangan mata pemuda itu.

Setelah melihat dengan tegas, dia pun terkejut setengah mati.

Ternyata getaran yang terjadi di dinding sekitar Gin Hua kok semakin menjadi-jadi.

Bahkan suaranya pun makin menggelegar seakan terjadi gempa bumi yang dahsyat.

I Giok Hong tertegun sesaat.

"Siapa yang menghantam tembok sekitar Gin Hua kok?"

Tanyanya panik.

I Giok Hong mengayunkan pecutnya sambil berlari ke arah Gin Hua kok.

Tetapi dia baru berlari beberapa langkah, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat.

Orang itu menghadang di depannya.

Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata Tao Heng Kan.

Tampak wajahnya menyiratkan kepanikan.

"I kouwnio, cepatlah naik ke atas kuda dan tinggalkan tempat ini. Kalau lebih lama sedikit, pasti akan terlambat!"

Mendengar kata-kata Tao Heng Kan yang serius dan menyiratkan ketulusan, I Giok Hong tahu apa yang dikatakan pemuda itu untuk kebaikan dirinya sendiri.

Hatinya langsung tergerak.

Tapi dia tidak ingin pergi begitu saja.

"Tao Kong Cu, kau tidak perlu mencampuri urusanku!"

Kata gadis itu.

Lengan bajunya berkibar, dia melesat melewati samping Tao Heng Kan dan berlari menuju lembah Gin Hua kok.

Tetapi ketika jaraknya dengan mulut lembah masih sepuluh depaan, tiba-tiba terdengar lagi suara gemuruh tadi.

Ketika dia memperhatikan, ternyata sebagian lagi tembok yang mengelilingi lembah itu runtuh berserakan.

Di balik kepulan debu yang beterbangan di udara dan sekitarnya, terlihat sesosok bayangan tinggi kurus melesat dengan kecepatan yang sulit diuraikan dengan kata-kata dan menerjang ke arah I Giok Hong.

Melihat tembok yang mengelilingi lembah tempat tinggal rubuh tidak karuan, sukma I Giok Hong seakan melayang.

Sesaat dia jadi termangu-mangu.

Dia hampir tidak percaya dengan pandangannya sendiri.

Di dunia ini mana mungkin ada orang yang bisa berlari secepat itu?

Gerakannya bahkan seperti terbang.

Orang itu menerjang ke arahnya.

"Jangan dilawan!"

Teriak orang itu.

I Giok Hong dalam keadaan panik.

Dia tidak mendengarkan teriakan orang itu.

Ketika I Giok Hong mengayunkan pecutnya ke depan, kelihatannya pecut di tangannya telak mengenai orang itu.

Tetapi kenyataannya justru tubuh orang itu melesat melewatinya.

I Giok Hong tertegun.

Apakah orang itu hanya sesosok bayangan?

Mengapa pecut yang sudah telak mengenai tubuhnya bisa meleset?

pikirnya dalam hati.

Tetapi bagaimana pun I Giok Hong adalah putri seorang tokoh sesat yang berilmu tinggi sekali.

Setelah merenungkan sejenak, dia pun tahu sebab musababnya.

Ternyata gerakan orang tadilah yang terlalu cepat.

Begitu sampai di depannya langsung melesat melewatinya.

Tepat pada detik itu, I Giok Hong menganggap orang itu masih di depan matanya.

Tetapi nyatanya hanya bayangan yang masih tertinggal saking cepatnya tubuh orang itu berkelebat.

Karena itu pula pecutnya hanya mengenai tempat yang kosong.

Bahkan orang itu pun sudah tidak kelihatan lagi.

Entah kemana perginya.

Meskipun I Giok Hong sangat cerdas dan dalam sekejap sudah tahu sebab musababnya, tetap saja sudah terlambat.

Dia merasa pundaknya mengencang.

Cepatcepat dia menolehkan kepalanya.

Ternyata bahunya dicengkeram oleh sebuah tangan yang kurus dan panjang.

Bahkan tidak mirip tangan manusia.

Dia pun hanya dapat melihat tangan orang itu tanpa dapat melihat bagian lainnya.

Begitu terasa ada lima jari yang mencengkeram pundaknya, I Giok Hong segera mengedarkan hawa murninya untuk mengadakan perlawanan.

Tetapi rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, tanpa dapat ditahan lagi wajahnya pucat pasi dan keringat dingin bercucuran.

"Suhu, aku ... sudah berhasil ... ma ... ri kita ... tinggal... kan ... tempat ini!"

Terdengar teriakan Tao Heng Kan dengan gugup. Pikiran I Giok Hong tergerak. Diam-diam dia berkata dalam hati.

"Rupanya orang itu suhunya Tao Heng Kan. Tetapi entah siapa? Mengapa dia sanggup meringkus dirinya dengan demikian mudah?"

I Giok Hong berusaha memberontak.

Tetapi bukan saja dia tidak sanggup melepaskan diri, bahkan tulang di pundaknya terasa seperti remuk saking sakitnya.

Juga seperti meminta lawannya agar memperkeras cengkeramannya.

Karena itu dia tidak berani sembarangan bergerak lagi.

Terdengar suara orang itu yang dingin dan menyeramkan.

"Di dalam lembah Gin Hua kok ada tiga batang benda pusaka. Dari mana asalnya?"

Nada suara Tao Heng Kan sendiri terdengar gemetar.

"A ... ku ti... dak tahu."

Dari nada suaranya saja sudah dapat dipastikan bahwa dia belum pernah berbohong sebelumnya. Orang itu mengeluarkan suara terkekeh-kekeh yang menggidikkan hati.

"Kemari dan tikam dia sampai mati!"

Mendengar kata-katanya, tanpa dapat ditahan lagi tubuh I Giok Hong bergetar.

Dari pembicaraan yang berlangsung antara Tao Heng Kan dan orang itu, dapat dipastikan bahwa pemuda itu jeri sekali terhadap gurunya.

Sekarang orang itu justru menyuruhnya menikam I Giok Hong, kemungkinan dia akan menuruti perkataan gurunya itu.

Sungguh tidak disangka dirinya yang demikian cantik dan berilmu tinggi terpaksa harus menerima kematian di luar lembah Gin Hua kok yang merupakan tempat tinggalnya sendiri.

Setelah menunggu beberapa saat, belum juga terdengar Tao Heng Kan menuruti perkataan gurunya itu.

Juga tidak terlihat bayangan pedang yang berkelebat menikam jantungnya.

Sesaat kemudian, baru terdengar lagi suara Tao Heng Kan yang gemetar.

"Su ... hu, a ... ku ti ... dak sang ... gup."

Diam-diam hati I Giok Hong merasa girang.

Perasaannya menjadi agak lega.

Walaupun dia mengerti, Tao Heng Kan mengatakan tidak sanggup membunuhnya, mungkin gurunya akan memaksakannya kembali.

Atau kalau dia tetap menolak, gurunya pasti akan turun tangan sendiri.

Meskipun akibatnya sama-sama mati, asal bukan Tao Heng Kan yang turun tangan melakukannya.

Karena itu, hatinya merasa terhibur mendengar kata-kata pemuda itu.

Pada dasarnya antara dia dengan Tao Heng Kan tadinya berhadapan sebagai musuh.

Tetapi di saat yang demikian genting, ternyata Tao Heng Kan menyatakan tidak sampai hati membunuhnya.

Apa maksud hati pemuda itu?

Tentunya sudah dapat diduga.

Justru karena ini pula I Giok Hong merasa terhibur.

Terdengar suara yang menyeramkan itu bertanya.

"Mengapa kau tidak sanggup melakukannya?"

"A ... ku sen ... diri ... ti ... dak tahu a... pa sebabnya,"

Jawab Tao Heng Kan. Orang itu mendengus dingin.

"Jadi semua yang kukatakan sudah kau lupakan?"

Suaranya begitu kaku tanpa kelembutan sedikit pun dan bagi orang yang mendengarnya pasti merasa menggidik dan menusuk gendang telinga.

I Giok Hong berada di sampingnya, hatinya merasa tidak enak mendengar suara itu.

"Murid tidak berani melupakan perkataan yang pernah Suhu katakan."

"Kalau kau tidak melupakannya, mengapa kau belum turun tangan juga?"

Tao Heng Kan menarik nafas panjang.

I Giok Hong merasa bagian bawah ketiaknya agak dingin.

Dia segera menundukkan kepalanya.

Tampak sebatang pedang telah menekan jalan darah di bagian bawah ketiaknya.

Ternyata rasa dingin itu terasa karena pedang itu telah mengoyak pakaiannya dan ujung pedang telah menyentuh kulit tubuhnya.

I Giok Hong menolehkan kepalanya kembali, tepat pada saat itu Tao Heng Kan juga sedang menatap kepadanya.

Tampak wajah pemuda itu menyiratkan penderitaan yang tidak terkatakan.

Pandangan matanya seperti kosong dan terpaku ke depan.

Ketika dia melihat sinar mata I Giok Hong, tanpa dapat mempertahankan diri lagi tubuhnya bergetar.

Kakinya menyurut mundur satu langkah.

Kelima jari tangannya mengendur.

Pedang yang tadinya menekan di bawah ketiak I Giok Hong segera memperdengarkan suara Trang!

dan terlepas jatuh di atas tanah.

Terdengar orang tadi meraung marah.

Tiba-tiba tangannya melepas kemudian secepat kilat menotok jalan darah pada pundak I Giok Hong.

Setelah itu terdengar suara plak!

Plak!

sebanyak dua kali.

Tidak usah diragukan lagi tentu Tao Heng Kan kena ditempeleng oleh gurunya.

Kemudian terdengar lagi dia membentak dengan suara marah.

"Coba ulangi kembali apa yang pernah kuajarkan!"

Tao Heng Kan terdiam sejenak.

"Di bawah pedang ada perasaan, apa pun tidak dapat berhasil, apabila pedang tanpa perasaan, persoalan apa pun dapat diselesaikan,"

Kata Tao Heng Kan.

"Kalau kau sudah tahu bahwa pedang yang tanpa perasaan baru bisa menyelesaikan semua persoalan, mengapa kau masih tidak menikamnya? Apakah kau akan membiarkan pedangmu berperasaan?"

"Su ... hu, a ... ku ... a ... ku,"

Kata Tao Heng Kan dengan suara parau. Tidak menunggu Tao Heng Kan menyelesaikan kata-katanya, terdengar orang itu mendengus marah.

"Cepat ambil pedang itu, jangan ucapkan kata-kata yang tidak ada gunanya!"

Pada saat itu jalan darah I Giok Hong sudah tertotok.

Jelas tubuhnya tidak dapat bergerak.

Karena itu dia hanya dapat mendengar pembicaraan antara Tao Heng Kan dengan gurunya, tetapi tidak dapat melihat gerak-gerik mereka.

Dia tidak tahu apakah Tao Heng Kan menuruti perkataan gurunya mengambil pedang itu.

Hatinya terasa berdebar-debar, perasaannya kacau balau.

Dia juga merasa bingung karena tidak mengerti makna pembicaraan kedua orang itu.

Justru di saat dia tidak mengerti apa yang akan dialaminya, tiba-tiba dari belakang punggungnya terdengar suara angin berdesir seperti senjata tajam yang digerakkan di udara.

Ketika mulai terdengar, suara itu seperti bergerak cepat sekali.

Namun sesaat kemudian melemah dan dalam waktu yang bersamaan terdengar suara Tao Heng Kan yang mirip keluhan.

"Suhu, aku benar-benar tidak sanggup,"

Ucap Tao Heng Kan.

"Kau pasti sanggup, bahkan kau tidak akan menikamnya dari belakang. Putarlah ke depannya dan tikam tepat di jantungnya. Inilah yang dinamakan pedang tanpa perasaan."

Baru saja perkataan orang itu selesai, I Giok Hong melihat Tao Heng Kan sudah berjalan dengan terhuyung-huyung ke depannya.

Pemuda itu tidak memanggul Lie Cun Ju lagi.

Entah kapan dia meletakkan pemuda itu.

Tangan kanannya menggenggam sebatang pedang, tetapi pergelangan tangannya justru tampak gemetar terus.

Kalau dilihat dari langkah kakinya yang limbung, tampaknya pemuda itu berjalan ke depannya bukan atas kehendak dirinya sendiri.

Tetapi didorong oleh gurunya.

Pada saat ini perasaan I Giok Hong bukan main tegangnya.

Dia dapat mendengar bahwa orang itu tidak akan turun tangan sendiri, melainkan dia mengharuskan Tao Heng Kan yang melakukannya.

Untuk mengokohkan prinsipnya yang entah 'Pedang tanpa perasaan semuanya dapat diselesaikan' apa tadi.

Dengan kata lain, mati hidupnya tergantung pemuda itu sendiri.

Karena itu sepasang mata I Giok Hong yang indah menyorotkan sinar yang mengandung penderitaan menatap Tao Heng Kan lekat-Iekat.

Tetapi ketika Tao Heng Kan berjalan ke arahnya, kepala pemuda itu sudah menunduk dalam-dalam.

Dia tidak berani memandang sinar mata I Giok Hong.

"Kau masih belum turun tangan juga?"

Tanya guru itu lagi.

Tiba-tiba Tao Heng Kan mendongakkan kepalanya.

Penderitaan yang tersirat di wajahnya sudah mencapai titik puncaknya.

Tetapi sekejap kemudian tampak tersirat keriangan di wajahnya, Meskipun kejadiannya hanya sekejap mata, tetapi I Giok Hong yang sejak tadi menatapnya sempat memperhatikan perubahan wajahnya itu.

Belum sempat I Giok Hong mengerti apa arti perubahan wajahnya tadi, tiba-tiba pergelangan tangan Tao Heng Kan bergerak.

Sinar tajam berkilauan, ternyata pedang di tangan Tao Heng Kan sudah menusuk ke dalam jantungnya.

I Giok Hong bukan gadis sembarangan.

Ilmu silatnya tinggi sekali.

Ketika melihat gerakan pedang Tao Heng Kan, dia segera sadar bahwa pemuda itu sudah mengambil keputusan yang bulat.

Dia tidak mungkin menghunjamkan pedangnya setengah jalan atau tidak sampai hati lagi seperti sebelumnya.

Dalam waktu yang demikian singkat, I Giok Hong teringat perasaan hatinya yang berbunga-bunga ketika mendengar Tao Heng Kan mengatakan tidak sampai hati membunuhnya.

saat itu baru menyadari betapa bodohnya dia.

Tao Heng Kan meluncurkan pedang demikian cepat.

Belum lagi pikiran I Giok Hong habis, dadanya sudah terasa nyeri.

Ternyata pedang itu sudah menghunjam ke dalam.

Mata I Giok Hong habis, dadanya sudah terasa nyeri.

Ternyata pedang itu sudah menghunjam ke dalam.

Mata I Giok Hong menjadi gelap seketika.

Dia merasa tubuhnya seperti selembar kertas yang melayang tertiup angin.

Telinganya masih sempat mendengar orang itu tertawa dengan terkekeh kemudian berkata.

"Mari kita pergi!"

I Giok Hong mendengar desir angin yang semakin lama semakin menjauh.

Lalu tidak terde-ngar lagi, karena orangnya sendiri sudah terkulai pingsan di atas tanah.

***** Entah berapa lama sudah berlalu.

Lambat laun kesadarannya tergugah kembali.

Ketika dia membuka matanya, tampak matahari sudah di ufuk barat.

Hari sudah menjelang senja.

Sebentar lagi malam akan merayap.

I Giok Hong membiarkan matanya terpejam beberapa saat.

I Giok Hong membuka matanya kembali dan menatap ke sekelilingnya.

Tampak bebatuan dan rerumputan di sekitarnya penuh dengan percikan darahnya.

Tapi yang paling banyak nodanya justru pakaiannya yang putih.

Bahkan hampir seluruhnya terpercik darahnya sendiri.

Mendapatkan dirinya masih belum mati, I Giok Hong justru merasa keheranan.

la ingin memaksakan dirinya untuk bangkit dan duduk.

Tetapi baru saja bergerak sedikit, telinganya sudah mendengar seseorang berkata.

"Sio cia, jangan bergerak!"

I Giok Hong sudah lama tinggal bersama-sama dengan Seebun Jit di dalam lembah Gin Hua kok, tetapi selama itu dia belum pernah menemui sikap seperti sekarang ini.

Tampak pinggangnya agak menekuk dan berdiri di samping I Giok Hong.

Seandainya tidak ada golok yang dijadikan penyanggah, mungkin orang tua itu sudah terkulai jatuh sejak tadi.

I Giok Hong ingin menggerakkan mulutnya untuk berbicara, tetapi dia tidak mempunyai tenaga sedikit pun.

"Siocia, antara aku dan ayahmu terdapat permusuhan yang dalam. Dan sampai sekarang masih belum terselesaikan. Sekarang aku sedang menderita luka parah. Tetapi tampaknya luka yang kau derita justru lebih parah lagi. Seandainya pedang Tao Heng Kan tadi menusuk lebih dalam satu dua cun saja, tidak usah diragukan siocia sekarang pasti sudah terkapar menjadi mayat. Tetapi aku berniat menolongmu agar bisa hidup terus, asal kau bersedia mengabulkan permintaanku."

Selesai mengucapkan kata-kata itu, suasana jadi hening esaat.

I Giok Hong menatap ke atas langit.

Tampak beberapa ekor elang sedang beterbangan mengelilingi tempat itu.

Tiba-tiba saja timbul rasa takut dalam hatinya.

la takut menerima kenyataan dirinya akan mati.

Lagi pula dia tidak rela dirinya yang masih demikian muda mati begitu saja.

Dia mengerahkan segenap kemampuannya untuk bertanya.

"Permintaan ... a ... pa?"

Seebun Jit maju selangkah kemudian menatap I Giok Hong lekat-lekat.

I Giok Hong dapat melihat sinar mata Seebun Jit yang mengandung kekalutan hatinya.

Seperti ada keinginan membiarkan I Giok Hong mati cepat-cepat, tetapi juga ada keinginan membiarkan dia hidup terus agar permintaannya dapat terlaksana.

Beberapa saat kemudian, baru terdengar Seebun Jit menarik nafas panjang sambil mendo-ngakkan wajahnya menatap langit.

"Seebun Jit ... Seebun Jit ... Tidak disangka kau akan mengorbankan selembar jiwamu untuk menyelamatkan putri musuhmu sendiri. Tetapi selain ini, apakah masih ada cara lainnya?"

Tanya I Giok Hong.

I Giok Hong tahu, selania tinggal di dalam lembah Gin Hua kok, Seebun Jit setiap waktu mencari kesempatan untuk melampiaskan kebencian hatinya kepada ayahnya ataupun dirinya.

Tetapi dengan berbagai pertimbangan, maka dari awal hingga akhir dia tidak pernah melakukan apa-apa.

Ayahnya sendiri berkali-kali memperingatkan dirinya agar berhati-hati terhadap Seebun Jit.

Ayahnya pernah mengatakan bahwa Seebun Jit adalah tokoh golongan hitam yang dulunya sangat terkenal.

Meskipun di luarnya tampak dia patuh sekali kepada mereka ayah dan anak, tetapi sebetulnya mereka memelihara musuh dalam selimut.

Justru karena ilmu kepandaian Seebun Jit mempunyai keistimewaan tersendiri dan cukup tinggi.

Maka I Giok Hong pun tidak segan-segan memanggilnya 'paman'.

Tentu saja Seebun Jit tidak akan mengajarkan ilmu kepandaiannya kepada I Giok Hong juga tidak akan belajar darinya.

Tetapi terhadap kejadian yang aneh bagaimana pun dalam dunia bu lim, boleh dikatakan bahwa pengetahuan Seebun Jit sangat luas.

Dia sering mengungkitnya di hadapan I Giok Hong.

Karena itu, kalau ditilik dari luarnya, hubungan mereka baik-baik saja.

Meskipun kenyataannya dalam hati masing-masing terdapat ganjalan yang tidak pernah diperlihatkan.

Sampai saat ini Seebun Jit baru menyatakan isi hatinya secara terus terang.

I Giok Hong hanya memandang Seebun Jit lekat-lekat.

Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sekali lagi Seebun Jit menarik nafas panjang.

"Siocia, aku ingin mengajukan sebuah permintaan kepadamu. Tetapi apakah kau bersedia melaksanakannya?"

I Giok Hong tidak mengerti urusan apa yang dimaksud oleh Seebun Jit. Untuk sesaat dia tidak tahu harus menjawab apa. Wajah Seebun Jit tiba-tiba saja menjadi garang. Dia membentak dengan suara keras.

"Perempuan she I, apakah selembar nyawa Seebun Jit kurang berharga ditukar dengan sekali anggukan kepalamu?"

"Jit siok, katakan ... lah ... a ... pa ... per ... minta ... anmu!"

Kata I Giok Hong dengan susah payah.

"Seandainya kau bersedia melaksanakan permintaanku, maka aku akan mengoperkan darah yang ada dalam tubuhku ke dalam lukamu. Dengan demikian, bukan saja jiwamu akan tertolong, bahkan tenaga dalammu akan bertambah. Kau jawab dulu, kau bersedia mengabulkan permintaanku atau tidak?"

Saat itu I Giok Hong merasa tubuhnya sudah terlalu lemah.

Dirinya bagai ada di ambang kematian.

Asal suara ucapan Seebun agak keras sedikit saja, telinganya terasa mendengung-dengung.

Dengan susah payah dia baru berhasil menyimak apa yang dikatakan Seebun Jit.

Sampai Seebun Jit menyelesaikan kata-katanya, I Giok Hong baru menyadari lukanya ternyata demikian parah.

Kalau tidak, mana mungkin Seebun Jit sudi mengorbankan dirinya untuk menolong I Giok Hong.

Tentu saja dia tidak tahu bahwa watak Seebun Jit sangat keras, pendiriannya kukuh sekali.

Dia Sudan bertekad untuk membalaskan dendam penolongnya yakni tocu Hek cuito yang dibunuh oleh I Ki Hu.

Tetapi Seebun Jit juga sadar bahwa ia tidak punya kesempatan lagi.

Lukanya terlalu parah.

Seebun Jit mengerti satu hal.

Walaupun lukanya dapat disembuhkan, kepandaiannya sudah menyusut terlalu banyak.

sekarang saja dia bukan tandingan I Ki Hu.

Apalagi setelah lukanya sembuh dan kepandiannya semakin menurun.

Karena itulah dia bersedia menolong I Giok Hong agar cita-citanya yang belum tercapai semasa hidup dapat dilaksanakan oleh gadis itu.

Juga demi keselamatan Lie Cun Ju.

I Giok Hong merenung sejenak.

Dia tahu, apabila tidak mengabulkan permintaan Seebun Jit, pasti dirinya akan mati.

Permintaan apa pun yang diajukan orang itu, asal bukan mati, dia tidak akan menolaknya.

Biarpun permohonan Seebun Jit itu mungkin suatu yang membahayakan jiwanya, setidaknya dia juga sudah memperoleh keuntungan.

I Giok Hong menggeretakkan giginya erat-erat.

"Baik, Jit ... siok, aku ber ... se ... dia."

Seebun Jit menatapnya lekat-lekat.

"Aku tahu kalian ayah dan anak memang berhati keji dan tidak segan membunuh siapa saja. Tetapi aku juga tahu bahwa kalian mempunyai satu segi kebaikan, yakni selalu memegang janji. Namun, karena hal ini penting sekali bagiku, aku minta kau bersumpah!"

"Ka ... lau ... aku sam ... pai . .. menya ... lahi... jan ... ji, biarlah ... a ... ku mati ... dengan ... pe ... dang menembus di. .. jan ... tung."

Tampaknya Seebun Jit puas terhadap sumpah yang diucapkan gadis itu.

"Baik, dengarkan baik-baik permintaanku! Aku ingin kau mencari Lie Cun Ju sampai ketemu dan sampaikan padanya agar jangan melupakan apa yang pernah kukatakan kepadanya. Ilmu kepandaiannya tidak seberapa, kau juga harus melindunginya apabila dia sampai berhadapan dengan musuh. Tidak perduli siapa pun musuhnya, pokoknya kau harus membantunya sekuat tenaga!"

I Giok Hong mendengarkan permintaan Seebun Jit dengan seksama.

Setelah selesai, ia merasa permintaan orang itu tidak terlalu sulit.

Dengan kekuatan ayahnya dan dia sendiri, apabila ingin melindungi seseorang yang tidak memiliki ilmu sama sekali pun, juga bukan hal yang sulit.

Dia tidak perlu turun tangan sendiri.

Dengan lencana Gin leng hiat ciang, dia bisa memerintahkan tokoh mana pun untuk melakukan tugas itu.

"Apa masih ada yang Iain?"

Tanya I Giok Hong.

"Siocia, kau jangan menganggap permintaan ini terlalu ringan!"

"A ... ku tahu!"

Sahut I Giok Hong. Seebun Jit menarik nafas panjang. Kemudian dia mengangkat goloknya yang tadi dijadikan tongkat penyanggah tubuhnya.

"Siocia, aku mempunyai dua macam hadiah yang akan kuberikan kepadamu. Pertama, golok lemas ini. Yang satu lagi tempat tidur pusaka yang dinamakan Ban nian si ping. Kau harus merebahkan diri di atasnya selama satu kentungan. Tidak boleh sembarangan bergerak, satu kentungan kemudian, kau boleh bangun. Tetapi satu kentungan lagi, kau harus kembali merebahkan diri di atasnya dan kali ini tidak boleh bergerak selama tujuh hari tujuh malam. Di bagian atas tempat tidur itu aku meninggaikan sebuah kitab kecil yang berisi tujuh belas jurus terampuh yang pernah kupelajari. Senjatamu sendiri seutas pecut, tentu ilmu yang kau miliki jauh lebih hebat. Tetapi tujuh belas jurus yang kutulis itu merupakan kombinasi antara pecut dengan golok lemas ini, kau belum pernah mempelajarinya."

I Giok Hong mengunggukkan kepalanya.

Tiba-tiba Seebun Jit mengangkat goloknya ke atas kemudian memotong urat nadi pergelangan tangannya sendiri.

Darah langsung mengucur dengan deras.

Seebun Jit cepat-cepat membungkukkan tubuhnya lulu menempelkan pergelangan tangan yang disayatnya tadi ke luka di dada I Giok Hong.

Seebun Jit menekannya kuat-kuat.

I Giok Hong merasa di dalam tubuhnya ada darah hangat yang mengalir.

Tidak lama kemudian, keadaannya sudah seperti sebelumnya.

Matanya terasa ingin dipejamkan agar dapat tertidur dengan pulas.

Seebun Jit sendiri sudah Terkulai di samping tubuh I Giok Hong.

Wajahnya pucat pasi, tubuhnya sudah dingin dan kaku.

Ternyata Seebun Jit sudah mati kehabisan darah.

Udara lambat laun meajadi gelap.

I Giok Hong tahu dirinya telah tertolong.

Dia membiarkan tubuhnya terbaring di atas tanah.

Tanpa bergerak sedikit pun dia melewati sepanjang malam.

Pada hari kedua, I Giok Hong merasa hawa murni di dalam tubuhnya sudah dapat diedarkan dengan lancar.

Dia bangun dan berlatih ilmu.

Sampai menjelang sore harinya, I Giok Hong baru menghentikan gerakannya.

Cepat-cepat dia memanggul jenasah Seebun jit kemudian mencelat ke atas kudanya.

Tidak lupa dia mengambil golok lemas yang dihadiahkan orang tua itu.

Kemudian melesat ke arah lembah Gin Hua kok.

Sesampainya di dalam lembah Gin Hua kok, mata I Giok Hong membelalak.

Hatinya terkejut bukan kepalang.

Keadaan di dalam lembah itu kacau balau, seperti baru terjadi peperangan dahsyat dan beribu-ribu tentara dan kuda yang mengacak-acak tempat itu.

Tanaman dan rerumputan rusak tidak karuan.

Tidak terlihat keindahan yang memukau seperti sebelumnya.

I Giok Hong termangu-mangu.

Dia tahu semua ini merupakan hasil perbuatan guru Tao Heng Kan.

Tetapi sampai sekarang dia masih belum tahu siapa orang itu sebenarnya.

I Giok Hong memanggul jenasah Seebun Jit ke ruangan batu tempat tinggal orang itu semasa hidupnya.

Kemudian dia menggali tanah di sana dan menguburkannya asalasalan.

Setelah itu dia berdiam diri beberapa saat.

Hatinya sedang mempertimbangkan apakah dia harus menuruti perkataan Seebun Jit agar merebahkan dirinya di atas tempat tidur Ban nian si ping selama tujuh hari tujuh malam?

Seandainya dia menuruti kata-kata orang tua itu, bukankah dia bisa mati kesal terkurung di dalam ruangan batu itu selama tujuh hari?

Dengan membawa pikiran itu, akhirnya dia hanya mengambil kitab kecil peninggalan Seebun Jit.

Matanya melirik sekilas ke arah tempat tidur Ban nian si ping itu.

Setelah itu dia keluar dari ruangan batu tersebut dan mencelat ke atas kuda putihnya serta meninggalkan Gin Hua kok.

I Giok Hong tidak ingin merebahkan dirinya di atas tempat tidur Ban nian si ping selama tujuh hari tujuh malam.

Bahkan dia meninggalkan Gin Hua kok dengan tergesa-gesa.

Tujuannya ingin bertemu dengan I Ki Hu secepatnya agar dapat menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam Gin Hua kok kepada ayahnya.

Karena itu pula, begitu meninggalkan lembah Gin Hua kok, dia langsung memacu kudanya menuju wilayah Si Coan.

Ketika itu, ia dan ayahnya membawa Tao Ling meninggalkan Gin Hua kok.

Baru menempuh perjalanan sejauh seratus li lebih, tibatiba ayahnya menyuruh ia pulang ke lembah dan mengajak Lie Cun Ju menemuinya.

Saat itu, I Ki Hu juga mengatakan bahwa dia akan menempuh perjalanan dengan lambat dan menunggu I Giok Hong datang dengan membawa Lie Cun Ju.

I Giok Hong menyadari bahwa kepergiannya sudah memakan waktu sehari lebih.

Tetapi ayahnya tidak balik ke lembah Gin Hua kok untuk menengok keadaannya.

Hatinya menjadi bingung.

Namun gadis itu selalu beranggapan bahwa ilmu kepandaian ayahnya demikian tinggi.

Mana mungkin terjadi apa-apa pada dirinya.

Mungkin orang tua itu sudah tidak sabar menunggunya sehingga berangkat terlehih dahulu menuju Si Cuan.

Karena itu dia melarikan tunggangannya secepat kilat, siang malam tanpa istirahat sedikit pun.

Kira-kira tengah malam, rembulan bersinar dengan terang, tiba-tiba di kejauhan terlihat sebuah kereta berwarna putih keperakan berhenti di tengah padang rumput.

Hati I Giok Hong melonjak kegirangan.

Baru saja ia ingin membuka mulut memanggil ayahnya, tiba-tiba dia melihat ada sesuatu benda yang aneh di samping kereta kudanya.

Setelah memperhatikan dengan seksama, hati I Giok Hong jadi tertegun Ternyata benda itu adalah sebuah pedupaan tempat menancapkan hio.

Di atasnya memang tertancap beberapa batang sarana sembahyangan itu.

Diam-diam I Giok Hong berpikir, aneh sekali!

Mungkinkah tia mengadakan upacara sembahyang"

Pengangkatan saudara dengan seseorang di sini?

Cepat-repat dia melajukan kudanya untuk maju beherapa depa.

Ternyata dia melihat lagi sebuah batu.

besar di samping wadah pedupaan itu.

Sedangkan di atas batu itu lerukir tulisan 'hi' yang artinya hahagia.

Hampir saja !

Giok Hong tertawa geli melihatnya.

Kalau hanya sebuah tempat pedupaan saja, dia masih merenungkan adanya kemungkinan ayahnya menjalankan upacara sembahyangan mengangkat saudara dengan seseorang.

Tetapi dengan adanya tulisan 'hi' yang terukir di atas batu, berarti ada sepasang kekasih yang menjalankan upacara perkawinan dengan menyembah langit dan bumi.

Tentu saja tidak mungkin ayahnya yang menikah.

Saat ini hati I Giok Hong benar-benar dilanda kebingungan.

Dia segera menghentakkan sepasang kakinya dan melesat ke depan.

"Tia, aku sudah kembali!"

Tampak tirai penutup kereta kuda tersingkap, Gin leng hiat ciang I Ki Hu yang namanya menggetarkan dunia persilatan turun dari kereta itu.

Setelah melihat I Giok Hong orang tua itu menarik nafas panjang.

"Aih! Kenapa hanya kau seorang?"

Tanya I Ki Hu.

"Tia, di dalam lembah Gin Hua kok telah terjadi sesuatu yang penting ... ketika aku sampai..."

I Giok Hong tergesa-gesa ingin menceritakan apa yang terjadi di dalam lembah Gin Hua kok, tetapi I Ki Hu tidak memberinya kesempatan.

"Giok Hong, tia di sini juga ada urusan yang penting. Untuk sementara tunda dulu ceritamu mengenai Gin Hua kok!"

Tukas I Ki Hu. I Giok Hong jadi bingung.

"Tia, kau ada urusan penting apa di sini? Apakah kau sudah tahu apa yang terjadi dalam lembah Gin Hua kok?"

Tanya I Giok Hong. I Ki Hu tertawa lebar.

"Urusan yang terjadi pada jarak seratus li lebih, mana mungkin aku bisa mengetahuinya? Giok Hong, tia sudah menduda sejak lama. Sekarang baru timbul ketnginan untuk beristri lagi. Mengapa kau masih belum mengucapkan selamat kepada ayahmu ini?"

Tubuh I Giok Hong langsung bergetar. Hampir saja dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Tia ... a ... pa yang kau ka ... takan?"

Tanya I Giok Hong.

Di dalam lembah Gin Hua kok, sejak kecil I Giok Hong hidup bersama ayahnya.

Dia belum pernah mendengar ayahnya mengatakan akan menikah atau mengambil istri lagi.

Ketika ia melihat tulisan di atas batu besar tadi, I Giok Hong hampir saja tertawa geli dan merasa yakin bukan ayahnya yang sedang menjalankan upacara pernikahan.

Tetapi, sesuatu yang dianggap paling mustahil toh akhirnya menjadi kenyataan.

"Aku sudah menjalankan upacara pernikahan di tempat ini. Cepat kau temui ibumu yang baru!"

Ucap I Ki Hu.

Mendengar kata-kata ayahnya yang bersungguh-sungguh dan mimik wajahnya yang serius, I Giok Hong sadar apa yang didengarnya memang kenyataan.

Bukan I Ki Hu yang sedang bergurau dengannya.

Ia menolehkan kepala kembali melihat tulisan di atas batu tadi.

Kali ini dia baru memperhatikan bahwa tulisan itu demikian rapi dan tidak ada bekas pahatan sedikit pun.

Hal ini membuktikan bahwa ayahnya membuat tulisan itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari dan menekannya di atas batu itu.

Untuk sesaat, kekalutan dalam hati I Giok Hong langsung mencapai puncaknya.

Sejak kecil dia hidup berdampingan dengan ayahnya.

Mereka saling memperhatikan dan saling mencintai.

Selama itu pula tidak ada seorang ibu pun yang menemani mereka.

Di dalam hati I Giok Hong, dia merasa hanya mempunyai seorang ayah.

Tidak mempunyai ibu.

Walaupun kadang-kadang dia suka menanyakan prihal ibunya kepada ayahnya, tetapi I Ki Hu tidak pernah menjawabnya Dan sekarang, tiba-tiba ada seorang perempuan asing yang menjadi ibunya.

Bahkan ia harus memanggil 'mama' pada perempuan asing itu.

Bagi I Giok Hong, hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Karena itu pula, dia terdiam untuk beberapa saat.

"Tia, aku tidak sudi menemuinya."

Akhirnya I Giok Hong menjawab dengan tegas. Wajah I Ki Hu langsung berubah angker dan berwibawa.

"Giok Hong, kau tidak senang dengan tindakan ayahmu ini?"

Bentaknya garang.

"Anak tidak berani,"

Jawab gadis itu.

"Kalau begitu, cepat temui ibumu!"

Tangan I Ki Hu terulur dan pergelangan tangan I Giok Hong telah tercengkeram olehnya.

Dia menyeret anak gadis itu ke arah pintu kereta.

Belum lagi sampai, lengan bajunya sudah dikibaskan, tirai penyekat kereta itu pun tersingkap.

Hati I Giok Hong tercekat seketika.

Di samping itu, dia meragukan pandangan matanya sendiri.

Siapa yang menjadi istri I Ki Hu?

I Giok Hong memandang dengan mata terbelalak.

Tanpa sadar tangannya menuding ke dalam kereta.

"Kau ... rupanya engkau orangnya."

Rupanya di dalam kereta duduk seorang gadis yang usianya hampir sebaya dengan I Giok Hong.

Gadis ini tidak asing baginya.

Karena dia adalah putri Pat Sian kiam Tao Cu Hun suami istri, yakni Tao Ling.

Meskipun I Giok Hong adalah seorang gadis yang sangat cerdas.

Tetapi dia sama sekali tidak membayangkan ayahnya akan memilih seorang istri yang patut menjadi putrinya.

Lebih-lebih tidak membayangkan bahwa gadis itu adalah Tao Ling.

Untuk sesaat I Giok Hong tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Tetapi ada satu hal yang diyakininya.

Biar bagaimana pun dia tidak sudi mengakui Tao Ling sebagai pengganti ibunya.

Mata I Giok Hong menatap Tao Ling lekat-lekat.

Wajah gadis itu tampak menyiratkan perasaan yang aneh.

Pandangan matanya kosong.

Seakan tidak memperdulikan peristiwa apa pun yang terjadi di hadapannya.

Urusan sehebat apa pun tidak akan mempengaruhinya.

I Giok Hong menatapnya sejenak, kemudian tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya dan bermaksud melesat pergi.

"Berhenti!"

Bentak I Ki Hu.

I Giok Hong tidak berani membangkang.

Tetapi meskipun langkah kakinya terhenti, ia tidak membalikkan tubuhnya sama sekali.

Ia berdiri membelakangi I Ki Hu dan Tao Ling.

Wajah I Ki Hu berubah tidak enak dilihat.

"Giok Hong, mengapa kau masih belum menyembah?"

Kata I Ki Hu dengan nada dingin. I Giok Hong tetap berdiri tanpa bergerak sedikit pun. Hawa amarah dalam dada I Ki Hu langsung meluap.

"Giok Hong, rupanya di dalam pandangan matamu sudah tidak ada ayahmu lagi?"

"Tentu saja dalam pandanganku, ayahku masih ada. Tetapi apabila menyuruh aku sembarangan menyembah seseorang dan memanggilnya 'ibu', aku tidak dapat melakukannya,"

Sahut I Giok Hong tegas.

Selama hidupnya, baru kali ini I Giok Hong bersikap demikian keras kepala di hadapan ayahnya.

Di satu pihak, emosi dalam hatinya seakan membara, tetapi di pihak yang lain, dia juga merasa takut.

Karena dia paham sekali watak ayahnya.

Apabila laki-laki itu sudah membenci seseorang, biarpun putrinya sendiri, ia tidak segan-segan mengambil tindakan tegas.

Ternyata memang benar.

Baru saja ucapannya selesai, terasa ada angin yang menyambar dari belakangnya.

I Giok Hong sadar, seandainya gerakan ayahnya yang menimbulkan sambaran angin itu, meskipun dia menghindar juga tidak ada gunanya.

Karena itu, dia diam saja tanpa bergerak sedikit pun.

Pundak I Giok Hong terasa memberat, tangan I Ki Hu telah menekannya.

Dengan keras I Ki Hu membalikkan tubuh putrinya.

Setelah itu tenaga dalamnya dikerahkan ke arah telapak tangan.

"Berlutut!"

Bentaknya keras.

Telapak tangannya menekan di pundak I Giok Hong, begitu tenaganya dikerahkan.

Gadis itu merasa seakan ada benda yang beratnya ribuan kati menindih pundaknya.

Sepasang lututnya jadi lemas, hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Tetapi watak I Giok Hong sangat keras.

Saat itu juga, dalam hati dia berseru.

"Tidak! Aku tidak boleh berlutut!"

Dengan panik dia menghimpun hawa murninya dan menyentakkannya ke atas. Tetapi, mana mungkin tenaga dalamnya dapat menyaingi I Ki Hu?"

Sesaat kemudian terdengar suara Krek!

Krek!

Rasa nyeri menyerang kedua pergelangan kakinya sampai-sampai dia hampir tidak dapat mempertahankan diri.

Matanya berkunang-kunang, kemudian bluk!

Tentu karena dia mengerahkan tenaganya untuk mengadakan perlawanan, maka tulang kecil di pergelangan kakinya langsung patah seketika.

Begitu sakitnya sampai seluruh tubuh, I Giok Hong gemetar.

Keringat dingin menetes membasahi keningnya.

Tetapi dalam hati dia merasa senang, karena dari awal hingga akhir ia tetap tidak menyembah Tao Ling.

I Ki Hu melihat putrinya rela membiarkan tulang kakinya patah tetapi tetap tidak bersedia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tao Ling.

Tidak timbul perasaan iba sedikit pun di hatinya, bahkan dia semakin marah.

Mulutnya mengeluarkan suara terkekeh-kekeh dan terdengar menyeramkan.

"Giok Hong, nyalimu sungguh besar. Rupanya kau sudah berani melawan aku?"

Tanya I Ki Hu. I Giok Hong menenangkan perasaanya. Dia juga mengeluarkan suara tertawa yang dingin.

"Tia, kau yang memaksa anak melakukannya. Jangan menyalahkan aku!"

I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

"Aku tidak mempunyai anak seperti kau!"

Tangannya segera melayang dan menampar wajah I Giok Hong.

I Giok Hong sungguh bermimpi pun tidak pernah membayangkan ayahnya akan memutuskan hubungan dengannya.

Pipinya terasa perih.

Namun dalam sekejap mata I Ki Hu sudah mengangkat tangannya kembali.

Tetapi kali ini dia hanya menekan pundak I Giok Hong.

Gadis itu segera menahan kedua tangannya di atas tanah.

Pokoknya, bagaimana pun dia tidak sudi menjatuhkan diri berlutut.

Tenaga dalam I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.

Bahkan orang yang dapat menandinginya di dunia kang ouw, mungkin dapat terhitung dengan jari.

Tadinya I Giok Hong bermaksud menopang tangannya di atas tanah dan mencelat ke belakang.

Tetapi tekanan di pundaknya demikian kuat.

Bukan saja tubuhnya tidak dapat terangkat, bahkan tulang kedua lengannya pun hampir patah seperti tulang di pergelangan kakinya.

Tanpa dapat menahan diri lagi, tubuhnya terkulai di atas tanah.

Dan tiba-tiba pinggangnya seperti terantuk sebuah benda yang keras.

Suatu ingatan melintas di benaknya.

"Tunggu dulu!"

Teriaknya segera.

"Apakah kau sudah bersedia menyembah di depan ibumu?"

Tanya I Ki Hu dengan nada dingin. I Giok Hong tidak menyahut. Dia mengulurkan tangannya ke dalam saku baju dan mengeluarkan sebuah benda yang sinarnya berkilauan. Ternyata Gin leng hiat ciang.

"Lihat lencana seperti bertemu dengan orangnya sendiri!"

Seru I Giok Hong.

I Ki Hu langsung tertegun.

Karena lencana itu memang merupakan lambang dirinya.

Siapa pun yang bertemu dengan lencana itu, dia seperti mewakili I Ki Hu sendiri.

Dan apa pun yang diperintahkan, orang-orang dunia bu lim sampai saat ini belum pernah ada yang menentangnya.

Sedangkan lencana Gin leng hiat ciang yang sekarang di tangan I Giok Hong, justru I Ki Hu yang menyerahkannya sendiri agar disampaikan kepada Leng Coa sian sing.

I Ki Hu pernah menjanjikan Leng Coa sian sing untuk menggunakannya sebanyak dua kali.

Watak I Ki Hu memang angin-anginan.

Tetapi apa yang pernah diucapkannya tidak pernah dijilat kembali.

Karena itu telapak tangannya langsung terhenti di tengah udara.

"Apa yang kau inginkan?"

Tanya I Ki Hu dengan nada dingin.

"Aku hanya ingin meninggalkan tempat ini, tidak ada permintaan lainnya."

Trang! I Giok Hong melemparkan lencana itu di depan kaki I Ki Hu. Laki-laki setengah baya itu menyepakkan kakinya, lencana itu mental di tengah udara dan disambut oleh tangan I Ki Hu.

"Giok Hong, dengan mengandalkan lencana ini, kau bisa meninggalkan tempat ini. Tetapi sadarkah kau bahwa sekali kau pergi, hubungan kita sebagai ayah dan anak pun sudah terputus?"

Tanpa berpikir panjang. I Giok Hong langsung menyahut.

"Ayahnya sendiri yang tidak menginginkan putrinya. Bukan putrinya yang tidak menginginkan ayahnya."

I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh.

"Bagus sekali! Bagus sekali! Tetapi aku tetap mengharap kau dapat menjaga dirimu baik-baik!"

Tangannya merogoh ke dalam saku pakaiannya.

Dia mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hijau kemudian dilemparkannya ke atas tanah "Di dalam botol itu terdapat dua butir pil penyambung tulang.

Bawalah dan sambung kembali tulang kakimu yang patah itu!"

I Giok Hong tahu obat penyambung tulang buatan ayahnya manjur sekali. Tetapi wataknya yang keras membuat dia tidak sudi menerima pemberian I Ki Hu. Bahkan meliriknya sekilas pun tidak.

"Terima kasih!"

Katanya singkat.

Sret!

Golok lemas pemberian Seebun Jit ditarik ke luar.

Dia menggunakannya sebagai penyanggah.

Kedua kakinya tidak dapat menapak di atas tanah.

Dengan menahan sakit, ia melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Ketika I Giok Hong baru melesat sejauh beberapa depa, tiba-tiba I Ki Hu berteriak.

"Tunggu dulu! Apa yang terjadi di dalam lembah Gin Hua kok?"

I Giok Hong sama sekali tidak menolehkan kepalanya.

"Tao Heng Kan menculik Lie Cun Ju. Tiga iblis dari keluarga Lung dan Leng Coa sian sing menimbulkan masalah di dalam lembah Gin Hua kok. Entah mengapa mereka lari terbirit-birit. Seebun Jit sudah mati. Dan masih ada seorang laki-laki yang tinggi sekali meruntuhkan seluruh tembok yang mengelilingi lembah Gin Hua kok. Keadaan di dalam ataupun di luar kacau balau. Tao Heng Kan memanggil orang itu 'suhu'."

Pada saat itu, hati I Giok Hong pedih tidak terkirakan.

Sembari berkata, dia terus melesat lagi sejauh beberapa depa.

Tulang di pergeiangan kakinya sudah patah karena tekanan I Ki Hu yang terlalu kuat.

Saat ini persendiannya terasa nyeri.

Meskipun untuk menyambungnya memang tidak terlalu sulit, tetapi gerakannya sekarang hanya mengandalkan sebilah golok, maka sulitnya bukan main.

Tetapi I Giok Hong tetap tidak sudi memohon ayahnya.

Dia lebih tidak sudi lagi menyembah di hadapan Tao Ling.

Sedikit demi sedikit dia menggeser golok di tangannya.

tidak berapa lama kemudian, sosok tubuhnya hanya meninggalkan bayangan yang berlompat-Iompat dan akhirnya menghilang dalam kegelapan malam.

Ketika bayangan I Giok Hong sudah tidak terlihat lagi, I Ki Hu baru menolehkan kepalanya dan memaksakan bibirnya mengembangkan seulas senyuman.

"Anak ini sejak kecil sudah kehilangan ibunya, karena itu adatnya jadi keras. Harap Hu jin tidak mengambil hati atas sikapnya!"

Wajah Tao Ling tetap tidak menyiratkan perasaan apa-apa.

"Kata-kata Hu kun (panggilan kepada suami) terlalu serius. Karena aku, hubungan kalian ayah dan anak jadi retak. Justru akulah yang bersalah."

I Ki Hu menghampirinya dan mengelus-elus rambut Tao Ling dengan lembut.

Mulanya Tao Ling ingin menghindar, tetapi baru saja kepalanya dipalingkan sedikit, dia merasa menghindar pun tiada gunanya.

Toh nasi sudah menjadi bubur.

Dia membiarkan I Ki Hu membelai-belainya.

Dan laki-laki setengah baya itu pun tampak sangat menyayanginya.

"Hu jin, kita juga harus melanjutkan perjalanan!"

Suara Tao Ling tidak menunjukkan perasaan apa pun. Seperti orang yang mengigau dalam mimpi.

"Mari kita berangkat!"

Sahutnya.

Pada saat ini, sebongkah hati Tao Ling meskipun belum mati, tetapi sudah tidak jauh lagi dari ambang kematian.

Beberapa hari yang lalu, dia merupakan seorang gadis yang lincah dan riang, tetapi beberapa hari kemudian, dia malah berubah menjadi pendiam dan murung.

Bahkan dia sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia bisa menjadi istri si raja iblis yang menggetarkan dunia kang ouw ini.

Padahal dia sudah mengambil keputusan untuk tidak memikirkan apa pun, termasuk Lie Cun Ju.

Tetapi ketika barusan dia mendengar I Giok Hong mengatakan bahwa Seebun Jit sudah mati dan kokonya yang tiba-tiba saja menjadi misterius dan jejaknya tidak ketahuan malah datang ke Gin Hua kok untuk menculik Lie Cun Ju.

Hatinya yang mulai redup sinarnya tiba-tiba bergelora lagi.

Yang paling membingungkan, justru gerak gerik kokonya, Tao Heng Kan.

Karena, apabila di dalam gedung Kuan Hong Siau, Tao Heng Kan tidak membunuh Li Po tanpa sebab musabab, dirinya juga tidak akan menemui berbagai kejadian yang janggal sampai sekarang ini.

Tentu saja, dia juga tidak akan menjadi istri Gin leng hiat ciang, I Ki Hu.

Namun kenyataannya, semuanya sudah terjadi.

Tao Ling juga tidak menyalahkan Tao Heng Kan.

Dia hanya menyesaikan nasibnya sendiri yang buruk.

Dia menguburkan dalam-dalam kerinduannya terhadap Lie Cun Ju.

Rupanya dua hari yang lalu, I Ki Hu dan putrinya membawa Tao Ling meninggalkan Gin Hua kok.

Kereta kuda itu dilarikan dengan cepat, tetapi baru menempuh perjalanan kurang lebih seratusan li, tiba-tiba I Ki Hu mengeluarkan suara seruan terkejut.

Seakan ada sesuatu yang tiba-tiba teringat olehnya.

la pun segera menghentikan kereta kudanya di tepi jalan.

Kemudian dia melepaskan tali yang mengait pada leher seekor kuda putih.

"Giok Hong, cepat kau kembali ke Gin Hua kok dan bawa Lie Cun Ju kemari. Kita harus mengajaknya bersama-sama ke Si Cuan untuk menemui pasangan suami istri Pat Kua kiam, Lie Yuan!"

Kata I Ki Hu.

I Giok Hong tidak banyak bertanya.

Dia hanya mengiakan kemudian melesat ke atas kuda putih yang dilepaskan oleh I Ki Hu tadi lalu melesat kembali ke Gin Hua kok.

Sedangkan apa yang dialaminya di dalam lembah itu sudah kita ketahui.

Sementara itu, setelah I Giok Hong kembali ke lembah Gin Hua kok, kereta kuda yang ditumpangi oleh I Ki Hu dan Tao Ling melaju lagi ke depan secepat kilat.

Mereka menempuh perjalanan sejauh belasan li.

Kemudian di sebuah padang rumput yang luas, I Ki Hu menghentikan keretanya.

Berduaan dengan si raja iblis yang menggetarkan dunia kang ouw itu perasaan Tao Ling agak takut juga.

Tetapi, dia sama sekali tidak membayangkan bahwa I Ki Hu mempunyai pikiran untuk mengambilnya sebagai istri.

Dia hanya khawatir I Ki Hu yang licik itu akan membunuhnya dengan kejam.

Karena itu dia duduk sendiri di dalam kereta tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Bahkan bernafas pun tidak berani keras-keras.

I Ki Hu menyilangkan tangannya di depan dada.

la berjalan mondar mandir di padang rum-put itu.

Dengan rasa jenuh mereka terus menunggu, sampai matahari sudah tenggelam, ter-nyata I Giok Hong masih belum kembali juga.

Sepasang alis I Ki Hu tampak menjungkit ke atas.

"Heran! Anak itu sudah pergi setengah harian, mengapa sampai sekarang belum kembali juga?"

I Ki Hu seakan menggumam seorang diri.

"Mungkin di dalani lembah terjadi sesuatu yang menunda kedatangannya."

Tao Ling memaksakan dirinya menjawab. Tiba-tiba I Ki Hu menolehkan kepalanya sambil tersenyum.

"Tao kouwnio, ada sedikit ucapan yang ingin kusampaikan. Entah Tao kouwnio bersedia meluluskannya atau tidak?"

Tao Ling melihat sepasang mata I Ki Hu menyorotkan sinar yang ganjil, ketika mengucapkan kata-kata itu. Jantungnya langsung berdebar-debar.

"Urusan apa?"

Tanyanya lirih. I Ki Hu melangkah setindak ke depan.

"Tao kouwnio mempunyai wajah yang cantik. Dari luar terlihat lembut, di dalam bijaksana. Aku sudah lama menduda, karena itu watak Giok Hong menjadi manja dan liar. Apakah Tao kouwnio bersedia mengikat diri denganku menjadi suami istri?"

Mendengar kata-katanya, persis seperti orang yang disambar petir. Mulutnya melongo, lidahnya kelu. Mana sanggup dia mengucapkan apa-apa? I Ki Hu tersenyum.

"Tao kouwnio tidak mengucapkan sepatah kata pun, pasti hatimu sudah setuju. Kita menyembah langit dan bumi di sini saja. Bagaimana menurut pendapatmu?"

Sembari berkata, dia mengulurkan tangannya menarik Tao Ling.

"Tidak! Tidak!"

Teriak Tao Ling ketika kelima jari tangan I Ki Hu hampir menyentuh pergelangan tangannya.

I Ki Hu menggerakkan tangannya ke depan, tidak dibiarkannya Tao Ling menghindar.

Sekejap saja pergelangan tangan Tao Ling sudah tercengkeram olehnya.

"Mengapa tidak?"

Tanya I Ki Hu.

Tao Ling merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas ketika I Ki Hu berhasil mencengkeram pergelangan tangannya.

Tubuhnya bersandar di tempat duduk kereta dan hanya bisa berteriak dengan gugup.

"Tidak! Tidak!"

Teriak Tao Ling lagi.

I Ki Hu tersenyum tipis.

Sepasang matanya menatap Tao Ling lekat-lekat.

Kalau dinilai dari usianya, memang I Ki Hu pantas menjadi ayah Tao Ling.

Tetapi karena tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, kelihatannya justru seperti laki-laki yang usianya belum mencapai empat puluhan tahun.

Lagi pula wajahnya sangat tampan, sehingga orang tidak akan sebal melihatnya.

Dan senyumannya barusan justru membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Tao Ling jadi meremang.

Dengan lemas dia memejamkan matanya, telinganya mendengar I Ki Hu berkata kembali.

"Tao kouwnio, apabila kau bersedia mengikat diri menjadi istriku, dendam permusuhan kedua orang tuamu yang aneh baru bisa terbalas."

Mendengar kata-katanya, Tao Ling jadi heran. Diam-diam dia bertanya kepada dirinya sendiri.

"Dendam permusuhan orang tua? Apakah kedua orang tuaku sudah menemui bencana?"

Rasa terkejut di dalam hatinya semakin bertambah.

"Apakah ayah ibuku telah dicelakai orang?"

Tanya Tao Ling.

"Urusan ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Sejak semula kau seharusnya sudah dapat menduganya,"

Jawab I Ki Hu.

Tao Ling tahu kekuasaan I Ki Hu besar sekali.

Apa pun tidak ada yang sulit baginya.

Meskipun dia menginginkan Tao Ling menjadi istrinya, dan sekarang masih belum kesampaian, dia tetap tidak perlu mengucapkan kata-kata yang demikian untuk menakut-nakutinya.

Hati Tao Ling semakin tercekat justru karena percaya apa yang dikatakan I Ki Hu.

"Ka ... lau begitu, siapa ... orang ... nya yang a ... akan mencelakai ke ... dua orang tua ... ku?"

Tanyanya gugup.

"Untuk sementara aku masih belum tahu. Tetapi asal kita sudah sampai di Si Cuan, semuanya akan menjadi jelas. Ini urusan kecil, kalau kau sudah menjadi istriku, mungkinkah aku tidak membalaskan dendam kedua orang tuamu?"

Tao Ling terdiam beberapa saat.

Dengan perasaan seorang gadis, ia mempertimbangkan situasi yang dihadapinya.

Dia sudah melihat bahwa keinginan I Ki Hu tidak dapat dicegah.

Jangan kata padang rumput ini begini sepi dan terpencil.

Biarpun di depan khalayak ramai atau kota besar, kalau I Ki Hu sudah mempunyai ingatan untuk mengambilnya sebagai istri, siapa lagi yang dapat mencegahnya?

Perlahan-lahan dia memejamkan matanya.

Dalam benaknya langsung terbayang wajah Lie Cun Ju.

Mereka sudah mengalami suka duka bersama selama satu bulan lebih.

Bahkan kaki mereka sama-sama pernah menginjak di pintu kematian, yang akhirnya mereka bisa meloloskan diri dari maut.

Dalam hati Tao Ling, tadinya dia sudah yakin bahwa seumur hidupnya ini, ia tidak akan berpisah lagi dengan Lie Cun Ju.

Taruhlah dirinya harus menjadi dayang I Giok Hong dan Lie Cun Ju harus menjadi penjaga malam di lembah Gin Hua kok, asal dapat bersama-sama untuk selamanya, ia tetap rela.

Tetapi, ia tidak pernah menduga bisa terjadi perkembangan seperti sekarang ini.

Hati Tao Ling sedang merindukan Lie Cun Ju, tetapi telinganya justru mendengar I Ki Hu berkata lagi.

"Tao kouwnio masih tidak bersuara, itu tandanya sudah setuju. Cayhe memberi hormat dulu kepadamu."

Tao Ling membuka matanya, dia melihat I Ki Hu sedang membungkuk dalam-dalam memberi hormat kepadanya.

Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.

I Ki Hu menegakkan tubuhnya dan berjalan pergi.

Tao Ling tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.

Karena itu ia hanya melihat saja.

Ternyata I Ki Hu menghampiri sebongkah batu besar dan mengguratkan jari tangannya di sana.

Dalam sekejap mata sudah terbaca sebuah huruf 'hi' di atas batu besar itu.

Kemudian I Ki Hu balik lagi.

Tanpa dapat mempertahankan diri, Tao Ling membiarkan dirinya diseret oleh I Ki Hu dan melakukan penyembahan dengan menundukkan kepala tiga kali di atas tanah.

Mereka menjalani upacara pernikahan dengan menyembah langit dan bumi.

Dalam satu malam saja, Tao Ling sudah berubah menjadi istri resmi si raja iblis I Ki Hu.

Tiba-tiba saja hatinya terasa kebal.

Dalam satu malam seolah-olah hatinya berubah menjadi kaku dan membeku seperti salju di pegunungan Thai san.

Tetapi bukan berarti hatinya tidak ada perasaan lagi.

Paling tidak, jauh di lubuk hatinya, dia masih mengingat Lie Cun Ju.

Terdengar suara derap kaki kuda.

Ternyata I Ki Hu sudah naik ke atas kereta dan melarikannya dengan kencang menuju Si Cuan.

Kereta terus bergerak ke depan, sedangkan hati Tao Ling terus merindukan Lie Cun Ju.

Pemuda yang pernah dicintainya, bahkan masih dicintainya sampai sekarang.

Tetapi di mana Lie Cun Ju sekarang?

Mungkin pemuda itu berada pada jarak sejauh ribuan li, tetapi mungkin juga begitu dekat sekali sehingga hanya ada di sekitarnya.

Hanya saja Tao Ling tidak tahu.

Namun, bagaimana pun juga pemuda itu tidak ada di sisinya lagi.

Pemuda itu sudah terpisah dengannya.

Tetapi, seberapa jauh pun mereka berpisah, kasih sayang yang pernah terjalin di dalam hati mereka masih tetap terjalin dengan indah.

Berpikir sampai di sini, Tao Ling tidak dapat menahan keperihan hatinya.

Dia menarik nafas panjang-panjang.

Helaan nafasnya justru mengejutkan I Ki Hu.

Laki-laki itu segera menolehkan kepalanya.

"Hu jin, apa yang membuat hatimu gundah?"

Tanya I Ki Hu.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Tao Ling cepat.

I Ki Hu turun dari kereta dan menghampirinya.

Pada saat itu kereta kuda sudah sampai di tepian sungai.

Mereka harus menyeberangi sungai itu baru dapat melanjutkan perjalanan.

Jarak dari seberang sungai ke Si Cuan di mana keluarga Sang tinggal, hanya seratusan H.

Tao Ling sendiri tidak tahu sudah berapa hari mereka menempuh perjalanan.

Perasaannya seakan tidak berfungsi lagi.

Ketika I Ki Hu menghampirinya, ia segera memalingkan wajahnya.

Tampak air sungai beriak-riak, ombaknya bergulung-gulung.

Arusnya deras sekali.

Air mengalir ke bagian timur.

Benak Tao Ling segera teringat pengalamannya ketika terhanyut arus sungai tempo hari.

Kejadian itu pula yang mempertemukannya dengan Lie Cun Ju.

Kembali hatinya terasa perih.

"Hu jin, kita menikah sudah enam hari. Tetapi setiap hari kau terus menghela nafas pendek, menghembuskan nafas panjang. Apakah hatimu sedang merindukan seseorang?"

Tanya I Ki Hu.

Tao Ling tertegun.

Diam-diam dia berpikir, bagaimana I Ki Hu hisa tahu perasaannya.

Sebetulnya, kalau melihat keadaan Tao Ling sekarang, jangan kan I Ki Hu yang demikian cerdas, orang biasa pun dapat menduga apa yang menjadi ganjalan hatinya.

Sampai sekian lama Tao Ling tidak memberikan jawaban.

"Hu jin, apakah pemuda yang sedang kau rindukan itu Lie Cun Ju?"

Tanya I Ki Hu lagi.

"Bukan, bukan dia!"

Jawab Tao Ling dengan terkejut. I Ki Hu mengembangkan seulas senyuman.

"Semakin Hu jin tidak berani mengakui, aku justru semakin yakin. Memang dialah orangnya. Tapi, Hu jin ... apakah kau tahu siapa pemuda itu sesungguhnya?"

"Aku tidak tahu,"

Jawabnya singkat, tetapi Tao Ling seakan sudah mengakui bahwa memang Lie Cun Ju yang dipikirkannya.

Tadi dia tidak berani mengakui karena merasa takut apabila I Ki Hu sudah mengetahuinya maka iblis itu akan membunuh kekasih hatinya.

Selesai berkata, dia baru menyadari ucapannya barusan salah.

Dengan panik ia menarik tangan I Ki Hu.

"Jangan kau celakai dia!"

Katanya gugup. I Ki Hu mengembangkan seulas senyuman kepadanya.

"Apabila dia bukan putra tocu Hek cui to, tentu saja aku tidak akan mencelakainya. Tetapi kalau dia ternyata orang yang kucari-cari selama ini. He ... he ... he ... Api yang liar tidak dapat dipadamkan, angin musim semi terus silih berganti. Biar bagaimana pun, aku tidak akan membiarkan ia hidup di dunia ini."

Tubuh Tao Ling langsung gemetar mendengar kata-kata I Ki Hu.

la sadar dirinya tidak mungkin bisa membujuk I Ki Hu.

Karena itu dia pun tidak mengatakan apa-apa lagi.

Seorang diri I Ki Hu berjalan di tepi sungai.Tampak ada sebuah perahu melaju dari tengahtengah sungai.

Gerakannya cepat sekali.

Sekejap saja perahu itu sudah mulai terlihat jelas.

Tubuh I Ki Hu berkelebat menghampiri kereta.

Disingkapnya sebuah papan lalu mengeluarkan segulungan tali.

Setelah itu dia melesat lagi ke tepi sungai.

Gerakan tubuhnya bukan main cepatnya.

Pada saat itu, perahu tadi kebetulan sedang melaju lewat.

Tubuh I Ki Hu berputar, tangannya dihentakkan ke depan, terdengar suara desiran.

Tali itu pun melayang ke arah perahu.

Rupanya sejak tadi I Ki Hu sudah mengadakan persiapan.

Tali yang dipegangnya mempunyai cantolan dari besi pada bagian ujungnya.

Sentakannya begitu kuat, ujung tali itu pun langsung menancap di bagian geladak perahu.

I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

Ujung tali yang satunya juga mempunyai cantolan besi.

I Ki Hu menancapkannya di atas tanah.I Gerakan perahu pun tertahan oleh kedua tali yani saling berkaitan itu.

Gulungan tali itu sekarang berbentuk titian yang panjang.

Tubuh I Ki Hu bergerak kembali.

Dia mencelat ke atas tali dan berjalah dengan cepat menuju perahu.

Baru mencapai setengahnya, terlihat seseorang muncul dari dalam kabin perahu.

Ketika melihat I Ki Hu berjalan di atas tali dan menuju keperahu, orang itu tertegun sejenak.

Cepat-cepat dia menyingkapkan pakaiannya dan menghunus sebilah golok.

Tangannya mengayun ke depan untuk menebas tali yang mengait di geladak perahu itu.

Kalau ditilik dari gerakan tangan orang itu yang begitu cepat dan reaksinya yang spontan, kemungkinan besar seorang tokoh bu lim juga.

Lagipula bukan tokoh sembarangan.

Pada saat itu, I Ki Hu baru mencapai setengah jalan, apabila orang itu berhasil menebas tali yang dijadikannya titian, pasti dia akan tercebur ke dalam sungai.

Sedangkan arus sungai itu begitu deras.

Meskipun I Ki Hu memiliki ilmu yang tinggi sekali, tetap saja dia akan seperti tikus yang tercebur di parit.

Tetapi bagaimana pun ilmu kepandaian I Ki Hu memang sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.

Baru saja orang itu muncui dari dalam kabin, dan I Ki Hu melihat gerakan tubuh orang itu yang demikian gesit, ia langsung tahu ilmunya tinggi sekali.

Dia sendiri sudah mempunyai persiapan.

Ketika melihat orang itu mengeluarkan goloknya, dia langsung berseru "Ada tamu yang berkunjung, masa tidak diterima?"

Jari tangannya menyentak ke depan.

Sebatang senjata rahasia melayang di udara dan meluncur tepat mengenai golok di tangan orang itu.

Tampak orang itu terhuyung-huyung kemudian menyurut mundur beberapa langkah.

Golok di tangannya terlepas dan terdengarlah suara Trak!

kemudian terbelah menjadi dua bagian.

Dalam waktu yang singkat itu, I Ki Hu sudah mencelat ke atas perahu.

Orang itu terkejut setengah mati.

Kepalanya langsung didongakkan.

"Siapakah Tuan?"

Tanya orang itu.

Padahal, I Ki Hu hanya sembarangan menarik perahu mana saja yang lewat guna menaikkan kereta kudanya ke atas agar bisa menyeberangi sungai.

Dia tidak perduli siapa penumpang perahu itu.

Lagi pula, di dalam hatinya, siapa pun orangnya, asal dia mengangkat tangannya, dia dapat membunuh orang itu seenaknya.

Memang selamanya I Ki Hu tidak pernah memandang mata pada siapa pun.

Tetapi ketika mendengar pertanyaan orang tadi, dia merasa logat suaranya agak asing.

Karena itu dia segera mendongakkan wajahnya, tampak tubuh orang itu demikian kekar dan warna kulitnya agak kegelapan.

Ternyata bukan orang Tiong goan.

"Cayhe she I."

Perlahan-lahan orang itu menyurut mundur lagi satu langkah.

"Mengapa Tuan menahan perahu kami?"

"Sungai ini sangat dalam, arusnya pun deras. Kami butuh perahu untuk menyeberangkan kereta kuda, karena itu meminjam perahu Tuan sebentar."

"Kami menyewa perahu ini justru karena ada urusan yang penting sekali. Mana bisa meminjamkannya kepada Tuan untuk menyeberangi sungai? Lagipula, geladak perahu ini juga tidak bisa memuat sebuah kereta,"

Kata orang itu dengan nada marah. I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

"Tidak menjadi persoalan. Asal geladak perahu dihilangkan, kan kereta kuda kami bisa muat di atasnya."

Sembari berbicara, I Ki Hu maju ke depan dua langkah.

Orang itu cepat-cepat menyurutkan tubuhnya ke belakang karena tadi dia sudah merasakan kehebatan I Ki Hu.

Tiba-tiba I Ki Hu membungkukkan tubuhnya sedikit, telapak tangannya menghantam ke bagian geladak perahu.

Saat itu juga, perahu itu berguncang dengan dahsyat.

Terasa ada angin yang menderu-deru, papan yang menutupi bagian geladak berhamburan karena pukulan I Ki Hu.

Terlihatlah sebuah celah yang besar.

Sekali lagi I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

"Dengan demikian pasti muat, bukan?"

Wajah orang itu pucat pasi seketika.

Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia berteriak.

Entah bahasa apa yang digunakannya.

Tetapi tampaknya I Ki Hu mengerti juga sedikit-sedikit.

Dia seperti mengatakan nyali orang ini besar sekali atau semacam begitulah.

Dia juga menanyakan kepada Lhama yang suci apa yang harus dilakukannya.

Diam-diam I Ki Hu merasa geli.

Kepalanya mendongak ke dalam perahu, tanpa dapat ditahan lagi, hatinya langsung tercekat.

Rupanya tenaga pukulannya begitu kuat sehingga atap perahu itu pun tergetar dan jebol.

Saat itu dia dapat melihat keadaan di dalam kabin perahu.

Perabotan yang ada di dalamnya juga berantakan, tetapi ada tiga buah kursi yang masih terletak pada posisi semula.

Di atas kursi itu duduk tegak tiga orang tanpa bergeming sedikit pun.

Justru tadi I Ki Hu melihat ilmu orang yang muncul dari dalam kabin itu cukup tinggi.

Dia tidak ingin menunda waktu lama-lama, karena itu dia ingin orang itu tunduk kepadanya dengan menghantam ke arah geladak perahu.

Pukulannya tadi menggunakan tenaga sebesar sembilan bagian.

Maka dari itu pula, seluruh atap yang menutupi bagian atas perahu itu ikut jebol saking kuatnya.

Begitu kuatnya angin yang terpancar dari pukulan I Ki Hu, ketiga orang yang duduk di dalam kabin itu seperti tidak merasakan apa-apa.

Hal ini membuktikan bahwa mereka bukan lawan yang dapat dianggap ringan.

Dengan mengembangkan seulas senyuman, I Ki Hu menatap ketiga orang itu.

Tampak orang yang di tengah sudah tua sekali.

Wajahnya sudah penuh dengan kerutan, tetapi sulit diduga berapa usia yang sebenarnya.

Tubuhnya kurus seperti lidi.

Dia adalah seorang pendeta atau lhama dari Tibet.

Kedua orang yang di sisi kanan kirinya juga sama-sama pendeta.

Kalau dilihat dari tampangnya, usia keduanya sekitar enam puluhan tahun.

Telapak tangan ketiga orang itu dirangkapkan di depan dada.

Maka mereka terpejam dengan tenang, seakan tidak menyadari apa pun yang terjadi di atas perahu.

Setelah menatap sesaat, hati I Ki Hu semakin penasaran.

Segera tubuhnya berputar dan mencengkeram bahu orang itu.

"Siapa kalian?"

Bentaknya lantang.

Ketika I Ki Hu mengulurkan tangannya untuk mencengkeram, tampaknya orang itu ingin menghindar.

Tapi gerakan tubuh I Ki Hu terlalu cepat, meskipun orang itu sempat menggeser ke samping sedikit, tetap saja bahunya kena tercengkeram I Ki Hu.

Dia berusaha memberontak, tetapi kelima jari tangan I Ki Hu mencengkeramnya kuatkuat.

Terdengarlah suara krek!

Krek!

begitu sakitnya sehingga wajahnya pucat pasi.

Tetapi mulutnya masih memaki dengan garang.

"Sebentar lagi kau akan mati, untuk apa kau sesumbar?"

I Ki Hu memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

Lengan tangannya dihentakkan.

la bermaksud melemparkan orang tadi ke dalam sungai, tetapi haru saja dia mengangkat tubuh orang itu, tiba-tiba kedua pendeta yang duduk di sisi kiri dan kanan membuka matanya.

Mata mereka menyorot-kan sinar yang ganjil.

I Ki Hu adalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian yang tinggi.

Apa pun yang menyangkut ilmu silat pasti dia tahu.

Hatinya kembali tercekat.

Diam-diam dia berpikir, ilmu yang dipelajari kedua pendeta ini mirip dengan ilmu Bit tat sin kang dari kaum pendeta berjubah kuning di pedalaman Tibet.

Sinar mata mereka menyiratkan rona kekuningan.

Dapat dipastikan bahwa kedudukan maupun tenaga dalam mereka dalam Oey kau (Agama Kuning) sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali.

Berpikir sampai di situ, tanpa dapat dipertahankan lagi gerakan tangannya jadi lambat.

Tampak lhama yang duduk di tengah-tengah mendongakkan kepalanya dan melirik ke kiri kanan.

Kedua lhama yang duduk di sisinya pun memejamkan matanya kembali.

Lhama tua itu herkata dengan nada perlahan dan seperti keenggan-engganan.

"Apabila I sicu ingin meminjam perahu, untuk apa harus melukai orang? Harap cepat m-nyeberangi sungai. Lo ceng (panggilan kepada diri sendiri yang kedudukannya seorang pendeta) ingin melanjutkan perjalanan secepatnya."

Tentu saja I Ki Hu menggunakan kesempatan untuk menatap ketiga pendeta itu.

Tampak mereka memang mengenakan jubah pendeta berwarna kuning, tetapi karena sudah tua sekali, maka warnanya sudah pudar.

Apalagi lhama yang duduk di tengah, bahkan pakaiannya sudah berubah warna menjadi agak kelabu.

Jilid 4________ I Ki Hu yakin mereka memang para pendeta dari Oey kau.

Untuk sesaat dia juga tidak berani sembarangan bertindak, karena ilmu kepandaian yang diturunkan oleh agama yang satu ini mengandung keanehan tersendiri.

Boleh dibilang berbeda dengan ilmu silat aliran mana pun di dunia ini.

Diam-diam hati I Ki Hu juga merasa heran, karena selama ini para lhama dari Oey kau hanya menetap di wilayah Tibet atau Mongol.

Mereka tidak pernah muncul di luaran.

Apalagi kalau menilik usia ketiga orang ini yang sudah tinggi sekali, kedudukan mereka dalam agama itu jelas juga termasuk angkatan tua.

Entah ada keperluan apa mereka datang ke Tiong goan?

Mendengar nada suara lhama tua itu, tampaknya dia sudah bersedia meminjamkan perahu.

Karena itu I Ki Hu merasa senang sekali.

Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu orang tadi.

"Apabila Taisu sudah bersedia meminjamkan perahu, cayhe juga tidak akan menyusahkan lagi."

Tubuhnya berketebat ke depan perahu, dan dengan menggunakan tali tadi sebagai titian, dia kembali ke tepi sungai.

Setelah itu dia menarik tali tadi agar perahu mendekat.

Kereta kuda dinaikkan ke atasnya, tali yang digunakan digulung kembali lalu memutar haluan perahu untuk menyeberangi sungai.

I Ki Hu berdiri di samping kereta, dia khawatir ketiga Ihama itu tiba-tiba akan menimbulkan kesulitan baginya.

Karena itu dia juga berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

Perahu melaju dengan cepat, sekejap kemudian mereka sudah berada di tengah-tengah sungai.

"Pukulan I sicu tadi, angin yang terpancar keluar mengandung hawa sesat, apakah I sicu ini orang dari Mo kau? Entah Mo kau kaucu, si tua Kwe lo sian sing tinggal di mana sekarang?"

Tanya pendeta yang duduk di tengah.

Mendengar pertanyaannya, I Ki Hu terkejut setengah mati.

Karena si tua Kwe lo sian sing yang ditanyakan Ihama itu adalah mertuanya sendiri yang terbunuh di tangannya.

Juga merupakan ketua angkatan ketiga puluh sembilan dari partai itu.

Kaucu itu sendiri sudah mati tujuh belas tahun yang lalu.

Boleh dibilang selama ini tidak ada orang yang pernah mengungkit lagi nama 'Kwe kau cu".

"Entah untuk apa Taisu menanyakannya?"

Tanya I Ki Hu setelah tertegun sejenak.

"Dulu loceng mempunyai kesempatan bertemu satu kali dengan Kwe lo Kau cu. Kali ini kedatangan kami juga untuk mencarinya, tetapi ternyata setelah mencarinya sekian lama dan menanyakan kesana kemari, tidak ada seorang pun yang tahu kemana pindahnya orang tua itu."

Hati I Ki Hu langsung merasa bangga mendengar ucapannya.

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 1

Baca Juga: Senyuman Dewa Pedang 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert