Ceritasilat Novel Online

Pedang Tanpa Perasaan 1

Eps 1 Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung

Baca online Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung

Cersil Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ . Pedang tanpa perasaan _____________________________________________________________________ ______

Jilid 1________ Sungai besar di dekat lembah Pa Tung, berpusat pada air terjun yang tinggi.

Gerakan arusnya deras sekali sehingga membahayakan perahu kecil.

Apalagi menjelang malam hari air meluap tinggi sampai di daratan.

Entah sudah berapa banyak perahu kecil yang terbalik kemudian tenggelam di sungai itu.

Biasanya perahu-perahu yang ingin melanjutkan perjalanan selalu berhenti dan berlabuh di desa kecil yang ada di kaki lembah itu.

Para pelancong menginap satu malam, menunggu keesokan harinya untuk melanjutkan perjalanan Hari itu, menjelang matahari terbenam.

Dari kejauhan tampak dua buah perahu besar.

Kedua perahu itu merupakan perahu bagus yang sering tampak berlalu lalang di sepanjang perairan itu.

Bagian geladaknya lebar, di dalamnya terdapat kabin yang luas.

Kedua perahu besar itu perlahan-lahan bergerak menuju tepian dermaga.

Di atas dermaga itu sudah menanti belasan orang.

Pemimpin kelompok orang-orang itu adalah seorang laki-Iaki yang sudah lanjut usia dengan jenggot panjang yang sudah memutih.

Usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun Tapi semangatnya masih menyala-nyala dan penampilannya masih gagah.

Sedangkan yang lainnya juga tergolong para laki-laki dan perempuan yang biasa berkecimpung di dunia kangouw.

Di atas geladak kedua perahu besar juga berdiri sekitar delapan orang.

Tampak di antaranya dua pasang suami istri, beberapa pemuda dan pemudi.

Mungkin putra putri kedua pasang suami istri itu.

Ketika orang-orang yang menunggu di atas dermaga melihat perahu itu sudah berlabuh di tepian dermaga, mereka pun berkasak kusuk.

"Apakah benar kedua perahu ini?"

Ujar seorang wanita setengah baya.

"Tidak salah lagi. Kau tidak lihat lambang Pat Kua emas yang tergantung di atap perahu? Kecuali Pat Kua Kim Gin Kiam (pedang emas Pat Kua) Lie Eng Hiong, siapa lagi yang berani menggantungkan lambang itu di perahunya?"

Jawab teman-temannya.

"Aneh. Menurut berita yang tersiar di luaran, Lie Eng Hiong akan datang ke Si Cuan, tidak ada orang yang mengiringinya. Siapa kira-kira yang di perahu besar satunya lagi?"

Orang-orang yang ada di atas dermaga itu menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Pemimpin yang telah berumur tujuh puluhan itu.

"Di kolong langit ini ada dua keluarga pedang yang ternama. Apakah kalian tidak tahu?"

Ujar pimpinan dengan nada keras.

"Ah! Kuan loya cu, maksudmu pasangan yang berdiri di atas perahu satunya lagi itu Pat Sian Kiam (pedang delapan dewa) Tao Cu Hun, Tao tayhiap dan istrinya?"

Ujar wanita setengah baya.

"Tidak salah. Hari ini kita dapat bertemu langsung dengan dua keluarga pedang paling ternama di dunia kang ouw dan berbincang-bincang. Bukankah hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat menggembirakan?"

Kakek itu berkata sambil mengeluselus jenggotnya.

Wajah orang-orang itu langsung berseri-seri.

Mereka semuanya terdiri dari orangorang yang berjiwa gagah.

Mereka sependapat bahwa dapat bertemu dengan Pat Kua Kim Gin Kiam, Lie Yuan dan istrinya, serta Pat Sian Kiam Tao Cu Hun suami istri memang merupakan hal yang sangat menggembirakan.

Ketika pembicaraan itu berlangsung, perahu sudah merapat di titian bambu dermaga.

Tanpa menunggu para penumpang perahu itu meloncat turun, orang-orang itu segera menghambur ke depan menyambut kedatangan dua keluarga pedang itu.

Seorang laki-laki berusia setengah baya dengan wajah berbentuk persegi segera menyongsong ke depan.

"Kuan loheng, tidak disangka, tiga tahun kita tidak bertemu, tapi tampang loheng masih seperti dulu!"

Kata laki-laki setengah baya itu dengan suara lantang.

"Lie lote, ini yang disebut mendapat berkat dari Thian yang Kuasa!"

Kakek Kuan tertawa terbahak-bahak. Laki-laki berwajah persegi yang ternyata pendekar pedang kenamaan Lie Yuan segera menunjuk kepada seorang laki-laki bertampang kalem dan lebih mirip pelajar.

"Mari, mari ...! Aku pertemukan kalian agar dapat berkenalan. Kuan loheng, ini Tao Cu Hun Tao tayhiap yang terkenal dengan gelar Pat Sian Kiam, dan yang ini istrinya Sam Jiu Kuan Im (Dewi Kuan Im bertangan tiga) Sen Cin.

"Yang ini Cuan Tung tayhiap, Kuan Hong Siau, Kuan loya!"

Ujar Toa Cu Hun setelah merangkapkan kedua telapak tangannya seraya menjura hormat.

"Gang yang kecil mana dapat dibandingkan dengan jalan raya? Mengapa ada beberapa tokoh setempat yang mendengar Lie lote akan datangberkunjung dan sengaja menunggu di situ,"

Ujar Kuan Hong Siau seraya tertawa terbahak-bahak.

Sembari berkata, Kuan Hong Siau segera memperkenalkan orang-orang yang datang ber-samanya kepada kedua jago pedang ternama itu.

Mereka juga termasuk tokohtokoh yang cukup mempunyai nama sehingga baik Tao Cu Hun suami istri maupun Lie Yuan suami istri merasa sungkan.

"Kalian berdua jago pedang kenamaan tentunya bertemu di perjalanan bukan?"

Tanya Kuan Hong Siau.

"Dugaan Kuan loya memang benar,"

Sahut Tao Cu Hun.

"Kalau liongwi tidak keberatan, bagaimana kalau malam ini menginap di rumahku yang buruk? Kebetulan hari ini hari Tiong Ciu (Tanggalan Cina Bulan delapan tanggal lima helas), kita dapat menikmati bulan purnama sambil meminum arak serta mengobrol tentang para enghiong yang ada di dunia ini, bukankah ini merupakan acara yang menyenangkan?"

"Kuan loya sangat menghormati kami, tentu tidak enak hati apabila kami menolaknya,"

Sahut Tao Cu Hun.

Seluruh rombongan itu terdiri dari dua puluhan orang.

Mereka segera meloncat ke atas dermaga dengan wajah berseri-seri.

Hanya ada seorang pemuda yang terus mengernyitkan keningnya.

Seakan hatinya sedang dilanda berbagai pikiran yang ruwet.

Pemuda itu berusia sembilan belasan.

Dari sepasang alisnya tersirat kegagahan.

Wajahnya tampan dengan postur tuhuh yang indah.

Dia terus berdiri di belakang pasangan suami istri Tao Cu Hun.

Memang pemuda itu anak pasangan suami istri itu.

Namanya, Tao Heng Kan.

Ketika semua orang naik ke atas dermaga, dia bukan saja berjalan di bagian paling belakang, malah mengulurkan tangan meraba-raba gagang pedang di pundaknya.

Wajahnya menyiratkan kegelisahan, jauh berbeda dengan sikap sehari-harinya.

Gerak gerik Tao Heng Kan ini tidak terlepas dari tatapan mata adiknya, yaitu Tao Ling.

Usia gadis itu lebih muda dari abangnya dua tahun, tapi termasuk gadis yang mengalami pertumbuhan pesat.

Tinggi tubuhnya sudah hampir sama dengan Tao Heng Kan.

Pinggangnya ramping dan wajahnya cantik.

Dia sengaja memperlambat jalannya.

"Koko, apa yang kau risaukan?"

Gadis itu bertanya kepada abangnya dengan suara berbisik.

"Oh! Tidak ada apa-apa!"

Jawab Tao Heng Kan seraya tersentak dari larnunannya.

"Koko, jangan berbohong. Kalau ada apa-apa, seharusnya kau bicarakan denganku. dengan demikian kita bisa merundingkannya bersama."

Tao Heng Kan mempercepat langkah kakinya seakan ingin menghindari Tao Ling.

"Sungguh tidak ada apa-apa. Kau jangan curiga yang bukan-bukan!"

Katanya.

Tao Ling menatap bayangan punggung abangnya.

Bibirnya mengembangkan seulas senyuman manis.

Kemudian bergegas mendahului abangnya.

Tetapi dia tidak mendesak abangnya dengan pertanyaan lagi.

Karena itu hati Tao Heng Kan juga menjadi lega.

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, mereka sudah sampai di rumah Kuan loya.

Ba-ngunan rumah itu besar sekali.

Pada masa mudanya Kuan Hong Siau mendirikan sebuah perusahaan piau ki (pengawalan barang-barang kiriman).

Sampai lima tahun yang lalu, orang tua itu mengundurkan dari usahanya.

Selama empat puluh tahun, barang-barang yang pernah dikawal oleh Ceng Eng piau ki (Ekspedisi Elang Hijau) belum pernah terjadi kehilangan sekali pun.

Sungai telaga dari utara sampai selatan, baik tokoh golongan hitam ataupun putih tidak ada yang berani menyentuh sedikit pun barang-barang kawalan Ceng Eng piau ki itu.

Pokoknya asal melihat bendera bergambar seekor elang berwarna hijau yang sedang membentangkan sayapnya, orang-orang dunia kang ouw menaruh sikap hormat dan tidak berani mengganggu.

Kalangan dunia kang ouw sungguh tidak mengerti mengapa lima tahun yang lalu, tiba-tiba Kuan Hong Siau mengumumkan bubarnya Ceng Eng piau ki.

Bahkan orang tua itu menyatakan dengan tegas bahwa mulai saat itu, Ceng Eng piau ki tidak ada lagi di dunia kang ouw.

Gedung yang besar itu dibangun setelah Kuan Hong Siau mengundurkan diri.

Begitu masuk pintu gerbang, tampaklah sebuah ruang penerimaan tamu yang sangat luas.

Kuan Hong Siau mengajak para tamunya menuju taman bunga di bagian belakang gedung itu.

Di dalam taman bunga sudah tersedia beberapa buah meja dengan hidangan lengkap di atasnya.

Setelah berbasa basi sejenak, para tamu pun duduk di bangku-bangku yang tersedia dan berbincang-bincang sambil menikmati hidangan.

Malam semakin larut, rembulan menggantung tinggi di atas cakrawala.

Sinarnya terang karena bulan purnama bercahaya penuh.

Bunga-bunga dan pepohonan tersorot cahaya rembulan sehingga membuahkan pemandangan yang indah.

Bagian atasnya laksana dilapisi cahaya keperakan.

Kuan Hong Siau memerintahkan para pelayannya untuk memadamkan lentera.

Bersama para tamunya, dia melanjutkan obrolan sambil meneguk arak.

Meskipun malam sudah semakin larut, namun tidak ada seorang pun yang merasa mengantuk.

Mereka masih menikmati malam yang indah dan ingin berbincang-bincang dengan semangat menyala-nyala.

Suara pembicaraan bersimpang siur.

Riuh rendah tiada hentinya.

Tiba-tiba wanita setengah baya yang pertama-tama mengajukan pertanyaan kepada Kuan Hong Siau itu menggebrak meja keras-keras.

Brakkk!

"Cio losam, kentut busuk!

Aku bilang Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat lebih hebat daripada Pat Sian Kiam Hoat!"

Teriaknya keras-keras.

Orang yang dipanggil Ci losam adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih.

Tubuhnya tinggi besar, wajahnya merah padam.

Hal ini membuktikan bahwa dia sudah mulai mabuk.

Tampaknya dia juga tidak bersedia mengalah.

Meja di depannya digebrak sekuat tenaga.

Brakkkk!

"Kongsun Ping, senjata yang kau gunakan hanya berupa golok bercagak, mana mungkin kau memahami keindahan ilmu pedang!"

Watak perempuan setengah baya itu agak aneh.

Senjata yang digunakannya merupakan salah satu dari delapan belas jenis senjata aneh di dunia.

Dia mempunyai dua macam senjata, yang satu golok yang bagian ujungnya bercagak.

Sedangkan yang satunya lagi cakar dari besi.

Itulah sebabnya ia mendapat gelar si Cakar besi, namanya Kongsun Ping.

Mendengar Cio losam mengucapkan kata-kata yang mengejeknya, dia langsung berteriak keras-keras.

Tubuhnya segera bangkit dari tempat duduk.

"Cio losam, mendengar perkataanmu yang tidak enak didengar tadi, ada baiknya kita bertan-ding sebentar. Bagaimana?"

Trang!

Trang!

Kongsun Ping melemparkan senjatanya ke atas meja sehingga beberapa buah mangkok dan cawan pecah berantakan.

Senjatanya berukuran kurang lebih tiga puluh lima senti.

Ujungnya terdapat dua jari-jari berupa cakar dan terbuat dari besi.

Wajah Cio losam berubah hebat.

"Bagus! Kalau si cakar besi Kongsun Ping telah menurunkan perintah, mana berani aku me-nolaknya?"

Tangannya bertumpu di atas meja.

Tubuhnya terangkat sedikit, kakinya memantul dan Cio losam pun melakukan salto beberapa kali di atas udara.

Sebelum mendarat turun di tengah-tengah taman bunga.

Kongsun Ping juga melesat ke depan secepat kilat, tapi belum lagi dia sampai di depan Cio losam, tampak sesosok bayangan berkelebat.

Serangkum angin kuat menerpa dirinya sehingga kakinya terhuyung-huyung mundur beberapa langkah.

Ketika dia mengalihkan pandangan matanya, ternyata orang yang berdiri di depannya adalah Kuan Ho "Kuan loya, apakah kau ingin memberikan bantuan kepada Cio losam?"

Teriak Kongsun Ping. Wajah Kuan Hong Siau serius sekali.

"Kongsun niocu, jangan mencari keributan. Kita semua sahabat karib. Untuk apa harus turun tangan?"

"Aku mengatakan Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat lebih hebat dari Pat Sian Kiam Hoat!"

Tampaknya adat wanita ini bukan saja berangasan tapi juga keras kepala. Kuan Hong Siau menoleh kepada kedua tamu agungnya, Lie Yuan dan Tao Cu Hun.

"Tokoh-tokoh setempat ini benar-benar tidak memberi muka kepadaku, harap Hong wi tayhiap jangan menertawakan. Kalian berdua memang jago pedang kenamaan, saat ini malam sedang indah-indahnya, apakah kalian berdua bersedia menunjukkan sedikit kebolehan kepada kami agar semuanya merasa puas?"

Ujar Kuan Hong Siau. Mendengar ucapan Kuan Hong Siau, teman-temannya yang lain serentak menyatakan keakuran pendapat mereka. Malah Cio losam dan Kongsun Ping ikut berseru.

"Bagus sekali. Liongwi boleh bertanding beberapa puluh jurus untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara dua jago pedang kenamaan di dunia kang ouw sekarang ini."

Kuan Hong Siau hanya tersenyum simpul.

Dia tidak memberikan komentar apa pun terhadap ucapan kedua orang itu.

Hal ini membuktikan bahwa dia sendiri ingin menyaksikan siapa yang lebih unggul dari kedua jago pedang itu.

Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan juga tidak memberikan tanggapan apa-apa.

Justru Tao Cu Hun yang berkata.

"Kuan loya, tidak usahlah. Buat apa memaksa siaute menunjukkan keburukan?"

"Apabila Pat Sian Kiam Hoat yang dikuasai Tao lote masih dibilang ilmu yang buruk, aku yang tua sungguh tidak bisa membayangkan ilmu pedang yang mana lagi yang dapat dikatakan bagus!"

Pasangan suami istri Tao Cu Hun membawa kedua putra putrinya melakukan perjalanan ke Si Cuan, pada dasarnya mereka ada urusan penting.

Tidak disangkasangka di tengah perjalanan mereka bertemu dengan pasangan suami istri Lie Yuan.

Mereka sudah lama mendengar ketenaran nama masing-masing, tapi belum pernah bertemu muka.

Karena merasa cocok, mereka pun melakukan perjalanan bersamasama.

Watak Tao Cu Hun memang kalem.

Dia menganggap perebutan nama besar di kalangan dunia kang ouw adalah sesuatu yang tidak berarti.

Tidak terselip sedikit pun niat di hatinya untuk menunjukkan sampai di mana tingginya ilmu pedang yang dia miliki.

Karena itu dia hanya tersenyum kecil.

"Maksudku, kalau dibandingkan dengan Pat Kua Kim Gin Kiam milik Lie heng, tentu saja terpaut jauh,"

Ujar Tao Cu Hun. Lie Yuan sejak tadi tidak berbicara, tiba-tiba dia menukas.

"Apakah Tao Heng tidak terlalu merendahkan diri sendiri?"

Tao Ling berdiri di samping Tao Cu Hun. Dia menyenggol ujung lengan ayahnya.

"Tia, kau lihat sikap orang she Lie itu demikian congkak, seakan tidak ada jago lain lagi di dunia ini. Mengapa kau tidak memberikan pelajaran barang beberapa jurus?"

Tao Cu Hun terkejut setengah mati.

Tadinya dia bermaksud mencegah putrinya mengoceh sembarangan, tapi sudah terlambat.

Meskipun suara Tao Ling cukup lirih, tapi orang-orang yang hadir di tempat itu tokoh-tokoh yang sudah mempunyai dasar ilmu yang kuat, terutama pasangan suami istri Lie Yuan.

Kedua orang ini sejak kecil sudah digembleng untuk menguasai Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat.

Sedangkan ilmu yang saat ini mempunyai keistimewaan tersendiri.

Setiap kali jurusnya dilancarkan, tidak terbit suara sedikit pun.

Seandainya menutup mata, tentu orang tidak tahu bahwa pedang mereka sudah meluncur ke arahnya.

Tetapi mereka berdua justru sanggup mengimbangi kehebatan pasangannya dengan mata tertutup.

Tentu saja pendengaran dan pandangan mata mereka sangat peka.

Ucapan Tao Ling sudah tertangkap jelas oleh mereka.

Wajah Lim Cing Ing, istri Lie Yuan mulai berubah.

Bibirnya mengembangkan senyuman sinis.

"Tao tayhiap, usul putri anda boleh juga!"

Tao Cu Hun mendelik putrinya sekilas.

"Ucapan seorang anak mana bisa dipegang. Harap kalian berdua memaafkannya!"

Lie Yuan mengulurkan tangannya meraba pinggang.

Terdengar suara desiran yang halus.

Cahaya keemasan memenuhi sekitar termpat itu.

Ternyata dia sudah mulai menarik gagang pedangnya.

Pedang pusaka itu berwarna perak, tapi di bagian tengahnya terlihat segurat garis yang memantulkan cahaya keemasan.

Sinarnya tajam dan menyilaukan mata.

Sekali pandang saja dapat dipastikan bahwa yang digunakannya adalah sebatang pedang pusaka yang langka.

Mungkin merupakan warisan turun temurun selatna ratusan tahun.

Lie Yuan tertawa terbahak-bahak.

"Tao Heng, masa kau sungguh-sungguh tidak bersedia menunjukkan sedikit kepandaian agar mata para sahabat ini terbuka?"

Kata-katanya memang diucapkan dengan sungkan, tapi rona wajahnya sungguh tidak enak dilihat.

Tao Ling menyadari kata-katanya yang kekanak-kanakan tadi telah menimbulkan masalah.

Hatinya tercekat sekali, cepat-cepat dia bersembunyi di belakang ibunya dan tidak berani menggatakan apa-apa lagi.

Mendengar ucapan Lie Yuan, Tao Cu Hun jadi serba salah.

Dia sadar sekarang apabila dia tetap menolak permintaan orang itu, rasanya tidak mungkin lagi.

Tapi kalau dituruti, pasti akan timbul berbagai masalah.

Sebab bila dia meraih kemenangan, sama saja dia menjatuhkan pamor Pat Kua Kim Gin Kiam.

Dengan demikian pasti terjadi perasaan dendam yang mungkin akan berlangsung turun temurun.

Tidak ada hari tenang lagi di kelak kemudian hari.

Tetapi apabila dia sengaja mengalah kepada Lie Yuan, nama baiknya sendiri akan hancur dan bukan saja dia tidak mempunyai muka lagi muncul di dunia kang ouw, malah sekaligus merusakkan nama besar yang telah dipupuk para leluhurnya dengan susah payah.

Tao Cu Hun berpikir bolak balik.

"Bila Lie heng mendesak terus, biar putra kami Heng Kan yang meminta petunjuk barang beberapa jurus saja. Bagaimana pendapat Lie heng?"

Kata Tao Cu Hun.

Menurut Tao Cu Hun sendiri, gagasannya tepat sekali.

Karena ilmu pedang Lie Yuan pasti jauh lebih tinggi dibandingkan seorang boan pwe seperti anaknya Heng Kan.

Tidak dinyana, mendengar ucapannya, wajah Lie Yuan semakin berubah.

"Rupanya di dalam hati Tao Heng demikian memandang rendah ilmu pedang pat kua pai kami?"

Diam-diam hati Tao Cu Hun berseru 'celaka'. Maksud baiknya malah salah ditafsir oleh Lie Yuan. Baru saja dia bermaksud menjelaskan niat yang terkandung dalam hatinya, Lie Yuan sudah berteriak.

"Po ji!"

Teriak Lie Yuan. Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga lahun segera mengiakan dan berdiri dari tempat duduknya.

"Po ji, coba kau minta petunjuk barang beberapa jurus dari Tao Heng!"

"Baik!"

Sahut pemuda itu. Tubuhnya bergerak melesat dan tahu-tahu dia sudah berdiri di tengah-tengah taman bunga yang luas. Cring! Lie Yuan menghunus pedang pusakanya dan dilemparkannya ke udara.

"Sambutlah!"

Di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang, tampak pedang pusaka itu melayang ke tengah udara.

Seakan tiba-tiba dia melemparkan seekor naga emas.

Serrr!

Pedang itu melayang setinggi lima depa, kemudian berputar beberapa kali dan menukik turun dengan bagian gagangnya di sebelah bawah.

Tepat pada saat itu juga, Li Po mengeluarkan suara siulan yang panjang.

Tubuhnya mencelat ke atas dengan tangan terulur.

Gerakannya indah sekali.

Sesaat kemudian pedang pusaka itu sudah tergenggam dalam telapak tangannya dan dia pun melayang turun kembali serta berdiri dengan mantap.

Li Po menggerakkan pedang di tangannya.

Tampak bunga-bunga bayangan yang memenuhi seluruh tempat itu.

Cahaya memijar menutupi seluruh tubuh Li Po.

Pada dasarnya pemuda itu memang mempunyai penampilan yang gagah dan tampan.

Hal ini malah menambah keindahan gerakannya.

Sungguh pemandangan yang mengagumkan.

Orang-orang yang berkumpul di taman bunga gedung Kuan Hong Siau segera melontarkan pujian dan bertepuk tangan dengan riuh.

Li Po menghentikan gerakannya.

Tangannya menuding kepada Tao Heng Kan.

"Tao Heng, harap, harap sudi memberikan sedikit petunjuk!"

Ujar Li Po.

Tiba-tiba wajah Tao Heng Kan menyiratkan mimik yang menakutkan.

Tetapi dalam sekejap mata sudah pulih kembali seperti sedia kala.

Orang-orang yang ada di tempat itu tidak memperhatikan, tetapi Tao Ling yang sejak tadi berkali-kali melirik abangnya sempat melihat perubahan wajah Tao Heng Kan sekilas.

"Ma, tampaknya koko takut menghadapi orang itu,"

Bisik Tao Ling kepada ibunya. Sam Jiu Kuan Im Sen Cing membentak dengan suara keras.

"Jangan banyak bicara! Masalah yang kau timbulkan barusan apa masih belum cukup?"

Tao Ling menjulurkan lidahnya dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Tao Heng Kan menoleh kepada ayahnya.

"Heng Kan, Lie heng mempunyai kegembiraan untuk bermain-main denganmu, biarlah kau temani barang beberapa jurus!"

Perintah Tao Cu Hun. Tao Heng Kan menganggukkan kepala.

"Tia, pinjam pedang Hek Pek Kiam-mu (pedang hitam putih),"

Ujar Tao Heng Kan.

Tao Cu Hun melirik sekilas ke tengah arena yang akan dijadikan ajang pertandingan.

Dia melihat tangan Li Po menggenggam sebuah pedang yang berkilauan.

Tidak diragukan lagi pedang itu pedang pusaka.

Apabila menghadapinya dengan pedang biasa, putranya pasti akan mengalami kerugian.

Meskipun hatinya enggan memperlihatkan Hek Pek Kiamnya di depan umum, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini mau tidak mau dia harus meminjamkannya kepada putranya.

Dia mengulurkan tangannya mengeluarkan pedang berikut sarungnya, lalu diletakkannya di atas meja.

"Heng Kan, gunakanlah bagian tubuh pedang, jangan menggunakan ujungnya!"

Lie Yuan yang duduk di sebelahnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.

Tao Heng Kan segera meraih pedang dari atas meja dan Sret!

Pedang itu dihunusnya.

Tadinya orang-orang yang berkumpul di taman bunga itu mendengar nada perkataan Tao Cu Hun yang berat sekali, mereka mengira Hek Pek Kiam pasti merupakan sebatang pedang pusaka yang langka pula.

Namun setelah Tao Heng Kan menghunus pedang itu, hampir saja semuanya tertawa geli.

Rupanya panjang pedang itu tidak lebih dari tiga ciok.

Lebarnya malah selebar empat jari tangan.

Sungguh berbeda dengan pedang umumnya.

Bagian tubuh pedang berwarna hitam pekat.

Tidak menyorotkan sedikit sinar pun.

Sedangkan bagian atasnya berwarna putih kelabu, seperti logam biasa yang belum diasah.

Tidak ada keistimewaannya sama sekali.

Kalau dibandingkan dengan pusaka yang ada di tangan Li Po, sungguh bagaikan bumi dan langit.

Hanya Kuan Hong Siau yang mengetahui bahwa nama besar Tao Cu Hun bukan sekedar nama kosong.

Meskipun Hek Pek Kiamnya tidak menunjukkan keistimewaan apa-apa, tapi kemungkinan juga merupakan sebatang pedang pusaka yang langka.

Sebentar lagi apabila dalam pertandingan ada salah satu pihak yang mengalami cedera, tentu hatinya menjadi tidak enak, karena bertolak belakang dari tujuannya semula.

Dia pun mengelus-elus jenggotnya sambil tertawa lebar.

"Keponakan berdua, pertandingan ilmu untuk melihat kehebatan masing-masing adalah hal yang lumrah. Jangan sampai ada yang melukai lawannya, batasnya hanya boleh saling menu hil saja!"

Kata orang tua itu. Li Po segera menyahut dengan lantang.

"Keponakan akan menurut, terima kasih atas perhatian Kuan cianpwe!"

Tao Heng Kan tidak menyahut sepatah kata pun.

Perlahan-lahan dia maju ke depan sejauh belasan tindak.

Sepasang matanya tidak berkedip sekali pun dan memandang Li Po lekat-lekat.

Kedua pemuda itu berjalan ke depan sampai jarak mereka tinggal lima enam langkah.

Tangan Li Po terangkat ke atas, dengan perlahan-lahan dia menggerakkan pedangnya.

Gagang pedang berada di sebelah bawah.

Kedua jari tangannya yang Iain lurus ke samping.

Ini merupakan jurus pembukaan dari Pat Kua Kim Gin Kiam.

Pat Kua Kiam Hoat sendiri berasal dari sumber Pat Kua, semuanya terdiri dari delapan jurus.

Setiap jurusnya mempunyai puluhan perubahan yang mempunyai keistimewaan masing-masing.

Gerakannya lebih memberatkan kelincahan tubuh.

Kalau ditinjau dari dunia bulim saat ini, nama Pat Kua Kim Gin Kiam sudah terkenal di seluruh dunia.

Jurus pembukaan yang dikerahkan oleh Li Po tampaknya sederhana saja, tetapi apabila sudah dimainkan setiap perubahan akan mengejutkan.

"Silakan!"

Li Po membentak dengan suara Iantang. Tubuh Tao Heng Kan agak limbung, kakinya sempat terhuyung-huyung sampai tiga langkah, tetapi tidak sampai terjatuh. Akhirnya dia dapat berdiri dengan tegak.

"Silakan!"

Bentak Tao Heng Kan pula.

Li Po segera menggerakkan sebelah kakinya ke depan, pedang di tangannya bergetar kemudian menjulur ke luar.

Yang menjadi sasarannya pundak sebelah kanan Tao Heng Kan.

Gerakannya gesit dan indah.

Tampak Tao Heng Kan menggeser pundaknya ke kiri sedikit dan bagian tubuh pedang einas itu pun melesat melalui samping pundaknya.

Tubuh Tao Heng Kan membungkuk sedikit.

Jurus yang digunakannya tadi langsung diubah, sekarang dia mengerahkan jurus Kakek Tua Menunggang Keledai.

Pat Sian Kiam Hoat sebetulnya merupakan perubahan dari Ilmu Delapan Dewa Mabuk.

Jurus ilmu pedang memang mengandung banyak keanehan membuat orang sulit memahaminya.

Dibandingkan dengan Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat, keduaduanya mempunyai keistimewaan masing-masing.

Begitu jurus Kakek Tua Menunggang Keledai dikerahkan, tampak Tao Heng Kan merebahkan tubuhnya di atas tanah seperti orang mabuk, pedangnya menyerang dari bawah ke atas.

Hati Li Po agak mendongkol.

Diam-diam dia berpikir dalam hati.

Pedang di tanganku ini dapat membelah logam apa pun seperti menebas tanah.

Mengapa aku tidak mengutungkan pedangnya dulu baru berusaha meraih kemenangan?...

Setelah mengambil keputusan demikian, pedang emas di tangannya segera digerakkan.

Cahaya seperti pelangi berpijaran, dengan jurus Tegak Ke Atas, Lurus Ke Bawah, serta menggunakan unsur Pat Kua, pedangnya meluncur ke depan tubuh Tao Heng Kan.

Dengan demikian dia berhasil menahan serangan pemuda itu.

Sementara Li Po dan Tao Heng Kan mulai bergebrak, orang-orang yang berkumpul di tempat itu memperhatikan dengan menahan nafas.

Meskipun mereka baru bertanding sebanyak tiga jurus, tetapi kehebatan yang terkandung di dalam setiap jurus yang mereka kerahkan bukan dapat dipahami oleh setiap orang.

Mungkin hanya pasangan suami istri Lie Yuan, Tao Cu Hun, dan Kuan Hong Siau serta beberapa lainnya yang dapat melihat dengan jelas.

Mereka mempunyai perasaan yang sama, jurus yang dilancarkan oleh Li Po terlalu hebat.

Apabila Tao Heng Kan tidak sempat menghindarinya, kemungkinan dadanya akan tertancap pedang emas Pat Kua Kiam itu.

Tampak Tao Heng Kan mengubah gerakannya dengan sekonyong-konyong.

Secara cepat dia menarik kembali pedangnya, kemudian tubuhnya mencelat ke udara.

Tujuan Li Po ingin mengutungkan pedang hitam putih Tao Heng Kan.

Melihat pemuda itu menarik pedangnya kembali, dia tidak mengurungkan niatnya.

Kakinya malah maju ke depan dua langkah dan terus pedangnya menyapu ke arah pedang Tao Heng Kan.

Tao Heng Kan tidak dapat menghindarkan diri lagi.

Terpaksa dia menyambut serangan pedang Li Po dengan kekerasan.

Terdengar suara Trang!

Kumandangnya memenuhi seluruh taman bunga.

Kemudian keduanya tersentak mundur masing-masing sejauh dua langkah.

Li Po berdiri dengan tertegun ketika mengetahui bahwa Pat Kua Kiamnya ternyata tidak berhasil mengutungkan pedang di tangan Tao Heng Kan yang seperti besi rongsokan.

Dia semakin terkejut ketika melihat bagian atas pedangnya sendiri ternyata gompal sedikit.

Li Po khawatir hal itu dilihat oleh orang lain.

Cepat-cepat dia memiringkan tubuhnya dan menutupi pedang yang tergenggam di tangannya.

Diam-diam dia melirik orang-orang yang berkumpul di sana.

Rasanya tidak ada seorang pun yang memperhatikan hal itu.

Hati Li Po cemas sekali.

Dia sadar pedang yang digunakannya itu ibarat nyawa ayahnya sendiri.

Sekarang dialah yang membuat pedang itu jadi gompal.

Seandainya hal ini diketahui oleh ayahnya, dia pasti akan mendapat hukuman berat.

Apabila dia tidak berhasil mengalahkan lawannya, kemungkinan hukuman yang akan diterima lebih berat lagi.

Hatinya panik bukan kepalang, dia langsung mengerahkan jurus lainnya.

Hanya sebentar dia sempat berdiri tertegun, kemudian secara mendadak melancarkan tiga jurus serangan.

Semuanya diarahkan ke bagian tubuh Tao Heng Kan, sehingga tubuh pemuda itu seakan diliputi oleh cahaya pedang.

Kecepatannya jangan ditanyakan lagi!

Tao Heng Kan juga langsung mengerahkan Pat Sian Kiam Hoat.

Dalam sekejap mata tubuh keduanya berkelebat kesana kemari secepat kilat.

Cahaya pedang Pat Kua Kiam berpijar dan memercikkan cahaya ke mana-mana.

Tiga puluhan jurus telah berlalu.

Masih juga belum dapat ditentukan siapa yang lebih unggul di antara kedua pemuda itu.

Kuan Hong Siau segera menggebrak meja sembari mengeluarkan suara siulan yang panjang.

"Puas sekali! Ternyata ilmu pedang kalian berdua seimbang! Keponakan sekalian, harap berhenti!"

Tao Heng Kan dan Li Po sama-sama menyadari bahwa bukanlah hal yang mudah bagi mereka untuk menjatuhkan lawannya.

Li Po yang mendengar teriakan Kuan Hong Siau segera meluncurkan sebuah serangan kemudian mencelat mundur ke belakang serta berdiri dengan tegak.

Pada dasarnya pertandingan yang berlangsung di antara kedua orang itu hanya ingin menunjukkan kehebatan masing-masing.

Tidak ada perselisihan apa pun apalagi dendam di antara mereka.

Karena dianggap seimbang, Li Po segera mencelat ke belakang.

Seharusnya Tao Heng Kan juga melakukan tindakan yang sama.

Tetapi tidak disangka, sepasang kaki Tao Heng Kan malah menutul, orang dan pedangnya sekaligus meluncur ke depan mengincar bagian dada Li Po.

Gerakan ini merupakan salah satu jurus terhebat dari Pat Sian Kiam yakni mempersembahkan upeti kepada Kaisar.

Perubahan yang sekonyong-konyong ini tidak disangka oleh siapa pun.

Li Po juga berdiri dengan mata membelalak.

Untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Orang-orang yang berkumpul di tempat itu hanya dapat menjerit histeris.

Ibu Tao Heng Kan, Sen Cing segera membentak dengan suara keras.

"Heng Kan, kau sudah gila?"

Serrr!

Beberapa batang senjata rahasia berbentuk biji teratai meluncur ke depan.

Julukan yang diberikan oleh orang-orang dunia kang ouw kepada wanita ini adalah Sam Jiu Kuan Im.

(Dewi Kuan Im tangan tiga).

Hal ini karena dia memang ahli am gi (senjata rahasia).

Ilmu ini sudah dikuasainya dengan mahir.

Sekali menjentikkan tangan, beberapa batang biji teratai yang terbuat dari besi segera meluncur ke tubuh pedang Hek Pek Kiam.

Sam Jiu Kuan Im Sen Cing seialu membawa berbagai senjata rahasia.

Jenisnya tidak kurang dari delapan macam.

Setiap kali diluncurkan selalu tepat sasaran.

Tidak ada satu pun yang menimbulkan suara keras, datang dan perginya seperti setan gentayangan.

Belum sempat pedang Hek Pek Kiam mengenai dada Li Po, terdengar suara tring!

Biji teratai tadi membentur tubuh pedang anaknya sendiri.

Tapi pedang yang satu ini memang luar biasa.

Meskipun Sam Jiu Kuan Im seorang pendekar wanita yang terkenal dalam bidang senjata rahasia, tapi biji teratai yang membentur tubuh pedang Hek Pek Kiam hanya membuat pedang itu bergeser sedikit.

Gerakannya tetap meluncur ke depan mengincar pundak Li Po.

Bara saja Sen Cing bermaksud mengerahkan senjata rahasia lagi, periling Hek Pek Kiam sudah menembus pundak Li Po sedalam empat cun.

Secepat kilat Li Po mencelat mundur, pedang Hek Pek Kiam tercabut keluar seiring dengan gerakan tubuhnya itu.

Pada saat yang sama, orang-orang yang berkumpul di taman bunga itu sudah bangkit dari bangku masing-masing.

"Cu wi jangan bergerak, berhenti!"

Teriak Kuan Hong Siau.

Suaranya bagai geledek yang bergemuruh di angkasa.

Tampak jenggotnya melambailambai dan tubuhnya sudah melesat ke depan.

Tapi tepat pada saat itu juga, Tao Heng Kan sudah menghambur ke depan secepat kilat dan pedangnya dibalikkan kemudian menikam bagian punggung Li Po.

Seandainya serangan Tao Heng Kan sebelumnya hanya ingin membuktikan bahwa Pat Sian Kiam Hoatnya tidak kalah dengan Pat Kua Kiam, meskipun perbuatannya agak telengas, tapi masih dapat dimaklumi orang-orang yang hadir di tempat itu.

Namun saat ini Li Po sudah terluka.

Tao Heng Kan malah melancarkan lagi serangan yang lebih keji.

Hal ini membuktikan bahwa dia memang berniat menghabisi nyawa Li Po.

Orang-orang yang hadir di tempat itu menjerit ngeri.

Pasangan suami istri Tao Cu Hun dan putrinya Tao Ling lebih bingung lagi.

Mereka tidak habis pikir, mengapa Tao Heng Kan yang selama ini berbudi luhur dan suka mengalah tiba-tiba berubah demikian drastis...?

Mereka melonjak bangun dari tempat duduk masing-masing dan menghambur ke arah Tao Heng Kan.

Namun kejadiannya berlangsung terlalu cepat.

Dengan menahan rasa sakitnya, Li Po membalikkan tubuh, dia mengangkat pedangnya ke atas seakan siap menghadapi musuh.

Saat itu Tao Heng Kan sudah mengubah lagi jurus serangannya.

Dia menggunakan jurus Matahari Bergeser Arah, pedangnya berkelebat, dia mengibas dari kiri ke kanan.

Setelah itu bergerak ke bawah.

Cahaya pedang berkelebat.

Pedang Hek Pek Kiam telah menebas dari pundak kiri Li Po sampai ujung siku.

Li Po menjerit ngeri.

Tubuhnya terhuyung-huyung.

Darah segar memercik kemana-mana.

Tampaknya luka yang diderita pemuda itu kelewat parah.

Seandainya tabib sakti Hua To hidup kembali, belum tentu nyawa Li Po dapat dipertahankan!

Walaupun orang-orang yang hadir di tempat itu sudah menyadari maksud Tao Heng Kan yang tidak baik, tetapi mereka tidak menyangka anak muda itu masih melakukan penyerangan pada lawannya yang sudah terluka.

Hal ini merupakan pantangan besar, juga merupakan perbuatan yang dianggap paling rendah oleh kalangan bulim.

Orangorang yang hadir jadi terpana.

Sedangkan Tao Heng Kan menggenggam pedang Hek Pek Kiam dengan mendongakkan wajahnya.

"Koko! Kau ingin mati? Cepat lari!"

Teriak Tao Ling dengan panik.

Teriakan itu menyadarkan Tao Heng Kan.

Juga menyentakkan kebengongan yang lainnya.

Kuan Hong Siau melancarkan sebuah serangan ke depan.

Pada saat itu tubuh Tao Heng Kan sedang melayang di udara.

Dorongan angin kuat yang terpancar dari serangan Kuan Hong Siau membuat tubuhnya melambung semakin jauh.

Kuan Hong Siau mendongkol sekali melihat serangannya malah membuat pemuda itu berjarak semakin jauh dengan para tokoh yang berkumpul di tempat itu.

Sementara itu, pasangan suami istri Li Yuan dan putra mereka yang satunya lagi, Lie Cun Ju langsung menghambur ke depan untuk melihat keadaan Li Po.

Tapi pemuda itu hanya sempat mengucapkan sepatah kata ...

"Balaskan dendamku!"

Nafasnya pun terputus. Lie Yuan tidak sempat bersedih hati. Dia memungut pedang emasnya yang tergeletak di atas tanah. Cring! Tubuhnya berdiri kembali dengan tegak.

"Mari kita kejar!"

Katanya dengan suara lantang.

Lim Cing Ing juga mencabut pedang peraknya.

Pat Kua Kim Gin Kiam memang terdiri dari sepasang pedang, yang satu terbuat dari emas, sedangkan pasangannya terbuat dari perak.

Kedua orang itu mengikuti Kuan Hong Siau dari belakang.

Mereka mengejar Tao Heng Kan yang sudah berada pada jarak kurang lebih belasan depa di depan.

Baru saja mereka menggerakkan kakinya, terdengar suara bentakan yang nyaring.

"Cuwi, harap berhenti sebentar!"

Sesosok bayangan herkelebat dan berhenti di depan Kuan Hong Siau.

Dia adalah putri kedua pasangan Tao Cu Hun, Tao Ling.

Kuan Hong Siau sempat tertegun sejenak.

Saat yang sekejapan mata saja, pasangan suami istri Lie Yuan sudah menyusul tiba.

Putra mereka mati dalam keadaan yang membingungkan.

Kebencian di hati meluap-luap.

Melihat Tao Ling menghadang di depan mereka, sret!

Srett!

Dua batang pedang menyapu ke arahnya.

Namun Tao Ling seorang gadis yang cerdas otaknya.

Sejak semula dia sudah mengadakan persiapan.

Cepat-cepat dia mencelat mundur sambil mengibaskan tangannya.

Beberapa paku kecil melesat ke depan.

Sekaligus dia juga berteriak dengan lantang.

"Kokoku itu selamanya tidak pernah melakukan kejahatan. Di balik semua ini pasti ada apa-apanya. Harap kalian jangan sembarangan mengambil tindakan!"

Ilmu silat Tao Ling kalau dibandingkan dengan Kuan Hong Siau, apalagi suami istri Lie Yuan tentu terpaut jauh.

Ketika dia menyambitkan senjata rahasia berupa paku kecil, Kuan Hong Siau menghantamkan telapak tangannya ke depan.

Puluhan paku kecil itu pun tersampok jatuh dan menimbulkan suara dentingan.

Kebencian dalam hati Lie Yuan tidak terhingga.

Tapi biar bagaimana dia masih menjaga kedudukannya sendiri yang terpandang di dunia bulim.

Tentu tidak baik baginya untuk melakukan penyerangan pada seorang angkatan muda seperti Tao Ling.

Melihat Kuan Hong Siau menyampok jatuh berpuluh batang paku kecil tadi, dia juga menghantamkan sebuah pukulan ke arah sisa paku kecil itu.

Pat Kua Kiam Lie Yuan merupakan salah satu jago kenamaan di Tiong Goan.

Tenaga dalamnya sangat tinggi.

Ketika dia melancarkan sebuah pukulan ke depan, sisa empat batang paku kecil itu tertahan sekilas kemudian terpental kembali dan meluncur ke arah Tao Ling.

Itu yang dinamakan senjata makan tuan!

Jelas Tao Ling sendiri juga menyadari bahwa kepandaiannya yang masih cetek tidak dapat diandalkan untuk menghadang Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan.

Tetapi dia seorang gadis yang teliti.

Selama dua hari ini dia sudah memperhatikan tingkah laku abangnya seperti janggal dan seakan menyimpan kesusahan yang tidak dapat dikatakan.

Tetapi Tao Heng Kan selalu mengelak apabila gadis itu menanyakannya.

Hatinya memang sudah curiga, apalagi sekarang tanpa sebab musabab Tao Heng Kan membunuh Li Po.

Meskipun dia tidak tahu mengapa, tapi dia yakin abangnya mempunyai alasan tersendiri.

Tao Heng Kan seorang pemuda berjiwa besar, tidak mungkin dia mencelakai seseorang tanpa alasan atau penyebab tertentu.

Karena itu pula, dia bertekad menunda pengejaran Kuan Hong Siau dan yang lainnya, dengan mengandalkan beberapa puluh batang paku kecil tadi.

Dengan demikian abangnya bisa berlari lebih jauh.

Tapi dia tidak menyangka Lie Yuan akan menyampok senjata rahasianya bahkan membalik ke arahnya sendiri.

Kekuatan tenaga Lie Yuan sungguh dahsyat.

Saking terkejutnya, Tao Ling sampai menahan nafas.

Tubuhnya bergetar dan saat itu juga keempat paku kecil yang disambitkannya tadi sudah menancap ke dalam pundaknya.

Setelah terluka, tubuh Tao Ling limbung.

Pukulan yang dilancarkan Lie Hujin membawa angin yang kuat dan menerpa tubuhnya.

Dia langsung jatuh terjerembab di atas tanah.

Tiga sosok bayangan melesat lewat di atas kepalanya.

Pikirannya masih sadar, dia tahu apabila kokonya saat ini sampai terkejar oleh ketiga orang itu, tidak lebih dari tiga jurus pasti tertangkap.

Dengan demikian nyawanya juga tidak dapat dipertahankan.

Dengan menahan rasa sakit, dia berjungkir balik di udara.

Ketika tubuhnya membalik, tangannya mengibas sekali lagi.

Segenggam jarum perak diluncurkannya ke depan.

Pada saat itu, Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan baru saja melesat lewat, sedangkan serangan jarum peraknya tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Tapi ketiga orang itu masing-masing menguasai ilmu yang tinggi.

Sambaran angin dari belakang dapat terasa oleh mereka.

Pasangan suami istri Lie Yuan menoleh dengan wajah menyiratkan kemarahan.

Tao Ling takut mereka akan menghantam kembali jarum perak itu ke arahnya, cepat-cepat dia melesat secepat kilat dan menghindar sejauh-jauhnya.

Ketiga orang tadi menghentakkan kakinya untuk berjungkir balik di udara.

Dengan demikian jarum perak yang dilontarkan Tao Ling tadi meleset lewat.

Tetapi ketika mereka menjejakkan kakinya kembali di atas tanah.

Tao Heng Kan sudah mencelat ke atas tembok pekarangan lalu meloncat turun.

Tao Ling segera menggulingkan tubuhnya di atas tanah menuju tempat ibunya berdiri.

Wajah-nya pucat pasi.

"Ling ji, tahan sedikit rasa sakitnya!"

Ujar Sen Cing dengan menggeretakkan gigi.

Tangannya terulur dan menghantam pangkal lengan kanan gadis itu.

Pukulannya yang kuat membuat keempat batang paku tadi tergetar dan mencelat ke luar.

Tampak bercak merah di puncak gadis itu.

Sen Cing mengeluarkan obat luka dan dibubuhkannya ke luka putrinya.

Rasa sakit yang dirasa Tao Ling agak berkurang, dia baru bisa menghembuskan nafas lega.

Sementara itu, Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan juga sudah mencelat ke atas tembok lalu mengejar Tao Heng Kan.

Bangunan rumah Kuan Hong Siau ini letaknya di depan sungai.

Tidak ada tempat lain yang dapat dijadikan pelarian kecuali sungai itu.

Suami istri dengan masing-masing menggenggam sebatang pedang menyibakkan ilalang yang memenuhi sekitar sungai itu.

Setiap kali pedang mereka bergerak, pasti ada serumpun ilalang yang terbabat putus.

Tao Ling melihat ketiga orang itu sudah mengejar ke depan rumah, tapi ibunya masih berdiri dengan termangu-mangu.

"Tia, ma ... seandainya koko sampai berhasil ditangkap oleh mereka ..."

Baru berbicara sampai di situ, Tao Ling melihat wajah ayahnya yang angker dan menghijau.

Orang yang melihatnya pasti ketakutan.

Rupanya dia menyadari perbuatan abangnya itu sudah cukup menyakitkan hati ayahnya.

Tentu ayahnya tidak akan mengakui lagi Tao Heng Kan sebagai putranya.

Apabila ketiga orang tadi berhasil mengejar abangnya dan menyeretnya ke depan ayahnya, laki-laki setengah baya itu juga tidak akan menghalangi mereka membunuh Tao Heng Kan.

Tidak lama kemudian Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan sudah kembali lagi.

Tiba-tiba terdengar suara desiran senjata tajam, sebuah batu besar yang ada di hadapan Tao Cu Hun langsung terbelah menjadi empat bagian.

Perlahan-lahan Tao Cu Hun mendongakkan wajahnya.

Sepasang mata Lie Yuan merah mem-bara dan mendelik kepadanya.

"Manusia she Tao, aku ingin mendengar tanggapanmu mengenai persoalan ini!"

Bentaknya keras-keras. Wajah Tao Cu Hun masih menghijau. Lim Cing Ing segera menghunus pedang peraknya.

"Untuk apa mengoceh panjang lebar dengannya?"

Kata Lim Cing Ing.

Cring!

Pedangnya meluncur ke depan.

Ujungnya bergetar dan dapat terlihat jelas bahwa wanita itu mengincar empat jalan darah utama di dada Tao Cu Hun.

Seandainya sampai terkena serangan itu, jangan kan pedang tajam, dengan ujung jari saja nyawa seseorang sulit dipertahankan.

Tapi Tao Cu Hun tetap tidak bergerak, meskipun sepasang matanya melihat cahaya berkelebat.

Tampaknya laki-laki itu sudah pasrah mengorbankan jiwanya di ujung pedang perak milik Lim Cing Ing.

Tiba-tiba istrinya Sam Jiu Kuan Im membentak keras.

"Tunggu dulu!"

Wuutt!

Trang!

Cahaya melintas, Sen Cing menggunakan goloknya menahan serangan Lim Cing Ing.

Golok Sen Cing membentur pedang Lim Cing Ing sehingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

Lim Cing Ing memperdengarkan suara tawa yang dingin.

"Heh! Sejak tadi kau memang sudah harus turun tangan!"

Katanya sinis.

Kaki Lim Cing Ing bergerak menggeser ke samping satu langkah.

Dalam waktu yang bersamaan, dia memutar pedangnya dan melancarkan sebuah serangan kembali.

Timbul bayangan cahaya pedang yang berderai di bawah cahaya rembulan, menyilaukan pandangan mata.

Ilmu silat kedua wanita ini memang mempunyai keunggulan masing-masing.

Melihat Lim Cing Ing melakukan penyerangan kembali, Sen Cing lalu mengambil tindakan mempertahankan diri.

Sekali lagi goloknya mengibas ke depan menahan serangan Lim Cing Ing.

Cepat dia mencelat mundur dan mengeluarkan sebuah pecui yang panjang.

Pecut itu merupakan senjata lentur dan dapat digerakkan sesuka hati.

Batikan dengan hwe kang yang kuat, pecut itu dapat menjadi tegak lurus bagai sebatang tombak.

Ketika masa mudanya, Sen Cing pernah melanglang buana di dunia kang ouw dengan pecut saktinya itu.

Tampak Sen Cing tidak membalas serangan.

Rupanya mengingat bahwa kesalahan memang terletak pada pihak anaknya sendiri.

Maka dia hanya berdiri tegak.

"Lie lihiap, kau sudah gila? Segala dendam harus ada awalnya, mengapa kau menyerang kami?"

Lim Cing Ing tertegun sejenak. Dia tidak menyangka lawannya akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.

"Orang yang barusan membunuh itu memangnya bukan anakmu?"

Bentaknya tidak mau kalah. Mimik wajah Sen Cing menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan, namun jawabannya terdengar tegas.

"Lie lihiap, kau anggap siapa kami suami istri? Orang itu sudah melakukan kejahatan yang tidak terampunkan, apakah kami masih bersedia mengakuinya sebagai anak?"

Hati Tao Ling tersentak mendengar perkataan ibunya.

"Ma!"

"Kau jangan ikut campur!"

Sen Cing membentak dan mengibaskan tangan. Tao Ling tidak berani bicara lagi. Dia menggeser kembali ke samping ibunya.

"Apakah persoalannya harus diselesaikan begitu saja?"

Bentak Lim Cing Ing.

"Para tokoh di sini dapat dijadikan saksi. Tao Heng Kan merupakan penjahat yang harus kita hadapi bersama, tidak terkecuali kami suami istri,"

Kata Tao Cu Hun dengan tegas. Wajah Lie Yuan semakin membesi.

"Bagus sekali! Kuan loya, mari kita teruskan meneguk arak sambil menikmati indahnya rembulan!"

Tadi mereka sudah mencari di sekitar rumah itu namun tidak berhasil menemukan bayangan Tao Heng Kan.

Dia yakin anak muda itu sudah melarikan diri lewat jalur sungai.

Keperihan di hati Lie Yuan dapat dibayangkan.

Namun dia masih menjaga nama baiknya sendiri.

Lagipula dia yakin dengan ketenaran namanya di dunia kang ouw, bukan hal yang sulit untuk menangkap Tao Heng Kan.

Apalagi Tao Cu Hun sendiri sudah menyatakan tidak mengakui lagi pemuda itu sebagai anaknya.

Dengan demikian percuma saja dia bicara banyak.

Terpaksa dia menahan kemarahannya dan berlagak bersikap seorang pendekar besar.

Tapi baru saja terjadi peristiwa yang mengejutkan, siapa yang sempat memikirkan soal minum arak ataupun menikmati indahnya rembulan?

Tidak ada seorang pun yang bersuara, apalagi Cio losam dan Kongsun Ping, mereka berdua seperti tersumpal mulutnya, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Lim Cing Ing mengeluarkan delapan buah lencana berbentuk pat kua yang sebelahnya berwarna emas dan sebelahnya lagi berwarna perak.

"Cun Ju!"

Panggil Lim Cin Ing dengan suara lantang.

Putra kedua pasangan suami istri Lie Yuan bernama Lie Cun Ju.

Usianya masih muda sekali.

Paling-paling tujuh belas tahun.

Cepat-cepat dia menyahut panggilan ibunya.

"Ma, ada apa?"

"Bawa lencana ini dan minta para jago di sungai telaga untuk menangkap Tao Heng Kan!"

Lim Cing Ing menyerahkan delapan lencana pat kua ke tangan Cun Ju.

Kuan Hong Siau juga menurunkan perintah kepada para anak buahnya untuk segera meringkus Tao Heng Kan apabila mereka menemukannya.

Wajah Tao Cu Hun, Sen Cing dan Tao Ling semakin kelam.

"Kami mohon diri!"

Ucap Tao Cu Hun dengan nada berat.

Kuan Hong Siau juga tidak menahan mereka.

Ketiga orang itu kembali ke perahunya sendiri.

Tapi baru saja niereka menginjakkan kakinya, hati mereka tersentak bukan main!

Ternyata lampu di kabin perahu itu masih menyala.

Lewat jendela kertas mereka melihat dua sosok bayangan.

Yang satu tinggi kurus, tidak mirip dengan manusia normal.

Sedangkan bayangan yang lainnya tidak asing lagi bagi mereka.

Dia justru Tao Heng Kan yang tadi menimbulkan bencana besar.

Tao Cu Hun, Sen Cing dan Tao Ling mengeluarkan desahan panjang.

Keluhan ketiga orang itu mengandung makna yang berlainan.

Hati Tao Ling terkejut, dia menyesalkan kokonya yang tidak tahu mati, bukannya lari jauh-jauh agar tidak terkejar malah bersembunyi di dalam perahu.

Watak Tao Cu Hun polos dan jujur.

Sejak kematian Li Po, dia sudah tidak mengakui Tao Heng Kan sebagai anaknya.

Yang aneh justru bayangan yang satunya, entah siapa orang itu?

Sedangkan Sen Cing biar bagaimana pun tetap menyayangi putranya sendiri.

Dia merasa marah tapi juga cemas.

Begitu terdengar suara keluhan dari mulut ketiga orang itu, Tao Heng Kan langsung berdiri tegak.

Dalam waktu yang bersamaan, pandangan ketiga orang itu menjadi buram.

Bayangan yang berbentuk tinggi kurus itu tiba-tiba menghilang, bahkan dengan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh Tao Cu Hun dan Sen Cing masih belum sanggup melihat bagaimana cara orang itu pergi.

Mula-mula Tao Ling yang melontarkan seruan.

"Koko, mengapa kau tidak melarikan diri sejauh-jauhnya?"

Seru Tao Ling.

"Aku ... aku .. ."

Sikap Tao Heng Kan gugup sekali.

Belum lagi dia sempat mengatakan apa-apa, Tao Cu Hun sudah melangkah ke depan dan me-ngirimkan sebuah pukulan.

Tubuh Tao Heng Kan tergetar mundur dua langkah.

Tao Cu Hun mengikutinya.

Dirampasnya pedang Hek Pek Kiam yang masih tergenggam di tangan anaknya.

"Anak jadah!"

Bentaknya marah.

Baru melontarkan cacian itu, hatinya terasa pedih sekali.

Wajahnya mengerut-ngerut kemudian dipalingkan ke arah lain.

Tangannya bergerak dan menggetarkan pedangnya ke depan.

Tao Heng Kan tidak menghindar.

Wajahnya menyiratkan perasaan serba salah.

"Tia!"

Panggilnya.

"Tia, jangan melukai koko!"

Tao Ling juga ikut berteriak.

Sebetulnya, mana tega Tao Cu Hun membunuh anaknya dengan pedang sendiri?

Tapi perbuatan Tao Heng Kan sudah kelewat batas.

Dia sudah melukai lawannya dalam pertandingan ilmu kemudian malah membunuhnya dengan keji.

Seandainya dia sendiri tidak membunuhnya, orang lain pasti menginginkan kematian anaknya itu.

Ketika dia menjulurkan pedangnya ke depan, dia mendengar suara panggilan kedua anaknya.

Tangannya jadi lemas seketika.

Luncuran pedangnya juga tidak sekuat tadi.

Sen Cing segera menggerakkan sebelah kakinya menendang pedang Hek Pek Kiam sehingga hampir saja terlepas dari genggaman Tao Cu Hun.

Setelah itu dia rnenghambur dan menghadang di depan anaknya.

"Cu Hun, tadi di dalam kabin ini masih ada orang lain, cepat cari!"

Katanya untuk mengalihkan perhatian suaminya.

"Koko, siapa orang yang bersama denganmu tadi?"

Tanya Tao Ling.

Meskipun kabin perahu itu cukup luas, tapi tidak banyak barang yang ada di dalamnya.

Begitu masuk tadi, ketiga orang itu sudah memperhatikan keadaan sekitarnya.

Tidak tampak ada orang yang menyembunyikan diri.

Terpaksa mereka menunggu jawaban dari Tao Heng Kan.

Tetapi jawaban anak muda itu justru membuat mereka semakin bingung.

"Di dalam kabin ini tidak ada siapa-siapa, aku hanya seorang diri di sini!"

Tao Ling menghentakkan kakinya di atas Iantai perahu dengan kesal.

"Koko, mengapa kau masih tidak berterus terang juga? Sebetulnya mengapa kau membunuh Li Po?"

Tiba-tiba Tao Heng Kan menyurut mundur satu langkah, dia membalik ke arah jendela. Pat Sian Kiam Tao Cu Hun langsung membentak.

"Anak jadah! Jangan harap bisa melarikan diri!"

Sen Cing cepat menghadang ke depan anaknya.

"Cu Hun! Kau hanya mempunyai seorang putra!"

Teriaknya.

"Aku tidak mempunyai putra seperti dia!"

Sahut Tao Cu Hun sepatah demi sepatah.

"Kau tidak punya, aku punya!"

Kata Sen Cing kesal. Wajah Tao Cu Hun semakin kaku.

"Hari ini apabila kita tidak membunuhnya, bagaimana kelak kita bisa menemui para sahabat di dunia kangouw?"

"Jangan kata hal ini tidak diketahui siapa pun, seandainya pun ada yang mengetahui, apa salahnya tidak bertemu dengan orang lain seumur hidup? Cu Hun, kau lupa apa tujuan kita datang ke Si Cuan?"

Wajah Tao Cu Hun berubah hebat. Terdengar dia menggumam seorang diri.

"Tidak bertemu dengan orang lain selamanya?"

Baru saja ucapannya selesai, dari luar kabin terdengar suara siulan yang aneh.

Sret!

Sret!

Berbunyi dua kali.

Dua batang pedang menembus jendela kabin itu.

Penerangan di dalam kabin sebetulnya agak suram.

Tetapi ketika kedua buah pedang tadi menembus jendela, tiba-tiba saja pandangan menjadi silau.

Ternyata kedua batang pedang itu terdiri dari emas dan perak, yakni Pat Kua Kim Gin Kiam yang terkenal di dunia kang ouw.

Tanpa perlu ditanyakan, mereka sudah paham bahwa pasangan suami istri Lie Yuan sudah menyusul datang.

Rupanya sejak kepergian Tao Cu Hun beserta istri dan putrinya, perasaan pasangan suami istri Lie Yuan semakin benci.

Juga mendapat sebuah ingatan secara tidak terduga-duga.

Apabila Tao Heng Kan melarikan diri lewat jalur sungai tentu orang itu tidak bisa lari terlalu jauh.

Malah ada kemungkinan dia bersembunyi di perahunya sendiri.

Karena itu Lie Yuan segera mengatakannya kepada Kuan Hong Siau.

Kemudian serombongan orang secara diam-diam menyusul ke perahu Tao Cu Hun.

Sedangkan keempat orang yang sedang berada di dalam kabin perahu justru sedang ribut dengan masalahnya sendiri.

Belum lagi kebingungan dengan bayangan yang tinggi kurus tadi.

Maka mereka tidak menyadari bahwa ada serombongan orang sudah sampai di depan geladak perahu mereka.

Sampai kedua batang pedang emas dan perak ditusukkan ke dalam jendela, mereka baru terkejut setengah mati.

Reaksi Tao Ling paling cepat, begitu melihat kedua batang pedang itu, dia langsung menarik tangan kokonya kemudian didorong ke dalam ruangan satunya.

Di kabin itu sendiri, Tao Cu Hun masih berdiri dengan termangu-mangu.

Sementara itu, kedua batang pedang tadi bergerak sehingga jendela kabin tersebut menjadi terbabat dan terlihat celah yang besar.

Lie Yuan dan istrinya, Lim Cing Ing menerobos masuk saat itu juga.

"Dimana anak jadah itu?"

Perasaan Sam Jiu Kuan Im Sen Cing seakan diganduli beban yang berat.

Baru saja dia berniat mengarang sebuah kebohongan, tahu-tahu sesosok bayangan sudah berkelebat masuk.

Jenggot yang putih mengibar-ngibar, Kuan Hong Siau juga sudah menghambur masuk ke dalam perahu itu.

"Tao tayhiap, Sen lihiap, peristiwa ini terjadi di rumah kediamanku, biar bagaimana aku tidak bisa berdiam diri, harap kalian tidak menyalahkan aku!"

Kata orang tua itu. Hati Sen Cing bagai disayat sembilu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Sepatah kata pun tidak sanggup diucapkannya. Lie Yuan malah memperdengarkan suara tawa yang aneh.

"Tadi kami mendengar suara si anak jadah itu, mana mungkin dia bersembunyi di tempat lain. Suruh keluar, cepat!"

Bentaknya.

Sepasang pedang emas dan perak kembali diadukan.

Terdengar suara trang!

Dua berkas cahaya memijar.

Sinarnya menyelimuti seluruh kabin perahu itu.

Tao Cu Hun juga menggerakkan pedang Hek Pek Kiamnya.

"Kalian ingin berkelahi?"

"Manusia she Tao, kau lupa dengan kata-katamu sendiri di taman bunga rumah Kuan loya?"

Kenyataannya Tao Cu Hun memang mengeluarkan perkataan bahwa dia sendiri tidak akan melepaskan Tao Heng Kan apabila kepergok olehnya.

Sebetulnya dalam hati dia masih mempunyai pikiran yang sama.

Tetapi biar bagairnana hubungan seorang ayah dan anak tidak bisa disamakan dengan orang lain.

Apabila meminta dia menyerahkan anaknya sekarang, hatinya diliputi kebimbangan juga.

Suasana di dalam kabin, hening mencekam untuk sesaat.

Tiba-tiba Tao Ling berteriak dengan keras.

"Koko! Kau tidak boleh keluar!"

Dalam waktu yang bersamaan terdengar bentakan Tao Heng Kan.

"Kau jangan mengurus aku!"

Sesosok bayangan melesat, tahu-tahu Tao Heng Kan sudah keluar dari tempat persembunyiannya.

Pasangan suami istri Lie Yuan melihat musuh besar mereka.

Mata merah menatap dengan kemarahan yang berkobar-kobar.

Sepasang pedang perak dan emas diluncurkan, sehingga timbul cahaya yang menyilaukan mata.

Tampak pedang itu berhenti di depan Tao Heng Kan.

Pemuda itu tidak menghindar.

Lie Yuan membentak dengan suara keras.

"Anak jadah, tahukah kau saat kematianmu sudah tiba?"

Bentak Lie Yuan.

Sen Cing bermaksud mencegah, tetapi tangannya ditarik oleh Tao Cu Hun dan digenggam erat-erat.

Sam Jiu Kuan Im Sen Cing menolehkan kepalanya.

Tampak wajah suaminya menyiratkan penderitaan yang tidak terhingga.

Hati wanita itu ikut merasa perih.

Dia sadar watak suaminya selama ini jujur dan menjunjung tinggi keadilan.

Walaupun urusan ini menyangkut putranya sendiri, dia juga tidak sudi membantah hati nuraninya.

Lim Cing Ing maju beberapa langkah.

Sepasang pedang emas dan perak menuding jantung dan punggung Tao Heng Kan dari depan dan belakang.

Lie Yuan menggeretakkan giginya erat-erat.

"Anak jadah, putra kami tidak mempunyai permusuhan apa pun denganmu, mengapa kau membunuhnya dengan cara demikian keji?"

Bentak laki-laki setengah baya itu.

Mimik wajah Tao Heng Kan juga menyiratkan penderitaan, tetapi penampilannya tetap tenang.

Dia melirik sekilas kepada kedua orang tua dan adiknya, kemudian menarik nafas panjang.

Tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Lie Yuan menolehkan kepalanya kepada Kuan Hong Siau.

"Kuan loya, kau adalah tuan rumah, bagaimana harus menyelesaikan urusan ini, kami meminta pendapatmu!"

Kuan Hong Siau menyahut dengan tegas.

"Membunuh orang harus diganti dengan nyawa!"

"Tepat!"

Kata Lie Yuan dan Lim Cing Ing serentak.

Tenaga dalam dikerahkan pada lengan kanan, asal didorong sedikit saja kedua batang pedang itu pasti menembus jantung dan punggung Tao Heng Kan.

Tao Cu Hun, Sen Cing, dan Tao Ling melihat orang yang mereka cintai akan menerima hukuman mati.

Tetapi mereka tidak sanggup memberikan bantuan sedikit pun.

Dengan hati perih sekali, cepat-cepat mereka memalingkan kepala karena tidak sanggup melihat kematian Tao Heng Kan.

Jika mendengar suara jeritan Tao Heng Kan berarti tiba saatnya nyawa pemuda itu meninggalkan raganya.

Tetapi setelah menunggu sekian lama, masih belum juga terdengar suara apa pun.

Tanpa dapat menahan perasaan heran, mereka bertiga menolehkan kepalanya.

Tampak Tao Heng Kan memejamkan matanya menunggu kematian.

Lie Yuan masih menudingkan pedangnya ke arah jantung Tao Heng Kan, demikian pula istrinya juga menudingkan pedangnya ke bagian punggung pemuda itu.

Wajah mereka menyiratkan kemarahan, tetapi mereka masih belum menusukkan pedangnya.

Sen Cing tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi, dia membentak dengan suara tajam.

"Manusia she Li, mau bunuh silakan! Mengapa kalian menyiksanya sedemikian rupa?"

Orang yang sudah mati sudah terbebas dari segalanya.

Keadaan apa pun tidak dirasakan lagi.

Dia juga tidak merasakan adanya penderitaan.

Rasa sakit hanya dialaminya beberapa saat sebelum menjelang kematian.

Sen Cing mengira kedua orang itu sengaja tidak turun tangan segera agar putranya merasa menderita.

Penyiksaan bathin ini sungguh mengerikan, lebih menyakitkan daripada penyiksaan badan.

Kuan Hong Siau yang memperhatikan dari samping juga mempunyai pemikiran yang sama.

"Lie lote, cepat turun tangan!"

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba Kakek Kuan melihat kejanggalan pada diri suami istri Lie Yuan.

"Lie lote, kenapa kau?"

Tanya Kakek Kuan bingung.

Tetapi baik pedang emas Lie Yuan maupun pedang perak Lim Cing Ing tidak menyahut sepatah kata pun.

Bahkan mereka tidak bergerak sama sekali.

Mereka bagai patung yang berdiri tegak.

Saat itu, Kuan Hong Siau sadar telah terjadi sesuatu yang tidak wajar.

Bahkan Tao Cu Hun, Sen Cing dan Tao Ling juga dapat merasakannya.

Tapi mereka masih belum yakin.

Kalau dilihat dari keadaan mereka, tampaknya pasangan suami istri Lie Yuan telah tertotok jalan darahnya oleh seseorang.

Namun peristiwa ini rasanya tidak masuk akal!

Karena bukan saja pasangan suami istri itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, bahkan orang-orang yang ikut hadir di perahu itu juga mempunyai kepandaian yang tidak rendah.

Mengapa tanpa terlihat apa pun yang mencurigakan tahu-tahu pasangan suami istri itu telah tertotok jalan darahnya?

Kuan Hong Siau maju dua langkah, tangannya menepuk pundak Lie Yuan.

Terdengar suara Trang!

Pedang emas di tangan laki-laki itu terjatuh ke lantai perahu, Lie Yuan juga terkulai jatuh.

Baru saja tubuh Lie Yuan terkulai jatuh, seseorang sudah menerobos ke dalam kabin sambil berseru.

"Tia, Ma ... apakah dendam koko sudah terbalas?"

Orang itu putra kedua pasangan suami istri Lie Yuan, Lie Cun Ju.

Begitu masuk, dia melihat musuh besar mereka masih berdiri dalam keadaan baik-baik saja, malah ayahnya yang terkulai di atas lantai perahu.

Hatinya tersentak sekali.

"Tia, Ma ... apa yang terjadi?"

Kuan Hong Siau mengibaskan tangannya.

"Jangan cemas!"

Tubuhnya bergerak seperti angin berhembus.

Dia sudah berdiri di samping Lim Cing Ing dan menyentuh tangannya sedikit.

Kembali terdengar suara Trang!

Pedang perak terjatuh, Lim Cing Ing sendiri juga menggubrak ke belakang.

Tao Ling yang melihat keadaan itu, cepat-cepat menarik tangan Tao Heng Kan.

Lie Cun Ju melesat seperti anak panah.

Dipungutnya pedang emas dan perak yang terjatuh di atas lantai.

"Tia, Ma ... sebetulnya apa yang terjadi pada diri kalian?"

Karena paniknya dia sampai tidak menyadari bahwa ayah ibunya tidak mungkin menjawab pertanyaannya itu.

Sedangkan Kuan Hong Siau menepuk beberapa bagian tubuh Lie Yuan dan Lim Cing Ing berkali-kali.

Maksudnya ingin membebaskan jalan darah mereka yang tertotok.

Tetapi cara apa yang digunakan seseorang untuk menotok jalan darah Lie Yuan dan istrinya, ternyata Kakek Kuan tidak mengetahuinya.

Tentu saja Kuan Hong Siau tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu.

Wajah Kakek Kuan berubah perlahan-lahan.

Kemudian dia mendongakkan kepalanya.

"Tao tayhiap, jalan darah suami istri Lie Yuan ini ..."

Kata-katanya terhenti, dia tidak jadi melanjutkannya karena tadinya dia menyangka apa yang terjadi pada pasangan suami istri Lie Yuan adalah hasil perbuatan Tao Cu Hun dan Sen Cing.

Tetapi saat ini dia melihat mimik wajah kedua orang itu justru menyiratkan kebingungan.

Kenyataannya pasangan suami istri Tao Cu Hun juga tidak tahu jalan darah mana dari Lie Yuan dan Lim Cing Ing yang tertotok dan bagaimana cara orang itu melakukannya.

Hati Sen Cing semakin penasaran, karena dia adalah seorang pendekar wanita yang ahli dalam am gi (senjata rahasia).

Sebagai orang yang mempelajari ilmu yang satu ini, paling tidak mula-mula harus menguasai ilmu jalan darah di tubuh manusia.

Pengetahuannya cukup dalam, karena sejak kecil dia memang sudah menekuni seluruh urat darah dalam tubuh seseorang.

Tapi anehnya dia sendiri tidak berhasil menemukan jalan darah apa yang tertotok pada pasangan suami istri Lie Yuan.

Diam-diam dia menyadari bahwa orang itu menggunakan cara menotok jalan darah dengan aliran tersendiri dan mungkin jarang berkecimpung di dunia kang ouw sehingga tidak ada orang yang mcngetahuinya.

Oleh karena itu, dengan wajah serius Sen Cing berkata.

"Kuan loya, bukan kami yang menotok jalan darah mereka!"

Wajah Kuan Hong Siau semakin kelam. Dia menolehkan kepalanya.

"Sahabat keluarga Sang dari Si Cuan, harap masuk ke dalam kabin. Lohu ingin merundingkan sesuatu hal!"

Teriaknya.

Baru saja ucapannya selesai, dari luar geladak berjalan masuk seseorang bertubuh pendek.

Langkahnya lambat sekali seperti orang yang kemalas-malasan.

Tao Cu Hun ingat ketika mereka baru sampai di tempat ini, Kuan Hong Siau memperkenalkan orang ini kepada mereka.

Tetapi saat itu dia tidak begitu memperhatikan.

Memang rasanya dia ingat orang itu menyebut dirinya bermarga Sang.

Tetapi karena penampilannya tidak menunjukkan keistimewaan apa-apa maka Tao Cu Hun juga tidak menaruh perhatian.

Sekarang mendengar Kuan Hong Siau menyebut keluarga Sang dari Si Cuan, pasangan suami istri Tao Cu Hun jadi tertegun.

Karena keluarga Sang memiliki dua macam ilmu yang sangat terkenal di dunia bu lim.

Salah satunya disebut Ruyung Sakti Laksana Angin, sedangkan yang satunya lagi justru tujuh puluh dua macam cara teraneh menotok jalan darah.

Terutama ketujuh puluh dua cara menotok jalan darah itu, jari tangan, tendangan kaki, tepukan bahkan serudukan kepala, semua dapat digunakan untuk menotok jalan darah seseorang.

Bahkan yang diincarnya justru jalan darah yang penting.

Ilmu ini merupakan warisan dari leluhur mereka.

Bahkan anak perempuan tidak diwarisi ilmu yang satu ini.

Selamanya mereka hidup mengasingkan diri di Si Cuan.

Jarang bergerak di dunia kang ouw.

Maka orang yang pernah mendengar nama keluarga mereka memang banyak, tetapi sampai dimana sebenarnya kehebatan keluarga ini, jarang orang yang melihatnya sendiri.

Di dunia bu lim, orang hanya tahu bahwa orang yang usianya paling tua dan kedudukannya paling tinggi dalam keluarga Sang yaitu Kakek berambut putih Sai ., Hao.

Menurut selentingan, usia kakek ini sudah di atas delapan puluh.

Ilmunya tinggi sekali sehingga sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Anak cucu keluarga Sang sendiri sulit menemuinya.

Sedangkan orang bernama Sang Cu Ce yang melangkah ke dalam kabin entah mempunyai kedudukan apa dalam keluarga Sang, tetapi kalau dilihat dari langkah kakinya yang mantap dan sinar matanya yang tajam, tampaknya orang ini juga bukan tokoh sembarangan.

Setelah masuk, Sang Cu Ce bertanya kepada Kuan Hong Sian.

"Entah ada urusan apa Kuan loya memanggilku?"

Sikap Kuan Hong Siau terhadap orang ini juga cukup sungkan.

"Sahabat Sang, pasangan suami istri Pat Kua Kim Gin Kiam tertotok jalan darahnya secara tiba-tiba. Lo hu tidak sanggup memberikan pertolongan, harap sahabat Sang bersedia membebaskan jalan darah mereka."

Sang Cu Ce berseru terkejut.

Hatinya merasa bingung.

Karena dia juga mengikuti rombongan itu datang ke kapal.

Sejak tadi berjaga di luar agar Tao Heng Kan tidak dapat melarikan diri.

Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam kabin perahu itu.

Mendengar jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan bisa tertotok di hadapan beberapa jago kenamaan, hatinya tersentak kaget.

Kemudian dia berjongkok dan memperhatikan keadaan Lie Yuan.

Tiba-tiba dia bangkit dan mundur dengan wajah menyiratkan perasaan terkejut.

Rona wajahnya berubah hebat.

Apalagi setelah melihat keadaan Lim Cing Ing yang wajahnya semakin pucat seperti selembar kertas.

Berturutturut kakinya melangkah mundur, dia hanya menggoyang-goyangkan tangannya tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Di antara orang-orang yang berkumpul, hanya Kuan Hong Siau yang mengetahui bahwa Sang Cu Ce mempunyai kedudukan yang tinggi dalam keluarga Sang.

Kalau dihitung dari Kakek berambut putih Sang Hao, Keluarga Sang sudah berlangsung empat generasi, tetapi Sang Cu Ce ini justru keponakan dari Sang Hao sendiri.

Dengan demikian dia juga merupakan angkatan tua dalam keluarga Sang, karena terhitung angkatan kedua.

Saat ini melihat keadaan Sang Cu Ce yang ketakutan, hatinya jadi tersentak kaget.

"Sahabat Sang, bagaimana?"

Tanya Kuan Hong Siau. Sang Cu Ce terus mengundurkan diri sampai depan kabin perahu.

"Siaute tidak sanggup, harap Kuan loya maafkan!"

Tiba-tiba dia menghentakkan kakinya dan melesat keluar dari kabin itu.

Usia Lie Cun Ju masih belia, dia belum mengerti mara bahaya, sepasang pedang emas dan perak segera dilintangkan ke depan untuk menghadang kepergian Sang Cu Ce.

Lie Cun Ju berdiri di depan Sang Cu Ce sambil bertanya.

"Sahabat Sang, siapa yang membokong kedua orang tuaku? Harap jelaskan!"

Sang Cu Ce tidak menyahut sepatah kata pun.

Deru angin menyambar, dia menghantamkan sebuah pukulan.

Meskipun kekuatan Lie Cun Ju belum seberapa tinggi, tapi otaknya cerdas.

Apalagi dia sudah mewarisi ilmu pedang Pat Kua Kiam dari orang tuanya.

Dia sudah menyadari kekuatan yang terpancar dari pukulan lawannya, pedang di tangan kirinya segera diturunkan, pedang di tangan kanan digetarkan kemudian secara tiba-tiba, dijulurkan ke arah telapak tangan Sang Cu Ce.

Pada dasarnya Sang Cu Ce tidak mempunyai minat berkelahi.

Sekonyong-konyong dia memutar tangannya.

Dia menghindar dari serangan pedang Lie Cun Ju.

Tubuhnya bergerak dan melesat lewat samping pemuda itu, sekaligus sikutnya menyenggol salah satu jalan darah di bawah ketiak Lie Cun Ju.

Lie Cun Ju terkesiap, dia bermaksud menarik pedang di tangannya untuk menahan serangan Sang Cu Ce, tapi sudah terlambat.

Bawah ketiaknya terasa kesemutan.

Dorongan Sang Cu Ce membuatnya terhuyung mundur sampai kira-kira delapan langkah.

Pemuda itu berdiri tegak dan mendongakkan wajahnya.

Dia melihat bayangan tubuh Sang Cu Ce sudah berkelebat dan meloncat ke atas dermaga.

Dalam sekejap mata, orang Sang Cu Ce sudah melesat hilang dalam kegelapan malam.

Perasaan Kuan Hong Siau semakin tertekan.

Kakek itu yakin Sang Cu Ce sudah berhasil melihat jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan tertotok oleh seorang tokoh luar biasa.

Sedangkan jalan darah yang tertotok itu rahasia sekali.

Tetapi Kuan Hong Siau tidak dapat menduga siapa tokoh yang dimaksud sehingga Sang Cu Ce begitu ketakutan, lalu hanya melihat totokannya saja.

Bahkan Sang Cu Ce yang terkenal dengan tujuh puluh dua cara menotok jalan darah itu sampai melarikan diri.

Sementara itu, hati Tao Cu Hun, Sen Cing, dan Tao Ling diselimuti kegelisahan yang dalam.

Tiba-tiba mereka teringat bayangan tinggi kurus yang dilihatnya lewat kertas jendela.

Tapi mereka juga tidak tahu asal usul orang itu.

Kuan Hong Siau tertegun sejenak.

"Cun Ju, orang tuamu hanya tertotok jalan darahnya. Lebih baik suruh dulu beberapa orang untuk mengangkat mereka ke perahu kalian kemudian berusaha menemukan seseorang yang memiliki kepandaian tinggi. Melihat dari pergaulan orang tuamu di dunia kang ouw, pasti ada tokoh yang datang memberikan pertolongan apabila mendengar berita ini. Sekarang musuh besarmu ada di depan mata. Kau tidak perlu lagi menyebarkan lencana pat kua tadi. Balaslah dendam kematian kokomu sekarang juga!"

Kata Kuan Hong Siau menasehati.

Sejak tadi Lie Cun Ju memang menatap Tao Heng Kan dengan sorot kebencian yang dalam.

Ucapan Kuan Hong Siau seperti memberi semangat kepadanya.

Dia melangkah ke depan.

Dengan jurus Tumbuh Silih Berganti, dia melancarkan sebuah serangan sambil membentak.

"Manusia she Tao, serahkan nyawamu!"

Tao Heng Kan tetap tidak bergerak.

Tao Ling bermaksud mendorong abangnya kuatkuat agar terpental keluar dari kabin dan jatuh ke dalam sungai.

Tetapi belum lagi dia mengambil tindakan, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang menggelegar.

Kaki orang-orang yang ada di atas perahu itu limbung seketika seperti mendadak ada gempa yang melanda.

Serangan Lie Cun Ju juga tidak mengenai sasaran karena tubuhnya yang terhuyung-huyung.

Orang-orang masih belum mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi.

Mereka hanya merasakan bumi berguncang dengan hebat.

Mereka tidak dapat berdiri dengan kokoh.

Karena guncangan itu air sungai mulai meluap masuk.

Dalam sekejap mata, perahu yang besar itu tiba-tiba terbelah jadi dua bagian.

Tempat berlabuh perahu itu memang tidak jauh dari air terjun.

Ombak di daerah itu lebih besar dibandingkan tempat lainnya.

Begitu perahu itu terbelah menjadi dua bagian, sebentar saja sudah digulung arus yang deras dan tenggelam dengan perlahanlahan.

Tao Ling merasa tubuhnya dihempas air, sekejap saja dia sudah dipermainkan ombak sehingga tinibul tenggelam.

Dia ingin membuka mulutnya untuk berteriak meminta pertolongan, tetapi air sungai langsung masuk dan terpaksa dia menelan beberapa teguk air itu.

Nafasnya seperti tertutup.

Dengan susah payah dia menenangkan dirinya kemudian menggerakkan kaki tangannya agar dia dapat mengapung di permukaan air.

Udara tiba-tiba menjadi gelap.

Seperti akan terjadi hujan badai.

Dari tadi Tao Ling tidak memperhatikannya.

Sebetulnya ketika meninggalkan gedung Kuan Hong Siau, cuaca sudah mulai berubah.

Mendung tebal menyelimuti seluruh daerah itu.

Angin bertiup dengan kencang, ombak di sungai menggelora, satu menghempas yang lain dengan begitu besarnya sehingga sangat mengejutkan.

Berkali-kali Tao Ling menyembulkan kepalanya, namun setiap kali dia dihantam oleh ombak yang besar sehingga kepalanya terasa pusing.

Permukaan sungai juga gelap gulita.

Entah kemana perginya rembulan yang bersinar penuh tadi.

Tao Ling sendiri tidak tahu di mana dirinya berada.

Dia membiarkan arus sungai membawa dirinya.

Setelah timbul tenggelam beberapa kali, akhirnya dia berhasil meraih sekeping papan.

Akhirnya sepanjang malam Tao Ling terombang ambing oleh ombak.

Dia melihat matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur.

Tetapi tiba-tiba turun hujan yang lebat.

Begitu derasnya sehingga permukaan sungai mirip dengan panci berisi air mendidih.

Kabut yang tebal melayang-layang.

Matahari yang baru muncul sedikit segera tertutup kembali oleh awan yang tebal.

Gadis itu semakin tidak jelas di mana dia berada.

Sepanjang malam, dia dilanda perasaan lapar dan kedinginan.

Letihnya tidak dapat dikatakan lagi.

Dia hanya dapat pasrah terhadap nasib, tidak sanggup menemukan akal yang baik untuk menyelamatkan diri.

Lambat laun, hujan mulai reda.

Tiba-tiba saja Tao Ling merasa gerakan air tidak sederas sebelumnya lagi.

Dia sadar dirinya terbawa arus sepanjang malam.

Paling tidak dia sudah hanyut sejauh dua-tiga ratus li.

Saat ini air sungai tidak sederas tadi, mungkin dia sudah sampai ke bagian hulu sungai.

Dia berusaha menyembulkan kepalanya.

Tampak pemandangan di hadapannya tidak jelas.

Tidak lama kemudian, gerakan tubuhnya semakin lambat.

Dia merasa kakinya menyentuh sesuatu.

Hatinya tercekat, namun sesaat kemudian Tao Ling hampir menertawakan dirinya sendiri.

Ternyata kakinya telah menginjak dasar sungai yang dangkal.

Dia berdiri tegak.

Batas permukaan air hanya sampai di dadanya.

Dengan menyeret kakinya, gadis itu melangkah ke tepian sungai.

Hujan masih turun rintik-rintik.

Dia memperhatikan keadaan di sekelilingnya bagai terdampar di sebuah perbukitan yang kosong.

Tidak ada rumah penduduk sebuah pun.

Malah berkesan sedikit menyeramkan.

Tapi Tao Ling bukan gadis penakut.

Dia merambat ke atas tepian sungai dan menguatkan dirinya untuk melangkah ke depan sejauh kira-kira lima depa.

Tao Ling sampai ke dalam sebuah hutan.

Pohon-pohon yang tinggi dan lebat melindungi dirinya dari tetesan air hujan.

Tidak berapa lama kemudian, dia melihat ada dua gubuk yang agak reot di hadapannya.

Melihat gubuk itu, hati Tao Ling merasa gembira.

Meski atap rumah gubuk itu sudah terkuak di sana-sini sehingga air hujan menembus celah itu dan jatuh menetes ke dalam, namun bagi Tao Ling saat itu bagaikan menemukan sebuah istana yang mewah.

Tao Ling masuk ke dalam pondok dan merebahkan tubuh di atas balai-balai tanpa memperdulikan keadaan tubuhnya yang basah kuyup.

Tao Ling berbaring di atas balai-balai itu, dan telinganya masih mendengar suara rintik hujan yang semakin reda.

Akhirnya dia pun tertidur dengan pulas.

Ketika terbangun dari tidur, Tao Ling melihat sinar mentari yang redup.

Ternyata hari sudah menjelang siang.

Tapi karena baru turun hujan deras, matahari masih menyembunyikan sebagian dirinya.

Gadis itu mengeringkan pakaiannya dengan berjemur di bawah matahari.

Setelah itu dia berjalan ke depan untuk melihat-lihat.

Tao Ling tahu bahwa dia berada di daerah yang sangat luas.

Tetapi dia tidak melihat hal-hal tertentu, sehingga tidak dapat menentukan di mana dia berada.

Entah utara, selatan, timur atau barat?

Di sekelilingnva hanya terlihat pepohonan yang lebat.

Seperti berada di tengah hutan tak berpenghuni.

Diam-diam Tao Ling berpikir dalam hati.

-Apabila aku membuat sebuah rakit dari batang pohon, mungkin aku bisa meninggalkan tempat ini --Tetapi yang paling penting bagi Tao Ling sekarang adalah mencari makanan untuk mengisi perut.

Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia melihat seseorang keluar dari hutan.

Kedua orang itu saling menatap dan keduanya menjadi tertegun.

Ternyata orang yang berjalan keluar dari hutan itu, bukan orang lain, melainkan Lie Cun Ju.

putra pasangan suami istri Lie Yuan.

Sebelah tangannya menggenggam pedang emas.

sedangkan tangan yang satunya menggenggam pedang perak.

Tidak terlihat sarung pedang menyelip di antara punggungnva.

Tampaknva dia juga terhanyut oleh derasnya air sungai dan terdampar di tempat itu juga.

Sebetulnya tidak ada permusuhan antara keluarga Lie dengan keluarga Tao.

Secara tidak terduga-duga mereka bertemu di tengah perjalanan sehingga terjadi perkenalan.

Kesan yang didapat dari Li Po serta Lie Cun Ju dua bersaudara itu tidak jelek bagi Tao Ling.

Tetapi sekarang kedua keluarga itu telah terjadi permusuhan yang dalam.

Tao Ling juga tidak bermaksud menemui pemuda itu dalam keadaan seperti ini.

Setelah tertegun sejenak, Tao Ling cepat-cepat memalingkan wajahnya dan menyimpang ke arah yang lain.

Lie Cun Ju juga termangu-mangu heberapa saat, kemudian dia membalikkan tubuhnya berjalan ke arah yang Iain pula.

Tapi seberapa besarnya tempat mereka terdampar itu?

Setelah berputar-putar sekian lama, akhirnya mereka berpapasan lagi.

Tao Ling mengeluarkan suara dengusan dari hidung.

Lie Cun Ju juga sedih mengingat kematian kokonya.

Tapi walaupun usianya masih muda, Lie Cun Ju adalah seorang pemuda yang dapat membedakan baik dan buruk.

Dia tidak menimpakan kesalahan kepada orang lain yang tidak bersangkutan, walaupun orang yang membunuh abangnya itu Tao Heng Kan, abang dari gadis di hadapannya itu.

"Tao kouwnio ..."

Lie Cun Ju menyapa Tao Ling. Tao Ling tidak menyahut sepatah kata pun. Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Tao kouwnio, di antara keluarga kita bisa terjadi peristiwa sedemikian rupa, aku benar-benar tidak menduganya!"

Sapanya lagi.

"Kenyataan memang sudah terjadi, apalagi yang dapat dikatakan?"

Sahut Tao Ling.

"Tao kouwnio, ada suatu masalah yang terus mengganjal di dalam hati ini, bolehkah aku menanyakannya?"

Kata Lie Cun Ju kembali.

"Mengenai apa?"

Gadis itu balik bertanya sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah.

"Tao kouwnio, tahukah kau apa sebabnya abangmu menurunkan tangan keji kepada Li Po kokoku?"

Sejak kejadian itu, Tao Ling juga dilanda kebingungan oleh pertanyaan yang sama.

Sekarang dia mendengar nada suara Lie Cun Ju yang seakan tidak mengandung permusuhan dengannya.

Dia pun menarik nafas panjang.

"Aku juga tidak tahu. Kokoku itu selamanya jujur dan baik hati. Tidak pernah aku melihat dia melukai seekor kucing pun."

"Apakah akhir-akhir ini, kokomu bergaul dengan orang yang jahat?"

Tao Ling menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin."

Tao Ling menggelengkan kepala. Lie Cun Ju juga menarik nafas panjang.

"Peristiwa ini bukan main anehnya. Tadi malam, ketika perahu terbelah menjadi dua bagian, tanpa disengaja aku melihat seseorang bertubuh tinggi dan kurus. Seperti bayangan sebatang pohon dan membopong kokomu pergi. Orang itu meloncat ke atas permukaan air lalu melesat dengan mengapung di atasnya."

Tao Ling terkejut setengah mati. Karena bayangan orang yang disebut oleh Lie Cun Ju itu, dia pun pernah melihatnya. Tarnpak Lie Cun Ju menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung.

"Tadinya aku mengira pandangan mataku kurang beres. Coba kau bayangkan! Setidaknva tokoh-tokoh di dunia bu lim ini sudah mempunyai pengetahuan yang lumayan. Orang tua kita sering menceritakan setiap tokoh bu lim yang namanya terkenal, sanggup rnelayang di atas permukaan air. Ilmu gin kangnya (Meringankan tubuh) sudah mencapai taraf tertinggi. Di dalam dunia ini ada berapa orung yang sanggup melakukan hal yang sama? Saat itu, aku panik sekali karena ingin menolong kedua orang tuaku, tidak disangka mereka tidak berhasil tertolong, malah aku yang dihempas ombak besar."

Perasaan anti pati di dalam hati Tao Ling terhadap Lie Cun Ju sudah semakin berkurang.

"Bagaimana dengan orang tuaku, apakah kau melihat mereka?"

Tanya Tao Ling. Lie Cun Ju menggelengkan kepalanya.

"Cuaca malam itu gelap sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tao kouwnio, apabila kita bekerja sama membuat rakit dari batangPedang Tanpa Perasaan >> Khu Lung >> published by buyankaba.com batang pohon, rasanya tidak sulit bagi kita untuk meninggalkun tempat ini."

Sembari berkata, Lie Cun Ju mengulurkan pedang peraknya ke hadapan Tao Ling.

"Pedang perak itu pusaka warisan keluarga, apakah kau rela meminjamkannya kepadaku?"

Ujar Tao Ling dengan tersenyum.

"Mengapa Tao kouwnio mengucapkan kata-kata seperti itu?"

Lie Cun Ju tertawa getir.

Tao Ling juga tidak sungkan lagi menerima pedang perak yang disodorkan Lie Cun Ju.

Pedang itu tajam sekali.

Sebentar saja mereka sudah berhasil menebang beberapa hatang pohon siong.

Hari mulai gelap.

Tao Ling merasa perutnya sakit karena menahan lapar.

"Kau tidak lapar? Bagaimana kalau kita mencari makanan di sekitar tempat ini?"

Tanyanya kepada Lie Cun Ju.

"Baiklah!"

Kedua orang itu segera masuk ke dalam hutan, dan memutar satu kali.

Tempat itu tampaknya tidak seberapa luas.

Tetapi setelah kedua orang itu mengitarinya, mereka merasakan sesuatu yang aneh.

Ternyata setelah berjalan kesana kemari, mereka tetap kembali ke tempat semula.

Tampaknya mereka tidak berhasil menyusup ke tengah hutan.

Padahal arah yang dituju mereka itu menuju ke tengah hutan, namun entah mengapa tahu-tahu mereka kemhali lagi ke tempat semula.

Tidak lama kemudian, rembulan sudah menggantung di atas cakrawala.

Mereka belum juga menemukan binatang buruan.

Akhirnya Tao Ling memetik beberapa buah untuk mengisi perut.

"Apakah kau merasakan bahwa sejak tadi kita tidak bisa menemhus ke dalam hutan?"

Tanya Tao Ling keheranan.

"Memang aneh! Mari kita coba lagi!"

Sahut Lie Cun Ju.

Saat ini.

perasaan anti pati Tao Ling terhadap Lie Cun Ju sudah sirna sama sekali.

Dengan menggenggam pedang masing-masing mereka ber-jalan ke tengah hutan.

Tetapi baru setengah perjalanan, mereka sudah kemhali lagi ke tempat semula.

Saat ini, kedua orang itu baru yakin, bahwa hutan itu mengandung keanehan.

Tao Ling mempunyai watak serba ingin tahu, berkali-kali dia menyerukan kata aneh.

"Mungkin di dalam tempat ini terdapat hutan rahasia yang menghadang langkah kita sehingga tidak bisa terus ke dalam. Tao kouwnio, sebaiknya kita rampungkan rakit ini kemudian berusaha menemukan orang tua kita,"

Ucap Lie Cun Ju kepada Tao Ling.

Hubungan kedua remaja itu sudah semakin akrab.

Rasanya agak janggal kalau mengingat koko Tao Ling yang membunuh koko Lie Cun Ju.

Bahkan orang tua mereka juga sudah saling memalingkan muka.

Tetapi mereka berdua masih muda, jiwa mereka masih polos.

Walaupun ketika baru bertemu, hati mereka merasa tidak enak juga, tetapi perjuangan di tempat terpencil selama sehari penuh membuat huhungan mereka jadi dekat kembali.

Bahkan Lie Cun Ju mengatakan 'orang tua kita' di hadapan Tao Ling.

Mereka segera merampungkan rakit tadi.

Meskipun hati Tao Ling agak panik ingin mengetahui nasib orang tuanya setelah perahu yang mereka miliki terbelah menjadi dua bagian lalu tenggelam, tetapi dia lebih tidak puas dengan jawaban Lie Cun Ju mengenai tempat itu.

"Aku tidak percaya ada hutan rahasia yang menghadang di depan kita. Pasti ada yang aneh pada tempat itu,"

Kata-katanya demikian tegas.

Mata Tao Ling mengedar ke sekeliling tempat itu dengan penasaran.

Gadis itu melihat ada sebatang pohon yang tingginya niencapai kira-kira lima depa.

Tampak pohon itu menjulang tinggi bagaikan tangga panjang.

Wajah Tao Ling langsung berseri-seri.

"Sudah ada! Kita naik ke atas pohon itu agar kita bisa melihat ke bagian tengah hutan agar kita tahu keanehan apa yang terdapat di sana. Bagaimana menurut pendapatmu?"

Dalam hati Lie Cun Ju, Tao Ling adalah seorang gadis yang periang dan lincah.

Walaupun di antara kedua keluarga niereka berlangsung pertikaian yang cukup dalam, tapi dalam hati kecilnya mengakui hahwa kesan gadis ini sangat baik baginva.

Mendengar perkataan Tao Ling, dia segera mendongakkan kepalanya melihat ke arah pohon yang ditunjuk Tao Ling.

"Baik!"

Tanpa disadari, sepasang remaja itu bergandengan tangan dan berlari menuju pohon itu.

Setelah sampai di bawah pohon.

Tao Ling baru merasa bahwa kemesraan mereka sudah melampaui batas.

(Perlu diketahui bahwa pada jaman itu laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bersentuhan.

walaupun hanya pegangan tangan saja, kecuali abang adik atau suami istri).

Wajah Tao Ling merah padam, cepat-cepat dia melepaskan tangannya dari pegangan Lie Cun Ju.

Sepasang kaki gadis itu menghentak kemudian tuhuhnya pun mencelat ke atas.

Tangannya terulur untuk meraih sebatang cabang pohon.

Lie Cun Ju memandangi gerakan tubuh Tao Ling sampai terkesima beberapa saat.

Setelah gadis itu sudah berhasil mencapai ke atas pohon tiba-tiba mengeluarkan seruan terkejut.

Lie Cun Ju tersentak sadar dari lamunan.

Cepat dia mendongakkan wajahnya dan melihat ke atas.

Tampak Tao Ling berdiri di atas sebatang ranting pohon.

Sedangkan ranting itu agak lemas sehingga tubuh gadis itu berayun-ayun seakan setiap waktu.bisa terjatuh ke bawah.

"Tao kouwnio, kau tidak apa-apa?"

Tanyanya setengah berteriak.

"Cepatlah kau naik kemari! Cepat!"

Sahut Tao Ling.

Lie Cun Ju tidak tahu apa yang terjadi.

Cepat-cepat dia melesat naik ke atas dan menerobos gerombolan daun yang lebat.

Dia sempat mendengar gerakan tubuh Tao Ling.

Ketika dia sudah mencapai ketinggian tiga depa lebih, dia mendongakkan kepalanya lagi.

Tetapi dia tidak berhasil melihat gadis itu lagi.

Rupanya pohon yang mereka panjat itu sebatang pohon Liong Pek yang usianya mungkin sudah ratusan tahun.

Daunnya lebat sekali.

Sewaktu pemuda itu ada di bawah pohon, dia bisa melihat pakaian Tao Ling yang berkibar-kibar sehingga tahu dimana gadis itu berada.

Tetapi setelah dia naik ke atas, pandangan matanya terhalang oleh dedaunan yang rimbun sehingga tidak dapat melihat gadis itu lagi.

Mendengar seruan Tao Ling seperti melihat sesuatu yang mengejutkan, dia menggerakkan tubuhnya untuk mencelat lebih tinggi lagi ke atas.

"Tao kouwnio, aku datang!"

Seru Lie Cun Ju Lie Cun Ju melesat lagi stiengah depa.

Rasanya jarak dirinya dengan puncak pohon tinggal sedikit lagi.

Baru saja dia menarik nafas dalam-dalam untuk mencelat naik lagi, tiba-tiba bagian tengkuknya terasa geli, seperti ada orang meniup bagian belakang tengkuknya itu.

"Tao kouwnio, kau memang nakal!"

Kata pemuda itu sambil tertawa geli.

"Apanya yang nakal? Cepat kau lihat, pemandangan ini pasti belum pernah kau saksikan seumur hidup!"

Suara Tao Ling berkumandang dari atas.

Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar suara Tao Ling berkumandang dari atas.

Tadinya dia mengira gadis itu yang meniup tengkuknya sehingga terasa hangat dan geli.

Oleh karena itu, dia mengatakan 'Tao kouwnio, kau memang nakal!' Tetapi dari nada Tao Ling saat ini, paling tidak gadis itu masih satu depa di atasnya.

Walaupun ilmu silat Lie Cun Ju belum sampai taraf yang tinggi, tapi dia mengetahui dengan pasti bahwa seseorang yang jaraknya satu depaan tidak mungkin rnenghembuskan angin ke tengkuknya apalagi terasa hangat seakan ditiup dari dekat.

Tentu saja, kesadarannya tergugah.

Ada orang lain di atas pohon ini kecuali mereka berdua.

Dan orang itulah yang mempermainkannya!

Berpikir sampai di sini, perasaan Lie Cun Ju jadi terkesiap.

Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya dan bermaksud membentak.

'Siapa?', tapi seluruh tubuhnya langsung bergetar, hampir saja pegangannya pada ranting pohon terlepas.

Rupanya tadi dia hanya memusatkan pikirannya untuk naik ke atas pohon, dia mengira di bagian belakangnya masih ada ranting pohon dengan dedaunan yang lebat.

Kini tiba-tiba dia menolehkan kepalanya dan ternyata bagian belakangnya merupakan udara yang melompong dan tidak ada tempat persembunyian sama sekali.

Lalu dari mana datangnya udara atau dengus nafas yang dirasakannya tadi?

Hati Lie Cun Ju dilanda kebingungan dan merinding.

Cepat-cepat dia memanjat ke atas pohon dan tidak berani berdiam di tempat semula lama-lama.

Sesampainya di puncak pohon, dia melihat wajah Tao Ling menyiratkan perasaan terkejut, matanya menatap ke depan seperti terkesima oleh suatu pemandangan.

Cepat-cepat dia mengalihkan perhatiannya mengikuti arah mata Tao Ling.

Dia langsung terpana.

Di bagian tengah hutan itu, ada sebidang tanah berbentuk bundar.

Di bawah cahaya rembulan, di permukaan tanah itu timbul cahaya yang mengapung dan terang sekali.

Cahaya itu begitu menyilaukan mata seperti lampu yang besar sekali menyorot dari atasnya.

Bagi orang-orang sekarang mungkin merasa diri sendiri berada di alam dewadewi.

Karena di alam manusia tidak mungkin ada cahaya sebesar itu.

Juga tidak mungkin berkelip-kelip seperti penuh bertaburan bintang.

Lie Cun Ju mernandang dengan terkesima, tanpa sadar dia bertanya.

"Tao kouwnio, apa itu?"

Tao Ling menggelengkan kepalanya.

"Aku juga tidak tahu, mungkinkah sebuah danau kecil?"

"Kalau benar danau, paling tidak airnya akan hergerak sedikit-sedikit, tetapi cahaya itu pasif, tidak bergerak sedikitpun."

"Mudah, untuk mengetahui benar tidaknya, biar aku coba sebentar!"

Pedang Lie Cun Ju dipindahkan ke tangan kiri, tangan kanan menyusup ke balik pakaian serta mengeluarkan tiga batang senjata rahasia.

Baru saja dia ingin melemparkan tiga batang piau tadi ke berkas cahaya yang terlihat, Lie Cun Ju teringat hawa hangat yang terasa di tengkuknya.

"Tao kouwnio, tunggu sebentar. Aku rasa di pulau ini tinggal seorang tokoh sakti yang mengasingkan diri. Jangan sampai membuatnya marah, agar ada keuntungannya bagi kita!"

Katanya mengingatkan.

"Masa nyalimu begitu kecil?"

Tao Ling menoleh sambil tersenyum. Wajah Lie Cun Ju merah padam. Mana ada anak muda yang sudi dikatakan pengecut di depan seorang gadis cantik? Tetapi watak Lie Cun Ju selalu waspada.

"Tao kouwnio tadi ketika aku memanjat sampai pertengahan pohon ini, tiba-tiba aku merasa tengkukku ditiup oleh seseorang. Karena itu, aku teringat kembali dan mengingatkanmu."

"Tidak usah takut! Ada apa-apa, biar aku yang bertanggung jawab!"

Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya mengibas, terdengar suara Serrr!

Beberapa batang senjata rahasia itu meluncur ke arah berkas cahaya yang terlihat.

Tetapi ketika senjata rahasia itu hampir mencapai sasarannya, tiba-tiba seperti ada kekuatan yang tidak herwujud mengalahkan luncuran senjata rahasia itu sehingga bergerak ke samping lalu jatuh di atas tanah.

Saat itu rembulan sedang bersinar penuh.

Mereka dapat melihat jelas senjata rahasia itu mengilaukan sinar dan ter jatuh di atas tanah.

Tao Ling jadi tertegun beberapa saat.

"Aneh! Senjata rahasiaku tadi, paling tidak dapat meluncur sejauh dua-tiga depa dan menancap ke dalam pohon sedalam setengah cun. Mengapa tiba-tiba kekuatannya melemah malah terjatuh ke samping!"

Melihat kenyataan itu, Lie Cun Ju semakin yakin dengan dugaannya.

"Tao kouwnio, yang paling penting bagi kita adalah meninggalkan tempat ini. Tidak perlu perdulikan masalah lainnya!"

"Tidak bisa! Eh, bagaimana dengan ilmu gin kangmu?"

Wajah Lie Cun Ju menyiratkan rona merah.

"Tenaga dalamku belum seberapa tinggi, sehingga ilmu gin kang juga biasa-biasa saja!"

"Coba kau lihat, bundaran cahaya itu, paling-paling berjarak sepuluh depaan dari tempat ini. Kita turun sedikit ke bawah lalu menggunakan bantuan ranting pohon mengayun ke tempat itu. Coba kau lihat apakah kita bisa mencapai bundaran cahaya tersebut?"

Ujar Tao Ling sambil menunjuk ke bawah.

"Rasanya aku tidak sanggup!"

Lie Cun Ju menggelengkan kepala.

"Kalau begitu kau tunggu di sini, biar aku yang meloncat turun dan melihat apa sebenarnya bundaran cahaya itu. Nanti aku kembali lagi!"

Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar Tao Ling ingin meloncat ke bundaran cahaya itu.

Saat ini dia sudah mulai menaruh perhatian yang cukup besar pada Tao Ling.

Bukan karena dia tidak yakin dengan ilmu gin kang gadis itu, melainkan dia khawatir di balik bundaran cahaya itu ada sesuatu yang membahayakan, Hatinya ingin mencegah, tetapi ketika dia melirik Tao Ling sekaligus melihat kepastian di wajah gadis itu, percuma melarangnya.

"Tao kouwnio, kalau kau hendak meloncat ke bundaran cahaya itu, biarlah aku menemanimu!"

Ucap Lie Cun Ju. Hati Tao Ling tergerak, dia segera menolehkan wajahnya. Sepasang mata gadis itu menyiratkan sinar yang aneh. Tao Ling menatap Lie Cu Ju sambil mengerling beberapa kali.

"Tadi kau sendiri menyatakan bahwa ilmu gin kangmu belum sanggup meloncat ke bawah, mengapa sekarang tiba-tiba kau bersedia menemani aku?"

Tanya Tao Ling heran.

Lie Cun Ju masih muda belia dan tidak ada pengalaman menghadapi anak gadis.

Sesaat dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Sekali lagi Tao Ling melirik kepadanya sambil tersenyum manis.

"Tentu kau khawatir aku turun sendiri kesana maka kau bertekad menemaniku bukan?"

Tanya Tao Ling kembali. Dengan susah payah Lie Cun Ju menganggukkan kepalanya. Tao Ling menarik nafas panjang.

"Lie ...toako, ada sesuatu yang sejak tadi ingin kubicarakan denganmu."

"Silakan kouwnio katakan saja!"

Sahut Lie Cun Ju cepat.

"Keluarga kita bertemu secara tidak terduga-duga di tengah perjalanan. Dengan demikian kita jadi saling mengenal. Siapa yang menyangka dalam waktu beberapa hari bisa terjadi peruhahan seperti ini. Lie toako, apakah kau membenci kokoku?"

"Iya!"

Sahut Lie Cun Ju tegas. Wajah Tao Ling menyiratkan penderitaan yang dalam.

"Lalu, apakah hatimu juga membenci aku?"

"Tao kouwnio, mengapa aku harus membencimu?"

"Lie toako, bolehkah kau juga jangan membenci koko?"

Tao Ling adalah seorang gadis yang dari luar terlihat lembut, namun hatinya keras sekali.

Dia megucapkan kata-kata tadi setelah direnungkannya baik-baik.

Di benak Lie Cun Ju terlihat bayangan kokonya ketika mati terhunuh di hawah pedang hek pek kiam Tao Ileng Kan.

Dia menggeretakkan giginya erat-erat.

"Tidak bisa!"

Teriaknya lantang.

"Lie toako, kalau kau begitu membenci koko, mengapa kau tidak memperdulikan bahaya dan bersedia menemani aku turun kesana?"

Tanya Tao Ling.

"Tao kouwnio, kita tidak perlu memikirkan orang lain. Kita pikirkan saja diri kita sendiri, bukankah begitu lebih baik?"

Tao Ling tertawa getir, mungkin memang beginilah cara yang terbaik.

Dia menyelipkan pedang perak yang dipinjamkan Lie Cun Ju di pinggangnya.

Kemudian dia melorot turun kurang lebih satu setengah depa, dengan jurus Elang Mendarat Di Atas Pasir dia menggelantung pada sebatang ranting pohon kemudian mengayunkan tubuhnya ke depan.

Begitu melihat Tao Ling sudah melayang turun dengan bantuan ranting pohon, Lie Cun Ju segera menyedot hawa murni dari dalam perutnya kemudian mengikuti gerak gadis itu.

Mereka meluncur ke bawah.

Telinga mereka mendengar suara deruan angin.

Tubuh mereka meluncur semakin cepat.

Bundaran cahaya itu semakin lama semakin dekat jaraknya.

Tiba-tiba serangkum kekuatan yang besar muncul dari permukaan cahaya dan menahan gerakan tubuh mereka.

Kedua tubuh remaja itu ditahan oleh segulung kekuatan yang terpancar dari bundaran cahaya.

Mereka terkejut setengah mati.

Belum sempat mereka memikirkan cara untuk mengatasi kejadian itu, tiba-tiba tubuh mereka pontang-panting dan dipentalkan oleh serangkum angin kencang dan terhempas ke tanah.

Ketika pandangan mata mereka normal kembali, tiba-tiba mereka merasa berada di dalam kegelapan.

Bundaran cahaya yang besar itu hilang begitu saja.

Anehnya tubuh mereka tidak terluka sedikitpun meski terhempas dari tempat yang cukup tinggi.

Tao Ling dan Lie Cun Ju langsung melonjak bangun.

Si gadis memandang si pemuda, si pemuda pun demikian pula.

Akan tetapi, sepatah kata pun tidak terucapkan.

Tao Ling memperhatikan keadaan sekitarnya.

Dia tersentak ketika menyadari dirinya dengan Lie Cun Ju berada di sebuah tanah kosong yang dikelilingi berbagai batu dengan bentuk-bentuk aneh.

Batu-batu aneh itu tingginya mencapai satu depa lebih.

Ujungnya runcing-runcing.

Untung saja ketika mereka jatuh, tidak menyentuh ujung batu-batu aneh itu.

"Lie toako, apakah kau merasa takut?"

Tanya Tao Ling sambil tertegun.

"Dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang harus ditakutkan? Aku hanya merasa keadaan ini semakin lama semakin aneh!"

Jawab Lie Cun Ju sambil menggelengkan kepala.

"Justru karena keadaannya semakin aneh, kita harus menerobos ke dalam untuk melihat kebenarannya. Tadi kau tidak mempunyai gagasan. Akan tetapi ketika kita ditahan oleh bundaran cahaya tadi, aku masih sempat menenangkan pikiran. Dan ketika berusaha bangkit, aku merasa bahwa bundaran cahaya itu seperti selembar jala yang entah terbuat dari bahan apa."

Pat Kua Kim Gin Kiam adalah sepasang suami stri yang senang menjelajah ke manamana.

Karena itu banyak orang yang mengenal mereka.

Sedangkan sejak kecil Li Po maupun Lie Cun Ju sudah sering diajak berkeliling dunia.

Banyak keanehan yang sudah pernah disaksikan oleh pemuda itu.

Karenanya, dia tidak begitu yakin ketika Tao Ling mengatakan bundaran cahaya itu merupakan selembar jala yang besar.

"Tao kouwnio, mungkin kau salah lihat!"

Ucap Li Cun Ju.

"Mana mungkin aku salah lihat? Kalau kau tidak percaya, ayo kita cari!"

"Tao kouwnio, kekuatan yang tadi menahan kita pasti dipancarkan oleh seorang tokoh berilmu tinggi. Kalau orang itu merasa tidak senang kita mendekatinya, untuk apa kita mencari-cari?"

"Aku justru merasa kesal. Seandainya orang itu mengeluarkan suara dan melarang kita masuk ke dalam, aku juga tidak akan memaksakan kehendak. Tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Malah sengaja mempermainkan kita. Pokoknya aku ingin menyelidiki tempat ini!"

Lie Cun Ju tidak berhasil membujuk Tao Ling.

Akhirnya mereka menentukan arah yang akan ditempuh.

Menurut ingatan mereka, tempat mereka dihempaskan tidak seberapa jauh dengan cahaya yang terlihat tadi.

Seharusnya sekarang mereka sudah berada di tempat itu.

Akan tetapi keadaan gelap gulita.

Sambil berpikir mereka mengitari tempat itu.

Di sekitar mereka hanya tampak bebatuan yang aneh.

Persis seperti monster-monster dalani legenda purbakala.

Di bawah cahaya rembulan, bebatuan aneh itu tampak seperti dalam keadaan hidup.

Ujungnya yang runcing laksana cakar besar yang siap menerkam musuhnya setiap waktu.

Hampir setengah kentungan lamanya mereka mengitari tempat itu.

Akan tetapi tetap saja tidak berhasil meninggalkan tanah yang dikelilingi dengan bebatuan aneh.

Tiba-tiba Lie Cun Ju seperti teringat sesuatu, dia menarik tangan Tao Ling.

"Tao kouwnio, kita jangan mengitari lagi, makin berkali-kali mengitari makin gawat!"

"Ada apa sebenarnya?"

Tao Ling terkejut setengah mati.

"Tidak perlu dikatakan lagi! Bebatuan ini rupanya merupakan sebuah barisan yang aneh dan rumit. Tadi kita tidak berhasil masuk ke tempat ini. Sekarang kita malah tidak bisa keluar lagi. Tampaknya semua ini karena barisan aneh yang kukatakan itu."

Hati Tao Ling semakin berdebar-debar.

"Seandainya kita tetap terkurung di sini, apa yang harus kita lakukan?"

Tanya Tao Ling dengan panik.

Lie Cun Ju tidak langsung memberikan jawaban.

Dia pernah mempelajari Pat Kua Kiam Hoat yang mengandung unsur barisan Pat Kua.

Setidaknya dia juga pernah diberi pengertian mengenai barisan-barisan lainnya.

Akan tetapi meskipun telah memperhatikan sekian lama, belum juga mengetahui bebatuan itu diatur dengan barisan apa.

"Tao kouwnio, bila kau bersedia menuruti perkataanku, aku yakin kita bisa keluar dari barisan ini,"

Ujar Lie Cun Ju.

"Coba katakan!"

"Kita menundukkan kepala dan mengakui kesalahan kita. Kemudian memohon pemilik tempat ini memberikan petunjuk untuk keluar dari sini,"

Kata Lie Cun Ju.

Tao Ling terdiam mendengar perkataan Lie Cun Ju.

Adatnya keras.

Menyuruh dia meminta maaf tanpa alasan tertentu.

Lebih sulit daripada menceburkan diri ke lautan api.

Lie Cun Ju melihat gadis itu diam saja.

Dia langsung mengerti pikiran gadis itu.

"Tao kouwnio, masih ada cara lainnya. Kau tidak perlu bersuara, biar aku saja yang berbicara!"

Dalam hati Tao Ling masih merasa keberatan.

Akan tetapi gadis itu sadar mereka terperangkap dalam masalah yang janggal.

Seandainya tidak menuruti perkataan Lie Cun Ju, kemungkinan mereka benar-benar tidak bisa keluar dari tempat itu untuk selamanya.

Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

Lie Cun Ju menyedot hawa murni dari dalam perutnya dan berteriak dengan suara lantang.

"Boanpwe berdua tertimpa musibah karena perahu kami hancur di sungai lalu terhanyut sampai ke tempat ini. Karena perasaan ingin tahu, boanpwe berdua telah mengganggu ketenangan locianpwe. Harap locianpwe tunjukkan jalan keluar, kami akan meninggalkan tempat ini selekasnya!"

Setelah berteriak dua kali, tetap tidak terdengar sahutan sedikit pun. Tao Ling mulai tidak sabar.

"Tao kouwnio, coba lihat, apa itu?"

Seru Lie Cun Ju dengan terkejut.

Tao Ling mengikuti arah telunjuk Lie Cun Ju.

Dia melihat ada tiga puluhan titik sinar.

Titik itu seperti kunang-kunang yang timbul tenggelam di antara bebatuan aneh di seberang sana.

Benda-benda itu lambat sekali gerakannya.

Akan tetapi menimbulkan suara dengungan.

Tadinya Tao Ling dan Lie Cun Ju mengira yang terlihat itu sejenis serangga yang langka dan hanya terdapat di sekitar daerah itu.

Tetapi ketika sinar itu semakin mendekat, mereka dapat melihat dengan jelas.

Tanpa ditahan lagi, perasaan mereka terkejut setengah mati.

Ternyata benda-benda yang melayang-layang itu bukan jenis serangga, tetapi puluhan butir mutiara yang berkilauan dan melayang-layang di permukaan tanah.

Ibu Tao Ling, Sam Jiu Kuan Im Sen Cing adaiah seorang pendekar wanita yang ahli dalam senjata rahasia.

Tao Ling sendiri juga sudah mewarisi ilmu itu meskipun belum semahir ibunya.

Akan tetapi dia terbengong-bengong melihat mutiara berkilauan yang mengapung-apung di udara itu.

Sepatah kata pun tidak sanggup diucapkan oleh bibirnya.

Ahli senjata rahasia mana pun di dunia ini, sangat mementingkan unsur kecepatan, kuat, dan tepat.

Tentu saja bagi orang yang tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi, dia dapat menggerakkan senjata rahasia dengan lambat tanpa mengurangi kekuatan maupun ketepatannya.

Bahkan ada beberapa yang sanggup menyambit dan menarik kembali senjata rahasianya sesuka hati.

Tapi hal ini hanya dapat dilakukan orang tertentu, yakni yang lwekangnya sudah mencapai taraf sempurna.

Berpuluh-puluh butir mutiara itu meluncur dari kejauhan dan mengayun-ayun seperti mengambang di atas permukaan air.

Ketika sampai di depan mata mereka, keadaannya masih tetap sama.

Sungguh tak dapat dibayangkan sampai dimana taraf tenaga dalam yang dimiliki orang yang melontarkannya!

Ketika Tao Ling masih termangu-mangu, puluhan hutir mutiara itu mulai tampak berubah.

Terdengar suara desiran.

Puluhan butir mutiara itu berputaran sehingga membentuk cahaya yang indah.

Kemudian melesat secepat kilat lewat di samping kedua remaja itu, lalu menghilang begitu saja.

"Tao kouwnio, pasti cianpwe itu sedang menunjukkan jalan keluar bagi kita. Cepat kita ikuti untaian mutiara tadi!"

Ujar Lie Cun Ju.

Tadinya Tao Ling masih tidak yakin di tempat itu ada seorang tokoh berilmu tinggi.

Tetapi setelah melihat ilmu yang dilancarkan melalui mutiara itu, akhirnya gadis itu pun percaya juga.

Dia tidak berani menetap di sana lama-lama.

Dengan mengikuti sisa berkas kilauan mutiara tadi, mereka melesat pergi.

Tampak sebuah batu besar yang berbentuk aneh menghadang depan mereka.

Namun mereka masih mengikuti lintasan kilauan cahaya tadi.

Keduanya memutar ke sebelah kanan dan menerobos bebatuan yang bercelah.

Tiba-tiba pandangan mata menjadi terang.

Mereka sudah sampai di tepian sungai.

Lie Cun Ju dan Tao Ling dilanda perasaan tercekam.

Cepat-cepat kedua remaja itu berlari menuju rakit yang telah mereka buat dari batang pohon.

Ketika Tao Ling berlari sejauh beberapa langkah, dia melihat ada sedikit titik kilauan di atas tanah.

Hatinya menjadi penasaran.

Dengan cepat dia berlari kembali lalu memungut benda itu.

Dia tidak sempat memperhatikan dengan seksama.

Namun dia yakin yang dipungutnya itu untaian mutiara yang melayang-layang tadi.

Dimasukkannya benda itu ke dalam saku celana kemudian berlari menyusul Lie Cun Ju yang sudah berada di atas rakit.

Dua remaja itu menggunakan ranting pohon untuk mengayuh rakit.

Tidak ada lain yang terpikir kecuali meninggalkan tempat itu sejauh-jauhnya.

Ketika menjelang pagi, mereka melihat sebuah perahu besar sedang melaju di tengah sungai yang luas.

Lie Cun Ju dan Tao Ling merasa lapar setengah mati.

Belum lagi rasa lelah karena mendayung rakit sepanjang malam.

Tanpa memperdulikan siapa pemilik perahu itu, mereka berteriak keras-keras meminta pertolongan.

Tidak lama kemudian ada orang yang melemparkan seutas tali kepada mereka dan secara bergantian mereka pun naik ke atas perahu.

"Cun ke (Tukang perahu), terima kasih atas pertolongannya. Kalau boleh kami masih ingin merepotkan sedikit yaitu meminta sedikit makanan. Kami merasa berterima kasih sekali!"

Lie Cun Ju mengira tukang perahu itu pasti senang mendengar kata-katanya yang sopan. Tidak disangka-sangka orang itu malah bertanya dengan suara yang dingin.

"Siapa kalian?"

Mendengar pertanyaan itu, Tao Ling dan Lie Cun Ju segera mendongakkan wajah dan menatap dengan seksama.

Tampak orang itu masih menggenggam seuatas tali yang digunakannya untuk menolong mereka.

Orang itu bukan tukang perahu seperti yang diduga Tao Ling maupun Lie Cun Ju, melainkan seorang manusia aneh.

Tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya serba hitam.

Wajahnya mengenakan sebuah topeng berwarna merah darah.

Penampilannya sungguh menyeramkan.

Seandainya mereka tidak mendengar orang itu berbicara, mungkin mereka mengira telah bertemu dengan setan sungai.

"Siapa Anda sendiri?"

Tao Ling balik bertanya.

"Kalian berdua membawa pedang ernas dan perak, tentunya putra putri dari Pat Kua Kim Gin Kiam bukan?"

Ujar orang aneh itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Begitu bertemu muka, orang itu sudah bisa menebak asal usulnya, bahkan menyebut gelar ayahnya, Lie Cun Ju terkejut sekali.

Tetapi reaksinya sungguh cepat, dia menjawab.

"Pat Kua Kim Gin Kiam memang orang tuaku. Akan tetapi yang ini putri dari Pat Sian Kiam Tao Cu Hun, Tao tayhiap. Entah apa gelar Anda?"

Orang itu hanya tertawa terkekeh-kekeh.

Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan suara siulan yang aneh dua kali.

Sejenak kemudian terdengar balasan suara siulan yang sama dari dalam kabin perahu.

Namun suara siulan balasan itu sebanyak tujuh kali.

"Liong wi silakan rnasuk ke dalam kabin!"

Kata orang itu Tao ling melirik ke arah Lie Cun Ju.

Kebetulan pemuda itu pun sedang menoleh kepadanya.

Mereka sama-sama merasa bimbang karena tidak tahu tokoh mana atau siapa yang berada di dalam perahu itu.

Tetapi mereka berada di tengah sungai, sedangkan rakit mereka telah terapung jauh.

Kecuali masuk ke dalam kabin, memang tidak ada cara lainnya yang dapat ditempuh.

Mereka saling melirik lagi sekilas, seakan mengisyaratkan agar meningkatkan kewaspadaan.

Tangan mereka masing-masing meraba pedang di pinggang.

Agar dapat berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

Kemudian kedua remaja itu mengikuti orang tadi masuk ke dalam kabin.

Mereka melihat depan kabin yang terselubung sebuah tirai tebal.

Dengan berdampingan, Tao Ling dan Lie Cun Ju masuk ke dalam kabin.

Tetapi baru saja mereka melangkah masuk, ada serangkum angin yang kuat menerpa ke arah mereka.

Keduanya rnerupakan putra putri dari tokoh yang terkenal.

Mereka langsung sadar bahwa saat itu mereka telah dibokong oleh seseorang.

Keduanya segera menghentikan langkah kaki mereka dan serentak menghunus pedang pusaka.

Cahaya emas dan perak memijar, Lie Cun Ju mengerahkan jurus Matahari menggeser arah dan Tao Ling menggunakan jurus Merited mempertahankan negara, keduanya segera melancarkan serangan ke depan.

Kedua jurus yang dimainkan mereka merupakan jurus yang hebat dari Pat Kua Kiam Hoat dan Pat Sian Kiam Hoat.

Di dalam hati mereka yakin jurus ini dapat menahan serangan orang yang membokong tadi.

Baru saja pedang mereka gerakkan ke depan, dan belum sempat melakukan perubahan apa pun.

Tahu-tahu pedang di tangan mereka tiba-tiba berubah menjadi berat dan tidak dapat digerakkan sama sekali.

Baik Tao Ling maupun Lie Cun Ju tersentak kaget hatinya.

Saat itu mereka baru memperhatikan keadaan di dalam kabin.

Rupanya tadi keduanya tiba-tiba dibokong oleh seseorang.

Sehingga belum sempat memperhatikan keadaan di dalamnya.

Saat itu mereka baru melihat kabin perahu itu luas sekali.

Di bagian tengah-tengah terdapat tiga buah kursi.

Bagian kiri duduk orang yang menolong mereka tadi.

Sedangkan di sebelah kanan seorang perempuan.

Perempuan itu juga mengenakan pakaian serba hitam serta sebuah topeng berwarna merah muda sebagai penutup wajah.

Kursi yang di tengah kosong.

Tampak di sisi kiri kanan ketiga kursi itu berbaris belasan orang seperti elang yang membentangkan sayapnya.

Sebelah dalam orang yang paling tinggi dan terus menurun ke ujung orang yang paling pendek.

Semuanya mengenakan pakaian hitam dan mengenakan topeng yang sama.

Di hadapan Lie Cun Ju dan Tao Ling berdiri seorang laki-laki bertuhuh pendek dan gemuk.

Bagian wajahnya juga ditutupi topeng merah.

Kedua lengannya terjulur ke depan.

Ternyata dia mencapit bagian tengah pedang emas dan perak dengan kedua jari tangannya.

Lie Cun Ju dan Tao Ling sadar, ilmu kepandaian mereka masih cetek.

Tetapi setidaknya mereka yakin ilmu yang diwariskan oleh orang tua mereka bukan ilmu sembarangan.

Saat ini ternyata belum sejurus pun ilmu mereka dikerahkan, tahu-tahu pedang mereka sudah tercapit oleh laki-laki bertubuh gemuk pendek itu.

Hal itu tidak terbayangkan oleh mereka sebelumnya.

Hati Lie.Cun Ju dan Tao Ling menjadi panik.

Dua remaja itu saling melirik seakan mengambil sebuah keputusan.

Lebih baik berusaha menarik kembali pedang, urusan lainnya belakangan.

Tetapi orang bertubuh pendek gemuk itu masih tetap mencapit tubuh pedang mereka.

Meskipun Tao Ling dan Lie Cun Ju sudah mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki, pedang itu tidak bergerak sedikit pun.

Maju tidak bisa, ditarik pun tidak bisa.

Tiba-tiba Lie Cun Ju dan Tao I Jug merasa ada serangkum tenaga yang menerpa ke arah mereka dari bagian tubuh pedang.

Tangan mereka merasa kesemutan dan tidak dapat ditahan lagi kelima jari tangan pun merenggang.

Pedang emas dan perak terjatuh di atas lantai perahu.

Setelah pedang pusaka terlepas dari tangan, hati Tao Ling dan Lie Cun Ju semakin tercekat.

Serentak mereka melangkah mundur ke pintu kabin.

Tapi orang-orang yang berdiri di kiri kanan ketiga kursi langsung bergerak menghadang di pintu.

Mereka sadar, laki-laki bertubuh gemuk pendek itu saja tidak mungkin terhadapi, belum lagi orang lainnva.

Maka pcrcuma saja memberikan perlawanan.

Karena itu mereka membatalkan niat semula dan berdiri tegak menunggu perkembangan berikutnya.

"Mengapa Anda sembarangan merebut pedang pusaka dari tangan kami?"

Tegur Lie Cun Ju.

Orang bertubuh gernuk pendek itu tertawa terkekeh-kekeh.

Suara tawanya aneh sehingga menimbulkan kesan menyeramkan dan membuat bulu kuduk TaoLing maupun Lie Cun Ju jadi merinding.

Orang itu membalikkan tubuh dan berjalan ke tengah kabin.

Dia duduk di kursi tengah yang kosong itu.

Topeng di wajahnya bergerak-gerak ketika dia menoleh ke kiri dan kanan.

"Kedatangan kita kembali kesini, boleh dikatakan tidak diketahui seorang pun. Tetapi sekarang malah dipergoki kedua anak muda ini. Kita harus menggunakan cara membunuh agar ini mulut mereka bungkam. Kalau tidak pasti akan terjadi kerugian yang besar di pihak kita,"

Ujar orang bertubuh pendek gemuk itu.

"Apa yang dikatakan toako memang benar!"

Sahut orang yang duduk di sampingnya, sambil menganggukkan kepala.

Pembicaraan mereka seperti diucapkan sepatah demi sepatah.

Tetapi bagi pendengaran Tao Ling dan Lie Cun Ju, justru menimbulkan kesan menakutkan.

Ada satu hal lagi yang membuat pikiran mereka resah, yaitu mereka belum pernah mendengar orang menceritakan tokoh-tokoh seperti orang-orang di hadapan mereka.

Tampang dan penampilan mereka begitu misterius.

Tampak laki-laki bertubuh gemuk pendek itu mendongakkan wajahnya.

Matanya menyorotkan sinar yang tajam menatap Lie Cun Ju serta Tao Ling lekat-lekat.

Pandangan matanya membuat bulu kuduk Tao Ling meremang kembali.

Diam-diam Tao Ling mengulurkan tangannya dan meraih semua senjata rahasianya yang ada untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

"Sebetulnya, kami tidak ingin turun tangan mencelakai siapa pun. Akan tetapi gerak gerik kami ini tidak ingin diketahui oleh orang lain. Sedangkan tanpa disengaja kalian sudah naik ke atas perahu kami. Biar bagaimana pun jejak kami sudah bocor. Terpaksa kami memilih jalan membunuh agar mulut kalian bungkam. Seandainya kalian masih mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada sanak saudara, silakan katakan saja. Kami pasti akan menyampaikannya!"

Ujar lelaki bertubuh pendek gemuk itu.

"Kami ..."

Ujar Lie Cun Ju terputus. Orang bertubuh gemuk pendek itu menjulurkan tangannya menahan perkataan Lie Cun Ju.

"Tidak perlu mengatakan apa-apa. Seandainya kau ingin mengatakan bahwa kalian berjanji tidak akan mengatakan kepada siapa pun apa yang kalian lihat, kami tetap tidak percaya. Seandainya masih ada pesan yang hendak kalian sampaikan, cepat utarakan!"

Lie Cun Ju merasa ada serangkum hawa dingin menyelimuti perasaannya.

"Entah kalian ini sahabat dari mana?"

Tanyanya berusaha mengulur waktu.

"Seandainya kami mengatakan, kalian pun pasti tidak mengetahuinya. Seandainya kalian ingin kematian kalian diketahui oleh orang tua kalian, aku bisa menyampaikannya,"

Kata laki-laki aneh bertubuh gemuk pendek itu.

Lie Cun Ju melirik Tao Ling sekilas.

Dia melihat wajah gadis itu berubah hebat, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.

Diam-diam dia juga berpikir dalam hati, betapa tragis apabila mati tanpa sebab musabab yang pasti.

Tapi bila mendengar ucapan orang yang sombong itu, tampaknya mereka juga tidak memandang sebelah mata terhadap orang tua mereka.

Daripada mati penasaran, mengapa tidak mengadakan perlawanan?"

Watak Lie Cun Ju sehari-harinya sangat lembut.

Bahkan terkadang lebih lembut dari anak gadis.

Tetapi dalam keadaan terdesak, dia bisa mengambil keputusan secara dewasa.

Saat itu dia berdiri berdampingan dengan Tao Ling.

Tiba-tiba dia mendorong tubuh gadis itu dan berteriak dengan suara keras.

"Tao kouwnio, cepat lari!"

Tangannya mendorong Tao Ling, setelah itu dia mencabut pedang emasnya.

Kemudian menggunakan jurus Tanah merekah melancarkan sebuah serangan kepada si laki-laki bertubuh gemuk pendek.

Sedangkan tangan Tao Ling sejak tadi sudah menggenggam senjata rahasia.

Dia memang sudah bersiap diri melontarkannya.

Dia melihat Lie Cun Ju sudah bertekad mengadu nyawa.

Dalam keadaan genting Lie Cun Ju masih memikirkan keselamatan dirinya.

Gadis itu malah tidak sanggup lari.

Setelah tubuhnya terdorong oleh tangan Lie Cun Ju setengah langkah, jari tangannya langsung mengibas.

Seluruh senjata rahasia yang ada padanya dilontarkan ke depan.

Sasarannya ketiga orang yang duduk di atas kursi.

Kedua orang itu hampir serentak melancarkan serangan.

Lie Cun Ju menghantamkan sebuah pukulan.

Meskipun tenaganya tidak seberapa kuat, tapi kecepatannya boleh juga.

Serangannya terlebih dahulu sampai daripada senjata rahasia yang dilontarkan Tao Ling.

Orang bertubuh gemuk pendek itu masih duduk dengan tenang.

Ketika serangan Lie Cun Ju sudah hampir mengenainya, dia baru menggeser tubuhnya sedikit.

Kemudian menghantamkan sebuah pukulan pula ke depan.

Lie Cun Ju merasa ada serangkum angin kencang yang menerpa dadanya.

Tubuhnya limbung kemudian terpental ke belakang.

Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan pandangan matanya berkunangkunang.

Dadanya terasa sakit.

Dia membuka mulutnya lehar-lebar dan tanpa dapat ditahan lagi segumpal darah segar mengucur keluar dari tenggorokannya.

Tepat di saat tubuh Lie Cun Ju terpental, perempuan yang duduk di sisi kanan orang bertubuh gemuk pendek berdiri dari kursinya.

Dia maju selangkah dan menjulurkan lengan bajunya.

Seluruh senjata rahasia yang dilontarkan Tao Ling langsung menyusup ke dalam lengan baju yang longgar tanpa tersisa satu pun.

Tao Ling tertegun sesaat, lalu menatap Lie Cun Ju terkulai di atas lantai perahu.

wajah gadis itu pucat pasi.

Dengan tergesa-gesa dia menghambur mendekatinya.

Dia berjongkok di depan pemuda itu.

"Lie toako, bagaimana keadaanmu?"

Tanya Tao Ling gugup.

"Tao kouwnio, mungkin kita harus mati di atas perahu ini!"

Jawab Lie Cun Ju sambil menarik napas panjang.

Sembari berkata Lie Cun Ju mengulurkan tangannya dan menggenggam telapak tangan Tao Ling erat-erat.

Tangan itu bergetar, sedangkan matanya menyorotkan sinar yang lembut kepada gadis itu.

Sinar mata demikian bukan sinar mata yang seharusnya tidak disorotkan orang yang menjelang kematian.

Tao Ling merasa jantungnya berdegup-degup.

Keadaan mereka memang terlalu membahayakan.

Tetapi kalau toh harus mati, Tao Ling merasa tidak perlu takut lagi.

Seakan di dalani kabin perahu itu hanya terdapat mereka berdua.

Gadis itu malah tersenyum manis.

"Lie toako, di antara kedua keluarga kita terselip permusuhan yang demikian dalam. Tidak di-sangka kita malah bisa menemui kematian bersama,"

Katanya. Lie Cun Ju juga memaksakan seulas senyuman. Darah masih menetes di ujung bibirnya.

"Tao kouwnio ... meski ... pun ada ... per ... musuhan ... di an ... tara keluarga ki ... ta, tapi hubungan ... ki ... ta baik ... sekali, bukan?"

Tentu saja Tao Ling mengerti maksud yang terkandung di balik ucapan pemuda itu. Wajahnya merah padam.

"Benar!"

Tao Ling menganggukkan kepala.

"Tao kouwnio ... suruhlah ... mereka ... turun ...tangan ...sekarang juga."

Tao Ling menggunakan ujung lengan bajunya mengusap darah yang merembes dari sudut bibir pemuda itu.

"Baik,"

Sahutnya lembut.

Dia mendongakkan wajahnya.

Dia ingin memuaskan hatinya memaki-maki ketiga orang itu sebelum kematian menjemput.

Tiba-tiba dia melihat mimik wajah ketiga orang kapal menyiratkan kejanggalan.

Kata-kata yang sudah tersedia di ujung lidah akhirnva ditelan kembali.

Tampak ketiga orang itu sudah berdiri dari kursi masing-masing dan saling berkerumun.

Di atas telapak tangan perempuan tadi ada benda yang berkilauan.

Ternyata mutiara yang dipungut Tao Ling di tepi sungai tadi malum.

Mimik wajah ketiga orang itu seakan tertegun memandangi mutiara.

Tao Ling memperhatikan sejenak kemudian membentak dengan suara keras.

"Sam moay, urusan sudah menjadi sedemikian rupa. Kita harus segera mengambil keputusan!"

Suara lelaki gemuk pendek dengan nada keras.

"Toako, aku rasa kita harus mempertimbangkannya kembali,"

Sahut lelaki tinggi kurus yang tadi menolong Tao Ling dan Lie Cun Ju dengan nada bimbang.

"Kalau kita masih ragu-ragu, kemungkinan kita bertiga akan menemui kematian yang mengerikan."

Mendengar ucapan laki-laki bertubuh gemuk pendek itu, seakan urusan yang sedang mereka hadapi gawat sekali. Tetapi Tao Ling justru tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka jadi sedemikian panik.

"Apa yang dikatakan toako memang benar!"

Sahut perempuan bertopeng merah muda.

Baru saja kata 'benar!' selesai diucapkan oleh perempuan itu.

Tiba-tiba terdengar suara trak!

trak!

sebanyak dua kali.

Dia sudah menghunus dua batang golok pendek dari selipan ikat pinggangnya.

Tubuh perempuan itu berkelebat seperti gulungan asap hitam.

Tahu-tahu dia sudah melesat ke depan pintu kabin.

Tao Ling melihat perempuan itu mencabut sepasang goloknya, hatinya menjadi tercekat.

Tapi keadaan perempuan itu tidak seperti akan menghadapi dirinya.

Hatinya dilanda kehingungan.

Tampak belasan orang yang tadinya berdiri di kanan kiri ketiga buah kursi itu tiba-tiba mengeluarkan suara raungan.

Suara itu seperti hendak mengadakan pertarungan.

Tetapi tubuh perempuan tadi berkelebat seperti terbang.

Dalam sekejap mata terdengar suara jeritan mengerikan.

Tiga orang pun rubuh di atas lantai perahu dengan dada terkoyak.

Setelah berkelojotan beberapa kali, orang-orang itu pun menghembuskan nafas terakhir.

Tao Ling tidak mengerti mengapa mereka malah menyerang orang-orangnya sendiri.

Tao Ling hanya melihat sisa belasan orang itu kembali mengeluarkan suara raungan keras.

Laki-laki ber-tubuh gemuk pendek tadi tampak menggenggam sepasang pedang.

Sekali dikelebatkan kembali pedang itu dua orang sekaligus rubuh bermandikan darah.

Meskipun orang-orang itu juga memberikan perlawanan dengan sengit, tapi apa daya karena kepandaian mereka terpaut jauh.

Laki-laki bertubuh gemuk pendek itu kembali menggerakkan pedangnya.

Dua orang pun tertebas dan mati seketika.

Tampak sepasang telapak tangan laki-laki bertubuh tinggi kurus seperti beterbangan ke mana-mana.

Seluruh ruangan kabin dipenuhi bayangan pukulan dan angin yang menderu-deru.

Setiap kali terdengar suara Plak!

Pasti ada satu orang yang menjadi korban.

Dalam sekejap mata saja belasan orang tadi sudah terkapar di lantai perahu menjadi mayat.

Ketiga orang itu menghentikan gerakan tangannya.

Laki-laki bertubuh tinggi kurus dan perempuan tadi menghambur ke bagian geladak perahu.

Tidak lama kemudian, mereka sudah kembali lagi.

"Toako, perahu sedang mendekati tepian sungai. Di tempat itu banyak tukang perahu, tetapi semuanya sudah dibunuh oleh kami."

"Untung saja kita turun tangan dengan cepat. Tidak ada seorang pun yang sempat lolos. Urusan ini hanya diketahui oleh langit dan bumi, tidak ada orang lain lagi yang tahu kecuali kita bertiga!"

Kata lelaki pendek gemuk dengan napas lega.

"Toako, bagaimana dengan kedua orang ini?"

Ujar perempuan itu seraya menunjuk ke arah Tao Ling dan Lie Cun Ju.

Mendengar pertanyaan perempuan itu, Tao Ling segera menyadari bahwa yang akan melanda dirinya dan Lie Cun Ju.

Tetapi dia seperti diselimuti awan tebal.

Tidak rnengerti sama sekali terhadap rentetan kejadian yang mereka lakukan.

Isi perut Lie Cun Ju tergetar karena pukulan si laki-laki bertubuh gemuk pendek tadi sehingga terluka cukup parah.

Meskipun tubuhnya sulit digerakkan tapi dia melihat dengan jelas perbuatan ketiga orang yang membunuh rekan-rekannya.

Dia merasa cara ketiga orang itu sungguh keji.

Seandainya tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin dia masih tidak percaya di dunia ini ada orang sekejam itu.

Tapi mengapa ketiga orang itu tiba-tiba harus membunuh rekan-rekan atau mungkin anak buah mereka?

Lie Cun Ju dan Tao Ling tidak mengerti.

Tetapi diam-diam hati Tao Ling merasa perbuatan mereka ada hubungannya dengan mutiara yang dipungutnya lalu tanpa disengaja terlontar bersama senjata rahasia yang ada di saku pakaiannya.

"Tentu mereka tidak boleh dibiarkan hidup!"

Jawab laki-laki bertubuh gemuk pendek dengan nada tegas.

Pedang di tangannya digetarkan.

Timbul bayangan bunga-bunga cahaya berkilauan.

Hawa pedang dingin menusuk, terus diluncurkan ke bagian ubun-uhun kepala Lie Cun Ju.

Sejak perempuan tadi mengajukan pertanyaan kepada toakonya, Tao Ling sudah mengetahui bahwa mereka akan turun tangan.

Seandainya gadis itu hanya seorang diri, dia pasti akan mengadakan perlawanan sekuat tenaga.

Tetapi saat itu Lie Cun Ju sudah terluka parah.

Tao Ling juga tidak berniat meninggalkannya begitu saja.

Akhirnya dia pasrah terhadap nasib.

Dia memejamkan matanya untuk menunggu kematian.

Serangkum angin dingin menerpa bagian atas kepala Tao Ling.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara yang aneh dari lantai perahu tempat kakinya berpijak.

Seperti ada benda keras yang membentur.

Seiring dengan suara benturan tadi, laki-laki bertubuh tinggi kurus dan perempuan tadi segera berteriak.

"Toako, tunggu dulu!"

Pedang di tangan si laki-laki gemuk pendek sudah hampir menyentuh kepaia Tao Ling.

Gadis itu sendiri sudah merasa adanya hawa dingin di kepalanya.

Namun ketika mendengar suara teriakan kedua orang itu, pedangnya langsung ditarik kembali.

"Toako, apakah kau mendengar suara benturan tadi?"

Tanya perempuan itu kembali.

"Mungkinkah ...?"

Gumam orang yang gemuk pendek itu.

"Mengapa kalian berdua tidak keluar untuk melihatnya?"

Kata perempuan itu.

"Sam moay, mengapa bukan kau saja yang keluar melihat?"

Bentak si tinggi kurus dengan nada agak marah. Ketiga orang itu akhirnya malah saling mendorong satu dan yang lainnya. Kemudian untuk sesaat mereka terdiam.

"Tidak usah ribut-ribut, rejeki atau bencana, kita bertiga harus menghadapi bersama. Rasanya juga tidak mungkin begitu cepat datangnya,"

Ujar si gemuk pendek.

"Mudah-mudahan bukan bencana! Ayo kita lihat!"

Sahut perempuan itu.

Ketiga orang itu keluar bersama-sama.

Tao Ling sadar mereka semua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Untuk memhunuh rekan-rekannya sendiri ataupun membunuh dirinya dan Lie Cun Ju, orang-orang itu bisa melakukannya dengan kepala dingin.

Tao Ling takut sekali.

Ketika ketiga orang itu sudah keluar dari kabin perahu, Tao Ling cepat-cepat menyeret tubuh Lie Cun Ju ke arah jendela.

Dia melongokkan kepalanya keluar.

Tampak hari sudah mulai terang, berarti dini hari sudah menjelang.

Permukaan sungai tampak disorot oleh cahaya keemasan.

Kesempatan yang baik bagi Tao Ling, Hanya itu satu-satunya cara untuk melarikan diri.

Dia juga tidak ingin berpikir panjang lagi.

Tubuhnya bergerak dan bersiap untuk meloncat keluar sambil menyeret Lie Cun Ju.

"Tao kouwnio, se ... pa ... sang ... pedang ... i... tu ..."

Suara Lie Cun Ju tersendatsendat.

Tao Ling menolehkan kepalanya.

Dia melepaskan Lie Cun Ju kemudian membalikkan tubuhnya untuk memungut Kim Gin Kiam.

Matanya melirik ke arah mutiara yang berkilauan tadi.

Rupanya masih menggeletak di atas kursi.

Sekalian diraihnya benda itu.

Dalam hati Tao Ling tahu bahwa mutiara itu ikut terlontar bersama senjata rahasianya tadi.

Sedangkan ketiga orang itu tampaknya terkesima memandang benda itu.

Mungkin asal usul mutiara itu tidak sembarangan.

Karena itu dia merasa sayang meninggalkannya.

Pekerjaan itu menyita lagi waktu beberapa detik.

"Pasti di perahu sebelah ada yang melemparkan sauh, kita sendiri yang terlalu curiga,"

Ujar si gemuk pendek berkumandang dari iuar kabin.

Tao Ling sadar, bahwa sebentar lagi mereka akan masuk ke dalam kabin.

Dengan tergesa-gesa dia melesat ke arah jendela.

Tetapi karena hatinya panik, tingkahnya jadi gugup.

Tanpa sadar kakinya menendang topeng di wajah salah satu mayat yang menggeletak.

Dalam keadaan seperti itu Tao Ling masih sernpat menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang ditendangnya.

Setelah melihat, hatinya tercekat.

Hampir saja dia menghentikan langkah kakinya.

Beberapa detik kemudin, tampak tirai penyekat ruangan kabin mulai tersingkap.

Tao Ling sadar apabila mereka dipergoki oleh ketiga orang itu pasti nyawa mereka tidak dapat dipertahankan lagi.

Dia mengerti tidak boleh menunda waktu lagi.

Cepat dia menghambur ke depan jendela dengan menyeret lengan Lie Cun Ju.

Melalui jendela kabin itu, tubuhnya melesat keluar lalu Plung!

Jatuh ke dalam sungai.

Baru saja tubuhnya masuk ke dalam air, telinganya mendengar suara pekikan aneh ketiga orang tadi.

Dia cepat-cepat menekan hawa murni dari dalam perutnya.

Dia berusaha memberatkan tubuhnya agar terus melorot ke dalam dasar sungai.

Dia sendiri tidak tahu sudah berapa jauh dia tenggelam.

Di sekelilingnya hanya air yang menggelembung-gelembung.

Sejak tadi Tao Ling sudah menutup jalan pernafasannya.

Hatinya mengkhawatirkan keadaan Lie Cun Ju yang dalam keadaan terluka parah.

Apakah pemuda itu sanggup menahan nafas sekian lama?

Seandainya Lie Cun Ju tidak kuat menahan nafasnya, berarti selamat dari pembantaian ketiga orang tadi, dia malah mati karena paru-paru dipenuhi air sungai.

Tapi biar bagaimana, Tao Ling tidak berani menyembulkan kepalanya di atas permukaan sungai.

Rupanya ketika dia hampir tersandung jatuh di dalam kabin perahu tadi, kakinya menendang salah satu topeng penutup wajah mayat-mayat.

Dia masih sempat melihat sekilas.

Wajah orang itu kurus, di bagian jidatnya terdapat lima titik hijau seperti gambar bunga Bwe.

Tao Ling pernah bertemu dengan orang itu satu kali.

Lagipula titik-titik hijau itu mudah diingat.

Asal melihat satu kali, selamanya tidak akan terlupakan lagi.

Orang itu berasal dari Shan Tung.

Biasanya bergerak sendirian.

Hatinya keji dan tangannya telengas.

Senjatanya sebuah pecut panjang beruntai sembilan.

Kepandaiannya tinggi dan jurusnya aneh-aneh.

Tentu saja merupakan tokoh dari golongan sesat.

Julukannya di dunia kang ouw Ceng Bwe atau bunga Bwe hijau.

Nama aslinya Ciok Kun.

Setiap kali mengungkit orang yang satu ini, tokoh-tokoh Bu lim di daerah Shan Tung dan sekitarnya kebanyakan menghindar karena takut timbul masalah.

Tokoh seperti Ciok Kun ternyata tidak sanggup memberikan perlawanan apa-apa dan mati begitu saja di tangan ketiga orang bertopeng tadi.

Dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian yang mereka miliki.

Lagipula, belasan orang lainnya yang juga mengenakan topeng.

Walaupun mungkin mereka bukan jago kelas satu di dunia kang ouw, tetapi setidaknya pasti tokoh-tokoh seperti Ciok Kun.

Karena itu pula, meskipun Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lama-lama dalam air, dia tetap tidak berani menyembulkan kepalanya.

Sebab bila menelan air beberapa teguk saja masih ada kemungkinan tertolong.

Akan tetapi apabila mereka menyembulkan kepalanya dan tertangkap oleh tiga orang bertopeng tadi, tidak usah diragukan lagi pasti akan mati seketika.

Tidak lama kemudian, Tao Ling merasa kakinya sudah menyentuh dasar sungai.

Sembari menarik tubuhh Lie Con Ju, Tao Ling berpegangan pada batu-batu di sisi sungai, dengan demikian dia meramhat perlahan-laban.

Tiba-tiba dia mendengar suara glek dari tenggorokan Lie Cun Ju.

Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lagi sehingga terpaksa menelan seteguk air sungai.

Hatinya sangat panik.

Tapi dirinya sedang berada di dalam air, dia tidak bisa berbicara.

Pikirnya ingin menyembulkan kepala ke atas permukaan air.

Dia ingin mengadakan perlawanan sengit dengan ketiga orang tadi.

Tapi dia tidak berani menempuh bahaya sebesar itu.

Ketika pikirannya sedang ruwet dan tidak berhasil menemukan apa pun, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang lembut..

Ternyata tanaman liar yang biasa banyak terdapat di sungai yaitu Eceng Gondok.

Diam-diam hati Tao Ling melonjak girang.

Karena adanya tanaman liar ini pertanda mereka sudah berada di tepian sungai.

Tao Ling masih tidak berani menyembulkan kepalanya.

Dia memutahkan setangkai tanaman itu kemudian mendesakkan hawa murninya untuk meniup.

Bagian tengah tanaman itu langsung menyembur keluar dan jadilah sebatang pipa dari batang tanaman itu.

Cepat-cepat dia memasukkan pipa itu ke dalam mulut Lie Cun ju.

Bagian ujungnya menyembul sedikit di permukaan air, maka pemuda itu bisa mengganti hawa.

Setelah itu dia membuat lagi sebatang pipa dari batang tanaman tadi.

Dimasukkannya pipa itu ke mulut sendiri.

Dengan bibir dikatupkan serta menyedot hawa dari atas, mereka dapat mempertahankan diri untuk beberapa saat lagi berada di dalam air.

Kurang lebih dua kentungan sudah berlalu.

Perlahan-lahan Tao Ling menyembulkan kepalanya di atas pennukaan air.

Ketika matanya sudah dapat melihat, hatinya tercekat bukan kepalang.

Ternyata mereka berada di tengah gerombolan tanaman Eceng Gondok.

Matahari sudah di atas kepala.

Keadaan di sekitar tepian sungai itu sunyi senyap.

Kecuali suara ikan-ikan yang sedang bercandu di atas permukaan air, tidak terdengar suara lainnya.

Ketika Tao Ling melihat ke depan, tampak beberapa perahu sedang bergerak.

Akan tetapi karena geromholan tanaman liar itu sangat lebat, maka mereka dapat bersembunyi di tempat itu tanpa diketahui orang lain.

Tao Ling berpikir dalam hati.

"Waktu sudah berlalu sekian lama. Tentunya kami sudah terlepas dari intaian ketiga iblis itu."

Tao Ling tidak berani menyembulkan diri ke atas permukaan air.

Gadis itu hanya menarik leher Lie Cun Ju agar kepalanya tidak tenggelam.

Dalam waktu sekian lama, Tao Ling tidak mempunyai kesempatan memperhatikan Lie Cun Ju.

Entah pemuda itu masih hidup atau sudah mati.

Setelah dia mengangkat leher pemuda itu agar keluar dari dalam air, dia baru dapat melihatnya dengan jelas.

Hatinya terkejut hukan main.

Rupanya saat itu selembar wajah Lie Cun Ju sudah pucat pasi hahkan keabu-abuan seperti mayat hidup.

Meskipun kepalanya sudah timbul di atas permukaan air, tetapi pipa tanaman liar masih dijepit bibirnya kuat-kuat.

Dapat dipastikan hahwa pemuda itu sudah tidak sadarkan diri sejak tadi.

Tao Ling mengulurkan tangannya untuk merasakan dengus nafas pemuda itu.

Ternyata Lie Cun Ju belum mati.

Perasaan Tao Ling pun agak lega.

Dia menyibakkan rambut yang menutupi jidat pemuda itu.

"Lie toako! Lie toako!"

Panggil Tao Ling dengan suara lirih.

Setelah memanggil sebanyak tujuh delapan kali, baru terdengar suara glek!

glek!

dari tenggorokan Lie Cun Ju.

Perlahan-lahan dia membuka matanya.

Sinar matanya redup, tanpa sinar kehidupan sama sekali.

Hati Tao Ling terasa pilu melihatnya.

"Lie toako, apa yang kau rasakan?"

Tanyanva lembut. Lie Cun Ju mengedarkan pandangannya sejenak kemudian memaksakan diri mengembangkan seulas senyuman yang pahit.

"Tao ... kouwnio ... apakah ... ki ... ta ma ... sih ... hidup?"

"Kita sudah berada di tepian sungai, kita berhasil melarikan diri dari cengkeraman ketiga iblis itu.

"Lie toako, apakah kau tahu siapa ketiga iblis itu?"

Tanya Tao Ling.

"Aku juga tidak tahu."

Lie Cun Ju menggeleng kepala.

"Aku mengenali salah satu dari belasan anak buah yang mereka bantai. Dia mempunyai julukan Ceng Bwe dan nama aslinya Ciok Kun, biasa malang melintang di daerah Shan Tung dan sekitarnya!"

Kata Tao Ling. Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar keterangan Tao Ling.

"Dia? Orang itu bukan saja ahli dalam ilmu pecut beruntai sembilannya, bahkan dengar-dengar dia mempelajari semacam ilmu kebal yang tidak mempan senjata tajam."

"Mungkin pedang yang dipakai si gemuk pendek itu pedang pusaka."

Tao Ling melihat Lie Cun Ju berusaha berbicara dengannya. Hatinya menjadi iba.

"Lie toako, lebih baik jangan banyak bicara dulu!"

Dengan sorot mata penuh terima kasih, Lie Cun Ju memandangnya sekilas. Kemudian berkata dengan perlahan.

"Tao kouwnio, kebaikanmu ini, untuk selamanya tidak akan kulupakan!"

"Untuk apa bicara seperti ini dalam keadaan seperti sekarang?"

Sahut Tao Ling.

Keduanya berdiam diri.

Sampai menjelang sore, Tao Ling baru membimbing tubuh Lie Cun Ju dan diajaknya naik ke atas tepi sungai.

Tampak di kejauhan ada asap mengepul-ngepul, namun jaraknya paling tidak tiga li dari tempat mereka.

Tao Ling melirik Lie Cun Ju.

Tampak pemuda itu berdiri di sampingnya dengan tubuh terhuyung-huyung.

Kemungkinan bisa jatuh setiap saat.

Cepat-cepat Tao Ling memapahnya.

"Tao kouwnio, lu ... ka ini terlalu ... pa ... rah, mungkin tidak ... bisa ... disembuhkan lagi,"

Ujar Lie Cun Ju. Selama dua hari dua malam, Tao Ling dan Lie Cun Ju mengalami berbagai penderitaan bersama. Dalam hati timbul rasa iba kepada pemuda itu. Hatinya bagai diiris sembilu.

"Jangan bicara dengan nada putus asa. Di kejauhan terlihat asap mengepul. Pasti ada sebuah kota kecil di depan sana. Ayo, kita kesana sekarang "Ketiga orang itu membunuh rekan-rekannya sendiri agar mereka membungkam untuk selamanya. Tentu mereka juga tidak akan melepaskan kita begitu saja. Seandainya kita bergegas pergi, begitu masuk kota mungkin langsung menemui kesulitan. Biar bagaimana sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman mereka."

"Apa yang dikatakan Lie Cun Ju memang ada benarnya,"

Pikirnya dalam hati.

"Kalau begitu terpaksa kita menginap satu malam di tepi sungai ini,"

Katanya kemudian.

"Di depan sana ada sebuah hutan kecil, kita bermalam di sana saja,"

Sahut Lie Cun Ju.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan sejauh tiga puluhan depa.

Sesampainya di dalam hutan kecil itu, mereka mencari tempat yang rerumputan yang agak tebal.

Mereka langsung merebahkan diri.

Tao Ling tidak perduli Iagi batas antara laki-laki dan perempuan.

Dia menyandarkan dirinya di samping Lie Cun Ju.

Meskipun keadaan mereka masih dikejar-kejar bahaya, namun dengan berdampingan seperti saat itu, mereka tidak merasa takut Iagi.

Waktu terus berlalu, malam semakin merayap, mana mungkin kedua orang itu bisa tertidur pulas ...?

Angin malam berhembus, pakaian mereka masih belum kering.

Hal itu merupakan siksaan yang berat.

Dengan susah payah mereka menunggu matahari terbit, dengan pakaian mereka masih tetap basah.

Sampai siang harinya, barulah pakaian mereka kering.

Tao Ling membantu Lie Cun Ju mengikat rambutnya kembali.

Dia sendiri juga merapikan rambutnya kemudian baru memapah pemuda itu berjalan keluar dari hutan.

Tidak beberapa lama, Tao Ling dan Lie Cun Ju sudah berada di sebuah jalan raya yang langsung menuju kota kecil.

Kedua orang itu berdiam sejenak di tepi jalan raya.

Mereka melihat banyak kereta yang berlalu lalang.

Kedua remaja itu sudah mendapat pengalaman pahit selama beberapa hari ini.

Maka mereka tidak berani sembarangan menghentikan kereta yang lewat.

Tao Ling dan Lie Cun Ju duduk di warung arak.

Kedai itu hanya menyuguhkan teh dan arak.

Tidak lama kemudian tampak belasan kereta dorong berdatangan dari depan.

Di bagian depan ada seorang laki-laki yang mengeluarkan suara teriakan.

Teriakan itu seakan membangkitkan semangat pada anak buahnya untuk mendorong kereta lebih kuat.

Kereta yang paling depan mengibarkan sebuah bendera.

Tao Ling membaca tulisan pada bendera itu, Ling Wei Piau ki.

Tao Ling belum pernah mendengar nama perusahaan itu.

Rupanya laki-laki berusia lima puluhan tahun dengan jenggot menjuntai di bawah dagunya itu adalah pimpinannya.

"Kau tunggu di sini sebentar!"

Kata Tao Ling kepada Lie Cun Ju. Kakinya melangkah dengan cepat, dalam sekejap mata Tao Ling sudah sampai di samping piau tau itu.

"Sahabat, aku mempunyai sedikit keperluan, entah apakah sahabat bersedia mengabulkannya atau tidak?"

Sapa Tao Ling.

Laki-laki setengah baya yang menunggang seekor kuda tampak terkejut sekali begitu ada seorang gadis yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.

Dia meraba gagang pedang di pinggangnya dan melihat Tao Ling dengan tatapan curiga.

Belasan kereta di belakangnya pun tampak berhenti.

"Siapa nona ini?"

Sapa Piau tau tadi.

"Ayah bergelar Pat Sian Kiam, bermarga Tao."

Tadinya wajah Piau tau itu menyiratkan kecurigaan.

Dia curiga jangan-jangan gadis ini pura-pura menanyakan sesuatu padahal tujuannya ingin merampok.

Tetapi setelah mendengar Tao Ling putri Pat Sian Kiam Tao Cu Hun, wajahnya langsung berseriseri.

"Rupanya Tao kouwnio!"

Ucap lelaki itu setelah turun dari kudanya.

"Anda kenal dengan ayah?"

Sahut Tao Ling dengan rasa gembira.

"Hanya mendengar nama besarnya, belum mempunyai jodoh untuk bertemu langsung,"

Sahut Piau tau itu. Mendengar ucapan Piau tau yang sopan itu, Tao Ling segera mengetahui bahwa orang ini jujur dan berjiwa besar.

"Entah siapa panggilan tuan yang mulia?"

Tanyanya kembali.

"Aku she Liu bernama Hou, orang-orang kang ouw memberi julukan Tan To Pik Tian (Sebatang golok menentang langit)."

Di dalam dunia bu lim, entah berapa banyak jago kelas tanggung seperti Tan To Pik Tian ini.

Ayah ibu Tao Ling termasuk jago kelas satu di dunia kang ouw.

Tentu tidak mengenal orang seperti Piau tau ini.

Karena itu, Tao Ling juga belum pernah mendengar nama itu.

"Entah ada keperluan apa Tao kouwnio menghentikan kami?"

Tanya Liu Hou.

"Aku dan ..."

Berbicara sampai di sini, Tao Ling menjadi ragu.

Dia seorang gadis remaja, tentu tidak enak apabila orang mengetahui dia berjalan dengan seorang pemuda yang tidak ada hubungan saudara.

Karena itu dia menyebut nama 'Lie' dengan lirih sekali sehingga tidak terdengar oleh yang lainnya.

Kemudian melanjutkan.

"Toako dikejar oleh musuh, tubuhnya terluka cukup parah. Kami ingin meminta bantuan Liu piau tau untuk mengantarkan kami ke dalam kota."

Liu Hou menganggukkan kepala.

Dengan kereta mereka menuju kota yang jaraknya tidak jauh dari tempat itu.

Dalam sekejap mata mereka sudah sampai.

Tao Ling menanyakan kepada Liu piau tau, dan ternyata kota ini bernama Sin Tang ceng.

Dari tempat tinggal Kuan Hong Siau hanya seratus li lebih, masih termasuk wilayah Hu Pak.

***** Tidak sampai setengah kentungan, serombongan orang itu sudah sampai di kota Sin Tang ceng.

Kota itu merupakan salah satu kota yang cukup besar di sebelah timur Pa Tung.

Jalanannya lebar dan bersih.

Kotanya ramai, berbagai toko memenuhi sepanjang jalan.

Liu Hou mengajak Tao Ling dan Lie Cun Ju ke depan sebuah gedung yang besar.

"Inilah markas 'Ling Wei piau ki' kami. Cong piau tau (pemimpin perusahaan pengawalan) berjuluk Harimau Bersayap Emas, namanya Tan Liang. Baik Iwe kang maupun gwa kangnya tinggi sekali,"

Kata Liu Hou menjelaskan.

Orang yang mempunyai julukan Harimau Bersayap Emas Tan Liang, Tao Ling pernah mendengarnya.

Dia juga seorang tokoh di sungai telaga yang sudah mempunyai nama.

Dia yakin orang itu pasti bersedia menampung mereka dan luka Lie Cun Ju bisa mendapatkan perawatan yang baik.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan memasuki 'Ling Wei piau ki'.

Si Harimau Bersayap Emas Tan Liang tidak ada di tempat.

Akan tetapi gedung itu besar sekali dan mempunyai banyak kamar.

Liu Hou membawa mereka memasuki sebuah kamar.

Ketika Lie Cun Ju direbahkan di atas tempat tidur, mulutnya langsung mengeluarkan suara rintihan.

Rupanya sejak tadi dia memang sudah menahan rasa sakitnya.

Liu Hou sendiri masih ada urusan lainnya.

Maka terpaksa dia meninggalkan kedua orang itu.

Sedangkan Tao Ling baru merasa kepalanya berdenyut-denyut setelah Lie Cun Ju dapat berbaring dengan tenang.

Matanya bahkan berkunang-kunang.

Selama dua hari itu tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perut Tao Ling.

Hanya karena ingin menjaga Lie Cun Ju, dia terpaksa mempertahankan diri.

Sekarang untuk sementara dia tidak perlu menjaga Lie Cun Ju, dia merasakan seluruh tubuhnya letih dan tulang helulangnya seperti terlepas dari persendian.

Dia duduk di atas sebuah kursi tanpa bergerak sedikit pun.

Setelah beristirahat sejenak, Tao Ling meminta agar pelayan di Piau kiok itu mengantarkan sedikit makanan untuk mereka.

Seielah hidangan diantar ke kamar, tampak gadis itu makan seperti orang rakus.

Ketika dia menoleh kepada Lie Cun Ju, pemuda itu juga baru disuapi oleh salah seorang pelayan pedung itu.

Keadaannya tampak sudah lebih segar, walaupun masih lemah sekali.

"Lie toako, apakah kau merasa lukamu dapat disembuhkan?"

Tanya Tao Ling hati-hati.

Lie Cun Ju mencoba mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya.

Dia merasa hawa murninya tidak dapat dihimpun malah mengalir secara tidak beraturan.

Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Kalau mengandalkan tenaga dalamku sendiri, mungkin dalam tiga bulan juga tidak bisa sembuh."

"Tidak perlu khawatir. Menurut Liu Hou, pemilik gedung ini, si Harimau Bersayap Emas Tan Liang adalah seorang yang berbudi luhur. Biar kita tinggal di gedungnya setengah tahun, dia juga tidak akan menolak."

Lie Cun Ju merasa ada serangkum kehangatan yang melanda hatinya.

Dia memandang Tao Ling.

Kebetulan gadis itu juga sedang memandang ke arahnya.

Tao Ling langsung menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu.

Tepat pada saat itu, terdengar suara pintu kamar digubrak dengan keras oleh seseorang.

Tao Ling terkejut setengah mati.

la segera melonjak bangun dan menghalang di depan Lie Cun Ju.

Ketika Tao Ling mempertajam pandangan matanya, ternyata yang baru masuk dengan kasar itu Liu Hou.

Tangan laki-laki itu menggenggam sebilah golok lebar.

Wajahnya menyiratkan kegusaran.

Di belakangnya mengikuti seorang laki-laki bertubuh pendek kurus.

Tampangnya biasa-biasa saja.

Tapi sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam.

Usianya kurang lebih lima puluhan tahun.

Tao Ling jadi terkesima.

"Liu piau tau, kenapa kau ...?"

Tanya Tao Ling terkesima.

"Huh! Terus terang saja, Tao kouwnio. Tadi aku tidak tahu persoalan yang sebenarnya. Boleh dibilang di dalam perusahaan pengawalan ini, aku terhitung setengah pemiliknya juga. Biar bagaimana aku tidak sudi menerima orang seperti kalian tinggal di sini!"

Ucap Liu Hou memaki-maki Tao Ling.

"Memangnya orang seperti apa kami ini, coba kau katakan saja terus terang!"

"Urusan ini sudah diketahui seluruh orang bu lim. Dia bertanding ilmu di gedung Kuan loya namun tidak menggubris peraturan dunia kang ouw, Tao Heng Kan membunuh Li Po, putra Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan suami istri dengan keji. Setelah itu dia melarikan diri sehingga jejaknya tidak diketemukan. Tidak tahunya malah bersembunyi di sini. Pokoknya sekarang juga kami akan menggeretnya ke rumah Kuan loya agar dapat diadili,"

Ujar Liu Hou sambil menudingkan goloknya kepada Lie Cun Ju.

Saat itu Tao Ling baru sadar bahvva Liu Hou dan Tan Liang berdua salah menduga Lie Cun Ju dikira abangnya Tao Heng Kan.

Hatinya merasa mendongkol juga geli.

Pasti Liu Hou baru kembali dari perjalanan jauh sehingga tidak mengetahui persoalan ini.

Sedangkan Tan Liang tidak kemana-mana.

Jarak antara kota ini dengan tempat tinggal Kuan Hong Siau tidak seberapa jauh.

Dia pasti sudah mendengar berita pembunuhan atas diri Li Po oleh Tao Heng Kan.

Karena itu.

begitu bertemu dengan Liu Hou dan mendengar mereka ada di rumahnya, dia langsung menganggap Lie Cun Ju sebagai abangnya yang sedang buron.

"Kalian berdua salah duga. Tahukah kalian siapa dia?"

Tanyanya sambil menunjuk kepada Lie Cun Ju. Si Harimau bersayap emas Tan Liang maju satu langkah.

"Memangnya dia bukan abangmu Tao Heng Kan?"

Tanya Tan Liang.

"Bukan. Dia putra kedua pasangan suami istri Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan dan Lim Cing Ing, namanya Lie Cun Ju."

Tentu saja Tan Liang tidak akan percaya begitu saja.

"Apa buktinya?"

Tanya si Harimau Bersayap Emas Tan Liang.

Lie Cun Ju yang berharing di atas tempat tidur melirik sekilas kepada Tao Ling dan memberi isyarat kepadanya.

Gadis itu langsung mengerti.

Dia mengulurkan tangannya dan terdengarlah Cring!

Cring!

sebanyak dua kali.

Dia mengeluarkan pedang emas dan perak dari selipan ikat pinggangnya.

"Lie toako terluka parah, pedang Kim Gin Kiam ini untuk sementara aku yang menjaganya! inilah bukti yang Anda minta!"

Sepasang pedang emas dan perak ini sangat terkenal di dunia bu lim, Juga sulit dihuat tiruan-nya.

Tapi hati Liu Hou dan Tan Liang tidak habis mengerti, mengapa dua keluarga yang saling bermusuhan sedalam itu, putra putri masing-masing malah bisa menjalin persahabatan dan tampaknya sudah akrab sekali?

Karena Tan Liang adalah penduduk setempat, Tao Ling yakin dia sudah mendengar peristiwa tentang hancurnya perahu mereka dan terhanyutnya dirinya serta Lie Cun Ju.

"Setelah perahu tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian, kami terhanyut sampai jauh. Entah bagaimana keadaan Kuan tayhiap, orang tuaku, pasangan suami istri Lie Yuan dan ko ... ko ... ku sekarang?"

"Jejak Tao Heng Kan tidak jelas. Keadaan orang tuamu dan Kuan tayhiap baik-baik saja, hanya pasangan suami istri Lie tayhiap ditotok jalan darahnya dengan cara yang aneh. Sampai sekarang masih belum sanggup dibebaskan. Keluarga Sang yakni Sang Cu Ce malah melarikan diri dengan ketakutan ketika diminta bantuannya,"

Sahut Tan Liang.

"Apakah sudah diketahui siapa orangnya yang menotok jalan darah pasangan suami istri Lie tayhiap?"

Tanya Tao Ling. Wajah si harimau bersayap emas Tan Liang jadi kelam.

"Sampai saat ini masih belum diketahui!"

Lie Cun Ju masih sadar. Dia mendengar jalan darah kedua orang tuanya masih belum terbebaskan sampai saat ini, hatinya menjadi gundah.

"Tao kouwnio, biar bagaimana lukaku ini harus dirawat. Lebih baik kita pergi saja ke gedung Kuan loya."

Tao Ling mengerti maksud hatinya yang ingin cepat-cepat bertemu dengan ayah bundanya Memangnya dia sendiri tidak rindu kepada kedua orang tuanya?

Walaupun jarak antara tempat ini dengan kediaman Kuan loya hanya seratus li lebih, tetapi apabila di dalam perjalanan kepergok ketiga iblis yang kemarin, jiwa mereka pasti tidak dapat dipertahankan lagi.

Karena itu dia menasehati Lie Cun Ju.

"Lie toako, bahkan Kuan tayhiap saja tidak sanggup membebaskan jalan darah orang tuamu, apa gunanya kau kesana? Aku rasa Kuan tayhiap dan kedua orang tuaku pasti akan mencari akal untuk membebaskan jalan darah mereka."

"Betul,"

Tukas Tan Liang.

"Kuan tayhiap sendiri sudah bersiap-siap mengantarkan kedua orang tuamu ke Si Cuan untuk meminta pertolongan si Kakek berambut putih. Sang Hao telah merundingkan masalah ini."

Lie Cun Ju baru agak lega mendengar keterangan orang itu. Sedangkan dia juga maklum larangan Tao Ling adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Oleh karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

"Tao kouwnio, apakah aku perlu menyuruh orang menyampaikan beritamu kepada kedua orang tuamu? Jarak dari sini ke tempat tinggal Kuan tayhiap hanya memakan waktu tiga ken-tungan apabila menunggang kuda pilihan,"

Tanya Tan Liang kembali. Tao Ling sadar, apabila orang tuanya sanipai datang kemari, pasti dia tidak bisa bersama-sama Lie Cun Ju lagi. Karena itu dia menyahut cepat.

"Tidak usah!"

Tan Liang dan Liu Hou masih duduk di dalam kamar dan menanyakan masalah Tao Heng Kan yang membunuh Li Po tanpa sebab musabab.

Karena urusan ini sudah tersebar kemana-mana dan menjadi tanda tanya bagi setiap orang.

Tentu saja Tan Liang dan Liu Hou juga ingin mengetahui hal yang sebenarnya.

Tao Ling hanya dapat menceritakan kejadian yang berlangsung saat itu, sedangkan apa sebabnya kokonya sampai membunuh Li Po, dia sendiri tidak habis mengerti.

Jilid 2________ Baru saja selesai bercerita, tiba-tiba dua orang petugas piau kiok masuk ke dalam kamar dengan sikap gugup.

"Tan ... cong piau ... tau, di... luar ...ada orang ... yang ingin ... ber... temu dengan ...Anda!"

"Ada orang ingin bertemu saja, mengapa kau sampai segugup ini?"

Bentaknya kesal.

"Begitu masuk ke dalam halaman, orang itu sudah menghancurkan patung singa di depan dengan sekali hantam!"

Kata yang satunya. Wajah Tan Liang langsung berubah mendengar keterangan anak buahnya. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya.

"Bagaimana rupa orang yang datang itu?"

"Yang ... satu bertubuh tinggi kurus, satunya lagi ... gemuk pendek, sedangkan yang terakhir ... tampaknya seorang perempuan. Wajah mereka tidak terlihat karena mengenakan sebuah topeng berwarna merah darah."

Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 10

Baca Juga: Anak Naga 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert