Eps 9 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.
Walau permainan ruyungnya masih gencar dan dahsyat, tapi para ahli sudah melihat, dia hampir kehabisan tenaga, berapa lama dia kuat bertahan lagi?
"Ong-heng,"
Ucap Poa-Ce-sia perlahan.
"kalau setuju, bagaimana kalau kita akhiri pertarungan ini, supaya ...."
"Kentut!"
Hardik Ong-Liat-hwe gusar. Mendadak ia melompat tinggi ke udara, pergelangan tangan bergetar keras, di tengah bayangan ruyung hitamnya, tiga butir mutiara hitam mendadak melesat keluar.
"Awas, Hwe-lai-cu!"
Penonton yang bermata jeli berteriak kaget dan kuatir.
"Ong-tai-hiap,"
Bentak Ting-lo-hu-jin.
"dilarang menggunakan senjata rahasia."
Sayang peringatan itu terlambat. Mutiara hitam itu sudah berada di depan Poa-Ce-sia. Poa-Ce-sia juga berjingkat kaget, secara refleks pedang bergerak hendak menyampuk mutiara itu.
"He, jangan disentuh!"
Ban Cu-liang ikut berteriak memperingatkan.
Tapi tiga kali ledakan keras disertai percikan api sudah melanda panggung pertandingan.
Api seketika menjilat tubuh Poa-Ce-sia.
Saking kaget Poa-Ce-sia langsung menjatuhkan diri berguling di atas panggung.
"Lari ke mana?"
Bentak Ong-Liat-hwe memburu maju, berbaring ruyung terayun pula, mukanya beringas, matanya melotot, hasratnya ingin membunuh Poa-Ce-sia.
"Berhenti!"
Ting-lo-hu-jin dan Ban Cu-liang berseru, serempak mereka melompat ke arah lui-tai.
Sayang jarak mereka agak jauh, meski cepat gerakan mereka, jelas tak keburu mencegah perbuatan Ong-Liat-hwe yang melanggar peraturan.
Pada saat genting itulah, mendadak sesosok bayangan menerobos maju, hanya satu langkah ia bergerak, tahu-tahu sudah berada di depan panggung, sekali ulur tangan Poa-Ce-sia berhasil diraihnya dan luput dari hajaran ruyung musuh.
Terlambat sedetik saja jiwa Poa-Ce-sia tentu sudah melayang.
Agaknya kepandaian laki-laki gede ini amat lihai, bukan hanya gin-kang nya tinggi, begitu telapak tangan menekan panggung, tubuhnya yang besar mendadak jumpalitan ke atas.
"blang", tahu-tahu seorang laki-laki besar sudah berdiri di atas panggung. Di tengah jeritan kaget hadirin, Ong-Liat-hwe menyurut mundur dua langkah dengan kaget dan gusar. Tinggi laki-laki ini delapan kaki, mukanya hitam legam. Ong-Liat-hwe hanya tahu laki-laki dogol ini datang bersama Ban Cu-liang dan Bok-Put-kut.
"Kerbau dungu,"
Dampratnya gusar.
"kamu juga ingin mampus di sini. Gu-Thi-wah balas membentak.
"He, bocah cilik. seorang eng-hiong pantang bermain licik. Ayolah, boleh kau gunakan pecutmu menghajar tuan besarmu ini."
"Keparat,"
Ong-Liat-hwe mengumpat gusar.
"kamu ingin mampus!"
Ruyung berputar tiga kali dan menyabet dengan dahsyat.
Gu Thi-wah berdiri tenang, tidak menyingkir atau berkelit, begitu ruyung datang ia ulur tangan menangkap ujungnya, sekali sendal ia rebut senjata lawan.
Mimpi pun Ong-Liat-hwe tidak menyangka ada orang mampu dan tahan menghadapi serangan ruyungnya dengan tangan kosong.
Tidak terbayang pula olehnya bahwa orang ini memiliki 443 tenaga besar, sekuatnya ia bertahan dan menarik ruyungnya, bukannya ruyung lepas, telapak tangan sendiri malah tergetar pecah berdarah.
Gu Thi-wah terbahak-bahak.
Ingin aku lihat permainan setan apa yang ada di dalam ruyung keparat ini."
Hanya beberapa kali gulung dengan telapak tangan, ruyung besi beruas itu telah dibuatnya menjadi bundaran seperti gelang.
Sudah tentu belasan butir Hwe-lui-cu yang ada di dalamnya berjatuhan.
Dalam pada itu, Ting-lo-hu-jin, Ban Cu-liang dan It-bok Tai-su sudah berada di atas panggung.
Menyaksikan betapa hebat kekuatan Gu Thi-wah, mereka tertegun.
"Wah, celaka!"
Ban Cu-liang mendahului berteriak, sigap sekali dia sobek lengan baju terus mengebas ke sana.
Dengan enteng sobekan lengan baju itu menggulung Hwe-lui-cu terus melayang ke sana meninggalkan panggung.
Bu-ceng-kong-cu Ciang-Jio-bin melompat maju, lengan bajunya yang panjang juga dikebaskan perlahan, sobekan lengan baju yang menggulung Hwe-lui-ciu seperti di dorong ke depan, terbang ke bawah jurang.
Beberapa kejap kemudian berkumandanglah ledakan keras di bawah sana.
Melihat betapa hebat kekuatan telapak tangan Thi-wah, pucat dan ciut nyali Ong-Liat-hwe, saking takut cepat ia putar tubuh hendak melarikan diri.
Tahu-tahu sebuah telapak tangan segede kipas mencengkeram pundaknya, sudah tentu ia tidak berani menangkis, sambil mendak kedua tangan berputar setengah lingkar terus menyodok ke lambung lawan.
Dengan kelincahan gerak tubuh dia berusaha mengalahkan lawan yang dibekali kekuatan raksasa ini.
Di luar dugaan, cengkeraman Thi-wah itu hanya gertak sambel, sigap sekali ia melejit ke sana, tahu-tahu ia sudah berada di sebelah kiri Ong-Liat-hwe.
Tangan kanan menyapu miring menyerang kedua lutut Ong-Liat-hwe.
Beberapa tahun ia ikut si orang tua Ciu Hong, meski hanya beberapa jurus saja ia belajar, tapi beberapa jurus pelajaran kungfu itu sudah apal dan mahir sekali, sudah tentu permainannya cukup hebat.
Tidak terbayang oleh Ong-Liat-hwe bahwa laki-laki segede Thi-wah ternyata dapat bergerak selincah kelinci, apalagi gerak tangan dan langkahnya pun luar biasa.
Melihat tangan lawan menyapu tiba, lekas dia menahan tangan segede gada itu berbareng melompat mundur untuk lari.
Siapa tahu tangan kiri Thi-wah sudah siap menunggu, begitu ia mundur, Thi-wah membentak sekali, sekali raih ia tarik tubuh orang terus dikempit di bawah ketiak.
Sambil mengempit Ong-Liat-hwe, Gu Thi-wah melangkah turun ke bawah panggung.
Sorak-sorai penonton seperti tidak didengar, perhatiannya tertuju kepada lawannya.
"Bocah keparat, dengan akal licik kau celakai orang she Poa, lekas mohon ampun padanya."
Ting-lo-hu-jin saling pandang dengan It-bok Tai-su.
Ban Cu-liang mengawasi perawakan Thi-wah yang tinggi besar itu, hatinya diliputi rasa senang dan haru.
Yang paling senang dan haru sudah tentu Pui-Po-giok, diam-diam ia saksikan saudara yang dicintainya ini telah memperlihatkan kemahirannya di depan umum.
Mendengar sorak-sorai penonton, hatinya lebih senang dan lega daripada diri sendiri yang memperoleh pujian itu.
Tanpa terasa air mata berkaca-kaca di kelopak matanya.
Ketika suasana tenang kembali, sementara itu Siau-hoa-jio Be Cek-coan dan Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin sudah berhadapan di atas panggung.
Be Cek-coan berbaju sutera dengan rambut digelung di atas kepala, wajahnya yang putih halus mirip batu jade yang indah.
Ciang-Jio-bin juga berpakaian perlente, sikapnya gagah.
Kedua orang ini lebih mirip peragawan yang lagi pamer pakaian dibanding tokoh silat yang siap berlaga di arena pertandingan.
"Apa betul kamu ingin bergebrak dengan aku?"
Mendadak Ciang-Jio-bin tanya dengan perlahan "Sudah tentu betul!"
Sahut Be Cek-coan pendek. Senyum ejek berkelebat sekilas di ujung mulut Ciang-Jio-bin.
"Mana mungkin kamu bisa bergebrak denganku? Kamu tidak takut ..."
Merah muka Be Cek-coan, tukasnya kasar.
"Di atas lui-tai tidak perlu cerewet. Lihat serangan!"
Padahal waktu mulutnya mengucap "cerewet"
Tombak perak di tangannya sudah menyerang lebih dulu.
Begitu ilmu tombak perak dilancarkan, bunga perak segera bertaburan di atas panggung.
Ciang-Jio-bin bersenjata kipas lempit tulang besi.
Pendekar muda yang terkenal di daerahnya ini ternyata mampu memainkan kipasnya dengan tangkas banyak variasi.
Kipas lempit itu bisa digunakan sebagai Boan-koan-pit untuk menutuk Hiat-to, juga dapat digunakan sebagai golok atau pedang.
Sekaligus Ciang-Jio-bin memperlihatkan aneka ragam permainan kipasnya secara mahir, keji dan ganas.
Dengan tombak perak kemilau, Siau-hoa-jio putar senjatanya membentuk lingkaran sinar yang kukuh, lawan tidak diberi kesempatan untuk mendesak maju lebih dekat.
Sebaliknya dengan mengembangkan ketangkasan langkah dan permainan kipas, Ciang-Jio-bin terus merangsek dengan sengit.
Ia tahu bila dirinya tidak mampu menyelinap ke tengah pertahanan lawan, bagaimana dirinya mampu mengalahkan lawan.
Perlu diketahui, dalam hal senjata, lebih panjang lebih kuat, lebih pendek lebih berbahaya.
Sejak jaman dahulu tombak dianggap sebagai kakek moyang berbagai macam senjata, merupakan senjata yang paling kuat dan tangguh dari segala jenisnya.
Sedang kipas lempit bertulang besi yang dimainkan Ciang-Jio-bin merupakan senjata terpendek yang paling berbahaya dengan jurus serangan lihai yang bervariasi.
Betapa hebat kipas besi itu di tangannya, penonton menjadi tegang dan mengikuti pertempuran sengit ini dengan pesona.
Mendadak Be Cek-coan menghardik sekali, ujung tombak bergetar dengan tusukan berantun, ronce merah juga tampak bergoyang, bayangan berkembang beberapa kaki di seputar gelanggang, padahal sasarannya adalah tenggorokan Ciang-Jio-bin.
Jurus "bunga langit bertaburan"
Ini adalah serangan terlihai dari Be-keh-jio-hoat yang terkenal itu.
Melihat ujung tombak menusuk tiba, Ciang-Jio-bin ternyata tidak berkelit atau menyingkir, matanya menatap ujung tombak, sementara kipas lempit di tangan ikut bergetar mengikuti gerakan ujung tombak lawan.
"Ting", mendadak ujung kipas menutul ujung tombak, dari sini terbukti perbedaan kekuatan pergelangan tangan kedua orang yang bertanding ini. Begitu tombak dan kipas beradu, meski tidak sampai terlepas, tapi tombak terpental ke atas. Sejurus memperoleh angin Bu-ceng-kong-cu yang tidak kenal kasihan ini tidak memberi kesempatan lagi kepada lawan, tangan putar kipas hingga berkembang laksana segumpal mega mendadak menebas ke arah Be Cek-coan. Be Cek-coan kaget, lekas dia mendak ke bawah sambil mengeret kepala, berusaha menyelamatkan diri. Tapi Ciang-Jio-bin sudah mendesak maju mana mungkin dapat menyelamatkan diri? "Ting", terdengar sekali lagi benturan, tusuk kundai yang menggelung rambut di atas kepalanya tergetar hancur. Hadirin terbeliak kaget, semua menyangka Ciang-Jio-bin telah turun tangan keji. Bukan hanya merobohkan lawan, tapi sekaligus menebas putus lehernya. Di luar dugaan. setelah berhasil membuat lawan mundur gelagapan, ia pun mundur beberapa kaki, kipas di tangan bergoyang perlahan, wajah seperti tertawa tidak tidak tertawa, dengan tajam ia mengawasi Be Cek-coan. Rambut Be Cek-coan terlepas dan terurai. Saking kaget ia berdiri termangu, wajah sebentar pucat sebentar merah. Seorang penonton mendadak berteriak.
"Haya, Siau-hoa-jio ternyata betina!"
Baru sadar para hadirin.
"O, kiranya itulah rahasianya."
Demikian batin mereka. Be Cek-coan malu lagi gusar, air mata berlinang-linang. Dengan ujung tombak ia tuding Ciang-Jio-bin, serunya gemas.
"Bagus kau , sungguh tak nyana kau berani menghinaku, aku ... aku ... benci..."
Ciang-Jio-bin tertawa kalem.
"Apa yang sudah aku lakukan terhadapmu? Kenapa kamu benci padaku. Aku hanya ingin supaya para kawan tahu, Siau-hoa-jio Be-tai-hiap sebetulnya seorang perempuan."
Be Cek-coan mengentak kaki.
"Memangnya kenapa kalau perempuan? Memangnya perempuan bukan manusia? Laki perempuan kan sama saja, apa yang bisa dilakukan laki-laki. juga bisa dilakukan perempuan."
Ciang-Jio-bin menjengek.
"Laki-laki boleh berkelana di kang-ouw. Apa perempuan bisa?"
"Kenapa tidak bisa? Siapa bilang tidak bisa?"
Bantah Be Cek-coan bertolak pinggang.
"Dalam hotel yang penuh sesak, lelaki boleh tidur campur dan berdesakan, apakah perempuan mau? Di daerah gersang yang tiada airnya, laki-laki bisa mandi bersama orang banyak, apakah perempuan ...."
"Kentut, kentut! Semua itu bukan alasan."
"Kalau itu bukan alasan, kalau laki dan perempuan sama, kenapa pula kau pinjam nama engkohmu, menyamar jadi lelaki terjun di gelanggang untuk berebut pahala?"
Be Cek-coan melengong.
"Ini ... ini ..."
Karena kalah berdebat, air mata bercucuran kembali Be Cek-coan mengentak kaki.
"Baiklah, kamu keparat busuk ini, aku ... akan ke rumahmu, menyampaikan hal ini kepada ibumu."
Habis bicara ia lompat mundur lalu lari meninggalkan gelanggang.
Di samping heran, hadirin juga geli mendengar percakapan mereka.
Maka pecahlah gelak tawa orang banyak.
Ting-lo-hu-jin terbatuk-batuk, katanya sambil menahan geli.
"Ronde keempat dimenangkan oleh Ciang-Jio-bin Ciang-tai-hiap. Ronde kelima akan berhadap Thian-to Bwe-Kiam dengan Kiling-tiap Pui Tiang-tang. Pui-tai-hiap."
Mendengar nama Thian-to Bwe-Kiam disebut, hadirin seketika menjadi hening.
Nama besar dan disegani ini seolah-olah mengandung kekuatan iblis, seperti melambangkan golok kilat, membacok, darah muncrat dan jiwa melayang.
Kalau golok itu berkilauan, cepat, tegas dan tajam.
Kampak itu justru berat, kuat dan kelihatan lambat serta kaku.
Tapi sinar golok hanya berkelebat sekali, dua kali dan tiga kali.
Lawan yang bersenjata kampak itu seketika roboh.
Tiada jeritan kaget, tanpa sorak pujian.
Seluruh penonton terpesona oleh permainan golok Bwe-Kiam yang hebat, tidak kenal kasihan.
Mereka lupa memberi tepuk sorak.
Dari kantung bajunya Bwe-Kiam mengeluarkan sapu tangan sutera, dengan kalem ia membersihkan darah ujung pedangnya.
Sikapnya kaku, tenang dan wajar, tidak ada perubahan sedikit pun.
"Tiga jurus, hanya tiga jurus!"
It-bok Tai-su bergumam.
"Tiada satu jurus serangan disia-siakan. Pada saat menyerang dan membunuh musuh, dia tidak pernah membuang tenaga secara percuma."
"Ya, ilmu goloknya jelas bukan ajaran murni dari Tiong-goan."
Ting-lo-hu-jin menanggapi.
"Ya. ilmu golok itu mungkin dari aliran Tang-ing (negeri Jepang sekarang). Di antara ilmu golok yang tersebar luas di negeri kita, umpama ada yang mengandung gerakan ganas dan kaku, sedikit banyak masih mengandung seni dan kenal kasihan. Ilmu goloknya justru lepas dari unsur seni, ilmu golok itu diciptakan khusus untuk membunuh orang. Walau ilmu golok itu amat 446 hebat, tepat dan ganas, tapi hanya orang rendah saja yang mempelajarinya. Ilmu golok itu mengutamakan kekuatan dan manfaat, berguna untuk orang yang meyakinkan, umpama berhasil mencapai puncaknya, aku tetap memandangnya rendah."
"Em, permainan golok Bwe-tai-hiap itu mengingatkan aku akan seseorang,"
Ban Cu-liang menimbrung bicara.
"Siapa?"
Tanya Ting-lo-hu-jin. Kalem suara Ban Cu-liang.
"Tang-hai Pek-ih-jin (si baju putih dari lautan timur)."
Diam sebentar, akhirnya Ting-lo-hu-jin berkata.
"Betul! Sepak terjang Bwe-tai-hiap memang agak mirip Tang-hai Pek-ih-jin. Mungkin karena kedua orang ini berasal dari Tang-ing."
"kaum pesilat di Tang-ing mempunyai semangat baja untuk berkorban demi menegakkan kejayaan ilmu yang diyakinkan. Sebelum belajar ilmu, dia harus siap untuk mati, oleh karena itu membunuh orang dianggap sebagai hal yang layak."
Sementara itu jenazah sudah digotong turun, noda darah juga sudah dibersihkan.
"Ronde kelima dimenangkan oleh Bwe-tai-hiap,"
Demikian Ting-lo-hu-jin tarik suara pula.
"Ronde keenam, inilah ronde terakhir babak kedua. Thian-siang-hwi-hoa Ling-Peng-hi ..."
Sampai di sini berhenti, sikapnya rikuh dan serba salah. Sambil tertawa dingin Ling-Peng-hi berdiri, dengan kalem ia melangkah ke depan panggung katanya dengan suara dingin.
"Menurut hitungan peserta yang harus bertanding di babak kedua ini tinggal sebelas orang saja. Maka dalam ronde ketiga ini sebetulnya aku tidak memperoleh lawan, dan ini adalah keputusan hasil undian. Bukan aku sengaja ingin menarik keuntungan ... tapi Hu-jin tadi bilang, aku harus turun gelanggang dengan seorang lawan. Mohon tanya siapakah lawanku? Dan dari mana?"
Ting-lo-hu-jin bimbang sejenak. lalu berkata dengan perlahan.
"Apa yang diucapkan Ling-taihiap memang betul. Lawan Ling-tai-hiap pada ronde ini memang datang terlambat, tapi dia adalah seorang pendekar ternama. Karena suatu persoalan penting terpaksa dia terlambat tiba di sini."
Thian-siang-hwi-hoa Ling-Peng-hi tertawa dingin.
"Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Hu-jin ..."
Pandangannya menyapu ke arah hadirin, lalu melanjutkan.
"Umpama betul lawanku seorang pendekar besar ternama, umpama karena suatu hal yang mendesak ia datang terlambat lalu bolehkah ia ikut bertanding tanpa mengikuti babak penyisihan. Yang pasti aku sudah dua kali bertanding, calon penantangku itu masih segar bugar. Kalau pertandingan harus diteruskan, bukankah melanggar aturan dan tata tertib pertandingan. Hu-jin sebagai ketua pelaksana yang mengatur dan menentukan aturan pertandingan itu, kenapa sekarang justru melanggarnya!"
Ting-Hu-jin menghela napas.
"Memang hari aku akui bahwa hal ini melanggar aturan. Tapi aturan pertandingan itu sendiri kadang kala bisa diubah mengikuti perubahan keadaan, jadi bukan sengaja dilanggar."
"Nah, untuk itulah aku mohon petunjuk. Kenapa aturan pertandingan justru diubah karena orang itu? Apa yang diandalkan? Mohon Hu-jin menjelaskan."
"Karena apa yang dilakukan orang itu adalah untuk kepentingan seluruh kaum persilatan. Apalagi tenaga yang telah ia keluarkan, pertempuran yang sudah dilakukan, pasti tidak lebih ringan dari pertandingan dua babak yang telah Ling-tai-hiap lakukan. Oleh karena itu, setelah kami rundingkan bersama It-bok Tai-su dan lain-lain kami memutuskan untuk melanggar aturan pertandingan,"
Demikian penjelasan Ting-lo-hu-jin. Ban Cu-liang. It-bok Tai-su dan lain-lain segera berdiri. It-bok Tai-su berkata.
"Dengan nama kebesaran kedudukan kita berenam, berani kami bertanggung jawab bahwa apa yang dikatakan Ting-lo-hu-jin barusan memang benar dan nanti boleh dibuktikan."
Betapa besar wibawa keenam pendekar ini, betapa besar pula bobot ucapan mereka.
Hadirin 447 yang tadi mulai ribut karena panitia pertandingan melanggar aturan sendiri, kini mulai tenang kembali.
Ling-Peng-hi menyapu pandang ke empat penjuru, dukungan penonton tidak sesuai yang diharapkan, terpaksa ia berkata dengan suara berat "Kalau demikian, aku mohon keterangan, siapakah orang ini?
Apa pula yang telah dilakukan demi kepentingan Bu-lim?"
"Dia terlambat datang karena berada jauh. Tang-ing, mengejar dan menyelidiki kungfu riwayat hidup Tang-hai Pek-ih-jin. Setiba di bawah gunung, seorang diri ia mengganyang belasan orang jahat yang berkomplot hendak menghancurkan seluruh kaum persilatan yang hadir di puncak Thai-san ini. Selama satu jam lebih ia bertempur."
Belum habis Ting-lo-hu-jin menjelaskan, hadirin menjadi gempar dan berteriak-teriak.
"Apakah rahasia Pek-ih-jin berhasil diselidiki?"
"Siapakah komplotan orang jahat itu? Untuk apa mereka hendak menghancurkan kita semua?"
"Siapakah dia sebenarnya?"
Ting-lo-hu-jin tersenyum, setelah menentramkan suasana, ia melanjutkan.
"Menyinggung nama orang ini, aku yakin hadirin banyak yang sudah tahu. Pertanyaan yang kalian ajukan, biarlah dia saja yang menjawabnya. Dia bukan lain adalah ..."
Ia sengaja merandek, setelah suara orang banyak mulai reda baru melanjutkan dengan perlahan.
"Dia adalah Kong-sun Ang, Kong-sun-tai-hiap."
"Kong-sun Ang?"
Hadirin melengak.
"Apakah Kong-sun-tai-hiap yang berjuluk Loan-si-jin-liong? Senjata Thian-liong-gun-nya yang nomor satu dari seluruh jenis senjata luar biasa?"
Ting-lo-hu-jin menatap wajah Ling-Peng-hi.
"Betul, kurasa Ling-tai-hiap juga sudah kenal namanya?"
Membesi wajah Ling-Peng-hi, jengeknya.
"Kukira ia pun tahu siapa diriku."
Dengan tersenyum Ting-lo-hu-jin mengangguk.
"Kalau demikian, entah Ling-tai-hiap mau bertanding dengannya?"
Mendadak Ling-Peng-hi mendongak dan terbahak-bahak.
"Kenapa aku tidak mau bertanding dengannya? Memangnya aku takut padanya?"
Mendadak ia berhenti tertawa, suaranya berubah bengis.
"Aku justru ingin membuat perhitungan dengan dia, biar nanti dibuktikan, Hong-hun-thian-liong-gun miliknya lebih lihai atau Boh-hun-thian-pit milikku lebih hebat?"
"Baiklah,"
Ting-lo-hu-jin manggut-manggut.
"kami persilakan Kong-sun-tai-hiap ..."
Dari tengah penonton di sebelah kiri, mendadak melejit sesosok bayangan ke udara, bagai segumpal mega merah membara meluncur empat tombak jauhnya, langsung hinggap di atas panggung.
Betapa cepat gerak tubuh orang ini, penonton belum melihat jelas orangnya, tahu-tahu ia sudah berdiri di atas panggung.
Rambutnya awut-awutan jambangnya kaku, seluruhnya berwarna merah api kecuali kedua biji matanya, seluruh kepalanya mirip segumpal api yang menyala.
Hadirin menjadi silau rasanya.
Baju di depan dadanya terbuka lebar, celana panjang dilempit tinggi, pakaiannya yang juga berwarna merah menjadi gelap karena keringat, lumpur dan minyak.
Sepatu rumputnya juga berlepotan lumpur.
Walau pakaiannya tidak keruan, tapi sikap dan wibawa orang ini kelihatan garang.
Tatapan matanya tajam berwibawa, seperti raja yang agung dan mulia.
Tangan kirinya memegang sebatang pentung panjang tiga kaki, agaknya tongkat yang biasa dibawa ke mana-mana, maka tongkat itu kelihatan mengkilat karena selalu di pegang.
Tangan kanannya menjinjing karung yang cukup besar dan berat, entah apa isinya, hadirin 448 tiada yang bisa menebaknya.
Dari karung besar itu meneteskan air di atas panggung yang sudah dibersihkan.
Jelas itulah darah segar...
Kong-sun Ang angkat karung itu ke atas, serunya lantang.
"Apakah hadirin ingin melihat apa yang aku bawa dalam karung ini?"
Sebelum hadirin memberi reaksi, Ling-Peng-hi sudah lompat ke atas panggung.
"Tidak perlu kau pamer apa isi karung itu. Keluarkanlah Thian-liong-gun, hadapilah Tin-thian-pit-ku."
Kong-sun Ang meliriknya.
"Agaknya tuan sudah tidak sabar lagi?"
"Betul"
Bengis suara Ling-Peng-hi.
"sudah lama aku ingin menghajarmu"
"Baiklah."
Ucap Kong-sun Ang bergelak tawa. Karung ia taruh di pinggir panggung, pentung melintang di depan dada, bentaknya.
"Ayolah mulai."
Ling ping-hi menatap pentung di tangan orang "kau berani melawan senjataku, mana senjatamu?"
"Inilah senjataku,"
Sahut Kong-sun Ang mengangkat pentung di tangannya.
Ling-Peng-hi terkejut, hadirin melengak.
Siapa pun tidak menyangka Thian-liong-gun yang diagulkan nomor satu dari berbagai jenis senjata di seluruh dunia itu ternyata hanya sebatang tongkat saja.
Ling-Peng-hi menatap tajam pentung di tangan Kong-sun Ang, berubah rona mukanya, dari kaget heran menjadi kecewa, akhirnya ia mendongak dan bergelak tawa.
"Menghadapi pertarungan di medan laga, apa pula yang kau tertawakan?"
Jengek Kong-sun Ang.
"Thian-liong-gun yang menggetarkan dunia ternyata hanya sebatang pentung pendek. Pentung pendek begitu ternyata diagulkan lebih tinggi dari Boh-hun-tin-thian-pit. Betapa aku orang she Ling tidak akan geli dan kecewa?"
Sesaat lamanya Kong-sun Ang diam, matanya menatap wajah orang. mendadak ia pun mendongak dan bergelak juga.
"Hm, apa yang kau tertawakan?"
Jengek Ling-Peng-hi.
"Ling-siau-ceng-cu terkenal di dunia sebagai pemuda serba bisa, ahli sastra pandai silat, berpengetahuan luas, ternyata punya mata tapi tidak bisa membedakan benda. Betapa hatiku takkan geli dan tertawa."
"Kenapa kamu berkata demikian?"
Semprot Ling-Peng-hi.
"Tuan berpengetahuan luas, tapi meremehkan pentung pendekku ini. Bukankah pengetahuanmu amat sempit dan picik?"
Demikian ejek Kong-sun Ang. Ling-Peng-hi naik pitam.
"Baiklah, ingin aku buktikan, apakah Thian-liong-gun mempunyai kehebatan seperti yang diagulkan orang."
Sengaja ia bicara dengan suara lambat sebelum selesai bicara Boh-hun-tin-thian-pit di tangannya sudah bergerak menaburkan cahaya perak.
Melihat gerak permulaan senjata Ling-Peng-hi, banyak penonton menarik napas, banyak orang maklum, biarpun Ling-Peng-hi bilang kecewa dan meremehkan pentung pendek itu, namun sebenarnya ia tidak berani memandang rendah senjata lawan.
Lima jurus kemudian, penonton justru amat kecewa melihat penampilan Kong-sun Ang, baru lima jurus bergebrak, kelihatan ia sudah terdesak di bawah angin.
Thian-liong-gun sejurus pun belum mampu balas menyerang.
Begitu pertarungan dimulai, gerak-geriknya seperti terkekang oleh cahaya perak senjata lawan.
Apalagi permainannya jauh berbeda dengan perawakan dan sikapnya yang menakutkan orang.
Tapi sejauh mana penonton masih menunggu perkembangan lebih lanjut, sebab jurus apa yang 449 dilancarkan oleh Kong-sun Ang, banyak penonton yang tidak tahu atau melihat jelas.
Gerakannya mirip ilmu pedang, tapi juga mirip ilmu golok.
Seperti cangkokan dari ilmu ruyung, waktu menyerang jelas ia menggunakan jurus pedang, tapi di tengah jalan tiba-tiba berubah jurus golok, bila ia menarik senjatanya gayanya seperti permainan ruyung.
Serangan Ling-Peng-hi secepat kilat, di tengah taburan cahaya perak, penonton sukar menyaksikan perubahan senjatanya.
Sebaliknya gerak-gerik Kong-sun Ang kaku dan lambat, jurus demi juru seperti berat dilancarkan.
Penonton dapat mengikuti gerak-geriknya dengan jelas.
Tapi tiada satu pun yang dapat meraba gerak perubahan permainannya.
Jurus-jurus yang dilancarkan Ling-Peng-hi mirip bunga di tengah kabut.
Pantas juga kalau orang tidak mampu mengikuti permainannya.
Lama kelamaan permainan potlot Ling-Peng-hi makin gencar dan sengit.
Sebaliknya gerak pentung Kong-sun An makin lamban dan damai.
Ling-Peng-hi bergerak lincah dan tangkas, seluruh gelanggang seperti ingin dijelajahinya, segesit ikan berenang dalam air, hilir mudik kian kemari.
Semula Kong-sun Ang masih ikut bergerak, kemudian ia malah diam tidak bergerak lagi.
Lama kelamaan penonton yang berkepandaian lebih tinggi dan berpandangan lebih tajam dapat melihat betapapun gencar dan sengit gempuran Ling-Peng-hi bila Kong-sun Ang melancarkan jurus yang lamban dan mantap itu, rangsakan Ling-Peng-hi yang gencar itu lantas dipatahkan.
Hebatnya, sejurus serangan balasan saja dapat memunahkan enam-tujuh jurus serangan lawan.
It-bok Tai-su menghela napas gegetun, kata-kata "Kungfu Ling-si-cu memang cukup mengejutkan, tapi mirip orang minum arak yang dicampur air makin diminum makin tidak ada rasanya.
Sebaliknya kungfu Kong-sun-si-cu ..."
Ting-lo-hu-jin tersenyum.
"Selintas pandang kungfu Kong-sun-si-cu terasa berat dan getir, tapi seperti kita mengunyah kemari, makin lama rasanya makin gurih."
It-bok Tai-su tertawa lebar.
"Ya, memang demikian. Dalam lima puluh jurus, Ling-si-cu pasti kewalahan."
Lima puluh jurus hampir tiba. Mendadak Kong-sun Ang bergelak tawa.
"Ling-Peng-hi, lemparkan senjatamu!"
Di tengah gelak panjangnya, Thian-liong-gun terayun balik.
Sementara itu, cahaya perak memenuhi angkasa sederas hujan lebat berhamburan turun.
Jelas dua senjata itu akan beradu dengan keras, penonton menduga akan terdengar benturan yang memekak telinga, di luar dugaan tiada suara apa-apa, tapi cahaya perak yang bertaburan itu mendadak kuncup dan sirna.
Penonton terbelalak, ternyata Boh-hun-tin-thian-pit yang lincah dan bergerak penuh variasi itu, kini tertindih di bawah Thian-liong-gun.
Mirip ular tertindih batu.
Ular, dapat bergerak tangkas dan lincah.
Batu meski berat dan sederhana, tapi kalau ular ditindih batu, betapa pun ia meronta, jangan harap dapat membebaskan diri.
Air muka Ling-Peng-hi yang mandi keringat kelihatan serba runyam.
Bola matanya merah darah, napasnya menderu berat.
Ting-lo-hu-jin segera berdiri.
"Kalah-menang sudah ditentukan, harap Ling-tai-hiap berhenti."
Ling-Peng-hi menggeram gusar.
"Siapa bilang sudah ada kalah dan menang ... Kena!"
Bertepatan dengan kata "kena", Boh-hun-tin-thian-pit di tangannya mendadak putus menjadi tujuh potong, dari setiap potongan potlot itu menghambur keluar cahaya menyilaukan.
Hamburan cahaya itu berbeda warna satu dengan yang lain, yaitu merah, kuning, hijau, coklat, biru, ungu dan jingga.
Bukan saja warnanya menyolok, cahayanya juga menyilaukan mata.
Begitu tujuh macam warna cahaya itu berhamburan di atas panggung, penonton merasa silau seperti di tusuk jarum.
Dalam sedetik itu penonton menduga tamatlah riwayat Kong-sun Ang.
penonton yang bermata tajam menyaksikan, begitu potlot Ling-Peng-hi putus dan menghamburkan cahaya, tubuh Kongsun Ang yang tegap itu malah tersungkur ke depan.
Maklum seluruh kekuatannya ia salurkan di ujung pentung, pentung menindih ke bawah.
Bila tenaga perlawanan di bawah mendadak lenyap, adalah logis kalau ia kehilangan keseimbangan badan.
Dalam keadaan seperti itu, ia harus menghadapi hamburan cahaya lebat bagaimana ia dapat menyelamatkan diri.
Maka terdengarlah jeritan dari atas panggung.
Sesosok bayangan orang terlempar dan jatuh ke tanah.
Tapi bukan Kong-sun Ang yang menjerit, bukan ia yang ambruk.
Ternyata pada saat cahaya menyilaukan itu berhamburan, bukan mundur tapi Kong-sun Ang malah memapak ke depan dan menubruk ke bawah terus menerobos lewat selangkangan Ling-Peng-hi.
Walau gerakannya itu merupakan aksi yang mudah dilakukan, tapi dalam keadaan bahaya dan mendesak seperti itu, kalau tidak punya keteguhan hati dan reaksinya kurang cepat, siapa berani menggunakan cara seperti itu untuk menyerempet bahaya.
Belum lenyap senyum puas di wajah Ling-Peng-hi, Kong-sun Ang sudah berada di bawah selangkangan.
Itulah tempat kosong yang paling lemah di tubuh manusia.
Musuh berhasil merebut posisi yang menguntungkan, betapa dirinya takkan kalah?
Betapa kejut Ling-Peng-hi, serasa terlipat sukmanya.
Untuk berkelit atau menyingkir jelas tidak mungkin karena Thian-liong-gun di tangan Kong-sun Ang sudah terayun.
Tubuh Ling-Peng-hi terpukul mabur ke udara jatuh di bawah panggung.
Kebetulan ia jatuh di depan Bok Put-kut dan Ciok-Put-wi.
Sigap sekali Kong-sun Ang melompat berdiri, bentaknya murka.
"Ling-Peng-hi, kau sendiri cari mampus, jangan salahkan aku."
Bentakan itu menyadarkan penonton dan maklum apa yang telah terjadi. Padahal umum menganggap Ling-Peng-hi adalah calon "jago nomor satu"
Dalam pertandingan besar ini, ternyata dalam babak semi final akhirnya ia gugur.
Maka gegerlah para hadirin, pandangan mereka tertuju ke arah Kong-sun Ang yang bertolak pinggang di atas panggung.
Hanya Po-giok saja yang mengawasi.
Ling-Peng-hi dari tempatnya.
Sesaat kemudian ia mulai bergerak, lalu meronta dan merangkak ke depan Ciok-Put-wi.
Rona wajahnya tampak kaget dan menderita, tapi juga kecewa, diliputi dendam dan benci.
Sorot matanya yang penuh kebencian melotot ke arah Ciok-Put-wi, bibirnya gemetar seperti ingin bicara, namun suara tidak keluar dari mulutnya.
Mendadak tubuh mengejang lalu ambruk mencium tanah.
Apa yang ingin ia ucapkan, selamanya akan menjadi rahasia dalam liang kubur.
Ciok-Put-wi juga terus menatapnya, air mukanya tidak berubah, tapi sorot matanya dingin tajam.
Dari bawah panggung Po-giok memandang ke sana, sikap kedua orang ini ia saksikan dengan jelas.
Mendadak kedua alisnya terangkat, air muka juga menampilkan cahaya yang aneh.
Sementara itu suara Kong-sun Ang sedang berkumandang di puncak gunung.
"Tiga tahun yang lalu, untuk menyelidiki rahasia Tang-hai Pek-ih-jin, sengaja aku beli kapal dan berlayar ke lautan timur menuju ke Tang-ing-sam-to, tiga pulau di lautan timur yang sejak dahulu dinamakan pulau dewata."
"Menurut hikayat lama, Tang-ing-sam-to ditempati oleh keturunan bangsa Han kita yang sejak jaman Cin-si-ong berlayar ke sana untuk mencari obat dewa yang dapat memperpanjang usia manusia. Maka adat istiadat, tulisan dan bahasa penduduk kepulauan itu banyak mirip dengan Han kita. Sikap mereka juga hormat dan sopan terhadap bangsa kita yang berlayar ke sana.
"Hanya sifat dan perangai penduduk kepulauan itu jauh lebih keras kejam dan kasar dibanding kita. Sedikit tidak cocok omong, tidak segan-segan mereka berkelahi dengan mempertaruhkan jiwa.
"Kungfu yang berkembang di pulau itu, asalnya juga dari bangsa kita, tapi setelah mengalami berbagai perubahan, kini sudah jauh berubah menjadi ganas. Ini jelas berhubungan dengan adat istiadat dan watak penduduk pulau itu.
"Senjata yang digunakan penduduk pulau itu adalah golok panjang melengkung (samurai), batang golok itu lurus tipis dan sempit, tajamnya luar biasa, seluruhnya terbuat dari baja murni. Kekuatannya tidak di bawah golok bangsa kita.
"Ilmu golok yang digunakan di pulau itu sederhana dan tidak banyak variasi. Tapi aliran persilatan yang berkembang di pulau itu cukup banyak cukup dengan tiga-empat jurus ilmu golok yang lihai dan siapa pun boleh mendirikan aliran atau perguruan.
"Menurut apa yang aku ketahui, ada dua puluhan jenis aliran kungfu di sana, di antaranya hanya tiga atau empat yang paling menonjol dan disegani. Umpama Siau-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain di sini."
Meski Kong-sun Ang sedang mengobrol dan belum membicarakan pokok persoalannya, tapi apa yang dia kisahkan memang belum pernah diketahui orang.
maka penonton menaruh perhatian.
Dengan suaranya yang lantang Kong-sun Ang, melanjutkan.
"Waktu aku mendarat di pulau itu, keadaan serba asing bagiku, apalagi bahasa mereka tidak aku ketahui sama sekali. Dalam tahun permulaan, boleh dikatakan aku tidak memperoleh hasil apa-apa.
"Setahun setelah aku menjadi gelandangan, sedikit banyak aku sudah dapat berkomunikasi dengan penduduk. Aku mulai kenal aliran dan perguruan silat yang ada di sana.
"Lambat laun, penduduk pulau itu juga mulai tahu bahwa aku adalah pesilat yang datang dari Tiongkok. Mulailah mereka menaruh perhatian terhadap jurus permainan senjata yang aku gunakan.
"Maka cikal-bakal guru atau murid dari berbagai perguruan silat di sana banyak yang datang minta bertanding denganku. Betapa serius sikap mereka terhadap 'ilmu silat' kurasa cukup untuk kita jadikan cermin.
"Kedatanganku bukan untuk mencari musuh atau mengukur kepandaian, kalau tidak dipaksa dan terpaksa, aku tidak mau bergebrak, umpama harus bergebrak juga cukup mengukur kepandaian saja.
"Selama itu dapat aku selami ilmu silat mereka memang kalah jauh dibanding kemurnian kungfu yang berkembang luas di negeri kita. Tapi ketegasan dan kekejaman ilmu goloknya, bangsa kita jelas tidak dapat menandingi.
"Terutama ilmu golok Liu-sing-eng-hiong-tiang yang mengutamakan 'tenang mengatasi aksi, gerakan kemudian mendahului musuh'. Dalam hal ini kurasa amat serasi dengan aliran murni golongan lwe-keh bangsa kita. Akhirnya aku ketahui, bahwa kungfu Tang-hai Pek-ih-jin ternyata tidak jauh berbeda dengan Liu-sing-eng-hiong-tiang. mungkin satu dengan yang lain berasal dari satu sumber. Maka aku mulai penyelidikanku dari sini, aku mencari tahu tentang asal usul dan riwayat Pek-ih-jin itu."
Sampai di sini Po-giok menaruh sepenuh perhatian, mendengarkan dengan seksama. Kong-sun Ang bercerita lebih lanjut.
"Dalam suatu kesempatan aku berhasil menemui tiga tokoh besar yang paling disegani kalangan persilatan Tang-ing. Sejak pembicaraan panjang lebar itu, tidak sedikit manfaat yang aku peroleh di bidang ilmu silat. Dari mulut mereka pula berhasil aku korek keterangan tentang riwayat Tang-hai Pek-ih-jin."
Sampai di sini Kong-sun Ang berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Puluhan tahun yang lalu, di kalangan Bu-lim Tiong-goan pernah muncul seorang jenius, pengetahuannya amat luas. Tapi sebagai manusia biasa, betapapun pintar dan luas pengetahuannya, tetap ada batasnya. Walaupun orang ini mahir mempelajari berbagai jenis ilmu, namun hasil yang dipelajari tiada satu pun yang mencapai taraf tinggi, ilmu yang diyakinkan tiada yang sempurna. Terutama dalam hal ilmu silat, walau ia mahir berbagai ilmu silat dari beberapa cabang. namun tiada satu pun yang berhasil diyakinkan sampai puncaknya.
"Kalau orang lain, dengan bekal yang dimilikinya itu, tentu sudah berkelana di kang-ouw. Tapi 452 orang ini berambisi besar, cita-citanya setinggi langit kaum persilatan umumnya tidak terpandang olehnya, maka ia hanya mencari tokoh-tokoh kosen persilatan untuk diajak bertanding. Dengan bekal yang dimilikinya, sudah tentu setiap kali bertempur selalu kalah."
Kong-sun Ang menghela napas gegetun, air mukanya seperti merasa kasihan.
"Setengah hidup orang ini hanya berkelana di kang-ouw, setelah usianya hampir setengah abad baru ia peroleh seorang keturunan. Orang ini sadar pengalaman hidupnya yang serba gagal itu amat mengecewakan, sudah tentu ia tidak berharap putranya kelak mengikuti jejaknya, maka ia bertekad mumpung dirinya masih mampu mendidik dan merawat putra tunggalnya, ia harus menggemblengnya menjadi seorang tunas muda yang luar biasa di Bu-lim.
"Padahal di Tiong-goan sudah tiada tempat berpijak baginya, maka ia membawa putranya yang masih kecil berlayar menuju ke Tang-ing. Sejak kecil putra kesayangannya itu digembleng dengan berbagai macam ramuan obat. Sejak anaknya mulai belajar jalan sudah harus belajar kungfu. Sedetik pun anaknya tidak boleh menghamburkan waktu. Jiwa raga dan semangat putranya harus dicurahkan untuk belajar dan dipersembahkan untuk ilmu silat.
"Maklum, orang ini serba bisa, menguasai intisari berbagai ilmu silat, hanya sayang ia tidak bisa tekun mempelajarinya satu per satu. Oleh karena itu meski taraf kemampuannya tidak berhasil mengangkat dirinya menjadi tokoh kosen, tapi pasti dia merupakan seorang guru teladan yang tiada bandingannya.
"Belum genap 10 tahun, di bawah gemblengannya, putra kesayangannya itu sudah memiliki lwe-kang yang sejajar dengan tokoh kelas wahid di Tang-ing. Pada usia 11 ia sudah mengembara kang-ouw. Dalam jangka 10 tahun ia sudah menghadapi seluruh jago silat berbagai aliran yang ada di kepulauan itu. Bab ke-20 cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna.
"Betapapun tinggi kepandaian yang dibekalnya, karena usianya masih kecil, bila berhadapan dengan jago yang benar-benar kosen, sudah tentu ia tetap dikalahkan. kaum pesilat di sana meski berwatak kejam dan suka bunuh, namun terhadap bocah yang lihai ini mereka tidak tega membunuhnya. Oleh karena itu, meski anak ini sering menderita kalah, namun belum menemui ajalnya.
"Dari setiap pengalaman tempur, dari kekalahan demi kekalahan yang dialaminya, bocah ini justru tergembleng lebih matang, lebih peka dan tajam. Masa anak yang indah bagi bocah lain justru ia lewatkan dalam kehidupan yang serba sengsara, boleh dikatakan setiap hari ia harus dihajar dan dihajar. Namun demikian, pengorbanannya itu berhasil memperoleh sukses yang besar, imbalan itu cukup setimpal dibanding seluruh pengorbanannya. Waktu ia berusia delapan belas, seluruh jago silat di Tang-ing sudah disapunya bersih, meski jago angkatan tua juga dikalahkan dalam beberapa gebrak saja.
"Tubuhnya sudah tergembleng laksana otot kawat tulang besi apalagi lwe-kang nya sudah punya dasar yang kuat, setelah latihan praktek selama belasan tahun, bekal kungfunya boleh dikata sudah merupakan kombinasi antara ilmu silat Tiong-kok dengan berbagai aliran ilmu silat yang ada di Jepang. Tiga tokoh utama yang berkuasa di sana seluruhnya sudah empat kali bertanding dengan dia mereka bilang setelah empat kali bertanding tingkat kepandaiannya sudah sukar diukur lagi."
Kong-sun Ang menelan ludah, lalu menarik napas panjang.
"Dalam jangka sepuluh tahun itu, ayahnya meninggal. Kecuali 'kungfu' ia tidak punya apa-apa lagi, ayahnya mati, tapi ia tidak peduli dan tiada perhatian sama sekali. Bukan saja tubuhnya sudah tergembleng bagai baja, hati pun jadi dingin dan kaku bagai besi, tanpa perasaan dan tidak kenal kasihan atau duka lara.
"Setelah ia berusia dua puluh, sudah tiada tokoh silat di kepulauan itu yang mampu menandingi dia. Ia maklum bila dirinya menetap di sini, masa depannya akan makin suram kungfunya juga takkan memperoleh kemajuan...."
"Dan karena itu ia berlayar ke negeri kita?"
Hadirin bertanya. Kong-sun Ang geleng kepala dengan tertawa getir.
"Kalau mau ia dapat datang waktu itu, tapi orang ini bukan anak sombong yang tidak tahu diri, ia tahu kungfunya sudah menyapu seluruh jago silat di Tang-ing, namun kemampuannya belum memadai untuk menjadi jago di negeri kita ini. Maka ia berlayar seorang diri ke arah timur menetap di sebuah pulau kecil yang kosong.
"Pulau kecil itu masih liar dan belum dijamah manusia. Di pulau itu terdapat sebuah empang, dalam empang itu terdapat banyak batu kecil berwarna hitam dan putih, bundar dan mengkilap mirip biji catur. Di pulau itu Pek-ih-jin menetap sepuluh tahun lamanya.
"Apa kerjanya sepuluh tahun di pulau itu?"
Hadirin bertanya pula.
"Tiada orang tahu apa kerjanya di sana. Tapi kaum Bu-lim umumnya suka usil, diam-diam ada yang mengintip gerak-geriknya. Ternyata di pulau itu ia mengabaikan kungfu yang diyakinkan selama ini. Dari pagi hingga petang duduk termenung menghadapi problem catur di depannya."
Hadirin heran dan bingung. Hanya Pui-Po-giok dan It-bok Tai-su berkerut kening, setelah terbatuk-batuk It-bok Tai-su berkata.
"Kelihatannya ia mengabaikan latihan silat, padahal selama sepuluh tahun taraf kepandaiannya meningkat jauh lebih tinggi."
"Ya, memang demikian kenyataannya,"
Ucap Kong-sun Ang menghela napas.
"Menurut salah satu tokoh terkemuka di negeri itu, semula kungfunya memang tinggi, namun masih bisa dijajaki. Tapi setelah ia pulang dari pulau terpencil itu, betapa tinggi bekal kungfunya, orang sudah mampu mengukurnya. Tiga tokoh besar di itu, pernah mengajaknya bertanding, tapi sebelum melancarkan serangan mereka sudah mengaku kalah."
Hal ini disebabkan semangat, nalar dan keteguhan hatinya sudah bersatu-padu, senyawa dengan pedang di tangannya, sekujur badan seolah-olah terbungkus oleh hawa pedang, tiada lubang kelemahan untuk digempur.
Hasigawa adalah cikal bakal ilmu pedang yang terkemuka dan disegani di sana.
Tujuh jam lamanya mereka berhadapan saling tatap, namun tidak menemukan kelemahannya, maka ia tidak berani turun tangan.
"Akhirnya Hasigawa sendiri luluh semangat dan tekadnya. Sementara Pek-ih-jin masih berdiri tegak sekukuh gunung, tidak bergeming juga tidak terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya. Tanpa bertempur Hasigawa mengaku kalah ...."
Kecuali kaget dan heran, hadirin merasa kagum juga.
"Setelah yakin akan bekal ilmunya yang tangguh Pek-ih-jin berkeputusan untuk hijrah ke Tionggoan. Ia pikir dengan kungfunya sekarang cukup untuk melampiaskan penasaran ayahnya dahulu. Ia yakin kemampuannya sudah tiada bandingan di dunia.
"Di luar dugaan, di Tiong-goan ada seorang Ci-ih-hou. Betapa kuat tulang dan otot Ci-ih-hou. betapa berat dan gigih latihannya, mungkin tidak seberat dan setangguh Pek-ih-jin. Tapi jiwanya yang besar, dadanya yang lapang dan kebaikannya, Pek-ih-jin jelas bukan apa-apanya. Padahal beberapa unsur penting ini juga merupakan syarat utama bagi seseorang jago silat untuk meyakinkan ilmu mencapai puncak yang paling tinggi. Oleh karena itu, meski dalam duel yang menentukan itu akhirnya Ci-ih-hou meninggal dunia, namun Pek-ih-jin harus mengaku kalah juga."
"Betul,"
It-bok Tai-su manggut-manggut.
"kalau bukan karena kebesaran jiwanya, kebaikannya, ditambah pengetahuannya yang luas, umpama seseorang selama hidup meyakinkan ilmu juga tidak akan mencapai taraf ilmu pedang yang paling top. Karena bila ia tidak mampu melebur ilmu pedang ke dalam jiwanya, paling tinggi ia hanya mencapai taraf 'ahli pedang' saja. Padahal betapa besar perbedaan antara kedua pengertian ini."
Orang lain mungkin sulit mencerna makna uraian yang mendalam dari Kong-sun Ang ini.
Tapi Po-giok mendengarkan dengan jelas dan seksama hati-hati dan penuh pengertian, ia mencerna 454 dan merasakan betapa tinggi makna yang terkandung dalam uraian itu.
Kong-sun Ang berkata lebih lanjut.
"Pek-ih-jin pulang dengan kekalahan, berita ini segera tersiar luas di Tang-ing. Mendengar berita ini, Hasigawa menjadi panik, takut dan bingung. Maklum, ia sudah menyelami watak dan jiwa Pek-ih-jin. Dengan kekalahannya itu, maka sepak terjangnya jadi eksentrik, padahal tiada kaum silat di Tang-ing yang mampu mengendalikannya. Sebagai cikal bakal suatu aliran yang disegani, Hasigawa mengumpulkan tujuh belas ahli pedang dan membentuk satu barisan, bila Pek-ih-jin menunjukkan aksinya, maka barisan ini akan bertindak dengan segala akibatnya.
"Hasigawa berpendapat usahanya ini merupakan aturan dan semangat 'persilatan', Pek-ih-jin tergembleng dan 'jadi' pesilat di Tang-ing, adalah menjadi kewajiban kaum persilatan di Tang-ing untuk melenyapkan bila dirasa kehadirannya membahayakan jiwa orang lain.
"Di luar dugaan, setiba di Tang-ing, Pek-ih-jin yang dahulu pendiam dan menyendiri, kini berubah ramah, dan senang berkumpul dengan orang banyak. Bukan lagi menyembunyikan diri untuk meyakinkan ilmu silat, tapi ia malah membuka dasar dan berjualan di pasar. Kalau ada orang tanya tentang perjanjiannya dengan kaum Bu-lim di Tiong-goan tujuh tahun lagi, ia hanya geleng kepala dengan tersenyum ramah."
Riwayat hidup Pek-ih-jin merupakan legenda yang diliputi misteri, perubahan jiwa dan watak hidupnya justru lebih membuat orang heran, bingung dan tidak habis mengerti.
Berbeda-beda tanggapan hadirin setelah mendengar kisah Kong-sun Ang, ada yang geleng kepala, menghela napas panjang, ada juga yang bersorak gembira dan keplok kegirangan.
Namun It-bok Tai-su berkerut kening, gumam nya dengan nada rendah.
"Menakutkan ... sungguh menakutkan ...."
Dari samping Ban Cu-liang bertanya.
"Dalam hal apa ia menakutkan?"
Tertekan suara It-bok Tai-su.
"Kurasa Pek-ih-jin kini sudah setingkat lebih tinggi lagi daripada apa yang dicapainya dulu. Bukan lagi 'lahirnya' belajar dan memperdalam ilmu pedang. tapi kini lebih tepat dikatakan sudah menjadi jiwanya. Kurasa makna tertinggi bagi seorang ahli pedang tidak jauh bedanya dengan seorang murid Budha yang belajar mencapai kesempurnaan."
Ting-lo-hu-jin menghela napas.
"Kalau benar demikian, setelah ia lulus dengan kemanunggalan-nya itu tentu kepandaiannya naik setingkat lebih tinggi lagi."
"Setahun yang lalu,"
Demikian Kong-sun Ang melanjutkan kisahnya.
"aku tidak berhasil menemukan jejak Pek-ih-in di pasar atau di mana pun. Ternyata jejaknya menghilang entah ke mana, baju yang biasa dipakainya masih tetap di tempatnya, seolah-olah ia minggat tanpa mengenakan pakaian secuilpun.
"Dari para pelaut dan pedagang yang pulang dari Tiongkok aku dengar adanya pertandingan besar yang diadakan di puncak Thai-san ini, Kurasa aku sudah cukup mencari tahu riwayat hidup Pek-ih-jin, maka bergegas aku berlayar pulang. Setiba di sini, baru kutahu bahwa pertemuan dibuka lebih dini daripada waktu yang sudah ditentukan.
"Di luar dugaan, ketika aku memburu datang ke Thai-san, di hutan di kaki gunung aku temukan segerombolan orang asing yang mencurigakan, maka diam-diam aku intip gerak-gerik mereka, ternyata mereka sedang memasang sumbu peledak dengan tujuan mencelakai kaum persilatan yang hadir di puncak ini."
"Hah, lalu bagaimana akhirnya? Apa yang sudah kau lakukan?"
Hadirin berteriak-teriak. Kong-sun Ang bergelak tawa.
"Sudah tentu aku tidak berpeluk tangan. Nah ini buktinya boleh 455 hadirin periksa,"
Lalu ia raih karung yang tadi ia taruh di pinggir panggung serta menuang isinya, ternyata isi karung itu adalah belasan batok kepala manusia, seluruhnya orang-orang asing yang sudah pernah dilihat Po-giok beberapa tahun yang lalu.
***** Peserta pertandingan yang masuk babak berikutnya, kini tinggal Kong-sun Ang, Bwe-Kiam, Ciang-Jio-bin, Au-yang-thian-kiau dan Poa-Ce-sia yang luka terbakar.
Kini perhatian hadirin tertuju ke arah panggung lagi.
Mereka sudah tidak peduli apakah dinamit yang terpendam itu nanti bakal meledak atau tidak, yang pasti pertandingan ini tidak boleh diabaikan.
Dengan memegang daftar peserta, sesaat Ting-lo-hu-jin berdiri bimbang.
Ia bingung bagaimana mengatur kelima peserta yang harus bertanding di "semi final"
Ini.
Tiba-tiba Poa-Ce-sia menghampiri dan bicara bisik-bisik.
Semula Ting-lo-hu-jin tampak kaget dan heran, akhirnya ia tersenyum penuh pengertian, lalu mengangguk.
Maka terdengar suara Ting-lo-hu-jin lantang "Barusan Poa-Ce-sia Poa-tai-hiap menyatakan mengundurkan diri dari pertandingan selanjutnya...Oleh karena itu, kini tinggal empat orang yang memasuki babak semi final.
Semoga ..."
Belum habis Ting-lo-hu-jin bicara, di tengah penonton mendadak berkumandang gelak tertawa aneh yang menusuk telinga, Terpaksa Ting-lo-hu-jin menahan sabar, menunggu gelak tawa itu berhenti.
Tapi berhenti gelak tawa itu melainkan makin keras dan memekak telinga.
Dingin muka Ting-lo-hu-jin, bentaknya.
"Siapa itu yang tertawa seperti itu, memangnya tidak puas dengan keputusan kami?"
Orang di tengah penonton itu masih bergelak tawa.
"Pertemuan besar Thai-san apa, sungguh lucu dan menggelikan, kenapa aku tidak boleh tertawa."
Suaranya melengking tajam seperti jarum menusuk genderang telinga. Ting-lo-hu-jin naik pitam, serunya.
"Di kolong langit ini siapa berani bilang pertemuan Thai-san lucu dan menggelikan? Harap jelaskan, dalam hal apa pertemuan besar ini lucu dan menggelikan?"
Orang di tengah penonton itu berkata dengan, tertawa "Dengan kemampuan lima orang tadi akan memperebutkan 'jago nomor satu di dunia'?
Haha, menurut pendapatku, kelima orang ini hanya setimpal merebut gelar 'badut nomor satu di dunia'."
Suasana yang semula sudah reda dan tentram mendadak menjadi ribut dan gempar oleh hasutan orang ini.
Au-yang-thian-kiau, Kong-sun Ang berempat menjadi gusar.
Mereka merasa diremehkan dan dihina di muka umum.
Siapa berani bicara begitu?
Sungguh besar nyalinya!
Kong-sun Ang bertolak pinggang sambil membentak.
"Tuan berani membual di depan umum, tentu mempunyai kepandaian yang luar biasa. Kenapa tidak keluar saja bertanding dengan kami para badut ini?"
"Ya, memang harus demikian!"
Terdengar sahutan suara melengking itu di tengah penonton.
Tak perlu mendesak orang, penonton sudah minggir dengan sendirinya memberi jalan, ribuan mata penonton tertuju ke sana, semua ingin tahu dan melihat siapa orang gila yang berani bermulut besar.
Atau dia memang seorang gagah sejati!
Tampak seorang berjalan santai di tengah penonton, perawakannya sedang berbaju hijau dengan topi kecil, wajahnya putih halus, alis lentik mata bening, tingkah dan tindak tanduknya lebih mirip orang perempuan.
Banyak hadirin yang bersorak dan bersiul.
"Haya, orang sekecil ini, cukup satu jari saja Kongsun Ang mampu mendorongnya jatuh. Ternyata mulutnya sok usil, kurasa dia memang orang gila."
Dengan penuh perhatian Ting-lo-hu-jin mengawasi perawakan, langkah dan sikap orang ini, memperhatikan seluruh gerak-geriknya. Mendadak ia berkerut alis, katanya dengan nada rendah.
"Orang ini pasti seorang perempuan."
It-bok Tai-su mengangguk.
"Hu-jin bilang ia seorang perempuan, aku yakin tidak salah lagi. Tapi belum pernah aku dengar, di Bu-lim ada perempuan yang punya nyali besar seperti dia."
"Tunas muda selalu muncul di kalangan kang-ouw,"
Demikian ucap Ting-lo-hu-jin menghela napas "tidak perlu heran kalau kami tidak tahu asal-usulnya.
Yang aku herankan, apakah ia tidak tahu asal-usul Bwe-tai-hiap dan Ciang-tai-hiap berempat?
Memangnya ia tidak tahu betapa tinggi taraf kungfu mereka?
Apakah mereka rela diam dan berpeluk tangan dihina di depan umum?"
"Perempuan ini tentu putri keluarga persilatan yang ternama dan sengaja mencari gara-gara untuk mengagulkan nama besar keluarganya. Di luar tahunya bahwa empat tokoh finalis itu semuanya berwatak keras, angkuh dan tidak mau mengalah kepada siapa pun."
Mendadak Ban Cu-liang menimbrung.
"Bukan mustahil ia sudah tahu asal-usul dan taraf kepandaian keempat tokoh finalis itu. Mungkin juga ia tidak jeri menghadapi kungfu keempat orang ini. Lalu...lalu bagaimana baiknya?"
Mendadak Ting-lo-hu-jin membalik badan, katanya.
"Apakah Ban-tai-hiap sudah tahu siapa dia sebetulnya?"
Ban Cu-liang geleng kepala sambil menghela napas.
"Rasanya aku tahu siapa dia sebetulnya. namun sukar aku jelaskan siapa dia sebenarnya."
Ting-lo-hu-jin dan It-bok Tai-su saling pandang tanpa bicara.
Dari sekian banyak hadirin yang paling kaget dan berubah air mukanya hanya Pui-Po-giok seorang.
Ia sembunyi di belakang seorang lelaki yang bertubuh lebih besar dan tinggi, supaya orang berbaju hijau dengan topi kecil itu tidak melihat wajahnya.
Sementara itu, pemuda baju hijau dengan topi kecil itu sudah sampai di depan panggung.
Cahaya rembulan menyinari wajahnya yang pucat, bola matanya yang bening tajam laksana mata pisau.
Sepintas orang banyak merasa orang ini misterius, dingin tapi cantik.
Kong-sun Ang, Au-yang-thian-kiau.
Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin seperti terkesima oleh wajah pucat dingin dan misterius ini.
Ting-lo-hu-jin merendahkan suara, katanya lembut.
"Di panggung pertandingan yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwa sendiri, lebih baik nona jangan ikut campur."
Sikap pemuda baju hijau tenang dan wajar meski dipanggil "nona"
Oleh Ting-lo-hu-jin. Malah dengan suara dingin ia berkata.
"Kungfu Ciang-Jio-bin bergaya tapi tidak berisi, permainan Au-yang-thian-kiau juga hanya untuk menggertak orang, Thian-to Bwe-Kiam memang ganas, tapi kurang gesit dan tidak serasi. Dengan golok lengkungnya itu untuk 457 membabat padi atau membabat rumput kurasa lebih tepat. Sementara Kong-sun Ang...hehe, walau kungfunya satu sumber dengan Pui-Po-giok, tapi berlatih sepuluh tahun lagi, taraf yang dapat dicapainya paling banyak cuma sepersepuluh dari yang dicapai Pui-Po-giok. Dengan kemampuan begini siapa setimpal menjadi nomor satu di Bu-lim."
Mendadak Kong-sun Ang membentak "He, apa kamu ini Pui-Po-giok?"
"Pui-Po-giok? ...."
Pemuda baju hijau menyeringai.
"sebagai penggosok sepatuku pun ia tidak setimpal. Tapi kalau kalian berempat ingin menjadi penggosok sepatu Pui-Po-giok, aku yakin dia pun tidak mau."
"Hm, siapa kau sebenarnya?"
Hardik Kong-sun Ang menahan amarah.
"Aku? ... aku bukan siapa siapa, aku kemari hanya untuk memberi hajaran kepada kalian. Jangan menutup pintu dan mengangkat diri menjadi raja, mengagulkan diri sebagai jago kosen nomor satu. Orang bisa rontok giginya karena geli"
Ciang-Jio-bin ikut membentak gusar.
"Kalau tidak mengingat kamu ini betina, saat ini sudah...."
"Kalau betina memangnya kenapa?"
Pemuda baju hijau bertolak pinggang.
"kau kira perempuan di dunia ini seperti Be-Cek-coan yang boleh dihina dan dipermainkan begitu."
Satu per satu ia tatap wajah empat orang di depannya, sikapnya makin pongah dan memandang rendah mereka.
"Kalau saat ini aku menantang kalian satu per satu. kalian tentu akan bilang tadi aku belum mengeluarkan tenaga dan sengaja cari keuntungan."
Sampai di sini ia berhenti bicara, lengan bajunya mengebas perlahan, tahu-tahu tubuhnya sudah berada di atas panggung, katanya sambil menggerakkan tangan.
"Ayolah, kalian berempat maju bersama saja supaya menyingkat waktu dan menghemat tenagaku."
Bwe-Kiam, Au-yang Thian-kiau berempat menggerung gusar, serempak mereka memburu ke atas panggung.
Tapi mereka adalah tokoh-tokoh besar yang disegani, di hadapan sekian banyak orang gagah, meski sedang marah, jelas mereka tidak akan turun tangan bersama.
Sekilas mereka saling pandang, tanpa berjanji semuanya merandek dan segan turun tangan.
Kong-sun Ang buka suara lebih dulu.
"Mohon kalian sudi mengalah, biar aku yang turun gelanggang lebih dulu."
"Biar Siau-te saja yang memberi hajaran kepadanya,"
Ciang-Jio-bin menimbrung.
"Aku juga tidak sabar lagi,"
Bwe-Kiam tidak mau mengalah.
"kurasa ..."
Pada saat tiga orang ini bersitegang, Au-yang-thian-kiau bertindak lebih dulu, langsung ia melompat ke depan pemuda baju hijau, sepuluh jarinya terpentang bagai cakar dan mencengkeram ke dua pundak pemuda baju hijau.
Jurus silat yang dilancarkan Au-yang-thian-kiau tanpa kembangan juga tidak mengandung tipu keji, tapi lwe-kang nya memang hebat, dasarnya amat kuat dan sempurna latihannya, jarang ada tokoh silat yang dapat menandinginya.
Banyak anak murid keluarga persilatan yang mengirim putra-putrinya belajar di perguruan Thian-kiau di bawah bimbingannya.
kaum persilatan sama tahu, murid didik Au-yang-thian-kiau pasti mempunyai pupuk dasar yang luar biasa.
Adalah jamak kalau peternakan Thian-kiau amat terkenal, muridnya pun tersebar luas di berbagai pelosok dunia.
Sejurus demi sejurus Au-yang-thian-kiau melancarkan serangan secara teliti dan mantap.
Setiap jurus mengandung bobot yang berbeda, jelas dan bersih, tidak mengandung unsur-unsur jahat, juga tidak gegabah.
Sebaliknya permainan silat pemuda baju hijau ini jauh berbeda kalau tidak mau dikata berlawanan dengan kungfu Au-yang-thian-kiau.
Apa yang ditunjukkan pemuda baju hijau ini lebih tepat dilukiskan dengan "tinju kembang dan tendangan sulam"
Langkahnya ringan, gerak-geriknya tangkas lagi gesit, seluruh panggung hanya tampak bayangan kaki dan tinjunya.
Betapa gemulai dan liuk tubuhnya seperti bidadari yang sedang menari saja.
Hakikatnya pemuda ini seperti tidak bertanding silat, tapi lebih tepat sedang menari, penonton menjadi bingung dan melongo, lupa bersorak dan keplok.
Yang menakjubkan adalah antara ribuan penonton yang menyaksikan permainan si pemuda, termasuk It-bok Tai-su, Ting-lo-hu-jin dan para pendekar yang lain, tiada satu pun di antara mereka yang tahu dan membedakan jurus silat dari aliran mana.
Bayangan tinju dan tendangan kaki si pemuda memang bertaburan seperti bunga rontok dari pucuk pohon.
Karena terselubung oleh bayangan inilah, penonton sukar mengikuti gerak-geriknya.
It-bok Tai-su menghela napas.
"Sudah lima puluh tahun aku berkelana di kang-ouw, belum aku lihat ilmu pukulan selincah dan seindah ini. Belum pernah aku bertemu dengan gadis secerdik ini."
"Dari mana Tai-su tahu gadis ini cerdik? Mohon dijelaskan,"
Demikian kata Ting-lo-hu-jin.
"Coba Hu-jin perhatikan, pukulannya seperti hanya menari tanpa isi, namun kalau mau diperhatikan, pemainannya sedikit pun tidak kalut, itu karena gerak perubahannya yang bervariasi tanpa batas. Untuk memainkan pukulan yang mengandung perubahan sebanyak itu, kalau ia tidak cerdik pandai, menyaksikan saja sudah pusing, apalagi mempelajarinya."
"Ai, semoga ia tidak tersesat oleh kepintarannya,"
Ting-lo-hu-jin menghela napas.
Pui-Po-giok mendengar jelas pembicaraan kedua orang ini.
Ia merasa lega juga kuatir, maklum hanya ia yang tahu paling jelas tentang kepintaran Siau-kong-cu.
Pemuda baju hijau bertopi kecil itu memang samaran Siau-kong-cu.
Bahwa Siau-kong-cu mendadak muncul, turun gelanggang dan bertanding, Pui-Po-giok betul-betul kaget, heran dan bingung.
Biasanya Ngo-hing-mo-kiong bertindak secara gelap dan licik, kenapa sekarang ia berani tampil di depan umum?
Tapi hanya beberapa kejap saja Po-giok menelaah persoalan ini dan segera ia paham dan mengerti.
Dahulu Ngo-hing-mo-kiong selalu mengacau secara diam-diam, maksudnya supaya kaum persilatan berteka-teki, saling curiga dan bunuh membunuh.
Tujuan utama sudah tentu supaya Pui-Po-giok menghadapi jalan buntu.
Dan yang pasti, mereka masih takut pihaknya akan menonjol dan menjadi paling besar di depan umum.
Bila Pek-ih-jin datang lagi, maka pihak Ngo-hing-mo-kiong yang pertama harus menghadapinya.
Kalangan kang-ouw sudah kacau, korban sudah berjatuhan, tujuh murid besar sudah ada yang gugur dan terluka.
Apakah Pek-ih-jin akan muncul kembali, masih merupakan tanda tanya.
Dan yang paling penting adalah, mereka mengira Pui-Po-giok sudah tewas.
Pada saat dan situasi seperti sekarang, segala kekuatiran sudah tidak perlu ada.
Lalu tunggu kapan lagi kalau sekarang mereka masih tidak menampakkan diri.
Dalam situasi yang kalut ini, mereka akan mudah menguasai keadaan, kesempatan sebaik ini memangnya harus disia-siakan?
Pandangan Po-giok berputar.
Setelah terjadi keributan tadi, keadaan di sekeliling panggung sudah banyak berubah, kedudukan orang-orang yang tadi menonton paling depan juga banyak berubah dan tergeser.
Penonton yang terdepan tadi sama berpakaian ketat, baju mereka dari sutera dan perlente.
Tapi penonton terdepan sekarang adalah orang-orang berbaju hitam dengan caping yang lebar dan ditarik rendah.
Terutama orang yang paling depan, meski caping bambu rendah menutup mukanya, tapi bola matanya yang bersinar merah seperti api membara, selalu melirik ke arah panggung.
Po-giok melihat jelas bahwa orang ini bukan lain adalah Hwe-mo-sin.
Sorot matanya yang mirip bara iblis itu, selama hidup tidak akan dilupakan oleh Po-giok.
Orang-orang Ngo-hing-mo-kiong akhirnya menyelundup juga ke Thai-san.
Dengan munculnya orang-orang ini, apa yang bakal terjadi selanjutnya memang sukar diramalkan oleh Po-giok.
Tapi darah seperti bergolak di rongga dada, makin lama makin mendidih ...
Sampai sejauh ini Po-giok masih belum berani turun tangan.
Soalnya ia tahu kaum silat di dunia sudah menganggap dirinya sebagai momok jahat yang tidak berperikemanusiaan.
Jika dirinya menampakkan diri, hadirin tentu gempar, pada saat hati sedang gusar dan penasaran, dihasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab lagi, bukan mustahil dirinya bisa hancur lebur oleh amukan orang banyak.
Umpama dirinya memiliki kungfu setinggi langit juga tidak mungkin melawan keroyokan orang banyak, dirinya akan mati konyol, mati penasaran.
Oleh karena itu, meski darah mendidih di dada, terpaksa ia harus sabar dan sabar.
Dalam sekejap dilihatnya Siau-kong-cu telah melancarkan belasan jurus serangan.
Betapa rumit gerak perubahan serangannya, Au-yang-thian-kiau melayaninya dengan mantap, reaksinya selalu memunahkan aksi Siau-kong-cu yang bervariasi itu.
Setiap jurus setiap tipu dipunahkan dengan jelas, bersih dan tegas.
Kedua mata Au-yang-thian-kiau setengah terpejam, sikap dan mimiknya mirip seorang hwesio yang lagi semedi, namun gerak tubuhnya tidak berhenti.
Seluruh serangan telapak tangan maupun tendangan kaki yang membingungkan segencar bunga jatuh berhamburan itu seperti tidak dilihatnya sama sekali.
Hanya telinga mendengar menentukan arah dan kedudukan, memunahkan serangan dan mematahkan jurus.
Jago kosen yang terkenal di Bu-lim ini bukan saja memiliki lwe-kang tangguh, pengalaman, pengetahuan dan bekal ilmu silatnya juga sudah mencapai taraf yang tinggi.
Ia maklum bila dirinya melihat atau mengikuti permainan silat lawan yang mengaburkan pandangan, dirinya akan pusing dan dengan sendirinya, gerak-gerik sendiri akan terpengaruh dan kalut karenanya.
It-bok Tai-su manggut-manggut, katanya setelah menghela napas.
"Sian cai, Sian cai! Au-yangsi-cu memang bukan tokoh yang mudah disesatkan. Betapapun lihai dan aneh permainan gadis pandai itu, kalau ingin mengalahkan dia kurasa amat sukar."
Penonton mulai bersorak pula mengikuti permainan Au-yang-thian-kiau, mereka berpihak dan memberi aplaus kepada jago tua yang kosen ini.
Dari sorak-sorai dan tepuk tangan itu dapat disimpulkan bahwa murid didiknya yang sudah tersebar luas di Bu-lim itu tidak sedikit yang hadir di puncak Thai-san ini.
Po-giok menonton penuh perhatian, makin menyaksikan makin heran dan kaget.
Bukan kaget atau heran karena kungfu Au-yang-thian-kiau tangguh dan kuat.
Tapi heran menyaksikan permainan Siau-kong-cu.
Dalam hati ia membatin.
"Mendadak Siau-kong-cu 460 muncul di sini dan berani menantang empat finalis, kalau tidak membekal kepandaian khusus, mana berani ia bertingkah di sini? Padahal melawan Au-yang-thian-kiau seorang saja ia tidak mampu mengalahkan, dengan bekal kemampuannya yang tidak becus ini, mana mungkin pihak Ngo-hing-mo-kiong membiarkan dia berbuat onar? Bukan mustahil secara diam ia menyiapkan tipu muslihat untuk menjebak lawan?"
Maka dengan seksama ia perhatikan setiap gerak-gerik Siau-kong-cu.
Dirasakan sambil bergebrak badan Siau-kong-cu sengaja bergeser mundur ke tengah belakang panggung, tidak lagi mau berputar ke bagian depan.
Sementara Au-yang-thian-kiau mendesak dengan ketat.
Maka ruang lingkup gerak-gerik kedua orang yang berhantam ini menjadi makin ciut.
Lambat-laun jarak mereka lebih dekat dari tempat Po-giok sekarang berdiri.
Maka setiap tipu dan setiap serangan kedua orang yang lagi bertarung ini dapat disaksikan lebih jelas oleh Po-giok.
Mendadak kaki Siau-kong-cu seperti terpeleset sehingga badan doyong dan langkah menjadi kacau, dengan sendirinya gerak tangan pun merandek, meski gangguan hanya sekejap dan Siau-kong-cu dapat memperbaiki posisi dalam sekejap.
Tapi Au-yang-thian-kiau bukan jago silat biasa, meski kesempatan hanya sekejap saja tak disia-siakan.
Dalam detik yang hampir sama, telapak tangan besi Au-yang-thian-kiau mendadak menyusup ke tengah bayangan tangan lawan yang merandek sekejap itu.
Jelas pukulan itu tidak mungkin luput.
Penonton yang berada di bawah panggung pasti tidak melihat jelas detik-detik berbahaya ini.
Tapi dari sudut tempat Po-giok berdiri justru dapat menyaksikan dengan gamblang.
Saking kaget, belum lagi ia menjerit "celaka".
Siapa tahu mendadak tubuh Siau-kong-cu yang kecil itu mendadak menyelinap selincah ikan selicin belut ke belakang Au-yang-thian-kiau.
Meski menakjubkan gerakan gemulai tubuh Siau-kong-cu, tapi terasa agak dipaksakan juga.
Maklum, pada posisi yang tidak menguntungkan begitu, siapa pun sukar menghindar dan turun tangan.
Sudah tentu hal ini juga sudah diperhitungkan oleh Au-yang-thian-kiau, maka ia tidak terkejut atau heran.
Di mana pinggang berputar dan lengan terayun ke belakang serta menepuk, namun serangan utama bukan pada telapak tangan melainkan adalah kebasan lengan bajunya yang membawa deru angin kencang.
Dalam keadaan kepepet seperti posisi Siau-kong-cu sekarang, meski tidak mungkin balas menyerang, siapa tahu dari lengan bajunya mendadak melesat keluar selarik benang perak, secara tepat dan telak menyelinap masuk ke dalam lengan baju Au-yang-thian-kiau yang mengebas ke depan.
Tubuh Au-yang-thian-kiau bergetar air mukanya berubah hebat, telapak tangan besinya tak mungkin ditepukkan lagi.
Pada kesempatan baik sedetik ini, badan Siau-kong-cu meliuk dan menghardik.
"Pergilah!"
Sekali tangan yang putih halus menampar, sambil meraung keras Au-yang-thian-kiau terlempar jatuh.
Waktu benang perak tadi melesat keluar dari lengan baju Siau-kong-cu, perawakan Au-yang-thian-kiau yang tinggi besar, kebetulan menghalangi pandangan penonton.
Apalagi sinar perak itu hanya berkelebat terus lenyap, maka para pendekar yang hadir juga tidak ada yang melihat.
Seolah-olah dalam posisi yang tidak mungkin melancarkan serangan, Siau-kong-cu balas menyerang.
Betapa aneh dan hebat gerak tubuhnya, penonton yang tidak tahu adanya muslihat dalam pertarungan ini sudah tentu merasa kaget dan heran.
Apalagi senjata rahasia yang melesat keluar dari lengan baju Siau-kong-cu hanya merupakan selarik air, begitu semprotan air itu masuk ke dalam lengan baju Au-yang-thian-kiau segera lenyap, bukan saja tangan tidak terluka, lengan baju pun tidak kurang suatu apa, umpama ada orang curiga juga tidak menduga bahwa Au-yang-thian-kiau terluka lebih dulu oleh senjata rahasia musuh.
Kalau demikian halnya, memangnya siapa berani menuduh Siau-kong-cu berbuat curang?
Perbuatan jahat dan curang ini terjadi secara cepat dan direncanakan secara cermat sehingga tidak ada orang tahu akan akal busuk yang dilakukan Siau-kong-cu.
Di luar dugaan, Pui-Po-giok yang tertimpa musibah itu kebetulan berada di belakang panggung dan menyaksikan seluruh kejadian ini dengan jelas, dengan sendirinya ia tahu dan maklum apa tujuan muslihat musuh.
Hadirin menjadi gempar, di tengah keributan tampak air muka Bwe-Kiam dan lain-lain menampilkan rasa kaget dan tidak percaya.
It-bok Tai-su bergumam.
"Jurus bagus, tipu lihai. Mungkin mata tuaku ini sudah hampir buta, cara bagaimana gadis cilik itu melancarkan serangan kejinya tidak aku lihat dengan jelas."
Ting-lo-hu-jin menghela napas.
"Aku merasakan jurus yang dilancarkan tadi seperti mengandung hawa iblis."
"Betul,"
It-bok Tai-su mengangguk.
"Jurus seperti itu rasanya tidak mungkin dilancarkan manusia biasa."
Po-giok berdiri diam di tempatnya, hati kacau dan pikiran butek.
Di kolong langit ini, hanya dirinya saja yang tahu dan dapat membongkar muslihat Siau-kongcu tadi, apakah perlu dirinya tampil ke atas panggung menelanjangi kedoknya?
Dalam keadaan dan kondisi seperti ini, apakah dirinya boleh menampilkan diri?
Apakah tega dirinya membongkar perbuatan keji gadis yang selama ini menjadi pujaan hatinya!
Sementara itu, beberapa orang telah menggotong pergi jenazah Au-yang-thian-kiau ke belakang.
Seorang yang berdiri tak jauh di samping Po-giok berkata sambil geleng kepala.
"Sungguh lihai aku lihat dia hanya mengulap tangan sekali, Au-yang Thian-kiau yang gede dan gagah itu ternyata mampus seketika."
Maklum meski orang-orang ini juga berdiri di belakang panggung, tapi pandangan mereka teraling oleh tubuh Siau-kong-cu.
Hanya posisi Po-giok yang kebetulan berada di sudut yang menguntungkan dapat melihat adanya sinar perak yang berkelebat tadi.
Siau-kong-cu tertawa puas dan bangga di atas panggung.
"Tadi sudah kubilang, kalian maju bersama saja, kenapa harus menyerahkan jiwa satu per satu? Kong-sun Ang, Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin ayolah kalian maju, tunggu apa lagi?"
Meski Siau-kong-cu bersikap takabur, namun tidak ada orang berani meremehkannya, Kongsun Ang, Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin tidak berani berebut menampilkan diri.
"Lho, bagaimana?"
Ejek Siau-kong-cu.
"apa kalian tidak berani maju?"
Ciang-Jio-bin dan Bwe-Kiam naik pitam, berbareng mereka melangkah maju. tapi seorang mendadak menarik lengan mereka. Bwe-Kiam berkata dengan suara kaku.
"Siapa pun di antara kita yang maju dulu kan sama saja."
"Ya, betul."
Ucap Ciang-Jio-bin.
"biar aku dulu yang turun tangan."
Kong-sun Ang tersenyum ramah.
"Permainan silat orang ini aneh dan mengandung rahasia, banyak muslihatnya lagi. Di antara kita bertiga, pengalamanku paling luas dan aneka ragam pula permainanku, adalah pantas kalau kalian mengalah padaku."
Sekejap Bwe-Kiam saling pandang dengan Ciang-Jio-bin, mereka mundur menyingkir.
Kong-sun Ang lompat dari tengah kedua orang langsung menubruk ke depan Siau-kong-cu.
Thian-liong-gun di pinggangnya sudah dilolos, katanya dengan suara berat.
"Tuan tidak keluarkan senjata?"
Siau-kong-cu tersenyum ejek.
"Gebrak dengan orang seperti kalian, memangnya perlu pakai senjata?"
Perlahan Kong-sun Ang menarik napas.
"Kalau demikian ...."
"Ya. memang demikian."
Tukas Siau-kong-cu.
"silakan serang, buat apa cerewet."
Sekali tubuh berkelebat, tahu-tahu ia sudah berada di belakang Kong-sun Ang.
Sepuluh jari tangan mencengkeram hiat-to penting di punggungnya.
Betapa cepat gerak tubuhnya memang mirip setan atau dedemit.
Kong-sun Ang tidak putar badan, bila serangan tangan lawan sudah mengancam punggungnya, mendadak kaki melangkah lebar maju ke depan.
Langkah ini sungguh tepat dan pas, cengkeraman Siau-kong-cu dengan sendirinya mengenai tempat kosong.
"Bagus,"
Bentak Siau-kong-cu nyaring.
"coba buktikan, kamu membalik badan tidak."
Tubuh mendesak maju ia tampar dengan dua tangan sekaligus.
Kong-sun Ang tetap tidak berpaling, kaki menginjak lagi setapak ke depan, serangan lawan luput lagi.
Saat mana tubuhnya sudah berada di tepi panggung, maju lagi sudah tiada tempat berpijak untuknya.
Siau-kong-cu membentak.
"Tidak mau berpaling, nah, serahkan jiwamu!"
Sambil membentak kesepuluh jarinya terangkap, dengan kekuatan kedua telapak tangan serempak ia menepuk ke depan.
Kong-sun Ang tetap tidak berpaling, ia maju lagi setapak lebih lebar.
Keruan hadirin menjerit kaget dan kuatir, jelas Kong-sun Ang akan terjerumus jatuh ke bawah.
Tak terduga pada saat gawat itu, dengan Thian-liong-gun pada tangannya menolak pinggir panggung.
"tek", perawakan tubuhnya yang gede itu mendadak mencelat ke udara bersalto lewat kepala Siaukong-cu dan hinggap di belakangnya. Thian-liong-gun menciptakan deru angin kencang mengepruk kepala Siau-kong-cu. Jeritan kaget dan kuatir para penonton mendadak berubah menjadi sorak gembira dan pujian. Jalan mundur ke kanan-kiri dan belakang Siau-kong-cu sudah terhalang atau terkunci oleh bayangan pentung lawan, untuk menyelamatkan diri harus berkelit ke depan. Tampak tubuhnya memang menerobos ke depan, jelas ia akan jatuh ke bawah panggung. Di luar dugaan, meski tubuh bagian atas sudah doyong ke depan, tapi kedua kaki seperti terpaku di panggung, tubuh kaku seperti menancap di pinggir panggung. Sudah tentu bayangan pentung Kong-sun Ang jadinya menyerang tempat kosong. Sedikit meliuk pinggang lalu menarik tubuh mendadak Siau-kong-cu berbalik di udara dan menerobos lewat bayangan pentung lawan yang menindih turun. Betapa lincah dan tangkas gerak tubuhnya, sungguh amat menakjubkan, lebih mempesona lagi adalah keindahan gerak tubuhnya sungguh amat menakjubkan semua penonton. Kalau tidak memiliki gin-kang yang sempurna, seorang tidak mungkin menunjukkan gerak tubuh seindah itu. Sorak-sorai dan tepuk tangan hadirin tidak berhenti malah tambah gegap, bukan lagi menyoraki Kong-sun Ang, tapi memberi pujian kepada Siau-kong-cu yang memperlihatkan gin-kang yang hebat. Kini kedua orang mengembangkan kegesitan tubuh dan ketangkasan gerak kaki, selincah kelinci segesit kijang, makin gerak makin cepat. Serang menyerang silih berganti, bentuk pertarungan mereka kini jelas berbeda lagi dibanding pertarungan Siau-kong-cu melawan Au-yang-thian-kiau tadi. Tepuk sorak penonton terus berlangsung tanpa berhenti. Dari sekian babak pertarungan yang sudah berlangsung di puncak Thai-san ini, ronde yang ini boleh dikatakan yang paling seru, sengit dan menegangkan, paling mempesona dan menakjubkan pula. Ting-lo-hu-jin menghela napas.
"Aku kira kungfu yang diyakinkan Kong-sun-tai-hiap mengutamakan kekerasan, sungguh di luar dugaan bahwa Nuikang (tenaga lunak) yang dia yakinkan juga sudah mencapai taraf sehebat ini."
Apa yang dipujikan Ting-lo-hu-jin adalah yang dikagumi juga oleh penonton.
Hadirin tidak menduga, perawakan Kong-sun Ang yang kekar dan kasar itu ternyata mampu melakukan gerak tubuh selincah dan seindah itu.
Deru angin Thian-liong-gun di tangan Kong-sun Ang makin kencang dan terasa mengiris kulit muka.
Tekanan makin berat membuat gerak-gerik Siau-kong-cu tidak selincah dan segesit tadi.
Ting-lo-hu-jin menarik napas panjang.
"Aku yakin Kong-sun-tai-hiap dapat mengalahkan lawannya."
"Kukira belum tentu,"
Ujar It-bok Tai-su dengan muka serius. Sesaat lamanya Ting-lo-hu-jin bungkam, akhirnya ia mengangguk.
"Betul, memang belum tentu. Permainan nona ini kadang-kadang lihai seperti setan iblis, lawan sukar menduga dan tidak bisa meraba permainannya."
Dalam pada itu, Siau-kong-cu sudah mundur dan mundur lagi.
Seolah-olah ia terdesak di bawah angin oleh rangsakan pentung Kong-sun Ang, terpaksa ia mundur ke satu sudut untuk mempertahankan diri.
Sinar mata Kong-sun Ang bagai kilat, wajahnya merah bersemangat, bertempur penuh gairah.
Kekuatan terpendam di tubuhnya sedang berkobar dan dikembangkan seluruhnya.
Tampak setiap jurus permainannya amat rapi, mundur maju menyerang atau bertahan secara ketat.
Bukan saja serangan deras dan lihai, bertahan juga kukuh lawan jelas tidak mungkin balas menyerang, apa lagi menjatuhkan dirinya.
Kematian Au-yang-thian-kiau menjadi pelajaran dan cermin baginya.
maka sedikit pun ia tidak berani lena atau gegabah.
Tekadnya besar untuk mengalahkan pemuda baju hijau lawannya ini, ia pantang mundur atau kalah.
Ciang-Jio-bin menarik napas.
"Kurasa tidak sampai sepuluh jurus lagi."
"Ya, paling banyak sepuluh jurus,"
Tukas Bwe-Kiam.
Ting-lo-hu-jin dan It-bok Tai-su juga yakin bahwa pandangan mereka tidak keliru lagi.
Maklum 464 mereka tidak habis pikir dengan cara dan akal apa Siau-kong-cu mampu mengalahkan Kongsun Ang dalam satu gebrak saja.
Dalam posisi dan keadaan Siau-kong-cu sekarang, untuk mencapai kemenangan memang tidak mungkin dicapai dengan kepandaian ilmu silat yang wajar.
Berbeda dengan perasaan Pui-Po-giok, saat mana jantungnya seperti hendak meloncat keluar rongga dadanya saking tegang.
Ia tahu senjata rahasia yang disembunyikan dalam lengan baju Siau-kong-cu bukan hanya sejenis, malah setiap jenis senjata rahasia yang dibawanya itu amat jahat dan khusus diciptakan untuk berbuat curang pada saat genting seperti ini.
Po-giok tahu, Siau-kong-cu sukar mengalahkan Kong-sun Ang, namun gadis ini cerdik pandai banyak muslihatnya lagi, ada golongan jahat mengendalikan dia.
Betapapun ketat dan waspada Kong-sun Ang mempertahankan diri, kalau diserang secara gelap dengan senjata rahasia keji, pasti celaka jiwanya.
Sebentar lagi jiwa Kong-sun Ang akan terengut oleh serangan ganasnya.
Tegakah Po-giok menyaksikan para ksatria yang berjiwa gagah perwira ini gugur oleh perbuatan jahat yang licik?
Tegakah dia menyaksikan musibah ini terus berlangsung tanpa ada akhirnya?
Tapi dia sendiri sedang dalam kesulitan, dapatkah dia bertindak dan mencegah kejahatan ini?
Po-giok kuatir, bila dirinya turun tangan, Paling hanya mengorbankan jiwa sendiri.
Perang batin bergolak dalam benaknya, hatinya menderita.
Po-giok tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Bulan purnama sudah doyong ke barat, tak lama lagi fajar akan menyingsing.
Cahaya rembulan kebetulan menyinari wajah Siau-kong-cu, mendadak Po-giok melihat sinar matanya mengandung kelicikan dan kekejaman.
Ini pertanda bahwa ia sudah bertekad turun tangan keji.
Mendadak telapak tangan kanan terayun keluar, jari-jari yang runcing panjang tertekuk mirip cakar.
Seolah-olah ia sudah terdesak, maka dengan nekat ia berusaha merebut Thian-liong-gun yang mampu mengepruk hancur batu gunung dengan jari tangan yang halus.
Kong-sun Ang menghardik sekali, Thian-liong-gun terayun ke depan memapak tangan lawan, dengan memutar pergelangan tangan, Thian-liong-gun seperti sengaja diserahkan untuk dipegang oleh Siau-kong-cu.
Tangan Siau-kong-cu seperti terkena listrik, menjerit kaget ia tarik tangan ke dalam lengan baju.
Penonton terbelalak, tidak sedikit pula yang bersorak.
Tangan Siau-kong-cu terluka oleh Thian-liong-gun, mana mungkin bisa menang?
Bukankah tangan kanan merupakan kekuatan utama untuk bertempur!
Tapi Po-giok melihat dengan jelas tangan Siau-kong-cu tidak tersentuh oleh Thian-liong-gun, ia sengaja menjerit kaget untuk menarik tangan ke dalam lengan baju, supaya Kong-sun Ang tidak waspada dan tidak memperhatikan tangan kanannya lagi.
Sementara senjata rahasia yang pencabut nyawa sudah siap disambitkan dengan tangan kanan dari balik lengan bajunya.
Cahaya rembulan seperti sengaja menyorot ke atas panggung.
Cepat Siau-kong-cu menyelinap ke belakang Kong-sun Ang.
Dalam sekejap ini mendadak Po-giok lihat sinar perak berkelebat dalam lengan baju Siau-kong-cu.
Senjata rahasia sudah siap disambitkan.
Tangan Siau-kong-cu sudah terangkat ke atas.
Pada saat itulah, mendadak Pui-Po-giok menerobos ke atas panggung, gerakannya secepat panah.
Begitu cepat ia bergerak, tahu-tahu sudah berdiri di tengah antara Siau-kong-cu dan Kong-sun Ang, kedua telapak tangannya bergerak ke kanan kiri.
Kong-sun Ang baru ganti gerakan, entah kenapa pentung di tangannya mendadak ditangkap orang, menyusul dirasakan segulung tenaga lunak yang dahsyat dan tidak terbendung tersalur lewat pentungnya.
Karena diterjang tenaga lunak yang hebat ini, tanpa kuasa tubuhnya gentayangan dan jatuh terduduk di panggung.
Siau-kong-cu yakin serangannya dapat merobohkan lawan.
Mendadak ia rasakan lengan kirinya kaku kesemutan, lalu menjuntai lemas dan tak mampu bergerak.
Menyusul tangan yang menggenggam lengan kirinya berkelebat di depan dada, hampir pada waktu yang sama, sikut kanan pun tercengkram sehingga lengan kanan juga lemas lunglai.
Dari lengan bajunya seperti ada suara mendesis yang perlahan, terasa pula semburan hawa panas yang keluar dari lengan bajunya.
Semburan hawa panas itu tidak berbentuk, namun setelah suara mendesis tadi lenyap, papan panggung yang tebal di bawah kaki Siau-kong-cu terjilat api dan mengeluarkan asap biru.
Betapa hebat daya bakar rahasia itu, jiwa sang korban tentu sukar diselamatkan bila tersambit.
Yang disemburkan dari lengan baju Siau-kong-cu adalah segulung bara asap.
Umumnya bara asap berwarna merah, bila suhu panasnya sudah tinggi berubah menjadi hijau, namun bila nyala api sudah mencapai daya panas yang paling tinggi, warnanya tidak akan kelihatan lagi.
Bara asap yang panas dan tidak berwarna disemburkan ke muka Kong-sun Ang, umpama hanya terserempet saja, kedua mata Kong-sun Ang akan buta seketika.
Pada saat itulah tangan Siau-kong-cu akan menyerang telak di mukanya.
Jangan kira jari tangan halus putih, namun bila mengenai muka orang, wajah sang korban akan hancur dan jiwa melayang.
Ting-lo-hu-jin, It-bok Tai-su, Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin tertegun, tak tahu bagaimana harus bertindak.
Kejadian tak terduga amat mengejutkan, tapi kepandaian Pui-Po-giok lebih mengejutkan lagi.
Maklum, Thian-liong-gun milik Kong-sun Ang diagulkan sebagai nomor satu dari tiga belas senjata aneh di dunia, namun dengan mudah terampas hanya sekali gebrak saja.
Tidak ada orang membayangkan di antara kuli panggul mayat di belakang panggung itu, ternyata bersembunyi seorang jago kosen yang lihai.
Bahwa muslihatnya digagalkan, kecuali kaget dan gusar, Siau-kong-cu mengumbar adat sebagai gadis yang dimanjakan.
Tidak peduli lawan berkepandaian lebih tinggi, tidak pikirkan jiwa sendiri tercengkram di tangan orang, kontan ia mengumpat.
"kau ini apa, berani ..."
Baru memaki berapa kata mendadak ia lihat wajah Po-giok, saking kaget ia menjerit takut.
"He, kiranya kau !"
Sementara itu, Hwe-mo-sin dan murid-muridnya sudah siap menerjang ke atas panggung. Mendengar jeritan Siau-kong-cu, dari bawah ia membentak.
"Siapa dia?"
Gemetar suara Siau-kong-cu.
"Dia .. belum mati! Dia adalah ...."
Secepat kilat Po-giok mendekap mulutnya.
Namun Poa-Ce-sia, Ciok-Put-wi, Bok Put-kut, Hwe-mo-sin, Ting-lo-hu-jin, Bau Cu-liang Kim Co-lim dan Gu Thi-wah ..
Orang-orang yang kenal baik dengan Po-giok sudah dapat menebak kata-kata Siau-kong-cu, serempak mereka berteriak.
"Pui-Po-giok! Pui-Po-giok!"
Nama Pui-Po-giok ternyata lebih mengejutkan hadirin daripada mendengar nama setan iblis yang jahat.
Tiga huruf nama itu seolah-olah melambangkan dosa, misterius, banjir darah, haru, senang dan lega, nama yang legendaris.
Seolah-olah tiga huruf itu mempunyai kekuatan iblis 466 yang menciutkan nyali manusia.
Mendadak Ciok-Put-wi berjingkrak sambil membentak.
"Bangsat keparat! Secara keji kau bunuh para paman yang luhur budi, berani kau unjuk diri di sini? Memangnya kau kira tidak ada orang di dunia ini dapat membekuk dirimu?"
Mungkin terlalu emosi, Ciok-Put-wi yang biasanya jarang bicara ini, sekaligus mencaci maki dengan sengit, kata-katanya mengandung hasutan memancing amarah hadirin.
"Betul!"
Hadirin berkaok-kaok gusar.
"jangan kita biarkan bangsat ini hidup ... Ayolah kawan-kawan! Serbu! Kita ganyang Pui-Po-giok di atas panggung!"
Di tengah keributan, beberapa orang sudah menyerbu ke atas panggung.
Mendadak beberapa jeritan terdengar dari depan.
Beberapa orang yang menyerbu paling depan terlempar ke udara.
Bukan mabur sendiri, tapi dicengkeram dan dilempar seseorang.
Gu Thi-wah dengan tubuhnya segede menara berdiri di depan panggung.
Hardiknya murka.
"Siapa berani mengusik Toa-ko ku, Thi-wah akan membantingnya menjadi perkedel!"
Sembari membentak kedua tangannya bekerja secepat angin, dua orang terlempar pula ke tengah pononton.
"Thi-wah,"
Ciok-Put-wi membentak gusar.
"Kenapa kau bantu bangsat itu malah?"
"Siapa bilang Toa-ko ku bangsat?"
Thi-wah meraung.
"kau ! kau sendiri ...."
Betapapun ia tidak berani balas memaki. Di tengah bentakannya kembali ia cengkeram dua orang dan mengadu batok kepala mereka hingga kelenger. Ciok-Put-wi membentak.
"Thi-wah! Gila kau ? kau lupa apa yang pernah ia lakukan?"
"Tidak peduli! Dia adalah Toa-ko ku, dia .. dia bukan orang jahat!"
Thi-wah membantah dengan gusar pula.
Thi-wah mengerahkan tenaga sakti beberapa orang yang menerjang paling depan terdorong jatuh sungsang sumbel.
Dua korban yang diadu kepalanya oleh Thi-wah berhasil di selamatkan jiwanya dari injakan orang banyak.
Pada saat terjadi keributan di bawah panggung, Po-giok menutuk hiat-to kanan kiri lengan Siau-kong-cu.
Siau-kong-cu memaki sambil mengentak kaki.
"Bangsat kecil, tidak membantu aku malah kau bantu orang lain? kau lupa bagaimana ayahku menanam budi padamu?"
Tiba-tiba kakinya terayun menendang ke arah Po-giok.
Tapi baru saja kakinya bergerak, hiat-to di pahanya kembali tertutuk oleh Po-giok.
Kong-sun Ang sudah berdiri sejak tadi dan mengawasi penonton yang ribut, memandang Pui-Po-giok pula, agaknya ia serba salah, tidak tahu pihak mana harus dibelanya.
Sementara itu Hwe-mo-sin sudah memimpin anak buahnya yang berseragam hitam menerjang ke atas panggung.
Kalau mereka tidak kuatir melukai Siau-kong-cu, senjata rahasia api mereka tentu sudah menyerang Po-giok.
Ternyata Thi-wah kewalahan membendung orang banyak yang menyerbu ke atas panggung.
Belasan orang menerobos lewat dari kanan kirinya.
Begini berada di atas panggung, mereka melolos senjata mendesak ke arah Pui-Po-giok.
Walau Hwe-mo-sin dan anak buahnya bermusuhan dengan orang banyak, namun menghadapi Pui-Po-giok, mereka sehaluan, sama-sama ingin membunuh Pui-Po-giok.
Umpama Po-giok memiliki kepandaian setinggi langit juga tak mungkin melawan senjata musuh sebanyak itu.
Dalam keadaan genting ini, pemuda genius yang luar biasa ini menghadapi bahaya jiwa terancam, rasanya pasti tak mampu meloloskan diri.
Bok Put-kut menarik lengan Ciok-Put-wi, dengan haru dan sedih ia berseru.
"Celaka, tamatlah Po-ji, dia .. dia ...."
"Keparat jahat itu, siapa pun patut mengganyangnya. Kenapa Toa-ko masih menyayanginya demikian jengek Ciok-Put-wi dingin.
"Tapi..."
Bok Put-kut gelagapan.
"sebentar lagi ia akan binasa, aku tidak tega, kita .. kita harus memberi kesempatan padanya untuk bicara."
Dari bawah Ciok-Put-wi melotot ke arah Pui-Po-giok.
"Kesempatan untuk bicara justru tidak boleh diberikan kepadanya."
"Hah, ken ... kenapa?"
Tanya Bok Put-kut.
Ciok-Put-wi geleng kepala, tidak bisa menjawab.
Mereka juga terdorong oleh arus orang banyak ke tepi panggung.
Meski banyak orang berkaok-kaok, tapi yang benar-benar menyerbu ke atas panggung jumlahnya tidak banyak.
"Ayolah tunggu apa lagi?"
Demikian teriak Put-wi sambil angkat kedua tangan.
"Serbu! Ganyang dia!"
Ciok-Put-wi yang biasanya pendiam, kaku dan sedikit bicara serta tegas ini, bukan saja hari ini banyak bicara, juga terlalu emosi.
Hal ini belum pernah terjadi selama ini.
Padahal hasutannya itu sudah tidak berguna lagi.
Lima orang tampak melompat ke atas panggung.
Kui-thao-to.
Ceng-kong-kiam, Lian-cu-jio, Siang-hoa-to ...
empat-lima macam senjata menghujani Po-giok.
Saking bernafsu mereka menyerang tidak jarang senjata mereka beradu sendiri, mengeluarkan suara keras yang memekak telinga.
Kong-sun Ang sudah beranjak maju hendak menghadang di depan Po-giok, namun setelah ragu akhirnya ia batalkan niatnya.
Sambil menghela napas ia malah menyingkir mundur.
Melihat berbagai macam senjata menyerang tiba, Po-giok sadar bila dirinya balas menyerang, pihak lawan tentu ada yang dirobohkan.
Orang banyak sedang diburu emosi, bila melihat jatuh korban, serupa api disiram minyak, lebih banyak senjata akan menyerangnya lagi.
Tapi Po-giok juga tahu bila dirinya tidak balas menyerang, kalau hanya berkelit dan menghindar, padahal sekian banyak senjata bertaburan dari berbagai penjuru, di atas panggung seluas ini, ke mana dirinya akan menyingkir, sampai kapan dirinya bisa bertahan?
Pendek kata, Po-giok balas menyerang atau hanya bertahan saja.
Bila ia tetap berada di atas panggung, cepat atau lambat dirinya pasti akan menjadi korban secara konyol.
Di belakang panggung masih ada tanah kosong di tanah kosong itu ada beberapa peti kosong.
Kuli-kuli gotong itu berdiri gemetar di pinggir peti.
Di belakang mereka adalah jurang yang tidak terukur dalamnya.
Dalam keadaan kepepet itu, seolah-olah ada suara halus bergema dalam hati Po-giok.
"Larilah Pui-Po-giok! Lompatlah ke jurang, bukan mustahil masih ada harapan hidup bagimu...Kesempatan untuk bicara tidak ada, kalau tidak lekas lari. memangnya menunggu 468 ajalmu di sini?"
Namun gema suara lain juga mendengung dalam benaknya.
"Pui-Po-giok, jadilah laki-laki sejati. Busungkan dada dan hadapilah kenyataan. Kalau hari ini kau lari, umpama tidak mampus, nasibmu lebih celaka lagi, kamu tidak punya peluang untuk berpijak di dunia. Daripada tamak hidup, lebih baik mati saja."
"Pui-Po-giok, hadapilah segala kesulitan dan ujian hidup ini dengan lapang dada. Tidak ada persoalan di dunia ini yang tidak bisa dibereskan, hadapilah bahaya dengan tabah. Tuhan akan selalu besertamu."
Namun dalam keadaan gawat dan menghadapi bahaya yang mengancam jiwa ini, memangnya siapa bisa menghadapinya dengan tabah dan tenang?
Sinar golok mendesing tajam membacok turun.
Po-giok meraih lengan Siau-kong-cu, sebat sekali ia lompat mundur.
Kui-thau-to, Siang-hoa-to, Ceng-kong-kiam dan Lian-cu-jio memang menyerang tempat kosong.
Tapi Cu-coat-pian, Gan-san-to, Hou-sing-kiam.
Sian-hoa-tiap dan banyak lagi jenis senjata lain menyambar bergantian pula.
Terpaksa Po-giok mengayun tangan kanan, segulung tenaga mendorong ke arah bayangan ruyung dan sinar golok.
"Crang, creng", berbagai jenis senjata yang menyerang bersama menjadi kacau dan saling bentur diterpa tenaga dorongan Po-giok. Terutama kapak besar seberat tiga puluh kali itu membentur pedang Hou-sing-kiam yang ringan, pedang patah dan melukai kawan sendiri malah. Di tengah jerit kaget orang banyak, sebat sekali Po-giok melejit ke pinggir. Mendadak seorang mendengus dingin.
"Binatang, sudah terkurung masih berani melawan, sampai kapan kamu kuat bertahan? Nah, mau lari ke mana?"
Sambil memberi komando, Hwe-mo-sin pimpin anak buahnya mendesak maju.
Di bawah aba-aba Hwe-mo-sin, anak buahnya menyerang bergantian secara rapi dan teratur.
Hanya sayang mereka harus merahasiakan diri, maka senjata khas Ngo-hing-mo-kiong tidak berani digunakan di depan umum.
Kini mereka memakai senjata yang tidak leluasa, sedikit banyak permainan mereka tidak selihai biasanya.
Namun demikian Po-giok kerepotan juga dibuatnya.
Sementara itu, orang yang berada di atas panggung makin banyak, ruang gerak Po-giok dengan sendirinya makin sempit, apalagi ia harus mengempit Siau-kong-cu yang dijadikan sandera.
Kalau mau menurunkan Siau-kong-cu tentu Po-giok bisa bergerak lebih bebas, mungkin masih kuat bertahan agak lama.
Tapi menghadapi bahaya lebih besar.
Po-giok malah memeluk Siaukong-cu lebih erat.
Pada saat genting dan sibuk menghadapi serangan musuh, mendadak Siau-kong-cu berbisik di pinggir telinganya.
"Tidak kau lepas aku, memangnya aku harus mati bersamamu?"
Po-giok menarik napas, sebetulnya banyak yang ingin ia bicarakan, namun rasa gusar dan penasaran membuat lidahnya kelu, saking gugup sepatah kata pun tak mampu bicara. Siau-kong-cu berkata pula.
"Kalau kamu tidak mau membebaskan aku, carilah akal untuk menyelamatkan diri. Ingat aku tidak ingin mampus di sini."
Sambil berkelit Po-giok bertanya.
"Cari akal apa?"
"Kamu merasa difitnah, kenapa kamu tidak bicara?"
Kata Siau-kong-cu.
"Dalam keadaan seperti ini, siapa mau memberi kesempatan padaku untuk bicara? Apakah mereka mau percaya keteranganku?"
Karena harus bicara, gerak-geriknya agak lamban sehingga ujung bajunya tergores sobek oleh pedang yang menusuk dari samping.
"Kamu tidak bisa memaksa orang mendengar penjelasanmu. Tapi ada orang bisa membantumu,"
Siau-kong-cu bicara dengan suara cukup keras. Tapi para pengerubut itu juga membentak-bentak, tiada yang peduli akan percakapan mereka.
"Siapa maksudmu?"
Tanya Po-giok.
"Memangnya kamu tidak bisa menebaknya?"
Siau-kong-cu balas bertanya.
"Ya, aku tahu,"
Po-giok menghela napas.
"tapi ...."
Mendadak ia kertak gigi, cepat sekali ia menyelinap ke tengah lingkaran sinar golok dan menerobos lewat cahaya tombak.
Entah bagaimana sinar golok dan cahaya pedang yang berputar gencar itu ternyata tidak ada yang mampu melukainya.
Cepat sekali Po-giok menyelinap ke depan Hwe-mo-sin, lalu berkata keras.
"Lekas suruh mereka berhenti menyerang."
Hwe-mo-sin menyeringai.
"Kenapa harus kusuruh mereka berhenti?"
"Karena kamu tidak ingin aku mati konyol di sini!"
Sahut Po-giok tegas. Berkilat sinar mata Hwe-mo-sin.
"Lebih baik kamu mampus, kenapa aku harus membelamu hidup?"
"Jangan lupa, aku sudah berjanji akan pergi ke Pek-cui-kiong,"
Seru Po-giok pula. Sesaat Hwe-mo-sin tertegun, akhirnya ia bergelak tertawa.
"Anak bagus, sungguh hebat. Dalam keadaan seperti ini, pikiranmu tidak kalut, berani mengambil keputusan lagi .... Baik, karena kamu berjanji kepadaku, maka kuterima permintaanmu."
Di mana tangannya terayun, setitik hitam melesat ke udara lalu meledak menaburkan kembang api berasap hijau, bentuknya laksana sebuah pohon perak.
Betapa indah bentuk dan warnanya, tampak jelas dan menyolok di langit yang gelap.
Begitu kembang api meledak di udara, di sudut puncak sana mendadak diguncang oleh ledakan yang cukup dahsyat.
Semburan api dan asap hitam tampak menjulang ke angkasa.
"He, apa itu?"
Ada orang berteriak kaget di tengah hadirin.
"Itulah dinamit ... dinamit!"
Seorang lain menanggapi.
Orang-orang yang berdesakan maju ke arah panggung menjadi takut dan berhenti.
Nyali mereka pecah dan sama berusaha menyelamatkan diri, sudah tentu mereka tidak menghiraukan Po-giok lagi.
Penonton yang ada di belakang berteriak-teriak "Di mana dinamit itu ...
masih ada tidak?
...
Siapa yang meledakkan?"
Sambil menyeringai seram Hwe-mo-sin memberi tanda. Ledakan keras disertai semburan api dan asap menjulang ke angkasa. Hadirin tambah panik. Dalam suasana kalut itu, Hwe-mo-sin berseru lantang.
"Di mana dinamit itu terpendam, hanya aku yang tahu."
"Di mana ... di mana ..."
Hadirin menjadi ribut lagi. Namun mereka tidak berani banyak tingkah, semua mengawasi Hwe-mo-sin dengan melongo. Dengan suara lantang Hwe-mo-sin mulai berpidato.
"Setelah bersusah payah setahun lamanya baru aku berhasil mengumpulkan bahan peledak yang dimiliki keluarga Tang di Su-wan, keluarga Liu di San-sai, keluarga Pek di Hun-lam, Pit-lik-tong di Tiong-goan dan Hwe-to-ceng di Kang-lam, seluruhnya aku kirim ke puncak Thai-san ini. Betapa berat obat peledak bikinan beberapa keluarga yang terkenal di Bu-lim itu, silakan kalian bayangkan."
Hadirin saling pandang. Tidak ada yang berani bicara. Hwe-mo-sin mendapat angin, suaranya lebih pongah.
"Bahan-bahan peledak itu kini terpendam di empat penjuru, semua terjaga oleh anak buahku, begitu aku memberi aba-aba, dalam sekejap mereka bisa meledakkan puncak gunung ini."
"Apa tujuanmu dengan rencana busukmu itu?"
Tanya Ting-lo-hu-jin.
"Betul, apa kehendakmu?"
It-bok Tai-su ikut bertanya.
"Kalian harus berdiri diam, tutup mulut. Tanpa izinku siapa pun tidak boleh bergerak, tidak boleh bicara. Kalau membangkang biarlah puncak gunung ini rata dengan tanah."
Kong-sun Ang tidak tahan lagi, serunya "Orang-orang asing itu, apakah ...."
"Orang-orang asing itu sudah aku sogok dan bekerja untukku,"
Tukas Hwe-mo-sin sambil membusung dada.
"tujuh tahun yang lalu mereka sudah berada di negeri kita, membawa banyak harta benda, maksud semula hendak mohon bantuan Ci-ih-hou, tapi Ci-ih-hou bertindak tegas menolak permintaan mereka. Celakanya harta benda yang mereka bawa terjatuh ke tangan orang lain."
"Jatuh ke tangan siapa?"
Tanya Ting-lo-hu-jin.
"ke tanganmu bukan?"
Hwe-mo-sin terbahak-bahak tanpa menanggapi pertanyaan ini ia melanjutkan.
"Keruan tugas tidak tercapai, harta benda lenyap pula, sudah tentu mereka tidak berani pulang ke negerinya. Akhirnya mereka menjadi gelandangan di sini, mereka melakukan kejahatan, dengan tampang yang jelek dan menyolok itu, lama kelamaan operasi mereka makin susut sehingga kehidupan pun sengsara. Lebih celaka adalah kepandaian mereka tidak tinggi tidak jarang mereka harus lari sana sembunyi sini baru bisa menyelamatkan diri. Kelemahan mereka justru menjadi keuntungan bagiku, dengan mudah aku himpun mereka menjadi kaki tanganku."
"Ya, benar,"
Kong-sun Ang mengangguk.
"kalau kungfu mereka tinggi, mana mungkin aku dapat mengganyang mereka seluruhnya? Jelas mereka hanya kawanan kroco, kenapa kau mau menggunakan tenaga mereka?"
"Kungfu mereka memang rendah, tapi di negeri mereka, cara menggunakan bahan peledak sudah umum, pengetahuan mereka tentang membuat dinamit juga cukup luas. Lalu apa salahnya kalau memperalat mereka."
"Ya, aku mengerti."
Kong-sun Ang manggut-manggut.
"jadi kau peralat mereka untuk membuat dinamit."
"Betul, aku memperalat mereka untuk kepentinganku. Setelah dinamit dipendam di tempat yang sudah aku rencanakan, mereka sudah tidak berguna lagi bagiku. Memangnya aku sedang bingung cara bagaimana menyingkirkan mereka, eh, kebetulan kau datang, sengaja aku bicara di tempat persembunyian mereka untuk memancing perhatianmu. Sesuai rencanaku, mereka kau bunuh seluruhnya."
Sambil mendongak ia tertawa keras, lalu melanjutkan.
"Entah kamu ini bodoh atau keblinger. Mereka itu orang asing, rahasia apa yang mereka bicarakan mana mungkin kau tahu kalau tidak disengaja. Persoalan sepele begini. kenapa tidak dapat kau pecahkan?"
Kong-sun Ang tertegun diam, wajahnya sebentar pucat sebentar merah, hatinya malu tapi juga dongkol.
Meski ia sudah tahu dirinya diperalat orang, namun tak mungkin ia mengumbar penasaran.
Ting-lo-hu-jin menghela napas panjang.
"Sekarang apa pula kehendakmu?"
"Jerih payahku berhasil, sebetulnya aku ingin mengganyang kalian yang suka tepuk dada mengagulkan diri sebagai pendekar. Tapi belakangan terpaksa aku ubah lagi rencanaku."
"Rencana apa?"
Desak Ting-lo-hu-jin.
"Belakangan kupikir. kalau secara diam-diam kubunuh kalian dengan ledakan itu, umpama aku berhasil menguasai dunia, tapi kalian mampus semua, bukan saja tidak bisa menyaksikan aku berkuasa, kalian juga tidak akan hormat kepadaku. Lalu apa bedanya dengan seorang pengarang yang memeras keringat menciptakan karyanya tapi tidak ada orang yang membacanya?"
"Betul,"
Seru It-bok Tai-su.
"hanya orang mati saja yang dapat dianggap ksatria atau pendekar. Menghadapi persoalan apa saja, ia tidak kenal rasa takut lagi..."
"Karena itu kupikir,"
Demikian ujar Hwe-mo-sin lebih jauh.
"daripada kubunuh orang-orang itu kan lebih baik membiarkan mereka hidup menyaksikan aku berkuasa dan tunduk di bawah kakiku."
Pandangannya menyapu empat penjuru, lalu berseru lebih lantang.
"Aku tahu di antara kalian tidak sedikit laki-laki sejati, ksatria gagah yang berhati baja, tapi tidak sedikit pula yang bernyali kecil dan lemah, patuh dan menyembah padaku. Apa yang dapat dilakukan seorang hidup, jelas lebih banyak dan lebih menguntungkan daripada dia mati. Aku yakin orang-orang yang bertekuk lutut di depanku pasti tidak sedikit jumlahnya."
Hadirin bungkam, mereka malu diri, tidak sedikit yang menunduk kepala. Mendadak Hwe-mo-sin berseru pula lebih keras.
"Tapi perkembangan terakhir ini membuatku mengubah rencana lagi."
Lega hati Ting-lo-hu-jin.
"Berubah bagaimana?"
"Kini aku tidak akan memaksa kalian melakukan sesuatu untukku. Demi 'seorang' terpaksa aku ubah rencanaku itu, karena seorang diri dia bisa melakukan lebih banyak, lebih berguna dibanding apa yang bisa dilakukan orang banyak. Kini dia sudah berjanji untuk melaksanakan permintaanku. Maka apa pun permintaannya kepadaku supaya bertindak terhadap kalian, aku tidak akan ragu-ragu."
"Siapa yang kau maksud?"
Tanya Ting-lo-hu-jin melotot. Hwe-mo-sin tersenyum kalem, katanya tegas.
"Siapa lagi kalau bukan Pui-Po-giok!"
Penonton tidak berani lagi berkaok-kaok, namun suara desis ratusan orang berpadu tetap 472 seolah-olah angin puyuh melanda puncak itu. perlahan Hwe-mo-sin membalik tubub mengawasi Pui-Po-giok.
"Kalau kau ingin bicara sekaranglah saatnya. Aku yakin tidak ada yang berani mengganggu atau menukas perkataanmu, tidak ada orang berani melukai dirimu meski hanya satu ujung rambut saja."
Kalau keadaan Pui-Po-giok saat itu dilukiskan sebagai patung batu adalah tepat sekali, karena kulit mukanya kelihatan hitam kelabu, kaku dan lembut, hanya matanya saja yang masih memancarkan cahaya.
Ia seperti tidak mendengar anjuran Hwe-mo-sin, matanya yang bercahaya penuh dendam itu sedang menatap seseorang di bawah panggung.
Hwe-mo-sin menghampiri dan menepuk pundaknya.
"Lekaslah bicara!"
Pui-Po-giok seperti tersentak dari lamunan.
"Ya, aku ingin bicara, banyak yang akan aku bicarakan."
Sorot matanya bergerak, suaranya perlahan tertekan.
"Yang berdiri di depanku sekarang ada para Su-siok yang berbudi luhur, ada saudara sehidup semati, juga para Cian-pwe yang memandangku sebagai murid keponakan, tidak sedikit pula para kawan yang sudi bersahabat denganku..."
Waktu bicara sorot matanya beralih dari wajah Bok Put-kut, Gu Thi-wah, Kim Co-lim, Ban Cu-liang dan lain-lain, air mukanya yang hitam kelabu bagai batu dingin itu kelihatan mulai mencair.
Tapi kecuali Thi-wah yang balas memandangnya dengan mata berkaca-kaca, orang lain hakikatnya tidak ada yang sudi menatap dirinya.
Tidak sudi melihatnya, bahkan merasa hina melihatnya.
Po-giok menarik napas sambil mengertak gigi.
"Melihat para paman dan saudaraku yang tercinta dan berbudi, diperas dan diancam oleh seorang yang amat kita benci, hatiku seperti disayat sembilu, dan aku...aku hanya menonton dari samping, aku ... aku terpaksa hanya bisa berbuat demikian, karena ... karena aku ...."
Tinju Po-giok terkepal, suaranya serak tersendat karena emosi.
"Kalau aku tidak berbuat demikian, aku tidak bisa membela diri. Hanya dia ..."
Jarinya menuding Hwe-mo-sin dengan gemetar.
"hanya dia yang bisa memberi waktu untukku bicara. Orang sama memfitnah dan salah paham terhadapku. Kalau aku tidak bicara penasaranku tidak terlampias, mati pun ...mati pun aku tidak meram!"
Segala perasaan yang terpendam selama ini meledak lewat kata-katanya.
Walau sekuatnya Po-giok menahan diri, namun air mata tak terbendung lagi.
Banyak penonton ikut merasa haru dan terketuk sanubarinya.
Terutama Thi-wah, air matanya meleleh membasahi pipi, lalu menangis tergerung-gerung.
Orang berhati baja juga ikut merasa sedih.
Sambil menangis Thi-wah berteriak.
"Toa-ko, lekas ... lekas beri tahu padaku, biar Thi-wah adu jiwa dengan dia. Siapa dia?"
Po-giok mengawasinya.
"Siau-te, kau ...kau sungguh baik!"
Bab 21. Misteri Kapal Layar Pancawarna Sambil mengusap air mata mendadak Po-giok berteriak dan menuding Hwe-mo-sin. kau ingin tahu kenapa dan karena apa Toa-ko difitnah, boleh kau tanya padanya!"
Dengan sendirinya pandangan orang banyak juga tertuju ke arah Hwe-mo-sin. Thi-wah berjingkrak gusar, teriaknya.
"Hah, jadi kera merah ini yang memfitnah Toa-ko? Lekas katakan! Lekas katakan!"
Thi-wah tidak peduli apakah Hwe-mo-sin akan mengamuk dan meledakkan dinamit.
Tapi orang banyak jadi ketakutan karena menganggap Thi-wah kurang ajar terhadap orang yang sewaktu-waktu dapat mencomot jiwa mereka dengan ledakan dinamit.
Di luar dugaan Hwe-mo-sin tidak marah juga tidak berbuat apa-apa.
Sikapnya wajar dan tenang katanya dengan tersenyum.
"Betul! Supaya Po-giok tunduk dan patuh terhadapku, sengaja aku atur siasat untuk menyesatkan hidupnya di kang-ouw. Untuk itu terpaksa aku pakai akal adu domba, biar kaum persilatan salah paham kepadanya, Yang penting dia mau bekerja untukku, peduli dia membenci, memakiku juga tidak jadi soal."
Pengakuan Hwe-mo-sin laksana gelegar guntur yang mengejutkan seluruh hadirin, banyak yang berdiri melongo dan tertegun "kau ... apa saja yang telah kau lakukan?"
Tanya Thi-wah.
"Tidak banyak yang kulakukan,"
Ucap Hwe-mo-sin kalem.
"aku hanya suruh orang menyamar bini Au-yang-thian-kiau, mencekok dia dengan arak obat, karena mabuk esoknya dia tidak bisa bertanding dengan Au-yang-thian-kiau..."
Hadirin mulai tidak tenang. Lebih lanjut Hwe-mo-sin berkata.
"Seorang kusuruh pura-pura terluka dan minta tolong padanya. Untuk mengobati orang itu ia harus menguras tenaga, dengan sendirinya dia batal berduel dengan Bwe-Kiam. Maksudku supaya orang banyak menghina dan memandang rendah dia."
Makin banyak hadirin merasa kurang enak hatinya, tidak sedikit pula yang memperlihatkan rasa menyesal pada air mukanya.
Orang-orang itu adalah mereka yang tempo hari paling gencar menuduh dan paling bernafsu mengumpat Po-giok.
Pucat dan menyesal terbayang di muka Thian-to Bwe-Kiam, mulutnya bergumam.
"Kiranya begitu duduknya perkara."
"Bukan hanya itu saja,"
Hwe-mo-sin berkata pula.
"aku juga suruh orang menyaru persis Pui-Po-giok, mengirim surat untuk Bwe-Kiam dan menyatakan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari kalangan persilatan. Maksudku supaya orang mengira dia lari ketakutan."
Gemetar sekujur badan Bok Put-kut.
"Jadi surat itu memang palsu ... memang palsu ..."
Lalu ia menoleh ke arah Ciok-Put-wi, tertampak air muka Ciok-Put-wi juga berubah pucat. Gemeretuk gigi Thi-wah menahan geram.
"Bangsat keparat! Binatang rendah! ..."
Demikian umpatnya dengan sengit. Ciok-Put-wi melotot penuh kebencian ke arah Hwe-Mo-sin, diam-diam ia menggeser ke belakang Thi-wah katanya dengan nada tertekan.
"Binatang itu membuat Toa-ko mu celaka, kenapa kamu berkaok-kaok saja di sini?"
Thi-wah berjingkrak gusar.
"Kamu monyet merah ini, jadi kamu yang membuat Toa-ko celaka. Biar aku adu jiwa denganmu."
Sambil bicara tangannya menyibak orang banyak di depannya terus menerjang ke arah Hwe-mo-sin.
Penonton yang ada di depannya menjadi morat-marit dan jatuh saling tindih.
Begitu Thi-wah lompat ke atas panggung, mendadak Po-giok membentak.
"Berhenti!"
Perintah Pui-giok amat manjur. Orang lain tidak ada yang bisa mengekang dan mengendalikan Thi-wah, namun terhadap Po-giok ia amat menurut. Sambil mundur ke pinggir panggung, mulut Thi-wah mengomel.
"Toa-ko, kenapa engkau melarangku?"
"Apa kau ingin mencelakai aku?"
Desak Po-giok. Thi-wah gelagapan.
"Siau ... Siau-te mana berani mencelakai Toa-ko, ini ..."
"Dia belum selesai bicara, berarti fitnah terhadap diriku belum terbongkar. Kalau kau labrak dia, kan berarti mencelakai aku?"
Po-giok merandek Sejenak lalu melanjutkan.
"Jangan gegabah. Kalau dia memberi tanda dan dinamit meledak, bagaimana akibatnya? Bukan hanya aku yang celaka orang banyak juga ikut jadi korban."
Thi-wah tepekur, badan basah oleh keringat yang mengucur, mulut bergumam.
"Thi-wah memang tidak berani, tapi ... tapi Ciok-si-siok menyuruh. Thi-wah pikir kalau Ciok-si-siok yang suruh tentu tidak salah lagi. Siapa tahu ... siapa tahu..."
Orang banyak tahu bahwa Ciok-Put-wi seorang pendiam, kukuh, tidak senang urusan, adil dan bijaksana.
Sungguh tak nyana bahwa diam-diam ia menghasut Thi-wah untuk bertindak dalam suasana yang keruh ini.
Di samping kaget, hadirin banyak yang heran dan gusar.
Keringat juga bercucuran di muka Ciok-Put-wi.
Diam-diam orang ini menggeremet mundur hendak menyelinap ke belakang orang banyak.
Tapi penonton sudah jengkel bukan memberi jalan malah mendorong ke depan dan menghimpitnya di tengah sehingga tidak leluasa bergerak.
Penonton pasti tidak akan membantu Hwe-mo-sin, namun jiwa raga sendiri jelas lebih penting dari segala persoalan apa pun.
Banyak orang menyaksikan sudah beberapa kali Ciok-put-wi menghasut dan melakukan perbuatan yang mengundang bahaya bagi keselamatan orang banyak, adalah logis kalau mereka marah padanya.
Hanya Bok Put-kut saja yang masih memperhatikan dia, hiburnya.
"Lo-si, sabarlah ..."
Pandangan Po-giok menembus kerumunan orang banyak, dengan melotot ia mengawasi Ciok-Put-wi. Mendadak ia berseru lantang.
"Thi-wah, tahukah kamu kenapa Ciok-si-siok menyuruhmu bertindak demikian?"
"Entah!"
Sahut Thi-wah sambil menggeleng.
"aku tidak tahu."
Dengan suara serak Bok Put-kut berkata.
"Apa pun yang pernah kau lakukan, kita tetap masih sayang terhadapmu. Demikianlah Ciok-si-siok mu, demi mendengar orang tega mencelakai dirimu, wajar kalau dia marah dan bertindak salah."
Berlinang air mata Po-giok, katanya terharu.
"Maksud baik Toa-siok kuterima dengan baik. Kebijaksanaan Toa-siok membuatku terharu. tapi ... tapi Toa-siok tidak mengerti."
"Soal apa aku tidak mengerti?"
Tanya Bok Pot-kut.
"Ciok-si-siok berbuat demikian karena ingin membunuhku."
Bok Put-kut tertegun, lalu berpaling ke arah Ciok-Put-wi.
"Binatang! Kamu kentut apa ....."
Ciok-Put-wi berjingkrak gusar.
"Untuk apa aku mencelakaimu?"
Senyum pahit dan pedih, menghias ujung bibir Po-giok, katanya tandas.
"Karena kau takut Hwe-mo-sin membongkar rahasiamu. Maka aku harus dibunuh dan Hwe-mo-sin juga harus disumbat mulutnya."
"Kentut busuk!"
Ciok-Put-wi mencak-mencak seperti kebakaran jenggot.
"siapa percaya obrolanmu!"
"Rahasiamu sudah di tanganku ...."
Dingin suara Pui-Po-giok. Ciok-Put-wi berteriak serak.
"Betul! Aku memang ingin membunuhmu! Karena kamu membunuh Kong-sun-ji-ko Kim Put-wi, Se-bun-lo-liok, Nyo-Put-loh ... mereka yang berbudi dan kasih terhadapmu telah kau bunuh."
Sebelum orang lain sempat menimbrung, ia berteriak lagi sambil angkat kedua tinjunya.
"He, anak murid Siau-lim, Bu-tong, Go-bi, Khong-tong, Hwai-lam dan Tiam-jong-pai. Saudara seperguruan dibunuh binatang cilik ini, sebagai musuh perguruan kalian wajib mengganyangnya."
Akhir-akhir ini nama besar murid-murid Jit-toa-bun-pai (ketujuh perguruan besar) sudah tidak 475 jaya seperti dulu, namun mereka masih disegani di kang-ouw.
Murid-murid ketujuh perguruan besar itu tersebar luas di setiap pelosok dunia.
Dari sekian banyak penonton yang hadir di puncak Thai-san sedikitnya ada tiga atau empat puluh persen adalah murid Jit-toa-bun-pai atau sedikit banyak punya hubungan erat.
Sejak kecil mereka sudah dididik dan digembleng secara tradisional, ada yang sudah lulus dan meninggalkan perguruan dan berkelana kang-ouw.
Namun nama baik wibawa dan aturan perguruan masih mereka junjung tinggi.
Hasutan Ciok-Put-wi memang berhasil menggugah loyalitas mereka terhadap perguruan, Kewajiban berjuang demi membela perguruan sejak lama sudah terbenam dalam sanubari mereka, kalau tadi mereka hanya menonton dan apatis terhadap kejadian di depan mata.
Kini mereka mengepal tinju, bisik-bisik dan berjingkrak.
Sayang terlalu banyak orang bicara, berbeda-beda pula reaksinya atas hasutan itu, sehingga keadaan menjadi kacau-balau Ciok-Put-wi amat licik dan licin, diam-diam ia pasang kuping dan mata, melihat reaksi orang banyak, hatinya senang bukan main.
Po-giok tidak mau memberi kesempatan lagi bentaknya.
"Kalian jangan terhasut oleh obrolannya. Pembunuh para paman itu sebetulnya orang lain. Bukan aku yang melakukan."
Penonton yang takut ancaman dinamit tadi mulai bangkit keberaniannya. Seorang bertanya.
"Kalau bukan kamu, memangnya siapa pembunuhnya?"
"Pembunuh itu memang pandai menyembunyikan identitasnya, tapi aku pernah mendengar suaranya. Aku merasa kenal suaranya, namun waktu itu aku sukar mengingat siapa dia."
Seorang penonton yang lain berteriak juga.
"kau bilang kenal suaranya. kenapa tidak tahu siapa dia?"
"Biasanya orang ini jarang bicara. kalau bicara hanya tiga-lima patah kata saja. Maka mudah mengelabui orang."
Mendengar penjelasan Po-giok, tidak sedikit orang yang dapat menebak siapa gerangan orang yang dimaksud. Tapi ada pula orang yang bertanya.
"Siapa? Siapa orang itu?"
Lantang suara Po-giok.
"Itulah dia Ciok-Put-wi!"
Walau tidak sedikit yang sudah menduga-duga sebelumnya, tapi lebih banyak yang terkejut dan melongo. Sorot mata orang banyak tertuju ke arah Ciok-Put-wi, sorot mata yang penuh selidik dan curiga.
"Ya, mungkin benar,"
Seorang berbisik.
"tadi dia juga masih menghasut orang, mungkin takut membongkar kedoknya."
Orang yang sedang emosi paling mudah percaya hasutan dan berubah tujuan semula.
Siapa pun yang bicara, secara membabi buta orang banyak akan mendukungnya.
Merah padam muka Bok-Put-kut, bentaknya dengan mendelik.
"Po-ji, sudah gila kamu? Berani menuduh tidak semena-mena?"
"Kejadian ini nyata dan gamblang, di hadapan sekian banyak orang gagah, Po-ji tidak berani membual. Sudah aku pertimbangkan baru berani bicara."
Kaget lagi gusar, Bok Put-kut menoleh ke arah Ciok-Put-wi. Ciok-Put-wi yang tadi amat emosi kini kelihatan tenang dan tabah.
"Lo-si,"
Desis Bok Put-kut.
"Ken ... kenapa kamu tidak membela diri? Apa kamu tidak bisa membantah?"
"Tuduhannya tidak semena-mena dan tanpa dasar, anggaplah anjing gila menggigit orang. Kalau aku bantah bukankah aku juga mirip anjing gila?"
Ini bukan bantahan, tapi lebih manjur dari bantahan, Penonton yang tadi menduga-duga dan menaruh curiga, kini bertepuk tangan malah.
"Po-ji,"
Seru Bok Put-kut.
"kau berani bicara demikian, apa kau punya bukti?"
"Nih, bukti ada di sini,"
Sahut Po-ji sambil menuding Hwe-mo-sin. Hadirin menjadi gempar, ada yang membentak.
"Itu buktinya? Bukti apa itu?"
Hadirin tadi sudah pecah nyalinya karena takut kena ledakan dinamit, kini mereka termakan oleh hasutan Ciok-Put-wi dan berani bersuara, Hwe-mo-sin naik pitam, bentaknya.
"Betul, buktinya. Secara diam-diam Ciok-Put-wi telah aku sogok dan aku perintah melakukan semua kejahatan itu."
Sungguh kejut orang banyak tidak kepalang. Dada Bok Put-kut seperti ditusuk sembilu, wajah pucat pias, katanya gemetar.
"Apa betul? ... Betulkah demikian?"
"Setelah aku bongkar rahasia ini, murid-murid Jit-toa-bun-pai akan menuntut balas. Betapa besar risikonya, masa aku membual?"
Bok Put-kut mengeluh sedih, tubuh menjadi lemas dan roboh hampir semaput. Untung orang-orang di sebelahnya memapahnya. Dalam sekejap ini keadaan menjadi kacau lagi.
"Ciok-Put-wi!"
Hardik Pui-Po-giok lantang "apa kamu masih mungkir? Lekas mengaku saja!"
Waktu mendengar ucapan Hwe-mo-sin tadi, air muka Ciok-Put-wi agak berubah. Mendadak ia mendongak lalu terloroh-loroh.
"kau ... kau masih bisa tertawa?"
Bok-Put-kut mendesis geram.
"Obrolan itu hanya untuk menipu anak kecil ternyata Toa-ko juga percaya. Kenapa Siau-te tidak boleh tertawa? Hahaha, kenapa tidak tertawa!"
"Urusan sudah berkembang sejauh ini, mau tidak mau ... aku harus percaya."
"Selama ini aku mendampingi Toa-ko, umpama berpisah juga hanya sebentar saja. Mungkinkah dalam waktu beberapa kejap aku bisa disogok orang?"
"Ya ..."
Bok Put-kut menghela napas panjang sambil mengentak kaki. Pikiran kacau dan tidak tahu pihak mana harus dipercaya. Ciok-Put-wi berkata pula.
"Andai kata Ciok-Put-wi benar disogok orang, toh harus di nilai siapa penyogok itu. pantaskah Ciok-Put-wi disogok kaum keroco yang berhati kejam itu? Betulkah Ciok-Put-wi mau diperalat dan menjual jiwa baginya?"
Bok-Put-kut tergagap.
"Ini ... ai, Lo-si, selanjutnya kamu akan menjadi orang baik atau orang jahat, aku sendiri tidak tahu ... tapi aku tahu kamu bukan orang bodoh. Terus terang aku tidak percaya orang macam dirimu mau dibeli orang."
"Soalnya kan sudah gamblang, memangnya kalian tidak bisa membedakan dengan jelas!"
Ciok-Put-wi mendapat angin.
"Dua orang ini berkomplot hendak menjebak dan menjatuhkan martabatku. Jangan kalian tertipu oleh mereka."
"Betul! Jangan kita tertipu!"
Hadirin menjadi panas.
"Kalau orang sejahat ini dibiarkan hidup, bukan saja mengancam jiwa orang banyak, juga bikin malu kaum Bu-lim .... Hai, murid-murid Jit-toa-bun-pai, apa kalian bisa menerima perbuatannya?"
"Tidak! Jangan diberi ampun!"
Hadirin berteriak-teriak.
Hwe-mo-sin tidak menduga bahwa urusan berkembang seburuk ini, betapapun tabah hatinya, menghadapi massa yang sudah marah keder juga hatinya, Namun ia masih berusaha menguasai keadaan dengan gertakannya.
"Dinamit! Dinamit! He ... hei, apa kalian ingin mampus!"
Ciok-Put-wi bergelak tawa, serunya.
"Kalau kamu bisa menggunakan dinamit. kenapa tunggu 477 sampai sekarang?"
"kau ...."
Hwe-mo-sin berjingkrak gusar.
"kau tidak percaya?"
"Dinamit memang ada,"
Teriak Ciok-Put-wi.
"tapi kalau dinamit itu meledak, jiwamu juga ikut melayang. Ayolah kawan-kawan, ganyang dia!"
"Serbu ... ganyang!"
Massa mulai bergerak lagi.
Seolah-olah mereka berlomba, takut ketinggalan.
Sayang jumlah mereka amat banyak, tak teratur dan tanpa komando.
Sasaran terlalu kecil untuk orang sebanyak itu, masing-masing ingin dahulu mendahului, maka terjadilah saling dorong, saling tarik dan saling pukul.
Yang berhasil menyerbu ke atas panggung hanya beberapa orang saja, yang roboh dan jatuh saling tindih justru lebih banyak.
Di tengah keributan itulah, mendadak orang banyak merasa diterjang segulung tenaga dahsyat dari belakang.
Betapa hebat tenaga yang menerjang ini, orang banyak tak kuasa membendungnya.
Karena dorongan dahsyat ini, orang-orang yang bergumul dan berjubel itu tersibak minggir ke kanan kiri.
Di samping kaget dan gusar mereka juga penasaran, semua berpaling ke belakang.
Tertampak tujuh atau delapan orang muncul di jalan yang tersibak dari kerumunan orang banyak.
Warna pakaian orang-orang ini beraneka ragam, bahannya juga berbeda-beda, ada yang sederhana tapi ada yang perlente dari sutera dan katun halus.
Meski bahan pakaian berbeda, namun model dan cara mereka berdandan ternyata mirip satu dengan yang lain.
Semua mengenakan jubah panjang yang menyentuh tanah dan menutup kaki.
Memakai topi rumput tinggi mirip sangkar burung sehingga sebagian besar wajah mereka tertutup.
Tujuh atau delapan orang terbagi dua baris setiap dua orang berjalan sejajar, yang di belakang memegang pundak orang yang di depan.
Pundak, tidak bergerak, kaki juga tidak kelihatan terangkat, jubah melambai-lambai, dengan enteng barisan ini maju ke depan.
Kalau ada orang menghalang, dua orang terdepan menggerakkan sebelah tangan, maka penghalang itu kontan mencelat ke pinggir.
Massa yang mengamuk menjadi kaget dan kesima, melihat lwe-kang yang hebat.
Sebagai jago silat, mereka maklum dengan tangan memegang pundak, orang yang di belakang menyalurkan tenaga pada orang di depan demikian seterusnya.
Jadi tenaga delapan orang berpusat di tubuh dua orang yang paling depan, maka betapa dahsyat kekuatannya dapatlah dibayangkan.
Dari gerak tubuh dan langkah mereka menandakan bahwa gin-kang orang-orang ini sudah mencapai taraf yang paling tinggi.
Diam-diam Kong-sun Ang, Ban Cu-liang, Bwe-Kiam, Ciang-Jio-bin dan Poa-Ce-sia serta jago-jago lainnya sama membatin bahwa lwe-kang dan gin-kang setinggi orang ini jelas tidak di bawah mereka.
Secara tidak langsung pertemuan besar di Thai-san merupakan reuni tokoh-tokoh Bu-lim yang paling top masa kini, orang-orang gagah yang punya nama dan kedudukan boleh dikata sudah tumplek di sini.
Lalu dari manakah kedelapan orang ini?
Umpama salah satu di antara kedelapan orang ini saja yang muncul, dengan bekal kepandaian yang hebat itu, orang sudah heran dibuatnya.
Apalagi sekaligus muncul delapan orang, sudah tentu orang banyak kaget dibuatnya.
Tabir malam hampir terusir dengan datangnya fajar.
Hadirin melongo, heran dan takjub.
Semua bertanya-tanya.
"Siapakah orang-orang ini? Untuk muncul pada saat genting ini?"
Sebetulnya delapan orang ini sudah berada di tengah orang banyak, namun tiada orang memperhatikan mereka, apalagi orang banyak lebih tertarik pertarungan di panggung, maka tiada orang peduli akan kehadirannya.
Orang-orang ini tampil pada saat gawat, sukar diduga pihak mana yang akan dibela, Sukar diramalkan perubahan apa akan terjadi setelah mereka muncul.
Hwe-mo-sin dan Pui-Po-giok 478 menunggu dengan menahan napas, menunggu tamu-tamu misterius ini beraksi membuka kedok sendiri.
Lekas sekali mereka mendekati panggung, kedelapan orang melangkah bersama, sekali melesat ke atas panggung, langkah kaki dan gerak tubuh sama beraksi.
Dengan sendirinya orang-orang yang berjubel di atas panggung juga menyingkir memberi jalan.
Sehingga mereka berhadapan langsung dengan Hwe-mo-sin dan Pui-Po-giok.
Jantung Hwe-mo-sin.
berdebar-debar, lututnya goyah, diam-diam ia menarik tangan ke dalam lengan baju, siap bertindak bila perlu.
Kalau delapan orang ini cari perkara padanya, dengan bekal kepandaian yang dimiliki, dalam sepuluh jurus tentu dirinya kalah dan tertawan hidup, daripada tertawan kan lebih baik turun tangan lebih dulu.
Hwe-mo-sin menunggu dengan tegang, bila delapan orang ini maju lagi dua langkah, ia siap menyambitkan mercon kembang api yang disimpan dalam lengan bajunya.
Tanpa berkedip Ciok-Put-wi juga mengawasi tamu-tamu misterius ini.
Syukur mereka bertindak pada Hwe-mo-sin, berarti harapannya akan terkabul.
Di luar dugaan, setelah berada di atas panggung, delapan orang itu lantas berhenti, tidak menunjuk sikap memusuhi Hwe-mo-sin.
Jelalatan mata Ciok-Put-wi, mendadak ia angkat tangan seraya berteriak.
"Ayolah tunggu apa lagi? Memangnya menunggu delapan orang komplotannya ini menolong mereka ... Jangan buang waktu. Serbu! Terjang!"
Orang banyak bimbang, kuatir dan ragu-ragu namun pelan-pelan mereka bergerak.
Begitu dua-tiga orang jadi pelopor, orang banyak serempak bergerak.
Pada saat itulah kedelapan orang itu membentak bersama.
"Murid-murid tujuh perguruan dilarang bergerak!"
Betapa tangguh lwe-kang kedelapan orang ini, maka suara mereka mirip guntur yang menggelegar, pekak telinga seluruh hadirin, keributan pun berhenti seketika. Ciok-Put-wi berjingkrak gusar, bentaknya.
"Kalian orang apa, berani memerintah murid-muridperguruan besar?"
Orang yang berada di depan barisan bertanya.
"Apa kau tahu siapa kami bertujuh?"
Suara orang ini memang tidak sekeras paduan suara ketujuh orang, namun nada suaranya punya wibawa yang menciutkan nyali orang.
Bergetar hati Ciok-Put-wi, sekilas ia berdiri tertegun, timbul firasat tidak enak.
Setelah mundur ke tengah kerumunan orang banyak, ia balas bertanya.
"Memang aku ingin tahu siapa kau ?"
Orang itu mendongak sambil bergelak tawa.
"kau ingin tahu siapa aku? Bagus? ..."
Mendadak tawanya terputus. perlahan ia menanggalkan topi yang menutup mukanya, lain membuangnya ke bawah, bentaknya lantang.
"Nah, lihat siapa aku!"
Di bawah sinar obor yang mulai guram dan cahaya fajar yang makin benderang, tampak rambut uban orang ini digelung tinggi dengan tusuk kundai batu jade, alisnya tegak dan kereng, hidungnya besar dan merah, jenggot putih berjuntai panjang menyentuh dada, bola matanya memancarkan cahaya terang pandangannya membuat hati orang.
Gemetar tubuh Ciok-Put-wi, air muka juga menjadi pucat pias, katanya gelagapan.
"Kira ... Kiranya engkau orang tua ..."
Hadirin ada yang kenal orang tua ini, mendadak seorang berteriak kaget.
"Hah, Thi-jan To-tiang ... Ternyata Thi-jan To-tiang."
Banyak hadirin bertekuk-lutut dan menyembah.
"Tecu menyampaikan sembah hormat kepada Ciang-bun Su-co."
To-jin ini adalah Ciang-bun-jin Bu-tong-pai, terkenal sebagai jago pedang nomor satu di Bu-lim.
Setelah suasana reda, perhatian hadirin tertuju pada ketujuh orang yang lain.
Kalau salah 479 seorang pemimpin barisan itu adalah Bu-tong Ciang-bun maka dapat dibayangkan orang seperjalanan dengan dia tentu punya kedudukan yang luar biasa.
Sorot mata Ciok-Put-wi yang panik menatap seorang di sampIng-Thi-jan To-tiang, katanya gelagapan.
"Apa .,. apakah engkau orang tua adalah ... adalah ...."
Perlahan orang itu menurunkan topi, katanya dengan nada berat.
"Ya, aku Bu-siang!"
Tampang orang ini jelek, tulang pipinya menonjol namun perawakannya kekar berwibawa, sikapnya kereng namun kelihatan welas asih. Hadirin lebih terkejut, banyak yang menjerit kaget.
"Ciang-bun-jin Siau-lim juga datang ...."
Maka puluhan orang bertekuk lutut pula. Demikian pula Bok Put-kut tersipu-sipu menjatuhkan diri, serunya.
"Tecu menyampaikan sembah hormat kepada Ciang-bun Tai-su."
Kedua lutut Ciok-Put-wi mulai goyah, tubuh lemas dan berkeringat dingin, kini pandangannya tertuju kepada orang ketiga.
Sebelum ditanya orang ini sudah menanggalkan topinya dan dibanting di tanah, bentaknya.
"Binatang! Masih kenal diriku?!"
Belum habis orang ini bicara, Ciok-Put-wi sudah menyembah.
"Tecu tidak tahu engkau orang tua yang berbudi juga datang, Tecu ... Tecu ..."
Mendadak orang keempat bergelak tawa.
"Bukan dia saja yang datang, aku juga ikut datang!"
Kini tujuh orang sudah menanggalkan topi bersusun tinggi itu.
Mereka adalah Ciang-bun-jin ke tujuh perguruan besar yang amat disegani Bu-lim.
Bahwa tujuh Ciang-bun-jin sekaligus datang bersama, sudah tentu merupakan peristiwa yang luar biasa.
Maklum walau kungfu ketujuh Ciang-bun-jin itu belum tentu lebih unggul di banding Kong-sun Ang, Ling-Peng-hi dan lain-lain, namun tujuh perguruan besar masih punya kekuatan, wibawa dan tetap disegani, betapa tinggi dan agung kedudukan ketujuh Ciang-bun-jin, dari sekian banyak hadirin tiada seorang pun bisa menandinginya.
Selepas mata memandang, tampak hampir separo orang-ang gagah yang hadir di puncak Thai-san itu sama berlutut.
Ting-lo-hu-jin, It-bok Tai-su dan para juri yang lain sudah merubung maju dengan sikap hormat, wajah mereka tampak cerah, lega dan gembira.
Seluruhnya ada 8 orang-yang datang menggunakan topi tinggi menutup muka, kini masih ada satu belum menanggalkan topinya, siapakah dia?
Sorot mata orang banyak sering melirik ke arah orang terakhir ini, dalam hati sama bertanya-tanya.
Orang kedelapan ini, berdiri tenang sambil menggendong lengan, topi juga tidak mau diturunkan.
Thi-jan To-tiang mengangkat kedua tangan membentak lantang.
"Murid-murid kita tidak perlu banyak adat ...."
Ratusan orang mengiakan bersama, suaranya sungguh menggetarkan. Pandangan Thi-jan To-tiang berputar, bentaknya pula lebih nyaring.
"Murid Siau-lim, Go-bi, Kun-lun, Tiam-jong, Khong-tong dan Hwai-yang silakan berdiri. Memangnya kalian ingin berlutut sampai mati?"
Ribuan orang mengiakan bersama pula, suaranya lebih keras laksana guntur menggelegar. Namun banyak di antara mereka yang membatin.
"Agama To mengutamakan sabar dan welas asih, kenapa Bu-tong Ciang-bun ini justru kasar dan pemarah?"
Memang banyak orang tidak tahu bahwa sebelum Thi-jan To-tiang menjadi murid Bu-tong asalnya bernama Thio-cin-seng, seorang pentolan begal yang suka mengganas di Tai-heng-san, suaranya kasar dan lantang, tabiatnya berangasan, meski sudah ada umur namun wataknya tidak bisa berubah.
Setelah tua ia sadar dan bertobat, kejahatan memang tidak pernah dilakukan lagi, tapi tabiatnya yang berangasan itu sering terpancing bila menghadapi masalah pelik.
Orang banyak sudah berdiri, demikian pula Bok-Put-kut dan Ciok-put-wi juga berdiri.
Mendadak Thi-jan To-tiang membentak pula.
"Ciok-Put-wi, siapa suruh kau berdiri. Ayo berlutut!"
Ciok-Put-wi bukan murid Bu-tong, namun berhadapan dengan Thi-jan To-tiang yang berangasan ini, rasa takut dan hormatnya seperti menghadapi guru sendiri.
Belum hilang bentakan Thi-jan To-tiang ia sudah bertekuk lutut lagi.
Bu-siang Tai-su dari Siau-lim berkata dengan nada serius.
"Thi-jan To-tiang menyuruh orang banyak berdiri dan hanya menyuruhmu tetap berlutut bukankah dalam hatimu merasa penasaran?"
"Tecu tidak berani,"
Ciok-Put-wi menunduk kepala.
"kau tahu, sebab apa?"
Kata Bu-siang Tai-su.
"Tecu tidak tahu"
Sahut Ciok-Put-wi.
"Kamu tidak tahu?"
Damprat Thi-jan To-tiang.
"di hadapan Bu-siang Tai-su kamu berani membual?"
"Tecu betul betul tidak tahu..."
Sahut Ciok-Put-wi gemetar.
Mendadak Thi-jan To-tiang lompat turun ke bawah panggung dan menerjang ke arah Ciok-Put-wi.
Orang banyak menyingkir memberi jalan, Thi-jan To-tiang rengut baju Ciok-Put-wi serta menyeretnya ke atas panggung.
Berubah air muka Ciok-Put-wi, tapi ia tidak berani melawan, diam saja diseret ke atas.
Hadirin lebih kaget dan curiga, semua menebak-nebak dalam hati.
"Kalau Ciok-Put-wi tidak melanggar aturan perguruan, mana mungkin Thi-jan To-tiang bertindak sekasar itu! Pelanggaran apa yang telah ia lakukan? Apakah ada intrik di balik kematian Kim-Put-wi? Tapi ... umpama betul demikian, Thi-jan To-tiang berada jauh ribuan li, demikian juga Bu-siang Tai-su, dari mana mereka tahu rahasia ini? Thi-jan To-tiang cengkeram kuduk Ciok-Put-wi, bentaknya gusar.
"Tujuh tahun gurumu mendidik dan menggemblengmu, syukur kamu berhasil diangkat menjadi seorang tokoh silat yang dapat berdiri di kalangan kang-ouw, namun kau berani melakukan perbuatan terkutuk seperti itu, apa kamu tidak merasa berdosa?"
Ciok-Put-wi menjawab sambil menunduk.
"Tecu berbuat ... Tecu melanggar dosa apa? Tecu betul-betul tidak tahu, harap ..."
"Tutup mulutmu!"
Bentak Thi-jan To-tiang beringas.
"dosamu tidak terampunkan, sepantasnya kamu menyesal dan bertobat, mengaku salah dan minta ampun, Hm, ternyata kamu masih mungkin"
"Jadi engkau orang tua juga percaya fitnah orang lain atas diri Tecu, apakah ... apakah para Su-pek dan Su-siok tidak percaya kepada Tecu dan malah percaya orang lain?"
Demikian bantah Ciok-Put-wi.
Suaranya mengandung makna penasaran, sorot matanya juga tampak gugup dan kuatir, dengan pandangan mohon belas kasihan dan menuntut keadilan satu per satu ia tatap wajah ketujuh Ciang-bun-jin itu.
Tapi ketujuh tokoh Bu-lim ini sedikit pun tidak terpengaruh oleh pandangannya, sikap mereka tetap dingin dan kereng.
Tujuh pasang mata mereka justru terasa lebih tajam daripada ujung pisau.
Gemetar suara Ciok-Put-wi.
"Bwe-Su-pek ... Ong-Su-siok ... selama ini kalian paling sayang pada Tecu, kini Tecu difitnah orang, apakah kalian tidak sudi membelaku?"
Membesi hijau wajah Ji-gi Lo-jin Bwe Au-thiam, Ciang-bun-jin Khong-tong-pai ini membungkam sambil mengelus jenggot.
Ban-hong-sin-eng Ong-Tham-Kang dari Hwai-yang malah mendengus 481 hina sambil melengos, melirik pun rasanya tidak sudi.
Sambil berlutut Ciok-Put-wi merangkak ke depan gurunya, It-bing-tin-kiu-ciu Thi Sin-liong, dengan kedua tangan ia memeluk kakinya, ratapnya dengan pilu.
"Suhu engkau orang tua apakah tidak bisa bicara? Selama tujuh tahun Tecu tidak pernah berpisah barang sekejap pun dengan suhu, apakah engkau orang tua tidak tahu bagaimana martabat Tecu ... Biasanya meski Tecu bersikap kaku dingin, tapi ... tapi betapapun aku tidak mungkin mencelakai jiwa orang, engkau tentu percaya ..."
Thi Sin-liong tertunduk mengawasinya, sikap dan air mukanya amat gusar, namun juga merasa duka dan haru, merasa sayang dan tidak tega, akhirnya ia menghela napas panjang, katanya.
"Betul, selama tujuh tahun kamu pandai membawa diri, bukan hanya aku, termasuk ibu gurumu juga memujimu pendiam, baik dan ... siapa tahu ..."
Mendadak ia angkat sebelah kakinya, Put-wi ditendangnya mencelat, katanya pula dengan suara serak.
"Hari ini terbukalah kedokmu ter ... ternyata kau pandai bicara dan pandai berdebat, manusia yang suka bermuka-muka, .... tujuh.... tujuh tahun lamanya kau tipu kami suami istri!"
Ciok-Put-wi menjatuhkan diri di tanah, dengan kedua tinjunya ia memukul bumi dan meratap sedih.
"O, Tuhan, kenapa kau buat nasibku seperti Put-wi, Put-ti dan lain-lain dibunuh oleh bangsat itu! Kini aku harus menghadapi fitnah dan penasaran betapa tersiksa hatiku ... O, Tuhan, betapa tega hatiku mencelakai para saudara yang tumbuh bersama sejak kecil, bukankah mereka saudara kandungku sendiri?"
Mendadak Bu-siang Tai-su berkata kereng.
"Kapan aku dan Suhu serta para Su-siok mu mengatakan kau bunuh mereka? kau sendiri bilang demikian karena melakukan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan lagi."
Bergetar tubuh Ciok-Put-wi, sesaat ia melengong, kepalanya sedikit terangkat. Sorot mata Bu-siang Tai-su yang tajam penuh selidik tengah menatapnya. Lekas ia menunduk lagi, katanya.
"Dosa yang ditimpakan kepadaku tanpa dasar tiada bukti, bahwa engkau orang tua juga bilang demikian, sungguh Tecu amat penasaran."
"Betul,"
Ucap Bu-siang Tai-su.
"kasus ini tiada bukti tanpa saksi, kalau kamu tidak mengaku siapa pun tidak dapat menuduh dan menjatuhkan vonis terhadapmu."
"Memangnya mereka sengaja mengada-ada, memfitnah dan menjatuhkan martabatku, sudah tentu mereka tidak punya bukti,"
Demikian bantah Ciok-Put-wi.
"Binatang!"
Hardik Thi-jan To-tiang.
"kau kira perbuatanmu cukup rapi dan tiada kesalahan sedikit pun?"
Agak berubah air muka Ciok-Put-wi namun ia masih berani membantah.
"Hakikatnya Tecu ..."
"Agaknya sebelum kedokmu ditelanjangi belum mau menyerah, baiklah! Coba kau lihat siapa dia..."
Mendadak tangannya menuding ke arah orang kedelapan itu, lalu katanya pula dengan gelak tertawa.
"coba kau lihat siapa dia!"
Orang kedelapan yang misterius itu mulai bergerak, perlahan ia angkat tangan menurunkan topinya.
Dia ternyata Kong-sun-Put-ti adanya.
Walau Ciok-Put-wi amat kaget dan takut waktu melihat ketujuh Ciang-bun-jin mendadak menampilkan diri, hatinya masih tabah dan bandel.
Kini demi melihat Kong-sun Put-ti, sikapnya seperti melihat setan, tubuh yang sudah setengah berdiri seperti kena kemplang di kepalanya, seketika ia jatuh lemas dan berlutut lagi, teriaknya dengan kaget dan serak.
"Engkau ... belum mati!"
"Betul, aku belum mati,"
Dingin suara Kong-sun Put-ti.
"tenaga pukulan Lo-ngo itu mana mungkin dapat menewaskan diriku?"
Ciok-Put-wi berkata.
"Tapi dia melukaimu bukan dengan tenaga pukulan melainkan dengan..."
Saking kaget ia tidak sadar telah kelepasan omong. Kong-sun Put-ti bergelak tawa.
"Betul, Lo-ngo bukan melukai aku dengan tenaga pukulan, tapi memakai senjata rahasia beracun yang amat jahat. Lalu dari mana kau tahu kejadian ini, apa 482 kau saksikan kejadian itu?"
Hanya dalam sekejap sekujur badan Ciok-Put-wi basah kuyup oleh keringat, rasa penasaran, sedih dan gusar yang tadi menghias wajahnya kini berubah menjadi rasa ngeri, takut dan pucat, suaranya juga gemetar.
"Aku ... aku hanya menduga saja..."
Bengis suara Kong-sun Put-ti.
"Urusan sudah sejauh ini, kau masih tidak mengaku?"
"kau jebak orang dan membuat dosa, apa yang harus kukatakan?"
Demikian bantah Ciok-Put-wi. Kong-sun Put-ti menyeringai.
"Baik, biar aku jelaskan padamu. Sejak Lo-jit. Lo-ji dan Lo-liok terbunuh. aku lantas mengenakan Kim-si-be-kak di tubuhku, senjata rahasia yang ditimpuk Longo itu memang jahat dan berbisa, tapi hanya menembus baju luarku saja, sedikit pun tidak melukai kulit badanku."
Tanpa sadar Ciok-Put-wi berkata.
"Tapi aku juga ..."
Mendadak ia mendekap mulut dengan tubuh gemetar dan muka pucat. Kong-sun Put-ti terloroh-loroh.
"Lo-si, kamu kelepasan omong lagi. Waktu aku melesat keluar jendela kau sudah mendekam di bawah jendela kau tambahi pukulan pula di tubuhku. Bahwa aku tidak terluka oleh senjata rahasia berbisa itu, pukulanmu hanya menimbulkan lecet saja di tubuhku, kalau kau ingin membunuhku dengan tenaga pukulan, kukira kau perlu latihan sepuluh tahun lagi!"
"Tapi ..."
Ciok-Put-wi tergagap.
"kenapa ..."
"Aku tahu watak Lo-ngo,"
Tukas Kong-sun Put-ti.
"dia seorang tamak, namun bernyali kecil dan rendah diri, untuk melakukan perbuatan keji, apalagi berbuat kejam terhadap para saudara sendiri, aku yakin dia tidak berani kalau tiada seseorang yang mendukung dan menjadi dalang di belakang layar. Untuk menyelidiki orang di belakang layar ini, walau aku terluka oleh senjata rahasia berbisa itu, tapi aku bersandiwara, pura -pura terluka parah!"
Sampai di sini ia menghela napas panjang lalu melanjutkan.
"Terus terang aku tidak menduga orang yang mendekam di bawah jendela dan membokongku dengan pukulan tangan itu adalah dirimu. Mungkin kamu masih ingat, aku pernah bilang di antara kami bertujuh saudara, pikiranmu paling mendalam, juga paling sukar dilayani ... kalau orang lain, aku berani membongkar kedoknya saat itu juga, tapi bagimu aku tidak berani bertindak gegabah."
Bahwasanya kasus ini merupakan permusuhan mereka bertujuh, tapi dalam saat seperti ini?
kalau persoalan ini tidak diselesaikan secara tuntas, akibatnya bisa menimbulkan situasi genting seluruh Bu-lim, maka hadirin mengikuti perkembangan kasus ini dengan menahan napas, tiada yang turut campur sepatah kata pun.
Lebih lanjut Kong-sun Put-ti berkata.
"Aku maklum bila saat itu aku mengadakan reaksi hanya akan mengundang kekejianmu, aku tahu posisiku dengan Toa-ko waktu itu sudah terjepit, sementara entah berapa banyak begundalmu di sekeliling kami, umpama aku mendapat bantuan orang-orang Bu-lim, dalam keadaan seperti itu mungkin juga bukan tandinganmu, apalagi belum tentu ada orang mau membantu dan percaya padaku."
Sejenak ia berhenti, lalu meneruskan.
"Dalam hati sudah aku duga suatu ketika Lo-ngo pasti akan kau bunuh juga untuk menutup rahasia, untuk itu terpaksa kamu membiarkan Toa-ko hidup, supaya orang lain tidak curiga terhadapmu. Bahwa jiwa Toa-ko tidak berbahaya, maka aku bersandiwara dan pura-pura terluka parah lalu melarikan diri. Pucat seperti kapur wajah Ciok-Put-wi, tubuhnya lemas lunglai, kini ia tak tahan lagi untuk berbicara.
"Apakah ... jenazah itu juga ... juga kau ... kau yang ...."
"Betul,"
Kata Kong-sun Put-ti kalem.
"dengan jenazah itu aku mengelabuimu."
Bok Put-kut yang berlutut di bawah panggung mendengarkan dengan air mata bercucuran, dengan suara gemetar mendadak ia menyeletuk.
"Jenazah? ...Jenazah apa?"
"Setelah aku melarikan diri,"
Kong-sun Put-ti menjelaskan lebih lanjut.
"sudah aku perhitungkan jeritanku pasti mengejutkan Toa-ko maka Ciok-Put-wi tidak akan segera mengejar keluar. Waktu itu orang banyak berkumpul di Ban-tiok-San-ceng, ada yang jahat ada juga orang baik, aku pilih seorang yang paling jahat dan banyak dosanya, aku pancing dia keluar, lalu kututuk 483 hiat-to nya. aku tukar pakaian dengan dia, lalu aku sambitkan senjata rahasia beracun di punggungnya..."
Tak tahan Bok Put-kut bertanya pula.
"Tapi wajah dan perawakannya kan tidak sama dengan dirimu."
"Sebetulnya aku akan melukai atau merusak wajahnya lalu aku gosok dengan lumpur di luar dugaan senjata rahasia beracun itu kelewat jahat, setelah terkena senjata rahasia, kaki tangan dan kelima indranya mendadak membengkak, kulit badannya juga berubah hitam legam, darah hitam meleleh dari tujuh lubang indranya, bentuk wajah dan tubuhnya berubah, maka aku tidak perlu merusak wajahnya lagi."
"Sungguh lihai ... sungguh kejam,"
Demikian desis Bok Put-kut geram.
"Ciok-Put-wi, wahai Ciok-Put-wi, tega betul kamu berbuat sekejam itu!"
"Baru selesai aku mengatur rencanaku, mendadak aku dengar langkah orang,"
Demikian tutur Kong-sun Put-ti lebih jauh.
"untuk menyingkir sudah tidak keburu lagi, terpaksa aku mendekam di tempat gelap. Aku lihat yang datang adalah Ciok-Put-wi"
Setelah menghela napas, ia melanjutkan.
"Waktu itu aku masih belum yakin bahwa dia lah biang keladi seluruh kejahatan ini, maka aku menahan napas dan ingin membuktikan sendiri. Tapi setelah ... setelah ia lihat jenazah itu, wajahnya memang memperlihatkan rasa senang, malah .. malah dengan sengit ia menusuk lagi dua kali pada jenazah itu."
Sampai di sini nada suaranya mulai haru dan serak.
"Waktu itu aku sudah yakin seratus persen, namun susah aku tebak kenapa dia begitu benci terhadapku. Tampak pedangnya berubah hitam setelah menusuk jenazah yang keracunan itu. Waktu itu keadaan sepi dan tiada orang lain, segera ia bungkus jenazah dan pedang itu dengan jubah luarnya, lalu diangkat pergi secara diam-diam, entah dibuang ke kali atau dipendam di mana. Dan aku .... ai malam itu juga langsung aku pulang ke Bu-tong. Sungguh di luar dugaan, para Su-pek dan Su-siok kebetulan berkumpul di sana..."
Setelah menghela napas Bu-siang Tai-su menimbrung.
"Sudah cukup, kejadian selanjutnya tidak perlu kau katakan lagi. Mungkin perbuatan jahat keparat ini sudah kelewat takaran, maka Tuhan mengatur kita yang sudah sekian tahun tak keluar rumah ini berkumpul di Bu-tong ...."
Thi Sin-liong membentak.
"Binatang! Apa pula yang ingin kau katakan?"
Tak nyana mendadak Ciok-Put-wi melompat berdiri lalu melompat dan terbahak-bahak, serunya.
"Bagus, bagus! Dahulu Pek Sam-khong pernah bilang, di antara kita beberapa muridnya ini, bicara tentang cerdik pandai tiada yang lebih unggul dari Kong-sun Put-ti, secara diam-diam aku tidak terima, sampai sekarang aku baru takluk lahir-batin... Aku yakin rencanaku amat rapi, aku bekerja dengan cermat, hari ini baru aku sadari, aku terjungkal di tangan rase kecil ini."
"Binatang!"
Thi Sim-liong menghardik gusar.
"kedokmu sudah terbongkar, tidak lekas berlutut minta ampun? Masih berani kurang ajar?"
Ciok-Put-wi masih terbahak-bahak, serunya.
"Ya, urusan sudah selarut ini, apa gunanya aku berlutut minta ampun segala? Memangnya kalian mau mengampuni aku? Betul, akulah yang membunuh mereka kalian mau apa, silakan saja."
Thi Sim-liong mengerang murka, dengan sengit ia hendak menubruk maju, tapi Bu-siang Tai-su menahannya, Ji-gi Lo-jin juga memeluk tubuhnya. Dengan serak Thi Sin-liong berteriak.
"Kenapa kalian melarang aku membunuhnya?"
Perlahan Ji-gi Lo-jin berkata.
"Di tempat dan keadaan seperti itu, memangnya kita takut ia melarikan diri? Apa salahnya kita kompres dulu keterangannya, apa alasannya melakukan kejahatan itu, baru nanti kita jatuhkan hukuman padanya. Ciok-Put-wi membentak.
"Aku sudah mengakui segala perbuatanku, apa pula yang ingin kau tanya padaku?"
"Aku sudah menyelami jiwamu,"
Demikian kata Ji-gi Lo-jin kalem.
"kalau hanya harta benda pasti tak mungkin meluluhkan imanmu. Lalu lantaran apa kamu melakukan kejahatan?"
Dalam keadaan segenting ini, orang tua ini masih bicara dengan kalem, sabar dan lembut, 484 seolah-olah tiada urusan apa pun di dunia ini dapat membuatnya gugup.
Sesaat lamanya Ciok-Put-wi berdiri diam, mendadak ia tertawa keras.
"Pertanyaan bagus ... pertanyaan tepat ... Akhirnya ada juga orang di dunia ini percaya bahwa aku Ciok-Put-wi bukan manusia yang gampang diperas dan diancam dengan cara apa pun."
Thi Sin-liong berteriak.
"Lalu karena apa kamu berbuat jahat? .. Katakan, lekas katakan!"
Mendadak Ciok-Put-wi berhenti tertawa, perlahan ia putar badan ke arah timur, menghadap sang surya yang baru terbit di ufuk timur dan berdiri termangu-mangu.
Bentakan dan caci-maki orang lain seperti tidak di dengarnya lagi.
Melihat sikap dan keadaannya, orang banyak melengong.
Seperti orang mengigau ia berkata perlahan.
"Toa-ko ... Toa-ci, tugas yang harus kulakukan sudah kulakukan, hanya sayang tidak bisa aku selesaikan secara tuntas. Tugas yang belum aku laksanakan, musuh yang belum kubunuh terpaksa aku serahkan kepada kalian untuk membunuhnya. Di alam baka Siau-te akan menjadi setan dan secara diam-diam akan aku bantu kalian."
Nada suaranya mengandung makna dendam dan benci. Orang banyak kaget lagi ngeri.
"Siapa Toa-ko dan Toa-ci mu itu?"
Bentak Thi Sin-liong.
"siapa pula musuhmu? Kamu adalah anak yatim-piatu. dari mana datangnya dendam kesumat? Apa ... apa tujuanmu sebenarnya?"
Menyala sorot mata Ciok-Put-wi, perlahan ia menyapu pandang wajah hadirin.
Setiap orang yang dipandangnya seperti dirayapi ular di tubuhnya, semua merasa ngeri dan merinding.
Mendadak Ciok-Put-wi bergelak tawa pula, katanya mirip orang gila.
"Siapakah musuhku? Apakah tujuanku? Sampai mati tidak akan aku jelaskan ... akan kubuat kalian menduga-duga dan saling curiga. Bila tiba saatnya pedang Toa-ko atau Toa-ci ku menusuk dada kalian baru kalian akan mengerti, tapi saat itu ... hahaha, kalian sadar pun sudah terlambat."
Berubah air muka semua hadirin, tidak sedikit yang membentak.
"Siapa Toa-ko mu .."
"Siapa Toa-ko ku? ..."
Ciok-Put-wi terloroh-loroh sampai menungging.
"mungkin kau ! Juga mungkin dia! Mungkin kalian yang ada di atas lui-tai, silakan tebak sendiri! Bila kalian saling curiga, Toa-ko ku lebih mudah turun tangan, lebih banyak kesempatan, mungkinkah kalian tidak akan mencurigai orang .. haha ... haha ..."
Gelak tawa yang menggila mendadak putus dan berhenti.
Sambil menjerit Ciok-Put-wi roboh terjengkang, sejenak ia kelejetan, kaki tangan dan kelima indranya mendadak membengkak lalu darah mengucur keluar mengotori panggung.
Ciok-Put-wi bunuh diri dengan menelan racun jahat, cukup lama setelah jiwanya melayang hadirin masih merasa merinding, gelak tawanya seperti masih bergema di puncak gunung yang sepi berkumandang pula kutukannya ....
Cuaca terang benderang, namun suasana masih terasa dilingkupi firasat jelek.
Cukup lama tiada orang bergerak, tiada orang bicara.
Dalam suasana hening itu, yang bergerak lebih dulu ternyata Thi-Sim-liong, guru Ciok-Put-wi yang mendidiknya menjadi pesilat.
perlahan ia hampiri jenazah Ciok-Put-wi.
Langkahnya terseret seperti kakinya diganduli benda ribuan kali.
Setiba di depan jenazah Ciok-Put-wi, mendadak ia mencabut pedang di punggungnya.
"Sret", pedang panjang itu mengeluarkan suara nyaring, tapi hadirin masih diam. Thi-Sim-liong menuding pedang ke langit, kepala juga mendongak sesaat lamanya seperti sedang berdoa. Lalu sepatah demi sepatah ia berkata.
"Ciang-bun Thi Sin-liong, murid generasi ketujuh menyampaikan sembah hormat kepada arwah para Co-su di alam baka, murid tak becus tidak berhasil mendidik murid sehingga murid generasi ke delapan Ciok-Put-wi menjadi anak durhaka yang mengkhianati perguruan, melakukan kejahatan pula di kang-ouw, lebih celaka lagi, waktu mangkat ke alam baka anak ini masih terhitung sebagai murid perguruan kita, belum sempat dipecat dari perguruan ...."
Suaranya makin serak dan tersendat, namun ia meneruskan.
"Sayang sekali Tecu tidak sempat mencuci bersih nama baik perguruan pada saat dia masih hidup. Setelah dia mati terpaksa aku bertindak untuk menegakkan aturan perguruan."
Pedang yang terangkat tinggi di atas bergerak turun lalu menusuk jenazah Ciok-Put-wi.
Dalam suasana yang hening, hadirin mendengar jelas waktu ujung pedang menusuk dada Ciok-Put-wi.
Meski hanya sekejap dan perlahan, tapi suara itu membuat orang banyak bergidik dan merinding.
Pui-Po-giok melengos ke arah lain, tidak tega menyaksikan.
Orang banyak juga menunduk kepala.
Meski Bok-Put-kut berusaha menahan diri, akhirnya pecah juga tangisnya.
Air mata berkaca-kaca di pelupuk mata Thi Sin-liong, lebih lanjut ia berkata dengan serak.
"Sebagai Ciang-bun Tecu ikut bertanggung jawab atas kejadian ini, maka Tecu ...."
Mendadak pedang ia putar balik terus menusuk tenggorokan sendiri.
Meledaklah jerit kaget orang banyak.
Secepat kilat Ti-jan To-tiang dan Bu-siang Tai-su melompat maju memeluk lengan Thi Sin-liong, sementara Thi-jan To-tiang merebut pedang panjang.
serunya.
"Ken ... kenapa kamu berbuat sebodoh ini!"
Sambil mendongak Thi Sin-liong mengeluh panjang.
"Aku gagal mendidik murid, bukan saja durhaka terhadap para Co-su, aku juga berdosa terhadap kalian, kalau aku tidak mati, apa ... apakah aku bisa tenang? Betapa aku bisa menebus dosa?"
"Omong kosong!"
Bentak Thi-jan To-tiang.
"kamu tidak dapat disalahkan. Siapa di kolong langit ini yang menyalahkanmu! Dalam suasana tegang dan ricuh di Bu-lim sekarang, tenaga dan pikiranmu amat dibutuhkan, tidak .. tidak berarti kematianmu ini"
"Aku ... aku ..."
Thi Sin-liong meratap sedih.
Mendadak Bu-siang Tai-su ulur tangannya menepuk perlahan pinggangnya.
Belum habis Thi Sin liong bicara, tubuhnya menjadi lemas, kepala bersandar di pundak Thi-jan To-tiang.
Kata Bu-siang Tai-su setelah menghela napas.
"Dia terlalu emosi. biarlah dia istirahat saja .."
Beberapa kejap keadaan tetap hening, kemudian hadirin mulai bergerak dan ribut.
Ada yang menghela napas, ada yang bisik-bisik, tidak sedikit yang berebut maju ingin memberi hormat kepada guru dan Ciang-bun-jin mereka.
Pertemuan besar di puncak Thai-san yang cukup menggemparkan ini, gelagatnya akan berakhir dalam suasana yang merawankan, berakhir secara tawar dan melempem.
Tidak sedikit di antaranya yang siap-siap akan bubar, yang suka usil ada juga yang diam-diam mencari-cari di mana dinamit itu disembunyikan.
Seolah-olah tiada orang yang memperhatikan gerak-gerik Hwe-mo-sin lagi.
Padahal, meski sedang berbincang-bincang, Ting-lo-hu-jin, Ban Cu-liang, It-bok Tai-su ketujuh Ciang-bun-jin dan Pui-Po-giok, tiada satu pun yang lena, tiada satu pun yang tidak memperhatikan gerak-gerik Hwe-mo-sin.
Hwe-mo-sin juga tahu bahwa dirinya masih diawasi dan menjadi pusat perhatian orang banyak, maka tidak berani banyak tingkah, lama-kelamaan karena merasa risi, meledaklah rasa kekinya, bentaknya.
"Tentunya kalian tahu bahwa kematian Ciok-Put-wi dan lain-lain bukan perbuatanku. Kenapa kalian masih mengawasi diriku?"
Ini-jan To-tiang melotot gusar, semprotnya.
"Bukan kamu biang-keladinya. kenapa tadi kamu mengaku?"
Hwe-mo-sin tertawa keras, katanya.
"kalau tadi aku tidak mengaku, bukankah Pui-Po-giok kini sudah celaka? Urusan harus dibedakan mana lebih penting dan mana harus didahulukan, memangnya kalian sudah melupakan nasihat orang kuno?"
Sudah tentu orang banyak tahu apa makna perkataan Hwe-mo-sin, semua diam dan saling pandang tanpa bicara. Hwe-mo-sin berhenti tertawa, suaranya menjadi beringas.
"Tidak perlu aku banyak bicara. Apa kehendak kalian terhadap diriku katakan saja."
Hadirin beradu pandang, sukar mengambil keputusan.
Akhirnya pandangan orang banyak tertuju ke arah Ting-lo-hu-jin, Thi-jan To-tiang dan Bu-siang Tai-su.
Agaknya mereka mempercayakan keputusan ini kepada mereka bertiga.
Bu-siang Tai-su menjura hormat, katanya.
"Entah bagaimana pendapat Hu-jin?"
"Terserah pada putusan Tai-su."
Sahut Ting-lo-hu-jin. Berkatalah Bu-siang Tai-su sambil mengelus jenggot.
"Bagaimana pendapat Pui-siau-hiap?"
Bahwa guru besar suatu aliran ternama seperti Bu-liang Tai-su dari Siau-lim juga menghargai pendapat seorang pemuda seperti Pui-Po-giok, jelas bobot dan kedudukan Pui-Po-giok sekarang di kalangan kang-ouw sudah cukup berat lagi tinggi.
Perasaan Ban Cu-liang, Bok Put-kut dan beberapa orang lagi tampak lega dan senang.
Sikap Pui-Po-giok justru prihatin, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa bangga atau congkak, dengan serius ia menjawab.
"Tai-su cukup bijaksana, Tecu tidak berani banyak bicara."
Bu-siang Tai-su manggut-manggut katanya pelan.
"Bagus, jiwa pendekar, laku ksatria, mengutarakan welas asih .."
Mendadak ia mengulap tangan, serunya.
"Enyahlah. lekas enyah dari sini!"
Bibir Pui-Po-giok tampak bergerak, seperti mengucap terima kasih.
Diam-diam Ting-lo-hu-jin, It-bok Tai-su, Ji-gi Lo-jin, Ban Cu-liang dan lain-lain mengangguk.
Hanya Thi-jan To-tiang yang berubah air mukanya, seperti ingin protes, namun ditelan lagi niatnya.
Bahwa Ciang-bun Bu-tong-pai tidak memprotes, orang lain mana berani banyak mulut.
Hwe-mo-sin celingukan, lalu tertawa, katanya.
"Kalau demikian, baiklah aku mohon diri."
"Tunggu sebentar!"
Mendadak Thi-jan To-tiang membentak. Berdiri alis Hwe-mo-sin.
"Ada apa?"
Melotot mata Thi-jan To-tiang.
"Dengan hati yang baik hari ini Bu-siang Tai-su mengampuni dirimu, bukan saja kamu tidak mengucap terima kasih. masih berani bertingkah dan ...."
"Kenapa aku harus berterima kasih?"
Tukas Hwe-mo-sin dengan sikap sombong.
"bahwa kalian tidak berani menahan dan merintangi aku, karena takut aku meledakkan dinamit yang bisa menghancurkan semua orang di sini berani kau ..."
Belum habis Hwe-mo-sin bicara, mendadak berkumandang gelak tawa nyaring disusul perkataan lantang seorang dari kejauhan.
"Dinamitnya disembunyikan dalam peti mati, di suatu tempat dalam hutan, semuanya sudah aku rusak dan murid-murid Mo-kiong juga seluruhnya aku bekuk. Jangan kuatir lagi datangnya bencana."
Suara lantang itu seperti mengambang di udara, makin jauh dan lirih.
Tokoh-tokoh silat yang berdiri di atas panggung banyak yang melihat berkelebatnya bayangan orang di lereng gunung sana, berpakaian kasar dan memegang tongkat panjang, jenggot dan rambutnya sudah ubanan, karena jarak cukup jauh, sukar terlihat jelas wajahnya.
Hanya Poa-Ce-sia yang melihat jelas dan kenal orang itu.
Orang tua ini pernah muncul sebelum pertemuan besar di Thai-san ini dibuka, ia muncul sambil berdendang dan pergi seperti naga yang kelihatan kepala tanpa kelihatan ekornya.
Kecuali kagum dan kaget, timbul juga rasa curiga Poa-Ce-sia.
"Siapakah orang tua itu?"
Hadirin terkejut tapi juga girang, perhatian orang banyak kembali tertuju ke arah Hwe-mo-sin. Thi-jan To-tiang tertawa.
"Nah, bagaimana sekarang?"
"Apa kehendakmu?"
Bentak Hwe-mo-sin naik darah.
Memang tidak malu ia dikenal sebagai gembong penjahat, dalam keadaan seperti ini, dikepung sekian banyak orang gagah, walau sorot matanya tampak jeri dan gugup, namun masih berdiri tegap, seperti tidak mau takluk atau menyerah.
Mendelik Thi-jan To-tiang, baru mulutnya terbuka, Bu-siang Tai-su sudah mendahului bicara.
"Hwe-si-cu, tadi kulepas pergi, kau kira karena takut terhadapmu? Kamu salah ... salah! Sekarang kalau kami mau mencabut nyawamu, semudah menginjak semut, umpama dinamitmu masih ada, tak mungkin kau beri perintah kepada anak buahmu, memangnya kamu belum percaya?"
Hwe-mo-sin menunduk dan tidak berani bicara lagi.
"Nah, pergilah,"
Ujar Bu-siang Tai-su.
"Kuharap dalam sisa hidupmu dapat berlaku baik dan melakukan pekerjaan mulia bagi masyarakat umumnya. Mau tidak kau dengar wejanganku, terserah padamu."
Naik turun dada Hwe-mo-sin, entah merasa malu atau menyesal, mungkin juga gusar. Sesaat kemudian mendadak ia menoleh mengawasi Pui-Po-giok. Pui-Po-giok tersenyum, katanya.
"Janji yang pernah kukatakan, tidak akan aku jilat kembali. Tidak usah kuatir."
Wajah Hwe-mo-sin yang serba runyam mengulum senyum kecut, katanya.
"Baiklah, tiga hari lagi aku akan menemuimu."
Sejenak ia menyapu pandang sekelilingnya, tanpa bicara lagi lalu membawa orang-orangnya pergi. Thi-jan To-tiang mengentak kaki, katanya gegetun.
"Melepas harimau pulang ke gunung, kelak pasti mengundang bencana."
Bu-siang Tai-su tersenyum.
"Membunuhnya kita kehilangan cinta kasih melepas dia kita memperoleh kesetiaan."
Thi-jan To-tiang tertawa, katanya.
"Tai-su benar, akulah yang salah."
Hadirin merasa kagum, hormat dan malu diri melihat betapa besar jiwa mereka, dengan cinta kasih mengikat kesetiaan, bersalah berani mengaku salah, itulah teladan yang patut dipuji dan ditiru.
Bergegas Po-giok menjatuhkan diri, serunya.
"Terima kasih atas bantuan para Cian-pwe."
Belum habis Po-giok bicara, Bu-siang dan Thi-jan memapahnya bangun. Dengan senyum lebar Bu-siang berkata.
"Hari ini dapat berhadapan ksatria gagah seperti Pui-si-cu, sungguh merupakan kebanggaan kaum Bu-lim umumnya ... Omitohud sang Budha memang bijaksana, fitnah atas dirinya kini sudah tercuci bersih, ibarat mutiara dapat memancarkan cahaya kembali."
Sambil mengelus jenggot Thi-jan To-tiang juga berkata.
"Ucapan Tai-su betul Pui-Po-giok, jangan kau lupakan petuah Tai-su. Kini tiba saatnya bagimu menegakkan kembali peraturan Bu-lim."
Po-giok menyembah pula menerima petuah itu katanya.
"Terima kasih .. Sementara itu Ting-lo-hu-jin, Ban Cu-liang, It bok Tai-su, para Ciang-bun dari Kun-lun, Khong-tong dan lain-lain sama merubung maju, wajah mereka cerah dan gembira, semua memberi selamat bahagia. Siau-kong-cu berdiri di samping, diam dan terlongong mengawasinya, mendadak air mata meleleh membasahi pipi. Penonton yang sudah mulai bubar mendadak merubung lagi di sekeliling panggung. Mereka maklum betapa berat perjuangan Pui-Po-giok untuk, memperoleh kepercayaan kembali dari 488 para Cian-pwe dan orang banyak yang salah paham terhadapnya. Kini ia boleh merasa bangga dan tentram, namun tidak kecil pengorbanan yang harus dipertaruhkan. Penonton yang merasa kagum lantas bersorak sorai.
"Hidup Pui-Po-giok ... Hidup Pui-Po-giok ..."
Tak kuasa Bok Put-kut membendung air matanya, ia tidak tahu kenapa dirinya menangis, entah merasa senang atau berduka? Thi-wah malah berjingkrak dan menari-nari, serunya sambil keplok.
"Toa-ko memang baik, aku senang punya Toa-ko sebaik ini!"
Dasar lugu, dalam keadaan seperti ini ia tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk menyatakan kegembiraan hatinya, maka ia menari dan berkeplok sendiri.
Sebagian pcnonton yang berada di sebelah timur agaknya sudah berunding, kini serempak mereka berteriak.
"Mohon Pui-siau-hiap mendemonstrasikan kepandaiannya, supaya terbuka mata kami!"
Seruan ini mendapat sambutan seluruh hadirin, teriakan demi teriakan berkumandang dari berbagai sudut.
"Ya, benar, mohon Pui-siau-hiap unjuk beberapa jurus kepandaiannya. silakan Pui-siau-hiap. Silakan ...."
Saking harus lidah Pui-Po-giok menjadi kelu matanya pun berlinang-linang, sesaat kemudian ini ia dapat bersuara.
"Hadirin ... hadirin .... aku ...."
Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Khu Lung
Baca Juga: Rahasia Bukit Iblis 1