Ceritasilat Novel Online

Misteri Kapal Layar Pancawarna 6

Eps 6 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long

Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long

Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.

"Namun segala sesuatu terkadang sangat kebetulan. Waktu itu di rumah keluarga Ting justru bertamu seorang yang biasanya paling suka cari tahu urusan orang lain. Jika kukatakan orang ini, kuyakin Ciu-heng pasti juga kenal namanya."

Meski tidak ingin tanya, melihat sikap Li Beng-sing yang serbamisterius itu, tidak urung Ciu Hong menegas.

"Siapa dia?"

"Siapa lagi kalau bukan Ban-tayhiap yang namanya sejajar dengan Ong Poan-hiap dan akhir-akhir ini namanya cukup termasyhur di dunia Kangouw,"

Tutur Li Beng-sing. Po-ji tidak tahan dan coba bertanya lagi.

"Ban-tayhiap yang kalian maksudkan apakah putra Ban-lohujin yang suka berbaju penuh saku itu?"

Diam-diam Li Beng-sing merasa heran pula dari mana anak kecil ini kenal nama tokoh Kangouw terkemuka itu, tidak urung ia pun menjawab.

"Ya, betul, putra Ban-lohujin itulah."

"Kabarnya Ban-tayhiap ini berbeda watak dengan ibunya, jika kertas tulis itu ditemukan olehnya, maka harus bersyukurlah kita,"

Demikian pikir Po-ji. Meski merasa air muka anak itu agak aneh, namun tidak diperhatikan oleh Li Beng-sing, ia menyambung lagi.

"Setelah Ban-tayhiap membaca tulisan itu, meski dia tidak memperlihatkan sesuatu reaksi, namun diam-diam ia mulai mengadakan penyelidikan. Bagaimana hasilnya tidak diketahui, hanya sebulan kemudian Ban-tayhiap telah menyebarkan kartu undangan kepada para kesatria untuk berkumpul di Wi-ho-lau untuk berunding urusan besar, mengenai urusan besar apa yang akan dirundingkan sama sekali tidak dijelaskan dalam kartu undangan, tapi menurut dugaanku, tentu ada sangkut pautnya dengan persoalan Kay-pang."

"Oo, pantas hari ini Wi-ho-lau sedemikian ramai,"

Kata Ciu Hong dengan tertawa.

"Keramaian Wi-ho-lau hari ini selain urusan pertemuan yang diadakan Ban-tayhiap, konon juga akan terjadi beberapa hal yang tak terduga .... Kabarnya akan hadir juga Thi-kim-to dan hendak mengadakan perang tanding dengan musuh bebuyutannya."

"Aha, ternyata benar ada tontonan menarik, kita harus ikut meramaikannya,"

Ujar Ciu Hong. Dengan suara tertahan Li Beng-sing berkata pula.

"Dengan sendirinya kita harus melihat keramaian ini, bisa jadi kesempatan ini dapat kita gunakan untuk bekerja."

"Ya, tepat,"

Tukas Ciu Hong.

"Tapi sekarang peranan utamanya belum muncul, untuk menjaga gengsi, kita pun tidak perlu menunggu di sana, bagaimana kalau kita pesiar dulu di sepanjang sungai ini,"

Kata Li Beng-sing. Ciu Hong mengiakan dengan tertawa. Segera Li Beng-sing tepuk tangan dan berkata kepada kawanan nona.

"Ai, baru sekarang kutahu, sangu yang dibawa tuan muda kita itu sudah habis, jika kalian ingin persen, lekas kemari saja."

Kembali terjadi keributan antara kawanan nona jelita itu, ada yang tertawa dan ada yang mengomel, serentak mereka pun mendekati Li Beng-sing dan berusaha merayunya.

Po-ji menghela napas lega, bilamana kawanan nona itu tidak pergi, sungguh ia tidak tahan lagi.

Ia betulkan bajunya, lalu mendekati jendela dan coba melongok keluar.

Terlihat kapal layar berlalu-lalang dengan ramainya.

Ketiga kota di muara Bu-han ini merupakan pusat perdagangan sepanjang sungai Tiangkang, dengan sendirinya jauh lebih makmur daripada tempat lain.

Angin meniup sejuk, semangat Po-ji terbangkit.

Didengarnya kawanan nona tadi sedang menyanyi dan menghibur tetamunya.

Li Beng-sing bertepuk tangan dan bergelak tertawa sambil merangkul sini dan mencium sana.

Po-ji merasa mual, sungguh ia ingin menyumbat telinga, sedapatnya ia melongok keluar jendela sebisanya.

Dilihatnya datang lagi sebuah kapal besar menyongsong angin, empat perahu nelayan tampak mengawal di kedua sisi kapal megah itu.

Bentuk keempat perahu nelayan itu sangat aneh, tubuh perahu sempit, kepala runcing, jelas pada waktu meluncur sekencangnya pasti secepat anak panah terlepas dari busurnya.

Di atas perahu itu masing-masing berdiri delapan lelaki kekar berseragam baju ungu ketat, pakai ikat kepala warna ungu juga, semuanya membawa kaitan yang tersandang di punggung dihias pita 294 merah yang berkibar tertiup angin.

Pada dada baju setiap lelaki itu bersulam sebuah huruf "Ting"

Yang besar.

Di haluan kapal megah itu terdapat sebuah kursi besar beralaskan kasuran bersulam, seorang nenek beruban duduk di situ asyik udut dengan cangklongnya yang panjang berwarna zamrud.

Empat pelayan cilik, ada yang memegang payung, ada yang membawa kantong tembakau, semuanya berdiri di belakang si nenek.

Lalu ada lagi dua pemuda cakap gagah berpedang berdiri di samping dan terkadang menunjuk sesuatu pemandangan indah sambil memberi penjelasan kepada si nenek.

Diam-diam Po-ji membatin.

"Entah orang macam apa pula nenek ini? Melihat lagaknya, jelas bukan tokoh sembarangan."

Terdengar Li Beng-sing sedang berkata kepada Ciu Hong dengan tertawa.

"Coba lihat, Ciu-heng, Lohujin (nyonya tua) ini tak-lain-tak-bukan adalah Ting-lohujin yang terkenal dari Ting-keh-wan. Sudah lama sekali nyonya tua ini tidak pernah meninggalkan Ting-keh-wan, tak tersangka sekarang dia juga muncul di sini, maka dapat diperkirakan keramaian hari ini pasti lain daripada yang lain."

"Konon Ting-lohujin ini selain masih tetap cantik molek serupa sediakala, bahkan tinggi ilmu silatnya juga sukar dibandingi orang,"

Kata Ciu Hong.

"Ya, wajah secantik bunga, ilmu pedang semolek orangnya, inilah pemeo yang terkenal masa lampau untuk memuji kehebatan Ting-lohujin alias Liu Ih-jin ini,"

Kata Li Beng-sing dengan tertawa.

"Bunga mekar akhirnya tentu layu, perempuan cantik pun akhirnya akan tua,"

Tukas Ciu Hong dengan gegetun.

"Sebabnya dia jarang lagi muncul di dunia Kangouw, mungkin karena dia tidak suka orang mengetahui wajahnya yang kini sudah mulai layu itu."

"Namun kisah masa muda Ting-lohujin konon sangat menarik, entah Ciu-heng mau mengisahkannya kembali?"

"Keluarga Ting sebenarnya keluarga persilatan turun-temurun, waktu mudanya Ting Biau terkenal gagah dan tampan, sekian tahun dia tergila-gila kepada Liu Ih-jin, namun Liu Ih-jin sama sekali tidak menggubris padanya. Sampai akhirnya Ting Biau bertemu dengan musuh ketika dia habis mabuk arak, dalam pertarungan di sungai meski musuh dapat dibunuhnya, tidak urung ia pun kena suatu pukulan dahsyat musuh sehingga segenap ilmu silatnya punah, walaupun masih dapat bergerak, namun keadaannya sudah serupa orang cacat. Sejak itu hidup Ting Biau tambah tidak terkontrol, setiap hari hanya tenggelam dalam mabuk, sejak itu pamor Ting-keh-wan pun runtuh dan sukar berbangkit lagi."

"Ah, sungguh menyedihkan dan harus disesalkan,"

Ucap Li Beng-sing sambil menenggak arak.

"Keadaan Ting Biau itu sungguh mengenaskan, anak buah sama meninggalkan dia, sanak keluarga pun menjauhi dia, hidupnya miskin dan merana. Siapa tahu pada saat begitulah Liu Ih-jin yang pernah digilainya tahu-tahu datang ke Ting-keh-wan dan hendak menikah dengan dia."

"Hah, Liu Ih-jin yang bagus!"

Seru Li Beng-sing sambil menghabiskan secawan arak pula.

Karena tertarik oleh cerita itu, Po-ji telah duduk di samping Li Beng-sing dan tanpa terasa ia pun mengiringinya minum dua cawan arak sehingga mukanya kelihatan merah.

Terdengar Ciu Hong melanjutkan ceritanya.

"Ting Biau itu seorang lelaki sejati, dalam keadaan merana begitu mana ia mau menikah dengan perempuan yang sangat dicintainya itu. Ia justru semakin tenggelam dalam dunia mabuknya. Jika perempuan lain, biarpun dahulu pernah dicintai dan sekarang Ting Biau kelihatan rusak sedemikian tentu akan ditinggal pergi. Namun 295 Liu Ih-jin ini memang perempuan aneh, dengan sukarela ia tinggal bersama Ting Biau dan merawatnya siang dan malam, Ting-keh-wan diperbaruinya kembali, sepuluh tahun kemudian, nama Ting-keh-wan berbangkit lagi, namun Liu Ih-jin sendiri pun tambah tua dan mulai layu, sebaliknya Ting Biau yang tenggelam mabuk selama sepuluh tahun akhirnya sadar juga dan terharu terhadap kesungguhan hati Liu Ih-jin, keduanya lantas menikah, cuma waktu sepuluh tahun yang berharga pun terbuang sia-sia ...."

Po-ji sangat terharu oleh cerita itu, ia coba tanya.

"Kemudian bagaimana lagi?"

"Kemudian Ting Biau belajar sastra dengan tekun dan jadilah dia seorang sastrawan ternama di daerah Kanglam dengan syairnya yang terkenal."

"Ah, sungguh menarik kisahnya,"

Ucap Po-ji dengan gegetun, tanpa terasa secawan arak ditenggaknya lagi.

"Orang Kangouw sama tahu Ting bersaudara terdiri dari seorang mahir ilmu silat dan seorang lagi sastrawan, meski sang adik gagah perkasa, sebaliknya sang kakak lemah tak bertenaga. Hal ini mungkin disebabkan Ting-lohujin ingin mengenangkan mendiang suaminya, maka Ting-toakongcu disuruh belajar ilmu silat."

Dalam pada itu Ting-lohujin alias Liu Ih-jin bersama kedua anaknya sudah meninggalkan kapal dan mendarat. Li Beng-sing memandang ke daratan melalui jendela kapalnya dan bergumam.

"Aha, Congpiauthau Thian-wi-piaukiok dari Han-yang, Siang Hoay-wi akhirnya datang juga .... Itu dia Sin-ci-jiu Poa Ce-sing juga tiba .... Hah, bagus, jago muda Kim Co-lim juga tidak mau ketinggalan ...."

Dengan sendirinya Po-ji tertarik dan ingin tahu tokoh-tokoh yang disebut itu, ia juga mendekati jendela dan memandang ke sana, dilihatnya Siang Hoay-wi itu bertubuh tinggi besar dan berewok, namun kegagahannya tidak kalah dibandingkan anak muda.

Diam-diam Po-ji membatin.

"Bila Thi-wah sudah tua, bisa jadi juga segagah ini."

Dilihatnya pula Poa Ce-sing itu adalah seorang pemuda berbaju perlente dan bermuka pucat, pemuda ini berdiri di haluan kapalnya seperti sedang menikmati pemandangan alam di daratan, tapi yang benar hanya anak perempuan cantik yang diincarnya, kedua matanya tampak sepat, seperti orang yang selalu kurang tidur.

Po-ji merasa geli dan berpikir.

"Sin-ci-jiu (si Panah Sakti) ini tampaknya selalu kurang tidur, entah cara bagaimana dia mampu membidik panahnya dengan jitu?"

Ternyata bentuk Kim Co-lim itu paling spesial, bajunya juga paling perlente, lagaknya juga jauh lebih angkuh daripada siapa pun.

Ia menumpang sebuah kapal besar dan megah, ia pun duduk di haluan dengan jubah sulam warna-warni, kancing baju semuanya terbuat dari emas dan tampak gemerdep di bawah sinar matahari.

Dua genduk cantik tampak berdiri di belakangnya, yang seorang memegang sebatang tombak panjang, seorang lagi membawa seguci arak.

Usia Kim Co-lim belum terlampau tua, yang besar adalah hidungnya, di bawah hidung yang besar itu bernaung mulut yang kecil dan tiada hentinya menenggak arak sehingga mata pun tambah merah dan berat, tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah kotak emas, dari dalam kotak dikeluarkan pula sesuatu benda aneh terus dipasang pada mukanya, sekilas pandang benda itu serupa semacam kerudung mata sehingga kedua matanya tertutup.

"Hei, apa ini?"

Ucap Po-ji terkejut.

Ia coba mengawasi, akhirnya baru diketahui benda penutup mata itu adalah dua potong kristal hitam yang dibingkai dengan lingkaran emas, kedua sisi diberi benang emas untuk dicantolkan 296 pada kedua daun kuping.

Dengan begitu cahaya matahari pun takkan membuatnya silau.

Po-ji tidak tahu itulah yang dinamakan kacamata masa kini, ia tertawa geli dan bergumam.

"Pantas dia juga berjuluk si raja mata empat ...."

"Orang ini juga anak murid keluarga persilatan turun-temurun dan kaya raya. Sayang dia gemar minum arak dan tidak pandai berusaha, sehingga harta benda tinggalan orang tua hampir ludes dibuatnya minum,"

Tutur Li Beng-sing.

"Ya, namun kungfu orang ini juga sangat hebat, apalagi kalau sudah mabuk, keperkasaannya sungguh jarang ada bandingannya,"

Kata Ciu Hong.

"Dahulu Coa Lo yang terkenal lihai dan jarang menemukan tandingan selama hidup, waktu bertarung dengan dia juga tidak lebih unggul. Pula orang ini juga berbudi luhur dan setia kawan, kelak bila kau berkelana di dunia Kangouw bolehlah mengikat persahabatan dengan dia."

"Tentu saja,"

Kata Po-ji.

Dilihatnya si gadis yang membawa guci arak sedang menuangkan arak pula, Kim Co-lim tertawa dan memegang tangan si gadis yang putih.

Agaknya gadis itu selain takut dan hormat terhadap sang majikan, agaknya juga rela diperlakukan sesukanya, maka dengan malu-malu ia manda saja dipegang.

Tiba-tiba dari dalam anjungan suara seorang perempuan membentak.

"Apa itu? Berani main gila?!"

Seketika si gadis menyurut mundur dengan muka pucat, Kim Co-lim juga menyengir rikuh, agaknya juga merasa takut sehingga cawan arak yang dipegangnya jatuh berantakan.

Lalu seorang perempuan cantik bergaun warna ungu lari keluar dari anjungan, telinga Kim Co-lim dijewernya terus diseret masuk ke dalam anjungan.

"Hah, kiranya orang ini takut bini,"

Ujar Po-ji dengan tertawa. Ciu Hong juga tertawa, katanya.

"Orang yang takut bini justru besar rezekinya."

Seterusnya banyak pula berdatangan tokoh-tokoh persilatan yang tidak dikenal, semuanya menumpang kapal dan menuju ke Wi-ho-lau.

"Jika kita hadir sekarang kiranya sudah cukup terhormat,"

Kata Ciu Hong.

"Kukira tidak perlu buang-buang waktu lagi."

"Bagus, bolehlah kita putar kembali ke Wi-ho-lau,"

Seru Li Beng-sing kepada awak kapalnya.

Wi-ho-lau yang merupakan bangunan bertingkat itu meski cukup luas juga tidak dapat menampung beribu orang kesatria yang datang sekaligus, lantaran itulah di luar Wi-ho-lau masih berjubel pendatang yang berlapis-lapis.

Sesudah mendarat, rombongan Ciu Hong dan Li Beng-sing juga sukar naik ke atas loteng Wi-ho-lau.

Thi-wah berlagak orang kuat, katanya.

"Biar kubuka jalan, mari kita mendesak ke depan!"

Segera ia pentang kedua tangannya yang besar terus hendak menerobos ke tengah kerumunan orang banyak.

"Huh, memangnya kau sangka mereka ini orang udik semua dan akan terjungkal sekali kau terjang?"

Ucap Po-ji.

Belum lenyap suaranya, benar juga Thi-wah telah didorong kembali oleh orang, dengan menyengir ia angkat pundak.

Agaknya ia sendiri kesakitan, cuma tidak enak untuk bicara.

Tiba-tiba Ciu Hong mendapat akal, serunya.

"Li-heng, racun aneh yang kau derita meski cuma dapat diobati oleh Ban-tayhiap, tapi sekarang tempat ini terkurung seketat ini, hendaknya jangan sembarangan kau main desak-mendesak, sebab kalau tanpa sengaja racun pada tubuhmu juga menyentuh tubuh orang lain, kan bisa bikin susah orang?"

Serentak Li Beng-sing tahu maksud ucapan Ciu Hong, ia pun berseru.

"Ya, tapi apa daya jika keadaan berjubel seperti ini. Biarlah kita mendesak maju dengan hati-hati, asalkan tidak menyentuh orang lain kan tidak apa-apa."

Sembari bicara ia terus melangkah ke depan.

Dengan sendirinya pembicaraan mereka didengar orang banyak, maka sebelum dia mendekati orang banyak, beramai-ramai orang di depan sana menyingkir, semuanya merasa khawatir, ada yang mendesis.

"Ssst, awas! Tubuh orang ini beracun, jangan sampai tersentuh!"

Hal ini terus diberitahukan orang lain sehingga dalam sekejap saja kerumunan orang banyak itu lantas terbuka sebuah jalan, dengan bebas dapatlah Li Beng-sing maju ke depan dibuntuti oleh Ciu Hong, Po-ji, dan Thi-wah.

Tanpa susah payah dapatlah keempat orang masuk ke Wi-ho-lau.

Di bawah tangga loteng berjaga dua lelaki kekar, mereka merintangi kedatangan mereka sambil menegur.

"Hanya tamu yang membawa kartu undangan saja diperbolehkan naik ke atas."

"Tentu saja kami membawa kartu undangan,"

Kata Ciu Hong dengan tertawa.

"Eh, Li-heng, perlihatkan kartu undangan yang berada padamu."

Mendadak ia berlagak bekernyit kening dan menyambung.

"Tapi, ah, mungkin ... mungkin pada kartu undangan juga ketularan racun tubuhmu ...."

"Hanya diperlihatkan saja kukira tidak beralangan,"

Ujar Li Beng-sing sambil berlagak meraba saku baju seperti hendak mengeluarkan kartu undangan. Kedua lelaki itu saling pandang sekejap, lalu berkata.

"Sudahlah, tidak perlu periksa lagi, silakan kalian naik ke atas."

Cepat mereka menyingkir agak jauh seperti khawatir ketularan racun. Tentu saja Po-ji merasa geli, begitu naik ke atas loteng, Li Beng-sing menoleh dan berkata kepada Ciu Hong.

"Akal Ciu-heng sungguh sangat bagus."

"Sst, jangan keras-keras, kalau didengar orang kan bisa runyam,"

Ujar Ciu Hong dengan tertawa.

Kalau di luar orang berkerumun dengan padat, di dalam Wi-ho-lau ternyata tidak banyak orang yang hadir, hanya puluhan orang duduk mengelilingi ruangan tengah.

Diam-diam Ciu Hong berempat mengitar ke sana dan mencari tempat luang di pojok.

Dilihatnya Ting-lohujin duduk di tengah barisan meja sana, kedua Ting bersaudara berdiri dengan sikap prihatin di samping sang ibu.

Kelihatan Siang Hoay-wi, Poa Ce-sing dan Kim Co-lim juga sudah hadir.

Agaknya belum sempat minum arak, maka Kim Co-lim kelihatan agak lesu.

Sebaliknya perempuan cantik berbaju ungu kelihatan berseri-seri, jelas sangat gembira karena diketahuinya perempuan yang hadir di Wi-ho-lau ini tidak ada yang lebih muda dan lebih cantik daripada dia.

Po-ji coba memandang kian kemari, ia berusaha menemukan beberapa wajah yang sekiranya dikenalnya.

Sayang yang duduk di depannya adalah seorang lelaki kekar dengan kopiah tinggi 298 sehingga mengalingi pandangan bocah ini.

Tentu saja Po-ji mendongkol, kalau bisa ia ingin tanggalkan kopiah orang dan digamparnya tiga kali.

Hanya Thi-wah saja yang dapat memandang seluruh ruangan dengan leluasa, cuma para kesatria dunia persilatan baginya sungguh terlampau asing, boleh dikatakan tiada seorang pun yang dikenalnya.

Terlihat para kesatria yang hadir itu sedang bisik-bisik sendiri dan ramai membicarakan apa yang akan terjadi nanti.

"Dalam pertempuran nanti, mungkin Thi-kim-to akan kalah lagi,"

Demikian seorang mendesis.

"Belum tentu,"

Ujar seorang lagi.

"Sejak dia berkunjung pada kapal layar pancawarna, konon kungfunya sudah jauh lebih maju. Pertempuran nanti mungkin dapat melampiaskan dendamnya yang sudah tertahan sekian tahun."

"Ayo kita bertaruh, 500 tahil perak, kutaruh dia pasti kalah!"

"Lima ratus tahil perak? .... Baik, jadi!"

Lalu ada kelompok lain yang lagi bicara dengan suara tertahan.

"Hei, mengapa Ban-tayhiap belum lagi tiba? Jangan-jangan ada ... ada sesuatu kejadian dalam perjalanan?"

"Dengan nama dan kungfu Ban-tayhiap, mustahil bisa mengalami sesuatu kejadian apa, andaikan terjadi sesuatu juga pasti dapat diselesaikannya seketika."

"Habis kenapa ... kenapa sampai saat ini beliau belum lagi datang?"

"Siapa tahu ...."

Di sudut lain ada juga yang bicara dengan suara agak keras.

"Konon apa yang akan terjadi di tempat ini sangat mungkin di luar dugaan siapa pun, apakah saudara dapat menerka sesungguhnya ada urusan apa?"

"Jika dapat kuterka, tentu kejadian nanti takkan disebut urusan yang tak terduga."

"Tapi sedikit banyak rasanya dapat kuterka, kabarnya urusan ini ada ...."

"Ssst, kan kau sudah berjanji takkan sembarangan omong, masa lupa?"

Seketika yang duluan tidak jadi meneruskan ucapannya. Selain itu juga ada yang membicarakan Ban-lohujin dan anaknya.

"Ban-tayhiap dan ibunya sudah cukup lama tidak pernah berkumpul, entah apa sebabnya."

"Ya, entah hari ini Ban-lohujin akan muncul di sini atau tidak?"

"Pihak Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay tidak akan mengirim utusan ke sini, jelas mereka tidak ingin ikut campur urusan ini, tapi Tiam-jong-pay ...."

"Sst, itu dia, orang Bu-tong-pay sudah datang."

"Ya, dan yang itu adalah orang Siau-lim-pay, anak murid keluarga swasta ...."

Seketika berjangkit suara berisik di sana-sini serupa pasar.

Sekonyong-konyong suara langkah yang berat timbul dari tangga loteng, dari suara langkah orang itu dapat dibedakan langkah kaki kiri agak ringan dan langkah kaki kanan lebih berat meski selisihnya tidak banyak.

Perlahan Po-ji berkata.

"Pendatang ini pasti terluka."

"Toako belum melihatnya, dari mana tahu...."

Ujar Thi-wah dengan heran.

Belum habis ucapannya, muncul seorang lelaki kekar di ujung tangga.

Orang ini memakai jubah panjang yang sangat sederhana, mukanya lebar, mulutnya besar, alisnya tebal, mukanya agak kuning, sekujur badan dari atas ke bawah tiada sesuatu pun yang istimewa.

Cuma gerak-geriknya sekarang kelihatan agak gelisah, cara melangkahnya juga terincang-incut, nyata dia memang benar terluka.

Orang ini tidak menarik, tapi demi melihat kedatangannya, serentak sebagian besar hadirin sama berdiri, bahkan beberapa orang di antaranya lantas memburu maju untuk memayangnya dan bertanya dengan khawatir.

"Apakah Ban-tayhiap terluka?"

"Ah, tidak apa-apa,"

Sahut lelaki berjubah panjang itu dengan tersenyum.

Senyumannya membuat orang yang sederhana dan wajah yang semula kaku itu berubah menjadi penuh daya tarik, bahkan baju panjang warna biru yang sudah luntur itu pun berubah menjadi menarik.

Bahwa orang inilah "Ban-tayhiap"

Yang termasyhur, semula Po-ji agak kecewa, tapi demi melihat senyumannya, rasa kecewanya seketika berubah menjadi gembira. Ia pikir.

"Cara tertawa Ban-lohujin itu terasa seram, tak tersangka senyuman putranya justru sedemikian menyenangkan."

Beberapa orang mengiringi Ban-tayhiap mendekati Ting-lohujin dan duduk di sampingnya.

Setelah Ban-tayhiap memberi hormat kepada nyonya tua itu, kedua Ting bersaudara juga lantas menegur sapa dengan dia, pertanyaannya serupa orang lain, yaitu.

"Kenapa engkau terluka? Apakah bertemu dengan musuh di tengah perjalanan? Siapa yang melukaimu?"

"Mendingan, cuma bertemu dengan beberapa orang dan terjadi sedikit keributan ...."

Tutur Ban-tayhiap dengan tersenyum. Ting bersaudara yang muda bernama Ting Yu-hong, ia menimbrung.

"Jika cuma beberapa penyamun kecil saja dapat melukai Ban-toako, apakah keterangan ini dapat dipercaya."

"Ya, tidak mungkin terjadi,"

Seru orang banyak.

"Sesungguhnya siapa yang melukai Ban-toako, mengapa tidak sudi kau katakan?"

Tanya Ting Yu-hong. Ban-tayhiap tersenyum, katanya.

"Urusan penting masih harus kita hadapi, untuk apa memikirkan urusan kecil ini? ...."

Ia merandek, lalu bertanya.

"Bagaimana, apakah Ong-locianpwe sudah tiba?"

Belum lenyap suaranya, beberapa orang yang duduk di dekat jendela berseru.

"Aha, itu dia, baru disebut segera muncul orangnya."

Selang sejenak, seorang naik ke atas loteng dengan tergesa-gesa, siapa lagi dia kalau bukan Ong Poan-hiap.

Dia kelihatan lelah dan agak kurus, ternyata benar seperti seorang yang suka bekerja bakti bagi orang lain tanpa pamrih.

Gemas sekali hati Po-ji melihat manusia munafik ini, ia sengaja tidak mau memandangnya lagi.

Hadirin di atas loteng menjadi gempar pula, meski di dunia Kangouw sudah tersiar desas-desus yang tidak baik terhadap Ong Poan-hiap, namun orang masih tetap menghormat padanya.

Begitu sampai di atas loteng, dengan cepat Ong Poan-hiap mendekati Ban-tayhiap dan bertanya dengan khawatir.

"Apakah engkau terluka, apakah parah? Ai, syukurlah atas bantuanmu dalam pertarungan tadi ...."

"Sesungguhnya apa yang terjadi dalam pertarungan tadi?"

Sela Ting Yu-hong.

"Eh, barangkali Ong-locianpwe sudah tahu apa yang terjadi, sudilah engkau mengisahkan ...."

"Oo, apakah Ban-heng belum bercerita kepada kalian? ...."

Sahut Ong Poan-hiap dengan menyesal.

"Ai, dalam perjalanan tadi kudapat laporan bahwa ada 17 orang lelaki berkedok yang dikenal asal usulnya telah mencegat perjalanan Ban-heng, katanya kungfu ke-17 orang itu sangat aneh dan tinggi."

"Kungfu aliran mana?"

Tanya Ting Yu-hong.

"Entah, anak buah kami belum sempat mengenalinya, cuma dapat diduga mereka berasal dari luar perbatasan, setiap jurus serangan mereka berbeda daripada kungfu daerah Tionggoan. Yang luar biasa adalah kungfu setiap orang itu boleh dikatakan tergolong jago kelas satu."

Semua orang sama melengak, pandangan mereka kembali terpusat ke arah Ban-tayhiap.

"Waktu kuterima laporan itu, sementara itu keadaan Ban-tayhiap sudah terancam bahaya,"

Tutur Ong Poan-hiap pula.

"Meski dua orang pihak lawan dapat dirobohkan, namun Ban-tayhiap sendiri juga sudah terluka dan tidak sanggup tahan lama lagi. Dengan sendirinya laporan itu sangat mengejutkan aku, cepat kususul ke sana, siapa tahu ...."

Ia menghela napas panjang, lalu menyambung dengan rasa lega.

"Syukurlah berkat perlindungan Thian, Ban-heng ternyata dapat lolos dari bahaya."

Tanpa terasa para kesatria juga menghela napas lega. Diam-diam Po-ji memuji.

"Ban-tayhiap ini sungguh seorang kesatria sejati, meski mengalami bencana, namun tetap dihadapinya dengan tersenyum tanpa banyak memberi komentar ...."

Dalam pada itu terdengar suara langkah orang banyak disertai suara tertawa nyaring, Ong-toanio tampak muncul di ujung tangga dalam pondongan kawanan gadis jelita, dengan tertawa ia berkata.

"Bukan Ong Poan-hiap saja yang khawatir, kami pun ikut khawatir bagi Ban-tayhiap. Cara bagaimana Ban-tayhiap meloloskan diri dari bahaya, sudikah engkau ceritakan pengalamanmu."

Sudah lama para kesatria mendengar nama tokoh aneh yang baru muncul di dunia Kangouw dan segera akan menjadi pimpinan organisasi terbesar, meski tidak ada yang kenal dia, tapi setelah mendengar ucapannya dan menyaksikan Ong-toanio duduk dalam kasuran yang didukung kawanan gadis serta tertawanya yang merdu, segera mereka dapat menduga siapa dia, tanpa terasa pandangan mereka terpusat kepada nyonya buntung itu.

Po-ji juga merasakan Ong-toanio sekarang seperti sudah banyak lebih muda daripada tempo hari.

Ban-tayhiap tersenyum, katanya.

"Terima kasih atas perhatian Pangcu. Tentang ke-17 orang itu, mereka memang tokoh yang jarang ada, bilamana tidak ada orang yang membantuku, mungkin saat ini jiwaku sudah melayang dan tidak mungkin dapat bertemu lagi dengan Pangcu dan tentu akan membuatku mati pun penasaran."

"Hehe, apa benar engkau sedemikian ingin menemuiku?"

Kata Ong-toanio dengan tertawa.

"Wah, sungguh senang hatiku oleh ucapanmu ini. Tampaknya aku kan belum terlampau tua?"

Ban-tayhiap tersenyum, jawabnya.

"Sebabnya terburu-buru ingin kutemui Pangcu bukanlah karena ingin melihat wajah Pangcu yang molek melainkan karena ada suatu urusan perlu kuminta bantuanmu."

"Oo, urusan apa? Apa minta kujadi comblang bagimu?"

Tanya Ong-toanio. Sebagian para kesatria bekernyit kening, ada yang tertawa geli. Hanya Ban-tayhiap saja tetap berlaku tenang, katanya perlahan.

"Entah Pangcu kenal asal usul ke-17 orang pengerubut diriku itu atau tidak?"

Ong-toanio berkedip-kedip dan mengerling kian kemari, katanya kemudian dengan tertawa.

"Gaya ilmu silat aliran luar perbatasan sama sekali tidak kukenal, apalagi aku pun tidak menyaksikan permainan mereka, dari mana kutahu siapa mereka, pertanyaanmu sungguh sulit kujawab."

"Gaya kungfu luar perbatasan yang dimainkan ke-17 orang itu tidak lain hanya untuk kedok penutup identitas mereka saja,"

Sela Ban-tayhiap.

"Oo, jika begitu, aku terlebih tidak tahu siapa mereka,"

Sambung Ong-toanio. Ban-tayhiap tersenyum, katanya.

"Untung beberapa orang di antaranya dapat kukenal, waktu kusingkap kedok mereka yang kurobohkan itu, ternyata mereka adalah anak murid Kay-pang."

Keterangan ini seketika membuat para kesatria melengak. Diam-diam Po-ji membatin.

"Sungguh perempuan yang mahakeji, sampai Ban-tayhiap juga hendak dibinasakannya agar pertemuan ini gagal sama sekali. Sekarang tipu muslihatnya telah terbongkar, entah cara bagaimana dia akan memberi alasan?"

Siapa duga nyonya buntung itu kelihatan tenang-tenang saja, katanya tetap dengan tersenyum genit.

"Setiap ucapan Ban-tayhiap tentu berdasar, apa yang kau katakan tidak mungkin bohong."

Kembali semua orang melenggong, siapa pun tidak menduga dia mau mengaku begitu saja. Terdengar Ong-toanio berucap pula dengan menyesal.

"Anak murid Kay-pang memang campur aduk dari golongan mana pun, aku sendiri belum lama menjabat Pangcu, biarlah nanti akan kuselidiki hal ini, bilamana terbukti benar, tentu yang menjadi biang keladinya akan kujatuhi hukuman setimpal."

Nyata, hanya dengan beberapa patah kata saja kembali ia dapat mengelakkan tanggung jawab dengan bersih.

Tentu saja semua orang dibuat tercengang pula.

Meski mereka tahu orang perempuan ini sengaja putar lidah, tapi sukar juga untuk membantahnya.

Wajah Ban-tayhiap tampak marah, katanya dengan mendongkol.

"Jika demikian, jadi Pangcu sendiri sama sekali tidak tahu-menahu akan urusan ini?"

"Ai, bilamana kutahu akan terjadi demikian tidak nanti kubiarkannya terjadi,"

Ujar Ong-toanio dengan tertawa.

"Memangnya aku sampai hati membiarkan pendekar berbudi serupa Ban-tayhiap menjadi korban kerubutan mereka?"

"Bilamana kumati, kan tidak ada orang lain lagi yang dapat mengusut asal usulmu?!"

Jengek Ban-tayhiap. Air muka Ong-toanio berubah merah padam, tapi cepat berubah dingin pula, jawabnya.

"Memangnya asal usulku apa yang harus kusembunyikan sehingga takut akan diusut orang? Dengan kedudukan Ban-tayhiap yang terhormat, hendaknya setiap perkataanmu perlu memberi pertanggungjawaban dan memberi buktinya, apabila segala sesuatu cuma berdasarkan desas-desus saja dan sembarangan menuduh, biarpun aku bukan tandinganmu juga akan kuminta keadilan kepada para pahlawan sedunia."

Saking gusar Ban-tayhiap berbalik tertawa malah, serunya.

"Haha, sungguh perempuan yang pintar putar lidah. Biarlah orang she Ban ingin belajar kenal dengan kungfumu apakah sama lihainya serupa lidahmu."

Berbareng ia lantas berdiri dan siap tempur. Mendadak terdengar Ting-lohujin membentak.

"Nanti dulu! Jika kau tidak dapat memberi buktinya, dengan sendirinya orang banyak akan mencari dan membikin perhitungan denganmu, buat apa orang bergebrak denganmu sekarang?"

Suaranya perlahan tapi mantap, setiap katanya cukup berbobot, diam-diam para kesatria sama memuji bahwa jahe memang lebih pedas jahe yang tua.

Ban-tayhiap melengak, lalu duduk dengan lemas.

Ong-toanio tertawa dan berkata.

"Yang ini tentunya Ting-lohujin adanya? Ucapan Lohujin sungguh cocok benar dengan jalan pikiranku."

Ting-lohujin tersenyum, katanya.

"Tapi urusan yang tidak ada bukti ini, jika diharuskan memberi pembuktian terang sangat sulit, sebab orang yang pernah melihat wajah asli Hou-li Go So dahulu memang tidak banyak, kalau ada sebagian sudah mati terbunuh olehnya ada yang hidup merana dan akhirnya juga binasa."

"Aduh, masakah di dunia ini ada perempuan selihai itu?"

Kata Ong-toanio dengan tertawa.

"Eh, Ting-lohujin, pada waktu mudamu entah lebih lihai tidak daripada dia?"

Ting-lohujin tidak menghiraukannya, ia cuma tersenyum dan berkata.

"Tapi meski orang-orang itu hampir seluruhnya sudah mati, untung masih sisa sebelas orang."

"Oo, di mana?"

Tanya orang banyak serentak.

"Di antara ke-11 orang itu, kecuali dua orang yang tidak diketahui jejaknya, empat orang lagi jauh tinggal di luar perbatasan, sisa lima yang lain sudah kuundang kemari, sekarang mungkin sudah dalam perjalanan dan hampir tiba di sini."

Keterangan Ting-lohujin ini dengan sendirinya menimbulkan kegemparan pula, bahkan beramai-ramai sama melongok ke luar jendela untuk melihat barangkali ada kedatangan tamu baru lagi.

Tiba-tiba Ong-toanio mendengus.

"Hm, apabila Ting-lohujin sembarangan mendatangkan beberapa orang bajingan tengik untuk menuduh aku inilah Go So, itu kan memfitnah namanya."

"Kelima orang ini adalah tokoh persilatan setempat, juga terkenal jujur dan setia kawan, mereka adalah Jian-kin-tan Ciok Bing, Thi-ciang Lim Kiang, Sian-jin-kiam Song Ki-kong, Wi-tin-pat-hong Go Lip-tek dan Hwe-leng-koan Ong Beng. Berdasarkan keterangan kelima tokoh terkemuka ini, memangnya siapa yang menyangsikannya?"

Ini memang terbukti, sebab setiap kali ia sebut nama tokoh-tokoh itu, setiap kali pula mendapat sorakan orang banyak. Ong-toanio tersenyum, katanya.

"Jadi kelima orang itulah yang kau maksudkan? Baik, kuyakin, mereka pasti takkan memfitnahku, rasanya aku pun tidak perlu khawatir."

Melihat sikap Ong-toanio tetap tenang saja, sedikit pun tidak gugup, mau tak mau para kesatria menjadi ragu.

"Jangan-jangan dia memang bukan Hou-li Go So, tapi Ban-tayhiap sendiri yang berlebihan membayangkan hal yang tidak berdasar."

Tiba-tiba terlihat Ting-lohujin berdiri dan berucap dengan suara berat.

"Sebelum kelima orang yang kusebut tadi datang, ada suatu urusan juga ingin kukatakan pada kesempatan ini."

Melihat cara bicara nyonya yang jarang berkecimpung di dunia Kangouw ini sedemikian serius tentu urusan yang akan disinggungnya pasti sesuatu yang penting, maka semua orang sama menahan napas dan siap mendengarkan.

Dengan perlahan Ting-lohujin lantas berkata.

"Setelah pertarungan di laut timur dan Ci-ih-hou kehabisan tenaga dan gugur, si tokoh baju putih berjanji akan datang lagi tujuh tahun kemudian. Selama ini memang tidak banyak terdapat tokoh muda di dunia Kangouw, namun setiap jago muda yang ada hampir semuanya bertekad ingin menempur si tokoh baju putih pada tujuh tahun yang akan datang, soalnya bilamana kalah dalam pertarungan ini, paling banter juga terbunuh saja dan habis perkara, dan mengadu jiwa biasanya memang bukan soal bagi orang muda, sebaliknya kalau dia menang, jelas namanya akan tersiar ke seluruh jagat dan beribu jiwa kaum kesatria dunia Kangouw juga akan diselamatkan olehnya."

Ia bicara dengan penuh semangat dengan sinar mata mencorong terang, kegagahan masa mudanya dapatlah dibayangkan. Setelah menghela napas, Ting-lohujin melanjutkan lagi.

"Cuma kaum muda ini, baik mengenai ilmu silatnya maupun mengenai pengalamannya jelas sangat sukar untuk dapat mengalahkan tokoh baju putih itu. Untuk bisa mengatasi lawan misterius itu, kukira hanya satu-satunya orang yang pernah bergebrak dengan si baju putih dan masih hidup sampai sekarang, kalau dia dapat menguraikan di mana letak rahasia dan ciri ilmu pedang si baju putih untuk dipelajari bersama, kalau tidak, jelas pedang si baju putih pada tujuh tahun kemudian tetap akan menimbulkan banjir darah di dunia persilatan. Tentang siapa orang yang masih hidup itu, tanpa kujelaskan tentu kalian pun tahu."

Tanpa berjanji para kesatria sama mendesis dan menyebut nama seorang.

"Pek Sam-kong .... Cuma sayang, bukan saja dia tidak dapat menceritakan rahasia dan ciri ilmu pedang si tokoh baju putih, bahkan sekarang Pek Sam-kong pun menghilang."

Tergetar hati Po-ji mendengar keterangan itu. Terdengar Ting-lohujin berkata pula.

"Ya, memang betul Pek Sam-kong tidak diketahui ke mana perginya, tapi di seluruh dunia ini masih ada satu orang yang tahu jejaknya ...."

"Siapa?"

Tanya orang banyak serentak.

Sorot mata Ting-lohujin yang tajam mendadak beralih ke arah Kim Co-lim.

Tampak tubuh Kim Co-lim tergetar dan cepat menunduk.

Pada saat itulah seorang lelaki berlari ke atas loteng sambil berseru dengan cemas.

"Wi-tin-pat-hong Go Lip-tek, Go-tayhiap semalam kehilangan buah kepala, siapa pembunuhnya tidak diketahui. Tadi anak buahnya baru saja datang menyampaikan berita duka itu, katanya mohon ... mohon Ban-tayhiap sudi membalaskan dendam bagi Go-tayhiap."

Keruan suasana menjadi gempar, namun Ting-lohujin tetap tenang saja, ucapnya perlahan.

"Ya, sudah tahu. Suruh pesuruh keluarga Go itu menunggu sebentar di bawah."

Lalu ia menoleh dan menatap Kim Co-lim pula dengan tajam dan bertanya.

"Di mana Pek Sam-kong berada?!"

Kim Co-lim menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan menyengir jawabnya.

"Locianpwe tanya padaku kiranya? Tentang di mana beradanya Pek Sam-kong, dari mana ... dari mana kutahu?"

"Kim-toasiauya kita kembali berlagak pilon lagi,"

Jengek Ting-lohujin.

"Seorang lelaki sejati harus berani berbuat berani bertanggung jawab, jika berlagak pilon itu namanya bunglon."

Mendadak Kim Co-lim membusungkan dada dan berteriak.

"Betul, kutahu ke mana perginya Pek-tayhiap, akan tetapi kalau dia memercayai diriku, tidak layak bila kubocorkan rahasianya."

Kembali terjadi kegemparan antara orang banyak, si nyonya cantik baju ungu diam-diam menggerutu.

"Goblok, sok kesatria, hanya dipancing begitu saja lantas bicara ...."

Tiba-tiba seorang lari naik ke atas loteng dan berseru.

"Itu dia kereta Ciok-keh-ceng sudah datang ...."

Semua orang merasa senang, siapa tahu orang itu lantas melanjutkan.

"Tapi isi keretanya adalah mayat Ciok Bing Ciok-tayhiap, tubuhnya ditembus oleh sebatang pedang panjang."

Seketika suasana Wi-ho-lau berubah ribut, di tengah berisik orang banyak Ting-lohujin berseru dengan suara lantang.

"Ya, sudah tahu. Lekas sampaikan berita kilat ke Ciok-keh-ceng tentang berita duka Ciok-tayhiap, cepat!"

Mendadak suaranya berubah bengis dan menghardik terhadap Kim Co-lim.

"Kim Co-lim, apa betul jejak Pek Sam-kong tidak mau kau katakan?"

"Tidak,"

Jawab Kim Co-lim tegas.

"Tidakkah kau tahu saat ini hanya dia saja yang memegang setitik sinar harapan bagi dunia persilatan kita. Jika tidak kau katakan di mana dia berada, mungkin segenap kesatria akan bertindak padamu,"

Bentak Ting-lohujin pula. Mata Kim Co-lim melotot lebar, teriaknya.

"Pek-tayhiap tidak sudi menjadi manusia pengecut yang tidak setia, aku Kim Co-lim juga bukan pengecut yang tidak tahu budi, sekali kukatakan tidak tetap tidak dapat kukatakan."

Ada beberapa orang lantas mencaci maki dan menubruk maju. Kim Co-lim berbangkit dan siap menghadapinya. Tapi si nyonya cantik baju ungu lantas menggebrak meja dan membentak.

"Jika dia menyatakan tidak mau bicara, itulah haknya, kalian berani paksa dia? Barang siapa memusuhi Kim Co-lim, boleh dia menghadapiku Hoa Jing-jing dulu."

Entah siapa menanggapi dengan gusar.

"Sungguh perempuan bedebah!"

Belum lenyap suaranya, serentak Hoa Jing-jing menjungkirkan meja di depannya sehingga mangkuk piring berhamburan.

Di tengah jerit kaget orang banyak dan berusaha menghindari benda pecah belah itu, cepat Ting-lohujin berteriak mencegahnya, namun Hoa Jing-jing tetap mencaci maki dan tetap melemparkan segala benda yang dapat diraihnya.

Sekonyong-konyong seorang lari datang lagi sambil berteriak.

"Wah, celaka ... celaka ...."

Seketika suara caci maki dan lemparan meja kursi berhenti serentak. Dengan napas terengah orang itu berteriak pula.

"Baru saja datang laporan, katanya Thi-ciang Lim Kiang, Sian-jin-kiam Song Ki-kong, keduanya sebenarnya datang bersama, tapi di tengah jalan sama-sama menemui ajalnya. Pada tubuh kedua pendekar besar itu penuh luka, biarpun malaikat dewata pun tidak mampu menyelamatkannya."

Belum habis ucapannya, kembali seorang berlari ke atas loteng lagi sambil berteriak keras.

"Wah, Hwe ... Hwe-leng-koan Ong Beng ter ... terbakar hangus!"

Suasana ribut di atas loteng mendadak berhenti dan berubah sunyi.

Semua orang sama berdiri melongo dan mematung.

Maklumlah, Ciok Bing, Go Lip-tek, Lim Kiang, Song Ki-kong dan Ong Beng berlima bukanlah jago keroco, tapi dalam sehari mereka sama terbunuh begitu saja.

Jika dikatakan sebab musabab kematian kelima orang itu bukan akibat suatu urusan yang sama, lalu kematian mereka berlima kan terlampau kebetulan belaka?

Dan bila kematian mereka benar akibat suatu perkara yang sama, maka orang yang turun tangan keji itu sungguh terlampau kejam dan menakutkan.

Berbareng pandangan semua orang lantas berganti mengarah kepada Ong-toanio.

Ting-lohujin lantas mendengus.

"Hm, setelah kelima orang itu mati, tentu tidak ada lagi yang dapat mengenali siapa dirimu."

Suaranya dingin dan ketus, namun tetap tidak dapat menutupi rasa duka dan kecewanya. Tenang saja Ong-toanio menjawab.

"Aku sendiri berharap mereka jangan mati, dengan begitu akan dapat membuktikan aku bukan Go So. Tapi sekarang, ai, mengapa kalian tidak melindungi mereka dengan baik. Bilamana tahu lebih dulu, anak murid Kay-pang kukira akan dapat melindungi mereka."

Setelah menyapu pandang hadirin sekejap, lalu sambungnya.

"Jika Kim-toasiauya kita mati pun tidak mau mengatakan jejak Pek Sam-kong, sekarang kelima orang itu terbunuh pula, maka kedua peristiwa ini mungkin sukar lagi dipecahkan, tampaknya terpaksa harus dibiarkan begitu saja. Dan rasanya juga tidak ada artinya tinggal lebih lama di sini, lebih baik kita angkat kaki saja."

Segera kawanan gadis mengangkat kursi malasnya yang terbuat dari kasuran lunak, para kesatria hanya mampu menyaksikan tanpa berdaya. Tak terduga mendadak seorang membentak nyaring.

"Siapa bilang kedua peristiwa ini sukar dipecahkan?!"

Kiranya Po-ji tidak tahan lagi dan mendadak melompat keluar sambil membentak. Keruan semua orang melengak, sampai Ciu Hong juga terkesiap. Ong-toanio bekernyit kening, katanya.

"Eh, adik cilik, kau bilang siapa yang dapat memecahkan kedua peristiwa itu?"

"Siapa lagi selain aku!"

Jawab Po-ji sambil menuding hidung sendiri.

Rasa kejut dan heran orang banyak sampai sekarang jadi tidak tahan dan meledak serentak, ada yang mengejek, ada yang mencaci maki.

Dengan menahan rasa gelinya Ong-toanio berkata.

"Jika kedua peristiwa ini pun tidak dapat dipecahkan tokoh seperti Ting-lohujin, Ban-tayhiap dan para kesatria yang hadir di sini, memangnya anak sekecil dirimu malah dapat memecahkannya? .... Haha, kukira kau ini anak yang kurang waras barangkali, ayolah lekas pulang menyusu pada biangmu."

Dengan sendirinya semua orang sama meragukan kemampuan Po-ji, hanya Ong Poan-hiap saja yang kelihatan prihatin, diam-diam ia mendekati jendela dan memberi isyarat keluar. Terdengar Po-ji berteriak.

"Bilamana tokoh berbaju putih itu datang lagi tujuh tahun kemudian, dengan sendirinya ada orang Kangouw yang sanggup menghadapinya. Jika kalian sama mengaku sebagai kaum pendekar, mengapa kalian memaksa orang berbuat hal-hal yang tidak dapat dipercaya dan tidak berbudi? Biarpun dengan begitu si tokoh baju putih akan dapat dikalahkan, namun kemenangan itu pun diperoleh secara kurang gemilang, masakan dunia persilatan juga akan tercemar dan malu. Apabila dalam dunia persilatan sekarang ada beberapa orang gagah lagi serupa Pek Sam-kong dan Kim Co-lim, tujuh tahun kemudian seumpama tidak dapat mengalahkan si jago baju putih, biarpun kalah juga cukup terhormat."

Muka Po-ji yang kecil itu tampak merah, sinar matanya gemerdep, cara bicaranya gagah berani, seketika tiada seorang pun berani memandang rendah lagi padanya.

Suasana menjadi hening, perlahan Ting-lohujin berkata.

"Anak baik, meski benar juga ucapanmu, tapi bila si baju putih datang lagi tujuh tahun kemudian, siapa pula yang sanggup menandinginya?"

"Ada,"

Seru Po-ji.

"Ialah aku sendiri!"

Ong-toanio tertawa geli, katanya.

"Eh, orangnya kecil, mulutnya besar!"

Po-ji mendelik.

"Apa yang kau tertawakan? Memangnya kau kira ilmu silatmu sendiri sangat hebat? Hm, permainan tongkatmu hanya tampaknya saja sangat bagus dan ruwet, padahal putar kian kemari, semua gerak perubahannya tidak lebih daripada sekali serangan pokok dan enam kali serangan pura-pura serupa perhitungan bintang tujuh saja. Lawanmu kebanyakan kacau pandangannya oleh putaran tongkatmu. Padahal kalau dia dapat berlaku tenang, hindarkan serangan pura-pura dan hadapi serangan pokok, selalu mencari peluang pada saat seranganmu berganti dengan serangan pura-pura, lalu melancarkan serangan balasan, biarpun lawan yang berkepandaian lebih rendah daripadamu juga dapat mengalahkanmu dalam tiga kali enam atau 18 jurus serangan saja."

Semua orang tidak menyangka anak kecil ini ternyata dapat menguraikan teori ilmu silat dengan panjang lebar begitu, semuanya sama melongo heran.

Ong-toanio juga kejut dan gusar sehingga sikapnya yang genit tadi berubah beringas, serunya parau.

"Betapa hebat gerak serangan ilmu silatku hampir tidak dapat dipatahkan oleh tokoh dunia persilatan mana pun, memangnya siapa yang memberi petunjuk padamu?"

"Thian adalah guruku, asalkan pikiran sudah sejalan dengan teori ilmu pedang, bilamana segala teori perubahan makhluk dan benda di dunia ini sudah kukuasai, kenapa aku tidak paham setiap gerak perubahan ilmu silat?!"

Ong-toanio memandang Po-ji dengan melotot serupa melihat setan iblis. Sebaliknya Ciu Hong tampak tersenyum simpul. Bola mata Po-ji yang besar itu berputar, sambungnya pula.

"Mengenai urusan yang kedua itu, tentang rahasia yang tertulis pada kertas yang tertulis dalam botol, itu justru tulisanku ...."

Keruan keterangan ini membuat gempar lagi semua orang, sebagian bahkan lantas berbangkit dari tempat duduknya. Po-ji menyambung lagi.

"Ini disebabkan meski aku tidak tahu persis apakah Ong-toanio ini Hou-li Go So masa lampau atau bukan, namun ada orang yang pasti kenal dia."

Ban-tayhiap mengepal kedua bogemnya, teriaknya dengan parau.

"Mana dia? Di mana dia?"

Mendadak Po-ji membalik tubuh dan berkata kepada Ciu Hong.

"Ciu-loyacu, urusan ini sangat besar hubungannya dengan keselamatan dunia persilatan, bilamana engkau orang tua tidak tampil ke muka tampaknya urusan takkan selesai."

Wajah Ciu Hong tampak sebentar merah sebentar pucat, setelah terdiam sejenak baru berdiri perlahan.

Beratus pasang mata sama memandang orang tua itu tanpa berkedip.

Ruang loteng seluas itu berubah sunyi senyap, sampai suara napas pun terdengar.

Dengan sekata demi sekata Ciu Hong berucap.

"Ya, betul, kukenal dia tak-lain-tak-bukan ialah Hou-li Go So."

Mendadak Ong Poan-hiap mendongak dan terbahak-bahak, serunya sambil menuding Ciu Hong.

"Hahahaha! Aku pun kenal orang ini adalah pendusta, penipu yang paling tidak tahu malu dari dunia persilatan. Siapa yang mau percaya kepada ocehannya?!"

Entah siapa segera menukas dengan lantang.

"Betul, dia itulah Ciu Hong, salah satu dari dua penipu ulung dunia Kangouw, penipu yang lain bernama Li Beng-sing juga duduk di sebelah sana, tuh!"

Malahan seorang lagi lantas menambahi.

"Memang, dahulu aku pernah ditipu tiga guci arak dan setengah ekor kambing panggang. Sekarang penipu ini berani sembarangan mengoceh di sini, ayo bekuk dia dan binasakan saja!"

Begitulah beramai-ramai orang banyak lantas berteriak.

"Ya, bunuh dia! Binasakan dia ...."

Entah sejak kapan di ujung tangga sudah berdiri serombongan anak murid Kay-pang, teriakan mereka paling nyaring, sekarang mereka yang mendahului menubruk maju.

Semula Ting-lohujin dan Ban-tayhiap merasa senang karena tampilnya saksi, sekarang mereka jadi sangat kecewa setelah tahu siapa Ciu Hong.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang yang menggelegar serupa bunyi geledek, kawanan pengemis yang menubruk maju sama tergetar mundur oleh suara keras itu, malahan ada yang anak telinganya serasa pekak, ada yang mulut mengeluarkan darah, ada lagi yang dada terasa sesak dan kaki tangan sama gemetar.

Padahal orang yang dapat hadir di atas loteng ini biarpun ilmu silatnya bukan jago kelas satu pasti juga orang gagah yang masuk hitungan, namun suara gertakan itu ternyata membuat mereka sama terluka dalam, nyata betapa kuat tenaga dalam orang yang menggertak itu sukar dibayangkan.

Anehnya, suara gertakan keras itu justru keluar dari mulut Ciu Hong yang dianggap sebagai penipu itu.

Para kesatria sama terkejut dan sangsi pula, semuanya melongo seperti patung sehingga tidak ada lagi yang berani menubruk maju atau main gila terhadap "penipu"

Ini. Setelah membentak sekerasnya, muka Ciu Hong mendadak berubah pucat lesi, dada naik-turun, dengan suara berat ia berkata.

"Ong Poan-hiap, sekarang kau kenal padaku?"

"Tentu saja kukenal dirimu,"

Jawab Poan-hiap.

"Kukenal kau ini seorang ... seorang penipu!"

Kata "penipu"

Diucapkannya dengan lirih dan hampir tak terdengar, sikapnya juga tidak segarang tadi lagi. Ciu Hong tergelak.

"Haha, jadi benar kau kenal aku .... Haha, Go So-ji, Ong Ti-ji, Liu Ih-jin, boleh kalian lihat yang jelas siapa aku ini?!"

Ti-ji atau si Dungu, adalah nama poyokan waktu kecil Ong Poan-hiap, Liu Ih-jin jelas adalah nama perawan Ting-lohujin, berpuluh tahun terakhir hampir tidak ada orang Kangouw yang berani memanggil nama asli mereka itu, malahan sudah jarang yang tahu.

Tapi sekarang nama 308 kecil mereka justru terungkap dari mulut seorang "penipu"

Ini, tentu saja Ting-lohujin terkesiap, Ong Poan-hiap juga pucat seketika.

"Sesungguhnya siapa ... siapa kau ini?"

Tanya Ong Poan-hiap dengan tergegap.

Pada saat itulah Ciu Hong lantas menarik jenggotnya yang menghias dagunya itu sehingga separuh wajahnya seolah-olah terbeset juga.

Keruan semua orang terkejut dan mengawasi perubahan itu.

Terlihat setengah wajah bagian atas Ciu Hong masih tetap seperti semula, dahi lebar dan hidung besar serta alis tebal, sorot matanya tajam, tapi dari pipi ke bawah dan di atas bibir yang semula tumbuh kumis jenggot ubanan kini telah berubah jelek serupa hantu.

Selain kulit dagingnya hitam hangus, bahkan sekitarnya penuh bekas luka dengan kulit daging warna merah gelap, dengan setengah wajah bagian atas tertampak sangat kontras bedanya dan sangat mengerikan.

Ci-lan-hoa Hoa Jing-jing, si Anggrek Ungu bini Kim Co-lim, sampai menjerit kaget dan membenamkan kepalanya dalam pangkuan sang suami.

Seketika suasana Wi-ho-lau berubah kacau, siapa pun tidak menduga wajah seorang bisa terdapat perbedaan seaneh itu.

Ting-lohujin juga terkejut, dengan suara agak gemetar ia menegas.

"Jadi ... jadi kau dilukai Kim-ho-ong dengan Kim-ho-seng-cui (air sakti sungai emas) sehingga, berubah menjadi begini?"

"Betul ...."

Jawab Ciu Hong.

"Nah, Ong Ti-ji, sekarang kau ingat siapa aku ini, bukan?"

Meski suaranya ramah tamah serupa dahulu, namun ujung mulutnya setengah terbuka sehingga kelihatan barisan giginya yang putih seram membuat orang yang melihatnya mengirik.

Kerongkongan Ong Poan-hiap mengeluarkan suara "krak-krok"

Dan tidak sanggup berucap sepatah kata pun. Ong-toanio sendiri juga melenggong menghadapi orang yang tak terduga ini, berulang ia bergumam.

"Kiranya kau ... kiranya kau ...."

"Ya, tidak tersangka bukan?"

Kata Ciu Hong.

"Tentu tidak pernah terpikir olehmu bahwa aku ternyata belum mati dan bisa muncul di sini. Kau kira di dunia ini tiada seorang pun dapat membongkar rahasia dan tipu muslihatmu, kau lupa masih ada diriku."

"Sudah ... sudah sekian tahun kau sembunyikan diri mengapa sekarang kau muncul kembali di sini?"

Tanya Ong-toanio dengan suara gemetar.

"Memangnya kau tidak takut akan dicari Kim-ho-ong? Sutemu Ci-ih-hou sudah mati, siapa lagi di dunia ini yang mampu membelamu?"

Tergetar hati semua orang, baru sekarang mereka tahu orang ini adalah Suheng Ci-ih-hou. Keruan yang terkejut dan kegirangan adalah Po-ji, tanpa terasa air matanya bercucuran, gumamnya dengan terharu.

"Ah, ternyata benar dia ...."

Terdengar Ciu Hong mendongak dan tergelak, serunya.

"Kau bilang Kim-ho-ong akan mencari aku?"

Sorot mata Ong Poan-hiap memantulkan cahaya buas, katanya sambil menyeringai.

"Ilmu silatmu sudah punah, memangnya kau kira aku tidak tahu? Tidak perlu datangnya Kim-ho-ong, sekarang juga dapat kucabut nyawamu."

"Hehe, kau berani?!"

Ejek Ciu Hong, mendadak ia melangkah maju, sekali gampar, muka Ong Poan-hiap ditempelengnya sekali sambil mendengus.

"Hm, boleh kau coba!"

Padahal zaman ini nama Ong Poan-hiap ibarat sang surya yang sedang memancarkan cahayanya di tengah cakrawala, siapa pula yang berani main gila padanya.

Tapi sekarang ia ditempeleng begitu saja, keruan semua orang sama melenggong.

Mendadak Ong Poan-hiap membentak sambil angkat kedua tangannya, tapi sekilas pandang dan terbentrok dengan sinar mata Ciu Hong, tangan yang sudah terangkat diturunkannya kembali dan tidak berani bergerak lagi.

"Mengingat gurumu, biarlah kuampuni jiwamu, sekarang lekas enyah!"

Jengek Ciu Hong.

Muka Ong Poan-hiap tampak pucat lesi, ia menyurut mundur dan mendadak melompat keluar jendela.

Selama hidupnya telah mengelabui orang sehingga berhasil meraih nama gemilang, sejak kini tamatlah riwayatnya.

Menyaksikan bayangan Ong Poan-hiap yang menghilang di balik jendela, mendadak Ong-toanio bergelak tertawa seperti orang gila.

"Hahaha, bagus, bagus, kembali kau tinggalkan aku lagi, bagus ... bagus ...."

Sekonyong-konyong ia merampas belati salah seorang gadis pelayannya, belati terus menikam hulu hati sendiri.

Keruan kawanan gadis menjerit kaget, tampaknya segera darah segar akan berhamburan.

Tak terduga tongkat Ting-lohujin sempat menyambar tiba, belati yang dipegang Ong-toanio terketuk jatuh.

"Siapa minta pertolonganmu? Aku tidak ingin hidup lagi ...."

Teriak Ong-toanio dengan suara parau. Perlahan Ting-lohujin berkata.

"Berulang-ulang Ong Poan-hiap tidak pikirkan hubungan suami-istri, setiap kali bila menghadapi bahaya kau terus ditinggal begitu saja, memangnya sakit hati ini masih dapat kau tahan?"

Ong-toanio termenung-menung dengan sorot mata penuh rasa dendam.

"Baiklah, kau pun kuampuni, lekas pergi saja!"

Kata Ciu Hong sambil memberi tanda.

"Jangan lupa, orang yang membikin susah padamu sehingga cacat demikian bukanlah orang lain, tapi adalah lakimu sendiri!"

Sambung Ting-lohujin. Ong-toanio bersuit panjang sambil mendongak, mendadak ia gampar kawanan gadis pelayannya belasan kali sambil membentak bengis.

"Ayo berangkat, lekas!"

Muka kawanan gadis yang halus sama merah bengkak oleh gamparan itu, dengan menahan air mata mereka mengangkat Ong-toanio dan dibawa turun ke bawah loteng.

Kawanan pengemis anggota Kay-pang yang berjaga di ujung tangga sama jeri terhadap Ong-toanio yang kelihatan beringas itu, tiada seorang pun berani merintanginya.

Ting-lohujin juga lantas berdiri dan mendekati Ciu Hong, ia memberi hormat dan berkata.

"Sudah lama tidak bertemu dengan Cianpwe, tak tersangka Cianpwe masih sehat walafiat!"

"Meski masih hidup tiada ubahnya seperti mati, biarpun mati juga masih hidup, selama ini aku cuma berkeluyuran kian kemari, diriku yang dulu sudah bukan lagi diriku yang sekarang, mengenai diriku masa lalu sebaiknya dilupakan saja,"

Kata Ciu Hong. Ban-tayhiap juga mendekat dan menyembahnya, ucapnya dengan hormat.

"Sekali ini bila Cianpwe tidak muncul, jelas Wanpwe sama sekali tidak berdaya dan terpaksa harus menyaksikan kesewenang-wenangan kaum durjana tanpa berdaya. Sungguh Wanpwe sangat 310 berterima kasih."

"Ah, jangan kalian terima kasih padaku, tapi harus terima kasih kepada dia,"

Ujar Ciu Hong dengan tersenyum sambil menuding Po-ji.

"Bilamana aku tidak didesak oleh anak ini, tentu aku pun takkan menampilkan diri."

Dengan hormat Ban-tayhiap berkata.

"Semoga setelah kemunculan Cianpwe ini, seterusnya jangan mengasingkan diri lagi dan gunakan kesaktian Cianpwe untuk menghadapi kawanan iblis perusuh."

"Ini ...."

Belum lanjut ucapan Ciu Hong, mendadak terdengar suara ribut berkumandang dari bawah loteng, orang yang berdiri di tepi jendela sambil melongok keluar, terlihatlah di bawah sana, di tepi pantai pertarungan sudah terjadi.

Beramai-ramai para kesatria yang semula berkerumun di luar Wi-ho-lau kini sama berduyun-duyun menuju ke pantai, di tengah orang banyak terdengar pembicaraan mereka.

"Wah, antara Thi-kim-to dan Han It-kau memang benar musuh bebuyutan, sekali bertemu tanpa banyak omong lantas saling labrak!"

"Sudah lama tidak terlihat Han It-kau memainkan gaetannya, ternyata senjata andalannya memang sangat lihai. Tapi golok orang Thi-kim-to ternyata juga tidak lemah, bagaimana hasil pertarungan ini memang sukar ditentukan. Cuma Thi-kim-to sudah menyiapkan diri sekian tahun, dari kapal layar pancawarna dapat dipelajari pula beberapa jurus sakti, kuyakin Thi-kim-to sekarang tentu bukan Thi-kim-to yang dulu lagi, maka aku berani pegang dia bilamana kalian berani bertaruh denganku."

"Tapi harus kau lihat dulu lawannya, Han It-kau kan juga bukan Han It-kau yang dulu lagi,"

Ujar kawannya.

Para kesatria yang berkumpul di atas loteng semula sama memusatkan perhatian terhadap Ciu Hong.

Tapi sekarang mereka sama tertarik oleh pertarungan sengit yang sedang berlangsung, semuanya sama mendekati jendela dan memandang jauh ke tepi pantai sana.

Hanya Ting-lohujin dan Ban-tayhiap saja yang masih menunggu di samping Ciu Hong.

"Pertarungan mereka ini sudah disiapkan beberapa tahun sebelumnya, tentu sangat seru, sayang bila kita tidak ikut menyaksikannya,"

Ujar Ciu Hong dengan tertawa. Po-ji sendiri ingin mencari berita tentang kakeknya kepada Kim Co-lim, tapi pikiran Kim Co-lim justru tercurah terhadap istrinya, dengan suara lembut ia lagi berkata.

"Lan-ji, jangan takut, ayolah siuman ...."

Belasan kali Po-ji memanggil "Kim-tayhiap ...

Kim-toako ...

Kim-toasiok", segala sebutan telah dipanggilnya, namun Kim Co-lim tetap tidak mendengarnya.

Po-ji menghela napas, dilihatnya Ciu Hong juga mendekati jendela dan menonton pertarungan itu, terpaksa ia pun ikut ke sana, terlihat di antara cahaya pedang dan sinar golok, dua sosok bayangan, yang satu hitam dan yang lain putih, bergerak kian kemari.

Thi-kim-to tetap berpakaian hitam ketat, sebaliknya baju Han It-kau putih mulus.

Jika perawakan Thi-kim-to tinggi besar, perawakan Han It-kau justru kurus kering.

Po-ji merasa geli, dari perawakan kedua orang yang berbeda itu saja seakan-akan keduanya memang dilahirkan untuk menjadi seteru.

Ilmu silat mereka juga berlawanan, yang satu lunak dan yang lain keras, pantas keduanya tidak mau hidup bersama.

Dengan cepat kedua orang itu sudah bergebrak ratusan jurus dalam waktu singkat, Po-ji menaruh perhatian penuh terhadap serang-menyerang mereka, nyata setiap jurus serangan mereka menimbulkan minatnya yang besar untuk menyelami intisarinya.

Dahulu bilamana ia lihat orang sedang bertempur meski ia pun ikut berdebar-debar, namun semua itu dirasakan sebagai perbuatan mengadu jiwa cara kejam, tapi sekarang ia sudah dapat menyelami di mana letak kebagusan setiap jurus serangan dengan setiap ragam perubahannya, maka dapatlah dirasakan pula di dalam ilmu silat juga banyak mengandung ilmu pengetahuan yang luas.

Selagi Po-ji mengikuti pertarungan itu dengan tekun, tiba-tiba terdengar seorang berteriak.

"Han-It-kau, gunakan jurus gaetanmu itu!"

Seruan ini memang merupakan keinginan para penonton yang mulai tidak sabar, mereka tidak peduli siapa yang akan kalah atau menang, bagi mereka asalkan Han It-kau cepat menggunakan jurus gaetannya yang khas, lalu mereka ingin tahu sesungguhnya jurus maut apa yang telah dipelajari Thi-kim-to dari kapal layar pancawarna itu untuk mematahkan serangan gaetan Han It-kau.

Teriakan orang banyak tambah ramai, namun Han It-kau tetap tenang saja dan tidak mengeluarkan jurus serangan gaetan andalannya.

Selagi Po-ji ikut tegang menantikan jurus serangan maut yang diteriakkan itu, tiba-tiba tangannya ditarik seorang dan diajak keluar dari kerumunan orang banyak.

Orang lain asyik mengikuti pertarungan di kejauhan itu sehingga tidak memerhatikan gerak-gerik Po-ji.

Ternyata orang yang menarik Po-ji adalah Ciu Hong, dengan suara perlahan orang tua itu mendesis.

"Ssst, panggil Thi-wah, marilah kita pergi!"

"Pergi?"

Po-ji menegas dengan terbelalak.

Jilid 13. Misteri Kapal Layar Pancawarna Published by Nra on 2006/10/11 (1284 reads) "Ya, lekas kita pergi,"

Sahut Ciu Hong.

"Memangnya kau pun ingin melihat jurus maut gaetan Han It-kau dan merasa berat untuk tinggal pergi?"

Po-ji tersenyum.

"Kutahu jurus gaetan itu tak dapat kulihat hari ini. Kan Han It-kau sudah tahu Thi-kim-to telah belajar cara mematahkan jurus serangannya itu, jika sekarang kembali ia gunakan jurus andalannya itu kan berarti dia terlampau tolol .... Dan kuyakin Han It-kau pasti bukan orang tolol dan jurus serangannya itu hari ini pasti takkan dikeluarkan."

"Anak baik, makin lama kau tambah pintar,"

Ciu Hong mengangguk dengan tertawa.

"Maka lekas kita pergi saja, apa pun jangan kau tanya padaku sekarang, nanti saja kalau mau bicara lagi."

Meski dalam benak Po-ji penuh tanda tanya, namun dia sudah percaya penuh kepada Ciu Hong, segera ia menarik Thi-wah dan memberi tanda jari di bibir, maksudnya supaya bocah gede itu jangan bersuara.

Mulut Thi-wah mestinya sudah mengap, tapi urung bersuara ketika melihat isyarat Po-ji itu.

Orang banyak sama berkerumun di dekat jendela maka mereka bertiga dapat mengeluyur pergi di luar tahu siapa pun.

Po-ji merasa heran.

"Ciu-loyacu sendiri tidak mau menarik Thi-wah melainkan menyuruh aku, tentunya karena ia tahu Thi-wah cuma tunduk kepada ucapanku, bila kutarik dia, tanpa bersuara dia akan menurut. Sebaliknya jika Ciu-loyacu yang menarik dia, pasti Thi-wah akan 312 tanya, dan sekali kerongkongan Thi-wah yang keras itu berbunyi, tentu suaranya akan mengejutkan orang lain. Apabila soal sekecil ini saja dapat diperhitungkan dengan cermat oleh Ciu-loyacu, ini menandakan maksudnya mengajak pergi pasti bukan untuk main-main saja."

Begitulah mereka terus menuju ke kota Bu-jiang, setiba di dalam kota, akhirnya Thi-wah buka mulut.

"Di sana sedang ramai dengan tontonan menarik, mengapa kita malah menuju ke sini?"

Ciu Hong sengaja tanya Po-ji.

"Ya, apa sebabnya, apakah kau tahu?"

"Tadi aku merasa heran, tapi sekarang sudah dapat kuketahui. Tentunya Loyacu khawatir ditahan oleh Ban-tayhiap dan lain-lain, maka sengaja mengeluyur pergi secara diam-diam."

"Dan apakah kau tahu sebab apa aku tidak suka ditahan mereka di sana?"

Tanya Ciu Hong.

"Ini ... ini ...."

"Soalnya kukhawatir Ong Poan-hiap dan Ong-toanio yang sudah pergi itu putar balik lagi,"

Tutur Ciu Hong dengan gegetun.

"Aku pun khawatir Kim-ho-ong itu mendengar berita tentang dirimu dan memburu tiba, malahan aku pun khawatir orang lain mengetahui ilmu silatku sebenarnya sudah punah. Lantaran ketiga kekhawatiran itulah, maka kita harus cepat pergi dari sana."

"Loyacu bilang ... bilang ilmu silatmu ...."

Tanya Po-ji dengan melongo.

"Ya, ilmu silatku sudah punah,"

Tukas Ciu Hong.

"Ketika mendengar suara gertakanku tadi, orang lain tentu mengira Lwekangku mahasakti melebihi masa lampau. Padahal yang benar Lwekangku sudah lama buyar, walaupun dengan giat kulatih lagi sekian tahun, paling banyak juga cuma dapat kuhimpun tenaga untuk sementara saja, setelah suara gertakan keras itu, habis pula tenagaku, mana sanggup kugebrak lagi dengan orang. Bilamana tadi Ong Poan-hiap tidak gentar kepada perbawaku masa lampau, saat ini jiwaku mungkin sudah melayang."

Terkesima Po-ji mendengarkan cerita Ciu Hong, dalam hati timbul perasaan yang sukar dijelaskan. Selang sejenak barulah ia berbicara dengan muram.

"Jika demikian, jadi Po-ji malah membikin susah padamu. Bila Po-ji tidak memaksa Ciu-loyacu tampil ke depan, tentu tidak ada yang tahu penipu dunia Kangouw yang dibenci adalah jago nomor satu masa lampau."

Siapa tahu Ciu Hong lantas mendongak dan tertawa, katanya.

"Selama belasan tahun baru tadi aku melakukan sesuatu yang menyenangkan, tekanan batin selama ini baru sekarang terlampias. Kenapa kau menyesal malah bagiku?"

"Tapi ... tapi seterusnya Loyacu justru akan menanggung risiko akan dikejar musuh,"

Ujar Po-ji.

"Dan bukankah semua itu gara-garaku?"

"Haha, bilamana aku mau menyembunyikan diri, memangnya siapa yang mampu menemukan aku?"

Kata Ciu Hong dengan tergelak. Melihat keterbukaan hati orang tua itu, Po-ji merasa senang juga, katanya pula.

"Selanjutnya, ke mana pun Loyacu pergi, ke situ pula Po-ji dan Thi-wah akan ikut untuk menghiburmu. Jika iseng, mohon Loyacu sudi mengajarkan ilmu pedang yang tiada taranya itu kepada Po-ji, dan tujuh tahun kemudian Po-ji berjanji akan menghalau si baju putih itu ke laut."

Ciu Hong tersenyum.

"Setan cilik, dari mana kau tahu pula akan kuajarkan ilmu pedang padamu?"

Po-ji berkedip-kedip, ucapnya perlahan.

"Ketika kulihat surat wasiat tinggalan Ci-ih-houya 313 kepadaku, semula aku merasa berat, sebab surat wasiat itu pada hakikatnya tiada tertulis satu huruf pun melainkan terlukis banyak lingkaran-lingkaran, biarpun malaikat dewata juga tidak dapat menerka apa arti lingkaran itu, lalu ke mana aku disuruh mencari orang yang dimaksud?"

"Memangnya sekarang hal itu sudah dapat kau terka?"

Tanya Ciu Hong.

"Sekarang kutahu, surat wasiat itu hanya sekadar digunakan untuk menghibur hati Ci-ih-houya saja,"

Ujar Po-ji dengan tersenyum.

"Padahal Loyacu senantiasa berada di tengah khalayak ramai dan setiap saat pun mengawasi gerak-gerik Houya. Pada waktu apa pun bila Houya menyuruh orang mencari Loyacu, segera Loyacu mendahului mencari dia, sebab itulah meski Po-ji tidak berhasil menemukan Loyacu, namun Loyacu sendiri sudah menemukan Po-ji. Lingkaran-lingkaran besar kecil yang terlukis dalam surat wasiat itu justru melambangkan jejak Loyacu yang sukar diduga, tapi sebenarnya tetap berada di tengah khalayak ramai."

"Sungguh anak yang pintar,"

Kata Ciu Hong dengan tertawa.

"Mungkin di dunia ini tidak ada anak pintar kedua serupa dirimu. Ai, jika ada seorang anak cerdas serupa dirimu yang ingin mewarisi ilmu pedangku, memangnya apa pula yang perlu kupikirkan?"

Bangga juga Po-ji dipuji orang tua itu, katanya.

"Tapi anak pintar di dunia ini sesungguhnya masih banyak, umpama ... umpama Siaukongcu itu ...."

Tiba-tiba teringat olehnya nasib Siaukongcu yang jatuh dalam cengkeraman kaum iblis dan belum diketahui mati-hidupnya, mau tak mau ia menjadi berduka. Mendadak Thi-wah berteriak.

"Meski Thi-wah anak bodoh, tapi setelah ikut Toako sekian lama, tanpa terasa aku pun tambah pintar, mohon Loyacu juga mengajarkan sedikit kungfu kepadaku. Thi-wah tidak mengharapkan banyak, cukup beberapa jurus saja."

"Baik,"

Seru Ciu Hong sambil tertawa.

"Selanjutnya bolehlah kita mengasingkan diri untuk sementara waktu, bilamana kungfu kalian sudah berhasil kalian latih tentulah kita berkecimpung di tengah dunia Kangouw lagi."

Terbangkit semangat Po-ji, serunya.

"Lantas kita akan ke mana sekarang?"

"Setiap tempat di dunia ini dapat kita tuju ...."

Kata Ciu Hong, mendadak ia bersuit panjang, lalu berkeplok dan berdendang.

Tentu saja orang ramai di tengah jalan sama melenggong melihat kelakuan orang tua ini.

Ciu Hong membawa Po-ji dan Thi-wah menerobos di antara orang banyak dan menyusuri jalanan kecil, tidak lama kemudian menghilanglah mereka dari khalayak ramai ....

***** Sang waktu berlalu dengan cepat, tanpa terasa lima tahun sudah lalu sejak pertemuan di Wi-ho-lau.

Selama lima tahun, banyak perubahan di dunia Kangouw, baik manusianya maupun peristiwanya, sukar untuk dicatat satu per satu.

Pertarungan antara Thi-kim-to dan Han It-kau di tepi pantai Wi-ho-lau lima tahun yang lalu ternyata berakhir seri, sebab sesuai dengan dugaan Po-ji, jurus maut Han It-kau itu tetap tidak digunakan.

Sejak itu Thi-kim-to dan Han It-kau lantas menghilang kedua-duanya, apakah selanjutnya mereka pernah perang tanding atau tidak tiada seorang pun yang tahu.

Kedudukan Pangcu Kay-pang tetap lowong, Yap Ling untuk sementara diangkat menjadi pejabat ketua.

Sebab tiada seorang kesatria Kangouw yang sanggup memikul tugas berat itu.

Sedangkan Pangcu yang lama, yaitu Cukat Tong tetap tidak diketahui jejaknya.

Di sepanjang Tiangkang senantiasa ada anggota Kay-pang yang kian kemari mencari Cukat-pangcu mereka, setiap kali mereka menunggang kapal ke hilir, di puncak suatu bukit di tepi sungai sering terlihat berdiri dua orang perempuan berbaju hijau, rambut mereka yang panjang terurai dan berkibar tertiup angin, begitu pula ujung baju mereka, sehingga dipandang dari jauh laksana dewi kahyangan yang turun ke bumi.

Akan tetapi bila dipandang dari dekat, dari sorot mata mereka yang sayu dan memandang termenung ke hilir sungai yang jauh, rasanya mereka seperti sedang menunggu pulangnya seseorang.

Bila melihat kedua orang perempuan itu, kawanan pengemis tentu akan bisik-bisik membicarakan mereka.

"Konon yang sebelah kiri itu adalah pemimpin Thian-hong-pang yang bernama Kiang Hong dan dahulu pernah malang melintang di dunia Kangouw ...."

"Ya, peribahasa bilang ombak sungai Tiangkang dari belakang mendorong ke depan, orang baru selalu menggantikan orang lama, hal ini memang tidak salah sedikit pun. Melihat kesepiannya sekarang, siapa pula yang pernah membayangkan betapa perkasanya masa lampau?"

Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa Kiang Hong dan Gu Thi-lan, yaitu kedua perempuan yang berdiri di atas puncak itu, meski merasa kesepian, namun perasaan mereka justru sangat tenang dan tenteram, sebab mereka yakin pada suatu hari akhirnya Po-ji dan Thi-wah pasti akan pulang.

Sementara itu jarak waktu dengan janji kedatangan kembali si tokoh berbaju putih itu sudah semakin dekat.

Setiap kali berganti tahun, perasaan setiap orang Kangouw tentu bertambah tegang, sebab bila tiba waktunya, pertarungan yang akan terjadi tidak cuma bersangkutan dengan darah dan jiwa orang Kangouw, bahkan juga menyangkut nama dan kehormatan dunia persilatan Tionggoan.

Umumnya para kesatria Kangouw memandang ringan darah dan jiwa, sebaliknya lebih mementingkan nama dan kehormatan.

Dugaan Ting-lohujin alias Liu Ih-jin ternyata meleset, selama lima tahun ini dunia Kangouw tidak terjadi kekacauan, sebab hampir segenap orang Kangouw sama giat berlatih dan siap menghadapi si tokoh baju putih, siap bertempur demi kehormatan dunia persilatan daerah Tionggoan, biarpun untuk itu mereka harus mencucurkan darah dan kepala terpenggal juga rela.

Sayangnya, selama lima tahun ini dunia persilatan ternyata tidak pernah muncul sesuatu bintang cemerlang.

Meski banyak juga jago angkatan muda yang muncul di dunia Kangouw, tapi bila dibandingkan dengan mendiang Ci-ih-hou jelas selisih sangat jauh, lalu cara bagaimana akan mampu menandingi si tokoh baju putih?

Sedangkan jago angkatan tua serupa In-bong-tayhiap Ban Cu-liang memang namanya semakin menanjak namun ilmu silatnya juga terbatas begitu-begitu saja tanpa kemajuan yang berarti, soalnya dia terlalu banyak ikut campur urusan sehingga tidak ada waktu untuk berlatih.

Dan secara umum, tokoh dunia persilatan Tionggoan sekarang tetap tidak banyak yang dapat melebihi Ban Cu-liang, Ban-tayhiap.

Sebab itulah para kesatria yang sudah tua terpaksa menaruh harapan pada kemunculan tokoh muda yang tak kunjung muncul serupa dalam dongeng belaka.

Cuma akhir-akhir ini tersiar pula desas-desus yang semakin meluas, katanya Ci-ih-hou belum meninggal melainkan masih hidup bebas di lautan sana dan siap menghadapi si jago baju putih pula.

Desas-desus itu berdasarkan berita yang menyatakan ada kaum pelaut yang pernah melihat kapal berlayar pancawarna yang pernah menggetarkan nyali setiap jago Kangouw itu.

Akan tetapi cerita ini sukar dipercaya karena tidak ada bukti nyata, namun si pelaut menyatakan berani sumpah benar-benar telah melihat kapal layar pancawarna itu.

Sebab itulah berita masih hidupnya Ci-ih-hou lantas tersebar lagi dan menggemparkan.

Walaupun berita yang belum terbukti, namun sedikit-banyak dapat menghibur hati para kesatria yang putus asa, hanya dengan demikian tekanan batin mereka bisa agak longgar, dengan begitu juga timbul harapan baru mereka dan melenyapkan sedih mereka.

Akan tetapi bagi jago muda berita ini masuk dari telinga kiri segera keluar lagi melalui telinga kanan, darah panas mereka bergolak, dan mereka mempunyai perhitungannya sendiri untuk menghadapi musuh yang akan datang, untuk itu mereka malahan siap untuk berlomba untuk mendapatkan hak lebih dulu.

Tentu saja jago angkatan tua sama menggeleng kepala melihat jago muda yang tidak kenal apa artinya takut serupa anak banteng itu, meski mereka pun saling memperingatkan lawan yang akan dihadapi itu bukanlah tokoh sembarangan, meski semangat tempur mereka harus dipuji, tapi belum apa-apa sudah saling bertengkar sendiri, kan terlalu bodoh.

Akan tetapi anak muda dengan darah muda, sukar untuk merintangi kehendak mereka.

Diam-diam mereka sepakat pada tanggal delapan bulan 12 akan berkumpul di puncak Thay-san untuk bertanding, ingin memilih juara yang berhak bertanding pertama kali dengan jago baju putih itu.

Jago angkatan tua tak berdaya mencegahnya meski menyadari darah pasti akan berhamburan pula di puncak Thay-san.

Tampaknya bulan 12 sudah hampir tiba.

Pada saat itulah dunia persilatan kembali terjadi suatu peristiwa besar yang mengguncangkan.

Rupanya antara ketujuh perguruan besar, yaitu Siau-lim, Bu-tong, Go-bi, Tiam-jong, Kong-tong, Hoa-san dan Wi-yang-pay, mereka telah mengumumkan pada waktunya juga akan mengutus salah seorang murid andalan masing-masing untuk ikut pemilihan, juara yang berhak menghadapi jago pedang berbaju putih.

Bahwa ketujuh perguruan terkemuka itu mengutus murid andalan masing-masing ke dunia Kangouw sebenarnya adalah kejadian biasa, cuma biasanya hal ini tidak pernah diumumkan secara terbuka.

Tapi sekarang hal ini diumumkan secara resmi, jelas ini menandakan ketujuh murid yang diutus keluar itu bukan anak murid biasa.

Dengan sendirinya pula orang Kangouw sama ingin tahu tokoh macam apakah ketujuh murid wakil ketujuh perguruan besar itu.

Tatkala itu In-bong-tayhiap Ban Cu-liang sudah menerima berita kilat dari ketua Siau-lim-pay, yaitu Bu-siang Taysu.

Berita ini disampaikan berkenaan dengan rasa sangsi yang tersiar di dunia Kangouw itu.

Surat Bu-siang Taysu itu berisi keterangan bahwa ketujuh murid dari ketujuh perguruan besar yang dikirim ke dunia Kangouw untuk siap menghadapi kedatangan si tokoh berbaju putih itu asalnya adalah anak murid Jing-peng-kiam-kek Pek Sam-kong, kini pelajaran ketujuh murid itu sudah tamat, bahkan kepandaian mereka tidak di bawah guru masing-masing, tekad mereka pun bulat untuk menghadapi musuh sesuai pesan Pek Sam-kong dahulu.

Maka Ban-tayhiap diminta ikut membimbing ketujuh murid itu supaya kelak berguna bagi dunia persilatan umumnya.

Lebih jauh Bu-siang Taysu memberi daftar nama ketujuh murid itu sebagai berikut..Kongsun Put-ti dari Bu-tong-pay 2.

Kim Put-we dari Go-bi-pay 3.

Ciok Put-wi dari Tiam-jong-pay 4.

Gui Put-tam dari Kong-tong-pay 5.

Sebun Put-jiok dari Hoa-san-pay 6.

Nyo Put-loh dari Wi-yang-pay dan 7.

Bok Put-kut dari Siau-lim-pay Surat itu meski hanya dibaca oleh Ban Cu-liang dan beberapa kawan dekatnya, tapi isi surat itu segera tersebar luas, hanya dalam setengah bulan hampir seluruh Kangouw sudah sama tahu hal tersebut.

Bu-siang Taysu adalah seorang padri saleh yang lebih mengutamakan agama daripada ilmu silat, maka beliau selamanya tidak suka ikut campur seluk-beluk urusan Kangouw, namun semua itu tidak mengurangi penghormatan orang terhadapnya, setiap katanya tentu juga sangat dapat dipercaya.

Sekarang dalam suratnya ia sengaja menonjolkan ketujuh jago muda dari ketujuh perguruan besar itu, tentu saja kualitas ketujuh orang itu tidak perlu disangsikan lagi.

Kini ketujuh jago muda itu menjadi pusat perhatian dan harapan setiap orang persilatan.

Sementara itu ketujuh orang ini diam-diam sudah datang di tempat kediaman In-bong-tayhiap, Ban Cu-liang.

Di barat daya pegunungan Tong-koan-san, hutan lebat memanjang melingkari lereng gunung.

Pepohonan itu kebanyakan sejenis cemara, waru dan sebagainya sehingga meski sudah dalam musim rontok masih tetap menghijau permai.

Dipandang dari jauh hutan lebat itu seperti jauh dari keramaian dunia, tapi bila didekati akan terdengarlah ingar-bingar ringkik kuda dan suara manusia berkumandang dari kedalaman hutan.

Jika maju lagi menyusuri hutan, akan terlihatlah di samping jalan ada sebuah batu serupa tugu yang tertulis.

"Tanah hutan keluarga Kim, turun-temurun menjadi pusaka keluarga, orang luar dilarang masuk."

Menjelang senja, satu rombongan orang tiba di luar hutan lebat itu, seolah memeriksa sekadarnya, lalu masuk menerobos hutan.

Seorang lelaki kekar berbaju hijau berjalan mendahului di depan.

Dia tak-lain-tak-bukan adalah In-bong-tayhiap Ban Cu-liang.

Tujuh orang pengikutnya terdiri dari macam-macam bentuk, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang kurus dan ada yang gemuk, ada padri ada preman, semuanya berjalan beriring teratur.

Sikap mereka seperti cukup akrab, tapi juga seperti agak renggang.

Ketujuh orang berjalan dengan diam dan menunduk serupa orang yang dirundung kesedihan.

Tidak jauh di tengah hutan, samar-samar terlihat di tengah hutan terdapat banyak bangunan rumah yang indah, dibangun di balik aling-aling pepohonan dengan tata taman yang serasi.

Namun kedelapan orang tampaknya tidak punya pikiran untuk menikmati pemandangan, tujuan mereka ingin mencari orang.

Mendadak dua lelaki kekar berbaju satin menerobos keluar dari balik hutan sana dan mengadang di depan mereka sambil menegur.

"Tempat ini merupakan daerah milik pribadi dan dilarang untuk umum, apa maksud kedatangan kalian?"

"In-bong Ban Cu-liang datang mengunjungi Kim-siauhiap,"

Sahut Ban-tayhiap.

Kedua pengadang itu semula bersikap angkuh dan menegur dengan ketus, demi mendengar nama Ban Cu-liang, seketika sikap mereka berubah, dengan hormat seorang di antaranya berkata pula.

"Majikan muda sejak lewat tengah hari asyik mencari kemabukan, meski masih berada di tengah hutan ini, namun tidak diketahui berada di mana."

Lalu seorang lagi menukas.

"Bilamana Ban-tayhiap sudi menunggu, silakan mampir dulu di rumah sebelah sana, biar hamba pergi mencari Siauya, rasanya takkan makan waktu terlampau lama."

Jelas kedua orang ini adalah kaum hamba keluarga hartawan yang sudah terlatih, maka mereka dapat menghadapi tetamu tanpa kikuk. Ban Cu-liang berpikir sejenak, lalu berkata pula.

"Jika begitu, kan lebih baik harap kalian membawa kami pergi mencari Kim-siauhiap, entah boleh tidak?"

"Jika demikian kehendak Ban-tayhiap, tentu saja hamba menurut,"

Sahut salah seorang lelaki itu.

Segera kedua orang itu mendahului di depan sebagai penunjuk jalan diikuti rombongan Ban Cu-liang, mereka tetap berjalan menurut urutan dan tetap menunduk diam tanpa bersuara.

Di mana berlalu, banyak penghuni perumahan sama melongok keluar, tapi semuanya cuma memandang dengan tersenyum, tidak ada yang menegur sapa.

Di tengah hutan juga sering ada orang berlalu, semuanya berbaju perlente dan wajah berseri, suasana dalam hutan juga tenteram, pepohonan terawat dengan baik dan rajin sehingga membuat orang yang berdiam di situ merasa kerasan.

Diam-diam Ban Cu-liang membatin.

"Kusangka Kim Co-lim cuma seorang pemuda yang sok mabuk-mabukan, siapa tahu hidupnya juga mengutamakan ketenteraman lingkungan."

Tambah lebat hutan di depan sana. Tiba-tiba berkumandang suara nyanyian dari balik pepohonan sana.

"Itu dia suara Siaucujin kami,"

Kata salah seorang lelaki tadi dengan gembira.

Setelah menerobos lagi ratusan pohon, terlihatlah seorang dengan kepala terjungkir ke bawah, serupa kalong saja bergelantungan di dahan pohon, kedua kakinya yang telanjang menggantol pada dahan, tubuhnya terayun perlahan, bajunya yang longgar tersingkap ke bawah sehingga menutupi mukanya.

Dengan sendirinya Ban Cu-liang dan lain-lain tidak dapat melihat jelas wajah orang, tapi melihat tangannya yang masih memegang kantong arak terbuat dari kulit kambing yang biasa digunakan orang Mongol, berulang kantong arak dituangkan ke mulut yang tertutup kain baju, maka setiap orang dapat menduga dia pasti majikan muda keluarga Kim yang kaya raya yang terkenal dengan senjata tombaknya, yaitu Kim Co-lim yang berjuluk si Panglima Cilik Pemabuk.

Ban Cu-liang tertawa dan menegur.

"Berpisah selama lima tahun, tentu baik-baik saja Kim-heng?!"

Kim Co-lim menyingkap ujung bajunya sehingga terlihat kedua matanya yang sepat, setelah memandang sekejap, dengan tergelak ia berkata.

"Aha, kiranya siapa, rupanya Ban-tayhiap yang berkunjung kemari. Untung aku belum lagi mati tenggelam oleh arak."

Mendadak dilihatnya ketujuh orang yang berdiri di belakang Ban Cu-liang, serentak ia berjumpalitan dan turun ke tanah, senyum yang menghias wajahnya lenyap seketika, jengeknya.

"Kedatangan Ban-tayhiap ini apakah karena urusan dulu itu?"

Ban Cu-liang tersenyum, jawabnya.

"Sejak pertemuan di Wi-ho-lau dahulu dan karena teguran anak kecil yang bernama Po-ji itu, lalu kami menghimpun segenap kekuatan kawan dan meminta teman Kangouw jangan lagi mengganggu Kim-heng karena persoalan itu."

"Jika demikian, agaknya akulah yang salah marah kepada Ban-tayhiap,"

Ujar Kim Co-lim 318 dengan tertawa.

"Harus didenda, biarlah kusuguh para kawan beberapa cawan arak dulu."

Baru habis ucapannya, tahu-tahu ia meloncat ke atas, melayang ke puncak pohon, sekali meraih ke tengah dedaunan yang lebat, dikeluarkannya sebuah kantong kulit yang penuh berisi arak dan dilemparkan ke bawah.

Kedua lelaki penunjuk jalan tadi sudah siap di samping, mereka tangkap kantong arak itu.

Kim Co-lim terus melompat lagi ke puncak pohon yang lain dan kembali sebuah kantong arak dilempar ke bawah pula.

Begitulah berturut-turut ia melompat kian kemari, dalam sekejap saja tujuh-delapan kantong arak telah dipetiknya serupa orang yang memetik buah mangga saja.

Semua orang yang menyaksikan selain geli juga merasa kagum atas Ginkang Kim Co-lim yang hebat itu.

Setelah melayang turun lagi ke bawah, dengan tertawa Kim Co-lim berseru.

"Lantaran di rumahku ada bini galak, terpaksa kantong arak harus kusembunyikan supaya aku dapat minum sepuas-puasnya. Nah, mari, silakan kalian sama minum satu kantong penuh."

"Suguhan arak tentu saja akan kami minum,"

Kata Ban Cu-liang.

"Tapi kedatanganku ini adalah lantaran urusan dulu itu, sebab ketujuh kawan yang ikut kemari ini mempunyai kedudukan yang berbeda daripada kawan persilatan yang lain."

Air muka Kim Co-lim tampak berubah, katanya dengan gusar.

"Pendek kata, siapa pun juga jangan harap akan bertemu dengan Pek-locianpwe .... Jika begitu, arak pun tidak perlu kalian minum lagi."

Habis berkata segera ia putar tubuh dan hendak melangkah pergi. Cepat Ban Cu-liang berseru pula.

"Nanti dulu. Ketahuilah ketujuh kawan ini tak-lain-tak-bukan adalah anak murid langsung Pek-locianpwe sendiri."

Kim Co-lim tampak melengak, perlahan ia membalik tubuh pula dan mengamat-amati ketujuh orang, katanya kemudian.

"Jangan-jangan mereka inilah ketujuh murid utama dari ketujuh perguruan besar yang menggemparkan dunia Kangouw akhir-akhir ini?"

Pemuda yang berdiri paling depan di antara ketujuh orang itu bertubuh langsing dan gagah, ia memberi hormat dan berucap.

"Cayhe Bok Put-kut dari Siau-lim."

Ketujuh orang itu sama berbaju hijau, orang kedua bertubuh kekar, cepat ia pun menyambung.

"Kim Put-we dari Go-bi."

Tinggi orang hampir dua meter, dadanya bidang dan suaranya lantang membuat Kim Co-lim bekernyit kening.

Perlahan orang ketiga melangkah ke samping Kim Put-we, ternyata seorang Tojin bertubuh kurus, namun sinar matanya mengilat tajam, ucapnya.

"Kongsun Put-ti dari Bu-tong."

Wajah orang keempat dingin kaku serupa patung, ia memberi salam sekadarnya dan tidak suka bicara. Segera Bok Put-kut memperkenalkan.

"Inilah Site kami Ciok Put-wi dari Tiam-jong, wataknya memang tidak suka bicara."

"Tidak bicara kan bisa membuat hati kesal, aneh juga ...."

Ucap Kim Co-lim dengan tertawa. Mendadak seorang pemuda pendek gemuk dengan muka bulat dan tersenyum simpul menukas.

"Cayhe Gui Put-tam dari Kong-tong, barang siapa mampu memancing Siko kami bicara sepuluh kata saja, biar kuberi persen sepuluh tahil perak."

Tak tersangka, tiba-tiba Ciok Put-wi berseru.

"Supaya kau kalah sepuluh tahil perak, biarlah aku sengaja bicara."

Ternyata tidak lebih dan tidak kurang ucapannya tepat sepuluh kata. Gui Put-tam tergelak, katanya.

"Bagus, Siaute mengaku kalah."

Segera ia mengeluarkan sepuluh tahil perak dan disodorkan. Sekali lengan baju Ciok Put-wi mengebas, langsung kesepuluh tahil perak digulungnya.

"Tumben Gui-laungo mau mengeluarkan duit sepuluh perak, bisa hujan badai sebentar,"

Kim Put-we berseloroh dengan tertawa. Tapi orang keenam lantas menghela napas dan berucap.

"Ah, mana Gui-goko mau bekerja rugi, ia kalah sepuluh tahil perak kepada Siko, tapi menang lima puluh tahil perak dariku."

Di antara ketujuh orang, pakaian orang keenam inilah paling perlente, sikapnya juga lemah lembut, wajahnya cakap serupa anak perempuan.

Benar juga ia lantas mengeluarkan selongsong uang perak dan diserahkan kepada Gui Put-tam sambil menggeleng kepala.

"Mengapa bisa begini?"

Tanya Kim Put-we dengan heran. Dengan tertawa Gui Put-tam bertutur.

"Lakte (adik keenam) bertaruh denganku, katanya aku takkan mampu membuat Siko bicara sepuluh kata, sekarang aku berhasil memancing bicara Siko, dengan sendirinya dia harus bayar padaku."

"Ai, pantas dahulu Suhu suka bilang hanya kau yang pandai berdagang dan pasti akan kaya raya, tampaknya pandangan Suhu memang tidak meleset,"

Ujar Kim Put-we dengan gegetun. Tak tahan lagi Kim Co-lim, ia terbahak-bahak. Dilihatnya pemuda perlente itu lantas memberi hormat dan berucap.

"Cayhe Sebun Put-jiok."

Orang ketujuh ternyata berwajah merah, alisnya yang tebal seakan-akan merapat menjadi satu garis sehingga tanpa marah pun tampaknya selalu gusar.

Ia pakai jubah pertapa sepanjang dengkul, rambut panjang terurai.

Kiranya seorang Thauto (Hwesio berambut).

Mendadak ia berteriak.

"Diriku ini Wi-yang Nyo Put-loh!"

Suaranya menggelegar sehingga membuat kaget Kim Co-lim, dengan kening bekernyit ia tanya.

"Cara bicara saudara ini apakah biasanya juga sekeras ini?!"

"Wah, malahan jauh lebih keras,"

Tukas Gui Put-tam dengan tertawa.

"Meski sudah lama Pek-locianpwe tidak mau menemui orang luar, tapi bagi kalian bertujuh mungkin akan dikecualikan ...."

Mendadak Kim Co-lim membalik tubuh dan berseru.

"Ayo ikut padaku!"

Cara bekerja orang ini memang suka cepat dan tegas, bilamana dia tidak mau berbuat sesuatu, biarpun mati juga dia tidak mau, kalau dia mau melakukannya, maka serentak dikerjakan tanpa bertele-tele.

Ban Cu-liang dan lain-lain juga tidak menyangka Kim Co-lim akan bertindak demikian, setelah melenggong sejenak barulah ia ikut berangkat, tersisa kedua lelaki kekar tadi masih berdiri melongo dengan memegang beberapa kantong arak.

Hutan yang lebat itu seakan-akan tidak ada batasnya, cukup lama rombongan mereka menempuh perjalanan dan tetap belum mencapai ujung hutan.

Cuma perumahan di dalam hutan kelihatan sudah mulai jarang-jarang.

Dipandang melalui dedaunan yang sudah agak jarang samar-samar bangunan pegunungan Tong-koan-san sudah tertampak di depan.

Diam-diam ketujuh orang itu membatin.

"Apakah barangkali Suhu tinggal di pegunungan ini?"

Semakin tinggi tempat yang mereka tuju, pepohonan di lereng gunung juga terasa semakin pendek.

Sambil melangkah ke depan Kim Co-lim bergumam sendiri, terkadang sambil menenggak arak, apa yang digumamnya seperti bermaksud.

"Tuhan memang maha pencipta, terkadang Dia menciptakan sesuatu yang menonjol, yang jelas hendak diperlihatkan kepada orang, tapi seperti sengaja ditutup-tutupi pula supaya tidak kelihatan ...."

Semua orang saling pandang dengan bingung, tidak tahu apa arti yang terkandung dalam ucapannya. Tiba-tiba terdengar Kim Co-lim berteriak tertahan.

"Awas ...."

Sekali loncat, tahu-tahu orangnya lantas menghilang.

Kiranya di lereng bukit ini mendadak ada bagian yang terpotong sehingga berwujud sebuah jurang yang dalam, karena teraling oleh pepohonan lebat, kalau tidak paham seluk-beluk keadaan setempat, biasanya sukar mengetahui adanya jurang sebelum tiba di tempat.

Kedalaman jurang itu beratus tombak, namun luasnya cuma dua puluhan tombak sehingga mirip tanah yang bekas terinjak oleh kaki raksasa sehingga berwujud sebuah lekukan yang dalam.

Dasar jurang banyak terdapat batu karang yang aneh dan tumbuh pohon raksasa yang beratus tombak tingginya, karena tanah melekuk ke bawah sehingga dipandang dari luar tampaknya serupa pepohonan pendek yang tumbuh di lereng bukit, siapa pun tidak menduga pepohonan itu sebenarnya adalah pucuk pohon raksasa.

"Apakah kalian pernah melihat pohon serupa ini?"

Tanya Kim Co-lim dengan tertawa.

"Bila pohon raksasa ini tumbuh di tanah datar, kan merupakan pohon yang lain daripada yang lain, namun Thian justru menyembunyikannya di sini sehingga sukar dilihat orang ... dia seperti sengaja ditumbuhkan untuk tempat sembunyi Pek-locianpwe."

Semua orang kembali melengak oleh kalimat terakhir itu, tanpa terasa semuanya mendongak ke atas.

Pohon raksasa itu menjulang tinggi dan baru tumbuh ranting daun pada ketinggian ratusan tombak di atas, sampai sekian lama mereka memandang hingga leher pun terasa pegal, akhirnya lamat-lamat terlihat di pucuk pohon berdaun lebat itu seperti ada sebuah rumah kecil warna hijau serupa sarang burung, mirip rumah tinggal manusia purba.

"Apakah Pek-locianpwe berdiam di atas pohon?"

Tanya Ban Cu-liang dengan bingung.

"Betul, ilmu Pek-locianpwe terakhir ini sudah sedemikian hebat dan mendekati sempurna, bukan saja sudah sekian tahun beliau tidak turun ke bawah, bahkan sudah lama tidak bersantap 321 seperti manusia umumnya, hanya biniku setiap dua-tiga hari sekali suka mengantar sedikit makanan sebangsa buah-buahan dan jejamu, dengan tali kerekan beliau mau menerima antaran biniku, selain itu siapa pun tak mau ditemuinya. Sampai aku sendiri pun sudah tiga-empat tahun tidak pernah berjumpa dengan beliau."

Ketujuh murid sama merasa girang demi mendengar sang guru sudah berlatih hingga mencapai kesempurnaan, tapi bila teringat betapa sengsara dan kesepian sang guru, mau tak mau timbul juga rasa haru dan duka mereka.

Sesaat itu ketujuh orang sama mencucurkan air mata dan serentak sama menyembah di bawah pohon.

Segera Bok Put-kut berseru.

"Para Tecu datang memberi sembah hormat kepada Insu (guru berbudi), mohon Insu sudi menerima untuk bertemu."

Ia bicara dengan suara datar, namun setiap katanya berkumandang dengan jelas, nyata Lwekangnya memang sangat kuat.

Akan tetapi sampai sekian lama suasana tetap sunyi, dari pucuk pohon juga tidak ada jawaban.

Ketujuh murid sama menahan napas dan menunggu dengan sabar, entah berapa lama lagi, mendadak dari atas jatuh sesuatu, tampaknya seperti setitik debu kotoran, hanya sekejap saja sudah meluncur tiba.

Cepat Ciok Put-wi menangkapnya, waktu ia membuka tangan, semua orang sama memandangnya, ternyata yang ditangkapnya cuma sebiji Lianci atau biji teratai.

Tentu saja ketujuh murid merasa sedih, kecewa dan juga bingung.

Kongsun Put-ti coba mengambil biji teratai itu dan dibelah menjadi dua, meski Lianci itu masih bulat, namun isinya sudah kosong, ia tahu apa lambang biji teratai tanpa isi itu, ia tertunduk diam dengan air mata bercucuran, ucapnya dengan tergegap.

"Lianci sudah tidak punya hati, kejadian masa lampau sudah kosong, mungkin ... mungkin seterusnya kita tidak dapat lagi melihat Suhu."

Ketujuh murid sama menangis sedih, Ban Cu-liang dan Kim Co-lim juga ikut berduka. Mendadak Kim Put-we berseru dengan menangis.

"Mari kita menerjang ke atas saja, betapa pun Suhu harus menemui kita."

"Membangkang perintah guru, terkutuk!"

Ucap Ciok Put-wi.

Wataknya tidak bicara, hanya beberapa kata ucapannya itu cukup berbobot, hati Kim Put-we tergetar ia menunduk dan tidak berani bicara lagi.

Pada saat itulah sekonyong-konyong beratus potong batu besar dan kecil berhamburan dari atas laksana hujan, menyusul dari dinding tebing yang curam sana melayang keluar empat sosok bayangan orang.

Keempat orang ini jelas sejak tadi sudah bersembunyi di balik batu padas, dan karena tidak tahan oleh hujan batu itu, segera mereka bermaksud menerjang ke atas.

Gerak-gerik mereka sangat cekatan, namun hujan batu itu terlampau lebat dan gencar, akhirnya keempat orang menjadi kewalahan dan terpaksa menutupi kepala dan muka dengan tangan kembali mereka jatuh ke jurang.

"Kepung mereka!"

Bentak Bok Put-kut.

Meski lagi berduka, namun ketujuh orang tetap dapat bertindak cepat dan teratur, sekali bergerak, serentak mereka mengepung keempat orang itu di tengah.

Selagi Ban Cu-liang merasa kagum atas kegesitan ketujuh jago muda itu, tiba-tiba dari atas berkumandang suara tertawa orang.

"Hahaha, sudah kuhantam jatuh keempat bangsat itu, cara bagaimana akan menyelesaikan mereka boleh terserah kepada kalian."

Kaget juga semua orang oleh suara lantang orang itu dan sukar diperkirakan siapa dia.

Terlihat keempat orang itu seorang bermuka kurus dan bermata tikus, jelas seorang culas dan keji.

Seorang lagi pincang kaki kanan, muka murung gelap, keduanya sama berbaju tambalan, lengan baju kanan sama kosong dan terselip di tali pinggang, jelas lengan kanan masing-masing sudah buntung, malahan kedua daun kuping juga tidak terlihat lagi.

Sungguh wajah yang buruk dan membuat orang mual untuk memandang mereka.

Dua orang lagi berbaju hitam dan pakai kedok hitam pula, namun keempat mata yang kelihatan bersinar tajam, tampaknya Lwekang kedua orang ini jauh lebih kuat daripada kedua pengemis buruk tadi.

Segera Kim Co-lim membentak.

"Melihat cara kalian main sembunyi-sembunyi, kalian pasti bukan manusia baik-baik. Mau apa kalian menyusup ke daerah ini?"

Mesti terkepung, keempat orang itu tidak menjadi gugup, dengan sikap garang mereka menghadapi lawan, mata mereka pun melotot buas. Perlahan Kongsun Put-ti berkata.

"Agaknya mereka sudah lama membuntuti kita, tujuannya tentu juga ingin mencari jejak Insu, maka sekarang jangan kita lepaskan mereka."

"Hehe, cerdik juga anak ini,"

Jengek si pengemis pincang.

"ternyata dapat menerka maksud tuan besar. Memang betul, sudah kami perhitungkan kalian pasti akan datang kemari mencari orang she Pek, maka sudah lama kami membuntuti kalian, tujuan kami hendak memaksa keluar orang she Pek untuk ditanyakan rahasia bangsat berbaju putih itu. Sekarang kalian mau apa, hanya beberapa bocah ingusan seperti kalian bisa berbuat apa terhadap kami?"

"Akan kubinasakanmu!"

Bentak Nyo Put-loh dengan gusar, sekali lompat segera ia menubruk maju.

Ia pentang kesepuluh jarinya yang panjang laksana kaitan, dalam sekejap sudah menyerang empat-lima jurus, itulah kungfu "Eng-jiau-kang" (ilmu cakar elang) andalan Wi-yang-pay.

Pengemis pincang itu tidak gentar, sambil menyeringai ia sambut serangan Nyo Put-loh itu.

Ketiga orang yang lain rupanya bisa melihat gelagat, ia tahu jumlah lawan lebih banyak, tentu takkan menguntungkan jika terjadi pertarungan serentak, maka mereka cuma menunggu saja di samping.

Pengemis pincang itu ternyata sangat lihai, meski tangannya juga tinggal satu, namun serangannya beraneka ragam, setiap jurus serangan selalu berganti sehingga sukar diraba dari aliran mana ilmu silatnya.

Mendadak Nyo Put-loh bersuit dan meloncat tinggi ke atas untuk kemudian menyambar ke bawah serupa elang raksasa.

Bok Put-kut dan lain-lain tahu adik ketujuh yang berwatak keras ini sekarang sudah murka sehingga dikeluarkannya kungfu andalan Wi-yang-pay yang jarang digunakan.

Dengan cara menubruk dari atas itu, bilamana serangannya berhasil tentu lawan-lawan kontan akan dibinasakan, kalau gagal, Nyo Put-loh sendiri juga bisa celaka.

Dalam sekejap itu semua orang sama menahan napas dan berdebar.

Tiba-tiba pengemis pincang itu terkekeh, sekali ia tepuk kantong yang dipanggulnya, tahu-tahu 323 dari dalam kantong menyembur keluar api warna hijau dan menyambar ke arah Nyo Put-loh.

Keruan Bok Put-kut dan lain-lain sama terkejut.

Nyo Put-loh juga terkesiap, cepat ia mendoyongkan kepala dan bergeser, dengan gerakan itu dapatlah ia geser tubuh ke samping.

Akan tetapi semburan api hijau itu terlebih cepat daripada gerak tubuhnya, baru saja ia bergeser, tahu-tahu api pun menyerempet bahu kiri.

Kontan lengan baju terbakar, seketika Nyo Put-loh merasa lengan sakit dan panas serupa ditusuk jarum.

Ia menjadi murka, dengan mata merah membara segera ia hendak menubruk maju lagi dengan nekat.

Namun Ciok Put-wi keburu bertindak, cepat ia merangkul saudaranya itu dan menjatuhkan diri ke tanah terus berguling beberapa kali.

Rupanya Ciok Put-wi dapat melihat api hijau musuh itu sangat jahat, kalau tidak lekas dipadamkan, bisa jadi lengan kiri Nyo Put-loh sukar diselamatkan.

Sementara itu Kim Co-lim, Ban Cu-liang, Bok Put-kut dan lain-lain juga sama gusar.

Mendadak orang berkedok hitam tertawa seram dan berkata.

"Huh, anak murid perguruan ternama apakah juga ingin main kerubut?"

"Siapa mau main kerubut?"

Jawab Bok Put-kut.

"Silakan kawan-kawan sama mundur, biar kubereskan keparat ini."

Si pengemis pincang tadi menyeringai, jengeknya.

"Hm, memangnya bagaimana rasanya "Sau-hun-mo-hwe" (api iblis sambar nyawa), enak bukan? Nah kalau ada yang ingin mencicipi api sakti, ayolah silakan maju!"

Sekilas pandang Kongsun Put-ti melihat Nyo Put-loh lagi kesakitan, keningnya penuh butiran keringat, lelaki yang gagah perkasa itu kelihatan menahan sakit yang tak terkatakan.

Diam-diam Put-ti terkejut, desisnya kepada para kawan.

"Agaknya keparat ini orang Mo-hwe-kiong (istana api iblis), harap Toako waspada."

Bok Put-kut mengiakan, sikapnya tetap tenang, namun diam-diam ia pun terkejut, selangkah demi selangkah ia mendekati lawan.

Pada saat itulah tiba-tiba dari puncak pohon raksasa itu berkumandang suara tertawa nyaring orang.

Keruan semua orang sama terkejut.

Selain terkejut ketujuh murid juga bergirang, seru mereka.

"Ah, Suhu datang!"

Waktu mereka mendongak, terlihat sesosok bayangan ungu melayang turun dari ketinggian ratusan tombak itu.

Tinggi pohon itu memang beratus tombak, bilamana tidak menguasai Ginkang yang tinggi dan keberanian yang cukup, tidak nanti orang berani terjun ke bawah cara begitu.

Akan tetapi bayangan ungu ini menganggap ketinggian ratusan tombak ini seperti undak-undakan rumah dan terus terjun begitu saja dengan gaya yang indah, kain bajunya berkibar sehingga mirip dewa yang baru turun dari kahyangan.

Semua orang terkejut, heran dan juga kagum.

Terlihat orang berbaju ungu telah hinggap di tanah, waktu diawasi, ternyata seorang pemuda tampan dan lemah lembut dengan senyum yang menarik.

Kulit badan pemuda ini tidak terlalu putih, namun bersih serupa batu mestika dan seperti 324 gading yang bercahaya khas.

Meski wajahnya tidak terlampau cakap, namun barang siapa melihatnya pasti akan merasa senang dan berdekatan dengan dia.

Cuma senyumnya yang kelihatan menarik itu justru membawa semacam sikap yang anggun sehingga membuat orang yang ingin berdekatan dengan dia tetap tidak berani memandang remeh padanya.

Lebih dulu pemuda itu memberi hormat kepada Ban Cu-liang, Bok Put-kut dan lain-lain, ucapnya dengan tertawa.

"Setelah Siautit (keponakan) menemui dulu keempat tamu ini baru nanti kuberi penjelasan kepada para paman."

Ban Cu-liang dan lain-lain sama terkejut dan juga bergirang karena pemuda baju ungu ini ternyata sedemikian menghormati mereka, tanpa terasa mereka menjawab dengan rendah hati.

"Ah, jangan sungkan."

Lalu pemuda itu mendekati si pengemis pincang yang juga lagi tercengang itu, tegurnya dengan tertawa.

"Tak tersangka setelah sebelah kuping dan sebelah lengan kalian ditebas oleh Bok-long-kun, ternyata watak kalian tetap masih serupa dahulu."

Kiranya kedua pengemis jahat ini tak lain tak bukan adalah kedua pengemis yang dulu di tepi pantai pernah menyangka Bok-long-kun sebagai patung itu, karena ingin merampas harta mestika Bok-long-kun, akibatnya sebelah daun kuping dan sebelah lengan mereka dipenggal.

Kini boroknya masa lampau diungkap oleh seorang pemuda yang tidak dikenalnya, keruan ia terkejut dan berseru.

"Dari ... dari mana kau tahu semua itu?"

"Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat ...."

Gumam si pemuda baju ungu dengan tertawa.

Tiba-tiba sorot mata pengemis pincang berubah beringas, sekali meraih ke belakang, segera ia bermaksud memegang kantong lagi yang dipanggulnya.

Semua orang terkejut dan khawatir.

Tak terduga si pemuda baju ungu bersikap sangat tenang, secepat kilat ia menjulur tangan dan tepat merintangi tangan si pengemis yang akan memegang kantong itu, sekali tarik, kontan pengemis itu jatuh terguling.

Gerakan pemuda itu sama sekali berbeda daripada kungfu aliran mana pun di daerah Tionggoan, caranya aneh, sasarannya tepat, Bok Put-kut dan lain-lain sama kaget dan juga kagum.

Sorot mata orang berkedok menampilkan rasa kejut dan gentar.

Di bawah sorak pujian orang, pemuda baju ungu lantas mendekati si pengemis kurus, katanya dengan tersenyum.

"Kalian datang bersama, sepantasnya kau pun tinggal di sini bersama kawanmu."

Kulit daging muka pengemis kurus itu tampak berkerut-kerut, sekonyong-konyong kedua kepalan bekerja sekaligus, menyusul sebelah kaki pun mendepak, sekali serangan tiga gerakan, mengincar bahu, dada dan perut si pemuda baju ungu.

Selain cepat, juga keji serangannya, bilamana kena sasaran tentu lawan akan binasa seketika.

Tapi aneh juga, serangan pengemis kurus itu sama sekali mengenai tempat kosong, tahu-tahu tubuhnya malah terangkat ke atas oleh lawan.

"Pegang dia, Bok-toasiok!"

Seru si pemuda baju ungu sambil melemparkan tawanan ke belakang.

Biarpun bertubuh kerempeng, namun pengemis kurus itu sudah gemblengan, betapa pun otot tulangnya lebih kuat daripada orang biasa, bobotnya tentu juga beberapa puluh kati beratnya, 325 akan tetapi dia dapat dipegang dan diangkat begitu saja oleh pemuda itu serupa benda yang tak berbobot dan dilemparkan ke depan Bok Put-kut.

Reaksi Bok Put-kut juga tidak kurang cepatnya, sedikit melangkah mundur, segera ia tangkap pengemis kurus itu dengan cengkeraman dua tangan, Kongsun Put-ti yang berdiri di samping tidak tinggal diam, berbareng ia tutuk dua kali pada Hiat-to kelumpuhan pengemis kurus itu hingga ia tak bisa berkutik.

Satu di antara kedua orang berkedok itu tampak berdiri melongo ketakutan, seorang lagi dengan sorot mata jelalatan, tampaknya lagi cari jalan buat kabur.

Si pemuda memandang orang berkedok yang tampak hendak kabur itu dan mengejek.

"Hehe, Ong Poan-hiap, dalam keadaan bahaya tampaknya kawanmu hendak kau tinggal lari lagi?"

Tergetar tubuh orang berkedok itu, teriaknya.

"Siapa ... siapa Ong Poan-hiap?"

Di mulut ia menyangkal, namun nada dan gerak-geriknya tiada ubahnya mengakui teguran pemuda baju ungu itu.

Ban Cu-liang dan lain-lain sama melengak.

Dengan tertawa si pemuda baju ungu berkata pula dengan tertawa.

"Ong Poan-hiap, biarpun kau pakai kedok, namun kedua matamu yang jelalatan dan penuh kelicikan itu masakah dapat mengelabui aku?"

Pemuda belia ini tertawa dengan polos dan suci murni, namun ketajaman ucapannya dan pandangannya serta ketepatan tuduhannya tiada ubahnya serupa seorang penuntut umum yang tegas.

Orang berkedok itu menatapnya dengan tajam namun terlihat juga rasa gentarnya sehingga suaranya pun agak gemetar.

"Jadi kau ini si ... si ...."

"Ya, betul, aku inilah si elmaut bagimu,"

Ujar pemuda itu dengan tersenyum.

"Kurang ajar!"

Damprat orang berkedok mendadak.

"Beberapa kali usahaku selalu dikacau olehmu, hari ini biarlah kubikin perhitungan total denganmu!"

Berbareng ia pentang kedua tangan terus menubruk maju.

Nyata ia berniat mengadu jiwa.

Namun pemuda itu tetap tenang dan tersenyum saja.

Melihat orang berkedok itu menyerang dengan beringas, gerak tubuhnya juga aneh dan cepat, Ban Cu-liang dan lain-lain menaksir kungfu orang pasti juga sangat lihai, tanpa terasa mereka sama berseru.

"Awas!"

Siapa tahu, baru menubruk maju setengah jalan, mendadak orang berkedok itu menarik diri terus melompat beberapa tombak jauhnya ke sana, begitu hinggap di tanah serentak ia melompat terlebih jauh lagi.

Hanya dua tiga kali lompatan naik turun dapatlah ia capai tebing curam.

Ternyata benar kawan ditinggalnya lari, Ginkangnya ternyata sangat tinggi dan jarang ada bandingannya.

"Celaka,"

Seru Ban Cu-liang sambil mengentak kaki.

"bila keparat itu kabur, mungkin akan ...."

"Jangan khawatir, dia takkan mampu kabur,"

Ujar si pemuda baju ungu dengan tertawa.

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang di tebing curam sana, perawakannya tinggi besar laksana malaikat, dengan tepat jalan lari orang berkedok tadi dicegatnya.

Gerak-gerik orang berkedok itu tampak sangat cepat dan gesit, berulang ia menerobos ke kanan dan menyelinap ke kiri serupa hantu, mendadak ia melayang pula ke atas, kaki dan tangan digunakan susul-menyusul, secepat kilat ia serang lelaki kekar itu.

"Haha, keparat busuk, turun saja sana!"

Bentak lelaki itu sambil tergelak.

Berbareng kepalannya menghantam ke depan.

Meski pukulannya sangat sederhana, menghantam dada secara lugu, akan tetapi dahsyatnya tidak alang kepalang, betapa pun orang berkedok itu hendak menangkis tetap tidak tahan, ia meraung dan terguling ke bawah.

Kongsun Put-ti dan Sebun Put-jiok segera memburu maju ke sana.

Mendadak orang berkedok yang satu lagi bertekuk lutut, katanya dengan gemetar.

"Am ... ampun ...."

Bahwa dia dapat berlutut dan minta ampun, hal ini sungguh membuat orang terkejut.

"Dari mana asal-usulmu? Apa keperluan kalian datang kemari?"

Bentak Ban Cu-liang.

Orang itu tidak menjawab, sebaliknya menunduk dan menangis malah.

Padahal dari kungfu yang diperlihatkan tadi jelas kepandaiannya tidak di bawah Ong Poan-hiap, orang menyangka dia pasti seorang tokoh ganas dan lihai, sama sekali tak terduga dia seorang lemah dan pengecut seperti ini.

Di sebelah sana Kongsun Put-ti dan Sebun Put-jiok sudah menutuk roboh orang berkedok itu, ketika kain kedoknya disingkap, muncul seraut wajah pucat kurus, ternyata benar Ong Poan-hiap adanya.

Ia terguling dari lereng tebing, bajunya terkoyak dan kulit babak belur, muka berlepotan darah, namun sikapnya tetap garang walaupun keadaannya kelihatan mengenaskan.

"Seorang pendekar terkenal ternyata bernasib seperti ini, sungguh ... ai, Ong-heng, memangnya engkau tidak menyesal?"

Ucap Ban Cu-liang dengan gegetun.

"Yang berhasil menjadi raja, yang kalah menjadi tawanan, kenapa mesti menyusul?"

Jawab Ong Poan-hiap dengan tertawa latah. Ia pandang orang berkedok kawannya yang bertekuk lutut itu dan mendadak berteriak bengis.

"Hm, aku cuma menyesal seharusnya tidak membawa binatang tak berguna ini ke sini dan cuma membuat malu saja."

Orang berkedok satunya menangis dan meratap.

"Aku ... aku ...."

Dengan murka Ong Poan-hiap membentak pula.

"Senjata api yang kau bawa mestinya tidak ada tandingan di dunia ini, jika kau gunakan, sedikitnya dapat kita labrak mereka habis-habisan, mengapa senjata andalanmu tidak kau gunakan?"

Dengan menangis orang itu menjawab.

"Bilamana kulihat perkelahian berdarah, seketika tanganku lantas lemas, mestinya aku tidak ... tidak mau ikut kemari bersamamu."

"Hah, seorang tokoh termasyhur seperti Thian-hwe-mo-sin ternyata melahirkan seorang anak pengecut serupa ini, sungguh konyol!"

Semua orang sama melengak, Ban Cu-liang menegas.

"Jadi orang ini putra mahkota dari Mo-hwe-kiong?"

"Betul, inilah anak anjing yang dilahirkan dari ayah harimau,"

Sahut Ong Poan-hiap dengan tertawa latah.

"Sekali ini kubawa dia kemari, tadinya kusangka dia akan menjadi pembantu andalanku, siapa tahu ...."

"Jika ayah tidak memaksaku ikut padamu untuk menambah pengalaman, siapa sudi mencari perkara di dunia Kangouw,"

Ucap orang berkedok itu, lalu air matanya bercucuran lagi.

Segera kain kedoknya dibuka sekalian untuk mengusap air matanya, maka tertampaklah kulit dagingnya yang putih halus, wajahnya cukup tampan, serupa anak perawan pingitan saja, sama sekali tidak menyerupai seorang anak lelaki.

Bilamana teringat kepada Hwe-mo-kun yang termasyhur dan ditakuti itu, ternyata mempunyai seorang anak lemah seperti ini, sungguh semua orang tidak tahu apa mesti merasa geli atau gegetun.

"Tak tersangka dalam lima tahun ini Ong Poan-hiap telah berhasil mengadakan hubungan dengan Hwe-mo-kiong,"

Kata Ban Cu-liang.

"Sekali ini tentu disebabkan Hwe-mo-kun juga ada maksud bertanding dengan tokoh berbaju putih itu, maka Ong Poan-hiap diutus mencari Pek-locianpwe, tujuannya tentu ingin mencari keterangan dari Pek-locianpwe tentang kungfu sejati tokoh berbaju putih itu."

"Ya, betul,"

Kata Ong Poan-hiap dengan menyeringai.

"Maka kalau sekarang kalian berani berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, selekasnya kalau Hwe-mo-sin-kun menyusul kemari, tentu hutan ini akan dibakarnya hingga ludes."

"Haha, aku memang merasa hutan ini terlalu merepotkan, bila dibakar bersih kan jadi lebih baik,"

Tukas Kim Co-lim dengan tertawa. Mendadak Kongsun Put-ti mendengus.

"Hm, tokoh sombong semacam Hwe-mo-sin-kun itu seumpama benar dia ingin bertempur dengan si tokoh baju putih, kukira dia juga tidak sudi mengincar rahasia ilmu silat lawan secara licik begini."

"Ucapan paman Kongsun memang benar,"

Ujar si pemuda baju ungu dengan tersenyum.

"Kukira kedatangan mereka ini adalah karena Ong Poan-hiap ingin mencari tahu rahasia ini untuk mengeduk keuntungan bagi diri sendiri, sebab terlalu banyak orang Kangouw yang juga ingin tahu rahasia kungfu tokoh baju putih itu. Tentang putra Hwe-mo-kun yang juga dibawanya kemari tidak lebih hanya digunakan sebagai boneka untuk menutupi tujuannya yang sebenarnya."

Melihat anak muda belia itu ternyata kenal baik nama mereka, sejak tadi Kongsun Put-ti sudah heran, sekarang tutur katanya ternyata juga sangat pintar, setiap dugaannya selalu tepat, tentu saja ia tambah heran dan kejut.

Terdengar pemuda baju ungu itu berkata pula.

"Mohon Kim-toasiok suka mengawasi keempat tawanan ini agar rahasia di sini tidak sampai tersiar."

"Ini tidak menjadi soal,"

Sahut Kim Co-lim dengan tertawa.

"untuk sembunyi di tengah hutan ini, jangankan cuma empat orang, biarpun empat ratus orang juga cukup luas tempatnya."

"Terima kasih jika begitu,"

Kata si pemuda sambil memberi hormat. Tiba-tiba Kim Co-lim berseru.

"Tapi mengapa engkau dapat sampai ke sini, dan mengapa pula dapat naik ke tempat kediaman Pek-locianpwe? Sungguh aku tidak mengerti."

Pada saat itulah terdengar suara tertawa merdu di puncak pohon, seorang berkata.

"Akulah yang memberitahukan tempat ini padanya."

Lalu seutas tali terjulur dari atas pohon yang ikut merosot turun bersama tali itu ternyata Cilan-hoa Hoa Jing-jing alias si Anggrek Ungu.

Keruan Kim Co-lim dan lain-lain sama melenggong.

Terutama ketujuh murid itu sama heran.

"Suhu melarang kami naik ke atas, mengapa pemuda belia tak dikenal ini justru diperbolehkan naik ke sana, apa sebabnya?"

Sebelum menyentuh tanah Hoa Jing-jing lantas melompat ke bawah, maka tali panjang dikerek ke atas lagi.

Waktu ketujuh murid mendongak sekilas pandang seperti ada bayangan lengan baju berkelebat di atas, namun tidak jelas apakah itu bayangan sang guru atau bukan?

Hoa Jing-jing mengerling sekejap dan tertawa, katanya.

"Tentu kalian merasa heran mengapa kubawa anak muda ini menemui Pek-locianpwe, apakah kalian tahu siapakah dia?"

Ban Cu-liang dan ketujuh murid sama menatap tajam ke arah anak muda itu. Pemuda baju ungu lantas berlutut dan memberi hormat sambil berseru.

"Masakah para paman sudah pangling kepada Siautit?"

Semua orang sama kikuk karena anak muda itu memberi penghormatan sedalam itu, Nyo Put-loh yang sedang kesakitan itu mendadak berteriak girang.

"Hei, kau ini Po ... Po-ji!"

"Betul, Siautit memang Po-ji adanya,"

Sahut anak muda itu.

Ia mendongak, wajahnya yang masih menampilkan senyuman itu sudah dibasahi oleh air mata terharu.

Kiranya usia Nyo Put-loh paling muda di antara sesama saudara seperguruan, sedang watak Oh Put-jiu paling ramah, maka waktu kecilnya Po-ji paling akrab bergaul dengan kedua paman guru ini.

Keenam paman gurunya yang lain sepanjang tahun kebanyakan giat berlatih kungfu di halaman depan, sebaliknya Po-ji tidak pernah melongok ke lapangan latihan, apalagi sudah berselang sekian tahun, dari seorang anak kecil Po-ji telah menanjak remaja dewasa, kini telah berubah menjadi pemuda yang ganteng, apalagi menguasai ilmu silat setinggi ini, tentu saja Bok Put-kut dan lain-lain sama pangling meski semula juga merasa seperti pernah kenal anak muda itu.

Sungguh tak tersangka oleh mereka bahwa "pelajar cilik"

Yang ketololan itu dalam waktu enam tahun saja telah berubah sebanyak ini, keruan selain melenggong, Bok Put-kut bertujuh sama tidak habis mengerti dan tidak sanggup berucap.

Ciok Put-wi yang biasanya mahal buka mulut itu sekarang juga bergumam.

"Po-ji ... kiranya kau Po-ji ...."

Dengan menahan air mata, Po-ji menjawab.

"Betul. Cuma para paman hendaknya maklum, nama lengkapku sekarang adalah Pui Po-giok. Po-ji adalah nama kecil masa lampau, kini Siautit sudah dewasa."

Hoa Jing-jing menukas dengan tertawa.

"Pui Po-giok, sungguh nama yang indah. Kau memang betul Po-giok (batu mestika) di tengah manusia, nama sesuai dengan orangnya."

Sambil membentak mendadak Nyo Put-loh menubruk maju, Po-ji dirangkulnya dengan erat, teriaknya dengan parau.

"Aku tidak peduli perubahan namamu, aku tetap memanggilmu Po-ji, biarpun kau sudah dewasa, kau tetap Po-ji kami masa lampau .... O, anak baik, sungguh kami sangat merindukanmu."

"Jitcek (paman ketujuh), luka ... luka tanganmu ...."

"Biarkan luka apa segala, dapat bertemu denganmu, segala luka pun tidak terpikir lagi, coba 329 kau lihat ...."

Baru saja Nyo Put-loh sedikit mengangkat tangannya yang terbakar, saking kesakitan ia jatuh kelengar.

Keruan semua orang terkejut dan sibuk lagi.

Kongsun Put-ti coba periksa keadaan luka Nyo Put-loh, ucapnya dengan kening bekernyit.

"Sungguh keji api berbisa ini, lengan Jitte ini mungkin ...."

Mungkin apa, tidak berani diteruskan lagi. Maka rasa girang semua orang seketika berubah sedih pula. Dengan menyesal Po-ji alias Pui Po-giok berkata.

"Maaf, gara-gara keterlambatan kedatanganku sehingga bikin susah Jitcek ...."

Sampai di sini mendadak teringat sesuatu olehnya, serunya girang.

"Aha, betul, jangan khawatir ...."

Mendadak ia melompat ke depan si orang berkedok satunya, yaitu anak Hwe-mo-sin-kun. Segera Ong Poan-hiap membentak.

"Jangan kau beri obat luka, mati pun jangan kau berikan."

Mendingan dia tidak bersuara, sebab putra iblis api itu tidak tahu apa kehendak Pui Po-giok, dan sekali dia bersuara, dengan cepat pemuda lemah itu berbalik cepat menyerahkan obat luka yang dimaksud.

Sebelum Po-giok bersuara dia sudah menyodorkan obat luka lebih dulu.

Keruan Ong Poan-hiap sangat gusar, bentaknya.

"Binatang tak berguna ...."

Namun sebelum lanjut ucapannya Ciok Put-wi lantas menutuk Hiat-to bisunya.

Biarpun api dari Mo-hwe-kiong itu sangat keji, namun obat lukanya juga sangat manjur, begitu obat yang berwarna putih susu kental itu dipoles di lengan Nyo Put-loh, dalam waktu singkat merah bengkaknya lantas lenyap, perlahan Nyo Put-loh pun siuman.

Begitu sadar Nyo Put-loh lantas memandang sekitarnya dan berseru.

"Hei, kenapa kalian cuma mengurus diriku, masa lupa di atas sana masih ada seorang kesatria besar, tanpa dia, hari ini kita pasti terjungkal habis-habisan."

"Betul, kalau tidak diingatkan Jitte kita menjadi lupa,"

Seru Bok Put-kut.

"Entah kesatria ini ...."

"Ah, kesatria apa, dia bukan lain adalah saudaraku, namanya Gu Thi-wah,"

Tutur Pui Po-giok dengan tertawa. Waktu semua orang mendongak, terlihat Thi-wah masih berdiri gagah perkasa di atas tebing sana. Segera Bok Put-kut berteriak.

"Silakan Thi-siauhiap turun kemari untuk berkenalan."

Thi-wah balas berteriak.

"Tempat setan ini terlampau tinggi dan curam, aku tidak berani turun ke situ, bisa jadi aku akan tergelincir mampus, lebih baik kalian yang naik ke atas saja."

Padahal semua orang menyaksikan betapa perkasanya Thi-wah tadi, maka ucapannya sekarang membuat mereka sama melenggong. Po-giok tertawa dan berkata.

"Saudaraku ini meski bertubuh kuat laksana otot kawat tulang besi, boleh dikatakan sangat tangkas, sayangnya dia sama sekali tidak tahu Ginkang apa segala, kalau tidak, sejak tadi tentu dia sudah turun kemari."

"Aha, bagus, bagus, sungguh sangat kebetulan,"

Seru Kim Co-lim dengan tertawa.

"Untung dia berotot kawat dan bertulang besi sehingga tidak berhasil meyakinkan Ginkang, untung juga dia tidak kenal Ginkang itu apa sehingga tetap tinggal di atas dan tidak mau turun kemari, kalau tidak, Ong Poan-hiap dan begundalnya tentu sudah kabur sejak tadi. Ini kan sangat kebetulan dan harus ...."

"Harus dirayakan dengan minum arak, begitu bukan?"

Sambung Hoa Jing-jing. Kim Co-lim tertawa, katanya.

"Hah, yang melahirkan diriku ayah-bundaku, yang kenal watakku adalah biniku! Dan hendaknya kalian tahu, sekali biniku ini mau minum arak, wah, aku harus menyerah ...."

"Asal kau tahu saja!"

Ujar Hoa Jing-jing dengan senang.

"Ya, cuma bila sudah mabuk, bisa runyam, siapa pun harus menjauhi dia, kalau ... kalau tidak bisa ... aduuhh ...."

Mendadak Kim Co-lim mengaduh sebelum habis ucapannya, sebab daun kupingnya telah dijewer oleh sang istri alias Hoa Jing-jing.

***** Di tengah hutan, di sebidang tanah pertamanan yang terawat dengan baik terdapat beberapa rumah mungil, itulah tempat kediaman Kim Co-lim suami-istri.

Perumahan keluarga kaya raya ini ternyata sangat sederhana, namun teratur dengan serasi, sayangnya atap rumah agak pendek sehingga kalau Thi-wah berdiri tegak hampir kepalanya menyundul langit-langit.

Dengan sendirinya perawakan Thi-wah yang luar biasa itu sangat menarik perhatian orang.

Namun dia tidak ambil pusing, ia makan minum sepuasnya.

Selama lima tahun, dia sudah tergembleng terlebih masak, tubuh terlebih kekar dan kuat, kulit badan pun kecokelat-cokelatan dan mengilat.

Ditambah lagi matanya yang besar dan alisnya yang tebal, sungguh gagah perkasa.

Secara ringkas Po-ji menceritakan pengalamannya selama lima tahun ini, suka-duka pengalaman Po-ji itu sungguh membuat semua orang sangat tertarik, terutama cerita tentang kehebatan Ci-ih-hou dan kisah hidup Ciu Hong, kepintaran Siaukongcu dan kecantikan Cui Thian-ki, semua itu sangat memesonakan.

Akan tetapi di samping itu juga ada yang membuat mereka khawatir, yaitu tentang nasib Oh Put-jiu yang tidak diketahui jejaknya itu.

"Pertemuan hari ini tentu akan lebih menggembirakan bilamana Patte juga hadir,"

Ujar Bok Put-kut dengan menyesal. Kim Put-we juga berseru.

"Ke mana perginya Lopat (kedelapan), masih hidup atau sudah mati, masa tidak ada yang tahu?"

"Patte takkan mati!"

Ucap Ciok Put-wi mendadak. Ia jarang bicara, sekali mau bicara, setiap katanya tegas dan mantap. Kongsun Put-ti tersenyum, katanya.

"Site tidak sembarangan bicara, sekali bicara tentu tepat. Kalau kita renungkan kembali pribadi Patte yang cerdik itu, dia memang tidak mungkin mati dengan mudah."

"Aku cuma heran, cara bagaimana Po-ji mendapatkan ajaran ilmu silat sehebat ini?"

Ucap Gui Put-tam. Belum lagi Po-ji bersuara, segera Thi-wah mendahului berseru.

"Segala macam ilmu silat terletak pada intisarinya, saripatinya itulah merupakan tulang sumsum ilmu silat. Setiap gerak-gerik lahiriah tidak lebih hanya bulu dan kulitnya saja, tanpa tulang sumsum, apa artinya bulu dan kulitnya? Jika sudah meresap tulang sumsumnya baru kemudian belajar bulu dan kulitnya, maka segala sesuatu akan berhasil dengan sangat mudah."

Ia mengusap mulut yang berlepotan kuah dan minyak lalu menyambung.

"Cara orang lain belajar ilmu silat biasanya dimulai dari mudah untuk kemudian menuju yang sukar. Akan tetapi bakat Toakoku ini berbeda dengan orang lain, caranya belajar ilmu silat juga tidak sama dengan orang. Toako belajar ilmu silat dimulai dari yang sulit untuk kemudian baru menuju yang mudah, lebih dulu menyelami dalil perubahan segala benda secara alami, setelah paham saripati ilmu silatnya secara mendalam, maka selanjutnya setiap gerak serangan akan mahir dengan sendirinya.

"Dalil ini serupa melukis, kalau tidak mengerti arti seni lukis, biarpun apa yang dilukisnya kelihatan indah, namun tidak menampilkan seni lukisnya secara hidup, paling-paling dia cuma seorang tukang gambar saja dan bukan seorang seniman ...."

Begitulah Thi-wah terus mencerocos dengan macam-macam logika yang belum pernah didengar oleh orang-orang itu. Tentu saja semua orang melongo heran dan kagum.

"Apa yang kukatakan itu semua adalah yang kudengar dari Suhuku,"

Tutur Thi-wah pula.

"Beliau sudah menduga pasti ada orang akan tanya macam-macam dan khawatir Toako tidak enak untuk bicara akan kepandaian sendiri, maka aku diajarkan teori itu supaya dapat kuuraikan bagi Toako. Cuma aku sendiri hanya dapat menghafalkannya di luar kepala, sesungguhnya apa artinya aku sendiri pun tidak paham. Malahan cuma sekian saja yang kuingat, bila kalian tanya lebih banyak, terpaksa tak dapat kujawab."

Habis ini, segera ia makan-minum lagi dengan lahapnya. Kim Put-we tertawa, katanya sambil menepuk bahu bocah gede itu.

"Anak ini sangat mencocoki seleraku, kukira kita mengikat saudara saja dengan dia."

"Dia memanggil Po-ji sebagai Toako, kan kacau jika kita bersaudara dengan dia,"

Ujar Gui Put-tam dengan tertawa.

"Ah, masing-masing bergaul sendiri-sendiri, peduli apa?"

Sahut Kim Put-we dengan melotot. Sejak tadi Po-giok hanya mendengarkan saja, baru sekarang ia bicara perlahan.

"Kedatanganku ini, pertama adalah ingin mencari Yaya (kakek). Setelah diketahui beliau sehat dan baik-baik saja, maka legalah hatiku."

Ia berhenti sejenak, sikapnya berubah prihatin, lalu menyambung.

"Dan urusan kedua yang harus kukerjakan adalah sedapatnya berusaha mencegah pertemuan di puncak Thay-san pada akhir tahun itu agar jago muda dunia persilatan kita tidak saling membunuh, sebab akibatnya cuma akan menyedihkan kawan dan menyenangkan lawan."

Ban Cu-liang menampilkan rasa senang, tukasnya.

"Apabila Pui-siauhiap mempunyai jalan baik untuk mencegah pertemuan itu sehingga kekuatan dunia persilatan kita dapat dipertahankan, sungguh setiap orang persilatan pasti akan sangat berterima kasih padamu."

"Waktu pertemuan yang ditentukan itu masih ada dua bulan lamanya,"

Kata Po-giok pula.

"Dalam waktu dua bulan ini ingin kumohon bantuan paman Ban."

"Asalkan mampu tentu akan kubantu,"

Sahut Ban Cu-liang. Po-giok termenung sejenak, katanya kemudian.

"Yang akan hadir dalam pertemuan itu entah 332 ada berapa banyak ...."

"Pertemuan di Thay-san ini merupakan peristiwa terbesar selama lima tahun terakhir ini,"

Tutur Ban Cu-liang.

"maka betapa gempar dan ramainya kukira tidak kalah daripada peristiwa pertarungan di pantai timur antara Ci-ih-hou dan si tokoh baju putih itu. Bila tiba waktunya kuyakin sebagian besar tokoh ternama seluruh negeri pasti akan hadir di sana. Akan tetapi yang benar-benar akan ikut dalam pertandingan itu, menurut taksiranku paling-paling cuma tiga-empat puluh orang saja."

Thi-wah tertawa, katanya.

"Cuma 40-an orang? Itu kan tidak banyak!"

"Meski 40 orang tidak terhitung banyak, tapi mereka tergolong jago angkatan muda terkemuka dan telah mengalami saringan dari beribu jago muda yang lain dari seluruh negeri sehingga kungfu mereka tentu lain daripada yang lain, merekalah merupakan saka guru dunia persilatan Tionggoan yang akan datang,"

Demikian tutur Ban Cu-liang.

"Jika mereka diharuskan saling membunuh, tentu sangat besar pengaruhnya terhadap dunia persilatan, meski sekarang belum jelas kelihatan, namun tidak perlu disangsikan lagi bila terjadi pertarungan mereka berarti menanamkan bibit bencana di kemudian hari."

"Tapi bukan begitu maksudku,"

Ujar Thi-wah dengan tertawa.

"Maksudku, untung cuma ada 40 orang, bila 400 orang misalnya, tentu Toako akan kerepotan menghadapi mereka."

Tergerak hati Ban Cu-liang, ia menegas.

"Jadi ... jadi maksudmu dalam dua bulan ini Pui-siauhiap akan mengalahkan mereka satu per satu?"

"Ya, memang begitulah,"

Kata Po-giok dengan menunduk.

"Sebab kalau tidak begitu, sungguh sulit untuk mengubah pendirian ke-40 jago muda yang tinggi hati dan tidak mau saling mengalah itu."

Jilid 14. Misteri Kapal Layar Pancawarna "Aha, bagus!"

Seru Kim Put-we sambil berkeplok tertawa.

"Sungguh anak baik! Memang di dunia Kangouw zaman ini, kecuali Po-ji kita, siapa pula yang berani bertindak demikian? Hehe, coba pikir, hanya dalam dua bulan harus bertempur menghadapi 40 orang secara bergilir. Haha, Kim Put-we mempunyai keponakan segagah ini, sungguh aku merasa bangga dan bahagia."

Bok Put-kut juga tertawa, katanya.

"Jika benar Po-ji dapat mengalahkan ke-40 orang itu, kuyakin mereka pasti akan patah semangat dan tidak bergairah untuk saling gebrak lagi."

"Betul, tujuan mereka hanya ingin menjadi juara untuk menghadapi tokoh berbaju putih itu, yang diributkan mereka hanya soal nama dan kehormatan saja,"

Ujar Ban Cu-liang.

"Sekarang dengan munculnya Pui-siauhiap, apa pula yang perlu mereka persoalkan?"

"Tindakan Po-ji ini selain dapat meredakan pertengkaran mereka, sekaligus juga dapat menggembleng kungfunya untuk menambah pengalaman tempur, sampai waktunya nanti dapat dijadikan modal untuk menempur si tokoh baju putih,"

Ujar Gui Put-tam.

"Haha, bagus, bagus,"

Seru Kim Co-lim dengan tertawa.

"Untuk itu kita harus minum 3 cawan!"

Nyata setiap kesempatan minum arak tidak pernah disia-siakan olehnya. Seketika semua orang sama riang gembira, hanya Kongsun Put-ti saja tampak prihatin dan diam saja.

"Apa barangkali Jite mempunyai sesuatu persoalan?"

Tanya Bok Put-kut.

Semua orang sama tahu Kongsun Put-ti sangat cerdik dan banyak tipu akalnya, cara berpikirnya pun cermat, sekarang dia kelihatan prihatin, tentu ada sebabnya.

Seketika semua orang sama diam mendengarkan apa komentarnya.

Perlahan Kongsun Put-ti berkata.

"Kungfu Po-ji sekarang boleh dikatakan jarang ada tandingannya di dunia Kangouw, tapi bertempur terus-menerus menghadapi 40 tokoh tentu berbeda daripada menghadapi seorang lawan saja. Biarpun kungfunya jauh lebih tinggi daripada ke-40 orang itu, tapi dia harus mondar-mandir kian kemari ke tempat ke-40 orang itu, kekuatan fisiknya tentu akan banyak berkurang, apalagi setiap orang pun tidak berani menjamin kungfu sendiri takkan terjadi sesuatu yang luar biasa selama dua bulan itu, misalnya pengaruh cuaca, terganggunya pikiran, kehidupan sehari-hari yang berubah-ubah, semua ini dapat memengaruhi kungfunya."

Semua orang saling pandang dengan diam, mau tak mau perasaan mereka ikut tertekan. Dengan suara berat Kongsun Put-ti berkata pula.

"Tapi bila Po-ji bertekad bertindak demikian, hal ini pasti akan menimbulkan sirikan orang. Pertarungan 40 kali ini tidak boleh terjadi kekalahan, sebab kalau dia kalah satu kali saja, selain namanya akan tersapu runtuh, jiwa pun mungkin akan melayang. Jadi yang kita khawatirkan adalah bagaimana nanti bila dia mengalami kekalahan dalam salah satu pertempuran itu."

"Ya, bagaimana baiknya?"

Tukas Kim Co-lim sambil menaruh cawan araknya. Kongsun Put-ti berkata pula.

"Hendaknya maklum, siapa pun bila dalam dua bulan harus bertempur kian kemari menghadapi 40 jago pilihan, biarpun setinggi langit kepandaiannya juga mengkhawatirkan. Sebab untuk itu harus mempunyai tekad yang bulat, iman yang teguh, dan semangat juang yang berkobar. Tentang kungfu Po-ji memang dapat diandalkan, tapi dalam dua bulan ini selain rasa kagum dan pujian yang akan diberikan padanya, tentu juga dia akan dicemooh, dicaci maki, dan dihina orang, bahkan bisa jadi akan dijebak dan dicelakai orang. Mengingat usianya yang masih muda belia dan pengalaman yang cetek, kukhawatir dia takkan tahan ...."

Kening In-bong-tayhiap Ban Cu-liang tampak bekernyit, ucapnya.

"Tidak memikirkan menang, tapi mengkhawatirkan kalah lebih dulu. Pandangan jauh Kongsun-jihiap sungguh harus dipuji ...."

Mendadak Poi Po-ji memotong.

"Tapi bila Ban-tayhiap yang menjadi diriku dan menghadapi persoalan seperti sekarang, entah bagaimana tindakan Paman Ban?"

Tanpa pikir Ban Cu-liang menjawab.

"Semangat kaum persilatan kita harus mempunyai keberanian untuk tidak gentar akan kalah. Bilamana pertarungan harus dilakukan, apa artinya bilamana mengalami kekalahan?"

Po-ji berpaling dan tanya ketujuh paman.

"Dan jika para Paman yang menjadi diriku, bagaimana pula sikap kalian, bertempur atau tidak?"

Meski ketujuh paman itu tadi bermaksud mencegah tindakan Po-ji itu, hal ini timbul karena rasa perhatian mereka terhadap anak muda itu.

Padahal bila mereka sendiri yang menghadapi ini, tidak nanti ada pilihan lain bagi mereka kecuali bertempur.

Maka berbareng Bok Put-kut, Ciok Put-wi, Nyo Put-loh, dan Sebun Put-jiok menjawab.

"Bertempur!"

"Ya, jual-beli yang merugikan terkadang juga perlu dilakukan,"

Sambung Gui Put-tam. Mendadak Kim Put-we berdiri sambil melemparkan cawan araknya, teriaknya.

"Betul, harus bertempur! Yang takut adalah pengecut!"

Pandangan Po-ji beralih ke arah Kongsun Put-ti, tanyanya.

"Dan entah Kongsun-jicek juga ...."

"Tentu saja aku pun setuju!"

Tukas Kongsun Put-ti dengan tersenyum.

"Maksudku hanya minta kau bertindak hati-hati, masakah kusuruhmu mengkeret dan menjadi kaum penakut?"

"Ya, jika kau ingin menang, maka kemenangan itu harus diperoleh dengan gilang-gemilang,"

Seru Kim Put-we.

"Dan bila kalah juga harus secara terhormat, agar setiap kesatria di dunia ini kenal betapa gagah perwira keponakan kita yang bernama Pui Po-ji."

"Sungguh Pui Po-ji yang hebat!"

Kata Kim Co-lim sambil menenggak arak.

"Biarlah kuminum dulu 300 cawan .... Haha, marilah semua orang ikut minum 300 cawan!"

Begitulah mereka sama angkat cawan bagi keselamatan dan kejayaan Pui Po-ji!

***** Belasan penunggang kuda berbondong-bondong menuju ke Tong-ting-oh.

Di lembah danau Tong-ting itu, di dekat kota Gak-yang, dari perkampungan Tin-oh-ceng tampak juga lima penunggang kuda dilarikan secepat terbang menuju ke Tong-ting-oh.

Pemimpin rombongan itu menunggang kuda hitam mulus dan membawa tombak, baju hitam ringkas dan memakai ikat rambut warna hitam juga, alis tebal dan muka cakap, sungguh gagah perkasa di atas kudanya.

Belasan penunggang kuda yang sudah menunggu di tepi danau dapat mendengar derap lari kuda pendatang ini, seorang bergumam.

"Secepat ini lari kudanya, tentu pendatang ini jago nomor satu wilayah Bu-han, Po-ma-sin-jiang Lu In adanya."

Belum lenyap suaranya penunggang kuda itu sudah muncul dari balik kabut, begitu mendekat segera pemuda gagah penunggang kuda hitam ini berteriak.

"Lu In dari Gak-yang datang memenuhi janji, entah yang mana Pui-siauhiap adanya?!"

Seorang menyelinap maju dan menjawab dengan hormat.

"Pui Po-giok sudah sejak tadi menanti kedatangan Anda!"

Po-ma-sin-jiang Lu In, si Kuda Mestika dan Tombak Sakti, melompat turun dari kudanya, lebih dulu ia memberi hormat kepada hadirin, lalu berseru.

"Ban-tayhiap, Kim-toako dan saudara yang lain, maaf kubawa senjata dan kurang leluasa memberi hormat."

Ban Cu-liang, Kim Co-lim, dan lain-lain sama menanggapi dengan ucapan terima kasih.

Lalu pandangan Lu In beralih kepada anak muda berbaju ungu yang berdiri di depan dengan tersenyum itu.

Di bawah remang kabut pagi terlihat perawakan anak muda itu tidak terlalu tinggi benar, namun dari kepala sampai ke kaki terasa tumbuh dengan sangat serasi serupa patung pahlawan buatan ahli pahat yang paling mahir.

Diam-diam Lu In memuji, dengan lantang ia berkata pula.

"Hari ini dapat kugebrak dengan tokoh muda seperti Pui-siauhiap, biarpun kalah juga merasa bahagia."

"Ah, tujuanku hari ini cuma minta belajar saja dan tiada maksud mencari kemenangan,"

Sahut Po-giok dengan tertawa.

"Untuk itu mohon Ban-tayhiap menjadi saksi, begitu kalah diketahui, segera kita berhenti."

"Setuju!"

Seru Lu In.

Sekali ia putar tombaknya, seketika menimbulkan bayangan warna-warni yang indah.

Po-giok menyurut mundur dua langkah, ia lolos pedangnya.

Panjang pedang cuma tiga kaki tujuh inci, batang pedang kelabu gelap, sekilas pandang tidak menarik dan entah terbuat dari apa, bila diamati baru ketahuan sebatang pedang kayu.

Lu In kurang senang, tegurnya.

"Apakah Pui-siauhiap memandang rendah diriku? Mengapa kau gunakan pedang kayu?"

"Pedang ini adalah pemberian guruku, namanya Sim-kiam (pedang hati), meski tidak tajam, tapi membawa hikmah yang ajaib, asalkan didukung dengan perasaan sepenuhnya, maka tiada ubahnya serupa pedang baja gemblengan."

Uraian Pui Po-giok ini penuh falsafah yang sukar dimengerti, meski Lu In juga kurang paham, namun dia tidak menyatakan kurang puas lagi, katanya segera.

"Jika begitu, ayo silakan mulai!"

Begitu kata "mulai"

Terucap, serentak ia pun bergerak dan tombak berputar.

Tombak disebut sebagai rajanya senjata, sejenis senjata yang biasa digunakan di medan perang, untuk menyerbu musuh dan menerjang pasukan lawan.

Biasanya tidak berani sembarangan dipakai oleh jago silat umumnya.

Tapi sekarang Lu In menggunakan tombak sebagai senjata andalan, gerak serangannya memang lain daripada yang lain, tombak sepanjang delapan kaki diputar sedemikian kencangnya dan dapat dimainkan sesuka hati, angin tombak mendesir, kain merah hiasan ujung tombak pun berkelebat menyilaukan mata.

Orang persilatan mengenal istilah "satu inci lebih panjang, satu inci lebih kuat", sekarang tombak sepanjang delapan kaki ini telah memperlihatkan daya tempur yang hebat, dalam radius sejauh setombak itu lawan sukar mendekat.

Po-ji hanya bertahan saja dan tidak banyak menyerang, sudah belasan jurus ia tetap tidak melancarkan gempuran yang berarti.

Diam-diam Bok Put-kut berkerut kening, desisnya kepada kawannya.

"Bertarung dengan lawan bersenjata panjang begini harus berani mendesak maju, dengan begitu baru ada harapan akan menang, kalau cuma berputar dari jarak jauh akhirnya mungkin ...."

"Ya, meski kungfu Po-ji diperoleh dari penemuan ajaib, namun pengalaman tempurnya sangat kurang,"

Ujar Kongsun Put-ti.

"Seharusnya dia melancarkan jurus serang dan tidak perlu ragu."

"Jangan khawatir,"

Kata Ciok Put-wi mendadak.

"Nah, memang harus begitu!"

Sebagai anak murid Siau-lim-pay, Ciok Put-wi dapat menyelami maksud Pui Po-ji yang berlaku tenang dan pada saat terakhir akan mengatasi lawan, itulah saripati ilmu silat yang paling tinggi.

Terlihat air muka Po-ji sangat tenang dan tersenyum bukan senyum, seperti menaruh sepenuh perhatian terhadap serangan musuh, tapi juga serupa tidak mengacuhkan.

Sebaliknya serangan tombak Lu In bertambah gencar sehingga menerbitkan deru angin yang keras.

Tiba-tiba Po-ji tersenyum, pedang menebas lurus ke depan.

Serangan ini dilontarkan begitu saja tanpa gerak tambahan.

Jurus serangan ini mungkin tidak efektif digunakan di tempat lain, tapi dilontarkan pada saat ini justru teramat tepat dan bagus.

Ternyata serangan tombak Lu In yang gencar dapat dipatahkan begitu saja oleh tebasan pedang yang lugas ini.

Namun dia memang jago muda terkemuka, segera ia hendak ganti jurus dan menyerang lagi.

Pedang kayu Po-giok perlahan menahan ujung tombak, dia tidak mengeluarkan tenaga, tapi Lu In sukar melepaskan daya lengket pedang lawan, beberapa kali ia menarik dan memuntir tetap tidak dapat lagi memainkan tombaknya lagi.

Po-giok tetap tersenyum dengan tenang, sebaliknya Lu In kehabisan akal dan juga patah semangat.

Ban Cu-liang dan lain-lain sama melengak.

Tiba-tiba Lu In membuang tombaknya sambil melompat mundur, lalu mendongak dan menghela napas panjang tanpa bicara.

Perlahan Po-giok menyimpan pedang kayunya, tombak orang dijemputnya dan disodorkan kepada Lu In, ia tidak mengucapkan sesuatu kata menghibur, namun senyumnya yang simpatik sudah cukup berbicara dan jauh melebihi segala kata-kata, sebab senyum itu tidak ada sedikit pun rasa congkak sebagai pemenang, tidak ada lagak palsu yang dibuat-buat.

Di bawah senyum Po-giok yang simpatik itu, Lu In merasa kekalahan sendiri tidaklah memalukan, juga tidak perlu dibuat duka.

Tiba-tiba ia tertawa dan berseru lantang.

"Sudah belasan tahun kulatih silat dan kuyakin tidaklah mengecewakan kepandaian yang kumiliki, siapa tahu di dunia ini ada kungfu sehebat Pui-siauhiap dengan jurus serangan sebagus itu."

Ia menghela napas panjang pula, lalu menyambung.

"Yang paling hebat adalah jurus Pui-siauhiap yang dilontarkan mendadak itu, bilamana sedetik lebih dulu atau lebih lambat, maka kuyakin dapat kupatahkan tebasan pedang Pui-siauhiap itu. Namun datangnya tebasan justru sedemikian tepat sehingga tombakku sama sekali tidak dapat bergerak lagi."

"Haha, hari ini orang she Kim benar-benar baru melek setelah menyaksikan ilmu pedang Pui-siauhiap yang hebat itu,"

Seru Kim Co-lim.

"Sayang di sini tidak ada arak, kalau ada, tanggung ingin kuhormatimu tiga cawan."

"Bilamana Saudara tidak menolak, bagaimana kalau mampir ke tempatku untuk minum sekadarnya?"

Kata Lu In.

"Kelak pasti akan kupenuhi undangan Lu-heng,"

Kata Po-giok dengan tersenyum.

"Tapi sekarang ...."

"Apakah sekarang Pui-siauhiap masih ada urusan lain?"

Tukas Lu In. Mendadak Thi-wah memotong.

"Toakoku harus menempur 40 tempat dalam dua bulan ini, dengan sendirinya dia belum sempat minum arak bersamamu." ***** Kah-hi-sia, sebuah kota di tepi pantai Tiangkang. Siang-hi-piaukiok, sebuah perusahaan pengawalan barang di kota tersebut cukup terkenal di utara dan selatan Tiangkang. Ke mana Siang-hi-piaukiok mengawal barang, kawan dari kalangan putih maupun golongan hitam tentu suka membantunya. Kedua Hi bersaudara pendiri piaukiok itu, si adik Hi Gin-kah sudah lama meninggal dunia, si kakak Hi Kim-kah juga sudah pensiun tiga tahun yang lalu dan hidup aman tenteram di rumah. Namun selama ini usaha Siang-hi-piaukiok sama sekali tidak mundur, bahkan tambah maju. Semua ini berkat pemimpinnya sekarang, yaitu putra Hi Gin-kah, yang mewarisi keluarga Hi itu, ilmu silatnya tinggi, cerdik dan cekatan, namanya Hi Toan-kah. Pagi hari ini cuaca terang tanpa kabut. Di pinggir kota, di tepi sungai, rombongan Ban Cu-liang bersama Pui Po-giok yang berbaju ungu sudah menanti di situ. Air sungai mengalir dengan derasnya, sang surya memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang, hari sudah cukup siang. Kening Kim Co-lim bekernyit, omelnya.

"Besar amat lagak Hi Toan-kah, sudah siang begini belum lagi muncul."

"Hi Toan-kah berjuluk Kang-siang-hui-hoa (Bunga Terbang di Atas Sungai), selain goloknya yang dimainkan dengan bergelindingan di tanah, kepandaian andalan yang khas, dia juga selalu menggunakan am-gi (senjata gelap, rahasia) Hui-hi-ji yang ampuh ...."

"Ya, kabarnya sambil bergelindingan di tanah dengan memainkan golok dan tongkat andalannya, sekaligus ia pun dapat menyambitkan am-gi,"

Tukas Kongsun Put-ti.

"Setelah Hi Kim-kah mengasingkan diri, pernah seorang bajak Tiangkang yang terkenal sebagai Hing-kang-tiong bermaksud mengganggu kereta barang kawalan Siang-hi-piaukiok, tapi tidak sampai 20 jurus bajak itu telah dihabisi oleh Hi Toan-kah dengan golok, tongkat, dan senjata rahasianya. Maka dapat dibayangkan betapa hebat kepandaiannya, hendaknya Po-ji waspada terhadap dia."

Po-giok tersenyum, belum lagi ia menanggapi mendadak Thi-wah berseru.

"Itu dia datang!"

Selain tajam penglihatannya, tingginya juga satu kepala melebihi orang lain, dengan sendirinya tempat yang dapat dipandangnya lebih jauh daripada orang lain.

Benar juga, terlihat serombongan orang berduyun-duyun menuju ke tepi sungai sini.

Terlihat seorang yang menjadi kepalanya berjalan di depan, perawakannya pendek kecil, berbaju perlente, langkahnya gesit.

"Orang inilah Kang-siang-hui-hoa Hi Toan-kah,"

Ucap Ban Cu-liang.

"Waktu Lu In memenuhi tantangan dia cuma membawa empat pengikut,"

Ujar Kim Co-lim dengan kening bekernyit.

"Tapi orang ini membawa anak buah sebanyak ini, memangnya dia sengaja hendak pamer kekuatan terhadap kita atau ingin menang dengan jumlah banyak?"

Ban Cu-liang menanggapi.

"Orang ini terkenal cerdik, tapi bukanlah manusia licik, yang ikut datang ini mungkin orang yang ingin menonton keramaian."

Dia memang tokoh Kangouw kawakan, dugaannya memang betul.

Di tengah rombongan pengikut itu kecuali dua orang jago pengawal Siang-hi-piaukiok dan seorang pesuruh, 30 orang selebihnya memang betul kaum penonton belaka yang ingin melihat betapa hebat jago muda yang sekali gebrak dapat mengalahkan Po-ma-sin-jiang itu.

Baju Hi Toan-kah yang perlente itu memantulkan cahaya gemilapan tertimpa sinar matahari.

Dengan perawakannya yang pendek kecil itu, dia kelihatan agak angkuh.

Sesudah agak dekat, ia ambil golok dan tongkat dari pengikutnya, lalu melangkah ke depan mendahului rombongannya.

Po-giok memapaknya dan menyapa sambil menghormat.

"Pui Po-giok sudah menantikan kedatangan Anda!"

Meski masih muda usia Hi Toan-kah, namun tingkahnya sabar dan mantap, tidak sembarang bicara dan tidak sembarang bertindak.

Ia pandang Po-giok sekejap, mau tak mau wajahnya menampilkan rasa memuji.

Tetap In-bong-tayhiap Ban Cu-liang yang menjadi saksi, setelah kedua pihak berbasa-basi sekadarnya, lalu mereka siap tempur.

Para penonton serentak ramai membicarakan pertarungan yang akan terjadi.

"Manusia dikenal dari namanya, pohon besar dengan bayangannya, Ban-tayhiap ini memang seorang kesatria hebat. Dan entah kesatria muda she Pui ada sangkut paut apa dengan beliau?"

"Beberapa orang di belakangnya itu adalah Jit-tay-tecu (ketujuh murid besar) yang menonjol akhir-akhir ini. Tampaknya mereka memang hebat, agaknya ada hubungan erat juga dengan Pui-siauhiap."

"Wah, gagah benar yang tinggi besar itu, siapa pula dia?"

Begitulah beramai-ramai mereka membicarakan rombongan Pui Po-giok itu, sejauh ini orang Kangouw belum lagi mengetahui asal usul Po-giok dan Thi-wah, hanya diketahui ilmu silatnya sangat lihai, selebihnya hanya main raba saja.

Perlahan Hi Toan-kah mulai bicara.

"Telah kuterima berita kilat Lu-heng bahwa ilmu silat Pui-siauhiap mahasakti dan merupakan bintang kejora dunia persilatan, sungguh orang she Hi ikut bersyukur dan gembira."

"Terima kasih,"

Kata Po-ji.

"Waktu kecil pernah kudengar cerita paman bahwa di dunia Kangouw ada seorang anak ajaib yang telah menerima amanat Ci-ih-hou pada waktu beliau menghadapi maut dan diberi tugas kewajiban untuk menempur si tokoh baju putih kelak, pernah pula anak ajaib tersebut menyelamatkan anak murid dan kerabat Ci-ih-hou, ikut menghancurkan Thian-hong-pang dan perang lidah dengan kawanan orang gagah di Wi-ho-lau serta membongkar muslihat keji Ong Poan-hiap, ternyata hari ini dapat berjumpa sendiri dengan Pui-heng yang memang luar biasa, kuyakin Pui-heng sendirilah anak ...."

"Betul,"

Sela Po-giok dengan tersenyum.

"memang akulah Pui Po-giok yang merupakan anak nakal yang dimaksudkan itu."

Serentak terdengar suara mendesis orang banyak, di antaranya ada suara orang perempuan pula. Wajah Hi Toan-kah yang prihatin itu tampak menampilkan senyuman juga, katanya pula.

"Ternyata dugaan adik perempuanku memang tidak salah. Tampaknya hari ini Pui-heng harus menghadapi beberapa urusan sulit pula."

"Oo, apa maksud Hi-heng?"

Tanya Po-giok.

"Soalnya adik perempuanku sejak kecil sudah sangat kagum terhadap anak ajaib yang diceritakan itu, maka sekarang dia minta kutanya kepada Pui-heng, bilamana Pui-heng memang betul anak ajaib dunia persilatan yang dimaksudkan itu, maka adik perempuanku ingin ...."

Belum habis ucapannya, mendadak dari kerumunan orang banyak melompat keluar dua sosok bayangan.

Meski berdandan serupa orang lelaki, namun dari mata-alisnya dan wajahnya segera orang akan tahu mereka adalah samaran orang perempuan.

Warna baju keduanya tidak sama, yang satu berbaju hijau, yang lain berwarna merah, mereka melompat ke depan Pui Po-giok, lalu memandang anak muda itu dengan muka merah dan tersenyum kikuk tanpa bicara.

Hi Toan-kah menunjuk si gadis baju hijau dan berkata pula.

"Inilah adik perempuanku Hong-kah, dan yang itu adalah nona Pang, putra kesayangan keluarga Pang yang terkenal Kanglam-thi-ciang (Telapak Tangan Besi dari Kanglam), namanya Soh-bun. Kedua nona ini selain ingin 339 bertemu dengan Pui-heng, mereka juga ingin minta sesuatu kepadamu untuk sekadar tanda mata."

Bahwa di tengah pertarungan sengit yang akan terjadi tiba-tiba diseling oleh adegan demikian, semua orang sama bersorak geli.

Muka Pui Po-giok menjadi merah juga.

Ia gelagapan dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Hi Hong-kah dan Pang Soh-bun memandangi muka Po-giok yang putih bersemu merah, muka yang cakap agak malu-malu itu sungguh membuat hati setiap gadis tergiur.

Kedua nona ini pun lebih genit daripada gadis lain, tanpa sungkan mereka terus memburu maju, yang satu menarik lengan baju Po-giok, yang lain meraih dada bajunya.

Sama sekali Po-ji tidak menyangka kedua nona ini sedemikian berani, keruan ia sendiri melongo kikuk.

Ia tidak tahu bahwa putra-putri keluarga persilatan ternama umumnya sok menggunakan pengaruh orang tua atau saudara dan sudah terbiasa manja serta melakukan sesuatu semau sendiri, dan kaum gadisnya juga bukan gadis pingitan yang malu-malu bertemu dengan orang luar.

Karena hidupnya terlampau iseng, sering mereka memeras otak mencari sesuatu permainan baru untuk mengisi kekosongan hidup mereka, tidak jarang mereka mencari macam-macam kesenangan untuk mengadu keunggulan masing-masing maka bila mereka ingin mengerjakan sesuatu, apa pun berani dilakukan mereka.

Apalagi cuma meraba dan memegang baju Po-giok.

Di tengah keplok tertawa orang banyak, Hi Toan-kah berkata dengan menyengir.

"Wah, adik perempuanku kurang adat, harap Pui-siauhiap jangan marah dan sekarang mohon Pui-siauhiap memberi petunjuk."

Po-giok menenangkan pikiran, lalu menjawab dengan hormat.

"Silakan!"

Dilihatnya tangan Hi Toan-kah sudah bertambah sepasang senjata luar biasa, tangan kanan memegang golok pendek sepanjang dua kaki dan tangan kiri memegang tongkat besi biasa, namun bobot dan ukurannya juga jauh lebih kecil daripada tongkat umumnya.

Kedua macam senjata Hi Toan-kah ini tampaknya kecil serupa mainan anak kecil, namun dalam pandangan Po-giok justru cukup membuatnya prihatin.

Sebab ia tahu, semakin pendek sesuatu senjata, semakin berbahaya pula serangannya.

Terdengar Hi Toan-kah membentak perlahan, dengan setengah berjongkok ia terus berputar kian kemari.

Mendadak ia membentak perlahan pula, tongkat kiri menohok ke depan, golok kanan lantas menikam dari bawah tongkat, sinar perak menyambar pinggang Po-giok.

Jurus serangan ini tidak istimewa, hanya kecepatannya yang luar biasa.

Po-giok mengegos perlahan, senjata Hi Toan-kah berputar pula dengan cepat, tongkat menyabet dan golok menusuk.

Setelah tiga jurus berlangsung, mendadak golok dan tongkat berubah menjadi segulung cahaya perak terus menggelinding ke arah Po-giok.

Terlihat gulungan sinar itu terus berputar mengelilingi Po-giok, tiada seorang pun mampu membedakan lagi bayangan tubuh Hi Toan-kah.

Baru sekarang semua orang tahu baju warna-warni yang dipakai Hi Toan-kah itu ternyata juga ada gunanya, yaitu untuk membuat silau lawan pada waktu bertempur.

Nyata setiap gerak-gerik Hi Toan-kah itu sudah terpikir dengan baik dan mengandung maksud tertentu.

Sudah belasan jurus Pui Po-giok terancam bahaya, beberapa kali bayangan tongkat dan golok seakan-akan menembus bajunya, namun dia tetap tidak balas menyerang.

Semua orang mulai tidak sabar, banyak yang menggerundel.

Tiba-tiba seorang berseru nyaring.

"Pui Po-giok, ayolah turun tangan!"

Ternyata yang bersuara adalah Hi Hong-kah, adik perempuan Hi Toan-kah sendiri, dia tidak membantu kakak sendiri, sebaliknya malah memihak Pui Po-giok.

Kim Co-lim menggeleng kepala dan berucap dengan tertawa.

"Tampaknya selanjutnya rezeki Po-ji dalam hal orang perempuan pasti sangat beruntung, akan tetapi pasti juga akan menimbulkan banyak kesulitan baginya."

Bok Put-kut ikut berkata.

"Ya, asal saja dia tidak ... aduuh!"

Kiranya selagi mereka bicara, mendadak golok Hi Toan-kah menikam perut Pui Po-ji dan tampaknya perut anak muda itu segera akan tembus, sebab itulah Bok Put-kut menjerit khawatir.

Tak terduga, entah bagaimana caranya, tahu-tahu Po-giok dapat menghindarkan serangan yang tampaknya tidak mungkin dielak itu.

Dan pada saat itulah pedang kayu yang dipegangnya menebas perlahan ke depan.

Pedang menembus bayangan tongkat dan golok, terdengar serentetan suara senjata beradu, mendadak bayangan golok dan tongkat menyurut dan lenyap, tahu-tahu Hi Toan-kah telah berdiri dan senjata yang dipegangnya terkulai ke bawah.

Ternyata berpuluh pasang penonton yang hadir di situ tiada seorang pun yang tahu cara bagaimana Hi Toan-kah dikalahkan.

Terlihat Po-giok mengangkat pedang kayu ke atas, batang pedang kayu memantulkan cahaya mengilat, waktu tangan Po-giok bergetar, serentak cahaya mengilat itu sama rontok dan jatuh ke tangan Po-giok, kiranya belasan buah Hui-hi-ji atau senjata rahasia cundrik kecil berbentuk ikan.

Bok Put-kut menghela napas dan berkata.

"Tiga kepandaian khas Hi Toan-kah memang tidak bernama kosong, cara bagaimana dia menghamburkan Hui-hi-ji ternyata tidak kulihat sama sekali."

Ban Cu-liang tersenyum, ucapnya.

"Meski hebat cara Hi Toan-kah menyambitkan senjata rahasia, namun kungfu Po-ji sekarang pun sukar dibayangkan, dia ternyata sudah dapat menduga dari mana senjata rahasia Hi Toan-kah akan dihamburkan, maka begitu pedangnya menembus bayangan senjata lawan, pada tempat itu juga dia menyambut datangnya senjata rahasia Hi Toan-kah. Dan pada waktu menghamburkan senjata rahasia dengan sendirinya Hi Toan-kah juga memperlihatkan bagian luang sehingga kesempatan itu digunakan pedang Po-ji untuk menutuk Hiat-to lawan."

Karena analisis pendekar ini barulah orang mengerti duduknya perkara, sebelumnya mereka tidak menyangka ilmu pedang Po-ji akan begitu hebat, tidak ada yang membayangkan di dunia ini ada orang dapat memainkan ilmu pedang dengan perhitungan waktu dan tempat yang begitu tepat.

Maka terdengarlah sorak puji orang banyak, di antaranya terdapat pula suara anak perempuan.

Sebaliknya Hi Hong-kah ternyata tidak bersuara, rupanya ia sendiri melongo heran, sambil masih memegang ujung baju Po-ji ia bergumam.

"Pui Po-giok ... Pui Po-giok ...." ***** Jalan raya di tengah kota Hap-pui-sia membentang dari arah barat ke timur, cukup panjang 341 sehingga sepintas pandang sukar melihat ujung jalan sana. Lebar jalan raya cukup dibuat lewat dua kereta, toko berderet di kedua tepi jalan, orang berlalu-lalang dengan ramainya. Selain merupakan jalan raya yang paling ramai, di sini juga berkumpul rumah perguruan silat. Di ujung jalan menjulang tinggi bangunan berloteng Thian-kiau-tay-ciu-lau yang biasa menjadi tempat berkumpulnya orang Kangouw. Menjelang petang, hampir tidak ada tempat kosong lagi di restoran itu. Pengunjungnya kebanyakan adalah orang Kangouw, yang dibicarakan dengan sendirinya juga peristiwa topik dunia Kangouw.

"Pui Po-giok ... Pui Po-giok ...."

Entah siapa yang mendahului menyebut nama itu.

Hanya tiga kata yang sederhana ternyata memiliki daya tarik yang aneh.

Begitu nama itu disebut, seketika menarik perhatian setiap orang yang hadir di situ.

Seorang jago tua beruban agaknya sangat luas pengalamannya, ia berseru.

"Sudah berpuluh tahun aku berkelana di dunia Kangouw, tapi sejauh ini belum ada seorang kesatria Kangouw yang dapat terkenal seperti Pui Po-giok ini."

"Ya, padahal terkenalnya Pui Po-giok hanya terjadi dalam belasan hari yang lalu saja,"

Demikian seorang kawannya menanggapi.

"Tapi sekarang namanya hampir tersiar ke seluruh pelosok dunia. Bilamana ada orang Kangouw yang tidak tahu Pui Po-giok, maka orang itu kalau bukan orang tuli tentulah orang dungu. Ai, hanya dalam belasan hari belasan tokoh telah ditaklukkan pula, pantas namanya menjulang tinggi ke langit."

Begitulah, sekali ada orang buka suara lebih dulu, serentak memancing pembicaraan orang banyak.

Maka ketahuanlah bahwa selama belasan hari ini, tokoh-tokoh yang telah dikalahkan oleh Po-ji selain Hi Toan-kah dan Lu In ada lagi Kong Sin-sing dari Bujiang, Tan Ek-sia dari Kiukang, Ko Koan-ing dari Lamjiang, Tio Kiam-beng dari Hekmui, malahan seorang lelaki gagah dari selatan menambahkan bahwa dia sendiri menyaksikan Pui Po-giok mengalahkan Him Hiong di lereng Siau-koh-san.

"Hah, jadi To-pi-him (si Beruang Berlengan Banyak) juga dikalahkan olehnya?"

Seorang menegas dengan terkejut.

"Betul,"

Jawab orang itu.

"Padahal To-pi-him terkenal sekaligus dapat menggunakan berbagai senjata rahasia, makanya dia mendapat julukan beruang berlengan banyak, akan tetapi hujan senjata rahasia yang dihamburkannya ternyata tidak dapat menyentuh ujung baju Pui Po-giok, dan hanya tiga jurus saja pedang kayu Pui Po-giok bergerak, lalu Him-tayhiap tunduk dan mengaku kalah."

"Wah, di dunia masakah adalah ilmu pedang sehebat itu? Sungguh sukar untuk dipercaya!"

"Jika tidak kusaksikan sendiri, memang aku juga tidak percaya. Waktu itu, selain diriku juga masih disaksikan banyak kawan Kangouw yang berjumlah ratusan orang, semuanya sama terkesiap melihat ilmu pedang sehebat itu. Ketika perasaan orang mulai tenang kembali dan bermaksud memuji pendekar muda itu, ternyata Pui-siauhiap itu sudah pergi."

"Mengapa dia mengeluyur pergi begitu saja, jangan-jangan ada yang ditakutinya?"

Tanya seorang.

"Saudara tidak tahu,"

Ujar lelaki kekar itu dengan tersenyum penuh rahasia.

"biarpun Pui-siauhiap itu gagah perkasa ternyata juga tidak terhindar dari godaan orang perempuan?"

"Oo, dia juga tergoda oleh orang perempuan? Bagaimana ceritanya?"

Tanya orang itu.

"Urusan ini diawali oleh kedua nona Hi Hong-kah dan Pang Soh-bun, karena rasa kagum 342 mereka kepada sang pahlawan muda, mereka telah merobek dua potong kain baju Pui-siauhiap sebagai tanda mata. Sejak itu, sepanjang jalan tidak sedikit anak gadis keluarga pendekar sama menguntit perjalanan Pui-siauhiap dan sama berdaya ingin memperoleh satu-dua macam benda tanda mata dari pendekar muda kita. Setiap kali usia bertanding, serentak kawanan gadis itu berkerumun maju dan membuat Pui-siauhiap ketakutan dan memaksa mengacir sejauhnya."

"Aku hidup setua ini, belum pernah kudengar kejadian aneh begini,"

Ujar seorang tua.

"Ya, peristiwa demikian memang belum pernah terjadi di dunia Kangouw. Sungguh lucu juga melihat sebanyak itu anak gadis tergila-gila terhadap Pui Po-giok itu. Akan tetapi bila dipikir lagi, bilamana Pui Po-giok itu tidak muda dan gagah, tidak memiliki kungfu sehebat itu, tentunya takkan membuat kawanan gadis tergila-gila padanya."

"Jika demikian, pendekar muda itu tentulah kesatria muda yang jarang ada di dunia persilatan, sayang sejauh ini aku tidak sempat melihat wajahnya."

"Sebenarnya Pui-siauhiap itu juga tidak terlampau cakap,"

Tutur seorang.

"Cuma dia memang ganteng dan mempunyai daya tarik yang sukar dilukiskan, terlebih senyumnya yang acuh tak acuh itu .... Ai, seumpama aku menjadi anak gadis pasti juga akan tergila-gila padanya."

"Pantas setiap kali pertandingan usai segera ia mengeluyur pergi di luar tahu orang."

"Setelah pertandingan di Siau-koh-san, setiap orang Kangouw bertambah kagum dan memuja Pui Po-giok itu. Anehnya, beberapa lawannya yang terkenal licik dan culas seperti Tan Ek-sing dari Kiukang dan Sun Giok-liong dari Moa-sia, sama sekali mereka tidak berani menggunakan muslihat keji untuk menjebak Pui-siauhiap."

"Seharusnya saudara maklum, selain perkasa, Pui Po-giok itu juga didampingi oleh Ban Cu-liang dan ketujuh murid utama perguruan terkemuka, siapa pula di dunia ini yang berani membikin celaka pendekar muda itu dengan cara keji?"

"Betul, Ban-tayhiap sudah jelas, konon kecerdasan jago muda dari Bu-tong-pay Kongsun Put-ti juga tidak ada bandingannya, biarpun orang bermaksud keji juga sukar mengelabui mata telinganya."

"Dan entah pertandingan selanjutnya siapa yang akan dihadapi Pui-siauhiap?"

"Kabarnya untuk menghindari kerumunan penonton yang terlampau banyak dan mungkin akan banyak menimbulkan urusan tidak perlu, maka sedapatnya Pui-siauhiap merahasiakan jejaknya, siapa pun tidak tahu tempat tujuan selanjutnya. Tapi menurut dugaanku, lawan yang akan dihadapinya besok tentulah Siau-tiocu di kota ini, makanya malam ini juga kudatang kemari untuk melihat tontonan menarik besok."

"Tujuanmu memang cocok dengan maksud kedatangan kami, tapi sampai sekarang setahuku Siau-tiocu sendiri belum lagi menerima surat tantangan Pui-siauhiap itu, mungkin besok tidak ...."

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba seorang pemuda berlari ke atas loteng dengan penuh semangat, teriaknya dengan megap-megap.

"Sudah ... sudah datang ...."

Pemuda itu dikenal orang sebagai murid perguruan Siau-tiocu, namanya Li Eng-jing, maka orang banyak sama tanya.

"Sudah datang apa?"

"Ternyata tidak sia-sia kalian menunggu di sini,"

Tutur Li Eng-jing.

"Surat Pui-siauhiap ini belum lama ini sudah diterima oleh guruku."

"Hah, jika surat tantangan sudah datang orangnya tentu juga sudah berada di tempat ini, bagaimana kalau kita coba melihat dulu orang macam apakah pendekar muda itu?"

"Kota sebesar ini, ke mana akan kita cari dia?"

Tanya seorang.

"Kukira tidak sukar. Menghadapi pertarungan besok, betapa pun Pui Po-giok itu pasti akan istirahat dengan baik dan takkan tinggal di tempat terbuka. Jika dia tidak suka tinggal di rumah kawan persilatan, bila kita mencari setiap rumah penginapan di kota ini, mustahil takkan menemukan dia?"

Semua orang menyatakan benar, beramai-ramai mereka lantas meninggalkan restoran itu.

Dasar anak muda dan suka ramai-ramai, Li Eng-jing yang kenal baik kota tempat tinggalnya ini secara sukarela menjadi penunjuk jalan bagi orang banyak.

Akan tetapi meski berpuluh hotel yang terdapat di kota Hap-pui ini telah mereka datangi, tetap tidak menemukan bayangan Pui Po-giok, malahan banyak bertambah lagi penonton yang baru datang sehingga rombongan pencari Pui Po-giok ini bertambah besar.

Akhirnya ada orang mengusul.

"Jika hotel di dalam kota tidak kita temukan dia, di luar kota masih ada tiga buah hotel, marilah kita mencari ke sana ...."

Beramai-ramai orang banyak menyatakan setuju pula dan berbondong-bondong mereka lantas keluar kota ....

Pada saat itu juga ada dua buah kereta penumpang besar beriring masuk ke kota dan berhenti di depan sebuah hotel yang kurang laku di pinggir kota.

Penumpang kereta itu adalah Ban Cu-liang, Kim Co-lim, Gu Thi-wah, ketujuh murid utama dan Pui Po-giok.

Kesebelas orang turun dari kereta dan masuk ke hotel tanpa dipergoki siapa pun.

Dengan tersenyum Ban Cu-liang berkata.

"Gagasan Kongsun-jihiap memang betul, setelah hotel ini didatangi mereka baru kita memondok di sini, tentu mereka takkan dapat menemukan jejak kita."

Nyata kecerdasan Kongsun Put-ti sekarang benar-benar sangat dikagumi jago kawakan seperti Ban Cu-liang dan lain-lain, sebab itulah sepanjang jalan meski resminya Ban Cu-liang yang mengatur segalanya, diam-diam Kongsun Put-ti juga ikut memberi saran yang tepat dan sepanjang jalan ternyata banyak terhindar dari kesulitan penguntitan orang banyak.

Kondisi Pui Po-giok sekarang juga lebih memuaskan, fisik dan mentalnya sudah mencapai puncaknya.

Semua orang cepat membersihkan badan, lalu akan makan malam, untuk menjaga kondisi Pui Po-giok, arak sama sekali dilarang minum.

Keruan yang runyam ialah Kim Co-lim, mendingan ia tahan sekuatnya.

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli Jin Yong

Baca Juga: Medali Wasiat 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert