Eps 7 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.
Selagi semua orang masuk ke ruangan makan dan hendak pesan santapan, tahu-tahu di ruang makan sudah siap dua meja penuh makanan, arak pun kelihatan tersedia, mangkuk piring sudah siap, di bawah cahaya lampu yang terang namun tiada terlihat seorang pun.
Kim Co-lim menahan air liur melihat santapan dan arak yang mengepul hangat itu, sedangkan Kongsun Put-ti berkerut kening, ia panggil pelayan dan bertanya.
"Jika di sini ada orang tamu, boleh kau antar santapan kami ke kamar."
"Di sini selain rombongan tuan-tuan tidak ada tetamu lain lagi,"
Tutur si pelayan.
"Lantas siapa pula yang memesan santapan ini?"
Tanya Kongsun Put-ti melengak.
"Santapan ini dipesan oleh Auyang-hujin dari perguruan Auyang di kota ini dan khusus disiapkan untuk tuan-tuan, masa tuan tidak tahu malah?"
Ujar si pelayan. Berubah air muka Kongsun Put-ti, ia menegas.
"Auyang-hujin? Dari mana ia tahu kami tinggal di sini?"
Ia coba memandang kawan-kawannya, semua orang sama menggeleng tanda heran. Si pelayan juga merasa heran, gumamnya.
"Selain menyuruh menyiapkan santapan ini, sampai kamar tuan-tuan juga dipesan sebelumnya oleh Auyang-hujin, masakah ... masakah semua ini bisa salah?"
"Tidak, tidak salah,"
Ucap Kongsun Put-ti.
"Sudahlah, boleh kau pergi saja, bila perlu baru kupanggil."
Pelayan mengiakan dan mengundurkan diri dengan hormat dan tetap diliputi rasa sangsi.
"Orang macam apakah Auyang-hujin itu, apakah kalian kenal dia?"
Tanya Ban Cu-liang dengan heran.
"Jika Ban-tayhiap saja tidak kenal dia, apalagi kami,"
Ujar Bok Put-kut.
"Tapi dari mana ia tahu kita tinggal di sini?"
Ucap Kongsun Put-ti dengan kening bekernyit.
"Dan mengapa pula ia sediakan perjamuan ini? .... Jangan-jangan ada sesuatu tipu muslihat di balik urusan ini?"
"Ah, peduli amat, paling perlu sabet saja santapan ini,"
Teriak Thi-wah.
"Betul!"
Tukas Kim Put-we dengan tertawa.
"Ya, takut apa,"
Ujar Kim Co-lim.
"Betapa pun Auyang Thian-kiau juga seorang tokoh terkemuka, masakah sampai menggunakan racun segala?"
"Meski Auyang Thian-kiau seorang tokoh terhormat, tapi bagaimana dengan istrinya, siapa yang tahu?"
Kata Kongsun Put-ti. Kim Put-we melengak dan tidak dapat menjawab. Tiba-tiba terlihat pelayan tadi berlari masuk sambil membawa sehelai kartu merah, serunya.
"Di luar ada seorang Auyang-hujin minta bertemu dengan tuan-tuan."
Dengan prihatin Ban Cu-liang menerima kartu merah itu, terlihat nama yang tertulis pada kartu itu adalah "Auyang Cu"
Dan tidak ada nama Auyang Thian-kiau. Dengan kening bekernyit Kongsun Put-ti berkata.
"Auyang Thian-kiau belum lagi muncul, ternyata Auyang-hujin sudah datang lebih dulu. Memangnya apa maksudnya sedemikian memerhatikan jejak kita?"
Semua orang saling pandang dan sama menganggap tindak tanduk Auyang-hujin ini agak misterius. Biarpun Kongsun Put-ti yang biasanya cerdik dan banyak akal juga sukar meraba maksud tujuan orang.
"Terima dia atau tidak?"
Tanya Ban Cu-liang sambil menatap Kongsun Put-ti.
Belum lenyap suaranya terdengarlah suara gemerencing perhiasan orang perempuan waktu berjalan disertai mengikik tawa genit berkumandang dari luar pintu.
"Biarpun tidak mau menemuinya juga tidak bisa mengelak lagi,"
Ujar Bok Put-kut dengan menyesal, segera ia mendahului berbangkit.
Maka tertampaklah seorang perempuan cantik berdandan putri istana dengan penuh hiasan batu permata melangkah masuk dengan gemulai.
Ban Cu-liang memberi hormat dan menyapa.
"Entah ada keperluan apa atas kunjungan Hujin?"
Si cantik mengerling para hadirin sekejap, tiba-tiba pandangannya berhenti pada diri Pui Po-giok, katanya dengan tertawa.
"Kudatang untuk melihat dia ini!"
Kening Ban Cu-liang bekernyit, ia tahu kedatangannya sengaja hendak merecoki Pui Po-giok. Siapa tahu, begitu melihat si cantik, keadaan Po-giok juga serupa orang linglung.
"Po-ji,"
Ucap si cantik perlahan.
"apakah masih kenal padaku?"
Mendadak Po-giok berseru dan melompat ke depan si cantik, sambil memegang pundak orang ia berteriak.
"Hah, kau Cu-ji!"
"Betul, aku inilah Cu-ji ...."
Ucap si cantik dengan suara agak gemetar.
"Oo, Po-ji sayang, tak tersangka engkau masih ... masih kenal diriku ...."
Belum habis ucapannya berderailah air matanya.
Semua orang tidak menyangka Auyang-hujin ini ternyata kenalan Po-giok, malahan antara keduanya kelihatan sangat akrab.
Kiranya si cantik berdandan putri istana dan bernama Auyang Cu ini ternyata bukan lain daripada Cu-ji, si pelayan cantik di kapal layar pancawarna dahulu itu.
Pelayan masa lampau kini ternyata sudah menjadi anggota keluarga guru silat ternama.
Selama sekian tahun, dengan sendirinya Cu-ji juga mempunyai pengalaman yang pahit, namun pengalaman Po-giok terlebih lain daripada yang lain, dengan sendirinya keduanya ingin menceritakan suka-duka masing-masing selama berpisah.
Melihat Cu-ji dengan sendirinya semakin menimbulkan rasa rindu Po-giok terhadap Oh Put-jiu, Cui Thian-ki dan Siaukongcu, seketika ia tidak tahu bagaimana harus mulai bicara.
Meski Kongsun Put-ti dan lain-lain khawatir pikiran Po-giok akan terpengaruh selagi menghadapi pertandingan seru nanti, tapi dalam keadaan demikian, siapa pula yang dapat merintangi anak muda itu.
Dengan air mata berlinang, Cu-ji alias Auyang Cu berkata dengan tertawa.
"Ketika kudengar di dunia Kangouw sekarang muncul seorang kesatria muda, segera dapat kuduga selain Po-ji tidak ada orang lain, dan ... dan dugaanku ternyata tidak salah. Cuma tidak tersangka olehku bahwa anak yang nakal dahulu itu kini bisa berubah segagah dan setampan ini. Pantas ... pantas kawanan gadis Kangouw sama tergila-gila padamu."
Muka Po-giok menjadi merah. Auyang Cu memandang sekeliling sekejap, lalu berkata.
"Sekian lama berkat perhatian kalian terhadap Po-ji, biarlah di sini kusuguh kalian satu cawan."
Kerongkongan Kim Co-lim sejak tadi sudah getol minum arak, serentak ia menjawab.
"Ya, terima kasih!"
Auyang Cu mendahului menghabiskan isi cawan disusul oleh Kim Co-lim, mau tak mau orang lain juga ikut minum. Dan begitu arak masuk kerongkongan, terasalah hawa hangat mengalir ke perut.
"Arak bagus, arak enak!"
Berulang Kim Co-lim memuji.
"Sudah sekian lama kuminum arak, namun Li-ji-ang selezat ini baru pertama kali ini kurasakan."
"Inilah arak Li-ji-ang yang kubeli dari daerah Kanglam dengan harga mahal,"
Tutur Auyang Cu.
"Ayolah silakan minum beberapa cawan lagi .... Eh, Po-ji menurut pendapatmu, bagaimana kita harus minum sepuasnya?"
Rasa girang Po-giok sukar dilukiskan karena dapat bertemu kembali dengan kenalan lama, serentak ia pun minum tiga cawan.
Sebaliknya Kongsun Put-ti berkerut kening menyaksikan cara mereka minum arak.
Kecuali Kongsun Put-ti, semua orang ikut gembira bagi Po-ji, sampai Bok Put-kut, Ciok Put-wi dan lain-lain juga ikut minum beberapa cawan.
"Eh, Po-ji, apakah engkau masih ingat dahulu Siaukongcu sengaja menyiksa dirimu, sebentar-sebentar ia sengaja menyuruhmu merangkak kian kemari, lain saat mendadak ia minta engkau berjumpalitan ...."
"Mana aku bisa lupa,"
Ujar Po-giok dengan tertawa.
"Yang paling konyol adalah ketika ia minta aku menangis, sungguh runyam, mana aku dapat menangis begitu saja, terpaksa kupoles air ludah pada pipiku."
Bicara kejadian masa lampau, terbayang olehnya ketika ia dipermainkan oleh putri cilik itu, tanpa terasa ia tergelak geli. Begitulah kedua orang sembari minum sambil tertawa riang.
"Tapi waktu Siaukongcu melihat nona Cui itu, dia jadi mati kutu dan sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa,"
Ujar Auyang Cu dengan geli.
"Akan tetapi nona Cui itu justru takut tikus, tentu kau masih ingat ...."
Dengan sendirinya orang lain tidak dapat ikut campur bercakap kejadian masa lampau, tapi melihat kedua orang itu tertawa gembira, tanpa terasa mereka pun ikut senang.
Tiba-tiba Auyang Cu menghela napas panjang, katanya.
"Cuma sayang, sang waktu yang sudah lalu tidak dapat kembali lagi. Nona Cui dan Siaukongcu entah ... entah ke mana perginya ...."
Sampai di sini wajahnya yang riang tadi berubah murung dan air mata pun mulai meleleh pula.
Dengan sendirinya hati Po-giok juga ikut pedih bila terkenang kepada Cui Thian-ki dan Siaukongcu, ia pun bergumam.
"Ya, di mana kalian sekarang ... di mana ...."
Barang siapa bila pikiran sedang resah, waktu minum arak tentu jauh lebih banyak daripada biasanya.
Maka berulang-ulang Po-giok menenggak isi cawannya, orang lain pun tidak dapat mencegahnya.
Meski Kongsun Put-ti hanya minum ala kadarnya, kini telah dirasakan juga bekerjanya arak itu ternyata luar biasa, waktu masuk mulut tidak terasa keras, namun setelah masuk perut, kekuatan arak lantas bergerak dengan kuat.
Waktu ia berpaling, terlihat kawan-kawannya juga banyak yang terpengaruh minuman keras itu.
Kongsun Put-ti terkesiap, pikirnya.
"Jangan-jangan malam ini Auyang-hujin ini sengaja hendak mencekoki Po-ji hingga mabuk agar besok Po-ji tidak sanggup melawan suaminya?"
Timbulnya pikiran ini membuatnya waspada. Siapa tahu pada saat itulah tampak Auyang Cu berdiri perlahan, katanya dengan tertawa.
"Meski ingin kuminum lagi bersamamu, namun esok pagi engkau harus bertanding, tidak boleh 347 kau minum sampai mabuk, maka lebih baik engkau istirahat saja. Hendaknya besok dapat kau hajar lakiku itu hingga tunduk benar-benar sekadar untuk melampiaskan gemasku kepadanya."
Ia datang dengan suara tertawa nyaring dan sekarang pergi dengan tertawa genit pula, memandangi bayangannya yang menghilang di luar, perasaan semua orang terasa agak bimbang.
Diam-diam Kongsun Put-ti membatin.
"Agaknya aku salah sangka buruk padanya, mengingat hubungan baiknya dengan Po-ji, rasanya tidak mungkin ia membikin susah Po-ji."
Esok paginya Kongsun Put-ti terjaga bangun oleh suara berisik.
Dilihatnya hari sudah terang benderang di luar, padahal biasanya, ia bangun cukup pagi, sedikitnya satu jam lebih dini daripada sekarang.
Diam-diam ia mengomeli diri sendiri, di samping itu ia pun heran, sebab selama bertahun-tahun digembleng di Bu-tong-san, betapa pun dia tidak pernah bangun terlambat seperti ini.
Siapa tahu orang lain malahan sama sekali belum ada yang bangun, jadi dia orang pertama yang bangun tidur pagi ini.
Habis itu Bok Put-kut dan lain-lain baru ikut terjaga bangun.
Malahan Kim Co-lim masih bergumam.
"Arak hebat ... arak bagus ...."
Tergerak hati Kongsun Put-ti, serunya.
"Hei, mabukmu belum hilang?"
"Wah, arak sebagus ini sungguh belum pernah kuminum, sejak semalam sampai sekarang, bukan saja mabuknya tidak hilang, bahkan terasa mau tidur lagi, coba kau ...."
Mendadak Kim Co-lim berhenti bicara, sebab dilihatnya wajah semua orang pucat pasi, dari wajah pucat orang ditemukan pula sesuatu yang menakutkan, yaitu bila Po-ji juga mabuk arak, lalu cara bagaimana akan sanggup bertanding dengan orang?
Semua orang saling pandang, mereka merasakan di dalam arak yang mereka minum tentu ada sesuatu yang tidak beres, tanpa diminta serentak mereka lari ke kamar Po-giok, terlihat anak muda itu lagi berdiri berpegangan dinding, agaknya berdiri pun tidak sanggup.
Pada saat itu suara berisik di luar tambah ramai, tiba-tiba serombongan orang membanjir masuk ke halaman dalam, menyusul ada orang melompat ke atas pagar tembok, sebagian melompat ke atas rumah.
Rombongan orang ini terdiri dari lelaki-perempuan dan tua-muda, hanya sekejap saja rumah hotel ini sudah berjubel-jubel oleh kehadiran mereka, setiap orang sama penuh semangat dan gembira ria, jelas mereka sama ingin melihat kesatria muda Pui Po-giok yang merupakan jago muda pertama dunia persilatan yang selama ratusan tahun tidak pernah ada ini.
Akan tetapi kesatria muda yang akan dilihat mereka saat ini justru lagi lemas lunglai dan kepala sakit seakan-akan mau pecah.
Seorang lelaki tegap dengan pakaian ketat membungkus tubuh, meski tidak terlalu tinggi besar, namun sikapnya sangat gagah, dengan sinar mata tajam itu berseru di tengah halaman.
"Sudah cukup lama kutunggu di lapangan pertandingan dan belum lagi melihat kehadiran Pui-siauhiap, kabarnya Pui-siauhiap bermalam di sini, maka terpaksa kami berkunjung kemari untuk minta belajar kenal."
Nyata dia inilah jago terkemuka kota Hap-pui yang siap bertanding dengan Pui Po-giok, yaitu Auyang Thian-kiau.
Ban Cu-liang dan lain-lain sama melengak, buru-buru Kongsun Put-ti merapatkan daun jendela.
Dengan gemas Nyo Put-loh memaki.
"Sungguh perempuan keji!"
Kongsun Put-ti mendengus.
"Semua ini salah kita sendiri yang terlampau ceroboh, maka jangan menyalahkan orang lain. Jika hal ini kita kemukakan berbalik akan ditertawai lawan."
"Tapi ... tapi bila hal ini tidak ... tidak kita kemukakan, lalu keadaan Po-ji yang begini mana ... mana sanggup bergebrak dengan orang?"
Ujar Bok Put-kut. Berulang Kim Put-we mengentak kaki. Nyo Put-loh juga mengertak gigi dan mengepal dengan gemas.
"Sungguh tidak kusangka dia akan ...."
Ucap Po-giok, sungguh ia menyesal Cu-ji bisa menjebaknya cara begini sehingga ia tidak dapat banyak bicara lagi. Terdengar Auyang Thian-kiau berseru pula di luar.
"Mengapa Pui-siauhiap belum lagi memperlihatkan diri? Jangan-jangan Pui-siauhiap telah berubah pendirian, padahal surat tantangan jelas dikirim oleh Pui-siauhiap ...."
Belum habis ucapannya mendadak suaranya tertutup oleh suara orang banyak, rupanya beribu orang hadir itu sama berteriak.
"Ayo Pui Po-giok, tarung! ...."
Suara teriakan itu makin lama makin keras seakan-akan menggetar bumi, namun yang diucapkan bolak-balik tetap kata-kata.
"Ayo Pui Po-giok, tarung ...."
Dalam keadaan demikian, selain bertarung memang tiada pilihan lain bagi Pui Po-giok.
Akan tetapi bila dia maju pada saat ini, jelas dia pasti akan kalah.
Po-giok menarik napas panjang-panjang, lalu berdiri tegak dan melangkah perlahan keluar.
"Po-ji,"
Kata Kim Put-we.
"biarlah Jicek mewakilkan dirimu menghadapi pertarungan ini."
"Terima kasih atas maksud baik Jicek,"
Sahut Po-giok.
"Namun pertarungan ini jelas tak dapat diwakili oleh siapa pun ...."
"Tapi dalam keadaan demikian tiada ubahnya seperti kau sengaja mengantar nyawa?"
Ujar Put-we cemas.
"Biarpun harus antar nyawa, ya, apa boleh buat,"
Kata Po-giok, ia membuka daun pintu dan melangkah keluar. Belum lagi ia muncul, serentak bergemuruhlah sorak-sorai orang banyak menyebut nama.
"Pui Po-giok ... Pui Po-giok ...."
Po-giok memandang sekeliling dengan terharu, ia memberi salam dan berseru.
"Ini Pui Po-giok berada di sini!"
Selangkah demi selangkah ia pun menuju ke halaman tengah.
Bok Put-kut dan lain-lain sama tahu setiap kali anak muda itu melangkah berarti selangkah lebih dekat dengan elmaut.
Mendadak orang banyak menjerit kaget, suasana menjadi kacau, kiranya langkah Po-giok itu mendadak sempoyongan dan hampir saja jatuh terjungkal.
Auyang Thian-kiau juga melengak, ucapnya.
"Kenapa Pui-siauhiap?"
"Ah, tidak apa-apa,"
Sahut Po-giok dengan menyengir. Auyang Thian-kiau memandang anak muda itu dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas lagi katanya pula.
"Melihat keadaan Pui-siauhiap sekarang, jangan-jangan ada sesuatu ...."
Belum lagi Po-giok menjawab, tiba-tiba Thi-wah mencaci maki.
"Keparat, sudah jelas tahu, tapi 349 pura-pura tanya?!"
"Apa maksudmu?"
Tanya Auyang Thian-kiau dengan kurang senang.
"Huh, semalam binimu telah mencekoki Toakoku hingga mabuk, dengan begitu sekarang dapat bertarung dengan dia ...."
Uraian Thi-wah ini agak menyinggung kehormatan Auyang Thian-kiau, keruan semua orang lantas ribut, ada yang tertawa, ada yang berolok-olok, ada yang bertanya.
"Mengapa Auyang-hujin bisa mendatangi Pui Po-giok ini dan mencekoki arak padanya, sebab apa pula Pui Po-giok mau minum?"
Air muka Auyang Thian-kiau berubah hebat, tanyanya dengan suara bengis.
"Apa betul ucapanmu?"
Waktu bertanya, sinar matanya yang tajam juga menatap Ban Cu-liang dan lain-lain, maklumlah setiap orang Kangouw sama tahu In-bong-tayhiap tidak nanti berdusta, maka Auyang Thian-kiau ingin komentarnya.
"Memang betul,"
Kata Ban Cu-liang tegas.
"Bahkan dalam arak diberi obat bius."
Mendadak Auyang Thian-kiau mengentak kaki terus membalik tubuh dan hendak pergi.
Melihat sikap orang seakan-akan sama sekali tidak tahu-menahu kejadian semalam, Bok Put-kut dan lain-lain sama merasa heran.
Pada saat itulah dari kerumunan orang banyak tiba-tiba muncul seorang perempuan berbaju hitam, wajah pucat lesi serupa mayat.
Melihat perempuan ini seketika Auyang Thian-kiau berubah beringas, dampratnya.
"Perempuan hina, nama baikku selama hidup hanyut sama sekali karena perbuatanmu!"
Akan tetapi perempuan berbaju hitam itu tidak memandangnya melainkan menatap tajam Ban Cu-liang dengan penuh rasa benci, teriaknya mendadak.
"Memfitnah orang secara semena-mena, sungguh kotor dan rendah .... Aku istri Auyang Thian-kiau, siapa bilang semalam kucekoki Pui Po-giok dengan arak hingga mabuk?"
Bok Put-kut, Ban Cu-liang, Pui Po-giok dan lain-lain sangat terperanjat, semuanya melongo serupa bunyi geledek di siang bolong. Ternyata "Auyang Cu"
Yang datang semalam bukanlah istri Auyang Thian-kiau. Dan nyonya Auyang yang berdiri di depan mereka sekarang ternyata tidak pernah mereka lihat selama ini.
"Apakah ... apakah Auyang-tiocu cuma mempunyai istri ini?"
Tanya Kim Put-we dengan tergegap.
"Dengan sendirinya aku cuma mempunyai seorang istri saja?"
Sahut Auyang Thian-kiau dengan gusar.
Seketika Kim Put-we merasa lemas dan tidak sanggup bicara lagi.
Jika Cu-ji itu benar istri Auyang Thian-kiau, ini masih dapat dimengerti jika diam-diam ia mengerjai Po-ji karena khawatir suaminya akan kalah dalam bertanding pagi ini.
Tapi kalau Cu-ji itu bukan istri Auyang Thian-kiau, sedangkan Po-ji pernah menolong anak dara itu, sekarang dia malah membikin susah Po-ji, lalu apa tujuannya?
Jika Po-ji kalah bertanding, memangnya apa keuntungannya?
Po-giok, Kongsun Put-ti dan lain-lain sama heran dan terkejut, biarpun mereka memeras otak juga sukar mendapatkan jawaban.
Apalagi dalam keadaan demikian juga tidak mengizinkan mereka banyak berpikir.
Sementara itu hadirin di sekeliling sudah gempar, ada yang berteriak marah, ada yang tertawa mengejek.
"Haha, kukira kesatria macam apa Pui Po-giok itu, rupanya cuma seorang penipu besar!"
"Wahai Pui Po-giok, jika kau tidak berani bertanding dengan Auyang-tiocu, ayolah lekas lari mencawat ekor saja, buat apa sengaja merusak nama baik Auyang-hujin?"
Meski ada yang menyaksikan sendiri Pui Po-giok dicekoki arak oleh Auyang-hujin dan bermaksud membelanya, namun suara gemuruh orang murka seketika bergema sehingga suara mereka tidak terdengar.
Apalagi urusan sekarang memang sukar untuk dimengerti, di bawah kemarahan orang banyak, betapa pun susah bagi Po-giok untuk memberi penjelasan.
Auyang Thian-kiau tampak beringas dan kalap, ia melompat ke depan Pui Po-giok dan membentak.
"Apa ... apa yang dapat kau katakan lagi? Ayo mulai, lekas!"
Po-giok berdiri serupa patung tanpa bergerak.
Sekali membentak, langsung sebelah tangan Auyang Thian-kiau menggampar.
Akan tetapi keburu dipegang Auyang-hujin.
Dengan gusar dan menghina Auyang-hujin mendengus.
"Huh, untuk apa bergebrak dengan orang begini, kan merendahkan harga dirimu. Ayo, kita pergi saja!"
Auyang Thian-kiau melototi Pui Po-giok, mendadak ia meludah di depan anak muda itu dan mengentak kaki, lalu tinggal pergi.
Penghinaan yang lebih memalukan daripada mati ini sungguh sukar ditahan oleh siapa pun, akan tetapi Pui Po-giok sekuatnya bersabar dengan mengertak gigi.
Di bawah cemooh dan ejekan orang banyak, Nyo Put-loh dan Kim Put-we bermaksud memburu ke sana, akan tetapi keburu ditahan oleh Po-giok.
"Lepaskan!"
Teriak Nyo Put-loh murka.
"Penghinaan hari ini harus dicuci dengan darah. Biarlah kita mati di medan laga ini, apa yang kau tunggu lagi?"
"Sekalipun mati perang tanding, salah paham ini tetap sukar dijelaskan,"
Ujar Po-giok.
"Dan selama penghinaan ini tidak bisa dicuci bersih, tentu nama kita akan ternoda sepanjang masa."
Seketika Nyo Put-loh tidak bisa berbuat apa-apa dan cuma mengentak kaki belaka. Terdengar suara caci maki orang banyak di sana-sini.
"Haha, kalau tidak becus, janganlah berlagak sebagai pahlawan!"
"Ayolah Pui Po-giok, lekas pulang saja untuk menyusu pada makmu!"
Dan entah siapa yang mulai dahulu ketika sepotong genting dilemparkan ke bawah, menyusul lantas terjadi hujan lempar macam-macam benda, sampai topi dan sepatu juga digunakan untuk melempar.
Po-giok tetap berdiri tegak di tempatnya dan membiarkan tubuhnya tertimpa berbagai benda itu, dalam keadaan demikian tertampaklah keteguhan imannya.
Bagai bunyi geledek Thi-wah membentak sambil memburu maju dan mengadang di depan Po-giok, teriaknya murka.
"Ayolah, jika berani melempar lagi, segera ku ...."
Mendadak sebelah tangannya menghantam ke depan, sebatang pohon tanggung yang tumbuh di samping terhantam hingga tumbang.
Keruan semua orang terkesiap oleh tenaga raksasa Thi-wah, kebanyakan juga sudah puas mencaci maki dan melempar, maka beramai-ramai bubarlah orang banyak.
Hanya tersisa beberapa anak gadis yang tampak melongo kesima, sebab pahlawan pujaan membuat mereka kecewa dan menyesal.
Suasana berubah sunyi, halaman berserakan macam-macam barang.
Po-giok berdiri termenung, sampai lama tanpa bergerak dikelilingi Ban Cu-liang, Kim Co-lim dan lain-lain, sampai Gu Thi-wah juga terkesima tanpa bersuara.
Entah selang berapa lama, mendadak Kim Co-lim berteriak.
"Arak ... mabuk arak pelipur lara ...."
Ia terus lari ke dalam rumah, suaranya penuh rasa pedih dan penasaran, mau tak mau Sebun Put-jiok ikut terharu. Kongsun Put-ti mendekati Ban Cu-liang dan berucap.
"Maafkan Ban-tayhiap, kejadian hari ini harus membuat nama baik Ban-tayhiap ikut tercemar, sungguh kami sangat menyesal."
"Ah, urusan ini mana dapat menyalahkan kalian,"
Ujar Ban Cu-liang.
"Memangnya siapa yang menduga sekeji ini tipu muslihat musuh. Kukira sebelumnya musuh sudah memperhitungkan dengan baik segala kemungkinan yang akan terjadi, tapi sebenarnya apa tujuannya mereka merancang tipu keji seperti ini untuk membikin susah Po-giok?"
"Sudahlah, biarpun urusan ini dapat kita raba sini dan raba sana juga tidak ada gunanya,"
Kata Bok Put-kut.
"Yang penting sekarang, bagaimana tindak selanjutnya."
Pandangannya beralih kepada Po-ji, suaranya juga prihatin.
Ia meragukan Po-ji yang masih muda belia itu apakah sanggup menahan pukulan batin ini.
Apakah semangatnya takkan patah, apakah cita-citanya takkan runtuh?
Apakah dia akan tenggelam seterusnya?
Terlihat Po-giok memandang jauh ke depan, memandang sinar sang surya yang gilang-gemilang, ia menarik napas panjang, lalu berucap tegas.
"Biarpun perjalanan selanjutnya mahasulit juga takkan mematahkan tekad langkahku?"
"Jadi kau masih akan terus melanjutkan jalanmu?"
Tanya Bok Put-kut dan lain-lain berbareng.
"Ya, maju terus pantang mundur!"
Seru Po-giok tegas.
Meski wajahnya agak pucat dan suaranya rada serak, namun beberapa kata-katanya itu serupa bunyi guntur yang memecah angkasa sunyi.
Semangat Ban Cu-liang dan lain-lain seketika pula tergugah sampai Ciok Put-wi yang berhati dingin dan keras itu pun ikut memperlihatkan rasa girang.
"Baik, anak bagus!"
Gumam Ban Cu-liang.
"Tak tersangka pukulan berat itu tidak dapat mematahkan semangatmu, sungguh seorang kesatria sejati."
"Dihina orang, disalahpahami orang, semua ini memang hal yang menyakitkan,"
Kata Kongsun Put-ti.
"Po-ji, kau memang seorang anak luar biasa, jika cuma kungfunya saja yang merajai dunia belumlah membuat pamanmu ini takluk padamu, tapi pengalaman tadi tidak membuatmu runtuh, sungguh aku harus kagum dan takluk padamu."
"Terima kasih atas pujian paman,"
Kata Po-giok.
"Tapi Siautit sudah bertekad akan melanjutkan urusan ini, kecuali Siautit benar-benar dirobohkan orang, kalau tidak, siapa pun tidak dapat membuatku menyurut mundur."
"Baik, sekarang juga kita pergi mencari Auyang Thian-kiau,"
Teriak Kim Put-we mendadak.
"Tidak, sekarang tidak boleh pergi,"
Ujar Po-giok.
"Kenapa ... memangnya mau tunggu sampai kapan lagi?"
Tanya Put-we.
"Awan mendung akhirnya akan buyar, salah paham akhirnya pasti juga akan lenyap,"
Kata Po-giok.
"Pada hari itulah nanti akan kuhadapi Auyang Thian-kiau untuk menentukan kalah menang."
Ia bicara dengan tegas dan penuh tekad, keteguhan hati dan kepercayaan akan diri sendiri membuatnya tidak gentar menghadapi urusan apa pun.
"Bagus, anak baik!"
Seru Kim Put-we.
"Semoga segalanya dapat kau laksanakan dengan baik." ***** Jago Kim-leng-sia, Hong-uh-sin-eng Eng Thi-ih, si Elang Sakti Hujan Badai, yang bercokol di Ciong-san, namanya mengguncangkan dunia, terutama senjata andalannya, yaitu dua buah Kun-goan-pay, perisai baja yang jarang digunakan orang ini, selama ini hampir tidak pernah ketemukan tandingan. Eng Thi-ih sendiri berperawakan jangkung tegak, gerak-gerik gesit serupa elang. Dia luhur budi dan suka berkawan, di ruang Hui-eng-tong sering dipenuhi tetamunya dan selalu tersedia santapan dan arak. Pagi-pagi Eng Thi-ih sudah berdiri di depan rumah dengan baju cokelat ringkas dan kelihatan gesit, belasan orang gagah mengiring di sampingnya, tiba-tiba seorang bertanya.
"Apakah Eng-heng benar-benar hendak pergi ke sana?"
"Jika aku tidak pergi, kan berarti takut padanya?"
Jawab Eng Thi-ih dengan tersenyum. Dengan sikap menghina orang itu berkata.
"Waktu ini siapa yang tidak tahu bocah she Pui itu tidak lebih hanya seorang penipu belaka, masakah dia ada harganya untuk bertanding dengan Eng-heng?"
"Tapi apa salahnya jika penipu itu disuruh mencicipi rasanya kedua perisaiku?"
Ujar Eng Thi-ih dengan tersenyum.
Maka tergelaklah semua orang, beramai mereka lantas berangkat.
Dan baru saja mereka muncul dari kejauhan, rombongan Ban Cu-liang yang berdiri di tepi danau Hian-bu-oh sudah mengetahui kedatangan mereka.
Wajah Po-ji masih pucat pasi.
Dengan khawatir, Bok Put-kut coba tanya anak muda itu.
"Po-ji, apakah hari ini kau sanggup bertarung?"
Po-giok hanya tersenyum saja sebagai gantinya jawaban.
Sementara itu, di bawah semilir angin sejuk berkumandanglah suara ejekan dan tertawa orang banyak.
Ban Cu-liang dan lain-lain sama cemas, diam-diam mereka bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah 353 hari ini Po-ji benar sanggup bertarung?"
Terlihat Eng Thi-ih sedang melangkah tiba, dengan enteng dan gesit, sekujur badan penuh tenaga, penuh semangat, penuh rasa keyakinan akan menang.
Dibandingkan Po-giok yang pucat sungguh sangat mencolok bedanya.
Po-giok membetulkan pedang kayu yang disandangnya, perlahan ia memapak ke depan.
Eng Thi-ih hanya memberi hormat sekadarnya kepada Ban Cu-liang, sebab orang lain pada hakikatnya dipandang sebelah mata olehnya.
Bahkan Po-giok juga tidak dipandang olehnya, dengan suara lantang ia menegur.
"Kau inikah Pui Po-giok?"
Dengan menahan perasaan Po-giok menjawab.
"Ya."
"Baik,"
Eng Thi-ih menengadah dan tertawa. Ia memberi tanda dan membalik tubuh ke sana sambil berseru.
"Lihat perisaiku!"
Segera seorang lelaki kekar berlari membawakan senjata andalannya, yaitu dua buah perisai baja yang antap dan mengilat di bawah sinar matahari. Begitu perisai berada di tangan.
"creng", bergema suara nyaring benturan kedua perisai, ketika kedua tangan Eng Thi-ih terbentang, segera menimbulkan sinar kemilau. Bersoraklah orang banyak melihat ketangkasannya.
"Nah, majulah Pui Po-giok!"
Bentak Eng Thi-ih perlahan dengan tatapan tajam. Po-giok menarik napas panjang-panjang, dan belum lagi ia melangkah, serentak terdengar suara ejekan di sana-sini.
"Hei, Pui Po-giok, apakah hari ini kau pun mabuk?!"
Di tengah olok-olok orang banyak itulah Po-giok mengayun langkahnya yang limbung untuk menghadapi Eng Thi-ih yang gagah tangkas. Diam-diam Kongsun Put-ti mengisiki Ban Cu-liang.
"Pertarungan ini jelas orang she Eng itu takkan bertindak sungkan lagi, jika sudah kelihatan tanda Po-ji akan kalah, mohon Ban-tayhiap suka berusaha mencegah tindakan Eng Thi-ih itu."
Ban Cu-liang mengangguk perlahan dengan muram.
Terlihat air muka Po-giok tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, tidak tampak lesu, juga tidak mengunjuk duka atau gusar, perlahan ia melolos pedang kayu dan berucap.
"Silakan!"
"Bagus, ayolah maju!"
Sambut Eng Thi-ih, kembali kedua perisai bergetar terus menghantam ke depan.
Jilid 15.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Selain jurus serangannya aneh, kedua perisai ini memang sangat dahsyat, sebab bobotnya sekali lipat daripada senjata umumnya.
Maka begitu kedua perisai menghantam, serentak angin dahsyat menyambar dan menimbulkan daya guncangan yang hebat.
Bahkan serangan susul-menyusul sehingga membuat lawan kewalahan.
Terdengar orang banyak bersorak.
Namun Po-giok tetap tenang saja, ia menggeser kian-kemari dan belasan jurus dapat dihindarkannya tanpa balas menyerang, namun setiap jurus serangan lawan tidak terlepas dari pengamatannya.
Biasanya bila orang menggunakan senjata ganda tentu yang satu menyerang dan yang lain berjaga, satu jantan dan yang lain betina.
Akan tetapi sekarang Eng Thi-ih justru dapat menyerang sekaligus dengan kedua perisai, gerak serangannya juga sukar diraba.
Tambah keras sorak-sorai orang banyak, ada yang mengejek.
"Wahai, Pui Po-giok, jika kau tidak berani balas menyerang, lebih baik menyembah dan mengaku kalah saja!"
"Jangan-jangan mabukmu tempo hari sampai sekarang belum lagi reda?!"
Teriak lagi seorang lain. Ejekan ini tidak dihiraukan Po-giok, akan tetapi perasaan Ban Cu-liang dan lain-lain tambah tertekan.
"Serangan kedua perisai Hong-uh-sin-eng memang luar biasa, jika ingin mencari peluang dari serangannya mungkin ...."
Bok Put-kut menghela napas dan tidak melanjutkan.
"Menurut suara yang tersiar di dunia Kangouw, Hong-uh-sin-eng ini katanya merupakan jago utama di antara ke-40 jago muda yang akan bertemu di Thay-san nanti,"
Kata Kim Co-lim.
"Meski aku tidak tahu betapa lihai jurus serangan kedua perisainya, tapi Hong-uh-siang-pay Eng Thi-ih dapat menduduki nomor empat di antara ke-13 jenis senjata khas jelas tidak boleh dipandang enteng,"
Ujar Ban Cu-liang, kedua tangannya tersembunyi di balik lengan baju, jelas setiap saat ia siap untuk mencegah serangan maut Eng Thi-ih.
Menurut pandangan semua orang, harapan menang bagi Pui Po-giok sekarang semakin tipis.
Wajah Ciok Put-wi tampak gelap, sebaliknya Nyo Put-loh tampak merah beringas, Kim Put-we juga mengertak gigi, dahi Gui Put-tam penuh butiran keringat.
Thi-wah memukul-mukulkan kepalan pada telapak tangan, perasaannya juga gelisah serupa Ciok Put-wi dan lain-lain, ia berharap sekali pedang Po-giok bergerak akan dapat menembus kedua perisai Eng Thi-ih.
Akan tetapi sejauh itu Po-giok tetap tidak balas menyerang.
Bukannya dia tidak mau menyerang, sesungguhnya dia tidak dapat turun tangan.
Pikirannya yang semula mulai jernih mendadak timbul rasa kusut dan tidak tenteram yang tidak pernah terjadi.
Padahal suara berisik di sekelilingnya ramai orang mendesak agar dia turun tangan.
Tampaknya Eng Thi-ih tambah bersemangat, jurus serangannya semakin lihai.
Semua orang yakin pertarungan ini pasti akan dimenangkan olehnya.
Sang surya semakin tinggi di tengah langit, ejekan orang banyak semakin gemuruh.
"Yang tidak berani turun tangan adalah pengecut ... penakut ...."
Pada saat itulah sekonyong-konyong pedang kayu Pui Po-giok menebas lurus ke depan.
Dalam sekejap itu jantung Bok Put-kut dan lain-lain seakan-akan berhenti berdenyut.
Suara berisik orang banyak juga berhenti.
Gerak pedang kayu yang enteng itu tampak menembus ke tengah bayangan kedua perisai dan "brak", pedang kayu tepat menusuk perisai.
Akhirnya Po-giok tidak sempat menggunakan peluang yang segera lenyap dalam sedetik itu, ujung pedang selisih setitik dan menjadikan kesalahan yang tak terampunkan.
Eng Thi-ih membentak perlahan, perisai menyampuk sekuatnya.
"krek", pedang kayu patah 355 menjadi dua. Po-giok tergetar mundur beberapa langkah, pedang kayu yang dipegangnya tinggal setengah potong. Serentak orang banyak berteriak.
"Ah, Pui Po-giok kalah! Kalau sudah kalah, ayolah lekas mengaku kalah, Pui Po-giok!"
Po-giok tampak lesu dan menurunkan pedang buntungnya. Mendadak Thi-wah berteriak.
"Toako, engkau belum kalah, siapa bilang engkau kalah? Ayo maju lagi!"
Semangat Po-giok tampak terbangkit. Sedang Eng Thi-ih tertawa latah, teriaknya.
"Haha, ternyata hanya begini saja ilmu pedangmu!"
Segera perisai menghantam lagi, sekali ini ia tambah garang, daya serangnya tambah dahsyat.
"Sudah jelas kalah, kenapa belum mau mengaku kalah, Pui Po-giok?!"
Teriak orang banyak.
"Huh, sungguh tidak tahu malu!"
Di antara penonton itu ada dua orang berteriak paling keras.
Tentu saja Thi-wah gusar, ia memburu ke sana, menerjang kedua orang itu.
Melihat lelaki serupa raksasa ini menerjang tiba, tentu saja kedua orang itu gugup, namun di mulut mereka tidak mau kalah dan menegur.
"Kau mau apa?"
"Akan kubungkam bacot kalian!"
Teriak Thi-wah murka, berbareng kedua orang itu hendak dicengkeramnya.
Cepat kedua orang itu menangkis dengan agak jeri.
Siapa tahu meski gerak-gerik Thi-wah tampaknya lamban, akan tetapi serangannya sangat aneh, tahu-tahu kedua orang itu kena dicengkeramnya terus diangkat.
Padahal banyak orang tahu ilmu silat kedua orang itu tidak lemah, siapa tahu menghadapi pemuda raksasa ini mereka serupa anak kecil saja dan diangkat ke atas tanpa berdaya meski mereka meronta-ronta sekuatnya.
Dengan mengangkat kedua orang itu di atas kepala, secara demonstratif Thi-wah berjalan sekeliling di depan para penonton dan berteriak.
"Nah, inilah contohnya bagi orang yang banyak bacot! Jika ingin selamat, lekas tutup mulut. Bila toakoku benar-benar kalah barulah kalian boleh berteriak sampai bejat bacot kalian!"
Semua orang terkejut dan jeri sehingga sebagian besar lantas bungkam.
Bok Put-kut dan lain-lain tidak mengira pemuda gede dungu ini dapat menggunakan gerak tangkapan selihai itu, mereka merasa heran, tentu juga merasa senang.
Setelah suasana agak sunyi, terdengarlah deru angin yang diterbitkan oleh gerak kedua perisai Eng Thi-ih.
Kini gerak tubuh Pui Po-giok juga kelihatan lebih gesit daripada tadi.
Sebagai jago berpengalaman, Ban Cu-liang dan lain-lain merasakan Eng Thi-ih sudah mulai tidak sabar, serangannya tambah gencar, agaknya ingin lekas menundukkan Po-giok.
"Mungkin elang sakti itu akan segera melancarkan serangan maut,"
Ucap Kongsun Put-ti dengan suara tertahan.
Benar juga, belum lenyap suaranya, mendadak Eng Thi-ih bersuit panjang terus meloncat tinggi ke atas.
Gayanya serupa elang pentang sayap terbang di udara, kedua perisainya seperti kedua sayap.
Mendadak, kedua perisai pecah menjadi empat terus terbang berhamburan.
Kiranya kedua perisai terpasang pegas yang dapat mulur-mengkeret sesukanya.
Sekarang perisai pecah menjadi empat dan menimpa Po-giok dari udara.
Seketika Po-giok terancam dari kanan-kiri dan muka-belakang, dalam jarak beberapa tombak sama terkurung oleh perisai terbang itu.
Bok Put-kut dan lain-lain sama berteriak kaget, orang lain juga tidak sempat bersorak lagi karena ternganga oleh serangan luar biasa itu.
Akan tetapi sekarang pikiran Po-giok justru sedemikian tenangnya, pedang kayu yang tersisa setengah potong itu menggores setengah lingkaran ke atas, tahu-tahu keempat potong perisai pecah yang berhamburan itu tercungkil ke samping.
Selagi Eng Thi-ih terkejut, ternyata kedua tungkak kaki juga tersabet oleh pedang kayu sehingga jatuh terguling ke tanah.
Sampai mati pun ia tidak mengerti mengapa gerak pedang kayu kutung Po-giok itu bisa membawa daya serang sedahsyat itu.
Jika tidak menyaksikan sendiri, siapa pun tidak dapat membayangkan perubahan secepat ini dan baru saja orang bersorak-sorai, berbareng Eng Thi-ih juga terkapar, serentak mereka urung bersuara, suasana berubah sunyi senyap.
Thi-wah berteriak gembira, kedua orang yang diangkatnya itu dilemparkan, ia sendiri lantas berjingkrak dan menari.
Tanpa terasa Kim Put-we juga berteriak.
"Haha, menang, Po-ji menang!"
Ban Cu-liang dan lain-lain yang biasanya sangat sabar dan tenang menghadapi persoalan apa pun, sekarang mereka pun terharu dengan air mata berlinang.
Sebaliknya kawanan penonton sama melongo dan termangu seperti patung.
Eng Thi-ih memandang Po-giok dengan terkesima, sampai lama barulah ia merangkak bangun, katanya dengan menghela napas.
"Sungguh kagum!"
"Terima kasih,"
Jawab Po-giok.
Tanya-jawab mereka hanya singkat saja, namun dalam beberapa patah kata itu entah betapa banyak mengandung pahit-getir, mengandung darah dan air mata ....
***** Menjelang petang, terjadi hujan gerimis.
Di luar rumah hujan dan dingin, namun Ban Cu-liang dan lain-lain yang berkumpul di dalam rumah justru penuh semangat dan hangat.
"Anak baik,"
Seru Kim Put-we dengan tertawa.
"pertarungan ini sungguh sangat gemilang. Biarpun Ci-ih-hou hidup kembali kukira juga tidak lebih daripada ini."
"Ya, sudah banyak juga kudengar kisah kehebatan tokoh Bu-lim angkatan tua, tapi dalam keadaan seperti Po-ji tadi, dari kalah berubah menjadi menang, sungguh jarang terjadi,"
Tukas Ban Cu-liang.
"Jika aku, di bawah ejekan orang banyak tentu aku bisa gila saking gemasnya,"
Ujar Kim Co-lim dengan tertawa.
"Ada lagi, tindakan Thi-wah tadi, jurus cengkeramannya itu juga sangat indah."
"Hehe, sekian tahun kubelajar bersama Toako, paling banyak juga cuma dua-tiga jurus itu saja, jika dua-tiga jurus saja tidak kulatih dengan mahir, kan terlampau goblok,"
Seru Thi-wah dengan tertawa. Dengan sungguh-sungguh Ban Cu-liang berkata.
"Ilmu silat mengutamakan saripatinya dan tidak perlu banyak, biarpun cuma dua-tiga jurus yang kau kuasai, asal jurus serangan mahalihai, rasanya tidak banyak tokoh Kangouw yang mampu menahan dua-tiga jurus seranganmu itu."
Ucapan ini keluar dari In-bong-tayhiap, dengan sendiri lain bobotnya. Thi-wah merasa gembira dan puas, gumamnya.
"Alangkah baiknya bila komentar Ban-tayhiap ini dapat didengar si dia."
Dengan sendirinya orang lain tidak tahu.
"si dia"
Yang dimaksudkan Thi-wah, hanya Po-giok yang tahu. Keduanya saling pandang dengan tersenyum dan tahu sama tahu.
"Kalah tidak perlu patah semangat, dihina tidak emosi, apa yang dapat kau lakukan ini sungguh luar biasa, Po-ji,"
Kata Kongsun Put-ti.
"Selanjutnya kesan orang Kangouw padamu pasti akan banyak berubah. Menang tapi tidak sombong, hendaknya camkan pesanku ini."
"Petuah Paman ini takkan kulupakan selama hidup,"
Jawab Po-giok dengan khidmat.
"Tapi ini pun baru permulaan saja,"
Tukas Kongsun Put-ti.
"Bilamana kau ingin mencuci bersih penghinaan yang pernah kau terima, kau masih harus berjuang terlebih keras. Maka kalau pertarunganmu dengan Thian-to Bwe Kiam besok dapat kau menangkan pula, maka dapatlah kau beri bukti kepada semua orang bahwa kau bukan penipu, bukan pendusta."
"Kabarnya senjata andalan Bwe Kiam itu adalah Sok-lian-to, golok melengkung yang tersembunyi di dalam toya sepanjang satu tombak lebih, pada ujung toya dipasang lagi gelang baja berantai, bagian rantai tergantung lagi lima buah bola besi ...."
"Rupanya di ujung toya itu terpasang pegas dan golok tersembunyi itu akan menjeplak bila dipencet alatnya,"
Ujar Po-giok dengan tersenyum.
"Oo, kiranya begitu,"
Kata Bok Put-kut dan lain-lain.
"Dan kelihaian golok melengkung itu meski cuma sebuah, tapi dapat digunakan menjadi dua macam senjata."
"Betul,"
Tukas Sebun Put-jiok.
"Konon Bwe Kiam itu asalnya seorang pelaut pendatang dari kepulauan timur, entah dari mana ia belajar ilmu golok yang aneh itu, sejak tiba di daerah Tionggoan lantas menjadi suatu aliran tersendiri."
Ban Cu-liang menghela napas gegetun, dan berucap pula.
"Guru Po-ji sungguh luar biasa, sudah lama ia mengasingkan diri, namun segala seluk-beluk dunia persilatan tetap diketahuinya dengan jelas."
"Cuma sayang, tanpa sebab beliau meninggalkan kami lagi dan entah ke mana sekarang,"
Seru Thi-wah.
"Apa pun juga Bwe Kiam ini pasti lawan berat bagi Po-ji,"
Ujar Kongsun Put-ti.
"Pertarungan besok kukira jauh lebih susah daripada hari ini."
"Tidur, Po-ji,"
Sela Ciok Put-wi mendadak.
"Betul, hari ini kita telah menempuh perjalanan beratus li, untuk menghadapi pertarungan 358 sengit besok, Po-ji harus istirahat sebaiknya,"
Kata Ban Cu-liang. Dengan hormat Po-ji mengiakan dan bermaksud mengundurkan diri, siapa tahu baru saja ia berdiri.
"sret", mendadak dari luar jendela selarik cahaya membawa angin tajam menyambar lewat di depan Po-ji dan menancap di pilar hingga ambles beberapa senti dalamnya. Ternyata sebuah ujung tombak perak mengilat. Selagi semua orang terkejut, terdengar di luar ada suara jeritan dan bentakan, seorang bersuara serak lagi berkata.
"Thi Un-hou, Li Eng-hong, apakah kalian ingin kabur?"
"Wah, celaka!"
Seru Po-giok khawatir.
"Rupanya Paman Li dan Paman Thi ada kesulitan, ayo lekas melihatnya keluar."
"Jangan khawatir, biar kami yang membereskan,"
Kata Kongsun Put-ti.
"Thi-wah, tunggu toakomu di sini."
Baru selesai ucapannya segera ia menerobos keluar jendela, tanpa disuruh Ban Cu-liang dan lain-lain segera ikut mengejar keluar.
Di bawah hujan gerimis tampak empat orang berbaju putih dengan kedok putih pula sedang bertempur mengerubut satu orang.
Agaknya yang dikerubut itu sudah lelah, malahan dia menggendong seorang lagi dan sekuatnya bertahan sambil putar tombaknya yang tinggal setengah potong.
Keempat orang berbaju putih itu kelihatan seram serupa badan halus, gerak tubuh mereka sangat aneh, meski tangan tidak bersenjata, namun gerak-gerik mereka sangat gesit, biarpun tidak bersenjata, tapi telapak tangan mereka sebentar menebas, memotong dan mencengkeram, sekaligus menggunakan berbagai gaya ilmu silat dari berbagai aliran.
Ban Cu-liang khawatir terlambat menolong, sebelum tiba di tempat tujuan lebih dulu membentak.
"Jangan khawatir, Li Eng-hong, ini datang bala bantuanmu!"
Suaranya keras dan mendengung membuat anak telinga tergetar.
Keruan keempat orang berbaju putih itu terkejut.
Sementara itu Bok Put-kut dan lain-lain juga sudah memburu tiba, tanpa bicara mereka terus melabrak kawanan orang berbaju putih.
Ban Cu-liang sudah kenal Li Eng-hong, katanya.
"Biarlah kami menggantikanmu, lekas kau masuk ke rumah untuk istirahat dulu."
"Teri ... terima kasih,"
Jawab Li Eng-hong dengan napas tersengal.
Ia memang sudah lemas, tanpa sungkan lagi ia lari ke rumah sana.
Ban Cu-liang tidak ingin main kerubut, ia membiarkan Bok Put-kut, Ciok Put-wi, Kim Put-we, dan Nyo Put-loh menghadapi keempat orang berbaju putih, ia berjaga di luar kalangan untuk mengawasi keadaan bila musuh bermaksud lari.
Sebagai murid Siau-lim-pay, ilmu pukulan Bok Put-kut dengan sendirinya cukup lihai.
Tapi sebelum dapat meraba aliran kungfu lawan, ia tidak mau sembarangan menyerang, tapi hanya bertahan.
Sebaliknya Kim Put-we tidak sungkan lagi, langsung ia melancarkan serangan keras sesuai gaya ilmu silat Go-bi-pay.
Begitu juga Nyo Put-loh, dengan murka ia keluarkan kungfu andalannya, yaitu Tay-lik-eng-jiau-kang, ilmu cakar elang bertenaga raksasa, bila kena dicengkeram, jiwa seketika akan melayang.
Si baju putih yang menjadi lawannya agaknya rada jeri terhadap gaya serangannya yang ganas itu, setelah belasan jurus, berulang ia terdesak mundur beberapa tombak.
Walaupun begitu untuk mengalahkan keempat orang berbaju putih jelas juga tidak mudah.
"Dari manakah keempat orang ini?"
Kata Gui Put-tam.
"Ilmu silat yang aneh ini rasanya belum pernah kudengar."
"Ya, melihat gerak-gerik mereka, kungfu mereka tidak dikenal di daerah Tionggoan, tampaknya kurang kuat meski aneh gaya ilmu silat mereka,"
Tukas Kongsun Put-ti.
Belum lenyap suaranya, orang yang bergebrak dengan Nyo Put-loh mendadak mengeluarkan suara suitan aneh, berbareng itu keempat orang itu lantas melemparkan sesuatu ke tanah.
Hanya dalam sekejap saja dari tanah lantas mengepul selapis kabut putih dan segera buyar terbawa angin.
"Celaka, dalam asap ada racun!"
Seru Ban Cu-liang.
"Lekas mundur, Toako dan Site!"
Cepat Kongsun Put-ti berteriak.
Segera Bok Put-kut berempat melompat mundur.
Makin tebal asap yang timbul, semua orang sama menahan napas agar tidak mengisap hawa berbisa.
Ketika angin meniup dan asap mulai buyar, ternyata bayangan keempat orang berbaju putih tadi sudah lenyap.
"Kalah-menang belum jelas, mengapa mereka kabur mendadak ...."
Gumam Kongsun Put-ti dengan heran dan juga waspada, ia khawatir di balik urusan ini tersembunyi sesuatu intrik keji. Sebaliknya Kim Co-lim berkata dengan tertawa.
"Jika aku menjadi mereka, tentu aku pun akan kabur. Habis kalau tidak dapat menang, tinggal lebih lama di sini kan berarti minta digebuk belaka?"
Semua orang ikut tertawa oleh banyolannya, mereka pulang ke hotel dan tidak banyak pikir lagi.
Bahwa dirinya dapat menyelamatkan pendekar ternama seperti Li Eng-hong tentu saja Kim Put-we sangat senang.
Sementara itu Po-giok yang tertinggal di hotel, meski ia yakin mereka pasti mampu menolong Li Eng-hong, tidak urung ia merasa khawatir juga.
Maklumlah, budi kebaikan Li Eng-hong dan Thi Un-hou kepadanya tak dapat dilupakannya selama hidup.
Dengan gelisah ia mengawasi dari balik jendela, tiba-tiba seorang berlari datang di bawah hujan sambil menggendong seorang lagi.
"Paman Li!"
Seru Po-giok sambil melompat keluar dan menyongsongnya. Orang itu merandek dan bersuara dengan ragu.
"Siapa Anda?"
"Siautit Po-giok ... Po-ji, masa Paman Li pangling,"
Jawab Po-giok.
"Ahhh,"
Seru Li Eng-hong.
"kiranya Po-ji, sudah sebesar ini dan telah tumbuh segagah ini. Tak ... tak terduga masih dapat kulihat dirimu ...."
Ia bicara dengan tersendat, suatu tanda betapa terharu hatinya.
Di bawah cahaya lampu yang menyorot keluar dari jendela, terlihat pendekar ternama ini bermuka pucat, sekujur badan basah kuyup, mata sayu terlampau lelah, sikap gagahnya masa lampau hampir tak terlihat lagi.
Air mata Po-giok juga berlinang-linang, hampir sukar dipercayanya bahwa lelaki yang dikejar orang serupa binatang buas terluka ini adalah Li Eng-hong yang terkenal di masa lampau.
Entah air mata atau air hujan yang membasahi muka Li Eng-hong, ia menatap Po-ji dengan terkesima, Po-ji juga menatapnya dengan terharu, dalam suasana tanpa bicara ini terkandung rasa pedih dan juga rasa girang yang tak terhingga.
Tiba-tiba Thi-wah melompat keluar, lalu ia pun berdiri terkesima.
"Kau mau apa?"
Tanya Po-ji.
"O, tidak apa-apa,"
Sahut Thi-wah sambil menyengir.
"Toako suka main hujan-hujan, terpaksa kutemani."
"Ai, kau ini, coba aku sampai lupa mengundang Paman Li masuk ke rumah,"
Kata Po-ji dengan tersenyum.
Malahan ia pun lupa bahwa masih ada seorang dalam gendongan Li Eng-hong, yaitu Thi Un-hou yang terluka parah.
Waktu Li Eng-hong menaruh Thi Un-hou di tempat tidur, barulah Po-ji menyadari hal itu, sungguh sedih hatinya melihat lelaki gemblengan masa lampau sekarang tampak kurus kering.
Meski lengan kiri yang patah sudah tersambung, namun lengan kanan Thi Un-hou telah buntung seluruhnya, keadaannya kembang kempis.
"Sejak pertempuran di Thian-hong-tong, segenap musuh lama maupun baru serentak mencari kami sehingga selama tujuh tahun ini, hidup kami tidak pernah tenteram,"
Tutur Li Eng-hong.
"Kekalahan tempo hari itu sungguh meruntuhkan kami segalanya,"
Sambung Li Eng-hong dengan berlinang air mata, ia pandang Thi Un-hou sekejap, lalu menyambung.
"Apalagi keadaannya serupa orang tidak berguna lagi, selama tujuh tahun ini kami selalu buron belaka dan senantiasa dibayangi musuh. Cian-toasiokmu juga menghilang entah ke mana, tersisa kami berdua ... Sampai hari ini, dia terkena tiga kali pukulan maut musuh dan tampaknya jiwanya sukar ... sukar ditolong lagi."
"Tidak, Paman Thi takkan mati!"
Teriak Po-giok mendadak.
"Memangnya kau yakin mampu menyembuhkan dia?"
Tanya Eng-hong dengan heran.
"Ya,"
Sahut Po-giok sambil mengangguk.
"Tapi dia ...."
"Sudahlah, tanpa dijelaskan Paman juga kutahu,"
Potong Po-giok.
"Dahulu Paman Thi telah menyelamatkan diriku tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, hari ini betapa pun harus kusembuhkan dia."
Bicara sampai di sini, mendadak ia pondong tubuh Thi Un-hou terus dibawa lari keluar.
"Hei, Toako ... akan ... akan kau apakan dia?"
Seru Thi-wah kaget. Tanpa menoleh Po-giok menjawab.
"Jika ditanya orang, katakan kupergi untuk menyembuhkan luka Paman Thi dan besok pagi dapat kukembali ke sini ...."
Waktu Thi-wah menyusul keluar, bayangan Po-giok sudah tidak tertampak lagi.
***** Sekembalinya Bok Put-kut dan lain-lain di hotel, mereka tidak melihat Po-ji lagi, hanya Thi-wah tampak berdiri termenung sedih di situ, Li Eng-hong juga menunduk muram.
"Ke mana perginya Po-ji?"
Tanya Kongsun Put-ti khawatir. Dengan tergegap Thi-wah bertutur apa yang terjadi.
"Suruh kau jaga dia, mengapa ...."
Omel Bok Put-kut. Dengan wajah getir Thi-wah menjawab.
"Habis kalau Toako mau pergi, Thi-wah tidak dapat mencegahnya dan juga tidak sanggup menyusulnya."
"Mari kita cari dia!"
Seru Kim Put-we mendadak.
"Sudahlah, tidak perlu dicari lagi,"
Kata Kongsun Put-ti sambil menggeleng.
"Mengapa tidak cari?"
Tanya Kim Put-we khawatir.
"Hendak mengobati luka kan tidak perlu dikerjakan dia, kita juga sanggup. Apalagi malam ini mana ... mana boleh dia menyembuhkan luka orang?"
"Tentu disebabkan luka Thi-tayhiap sangat parah, ia tahu orang lain tidak sanggup dan terpaksa dilakukannya sendiri,"
Ujar Kongsun Put-ti dengan pedih.
"Ya, tentunya ia khawatir kita akan merintanginya, maka ia pergi dengan diam-diam. Semua ini dilakukan dengan tekad bulat, andaikan kita mencarinya juga tidak berguna."
Semua orang tidak dapat membantah, mereka hanya mondar-mandir dengan gelisah.
"Kalian kelihatan cemas, apakah ...."
Tanya Li Eng-hong.
"Ya, esok pagi Po-ji akan menghadapi suatu pertarungan dahsyat dan menyangkut timbul-tenggelam namanya,"
Tutur Bok Put-kut.
"Jika sekarang dia harus mengorbankan tenaganya untuk menolong Thi-tayhiap, mungkin besok ...."
Belum habis ucapannya Li Eng-hong lantas berteriak dengan khawatir.
"Ah, jika demikian, jadi akulah yang membikin susah dia malah ...."
"Tapi engkau juga tidak dapat disalahkan,"
Ujar Bok Put-kut.
"Jika dia sudah tahu besok harus bertempur, toh dia mau menolong orang lain, rupanya dia lebih suka mengorbankan diri sendiri daripada ...."
Sampai di sini suaranya menjadi tersendat dan tidak dapat melanjutkan, hatinya duka dan menyesal.
"Bagus!"
Teriak Ciok Put-wi mendadak.
"Dalam keadaan begini, apanya yang bagus?"
Tanya Kim Put-we dengan gusar.
"Ya, budi luhur Po-ji sungguh harus dipuji, sekalipun pertempuran besok akan mengalami kekalahan juga tidak perlu malu, kita justru harus bangga mempunyai keponakan sehebat ini,"
Sela Bok Put-kut dengan terharu.
Sementara itu suara ayam berkokok sudah ramai, ufuk timur mulai remang-remang, dan Po-ji belum lagi pulang.
Menurut perasaan semua orang, malam ini merupakan malam terpanjang selama hidup 362 mereka.
Tapi ketika Po-ji belum lagi muncul, mereka malah menyesali fajar yang datang terlalu cepat.
Bok Put-kut dan lain-lain sama memandang keluar jendela dengan gelisah.
"Sialan, mengapa belum lagi pulang,"
Omel Kim Put-we sambil mengentak kaki.
"Sabar, sebentar juga pulang,"
Ujar Gui Put-tam.
"Kau suruh aku sabar, kau sendiri tampak gelisah,"
Sahut Put-we.
"Entah pada waktu apa akan dilakukan pula pertandingan Po-ji menurut perjanjian?"
Tanya Li Eng-hong.
"Pada saat ini, mungkin sudah lewat waktunya,"
Kata Kongsun Put-ti. Tiba-tiba Ban Cu-liang menyela.
"Biarpun Po-ji belum pulang, betapa pun kita harus memenuhi janji. Marilah kita berangkat ke tepi danau untuk memberitahukan Thian-to Bwe Kiam."
"Ya, seharusnya begitu,"
Tukas Bok Put-kut. Tapi baru saja mereka bergegas hendak berangkat, tiba-tiba terdengar suara ramai di luar.
"Agaknya kita tidak perlu berangkat lagi,"
Ujar Kongsun Put-ti.
Segera Bok Put-kut mendahului lari keluar disusul yang lain.
Maka terlihatlah serombongan orang sedang datang dari tepi danau sana.
Beratus orang dalam rombongan itu hingga menimbulkan suara berisik, terdengar suara mereka.
"Itu dia, di hotel itu."
"Dari mana kau tahu? Apakah kau ...."
"Itu lihat sendiri, siapa itu yang keluar dari hotel?!"
"Ah, betul, yang itu seperti Ban-tayhiap adanya."
"Dan yang mana Pui Po-giok?"
Seorang yang berjalan di depan rombongan itu berperawakan sedang dan kekar, wajahnya yang cokelat menampilkan tanda-tanda orang yang sudah kenyang asam garam dunia Kangouw.
"Itu dia, Thian-to Bwe Kiam sudah datang,"
Kata Ban Cu-liang dengan menyesal. Orang yang kekar kuat itu memang Thian-to Bwe Kiam adanya. Ia berdiri tegak di depan rombongan Ban Cu-liang dan menyapa.
"Selamat Ban-tayhiap, karena cukup lama kutunggu kedatangan Pui-siauhiap dan belum lagi muncul, kabarnya semalam Pui-siauhiap mondok di sini, maka sengaja menyusul kemari untuk bertemu dengan dia."
Ban Cu-liang memberi hormat dan menjawab.
"Maaf jika Bwe-tayhiap sampai menunggu sekian lama."
"Soalnya sangat ingin kulihat wajah Pui-tayhiap yang gagah, maka tidak sabar menunggu,"
Kata Bwe Kiam dengan tertawa.
"Entah sekarang bolehkah minta Pui-siauhiap keluar untuk bertemu denganku?"
"Wah, ini ... ini ...."
Ban Cu-liang gelagapan, terpaksa ia menoleh dan memandang Bok Put-kut 363 dan lain-lain yang tampak juga saling pandang belaka. Ban Cu-liang coba menjawab sebisanya.
"Oh, dia ... dia tidak berada di sini."
"Ke mana dia?"
Tanya Bwe Kiam heran. Mendadak Ban Cu-liang terbatuk-batuk hingga menungging. Kim Put-we tidak tahan, ia berteriak.
"Ke mana perginya, kami sendiri tidak tahu."
Keruan Bwe Kiam melengak, ucapnya dengan kurang senang.
"Pertandingan ini berasal dari janji Pui-siauhiap dan kalian sendiri, sekarang kudatang menurut waktu perjanjian, sebaliknya Pui-siauhiap malah menghilang, apakah memang sengaja hendak mempermainkan diriku?"
Belum habis ucapannya, orang banyak yang berdiri di belakangnya lantas ribut, ada yang berteriak.
"Aha, Pui Po-giok telah kabur!"
"Wah, sungguh lelucon yang tidak lucu. Ia sendiri yang berjanji untuk bertanding, setiba waktunya ia sendiri yang merat malah?"
"Haha, rupanya Pui Po-giok cuma seorang pengecut belaka!"
"Suruh Pui Po-giok keluar! ... Dia harus keluar untuk menepati janji! ...."
Begitulah berbagai ejekan dan olok-olok dialamatkan kepada Pui Po-giok. Keruan Bok Put-kut dan lain-lain gusar tidak kepalang, tapi juga tidak dapat berbuat sesuatu.
"Diam, kalian dengarkan dulu penjelasanku ...."
Teriak Kim Co-lim sambil memberi tanda. Meski lantang suaranya, namun segera tenggelam di tengah gemuruh suara orang banyak yang marah.
"Persetan! Siapa ingin penjelasanmu segala! ... Suruh Pui Po-giok keluar untuk bertempur dengan Bwe-tayhiap! ... Kau sendiri lekas enyah ...."
Kim Co-lim mengepal dengan gemetar saking dongkolnya, Ban Cu-liang menariknya dan mendesis.
"Saat ini Po-ji entah ke mana, Thi Un-hou yang terluka juga tidak di sini, biarpun kau beri penjelasan macam-macam juga sukar dipercaya mereka?"
Mendadak Kongsun Put-ti mendekati Bwe Kiam, katanya dengan hormat.
"Saat ini Pui Po-giok tidak di sini, tapi sebelum tengah hari dia pasti akan kembali. Bilamana untuk sementara Anda sudi bersabar, pada waktu tengah hari pasti akan kusuruh Po-giok berkunjung ke kediamanmu."
"Agaknya yang bicara ini Kongsun-tayhiap yang termasyhur,"
Jawab Bwe Kiam.
"Baiklah, demi menghormati Kongsun-tayhiap, sementara ini kuterima usulmu, pada waktu tengah hari kutunggu kedatangan kalian di rumah."
Dia memang seorang gagah kesatria, setiap ucapannya dilaksanakan dengan tegas dan cepat, serentak ia membalik tubuh dan berseru kepada orang banyak.
"Bilamana hadirin sudi menghormati orang she Bwe, hendaknya sekarang ikut pulang bersamaku, tunggu sementara hingga tengah hari. Biarpun orang she Bwe bukan orang kaya, tapi sekadar makanan kecil masih cukup tersedia di rumah. Maka kuharap kalian suka ikut ke rumahku sekarang juga."
Serentak orang banyak menjawab setuju dan beramai-ramai ikut pergi bersama Bwe Kiam, walaupun ada juga beberapa orang di antaranya masih mengomel karena merasa tertipu.
Menyaksikan kepergian orang banyak itu, Bok Put-kut dan lain-lain sama menggeleng kepala dan menghela napas menyesal.
"Untung Bwe Kiam ini seorang lelaki berbudi ...."
Belum lanjut ucapan Ban Cu-liang, mendadak Nyo Put-loh berteriak.
"Aku justru lebih suka dia seorang lelaki yang tidak pakai aturan, dengan begitu dapat kulabrak dia sepuasnya daripada bicara ini dan itu ...."
Selagi mereka ribut sendiri, tiba-tiba terdengar suara orang berlari di luar, tahu-tahu seorang menerobos masuk, siapa lagi dia kalau bukan Pui Po-giok.
Hanya semalam saja wajahnya yang merah cerah telah berubah menjadi pucat dan layu, akan tetapi Thi Un-hou yang berada dalam pangkuannya yang semula pucat kurus kini telah berubah menjadi merah segar.
Mestinya semua orang ingin mengomeli anak muda itu, tapi demi melihat keadaannya, tentu saja mereka tidak sampai hati.
Li Eng-hong memburu maju, tanyanya dengan terharu.
"Po ... Po-ji, dari mana ...."
Wajah Po-giok yang pucat dan lesu menampilkan senyuman terhibur, ucapnya.
"Syukurlah tidak mengecewakan harapan Paman."
Kalimat singkat itu diucapkan dengan ringan dan hambar, tidak ada yang tahu bahwa di balik perkataan itu terkandung air mata dan darah.
"Ah, baiklah jika sekarang Po-ji sudah pulang,"
Kata Ban Cu-liang kemudian dengan tertawa cerah.
"Rasanya kita pun tidak perlu cemas lagi."
Namun dalam hati diam-diam ia menyesal kepulangan anak muda itu agak terlambat sedikit. Dengan air mata berlinang Li Eng-hong menerima tubuh Thi Un-hou yang masih lemah itu.
"Saat ini Paman Thi lagi tidur, sebentar bila mendusin, kesehatannya akan banyak pulih ..."
Sampai di sini mendadak Po-ji menoleh dan bertanya.
"Eh, bagaimana dengan Thian-to Bwe Kiam? ...."
Cepat Kongsun Put-ti mendahului menjawab.
"Meski dia sudah datang dan pergi lagi, tapi jangan khawatir, kami sudah mengatur waktu pertandingan, diundurkan sampai tengah hari nanti dan sudah diterima oleh Bwe Kiam."
"Ah, bagus ...."
Seru Po-giok dengan lega.
Siapa tahu baru saja bicara sekian, mendadak tubuhnya terkulai.
Semua orang terkejut dan cepat membangunkan dia dan didudukkan di kursi.
Terlihat wajah anak muda itu pucat lesi serupa mayat, kaki tangan pun dingin.
"Hei, Po-ji, ken ... kenapa?"
Seru Bok Put-kut khawatir.
Perlahan Po-giok membuka mata dan tersenyum, seperti mau omong apa-apa, tapi sebelum terucap ia jatuh pingsan lagi.
Nyata ia lelah lahir batin sehingga kehabisan tenaga.
Tentu saja semua orang terperanjat dan khawatir.
Kongsun Put-ti mengangkat Po-giok ke dalam, dia ditaruh di tempat tidur, perlahan ia memberi selimut, lalu semua orang disuruh keluar, pintu pun dirapatkan.
"Bagaimana keadaannya?"
Tanya Kim Put-we perlahan. Kongsun Put-ti menggeleng kepala, sahutnya.
"Rupanya dia kehabisan tenaga dan sekarang memikirkan lagi pertandingan yang akan datang, maka dia ... dia tidak tahan."
"Wah, lantas bagaimana dengan pertandingan tengah hari nanti?"
Ujar Kim Put-we. Semua orang sama diam dan tidak dapat memberi sesuatu saran. Sampai sekian lama semua orang sama menunduk sedih, akhirnya Ban Cu-liang berkata sambil menghela napas.
"Dalam keadaan begini, kukira cuma ada suatu jalan."
"Terus terang, pikiran kami sama kusut, maka mohon Ban-tayhiap sudi memberi pendapat yang baik,"
Pinta Kongsun Put-ti.
"Sekarang hanya dapat minta Li Eng-hong membawa Thi Un-hou ke tempat Bwe Kiam dan menjelaskan kepada hadirin di sana tentang seluk-beluk urusan ini, dengan nama baik mereka berdua, ditambah lagi bukti keadaan Thi Un-hou yang terluka parah, tentu semua orang akan percaya kepada keterangan mereka."
Apa yang diuraikan Ban Cu-liang memang satu-satunya jalan yang dapat ditempuh dalam keadaan menghadapi jalan buntu ini.
Segera semua orang menyatakan setuju.
Semangat Bok Put-kut juga terbangkit, cepat ia berlari ke dalam rumah sambil berseru.
"Li-tayhiap ... Li-locianpwe ...."
Akan tetapi tidak ada suara jawaban, di dalam kamar hanya ada dua orang, yaitu Nyo Put-loh dan Pui Po-giok yang lagi tidur, bayangan Li Eng-hong dan Thi Un-hou tiada terlihat lagi.
Waktu mereka coba memeriksa keadaan kamar, terlihat di dinding ada tulisan yang berbunyi.
"Maaf Po-ji, kami bersalah padamu."
Tulisan merah jelas, ternyata ditulis dengan darah.
Ternyata Li Eng-hong dan Thi Un-hou sudah pergi.
Bahwasanya kedua orang ini terkepung musuh dan terluka parah, lalu minta tolong dan sebagainya, semua itu ternyata juga tipu muslihat belaka, perangkap yang sengaja diatur untuk membikin celaka Po-ji.
Ban Cu-liang, Bok Put-kut, dan lain-lain hampir tidak percaya kepada apa yang terjadi ini, akan tetapi semua ini justru bukti nyata yang tidak dapat disangkal.
Tokoh gemblengan serupa Ban Cu-liang sampai terhuyung-huyung memikirkan hal ini, dengan lemas ia duduk di kursinya, katanya dengan terputus-putus.
"Sungguh tidak ... tidak nyana Li Eng-hong dan Thi Un-hou adalah manusia kotor demikian, selama hidup kujelajahi dunia Kangouw, siapa duga sekarang bisa salah lihat."
"Tempo hari Auyang Cu, sekarang Li Eng-hong dan Thi Un-hou,"
Ucap Bok Put-kut dengan sedih.
"Mengapa mereka berbuat demikian, padahal hubungan mereka dengan Po-ji sangat erat, sebab apa mereka membikin susah Po-ji?"
"Jelas saat ini terdapat seorang iblis yang tak terlihat dan tak terdengar oleh kita berniat membikin susah Po-ji,"
Kata Kongsun Put-ti.
"Sebab iblis ini tahu hanya orang seperti Auyang Cu dan Li Eng-hong saja yang dapat menipu Po-ji."
Semua orang merinding membayangkan tipu muslihat yang diatur iblis tak terlihat dan tak terdengar seperti apa yang dikatakan Kongsun Put-ti itu.
"Iblis jahat itu selain ingin merenggut nyawa Po-ji, bahkan ingin membuat Po-ji tersiksa dan kehilangan nama baik secara perlahan, kehilangan semangat, kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya mati. Betapa keji dan kejam maksud iblis itu, sungguh tidak ada bandingannya di dunia ini."
Bilamana membayangkan betapa rapi muslihat yang diatur iblis tak tertampak itu, sampai orang 366 cerdik seperti Ban Cu-liang dan Kongsun Put-ti juga terjeblos ke dalam perangkap si iblis, sungguh mengerikan dan membuat semua orang sama merinding.
Mendadak Kim Put-we berteriak dengan suara parau.
"Sesungguhnya siapakah iblis jahat ini? Ada permusuhan apa antara dia dengan Po-ji? Orang yang berhubungan erat dengan Po-ji seperti Auyang Cu dan Li Eng-hong, mengapa juga tunduk kepada iblis itu dan mau membikin celaka Po-ji? Ahh, siapakah di dunia ini yang tahu rahasia ini dan siapa kiranya yang dapat memberi jawaban padaku?"
Suasana terasa sunyi dan seram, sebab sejauh ini memang tidak ada seorang pun yang tahu rahasia itu, apalagi untuk menjawab pertanyaannya.
***** Waktu tengah hari, awan mendung telah buyar, cahaya matahari menyinari bumi.
Tempat kediaman Thian-to Bwe Kiam yang luas tapi sederhana itu sunyi senyap tiada orang lagi, kawanan orang Kangouw yang tadi ingin melihat keramaian itu kini sudah pergi semua.
Dua orang anak berbaju hijau sedang menyapu halaman.
Bwe Kiam duduk sendirian di bawah kerindangan pohon, perlahan asyik membersihkan senjata andalannya, golok berantai.
Tiba-tiba seorang berlari datang, memberi hormat dan melapor.
"Di luar ada In-bong-tayhiap Ban Cu-liang, Bok Put-kut dari Siau-lim, dan Kongsun Put-ti dari Bu-tong, mohon bertemu dengan Toaya."
Bwe Kiam bersuara perlahan sambil berkerut kening, buru-buru ia lari keluar. Memang benar Ban Cu-liang bertiga sudah berdiri di ruangan tengah. Tampak mereka merasa heran oleh kesunyian rumah ini.
"Apakah para kawan tadi sudah pergi?"
Tanya Ban Cu-liang segera setelah berhadapan dengan tuan rumah.
"Ya, sudah pergi semua,"
Jawab Bwe Kiam. Ban Cu-liang bertiga saling pandang dengan heran, kejut dan juga girang. Diam-diam mereka bersyukur dan membatin.
"Jika orang banyak sudah bubar, tentu urusan lebih mudah diselesaikan."
Bwe Kiam memandang mereka sekejap, lalu tanya.
"Entah ada petunjuk apa kedatangan kalian?"
"Soalnya kan sudah kujanjikan agar menemui Bwe-tayhiap pada waktu tengah hari ini,"
Tutur Kongsun Put-ti.
"Betul,"
Kata Bwe Kiam.
"Tapi Pui-siauhiap sendiri ...."
"Justru kedatangan kami ingin memberi penjelasan mengenai urusan ini,"
Kata Ban Cu-liang.
"Soalnya Po-giok mendadak ... mendadak jatuh sakit berat dan tidak dapat bangun, jelas hari ini dia tidak dapat memenuhi janji."
"Oo, apa betul?"
Bwe Kiam menegas dengan kening bekernyit.
"Demi kehormatanku, selama hidupku tidak pernah omong kosong, apalagi terhadap Bwe-tayhiap, masakah berani kudusta,"
Sahut Ban Cu-liang tegas.
"Yang kuharap agar Bwe-tayhiap 367 suka mengingat diriku dan sudi mengundurkan waktu pertandingan untuk beberapa hari saja."
Bwe Kiam tidak lantas menjawab, sinar matanya yang tajam menyapu pandang Ban Cu-liang bertiga, dengan sendirinya perasaan ketiga orang sama terasa tegang menanti jawaban. Tiba-tiba Bwe Kiam mendengus.
"Hm, padahal tadi Pui-siauhiap baru saja datang kemari, sungguh aku tidak mengerti apa maksud kalian?"
Tentu saja Bok Put-kut bertiga terperanjat.
"Apa ... apa Bwe-tayhiap tidak salah lihat?!"
Tanya Kongsun Put-ti.
"Hm, biarpun aku tidak kenal Pui-siauhiap, tapi dari para kawan yang hadir di sini tadi kan banyak yang kenal dia, memangnya mereka pun salah lihat?"
Sahut Bwe Kiam dengan ketus. Ban Cu-liang bertiga saling pandang dengan bingung, jawab Bok Put-kut kemudian.
"Namun ... namun sejak tadi Po-ji jelas tertidur lelap ...."
"Bukan saja Pui-siauhiap sudah datang kemari, malahan ia mengantar sendiri sepucuk surat, apakah kalian ingin membaca suratnya?"
Tanya Bwe Kiam sambil menyodorkan sepucuk surat dan cepat diterima Bok Put-kut.
Waktu mereka membentang surat itu, isinya menyatakan Pui Po-giok telah menyadari kecerobohannya, beberapa pertarungan yang sudah terjadi dianggapnya cuma terdorong oleh darah muda yang sok menang.
Tapi sekarang ia menyadari kekeliruannya dan bersumpah takkan menggunakan kekerasan lagi untuk menghadapi orang Kangouw.
Begitu pula ia minta maaf kepada Bwe Kiam dan menyatakan batal pertandingan mereka.
Surat itu singkat dan indah tulisannya, Bok Put-kut bertiga sama melongo setelah membaca isi surat itu.
Segera Bok Put-kut dan Ban Cu-liang bermaksud membantah pula isi surat itu, namun Kongsun Put-ti keburu mencegahnya.
"Setelah menyampaikan surat ini, tanpa bicara Pui-siauhiap lantas tinggal pergi,"
Tutur Bwe Kiam.
"Semua ini disaksikan orang banyak, kuyakin kalian pun dapat membenarkan maksud surat Pui-siauhiap ini."
"Numpang tanya,"
Kata Kongsun Put-ti.
"Setelah semua orang melihat kepergiannya tanpa bertanding, apa komentar para kawan yang hadir di sini?"
"Dengan sendirinya ada yang memuji Pui-siauhiap yang mau menyadari kesalahannya,"
Tutur Bwe Kiam.
"Akan tetapi lebih banyak lagi yang mengejeknya sebagai pengecut dan macam-macam kata kotor yang tidak pantas kutirukan."
Ia berhenti sejenak sambil menghela napas, lalu menyambung.
"Setelah kubaca surat Pui-siauhiap ini, terus terang hatiku terharu juga. Hidup kaum persilatan kita yang setiap hari hanya bergelimang di ujung golok memang tidak setenang hidup kaum terpelajar."
Kongsun Put-ti tidak tahu maksud ucapan orang ini benar-benar timbul dari perasaan terharu atau cuma untuk menyindir, segera ia memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih atas keterangan Bwe-tayhiap, maaf kami mohon diri saja."
Ia tarik Ban Cu-liang dan Bok Put-kut dan diajak meninggalkan tempat Bwe Kiam.
Setiba kembali di hotel, perlahan mereka melongok kamar Po-giok, anak muda itu terlihat masih tidur nyenyak.
Melihat ketiga kawan yang berkelakuan aneh itu, dengan sendirinya Kim Put-we dan lain-lain minta keterangan kepada mereka.
Ban Cu-liang lantas menceritakan apa yang dialaminya di 368 tempat Bwe Kiam itu.
Keruan semua orang sama melengak, Gui Put-tam berseru.
"Sungguh tidak masuk akal, sejak tadi Po-ji tidur pulas dan tidak pernah pergi dari sini."
"Agaknya orang she Bwe itu pun seorang rendah dan kotor,"
Teriak Kim Put-we dengan gusar.
"Masakah dia sengaja membuat hal-hal demikian untuk memfitnah Po-ji. Ayo Ciok-lote, mari kita mencari orang she Bwe dan melabraknya."
"Nanti dulu,"
Sela Kongsun Put-ti.
"Dalam hal ini tidak dapat menyalahkan Bwe Kiam."
"Tidak menyalahkan Bwe Kiam, lantas siapa yang harus disalahkan?"
Teriak Put-we gusar. Kongsun Put-ti menghela napas, katanya.
"Masa tidak dapat kau lihat semua ini pasti tipu muslihat yang diatur iblis jahat di balik layar itu? Apa yang diperbuatnya ini sengaja menimbulkan rasa hina para kesatria terhadap Po-ji. Jika apa yang terjadi sekarang tersiar di dunia Kangouw, maka runtuhlah nama Po-ji, andaikan nanti Po-ji muncul dan bertempur, tentu ia akan dituduh sebagai manusia yang tidak dapat dipercaya dan apa pun sukar bagi Po-ji untuk memberi penjelasan."
Semua orang sama menarik napas dingin membayangkan muslihat keji iblis itu. Dengan geregetan Kim Put-we berteriak.
"Sungguh iblis yang kejam dan tipu yang keji. Sesungguhnya ada permusuhan apa antara dia dengan Po-ji sehingga dia sengaja mengatur cara sekotor ini untuk menghancurkan hidup Po-ji?"
"Kuduga iblis itu pasti seorang yang sangat mengenal seluk-beluk Po-ji,"
Ujar Kongsun Put-ti setelah termenung sejenak.
"sebab itulah dia dapat menyuruh orang menyaru sebagai Po-ji, bahkan menirukan gerak-geriknya dengan persis dan tidak ketahuan di depan orang banyak."
Semua orang sama berpikir dan bertanya-tanya.
"Siapakah kiranya orang yang mengenal baik Po-ji dan sengaja memusuhi anak muda itu?"
Kini semua orang pun menyadari keempat orang berbaju putih yang misterius itu tidak lebih hanya bersekongkol dengan Li Eng-hong, setelah tujuannya tercapai cepat mereka kabur.
Jika iblis laknat itu mampu memerintah keempat orang berbaju putih yang tinggi ilmu silatnya, tentu kedudukan iblis itu bukan sembarangan.
Padahal di antara kenalan atau sanak kerabat Po-ji mana ada tokoh sehebat itu?
"Sesungguhnya siapa iblis laknat itu, saat ini mungkin cuma Po-ji saja yang dapat merabanya, biarlah coba kutanya dia,"
Seru Kim Put-we sambil berlari ke sana dan hendak menggedor pintu kamar Po-ji. Cepat Kongsun Put-ti mencegahnya dan berkata.
"Nanti dulu. Apa pun juga saat ini jangan kita ganggu Po-ji, biarpun perlu tanya dia juga tunggu nanti saja setelah dia bangun."
Sementara itu sudah jauh lewat tengah hari, menjelang senja, suasana di hotel kecil ini terasa tambah sunyi.
Ketika malam tiba, tiada seorang pun menyalakan lampu.
Rupanya semua orang sama duduk serupa patung dengan perasaan tertekan sehingga tidak ada yang menghiraukan tibanya malam gelap.
Sekonyong-konyong di luar ada suara berisik terseling suara gelak tertawa Kim Co-lim.
Cepat semua orang berlari keluar.
Dalam kegelapan malam terlihat dua sosok bayangan, sembari menyanyi dan tertawa, keduanya saling rangkul dan datang dengan langkah terhuyung.
Sesudah agak dekat, dapat 369 terlihat seorang di antaranya adalah Kim Co-lim, entah sejak kapan dia telah keluar.
"Hah, yang datang bersama Kim Co-lim bukankah Thian-to Bwe Kiam adanya?!"
Seru Ban Cu-liang heran.
Waktu mereka menyongsong maju, terlihat baju Kim Co-lim terkoyak dan sekujur badan berlumuran darah, meski wajah kelihatan letih, namun sinar matanya menampilkan rasa riang dan bersemangat.
Keadaan Bwe Kiam juga kedodoran, selain bajunya robek sebagian, rambutnya juga kusut dan terikat tak teratur.
Napas kedua orang tampak sama terengah-engah dan berbau arak, sikap keduanya tampak sangat akrab, tapi juga mirip baru saja mengalami pertempuran sengit.
Tentu saja semua orang heran dan kejut, tidak tahu apa yang terjadi.
Dengan tertawa, Kim Co-lim lantas berseru.
"Haha, tentu kalian tidak tahu ke mana kupergi tadi? Hah, pasti kalian tidak dapat menerkanya ... Tadi kupergi mencari Bwe Kiam dan mengadu jiwa dengan dia!"
"Tadi Kim-heng datang mencari diriku dalam keadaan setengah mabuk, tanpa bicara ia labrak padaku,"
Tutur Bwe Kiam dengan tertawa.
"Semula tidak ingin kulayani dia, tapi ketika beberapa jurus serangannya selain berbahaya juga sangat lihai, aku menjadi getol untuk main-main beberapa jurus dengan dia."
"Haha, sudah lama kudengar golok pengunci Thian-to Bwe Kiam adalah semacam senjata yang sukar dilawan,"
Seru Kim Co-lim.
"semula aku tidak percaya, setelah pertarungan tadi, hehe, barulah kubuktikan senjata Bwe-tayhiap itu memang lain daripada yang lain. Terutama goloknya yang tersembunyi dan bola berantai pada ujung toya, semacam senjata berubah menjadi serbaguna. Sungguh hari ini orang she Kim tidak sedikit menambah pengalaman setelah bergebrak dengan Bwe-tayhiap."
Melihat bajunya yang berlepotan darah, semua orang dapat menduga pertarungan ini telah membuat Kim Co-lim banyak menelan pil pahit.
Dan entah mengapa kedua seteru ini bisa berubah menjadi kawan pula.
Terdengar Bwe Kiam juga tertawa, katanya.
"Biarpun golokku sangat sulit dilayani, tapi kewalahan juga menghadapi kegagahan Kim-heng yang tidak kenal takut. Kutempur dia dari tengah hari hingga petang, tubuhnya sudah penuh hiasan luka, bila orang lain mustahil takkan patah semangat dan menyerah. Siapa tahu makin lama dia makin gagah, setiap jurus serangannya bertambah tangkas. Selama hidupku tidak pernah jeri menghadapi siapa pun, tapi hari ini harus kuakui hatiku rada kecut menghadapi Kim-heng."
"Ah, jangan kau umpak diriku,"
Ujar Kim Co-lim tertawa.
"Apabila engkau tidak berlaku sungkan, tentu sejak tadi aku menggeletak tak bisa bergerak lagi. Meski orang she Kim bukan kesatria segala, sedikit banyak juga tahu baik dan buruk. Ketika engkau berhenti menyerang, mana bisa kumain seruduk lagi tanpa tahu diri?"
"Soalnya kuhormati sebagai orang gagah, maka perlu kutanya untuk apa kau tempur diriku,"
Ujar Bwe Kiam.
"Karena itulah Kim-heng lantas menceritakan segala sesuatu mengenai Pui-siauhiap."
"Dan sekarang engkau sudah percaya?"
Tanya Kim Put-we.
"Keterangan orang gagah semacam Kim-heng masa tidak kupercaya?"
Sahut Bwe Kiam.
"Tentu saja kupercaya, maka kuajak Kim-heng minum arak sepuasnya, dan sekarang kudatang untuk menjenguk keadaan Pui-siauhiap."
"Haha, kata peribahasa, tidak berkelahi tidak saling mengenal,"
Seru Ban Cu-liang dengan tertawa.
"Nyata setelah bergebrak, antara Bwe-tayhiap dan Kim-heng telah menjadi bersahabat. Sayang kami tidak ikut menyaksikan pertandingan yang mengagumkan dan jarang terjadi itu."
"Sekarang akan kupanggilkan Po-ji untuk bertemu dengan Bwe-heng,"
Kata Kim Put-we.
"Ah, tidak perlu terburu-buru,"
Ujar Bwe Kiam.
"Kabarnya Pui-siauhiap sedang istirahat, buat apa mengejutkan dia. Yang penting orang she Bwe sudah tahu para kawan di sini adalah kesatria sejati, marilah kuhormati kalian tiga cawan sekadar permintaan maaf. Sebentar bila Pui-siauhiap sudah mendusin, barulah kutemui dia."
"Benar juga,"
Seru Ban Cu-liang.
"Aha, bagus, biar kuiringi minum lagi tiga ratus cawan,"
Tukas Kim Co-lim dengan tergelak.
Di luar tahu mereka, pada saat itulah daun jendela kamar Po-ji yang sedang tidur itu telah tersingkap, sesosok bayangan orang menyelinap ke dalam kamar dengan licin serupa belut.
Kelihatan bayangan itu berpinggang ramping, sinar matanya mencorong terang, meski dalam kegelapan itu tidak kelihatan wajahnya, namun dapat dipastikan tentu seorang perempuan cantik.
Ia berdiri di depan tempat tidur dan memandang termangu pada Po-giok yang masih tidur nyenyak, sorot matanya yang mencorong terasa lembut pula.
Di bawah cahaya bintang yang remang-remang menyelinap ke dalam kamar, tampak rambutnya yang panjang terurai dan kulit mukanya yang putih dengan sikap yang anggun.
Siapa dia?
Sampai lama ia berdiri diam, pandangannya juga tidak bergeser.
Akhirnya terjulur tangannya yang putih halus, perlahan ia meraba kelopak mata Po-giok, tangan yang lembut itu seperti agak gemetar.
Dengan suara perlahan ia tanya.
"Coba ... coba terka siapa ... siapa aku? ...."
Akhirnya Po-giok terjaga bangun dalam kegelapan.
Lebih dulu ia merasakan bau harum serupa berada di taman bunga, lalu terdengar sayup-sayup bisikan lembut serupa rayuan kekasih yang membetot sukma.
Meski cuma bisikan lembut, namun sudah membuat Po-giok bergetar dan terjaga bangun, akan tetapi tubuh terasa kaku dan tidak dapat bergerak.
"Coba terka siapa aku? ...."
Terdengar bisikan itu masih mengiang di telinganya.
Tiba-tiba air matanya berlinang-linang, dari balik air mata seakan-akan terbayang olehnya sebuah lukisan ...
lukisan dalam mimpi, yaitu seorang anak dara dengan berbaju putih mulus sedang duduk dengan bertopang dagu dan termangu-mangu memandangi bunga kamelia di dalam pot ...."
"Hah, kau ... kau ...."
Seru Po-giok. Tangan yang lembut membelai keningnya, ucapannya terlebih lembut.
"Anak baik, apa kau mimpi buruk? Jangan takut, aku sudah kembali di sampingmu, apa pun tidak perlu takut."
Waktu Po-giok membuka mata lebar-lebar, samar-samar dapatlah dilihatnya orang ini memang Siaukongcu adanya.
Sesaat itu ia merasa seperti di alam mimpi, apakah pahit atau manis pertemuan ini, sungguh sukar untuk dijelaskan.
Po-giok tidak bersuara, ia tidak dapat berucap, dirasakan tubuh Siaukongcu yang harum dan lunak telah menggelendot dalam pangkuannya.
Perpisahan yang cukup lama telah terlupakan dalam sekejap ini, penderitaan dan kepedihan selama berpisah juga lenyap dalam pelukan lunak ini.
Po-giok ingin bicara, mendadak Siaukongcu mendorongnya dengan keras, lalu berdiri dan menatapnya lekat-lekat sambil menggigit bibir, kemudian berkata.
"Bangsat cilik, telur busuk cilik, selama ini apakah pernah kau pikirkan diriku?"
Po-giok tertawa. Siaukongcu mengentak kaki perlahan dan mengomel.
"Bangsat cilik, apa ... apa yang kau tertawakan?"
"Kutertawa karena ... karena selama ini perangaimu belum juga berubah,"
Jawab Po-giok tertawa.
"Tentu saja aku tidak berubah, yang berubah adalah dirimu,"
Kata Siaukongcu.
"Dengan sendirinya aku berubah, aku sudah dewasa dan kau masih tetap anak-anak,"
Ujar Po-giok.
"Ya, sekarang kau sudah besar, sudah menjadi seorang tokoh besar, entah betapa banyak anak perempuan dunia Kangouw yang tergila-gila padamu, tentu saja kau tidak ingat lagi padaku."
Bicara sampai di sini, matanya menjadi merah dan basah, mendadak ia membalik tubuh dan bermaksud lari pergi, namun Po-giok keburu menariknya. Dengan mendelik Siaukongcu berkata.
"Tokoh besar, untuk apa kau pegang anak seperti diriku."
"Takkan kupegang dirimu dan engkau juga jangan pergi,"
Sahut Po-giok dengan lembut. Sejenak Siaukongcu termenung, katanya kemudian.
"Baik ... Coba katakan bahwa selama berpisah ini senantiasa engkau terkenang padaku, mimpi pun memikirkan diriku, dengan begitu aku tidak jadi pergi ... Nah, katakan lekas!"
"Dengan sendirinya senantiasa kukenangkan dirimu,"
Kata Po-giok.
"Tidak, bukan begitu cara bicaramu,"
Seru Siaukongcu.
"Harus kau katakan seperti apa yang kuucapkan, satu kata pun tidak boleh berbeda. Kalau tidak ... kalau tidak, segera kupergi dan takkan menggubrismu selamanya."
Po-giok yakin si nona takkan pergi, tapi entah mengapa, di depan si cantik, anak muda yang berwatak keras ini berubah menjadi anak penurut.
Kekerasan hati dan kecerdasan yang tergembleng selama sekian tahun ini kini lenyap seluruhnya di depan si nona.
Muka Po-giok agak merah, ia menunduk, akhirnya berkata.
"Ya, selama berpisah, senantiasa kau terkenang padaku, dalam mimpi pun memikirkanku ...."
"Tidak, salah, salah,"
Seru Siaukongcu.
"Kenapa kau katakan terbalik, tolol, bukan aku yang 372 memikirkan dirimu."
"Aku kan menurut kehendakmu dan menirukan apa yang kau katakan tadi, satu kata pun tidak berbeda,"
Ujar Po-giok.
"Huh, benci aku, kau sengaja berlagak pilon ...."
Ucap Siaukongcu dengan menggereget, mendadak ia menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Po-giok, merangkul lehernya dan digigitnya satu kali.
Selama beberapa tahun dulu entah berapa kali Po-giok digigit nona itu, namun menurut perasaannya, gigitan sekali ini terasa sangat berlainan dengan dahulu.
Dalam sekejap ini pikirannya terasa kusut dan mabuk, kata "benci"
Tadi dirasakan mengandung arti yang sukar dilukiskan.
Cahaya bintang seakan-akan tambah terang, menyinari dua bayangan orang yang saling dekap.
Tidak ada yang bicara, sebab mereka tidak tahu apa yang perlu dibicarakan.
Namun kesunyian tanpa kata itu jauh melebihi beribu kata-kata.
Entah berselang berapa lama, akhirnya Po-giok berucap.
"Selama berpisah sesungguhnya apa yang pernah kau alami, coba ceritakan padaku, supaya ingin kubagi sedikit pahit-getirmu dan juga membagi sedikit rasa bahagiamu."
"Bahagia?"
Siaukongcu menegas.
"Dari mana datangnya bahagia? Selama ini, kukira ... kukira pengalamanmu yang menyenangkan akan jauh lebih banyak daripadaku. Maka lebih dulu kau ceritakan kebahagiaanmu saja."
"Ah, selama ini ... apa yang dapat kuceritakan,"
Ujar Po-giok dengan gegetun.
"Pokoknya selama ini dari pagi sampai petang, dari malam sampai siang, di mana pun aku berada, yang senantiasa kupikirkan hanya berlatih kungfu, dengan tekun kupelajari cara bagaimana supaya diriku benar-benar dapat terlebur dengan kungfu yang kulatih."
Mendadak Siaukongcu mendorongnya lagi dan menjengek.
"Hm, kutahu yang kau pikirkan memang cuma belajar kungfu belaka, mana sempat memikirkan diriku."
Nyata, di depan nona ini satu kata pun tidak boleh salah omong. Terpaksa Po-giok merayu.
"Ai, masa tidak kupikirkan dirimu."
"Aku tidak percaya, kecuali ...."
"Jika aku bohong, biarlah aku ...."
Cepat Siaukongcu mendekap mulutnya dan menyela.
"Baik, aku percaya setiap perkataanmu. Nah, katakan padaku, selama ini adakah anak perempuan yang tergila-gila padamu itu lebih ... lebih ...."
Dengan sendirinya Po-giok dapat menduga apa maksud si nona, katanya tertawa.
"Lebih cantik daripadamu? Memangnya perlu kau tanya lagi?"
Siaukongcu menjatuhkan diri lagi ke pangkuan anak muda itu, selang sejenak, tiba-tiba ia berkata pula.
"Aku mau pergi saja sekarang."
"Baru datang segera kau mau pergi lagi?"
Tanya Po-giok.
"Kita baru bicara beberapa kata, masa engkau lantas mau pergi?"
"Setiap saat aku dapat datang dan pergi, siapa yang dapat mengurus diriku?"
Sahut Siaukongcu.
Kembali Po-giok melenggong dan tak dapat bicara.
Tapi biarpun di mulut bilang mau pergi, ternyata Siaukongcu masih menggelendot di pangkuan Po-giok.
Perlahan Po-giok membelai rambut si nona dan memandang cahaya bintang di luar jendela dengan termangu, ucapnya kemudian dengan gegetun.
"Mestinya engkau tidak datang kemari. Bilamana engkau tidak datang, biarpun hatiku kesepian, namun akan tetap tenang. Sekarang kau datang dan segera mau pergi lagi, aku ... aku menjadi bingung."
Mendadak Siaukongcu berdiri dan menghadap ke sana.
"Engkau benar mau pergi?"
Tanya Po-giok.
"Kau bilang mestinya aku tidak datang kemari, lalu apa yang kutunggu lagi di sini?"
Ujar Siaukongcu. Sejenak Po-giok terkesima, gumamnya kemudian.
"Memangnya kau minta kumohon ...."
Waktu ia mendongak, dilihatnya tubuh si nona agak gemetar.
"Engkau men ... menangis?"
Tanya Po-giok.
"Siapa menangis? Buat apa aku menangis? ...."
Walaupun demikian ucapnya, mendadak Siaukongcu menjatuhkan diri di tempat tidur dan menangis sedih. Po-giok menjadi gugup.
"Wah, barangkali aku salah omong, engkau jangan ...."
"Tidak, engkau tidak salah omong,"
Sela Siaukongcu dengan terguguk.
"Aku memang seharusnya tidak datang kemari supaya pikiranmu tenang, buat apa kudatang untuk menemuimu pada terakhir kali ini?"
"Terakhir kali?"
Po-giok menegas, hatinya seperti dipalu sekali.
"Mengapa terakhir kali? Apa maksudmu?"
Siaukongcu seperti menyadari ucapan itu mestinya tidak dikatakan, mendadak ia melompat keluar jendela.
Meski dalam benak Po-giok belum timbul maksud "mengejar", namun tanpa terasa tubuhnya langsung ikut mengejar keluar.
Maklumlah, gemblengan selama sekian tahun ini telah membuatnya memiliki semacam daya reaksi yang spontan.
Siaukongcu juga tidak menyangka gerak tubuh sang anak muda itu bisa begitu cepat, tahu-tahu lengan bajunya kena dipegang Po-giok, namun langkahnya tidak berhenti dan terpaksa Po-giok ikut berlari ke depan.
Dilihatnya air mata si nona bercucuran, tentu saja Po-giok cemas dan bertanya.
"Ada apa? Mengapa kau bilang pertemuan terakhir kali?"
"Tidak apa-apa, lepas ... lepaskan ...."
Sahut Siaukongcu.
Tentu saja Po-giok tidak mau lepas tangan dan keduanya tetap berlari ke depan secepat terbang, setelah melintasi sawah ladang, akhirnya masuk sebuah hutan.
Di situlah Siaukongcu berhenti dan mengomel.
"Benci aku, siapa suruh engkau ikut kemari?"
Meski diomeli, namun perasaan tertekan Po-giok menjadi ringan malah, ucapnya lirih, 374
"Bilamana tidak kau jelaskan apa sebabnya, selamanya tetap kuikut padamu."
"Jangan, kumohon dengan sangat, jangan mendesak padaku,"
Pinta Siaukongcu. Ia melepaskan pegangan Po-giok dan berlari lagi ke depan. Dan Po-giok tetap menyusulnya meski tidak lagi memegangi si nona.
"Baik,"
Kata Siaukongcu akhirnya.
"jika engkau memaksaku bicara, terpaksa kukatakan, engkaulah yang minta kubicara, maka janganlah engkau menyesal ...." ***** Malam sudah larut, halaman dalam hotel kecil itu sunyi senyap. Gui Put-tam dan Sebun Put-jiok tampak mondar-mandir di halaman, berulang Put-tam mendongak memandang langit dan memperkirakan waktunya, katanya kemudian.
"Sudah lebih dua jam rombongan Toako keluar."
Dengan tersenyum Sebun Put-jiok menjawab.
"Dua jam sih belum ada, memang orang yang sedang menunggu selalu merasakan lamanya waktu menunggu. Sebaliknya mereka yang minum arak akan merasakan waktu berjalan dengan cepat."
"Justru lantaran kita tidak gemar minum, maka diberi tugas pahit ini,"
Kata Put-tam dengan menggeleng.
"Disuruh jaga di sini, ai, apa pun juga kan lebih enak yang sedang minum arak?"
"Kau memang biasa tidak mau dirugikan,"
Ujar Sebun Put-jiok dengan tertawa. Tiba-tiba ia menghela napas dan menyambung.
"Akhir-akhir ini perasaan Toako memang agak berat, kita harus memberi kesempatan padanya untuk minum sepuasnya sekadar menghibur hatinya."
Belum lagi Put-tam menanggapi, terdengarlah suara ramai orang banyak di luar, menyusul Bok Put-kut, Ban Cu-liang, Bwe Kiam, dan lain-lain membanjir masuk.
"Gui-samte berdua tentu sudah mengantuk,"
Kata Bok Put-kut, lalu ia tuding kamar Po-giok dan bertanya.
"Apakah masih tidur?"
"Ya, sampai saat ini belum terdengar sesuatu gerak-gerik, mungkin tidurnya sangat lelap,"
Jawab Gui Put-tam.
"Sudah cukup lama ia tidur. Bwe-toako juga sudah menunggu sekian lamanya,"
Teriak Kim Co-lim.
"Betapa pun juga harus kita bangunkan dia dan jangan membuat Bwe-toako menunggu lebih lama lagi."
Semua orang memandang Kongsun Put-ti dan menunggu komentarnya. Put-ti tersenyum, ia mendekati pintu kamar Po-giok dan mengetuk perlahan sambil memanggil.
"Po-ji ... Po-ji, bangunlah ...."
Meski sudah diulang memanggil tetap tidak ada jawaban.
Segera ia mendorong pintu dan masuk ke situ, ternyata kamar kosong melompong.
Kejut semua orang sungguh tak terkatakan.
Ciok Put-we dan Gui Put-tam cepat menyalakan lampu, terlihatlah di atas meja ada secarik surat, jelas ditinggalkan oleh Po-ji.
Isi surat itu meminta maaf kepada para paman bahwa keadaan mental dan fisiknya telah merosot setelah mengalami beberapa pertandingan, bahwa disadarinya cara menggunakan ilmu silat untuk mencari nama adalah cara yang keliru dan menimbulkan antipati orang banyak, maka selanjutnya dia akan mengundurkan diri dari dunia Kangouw dan malu untuk bertemu lagi dengan para paman.
Kepergiannya adalah untuk mengasingkan diri untuk mengakhiri masa 375 hidup selanjutnya.
Isi surat ini kecuali berbeda sebutan dan kalimatnya juga berlainan, selebihnya seperti kertas surat, gaya tulisan, nada, semuanya serupa surat yang diterima Bwe Kiam itu.
Barang siapa asalkan pernah membawa kedua surat ini tentu akan memastikan kedua pucuk surat ini ditulis oleh si orang yang sama.
Semua orang bergiliran membaca surat itu, semuanya sama melenggong.
Pengaruh arak pada Bwe Kiam lenyap sama sekali, ia pandang Kim Co-lim dan berkata.
"Kiranya surat yang kuterima memang benar ditulis oleh Pui Po-giok."
Kim Co-lim juga tersadar dari mabuknya, ucapnya dengan menyesal.
"Hah, mana ... mana bisa Po-giok bertindak demikian. Dia bukan manusia begitu, Bwe-heng, dia ...."
"Hm, mungkin kalian pun tertipu olehnya,"
Jengek Bwe Kiam. Wajah Bok Put-kut dan lain-lain sama pucat. Kongsun Put-ti berpikir sejenak, tiba-tiba ia sodorkan surat itu ke depan Thi-wah yang tampak termenung di samping, tanyanya.
"Apakah ini memang tulisan tangan toakomu?"
Hendaknya maklum, meski semua orang telah berkumpul sekian lama dengan Po-giok tapi tiada seorang pun pernah melihat gaya tulisan anak muda itu, terpaksa mereka minta keterangan kepada Gu Thi-wah.
Siapa tahu bocah gede itu hanya menunduk saja dan menjawab.
"Aku pun tidak tahu."
Semua orang sama menggeleng kepala dan menghela napas belaka. Tiba-tiba Bok Put-kut berkata.
"Salah kita, sejak tadi tidak ada yang menjenguk Po-ji apakah masih tidur di sini atau tidak ... Ai, bilamana benar ia bertindak demikian, sungguh terlalu dia, sampai kita pun tega dikelabuinya."
Nada ucapannya jelas menunjuk pikirannya mulai goyah dan tidak percaya penuh lagi kepada Pui Po-giok. Bwe Kiam menghela napas, katanya sambil menepuk bahu Kim Co-lim.
"Bukan maksudku berolok-olok. Padahal dengan kungfu setinggi Pui Po-giok, siapa pula di dunia ini yang mampu memaksakan sesuatu yang tidak mau diperbuatnya, dan siapa pula yang dapat menculik dia ... Seumpama ada yang lebih unggul daripada dia, ketika keduanya bertengkar pasti juga akan menimbulkan suara, masakah orang di luar tidak ada yang dengar?"
Uraian ini cukup masuk di akal sehingga membuat semua orang tidak dapat membantah. Mendadak Thi-wah berteriak.
"Aneh, mengapa isi surat ini sama sekali tidak menyinggung diriku?"
"Ya, betul, kau tidak disebut-sebut,"
Tukas Ban Cu-liang.
"Jika surat ini tidak menyebut diriku, maka surat ini pasti bukan ditulis oleh toakoku,"
Teriak Thi-wah.
"Sebab kalau Toako benar mau pergi, apa pun juga dia pasti akan tanya pendapatku."
Habis bicara, tak tahan lagi air matanya bercucuran. Kim Put-we juga mencucurkan air mata, teriaknya.
"Betul, apa pun juga aku pun tidak percaya akan perbuatan Po-ji, semua ini pasti muslihat keji pula si iblis jahat di balik layar itu." ***** Sementara itu Siaukongcu sedang menatap tajam Po-giok dan berkata.
"Kau sendiri yang minta kukatakan, setelah tahu janganlah engkau menyesal."
"Asalkan aku sendiri sukarela, urusan apa pun takkan membuatku menyesal,"
Sahut Po-giok.
"Baik,"
Kata Siaukongcu.
"Nah, kau tahu, aku kan diculik oleh kawanan orang jahat itu, berada di tengah kawanan iblis itu, penderitaan yang telah kualami tentu dapat kau bayangkan tanpa kujelaskan."
Jilid 16. Misteri Kapal Layar Pancawarna Teringat kepada peristiwa masa lampau, seketika Siaukongcu bergemetar. Tanpa terasa Po-giok merangkulnya dan berkata.
"Bicaralah perlahan, jangan takut. Aku kan berada di sampingmu, selanjutnya, menghadapi urusan apa pun pasti akan kutanggung bersamamu."
Siaukongcu memandangnya sekejap, pandangan yang lembut dan penuh kasih mesra, pandangan yang cukup membetot sukma.
Tiba-tiba Po-giok melihat di tengah kecantikan si nona yang memang sudah ada itu bertambah lagi semacam gaya genit yang sukar dilukiskan, kegenitan ini meski rada dibuat-buat, tapi membuat kecantikannya terlebih merangsang, membuat setiap gerak-gerik dan setiap kata tawanya membuat perasaan orang terguncang.
Siaukongcu berkata perlahan.
"Pengalaman selama sekian tahun sukar kujelaskan dalam waktu singkat. Pendek kata, selama ini sehari pun aku tidak pernah bebas, juga sehari pun tidak pernah gembira. Sampai akhirnya ketika kudengar kabar tentang dirimu, maka tanpa menghiraukan akibatnya aku mencari segala macam akal untuk keluar dan menemuimu, kemudian ...."
"Kemudian bagaimana?"
Tukas Po-giok. Siaukongcu tersenyum pedih.
"Ketika kawanan orang jahat itu mengetahui maksudku akan lari, tentu saja mereka takkan tinggal diam."
"Dan mengapa kau mau pulang lagi ke sana?"
Tanya Po-giok.
"Jika aku tidak pulang, mereka terlebih takkan membiarkan diriku, mereka pasti akan mencari jalan untuk membikin susah padaku,"
Tutur Siaukongcu.
"Aku tidak ingin bicara urusan ini sebab kukhawatir akan ... akan merembet dirimu. Hari depanmu masih panjang, mana boleh ... mana boleh kubikin celaka padamu ...."
Ia bicara dengan air mata berlinang, sedangkan darah panas bergolak dalam rongga dada Po-giok, ia pegang erat bahu si nona seakan-akan meremasnya.
"Hari depanku kan juga hari depanmu,"
Seru Po-giok parau.
"Jika setiap hari kau menderita, biarpun aku menjadi raja juga tidak bahagia. Hanya kalau dapat kuselamatkan dirimu dari cengkeraman kawanan iblis itulah, biarpun mati juga kurela."
Siaukongcu menjatuhkan diri dalam pelukan Po-giok, ucapnya.
"Asal dapat kudengar ucapanmu ini, betapa deritaku juga tidak kupikirkan lagi .... Lekas rangkul diriku seeratnya, jangan ... jangan sampai terlepas ...."
"Selamanya takkan kulepaskan kau pergi,"
Teriak Po-giok.
"Aku ingin ...."
"Kau ingin apa?"
Mendadak suara dingin seram seorang memotong.
Waktu Po-giok dan Siaukongcu menengadah, tahu-tahu belasan orang berjubah putih dan berkerudung putih serupa hantu saja mengelilingi mereka dengan ketat.
Serentak Po-giok memisahkan diri dari Siaukongcu.
"Ini ... inilah anak muridnya!"
Seru Siaukongcu dengan suara gemetar.
Padahal tanpa penjelasannya pun Po-giok dapat menerka kawanan berjubah putih ini pasti anak murid iblis Ngo-hing-kiong.
Segera Po-giok bersikap tenang kembali.
Berbagai perasaan yang meliputi benaknya tadi lenyap seketika begitu berhadapan dengan musuh.
Dengan gagah ia siap membela Siaukongcu, ia pandang sekeliling kawanan berjubah putih itu.
Belasan orang berjubah putih itu sama pula senjatanya, semuanya senjata aneh yang jarang terlihat di dunia Kangouw, antara lain seperti tombak berantai, ada yang bersenjata mirip sekop dengan kepala runcing seperti tombak dan bentuk lain lagi, ada yang bersenjata serupa potlot, akan tetapi kalau diperhatikan serupa bumbung pula ....
Pendek kata semuanya senjata khas berbentuk aneh.
Sorot mata belasan orang itu pun berkelip-kelip aneh, jelas kejam dan juga rakus, malah serupa binatang buas.
Salah seorang berjubah putih yang berdiri sendirian di bawah pohon sana berkata.
"Lepaskan dia, dan kau dapat diampuni!"
Sekilas pandang saja segera Po-giok tahu kawanan berjubah putih itu tiada seorang pun berpikiran normal, ia pun sungkan menjawab, ia tarik tangan Siaukongcu, katanya perlahan.
"Ikut padaku, terjang keluar!"
"Tinggalkan aku saja dan lekas kau pergi!"
Jawab Siaukongcu dengan suara gemetar.
"Kita takkan mampu menerjang keluar, jangan kau pikirkan diriku, anggap saja aku sudah ... sudah mati!"
"Betul, lepaskan dia saja dan kau boleh pergi,"
Kata si baju putih tadi dengan tertawa seram.
"Kau takkan mampu menerjang keluar."
Belum lengkap suaranya mendadak Po-giok meloncat ke atas, Siaukongcu ditariknya terus menerjang ke sebelah kiri.
Akan tetapi di situ sudah menunggu tiga jenis senjata aneh, yang satu berbentuk kelopak bunga teratai, yang kedua serupa ranting kayu tanpa daun, satu lagi bercahaya gemerlapan dan tidak jelas bagaimana bentuknya.
Baru saja Po-giok bergerak, serentak ketiga macam senjata itu memapaknya dengan sinar gemerlap menyilaukan mata.
Selain aneh bentuknya, gerak serangan ketiga macam senjata itu juga sangat aneh dan sukar dimengerti, bahkan dapat bekerja sama dengan sangat rapat serupa dimainkan satu orang saja.
Ketika Po-giok terkesiap dan merandek sejenak, serentak ketiga macam senjata itu membura tiba dari atas.
Sekonyong-konyong sebelah tangan Po-giok diangkat ke atas, langsung menerobos cahaya senjata musuh.
Tampaknya tangan Po-giok pasti akan hancur lebur digilas oleh ketiga macam senjata aneh itu.
Keruan Siaukongcu menjerit khawatir.
Siapa duga pada saat dia menjerit tahu-tahu tangan Po-giok berhasil mencengkeram bayangan hitam di tengah gemerlap menyilaukan itu, nyata secara menakjubkan dia mampu menerobos setitik peluang yang berada dalam serangan lawan yang ketat itu dan berhasil menangkap senjata lawan yang serupa ranting kering itu, dan senjata lawan yang lain ternyata tidak mampu melukainya sama sekali.
Si baju putih yang memegang ranting kering itu merasa suatu arus tenaga mahadahsyat mendadak tersalur ke telapak tangannya, meski halus tenaga itu, namun dahsyatnya sukar dilawan.
Begitu tangan tergetar, segera jantung pun berdetak keras, darah dalam tubuh seakan bergolak, ia terhuyung mundur beberapa langkah dan ranting kayu sudah berpindah ke tangan Po-giok.
Begitu memegang senjata rampasan, langsung Po-giok mengangkatnya dan diputar perlahan, seketika timbul daya tolak yang kuat membuyarkan serangan kedua lawan yang lain.
Bagi pandangan orang lain, gerak tangan Po-giok itu dilakukan dengan sepele, namun ketiga lawan sekaligus dapat dipaksa mundur, tanpa terasa Siaukongcu berseru.
"Bagus ...."
Tapi baru saja ia bersuara, serentak tiga macam senjata juga menyambar ke arahnya, senjata berbentuk serupa tombak, perisai dan ada seperti bola api.
Akan tetapi Po-giok hanya menggeser sedikit, segera tempat berpijaknya dengan Siaukongcu berganti tempat dan terlepas dari lingkup serangan senjata musuh.
Hampir pada saat yang sama ranting kayu Po-giok lantas berputar juga sehingga ketiga macam senjata lawan terkurung oleh lingkaran yang diterbitkan ranting itu dan ketiga lawan pun sukar memainkan senjata masing-masing.
Waktu Po-giok putar lagi ranting kering, seketika ketiga lawan merasa seperti terbelenggu oleh suatu kekuatan tidak kelihatan.
Dan ketika ranting kering Po-giok berputar ketiga kalinya, terdengarlah suara nyaring jatuhnya tiga macam senjata.
Semua itu terjadi dalam sekejap saja.
Kecuali ketiga orang yang bersangkutan, kawanan berjubah putih yang lain sama sekali tidak tahu di mana kedahsyatan kekuatan tiga lingkaran ranting Po-giok itu.
Setelah merasakan kelihaian Po-giok, sorot mata kawanan jubah putih yang pongah tadi seketika berubah menjadi kejut dan jeri.
Sementara itu lowongan ketiga orang itu sudah diisi lagi oleh tiga orang lain sehingga Po-giok dan Siaukongcu tetap terkurung di tengah.
Mendadak Po-giok putar lagi ranting kayu yang dipegangnya dan sekali sabet, tahu-tahu segumpal daun yang terlempar dari sana tersampuk berhamburan menghujani muka dan dada kawanan berjubah putih.
Meski cuma daun biasa, tapi tertolak oleh tenaga sampukan Po-giok berubah menjadi kuat dan serupa pisau tajamnya.
Orang yang paling depan tidak berani menghadapi sambaran daun tajam itu, cepat ia melompat ke samping sehingga terbuka sebuah jalan.
Tentu saja Po-giok tidak buang waktu lagi untuk menerjang keluar.
Tapi baru saja ia bergerak.
"blang", mendadak menyambar tiba segumpal api hijau, daun yang terjilat api seketika terbakar menjadi abu dan lenyap.
"Celaka, api iblis!"
Seru Siaukongcu.
Sementara itu hawa panas api yang berkobar membuat mereka serupa terpanggang dan api hampir menjilat bajunya.
Tanpa pikir Siaukongcu menarik Po-giok dan melompat mundur, ternyata kawanan baju putih 379 tidak ada yang mengejar lagi.
"Sayang, mestinya hendak kutawan salah seorang musuh untuk dimintai keterangan, sekarang mereka tidak ada yang mengejar, tentu sudah kabur semua,"
Ujar Po-giok.
"Jangan khawatir, biarpun tidak kau cari mereka, tentu mereka akan mencarimu lagi,"
Ujar Siaukongcu. Tiba-tiba air mukanya berubah sedih, ucapnya pula.
"Dan selanjutnya hidupmu pasti takkan pernah tenteram lagi. Setiap saat dan di mana pun jiwamu tentu akan diintai maut, sampai tokoh semacam ayahku dan suhengku juga pusing kepala sekali mengikat permusuhan dengan Kim-ho-ong, sebab mereka tahu, bilamana orang Ngo-hing-kiong sudah bermusuhan denganmu, maka mereka akan serupa lintah yang hinggap pada tubuhmu, takkan lepas sebelum mati."
Mendadak ia cengkeram lengan baju Po-giok dan berkata dengan parau.
"Maka akan lebih baik biarkan kupergi saja. Jika aku tetap berada bersamamu, tentu banyak ... banyak membikin susah padamu ...."
"Aku sudah siap mengorbankan segalanya,"
Sahut Po-giok tanpa pikir. ***** Dalam pertarungan tadi, meski cuma terjadi beberapa gebrak saja, namun bahaya yang dialami dan tenaga yang terbuang tidaklah sedikit.
"Anak murid istana iblis itu ternyata tidak ada seorang pun yang lemah,"
Ujar Po-giok dengan gegetun.
"Belasan orang tadi hampir semuanya tergolong jago kelas satu dan jarang ada tandingannya di dunia Kangouw, terutama senjata aneh mereka, tampaknya pasti ada cara penggunaan lain yang lebih hebat, cuma tadi dapat kuatasi mereka lebih dulu sehingga mereka sama sekali tidak sempat menyerang."
Siaukongcu memandangnya dengan penuh rasa mesra, katanya lirih.
"Siapa pun tak dapat dibandingkan engkau."
Po-giok tersenyum, tiba-tiba ia berkata pula dengan kening bekernyit.
"Kabarnya di antara orang Ngo-hing-kiong satu sana lain juga saling bertentangan, meski belum pernah terjadi pertengkaran secara terbuka, namun sudah sering bertarung secara diam. Belasan orang tadi jelas meliputi kelima unsur istana iblis itu, apakah mungkin antara mereka sekarang sudah ada kerja sama dengan baik?"
Mendadak Siaukongcu berteriak tertahan.
"Hah, mereka datang lagi!"
Cepat ia tarik Po-giok dan diajak lari secepatnya. Setelah beberapa puluh tombak jauhnya, ternyata tiada seorang pun yang mengejar mereka, perlahan ia berkata.
"Kasihan, tampaknya kau sudah ketakutan oleh mereka, serupa burung yang sudah kapok terhadap anak nakal, begitu mendengar suara pelinteng lantas menyangka hendak dibidik."
"Tapi ... tapi aku memang takut,"
Ucap Siaukongcu sambil menggelendot di dada anak muda itu.
"Marilah kita pergi,"
Kata Po-giok.
"Pergi? .... Pergi ke mana?"
Tanya si nona.
"Ya, ke mana saja, yang jelas kita tidak dapat tinggal di sini, kita harus mencari para pamanku untuk berunding dengan mereka cara bagaimana menghadapi anak murid istana iblis. Dengan bantuan mereka tentu kita tidak perlu takut lagi."
Mendadak Siaukongcu mendorongnya dan berkata.
"Apakah engkau tidak sudi lagi berada sendirian denganku? Apakah engkau sengaja hendak membuat orang lain menyelinap di antara kita? Mereka tidak pernah kukenal, mengapa harus kuminta pertolongan mereka? Tadi baru saja kau katakan siap mengorbankan segalanya bagiku, rupanya itu cuma basa-basi belaka dan kau pun seorang penakut."
Sambil berteriak ia terus berlari ke tepi jalan menuju ke suatu tanah pekuburan, di situ ada batu nisan dan tampaknya si nona hendaknya menumbukkan kepalanya pada batu nisan.
Keruan Po-giok berteriak khawatir.
Syukurlah pada saat itulah dari balik kuburan muncul sesosok bayangan sehingga Siaukongcu menubruk ke tubuh orang ini.
Sementara itu jarak antara Po-giok dan Siaukongcu sedikitnya dua tombak jauhnya sehingga untuk mencegah tindakan si nona jelas tidak keburu lagi.
Terdengar Siaukongcu menjerit kaget dan orang itu pun membentak.
"Berdiri!"
Po-giok merasa seperti dikemplang orang, ia berdiri terpaku dan tidak berani bergerak lagi, sebab saat itu Siaukongcu telah berada dalam cengkeraman orang.
Di bawah cuaca malam yang remang-remang masih dapat membedakan bayangan orang ini dari kepala sampai kaki terbungkus oleh warna kuning kelabu, dengan sendirinya karena dia berbaju yang sangat ketat dan pakai topeng sehingga tampaknya sekujur badan seperti dipoles dengan warna kuning kelabu.
Dan Siaukongcu tergeletak di depannya, hanya sebelah tangannya dipegang olehnya.
Nyata nona itu tertutuk hiat-to kelumpuhannya sehingga meronta pun tidak mampu.
"Kau siapa? Lepaskan dia!"
Bentak Po-giok.
"Hm, jika kau minta jiwanya diampuni, hendaknya mundur dulu agak jauh dan turut kepada perintahku,"
Kata si baju kuning dengan terkekeh.
Merah mata Po-giok seakan-akan hendak menyemburkan api, tapi apa daya, terpaksa ia menyurut mundur.
Dan baru saja ia mundur beberapa langkah, kawanan orang berbaju putih tahu-tahu muncul kembali dari kegelapan malam.
Keruan hal ini membuat Po-giok bertambah khawatir.
Ngeri juga Po-giok oleh kemunculan musuh yang gentayangan seperti badan halus itu.
Kalau dia mau kabur sendiri jelas tidaklah sulit, tapi Siaukongcu ...
betapa pun dia tidak boleh meninggalkan nona itu.
Tapi cara bagaimana pula ia harus menyelamatkan dia?
Mendadak bayangan kuning tadi melemparkan Siaukongcu ke balik makam, lalu mendekati Po-giok selangkah demi selangkah.
Perawakan orang ini agak gendut, namun langkahnya enteng dan gesit, bahkan daun rontok yang memenuhi tanah pun tidak menerbitkan sesuatu suara ketika dilangkahi orang itu.
Segera Po-giok menyadari sedang berhadapan dengan lawan tangguh yang jarang ditemuinya.
Mendadak si baju kuning meraung terus menubruk maju.
Semangat Po-giok terbangkit, sambil menggeser ke samping ia pikir inilah pertarungan yang menentukan, kalah-menang pertarungan ini tidak cuma menyangkut diri pribadinya, tapi juga menyangkut nasib Siaukongcu.
Begitulah segera terjadi pertarungan sengit.
Lihai sekali jurus serangan si baju kuning, keji tanpa kenal ampun, seperti tidak puas bila kedua anak muda itu tidak dibinasakan olehnya.
Kawanan baju putih sama berdiri di sekeliling tanpa bergerak, agaknya mereka pun tahu sekali 381 si baju kuning sudah turun tangan, maka orang lain tidak boleh ikut campur.
Di bawah remang malam terlihat gerak serangan si baju kuning serupa serigala dan harimau, selain gerak-geriknya menyerupai binatang buas, juga jurus serangannya menirukan gerak-gerik binatang.
Rupanya ilmu pukulannya terkenal sebagai Jim-kim-ciang, ilmu pukulan tujuh jenis binatang, selain gerak-geriknya menirukan binatang, banyak lagi ditambah dengan gerak perubahan yang bersifat gerak-gerik manusia.
Mendadak menghadapi lawan aneh seperti ini, tentu saja Po-giok agak kebingungan dan tidak berani sembarangan turun tangan.
Ia lihat gaya ilmu silat lawan serupa dengan Toh-liong-cu pembawaan bisu dan tuli, sedangkan orang berbaju kuning ini jelas tadi bersuara.
Lantas siapakah orang ini?
Apakah mungkin di istana iblis itu masih banyak jago yang berwatak sama kejamnya seperti Toh-liong-cu itu?
Dapatkah dirinya menghadapi lawan sebanyak itu dari Ngo-hing-mo-kiong yang lihai itu?
Selagi tertegun, serentak si baju kuning telah menubruk ke arahnya.
Tubrukan ini pun sama dengan gerak-gerik binatang buas.
Cepat Po-giok mengelak, akan tetapi sukar terhindar seluruhnya, kedua kakinya sempat dirangkul oleh si baju kuning.
Segera Po-giok bermaksud menghantam, tapi baru saja tangan terangkat, tahu-tahu si baju kuning yang serupa Toh-liong-cu itu telah menggigit kakinya, orang yang sudah gila serupa binatang itu tanpa peduli apa pun terus mengisap darah yang mengucur dari kaki Po-giok.
Keruan Po-giok terkejut dan ketakutan, sedikit terpencar perhatiannya, segera ia jatuh terduduk.
Serentak kawanan baju putih sama terkekeh-kekeh, suara tertawa aneh itu berbaur dengan bau amis darah.
Hampir sukar dibayangkan adegan yang gila dan menyeramkan ini.
Po-giok seperti sudah kehilangan daya perlawanan.
Kecerdasan dan sifat kemanusiaan terkadang juga bisa ditaklukkan oleh sifat kebinatangan yang gila.
Si jubah putih tadi terkekeh dan berkata.
"Nah, menyerah saja kawan, di dunia ini tiada seorang pun dapat menolongmu lagi. Tadi sudah kusuruh kau lepaskan dia dan kau tidak mau, sekarang jiwamu terpaksa harus ikut amblas."
Po-giok merasakan kehampaan dan juga seperti kehilangan, pikirnya.
"Adakah benar aku sudah tamat segalanya? Begitu juga dia? Jiwanya ternyata berbalik amblas karena tindakanku, jadi akulah yang membikin susah dia malah ...."
Hancur luluh perasaannya, ketika ia membuka mata, sekilas terlihat bayangan seekor burung terbang lewat di atas pohon.
Bayangan burung yang terbang tenang bebas di tengah bayangan pepohonan yang bergerak-gerak, hal ini mendatangkan ilham yang sukar dilukiskan dalam benak Po-giok, mendadak semangat melepaskan diri dari cengkeraman binatang buas meledak, tanpa terasa sebelah tangannya menyampuk perlahan ke depan mengikuti garis terbang bayangan burung tadi.
Gerak pukulan ini tidak ada sasaran, juga tidak jelas arahnya, namun si baju kuning mendadak menjerit dan meloncat setingginya dengan berlumuran darah, ini bukan darah dari luka kaki Po-giok melainkan darah yang mengucur dari muka si baju kuning sendiri.
Ternyata gerak tangan Po-giok yang perlahan itu telah tepat mengena bagian lemah pada batang hidungnya.
Suara tertawa kawanan baju putih seketika lenyap, mereka heran dan terkejut, belum lagi mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba si baju kuning sudah jatuh dan Po-giok melompat ke sana, menuju batu nisan.
Tapi si jubah putih di bawah pohon tadi segera merintanginya.
Si jubah putih ini tadi sudah dikalahkan oleh Po-giok, biarpun dia dikerubut kawanan baju putih 382 ini juga tidak gentar, langsung ia menerjang maju, dengan gerak cepat ia rampas semacam senjata lawan, sekali putar, belasan senjata lawan yang lain sama rontok tersampuk.
Ketika kawanan baju putih itu terperanjat, secepat terbang Po-giok sudah menerjang lewat ke sana, langsung menuju ke belakang batu nisan sambil berseru.
"Inilah kudatang kemari!"
Akan tetapi apa yang terlihat membuat rasa girangnya seketika buyar, ternyata di situ tiada orang pun, mana ada bayangan Siaukongcu lagi?
Ke mana perginya nona itu?
Jelas dia telah diculik pula oleh kawanan iblis dan Po-giok tetap tidak dapat menyelamatkannya.
Ternyata sia-sia belaka perjuangan mati-matian yang telah dilakukannya tadi.
Dengan lemas Po-giok duduk bersandar nisan.
Bilamana kawanan berbaju putih tadi menyusul tiba sekarang pasti Po-giok tidak bersemangat untuk bertempur lagi dan dia pasti akan dibinasakan oleh mereka.
Akan tetapi di depan makam sana suasana sunyi senyap, belasan orang berbaju putih itu ternyata tiada seorang pun yang mengejar kemari, memangnya mereka telah lari ketakutan oleh kesaktian Po-giok tadi?
Kalau tidak, sebab apa pula mereka tinggal pergi begitu saja?
Sekonyong-konyong dalam kegelapan berkumandang suara orang yang ketus dan dingin.
"Dia berada di sini!"
Suara itu mengambang jauh, seperti ada serupa tidak ada, sukar bagi Po-giok untuk membedakan arah datangnya suara.
Cepat ia melompat bangun dan lari ke depan makam, ia coba memandang sekelilingnya, tiada seorang pun terlihat, si baju kuning dan begundalnya yang misterius itu sudah lenyap pula secara aneh dan tanpa meninggalkan sesuatu bekas pertarungan sengit tadi.
Po-giok merasa seperti habis mimpi buruk saja dan Siaukongcu telah hilang dalam mimpi buruk ini.
"Di mana? Dia berada di mana?"
Teriak Po-giok sambil berpaling kian kemari.
"Di sini!"
Jawab suara yang mengambang hampa itu.
Sekali ini Po-giok dapat mendengar dengan jelas, suara itu ternyata tersiar dari atas makam.
Po-giok menyurut mundur dua tindak dan coba mengamat-amatinya.
Kiranya di atas makam duduk bersila sesosok bayangan orang, juga berjubah putih dan berkerudung kepala putih sehingga tidak terlihat jelas wajahnya, hanya tangan kanan memegang setangkai bunga teratai berkelopak emas.
Pada lutut kirinya telentang seorang berbaju putih, jelas itulah Siaukongcu.
Darah panas Po-giok bergolak, tanpa pikir ia terus menerjang ke sana.
Akan tetapi belum lagi ia mencapai makam, orang di atas makam lantas membentak.
"Turun!"
Waktu ia ayun tangannya, serentak terjadi hujan emas, kiranya kelopak bunga teratai emas yang dipegangnya itu mempunyai daya guna khas, kelopak bunga ternyata dapat digunakan sebagai senjata.
Belasan daun kelopak bunga itu tipis dan tajam menyambar ke depan serupa pisau, dari berbagai arah menghambur ke tubuh Po-giok.
Dalam keadaan demikian sungguh sulit bagi Po-giok untuk menghindar.
Sedapatnya ia melompat mundur.
Terdengar suara "sret"
Sekali, sehelai daun emas itu menyerempet lewat dadanya dan hampir merobek kulit dadanya.
Cahaya emas itu seperti benda hidup saja, setelah menyambar kian kemari akhirnya putar kembali lagi ke depan si baju putih yang duduk bersila itu dan 383 ditangkapnya kembali.
"Hm, biar kukatakan padamu,"
Jengek si baju putih.
"biarpun kepandaianmu sepuluh kali lipat sekarang juga jangan harap akan dapat menolongnya."
"Berani kau ganggu seujung rambutnya, tentu kucabut nyawamu,"
Ucap Po-giok dengan suara gemetar.
"Hehe, jika kumau ganggu dia masakah perlu tunggu sampai sekarang?"
Jengek orang itu.
"Habis apa kehendakmu?"
Tanya Po-giok.
"Aku ...."
Belum lanjut ucapan orang, diam-diam Po-giok telah mengerahkan segenap tenaga untuk taruhan terakhir, secepat kilat ia menubruk lagi ke sana.
Ia tidak menggunakan sesuatu senjata, namun gerak cepatnya melebihi senjata, belum tiba orangnya lebih dulu jarinya menutuk dan memancarkan angin tajam ke arah muka si baju putih.
Karena tidak menduga akan diterjang orang secara nekat, si baju putih agak kelabakan dan cepat menjatuhkan diri ke belakang.
Tempat duduknya terletak di atas makam, maka tubuhnya lantas terguling ke bawah sehingga Siaukongcu tidak sempat dibawanya.
Tanpa hiraukan musuh lagi segera Po-giok menubruk maju dan merangkul erat tubuh Siaukongcu yang lemas itu.
Akhirnya orang yang paling dikasihinya kembali lagi dalam pangkuannya, tanpa terasa ia mencucurkan air mata terharu.
Siapa duga si baju putih yang terguling ke bawah makam itu lantas terbahak-bahak dan berseru.
"Hehe, jangan gembira dulu, boleh kau periksa apa yang terdapat dalam bajunya!"
Bersama dengan suara tertawanya, dalam sekejap saja orangnya sudah menghilang di kejauhan, suasana kembali sunyi diliputi kegelapan.
Kejut dan sangsi Po-giok, dengan agak gemetar ia coba memeriksa Siaukongcu yang dipeluknya itu, terlihat pada dada bajunya terselip sebuah sampul surat aneh berwarna-warni.
Dengan ragu ia coba periksa surat itu, ternyata isi surat berbunyi.
"Dia sudah minum air suci, air racun buatan khusus Istana Boh dan Toh, di dunia ini hanya obat penawar perguruan kita sendiri tidak dapat ditolong dengan obat lain. Jika ingin menyelamatkan jiwanya harus menuju ke Thian-hiang-teh-lim yang terletak ratusan li dari sini dan harus sampai di sana sebelum petang esok, dengan sampul pancawarna inilah untuk mohon bertemu dengan Tonghong-tiocu, kalau terlambat tentu tak tertolong lagi."
Meski surat yang singkat, namun sehabis membaca surat ini tangan Po-giok pun berkeringat dingin dan membasahi kertas surat. Ia menengadah dan bergumam.
"Apakah mereka sudah memperhitungkan aku pasti akan menolong dia, maka lebih dulu mereka mengatur rencana ini. Mereka seperti sudah dapat meramalkan segala apa yang bakal terjadi, kalau tidak, mengapa semua usahaku selalu gagal dan tetap masuk jebakan mereka?"
Perlahan Siaukongcu dapat membuka matanya, dilihatnya sinar mata Po-giok yang berkelip laksana bintang di langit.
Ia bersuara gembira dan pentang tangan merangkul Po-giok, katanya dengan suara gemetar.
"Tak terduga aku dapat kembali di dampingmu ... di mana mereka?"
"Sudah pergi semua,"
Ucap Po-giok. Siaukongcu menghela napas perlahan sambil meraba muka Po-giok, ucapnya lirih.
"Kau tahu, sejak kecil engkau sudah merupakan pahlawanku ... dan engkau ternyata tidak ... tidak mengecewakan harapanku ...."
"Tapi ... tapi mungkin aku akan membuatmu kecewa,"
Kata Po-giok tiba-tiba sambil memandangnya lekat-lekat.
"Apa ... apa katamu?"
Siaukongcu tampak melengak. Po-giok berpaling dan tidak ingin si nona melihat air matanya. Gumamnya sambil menengadah.
"Sebentar lagi hari akan terang, esok sudah hampir tiba dan segera akan datang petangnya. Sebelum petang esok ...."
"Ada apa sebelum petang esok?"
Tanya Siaukongcu. Dengan menahan perasaannya Po-giok berseru.
"Sebelum petang besok harus kuantar dirimu kembali kepada mereka."
Tergetar Siaukongcu, ia lepaskan rangkulannya pada Po-giok dengan air mata bercucuran, katanya dengan gemetar.
"Jadi hendak kau antar aku pulang ke sana? Engkau tidak ... tidak menghendaki diriku lagi?"
Po-giok berpaling dan diam saja. Dengan gemas Siaukongcu menampar muka anak muda itu, dampratnya sambil menangis.
"Dasar pengecut, bangsat yang tidak berguna, orang yang tidak punya perasaan, kiranya kau begini takut kepada mereka? Percuma kau mengaku sebagai pahlawan, ternyata melindungi seorang perempuan saja tidak mampu."
Seraya mendamprat ia pun terus memukul. Po-giok hanya menggigit bibir dengan erat dan menahan air matanya supaya tidak menetes, ia diam saja dan tidak bergerak.
"Baik, jika demikian, tidak perlu kau antar diriku, aku sendiri dapat pergi,"
Seru Siaukongcu parau.
"Sungguh kubenci pada diriku sendiri, mengapa kutemui dirimu ...."
Ia meronta bangun dan berlari dengan sempoyongan.
Dengan tangan gemetar Po-giok bermaksud menariknya, tapi urung.
Akan tetapi mendadak Siaukongcu merandek dan membalik tubuh, dengan sorot matanya yang bening ia pandang Po-giok, katanya dengan suara gemetar.
"Ya, kutahu sekarang, kutahu ...."
"Kau tahu apa?"
Tanya Po-giok dengan merunduk.
"Kutahu, tentu aku telah diracun mereka, maka jalan satu-satunya harus kau antarku pulang ke sana baru jiwaku dapat diselamatkan. Tapi ... tapi agar tidak membuatku sedih, engkau rela menderita batin, rela kupukuli dan tetap tidak mau memberitahukan padaku duduk perkara yang sebenarnya ...."
Mendadak ia menubruk lagi ke dalam pangkuan Po-giok.
Po-giok sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakannya, sebab dalam keadaan demikian kata apa pun hanya berlebihan belaka, sebab keduanya telah tenggelam dalam buaian kasih mesra.
Bintang mulai jarang, langit mulai remang-remang, malam sudah digantikan fajar.
Akhirnya Po-giok berkata.
"Marilah berangkat, kalau tertunda lagi mungkin akan terlambat."
"Pergi? ...."
Siaukongcu menegas.
"Tidak, aku tidak mau pergi. Aku lebih suka mati di sampingmu daripada berpisah denganmu .... Rangkul diriku lebih erat, biarlah kumati saja dalam pelukanmu."
"Engkau tidak boleh mati ... betapa pun tidak boleh mati ...."
Kata Po-giok dengan menahan air mata, akan tetapi air mata tetap menitik dengan derasnya.
"Kau minta aku jangan mati, apakah kau kira aku tega meninggalkanmu?"
Seru Siaukongcu parau. Po-giok menarik napas dalam-dalam, ucapnya.
"Asalkan kau tidak mati, pada suatu hari akhirnya pasti dapat kuselamatkan dirimu. Tatkala itu kita akan selalu berada bersama dan tiada seorang lagi yang dapat merampasmu dariku. Aku berjanji!"
Meski perlahan suaranya, namun tegas, pasti, dan penuh kepercayaan akan diri sendiri. Akhirnya Siaukongcu menunduk, ucapnya dengan suara seperti orang mengigau.
"Ya, kupercaya padamu." ***** Thian-hiang-teh-lim, perkebunan teh harum langit. Sebuah perkebunan yang luas, pohon teh tumbuh memenuhi lereng bukit. Dipandang dari kaki bukit, banyak terlihat anak gadis yang ramping dan penuh gairah dengan baju kembang dan memakai caping sibuk memetik daun teh di tengah pepohonan teh yang lebat itu. Sementara itu sang surya sudah condong barat, cahaya senja menghias langit ufuk barat dan membuat pegunungan yang penuh pohon teh ini bertambah indah permai, kawanan gadis pemetik daun teh pun kelihatan cantik. Pada saat itulah Po-giok telah membawa Siaukongcu sampai di kaki bukit perkebunan teh itu. Terlihat di antara dua pohon benar tergantung sebuah papan dengan empat huruf besar "Thian-hiang-teh-lim", agaknya ini dianggap sebagai pintu gerbang perkebunan. Akan tetapi di sekeliling tiada bayangan seorang pun. Po-giok agak ragu, akhirnya langsung ia terjang ke dalam perkebunan sambil berteriak.
"Adakah orang di situ?"
Dari balik pepohonan teh sana mendadak muncul tiga gadis berbaju ungu, muka mereka tampak kemerah-merahan, tawa mereka tampak merah serupa bunga yang baru mekar.
Salah seorang gadis yang berdiri di tengah memandang Po-giok sekejap, tiba-tiba ia berdendang.
"Wahai pemuda cakap, engkau datang dari mana? Berapa usiamu tahun ini? Apakah kau sudah beristri?!"
Ia menyanyi dengan lirik yang berpantun, suaranya merdu enak didengar. Kedua gadis di kanan-kirinya ikut bertepuk tangan mengikuti irama lagu kawannya. Po-giok melenggong, ia berdehem, lalu berkata.
"Kami datang mencari Tonghong-tiocu, entah di mana ...."
Gadis tadi tertawa dan menyanyi lagi.
"Kau datang ke perkebunan teh kami, untuk itu kau harus menyanyi. Kalau kau tidak dapat menyanyi, itu berarti kau si Dungu!"
"Ya, si Dungu ... si Dungu ...."
Sambung kedua gadis lain mengikuti irama kawannya. Muka Po-giok menjadi merah, sebaliknya Siaukongcu lantas mendengus perlahan.
"Itu dia, orang telah penujuimu, seharusnya kau pun berpantun, kenapa diam saja?!"
Diam-diam Po-giok mengomel, dalam keadaan begini toh si nona masih juga cemburu.
Ia tidak tahu bahwa bilamana kaum gadis sudah cemburu maka tidak ada soal kapan dan di mana pun.
Semula Po-giok mengira setiba di Thian-hiang-teh-lim ini tentu akan dihadapinya macam-macam rintangan dan jebakan, yang akan ditemui tentu juga kawanan orang jahat, untuk itu ia sudah siap menghadapinya dengan cara apa pun.
Siapa tahu di tengah perkebunan teh ini justru penuh suasana riang gembira, yang ditemuinya juga tiga orang anak gadis yang lincah dan banyak tawa, tanpa menggunakan senjata, tapi menggodanya dengan nyanyi dan berpantun.
Dalam keadaan demikian, Po-giok berbalik melenggong dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Kembali Siaukongcu mendengus, katanya.
"Coba, melihat anak perempuan, seketika kau terkesima. Pantasan orang menyebutmu si Dungu."
Habis berkata, mendadak ia bertolak pinggang dan juga berdendang dengan lantang.
"Wahai kawanan gadis kebun teh yang tidak tahu malu, bila bertemu lelaki lantas main pantun. Kedatangan kami adalah untuk memenuhi janji Tiocu (kepala kebun) kalian, harap lekas pulang memberi lapor kepada juragan kalian ...."
Kawanan gadis baju ungu itu saling pandang sekejap, lalu seorang menanggapi.
"Wah, nona ini cantik lagi genit, mulut pun tajam sukar dilawan. Jika kalian datang atas undangan Tiocu, adakah kau bawa kartu undangan?"
Supaya uraian tidak bertele-tele, Po-giok lantas menyerahkan sampul pancawarna dan berseru.
"Ini kartu undangannya."
Melihat sampul berwarna-warni itu, kawanan gadis tadi tidak menyanyi lagi, serentak mereka menghilang lagi ke balik pepohonan.
"Huh, tidak tahu malu!"
Jengek Siaukongcu. Po-giok menghela napas, katanya.
"Tempat ini tampaknya aman, namun bahaya yang tersembunyi mungkin sukar dibayangkan. Bilamana kita tertipu oleh nyanyian kawanan gadis tadi sehingga kurang waspada, maka segalanya bisa runyam."
"Asal kau tahu saja,"
Kata Siaukongcu.
Pada saat itulah tiba-tiba tujuh-delapan gadis berbaju ungu muncul lagi mengiringi seorang nyonya cantik setengah umur dengan dandanan perlente.
Belum mendekat bau harum mereka sudah menusuk hidung disusul suara tertawa merdu mereka.
Nyonya cantik itu melangkah dengan pinggul yang meliuk-liuk sehingga menimbulkan bunyi nyaring perhiasan yang dipakainya, katanya dengan tertawa.
"Atas kunjungan Pui-siauhiap sungguh suatu kehormatan besar bagi perkebunan teh ini, bilamana tidak ada sambutan yang layak, harap Pui-siauhiap suka memaafkan."
Po-giok tidak berani mengadu pandang dengan nyonya yang genit dan menggiurkan itu, katanya dengan menunduk.
"Kumohon bertemu dengan Tonghong-tiocu ...."
"Aku Tonghong Giok-koan, akulah tiocu perkebunan teh yang kecil ini,"
Tukas si nyonya cantik dengan tertawa.
Po-giok melengak, sebelumnya ia membayangkan bilamana Tonghong-tiocu ini kalau bukan manusia berwajah bengis tentu juga orang yang penuh kelicikan.
Siapa tahu "Tonghong-tiocu"
Ini justru sedemikian cantik, genit, seorang perempuan yang pasti akan menjadi sasaran perebutan kaum lelaki.
Akhirnya Po-giok dipersilakan masuk ke kompleks perumahan yang dibangun di lereng bukit dengan indahnya.
Di situ sudah disiapkan perjamuan seperti sebelumnya memang sudah diperhitungkan akan kedatangan Po-giok pada waktu yang tepat.
Siaukongcu tampak mendongkol dan diam saja.
Po-giok berdehem, lalu berkata.
"Kudatang sesuai kartu undangan, entah ...."
Tiba-tiba Tonghong Giok-koan memotong.
"Pui-siauhiap muda dan cakap, entah mengapa kaum gadis mau membiarkanmu datang kemari begitu saja, apa barangkali anak gadis zaman ini telah berubah menjadi bodoh semua?"
Muka Po-giok berubah merah, katanya pula.
"Tentang Ngo-hing-mo-kiong itu ...."
Dengan tertawa Tonghong Giok-koan memotong pula.
"Pui-siauhiap sedemikian menarik, pantas kawanan gadis sama berebut sesuatu tanda mata darimu. Jika aku masih muda, pasti aku juga akan tergila-gila padamu."
Sembari bicara ia pun menuangkan arak dan menyilakan Po-giok bersantap, nyata ia sama sekali tidak memberi kesempatan bicara kepada anak muda itu, terutama tentang Ngo-hing-mo-kiong segala.
Po-giok tidak tahan lagi, dengan suara lantang ia berteriak.
"Dia keracunan dan cara bagaimana harus menyelamatkannya? Aku diharuskan datang ke sini, lantas apa kehendakmu?"
Tonghong Giok-koan tersenyum, jawabnya.
"Dari mana kau tahu dia keracunan?"
"Aku ... aku ...."
Po-giok gelagapan.
"Seharusnya kau bawa dia ke tempat lain dulu, buktikan apakah dia benar keracunan tidak?"
Ujar Tonghong Giok-koan dengan kerlingan.
"Bukan mustahil di tempat lain akan dapat ditemukan cara menolongnya, mana boleh langsung kau bawa dia ke sini?"
Butiran keringat menghias kening Po-giok, jawabnya.
"Kukhawatir terlambat memberi pertolongan padanya dan akan menyesal selamanya, maka aku tidak ... tidak berani bertindak lain."
"Hihi, orang pintar seperti dirimu, mungkin karena kau terlampau memerhatikan dia, maka berubah menjadi linglung,"
Ujar Tonghong Giok-koan dengan tertawa. Mendadak Po-giok berdiri dan berteriak.
"Melihat caramu bicara, jangan-jangan dia tidak ... tidak pernah keracunan, sampul surat itu hanya tipuan belaka untuk memancingku membawanya kemari? Bukankah ini sama dengan kumasukkan dia ke mulut harimau? Akulah yang membikin celaka dia ...."
Sampai akhirnya suaranya menjadi gemetar dan hampir sukar diucapkan.
Tonghong Giok-koan meliriknya tanpa menjawab melainkan tertawa terkial-kial bagai tangkai bunga tertiup angin.
Sebaliknya Po-giok mandi keringat dan berteriak parau.
"Dia ... dia sesungguhnya keracunan tidak?"
"Dia? .... Dia siapa?"
Tanya Tonghong Giok-koan mendadak dan berhenti tertawa.
"Dia adalah ...."
Serentak Po-giok putar tubuh dan menuding ke belakang, tapi suaranya lantas terputus dan darah serasa membeku, sebab di belakangnya ternyata kosong melompong, mana ada bayangan orang?
Ternyata Siaukongcu yang berada di belakangnya tadi kini telah lenyap secara misterius.
Sungguh serupa mimpi buruk saja, mimpi buruk yang menakutkan.
"Ke mana perginya?"
Bentak Po-giok.
"Kalian menculiknya ke mana lagi?"
Tonghong Giok-koan menjawab dengan bingung.
"Siapa yang kau maksudkan? Di sini kecuali kau dan aku, mana ada orang ketiga?"
Po-giok memandang sekelilingnya, di dalam ruangan memang tidak ada orang lain, yang ada cuma asap dupa wangi yang masih mengepul dan menyebarkan bau harum yang aneh dan penuh misteri.
"Tapi ... tapi baru saja ...."
Suara Po-giok gemetar.
"Jelas tadi kau datang sendirian,"
Ujar Tonghong Giok-koan.
"Coba kau lihat, di atas meja hanya ada dua buah cangkir, apakah baru saja kau mimpi bertemu dengan siapa?"
Waktu Po-giok memeriksa ruang ini, di sini hanya ada sebuah pintu dan jelas tidak pernah ada orang keluar-masuk, sama sekali ia pun tidak mendengar sesuatu suara. Seketika benaknya serasa kosong.
"bluk", ia menjatuhkan diri di atas kursi dan bergumam.
"Jika ia pergi sendiri, mengapa aku tidak diberi tahu? Jika ia diculik orang, mengapa tidak terbit sesuatu suara? .... Mengapa dia ...."
Begitulah ia berpikir pergi-datang, makin dipikir makin kacau, sampai akhirnya dalam benak seperti ada sesuatu berputar dengan cepat dan akhirnya ia mendekap kepalanya di atas meja.
Tangan Tonghong Giok-koan yang halus perlahan memegang pundak anak muda itu dan dibelai dan dihibur dengan kata mesra merayu.
Akan tetapi sorot matanya justru berubah dingin dan mengawasi ujung jari sendiri.
Apakah kiranya yang dipikirkan perempuan ini, apakah ia sedang berpikir asalkan ujung jari sendiri menusuk sedikit saja akan menamatkan nyawa Po-giok?
Dan mengapa dia tidak segera turun tangan?
Ia tidak tahu bahwa anak muda yang tidak bergerak itu sebenarnya penuh diliputi kekuatan tak kelihatan yang tergembleng sehingga sedikit diserang dari luar segera akan memancarkan daya serang balasan yang dahsyat.
Cuma mungkin Tonghong Giok-koan memang tidak bermaksud membikin celaka Po-giok, dengan sendirinya tidak turun tangan.
Di tengah bau harum yang memenuhi seluruh ruangan itu mendadak Po-giok mendongak dan menampilkan senyuman hambar, katanya.
"Ya, betul, memang kudatang sendirian."
"Eh, rupanya baru sekarang kau ingat,"
Ujar Tonghong Giok-koan dengan tersenyum.
"Tapi aku tidak ingat urusan lain lagi, mengapa aku bisa datang kemari? Dalam hal ini tentu ... tentu ada sebabnya kan?"
"Kulihat keadaanmu agak gawat, lelah lahir batin, tampaknya kau perlu istirahat dengan baik-baik supaya rasa tegangmu dapat dikendurkan dan segala urusan tentu akan kau ingat kembali."
Ucapannya lembut, penuh perhatian dan menghibur serupa seorang kekasih yang halus budi dan seperti kasih sayang seorang ibu. Po-giok mengolet kemalasan dan berkata.
"Ya, memang aku perlu istirahat sekarang."
Mendadak Tonghong Giok-koan menepuk tangan, segera serombongan pelayan cilik berlari masuk, semuanya nona manis, jumlah dua-tiga puluh orang.
Mereka lantas menyanyi dan menari dengan berbagai gaya yang indah.
Dengan tertawa Tonghong Giok-koan berkata.
"Semua ini gadis pemetik teh, mereka pandai memberi atraksi yang menarik, dengan begitu rasa tegangmu pun akan mengendur."
Ternyata ia tidak melakukan sesuatu tindakan jahat terhadap Po-giok, sebaliknya malah memberi pelayan dan hiburan yang menarik.
Memangnya apa sebabnya?
Akan tetapi Po-giok tidak sangsi sedikit pun, ia tertawa dan mengucapkan terima kasih.
Sementara itu kawanan gadis sudah mulai menari dan menyanyikan lagu yang merdu.
Setiap gadis itu sama cantiknya.
Po-giok tampak terhibur dan senang, sering ia bertepuk tangan mengikuti irama nyanyi kawanan gadis itu dan terkadang pun bersorak.
Entah sejak kapan baju kawanan gadis itu mulai ditanggalkan sepotong demi sepotong dan akhirnya telanjang bulat, semuanya bertubuh putih bersih, montok menggiurkan menyambarkan gerak-gerik yang memikat dan penuh daya tarik yang sukar dilawan.
Sampai puncaknya, satu per satu kawanan gadis cantik itu bergiliran menjatuhkan diri dalam pangkuan Po-giok, ada yang menyuguhkan arak, ada yang menyuapi makanan, ada yang menciumnya.
Semua itu diterima Po-giok tanpa gugup.
Akan tetapi di tengah keasyikan nyanyi dan tari itu, diam-diam Tonghong Giok-koan mengeluyur keluar, seringan burung terbang ia melompat ke atas loteng kecil yang terletak di samping kebun teh sana.
Tiada orang di situ, perlahan ia meraba dinding, mendadak bagian tengah ruangan muncul sebuah lorong panjang dan gelap.
Giok-koan berseru.
"Ini Giok-koan sudah datang."
Dari lorong berkumandang suara orang yang kaku dan dingin.
"Bagaimana keadaannya?"
"Semuanya berjalan lancar,"
Tutur Tonghong Giok-koan.
"Tapi kemudian Pui Po-giok itu seperti berlagak bodoh dan juga seperti benar-benar bingung."
"Hm, apakah pernah kau katakan apa-apa padanya?"
Jengek suara itu. Tonghong Giok-koan menunduk, jawabnya.
"Pui Po-giok itu masih muda belia, akan tetapi ternyata sukar dihadapi. Dia bisa mendadak pintar dan tiba-tiba berlagak bodoh. Terpaksa Tecu pura-pura tidak tahu .... Dan yang paling sukar diraba adalah saat ini dia tidak bicara sesuatu apa pun, seperti benar-benar terjebak oleh Bi-hun-tin (barisan penyesat sukma) kita."
Ia menghela napas perlahan, lalu menyambung.
"Betapa tinggi ilmu silat Pui Po-giok belum jelas diketahui, hanya caranya sebentar bodoh sebentar pintar ini sudah terang jarang ditiru orang biasa."
"Jika dia orang biasa, buat apa kita bersusah payah mencari akal untuk menghadapi dia?"
Jengek orang itu.
"Sekarang lekas kau kembali ke sana untuk mengerjai dia."
Tonghong Giok-koan mengiakan dengan hormat, segera ia melompat mundur.
Dinding itu merapat dan lukisan pemandangan yang besar yang tergulung ke atas menurun lagi, hanya sekejap saja ruangan itu telah pulih kembali seperti semula tanpa menerbitkan suara, jelas ruang yang penuh pesawat rahasia ini dirancang oleh seorang ahli yang sukar dicari.
Sementara itu baju Po-giok hampir terbuka seluruhnya, rambut juga terlepas, wajah kawanan gadis sama merah dan tertawa cekikak-cekikik, di lantai penuh berserakan baju.
Tonghong Giok-koan menyelinap masuk di luar tahu orang, serunya.
"Wah, anak-anak suka bikin kacau, hendaknya Pui-siauhiap jangan marah."
"Marah?"
Po-giok tertawa.
"Berada di tengah gadis-gadis cantik begini, masakah aku sampai hati marah? Terus terang, aku justru merasa sangat senang dan bahagia."
Tonghong Giok-koan mengerling genit, ucapnya dengan tertawa.
"Tampaknya anak-anak ini sudah menyukai Pui-siauhiap, sekiranya Pui-siauhiap menghendaki dilayani siapa saja di antara mereka, cukup memberi pesan ...."
Po-giok menatap Tonghong Giok-koan dengan terkesima, katanya.
"Kecantikan anak gadis ini mana dapat dibandingkan gaya Hujin (nyonya) yang masak, kukira hanya Hujin ...."
Ia tersenyum dan tidak melanjutkan, muka Tonghong Giok-koan menjadi merah, sedangkan kawanan gadis sambil tertawa, ada yang berkata.
"Aha, kiranya Pui-siauhiap penujui Hujin sendiri."
Mendadak dua gadis mendorong Tonghong Giok-koan ke arah Po-giok, dan anak muda itu terus saja merangkulnya dengan erat.
Entah malu atau memang hatinya juga tergelitik, mendadak wajah Tonghong Giok-koan merah jengah, ingin menolak, tapi urung ....
Sekonyong-konyong air mukanya berubah pucat, belum lagi sempat bersuara, tahu-tahu ia jatuh terkulai dan Po-giok pun lepaskan tangannya.
Keruan kawanan gadis sama kaget dan berteriak.
"Hai, Hujin di ... diapakan olehmu?"
"Tidak apa-apa, agaknya kalian juga perlu tidur saja,"
Ujar Po-giok dengan tersenyum sambil berdiri.
Baru selesai ucapannya, benar juga kawanan gadis itu satu per satu juga roboh terkapar, robohnya susul-menyusul dan hampir berbarengan.
Apakah mereka terbius?
Memangnya orang macam apa Pui Po-giok, masa dia juga pakai obat bius segala?
Tapi kalau bukan obat bius, apakah dia mahir ilmu sihir?
Pada detik terakhir ketika akan roboh, setiap gadis itu menampilkan rasa kejut dan bingung serta tidak percaya kepada apa yang terjadi, siapa pun tidak tahu mengapa mendadak bisa roboh.
Mereka tidak tahu bahwa tadi di luar tahu mereka diam-diam Po-giok telah meremas hiat-to tidur mereka.
Kepandaian "meremas hiat-to"
Ini serupa dengan ilmu menutuk, mengebut hiat-to dan sebagainya.
Bila kungfu meremas hiat-to sudah mencapai puncaknya, waktu robohnya sasaran dapat ditentukan menurut keras-perlahan remasannya.
Dengan sendirinya untuk menguasai kungfu meremas hiat-to dengan baik diperlukan lwekang yang tinggi dan perhitungan yang tepat.
Dalam hal ini Po-giok memang sudah menguasai dengan baik, ia dapat mengerahkan tenaga menurut kehendaknya.
Tadi ia telah meremas hiat-to setiap gadis itu dengan tenaga yang sedikit dengan perhitungan waktu roboh mereka yang hampir berbareng setelah lewat sekian lama.
Begitulah dalam ruangan indah ini sekarang menggeletak berpuluh sosok tubuh yang menggiurkan, kulit badan putih halus, bagian dada yang montok, siapa pasti akan tertarik.
Akan tetapi Po-giok justru tidak memandang mereka lagi, cepat ia mendekati dinding.
Perlahan ia meraba dinding itu, dengan cermat ia menjajaki rahasia yang terdapat pada dinding itu.
Dengan mata telanjang sukar menemukan rahasia pada dinding itu, akan tetapi perasaan Po-giok ternyata dalam menyentuh kunci rahasia dinding.
Di mana jarinya berhenti dan menekan perlahan, dinding yang semula halus licin itu mendadak merekah tanpa menerbitkan suara.
Namun Po-giok tidak heran oleh apa yang terjadi, sebab hal ini memang sudah berada dalam dugaannya.
Tanpa gentar ia terus masuk ke balik dinding sana yang pasti penuh rahasia dan bahaya.
Ruangan ini ternyata jauh lebih indah dan mewah daripada ruang di depan, di mana-mana terdapat benda antik, seluruh ruangan hampir dihias dengan batu permata.
Lantainya beralas permadani dari kulit binatang.
Silau juga pandangan Po-giok melihat kemewahan ruangan ini seakan-akan berada di surgaloka.
Akan tetapi penghuni di sini pasti bukan malaikat dewata melainkan setan iblis.
Po-giok menarik napas panjang dan melangkah maju.
Langkah yang mantap tanpa gentar.
Ia maju terus menyusur lorong yang panjang itu.
Pada ujung lorong itu ternyata tidak ada pintu.
Baru saja Po-giok hendak meraba lagi di mana letak pesawat rahasianya, tahu-tahu pintu sudah muncul sebelum tangannya bergerak.
Lalu berdering suara nyaring serupa bunyi kelening, dinding batu telah terbentang lagi dan terlihat tirai mutiara.
Pada saat itulah terdengar suara merdu menggetar sukma menyapanya.
"Kau sudah datang? Silakan masuk!"
Po-giok terkejut dan heran, ia pikir apakah orang sudah tahu akan kedatangannya.
Lalu apa yang akan diperbuat mereka terhadapku?
Tanpa pikir ia menyingkap tirai dan masuk ke sana.
Ruangan di balik tirai tentu saja terlebih indah, namun tetap tidak terlihat bayangan orang.
Di dalam ruangan itu ada sebuah meja, di atas meja ada sebuah pot kemala dengan hiasan beberapa tangkai bunga.
Begitu melihat bunga, pandangan Po-giok tidak berpindah lagi ke arah lain.
Meski bunga kamelia yang menghias pot itu cuma terdiri dari beberapa tangkai, namun sudah cukup membuat ruangan batu bertambah indah dan menarik.
Tanpa terasa ia bergumam.
"Di dunia ini, selain dia, siapa lagi yang sanggup merangkai bunga sebagus ini?"
Belum lagi lenyap suaranya, sekonyong-konyong lantai di mana ia berpijak terbuka, tanpa kuasa Po-giok terjeblos ke bawah.
Jika pada hari-hari biasa, asal terjadi sedikit kelainan pada lantai, seketika pasti akan diketahui oleh Po-giok dan segera akan dapat dihindari tempat bahaya itu.
Tapi sekarang Po-giok sedang memandang bunga dan lagi terkenang kepada si perangkai bunga, hatinya terguncang dan pikiran melayang sehingga sama sekali tidak dirasakan adanya kelainan lantai yang diinjaknya itu.
Mungkin kawanan iblis yang misterius ini memang sudah memperhitungkan kemungkinan Po-giok akan termenung bilamana melihat bunga kamelia itu, maka tipu muslihat ini sengaja diaturnya dengan baik.
Tapi apakah benar karangan bunga ini adalah buah tangan Siaukongcu?
Jika benar, apakah dirangkai olehnya secara sukarela dan karena dipaksa?
Jika sukarela, pada waktu merangkai bunga ini apakah Siaukongcu tidak tahu tujuannya adalah untuk menjebak Po-giok?
Bila dipaksa, tampaknya karangan bunga itu dirangkai oleh orang yang berpikiran tenang dan santai.
Kalau tidak, mana mungkin menghasilkan karangan bunga yang memesona itu.
Dalam keadaan biasa, sebenarnya perangkap begitu juga belum pasti dapat mengurung Po-giok, mestinya dia mampu melejit dan melepaskan diri dari jebakan itu.
Tapi sekarang lubang jebakan itu ternyata mengandung semacam daya isap yang amat kuat sehingga Po-giok tertarik ke bawah tanpa mampu melawan.
Pada saat itu juga didengarnya suara gemerciknya air, pada detik lain tubuhnya lantas tenggelam ke bawah dan daya isap yang aneh itu pun lantas lenyap.
Lubang lantai di atas juga sudah merapat kembali sehingga keadaan gelap gulita dan sunyi senyap serupa kuburan.
Genangan air di lubang ini ternyata hampir tiga kaki dalamnya.
Setengah badan Po-giok seluruhnya terendam air, ia coba menarik napas panjang, segera pula ia dapat menerka rahasia timbulnya daya isap yang kuat itu.
Rupanya air dalam sumur ini semula lebih banyak daripada sekarang ini, di dasar sumur tentu ada lubang buangan dan air genangan merembes keluar melalui lubang itu.
Pada waktu air mengucur keluar tentu akan menimbulkan semacam daya isap.
Tapi ketika Po-giok jatuh ke dalam sumur ini, diam-diam lubang buangan air itu segera ditutup orang, kalau tidak Po-giok tentu akan hanyut terbawa arus.
Dari sini dapat diduga musuh yang tidak kelihatan itu tidak berniat menghabisi jiwa Po-giok.
Ia biarkan anak muda itu tetap hidup, tentu karena dia masih mempunyai rencana yang lebih mendalam dan lebih keji.
Tapi sesungguhnya apa tujuannya?
Kembali Po-giok menarik napas panjang-panjang, ia coba memeriksa dinding sekeliling, ternyata semuanya buatan baja dan tidak mungkin dapat dibobol dengan tenaga manusia, sedangkan bagian atas berjarak lebih 20 tombak tingginya dari permukaan air.
Tiba-tiba terdengar suara misterius berkumandang dari atas.
"Pui Po-giok, kau memang manusia luar biasa, tapi akhirnya kau pun terjebak oleh perangkapku yang luar biasa ini."
"Siapa itu? Sesungguhnya apa yang kau inginkan? Mengapa tidak langsung bicara terus terang saja padaku?"
Sahut Po-giok.
"Apakah boleh per ... perlihatkan wajahmu padaku?"
"Tidaklah sulit jika kau ingin bertemu dengan aku,"
Kata orang itu.
"Cuma ...."
Ia sengaja berhenti bicara. Siapa tahu Po-giok berdiri dengan tenang dan menunggu dengan sabar tanpa menegas. Terpaksa suara itu menyambung sendiri.
"Cuma sekarang kau sudah merupakan tawananku, tentunya kau tidak bebas untuk menemuiku begitu saja terkecuali kau mampu meloloskan diri 393 dari perangkap ini, kalau tidak, boleh kau tunggu dulu beberapa hari lagi."
Ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata pula.
"Biarpun kepandaianmu setinggi langit, namun kelaparan dan kehausan selama beberapa hari tentu akan membuatmu kehabisan tenaga, tatkala mana baru akan kukeluarkan dirimu dan akan kujelaskan duduknya perkara, dan apa yang kusuruh dikerjakan olehmu terpaksa harus kau turut."
Habis berkata, ia tertawa senang, namun sama sekali tidak ada reaksi lagi dari dalam sumur perangkap itu.
"Apa yang kukatakan sudah kau dengar tidak?"
Tanya orang itu.
"apakah kau ...."
Mendadak ia merasa ada bunyi air lagi di dalam sumur itu, menyusul ada cahaya yang amat kuat menyorot ke dalam sumur.
Ternyata air dalam sumur lantas menyurut lagi dengan cepat dan Po-giok yang terendam dalam air sudah tak terlihat lagi bayangannya.
Nyata anak muda itu telah berhasil membuka lubang buangan air di dasar sumur dan ia ikut terhanyut oleh arus yang kuat.
Meski ia tidak tahu dirinya akan terhanyut ke mana, tapi demi mendapatkan kebebasan, ia tidak sayang bertaruh dengan nyawa sendiri.
Menghadapi keadaan demikian, biarpun terkejut dan mendongkol, mau tak mau iblis di atas sumur itu harus kagum juga, gerutunya.
"Kurang ajar! Hebat juga. Rasanya jauh lebih sulit daripada apa yang kita bayangkan bilamana kita hendak menundukkan orang seperti ini. Kukira lebih baik habisi dia saja."
Segera suara seorang yang merdu menjawab.
"Orang yang sukar dicari seperti dia mana boleh dibiarkan mati begitu saja. Jika menghendaki kematiannya tentu tidak perlu kutunggu sampai sekarang ...."
Ia tersenyum, lalu menyambung.
"Biar, akan tetap kubiarkan dia hidup. Sekalipun tubuhnya terdiri dari besi juga akan kubikin dia lemas seperti kawat." ***** Po-giok melingkarkan tubuhnya dan membiarkan hanyut dibawa arus yang kuat, sungguh amat tersiksa tubuh yang diterjang arus dan terbentur kian kemari. Biarpun badan menderita, namun batinnya seteguh baja, ia yakin arus yang dahsyat itu pasti takkan merenggut nyawanya. Untung sungai buangan itu sudah licin karena setiap saat digerojok air yang keras, akhirnya semua siksa derita dapat dilalui Po-giok. Terdengar suara mendebur, arus yang kuat itu mendadak lenyap, tahu-tahu tubuhnya tercebur ke suatu kolam yang tenang. Waktu kepalanya menongol ke permukaan air, segera ia menarik napas panjang-panjang. Ia coba memandang sekelilingnya, terlihat di sekitar situ banyak pagar bambu yang terawat dengan tetumbuhan yang permai menghiasi deretan gunung-gunungan palsu, beberapa bangunan tampak berdiri megah di sana. Jelas inilah sebuah perumahan yang indah. Di dalam taman tidak ada orang, kolam ini terletak di tengah taman. Perlahan Po-giok berenang ke tepi kolam dan merambat ke tepian. Setelah mengaso sejenak, segera ia lompat ke atas gunung-gunungan. Dari sini ia mengintip ke sana. Dilihatnya di sebelah barat sana ada beberapa paviliun indah, terdengar suara orang perempuan yang sedang bicara dan tertawa. Dengan ringan Po-giok melayang ke depan rumah dan mendadak ia mendorong pintu terus 394 menerobos ke dalam. Ia tahu jejak sendiri pasti akan ketahuan, lalu buat apa main sembunyi, kan lebih baik masuk saja terang-terangan. Ruangan yang indah dengan meja hias itu dikerumuni beberapa gadis jelita, mereka asyik menyisir rambut dan bersolek. Mereka seperti kawanan gadis pemetik teh yang pernah dirobohkan Po-giok dengan meremas hiat-to mereka itu. Ketika mendadak melihat Po-giok menerobos masuk dalam keadaan basah kuyup, mereka menjerit kaget dan berlari serabutan, hanya sekejap saja mereka sudah menghilang di balik tabir sana. Hanya tertinggal seorang gadis jelita berbaju putih yang masih duduk menghadapi sebuah cermin perunggu yang paling besar di sebelah kiri sana, seorang nyonya setengah baya dan berbaju mentereng sedang menyisir rambutnya. Perunggu yang mengilap itu memantulkan bayangan wajahnya yang cantik. Siapa lagi dia kalau bukan Siaukongcu. Hanya setengah badan nyonya berbaju mentereng itu terbayang dalam cermin, wajahnya tidak kelihatan. Ketika diketahui ada lelaki timbul dalam bayangan cermin, mendadak sisir kayu yang dipegangnya terjatuh, cepat ia pun lari masuk ke balik tabir. Dari perawakan dan sedikit raut wajah yang sekilas terbayang dalam cermin, Po-giok merasa seperti sudah mengenalnya. Memangnya siapa dia? Po-giok berdiri termangu di dekat pintu tanpa bergerak. Perlahan Siaukongcu membalik tubuh dan memandangnya dengan tenang. Sejenak kemudian, air mukanya yang cantik dan tenang itu mendadak timbul semacam perasaan heran dan kejut, serunya.
"Hah, Po-ji ... kau Po-ji!"
"Betul, apakah tidak kau kenal diriku lagi?"
Ujar Po-giok.
"Sudah lebih enam tahun kita berpisah, engkau sudah ... sudah bertambah besar, aku hampir tidak ... tidak kenal lagi padamu."
Suara Siaukongcu terasa gemetar, ia berdiri, tubuh juga tampak gemetar sehingga rambutnya yang panjang indah ikut bergetar.
"Kau bilang sudah lebih enam tahun tidak bertemu denganku?"
Po-giok menegas.
"Ya, sudah lebih enam tahun,"
Jawab Siaukongcu.
"Semalam juga engkau tidak bertemu denganku?"
Siaukongcu menunduk, tiba-tiba ia tersenyum pedih dan menjawab lirih.
"Ya, semalam memang kulihat dirimu ... kulihat dalam mimpi. Hampir setiap malam aku mimpi bertemu denganmu."
Mendadak ia berlari ke depan Po-giok dengan napas memburu, dada naik-turun, seperti menahan perasaannya yang terguncang, akhirnya ia merangkul anak muda itu dan menangis tersedu sedan.
Po-giok hanya berdiri diam saja seperti patung.
"Mengapa engkau bisa datang ke sini?"
Tanya Siaukongcu.
"Ayolah katakan, mengapa diam saja?"
Tangan Po-giok tampak bergerak, seperti hendak membelai rambut si nona, tapi baru terangkat lantas diturunkan kembali, ucapnya perlahan.
"Apa yang dapat kukatakan?"
"Ceritakan pengalamanmu selama ini?"
Ujar Siaukongcu.
"Katakan ... apakah pernah kau pikirkan diriku."
"Aku baik-baik saja, selalu kupikirkan dirimu, semalam dalam mimpi juga kulihat dirimu, aku ... aku ...."
Tiba-tiba di luar ada suara langkah orang.
"Celaka!"
Keluh Siaukongcu.
"Ada orang datang, di sini bukan tempat yang aman ...."
Cepat ia tarik Po-giok dan berlari ke balik tabir sembari berkata dengan khawatir.
"Lekas ikut kemari, jangan sampai mereka membikin susah padamu."
Dengan kaku Po-giok ikut masuk ke sana, setelah menerobos dua ruangan barulah Siaukongcu berhenti, lalu membalik dan merapatkan pintu kamar.
Keindahan kamar ini jauh melebihi ruang yang lain, bau harum tersebar memenuhi ruangan.
Kelambu warna jambon, begitu pula sarung bantalnya dan selimutnya, semuanya serbajambon.
Po-giok memandang sekeliling ruangan dengan melongo.
"Inilah kamarku,"
Bisik Siaukongcu dengan muka merah, ia menuangkan secangkir teh dan disodorkan kepada Po-giok.
Perlahan Po-giok menerima cangkir teh itu dan memandang Siaukongcu lekat-lekat sampai lama sekali, sorot matanya yang tajam seakan-akan ingin menembus hati si nona.
Siaukongcu juga memandangnya dengan tenang, kerlingan matanya yang hampa dan sesal seakan-akan hendak berkata.
"Mengapa tidak kau minum teh yang kusuguh? Jika kubawa dirimu ke kamarku, masakah engkau tidak lagi paham perasaanku?"
Akhirnya Po-giok minum habis juga teh diberikan Siaukongcu itu.
Si nona mendekapnya hingga lama, kemudian menyurut mundur perlahan namun pandangan Siaukongcu masih melekat pada wajah Po-giok, kerlingan yang penuh arti.
Po-giok juga menatapnya dengan termangu, sorot matanya serasa agak kabur, perlahan ia pun menyurut mundur, satu langkah, dua langkah, tiga langkah ...
dan akhirnya ia jatuh duduk di tempat tidur.
"Apakah engkau lelah? Ingin istirahat dulu?"
Kata Siaukongcu dengan berkedip. Tersembul senyuman Po-giok, senyuman yang penuh pedih, duka, dan juga mengejek terhadap sikap manusia yang sukar diduga, katanya perlahan.
"Ya, aku ingin istirahat, tapi ... tapi bukan lantaran lelah melainkan karena ... karena ...."
Ia tidak melanjutkan, pandangannya beralih kepada cangkir teh yang kosong itu.
"Apa maksudmu, sungguh aku tidak paham?"
Ujar Siaukongcu.
"Benar tidak paham? ...."
Po-giok tertawa terlebih pedih, sikapnya juga tambah letih, tambah kabur sinar matanya, ia meronta dan membusungkan dada, sambungnya muram.
"Di dalam teh ini ada obat tidur, memangnya kau kira aku tidak tahu?"
Siaukongcu seperti terperanjat dan juga mendongkol, teriaknya.
"Ada obat tidur dalam teh? .... Jika kau tahu di dalam teh ada racun, mengapa tetap kau minum?"
"Biarpun jelas kutahu kau bicara bohong tetap akan kupercaya,"
Kata Po-giok.
"Sekalipun kutahu kau dusta padaku juga aku tidak menyesal padamu. Karena kau minta kuminum, biarpun dalam teh ditaruh racun paling jahat pun tetap kuminum."
"Ai, apa yang kau katakan, sama sekali aku tidak mengerti,"
Kata Siaukongcu.
"Tidak mengerti, katamu?"
Po-giok menegas.
"Siapa yang menyisir rambutmu tadi juga sudah kulihat."
"Dia siapa? Coba katakan, siapa dia?"
"Dia kan Cu-ji, yaitu Auyang Cu yang telah membikin susah padaku itu."
Siaukongcu membetulkan rambutnya dan tidak bersuara.
"Sebenarnya aku merasa heran, Cu-ji, paman Li dan lain-lain mana bisa menipuku? Siapa di dunia ini yang dapat menyuruh mereka menipuku? Baru sekarang kutahu, di dunia ini memang ada orang yang dapat memerintah mereka menipuku, apa pun yang dikatakan orang itu sukar dilawan oleh mereka. Dan orang itu tak-lain-tak-bukan ialah ... ialah dirimu!"
Siaukongcu seperti mau bicara apa-apa, tapi urung. Maka Po-giok menyambung.
"Sebenarnya aku pun heran, mengapa ke mana pun kupergi selalu orang dari istana iblis itu selalu dapat menguntit jejakku? Mengapa setiap gerak-gerik kita seperti dapat diketahui lebih dulu oleh mereka .... Baru sekarang kutahu bahwa mereka memang sudah lebih dulu sembunyi di situ, aku sendirilah yang datang ke sana dan bukannya dikuntit mereka. Dan tempat-tempat itu justru kudatangi atas ajakanmu. Setiba di makam itu juga kau sendiri yang lari ke atas makam untuk ditawan orang itu. Kalau tidak, dengan kungfumu saat ini, siapa di dunia ini yang mampu mengatasimu?"
Makin bicara makin lemah, habis bicara, napas pun menggeh-menggeh serupa habis bertempur sengit. Siaukongcu masih membetulkan rambutnya yang indah itu dengan tenang. Akhirnya ia bicara dengan lirih.
"Apa yang kau katakan itu apakah benar timbul dari lubuk hatimu?"
"Ya, setiap kataku semuanya timbul dari lubuk hatiku sendiri."
"Dan hatimu sendiri percaya kepada apa yang kau katakan?"
"Aku lebih suka tidak percaya, tapi juga tidak dapat tidak percaya."
Mendadak Siaukongcu tertawa dingin, tertawa ejek, namun juga rada pedih.
"Hm, alangkah pintarnya. Alangkah percaya pada diri sendiri. Tapi ... tapi cara bagaimana kau berani memastikan apa yang kau pikir itu adalah kejadian yang sebenarnya?"
Po-giok menghela napas panjang, meski tidak bicara, namun sudah merupakan jawaban yang positif.
"Mengapa tidak kau pikirkan, apa yang terjadi itu apakah tidak ada kemungkinan lain?"
"Kemungkinan lain apa?"
Tanya Po-giok. Sorot mata Siaukongcu berubah tajam, katanya.
"Apakah tidak mungkin orang lain menyamar sebagai diriku? Bukankah orang lain pun dapat memalsukan diriku untuk melakukan sesuatu .... Kenapa hal-hal ini tidak kau pikirkan, tapi aku lantas kau salahkan ...."
"Aku tidak menyalahkanmu, kutahu sesuatu perbuatanmu pasti dilakukan karena terpaksa, aku bersimpati padamu dan tidak menyesalimu."
"Bicara sekian lamanya, ternyata kau tetap tidak percaya padaku, sungguh aku ... aku benci padamu ...."
Mendadak Siaukongcu melangkah maju dan menggampar muka Po-giok sekerasnya.
"Kau ...."
Po-giok berdiri sambil memegang mukanya.
"Kubenci padamu,"
Teriak Siaukongcu sambil mengentak kaki.
"Seterusnya tak mau lagi kulihat dirimu."
Air matanya bercucuran dan segera ia mendekap mukanya terus berlari pergi.
Po-giok memandangi bayangan orang dengan termangu-mangu.
Setiap gerak-gerik nona itu, tutur katanya, seperti sungguh seperti pura-pura, begitu pula cintanya kepada Po-giok juga sukar dibedakan serius atau palsu?
Apakah benar semua ini bukan sengaja dilakukan oleh kehendak Siaukongcu sendiri?
Memangnya Siaukongcu yang membawa Po-giok ke makam kuno itu benar samaran orang lain?
"Ai, jika benar demikian, kan kusalah paham padanya?"
Gumam Po-giok.
"Tapi kuyakin tidak salah lihat ...."
Begitulah makin dipikir makin bingung.
Ia merasa kaki dan tangan tak bertenaga lagi, kepala pun pening.
Akhirnya ia jatuh terduduk.
***** Menghilangnya Pui Po-giok sudah berlangsung beberapa hari.
Kejadian ini paling banyak menimbulkan pertengkaran di dunia Kangouw.
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 8
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 4