Ceritasilat Novel Online

Pukulan Naga Sakti 1

Eps 1 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Pukulan Naga SaktiKarya . Khu Lung (Gu Long) Saduran . Tjan

Jilid 1 Sebuah sungai yang beberapa kaki lebarnya terbentang dari arah bukit sampai di sekeliling sebuah bangunan kuno yang besar dan kokoh, bunyi air yang mengalir mendatangkan suasana yang amat nyaman di sekitar tempat itu.

Di depan bangunan tadi tergantung sebuah papan nama, ketika dilihat lebih teliti maka lamat-lamat masih dapat terbaca tulisannya, itulah tulisan yang berbunyi .

"Bu-lim-tit-it-keh" (rumah nomor wahid di seluruh dunia persilatan) Sebutan Bu-lim-tit-it-keh adalah suatu sebutan yang amat agung dan terhormat, tapi sayang bangunan rumah itu sudah lapuk dimakan usia, huruf-huruf yang tertera diatas papan nama itupun sudah luntur dan buram sehingga mendatangkan suasana yang menggenaskan di hati orang. Ketika membaca lagi nama-nama yang menandatangani sebutan mulia diatas papan nama itu, maka terbacalah nama-nama dari para Ciangbunjin partai Siau Lim, partai Bu tong serta jago-jago kenamaan atau tokoh-tokoh tersohor dari dunia persilatan. Dari sini dapat diketahui betapa anggun dan berwibawanya keluarga dari rumah tersebut. Tapi siapakah penghuninya? Mengapa ia bisa memperoleh penghormatan yang begitu mulia dari seluruh umat persilatan? Dan sekarang, mengapa pula bisa berubah demikian menggenaskan? Empat puluh tahun berselang, ketua angkatan ke sembilan dari partai Thian liong-pay Keng thian giok cu (tangan sakti penyungging langit) Thi Keng dengan ilmu silatnya yang maha sakti memimpin para jago dari seluruh dunia untuk menyerbu lembah Kiu im lok aun kok, dimana dengan sebilah pedang kim-soat-liong-jiau kiam ia berhasil membunuh empat puluh delapan orang jago paling tangguh, anak buah gembong iblis waktu itu Kay hui eng (elang terbang menguasai jagad) Ui It-peng. Kemudian dengan suatu pertarungan kilat berhasil membunuh Ui It-peng sendiri tak sampai lima puluh gebrakan, hingga berhasil menolong dunia persilatan dari ancaman kehancuran. Setelah peristiwa itu, atas usulan dari ketua partai Siau lim serta partai Bu tong, bersama-sama tokoh persilatan lainnya ketika itu menghadiahkan gelar "Bu lim tit it keh"

Tersebut untuk Keng thian giok cu Thi keng sebagai pelampiasan rasa terima kasih dan hormatnya para jago terhadap jasa-jasanya selama ini.

Waktu berlalu amat cepat, tanpa terasa dua puluh tahun sudah lewat.

Suatu ketika, mendadak dari dalam dunia persilatan tersiar kabar yang memberitakan bahwa Keng thian giok cu Thi keng serta putra kesayangannya Giok bin Coan cu (Coan cu berwajah kemala) Thi Tiong giok secara beruntun lenyap dari keramaian dunia persilatan, kemudian tak lama lagi tersiar pula berita tentang kematian mereka.

Menyusul kemudian, terjadi pula serentetan peristiwa aneh, hanya dalam semalaman ternyata Thian liong pay telah membubarkan segenap anggota perguruannya dan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Maka nama besar Thian liong pay dalam dunia persilatan pun kian hari kian bertambah merosot.

Pada mulanya orang-orang masih menaruh perasaan sayang, menaruh perasaan kuatir dan kasihan atas musibah yang menimpa perguruan itu.

Tapi lambat laun, orang persilatan mulai melupakan perguruan tersebut dari benak mereka.

Hari itu, ketika senja menjelang tiba dan sang surya mulai condong kearah barat, seorang pemuda tampan berusia delapansembilan belas tahun sedang duduk ditepi sungai yang penuh dengan rindangnya pohon Liu sambil melamun.

Tak hentinya wajah yang tampan itu dihiasi senyuman getir, daun kering selembar demi selembar dilemparkan ke dalam sungai dan dibiarkan terbawa arus pergi ke tempat jauh.

Sudah lama dia melamun disitu, berpuluh-puluh lembar sudah daun kering yang dilemparkan ke dalam sungai.....

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, bangkit berdiri dan berguman seorang diri .

"Thi Eng khi wahai Thi Eng khi! Apakah kau rela hidup kesepian terus sepanjang masa?"

Mendadak suara pekikan panjang yang amat keras berkumandang memecahkan keheningan, paras mukanya segera berubah, dengan mata yang tajam dia awasi sekeliling tempat itu, kemudian dengan langkah cepat memburu dari arah mana berasalnya suara tadi.

Peristiwa itu terjadi di sebuah jalan raya kurang lebih puluhan kaki dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, ketika Thi Eng Khi menyusul ke tempat kejadian maka terlihatlah seorang jago persilatan yang berbaju ringkas telah tergeletak diatas genangan darah dalam keadaan yang amat kritis.

Pemuda itu menjadi tertegun dan berdiri termangu setelah menyaksikan kejadian itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Seharusnya dia adalah majikan angkatan ketiga dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, berdasarkan asal usul serta sejarah keluarganya, bagaimanapun tidak sepantasnya kalau ia menunjukkan sikap seperti itu.

Tapi oleh karena pelbagai alasan, bukan saja ia tak dapat menikmati kejayaan serta kemuliaan yang diperoleh kakeknya, malah sebaliknya ia terikat oleh peraturan leluhurnya dan sama sekali tak mampu untuk mengembangkan sayapnya.

Ketika mendengar suara kaki dari Thi Eng khi tadi, lelaki yang terluka parah itu segera membuka matanya yang sayu dan memaksakan diri untuk berbisik .

"Soo... sobat....ber.... bersediakah kau un...untuk menolong.... see.... seorang yang hampir maa.... mati?"

Thi Eng Khi bukan seorang yang bernyali kecil, hatinya juga tidak dingin dan kaku, sikap gelagapan yang diperlihatkan tadi tak lebih hanya ungkapan rasa kagetnya menghadapi peristiwa semacam itu.

Tapi setelah lelaki itu memohon dengan suara terbata-bata, semangat ksatrianya segera berkobar kembali, tanpa ragu-ragu dia memayang bangun lelaki itu, membiarkan tubuh lelaki tersebut bersandar pada lengan kirinya kemudian ujarnya .

"Sobat! Siauseng..... siauseng bersedia membantumu cuma.... cuma...."

Rupanya lelaki yang terluka parah itu memahami ucapan lawan diapun tak tahu bukannya dia enggan membantu adalah dia tak tahu bagaimana harus membantu maka kembali ucapnya .

"Daa ..... dalam sakuku ter.... terdapat obat berwarna kuu.... kuning .... tolong aaam.... ambilkan dan berikan berapa bii.... biji kepadaku!"

Dengan cepat, Thi Eng khi membuka sakunya dan mengeluarkan dua buah botol obat, benar juga salah satu diantaranya berwarna kuning.

Tanpa pikir panjang lagi, dia segera mengeluarkan semua obat itu dan dijejalkan ke dalam mulutnya.

Waktu itu, luka yang diderita lelaki tersebut sangat parah, tenggorokan serta lidahnya sudah mengering, bagaimana mungkin ia bisa menelan obat-obat itu?

Sayang, ia tak mampu berbicara dan cuma membalikkan matanya yang sayu saja.

Thi Eng khi bukan anak bodoh, ia lantas memahami keadaan tersebut, sambil tertawa getir dia lari pulang ke rumah, mengambil semangkuk air dingin dan dilolohkan ke dalam mulut lelaki itu berikut obatnya.

Setelah menelan obat, lelaki itu mengatur pernafasan sejenak, paras mukanya pelan-pelan berubah kembali, akhirnya dengan payah dia berkata .

"Aku Ban li tui hong (selaksa li pengejar angin) Cu Ngo, terima kasih banyak atas bantuan tuan kongcu!"

Ia menyebut dahulu namanya karena dalam dunia persilatan orang ini pun mempunyai sidikit nama, dia berharap Thi Eng khi jangan sampai memandang rendah dirinya.

Siapa tahu Thi Eng khi sama sekali tidak mengerti soal dunia persilatan, setelah mendengar nama Ban li tui hong pun wajahnya tidak memperlihatkan sikap menaruh hormat hanya serunya dengan nada datar .

"Cu tayhiap, rumahku tak jauh letaknya dari sini, bagaimana kalau kubopong dirimu ke rumah untuk beristirahat dulu."

Agaknya Ban li tui hong Cu Ngo merasa agak kecewa, ia segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Terima kasih, aku tak perlu! Aku tahu lukaku cukup parah dan tipis harapannya untuk hidup lebih jauh, menggunakan waktu yang teramat singkat ini, aku ingin menitipkan suatu persoalan besar kepada kongcu!"

"Katakan Cu tayhiap, asal siauseng sanggup untuk melaksanakannya, pasti tak akan kutampik!"

Dengan perasaan terima kasih Ban li tui hong Cu Ngo menghela napas panjang, katanya kemudian .

"Beberapa tahun belakangan ini, dalam dunia persilatan telah muncul seorang gembong iblis berhati kejam yang memiliki ilmu silat amat dahsyat, gembong iblis itu khusus memusuhi para partai besar dan jago-jago golongan lurus dalam dunia persilatan, hingga kini jago-jago yang sudah terluka ditangannya antara lain adalah Ci kong taysu dari Siau lim lo han tong, Pek soat cinjin susiok dari Hian to totiang ketua Bu tong pay, Kim kiam to liong (pedang emas pembunuh naga) Lu Bong ko dari partai Hoa san, Sam siang siansu (pelajar dari Sam siang) Tiok It hon, Wu san popo (nenek dari Wu san) Ban Hi serta puluhan orang jago lihay."

Setelah berhenti sebentar, kembali dia bertanya .

"Kongcu pernahkah kau dengar nama-nama dari kawanan jago lihay yang baru kusebut tadi?"

Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Siauseng amat asing terhadap jago-jago lihay dari dunia persilatan .....,"

Sahutnya. Sekali lagi Ban li tui hong Cu Ngo menghela napas panjang.

"Aaaai.... kalau begitu mungkin kongu juga tidak tahu siapakah tokoh nomor wahid dari dunia persilatan sekarang Cang ciong sin kiam (pedang sakti seantero jagad) Sangkoan Yong, Sangkoan tayhiap itu?"

Thi Eng khi cuma tertawa lirih sebagai pertanda rasa sesalnya atas ketidak mampuannya. Ban li tui hong Cu Ngo segera berkata lebih jauh .

"Kongcu tidak mengerti soal urusan dunia persilatan, akupun tak akan menjelaskan lebih jauh, pokoknya Cang cong sian kiam Sangkoan tayhiap yang merasakan adanya ancaman berbahaya yang mengancam keutuhan dunia persilatan telah menyebarkan Bu-lim tiap (surat undangan dunia persilatan) untuk mengundang kehadiran para ketua partai besar serta tokoh-tokoh ternama dari dunia persilatan untuk bersama-sama berkumpul di perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san untuk bersama-sama merundingkan siasat guna membasmi iblis tersebut dari muka bumi. Aku mendapat tugas untuk menyebar surat undangan tersebut, sungguh tak disangka ketika lewat disini mendapat disergap orang dan surat undangan dirampas olehnya ....."

Belum habis dia berkata, dengan sinar mata tak berkedip Thi Eng khi telah menukas.

"Oooh...! Rupanya Cu tayhiap akan mengirim surat undangan buat Thian liong pay. Siauseng segera akan mengundang kedatangan dari ketua Thian liong pay, empek Gui untuk menemui dirimu, harap lo siangseng beristirahat dulu disini, bila nanti ada persoalan silahkan dibicarakan sendiri kepada empek Gui."

Thi Eng khi sudah membalikkan badan siap meninggalkan tempat itu, tapi dengan napas tersengkal Ban li tui hong Cu Ngo kembali berseru .

"Tunggu dulu kongcu! Aku belum sempat menanyakan namamu!"

"Siauseng she Thi bernama Eng khi!"

Seusai berkata kembali dia beranjak pergi. Agaknya Ban li tui hong Cu Ngo tidak ingin mengganggu ketenangan ketua Thian liong pay, cepat-cepat serunya kembali .

"Ketua Thian liong pay yang dulu, Keng thian giok cu Thi keng, Thi locianpwe apakah keluarga kongcu?"

"Yaa, dia adalah mendiang kakekku!"

Sahut Thi Eng khi sedih. Dengan agak tercengang Ban li tui hong Cu Ngo berseru kembali .

"Kalau kudengar dari pembicaraan kongcu, mengapa kau seperti bukan anggota perguruan Thian liong pay?"

Thi Eng khi segera menghela napas panjang.

"Aaai... dalam pesan wasiatnya, mendiang kakekku telah menurunkan perintah untuk melarang aku belajar ilmu silat, maka dari itu aku tidak bisa terhitung sebagai anggota perguruan Thian liong pay!"

Ban li tui hong termenung sebentar, kemudian katanya lagi .

"Kalau kongcu memang bukan anggota Thian liong pay, lebih baik tak usah merepotkan ketua Thian liong pay, Gui tayhiap lagi."

Thi Eng khi berpikir sebentar, kemudian sahutnya .

"Baiklah, soal menghantar undangan untuk Thian liong pay, biar siauseng saja yang mewakilimu toh sama saja."

Tiba-tiba dengan wajah rikuh Ban li tui hong Cu Ngo berkata .

"Undangan yang dibagi Sangkoan tayhiap kali ini disebar oleh sekelompok orang, sedang undangan yang seharusnya kusampaikan adalah undangan Im-gi-siu (kakek awan) Sang Thong, San locianpwe dari bukit Mong san. Maaf! Undangan buat Thian liong pay tidak berada ditanganku ......"

Thi Eng khi memang tiada pengalaman sama sekali soal dunia persilatan, merasa ucapan tersebut masuk diakal juga, maka diapun tidak berkata apa-apa lagi.

Siapa tahu, pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang berkata sambil tertawa dingin .

"Cu tayhiap, ucapanmu itu agak kurang jujur, seandainya Thian liong pay mendapat undangan, memangnya tak bisa sekalian dibawakan kepada Cu tayhiap?"

Dengan cepat Thi Eng khi berpaling, tampak seorang kakek gemuk pendek berusia lima puluh tahunan yang berwajah merah seperti kepiting rebus, memakai jubah berwarna abu-abu yang penuh debu, jelas baru saja melakukan perjalanan jauh berdiri disana.

Setelah mengerdipkan matanya yang besar, dia lantas menjerit kaget, teriaknya .

"Empek Li, rupanya kau, Eng-ji memberi hormat kepadamu!"

Buru-buru ia membungkukkan badannya memberi hormat. Ketika Ban li tui hong Cu Ngo menyaksikan kemunculan orang itu, wajahnya makin tersipu-sipu, setelah tertawa getir katanya .

"Li tayhiap, tidak diundangnya partai kalian hanya merupakan suatu kesilafan saja dari Sangkoan tayhiap, harap engkau jangan menaruh salah paham karena persoalan ini."

Sam ciat jiu (si tangan sakti) Li Tin tang atau kakek gemuk pendek itu sesungguhnya sedang berbicara dengan wajah merah, akan tetapi setelah menyaksikan seluruh badan Ban li tui hong Cu Ngo bermandikan darah, ia menjadi tak tega dengan senyuman yang dikulum segera katanya .

"Cu tayhiap, sudah banyak tahun kita tak pernah bersua, bila ada persoalan lebih baik bicarakan nanti saja."

Seraya berkata dia lantas maju ke depan dan secara beruntun menotok jalan darah Ki bun, Jit kan, Ciang tay, Hian ki dan Jin tiong hiat lima buah jalan darah penting di tubuh orang itu.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, kata Ban li tui hong Cu Ngo .

"Luka yang siaute derita teramat parah, lebih baik Li tayhiap tak usah repot-repot lagi!"

"Cu tayhiap!"

Sam ciat jiu Li Tin tang dengan wajah serius.

"Kau menderita luka di depan pintu gerbang Thian liong pay, itu berarti Thian liong pay berkewajiban untuk menolong dirimu, sekalipun dalam dunia persilatan sudah tiada tempat lagi buat Thian liong pay kami, bukan berarti orang-orang Thian liong pay enggan menolong orang. Sekalipun harus mengorbankan keempat biji obat mustika Toh mia kim wan warisan mendiang guru kami, kami pasti akan tetap berusaha untuk menolong jiwa Cu tayhiap ....!"

Sebenarnya Ban li tui hong Cu Ngo beranggapan bahwa tipis harapan baginya untuk hidup lebih jauh, akan tetapi setelah mendengar nama Toh mia kim wan (pil emas perenggut nyawa), semangatnya kontan saja berkobar kembali, tak tahan tanyanya.

"Apakah partai kalian masih memiliki sisa Toh mia kim wan? Apakah kalian bersedia untuk mengorbankan sebutir buat siaute?"

Sekaligus dia mengajukan dua pertanyaan secara beruntun, tapi dalam hatinya tidak berani menaruh harapan yang terlalu besar.

Sam ciat jiu Li Tin tang segera mengangguk sambil tertawa, sahutnya lantang .

"Cu tayhiap, jelek-jelek Thian liong pay masih memiliki jiwa seorang ksatria, tanggung kau tak bakal mati. Sekarang hayolah turut aku untuk berjumpa dulu dengan ciangbun suheng kami."

Dia lantas melepaskan sebuah totokan lagi untuk menotok jalan darah tidur di tubuh Ban li tui hong Cu Ngo, setelah itu sambil membopong badannya, kepada Thi Eng khi katanya .

"Anak Eng, dalam pertemuan hari ini kau juga boleh turut ambil bagian, hayolah ikut aku!"

Dengan jalan berseok-seok dia lantas melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Sudah hampir lima tahun lamanya Thi Eng khi tak pernah berjumpa dengan paman ketiganya ini, maka sewaktu dilihatnya Sam ciat jiu Li Tin tang berjalan agak terseok seok dia menjadi terperanjat sekali.

"Empek Li!"

Segera tegurnya.

"apakah kakimu terluka?"

Sam ciat jiu Li Tin tang tertawa getir.

"Cuaca berubah-ubah, apalagi nasib manusia, luka kecil di kaki itu mah tidak terhitung seberapa!"

Thi Eng khi ingin tahu sebab-sebab terlukanya Sam ciat jiu Li Tin tang, maka dengan keheranan dia bertanya .

"Empek Li, mengapa kau sampai menderita luka?"

"Panjang kalau diceritakan,"

Sahut Sam ciat jiu Li Tin tang sambil mengangkat bahunya.

"Sekarang lebih baik kau pulang dulu, setelah menyembuhkan luka dari Cu tayhiap nanti, kami masih ada banyak persoalan yang musti dibicarakan, nanti saja akan sekalian kuberitahukan kepadamu ....!"

Dalam waktu singkat, mereka sudah masuk lewat pintu samping dan menuju ke ruang utama gedung Bu lim tit it keh tersebut.

Waktu itu, seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang memakai juga baju warna abu-abu sedang memandang keluar ruangan dengan termangu-mangu, seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinantikan olehnya.

Ketika menyaksikan kemunculan Sam ciat jiu Li Tin tang, kulit wajahnya segera mengejang keras, buru-buru disambutnya kedatangan orang itu seraya menegur .

"Samte, apa yang telah terjadi denganmu?"

Sam ciat jiu Li Tin tang langsung berjalan masuk kedalam ruang tengah dan membaringkan tubuh Ban li tui hong Cu Ngo kelantai setelah itu jawabnya.

"Ciangbun suheng kebetulan siaute baru pulang dari Lak hap dan melihat Eng ji sedang menolong Ban li tui hong Cu tayhiap yang sedang terluka maka akupun membopongnya kembali, harap ciangbun suheng bersedia memberi bantuan pengobatan sehingga Eng ji bisa melakukan tugas kebajikannya sebagai manusia."

Ternyata kakek berambut putih yang berusia enam puluh tahunan ini adalah lotoa dari Thian liong ngo siang (lima kebacikan naga sakti) dan juga merupakan ketua Thian liong pay saat ini, Kay thian jiu (tangan sakti pembuka langit) Gui Tin tiong.

Sewaktu mendengar ucapan dari Li Tin tang tadi, mula-mula keningnya berkerut, kemudian sambil menghela napas panjang dia membungkukkan badan dan memeriksa luka yang diderita oleh Ban li tui hong Cu Ngo tersebut.

Tampaknya Kay thian jiu Gui Tin tiong memiliki kemampuan yang lumayan juga dalam soal ilmu pertabiban, baru saja tangan kirinya ditempelkan diatas urat nadi Ban li tui hong, alis matanya yang putih segera berkenyit rapat sehingga membentuk satu garis lurus.

Menyusul kemudian dengan gerakan cepat dia membuka pakaian Ban li tui hong Cu Ngo serta memeriksa dadanya, betul juga diatas kulit bagian dada itu terlihat sebuah bekas telapak tangan berwarna hitam pekat.

Sambil gelengkan kepala dan menghela napas, ia lantas berkata .

"Cu tayhiap telah terhajar oleh pukulan Jit sa tui hun ciang, isi perutnya sudah bergeser dan nadinya ada delapan sampai sembilan bagian yang telah putus, maaf Ih heng (kakak yang bodoh) tak mampu memberikan pertolongan!"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan .

"Lebih baik kita tanyakan saja kepadanya mungkin ada pesanpesan terakhir yang hendak disampaikan."

Sehabis berkata, dia lantas menepuk bebas jalan darah Cu Ngo yang tertotok itu.

Begitu jalan darahnya dibebaskan, Ban li tui hong Cu Ngo lantas tersadar kembali dari tidurnya, ia tidak sempat mendengar ucapan dari Kay thian jiu Gui Tin tiong, tapi sempat mendengar Sam ciat jiu Li Tin tang sedang berkata .

"Toako, apakah pil mustika Toh mia kim wan tak mampu untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap?"

"Pil mustika Toh mia kim wan adalah mustika dari perguruan kita, jangan toh cu tayhiap masih bisa bernapas, sekalipun napasnya sudah berhenti, asal denyutan nadinya masih berdetak lirih, tidak sampai dua jam sesudah menelan pil tersebut, dia tentu akan segar bugar kembali seperti sedia kala."

"Ban li tui hong mendapat luka tepat di depan pintu gerbang perguruan kita persoalan ini mempengaruhi soal gengsi dan serta martabat perguruan kita dimata umum, aku pikir ada baiknya kalau kita mengorbankan sebutir pil Toh mia kim wan untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap ....!"

"Samte!"

Kata Kay thian jiu Gui Tin tiong dengan kening berkerut.

"sekalipun ucapanmu masuk diakal, tapi bagaimana dengan Eng ji? Sisa tiga butir pil Toh mia kim wan tersebut kita siapkan untuk diberikan kepadanya!"

Menyinggung soal Thi Eng khi, Sam ciat jiu Li Tin tang menjadi ragu dan tak mampu berbicara lagi. Thi Eng khi yang kebetulan berada disana, dengan cepat lantas berseru .

"Empek Gui, Eng ji lebih cuma seorang pelajar yang lemah, apalah arti Toh mia kim wan bagiku? Lebih baik kita gunakan untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap."

Kay thian jiu Gui Tin tiong termenung dan berpikir beberapa saat lamany, tiba-tiba terlintas kebulatan tekadnya, sambil menggigit bibir sahutnya .

"Baik! Demi Eng ji, kita tak bisa mendapat makian dari orang persilatan sebagai melihat orang yang hampir mati tak mau menolong."

Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah botol porselen berwarna biru dan mengambil sebutir pil warna merah dari dalamnya, bau harum semerbak segera tersiar dalam ruangan itu.

Kay thian jiu Gui Tin tiong membuka mulut Ban li tui hong Cu Ngo dan menjejalkan pil Toh mia kim wan tersebut kedalam mulutnya.

Pil mestika itu memang lain daripada yang lain, begitu masuk ke dalam mulut segera mencair dan mengalir masuk ke dalam perut.

Kay thian jiu Gui Tin tiong segera mendudukkan Ban li tui hong Cu Ngo, setelah itu sambil menempelkan telapak tangan kanannya diatas pusar orang ujarnya .

"Harap Cu tayhiap segera mengerahkan tenaga dalam begitu semua hawa murni terhimpun kembali, agar daya kerja obat tersebut bisa menyebar ke seluruh bagian badan."

Segulung hawa murni segera disalurkan ke dalam tubuh Ban li tui hong melalui telapak tangannya.

Pada saat Kay thian jiu Gui Tin tiong sedang memberikan pertolongan itulah dari luar pintu kembali muncul tiga orang kakek berbaju abu-abu tua.

Salah seorang diantaranya bermata buta sebelah lalu yang seorang kehilangan tangan kirinya sedang orang yang ketiga mempunyai mulut luka yang memerah diatas wajahnya.

Dari tiga orang yang munculkan diri ternyata tak seorangpun yang berada dalam keadaan utuh.

Thi Eng khi yang menyaksikan kehadiran mereka segera menjerit kaget, serunya.

"Empek Wong, empek Oh, paman Kwan, mengapa kalian?"

Belum sampai orang itu menjawab, Sam ciat jiu Li Tin tang sudah menggoyangkan tangannya sambil berbisik .

"Eng ji, bila ada urusan kita bicarakan nanti saja, sekarang empek Gui sedang memusatkan pikirannya, kita tak boleh memecahkan perhatiannya ...."

Kemudian kepada tiga orang di depan pintu, dia cuma manggutmanggut, menandakan betapa kuatirnya dia terhadap mereka.

Tiga orang itu hanya berdiri tak berkutik didepan pintu, ketika melihat Kay thian jiu Gui Tin tiong sedang mengerahkan tenaga menolong orang , wajah mereka sama-sama menunjukkan keraguraguan.

Tiga orang itu ditambah dengan Kay thian jiu Gui Tin tiong dan Sam ciat jiu Li Tin tang merupakan sisa anggota Thian liong pay saat ini yang disebut orang Thian liong ngo siang.

Lotoa, Kay thian jiu Gui Tin tiong adalah ciangbunjin partai Thian liong pay saat ini.

Loji, Pit tee jiu (pukulan sakti pembuka bumi) Wong Tin pak adalah kakek bermata buta sebelah yang berdiri didepan pintu itu, meskipun usianya belum mencapai enam puluh, selisihpun tidak terlalu banyak.

Losam adalah Sam ciat jiu Li Tin tang.

Losu adalah San tian jiu (pukulan halilintar) Oh Tin lam, yakni kakek yang kehilangan tangan kirinya disamping kiri Pit tee jiu, kalau dibilang usianya dia jauh lebih kecil seratus delapan hari dibandingkan dengan usia Sam ciat jiu, tahun ini genap berusia lima puluh empat tahun.

Orang yang berdiri disebelah kanan Pit tee jiu Wong Tin pak dan mempunyai lima buah bekas luka berwarna merah darah diatas wajahnya itu adalah Lo ngo, Sin lui jiu (tangan geledek) Kwan Tin see, usianya baru lima puluh dua tahunan.

Menyinggung soal Thian liong ngo siang, tanpa terasa orang akan teringat kembali dengan ketua Thian liong pay generasi yang lalu, Keng thian giok cu Thi Keng dihormati dan disegani oleh setiap manusia didunia ini.

Sesungguhnya dia tak lain adalah gurunya Thian liong ngo siang.

Thi Keng bukan saja merupakan ketua yang paling kosen dan paling hebat diantara sembilan orang ketua lainnya semenjak Thian liong pay didirikan, selain itu diapun merupakan seorang jago paling tangguh dalam dunia persilatan selama seabad belakangan ini.

Terlepas dari ilmu silatnya yang luar biasa, kebajikan, kesosialan dan kemuliaan hatinya sukar ditandingi oleh setiap orang.

Pada empat puluh tahun berselang, andaikata Thi Keng tidak menampilkan diri untuk melenyapkan kaum iblis, dunia persilatan dewasa ini pasti sudah kacau balau tak karuan, sudah barang tentu kawanan jago dari pelbagai partai dan perguruan yang ada dalam dunia persilatan pun akan menjadi santapan empuk dari gembong iblis yang tersohor waktu itu, Kay ih hui eng (elang terbang menyelimuti jagad) Ui It peng.

Thian liong pay pada waktu itu sungguh perkasa, sungguh luar biasa dan mengagumkan.

Tapi apa sebenarnya secara tiba-tiba Thian liong pay bisa jatuh dalam keadaan yang begini mengenaskan?

Kalau dibicarakan kembali, sebenarnya peristiwa ini terjadi pada dua puluh tahun berselang, ketika setahun setelah putra Thi Keng yaitu Thi Tiong giok menikah, tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Lenyapnya putra yang amat dicintai ini sungguh merupakan suatu pukulan yang berat bagi jago tua yang berilmu tinggi dan berjiwa social ini, sehingga semua semangatnya hampir rontok dibuatnya.

Dia bukan merasa kelewat sayang pada putranya, melainkan merasa kecewa bagi kejayaan Thian liong pay, sebab Thi Tiong giok mempunyai tulang yang bagus untuk berlatih silat, dialah satusatunya tumpuan harapan dari Thi Keng untuk melanjutkan kariernya mengangkat nama baik Thian liong pay di mata umum.

Lenyapnya pemuda itu bukan saja merupakan suatu berita duka bagi Thian liong pay, juga boleh dibilang merupakan suatu kerugian yang besar bagi seluruh umat persilatan.

Maka semenjak peristiwa itu, Thi Keng pun turut lenyap dari peredaran dunia persilatan.

Musibah yang menimpa partai Thian liong pay ini dengan cepat mempengaruhi ketenangan seluruh dunia persilatan, hampir setengah tahun lamanya dunia persilatan menjadi kalut dan tidak tenang.

Tapi akhirnya siapapun tidak berhasil menemukan jejaknya.

Sampai lebih kurang satu bulan lebih yaitu disaat Thi Eng khi dilahirkan, persoalannya baru mendapat sedikit titik terang, seorang pendekar dari luar perbatasan Tiang pek lojin telah muncul dengan membawa tiga macam benda milik Keng thian giok cu Thi Keng yang dititipkan kepadanya.

Benda tersebut adalah satu stel baju yang penuh berpelepotan darah, sebuah lencana Thian liong leng pay dan sepucuk surat wasiat.

Pakaian berdarah itu adalah pakaian milik Keng thian giok cu Thi Keng, lencana Thian liong leng pay adalah tanda kekuasaan dari seorang ketua Thian liong pay.

Setelah dua macam benda itu dihantar pulang maka terbuktilah sudah kalau Thi Keng benar-benar sudah menemui musibah.

Apalagi surat wasiat tersebut, boleh dibilang merupakan berita buruk diantara berita buruk, bukan saja menerangkan bahwa Keng thian giok cu Thi Keng telah tewas di luar perbatasan, bahkan menerangkan bahwa Thi Tiong giok juga telah tiada lagi didunia ini.

Ada satu hal yang paling tidak bisa dimengerti adalah pesan Thi Keng dalam surat wasiatnya yang melarang anak Thi Tiong giok yang masih berada dalam kandungan, baik dia lelaki atau perempuan, semuanya dilarang belajar ilmu silat lagi.

Selain itu, juga mengangkat Kay thian jiu Gui Tin tiong sebagai ketua baru serta menitahkan kepandaiannya untuk menbuyarkan perguruan serta mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Mengapa Thi Keng sampai berpesan demikian, sekalipun tak bisa diduga secara pasti tapi ada sebagian alasan yang dapat diduga ia tahu merasa sedih yang luar biasa dan kecewa yang luar biasa sehingga mengambil keputusan untuk berbuat demikian.

Ketua yang baru Kay thian jiu Gui Tin tiong segera mengumpulkan Thian liong ngo siang dan berunding di balik pintu tertutup selama tiga hari tiga malam, akhirnya dipuaskan untuk mengambilkan semua anak muridnya pulang kedesa, tidak mengajar ilmu silat lagi dan menutup pintu perguruan.

Murid-murid Thian liong pay yang kebanyakan belum tamat belajar itu sudah barang tentu hanya bisa dianggap sebagai jago kelas dua dalam dunia persilatan, itulah sebabnya mengapa nama dan martabat Thian liong pay kian hari kian bertambah merosot.

Akhirnya ada diantara murid-murid itu yang pindah ke perguruan lain, ada pula yang terlantar dalam dunia persilatan dan menjadi bahan cemoohan umat persilatan lainnya.

Sementara itu, Thian liong ngo siang sendiri tetap tinggal dalam gedung Bu lim tit it keh, hingga Thi Eng khi berusia lima tahun.

Mereka secara diam-diam mengadakan lagi suatu rapat rahasia, hasil dari rapat itu kemudian, Kay thian jiu Gui Tin tiong tetap tinggal dalam gedung Bu lim tit it keh untuk mengurusi Thi Eng khi dan ibunya, sedangkan empat orang lainnnya pergi berkelana dalam dunia persilatan.

Cuma mereka telah menentukan bahwa setiap lima tahun sekali diadakan pertemuan dengan demikian kekuatan Thian liong pay berhasil juga tetap dipertahankan dan tak sampai musnah sama sekali.

Hari ini adalah untuk kedua kalinya Thian liong ngo siang berkumpul kembali setelah berpisah selama lima tahun, maka dari pelbagai tempat mereka berbondong-bondong pulang ke rumah.

Siapa tahu dalam perpisahan selama lima tahun ini, tinggal Kay thian jiu Gui Tin tiong seorang yang masih tetap berada dalam keadaan utuh.

Suasana hening mencekam seluruh ruangan, Kay thian jiu Gui Tin tiong masih memusatkan perhatiannya untuk menyembuhkan luka yang diderita Ban li tui hong Cu Ngo.

Sekalipun Thian liong ngo siang dalam pandangan Keng thian giok cu Thi Keng bukan merupakan bakat yang bagus dan tak bisa menerima ilmu silat yang paling top dari Thian liong pay, akan tetapi keberhasilan yang berhasil mereka capai sekarang sama sekali tidak berada di bawah kemampuan jago kelas satu manapun dalam dunia persilatan.

Hanya saja oleh karena musibah yang telah menimpa perguruan mereka, kemudian masing-masing orang pun sibuk melaksanakan tugasnya masing-masing dengan perasaan berat sehingga lama sekali terputus hubungannya dengan dunia persilatan, maka dunia persilatan menaruh suatu prasangka yang keliru terhadap kemampuan ilmu silat yang mereka miliki.

Dalam pada itu tenaga dalam yang dimiliki Kay thian jiu Gui Tin tiong telah menyusup ke tubuh Cu Ngo, tak sampai sepertanak nasi kemudian luka dalam yang diderita Ban li tui hong Cu Ngo telah sembuh kembali seperti sedia kala.

Diam-diam Ban li tui hong Cu Ngo lantas mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, alhasil bukan saja luka yang dideritanya telah sembuh, bahkan tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang pesat, lantaran mendapat bencana dia malah berhasil mendapat untung.

Dengan cepat dia melompat bangun, semua kata-kata terima kasih yang mencekam dalam hatinya ingin diutarakan semua, akan tetapi setelah menyaksikan keadaan Thian liong pay yang begitu menggenaskan, ia menjadi tak terlukiskan harunya, sambil menetaskan air mata, katanya seraya menghela napas .

"Aaaai ..... tak seorang jago silat pun dalam dunia persilatan saat ini yang tidak berbuat salah terhadap Thian liong pay."

Keadaan Thian liong ngo siang yang mengenaskan itu sudah cukup menimbulkan rasa sedih di dalam hatinya, tapi setelah menyaksikan ruang tengah yang dulunya megah dan mentereng itu sekarang berubah menjadi begitu seram, selain sebuah meja bobrok dan tiga buah bangku, tiada benda lainnya lagi yang tampak disana.

Kesemuanya itu menambah rasa haru dalam hatinya, sehingga tanpa disadari titik air mata jatuh berlinang.

Berbicara yang sesungguhnya berada dalam keadaan yang demikian mengenaskan ternyata pihak Thian liong pay masih bersedia untuk mengorbankan sebutir pil mustika Toh mia kim wan yang dianggap benda mestika dari perguruan itu untuk menolong seorang jago silat yang sama sekali tiada hubungannya dengan mereka, kebesaran jiwa dari mereka ini sungguh membuat Ban li tui hong Cu Ngo merasa terharu sekali.

Setelah menenangkan pikirannya sebentar, Ban li tui hong Cu Ngo segera menjura dalam-dalam seraya berkata dengan serius .

"Sebenarnya aku sedang ditugaskan oleh Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap untuk menyebarkan undangan bagi Hong im gi siu Sang locianpwe di bukit Mong san, kini undangan tersebut sudah dirampas orang, aai...... untuk mencegah jangan sampai terjadi halhal diluar dugaan yang akan merugikan dunia persilatan, aku harus buru-buru kembali ke perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san untuk memberi laporan kepada Sangkoan tayhiap. Aku bersumpah akan balik lagi kemari dan menyumbangkan tenagaku bagi perguruan anda, sekalipun harus terjun ke lautan api, aku juga tak akan menolak!"

Dengan diutarakannya perkataan itu, maka ucapan yang sebenarnya hendak diutarakan Kay thian jiu Gui Tin tiong menjadi tak enak untuk dikatakan lagi, terpaksa sambil menjura ia berkata .

"Cu tayhiap tak perlu bicara demikian, bantuan yang bisa diberikan perguruan kami tidak terhitung seberapa, tak usah kau ingat terus dihati, kalau toh Cu tayhiap memang ada urusan, kami bersaudarapun tak akan menahan lagi, silahkan! Maaf kami tidak menghantar."

Sekali lagi Ban li tui hong Cu Ngo memberi hormat keempat penjuru, kemudian baru berkelebat keluar dari ruangan.

Setelah kepergian Ban li tui hong Cu ngo, ketiga orang yang berdiri dimuka pintu itu baru masuk ke dalam ruangan dan menyapa Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Ketua Thian liong pay Kay thian jiu Gui Tin tiong tak bisa berbicara apa-apa selain mengucurkan air mata dengan kulit wajah mengejang, jelas dia merasa sedih sekali setelah menyaksikan cacad yang menimpa keempat orang sutenya, sampai lama sekali ia masih belum mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.

Sin lui jiu Kwan Tin see berwatak paling berangasan, dia tidak terbiasa menyaksikan sikap ketuanya yang diliputi emosi itu, bekas luka berwarna merah yang berada diatas wajahnya itu segera berubah menjadi merah tua, sambil tertawa keras katanya .

"Ciangbun suheng, kau benar-benar kelewat lemah hatinya, apalah artinya sedikit luka diatas wajah ini? Siaute toh tidak bermaksud untuk mencari isteri punya anak, peduli amat!"

Setelah menelan air liur, kembali dia berkata .

"Untung saja siaute tak sampai melalaikan tugas, Gin hu sim tau hiat (jantung kelelawar perak) telah berhasil kudapatkan, silahkan ciangbun suheng untuk memeriksanya."

Sehabis berkata dia lantas mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dan diangsurkan kepada Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Sambil menerima angsuran kotak berwarna biru itu, dengan penuh perasaan terharu Kay thian jiu Gui Tin tiong berkata .

"Ngo-te, menyusahkan kau saja!"

Menyusul kemudian San tian jiu Oh Tin lam sambil mengayunkan tangan kanannya ia berkata .

"Siaute selalu beranggapan bahwa ilmu pukulan halilintar lebih indah lagi jika digunakan dengan tunggal, maka lengan yang tak terpakai itu memang lebih baik kalau disingkirkan saja, Ciangbun suheng tak usah kuatir, yang lebih mujur lagi, aku pun berhasil mendapatkan empedu dari Kiu ciok kim can (comberet emas berkaki sembilan)!"

Dari sakunya, dia mengeluarkan pula sebuah kotak berwarna biru dan diserahkan ke tangan Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Belum lagi ia sempat berbicara, Pat tee jiu Wong Tin pak sambil terbahak-bahak telah menyambung lebih jauh.

"Ciangbun suheng, siaute pun sungguh beruntung dapat melaksanakan tugas dengan baik, Jit gwat cay hong tok berhasil pula kudapatkan, seandainya mataku tidak buta sebelah mungkin untuk mengincarpun kurang tepat. Maka butanya mata ini memang paling baik dengan demikian siaute bisa mengincar benda apapun dengan lebih tepat lagi."

Sehabis berkata diapun menyerahkan sebuah kotak biru. Sam ciat jiu Li Tin tang dengan jalan terseok-seok maju pula kemuka, seraya menyerahkan kotak biru dia berkata .

"Ciangbun suheng, siaute yang mendapatkkan teratai salju berusia seribu tahun Cian hian soat lian ini paling mujur, aku sama sekali tidak menderita luka apa-apa, mengenai kakiku ini? Berhubung cuaca beberapa hari ini kurang baik rhematikku kambuh maka jalanku menjadi agak terseok-seok."

"Bagus! Bagus!"

Seru Kay thian jiu Gui Tin tiong sambil memegang keempat buah kotak biru itu.

"Sute berempat telah membuat pahala buat perguruan kita, ih heng merasa sangat gembira, apalagi bukankah kalian sehat-sehat semua dan bisa kembali dengan selamat?"

Selesai berkata dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa sedih, suaranya amat memedihkan hati membuat orang menjadi sedih.

Menyaksikan Thian liong ngo siang bertanya jawab seperti orang lagi bermain sandiwara, Thi Eng khi menjadi melongo, sekalipun ia tidak berpengalaman tapi pemuda itu juga tahu kalau masingmasing orang telah mengarang suatu cerita bohong, ia benar-benar tidak mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi.

Padahal, darimana dia bisa tahu kalau Thian liong ngo siang berbuat demikian tak lain adalah demi dia, cuma saja semua orang berusaha untuk mengendalikan rasa sedihnya itu sehingga tak sampai kelihatan dari luaran.

Sementara Thi Eng khi masih berdiri termangu-mangu, mendadak Kay thian jiu Gui Tin tiong berhenti tertawa lalu sambil menatap kearahnya, ujarnya dengan serius .

"Eng ji, cepat kembali ke kamar dan kabarkan kepada ibumu kalau loji, losam, losu dan longo telah pulang, harap ia datang kemari untuk bercakap-cakap."

"Baik"

Thi Eng khi segera mengiakan dan membalikkan badan keluar dari ruangan.

Selama ini, Thi Eng khi bersama ibunya Thi hujin, Yap Siu ling berdiam di halaman paling belakang dari gedung Bu lim tit it keh tersebut.

Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali seorang diri seraya berkata .

"Hari ini kesehatan ibu sedang terganggu, beliau tak bisa datang berjumpa dengan para empek dan paman tak menjadi marah!"

Bagaikan tersambar guntur, Thian liong ngo siang saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, wajah mereka kelihatan amat sedih sekali.

Sin lui jiu Kwan Tin see tak bisa menahan diri lagi, dengan suara keras dia lantas membentak .

"Benarkah enso tak mau datang?"

Thi Eng khi menundukkan kepalanya dengan perasaan menyesal.

"Yaa, kesehatan badan ibuku memang sedang terganggu dia tak bisa datang kemari."

"Kami berlima belum tentu bisa berkumpul seperti hari ini, bila kali ini musti dilewatkan maka kami musti menunggu lima tahun lagi, Eng ji, pulanglah ke kamarmu dan mintalah kepada ibumu sekali lagi."

Thi Eng menjadi serba salah sehingga wajahnya kelihatan tersipu-sipu ..... Kay thian jiu Gui Tin tiong menghela napas panjang, kepada Thi Eng khi katanya .

"Tak usah mengganggu ibumu lagi, sekarang hari sudah mulai gelap, Eng ji, kau boleh pulang dulu."

Thi Eng khi merasa tercengang dan tidak habis mengerti, tanyanya kemudian .

"Empek Gui, apakah kalian mempunyai urusan penting?"

Kay thian jiu Gui Tin tiong tertawa getir .

"Aaah ........ tidak ada apa-apa, kau boleh pulang saja ke kamarmu!"

Terpaksa Thi Eng khi memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruangan itu. Menunggu bayangan tubuh dari Thi Eng khi sudah pergi jauh, dengan marah Sin lui jiu Kwan Tin see berseru .

"Ciangbun suheng, sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya sudah kau katakan belum kepada enso? Bersedia tidak ia membiarkan Eng ji menjadi anggota perguruan kita?"

Kay thian jiu Gui Tin tiong kelihatan sedih dan murung sahutnya .

"Tee moy (istri adik) Yap Siu ling memegang teguh pesan suhu dan melarang Eng ji belajar ilmu silat, sekalipun Ih heng telah berusaha dengan sedapat mungkin, nyatanya juga tidak mendatangkan hasil apa-apa aaai..... ..... aku benar-benar merasa malu sekali kepada sute berempat."

"Jika Eng ji tak mau belajar silat, lantas apa gunanya empedu Kiu ciok kim can? Bukankah lenganku ini hilang dengan percuma?"

Teriak San tian jiu Oh Tin lam dengan suara keras. Pit tee jiu Wong Tin pak juga berkata dengan kecewa .

"Siaute seringkali memperhatikan anak murid kita yang berkeliaran diluar, kalau dibicarakan sungguh mengenaskan sekali, oleh karena suhu telah meninggal dunia, kami berlima pun tak ada yang mau mengurusi, hakekatnya orang-orang itu bagaikan setan gentayangan dalam dunia persilatan, yang merasa punya harga diri tak malu untuk bunuh diri, adapula yang mengundurkan diri dari dunia persilatan , sebaliknya mereka yang berhati lemah, kalau tidak numpang kekuatan orang lain, keadaannya juga mengenaskan sekali. Jika Eng ji sekarang tak dapat masuk kedalam perguruan kita, tidak berbicara soal perjuangan kita yang sia-sia selama belasan tahun, bukankah partai kitapun tamat riwayatnya .....?"

"Benar!"

Kata Sam ciat jiu Li Tin tang.

"Sekarang segala sesuatunya telah disiapkan, bagaimanapun juga tak bisa ditinggalkan di tengah jalan, ciangbun suheng, mari kita bersama-sama pergi memohon kepada Tee moay!"

Setelah mendengar perkataan dari keempat orang sutenya itu, Kay thian jiu Gui Tin tiong merasakan hatinya sedih sekali bagaikan digigit oleh beratus ratus ekor semut.

Tapi rupanya ia sudah mempunyai rencana yang matang, dengan paras muka tidak berubah, katanya .

"Sute berempat, kita tak gampang untuk berkumpul kumpul, bila ada persoalan lebih baik dibicarakan setelah memberi hormat kepada arwah Cau su nanti!"

Selesai berkata, dengan membawa empat buah kotak biru itu, dia berjalan masuk lebih dulu ke dalam ruang sin thong, sementara empat orang saudaranya mengikuti dari belakang.

Ruang Sin tong dari partai Thian liong ini tidak termasuk besar, luasnya paling cuma enam kaki persegi, tapi keempat belah dindingnya dilapisi oleh kayu jati.

Di bawah sinar lentera yang berbentuk tujuh bintang sebanyak tujuh buah, suasana disana tampak amat seram dan berwibawa.

Dibagian utara meja altar, dibelakang tirai berwarna biru dan dibawah delapan buah meja abu tampak lukisan seorang kakek berjenggot panjang yang tampak sangat hidup.

Dia tak lain adalah ketua generasi kesembilan dari partai Thian liong pay, Keng thian giok cu Thi Keng, kakek Thi Eng khi.

Dengan sangat hormat, Kay thian jiu Gui Tin tiong mempersembahkan keempat buah kotak biru itu ke meja altar, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat.

Dari loji ke bawah semuanya berlutut di belakang Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Selesai memberi hormat, paras muka Kay thian jiu Gui Tin tiong segera berubah sama sekali.

Dengan senyum dikulum ia mengeluarkan sepucuk surat yang rupanya telah dipersiapkan lebih dulu itu dari sakunya, kemudian sambil menyerahkan ke tangan Pit tee jiu Wong Tin pak katanya .

"Jite, bawalah ketiga orang sutemu menuju keruang belakang untuk membujuk Tee moay, seandainya dia belum juga menyanggupi permintaanmu itu, maka serahkan surat ini kepadanya, aku rasa setelah dia membaca surat ini permintaan kalian tak akan ditampik lagi."

"Suheng ....."

Pit tee jiu Wong Tin pak kelihatan ragu-ragu. Belum habis dia berkata, Kay thian jiu Gui Tin tiong telah mengulapkan tangannya seraya berseru .

"kalian cepat kembali kemari, Ih heng akan menunggu di sini!"

Terpaksa Pit tee jiu Wong Tin pak mengajak ketiga orang sutenya berangkat menuju ke halaman belakang dimana Thi Eng khi dan ibunya berdiam ......

Ketika mereka berempat tiba di halaman belakang, tampak ruangan dimana Thi Eng khi berdiam lamat lamat masih kelihatan ada cahaya lampu, dengan tenaga dalam mereka yang sempurna, dapat didengar pula suara pembicaraan kedua orang itu.

Mereka berempat adalah jago-jago yang berjiwa terbuka, mereka enggan mencuri dengar pembicaraan orang, maka suara langkah kakinya sengaja diperberat.

Suara langkah kaki yang berat itu segera terdengar oleh Thi Eng khi dan ibunya.

Terdengar Thi Eng khi menegur dari dalam ruangan .

"Empek Gui kah yang berada di luar?"

"Eng ji, kami berempat sengaja datang menyambangi ibumu!"

Sahut Pit tee jiu Wong Tin pak dengan cepat.

"Empek Wong kah disitu?"

Sambung Thi hujin Yap Siu ling.

"merepotkan kalian semua, sungguh membuat aku merasa malu."

Pit tee jiu Wong Tin pak kuatir Thi hujin Yap Siu ling menampik kedatangan mereka, buru-buru serunya .

"Tee moay, sudah lima tahun kita tak pernah bersua, bolehkah Ih heng sekalian masuk kedalam rumah?"

Thi Eng khi keluar membuka pintu, kemudian mempersilahkan Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian berempat masuk ke dalam ruang tamu yang bersih sekali.

Sebuah lentera tergantung diatas rumah dan menyiarkan sinar berwarna merah, suasana dalam ruangan itu terasa amat sesak dan membuat perasaan orang tidak tenang.

Beberapa saat kemudian, Thi hujin Yap Siu ling baru keluar dari dalam kamarnya.

Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian menyaksikan sepasang matanya merah lagi membengkak, agaknya baru saja menangis, mereka lantas tahu bahwa perempuan itu memaksakan diri menjumpai mereka.

Thi hujin Yap Siu ling berasal dari keluarga terpelajar, selain menguasai dalam bidang sastra dan ilmu pengetahuan, diapun amat cerdik dan halus berbudi, enam belas tahun hidup menjanda membuatnya cukup memahami watak manusia.

Dia sudah menduga kalau Thian liong ngo siang tak akan melepaskan putra kesayangannya dengan begitu saja.

Pertama karena dia harus menuruti pesan dari mertuanya, kedua diapun enggan membiarkan putranya terjerumus dalam dunia persilatan, sehingga mengalami nasib yang sama dengan ayahnya maka mau tak mau dia harus mengeraskan hati untuk menampik permintaan para empek dan putranya itu.

Dengan sinar mata yang was was dia memandang sekejap ke wajah Thian liong su siang.

Kemudian dengan alis mata berkenyit ia menghela napas panjang.

"Aaaai.... empek Wong, apakah gunanya kau mendesak terus?"

Sesudah menghembuskan napas panjang serunya .

"Maksud hati maupun kesulitan yang kalian alami aku tak ingin ambil peduli, pokoknya aku tahu bahwa kalian sangat berhasrat untuk menarik Eng ji ke dalam perguruan Thian liong pay, sayang sekali keluarga Thi pada saat ini cuma tinggal Eng ji seorang seandainya kalian tidak mau melepaskan dirinya, dikemudian hari bagaimana pula kalian bisa mempertanggung jawabkan diri di depan gurunya yang telah tiada?"

Waktu itu sebenarnya Thi Eng khi sudah diliputi oleh kobaran semangat yang luar biasa sebesarnya untuk melanjutkan karier dari mendiang kakeknya, kalau bisa dia ingin sekali ibunya segera menyanggupi permintaan itu.

Dengan waktunya yang suka bergerak, dia paling enggan untuk hidup dalam kesepian dan sampai tua melewati suatu penghidupan yang sederhana tanpa sesuatu pekerjaan.

Akan tetapi setelah menyaksikan wajah ibunya yang serius tapi diliputi rasa sedih itu, hatinya menjadi tercekat dan tak berani lagi untuk mengemukakan niatnya.

Dia cukup memahami watak dari ibunya itu, maka sekarang mau tak mau dia harus berusaha keras untuk menekan perasaan yang bergejolak didalam hatinya.

Begitu datang tadi, Thian liong su siang segera dibuat membungkam oleh perkataan Thi hujin Yap Siu ling, dengan wajah sedih mereka tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dari perubahan paras muka mereka, Yap Siu ling bisa menangkap kekecewaan di hati Thian liong su siang.

Tanpa terasa lagi sambil menghela napas sedih katanya .

"Sekarang waktu sudah cukup malam ....."

Pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berhasrat untuk menghantar tetamunya.

Paras muka Thian liong su siang berubah hebat, Sin liu jiu Kwan Tin see tak sanggup mengendalikan perasaannya lagi, dengan penuh emosi teriaknya .

"Enso, kau mengira pesan dari mendiang suhu tidak ada kemungkinan untuk diperbaiki?"

Paras muka Thi hujin Yap Siu ling menjadi pucat pasi karena mendongkol. Dengan cepat, ia duduk kembali di tempat semula.

"Ngo-te, mengapa kau bicara sembarangan?"

Bentak Pit tee jiu Wong Tin pak.

"tindakanmu ini kurang sopan!"

Paras muka Sin lui jiu Kwan Tin see berubah menjadi merah padam, sekalipun dia adalah seorang kakek yang hampir berusia lima puluh tahunan, saking malunya dia sampai tak mampu mendongakkan kembali kepalanya.

"Siaute berbicara tanpa maksud, harap enso jangan marah!"

Buru-buru serunya agak tergagap.

Diantara Thian liong ngo siang, Sam ciat jiu Li Tin tang adalah seorang jago yang paling pintar, meski oleh rentetan ucapan dari Thi hujin tadi ia merasa agak gelagapan tapi setelah Sin lui jiu Kwan Tin see berbicara secara berani, satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, dengan cepat dia berseru .

"Tee moay kau toh bukannya tidak tahu bagaimana watak Ngote, dia adalah seorang yang berbicara blak-blakan, apa yang dipikirkan diucapkan tanpa tedeng aling aling, aku harap kaupun bisa baik-baik mengambil pertimbangan!"

Thi hujin Yap Siu ling bukannya tak tahu kalau Sin lui jiu Kwan Tin See adalah seorang kasar yang jujur.

Tapi apa yang dipikirkan tak lain adalah keselamatan Thi Eng khi, maka diapun tak ingin melepaskan keputusannya dengan begitu saja.

Dengan ucapan yang tajam bagaikan pisau, dia lantas berkata .

"Thian liong pay makin lama semakin besar orangnya, tak tahu aturan, tak heran kalau nama besar perguruan kian hari kian merosot dalam dunia persilatan!"

Ucapan tersebut meluncur seperti angin, menanti ia merasa kalau perkataan itu terlalu berat, untuk ditarik kembali sudah terlambat.

Paras muka Thian liong su siang segera berubah hebat, kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

Melihat itu, Thi hujin Yap Siu ling merasa terperanjat sekali, buruburu katanya lagi .

"Para empek dan paman, aku telah salah berbicara, aku bukan berbicara dengan maksud tertentu!"

Berbicara sampai disitu, dia lantas menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu-sedu.

"Tee moay, Tee moay!"

Seru Sam ciat jiu Li Tin tang berulang kali.

"Kau tidak salah berbicara, kami sebagai anggota Thian liong pay memang pantas mendapat teguran ini. Cuma ... cuma.... perkataan dari Ngote agaknya bisa dipertimbangkan lagi."

Berbicara sampai disitu, dia lantas berhenti sambil menatap wajah orang, dia berharap Thi hujin Yap Siu ling bisa memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih lanjut.

Thi hujin Yap Siu ling dengan cepat mengendalikan perasaannya yang pulih kembali dalam ketenangan, dia manggut manggut.

"Bila empek Li akan mengucapkan sesuatu, silahkan diutarakan!"

"Pesan dari mendiang suhu tidak boleh dilanggar oleh kita sebagai anggota Thian liong pay,"

Kata Sam ciat jiu Li Tin tang.

"cuma sebelum melaksanakan pesan dari mendiang suhu, siau heng beranggapan bahwa kita harus memahami dahulu maksud yang sebenarnya dari suhu mendiang, kita tak boleh membelenggu diri dengan pelbagai masalah lain, sebab bila sampai demikian akhirnya kita akan menjadi orang yang menentang pesan suhu mendiang."

Thi hujin Yap Siu ling cuma membungkam dan tundukkan kepalanya sambil mendengarkan dengan seksama. Terdengar Sam ciat jiu Li Tin tang melanjutkan kembali katakatanya .

"Dengan dalam dan saktinya ilmu silat perguruan kita, tanpa memiliki bakat yang sangat bagus seperti yang dimiliki mendiang suhu dan Tiong giok sute, tak mungkin seseorang bisa mencapai kesempurnaan. Betul Ih heng berlima adalah murid Thian liong pay, tapi lantaran bakat yang terbatas, sekalipun sudah melatih diri secara tekun atas ilmu silat aliran Thian liong pay, hasilnya juga terbatas sampai sepersatu dua saja, dalam dunia persilatan yang begitu luas sesungguhnya sulit sekali untuk menampilkan diri."

Suara pembicaraannya makin lama makin keras .

"Semenjak suhu menjadi putus asa karena lenyapnya putra tercinta, dan lagi tahu kalau api kehidupannya hampir padam, apalagi menyaksikan partai Thian liong sudah tidak ada ahli warisnya lagi, daripada membuat malu nama perguruan dimata umum, akhirnya diputuskan untuk menarik diri dari keramaian dunia persilatan, kalau berbicara dari keadaan waktu itu, tindakan suhu memang sangat tepat sekali."

Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan kembali katakatanya lebih jauh .

"Tapi keputusan yang diambil In su ketika itu adalah didasarkan pada tiadanya keturunan dalam perguruan Thian liong pay, maka diputuskan untuk menarik diri, dia orang tua tidak menyangka kalau Eng ji memiliki bakat yang bagus dan kecerdikan yang luar biasa, sesungguhnya dialah seorang berbakat bagus yang sukar dijumpai dalam seratus tahun ini, coba kalau Eng ji dilahirkan sebelum dia orang tua pergi, setelah melihat bakatnya yang bagus itu, aku pikir dia orang tua pasti tak akan mengambil keputusan begitu."

Kembali ia berhenti sejenak untuk berganti napas lalu terusnya .

"Mengenai persoalan ini, Ih heng berlima telah melakukan penyelidikan serta pembahasan yang terperinci setelah mendapat pesan dari Insu, tapi ketika Eng ji berusia lima tahun, kami baru mendapatkan pandangan yang lain terhadap pesan Insu tersebut, bersamaan itu pula kamipun telah mengambil keputusan baru yang lain."

Thi hujin Yap Siu ling bukannya seorang yang bodoh, perkataan dari Sam ciat jiu tersebut segera menggerakkan hatinya tapi ketika teringat kembali kalau suaminya juga seorang lelaki yang dianggap berbakat bagus, tapi justru karenanya dia kehilangan dia, paras mukanya dengan cepat berubah kembali.

Sam ciat jiu Li Tin tang memandang sekejap kearah Thi hujin kemudian melanjutkan "Ketika Eng ji berusia lima tahun kami berempat mendapat perintah dari Ciangbun suheng untuk menjelajahi dunia persilatan guna menemukan empat jenis bahan obat yang bisa dipakai untuk mencuci tulang dan memperkuat otot, ternyata Thian tidak menyia nyiakan harapan kami, rupanya Thian liong pay memang ditakdirkan bisa bangkit kembali dari keruntuhan, akhirnya kami berempat berhasil untuk mewujudkan cita-cita tersebut ...."

Demi merebut simpatik orang dengan suara yang sengaja diperkeras terusnya .

"Tapi akibat dari keberhasilan itu kami berempatpun telah berubah menjadi begini rupa, jiko kehilangan sebelah matanya, sute kehilangan sebuah lengannya, paras muka ngote berubah bentuk, yang paling beruntung adalah aku, cuma kehilangan sebuah otot kaki belaka."

Paras muka Thi hujin kembali berubha hebat, dia berpaling dan memandang sekejap kearah Thi Eng khi yang sedang berdiri dengan air mata bercucuran itu, setelah menghela napas diapun tak tega untuk berkata lebih lanjut.

Waktu itu Sam ciat jiu Li Tin tang yang sudah merasa kehabisan bahan pembicaraan, dengan memaksa diri katanya lagi .

"Benda itu adalah Cian nian soat lian, empedu combaret emas berkaki sembilan, darah Gin hok sim tau hiat serta Jit gwe cay hong lok ....."

Seraya berpaling kearah Thi Eng katanya kemudian .

"Eng ji, beberapa macam obat mestika itu tersimpan didalam empat kotak biru yang kami bawa pulang tadi, kau tentunya sudah melihat sendiri bukan?"

Sekalipun Thi Eng khi bukan orang persilatan akan tetapi sebagai seorang yang berpengetahuan luas, dia tahu bahwa bahan obatobatan yang dimaksud itu adalah benda mestika yang bisa dijumpai tak bisa dicari, ternyata keempat empek dan pamannya dengan mengorbankan waktu hampir sepuluh tahun lamanya untuk mewujudkan suatu impian menjadi kenyataan, hal ini membuktikan betapa besarnya semangat serta tekad mereka.

Pokoknya diapun terbayang kembali semua kegagahan dan kehebatan kakek dan ayahnya dimasa lalu, masakah dia harus hidup sederhana begini sepanjang masa?

Berpikir sampai disitu, darah panas dalam rongga dadanya terasa bergelora keras tanpa terasa lagi teriaknya .

"Ibu .....!"

Tapi dengan cepat ia terbayang kembali kasih sayang ibunya yang sudah enam belas tahun hidup menjanda itu, apa yang menyebabkan dirinya sampai menanggung derita?

Bukankah karena dia?

Sekarang, jika sampai berbuat yang macam-macam, bukankah hal ini kan menusuk perasaan orang tuanya.

Sebagai seorang anak yang berbakti berpikir sampai disitu, ia menjadi tak mampu untuk melanjutkan kembali kata-katanya.

Dari perubahan mimik wajah putranya itu, Thi hujin Yap Siu ling dapat menebak jalan pikirannya.

Dengan wajah sedih dia lantas berkata .

"Eng ji, Ibu bersedia mendengarkan pendapatmu!"

Thi Eng khi yang pintar sudah barang tentu bisa memahami perasaan ibunya yang menderita, ia merasa dirinya tidak menurut keinginan ibunya, maka sekalipun akhirnya dia dapat berkelana dalam dunia persilatan, selamanya hatipun tak pernah akan tenang.

Maka dengan air mata bercucuran katanya .

"Ananda siap mendengarkan perintah ibu!"

"Nak,"

Kata Thi hujin dengan air mata bercucuran.

"Ibu dapat memahami perasaanmu, tapi ..... tapi akupun tak dapat memenuhi keinginanmu itu!"

Thian liong su siang yang menghadapi kejadian ini segera merasakan keringat sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi dahinya. Pit tee jiu Wong Tin pak merasa sangat kecewa, pikirnya .

"Sekalipun kukeluarkan surat dari ciangbun suheng pada saat ini mungkin hal ini pun akan sia-sia belaka ....."

Untuk sesaat lamanya dia menjadi ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Sin lui jiu Kwan Tin see sama sekali tidak menggubris masalah itu, karena sedang mangkel dia lupa kalau tadi dirinya sudah salah berbicara, dengan suara lantang teriaknya .

"Ji suheng, apakah kau sudah lupa dengan pesanan ciangbun suheng?"

Sinar mata losam dan losu pun bersama-sama dialihkan ke wajah sang loji. Dengan perasaan apa boleh buat Pit tee jiu Wong Tin pak segera mengangsurkan surat Kay thian jiu Gui Tin tiong seraya berkata .

"Disini ada sepucuk surat dari toa suheng silahkan Tee moay untuk memeriksa!"

Thi hujin Yap Siu ling menerima surat itu dan baca sebentar, mendadak sekujur badannya gemetar keras dengan wajah berubah hebat serunya dengan hati yang pilu .

"Aaah..... empek Gui, kau .... kau.... kau...."

Mendadak teringat olehnya bahwa persoalan ini harus cepatcepat diberitahukan kepada Thian liong su siang, maka dengan wajah tegang teriaknya keras-keras .

"Cepat! Cepat kembali! Empek Gui telah bunuh diri ....!"

Thian liong su siang bersama-sama berpekik panjang, kemudian dengan melompat dinding lari meninggalkan tempat itu.

Dengan air mata bercucuran Thi hujin Yap Siu ling berpaling ke arah Thi Eng khi yang masih berdiri terbelalak itu seraya berseru .

"Nak, mari kita menyusul kesana!"

Ketika tiba dipintu gerbang Thian liong pay, ibu dan anak berdua tiba-tiba berhenti.

Rupanya berhubung Thi hujin dan Thi Eng khi bukan anggota perguruan Thian liong pay, sekalipun hidup bersama dengan Thian liong ngo siang, selama ini belum pernah melangkah masuk barang selangkahpun ke dalam pusat markas dari Thian liong pay itu.

Maka ketika tiba di pintu gerbang, mereka pun ragu-ragu untuk melangkah masuk kedalam ruangan itu.

Kendatipun demikian, suasana dalam sin thong tersebut dapat terlihat amat jelas.

Tampak Kay thian jiu Gui Tin tiong terkapar di depan meja altar dan sama sekali tak berkutik, sementara Thian liong su siang berdiri dikedua belah sisinya dengan wajah terbelalak dan kehilangan konsentrasi, rupanya mereka dibuat tertegun oleh musibah yang terjadi diluar dugaan ini.

Tiba-tiba Thi hujin Yap Siu ling berteriak dari pintu luar .

"Bolehkah siaumoy dan Eng ji masuk kedalam?"

Dengan perasaan terkejut Thian liong su siang tersadar kembali dari lamunannya. Tiba-tiba Pit tee jiu Wong Tin pak berguman .

"Kematian toa suheng tidak sia-sia, Thian liong pay kami akhirnya tertolong juga!"

Thian liong ngo siang adalah anggota-anggota setia dari Thian liong pay, mereka bersedia mengorbankan jiwa sendiri demi kepentingan perguruan sekalipun kematian Toa suhengnya mendatangkan perasaan yang pilu dihati masing-masing, tapi kemunculan Thi hujin didepan pintu justru mendatangkan harapan besar bagi mereka.

Jilid 2 Thian liong su siang segera memisahkan diri ke samping dan menyambut kedatangan perempuan itu dengan hormat.

"Tee moay maupun Eng ji adalah keluarga langsung dari Insu, kalian tidak terhitung orang luar, silahkan masuk!"

Kata Pit tee jiu Wong Tin pak mewakili rekan-rekannya.

Thi hujin Yap Siu ling merasakan hatinya menjadi kecut, dengan sedih ia membimbing Thi Eng khi masuk kedalam ruangan.

Dalam pada itu Thi hujin telah mengambil suatu keputusan yang paling berat didalam hatinya, tampak perempuan itu dengan tekad yang besar berjalan ke depan jenazah Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Setelah memberi hormat, katanya .

"Empek Gui, buat apa kau mesti berbuat demikian?"

Waktu itu dia melakukan hanya menurut suara hati sendiri, tibatiba dihadapan patung Keng thian giok cu Thi Keng dia berlutut dan menyembah sambil menangis, katanya .

"Ooooh ..... kongkong! Anak menantu berharap agar tindakanku kali ini tidak keliru, bila toh melanggar kehendak hatimu, harap kau bersedia memandang diatas partai Thian liong untuk memaafkan anak menantumu beserta Eng ji!"

Selesai berdoa, ia menyembah tiga kali baru bangkit berdiri, cuma saat ini wajahnya telah berubah menjadi amat serius.

Ia memberi tanda agar Thi Eng khi berlutut pula didepan patung pemujaan, lalu katanya .

"Nak, mulai sekarang ibu telah menyerahkan dirimu kepada partai Thian liong. Kau harus baik-baik menuruti ucapan toa supek!"

Setelah itu dia baru membentang surat wasiat dari Kay thian jiu Gui Tin tiong dan membaca isi surat dengan lantang .

"Surat ini tertuju untuk Siu ling tee moay, Wong, Li, Oh, Kwan empat orang sute serta keponakan Eng khi ......"

Rupanya surat itu bukan khusus ditinggalkan buat Thi hujin Yap Siu ling seorang, melainkan meliputi segenap orang yang hadir didalam ruang sin thong tersebut.

Sementara itu, Thi Eng khi telah berlutut dihadapan ibunya, sementara Thian liong su siang juga bersama-sama menjatuhkan diri berlutut dibelakang Thi Eng khi.

Berbicara bagi mereka maka pembacaan isi surat tersebut sama halnya dengan mendengar pesan terakhir dari ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay, karena itu dengan sikap hormat mereka siap mendengarkannya.

"Perguruan kita Thian liong pay semenjak pendiriannya sampai sembilan keturunan berikutnya, semua adalah tokoh-tokoh sakti yang memiliki kemampuan melebihi orang lain, itulah sebabnya sejarah partai kita bisa berlangsung empat ratus tahun turun temurun dengan cemerlangnya. Keponakan Eng khi merupakan manusia berbakat yang paling tepat menjadi pilihan kita untuk mendalami ilmu silat partai serta melanjutkan perjuangan untuk menekan kembali nama baik partai kita dalam mata masyarakat. Sayang oleh karena pesan dari Insu, menyebabkan ia tak dapat memasuki partai kita lagi. Permintaan yang terlalu memaksa selain akan melanggar pesan Insu juga akan menjerumuskan Siu ling tee moay ke dalam posisi tidak terbakti, hal ini jelas jangan sampai terjadi pada anggota Thian liong pay maupun Siu ling tee moay sendiri. Orang bilang . Untuk melepaskan keleningan, harus menyuruh orang yang mengikat keleningan itu sendiri. Maka bila kita inginkan keponakan Eng khi masuk menjadi anggota perguruan kita, satusatunya cara adalah memohon mendiang Insu untuk menarik kembali pesannya itu! Ih heng sudah banyak menerima budi kebaikan dari perguruan, apalagi menjabat sebagai seorang ketua, sudah sewajarnya memiliki hal serta kewajiban untuk melaksanakan tugas berat ini. Oleh sebab itu, kepergianku ini selain mempunyai tujuan, bahkan mempunyai niat yang dalam sekali untuk melenyapkan rintangan yang amat berat itu. Setelah aku pergi, sendainya Siu ling tee moay berubah pikiran dan mengijinkan keponakan Eng khi untuk menjadi anggota perguruan kita. Itu pertanda kalau Insu telah mengijinkan permintaanku untuk mencabut kembali pesannya, maka segala tindakan lebih lanjut selain tidak melanggar pesan Insu, Siu ling tee moay juga tidak melakukan perbuatan yang tak berbakti, harap sute berempat serta Siu ling tee moay dapat memakluminya. Ketika berbicara sampai disitu, Thi hujin Yap Siu ling tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu. Membaca dari surat wasiat tersebut, dapat diketahui bahwa Kay thian jiu Gui Tin tiong memang berniat untuk mengorbankan jiwanya untuk menembusi jalan buntu yang selama ini mencekam diri mereka, dari sini bisa diketahui sampai berapa dalamnya niat yang terkandung didalam hatinya. Selang sejenak kemudian, Yap Siu ling melanjutkan kembali pembacaan surat tersebut.

"Berikut ini adalah peraturan yang harus diperhatikan untuk membawa keponakan Eng khi masuk ke perguruan. Pertama, setelah menyembah didepan meja abu dari para sucou sekalian, dia akan menjadi anggota perguruan angkatan kesebelas dari perguruan Thian liong pay kita, anak meneruskan karier ayahnya. Kepandaian diwariskan turun temurun karena itu tak usah dilangsungkan pengangkatan guru lagi. Segera berikan keempat macam benda mestika itu untuk diminumnya, daripada malam yang panjang akan menimbulkan impian yang banyak, sehingga barang itu diincar orang dan mengakibatkan timbulnya kejadian diluar dugaan. Kedua, setelah masuk kedalam perguruan, dia diangkat menjadi ketua partai angkatan kesepuluh serta berhak untuk menyelami ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip dan mengikuti cara Pek hui tiau yang toahoat melakukan semedi selama tiga bulan agar bisa menyerap kemujaraban keempat macam bahan obat-obatan tersebut. Meski aku menjabat sebagai ketua perguruan angkatan ke sepuluh, sayang kemampuanku sangat minim dan tak mampu berbuat apa-apa, aku tidak pantas menjajarkan namaku diantara para cousu lainnya, itulah sebabnya sejak menjabat sebagai ketua, aku tidak berani mempelajari kitab pusaka Thian liong pit kip. Sesungguhnya belum terhitung resmi sebagai seorang ketua, oleh karena itu Eng ji secara langsung menempati kedudukan ketua partai angkatan ke sepuluh agar kedudukan mana tak sampai luang. Ketiga, tempat penyimpanan kitab pusaka Thian liong pit kip serta cara membuka tempat itu telah kusampaikan kepada jite, harap jite menyampaikan langsung kepada Eng ji untuk dilaksanakan. Keempat, pil mustika Toh mia kim wan yang merupakan barang mustika perguruan kita masih ada tiga butir, bilamana perlu berikan kepada Eng ji untuk dimakan sehingga mempercepat kemajuan yang akan dicapai dalam tenaga dalamnya. Kelima, sejak Eng ji berusia lima tahun aku telah mewariskan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang kepadanya dengan maksud untuk memperkuat badannya, dengan bakat yang dimiliki Eng ji dalam sepuluh tahun latihan sudah pasti telah memberikan hasil yang baik, karena itu perlu kuberitahukan hal ini kepada sute sekalian. Keenam, Eng ji berkewajiban membangun kembali nama perguruan kita dari puing-puing kehancuran, tugas ini tidak ringan, maka selama belajar silat, semua perhatiannya harus terpusatkan menjadi satu, kemudian setelah berkelana dalam dunia persilatan dilarang sombong dan tekebur, dengan demikian orang baru akan bersedia memberikan bantuannya. Sayang kertas terlalu pendek dan isi hatiku masih banyak, tapi singkatnya saja kita tak boleh sampai melupakan "kesetiaan, bertanggung jawab, kebajikan dan cinta kasih"

Sebab keempat hal ini penting sekali bagi kehidupan seorang manusia. Tertanda.....

"Gui Tin tiong, murid angkatan kesepuluh pada tahun x bulan x tanggal x"

Ketika Thi hujin Yap Sui ling selesai membaca isi surat dari kepedihan Kay thian jiu Gui Tin tiong ini, seketika itu juga seluruh ruangan Sin thong diliputi suasana yang amat sedih.

Untung saja, Thian liong su siang adalah jago-jago persilatan yang cukup berpengalaman sekalipun merasa sedih atas kepergiannya saudaranya, tapi merekapun tahu akibatnya harapan bagi perguruannya untuk muncul kembali dalam dunia persilatan semakin besar.

Hal mana sudah barang tentu merupakan suatu peristiwa besar yang pantas dirayakan oleh anak murid Thian liong pay.

Oleh sebab itu, Thian liong su siang segera menyeka air mata dan menghibur Thi hujin dan Thi Eng khi agar berhenti menangis, kemudian menggotong sebuah kursi kebesaran dan diletakkan di tengah ruangan, lalu menggotong jenazah dari Kay thian jiu Gui Tin tiong untuk didudukkan pada kursi tersebut.

Selesai memberi hormat, dengan dipimpin oleh Pit tee jiu Wong Tin pak maka sebagaimana pesan Kay thian jiu Gui Tin tiong, segera dilangsungkan upacara pengangkatan Thi Eng khi sebagai ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari perguruan Thian liong pay.

Thi Eng khi sendiri, sekalipun masih muda dan cetek pengalamannya tapi tidak sedikit buku yang pernah dibaca olehnya, diapun tidak menampik lagi maksud orang untuk mengangkat dirinya sebagai ketua perguruan yang baru.

Hanya saja terhadap surat wasiat Kay thian jiu Gui Tin tiong telah dilakukan beberapa perbaikan, antara lain .

Pertama, pengorbanan serta kesetiaan Kay thian jiu Gui Tin tiong terhadap penguruan sangat agung dan mulia, sepantasnya kalau ia menjadi ketua angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay, sementara ia sendiri hanya pantas menduduki jabatan sebagai ketua angkatan kesebelas.

Kedua, usia Kay thian jiu Gui Tin tiong cukup tua, kedudukannya tinggi dan jasanya besar bagi perguruan, dia ingin mengangkat Gui Tin tiong sebagai gurunya sebagai rasa terima kasih dan hormatnya kepada orang tua itu.

Dua hal tersebut semuanya merupakan hal-hal yang sudah sewajarnya demikian, maka Thian liong su siang juga tidak menyatakan keberatan.

Bukan saja mereka tak mampu mengucapkan kata-kata keberatan, bahkan dari sini dapat terlihat betapa bijaksananya Thi Eng khi didalam menganalisa persoalan, diam-diam mereka bersyukur karena perguruan mereka akhirnya menemukan juga seorang pemimpin yang cakap.

Maka dari itu, setelah Thi Eng khi menjalankan upacara besar untuk mengangkat Kay thian jiu Gui Tin tiong sebagai gurunya, kemudian dipimpin oleh Thian liong su siang diadakan pula upacara pengangkatan Thi Eng khi sebagai ketua angkatan ke sebelas dari perguruan Thian liong pay ......

Meski sederhana sekali jalannya upacara namun mendatangkan suasana yang penuh rasa haru dan serius, semua upacara dipimpin langsung oleh Pit tee jiu Wong Tin pak.

Sambil berdiri di sebelah kiri meja altar Pit tee jiu Wong Tin pak segera berseru dengan suara lantang .

"Wujudkan kembali kecemerlangan dan kejayaan perguruan kita!"

"Nama kita akan terkenal kembali sampai dimana-mana!"

Sorak tiga orang lainnya dengan keras.

Mereka berempat bersama-sama berkelebat keluar dari ruang Sin thong, ketika balik kembali mereka semua telah berganti dengan satu stel jubah panjang berwarna biru.

Jubah berwarna biru sebenarnya adalah baju seragam dari Thian liong pay, tapi semenjak berita kematian dari Keng thian giok cu Thi Keng tersiar datang pada dua puluh tahun berselang, anak murid Thian liong pay telah mengganti seragamnya menjadi warna abuabu yang gelap, ini sebagai pertanda duka cita segenap anggota perguruan terhadap musibah yang telah menimpa perguruan mereka.

Kini ketua baru telah diangkat, Pit tee jiu lantas menitahkan untuk berganti baju biru hal mana sebagai pertanda bahwa mereka telah bersiap untuk memasuki kembali arena dunia persilatan serta memperjuangkan kembali nama perguruan di mata umum.

Tentu saja hal mana merupakan keinginan dan harapan dari Thian liong ngo siang, sedang mengenai berhasil atau tidaknya, hal ini tergantung pada perjuangan dari Thi Eng khi dikemudian hari.

Kini Pit tee jiu Wong Tin pak telah -missing page 15 -Sekarang secara resmi dia telah menjadi ketua baru angkatan ke sebelas dari perguruan Thian liong pay.

Selesai upacara, Thi Eng khi duduk bersama ibunya, sementara Thian liong su siang dengan senyum dikulum dan wajah yang ringan mengiringi duduk di kedua belah sisinya.

Sambil tersenyum Sam ciat jiu Li Tin tang lantas bertanya .

"Ciangbunjin telah berlatih ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang semenjak sepuluh tahun berselang, entah sampai dimanakah keberhasilan yang telah dicapai?"

Thi Eng khi tertawa.

"Semenjak siautit mendapat pelajaran ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang, selama sepuluh tahun terakhir ini tak pernah lupa untuk melatihnya, supek, coba kau lihat, bukankah tubuhku menjadi lebih kekar dan kuat?"

Belum sempat Sam ciat jiu Li Tin tang menjawab, Pit tee jiu Wong Tin pak telah melototkan mata tunggalnya sambil menukas .

"Harap di dalam pembicaraan dengan anggota partai, ciangbunjin musti ingat kalau tingkat kedudukan ciangbunjin lebih tinggi, karena itu tak boleh menyebut diri sebagai siautit, sepantasnya jika menyebut diri sebagai Pun coh (aku yang mulia)."

Mula-mula Thi Eng khi agak tertegun, kemudian sahutnya dengan mengangguk .

"Terima kasih atas peringatan dari supek, pun coh tahu!"

Thi hujin Yap Siu ling merasakan hatinya amat sedih, apalagi teringat bahwa dengan diangkatnya Thi Eng khi sebagai seorang ciangbunjin, tanpa terasa telah memberikan bahan pikiran lagi baginya.

Ini membuat hatinya menjadi amat sedih.

Dengan kening berkerut dan gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya dengan sedih .

"Menurut pendapat siaumoay, kecuali sedang berada dalam tugas perguruan, dalam kehidupan sehari-hari lebih baik biarlah Eng ji menggunakan sebutan sebagaimana biasanya saja, dengan begitu hubungan diantara kita pun tak sampai terlalu kaku ..."

Sin lui jiu Kwan Tin see yang mendengar usul tersebut, tanpa mempedulikan lagi bagaimana pendapat dari ketiga orang suhengnya, dengan cepat ia bertepuk tangan seraya berseru .

"Ucapan enso memang tepat sekali, siaute paling benci dengan segala macam adat yang kaku, Eng ji benar bukan perkataanku ini?"

Thi Eng khi juga merasa gembira sekali, sahutnya .

"Siautit merasa amat setuju, entah bagaimana dengan pendapat supek lainnya?"

Sam ciat jiu serta San tian jiu hanya tersenyum belaka tanpa menjawab.

Pit tee jiu Wong Tin pak yang merasa usul tersebut berasal darinya, tentu saja tak dapat berdiam diri belaka, sambil tertawa sahutnya .

"Jika tee moay memang berpendapat demikian, terpaksa Ih heng harus menarik kembali perkataanku tadi."

Sam ciat jiu Li Tin tang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah .....haaah...... haaahh... tee moay sungguh hebat, hanya dengan sepatah kata, ia berhasil membuat berubahnya jalan pikiran loji yang kolot, sungguh susah, sungguh susah."

Kemudian sambil mengembalikan persoalan ke pokok masalah semula, katanya lagi.

"Eng ji, tahukah kau bahwa Sian thian bu khek ji gi sin kang merupakan sim hoat tenaga dalam yang tiada keduanya dalam perguruan kita? Sejak sepuluh tahun berselang kau telah mempelajari simhoat tersebut, sesungguhnya sejak saat itu juga kau telah menjadi anggota dari perguruan kita ini."

Thi hujin Yap Siu ling agak tertegun lalu katanya .

"Eng ji juga pernah mengajarkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang kepadaku sebagai ilmu untuk menyehatkan badan, apakah aku juga termasuk anggota Thian liong pay?"

Kiranya ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang adalah suatu kepandaian yang luar biasa, siapa saja yang melatih kepandaian ini, entah tenaga dalamnya masih cetek atau sudah sempurna, tiada ciriciri khas yang bisa dilihat dari luar seandainya tidak dikatakan sekalipun anggota perguruan sendiri juga tidak mengetahuinya.

Itulah sebabnya setelah Thi hujin Yap Siu ling berkata demikian, kontan saja Thian liong su siang tertawa terbahak-bahak karena gembira.

Pit tee jiu Wong Tin pak menghela napas dan manggut-manggut, katanya kemudian.

"Aaai ..... tidak disangka umpama kamu selain berhasil meraih Eng ji rupanya juga relah mendapatkan pula seorang sumoay. Kejadian ini sungguh menggembirakan sekali. Meski Thian liong ngo siang telah kehilangan seorang tapi sekarang telah mendapatkan gantinya lagi, itu berarti Thian liong ngo siang akan tetap utuh. Sumoay cepat kemari dan menyembah kepada Cousu untuk masuk ke dalam perguruan Thian liong pay .... !"

Mendengar perkataan itu, Thi hujin merasa terkejut, setelah termenung sbentar dia baru berkata .

"Meskipun aku tidak mengerti soal ilmu silat, tapi dapat kurasakan betapa mulianya tujuan Gui suheng didalam mengatur segala sesuatunya itu, yaa, aku memang seharusnya turut masuk kedalam tubuh perguruan Thian liong pay, sekalian bisa mengawasi Eng ji dalam latihan ilmu."

Berbicara sampai disitu, dia lantas bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Cousu dimeja abu, dengan begitu secara resmi iapun telah menjadi anggota perguruan Thian liong pay.

Setelah bergembira sebentar, Sam ciat jiu Li Tin tang baru memegang nadi Thi Eng khi seraya berkata .

"Eng ji, coba aturlah pernapasanmu, akan kulihat sampai dimanakah taraf tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang berhasil kau raih ....?"

Thi Eng khi segera menghimpun tenaga dalamnya dan mengatur pernapasan, tak lama kemudian ia sudah berada dalam keadaan lupa diri.

Rupanya ilmu tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang dari Thian liong pay memiliki ciri yang khas, yakni sewaktu mengatur pernapasan tidak selalu harus duduk bersila, dalam posisi yang macam apapun juga, latihan bisa dilakukan.

Dengan wajah terkejut bercampur keheranan Sam ciat jiu Li Tin tang memandang sekejap kearah pemuda itu, kemudian serunya .

"Benar-benar luar biasa, Suheng! Sute! Cepat kemari, coba kalian lihat diri Eng ji!"

Buru-buru tiga orang lainnya datang memeriksa, kemudian mereka berempat bersama-sama mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak. Thi hujin Yap Siu ling menjadi tertegun segera tanyanya .

"Suheng sekalian, apa yang menyebabkan kalian tertawa seringan itu .....?"

Sambil tertawa sahut Sam ciat jiu Li Tin tang.

"Kesempurnaan tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimiliki Eng ji sekarang sudah bukan tandingan dari kami suheng te lagi, bukankah kejadian ini pantas digirangkan?"

Mendengarkan itu, Thi hujin turut gembira sekali. Pit tee jiu Wong Tin pak lantas berkata pula .

"Bakat yang dimiliki Eng ji sungguh luar biasa sekali, berbicara dengan kemampuan yang dimiliki sekarang, boleh dibilang sudah jauh melampaui apa yang berhasil diraih Tiong giok sute ketika meninggalkan rumah dulu. Sebenarnya kami bermaksud untuk memberikan pil mestika Toh mia kim wan untuk menambah daya kekuatan lebih dulu, kemudian bahan obat tersebut, tapi sekarang rasanya tak perlu berbuat demikian lagi. Pil mestika Toh mia kim wan bisa disimpan untuk menolong orang dikemudian hari sedangkan keempat macam obat mestika ini boleh segera diminum, kemudian mengeluarkan kitab Thian liong pit kip dan membiarkan ia melatih diri selama tiga bulan dengan ilmu Pek hui tiau yang toahoat dalam waktu singkat tenaga dalam yang berhasil dicapainya itu pasti akan sudah mencapai puncak kesempurnaan."

Mendengar perkataan itu, semua orang segera bersorak kegirangan.

Empat macam obat mujarab dibawa oleh keempat orang yang mendapatkannya dipersembahkan kehadapan Thi Eng khi.

Sedangkan Thi Eng khi pun segera menelan keempat macam bahan obat tersebut kedalam perut, dia merasa takarannya terlampau sedikit sehingga bagaimanakah rasanya pun tidak diketahui olehnya.

Terutama sekali setelah menelan obat itu sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, ia jadi curiga apakah obat tersebut benar-benar berkasiat atau cuma bernama kosong belaka.

Melihat kecurigaan orang, Pit tee jiu Wong Tin pak hanya tersenyum, setelah memberitahukan tempat penyimpanan kitab Thian liong pit kip serta cara untuk mengambilnya dia bersama sute moaynya mengundurkan diri dari sana agar Thi Eng khi bisa berlatih seorang diri.

Tapi Thi Eng khi tidak berpendapat demikian, katanya .

"Para supek dan susiok, lebih baik temanilah siautit untuk mempelajari bersama kitab pusaka Thian liong pit kip itu!"

Mendengar ucapan tersebut, dengan serius Pit tee jiu Wong Tin pak berkata .

"Sejak partai Thian liong pay didirikan hanya ciangbunjin seorang yang berhak untuk mempelajari isi kitab Thian liong pit kip, sementara murid-murid lainnya hanya mendapat pelajaran dari ciangbunjin, peraturan ini sudah berlangsung turun temurun, jadi tidak seharusnya kalau ciangbunjin melanggar kebiasaan tersebut."

Thi Eng khi segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian dengan wajah yang serius dia menghampiri meja abu Cousunya dan berdoa dengan wajah bersungguh-sungguh.

Setelah itu, dia baru membalikkan badannya sambil berkata .

"Sekarang perguruan kita sedang berada dalam keadaan yang lemah, mara bahaya datang mengancam dari mana-mana, dalam keadaan demikian perguruan membutuhkan orang-orang yang berilmu tinggi. Itulah sebabnya aku telah berdoa di depan meja abu Cousu dan meminta perubahan untuk peraturan tersebut. Sejak dari angkatanku sekarang, setiap murid yang mempunyai kecerdasan yang baik serta bakat yang bagus diijinkan untuk mempelajari sendiri kitab tersebut!"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan .

"Anggota Thian liong pay Wong Tin pak, Li Tin tang, Oh Tin lam, Kwan Tin see dan Yap Siu ling berlima sekarang juga kuperintahkan untuk turut serta dalam mempelajari kitab pusaka Thian liong pit kip, siapapun tak boleh membangkang!"

Perkataan itu diucapkan dengan wajah serius dan suara nyaring, terpancar jelas kewibawaannya sebagai seorang ciangbunjin, tak urung Thian liong ngo siang dibikin tertegun juga untuk beberapa saat lamanya.

Mereka hanya merasakan bayangan tubuh dari Thi Eng khi seakan-akan makin lama semakin membesar, sedemikian besarnya sampai menyelimuti seluruh meja altar.

Mereka merasa seolah-olah perkataan itu bagaikan muncul dari mulut cousu mereka sendiri sehingga kesemuanya ini membuat mereka terkesiap.

Dengan wajah berubah hebat Thian liong ngo siang segera menjatuhkan diri berlutut.

Kata Pit tee jiu Wong Tin pak dengan lantang .

"Teecu Wong Tin pak berlima menerima perintah ciangbunjin dan mengucapkan terima kasih banyak atas kemurahan hati cousu!"

Setelah menerima penghormatan itu, dengan senyuman dikulum Thi Eng khi lantas berkata .

"Silahkan susiok sekalian bangkit berdiri! Asal kalian mau menunjang maksudku, aku merasa amat gembira sekali."

Dengan dilepaskannya kedudukan sebagai seorang ciangbunjin, keseriusan wajahnya pun berangsur melunak kembali. Sam ciat jiu Li Tin tang terbahak-bahak saking terharunya, ia lantas berkata .

"Ciangbun sutit, kau benar-benar hebat, dengan mengandalkan kebesaran jiwamu itu, sudah dapat dipastikan perguruan kita akan jaya kembali dalam dunia persilatan."

"Benar!"

Pit tee jiu Wong Tin pak melanjutkan.

"kebesaran jiwa dan kebijaksanaan ciangbun sutit dalam mengambil keputusan sungguh mencerminkan keluhuran budi ciangbunjin, kami sekalian dapat memahami maksud hati dari ciangbunjin itu."

Mendengar kata-kata tunjangan yang diberikan para supek dan susioknya ini, sekulum senyuman dengan cepat menghiasi bibir Thi Eng khi ..................

Mendadak dengan wajah serius Pit tee jiu Wong Tin pak berkata kembali .

"Silahkan ciangbun sutit untuk segera mengambil kitan pusaka Thian liong pit kip tersebut!"

"Harap supek bersedia untuk membantu!"

"Baik!"

Kata Pit tee jiu Wong Tin pak kemudian.

Dengan cepat badannya melambung keudara dan menerjang ke arah lentera berbintang tujuh nomor tiga dari samping ruangan kemudian ditariknya lentera itu empat kali dan mengayunnya tiga kali.

Semua gerakan tersebut dilakukan dengan tubuh melambung ditengah udara, tanpa tenaga dalam yang sempurna, mustahil bisa melakukan kesemuanya itu.

Tiba-tiba berkumandang suara gemuruh yang amat keras dari bawah meja abu tersebut, mendadak seluruh meja itu tenggelam ke bawah, menyusul kemudian tampaklah sebuah cakar raksasa naga emas muncul di depan mata.

Baru saja Pit tee jiu Wong Tin pak hendak mengambil kotak biru untuk dipersembahkan kepada Thi Eng khi, mendadak terdengar seorang tertawa riang lalu tampak sesosok bayangan manusia menyambar masuk ke dalam dan menyambar ke ruang tengah.

Tidak nampak bagaimana dia melakukan gerakan tubuhnya, tahu-tahu kotak biru berisi kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut telah berpindah ke tangannya.

Reaksi yang diberikan Thian liong su siang cukup cepat, sambil membentak keras empat sosok bayangan manusia dengan menghimpun empat gulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat segera dihantamkan ketubuh pendatang tersebut.

Orang itu tertawa dingin, tangannya dikebaskan dan tahu-tahu sebelum Pit tee jiu Wong Tin pak berhasil menjawil ujung baju orang, jalan darah khi hay hiat ditubuh mereka sudah menjadi kaku kemudian hawa murninya membuyar dan tubuh merekapun menggeletak ditanah.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu singkat, menanti Thi Eng khi dapat melihat bahwa pendatang itu adalah seorang kakek botak yang berusia enam puluh tahunan, keadaan sudah berubah.

Kendatipun Thi Eng khi memiliki tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang amat sempurna, sayang dia belum belajar secara sempurna, pada hakekatnya dia tak tahu bagaimana caranya untuk mengerahkan tenaga sambil melancarkan serangan sehingga boleh dibilang tiada kegunaannya sama sekali untuk menghadapi suatu pertarungan.

Thi hujin Yap Siu ling semakin tak bisa dibilang lagi, ia tak sampai dibikin pingsan karena kagetnya sudah termasuk untung.

Bagaimanapun juga, Thi Eng khi terhitung punya keberanian, sekalipun tidak memiliki kepandaian apa-apa, namun nyalinya tidak kecil.

Dengan wajah tidak berubah, dia maju selangkah kedepan, lalu menegur dengan suara lantang.

"Lo tiang siapakah kau? Menyerobot mustika orang disaat orang tidak siap, termasuk perbuatan apakah itu."

Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek botak itu, dia menatap wajah Thi Eng khi tajam-tajam, kemudian tangan kanannya diangkat ke muka dan siap melancarkan serangan dahsyat untuk merobohkan lawannya.

Thi Eng khi sedikitpun tidak merasa takut, sambil membusungkan dada ia maju selangkah ke depan, jaraknya dengan kakek botak itu tak lebih dari tiga langkah.

Untuk sesaat lamanya kedua orang itu saling berhadapan dengan mata melotot.

Sinar mata Thi Eng khi sama sekali tidak menunjukkan keanehan apa-apa, tapi justru dibalik kesederhanaan itu tersimpan kegagahan yang luar biasa, ini memaksa kakek botak itu menarik kembali sinar matanya.

Dengan wajah berkerut bercampur keheranan dia lantas tertawa terbahak-bahak, serunya .

"Haaahhhh............ haaaahhhh ..... haaah..... kalau dilihat dari usiamu yang begitu muda, aku tahu bahwa kau masih tolol dan tak tahu keadaan yang sebenarnya. Ketahuilah lohu berhasil merebut mustika dan melukai orang, yang dipakai adalah ilmu silat murni dan cara yang jujur, siapa bilang perbuatan ini tidak mencocoki perbuatan seorang lelaki sejati? Haaahh....... haaaahh............ haahhh........, anak muda, benar bukan?"

Pendapat yang demikian anehnya itu baru pertama kali ini didengar Thi Eng khi seketika itu juga paras mukanya berubah menjadi hijau membesi saking marahnya, dia menjadi lupa keadaan dan segera menerjang ke depan dengan garangnya.

"Pun ciangbunjin akan beradu jiwa denganmu!"

Bentaknya gusar.

Thi Eng khi belum pernah belajar ilmu silat, tubrukan tersebut boleh dibilang sama sekali tak pakai aturan.

Hampir copot gigi kakek itu saking gelinya, dia lantas berseru dengan lantang .

"Anak muda, ilmu gerakan apakah yang kau gunakan ini? Naga langit masuk sungai atau ikan belut bermain lumpur? Haaahhhhh........ haaahhh...... haaahhh....."

Bukan saja dia masih tetap berdiri dengan tenang, bahkan ucapannya juga berubah lebih santai dan lembut.

"Bakat maupun keberanianmu termasuk pilihan yang luar biasa, baiklah, memandang pada kebagusan bakatmu itu lohu tidak ingin melukai dirimu, sekarang baliklah ketempat semula dengan baikbaik!"

Thi Eng khi hanya merasakan segulung tenaga kekuatan yang sangat besar mementalkannya balik ke tempat semula, bahkan posisinya sama sekali tidak berubah, dari ini pemuda itu semakin menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek botak ini sudah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa.

Padahal kakek botak itu sama sekali tidak menggerakkan tangan kakinya, hanya mengandalkan pancaran hawa murni ia telah berhasil memaksa mundur Thi Eng khi ke posisi semula, peristiwa tersebut dengan cepat membuat Thi Eng khi semakin kaget dan gelagapan.

Menyaksikan pemuda itu terperana dibuatnya, dengan bangga sekali kakek botak itu mengangkat tinggi-tinggi kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut, kemudian katanya .

"Kitab pusaka Thian liong pit kip sudah berada di tangan lohu, jika kau merasa punya kepandaian, silahkan untuk merampasnya kembali dari tangan lohu!"

Thi Eng khi adalah seorang pemuda cerdik yang pandai melihat keadaan, diapun tahu sekalipun bernapsu atau nekad menerjang kakek itu juga tak ada gunanya sebab dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang masih jauh bila ingin merampas kembali kitab pusaka Thian liong pit kip itu, maka dia cepat menguasai emosi yang sedang membara dalam hatinya.

Setelah tertawa dingin, ujarnya .

"Kitab pusaka Thian liong pit kip adalah mestika dari partai kami, tentu saja pun ciangbunjin akan merampasnya kembali dari tanganmu, Cuma ilmu silat yang pun ciangbunjin miliki masih belum sempurna, maka dipersilahkan untuk kau simpan lebih dulu, dua tahun kemudian, dengan kemampuanku seorang diri pun ciangbunjin pasti akan merampas kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut dari tanganmu, nah sekarang, tinggalkan nama dan alamatmu, kemudian silahkan angkat kaki dari tempat ini!"

Kehadiran kakek botak itu di dalam dunia persilatan sesungguhnya mempunyai ambisi yang besar, adapun kemunculan didalam partai Thian liong pay sekarang sebetulnya tidak berniat untuk merampas kitab pusaka Thian liong pit kip, tujuannya yang paling utama adalah untuk menyelidiki jejak dari Ban li tui hong Cu Ngo.

Kiranya orang yang berhasil merampas kartu undangan yang dibawa Ban li tui hong Cu Ngo tersebut tak lain adalah kakek ini, setelah berhasil merobohkan lawannya dan merampas kartu undangan, pada mulanya dia mengira Ban li tui hong Cu Ngo pasti sudah tiada lagi di dunia ini, cuma kemudian dia teringat akan suatu persoalan andaikata berita kematian Cu Ngo sampai tersiar luas, bukankah hal itu akan menerangkan bahwa tugas Cu Ngo belum terselesaikan, bukankah hal itu justru akan meningkatkan kesiapsiagaan pihak Ki hian san ceng?

Keadaan tersebut sesungguhnya sangat tidak menguntungkan bagi kelancaran rencana besarnya karena itu diapun memburu balik kembali ke tempat semula siap untuk melenyapkan jejak.

Siapa tahu ketika ia tiba kembali ditempat semula, jenazah Cu Ngo tidak tampak lagi, otomatis perhatiannya lantas dialihkan ke tubuh partai Thian liong pay yang berada disekitar tempat itu.

Sewaktu dia menyerbu masuk kedalam Thian liong pay, bukan saja secara jitu berhasil merampas kitab pusaka Thian liong pit kip, bahkan menemukan pula kalau Thi Eng khi adalah seorang pemuda yang berbakat baik, timbullah niatnya untuk mendapatkan pemuda tersebut sebagai muridnya.

Tapi kenyataan sudah terbentang didepan mata, ia tahu tak mungkin benda dan orangnya bisa didapatkan bersama.

Setelah pikir punya pikir, akhirnya dia merasa bahwa pemuda yang berbakat bagus itu jauh lebih berharga daripada kitab pusaka Thian ling pit kip itu, sebab dia merasa bagaimanapun mestikanya kitab pusaka itu, sesungguhnya sama sekali tidak penting bagi dirinya.

Pada empat puluh tahun berselang, tanpa sengaja dia berhasil menemukan se

Jilid kitab Huan im po liok dan se

Jilid Jit sat hian im cin keng.

Setelah melalui latihan yang tekun selama empat puluh tahun,dia beranggapan bahwa ilmu yang dimilikinya sekarang sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini.

Selain itu, diapun teringat bahwa usianya kian lama semakin bertambah tua, sekalipun Thian liong pit kip lebih tangguh dari Jit sat hian im cin keng, tapi dirinya sudah tiada waktu lagi baginya untuk berlatih kembali dari permulaan.

Ketika untuk kedua kalinya dia turun kembali, berkobar ambisi yang sangat besar didalam dadanya, dia bercita-cita untuk menaklukan segenap jago dari seluruh dunia persilatan agar nama besarnya bisa dikenang orang terus sepanjang masa.

Oleh karena itu, ketika Thi Eng khi meminta kepadanya untuk meninggalkan nama sebelum pergi, sudah barang tentu ia enggan untuk berbuat demikian.

Maka dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak serunya .

"Haaahhh..... haaahhh...... haaahhhh.... mana-mana, kau mengira lohu benar-benar tertarik dengan kitab pusaka Thian liong pit kip mu itu ..........?"

Thi Eng khi menjadi tertegun, dia tidak habis mengerti, kenapa orang ini sama sekali tidak tertarik oleh kitab pusaka Thian liong pit kip ............. Dengan perasaan heran, ia lantas menegur .

"Lantas ada keperluan apa kau malam-malam mendatangi Sin thong partai kami?"

Kakek botak itu segera menarik kembali senyumnya, kemudian berkata .

"Lohu ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, asal kau bersedia untuk menjawab dengan sejujurnya, lohu akan segera mengembalikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut kepadamu!"

"Asal pertanyaan yang kau ajukan adalah persoalan yang benar, pun ciangbunjin tentu saja bersedia untuk memberi jawaban, tapi bukan berarti pun ciangbunjin mau berada di bawah perintahmu."

Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....... haaahhh..... haaahh.. sungguh seorang ciangbunjin Thian liong pay yang hebat, hari ini lohu akan mengikat tali persahabatan denganmu, nah ambillah kembali kitab pusaka Thian liong pit kip ini!"

Tangannya didorong kemuka, kotak biru itupun pelan-pelan melayang kembali ke tangan Thi Eng khi.

Mimpipun Thi Eng khi tidak menyangka kalau pihak lawan bertindak begitu sosial, maka setelah menerima kembali kotak itu, diapun tertawa terpaksa, katanya .

"Lotiang ada urusan apa?"

"Apakah Ban li tui hong Cu Ngo telah ditolong oleh orang-orang Thian liong pay?"

"Benar!"

Jawab Thi Eng khi berterus terang.

"Pun ciangbunjin yang telah turun tangan menyelamatkan jiwanya!"

"Aaaaah...... masa dengan kemampuan itu sanggup untuk menyelamatkan jiwanya?"

Seru si kakek botak tidak percaya.

"Haaahhh......... haaahhh........... haaahh......... kau terlalu memandang rendah partai kami!"

Kakek botak itu termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian agaknya dia percaya dengan perkataan dari Thi Eng khi, tanyanya lebih jauh .

"Sekarang dia berada di mana?"

"Aku tahu kalau kau tidak bermaksud baik terhadap dirinya, pun ciangbunjin tak dapat memberitahukan kepergiannya!"

Kakek botak itu memang cukup licik, serunya dengan cepat .

"Kalau begitu dia sudah pergi meninggalkan Thian liong pay?"

Thi Eng khi beranggapan bahwa soal ini tidak penting untuk dirahasiakan, maka diapun mengangguk.

"Ya, benar! Lukanya telah sembuh, tentu saja ia pergi meninggalkan tempat ini."

Kakek botak itu kembali tertawa licik .

"Heeehhh...... haaahhh..... haaahhh... asal dia belum mampus, lohu percaya pasti dapat menemukan jejaknya."

Kemudian sambil menuding kearah Wong Tin pak berempat yang menggeletak ditanah katanya lebih jauh.

"Keempat orang supekmu itu sudah terkena totokan Jit sat ci milik lohu, sekalipun lohu bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu, akan tetapi tidak bisa melanggar kebiasaan, apalagi turun tangan sendiri untuk menolong mereka, bila kau berniat untuk memulihkan kembali tenaga dalam mereka, setengah tahun kemudain kau boleh menunggu lohu diatas puncak Bong soat hong di bukit Wu san, saat itu lohu pasti akan mewariskan ilmu membebaskan totokan itu kepadamu, nah jangan lupa! Heeehhh... heeehhh.... heeehhh........"

Setelah tertawa penuh misterius , dia lantas meluncur keluar dari ruangan itu.

Wong Tin pak berempat yang tertotok oleh Jit sat ci hanya merasakan sekujur badannya kesemutan, hawa murninya tersumbat dan sama sekali tak mampu berkutik, sementara pendengarannya sama sekali tdiak terpengaruh, melihat kakek botak itu sudah pergi, dengan wajah murung Pit tee jiu Wong Tin pak lantas berkata.

"Ciangbunjin sutit, ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip tiada taranya di dunia ini, asal kau bisa meyakininya, untuk membebaskan totokan Jit sat ci mah bukan urusan yang susah, kau tak usah kuatir dan tak perlu tergesa-gesa."

Thi hujin Yap Siu ling juga berhasil menenangkan hatinya, dia lantas berpesan kepada Thi Eng khi .

"Ilmu Thian liong pit kip bukan bisa diyakini di dalam sehari saja, Eng ji lebih baik kita urusi dulu diri supek dan susiok beberapa orang!"

Thi Eng khi manggut-manggut mengiakan dia lantas menyerahkan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut kepada ibunya, kemudian menggotong datang empat buah pembaringan besar dan membopong tubuh Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian naik keatas ranjang.

Kemudian dengan mengikuti petunjuk dari Pit tee jiu Wong Tin pak , ia membuka sebuah pintu rahasia disebelah kiri ruang Sin thong dan memasuki sebuah ruang rahasia.

Didalam ruangan itu telah siap lima buah peti mati, diujung peti mati tersebut telah tercantum nama dari Thian liong ngo siang, maka mengikuti petunjuk yang telah ada, dia membaringkan jenasah gurunya Gui Tin tiong ke dalam peti mati, kemudian menyimpan jenasah tersebut dalam ruang rahasia untuk menunggu saat yang baik setelah Thian liong pay jaya kembali nanti, dikubur dengan upacara besar.

Setelah repot seharian penuh, keesokan harinya di hadapan Pit tee jiu Wong Tin pak berempat serta ibunya, ia membuka kotak biru yang berisikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut.

Kotak biru itu sama sekali tidak menyolok atau memiliki sesuatu keanehan apa-pa, tapi setelah dibuka ternyata isinya adalah sebuah kotak kumala hijau , di luar kotak kemala itu terikat satuan sabuk biru, cara menyimpulkan tali itupun aneh sekali, sehingga Thi Eng khi gagal untuk membuka simpul mati tersebut dengan cara apa pun.

Melihat itu Thian liong ngo siang segera saling berpandangan sambil tertawa.

Pit tee jiu Wong Tin pak segera berkata .

"Silahkan ciangbunjin mempergunakan kecerdasan otakmu untuk membebaskan tali simpul tersebut, bila simpul itu dapat dibuka, kitab Thian liong pit kip bisa diambil."

Thi Eng khi berusaha keras untuk membuka tali simpul itu dengan pelbagai cara, tapi sama sekali tiada hasilnya, malahan semakin dibuka tali itu semakin kencang.

Satu ingatan lantas melintas dalam benaknya, sambil mendongakkan kepala dia bertanya .

"Tolong tanya supek, apakah pun ciangbunjin harus bisa membuka tali simpul tersebut baru bisa melatih ilmu yang tercantum didalam kitab pusaka Thian lion pit kip."

"Memang demikian tujuannya!"

Sahut Pit tee jiu Wong Tin pak dengan kening berkerut. Thi Eng khi lantas manggut-manggut pikirnya .

"Mungkin yang menjadi tujuannya adalah untuk mencoba kebesaran jiwa seorang ciangbunjin...."

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa nyaring.

"Baik!"

Katanya.

"Siautit tak akan membuat kecewa kalian semua ............!"

Ketika mendongakkan kepalanya, tiba-tiba tampak olehnya didinding sebelah kiri sana tergantung sebilah pedang antik, cepat dia meloloskan senjata tersebut hingga seluruh ruangan diliputi oleh cahaya keemas-emasan.

Sekalipun Thi Eng khi tak bisa membedakan mana pedang yang baik dan mana pedang yang jelek, tapi tidak sulit baginya untuk menebak bahwa pedang tersebut adalah sebilah pedang mestika.

Pelan-pelan dia mengangkat pedangnya dan diayunkan ke atas tali simpul itu, tampak cahaya pedang berkelebat, tahu-tahu simpul tersebut sudah putus menjadi beberapa bagian.

Mula-mula Thian liong ngo siang menjerit kaget, menyusul kemudian mereka segera bersorak gembira.

Rupanya merekapun dapat memahami arti dari simpul mati itu.

Hanya seorang enghiong yang berjiwa besar dan bersemangat gagah baru akan mengambil tindakan demikian, sebab itulah yang diperlukan bagi seorang ketua dari Thian liong pay.

Setelah mengembalikan pedang antik itu ke tempat semula, Thi Eng khi baru membuka kotak kemala tersebut untuk diambil kitabnya.

Siapa tahu, begitu melongok ke dalam kotak tersebut, kontan saja ia menjerit kaget.

"Aaaah..... mana kitab pusaka Thian liong pit kipnya?"

Ternyata dalam kotak kemala itu selain secarik kertas, tidak nampak sesuatu apapun.

Paras muka Thian liong ngo sing segera berubah hebat, mereka saling berpandangn dengan wajah tertegun.

Sekalipun Thi Eng khi merasa amat kecewa namun dia masih dapat menenangkan hatinya, diambil surat itu kemudian dibaca dengan lantang .

"Anggota partai kita tiada manusia berbakat, keturunan pun tak punya, kitab pusaka Thian liong pit kip telah kubawa pergi seandainya Thian tidak menakdirkan partai kita musnah, kitab pusaka ini akan dibawa kembali oleh ciangbunjin angkatan kesebelas."

Tertanda .

Thi Keng tahun x bulan x tanggal x Waktu yang dicantumkan ternyata adalah saat dimana kakek itu pergi meninggalkan tempat tersebut.

Pit tee jiu Wong Tin pak segera menghela napas sedih, katanya kemudian .

"Dari sini bisa diketahui kalau Insu selalu murung karena memikirkan masa depan partai kita, cuma dia orang tua telah meninggal di tempat lain, dalam surat wasiatpun tidak menyinggung soal itu, sudah pasti dia mati dengan membawa sesal, entah kitab pusaka Thian liong pit kip sekarang telah terjatuh ditangan siapa?"

"Sudah pasti ditelan oleh Tiang pek lojin yang menghantar surat wasiat itu pulang"

Seru Sin lui jiu Kwan Tin see dengan marah bercampur dendam.

"Eng ji, kau segera berangkat dan cari Tiang pek lojin sampai ketemu."

"Jika urusan ini tidak dilihat dengan mata kepala sendiri, lebih baik jangan sembarangan menuduh,"

Cegah Sam ciat jiu Li Tin tang cepat.

"Tiang pek lojin adalah seorang pendekar sejati, andaikata orangnya tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin Insu menitipkan surat wasiat itu kepadanya? Tentu saja kitab pusaka itu musti diselidiki tapi tak usah terburu napsu, yang penting sekarang adalah melatih ciangbun sutit dengan rangkaian ilmu silat perguruan yang kita pahami, agar obat mustika yang berada dalam tubuh ciangbun sutit bisa mulai bercampur baur dengan kekuatan tubuhnya, setelah itu baru kita bicarakan kembali soal kitab pusaka Thian liong pit kip."

"Tapi harus menunggu sampai kapan?"

Seru Sin lui jiu Kwan Tin see.

"Paling tidak juga harus menunggu sampai lima tahun lagi!"

Pit tee jiu Wong Tin pak segera menghembuskan napas panjang, serunya dengan kesal .

"Meskipun lima tahun itu panjang tapi kalau dibandingkan dengan lima belas tahun yang sudah lewat, waktu sepanjang itu juga tidak terhitung seberapa! Lima belas tahun saja bisa kita tunggu, masakan menunggu lima tahun lagipun tak bisa?"

Paras muka Thian liong ngo siang berubah menjadi amat sedih dan murung, menanti ........

menanti ........

seakan-akan soal menanti sudah bukan menjadi suatu masalah lagi bagi mereka.

Sementara Thian liong ngo siang merasa bersedih hati, Thi Eng khi yang baru semalam menjabat sebagai ketua Thian liong pay juga sedang berdiri memandang patung cousu nya sambil termangumangu, entah apa saja yang dipikirkan olehnya.

Terbayang kembali sejarah Thian liong pay di masa lalu yang begitu jaya dan mentereng, makin dipikir pemuda itu merasa tanggung jawab yang dibebankan diatas bahunya semakin berat.

Sejarah gemilang dari Thian liong pay diperoleh dari sumbangsih Thian liong pay terhadap keselamatan dunia persilatan.

Atau dengan perkataan lain, kebangkitan Thian liong pay juga harus ikut bertanggung jawab pula atas ditegakkannya kebenaran dan keadilan dalam dunia persilatan.

Kalau ditinjau dari pembicaraan Ban li tui hong Cu Ngo serta disebarnya undangan Bu lim tiap oleh pihak perkampungan Ki hian san ceng dibukit Hong san, bisa diduga kalau dunia persilatan sedang terancam oleh mara bahaya.

Berpikir sampai disitu, Thi Eng khi segera mengambil keputusan di dalam hatinya, sambil memandang wajah Thian liong ngo siang, ujarnya dengan suara dalam .

"Lima tahun adalah suatu jangka waktu yang terlalu panjang, padahal ancaman dunia persilatan telah diambang pintu, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, Thian liong pay mana boleh memisahkan diri diluar garis? Oleh karena itu, siautit bermaksud untuk berangkat besok juga, aku akan berkunjung ke perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san serta ikut menyumbangkan tenaga kita bagi ditegakkannya keadilan dan kebenaran. Siautit rasa, dengan kemampuan yang kumiliki sekarang, mungkin masih bisa mengatasi segala kesulitan yang ada."

Ucapan yang begitu gagah perkasa ini membuat Thian liong ngo siang tak mampu untuk mengucapkan kata-kata tidak setuju.

Semua orang menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, akhirnya Pit tee jiu Wong Tin pak, menghela napas panjang, katanya .

"Bila ciangbun sutit ingin mengubah kekuatan Sian thian bu khek ji gi sin kang yang berada di tubuhmu dari kekuatan yang tersimpan menjadi kekuatan sesungguhnya, caranya gampang sekali. Asal kau mengingat beberapa kata sandi yang penting ini, maka dalam latihan tiga hari saja semua kehendakmu bisa tercapai, cuma sekalipun demikian, kamu masih belum bisa beradu kekuatan dengan mereka, sebab hal ini hanya akan melemahkan kedudukan partai kita saja."

Rupanya ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang yang diwariskan Kay thian jiu Gui Tin tiong kepada Thi Eng khi tersebut hanya cara untuk menghimpun tenaga, untuk menghindari kecurigaan Thi hujin, sengaja dia tidak mewariskan cara untuk mengerahkan tenaga, meski demikian hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi latihannya, asal mendapat pengerahan yang tepat maka keadaan tersebut masih bisa diatasi.

Demikian, ketika Thi Eng khi mendengar perkataan dari Pit tee jiu Wong Tin pak tadi, sambil tertawa ia lantas menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya .

"Kepergianku ke bukit Hong san kali ini hanya ingin menunjukkan solidaritas partai kita dengan partai-partai persilatan lainnya, kita hanya akan menyumbangkan kecerdasan kita, dan bukan beradu kekuatan, jadi soal ilmu silat masih belum diperlukan, harap supek tak usah kuatir...!"

Sam ciat jiu Li Tin tang mengangguk berulang kali.

"Bila ingin membangun kembali nama besar Thian liong pay, kita memang tak bisa melepaskan diri dari persoalan dunia persilatan, tindakan semacam ini memang sangat diperlukan sekali, cuma persoalannya sekarang adalah partai kita tidak memperoleh undangan ...."

"Huuuh....! Sangkoan loji itu manusia macam apa?"

Teriak Sin lui jiu Kwan Tin see dengan suara lantang.

"empat puluh tahun berselang, ketika mengikuti di belakang Insu hak untuk turut berteriakpun belum punya, sekarang saja lagaknya luar biasa, malah berani pandang rendah partai kita, benar-benar keterlaluan!"

San tin jiu Oh Tin lam tertawa.

"Losu tak usah marah-marah,"

Katanya.

"sekalipun Sangkoan loji tak punya aturan, dengan mengandalkan keadaan kita yang setengah hidup setengah mati, apa yang bisa kita lakukan?"

Sin liu jiu Kwan Tin see yang dikatai demikian hanya bisa melototkan matanya lebar-lebar sambil menghela napas panjang.

"Anak Eng, ibu mendukung tindakanmu ini!"

Seru Thi hujin Yap Siu ling sambil tertawa.

"Asal tujuan kita tulus, peduli amat dengan sikap orang lain terhadap kita.

"ucap Pit tee jiu Wong Tin pak pula.

"Ciangbun sutit gagah perkasa dan, baiklah! Harap kau suka menunggu lima hari, dalam lima hari ini kami akan membantumu sebisanya."

"Terima ksih atas kebaikan para supek dan susiok."

Perkampungan Ki hian san ceng sesungguhnya bukan terletak diatas bukit Hong san melainkan berada di kaki bukit sebelah utara dari bukit tersebut, masuk dari mulut bukit lalu berbelok ke kanan.

Di depan pintu perkampungan terdapat sepasang patung siang yang tinggi dan besar.

Diatas pintu gerbang terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan empat huruf besar .

"Ki hian san ceng"

Empat huruf besar yang berwarna keemas-emasan.

Suasana dalam perkampungan waktu itu sangat hening dan sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

Seorang sastrawan berbaju biru yang berwajah gagah berdiri ditengah lapangan pintu depan, sebilah pedang antik tersoren di pinggangnya, meski lemah lembut tapi kelihatan amat gagah.

Lama sekali sastrawan berbaju biru itu berjalan bolak balik di tengah lapangan akhirnya dia berhenti seraya berguman .

"Tampaknya perkampungan ini sama sekali tiada penjagaan, jangan-jangan aku telah salah mengingat waktu? Masa waktu pertemuan bukan hari ini....?"

Mendadak terasa ada segulung angin lembut berhembus lewat dari sisi tubuhnya ketika dia coba mengamati, ternyata ada seorang kakek bungkuk sedang berjalan berjalan menuju ke dalam perkampungan.

Menyusul kemudian, dari balik perkampungan itu terdengar seseorang berseru lantang .

"Sin lo tuo (unta sakti) locianpwe telah tiba!"

Mendengar suara itu, tersenyumlah pemuda berbaju biru tersebut, segera gumannya.

"Oooh .... aku kelupaan bahwa pertemuan ini adalah suatu pertemuan rahasia, tentu saja penyambutnya tidak akan berdiri diluar perkampungan sambil memasang aksi."

Berpikir sampai disitu, dia lantas beranjak dan berjalan ke dalam perkampungan.

Di balik pintu perkampungan juga terbentang sebuah lapangan luas, dua baris lelaki kekar berdiri di kiri kanan pintu, mereka berdiri dengan senjata terhunus sehingga suasana tampak amat serius.

Disiplin orang-orang itu sangat tinggi, sekalipun berjumlah banyak tapi suasana amat hening tak kedengaran sedikit suarapun, karena itulah kalau yang berada di luar perkampungan sama sekali tak akan menyangka kalau dibalik perkampungan tersebut terdapat begitu banyak jago yang sedang berdiri dengan senjata terhunus.

Baru saja sastrawan berbaju biru itu melangkah masuk ke dalam pintu perkampungan, seorang pemuda berjubah panjang segera menyambut kedatangannya dengan senyum dikulum .

"Harap cianpwe memperlihatkan undangan dari perkampungan kami, agar bisa diberikan laporan ke dalam guna penyambutan."

Sebetulnya sastrawan berbaju biru itu akan menyambut dengan wajah dihiasi senyuman, akan tetapi setelah teringat kalau dirinya adalah ketua dari suatu perguruan besar, tiba-tiba dengan wajah serius sahutnya keren .

"Aku adalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, khusus datang kemari untuk menyambangi Sangkoan lo cengcu!"

Ia tidak mempunyai surat undangan, itulah sebabnya terpaksa harus mengutarakan identitasnya. Tampaknya pemuda itu kena digertak oleh kedudukannya sebagai seorang "ciangbunjin"

Ia tak berani menanyakan soal undngan lagi kepada Thi Eng khi, tapi iapun tidak mempersilahkan tamunya untuk masuk, sahutnya berulang kali .

"Baik! Baik! Harap Thi ciangbunjin menunggu sebentar!"

Dengan cepat dia menyelinap masuk ke dalam pintu ruang kedua yang membentang di depan mata itu.

Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali bersama seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan yang berbaju parlente.

Lelaki berbaju parlente itu memiliki sepasang mata yang tajam bagaikan sembilu, sekalipun Thi Eng khi tidak cukup berpengalaman, dia juga tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki orang ini tidak lemah.

Lelaki berbaju parlente itu langsung berjalan ke hadapan Thi Eng khi, kemudian dengan penuh rasa hormat, katanya .

"Aki bernama Sangkoan Gi."

Lalu sambil menuding pemuda tampan tadi , dia melanjutkan.

"Dan dia adalah keponakan kami Sangkoan Beng, tolong tanya ada urusan apa Thi ciangbunjin berkunjung kemari?"

Thi Eng khi segera berpikir.

"Dengan jelas dia tahu kalau kedatanganku kemari adalah untuk menjumpai cengcu, mengapa ia musti banyak bertanya lagi?"

Pada mulanya, pemuda ini hanya seorang anak sekolahan, maka melihat orang berbicara sambil tersenyum , tentu saja dia tak bisa mencari gara-gara terpaksa dia mengulangi kembali maksud kedatangannya.

"Aku masih muda dan berpengalaman cetek, entah Sangkoan tayhiap dan Sangkoan cengcu ....."

Sangkoan su kita terdiri dari Sangkoan Tiong, Sangkoan Siau, Sangkoan Jin dan Sangkoan Gi, mereka semua bukan manusia atas bernama dalam dunia persilatan, sekalipun Thi Eng khi mengajukan pertanyaan tersebut karena dia benar-benar tak pernah mendengar nama Sangkoan Su kiat, tapi dalam pendengaran Sangkoan Gi justru ucapan tersebut sangat tak sedap didengar.

Dengan kening berkerut tapi masih bsersikap sopan Sangkoan Go segera menjawab.

"Dia orang tua adalah ayahku!"

Begitu mengetahui kalau Sangkoan Gi adalah sau cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng, Thi Eng khi menjadi girang sekali, cepat serunya.

"Harap Sangkoan tayhiap suka memberi laporan ke dalam, katakan bahwa aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan ayahmu!"

Untuk menjaga nama baik perkampungan Ki hian san ceng dimata orang, Sangkoan Gi terpaksa menyahut.

"Oooh .....! Kedatangan Thi ciangbunjin sungguh sangat tidak kebetulan, beberapa hari berselang ayahku telah turun gunung dan sampai sekarang belum pulang, entah Thi ciangbunjin tinggal dimana? Silahkan meninggalkan alamat, bila ayahku sudah pulang nanti, pasti akan kusampaikan."

Ucapan tersebut cukup jelas, yakni perkampungan Ki hian san ceng tidak berniat untuk menyambut kedatangan ketua dari Thian liong pay ini.

Manyaksikan maksud baiknya dibalikin orang, Thi Eng khi mengernyitkan alis mata nya , kemudian dengan menahan diri serunya kembali .

"Sesungguhnya aku datang untuk mengikuti pertemuan rahasia yang sedang diselenggarakan disini, harap Sangkoan tayhiap segera masuk ke dalam untuk memberi laporan."

Paras muka Sangkoan Gi kontan saja berubah hebat, cepat-cepat serunya .

"Perkampungan kami sama sekali tidak menyelenggarakan pertemuan apa-apa, mungkin Thi ciangbunjin telah salah mendengar!"

Pada ssat itulah, tiba-tiba dari luar pintu berjalan masuk seorang pendeta tua berjubah abu-abu, bersenjata tongkat baja dan berwajah ramah dan penuh asih.

Begitu menjumpai kemunculan pendeta itu buru-buru Sangkoan Gi meninggalkan Thi Eng khi untuk menyambut kedatangannya, setelah memberi hormat katanya .

"Ayah telah menantikan kedatangan taysu di ruang tengah, silahkan masuk ke dalam taysu!"

Tanpa memeriksa kartu undangannya lagi, dia mempersilahkan hwesio itu untuk masuk ke dalam ruangan.

Melihat kesemuanya itu, Thi Eng khi selain merasa mendongkol juga gusar, baru saja dia bermaksud untuk menerjang masuk kedalam ruangan, tiba-tiba Sangkoan Gi telah melayang kembali di hadapannya.

Terpaksa sambil menahan sabar dia menegur .

"Siapakah pendeta agung tadi?"

Dengan perasaan tak sabar Sangkoan Gi menyahut .

"Ci kay taysu dari partai Siau lim!"

"Tolong tanya apa kedudukan Ci Kay taysu didalam kuil Siau lim si?"

Kembali Thi Eng khi bertanya.

Sangkoan Gi mengira Thi Eng Khi sudah tahu pura-pura bertanya dengan maksud untuk menggodanya, sebab didalam anggapannya setiap umat persilatan pasti mengenali siapakah empat Kim kong dari kuil Siau lim si, maka sambil menarik mukanya sehingga berubah menjadi dingin bagaikan es, dia berkata .

"Salah satu seorang Kim kong dari kuil Siau lim si, kedudukannya adalah seorang huhoat!"

Thi Eng khi bertanya lebih jauh .

"Apakah dia adalah murid pertama dari ketua Siau lim pay?"

Makin didengar Sangkoan Gi merasa semakin tak karuan perasaannya, kontan saja dengan mata melotot sahutnya keraskeras .

"Empat Toa kim kong dari Siau lim si adalah sute dari ketua partai Siau lim si, Thi ciangbunjin! Jawabanku ini cukup memuaskan bukan!"

Menyaksikan jawaban Sangkoan Gi makin lama semakin tak tahu sopan santun, berkobar hawa amarah dalam hatinya, serunya kemudian dengan suara lantang .

"Aku sebagai seorang ciangbunjin apakah tidak bisa menandingi seorang huhoat dari Siau lim si? Mengapa aku tak boleh memasuki pintu gerbang perkampungan kalian? Harap Sangkoan tayhiap memberi penjelasan!"

Sangkoan Gi tak mau mengalah, serunya pula keras-keras .

"Sekalipun Thi ciangbunjin adalah seorang ketua dari suatu perguruan, bila tiada surat undangan dari perkampungan kami, jangan harap bisa memasuki ruangan kami."

Dengan mata kepala sendiri kusaksikan Ci kay taysu agaknya tak pernah mengeluarkan surat undangannya, apakah Sangkoan tayhiap sengaja hendak membuat susah diriku?"

Sangkoan Gi tertawa dingin.

"Nama besar Ci kay taysu sudah tersohor di seluruh dunia persilatan, setiap orang mengenalinya, bila Thi ciangbunjin ingin dibandingkan dengan dirinya .......... hmm! Masih kelewat pagi."

"Sangkoan tayhiap!"

Bentak Thi Eng khi dengan suara gusar.

"jika kau tetap bersikeras dengan jalan pemikiranmu itu, terpaksa aku akan melangkah masuk sendiri!"

Untuk sesaat lamanya Sangkoan Gi terpengaruh oleh kewibawaannya yang amat besar itu tanpa sadar dia menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat.

Tapi belum sampai dia menyusul ke depan, tampak keponakannya Sangkoan Beng telah menghadang jalan pergi Thi Eng khi dengan senyuman cengar-cengir.

Usia Sangkoan Beng selisih tidak terlalu banyak dibandingkan dengan Thi Eng khi, tapi berhubung dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga persilatan yang berpengaruh, maka sedikit banyak sikapnya agak angkuh dan tinggi hati.

Diam-diam ia menyesal mengapa tidak bisa menahan diri ketika digertak lawannya tadi sehingga dia kehilangan muka dan harus mengundang paman susioknya untuk menyelesaikan persoalan ini, dia merasa tindakannya itu berakibat dia kehilangan muka.

Maka ketika dilihatnya Sangkoan Gi agak kewalahan untuk menghalangi masuknya Thi Eng khi kedalam ruangan, cepat-cepat dia maju kedepan untuk mengatasinya.

Dia telah bertekad untuk menghalangi Thi Eng khi masuk ke dalam perkampungan Ki hian san ceng, karena kalah pengaruh bila sama-sama serius, maka dia ambil sikap tertawa cengar-cengir untuk menghadapi lawannya.

Jilid 3 Begitulah, sambil menghalangi jalan pergi Thi Eng khi, ujarnya .

"Perkampungan Ki hian san ceng adalah tempat berkumpulnya orang-orang kenamaan dalam dunia persilatan, sekalipun Thi ciangbunjin adalah seorang ketua dari Thian liong pay, namun perkampungan kami pun tidak ingin merusak kewibawaan kami sehingga dijadikan bahan gurauan orang dikemudian hari, maaf, jalan disini tidak tembus, silahkan pulang saja ke rumah!"

Demi menjunjung nama baik perguruan Thian liong pay setelah berada dalam keadaan begini tiada pilihan lain baginya kecuali bertahan terus. Dengan wajah serius katanya kemudian .

"Sangkoan sauhiap! Benarkah kau tidak memperkenakan aku untuk masuk kedalam?"

Sambil berkata dengan langkah lebar dia melanjutkannya maju ke depan. Sangkoan Beng segera menarik sikap cengar-cengirnya, dengan wajah serius katanya pula .

"Kalau toh Thi ciangbunjin begitu tak tahu diri, terpaksa aku harus membuat dosa kepadamu!"

Seraya berkata, dengan jurus liu soat hong san (awan mengalir menyelimuti bukit) dia menciptakan selapis bayangan telapak tangan yang rapat untuk menyerang tubuh bagian atas Thi Eng khi.

Jurusan serangan tersebut merupakan jurus yang sangat tangguh dari ilmu pukulan kilat Huan im hu yu cap pwe kuay jiu yang paling diandalkan perkampungan Ki hian san ceng.

Sangkoan Beng agak keder oleh nama besar ketua Thian liong pay, kuatir perbuatannya akan menurunkan gengsi perkampungan Ki hian san ceng dimata umum, maka begitu turun tangan dia lantas menyerang dengan menggunakan jurus serangan yang paling tangguh.

Sungguh kasihan Thi Eng khi yang memiliki tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang sempurna itu, didalam menghadapi serangan lawan, dia hanya memiliki tiga jurus ilmu pukulan Thian liong ciang hoat, tiga jurus ilmu jari Thian liong ci hoat, tiga jurus ilmu pedang Thian liong kiam hoat dan tiga jurus ilmu pukulan Thian liong kun hoat yang diwariskan Thian liong su siang kepadanya.

Sekalipun tiga kali empat dua belas jurus ilmu sakti dari partai Thian liong pay, yang dimilikinya itu merupakan inti kekuatan dari ilmu aliran Thian liong pay akan tetapi dengan kematangan yang terbatas itu secara otomatis kekuatan yang terpancar keluar dari serangan itupun sangat terbatas sekali.

Dengan perkataan lain, seandainya dia yang membuka serangan lebih dulu, baik dalam ilmu telapak tangan, ilmu jari, ilmu pedang maupun ilmu pukulan dalam waktu singkat dia bisa lepaskan serangan yang maha dahsyat ibaratnya kehebatan Thia Kau kim.

Tapi jika musuh menyerang duluan maka kedua belas jurus ilmu sakti yang dimilikinya itu akan berubah menjadi satu jurus, jurus serangan yang sama sekali tak ada faedahnya.

Sebab jurus-jurus serangan itu dipelajarinya secara mendesak, apalagi tiada berpengalaman dalam menghadapi pertarungan, otomatis dia tak bisa melakukannya dengan matang.

Dalam pada itu, Sangkoan Beng telah memandang terlampau tinggi akan kehebatan musuhnya, begitu turun tangan dia lantas menyerang dengan jurus perguruannya yang paling hebat, bagaimana mungkin ia mampu untuk menghadapinya?

Terasa bayangan telapak tangan menyelimuti seluruh angkasa dan menekan ke atas batok kepalanya, dengan gugup dia segera melompat mundur ke belakang.

Sangkoan Beng tertawa bangga, sambil menarik kembali serangannya ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ....haaahhh .....haaahhh......ternyata ilmu silat Thian liong pay tak lebih Cuma begitu-begitu saja! Ciangbunjin mungkin terlalu awal bagimu untuk berkelana dalam dunia persilatan, silahkan! Silahkan! Kami tak akan mengantar lebih jauh lagi!"

Ucapan itu penuh dengan nada ejekan sindiran amat tak sedap untuk ditangkap dengan pendengaran.

Thi Eng khi segera merasakan darah panas dalam tubuhnya mendidih, tak terlukiskan kemarahan yang berkobar dalam dadanya, segera membentaknya keras-keras .

"Baik! Aku akan persilahkan kau untuk menyaksikan kelihayan dari ilmu silat Thian liong pay kami."

Dengan menghimpun dua belas bagian tenaga dalamnya, dia mengangkat telapak tangannya keudara, kemudian dengan jurus Lak leng kay san (Lak teng membuka gunung) suatu jurus tangguh dalam Thian liong ciang hoat, dia lepaskan sebuah pukulan dahsayt kemuka.

Jurus pukulan Thian liong ciang hoat yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini sungguh luar biasa hebatnya, mau tak mau Sangkoan Beng harus berkelit juga tanpa berani menangkis atau menyambut secara keras lawan keras.

Secara beruntun Thi Eng khi melepaskan kembali seranganserangannya dengan jurus Jit pay tiong thian (matahari di tengah angkasa dan Hun im ki gwat (memisah awan meraih rembulan).........

Sangkoan Beng terdesak hebat, dengan jantung berdebar karena kaget bercampur terkesiap buru-buru ia gunakan Giok yan sin hoat (ilmu gerakan tubuh burung walet kemala) untuk berkelit sambil menyelamatkan diri .....

Selewatnya tiga gebrakan, Thi Eng khi segera menghentikan serangannya dengan wajah serius dia berkata .

"Sauhiap, bagaimanakah pandanganmu terhadapan ilmu pukulan Thian liong ciang hoat?"

Padahal selewatnya tiga jurus serangan itu, dia tak sanggup untuk melanjutkan kembali serangannya, terpaksa ia harus menghentikannya sampai disana.

Tentu saja Sangkoan Beng tak menduga sampai ke situ, setelah menghindari ketiga jurus serangan berantai dari Thi Eng khi tadi, ia, sudah bermandi keringat karena kaget bercampur terkesiap, disangkanya Thi Eng khi benar-benar berilmu tinggi, untuk sesaatnya lamanya dia menjadi tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Sangkoan Gi kuatir keponakannya menderita kerugian, dengan cepat ia melompat kemuka seraya berseru .

"Thi ciangbunjin tenaga dalammu memang cukup sempurna, jelas keponakanku bukan tandingan, aku yang tak becus bersedia untuk memohon beberapa petunjuk darimu!"

Setelah mendapat pengalaman yang cukup pahit tadi, Thi Eng khi sadar jika musuh sampai menyerang lebih dulu, maka dia pasti akan dibikin keteter hebat dan kehilangan muka.

Maka dia sengaja tertawa nyaring, kemudian katanya .

"Kalau memang Sangkoan tayhiap punya minat untuk bermainmain, baiklah akan kupertunjukkan tiga jurus Thian liong ci hoat kami!"

Begitu selesai berkata dia lantas melepaskan tiga totokan berantai dengn jurus Ci thian hua tee (menuding langit mendayung bumi), Kui seng tiam goan (bintang kejora menotok pusat) serta Tiang cian ji im (panah panjang menembus awan).

Sangkoan Gi adalah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, pengalamannya luas dan pengetahuannya matang, ia segera merasakan betapa dahsyatnya ketiga jurus serangan Thian liong ci hoat tersebut, tentu saja ia merasa kuat untuk membendungnya.

Untung saja Thi Eng khi belum cukup berpengalaman, serangannya juga belum bisa digunakan secara matang, maka dari itu kendatipun ia merasa agak payah, toh masih sanggup membendungnya.

Ketika tiga jurus serangan jarinya sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, terpaksa Thi Eng khi harus menarik kembali serangannya dengan perasaan kaget.

"Ternyata Sangkoan tayhiap betul-betul berilmu tinggi,"

Serunya "sebagaimana yang telah kukatakan lagi tadi, selewatnya tiga gebrakan, aku tak akan melancarkan serangan kembali."

"Jika hanya menerima tanpa membalas itu namanya kurang sopan,"

Kata Sangkoan Gi.

"akupun ingin sekali minta beberapa petunjuk dari Thi ciangbunjin!"

"Aduh celaka!"

Pekik Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu. Tapi keadaan sudah meruncing ibaratnya anak panah sudah diatas busur, mau tak mau dengan keraskan kepala dia harus berkata .

"Aku ingin sekali cepat-cepat menghadiri pertemuan biar dilain waktu saja, aku akan minta petunjuk lagi dari Sangkoan tayhiap!"

Sangkoan Gi segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh...... haaahhh..... Thi ciangbunjin tak perlu tergesa-gesa, partai anda tidak termasuk dalam undangan, jangan kuatir ketidakhadiranmu tak bakal sampai mempengaruhi situasi dalam dunia persilatan, menurut pendapatku, kesempatan baik semacam ini sukar ditemukan, kenapa kita musti menyia-nyiakan denga begitu saja?"

Berbicara sampai disitu, tanpa menunggu persetujuan dari Thi Eng khi lagi, dia berseru lebih jauh.

"Silahkan! Aku akan melancarkan serangan lebih dulu."

Telapak tangannya segera diayunkan kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat keatas lengan kiri Thi Eng khi.

Ketika dilihatnya suatu pertarungan sudah tak bisa dihindari lagi, terpaksa Thi Eng khi menyongsong serangan itu dengan jurus Ci thian hua tee (menunjuk langit mendayung bumi).

Sangkoan Gi tertawa ringan dari serangan pukulan dia merubah ancamannya menjadi serangan cengkaraman, lengannya diturunkan ke bawah diimbangi tekukan pinggang, dimana jari tangannya menyambar ........."Breeeet!"

Jubah panjang berwarna biru yang dipakai Thi Eng khi sudah tersambar sehingga robek sebagian besar, sementara tubuhnya juga kena didesak mundur sejauh lima langkah lebih.

Sangkoan Gi tidak membiarkan musuhnya kabur begitu saja, berhasil dengan serangannya yang pertama dia mendesak lebih jauh, lagi-lagi sebuah pukulan menghajar diatas paha pemuda itu.

Untung saja Thi Eng khi cukup sadar kalau dalam jurus serangan ia masih kalah jauh dibandingkan dengan Sangkoan Gi maka hawa sakti Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya telah disalurkan untuk melindungi badan.

Selain itu, bagaimanapun juga Sangkoan Gi terhitung juga seorang anggota dari suatu perguruan kenamaan, betul ia berhasrat untuk merobohkan musuhnya tapi bukan berarti hendak melukainya maka ia tidak menggunakan segenap tenaga yang dia miliki.

Walaupun begitu serangan itu cukup membuat kuda-kuda Thi Eng khi menjadi tergempur dan secara beruntun mundur sejauh tiga langkah ke belakang dengan sempoyongan, untung saja ia tak sampai jatuh terduduk di tanah.

Dalam pada itu, Sangkoan Gi sendiripun merasa sangat terkejut setelah pukulannya mampir diatas paha Thi Eng khi, ia merasakan munculnya suatu tenaga pantulan maha dahsyat dari paha si anak muda itu yang membuat telapak tangannya bergetar keras dan kesemutan.

Sangkoan Gi cukup punya nama didalam dunia persilatan, kepandaian silat yang dimiliki tentu saja bukan sembarangan dan otomatis dia cukup mampu untuk menilai kemampuan orang.

Sekalipun serangan yang barusan dilancarkan berhasil mendesak mundur Thi Eng khi sejauh tiga langkah, sebaliknya dia malah tak berani memandang enteng si anak muda itu, dianggapnya pemuda itu masih kurang hapal dengan jurus serangan yang dimilikinya, maka dia agak rugi bila terjadi pertarungan, namun soal tenaga dalam sungguh merupakan seorang jagoan yang tangguh.

Segera timbullah keinginannya untuk beradu tenaga dalam dengan musuhnya itu.

Sambil mengacungkan jempolnya, dia berseru dengan lantang .

"Thi ciangbunjin, sungguh amat sempurna tenaga dalammu, bagaimana kalau kita saling beradu tenaga sebanyak tiga gebrakan?"

Ketika jubahnya kena tersambar sampai robek tadi, Thi Eng khi sudah merasa tak senang hati, apalagi sesudah dipaksa mundur sejauh tiga langkah, api amarahnya sudah makin berkobar, maka ketika mendengar tantangan tersebut, tanpa pikir panjang lagi dia menyahut dengan wajah sedingin es .

"Aku akan melayani keinginamu!"

Dengan cepat tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya dihimpun mencapai dua belas bagian, ia sudah bertekad untuk beradu kekuatan dengan musuhnya itu.

Sangkoan Gi mengawasi terus lawannya itu dengan seksama, ketika dilihatnya hawa sakti Thi Eng khi sudah terhimpun dan wajahnya berubah menjadi serius, ia semakin tak berani memandang enteng lawannya, buru-buru diapun menghimpun tenaga dalamnya mencapai dua belas bagian pula.

Tampaknya dua ekor harimau segera akan bertarung, sudah barang tentu akibatnya akan fatal sekali .....

Di saat yang amat kritis inilah, tiba-tiba dari luar pintu perkampungan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring.

Tjhi Eng khi segera berpaling, tampak tiga orang tosu sedang berjalan mendekat dengan langkah lebar, seorang berjalan dimuka sedang dua orang lainnya mengikuti dari belakang.

Tosu yang berjalan dipaling muka merupakan tosu berusia tujuh puluh tahunan, rambutnya telah beruban tapi wajahnya ramah dan lembut, dialah yang memperdengarkan gelak tertawa nyaring tadi.

Dua orang tosu yang mengikuti dibelakangnya itu telah berusia diatas enam puluh pedang antik tersoren dipunggung dengan gaya yang lembut, cukup memberikan kesan baik bagi siapapun yang melihatnya.

Thi Eng khi tidak kenal dengan ketiga orang tosu tapi setelah menjumpai sikap mereka yang anggun tapi ramah itu, serta merta dia membuyarkan tenaga dalamnya dan berdiri termenung disitu.

Sangkoan Gi tampak sangat terkejut, dengan wajah merah jengah buru-buru ia maju menyambut, katanya sambil memberi hormat .

"Boanpwe Sangkoan Gi menyongsong kedatangan dari locianpwe!"

Tosu tua yang berjalan dimuka itu tertawa ramah, sahutnya .

"Sau sicu tak perlu banyak sungkan, rupanya kedatangan pinto bukan pada saaatnya sehingga mengganggu kesenangan kalian!"

Sementara berbicara, dengan sorot matanya yang tajam dia awasi wajah Thi Eng khi.

Mula-mula keningnya tampak berkerut, menyusul kemudian terlintas rasa kaget diwajahnya, dengan perasaan tercengang dia menegur .

"Sauhiap menggembol pedang sakti Thian liong pay kim kiam, tolong tanya apa hubunganmu dengan Thian liong pay? Bolehkah aku mengetahuinya?"

Sekalipun nada ucapannya lembut dan ramah, akan tetapi dibalik keramahan itu justru terkandung sesuatu kekuatan yang membuat orang tak dapat menampik permintaannya.

Dengan serius Thi Eng khi menjawab .

"Boan ...."

Sebenarnya dia hendak menbahasai dirinya sebagai "boanpwe"

Tapi ketika teringat olehnya bahwa sebagai seorang ciangbunjin dari partai Thian liong pay, dia seharusnya mempunyai kedudukan pula dalam dunia persilatan maka segera mengurungkan niatnya itu, dia tak ingin akibat dari sebutan itu berakibat tercemarnya nama baik Thian liong pay.

Maka dia segera menjawab.

"Aku Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari Thian liong pay! Entah siapakah nama totiang? Apakah akupun boleh mengetahuinya ...........?"

Ketika tosu tua itu menyaksikan Thi Eng khi sama sekali tidak mengetahui gelarnya, meski ia merasa pengetahuan yang dimiliki ciangbunjin dari Thian liong pay ini terlalu cetek, namun ia tak sampai merasa gusar, sesudah tertawa hambar sahutnya.

"Pinto adalah Keng hian berasal dari Bu tong pay."

Kemudian sambil menuding kearah dua orang tosu pengiringnya dia melanjutkan.

"Kedua orang ini adalah sute pinto yang seorang bernama Keng ik sedangkan yang lain bernama Keng leng."

Sekalipun Thi Eng khi belum memiliki pengalaman dalam dunia persilatan, bukan berarti Keng hian totiang itu ciangbunjin dari partai Bu tong paypun tidak dikenalinya, mendengar ucapan tersebut, dia menjadi amat terperanjat.

Buru-buru dia menjura, kemudian katanya .

"Aku masih muda dan cetek pengalaman didalam dunia persilatan, bila tidak mengenali akan kehadiran ciangbunjin dari Bu tong pay, harap kau suka memaafkan."

Selain daripada itu dalam hati kecilnya juga segera timbul suatu perasaan, bagaimanapun juga dia sendiri adalah seorang ciangbunjin dari suatu perguruan dalam dunia persilatan, bila dibandingkan maka kedudukan mereka adalah berimbang dan tiada yang lebih tinggi dan tiada pula yang lebih rendah.

Akan tetapi sesudah menyaksikan sikap hormat pihak Ki hian san ceng terhadap Keng hian totiang kemudian dibandingkan dengan sikap sinis pihak lawan terhadap dirinya, segera timbul perasaan sedih dan malu dihati kecilnya.

Pikir punya pikir tanpa terasa ia menjadi melamun sendiri sehingga berdiri termangu.

Keng hian totiang sebagai seorang ciangbunjin dari Bu tong pay tentu saja memiliki pengalaman yang cukup luas, sesudah menyaksikan sikap-sikap Thi Eng khi macam orang yang kehilangan sukma itu, dengan cepat dia dapat memahami perasaan orang.

Maka sambil tersenyum segera ujarnya menukas lamunan dari sianak muda itu .

"Bolehkah aku tahu apa hubungan ciangbunjin dengan Keng thian giok cu Thi locianpwe?"

"Dia adalah mendiang kakekku!"

Sahut Thi Eng khi dengan sikap yang hormat kembali.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng hian totiang, ciangbunjin dari Bu tong pay itu sambil menggenggam tangan sianak muda itu, katanya dengan gembira .

"Oooh....! Jadi Thi ciangbunjin adalah keturunannya, tak heran kalau kegagahanmu jauh berbeda daripada manusia-manusia lainnya lagipula berbakat dan memiliki kecerdasan yang luar biasa ...... kemunculan ciangbunjin sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi umata persilatannya pada umumnya!"

Oleh perkataan dari Bu tong cainagbunjin itu, Thi Eng khi merasakan semangat dalam tubuhnya serasa berkobar kembali, dengan suara lantang dia lantas berseru.

"Thian liong pay sebagai sesama anggota dunia persilatan sudah merasa berkewajiban untuk bersama-sama dengan anggota dunia persilatan lainnya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran bagi kita semua!"

Ketua dari Bu tong pay itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh .... haaahhh.... haaahhh.... pinto bisa berkenalan dengan manusia semacam Thi ciangbunjin tidak sia-sia perjalananku kali ini."

Kepada kedua orang sutenya yang berada di belakang sambil berpaling dia lantas berkata lagi .

"Tampaknya kemurungan serta kekuatiran kita di masa lalu cuma suatu kekuatiran yang tanpa dasar."

"Pendapat ciangbunjin suheng memang tepat sekali, sute berduapun berpendapat demikian."

Dengan serius Keng ik dan Keng leng totiang menjawab.

Dipuji-puji oleh tiga jago dari Bu tong pay, Thi Eng khi segera merasakan hatinya menjadi lega dan semangat kembali, tentu saja diapun tidak terlalu teringat dengan peristiwa kecil yang tidak menyenangkan hati tadi, setelah membenahi pakaiannya yang dirobek oleh Sangkoan Gi tadi, dengan kepala terangkat dan dada dibusungkan dia berdiri gagah disitu.

Sekali lagi Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay memperhatikan Thi Eng khi sekejab, kemudian sambil menepuk bahu pemuda itu katanya .

"Ciangbunjin, silahkan!"

Thi Eng khi segera mundur selangkah seraya berkata .

"Totiang lebih tua, sudah seharusnya berjalan duluan!"

Ciangbunjin dari Bu tong pay itu kembali tertawa terbahak-bahak serunya .

"Ciangbunjin terlampau merendah, mari kita masuk bersamasama ....!"

Sambil tersenyum, Thi Eng khi manggut-manggut, kemudian dengan mendampingi ketua dari Bu tong pay itu mereka masuk bersama-sama ke dalam perkampungan Ki hian san ceng.

Tiba-tiba terdengar Sangkoan Gi berteriak keras .

"Thi ciangbunjin sebelum mendapat persetujuan dari ayahku harap kau menunggu dulu sebentar!"

Thi Eng khi segera berkerut kening, dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Sangkoan Gi, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan.

Keng hian totiang, ciangbunjin dari Bu tong pay telah berkata lebih dulu .

"Apa sebabnya Thian liong pay tidak mendapat undangan?"

Sangkoan Gi agak tertegun, kemudian sahutnya dengan cepat .

"Alasan sederhana sekali, apakah locianpwe tidak mengetahuinya?"

Keng hian totiang berpikir sejenak kemudian menggangguk .

"Baik, kalau begitu anggap saja Thi ciangbunjin sebagai tamu yang pinto undang, apakah Sangkoan tayhiap bersedia untuk memberi muka kepadaku?"

Ciangbunjin dari Bu tong pay ini mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam dunia persilatan, setelah dia menampilkan diri untuk menanggung hal tersebut, sekalipun Sangkoan Gi terhitung Su Cengcu (kepala kampung keempat) dari perkampungan Ki hian san ceng, toh dia tak berani juga untuk mengatakan kata "tidak".

Maka dengan mulut membungkam dia menyaksikan Thi Eng khi beserta ketua dari Bu tong pay itu berjalan masuk lewat pintu tengah.

Menanti bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap dari pandangan mata, dia baru mendesakkan kaikinya dan secepat kilat meluncur ke dalam ruang dan lenyap di pintu samping.

Dihantar oleh seseorang, Thi Eng khi serta Keng hian totiang sekalian diantar menerobosi sebuah ruangan tamu yang luas dan bisa menampung tamu sebanyak ratusan orang untuk menelusuri sebuah lorong sempit yang sempit dan memanjang, diujung lorong tersebut terdapat sebuah pintu gerbang yang terbuat dari batu hijau.

Sepasang gelang tembaga yang bercahaya tajam masing-masing menempel diatas pintu besar yang terbuat dari batu hijau tersebut ......

Penunjuk jalan itu segera mendekati pintu dan membunyikan gelang tembaga tersebut tiga kali panjang dan sekali pendek, sejenak kemudian pintu itupun dibuka orang.

Dalam pintu terdapat sebaris undak-undakan batu yang menembus ke ruang bawah tanah, mereka segera menuruni anak tangga tersebut menuju ke bawah.

Di ujung tangga batu tadi kembali terdapat sepasang pintu baja yang besar sekali menghadang jalan pergi mereka.

Menyaksikan kesemuanya itu, Thi Eng khi lantas berpikir .

"Tak nyana kalau Sangkoan cengcu adalah seorang yang begini berhati-hati, cukup dilihat dari penjagaan disini pun boleh dibilang cukup ketat."

Sementara dia masih berpikir, pintu baja itu sudah dibuka orang.

Sesudah melewati pintu baja itu sampailah mereka didalam sebuah ruangan batu yang dua kaki lebarnya.

Didalam ruangan itu terdapat sebuah meja bulat yang terbuat dari batu hijau, disekelilingnya terjajar dua puluh empat buah kursi kebesaran, kurang lebih sudah ada lima belas orang jago persilatan yang hadir disana.

Ketika semua jago yang hadir di dalam ruangan itu menyaksikan kemunculan Keng hian totiang, ketua dari partai Bu tong berjalan masuk kedalam ruangan, serentak orang-orang itu bangkit berdiri dan menyambut kedatangannya dengan sikap yang hormat.

Pada kursi tuan rumah berdiri seorang kakek berwajah merah ynag memakai jubah lebar berwarna kuning telur, tak usah ditanya lagi orang itu bukan lain adalah lo cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong adanya.

Yang lebih mengherankan lagi, ternyata Sangkoan Gi sudah sampai didalam ruangan itu lebih duluan.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera tertawa nyaring serunya .

"Kehadiran ciangbunjin ditempat kami ini, sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi kami siaute."

Keng hian totiang tertawa, lalu katanya .

"Sudah lama pinto tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, kebetulan hari ini kutemukan seorang pendatang baru dari dunia persilatan, dia adalah Thian liong ciangbunjin Thi siauhiap adanya, jika kedatangannya agak lancang, harap kau jangan menjadi marah!"

Dengan sikap yang amat menghormat Thi Eng khi segera memberi hormat, kemudian katanya .

"Aku Thi Eng khi dari Thian liong pay merasa sangat beruntung sekali bisa berkenalan dengan Sangkoan cengcu."

Dibalik senyuman yang menghiasi wajah Cang ciong sin kiam segera terlintas perasaan marah dan tak senang hati, ia mendengus dingin dan menunjukan sikap seperti tak senang atas kehadirannya disitu.

Thi Eng khi yang diperlakukan orang secara dingin terpaksa harus menahan diri, sebab dia tahu nama perguruannya selama ini memang tidak menggembirakan.

Sementara dia masih murung, tiba-tiba terdengar Keng hian totiang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara .

"Sebetulnya Sangkoan loji adalah seorang manusia yang berdarah panas, satu-satunya kelemahan yang dimilikinya adalah terlalu angkuh dan tinggi hati, dia suka mencari muka dan nama, kedatangan Thi lote tanpa membawa surat undangn itu sudah pasti telah dilaporkan orang kepadanya, maka dengan dasar pikirinnya yang sempit, ia menjadi tak senang hati. Semoga saja lote mau memikirkan keadaan dunia persilatan dengan tidak mempersoalkan hal itu."

Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi masih belum cukup sempurna, ia belum dapat mengemukakan maksud hatinya lewat ilmu menyampailkan suara, maka dia hanya tersenyum saja terhadap Keng hian totiang, sementara wajahnya dengan cepat pulih kembali menjadi tenang.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mempersilahkan ciangbunjin dari Bu tong pay itu untuk menempati kursi utama sedangkan Keng ik dan Keng leng totiang meski terhitung juga seorang jago kenamanan didalam dunia persilatan, akan tetapi berhubung ketuanya sudah menempati kursi utama, otomatis mereka duduk di kursi berikutnya.

Diam-diam Thi Eng khi merasa kagum juga atas kemampuan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong didalam mengatur tamunya.

Ia memang tak malu disebut seorang pemimpin dunia persilatan yang berbakat.

Ia jadi ingin tahu, bagaimana caranya orang itu akan mengatur temapat duduk baginya.

Ternyata Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong menitahkan Sangkoan Gi untuk menyiapkan sebuah kursi lagi jauh diluar meja bundar tersebut, setelah itu sambil tertawa paksa katanya .

"Maaf! Kedatangan Thi ciangbunjin sungguh jauh diluar dugaanku, kami tak sempat untuk menyiapkan tempat duduk lagi, maka silahkan kau duduk di situ saja."

Sekalipun Thi Eng khi merasa gusar setelah mendengar ucapan itu, apalagi ketika dilihatnya disekeliling meja bundar itu masih bayak terdapat kursi kosong tapi sebuah pikiran segera melintas didalam benaknya, pikirnya .

"Tempat duduk yang disediakan di sekeliling meja bundar itu terbatas sekali, tempat dudukpun diatur menurut tingkatan, mungkin saja kursi-kursi kosong itu telah dipersiapkan untuk para undangan yang belum datang, yaaa.... bagaimanapun juga aku memang seorang tamu yang tak diundang, tidak seharusnya kutunjukkan kesempitan jiwaku hanya ribut lantaran soal tempat duduk saja."

Karena berpikir demikian diapun menjadi tenang kembali, malah sambil tersenyum segera menempati tempat duduknya itu.

Waktu itu para undangan belum datang secara lengkap, perundingan juga belum dimulai secara resmi kebanyakan tamu sedang bercakap-cakap membicarakan aneka persoalan.

Thi Eng khi yang tidak kebagian tempat di kursi utama ia merasa enggan untuk turut menimbrung maka selama ini, dia hanya sebagai seorang pendengar belaka.

Keng hian totiang kuatir pemuda itu merasa terlalu diasingkan, maka dengan ilmu menyampaikan suara dia lantas memperkenalkan semua tamu yang hadir disana.

Menurut urutannya maka disamping kiri Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sebagai tuan rumah adalah Keng ik totiang dan Keng leng totiang, kemudian orang yang ketiga adalah seorang kakek ceking berusia lima puluh tahunan yang disebut orang sebagai Tay pek it khi (manusia aneh dari bukit Tay peng san) Ku Kiam ciu.

Orang keempat adalah seorang nenek berambut putih yang wajahnya penuh dengan keriput, tapi sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang mengerikan sekali, dia she Li bernama Kek ci dengan julukan Giok koay popo (si nenek bertongkat kemala).

Bangku kelima dan keenam masih berada dalam keadaan kososng.

Di tempat yang ketujuh adalah seorang sastrawan berusia pertengahan yang disebut Im tiong hok (bangau ditengah awan) Teng Siong adanya.

Kursi kedelapan dan kesembilan masih kosong.

Tempat yang kesepuluh adalah si kakek bungkuk yang pernah dilihat Thi Eng khi ketika masih berada di luar pintu gerbang perkampungan Ki hian san ceng tadi, dia bernama Sin tua (bungkuk sakti) Lok It hong.

Tempat kesebelas masih kosong.

Tempat yang kedua belas, persisi di tengah-tengah meja ditempati oleh ketua Bu tong pay Keng hian totiang.

Tempat yang ketiga belas adalah Ci kay taysu dari Siau lim pay.

Tempat yang kempat belas masih kosong.

Tempat yang kelima belas adalah seoarang nyonya setengah umur, dia adalah Ciang hong wancu yang berjulukan Hui hong li (perempuan sakti pelangi terabang) Lu Ciang lian.

Tempat yang keenambelas ditempati seorang kakek ceking dan jangkung dia adalah ketua dari Tiong lam pay Ku tiok siu (kakek bambu kurus) Yap Han san.

Tempat ketujuh belas adalah seorang nyonya tua berambut putih yang berwajah cantik, dia adalah Tocu dari pulau Soh sim to yang berjulukan San hoa siancu (Dewi penyebar bunga) Seng Cay soat adanya.

Tempat kedelapan belas ditempati olegh seorang kakek yang bertubuh kekar, dialah Hong im siu (kakek angin mega) Seng Thong dari bukit Bong san.

Sewaktu Thi Eng khi mendengar Keng hian totiang memperkenalkan diri Hong im siu Sang thong tersebut, dia merasa terperanjat sekali, pikirnya .

"Heran, padahal Ban li tui hong Cu Ngo tidak sampai mengirimkan undangan itu kepadanya, kenapa dia bisa hadir dalam pertemunan ini tepat pada waktunya? Sudah pasti dibalik kesemuaannya ini masih ada rahasia lain ...."

Karena berpikir demikian, dia lantas mengambil keputusan untuk menyelidiki persoalan ini sampai jelas.

Sementara Thi Eng khi masih melamun, Keng hian totiang dari Bu tong pay telah melanjutkan keterangannya untuk memperkenalkan orang-orang yang lain.

Tempat yang kesembilan belas ditempati oleh seorang ahli senjata rahasia dari wilayah Suchwan yang bernama To pit thiang ong (raja langit berlengan banyak) Tong lian hoat.

Tempat yang kedua puluh adalah Tiang siau mi lek (Mi lek tertawa panjang) Kongsun Cong.

Tempat yang ke dua puluh satu adalah Pu thian toa tiau (rajawali raksasa penubruk langit) Kay Poan thian.

Tempat ke dua puluh dua adalah Ku bok long tiong (si penjual obat bermata buta) Nyoo Cun.

Tempat kedua puluh tiga adalah Tam ciang kay thian (telapak tangan tunggal pembelah bukit) Coh Eng.

Menyusul kemudian pangcu dari Kay pang Hou bok sin kay (pengemis sakti bermata harimau) Cu Goan po masuk kedalam ruangan dan menempati kursi keempat belas, tempat itu hanya selisih satu kursi dengan tempat duduk Keng hian totiang, ini menunjukkan bahwa kedudukannya cukup tinggi.

Tak lama kemudian muncul kembali seorang sastrawan yang lemah lembut menempati bangku kedelapan, dari pembicaraan yang berlangsung kemudian, Thi Eng khi mendapat tahu kalau orang itu adalah Tiang cun siusu Li Goan.

Dengan demikian, selain bangku kelima, enam, sembilan dan sepuluh yang masih kosong tanpa penghuninya, disekeliling meja bundar itu sudah hadir dua puluh jago perslatan yang paling tersohor namanya dalam dunia persilatan waktu itu.

Tidak!

Harus dikatakan ada duapuluh tiga orang, sebab Ciang cong sin kiam Sangkoan Yong, sangkoan Gi dan Thi Eng khi belum masuk hitungan.

Pada saat itulah ada orang bertanya.

"Saudara Sangkoan apakah jumlah undangan sudah hadir semua?"

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mengeluarkan selembar daftar dan mencocokkan sebentar dengan mereka yang hadir, kemudian sahutnya .

"Tampaknya Ting Kong ai ciangbunjin dari Cing sia pay serta Beng seng Sutay dari kuil Ci tiok an belum datang."

Karena jumlah yang diundang belum komplit, agaknya mereka harus menunggu lebih lanjut. Tapi pada saat itulah tiba-tiba Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong bangkit berdiri, kemudian katanya .

"Siaute mempunyai suatu masalah yang amat mencurigakan hatiku ingin sekali kuajukan secara terbuka di depan sidang ini."

Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan .

"Sebelum permasalahannya diajukan, terpaksa aku ingin mohon pengertian lebih dahulu dari Bu tong ciangbunjin Keng hian totiang ...."

Mendengar perkatan itu, Keng hian totiang segera berkerut kening, dia sudah bisa menebak kalau Sangkoan Yong kembali akan menyusahkan Thi Eng khi. Maka sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh....... Sangkoan tayhiap terlalu sungkan!"

Setelah memberi hormat kepada ketua dari Bu tong pay, Sangkoan Yong lantas berpaling ke arah Thi Eng khi seraya berkata .

"Lohu ingin sekali memohon keterangan dari Thi ciangbunjin, lohu harap kau sudi memberi petunjuk kepada kami semua."

Sesungguhnya semenjak tadi Thi Eng khi sudah ingin sekali menerangkan soal dirampasnya surat undangan yang dibawa oleh Ban li tui hong Cu Ngo, maka ketika dilihatnya Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mencarinya untuk berbicara, ia merasa hal ini malah kebetulan sekali baginya.

Sambil tersenyum dia lantas memberi hormat kemudian sahutnya lembut .

"Lo cengcu ada persoalan apa yang hendak ditanyakan? Silahkan saja diajukan!"

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mendehem pelan kemudian ujarnya.

"Berhubung pertemuan yang kami selenggarakan kali ini menyangkut soal keselamatan seluruh dunia persilatan maka pertemuan yang diselenggarakan hari ini sengaja kami atur secara rahasia sekali, tolong tanya darimana Thi ciangbunjin bisa mengetahui akan hal ini?"

"Aku mengetahui akan pertemuan ini dari mulut Ban li tui hong Cu Ngo, sebagai salah satu anggota dunia persilataan, partai kami merasa berkewajiban untuk turut serta menanggulangi mara bahaya yang sedang mengancam umat persilatan, karena itu aku datang tanpa diundang, untuk itu harap Sangkoan tayhiap tidak menjadi marah atau tak senang hati!"

Mendengar perkataan itu, Cang ciong sin kiama Sangkoan Yong segra mengernyitkan sepasang alis matanya yang tebal, katanya.

"Ban li tui hong Cu Ngo adalah seorang jago kawakan yang cukup tahu akan pentingnya pertemuan ini, tak nanti dia akan sembarangan buka mulut membicarakan masalah ini, hingga sekarang orangnya belum kembali ke sini, sehingga urusan ini susah diselidiki, apakah Thi ciangbunjin bersedia untuk menerangkan dengan lebih seksama lagi?"

Secara ringkas Thi Eng khi lantas mengisahkan pengalamannya ketika menyelamatkan jiwa Ban li tui hong Cu Ngo yang terluka, kemudian menambahkan .

"Menurut pendapatku, ada baiknya Sang tayhiap yang seharusnya tak sampai menerima surat undangan tersebut memberi keterangan tambahan, asal ia bersedia menerangkan rasanya tidak sulit buat kita untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya."

Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san segera tertawa licik dan aneh, serunya cepat .

"Lohu datang kemari lantaran mendapat kartu undangan, aku sama sekali tidak tahu kalau Cu tayhiap telah mengalami musibah di tengah jalan, jadi akupun tak bisa berkata apa-apa!"

Dengan ucapannya itu, maka sama halnya dengan menuduh ucapan Thiu Eng khi bohong. Thi Eng khi menjadi amat gelisah sekali, maka teriaknya keraskeras .

"Sudah jelas kalau kartu undangan yang dibawa Cu tayhiap telah dibegal orang dekat markas partai kami, mana mungkin undangan itu bisa dihantar sampai ke bukit Bong san? Sang tayhiap, kau jangan bergurau!"

Hong im siu Sang thong menarik muka dan menatapnya dengan bersunguh-sungguh katanya .

"Lohu tidak pernah kenal dengan Thi Ciangbunjin, mengapa aku mesti mengarang cerita bohong untuk menfitnah dirimu?"

Pembicaraan yang ramai segera berkumandang di dalam ruang itu, bahkan beberapa pasang sinar mata yang tajam dan penuh kecurigaan telah dialihkan ke tubuh Thi Eng khi.

Menyaksikan susana tersebut, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera mendehem pelan kemudian katanya .

"Empat puluh tahun berselang, kakekmu Keng thian giok cu Thi cianpwe pernah memimpin umat persilatan menanggulangi ancaman berdarah yang melanda dunia persilatan waktu itu, kegagahan serta kejantanannya sudah dipuji semua orang , aku minta Thi ciangbunjin suka menjaga nama baik kakekmu dan jangan memasuki jalan yang sesat!"

Dengan gelisah bercampur cemas, Thi Eng khi segera berseru .

"Dengan semangat yang tinggi dan keinginan yang tulus aku khusus datang kemari untuk bersama-sama kalian menanggulangi ancaman maut yang sedang melanda dunia persilatan, kenapa aku mesti membohongi kalian?"

Keng hian totiang Bu tong pay segera menimbrung dari samping .

"Menurut pendapat pinto Thi ciangbunjin bukanlah seorang manusia jahat! Di balik kesemuanya ini adalah pasti ada rahasia lain, pinto harap kalian jangan emosi dan harus menghadapi persoalan ini dengan seksama!"

Cepat-cepat Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong menyambung dari samping .

"Lohu pun sudah merasa kalau didalam menyebar surat undangan kali ini telah melupakan Thi ciangbunjin, itulah sebabnya aku minta maaf kepada Thi ciangbunjin atas kelalaian ini. Untung saja Bu tong ciangbunjin telah mengajak Thi ciangbunjin untuk menghadiri pertemuan ini, semoga saja jangan disebabkan keteledoran lohu sehingga mengakibatkan masalah keselamatan dunia persilatan menjadi terlupakan."

Pu thian toa beng Kay Poan thian segera menyambung pula .

"Menurut pendapatku, tindakan Sangkoan tayhiap yang tidak mengundang kehadiran Thoi ciangbunjin di dalam pertemuan ini adalah suatu tindakan yang benar, jadi aku pikir tak perlu masalah ini dirisaukan."

Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap segera tersenyum.

"Mendapat dukungan dari Kay loko, lohu benar-benar merasa tak tentram."

Pu thian toa beng Kay Poan thian segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh .... haaahhh..... haaahhh..... Sangkoan tayhiap adalah seorang manusia yang berbudi luhur karena itu dihati kecilmu baru muncul perasaan demikian, padahal kedudukan yang dimiliki setiap umat manusia dalam dunia persilatan dinilai dari jaya atau tidaknya orang itu didunia ini, tiga puluh tahun yang lalu tentu saja berbeda sekali dengan tiga puluh tahun kemudian, entah siapapun orangnya dan entah partai dari manapun jika ingin menjagoi dunia persilatan dia harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri, mereka yang mempunyai kemampuan yang lebih baru akan mendapat penghormatan orang."

Sesudah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan .

"Lima belas tahun belakangan ini, boleh dibilang perguruan Thian liong pay sudah kehilangan pamornya dan lenyap dari dunia persilatan, perguruan tidak mirip perguruan, partai tidak mirip partai, keadaan yang terbengkalai semacam ini apa gunanya musti diundang datang? Toh kedatangan mereka bukan saja tak bermanfaat apa-apa, malahan sebaliknya bisa jadi akan menyusahkan saja."

Mendengar orang itu mencemooh partai Thian liong pay, Thi Eng khi segera mengerut dahinya, lalu serunya dengan gusar .

"Kurang ajar, kau berani memandang rendah partai Thia liong pay kami?"

Pu thian toa beng Kay Poan thian mendesis sinis, katanya sambil berkerut kening.

"Aku hanya berbicara menurut kenyataan, apakah Thi ciangbunjin beranggapan bahwa ilmu silat yang dimiliki partai kalian luar biasa sekali?"

Saking khekinya paras muka Thi Eng khi bahkan menjadi hijau membesi katanya .

"Ilmu silat dari perguruan kami luas bagaikan samudra, mana bisa diperbincangkan dengan pengetahuan Kay tayhiap yang cupat seperti katak dalam sumur itu? Betul, kepandaian yang kumiliki sekarang belum sempurna, tapi suatu ketika pasti akan kubuat kau merasa takluk!"

Pu thian toa beng Kay Poan thian segera tertawa terpingkalpingkal sahutnya .

"Setiap saat lohu akan menantikan petunjuk darimu itu, semoga saja Thi ciangbunjin bisa jaga diri baik-baik!"

Nada itu sinis dan menghina, jelas dia tak pandang sebelah matapun terhadap lawannya.

Thi Eng khi meraung gusar, tapi sebelum dia mengucapkan sesuatu, mendadak terasa bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Keng hian totiang dari Bu tong pay sudah berdiri di hadapannya, dengan suara lirih dia berbisik .

"Sebagai lelaki sejati harus pandai melihat gelegat, harap Thi ciangbunjin suka menahan diri."

Kemudian dengan ilmu menyampaikan suara terusnya .

"Semenjak mendiang kakekmu tiada, dunia persilatan sudah mengalami perubahan besar, tanpa seorang pemimpin yang cakap, masing-masing orang berusaha untuk menonjolkan dirinya sendiri, ini membuat rasa iri hati mereka kian hari kian bertambah besar. Di masa lampau nama besar partai anda terlalu besar dan tersohor, padahal orang itu berambisi besar untuk merebut kedudukan pemimpin dunia persilatan, tenu saja dia enggan membiarkan Thi ciangbunjin menampilkan diri dalam dunia persilatan, bila Thi ciangbunjin bisa menitik beratkan pada masalah besar, harap kau jangan bertikai hanya disebabkan urusan sekecil ini!"

Thi Eng khi memang seorang yang cerdas, begitu pikirannya terbuka, hawa amarahnya segera ditekan di dalam hati. Sementara itu, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong telah berkata pula .

"Harap Kay tayhiap jangan gusar dulu, lebih baik kita kembali ke pokok pembicaraan sebenarnya, harap Thi ciangbunjin suka menerangkan kepada kami sehingga kesalah pahaman semua orang bisa diatasi!"

Sekarang Thi Eng khi baru mengerti, walaupun dimulut Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mengakui atas kehilafannya karena tidak mengundang partai Thian liong pay, sesungguhnya dia bersikap sebaliknya dari pada apa yang dikatakan, tujuan yang sesungguhnya dari orang itu adalah tetap inigin menyingkirkan Thian liong pay dari ruang pertemuan sehingga ingin membuktikan kepada semua orang bahwa tindakannya tidak mengundang pihak Thian liong pay adalah suatu tindakan yang benar.

Betul ilmu silat yang dimiliki Thi Eng khi waktu itu masih cetek, pengalaman soal dunia persilatan juga sangat minim, tapi bukan berarti dia itu tolol, sudah barang tentu diapun bisa memahami maksud yang sesungguhnya dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dengan kata-katanya itu.

Mencorong sinar tajam dari balik mata anak muda itu segera serunya .

"Sangkoan tayhiap, suruh aku berbuat bagaimana untuk menjelaskan masalah ini?"

Sesungguhnya Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong bukan termasuk seorang manusia berhati busuk, dia hanya merasa tidak puas karena kehadiran Thi Eng khi tanpa diundang itu sudah menodai nama baiknya, selain itu, setelah masalahnya diungkap diapun banyak menemukan hal-hal yang mencurigakan ditubuh Thi Eng khi, maka baik demi kepentingan umum maupun demi kepentingan pribadi ia bertekad untuk mneyelidiki persoalan ini sampai tuntas.

Maka ketika ia mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Thi Eng khi serta menyaksikan sorot mata orang yang lebih tajam daripada sembilu itu, hatinya kontan saja bergetar keras, pikirnya .

"Mungkinkah perbuatanku ini sedikit kelewatan?"

Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan yang kenamaan didalam dunia persilatan, ia malu untuk menarik masalahnya ditengah jalan, maka sembari keraskan hatinya dia berkata lagi dengan suara dalam .

"Ini mah harus dilihat dari ketulusan hati Thi ciangbunjin sendiri!"

Dengan marah, Thi Eng khi segera berseru .

"Jika kalian sudah mempunyai pandangan tertentu kepadaku, meski aku benar-benar bertulus hati juga percuma!"

"Thi ciangbunjin apakah kau tidak merasa ucapanmu itu sedikit kelewat kasar? Bayangkan saja, setiap orang yang hadir dalam ruangan ini rata-rata adalah jago nomor wahid didalam dunia persilatan, asal kau berbicara jujur, keadilan sudah pasti akan kau dapatkan."

"Tadi kalian semua tak ada yang percaya dengan perkataanku sebaliknya sama sekali tidak menaruh kecurigaan apa-apa terhadap ucapan Sang tayhiap, hal ini merupakan suatu bukti dari ucapanku barusan."

Baru selesai dia berkata, sambil menggebrak meja Hong im siu Sang thong berteriak.

"Thi ciangbunjin menurut pendapatmu apa yang mencurigakan dengan lohu?"

"Aku merasa curiga sekali akan kebenaran dari identiatasmu! Mengapa kau tidak mengaku terus terang saja dihadapan orang banyak ....?"

Seru Thi Eng khi sambil menatapnya lekat-lekat. Hong im siu Sang thong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh..... haaahhh..... haaahhh..... memangnya lohu bisa gadungan? Tahun ini lohu sudah berusia enam puluh tiga tahun dari sekian banyak orang yang hadir sekarang, separuh diantaranya adalah sobat lamaku, mengapa tidak kau tanyakan kepada mereka, apakah aku adalah Hong im siu Sang thong atau bukan?"

"Tentu saja dia adalah Sang tayhiap, siapapun tak akan menaruh curiga lagi kepadanya!"

Seru semua orang hampir berbareng. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thi Eng khi, pikirnya .

"Sesungguhnya Hong im siu Sang Thong masih mempunyai cara lain untuk menjawab perkataanku itu, mengapa ia membawa masalahnya ke soal asli dan gadungan? Jangan-jangan ia memang benar-benar Hong im siu Sang Thong gadungan? Siapa yang telah melakukan kesalahan biasanya akan timbul kecurigaan didalam hatinya terhadap setiap orang karena kuatir rahasianya ketahuan, teori kejiwaan semacam ini sudah merupakan suatu teori yang umum , yaa.... siapa tahu kalau dia memang gadungan?"

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata dengan suara yang dingin .

"Aku dengar didalam dunia persilatan terdapat sejenis kepandaian ilmu menyaru muka yang sangat hebat, Sang tayhiap, kau tak boleh membuat orang merasa curiga."

"Kurang ajar!"

Teriak Hong im siu dengan teramat gusarnya.

"Thi ciangbunjin, kau harus memberi suatu pertanggungan jawab kepada lohu!"

Waktu itu Keng hian totiang, ketua dari partai Bu tong sendiripun merasa tuduhan Thi Eng khi itu kekurangan bukti, bahkan mendekati suatu fitnahan, baru saja dia akan mengemukakan pendapatnya, tiba-tiba terdengar olehnya Tam ciang kay san Coh Eng telah membentak keras .

"Darimana datangnya bocah keparat yang tak tahu diri, ngaco belo berbicara tak karuan, aku lihat kedudukannya sebagai ciangbunjin dari Thian liong pay juga amat mencurigakan."

"Apa susahnya untuk membuktikan hal ini?"

Seru Giok koay popo Li Kek ci dengan cepat.

"asalkan dia bisa memperlihatkan ilmu sakti Thian liong pay, bukankah hal ini segera membuktikan identitasnya?"

Soh sim tocu, San hoa siancu Leng Cay soat yang selama ini berada dalam keadaan membungkam tanpa emosi, tiba-tiba memandang kearah Thi Eng khi , kemudian ujarnya .

"Empat puluh tahun berselang, ketika aku mengikuti kakekmu Keng thian giok cu Thi tayhiap membasmi kaum iblis dari muka bumi dulu, aku paling mengagumi dengan kelihayan ilmu pedang Thian liong kiam hoatnya, terutama sekali jurus Jit teng tiong thian (matahari tepat diatas angkasa) itu, jurus tesebut benar-benar mengandung kelihayan dan perubahan yang luar biasa sekali, malah orang menyebutnya sebagai ilmu yang paling lihay dalam dunia persilatan dewasa ini. Thi ciangbunjin, kau sebagai ahli waris dari kakekmu itu, sudah pasti menguasai jurus Jit teng tiong thian itu bukan? Bagaimana kalau kau mendemonstrasikannya sehingga kami semua bisa turut menikmatinya?"

"Bagus, bagus sekali."

Sambung Tiang siau li lek Kongsun Cong sambil tertawa tergelak.

"silahkan Thi ciangbunjin mendemostrasikan kelihayannya, agar kami semua bisa menambah pengetahuan dan pengalaman!"

Sampai detik itu Thi Eng khi hanya menguasai tiga jurus pedang Thian liong kiam hoat, jurus Jit teng tiong thian tersebut justru merupakan jurus yang paling tangguh dan dalam bahkan San tian jiu Oh Tin lam yang mengajarkan ilmu pedang kepadanya pun tak mampu mempergunakannya, mana mungkin ia bisa mengajarkan jurus itu kepada sang pemuda?

Kontan saja paras muka si anak muda itu berubah murung bercampur kesal, untuk sesaat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Kay pang pangcu Hou bok sin kay Cu Goan menyeka ingusnya lebih dulu dengan ujung bajunya kemudian berkata pula .

"Jit teng tiong thian merupakan inti sari dari ilmu pedang Thian liong kiam hoat, dengan usia Thi ciangbunjin yang masih demikian muda mana mungkin bisa meleakukannya? Buat apa sih kalian musti menyusahkan orang? Aku lihat lebih baik kita suruh dia mainkan satu jurus ilmu pedang Thian liong kiam hoat yang lain saja, toh hal itu sudah lebih dari cukup."

Agaknya Pu thian toa beng Kay Poan thian sengaja hendak menyusahkan Thi Eng khi segera teriaknya keras-keras .

"Siaute rasa bila ingin menyaksikan ilmu sakti dari Thian liong pay maka kita harus menyaksikan jurus Jit teng tiong thian tersebut, kalau tidak maka kita tak usah terlalu merepotkan Thi ciangbunjin lagi!"

Thi Eng khi tak tahan untuk bersabar lagi, segera teriaknya keras-keras ;

"Jurus Jit teng tiong thian dari Thian liong kiam hoat memang belum sempat kupelajari akan tetapi aku mempunyai suatu benda yang dapat membuktikan akan kebenaran dari identitasku ini."

Berbicara sampai disitu, dia lantas merogoh ke sakunya dan mengeluarkan sebuah lukisan sambil dibentangkan lebar-lebar katanya .

"Tentunya kalian semua juga tahu bahwa lukisan semacam ini hanya dimiliki oleh partai Thian liong pay saja bukan!"

Ketika semua orang-orang mengalihkan perhatiannya ke tengah arena maka perasaan mereka segera bergetar keras.

Ternyata diatas lukisan itu tertera sembilan buah lukisan wajah orang, kesembilan wajah manusia itu semuanya merupakan wajah dari kawanan jago lihay yang paling termashur namanya pada emapt puluh tahun berselang.

Diantara sekian banyak orang, Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat paling emosi, bagaikan sedang mengigau dia berseru dengan suara gemetar .

"Coba kalian lihat! Coba kalian lihat! Siapakah gadis termuda yang berada disebelah kiri itu?"

Tidak menunggu orang lain menjawab, ia telah berkata lebih jauh .

"Dia .... dia adalah diriku pada empat puluh tahun berselang ...."

Sangkoan Yong segera menunjuk kearah seorang kakek kurus diantara lukisan itu seraya berseru .

"Yang itu adalah mendiang ayahku!"

Ci kay taysu dari Siau lim pay yang selama ini tak pernah bersuara segera merangkap tangannya kedepan dada sambil memuji keagungan Buddha .

"Omitohud! Mendiang guruku Tong sian sangjin juga berada satu diantaranya!"

Tiong lam ciangbunjin Ku tiok siu Yap Han san segera berkata pula dengan serius .

"Kakek yang berwajah bersih itu adalah mendiang guruku It sim Kisu."

Menyusul kemudian, Keng hian totiang dari Bu tong pay juga menunjukkan ciangbunjin generasi yang lalu Jut tim totiang, lalu Ciang hong wancu hui hong li Lu Cing lian menunjukkan gurunya Sam biau hujin Song Ting ting, sedang Kay pang pangcu Hou bok sin kay Cu Goan menunjukkan lo pangcu Jin Hua.

Dua orang yang lain seperti tak ada yang menerangkan, tapi Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat segera menerangkannya untuk semua orang .

"Sastrawan muda yang berada di samping ini adalah ketua Hoa san pay saat ini Pek ih siusi Cu Wan mo, sedangkan nikou tua itu adalah Ci tiok ancu generasi yang lalu Bu wo sutay ...."

Sementara itu puluhan pasang mata yang penuh dengan pandangan kagum telah tertuju semua diatas lukisan tersebut.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera memberi hormat kepada lukisan yang berada ditangan Thi Eng khi itu, lalu katanya .

"Silahkan Thi ciangbunjin pindah kebangku utama!"

Keng hian totiang dari Bu tong pay segera menyingkir dari tempat utama sambil tersenyum.

Thi Eng khi yang dihadapkan dengan tindakan semacam ini malah dibikin tertegun ia tidak menyangka kalau sebuah lukisan saja bisa membawa pengaruh yang begitu besar.

Tentu saja perubahan sikap yang diperlihatkan orang-orang itu bukan karena mereka sudah dapat membuktikan kebenaran dari asal usul Thi Eng khi , sebaliknya karena lukisan yang dibawa oleh anak muda itulah yang membuat mereka mau tak mau harus mempersilahkan Thi Eng khi untuk pindah ke kursi utama.

Bagaimanapun juga, siapa pun tak ingin menyaksikan lukisan dari leluhurnya berada di bawah orang lain, sebab tindakan itu sama halnya dengan merendahkan leluhur sendiri.

Bagi orang lain, bisa saja mereka menghina atau mencemooh orang lain, tapi tak bisa tidak mereka pasti akan menghormati leluhur sendiri.

Begitulah, disebabkan Thi Eng khi membawa lukisan tersebut, maka nilai kedudukan nya berapa ratus lipat lebih berharga, diapun dipersilahkan untuk menempati kursi utama.

Setelah berada di kursi utama, pemuda itu merasa kurang leluasa untuk membentang terus lukisan itu, dia bersiap-siap akan meyimpannya ke dalam saku.

Tiba-tiba Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berjalan mendekat, sesudah memberi hormat katanya .

"Thi ciangbunjin, silahkan kau pentangkan lukisan Enghiong tu tersebut diatas ruangan, agar dihadapan pada leluhurnya setiap orang bisa merasakan semangatnya semakin berkobar serta bersama-sama menanggulangi mara bahaya yang mengancam dunia persilatan dewasa ini!"

"Ucapan Sangkoan cengcu memang tepat sekali,"

Kata Thi Eng khi dengan terharu.

"sudah sepantasnya kalau kita semua menirukan cara kerja leluhur kita untuk bekerja sama serta bersama-sama menanggulangi mara bahaya."

Sambil mengucapkan perkataan tersebut, dia lantas mengangkat lukisan itu tinggi-tinggi ke udara lalu tambahnya .

"Merepotkan Sangkoan cnegcu untuk memancangnya sendiri diatas dinding."

Dengan kepala tertunduk dan sikap yang munduk-munduk, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong memberi hormat lebih dahulu kepada lukisan tersebut, kemudian dia baru menyambut lukisan tadi membalikkan badan serta memancangkan lukisan tadi di atas dinding dalam ruangan tersebut.

Menyusul kemudian semua orang lantas bangkit berdiri dan bersama-sama memberi hormat lagi kepada lukisan itu sebelum kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Sementara itu, suasana didalam ruang pertemuan berubah sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, agaknya setiap orang sedang terbuai didalam jalan pemikirannya masing-masing.

Ketika Thi Eng khi menyaksikan ada beberapa orang diantara mereka yang sudah menunjukkan rasa menyesal terhadap dirinya sambil membungkukkan badan dan tersenyum diapun berkata .

"Sekalipun kedatanganku yang tanpa diundang ini merupakan suatu keteledoran, namun aku harap kalian mau percaya dengan kesungguhan hatiku ini, aku benar-benar bersedia untuk menyumbangkan pikiran maupun tenaga demi keadilan dan kebenaran didalam dunia persilatan."

Keng hian totiang dari Bu tong pay segera tertawa, ucapnya kemudian .

"Thi Ciangbunjin merupakan generasi muda yang menonjol dalam dunia persilatan, pinto sekalian dengan senang hati akan menyambut kedatanganmu!"

Selesai berkata, ia lantas bertepuk tangan lebih dulu.

Menyusul kemudian Cikay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po serta Keng ik totiang dan Keng Leng totiang juga turut bertepuk tangan memberikan dukungannya.

Sisanya hanya saling berpandang-pandangan muka tanpa memberikan reaksi apapun juga.

Paling akhir Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong juga terpaksa ikut bertepuk tangan, tapi tepukan tanganya tidak begitu meriah, agaknya dia hanya melakukannya demi sopan santun seorang tuan rumah terhadap tamunya belaka.

Sabaliknya Pu thian toa beng Kay Poan thian dengan membawa nada yang sinis segera berteriak keras .

"Temen-temen semua, hayo tepuk tangan yang keras!"

Seraya berkata, dia lantas bertepuk tangan lebih dulu sekeraskerasnya.

Betul juga dengan cepat suara tepukan tangan yang gegap gempita berkumandang didalam ruangan tersebut.

Selesai bertepuk tangan, Hong im siu Sang thong dari bukit Bong san segera berkata.

"Sekarang Thi ciangbunjin sudah menjadi rekan kita semua didalam menanggulangi kesulitan dunia persilatan yang sedang dialami kita semua, silahkan Thi ciangbunjin secara terbuka memberi keterangan kepada semua orang atas terjadinya kesalah paham kecil yang sudah terjadi tadi!"

Thi Eng khi benar-benar tidak habis mengerti, apa sebabnya orang-orang itu seperti mempunyai watak yang keras sekali, dengan wajah agak marah serunya kemudian .

"Apa yang harus kukatakan telah kukatakan semua, jika kalian tidak bisa menerimanya akupun tak akan terlalu memaksa, tapi aku berani bersumpah kepada langit dan bumi bahwa aku sama sekali tidak bermaksud bohong atau menfitnah!"

Dari mana dia bisa tahu kalau kawanan jago yang berada dalam ruangan sekarang, sebagian besar adalah manusia-manusia berambisi yang enggan tunduk kepada siapapun, siapa saja diantara mereka tak ada yang berharap orang lain lebih menonjol atau lebih hebat daripada dirinya, kalau bisa, seluruh dunia persilatan terjatuh ditangannya.

Oleh sebab itu, perasaan mereka pada waktu itu sangat kalut sekali.

Seperti misalnya saja dengan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, pertama dia merasa gusar karena kehadiran Thi Eng khi yang tanpa diundang sehingga menodai nama baiknya, kedua diapun merasa merasa marah kepada Keng hian totiang dari Bu tong pay karena tanpa persetujuannya telah membawa masuk Thi Eng khi ke dalam pertemuan tersebut.

Akan tetapi karena dia kuatir atau lebih tepatnya takut untuk mengusir ketua dari partai Bu tong tersebut, otomatis semua kemasgulan serta kekesalannya dilampiaskan diatas tubuh Thi Eng khi seorang.

Jilid 4 Sedangkan Pu thian toa beng Kay Poan thian adalah seorang manusia yang berambisi bsear sekali, dia tidak termasuk salah seorang dari kawanan jago yang turut serta didalam pertemuan besar empat puluh tahun berselang, diapun tidak terhitung seorang jagoan lihay dalam dunia persilatan dewasa ini, apa mau dikata ia justru merupakan seorang manusia yang tak tahu diri, tak senang berdiam diri dan suka menonjolkan diri, dimanapun dan dalam persolan apapun, dia selalu menampilkan dirinya agar diperhatikan orang.

Disamping itu masih ada pula mereka yang leluhurnya tidak turut serta dalam deretan lukisan itu, munculnya lukisan tadi tanpa terasa segera menimbulkan kesan jelek dihati mereka terhadap pemuda itu, apalagi setelah menyaksikan Thi Eng khi dipersilahkan menempati kursi utama lantaran mengandalkan lukisan leluhur tersebut, mereka merasa semakin tidak puas lagi.

Diantara sekian banyak orang, Hong im siu Sang Thong dari Bukit Bong san tak usah dikatakan lagi, setiap patah kata maupun setiap tindakan orang ini selalu merupakan bagian-bagian yang penting didalam rencana busuknya, atau dengan perkataan lain ia memang berniat menimbulkan kesan jelek Thi Eng khi terhadap umat persilatan agar niat pribadinya bisa terwujudkan.

Itulah sebabnya dalam keadaan seperti ini, tak mungkin buat Thi Eng khi untuk merebut simpatik hanya mengandalkan beberapa patah kata saja.

Baru selesai dia berkata, Pu thian toa beng Kay Poan thian sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh..... Thi ciangbunjin seandainya kau tak sanggup menghilangkan rasa curiga kami terhadap dirimu maka sekalipun kami semua menaruh perasaan kagum terhadap kegagahan dan kehebatan partai Thian liong pay dimasa lalu, bagi kepentingan umat persilatan mau tak mau terpaksa kita musti mempersilahkan ciangbunjin untuk menyingkir lebih dulu dari ruangan ini."

"Pendapat saudara Kay memang tepat sekali."

Seru Hong im siu Sang Thong dengan cepat "siaute nomor satu yang merasa setuju lebih dulu."

Lainnya pasti tidak buka suara namun kalau dilihat dari mimik wajahnya itu dapat diketahui bhawa mereka semua merasa amat setuju dengan pendapat dari Kay Poan thian tersebut.

Betapa kecewanya Thi Eng khi ketika menyaksikan maksud baiknya malah disambut dengan cemoohan serta penghinaan dari orang lain, dia memandang sekejap kearah Bu tong pay, tapi ketika dilihatnya Keng hian totiang pun menunjukkan sikap apa boleh buat, dia menjadi sedih sekali.

Setelah menghela napas panjang, katanya dengan suara gemetar .

"Kalau toh kalian semua berpendapat demikian, terpaksa aku harus mohon diri lebih dulu, tapi akupun berharap kalian jangan melupakan kejadian hari ini."

Berbicara sampai disitu, dia lantas beranjak dan mendekati dinding ruangan siap menurunkan lukisan tadi dan dibawa pergi meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, San hoa siancu Leng Cay soat tahu-tahu sudah melayang turun dihadapannya.

"Thi ciangbunjin, harap tunggu sebentar!"

Cegahnya.

"aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan!"

"Apa lagi yang tdiak benar dengan diriku!"

Tegur Thi Eng khi dengan kening berkerut.

"Aku mempunyai suatu perintah yang tak pantas, harap Thi ciangbunjin bersedia untuk mengabulkannya!"

Thi Eng khi tidak bisa menduga persoalan apakah yang dinggap begitu penting oleh San hoa siancu Leng Cay soat, terpaksa sambil mengendalikan hawa amarahnya dia berkata .

"Leng siancu ada urusan apa? Aku bersedia untuk mendengarkannya!"

"Sauhiap, tolong serahkan lukisan Enghiong to ini kepadaku, agar akulah yang menyimpankan untukmu."

Semakin membara sepasang mata Thi Eng khi setelah mendengar ucapan tersebut, teriaknya .

"Dengan dasar apa kau berkata begitu?"

"Dulu kakekmu Thi tayhiap pernah memimpin segenap jago lihay yang ada didalam dunia persilatan untuk melenyapkan suatu bencana dari dunia persilatan, setelah kejadian itu, untuk memperingatkan kejadian tersebut maka dipilihlah sembilan orang pentolan dunia persilatan waktu itu, masing-masing telah melukis wajahnya sendiri sebagai kenangan."

"Aaah....!"

Tiba-tiba seorang berseru.

"kalau begitu para locianpwe yang gambarnya terpampang diatas lukisan itu merupakan hasil karya mereka sendiri?"

Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat mengenang kembali kejadiannya dimasa lampau, kemudian dengan bangga dia menyahut .

"Betul, padahal dari sekian banyak jago yang mengikuti berlangsungnya peristiwa waktu itu, yang bisa dianggap sebagai seorang enghiong yang memimpin dunia cuma tiga puluhan orang, tapi yang betul-betul berhak untuk mencantumkan lukisannya diatas lukisan tersebut cuma delapan sembilan orang saja, orang-orang itu bisa kalian lihat yang lukisannya terpampang disitu."

Sekali lagi semua orang menikmati lukisan tersebut beberapa saat lamanya, akhirnya mereka baru melihat bahwa lukisan tersebut bukan berasal dari lukisan satu orang.

Suara pembicaraan Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat makin lama semakin keras, kembali serunya .

"Waktu itu, Thi locianpwe adalah pemimpin dari seluruh umat persilatan maka semua orang menyerahkan lukisan itu untuk disimpan oleh dia orang tua."

"Sudah sepantasnya kalau kakek kami yang menyimpan lukisan itu,"

Timbrung Thi Eng khi tiba-tiba. Pelan-pelan San hoa sinacu Leng Cay soat dari pulau Soh sim to itu manggut-manggut.

"Yaa, kalau berbicara dari kejadian waktu itu, tindakan tersebut memang paling tepat, tapi keadaan pada hari ini jauh berbeda."

Berbicara sampai disitu, Thi Eng khi segera memahami kearah manakah tujuan pembicaraan tersebut, kontan saja matanya melotot besar.

"Oooh ..... mengerti aku sekarang,"

Serunya.

"jadi berbicara sekian lama dan berputar ayun kian kemari, tujuannya tak lain ingin mengangkangi lukisan tersebut."

San hoa siancu tertawa dingin.

"Aku adalah salah seorang peserta dari peristiwa dimasa lalu lukisanku juga tertera dalam lukisan itu, tidak berhak kah bagiku untuk menyimpan lukisan itu?"

"Ucapan dari siancu itu tepat sekali,"

Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san segera menyela.

"oleh karena Pek ih siusu Cu ciangbunjin dari partai Hoa san tidak datang, maka dewasa ini memang cuma Leng siancu seorang yang berhak menyimpan lukisan tersebut."

"Aku juga berpendapat demikian,"

Sambung Pu thian toa beng Kay Poan thian pula.

"lukisan tersebut memang sepantasnya kalau disimpan oleh Leng siancu."

Menyusul kemudian, kembali ada beberapa orang yang menyatakan dukungannya atas keputusan dari Leng siancu tersebut.

Hanya ketua dari partai Bu tong, Keng hian totiang yang tidak berpendapat demikian, segera serunya .

"Menurut pendapat pinto ...."

Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, mendadak terdengar ada seseorang yang mencegahnya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Ciangbunjin ingin turut berbicara demi keadilan, lolap merasa kagum sekali, tapi menurut pendapat lolap biarkan saja kejadian itu berlangsung agar menambah pengetahuan dan pengalaman Thi ciangbunjin terhadap kebusukan hati manusia. Sekarang Thi ciangbunjin masih muda, bakatnya sangat bagus, masa depannya cemerlang, bila kita terlalu melindunginya maka hal ini malah akan mencelakai dirinya, lebih baik biar hatinya mendapat sedikit pukulan agar merangsang kecerdasannya makin bekerja ....."

Mendengar bisikan tersebut, Keng hian totiang lantas berpaling kearah Ci kay taysu dan tersenyum kemudian .

"Pinto pikir Thi ciangbunjin memang harus mempertimbangkan kembali persoalan ini."

"Tapi lukisan tersebut merupakan warisan dari leluhur kami, aku bersumpah akan mempertahankannya dengan jiwa dan raga, aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhnya sekehendak hatinya sendiri."

Dengan ilmu menyampaikan suara, Keng hian totiang segera berbisik.

"Jika manusia sudah dipengaruhi oleh sifat kemaruk, maka memperebutkan bukan suatu tindakan yang menguntungkan, Thi ciangbunjin kau bersemangat tinggi dan masih muda memangnya kau kuatir tiada kesempatan lagi dikemudian hari untuk mendapatkan kembali benda tersebut? Harap kau suka berpikir tiga kali sebelum bertindak."

Thi Eng khi segera menjadi paham sekali, segera berpikir .

"Buat seorang toa enghiong, seorang toa hau kiat, yang dipikirkan adalah keberhasilan dimasa mendatang, bukan keuntungan di depan mata, suatu ketika jika ilmu silatku telah berhasil, memangnya tak bisa kucuci semua penghinaan ini?"

Berpikir sampai disitu, kemarahannya segera mereda, dengan nada pedih dia berkata .

"Baik, untuk kali ini aku akan menuruti kehendak kalian! Cuma akupun hendak berkata dulu, suatu ketika lukisan tersebut pasti akan kuminta kembali!"

"Siapa yang tahu keadaan, dia adalah orang yang bijaksana, aku akan selalu menantikan kunjungan dari Thi ciangbunjin!"

Sahut San hoa siancu Leng Cay soat sambil tertawa. Thi Eng khi segera bangkit berdiri dan mendongakkan kepalanya, dengan lantang dia berseru .

"Cukup banyak petunjuk yang telah kuperoleh dari kalian semua, budi ini tak akan kulupakan untuk selamanya, aku akan mohon diri lebih dulu ...."

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menitahkan Sangkoan Gi untuk membuka pintu ruangan, serunya .

"Silahkan Thi ciangbunjin, maaf kalau aku tidak akan menghantar lebih jauh lagi!"

Sewaktu datang tadi, Thi Eng khi membawa semangat yang tinggi, tapi yang diperoleh cuma kepedihan dan penghinaan, sekarang dia baru menyadari apa sebabnya kakeknya menutup perguruan Thian liong pay dulu.

Thi Eng khi telah pergi, menyusul kepergian pemuda itu, Keng hian totiang dari Bu tong pay menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, katanya kemudian .

"Peristiwa yang terjadi hari ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali mengabaikan keadilan dan kebenaran, pinto merasa menyesal sekali, lebih baik akupun mohon diri!"

Dengan membawa kedua orang sutenya, mereka segera beranjak dan meninggalkan tempat itu.

Menyusul kemudian, Ci kay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po dari Kay pang serta Sin tuo Lok It hong juga enggan tinggal lebih lama disitu, serentak mereka beranjak dan mohon diri.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong hanya merasa menyesal di hati, dia menghela napas dan tampak murung sekali.

Sebaliknya Pu thian toa beng Kay Poan thian tampak paling berseri wajahnya, dengan suara lantang dia segera berseru .

"Partai Siau lim pay dan Bu tong pay selalu menganggap dirinya sebagai suatu perguruan besar, mereka paling tidak pandang mata kedada orang lain, kepergiannya justru kebetulan sekali, Cu lo hoacu si pengemis busuk ini bertulang kere dan pandainya cuma menjilat pantat orang, memang pantas sekali kalau selalu mengekor, sudah lama aku ingin mencari gara-gara dengannya, si bungkuk itu ..... Huhh! Lebih tak ada harganya untuk dibicarakan, mana otaknya bebal, goblok lagi, dia tak perlu diajak untuk berkompromi."

Semua orang cuma memandang sekejap kearahnya dan tak seorangpun yang menjawab, jelas orang-orang itu telah merasakan ketukan suara hati sendiri.

Sayang sekali, ketukan suara hati itu munculnya sangat lemah, sehingga dengan cepat tersapu kembali oleh ucapan dari Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san.

Terdengar Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san tertawa kering, kemudian katanya dengan suara yang aneh .

"Leng siancu, siaute merasa bahwa tekadmu ingin menyimpan lukisan Enghiong to tentunya dikarenakan sementara alasan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain bukan?"

Seakan-akan ucapan tersebut langsung menyentuh rahasia hatinya, kontan saja paras muka San hoa siancu dari pulau Soh sim to itu berubah hebat, serunya sambil tertawa dingin .

"Saudara Sang, mungkin kaupun menganggap aku tidak lebih cuma manusia seperti Thi Eng khi yang tak becus itu? Hmm, kuanjurkan kepadamu ada baiknya jangan terlalu gunakan akal busukmu daripada kita harus saling cekcok sendiri!"

Hong im siu Sang Thong segera tertawa seram .

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh.... Leng tocu apabila tindakanmu ini ibaratnya menyeberangi sungai merusak jembatan, maka perbuatanmu itu semakin menyalahi bantuan dari sobat semua!"

Saking gusarnya, paras muka San hoa siancu Leng Cay soat telah berubah menjadi hijau membesi, teriaknya .

"Sang Thong, bila sedang berbicara didepan pun siancu, lebih baik sedikitlah berhati-hati!"

Hong im siu Sang Thong juga berteriak dengan lantang .

"Selamanya siaute selalu berbicara sepatah tetap sepatah, kalau memang Leng tocu begini tidak sungkan, aku Sang Thong juga merasa tidak berkewajiban untuk menyimpan rahasia itu!"

"Kurang ajar! Sekali lagi kau berani bicara sembarangan, aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!"

Tampak ujung bajunya berkibar terhembus angin bagaikan segumpal awan hitam tahu-tahu ia sudah melayang melewati meja bundar dan melayang turun dihadapan Hong im siu Sang Thong, tangannya langsung diayunkan untuk menampar muka Sang Thong.

Perempuan ini memang tak malu menjadi salah seorang yang muncul diatas lukisan Enghiong to tersebut, tubuhnya yang melayang ke depan enteng bagaikan segulung angin, sedemikian cepatnya sehingga sukar buat orang lain untuk mengikuti bayangan tubuhnya.

Kelihatannya Hong im siu Sang Thong segera akan kena digampar oleh ayunan tangannya itu.

Tapi kejadiannya kemudian justru tampak aneh sekali, tidak melihat bagaimana Hong im siu Sang Thong menghindarkan diri juga tidak melihat bagaimana caranya dia melancarkan serangan balasan, tahu-tahu San hoa siancu Leng Cay soat telah menarik kembali tangannya sambil melompat mundur sejauh beberapa depa, wajahnya diliputi oleh rasa kaget dan tercengang untuk setengah harian lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, jelas ia sudah terkena sergapan gelap ......

Perlu diketahui, pada empat puluh tahun berselang, dikala San hoa siancu masih perawan dulu, namanya sudah menggemparkan dunia persilatan, itulah sebabnya dia baru termasuk juga salah seorang dari sembilan wajah tyang tercantum dalam lukisan tersebut.

Kehidupannya selama empat puluh tahun tentu saja bukan suatu kehidupan yang sia-sia saja tenaga dalamnya selain sempurna, ilmu silatnya juga luar biasa hebatnya, tak seorangpun diantara kawanan jago yang hadir disana memikirkan masalah lainnya.

Selain daripada itu, semua orangpun tahu kendatipun Hong im siu Sang Thong adalah jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi bila dibandingkan dengan San hoa siancu Leng Cay soat, dia masih ketinggalan jauh sekali.

Oleh karena itu, reaksi yang diperlihatkan perempuan itu membuat semua orang merasa terkejut bercampur tercengang, mereka betul-betul merasa tidak habis mengerti.

Hong im siu Sang Thong segera tertawa dingin, katanya .

"Jika dalam hatimu tak ada setannya, kenapa takut orang lain berbicara ....?"

San hoa siancu Leng Cay soat mengerang marah, teriaknya .

"Bangsat, kau berani melukai orang dengan senjata rahasia, kubacok dirimu sampai mampus."

Sekali lagi dia siap menubruk kemuka. Dengan suara yang keras menggelegar Hong im siu Sang Thong segera membentak keras .

"Lohu akan memperingatkan dirimu, kau sudah terkena jarum sakti Hua hiat sin ciam bila tidak segera memusatkan pikiran dan menutup ketujuh buah jalan utamamu kemudian menelan obat penawarku, dalam tiga jam mendatang sekujur badanmu akan berubah menjadi darah dan tewas, bila sampai demikian keadaannya, jangan salahkan lohu tidak memberi peringatan lebih dulu."

Tangannya segera diayunkan kedepan, sekilas cahaya kuning segera meluncur keluar dari balik pakaiannya dan meluncur ke tangan San hoa siancu Leng Cay soat.

"Cepat telan obat itu, kemudian sembuhkan sendiri luka yang kau derita itu!"

Hua hiat sin ciam merupakan sejenis senjata rahasia beracun yang sudah amat tersohor namanya dalam dunia persilatan, paras muka semua orang yang berada dalam ruangan itu kontan saja berubah sangat hebat.

Dengan kemampuan yang dimiliki San hoa siancu Leng Cay soat pun ternyata tak berani berrtindak gegabah, dengan wajah sedih dia lantas menelan pil pemberian Hong im siu Sang Thong dan segera duduk bersila untuk mengobati lukanya.

Pelan-pelan Hong im siu Sang Thong menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, lalu berkata .

"Menurut apa yang lohu ketahui, dilapisan paling dalam lukisan itu masing-masing tercantum tiga jurus ilmu silat yang paling sempurna dari orang-orang yang lukisannya terpampang diatas lukisan tersebut, barang siapa bisa mempelajari semua jurus yang tercantum disana, maka kepandaiannya tiada tandingan lagi di dunia ini!"

"Haaahh... !"

Seruan tertahan menggema di seluruh ruangna, suasana disana kontan saja berubah menjadi sangat gaduh. Sekulum senyuman aneh segera menghiasi ujung bibir Hong im siu Sang Thong, katanya lagi .

"Lukisan tersebut hanya ada selembar, siapakah yang akan mendapatkannya, ini tergantung pada kepandaian silat siapa yang paling sempurna diantara kalian semua!"

Seusai berkata dia lantas melayang naik keatas meja bundar itu dan sambil berpeluk tangan , ia menjadi seorang penonton yang baik.

"Ilmu silat yang maha sakti"

Benar-benar merupakan suatu pancingan yang besar sekali pengaruhnya, kawanan jago yang dihari-hari biasa selalu menganggap tinggi dirinya itu segera menunjukkan sinar kerakusan yang amat besar, serentak mereka bergerak maju menghampiri lukisan tersebut.

Mendadak ada orang berteriak keras .

"Lebih baik kita jangan saling bertengkar dulu, tanya yang jelas lebih dahulu apa benar terdapat kejadian seperti ini, kemudian kita baru mengandalkan kepandaian masing-masing untuk menentukan siapakah yang lebih berhak untuk mendapatkan lukisan tersebut."

Dengan cepat, ada yang bertanya kepada San hoa siancu Leng Cay soat .

"Harap Leng siancu bersedia untuk membuktikan kebenaran dari itu!"

Dengan wajah yang murung Sna hoa siancu Leng Cay soat menghela napas dan manggut-manggut.

"Benar,"

Sahutnya.

Seketika itu juga seluruh ruangan dipenuhi oleh cahaya golok bayangan pedang, angin pukulan dan bacokan telapak tangan, suasana menjadi gaduh dan kalut tidak karuan.

Sambil berpeluk tangan, Hong im siu Sang Thong berdiri diatas meja bundar dan menyaksikan pertarungan massal yang sedang berlangsung didalam ruangan itu, senyuman bangga yang sangat aneh, semakin menghiasi wajahnya.

Mendadak terdengar seseorang membentak keras .

"Semuanya tahan!"

Suaranya keras bagaikan geledek yang menyambar disiang bolong, bentakan tersebut membuat semua merasa terperanjat dan serentak menghentikan serangannya.

Orang yang berteriak dengan mempergunakan ilmu auman singa itu tak lain adalah Sangkoan cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng.

Setelah menghentikan serangan, semua orang yang untuk sesaat terpengaruh oleh ketamakan itu segera menjadi sadar kembali, dengan cepat mereka tahu kalau sudah tertipu orang, segera meja bundar itu dikepung kemudian melotot gusar kearah Hong im siu Sang Thong yang masih berdiri diatas meja sambil berpeluk tangan dan tersenyum itu.

Tiba-tiba Hong im siu Sang Thong mengusap wajahnya sendiri, kemudian sambil menekuk pinggang dan menghembuskan napas panjang dalam waktu singkat telah muncul kembali dengan wajah aslinya yakni seorang kakek berkepala botak.

Tampaknya kakek botak itu sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap kawanan kjago yang berada disekeliling tempat itu, sambil tertawa terbahak serunya.

"Haaahhh.... haaahhh... haaahhh.... lohu adalah Huan im sin ang (kakek tua bayangan setan) aku juga yang telah melukai puluhan orang jago yang mengerubuti diriku! Aku juga orang yang hendak kalian hadapi dalam pertemuan kali ini! Haahhh... haaahhh.... hari ini memang aku sengaja hendak mengajak kalian bergurau, ingin kulihat manusia macam apakah yang dikatakan sebagai jago-jago dari golongan lurus haaahhhh.... haaahhh.... tak tahunya cuma begitu saja, sungguh membuat hati lohu amat gembira. Sebenarnya aku hendak menghadiahkan kalian sebatang jarum Hua hiat sin ciam untuk setiap orang, tapi mengingat pertarungan yang kalian lakukan barusan bersungguh hati dan membuat lohu puas maka untuk sementara waktu aku akan melepaskan kalian semua dengan selamat. Cuma lukisan tersebut untuk sementara waktu akan lohu bawa pergi, jika kalian merasa punya kepandaian, silahkan datang sendiri ke bukit Thian tay san pada bulan enam tanggal enam nanti untuk memintanya kembali, cuma bila waktunya sudah lewat jangan salahkan jika lohu akan mengambil keputusan lain tentang lukisan itu."

Dari sekian banyak jago lihay yang berkumpul dalam ruangan ini, ternyata tak seorangpun yang berkutik atau mengucapkan sepatah katapun, mereka membiarkan Huan im sin ang mengucapkan katakatanya sampai selesai tanpa ada yang mengganggu.

Hal ini mereka lakukan sebab barusan titik kelemahan mereka semua telah teruar keluar, tanpa sebab mereka harus bertarung sendiri mati-matian, kejadian itu menimbulkan rasa malu dihati masing-masing hingga siapapun enggan juga untuk melakukan sesuatu tindakan.

Menunggu Huan im sin ang telah menyelesaikan kata-katanya, rasa permusuhan dalam hati mereka semua harus meledak.

Pertama-tama Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang berteriak lebih dulu dengan lantang .

"Keteledoran yang kita lakukan hari ini sungguh memalukan sekali, mari kita bekerja sama untuk menumpas gembong iblis itu, jangan membiarkan dia pergi dengan begitu saja ......"

Huan im sin ang segera menyeringai dan tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh.... heeehhhh.... lohu justru ingin sekali melihat kalian ditertawakan orang, kalau tidak, buat jiwa anjing kalian musti diampuni?"

Ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat, sedemikian hebatnya serangan itu membuat meja bundar disitu bergetar keras dan para jagoan merasakan kuda-kudanya tergempur, tak kuasa lagi mereka mundur ke arah dinding ruangan dengan sempoyongan .

Menyusul kemudian tangannya digapai, lukisan yang tergantung diatas dinding itu segera otomatis melayang sendiri ke tangannya.

Sementara semua orang masih tertegun bercampur kaget, sambil tertawa terbahak-bahak orang itu sudah membuka pintu baja dan melangkah keluar dari situ.

Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Sementara itu, Thi Eng khi dengan membawa rasa gusar bercampur sedih melangkah keluar dari pintu gerbang perkampungan Ki hian san ceng, kemudian sambil berpaling dan melotot beberapa kejap ke arah perkampungan itu dengan gemas dan menggertak gigi, diam-diam sumpahnya di dalam hati.

"Suatu ketika, sekalipun kalian menggunakan tandu besar yang digotong delapan orang untuk menjemputku pun, belum tentu aku mau datang kemari!"

Mendadak ia menyaksikan ada enam sosok manusia keluar dari perkampungan itu, ternyata mereka adalah ketua Bu tong pay, beserta Keng leng dan ik totiang, Ci kay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po serta si bungkuk sakti Lok It hong.

Thi Eng khi merasa cocok sekali dengan Keng hian totiang, dengan cepat dia membalikkan badan seraya memberi hormat katanya .

"Terima kasih banyak atas bantuan ciangbunjin selama ini aaai! Cuma sayang ...."

"Thi ciangbunjin harap kau jangan berkata begitu.

"tukas Keng hian totiang dengan lantang.

"Pinto merasa menyesal sekali tak bisa mewujudkan keadilan karena itu kami berkeputusan lebih baik mengundurkan diri saja."

"Omitohud!"

Ci kay taysu pula dari Siau lim pay.

"agaknya kepandaian silat Thi ciangbunjin belum memperoleh warisan langsung dari ilmu sakti Thian liong pay entah apa sebabnya bisa demikian?"

Thi Eng khi segera menghela napas panjang.

"Aaai.... kitab pusaka Thian liong pit kip telah dibawa pergi oleh kakekku dan tidak diketahui kabar beritanya, oleh sebab itu aku tak bisa mempelajari semua kepandaian perguruanku."

Secara ringkas, ia lantas menceritakan apa yang telah dialaminya selama ini. Ci kay taysu segera berkerut kening, setelah berpikir sejenak katanya kemudian .

"Ketika Thi locianpwe masih hidup dulu, beliau merupakan sahabat karib mendiang guruku, suatu hari ketika sedang pulang dari bersiar di bukit Tay san, tanpa sengaja telah menemukan se

Jilid kitab Hua tin liok, yang hingga kini masih tersimpan dalam pagoda penyimpan kitab partai kami, apakah Thi ciangbunjin bersedia untuk mengunjungi Siau lim si dan mempelajari dulu ilmu silat dalam kitab Hua tin liok sebelum berkelana dalam dunia persilatan sambil mencari jejak dari kitab pusaka Thian liong pit kip?"

Jelas, Ci kay taysu bermaksud untuk menariknya ke kuil Siau lim si dan menghadiahkan semua kitab ilmu silat yang pernah dimilikinya selama ini untuk Thi Eng khi serta membantunya menjadi lihay.

Tapi berhubung Thi Eng khi adalah seorang ketua dari partai Thian liong pay maka Ci kay taysu pun menggunakan kata yang lebih halus dan manis untuk menyampaikan maksud hatinya itu.

Keng hian totiang dari partai Bu tong segera tertawa terbahakbahak.

"Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh..... perkataan dari Ci kay taysu ada benarnya juga, sudah sepantasnya kalau Thi ciangbunjin mempertimbangkan kembali."

Usul ini meski sangat menggetarkan hati Thi Eng khi tapi setelah dipikirkan berulang kali dia merasakan enggan untuk menerimanya sebab dia sebagai seorang ketua dari partai Thian liong sepantasnya kalau memperkembangkan ilmu silat Thian liong pay, sebelum kepandaian itu dikuasai sepenuhnya dia tidak berniat meminjam kepandaian aliran lain untuk menjaga nama baik Thian liong pay.

Itulah sebabnya keinginan dan pemikirannya menjadi saling bertentangan, alis matanya berkernyit kencang dan lama sekali tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Tampaknya Hou bok sin kay Cu Goan po dari Kay pang dapat menebak isi hatinya sambil tertawa tergelak segera bujuknya .

"Semua ilmu silat yang ada di dunia ini sumbernya adalah sama, justru karena perkembangan dari setiap orang berbeda, maka jadilah perbedaan antara satu dengan lainnya, harap Thi siauhiap jangan terlalu memikirkan soal perbedaan aliran."

Semua perkataan itu mengandung arti yang benar dan cukup menimbulkan kesadaran orang yang dalam.

Sejak kecil Thi Eng khi memang sudah banyak membaca, kebesaran jiwanya pun boleh dipuji, sudah barang tentu dia bukan seorang yang kolot dan berpikiran pendek.

Tapi hari ini dia mempunyai alasan untuk bersikap kolot, sebab orang lain terlalu menghina dan mencemooh dirinya, ilmu silat aliran Thian liong pay juga mendapat pandangan yang sinis dimata orang lain, kesemuanya ini membuat dia hampir saja sukar untuk menahan diri.

Oleh sebab itu dia lantas bertekad untuk melaksanakan jalan pemikirannya kecuali mengalami kegagalan total dikemudian hari, kalau tidak ia bersumpah akan mengangkat nama partainya dengan mengandalkan ilmu silat dari aliran Thian liong pay sendiri.

Oleh sebab itu, akhirnya ia tetap menggelengkan kepalanya seraya berkata .

"Terima kasih banyak atas kebaikan taysu, aku sekarang harus segera berangkat ke puncak Bon soat hong di bukit Wu san untuk memenuhi janji, bila kesempatan dikemudian hari telah tiba, pasti akan kukunjungi Siau lim si untuk menambah pengetahuan, sekarang maaf kalau aku berangkat lebih dulu!"

Sambil mengeraskan hati ia tamapik kesempatan yang sangat baik ini dan sambil membalikkan badannya berlalu dengan langkah lebar.

Menyaksikan kepergian dari pemuda itu, tiga orang tousu, seorang pendeta, seorang pengemis dan si bungkuk menjadi tertegun sampai lama sekali mereka masih berdiri termangu-mangu.

Lama, lama sekali Hau bok sin kay Cu Goan po baru mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, serunya .

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... selama ini pihak Siau lim paling pelit siapa tahu kesupelannya tidak mendatangkan hasil haaahhh.... haaahhh..... kejadian ini sungguh menggembirakan sekali, sungguh menyenangkan sekali, aku si pengemis tua tak akan melepaskan diri dari persoalan ini lagi."

Tanpa menyapa orang lain lagi dia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ.

Si bungkuk sakti Lok It hong yang selama ini cuma membungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun itu, sekarang juga manggutmanggut lalu berlalu dari situ.

Keng hian totiang dari Bu tong pay dan Ci kay taysu dari Siau lim pay saling berpandangan sekejap sambil tertawa, kemudian mereka segera berangkat untuk pulang ke gunung.

Sepanjang jalan Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya, setelah bertanya sana sini maka beberapa hari kemudian sampai juga ia di bukit Wu san.....

Bukit Wu san terletak di sebelah tenggara keresidenan Wu san sian yang termasuk dalam bilangan propinsi Suchwan dengan pengunungan Pa san sebagai bukit yang paling tinggi, sungai Tiang kang yang lebar membelah bukit tersebut serta menciptakan tiga buah selat yang sangat berbahaya, salah satu diantaranya selat Wu sia.

Konon di atas bukit Wu san semuanya terdapat dua belas buah puncak, masing-masing adalah puncak Bong soat, Cui peng, Tiau im, Song luan, Ki sian, Ki hok, Keng tam, Sang sin, Ki im, Hui hong dan Teng liong.

Puncak Bong soat hong terletak disebelah utara bukit Wu san, tinggi menjulang kjeangkasa dan megah sekali.

Suatu hari, diatas puncak Bong soat hong di bukit Wu san muncul seorang sastrawan baju biru yang kelihatan sangat letih, orang itu bukan lain adalah Thi Eng khi dari partai Thian liong pay.

Sejak memangku tugas berat dalam partai Thian liong dan pengalamannya di dalam perkampungan Ki hian san ceng, membuat Thi Eng khi banyak mengenali wajah yang sebenarnya dari kawanan jago persilatan dari dunia persilatan saat ini, cuma dia tidak menjadi putus asa karena kejadian tersebut, malah sebaliknya makin menyadari bahwa tugas yang berada di atas bahunya tidak enteng.

Sekarang bukan saja dia harus membangun kembali nama baik dari Thian liong pay, bersama itu pula dia hendak merubah keadaan dalam dunia persilatan.

Kedatangannya ke bukit Wu san kali ini adalah demi penyakit yang diderita oleh keempat orang supek dan susioknya, tapi ia tidak menaruh harapan yang terlalu besar akan hal itu, terhadap kakek botak yang mengundang kedatangannya itu dia merasa muak sekali, dan menganggap orang itu tidak mempunyai maksud baik.

Waktu itu dia sudah berdiri diatas puncak Bong soat hong, untuk pertama kalinya dia mengerahkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk berpekik nyaring dan melampiaskan semua kemurungan yang mengeram didalam tubuhnya selama ini.

Baru selesai dia berpekik, bagaikan sukma gentangan itu tiba-tiba kakek botak itu sudah muncul didepan matanya, dia tertawa seram beberapa kali untuk menarik perhatian, kemudian katanya .

"Thi siauhiap benar-benar seorang yang bisa dipercaya, sungguh membuat lohu merasa amat gembira."

Thi Eng khi tertawa terpaksa.

"Aku dipaksa oleh keadaaan jadi mau tak mau aku harus datang juga untuk memenuhi janji!"

Kakek botak itu kembali tertawa terbahak-bahak .

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh..... aku lihat siauhiap berwajah masam dan tak sedap dilihat, rupanya kau telah menaruh salah paham terhadap maksud hatiku yang sebenarnya?"

"Dari Huay im sampai bukit Wu san bukan perjalanan yang bisa ditempuh dalam satu hari,"

Kata Thi Eng khi dengan kening berkerut.

"seandainya lotiang tidak bermaksud menyusahkan orang, mengapa kau menggunakan keselamatan dari keempat orang susiok dan supekku sebagai sandera untuk memaksa kedatanganku kemari?"

Dengan wajah yang ramah dan lembut, kakek botak itu segera berkata .

"Siapa yang bersedia menderita, dia akan menjadi lebih dewasa, tindakan yang kuambil ini sesungguhnya bermaksud untuk melatih semangat siauhiap, apakah siauhiap tak dapat memahaminya?"

Karena memikirkan keadaan dari Supek dan susioknya, terpaksa Thi Eng khi harus menahan rasa dongkolnya di hati.

"Urusan yang lewat tak usah dibicarakan lagi, tolong tanya lotiang sudi memberitahukan kepadaku cara pengobatan tersebut."

Kakek botak itu mengerdipkan matanya .

"Setelah lohu mengundang kedatangan sauhiap tentu saja akupun dapat memenuhi janjiku, cuma ilmu pengobatanku itu harus dilakukan dengan tenaga Im kang, padahal tenaga Im kang bukan bisa dipelajari dalam satu dua hari saja, kebetulan lohu tinggal tak jauh dari sini, bagaimana kalau kupersilahkan siauhiap berkunjung kesana, tanggung didalam tiga bulan mendatang kau bisa pulang dengan hati yang puas."

Thi Eng khi sesungguhnya bercita-cita untuk mengangkat nama perguruannya dengan mengandalkan kepandaian silat dari Thian liong pay, sebelum kepandaian dari perguruannya berhasil dipelajari, dia enggan untuk mempelajari kepandaian lainnya, sungguh tak disangka dia harus dihadapkan kembali dengan suatu persoalan yang menyulitkan, hal ini membuat pemuda itu menjadi tertegun.

Sebentar ia teringat kembali akan nasib dari supek dan susioknya, tapi sebentar kemudian dia memikirkan perjuangannya serta keinginannya untuk membangun kembali nama besar perguruan Thian liong pay, ia tahu jika sampai dirinya terpaksa belajar ilmu kepada lawan untuk mengobati supek dan susioknya, belum tentu hal ini akan memenuhi keinginan mereka.

Berpikir sampai disini, tanpa terasa ia menjadi menyesal sekali mengapa harus melakukan perjalanan ini.

Oleh karena pelbagai ingatan berkecamuk didalam benaknya, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan keadaan dari pemuda itu, dengan wajah serius kakek botak itu segera berkata .

"Seandainya Thi siauhiap ingin memunahkan pengaruh totokan jit sat ci ditubuh supek dan susiokmu itu inilah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh dan tiada jalan lain lagi, harap siauhiap jangan menyia-nyiakan kesempatan baik ini!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Eng khi katanya .

"Siauseng ingin mengajukan suatu pertanyaan harap lotiang sudi menjawab dengan sejujurnya."

Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak .

"Haaahhh.... haaahhh..... bukankah kau ingin bertanya apa tujuanku yang sebenarnya mengundang kedatanganmu diatas puncak Bong soat hong ini?"

"Benar!"

Thi Eng khi mengangguk "Sebenarnya apa tujuanmu?"

Kakek botak itu memperhatikan Thi Eng khi beberapa saat lamanya kemudian menjawab .

"Ketika berada dalam perguruanmu tempo hari, aku sudah mengetahui kalau kau berbakat bagus dan pantas mewarisi ilmu sakti yang tercantum dalam kitab Jit sat hian im keng itulah sebabnya kitab pusaka Thian liong pit kip yang sudah jatuh ke tanganku pun kukembalikan kepadamu. Adapun maksudku mengundang kedatanganmu adalah bertujuan untuk menyempurnakan kau, inilah maksud lohu yang sebenarnya, dengan kecerdasan yang kau miliki apakah tidak bisa kau lihat bahwa kesempatan ini merupakan kesempatan yang paling baik sekali? Mengapa kau tidak segera berlutut dan mengangkat diriku sebagai gurumu? Apalagi yang hendak kau nantikan?"

Thi Eng khi segera melotot besar.

"Siauseng adalah anggota partai Thian liong pay, tidak mungkin aku disuruh berganti perguruan lagi."

Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak .

"Haaahhh... haaahhh..... haaahhh.... selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan aku mempunyai suatu tujuan yang besar sekali, maka asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, jangan toh baru menjadi ketua Thian liong pay asal kau bercita-cita besar, lohu pun bisa membantumu untuk menjadi ketua dari seluruh perguruan dan partai yang berada dalam dunia persilatan saat ini!"

Selama ini Thi Eng khi terus menerus memperhatikan mimik wajah lawan, mendadak timbul suatu kecurigaan dalam hatinya sehingga tanpa terasa ia memandang orang itu semakin lekat-lekat, seakan-akan pikirannya terurai dalam lamunan.

Itulah sebabnya dia tidak mendengar kata si kakek yang didepan, tapi hanya mendengar kata yang terakhir saja.

Kontan saja paras mukanya berubah menjadi dingin bagaikan es, katanya lantang .

"Kau hendak menjadi ketua dari semua partai dan perguruan yang ada di dunia ini? Kalau begitu kau juga pembunuh yang telah melukai serta membinasakan jago-jago lihay dari pelbagai perguruan?"

Mula-mula kakek botak itu agak tertegun kemudian sambil menarik muka sahutnya .

"Lohu tak ingin menjadi orang kedua dikolong langit dewasa ini, apa pula salahnya bila kugunakan ilmu silatku yang lihay untuk menakut-nakuti mereka? Hei, sudah tahu begitu, apalagi yang hendak kau pertimbangkan ....? Bila tahu diri cepat berlutut dan mengangkat diriku menjadi gurumu, lohu sudah merasa agak tak sabar!"

Paras muka Thi Eng khi sama sekali berubah, katanya .

"Siauseng tidak bernasib sebaik itu, maaf, selamat tinggal!"

Dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari situ.

Kakek botak itu segera menggapaikan tangannya, segulung tenaga hisapan tak berwujud yang sangat dahsyat segera menghisap tubuh Thi Eng khi untuk balik kembali ke tempat semula, serunya dengan gusar .

"Lohu dengan maksud baik ingin mendidik kau, tak kusangka kalau kau begitu tak tahu diri!"

"Yaa, tiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda, siapa yang bisa memaksanya?"

Napas kakek botak itu tersengkal-sengkal keras, jelas kemarahannya sudah memuncak, tapi alis matanya berkenyit dan akhirnya berhasil menahan diri, dia mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh..... apakah kau lupa dengan luka parah yang diderita Thian liong ngo siang akibat totokan dari ilmu jari Jit sat ci?"

"Thian liong ngo siang berbeda dengan orang biasa, sedangkan siauseng pun hanya tahu jalan lurus dan berdiri tegak, sekalipun selama sepuluh tahun tidak mampu menyembuhkan luka mereka, tak nanti mereka akan menyalahkan diri siauseng."

"Apakah kau juga lupa dengan penghinaan yang kau derita sewaktu berada di perkampungan Ki hian san ceng?"

Teriak si kakek botak itu keras-keras.

"asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, tanggung didalam setahun mereka semua akan berlutut dihadapanmu sambil minta ampun!"

Menyinggung kembali soal perkampungan Ki hian san ceng, timbul kembali secara tiba-tiba api kemarahan yang berkobar didalam dadanya. Terdengar si kakek botak itu berkata lebih jauh .

"Tidak tahukah kau bahwa mereka semua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan? Tidak takutkah bagaimana wajah mereka yang sebenarnya...? Aku rasa kesemuanya itu sudah kau saksikan sendiri, tentunya kau berpikir sendiri bukan."

Thi Eng khi semakin emosi, sepasang alis matanya sampai berkenyit setelah mendengar perkataan itu. Kakek itu semakin emosi, dengan memperkeras suaranya dia berkata lebih jauh .

Baca Juga: Amanat Marga 5

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert