Eps 8 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.
Nama baik In-bong-tayhiap Ban Cu-liang, Kim Co-lim, dan ketujuh murid utama dari ketujuh aliran besar juga banyak terpengaruh.
Kawanan gadis yang dulu sama tergila-gila kepada Po-giok sekarang justru paling keras mencaci maki anak muda itu.
Bilamana pemuda pujaan kaum gadis mendadak berubah menjadi orang yang rendah, rasa kecewa mereka dengan sendirinya sangat mudah berubah menjadi gusar dan benci.
Bab 17.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Meski Ban-Cu-liang dan lain-lain sama yakin Po-giok pasti bukan pengecut, juga pasti bukan pendusta, namun dari berbagai gejala yang terlihat sama menandakan Po-giok seakan-akan sengaja menghilang tanpa pamit.
Mereka tidak habis mengerti mengapa Po-giok menghilang begitu saja tanpa memberi kabar.
Meski mereka yakin perbuatan Po-giok tentu ada alasan yang sukar dijelaskan, tapi tidak ada seorang pun menyangka anak muda itu telah terjeblos ke dalam jaringan tipu muslihat musuh yang rapi dan ruwet seperti jaring labah-labah dan anak muda itu sendiri tersiksa lahir batin.
Sebab itulah, sedikit banyak timbul juga rasa tidak puas mereka terhadap Po-giok karena anak muda itu telah mengecewakan harapan mereka.
Hanya Bwe-Kiam saja yang bersikap diam, sama sekali ia tidak memberi komentar, juga tidak mengeluh.
Setelah kejadian itu, pertemuan Thay-san semakin ditingkatkan, para jago muda yang ingin ambil bagian dalam pertandingan itu juga tambah semangat setelah menghilangnya Pui-Po-giok.
Terutama gelar "jago nomor satu di dunia"
Tentu merupakan daya tarik besar bagi mereka.
Tampaknya pertarungan sengit dan banjir darah pasti sukar dihindarkan lagi.
Dan orang yang berhasil memperoleh kemenangan tampaknya juga belum tentu dapat mencapai puncaknya dengan melangkahi mayat-mayat lawannya, sebab orang yang menang nanti masih harus menghadapi si jago pedang baju putih dari lautan timur itu, imbalan yang akan diperolehnya bukan lagi ketenaran yang memuncak melainkan ujung pedang si baju putih yang tajam.
Siapa kiranya yang akan keluar sebagai juara nanti?
***** "Bencana!
...
Petaka!
...
Bencana!"
Demikian berulang-ulang Ban-Cu-liang yang duduk tepekur itu bergumam dengan menghela napas panjang.
"Ya, harus aku pergi mencari mereka,"
Teriak Kim-Put-we mendadak sambil menggebrak meja. Kong-sun-Put-ti memandangnya sekejap dan menegas,"
Maksudmu hendak mencari Lu-In, Ing-Thi-ih dan lain-lain."
"Betul ingin kutanya mereka sesungguhnya Pui-Po-giok pendusta atau bukan? Sesungguhnya ilmu silat Po-giok itu sejati atau palsu? Jika Po-giok penipu, pengecut, mengapa mereka dikalahkan penipu dan pengecut itu?"
"Betul, harus kita minta kesaksian mereka!"
Tukas Nyo-Put-loh.
"Ayo, pergi, sekarang juga kita pergi."
Mereka tidak tahu bahwa Lu In, Ing-Thi-ih, Hi-Toan-kah dan lain-lain yang pernah bertanding dengan Po-giok itu kini sudah sekian hari meninggalkan rumah masing-masing.
Ke mana perginya mereka, anggota keluarga mereka sendiri tidak ada yang tahu, sebab keberangkatan mereka sangat tergesa-gesa, juga sangat misterius.
Tempat tujuan mereka belum tentu sama, hari keberangkatan mereka juga berbeda.
Tapi satu hal ada persamaan di antara mereka, yaitu mereka tergesa-gesa berangkat setelah menerima sepucuk surat.
Tidak ada yang tahu apa isi surat misterius itu, juga tidak ada yang tahu siapa pengirim surat itu.
Sebab itulah rombongan Ban-Cu-liang hanya berlari kian kemari sia-sia tanpa bertemu dengan orang yang mereka cari.
Saat itu Po-giok lagi duduk di tempat tidur tubuhnya belum lagi rebah.
Sedapatnya ia melawan rasa gelap matanya yang ingin terkatup itu dengan keteguhan iman dan kepercayaan diri.
Ia menggertak gigi dan bertahan agar kelopak mata tidak terkatup meski rasanya kelopak mata sangat berat.
Ia tahu bilamana kelopak mata merapat, seketika juga ia akan ditelan oleh kegelapan yang tidak ada batasnya dan akan tenggelam selamanya.
Tiba-tiba sesosok bayangan muncul di depannya, meski ia pentang matanya lebar-lebar namun rasanya seperti memandang tapi tidak melihat.
Hanya remang-remang diketahui bayangan orang ini mendekatinya dan duduk di depannya, apakah orang perempuan atau lelaki, bajunya berwarna hitam atau putih, bagaimana pula bentuk wajahnya, semuanya tidak jelas baginya.
Terdengar orang itu berkata perlahan.
"kamu sudah lelah, perlu mengaso dengan tenang. Maka lebih baik tidur saja ... ayolah tidur saja ..."
Kedengarannya seperti suara orang lelaki.
Namun suaranya terasa begitu manis, begitu lembut, sama sekali tidak terpikir oleh Po-giok bahwa di dunia ini ada suara orang lelaki selembut ini.
Suara lembut itu seperti mempunyai kekuatan sihir, biarpun orang sehat pun sukar melawan kekuatan sihir yang aneh ini.
Tanpa terasa kelopak mata Po-giok mulai merapat.
Sesungguhnya ini bukan soal tidur dan tidak tidur melainkan pertarungan sengit dari dua kekuatan batin.
Musuh Po-giok sekarang bukan hendak mengincar nyawa anak muda itu melainkan cuma ingin meruntuhkan imannya.
Pertarungan ini jelas sama sekali berbeda daripada pengalaman Po-giok yang telah lalu.
Kulit mata Po-giok serasa diganduli benda yang berat dan ingin merapat, namun sedapatnya Po-giok mengumpulkan semangat dan tenaga untuk bertahan agar mata tidak terkatup.
Kekuatan batin lawan ternyata sangat hebat, lama-lama Po-giok merasa tenaga habis dan semangat runtuh, tubuh pun mulai gemetar.
"Tidak ... tidurlah, jangan melawan, semakin melawan semakin susah bagimu, jalan terbaik bagimu adalah tidurlah!"
Ucap orang itu dengan suara terlebih lembut dan tubuh Po-giok pun berguncang terlebih hebat.
"Tidurlah ..."
Orang itu berkata pula.
"sukar bagimu untuk melawan kekuatan obat itu, asalkan tidur, sesudah mendusin segera akan kau rasakan dirimu seperti sudah berubah seorang lain dan menyenangkan sekali ..."
Berdetak jantung Po-Giok, tubuh seperti kena dicambuk sekali, pikirnya.
"Berubah menjadi seorang lain? Mana mungkin ... tapi bukankah Siau-kong-cu sudah berubah lain ... Ah, tidak ... aku tidak boleh tidur ..."
Sekuatnya ia menghimpun semangat dan mengingatkan sendiri jangan tidur, betapapun jangan tidur, aku tidak pernah minum obat apa pun, aku harus tetap sadar ...
sadar ...
Kelopak matanya yang hampir rapat itu kini terpentang lebar pula, tubuhnya yang gemetar pun berhenti.
Inilah semacam pemusatan kekuatan batin sendiri yang aneh, tekad dan semangatnya adalah kekuatan maha besar dan mengalahkan sihir lawan.
Akhirnya dapatlah ia lihat jelas musuhnya.
Orang yang duduk di depannya seluruh tubuh memancarkan hawa seram menakutkan.
Ia berjubah merah, sinar matanya dingin tajam, bola matanya berwarna ungu tua mendekati merah bara, waktu ia menatap orang, rasanya seperti ada semacam kekuatan gaib yang panas terpancar dari bola matanya.
Bola mata yang membakar orang yang dipandangnya dan membuat orang tidak tahan.
Yang terlebih membuat orang tidak tahan adalah wajahnya.
Seluruh kepalanya seakan pernah terbakar hangus, mukanya buruk memualkan, penuh bekas luka yang mengerikan.
Namun kedua telapak tangannya justru tampak halus licin, kesepuluh jarinya kelihatan halus lentik, kuku jari terawat baik, kedua tangannya sama sekali tiada cacat, putih mulus bagai batu kemala.
Dengan ujung jari ia raba bekas luka wajah sendiri, wajah yang buruk dengan tangan yang indah, sungguh teramat kontras dan menambah kekuatan gaib yang menggetar sukma.
Waktu Po-giok memandang lebih banyak beberapa kejap, terasa seram dan mengkirik, sungguh sukar dimengerti, makhluk aneh yang serupa iblis ini justru bersuara lembut dan merdu.
Sorot matanya menampilkan rasa kejut dan heran, dengan sendirinya karena Po-giok tidak roboh tertidur sebaliknya pikirannya tetap sadar dan jernih.
Perlahan ia berkata.
"Terima kasih atas berkah Thian, engkau ternyata mempunyai ketahanan serupa unta, setangkas elang, secerdik rase, engkau ternyata tetap sadar."
Sedapatnya Po-giok barsikap tenang, katanya "Sedemikian kau puji musuhmu, sungguh aku tidak mengerti. Seharusnya kau benci pada musuhmu mengapa engkau malah memberkati musuhmu?"
"Musuh? Musuhku? Siapa itu?"
Tanya orang itu, mendadak ia tertawa, sambungnya pula "Musuhku sudah lama mati semua, bila kuanggap dirimu sebagai musuh, masakah kamu dapat hidup sampai sekarang?"
"Jika aku tidak dipandang sebagai musuh mengapa aku dibikin susah seperti ini? Hwe-mo-sin (malaikat iblis api) dari Ngo-heng-kiong memang biasa memperlakukan kawan dengan cara begini?"
"Aha, ternyata dapat kau terka siapa diriku."
Seru si jubah merah dengan tertawa.
"Betul, bukan saja dapat kuterka siapa dirimu, juga dapat kuterka jalan pikiranmu, sudah dapat kuraba apa maksud tujuanmu caramu memperlakukan diriku ini."
"Oo, apa maksud tujuanku? Coba katakan,"
Kata si jubah merah alias Hwe-mo-sin.
"Pertama, kamu tidak suka usahaku merintangi pertandingan di Thay-san, sebab memang itulah rencanamu untuk membangkitkan banjir darah di dunia kang-ouw, setelah para jago kelas tinggi sama gugur dan habis, lalu kamu dapat mengeduk keuntungan dan menjagoi dunia persilatan."
"Aha, bagus, dugaan yang bagus! Lalu apa lagi?"
"Dengan berbagai tipu akal kau coba menjatuhkan diriku agar aku tidak dapat berpijak di dunia kang-ouw, sebab kamu tidak ingin kuhadapi tokoh baju putih dari lautan timur itu, supaya si baju putih tetap dapat menjadi raja dunia persilatan dengan membunuh setiap penantangnya, dengan begitu akan lebih mudah bagimu untuk maksud tujuanmu."
"Hehe, untuk ini ada sedikit salah terka,"
Kata Hwe-mo-sin.
"Dengan sendirinya, tindakanku ini masih ada maksud sampingan lain, yaitu bilamana aku sudah malu untuk bertemu dengan para ksatria dunia persilatan, maka tiada jalan lain bagiku kecuali menggabungkan diri ke Ngo-hing-mo-kiong"
Ia berhenti sejenak, sekali ini Hwe-mo-sin tidak menyangkal lagi, diam berarti membenarkan.
"Tapi kamu tetap belum tahu jelas betapa kemampuanku yang sesungguhnya, maka sengaja kau gunakan berbagai cara untuk menguji kungfu, kecerdasan dan keteguhan imanku. Jika aku tidak tahan ujianmu dan mati di tangan anak buahmu, bagimu tidak ada ruginya, sebab kalau aku tidak tahan uji berarti juga tidak ada harganya untuk kau peralat."
"Bagus, uraian yang bagus!"
Kata Hwe-mo-sin dengan tertawa.
"Dan kalau ujianmu dapat menjatuhkan aku, itu berarti aku telah menerima semua persyaratanmu dan pasti akan meminta diriku mengerjakan sesuatu."
"Memangnya urusan apa yang perlu kuminta kau kerjakan?"
"Urusan yang kau minta kukerjakan itu tentu sangat sulit dan bahaya,"
Tutur Po-giok.
"Bahkan selain aku mungkin tidak dapat dikerjakan orang lain, sebab itulah dengan segala daya upaya kau jebak diriku."
Tiba-tiba Hwe-mo-sin mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan termenung sejenak lalu berkata.
"Ya, memang betul, melihat keadaannya sekarang, urusan ini memang cuma dirimu saja yang dapat mengerjakannya."
"Dan dari mana pula kau tahu aku mau bekerja bagimu?"
Jengek Po-giok. Mendadak Hwe-mo-sin menatap tajam Po-giok pula, katanya.
"Meski kamu mempunyai kekuatan batin yang teguh, tapi kekuatan batin hanya dapat menguasai pikiranmu dan tidak dapat menguasai fisikmu meski saat ini pikiranmu belum lagi runtuh, namun anggota badanmu tetap belum mampu bergerak dan setiap saat dapat kucabut nyawamu."
Po-giok bergumam katanya.
"Apakah kau lihat aku ini orang yang mudah manyerah kepada ancaman? Soal mati dan hidup bukan apa-apa bagiku, tentu kau pun tahu tekadku ini."
Hwe-mo-sin terdiam sejenak, tiba-tiba ia tanya.
"Berapa umurmu tahun ini?"
Seketika Po-giok tidak tahu apa maksud orang tanya usianya, ia pun terdiam sejenak, akhirnya menjawab.
"Sekitar dua puluhan."
"Bagi pandangan orang berumur 20-an, kematian memang sesuatu yang mudah, sebab orang muda kebanyakan tidak tahu betapa berharganya hidup dan betapa dukanya kematian. Bilamana usiamu sudah sebayaku, tentu kamu akan tahu satu-satunya yang paling berharga di dunia ini adalah hidup, di tengah kehidupan masih banyak hal-hal yang indah yang belum pernah kau nikmati, jika sekarang kamu harus mati, apakah kamu tidak berdosa terhadap diri sendiri?"
"Huh, jangan kau coba memancing dan menggoda diriku,"
Ujar Po-giok dengan tersenyum.
"Tidak, tidak ada maksudku hendak memancing dirimu. Tapi ingin kukatakan padamu, asalkan kau mau bekerja bagiku, maka segala kenikmatan dunia yang tidak pernah diperoleh orang lain pasti akan dapat kuberikan padamu, apakah itu kedudukan, nama, perempuan cantik, harta benda ... asalkan kau mau, segala apa pun dapat kau peroleh. Bilamana pada waktu anak-anak pernah kau mimpikan sesuatu, kujamin impianmu itu pasti akan terkabul menjadi kenyataan."
"Maksudku, apa pun yang kuminta pasti dipenuhi? ..."
"Betul."
"Wah, segala apa yang pernah aku dengar selama hidup ini memang tidak ada yang lebih memikat daripada janjimu ini, tapi ..."
Mendadak Po-giok tertawa, katanya pula.
"Tapi, apakah aku ini orang yang mudah kau pancing?"
Kembali Hwe-mo-sin terdiam, katanya kemudian.
"Tapi jangan kau lupa, saat ini kamu tidak punya apa-apa lagi. Di dunia kang-ouw tiada seorang pun yang menghargaimu pula. Kamu 401 sudah diludahi dan dibuang oleh orang di dunia. Lalu apa pula yang menjadi kebanggaanmu, apa yang akan kau bela? Mengapa tidak kau turut saja kepada perintahku."
"Biarpun aku tidak punya apa-apa lagi, tapi aku masih mempunyai hak untuk menentukan mati dan hidup! Inilah yang harus kuhargai dan kuhormati serta pantas kubela mati-matian ...."
"Hendaknya kau tahu bunuh diri bukanlah perbuatan seorang jantan melainkan tindakan pengecut,"
Kata Hwe-mo-sin.
"Bilamana kamu memang seorang lelaki sejati, kamu harus berani berjuang untuk hidup menghadapi kesulitan apa pun."
"Huh, pandai benar caramu membakar semangatku,"
Po-giok tertawa pula.
"Cuma sayang betapapun pendirianku sukar digoyahkan ..."
Sampai lama Hwe-mo-sin memandang anak muda itu, seakan-akan menjajaki jalan pikirannya yang teguh itu. Katanya kemudian.
"Lalu cara bagaimana supaya aku dapat mengambil hatimu?"
"Siapa pun bila menghendaki aku berbuat sesuatu baginya, untuk itu dia harus memohon padaku,"
Kata Po-giok dengan tersenyum. Sorot mata Hwe-mo-sin yang merah bertambah membara, namun suaranya tetap tenang dan lembut.
"Memohon padamu? Memangnya aku juga orang yang memohon kepada orang lain?"
"Ya, engkau memang tidak perlu memohon kepada orang lain, tapi sekarang dari sorot matamu sudah dapat aku lihat rasa cemas dan gelisahmu, sudah dapat kuterka, asalkan aku mau mengerjakan urusan ini bagimu, maka tanpa sayang segala pengorbanan, bahkan tidak sayang mengerjakan sesuatu yang belum pernah kau lakukan, termasuk tidak sayang untuk memohon padaku ... betul tidak?"
Hwe-mo-sin duduk terdiam hingga lama.
Pembicaraan kedua orang sama tajamnya, juga sama indahnya.
Keduanya sama-sama menguji keteguhan hati sendiri, sekaligus juga menjajaki keteguhan lawan.
Dalam pertarungan in, akhirnya Hwe-mo-sin jatuh di pihak asor pula.
Sorot matanya menampilkan rasa pedih, rasa pertentangan batin.
Kata-kata yang tajam sukar dikeluarkan lagi.
Medan perang lidah tadi kini berubah menjadi sunyi senyap.
Entah berselang berapa lama, mendadak ia berdiri, tanpa bicara lagi ia terus melompat pergi, hanya sekejap saja lantas menghilang.
Dia pergi secara mendadak, agaknya hendak melancarkan tipu muslihat lagi.
Namun Po-giok tidak gentar, sebab ia yakin dirinya telah dapat memegang titik lemah Hwe-mo-sin, ia percaya apa yang Hwe-mo-sin minta di kerjakannya itu selain sangat erat hubungannya dengan Hwe-mo-sin sendiri, tentu juga sangat besar sangkut pautnya dengan orang Ngo-hing-mo-kiong, maka cepat atau lambat Hwe-mo-sin pasti akan memohon padanya.
Po-giok sudah memegang kunci kemenangan, seterusnya sama sekali ia sudah berada di pihak yang memegang kendali, ia tidak perlu gentar lagi.
***** Di ruangan lain, seorang tua rebah di pembaringan.
Ia memakai selimut, muka menghadap dinding sehingga tidak kelihatan wajahnya.
Yang tertampak cuma rambutnya yang ubanan dan semrawut.
Siau-kong-cu duduk menunduk di tepi tempat tidur tanpa bergerak, namun bola matanya selalu berputar, air muka pun berubah-ubah sehingga apa yang sedang dipikirnya sukar diduga.
Tiba-tiba Hwe-mo-sin melayang masuk duduk di kursi dekat ujung tempat tidur, menghela napas panjang dan berkata.
"Tak terduga di dunia ini ada orang berhati sekeras baja seperti dia ..."
"Sudahlah, tidak perlu kau katakan lagi,"
Seru si orang tua yang berbaring itu.
"Apa yang kalian 402 percakapkan di ruang sebelah sudah aku dengar dengan jelas, bahkan kurasakan sangat menarik."
"Menarik?"
Hwe-mo-sin menegas.
"Pui-Po-giok itu serupa orang tolol pada waktu berlagak pilon, selicin ular pada waktu main licik. kau menghadapi lawan begini dan kau bilang menarik.?"
"Jika bukan orang seperti itu, cara bagaimana dia mampu menyelesaikan urusan itu?"
Ucap kakek dengan tersenyum.
"Memang betul juga, tapi ... tapi segala usaha kita sudah dilaksanakan dan dia tetap tidak mau tunduk. Meski sudah membunuhnya menyuruh dia menurut kehendak kita terlebih sulit. Celakanya kita tidak dapat membunuh dia, lalu apakah benar aku harus memohon padanya?"
Dia bioara dengan nada gemas, namun si kakek tetapi tidak menoleh, perlahan ia berkata pula "Siapa yang menyuruhmu memohon padanya?"
Gemerdep sinar mata Hwe-mo-sin.
"Habis apakah ada akal lain?"
"Gampang saja, bebaskan dia,"
Kata si kakek. Hwe-mo-sin melengak.
"Hah, kau bilang bebaskan dia?"
"Betul, hanya membebaskan dia saja merupakan jalan yang terbaik."
"Tapi kita sudah banyak membuang waktu dan tenaga baru dapat kita kerjai dia seperti sekarang ini, jika bebaskan dia, bukankah berarti melepas harimau ke gunung dan kita akan dianggap sebagai orang sinting?"
"Untuk bertempur dengan orang seperti dia justru diperlukan orang sinting, sebab hanya orang sinting saja sukar diduga segala tindak-tanduknya. Bilamana kita bekerja menurut peraturan biasa setiap urusan tentu akan terduga sebelumnya, dan sekali dia sudah mendahului kita, tentu kita akan mati kutu tanpa daya."
"Tapi ... tapi kalau bebaskan dia, lalu bagaimana?"
Hwe-mo-sin.
"Urusan ini ibaratnya banyak sekali tali panjang, saat ini dia sudah dapat memegang ujung tali yang banyak itu, ia merasa senang dan puas, semakin erat kita menarik tali, semakin mudah baginya untuk mencari arah tali itu. Tapi bila mendadak kita bebaskan dia, apa yang dipegangnya akan menjadi hampa, tatkala mana dia tentu akan bingung dan sangsi, dalam waktu setengah bulan atau sebulan dia pasti akan datang untuk mencari kita lagi."
Tiba-tiba Siau-kong-cu tertawa dan berkata "Ini namaaya tipu ingin menangkap sengaja dilepaskan dulu.
Jika terhadap sikapku kepadanya apakah serius atau pura-pura saja dia tidak tahu saat ini mungkin dia mengira orang yang menjebaknya semalam adalah seorang lain yang menyamar sebagai diriku.
Kalian sama memuji dia setinggi langit, tapi bagi pandanganku dia tidak lebih cuma seorang tolol."
"Seorang lelaki kalau sudah jatuh hati terhadap seorang perempuan, tentu dia akan berubah menjadi tolol", ujar si kakek dengan tertawa.
"Melulu berdasar ini saja, apa pun juga dia pasti akan kembali lagi ke sini"
Hwe-mo-sin termenung sejenak. katanya kemudian.
"Tapi biarpun dia kembali lagi ke sini juga belum tentu akan ..."
"Asalkan dia kembali lagi ke sini, maka kita sudah berada di pihak pengambil inisiatif,"
Sela si kakek.
"Apalagi mustahil dia tidak ingin tahu urusan apa yang kita minta dikerjakannya? Tanpa kau minta tentu dia malah akan mohon penjelasan padamu tentang urusan yang harus dikerjakannya. Tatkala itu tentu jauh lebih mudah jika kau pancing dia masuk perangkap kita."
"Betul juga."
Ujar Hwe-mo-sin dengan tertawa cerah.
"Daripada kumohon dia, kan lebih baik menunggu dia saja yang memohon padaku. Terhadap kelemahan jiwa manusia tampaknya engkau jauh lebih mengerti daripadaku."
Setelah terdiam sejenak, kemudian si kakek berkata pula.
"Lu-In, Hi-Toan-kah dan lain-lain sudah kita pancing kemari, di dunia kang-ouw tidak ada yang dapat menjadi pembelanya lagi. Jalan keluarnya juga sudah kita tutup buntu. akhirnya mustahil dia takkan kembali ke sini." ***** Yang mengejutkan adalah isi setiap kereta itu adalah dua buah peti mati bercat hitam sehingga kelihatan agak seram di senja yang remang-remang, ketambahan lagi kereta papan yang jelek, baju berkabung kawanan kusir dan peti mati hitam, suasana tampak misterius. Meski para jago kang-ouw yang sedang menempuh perjalanan sudah cukup berpengalaman, mau-tak-mau mereka pun sama melengong menyaksikan barisan kereta yang luar biasa itu. Waktu itu Poa-Ce-sia dari Soa-tang juga sedang dalam perjalanan bersama beberapa orang kawannya, karena herannya, ia coba tanya salah seorang kusir kereta.
"Numpang tanya, rombongan kereta ini hendak menuju ke mana?"
"Thay-san,"
Jawab si kusir singkat. Poa-Ce-sia tambah heran, ia coba tanya pula "Untuk apa mengangkut peti mati sebanyak ini ke Thay-san? Memangnya di sana mendadak mati orang sebanyak ini?"
"Entah,"
Si kusir menjawab dengan singkat dan dingin pula, tanpa menghiraukan orang, lalu lagi ia cambuk kudanya dan dilarikan terlebih cepat.
Sekali rasa ingin tahu Poa-Ce-sia sudah timbul tentu saja ia tidak mau berhenti begitu saja.
Tapi berturut-turut ia tanya lagi beberapa kusir yang berbaju belacu, jawaban yang diperoleh tetap cekak-aos alias singkat pendek seperti kusir yang pertama.
Diam-diam Poa-Ce-sia sangat gusar, cuma sedapatnya ia tahan perasaannya itu.
Ia coba memberi isyarat kepada kawannya, mereka berhenti di tepi jalan, setelah ke 30 kereta itu lalu seluruhnya, mendadak Poa-Ce-sia melompat turun dari kudanya, sekali lompat, ia seret kusir kereta yang terakhir itu ke tepi jalan.
Ia ancam kusir itu agar jangan bersuara, bila bersuara segera akan dihabisi.
Meski terkejut, kusir itu sama sekali tidak bermaksud berteriak, maka tiada seorang pun kawannya yang mengetahui kejadian itu.
"Tarik kereta itu ke pinggir jalan, coba periksa apa isi peti mati yang diangkutnya,"
Kata Poa-Ce-sia.
Sementara itu tokoh kang-ouw terkemuka pada umumnya sama menerima sepucuk surat aneh, isinya memberitahukan bahwa pertandingan di puncak Thay-san dipercepat pada pertengah bulan ini pada malam bulan purnama.
Tulisan surat itu indah, kertasnya bagus kalimatnya lancar, cuma aneh, tidak dibubuhi siapa penulis surat itu.
Kebanyakan tokoh kang-ouw itu menerima surat pada tengah malam sehingga tidak jelas siapa pengantar surat itu.
Walaupun aneh surat itu, namun maksudnya justru cocok dengan kehendak para jago muda yang sudah tidak sabar menunggu lagi.
Tanpa mengusut dari mana asal usul surat itu, berbondong-bondong mereka terus berangkat menuju ke Thay-san, malahan saling berebut datang lebih dulu agar dapat melihat gelagat dan mencari posisi yang menguntungkan.
Maka dalam beberapa hari saja, jalan yang menuju Thay-san menjadi sangat ramai, orang berlalu lalang tidak terputus.
Suatu senja, di jalan raya itu tiba-tiba muncul satu barisan aneh.
Barisan ini sepanjang berpuluh tombak, terdiri dari 30 buah kereta.
Setiap kereta tertutup rapat dengan papan kayu kasar.
Ke-30 kusir kereta itu sama memakai kopiah putih dan baju belacu, serupa orang yang sedang berkabung.
Siapa tahu, ketika tutup peti mati dibuka kedua peti mati ternyata kosong belaka.
Keruan semua orang melongo kecewa.
Mendadak seorang berseru.
"Ini ada ..."
Sekali tangan meraba, dijemputnya sehelai kertas dari dalam salah satu peti mati itu.
Hanya sekejap saja ia baca tulisan ringkas pada kertas itu, seketika air mukanya berubah aneh, seperti heran, kejut dan juga geli.
Kiranya kertas itu tertulis "Peti baru ini dipersembahkan kepada Biau-Pek-jiang, supaya mayatnya tidak tersia-sia, diharap sobat-handainya suka menerima dan mengebumikannya dengan baik.
Dari orang baik hati di dunia kang-ouw"
Biau-Pak-jiang berjuluk Tai-Jik-sin atau si malaikat bertenaga raksasa, terhitung salah seorang di antara ke-40 tokoh yang akan berebut gelar jago nomor satu di Thay-san ini, dengan sendirinya namanya cukup terkenal.
Melihat tulisan itu, semua orang saling pandang dengan serba runyam.
Seorang berkata dengan menyengir.
"Ai, sesungguhnya apa maksud orang yang mengaku berhati baik ini? Memangnya ia yakin Tai-Jik-sin pasti akan gugur di Thay-san nanti?"
Halaman 26 Seorang menukas.
"Wah, melihat gelagatnya mungkin ke-40 tokoh yang ambil bagian dalam pertemuan di Thay-san nanti setiap orangnya telah disediakan sebuah peti ...."
Ia pandang Poa-Ce-sia sekejap dan berdehem lalu diam.
Maklum, Poa-Ce-sia juga termasuk satu di antara ke 40 jago yang akan ikut bertanding.
Tentu saja Poa-Ce-sia mendongkol, ia cengkeram si kusir dan menghardik.
"Sebenarnya siapa majikanmu? Apa maksudnya dengan perbuatan demikian?"
"Aku tidak ... tidak tahu ..."
Jawab si kusir dengan ketakutan. Poa-Ce-sia menggamparnya sekali dan membentak pula.
"Kamu mau mengaku tidak?"
Tiba-tiba seorang kakek berbaju coklat dan berbaju kain putih dengan rambut ubanan serta bertongkat entah sejak kapan sudah berada di situ dengan tertawa ia menukas.
"Percuma kau tanya dia, sebab dia memang tidak tahu seluk-beluknya dan bukan sengaja tidak mau mengaku."
Sebagian wajah si kakek tertutup oleh rambutnya yang kusut sehingga tidak jelas bagaimana raut mukanya, hanya kelihatan bagian kening penuh keriput dan sorot matanya yang mengandung rasa ejekan.
Semua orang sama berpaling, dengan suara geram Poa-Ce-sia pun berkata.
"Hm, caramu bicara ini, jangan-jangan kau tahu seluk-beluknya atau kau sendiri adalah majikan mereka?"
"Haha,"
Si kakek terbahak.
"bilamana kumau beli peti mati, tentu hanya untuk persediaan diriku sendiri, masakah perlu susah payah kusuruh antar untuk orang lain seperti majikannya yang baik hati itu.
"Mengirim peti mati sama dengan memujikan orang lain lekas mati, masakah ini terhitung baik hati?"
Jengek Poa-Ce-sia.
Si kakek menggeleng dan berkata dengan gegetun,."Coba kau pikir sendiri, biasanya orang yang ikut dalam pertarungan demikian ada berapa orang yang bisa pulang dengan hidup?
Kan lebih banyak yang terkapar di pegunungan sunyi sebagai mayat?
Mungkin sampai mayat membusuk tinggal tulang belulang saja tidak ada orang yang mau mengurusnya.
Jika dalam pertarungan di Thay-san nanti ada orang menaruh perhatian dengan mengirimkan peti mati, ini kan untung bagi kalian?"
"Pertemuan di Thay-san nanti hanya pertandingan antara sahabat, mana boleh kau bandingkan dengan pertempuran sengit tanpa kenal ampun, caramu bicara ini kan sengaja mengaco belaka."
"Huh, cuaca bertanding antara sahabat katamu?"
Jengek si kakek.
"Coba jawab, anak muda bilamana kamu bertanding dengan orang, bilakah pernah kau pikirkan memberi ampun kepada lawan dan membiarkan lawan pulang dengan hidup?"
"Aku ... aku ..."
Poa-Ce-sia jadi gelagapan.
"Nah, kalau kau sendiri tidak kenal ampun apakah orang lain pernah pakai memberi ampun segala? Orang yang berani naik ke Thay-san. siapa pula yang berani menjamin dirinya bakal pulang lagi dengan hidup? Ai, dasar anak muda, terlampau lugas jalan pikiranmu ...."
Habis 405 bicara kakek mengetuk tongkatnya ke tanah, lalu tinggal pergi. Kembali semua orang saling pandang dengan melongo. Setelah tertegun sejenak, mendadak Poa-Ce-sia berteriak.
"Hai, tunggu dulu, Lo-tiang (pak tua) Numpang tanya siapa nama anda, bolehkah memberi tahu?"
Si kakek tetap melangkah ke depan tanpa menoleh, jawabnya setengah berdendang.
"kaum kelana yang terlunta-lunta, sudah lama melupakan sama sendiri."
Poa-Ce-sia mengejar ke sana dan berteriak.
"Lo-tiang hendak ke mana?"
Belum lagi si kakek menjawab, mendadak sesosok bayangan orang melayang tiba dari samping sana, begitu cepat bayangan itu seperti burung terbang, melayang ke depan si kakek seperti hendak memotong jalan perginya.
Akan tetapi dengan cepat si kakek membelok ke hutan yang berada di samping jalan, hanya kelihatan bayangannya berkelebat, dalam sekejap saja sudah menghilang.
Bayangan yang muncul itu memburu ke sana tapi setiba di depan hutan lantas berhenti.
"Jangan masuk hutan bila mengejar musuh,"
Itulah pandangan orang kang-ouw yang berlaku sejak dulu kala.
Hal ini dipatuhi orang ini dengan baik, sebab orang ini selamanya tidak mau ditipu orang.
Ternyata orang ini bertubuh gemuk, seorang perempuan tua dengan rambut putih seperti perak dan sebagian sudah botak, berbaju belacu yang longgar, saku bajunya sedikitnya ada belasan buah, tongkat yang dipegangnya hampir setombak panjangnya, hampir satu kali lebih tinggi daripada tubuhnya.
Setiap orang kang-ouw yang berpengalaman bllamana bertemu dengan nenek ini tentu akan kuncup dan merasa sial kepergok olehnya.
Poa-Ce-sia juga kenal nenek ini, dengan sendirinya kalau bisa ia pun menghindarinya, cuma sekarang ia sudah terlanjur mengejar ke sana.
Ingin putar balik sudah terlambat, terpaksa ia memberi hormat dan menyapa.
"Baik-baik, Ban-lo-hu-jin!"
Nenek ini memang Ban-lo-hu-jin adanya, meski dia sudah berhenti di situ, napasnya kelihatan masih terengah-engah, sembari menghela napas ia menjawab.
"Baik apa? Sudah tua, tidak berguna lagi. Hanya lari beberapa langkah sudah menggeh-menggeh ... Sebaliknya kamu yang kelihatan berwajah merah cerah, tentu banyak rejeki bukan? Poa-Ce-sia tidak berani menanggapi pertanyaannya, ia bicara hal lain.
"Sudah sekian tahu Lo-hu-jin tidak pernah berkelana di dunia kang-ouw sungguh Siau-tit agak kangen. Ternyata badan Lo-hu-jin tetap sehat dan kuat, sungguh sangat menggembirakan."
Ban-lo-hu-jin menggerogoti sebuah belimbing yang banyak airnya, lalu berkata dengan tertawa.
"Huh, di mulut kau bilang kangen padaku, dalam hatimu sebenarnya berdoa semoga aku selamanya tidak muncul lagi di kang-ouw. Biarpun kamu mengaku gembira bertemu dengan aku, dalam hatimu tentu menyesal dan menganggap sial kepergok olehku. Ai, masih muda, buat apa bohong di depan orang tua."
Apa yang diucapkan itu kena betul pada isi hati Poa-Ce-sia, tapi dengan sendirinya Poa-Ce-sia tidak berani mengaku, ia coba menyimpangnya bicaranya lagi dan bertanya.
"Eh, tentu Lo-hujin kenal pada Lo-tiang tadi, kalau tidak kan tidak perlu mengejar dia."
"Tidak, aku tidak kenal dia, cuma kutahu siapa dia"
Sahut Ban-lo-hu-jin. Terbeliak mata Poa-Ce-sia, cepat ia menegas.
"Ah, lo-hu-jin tahu siapa dia? Dapatkah Siau-tit beri tahu siapa Lo-tiang itu?"
"kau tahu Ci-ih-hou mempunyai seorang suheng, dia adalah kakek yang membawa pergi Pui-Po-giok enam tahun yang lalu itu, kakek tadi adalah dia!"
"Maksud Lo-hu-jin dia itu Ciu-lo-ya-cu?"
"Anak baik, memang tepat dugaanmu, ujar Ban-lo-hu-jin dengan tertawa.
"Yang aku 406 maksudkan memang betul Ciu-Hong. Cuma setan yang tahu apakah rase tua ini aslinya bernama Ciu-Hong atau bukan."
"Apakah dahulu Lo-hu-jin pernah bertemu dengan Ciu-lo-ya-cu?"
"Untung juga bagiku, baru tadi aku lihat dia,"
Sahut si nenek dengan tertawa.
"Tapi enam tahun yang lalu Siau-tit pernah melihat Ciu-lo-ya-cu di Wi-ho-lau, rasanya suara dan wajah Ciu-lo-ya-cu sampai kini masih aku ingat dengan baik ..."
"Memangnya orang tadi bukan Ciu-Hong maksudmu?"
Potong Ban-lo-hu-jin.
"Meski Lo-tiang tadi juga seorang seorang kosen dunia kang-ouw yang bijaksana, tapi dapat aku pastikan bahwa dia sama sekali bukan Ciu-lo-ya-cu."
Ban-lo-hu-jin tercengang, gumamnya.
"Dan bukan Ciu-Hong? ... Habis siapa? Mengapa selama ini tidak pernah aku dengar bahwa di dunia kang-ouw muncul pula seorang makhluk tua aneh seperti dia."
Tiba-tiba dua penunggang kuda membedal datang, tampaknya perjalanan mereka sangat tergesa-gesa sehingga tidak memperhatikan orang di tepi jalan melainkan langsung lewat begitu saja.
Terdengar kedua penunggang kuda itu sedang bicara, sayup-sayup terdengar seperti berkata.
"Jit-tai-te-cu (ketujuh murid utama) ... Ban-Cu-liang ... Ya, mereka itulah ... Cuma sayang ..."
Meski semua orang yang berada di situ sama bermata jeli dan bertelinga tajam, namun derap kaki kuda terlampau cepat sehingga suara mereka cuma terdengar samar-samar begitu saja.
Tampaknya kedua penunggang kuda itu sudah menjauh, mendadak Ban-lo-hu-jin mendengus angkat tongkatnya yang panjang itu, dari ujung tongkat segera melayang keluar seutas tali panjang serupa pelangi dan menyambar kepala kedua penunggang kuda itu.
Derap kaki kuda lari menutupi suara sambaran tali panjang itu, ditambah lagi kedua orang itu tidak menyangka akan diserang dari belakang.
Ketika salah seorang itu menjerit kaget, tahu-tahu lehernya sudah terjerat tali, kuda berjingkrak menegak sambil meringkik, penunggang kuda itu menarik erat tali kendali.
Tapi sekali Ban-lo-hu-jin menyendal talinya, kontan orang itu terbanting dari kudanya.
"Hehe, sungguh anak yang tidak tahu aturan melihat orang tua masakah tidak mau turun."
Ucap Ban-lo-hu-jin dengan terkekeh.
Penunggang kuda yang lain seperti tidak menyadari apa yang terjadi, kudanya membedal sekian jauh, tahu-tahu penunggang kuda itu meloncat dan tangan pun menghunus suatu senjata mengkilat.
Sekali loncat dari kudanya, dalam sekejap sudah hinggap di depan Ban-lo-hu-jin, dan sebelum menegak, langsung senjata menikam dada nenek itu.
Akan tetapi Ban-lo-hu-jin bukan lawan empuk, sedikit mendak, dapat ia menerobos ke samping dari sambaran senjata musuh.
Ketika berhadapan, terlihat orang ini bertubuh ramping, baju hitam ketat, senjata yang dipegangnya serupa clurit dan mirip pedang, ternyata sejenis senjata yang jarang dikenal.
Meski tidak banyak orang yang melihat senjata seperti ini, namun sudah sering orang mendengar kisahnya dan betapa lihai pemakainya.
Maka lamat-lamat sebagian hadirin dapat menduga senjata inilah satu di antara ke-13 senjata khas, yaitu Boh-in-cin-thian-pit, potlot penggetar langit.
Dan pendatang yang bertubuh ramping dan berbaju hitam ini tentulah Ling-Peng-hi yang berjuluk Thian-siang-hui-hoa atau bunga bertebaran di langit.
Sementara itu Ban-lo-hu-jin sudah melompat ke samping penunggang kuda yang terbanting oleh jeratan talinya itu, ia cengkeram kuduk orang itu dan dijadikan tameng di depan sendiri.
Ling-Peng-hi terkesiap, bentaknya.
"Lepaskan dia!"
Ban-lo-hu-jin berlagak tidak dengar, katanya jangan terkekeh.
"Hehe, kukira siapa, rupanya 407 Ling-siau-ceng-cu adanya. Malam bulan purnama belum lagi tiba, ternyata Ling-siau-ceng-cu sudah terburu-buru kemari, memangnya apa tujuanmu?"
Ling-Peng-hi berwajah kaku dingin, mata cekung dan alis tebal, ucapnya dengan sorot mata tajam.
"Lepaskan atau binasa!"
Ban-lo-hu-jin tetap tidak gentar juga tidak marah, wajahnya yang welas-asih tetap tersenyum, orang itu tetap dicengkeramnya, sahutnya.
"Ai, kenapa Ling-siau-ceng-cu marah, biarpun ada kesalahanku, sepantasnya Ling-siau-ceng-cu kasihan kepada nenek reyot macam diriku yang kesepian ini. Soalnya aku dengar putraku yang tidak becus ini berada di sekitar sini, karena ingin lekas menemuinya, maka melupakan segalanya ..."
Ia bicara dengan nada memohon dan sikap memelas. Akan tetapi Ling-Peng-hi tetap tidak peduli, jengeknya malah.
"Yang kau pegang itu cuma seorang centingku, apa gunanya kau jadikan dia sebagai sandera?"
Sambil bicara, langsung ia menyongsong ke depan. Ban-lo-hu-jin tampak celingukan kian kemari mendadak ia berteriak.
"Ya ampun, kalian kaum lelaki sebanyak ini masakah cuma berpeluk tangan menonton doang dan tiada seorang pun sudi menolong jiwaku? Jika kalian tidak menghargai diriku, kan sepantasnya mengingat kepada putraku itu ..."
Akhirnya Poa-Ce-sia tidak tahan, ia melompat maju ke depan Ling-Peng-hi dan menyapa "Ling-siau-ceng-cu, Ban-lo-hu-jin ini adalah ibu In-bong-tay-hiap Ban-Cu-liang yang terkenal berbudi di dunia kang-ouw, mohon Siau-ceng-cu sudi mengingat kebaikan Ban-tay-hiap dan jangan mengganggunya."
"Siapa kamu ini?"
Jengek Ling-Peng-hi.
"Poa-Ce-sia, itulah namaku."
"O, Poa-Ce-sia baik juga, aku dengar engkau ini pun seorang gagah, tapi biarlah kukatakan terus terang, kedatanganku ini selain untuk menghadiri pertemuan di Thay-san, yang lebih utama adalah ingin menentukan kalah-menang dengan Ban-Cu-liang yang munafik dan bernama palsu itu. Sekarang ibu orang she Ban itu mengganggu lagi anak buahku, apakah hal ini dapat aku tinggal diam? Maka janganlah kamu ikut campur agar tidak terjadi sengketa di antara kita."
Poa-Ce-sia heran.
"Selama hidup Ban-Cu-liang terkenal jujur dan tulus, Lian-thian-san-ceng kalian juga jauh di sana dan tidak pernah bersengketa dengan orang, entah mengapa Ling-siau-ceng-cu jadi bermusuhan dengan Ban-tay-hiap?"
"Jujur dan tulus? Hmk!"
Jengek Ling-Peng-hi.
Coba katakan, saudara angkatku.
Hi-Toan-kah selama hidup terkenal gagah ksatria, tapi orang she Ban itu justru menyiarkan desas-desus, katanya dia pernah dikalahkan si pendusta besar Pui-Po-giok sehingga nama baik saudaraku itu runtuh habis-habisan, apakah caranya ini terhitung jujur dan tulus?"
"Oo, ini ..."
Poa-Ce-sia jadi gelagapan.
Urusan Pui-Po-giok memang sudah tersiar sebagai perkara yang sukar dimengerti di dunia kang-ouw, Poa-Ce-sia sendiri tidak tahu seluk-beluk urusan itu sehingga tidak dapat memberi penjelasan, apalagi membela nama Ban-Cu-liang.
Mendadak Ban-lo-hu-jin berteriak.
"Ai, anak yang tidak berbakti memang sudah lama melukai hatiku, jika kau tahu di mana ia berada, harap aku dibawa ke sana, akan aku hajar dia supaya selanjutnya dia menghargai orang tua."
Centing yang dicengkeram oleh Ban-lo-hu-jin itu tidak gentar meski tidak dapat berkutik, mendadak ia berteriak.
"Kabarnya Ban-Cu-liang berada tidak jauh dari sini, kalau tidak masakah cu-kong muda kami terburu-buru menyusul kemari?"
Mendadak Ban-lo-hu-jin melepaskan centing itu, dengan langkah limbung dan tongkat agak gemetar ia mendekati Ling-Peng-hi, ucapnya dengan tersenyum dengan napas agak tersengal.
"Ayo kita berangkat bersama, kebetulan aku pun ingin bikin perhitungan dengan binatang kecil itu dan sekalian untuk melampiaskan rasa gemasmu."
Ucapan ini membuat Ling-Peng-hi tercengang malah, menghadapi nenek yang bicara dengan 408 tertawa, dengan napas tersengal, dengan langkah reyot, dengan kata-kata yang memelas, tentu saja ia tidak sampai hati untuk bersikap kasar padanya.
Centing itu membawakan kuda, setelah termenung sejenak, mendadak Ling-Peng-hi mengentak kaki terus mencemplak ke atas kuda.
Pada saat yang hampir sama Ban-lo-hu-jin juga melompat ke atas kuda tunggangan si centing tadi dan berkata.
"Biarlah orang muda saja yang berjalan kaki, kuda ini dipinjamkan kepada nenek."
Habis berkata, ia tepuk pantat kuda dan dilarikan secepat terbang. Segera Ling-Peng-hi ikut ke sana.
"Kabarnya Ban-Cu-liang tinggal di Koai-cip-wan, jangan Siau-ceng-cu salah alamat!"
Seru si centing.
Sementara itu kusir kereta yang mengangkut peti mati tadi entah telah lari ke mana, kereta kuda ditinggal begitu saja.
Poa-Ce-sia menyuruh si centing menggunakan kuda kereta itu, lalu ia pun menyusul ke sana dengan cepat.
Meski arah Koai-cip-wan terletak di jurusan yang berlawanan dengan Thay-san dan para ksatria itu juga terburu-buru hendak pergi ke Thay-san tapi ada tontonan menarik, semuanya ingin melihatnya.
Maka beramai-ramai mereka pun ikut menuju ke Koai-cip-wan yang terkenal dan terletak di tepi selatan Tiang-kang.
Taman hiburan itu memang indah permai, pepohonan tumbuh rindang, bunga mekar semarak, banyak gunung-gunungan palsu dengan gardu pemandangan yang cantik, kolam dengan sungai kecil yang menyusuri petamanan itu menambahi keindahan tempat tamasya ini.
Banyak orang yang berkumpul di taman hiburan ini sesuai namanya, Koai-cip-wan artinya taman ria tempat berkumpul.
Di berbagai rumah hiburan yang terdapat di dalam taman ramai dengan suara orang gelak tawa, suasana terasa meriah.
Pada saat itu, di samping gunung-gunungan yang terletak di tengah rumpun bambu saja seorang sedang berjalan mondar-mandir dengan menggendong tangan, namun sorot matanya tampak mencorong aneh.
Di sekeliling orang ini yang berjarak belasan tombak jauhnya, di tempat yang agak gelap dan tidak tercapai oleh cahaya lampu, di bawah pohon atau di samping gunung palsu terdapat pula satu atau dua sosok bayangan orang, semua seperti sedang mengintai orang yang mondar-mandir sendirian ini.
Lebih jauh di semak-semak pohon sana terdapat lagi seorang yang berkopiah semangka dan berbaju hijau sedang memandang serumpun bunga yang hampir layu, hanya terkadang ia pun menoleh dan memandang satu dua kejap ke tengah rumpun bambu.
Namun orang yang mondar-mandir di hutan bambu itu seperti tenggelam sama sekali dalam lamunannya, terhadap apa yang terjadi di sekitarnya seakan-akan tidak ambil pusing.
Sekonyong-konyong seorang berlari datang dengan tergesa-gesa, menyusur jalan kecil berbatu, melintas jembatan papan, menuju ke sebuah ??????
yang diterangi oleh cahaya lampu dan berlabuh di tepi sungai kecil sana.
Suara langkah yang tergesa-gesa itu mengejutkan orang yang sedang melamun dan mondar-mandir di tengah hutan bambu itu, juga mengacaukan suasana riang orang yang berkumpul di sampan hias.
Pemilik taman hiburan, Ce-Sing-siu, berdiri dengan kening berkerenyit, ia melongok keluar sampan dan menegur.
"Ada urusan apa pakai lari-lari seperti diuber setan?"
Pemuda yang lari kesetanan itu berhenti di dekat sampan dengan napas terengah-engah, katanya sambil menuding ke arah datangnya tadi.
"Ada ... ada seorang ksatria besar ..."
"Setiap hari juga datang banyak ksatria dari berbagai penjuru, memangnya ksatria siapa pun yang datang sehingga membuatmu sedemikian gugup?"
Tanya Ce-Sing-siu dengan kurang senang.
"Tapi orang ini tidak ... tidak sama ..."
"Tidak sama apa? Siapa orang yang kau maksudkan?"
"Dia ... dia adalah ksatria yang sering disinggung oleh Suhu, yaitu Siau-ceng-cu Lian-thian-san-ceng Ling-Peng-hi."
Belum habis penuturannya, serentak Ce-Sing-siu meraba bekas luka pada wajahnya, bekas luka yang ditinggalkan Thian-siang-hui-hoa Ling-Peng-hi tahun yang lalu.
Selain meninggalkan bekas luka pada mukanya, juga Ling-Peng-hi meninggalkan jiwa Ce-Sing-siu.
Sampai sekarang Ce-Sing-siu sendiri belum lagi tahu apakah dia harus berterima kasih kepada Ling-Peng-hi atau harus benci padanya.
Ia termenung sejenak dengan menunduk, lalu berucap dengan menghela napas.
"Ya, sudahlah. Silakan dia kemari."
Waktu ia mendongak, ternyata Ling-Peng-hi sudah berada di depannya. Cepat Ce-Sing-siu melompat keluar dari sampan dan menyapa.
"Maaf tidak dilakukan sambutan yang layak atas kunjungan Ling-heng ..."
"Antara kita tidak perlu sungkan,"
Jengek Ling-Peng-hi.
"Aku cuma ingin tanya padamu, saat ini Ban-Cu-liang dan ketujuh murid utama ketujuh aliran itu berada di mana?"
"Ban-tai-hiap maksudmu? Bilakah dia datang kemari?"
Jawab Ce-Sing-siu dengan melengak.
"Ah, kabar yang tersiar sering tidak benar, mungkin Ling-heng salah informasi."
"Memangnya untuk apa orang membohongi itu?"
Kata Ling-Peng-hi dengan ketus. Tiba-tiba dari tempat tersembunyi seorang berteriak.
"Meski Ban-Cu-liang tidak pernah datang kemari, tapi di antara Jit-tai-tecu (ketujuh murid utama) jelas ada yang hadir di sini. Hendaknya Ling-siau-ceng-cu jangan sampai ditipu Ce-Sing-siu."
Ling-Peng-hi tertawa dingin, dengan sorot mata tajam ia tatap Ce-Sing-siu, katanya.
"Jangan-jangan ketujuh murid utama itu pun serupa Pui-Po-giok, hanya kaum pembual belaka dan tidak berani menemuiku setelah mengetahui orang she Ling lagi mencarinya?"
"Ah, masa ..."
Belum lanjut ucapan Ce Sing-siu, mendadak seorang melompat keluar dan berteriak.
"Di antara Jit-tai-tecu memang ada yang hadir di sini, lantas kamu mau apa?"
Orang ini beralis panjang tebal, air mukanya angker, siapa lagi selain Nyo-Put-loh.
Sepintas pandang dia kelihatan sehat, tapi bila diamati, air mukanya tampak pucat, semangat lesu, sorot matanya juga agak buram, jelas orang yang menanggung rasa sedih kalau bukan habis sakit berat.
Orang yang berada di tengah hutan bambu tadi tampak emosi demi melihat kemunculan Nyo-Put-loh, segera ia bermaksud menerjang ke luar, tapi urung, sorot matanya yang emosional penuh rasa pedih pula.
Terdengar Ling-Peng-hi lagi berkata.
"Di antara Jit-tai-tecu hanya kamu seorang saja yang di sini?"
"Melulu orang she Nyo seorang saja sudah cukup menghadapi manusia latah semacam dirimu."
Jawab Nyo-Put-loh dengan bengis.
"Bagus!"
Sahut Ling-Peng-hi.
"Biarlah orang she Ling belajar kenal dengan kungfu Wi-yang-pai."
Sekali putar, tahu-tahu senjata khas Cin-thian-pit sudah dilolos keluar. Ce-Sing-siu melompat maju dan menghadang di depan Nyo-Put-loh, katanya dengan kuatir.
"Bok-tai-hiap dan lain-lain tidak berada di sini, mana Nyo-tai-hiap boleh turun tangan sendiri?"
"Justru karena mereka tidak berada di sini, kalau aku tidak turun tangan lantas siapa lagi yang akan maju?"
Ujar Nyo-Put-loh, lalu ia tampak lebih dekat ke arah Ling-Peng-hi.
Keadaan Nyo-Put-loh sekarang serupa Pui-Po-giok menghadapi Au-yang-thian-kiau tempo hari, walaupun tahu pasti akan kalah terpaksa harus bertempur juga demi nama dan kehormatan.
"Keluarkan senjatamu!"
Teriak Ling-Peng-hi.
"Eng-jiau-lik (tenaga cakar elang) Wi-yang-tai tidak tertahankan oleh kekuatan apa pun, biarpun senjata paling tajam di dunia ini juga tidak dapat menandingi cakar elang orang she Nyo, apalagi cuma potlot bajamu,"
Jengek Nyo-Put-loh. Ling-Peng-hi tertegun sejenak, mendadak ia terbahak-bahak, katanya.
"Haha, setelah bertemu sekarang baru kutahu Nyo-Put-loh ternyata juga orang yang sok berlagak."
"Sok berlagak apa maksudmu?"
Teriak Nyo-Put-loh dengan gusar.
"Sudah jelas kau tahu senjataku Cin-thian-pit ini serba guna dan sukar dilawan, kau tahu kalau tidak menggunakan senjata tentu aku pun tidak enak untuk menempurmu dengan senjata, lantaran kamu tidak berani menghadapi potlot bajaku ini dengan sendirinya kamu berlagak hendak melawan senjataku dengan bertangan kosong."
Mendadak Nyo-Put-loh memang gusar, sekali putar ke sana, secepat kilat ia lolos sebilah golok dari pinggang seorang penonton, bentaknya kemudian.
"Nah, senjata apa pun yang kau gunakan boleh maju saja sekarang."
"Haha, bagus! Dalam sepuluh jurus jika orang she Liang tidak dapat menjatuhkanmu, biarlah seterusnya aku lantas pulang ke kampung dan takkan berkecimpung di dunia kang-ouw lagi. Nah, silakan mulai!"
Tanpa bicara lagi golok Nyo-Put-loh lantas membacok.
Padahal permainan golok bukan kungfu andalan Wi-yang-pai, namun bacokan golok Nyo-Put-loh ini ternyata sangat dahsyat dan membuat pemilik golok semula merasa kagum, sebab merasa kepandaian orang lebih lihai daripadanya.
Poa-Ce-sia, Ce-Sing-sia dan lain-lain tampak merasa sedih.
Sementara itu para ksatria juga sudah berkerumun.
Ban-lo-hu-jin sembunyi di tengah orang banyak, sebelum ada kesempatan baik baginya tidak nanti dia mau memperlihatkan diri.
Ketika golok Nyo-Put-loh membacok, Ling-Peng-hi tetap diam saja tanpa bergerak, tampaknya golok sudah hampir membelah batok kepalanya, pada detik terakhir barulah ia menggeser sedikit, cukup bergeser sedikit saja sudah bebas dari rengutan maut.
Betapa tenang dan betapa jitu caranya menghadap serangan maut itu sungguh membuat orang sangat kagum.
Sementara itu Cin-thian-pit Ling-Peng-hi tahu-tahu juga sudah balas menyerang, jurus serangannya seperti biasa saja, namun cepatnya dan arahnya yang tepat sukar untuk dilukiskan.
Tahu-tahu beberapa hiat-to penting di dada Nyo-Put-loh sama terancam.
Cepat Nyo-Put-loh berputar, golok berkepala setan segera menebas lagi secepat kilat.
Diam-diam Poa-Ce-sia menghela napas gegetun, katanya perlahan.
"Keadaan Nyo-Ji-thiap sendiri kurang sehat, senjata juga tidak biasa digunakan, sekarang dia menyerang secara nekat, mungkin dalam sepuluh jurus ia benar-benar akan kecundang."
"Ya, apalagi cundrik andalan Ling-Peng-hi itu selama ini menggetar dunia kang-ouw, sekali serang sudah mendahului pihak lawan, jangan-jangan tokoh Wi-yang-pai kita ini akan runtuh di tangannya hari ini."
"Semoga sekarang ada orang yang berani menggantikan Nyo-ji-thiap, kalau tidak ..."
"Siapakah yang hadir di sini sekarang mampu menandingi Ling-Peng-hi?"
Ujar Ce-Sing-siu dengan tersenyum getir.
"Jurus keempat ... jurus kelima! Aha, tampaknya tidak sampai sepuluh jurus orang she Nyo itu pasti akan dijatuhkan!"
Tiba-tiba seorang berteriak dari tempat gelap.
Memang benar, dalam lima jurus saja Nyo-Put-loh tampak sudah berkeringat, urat hijau sama menonjol di keningnya, gerakan goloknya juga mulai lamban ...
Pada saat yang sama orang yang mondar-mandir di hutan bambu itu juga penuh rasa pedih, 411 penuh pertentangan batin.
Dalam kegelapan tidak kelihatan air mukanya, tapi dapat terlihat jari tangan rada gemetar.
"Agaknya ia tidak tahan berpeluk tangan membiarkan Nyo-Put-loh menghadapi maut dan sebentar nama baiknya akan tamat selamanya. Tapi dia justru tidak dapat tampil, sebab kalau dia tampil selain akan menghancurkan Nyo-Put-loh juga akan menghancurkan dirinya sendiri. Sementara itu jurus serangan keenam Ling-Peng-hi sudah dilontarkan, cahaya perak sudah mengurung rapat seluruh tubuh Nyo-Put-loh, siapa pun dapat melihat dalam waktu sekejap lagi Nyo-Put-loh pasti akan dirobohkan. Selagi pikirannya penuh diliputi pertentangan batin, bertindak atau tidak? Tiba-tiba dari balik gunung-gunungan sana orang berseru.
"Pui-Po-giok ..."
Kata-kata itu serupa anak panah yang menembus hulu hatinya.
Tubuh orang ini tergetar dan tidak berpaling.
Tapi tidak perlu dijelasksn lagi dia memang benar Pui-Po-giok yang baru lolos dari sarang iblis itu.
Suara tadi bergema pula.
"Pui-Po-giok, lantaran membelamu Nyo-Put-loh sedang bertempur mati-matian, tampaknya segera akan kecundang dan kau sendiri malah sembunyi di sini apakah kamu tidak punya perasaan?"
"Siapa kau ?"
Tanya Po-giok tanpa menoleh.
"Tidak perlu tanya seharusnya dapat kau terka,"
Sahut orang itu.
Dalam waktu singkat, pembicaraan mereka itu, sementara Ling-Peng-hi sudah melancarkan serangan jurus kedelapan.
Sinar perak berkelebat dan Nyo-Put-loh mengangkat golok menyongsong cahaya perak.
Meski ia menyadari goloknya sukar menangkis tenaga serangan cundrik Ling-Peng-hi, namun selain menangkis memang tiada jalan lain, juga tidak sempat lagi baginya untuk mengelak.
Jadi tidak ada pilihan lain baginya.
Ketika cahaya perak kontak dengan sinar golok, cahaya perak mendadak berhenti, ujung Cin-thian-pit beradu dengan mata golok.
Bilamana cahaya perak itu bekerja lebih keras, kontak golok Nyo-Put-loh pasti akan terlepas.
Keadaan Nyo-Put-loh sekarang serupa cacing terhimpit batu dan hanya bisa pasrah nasib belaka.
Melihat keadaan yang menentukan itu, semua orang ikut tegang dan menahan napas.
Namun Ling-Peng-hi tidak segera menekan lebih lanjut.
Air mukanya yang dingin kaku itu menampilkan sikap mengejek, dengusnya kemudian.
"Nyo-Put-loh, jika kamu tidak menghendaki gempuranku lebih lanjut, asalkan kamu mengakui Pui-Po-giok adalah pendusta dan Ban-Cu-liang memang manusia pembual dan penipu, maka segera kutarik kembali senjataku."
Meski Nyo-Put-loh menggertak gigi sekuatnya, tak urung tubuh pun gemetar saking menahan rasa gusar. Di sebelah sana Pui-Po-giok juga sedang berkata dengan suara gemetar.
"Kamu orang Ngo-hing-mo-kiong, kalian melepaskan diriku, tapi memusnahkan ilmu silatku, tujuan kalian adalah supaya aku menghadapi penderitaan seperti sekarang ini bukan?"
Orang tidak kelihatan itu tertawa, jawabnya "Betul, saat ini seharusnya kau tahu, dunia kangouw sudah buntu bagimu, maka lebih baik kembali saja kepada kami, dunia seluas ini hanya Ngo-hing-mo-kiong saja yang masih dapat menerimamu.
Tentunya kau pun tahu, di dunia ini tiada seorang pun yang percaya padamu kecuali Ngo-hing-mo-kiong kami."
Gemeretuk gigi Po-giok dan tangan terkepal erat, namun tidak sanggup menjawab. Terdengar di sana Ling-Peng-hi sedang berkata.
"Nyo-Put-loh, sekarang seharusnya kau tahu bahwa nama dan jiwamu sudah tergenggam di tanganku, setiap saat dapat aku hancurkan dirimu. Maka hendaknya kau pikirkan lagi, kamu mau bicara atau tidak?"
Nyo-Put-loh juga menggertak gigi sekuatnya sehingga urat hijau pada keningnya menonjol terlebih besar.
Melihat wajah Nyo-Put-loh yang penuh derita dan menahan murka itu, mendadak Po-giok membuka tangan yang terkepal, rupanya ia sudah mengambil suatu keputusan.
Ia tahu meski 412 kungfu sendiri sudah musnah dan sukar bertempur lagi, tapi bila dia maju keluar, maka Ling-Peng-hi akan segera berhenti menyerang dan Nyo-Put-loh dapat diselamatkan.
Ia sudah mengambil keputusan demi orang lain terpaksa harus mengorbankan diri sendiri.
Dengan langkah lebar segera ia keluar dari hutan bambu, serunya.
"Inilah Pui-Po-giok berada di sini, harap Ling-siau-ceng-cu berhenti!"
Seketika kawanan ksatria yang berkerumun itu sama melengak, habis itu suasana berubah menjadi gempar.
Beramai-ramai mereka lantas memberi jalan lewat.
Seorang pemuda cakap tampak muncul menerobos kerumunan orang banyak.
Di bawah pandangan orang banyak yang heran, hina dan curiga, langkah si pemuda mantap tanpa terpengaruh.
Entah siapa yang berseru di tengah orang banyak.
"Aha, memang betul dia Pui-Po-giok!"
Mendadak Ling-Peng-hi melompat mundur seringan burung terbang.
Menyusul terdengar suara "trang", golok Nyo-Put-loh jatuh ke tanah, tubuh pun jatuh terduduk sambil menatap Po-giok dengan sorot mata yang aneh entah girang entah marah.
Ketika cahaya perak berkelebat, tahu-tahu Ling-Peng-hi sudah berada di depan Pui-Po-giok, keduanya saling tatap sampai sekian lama tanpa bicara.
"Hm, kiranya beginilah bentuk Pui-Po-giok!"
Jengek Ling-Peng-hi kemudian.
"Tadinya kukira seorang penipu tentu berbentuk agak berbeda daripada orang lain."
"Karena itu anda merasa kecewa, begitu bukan?"
Tanya Po-giok dengan tersenyum. Ling-Peng-hi tertawa latah, katanya.
"Ya, memang betul, orang she Ling memang kecewa ..."
"TapI rasa kecewaku jauh melebihimu,"
Ujar Po-giok tertawa.
"Semula kukira Ling-siau-ceng-cu dari Lian-thian-san-ceng tentulah seorang ksatria gagah perkasa, siapa tahu dia cuma pandai mengambil kesempatan pada saat orang lain terancam bahaya, lalu menarik keuntungan tatkala orang kepepet."
Tertawa Ling-Peng-hi berhenti seketika, katanya dengan gusar "Huh, kamu penipu, berdasarkan apa kau bicara begitu padaku?
Jika aku tidak bertindak demikian, memangnya penipu licik semacam dirimu dapat dipancing keluar?"
"Sekarang aku sudah berada di sini, kau mau apa?"
Tanya Po-giok.
"Aku mau apa, tanpa kukatakan kentu kau pun tahu,"
Sahut Ling-Peng-hi ketus.
"Hah, jika begitu, ayo silakan!"
Habis berkata, segera Po-giok menyurut mundur satu langkah dengan sikap tegak.
Ia sudah bertekad mengorbankan diri, dengan sendirinya ia sangat tenang.
Suasana sekeliling seketika berubah sunyi, semua orang menahan napas dan ingin tahu kejadian selanjutnya.
Cundrik Ling-Peng-hi sudah terangkat, namun sekian lama serangannya tidak dilancarkan.
Kembali terjadi kegaduhan di tengah orang banyak.
Jika Ling-Peng-hi sudah tahu Pui-Po-giok cuma seorang pendusta, mengapa dia masih berlaku hati-hati dan tidak berani menyerang?
Padahal Pui-Po-giok berdiri tegak begitu saja, tanpa pasang kuda-kuda, tiada kelihatan siap tempur, malahan sekujur badan tidak terjaga.
Bilamana cundrik, Ling-Peng-hi menyerang dari arah mana pun sekaligus pasti dapat merobohkan anak muda itu.
Namun ketenangan luar biasa Pui-Po-giok itu berbalik membuat lawan ragu dan sangsi.
Tiba-tiba Poa-Ce-sia berteriak.
"Pertemuan Thai-san sudah tinggal satu-dua hari lagi, bilamana Ling-siau-ceng-cu harus duel dengan buat apa mesti terburu-buru dilakukan sekarang?"
Meski tidak menjawab, namun sorot mata Ling-Peng-hi sudah menampilkan rasa setuju.
Selama hidupnya entah berapa kali bertempur dengan orang, namun tidak pernah menghadapi lawan setenang ini.
Tidak mudah ia memupuk namanya dengan sendirinya ia pun tidak mau menyerempet bahaya yang mungkin menjatuhkan namanya.
Segera Ce-Sing-siu menukas.
"Memang betul ucapan Poa-tai-hiap. Para kawan datang dari jauh semuanya terhitung tamuku, jika persengketaan ini sementara disudahi, marilah kuhormati 413 kalian barang beberapa cawan, sungguh peristiwa yang menyenangkan."
Meski pertarungan seru ini sangat dinanti-nantikan para ksatria dan ingin menyaksikan kekalahan Pui-Po-giok, tapi Poa-Ce-sia dan Ce-Sing-siu sudah bicara demikian.
Ling-Peng-hi juga kelihatan ada maksud menyudahi persoalan ini siapa pula yang berani menentang?
perlahan cundrik yang dipegang Ling-Peng-hi mulai diturunkan.
Sambil menatap senjata lawan yang menurun itu, diam-diam Po-giok menarik napas lega.
Meski ia tidak takut mati, tapi kalau boleh tidak mati, tentu saja itulah yang diharapkan.
Siapa tahu pada saat itu juga mendadak seorang tertawa dingin, sesosok bayangan orang melayang tiba dan hinggap di tengah kalangan, siapa lagi dia kalau bukan Ban-lo-hu-jin.
Melihat nenek ini, kening Poa-Ce-sia lantas berkerenyit.
Ia tahu orang tua ini paling dunia ini kacau, paling senang bila orang lain sama berkelahi.
Terdengar nenek itu mengejek.
"Ai musik sudah berbunyi, lagu pengantar sudah bergema mengapa sandiwaranya belum main? Wah rasanya Ling-siau-ceng-cu agak mengecewakan para penonton hari ini. Dengan gusar Ling-Peng-hi mengacungkan cundriknya dan membentak.
"Apakah kamu saja yang bergerak denganku?"
"Ai selamanya aku tidak ada permusuhan dengan Siau-ceng-cu, buat apa kita harus berkelahi?"
Ujar Ban-lo-hu-jin dengan terkekeh.
"Tapi kalau hari ini Siau-ceng-cu sudah lelah, boleh juga kuwakilkanmu untuk menghajar pendusta dunia kang-ouw ini."
Rupanya ia yakin Ling-Peng-hi pasti takkan tahan oleh kata-katanya yang provokatif dan tidak nanti membiarkan seorang tua mewakili dia.
Siapa duga, setelah memandangnya sekejap, tiba tiba Ling-Peng-hi mendengus.
"Hm, jika benar kau ingin turun tangan, baik, aku serahkan padamu."
Lalu ia menyingkir ke samping.
Meski dia angkuh dan latah tapi bukanlah orang dungu.
Sekarang Ban-lo-hu-jin sengaja digunakannya sebagai batu ujian.
Bilamana nenek itu kalah sedikit banyak akan dapat diketahuinya betapa tinggi ilmu silat Pui-Po-giok.
Sebaliknya kalau Ban-lo-hu-jin menang, kemudian baru ia turun tangan merobohkan nenek itu, dengan demikian kemenangannya akan tambah gemilang.
Merasa salah hitung, berubah air muka Ban-lo-hu-jin, katanya gugup.
"Wah, Siau-ceng-cu kan ..."
Tapi Ling-Peng-hi mendengus lagi.
"Jika kamu sudah menyatakan ingin turun tangan, maka lekas maju. Bila sengaja kau main gila denganku, sedikit banyak akan kuminta pertanggungan jawabmu."
Keruan Ban-lo-hu-jin melengong, jawabnya kemudian sambil menyengir.
"Ai, masakah aku jeri terhadap anak ingusan seperti itu. Nah, Po-ji cilik, kau minta aku hajar adat padamu."
Po-giok hanya menghela napas tanpa menjawab. Ban-lo-hu-jin terkekeh, katanya.
"Po-ji, sejak kecil aku lihat kamu dewasa, mana dapat kau tandingi diriku. Lebih baik menyerah saja dan tidak perlu ..."
Sembari bicara ia terus melangkah ke depan, tapi baru beberapa langkah, mendadak ia pegang perutnya dengan setengah menungging sembari mengeluh.
"Wah, sialan, perutku terasa mules ..."
"Tidak peduli perut mules atau tidak, tetap harus aku labrak dia,"
Kata Ling-Peng-hi.
"Sudah tentu, cuma aku harus kuras perut dulu. Hendaknya kaum lelaki kalian jangan mengintip ..."
Sambil bicara ia terus lari ke tengah kerumunan orang banyak dengan sebelah tangan memegangi celana.
Para ksatria sama tertawa geli dan banyak yang menggeleng kepala, tapi beramai memberi jalan padanya.
Bentak Ling-Peng-hi dengan gusar.
"Hm, jika kamu bermaksud lari, naik ke langit pun akan kususul."
"Lari? Siapa mau lari? Oya, Po-ji cilik, kamu jangan lari, sebentar kudatang lagi untuk hajar adat padamu,"
Sembari berseru Ban-lo-hu-jin melangkah terlebih cepat dan sekejap kemudian lantas menghilang. Ling-Peng-hi tahu sekali nenek itu merat jelas takkan kembali lagi kebelet, terpaksa ia menggerutu.
"Sialan, sungguh tua bangka yang tidak tahu malu. Hehe, ibunya begitu, bagaimana kadar anaknya dapatlah dibayangkan."
Kembali Po-giok menghela napas dan semua orang pun merasa kecewa, mereka tahu hari ini tidak mungkin menyaksikan pertarungan menarik lagi, maka sebagian orang lantas mulai bubar.
Sementara itu Ban-lo-hu-jin telah lari masuk ke hutan bambu sana, setiba di balik gunung-gunungan yang gelap, segera ia berjongkok sambil celingukan kian kemari.
Setelah yakin tidak ada yang menyusulnya, ia tertawa senang dan bergumam.
"Huh betapapun kecerdikanmu juga dapat aku kibuli. Memangnya begitu gampang aku akan kau tipu untuk turun tangan?"
Mendadak dari tempat gelap seorang tertawa dan menanggapi.
"Hah, jahe memang pedas yang tua."
Ban-lo-hu-jin terperanjat, segera ia bermaksud berdiri, tapi cepat berjongkok pula sembari memaki.
"Kurang ajar, bangsat cilik dari mana, berani mengintip nenekmu yang lagi buang hajat?"
"Eh, masakah ada orang berak tanpa membuka celana, sungguh lelucon yang tidak lucu!"
Seru orang itu dalam kegelapan dengan tertawa.
"Apalagi, aku kan juga orang perempuan, umpama mengintip juga tidak menjadi soal."
Suara nyaring, tertawanya genit, ternyata suara orang perempuan. Ban-lo-hu-jin berjongkok lebih ke bawah, tanyanya dengan terbelalak.
"Kamu siapa? kau mau apa?"
"Coba kau lihat siapa aku ini?"
Menyusul suara tertawanya seorang berbaju hijau dan berkopiah semangka muncul dari kegelapan tanpa menimbulkan suara ketika bertindak.
"Sesungguhnya kamu lelaki atau perempuan?"
Tanya si nenek. Orang itu tertawa nyaring seperti dering kelening, ia tanggalkan kopiahnya sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai, ucapnya dengan tertawa.
"Masih kenal padaku?"
Akhirnya Ban-lo-hu-jin berdiri dan menatap orang itu, terlihat wajah yang cantik, alis lentik dan bibir tipis, mata besar jernih.
Meski Ban-lo-hu-jin sendiri juga orang perempuan, tidak urung ia terkesima juga melihat gadis semolek ini.
"Ya, pernah aku lihat dirimu, tapi di ... di mana, tidak teringat lagi,"
Gumam Ban-lo-hu-jin.
"Sungguh aneh, gadis secantik ini masakah dapat aku lupakan bila sudah aku lihat satu kali saja."
"Coba ingat-ingat lagi,"
Kata si gadis baju hijau.
"Enam tahun yang lalu ... kapal layar pancawarna ... Tatkala itu aku masih anak ingusan, biarpun tidak pernah berhadapan pasti juga pernah kau lihat dari jauh."
"Aha, betul Siau-kong-cu, betul tidak?"
Seru Ban-lo-hu-jin.
"Betul, memang kutahu kamu pasti kenal diriku,"
Ujar Siau-kong-cu dengan tertawa.
"Ai, Siau-kong-cu, antara kita tidak ada permusuhan apa pun, janganlah kau bikin susah padaku, kasihan ... kasihanilah kepada nenek reyot ini, selamanya takkan aku lupakan budi kebaikanmu."
Tiba-tiba Siau-kong-cu menghela napas.
"Jika kau mau pergi, dengan sendirinya takkan aku rintangimu. Cuma... ai, kalau ada kesempatan baik di depan mata, kan sayang jika kau tinggal pergi begitu saja?"
"Kesempatan baik?"
Ban-lo-hu-jin menegas dengan mata terbelalak.
"Kesempatan baik apa maksudmu?"
Siau-kong-cu berkedip-kedip.
"Apakah kau ingin mengalahkan Pui-Po-giok?"
"Hah, perbuatan yang membanggakan begitu masakah tidak mau. Cuma ... cuma untuk mengalahkan rase cilik itu masakah begitu gampang?"
"Asalkan aku beritahukan suatu rahasia padamu, tentu kamu akan tahu bukan pekerjaan sulit untuk mengalahkan rase cilik itu dan dapat dilaksanakan siapa pun."
"Hah, rahasia apa?"
Seru Ban-lo-hu-jin kegirangan.
"Lekas katakan, rahasia apa? Wah, Tuan Putri yang baik, lekas katakan padaku, memang sudah lama aku benci rase cilik itu."
"Betul, dia memang rase cilik yang maha licin. Sebab itulah meski sekarang dia kelihatan gagah perkasa, padahal segenap kungfunya sudah punah ..."
"Oo, apa betul?"
"tentu saja betul. Buat apa aku bohongimu?"
Sekaligus Ban-lo-hu-jin menjejalkan empat potong manisan ke mulut sehingga tidak sempat tertawa, gumamnya.
"Aha, bagus, lihat saja cara bagaimana aku bereskanmu sekali ini."
"Tapi ingat, kamu hanya boleh mengalahkan dia dan dilarang mengganggu seujung rambutnya, kalau tidak ..."
Mendadak lenyap tertawa Siau-kong-cu dan menepuk sekenanya gunung gunungan disampingnya.
Ban-lo-hu-jin tidak mendengar sesuatu suara tapi sebagian gunung-gunungan itu mendadak rontok, sungguh tenaga pukulan lunak yang maha sakti.
Keruan air muka Ban-lo-hu-jin berubah pucat tanyanya dengan suara gemetar.
"Kenapa tidak boleh mengganggu dia?"
"Tentu saja ada alasannya, tapi kau pun tidak perlu tahu, terlebih jangan membocorkan rahasia ini. Kalau tidak, hendaknya kamu jangan menyesal nanti."
Siau-kong-cu tidak mengucapkan kata-kata keras, namun ucapannya cukup berwibawa dan membuat ngeri orang, nenek licin dan licik semacam Ban-lo-hu-jin juga mengkirik dibuatnya.
"Ai, Siau-kong-cu jangan kuatir, tidak nanti nenek berbuat yang tidak-tidak,"
Kata Ban-lo-hujin. Bab 18. Misteri Kapal Layar Pancawarna "Itu paling baik,"
Ucap Siau-kong-cu, dengan tertawa.
"Asalkan kau lakukan sesuai dengan perkataanku kelak tentu mendatangkan manfaat bagimu. Nah, boleh kau pergi saja sekarang."
Ban-lo-hu-jin, mengiakan dengan menunduk, waktu ia menengadah, ternyata si nona entah sudah menghilang ke mana.
****** Dalam pada itu kebanyakan di antara para ksatria yang berkerumun itu telah menemukan sesuatu yang mengherankan.
Yaitu Nyo-Put-loh yang berhubungan erat dengan Pui-Po-giok dan tidak sayang bertempur mati-matian bagi anak muda itu kini ternyata sama sekali tidak memandang sekejap pun terhadap Po-giok, biarpun anak muda itu memanggilnya tetapi tidak digubrisnya, malahan terus menyingkir ke sana.
Ling-Peng-hi sendiri berdiri tegak dengan angkuhnya di sebelah sana dengan senyuman mengejek.
Dalam keadaan demikian Ce-Sing-siu yang menjadi tuan rumah merasa serba susah, ia berdiri tercengang tanpa berdaya.
Selagi Po-giok hendak menyusul Nyo-Put-loh yang hampir menyelinap ke dalam hutan sana, mendadak seorang berteriak "Hai, Po cilik apakah kamu hendak kabur?
Ini nenek datang untuk menghajarmu!"
Seorang lantas muncul bersama lenyapnya suara.
Dia ternyata Ban-lo-hu-jin adanya, dia benar-benar telah datang lagi, hal ini sungguh di luar dugaan orang banyak.
Seketika Nyo-Put-loh membalik tubuh dan Pui-Po-Giok berhenti di tempatnya.
Ling-Peng-hi juga terbelalak dan CeSing-siu berkerut kening.
Para ksatria yang mulai bubar juga banyak yang putar balik.
Sementara itu Ban-lo-hu-jin sudah berdiri di depan Po-giok.
"Kamu benar-benar hendak bergebrak denganku?"
Tanya Po-giok sambil menarik napas.
"Dengan sendirinya benar,"
Sahut Ban-lo-hu-jin dengan tertawa.
"Orang lain takut padamu, tidak mungkin nenek juga takut padamu. Dalam sepuluh jurus pasti akan aku hajar kamu sehingga merangkak-rangkak minta ampun, kau percaya tidak?"
Diam-diam Po-giok mengeluh jawabnya dengan tersenyum pedih.
"Boleh silakan!"
Tanpa terasa ia pandang Nyo-Put-loh sekejap, akan tetapi tokoh Wi-yang-pai itu justru melengos ke sana.
Po-giok tahu dirinya menjadi sasaran penyesalan orang banyak, diam-diam ia putus asa, terasa tiada arti lagi hidup baginya.
Rasanya cuma "kematian"
Saja yang dapat digunakan untuk minta ampun kepada orang lain.
"Eh, anak baik, jangan menghindar, biar sekali kemplang nenek pecahkan kepalamu!"
Seru Ban-lo-hu-jin sambil mengayun tongkatnya.
Po-giok menggertak gigi, ia menjadi nekat, sama sekali tidak menghindar, sebaliknya malah menyongsong kemplangan tongkat lawan.
Semua orang sama bersuara tertahan, tampaknya kepala Po-giok pasti akan hancur dan darah berhamburan.
Siapa tahu ketika tongkat sampai setengah jalan mendadak berganti arah, dari kemplangan mendadak meleset ke samping menyerempet lengan baju Pui-Po-giok.
Keruan Po-giok terkejut dan heran, semua orang juga melongo bingung.
"Cepat amat!"
Bentak Ban-lo-hu-jin.
Segera ia putar tongkatnya, dalam sekejap ia serang lagi empat kali.
Diam-diam para penonton terkesiap, meski nenek ini terkenal licik dan licin, ternyata kungfunya juga tidak rendah, jarang orang kang-ouw yang mampu menandingi tongkatnya ini.
Beberapa kali serangan Ban-lo-hu-jin itu sungguh sangat lihai dan berbahaya, hampir setiap kali selalu menyerempet lewat tubuh Pui-Po-giok.
Anak muda ini juga melengong dan tidak habis mengerti sebab apa si nenek menyerangnya seperti orang gila.
Tapi dalam pandangan orang banyak, semua mengira kungfu Pui-Po-giok yang telah mencapai puncaknya sehingga apa pun juga serangan tongkat Ban-lo-hu-jin sukar mengenai sasarannya dan setiap kali selalu melesot dengan selisih setitik saja.
Akhirnya para penonton sama bersorak memuji Pui-Po-giok, Ce-Sing-siu dan Poa-Ce-sia juga berseri-seri, hanya Ling-Peng-hi saja yang tampak cemberut.
Dalam pada itu Ban-lo-hu-jin telah menyerang lagi tiga empat kali dan tetap tidak dapat merobohkan Po-giok.
"Aha, sepuluh jurus sudah penuh ... sepuluh jurus sudah lewat ..."
Banyak orang mulai berteriak-teriak membela Po-giok.
Mendadak Ban-lo-hu-jin membentak, tongkat mengemplang lagi dengan dahsyat.
Akan tetapi bagi pandangan Po-giok, serangan si nenek jelas banyak memberi peluang baginya.
Terdengar Ban-lo-hu-jin berbisik perlahan.
"Kenapa tidak lekas turun tangan, tolol!"
Po-giok melengong, tanpa terasa sebelah tangannya lantas menghantam.
Ia tahu kekuatan sendiri sudah lenyap, pukulan ini pada hakikatnya sukar merobohkan seorang biasa, apalagi tokoh serupa si nenek.
Siapa tahu, baru saja tangan bergerak, kontan Ban-lo-hu-jin meloncat ke atas sambil mengeluarkan suara jeritan ngeri, berturut-turut ia berjumpalitan dua tiga kali, lalu terbanting ke tanah dengan keras.
Tubuhnya yang gemuk itu terguling-guling beberapa kali dan menggelinding ke tengah kegelapan, lalu merangkak bangun terus kabur secepat terbang, kendali begitu ia masih sempat mencaci-maki.
"Baik, Po cilik, ingat utangmu ini, tidak nanti kuampunimu."
Po-giok sendiri terkesima dan membatin "Sesungguhnya apa yang terjadi? Mengapa nenek yang licin ini berbuat demikian, untuk apa sebenarnya? Memangnya ada tipu muslihat keji di balik perbuatannya ini?"
Namun jelas orang telah mengorbankan diri sendiri untuk menyelamatkan jiwa dan namanya betapapun harus dipandang dari maksud yang baik, masakah ada muslihat keji segala.
***** Saat itu Siau-kong-cu yang berbaju hijau dan berkopiah sembunyi di balik gunung-gunungan dan menyaksikan pertarungan itu dari jauh, melihat akhir dari pertarungan itu, ia pun heran dan juga gelisah.
"Apakah mungkin kungfu Po-ji sudah pulih kembali?"
Demikian ia tidak habis mengerti.
"Tapi ... ah, tidak mungkin! Pasti tua bangka Ban-lo-hu-jin itu sengaja mengacau. Namun, apakah rase tua itu sudah gila? Memangnya apa manfaatnya dengan bertindak demikian?"
Meski biasanya ia sangat cerdik dan pandai berpikir, tidak urung sekarang ia merasa bingung.
Sementara itu kawanan ksatria yang hadir itu sudah berubah sikap lagi, semuanya memberi penilaian lain pula terhadap Pui-Po-giok.
Siau-kong-cu menggigit bibir dan mengentak kaki omelnya perlahan.
"Setan cilik boleh lihat, nanti baru kau tahu rasa!"
Sekali loncat, dengan ringan ia menghilang dalam kegelapan. Sementara itu Po-giok masih berdiri termenung di sana dan bergumam.
"Kenapa bisa begini? Sementara orang yang tidak perlu membikin susah aku justru mencelakai aku, orang yang pasti mencelakai aku berbalik tidak berbuat demikian ..."
Waktu ia memandang ke sana, terlihat Ling-Peng-hi berdiri di depan dan sedang menatapnya dengan tajam, sampai sekian lama, mendadak tangan terjulur hendak mencengkeramnya.
Keruan Po-giok terkejut, siapa tahu orang sama memegang pergelangan tangannya dan tidak ada maksud untuk perang tanding lagi, meski wajahnya tetap kaku dingin, namun di mulut ia berkata.
"Sungguh kungfu yang hebat, tadi aku salah menilai dirimu."
"Tapi ... tapi ini ..."
Po-giok gelagapan dan tidak dapat menjelaskan.
"Di antara kita memang masih harus perang tanding lagi, biarlah kita bertemu pula di puncak Thai-san pada malam bulan purnama nanti,"
Kata Ling-Peng-hi pula, ia memberi salam dan tinggal pergi. Poa-Ce-sia juga sudah mendekati Po-giok katanya.
"Meski angkuh orang she Ling ini, namun jiwa ksatrianya harus dipuji juga. Berani bicara berani berbuat, memang seorang lelaki sejati Po-giok mengangguk dan mengiakan.
"Tapi bila dibandingkan anda, jelas bedanya sukar diukur,"
Sambung Poa-Ce-sia dengan tertawa.
"Apa yang telah anda perlihatkan tadi sudah cukup membuat orang tunduk benar-benar."
Po-giok menyengir, katanya.
"Tapi ... tadi ... tadi ..."
"Apa pun kungfu Pui-siau-hiap memang sukar diukur dalamnya,"
Tukas Ce-Sing-siu.
"Sudah berpuluh tahun aku berkecimpung di dunia kang-ouw tidak sedikit jago kelas tinggi yang 418 kutemui, tapi sekarang ... ai, bicara terus terang, sampai di mana letak kehebatan kungfu Pui-siau-hiap saja tidak dapat kuraba."
Po-giok tersenyum getir, ia membatin di mana terdapat kehebatan kungfuku pun aku sendiri tidak tahu.
Dalam pada itu para ksatria telah berkerumun di sekitarnya, dengan gelisah Po-giok coba melongok ke sana, terlihat Nyo-Put-loh berdiri di kejauhan dan juga sedang memandang ke arahnya.
"Nyo-jit-cek ... aku ..."
Po-giok coba berteriak.
Mendingan ia tidak bersuara, sekali ia berteriak.
Nyo-Put-loh berbalik lantas melangkah ke sana malah.
Keruan Po-giok tambah gugup.
Bilamana tenaganya belum lenyap, tentu dia akan mengejar ke sana menyisihkan orang yang mengerumuni dia.
Sayangnya ia tidak bertenaga lagi, terpaksa ia saksikan Nyo-Put-loh menyingkir semakin jauh.
Kerumunan orang semakin ketat, banyak yang berceloteh membicarakan kemenangan Po-giok atas Ban-lo-hu-jin dan membuat Ling-Peng-hi ngacir ketakutan.
Beramai-ramai para ksatria lantas menyongsong Po-giok ke tempat minum, ada yang memberi selamat, ada yang menyuguh arak...
Sementara itu Po-giok mendapat tahu dari Ce-Sing-siu bahwa Ban-Cu-liang, Thi-wah, Bok-Put-kut dan lain-lain sedang sibuk mencari jejak Lu-In, Hi-Toan-kah dan lain-lain di samping juga mencari kabar tentang Po-giok.
Akan tetapi dalam waktu singkat mereka juga akan berkumpul lagi di sini, sebab itulah Nyo-Put-loh menunggu di situ.
Terpaksa Po-giok harus menunggu juga dan tinggal di rumah Ce-Sing-siu.
Namun Nyo-Put-loh ternyata tidak kembali ke kamarnya dan entah ke mana perginya.
Sing-siu coba menghibur Po-giok.
"Jangan kuatir Nyo-jit-hiap pasti akan pulang kemari."
Namun Po-giok tetap kuatir.
Yang membuatnya tidak mengerti adalah Ban-lo-hu-jin.
entah mengapa nenek itu bertindak begitu?
Sesungguhnya apa maksudnya?
Apakah di balik urusan ini ada biang keladinya?
Sudah jauh malam, suasana sunyi senyap, namun Po-giok tetap tidak dapat pulas.
Sekonyong-konyong daun jendela berdetak perlahan.
Cepat Po-giok bangun dan membentak perlahan.
"Siapa itu?"
"Sssst!"
Terdengar suara orang mendesis perlahan di luar jendela.
Cepat Po-giok membuka jendela, terlihat seorang menggelantung dengan kaki menggantol emperan dan kepala di bawah tepat di depan jendela.
Siapa lagi dia kalau bukan Ban-lo-hu-jin.
Di bawah kegelapan malam yang remang-remang terlihat wajah si nenek menampilkan senyuman misterius, katanya lirih.
"Po-ji cilik, nenek penolongmu datang menjengukmu, kenapa kamu tidak keluar bicara dengan dia?"
Po-giok terkejut dan bergirang, katanya dengan suara tertahan.
"Memang hendak kucari dirimu untuk minta keterangan padamu mengapa engkau bertindak demikian?"
"Tidak perlu banyak omong kosong, lekas keluar saja."
Kata Ban-lo-hu-jin sambil menjulurkan sebelah tangannya untuk menarik Po-giok keluar.
Po-giok tidak bersuara, juga tidak meronta, membiarkan dirinya dibawa lari oleh si nenek ke tempat gelap sana.
Setiba di tengah pepohonan yang rindang, cahaya lampu tampaknya cukup jauh, hanya terdengar kesiur angin dan gemercik air, jelas mereka sudah berada di suatu tempat pojok taman yang sepi.
Di situlah Ban-lo-hu-jin berhenti, lalu berkata dengan tertawa.
"Po-ji cilik, apakah kau tahu sebab apa tadi nenek menolongmu? Padahal cukup aku menyerang sekali saja dengan sungguh-sungguh tentu nyawamu sudah amblas."
"Ya, aku sendiri tidak mengerti sebenarnya apa maksudmu berbuat begitu?"
"Hehe, kalau tidak kukatakan, selama hidupmu juga tak dapat menerka,"
Ujar Ban-lo-hu-jin dengan tertawa sambil menjejalkan sepotong manisan ke mulut.
"Saat ini kamu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya."
Po-giok memang merasa bingung bila teringat Siau-kong-cu sebentar baik dan sebentar jahat, ia pun tidak mengerti mengapa Hwe-mo-sin dapat membebaskan dia, dan sekarang Ban-lo-hujin juga bersikap sebaik ini kepadanya.
Katanya kemudian.
"Ya, aku memang merasa bingung dan tidak tahu apa-apa. Mungkin engkau mengetahui rahasia urusan ini."
Ban-lo-hu-jin tidak menjawab melainkan bicara sendiri dengan tertawa.
"Apakah kau tahu setiap tindak-tandukmu sekarang senantiasa berada di bawah pengawasan orang. Ke mana pun kau pergi dan apa pun yang kau lakukan tetap sukar lolos dari mata-telinga orang."
"Ini ... ini memang sudah dapat aku duga,"
Ujar Po-giok dengan menyesal.
"Dan apakah kau tahu siapa yang sedang mengawasi dirimu?"
"Kutahu pasti orang Ngo-hing-mo-kiong, tidak jelas siapa dia."
"Hehe, padahal orang yang mengawasimu sebenarnya adalah kenalanku ..."
"Hah, maksudmu Siau-kong-cu?"
Potong Po-giok.
"Ehm, pintar juga kamu. Ya, memang dia."
"Bahwa aku telah kehilangan tenaga, jangan-jangan dia yang memberitahukan padamu?"
"Betul, kalau bukan diberi tahu oleh dia, mana aku berani bergebrak denganmu."
Sorot mata Po-giok menampilkan rasa senang.
"Aha, kutahu, tentu dia yang minta padamu agar sengaja mengalah padaku."
"Hehe, sekali ini kamu salah terka. Meski minta jangan aku ganggu jiwamu, tapi mengharuskan aku merobohkanmu untuk membuat malu dirimu di depan umum. Dengan begitu terpaksa kamu akan mengesot kembali di bawah telapak kakinya. Ia membiarkan hidup padamu, sebab kamu masih berguna bagi Ngo-hing-mo-kiong."
Po-giok merasa mukanya di gampar orang, ia termenung seperti patung, sampai lama baru berkata dengan tersenyum pedih.
"Dia juga tidak dapat disalahkan. Selama lima-enam tahun dia terpengaruh di tengah Ngo-hing-mo-kiong, tadinya dia seorang anak yang tidak tahu apa pun. Serupa sehelai kertas putih, setelah bergaul dengan kawanan iblis itu, dengan sendirinya putih berubah menjadi hitam."
"Sampai sekarang kamu tetap berpikir baik baginya?"
Tanya Ban-lo-hu-jin.
"Dengan sendirinya aku pikirkan dia, sebab pada dasarnya dia memang anak perempuan yang baik dan menyenangkan, meski sekarang dia belepotan warna kotor, namun aku bersumpah pada suatu hari pasti akan ... akan kucuci bersih dia."
"Hihi, kamu ternyata pemuda yang romantis juga."
"Dan siapa pula yang menyuruhmu agar mengalah padaku?"
Sembari makan manisan Ban-lo-hu-jin menjawab.
"Ilmu silat orang ini sangat tinggi, kecerdasannya juga serupa malaikat dewata, biarpun tokoh-tokoh semacam Hwe-mo-sin, Bok-long-kun, Toh-sin-kun, Kim-ho-ong dan lain-lain digabung menjadi satu juga tidak dapat membandingi satu jarinya."
"Wah, jika di belakangnya saja engkau tidak berani mengakali dia, tentu orang ini sangat luar biasa. Memangnya siapa dia?"
"Li kiong cu dari Pek cui-kiong, Cui-sian-nio-nio."
"Oo, bukankah dia ibu ... ibu Cui-Thian-ki?"
"Betul,"
Jawab Ban-lo-hu-jin. Kejut dan heran pula Po-giok.
"Dia kan juga orang Ngo-hing-mo-kiong, mengapa dia bermurah hati padaku? Jangan-jangan lantaran Cui-Thian-ki."
"Cukup panjang jika urusan ini harus diceritakan dan tidak sederhana."
"Tapi kan dapat kau ceritakan dengan agak ringkas."
"Begini,"
Tutur Ban-lo-hu-jin.
"setelah Cui-Thian-ki menghilang, karena sedih memikirkan putri kesayangan, rasa gusar Cui-sian-nio-nio menimpa diri Bok-long-kun, Kim-ho-ong, Toh-liong-cu dan lain-lain, selama lima tahun ini, dengan kelihaian kungfu dan kecerdasannya ia telah memaksa keluar keempat majikan istana Kim, Bok, Hwe dan Toh, bahkan putra beberapa orang itu ditawannya pula sebagai sandera, lantaran itulah, biarpun majikan keempat istana itu sangat marah tidak berani sembarangan bertindak."
"Masakah dengan tenaga seorang saja ia sampai memaksa pergi majikan keempat istana yang lain?"
"Ya, dengan sendirinya ada yang membantunya, yaitu nenekmu ini,"
Ujar Ban-lo-hu-jin dengan tertawa.
"Engkau membantu dia?"
Po-giok menegas.
"Betul, aku yang mendampingi dia mendatangi setiap istana itu untuk mengadakan pertarungan dengan majikan keempat istana itu, berbareng itu diam-diam kami pun bertindak secepat kilat menawan putra mereka. Ketika majikan keempat istana itu kalah taruhan dan mengetahui anak mereka berada dalam cengkeraman kami, mau tak mau mereka harus angkat kaki dari istana masing-masing sesuai janji yang telah mengikat mereka. Yang aneh adalah Hwe-mo-sin, anaknya tidak tertangkap oleh kami, tapi dia juga menurut saja pergi dari istananya. Hehe, biarpun anak Hwe-mo-sin itu tiada sesuatu yang dapat dipilih, namun Hwe-mo-sin memandang anaknya melebihi nyawa sendiri."
Diam-diam Po-giok memahami duduknya perkara.
"Tampaknya Hwe-mo-sin sama sekali tidak tahu menahu tentang persekongkolan putranya dengan Ong-Poan-hiap, ditambah lagi waktunya juga kebetulan sehingga Hwe-mo-sin mengira putranya juga ditawan oleh Cui-sian-nio-nio. Pantas juga selama ini dia tidak pernah minta keterangan padaku tentang jejak anaknya?"
Meski begitu pikirnya, di mulut ia berkata.
"Jika, demikian Cui-sian-nio-nio tidak mau membebaskan sanderanya, kan majikan keempat istana yang lain juga tidak berani bertindak padanya?"
"Ya, terkecuali ada salah seorang dari keempat istana itu berani masuk ke Pek-cui-kiong mengalahkan Pek-cui Ho-jin dengan pertaruhan yang sama, kalau tidak, jelas Cui-sian-nio-nio takkan membebaskan sanderanya. Dan selamanya keempat istana yang lain juga jangan harap akan dapat mengalahkan Cui-sian-nio-nio."
"Oo, kiranya begitu ..."
Gumam Po-giok.
Sekarang dapatlah ia menerka apa yang diminta Hwe-mo-sin adalah supaya dia masuk sendiri ke Pek-cui-kiong untuk menempur Pek-cui Ho-jin alias Cui-sian-nio-nio.
Hal ini memang hanya dapat dilakukan olehnya, sebab di kolong langit ini hanya dia saja yang ada harapan akan mengalahkan Cui-sian-nio-nio.
Po-giok termenung sejenak, tiba-tiba ia tanya pula.
"Jika Siau-kong-cu sudah tahu engkau juga orang Pek-cui-kiong, mengapa tetap ...."
"Orang semacam diriku, apa pun yang kulakukan tentu sudah aku rancang dulu secara diam-diam,"
Sela Ban-lo-hu-jin.
"Lalu dari mana orang lain bisa tahu?"
"Jika dirancang secara diam-diam, mengapa sekarang kau muncul juga."
"Kemunculanku ini adalah untuk mencari tahu gerak-gerik keempat istana yang lain, tanpa sengaja aku dapat tahu bahwa majikan keempat istana itu hendak menggunakan dirimu untuk menghadapi Cui-sian-nio-nio."
"Oo, jadi kau pun tahu hal ini?"
"Jika dia menyuruhku menjatuhkan namamu sebaliknya melarang aku ganggu seujung rambut dirimu, dengan sendirinya dia mengharapkan kamu bekerja bagi mereka. Bilamana keadaanmu kurang sehat, lalu cara bagaimana akan dapat mengalahkan Cui-sian-nio-nio? Dan bilamana kamu tidak menghadapi jalan buntu, masakah kau mau bekerja bagi mereka? Dalil ini kan sangat sederhana."
"Ya, rasanya memang begitulah,"
Ucap Po-giok dengan menyesal.
"Dengan sendirinya memang begitu. Memangnya kau kira sebabnya Siau-kong-cu bersikap baik padamu, makanya tidak tega mencelakaimu? Ai, kamu memang pemuda yang romantis dan juga si tolol yang perlu dikasihani."
"Jika begitu, mengapa tidak kau bunuh diriku saja? Bila aku mati di bawah tongkatmu, bukankah akan selesai segalanya dan aku pun tidak dapat bekerja bagi keempat istana itu."
Ban-lo-hu-jin tertawa, katanya.
"Jika kubunuh kamu dan diketahui Bok-Put-kut dan lain-lain, kan mereka akan membikin perhitungan denganku. Memangnya aku orang macam apa dan mau berbuat sebodoh itu? Apalagi, waktu itu Siau-kong-cu pasti mengawasi tindakanku di sekitar situ, belum tentu aku dibiarkan mancederaimu."
Ia merandek, wajah yang tersenyum welas asih itu mendadak berubah beringas.
Sekilas pandang, tanpa terasa Po-giok menyurut mundur satu tindak.
Dengan suara parau nenek itu berkata pula "Jika sekarang kubunuh dirimu, maka setan pun takkan tahu.
Padahal tadi semua orang menyaksikan aku dikalahkan olehmu, mimpi pun tiada orang menyangka tidak lama kemudian dapat kubunuh dirimu.
Andaikan Bok-Put-kut dan lain-lain ingin menuntut balas juga takkan terpikir atas dirimu.
Di tempat sepi ini, tidak nanti ada yang merintangi tindakanku.
Jika sekarang kubunuhmu, kan sangat leluasa bagiku."
Wajah Po-giok tampak pucat pasi, ucapnya dengan menggertak gigi.
"Sungguh perempuan keji ..."
"Hehe, boleh kau lihat dulu apa itu yang berada di semak-semak bunga sana?"
Kata Ban-lo-hujin dengan terkekeh sambil menuding ke sana, rupanya yang dimaksud adalah sebuah liang yang baru digali.
"Apakah ... apakah liang ini yang kau siapkan untuk mengubur diriku?"
Tanya Po-giok.
"Betul, setelah kubunuh dan mengubur mayatmu, biarkan para ksatria dunia kang-ouw mengira kamu sengaja menghilang lagi. Coba, baik tidak cara ini?"
"Hm, tadi kamu sengaja mengalah padaku dan mempertahankan nama baikku sekarang kau ancam pula diriku, cara demikian, jangan-jangan kau pun menghendaki sesuatu dariku?"
"Haha, memang betul, kamu ini memang pintar,"
Sahut Ban-lo-hu-jin dengan tertawa.
"Apabila kau mau menurut padaku, maka akan kuampuni jiwamu, kalau tidak ..."
"Yuh, tokoh semacam Hwe-mo-sin saja tidak mampu memeras diriku, apalagi cuma tua bangka dirimu ini ..."
Belum habis ucapan mendadak ia memegang perut dan menungging.
"Eh, ada apa?"
Tanya Ban-lo-hu-jin dengan heran.
Hanya dalam sekejap itu, dahi Po-giok tampak dihias butiran keringat sebesar kedelai, tubuh meringkuk dan gemetar serta kejang, jelas dia menahan rasa derita yang amat luar biasa, bibir tampak gemetar dan sukar bicara.
Sejenak Ban-lo-hu-jin mengamati anak muda itu, katanya kemudian.
"Kamu keracunan atau terluka.
"Aku ... aku ..."
Po-giok tidak sanggup meneruskan.
Ban-lo-hu-jin menaruh tongkatnya dan menegakkan tubuh Po-giok, dengan tangan kiri ia urut beberapa hiat-to di sekitar perut anak muda itu, setiap kali jari si nenek menggunakan tenaga, setiap kali Po-giok mengeluh perlahan.
Kalau tidak terlampau sakit, tak nanti anak muda itu mengeluh.
"Sudah ada berapa lama kau derita penyakit seperti ini?"
Tanya Ban-lo-hu-jin.
"Selama dua hari ini, selang tidak lama tentu kumat satu kali, setiap kali tambah keras ..."
Betapapun tangkas seorang, bilamana sedang menderita tentu juga akan berubah menjadi lemah, maka terhadap pertanyaan orang lain seringkali tanpa terasa menjawab terus terang.
"Tak tersangka penyakitmu ternyata segawat ini,"
Gumam Ban-lo-hu-jin.
"Agaknya selain obat penawar dari perguruan mereka sendiri, orang lain sangat sulit untuk memulihkan tanganmu."
"Boleh kau ... kau pergi saja ..."
Kata Po-giok dengan lemah.
"Dengan sendirinya aku mau pergi,"
Jengek Ban-lo-hu-jin. Ia jemput kembali tongkatnya dan menatap Po-giok sekian lama, lalu berkata pula.
"Sebenarnya hendak kuampuni jiwamu agar kamu dapat bekerja bagiku. Siapa tahu kamu sudah berubah menjadi sampah yang tak berguna lagi."
Baru habis ucapannya, serentak tongkatnya bekerja, berturut-turut tiga hiat-to penting di tubuh Po-giok ditutuknya.
Po-giok menjerit tertahan, mendadak tubuh terpental dan tepat jatuh ke dalam liang yang baru digali itu.
Liang itu sebenarnya digunakan oleh Ban-lo-hu-jin untuk menggertak Po-giok, siapa duga sekarang benar-benar dijadikan untuk liang kuburnya.
Akan tetapi setelah tongkatnya menutuk, tahu-tahu tubuh Ban-lo-hu-jin juga tergetar hingga terhuyung-huyung mundur beberapa langkah dan akhirnya "bruk", jatuh terduduk.
Air muka nenek itu berubah hebat, tangan pun tergetar berdarah, ia pandang Pui-Po-giok yang terperosot ke dalam liang itu dengan termangu-mangu, sorot matanya menampilkan rasa kejut dan heran.
Kiranya tadi ketika tongkatnya menutuk Po-giok tahu-tahu dari tubuh anak muda itu memantulkan semacam tenaga tolakan yang dahsyat sehingga Ban-lo-hu-jin pun tidak sanggup menahannya.
Ia jatuh terduduk dan termangu sejenak, akhirnya berkata dengan suara gemetar.
"Jadi ... jadi tenagamu belum hilang melainkan cuma untuk membohongiku saja ... Aku kan tidak jelek padamu, hendaknya jangan ... jangan kau bikin susah padaku."
Ia sangsi dan curiga serta bicara sendiri, namun Po-giok yang terperosot ke dalam liang tidak memberi reaksi apa-apa, ia coba melemparkan sepotong tanah, anak muda itu tetap diam saja.
Akhirnya ia tabahkan hati dan merangkak ke sana, dilihatnya wajah Po-giok tetapi pucat gigi gemeretuk menahan sakit, waktu diraba, kaki dan tangannya sedingin es.
Maka legalah hati Ban-lo-hu-jin, ia berdiri bergumam.
"Sungguh aneh, siluman cilik ini sudah sekarat masih juga menakuti orang."
Sampai di sini, rasanya ia pun mengkirik, cepat ia menggunakan tongak untuk menguruk tanah galiannya.
Tampaknya Po-giok sudah terkubur dan tertinggal kepala saja yang masih menonjol ke permukaan tanah, sekonyong-konyong dari kejauhan seperti ada suara langkah orang ke sini.
Begitu mendengar suara, seketika Ban-lo-hu-jin menggunakan tongkat untuk menolak tanah sehingga tubuh melayang jauh ke sana terus menghilang dalam kegelapan.
Ketika tertutuk oleh tongkat, Po-giok merasa dari perut memancar hawa yang sukar ditahan dan tubuh terpental jatuh ke dalam liang.
Walau sakit seluruhnya, rasa sakit dalam perut kontan sudah hilang, namun kaki dan tangan terasa lemas lunglai tanpa tenaga sedikit pun sampai jari pun sukar bergerak.
Perubahan yang aneh ini sampai ia sendiri tidak sanggup mengatakan apa sebabnya?
Ia cuma mendengar Ban-lo-hu-jin bergumam sendiri di tepi liang dan nenek itu mulai menguruk tubuhnya dengan tanah dan dirinya tidak sanggup melawan sama sekali.
Terpaksa ia pejamkan mata dan menggertak gigi serta mandeh diperlakukan sesuka orang, dalam gugupnya tadi Ban-lo-hu-jin ternyata tidak mengetahui anak muda itu masih bernapas dengan aneh.
Juga masih 423 punya daya rasa.
Po-giok merasakan tanah yang dingin lembab mulai membenam kakinya, perut dan dadanya, dan lambat laun mencapai lehernya.
Karena dada teruruk tanah, napasnya semakin sesak, pikiran pun terlantur, entah takut, bingung atau apa?
Rasanya orang ditanam hidup-hidup memang sukar untuk dilukiskan.
Sampai akhirnya tanah mulai menaburi mukanya, rasa sesak napas sudah sukar ditembus, rasanya untuk selamanya sukar mengembuskan napas lagi.
Siapa tahu pada saat terakhir itulah, mendadak Ban-lo-hu-jin lantas kabur.
Dengan sendirinya Po-giok tahu hiat-to yang tertutuk tongkat Ban-lo-hu-jin itu adalah bagian mematikan di tubuh manusia.
Tapi mengapa sekarang dia tidak cedera apa pun juga, hal ini sungguh membuatnya tidak mengerti.
Pada saat itulah ia pun mendengar langkah orang yang semakin mendekat dan menuju ke semak bunga yang sepi ini, terdengar suara seorang berkata.
"Di tempat ini pasti takkan terganggu dan boleh kita bicara dengan bebas."
Begitu mendengar suara orang ini, seketika hati Po-giok tergetar.
Dirasakan suara orang ini sudah sangat dikenalnya.
Sedapatnya ia meronta dan bermaksud melihatnya, bila dikenalnya, tentu orang akan dapat menolongnya.
Namun apa daya, ia tidak dapat bergerak juga tidak bisa bicara, muka pun tertutup tanah mana ia dapat memandang.
Terdengar seorang lagi berkata.
"Jika ada urusan rahasia yang hendak kau rundingkan denganku, sepantasnya kau temui aku secara jujur dan terus terang, mengapa mesti main sembunyi kepala kelihatan ekor, pakai tutup kepala segala?"
Po-giok dapat mengenali suara orang yang dingin ini adalah Ling-Peng-hi, siapa lawan bicaranya belum diketahui. Terdengar orang itu menjawab dengan tertawa.
"Jika benar kau percaya padaku, tanpa melihat wajahku kan juga tidak menjadi soal. Jika pada dasarnya engkau memang tidak percaya padaku, kan juga tidak ada gunanya biarpun aku perlihatkan wajahku."
Ling-Peng-hi seperti berpikir sebentar, katanya kemudian.
"Baik, ada urusan apa, silakan kau bicara saja."
Orang itu tidak menanggapi, tapi terus berlari sekeliling tempat ini, nyata cara bekerjanya sangat rapi dan cermat, meski jelas di sini tidak kelihatan orang lain toh masih juga diperiksanya dengan jelas.
Namun meski cermat tindak-tanduknya, mimpi pun dia tidak menyangka ada seorang Pui-Po-giok tertanam di situ dan sedang mendengarkan percakapan mereka.
Po-giok mendengar kesiur angin yang diterbitkan oleh kibaran kain baju, sejenak kemudian, rupanya orang itu telah berada di tempat semula, lalu berkata.
"Dalam pertemuan di Thai-san ini, bila kepandaianmu dapat mengungguli para ksatria, maka dapatlah kau duduki singgasana Bu-lim-beng-cu (ketua perserikatan dunia persilatan), entah adakah maksudmu untuk ..."
"Dengan sendirinya kutahu hal ini, untuk apa kau singgung urusan ini?"
Jengek Ling-Peng-hi. Perlahan orang itu berkata.
"Tentu saja ada gunanya. Coba jawab, dalam pertemuan Thai-san nanti, lawan yang benar-benar merupakan seterumu yang paling tangguh, kecuali Pui-Po-giok dan Jit-tai-te-cu masih ada siapa lagi?"
"Hm, memangnya Jit-tai-te-cu pasti dapat menandingiku?"
Jengek Ling-Peng-hi.
"Selain mereka orang lain juga tidak terpandang olehku."
Orang itu tersenyum.
"Itu dia, bilamana dapat kusuruh orang-orang ini tak berdaya bertarung denganmu di Thai-san, kan dapatlah kau naik singgasana Bu-lim-beng-cu dengan mantap?"
Bergetar hati Po-giok, ia heran siapakah orang ini sehingga mempunyai kekuatan akan dapat membuat aku dan rombongan paman Bok tak berdaya bertempur dengan Ling-Peng-hi?"
Makin mendengarkan, dirasakan suara orang ini memang sangat dikenalnya, cuma sejauh ini tidak teringat siapa dia.
Ia yakin daya ingat dan pendengaran sendiri cukup kuat, suara siapa pun asalkan pernah didengarnya satu kali pasti takkan dilupakan.
Tapi sekali ini mengapa justru tidak ingat, ia pikir di dalam hal ini tentu ada sesuatu yang ganjil, tapi sebenarnya apa sebabnya?
inilah yang ingin dipecahkannya.
Namun makin dipikir justru semakin kacau.
Terdengar napas Ling-Peng-hi juga agak berat jelas pikirannya juga mulai goyah.
Selang sejenak, akhirnya ia berkata.
"Selamanya kita tidak saling kenal, untuk apa kau mau membantuku? Sebenarnya apa tujuanmu?"
"Jika tidak aku bantu, jelas maha sulit bagimu untuk merebut gelar Bu-lim-beng-cu,"
Ujar orang itu dengan tertawa.
"Untuk itu tentu kau sendiri cukup mengerti. Dan bila kamu sudah menduduki singgasana Beng-cu, tentu tidak boleh kau lupakan bantuanku, sedang aku pun tidak perlu ikut berebut kedudukan Beng-cu lagi. Jadi, bila ada kerja sama antara kita akan sama menguntungkan, kalau berlawanan akan sama rugi."
"Lantas apa yang kau harapkan dariku?"
Tanya Ling-Peng-hi.
"Asalkan kau tulis suatu perjanjian denganku, anggap aku sebagai saudara tua, selama hidup takkan membangkang, maka pasti dapat aku dukung dirimu menjadi Bu-lim-beng-cu."
"Tapi ... tapi dengan dasar apa harus aku percaya padamu?"
"Segera kamu akan menaruh kepercayaan penuh padaku,"
Ujar orang itu. Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar pula suara langkah orang.
"Lekas sembunyi, cepat ..."
Seru orang itu dengan suara tertahan.
Maka terdengarlah suara kesiur angin yang diterbitkan kain baju, menyusul suara langkah orang dari sana juga semakin mendekat dan ternyata juga masuk ke semak bunga ini.
Terdengar seorang di antaranya berkata.
"kau bilang hendak mendamprat Po-ji, tapi mengapa kau bawa ke sini?"
Meski cemas suaranya, namun suaranya lemah kurang tenaga, kiranya dia Nyo-Put-loh adanya. Lalu seorang menjawab dengan suara halus.
"Betapapun harus kutanya padamu, sebab apa kamu marah-marah terhadap Po-ji?"
Dari suaranya dapat dikenali dia ini Gui-Put-tam.
Bahwa Gui-Put-tam dan Nyo-Put-loh mendadak juga datang kemari, keruan Po-giok terlebih terkejut.
Ia kuatir Ling-Peng-hi dan tokoh misterius yang sembunyi di sekitar situ akan mendadak menyergap kedua paman guru itu, padahal luka Nyo-Put-loh belum lagi sembuh, betapa tinggi ilmu silat Gui-Put-tam bila disergap secara mendadak pasti juga akan celaka.
Dan bila mereka berdua mati di sini, dengan sendirinya tak dapat lagi menuju Thai-san untuk bertanding dengan Ling-Peng-hi.
Makin dipikir makin kuatir, namun apa daya untuk bernapas saja sulit, dengan sendirinya juga tidak dapat bersuara, sekujur badannya teruruk tanah, jari saja tidak sanggup bergerak, apalagi ingin memberi tanda.
Terdengar Nyo-Put-loh sedang berkata dengan suara gemas.
"Bocah Po-ji ini akhir-akhir ini memang rada menjengkelkan, tindak tanduknya sukar dimengerti. Misalnya tadi, jelas-jelas ia sudah berada di sini, tapi baru muncul setelah aku dibikin malu di depan umum. Memangnya apa sebabnya betapapun harus kutanya dia hingga jelas."
"Kenapa tadi tidak kau tanya dia?"
Kata Gui-Put-tam.
"Setelah menang tanding, pada hakikatnya dia tidak memandang sebelah mata lagi padaku, mana dia sudi menemuiku,"
Kata Nyo-Put-loh dengan gemas.
"Memang betul, waktu itu dia dikerumuni orang banyak, tapi kalau mau kan dia dapat menerobos keluar untuk menemui aku. Karena mendongkol, sengaja aku tinggal pergi saja."
Diam-diam Po-giok berduka dan geleng kepala karena disalah-pahami sang paman.
"Dan sekarang apa kehendakmu?"
Tanya Gui-Put-tam kepada Nyo-Put-loh.
"Akan kutanya dia sebab apa dia bersikap demikian terhadapku dan selama beberapa hari ini dia pergi ke mana? Sesungguhnya dia sedang main gila apa?"
Gui-Put-tam berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Rahasia urusan ini mungkin selamanya takkan kau ketahui."
"Mengapa selamanya takkan kuketahui?"
Tanya Nyo-Put-loh.
"Sebab ..."
Mendadak Gui-Put-tam menuding ke belakang Nyo-Put-loh dan membentak "Siapa itu?"
Waktu Nyo-Put-loh berpaling, ternyata tiada seorang pun yang terlihat, ucapnya heran.
"Mana ada orang ...."
Belum lanjut ucapannya, mendadak Gui-Put-tam bekerja secepat kilat, punggung Nyo-Put-loh dengan tepat kena dihantam.
Kontan Put-loh menjerit dan menyemburkan darah segar, tubuh pun mencelat.
Kejadian ini sungguh, mimpi pun tak terduga oleh Po-giok, sama sekali ia tidak mengerti Gui-Put-tam dapat turun tangan keji terhadap saudara angkat sendiri.
Apa tujuannya?
Apakah pengaruh jiwanya yang tamak?
Perlahan Gui-Put-tam mendekati Nyo-Put-loh, terlihat mata Nyo-Put-loh melotot, gigi terkatup rapat, ujung mulut mencucurkan darah, dua titik air mata meleleh.
Darah itu melukiskan rasa dendam dan gusarnya, air mata menunjukkan duka dan kecewa sebelum ajalnya.
Nyata mati pun ia penasaran.
Tanpa terasa Gui-Put-tam bergidik, gumamnya.
"Lo-jit, jangan kau salahkan diriku, terpaksa aku bertindak demikian, jika kau rasakan kesepian menuju ke akhirat, biarlah segera aku carikan teman perjalanan bagimu."
Nadanya semula kedengaran merasa menyesal, tapi akhirnya tersembul senyuman licik, suara pun berubah dingin dan keji. Mendengar suaranya, tanpa terasa Po-giok pun bergidik, pikirnya.
"Siapa lagi yang akan dicelakai olehnya? .... Siapa ...."
Pada saat itulah tiba-tiba dalam kegelapan ada orang berkata.
"Bagus sekali caramu bekerja, Gui-lo-ngo!"
Dari suaranya yang aneh dapat diketahui dia itulah si orang yang misterius tadi. Gui-Put-tam tertawa dan menjawab,"
Ah, hanya urusan kecil ini kan belum apa-apa."
"Asalkan bekerja terus begini, segala sesuatu yang kau harapkan pasti akan terkabul, kujamin harta benda yang tak terkira besarnya di dunia ini pasti akan kau peroleh."
"Aku pun dapat menjamin padamu beberapa jiwa orang itu pasti akan aku bereskan,"
Sahut Gui-Put-tam dengan tertawa.
"Bagus, bekerja terus!"
Kata suara misterius itu.
Ngeri Po-giok mendengar percakapan singkat itu dan mandi keringat dingin.
Sekarang diketahuinya bahwa antara Gui-Put-tam dan tamu misterius itu ada persekongkolan, dan tamu misterius ini jelas orang Ngo-hing-mo-kiong.
Dari percakapan mereka itu dapat ditarik kesimpulan bahwa orang Ngo-hing-mo-kiong telah dapat membeli Gui-Put-tam yang berjiwa serakah dan Gui-Put-tam akan diperalat untuk menumpas ketujuh murid utama, lalu Pui-Po-giok yang dijadikan sasaran fitnah.
Jika ketujuh perguruan besar dunia persilatan sudah memusuhi Pui-Po-giok, maka tiada tempat berpijak lagi dunia kang-ouw, bagi anak muda itu.
Begitulah Po-giok terkejut dan gusar pula, tapi juga bersyukur semua itu dapat didengarnya langsung tanpa sengaja, kalau tidak, siapakah yang menyangka Gui-Put-tam ternyata berjiwa 426 sekotor ini.
Tapi ...
dapatkah kukeluar dari kuburan ini?
Terdengar suara langkah orang dalam kegelapan, suara misterius tadi bergema pula.
"Ling-siau-ceng-cu, urusan tadi telah kau saksikan sendiri, bagaimana pendapatmu?"
"Aku ... aku ...."
Terdengar suara Ling-Peng-hi tergagap. Agaknya dia terkesiap oleh kejadian tadi dan seketika tidak sanggup bicara.
"Sekarang kau percaya keteranganku atau tidak?"
Tanya suara misterius itu.
"Ya, percaya."
Terdengar Ling-Peng-hi menjawab dengan suara lemah. Lalu terdengar suara kresek-kresek, suara misterius tadi berkata pula.
"Di sini tersedia tiga helai surat perjanjian, asalkan kau tulis namamu dan menanda tangani, maka terjadilah kerja sama kita, mati-hidup bersama, kaya miskin ditanggung bersama."
"Tapi ...."
"Kesempatan sukar dicari lagi, apa yang kau ragukan pula?"
Agaknya pikiran Ling-Peng-hi tergerak akhirnya ia berseru.
"Baik, kuterima dengan baik ..."
Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar pula suara ramai orang berlari kemari, jumlahnya ternyata tidak sedikit.
Baru saja Ling-Peng-hi dan si tamu misterius sembunyi, rombongan orang itu pun mendekat, Gui-Put-tam tampak di depan diiringi Ce-Sing-siu, Poa-Ce-sia dan belasan jago kang-ouw yang lain.
"Dari mana Gui-heng tahu Nyo-jit-hiap datang kemari?"
Terdengar Ce Sing-siu bertanya.
"Tadi Lo-jit sudah bertemu denganku, katanya Po-ji akan dibawa kemari untuk diberi hajar adat ... Ai, tambah tua perangai Lo-jit semakin keras, sebaliknya Po-ji ... ai, maklum juga, masih muda sudah termashur, kaum tua seperti kita ini tidak terpandang lagi olehnya. Aku jadi kuatir terjadi sengketa antara mereka, sebab itulah kuajak kalian ke sini untuk mendamaikan mereka."
"Menjadi juru damai mereka merupakan tugas kami,"
Kata Ce-Sing-siu.
"Tadi di sini suasana sunyi senyap, mana ada orang?"
Ujar Poa-Ce-sia.
"Coba kita cari ... Lo-jit ... Po-ji, di mana kalian? ...."
Seru Gui-Put-tam. Lalu terdengar suara langkah orang terpencar, agaknya sedang mencari kian kemari. Tiba-tiba seorang menjerit.
"Wah, celaka, ini ... ini Nyo ..."
Karena kagetnya, suaranya menjadi gemetar dan terputus.
Orang lain tidak tahu jelas apa yang dikatakan, namun sama memburu ke sana, dan segera melihat jenazah Nyo-Put-loh sudah menggeletak kaku di situ dengan wajah beringas.
Ce-Sing-siu sama berteriak.
"Ai, apa ... apa yang terjadi ini? Siapa yang turun keji terhadap Nyo-jit-hiap? Ke mana perginya Pui-siau-hiap?"
Di tengah kepanikan itu, Gui-Put-tam berlagak mendekap mayat Nyo-Put-loh dan menangis sedih.
Menyusul ada orang menemukan huruf goresan jari Nyo-Put-loh sebelum ajalnya dan berteriak "Hei, di sini ada tulisan!"
Segera ada orang menyalakan obor, lalu seorang berteriak.
"Hei, sebuah huruf Po, sebelum menemui ajalnya untuk apa Nyo-Jit-hiap menulis huruf ini?"
"Wah, jangan-jangan maksudnya ... maksudnya Pui-siau-hiap ..."
Gui-Put-tam berlagak menjerit sedih.
"O, Po-ji, Pui-Po-giok, pasti dia yang turun tangan keji, 427 kalau tidak masakah Lo-jit sama sekali tidak berjaga, siapa pula di dunia ini mampu membinasakan Lo-jit dengan sekali pukul?"
Serentak orang banyak sama mencaci maki.
"Ya, pasti perbuatan Pui-Po-giok, sungguh tidak tersangka begini keji caranya"
Dengan berlagak menangis sedih Gui-Put-tam berseru.
"Makanya kalian harus membantuku membekuk keparat yang kotor ini."
Berbareng orang banyak berteriak menyatakan setuju.
Pedih dan penasaran Po-giok, ia tahu bilamana sekarang dirinya ditemukan, tentu Gui-Put-tam takkan memberi kesempatan bicara padanya dan langsung akan membunuhnya.
Walaupun mati-hidup baginya sudah tak terpikir lagi, tapi bila intrik keji Gui-Put-tam itu tidak dibongkarnya, sungguh mati pun ia tidak tentram.
Maka apa pun jadinya dia harus hidup terus.
Terdengar orang banyak sama lari pergi, banyak yang menginjak lewat di atas tubuhnya, tapi tiada yang menyangka anak muda yang hendak mereka cari itu tertanam di bawah tanah yang baru mereka langkahi, dalam keadaan ramai juga tiada seorang pun yang menemukan kelainan beda tanah yang mereka injak.
Po-giok merasa jantung sendiri berdebur keras dan tambah berat, gendang telinga pun seakan pecah tergetar.
Pada saat itulah tubuhnya yang dingin itu tiba-tiba timbul semacam rasa panas, seperti api mendadak membakar dalam tubuhnya.
Dalam sekejap seluruh anggota badan dan isi perut terasa sakit terbakar dan hampir tak tertahankan.
Akan tetapi pada saat yang sama anggota badan yang semula lemah dan tak dapat bergerak itu mendadak bertenaga lagi berikut rasa sakit terbakar itu.
Kerongkongan seperti dapat mengeluarkan suara lagi.
Ia ingin meronta dan berusaha berteriak.
Akan tetapi bila ia bersuara dan sedikit bergerak segera jejaknya akan ketahuan.
Jika dalam keadaan biasa, betapa siksa derita juga dapat ditahannya, tapi sekarang mental maupun fisiknya dalam keadaan lemah sehingga rasanya tidak tahan derita seakan dibakar itu.
Meski ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya tetapi sukar mengendalikan hasrat akan meronta dan berteriak itu.
Selagi dia hampir gila harus melawan pertentangan batin itu, sekonyong-konyong guntur berbunyi, hujan lebat pun turun bagai dituang.
Air hujan menyiram tanah dan merembes ke baju Po-giok, tubuh Po-giok yang panas bagai dibakar itu menjadi agak segar, rasa sakit banyak berkurang, pikiran pun segera jernih kembali.
Lapisan tanah yang menutup muka Po-giok memang tidak terlalu tebal, setelah diguyur air hujan, dapatlah Po-giok membuka mata sehingga terlihat air hujan yang lebat itu.
Api sudah padam di tengah hujan terdengar suara bentakan berkumandang dari jauh.
Suara langkah orang banyak pun menjauh dan suasana kembali sepi.
Hujan semakin lebat, rasa sakit serupa dibakar sudah lenyap dari tubuh Po-giok, ia merasa lelah lahir batin, kelopak mata terasa sangat berat.
Segala apa terasa pula berjarak sangat jauh, akhirnya ia terpulas.
***** Tanggal 13 bulan delapan, bulan sudah mendekati bulat.
Pertemuan kaum ksatria di puncak Thai-san sudah tinggal dua hari lagi.
Sinar bulan terang benderang, bintang sangat terang, malam sudah larut.
Ban-tiok-san-ceng yang terletak di kaki Thai-san itu merupakan tempat berkumpul kaum ksatria, namun suasana dalam perkampungan sekarang sudah sunyi senyap, agaknya untuk dapat mengikuti pertandingan di puncak gunung esok paginya para ksatria sengaja mengaso 428 lebih dini daripada biasanya.
Suasana sangat hening, hanya pada sebuah kamar yang terletak di sudut barat taman terlihat ada cahaya lampu.
Di bawah cahaya lampu yang redup duduk berhadapan Bok-Put-kut, Kong-sun Put-ti dan Ciok-Put-wi.
Ketiganya sama diam dengan kening berkerenyit murung.
Akhirnya Bok-Put-kut menghela napas panjang, ucapnya sedih.
"Lebih dulu Nyo-jit-te meninggal dengan terluka parah, lalu Kim-lo-ji tewas minum arak beracun, semalam Se-bun-lak-te juga disergap orang dan sekaligus terkena tiga macam senjata rahasia berbisa, tampaknya juga sukar tertolong lagi. Teringat waktu kita berdelapan sama masuk perguruan, kita telah bersumpah akan sehidup dan semati, tapi sekarang, ai ..."
Setelah menghela napas panjang, lalu ia menunduk.
"Selama aku masih dapat bernapas, aku bersumpah pasti akan menuntut balas,"
Ucap Ciok-Put-Wi dengan air mata bercucuran.
"Ya, harus menuntut balas,"
Tukas Kong-sun-Put-ti.
"Tapi biarpun benar Nyo-jit-te tewas di tangan Po-giok, masakah Lo-ji dan Lo-liok juga terbunuh oleh anak muda itu? Jika pembunuh yang sebenarnya saja kita tidak tahu, cara bagaimana kita dapat menuntut balas?"
"Dari ucapanmu ini, apakah kau maksudkan kematian Lo-ji dan Lo-liok tidak ada sangkut pautnya dengan Pui-po-giok?"
Tanya Bok Put-kut.
"Ehm, begitulah,"
Kong-sun Put-ti mengangguk.
"Tapi, selain Pui-Po-giok, siapa pula yang dapat dan mampu menyergap mereka?"
"Hendaknya kau perhatikan hal-hal ini. Kematian mereka itu sama sekali tidak ada tanda ada perlawanan, ini menunjukkan sebelumnya mereka tidak berjaga-jaga, dari sini dapat ditarik kesimpulan orang yang mencelakai mereka pasti sudah dikenal baik ..."
"Ya, makanya aku yakin pembunuhnya pasti Pui-Po-giok,"
Tukas Bok-Put-kut.
"Tapi setelah Jit-te dicelakai po-giok, tentu Lo-ji dan Lo-liok memandangnya serupa binatang berbisa, begitu bertemu pasti akan melabraknya, mana mungkin mereka menghadapinya dengan tenang?"
Kata Kong-sun Put-ti. Bok-Put-kut melengong dan tidak dapat menjawab.
"Tepat!"
Seru Ciok-Put-wi. Agak lama Bok-Put-kut terdiam, katanya kemudian.
"Jika orang ini bukan Po-ji, namun juga seorang yang sudah sangat kita kenal, lantas siapa ... siapa dia? Apakah mungkin ..."
Sungguh ia tidak tahu siapakah di antara orang yang sangat dikenalnya bisa berbuat sekeji itu.
Biasanya dia tidak berani sembarangan menduga jelek terhadap siapa pun, maka ia hanya menghela napas menyesal saja.
Perlahan Kong-sun Put-ti berkata pula.
"Harap Toa-ko berpikir lagi, di antara saudara kita, siapakah kiranya yang paling gampang dipancing dengan keuntungan. Sesudah Lo-ji dan Lo-jit mati, siapa pula yang paling dahulu menemukan mereka?"
Tubuh Bok-Put-kut tergetar, mendadak bentaknya dengan mata mendelik.
"Jangan-jangan kau maksudkan Gui-lo-ngo? Mana boleh kau curigai dia? Jangan ... jangan kau lupa, antara kita dan dia sebaik saudara sekandung."
"Urusan sudah sejauh ini, kita harus menaruh curiga terhadap setiap orang yang pantas dicurigai lebih baik salah duga daripada urusan bertambah parah ..."
"Betul, biar aku pergi melihatnya,"
Kata Ciok-Put-wi. Selagi Bok-Put-kut hendak mencegahnya, cepat Kong-sun-Put-ti menariknya, katanya.
"Cara bekerja Si-te biasanya sangat cermat, jika dia mau pergi, urusan pasti beres. Sejenak kemudian Ciok-Put-wi sudah lari kembali dan berkata singkat kepada mereka.
"Ikut kemari!"
Bok-Put-kut dan Kong-sun-Put-ti tidak tahu apa maksudnya, terpaksa mereka ikuti kehendaknya.
Ciok-Put-wi dan Bok-Put-kut bertiga tinggal sekamar, sedang Gui-Put-tam sekamar dengan Gu-Thi-wah dan Kim-Co-lim.
Waktu Bok-Put-kut bertiga mendorong pintu kamar Gui-Put-tam dan melihat keadaannya, seketika air muka mereka berubah.
Dalam kamar yang agak gelap terlihat Thi-wah tidur mendengkur, Kim-Co-lim mabuk serupa orang mati, sedang Gui-Put-tam menggeletak kaku di lantas dengan mulut berbusa, sebuah cangkir di sampingnya terjatuh hancur.
"Celaka, jangan-jangan Gui-go-te keracunan!"
Seru Bok-Put-kut.
Kong-sun-Put-ti memburu maju dan mengangkat tubuh Gui-Put-tam dan memeriksa kelopak matanya serta memegang nadinya, lalu secepat kilat ia tutuk beberapa hiat-to di sekitar dada Gui-Put-tam.
Ciok-Put-wi telah menyalakan lampu dan memeriksa poci teh dengan teliti, katanya kemudian.
"Dalam teh ada racun!"
Air mata Bok-Put-kut bercucuran, ia raba kepala Gui-Put-tam dan berkata dengan sedih.
"O, Go-te, hampir saja kami salah sangka padamu ..."
"Betul, tadi aku memang salah menuduhnya,"
Ucap Kong-sun-Put-ti. Ia merasa menyesal, sebab kalau benar Gui-Put-tam pelaku jahat, mana mungkin ia sendiri pun keracunan.
"Apakah dia juga ... juga tak tertolong lagi?"
Tanya Bok-Put-kut.
"Untung kita keburu datang, racun belum menyerang jantungnya, bila terlambat setengah jam saja, tentu jiwa Go-te akan melayang,"
Ujar Kong-sun-Put-ti.
Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi beberapa botol kecil, dari salah satu isi botol kecil itu dituangkan ke mulut Gui-Put-tam.
Itulah obat penawar Bu-tong-pai yang terkenal mujarab.
Tidak lama, tubuh Gui-Put-tam dapat bergerak, mulut pun mengeluarkan suara keluhan, menyusul dan mulut pun merembes keluar air warna hijau gelap.
Kong-sun-Put-ti mengusap keringat pada dahinya dua berucap lega.
"Dia tidak berhalangan lagi."
Bok-Put-kut juga menghela napas lega dan duduk terkulai.
"Go-te sudah lolos dari bahaya. cukuplah kujaga dia di sini, silakan Si-te dan Toa-ko pergi mengaso dulu, menghadapi pertarungan yang sudah dekat, Toa-ko perlu istirahat secukupnya,"
Kata Kong-sun-Put-ti.
Akhirnya Bok-Put-kut dapat dibujuk Ciok-Put-wi dan pergi mengaso.
Thi-wah masih tidur lelap.
Kim-Co-lim juga belum sadar dari mabuknya.
Semua kejadian di dalam kamar sama sekali tidak dirasakan oleh mereka.
Kong-sun-Put-ti tersenyum memandangi mereka, gumamnya.
"Sungguh beruntung mereka ..."
Pada saat itulah tiba-tiba di luar jendela ada orang bertepuk tangan sekali.
"Siapa itu?"
Bentak Kong-sun Put-ti cepat.
Tak terduga, belum lagi lenyap suaranya, sekonyong-konyong Gui-Put-tam yang rebah di tempat tidur itu melompat tangan, berbareng beberapa titik perak menyambar punggung Kongsun Put-ti secepat kilat.
Betapa cerdik pandai Kong-sun-Put-ti juga tidak menyangka akan diserang dari belakang, 430 apalagi suara ngorok Thi-wah sekeras bunyi guntur sehingga suara sambaran senjata gelap tidak terdengar.
Maka begitu titik perak berkelebat, menyusul Kong-sun-Put-ti pun menjerit dan tergelepar ke depan dan terhuyung-huyung, ia sempat melompat keluar jendela dan lari dengan cepat.
Gui-Put-tam angkat kepalanya dan memandang keluar jendela sekejap, tersembul senyumannya yang licik.
Setelah terkena senjata rahasia berbisa, ditambah lagi lari cepat tentu racun akan bekerja terlebih keras, mungkin tidak sampai beberapa tombak jauhnya akan menggeletak dan tidak dapat bangun lagi.
Lalu siapa di dunia ini akan menduga semua ini adalah perbuatan Gui-Put-tam?
Kiranya Gui-Put-tam yang kelihatan keracunan itu tidak lebih cuma pura-pura sengaja dan sengaja diaturnya agar orang lain tidak mencurigai dia, untuk itu dia sudah minum obat penawar lebih dulu sebelum minum teh beracun.
Jadi keadaannya yang tidak sadar itu hanya pura-pura saja, biarpun tidak diberi obat oleh Kong-sun-Put-ti juga dia takkan mati.
Ketika pintu kamar berbunyi, kembali Bok-Put-kut dan Ciok-Put-wi menerjang masuk.
Tapi Gui-Put-tam keburu rebah lagi dan berlagak tidak sadar.
Bok-Put-kut memandang kian kemari, katanya dengan heran dan kuatir.
"Siapa tadi yang menjerit? Wah, ke mana perginya Kong-sun jit-te?"
Cepat mereka berusaha membangunkan Kim-Co-lim dan Gu-Thi-wah serta ditanya.
"Sesungguhnya apa yang terjadi di dalam kamar barusan, kalian tahu tidak?"
Dengan sendirinya Kim-Co-lim dan Thi-wah merasa bingung, mereka balas tanya malah.
"Memangnya apa yang terjadi?"
Selagi Bok-Put-kut hendak mengomel, mendadak Ciok-Put-wi berseru.
"Lihat apa Itu?"
Waktu semua orang memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di dekat jendela sana ada beberapa titik bekas darah, sebagian daun jendela juga sudah rusak terjebol.
"Hah, apakah Kong-sun-jit-te juga disergap musuh? Apakah dia terluka dan mengejar musuh?"
Seru Bok-Put-kut.
"Tapi mengapa dia tidak ... tidak memberi tanda kepada kita, mana boleh dia mengejar musuh sendirian?"
"Cepat susul!"
Seru Ciok-Put-wi dan mendahului melompat keluar jendela.
Akan tetapi meski seluruh perkampungan itu sudah mereka cari ubek-ubekan tetap tidak menemukan jejak Kong-sun-Put-ti.
Ternyata Kong-sun-Put-ti telah menghilang.
Di antara ketujuh murid utama sekarang tiga orang terluka parah atau mati, seorang keracunan dan seorang menghilang, tentu saja berita ini sangat menggemparkan dunia kang-ouw.
Kejadian ini membuat sebagian besar orang kang-ouw merasa senang dan ada yang ikut berduka cita.
Nyata pertarungan di Thai-san nanti telah berkurang beberapa lawan kuat.
Padahal pertemuan di Thai-san akan berlangsung besok, tentu saja Bok-Put-kut dan Ciok-Put-wi tidak berdaya dan kelabakan, hanya dalam semalam saja wajah mereka sudah berubah pucat karena kurang makan dan tidak tidur.
Meski waktu pertandingan ditentukan pada malam bulan purnama, tapi pada pagi hari tanggal 15 di puncak Thai-san sudah berjubel-jubel orang yang berkumpul.
Pada setiap tempat yang agak teraling, di balik batu karang, di tengah semak, di mana saja asal ada tempat luang tentu terdapat sebuah peti mati baru.
Sebelumnya memang sudah timbul macam-macam dugaan ketika melihat peti mati itu, maka sekarang kebanyakan orang tidak heran lagi.
Malahan banyak orang yang menggunakan peti mati itu sebagai tempat duduk atau tempat berbaring untuk menanti datangnya malam dan terbitnya bulan purnama.
Lewat lohor kebanyakan tokoh utama yang akan ikut pertandingan ini sudah hadir.
Dengan sendirinya beberapa tokoh terkenal menjadi buah tutur orang.
Poa-Ce-sia adalah pendekar ternama, dia paling dini sampai di tempat.
Menyusul tokoh 431 terkemuka lain seperti Go-Tong-lin dari Tiang-pek-san, Be-Siok-coan yang berjuluk si tombak sakti Ciang-Siau-bin yang berjuluk Bu-ceng-kong-cu atau pemuda tidak kenal kasihan, dan jago-jago muda lain lagi.
Akan tetapi tokoh yang paling dinanti-nantikan akan kahadirannya dalam pertarungan ini sampai sang surya sudah terbenam masih juga belum tampak muncul, hal ini segera menimbulkan pembicaraan orang banyak lagi.
"Kabarnya Thian-to Bwe-Kiam sudah lebih dulu sampai di kaki gunung bersama Ban-Cu-liang dan Jit-toa-te-cu, mengapa rombongan mereka belum tampak muncul?"
Demikian seorang mengomel. Lalu yang lain menanggapi.
"Mungkin disebabkan urusan yang menyangkut Jit-toa-te-cu sehingga dia datang terlambat. Jit-toa-te-cu sekarang tinggal dua orang saja, apalagi sampai kini juga tidak kelihatan bayangan Bok-Put-kut, sekali ini jelas mereka tidak sanggup ikut bertanding, andaikan ikut juga takkan tahan sekali hantam oleh musuh."
"Sungguh aneh dan sukar dimengerti bahwa Jit-toa-te-cu yang termashur itu bisa jatuh habis-habisan seperti sekarang."
Kukira yang paling aneh adalah orang yang dipandang paling besar harapannya akan keluar sebagai juara nanti, ternyata sampai sekarang juga belum kelihatan."
"Siapa yang kau maksudkan?"
"Thian-siang-hui-hoa Ling-Peng-hi."
"Oo, dia? Mengapa bisa dia?"
"Hehe, berita yang aku peroleh ini datang dari sumber yang sangat dirahasiakan, maka sementara ini tidak dapat aku jelaskan. Namun hal ini sudah dapat dipastikan, jika tidak percaya boleh kalian tunggu dan lihat nanti."
"Lantas bagaimana dengan Pui-Po-giok?"
"Pui-Po-giok? Huh, mungkin selamanya dia takkan muncul lagi di depan umum ..." ***** Selain peti mati yang disembunyikan di sana sini, ternyata di samping puncak gunung yang rimbun oleh pepohonan dan di celah-celah batu padat sana masih ada sebuah peti mati. Tampak dua lelaki, seorang berjubah satin dan yang lain berbaju biru, dengan susah payah akhirnya dapat mencapai samping gunung itu, si lelaki baju biru menarik napas lega, katanya dengan tertawa.
"Walaupun sukar mencapai tempat ini, tapi sekali sudah berada di sini, dapatlah kita menyaksikan pertandingan dengan tentram, peti mati bukan lambang yang baik, namun enak juga duduk di atasnya seperti berada di panggung kehormatan."
Lelaki berjubah satin mengebut debu pada bajunya, ucapnya dengan tertawa.
"Betul, menonton keramaian dari sini sungguh seperti beli karcis kelas utama."
Dan baru saja kedua orang duduk di atas peti mati itu, tiba-tiba terdengat suara "ciiat"
Sekali, suara tajam melengking yang mengejutkan, apalagi timbul dari dalam peti mati.
Keruan kedua orang sama melonjak kaget setengah mati.
Tanpa pikir si baju satin segera angkat kaki hendak kabur, namun kawannya si baju biru sempat menariknya, lalu membentak.
"Sia ... siapa itu yang berada di dalam peti?"
Terdengar suara terkekeh aneh di dalam peti mati.
"Hehehe, orang mati di dalam peti, orang hidup, lekas menjauh!"
"Sesungguhnya kamu manusia atau setan?"
Bentak si baju biru.
"Tidak perlu urus aku manusia atau setan?"
Ujar suara aneh itu.
"Jika kalian berani lagi duduk di atas peti, maka jangan harap kalian dapat pergi dengan hidup. Kalau tidak percaya, silakan saja coba."
Meski tubuh kedua orang itu cukup gede, namun nyali mereka ternyata kecil.
Mereka saling pandang sekejap, lalu lari sipat kuping dan terguling-guling ke bawah gunung.
Kembali terdengar suara terkekeh-kekeh di dalam peti, tutup peti pun tersembul ke atas dengan perlahan, lalu menongol sebuah kepala dengan rambut beruban, ucapnya dengan tertawa.
"Hehe, enak-enak aku rebah di sini untuk menonton keramaian, kalian justru duduk di atas kepalaku kan mencari penyakit? Bilamana bukan lantaran aku tidak ingin menampakkan diri sekarang, saat ini jiwa kalian pasti sudah melayang."
Sembari bicara ia terus meraba sepotong manisan ceremai dan dijejalkan ke mulut serta dimakan dengan nikmatnya.
Siapa lagi dia kalau bukan Ban-lo-hu-jin.
Pada saat itu juga, sekonyong-konyong setangkai ranting secepat kilat menyambar masuk celah-celah tutup peti.
Keruan Ban-lo-hu-jin terkejut, sekuatnya ia hendak merapatkan tutup peti, namun ranting kayu yang lemas itu seperti mengandung tenaga maha kuat, bukannya merapat, sebaliknya tutup peti sedikit demi sedikit malah merenggang ke atas.
Muka Ban-lo-hu-jin berubah pucat, ia coba memandang ke sana mengikuti ranting kayu.
Terlihat sebuah tangan seputih kemala, tiga jari lentik memegang ranting, waktu memandang lebih ke atas, itulah lengan baju berwarna hijau pupus.
Sampai di sini Ban-lo-hu-jin tidak mau memandang lebih ke atas lagi, kepalanya terus mengeret ke dalam, seluruh badan meringkuk masuk lagi ke dalam peti mati.
Terdengar seorang berucap dengan tertawa lirih.
"Hihi, sudah aku duga kau pasti akan datang ke sini, tapi sejauh ini tidak aku lihat dirimu, selagi heran, baru sekarang kutahu engkau sembunyi di dalam peti mati."
Suaranya merdu dan lembut, selain Siau-kong-cu siapa lagi.
Ia bicara sambil mencungkit perlahan dengan ranting kayu sehingga tutup peti itu terpentang, terlihat Ban-lo-hu-jin meringkuk di dalam peti dan tidak berani mengangkat kepala.
"Sembunyi apa lagi, kenapa tidak lekas keluar?"
Ucap Siau-kong-cu.
"Nona ... nona mencari nenek, apakah ada sesuatu urusan?"
Kata Ban-lo-hu-jin dengan lagak seperti tidak terjadi sesuatu, tapi suaranya tidak urung rada gemetar.
"Kucari dirimu hanya ingin tanya padamu ke mana perginya Pui-Po-giok?"
Ban-lo-hu-jin terkekeh-kekeh.
"Pui ... Pui-Po-giok? Nona maksudkan Pui-Po-giok? Hehe, tindak-tanduk tuan muda ini biasanya sukar diraba, mana perempuan tua tahu dia berada di mana?"
"Benar kamu tidak tahu?"
Siau-kong-cu menegas dengan tertawa. Ia bicara dengan halus dan lembut serta tersenyum manis, akan tetapi bagi pandangan Ban-lo-hu-jin justru membuatnya merinding, cepat ia menjawab.
"Ben ... benar!"
"Jika benar kamu tidak tahu, mengapa kamu mesti ketakutan padaku? Maka dapat diduga dalam hal ini tentu kau sembunyikan sesuatu, karena berdosa, maka takut. Betul tidak?"
"Oo, aku ... aku ..."
Si nenek gelagapan.
"Kutahu engkau ini orang cerdik, selama hidup tidak mau dirugikan orang tapi mengapa sekarang kau paksa aku turun tangan? Maka lebih baik bicara terus terang saja dan kujamin pasti takkan membikin susah padamu."
"Artinya, asalkan kukatakan di mana jejak Pui-Po-giok dan engkau pun takkan membikin susah padaku? Tidak peduli dia berada di mana engkau tetap takkan ..."
"Betul!"
Potong Siau-kong-cu.
"Berdasarkan apa supaya aku dapat mempercayaimu?"
Tanya si nenek.
"Tidak perlu pakai dasar apa pun, keadaan sekarang sudah cukup menjadi dasar agar kau percaya padaku."
Ban-lo-hu-jin termenung sejenak, katanya kemudian sambil menyengir.
"Ya, betul. saat ini memang mau-tidak-mau harus aku percayaimu. Baiklah, biar kukatakan padamu."
"Berurusan dengan orang pintar memang menyenangkan. Nah, katakan sekarang, Pui-Po-giok berada di mana?"
Bola mata Ban-lo-hu-jin berputar-putar, mendadak ia berteriak.
"Pui-Po-giok sudah mati!"
Tergetar tubuh Siau-kong-cu.
Serentak Ban-lo-hu-jin juga meloncat ke atas, ia berjumpalitan dua kali di udara, lalu kabur secepat terbang.
Ia sempat melirik Siau-kong-cu dan terlihat si nona berdiri melengong di samping peti mati dan tidak ada maksud buat mengejarnya.
Dari jauh Ban-lo-hu-jin berseru.
"Jenazah Pui-Po-giok aku lihat sendiri dan pasti tidak bohong padamu ...."
Suaranya berkumandang di lembah pegunungan, dalam sekejap bayangan si nenek pun menghilang.
Siau-kong-cu berdiri terkesima di situ dengan wajah kaku, siapa pun tidak dapat meraba apakah dia lagi gembira atau berduka, hanya terdengar bergumam perlahan.
"Mungkinkah dia dusta padaku? ... Ah, tidak bisa, jika dia mau dusta tentu takkan dusta hal ini, sebab perbuatan demikian kan tidak berfaedah baginya, sedang urusan yang tidak mendatangkan manfaat biasanya tidak nanti dilakukannya ..."
Sementara itu di tengah kerumunan orang banyak sana terdengar ramai orang berteriak.
"Itu dia Ling-Peng-hi ... Ya, Ling-Peng-hi sudah datang ..."
Walaupun di sana suara orang banyak bergemuruh, namun Siau-kong-cu masih berdiri terpaku di tempatnya dan masih bergumam.
"Po-ji, apakah benar engkau sudah mati?!"
Berita kematian Pui-Po-giok dengan sendirinya membuat siasat Ngo-hing-mo-kiong harus banyak diadakan perubahan.
Namun pertandingan di puncak Thai-san tetap berlangsung.
Sampai sekarang tiada seorang pun dan sesuatu kejadian yang dapat menundanya lagi.
Menjelang petang, panitya pertandingan yang berkumpul di Ban-tiok-san-ceng mengeluarkan maklumat tentang peraturan pertandingan yang dilangsungkan dengan sistem seleksi, dan diawasi suatu dewan juri yang terdiri dari tujuh tokoh pilihan seperti It-bok Tai-su, Ting-lo-hujin, Ban-Cu-liang dan lain-lain.
Sementara itu di suatu tanah lapang di puncak Thai-san itu sudah dipasang sebuah panggung pertandingan.
Ketujuh anggota juri, kecuali Ban-Cu-liang yang belum muncul, sudah sama mengambil tempat duduk yang tersedia di samping panggung.
Jago-jago muda yang akan ikut bertanding juga sama berkerumun di tempat panitya untuk mengambil nomor undian urutan bertanding.
Malam sudah mulai gelap, bulan belum lagi terbit, namun kawanan centing Ban-tiok-san-ceng sudah sibuk memasang obor hingga puncak gunung terang-benderang bagai siang hari.
Suasana mulai tegang, semua jago yang akan ikut bertanding sama prihatin.
Terdengar panitya memberi pengumuman bahwa pasangan pertama yang akan bertanding adalah Go-Tong-lin dari Tiang-pek-san melawan Poa-Ce-sia...
Tampaknya pertarungan sengit segera akan dimulai.
Dalam pada itu tiada seorang pun yang teringat lagi kepada Pui-Po-giok, siapa pun tidak menyangka pada saat itu juga Pui-Po-giok juga sudah berada di kaki gunung.
Anak muda itu mondar-mandir di kaki gunung, beberapa kali sudah akan beranjak ke atas, tapi urung.
Ia ternyata tidak berani naik ke atas gunung, seperti sudah kehilangan keberanian.
Bajunya kelihatan compang-camping, rambut kusut dan muka pucat dekil, bahkan kedua matanya yang besar itu pun tidak bercahaya lagi.
Namun dia belum lagi mati, dia benar-benar masih hidup di dunia ini.
Mengapa bisa begini?
Untuk ini harus diceritakan sejak dia minum teh 434 beracun dan kemudian ditanam oleh Ban-lo-hu-jin, di situlah tanpa sengaja ia dapat mendengar rahasia kelicikan Gui-Put-tam.
Selagi Po-giok tersiksa oleh rasa panas bagai dibakar ketika itu, kebetulan hujan lebat dan tanah yang menutupi tubuhnya terguyur buyar oleh air hujan, secara kebetulan pula hawa panas racun dalam tubuh Po-giok juga dipunahkan oleh air hujan.
Semua itu dengan sendirinya terjadi secara kebetulan, tapi kalau bukan pemuda luar biasa seperti Pui-Po-giok masakah dapat mengalami penemuan yang aneh dan luar biasa pula.
Sampai sekarang bilamana Po-giok teringat pada siksaan yang dialami ketika ditanam di bawah tanah itu, sungguh ia pun mengkirik sendiri, sedapatnya ia ingin melupakan peristiwa yang mengerikan itu.
Beberapa hari kemudian kadar racun dalam tubuh pun hilang, namun keadaannya pun kurus kering.
Untung orang-orang di taman itu sudah sama berangkat ke Thai-san, maka dapatlah ia kabur dengan selamat.
Sekarang bulan sudah hampir purnama, tanpa terasa Po-giok pun berlari ke arah Thai-san, lambat-laun pulih juga kesehatannya.
Dan kini ia pun sudah berada di kaki gunung Thai-san itu, namun dia tidak ada keberanian untuk naik ke atas gunung.
Selagi perasaannya diliputi rasa bimbang, sekonyong-konyong dari semak rumput yang gelap di samping sana terdengar suara rintihan orang.
Po-giok terkesiap, ia coba mengawasi tempat itu terlihat di tengah semak rumput sana memang benar ada sesosok bayangan orang sedang meronta dan bersuara merintih.
"Air ... air ... tolong ... air ..."
Bab 19.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Karena menahan sakit dan derita yang sangat, suara gemetar itu berubah parau, tapi Po-giok masih kenal siapa orang yang sedang sekarat itu.
Jantung Po-giok bergetar mata melotot gusar, desisnya geram.
"kau Gui ..."
Bayangan orang itu angkat kepala dan terbelalak kaget, di bawah cahaya rembulan yang redup, dilihatnya pemuda berbaju kumal di depannya ternyata adalah Pui-Po-giok yang lelah lama menghilang itu.
Wajah yang berkerut-kerut, menahan sakit itu, kini tampak gemetar menahan gejolak perasaannya, entah kaget atau senang.
"Po-ji,"
Teriaknya sambil meronta.
"kau kah....lekas, lekas tolong aku. Lekas ...."
"Menolongmu?"
Bentak Po-giok murka.
"kau tega berbuat sekeji itu terhadap Nyo-jit-siok, kau pun membunuh para paman yang lain, kau ... kau ... ingin aku cincang dan mencacah tubuh kau ..."
Belum habis Po-giok bicara Gui-Put-tam sudah meringkal ketakutan.
Ia kira rahasia perbuatannya tidak mungkin diketahui orang, siapa tahu kini Po-giok menelanjangi perbuatannya, betapa kaget, ngeri dan takut hatinya saat itu.
"kau ... dari mana kau tahu?"
Mendadak ia sadar kelepasan omong, dengan suara gemetar lekas ia menambahkan.
"Tidak, aku tidak ..."
Sekali raih Po-giok rengut baju dadanya dan menjinjingnya dengan kasar, bentaknya beringas.
"Kamu masih ingin menipuku? Ketahuilah, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Waktu kau turun tangan, aku berada dalam tanah di bawah kakimu."
"Setan ...."
Mendadak Gui-Put-tam menjerit kaget dan takut.
"apakah kamu setan?"
"Betul,"
Desis Po-giok dengan tawa pedih.
"aku setan. Aku inilah setan yang disuruh Nyo-jit-siok untuk merengut sukmamu."
"Ampun ... ampunilah aku,"
Ratap Gui-Put-tam dengan suara memilukan.
"aku juga ditipu orang. Coba lihat, aku .. sekarang keadaanku juga amat menyedihkan."
"Ya, memang ingin kutanya padamu, mengapa kamu mendadak berubah menjadi kejam dan tega melakukan perbuatan terkutuk membunuh Nyo-jit-siok? Kenapa pula keadaanmu sekarang 435 jadi begini?"
Sekilas tampak senyum memilukan di ujung bibir Gui-Put-tam, mata tampak berkaca-kaca, tubuh gemetar makin keras, Pandangannya makin buram, mulut mengigau.
"Aku... aku sudah menunaikan tugas, kini tenagaku tidak diperlukan lagi, mereka ... tentu mereka tidak mau mengampuni jiwaku. Meski kutahu akan akhir nasibku ini dan sudah berjaga-jaga, tapi...tetap tak luput dari kekejian mereka."
"Sudah menunaikan tugas?"
Po-giok kaget.
"apakah ... apakah para paman itu benar dibunuh olehmu?"
"Aku memang harus mati.... Dosaku tidak .. terampun... menyesal pun sudah terlambat,"
Demikian ratap Gui-Put-tam dengan sedih. Bercucuran air mata Po-giok, bentaknya gusar.
"kau ...bayarlah jiwa mereka."
Tangan sudah terangkat, tapi melihat sorot mata Gui-Put-tam yang penuh derita dan sesal wajah pucat dan basah oleh air mata, tak tega ia memukulnya.
"Bunuhlah aku ... bunuhlah aku,"
Gui-Put-tam sesambatan dengan tangis yang memilukan.
"dengan membunuhku akan mengurangi dosa dan deritaku, aku ... jiwaku takkan tahan lama lagi ...."
Po-giok mengepal tinju, bentaknya dengan serak.
"Kenapa semua itu kau lakukan?"
"Karena tamak! Loba dan tamak telah menjerumuskan diriku,"
Ucap Gui-Put-tam dengan air mata meleleh.
"aku ... mengingkari sumpah terhadap guru yang memberi nama 'Put-tam' (tidak boleh tamak) terhadapku, biar mati aku malu menemui beliau di alam baka."
Agaknya rasa sakit tak tertahan lagi, saking menderita, jari-jari tangannya mencengkeram tanah tubuh pun mengejang.
Mendadak teringat oleh Po-giok suara yang amat dikenal dari tokoh misterius itu, serunya.
"Setelah kau bunuh Nyo-jit-siok di Kwi-kik-wan tempo hari, siapakah orang yang bicara denganmu?"
Rintihan Gui-Put-tam makin lirih, napasnya justru memburu lebih keras, mulutnya megap-megap tak mampu mengeluarkan suara lagi. Po-giok mencengkeram pundaknya.
"Siapa dia? Siapa?"
Mata Gui-Put-tam terpejam, bibirnya kering keadaannya sudah sekarat, tidak sadarkan diri.
Menjelang ajal, harta benda masih terbayang juga dalam benaknya, setelah Po-giok mengguncang-guncang tubuhnya, akhirnya mulutnya mengigau.
"Mutiara, emas, mutu manikam ... air...air..."
Saking gugup Po-giok tampar pipi orang seraya berteriak.
"He, bangun, bangun! Katakan siapa dia sebenarnya?"
Perlahan Gui-Put-tam membuka mata, dengan hambar dia menatap Po-giok.
"Dia ... dia ...."
Mendadak dia menarik napas, tubuh yang meringkal karena menahan rasa sakit lebih mengkeret, akhirnya kaku tak bergerak lagi.
Malam terasa makin dingin.
perlahan Po-giok berdiri, sekian lama dia termangu di depan jenazah Gui-Put-tam, waktu angin mengembus lalu, tanpa terasa dia bergidik kedinginan.
Mata yang semula buram tak bersemangat itu kini menyala seperti bara.
Sambil mengertak gigi, dia jinjing jenazah Gui-Put-tam lalu turun gunung.
Langkahnya lebar, tanpa menoleh lagi.
Meski jalan pegunungan jelek dan sukar, tiada aral rintang di dunia ini dapat membendung tekad Po-giok.
Di bawah gunung dia mencari suatu tempat yang cukup tersembunyi, di sana dia akan mengebumikan jenazah Gui-Put-tam.
Malam hening, mendadak terdengar suara manusia.
Po-giok baru saja membaringkan jenazah Gui-Put-tam dalam sebuah gua.
Mendadak ada cahaya api di luar gua.
Dari suara dan derap langkahnya, Po-giok menduga yang datang cukup banyak jumlahnya.
Suara makin jelas, cahaya api juga tambah terang, jelas tujuan mereka menuju ke gua ini.
Sekilas Po-giok bimbang, namun sigap sekali ia sembunyikan mayat Gui-Put-tam di tempat gelap, sementara dirinya menyelinap ke belakang batu.
Cahaya api sudah menyorot ke dalam gua, dua laki-laki mengangkat tinggi obor di atas kepala, dengan langkah lebar mereka masuk, sekilas mereka celingukan lalu berseru bersama.
"Betul, memang di sini tempatnya, gotong masuk."
Suara orang banyak mengiakan di luar, belasan laki-laki menggotong sebuah peti mati masuk ke dalam gua, peti mati itu masih baru, peliturnya mengkilap di bawah cahaya obor.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam ... tidak salah, memang enam,"
Demikian kata salah seorang pemikul peti mati itu.
"syukur semua sudah kita angkut kemari. Mereka sudah mampus seluruhnya, sebaliknya kita harus menderita karenanya."
"Ah, kenapa kau bilang begitu,"
Seorang temannya menanggapi.
"dalam keadaan biasa, memangnya kamu setimpal memikul peti jenazah mereka."
"Betul,"
Jengek laki-laki yang paling depan.
"siang tadi orang-orang itu masih disanjung puji bagai pendekar atau ksatria, tapi sekarang semua sudah mampus. Orang hidup punya derajat tinggi dan rendah, setelah mati sama rata, meski waktu hidupnya dia seorang pendekar besar, setelah mati dia juga dikubur dalam liang lahat yang sama."
"Sudahlah, kenapa ribut,"
Sela orang ketiga.
"tugas kita masih banyak, mungkin masih belasan korban lagi yang harus kita gotong kemari. Mendengar percakapan mereka, darah seperti mendidih di rongga dada Po-giok, ia maklum bahwa pertemuan di puncak Thai-san sudah mencapai taraf yang mencegangkan, terbukti dengan jatuhnya korban yang dikubur dalam gua ini. Diam-diam Po-giok amat menyesal bahwa orang banyak sudah pertaruhkan jiwa raga untuk memperebutkan "nomor wahid", sementara dirinya masih sembunyi dalam gua yang gelap ini. Seorang laki-laki yang membawa obor mendadak tertawa lebar, katanya.
"Tugas kita memang melelahkan, tapi banyak orang merasa iri terhadap kita."
"Apa yang mereka irikan?"
Tanya seorang lain.
"kurasa hanya orang gila yang iri terhadap kerja berat ini."
"Coba dengar dan buka lebar matamu,"
Kata laki-laki kekar pembawa obor itu.
"betapa banyak orang kini berkumpul di puncak Thai-san, mereka berjejal di luar kalangan, paling hanya mendengar denting senjata beradu atau berkelebatnya sinar pedang dan golok, siapa bisa menonton dengan jelas seperti kita yang boleh hilir-mudik, keluar-masuk dengan bebas, meski dia seorang pendekar besar juga harus menyingkir memberi jalan kepada kita. Memangnya apa pula yang harus kita sesalkan dengan tugas yang membanggakan ini. Ayolah kawan-kawan, lekas selesaikan, pertandingan masih berlangsung dengan seru, sayang kalau tidak bisa menonton pertarungan sengit itu."
Beramai-ramai rombongan pemikul peti mati beranjak keluar.
Dengan enteng, mendadak Po-giok melompat keluar dari tempat gelap, sekali tangan kiri mengebas, pemikul yang berjalan di belakang tertutuk tiga hiat-to di tubuhnya, tanpa mengeluarkan suara laki-laki ini roboh, sigap sekali Po-giok meraih tubuhnya terus diseret mundur cepat ia belejeti bajunya dan dipakainya.
Betapa cekatan gerak-gerik Po-giok, tiada satu pun rombongan pemikul itu tahu bahwa seorang temannya dikerjai oleh Po-giok, bergegas mereka beranjak pergi sambil bersenda gurau.
Po-giok seret tubuh orang itu ke samping batu, tak jauh dari mayat Gui-Put-tam, sejenak dia memanjatkan doa, tanpa terasa air mata meleleh di pipi, bergegas ia beranjak keluar menyusul rombongan pemikul tadi.
Kira-kira seminuman teh perjalanan, dari kejauhan terdengar suara riuh rendah, sorak-sorai bercampur tepuk tangan, entah pendekar ternama dari mana yang telah mengalahkan 437 lawannya.
Makin dekat ke tempat tujuan, perasaan Po-giok seperti makin ciut, darah panasnya justru makin mendidih, kedua tangan mengepal lebih keras.
Ketika rombongan para pemikul ini tiba di atas gunung.
Bulan purnama pun menghias cakrawala, sinar lampu dan obor terang benderang di tanah lapang yang berumput hijau seperti permadani.
Semangat Po-giok menyala, tapi kepala tunduk lebih rendah, meski mencampurkan diri dalam rombongan para pemikul itu, tapi dia tidak berani celingukan.
Mereka turun dari punggung gunung, penonton di sebelah sini juga berjubel-jubel, melihat rombongan mereka, tanpa diminta mereka menyingkir memberi jalan.
Para pemikul itu saling memegang pundak, seperti barisan ular saja mereka menyelinap ke depan di tengah kerumunan orang banyak.
Po-giok ikut berdesakan di tengah rombongan itu dan terus maju ke depan.
Hidungnya mengendus bau arak, bau keringat dan bau tembakau , sementara telinga mendengar pembicaraan orang banyak.
"Nah, lihat, Thian-siang-hwi-hoa (bunga berterbangan di angkasa) memang luar biasa, beruntun dia menang dua babak, padahal keringatnya belum keluar."
"Memangnya kenapa kalau sudah menang dua babak? Bukankah Thian-to Bwe-Kiam, Poa-Ce-sia, Siau-hoa-jio Be Cek-coan, Ciang-Jio-bin, Au-yang-thian-kiau dan lain-lain juga sudah menang dua babak."
"Ya, memang nasib mereka lagi baik, padahal Lu-Hun, Hi-Thoan-kah, Ing-Thi-ih kan belum unjuk diri, kalau mereka melawan beberapa orang ini, apa mereka mampu merebut kemenangan?"
"Bicara tentang orang-orang itu, aku jadi teringat kepada Pui-Po-giok ... He, saudara, pasanglah mata dan kupingmu kalau berjalan, jangan main desak saja. Hm, kalau tenaga kalian tidak diperlukan untuk menggotong mayat,umpama yang datang raja juga jangan harap kuberi jalan."
Di mana barisan ular rombongan pemikul itu lewat, penonton yang berdesakan itu menjadi ribut sama memaki dan berseloroh, suasana tambah ramai saja.
Sementara itu, beberapa laki-laki membawa ember, sedang mencuci noda darah di atas panggung, entah darah siapa yang berceceran di sana.
Tak jauh di pinggir kiri hui-tai (panggung pertandingan), terdapat sebuah meja bulat, enam atau tujuh orang duduk di belakang meja, rambut yang sudah ubanan, dengan wajah yang welas asih dan serius, siapa lagi dia kalau bukan Ting-lo-hu-jin.
Wajah nan merah bercahaya, dengan rambut putih tergelung rapi, di atas kepala, dia bukan lain adalah Bu-sia To-tiang.
Bertubuh kurus kering seperti kayu hangus, tapi berwajah tenang seperti air bening, itulah It-bok Tai-su, sedang yang duduk di pinggir dengan berkerut alis seperti dirundung susah, jelas dia Ban Cu-liang.
Hanya sekilas Po-giok melirik ke situ lalu menoleh ke kanan.
Di sebelah kanan hui-tai ternyata juga duduk beberapa orang.
Poa-Ce-sia yang bersikap wajar, selalu tertawa dan banyak omong.
Au-yang-thian-kiau membusung dada dengan sikap yang kereng.
Siau-hoa-jio Be Cek-coan bertubuh sedang kelihatan tangkas wajah pun berseri-seri.
Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin berpakaian necis, wajah putih bersih, alis tegak dan mata memandang ke atas, sikapnya congkak menyebalkan.
Sementara Thian-to (golok langit) Bwe-Kiam duduk menunduk, sibuk membersihkan golok sabitnya yang mengkilap itu, seolah-olah tidak ambil perhatian terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.
Sementara Thian-siang-hui-hoa Ling-Peng-hi yang digembar-gemborkan bakal menduduki tempat pertama, kelihatan duduk prihatin, bukan saja tidak bersikap angkuh, bangga atau puas sebaliknya sinar matanya menunjuk perasaan yang resah.
Beberapa orang yang lain kelihatan bersemangat, sorot mata mereka tetap menyala, jelas mereka orang gagah yang terkenal dan menjagoi daerah masing-masing, sayang Po-giok tidak kenal mereka.
Setelah berada di belakang panggung, mereka mulai sibuk kerja lagi.
Dari celah-celah tonggak panggung yang gede-gede itu, Po-giok lihat di depan panggung paling dekat juga duduk berkerumun banyak orang.
Orang-orang ini tidak ikut bertanding, namun mereka adalah para pendekar dan orang gagah yang sudah ternama di kang-ouw, adalah logis kalau kehadiran mereka di sini memperoleh prioritas yang tidak mungkin diperoleh orang lain.
Majikan Kwi-kik-wan Ce Sing-siu, Ban-tiok-san-ceng Ceng-cu, istri Au-yang-thian-kiau, putri kesayangan Ting-lo-hu-jin Ting-si-siang-kiat juga berada dalam rombongan ini.
Bila Po-giok lanjutkan pandangannya ke arah kiri, ia lihat beberapa orang yang selama ini sudah amat dirindukan.
Perawakan Thi-wah yang tinggi besar dan kekar, seperti burung bangau berdiri di tengah kerumunan ayam, kehadirannya paling menyolok di antara orang banyak, tapi pada wajahnya tidak kelihatan sikap jenaka, riang dan kocak seperti biasanya, kedua alis yang tebal itu malah berkerut erat.
Betapa rindunya terhadap sang "toa-ko"
Sedetik pun tidak terlupakan.
Kim Co-lim masih terus minum, tampaknya sudah beberapa hari dia tidak sadar, sikapnya loyo dan mukanya juga kurus.
Kecuali mabuk dan mabuk, entah dengan cara apa supaya dapat melupakan musibah dan deritanya selama ini.
Melihat kedua orang ini, jantung Po-giok seperti hendak melompat ke luar, tanpa terasa mata berkaca-kaca.
Lebih jauh dia juga menemukan Bok Put-kut dan Ciok-Put-wi.
Semula dia kira kedua orang ini sudah celaka, kini mendadak melihat mereka, betapa senang dan lega hatinya.
Namun wajah Bok Put-kut yang kelihatan kurus pucat dan lelah membuatnya terharu.
Untung masih ada Ciok-Put-wi yang kukuh dan tenang selalu mendampinginya, kalau tidak, ingin rasanya dia lari ke sana dan memeluk Toa-su-pek yang baik dan welas asih ini serta menangis sepuas-puasnya dalam pelukannya.
Pada saat Po-giok terlongong itulah, suara Ting-lo-hu-jin yang berwibawa berkumandang di atas panggung.
Hadirin seketika diam dan tenang.
"Sudah dua puluhan babak pertandingan diselesaikan, dalam sepuluh jurus sudah menentukan kalah menang, sungguh di luar dugaan, dari sini dapat kita simpulkan. bahwa kungfu para pemenang itu memang jauh lebih tinggi tarafnya. Bahwa dalam kang-ouw bermunculan jago-jago kosen yang masih muda usia, sungguh aku sangat senang."
Kata-katanya berat dan jelas, lahirnya dia bilang senang, padahal perasaannya amat berat dan prihatin. Setelah menghela napas, ia lanjutkan.
"Kini sudah memasuki babak kedua, kuyakin pesertanya adalah pilihan dari sekian banyak jago yang paling kosen, pihak mana pun yang terluka atau gugur merupakan kehilangan kaum Bu-lim umumnya. Oleh karena itu kami anjurkan, pada waktu tanding nanti, masing-masing pihak harap dapat membatasi diri, cukup menentukan kalah menang saja, hal ini akan merupakan keuntungan kaum Bu-lim seluruhnya."
Komentar itu dilontarkan dengan suara lantang, dengan tulus dan luhur, namun jago-jago yang siap bertanding tetap sibuk membersihkan senjata masing-masing, yang termenung tetap termenung, yang tertunduk juga tidak mengangkat kepala, seolah-olah tiada seorang pun peduli nasihat itu.
Sekilas Ting-lo-hu-jin memandang sekeliling, lalu menghela napas panjang.
"Baiklah, untuk menyingkat waktu, babak kedua kita lanjutkan. Untuk ronde pertama, yang akan tampil adalah Tin-thian-pi-lik Kho Tiu melawan Giok-bin-kiam-khek Sun Cau."
Tin-thian-pi-lik Kho-Tiu berperawakan tegap dan besar, sikapnya yang kereng menciutkan nyali orang, berpakaian ketat terbuat dari sutera, golok berpunggung tebal yang berat dan panjang 439 seperti mainan kanak-kanak saja baginya.
Giok-bin-kiam-khek Sun-Cau berwajah putih kepucat-pucatan, kaki tangannya kelihatan halus, alisnya lentik matanya jeli.
meski sikap dan wajahnya tampak gagah tapi tindak-tanduknya yang lembut lebih mirip orang perempuan.
Seolah-olah kedua orang itu sudah ditakdirkan untuk bermusuhan, yang satu keras dan yang lain lemas.
Tapi kaum Bu-lim sama tahu bahwa kedua orang ini adalah sahabat kental.
Namun nasib mempertemukan mereka di atas hun-tai, hadirin tertarik, semua ingin tahu, apakah dua sahabat karib ini akan saling bunuh atau mau mengalah?
"Sun-heng, silakan memberi petunjuk."
Kho Tiu buka suara dengan lantang. Sun Cau tersenyum.
"Kho-heng, mohon belas kasihanmu."
Belum habis bicara.
Kaki kiri mendadak menyilang ke pinggir, pedang yang terangkat lurus di depan dada mendadak terayun ke depan.
Kelihatan jurus pedang ini ganas lagi cepat, padahal gerakan itu hanya merupakan pemberian hormat kepada Kho Tiu.
Kho Tiu menekan telapak tangan kiri ke bawah, begitu lengan bergerak golok pun terayun, gaya ini pun merupakan tanda hormat.
Mereka saling pandang sekejap lalu mengangguk bersama pula, setelah itu keduanya bergerak dengan lincah dan tangkas, sinar golok dan cahaya pedang berseliweran, turun-naik berputar memenuhi panggung.
Belasan jurus kemudian, hadirin sudah tahu bahwa kedua orang yang bertanding ini tiada maksud berebut kemenangan, gerak pedang dan serangan golok memang kelihaian keras dan lihai, tapi keduanya tidak sepenuh tenaga melontarkan serangan.
Siapa bakal kalah dan menang pada ronde pertama di babak kedua ini seolah-olah sudah ada perjanjian.
Bahwa mereka bertarung di atas lui-tai tidak lebih hanya untuk pamer kepandaian belaka.
Ilmu pedang Sun Can memang lihai, permainan golok Kho Tiu juga hebat.
Tapi hadirin menjadi sebal menonton pertandingan yang tidak sungguh-sungguh ini, lama kelamaan pcnonton menjadi ribut, ada yang melengos dan bicara sendiri dengan kawan-kawan.
Hanya Ting-lo-hujin saja yang tampak manggut-manggut dengan tersenyum puas.
Sekonyong-konyong sinar pedang lembayung menggubat sinar golok.
"Trang"
Pedang dan golok beradu dengan keras.
Di tengah benturan keras itu pedang di tangan Sun Cau tampak mencelat ke udara.
Hadirin melengong, Kho Tiu sendiri juga kaget, sinar matanya tampak menyesal dan minta maaf, jelas dia tidak sengaja membuat malu Sun Cau di depan umum.
Tapi gerak-gerik Sun Cau cukup cekatan, reaksinya juga cepat, baru saja pedangnya terlepas, tiba-tiba tubuhnya melayang tinggi mengejar pedang.
"crap,"
Baru saja pedang menancap di belandar panggung, sekali raih lantas dicabutnya.
Tampak mukanya merah padam, bola matanya juga merah membara saking murka, karena malu ia menjadi gusar.
Begitu pedang berada di tangan, di tengah udara ia jungkir balik, menukik turun dan menerjang ke arah Kho Tiu.
Saking gusar Sun Cau melancarkan jurus paling ganas dari Loh-ing-kiam-hoat.
Kecuali menyesal Kho Tiu juga kaget menghadapi reaksi kawannya, maka ia berdiri kaku seperti tidak mampu bergerak.
Di tengah jeritan kaget para penonton, sinar pedang pun berkelebat, menyusul terdengar jeritan Kho Tiu yang mengerikan, darah pun berhamburan, Kho Tiu roboh mandi darah.
Pedang Sun Can menusuk leher kiri, tembus di ketiak kanan, sekali tusuk menamatkan jiwanya.
Penonton hanya melongo mengawasi musibah yang tidak terduga ini mereka yang duduk berjingkrak berdiri, yang berdiri ingin menyerbu ke atas panggung.
Pedang masih menancap di 440 tubuh Kho Tiu.
Giok-bin-kiam-khek Sun Cau berdiri kaku di tempatnya, wajah yang pucat menjadi lebih putih.
darah sahabatnya muncrat membasahi pakaian dan selebar mukanya.
Suasana hening lelap.
Terdengar Kho Tiu merintih perlahan, napas berat dan makin lemah.
Sekuatnya ia meronta.
"Aku ... tidak sengaja ...."
Suara yang gemetar mendadak putus. Riwayat hidupnya yang cemerlang selama ini berakhir begitu saja. Mendadak Sun Cau mendongak sambil berloroh-loroh.
"Bagus ... matilah semuanya..."
Di tengah loroh tawanya yang serak, mendadak pedang dicabutnya, sekali putar ujung pedang, sekuatnya ia tusuk tenggorokan sendiri.
Di belakang panggung, Po-giok angkat jenazah kedua orang ini ke dalam peti mati.
Betapa duka dan haru hatinya saat itu, rasanya tidak tega menyaksikan lebih lanjut.
Tapi pertandingan tidak berhenti karena jatuhnya korban, darah masih terus mengalir.
"Ronde kedua!"
Teriak Ting-lo-hu-jin dengan suara parau menahan sedih.
"Kiu-lian-hoan Ci Gai melawan juragan peternakan. Thian-kiau Au-yang-tai-hiap."
Sebagai ketua sebuah aliran yang disegani, Au-yang-thian-kiau memang memiliki wibawa yang tidak dimiliki orang lain, dengan langkah tegap dan mantap dia beranjak ke atas panggung.
Sementara Kiu-lian-hoan Ci Gai sudah mendahului melompat tinggi hinggap di atas panggung gin-kang nya memang sudah lama terkenal, gerak-geriknya enteng dan cekatan, penonton menyambutnya dengan tepuk sorak riuh rendah.
Ci Gai sudah berdiri di atas panggung, menginjak noda darah di antara celah-celah panggung, mengawasi Au-yang-thian-kiau yang sedang berjalan ke atas panggung.
Entah kenapa perasaannya mendadak mendelu, setiap langkah Au-yang-thian-kiau yang mantap itu ternyata menjadikan nyalinya menjadi ciut dan gentar.
"Ci-tai-hiap,"
Sapa Au-yang-thian-kiau sambil menjura.
"silakan mulai!"
Kebetulan Ci Gai berdiri menghadap rembulan yang memancarkan cahayanya, pandangannya kelihatan hampa, apa yang diucapkan Au-yang-thian-kiau seperti tidak terdengar olehnya.
Berkerut alis Au-yang-thian-kiau, katanya bersungut.
"Ci-tai-hiap, apalagi yang kau tunggu, silakan menyerang lebih dulu."
Mendadak Ci Gai bergelak tawa.
"Bergebrak maksudmu? Kenapa aku harus menyerangmu? Apa yang harus aku rebutkan denganmu? Memangnya kenapa kalau kalah? Bagaimana pula kalau menang ..."
Di tengah gelak tawanya, ia melangkah lebar dan turun panggung, melirik pun tidak kepada Auyang-thian-kiau.
Kaget lagi heran, Au-yang-thian-kiau melengong mengawasi punggung orang.
perlahan Ting-lo-hu-jin berdiri, dengan suara berat dia berseru.
"Ronde kedua dimenangkan oleh Au-yang-tai-hiap."
Au-yang-thian-kiau berputar lalu melangkah turun, sikapnya tidak berubah, langkahnya tetap mantap, tapi entah perasaannya? Suara Ting-lo-hu-jin yang bernada berat mencekam perasaan seluruh hadirin.
"Ronde ketiga, Ce-sia melawan Ong-Liat-hwe!"
Cepat sekali Poa-Ce-sia dan Ong-Liat-hwe sudah berhadapan di atas panggung.
Poa-Ce-sia sudah menang dua ronde, namun sikap dan semangatnya masih menyala, tangannya menggenggam Go-kau -kiam, cahaya pedang cemerlang seperti sinar matanya yang binar.
Hwe-lui-cu Ong-Liat-hwe tidak sesuai namanya yang "Liat-hwe" (bara api), wajahnya putih kaku seperti mayat, sikapnya dingin tidak mirip api yang membara.
Senjatanya adalah sebatang ruyung lemas panjang dan hitam gelap.
Ruyung itu dinamakan Lui-cu-sin-hwe-pia.
Ruyung lemas milik Ong-Liat-hwe ini adalah salah satu dari ke-13 jenis senjata yang terkenal di dunia, konon ruyung panjang itu tersusun sebanyak tiga belas ruas yang mirip bambu, setiap ruas ruyung mempunyai keistimewaan luar biasa untuk merengut sukma dan mencopot jiwa musuh.
Dalam pertandingan ini, kecuali mengandalkan permainan Hwe-hun-cap-sah-pian yang lihai lagi aneh untuk merebut kemenangan, tidak mungkin ia mengembangkan keistimewaan Lui-cu-sin-hwe-pian andalannya itu.
Dalam pertemuan besar di puncak Thai-san ini sudah berulang kali diperingatkan oleh penyelenggara, semua peserta dilarang menggunakan senjata rahasia.
Kehadiran Ting-lo-hujin, Ban Cu-liang dan para pendekar ternama lainnya adalah sebagai pengawas dan penegak keadilan, memberi keputusan akhir hasil pertandingan yang berlangsung.
Poa-Ce-sia tersenyum ramah, katanya sambil soja.
"Sejak berpisah di Ce-sia, tanpa terasa tiga tahun sudah lalu. Apakah selama ini Ong-heng baik-baik saja?"
Membesi kaku muka Ong-Liat-hwe, katanya dingin.
"Lui-tai ini dibuka untuk merebut kalah dan menang. Di sini bukan tempat mengobrol silakan memberi petunjuk."
Poa-Ce-sia tetap tersenyum.
"Baiklah, boleh Ong-heng mulai lebih dulu."
Lalu ia mundur dua langkah, pedang terangkat di depan dada, tiga jari tangan kiri menekan ujung pedang, sebelum mulai gebrak dia unjuk hormat lebih dulu.
Tanpa bicara Ong-Liat-hwe mengayun miring ruyung panjangnya menyerang tenggorokan lawan.
Sikapnya sombong dan pongah, ternyata permainan ruyungnya memang lihai, jurus ini dinamakan Lui-hwe-jut-tang, gerakannya kelihatan biasa, namun sedahsyat geledek menggelegar.
Tampak sinar hitam berkelebat disertai deru angin yang keras, ruyung panjang itu tahu-tahu sudah tiga senti di depan leher Poa-Ce-sia.
Poa-Ce-sia tidak bergeming, tanpa menggeser kaki, pedang mendadak menyendal ke depan, dengan menyerang dia mempertahankan diri.
Di mana sinar hijau berkelebat, bahu Ong-Liat-hwe menjadi sasaran ujung pedang.
"Serangan bagus!"
Bentak Ong-Liat-hwe.
Bayangan gelap ruyung itu sesuai namanya, yaitu mega api yang mengurung bayangan tubuh Poa-Ce-sia, panggung pertandingan itu pun seperti terbungkus oleh bayang-bayang gelap yang membawa deru angin tajam.
Penonton yang berada paling depan tersampuk angin keras menyayat.
Poa-Ce-sia tetap bersikap tenang dan mantap pedang bergerak lincah dan tangkas, menebas menusuk, menutuk atau menyolok, di mana sinar hijau bergerak, selincah ular sakti membendung rangsakan ruyung lawan.
Penonton bertepuk dan bersorak memberi semangat, begitu tegang pertarungan sengit ini sehingga seluruh perhatian tumplek ke arah panggung.
It-bok Tai-su bergumam.
"Omitohud! Sian cai Go-kau -kiam yang bagus, Sejak Peng-si-heng-te meninggal beberapa tahun yang lalu, sudah lama aku tidak menyaksikan permainan Go-kau -kiam-hoat selihai ini."
Ban Cu-liang ikut memberi komentar.
"Yang lebih hebat adalah dengan sebatang pedang ganco itu dia mampu melancarkan serangan yang dilandasi tenaga murni, sungguh kepandaian yang harus dipuji."
Ting-lo-hu-jin juga menghela napas gegetun.
"Kalau dia tidak menaruh belas kasihan, sejak tadi Ong-tai-hiap tentu sudah dikalahkan, Bukan saja kaum Bu-lim terlalu rendah menilai kekuatannya, dahulu aku pun teramat meremehkan dia. Kini baru kita melihat secara nyata, kalau dinilai permainan kungfu sejati, taraf kepandaian Poa-Ce-sia mungkin tidak lebih rendah dibanding Ling-Peng-hi, Bwe-Kiam dan lain-lain. Bila beberapa orang ini nanti turun ke gelanggang, betapa tegang pertarungan mereka tentu jauh di luar perkiraan orang banyak."
"Pertemuan di puncak Thai-san ini adalah pertandingan antara singa dan harimau."
Demikian gumam It-bok Tai-su.
"Menurut pendapatku, dari sekian hadirin yang ada di sini, bukan cuma beberapa orang itu saja yang belum menunjukkan kemampuannya yang hebat."
Sementara itu, muka Ong-Liat-hwe yang pucat dan kaku itu kini sudah bermandi keringat.
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 3
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 9