Eps 5 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.
"Kukira hasil usaha yang didapat Kiang Hong tempo hari pasti tidak sedikit, makanya beberapa tokoh terkemuka ini pun perlu datang ke sini,"
Ucap Ciu Hong dengan tersenyum. Ketika itu terdengar Ban-lohujin sedang berkata pula.
"Dalam pertempuran di Lian-hun-ceng banyak tokoh serupa Tay-lik-sin-ciu dan Jit-jiu-tay-seng juga melayang jiwanya, tapi kalian berempat tahan hidup sampai sekarang, sungguh tidak kecil rezeki kalian. Tapi setelah kalian menyaksikan pertempuran dahsyat di lautan itu, seharusnya kalian pulang dan tirakat saja agar kekuatan dunia persilatan Tionggoan tidak sampai habis ludes, mengapa sekarang kalian muncul lagi di sini? Sungguh nenek merasa tidak mengerti."
Rupanya Song Kong berempat sudah gemblengan dan tambah sabar setelah mengalami berbagai pertempuran besar, maka apa yang dikatakan Ban-lohujin sekarang tidak membuat mereka marah.
Dengan tak acuh Thi Un-hou lantas berkata.
"Silakan memberi petunjuk!"
Ban-lohujin menggeleng kepala, ucapnya.
"Umpama kalian hendak berkelahi denganku kan juga tidak perlu terburu-buru, betapa pun hendaknya bicara dulu menurut aturan ...."
"Silakan bicara!"
Jengek pula Thi Un-hou.
Keempat orang itu tidak suka putar lidah, tidak mau banyak omong percuma.
Diam-diam Po-ji memuji sikap mereka itu, cara demikianlah sikap seorang jagoan sejati, kalau jelas harus berkelahi, untuk apa banyak cincong.
Namun Ban-lohujin justru masih omong lagi, sembari makan manisan ia berkata.
"Rupanya kalian berempat mengira nenek dapat diganggu dengan begitu saja, dan ingin main kerubut?"
Thi Un-hou angkat kedua tombaknya ke atas, gemerdep cahaya tombak, ucapnya bengis.
"Satu lawan satu, silakan!"
"Ai, orang muda, gagah dan kuat, tapi justru mengganggu seorang nenek, tidak tahu malu ...."
Sembari mengomel, mendadak tongkat Ban-lohujin menonjok ke depan, berbareng ia bergumam pula.
"Baiklah kulayanimu, jika kewalahan hendaknya segera kau keluar!"
Nyata ucapannya yang terakhir itu ditujukan kepada "pembantu"
Yang tidak kelihatan itu.
Tapi sesungguhnya siapa pembantunya itu dan berada di mana, ternyata tiada seorang pun tahu.
Dengan sendirinya timbul rasa heran semua orang dan sama ingin tahu sesungguhnya bala bantuan macam apa yang diajak kemari oleh nenek yang terkenal licik dan licin ini.
Dalam pada itu hanya sekejap saja tongkat Ban-lohujin sudah menyerang beberapa kali, namun Thi Un-hou juga cukup tangkas, semuanya dapat ditangkis oleh tombaknya.
Mendadak Ban-lohujin putar balik tongkatnya terus menyapu serupa toya, cepat 241 Thi Un-hou melompat mundur, tombak berputar, menangkis berbareng balas menusuk.
Tiga jurus serangan Ban-lohujin cukup lihai, namun tiga kali tangkisan Thi Un-hou justru merupakan penangkal serangan nenek itu.
Ban-lohujin menjadi murka, seketika berubah lagi jurus serangannya.
Akan tetapi apa pun jurus serangannya selalu dipatahkan oleh lawan.
Li Beng-sing menarik Ciu Hong dan berkata padanya.
"Tongkat si nenek menduduki nomor lebih tinggi daripada tombak Thi Un-hou menurut daftar senjata dunia persilatan, entah mengapa Ban-lohujin sekarang justru tercecar malah dan hilang sama sekali daya guna tongkatnya itu."
Tiba-tiba Po-ji menimbrung.
"Tongkat si nenek tempo hari telah dipatahkan orang, mungkin tongkat baru belum selesai dibuat lagi ...."
Mendadak Siau Bwe-jiu juga berseru.
"Sudah lama permainan tongkat Ban-lohujin terkenal sangat ampuh, mengapa sekarang tidak dikeluarkannya agar menambah pengalaman kami."
Baginya tentu lebih baik selekasnya Ban-lohujin menjadi pihak pemenang, sebab itulah ia coba memberi semangat.
Tak tersangka dugaan Pui Po-ji ternyata tidak keliru, sebab tongkat yang digunakan Ban-lohujin sekarang tidak lebih cuma sebuah tongkat biasa saja, dengan sendirinya tidak selihai tongkat pusakanya dahulu.
Namun dengan pengalaman luas Ban-lohujin dan Lwekang yang tinggi, dapatlah ia bertahan, seruan Siau Bwe-jiu justru membuatnya mendongkol, sebab dengan begitu lawan lantas mencari jalan lain untuk menyerang lagi.
Benar juga, segera terdengar Thi Un-hou membentak.
"Awas senjata!"
Berbareng itu tombak sebelah kanan terus menusuk ke depan, cepat Ban-lohujin menyurut mundur selangkah dan tampaknya tusukan tombak sukar mencapai sasaran.
Tak terduga tombak pandak Thi Un-hou mendadak bisa mulur satu kaki lebih panjang, sasaran yang sukar dicapai tahu-tahu terancam.
Untung Ban-lohujin sempat berjumpalitan ke belakang dan turun kembali dalam jarak dua meter jauhnya.
"Kena!"
Bentak Thi Un-hou dengan gusar.
Dari ujung tombak kanan mendadak menyambar keluar beberapa bintik perak langsung mengincar muka, dada dan perut Ban-lohujin, sedang tombak kiri terus menyambar ke depan untuk menyabet kaki nenek itu, serangan atas dan bawah dilakukan secepat kilat.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan melayang tiba dan mengadang di depan si nenek.
Terdengar suara "crat-cret"
Beberapa kali, suara paku menancap di kayu, beberapa bintik perak sama hinggap di dada pendatang itu.
Menyusul terdengar suara gemerencing, rantai yang terikat pada tombak juga lantas melilit kedua kaki si pendatang, namun orang ini seperti tidak merasakan sesuatu, masih berdiri tegak.
Semua orang sama terperanjat, meski kejut namun Thi Un-hou tidak gugup, cepat ia menarik tombaknya dengan harapan orang akan terseret roboh.
Siapa tahu pada saat itu juga kembali sesosok bayangan kuning melayang tiba dan tepat jatuh di atas rantai yang tertarik lurus itu.
Thi Un-hou merasa tangan kesakitan dan tombak pun terlepas.
Tentu saja Song Kong bertiga sama terperanjat, serentak mereka menubruk maju ke kanan-kiri Thi Un-hou.
Maka terlihatlah pendatang pertama bertubuh tinggi kurus, muka gelap, tujuh bintang perak tadi sama menghias baju dadanya dan tidak dapat menancap masuk.
Sedang pendatang kedua telah duduk bersila di lantai, mukanya bulat, meski tersenyum, namun senyuman yang aneh dan sukar dilukiskan, serupa senyuman patung Buddha di biara, kaku dan lucu.
Segera Po-ji dapat mengenali orang yang pertama tadi adalah Bok-long-kun.
Sungguh tak terduga olehnya bahwa bala bantuan yang didatangkan Ban-lohujin ternyata orang ini.
Maklumlah, masih jelas teringat olehnya Bok-long-kun adalah musuh Ban-lohujin, entah mengapa sekarang mereka telah berkawan malah.
Ia tidak tahu bahwa kawan atau lawan antarorang Kangouw memang sukar dibedakan, hari ini kawan, besok bisa berubah menjadi lawan, ini sudah biasa terjadi dan tidak perlu diherankan.
Asalkan menyangkut keuntungan, dari lawan bisa segera berubah menjadi kawan lagi.
Po-ji cukup kenal kemampuan Bok-long-kun, melihat kemunculannya di sini, diam-diam ia merasa khawatir bagi Kiang Hong dan keempat tokoh terkemuka tadi.
Siapa tahu Thi Un-hou berempat sama sekali tidak memikirkan kehadiran Bok-long-kun, yang membuat mereka jeri justru si baju kuning yang duduk bersila diam itu, pandangan mereka berempat tanpa berkedip terpusat kepada orang ini.
Dengan perlahan Song Kong lantas menegur.
"Sudah lama kami mendengar nama Kek-thian-boh-toh-kiong, melihat bentuk sahabat ini, jangan-jangan tamu dari Boh-toh-kiong?"
"Hehe, anak baik, tajam juga penglihatanmu,"
Tukas Ban-lohujin dengan terkekeh. Song Kong tidak menghiraukannya, ia tetap menatap si baju kuning dan berkata pula.
"Mengapa sahabat tidak bicara? Apakah karena tidak sudi memberitahukan namamu?"
Pendatang baju kuning itu tetap tersenyum dan tidak bicara, hanya dengan tangan menuding telinga sendiri dan menggeleng kepala. Baru sekarang Po-ji tahu duduknya perkara, pikirnya.
"Ah, kiranya orang ini tuli."
Tiba-tiba terdengar Thi Un-hou berempat bersuara kaget.
"Hah, Toh-liong-cu? ...."
Ternyata Li Beng-sing dan Ciu Hong juga tidak kurang takutnya, dengan heran Po-ji coba tanya mereka.
"Memangnya siapakah si tuli ini, kenapa ditakuti?"
Ciu Hong menariknya ke samping dan membisikinya.
"Toh-liong-cu ini adalah majikan muda Boh-toh-kiong (istana unsur bumi), sejak lahir sudah bisu tuli, namun betapa tinggi ilmu silatnya konon tidak di bawah Kim-ho-ong, Hwe-sin-kun dan lain-lain, malahan wataknya yang keras dan kejam terlebih hebat daripada beberapa iblis tadi. Yang paling celaka adalah kegemarannya pada paras cantik, asalkan melihat perempuan ayu ...."
Bicara sampai di sini mendadak ia berhenti.
Waktu Po-ji memandang ke sana mengikuti pandangan orang, terlihat Toh-liong-cu tidak gubris orang lain lagi melainkan cuma memandang Kiang Hong dengan termangu dan menggapai padanya.
Kiang Hong memang terhitung salah seorang bajak terkemuka di perairan Tiangkang, juga tergolong tokoh perempuan yang cukup menonjol di dunia Kangouw akhir-akhir ini, meski tubuh tampak lemah, namun wataknya keras dan tegas, membunuh orang seperti pekerjaan biasa baginya, biasanya jarang yang meremehkan dia sebagai seorang perempuan lemah, ia sendiri juga tidak mau dipandang sebagai perempuan.
Namun demi melihat sorot mata Toh-liong-cu yang lagi menatapnya itu, tanpa terasa timbul rasa ngeri juga dalam hati Kiang Hong, perlahan ia menyurut mundur, padahal di belakangnya sudah tepi geladak kapal, mundur lagi selangkah tentu akan kecebur ke dalam rawa.
Sekonyong-konyong terlihat bayangan orang berkelebat disertai jeritan kaget, waktu semua orang memandang ke sana, Toh-liong-cu kelihatan masih duduk di lantai, sedangkan entah sejak kapan Kiang Hong sudah berada dalam pelukannya.
Sekujur badan Kiang Hong seakan-akan tak bertenaga lagi dan dirangkul Toh-liong-cu dalam keadaan lemas tak bisa berkutik, malahan terus dicium dan diendus.
Kejut dan gusar pula Po-ji menyaksikan kejadian itu, ia harap Thi Un-hou dan ketiga kawannya akan turun tangan menolong Kiang Hong.
Siapa tahu, meski wajah mereka kelihatan gusar, namun mereka tetap berjaga di pintu kabin dan tiada seorang pun berani bertindak.
Keempat lelaki berbaju merah tadi sebenarnya sudah mundur ke samping sana, demi melihat sang Pangcu diganggu orang, serentak mereka membentak terus menerjang maju.
Sama sekali Toh-liong-cu tidak mengangkat kepala, hanya sebelah tangannya terayun ke depan dua kali, terdengarlah suara "blang-blung"
Dan "plak-plok"
Empat kali, keempat lelaki itu telah terpukul hingga mencelat dan jatuh ke dalam rawa.
Menyusul lantas terdengar suara "brett", tahu-tahu baju Kiang Hong telah dirobek Toh-liong-cu sehingga kelihatan dadanya yang putih dan montok.
Keruan Kiang Hong gugup dan malu, saking gusar dan takut ia menjerit dan tidak sadarkan diri.
Song Kong berempat juga tambah prihatin, serentak mereka melolos senjata, namun mereka tetap berjaga di pintu kabin tanpa bergerak, seperti di dalam kapal ada benda mestika yang sangat berharga, asalkan benda dalam kapal dapat dipertahankan dan mereka pun merasa puas, mengenai mati-hidup Kiang Hong seperti bukan soal bagi mereka.
Sungguh gusar Po-ji tak terkatakan, ia pikir percuma orang-orang ini sok anggap dirinya sebagai kesatria gagah, sekarang menyaksikan seorang perempuan dihina begitu saja dan ternyata tiada seorang pun berani bertindak.
Meski aku bukan kesatria, betapa pun aku tidak dapat tinggal diam.
Seketika darah panas bergolak dalam rongga dadanya, soal mati-hidup sendiri sama sekali tak terpikir lagi olehnya, segera ia melompat maju sambil membentak, ia memaki sambil menuding Toh-liong-cu.
"Huh, kau ini manusia atau binatang? Lepaskan dia!"
Pada hakikatnya Toh-liong-cu memang tidak mendengar, dengan sendirinya ucapan Pui Po-ji tidak digubrisnya.
Sebaliknya demi tampak kemunculan Pui Po-ji, sorot mata Bok-long-kun dan Ban-lohujin sama gemerdep.
Tiba-tiba Ban-lohujin terkekeh, serunya meriah.
"Setan cilik, kiranya kau berada di sini. Meski mukamu kau poles lumpur tetap nenek dapat mengenalimu. Eh, mari, anak sayang, makan manisan dulu!"
Bok-long-kun juga lantas mendekati Po-ji dan berteriak parau.
"Di mana si setan kepala besar itu? .... Di mana dia? Suruh dia keluar!"
Kedua jarinya terpentang dan siap menerkam, seakan-akan bila Oh Put-jiu berada di situ segera akan dicekiknya hingga mampus.
Nyata dendamnya kepada Oh Put-jiu sudah kelewat mendalam dan merasuk tulang.
Dengan tertawa Ban-lohujin berkata pula.
"Cui Thian-ki tidak ada di sini, Ci-ih-hou sudah mati, siapa pula yang dapat melindungimu? Anak sayang, lekas kemari dan menjura kepada nenek, biar nenek minta dia jangan membunuhmu."
Tergerak hati Thi Un-hou berempat, baru sekarang teringat oleh mereka bahwa anak ini memang seperti pernah dilihatnya dari kejauhan di kapal layar pancawarna waktu terjadi pertempuran di pantai tempo hari.
Terlihat Po-ji membusungkan dada dan memaki.
"Meski kuanggap kalian ini manusia, siapa tahu kalian sebenarnya adalah hewan. Biarpun kau bunuh diriku juga jangan harap akan ...."
Bok-long-kun menyeringai, kesepuluh jarinya serupa cakar burung itu terus mencengkeram kepala Po-ji.
Selagi Thi Un-hou berempat hendak bertindak, tahu-tahu Ciu Hong telah mendahului menarik Po-ji ke belakangnya, ucapnya dengan terkekeh.
"Hehe, masakah majikan muda Jing-bok-tong yang terhormat juga sudi menganiaya seorang anak kecil ...."
"Enyah!"
Bentak Bok-long-kun dengan gusar, sekali ayun tangannya, kontan Ciu Hong terpukul jatuh. Akan tetapi Thi Un-hou lantas menarik Po-ji ke sana, desisnya.
"Lekas masuk ke 245 kabin kapal, lekas!"
Tanpa menunggu jawaban segera ia dorong Po-ji ke dalam kapal.
Po-ji masih sangsi, siapa tahu pada saat itu juga dari balik tabir di bagian belakang kabin kapal terdengar jeritan tertahan seorang perempuan.
"Po-ji ...."
Suara itu rasanya sangat dikenal Po-ji, seketika telinga Po-ji mendengung, darah pun bergolak, cepat ia menerjang ke balik tabir.
Belum lagi ia sempat lihat, enam tangan sudah lantas merangkulnya dengan erat, tiga orang pun berseru bersama.
"Po-ji, ken ... kenapa engkau datang kemari?...."
Bau harum menusuk hidung, sambil meronta Po-ji coba mengawasi mereka, kiranya ketiga orang ini adalah gadis jelita yang diusir Kim-ho-ong dari kapal layar pancawarna itu.
Ketiga gadis itu merasa girang dan juga kejut serta heran, air mata bercucuran, entah gembira atau duka.
Ketiganya memeluk Po-ji dengan erat, ada yang mencium, ada yang membelai sayang, muka Po-ji pun basah oleh air mata, akhirnya sukar diketahui apakah air mata sendiri atau air mata ketiga gadis itu.
Dalam keadaan demikian, Po-ji merasa segala siksa derita yang dialaminya sudah mendapatkan imbalan yang melegakan.
Tiba-tiba seorang mendengus.
"Huh, tidak malu, masa gadis orang dipeluk dan dicium segala?"
Muka Po-ji seketika marah, cepat ia melepaskan diri dari rangkulan mereka.
Maka terlihatlah seorang anak dara bermata besar menongkrong tinggi di atas meja, sikapnya dingin, namun mukanya merah dan sedang menatap Po-ji dengan terbelalak, siapa lagi dia kalau bukan Siaukongcu.
Tergetar hati Po-ji dan melenggong memandangi anak dara itu.
"Hah, Siaukongcu bisa saja, orang dibuat marah begini, kami kan kakaknya, kenapa kalau cuma mencium sayang padanya?"
Ujar kawanan gadis tadi dengan tertawa.
"Masa tidak menjadi soal saling cium?"
Kata Siaukongcu.
"Dengan sendirinya tidak menjadi soal ...."
Kawanan gadis itu menjawab dengan tertawa.
Mendadak Siaukongcu pentang kedua tangan dan melompat turun dari meja, langsung Po-ji dirangkulnya, leher anak muda itu terus digigitnya sekali dengan geregetan sambil mengomel.
"Telur busuk kecil, mengapa setiap orang sayang padamu? Selanjutnya hendaknya kau berubah memuakkan sedikit agar tidak setiap orang menciummu."
Berguncang juga perasaan Po-ji, tapi entah manis atau kecut, sungguh ia pun geregetan dan ingin membalas gigit sekali pada muka Siaukongcu.
Tapi belum lagi ia menggigit, tahu-tahu Siaukongcu sudah menggigit dua kali pada mukanya.
Po-ji menjerit kesakitan, sebaliknya Siaukongcu tertawa mengikik, katanya.
"Apa 246 sakit? Biar kau mati kesakitan!"
Mendadak ia genjot perut Po-ji, lalu melompat lagi ke atas meja dan duduk membelakangi anak muda itu tanpa menghiraukannya.
Dengan sebelah tangan meraba muka dan tangan lain memegang perut, Po-ji memandang kawanan gadis dengan menyengir.
Kawanan gadis tertawa geli terpingkal-pingkal.
"Toako ...."
Tiba-tiba seorang memanggil dengan agak takut-takut. Waktu Po-ji menoleh, dilihatnya Gu Thi-lan berdiri di sana. Tapi sebelum ia bicara, kembali Siaukongcu melompat turun lagi dan berseru.
"Kau panggil Toako padanya? .... Telur busuk kecil, tak tersangka kau punya istri besar, sekarang punya lagi adik perempuan besar."
Muka Thi-lan tampak merah, muka Po-ji juga merah, katanya kepada Thi-lan.
"Jangan hiraukan dia ... dia orang gila kecil ... aduhh!"
Rupanya lehernya kembali digigit sekali oleh Siaukongcu.
Pada saat itu juga, mendadak berkumandang jeritan ngeri di luar anjungan.
Agaknya pertarungan sengit masih terus berlangsung.
Setelah Thi Un-hou berempat menyelamatkan Po-ji tadi segera mereka mengadang di depan Bok-long-kun.
Biarpun Bok-long-kun suka meremehkan orang lain, melihat sikap garang keempat orang itu, mau tak mau tertegun juga dia, tegurnya gusar.
"Jadi kalian sengaja hendak ikut campur urusan ini?"
"Ya,"
Jawab Thi Un-hou tegas.
"Sayang, sungguh sayang!"
Kata Ban-lohujin tiba-tiba.
"Kaum kesatria Tionggoan sejak kematian Liu Siong hingga sekarang sudah mati berpuluh orang, Pek Sam-kong pun dalam keadaan setengah mati, sampai tinggal di rumah sendiri pun tidak berani dan menghilang entah ke mana. Orang gagah yang tersisa tinggal kalian berempat saja, tak tersangka hari ini kalian pun mencari mati."
"Betul, kami memang ingin mencari mati, silakan!"
Jengek Thi Un-hou.
"Eh, anak sayang, mengapa terburu-buru ...."
Ujar Ban-lohujin dengan gegetun.
Mulut bicara, diam-diam hati merancang apa yang harus diperbuatnya.
Meski anak buah Thian-hong-pang tidak perlu dikhawatirkan, namun keempat orang ini memang sulit dibereskan.
Sampai sejauh itu Bok-long-kun juga tidak turun tangan, jelas ia pun memperhitungkan bila melulu mengandalkan tenaga sendiri pasti sulit mengalahkan keempat orang ini, biarpun ditambah Ban-lohujin juga tidak bakalan unggul, terpaksa ia menunggu Toh-liong-cu saja turun tangan sendiri.
Akan tetapi Toh-liong-cu justru tidak ambil pusing, biarpun dunia kiamat pun seperti tidak dihiraukannya, yang dipikir hanya Kiang Hong yang terus dipeluknya.
Bok-long-kun mengentak kaki dengan gemas, ia melompat ke samping si tuli, ditepuk pundaknya dan menuding Thi Un-hou, namun Toh-liong-cu tetap anggap 247 tidak tahu.
Dengan mendongkol Bok-long-kun memaki.
"Asalkan mendapatkan orang perempuan, jiwa pun tidak dipikirkan lagi oleh keparat ini."
Ban-lohujin tersenyum, katanya.
"Aku ada akal."
Ia tepuk-tepuk pundak Toh-liong-cu, lalu membentang tangan dan membuat garis tubuh berpotongan gitar, kemudian memperlihatkan tiga jari dan mengacungkan jempol serta menuding ke dalam kabin kapal.
Isyarat tangan ini dapat dipahami setiap orang, yaitu maksudnya di dalam kapal ada tiga perempuan cantik nomor satu.
Sekali ini Toh-liong-cu memerhatikan kata isyarat Ban-lohujin itu, mendadak ia berdiri, Kiang Hong dilemparkan begitu saja ke rawa.
Waktu itu Gu Thi-wah dan adiknya masih saling pukul dan saling rangkul di dalam air, Thi-wah berseru.
"Hei, Loji, apakah kau sudah punya bini?"
"Kau sudah makan belum hari ini, Lotoa?"
Thi-hiong juga bertanya.
"Wah, Loji, kau sudah tumbuh semakin besar!"
Kata Thi-wah.
Begitulah keduanya bicara dan bertanya sendiri-sendiri, namun bicara dengan gembira, ada-ada saja yang mereka pertanyakan, namun jawaban selalu menyimpang.
Sama sekali mereka tidak menghiraukan orang lain yang sedang ribut dan saling membunuh.
Ketika mendadak seorang jatuh di samping Thi-wah barulah mereka berhenti bicara, cepat Thi-wah membangunkan orang itu, ucapnya sambil tertawa lebar.
"Eh, kiranya seorang cewek, aneh, mengapa tidak pakai baju?!"
Dengan sendirinya orang yang dibangunkan itu adalah Kiang Hong, karena kecebur ke dalam air, perlahan ia lantas siuman.
Ketika angin meniup dan merasa tubuhnya silir dingin dengan baju robek dan setengah telanjang, malahan berada dalam pelukan seorang lelaki gede, saking malu dan gemasnya, tanpa peduli siapa orang ini segera ia menjotosnya.
Akan tetapi ia baru siuman, tenaga masih lemah, sebaliknya pembawaan Gu Thi-wah berotot kawat bertulang besi, pukulan Kiang Hong itu seperti menggaruk gatal pada tubuhnya.
Berulang Kiang Hong memukul beberapa kali dan Thi-wah tetap tidak bergerak, bahkan merangkul terlebih erat, katanya dengan tertawa.
"Eh, jangan bergerak, nanti jatuh lagi ke dalam air, bisa masuk angin."
Selama hidup Kiang Hong mana pernah mendapat perlakuan demikian, saking gusarnya, dada merasa sesak dan kembali ia jatuh pingsan lagi. Sambil bertepuk tangan Thi-hiong lantas berseru dengan tertawa.
"Haha, cewek cantik jatuh dari langit, kebetulan dijadikan bini Lotoa ...."
Di sebelah sana Siau Bwe-jiu juga sedang berteriak.
"Hai, anak dogol, lekas antar dia ke sini tentu kuberi hadiah besar ...."
"Ah, mana boleh jadi, dia punyaku ...."
Dengan tertawa lebar Thi-wah menjawab.
Mendadak Siau Bwe-jiu melompat ke arahnya, dan Thi-wah terus lari, meski ia tidak mahir Ginkang, namun perawakannya besar dan kakinya panjang, untuk lari di rawa-rawa begitu tentu saja lebih menguntungkan daripada orang biasa.
Sembari berlari dan meloncat, akhirnya Thi-wah menyusup ke tengah semak-semak gelagah.
Siau Bwe-jiu tetap tidak dapat menyusulnya, sampai di depan semak gelagah, sia-sia saja Siau Bwe-jiu gelisah dan mendongkol, namun tidak berani sembarangan mengejar masuk ke semak gelagah yang lebat itu.
Jilid 10.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Published by Nra on 2006/6/29 (1257 reads) Dalam pada itu perlahan Toh-liong-cu sedang mendekati Thi Un-hou dan lain-lain, namun orang-orang itu tidak dihiraukan, langsung ia hendak masuk ke anjungan kapal.
Serentak Thi Un-hou dan Li Eng-hong menerjang maju, dua macam senjata, satu keras dan satu lemas, satu panjang dan satu pendek, sekaligus menyerang dari kanan dan kiri.
Mereka berdua memang tidak malu sebagai tokoh terkemuka, dua jalur perak menyambar dan mengadang rapat jalan lalu Toh-liong-cu.
Mendadak Toh-liong-cu menarik diri dan menyurut mundur setombak jauhnya, tampaknya dia akan kecebur ke dalam air, tentu saja Thi Un-hou dan Li Eng-hong sama melengak.
Siapa tahu pada saat itu juga punggung Toh-liong-cu serupa pakai pegas sehingga tubuh melenting balik, berbareng kedua tangan menghantam ke kanan dan ke kiri.
Gerak pergi-datangnya secepat hantu, betapa pun luas pengalaman Thi Un-hou dan lain-lain, sama melongo juga menyaksikan kungfu sehebat ini.
Maka terdengar suara "srak", tahu-tahu ujung tombak berantai Li Eng-hong kena ditangkap Toh-liong-cu, ketika kedua orang sama membetot, tombak berantai itu terentang lurus.
Meski Li Eng-hong terkenal karena Ginkangnya, tenaga tangannya ternyata juga tidak lemah, tombak berantai tidak sampai terampas musuh, siapa tahu mendadak Toh-liong-cu mengayun sebelah kakinya, tombak berantai itu ditendangnya putus.
Waktu itu Li Eng-hong sedang membetot sekuatnya, karena rantai putus, dengan sendirinya ia kehilangan imbangan dan terhuyung ke belakang.
Dalam pada itu tangan Toh-liong-cu yang lain juga lantas memotong pergelangan tangan Thi Un-hou, terpaksa Thi Un-hou tarik kembali tombaknya dan balas menyerang tangan lawan.
Sungguh luar biasa kepandaian Toh-liong-cu, tampaknya dia sudah kepepet, namun dalam posisi yang tidak menguntungkan dia masih mampu menerobos lewat di bawah kerubutan Thi Un-hou berdua dan segera akan menyusup ke dalam kabin.
Tiba-tiba entah dari mana datangnya, tahu-tahu Kim-ih-hou Ciu Hong mengadang di depan Toh-liong-cu.
Karena tidak tahu seluk-beluk lawan ini, cepat Toh-liong-cu menyurut mundur.
"Lihat ini ...."
Kata Ciu Hong dengan tertawa sambil mengangkat kotaknya, sekali tepuk, dari dalam kotak menyembur keluar asap tipis berwarna jambon.
Hanya dalam sekejap saja tadi asap ini dapat merobohkan orang, tapi sekarang meski disembur oleh asap itu, Toh-liong-cu tetap berdiri tegak tanpa merasakan apa-apa.
"Sungguh hebat, coba lagi ...."
Seru Ciu Hong, kembali ia tepuk kotaknya, mendadak dua bilah pisau kecil menyambar kedua telinga Toh-liong-cu.
Akan tetapi sekali tangan Toh-liong-cu meraih tahu-tahu kedua pisau itu hilang tanpa bekas.
Berubah air muka Ciu Hong.
Sikap Toh-liong-cu justru seperti anak kecil yang tertarik oleh permainan sulap, ia memberi tanda agar Ciu Hong main sulap lagi.
Sementara itu Bok-long-kun juga telah menubruk ke arah Song Kong, hanya sekejap saja kedua orang sudah saling gebrak dua-tiga jurus, cepat dan berbahaya, sama sekali berbeda daripada pertarungan Ciu Hong dan Toh-liong-cu yang serupa orang bersenda gurau itu.
"Hei, Bok-long-kun, keluarkan jurus maut, kita harus serbu sendiri ke dalam, jangan andalkan si tuli yang sinting itu,"
Seru Ban-lohujin. Berbareng tongkatnya juga lantas menyerampang Cian Siang-sing. Bok-long-kun mendengus.
"Hm, boleh kau lihat jurus mautku!"
Sekali bergerak, kedua tangan menghantam lurus ke depan dengan dahsyat.
Meski ganas serangannya, namun dada sendiri menjadi tidak terjaga juga.
Song Kong berjuluk Kay-pi-jiu, si Tangan Penghancur Pilar, suatu tanda betapa hebat tenaga pukulannya, begitu melihat ada peluang, tentu saja ia sangat girang, sedikit bergeser, mendadak ia menghantam dada lawan.
"Plak", dengan tepat pukulannya mengenai sasarannya. Girang sekali Song Kong, ia yakin majikan Sin-bok-tong yang termasyhur ini sekarang pasti akan binasa di bawah pukulannya. Siapa tahu, meski terkena pukulan dengan telak, Bok-long-kun serupa tidak merasakan sesuatu, malahan kedua tangannya lantas mengacip, menggunting tangan Song Kong yang menghantam dadanya itu. Keruan Song Kong terkejut, ingin menghindar pun tidak keburu lagi, maka terdengarlah suara "krek", tulang lengan patah terkacip ia menjerit dan roboh tak sadarkan diri. Mendengar jeritan ini, Po-ji dan lain-lain yang berada di dalam kabin sama terkejut dan cepat memburu ke pintu dan coba mengintip keluar. Terlihat dari kotak yang dibawa Ciu Hong itu mendadak melompat keluar seorang perempuan cantik mini terbuat dari besi dan sedang menari-nari di atas kotak. Toh-liong-cu berkeplok senang melihat permainan lucu itu, sekonyong-konyong si cantik besi itu berputar, tahu-tahu secomot jarum lembut menyambar ke depan dari tangan boneka besi itu. Sejak tadi Thi Un-hou dan Li Eng-hong juga sudah menunggu kesempatan, melihat ada peluang, tanpa ayal lagi tombak mereka lantas menyerang punggung dan juga kepala Toh-liong-cu. Jadi Toh-liong-cu sekaligus diserang dari tiga jurusan, akan tetapi mendadak ia mendak ke bawah, berbareng kaki menyerampang. Thi Un-hou dan Li Eng-hong sempat mengelak, hanya Ciu Hong yang tersapu jatuh dan terguling ke sana dengan tetap merangkul kotaknya, ia terguling sampai ke pojok sana dan tidak sanggup berdiri lagi. Dengan sendirinya Thi Un-hou dan Li Eng-hong tidak rela membiarkan Toh-liong-cu menyusup ke dalam kabin, serentak mereka menyerang lagi terlebih gencar sehingga seketika Toh-liong-cu sulit melepaskan diri. Mendadak Bok-long-kun menerjang ke belakang Li Eng-hong, cepat Li Eng-hong menyambutnya dengan putar tombak berantai, tak terduga olehnya tombak berantai yang putus sebagian itu tepat mengenai dada Bok-long-kun. Namun Bok-long-kun hanya tertawa terkekeh saja, kedua tangan yang kurus kering serupa kayu itu tetap menghantam. Terpaksa Li Eng-hong mendoyong ke belakang sambil menyurut mundur. Sungguh sukar dimengerti bahwa dada lawan ternyata kebal senjata, mau tak mau timbul rasa jerinya. Dilihatnya sembari menyeringai Bok-long-kun sedang mendesak maju, meski memegang tombak berantai, seketika Li Eng-hong tidak berani menyerang lagi. Selagi bingung, tiba-tiba suara seorang membisikinya.
"Jangan takut, dia tidak kebal senjata melainkan karena dia memakai tameng pelindung dada pusaka."
Terbangkit semangat Li Eng-hong, tanpa sempat memikirkan dari mana datangnya suara bisikan itu, serentak ia putar lagi tombaknya dan menyerang beberapa kali.
Di sebelah sana pertarungan Cian Siang-sing dengan Ban-lohujin juga semakin sengit.
Meski kedua ruyung Cian Siang-sing cukup lihai, namun berada di dalam ruang kapal yang sempit, sukar mengeluarkan segenap daya serangnya, ke mana ruyungnya berputar, kalau tidak menghantam dinding kabin tentu membentur tiang kapal.
Sebaliknya Ban-lohujin dapat menyelinap kian kemari di bawah sambaran ruyung lawan, tongkatnya selalu mencari peluang untuk melancarkan serangan balasan.
Yang berbahaya adalah sekujur badan nenek itu penuh senjata rahasia, setiap kali tangan bergerak, berbagai senjata rahasia lantas dihamburkan sehingga Cian Siang-sing agak kewalahan.
Dalam pada itu keadaan di tengah semak gelagah sana juga kacau-balau.
Terdengar Siau Bwe-jiu berteriak dan membentak.
"Kejar! Jangan sampai lolos anak dungu itu .... Tapi awas, jangan mencederai orang yang digendongnya itu!"
Di tengah semak gelagah itu memang tersembunyi anak buahnya, sekarang semuanya lantas ikut mengejar.
Namun Gu Thi-wah yang berkaki panjang itu menarik keuntungan besar berlarian di rawa yang berlumpur itu.
Baginya satu langkah sama dengan dua-tiga langkah orang biasa, biarpun di antara pengejarnya ada yang menguasai Ginkang, namun berlari di tengah lumpur rawa-rawa itu terasa tidak leluasa juga.
Sambil berlari Gu Thi-wah sempat tertawa dan mengejek.
"Ayolah kejar kalau mampu ...."
Tidak kepalang gemas Siau Bwe-jiu, tapi dalam keadaan begitu, ia pun khawatir Kiang Hong akan dicederai sehingga tidak berani memerintahkan anak buahnya menghamburkan senjata rahasia, maklumlah, dia memang menaruh maksud tertentu terhadap Kiang Hong.
Melihat sang pimpinan dibawa lari musuh, anak buah Thian-hong-pang banyak yang ikut terjun ke dalam rawa dan bantu mengejar musuh.
Seketika terjadilah pertarungan sengit yang sukar dibedakan kawan atau lawan di tengah rawa.
Betapa banyak anak buah yang dibawa Siau Bwe-jiu tetap sukar melawan anak buah Thian-hong-pang di kandang sendiri.
Setelah bertempur sekian lama, keadaan anak buah Thian-hong-pang jelas lebih unggul, di antara sepuluh orang yang menjerit roboh ada tujuh orang anak buah Siau Bwe-jiu.
Dengan wajah masam Siau Bwe-jiu menyaksikan pertarungan seru itu, tiba-tiba ia menyeringai dan berteriak.
"Bakar!"
Serentak anak buahnya yang tersebar di sana-sini sama menanggapi.
"Bakar ... bakar!"
Hanya dalam sekejap saja api lantas berkobar di tengah semak-semak gelagah.
Dalam pada itu pertarungan sengit di atas kapal sudah mulai jelas pihak mana yang lebih kuat.
Ban-lohujin tahu ketangkasan Cian Siang-sing, ia tidak mau bergebrak keras lawan keras melainkan terus main lari kian kemari, lambat laun tenaga Cian Siang-sing banyak terkuras, pundak pun sempat dilukai lawan.
"Ai, sayang, tampaknya jago dunia persilatan Tionggoan akan berkurang satu orang lagi,"
Ejek Ban-lohujin.
"Kentut busuk!"
Teriak Cian Siang-sing dengan gusar, kedua ruyungnya menyabat terlebih dahsyat. Namun Ban-lohujin sempat menyelinap lewat di bawah sambaran ruyung lawan, ucapnya.
"Namamu senantiasa menang (Siang-sing), tapi sekali ini kau pasti akan keok!"
Sekonyong-konyong tongkatnya menangkis ruyung lawan, berbareng dua biji manisan cermai turun menyambar ke depan.
Terdengar Cian Siang-sing berkeluh tertahan, dadanya terluka pula, waktu putar ruyung bagian terluka itu terasa sakit, tampaknya tidak sanggup tahan lama lagi.
Di sebelah lain Thi Un-hou juga sudah mandi darah, hanya semangat tempurnya yang pantang menyerah masih tetap nekat menghadapi Toh-liong-cu.
Di antara mereka hanya Li Eng-hong yang masih menahan Bok-long-kun, meski posisinya juga terdesak, tapi setiap kali bila keluar jurus serangannya yang aneh, dalam keadaan kepepet dapatlah ia mematahkan serangan Bok-long-kun.
Rupanya setiap kali bila ia terancam bahaya, segera bisikan yang misterius itu lantas bergema di tepi telinganya, memberi petunjuk suatu gerakan yang tak terpikir olehnya dan dapatlah serangan Bok-long-kun digagalkan.
Diam-diam Li Eng-hong dapat menduga suara bisikan itu pasti datang dari seorang tokoh kosen yang menyampaikannya dengan ilmu mengirim gelombang suara.
Cuma sukar diduganya sesungguhnya siapakah gerangan tokoh yang membantunya itu.
Tiba-tiba terdengar Thi Un-hou menjerit, tahu-tahu lengan kanannya dipatahkan Toh-liong-cu.
"trang", tombak pun jatuh ke lantai. Sorot mata Toh-liong-cu memancarkan warna mengejek seakan-akan hendak bilang "apa dayamu sekarang?"
Tanpa menghiraukan Thi Un-hou lagi segera ia menerjang ke dalam kabin.
Akan tetapi Thi Un-hou lantas meraung keras, dengan nekat ia menubruk maju.
Namun Toh-liong-cu seperti bisa memandang ke belakang, tanpa menoleh dapat ia mengelak.
"Bruk", Thi Un-hou jatuh terbanting dan kesakitan, akan tetapi sisa tangan kiri pada saat itu juga berhasil merangkul kaki kanan Toh-liong-cu. Tentu saja Toh-liong-cu sempoyongan dan hampir jatuh juga. Dengan murka ia menghantam pula.
"krek", kembali lengan kiri Thi Un-hou dipukul patah. Toh-liong-cu menyeringai, sorot matanya pun memantulkan cahaya buas, tampaknya bukan manusia lagi melainkan binatang buas yang kejam, dipandangnya Thi Un-hou yang terkapar di bawah kakinya, ia tidak segera membunuhnya, tapi seperti hendak menyiksanya dan mempermainkannya serupa kucing mempermainkan tikus. Melihat sikap kejam dan sinar mata Toh-liong-cu yang beringas itu, sampai Ban-lohujin juga merasa ngeri. Perlahan Toh-liong-cu menjulur tangan dan hendak mencekik Thi Un-hou. Mendadak Un-hou mengerang dan menggigit betis Toh-liong-cu. Keruan Toh-liong-cu kesakitan, ia pun meraung dan berjingkrak-jingkrak, kaki menendang dan mendepak. Namun betapa pun Toh-liong-cu bertindak tetap Thi Un-hou tidak melepaskan gigitannya, betapa tinggi Toh-liong-cu meloncat, tetap ia lengket pada kaki orang. Dengan nekat Cian Siang-sing menyabat dengan ruyungnya. Pada saat itulah segulung api terlempar tiba dan jatuh di ruang anjungan. Cian Siang-sing terkejut dan menyurut mundur, mendadak tangan terasa kebetot, rupanya ujung ruyungnya terpegang oleh Toh-liong-cu sehingga terjadi saling tarik. Terasa suatu arus tenaga panas tersalur tiba melalui ujung ruyung, Cian Siang-sing tidak sanggup memegangi lagi ruyungnya. Setelah merampas ruyung orang, segera Toh-liong-cu menggunakan ruyung itu untuk menghantam kepala Thi Un-hou. Tampaknya kepala Thi Un-hou pasti akan hancur, tiba-tiba sesosok bayangan kecil menerjang tiba dari samping dan jatuh di atas tubuh Thi Un-hou sambil berteriak dengan suara parau.
"Jika ingin membunuh silakan bunuh dulu diriku!"
Siapa lagi dia kalau bukan Pui Po-ji, ia merangkul leher Thi Un-hou dengan erat, wajah penuh air mata.
Tertegun Toh-liong-cu yang memegang ruyung itu, sembari menyeringai, akhirnya ruyung tetap dihantamkan.
Namun Po-ji tidak gentar sedikit pun, ia mengertak gigi dan mendelik.
Pada saat itulah terdengar beberapa kali jeritan kaget, beberapa sosok bayangan sama memburu tiba, dua di antaranya lantas menubruk di atas tubuh Pui Po-ji.
Terdengar suara "trang"
Sekali, tombak Toh-liong-cu tertangkis oleh ruyung Cian Siang-sing, berbareng Li Eng-hong juga mengadu pukulan sekali dengan Toh-liong-cu.
Rupanya kedua orang itu menjadi nekat dan tidak menghiraukan keselamatan sendiri demi melihat Po-ji terancam bahaya.
Ban-lohujin dan Bok-long-kun ternyata juga tidak merintangi mereka, kedua iblis yang kejam ini sekarang juga timbul rasa sayang terhadap Po-ji, kalau tidak mana mereka mau membiarkan Li Eng-hong dan Cian Siang-sing bertindak sesukanya.
Kedua orang yang menubruk di atas tubuh Po-ji ternyata dua anak gadis, seorang gadis lain merangkul erat Siaukongcu.
Agaknya keempat gadis ini pun tidak menghiraukan keselamatan sendiri demi melihat Po-ji ada kesulitan, serentak mereka memburu keluar dan semuanya berusaha menyelamatkan anak muda itu.
Gadis yang menutupi tubuh Po-ji itu berteriak parau.
"Setiap orang di dunia ini boleh kau bunuh, hanya ... hanya anak ini saja kalian tidak boleh mengganggunya."
Dalam pada itu Cian Siang-sing dan Li Eng-hong juga telah melabrak Toh-liong-cu sehingga si tuli tidak sempat melakukan keganasan terhadap Po-ji.
Kaki Toh-liong-cu tidak dapat bergerak karena diganduli Thi Un-hou, namun dia tidak gentar menghadapi kerubutan orang banyak.
Sekonyong-konyong ia meloncat ke atas dan melayang jauh ke sana.
Agaknya karena dirangkul oleh Po-ji sehingga gigitan Thi Un-hou menjadi longgar sehingga 253 memberi kesempatan kepada Toh-liong-cu untuk melepaskan diri.
Bok-long-kun lantas memburu maju dan menjengek.
"Hm, kenapa anak ini tidak boleh dibunuh?"
"Apakah kalian tahu nasib dunia persilatan selanjutnya terletak di tangan anak ini?"
Jawab gadis tadi.
"Hm, biarpun segenap jago dunia persilatan habis ludes juga nasib dunia persilatan tidak tergantung pada anak kecil yang masih ingusan ini,"
Jengek Bok-long-kun pula. Si gadis tadi berteriak parau.
"Meski dia masih kecil sekarang, namun Houya kami telah memberitahukan rahasia satu-satunya orang yang mampu mengatasi pendekar pedang berbaju putih itu kepada anak ini, jika dia mati dan si baju putih datang lagi tujuh tahun kemudian, lalu siapa yang sanggup melawannya?"
Bok-long-kun tertawa dingin, katanya.
"Biarpun segenap tokoh dunia persilatan terbunuh habis oleh si baju putih juga tidak ada sangkut paut sedikit pun denganku."
Habis berkata, langsung tangannya yang kurus kering serupa cakar burung terus mencengkeram Po-ji.
"Tahan!"
Bentak Siaukongcu mendadak.
"Kedatangan kalian adalah karena kami berempat, asalkan kau lepaskan dia, kami berempat siap ikut pergi bersamamu."
Si gadis yang merangkul Siaukongcu itu meratap.
"Jangan Siaukongcu, jang ... jangan!"
Dengan air mata berlinang Siaukongcu berkata.
"Ia pernah menolong kita tanpa menghiraukan nyawa sendiri, mengapa sekarang kita tidak menolong dia dengan jiwa kita ...."
Gadis itu menunduk dan menangis. Siaukongcu berteriak pula.
"Asalkan kami ikut pergi bersamamu, maka segala harta benda di dalam kapal pancawarna itu akan menjadi milik kalian .... Memangnya kalian belum mau melepaskan dia?"
Hendaknya maklum, tentang kapal layar pancawarna terdampar oleh hujan badai belum lagi diketahui orang Kangouw, sebab itulah ketika Ban-lohujin mengetahui Siaukongcu dan beberapa gadis itu jatuh dalam cengkeraman orang Thian-hong-pang, tanpa menghiraukan bagaimana akibatnya ia bermaksud merebut nona cilik itu, tujuannya tentu saja harta benda dan kitab pusaka dalam kapal pancawarna itu.
Juga lantaran itulah Bok-long-kun terbujuk oleh Ban-lohujin, kalau tidak, dia memang berniat membinasakan nenek itu, mana mungkin sekarang mereka dapat bersekutu malah?
Sebabnya Siaukongcu merahasiakan tentang musibah yang menimpa kapal layar pancawarna, dengan sendirinya juga hendak menggunakan kapalnya untuk memancing mereka, ia yakin ucapannya pasti akan menarik perhatian orang-orang yang tamak itu.
Setelah ragu sejenak, akhirnya Bok-long-kun urung menyerang.
Ban-lohujin lantas berseru.
"Jika kau mau ikut pergi bersama kami harus cepat, kalau terlambat tentu tidak sempat lagi."
Waktu Siaukongcu menoleh, terlihat Cian Siang-sing dan Li Eng-hong masih bertempur sengit dengan Toh-liong-cu, sedang sekeliling rawa sudah berubah menjadi lautan api.
Banyak orang berlarian di tengah rawa sambil menjerit, semuanya berebut cari jalan lolos dari kepungan api, bila tertumbuk jatuh, segera terinjak-injak mati di dasar rawa.
Kiranya semula api hanya berkobar di jurusan timur, barat dan selatan, tapi ketika Siau Bwe-jiu 254 menerjang keluar bersama anak buahnya melalui jurusan utara, lalu tanpa menghiraukan mati-hidup orang lain mereka pun membakar ladang gelagah di sebelah utara.
Dalam keadaan terkepung api, semua orang terpaksa berhenti bertempur memikirkan berusaha mencari selamat.
Terdengar suara ribut di sana-sini, air lumpur rawa pun berubah merah, di bawah cahaya api suasana bertambah seram dan menggetar sukma.
Menghadapi adegan begitu, kaki dan tangan Siaukongcu dingin dan gemetar, mendadak ia menarik Gu Thi-lan dan berkata.
"Kau ... kau harus menjaga dia baik-baik."
Thi-lan juga gemetar dan tidak sanggup bicara lagi.
"Tapi ... tapi meski kalian melepaskan dia cara ... cara bagaimana dia dapat lolos dari sini? ...."
Teriak Siaukongcu pula. Belum lanjut ucapannya mendadak ia diangkat oleh Ban-lohujin.
"Lepaskan dia ... lepaskan ...."
Seru salah seorang gadis.
"Ikut terjang keluar, kalau tidak, biar kumampuskan dulu Po-ji,"
Ancam Ban-lohujin, sembari menggendong Siaukongcu, tangan lain ia seret gadis itu terus menerjang keluar anjungan.
Segera Bok-long-kun menjambak rambut gadis yang bertiarap di atas tubuh Po-ji itu, sekaligus ia angkat kedua gadis itu, ucapnya sambil menyeringai.
"Ayo berangkat!"
Sekali tangan berayun, ia lemparkan salah seorang gadis itu ke arah Toh-liong-cu, sembari mengempit gadis satunya lagi segera ia menerjang keluar bersama Ban-lohujin.
Terdengar Siaukongcu menjerit pilu.
"Lepaskan aku ... lepaskan .... Jika Po-ji tidak dapat diselamatkan, biar ... biar aku pun mati bersama dia."
Toh-liong-cu sempat mendesak mundur Li Eng-hong, ruyung rampasannya juga ditimpukkan ke arah Cian Siang-sing, lalu ia tangkap gadis yang dilemparkan kepadanya itu terus melayang ke sana, malahan sekaligus ia sambar pula gadis yang diseret Ban-lohujin itu dan dikempit pula.
Terlihat bayangan ketiga orang melompat naik-turun, mereka menggunakan tubuh orang yang bergelimpangan di rawa-rawa itu sebagai batu loncatan terus menerjang keluar lautan api.
Ban-lohujin agak terlambat, mendadak ia disambar lidah api, namun Ban-lohujin sempat meraih seorang lelaki terus dilemparkan ke arah api.
Orang itu menjerit dan jatuh ke tengah hutan api, lidah api tertolak ke bawah dan kesempatan itu digunakan Ban-lohujin untuk melayang ke sana.
Di dalam anjungan mendadak terdengar suara gemuruh, ruyung Cian Siang-sing menyampuk tombak yang dilemparkan Toh-liong-cu tadi, ia terhuyung-huyung dan mendadak roboh terkulai.
Rupanya dia sudah kehabisan tenaga, cuma dia masih terus bertempur mati-matian.
Sekarang lawan tangguh telah kabur, semangatnya seketika runtuh dan ambruk.
Li Eng-hong juga kelihatan sempoyongan, ia lihat di antara keempat tokoh Tionggoan yang tersisa saat ini tinggal ia sendiri yang masih dapat berdiri tegak, namun betapa pedih dan duka perasaannya sukar pula diketahui orang lain.
Di antara orang-orang yang berlarian di rawa-rawa itu, meski ada beberapa orang sempat meloloskan diri, namun lebih banyak pula yang roboh.
Kini jumlah orang yang berlarian sudah 255 sedikit, jeritan juga mereda, namun api justru berkobar terlebih hebat.
Mayat bergelimpangan di sana-sini, ada pula yang sekarat dan masih meronta-ronta di tengah air lumpur, ada yang jatuh terduduk tak berkutik dan menanti ajal.
Song Kong sudah mati, Thi Un-hou dalam keadaan sekarat, Cian Siang-sing roboh tak sadarkan diri, Siaukongcu diculik orang, Thian-hong-pang runtuh habis-habisan ....
Pertempuran ini boleh dikatakan kalah total, kini hanya tersisa Li Eng-hong sendiri yang masih mengenyam rasa kalah yang mengenaskan ini.
Po-ji mengeluh tertahan dan meronta bangun, tadi ia jatuh pingsan karena cemasnya, sekarang keadaan sekitarnya membuatnya ngeri juga.
Api semakin berkobar, suasana sepi, hanya bunyi "pletak-pletok"
Api yang membakar semak gelagah dan deru angin serupa paduan suara yang membawakan lagu maut.
Mendadak Gu Thi-lan berlari mendekati Li Eng-hong, ia berlutut dan memegang tangan Li Eng-hong yang dingin, ratapnya dengan parau.
"Kumohon dengan ... dengan sangat, bawalah dia pergi dari sini, kalau tertunda lagi tentu ... tentu tidak keburu lagi."
Li Eng-hong menunduk dan memandangnya sekejap, katanya.
"Dan kau sendiri?"
"Aku ... aku tidak menjadi soal ...."
Jawab Thi-lan.
"Tidak, dia saja kau bawa pergi, aku tidak menjadi soal,"
Seru Po-ji.
"Kau tidak takut mati?"
Tanya Li Eng-hong.
"Aku takut mati, juga tidak ingin mati,"
Jawab Po-ji.
"Tapi apakah orang lain ingin mati?"
"Orang lain boleh mati, hanya engkau tidak ... tidak boleh mati,"
Ujar Thi-lan.
"Tidak, setiap orang sama-sama sayang nyawa,"
Teriak Po-ji.
"Aku tidak boleh mati, kau juga tidak. Cian ... Cian-toasiok juga tidak boleh mati, begitu pula yang lain."
Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Li Eng-hong, ucapnya sekata demi sekata.
"Tapi mungkin semua orang akan mati di sini ...."
Belum habis ucapannya.
"bruk", ia pun jatuh terkulai. Pucat wajah Gu Thi-lan, mendadak ia pegang tahu Po-ji, teriaknya parau.
"Lekas ... lekas kau pergi ... apa pun juga kau harus berdaya menyelamatkan diri!"
"Tidak, aku tidak mau pergi, tidak boleh kutinggalkan kalian di sini!"
Jawab Po-ji singkat dan tegas melukiskan tekadnya. Mendadak Thi-lan berteriak gusar.
"Kau tahu, justru karena berusaha menyelamatkan dirimu, maka banyak orang telah berkorban. Kau tahu betapa berat tanggung jawabmu, mana boleh kau mati? Jika mau mati, sungguh sia-sia orang yang berkorban bagimu."
Merah basah mata Po-ji, cepat ia melengos. Dengan suara berat Li Eng-hong berkata.
"Biarpun ia tidak ingin mati, tapi seorang anak kecil seperti dia apakah mampu menerjang keluar?"
Thi-lan melengak.
"Dan engkau ...."
"Aku tidak berguna lagi,"
Ujar Li Eng-hong dengan tertawa pedih.
Thi-lan tidak tahan lagi rasa dukanya, ia menangis keras.
Semangat tempur Li Eng-hong sudah runtuh seluruhnya, jiwa kesatrianya pun lenyap oleh kekalahan yang mengenaskan ini, ia duduk lemas di lantai dan menunduk lesu.
Geladak kapal pun sudah terjilat api, tidak lama lagi api akan menjalar ke tubuh mereka, hawa panas dan bau hangus menyesakkan napas.
Po-ji dan lain-lain merasa kepanasan, lidah kering dan bibir pecah.
Api berkobar dengan hebat, udara pun merah membara.
Memandangi Thi Un-hou yang kembang kempis itu, Li Eng-hong tersenyum pedih, ucapnya.
"Sejak kita berkecimpung di dunia Kangouw dan mengalami berbagai pertempuran sengit, selama itu kita tidak pernah kalah ... haha, betapa gagah perkasa kita waktu itu, tak tersangka sekarang kita ... kita ternyata harus mati di sini ... haha ... haha ...."
Di tengah gelak tawa keras, air mata pun bercucuran. Tak terduga, suara bisikan aneh itu segera bergema lagi di tepi telinganya.
"Kenapa menangis bila ada orang tua seperti aku yang siap membantumu, masakah kau bisa mati?"
Seketika semangat Li Eng-hong terbangkit, serentak ia mendongak. Terdengar bisikan itu berkata pula.
"Nah, begitulah! Harus tegak leher, membusungkan dada dan berdiri. Pertarungan sengit tadi kan belum mencederaimu, hanya api seperti ini terhitung apa pula? Jika kau mati di tengah kobaran api begini, bukankah akan menjadi buah tertawaan kaum kesatria sejagat?!"
Dengan mengertak gigi Li Eng-hong lantas melompat bangun.
Suara bisikan aneh ini sejak tadi sudah beberapa kali menyelamatkan dia, sekarang malahan mendatangkan semangat mencari hidup baginya, juga membawa kekuatan baru baginya.
Mendadak ia berteriak.
"Betul, terjang keluar! Apakah berhasil terjang keluar atau tidak, paling sedikit kan jauh lebih baik daripada mati konyol begitu saja."
Kejut dan girang Thi-lan, serunya dengan suara gemetar.
"Bet ... betul, beginilah baru lelaki sejati."
"Kau ikut di belakangku, biarkan Po-ji kugendong, kita ...."
"Tidak!"
Teriak Po-ji sebelum lanjut ucapan Li Eng-hong.
"Kenapa tidak? Memangnya kau tidak berani? Takut mati?"
Tanya Eng-hong dengan gusar. Dengan suara lantang Po-ji menjawab.
"Aku tidak takut mati. Tapi bila kita hendak menerjang keluar kita harus membawa serta paman Cian dan paman Thi, sekali-kali tidak boleh kita tinggalkan mereka."
Thi-lan mengentak kaki, ucapnya pedih.
"Tapi ... tapi luka mereka sangat parah, biarpun mereka dapat dibawa pergi juga ... juga belum tentu bisa hidup lebih lama lagi."
"Apa pun juga tidak dapat kusaksikan mereka terbakar di sini,"
Ucap Po-ji dengan air mata bercucuran.
"Kalau tidak, biarlah aku pun tetap di sini."
Li Eng-hong menghela napas panjang, katanya.
"Anak baik, tak tersangka sekecil ini kau sudah berbudi seluhur ini. Cuma ... cuma ...."
"Cuma kita bertiga dapat menerjang keluar atau tidak pun belum dapat diramalkan, apalagi sekarang harus menolong lagi orang lain?"
Tukas Thi-lan menyesal. Po-ji berteriak pula.
"Tapi mereka telah bertempur mati-matian bagi kita, mengapa kita tidak berkorban bagi mereka. Kalau mau menerjang keluar biarlah kita terjang bersama, kalau mati, biarlah kita mati bersama di sini."
Suaranya matang, maksudnya tegas, tekadnya bulat, sama sekali tidak mirip ucapan seorang anak kecil sebaya dia.
"Bagus!"
Seru Li Eng-hong dengan tertawa.
"Tak tersangka hari ini dapat kulihat seorang anak yang berjiwa kesatria seperti ini, biarpun hari ini kau mati di sini, kisah kepahlawananmu yang mengharukan ini pasti akan tercatat dalam sejarah dan akan menjadi suri teladan kaum kesatria seluruh jagat."
"Jika kita mati semua, siapa pula yang tahu kisah ini?"
Ujar Thi-lan dengan air mata berlinang.
"Apa pun juga, kita tidak boleh mengecewakan harapan anak ini,"
Teriak Li Eng-hong bengis.
"Nah, boleh kau gendong Cian Siang-sing, aku memanggul Thi Un-hou. Anak baik, ikutlah di belakangku, kita terjang keluar!"
Segera ia angkat Thi Un-hou, lalu membentak.
"Terjang!"
Terpaksa Thi-lan mengangkat Cian Siang-sing, sedang Po-ji lantas tertawa dan berkata.
"Haha, hari ini baru kutahu arti "mati-hidup bersama"
Yang luhur ini."
Tiba-tiba dari pojok sana seorang merintih dan berkata.
"Masakah kau tega ... tega meninggalkan kakek semacam diriku dan terbakar hidup-hidup di sini?"
Baru sekarang Po-ji melihat Kim-ih-hou Ciu Hong masih menggeletak di pojok sana, saat itu orang tua itu sedang meronta bangun dan berlari keluar dengan setengah merangkak.
"Dia penipu, jangan ...."
Belum lanjut ucapan Thi-lan, cepat Po-ji telah memegang Ciu Hong dan berseru.
"Jangan khawatir, akan kupayang dirimu!"
Ia tidak menyadari tenaga sendiri pun terbatas, yang terpikir olehnya hanya ingin membantu orang lain. Thi-lan merasa gelisah, katanya sambil mengentak kaki.
"Ai, cara bagaimana kau mampu ... mampu memayang orang? Jadinya nanti cuma mengantar kematian belaka."
"Tidak apa-apa,"
Kata Po-ji. Thi-lan bermaksud bicara lagi, namun tubuh kapal pun sudah terbenam kobaran api dan hampir tidak ada tempat berpijak lagi, terpaksa mereka harus terjun dulu ke rawa.
"Semak gelagah sekeliling sudah terjilat api, cara bagaimana kita dapat lolos?"
Ujar Ciu Hong sambil menggeleng kepala.
"Kukira lebih baik kita tunggu saja di sini."
"Orang menolongmu, masakah kau malah menghambat kehendak orang?"
Omel Thi-lan dengan gusar. Namun setelah berpikir, segera Po-ji berseru juga.
"Betul, memang lebih baik kita tunggu saja di sini."
"Apa ... apa katamu?"
Tanya Thi-lan dengan melotot.
"Kecuali menunggu saja di sini, kita harus pula mengatur sampan yang terantai ini agar mengelilingi kita, lalu sampan ini pun kita bakar,"
Kata Po-ji. Keruan mata Thi-lan terbelalak, lebih lebar, ucapnya gemetar.
"Apa kau gila?"
"Anak ini tidak gila,"
Kata Ciu Hong tertawa.
"Dia justru jauh lebih bisa berpikir daripada orang lain."
"Selain menipu, kau tahu apa lagi?"
Damprat Thi-lan dengan gusar. Sejak tadi Li Eng-hong menatap Ciu Hong, sekarang ia pun berseru.
"Jika kakek ini bilang perkataan Po-ji betul, maka bolehlah kita menurut."
Bahwa dia ternyata menghormati pendapat penipu yang terkenal busuk di dunia persilatan ini, hal ini sungguh sangat di luar dugaan orang. Karena kalah suara, terpaksa Thi-lan tutup mulut.
"Hanya dengan api untuk mengatasi api baru dapat menyelamatkan diri,"
Teriak Po-ji.
"Nah, lekas bekerja, tunggu apa lagi?"
Kebakaran di rawa-rawa ini telah mengejutkan penduduk di sekitar sini, namun nelayan yang sudah lama tinggal di sini juga sama tahu tempat ini adalah sarang kawanan bajak Thian-hong-pang, siapa pun tidak berani mencari perkara ke sini.
Sampai api sudah hampir padam barulah ada sementara orang berani mengintip suasana di sini.
Sementara itu semak gelagah di rawa-rawa ini sudah berubah menjadi abu.
Hanya asap masih mengepul dan membuat napas sesak.
Abu beterbangan terbawa angin.
Sekonyong-konyong beberapa orang berlari keluar dengan terhuyung-huyung dari balik asap tebal.
Di antara beberapa orang ini ada lelaki dan perempuan, ada tua dan muda, semuanya dekil dan kuyup, siapa pun tidak menyangka dari tengah rawa yang kebakaran itu bisa muncul orang hidup.
Keruan kaum nelayan sama kaget dan lari karena menyangka yang muncul itu adalah hantu.
Orang-orang yang muncul itu dengan sendirinya adalah Po-ji dan Li Eng-hong berenam.
Setelah berada di tempat aman, dengan napas masih tersengal-sengal Gu Thi-lan menatap tajam Po-ji dan berkata.
"Syukur engkau dapat memikirkan akal ini."
"Menggunakan api untuk merintangi api, dengan sendirinya bagian tengah rawa itu sekali terpisah dari kobaran api, lalu kita membenam diri di lumpur sana, cara ini kan aman dan sederhana,"
Kata Po-ji dengan tertawa. Thi-lan menarik napas panjang, katanya dengan tersenyum.
"Meski sederhana cara ini, namun dalam keadaan panik, siapa yang dapat memikirkannya?"
Li Eng-hong juga mengacungkan jempol dan memuji.
"Menghadapi bahaya tidak panik, bertindak menurut gelagat, keberanian ini, ketenangan dan kecerdasan ini sukar dicari kecuali orang yang memang berbakat. Ai, percuma selama berpuluh tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, sungguh aku harus malu dan mengaku kalah terhadap seorang anak kecil."
"Terima kasih atas pujian paman,"
Ujar Po-ji dengan menunduk. Tiba-tiba Ciu Hong pun berkata.
"Keadaan luka Cian-tayhiap dan Thi-tayhiap memerlukan pertolongan secepatnya, hendaknya sekarang kalian berusaha mengobati mereka, kenapa 259 omong iseng di sini."
"Betul,"
Seru Li Eng-hong dan segera mendahului berlari ke depan.
"Nanti dulu,"
Kata Ciu Hong.
"Luka Thi-tayhiap sangat parah, kalau mesti menunggu sampai mendapatkan tabib, mungkin jiwanya sukar tertolong lagi."
Sembari bicara ia lantas mengeluarkan sebuah botol kayu dari kotaknya, katanya pula.
"Meski obat luka yang kubawa ini tidak cespleng, sedikitnya jiwa Thi-tayhiap dapat dipertahankan, hendaknya cari air bersih dulu di depan sana, sebagian obat ini baru diminum Thi-tayhiap dan lainnya dibubuhkan bagian luar."
"Terima kasih,"
Kata Li Eng-hong, setelah berhenti sejenak, tiba-tiba berkata pula.
"Ada suatu hal yang kurasakan kurang mengerti, bolehkah kumohon petunjuk kepada Ciu-cianpwe?"
Ciu Hong tersenyum, jawabnya.
"Asalkan sama-sama tahu, buat apa banyak tanya. Ayo berangkat."
Li Eng-hong memandangnya sekejap, ia tidak tanya lagi, mereka terus berlari ke depan.
Menyaksikan sikap Li Eng-hong sedemikian hormat terhadap tokoh yang dipandang sebagai penipu di dunia persilatan itu serta mendengar tanya-jawab mereka, tentu saja Thi-lan merasa heran namun tidak leluasa baginya untuk bertanya.
Po-ji juga tiada hentinya memandangi Ciu Hong, makin dipandang makin merasakan diri kakek ini memang banyak terdapat hal-hal yang aneh dan misterius.
Jalan pematang berliku-liku, setelah mereka berputar kian kemari beberapa kali, tiba-tiba terlihat seorang lelaki kekar berdiri di depan dengan bertolak pinggang, ketika melihat Pui Po-ji, orang gede ini bersorak gembira dan memburu maju.
Siapa lagi dia kalau bukan Gu Thi-wah.
"Kau sedang menunggu orang?"
Tanya Po-ji dengan kening bekernyit. Thi-wah tertawa lebar dan mengangguk.
"Tunggu siapa?"
Tanya Po-ji.
"Dengan sendirinya menunggu engkau, Toako,"
Sahut Thi-wah dengan tertawa.
"Dalam keadaan bahaya kau tinggalkan Toako, sekarang apa yang kau tunggu?"
Ujar Po-ji.
"Jika Toako sudah mampus terbakar, lantas apa yang akan kau lakukan?"
Thi-wah tertawa, sahutnya.
"Dengan kepandaian Toako yang mahatinggi, masakah dapat mati terbakar? Sebab itulah Thi-wah tidak pernah khawatir, lalu kutunggu saja di sini kedatangan Toako."
Jika orang lain yang bicara demikian tentu cuma untuk alasan belaka, tapi apa yang dikatakan Thi-wah memang timbul dari lubuk hatinya, sedikit pun tidak pura-pura.
Po-ji tertawa cerah oleh uraian orang, rasa kurang puasnya tadi segera lenyap sama sekali, katanya dengan tertawa.
"Bisa juga kau ...."
Tiba-tiba Thi-lan bertanya.
"Di manakah Jiko?"
Thi-wah berkedip-kedip, jawabnya dengan tertawa.
"Dia sedang menemani Ensomu."
"Jiso juga ... juga datang kemari?"
Tanya Thi-lan dengan heran.
"Bukan Jiso, tapi Toaso (kakak ipar pertama, istri kakak),"
Tutur Thi-wah. Tentu saja Thi-lan melongo bingung. Maka Thi-wah menjelaskan dengan tertawa.
"Adik dungu, biar kujelaskan padamu bahwa selekasnya Toakomu juga akan punya bini."
Segera ia tarik tangan Thi-lan dan diajak lari ke sana.
Arah yang dituju ternyata kapal kotak yang masih berlabuh di situ.
Penumpang kapal selain Gu Thi-hiong masih ada lagi satu orang yang masih tidur lelap, ternyata bukan lain daripada pemimpin Thian-hong-pang alias Kiang Hong.
Setelah mengalami pukulan berat tadi, lahir batinnya sungguh sangat sakit sehingga sekarang tidurnya ternyata sangat nyenyak, rambutnya yang hitam pekat terurai, alisnya yang lentik dengan bulu matanya yang panjang menutupi kelopak matanya, tubuhnya meringkuk miring, sifatnya yang gagah perkasa kini telah lenyap terhanyut dalam tidurnya.
Po-ji merasa dalam keadaan demikianlah Kiang Hong benar-benar telah pulih sebagai seorang perempuan tulen.
Kejut dan girang Thi-lan mengenali siapa dia, ucapnya.
"Jadi Toako hendak mengambil dia sebagai istri?"
"Betul,"
Kata Thi-wah dengan tertawa dan mengangguk.
"Apa dia sudah setuju?"
Tanya Thi-lan. Thi-wah melengak, jawabnya.
"Masakah perlu dia setuju segala? Asalkan aku suka kan beres urusannya?"
"Melulu engkau saja yang suka tidak boleh jadi,"
Ujar Thi-lan dengan tersenyum getir, setelah berpikir, lalu ia berkata pula.
"Jika kau ingin dia setuju, segala sesuatu harus kau tunduk kepada ucapanku, nanti kalau dia siuman janganlah kau sembarangan bicara, harus kau layani dia dengan baik. Selang beberapa waktu lagi tentu akan kucarikan akal bagimu, harus bersabar, tidak boleh terburu nafsu."
"Baik, baik, kuturut padamu,"
Seru Thi-wah girang.
Sementara itu semua orang sudah naik ke atas kapal kotak, kapal yang tampaknya tidak berharga ini ternyata besar sekali daya gunanya, sembilan orang berjubel di dalam kapal ternyata tidak kelihatan penuh, bahkan tetap dapat meluncur dengan baik.
Dengan tertawa Thi-wah berkata.
"Dulu dengan susah payah kubuat kapal kotak ini, tujuanku bila sudah jadi akan kugunakan sebagai kapal penumpang keluarga, siapa tahu hari ini dapat digunakan lebih dulu di sini."
Ia menyengir, lalu bertanya.
"Eh, bagaimana Tia (ayah) dan Mak di rumah, apakah baik-baik, sungguh kami sudah kangen."
"Aku pun sudah lama tidak bertemu dengan mereka,"
Jawab Thi-lan dengan menunduk. Teringat oleh Po-ji, ia coba tanya.
"Mengapa kau bisa masuk menjadi anggota Thian-hong-pang? Kenapa pula Jisomu itu mau kawin dengan Jikomu? Sekarang juga kukira dapat kau ceritakan."
Thi-lan jadi teringat pada kebohongan sendiri, muka menjadi merah dan menunduk lebih rendah, ucapnya.
"Kabarnya Jiso itu adalah adik perempuan orang she Siau, aku memang sudah curiga, dengan kedudukannya mana dia mau kawin dengan orang miskin seperti keluarga 261 kami. Kemudian setelah kumasuk Thian-hong-pang barulah kutahu bahwa beberapa rumah gubuk tempat tinggal kami itu tepat berada di muara Tiangkang yang strategis, dari rumah kami dapat melihat setiap kendaraan air yang berlalu-lalang di perairan Tiangkang, juga setiap bagian pelabuhan, bongkar-muat setiap kapal, semuanya terlihat jelas, malahan dari tempat kami juga dapat mengintai setiap gerak-gerik Thian-hong-pang."
"Oo, kiranya begitu,"
Baru sekarang Po-ji tahu duduknya perkara.
"Jika mereka mau bertindak kasar dengan menguasai keluarga kalian dari sana, lalu dibuat pos pengintai, namun cara demikian tentu akan menimbulkan perkara dan mungkin juga akan menarik perhatian pihak Thian-hong-pang, tapi dengan cara halus, yaitu pura-pura berbesanan dengan kalian, maka setiap hari mereka dapat mengadakan kontak secara rahasia dengan Jisomu dan segala kejadian di perairan Tiangkang pun diketahui dengan jelas. Tentu tidak ada yang curiga bahwa seorang menantu keluarga nelayan justru adalah mata-mata kawanan bajak .... Dan kalau Jisomu mesti berkorban sedikit kan juga pantas."
Muka Thi-lan tambah merah, dengan malu-malu ia berkata perlahan.
"Tapi ... tapi sejak kawin, sampai sekarang pun Jiko selalu tidur di lantai."
"Oo, tidur di lantai, apa betul?"
Tanya Po-ji.
"Memang betul,"
Tiba-tiba Thi-hiong sendiri dengan tertawa.
"Sebelum kawin diam-diam mak memberitahukan padaku bahwa orang lelaki dan orang perempuan kalau tidur bersama, yang lelaki harus di atas dan orang perempuan di bawah. Sebab itulah pada malam pengantin baru aku sendiri tidur di ranjang dan kusuruh dia tidur di lantai. Tak terduga dia marah-marah padaku dan minta tidur di ranjang, karena merasa tidak sanggup melawannya, terpaksa kutidur sendiri di lantai."
Keterangan lucu ini tidak dirasakan sesuatu kejanggalan oleh Pui Po-ji, tapi bagi Li Eng-hong, Ciu Hong dan lain-lain sukar lagi menahan rasa gelinya sehingga mereka tertawa dalam sedihnya.
Malahan Thi-wah juga tertawa keras.
"Kau tertawa apa?"
Tanya Po-ji. Seketika Thi-wah terbelalak tak bisa menjawab, sampai sekian lama baru berkata.
"Aku ... aku pun tidak tahu ...."
Sementara itu fajar sudah tiba, angin pagi meniup sepoi-sepoi, kapal berlayar lalu-lalang, semangat semua orang sama terbangkit.
Teringat kepada pertarungan sengit yang dirasakan seperti habis mimpi buruk saja, pula teringat kepada Siaukongcu yang sekarang berada dalam cengkeraman kaum iblis, tanpa terasa Po-ji menitikkan air mata.
Segala sesuatu di dunia ini sering terjadi dengan sangat kebetulan.
Pada waktu bertemu dengan Gu Thi-lan sama sekali tak terpikir olehnya akan terjadi pertemuan kebetulan seperti ini dan mendatangkan macam-macam urusan, selain dirinya berulang menghadapi bahaya, juga mengubah nasib banyak orang.
Terdengar Ciu Hong lagi bergumam.
"Orang she Siau itu belum lagi mati, perjalanan ini mungkin berbahaya, jika sekarang ada orang mencegat kita, jelas kita pasti mati semua."
Po-ji melengak.
Tiba-tiba dirasakan orang yang dianggap sebagai penipu oleh dunia persilatan ini, meski ucapannya tidak enak didengar, namun setiap perkataannya mengandung arti yang mendalam, dalam keadaan gawat terkadang setiap perkataannya serupa bunyi genta di subuh sunyi yang menggugah perasaan setiap orang.
Ketika di rawa-rawa sana, kalau tidak tergugah oleh ucapan penipu ini tentu mereka menerjang keluar tanpa menghiraukan api yang berkobar, jika demikian jadinya jelas mereka akan 262 terkubur semua di tengah lautan api.
Terlihat Li Eng-hong lagi termenung, sekonyong-konyong ia mencabut golok yang dibawa Gu Thi-hiong, ia menuju ke buritan dan duduk bersila, pita hiasan tangkai golok dirobeknya untuk menggosok batang golok sehingga mengilat.
Kapal mereka terus laju, kira-kira satu dua jam kemudian, permukaan sungai mulai ciut.
Li Eng-hong menoleh dan berkata.
"Luka kedua orang ini harus cepat diobati, apakah dapat kita menepi dulu."
"Di depan ada sebuah dermaga,"
Kata Thi-lan, sembari bicara ia terus putar haluan kapal membelok ke tepian.
Melihat Thi-lan bekerja dengan wajah duka, Po-ji tahu orang merasa khawatir bagi keselamatan kedua orang tua di rumah.
Maklumlah, usaha Siau Bwe-jiu yang gagal total itu sebagian besar disebabkan Gu Thi-hiong dan Thi-wah, setelah lolos tentu dia akan membalas dendam dan bukan mustahil dendamnya akan ditimpakan terhadap ayah-ibu Thi-wah.
Teringat hal ini, pikiran Po-ji tambah beban lagi, ia tahu melulu kekuatan beberapa orang ini jelas sukar menggempur mundur Siau Bwe-jiu dan begundalnya.
Apalagi Li Eng-hong juga harus berangkat.
Hanya Thi-wah dan Thi-hiong saja sama sekali tidak memikirkan apa pun, dengan tekun mereka bekerja dan membawa kapal ke tepi pantai.
Dengan tertawa Thi-wah berkata.
"Aha, dermaga ini terletak tidak jauh dari rumah kita, kebetulan kita dapat pulang menjenguk ayah dan ibu, Ayo, Loji, dayung sekuatnya, lekas pulang, entah binimu kabur atau tidak."
"Bininya takkan kabur,"
Gumam Ciu Hong.
"Kau pun tidak perlu kerja keras, simpan tenaga sedikit, masih banyak urusan yang memerlukan tenaga kalian."
Tanpa terasa Thi-lan dan Po-ji sama memandangnya sekejap.
Mereka tahu, orang tua ini tentu merasakan sesuatu bencana yang akan timbul dan sengaja mengingatkan mereka agar waspada.
Sekonyong-konyong sebuah kapal sungai meluncur tiba mengikuti arus dan langsung menerjang kapal kotak ini.
Meski di siang hari bolong namun kapal ini penuh dihias lampu yang menyala terang.
Tidak tampak seorang pun di atas kapal itu, kapal sebesar itu melaju dengan cepat, bilamana diterjang, biarpun kapal kotak ini cukup kukuh juga pasti akan hancur lebur.
Keruan semua orang sama terkejut, Thi-wah dan Thi-hiong langsung berteriak-teriak dan mencaci maki, dengan membawa dayung mereka memburu ke buritan.
Li Eng-hong yang berada di buritan mendadak melompat ke atas "kapal hantu"
Itu, sekali ayun golok tali layar kapal itu ditebas putus.
Kontan layar besar jatuh ke bawah sehingga tubuh kapal pun rada miring, kebetulan kapal kotak menyerempet lewat di sebelahnya, benturan tak terhindar.
"blang", kapal kotak tergetar oleng dan menerjang ke tepian yang dangkal dan kandas. Semua orang sama terciprat air sungai, Kiang Hong juga siuman oleh karena guncangan keras itu dan segera melompat bangun, tapi Po-ji lantas bersuara menghiburnya malah. Terdengar di atas "kapal hantu"
Itu suara jeritan kaget Li Eng-hong dan Gu Thi-lan, segera Thi-lan pun berteriak.
"Hei, lihat, apa ini?!"
Sekuatnya Thi-wah menolak kapal kotak ke sana dan beramai-ramai melompat ke atas "kapal hantu".
Tapi apa yang terlihat membuat mereka sama melongo kaget.
Ternyata di anjungan kapal bergelimpangan lebih 20 sosok mayat, ada yang terkapar malang melintang, ada yang jatuh tiarap di atas meja, ada yang setengah badan bergelantungan di jendela ....
Nyata orang-orang ini sama diserang secara mendadak sehingga sama sekali tidak mampu balas menyerang, banyak di antaranya bermaksud lari, namun tidak keburu.
Semua orang sama terkesima, hanya Kiang Hong saja, setelah memandang mayat-mayat ini, mendadak ia berlari maju dan mengangkat sesosok mayat.
"He, mau apa?"
Seru Po-ji kaget. Belum lenyap suaranya, terdengar Kiang Hong bergelak tertawa dan berteriak parau.
"Haha, kiranya kau ... haha!"
Waktu semua orang mengamati mayat yang dipegang Kiang Hong itu, baru dikenali mereka bahwa orang mati ini ternyata Siau Bwe-jiu adanya.
Wajahnya yang kaku masih menampilkan rasa ketakutan sebelum ajalnya.
Entah kaget entah girang, Thi-lan juga berseru.
"He, siapa ... siapa yang membunuhnya?"
Li Eng-hong tidak bersuara, ia melangkah maju, sekali golok bekerja, baju dada Siau Bwe-jiu diungkapnya, terlihatlah pada dada orang ada bekas telapak tangan berwarna merah gelap.
Waktu mayat-mayat lain diperiksa, semuanya juga tidak ada bekas darah, jelas mereka terbunuh oleh getaran tenaga pukulan yang dahsyat dan binasa seketika, betapa keji tenaga pukulan ini sungguh sangat mengejutkan.
Semua orang saling pandang, sampai lama barulah Thi-lan berkata.
"Jangan-jangan perbuatan ... perbuatan Bok-long-kun dan Toh-liong-cu?"
"Siapa lagi selain mereka?"
Ujar Ciu Hong.
"Setiap orang Ngo-hing-mo-kiong tidak kenal kasihan, setiap soal yang menyakiti hati mereka pasti akan menuntut balas, tadi Siau Bwe-jiu bermaksud membakar mati Toh-liong-cu dan juga Bok-long-kun, dengan sendirinya dia sukar lolos pembalasan orang Ngo-hing-mo-kiong,"
Tutur Li Eng-hong dengan gegetun.
"Melihat gelagatnya, agaknya Siau Bwe-jiu juga menyadari bahaya yang akan mengancamnya, maka malam-malam ia kabur sebisanya, siapa tahu ... siapa tahu tetap tersusul dan terbunuh."
Meski mereka sama bersyukur atas kematian Siau Bwe-jiu, namun setelah mengalami pertarungan sengit dan sekarang menyaksikan korban sebanyak ini, betapa pun mereka sama merasa ngeri dan waswas.
Mendadak terdengar Gu Thi-hiong membentak dan menerjang ke dalam anjungan, hanya sekejap saja ia sudah lari keluar lagi, ucapnya dengan tertawa kepada orang banyak.
"Biniku tidak berada di kapal ini."
Ciu Hong tersenyum, katanya.
"Tokoh semacam Siau Bwe-jiu pada waktu lari mencari selamat masakah mau pikirkan orang lain? Sampai-sampai adik perempuan sendiri kan juga ditinggalkan."
Thi-hiong bersorak gembira sambil melonjak-lonjak. Thi-lan juga bergumam.
"Dengan demikian dapatlah kita pulang dengan tenteram."
Diam-diam Po-ji juga merasa terharu dan bersyukur bagi Thi-wah bertiga.
Akhirnya Li Eng-hong mendapatkan sebuah kereta, cepat ia mengantar Thi Un-hou dan Cian Siang-sing mencari tabib, dengan berlinang air mata Kiang Hong mengantar keberangkatan mereka.
Teringat kepada berbagai perubahan selama sehari, orang pun sama terharu.
Angin mendesir, perlahan Li Eng-hong meraba bahu Po-ji, sampai lama diam saja.
"Paman Li datang dari Tionggoan, apakah engkau mendengar tentang kakek Jing-pek-kiam-khek?"
Tanya Po-ji. Berubah juga air muka Li Eng-hong, ia tidak menjawab langsung melainkan berkata.
"Perjuangan seorang kesatria memang banyak pahit getir, masa depanmu sendiri tidak terbatas, hendaknya kau berjaga diri baik-baik."
Po-ji berkedip-kedip dan diam, meski kecil usianya, namun jalan pikirannya sudah cukup dewasa, urusan apa pun dapat disembunyikannya di dalam hati untuk menghindarkan duka sendiri dan susah orang lain.
Tiba-tiba Li Eng-hong membisiki Po-ji.
"Ciu-loyacu itu pasti bukan orang biasa, hendaknya jangan sembarangan kau perlakukan dia."
Po-ji mengangguk, Li Eng-hong lantas mencemplak ke atas kereta, katanya sambil memberi salam.
"Sampai berjumpa lagi ...."
Kuda dicambuknya dan kereta pun dihalau pergi dengan cepat. Kiang Hong menangis sedih, Thi-lan mendekatinya dan memegang tangannya. Mendadak Kiang Hong mengusap air mata dan berseru.
"Para kawan, aku pun akan berangkat sekarang."
"Pangcu hendak pergi ke mana?"
Tanya Thi-lan.
"Ke mana? .... Empat penjuru adalah rumah ke mana pun boleh,"
Sahut Kiang Hong dengan tertawa. Meski ia berlagak gagah perkasa seperti dulu, namun sukar menutupi rata pedih dan hampanya perasaan. Dengan terharu Thi-lan berkata.
"Dunia Kangouw penuh bahaya dan kepalsuan, Pangcu sendiri sudah sekian lama berkelana, apakah tidak ingin istirahat dulu untuk sementara?"
Kiang Hong memandangi air sungai termangu-mangu, air mata pun berlinang, dengan parau.
"Betapa ganasnya dunia harus kuterobos juga."
Thi-wah seperti ingat sesuatu dan mau bicara tapi urung karena mata Thi-lan yang mendelik padanya. Sambil memegangi bahu Kiang Hong, dengan perlahan Thi-lan berkata pula.
"Tapi Pangcu ...."
"Apa yang hendak kau katakan lagi?"
Kata Kiang Hong dengan mengentak kaki.
"Memangnya kau tidak tahu bahwa tiada tempat lagi yang dapat kutuju?"
Ia kebaskan tangan Thi-lan, lalu lari ke depan. Namun Thi-lan keburu menariknya sambil berseru.
"Pangcu ...."
Karena terseret, Thi-lan jatuh terduduk. Kiang Hong sempat melangkah ke depan dan menoleh lagi. Segera Thi-lan dirangkulnya erat dan keduanya sama menangis.
"Jelek-jelek rumahku masih cukup untuk berteduh,"
Ucap Thi-lan dengan mencucurkan air 265 mata.
"Bilamana Pangcu tidak menolak, marilah singgah dulu di rumahku ...."
"Orang yang sudah kehilangan segalanya sudi kau terima?"
Tanya Kiang Hong dengan menangis. Kejut dan girang Thi-lan, serunya.
"Jadi Pangcu terima ... terima tawaranku?"
"Pangcu apa? Masa kau masih panggil Pangcu padaku,"
Kata Kiang Hong dengan bengis.
"Sekali kau panggil demikian lagi segera aku angkat kaki dari sini."
"Baik, Cici, kehendakmu tentu kuturut saja,"
Sahut Thi-lan dengan tersenyum.
Terharu Po-ji menyaksikan percakapan mereka, sebaliknya Thi-wah tertawa lebar dan mendekat pula, seperti mau bicara, tapi dicegah lagi oleh Thi-lan dengan melotot, bentak si nona.
"Ayo, pulang, jalan di depan!"
"Baik, adik sayang, kakak menurut saja,"
Sahut Thi-wah dengan tertawa. Segera ia pegang tangan Po-ji dan berkata pula.
"Toako, engkau juga harus ikut pulang untuk berkenalan dengan ayah dan ibuku."
Segera mereka mendahului jalan di depan diikuti Thi-lan yang memayang Kiang Hong. Sedang Ciu Hong menarik Thi-hiong dan berkata padanya.
"Jika binimu mendengar kabar kematian kakaknya, tentu dia tak mau tinggal lagi di sini. Tatkala mana bila kau ingin mencari bini lagi tentu sulit."
"Wah, lantas ... lantas bagaimana?"
Tanya Thi-hiong cemas.
"Kau mau kuberi suatu jalan?"
Tutur Ciu Hong.
"Tentu saja mau,"
Seru Thi-hiong girang.
"Ayolah Loyacu, lekas ... lekas tolong diriku."
"Begini,"
Tutur Ciu Hong lebih lanjut.
"Jika dia mau pergi, boleh kau cengkeram dia cara demikian ...."
Ia angkat kedua tangan dan memberi contoh satu gerak serangan, lalu menyambung.
"Nah, dengan cara begini tanggung dia akan kau pegang dan sukar terlepas."
Thi-hiong menirukan jurus itu sambil bergumam.
"Masa begini gampang dapat memegangnya?"
"Memang gampang,"
Ujar Ciu Hong tertawa.
"Setelah dia kau pegang, boleh coba kau lepaskan dia, lalu menggunakan cara ini untuk menangkapnya lagi dan dia tetap akan dapat kau pegang."
"Apa, betul?"
Thi-hiong menegas dengan terbelalak.
"Tentu saja betul. Cuma setelah kau tangkap dia lagi hendaknya jangan kau lepaskan pula ...."
Sementara itu mereka sudah mulai menanjaki sebuah jalan pegunungan.
Tiba-tiba sesosok bayangan orang berlari datang dari atas secepat terbang, kiranya seorang gadis jelita berbaju hijau.
Cepat Thi-hiong menyongsongnya sambil tertawa lebar.
"Aha, biniku sayang, kau datang menyambutku bukan?"
Melihat mereka, air muka si gadis rada berubah, segera ia pun menegur dengan mendelik.
"Kenapa kau pulang sendirian? Di manakah mereka?"
"Mereka sudah kabur semua, kau ditinggal begitu saja,"
Tutur Thi-hiong tertawa.
"Omong kosong, biar kususul ke sana,"
Seru si gadis dengan gusar dan segera hendak melangkah pergi.
"Berhenti!"
Bentak Thi-hiong mendadak. Kaget juga gadis itu, belum pernah Thi-hiong berani berlagak segarang ini, jawabnya bengis.
"Kau berani merintangi kebebasanku?"
"Aku kan lakimu, jika aku tidak boleh urus dirimu siapa lagi yang urus?"
Sahut Thi-hiong tegas.
"Aha, bagus! Tak tersangka sekarang Loji juga punya semangat jantan,"
Seru Thi-wah sambil berkeplok tertawa.
"Hm, kau berani urus diriku, boleh coba bila ingin digampar ...."
Belum lanjut ucapan si gadis baju hijau, entah cara bagaimana, tahu-tahu kedua tangannya kena dipegang Thi-hiong.
"Hehe, pernah kau lihat jurus ini? ...."
Tanya Thi-hiong dengan tertawa.
"Toako, inilah biniku Siau Soh-jiu, sebelum ini kutakut padanya, selanjutnya dia yang harus takut padaku."
Karena sukar melepaskan diri, dengan muka merah Siau Soh-jiu berteriak.
"Huh, main pegang pada waktu orang tidak menduga, terhitung jantan apa?"
"Baik, jika kau tidak takluk, boleh kau coba lagi ...."
Kata Thi-hiong sambil lepaskan pegangannya.
Baru saja terlepas, kontan Siau Soh-jiu menampar muka Gu Thi-hiong.
Siapa tahu hanya sekali bergerak saja tahu-tahu tangan si nona kena ditangkap lagi.
Jelas terlihat oleh Siau Soh-jiu gerak tangan Thi-hiong itu, namun ingin menghindar justru tidak keburu.
Keruan ia melongo, muka pun merah padam menahan gemas.
Kiang Hong dan Thi-lan juga keheranan, mereka merasa gerak tangan Thi-hiong itu sungguh sangat indah, arah yang dituju juga sangat ajaib, biarpun mereka yang menghadapi serangan ini juga pasti sukar mengelak.
Terdengar Thi-hiong lagi berteriak dan tertawa.
"Aha, biniku sayang, sekarang kau takluk tidak? Nah, ikut pulang saja bersama lakimu ini."
Sembari bicara segera ia seret Siau Soh-jiu dan diajak menuju ke atas bukit.
Po-ji, Thi-wah, dan Thi-lan sama terkejut dan bergirang, tanpa terasa mereka sama memandang Ciu Hong.
Orang tua itu kelihatan tak acuh dan lagi tersenyum sambil mengelus jenggot.
Setiba di rumah gubuk di atas bukit, setelah bertemu kedua orang tua Thi-wah, terjadilah suasana suka-duka, ya menangis ya tertawa, ya sibuk ya ribut, ya makan ya minum ....
Itulah suka-duka kehidupan manusia yang lazim.
Malamnya, diam-diam Po-ji menuju ke hutan kecil di belakang rumah, di angkasa cahaya bulan remang-remang dan bintang berkelip, di bawah sana air sungai mengalir jauh ke sana.
Po-ji coba memandang jauh ke hulu dan ke hilir sungai, ditaksir sejauh belasan li sama tercakup di dalam pandangannya, diam-diam ia membatin.
"Tempat ini memang sangat strategis, pantas Siau Bwe-jiu berusaha ...."
Belum habis terpikir, tiba-tiba terlihat dua buah perahu terbuka meluncur tiba menentang arus.
Berpuluh orang penumpangnya sama memegang dayung, perahu meluncur sangat cepat.
Di bawah cahaya bulan cukup terlihat jelas ratusan penumpang kedua perahu itu semuanya adalah kaum pengemis yang berambut kusut dan berbaju rombeng.
Dahulu Po-ji pernah melihat tiga orang jago pengemis yang serakah, tapi kemudian digertak lari ketakutan oleh Bok-long-kun.
Sejak itu ia sangka orang Kay-pang hanya terdiri dari manusia tamak dan takut mati, namun kemudian ia pun kenal tokoh Kay-pang seperti Ong Poan-hiap yang berbudi luhur, maka baru diketahuinya bahwa dari lapisan mana pun sukar terhindar dari baik dan buruk.
Kini terlihat kawanan pengemis yang menumpang dua perahu itu dan didayung tergesa-gesa begitu, diam-diam ia bergumam sendiri.
"Apakah mungkin di dalam Kay-pang juga terjadi sesuatu?"
Mendadak seorang menukas ucapannya.
"Betul, dalam Kay-pang tentu terjadi sesuatu urusan, apakah kau ingin melihatnya?"
Suaranya serak tua, waktu Po-ji menoleh, kiranya Ciu Hong adanya.
Po-ji tidak mahir ilmu silat, tapi sejak kecil mata telinga memang sangat tajam, sekarang Ciu Hong tahu-tahu muncul dari belakang di luar tahunya, tentu saja ia terkejut.
Dilihatnya Ciu Hong sedang menengadah sambil tersenyum, lalu berkata pula.
"Anggota Kay-pang biasanya berkeliaran di mana-mana, sumber berita mereka sangat cepat dan dapat dipercaya. Barang siapa ingin mencari orang, tanya saja kepada mereka pasti akan berhasil."
Ia seperti bicara sendiri, namun setiap katanya kena di hati Po-ji, diam-diam ia terkesiap, katanya kemudian dengan tertawa.
"Loyacu, apakah engkau juga ingin pergi melihatnya?"
"Aku memang biasa berkelana kian kemari, keramaian apa pun ingin kulihat,"
Jawab Ciu Hong. Tergerak pikiran Po-ji, cepat ia berkata pula.
"Baik, kuikut pergi bersamamu."
"Kau tahan siksa derita dalam pengembaraan?"
Tanya Ciu Hong. Tanpa ragu Po-ji menjawab.
"Tahan!"
"Tidak, tidak tahan ...."
Sekonyong-konyong suara seorang mendekat, lalu muncul Gu Thi-wah dengan wajah sedih.
"Urusan apa yang membuatmu murung?"
Tanya Ciu Hong tertawa. Dengan muka kecut Thi-wah menjawab.
"Pandanganku senantiasa tercurahkan kepada nona Kiang, tapi ... tapi dia justru tidak pernah memandang sekejap pun padaku."
"Hah, dalam keadaan telanjang bulat dia pernah kau peluk, dengan sendirinya dia malu terhadapmu,"
Ujar Ciu Hong dengan tertawa.
"Maka semakin dia tidak mengacuhkanmu, tandanya dia ada perasaan terhadapmu. Bila dia anggap sepele kejadian itu dan bicara denganmu seperti biasa, tentu kau yang tidak tahan."
Mata Thi-wah terbelalak lebar, serunya.
"Masa begitu aneh jalan pikiran orang perempuan?"
"Barang paling aneh di dunia ini bukan lain adalah hati orang perempuan,"
Ujar Ciu Hong. Thi-wah terdiam sejenak, kemudian berkata pula dengan menyesal.
"Tapi tadi waktu tidak ada orang lain pernah kupegang lengan bajunya, namun dia tetap tidak memandang sekejap pun padaku. Ia hanya menengadah dan bergumam sendiri tentang apa yang aku tidak paham, katanya hari masih panjang, kaum lelaki harus punya harga diri, kalau bukan pahlawan, jangan 268 harapkan si cantik."
Meski kecil, namun Po-ji sudah banyak membaca dan terpelajar, ia tahu maksud syair yang didendangkan Kiang Hong itu, dengan sendirinya anak dogol semacam Gu Thi-wah tidak paham urusan syair yang cukup gamblang maksudnya itu.
Dengan tertawa Ciu Hong sengaja berkata.
"Haha, bagus sekali! Tampaknya hati anak perempuan itu memang terpikat olehmu. Apa yang diucapkannya itu justru memberitahukan padamu bahwa hari masih panjang, supaya kau jangan terburu nafsu, asalkan kau dapat berbuat sesuatu yang mengguncangkan dunia ini, akhirnya dia tetap akan menjadi milikmu. Tapi kalau kau bukan kelas pahlawan, tentu tidak sesuai mendapatkan dia."
Thi-wah bersorak dan melonjak gembira, namun dalam sekejap lantas murung lagi, katanya.
"Tapi, wah, cara bagaimana untuk bisa menjadi seorang pahlawan? Loyacu, dapatkah kau ajarkan padaku?"
"Jika kau ingin belajar menjadi pahlawan, untuk sementara kau harus ikut pergi bersamaku dan Toakomu,"
Kata Ciu Hong dengan tersenyum. Tiba-tiba terdengar lagi suara orang menghela napas panjang dan berkata.
"Ayolah berangkat, lebih baik berangkat saja."
Terlihat Thi-hiong mendekat dengan wajah muram durja.
"He, kau kenapa? Apa yang membuatmu masygul?"
Tanya Ciu Hong.
"Biniku itu masih mengharuskan aku tidur di lantai,"
Tutur Thi-hiong kesal.
"Bila kunaik ke tempat tidur segera didepaknya ke bawah lagi. Ai, jurus tangkapan ajaran Loyacu itu sekarang sudah tidak berguna lagi."
"Baik, akan kuajarkan lagi dua jurus yang berguna padamu,"
Kata Ciu Hong.
Lalu ia ajak Thi-hiong ke samping, dia memberi contoh lagi beberapa gerakan, diajarkan lagi beberapa jurus.
Cepat juga Thi-hiong memahami jurus ajaran Ciu Hong, dengan tertawa orang tua itu berkata.
"Baiklah, sekarang akan kuajarkan pula satu akal, agar binimu tunduk benar-benar padamu."
"Aha, apa benar ada akal sebagus itu? Ayolah lekas Loyacu ajarkan padaku,"
Pinta Thi-hiong dengan girang.
"Tentu saja benar, cuma akal bagus ini tidak boleh didengar orang ketiga, coba dekatkan telingamu ke sini,"
Kata Ciu Hong. Cepat Thi-hiong menyodorkan telinga ke dekat orang tua itu untuk mendengarkan, sejenak setelah mendengarkan, mendadak mukanya berubah merah, ucapnya dengan tertawa.
"Wah, cara ini apakah tidak ... tidak agak ... agak memalukan?"
"Kalian kan suami-istri, kenapa pakai malu segala?"
Ujar Ciu Hong.
"Nah, lekas laksanakan saranku ini."
Thi-hiong bersorak gembira terus berlari pergi.
Po-ji saling pandang dengan Thi-wah, keduanya merasa bingung karena tidak tahu akal baik apa yang dikatakan Ciu Hong itu.
***** Esok paginya, diam-diam Po-ji dan Thi-wah sama menaruh perhatian terhadap gerak-gerik Gu-jiso alias Siau Soh-jiu atau istri Gu Thi-hiong itu.
Terlihat nona itu masak air dan membuat teh dengan tekun, ternyata benar-benar telah tunduk kepada peraturan rumah tangga dan bekerja sebagai seorang nyonya menantu keluarga Gu, hanya di antara mata alisnya kelihatan tanda malu-malu, tingkah lakunya juga agak lemas seperti kurang tidur.
Waktu memerhatikan Gu Thi-hiong, anak muda itu tampak bersitegang dan berseri-seri, malahan sering meraba dagu dan tertawa senang seperti orang sinting.
Tentu saja Thi-wah ingin tahu, ia coba tanya.
"Sebenarnya akal apa yang diajarkan Ciu-loyacu kepadamu?"
Siapa tahu Thi-hiong hanya menggeleng-geleng kepala dan menjawab.
"Wah, hal ini sama sekali tak boleh kuberi tahukan padamu."
Sambil tertawa ia terus berlari pergi.
Ciu Hong, Po-ji dan Thi-wah lantas mohon diri kepada semua orang, dengan sendirinya terjadi percakapan yang mengharukan, akhirnya mereka bertiga naik ke atas kapal kotak buatan Thi-wah itu dengan perasaan berat.
Setelah jauh meninggalkan pantai, tiba-tiba Thi-wah tertawa sendiri seperti orang linglung.
"He, perasaan orang sama tertekan, apa yang kau tertawakan?"
Tegur Po-ji.
"Aku gembira, sebab akhirnya dia memandangku sekejap pada waktu kunaik kapal tadi, meski cuma sekejap, namun jauh lebih baik daripada ucapan,"
Tutur Thi-wah. Meski sederhana penuturannya, namun arti yang terkandung sungguh timbul dari perasaan yang tulus dan murni. Po-ji berolok-olok.
"Wah, perasaan mendalam begini ternyata dapat kau terima juga."
Mendadak Ciu Hong menimbrung.
"Kalian mesti ingat, sepanjang jalan ini kalian harus lebih banyak menggunakan mata dan sedikit pakai mulut, kaki dan tangan pun tidak boleh sembarangan bergerak."
"Kita kan bukan orang buta, bila tidak tidur, tentu mata akan digunakan terlebih banyak,"
Ujar Po-ji.
"Sama-sama menggunakan mata untuk memandang, namun cara memandang juga berbeda beda, kalau memandang tanpa melihat, lalu apa bedanya seperti orang buta?"
Kata Ciu Hong. Ia berhenti sejenak, lalu bertanya.
"Coba umpama air mengalir, apakah pernah kau lihat ...."
"Sudah tentu pernah kulihat,"
Jawab Po-ji tertawa.
"Ya, tentu beratus kali pernah kau lihat air, tapi ingin kutanya padamu, falsafah apa yang terkandung dalam air mengalir itu dan apanya yang menarik, dapatkah kau terangkan?"
"Wah, ini ... ini ...."
Po-ji melenggong.
Jilid 11.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Published by Nra on 2006/8/8 (1733 reads) "Makanya, banyak urusan di dunia ini serupa air mengalir saja, meski pernah kau lihat, hanya lihat dan tidak tahu, dengan sendirinya di mana letak keajaibannya tidak kau ketahui,"
Ujar Ciu 270 Hong dengan tertawa.
"Memang benar ucapan Loyacu,"
Kata Po-ji dengan malu hati.
"Dan sekarang boleh kau pandang arus air selama tiga jam, coba apa yang dapat kau pahami? Tiga jam kemudian baru akan kutanyaimu lagi."
"Baik,"
Jawab Po-ji, ia coba memandang ke sana, terlihat arus air bergulung tanpa putus dan mengalir lewat di kedua sisi kapal dan menimbulkan buih berwarna putih susu.
Selang tiga jam kemudian, kapal kotak itu sudah laju menyongsong arus sejauh belasan li.
"Nah, sekarang kutanya lagi padamu, di mana letak keajaiban arus air, apakah sudah dapat kau jawab?"
Tanya Ciu Hong. Po-ji menghela napas panjang, ucapnya perlahan.
"Dahulu kupandang arus air adalah air mengalir, memangnya apa bedanya, tapi sekarang baru kutahu bahwa arus air sungai begini bagi pandangan seorang penyair adalah sumber ilham yang bagus untuk merangkai syair, dan bagi pandangan seniman akan merupakan lagu yang sangat indah."
"Dan dalam pandangan seorang guru besar ilmu silat akan jadilah sejurus ilmu silat yang terus-menerus dan sukar digempur, apakah hal ini tidak pernah terlintas dalam perkiraanmu?"
Tukas Ciu Hong mendadak.
"Aha, betul,"
Seru Po-ji dengan gembira.
"Arus air ini memang meliputi teori ilmu silat yang mahatinggi, coba lihat, setiap gelombang arus air sekilas pandang memang serupa, tapi bila diamati dengan cermat tentu akan ketahuan di antara gelombang dan gelombang sebenarnya tidak sama, banyak ragam dengan macam-macam perubahan yang ruwet serta sukar diselami, hal ini rada ... rada mirip dengan ilmu pedang si baju putih yang misterius itu, setiap jurus ilmu pedangnya kelihatan serupa, tapi mutlak tidak sama ...."
Makin bicara makin bersemangat, kedua mata terbelalak dan bercahaya penuh kecerdasan serupa orang dewasa. Wajah Ciu Hong pun menampilkan rasa senang dan terhibur, ucapnya sambil mengelus jenggot.
"Betul! Sekarang kutanya lagi padamu, apakah kau dapat memotong arus air dengan sekali tebas?"
"Makin ditebas makin cepat air mengalir, tidak mungkin dapat ditebas putus,"
Jawab Po-ji.
"Ya, jangankan cuma sekali tebas, biarpun beribu kali ditebas juga tidak mungkin putus,"
Tukas Ciu Hong dengan tertawa.
"Nah, apakah sekarang kau tahu apa sebabnya dalil ini?"
"Ini ... ini ...."
Po-ji melenggong, sinar matanya berkilat-kilat, mendadak ia berteriak girang.
"Aha, kutahu. Ini disebabkan di antara air yang mengalir itu sebenarnya mengandung daya hidup yang tidak terputus-putus dan mutlak tidak dapat dipotong oleh tenaga apa pun. Jika ilmu silat seseorang bisa serupa air mengalir, maka dia pasti tidak ada tandingannya di dunia."
Ciu Hong semakin gembira dan terhibur, namun di mulut ia bicara dengan kereng.
"Betul, daya hidup yang tidak terputus-putus, inilah karunia yang diberikan oleh Yang Mahakuasa terhadap manusia, di sinilah letak kekuatan pemberian alam dan ...."
Dengan sendirinya falsafah yang sangat mendalam ini tidak dapat diikuti oleh Gu Thi-wah, ia cuma memandang mereka dengan terkesima, ia lihat Po-ji duduk di haluan dengan tersenyum dan seperti telah memahami sesuatu.
Mendadak terdengar suara nyaring kecapi berkumandang dari hilir sungai sana.
"Coba luncurkan kapal kita ke arah suara musik itu,"
Kata Ciu Hong.
Thi-wah menurut, selagi kapal meluncur, suara kecapi terdengar semakin jelas dan berpadu dengan desir angin sungai hingga terjadilah irama yang menarik.
Selagi Po-ji termenung, tiba-tiba Ciu Hong berkata pula.
"Sudah sekian lama kau dengarkan suara kecapi, adalah sesuatu yang kau pahami?"
Po-ji menggeleng dengan bingung. Lalu Ciu Hong menyambung pula.
"Di tengah suara kecapi itu seperti mengandung suara pertempuran, agaknya orang yang memetik kecapi itu akan menghadapi suatu pertarungan sengit, sebab itulah dengan memetik kecapi untuk menenteramkan perasaannya yang bergolak."
Po-ji sangat tertarik, ucapnya dengan gegetun.
"Ai, bilamana Loyacu bukan seorang ahli seni suara, mana mungkin engkau dapat menyelami jalan pikiran pemetik kecapi itu?"
Tiba-tiba Ciu Hong berkerut kening, ucapnya pula.
"Suara pertempuran yang terkandung dalam suara kecapi itu makin lama makin keras jelas perasaan pemetik kecapi itu sukar ditenteramkan, sebaliknya semakin bergolak, bilamana kecapi terus berbunyi, akhirnya pasti akan putus senar dan hancur kecapinya. Tatkala itu semangatnya juga pasti akan runtuh, dan bila bertempur dia pasti akan kalah."
"Jika begitu, mengapa dia tidak berhenti memetik kecapi?"
Tanya Po-ji.
"Saat ini perasaannya sedang bergolak laksana kuda lari dan sukar dikekang lagi,"
Ujar Ciu Hong.
"Wah, lantas bagaimana ... bagaimana baiknya?"
Tanya Po-ji pula. Ciu Hong termenung sejenak.
"Rasanya orang ini seorang terpelajar, boleh juga kita coba membantunya dan mengacau suara kecapinya."
Segera ia berikan sepotong pentungan kepada Po-ji dan berkata pula.
"Coba gunakan pentungan ini untuk mengetuk tiang layar, jika dapat kau kacau suara kecapinya, tentu dapatlah dia berhenti memetik kecapi."
Po-ji mengiakan, segera ia ketuk tiang layar dengan pentungan itu dan menimbulkan suara "trak-trok"
Yang keras, meski lantang juga suara ketukannya, namun suara kecapi tetap sukar dikacaukan, bahkan akhirnya tanpa terasa suara ketukannya malahan seirama dengan suara kecapi orang.
Kening Ciu Hong bekernyit pula, ucapnya.
"Wah, caramu mengetuk itu hanya akan menambah cepat putusnya senar dan hancurnya kecapinya dan bukan lagi membantunya, sebaliknya akan membikin celaka dia."
Po-ji berhenti mengetuk, katanya dengan menyesal.
"Kurasakan suara kecapinya itu pun serupa air mengalir yang sukar dipotong, rasanya sukar untuk dikacaukan."
"Meski irama kecapi itu juga berbunyi memanjang, namun di antaranya terdapat peluang yang kosong, karena kau belum dapat menemukan kuncinya sehingga sukar mengacaukan suara kecapinya."
Sementara itu kapal sudah menepi, dipandang dari jauh, terlihatlah seorang berbaju kuning dengan rambut panjang terurai dan bertelanjang kaki sedang menongkrong di atas sepotong batu karang dan asyik memetik kecapi.
"Bukan cuma irama musik saja, segala urusan yang diperbuat manusia juga begitu, sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan apa yang lahir secara alamiah,"
Kata Ciu Hong.
"Apakah ilmu pedang juga begitu?"
Tanya Po-ji.
"Betul, bilamana kau dapat menemukan titik luang permainan pedang lawan maka sekali gempur dapatlah kau patahkan permainannya, dengan begitu segala apa pun dapat dihancurkan, segala sesuatu dapat diatasi, ini serupa sekarang, sekali tempur dapatlah kuputuskan irama kecapi itu."
Habis berkata, ia ambil pentungan dari tangan Po-ji, sekenanya ia ketuk tiang layar dengan pentungan, dan suara yang timbul tepat menyelip pada titik luang waktu perubahan irama kecapi.
Karena ketukan yang tepat ini, seketika irama kecapi menjadi kacau.
Serentak orang berbaju kuning itu bersuit panjang dan berdiri, lalu memandang ke langit dengan termenung-menung.
Apa yang diuraikan Ciu Hong itu terasa meresap benar ke lubuk hati Pui Po-ji, serupa bagian yang gatal dengan tepat dapat digaruknya, rasanya sukar dilukiskan sehingga dia tidak memerhatikan sesungguhnya siapakah si baju kuning.
"Suara ketukan pentungan kasar buruk, suara kecapi indah merdu,"
Tutur Ciu Hong.
"Suara ketukan pentungan cuma bunyi sekali, suara kecapi justru berirama panjang, tapi dengan sekali suara kasar dan buruk dapat memotong suara nyaring merdu yang berirama, inilah titik kelemahan irama kecapi yang dapat ditemukan, dan begitulah seterusnya mengenai soal lain, tentu dapat kau selami sendiri ...."
Mendadak Po-ji melompat bangun dengan penuh kegirangan, serunya.
"Aha, dipikir sesuai dengan teori ini, meski aku sendiri tidak mahir ilmu silat, tapi asalkan dapat menemukan titik lemah ilmu pedang orang lain, dapat kuketahui kunci perubahan pada iramanya, tentu tidak sulit bagiku untuk mengalahkan dia yang lebih kuat, dapat kugempur hancur permainan pedangnya."
"Ya, begitulah,"
Ucap Ciu Hong dengan tersenyum senang. Wajah Po-ji berseri-seri, katanya.
"Begini bagus teori ini, tapi juga sedemikian sederhana, ahli silat di dunia ini sukar menyelami hal ini? Sungguh keterangan Loyacu yang singkat ini jauh lebih bermanfaat daripada kubelajar berpuluh tahun."
Selagi mereka asyik bicara, tiba-tiba Thi-wah berteriak gembira.
"Toako, jangan cuma mengobrol saja, lihatlah, banyak tontonan menarik tidak kau ikuti, lekas lihat dulu dan bicara nanti."
Kiranya si baju kuning yang duduk di pantai tadi setelah termenung-menung memandang langit, sejenak kemudian mendadak ia mengangkat kecapinya terus dibanting hingga hancur pada batu karang yang didudukinya tadi.
Dan begitu kecapi dibanting hancur, serentak dari balik batu karang itu muncul beratus orang pengemis yang berbaju compang-camping.
Jelas kawanan pengemis itu sudah sembunyi di situ sejak tadi, daripada dikatakan mereka bersembunyi di situ untuk menikmati suara kecapi si baju kuning, lebih tepat dikatakan mereka sedang mengintai gerak-gerik orang itu.
Sekarang demi menyaksikan si baju kuning membanting hancur kecapinya, kawanan pengemis itu sama terperanjat.
Tiga orang pengemis berambut ubanan lantas mendekati si baju kuning dengan hormat, mereka bicara apa-apa kepada si baju kuning, tapi orang itu seperti enggan mendengarkan, ia memberi tanda agar kawanan pengemis itu enyah.
Sisa pengemis yang lain tampak berwajah murung, mereka saling bisik-bisik, entah apa yang dipersoalkan mereka, tampaknya seperti berusaha untuk bicara apa-apa agar si baju kuning bisa merasa senang.
Sekonyong-konyong dua orang pengemis ubanan membawa tiba seguci arak dan diaturkan ke depan si baju kuning, lalu beberapa pengemis anak kecil melompat keluar dan mengelilingi si baju kuning dengan tertawa riang gembira sambil berkeplok dan menari, terkadang ada yang menarik ujung baju si baju kuning, kelakuannya kurang hormat, tampaknya bukan hendak membikin senang sebaliknya seperti sengaja hendak memancing kemarahannya.
Namun si baju kuning tetap berdiri diam saja tanpa bergerak, malahan tidak menggubrisnya sama sekali, terkadang ia angkat guci arak dan minum seceguk.
Waktu Po-ji dan Ciu Hong berpaling, apa yang terjadi ini dapat dilihatnya.
Dengan mata terbelalak Po-ji berkata dengan heran.
"Apa yang sedang dilakukan kawanan pengemis itu? Mengapa si baju kuning diam saja dan tidak mengusir mereka?"
"Mungkin kawanan pengemis itu adalah anak murid si baju kuning,"
Kata Ciu Hong. Po-ji tambah terkejut, katanya dengan gusar.
"Jika benar kawanan anak nakal itu anak murid si baju kuning, mengapa mereka bersikap kurang ajar terhadap orang tua? Sungguh terlalu dan perlu dihajar adat!"
Kening Ciu Hong juga bekernyit.
"Pikiran si baju kuning baru saja dapat ditenteramkan, jika apa yang terjadi ini terus berlangsung, mungkin dia akan terpancing marah lagi, dan bila sebentar bertempur dengan orang tentu takkan menguntungkan dia."
Selang sejenak, si baju kuning tampak masih tenang saja. Dengan wajah murung ketiga pengemis ubanan tadi muncul lagi, satu di antaranya yang bertubuh kurus kecil mendadak berseru.
"Musibah yang menimpa Pangcu sekali ini, bilamana Ong-locunjin tidak pulang tepat pada waktunya, sungguh nasib Kay-pang kita sukar dibayangkan. Maka budi pertolongan Ong-locunjin ini selamanya tidak boleh kita lupakan."
Serentak para pengemis mengiakan dengan penuh semangat. Namun si baju kuning tetap bersikap dingin dan tak acuh sama sekali. Si pengemis kurus lantas menyambung lagi.
"Tapi pertarungan Ong-locunjin dengan iblis perempuan itu hari ini sungguh menyangkut mati-hidup kaum kita. Bila Ong-locunjin kalah, maka ... ai, akibatnya sungguh tidak berani kubayangkan. Sebab itulah, maaf, jika kubicara setulusnya, menghadapi pertempuran besar ini, hendaknya Ong-locunjin jangan ... jangan terus bersikap demikian, kalau tidak ... kalau tidak, ai ...."
Ia menghela napas panjang, lalu menunduk dengan sedih. Ciu Hong termenung sambil mengelus jenggotnya, ucapnya perlahan.
"Pikiran si baju kuning sekarang sedemikian tenangnya, inilah tanda baik sebelum bertempur, tapi mengapa si pengemis tua ini minta dia jangan bersikap demikian? Memangnya dia sengaja memancingnya marah sebelum bertempur dengan orang? .... Aneh, sungguh aneh dan sukar dimengerti."
Sementara itu terdengar si baju kuning juga sedang menghela napas dan berkata.
"Aku pun tahu bilamana begini terus-menerus, aku pasti akan kalah, namun apa daya, seketika aku pun tidak punya jalan lain."
Mendadak pengemis kurus itu berlutut dan menyembah kepada si baju kuning, lalu melompat bangun dan berseru.
"Ya, terpaksa kulakukan ini, mohon Ong-locunjin jangan marah."
Berbareng ia terus menampar.
"plak", dengan tepat muka si baju kuning digamparnya dengan keras. Tindakan ini sama sekali di luar dugaan Po-ji dan Ciu Hong, mereka menyaksikan kawanan pengemis itu memohon sesuatu dan juga sedemikian hormat terhadap si baju kuning, sungguh mimpi pun tidak menyangka si pengemis kurus justru berani menamparnya, sedang pengemis lain juga menyaksikan dengan tenang saja tanpa heran atau terkejut. Yang lebih mengherankan adalah si baju kuning, setelah digampar, bukannya marah, sebaliknya ia malah terbahak-bahak, suara tertawa yang penuh rasa senang dan bukan cuma pura-pura. Sambil mengangkat guci arak, dia malahan bernyanyi diiringi tepuk riuh kawanan pengemis anak-anak itu sehingga suasana berubah riang gembira. Keadaan demikian sebenarnya menjadi pantangan tokoh dunia persilatan pada waktu sebelum bertempur, sebab rasa gembira paling gampang membuat lemah semangat, bila berhadapan dengan musuh tentu tidak tega lagi turun tangan. Meski Po-ji tidak paham seluk-beluk hal ini, tidak urung ia pun bekernyit kening, katanya.
"Ai, seperti orang gila saja mereka ini ...."
Mendadak si baju kuning menoleh, dan baru sekarang Po-ji dapat melihat jelas siapa dia, kiranya orang ini adalah tokoh aneh dunia Kangouw, Ong Poan-hiap adanya.
Melihat perubahan air muka Po-ji, Ciu Hong bertanya lirih.
"Apakah kau kenal dia?"
"Ya, dia inilah Ong Poan-hiap, paman Ong ...."
Jawab Po-ji, segera ia bermaksud berteriak, tapi keburu dicegah Ciu Hong.
"Ssst,"
Desis Ciu Hong.
"Banyak menggunakan mata dan sedikit memakai mulut, masakah sudah kau lupakan pesanku? Apa pun yang kita lihat hanya boleh kita pandang secara diam-diam dan tidak boleh banyak urusan dengan membuka mulut."
Po-ji menjulur lidah, ucapnya.
"Baiklah, apa pesan Loyacu pasti kuturut."
Ciu Hong mengangguk dengan tertawa. Selang sejenak ia berkata pula.
"Jika orang ini Ong Poan-hiap, maka segala urusan aneh apa pun tentu dapat kau pahami."
"Sebab apa?"
Tanya Po-ji heran.
"Ong Poan-hiap itu selain terkenal latah juga pendekar, namun ilmu silatnya kalah kuat daripada latahnya, maka orang-orang ini sama berusaha menimbulkan jiwa latah Ong Poan-hiap untuk mencapai kemenangan, sebab bila sifat latahnya kumat barulah ilmu silatnya dapat dikembangkan sehebatnya. Haha, Ong Poan-hiap memang manusia aneh zaman ini, sebab itulah terjadi peristiwa aneh seperti sekarang yang sukar dimengerti orang awam."
Po-ji berkedip-kedip, katanya kemudian.
"Oo, jika begitu, sebabnya dia memetik kecapi di tepi sungai tadi mungkin ingin mengobarkan sifat latahnya dengan suara kecapinya, apabila senar putus dan kecapi hancur, saat itu berarti tercapailah maksudnya. Jadi maksudmu membantunya tadi sebenarnya berbalik bisa membikin susah dia."
"Haha, diberi keterangan satu segera kau tahu tiga, sungguh anak baik,"
Ucap Ciu Hong dengan tertawa.
Tengah bicara, tiba-tiba dari hulu sungai sana meluncur tiba sebuah kapal aneh, dikatakan "kapal aneh", sebab kapal ini memang luar biasa.
Tubuh kapal ini adalah kapal besar kaum pembesar yang biasa berlayar, haluan kapal tampak besar dan megah, meski catnya sudah banyak yang terkelupas, namun masih tampak kukuh.
Namun di atas geladak kapal yang luas itu ternyata tidak ada anjungan, hanya dipasang gubuk yang tak teratur sehingga serupa kapal tambangan atau atap kapal barang yang dipretel dan dipasang darurat di kapal ini, sebagian gubuk malahan serupa tenda, malahan ada yang cuma ditutup dengan beberapa helai tikar dan beberapa potong papan saja sehingga mirip kapal kaum pengungsi.
Yang lebih aneh lagi, di antara gubuk-gubuk itu terpasang pula belasan tiang layar yang tidak teratur, besar-kecil tiang layar itu pun tidak sama, layar yang terkerek juga aneka ragam, ada yang terbuat dari layar asli yang sudah rusak, ada yang terbuat dari berbagai warna baju bekas, malahan ada yang serupa kain seprai.
Yang lebih lucu lagi adalah antara tiang-tiang kapal itu digandeng dengan tali, di atas tali banyak tergantung macam-macam peralatan seperti wajan bobrok, panci rusak dan beberapa ekor ikan asin, beberapa potong dendeng, tiga potong sayur putih, seekor kodok hijau, belasan potong lobak kering, sepotong mantel tua warna merah, belasan potong baju butut dan gaun penuh tambalan serta puluhan pasang sepatu yang beraneka warna dan berukuran berbeda, ada lagi beberapa renceng mata uang, beberapa buah cermin rusak, puluhan dompet kain dan macam-macam lagi yang aneh dan lucu.
Sepintas pandang kapal ini benar-benar semarak, ketika angin meniup, maka berbunyilah berbagai peralatan bobrok itu bersentuhan satu sama lain menimbulkan paduan suara yang aneh.
Thi-wah terbelalak dan melongo heran, ia pun sangat tertarik oleh adegan yang aneh itu, rasanya ingin melihat dan ikut main di atas kapal yang lucu itu.
Po-ji juga heran dan geli, katanya sambil menggeleng.
"Kusangka kapal Thi-wah ini merupakan kapal paling aneh di dunia ini, siapa tahu masih ada kapal lain yang beratus kali lebih aneh daripada kapal ini."
"Wah, jika kita memiliki kapal begitu, sungguh senang sekali,"
Gumam Thi-wah seperti orang linglung.
Tiba-tiba, di dalam gubuk yang memenuhi geladak kapal aneh itu timbul serentetan suara pletak-pletok serupa bunyi mercon, menyusul lantas menguap gumpalan asap tebal yang berwarna-warni sehingga seluruh kapal tertutup rapat oleh asap.
Melihat kedatangan kapal aneh ini, kawanan pengemis di pantai itu sama berubah tegang.
Ketiga pengemis tua tadi serentak tampil ke depan dan berdiri di tepi pantai.
Pengemis yang paling kurus tadi berseru.
"Yap Ling bersama Ong-locunjin Pang kami beserta para anak murid kaum rudin sudah lama menunggu kedatangan Anda, diharap Ong-toanio sudi keluar untuk berjumpa."
Ia bicara perlahan, namun setiap katanya berkumandang jauh dan terdengar cukup jelas. Maka terdengarlah jawaban suara merdu genit dari tengah asap warna-warni itu dengan tertawa.
"Hihi, buat apa tergesa-gesa, Yap Tua? Baju kami saja belum terpakai dengan baik, memangnya kau minta kami keluar berjumpa begini saja?"
Suaranya genit dan dibuat-buat serupa anak wayang di atas pentas.
Air muka si pengemis tua kurus alias Yap Ling kelihatan mengunjuk rasa marah, namun ditahannya dan tidak menanggapi lagi.
Dalam pada itu di tengah gumpalan asap berwarna sana terdengar suara tertawa cekikikan diseling suara merdu sedang berkata.
"Hei, Siu-siu, kenapa kau pakai gaunku? Ayo lekas kembalikan padaku."
"Aduhh, kenapa kau injak kakiku?!"
Terdengar seorang lagi mengomel.
"Ini bajuku ... wah, coba, jadi robek ditarik-tarik olehmu!"
"Tolong! lihatlah Toanio, setan cilik Jing-jing ini merampas bajuku!"
Meski tebal asap berwarna-warni itu, namun samar-samar terlihat juga beberapa sosok tubuh yang telanjang sedang berlarian kian kemari, ditambah lagi suara tertawa merdu yang menggiurkan dan kata-kata yang menarik ....
Muka kebanyakan kawanan pengemis di pantai menjadi merah jengah melihat adegan luar biasa itu.
Sebaliknya Thi-wah tambah melotot, ucapnya dengan tertawa.
"Buset! Kiranya kawanan nona di atas kapal itu semuanya tidak pakai baju."
"Ya, sungguh terlalu dan pantas dipukul pantatnya,"
Omel Po-ji. Tanpa disuruh Thi-wah terus berdiri dan berseru.
"Jika Toako memberi perintah, bagaimana kalau kuberi hajaran kepada mereka?"
Tapi Ciu Hong lantas mendelik dan mendamprat perlahan.
"Kalian jangan mengacau. Meski urusan ini kelihatan lucu, tapi di dalamnya mengandung mara bahaya yang sangat besar. Kita hanya boleh mengintip secara diam-diam dan jangan sembarang mencari perkara, bila banyak bicara dan cari gara-gara, akibatnya bisa runyam seperti kejadian dulu."
Thi-wah menjulur lidah dan tidak berani sembarang bicara lagi.
Sementara itu kapal aneh tadi sudah menepi, tiba-tiba dua sosok bayangan meloncat keluar dari balik tabir asap berwarna, keduanya sama berbaju compang-camping, rambut kusut dan muka kotor, dari bentuknya jelas mereka kaum minta-minta alias pengemis.
Ketika mendengar suara nyaring merdu dan tertawa genit penumpang kapal aneh itu, semula Po-ji mengira mereka pasti semuanya anak perempuan cantik molek.
Sekarang demi melihat kedua orang yang muncul ini, ia terkejut.
Akan tetapi setelah diperhatikan baru diketahui dugaan sendiri memang tidak salah.
Meski kedua orang ini bermuka kotor dan rambut kusut, namun mata jeli dan hidung mancung, perawakannya ramping, betapa kotor pun sukar menutupi kecantikan mereka.
Lebih-lebih yang sebelah kanan, bajunya yang singsat dan celana yang ketat, pakai sepatu bersulam, sebagian betisnya kelihatan putih bersih dan membuat jantung orang berdebur dan tidak berani memandang lebih lama lagi.
Gadis yang sebelah kiri juga tidak kurang cantiknya, cuma berkaki telanjang, sekilas pandang ia lantas memberi salam dan berseru.
"Ngo Jing-jing, Liok Siu-siu, atas perintah Ong-pangcu, semua anak murid Pang kita yang hadir di sini hendaknya berlutut menyambut kedatangan Pangcu."
Seketika sebagian anak murid Kay-pang merasa gusar, si pengemis tua ubanan sebelah kiri lantas menjawab dengan mendongkol.
"Hm, berdasarkan apa Ong-toanio minta disambut dengan berlutut? Hm, aku orang she Ciok yang pertama-tama tidak ...."
"Ciok King,"
Damprat si gadis alias Ngo Jing-jing.
"jangan kau lupa, Ong-toanio sudah menjadi 277 Pangcu kita, caramu bicara ini apakah tidak khawatir dihukum potong lidah?"
Dengan gusar Ciok King menjawab.
"Hm, Ong-toanio boleh menjadi Pangcu kalian, tapi bukan Pangcu kami."
Gadis yang lain bernama Liok Siu-siu menukas dengan tertawa genit.
"Apa pun kami juga kaum pengemis, dengan sendirinya kami pun anggota Kay-pang. Meski ada perbedaan antara lelaki dan perempuan, namun, sejak Kay-pang berdiri kan tidak ada peraturan yang menentukan orang perempuan dilarang menjadi anggota? ...."
Sampai di sini mendadak ia tepuk paha dan berteriak.
"Aduh, nyamuk berengsek ...."
Ia celup air liur dengan jarinya dan dipoles pada paha yang digigit nyamuk, lalu menyambung pula.
"Kalian tentu sudah hafal membaca peraturan Kay-pang dan tentu kalian mengakui kebenaran ucapanku ini."
Yap Ling, Ciok King dan seorang tua lagi bernama Nyo Han, ketiganya saling pandang tanpa bisa menjawab.
Ketiganya sudah kenyang asam garam kehidupan, mereka tidak menyangkal ucapan nona cilik itu.
Maklumlah, apakah orang perempuan boleh menjadi anggota Kay-pang atau tidak sudah menjadi persoalan selama berpuluh tahun.
Cuma pengemis perempuan yang berkepandaian tinggi memang jarang ada di dunia Kangouw, sebab itulah urusan ini tidak pernah dipelajari oleh para tokoh Kay-pang.
Siapa duga titik lemah ini sekarang digunakan oleh Ong-toanio untuk melatih serombongan anak murid perempuan untuk dijadikan pengemis, lalu diperalat untuk berebut kekuasaan dengan kawanan pengemis lelaki yang memegang pimpinan Kay-pang sekarang.
Liok Siu-siu melirik kian kemari dengan genitnya, lalu berkata pula dengan tersenyum.
"Jika tidak ada peraturan yang melarang orang perempuan menjadi anggota pengemis, dengan sendirinya, juga tidak ada peraturan yang melarang orang perempuan menjadi Pangcu, sebab itulah bila kalian keberatan, boleh coba pihak lelaki kalian menampilkan seorang jago untuk berebut kedudukan Pangcu dengan Ong-toanio kami. Kalau ilmu silat dan kecerdasan pihak lelaki tidak lebih hebat daripada orang perempuan, maka perkembangan Kay-pang selanjutnya biarpun dipimpin oleh orang perempuan, hal ini kan layak dan adil?"
Ia berhenti sejenak sambil menggaruk perlahan pahanya yang digigit nyamuk tadi, karena tidak ada yang menanggapi, ia menyambung pula.
"Dan sekarang Pangcu lelaki kalian jelas tidak dapat melebihi Ong-toanio kami, baik ilmu silat maupun kecerdasannya, maka kedudukan Pangcu seyogianya diserahkan kepada Ong-toanio, dalil ini kan cukup sederhana dan harus kalian terima."
Mendadak Ciok King membentak.
"Sungguh anak perempuan yang ceriwis, kepandaianmu bicara sungguh bisa menghidupkan orang mati. Akan tetapi orang she Ciok justru tidak dapat menerima ocehanmu, nah, boleh kita tentukan dalam pertempuran saja ...."
"Hihi, apabila kau anggap aku sembarang mengoceh, kan seharusnya kau bantah dengan ucapanmu yang lebih masuk di akal .... Aduh, kenapa pahaku makin lama makin gatal,"
Seru Siu-siu mendadak.
"Eh, tanganmu kasar dan besar, maukah kau garuk pahaku yang gatal ini?"
Sembari bicara pahanya yang putih mulus itu terus diangkat dan disodorkan ke depan Ciok King. Jantung Ciok King berdetak, cepat ia menyurut mundur dua tindak. Siu-siu terkikik, katanya.
"Hah, jika pahaku saja tidak berani kau pegang, masakah kau berani bicara tentang bertempur segala, kukira lebih baik ...."
Belum lanjut ucapannya mendadak sesosok orang melayang tiba sambil berseru dan tertawa.
"Haha, kau bilang pahamu gatal? Baik, biar kugaruk pahamu, bagian mana yang gatal?"
Suara tertawanya aneh, kelakuannya kocak, siapa lagi dia kalau bukan Ong Poan-hiap. Dan paha Siu-siu lantas dipegangnya.
"Kau berani?!"
Bentak Siu-siu gugup, paha ingin ditarik kembali, tapi entah cara bagaimana, tahu-tahu tumit kaki telah kena dicengkeram orang.
"Ehh, bagian mana yang gatal?"
Tanya pula Ong Poan-hiap dengan tertawa.
"Singkirkan tanganmu yang kotor?"
Bentak Siu-siu pula, berbareng kedua tangan lantas menebas ke depan, cepat dan jitu serangannya, kesepuluh jari yang lentik laksana sepuluh belati, asalkan kena tertebas, sukar dibayangkan bagaimana akibatnya.
Akan tetapi suara tertawa Ong Poan-hiap tambah nyaring, meski cepat serangan Siu-siu tetap tidak mampu menyentuhnya.
Mendadak Ngo Jing-jing juga membentak, sebelah kaki melayang, langsung menendang bagian iga Ong Poan-hiap.
Tendangan ini datangnya cepat tanpa suara, serupa tendangan kilat tanpa bayangan, semacam kungfu andalan Siau-lim-pay.
Padahal Siau-lim-pay sekte selatan selamanya tidak ada murid perempuan, entah dari mana pengemis perempuan ini belajar kungfu Siau-lim-pay yang lihai ini.
Melihat kelihaian tendangan Jing-jing, Yap Ling dan lain-lain sama menjerit kaget.
Siapa tahu, mendadak tangan Ong Poan-hiap yang lain meraih ke bawah dan tumit kaki Ngo Jing-jing juga kena dipegangnya.
"Kungfu hebat,"
Sorak Ciok King sambil berkeplok. Belum lenyap suaranya, terdengar seorang mengeluh perlahan di tengah kabut berwarna.
"Ah, juga tidak terlalu hebat, paling-paling cukup untuk menganiaya seorang nona cilik."
Meski kaki terpegang orang dan tidak dapat berkutik, namun Ngo Jing-jing dan Liok Siu-siu tidak memperlihatkan rasa gentar atau gugup, mendengar ucapan itu, ujung mulut mereka malahan menampilkan senyuman gembira.
Asap berwarna mulai lenyap, serombongan gadis jelita melompat ke pantai sambil tertawa riang, ada yang telanjang kaki, ada yang kelihatan pahanya, kebanyakan baju yang mereka pakai sudah rombeng, sambil berkeplok mereka berolok-olok setengah menyanyi.
"Ong Tua, tidak tahu malu, bau busuk kaki, enak bagimu!"
Empat gadis jelita lain membawa sebuah meja bundar tua, di atas meja penuh tertaruh pita kain sutra yang berwarna-warni.
Di tengah onggokan pita aneka warna itu duduk seorang nyonya cantik bersolek berlebihan, alisnya panjang hingga mendekati pelipis, meski sudah jelas mulai kelihatan keriput tua, namun lirikan matanya masih menggiurkan serupa gadis remaja dan membuat orang lupa pada kelakuannya yang aneh dan dandanannya yang rombeng.
Melihat nyonya cantik ini, tanpa terasa kening Ciu Hong bekernyit, gumamnya.
"Ong-toanio? Hm, Ong-toanio ...."
Sementara itu dendang kawanan gadis tadi sudah mereda, Ong-toanio melirik Ong Poan-hiap, katanya sambil menggeleng kepala.
"Hah, tokoh angkatan tua terkemuka kenapa memegangi 279 kaki nona cilik dan tidak mau dilepaskan, apakah tidak memalukan?"
"Memang agak memalukan, biarlah kulepaskan dia,"
Ucap Ong Poan-hiap. Mendadak dari tubuhnya timbul suara seorang lain.
"Tidak, tidak boleh, lepaskan mereka begitu saja, aku si Ong latah yang pertama keberatan."
"Oo, lantas kau mau apa?"
Suara Ong Poan-hiap menanggapi. Suara si latah yang timbul dari perut Ong Poan-hiap menjawab.
"Asalkan Ong-toanio membebaskan Pangcu kita, segera kita pun melepaskan kedua budak ini, jual-beli yang adil dan tidak merugikan siapa pun."
Ong-toanio terkekeh.
"Hehe, jika demikian, jadi kau gunakan kedudukan Pangcu untuk dibandingkan dengan kedua budak cilik ini? Wah, kan terlampau menilai rendah bekas Pangcu kalian."
"Habis apa kehendakmu?"
Tanya Ong Poan-hiap.
"Begini,"
Kata Ong-toanio dengan mengerling genit.
"Aku hanya duduk di atas meja ini tanpa bergerak, bilamana dalam 300 jurus dapat kau tangkap kakiku, segera kubebaskan Pangcu pujaan kalian. Sebaliknya, maka urusan ini tidak boleh lagi kau sebut-sebut dan harus mengangkatku sebagai Pangcu, memangnya aku tidak lebih unggul daripada tua bangka kecil itu?"
Sinar mata Ong Poan-hiap mencorong terang, teriaknya.
"Baik, sekali berjanji ...."
"Betapa pun tidak boleh dijilat kembali!"
Sambung Ong-toanio dengan tertawa. Ong Poan-hiap lantas membentang kedua tangannya, Ngo Jing-jing dan Liok Siu-siu terlempar ke sana, serunya.
"Jadi!"
Serentak para pengemis juga penuh semangat dan tegang.
Hendaklah maklum, gerak tangan Ong Poan-hiap justru terkenal cepat dan jitu, kungfu andalannya "Hun-kong-ciok-eng-jiu", gerak tangan menangkap bayangan secepat kilat, adalah ilmu menangkap paling lihai di dunia persilatan, selama ratusan tahun ini memang banyak orang yang berlatih ilmu tangkap itu, namun sejauh ini hanya Ong Poan-hiap saja dianggap sebagai jago nomor satu dalam hal kungfu tersebut.
Maka kalau Ong-toanio benar cuma duduk tanpa bergerak, tentu sangat mudah bagi Ong Poan-hiap untuk menangkap kakinya.
Namun Ong-toanio hanya tertawa nyaring serupa bunyi genta, katanya kemudian.
"Baik, silakan mulai!"
Tangan bergerak, onggokan pita warna-warni yang menutupi tubuhnya diungkapnya ke samping.
Serentak Ong Poan-hiap menubruk maju, kedua tangan terjulur cepat, seperti hendak mencengkeram, serupa pura-pura juga, akan tetapi gerak susulannya yang sukar diduga membuat orang tidak tahu cara bagaimana harus mengelak.
Siapa tahu, baru saja kedua tangan terjulur, seketika ia melongo kaget.
Kiranya dapat dilihatnya kedua kaki Ong-toanio dimulai dari batas dengkul, ternyata sudah buntung.
Jadi pada hakikatnya Ong-toanio itu tidak punya kaki, lalu cara bagaimana Ong Poan-hiap akan dapat menangkap kakinya?
Kejadian ini sungguh sama sekali di luar dugaan Ong Poan-hiap, seketika ia tidak sanggup bersuara, dengan terkesima ia pandang pita warna-warni yang berserakan di atas meja.
Kawanan gadis sama berkeplok tertawa dan berdendang lagi.
"Haha, Ong tua, licin seperti setan, akhirnya kau termakan juga oleh akal Ong-toanio!"
Setiap anggota Kay-pang menjadi panik, maklumlah, pertaruhan yang telah disepakati tadi sungguh terlampau penting bagi mereka.
Apabila Ong Poan-hiap mengalami kekalahan, maka beribu anggota Kay-pang yang tersebar di seluruh negeri harus tunduk di bawah pimpinan perempuan tua yang misterius dan tidak jelas asal usulnya ini.
Dan nama baik Kay-pang yang sudah bersejarah ratusan tahun kan juga akan hanyut begitu saja.
Ong-toanio tertawa terkial-kial, katanya kemudian.
"Nah, Poan-hiap saudaraku, sekali ini kau terperangkap olehku, lekas panggil Pangcu padaku."
Belum lagi Ong Poan-hiap menjawab, anak murid Kay-pang serentak ribut. Ong-toanio melirik genit, ucapnya dengan tertawa.
"Seharusnya kalian merasa gembira mendapatkan Pangcu serupa diriku ini, apa yang kalian ributkan?"
Lembut suaranya, namun dapat didengar jelas oleh setiap anggota Kay-pang, ia cuma melirik sepintas, namun seakan-akan menyapu pandang muka setiap anak murid Kay-pang.
Setiap orang yang merasa dilirik seketika lupa pada usia Ong-toanio dan juga melupakan kakinya yang buntung.
Bahwasanya seorang perempuan cacat badan dapat membuat orang lupa atas kekurangan badannya, maka dia selain perlu mahacantik juga harus mempunyai kecerdasan yang memesona serta daya tarik yang mahabesar.
Karena terkesima oleh lirikan maut Ong-toanio itu, tiada seorang pun anak murid Kay-pang yang bersuara ribut lagi.
Lirikan Ong-toanio akhirnya hinggap pada wajah Ong Poan-hiap, kerlingannya semakin genit, senyumnya semakin menggiurkan, bisiknya lirih.
"Nah, bagaimana? Kau mengaku kalah?"
Pandangan Yap Ling bertiga tanpa terasa sama teralih kepada Ong Poan-hiap, wajah mereka kelihatan cemas dan prihatin, maklumlah, jawaban Ong Poan-hiap sungguh sangat besar pengaruhnya bagi mereka.
Terdengar Ong Poan-hiap menjawab sekata demi sekata.
"Ya, aku menyerah kalah!"
Tubuh Yap Ling bertiga tergetar, hampir saja mereka jatuh terkulai.
"Bagus ...."
Ucap Ong-toanio dengan tertawa senang.
Siapa tahu, baru saja suara tertawa Ong-toanio bergema, tiba-tiba dari perut Ong Poan-hiap juga bergema suara tertawa orang, tertawa yang lebih nyaring daripada Ong-toanio dan berkata.
"Ong-toanio, rupanya kau juga terperangkap olehku!"
"Apa katamu?"
Ong-toanio menegas dengan bingung. Suara kasar aneh itu menjawab.
"Kau tahu, tubuh ini hanya separuhnya milik Ong Poan-hiap, meski dia mengaku kalah, tapi aku Ong si latah kan belum pernah menyerah?!"
Air muka Ong-toanio berubah seketika, tapi segera ia tertawa genit pula. Perubahan air mukanya yang cepat sungguh sukar diraba orang apa kehendaknya.
"Huh, dalam keadaan demikian kau masih bisa tertawa, sungguh hebat,"
Kata Ong Poan-gong alias Ong setengah latah. Ia lantas mengelilingi meja bundar itu, mendadak ia menyerang secepat kilat, mengincar "Koh-ceng-hiat"
Kedua bahu Ong-toanio.
Dan ternyata Ong-toanio sama sekali tidak mengelak sehingga tutukan Ong Poan-gong tepat mengenai sasarannya.
Anak murid Kay-pang terkejut dan bergirang, siapa tahu kawanan gadis itu tidak kaget atau khawatir, sebaliknya malah tertawa senang.
Meski terkesiap juga, namun Ong Poan-gong terus menyerang lagi, ia tutuk pula Hiat-to hampir seluruh tubuh Ong-toanio sambil berkata dan tertawa.
"Haha, sergapan mendadak memang bukan perbuatan yang gemilang, tapi aku Ong Poan-gong memang juga bukan orang baik. Maka janganlah Ong-toanio marah atas perbuatanku."
Sembari bicara, kedua tangan bekerja cepat, hanya sekejap saja puluhan Hiat-to pada tubuh Ong-toanio sudah ditutuknya secara rata.
Melihat itu, selain kawanan pengemis Kay-pang merasa girang, Po-ji juga ikut senang, soraknya sambil berkeplok.
"Haha, paman Ong memang hebat."
"Hm, belum tentu,"
Jengek Ciu Hong tiba-tiba. Benar juga, tiba-tiba terdengar Ong-toanio menarik napas panjang dan berkata.
"Bagaimana, sudah puas kau tutuk diriku?"
Ong Poan-gong tertawa, jawabnya.
"Aku hendak menutuk pula Hiat-to bisumu, supaya kau tidak dapat memaki orang lagi."
Habis berucap, secepat kilat ia menutuk lagi.
Caranya menutuk seperti sangat umum, malahan serupa perkelahian orang jalanan dan rada kasar.
Namun dalam pandangan kaum ahli, jurus serangannya itu justru sangat hebat, dalam keadaan tertutuk, sebenarnya Ong-toanio sudah tidak bisa berkutik.
Tapi waktu menyerang lagi, Ong Poan-gong tetap berlaku sangat hati-hati, serangan susulan masih terus dilancarkan, kawanan pengemis juga ikut bersorak memberi semangat.
Ketika tutukan Ong Poan-gong tampaknya hendak mencapai sasaran lagi, mendadak Ong-toanio juga angkat sebelah tangannya, bukan untuk menangkis melainkan untuk membetulkan rambutnya, lalu berucap dengan tertawa.
"Masih mau serang lagi?"
Ong Poan-gong melengak, beratus pengemis tidak dapat bersorak lagi.
Beratus pasang mata dapat melihat dengan jelas menyaksikan Ong-toanio tertutuk puluhan kali dan tepat mengenai Hiat-to, seharusnya nyonya cantik itu tidak bisa lagi berkutik, tahu-tahu dia masih dapat mengangkat sebelah tangan, hal ini membuat kawanan pengemis itu lebih kaget daripada melihat setan.
Po-ji juga terbelalak heran, desisnya.
"Rasanya Hiat-to ditutuk pun pernah kurasakan, dalam keadaan begitu, biarpun mengerahkan segenap tenaga pun sukar menggerakkan sebuah jari, tapi sekarang Ong ... Ong-toanio ini masih dapat bergerak bebas, apakah dia menguasai ilmu sihir atau karena kepandaian tutuk paman Ong yang tidak manjur?"
"Ilmu tutuk Ong Poan-hiap meski bukan kepandaian khas yang mahalihai, namun juga agak berbeda daripada kungfu dunia Kangouw umumnya, caranya menutuk cepat dan tepat, namun juga terdapat suatu kelemahan besar."
Po-ji mendengarkan dengan penuh perhatian, nyata pandangannya terhadap ilmu silat sudah banyak berubah, tidak jemu lagi seperti dulu, malahan mulai menaruh minat, buktinya ia lantas tanya.
"Apa kelemahannya?"
"Gerak tutukan Ong Poan-hiap itu cepat tapi kurang kuat, tidak dapat membuat sasarannya 282 mengalami cedera apa pun,"
Tutur Ciu Hong.
"O, kiranya dia menutuk kurang keras, pantas Ong-toanio tidak cedera,"
Kata Po-ji.
"Biarpun begitu, orang biasa bila terkena tutukan Ong Poan-hiap itu, sedikitnya perlu 12 jam kemudian baru dapat bergerak,"
Kata Ciu Hong.
"Jika begitu, mengapa Ong-toanio dapat ...."
"Ini tentu ada sebabnya lagi,"
Gumam Ciu Hong sambil menengadah.
"dan sebabnya juga suatu rahasia."
Po-ji mengangguk dan tidak bertanya lagi.
"Kenapa tidak tanya pula? Memangnya kau tidak ingin tahu?"
Tegur Ciu Hong heran.
"Jika itu merupakan rahasia orang lain, meski kuingin tahu, kukira tidak pantas kutanya lebih jauh,"
Sahut Po-ji. Ciu Hong tersenyum.
"Ehm, anak baik ...."
Waktu ia berpaling, dilihatnya Gu Thi-wah sedang memandang ke sana dengan termangu, ia coba ikut memandang ke arah yang diperhatikan Thi-wah, terlihatlah pertarungan sengit yang menggetar sukma.
Meski sehari-hari Thi-wah tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu urusan, tapi sekarang ia justru memandang terkesima akan pertarungan itu, walaupun kelakuan Thi-wah masih kekanak-kanakan, namun sekarang ia kelihatan khidmat dan prihatin, ini menandakan anak lugu seperti dia juga gemar dan dapat memahami ilmu silat yang lebih mendalam.
Kiranya selagi Ciu Hong bicara dengan Po-ji, akhirnya Ong-toanio dan Ong Poan-gong juga telah saling gebrak, terlihat dua bayangan orang, yang satu diam dan yang lain bergerak.
Bayangan yang diam itu tegak serupa gunung yang kukuh, juga seperti tiang baja yang terpancang di tengah arus air yang deras, menghadapi gempuran apa pun tetap bergeming.
Sedang bayangan yang bergerak itu justru melayang kian kemari serupa burung terbang dan seperti kupu-kupu menari di atas bunga, gerak-geriknya aneh, tiada seorang pun dapat meraba ke mana arah gerakannya.
Yang paling aneh adalah bayangan orang yang diam saja itu justru adalah Ong Poan-hiap dan bayangan yang bergerak adalah Ong-toanio yang buntung.
Kedua tangan Ong-toanio kelihatan memegang sepotong tongkat pendek warna hitam, tongkat digunakan sebagai kaki dan dapat berputar secepat terbang, bila tongkat kanan menahan di tanah, tongkat kiri lantas digunakan menyerang dan begitu pula sebaliknya.
Bedanya serangan tongkat kanan cepat dan ganas, sedang tongkat kiri gesit dan lincah.
Sungguh kungfu yang istimewa dari seorang cacat badan yang tidak ada bandingannya.
Hendaklah maklum, setiap jenis ilmu silat, gerak perubahannya berpangkal pada kekuatan anggota badan.
Tapi sekarang karena kedua kaki Ong-toanio sudah buntung, gerak tubuhnya harus mengandalkan dukungan anggota tubuh bagian atas untuk membantu gerakan paha dan dengkul.
Dan karena kakinya buntung, jarak lingkup pertahanannya juga tambah sempit, karena itu juga lebih hemat tenaga.
Yang sukar dibayangkan adalah entah cara bagaimana Ong-toanio dapat meyakinkan kungfu 283 sehebat ini, betapa susah payah yang ditempuhnya sungguh sukar dimengerti dan membuat orang heran dan kagum pula.
Untuk melayani kungfu aneh ini, dengan sendirinya Ong Poan-gong harus lebih banyak menggunakan tenaga dan pikiran daripada menghadapi lawan biasa.
Sekarang ia gunakan diam untuk menghadapi gerak, nyata ia pun dapat menemukan cara yang paling tepat.
Tapi meski dia diam saja tanpa bergerak, setiap jurus serangannya tetap membawa sifat latah, ada jurus serangan yang biasanya tidak berani digunakan orang, Ong Poan-gong justru berani menggunakannya.
Begitulah kedua orang terus serang-menyerang dengan sengit.
Anak murid Kay-pang menonton di sekeliling mereka, semuanya ikut berdebar-debar dan merasa prihatin.
Kawanan gadis itu berlagak tak acuh dan sembari bersenda gurau pula, tapi sebenarnya mereka pun kebat-kebit menyaksikan pertarungan seru itu.
Di sebelah sana Thi-wah bergumam sendiri.
"Keparat, entah cara bagaimana perempuan itu meyakinkan kungfu setinggi itu, begitu pula orang tua itu. Jika aku dapat menguasai kungfu sehebat itu, mati pun aku rela."
Ciu Hong tersenyum dan berucap.
"Di dunia ini tidak ada urusan sulit, soalnya cuma tekad orangnya saja ...."
Dia seperti bicara terhadap Thi-wah, namun pandangannya tertuju ke arah Po-ji. Anak itu juga sedang memerhatikan pertarungan yang mendebarkan itu dengan sinar mata berkelip terang.
"Po-ji, apakah dapat kau lihat di mana letak kehebatan kungfu kedua orang itu?"
Tanya Ciu Hong. Po-ji berpikir sejenak, jawabnya kemudian.
"Meski Ong-toasiok diam saja, namun setiap jurus serangannya membawa sifat latah yang mendesak dan sukar dibandingi siapa pun. Sebaliknya gerak tubuh Ong-toanio enteng dan lincah, meski jurus serangannya sangat gencar, namun membawa gaya lunak ...."
"Betul,"
Potong Ciu Hong sambil mengangguk.
"Kungfu Ong Poan-gong memang diperoleh berkat pembawaannya, sebaliknya sebagian besar kungfu Ong-toanio berkat latihan ... lalu apa lagi?"
Po-ji berkedip-kedip, katanya pula.
"Jurus serangan tangan kiri Ong-toanio gesit dan lincah, serangan tangan kanan keras dan kuat, tampaknya dia menggunakan tangan kanan sebagai serangan utama, tapi ... dari suara yang timbul waktu tongkatnya menyentuh tanah, suara tongkat kiri lebih berat daripada suara tongkat kanan, jelas hal ini disebabkan tongkatnya yang sebelah kiri jauh lebih berat daripada tongkat kanan ...."
Ia seperti berusaha menemukan istilah yang tepat sehingga merandek sejenak, lalu menyambung lagi.
"Ia gunakan tongkat yang lebih berat untuk melancarkan serangan yang gesit, sebaliknya menggunakan tongkat ringan untuk menyerang dengan jurus maut, jelas dia sengaja hendak mengelabui pandangan lawan, padahal daya serangnya yang utama terletak pada tongkat yang kiri, tongkat kanan hanya untuk kembangan saja, cuma sayang ... sayang hal ini belum dapat dilihat oleh paman Ong."
Mau tak mau Ciu Hong menampilkan rasa heran, ucapnya.
"Tidak nyana anak sekecil dirimu, juga tidak mahir ilmu silat, tapi dapat kau lihat sebab musababnya yang tidak dapat dilihat Ong Poan-gong, sungguh kecerdasanmu harus dipuji."
"Apa yang kuketahui ini kan kupelajari dari Loyacu,"
Ujar Po-ji.
"Dan sekarang tentunya kau tahu juga, sama-sama satu urusan, bilamana diperhatikan secara sungguh-sungguh dan tidak, kan sangat besar bedanya?"
Kata Ciu Hong dengan tersenyum. Po-ji mengiakan.
"Baik, sekarang marilah kita pergi,"
Kata Ciu Hong. Melengak Po-ji, ucapnya.
"Tapi ... tapi kalah menang mereka belum lagi ketahuan ...."
"Sekalipun dapat kita lihat kalah menang mereka, lalu mau apa?"
Sela Ciu Hong.
"Melulu tenaga kita kan juga tidak mampu membantunya."
"Tapi ...."
"Sebelum Ci-ih-hou meninggal, dia serupa saka guru dunia persilatan, segala macam huru-hara dunia Kangouw dapat diatasinya, ia disegani dan dihormati orang. Namun sekarang tokoh utama ini sudah meninggal, orang-orang yang dulu menghilang mulai bergerak lagi, belum si jago pedang baju putih itu pun akan muncul pula tujuh tahun kemudian, bayangan gelap kini meliputi seluruh dunia persilatan dan membuat perasaan tidak tenteram. Selama tujuh tahun ini pasti akan terjadi kekacauan yang luar biasa, bilamana kita ikut terseret ke dalam kekacauan itu, rasanya sama sekali tidak bermanfaat dan cuma akan mengorbankan diri sendiri saja. Sebab itulah kuharapkan sepanjang jalan hendaknya kau lebih banyak menggunakan mata dan sedikit memakai tangan."
Sementara itu pertarungan Ong-toanio dan Ong Poan-hiap masih terus berlangsung dengan sengit.
Ketika galah Ciu Hong menolak, kapal kotak itu meluncur beberapa tombak jauhnya, rupanya orang tua yang misterius ini ternyata cukup menguasai kehidupan di perairan dan tidak kalah daripada Gu Thi-wah.
Po-ji coba merenungkan uraian Ciu Hong tadi, ia merasa persoalannya cukup rumit, ia menghela napas dan tidak bicara lagi.
Sebaliknya Gu Thi-wah masih mengomel karena tidak rela meninggalkan tempat ini, tapi demi melihat Po-ji sudah menurut, terpaksa ia tidak berani bersuara lagi, hanya berulang-ulang ia masih menoleh, mengikuti pertarungan di sana.
Jarak kedua tempat makin jauh dan akhirnya tidak jelas terlihat lagi, mendadak segumpal asap tebal berwarna membanjir ke arah mereka, makin lama makin tebal asap itu sehingga bumi seakan-akan tertutup seluruhnya.
Akhirnya Po-ji dan Thi-wah tidak dapat melihat apa pun kecuali asap berwarna itu.
Perasaan Po-ji sangat tertekan, ia menunduk tanpa suara.
Sebaliknya Thi-wah masih terus menggerundel.
"Mestinya kita tidak perlu pergi, kan menarik tontonan yang seru itu. Betul tidak, Toako?"
"Setelah kau lihat tontonan itu, mungkin kau pun tidak dapat pergi lagi,"
Jengek Ciu Hong.
"Sebab apa?"
Tanya Thi-wah.
"Memangnya kalian mengira mereka tidak tahu kehadiran kita di sana?"
Kata Ciu Hong.
"Soalnya mereka sendiri lagi repot sehingga tidak sempat mengurus kita. Sebabnya kubiarkan kalian melihat pertarungan mereka hanya supaya kalian tambah pengalaman. Mengenai bagaimana kesudahan urusan mereka nanti, begitu Ong-toanio muncul segera kutahu."
"Oo, Loyacu sudah tahu akhir dari sengketa mereka itu nanti?"
Po-ji menegas dengan heran.
"Memangnya Loyacu dapat nujum? Sungguh aku ingin tahu bagaimana akhir urusan mereka?"
"Ong Poan-gong pasti kalah dan Ong-toanio pasti menjadi Pangcu Kay-pang,"
Jawab Ciu Hong.
"Apa benar?"
Po-ji menegas dengan terperanjat.
"Sebab apa?"
"Apakah dapat kau terka siapa Ong-toanio sebenarnya?"
Tanya Ciu Hong. Po-ji termenung sejenak, lalu menggeleng tanpa bersuara. Sebaliknya Thi-wah lantas berteriak.
"Ong-toanio ialah Ong-toanio, kenapa ditanyakan?"
Ciu Hong tidak menggubrisnya, katanya pula.
"Ong-toanio ini tak lain tak bukan adalah istri kawin Ong Poan-hiap alias Ong Poan-gong, dahulu namanya terkenal sebagai Go So dengan julukan "Hou-li" (si Perempuan Rase)."
"Hah, dia ... dia istrinya?"
Seru Po-ji kaget.
"Betul,"
Jawab Ciu Hong.
"Go So pada waktu dulu adalah perempuan binal terkenal di dunia persilatan, sedang Ong Poan-hiap adalah jago muda yang baru menonjol di dunia Kangouw, ketika mereka mendadak kawin, hal ini pernah terjadi kegemparan di dunia persilatan. Kebanyakan tokoh Kangouw waktu itu sama merasa sayang bagi Ong Poan-hiap, hanya aku saja yang berpendapat lain, sebab sudah kuketahui kemunafikan Ong Poan-hiap, berkat kepandaiannya yang khas, yaitu bicara dengan perut, mata telinga orang dapat dikibulinya. Meski dia dianggap tokoh kosen setengah pendekar dan setengah latah, yang benar dia seorang jahat, licik dan munafik."
"Tapi ... tapi selama berpuluh tahun konon dia memang suka berbuat hal-hal yang bajik, namanya juga tidak pernah tercemar, tentunya Loyacu cukup mengetahuinya,"
Ujar Po-ji.
"Hanya bagian luar saja orang ini berbuat baik, yang benar segala sesuatu ia lakukan demi kepentingan pribadi,"
Jengek Ciu Hong.
"Misalkan sekarang, karena urusan si jago pedang baju putih dia kelihatan mondar-mandir dengan giat, tampaknya dia ingin menyelamatkan dunia persilatan dari malapetaka, padahal sejauh ini ia sendiri merasa takut terhadap Ci-ih-hou, banyak urusan yang tidak berani dilakukannya karena khawatir diketahui Ci-ih-hou. Sekali ini dia justru ingin memperalat si jago pedang baju putih itu untuk melenyapkan Ci-ih-hou."
"Masa betul begitu?"
Po-ji menegas.
"Kenapa tidak betul?"
Jawab Ciu Hong.
"Belasan tahun yang lalu Go So pernah menggerayangi istana raja Hunlam dan bermaksud mencuri resep obat putih yang sangat terkenal mujarab itu. Kebetulan saat itu Thi-kiam-siansing dari Tiam-jong-pay juga bertamu di istana, dengan ilmu pedangnya yang lihai kedua kaki Go So tertebas buntung dan melemparnya ke jurang, sejak itu orang Kangouw sama mengira Go So sudah mati dan Ong Poan-hiap tentu akan menuntut balas terhadap Thi-kiam-siansing, siapa tahu Ong Poan-hiap justru menyiarkan berita, katanya kelakuan Go So memang tidak baik, apa yang dilakukannya tidak ada sangkut pautnya dengan dia, ia malah berterima kasih kepada Thi-kiam-siansing yang telah menumpas kejahatan bagi dunia persilatan itu."
"Wah, tak tersangka dia ... dia berhati sekeji itu,"
Kata Po-ji.
"Orang keji serupa dia memang jarang ada,"
Tukas Ciu Hong.
"Tapi di dunia Kangouw justru banyak manusia yang sok mengaku terhormat berbalik memuji keluhuran budi Ong Poan-hiap, katanya dia lelaki yang jarang ada bandingannya, dapat membedakan antara yang benar dan salah tanpa membela orang sendiri. Karena itu, seterusnya namanya tambah cemerlang, seumpama dia berbuat sesuatu kesalahan juga orang menganggap itulah kelatahannya, dan tidak ada sangkut paut dengan kependekarannya.
"Namun selama Ci-ih-hou masih hidup, selama itu pula Ong Poan-hiap tidak berani 286 sembarangan berbuat. Sekarang Ci-ih-hou sudah mati, sudah kuperhitungkan pasti akan timbul intrik tertentu Ong Poan-hiap, tapi tidak terduga bahwa Go So ternyata belum mati, tapi dengan nama Ong-toanio malah muncul untuk bersekongkol dengan Ong Poan-hiap untuk rebut kedudukan Pangcu Kay-pang."
Po-ji sampai menahan napas mendengarkan cerita itu, selang sejenak barulah ia berucap dengan menyesal.
"Ah, kiranya mereka bersekongkol. Pantas sekaligus Ong Poan-hiap menutuk puluhan tempat Hiat-to Ong-toanio dan tetap nyonya itu tidak mengalami cedera apa pun, tadinya kusangka kungfu Ong-toanio yang terlampau hebat, rupanya mereka sudah berkomplot dan apa yang diperbuat mereka hanya sandiwara belaka."
Ia berhenti sejenak, lalu ia menambahkan.
"Begitu licik dan jahat Ong Poan-hiap, setelah tahu perbuatannya, apakah kita menyaksikan saja berlangsungnya intrik kejinya itu?"
"Banyak urusan tidak adil di dunia ini, hanya tenaga kita saja dapat berbuat apa?"
Dengus Ciu Hong.
"Memangnya mau apa kalau tidak cuma melihat apa adanya saja?"
"Kita kan dapat membongkar tipu muslihatnya?"
Ujar Po-ji.
"Keterangan anak sekecil dirimu siapa yang mau percaya,"
Sahut Ciu Hong.
"Apalagi nama kebesaran Ong Poan-hiap saat ini sedang gilang-gemilang, jika kau bermaksud membongkar intriknya kan serupa capung hinggap di pilar, mana dapat membuatnya bergerak sedikit pun? Mungkin sebelum selesai kau beri keterangan kau sudah dipukul mati orang tanpa dia turun tangan sendiri."
Muka Po-ji merah padam menahan gusar, tangan terkepal erat, tapi tidak dapat bicara lagi.
"Jika kau ingin ikut campur urusan orang lain, ingin orang lain tunduk kepada ucapanmu, untuk itu kau harus menguasai dulu ilmu silat yang paling tinggi agar orang sama menghormat dan segan padamu,"
Tutur Ciu Hong.
"Dan kau sendiri jika ingin menguasai kungfu yang tinggi, pertama harus bercita-cita dan bertekad bulat untuk itu, dengan perkataan lain kau harus mengesampingkan segala urusan lain, kemudian baru dapat menggunakan kepandaianmu itu untuk ikut campur segala ketidakadilan di dunia ini."
Po-ji berkedip-kedip, katanya tiba-tiba.
"Untuk meyakinkan ilmu silat yang mahatinggi kan juga diperlukan guru yang mahapandai. Dalam pandanganku memang ada seorang guru yang mahahebat, entah Loyacu sudi membantuku untuk menemukan beliau atau tidak?"
Kedua matanya terpentang lebar dan gemerdep, ia tatap Ciu Hong dengan sorot mata tajam. Ciu Hong memandangnya sekejap, ucapnya perlahan.
"Siapa yang bisa lebih besar dibandingkan langit dan bumi, siapa yang bisa lebih kuat daripada segala benda di jagat ini? Siapa pun yang bisa tahu lebih banyak daripada setiap perubahan alam? Maka bumi dan langit dengan segala bendanya serta perubahan alam itulah merupakan gurumu yang paling baik, memangnya siapa pula yang akan kau cari?"
Sambil menatap wajah orang tua itu, perlahan Po-ji bertanya.
"Timbul tanda tanya dalam benakku, mungkinkah Loyacu sendiri adalah calon guruku mahahebat yang kubayangkan itu?"
Ciu Hong tersenyum dan tidak menanggapi. Bola mata Po-ji berputar, katanya pula.
"Kukira, bilamana aku adalah tokoh kosen masa lampau, agar jejakku tidak diketahui orang dan harus mengundurkan diri pula dari dunia ramai, maka aku pasti takkan mengasingkan diri di hutan sunyi atau di pegunungan terpencil, sebab selalu akan kesepian, juga mudah ditemukan orang, maka aku lebih suka menyamar dan ganti rupa serta mencampurkan diri di tengah khalayak ramai, bahkan akan sengaja menyaru sebagai seorang penipu yang dibenci orang. Sebab seorang penipu menyamar sebagai tokoh persilatan juga kejadian biasa, namun juga mudah terbongkar kedoknya, sebaliknya tokoh persilatan 287 menyaru sebagai penipu, inilah yang tidak pernah terjadi di dunia Kangouw, dan orang lain mimpi pun takkan menyangka akan hal ini.
"Sungguh anak yang pintar,"
Ucap Ciu Hong sambil tertawa menengadah.
Ia tetap tidak menyangkal atau membenarkan pertanyaan Po-ji tadi, tapi sengaja tertawa untuk menutupi perubahan air mukanya.
Po-ji tidak berhenti sampai di situ, ia coba mendesak lagi.
"Jika demikian halnya, entah Loyacu sudi menceritakan kisah sendiri masa lampau kepada Po-ji atau tidak?"
"Kisah masa lampau? .... Ah, sudah lama kulupa,"
Ucap Ciu Hong.
"Benar sudah lupa?"
Po-ji menegas. Ciu Hong memandang jauh ke awang-awang, sahutnya perlahan.
"Ya, sudah lupa .... Kau tahu betapa bagus ingat terhadap sesuatu, melupakan sesuatu terlebih baik pula. Hanya saja, ada sementara urusan meski orang ingin melupakannya, namun justru sulit untuk melupakannya."
Kapal kotak mereka itu tampaknya jelek dan lamban, namun sebenarnya enteng dan gesit, meski berlayar menempuh arus, satu hari juga dapat menempuh ratusan li.
Malamnya mereka berlabuh di suatu tempat tambangan yang tidak dikenal namanya.
Waktu meninggalkan rumah Thi-wah, Po-ji telah membawa kertas dan alat tulis, setelah Ciu Hong dan Thi-wah sama tidur, perlahan Po-ji bangun, ia mengasah tinta dia membentang kertas ia asyik menulis hingga belasan helai kertas namun setiap helai yang tertulis ternyata serupa, yaitu "Ong-toanio adalah Hou-li Go So".
Dengan tergesa-gesa ia menulis sekian banyak, lalu perlahan menyelinap ke anjungan sana, ditemukannya belasan botol arak yang kosong, itulah bekas botol arak yang disiapkan ibu Thi-wah bagi Ciu Hong.
Ia jejalkan kertas yang ditulisnya itu ke dalam setiap botol kosong itu, sumbat botol ditutup rapat dan diikat lagi dengan kain.
Habis itu ia menghela napas lega, ia menengadah dan berdoa.
"Semoga botol-botol ini ada sebagian jatuh ke tangan orang Kangouw yang berhati baik sehingga rahasia Ong-toanio diketahui umum, supaya maksud keji orang jahat selekasnya terbongkar."
Setelah berdoa, ia lemparkan botol kosong itu ke sungai.
Arus sungai yang bergolak tanpa kenal siang dan malam itu menghanyutkan berpuluh botol kosong itu entah ke mana.
Memandangi arus yang bergerak tiada hentinya itu, wajah Po-ji tersembul senyuman puas, gumamnya.
"Meski apa yang kukatakan mungkin tidak dipercaya orang lain, tapi dengan demikian urusan mungkin akan berubah. Bila tulisan dalam botol itu dilihat orang, tentu mereka akan tertarik dan merasakan sesuatu yang misterius, dan biasanya terhadap sesuatu yang misterius orang suka mencari tahu sejelas-jelasnya."
Dengan membawa senyuman kemudian ia tidur lagi, hanya sebentar saja ia sudah lelap.
Tidak diketahuinya beberapa botol itu kelak akan menimbulkan gelombang mahabesar di dunia Kangouw ....
***** Air sungai masih terus mengalir, suasana sudah banyak berubah.
Kapal kotak itu semakin tua, namun Po-ji justru semakin tumbuh besar.
Dalam sekejap, tanpa terasa setengah tahun sudah lalu.
Meski setengah tahun bukan waktu yang lama, namun dalam setengah tahun ini jelas ada 288 perubahan nyata pada diri Po-ji.
Ditiup angin, ditimpa sinar matahari yang terik, di bawah hujan lebat, menangkap ikan dan berbagai pekerjaan sehari-hari, kehidupan di perairan harus giat dan menderita, semua gemblengan kehidupan demikian telah membuat perawakan Po-ji bertambah kukuh dan kuat.
Tubuhnya tumbuh tinggi besar, kulit badannya kehitaman terjemur terik matahari.
Terkadang bilamana bercermin air sungai, ia sendiri pun pangling pada diri sendiri.
Selama setengah tahun ini telah sering ia menyaksikan pertarungan sengit tokoh dunia persilatan, juga banyak melihat perbuatan keji dan culas orang Kangouw yang suka menipu dan dusta.
Terhadap urusan duniawi kini dia sudah lebih mengerti, dan yang paling menarik baginya tetap mengenai perubahan alami.
Terkadang ia suka memandang air sungai yang mengalir tanpa berhenti itu dengan termenung-menung, memandangi gerak pohon yang tertiup angin, melihat bintang di langit, memandang awan yang berarak ....
Bilamana ia termenung memandangi semua itu bisa berjam-jam tanpa bicara dan tidak bergerak.
Lalu Ciu Hong akan tanya padanya.
"Dari macam-macam perubahan alami itu, sesungguhnya kau mendapat penemuan apa?"
Bola mata anak itu serentak mencorong terang, sebab dari berbagai perubahan alami itu memang telah banyak ditemukan kebenaran dan adanya sesuatu, samar-samar dapat ditemukan pula arti sejati ilmu silat, namun dia belum lagi merasa puas.
Selama setengah tahun itu pun terjadi perubahan atas diri Gu Thi-wah, tubuhnya yang memang kuat bertambah kekar dan sekeras baja.
Selama itu ia pun seperti keranjingan ilmu silat.
Pada siang hari bila ia melihat sesuatu pertandingan antara tokoh dunia persilatan, maka dari berbagai jurus serangan yang hebat itu lantas diingatnya dengan baik.
Malamnya, sendirian ia lantas menyingkir ke tempat sepi untuk berlatih.
Orang lain cuma mendengar suaranya, waktu pulang sekujur badannya basah kuyup air keringat.
Namun sesungguhnya berapa banyak ia dapat mengingat jurus serangan yang pernah dilihatnya dan berapa banyak yang dapat dipelajarinya?
Orang lain tidak tanya, dia juga tidak menerangkan.
Terkadang ia pun suka menengadah dan merenung sampai sekian lama diseling senyum seperti orang sinting.
Acap kali ia suka komat-kamit sendiri, sering pula pada waktu makan ia bisa mendadak melompat bangun dan berlari keluar, lalu giat berlatih.
Orang yang tidak berubah hanyalah Ciu Hong.
Ia masih tetap minum arak tanpa bosan, sering berdendang sendiri, sering pula bicara hal-hal yang sukar dimengerti orang.
Tapi bila dipikirkan dengan cermat, apa yang dibicarakan memang sangat luas artinya.
Ia tetap tidak mau bicara mengenai riwayat sendiri, terkadang ia masih berbuat sesuatu yang tidak dibenarkan, misalnya dusta dan menipu.
Bilamana perbekalan mereka sudah habis, duit juga sudah tidak ada, atau kapal mereka perlu diperbaiki, maka dia akan pergi ke salah satu kota yang berdekatan.
Pulangnya tentu dia membawa segala keperluan dan berbau arak, saku pun penuh duit.
Bila Po-ji tanya dia semua itu diperoleh dari mana, maka Ciu Hong akan menjawab terus 289 terang, yaitu hasil menipu.
Tapi pernah juga terjadi pulangnya tidak membawa sesuatu, sebaliknya dia dikejar orang dan diteriaki sebagai maling dan hendak dihajar.
Dalam keadaan kepepet, segera dia melompat ke atas kapal kotak dan cepat diluncurkan ....
Keadaan demikian persis seperti apa yang pertama kali dia dilihat Po-ji.
Namun apa pun juga yang diperbuatnya, Po-ji tetap menghormati orang tua itu.
Hari ini cuaca cerah, tanpa terasa kapal mereka berlayar sampai di dekat Wi-ho-lau atau Loteng Bangau Kuning, suatu tempat tamasya yang sangat terkenal.
Akan tetapi hari ini Wi-ho-lau bukan lagi tempat tamasya yang santai, sebab sekarang tempat ini berjubel dengan beratus orang, semuanya gagah tangkas, semuanya orang dunia persilatan.
Dari kapalnya yang masih jauh Ciu Hong bertiga sudah dapat melihat suasana di Wi-ho-lau ini.
Thi-wah lantas berkeplok tertawa dan berkata.
"Aha, bagus, tampaknya sebentar ada lagi tontonan yang menarik."
"Ya, mungkin selanjutnya akan banyak jurus serangan bagus dapat kau pelajari lagi,"
Tukas Po-ji dengan tertawa.
"Dan kau sendiri bagaimana?"
Tanya Ciu Hong dengan tersenyum.
"Apakah jurus serangan orang tidak pernah kau ingat-ingat?"
"Tentu saja kuingat dengan baik,"
Jawab Po-ji.
"Bagus,"
Ciu Hong mengangguk.
"Jurus serangan orang harus kau ingat, habis itu kalau terlupa lagi tentu tidak menjadi soal daripada tidak pernah ingat sesuatu."
Hati Po-ji tergerak pula, belum lagi ia bicara, terlihat sebuah kapal besar mewah berlayar tiba, dari anjungan kapal terdengar suara tertawa riuh ramai, jelas penumpangnya sedang bersuka ria.
Kapal kotak yang ditumpangi Po-ji itu bila dibandingkan kapal layar besar mewah ini sungguh seperti langit dan bumi bedanya, segera Thi-wah mengomel.
"Keparat, penumpang kapal itu entah hartawan atau pembesar macam apa, padahal isi perut mereka kan juga serupa dengan isi perut Gu Thi-wah ini."
Ketika kedua kapal berpapasan, tiba-tiba dari anjungan kapal itu terjulur sebuah kepala dan meludah ke sungai, lalu sebuah tangan yang putih bersih dan pakai gelang kemala menyodorkan sebuah saputangan kepada peludah itu, setelah mengusap muka, orang itu mengomel dengan kening bekernyit.
"Sialan, mengapa air sungai ini tambah lama tambah kotor saja."
Mendadak Ciu Hong juga memaki.
"Huh, justru orang sialan semacam dirimu ini terlampau banyak, suka meludah ke sungai, mengapa air sungai yang kau salahkan malah?"
Dengan gusar orang itu balas memaki.
"Kurang ajar, siapa itu berani ...."
Sekilas pandang mengenali Ciu Hong, segera ia terbahak-bahak dan berseru.
"Aha, kukira siapa, tak tersangka Ciu-heng adanya. Selamat bertemu kembali, ayo lekas naik kemari, biar kita minum beberapa cawan bersama."
Ternyata penumpang kapal mewah ini bukan lain daripada Pek-ma-ciangkun Li Beng-sing.
Segera Ciu Hong merapatkan kapal kotak dan menambatnya di samping kapal mewah itu, ia 290 bawa Po-ji dan Thi-wah ke atas kapal orang.
Dengan baju yang perlente dan kopiah berhias mutiara Li Beng-sing sendiri menyambut kedatangan mereka.
Ternyata pajangan di dalam kapal juga sangat mewah, penuh barang antik dan benda mestika.
Beberapa anak dara bersolek berlebihan tampak sedang memetik kecapi dan main seruling, ada yang sedang menyisir kuaci dan sebagian lagi bersenda gurau, ketika melihat seorang tua, seorang bocah gede dan seorang lagi anak tanggung yang aneh dibawa masuk Li Beng-sing dengan penuh hormat, kawanan gadis itu sama melongo heran.
Setelah memandang kawanan gadis itu sekejap dengan suara lantang Li Beng-sing berseru.
"Ini Ciu-loyacu, hartawan terbesar di daerah Kanglam, hanya perangainya agak aneh, suka pesiar dalam samaran sebagai orang miskin ...."
Belum habis uraiannya, serentak kawanan gadis itu sama berdiri dan memburu maju dengan tertawa riuh, ada yang langsung merangkul pinggang Ciu Hong, ada yang merangkul lehernya, ada pula yang mengangkat Ciu Hong dan didudukkan di kursi, cepat ada yang menuangkan teh dan arak, sebagian lagi memijatnya, diberinya pelayanan kelas utama.
Tanpa sungkan Ciu Hong menerima pelayanan itu, Thi-wah juga tidak permisi lagi, ia ambil tempat duduk terus makan minum sendiri.
Li Beng-sing menepuk bahu Po-ji dan tanya padanya dengan tertawa.
"Baik-baik, adik cilik?"
Melihat baju orang yang perlente dan wajah terang, kelihatan tambah gagah perkasa, dengan tertawa Po-ji menjawab.
"Meski lariku lambat, untung tidak sampai mati terbakar."
Li Beng-sing tergelak dan tidak berani banyak tanya lagi, ia coba duduk di depan Ciu Hong dan mengajak bicara lagi.
"Selama setengah tahun apa saja yang dikerjakan Ciu-heng?"
"Kerja apa?"
Sahut Ciu Hong.
"Hanya terluntang-lantung kian kemari, tentu jauh dibandingkan Li-heng."
"Ah, masa?"
Kata Li Beng-sing dengan tertawa. Tiba-tiba ia mendesis perlahan.
"Eh, konon Pui-kongcu ini sekali ini membawa dua juta tahil perak sebagai biaya perjalanan untuk menambah pengalaman, entah mengapa Ciu-heng dapat seperjalanan dengan dia...."
Belum habis ucapannya, kembali kawanan gadis tadi berlari mengerumuni Pui Po-ji, ada yang mencium pipinya, ada yang memegang tangannya, semuanya menyanjung puji.
"Ai, mengapa adik cilik ini sedemikian cakapnya?"
Jilid 12. Misteri Kapal Layar Pancawarna "Haha, bagus sekali!"
Seru Ciu Hong dengan tertawa.
"Cukup ucapanmu yang singkat ini dapatlah menyelamatkan diriku dari kerubutan kaum betina ...."
"Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba dan seharusnya Ciu-heng bergembira,"
Desis Li Beng-sing.
"Tapi apa yang kulakukan tentu saja ada maksudnya. Apakah Ciu-heng tahu akhir-akhir ini di dunia persilatan telah terjadi lagi beberapa peristiwa penting. Suasana dunia Kangouw terasa mulai guncang lagi. Inilah saatnya kaum kita harus bertindak. Bilamana Ciu-heng bersedia bekerja sama denganku, kuyakin segala sesuatu pasti akan berjalan lancar."
Ciu Hong tersenyum sambil mengelus jenggot, katanya.
"Coba ceritakan dulu, peristiwa penting apa pula yang terjadi di dunia Kangouw?"
"Peristiwa paling akhir yang paling menggemparkan dunia Kangouw adalah tentang pergantian 291 Pangcu Kay-pang,"
Tutur Li Beng-sing.
"Pangcu lama konon tidak diketahui ke mana perginya, Pangcu yang sekarang tidak dikenal asal usulnya. Sebuah organisasi Kangouw terbesar dan bersejarah lama kini mengalami kekacauan, karena kejadian dalam Kay-pang ini sehingga berbagai kelompok kaum jembel di berbagai daerah juga kena pengaruhnya, bagian dalam berbagai kelompok kaum jembel itu juga terjadi huru-hara dan setiap orang sama merasa tidak aman, konon Pangcu Kay-pang yang baru sangat besar ambisinya dan bermaksud menggabungkan berbagai kelompok kaum jembel itu supaya semuanya berada di bawah pimpinan Kay-pang."
Meski Po-ji berada di tengah kerumunan nona cantik, namun dia selalu pasang telinga mengikuti pembicaraan Li Beng-sing dan Ciu Hong, sekarang ia tidak tahan dan ikut bicara katanya dengan menyesal.
"Ai, tak tersangka Ong-toanio benar menjadi Pangcu Kay-pang dan kini mulai membuat huru-hara .... Lantas bagaimana nasib Ong Poan-hiap dan para sesepuh Kay-pang?"
Li Beng-sing melototinya sekejap, seperti heran mengapa anak kecil ini sedemikian paham akan urusan dunia Kangouw, di mulut ia pun menjawab.
"Ong Poan-hiap, Yap Ling dan lain-lain sebenarnya merupakan pendukung Pangcu lama, seharusnya mereka berdiri menghadapi usaha perebutan Pangcu dari pihak Ong-toanio, tapi tindakan Ong-toanio ini selain keji juga dilakukan dengan sangat cermat, sudah lama ia memasang jaringan di sana-sini sehingga pihak lawan sama sekali tidak bisa berkutik."
Ia menyapu pandang sekejap semua orang, lalu menyambung.
"Lebih dulu ia gunakan akal untuk menculik Pangcu lama dan sama sekali tidak mengumumkan mati-hidupnya sehingga setiap anggota Kay-pang lama waswas, kemudian ia gunakan berbagai akal lain untuk menundukkan para pimpinan cabang Kay-pang di berbagai tempat, akhirnya ia mengundang Ong Poan-hiap, Yap Ling dan lain-lain untuk bertemu di tepi pantai agar mengadakan pertandingan untuk menentukan kedudukan Pangcu, dan dalam pertarungan ini, Ong-toanio yang sudah buntung kedua kakinya itu ternyata dapat menjatuhkan Ong Poan-hiap dan membuatnya terluka parah."
"Hah, terluka parah? ...."
Po-ji berseru kaget.
"Wah, caranya sungguh sangat lihai. Dengan tindakan begitu, tentu tidak ada yang menyangsikan tipu muslihat mereka."
"Menyangsikan tipu muslihat apa?"
Tanya Li Beng-sing heran. Cepat Ciu Hong menyela.
"Tidak ada apa-apa, harap Li-heng teruskan ceritamu."
Kening Li Beng-sing bekernyit, sambungnya kemudian.
"Meski Yap Ling dan lain-lain merasa penasaran, tapi pertama karena sudah ada janji lebih dulu, kedua, bila Ong Poan-hiap saja tidak dapat menandinginya, apalagi mereka sendiri. Ai, Ong Poan-hiap juga seorang lelaki perkasa, meski sudah mandi darah, namun sebelum roboh ia masih sempat memberi pesan kepada Yap Ling dan lain-lain agar menepati janji supaya Kay-pang tidak ditertawai sesama kawan Kangouw sebagai kaum yang tidak dapat dipercaya."
Diam-diam Po-ji terkesiap, pikirnya.
"Lihai amat Ong Poan-hiap ini, setiap perbuatannya yang kotor ternyata selalu menggunakan keluhuran budi sebagai selubung."
Ia lihat Li Beng-sing juga sedemikian kagum terhadap Ong Poan-hiap, dengan sendirinya tidak enak baginya untuk mengemukakan pikirannya itu. Terdengar Li Beng-sing menyambung lagi.
"Dalam keadaan begitu, biarpun Yap Ling dan kawannya tidak rela, terpaksa juga harus tunduk kepada Ong-toanio. Segera pula Ong-toanio mengangkat Ong Poan-hiap sebagai Hou-hoat Tianglo (sesepuh pelindung), kedudukannya hanya di bawah Pangcu. Ai, Ong-toanio itu sungguh tokoh yang lihai dan licin, ia tahu jika segala sesuatu dilakukan atas nama pribadinya, tentu akan timbul pembangkangan orang banyak. Tapi bila setiap perintah Pangcu diteruskan oleh Hou-hoat Tianglo, terpaksa anggota Kay-pang harus menurut. Kasihan Ong Poan-hiap yang telah dikalahkan itu, akhirnya masih 292 harus melaksanakan segala perintah Ong-toanio. Rasanya lelaki keras hati seperti Ong Poan-hiap kini sudah jarang ada di dunia persilatan."
Makin mendengarkan makin gemas Po-ji sehingga mukanya merah padam, pikirnya.
"Sialan, yang kau puji selalu kebaikan, Ong Poan-hiap saja, padahal semua itu tidak lain adalah sandiwara yang telah diatur oleh mereka suami istri."
Mestinya hal itu hendak diucapkannya, namun mulutnya keburu disumbat oleh sebiji kuaci yang dijejalkan oleh sebuah tangan yang halus. Terdengar Li Beng-sing berkata pula.
"Jika keadaan begitu terus berlangsung, untuk sementara Kay-pang rasanya akan aman tenteram. Siapa tahu, baru-baru ini dunia Kangouw kembali timbul suatu peristiwa aneh yang berpengaruh besar terhadap Kay-pang."
Ia sengaja berhenti, ia menduga orang yang asyik mendengarkan ceritanya itu pasti akan bertanya kejadian aneh apa, siapa tahu sampai sekian lama tiada seorang pun yang bersuara.
Terpaksa Li Beng-sing menyambung lagi.
"Kejadian aneh itu adalah ditemukannya sebuah botol arak yang terjaring oleh kaum nelayan di dekat pantai."
"Aha, itu dia ...."
Seru Po-ji di dalam hati. Sekali ini Ciu Hong tidak tahan, cepat ia tanya.
"Memangnya apa pengaruhnya sebuah botol arak terhadap Kay-pang?"
Li Beng-sing tersenyum, katanya.
"Botol arak saja memang tidak ada artinya, yang aneh adalah botol arak yang tertutup rapat itu di dalamnya terdapat secarik kertas dengan tulisan yang berbunyi "Ong-toanio adalah Hou-li Go So"."
Bekernyit kening Ciu Hong, segera ia menoleh dan memandang sekejap ke arah Po-ji. Cepat Po-ji menunduk dan terbenam di tengah pelukan kawanan nona cantik. Li Beng-sing menyambung lagi ceritanya.
"Mendingan jika kertas tulis itu jatuh di tangan kaum nelayan biasa, siapa duga nelayan yang menemukan pamflet itu bukan lain daripada Ting bersaudara dari Ting-keh-wan."
"Ting bersaudara itu mempunyai ibu yang sangat mereka takuti, peraturan rumah tangga mereka sangat keras, biasanya tidak boleh ikut campur urusan dunia Kangouw, memangnya apa yang terjadi setelah mereka menemukan kertas tulis itu di dalam botol arak yang masuk jaring mereka?"
Tanya Ciu Hong.
"Memang betul Ting bersaudara terkenal tidak suka ikut campur urusan tetek bengek di luar,"
Ujar Li Beng-sing.
Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 4
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 7