Ceritasilat Novel Online

Pukulan Naga Sakti 3

Eps 3 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.

"Cun lan, sesungguhnya kau yang menjadi kiongcu atau aku kiongcunya.....?"

Nona berbaju merah yang bernama Cun lan itu segera tertawa tersipu-sipu, buru-buru sahutnya dengan hormat .

"Budak tidak berani!"

Ternyata dia tak lebih cuma seorang dayang. Gadis berbaju hijau itu sedikitpun tidak mengendorkan desakannya, kembali dia berkata .

"Kalau memang begitu, mengapa kau selalu mengurusi diriku?"

"Sebab Lo sancu yang berpesan demikian!"

Jawab Cun lan sambil mengeraskan kepala. Nona berbaju hijau itu segera tertawa dingin tiada hentinya .

"Jangan lupa dengan ucapan Lo sancu yang lain, sekarang kau adalah seorang kiong li (dayang keraton) dariku."

"Itu.... itu......"

"Apa ini itu? Sedari kapankah kalian pernah menyaksikan Lo sancu memaksaku?"

Cun lan si nona berbaju merah ini sudah beberapa lama mengikuti nona berbaju hijau itu tentu saja diapun cukup mengetahui akan wataknya yang keras kepala, bila lagi sewot maka Lo sancu yang ditakuti setiap orang pun akan dibuat pusing kepalanya, apalagi orang lain.

Yaa, kalau lagi salah melompat, tugas semacam ini benar-benar salah dibuatnya, kalau salah kepada orang tuan putri, maka sang tuan putri pasti marah-marah, kalau menurut kehendak sang tuan putri, maka lo sancu marah hakekatnya serba salah dibuatnya.

Teringat sampai disitu, tak tahan lagi nona berbaju merah itu menghela napas panjang.

Ketika dilihatnya wajah Cun Lan yang mengenaskan itu nona berbaju hijau itu menjadi iba sendiri, katanya kemudian dengan suara yang lebih lembut .

"Cun Lan, tahukah kau bila topeng kulit manusia ini lagi menempel dimuka, begitu rapatnya dia menempel dimukaku sampai kulitpun turut menjadi gatal, tahukah kau betapa sengsaranya aku waktu itu? Tempat ini toh tak ada orang lain, kenapa tidak kulepaskan sebentar agar mukaku terasa segar? Toh disini tak bakal terlihat orang? Jangan kuatir ...."

Ketika Cun Lan menyaksikan ucapan nonanya jauh lebih lembut, buru-buru diapun tertawa seraya berkata .

"Budak hanya bermaksud untuk mengingatkan Kiongcu saja, daripada nantinya sampai dimarahi Lo sancu, asal Kiongcu tahu diri, budakpun merasa berlega hati......."

Sambil berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan, lalu kembali gumamnya .

"Sekarang juga budak akan menyuruh mereka memperketat penjagaannya disini, daripada ada orang luar yang iseng masuk kemari dan mengganggu ketenangan Kiongcu."

Menanti Cun Lan sudah pergi, nona berbaju hijau baru memasang telinga untuk memperhatikan keadaan disekitarnya, ketika yakin kalau disitu tiada orang lagi, dengan kening berkerut dan mendepakkan kakinya berulang kali, dia berseru dengan gemas .

"Suatu ketika, aku pasti akan menyuruh kau tahu akan kelihayanku."

Menyusul kemudian diapun menghela napas pedih.

"Aaai......... tapi sekarang aku benar-benar tak berdaya!"

Sambil berkata mendadak ia kenakan kembali topeng kulit manusianya sambil membentak.

"Siapa diatas atap?"

Dari atas atap rumah berhembus lewat segulung angin menyusul kemudian terdengar seseorang berkata sambil tertawa cengar cengir.

"Siauseng adalah Pek hoa lengcu (lelaki romantis setangkai bunga) Thio Kian, khusus datang kemari untuk menghibur hati nona yang lagi kesepianl"

Bayangan manusia berkelebat lewat, didepan pintu telah bertambah dengan seorang sastrawan tampan yang berusia tiga puluhan tahunan, sikapnya amat santai dan wajahnya tampan sambil menggoyangkan sebuah kipas putih yang panjangnya delapan jengkal dia mengawasi wajah nona berbaja hijau itu sambil tertawa nyengir.

Nona berbaju hijau itu sama sekali tidak kaget, bagaikan bersua dengan teman lama saja, katanya seraya tertawa hambar .

"Tentunya kau datang dari atas atap bukan? Apakah tidak mengagetkan para penjaga disekitar rumah? Aku lihat, ilmu meringankan tubuh yang kau miliki hebat juga!"

Pek hoa lengcu Thio Khian adalah seorang raja iblis yang banyak merusak kehormatan orang, selain hatinya kejam, cara kerjanya juga sangat brutal.

Tapi karena ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, maka tidak seorangpun yang berani mengapa-apakan dirinya.

Maka ketika didepan pintu tadi ia menyaksikan kecantikan sinona berbaju hijau didepan pintu penginapan tadi, timbullah niatnya untuk melalap kehormatan gadis tersebut, meski dia tahu Hek bin bu pah lihay, namun masih tidak diremehkan olehnya, diam-diam diapun menyelinap masuk ke ruang belakang.

Ketenangan yang ditunjukkan gadis berbaju hijau itu segera membuat lelaki ini menjadi sangsi, dia berhenti sebentar didepan pintu, kemudian baru masuk kedalam ruangan.

Kembali nona berbaju hijau itu tertawa merdu, katanya kemudian .

"Kau tidak takut terhadap Hek bin bu pah Cu Thi gou?"

"Huuuh..... kalau cuma manusia macam Hek bin bu pah mah siauseng tak akan memandang sebelah matapun!"

Jawab Pek hoa lengcu Thio Kian sambil mengangkat kepala. Kemudian dengan langkah lebar, dia masuk ke dalam ruangan. Gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan.

"Berapa sih umurmu tahun ini? Aku lihat kau lebih cocok kalau kupanggil lo siauseng,"

Godanya.

Selama hidup belum pernah Pek hoa lengcu Thio Kian berjumpa dengan seorang gadis bernyali besar seperti ini, kontan saja mukanya berubah menjadi merah padam karena jengah.

Tiba-tiba paras muka nona berbaju hijau itu berubah menjadi dingin bagaikan es, katanya lagi .

"Tahukah kau siapakah Kiongcumu ini?"

Mendengar disinggungnya kata "Kiongcu"

Pek hoa lengcu Thio Kian segera meningkatkan kewaspadaannya, dia bertekad untuk tidak banyak bicara dan bawa kabur lebih dulu baru bicara kemudian.

Maka sambil tertawa dingin, dia lantas menerjang kearah nona berbaju hijau itu sambil berseru .

"Peduli amat siapa dirimu!"

Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat, dia segera mencengkeram pergelangan tangan kiri nona berbaju hijau itu.

Serangan itu datangnya amat cepat dan dahsyat, tapi nona berbaju hijau itu masih tetap tenang saja, sambil tertawa merdu dia berputar kesamping seraya bertekuk pinggang tahu-tahu serangan Sui tiong lau gwat (mendayung rembulan dari air) dari Pek hoa lengcu Thio Kian tersebut telah dihindari.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pek hoa lengcu Thio Kian sebenarnya sudah merupakan suatu kepandaian yang hebat dalam dunia persilata, namun dia tak sempat menyaksikan gerakan apakah yang digunakan gadis berbaju hijau itu untuk menghindarkan diri dari jurus maut Sui tiong lau gwat yang selama ini tak pernah meleset itu.

Setelah tertegun sejenak, jurus serangan keduapun segera siapsiap dilancarkan.

Mendadak gadis berbaju hiaju itu menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berseru .

"Tunggu sebentar! Tunggu sebentar! Kalau ingin turun tangan, lebih baik dibicarakan dulu sebaik-baiknya."

"Apa maksudmu?"

Tegur Pek hoa lengcu Thio Kian dengan suara berat dan dalam. Ternyata dia benar-benar mengurungkan niatnya untuk melancarkan serangan. Nona berbaju hijau itu segera tertawa cekikikan, ujarnya .

"Mari kita bertaruh! Dalam lima jurus serangan nanti bila kau berhasil menangkap diriku maka aku tak akan mengusik mereka dan diam-diam ikut kau pergi."

"Bagus jika toaya tidak berhasil menangkapmu dalam lima jurus, tanpa banyak bicara aku akan angkat kaki dari sini dan selanjutnya tak akan mengganggu dirimu lagi."

"Kalau begitu mah termasuk taruhan apa?"

Seru nona berbaju hijau itu sambil menarik kembali senyumannya.

"kau tak boleh angkat kaki dengan begitu saja."

"Memangnya aku harus menyerah kalah dan membiarkan diriku dibelenggu?"

Tanya Pek hoa lengcu Thio Kian sambil memancarkan sinar buas dari balik matanya. Senyuman manis segera menghiasi ujung bibir nona berbaju hijau itu, sahutnya .

"Dalam lima gebrakan nanti, bila kau tidak berhasil menangkap diriku, cukup bila kau bersedia membantuku untuk memberikan semacam benda kepada seseorang."

Pek hoa lengcu Thio Kian masih belum memahami permainan busuk apakah yang sedang dipersiapkan gadis berbaju hijau itu, karena taruhan tersebut sudah jelas lebih menguntungkan pihaknya.

Dia adalah seorang manusia bengis yang sudah terbiasa melakukan kejahatan, sudah barang tentu diapun segan untuk mempercayai perkataan orang dengan begitu saja, setelah sangsi beberapa saat lamanya diapun lantas berkata .

"Kalau cuma menghadiahkan sebuah benda kepada seseorang, rasanya kau sendiripun sanggup untuk melakukannya, mengapa kau harus bertaruh denganku?"

"Mau bertaruh atau tidak terserah padamu sendiri, akupun enggan untuk banyak ribut denganmu,"

Kata si nona berbaju hijau itu sambil berkerut kening.

"asal aku berteriak, sudah pasti ada orang yang akan menggantikan diriku untuk bertarung denganmu, silahkan saja mempertimbangkan sendiri untung-ruginya!"

Pek hoa lengcu Thio Kian benar-benar tidak habis mengerti tentang maksud hati gadis berbaju hijau itu tapi daripada kehilangan kedua-duanya, maka tak ada salahnya untuk dicoba.

Maka diapun mengangguk berulang-kali.

"Baik, kita tetapkan dengan sepatah kata itu!"' katanya.

"Kalau begitu, kau boleh mulai turun tangan!"

Pek hoa lengcu Thio Kian tidak banyak berbicara lagi, sepasang tangannya segera diayunkan berulang kali melancarkan serangan berantai dengan jurus Luan cian bwe hoa (menggunting bunga Bwe secara ngawur), Hun im ki gwat (memisah awan mengambil rembulan), Kim cok wan (serat emas membelenggu pergelangan tangan) Liu seng kan gwat (binatang lewat mengejar rembulan) dan Sui tiong lau gwat (mendayung rembulan dalam air).

Nona berbaju hijau itupun segera mengembangkan pula gerakan tubuhnya untuk mengahadapi serangan tersebut, dalam waktu singkat seluruh ruangan tersebut sudah dipenuhi oleh bayangan hijau.

Begitulah tanpa menimbulkan sedikit suarapun, kedua orang itu terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit.

Ruangan itu sesungguhnya tidak terlampau luas, tapi makin bertarung Pek hoa Lengcu Thio Kian merasakan hatinya semakin terperanjat sebab walaupun tempat itu sempit, dia tak mampu menowel seujung rambut nona berbaju hijau itu apalagi memegangnya.

Dikala lima jurus serangan itu baru habis dilancarkan dan tubuhnya agak terhenti sejenak, mendadak urat nadi pada pergelangan tangannya terasa menjadi kaku, tahu-tahu pergelangan tangannya itu sudah kena dicengkeram oleh sinona berbaju hijau itu.

Seketika itu juga, Pek hoa lengcu Thio Kian merasakan segenap tenaga dalamnya punah tak berbekas, dengan gelisah dia lantas berseru .

"Kau...... kau..,,..."

Agaknya nona berbaju hijau itu tidak berminat untuk melukainya, terbukti ia segera lepas tangan begitu berhasil mencengkeram lengan lawannya sambil tertawa katanya kemudian.

"Jangan takut pun kiongcu tak akan melukai dirimu."

Berbareng itu juga, tangannya yang lain telah menyusupkan semacam benda ketangan Pek hoa lengcu Thio Kian dengan nada perintah katanya .

"Cepat serahkan benda itu kepada So loyacu dikuil Tiong gak bio jangan sampai salah."

Tampaknya kelihayan ilmu silat yang dimiliki nona berbaju hijau itu telah menimbulkan perasaan ngeri dalam hati Pek hoa lengcu Thio Kian, dia tak berani menggoda lagi dengan kata-kata yang kotor, dengan hormat katanya .

"Tolong tanya siapakah nona? Bila So loyacu menanyakannya nanti ....."

"Pun Kiongcu datang dari istana Ban seng kiong!"

Pek hoa lengcu Thio Kian tak berani banyak bertanya lagi, dia segera membalikkan badan dan melompat naik keatas atap rumah.

Tapi belum lagi dia sempat pergi jauh, mendadak terdengar seseorang membentak keras .

"Bocah keparat, kau anggap kedatanganmu itu berhasil mengelabui ketajaman mata kami?"

Bagaimanapun juga Pek hoa lengcu Thio Kian termasuk seorang jago kenamaan di dalam dunia persilatan, tentu saja pengalamannya juga luas sekali, kecerdasannya boleh dibilang jauh melebihi orang biasa.

Sejak menyaksikan kepandaian silat yang dimiliki nona berbaju hijau itu, dia sudah menduga sampai dimanakah kelihayan dari pihak istana Ban seng kiong, maka mendengar suara bentakan itu, tanpa berpaling lagi dia membalikkan badannya dan melarikan diri kearah yang lain.

Sayang meski dia cepat, orang lain jauh lebih cepat lagi daripada dirinya, ketika ia mendengar segulung desingan angin tajam menyambar tiba, tahu-tahu jalan darah siau yau hiatnya menjadi kaku, tubuhnya terasa lemas dna tak ampun lagi tenaga dalamnya buyar dan tubuhnya pun terjatuh dari atas atap rumah.

Menyusul kemudian bayangan merah berkelebat lewat, tahu-tahu dia sudah dibawa masuk kembali ke dalam ruangan.

Mimpipun Pek hoa lengcu Thio Kian tidak menyangka kalau dalam dunia persilatan telah muncul begitu banyak jago persilatan yang berilmu tinggi, hingga dengan mengandalkan kepandaian yang dimiliki pun dia tak sempat melancarkan serangan balasan.

Setelah terjatuh ke tangan musuh sekarang tentu saja dia tak dapat berbuat lain kecuali memejamkan matanya dan pasrah kepada nasib.

Tapi dalam hati kecilnya dia mencaci maki nona berbaju hijau itu habis-habisan, dia merasa tidak seharusnya gadis tersebut mempermainkan jiwanya dengan mempergunakan cara tersebut.

Meksi matanya terpejam rapat, telinganya dipasang baik-baik, dia siap menunggu hukuman yang bakal diputuskan oleh Ban seng kiongcu.

Mendadak dari dalam ruangan itu terdengar seseorang mendehem pelan, tapi suara itu bukan suara dari Ban seng kiongcu, maka tanpa terasa dia membuka matanya untuk mengintip.

Tampak di dalam ruangan itu telah bertambah dengan seorang kakek berkepala botak, nona berbaju hijau tadi berdiri disamping kakek botak tersebut, sedangkan si nona berbaju merah yang menentengnya masuk kedalam ruangan itu berdiri di belakangnya.

Terdengar kakek botak itu mendehem beberapa kali, kemudian setelah menghela napas katanya .

"Bwe leng kembali kau tidak menuruti perkataanku!"

Dari nada pembicaraan tersebut, Pek hoa lengcu Thio Kian dapat mendengar kalau si kakek botak tersebut sedang menegur si nona berbaju hijau itu, sekarang dia baru tahu kalau si nona berbaju hijau itu sama sekali tidak berniat untuk mempermainkan dirinya, rasa marah dan kesal yang semula mencekam perasaannya pun segera banyak berkurang.

Ketika si nona berbaju hijau itu mendengar teguran dari kakek botak, dengan wajah tidak puas dia lantas berseru .

"Coba kau katakan, kesalahan apa yang telah kulakukan? Aku toh tidak mengingkari janji."

"Aku sudah banyak mengajarkan ilmu silat kepadamu meski tiada hubungan antara guru dan murid, tapi dalam kenyataan kita memang pernah berhubungan sebagai guru dan murid, selain itu aku adalah Lo sancu dari istana Ban seng kiong, sedang kau tak lebih cuma seorang kiongcu saja, kenapa kau berani bicara dengan nada semacam itu kepada diriku....?"

Pek hoa lengcu Thio Kian yang mendengarkan pembicaraan tersebut, diam-diampun merasa geli sekali, dia merasa Lo sancu tersebut benar-benar terlalu memanjakan nona berbaju hijau tersebut, sehingga sama sekali tidak memiliki kewibawaan sebagai seseorang dari angkatan yang lebih tua........

Darimana dia bisa tahu kalau lo sancu ini adalah seorang manusia berhati keji yang tindak tanduknya busuk dan kejam, pada hakekatnya sukar untuk mengukur hatinya dari perubahan mimik wajahnya itu....

Dalam pada itu paras muka si nona berbaju hijau itu telah berubah menjadi sangat tak sedap dipandang mungkin karena malu menjadi naik pitam, dengan suara keras segera serunya .

"Aku toh tidak meminta kau ajarkan ilmu silat kepadaku, aku pun tak ingin menjadi seorang kiongcu atau tidak, jika kau keberatan, lebih baik kita batalkan saja perjanjian tersebut sampai disini saja.... Nada pembicaraannya ketus sekali. Kakek botak itu sedikitpun tidak menjadi gusar, cuma katanya dengan suara pelan .

"Aku sendiripun sudah cukup banyak dibuat kheki olehmu, kalau ingin membatalkan janji juga boleh, sekarang juga kau boleh kembali ke tempat yayamu, cuma tentu saja janjiku kepadamu juga akan segera kubatalkan pula."

Dibalik perkataan itu terkandung pula nada ancaman. Tiba-tiba nona berbaju hijau itu tertawa manis, ia berkata .

"Walaupun kau juga tahu kalau kau sedang menggertak serta memperalat diriku, tapi ucapan seorang kuncu lebih berat daripada sebuah bukit, setelah kululuskan tentu saja aku tak akan membatalkan secara sepihak, janji itu hanya bisa batal bila kau yang membatalkannya lebih dulu!"

Sudah jelas dia merasa rada takut, tapi dalam pembicaraan sedikitpun ia tak mau mengalah.

Kakek botak itupun tidak mempersoalkannya lebih jauh dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh.... Haaahhhh..... haaahhhh..... terserah apa saja yang hendak kau katakan, pokoknya begitulah watak lohu, aku tak ingin menjadi seorang yang suka ingkar janji, tampaknya kau terpaksa harus menjadi kiongcu ban seng kiong selama dua tahun, sampai waktunya lohu baru akan memenuhi kehendak hatimu!"

Pelan-pelan gadis berbaju hijau itu menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang, di balik helaan napas tersebut entah terdapat berapa banyak penderitaan dan kesedihan.

Kakek botak itu segera memberi tanda kepada Cun Lan atau si nona berbaju merah itu, lalu katanya.

"Ambil kembali barang milik Kiongcu itu dan kembalikan kepada Kiongcu!"

Diantara ulapan tangannya tersebut dia membuat sebuah tanda rahasia.....

Dari tangan Pek hoa lengcu Thio Kian, nona berbaju merah itu mengambil kembali sebiji bunga mutiara, kemudian diserahkan kembali kepada nona berbaju hijau itu kemudian sambil tertawa katanya.

"Thio Kian itu manusia macam apa? Apakah kiongcu tidak kuatir bunga mutiaramu itu ternoda?"

Nona berbaju hijau itu segera melotot sekejap ke arah Cun Lan, dengan ketakutan nona berbaju merah itu bersin beberapa kali dan segera melengos ke arah lain.

Sambil menggertak giginya kencang kencang, nona berbaju hijau itu segera mengerahkan tenaga dalamnya dan meremas bunga mutiara itu sampai hancur menjadi bubuk, kemudian tangannya diayunkan ke depan dan menyebarkan hancuran bubuk itu ke manamana.

Kakek botak itu segera tertawa tergelak katanya .

"Besok lohu akan belikan sekuntum bunga mutiara yang lebih baik lagi untuk diberikan kepadamu."

"Huuuh, siapa yang kesudian dengan bunga mutiara busuk itu!"

Dengus si nona berbaju hijau itu. Sambil tertawa kakek botak itu segera melangkah keluar dari dalam ruangan, sambil keluar katanya .

"Pokoknya lohu berhasrat untuk berbuat demikian, mau diterima atau tidak terserah kepadamu sendiri."

Kemudian ditengah gelak tertawa yng amat nyaring, suara langkah kakinya itu makin lama semakin menjauh. Sepeninggal kakek botak itu, si nona berbaju hijau itu baru berseru .

"Cun Lan!"

Namun tiada jawaban yang terdengar, ketika dia menoleh, baru diketahui bahwa Cun Lan maupun Pek hoa lengcu Thio Kian sudah tidak berada disitu lagi. Maka sambil tertawa getir, diapun bergumam .

"Bagaimanapun juga Pek hoa lengcu bukan termasuk orang baik dibiarkan hidup juga hanya mencelakai orang didunia ini saja, beginipun ada baiknya juga, jadi akupun tak usah bersusah payah lagi!"

Dia berjalan ke sisi jendela dan memandang aneka bunga yang berada di luar jendela, kemudian sambil menghela napas sedih katanya .

"Sungguh mengherankan mengapa kau menaruh perhatian khusus kepadanya, lagipula bersedia menjadi kiongcu setannya selama dua tahun? Kalau kejadian ini sampai diketahui yaya, bisa jadi dia akan mentertawakan diriku sampai giginya pun turut terlepas!"

Tanpa disadari dia telah mencintai orang ini, demi orang ini dia rela untuk mengorbankan segala sesuatunya, tapi untuk sesaat dia belum berhasil menemukan apa alasannya.

Sambil menghela napas, dia membalikkan badannya, mendadak dia menjerit kaget .

"Hei, kenapa kau kembali lagi?"

Ternyata entah sedari kapan tanpa menimbulkan sedikit suarapun kakek botak tadi telah berdiri di belakangnya. Sambil mengangkat bahu kakek botak tertawa, sahutnya .

"Lohu lupa untuk memberitahukan satu hal kepadamu, maka aku telah balik kembali, apakah kau merasa kesal lagi?"

"Ada urusan apa?"

Kakek botak itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Lohu dan kakekmu telah mengadakan suatu perjanjian besok malam, maksudku aku hendak mengajakmu untuk menghadiri bersama, bagaimana menurut pendapatmu?"

Tentu saja nona berbaju hijau itu merasa kegirangan setengah mati, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar sedangkan mulutnya memperdengarkan suara haah....haahh yang tiada hentinya, nampak sekali kalau hatinya merasa hatinya tidak tenang.

Terdengar kakek botak itu berkata lagi .

"Aku telah bertekad untuk membawamu pergi tapi dapatkah kau mengulangi sekali lagi perjanjian yang telah kita buat?"

Begitu menyinggung kembali soal perjanjian yang mereka lakukan, semua kegembiraan nona berbaju hijau itu seketika tersapu lenyap, bibirnya juga terbungkam dalam seribu bahasa.

Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak katanya .

"Loha akan mewakilimu untuk mengulangi sekali lagi! Pertama, selama dua tahun ini, kau tak boleh berbicara sepatah katapun dengan kakekmu. Kedua, dalam dua tahun ini kau tak boleh berjumpa dengan orang lain dengan raut wajah aslimu (termasuk kakek dan kekasih hatimu). Ketiga, selama dua tahun ini, kau tak lebih adalah Ban seng kiongcu yang harus berjuang demi nama besar istana ban seng kiong. Keempat, dalam dua tahun ini kau tak boleh mengutarakan asal usulmu yang sebenarnya kepada siapapun. Kelima, dalam dua tahun ini kau harus membunuh lima orang yang telah lohu tunjuk (lohu jamin kelima orang itu sama sekali tiada hubungannya dengan dirimu)!"

Mendengar sampai disitu, dengan mendongkol nona berbaju hijau itu segera berseru .

"Masih ada lagi, dalam dua tahun ini kau jamin dapat mengembalikan seorang Thi...... seorang manusia she Thi, kenapa tidak berani kau katakan?"

Kakek botak itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh....haaahh... haaahhh ....sebenarnya hendak kukatakan, tapi kau telah mendahuluinya, mana bisa kau salahkan kepadaku?"

Menyusul kemudian dengan wajah serius dia berkata lagi .

"Besok lohu hendak mengadakan pertemuan dengan kakekmu, dan kau turut hadir dengan kedudukanmu sebagai Ban seng kiongcu. Aku harap kau jangan terlampau emosi sehingga tidak dapat mengendalikan perasaan, sebab yang bakal celaka adalah bocah she Thi itu sendiri. Hehehe.... heeehhh..heeehhh.... sekarang lohu sudah memperingatkan dirimu lebih dulu, sehingga kalau sampai terjadi sesuatu dikemudian hari, jangan kau katakan lohu tidak memberi peringatan lebih dulu!"

Selesai mengucapkan kata-kata itu, si kakek botak tersebut segera membalikkan badannya dan berlalu dari situ, meninggalkan si nona berbaju hijau itu harus memutar otak untuk mempertimbangkannya sendiri.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Kiranya ketika Pek leng siancu So Bwe leng sedang menikmati jalannya pertarungan antara kakeknya Tiang pek lojin melawan barisan Lo han tin dari Siau lim si, mendadak dia merasakan datangnya segulung angin tajam yang menyergap tubuhnya, belum lagi dia menjerit kaget, tahu-tahu tubuhnya sudah dikempit oleh kakek botak itu dibawa kabur.

Dalam kempitan lawan tersebut, ia dapat menyaksikan Boan san ji koay melakukan pengejaran yang ketat, lain kakeknya juga menyusul datang, sebenarnya dia ingin menjerit, tapi kakek botak tersebut telah menotok jalan darah bisunya, ini membuat gadis itu hanya bisa menyaksikan kakeknya pulang dengan perasaan yang murung ketika ia disembunyikan kakek botak diatas pohon.

Ternyata kakek botak itupun bersikap terbuka, begitu kakeknya pergi, dia lantas membebaskan totokan jalan darahnya serta mengajaknya berunding.

Pek leng siancu So Bwe leng adaiah seorang gadis yang tidak takut kepada langit tidak takut kepada bumi, tentu saja dia tak menggubris perkataan kakek itu, berulang kali dia melakukan penyerangan yang gencar terhadap kakek botak tersebut.

Sudah belasan kali dia mencoba usahanya itu, sayang tiap kali dia tak sanggup bertahan sebanyak dua gebrakan.

Kakek botak itu melayani terus serangan-serangan dari So Bwe leng sampai akhirnya gadis itu kehabisan tenaga dan tergeletak dengan perasaan tak luka.

Saat itulah tidak perduli gadis itu mau mendengarkan atau tidak, dia berbicara seorang diri, pokoknya isi pembicaraan itu pada garis besarnya adalah berkisar karena bakatnya yang baik, dia hendak menerimanya menjadi murid, memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, membantu dia dan kakeknya untuk mencarikan Thi Eng khi dan mengalahkan partai Siau lim serta partei Bu tong.

Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak menggubris ocehan kakek botak itu bahkan mendengarpun tak sudi, ini membuat si kakek botak tersebut menjadi mencak karena mendongkol.

Akhirnya kakek botak itu berhasil menemukan titik kelemahan dari Pek leng siancu, dia dapat melihat bahwa nona yang keras kepala ini selalu acuh tak acuh terhadap persoalan apapun, tapi ketika membicarakan soal Thi Eng khi dari balik sinar matanya yang jeli itu segera terpancar keluar serentetan cahaya aneh.

Sebagai seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya serta memiliki pengalaman yang luas, dengan cepat ia dapat memahami apa gerangan yang telah terjadi, maka sengaja dia mengibul dengan kata-kata besarnya .

"Sesungguhnya untuk mencari jejak Thi Eng khi bukanlah suatu pekerjaan yang terlampau sulit."

Benar juga, So Bwe leng segera bertanya tanpa sadar.

"Dia berada dimana?"

Dengan cepat kakek botak itu menggelengkan kepalanya berulang kali katanya .

"Aku tak dapat memberitahukan hal ini kepadamul"

Sekarang giliran Pek leng siancu So Bwe leng yang berusaha memohonnya dengan kata-kata yang lembut.

Setelah jual mahal sekian waktu, akhirnya kakek botak itu baru menerangkan bahwa Thi Eng khi telah disembunyikan disuatu tempat yang amat rahasia letaknya.

Tentu saja Pek leng siancu tidak percaya maka diapun lantas merangkai suatu cerita yang setengahnya kenyataan dan setengahnya tipuan untuk membohongi gadis tersebut.

Akhirnya gadis itu kena ditipu mentah-mentah dan mempercayainya seratus persen.

Maka Pek leng siancu So Bwe leng pun segera mengeraskan hatinya untuk mengadakan suatu perjanjian dengan kakek botak itu serta menjadi kiongcu atau tuan putri dari istana Ban sen kiong.

Cuma, sering kali dia masih mengumbar wataknya hingga kakek botak itu benar-benar dibikin kehabisan daya.

Siapakah kakek botak itu?

Dia bukan lain adalah teman lama kita, Huan im sin ang adanya.

Sekarang dia telah menjadi lo sancunya istana Ban sen kiong, dan selangkah demi selangkah dia sedang melaksanakan tipu muslihatnya menurut rencana yang telah dibuatnya.

Langit yang kelabu dilapisi oleh awan yang hitam, langit amat gelap dan angin berhembus kencang, pintu gerbang sebuah bangunan gedung yang setengah terbuka setengah tertutup bergoyang tiada hentinya menimbulkan suara yang keras.

Sekilas cahaya halilintar membelah angkasa dan menyinari kegelapan malam.

Dalam keadaan seperti itulah, tampak ada dua sosok bayangan manusia sedang menerobos masuk ke dalam bangunan itu dengan kecepatan luar biasa.

Dulu bangunan rumah itu pernah tersohor dan dipuja oleh setiap umat persilatan tapi kini suasana amat hening, sepi dan mendatangkan suasana yang mengenaskan.

Selama setengah tahun belakangan ini, seringkali ada jago persilatan yang rombongan demi rombongan mendatangi gedung rumah itu diwaktu malam, namun setelah melakukan pemeriksaan sekejap, akhirnya dengan membawa perasaaa kecewa pergi tak berbekas.

Sekarang, kembali ada dua sosok bayangan manusia mendatangi gedung tersebut, tampaknya merekapun tak bakal mendapatkan hasil apa-apa dari tempat itu.

Akan tetapi jika dilihat dari gaya mereka berdua ketika memasuki bangunan rumah tersebut, tampak seakan-akan kedua orang itu sudah mempunyai rencana matang tidak seperti orang-orang lainnya, datang dengan cepat pergipun dengan cepat.

Sesudah masuk ke halaman dalam, kedua orang itu segera menutup pintu gerbang, memasang lampu dan kemudian baru melakukan pemeriksaan langsung ke ruang dalam.

Kedua orang itu memperhatikan sekejap dinding tembok yang berwarna biru beserta tujuh buah lentera kristal yang berbentuk tujuh bintang itu, kemudian salah seorang diantaranya menghembuskan napas panjang, katanya lirih .

"Mungkin ruangan inilah yaag dimaksudkan!"

Rekannya itu manggut-manggut.

"Saudara Ong harap kau bersiap sedia, siaute akan segera mencobanya........."

Orang she Ong itu segera membalikkan tangannya dan mencabut keluar sepasang gelang Kan kun cu bu cuan yang berwarna biru, setelah membuat sebuah lingkaran bunga diatas kepala, kedua gelang itu lantas dibenturkan satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara bentrokan yang amat nyaring .

"Jangan kuatir saudara Ong,"

Katanya.

"bukan siaute sengaja omong besar, dengan mengandalkan nama siaute sebagai Hoo lok it cuan (gelang sakti dari Hoo lok) Ang Ceng, rasanya tak nanti ada orang yang berani datang mengganggu kita!' Rekannya segera menyambung .

"Nama besar saudara Ang memang sudah termashur sampai dimana-mana, hampir semua orang mengetahuinya, memang siaute yang terlalu banyak curiga."

Selesai berkata dia lantas melambung di tengah udara dan meluncur kearah lentera kristal berbentuk segi tujuh yang ketiga itu, berada di tengah udara, badannya berjumplitan beberapa kali, kemudian lencana tersebut digerakkan tiga kali keatas dan empat kali kebawah.

Semua gerakan itu dilakukan hanya mengandalkan setarikan napas saja, ketika melayang turun kembali keatas tanah, wajahnya tidak merah, napasnya tidak terengah ini menunjukkan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan.

"Bagus!"

Seru Hoo lok it cuan Ang Ceng dengan suara lantang.

"saudara Ong, nama besarmu Thian gwa hui hong (pelangi terbang dari luar langit) memang bukan nama kosong belaka, cukup dilihat dari ilmu meringankan tubuh yang kau miliki itu, siaute sudah merasa puas sekali, tak heran kalau lo sancu menyuruh saudara Ong yang turun tangan."

Baru selesai dia berkata, terdengar suara gemuruh yang memekikkan telinga berkumandang dari arah bawah tanah.

Kedua orang itu segera saling berpandangan sekejap, paras muka mereka berseri dan memperlihatkan luapan rasa girang yang luar biasa.

Menyusul kemudian, meja altar didepan, sana tenggelam kebawah disertai suara keras yang memekikkan telinga, ditengah gemuruh karena itulah dari bawah tanah muncul sebuah patung naga emas dengan sebuah cakar raksasanya yang dipentangkan lebar-lebar, ditengah cakar mautnya itu tersisip secarik kertas.

Tanpa terasa Thian gwa hui hong Ong Put khong memuji .

"Sancu benar-benar seorang manusia yang luar biasa, apa yang diduganya sama sekali tidak meleset, mungkin jejak dari Thian liong ngo siang bakal diketahui lewat secarik kertas ini."

Seraya berkata dia lantas memberi tanda dan siap mengambil kertas tersebut.

Akan tetapi sewaktu jari tangannya hampir menyentuh ditepi kertas inilah mendadak kertas itu melayang sendiri tanpa terhembus angin, kemudian setelah berputar satu lingkaran diatas kepala mereka segera meluncur keluar pintu.

Thian gwa hui hong Ong Put khong maupun Hoo lok it cuan Ang Ceng semuanya merupakan jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan, setelah menyaksikan kejadian itu dengan cepat mereka tahu kalau ada seorang jago lihay telah merampas kertas tersebut dari tangan mereka.

Dengan gaya ular raksasa membalikkan badan Hoo lok it cuan Ang Ceng segera menggerakkan sepasang gelangnya, yang satu dipakai untuk membuka jalan sementara yang lain dipakai untuk melindungi jalan darah penting didepan dada.

Lalu sambil menyerbu ke depan, bentakny keras-keras.

"Siapa?"

Thian gwa hui hong Ong Put khong juga menubruk ke depan sambil membentak keras .

"Tinggalkan kertas itu, kuampuni selembar jiwamu!"

Reaksi yang dilakukan kedua orang ini sungguh cepat seperti sambaran kilat, sekalipun demikian, mereka toh masih terlambat satu langkah, tak sempat mereka saksikan siapa gerangan orang yang menyerobot kertas tersebut.

Tanpa menghentikan gerakan tubuhnya kedua orang itu menerjang keluar ruangan tapi baru saja sampai diluar ruangan, mendadak dari belakang terdengar suara orang tertawa dingin.

"Berhenti kalian berdua!"

Thian gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng menjadi tertegun mereka tidak habis mengerti apa sebabnya orang itu bisa berputar ke belakangnya.

Jilid 9 BAGAIMANAPUN hati mereka menggerutu, gerakan tubuh mereka sewaktu berputar dilakukan dengan kecepatan luar biasa, satu dari kiri yang lain dari kanan, serentak mereka mendekati orang itu, agaknya kuatir kalau orang itu berhasil melarikan diri lagi.

Serentetan cahaya api melancar keluar dan menyinari orang yang berbicara itu ternyata itulah wajah yang kotor dan dekil penuh dengan minyak, itupun seraut wajah jago persilatan yang cukup dikenal olehnya.

Paras muka Thian gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng segera berubah menjadi serius, mereka saling menyinggung lengan masing-masing sebagai tanda.

Dengan cepat Hoo lok it cuan Ang Ceng menggetarkan sepasang gelangnya lalu dipindahkan ketangan kirinya sedangkan Thian gwa hui hong Ong Put khong tidak membawa senjata, tapi serentak dia menjura sambil berseru .

"Rupanya Kay pang pangcu Cu tayhiap yang telah dating, maaf kalau kami kurang hormat."

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, Hou bok sin kay (mata harimau pengemis sakti) Cu Goan po menatap kedua orang itu lekat-lekat, lalu bertanya dengan suara dalam .

"Rupanya kalian berdua juga tahu tentang rahasianya Thian liong pay? Sudah pasti kalian mendapat perintah dari seseorang."

Seandainya berada dihari-hari biasa sudah pasti Hoo lok it cuan Ang Ceng tak akan berani mengusik Hou bok sin kay Cu Goan po tapi keadaan yang dihadapinya pada hari ini sedikit berbeda.

Pertama, dia merasa dengan tenaga gabungan dari Thian gwa hui hong Ong Put khong dengan dirinya tidak sulit untuk mengalahkan sipengemis tua yang memuakkan itu.

Kedua, Kedatangan mereka kali ini disertai dengan suatu persiapan yang matang, asal tanda rahasia dilepaskan maka bala bantuan segera akan berdatangan sekalipun tak sampai meraih kemenangan, paling tidak tak akan menderita kerugian apa-apa.

Maka dengan perasaan tak acuh mereka tertawa dingin, lalu katanya .

"Persoalan ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan pihak kay pang mengingat kita perkenalan dimasa lalu, aku minta serahkan kembali kertas surat itu kepadaku dan urusan kita bikin selesai sampai di sini saja, kalau tidak..... Hmm! Itu berarti kau sedang membakar tubuhmu sendiri!"

Thian gwa hui hong Ong Put khong adalah seorang yang berotak licik, meski gusar dihati, senyuman terkulum diujung bibirnya, dia berkata pula .

"Kami berdua berasal dari istana Ban seng kiong, kali ini sedang bertugas atas perintah atasan kami, tidak banyak pula yang kami ketahui maka jika Cu tayhiap ada persoalan silahkan bertanya langsung kepada Sancu kami, daripada terjadi bentrokan kekerasan diantara kita, lebih baik serahkan saja surat itu kepada kami."

Mendengar perkataan itu, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goau po tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.......

Haaahhh......

haaahhh.....

terlalu gampang jika cuma begitu, sejak tadi sampai sekarang kalian belum menjawab sepatah katapun apa yang kuajukan, sebaliknya malah mau mengancam diriku.

Hmm, kenapa kalian tidak berpaling dan melihat dulu siapa saja yang berada dibelakangmu?"

Mendengar perkataan itu, Thiang gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng merasa amat terkejut, dengan cepat mereka berpaling..........

Tampaklah didepan pintu ruangan tengah telah berdiri tegak lima orang pengemis tua.

Mereka adalah lima orang jago lihay di bawan pimpinan Kay pang pangcu yang disebut orang Kay pang ngo heng, yaitu terdiri dari .

Kim kay (pengemis emas) Ui Hui, Bok kay (pangemis kayu) Lim Gwan, Sui kay (pengemis air) Hay In, Hwee kay (pengemis api) Hee Tam dan Toh kay (pengemis tanah) Yu Jit.

Siapa pun diantaranya ke lima orang itu meksi bertarung satu lawan satu dalam lima puluh gebrakan sudah mampu untuk menaklukan mereka berdua, hal ini membuat kedua orang tersebut merasa terkesiap.

Meski keder dihati, diatas wajahnya ke dua orang itu tidak menunjukkan perasaan tersebut, tiba tiba mereka mendongakkan kepala dan berpekik panjang, dibalik pekikan itu terseliplah kode rahasia untuk memohon bala bantuan.

Begitu pekikan berkumandang, Hoo lok it cuan Ang Ceng segera berkata dengan lantang .

"Mau berduel atau main kerubut, kami berdua siap untuk menghadapinya.........!"

"Menurut penglihatanku, kalian bukan tandingan kami,"

Kata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan dingin.

"tapi kalau dilihat dari sikap jumawa kalian, tampaknya disekitar sini sudah dipersiapkan bala bantuan?"

"Kalau benar mau apa?"

Tantang kedua orang itu dengan sikap yang amat jumawa.

"Baik, kalau memang begitu, semoga saja kalian jangan menyesal!"

Kepada ke lima orang jagoan dia memberi tanda, lalu katanya .

"Kalau toh kedua orang ini bermaksud untuk merebut benda itu dengan kepandaian rasanya kitapun tak perlu mendapat malu, segala sesuatunya dilaksanakan menurut rencana."

Menyaksikan pihak lawan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk mengulur waktu, dengan gugup Thian gwa hui hong Ong Put khong berseru .

"Kalian hendak mengandalkan jumlah banvak untuk meraih kemenangan, apakah tidak malu kalau berbuat ini akan ditertawakan orang?"

Secepat sambaran petir kelima orang pengemis ngo heng itu sudah mengepung orang itu rapat rapat. Sambil melepaskan sebuah pukulan, si Pengemis tua berseru .

"Perkumpulan kami hanya berbicara soal peraturan dengan umat persilatan yang berjiwa lurus, untuk menghadapi manusia macam kalian, cara macam apapun akan kami pergunakan'' "Wees....!"

Angin pukulan yang maha dahsyat itu dengan cepat menghantam keatas tubuh Hoo lok it cuan Ang Ceng.

Menyaksaikan datangnya ancaman tersebut, dengan cepat Ang Ceng menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan itu, kemudian dengan tangan kirinya menyambut serangan lawan dengan jurus Yau cian leng coa (membacok pinggang ular sakti), tangan kanannya melancarkan sebuah serangan balasan dengan jurus Beng gwat tang tau (rembulan purnama diatas kepala).

Di tengah suara tertawa dinginnya si pengemis emas Ui Hui, berganti gaya sambil menggeser badan, lalu dengan jurus Pang seng tou gwat (memukul bintang menyungging rembulan) dia punahkan ancaman gelang lawan, menyusul kemudian dengan lima jari yang dipentangkan bagaikan cakar dia balas mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Hoo lok it cuan Ang Ceng.

Jurus serangan ini dipergunakan secara jitu dan lihay, dengan cepatnya memaksa Hoo lok it cuan Ang Ceng terdesak mundur berulang kali.

Sementara itu Thian gwa hui hong Ong Put khong telah melangsungkan pertarungan seru melawan pengemis kayu Lim Gwan, sudah barang tentu dia bukan tandingan dari pengemis kayu Lim Gwan itu, ditambah lagi pengemis air, pengemis api dan pengemis tanah masing-masing berjaga di empat penjuru sambil bersiap siap melancarkan ancaman, kesemuanya itu mendatangkan tekanan kejiwaan yang besar baginya.

Tenaga dalam yang seharusnya sudah mencapai sepuluh bagian, cuma delapan bagian saja yang bisa dipergunakan secara baik, belum lagi sepuluh gebrakan lewat, dia sudah dibikin kalang kabut tidak karuan.

Sekalipun begitu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tidak sabar pula, tiba-tiba serunya dengan suara lantang .

"Mereka mempunyai bala bantuan yang dipersiapkan di sekitar tempat ini, kalian segera selesaikan pertarungan ini dengan secepatnya!"

"Baik!"

Sahut pengemis air, api dan tanah bersama.

Siapa tahu baru saja mereka menggerakkan tubuhnya, mendadak dari luar pintu bermunculan beberapa sosok bayangan manusia yang langsung menyongsong datangnya serangan dari pengemis emas, kayu, air, api dan tanah, dengan begitu Hoo lok it cuan Ang Ceng serta Thian gwa hui hong dapat mengundurkan diri.

Menyusul kemudian, dari luar ruangan muncul kembali tiga sosok bayangan manusia, salah seorang diantaranya yakni seorang kakek berambut putih dan bermata bengis berseru kepada Ang Ceng serta Ong Put khong .

"Sudah berhasil?"

"Benda itu sudah dirampas oleh Kay pang pangcu!"

Jawab kedua orang itu dengan hormat. Kakek berambut putih itu segera melototkan matanya bulat bulat, kepada kedua orang rekannya dia memerintahkan .

"Lote berdua, cepat bekuk!"

Orang itu segera berjalan kehadapan pengemis sakti bermata harimau, sambil tertawa terkekeh-kekeh katanya .

"Pengemis Cu, kau hendak menyerahkan diri dengan begitu saja? Ataukah menunggu sampai kami dua bersaudara yang turun tangan?"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan Po adalah seorang ketua dari perkumpulan besar, kedudukannya sangat tinggi dan sejajar dengan ketua perguruan lainnya, tentu saja tenaga dalam yang dimilikinya tidak termasuk rendah.

Akan tetapi, setelah mengetahui siapa yang datang, diam-diam ia merasa terperanjat sekali.

Rupanya kedua orang itu mempunyai kedudukan yang cukup tersohor di dalam dunia persilatan, bahkan disegani oleh jago-jago baik dari golongan lurus maupun sesat.

Orang menyebut mereka sebagai Hek pek Siang bun (sepasang Siang bun hitam dan putih) yaitu Hek Siang bun Go Thian dan Pek Siang bun Go Tee.

Kedua orang itu memiliki kepandaian sakti yang tiada taranya didunia ini, terutama ilmu pukulan Si kut im hong ciang (pukulan hawa dingin penghancur tulang) yang merupakan kepandaian andalannya, barang siapa yang terkena pasti akan tewas.

Seandainya dia harus menghadapi mereka dengan satu persatu, dalam seratus gebrakan mungkin bisa menangkap salah satu diantaranya, tapi kalau kedua orang itu sampai turun tangan bersama, sudah pasti dia yang bakal kalah dalam seratus gebrakan kemudian Dengan kedudukan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dalam dunia persilatan, sekalipun dia sadar bahwa kepandaian yang dimilikinya masih bukan tandingan lawan, akan tetapi, dia pun tak dapat menunjukkan perasaan tersebut diatas wajahnya.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak, dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah tongkat besi yang delapan depa panjangnya.

ketika tongkat itu digetarkan maka panjangnya menjadi dua kali lipat, maka jadilah sebuah tongkat Tah kau pang yang panjangnya mencapai lima depa empat inci.

"Dua orang loheng,"

Demikian dia berkata.

"sedari kapan kalian berdua telah menjadi kaki tangannya orang lain? Sungguh suatu perbuatan yang terpuji dan pantas diberi selamat! Tongkat penggebuk anjingku ini merupakan tandingan dari anjing-anjing kaki tangan orang lain, jika kalian tidak kuatir kena digebuk, silahkan saja untuk maju!"

Hek pek siang bun tertawa dingin, kedua orang itu segera meloloskan sebuah garpu baja yang panjangnya tiga depa lima inci.

Hek siang bun berdiri disebelah kanan dengan senjata garpu ditangan kanan, sedangkan Pek siang bun berdiri di sebelah kiri dengan senjata garpu di sebelah kiri, kedua orang itu sama-sama mengangkat senjatanya tinggi ke udara, lalu sambil membentur bentaknya .

"Hajar!"

Mendadak tubuh mereka berpisah sambil menerjang ke muka, kiranya Hek siang bun yang berada disebelah kanan berputar ke samping kiri, sedangkan Pek siang bun yang berada disebelah kiri berputar ke sebelah kanan, tubuh mereka bergerak bagaikan bayangan setan, sepasang garpu ditusukkan bersama ke depan menyerang jalan darah Ciau cing hiat diatas sepasang bahu lawan.

"Serangan yang bagus,"

Bentak Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan suara keras.

Tongkat penggebuk anjingnya diangkat sejajar bahu, kemudian tubuhnya berputar membentuk satu lingkaran, lalu dengan jurus Ji long tam sam (Ji long memikul bukit) dengan meminjam gaya perputaran tersebut dia punahkan serangan gabungan dari kedua buah senjata musuh.

Seketika itu juga Hek siang bun maupun Pek siang bun merasakan tenaga serangan yang terpancar dari senjata mereka punah dengan begitu saja, sadar kalau serangannya mengalami kegagalan, dengan cepat dia merendahkan pinggang, tanpa merubah posisi senjata garpunya diangkat keatas lalu satu dari kiri yang lain dari kanan, sekali lagi mereka lancarkan sapuan kedepan.

Didalam melancarkan serangannya kali ini, hampir semua luang kosong yang berada disekitarnya tercakup didalamnya kecuali pengemis sakti bermata harimau melompat ke atas untuk menghindar, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Akan tetapi, seandainya pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po benar benar melompat keatas maka pukulan Si kut im hong ciang yang dilancarkan Hek siang bun dan Pek siang bun tentu akan menyongsong kedatangannya.

Dengan demikian tubuh si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pasti akan terjebak di tengah udara sudah pasti sulit baginya untuk menahan serangan gabungan dari kedua orang itu, akibatnya dia akan terluka oleh pukulan Si kut im hong ciang tersebut.

Sebagai seorang jago yang berpengalaman tentu saja ketua dari Kay pang ini dapat menyaksikan semua perangkap tersebut dengan amat jelasnya, tapi diapun mempunyai perhitungan sendiri.

Meski badannya sedang melambung ditengah udara, akan tetapi toya penggebuk anjingnya melesat ke depan dengan membawa segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat, dengan demikian ancaman dari Hek pek siang bun yang telah dipersiapkan secara matang itupun segera gagal total.

Bahkan oleh tenaga gabungan yang dipancarkan kedua orang tersebut, tongkat penggebuk anjing itu tiba-tiba melesat kembali ke udara.

Di tengah gelak tertawanya yang amat keras, dengan kepala dibawah kaki diatas pengemis sakti bermata harimau itu menggunakan gerakan Yan cu keng poo (burung walet terbang melesat) untuk menyambut datangnya tongkat Ta kun pang itu, menyusul kemudian badannya turut melayang kembali sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Mesti cuma terdiri dari tiga jurus dua gebrakan, namun cukup membuat si kakek berambut putih bermata serigala itu manggutmanggut dengan perasaan kagum, katanya .

"Nama besar sipengemis Cu memang bukan nama kosong belaka, Go lote berdua, Lo Sancu sangat mengharapkan kemampuan kalian, dapatkah kamu berdua menjadi pembantuku, tergantung sampai dimanakah penampilan yang kalian perlihatkan pada hari ini."

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po adalah seseorang yang berpengalaman luas, tapi dia tidak mengenali siapa gerangan kakek berambut putih bermata serigala tersebut, tapi kalau didengar dari nada perkataannya, dapat diketahui bahwa kedudukan maupun tingkatannya masih dua tingkat diatas Hek pek siang bun.

Tanpa terasa sepasang alis matanya berkenyit dan wajahnya segera menunjukkan perasaan bimbang dan ragu.

Pada saat itulah Hek pek siang bun telah berkata lagi .

"Oh lo tak usah kuatir, permainan busuk pengemis Cu hanya sebanyak itu s a j a, sebentar aku pasti akan mempersiapkan suatu permainan yang lebih baik lagi didirinya."

Oh lo ditambah dengan ''bermata serigala"

Dengan cepat sipengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, teringat akan seseorang sudah tiga puluh tahun lamanya orang itu lenyap dari dunia parsilatan, kalau dibilang usia seharusnya sudah mencapai delapan puluh tahunan, dia tak lain adalah seorang gembong iblis yang amat termashur didalam kalangan golongan hitam, orang menyebutnya sebagai Hek sim pa long (serigala buas berhati hitam) Oh tay kiau.

Seandainya benar benar orang itu, besar kemungkinan nasib dirinya berenam pada hari ini akan musnah ditangannya.

Ingatan tersebut hanya sebentar melintas dalam benaknya, pada saat itulah sepasang Siang bun hitam putih telah menyerang kembali kearah bahunya dengan sepasang garpu bajanya.

Pertarungan antara jago lihay seringkali hanya tergantung pada satu detik, begitu pengemis sakti bermata harimau teledor dengan cepat dia terjerumus dalam keadaan yang bahaya, tahu-tahu ancaman sudah berada di depan mata untuk menghindarkan diri tampaknya akan jauh lebih susah dari pada mendekati bukit.

Untunglah disaat yang paling kritis itulah mendadak dari luar pintu berkelebat datang sesosok bayangan manusia, tampak cahaya emas berkelebat lewat tahu-tahu sepasang senjata garpu dari Hek pek siang bun sudah terhisap oleh cahaya emas itu dan tak sanggup berkutik lagi.

Menyaksikan peristiwa tersebut, sepasang siang bun hitam putih menjadi amat terperanjat, cepat-cepat mereka mundur ke belakang sambil berusaha untuk melepaskan senjatanya, namun bagaimanapun juga ia berusaha untuk menarik senjatanya, usaha tersebut selalu gagal.

Tiba tiba terdengar serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau membentak keras .

"Bocah keparat, siapa kau?"

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menuju kedepan dan menumbuk sebilah pedang emas yang sedang menghisap sepasang senjata garpu itu.

Ketika angin pukulan itu menghantam di antara pedang emas dan garpu baja tadi, dengan cepat Hek pek siang bun menarik kembali senjatanya sambil rnengerahkan tenaga, maksud mereka senjata tersebut akan dibetot kembali mumpung ada yang membantu.

Siapa tahu pada saat itulah dari atas senjata garpu itu memancar keluar segulung tenaga pantulan maha dahsyat yang menggetarkan sepasang lengan mereka hingga menjadi linu, senjatanya tak dapat dipertahankan lagi, dengan sempoyongan mereka mundur sejauh tiga langkah.

Ketika memandang lagi kearah senjata garpu itu, maka tampaklah sepasang senjata tadi masih menempel diatas pedang emas tadi tanpa bergetar barang sedikitpun juga.

Belum lagi wajah musuhnya kelihatan, sedang senjata mereka sudah dirampas orang, kejadian ini benar benar membuat Hek pek siang bun merasa terkesiap sekali.

Menanti perasaan mereka menjadi tenang kembali, kedua orang itu baru mendongakkan kepalanya.

Tampak orang yang memegang pedang emas dihadapan mukanya itu berusia dua puluh tahunan, ia mengenakan baju berwarna biru, mukanya putih dan sangat tampan.

Akan tetapi, waktu itu dengan wajab sedingin es dia sedang mendelik kearah Hek sim pa long (Serigala buas berhati hitam) Oh Tay ciau.

"Aku bernama Thi Eng khi, tuan rumah gedung ini,"

Kata pemuda itu memperkenalkan diri "siapakah kalian? Kenapa mendatangi rumahku ini?"

Thi Eng khi........!

Thi Eng khi........!

Ketua angkatan ke sebelas partai Thian liong pay ternyata bisa munculkan diri dalam keadaan seperti ini, kejadian tersebut sungguh merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tidak diduga oleh siapapun juga.

Oleh sebab itu, kelima kelompok manusia yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit disebelah sanapun menghentikan pertarungan mereka secara otomatis.

kemudian kembali kekelompoknya masing masing.

Hou bok sin kay (Pengemis sakti bermata harimau) Cu Goan po pernah bersua muka dengan Thi Eng khi sewaktu berada dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari meski demikian, andaikata Thi Eng khi tidak menyebutkan sendiri namanya belum tentu ia dapat mengenalinya kembali.

Perpisahan selama setahun sesungguhnya tidak terhitung terlalu panjang, namun perubahan atas diri Thi Eng khi terlampau banyak, baik soal perawakan maupun dalam hal bersikap, seolah-olah dia dengan setahun berselang adalah dua orang yang berbeda.

Kejut dan girang Hou bok sin kay CU GOan po menyaksikan kemunculannya, sambil berseru tertahan dan mengucak matanya berulang kali, lalu dia berseru .

''Thi ciangbunjin, masih ingat dengan aku si pengemis tua?"

Thi Eng khi berpaling dan manggut manggut.

''Sewaktu dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, aku telah banyak menerima budi kebaikanmu, tentu saja tak akan kulupakan.

Biar siauseng menggebah pergi dulu makhluk makhluk tua tersebut, kemudian baru kuucapkan terima kasih atas kunjungan pangcu ke rumah siauseng."

Rupanya dia mengira Cu Goan po datang kesana untuk melindungi perkampungannya. Dalam pada itu, Hek sim pa long Oh Tay ciau telah melototkan matanya bulat-bulat, kemudian tegurnya .

"Jadi engkau yang bernama Thi Eng khi?"

Menyusul kemudian, sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata lebih lanjut .

"Haaahhhh..... haaahhhh.... Haaahhhh......! didalam jagad sudah tiada manusia yang bernama Thi Eng khi lagi, sekalipun kau dapat menyaru sebagai Thi Eng khi namun jangan berharap bisa mengelabui lohu, Sesungguhnya siapakah kau? Hayo cepat mengaku sejujurnya!"

Pelan pelan Thi Eng khi meloloskan pedang Thian liong kim kiam yang tersoren dipinggangnya, kemudian berkata .

"Bila kau terhitung seorang tokoh persilatan yang berpengalaman dalam dunia persilatan, sepantasnya kalau pedang ini akan kau kenali, benarkah diriku adalah Thi Eng khi atau bukan, buat apa musti banyak ditanyakan lagi?"

Hek sim pa long Oh Tay ciau segera memperdengarkan lolongan serigalanya yang menyeramkan.

"Perduli kau adalah Thi Eng khi yang asli atau bukan,"

Pokoknya kau akan kubawa pulang kegunung untuk diserahkan kepada Sancu kami."

Begita selesai berkata kelima jari tangannya seperti lima buah kaitan tajam langsung mencengkeram bahu kanan Thi Eng khi.

Dengan gaya yang seenaknya dia melangkah keposisi tiong kiong kemudian melewati ang bun dan gayanya tersebut bisa diketahui bahwa ia tak pandang sebelah matapun terhadap Thi Eng khi.

Didalam anggapannya serangan cakar maut pek TOK siau hun (selaksa bisa pelenyap sukma) tersebut pasti akan berhasil mengenai sasarannya dengan telak.

Thi Eng khi membalikkan tangannya dan menyarungkan kembali pedangnya kedalam sarung kemudian badannya maju selangkah meloloskan diri dari cengkeraman "pek tok siau hun jiuan"

Mimpipun si Hek sim pa long tidak mengira kalau ilmu cengkeraman selaksa bisa pelenyap sukma yang memiliki perubahan yang tiada taranya itu bisa gagal mencapai sasaran pada tubuh lawannya.

Berubah hebat paras muka serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau menyaksikan keadaan tersebut, sambil tertawa dingin segera serunya .

"Coba sambut sebuah cengkeram lohu ini lagi!"

Sambil bergerak ke depan, sekali lagi dia melancarkan sebuah cengkeraman kilat ke tubuh Thi Eng khi, cengkeraman maut ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan lagi dari ujung tangan segera memancar keluar lima gulung hawa aneh yang segera mengurung sekujur badan Thi Eng khi.

Thi Eng khi yang sekarang bukanlah Thi Eng khi setanun berselang, ke empat macam obat mujarab yang berada didalam tubuhnya kini sudah membaur dengan kekuatan tubuhnya, ditambah pula dia telah melatih kitab pusaka Thian liong pit kip selama setahun lamanya, nadi penting yang mempengaruhi mati hidupnya telah tertembusi, selain itu ada pula hawa khikang yang melindungi badannya, tentu saja serangan cakar maut selaksa bisa pelenyap sukma itu tak mempan terhadap dirinya.

Dengan penuh kegusaran segera bentaknya .

"Aku tidak punya waktu banyak untuk rebut denganmu, cepat kau enyah dari sini!"

Dengan jurus Kim liong tam jiau (naga emas mementangkan cakar) telapak tangannya segera bergetar menembusi hawa hitam yang berlapis lapis dan langsung mencengkeram urat nadi diatas pergelangan tangan Serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau.

Hek sim pa long Oh Tay ciau sama sekali tidak menyangka kalau serangan yang dilancarkan Thi Eng khi bisa demikian cepatnya, menanti dia berniat untuk menarik kembali tangannya, sayang keadaan sudah terlambat.

Terasa ada segulung aliran hawa panas memancar masuk ke dalam, membuat tenaga dalam hasil latihannya selama tujuh delapan puluh tahun itu sama sekali tak dapat dihimpun kembali.

Terkesiap hati Hek sim pa long Oh Tay ciau menghadapi keadaan tersebut, peluh sebesar kacang kedelai segera jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Thi Eng khi segera mengebaskan tangannya sambil mengayun ke depan, dengan cepat tubuhnya dilempar keluar dari ruangan tengah.

Sesungguhnya tenaga dalam yang dimiliki Serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau bukan terhitung sembarangan, akan tetapi kenyataannya belum sampai satu gebrakan menghadapi Thi Eng khi dia sudah dilempar keluar dari dalam ruangan.

Betul hal ini sebagian besar disebabkan sikap pandang entengnya terhadap lawan, namun andaikata tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi tidak memperoleh kemajuan yang amat pesat, mustahil dia bisa melakukan hal tersebut.

Begitu serigala buas kena dikalahkan para gembong iblis lainnya semakin tak berani berkutik lagi dibawah seruan tertahan dari Serigala buas itu, kontan semua orang mengambil langkah seribu dan kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tercengang pula dibuatnya setelah menyaksikan kelihayan Thi Eng khi, untuk sesaat lamanya dia berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan.

Semenjak berhasil melatih ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip, pekerjaan pertama yang hendak dilakukan ThiEng khi adalah pulang ke rumah untuk menengok ibunya serta menolong Thian liong su siang yang terluka oleh ilmu jari Thian sat ci.

Waktu itu dia tidak berhasrat untuk bersapa dan berbincang bincang dengan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, dengan cepat pemuda itu menjura seraya ujarnya .

"Sudah banyak tahun aku berkeliaran diluar, kali ini aku sengaja datang untuk menyambangi ibuku harap Cu pangcu tunggu sebentar."

Seusai berkata, dia lantas melintas masuk ke ruang dalam.

"Thi ciangbunjin, harap tunggu sebentar,"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera berseru keras.

"aku si pengemis tua hendak membicarakan sesuatu denganmu.'' Tapi Thi Eng khi sudah keburu menyelinap masuk ke ruangan dalam. Sambil berlarian menuju keruangan belakang. Thi Eng khi berseru dengan penuh luapan emosi .

"Ibu.... ibu...! anak Eng sudah kembali!"

Hujan turun amat deras, malam itu tak berbintang walaupun Thi Eng khi telah melatih ilmu melihat dalam kegelapan, namun tidak ia pergunakan dalam ruang belakang yang gelap gulita itu.

Terasa suasana amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, kesemuanya ini membuat hatinya keheranan.

"lbu!"

Kembali jeritnya, ''anak Eng telah kembali! Kau jangan takut, cepat keluar..."

Agaknya dia sudah mulai merasakan bahwa gelagat sedikit agak tidak beres.

Buru buru hawa murninya dikerahkan, dua rentetan sinar mata yang tajam segera terpancar keluar dari balik matanya, dia memandang seluruh ruangan itu, namun yang dijumpai hanya debu serta sarang laba laba yang memenuhi dinding dan lantai, jelas gedung ini sudah lama tidak dihuni lagi.

SEKUJUR badan Thi Eng khi gemetar keras, hatinya menjadi sedih sekali hingga air mata terasa meleleh keluar, keluhnya dengan hati yang pedih .

"Oooh....ibu! Siang malam ananda berangkat pulang dengan harapan bisa berjumpa kembali denganmu, siapa tahu kalian sudah ketimpa musibah yang tak diinginkan, sungguh membuat hatiku amat menyesal!'' Sementara itu ketua Kay pang pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah menyusul datang, dengan agak tersipu. Katanya .

"Thi Ciangbunjin, harap kau jangan bersedih hati, menurut penilaian aku si pengemis tua, kemungkinan besar ibumu sekalian enggan diganggu orang terus menerus, maka mereka telah berpindah tempat menetap."

Pikiran dan perasaan Thi Eng khi waktu itu sungguh merasa gundah sekali, tiba tiba dia membalikkan badan dan menatap wajah pengemis tua itu dengan sorot mata yang tajam, kemudian tegurnya .

"Siapa yang telah memaksa ibuku sehingga harus menyingkir dari sini? Cepat katakan kepadaku!"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cukup memahami perasaan anak muda itu, ia tidak tersinggung oleh sikap kasar orang, setelah menghela napas panjang katanya .

"Panjang sekali ceritanya, mari tenangkan dulu hatimu, kita cari tempat untuk duduk kemudian baru pelan pelan memperbincangkannya kembali...."

Dalam pada itu, Ngo heng ngo kay (lima pengemis Ngo heng) dari Kay pang telah muncul sambil membawa empat batang obor lain masing masing ditancapkan diatas empat penjuru dinding ruangan itu.

Kemudian mereka juga membersihkan lapisan debu diatas lantai dan mempersilahkan Thi Eng khi serta pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po duduk saling berhadapan.

"Ciangbunjin,"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mulai dengan pembicaraannya.

"selama setahun belakangan ini kau telah pergi ke mana saja? Tahukah kau, Tiang Pek lojin dari luar perbatasan telah bentrok dan terjadi salah paham dengan umat persilatan dalam dunia persilatan gara-gara dirimu?'' Thi Eng khi merasa enggan untuk menceritakan kisah sebenarnya sehingga ia berhasil memperoleh kepandaian silatnya, maka pertanyaan yang pertama ini tidak ia jawab. Maka sambil manggut manggut ujarnya .

"Soal Tiang Pek lojin yaya sampai bentrok dengan pihak Siau lim pay gara gara urusanku telah kudengar sepanjang perjalanan, tapi berhubung aku sudah amat rindu dengan ibuku serta menguatirkan keselamatan keempat orang susiokku yang sedang terluka parah, maka kuputuskan untuk pulang menengok rumah lebih dulu, kemudian baru berangkat ke bukit Siong san untuk menjelaskan kesalahan paham ini. Tapi, selama setahun belakangan ini siapakah yang telah memaksa ibuku sekalian sehingga harus menyingkir dari sini? Apakah pangcu bersedia memberi penjelasan kepadaku?"

Secara ringkas Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengisahkan apa yang telah terjadi selama ini, kemudian dia menerangkan pula lantaran semua orang tidak berhasil menemukan jejaknya, maka otomatis sasaran merekapun dialihkan ke gedung Bu lim tit it keh.

Akan tetapi ketika semua orang sampai di gedung Bu lim tit it keh, ternyata Thian liong ngo siang sekalian telah lenyap tak berbekas, tak seorangpun yang tahu kemana mereka telah pergi.

Akhirnya dia menerangkan pula kalau dirinya mendapat pesan dari umat persilatan untuk menjaga di wilayah Huay im sambil melanjutkan pencariannya terhadap orang-orang Thian liong pay.

Selain itu juga diterangkan bagaimana terjadinya peristiwa sehingga pada malam itu mereka sampai bertarung melawan orang orang dari Ban seng kiong.

Setelah itu, dia mengeluarkan gulungan kertas yang diperoleh dalam cakar Thian liong jiau itu, sambil diserahkan kepada Thi Eng khi katanya .

"Kertas ini kudapatkan dari tangan mereka, belum kubaca isinya, silahkan Thi ciangbunjin untuk memeriksanya."

Sambil mengucapkan terima kasih, Thi Eng khi menerima kertas itu dan dibaca isinya, tampak diatas kertas itu tertera beberapa huruf yang kira kira berbunyi demikian .

"Haaahhh....haaaahhh haaahhh...taktik lohu lebih tinggi setingkat dan berhasil mendahului kalian lebih dulu!"

Membaca tulisan itu, Thi Eng khi segera berkerut kening dan terjerumus dalam pemikiran yang amat mendalam.

Suatu keheningan yang cukup lama berlangsung dalam ruangan itu, tiba tiba Thi Eng khi mengangguk.

"Ehmm..... pasti ibuku telah meninggalkan pesan apa apa disitu, tapi pesan tersebut telah diambil oleh orang yang meninggalkan surat ini, besar kemungkinan dalam surat itu ibuku menerangkan arah tujuan mereka....."

Kembali ia termenung beberapa saat lamanya, mendadak paras mukanya berubah hebat, sambil melompat bangun teriaknya keras keras .

"Aduh celaka! Andaikata orang yang menyabot surat itu mempunyai maksud dan tujuan yang jelek, atau dia melakukan pengejaran dengan kemampuan ibuku kaum lemah serta keempat orang susiokku yang terluka parah, mana mungkin mereka bisa menandingi kemampuan lawannya?"

Dengan perasaan cemas bercampur gelisah, dia telah bersiapsiap untuk menyerbu keluar dari pintu. Buru buru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghalanginya sembari berkata.

"Harap Thi ciangbunjin berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak, jagad begini luas, kau tahu kemana dia telah pergi?"

Thi Eng khi menjadi tertegun, ia segera terbungkam dan untuk sesaat seperti kehilangan pegangan.

Kim kay (pengemis emas) Ui Hui dari ngo heng ngo koay (lima pengemis panca unsur) menatap kertas diatas tangan Thi Eng khi tersebut dengan sorot mata kaku, setelah termenung sejenak tiba tiba dia menimbrung .

"Kertas ini bukan kertas sembarangan, entah apa yang berhasil kalian perhatikan?"

Thi Eng khi membolak-balikkan kertas itu dan memperhatikannya sekejap, kemudian diberikan kepada pengemis emas Ui Hui sambil katanya .

"Pengetahuanku cetek sekali tolong berilah petunjuk untukku!"

Pengemis emas Ui Hui menerima surat tadi dan diperhatikan sejenak, setelah itu sambil diserahkan kepada pengemis kayu Lim Gwan, ia berkata .

"Loji, bagaimana menurut pendapatmu?"

Sambil memeriksa surat itu, sahut pengemis kayu Lim Gwan .

"Panjang empat inci lebar dua inci berlapis emas, bergaris pohon lui di ujung kanan dengan seekor kupu kupu sedang mementang sayap disudut kiri bawah..."

"Kalau begitu benda ini semestinya berasal dari Sau tee si bun (Sastrawan penyapu lantai) Lu put ji!"

Kata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil manggut manggut dan tertawa.

"Benar, benda ini memang merupakan sampul surat pohon liu dan kupu kupu milik sastrawan penyapu lantai Lu put ji!" ''Hayo berangkat!"

Seru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kemudian.

"aku si pengemis tua akan menemani heng tay menuju ke perkampungan Tay-ji-ceng untuk mencari si Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji."

"Terima kasih atas kesediaan Cu pangcu!"

Seru Thi Eng khi kegirangan.

Maka serombongan bertujuh orang segera berangkat meninggalkan pintu halaman gedung Bu-lim-tit-it-keh.

Mendadak ketua dari Kay pang ini menghentikan langkahnya, belum sempat ia memberi petunjuk kepada lima pengemis panca unsur, tiba tiba terdengar suara teriakan keras berkumandang datang dari empat arah delapan penjuru, menyusul kemudian dari sekeliling gedung itu bermunculan sekelompok manusia yang segera mengurung mereka ditengah arena.

Ternyata orang-orang itu sudah lama bersembunyi disekeliling tempat itu, ketika serigala buas berhati hitam sekalian mengundurkan diri dari situ, oleh karena mereka pergi terlalu cepat, lagipula kabur melalui atas kepala mereka, maka orang orang itu tak sempat menghalangi kepergiannya.

Berbeda dengan Thi Eng khi sekalian yang berjalan keluar lewat pintu gerbang secara terang-terangan, tentu saja mereka segera terkurung di dalam kepungan.

Ditengah hujan deras yang membasahi permukaan bumi malam itu, kilat menyambar-nyambar menambah seramnya suasana, diantara kilatan sinar yang memancar lamat lamat mereka saksikan kawanan manusia tersebut berbaju dekil penuh dengan lumpur sehingga keadaannya tampak mengenaskan sekali.....

Sementara itu posisi dari Thi Eng khi sekalian bertujuh adalah lima pengemis lima unsur berada didepan, sementara Thi Eng khi serta Hou bok sin kay berada dibelakang.

Tak lama setelah mereka terkepung rapat dari antara kerumunan manusia itu berjalan keluar seorang kakek berusia lima puluh tahunan, kakek ini berwajah gagah dan berwibawa agaknya merupakan pemimpin dari rombongan manusia tersebut.

Sambil menyeka air hujan yang membasahi wajahnya kakek itu berkata dengan lantang .

"Sebenarnya apa maksud dan tujuan kalian masuk keluar seenaknya dalam gedung Bu lim tit it keh? Cepat mengaku sejujurnya kalau tidak, jangan salahkan kalau kami akan bertindak kurang sopan"

Walaupun nada perkataannya kasar dan sama sekali tidak bersahabat, namun mereka tidak turun tangan secara sembarangan, dari sini dapat diketahui bahwa orang orang itu bukan manusia urakan yang tidak mengerti akan peraturan dunia persilatan.

Ketika emas dari Ngo kay ngo heng menyaksikan pakaian mereka dekil dan rombeng, pada mulanya mencurigai mereka sebagai angpota Kay pang, ketika menyaksikan orang orang itu begitu berani dan tekebur dihadapan pangcunya, kontan dianggapnya hal ini merupakan suatu kejadian yang memalukan sekali apalagi berada dihadapan ketua Thian liong pay, Thi Eng khi.

Maka sambil maju kemuka, segera bentaknya .

"Kalian anak murid dari aliran mana? Berada didepan pangcu juga berani bertindak gegabah?"

"Siapa yang kau anggap murid Kay pang?"

Kata kakek itu dengan wajah serius. Segera timbul pula kecurigaan dalam hati pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, sambil berkelit kesamping segera katanya .

"Bagus sekali rupanya kalian enggan mengaku sebagai anggota Kay pang! Perbuatan yang menghianati perguruan merupakan perbuatan yang tak bisa diampuni, Ngo heng ngo kay, bunuh mereka semua!'' "Baik!"

Sahut ke lima orang pengemis itu berbareng.

Serentak mereka meloloskan senjata tajam yang dimilikinya dan bersiap siap untuk membersihkan perguruan dari anasir anasir yang berusaha menghianati.

Thi Eng khi sendiri, lantaran menganggap kejadian ini merupakan urusan pribadi perguruan Kay pang sendiri, maka diapun tidak banyak berbicara, dengan kening berkerut pelan pelan dia mengundurkan diri dari tempat itu.

Kakek itu makin naik darah ketika menyaksikan ke lima pengemis panca unsur telah meloloskan senjata tajamnya, dia menengadah dan segera tertawa seram.

"Haaahhh haaahhh haaahhh orang bilang peraturan dalam tubuh Kay pang amat ketat dan disiplin cara kerjanya amat menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, siapa tahu tindak tanduk yang kalian lakukan hari ini sungguh membuat lohu merasa kecewa sekali..... Mengandalkan kekuatan menindas kaum lemah, bukan cuma membuat keonaran saja ditempat suci perguruan Thian liong pay, bahkan berani menuduh orang yang bukan-bukan, perbuatan kalian sungguh mengenaskan hati, Hmm...! Kau anggap lohu sungguh sungguh takut terhadap kalian?"

Sambil memberi ulapan tangan, dia melanjutkan .

"Saudara saudara sekalian, hari ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menunjukkan kebaktian kita terhadap perguruan, kita sudah tak bisa bersabar lagi, mari kita beradu jiwa lebih dulu dengan kawanan pengemis yang tak tahu akan keadilan dan kebenaran ini!"

Suara teriakan gagap gempita bergema memecahkan keheningan, kebetulan kilat sedang menyambar-nyambar dengan angin yang kencang dan hujan yang deras, kesemuanya ini menambah keseramannya suasana ketika itu.

Teguran kakek tersebut dengan cepat menggetarkan perasaan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, ia segera menyadari bahwa suatu kesalahan paham telah terjadi.

Cepat cepat dia memberi tanda kepeda kelima orang pengemis panca unsur agar menunda serangan mereka, katanya.

"Ngo heng ngo kay, harap mundur dahulu pun pangcu masih ada pertanyaan yang hendak ditanyakan."

Ngo heng ngo kay menarik kembali senjata mereka dan mengundurkan diri ke samping pengemis sakti bermata harimau Cu Goan Po.

Dalam pada itu, ketua Kay pang itu sudah maju ke depan sambil berkata dengan suara yang lebih lembut.

"Lohu adalah ketua Kay pang Cu Goan po ....."

Belum habis dia berkata, kakek tersebut sudah menukas sambil tertawa dingin .

"Siapa yang tidak tahu kalau kau adalah Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po? Di hari hari biasa kau selalu menjunjung tinggi nama dan martabatmu, tak tahu hari ini masih mencoba untuk menipu orang."

Hou bok sin kay Cu Goan po memang memiliki kelapangan dada yang besar, ia tidak menjadi marah, sebaliknya malah berkata sambil tertawa hambar .

"Siapakah lotiang? Mengapa tidak kau sebutkan dulu nama dan julukanmu agar persoalan lebih jelas?"

"Lohu adalah Thian Heng, anak murid Thian liong pay, kami datang untuk melindungi tempat suci perguruaan kami, tentunya kalian sama sekali tidak menyangka bukan!"

Bagitu mendengar ucapan tersebut, bukan cuma Hou bok sin kay Cu Goan po saja yang dibikin tertegun dengan mata terbelalak, bahkan kelima orang pengemis lima unsur pun dibikin gelagapan.

Terutama sekali Thi Eng khi sendiri, dia merasakan darah panas dalam dadanya tergolak keras, air mata membasahi wajahnya membuat pandangan matanya menjadi kabur, saking emosinya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Untung saja Hou bok sin kay Cu Goan po berhasil menguasai gejolak perasaannya dengan cepat, teringat kalau saat itu bukan tempat yang tepat untuk berbicara, lagipula suasana disana amat gelap sehingga pihak lawan tak dapat melihat jelas dandanan Thi Eng khi, pun sulit membuat mereka percaya kalau Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari partai Thian liong pay, maka dia segera mengambil tindakan cepat.

Kepada kelima orang pengemis lima unsur segera perintahnya .

"Kalian kembalilah dulu ke halaman dalam, persiapan lentera, aku dan beberapa orang sahabat ini segera akan menyusul tiba."

Lima orang pengemis itu segera mengiakan dan mengundurkan diri terlebih dulu ke dalam halaman gedung Thian hee tit it keh.

Kemudian pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pun menjura kepada kakek tersebut sembari berkata .

"Thian tayhiap, bersediakah kau untuk masuk kedalam dan berbincang bincang sebentar?"

"Mati saja tidak takut, memangnya kau anggap aku tidak berani? Hayo berangkat!"

"Silahkan!"

Sambil menarik tangan Thi Eng khi dia lantas berjalan lebih dulu didepan.

Sementara itu, suasana didalam ruang tengah gedung Thian hee tit it keh terang benderang bermandikan cahaya lampu.

Thi Eng khi telah berdiri di tengah ruangan, sinar lentera yang terang benderang menyoroti wajahnya yang tampan, tampak jubah birunya sebagai perlambang jubah partai Thian liong pay serta pedang Thian liong kim kian yang tersoren di pinggang kesemuanya ini menambah keren dan berwibawanya pemuda itu.

Agak tertegun Thian Heng beserta segenap anggota partai Thian liong pay lainnya setelah menyaksikan keadaan itu, mula-mula mereka agak tidak percaya, tapi setelah direnungkan sebentar akhirnya mereka tidak sangsi lagi.

Dengan tubuh gemetar keras dan air mata bercucuran membasahi wajahnya, buru buru Thian Heng maju kedepan dan menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, serunya.

"Tecu Thian Heng tidak tahu kalau ciangbunjin telah tiba, bila tindakan kami terlampau gegabah, silahkan ciangbunjin menjatuhkan hukuman kepada tecu sekalian."

Menyusul itu, segenap anggota Thian liong pay yang lain berlutut dibelakang Thian heng turut berseru pula .

"Tecu sekalian menghunjuk hormat kepada ciangbunjin!!"

Sejak peristiwa dalam perkampungan Ki hian san ceng, segenap umat persilatan telah tahu kalau Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari partai Thian liong pay, sudah barang tentu anggota Thian liong pay inipun sudah mendengar pula akan persoalan itu.

Sekarang setelah mereka saksikan dandanan serta potongan badan Thi Eng khi kemudian tampak pula pedang Thian liong kim kiam sebagai lambing seorang ciangbunjin tersoren pula dipinggangnya, tentu saja mereka tak akan sangsi lagi.

Thi Eng khi sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau dalam keadaan seperti ini dapat bersua kembali dengan anggota perguruanya, apaalagi menyaksikan semangat anak buahnya yang begitu besar, ia merasa terharu sekali, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Sambil balas memberi hormat, dia berseru .

"Saudara saudara seperguruan, silahkan bangun! AKU.,..."

Tiba-tiba hidungnya terasa kecut dan tenggorokannya sesenggukan, ia tak mampu melanjutkan kembali kata katanya.

Thian Heng adalah seorang yang telah lanjut usia, tentu saja dia dapat memahami perasaan dari ciangbunjinnya, namun dalam keadaan dan situasi seperti ini, lagipula hadir ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, tentu saja diapun tak berani banyak berbicara.

Terpaksa dia berusaha keras untuk mengendalikan dulu pergolakan perasaan dalam hatinya, setelah itu sambil menunjukkan sekulum senyuman paksa ia bangkit berdiri.

"Ciangbunjin, baik baikkah kau selama ini?"

Sapanya kemudian.

Thi Eng khi memang seorang pendekar yang berjiwa besar, walaupun usianya tidak besar, pengalamannya tidak cukup, namun dia sangat berlapang dada dan pandai mengendalikan pergolakan emosi dalam hatinya.

Sekalipun Thian Heng tidak menunjukkan senyuman paksanya, sejak tadi sekulum senyuman telah menghiasi wajahnya, apalagi sekarang wajahnya tampak jauh lebih cerah lagi.

"Atas pelindungan dari coasu, aku telah berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip, sejak ini aku akan bersama saudara sekalian untuk bersama sama berjuang demi masa depan perguruan kita."

Mengetahui kalau kitab pusaka Thian liong pit kip telah berhasil ditemukan kembali oleh Thi Eng khi, bukan cuma anggota Thian liong pay saja yang segera bersorak sorai menyambut berita girang itu, bahkan ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po beserta ke lima orang pengemis panca unsurpun bersama sama mengucapkan selamat kepada pemuda itu, mereka menganggap saat Thian liong pay untuk muncul kembali dalam dunia persilatan sudah sampai, besar kemungkinan bencana berdarah yang melanda dunia saat ini dapat diatasi.

Kemudian, Thi Eng khipun bertanya kepada Thian Heng sekitar keadaan anak murid Thian liong pay saat ini.

Dengan sejelas jelasnya Thian Heng memberi keterangan semua yang diketahui olehnya.

Ternyata dibawah pencarian umat persilatan yaag berada didunia saat ini serta pembunuhan berantai yang dilakukan orang orang Ban seng kiong, pada hakekatnya posisi orang orang Thian liong pay dewasa ini sudah terjepit sekali sehingga tiada jalan untuk melarikan diri lagi.

Oleh karena mereka tidak tahu kalau tujuan dari pencarian orang orang golongan lurus hanya ingin mencari jejak Thi Eng khi dari mulut mereka, maka siapapun tak berani berhubungan dengan orang orang persilatan, mereka mengira bencana telah diambang pintu, tiap hari mereka harus hidup dalam kekuatiran dan kegelisahan.

Dalam keadaan yang tertekan dan terisolir, akhirnya anak murid Thian liong pay tak dapat menuruti perintah dari Cousunya lagi untuk mengasingkan diri, diam diam mereka mulai bersua dan berjuang menentang keadaan nasib.

Merekapun mulai melakukan hubungan dengan pelbagai anggota perguruan yang tersiar dimana mana guna bersatu dan melakukan perlawanan terakhir, diantara mereka yang tingkatnya paling tinggi adalah saudara seperguruan Thian liong ngo siang, sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah keponakan murid Thi Eng khi.

Selain daripada itu terdapat juga sementara anggota dunia persilatan yang merasa tak senang menyaksikan pelbagai jago dari berbagai aliran dalam dunia persilatan mendatangi gedung Thian hee tit it keh sekehendak hatinya, maka mereka lantas membakar semangat juang umat Thian hong pay dengan harapan bisa menpergunakan darah dari murid-murid Thian liong pay untuk memberi peringatan kepada umat persilatan didunia ini.

Thian Heng merupakan pemimpin dari rombongan yang terakhir ini, kali ini dia sengaja memimpin anak murid Thian liong pay dengan tujuan untuk menggunakan darah segar mereka untuk memberi peringatan kepada umat persilatan, sungguh tak disangka justru dalam keadaan seperti inilah dia telah berjumpa dengan ciangbunjinnya Thi Eng khi.

Berbicara soal hubungan, maka Thian Heng adalah murid pertama dari pemimpin Thian liong ngo siang yaitu Kay thian jiu (tangan sakti pembuka langit) Gui Tin tiong, atau masih kakak seperguruan dari Thi Eng khi.

Sejak perguruan Thian liong pay menutup pintu dan mendapat perintah untuk meninggalkannya, diapun belum pernah kembali lagi kesana.

Hampir dua puluh tahunan dia berkelana dan hidup mengembara di dalam dunia persilatan, tentu saja penderitaan semacam ini betul-betul memilukan hati bila dibicarakan.

Demikianlah, sementara semua saling menuturkan pengalamannya masing-masing, mendadak Thi Eng khi berkerut kening.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu segera menegur .

"Saudara cilik apa yang telah kau rasakan?"

Thi Eng khi merasa terharu sekali atas kehangatan sikap ketua Kay pang ini terhadapnya, apalagi sejak di perkampungan Ki hian san ceng tempo hari sudah menaruh kesan baik kepadanya, dalam gejolak emosi yang meluap, tak tahan lagi dia berseru .

"Engkoh tua ....."

Tiba-tiba dia merasa panggilan itu kurang baik, baru saja akan menariknya kembali, si pengemis tua itu sudah bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haahhhh.... Haahhhh.... Haaahhhh.... saudara cilik, panggilan tersebut sesuai dengan seleraku, lain kali kau panggil saja dengan sebutan itu, awas jangan dirubah lagi!"

"Aaah..... jangan, jangan, aku hanya salah bicara sja, harap Cu pangcu jangan menganggap serius!"

Seru Thi Eng khi cepat cepat sambil menggoyangkan tangannya berulang kali. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kontan mendelik besar, dengan nada marah dia berkata .

"Saudara cilik, kau anggap aku si pengemis tua tidak pantas menjadi engkoh tuamu? Hmmm, terlalu menghina! Baik, kalau toh kau menganggap remeh diriku, sekarang juga aku si pengemis tua akan memohon diri!"

Selesai berkata, buru-buru dia berlagak seperti akan meninggalkan ruang itu.

Walaupun Thi Eng khi juga tahu kalau pengemis tua itu hanya berlagak, bagaimanapun juga toh orang bermaksud baik, terpaksa katanya .

"Engkoh tua, jangan marah, baik, baiklah siaute akan menuruti permintaanmu itu!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata pengemis tua itu, dia segera menggenggam tangan Thi Eng khi erat erat sembari katanya .

"Saudara cilik, mulai sekarang, urusan Thian liong pay berarti urusan dari aku si pengemis tua pula!"

Sementara mengucapkan perkataan itu, sepasang tangannya kelihatan gemetar keras jelas dia merasa terharu sekali.

"Terima kasih banyak atas cinta kasih engkoh tua!"

Ucap Thi Eng khi pula sambil menatap saudaranya lekat lekat. Dengan cepat pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memanggil kelima pengemis lima unsurnya, lalu berpesan .

"Mari kalian menjumpai saudara cilik ini mulai sekarang kalian ini mesti menjual nyawa untuk dirinya."

Kelima orang pengemis lima unsur itu menjadi girang sekali katanya hampir berbareng .

"Urusan saudara cilik adalah urusan Kay pang, soal ini tak usah pangcu pesankan lagi!"

Buru-buru Thi Eng khi menjura dengan perasaan terharu.

"Terima kasih banyak atas cinta kasih engkoh tua sekalian kepada siaute."

Mendadak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menarik wajahnya lalu dengan serius dia berkata .

"Mulai sekarang Thian liong pay telah mengikat tali persaudaraan dengan Kay pang, saudara cilik, sekarang kau harus katakan secara terus terang kepada engkoh tuamu, mengapa kau berkerut kening tadi?"

"Oooh.... Begitu hangat sikap engkoh tua kepadaku, tampaknya siaute terpaksa harus berbicara terus terang."

"Saudara cilik, bila ingin membicarakan sesuatu, katakanlah dengan cepat, mengapa mesti mencla mencle seperti nona perawan saja, kalau begini caramu mana bisa mengerjakan suatu urusan besar?"

Merah padam selembar wajah Thi Eng khi karena jengah, sahutnya .

"Siaute sedang risau karena masalah penempatan saudarasaudara kami dari partai Thian liong pay, sudah pasti penghidupan mereka merupakan suatu permasalahan yang cukup gawat, itulah sebabnya siaute merasa serba salah."

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

"Dewasa ini, persoalan yang harus siaute kerjakan masih banyak sekali, untuk sesaat mustahil bagiku untuk membangun partai secara resmi dan selalu hidup berkumpul dengan mereka, akan tetapi akupun tak akan membiarkan mereka hidup luntang lantung terus tanpa tempat tinggal menetap, oleh karenanya ..... Engkoh tua, kau sudah banyak berpengalaman, dapatkah kau tunjukkan cara yang paling baik bagiku untuk mengatasi kesulitan ini?"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak bahak setelah mendengar perkataan itu.

"Haahhh.... Haaahhh.... Haaahhhh..... bukankah ciangbunjin tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya?"

Sesudah tertawa tergelak lagi, dia berkata lebih jauh.

"Engkoh tua mah mempunyai cara yang paling baik untuk mengatasi kesulitan ini, cuma masalahnya sekarang terpaksa musti merendahkan derajat saudara seperguruanmu itu, hingga ..... ya sulit bagiku untuk mengucapkan secara terus terang...."

"Engkoh tua, kau tak usah sungkan-sungkan!"

Ucap Thi Eng khi cepat dengan mata berkilat.

"Bila saudara cilik tidak keberatan, biarkan saja saudara-saudara kalian itu menjadi tamu selama beberapa waktu dalam perkumpulan kami?"

Walaupun Thi Eng khi merasa cara ini kurang baik, namun diapun enggan menampik, setelah termenung sebentar, dia lantas berpaling kearah Thian Heng sambil bertanya .

"Thian suheng, bagaimana menurut pendapatmu?"

Thian Heng turut termenung untuk sesaat dia tak sanggup mengemukakan sesuatu pendapatpun. Maka Thi Eng khi lantas memutuskan .

"Baiklah, bagaimanapun juga hubungan kita dengan Kay pang adalah hubungan persaudaraan, sekalipun harus menumpang sementara waktu rasanya juga bukan sesuatu hal yang keliru."

Terhadap setiap masalah, rupanya pemuda ini sudah bisa menyesuaikan diri menurut keadaan, tidak seperti setahun berselang yang begitu keras kepala dan kukuh pada pendirian.

Dengan serius Thian Heng berkata .

"Perkataan dari ciangbunjin memang benar, tecu sekalian akan turut perintah."

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menjadi girang sekali sambil manggut manggut katanya .

"Pandai menyesuaikan diri dengan gelagat merupakan suatu tindakan yang paling tepat, murid Kay pang merasa berbangga hati sekali karena bisa menerima saudara saudara dari Thian liong pay sebagai tamu kehormatan!"

Selesai berkata, ia lantas berpaling kepada kelima orang pengemis lima unsur sambil pesannya .

"Mulai sekarang, asal berjumpa dengan saudara Thian liong pay, semuanya diundang untuk berkumpul dalam markas besat dan layani mereka sebagai tamu agung, jangan sampai keliru! Sekarang, ajaklah Thian tayhiap sekalian untuk pulang kemarkas lebih dulu, lohu dan saudara cilik akan berangkat dulu ke perkampungan Tay ji eng untuk mencari sastrawan penyapu tanah Lu Put ji."

Sedangkan Thi Eng khi juga lantas berpesan kepada Thian Heng.

"Hubungan persaudaraan Kay pang dengan Thian liong pay sudah ibaratnya keluarga sendiri, mulai sekarang anak murid perguruan kita akan menjadi tamunya Kay pang, aku harap suhenglah yang memimpin mereka. Bila aku ada urusan pasti akan kuhubungi kalian."

"Terima perintah!"

Sahut Thian Heng segera sambil membungkukkan badan memberi hormat. Menyusul kemudian dia berseru dengan lantang .

"Menghantar dengan hormat keberangkatan ciangbunjin dan Cu pangcu untuk melakukan perjalanan!"

Serentak anak murid partai Thian liong pay bangkit berdiri dan menghantar keberangkatan Thi Eng khi dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po keluar dari pintu gerbang.

Sekalipun dalam tubuh Kay pang sendiri tiada ucapan semacam ini, namun terpengaruh oleh perbuatan murid murid Thian liong pay ini merekapun turut berdiri dengan wajah serius.

Dalam waktu singkat Thi Eng khi dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah meninggalkan gedung Thian hee tit it keh di kota Huay im, oleh karena gerakan tubuh mereka sangat cepat, maka tak sampai dua hari mereka telah sampai di wilayah perkampungan Tay ji ceng.

Sepanjang jalan, Thi Eng khi baru mendapat tahu tentang siapa dan bagaimanakah manusia yang bernama Sau tee si bun Lu Put ji tersebut dari mulut Cu Goan po.

Ternyata sastrawan penyapu lantai Lu Put ji adalah seorang jago yang berpengetahuan luas sekali, ilmu silatnya tidak jelek, paras mukanya lebih lebih sekali, mana tampan, gagah perkasa lagi.

Tapi walaupun semua prasyarat yang begitu bagus dia miliki, namun yang berhasil dia peroleh hanya julukan Sau tee si bun belaka, terhadap kedudukan maupun tingkatannya sama sekali tidak bermanfaat apa-apa.

Sebab dia memiliki sebuah watak yang amat jelek, di hari hari biasa ia gemar sekali bergaul dengan kaum manusia rendah diapun suka dengan uang, perbuatan apapun sanggup dia lakukan, hingga pada hakekatnya dalam benak orang ini sama sekali tidak mengenal arti kata "harga diri".

Itulah sebabnya, meskipun wajahnya tampan ilmu sastra dan ilmu silatnya tinggi, namun dia hanya memperoleh julukan sebagai Sastrawan penyapu lantai.

Yang lebih aneh lagi adalah dia sama sekali tak tahu diri malah secara khusus dia memesan semacam kertas surat pohon liu dan kupu kupu untuk berbuat semena mena dimana mana, tak seorang jago silatpun yang memandang sebelah mata terhadapnya.

Sementara itu, perkampungan Tay ji ceng telah berada didepan mata, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera menarik tangan Thi Eng khi untuk melingkari sebuah bendungan, menjauhi jalan raya setelah menelusuri jalan setapak sekian lama, perkampungan Tay ji ceng kembali, mereka tinggalkan jauh dibelakang sana.

Tiba tiba pemandangan yang terbentang didepan mata terasa meluas, didepan situ muncul sebuah bendungan yang penuh tumbuh pepohonan liu, di ujung bendungan itu berdiri tiga buah bangunan rumah mungil sebuah sungai melingkari bangunan rumah tadi.

"Ehmm, tempat ini benar benar merupakan sebuah tempat yang sangat indah"' puji Thi Eng khi sambil manggut manggut.

"Yang lebih bagus lagi masih ada dibelakang!"

Sahut pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil tertawa.

Thi Eng khi hanya tertawa belaka, dia tidak berusaha untuk mendalami perkataan dari pengemis tua itu, selangkah demi selangkah dia lantas berjalan mendekati pintu gerbang bangunan rumah mungil itu.

Tiba didepan pintu dan menengadah, tanpa terasa Thi Eng khi berseru tertahan .

"Bagus! Benar benar bagus sekali, tempat ini selain tiada adat kebiasaan alam semesta, hakekatnya merupakan tempat tinggal para Dewa Dewi, kalau dilihat dari keadaan disini, siaute benar benar tidak percaya kalau dia adalah seorang manusia seperti apa yang telah Engkoh tua terangkan kepadaku tadi."

"Andaikata ia tidak tahu soal seni dan sastra, tak akan orang lain menyebutnya sebagai Sastrawan penyapu lantai!"

Kemudian dengan suara yang amat keras, dia lantas berteriak .

"Pun pangcu telah datang, mengapa tiada orang yang menyambut kedatanganku?"

Baru selesai dia berteriak, dari dalam pintu telah muncul seorang kakek berjenggot cabang tiba yang bermuka tampan, sambil menjura kepada pengemis sakti bermata harimau, ia berkata .

"Lu Put ji tak tahu akan kedatangan pangcu bila tak menyambut dari kejauhan, harap sudi dimaafkan."

"Hmm, tak usah berlagak terus!"

Dengus Cu Goan po cepat. Menyusul kemudian, dia berkata lebih jauh .

"Lu-Put ji, kau begitu mengumpak diriku tidakkah kuatir kalau hal ini akan menodai nama baikmu sebagai seorang sastrawan penyapu lantai?"

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tertawa terkekeh kekeh.

"Heeehh...... heeehhh... Heeehhh...... nama besar Cu pangcu telah termashur di seantero jagad, bila Lu Put ji tidak mengumpak dirimu, lantas musti mengumpak siapa?"

Tak disangka kalau oraag terhormat macam dia, ternyata sanggup mengucapkan kata kata seperti ini.

"Benarkah kau telah mengucapkan suara hatirnu?"

Ketua Kay pang itu menegaskan.

"Bila Put ji tidak jujur, maka aku bukan cucu Cu pangcu!"

Jilid. 10

"BILA aku mempunyai cucu macam kau, sudah sedari dulu kubunuh dirimu....'' "Aaah... benar, benar, memang pantas dibunuh, memang pantas dibunuh!"

Hampir tertawa geli Thi Eng khi menyaksikan tindak tanduk orang yang menyebalkan itu, katanya .

"Kalau orang sampai memanggilnya sastrawan penyapu lantai, rasanya ucapan ini memang tepat sekali."

Dalam pada itu paras muka pengemis sakti bermata harimau kelihatan amat serius dan sedikitpun tiada senyuman yang menghiasi bibirnya dengan langkah lebar dia masuk keruang dalam sembari katanya .

"Lohu haus sekali!"

"Put ji telah menduga akan kedatangan pangcu berdua sejak tadi air teh wangi telah kupersiapkan."

Sambil miringkan badannya, dia mempersilahkan pengemis tua itu masuk lebih dulu keruangan dalam.

Thi Eng khi segera menyusul kebelakang pengemis sakti bermata harimau tapi baru saja akan melewati pintu ruangan, mendadak sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, menghadang dihadapannya lalu dengan sikap yang angkuh katanya ketus .

"Liu tiap cay tidak akan menerima manusia yang tidak bernama!"

Sambil membusungkan dadanya Thi Eng khi segera berseru.

"Aku adalah ciangbunjin dari partai Thian liong pay!"

Dalam anggapannya, bila ia telah menyebutkan kedudukannya itu sudah pasti sastrawan penyapu lantai akan berubah sikap terhadapnya.

Siapa tahu sikap sastrawan penyapu lantai Lu Put ji masih tetap angkuh dan ketus katanya.

"Tiga puluh tahun sungai timur tiga puluh tahun sungai barat, dalam dunia persilatan sudah tidak terdapat lagi nama partai Thian liong pay, liu tiap cai juga tak dapat melanggar kebiasaan dengan mempersilahkan kau masuk."

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi menjadi naik darah, dengan kening berkerut segera bentaknya .

"Kurangajar, kalau begitu aku tak akan sungkan sungkan lagi terhadap dirimu."

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sama sekali tidak merubah sikapnya, sambil menggulung ujung bajunya dia berseru .

"Aku selamanya tidak takut rnenghadap orang yang sedang lewat, bila kau ingin beradu kepandaian diujung senjata, aku akan melayanimu dengan senang hati."

Paras muka Thi Eng khi waktu itu sudah dingin bagaikan salju agaknya ia telah bersiap siap untuk turun tangan.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu buru buru tertawa tergelak.

"Haaahh........ haaahh........ haaahhh....... Lu Put ji adalah seorang manusia yang amat memandang tinggi soal tingkat kedudukan,"

Katanya.

"saudara cilik, buat apa kau mesti ribut dengannya?"

Tiba tiba dia menarik muka, kemudian ujarnya kepada sastrawan penyapu lantai Lu Put ji .

"Thi ciangbunjin adalah saudaraku."

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak malu disebut sebagai manusia penjilat nomor wahid didunia ini, setelah mendengar perkataan itu, sikapnya segera berubah seratus delapan puluh derajat.

Belum lagi pengemis sakti bermata harimau menyelesaikan kata katanya, ia telah membungkukkan badannya sambil berkata .

"Saudara cilik, silahkan masuk!"

Selama hidup belum pernah Thi Eng khi menjumpai orang yang begini tak tahu malu seperti dia, ia benar benar dibikin menangis tak bisa tertawapun tak dapat.

"Aku tak jadi masuk!"

Katanya kemudian. Diam diam sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera menyumpah .

"Sialan kau, memangnya kau anggap lohu memandang sebelah mata kepada dirimu?"

Namun diluaran dia tetap menjura sambil berkata .

''Saudara cilik, bila kau masih saja marah, Put ji segera akan berlutut dihadapanmu, barusan Put ji tidak tahu kalau saudara cilik mempunyai hubungan yang erat dengan Cu pangcu, bila telah berbuat kelancangan, harap kau sudi memaafkannya."

"Hmm, siapa yang menjadi saudara cilikmu? Kalau berbicara sedikitlah berhati hati,"

Seru Thi Eng khi amat gusar.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memang betul betul berkepandaian hebat, begitu ia sudah mengincar sasarannya, maka sekalipun kau menghajar atau mendamprat dirinya, ia tak akan ambil perduli, bahkan dia berusaha terus untuk melunakkan hati lawannya.

Sekarang, walaupun dalam hati kecilnya dia sedang menyumpahi Thi Eng khi dengan kata kata yang paling kotor dan keji, namun wajahnya sama sekali tidak menampilkan perasaan tak senangnya, malah sambil munduk munduk kembali dia berkata .

"Baik, baik, harap Thi ciangbunjin jangan marah, Put Ji tidak berani, Put ji tidak berani. Thian liong pay memang suatu perguruan yang amat termashur dalam dunia persilatan, Thi ciangbunjin pasti mempunyai jiwa yang besar dan tak mempersoalkan kesalahan seorang siaujin, silahkan, silahkan, Thi ciangbunjin silahkan masuk."

Pinggangnya telah dibungkukkan dalam dalam, kepalanya hampir saja menempel di atas permukaan tanah.

Thi Eng khi sudah terlanjur dibuat sewot, dia sama sekali tidak menggubris perkataan lawan.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu kembali tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh...... haaahhh...... haaahhh...... Put ji siauseng adalah seorang yang terlalu memegang teguh akan sopan santun, saudara cilik, jangan lupa kalau kita masih mempunyai urusan serius, terimalah permintaan maaf dari Put Ji siauseng itu."

Dengan langkah lebar Thi Eng khi masuk ke dalam ruangan, hanya hidungnya mendengus dingin berulang kali untuk melampiaskan rasa mendongkol dalam hatinya.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengikuti dibelakangnya, setelah mempersembahkan air teh, kembali dia menjura dalam dalam sembari ujarnya .

"Cu pangcu ada petunjuk apa? Lu Put ji sudah siap sedia untuk mendengarkannya!"

"Lu Put ji, sejak kapan kau telah mendatangi gedung Bu lim tit it keh....?"

Diam-diam sastrawan penyapu lantai Lu Put ji merasa bangga sekali, pikirnya .

"Sekarang, lihat saja kehebatanku!"

Sikapnya dengan cepat berubah, mukanya juga tidak dihiasi lagi dengan senyuman yang licik dan tengik. Setelah mendehem beberapa kali, pelan pelan dia berkata .

"Yaa, memang ada kejadian demikian, soal ini ..... soal ini ....."

Setengah harian lamanya dia mengulangi kata katanya itu tanpa ada kelanjutannya.

Tentu saja pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cukup mengenali kebiasaan jeleknya itu, iapun enggan untuk berkata sopan lagi, secara blak blakan tegurnya .

"Apa syaratmu?"

Meski sederhana kata katanya namun menyudutkan. Ternyata Sastrawan penyapu lantai tidak kelihatan malu, malah dia lantas mengacungkan kelima jari tangannya.

"Yang kuning atau yang putih?"

Tanya pengemis itu lagi.

"Aku tahu kalau perkumpulanmu adalah sebuah perkumpulan besar, tentunya kau tak akan menganggapnya sebagai yang putih bukan?"

"Haaahh... haaahh... haaah.... bagus sekali, nah sambutlah apa yang kau minta ini."

Lima buah senjata emas dengan membawa desingan angin tajam langsung meluncur kehadapan Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, gerakan benda itu hebat sekali.

Rupanya sewaktu menyambit benda tadi pengemis sakti bermata harimau telah menyertakan tenaganya sebesar delapan bagian.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tersenyum, dengan gerakan Puh hong cui im (menangkap angin membekuk bayangan) dia sambar benda tersebut, tahu tahu lima batang uang emas yang masing masing sepuluh tahil beratnya itu sudah berada ditangannya.

Dengan diperhatikannya gerakan tersebut maka dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dia miliki sama sekali tidak berada di bawah kemampuan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

Sekalipun dia memiliki kepandaian sehebat itu, sayang ia justru kemaruk harta malahan diapun tak segan-segannya untuk berlutut dan mengumpak pengemis tua tersebut.

Sikap yang tengik dan memalukan semacam ini tak akan orang sangka bisa dilakukan oleh manusia macam dia itu.

Sesudah menyambut uang emas tersebut, Sastrawan penyapu lantai Lu put ji masih menimang nimang dulu bobotnya dan menggigit emas itu untuk memeriksa asli tidaknya.

Sikap tengik macam begini, lebih lebih memuakkan siapapun yang melihatnya.

Tapi kemudian ia merasa puas sekali, sahutnya kemudian dengan singkat .

"Bulan enam tanggal tujuh belas!"

Hanya lima patah kata itu saja yang disuarakan, kemudian ia kembali membungkam. Kalau dihitung dengan jumlah upah yang didapatkan, berarti sepatah kata bernilai sepuluh tahil uang emas.

"Apa pula yang berhasil kau temukan?"

Desak Thi Eng khi lebih lanjut.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji kembali manggut manggut lalu menggeleng, kembali dia memperlihatkan kelima buah jari tangannya.

Thi Eng khi menjadi gusar sekali, bentaknya .

"Tak tahu malu ....."

Tapi akhirnya diapun tak mampu melanjutkan caci makinya itu.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa, ujarnya .

''Beginilah kebiasaan dari Lu put ji bila kita tidak menuruti harga yang dimintanya, sekalipun membunuhnya juga jangan harap bisa memaksanya mengucapkan sepatah katapun."

Thi Eng khi merasa sangat tidak puas, segera ujarnya .

"Siaute yakin masih sanggup untuk memaksanya berbicara!"

Dia segera bangkit berdiri dan siap sedia untuk menggunakan ilmu sakti dari partai Thian liong pay untuk menaklukkan Lu Put ji serta memaksanya berbicara.

Buru buru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menggoyangkan tangannya mencegah .

"Saudara cilik, cara semacam itu tak ada gunanya buat Lu Put ji, lebih baik lihat saja cara engkoh tuamu."

Dengan wajah serius dia lantas berpaling ke arah Lu Put ji sambil ujarnya .

"Lebih baik kita bicara borongan saja, kau harus menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan, untuk itu berapa banyak yang kau minta?"

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera memperlihatkan sinar mata rakusnya, dengan perasaan seperti terpaksa, ia berkata .

"Waaah.... kalau ..... kalau main borongan , aku.... akulah yang bakal rugi besar."

Tapi kemudian sambil membusungkan dadanya, ia berkata dengan sikap yang gagah.

"Dihari hari biasa aku tak pernah menunjukkan kebaktianku untuk Cu pangcu, baiklah, untuk langganan bagaimana kalau aku minta lima ratus saja?"

Yang dimaksud sebagai lima ratus, sudah barang tentu lima ratus tahil uang emas. Mencorong sinar mata berapi api dari balik mata Thi Eng khi, serunya sambil mendepak depakkan kakinya ke lantai .

"Hatimu terlalu hitam, cara kerjamu terlalu rendah, tengik dan terkutuk!"

Sebaliknya pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berkata sambil tertawa .

"Tidak banyak, memang tidak banyak, hari ini Lu Put ji memang cukup bersahabat!"

Selintas rasa bangga segera menghiasi wajah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji katanya.

"Biasanya orang yang berkedudukan tinggi jadi orang lebih sosial, Cu pangcu memang memiliki kelebihan daripada orang lain, berbeda dengan Thi ciangbunjin yang terlalu memandang rendah diriku."

Thi Eng khi hanya berkerut kening belaka, tampaknya ia tak sudi berbicara lagi dengannya.

Sementara itu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sedang merogoh sakunya kesana kemari, biar miskin diluar ternyata sakunya tidak miskin, entah berapa banyak barang berharga yang dibawa olehnya.

Dari dalam salah satu sakunya, akhirnya dia berhasil mengeluarkan sebuah mutiara yang besar sekali dan memancarkan sinar kemerah merahan yang tipis.

"Lu Put ji"

Serunya kemudian sambil mengangkat tinggi tinggi benda tersebut.

"tentunya kau juga tahu barang.

"Coba lihatlah, apakah mutiara ini laku lima ratus tahil?"

Begitu melihat mutiara tersebut, sepasang mata sastrawan penyaou lantai itu kontan terbelalak lebar-lebar, dengan cepat dia mengangguk berulang kali.

"Cukup, cukup!"

Tangannya segera dijulurkan kedepan siap menerima mutiara tersebut dari tangan pengemis tua itu. Tapi Cu Goan po segera menarik kembali tangannya, dia berkata .

"Benda itu sudah menjadi milikmu, namun kau harus menerangkan dahulu apa yang terjadi dalam gedung Bu lim tit it keh pada bulan enam tanggal tujuh belas nanti?"

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menelan air liurnya berulang kali, serunya cepat .

"Lebih baik.... lebih baik mutiara itu kau serahkan dulu kepadaku ....."

"Memangnya kau tidak percaya dengan diriku?"

Bentak Cu Goan po dengan mata melotot.

"Tidak berani, tidak berani,"

Seru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"memang begitulah peraturanku selama ini."

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa seram.

"Haahhh.... haahhh.... haahhhh.... lohu justru akan menyaksikan dirimu untuk merusak peraturan tersebut, tentunya kau juga tahu, nilai dari mutiara Thian hiang cu ini bukan hanya lima ratus saja, kalau tidak besok saja kita bicarakan lagi setelah kubawa uang emasnya kemari."

Seraya berkata dia lantas masukkan kembali mutiara tersebut kedalam sakunya.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bukan seseorang yang tidak luas pengetahuannya, dia tentu saja mengetahui nilai dari mutiara tersebut, sepasang matanya yang kurus sudah sedari tadi mengawasi benda itu tanpa berkedip, kalau bisa dia ingin sekali cepat cepat memperoleh mutiara Thian hiang cu itu.

Betul mutiara itu tidak terlampau besar, akan tetapi justru merupakan benda mestika yang tidak ternilai harganya, tentu saja dia tak ingin membiarkan benda itu disimpan kembali oleh pengemis tua itu.

Dengan perasaan gelisah dan cemas, buru buru serunya .

"Berada di hadapan pangcu, apalah artinya benda itu? Jangankan hanya sebuah peraturan kecil yang tak ada harganya untuk dibicarakan, sekalipun ada masalah yang amat besar, asal pangcu mengucapkan sepatah kata saja, aku disuruh terjun ke air, aku akan terjun ke air, suruh terjun ke api, akupun akan terjun ke api, semuanya akan kulakukan dengan segera tanpa membantah."

"Tak usah banyak berbicara, bila kau menginginkan mutiara itu, maka ucapanku musti kau turuti!"

Tukas Cu Goan po cepat. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan .

"Benda apa saja yang berhasil kau dapatkan dalam ruang Sin tong partai Thian liong pay di gedung Bu lim tit it keh?"

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak berani berbohong lagi dengan berterus terang sahutnya .

''Dalam ruang Sin tong partai Thian liong pay, aku telah menemukan rahasia besar, maka sewaktu tombol rahasia kutekan, meja altar Thian liong pay itu mendadak tenggelam kebawah, kemudian muncul seekor naga emas yang sedang mementangkan cakarnya, dalam cakar itu tampak secarik kertas, maka kuambil kertas itu dan mengembalikan alat rahasianya seperti sedia kala."

Thi Eng khi ingin cepat cepat mengetahui isi surat itu, dengan cepat dia menimbrung .

"Surat itu sekarang berada dimana?"

"Thi ciangburjin, lebih baik kau jangan turut bertanya, sebab hal ini akan kuhitung dengan tarif baru."

Thi Eng khi menjadi betul betul naik darah, bentaknya keras keras .

"Bangsat, kau benar benar seorang manusia yang tak tahu malu, lihatlah kubacok dirimu!"

"Saudara cilik...."

Pengemis sakti bermata harimau segera berteriak keras. Dengan cepat dia memberi kerdipan mata kepadanya agar mendengarkan dengan tenang, lalu tanyanya pula kepada Lu Put ji .

"Kau sendiri melakukan apa pula ditempat tersebut?"

"Oooh...... aku cuma meninggalkan secarik surat pohon liu dan kupu kupu dibalik cakar naga emas itu."

"Apa yang kau tulis diatas kertas surat pohon liu dan kupu-kupu tadi ....."

"Aku hanya menulis begini . Hahahaha.... lohu lebih hebat dan berhasil mendahului kalian!"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po manggut manggut, dia mengakui bahwa sastrawan penyapu lantai memang tidak berbohong, maka diapun lantas bertanya lebih jauh .

"Kemana larinya surat yang asli itu sekarang?"

"Telah kujual!"

Saat itu Thi Eng khi benar-benar tidak tahan lagi, mendadak ia melejit keudara dan menubruk keatas tubuh sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ......

Menghadapi serangan tersebut, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tertawa dingin, dengan cepat kakinya bergeser kekiri dan kekanan diiringi gerakan lengannya kesana kemari secara beruntun dia telah berganti lima enam tempat dengan arah yang berlainan, didalam anggapannya semula, tubrukan dari Thi Eng khi tersebut sudah pasti akan mengenai sasaran yang kosong.

Siapa sangka, gerakan tubuh dari Thi Eng khi sungguh cepat sekali, tubrukannya ibarat cacing dalam perut, entah kemanapun dia menghindar atau bergeser, ia tak pernah berhasil melepaskan diri dari incaran jari tangan Thi Eng khi.

Sekarang sastrawan penyapu lantai Lu Put ji baru tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Thi Eng khi benar-benar lihay sekali.

Baru saja dia akan merubah taktik pertarungannya, tahu-tahu jalan darah Cian keng hiat diatas bahunya menjadi kaku, sepasang lengannya bagaikan lumpuh saja, segera kehilangan semua tenaganya dan terjulur lemas ke bawah.

Sambil menekan bahu Sastrawan penyapu lantai, Thi Eng khi segera membentak keras .

"Hayo jawab, sudah kau jual kepada siapa?"

Kalau tadi sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bersikap sungkan kepada Thi Eng khi, hal ini sebenarnya lantaran pengaruh dari Kay pang pangcu Cu Goan po.

Tapi sekarang, setelah ia kena ditaklukkan oleh Thi Eng khi secara gampang, timbul perasaan keder dalam hati kecilnya, terhadap Thi Eng khi pun ia menjadi ketakutan setengah mati.

Sedemikian takutnya dia kepada pemuda ini, bahkan sampai sepatah katapun tak sanggup diutarakan, selembar wajahnya yang tampan kini kelihatan berubah menjadi merah padam seperti babi panggang.

Hou bok sin kay Cu Goan po buru buru menyelinap datang, lalu katanya kepada Thi Eng khi .

"Saudara cilik, jangan terburu napsu, pikir yang cermat, tanya yang seksama, dengan begitu urusan baru tidak terbengkalai."

Sesungguhnya Thi Eng khi hanya terpengaruh emosi saja sehingga melakukan tindakan tersebut tapi pada dasarmya dia cerdas maka tak usah berpikir lebih jauh diapun sadar bahwa dirinya sudah melanggar pantangan.

Gara-gara urusan sepele hampir terbengkalai urusan sebenarnya maka dengan cepat dia melepaskan si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji dari cengkeraman.

"Lu Put ji,"

Ia berkata sambil tertawa dingin.

"kuharap kau menjawab dengan sejujurnya daripada aku musti memberi pelajaran lagi kepada dirimu ....."

Pelan-pelan ia mundur kembali ke tempat semula. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera menggerakkan sebentar sepasang bahunya lalu sahutnya dengan ketakutan .

"Baik! Baik! Apa yang kuketahui, pasti akan kujawab dengan sejujurnya ...."

"Baik, coba kau terangkan kertas tersebut telah kau jual kepada siapa ....?"

Tanya si pengemis sakti bermata harimau kemudian. Buru-buru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .

"Aku betul-betul tidak tahu siapakah orang yang membeli kertas tersebut."

"Lu Put ji!"

Tegur pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil melotot.

"kau termashur karena pengetahuanmu yang amat luas, mustahil bila kau tidak kenal dengan orang itu, hayo jawab saja siapa dia yang sesungguhnya? Daripada merasakan penderitaan yang sama sekali tak ada gunanya."

Dengan muka hampir menangis, sastrawan penyapu lantai Lu Put ji kembali merengek .

"Bila orang itu adalah seorang manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, sudah barang tentu aku akan mengenalnya, tapi orang itu baru berusia delapan sembilan belas tahunan, aku benar benar tak tahu dia berasal dari mana."

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berpikir sabentar, lalu berkata .

"Kalau begitu coba kau lukiskan saja bagaimanakah bentuk raut wajahnya itu."

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji berpikir sejenak, lalu sahutnya dengan cepat.

"Dia adalah seorang sastrawan muda yang memakai baju berwarna putih dengan mantel berwarna perak, perawakan tubuhnya sedang tidak kelewat tinggi juga tidak kelewat pendek, seraut wajahnya amat tampan, bahkan tiga bagian lebih ganteng daripada Thi ciangbunjin. Cuma sayang tidak memiliki sinar kegagahan. Waktu itu, akupun pernah menanyakan tentang asal usulnya. Tapi lantaran dia tidak menyahut maka akupun jadi segan untuk bertanya lagi ....."

Tiba-tiba Thi Eng khi bertanya .

"Berapa uang kau jual kertas itu kepadanya?"

Dari dalam sakunya sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengeluarkan sebuah mainan Giok bei yang satu inci lebih enam panjangnya, kemudian menyahut .

"Pemuda itu persis seperti Cu pangcu dalam melakukan perjalanannya tak pernah membawa uang emas dalam jumlah banyak, maka dia membayar harga dari kertas tersebut dengan mainan kemala ini!"

"Apa yang tertulis diatas kertas itu?"

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera berkerut kening.

"Soal ini tak bisa kuberitahukan kepada kalian!"

Sahutnya dengan perasaan berat hati.

"Kau hendak menjual mahal lagi?"

Bentak Thi Eng khi dengan gusar. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tertawa getir lagi, ucapnya pelan .

"Bukannya aku enggan memberitahukan hal itu kepadamu, cuma aku telah terlanjur meluluskan permintaan pemuda itu untuk tidak membocorkan isi kertas tadi kepada siapapun juga. Thi ciangbunjin dan Cu pangcu tentunya tahu bukan bahwa menjadi seorang manusia harus memegang janji? Tapi bila kalian bersikeras akan memaksa aku untuk mengingkari janji, tentu saja aku tak akan berani menolak."

Ucapan dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ini diucapkan dengan amat diplomatis, tentu saja dia dapat mengingkar janji dalam keadaan terdesak, namun tanggung jawab dari tindakannya itu harus dipikul sendiri oleh Cu Goan po serta Thi Eng khi dua orang.

Padahal setiap umat persilatan mengutamakan soal pegang janji, sekalipun Cu Goan po serta Thi Eng Khi sangat ingin mengetahui isi surat yang sebenarnya, mereka tak ingin melakukan suatu perbuatan yang bisa memaksa orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang mengingkari janji.

Seandainya mereka adalah kawanan iblis dari kaum sesat, sudah barang tentu persoalan semacam ini tak akan diperhatikan sama sekali.

Pelan-pelan si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Thi Eng khi, setelah itu sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas, dia berkata .

"Saudara cilik tampaknya perjalanan kita kali ini juga sia-sia belaka.....!"

Thi Eng khi sendiripun merasa amat sedih, tapi ketika sorot matanya membentur kembali dengan mainan Giok bei yang berada di tangan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, tiba-tiba saja semangatnya berkobar kembali.

"Lu Put ji,"

Katanya kemudian.

"kau jelas mengetahui kalau kami tak akan melakukan perbuatan yang menjerumuskan orang kedalam pengingkaran janji maka kau gunakan kata-kata semacam itu untuk membungkam kami, baik kuakui akan kelihayanmu tersebut dan kamipun tak akan menanyakan lagi isi surat itu kepadamu tapi kau harus menyerahkan mainan Giok bei itu kepadaku, sebab hanya inilah merupakan satu-satunya titik terang dari orang itu yang dapat kami lacaki."

"Tidak bisa, tidak bisa,"

Seru Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sambil menggeleng.

"mainan Giok bei merupakan pembayaran dari orang itu untuk kertas surat tersebut, bila mainan ini harus kuberikan kepada kalian sekarang, bukankah kertas itu sama artinya kuberikan kepada orang lain dengan gratis?"

Thi Eng khi sungguh tak tahu harus menggunakan kata apa untuk memaki orang itu, dia merasa dalam dunia saat ini mungkin tiada orang kedua yang memiliki watak semacam dia itu.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera mendengus dingin.

"Hmmm....! Lu Put ji, kau jangan terlalu memberatkan benda mestika daripada nyawa, ketahuilah mutiara Thian hiang cu milik aku si pengemis tua masih belum dapat kuserahkan kepadamu!"

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji semakin gugup dibuatnya, namun perasaan tersebut tak berani dia perlihatkan diatas mukanya, maka katanya kemudian .

"Cu toa pangcu, apakah kau hendak mengingkari janji?"

"Tindakanku ini belum dapat dianggap mengingkari janji, karena kau tidak memberitahukan isi surat itu kepada kami, berarti kau pun tidak memenuhi syarat yang kami ajukan, yakni menjawab setiap pertanyaan yang kami ajukan kepadamu, andaikata mutiara Thian hiang cu ini harus diserahkan kepadamu, maka aku hanya bisa menyerahkan separuh saja dari benda ini."

Mendadak Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menggigit bibirnya menahan diri kemudian berkata .

"Baik akan kuberitahukan isi surat itu kepada kalian."

Pengemis sakti bermata harimau segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhh.... sayang sekali kau sudah terlanjur meluluskan permintaan orang, sekalipun kau dapat menebalkan muka untuk mengingkari janji namun pun pangcu dan Thi ciangbunjin bukan manusia semacam itu. Kami tak akan melakukan perbuatan yang mendorong orang untuk mengingkari janji. Lebih baik serahkan saja mainan Giok bei itu kepada kami sebagai alasan bahwa kau tak perlu menepati janji lagi, sedang pun pangcu akan menyerahkan mutiara Thian hiang cu itu kepadamu, dengan demikian kaupun tidak terlampau rugi dibuatnya.... bagaimana? Setuju tidak?"

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji benar-benar enggan untuk mengorbankan mainan Giok bei yang berada ditangannya itu, tapi dia lebih lebih merasa berat hati untuk kehilangan mutiara Thian hiang cu tersebut, akhirnya dia cuma bisa menghela napas, setelah menelan air liur, dengan wajah meringis, katanya .

"Setelah kuserahkan mainan Giok bei itu kepada kalian, tentunya kalian tak akan mencari alasan yang lain?"

"Omong kosong,"

Bentak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po keras-keras.

"kalau kau tidak percaya, lebih baik kami minta diri saja!"

Selesai berkata dia lantas menarik tangan Thi Eng khi untuk diajak pergi meninggalkan tempat itu.

Buru-buru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menghadang jalan pergi mereka kemudian sambil menyerahkan main Giok bei tersebut, ujarnya agak tersipu sipu .

"Aku bersedia menyerahkan mainan Giok bei ini kepada Cu lo, harap Cu lo bersedia untuk menerimanya."

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sama sekali tidak memandang kearahnya walaupun hanya sekejap mata setelah menerima mainan Giok bei dan masukkan kedalam saku, dia serahkan mutiara Thian hiang cu tersebut kepadanya.

"Ketahuilah, andaikata aku si pengemis tua tidak merasa enggan untuk turun tangan terhadap manusia semacam kau, aku benarbenar ingin membacokmu sampai mamapus!"

Serunya keras-keras.

"sebelum kuinjak injak tubuhmu, rasanya belum hilang rasa mendongkol yang menggelora dalam dadaku!"

Begitu selesai berkata, sebuah pukulan lantas diayunkan untuk mendorong Lu Put ji kesamping, kemudian bersama Thi Eng khi meninggalkan ruangan Liu tiap cay tersebut.

Tapi belakang sana masih kedengaran Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji masih berseru dengan nada yang memuakkan .

"Benar,benar, kau orang tua memang seorang jago kaum lurus, memang tidak pantas turun tangan terhadap manusia rendah seperti aku, terima kasih banyak, terima kasih banyak atas kemurahan hati kau orang tua!"

Setelah berada jauh dari tempat atai, Thi Eng khi baru menghela napas sambil bergumam.

"Engkoh tua, tak kusangka dalam dunia ini bisa terdapat manusia yang tak tahu malu semacam itu, betul-betul suatu kejadian yang luar biasa sekali ...."

"Walaupun sastrawan penyapu lantai Lu Put ji termashur karena mukanya yang tebal dan tak tahu malu, paling tidak dia masih mempunyai suatu kebaikan yang jauh lebih hebat daripada kebanyakan orang lainnya ...."

"Dia masih memiliki kebaikan apa lagi?"

Tanya Thi Eng khi dengan mata terbelalak karena terkejut bercampur keheranan.

"Paling tidak ia tak pernah berbohong!"

Mendengar itu, Thi Eng khi segera menghela napas panjang.

"Aaai.... sekalipun sudah memiliki mainan Giok bei ini, kemanakah kita harus mencari orang yang bermantel perak itu?"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh.... haaaahhhh... soal ini tak usah kau kuatirkan, anak murid perkumpulanku telah tersebar di seluruh kolong langit, tidak sulit untuk menemukan jejak orang itu."

Baru selesai dia berkata mendadak pengemis itu berseru tertahan lalu serunya sambil menunjuk kedepan .

"Saudara cilik, coba kau lihat itu ...."

Thi Eng khi turut mendongakkan kepalanya, kemudian dengan girang serunya cepat .

"Aaah, dia adalah orang yang mengenakan mantel berwarna perak!"

Tanpa banyak berbicara lagi, dia lantas melompat kedepan dan mengejar kearah orang itu.

Agaknya orang bermantel perak itu sedang ada urusan penting gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat, dari situ dapat terlihat bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu benar benar telah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Namun Thi Eng khi juga bukan orang sembarangan setelah melatih kepandaian sakti dari kitab pusaka Thian liong pit kip selama hampir setahun lamanya, dia telah berhasil melebur semua obatobatan yang ada dalam tubuhnya dengan tenaga murni yang dia latih, begitu ilmu Im liong sin hoat (gerakan tubuh naga diawan) dikerahkan, kecepatan gerakan tubuhnya ternyata masih setingkat lebih hebat daripada orang bermantel perak yang berada dihadapannya itu.

Dalam waktu singkat, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sudah tertinggal entah dimana.

Selisih jarak diantara mereka makin lama semakin mendekat, dalam girangnya Thi Eng khi Eng segera menegur .

"Saudara yang berada di depan, harap tunggu sebentar, aku Thi Eng khi ada urusan hendak meminta pertunjukmu!"

Entah orang itu tidak mendengar seruan itu atau enggan menjawab, tiba-tiba berbelok searah sebuah hutan yang lebat dan menyelinap kedalamnya, dalam beberapa kali lompatan saja, bayangan tubuh sudah lenyap dari pandangan mata.

Hampir meledak dada Thi Eng khi saking mendongkolnya, dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya semakin hebat, dari kaki bukit sampai puncak bukit diperiksa dengan seksama, namun hasilnya tetap nihil.

Sekarang, anak muda itu benar-benar merasa mendongkol bukan buatan, kalau bisa dia benar benar ingin membacok tubuh orang itu dan mencincangnya menjadi berkeping sehingga rasa mendongkolnya dapat dilampiaskan.

Namun bayangan tubuh orang itu seakan akan sudah tertelan dibalik hutan belukar itu, bagaimanapun seksama penggeledahan yang dilakukan oleh Thi Eng khi, bayangan tubuhnya sama sekali tidak ditemukan lagi.

Lambat laun Thi Eng khi makin terjerumus ke tengah bukit yang makin jauh kedalam.

Bukit ini sungguh aneh sekali bentuknya, seluruh bukit penuh dengan pepohonan yang lebat tapi puncaknya justru gundul dan tiada sebatang pohon pun yang tumbuh, sekan akan sekeliling tempat itu sudah dibabat oleh pisau yang tajam.

Thi Eng khi memperhatikan sekeliling tempat itu dengan seksama , mendadak wajahnya menjadi tertegun, lalu berseru tertahan, gumamnya kemudian dengan nada tercengang bercampur kaget .

"Bukankah dia adalah So yaya?"

Ternyata di atas puncak bukit yang gundul itu tampak Tiang pek lojin So Seng pak sedang berjalan kesana kemari sambil menggendong tangan, dia seperti lagi menantikan sesuatu.

Baru saja Thi Eng khi akan menampakkan diri untuk berjumpa dengannya, terdengar Tiang pek lojin berteriak sambil tertawa gusar .

"Lohu sudah dua jam lamanya menantikan kedatanganmu, mengapa kau belum juga menampakkan diri!"

Baru habis suara bentakan itu berkumandang, dari arah barat laut sana muncul dua orang manusia, seorang lelaki dan seorang perempuan.

Begitu Thi Eng khi melihat orang lelaki itu, hawa amarahnya kontan berkobar dengan hebatnya, tapi setelah berpikir sejenak, dia lantas melompat naik keatas sebatang pohon besar dan menyembunyikan diri.

Ternyata lelaki dan perempuan yang menampakkan diri itu tak lain adalah lo sancu dari istana Ban seng kiong, Huan im sin ang (kakek sakti bayangan semu), sedangkan yang perempuan tentu saja Pek leng siancu atau yang sekarang menjadi putri Ban seng kiong, So Bwe leng.

Dengan langkah lebar, Huan im sing ang membawa So Bwe leng menuju ke hadapan Tiang pek lojin.

Waktu itu Pek leng siancu So Bwe leng mengenakan topeng kulit manusia, sehingga Tiang pek lojin sama sekali tidak tahu kalau dia adalah cucu kesayangannya.

Sementara itu, terdengar Tiang pek lojin berkata dengan dingin .

"Engkaukah orang yang telah mengundang kedatangan lohu kemari?"

Huan im sin ang segera tertawa kering.

"Benar, memang pun sancu!"

Dia takut Tiang pek lojin tidak tahu dia berasal dari bukit mana, maka sengaja tambahnya .

"Lo sancu dari istana Ban seng kiong!"

Tiang pek lojin memperhatikan beberapa saat perempuan cantik yang berada disamping Huan im sin ang, kemudian sambil menatap wajah kakek itu lekat-lekat bentaknya .

"Kemana perginya cucu perempuanku Bwe leng?"

Pek leng siancu So Bwe leng yang mengenakan topeng kulit manusia itu merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat ia bergerak kemuka dan menubruk kedalam pelukan Tiang pek lojin.

Sementara itu mulutnya hanya berbunyi yaya....

Yaya......

belaka, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan.

Rupanya Huan im sing ang cukup memahami perangai dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia tahu kalau gadis itu mudah terpengaruh oleh emosi, bila selintas pikiran melintas dalam benaknya, bisa jadi dia akan mengumbar emosinya tanpa memperdulikan diri, seandainya sampai demikian, sudah pasti perjanjiannya dengan gadis itu tak akan menimbulkan keuntungan apa-apa.

Maka sebelum mereka menampilkan diri tadi, secara tiba-tiba dia telah turun tangan menotok jalan darah bisu dari Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian dia takut gadis itu melepaskan topeng kulit manusianya, maka sepasang tangannya juga turut ditotok sekalian.

Walaupun demikian, ternyata Pek leng siancu So Bwe leng masih tetap nekad menubruk ke dalam pelukan Tiang pek lojin.

Tentu saja Tiang pek lojin tidak mengira kalau gadis cantik yang menerjang ke dalam pelukannya itu adalah cucu kesayangannya.

Dalam keadaan demikian, dengan kedudukannya dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak akan membiarkan seorang gadis yang tidak diketahui asal usulnya menubruk ke dalam pelukannya.

Dengan cekatan ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melepaskan sebuah angin pukulan yang cukup kuat untuk melepaskan tubuh Pek leng siancu So Bwe leng sejauh satu kaki dari tempat semula.

Begitu kena dilempar oleh tenaga sapuan dari Tiang pek lojin dengan cepat So Bwe leng menjadi sadar kembali dengan keadaan yang sedang dihadapinya, dengan cepat dia melompat bangun lalu kakinya memperlihatkan beberapa macam gerakan langkah yang sakti dan rahasia.

Beberapa macam ilmu langkah tersebut merupakan ajaran khusus dari Tiang pek lojin untuk cucu perempuan kesayangannya ini, dengan mempergunakannya pada saat ini maka sebenarnya So Bwe leng hendak menarik perhatian Tiang pek lojin agar menebak asal usulnya.

Tiang pek lojin adalah seorang jago kawakan dalam dunia persilatan yang berpengalaman luas, sejak dari gerakan tubuh yang dilakukan So Bwe leng kemudian menyaksikan bayangan tubuh dari gadis itu, apalagi setelah menyaksikan sorot mata sinona yang murung dan sedih, dia telah menaruh curiga akan asal usul gadis tersebut.

Demikianlah setelah berpikir sebentar, dia lantas maju ke depan dan mencengkeram bahu Pek leng siancu So Bwe leng sambil menegurnya .

"Siapakah kau?"

Dengan kemampuan yang dimiliki Tiang pek lojin bukan suatu pekerjaan yang sulit baginya untuk menangkap gadis itu, meski jaraknya masih ada satu kaki lebih.

Akan tetapi Huan im sin ang tidak berdiam diri belaka, dengan cekatan ia melayang kedepan menghadang dihadapan Pek leng siancu So Bwe leng.

"Tua Bangka So.

"katanya sambil tertawa seram.

"apa-apaan kau ini? Jika ingin bertarung lohu akan melayani dirimu!"

Sekalipun Tiang pek lojin ingin bertarung juga tak akan bertarung dalam keadaan begini, sambil tertawa dingin, dia lantas melayang mundur kembali ketempat semula.

"Sancu, kau mengundang kedatangan lohu dengan janji akan mempertemukan lohu dengan cucu perempuanku, sekarang dimana orangnya?"

Ia menegur dengan wajah dingin. Huan im sin ang mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian tertawa licik.

"Heeehhh.... Heeehhh... heehh... kita sama-sama adalah orang yang telah berusia lanjut mengapa tidak tenangkan dulu hati kita masing-masing baru membincangkan pelan-pelan?"

Tiang pek lojin segera berpikir .

"Asal telah bersua muka, lohu tidak kuatir kau bisa kabur keujung langit, baiklah akan kulihat dulu permainan busuk apalagi yang akan dia perlihatkan kepadaku."

Berpikir demikian, dia lantas menekan hawa amarahnya dan berkata dengan ketus .

"Sudah lama lohu mendengar nama besarmu, hari ini aku ingin baik-baik meminta petunjuk darimu!"

"Aaaah, mana, mana, So lo terlalu memuji,"

Ucap Huan im sin ang sinis. Kemudian setelah mundur selangkah, serunya kepada So Bwe leng .

"Nak, kemarilah, cepat member hormat kepada kakek dari So sumoaymu, Tiang pek lojin So locianpwe dari luar perbatasan!"

Sambil menahan rasa mendongkol yang berkobar-kobar dalam dadanya, terpaksa So Bwe leng harus maju ke depan dan member hormat. Kembali Huan im sing ang berkata .

"Sejak dilahirkan bocah ini sudah menderita cacad dan tidak bisa berbicara, namun dia mempunyai hubungan yang paling baik dengan cucu perempuanmu Bwe leng."

Dari pembicaraan Huan im sin ang tersebut, Tiang pek lojin telah mendengar bahwa cucu kesayangannya telah menjadi murid orang, hal ini sama artinya bahwa dia dengan Sancu dari Ban seng kiong telah mempunyai ikatan hubungan yang luar biasa, sebagai seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, tentu saja dia tahu akan pentingnya arti seorang guru.

Betul, dia tak tahu bagaimana jalannya cerita sampai So Bwe leng mengangkat orang lain sebagai guru, namun dengan kedudukannya dalam dunia persilatan, tentu saja kenyataan tersebut harus diakui, apalagi sebagai pentolan dari suatu wilayah dunia persilatan, dia tak mau dicemooh orang dikemudian hari.

Demikianlah, setelah berkerut kening dan menghela napas katanya kemudian .

"Sancu, mengapa tidak kau katakan sendiri bahwa kau adalah gurunya Bwe leng? Hampir saja lohu kurang hormat kepadamu."

Buru buru Huan im sing ang memohon maaf, sahutnya .

"Setahun berselang, kebetulan lohu lewat dibukit Siong san dan tertarik oleh bakat cucumu yang begitu baik maka aku telah menculiknya secara paksa, untuk itu kumohon maaf yang sebesarbesarnya, untung saja So lo juga terhitung umat persilatan, tentunya kau juga memaklumi bukan perasaan seorang umat persilatan bila menjumpai bakat bagus? Aku harap kau sudi memaklumi kesulitanku ini!"

Mendengar ucapan yang bergitu menarik hati, Tiang pek lojin tak dapat menarik muka lagi, dengan senyum tak senyum katanya kemudian .

"Lohu ucapkan banyak terima kasih atas kesudianmu untuk mendidik Bwe leng!"

Seraya berkata dia lantas menjura. Huan im sin ang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... Haaahhhh.... Haahhh... kalau dibicarakan kembali, seharusnya akulah yang berterima kasih kepada lo enghiong!"

Dengan digunakannya kata"enghiong"

Jelaslah dia berusaha untuk pelan-pelan menariuk Tiang pek lojin untuk berpihak kepadanya. Tiang pek lojin pun dari tersenyum menjadi tertawa tergelak.

"Haahhhh.... Haaahhh.... Haahhh.... Sancu, apa maksud ucapanmu itu ....?"

Sambil memperlihatkan wajah yang riang, Huan im sin ang berkata .

"Bwe leng berbakat bagus sekali, belum sampai setahun dia telah menguasai segenap kepandaian silat yang kuwariskan kepadanya, kini dia sudah menjadi Ban sen kiongcu, bahkan dalam beberapa bulan saja ia sudah termashur diseluruh dunia dan banyak melakukan pahala untuk perguruannya, seandainya lo enghiong tidak memiliki cucu secerdas ini, mustahil perguruanku bisa termashur seperti sekarang ini, oleh karena itu, sudah sepantasnya jika kuucapkan banyak terima kasih kepada lo enghiong."

Selesai berkata, dia benar-benar menjura kepada Tiang pek lojin.

Tiang pek lojin adalah orang yang telah berusia lanjut, biasanya bagi seorang yang telah lanjut usia seperti dia, lebih rela mengorbankan nama dan kedudukan sendiri daripada tidak memperhatikan kemajuan dan kesuksesan yang dihasilkan cucunya.

Seperti So Bwe leng yang telah menjadi Ban seng kiongcu misalnya, bagi Tiang pek lojin hal mana merupakan suatu kejadian yang menggembirakan sekali hingga diapun tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.

Kemunculan Ban seng kiong didalam dunia persilatan baru berlangsung beberapa bulan, sebab itu kejahatan yang telah dilakukan pihak perguruan tersebut belum banyak yang terungkap, sebaliknya Tiang pek lojin juga tidak memikirkannya dengan bersungguh hati, maka dia hanya merasakan kegembiraannya saja.

Andaikata dia mengetahui Ban seng kiong yang sesungguhnya, mungkin untuk menangis pun tak akan dapat.

Huan im sin ang sendiripun merasa gembira sekali ketika dilihatnya hubungan antara Tiang pek lojin dengan Ban seng kiong selangkah demi selangkah makin mendekat, tanpa terasa dia tersenyum sendiri.

"Kini Ban seng kiong telah dipimpin oleh cucumu,"

Demikian ia berkata lagi.

"aku dengar, belakangan ini lo enghiong juga bentrok dengan para hwesio dari bukit Siong san gara-gara urusan Thi ciangbunjin dari Thian liong pay. Oleh karena itu, aku sengaja telah mendatangkan jago-jago terbaik dari bukit Wong soat hong di bukit Wu san guna membantu lo enghiong, cuma sebelumnya lohu ingin mengadakan kontak dulu denganmu, asal lo enghiong menganggukkan kepala, cucumu pasti akan segera berangkat untuk membantu usaha lo enghiong."

Tergerak juga hati Tiang pek lojin setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia bertanya.

"Mengapa Bwe leng tidak datang sendiri untuk menjumpai diriku?"

Huan im sin ang segera tersenyum.

"Bwe ji kuatir lo enghiong marah kepadanya lantaran belajar silat denganku, maka ia tak berani datang kemari."

Tiang pek lojin termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya lebih jauh .

"Ehmmm.... begini saja, usul kerja sama antara umat persilatan diluar perbatasan dengan pihak kalian, lohu harap bisa diperbincangkan setelah bersua dengan Bwe leng nanti, soal ini harap Sancu bersedia untuk memakluminya."

Jelas Tiang pek lojin juga tidak gampang terkecoh, ia telah mempersiapkan jalan mundur sendiri.

"Dari pihak Ban seng kiong, aku dapat mewakilinya untuk mengambil keputusan,"

Kata Huan im sin ang.

"jadi Leng ji datang atau tidak sudah bukan masalah lagi, apalagi lo enghiong sudah lama berpisah dengan Leng ji, bila berjumpa lagi nanti tentu banyak masalah yang harus dibicarakan, entah bagaimana menurut pendapat Lo enghiong?"

Tiang pek lojin segera manggut-manggut.

"Masuk diakal juga perkataan Sancu itu."

Belum habis dia berkata, mendadak sambil berpaling ke sebelah kiri, bentaknya .

"Siapa disitu?"

"Mungkin anak buahku ....."

Kata Huan im sin ang.

Tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu diatas puncak bukit itu telah bertambah dengan seorang pemuda bermantel perak.

Belum habis Huan im sin ang berkata, cahaya perak telah melintas lewat dan pemuda tampan bermantel perak itu sudah memunculkan diri di tengah arena.

Pemuda ini baru berusia dua puluh tahunan, wajahnya bersih dan tampan, sikapnya anggun dan berwibawa, membuat siapapun tak berani memandang remeh dirinya.

Dengan langkah yang anggun dia maju beberapa langkah ke depan, kemudian katanya kepada Huan im sin ang sambil tertawa .

"Siauseng dengan Sancu bukan berasal dari satu aliran yang sama."

Huan im sin ang sudah rikuh karena salah melihat orang, tak tahunya pihak lawan malah mengetahui juga bahwa dia adalah seorang Sancu, dari sini dapat diketahui bahwa orang tersebut bermaksud jelek malah besar kemungkinannya ia sudah cukup lama menyadap pembicaraan yang sedang berlangsung.

Maka dengan amarah yang meluap segera tegurnya dengan dingin.

"Kalau dilihat dari dandananmu, agaknya kau seperti anak sekolahan yang mengerti sopan santun, hai, tahukah kau bahwa menyadap pembicaraan orang merupakan suatu perbuatan yang tak sopan."

Tampaknya pemuda tampan itu seorang yang pemalu, teguran tersebut seketika membuat paras mukanya menjadi merah karena jengah.

"Sebenarnya siauseng tidak berniat untuk menyadap pembicaraan kalian berdua,"

Katanya.

"aku datang kemari karena ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan So locianpwe!"

Tiang pek lojin So Seng pak menjadi tercengang.

"Sauhiap, darimana kau tahu kalau lohu akan munculkan diri di tempat ini?"

Tegurnya. Dengan wajah serius pemuda tampan itu menjawab .

"Sebab sebelum ini siauseng sudah mendapat tahu kalau kalian berdua ada janji di sini. Oleh sebab itu ....."

"Dari mana kau mendapatkan kabar tersebut?"

Tanya Huan im sin ang sambil tertawa seram.

"Maaf, hal ini tak bisa kuungkap dihadapanmu!"

Mendadak ia menuding kearah Pek leng siancu So Bwe leng, lalu ujarnya kepada Tiang pek lojin .

"Locianpwe, tahukah kau siapa nona ini?"

Belum sempat Tiang pek lojin menjawab, paras muka Huan im sin ang telag berubah hebat, bentaknya .

"Sebenarnya siapakah kau? Jika tidak kau terangkan sejelasnya, jangan salahkan kalau lohu tak akan sungkan-sungkan lagi!"

"Hey, rupanya dalam hatimu ada setannya, sudah merasa takut?"

Ejek pemuda tampan itu sambil tertawa nyaring.

Sebetulnya sejak tadi Tiang pek lojin memang sudah menaruh curiga terhadap gadis yang berada dihadapannya itu, sekarang kecurigaannya makin meningkat.

Bagaimanapun raut wajah So Bwe leng ditutupi oleh topeng kulit manusia, namun Tiang pek lojin sudah berkumpul dengannya semenjak kecil dulu, otomatis dia mempunyai kesan yang cukup dalam terhadap tingkah laku serta potongan badan cucu perempuannya itu, apalagi setelah menyaksikan gerakan langkah yang diperlihatkan SO Bwe leng tadi, kesemuanya itu menambah kecurigaan dalam hati Tiang pek lojin makin menebal .....

Betul selama ini ia menunjukkan sikap yang lebih mengendor, bahkan berbincang secara bebas dengan Huan im sin ang, padahal rasa curiga di dalam hatinya sama sekali belum dikendorkan.

Pada mulanya dia merasa kemunculan dari pemuda tampan itu menjengkelkan, ia menganggap pemuda itu telah merusak rencana sendiri, tapi setelah mendengar perkataan orang, dengan cepat ia tertawa tergelak.

"Haaahhh.... Haaahhhh..... haaahhhh... lohu tidak percaya kalau seorang Sancu dari Ban seng kiong bisa melakukan perbuatan yang malu diketahui orang!"

Diam-diam ia telah sertakan pula sindiran yang pedas dibalik perkataan itu.

Huan im sin ang adalah manusia licik yang banyak akal muslihatnya, menjumpai keadaan tersebut, dengan cepat dia menemukan siasat bagus untuk mengatasinya.

Dari tertawa seram, ia menjadi tersenyum lembut, katanya kemudian .

"Oooh... jadi kau menganggap muridku ini adalah Leng ji?"

Bersamaan waktunya, dia memperingatkan pula kepada Pek leng siancu So Bwe leng dengan ilmu menyampaikan suara .

"Bwe leng, bila kau tak sanggup mengendalikan perasaanmu sehingga melanggar perjanjian kita, jangan harap kau dapat bersua kembali dengan Thi Eng khi, setelah kembali dari sini, lohu pasti akan mencincang tubuhnya menjadi berkeping keping, jika kau tidak percaya, silahkan saja untuk menjajalnya!"

Setelah member peringatan, dengan sikap yang terbuka dia lantas menggape kearah Pek leng siancu So Bwe leng sambil ujarnya .

"Anak Tin, mereka telah menganggapmu sebagai Leng ji, cepat maju kedepan sana agar mereka perhatikan dengan seksama."

Dia mempunyai keyakinan penuh atas muslihatnya ini, maka diantara ulapan tangannya telah disertakan pula dengan tenaga pukulan yang lembut, dengan cepat jalan darah Pek leng siancu So Bwe leng menjadi bebas sama sekali.

Dalam pada itu, Pek leng siancu So Bwe leng telah berhasil pula untuk menenangkan hatinya, kesadarannya pulih kembali, sudah barang tentu diapun mendengar jelas semua peringatan dari Huan im sin ang tersebut.

Walaupun kini ia sudah bisa berbicara juga dapat membuka topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya, tapi gadis itu justru tak berani memperkenalkan diri kepada Tiang pek lojin.

Sebab bagaimanapun juga dia tak ingin menyaksikan keselamatan Thi Eng khi terancam bahaya.

Bukan cuma begitu saja, malah dia memberikan suatu kerja sama yang amat bagus dengan Huan im sin ang untuk melanjutkan permainan sandiwaranya itu.

Maka sambil menahan rasa pedih didalam hati dan merendahkan suaranya untuk menutupi suara lembut dan merdunya itu, dia berkata .

"Boanpwe Cu Tin tin menjumpai So locianpwe!"

Dari jarak satu kaki dihadapan Tiang pek lojin dia menjura dalamdalam .....

Kembali Tiang pek lojin merasa kecewa bercampur bimbang, sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang, ia berguman .

"Aaai.... Jangan jangan mata lohu sudah melamur?"

Pemuda tampan bermantel perak itupun agak tertegun, mendadak ia melompat kedepan sambil menerjang kehadapannya Pek leng siancu So Bwe leng, agaknya dia berhasrat untuk menaklukkan gadis yang berada di hadapannya lebih dulu, kemudian baru diperbincangkan lagi.

Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya, Huan im sin ang telah datang menghadang, ejeknya sambil tertawa dingin .

"Kau sebenarnya bertujuan apa? Mengapa hendak menerkam Tin tin?"

Dari nada ucapan tersebut mengandung arti kata sekan akan pemuda itu mengandung maksud jelek terhadap sang nona .... Pemuda tampan tu sama sekali tidak marah, malah katanya sambil tertawa hambar .

"Siauseng mengenali nona ini sebagai nona So, beranikah kau memberi kesempatan kepada siauseng untuk membuktikannya?"

Huan im sin ang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh....haaahhh........haaahhhh...... Leng ji adalah cucu kesayangan dari kakek So, bahkan kakeknya sendiri mengakui telah salah melihat orang, mana mungkin kau sibocah keparat dapat mengetahui lebih banyak daripadanya? Bocah keparat! rupanya kau memang bertujuan jelek, mempunyai niat cabul untuk mendekati Tin ji ku ini. Hmmm....... dihadapan lohu pun kau berani bertindak demikian, tampaknya nyalimu terhitung tidak kecil......."

Sembari berkata mendadak pergelangan tangannya diputar dan melepaskan sebuah pukulan sejajar dengan dada.

Huan im sin ang telah berniat untuk membunuh orang dan membungkam mulut lawan, dalam melancarkan serangannya kali ini, dia telah sertakan tenaga dalam sebesar enam bagian, dalam anggapannya tenaga pukulan sebesar itu sudah cukup untuk membinasakan pemuda tampan itu.

Kedua orang itu memang sedang berdiri saling berhadapan muka, selisih jarak kedua belah pihak hanya lima langkah saja, diantara perputaran telapak tangannya, angin pukulan yang maha dahsyat telah meluncur ke depan dada pemuda tampan itu.

Walaupun pemuda tampan tersebut telah membuat persiapan, ia tak menyangka kalau Huan im sin ang adalah manusia yang demikian liciknya, tanpa memperdulikan kedudukkannya, bahkan dihadapan Tiang pek lojin berani melancarkan serangan untuk membunuh orang.

Dengan cepat ia melejit ke samping untuk menghindarkan diri, sayang keadaan sedikit terlambat, meski jalan darah penting diatas dadanya berhasil dilindungi toh bahunya kena tersapu juga dengan telak, kontan tubuhnya mencelat ke tengah udara dan menubruk keatas sebatang pohon besar.....

Tiang pek lojin segera membentak keras dengan cepat dia melompat ke depan bermaksud untuk menolong pemuda itu.

Namun dia cepat, masih ada orang yang lebih cepat lagi, tampak bayangan biru berkelebat lewat tahu tahu dari belakang pohon telah melompat seseorang yang segera menyambut tubuh pemuda tampan itu ke dalam bopongannya.

Menyusul kemudian, dengan gerakan Cian liong seng thian (Naga sakti meluncur ke angkasa) dia melompat balik lagi kedalam hutan.

Tentu orang yang berbaju biru itu tak lain adalah Thi Eng khi.

Waktu itu dia amat menguatirkan keselamatan ibunya serta keempat orang susioknya, dia ingin cepat cepat mendapat tahu kabar berita tersebut dari mulut pemuda bermantel perak ini, tapi kuatir bila berjumpa dengan Tiang pek lojin nanti akan menunda waktunya, maka begitu menyambut tubuh pemuda tampan tersebut, dia segera rnengundurkan diri dari sana.

Tiang pek lojin sendiri merasa girang sekali ketika dilihatnya orang yang munculkan diri adalah Thi Eng khi, dengan cepat dia menarik gerakan tubuhnya dan melayang kembali keatas tanah.

Baru saja mau menyapa, siapa tahu Thi Eng khi telah membalikkan badan dan menyelinap kedalam hutan.

Dengan gusar Huan im sin ang membentak keras .

"Bocah keparat, hendak kabur ke mana kau?"

Dia melompat kemuka dan siap menerjang ke dalam hutan.

"Engkoh Eng!"

Jerit Pek leng siancu So Bwe leng pula, diapun bersiap menubruk ke depan.

Dalam keadaan demikian, tentu saja Tiang pek lojin tidak membiarkan Huan im sin ang pergi dengan begitu saja, tanpa berpikir panjang dia segera menghadang dihadapannya sambil berseru .

"Sancu, tunggu sebentar! Lohu ada persoalan hendak dibicarakan dengan dirimu!"

Tiang pek lojin tak ingin Huan irn sin ang berhasil menyusul Thi Eng khi, sebaliknya Huan im sin ang juga tak ingin pek leng siancu So Bwe leng berhasil menyusul Thi Eng khi, maka begitu jalan perginya dihadang, dia pun segera mengambil tindakan yang cekatan.

Sambil membalikkan badannya menghadang jalan pergi pek leng siancu So Bwe leng serunya.

"Anak Leng, dia bukan Thi Eng khi yang asli, dia adalah orang yang mencatut namanya, kau jangan sampai kena tertipu!' Tatkala pek leng siancu So Bwe leng menyaksikan Thi Eng khi masih bebas merdeka tanpa memperoleh ancaman apa apa, diapun menjadi tidak takut lagi terhadap ancaman kakek itu, serunya keras keras .

"Siapa yang percaya lagi dengan obrolan setanmu itu, perjanjian kita mulai sekarang dibatalkan sama sekali!"

Huan im sin ang memang tak malu di sebut orang sebagai manusia cerdas, ternyata paras mukanya sama sekali tidak berubah, katanya dengan ketenangan yang luar biasa .

"Orang itu bukan Thi Eng khi, percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri!"

Sementara itu, Tiang pek lojin telah berhasil membuktikan dari suara Pek leng siancu So Bwe leng bahwa dia adalah cucu perempuannya, sambil menyelinap maju untuk menarik tangannya, dia berseru .

"Nak, kau benar benar merisaukan yaya!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Tiang pek lojin sambil menangis tersedu sedu.

Pertemuan antara kakek dan cucu ini telah menenggelamkan mereka berdua dalam luapan perasaan masing masing, siapapun tidak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Huan im sin ang tersebut.

Huan im sin ang menyaksikan semua adegan tersebut dengan wajah berubah ubah, ada kalanya malah tertawa dingin tiada hentinya, tapi kemudian dengan suara keras teriaknya .

"Orang itu bukan Thi Eng khi, lohu berani membuktinya!"

Tiang pek lojin segera menepuk bahu So Bwe leng sambil berbisik dengan suara lembut .

"Nak, bila ada persoalan kita bicarakan lain kali saja!"

Kemudian sambil berpaling ke arah Huan Im sin ang, ujarnya .

"Kau mempunyai alasan apa? Apa bukti kalau dia bukan Thi Eng khi... ?"

Yang dikuatirkan Huan im sin ang apabila Tiang pek lojin tidak bersuara, asal orang itu sudah menjawab, maka dia tidak kuatir untuk mengandalkan ketajaman lidahnya guna menaklukan orang itu sampai terjerumus ke dalam perangkapnya.

Demikianlah sambil mengangkat bahu dia berkata .

"Lohu bukan cuma mempunyai alasan saja, bahkan alasanku bukan hanya alasan belaka!"

Pek leng siancu So Bwe leng mendongakkan kepalanya, lalu berteriak lantang .

"Bila ada persoalan katakan saja berterus terang, siapa yang kesudian banyak ribut denganmu?"

"Anak Leng, kau tak boleh bersikap kurangajar kepada lohu!"

Seru Huan im sin ang. Pek leng siancu So Bwe leng segera mencibirkan bibirnya seraya mendengus dingin.

"Hmm, mau apa kau?"

Tantangnya. Huan im sin ang tertawa seram.

"Anak Leng, jangan kau anggap perjanjian diantara kita sudah tidak berlaku lagi,"

Katanya.

"Heeehh.... Heehhh.... Heeehhh... kau masih ingin menggunakan engkoh Eng untuk mengendalikan diriku?"

Ejek Pek leng siancu So Bwe leng sambil tertawa dingin.

"betul betul sedang bermimpi di siang hari bolong ...."

Suara tertawa dari Huan im sin ang semakin menyeramkan, kembali dia berkata .

"Anak Leng, aku enggan bersilat lidah denganmu, sekarang dengarkan dulu kuutarakan alasan mengapa orang itu bukan Thi Eng khi kemudian baru ambillah keputusanmu."

Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak terpengaruh oleh perkataan itu, malah teriaknya lagi dengan gusar .

"Sialan kau si tua bangka celaka, memangnya kau anggap sebutan anak Leng boleh kaugunakan semaunya sendiri. Betul, betul, tak tahu malu, kau ..... kau...... Belum habis dia berkata, Tiang pek lojin telah membentak keras .

"Nak, jagalah sikapmu sebagai seorang pendekar yang sejati, bagaimanapun juga Sancu telah memeliharamu selama satu tahun, terlepas apa maksud dan tujuannya kau tidak pantas bersikap kurangajar terhadap seorang locianpwe yang lebih tua tingkat usia nya daripada dirimu."

"So lo, aku cukup memahami watak anak Leng, lohu tak akan menjadi marah oleh sikapnya itu!"

Sela Huan im sin ang segera sambil tertawa terbahak bahak.

Melihat lawannya berlagak sok berjiwa besar, Tiang Pek lojin segera mendengus dingin sebegai jawaban.

Huan im sin ang tertawa licik, kembali dia mengemukakan alasan alasannya .

"Alasan yang pertama, kepandaian silat yang dimiliki orang itu sangat lihay, paling tidak kau harus memiliki tenaga latihan selama tujuh delapan puluh tahun sebelum berhasil mencapai tingkatan tersebut, bayangkan saja tahun ini Thi Eng khi baru berumur berapa? Sekalipun dia berbakat bagus, juga mustahil bisa mencapai tingkatan seperti itu hanya didalam setahun saja."

Kembali Pek Leng siancu So Bwe leng, mendengus dingin .

"Hmm, seandainya engkoh Eng berhasil menemukan suatu kejadian aneh, tentu saja hal mana merupakan suatu pengecualian."

Jilid 11

"DALAM dunia ini, tak nanti ada semacam obat mustajab yang bisa membuat tenaga dalam seseorang bisa mencapai tujuh delapan puluh tahun hasil latihan di dalam setahun saja!" ''Seandainya secara beruntun dia berhasil mendapatkan beberapa macam obat mustajab?"

Dengus Pek leng siancu So Bwe leng lagi. Huan im sin ang segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh.... haaahhh..... haaahhh...... anak Leng, kau anggap obat mustajab yang ada didunia ini segampang mencari nasi saja. Semacam saja sudah sukarnya bukan buatan apalagi beberapa macam sekaligus, pada hakekatnya seperti orang yang lagi mengigau saja."

Setelah tertawa tergelak, dia melanjutkan.

"Tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat hebat, selisihnya dengan So lo pun hanya sedikit, padahal jagoan dengan kemampuan semacam ini jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan dewasa ini, cukup berdasarkan hal ini saja dapat dibuktikan kalau dia bukan Thi Eng khi."

Akan tetapi Pek leng siansu So Bwe leng belum juga mau percaya, sambil mendongakkan kepalanya dia lantas bertanya .

"Yaya, apakah ucapannya itu beralasan?"

Tiang pek lojin tidak berbicara tapi mengangguk berarti dia telah mengakui bahwa ucapan dari Huan im sin ang memang masuk diakal.......

Sekali lagi Huan im sin ang tertawa seram, katanya lebih lanjut .

"Alasan yang kedua, orang itu muncul lantas pergi, jelas tidak berani bersua muka dengan So lo, berdasarkan alasan ini bukankah bisa disimpulkan bahwa dia kuatir kalau rahasia penyamarannya ketahuan orang."

"Hmm, kau selalu menyulitkan dia, mungkin dia takut kepadamu, maka tak berani munculkan diri untuk bersua muka denganmu,"

Seru si nona lagi ngotot. Huan im sin ang segara tertawa terbahak bahak.

"Haaahh..... haaahh...... haaahh.... dengan kemampuan yang dimiliki orang itu, belum tentu lohu bisa menangkan dirinya dalam lima puluh gebrakan, andaikata dia adalah Thi Eng khi, bila ditambah kakekmu dan kau, bukankah kemungkinan lohu untuk kalah amat besar? Mengapa dia musti takut kepada lohu?"

Tiang pek lojin segera menghela napas panjang, katanya .

"Eng ji adalah seorang manusia yang berperasaan dan hangat dalam pergaulan, setelah berjumpa dengan lohu, mustahil dia tidak datang menjumpai diriku."

Padahal dia mana tahu kalau Thi Eng khi sedemikian menguatirkan keselamatan ibu dan keempat orang susioknya sehingga buru buru dia hendak mengorek keterangan dari mulut pemuda bermantel perak ini.

Selain itu, diapun berusaha untuk menghindari pertikaiannya dengan Huan im sin ang sehingga akhirnya harus mengeraskan hati untuk pergi tanpa menegur.

Dengan perkataan dari Tiang pek lojin ini, tak bisa disangkal lagi berarti dia menyetujui pandangan dari Huan im sin ang.

Tapi justru karena peristiwa ini, mengakibatkan terjadinya banyak kesulitan dikemudian hari.

Pek leng siancu So Bwe leng masih juga merasa tidak terima, sambil mendepak-depakkan kakinya diatas tanah dengan gemas, ujarnya .

"Aku tidak percaya, seribu kali juga tidak percaya, selaksa kali juga tidak percaya, engkoh Eng pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa tak sampai berhenti dan berjumpa dengan kami disini, mungkin juga orang bermantel perak itu adalah teman engkoh Eng, untuk menyembuhkan lukanya mau tak mau harus segera meninggalkan tempat ini."

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak hatinya tergerak, segera pikirnya .

"Jangan jangan orang itu adalah seorang perempuan? Yaa, benar, pasti seorang perempuan, demi dia engkoh Eng telah pergi tanpa menegur kami."

Makin dipikir ia merasa hal ini semakin masuk diakal, makin dipikir semakin mendongkol sehingga dia tak sanggup berbicara lebih lanjut.

Kecuali Thi Eng khi yang belum berpengalaman dalam dunia persilatan, sesungguhnya baik Tiang pek lojin maupun Huan im sin ang telah mengetahui bahwa orang itu adalah seorang perempuan yang menyamar sebagai seorang lelaki, cuma rahasia tersebut tidak dibongkar saja.

Sedangkan Pek leng siancu So Bwe leng, ia dapat berpendapat demikian karena dia sendiripun memang seorang perempuan, apalagi mempunyai perasaan cinta kepada Thi Eng khi, itulah sebabnya perasaan halusnya lebih merasakan hal tersebut.

Setelah berpikir sampai disitu, Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan hatinya amat pedih dan susah ditahan, dia tak berani berkata dan tak berani berpikir lagi, setelah menghela napas sedih, tiba tiba sikapnya menjadi murung sekali.

Sementara itu, Huan im sin ang kembali memperlihatkan sikapnya yang serius, lalu berkata dengan suara dalam .

"Alasan yang ketiga ini sebenarnya tak dapat dihitung sebagai alasan, melainkan merupakan suatu kenyataan, entah alasan yang kuajukan pertama dan kedua bisa diterima atau tidak tapi yang pasti alasan ketiga ini dapat membuktikan kalau orang itu bukan Thi Eng khi!"

Mendadak ia berhenti, seakan akan ada maksud unluk menunggu sampai Tiang pek lojin dan So Bwe leng bertanya sendiri, namun setelah ditunggu sekian lama, belum juga ada yang bersuara, terpaksa dia tertawa rikuh sambil melanjutkan kembali kata katanya .

"Sebab sejak setahun berselang, Thi Eng khi telah lohu sekap di suatu tempat rahasia yang jauh dari keramaian manusia!"

Pek leng siancu So Bwe leng tidak menunjukkan sikap kaget atau terkesiap setelah mendengar perkataan itu, sebab dia memang kena dipaksa Huan im sin ang untuk menutupi perkataannya akibat ucapan tersebut.

Lain dengan reaksi dari Tiang pek lojin, bukan cuma alis matanya berkenyit bahkan ia menunjukkan sikap gelisah dan tak tenang, segera bentaknya keras keras .

"Thi Eng khi telah kau sekap?"

Huan im sin ang segera menunjukan sikap minta maaf, sambil tertawa palsu ucapnya.

"So lo, aku minta maaf kepadamu, sesungguhnya lenyapnya Thi Eng khi adalah gara garaku, sedangkan pihak Siau lim dan Bu tong hanya kena getahnya saja, sebelum ini tentunya kau tak pernah menyangka bukan?"

Saking gusarnya sekujur badan Tiang pek lojin gemetar keras, mendadak sambil memancarkan sinar mata yang amat tajam, bentaknya dengan penuh kegemasan .

"Rupanya kau mengacau dari tengah, lohu tak akan memaafkan dirimu."

Sambil menggigit bibir dia menerjang ke muka dan mendorong sepasang telapak tangannya ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Angin pukulan yang sangat dahsyat segera menggulung ke muka dan menerjang ketubuh Huan im sin ang.

Menghadapi ancaman tersebut, Huan im sin ang segera tertawa terkekeh kekeh dengan seramnya.

"Heeehh ....... heeehhh..... heeehhh ....... bila lohu tidak menyambut seranganmu itu, kau pasti menganggap tenaga dalamku masih kalah jauh bila dibandingkan dengan dirimu, baiklah! Lohu akan memperlihatkan kemampuanku, agar kau bersedia untuk bekerja sama dengan lohu dengan perasaan yang lebih lega."

Ditengah seruan tersebut, dia telah menghimpun tenaga Jit sat hian im tin lip ke dalam telapak tangannya, kemudian dilontarkan tangannya ke depan bersama sama, segulung hawa pukulan yang tak berwujud bagaikan angin puyuh meluncur kedepan.

Ketika angin pukulan berhawa dingin dan panas itu saling bertemu, gemuruh angin pukulan yang dipancarkan oleh Tiang pek lojin itu seketika pudar dan lenyap, sementara tubuhnya tergoncang keras, akhirnya dia tak sanggup berdiri tegak dan mundur selangkah lebar.

Ketika menengok kembali kearah Huan im sin ang, tampaklah meski wajah orang itu merah membara, namun tubuhnya masih tetap berdiri ditempat tanpa bergerak barang sedikit pun juga.

Bagi seorang jago, dalam sekali bentrok kekerasan segera dapat dl ketahui siapa yang tangguh siapa yang lemah, untuk kedua kalinya Tiang pek lojin merasa kalau kemampuannya masih kalah bila dibandingkan dengan musuhnya.

Pertama kalinya terjadi pada enam puluh tahun berselang, dia dikalahkan oleh kakek Thi Eng khi, Keng thian giok cu (tiang kemala penyanggah langit) Thi Keng.

Waktu itu dia dikalahkan setelah dilangsungkan sepuluh kali pertarungan maka dia kalah dengan hati yang puas tapi dalam kekalahan untuk kedua kalinya, enam puluh tahun kemudian dia merasa sangat tidak puas.

Maka sambil menghimpun kembali tenaga dalamnya, dia lancarkan lagi sebuah pukulan dahsyat, bentaknya .

"Lohu akan beradu jiwa denganmu!"

Setelah menyambut sebuah serangan dari Tiang pek lojin dan berhasil menempati kedudukan diatas angin, Huan ini sin ang tak ingin bertarung lebih jauh melawan Tiang pekk lojin, dengan cepat kakinya bergeser dan meloloskan diri dari serangan musuh deng-an ilmu gerakan tubuh Leng kui huan sin (setan iblis berganti badan).

"So tua, kau juga orang yang telah berusia seratus tahunan, mengapa mesti ribut terus menerus,"

Cegahnya sambil menggoyangkan tangannya berulang kali,"

Bila kau mendesak terus, jangan salahkan kalau lohu tak akan berlaku sungkan sungkan lagi terhadap Thi Eng khi!"

Dalam gusarnya meski Tiang pek lojin berhasrat untuk beradu jiwa dengan Huan im sin ang, tapi dalam hatinya bukan berarti tanpa rencana apapun, dia tahu tiada harapan baginya untuk membereskan Huan im sin ang yang berada dihadapannya, apalagi mendengar pihak lawan menggunakan nyawa Thi Eng khi untuk mengancamnya, dia lebih berhati hati lagi.

Sambil menarik kembali serangannya, ia berseru dengan hati yang gusar .

"Suatu hari, lohu pasti akan menjagal dirimu untuk melampiaskan rasa dendamku kepadamu!"

"Soal dikemudian hari kita bicarakan dikemudian hari saja,"

Sindir Huan im sin ang sinis.

"paling tidak hari ini kita masih bisa berbincang dengan cara baik, kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya kau musti berterima kasih kepadaku atas hilangnya Thi Eng khi kali ini."

"Kau tak usah mengaco belo di hadapan lohu!"

Bentak Tiang pek lojin dengan gusar. Huan im sia ang tertawa seram.

"Lohu telah menciptakan kesempatan dan alasan yang baik bagimu untuk memasuki daratan Tionggoan, masa kau tak berterima kasih kepadaku?"

Dibongkar rahasia hatinya, Tiang pek lojin kelihatan amat terkejut, untuk sesaat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Kembali Huan im sin ang berkata lebih jauh .

"So tua, pertikaianmu dengan pihak Siau lim dan Bu tong telah menjadi suatu peristiwa besar yang menggemparkan seluruh kolong langit, aku rasa tentunya kau tak akan menjual muka para jago dari luar perbatasan dan menghancurkan nama sendiri bukan? Apalagi kalau mengaku salah dan minta maaf kepada pihak Siau lim dan Bu tong? Ketahuilah, keadaanmu sekarang ibaratnya orang yang menunggang diatas punggung harimau..... haaaahhh..... haahhhhh...... haahhhh....."

Serentetan suara tertawa keras yang mengerikan berkumandang memecahkan keheningan, membuat Tiang pek lojin rnerasa gelagapan dan gugup dengan sendirinya.

Sementara itu entah kapan tiba-tiba Pek leng siancu So Bwe leng teringat akan sesuatu, dengan cepat dia membawa pokok pembicaraan kembali kesoal semula, serunya .

"Kau bilang orang yang tadi itu bukan Thi Eng khi? Hmm, hanya setan yang percaya!"

Untuk sesaat Huan im sin ang masih belum memahami ucapan dari Pek leng siancu So Bwe leng, mendengar perkataan itu diam diam ia merasa terkejut, pikirnya kemudian.

"Jangan jangan budak ini berhasil menemukan penyakit dibalik perkataanku itu?"

Meski berpikir begitu, wajahnya masih tetap memperlihatkan ketenangan yang luar biasa katanya .

"Thi Eng khi tetap dan hal ini merupakan suatu kenyataan, anak Leng, kau telah membawa jalan pikiranmu kemana lagi?"

Pek leng siancu So Bwe tidak menggubris perkataan orang, kembali dia berpikir lebih jauh .

"Apakah engkoh Eng tak dapat melarikan diri?"

Kemudian sambil memejamkan mata, dia bergumam seorang diri .

"Ya, benar, engkoh Eng pasti berhasil meloloskan diri dari cengkeraman iblismu!"

Menyusul dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi Huan im sin ang lekat-lekat, katanya dengan nada bersungguh sungguh .

"Engkoh Eng pasti telah lolos dari pengejaranmu!"

Begitu menyaksikan sikap Pek leng siancu So Bwe leng yang gugup macam orang kebingungan itu segera paham bahwa gadis itu lagi berkhayal belaka, hatinya menjadi lega, kontan saja ia tertawa tergelak.

"Disekitar tempat penyekapan itu lohu meninggalkan orang untuk mengawasi gerak geriknya, bayangkan saja, mana mungkin ia bisa kabur? Apalagi kemarin masih ada orang yang memberi laporan kepada lohu, kalau dia telah meluluskan syarat yang lohu ajukan, sekarang dia telah bersiap siap untuk mengangkat diriku menjadi guru dan belajar ilmu silat dari lohu!"

Sesungguhnya pikiran dan perasaan Pek leng siancu So Bwe leng pada saat itu amat kalut dan kacau balau tak karuan, ketika mendengar ucapan dari iblis tua itu, selain melototkan matanya, tak sepatah kata pun sanggup dia utarakan.

Tiang pek lojin sendiripun tampaknya tak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, dia hanya menghela napas belaka.

Melihat siasatnya berhasil mendatangkan hasil Huan im sin ang merasa girang sekali, dengan wajah berseri katanya lebih jauh .

"Jika kalian masih tidak percaya, lohu dapat segera membawa kalian menuju ke sana untuk menengoknya, sampai waktunya kalian tentu akan tahu kalau lohu bukan cuma gertak sambel belaka!"

Dalam hatinya sudah mempunyai rencana sendiri, maka ia berani mengambil resiko tersebut. Tanpa berpikir panjang Pek leng siancu So Bwe leng segera berkata .

"Benarkah kau akan mengajak kami untuk pergi menjumpai engkoh Eng....?"

"Tentu saja sungguh! Cuma aku harus bertanya kepadamu lebih dulu janji dua tahun kita masih masuk hitungan tidak?"

Tanpa berpikir panjang kembali Pek leng siancu So Bwe leng menjawab .

"Asal dapat bersua dengan engkoh Eng, tentu saja janji kita masih tetap masuk hitungan!"

Huan im sin ang lantas berpaling kearah Tiang pek lojin sambil bertanya .

"So tua, bagaimana pendapatmu?"

Mendadak paras muka Tiang pek lojin berubah menjadi amat serius, dengan sorot mata tajam terpancar keluar dari balik matanya, dia menjawab .

"Lohu mempunyai rencana sendiri, permainan busukmu jangan harap bisa kau laksanakan pada diri lohu!"

Menyusul kemudian sambil berpaling ke arah Pek leng siancu So Bwe leng, ujarnya .

"Anak leng, yaya tak ingin mempengaruhi jalan pemikiranmu serta caramu bertindak, semoga saja tindakanmu itu jangan sampai memalukan keluarga So kami."

Tidak menunggu Huan im sin ang sempat menimbrung lagi, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan melambung keangkasa dalam waktu singkat badannva sudah masuk kedalam hutan dan lenyap dari pandangan mata.

"Yaya, yaya...."

Teriak Pek leng siancu So Bwe leng dengan suara lantang. Sambil tertawa licik Huan im sin ang buru baru menghibur gadis itu, ujarnya .

"Anak Leng yayamu telah meninggalkan kau disini, itu berarti dia telah mempercayai perkataan lohu, jangan kuatir, dia tak akan menggubris dirimu lagi, sekarang kita harus pulang .... selain itu, kitapun harus segera melakukan penyelidikan terhadap orang yang telah menyaru sebagai Thi Eng khi tersebut agar dia tahu sampai dimanakah kehebatan dari Ban seng kiong kita!"

Pek leng siancu So Bwe leng hanya merasakan pikiran dan perasaannya sangat kalut dia benar benar kehilangan pegangannya, dengan kepala tertunduk dan amat sedih, pelan pelan dia berjalan mengikuti dibelakang Huan im sin ang untuk meninggalkan bukit itu.

Sementara itu, Thi Eng khi yang buru buru ingin mencari jejak ibunya, terpaksa mengeraskan hati tanpa menyapa Tiang pek lojin, setelah membopong tubuh pemuda bermantel perak, secepat kilat dia meluncur ke bawah bukit.

Tiba dibawah bukit sana tampak Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sedang berputar kesana kemari didepan sana dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Mungkin dia sedang gelisah bercampur cemas karena tak berhasil menemukan jejaknya.

Maka sambil memperingan langkah kakinya, dia maju menyongsong kedatangannya sambil menegur .

"Engkoh tua, aku berada disini! Sungguh beruntung siaute telah berhasil mendapatkan orang bermantel perak itu, sayang dia terluka parah dan butuh pengobatan cepat. Apakah disekitar tempat ini ada tempat yang bisa dipakai untak mengobati lukanya?"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memandang sekejap ke arah pemuda tampan yang berada dalam bopongan Thi Eng khi, mukanya berkerut seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan......

Ternyata dalam sekilas pandangan saja dia telah melihat kalau orang bermantel perak itu adalah seorang perempuan.

Sebetulnya dia hendak memperingatkan Thi Eng khi, tapi entah mengapa akhirnya niat tersebut diurungkan .........

Katanya kemudian setelah termenung sebentar .

"Bila ingin mencari tempat untuk mengobati lukanya, mari ikutilah engkoh tua!"

Dia lantas membalikkan badan dan menelusuri sebuah jalan kecil, Thi Eng khi sambil membopong pemuda tampan itu segera mengikuti dibelakangnya.

Setelah berjalan sekian lama, sampailah mereka disebuah dusun kecil, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po ternyata tidak berhenti, dia langsung memasuki sebuah bangunan rumah yang tinggi besar didepan sana.....

MENYAKSIKAN kelakuan orang, Thi Eng khi merasa agak kebingungan bercampur bimbang, ia merasa dengan kedudukan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sesungguhnya bertolak belakang dengan bangunan rumah itu apalagi jika masuk tanpa permisi, hal itu sesungguhnya merupakan sesuatu yang kurang sopan.

Oleh karena itu, dia menjadi agak sangsi sehingga tanpa terasa menjadi berhenti.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memandang sekejap ke arah Thi Eng khi lalu tegurnya .

"Saudara cilik, apakah kau tidak percaya dengan engkoh tuamu?"

Merah padam selembar wajah Thi Eng khi sambil ikut melangkah masuk sahutnya .

"Aaaah, mana ....mana ......"

Baru saja Thi Eng khi masuk kedalam pintu, dari balik ruangan telah muncul seorang lelaki berusia pertengahan, sambil menyongsong kedatangan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po katanya seraya memberi hormat .

"Cu cianpwe sudah lama kau tak pernah berkunjung kemari, ayahku sudah amat merindukan dirimu...."

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh.... haaahhh... tanpa urusan aku si pengemis tua tak akan berkunjung ke ruang Sam poo thian. Keponakan Pek sian, kau juga tak usah banyak bicara lagi, aku ingin tanya, apakah kamar tamu kalian masih ada yang kosong?"

"Ada!"

Jawab lelaki setengah umur yang bernama Pek sian tersebut.

"locianpwe masih ada pesan lagi?"

"Asal ada kamar kosong kami dapat pergi kesana sendiri beritahu saja kepada ayahmu kalau aku si pengemis tua telah datang, suruh dia persiapkan hidangan dan arak yang paling lezat, sebentar aku hendak berbincang dengannya."

Sambil tertawa lelaki yang bernama Pek sian itu masuk keruang dalam, sedangkan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po juga membawa Thi Eng khi langsung menuju keruang tamu.

Kamar tamu itu diatur sangat rapi dengan dekorasi yang indah, membuat siapa pun akan mengetahui kalau tuan rumah gedung ini bukan seorang manusia sembarangan.

Thi Eng khi tak sempat memperhatikan dekorasi didalam ruangan itu lagi.

cepat dia membaringkan pemuda tampan itu keatas pembaringan, kemudian menghimpun ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kangnya, ia mulai mengobati luka yang diderita pemuda tampan tersebut.

Walaupun pemuda tampan itu hanya tersapu oleh pukulan Jit sat hian im ceng lek dari Huan im sin ang namun ilmu pukulan Jit sat hian Im ceng lek adalah sejenis pukulan yang beracun sekali, barang siapa terkena oleh pukulan itu, sekujur badannya akan kedinginan setengah mati, kelihayannya luar biasa sekali.

Waktu itu, semua nadi penting dalam tubuh pemuda tampan itu sudah membeku, mukanya hijau membesi dan sudah tak berwarna darah lagi.

Thi Eng khi membutuhkan waktu setengah pertanak nasi lamanya untuk menolong pemuda tampan itu sebelum paras mukanya menjadi merah kembali, kemudian setelah lewat setengah jam kemudian ia baru mendusin menghembuskan napas panjang dan bangun berduduk.

Sewaktu dia melihat jelas paras muka Thi Eng khi, paras mukanya tiba tiba berubah beberapa kali diantaranya terlintas pula perasaan diluar dugaan, kaget, gembira dan malu.

Entah mengapa ternyata dia tidak mengucapkan sepatah katapun ucapan terima kasih, begitu duduk, ia memejamkan matanya dan mengatur napas sendiri.

Thi Eng khi berpaling kebelakang, ia jumpai dalam ruangan tersebut selain hadir Si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dan lelaki yang bernama Pek sian tersebut, kini telah bertambah dengan seorang kakek berwajah merah yang berusia enam puluh tahunan.

Kakek bermuka merah itu mempunyai perawakan badan yang tinggi kekar, dia mengenakan jubah berwarna abu abu dan mempunyai suatu kewibawaan yang mengerikan.

Tatkala pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po melihat Thi Eng khi berpaling sebetulnya dia ingin bertanya dengan suara keras, tapi setelah dilihatnya pemuda tampan itu sedang duduk bersila, cepat cepat dia merendahkan suaranya dan menunjuk ke arah kakek bermuka merah itu sambil katanya .

"Saudara cilik, dia adalah seorang manusia aneh dari dunia persilatan yang dikenal oleh setiap persilatan didunia ini saat ini, Lim toa sianseng Lim Biau lim."

Buru buru Thi Eng khi menjura kepadanya seraya brkata .

"Aku Thi Eng kni menjumpai Lim toa sianseng!"

Lim toa sianseng Lim Biau lim dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau belati mengawasi wajah Thi Eng khi lekat lekat, mendadak tubahnya gemetar keras seperti merasa kaget bercampur tertegun, ternyata dia tahu bagaimana harus menjawab perkataan dari anak muda tersebut Sorot matanya yang tajam pelan pelan bergeser ke bawah tubuh Thi Eng khi, namun sewaktu menyaksikan pedang Thian liong kim kiam yang tersoren di pinggang anak muda itu, paras mukanya tampak semakin emosi.

Dengan cepat dia mundur selangkah ke belakang, lalu tanyanya dengan wajah serius .

"Tolong tanya apakah Thi sauhiap berasal dari perguruan Thian liong pay ?"

Paras muka Thi Eng khi turut berubah serius pula, sahutnya dengan nada bersungguh sungguh .

"Aku adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari perguruan Thian liong pay."

Selintas cahaya aneh terpancar keluar dari wajah Lim Biau lim, tiba tiba ia bertanya .

"Lantas siapakah ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay........ Seperti diketahui, Kay thian jiu (si tangau sakti pembuka langit) Gui Tin tiong menjabat sebagai ciangbunjin angkatan ke sepuluh setelah perguruan Thian liong pay ditutup. Itulah sebabnya banyak jago persilatan maupun anggota Thian liong pay yang tidak mengetahuinya. Dengan suara lantang Thi Eng khi segera menjawab .

"Ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay adalah mendiang guruku Gui Tin tiong!"

Mendadak sepasang mata Lim Biau lim berkaca kaca, namun air matanya tak sampai meleleh keluar, tanyanya lagi .

"Tolong tanya apa pula hubungan sauhiap dengan Keng thian giok cu (tonggak kemala penyanggah langit) Thi Keng?"

"Dia orang tua adalah kakekku!"

Waktu itu Lim Biau lim tak bisa menahan air matanya lagi, dengan air mata berlinang serunya kepada Lim pek sian .

"Pek sian, tak bakal salah lagi, cepat kita memberi hormat kepada ciangbunjin!"

Seraya berkata dia lantas memberi hormat seraya berseru .

"Murid angkatan kesepuluh Lim Biau lim bersama putra tecu pek sian menghunjuk hormat untuk ciangbunjin, selain mendoakan keselamatan buat ciangbunjin!"

Rupanya Kim pek sian sudah menaruh curiga semenjak menyaksikan dandanan dari Thi Eng khi dalam ruangan tadi maka ia segera masuk kedalam dan melaporkan kejadian ini kepada ayahnya.

Lim Biau lim tak berani bertindak gegabah, sebelum membuka rahasia sendiri terlebih dulu dia menyelidiki Thi Eng khi dengan beberapa hal, setelah terbukti kalau dugaannya tak salah, ia baru memberi hormat kepada ciangbunjinnya.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sudah berkenalan dengan Lim Biau lim semenjak lima belas tabun berselang, dia hanya tahu kalau Lim Toa sianseng adalah seorang pendekar sejati, tapi tak menyangka kalau dia adalah anggota perguruan Thian liong pay, tak heran kalau ia menjadi tertegun saking kaget dan herannya.

Thi Eng khi sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau Lim Biau lim adalah murid Thian liong pay, ketika menyaksikan dia menjatuhkan diri memberi hormat kepadanya, musti agak rikuh tapi sebagai seorang pemuda yang luar biasa, rasa rikuh tersebut dengan cepat dapat ditekan.

Kemudian dengan sikap yang amat tenang dan penuh kegembiraan dia menerima penghormatan kedua orang itu, kemudian dengan melancarkan sebuah tenaga tak berwujud dia bangunkan kedua orang itu seraya berkata .

"Dalam masa kesusahan semacam ini ternyata aku bisa bersua dengan kalian berdua, kejadian ini betul betul menggembirakan hati, harap kalian berdua bangkit berdiri dan tak perlu menjalankan penghormatan besar lagi!"

Menurut kebiasaan yang berlaku di dalam Thian liong pay, setiap murid partai yang pertama kali menjumpai ciangbunjinnya, maka diwajibkan melaksanakan tiga kali penyembahan.

Tapi sekarang Thi Eng khi hanya menerima sekali penyembahannya saja, ini boleh dibilang merupakan suatu perlakuan yang amat istimewa sekali.

Sambil mengucapkan banyak terima kasih Lim Biau lim bangkit berdiri, kemudian dengan air mata bercucuran dia berkata .

"Tecu dapat menyaksikan partai Thian lioag pay tegak kembali dalam dunia persilatan, sekalipun harus mati juga rela!"

Sewaktu Thi Eng khi menanyakan sumber dari Lim Biau Lim dalam perguruan Thian liong pay, baru diketahui bahwa ayah Lim Biau lim yang bernama Lim Cing ci adalah saudara seperguruan dari kakeknya, jadi kalau dihitung kembali usia Lim Biau lim sebenarnya jauh lebih tinggi daripada Kay thian jiu Gui Tin Tiong atau dengan perkataan lain dia adalah supeknya sendiri.

Sedang Lim Pek sian telah berusia tiga puluh tahunan, dia terhitung kakak seperguruan sendiri.

Maka terlepas dari kedudukannya sebagai seorang ciangbunjin sekali lagi dia memberi hormat kepada Lim Biau lim dan putranya dengan kedudukan sebagai keponakan murid dan adik seperguruan.

Sikap serta tindak tanduknya yang sederhana dan merendah ini semakin mengundang kekaguman hati Lim Biau lim berdua terhadap anak muda tersebut.

Menyusul kemudian Thi Eng khi pun menceritakan pengalamannya sampai berhasil mendapatkan kembali kitab putaka Thian liong pit kip, bahkan bersedia mewarislan beberapa macam kepandaian sakti kepada Lim Pek sian guna membangun kembali nama besar perguruan mereka.

Lim Biau lim yang mendengar perkataan itu menjadi girang sekali, bersama putranya dia segera mengucapkan banyak terima kasih tiada hentinya.

Dikala pembicaraan tersebut telah selesai, Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mencekal lengan Lim Biau lim sambil menegur .

"Saudara Biau lim rupanya kau adalah anggota Thian liong pay, sebelum ini aku si pengemis tua benar benar kena terkecoh, untuk menebus dosa hari ini kau pasti didenda tiga guci arak Pek hoa jian jit lok kepadaku!"

Lim Biau lim turut tertawa tergelak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... hari ini ciangbunjin telah berkunjung kemari hal mana merupakan suatu kebanggaan bagi perkampungan kami, jangan toh baru tiga guci arak Pek hoi jian jit lok, sekali pun hendak menghabiskan semua persediaanku, siaute juga tak akan merasa sayang."

Kemudian sambil menghela napas dan tertawa getir, dia melanjutkan .

"Aaai.... selama ini siaute terpaksa harus merahasiakan asal usulku yang sebenarnya hal ini disebabkan keadaan yang memaksa, harap loheng jangan marah!"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa tergelak.

"Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh ..... asal ada arak Pek hoa jin jit lok untuk diminum, biasanya aku si pengemis tua menjadi enggan untuk mengurusi soal lain, baiklah, kali ini aku boleh saja mengampuni dirimu....!"

"Hei engkoh tua,"

Goda Thi Eng khi tiba tiba.

"terus terang saja katakan kalau kau sedang memeras Lim supek, huuh.... kata kata raja sedap didengar, baik, anggap saja kau memang jauh lebih hebat setingkat daripada Siaute."

"Saudara cilik aku memeras arak dari anggota Thian liong pay kalian, apakah kau yang menjadi kekuatan merasa sakit hati? Haaaahhh.... haaahh...haaahhh.."

Sekali lagi pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa tergelak. Lim Biau lim pun ikut berseri seri, kepada Lim Pek sian segera perintahnya.

"Cepat perjamuan diruang tengah!"

Lim Pek sian mengiakan dan mengundurkan diri.

Pelan pelan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejad kearah pemuda tampan yang sedang bersemadi itu, lalu bisiknya kepada Thi Eng khi.

"Saudara cilik lukanya tidak parah bukan?"

"Tampaknya sudah tidak menguatirkan."

Baru selesai ucapan tersebut diutarakan mendadak pula tampan itu membuka matanya lebar lebar sambil bangkit berdiri kemudian sambil menjura ke arah Thi Eng khi katanya.

"Terima kasih banyak atas bantuan dari Thi ciangbunjin!"

"Aaaah... hanya bantuan sepele, harap saudara jangan memikirkannya dalam hati,"

Sahut Thi Eng khi tertawa. Pemuda tampan itu segera tersenyum dan tidak berbicara lagi. Tiba tiba si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa nyaring lalu katanya .

"Bila kalian masih ada persoalan, lebih baik dibicarakan nanti saja, yang penting sekarang adalah membuat perhitungan dulu dengan perut kita."

Thi Eng khi sangat menguatirkan keselamatan ibunya, sebetulnya dia bermaksud untuk langsung menanyakan tentang surat itu kepada pemuda tampan tadi.

Tapi setelah Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berkata demikian, diapun merasa tak enak untuk banyak berbicara lagi, terpaksa bersama semua orang menuju ke ruang belakang untuk bersantap.

Begitu masuk kedalam ruangan, si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera meneguk tiga cawan arak Pek hoa jian jit lok, setelah itu sambil menyeka mulutnya dia berseru tiada hentinya .

"Sungguh memuaskan! Sungguh memuaskan!"

Mendadak ia merasa rikuh sendiri maka katanya kemudian sambil mengangkat cawan .

"Mari kan pei, kan pei.... kita bersama sama mengeringkan secawan arak!"

Tapi sebelum orang lain memberikan reaksinya, tiga cawan arak sudah masuk kembali ke dalam perut. Akhirnya sambil memejamkan matanya dan menghembuskan napas panjang, dia berkata .

"Saudara cilik berdua......."

Belum habis dia berkata, Thi Eng khi telah menggoyangkan lengannya sambil berbisik .

"Sstt....... diatas atap rumah ada orang!"

Ketika semua orang memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama, betul juga lamban lamban terdengar suara ujung baju terhembus angin bergema dari atas rumah, menyusul kemudian tampak seorang kakek berusia lima puluh tahunan melayang turun ke depan ruangan.

Sambil bertolak pinggang, dia lantas berseru dengan suara lantang .

"Lim Biau lim, keluar kau! Lohu hendak berbicara denganmu."

Lim Biau lim menekan meja siap melompat keluar tapi pengemis sakti bermata harimau telah menyerobot kedepan, sambil melayang keluar halaman dia tertawa terbahak bahak "Haaahhh.....

haaahhh....haaahhh.....

rupanya Lak bin wangwee (hartawan berwajah enam) Tong Cu toan, saudara Tong, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, mari, mari, mari....

silahkan duduk, silahkan duduk!

Sebenarnya perselisihan apakah yang telah terjalin antara saudara Tong dengan saudara Lim?

Harap kau suka memandang diatas wajahku untuk berunding secara baik baik, apalah artinya saling hidup dan cekcok?"

Tatkala Thi Eng khi mendengar kalau orang yang datang adalah Lak bin wangwee, diapun akan tertegun, mendadak teringat olehnya akan perkataan Huan im sin ang yang pernah membicarakan tentang tiga belas Tay poo anak buahnya....

Dengan cepat pula dia lantas menduga kalau kedatangan Lak bin wangwee hari ini adalah atas suruhan dari Huan im sin ang, tanpa terasa sambil tertawa dingin ia duduk tak berkutik ditempat semula.

Tampaknya si Hartawan berwajah enam Tong Cu toan tidak menyangka kalau pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po juga hadir disitu, mula mula dia agak tertegun kemudian sambil menarik muka katanya .

"Apa yang terjadi hari ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Cu pangcu, harap kau menyingkir ke sana, biar Lim Biau lim yang datang menjawab pertanyaanku!"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sampai menampilkan dirinya tadi lantaran ia merasa punya hubungan baik dengan Lak bin wangwee Tong Cu toan, siapa sangka Tong Cu toan tidak memberi muka kepadanya, malah mendampratnya dihadapan umum, hal mana kontan saja membangkitkan hawa amarahnya.

Sambil mencak mencak kegusaran dia berseru .

"Orang she Tong, ada urusan apa sih kau datang kemari? katakan saja kepada aku si pengemis tua!"

Ternyata sikap Lak bin wangwee Tong Cu toan semakin tidak bersahabat, sambil tertawa dingin ia berseru pula .

"Orang she Cu, lebih baik kau jangan tak tahu diri. Hmm.... bila berkeras kepala terus, jangan salahkan kalau lohu tak akan mengingat lagi hubungan kita dimasa lalu!"

Sepasang mata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan poo sudah melotot besar bagaikan gundu, sambil menyilangkan telapak tangannya dia berteriak .

"Tong Cu toan ........"

Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, Lim Biau lim telah menarik tangannya sambil berkata .

"Cu pangcu, lebih baik kembalilah kemeja perjamuan untuk minum arak, lohu ingin saksikan sahabat Tong yang makan beras mentah ini hendak berbuat apa kepadaku!"

Tanpa banyak berbicara lagi dia segera mendorong pengemis tua itu masuk kedalam ruangan, setelah itu dia baru membalikkan tubuhnya dan berkata kepada Lak Bin wangwee Tong Cu toan .

"Lohu adalah Lim Biau lim! Nah, sahabat Tong, ada persoalan apa kau datang mencariku?"

Lak Bin wangwpe Tong Cu toan segera mendengus dingin.

"Hmm.... ! Lohu ingin bertanya kepadamu, apakah kau anggota Thian liong pay?"

"Benar, lohu adalah anggota Thian liong pay, darimana kau bisa tahu ....."

Belum habis dia berkata, mendadak Lak Bin wangwee Tong Cu toan mengayunkan sepasang tangannya kedepan.

Beratus ratus titik cahaya emas dengan cepat menyelimuti angkasa dan menyambar kearah kakek tersebut.

"Heehh.... heehh..... heehh.... bedabah dari Thian liong pay rasakan kelihayan Bu wi kim wong (Cahaya emas tanpa ekor) milik lohu ini .....!"

Serunya sambil menyeringai seram.

Begitu bertemu lantas turun tangan, tindakan yang dilakukan oleh Lak bin wangwee Tong Cu toan ini benar benar keji sekali, siapapun tak menyangka sampai kesitu.

Lim Biau lim sendiripun sama sekali tak menyangka sampai kesitu, menyaksikan datangnya ancaman tersebut, dia menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menghindarkan diri.

"Aduh celaka,"

Pekiknya, dia segera memejamkan matanya menunggu saat ajalnya tiba. Untung saja pada saat itulah bentakan nyaring berkumandang dari belakang tubuhnya .

"Manusia laknat, kau berani bertingkah di sini!"

Cahaya emas berkelebat lewat, tahu tahu senjata rahasia cahaya emas tanpa ekor yang digunakan oleh Lak bin wangwee Tong Cu toan tersebut telah lenyap tak berbekas.

Dengan jubah yang berkibar terhembus angin, Thi Eng khi telah berdiri didepan Lim Biau lim, dengan kening berkerut dia awasi wajah Lak bin wangwee Tong Cu toan lekat lekat, kemudian ujarnya kepada kakek she Lim tersebut .

"Lim supek, harap mundur, serahkan urusan ini kepadaku!"

Pada mulanya Lim Biau lim menyangka akan ilmu silat yang dimiliki ciangbunjin mudanya ini tidak terlalu hebat, sekalipun bakat pemuda itu sangat baik, dalam perkiraannya walaupun seluruh kepandaian silat yang tercantum dalam kilab Thian liong pit kip telah dikuasahi, dengan batas usianya yang masih muda, mustahil tenaga dalamnya bisa dilatih sampai ke tingkat kesempurnaan.

Tapi setelah menyaksikan gerakan pedang yang dilakukan Thi Eng khi sekarang ternyata penuh disertai pancaran tenaga dalam, bahkan jarum beracun Bu wi kiam wong yang dipancarkan oleh Lak bin wangwee Tong Cu toan berhasil dihisap oleh pedang tersebut, dengan cepat dia sadar bahwa tenaga dalam yang dimiliki ketua mudanya ini sudah mencapai ke tingkatan yang luar biasa.

Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun, kejut, girang dan tercengang, dengan emosi meluap dia mengundurkan dirinya kesamping.

Dalam pada itu, Thi Eng khi telah berkata kepada Lak bin wangwee Tong Cu toan dengan wajah serius .

"Sebenarnya ikatan dendam atau sakit hati apakah yang telah terjalin antara anak murid Thian liong pay dengan Tong tayhiap sehingga Tong tayhiap tak segan segan menggunakan cara menyergap yang licik dan tak tahu malu itu untuk mencelakai orang?"

Perlu diketahui, keluarga Tong yang dari propinsi Szuchuan ini termashur dalam dunia persilatan karena senjata rahasia beracunnya, sedang merekapun tidak menggabungkan diri dengan pihak perguruan sesat atau aliran hitam, maka sesungguhnya perguruan keluarga Tong boleh dibilang berdiri pada posisi yang benar.

Bahkan ada pula yang menilai perguruan mereka sebagai suatu perguruan kaum lurus sebab dalam perguruan itu berlaku suatu peraturan yang keras dan ketat, yakni .

Setiap anggota perguruan yang hendak menggunakan senjata rahasia, maka mereka harus menggunakan secara jujur dan terbuka, kemenangan hanya boleh diraih dengan cara yang jujur, sedang cara menyergap atau main curang sama sekali tak diperkenankan.

Lak bin wangwee Tong Cu toan merupakan adik dari ketua perguruan keluarga Tong sekarang yaitu Tan ci hui seng (sentilan jari bintang melayang) Tong Cu keng dalam perguruan keluarga Tong mempunyai kedudukan yang terhormat sekali, tak nyana dia telah melakukan sergapan yang amat memalukan, bila kejadian ini sampai tersiar di tempat luaran tak bisa disangkal lagi hal mana pasti akan menodai nama baiknya maupun nama perguruannya.

Dari malu si hartawan berwajah enam Tong Cu toan menjadi naik pitam, katanya setelah tertawa dingin .

"Lohu bermaksud untuk membunuh segenap anggota Thian liong pay, mau apa kau?"

Sambil berkata, tangan kirinya segera merogoh kedalam saku dan mengeluarkan dua biji bola bulat yang kecil, sementara tangan kanannya mencabut keluar sebilah tombak perak yang berdua sisi.

Kemudian sambil berdiri tegak, ia bersiap siap melancarkan serangan lagi.

Thi Eng khi segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.... haaaahh.... haaahhh.... aku adalah ciangbunjin angkatan ke sebelas dari Thian liong pay, coba katakan, apakah aku berhak mengurusi atau tidak?"

Mendengar pertanyaan itu, si Hartawan berwajah enam Tong Cu toan agak tertegun kemudian sambil menyeringai seram dia berseru .

"Bagus sekali, jadi kau adalah Thi Eng khi si bangsat muda itu, lohu benar benar lagi mujur tampaknya."

Selesai berkata tangan kirinya segera diayunkan kedepan melepaskau dua titik cahaya hitam, yang satu menyerang Thi Eng khi sementara yang lain menyerang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sekalian.

Baru saja Thi Eng khi hendak menyambutnya dengan babatan pedang, tiba tiba terdengar pemuda tampan yang berada dalam ruangan itu berseru dengan suara lantang .

"Im yang siang cu (sepasang mutiara Im yang) dari keluarga Tong tak boleh disentuh dengan kekerasan! Saudara Thi, cepat kau gunakan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang dari perguruan untuk menciptakan dinding dengan hawa khikangmu, kemudian pentalkan balik benda itu sejauh jauhnya!"

Tenaga dalam Thi Eng khi telah mencapai tingkatan dimana bisa digunakan sekehendak hati sendiri, begitu peringatan tersebut diterima, hawa sinkang segera dikerahkan keluar untuk menyambut datangnya ancaman.

Segera tampaklah mutiara hawa im yang memancar kearahnya itu terhenti ditengah jalan dan melayang layang ditengah udara.

Hartawan berwajah enam Tong Cu toan tertawa dingin, tangan kirinya segera diayunkan kedepan, setitik cahaya tajam langsung meluncur kedepan dan menghantam bulatan bola itu.

Walaupun Thi Eng khi tidak tahu sampai dimanakah kelihayan dari mutiara Im cu tersebut namun dilihat dari keadaan yang terbentang didepan mata ia tahu kalau tindakan yang dilakukan Lak bin wangwee Tong Cu toan sekarang adalah menghancurkan mutiara Im cu tersebut.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau didalam Im cu tersebut pasti tersimpan suatu benda mematikan yang amat berbahaya.

Cepat cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya semakin besar dan memaksa butiran mutiara Im cu itu sehingga terpental balik ke arah Hartawan berwajah enam.

Pada saat yang bersamaan, butiran Yang cu yang disambit ke dalam ruangan itu telah disambut oleh pemuda tampan itu dengan sambaran angkin putihnya.

Diantara gulungan angkin putih itu, Yang cu tadi kena digulung dan kemudian dilemparkan kembali ke arah pemiliknya.

Walaupun panjang untuk dikisahkan, sesungguhnya waktu yang berlangsung hampir bersamaan waktunya, sehingga pada saat yang hampir bersamaan mutiara Im cu yang dilempar kembali oleh Thi Eng khi dan mutiara Yang cu yang disambit oleh pemuda tampan itu bersama sama tiba dihadapan Lak bin wangwee Tong Cu toan pada saat yang berbarengan.

Tak terlukiskan rasa kaget Lak bin wang wee Tong Cu toan menghadapi ancaman tersebut, buru buru dia melompat ke belakang berusaha untuk menghindarkan diri, sayang keadaan sudah terlambat.

Pada saat yang bersamaan Im yang siang cu telah menimbulkan suatu ledakan keras ditengah udara, kemudian muncullah segulung asap hijau yang segera mengurung sekujur badan Hartawan berwajah enam Tong Cu toan.

Mengetahui kalau tak sempat untuk mengelakkan diri dari ancaman bahaya, Lak bin wangwee Tong Cu toan segera merogoh kedalam sakunya dan mengambil keluar sebutir pil yang segera dijejalkan kedalam mulutnya, kemudian sepasang ujung bajunya disilangkan diatas untuk melindungi dada, sementara badahnya berbongkok kebawah melingkar menjadi satu.

Sekalipun demikian, kedua gulung asap hijau itu sempat pula menembusi celah celah tubuhnya dan menyerang wajah serta tangannya.

Tak ampun lagi dia menjerit keras karena kesakitan, seluruh tubuhnya gemetaran keras, begitu badannya terkapar ditanah badannya semakin banyak yang terkena racun hijau itu.

Pada saat itulah, si pemuda tampan tadi telah berseru kembali .

"Im yang siang cu dari keluarga Tong terkenal karena kabut beracunnya yang bisa menghancurkan tulang, harap kalian mengerahkan tenaga dalam untuk melancarkan pukulan keempat penjuru, dan memaksa kabut beracun itu melambung ke atas udara, kalau tidak, hal ini akan membahayakan bagi kita semua...."

Buru buru Thi Eng khi mengerahkan tenaga dalamnya dan melepaskan pukulan untuk membuyarkan kabut hijau tadi.

Ketika mereka berpaling lagi ke arah Lak bin wangwee Tong Cu toan, tampaklah wajah orang itu sudah merekah tak wujud bentuknya lagi, selain menyeramkan juga berbau busuk.

Masih untung dia buru buru menelan pil anti racun sehingga cuma kulit luarnya saja yang terluka, kalau tidak, niscaya badannya sudah hancur menjadi segumpal air dan darah, tentu saja dalam keadaan seperti itu, jangan harap jiwanya bisa tertolong lagi.

Menyaksikan raut wajahnya yang mengerikan itu, tanpa terasa semua orang merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, diam diam mereka berpekik didalam hati .

"Sungguh berbahaya!"

Coba kalau disana tak hadir pemuda tampan itu, niscaya semua orang tak akan lolos dari serangan maut dari Lak bin wangwee Tong Cu toan tersebut.

Sebagai ketua dari Kay pang, Pengemls sakti bermata harimau Cu Goan po memiliki pengetahuan maupun pengalaman yang luas sekali, akan tetapi dia tidak tahu kalau diantara senjata rahasia beracun yang dimiliki keluarga Tong dari Szuchuan, masih terdapat semacam benda yang disebut lm yang siang cu, maka sedikit banyak dia merasa kagum sekali atas luasnya pengetahuan yang dimiliki pemuda tampan itu.

Tanpa disadari ia lantas menepuk bahu pemuda tampan itu tanda kagum, dengan wajah memerah buru buru pemuda itu berkelit ke samping.

Sebenarnya sejak semula si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sudah tahu kalau pemuda tampan itu sebenarnya adalah seorang gadis, ketika mengetahui kalau ia telah berubah sifat, buru buru dia mundur ke belakang dengan wajah memerah pula.

Sementara itu Lak bin wangwee Tong Cu toan yang terkapar di tanah sudah sadar kembali dari pingsannya, buru buru dia mengeluarkan bubuk obat dan dipoleskan diatas mulut lukanya, setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu dari sana.

Tentu saja Si pengemis sakti bermata harimau tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, sambil membentak keras dia menerjang kemuka, lalu sambil menuding ke wajah orang yang sudah tak karuan bentuknya itu dia memaki .

"Tong Cu toan, hari ini aku si pengemis tua baru benar benar mengenali dirimu, hayo jawab, kenapa kau begitu lega melancarkan serangan sedemikian kejinya kepada kami?"

Lantaran wajahnya sudah hangus dan mengelupas semua kulit wajahnya, maka tidak diketahui bagaimanakah perubahan wajahnya setelah mendengar dampratan dari pengemis tua itu tapi yang jelas dibibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya ia urungkan niatnya itu dan menundukkan kepalanya rendah rendah.

Melihat hartawan berwajah enam Tong Cu toan hanya membungkam diri belaka, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menjadi semakin marah, sambil mendengus dingin, kembali katanya .

"Tong CU toan, bila kau tidak memberi keterangan kepadaku jangan salahkan jika aku si pengemis akan menghajar dirimu pada hari ini!"

Tiba tiba Thi Eng khi tertawa nyaring, sambil menarik tangan pengemis sakti Cu Goan po katanya .

"Engkoh tua, biarkan saja dia pergi!"

Kemudian sambil menarik kembali senyumannya, dia berpaling kearah Lak bin wangwee Tong Cu toan seraya berkata .

"Sekalipun kau tidak berbicara. Aku juga tahu, bukankah kau adalah salah seorang dari Cap sah tay poo (tiga belas orang pangeran) yang dibentuk oleh Huan im sin ang? Hmm, setelah pulang nanti katakan ke Huan im sin ang, aku akan menjadi musuh bebuyutannya mulai saat ini!"

Tatkala rahasia pribadinya dibongkar oleh pemuda itu, Hartawan berwajah enam Tong Cu toan menjadi semakin ketakutan, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia membalikkan badan dan mengambil langkah seribu.

Mengawasi bayangan tubuh Tong Cu toan yang kabur, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghela napas panjang, katanya .

"Aai... sebetulnya Tong Cu toan bukan manusia jahat, heran kenapa ia bisa berubah pikiran dan watak sehingga menjadi begini buas dan kejamnya?"

Menyusul kemudian ujarnya pula kepada Thi Eng khi .

"Saudara cilik siapa sih Cap sah tay poo yang kau maksudkan tadi? Apakah mereka adalah anak buah Huan im sin ang?"

Secara ringkas Thi Eng khi segera menceriterakan pertemuannya dengan Huan im sin ang diluar perbatasan.

Ketika menyebutkan nama nama dari Cap sah tay poo tersebut, untuk menghindari rasa sedih dari pengemis sakti bermata harimau sengaja dia merahasiakan nama dari To kak thi koay (toya baja kaki tunggal) yang berasal dari Kay pang ini.

Semua orang hanya mendengarkan hal itu sambil lalu, maka siapapun tidak menaruh perhatian secara khusus.

Ketika si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po selesai mendengar nama nama yang disebutkan, dengan perasaan terkesiap dia menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya .

"Saudara cilik, apakah kau tidak salah ingat nama nama tersebut...?"

"Sedikitpun tidak salah?"

Jawab pemuda itu tegas. Tanya terasa pengemis sakil bermata harimau Cu Goan po menghela napas panjang katanya .

"Orang orang yang tergabung didalam Cap sah tay poo tersebut rata rata adalah jagoan yang termashur dan punya kedudukan dalam pelbagai aliran perguruan, dari sini dapat diketahui kalau rencana Huan im sin ang untuk mencelakai dunia persilatan bukan disusun dalam sehari belaka , kejadian ini benar-benar menakutkan sekali."

Menyusul kemudian ia berkata lagi .

"Kini situasi dalam dunia persilatan sudah mencapai taraf yang berbahaya sekali.. dalam keadaan seperti ini umat persilatan yang berada dalam dunia persilatan tak boleh saling gontok gontokan lagi. Bagaimanapun juga saudara cilik harus berusaha untuk menghadapi pertemuan Lun li tayhwee yang diselenggarakan So cianpwe dari luar perbatasan dengan pihak Siau lim serta Bu tong pay, sebab salah paham ini terjadi karena saudara cilik, itulah sebabnya hanya saudara cilik seorang yang dapat menyelesaikan masalah ini."

"Sampai saatnya, siaute pasti akan menghadiri pertemuan itu, sekarang siaute harus menyelidiki dulu jejak ibuku, maka harap engkoh tua suka menjelaskan dulu keadaan yang sebenarnya kepada pihak Siau lim pay dan Bu tong pay, kemudian sampaikan pula kepada So yaya akan kemunculan siaute dan alasan mengapa sampai tidak menjumpai dirinya."

Pengemis sakti bermata harimau manggut manggut, setelah memandang sekejap ke arah pemuda tampan itu, dia segera berpamitan untuk mohon diri.

Memandang hingga pengemis itu lenyap dari pandangan mata Thi Eng khi baru berpaling dan bermaksud untuk menanyakan tentang surat dari ibunya itu kepada sang pemuda tampan tersebut.

Siapa tahu sebelum dia buka suara, pemuda tampan itu sudah berkata lebih dulu sambil tertawa .

"Tolong tanya apakah siaute dapat membantu pula diri Thi heng untuk melakukan sesuatu?"

Dari dalam sakunya Thi Eng khi segera mengeluarkan Giok bei yang diperolehnya dari Sau tee si bun Lu Put Ji, kemudian sambil diangsurkan ke hadapan pemuda tampan itu katanya .

"Apakah kau kenal dengan benda ini?"

"Giok bei itu memang milik siaute, sekarang kalau toh sudah berada ditangan saudara Thi, harap saudara Thi simpan saja baik baik, anggap saja sebagai kenang kenangan dariku."

Tentu saja Thi Eng khi tak berani menerima pemberian yang sangat berharga itu, dia bersikeras minta pemuda tampan itu untuk menerimanya kembali, setelah saling mendorong akhimya pemuda tampan itu berseru dengan wajah marah .

"Kalau memang saudara Thi begitu memandang asing diriku, biar siaute segera mohon diri!"

Sambil menerima kembali giok bei itu, dia lantas melangkah keluar dari ruangan itu.

Dalam keadaan begini, Thi Eng khi tak sempat mengucapkan sesuatu kepada Lim Biau lim lagi, dengan cepat dia mengejar dari belakangnya.

Dengan mengerahkan segenap tenaga dalamnya, Thi Eng khi harus mengejar sejauh puluhan kaki sebelum berhasil menyusulnya.

Terpaksa sambil tebalkan muka dia menjura kepada pemuda tampan itu, katanya .

"Kalau memang saudara bersikeras untuk menghadiahkan benda itu kepadaku, baiklah siaute terima saja."

Pemuda tampan itu segera tersenyum, senyuman itu bagaikan aneka bunga yang sedang mekar, indah menawan hati.

"Terima kasih banyak atas kesediaan saudara Thi,"

Katanya kemudian, dengan cepat dia angsurkan giok bei itu ke tangannya. Setelah menerima giok bei itu, Thi Eng khi baru berkata sambil tertawa .

"Saudara adalah naganya manusia, siaute kuatir tak pantas untuk menjadi temanmu!"

Pemuda tampan itu memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, kemudian tanyanya .

"Tolong tanya, tahun ini saudara Thi berusia berapa?"

"Tahun ini siaute berusia sembilan belas tahun lebih delapan bulan."

Sambil tertawa pemuda tampan itu berkata.

"Hari ini usiaku tepat mencapai dua puluh tahun, kalau dihitung aku lebih tua tiga bulan dibandingkan dengan dirimu."

Terpaksa Thi Eng khi harus memberi hormat seraya berkata .

"Siaute menjumpai toako?"

Pemuda tampan itu mengalihkan sorot matanya kewajah Thi Eng khi setelah itu sambil menghela napas katanya .

"Saudara, apakah kau merasa keberatan untuk menyebutku dengan panggilan itu?"

"Setiap kataku ibarat gunung karang, mengapa toako berkata demikian..."

Ucap Thi Eng khi dengan kening berkerut. Pemuda tampan itu segera tertawa tukasnya lagi.

"Kalau memang hiante bersungguh hati untuk mengikat persaudaraan denganku, masa kau tak sudi menanyakan namaku?"

Merah padam selembar wajah Thi Eng khi karena jengah, agak tergagap dia berseru .

"Toako, terus terang saja kukatakan, berhubung dalam hati siaute sedang diliputi oleh suatu persoalan yang mencurigakan hatiku, maka pikiran dan perasaanku menjadi kalut tak karuan bila aku sampai lupa menanyakan nama toako, harap kau sudi memaafkan."

Pemuda tampan itu menghela napas sedih ujarnya .

"Padahal sekalipun kau tidak lupa bertanya ih heng juga tak akan memberitahukan kepadamu!"

Setelah berhenti sejenak, dia balik bertanya .

"Saudaraku, bersediakah kau untuk berkenalan dengan seorang toako yang merahasiakan nama sendiri?"

Thi Eng khi segera merasakan bahwa tindak tanduk pemuda tampan itu sangat aneh sekali membuat orarg sukar untuk merabanya dengan pasti tapi sikap tersebut tidak menghilangkan sifat kejujuran dan kelurusan hatinya, terutama sekali dia memang sedang membutuhkan sesuatu terhadap orang itu maka dengan cepat sahutnya .

"Setelah kita mengikat diri sebagai saudara, sekalipun kau mempunyai kesulitan untuk merahasiakan sesuatu, hal inipun bisa dimaklumi, kenapa aku musti menampik?"

Tiba tiba pemuda tampan itu mengulurkan tangannya kedepan kemudian ujarnya .

"Barusan ih heng telah menghadiahkan sebuah giok bei sebagai kenangan untukmu apakah hiante juga punya sesuatu barang yang akan diberikan kepadaku sebagai kenangan?"

Thi Eng khi mencoba untuk merogoh ke dalam sakunya dan mencari sesuatu benda yang rahasia pantas untuk diberikan kepada pemuda itu, tapi kemudian terbukti kalau dia tak punya apa apa, terpaksa sambil tertawa malu katanya .

"Siaute tidak mempunyai apa apa, bagaimana baiknya?"

Pemuda itu segera menunjuk ke arah pita pedang yang berada diujung gagang pedang Thian liong Kim kiam tersebut lalu katanya .

"lh heng suka sekali dengan pita pedang itu!"

Thi Eng khi mengerutkan dahinya rapat-rapat, tapi dilepas juga pita pedang itu dan diserahkan ketangan pemuda tampan itu.

Setelah menerima pita pedang tadi, pemuda tampan tersebut baru tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh.... haaahh... saudaraku, bila kau hendak mengajukan suatu pertanyaan, sekarang boleh kau ajukan kepadaku!"

Thi Eng khi menghembus napas lega, katanya kemudian .

"Bukankah toako penuh membeli secarik kertas dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji?"

Pemuda tampan ini mengangguk.

"Benar, suara itu adalah tulisan dari Pek bo yang ditujukan buat hiante, oleh karena ih heng kuatir benda itu terjatuh ke tangan orang, maka aku telah membelinya dengan harga tinggi dan selanjutnya kubakar sampai habis."

Thi Eng khi menjadi terkejut sekali, serunya dengan gelisah .

"Apakah toako masih ingat dengan isi tulisan tersebut?"

"Tentu saja masih ingat, tapi Thi hiante tak dapat memberitahukan kepadamu!"

Dengan gelisah Thi Eng khi segera menjura berulang kali, lalu sambil bermuram durja katanya .

"Harap toako jangan menyulitkan siaute, katakanlah berterus terang kepadaku."

Tapi pemuda tampan itu tetap menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Saudaraku, bukannya ih heng enggan memberitahukan hal ini kepadamu, adalah disebabkaa pek bo telah menambahkan beberapa patah kata diantara kertas tadi sehingga aku tak bisa memberitahukannya kepadamu."

"Tulisan apakah yang ditambahkan ibuku diatas kertas itu?"

Tanya Thi Eng khi gelisah.

"Garis besarnya dia bilang seandainya kertas itu bukan diperoleh hiante sendiri melainkan terjatuh ditangan seorang kuncu sejati maka diminta kertas tersebut dibakar sampai habis dan merahasiakan isi surat tersebut. Nah, saudaraku, coba kau bilang apakah in heng tak boleh menjadi seorang kuncu sejati?"

Sekalipun dalam surat itu dicantumkan tulisan tersebut tapi Thi Eng khi adalah putra Yap Siu ling yang membuat surat itu.

Seharusnya dia tidak termasuk dalam hitungan akan tetapi pemuda tampan itu telah berkata demikian, sudah barang tentu Thi Eng khi tak bisa berbuat apa apa lagi.

Terpaksa sambil menghela napas panjang katanya .

"Tentang soal ini... tentang soal ini......... bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya?"

Tiba tiba pemuda tampan itu tertawa manis, ujarnya .

"Ih heng masih mempunyai suatu cara untuk menolong keadaan tersebut."

"Sungguh?"

Thi Eng khi segera merasakan semangatnya berkobar kembali.

"Walaupun didalam surat itu dicantumkan agar menutup mulut rapat rapat merahasiakan isi surat itu, namun sama sekali tidak dicantumkan kalau orang yang menerima surat ini tak boleh pergi mencari mereka, kini kita sudah bersaudara asal hiante turut serta disamping Ih heng ke mana Ih heng pergi, bukankah apa kau inginkan bisa terpenuhi segera?"

Sebetulnya kata kata semacam ini lebih tak pakai aturan lagi, rupanya ia sengaja berbuat kesemuanya itu tak lain hanya ingin berada bersama sama dengan Thi Eng khi selama berapa waktu.

Thi Eng khi ingin cepat cepat menemui ibunya, diapun tidak banyak berbicara lagi, dengan girang serunya .

"Toako, Kau baik sekali, siaute ucapkan terima kasih dahulu..."

Sampai disini, tentunya pembaca sekalian dapat menduga bukan siapa gerangan pemuda tampan ini?

Dia memang tak lain adalah Ciu Tin tin, putri dari Gin san kiam kek Ciu Cu giok yang pernah dijumpainya dipuncak Bong soat hong bukit Wusan pada setahun berselang.

Dia telah salah menyangka ayah Thi Eng khi yang telah menjadi pendeta, Lan Ih cu tok Thi Tiong giok sebagai ayahnya sendiri, dengan tekad untuk menebus dosa ayahnya, dia telah mencurahkan segenap semangat dan pikirannya untuk melindungi Thian liong pay, disamping itu lantaran ia mengagumi kegagahan Thi Eng khi, secara diam diam ia telah berencana untuk menyerahkan tubuhnya kepada pemuda itu.

Dalam setahun ini, dia telah berhasil menyelidiki banyak sekali rahasia dunia persilatan, juga secara diam diam telah melakukan banyak pekerjaan untuk Thian liong pay.

Diantara sekian banyak usaha yang dilakukannya, antara lain adalah usahanya untuk menggagalkan rencana Huan im sin ang untuk menghasut Tiang pek lojin dan menariknya untuk membantu pihak iblis tersebut.

Orang bilang siapa punya hati yang mulia dia akan memperoleh pembalasan yang setimpal, walaupun dalam tugasnya itu hampir saja jiwanya melayang tapi diluar dugaan iapun berhasil bertemu kembali dengan Thi Eng khi.

Sejak diobati lukanya oleh Thi Eng khi setelah berpisah sekian lama, rasa cintanya kepada pemuda itu makin membara, dia telah bertekad untuk mengikuti terus disamping pemuda pujaan hatinya ini.

Sebagai gadis yang cerdik, diapun memahami kemungkinan kemungkinan yang akan menjadi rintangan dalam usaha menggalang cinta kasih dengan pemuda itu.

Karenanya dia segera menggunakan kecerdasan otaknya untuk mengajak Thi Eng khi angkat saudara, kemudian saling tertukar barang kenangan, hal mana akan menjalinkan hubungan yang lebih akrab lagi diantara mereka berdua.

Kemudian diapun menggunakan alasan isi surat yang diperolehnya untuk menciptakan suatu kesempatan untuk melakukan perjalanan bersama dengan pemuda pujaan hatinya.

Setelah segala sesuatunya berlangsung dengan lancar, dia baru membawa Thi Eng khi untuk pergi mencari ibunya.

Sepanjang jalan menuju kearah timur, dia selalu berusaha untuk memilih jalan yang lebih jauh, sehingga perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam tiga hari telah mereka tempuh selama dua puluh hari lebih.

Betul juga, dalam dua puluh hari yang amat lama ini, hubungan antara "kakak"

Dan adik ini terjalin akrab sekali, bahkan boleh dibilang sudah mencapai keadaan yang tak bisa dipisahkan lagi.

Thi Eng khi merasa 'toakonya' ini mempunyi pengetahuan serta kecerdasan yang luar biasa, sifatnya lembut dan cara kerjanya amat cermat sehingga hubungannya dengan sang "toako' inipun terasa akrab sekali.

Hari itu mereka telah tiba di Kang-im.

Kang im merupakan sebuah kota yang terletak ditepi sungai, selain merupakan pusat perdagangan juga merupakan bandar yang penting artinya bagi daerah sepanjang sungai Tiang kang.

Jilid 12 SETELAH bersantap malam, menelusuri cahaya matahari senja, mereka berjalan ditepi sungai sambil menikmati keindahan alam.

Jalan punya jalan, tiba tiba Thi Eng khi berkerut kening dan menghela napas tiada hentinya, Ciu Tin tin mengerti apa yang menjadi beban pikiran Thi Eng khi, maka dengan lembut, katanya .

"Adik Eng, lagi lagi kau tak senang hati?"

Thi Eng khi tidak berbicara apa apa, dia hanya tersenyum belaka. Tiba tiba Ciu Tin tin berkata lagi .

"Adik Eng, sekarang Ih heng hendak memberitahukan suatu kabar gembira kepadamu, besok kita sudah akan mencapai ditempat tujuan."

"Sungguhkah itu?"

Jerit Thi Eng khi dengan gembiranya.

"Kapan sih toakomu pernah membohongi dirimu?"

Jawab Ciu Tin tin sambil tersenyum. Thi Eng khi segera menggenggam tangan Ciu Tin tin dan berseru . ''Oooh toako.... toako .... aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu?"

Agak merah sepasang mata Ciu Tin tin, ujarnya kemudian .

"Asal kau tidak merasa muak atau bosan kepada toako, toako sudah merasa puas sekali."

Tentu saja Thi Eng khi tak akan mengerti akan rasa cinta Ciu Tin tin kepadanya, melihat sepasang matanya menjadi merah, dengan perasaan tak tenang ia berseru .

"Toako, kau.... kau...."

Ciu Tin tin segera memaksakan diri un tuk tertawa, tukasnya.

"Aku tidak apa apa, cuma mataku kemasukan debu saja...."

Pada saat itulah, dari depan sana muncul seorang lelaki kekar, ketika berpapasan muka kebetulan Ciu Tin tin mendongakkan kepalanya dan menengok sekejap ke arahnya.

Mendadak dengan paras muka berubah hebat, dia menjerit tertahan.

Thi Eng khi tak tahu apa yang telah terjadi, dengan perasaan kuatir dan ingin tahu dia lantas menegur .

''Toako kenapa kau?"

Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 5

Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert