Eps 4 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.
Serentak mereka lantas melompat maju menghalangi daun jendela.
"Dia ... dia bukan komplotan kawanan orang berseragam, juga tiada permusuhan apa pun dengan kalian, mengapa kalian hendak membunuhnya?"
Teriak Ling-ji.
"Setiap lelaki di dunia ini pantas mampus semua, tahu tidak?"
Ucap Kim-ho-ong.
"Nah, lekas minggir?!"
Kejut dan gusar juga Ling-ji, teriaknya.
"Jika begitu, memangnya setiap lelaki di dunia ini harus kau binasakan seluruhnya dan tersisa engkau sendiri saja baru puas, begitu? "Ya, memang begitu, sebab ...."
Belum lanjut ucapan Kim-ho-ong, mendadak Cui Thian-ki menukas.
"Sebab 180 setelah setiap lelaki di dunia ini mati ludes, maka tiada orang yang merasakan dia terlebih cebol daripada lelaki lain."
Kim-ho-ong tertawa keras.
"Ya, betul, tahu juga kau."
Watak kakek kerdil ini sungguh sangat aneh dan jarang ada bandingannya, pada waktu tidak perlu marah, ia justru marah.
Sekarang ia disindir oleh Cui Thian-ki, ia berbalik tidak memperlihatkan rasa gusar.
Maka Cui Thian-ki berkata pula.
"Tapi bila kau bunuh orang ini, ibuku pasti tidak suka, tatkala mana bila ibu tidak gubris lagi padamu, tentu bisa runyam bagimu."
"Oo, apa betul?"
Tampak Kim-ho-ong melenggong.
"Siapa yang berani menipumu?"
Kembali Kim-ho-ong melenggong, mendadak ia mengentak kaki dan memukuli dada sendiri, papan geladak sampai berbunyi keras.
Melihat kegusaran kakek itu, kawanan gadis sama melengak, disangkanya sekali ini Oh Put-jiu pasti akan terbunuh.
Tak tersangka setelah berjingkrak sejenak, Kim-ho-ong lantas berteriak lagi.
"Lepaskan bocah buruk itu, lempar ke belakang dan jangan sampai kulihat dia lagi."
Dan sekali lempar, kawanan gadis emas itu lantas melemparkan Oh Put-jiu ke belakang anjungan. Selang sejenak, setelah Ling-ji tenang kembali, perlahan ia tampil ke muka dan memberi hormat, katanya.
"Cianpwe telah membebaskan kami dari kesukaran, entah cara bagaimana kami harus membalas budi pertolongan ini."
"Betul, aku sudah menyelamatkan nyawa kalian,"
Seru Kim-ho-ong.
"kalian memang pantas membalas kebaikanku ini. Cara bagaimana kalian akan membalas budi, boleh kau katakan sendiri saja."
Ling-ji berpikir sejenak, ucapnya kemudian.
"Ada juga Houya meninggalkan sedikit harta benda ...."
Kim-ho-ong tergelak.
"Haha, harta benda? Siapa yang menghendaki harta bendamu? Setiap orang tahu Wi-kim-kiong kaya raya tiada tandingan, memangnya kedatanganku ini ingin mencari harta?"
Ling-ji melengak, ia coba melirik kawanan gadis emas, ucapnya dengan gugup.
"Habis Cianpwe ingin ... ingin apa?"
"Kau pun tidak perlu khawatir akan kubawa pergi kalian,"
Kata Kim-ho-ong pula.
"Meski aku pun penggemar perempuan cantik, tapi pelayan orang lain rasanya tidak sudi kugaet."
Baru sekarang Ling-ji mengembus napas lega, ucapnya hampa.
"Entah Cianpwe ingin memberi pesan apa?"
Mendadak Kim-ho-ong berhenti tertawa, katanya dengan menarik muka.
"Kedatanganku ini hanya ingin mencari berita satu orang. Permusuhanku dengan orang ini sedalam lautan dan tidak mungkin hidup bersama. Jika tidak kutemukan 181 jejaknya dan membunuhnya, selama hidupku ini takkan tenteram."
Ia bicara dengan penuh rasa dendam kesumat sehingga membuat ngeri orang yang mendengarkan.
"Entah ... entah siapakah orang ini?"
Tanya Ling-ji dengan rada gemetar. Gemertuk gigi Kim-ho-ong saking geregetan, katanya.
"Dia bukan lain Suheng Ci-ih-hou yang busuk itu, ia ketakutan padaku sehingga bersembunyi seperti kura-kura. Di seluruh jagat ini hanya Ci-ih-hou saja yang tahu jejaknya."
"Tapi ... tapi agak terlambat kedatangan Cianpwe, sebab Houya kami sudah ... sudah wafat,"
Ucap Ling-ji.
"Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu dia sudah mampus,"
Kata Kim-ho-ong dengan terkekeh.
"Justru lantaran dia sudah mati, maka kudatang kemari. Mungkin kalian tidak tahu sudah belasan tahun kutunggu kematiannya dan selama itu belum terjadi. Ketika kudengar kabar dia akan bertanding pedang dengan orang, segera juga kususul kemari, ingin kulihat dia mampus di bawah pedang orang ...."
"Tapi dengan wafatnya Houya, kan tiada orang lain lagi yang tahu jejak ...."
"Haha, memangnya orang macam apa diriku ini sehingga dapat kau bohongi?"
Kim-ho-ong tertawa aneh pula.
"Hubungan Ci-ih-hou dengan Suhengnya lain daripada yang lain, bila Ci-ih-hou mati, mustahil dia tidak meninggalkan pesan apa-apa padamu? Terlebih si tokoh berbaju putih itu menyatakan tujuh tahun kemudian akan datang lagi, masakah Ci-ih-hou tidak menunjuk seseorang agar datang kepada Suhengnya untuk minta belajar?"
Air muka Ling-ji berubah, ucapnya tergegap.
"Tapi ... tapi ...."
"Tapi apa?!"
Bentak Kim-ho-ong.
"Ayo, lekas kalian mengaku terus terang di mana dia tinggal, kalau tidak, jangan menyesal jika terpaksa aku bertindak kasar padamu."
Meski biasanya Ling-ji pintar omong dan pandai putar lidah, tidak urung sekarang ia menjadi gelagapan.
Kim-ho-ong menarik sebuah kursi, ia melompat ke atas kursi dan duduk bersila di situ, katanya sambil memberi tanda kepada kawanan gadis emas.
"Ayo lekas menyanyi, bawakan lagu yang enak didengar!"
Kawanan gadis emas itu mengiakan, segera mereka menyanyi. Meski suara mereka cukup merdu, namun kaku dan dingin, sedikit pun tidak enak didengar.
"Sehabis mereka bernyanyi dan kalian belum juga memberi keterangan, segera akan kuhajar adat padamu,"
Ucap Kim-ho-ong, lalu ia pejamkan mata untuk mengumpulkan semangat.
Ternyata lagu yang dibawakan gadis emas itu kemudian berubah menjadi merdu merayu dengan lirik yang porno sehingga membuat para pendengar terkesima dan akhirnya tidak tahan.
Mendadak Cui Thian-ki berseru.
"Sudahlah, jangan nyanyi lagi!"
"Siapa itu yang bilang?"
Bentak Kim-ho-ong sambil membuka mata.
"Ai, seumpama mereka menyanyi tiga hari tiga malam dan orang tetap tidak mau bicara sekata pun, lain bisa apa?"
Ujar Cui Thian-ki. Serentak Kim-ho-ong melompat turun, dampratnya sambil menuding Cui Thian-ki.
"Budak busuk, jelas kau sendiri anggota keluarga Ngo-heng-sin-kiong kita, mengapa kau bicara membela orang lain?"
"Aku tidak bermaksud membela orang luar,"
Sahut Cui Thian-ki dengan tertawa.
"Aku hanya bicara menurut fakta saja, memangnya engkau lebih suka aku dusta padamu."
Kim-ho-ong memberi tanda sehingga suara nyanyi segera berhenti, dengan gemas ia melototi Ling-ji dan Cu-ji hingga sekian lama, mendadak ia membentak.
"Kalian mau mengaku atau tidak?"
Namun Cu-ji dan Ling-ji tetap bungkam tanpa bersuara.
"Nah, apa kataku, betul tidak?"
Ujar Cui Thian-ki dengan tertawa.
Kim-ho-ong berjingkrak murka, tapi semakin garang ia mencaci maki, semakin rapat pula Ling-ji dan Cu-ji membungkam.
Cui Thian-ki berdiri bersandar dinding dengan santai, ucapnya perlahan.
"Jika engkau percaya dan mau menurut, hendaknya engkau pulang saja supaya tidak bikin rusak kesehatanmu sendiri jika terus marah-marah di sini."
Kim-ho-ong termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ia tertawa keras lagi, katanya.
"Haha, bagus, ingin kulihat apakah kalian mau mengaku atau tidak?"
Segera ia mengeluarkan segulung kawat emas.
Panjang kawat emas ini tampaknya ada beberapa tombak, halus serupa benang, mirip benang sulam yang biasa dipakai orang perempuan, siapa pun tidak tahu apa gunanya kawat emas lembut ini bagi Kim-ho-ong.
Hanya Cui Thian-ki saja yang tahu apa gunanya kawat emas itu, mendadak air mukanya berubah.
Dalam pada itu Kim-ho-ong telah mengayun tangannya sehingga gulungan kawat emas itu terjulur panjang ke depan dan tertarik hingga lurus.
"Hehe, coba, kau mengaku atau tidak?"
Dengan terkekeh Kim-ho-ong lantas menyabetkan kawat emas itu ke tubuh kawanan gadis.
Kawat emas itu beberapa tombak panjangnya sehingga setiap anak gadis itu rata-rata tersabet oleh kawat itu.
Orang mungkin menyangka kawat emas selembut itu takkan menimbulkan rasa sakit meski tersabet.
Ternyata tidak demikian halnya, begitu sabetan menyentuh badan, kontan baju kawanan gadis itu sama robek berkeping-keping sehingga kelihatan kulit badan yang putih bersih dan babak belur.
Karena Hiat-to mereka tertutuk sehingga tidak dapat bergerak, ingin menjerit pun tidak bisa, hanya wajah mereka kelihatan ketakutan dan menahan rasa sakit.
Ling-ji dan Cu-ji berteriak terus menubruk maju, segera mereka bermaksud menarik kawat emas.
Siapa tahu kawat emas lembut itu ternyata bergerak 183 serupa ular hidup, sekali berputar dan melingkar balik, kontan Ling-ji berdua juga tersabet.
Tergetar tubuh Ling-ji dan Cu-ji, sabetan kawat emas itu serupa besi panas yang menyengat tubuh, sakitnya sukar dilukiskan.
"Nah, mengaku tidak?"
Bentak Kim-ho-ong pula dengan terkekeh.
Melihat orang lain tersiksa, tampaknya dia sangat senang, tangan bergerak dan kawat emas segera hendak menyabet pula.
Ling-ji dan Cu-ji menjadi nekat dan bermaksud menerjang musuh untuk melabraknya.
Mendadak terdengar seorang berteriak.
"Berhenti dulu, akan kukatakan!"
"Haha, bagus, akhirnya ada juga yang mengaku!"
Seru Kim-ho-ong dengan tertawa, sekali sendal, kawat emas panjang itu melingkar balik dan tergulung menjadi satu.
Maka terlihatlah seorang anak lelaki dengan mata besar dan hidung mancung muncul dari pojok ruang sana.
Siapa lagi dia kalau bukan Pui Po-ji.
Entah sejak kapan dia sudah siuman.
"Huh, setan cilik macam dirimu ini tahu apa?"
Omel Kim-ho-ong dengan kening bekernyit. Berbareng Ling-ji dan Cu-ji lantas berteriak juga.
"Po-ji, tidak boleh kau katakan."
Semula Kim-ho-ong tidak percaya anak sekecil itu tahu sesuatu, demi mendengar ucapan Ling-ji dan Cu-ji, ia menjadi girang, sebab kalau benar anak bocah ini tidak tahu apa-apa, tentu Ling-ji berdua tidak perlu khawatir.
Sekali lompat segera Kim-ho-ong mendekati Po-ji, ucapnya dengan tertawa.
"Anak sayang, lekas katakan apa yang kau ketahui, sebentar kakek memberikan permen untukmu."
Ia menjulurkan tangan dan bermaksud membelai kepala Po-ji, sayang ia terlampau kerdil, lebih pendek satu kepala daripada Po-ji, dengan sendirinya sukar meraba kepala anak itu.
Mendadak Po-ji mendelik dan menjawab.
"Engkau kakek siapa?"
Kim-ho-ong melenggong, lalu tergelak dan berkata.
"Haha, bagus, bagus! Aku kakek orang lain!"
Po-ji tertawa, katanya.
"Bagus, adik cilik berjenggot panjang, beginilah baru kakak sayang padamu, sebentar kakak membelikan permen untukmu."
Kembali Kim-ho-ong melenggong, seperti mau marah, tapi urung sehingga sikapnya kelihatan kikuk, hanya meraba jenggot terus-menerus.
Bilamana tidak lagi tertekan perasaannya, tentu Ling-ji dan Cu-ji sudah tertawa geli.
Segera Po-ji bertutur.
"Setelah Ci-ih-hou wafat, pernah dia tinggalkan sepucuk surat wasiat, pada sampul surat tertulis alamat Suhengnya. Surat wasiat itu 184 sekarang berada pada siapa, hal ini tentu sangat ingin kau ketahui bukan?"
"Ya, betul, lekas berkata,"
Seru Kim-ho-ong girang.
"He, bicara dengan Toako, mana boleh sekasar ini?!"
Omel Po-ji. Kim-ho-ong berdehem kikuk, diam-diam ia memaki di dalam hati.
"Binatang cilik, sebentar bila sudah kau katakan, bisa kurobek tubuhmu."
Tapi sebelum Po-ji bertutur, andaikan dia disuruh memanggil anak itu sebagai kakek mungkin juga akan dilakukannya. Terpaksa ia terkekeh dan menjawab.
"Oya, Toako, mohon lekas menjelaskan."
Cui Thian-ki tertawa mengikik geli, serunya.
"Hihihi, lucu bin aneh, lelucon setiap tahun terjadi, baru ini terlebih lucu. Kakek jenggot panjang justru memanggil Toako kepada seorang anak kecil!"
Ling-ji dan Cu-ji tidak tahan lagi rasa gelinya, mereka mengikik tawa. Tapi demi teringat kepada persoalan rumit yang belum terpecahkan, air mata mereka hampir menitik lagi. Terdengar Po-ji berkata.
"Jika kau minta Toako bicara, mudah saja. Cuma anak gadis ini sama sekali tiada permusuhan denganmu, lebih baik kau bebaskan mereka pergi saja."
Gemertuk gigi Kim-ho-ong saking geregetan, tapi di mulut terpaksa menjawab.
"Ah, gampang, gampang ...."
Lalu ia memberi tanda.
"Buka Hiat-to mereka dan bebaskan mereka pergi!"
Hendaknya maklum, dengan susah payah ia berusaha mencari tahu tempat pengasingan Suheng Ci-ih-hou, segala urusan lain dapat dikesampingkannya.
Kalau tidak, masakah dengan kedudukannya yang diagungkan sudi menyebut "Toako"
Kepada Pui Po-ji?
Maka dengan gerak cepat kawanan gadis emas tadi lantas bekerja, hanya sekejap saja kawanan gadis lantas dapat bergerak bebas.
Keadaan kawanan gadis itu agak mengenaskan, baju robek dan muka pucat, badan babak belur pula, berdiri saja tampak lemas, dan tangan mereka berusaha menutupi bagian badan yang terbuka, dengan wajah memelas mereka memandang Ling-ji dan Cu-ji.
Namun Ling-ji dan Cu-ji sendiri juga berlinang air mata, mereka menunduk dan berucap lemah.
"Kalian lekas pergi saja ...."
Po-ji tidak tega memandang mereka, ia cuma berseru.
"Peti yang terletak di pojok sana itu memang bagian mereka, bagaimana kalau diberikan juga kepada mereka."
"Oya, boleh, boleh saja ...."
Kata Kim-ho-ong sambil memberi tanda.
Hanya sekejap saja kawanan gadis emas sudah mengangkat puluhan peti harta itu ke depan kawanan gadis jelita.
Terpaksa kawanan gadis itu angkat kaki dengan menerima pesangon itu.
Biarpun 185 mereka tidak mau pergi, terpaksa mereka pergi dengan perasaan berat.
Betapa pun mereka adalah anak perempuan yang tidak tahan siksa dan hinaan lagi.
"Budak busuk!"
Bentak Kim-ho-ong.
"Tidak lekas enyah, mau tunggu apa lagi? Apa minta kuhajar pula?"
Dengan gemetar kawanan gadis itu sama berlutut di depan Ling-ji dan Cu-ji sambil meratap.
"Maaf, kami ... kami menyesal ...."
"Tidak, Houya pasti tidak menyalahkan kalian,"
Ujar Ling-ji.
"Sekarang lekas kalian pergi saja."
"Betul, Houya memang juga menyuruh kalian lekas pergi, maka lekaslah berangkat, bila terlambat lagi mungkin menjadi kasip seterusnya,"
Tukas Cui Thian-ki sambil membagikan peti harta benda itu.
Berulang Kim-ho-ong mengentak kaki dan membentak agar kawanan gadis itu lekas enyah.
Akhirnya kawanan gadis itu melangkah pergi, sebelum keluar anjungan, tanpa terasa mereka sama menoleh memandang sekejap kepada Po-ji, meski cuma sekilas pandang saja, namun sorot mata mereka yang pedih dan terima kasih itu cukup membuat Po-ji takkan lupa selamanya.
Malam bertambah larut, kabut tambah tebal sehingga cahaya bintang pun guram.
Terlihat belasan sosok bayangan emas kecil menjinjing lentera, ada yang duduk dan ada yang berdiri sama berpegangan pada tambang layar di sekitar anjungan, cahaya lentera menembus ke dalam anjungan melalui jendela yang terbuka.
Bayangan emas kecil itu tampaknya serupa benar dengan Kim-ho-ong, tapi bila diawasi baru ketahuan "mereka"
Tidak lain adalah belasan ekor kera berbulu emas yang sudah terlatih sehingga paham benar kehendak sang majikan.
Di samping kapal layar terdapat belasan rakit kulit yang ringan, mungkin rakit yang digunakan Kim-ho-ong dan rombongannya.
Rakit kulit yang enteng dan gesit sehingga tidak menimbulkan suara ketika meluncur di permukaan air.
Kawanan gadis menurunkan sampan, lalu berangkat dengan menahan isak tangis.
Kim-ho-ong sudah tidak sabar menunggu lagi, segera ia terkekeh dan menegur Pui Po-ji.
"Nah, mereka sudah pergi. Sekarang tentunya dapat kau katakan siapa yang memegang surat wasiat tinggalan Ci-ih-hou,"
"Ya, berada padaku sendiri,"
Jawab Po-ji.
"Oo, berada ... berada padamu?!"
Kim-ho-ong menegas.
"Wah, bagus sekali. Nah, serahkan padaku."
Tapi Po-ji hanya menatapnya dengan pandangan tajam, sorot matanya menampilkan sikap yang aneh, seperti mengejek, serupa juga senang.
"Kau tidak dapat mengambilnya."
"Binatang cilik,"
Kim-ho-ong menyeringai.
"Apakah kau pun ingin tahu rasa?"
Mendadak Po-ji tertawa, ejeknya.
"Huh, kau monyet emas tua bangka, kenapa tidak kau bunuh diriku dan makan diriku atau bakar diriku, yang jelas surat 186 wasiat itu takkan dapat kau ambil, sebab surat wasiat itu sudah kumakan di dalam perut."
Kejut dan girang Ling-ji dan Cu-ji, akhirnya terharu juga dan mencucurkan air mata pula, mencucurkan air mata bagi Pui Po-ji.
Siapa pun tidak menyangka anak sekecil ini sedemikian berani dan sedemikian cerdik.
Kim-ho-ong seperti disambar petir dan termangu-mangu, mendadak ia membentak murka.
"Binatang cilik, akan kubedah perutmu!"
Habis bicara serentak ia menubruk maju dan mencengkeram serupa hantu.
Meski perawakannya lebih kecil, sekali cengkeram Po-ji kena diangkatnya ke atas.
Po-ji sudah bertekad untuk mati, maka sama sekali ia tidak memperlihatkan rasa takut, sebaliknya ia malah tersenyum, hanya dalam hati terasa agak pedih.
Ling-ji menjerit dengan gemetar.
"Jangan takut Po-ji, jika engkau mati biar kutemanimu ...."
"Aku juga ...."
Sambung Cu-ji dengan menangis sehingga tidak dapat meneruskan ucapannya.
"Lepaskan dia!"
Mendadak Cui Thian-ki membentak. Dengan menyeringai Kim-ho-ong menjawab.
"Sebentar setelah kubedah perutnya baru kulepaskan dia!"
"Akan kau bedah perutnya? Memangnya sengaja hendak kau bikin aku menjadi janda?"
Seru Cui Thian-ki. Kim-ho-ong melenggong heran.
"Apa ... apa katamu?"
Dengan santai Cui Thian-ki menjawab.
"Dia sudah menjadi suamiku, aku telah menjadi istrinya. Sekarang dia adalah majikan cilik 'Seng-cui-sin-kiong' kami, memangnya berani kau bunuh dia?"
Setelah tertegun sejenak, mendadak Kim-ho-ong menengadah dan terbahak-bahak.
"Hahaha, kau telah menjadi istrinya? Hahaha, binatang cilik ini suamimu? Haha ... omong kosong ... kentut belaka ... lelucon yang tidak lucu ...."
Suara tertawanya makin lama makin ewa, makin lemah, sampai akhirnya cuma keluar suara "ho-ho-ho"
Dan "he-he-he"
Dari kerongkongannya. Soalnya dari sikap Ling-ji dan Cu-ji serta ketenangan Cui Thian-ki, ia tahu apa yang dikatakan Cui Thian-ki itu bukanlah kentut, juga bukan omong kosong, apalagi lelucon.
"Nah, tidak kau lepaskan dia sekarang?!"
Kata Cui Thian-ki pula dengan tersenyum. Kim-ho-ong mengentak kaki berulang-ulang dengan menggertak gigi, tiba-tiba ia terkekeh dan berucap halus.
"Hehe, nona yang baik, kumohon, kuminta dengan hormat, biarkan kubunuh bocah ini. Jika tidak kubunuh bocah ini, sungguh rasa gemasku tidak terlampiaskan. O, nona baik, biarkan kubunuh dia, selama hidupku takkan kulupakan kebaikanmu."
"Ai, kenapa engkau menjadi pikun begini?!"
Ujar Cui Thian-ki dengan tertawa genit.
"Kan sudah kukatakan, dia sudah menjadi suamiku, mana kutega membiarkan dia dibunuh olehmu?"
"Oo, nonaku yang baik, selanjutnya, biarpun harus kupanggil bibi padamu pun jadi, ingin kusembah padamu pun boleh, asal saja ...."
"Tidak, betapa pun tidak bisa,"
Potong Cui Thian-ki sambil menggeleng. Mendadak Kim-ho-ong berteriak dan memaki.
"Keparat, budak busuk, budak mampus, jangan kau lupa, berpuluh orang tua-muda atau besar-kecil penghuni Ngo-heng-kiong hanya Kungfuku yang paling tinggi, jika kubunuh dia begitu saja memangnya kau bisa berbuat apa padaku?"
Cui Thian-ki tertawa, katanya.
"Betul, memang Kungfumu paling tinggi, tapi jika berhadapan dengan ibuku, sama sekali Kungfumu tidak ada gunanya lagi. Meski caramu bicara sekarang galak seperti setan, bila berhadapan dengan ibuku, kentut saja kau tidak berani."
Kepala Kim-ho-ong lantas menunduk, muka pun kelihatan merah, agaknya apa yang dikatakan Cui Thian-ki itu memang bukan omong kosong.
Kawanan gadis emas saling pandang dan sama menampilkan senyuman aneh.
Meski orang luar tidak ada yang tahu kenapa Kim-ho-ong yang garang itu bisa sedemikian takut terhadap majikan perempuan "Seng-cui-sin-kiong", namun kawanan gadis emas itu tentu saja tahu dengan jelas hal tersebut.
Selang tak lama, tiba-tiba Kim-ho-ong mengangkat kepala, katanya dengan menyeringai.
"Hm, bilamana kau pun kubunuh sekalian di sini, dari mana ibumu mendapat tahu siapa yang berbuat kejam padamu?"
"Memangnya kau berani?"
Tanya Cui Thian-ki dengan tertawa.
"Kenapa tidak berani?"
Jawab Kim-ho-ong.
"Tidak, kau tidak berani,"
Ujar Thian-ki dengan tertawa.
"Jika berani tentu sejak tadi sudah kau lakukan. Sebab, apa pun juga kau tidak pernah lupa kepada Bu-cui-wi-hong-kiam (sengat tawon kuning tanpa cairan) Seng-cui-sin-kiong kami. Biarpun aku dapat kau bunuh juga sebelum mati akan kusengat dirimu satu kali, sengatan yang tidak dapat disembuhkan oleh siapa pun di dunia ini, sebab orang yang pernah merasakan sengatan demikian sudah lama sama pulang ke rumah nenek moyangnya alias modar, sebabnya selama ini Bok-long-kun tidak berani bergebrak denganku secara terbuka bukankah karena dia juga takut kugunakan jurus terakhir yang siap untuk gugur bersama ini?!"
Kembali Kim-ho-ong melenggong sampai sekian lama, mendadak ia lepaskan Pui Po-ji, bentaknya dengan geregetan.
"Kurang ajar! Bisa mati aku saking gusar!"
Habis berucap, terus saja ia menerjang ke dinding anjungan.
Betapa kuat dinding kapal itu, tapi sekali ditumbuk oleh kepalanya, langsung dinding kapal menjadi bolong, di tengah berhamburnya bubuk kayu ia terus menerobos keluar.
Melihat betapa hebat kekuatan orang tua kerdil itu, Ling-ji dan Cu-ji sama melongo kaget.
Selang sejenak.
"blang", tahu-tahu dinding sebelah lain berlubang pula dan Kim-ho-ong melayang masuk lagi sambil terbahak-bahak. Sementara itu Cui Thian-ki sudah membangunkan Pui Po-ji dan sedang meraba-raba tubuh anak itu sambil bertanya.
"Sakit tidak?"
Lalu ia berpaling dan tanya Kim-ho-ong.
"Nah, rasa gemasmu sudah terlampias?!"
"Haha, aku ini sungguh keledai tolol, keledai goblok!"
Ucap Kim-ho-ong dengan tertawa.
"Jadi baru sekarang kau tahu?"
Ujar Cui Thian-ki dengan terkikih geli. Kim-ho-ong tidak menggubrisnya lagi, ia tetap terkekeh dan berkata pula.
"Hehe, meski tidak dapat kubunuh kalian, memangnya tidak dapat kubekuk kalian, lalu kukurung di suatu tempat terpencil, akan kusiksa kalian dengan perlahan, akhirnya bocah ini masa tidak mengaku di mana alamat yang tertulis pada surat wasiat itu?"
Air muka Cui Thian-ki berubah, untuk pertama kalinya ia memperlihatkan rasa kejut dan khawatirnya.
"Hehe, biarpun tidak kutemukan mayat Ci-ih-hou, tapi kapal ini dapat kuhancurkan hingga berkeping-keping, sedikit-banyak akan terlampiaslah rasa dongkolku."
Ling-ji dan Cu-ji menjadi khawatir oleh ancaman kakek kerdil itu, soalnya bukan cuma mayat Ci-ih-hou memang masih berada di dalam kapal, Siaukongcu juga belum meninggalkan kapal.
Sejak tadi mereka tidak berani memandang putri kecil itu justru lantaran khawatir asal usul Siaukongcu sebagai satu-satunya keturunan Ci-ih-hou akan diketahui musuh.
Sekarang dalam keadaan khawatir mereka tidak dapat berpikir panjang lagi, serentak mereka menubruk ke atas tubuh Siaukongcu, dengan mendelik mereka berkata.
"Kau be ... berani?"
Kim-ho-ong menyeringai.
"Hehe, kenapa tidak berani? Bukan saja kapal ini akan kuhancurkan, juga segenap penumpang di atas kapal ini akan kubunuhi seluruhnya. Hanya budak cilik ini ...."
Sampai di sini ia menuding Siaukongcu, tertawanya tambah riang, lalu menyambung.
"Budak cilik ini tampaknya pasti keturunan Ci-ih-hou, maka akan kubesarkan dia dan kelak akan kujadikan dia sebagai selirku yang ke-199."
"Kau ... kau ...."
Saking cemas hingga Ling-ji tidak sanggup bicara. Pada saat itulah tiba-tiba dari luar anjungan kapal layar pancawarna itu bergema suara orang menyebut Buddha.
"Omitohud!"
Kata-kata yang sederhana itu diucapkan dengan sangat kaku, menyusul suara seorang yang dingin dan aneh berkata pula.
"Siapa pun tidak boleh mengganggu sesuatu benda apa pun di kapal ini."
Waktu suaranya mulai bergema kedengaran sangat jauh, tapi pada kata terakhir diucapkan, tahu-tahu orangnya sudah berada di luar pintu. Kejut dan gusar Kim-ho-ong, bentaknya.
"Siapa itu, berani ikut campur urusanku?"
"Apakah kau kenal diriku?"
Jengek suara seorang di luar, lalu muncul seorang padri berkulit hitam dan berkaki telanjang dengan jubah kain belacu.
"Hah, apakah engkau ini Kah-sing Hoat-ong?"
Tanya Kim-ho-ong kaget.
Hendaknya maklum, nama Kah-sing Hoat-ong, padri fakir dari India ini sudah lama terkenal, meski Kim-ho-ong tidak pernah melihatnya, tapi dari dandanan dan bentuknya yang aneh yang sering dilukiskan dalam cerita orang Kangouw ini, sekali pandang saja dapatlah Kim-ho-ong menerka siapa dia.
Wajah Kah-sing Hoat-ong yang kurus kering itu menampilkan senyuman aneh, senyuman yang tidak senyum, hanya ujung mulut saja bergerak sedikit.
Ia merangkap kedua telapak tangan di depan dada, ucapnya perlahan.
"Tidak tersangka Kim-kiong-mo-cu juga kenal diriku."
Dandanan Kim-ho-ong yang aneh dan perawakannya yang unik juga diketahui oleh setiap orang Kangouw, maka sekali pandang saja segera pula Kah-sing Hoat-ong tahu siapa dia.
"Hehe, sama-sama,"
Ucap Kim-ho-ong.
"Antara kita sebenarnya serupa air sungai tidak pernah melanggar air sumur, entah mengapa Taysu sengaja datang mencampuri urusanku?"
"Aku tidak ingin ikut campur urusanmu, apakah kau ingin hidup atau minta mati sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku,"
Kata Kah-sing Hoat-ong.
"Hanya mengenai kapal layar pancawarna ini, siapa pun tidak boleh mengganggunya."
Ketika melihat kedatangan penolong, semula Ling-ji dan Cu-ji merasa gembira, sekarang diketahui kedatangan padri fakir ini bermaksud jahat, tentu saja mereka sangat kecewa.
Diam-diam Cui Thian-ki mendekati mereka dan berkata.
"Kalian tidak perlu kecewa, kalian harus tahu orang yang datang ke kapal ini semuanya serupa serigala yang menyampaikan selamat ulang tahun kepada ayam, tidak seorang pun yang berniat baik. Maka bila kita ingin menyelamatkan diri, kita sendiri yang harus mencari akal."
"Akal ... akal apa?"
Tanya Ling-ji. Cui Thian-ki menghela napas, ucapnya.
"Saat ini pun aku tidak tahu akal apa."
Dalam pada itu Kim-ho-ong sedang mendengus.
"Hm, tak terduga orang beragama seperti Taysu juga punya pikiran tamak dan hendak merampas harta milik orang lain. Memangnya engkau tidak takut berdosa?"
"Aku cuma tidak sampai hati menyaksikan Kungfu sakti tinggalan Ci-ih-hou akan lenyap begitu saja, maka sengaja kudatang kemari untuk mengambil kitab pusaka ilmu silat tinggalannya untuk disebarluaskan, mengenai barang lain sama sekali tidak perlu kusentuh, inilah tujuanku yang baik, masakah kau bilang aku tamak?"
"Wah, jika begitu, jadi akulah yang salah omong, maaf,"
Kata Kim-ho-ong.
"Omitohud! Yang tidak tahu tidak salah,"
Ucap Kah-sing Hoat-ong.
"Hahaha, sungguh padri bajik munafik,"
Mendadak Kim-ho-ong tergelak.
"Jika Kungfu tinggalan Ci-ih-hou harus disebarluaskan, itulah merupakan tugas anak 190 muridnya, masakah perlu minta jasamu?"
"Memangnya siapa anak muridnya?"
Tanya Kah-sing Hoat-ong dengan sinar mata gemerdep.
"Semua yang berada di anjungan ini,"
Kata Kim-ho-ong. Sorot mata Kah-sing Hoat-ong yang tajam menyapu pandang sekejap atas diri Pui Po-ji, Cui Thian-ki. Ling-ji, Cu-ji dan Siaukongcu, lalu katanya dingin.
"Hm, bakat kelima orang ini kurang bagus, jika mereka mewarisi Kungfu Ci-ih-hou, hasilnya tentu akan memalukan perguruan Ci-ih-hou. Sudah lama aku bersahabat moril dengan Ci-ih-hou, aku tidak tega membiarkan namanya tercemar setelah meninggal, terpaksa hari ini aku harus bertindak baginya dan mengambil seluruh kitab pusaka ilmu silatnya."
"Huh, padri tua serupa dirimu ini jelas ingin mencuri ilmu silat orang lain, tapi sengaja bicara muluk-muluk, sungguh menggelikan,"
Sindir Kim-ho-ong.
"Kau berani kasar terhadapku?"
Teriak Kah-sing Hoat-ong gusar.
"Hari ini paling-paling kita harus berkelahi, memangnya kasar atau halus apa bedanya?"
Sahut Kim-ho-ong.
"Hm, orang lain takut padamu, masakah aku pun takut?"
"Hah, bagus!"
Seru Kah-sing Hoat-ong gusar.
"Memangnya sudah lama ingin kulihat betapa hebat Kungfu istana emas. Ayo, silakan mulai!"
"Silakan kentut, boleh coba Hwesio mulai dulu,"
Kata Kim-ho-ong dengan mencibir.
Keduanya saling melotot dan berdiri muka berhadapan muka.
Meski Kah-sing Hoat-ong juga pendek kecil, ternyata Kim-ho-ong jauh lebih cebol daripada dia.
Angin meniup kencang sehingga menambah hawa dingin.
Melihat kedua tokoh kelas top ini segera akan bertempur mati-matian, semua orang ikut bersemangat dan ingin menonton peristiwa menarik ini.
Maklumlah, keduanya sama-sama tokoh aneh, tentu Kungfu mereka pun lain daripada yang lain.
Selain tertarik untuk melihat Kungfu yang aneh, para penonton juga berbeda perasaan daripada menyaksikan pertarungan Ci-ih-hou dengan jago pedang baju putih itu.
Semua orang ikut prihatin atas kalah atau menang pertandingan Ci-ih-hou, sebaliknya kalah atau menang akhir pertarungan kedua orang aneh ini tiada seorang pun yang peduli.
Maklumlah, siapa pun di antara mereka menang tiada sedikit pun bermanfaat bagi orang banyak.
Jika kedua orang ini nanti sama-sama terkapar, itulah kejadian yang diharapkan.
Sementara itu Kah-sing Hoat-ong dan Kim-ho-ong masih berdiri saling melotot tanpa bergerak.
Dengan sendirinya pandangan semua orang juga terpusat kepada mereka.
Sekonyong-konyong tangan Kim-ho-ong bergerak, kawat emas yang tergenggam itu mendadak menyambar ke depan membawa suara mendesir dan tepat mengenai tubuh Kah-sing Hoat-ong.
Biarpun kawat emas itu menyambar dengan cepat, namun semua orang memperkirakan padri fakir itu tentu dapat mengelak dengan gesit.
Siapa tahu Kah-sing Hoat-ong sama sekali tidak mengelak dan menghindar melainkan membiarkan tubuh disabet oleh kawat emas itu.
Ling-ji dan Cu-ji sudah merasakan betapa sakit sabetan kawat emas, disangkanya Kah-sing Hoat-ong pasti juga sukar terhindar dari babak belur, siapa tahu padri fakir itu ternyata baik-baik saja, kulit badannya yang hitam tiada tanda lecet luka apa pun, juga wajahnya tidak memperlihatkan rasa sakit.
Kim-ho-ong masih terus ayun tangan, dalam sekejap saja sudah menyabet empat kali.
Kah-sing Hoat-ong seperti terkesima dan membiarkan diri dihujani cambukan tanpa bergerak.
Sambil menyeringai mendadak kawat emas Kim-ho-ong menyabet terlebih keras, lalu tidak ditarik kembali lagi melainkan terus melingkar, serupa ular saja kawat emas itu membelit tubuh Kah-sing Hoat-ong hingga belasan kali.
Waku Kim-ho-ong menarik sekuatnya, ternyata gagal.
Malahan Kah-sing Hoat-ong lantas pejamkan mata, siapa pun tidak mampu membuatnya bergerak.
Heran dan kejut semua orang, diam-diam Cu-ji berkata.
"Meski Kungfu Kah-sing Hoat-ong sangat lihai, tapi caranya bertempur dengan orang tanpa bergerak, mana dapat ia mengalahkan lawannya?"
"Kukira dia mempunyai cara untuk mengalahkan lawannya, hanya entah ...."
Cui Thian-ki mendengus sebelum lanjut ucapan Ling-ji.
"Peduli dia akan menang atau kalah, paling baik keduanya mampus sekaligus."
Mendadak Po-ji yang dipegangnya itu meronta lepas.
"Hei, kau mau apa?"
Tanya Thian-ki.
"Paman kepala besar sedang memanggilku, biar kujenguk dia,"
Desis Po-ji.
Sementara itu air muka Kim-ho-ong tampak prihatin, kawat emas yang dipegangnya terbetot lurus, namun benang sehalus itu ternyata tidak putus.
Kah-sing Hoat-ong tetap tidak bergerak.
Rupanya ilmu yoga dari negeri Thian-tiok (India) memang sangat ajaib, yang diutamakan adalah "tahan"
Atau sabar.
Seorang ahli yoga kelas top biasanya dibakar atau direndam pun takkan mati, bahkan dikubur selama berpuluh hari pun tetap hidup.
Sesuatu hal yang orang lain tidak tahan justru dapat dilakukan mereka.
Pertarungan di antara dua orang, jika selisih Kungfu masing-masing tidak banyak, maka soal kesabaran dan ketahanan memegang peranan penting dan merupakan kunci kalah atau menang.
Kah-sing Hoat-ong terkenal sebagai jago nomor satu di negeri Thian-tiok, dengan sendirinya dalam hal "tahan"
Boleh dikatakan tidak ada taranya lagi.
Angin menderu di luar, kapal layar besar ini jadi rada goyang, namun perhatian semua orang sama terpusat pada pertarungan sengit ini sehingga tidak merasakan perubahan cuaca.
Kening Kim-ho-ong mulai keluar butiran keringat.
Perlahan Po-ji kembali mendekati Ling-ji dan mendesis.
"Paman kepala besar tanya padamu, di mana tempat perpustakaan Ci-ih-hou?"
Ling-ji berjongkok sedikit dan membisiki telinga Po-ji.
"Yaitu pada pintu yang dimasuki Houya tadi."
Po-ji mengangguk, diam-diam ia mengeluyur pergi lagi. Pada saat itulah mendadak Kim-ho-ong membentak tertahan.
"Menari!"
Serentak kawanan gadis emas mengiakan dan terjun ke arena dan mulai berlenggak-lenggok lagi.
Di bawah cahaya lentera terlihat paha mereka yang jenjang dan dada yang montok dengan gaya menari yang menggiurkan serta desis perlahan yang menggetar sukma.
Biarpun Ling-ji dan Cu-ji juga sama orang perempuan, tidak urung mereka pun terkesima dan terangsang.
Air muka Kah-sing Hoat-ong yang semula tampak tenang tiba-tiba berubah prihatin, lambat laun dahinya yang hitam itu pun merembes keluar butiran keringat.
Sebaliknya sikap Kim-ho-ong kelihatan agak santai.
Deru angin di luar juga mulai mereda.
Sekonyong-konyong angin meniup tanpa suara.
"prak, blang", badan kapal berguncang keras disertai beberapa jeritan melengking, sebagian lentera sama padam. Rupanya tiang layar mendadak patah. Berbareng Ling-ji dan Cu-ji berteriak kaget.
"Liong-kui-hong (sejenis angin puyuh)!"
Belum lenyap suaranya, kembali angin menyambar lagi, terdengar jeritan di sana-sini, cahaya lentera padam seluruhnya.
Mungkin kawanan kera emas yang memegang lentera itu sama terbawa angin dan tercemplung ke laut.
Seketika keadaan gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.
Angin meniup kencang, kapal menjadi oleng.
Ling-ji saling pegang tangan dengan Cu-ji, Cui Thian-ki berteriak-teriak.
"Po-ji ... Po-ji ...."
Namun tidak ada suara jawaban.
Angin tambah keras, kapal semakin guncang, kawanan gadis emas ikut menjerit juga.
Dengan erat Cui Thian-ki merangkul tiang layar, baru saja membuka mulut hendak berteriak, seketika angin dahsyat membuatnya gelagapan sehingga sukar bersuara.
Terdengar angin menderu bagai harimau meraung di samping telinga.
Mendadak badan kapal miring ke samping disertai suara "blang-blung", di tengah serentetan suara keras itu terseling pula jeritan ngeri orang perempuan, entah 193 suara siapa.
Cepat Kim-ho-ong membentak.
"Jangan ...."
Belum lanjut ucapannya lantas terputus, entah putus oleh deru angin yang dahsyat atau karena kena serangan Kah-sing Hoat-ong.
Maka tidak ada lagi suara orang.
Di tengah angin dahsyat tiba-tiba terdapat pula suara hujan, dari kecil menjadi besar, dalam sekejap raja butiran air hujan laksana mutiara yang jatuh berhamburan.
Ombak bergemuruh dan hujan angin memekak telinga, bumi dan langit gelap gulita, dalam keadaan demikian, betapa pun tangkasnya seorang juga akan tunduk di bawah amukan alam.
Cui Thian-ki masih terus merangkul tiang dan tampak ketakutan, dalam keadaan demikian baru dirasakan betapa kecilnya manusia, tanpa kuasa ia memberosot dan berlutut.
Air ombak mendampar ke atas kapal sehingga Cui Thian-ki basah kuyup, daun jendela tergetar rontok dan ditelan ombak yang tidak kenal ampun.
Entah berselang berapa lama, lambat-laun Cui Thian-ki tidak sadarkan diri, yang teringat cuma merangkul tiang seeratnya dan tidak tahu urusan lain.
Mendadak sinar kilat berkelebat, suara guntur pun menggelegar.
Di bawah cahaya kilat dan bunyi guntur, terlihat seseorang menggelinding keluar dari pojok sana, siapa lagi dia kalau bukan Oh Put-jiu.
Ia seperti sukar menyelamatkan diri dan segera akan terguling keluar anjungan dan segera pula bisa ditelan ombak.
Sekilas lihat, secara di bawah sadar Cui Thian-ki berteriak.
"Selamatkan dia!"
"Kenapa harus menyelamatkan dia?"
Jengek seorang dengan dingin.
"Sebab rahasia tempat sembunyi kitab tinggalan Ci-ih-hou hanya dia saja yang tahu,"
Seru Cui Thian-ki dengan suara parau.
Baru lenyap suaranya, kembali sinar kilat berkelebat dan guntur berbunyi.
Sesosok bayangan orang segera melayang maju dan menubruk di atas tubuh Oh Put-jiu, kedua tangannya yang kuat serupa cakar baja menjuju.
"crat", langsung kedua tangan menancap geladak kapal sehingga tubuh Oh Put-jiu serupa terbelenggu erat di atas geladak. Cui Thian-ki dapat melihat dengan jelas, orang yang menyelamatkan Oh Put-jiu itu bukan lain daripada Kah-sing Hoat-ong. Hanya sekilas pandang saja, lalu Cui Thian-ki tidak ingat apa-apa lagi. Guntur masih menggelegar disertai sinar kilat, angin menderu dan ombak mendampar. Entah berselang berapa lama lagi, Cui Thian-ki mendusin seperti habis mimpi buruk, dalam keadaan samar-samar tubuh terasa berguncang, mata tidak melihat sesuatu, telinga juga tidak mendengar apa pun. Hanya deru angin dan 194 hujan sudah semakin jauh, suasana kosong, hampa .... ***** Fajar sudah tiba, ombak akhirnya tenang. Terkadang ada tiang layar patah, sobekan layar serta meja kursi yang hancur dan papan terdampar ke pantai. Hujan masih gerimis. Sejauh mata memandang dari pantai hanya kilatan awan mendung menyelimuti permukaan laut, tidak terlihat lagi kapal layar pancawarna yang megah itu. Namun betapa pun hujan badai tidak kenal ampun, tetap belum dapat membuat tenggelam kapal raksasa ini melainkan cuma menghanyutkannya jauh di tengah samudra sana dan merampas kejayaannya. Waktu Cui Thian-ki benar-benar sadar, tatkala itu sudah pagi. Ia coba mengamati keadaan sekitarnya, terlihat anjungan kapal yang mewah itu sudah tidak keruan rupa lagi terpukul angin badai, meja kursi dan perabot lain sudah sama hanyut terbawa ombak, hanya tersisa ruang anjungan yang luas dan rusak. Di tengah ruang anjungan sekarang hanya tersisa dia sendiri dan tiada bayangan orang lain, sungguh seram rasanya berada di tengah kehampaan dan kesunyian ini. Cui Thian-ki merasa ngeri, tubuh agak menggigil, gigi gemertuk, mendadak ia menjerit terus menerjang ke luar. Di luar masih hujan deras, tidak terlihat pantai, juga tidak tampak sehelai bayangan layar pun. Di kolong langit ini seakan-akan cuma tersisa Cui Thian-ki sendirian, perasaan ngeri dalam keadaan sendirian ini membuatnya hampir gila. Dengan rambut panjang terurai ia berjalan dari haluan kapal menuju ke buritan sambil berteriak-teriak.
"Po-ji ... Ling-ji ... Po-ji ... di mana kalian?!"
Mendadak teriakannya terhenti, sebab tiba-tiba dilihatnya di samping anjungan sana ada lagi sesosok bayangan manusia yang kurus kering, siapa lagi dia kalau bukan Kah-sing Hoat-ong.
Dalam keadaan dan di tempat begini, di atas "bangkai kapal"
Ini ternyata ada jejak manusia, sekalipun orang ini adalah Kah-sing Taysu yang aneh, mau tak mau membuatnya terkejut dan juga bergirang.
Waktu diperhatikan, terlihat di bawah tubuh padri fakir itu ternyata ada lagi sesosok tubuh lain, ternyata Oh Put-jiu yang belum lagi sadar itu.
Kah-sing Hoat-ong menoleh dan memandangnya sekejap, sekilas timbul juga rasa gembiranya, tapi hanya sekejap saja lantas lenyap dan berubah dingin lagi, lalu menunduk, dengan telapak tangannya yang hitam ia coba mengurut Hiat-to 195 Oh Put-jiu untuk mengeluarkan air yang memenuhi perut anak muda itu.
Setelah mengalami musibah begini dan tiba-tiba menemukan sesamanya, sungguh Cui Thian-ki sangat ingin bercengkerama dengan dia, tak terduga padri fakir itu hanya memandangnya sekejap dengan sikap dingin, keruan ia sangat kecewa, tapi ia coba mengajak bicara juga.
"Sehabis ditimpa musibah dan tidak mengalami cedera apa pun, sungguh Taysu harus diberi selamat dan entah Taysu melihat orang lain tidak?"
Ia berharap dari jawaban padri itu dapat diketahui keadaan Po-ji dan lain-lain. Tahu-tahu Kah-sing Hoat-ong tetap diam saja tidak menggubris. Tentu saja Cui Thian-ki mendongkol, ucapnya ketus.
"Sedemikian kaku sikap Taysu terhadap orang lain, tapi ternyata mau turun tangan menolong orang, sungguh peristiwa ajaib."
Namun Kah-sing Hoat-ong tetap diam saja. Sejenak kemudian, mendadak ia mendengus.
"Hm, tujuanku menolong dia sama sekali tidak berniat baik, tidak perlu kau heran."
"Tidak bermaksud baik, kenapa kau tolong dia malah?"
Tanya Cui Thian-ki.
"Tujuanku hanya ingin kucari tahu di mana kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou. Kalau tidak, biarpun dia mati seribu kali juga tidak kupeduli."
Baru sekarang Cui Thian-ki ingat waktu dirinya dalam keadaan hampir kelengar tadi sempat mengatakan rahasia kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou hanya diketahui oleh Oh Put-jiu, pantas padri fakir ini mau menolong pemuda kepala besar itu.
Bola matanya berputar, mendadak ia tertawa dan berkata.
"Hihi, kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou masakah mungkin diwariskan kepada bocah tolol ini?"
"Tapi kau sendiri yang bilang ...."
"Itu cuma ucapanku pada waktu kepepet agar engkau mau menolong dia, tak tersangka orang cerdik semacam dirimu juga mudah percaya begitu."
Air muka Kah-sing Hoat-ong agak berubah, ia termenung sejenak, tiba-tiba tersembul lagi senyuman dingin, ucapnya perlahan.
"Betul, keterangan itu kau katakan pada saat kepepet, tapi justru ucapan pada waktu gawat itulah pengakuan yang jujur dan bukan karangan belaka. Sekali rahasia itu sudah telanjur kau bocorkan, memangnya sekarang dapat kau tarik kembali?"
Diam-diam Cui Thian-ki mengakui kelihaian pikiran orang, namun ia tetap tenang saja, jengeknya.
"Hm, percaya atau tidak terserah padamu."
"Jika begitu, rasanya aku pun tidak perlu buang tenaga percuma, akan kulemparkan dia ke laut saja dan habis perkara,"
Kata Kah-sing Hoat-ong, sekali cengkeram segera Oh Put-jiu diangkatnya. Keruan Cui Thian-ki kaget, cepat serunya.
"Nanti dulu!"
Kah-sing melototinya dan mendengus.
"Memangnya bagaimana?"
"Dia ... dia ...."
"Dia kenapa?"
Ejek Kah-sing. Akhirnya Cui Thian-ki menghela napas, katanya.
"Ya, rahasia tempat sembunyi kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou memang cuma dia saja yang tahu."
"Pengakuanmu ini betul atau dusta?"
"Seratus persen benar."
"Hahaha, budak cilik ingusan juga ingin belajar menipu orang?"
Kah-sing Hoat-ong terbahak-bahak.
"Tapi untuk main gila denganku masih selisih sangat jauh."
Selama hidup Cui Thian-ki entah sudah berapa banyak sudah mempermainkan tokoh Kangouw yang lihai, sekarang ia benar-benar mati kutu, hati gemas, tapi tidak berdaya.
Tidak lama kemudian, akhirnya Oh Put-jiu siuman.
Dengan bengis Kah-sing Hoat-ong lantas membentak.
"Di mana tempat simpanan kitab pusaka Ci-ih-hou, kau tahu bukan?"
Oh Put-jiu memandangnya sekejap, lalu memandang Cui Thian-ki pula, habis itu baru menjawab.
"Tahu."
Kah-sing Hoat-ong berbalik melenggong karena jawaban tegas dan cepat anak muda itu, ia pandang Oh Put-jiu dan terbelalak dengan rasa sangsi.
"Jika aku sudah berada dalam cengkeramanmu, kecuali mati, lambat atau cepat toh harus kukatakan, dan karena aku tidak mau mati, tentunya lebih cepat kukatakan kan lebih baik,"
Tutur Put-jiu. Kah-sing Hoat-ong manggut-manggut, ucapnya dengan tertawa.
"Ehm, pintar juga kau, pantas Ci-ih-hou mau mewariskan kitab pusakanya kepadamu. Nah, di mana kitab pusaka tinggalannya itu disimpan, lekas membawaku ke sana."
"Baik,"
Jawab Put-jiu.
Bertiga orang lantas mendekati pintu ruangan rahasia tempat menyimpan kitab, mendadak Oh Put-jiu mendepak sekuatnya, tepat mengenai daun pintu, namun pintu tidak bergerak, sebaliknya ujung kaki kesakitan.
"Apa kau gila?"
Omel Kah-sing Hoat-ong dengan kening bekernyit. Cui Thian-ki mendahului mendengus.
"Orang ini memang sering berbuat gila-gilaan, buat apa kau peduli."
Dengan rasa terima kasih Oh Put-jiu memandang Cui Thian-ki sekejap, dilihatnya bola mata nona itu gemerdep, seperti dapat menerka maksud depakan Put-jiu tadi.
Hendaknya maklum, keduanya sama-sama cerdik, meski tindak tanduk Oh Put-jiu sukar diduga, tapi sedikit bola matanya berputar segera Cui Thian-ki dapat menerka apa yang sedang dipikir anak muda itu.
Sekarang kedua orang hanya saling pandang sekejap saja dan keduanya lantas ada kontak batin, Oh Put-jiu merasa bersyukur ada yang tahu isi hatinya, Cui Thian-ki juga yakin dugaan sendiri ternyata tidak salah.
Tapi sesungguhnya apa yang terpikir dan terduga oleh mereka justru sama sekali tidak diketahui oleh Kah-sing Hoat-ong, ia cuma mendengus.
"Jika kitab pusaka Ci-ih-hou telah diwariskan padamu, tentu kau pegang kunci ini."
"Hehe, Taysu ternyata sangat pintar,"
Kata Put-jiu dengan menyesal.
"Memangnya aku dapat kau tipu?"
Ujar Kah-sing Hoat-ong dengan tertawa bangga. Dari gelung rambutnya Put-jiu mengeluarkan sebuah anak kunci dan disodorkan.
"Silakan Taysu membukanya."
Kah-sing Hoat-ong menerima anak kunci itu, segera Put-jiu menyingkir jauh ke sana, Cui Thian-ki bahkan lari terlebih jauh.
Baru saja Kah-sing mendekati pintu, sekilas lirik melihat perbuatan kedua orang itu, seketika ia melompat mundur, sekali cengkeram ia pegang bahu Oh Put-jiu, anak kunci dikembalikan kepada anak muda itu dan membentak.
"Kau buka sendiri."
"Ken ... kenapa Taysu tidak jadi membukanya sendiri?"
Tanya Put-jiu. Kah-sing mendengus.
"Hm, tentu ada sesuatu yang tidak beres pada pintu ini, memangnya kau kira aku tidak tahu. Haha, jangan kau harap akan menjebak diriku."
Oh Put-jiu berlagak terpaksa menerima kembali anak kunci, katanya.
"Jika begitu, boleh Taysu tunggu di sini, biarkan kami berdua membuka pintu."
Ia memberi tanda lirikan kepada Cui Thian-ki, kedua orang lantas mendekati pintu. Terdengar Kah-sing Hoat-ong mengejek.
"Huh, ketika kau laksanakan permintaanku begitu saja memang sudah kuduga pasti ada sesuatu yang tidak beres ...."
Sampai di sini, mendadak Kah-sing Hoat-ong melompat maju lagi secepat terbang, Cui Thian-ki diseretnya mundur. Keruan Thian-ki terkejut, tanyanya.
"Memangnya apa maksud Taysu?"
"Hm, untuk membuka pintu kan cukup satu orang saja, kau ikut berdiri bersamaku di sini, jangan membantu setan cilik itu main gila padaku,"
Jengek Kah-sing. Air muka Cui Thian-ki berubah cemberut, selang sejenak, tiba-tiba ia bergumam dengan tersenyum.
"Ah, baik juga, biar sama-sama tenang dan bebas."
Tanpa menoleh Oh Put-jiu juga bergumam.
"Jagalah diri dengan baik ... banyak terima kasih atas bantuan terlaksananya urusan ini ...."
Kata-kata kedua orang itu membuat Kah-sing Hoat-ong merasa bingung, tapi juga curiga, mendadak ia membentak.
"Huh, apakah kalian sudah gila? Kenapa ...."
Pada saat itulah tahu-tahu daun pintu sudah terbuka, dengan cepat Oh Put-jiu 198 lantas menyelinap ke balik pintu, menyusul lantas "brak", pintu ditutup rapat lagi.
Kejut dan gusar Kah-sing Hoat-ong, secepat terbang ia menubruk maju sambil membentak.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kau tutup dirimu di dalam, memangnya kau sangka aku tidak dapat masuk ke situ?"
Akan tetapi meski ia membentak dan berteriak berulang, pintu tetap tidak dibuka.
"Jika dapat masuk ke situ, kenapa tidak kau coba?"
Ucap Cui Thian-ki dengan sinis. Kah-sing mundur dua-tiga tindak dan menyingsing lengan jubah, setelah menghimpun tenaga, mendadak ia ayun telapak tangan dan menghantam daun pintu sekuatnya.
"Blang", tergetar anak telinga Cui Thian-ki, geladak kapal pun berguncang, namun daun pintu baja itu tetap bergeming, jangankan hendak membobolnya. Biarpun culas orangnya, wajah Kah-sing yang hitam kelam itu kini pun dibuat merah legam, dengan gemas ia berlari mengitari anjungan, tiada hentinya ia menghantam dan menendang sehingga berjangkit suara gemuruh, dinding anjungan dari bahan kayu sama ambrol dan bertebaran, namun ruang bagian tengah tempat menyimpan kitab itu ternyata dinding sekelilingnya terbuat dari pelat baja, biarpun Kah-sing Taysu mengerahkan segenap tenaganya tetap tak dapat membobolnya. Cui Thian-ki menghela napas, ia duduk bersila di lantai, ucapnya perlahan.
"Jika aku menjadi Taysu, pasti aku takkan buang tenaga sia-sia."
Kah-sing melompat ke depan Cui Thian-ki, bentaknya dengan parau.
"Jadi ... jadi sebelumnya kau sudah tahu?"
"Dinding ruangan ini terbuat dari baja, kan sejak tadi sudah diketahui semua orang, depakan Oh Put-jiu tadi justru ingin mengujinya,"
Tutur Cui Thian-ki dengan santai, lalu sambungnya dengan tertawa.
"Waktu itu sudah kuduga dia akan meninggalkanmu di luar sini, sebabnya dia menyuruhmu membuka pintu hanya akal pancingan saja, sungguh lucu Taysu yang mengaku cerdik ternyata juga tertipu olehnya. Mestinya aku pun ingin ikut masuk ke sana bersama dia tapi karena diseret mundur olehmu, terpaksa aku pasrah adanya. Kami bergumam tadi justru membicarakan hal ini."
Jilid 8.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Tidak kepalang gemas Kah-sing Hoat-ong, hampir meledak dadanya oleh uraian Cui Thian-ki itu, jika Kim-ho-ong tentu sudah berjingkrak dan dinding anjungan diterjangnya hingga bolong.
Namun Kah-sing Hoat-ong memang lain daripada yang lain, ia cuma tertegun sejenak, lalu mendengus pula.
"Biarpun dinding ini terbuat dari baja kan tidak berarti tidak dapat dibobol."
"Memang di dunia ini ada senjata yang mampu memotong baja dengan mudah, tapi sekarang kan tidak mudah bagi Taysu untuk mencari senjata setajam itu?"
Ujar Thian-ki.
"Umpama Taysu pergi mencari senjata, kembali lagi ke sini mungkin tidak menemukan apa-apa lagi."
"Apa artinya ucapanmu ini?"
Tanya Kah-sing dengan melengak.
"Benarkah Taysu tidak paham?"
Kata Cui Thian-ki.
"Hehe, asalkan Taysu meninggalkan kapal ini, bukankah Oh Put-jiu akan segera kabur dengan membawa kitab pusaka?"
"Memangnya tidak dapat kutunggu dia mati kelaparan baru kupergi?"
Ujar Kah-sing Taysu.
"Sebelum mati, memangnya dia takkan memusnahkan seluruh kitab pusaka yang ada di situ? Dengan begitu bukankah usaha Taysu juga akan sia-sia belaka?"
Tergetar perasaan Kah-sing Taysu, ia termangu-mangu sejenak, kemudian bergumam.
"Ya, sebelum mati kelaparan, jika dia memusnahkan kitab pusaka, lalu bagaimana?"
Tiba-tiba Cui Thian-ki berkata pula dengan santai.
"Siapa bilang dia pasti akan mati kelaparan?"
Kah-sing melengak, katanya.
"Biarpun dalam kapal ini ada persediaan air minum dan makanan, tapi ruang ini tertutup rapat dan tiada lubang apa pun, cara bagaimana dia akan mendapatkan air minum dan makanan?"
"Dengan sendirinya aku mempunyai cara sendiri,"
Ujar Thian-ki dengan tersenyum.
"Jika begitu, lekas katakan,"
Bentak Kah-sing. Cui Thian-ki berkedip-kedip, katanya dengan tertawa genit.
"Jika kau minta petunjuk padaku, sepantasnya kau bicara dengan ramah tamah dan memohon dengan baik-baik, masa bersikap kasar begitu?"
"Yang ingin menyelamatkan jiwanya kan dirimu, buat apa kumohon padamu,"
Ujar Kah-sing.
"Betul, yang gelisah ingin menyelamatkan jiwanya tadi adalah diriku, tapi sekarang yang terburu-buru menghidupkan dia adalah dirimu, jangan lupa kitab pusaka ...."
"Kurang ajar!"
Bentak Kah-sing gusar.
"Jika geregetan, biar kubunuh kau sekalian, memangnya kau mau apa?"
"Ah, silakan, silakan,"
Sahut Thian-ki tertawa.
"Jika kau bunuh diriku, mungkin selama hidup ini jangan harap lagi akan melihat kitab pusaka yang tidak ada bandingannya itu. Nah, silakan, kenapa tidak lekas turun tangan?"
Muka Kah-sing Taysu sebentar merah, sebentar pucat, ia terdiam sejenak dengan gemas, akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Baiklah, aku menyerah kalah. Coba katakan."
"Apakah cara begini sudah terhitung sopan? Tidak, tidak cukup,"
Kata Thian-ki sambil menggeleng. Tidak kepalang mendongkol Kah-sing, tapi terpaksa ia merendah diri dan memohon.
"Baiklah, mohon nona Cui sudi memberi petunjuk cara bagaimana supaya dia tidak mampus di dalam."
"Nah, beginilah baru benar ...."
Ucap Cui Thian-ki dengan tertawa, senang sekali hatinya karena dapat mempermainkan padri fakir ini.
"Sekarang coba kau pikirkan, jika anjungan kapal ini terkurung rapat tanpa sesuatu lubang angin, kan seluruh penghuninya bisa mati sesak napas. Memangnya orang yang membangun kapal ini kau kira orang dungu?"
"Ya, ya, betul,"
Kata Kah-sing Taysu.
"Dan kalau ada lubang angin, dengan sendirinya dapat kita sodorkan makanan atau minuman melalui lubang angin itu, masakah dalil sederhana ini tidak kau pikirkan?"
Kah-sing Hoat-ong melenggong sejenak, mendadak ia menengadah dan tergelak.
"Haha, betul, memang betul!"
"Tapi kau pun jangan gembira dulu."
Ucap Cui Thian-ki pula.
"Lubang angin itu tentu saja sangat kecil, paling-paling cuma sebesar kepala. Maka kecuali engkau dapat berubah menjadi kecil sebesar burung pipit, kalau tidak, jangan harap akan dapat masuk ke situ."
"Siapa bilang mau masuk ke situ?"
Sahut Kah-sing.
"Bagus jika begitu ...."
Kata Thian-ki dengan tertawa.
"Bilamana nasib kita mujur dan mendapat angin buritan, kukira tidak sampai setengah bulan kapal ini pasti akan mencapai pantai."
"Siapa yang ingin mendarat?"
Ujar Kah-sing Hoat-ong.
"Pendek kata, sehari anak keparat itu tidak keluar, satu hari pula aku tidak akan meninggalkan kapal ini. Dan selama aku tidak meninggalkan kapal, selama itu pula kapal ini tidak perlu menepi."
"Tapi ... tapi kalau selamanya dia takkan keluar, lalu bagaimana?"
Tanya Cui Thian-ki dengan rada cemas juga.
"Setahun dia tidak keluar, setahun pula kutunggu dia, sepuluh tahun dia tidak keluar, sepuluh tahun juga kutunggu di sini. Jika selamanya dia tidak keluar, selama hidup pula akan kutunggu dia. Dan kau pun terpaksa harus menemaniku selama hidup di sini. Ingin kulihat kesabaran siapa yang lebih tahan lama."
Cui Thian-ki menarik napas dingin, lalu termangu-mangu tak bisa bicara lagi. Ia takkan percaya bila orang lain yang bicara demikian, tapi Kah-sing Hoat-ong tentu sanggup berbuat sesuai ucapannya itu.
"Apabila perbekalan dalam kapal ini tidak mencukupi, maka kau harus kerja bakti bagiku dengan menangkap ikan atau udang,"
Kata Kah-sing pula.
"Jika kehabisan air minum, waktu hujan harus kau tadah air hujan dan ditimbun sebanyaknya. Kalau kebetulan ada kapal layar lain yang lewat di sini, kan boleh juga kau tiru perbuatan kaum bajak dan rampas sedikit perbekalan yang kita perlukan."
Murung Cui Thian-ki mendengarkan uraian padri fakir itu, ia menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Tak tersangka engkau dapat berpikir sejauh itu."
"Hahaha, masa kau lupa pada peribahasa yang mengatakan asalkan ada kemauan, cita-cita apa pun pasti akan tercapai,"
Ujar Kah-sing dengan tertawa.
"Mungkin tidak perlu menunggu keluarnya bocah itu sudah dapat kucari jalan untuk membobol dinding baja ini. Sebab itulah kau pun tidak perlu gelisah. Berada di kapal megah ini, kebetulan bagiku dapat hidup aman tenteram untuk beberapa tahun lamanya."
Diam-diam Cui Thian-ki menggereget, katanya.
"Hm, jangan keburu senang dulu. Biarpun kau dapat membobol dinding baja, memangnya tidak dapat kuminta dia memusnahkan kitab pusaka yang berada di situ sebelum dinding dibobol."
"Hah, untuk ini jangan kau pikirkan,"
Ujar Kah-sing tertawa.
"Sebagai pesilat, tentu kau pun tahu betapa seorang pesilat kemaruk terhadap sesuatu kitab pusaka ilmu silat, masa dia sampai hati memusnahkannya begitu saja. Kuyakin pasti takkan dilakukannya, kecuali ia tahu sudah dekat ajalnya. Selama dia tidak mati, selama itu pula dia takkan berbuat sebodoh itu. Misalnya, pernahkah kau dengar seorang peminum membuang arak enak? Pernahkah orang tamak membuang buang uang percuma? Nah, apa yang kukatakan adalah berdasarkan dalil yang sama."
Cui Thian-ki termenung sejenak, perlahan ia mengentak kaki, mendadak ia lari ke dek di bawah.
Kah-sing Hoat-ong juga tidak merintanginya melainkan cuma memandangi bayangan orang dengan tersenyum ejek.
Selang tidak lama, Cui Thian-ki muncul kembali, wajahnya kembali tersenyum manis sambil membawa senampan santapan yang masih mengepul.
"Aha, kebetulan aku sudah lapar, lekas bawa kemari,"
Kata Kah-sing.
Thian-ki menurut dan menaruh nampan hidangan itu di depan Kah-sing Taysu, ia sendiri berdiri di samping.
Kah-sing memegang sumpit, dicapitnya secomot sayuran, baru saja hendak dijejalkan ke mulut, tiba-tiba ia pandang Cui Thian-ki sekejap, lalu sumpit ditaruh kembali.
"Eh, apakah Taysu merasa hidangan masih panas?"
Kata Thian-ki dengan tertawa.
"Coba kau cicipi dulu,"
Jengek Kah-sing Taysu.
"Wah, kenapa Taysu jadi sungkan padaku, kan tidak enak hati bagiku,"
Ujar Thian-ki dengan tertawa genit. Kah-sing hanya mendengus saja dan tidak menanggapi. Cui Thian-ki berkedip-kedip, ucapnya kemudian dengan tertawa.
"Ai, kutahu. Rupanya Taysu khawatir dalam makanan ditaruh racun. Ai, apa boleh buat, terpaksa kumakan dulu."
Segera ia ambil mangkuk kosong dan mengambil santapan yang paling baik, sambil membawa mangkuknya ia berjalan satu lingkaran, benar juga dilihatnya di ujung dinding menonjol sebuah pipa besi.
Pipa yang kosong bagian tengah itu sebesar bulatan mangkuk.
Segera Thian-ki memanggil melalui lubang pipa.
"Hei, kepala besar ... Oh Put-jiu ... Oh kepala besar ...."
Berulang ia memanggil beberapa kali dan ternyata tiada jawaban apa pun.
Seketika berubah air muka Cui Thian-ki, sangsi dan khawatir.
Pada saat itulah tahu-tahu suara Oh Put-jiu berkumandang dari lubang pipa.
"Apa di situ nona Cui?"
Suaranya agak serak, seperti baru saja mengalami sesuatu yang aneh dan mengejutkan, namun kelainan suara itu tidak dapat dirasakan oleh Cui Thian-ki, ia tanya pula.
"Hei, dipanggil kenapa tidak lekas menjawab. Ini, makanan ...."
Ia teroboskan makanan itu melalui lubang pipa.
Terdengar Oh Put-jiu mengucapkan terima kasih dan seperti omong apa-apa lagi.
Namun Cui Thian-ki lantas membalik tubuh, ia pilih pula tiga hidangan kegemarannya dan dimakan sendiri.
Sesudah dia makan, hidangan yang tersisa tinggal sebangsa tulang dan kulit belaka.
"Wah, sungguh tidak enak hati, masakah Taysu harus makan hidangan sisa,"
Ucap Cui Thian-ki dengan tertawa.
"Eh, biarlah kuturun ke dapur untuk masak lagi."
"Tidak perlu,"
Jengek Kah-sing Taysu.
"Aku memang suka makan barang sisa."
Segera ia angkat sumpit dan benar-benar makan dengan lahapnya.
Meski merasa geli, namun Cui Thian-ki tidak bicara lagi, hanya perasaannya lebih banyak sedih daripada gembiranya.
Waktu malam tiba, kembali Thian-ki mengantar makanan lagi kepada Oh Put-jiu.
Pemuda kepala besar itu seperti sudah menunggu di sebelah dalam, begitu mendengar suara Thian-ki segera ia tanya dengan suara parau.
"Bagaimana dengan Po-ji? Di mana dia? Adakah kau lihat dia?"
Thian-ki berdiri termangu sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.
"Jangan khawatir, Po-ji baik-baik saja dan telah pergi bersama Ling-ji dan Siaukongcu, kalau tidak, kan aku bisa lebih cemas daripadamu."
Meski di mulut ia bicara demikian, tidak urung air mata hampir menitik.
Oh Put-jiu ternyata tidak khawatir apa-apa, dan begitulah sang waktu sehari lewat sehari, malahan nafsu makan Oh Put-jiu bertambah banyak, suaranya juga makin lantang, sebaliknya Cui Thian-ki semakin pucat dan tambah kurus.
Hidup dalam kesepian, mimpi pun terkenang kepada Po-ji, ia sendiri tidak tahu sebab apa bisa begitu rindu terhadap anak kecil itu, rindunya tidak kurang serupa gadis remaja merindukan kekasih, tapi juga seperti kasih ibu yang mengharapkan kepulangan anak kesayangan.
Terkadang ia suka termenung memandangi matahari terbenam, memandang kesima cahaya senja sehingga berjam-jam tanpa bergerak.
***** Menjelang fajar, sebuah perahu nelayan tampak meluncur dari utara dan berlabuh di pesisir.
Sekilas pandang bentuk perahu ini sungguh sangat aneh.
Dibilang kapal, bentuknya serupa rakit.
Dikatakan rakit, tampaknya juga mirip kapal.
Badan kapal itu persegi, ternyata terbuat potongan balok kayu raksasa seutuhnya, sampai kulit pohon pun belum terkelupas.
Di atas geladak dibangun ruang kabin berbentuk segitiga serupa anjungan, juga serupa tenda, hanya sehelai layarnya yang sangat lebar, kuat dan indah sehingga tidak serasi dengan kapalnya yang tidak keruan bentuknya itu.
Meski kapal ini dibangun serabutan dan berbentuk aneh, namun memberi kesan kukuh dan kuat, biarpun didampar hujan badai betapa dahsyatnya juga takkan bercerai-berai.
Di bawah layar besar yang berkembang itu tidur telentang seorang lelaki hitam kekar, keempat anggota badannya yang dijulurkan dengan bebas itu kelihatan panjang dan kuat sehingga mirip seekor harimau yang sedang tidur.
Belum lagi kapal ini menepi segera lelaki kekar melompat bangun dan melayang ke pesisir sambil membentak, sekali tarik, kapal balok itu telah diseretnya dan kandas di atas pesisir.
Waktu ia berdiri tegak, terlihat perawakannya yang tinggi besar bagai raksasa, sedikitnya ada dua meter tingginya, ia memakai baju jago silat hitam ringkas dari kain satin, bajunya itu bagi orang lain pasti kelonggaran, tapi baginya justru kelihatan ketat dan membalut tubuhnya dengan kencang, malahan kaki celana hanya sebatas dengkul, kancing baju pun sukar digunakan sehingga lebih mirip pakaian hasil rampas dari orang lain.
Walaupun perawakannya menakutkan, namun alisnya yang tebal dan mata besar, hidung singa dan mulut harimau, bentuknya ketolol-tololan dan terasa menyenangkan orang.
Hujan sudah mulai reda, selangkah demi selangkah lelaki hitam kekar itu berjalan di pesisir sambil memandang kian kemari, terdengar ia memaki.
"Dirodok, Locu sudah datang, kenapa kawanan bangsat itu malah belum tampak batang hidungnya?"
Ia meraba raba perut sendiri, lalu rebah telentang lagi dan berseru sembari meraba perut.
"Wah, lapar, lapar sekali! Kenapa dari langit tidak jatuh dua potong bakpao agar dapat kumakan dengan kenyang, supaya bertenaga untuk bertempur."
Sejenak ia berbaring, agaknya tidak tahan lagi akan rasa lapar, mendadak ia melompat bangun dan berlari ke atas kapal kotak tadi, dari dalam tenda dikeluarkan sepotong entah daging apa yang tampaknya tidak masak juga tidak mentah, lalu dirogoh keluar lagi beberapa potong penganan yang sudah kering dan keras, gumamnya.
"Keparat! Makin lama makin lapar, biarlah kumakan habis persediaan untuk malam dan esok, bilamana nanti aku dibinasakan orang, kan besok juga tidak dapat makan lagi."
Sembari menggerundel makanan terus dijejalkan ke mulut sehingga mengunyah pun sukar.
Sekonyong-konyong ombak mendampar, di tengah gelombang ombak tampak ada sesuatu benda yang beraneka warna dan ikut terdampar ke pesisir.
Lelaki kekar itu menggaruk kepala dan bergumam.
"Hei, mainan apa ini ...."
Segera ia memburu ke sana dan barang itu diraihnya, mendadak ia berteriak.
"Wah, celaka! Mengapa laut pun dapat melahirkan anak?!"
Kiranya benda yang terdampar ke pesisir itu adalah seorang anak kecil berbaju satin, kedua tangan anak itu merangkul erat sepotong kayu, mati pun tak terlepaskan, gigi terkatup, muka pucat dan jelas tak sadarkan diri, entah masih hidup atau sudah mati.
"Wah, celaka, celaka ...."
Kembali lelaki itu berteriak-teriak, anak itu dilempar-lemparkan dan ditinggal lari terbirit-birit. Tapi baru lari beberapa langkah segera ia berhenti lagi sambil bergumam.
"Ah, tidak, tidak bisa, anak laut mana bisa terdampar pingsan. Ehm, bocah ini tentu terjatuh dari kapal lain ...."
Ia lari balik lagi dia mengangkat anak tadi, dirabanya dada anak itu, gumamnya pula dengan tertawa.
"Aha, tidak jelek, bocah ini masih hangat, dia takkan mati!"
Cepat ia tiarapkan anak itu dan segera menekan punggungnya dengan kuat.
Bocah itu merintih perlahan dan tumpahkan air laut yang membuatnya kembung.
Lelaki itu berteriak sambil berjingkrak gembira dan menari-nari, serunya.
"Hore, hidup, dia hidup kembali!"
Dapat menyelamatkan nyawa orang, hatinya merasa sangat senang sehingga perut lapar pun terlupakan, daging dan penganan tadi tercecer di tanah tanpa dipikir lagi, ia angkat bocah itu dan berlari ke pesisir yang lebih kering, berulang ia tepuk dan raba tubuh yang kecil itu, ucapnya dengan tertawa.
"Ayo, anak kecil, kalau hidup, seharusnya kau pentang matamu!"
Akhirnya anak itu membuka mata, setelah memandang sekejap sekitarnya, tersembul rasa kejut dan herannya, tapi segera ia berubah tenang dan tersenyum terhadap lelaki kekar itu.
"Haha, kau tertawa .... Anak kecil, kau dapat bicara bukan?"
Seru lelaki itu. Anak itu mengangguk.
"Kalau bisa bicara ayolah lekas bicara,"
Seru orang itu.
"Eh, siapa namamu?"
"Aku she Pui, orang suka memanggilku Po-ji,"
Jawab anak itu. Memang betul, anak ini adalah Pui Po-ji yang terbawa badai ke laut itu.
"Hah, Po-ji ... Po-ji ... kau memang seorang anak mestika, lihat kakimu ini, hampir sama besarnya dengan jariku,"
Seru lelaki itu dengan tertawa. Po-ji memandangnya dengan terkesima, seperti sangat tertarik, bola matanya berputar, lalu bertanya.
"Eh, anak besar, siapa namamu?"
"Aku she Gu, sejak kecil ayahku memanggilku Thi-wah,"
Tutur lelaki kekar itu.
"Tapi orang lain suka memanggilku si dungu besar. Bilamana mendongkol dipanggil begitu, kontan kulempar mereka ke parit."
Pui Po-ji tertawa geli dan melupakan dirinya baru saja terlepas dari bencana.
Meski dalam hati ia pun mengkhawatirkan keselamatan Oh Put-jiu, Cui Thian-ki dan lain-lain, tapi bilamana teringat dirinya saja tidak mati, sedang kepandaian mereka jauh lebih tinggi daripadanya, mustahil mereka akan mati malah?
Namun bila teringat entah kapan baru dapat bertemu lagi dengan mereka, mau tak mau terasa sedih juga hatinya.
Apa pun dia masih anak kecil, hati anak kecil memang tidak dapat lama menahan rasa sedih, apalagi di depannya sekarang ada seorang dungu besar yang menarik, setelah bergelak tertawa, segala rasa sedih dan kesal pun terlupakan seluruhnya.
Si lelaki gede alias Gu Thi-wah mendadak seperti teringat sesuatu, tanyanya pula.
"He, di mana ayahmu? Tubuhmu kan kecil, masakah ayahmu khawatir jatuh miskin memberi makan padamu? Mengapa sendirian kau lari ke sini?"
Po-ji menghela napas sambil menggeleng, lalu berkata dengan tertawa.
"Dan kau sendiri, apakah karena di rumah tidak bisa makan sehingga sendirian kau lari kemari?"
"Haha, anak kecil sungguh pintar, sekali terka lantas kena,"
Seru Gu Thi-wah dengan tergelak. Selang sejenak, ia seperti teringat apa-apa lagi, dengan tertawa lebar ia berkata pula.
"Eh, kau kehilangan ayah, aku pun belum punya anak, bagaimana kalau kau menjadi anakku saja?!"
Po-ji melenggong sejenak, matanya berkedip-kedip, jawabnya kemudian.
"Apakah kau punya bini?"
"Bini?"
Thi-wah menegas.
"Wah, biniku mungkin masih berada dalam perut biangnya."
"Nah, jika bini saja kau tidak punya, akan lucu jika kau hendak mengambilku sebagai anak,"
Kata Po-ji.
"Habis, apakah kau sendiri punya bini?"
Tanya Gu Thi-wah.
"Ah, malu ah ... punya satu,"
Sahut Po-ji. Gu Thi-wah melotot, dipandangnya anak itu dari kepala sampai kaki dan sebaliknya lalu geleng-geleng kepala dan berucap.
"Wah, tak tersangka masih kecil begini sudah punya bini, hebat sekali kau ini."
"Memang, biarpun kecil begini, tapi kecil cabai rawit, kepandaianku jauh melebihi orang gede seperti kau,"
Kata Po-ji dengan membusungkan dada.
"Wah, jika begitu, marilah kita menjadi saudara saja,"
Mohon Gu Thi-wah.
"Baik, aku Toako dan kau adiknya,"
Kata Po-ji. Gu Thi-wah tertawa terpingkal-pingkal.
"Eh, awas ususmu bisa putus karena caramu tertawa itu, bisa-bisa nanti harus kubedah perutmu dan menyambung ususmu yang putus, kan bikin repot,"
Kata Po-ji. Thi-wah melengak, segera ia pegang perutnya dan tidak berani tertawa lagi. Namun dengan napas terengah ia berkata.
"Huh, kau menjadi adikku saja masih 206 terlampau kecil, tapi kau malah ingin menjadi Toakoku?"
"Masa kau tidak tahu pepatah yang menyatakan, untuk belajar tidak ada soal besar atau kecil, yang lebih mahir ialah menjadi guru?"
"Jangan mengoceh begituan, aku tidak mengerti,"
Ujar Thi-wah.
"Arti pepatah itu adalah manusia itu tidak mengutamakan soal usia tua atau muda, asalkan pengetahuannya lebih luas, maka bolehlah dia menjadi guru orang yang cetek pengetahuannya itu,"
Tutur Po-ji.
"Sekarang pengetahuanku lebih banyak daripadamu, kepandaianku juga lebih banyak daripadamu, jika aku mau menjadi gurumu kan sudah suatu kehormatan besar bagimu. Maka apa pun juga aku harus menjadi Toakomu."
Thi-wah menggaruk kepala yang tidak gatal, gumamnya.
"Kata pepatah tentunya tidak bakal keliru. Tapi ... tapi sekali hantam dapat kubinasakanmu, sungguh aku tidak rela menjadi adikmu."
"Huh, memangnya kau kira tanganmu lebih kuat daripadaku?"
Tanya Po-ji.
"Hahaha, hidup sebesar ini, belum pernah kulihat ada orang yang bertenaga lebih kuat daripadaku,"
Seru Thi-wah dengan tergelak.
"Ini, lihat ...."
Mendadak ia berjongkok terus menghantam pesisir, kontan tanah pasir di situ terpukul sebuah liang besar.
"Ehm, boleh juga ...."
Ucap Po-ji.
"Coba kau cengkeram lagi segenggam pasir, ingin kulihat apakah kau mampu melemparkan pasir itu ke laut atau tidak?"
"Sepuluh genggam juga dapat,"
Ucap Thi-wah dengan tertawa, segera ia meraup segenggam pasir dan dilemparkan sekuatnya.
Tapi ketika tertiup angin laut, kontan pasir berhamburan dan tidak dapat mencapai jauh, malahan sebagian besar tertiup balik dan menimpa muka Gu Thi-wah dan membuatnya kelilipan, cepat ia kucek-kucek mata dengan kelabakan sambil, berteriak.
"Wah, aneh ... sungguh aneh ...."
"Nah, sekarang coba kau lihat kepandaianku,"
Kata Po-ji.
"Kau mam ... mampu?"
Tanya Thi-wah.
"Sedekat ini bukan apa-apa bagiku, biar kumundur lagi lebih jauh,"
Kata Po-ji sambil menyingkir ke pesisir yang pasirnya basah, lalu ia meraup segenggam pasir basah dan dikepal, sekali ia membentak dan lempar, pasir basah itu terlempar beberapa tombak jauhnya baru kemudian buyar tertiup angin dan pasir pun jatuh di atas laut.
Gu Thi-wah melongo dan termangu-mangu.
"Nah, kau menyerah sekarang?"
Tanya Po-ji dengan tertawa.
"Ya, menyerah, takluk,"
Jawab Thi-wah.
"Jika menyerah, kenapa tidak lekas menyembah kepada Toako,"
Kata Po-ji.
"Baik, Toa ... Toako, terimalah hormatku ini,"
Sembari bicara Gu Thi-wah benar-benar bertekuk lutut dan menyembah.
Po-ji menjadi rikuh malah, cepat ia balas menghormat.
Setelah mereka menjadi saudara angkat, Gu Thi-wah meladeni Po-ji dengan lebih hormat, ia jemput kembali makanannya yang tercecer tadi dan diberikan kepada Pui Po-ji, lalu mencari sepotong batu besar untuk tempat duduk anak itu.
Selang sejenak, tiba-tiba Thi-wah bertanya.
"Toako, usus dalam perut apakah betul dapat putus karena tertawa?"
Rupanya soal ini telah direnungkannya sejak tadi dan masih penuh tanda tanya baginya, maka sekarang ia minta penjelasan. Dengan serius Po-ji menjawab.
"Bilamana kau suka menertawakan orang, pada suatu hari ususmu bisa putus tertawa. Apabila tertawanya timbul dari setulus hati tentu tidak beralangan."
Thi-wah tertawa cerah, katanya.
"Wah, jika begitu legalah hatiku, kalau tidak seterusnya aku akan senantiasa khawatir usus putus sehingga tidak berani tertawa, hidup begini kan susah."
"Apakah kau memang gemar tertawa?"
Tanya Po-ji.
"Setiap hari aku bergelak tertawa 30 kali dan tertawa kecil 300 kali, dengan begitu baru timbul tenaga ...."
Sampai di sini mendadak ia melompat bangun dan melotot ke arah permukaan laut.
Tanpa terasa Po-ji ikut memandang ke arah yang diperhatikan Gu Thi-wah alias bocah gede baja itu, tertampaklah sebuah kapal layar sedang meluncur kemari, badan kapal kelihatan rusak di sana sini, agaknya karena serangan hujan badai semalam, agaknya kapal ini berlabuh di tempat yang terhindar dari serangan badai, tapi toh mengalami kerusakan juga.
"Itu dia datang sekarang ...."
Gumam Thi-wah.
"Apakah kau kenal penumpang kapal itu?"
Tanya Po-ji.
"Keparat, siapa kenal dia?"
Damprat Thi-wah.
"Orang di atas kapal itu adalah kawanan bandit, melihat kemiskinanku dan kelaparan, mereka bermaksud menyeretku masuk ke dalam komplotan mereka. Tapi aku Gu Thi-wah biarpun rudin dan mati kelaparan juga tidak sudi menjadi perompak, cuma ... hehe, barang kaum bajak justru akan kurampas, asalkan mereka terpencil sendirian dan kepergok olehku, tentu akan kuhajar mereka dan sedikit banyak kurampas barang mereka."
"Eh, baju yang kau pakai ini tentunya juga hasil rampasan,"
Tanya Po-ji tertawa.
"Tidak cuma baju saja, makanan ini dan perbekalan kapal semuanya hasil rampasanku, karena itulah kawanan perampok sangat gemas padaku dan aku ditantangnya untuk berkelahi di sini hari ini."
"Oo, mereka menantangmu dan segera kau terima?"
Tanya Po-ji.
"Tentu saja kuterima, kalau tidak kan kelihatan pengecut?!"
Ujar Thi-wah dengan melotot.
"Mereka sukar membekukmu, maka sengaja menantangmu ke sini, dengan 208 sendirinya mereka sudah siap sedia,"
Ujar Po-ji dengan menyesal.
"Jumlah mereka jelas sangat banyak, bukankah kau bisa dihajar mampus oleh mereka?"
Thi-wah berpikir sejenak, lalu berkata.
"Biarpun terhajar mampus juga harus datang kemari ...."
Sementara itu kapal bobrok itu sudah menepi, lebih 20 lelaki kekar dengan senjata tombak, garpu ikan, cundrik, golok dan sebagainya sama melompat ke pantai.
Meski sekian banyak gerombolan orang ini, namun tampaknya rada jeri juga terhadap Gu Thi-wah, mereka cuma mencaci maki saja dari kejauhan dan tidak berani menerjang maju.
Seorang yang paling depan membentak.
"Hai, si dungu besar, hari ini jika kau tidak menyerah, bisa jadi badanmu akan kami cencang hingga hancur."
"Kentut makmu busuk, memangnya tuanmu takut padamu!"
Teriak Thi-wah dengan gusar. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Po-ji.
"Harap Toako duduk saja di sini, biar kuhajar kawanan bangsat itu."
"Jika kau harus berkelahi boleh maju saja, hendaknya hati-hati,"
Kata Po-ji.
"Toako jangan khawatir,"
Jawab Thi-wah sambil menanggalkan baju sehingga badan bagian atas telanjang, ia mengangkat sepotong batu besar seberat ratusan kati terus lari ke depan.
Melihat si gede menerjang tiba, kawanan bajak itu tidak berani ayal, sekali bersuit, serentak mereka pasang barisan.
Seorang lelaki dengan rambut awut-awutan dan bergolok besar segera membentak dan mendahului menerjang maju, langsung goloknya membacok kepala Gu Thi-wah.
"Keparat!"
Damprat Thi-wah sambil memapak golok lawan dengan batu besar.
"Trang", golok membacok batu sehingga tangan lelaki itu tergetar luka, golok pun terpental ke udara.
"Hahaha, tahu busuk!...."
Thi-wah tergelak mengejek.
Mendadak dari samping sebuah tombak menusuk, sukar bagi Thi-wah untuk menangkis, terpaksa ia lemparkan batu sekuatnya ke depan, menyusul sebelah tangannya terus meraih ke samping dan tepat tombak lawan kena dipegangnya.
Terdengar desir angin kencang, batu seberat ratusan kati itu ditambah daya lempar Thi-wah yang kuat, keruan cukup mengejutkan luncuran batu itu, kawanan bajak berteriak ketakutan dan lari terpencar.
Dalam pada itu Thi-wah telah membetot sekuatnya sehingga tombak lawan dapat dirampasnya.
Melihat kawanan bajak itu lari tunggang langgang, ia tertawa gembira dan memaki.
"Telur busuk! Pulang saja kelonan dengan binimu! Berkelahi apa lagi?"
Ia putar tombaknya dengan kencang sehingga membawa deru angin keras.
Meski caranya sama sekali tidak pakai jurus ilmu silat, namun deru anginnya cukup mengejutkan, bilamana tersabet oleh tombak, andai kata tidak mampus juga 209 pasti akan sekarat.
Dengan sendirinya kawanan bajak itu tidak berani mendekat, bilamana Thi-wah mendesak maju, segera mereka lari tersebar lagi.
Thi-wah tambah senang, ia mencaci maki kalang kabut dan mengejek.
Seorang lelaki berbaju hitam yang menjadi pemimpin kawanan bajak itu berteriak.
"Si dungu ini jelas cuma bertenaga besar saja dan sama sekali tidak mahir ilmu silat, ayolah kita kerubut dia menurut cara yang sudah kita rencanakan, pasti dapat membereskan dia, jangan takut!"
Kawanan bajak berteriak setuju, segera salah seorang membentak.
"Ayo, sembelih dia dahulu!"
Dengan murka Thi-wah menerjang maju lagi dengan tombak berputar, meski kawanan bajak kembali menyingkir jauh, namun mereka cukup terlatih dan dapat menggunakan Ginkang, sia-sia saja Gu Thi-wah menguber kian kemari, tiada seorang pun dapat disusulnya.
Sampai sekian lamanya, akhirnya Thi-wah lelah sendiri.
Baru saja ia hendak mengaso, tahu-tahu berbagai macam senjata lawan mengerubutnya lagi.
Betapa pun Thi-wah bukan bertubuh baja, mana ia tahan, tidak sampai setengah jam ia sudah mandi keringat dan megap-megap.
Sedikit meleng, mendadak pinggul tertusuk garpu musuh, kontan bokong terluka tiga lubang dan darah pun mengucur.
Kawanan bajak tertawa senang, ada yang mengejek.
"Haha, tampaknya segera kita akan santap daging panggang!"
Semakin murka dan semakin kencang putar tombaknya, semakin cepat pula tenaga Thi-wah terkuras dan tidak tahan lama. Sekonyong-konyong ia berteriak.
"Nanti dulu, berhenti!"
Kawanan bajak kaget oleh suaranya yang menggelegar dan sama merandek.
"Kau mau menyerah?"
Tanya si bajak baju hitam. Siapa duga, selagi kawanan bajak itu tertegun, mendadak Thi-wah berlari menyingkir sambil membentak.
"Kawanan bangsat, ayolah kalau berani boleh coba kejar kemari, boleh rasakan bala bantuanku yang sudah siap di sini!"
Mimpi pun kawanan bajak itu tidak mengira bocah dungu gede ini pun dapat main licik, seketika mereka tidak berani sembarangan mengejar.
"Masakah dia dapat kabur dari sini, kita lihat saja permainan apa yang akan diperbuatnya,"
Kata si bajak baju hitam.
Sementara itu Thi-wah sudah lari sampai di depan Pui Po-ji, segera ia berlutut dan menyembah.
Po-ji sendiri berdebar khawatir menyaksikan pertarungan tadi, dengan suara mendesis ia tanya.
"Ssst, bagaimana? Apakah perlu lari?"
"Betapa pun sukar untuk kabur, berkelahi juga kalah, tampaknya hari ini Gu Thi-210 wah harus mati di tangan mereka ...."
Keluh Thi-wah dengan napas masih tersengal-sengal, bicara sampai di sini air matanya lantas menitik, ucapnya pula dengan menunduk.
"Thi-wah telah mengangkat saudara dengan Toako dan tidak dapat memberikan apa-apa, hanya kapalku itu masih lumayan, di sana juga masih tersimpan beberapa kati daging, biarlah kuantar Toako ke atas kapal dulu, habis itu baru Thi-wah mengadu jiwa dengan mereka."
Terharu juga Po-ji oleh ucapan Gu Thi-wah itu, air matanya juga berlinang-linang. Biarpun muda usianya, namun sudah berjiwa kesatria, segera ia berseru.
"Tidak, tidak boleh jadi. Sekali kita sudah bersaudara, mana boleh kusaksikan orang membunuhmu. Jika kau mati tentu aku pun tidak mau hidup."
Thi-wah melenggong, setelah berpikir, tiba-tiba ia menggeleng dan berkata.
"Wah, tidak boleh, Toako sudah punya bini, jika Toako mati, kan binimu bisa menjadi janda."
Geli dan juga terharu hati Po-ji, ia usap air matanya dan berkata dengan tersenyum.
"Jangan khawatir, kita takkan mati."
Meski di mulut ia hibur orang, padahal dalam hati sendiri juga ketakutan. Siapa tahu ucapannya itu justru membuat girang Gu Thi-wah, mendadak ia melompat bangun dan berteriak.
"Aha, betul, kepandaian Toako memang jauh lebih hebat daripadaku, tentu Toako mempunyai cara untuk menghajar kawanan bangsat itu."
Tergerak juga hati Po-ji, timbul suatu akalnya, cuma tidak diketahui akalnya akan berguna atau tidak. Tapi keadaan sudah mendesak, terpaksa harus dicoba. Segera ia berseru.
"Ya, kau tunggu saja di sini, biar kubereskan kawanan keroco itu."
Ia benar-benar berdiri dan mendekati kawanan bajak.
Tubuh kawanan bajak itu rata-rata tinggi besar, sebaliknya perawakan Po-ji tidak lebih tinggi daripada satu setengah meter, apalagi sama sekali tidak paham ilmu silat, majunya ini ibaratnya domba diantar ke mulut harimau.
Akan tetapi Gu Thi-wah justru penuh menaruh kepercayaan kepada anak itu, ia malah berteriak-teriak.
"Nah, kawanan bangsat, Toakoku sudah maju, bolehlah kalian menanti ajal!"
Kawanan bajak tertawa riuh, ada yang berseru.
"Haha, setan cilik inikah Toakomu? Hahaha, ayolah maju, lihat saja sekali tendang akan kukeluarkan kuning telurmu!"
Gugup juga Po-ji berdiri di hadapan sekawanan bajak yang ganas serupa serigala, kaki pun terasa agak lemas, tapi selangkah pun ia tidak mundur, sebaliknya malah membusungkan dada, dengan tabah ia membentak.
"Jika kalian hidup berkecimpung di tengah laut, tentunya kalian ini anak buah Siu Thian-ce, bukan?"
Kawanan bajak saling pandang sekejap dan mengunjuk rasa terheran-heran. Bajak baju hitam lantas membentak dengan bengis.
"Kau setan cilik ini mengapa tahu nama besar pemimpin kami?!"
Bahwa kawanan bajak ini ternyata benar anak buah Siu Thian-ce, hal ini membuat hati Po-ji bertambah lega lagi, segera ia mendengus.
"Hm, disiplin anak 211 buah Siu Thian-ce biasanya sangat ketat, tak tersangka ada juga anak buahnya yang kotor serupa kalian ini, suka main kerubut dan menganiaya mangsa yang sendirian, memangnya kalian sudah lupa bahwa merampok mangsa yang sendirian bagaimana hukumannya?"
Betapa pun Po-ji adalah anak kecil, meski ia berlagak seperti orang Kangouw berpengalaman, nyata nadanya tetap agak janggal.
Namun bagi pendengaran kawanan bajak itu justru menimbulkan rasa kaget, sebab Siu Thian-ce yang mengepalai kawanan bajak di pantai timur itu dan telah memberi hukuman berat terhadap anak buahnya yang mengganggu kapal si jago pedang berbaju putih itu telah tersiar luas, apalagi kawanan bajak sekarang berkedudukan lebih rendah daripada bajak laut yang dihukum mati Siu Thian-ce itu, tentu saja hal ini sangat memprihatinkan mereka.
Dengan sendirinya mereka kebat-kebit demi mendengar teguran Po-ji, segera si bajak baju putih tadi bertanya pula.
"Eh, sahabat cilik ini berasal dari mana, bolehkah mendapat penjelasan?"
Nyata nadanya sudah berubah lunak. Sebaliknya nada Po-ji berbalik galak, jengeknya.
"Hm, hanya kau saja tidak ada harganya untuk bertanya asal usulku. Suruh Siu Thian-ce kemari untuk bicara denganku."
Seorang lelaki beralis tebal sejak tadi telah mengamat-amati Pui Po-ji, sekarang mendadak ia berseru tertahan.
"Aha, teringatlah olehku!"
Kawanan bajak sama berpaling ke arah si alis tebal dan bertanya dengan suara lirih.
"Maksudmu teringat akan diri setan cilik ini?"
"Ya, setan ... sahabat cilik ini kulihat berada di kapal layar pancawarna itu,"
Tutur si alis tebal. Serentak kawanan bajak sama melengak, seru mereka.
"Hah, apa betul? Kau tidak keliru?"
"Pasti tidak,"
Jawab si alis tebal.
"Waktu Ci-ih-hou bertanding dengan jago pedang berbaju putih itu, dari jauh kulihat sahabat cilik ini berbicara dengan Ci-ih-hou."
Bagi pandangan kawanan bajak ini, orang yang dapat bicara langsung dengan Ci-ih-hou tentu saja luar biasa kedudukannya.
Seketika mereka saling pandang dengan bingung, air muka pun berubah pucat.
Entah siapa yang mulai, mendadak mereka sama berlutut di depan Po-ji.
"Maaf, hamba sekalian tidak tahu asal usul Anda sehingga bicara kasar, mohon Anda jangan marah dan sudi mengampuni kami,"
Seru si baju hitam tadi.
Kejadian ini pun membuat Po-ji merasa di luar dugaan, maklumlah, ia sendiri tidak tahu bahwa penumpang kapal layar pancawarna itu ternyata sedemikian dihormati oleh kawanan bajak ini.
Menyaksikan Pui Po-ji mendekati kawanan bajak, hanya bicara sebentar saja dan tanpa bergebrak, tahu-tahu kawanan bajak yang sukar dilawan itu ternyata bertekuk lutut dan tunduk benar-benar terhadap anak itu, keruan Gu Thi-wah melongo heran, kejut dan juga bergirang.
"Haha, bagus! Sungguh hebat, kepandaian Toako memang hebat!"
Seru Thi-wah sambil berkeplok tertawa. Bola mata Po-ji berputar, katanya terhadap kawanan bajak.
"Urusan hari ini boleh dianggap selesai, tapi selanjutnya bagaimana lagi jika kalian bertemu dengan saudaraku yang gede ini?"
Beramai kawanan bajak menjawab.
"Selanjutnya bilamana kami bertemu dengan Gu-toaya, kami pasti akan menghormatinya, biarpun Gu-toaya memukuli kami juga tak berani kami balas."
"Keparat,"
Damprat Gu Thi-wah.
"Jika kalian tidak melawan memangnya untuk apa kuhajar kalian? Omong kosong belaka!"
"Ya, ya, ucapan Gu-toaya memang benar,"
Sahut kawanan bajak. Diam-diam Po-ji merasa geli, tapi ia berlagak kereng, katanya pula.
"Selanjutnya jika kalian berani main kerubut lagi, tentu akan kuminta pertanggungjawaban kepada Siu Thian-ce."
Si bajak berbaju hitam tadi mengiakan dan menyatakan tidak berani lagi, selang sejenak ia berkata pula.
"Dan adakah Toaya memberi pesan lain?"
"Tidak ada,"
Jawab Po-ji. Belum lenyap suaranya Thi-wah lantas menukas.
"Ada, masih ada!"
"Silakan memberi pesan, pasti akan kami laksanakan,"
Jawab si baju hitam. Thi-wah tertawa, katanya.
"Nah, lekas bawa sebagian perbekalan kapal kalian kemari, pilih daging yang baik, biar kumakan enak bersama Toako."
Si baju hitam mengiakan, bersama kawanan bajak mereka lantas lari ke atas kapal dan membawakan satu keranjang makanan serta disuguhkan kepada Po-ji dengan hormat.
Mendadak Thi-wah mendelik dan membentak.
"Sesudah makanan tersedia, lekas kalian enyah, memangnya kalian ingin minta bagian lagi?"
Hampir saja Po-ji mengakak geli. Sebaliknya kawanan bajak itu serupa mendapat pengampunan besar, segera mereka angkat kaki dan menghilang dalam sekejap saja. Thi-wah terbahak-bahak.
"Hahaha, ada daging, ada bakpao .... Tak tersangka jiwa tidak melayang, sebaliknya malah dapat makan besar sepuasnya."
Hari ini mereka berdua benar-benar dapat makan dengan puas.
Setelah kenyang, Gu Thi-wah lantas rebah dan segera pulas.
Dalam keadaan begitu, biarpun dia dilemparkan ke laut pun sama sekali tidak tahu.
Meski Po-ji juga merasa lelah, tapi pikirannya terus bekerja sehingga sukar tidur.
Esok paginya, kembali Thi-wah makan kenyang, katanya.
"Jika Toako tidak mempunyai tempat tujuan, marilah ikut adik mengembara di lautan bebas, meski terkadang kurang makan, namun hidup merdeka tanpa susah, setiap hari dapat tidur nyenyak, apakah Toako sepakat?"
"Jika hidupku benar dapat bebas merdeka seperti dirimu tentu aku akan senang,"
Kata Po-ji.
"Apakah Toako masih ingin mengerjakan sesuatu?"
Tanya Thi-wah heran.
"Ya, ada,"
Sahut Po-ji dengan gegetun. Mendadak Thi-wah menunduk sedih, ucapnya.
"Ai, jika demikian, bila ... bila Toako meninggalkanku ...."
Meski tubuhnya sekali lipat lebih gede daripada Po-ji, tapi cara bicaranya sekarang serupa anak yang manja, namun rasa sedihnya memang benar timbul dari lubuk hatinya yang dalam.
Mau tak mau Po-ji juga merasa berat, ucapnya.
"Aku pun tidak tega meninggalkanmu, cuma ... ai, nanti saja kalau urusanku sudah beres tentu akan kucari dirimu lagi."
"Entah Toako hendak pergi ke mana?"
Tanya Thi-wah.
"Aku pun tidak tahu hendak pergi ke mana, cuma aku perlu mencari seorang, tapi di mana orang itu sesungguhnya sampai saat ini aku sendiri tidak tahu,"
Tutur Po-ji. Thi-wah berpikir sekian lama, tiba-tiba ia angkat kepala dan berkata.
"Jika begitu, biarlah kuantar keberangkatan Toako, akan kuantar ke Tiangkang, di sana ada beberapa juragan kapal kenalanku, biar kumohon mereka mengantar Toako ke hulu Tiangkang, di sana selain akan memudahkan perjalanan Toako, mencari orang juga lebih leluasa."
Selama bicara ia tidak berani mengangkat kepala, kiranya air matanya telah berlinang-linang dan khawatir dilihat Po-ji.
Tak tersangka oleh Po-ji bahwa bocah gede serupa kerbau ini juga punya perasaan akrab begini, biarpun keduanya baru saja kenal, namun sudah sebaik serupa saudara sekandung.
Seketika Po-ji merasa duka dan juga girang, kedua orang lantas naik ke atas kapal kotak dan pasang layar, lalu berlayar menuju ke muara Tiangkang.
Wusiong adalah kota pelabuhan di muara sungai Tiangkang yang makmur, kapal yang berlabuh di sini hilir mudik tiada hentinya sepanjang hari.
Melalui kota pelabuhan inilah kapal Gu Thi-wah menuju ke hulu sungai, mereka mendapatkan sebuah teluk dan berlabuh di situ.
Thi-wah bermaksud mencarikan seorang juragan kapal agar dapat mengantar perjalanan Po-ji lebih lanjut.
Tiba-tiba Po-ji berkata.
"Setelah kupikir lagi, kukira lebih baik melanjutkan perjalanan melalui darat saja."
"Sebab apa?"
Tanya Thi-wah.
"Orang yang hendak kucari itu mestinya ada alamatnya yang tertentu, cuma watak orang ini agak aneh, ia tidak mau menuliskan alamatnya yang jelas melainkan sengaja membuat orang main teka-teki untuk mencarinya. Setelah kuterka kian kemari juga belum dapat kutebak sesungguhnya di mana tempat tinggalnya, bukan mustahil tempatnya justru terletak di sekitar pantai sini. Maka 214 kalau aku menumpang kapal, meski lebih enak bagiku, tapi kan repot jika aku tersesat jalan malah."
Thi-wah melotot, katanya.
"Tapi ... tapi Toako sendirian, juga tidak membawa sangu, kan Toako bisa kelaparan dalam perjalanan?"
"Untuk ini kau tidak perlu khawatir, Toako kan banyak kepandaian,"
Ujar Po-ji dengan tertawa.
"Aha, betul, kepandaian Toako memang jauh melebihiku, makanmu justru jauh lebih sedikit daripadaku. Kalau Thi-wah saja tidak pernah kelaparan, masa Toako bisa kelaparan,"
Seru Thi-wah dengan gembira. Sejenak kemudian, mendadak ia mengeluarkan segenap sisa makanan yang masih tersedia dalam kapal, katanya dengan tertawa lebar.
"Ini semua milik Toako."
Po-ji melenggong, ucapnya.
"Siapa bilang milikku? Kan milik Thi-wah sendiri."
"Bukan, milik Toako, harap Toako bawa pergi saja,"
Kata Thi-wah sambil menggeleng.
"Tidak, tinggalkan saja untukmu,"
Ujar Po-ji.
"Kalau tidak Toako bawa, Thi-wah bisa ... bisa ...."
Bisa apa sukar lagi diucapkan bocah gede itu. Tiba-tiba Po-ji berkata dengan tertawa.
"Eh, kan sepantasnya ada rezeki harus dinikmati bersama. Sekarang tersedia makanan sebanyak ini, ayolah lekas kita sikat, siapa pun tidak perlu membawanya pergi. Setuju?!"
"Aha, bagus, bagus sekali!"
Seru Thi-wah.
Kedua orang lantas duduk dan mulai makan minum, tangan Thi-wah tidak pernah berhenti, mulut juga tidak berhenti mengunyah, berulang ia berteriak puas dapat makan sepuasnya.
Sejenak kemudian, mendadak ia berhenti makan dan berteriak.
"Ah, tidak, tidak betul, ini tidak adil!"
"Tidak adil apa?"
Tanya Po-ji.
"Aku makan terlampau banyak dan Toako makan sangat sedikit, maka aku tidak mau makan lagi,"
Kata Thi-wah. Dengan menahan rasa duka Po-ji masukkan sepotong daging panggang yang tersisa ke dalam baju, katanya dengan tertawa.
"Baiklah, sepotong daging ini akan kubawa. Sekarang bolehlah kau pergi, segera aku pun akan berangkat."
Thi-wah memandangnya sejenak dengan termangu-mangu, lalu berdiri, katanya dengan menunduk.
"Toako, jangan ... jangan lupa kepada Thi-wah ...."
Mendadak ia putar tubuh dan bertindak pergi dengan langkah lebar, ia dorong kapalnya dan hanya sekejap saja sudah meluncur jauh.
Po-ji memandangi bayangan kapal dengan termenung, entah berapa lama lagi, mendadak ia berteriak.
"Thi-wah ... Thi-wah, aku pasti tidak melupakanmu."
Namun Thi-wah sudah pergi jauh dan tidak mendengarnya lagi, wajah Po-ji pun bercucuran air mata.
Selama hidupnya entah betapa banyak orang yang sayang dan memanjakan dia, tapi semua itu adalah kasih sayang orang yang lebih tua daripadanya, baru sekarang dirasakannya kasih sayang antarsahabat, dan sahabat yang setia itu sekarang sudah pergi.
Meski Po-ji sudah bertekad akan menjadi seorang lelaki berhati baja, tidak urung sekarang ia mencucurkan air mata.
Ia mendapatkan sepotong batu dan duduk di situ, pikiran terasa kusut dan tidak keruan rasanya.
Untuk pertama kalinya ini ia mulai merasakan pahit getir dan manis kecutnya orang hidup, merasakan keruwetan kehidupan manusia, terkenang olehnya waktu berbaring iseng di rumah dan membaca dengan santai, namun cuma berselang beberapa puluh hari saja hidupnya sekarang seperti sudah berada di dunia lain.
Waktu itu ia berharap dirinya dapat menambahkan pengalaman orang hidup dan memahami lebih banyak, sekarang baru dirasakan akan lebih baik jangan banyak mengetahui hal-hal kehidupan manusia.
Cuma, sang waktu yang berlalu betapa pun tidak dapat diputar balik lagi, ia menjadi terharu akan pengalamannya yang serbasingkat ini.
Sampai agak lama, mendadak terdengar suara orang membentak keras berkumandang dari lautan di belakangnya.
Po-ji terkejut dan berpaling, dilihatnya kapal Gu Thi-wah itu meluncur balik lagi, belum mencapai pantai Thi-wah lantas melompat turun dan menyeret kapalnya ke pesisir, lalu berlari-lari ke arah Po-ji dengan kaki telanjang.
Kejut dan girang Po-ji, tanyanya dengan heran.
"Hei, ken ... kenapa kau kembali lagi ke sini?"
Thi-wah menunduk, jawabnya dengan tergegap.
"Meski ... meski kepandaian Toako lebih besar daripada Thi-wah, tapi apa pun juga Thi-wah merasa ... merasa khawatir Toako berangkat sendirian. Maka kupikir lebih baik kupergi bersama Toako saja."
Hati Po-ji terasa hangat, darah panas terasa bergolak, kerongkongan serasa tersumbat dan tidak sanggup bicara.
"Toako, apakah ... apakah engkau marah padaku?"
Tanya Thi-wah.
"Jika Toako merasa tidak leluasa jalan bersamaku, biarlah aku ikut dari kejauhan saja."
Mendadak Po-ji melompat bangun dan merangkul leher Thi-wah, teriaknya.
"Kenapa kumarah padamu? Jika kau mau menemaniku, tentu sangat bagus!"
Pandangan Thi-wah terasa kabur karena teraling oleh air mata, ujung mulutnya membawa senyuman lega, ucapnya dengan agak gemetar.
"Ben ... benarkah begitu? Ah, alangkah gembiranya aku ... sungguh gembira ...."
Kedua orang saling rangkul dengan erat.
Meski perawakan keduanya berbeda sangat mencolok, namun perasaan tulus murni tidak ada berbeda, sampai sang surya pagi pun seperti ikut senang dan menongol dari balik lapisan awan.
Kedua orang lantas kerja keras, mereka mencari dan mengumpulkan segala 216 keperluan dan diangkut ke atas kapal, lalu gentong air minum diisi penuh.
Mereka lupa sekarang sudah berada di sungai, selanjutnya tidak perlu lagi khawatir kehabisan air minum.
Ternyata benar ada sementara juragan kapal yang berlayar di Tiangkang itu cukup kenal Gu Thi-wah, dari kejauhan mereka saling tegur sapa, ada yang berseloroh.
"Hai, Thi-wah, kau sudah pulang. Wah, agaknya panenan tahun ini tidak cukup untuk kita makan lagi."
Maklumlah, Gu Thi-wah terkenal sangat banyak takaran makannya. Juga ada orang bertanya.
"Hai, Thi-wah, siapakah saudara cilik yang berada bersamamu itu?"
"Dia Toakoku!"
Jawab Thi-wah dengan suara keras.
Yang bertanya sama melengak, lalu sama bergelak tertawa pula.
Maklum, bilamana Pui Po-ji dikatakan sebagai Toako si bocah gede itu, dengan sendirinya tidak ada yang mau percaya.
Thi-wah juga tertawa lebar bilamana orang lain sama melongo heran.
Malamnya, sudah sekian jauh kapal mereka berlayar, lalu mereka mencari satu tempat berlabuh di ujung sebuah semenanjung.
Tiba-tiba dari jauh ada orang berteriak.
"Toako ... Toako, tunggu ...."
Suaranya halus merdu, ternyata suara anak perempuan.
"Hah, tak tersangka ada orang yang juga memanggil Toako padamu,"
Ucap Po-ji dengan tertawa.
Waktu memandang ke sana, terlihat sebuah sampan meluncur tiba secepat anak panah terlepas dari busurnya.
Yang mendayung sampan itu adalah seorang anak gadis manis berbaju hijau.
Lengan baju anak gadis itu tersingsing tinggi sehingga kelihatan lengannya yang putih mulus, dua gelang kemala hijau menghiasi pergelangan tangannya.
Hanya memandang sekejap saja Thi-wah lantas memperlihatkan rasa kegirangan, ia lari ke buritan kapal dan berteriak.
"Hai, Samoay, dayung yang keras, cepat kemari!"
Wajah anak gadis berbaju hijau yang putih itu tampak sudah berkeringat, namun kecepatan sampan itu sungguh luar biasa, hanya sebentar saja sudah menyusul tiba.
Sekali Thi-wah menjulurkan tangannya, dengan enteng saja gadis manis itu diangkatnya ke atas kapal dan dirangkulnya erat-erat, teriaknya.
"Lekas katakan, mengapa kau pun berada di sini?"
Si gadis memandang Thi-wah dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, katanya kemudian dengan tertawa.
"Wah, Toako, engkau tumbuh terlebih kekar lagi .... Eh, siapakah adik cilik ini?"
Ia tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya. Thi-wah tertawa, katanya.
"Adik cilik apa? Dia Toakoku, jadi juga Toakomu, 217 ingat!"
Gadis baju hijau itu terbelalak bingung, ia menegas.
"Toa ... Toako?"
"Ya, Toako,"
Kata Thi-wah.
"Kepandaian Toako kita ini sungguh sangat hebat. Oya, Toako, inilah adik perempuanku, namanya Thi-lan. Ia jauh lebih pintar daripadaku."
Dengan terbelalak si gadis baju hijau alias Gu Thi-lan memandang Pui Po-ji, sejenak kemudian barulah ia menegas.
"Engkau ... engkau ini Toakoku?"
Mendadak ia tertawa terkial-kial sehingga sesak napas.
"Tertawa apa?"
Omel Thi-wah.
"Ayo, lekas memberi hormat kepada Toako."
Dengan tertawa manis Thi-lan mendekati Po-ji, ingin menahan tertawa, tapi sukar ditahan, katanya.
"Apa benar engkau ingin ... ingin kupanggil sebagai Toako?"
"Sudah tentu harus panggil begitu,"
Teriak Thi-wah sebelum Po-ji menjawab.
"Baik, baik, Toako ... Toako cilik ...."
Sambil memanggil Thi-lan tertawa mengikik.
"Apakah kau anggap usiaku terlampau muda dan tidak pantas kau panggil sebagai Toako?"
Tanya Po-ji.
"Jika aku menyangkal berarti aku dusta padamu,"
Sahut Gu Thi-lan. Bola mata Pui Po-ji berputar, katanya.
"Kau sendiri masih muda belia, anak perempuan pula, mengapa seorang diri mengeluyur keluar rumah dan bikin khawatir ayah ibu?"
Seketika Gu Thi-lan berhenti tertawa, ucapnya heran.
"Hei, dari mana kau tahu aku mengeluyur ...."
Mendadak ia menyadari telanjur omong dan kalimat lanjutannya ditelan kembali mentah-mentah. Po-ji menudingnya dan berkata pula.
"Jika kau tidak mengeluyur keluar di luar tahu ayah-ibumu, waktu ditanya Toakomu tadi mengapa kau tidak menjawab?"
Thi-lan memandang Po-ji dengan terkesiap, nyata ia terheran-heran anak sekecil itu mengapa mempunyai pandangan setajam itu dan begitu teliti pula caranya menganalisis sesuatu urusan.
Mendadak Gu Thi-wah membentak.
"Samoay, jadi benar kau mengeluyur keluar secara diam-diam?"
Terpaksa Gu Thi-lan mengangguk.
"Bagus, anak berumur dua belasan sudah begitu berani, apa kau tidak takut dimakan orang jahat?"
Omel Thi-wah.
"Memangnya siapa anak berumur dua belasan?"
Jawab Thi-lan kurang senang.
"Buset, jika kau tidak berumur dua belasan, habis berapa?"
Kata Thi-wah.
"Jelas aku masih ingat beberapa hari sebelum kupergi kau baru saja berulang tahun ke-218 ."
Thi-lan tertawa geli, sahutnya.
"Itu kan kejadian lima tahun yang lalu, memangnya orang tidak bisa tumbuh besar lagi dan masih tetap berumur 12 saja?"
Baru sekarang Gu Thi-wah menyadari kekeliruannya, serunya.
"Ah, betul, betul, aku sudah pergi lima tahun lamanya ...."
"Sejak Toako pergi, Jiko (kakak kedua) lantas mengambil Jiso (kakak ipar kedua),"
Tutur Thi-lan.
"Hah, apa benar? Loji sudah menikah?"
Thi-wah menegas dengan girang.
"Ya,"
Jawab Thi-lan.
"Jiso itu orangnya cantik dan juga cerdik, sungguh sukar dimengerti mengapa dia mau menjadi istri Jiko."
"Memangnya kenapa dengan Loji? Apakah dia tidak sesuai menjadi suami orang?"
Omel Thi-wah dengan mendelik.
"Jiko memang punya sedikit rezeki, cuma ...."
Thi-lan menghela napas lalu menyambung.
"Cuma Jiso yang cantik lagi pintar itu ternyata terlampau lihai juga."
"Lihai bagaimana?"
Tanya Thi-wah.
"Sejak Jiso masuk rumah kita, keadaan rumah kita lantas banyak berubah daripada dulu,"
Tutur Thi-lan dengan menyesal.
"Dahulu, meski kita miskin, namun hidup kita cukup gembira. Tapi kemudian ... kemudian Jiso datang dengan membawa harta, lalu keluarga kita tidak semiskin dulu lagi. Namun ... namun aku lebih suka hidup miskin seperti dahulu itu."
"Maksudmu dia mengganggumu?"
Tanya Thi-wah. Thi-lan menggeleng, lalu mengangguk pula, mata pun tampak basah, ucapnya sedih.
"Tidak menjadi soal jika dia menggangguku, tapi Jiko, Jiko juga dia ...."
"Memangnya Jiko juga diganggunya?"
Tanya Thi-wah dengan gusar. Thi-lan menunduk, sampai lama tidak bicara lagi.
"Ayo lekas katakan,"
Bentak Thi-wah. Sampai sekian lama Thi-lan termenung, ia pandang Po-ji sekejap, lalu bertutur perlahan.
"Sebelum ... sebelum dia kawin dengan Jiko, banyak kawannya yang sering datang mencari dia ...."
"Apa alangannya banyak kawan datang mencari dia?"
Ujar Thi-wah dengan melotot.
"Jika suka bersahabat, suatu tanda dia anak perempuan yang berbudi baik dan sepantasnya kau menghormati dia."
"Tapi ... tapi para sahabatnya itu semuanya orang lelaki ...."
"Memangnya kenapa kalau lelaki?"
Teriak Thi-wah.
"Apakah orang lelaki tidak boleh dijadikan sahabat? Hehe, kau ini memang anak aneh."
"Huh, Toako sendiri yang aneh,"
Jawab Thi-lan sambil mengentak kaki.
"Perempuan yang sudah menikah sepantasnya tidak ... tidak boleh sembarangan bersahabat lagi dengan lelaki lain, masa urusan begini saja Toako tidak paham?"
"Memangnya kenapa? Masa perempuan yang sudah menikah tidak boleh bersahabat lagi?"
Gumam Thi-wah, ia pandang Po-ji sekejap, lalu bertanya.
"Coba Toako, apakah uraian Samoayku ini tepat?"
"Memang begitulah seharusnya,"
Kata Po-ji. Thi-wah berpikir, lalu berteriak.
"Jika begitu, seharusnya Jikomu memberi hajaran kepada bininya dan melarang dia sembarangan bergaul lagi dengan kawannya."
"Masakah Toako tidak kenal tabiat Jiko,"
Ujar Thi-lan dengan menyesal.
"Dia tidak berani bertengkar dengan siapa pun, terhadap Jiso terlebih tunduk, asalkan Jiso berdehem saja seketika Jiko akan mendekatinya dan meninggalkan pekerjaan apa pun."
"Ai, kenapa ayah juga tidak mengurus dia?"
Ujar Thi-wah.
"Sampai ayah dan ibu juga rada-rada takut padanya,"
Tutur Thi-lan dengan menyesal.
"Betapa pun Jiso membuat ribut, biasanya ayah dan ibu juga tidak berani bicara, hanya aku ... hanya aku saja ...."
"Kau kenapa?"
Tanya Thi-wah.
"Hanya aku saja yang tidak takut padanya,"
Tutur Thi-lan.
"Bilamana dia bertindak kelewatan, diam-diam aku lantas memusuhi dia, dengan berbagai daya upaya kubikin dia serbasusah menghadapi apa pun."
Mendadak Thi-wah tertawa, katanya.
"Haha, dahulu bila aku bertengkar denganmu, diam-diam aku pun sering dipermainkan olehmu. Kuyakin perempuan itu pasti juga banyak kau kerjai, dan entah cara bagaimana dia membalas dirimu?"
"Di luar dia tidak memperlihatkan sesuatu, tapi bila aku berada sendirian, segera dia mendekati aku dan mengajak berkelahi,"
Tutur Thi-lan.
"Hah, adik perempuan Gu Thi-wah masakah kalah berkelahi dengan orang?"
Seru Thi-wah.
"Perawakannya kecil, tapi tenaganya besar, gerakannya juga cepat, sering aku tercecar dan tidak sanggup melawannya."
"Apakah Loji tahu apa yang terjadi?"
Tanya Thi-wah dengan gusar. Thi-lan menunduk, jawabnya.
"Cara turun tangannya keji dan ganas, meski aku dipukuli dan kesakitan setengah mati, tapi tempat yang dipukulnya selalu dipilih bagian yang tersembunyi sehingga tidak terlihat, sampai ... sampai Jiko juga tidak tahu."
Muka Thi-wah merah padam saking gusarnya, dampratnya.
"Wah, pantas mampus, pantas mampus!"
"Dan karena aku tidak tahan, terpaksa kabur dari rumah,"
Tutur Thi-lan. Tiba-tiba Po-ji menimbrung.
"Wah, Jisomu itu agaknya seorang aneh. Menurut 220 ceritamu, jika benar dia begitu galak, jangan-jangan dia menguasai ilmu silat?"
"Ya, konon dia anak murid Hoa-san-pay,"
Jawab Thi-lan. Kening Po-ji bekernyit, pikirnya.
"Jika anak murid Hoa-san-pay, pintar lagi cantik, mengapa mau kawin dengan pemuda dusun yang miskin, di balik ini tentu ada sesuatu yang tidak beres."
Waktu ia memandang, terlihat Gu Thi-lan memakai baju wanita nelayan, namun dari bahan yang halus, potongannya juga serasi dengan perawakannya.
Perlahan Thi-wah menepuk bahu adik perempuannya, gumamnya dengan penasaran.
"Selama aku tidak di rumah, tentu telah bikin susah padamu."
Perlahan Thi-lan mengangguk.
"Selama sekian tahun kau benar hidup susah?"
Tiba-tiba Po-ji tanya pula. Thi-lan melengak oleh pertanyaan ini, air mukanya rada berubah juga, tapi ia lantas tersenyum dan berkata.
"Ah, orang muda kan tidak menjadi soal susah sedikit."
"Sudah berapa lama kau meninggalkan rumah?"
Tanya Po-ji.
"Kira-kira tiga tahun,"
Jawab Thi-lan.
"Selama tiga tahun ini apa yang kau lakukan?"
"Menangkap ikan untuk belanja hidup sehari-hari,"
Sahut Thi-lan.
"Dari mana kau peroleh kapal itu?"
"Kusewa, setiap bulan tiga cekak perak."
"Kami cari duit dengan susah payah kenapa caramu berdandan sedemikian boros?"
"Anak perempuan mana yang tidak suka bersolek?"
Jawab Thi-lan dengan tertawa.
"Hidupku cukup hemat, dengan tabungan lebih dua tahun baru dapat kubeli sepasang gelang kemala ini."
Po-ji merasa sangsi, pertanyaannya cepat dan gencar, tapi jawaban Thi-lan terlebih cepat daripada pertanyaannya, namun jawabnya biarpun cepat tanpa cacat, tetap Pui Po-ji merasa anak perempuan ini ada sedikit aneh, sorot matanya yang bening itu seperti menyembunyikan sesuatu rahasia.
Sedangkan keanehan dan rahasia ini justru sukar ditebak oleh Po-ji.
Diam-diam ia merasakan semacam firasat yang tidak enak, cuma sukar dijelaskan apa firasat itu.
Tanpa berkedip ia pandang Gu Thi-lan, namun gadis itu tidak memandangnya lagi.
Mendadak Thi-wah berkata dengan tertawa.
"Ah, kau sudah tumbuh menjadi gadis besar, cepat sekali kau dewasa."
Hanya sekejap saja ia sudah melupakan rasa duka tadi, dengan tertawa ia 221 berkata pula.
"Untung hari ini dapat kau temui aku, kalau tidak, bila nanti kau sudah tua baru bertemu denganku, tentu sukar bagiku untuk membayangkan si Lan kecil dahulu telah berubah menjadi nenek-nenek .... Ya, untung, sungguh untung kita dapat bertemu ...."
"Kudengar cerita mereka bahwa engkau terlihat di sini, maka buru-buru kususul kemari ...."
Kata Thi-lan dengan tertawa. Kembali hati Po-ji tergerak, segera ia menukas.
"Orang-orang sama sibuk menangkap ikan, jika kau juga hidup dari menangkap ikan, kenapa kau tinggal di rumah?"
"O, ini ... aku kan juga perlu istirahat sehari dua hari,"
Sahut Thi-lan.
"Banyak kenalan keluarga kalian di sini, jika kau sudah tinggal di sini selama tiga tahun, memangnya ayah-bundamu tidak tahu dan mengapa mereka tidak mencarimu ke sini?"
Tanya Po-ji.
"Aku ... aku sendiri tidak tahu apakah ayah dan ibu mengetahui aku berada di sini atau tidak, yang jelas mereka memang tidak pernah mencariku."
Ia tetap menjawab dengan lancar dan cepat, namun kata-katanya sudah rada tergegap.
Kembali kening Po-ji bekernyit dan tambah sangsi.
Semula ia sangka keluarga Gu Thi-wah pasti sangat sederhana, baru sekarang diketahui cukup ruwet dan ada sesuatu yang tidak beres.
Pula antara mereka kakak beradik ternyata sangat berbeda, si kakak polos bersahaja, sebaliknya si adik justru penuh diliputi misterius.
Sang kakak bicara lugu, si adik justru pandai putar lidah, setiap katanya sukar untuk dipercaya, sungguh Po-ji tidak menyangka Gu Thi-wah bisa mempunyai seorang adik perempuan seperti ini.
Sedangkan Gu Thi-lan juga sama sekali tidak menyangka anak kecil serupa Pui Po-ji ini ternyata dapat melihat rahasia pribadinya, tahu begini tentu dia takkan sembarangan menyusul kemari.
Sebaliknya Gu Thi-wah sama sekali tidak tahu apa-apa, ia masih tertawa lebar dan gembira.
Melihat adik perempuan yang tumbuh semakin besar ini, selain tertawa ia tidak mau berpikir urusan lain lagi.
Tapi Thi-lan seperti teringat banyak urusan, ia menunduk dan memainkan ujung baju.
"Ayo berangkat,"
Kata Po-ji tiba-tiba.
"Ke mana?"
Tanya Thi-wah.
"Kan pantas jika mampir ke tempat tinggal adikmu,"
Sahut Po-ji.
"Aha, benar,"
Seru Thi-wah tertawa.
"Kalau tidak disebut Toako, hampir saja kulupa. Eh, Samoay, di mana letak rumahmu? Ayolah kita berangkat."
"Baik ... baiklah, ikut padaku,"
Sahut Thi-lan dengan menunduk. Tapi mendadak ia berteriak kaget.
"Wah, celaka! Di ... di manakah sampanku?...."
Thi-wah memandang sekitarnya, ternyata benar sampan adiknya sudah hilang. Mungkin saking asyiknya mereka bicara sehingga tidak tahu sampan itu hanyut terbawa arus entah ke mana.
"Mengapa tidak ... tidak kau tambat dengan tali,"
Omel Thi-wah. Thi-lan menangis dan ribut.
"Wah, lantas bagaimana baiknya? Sampan itu milik orang lain, untuk mengganti rugi jelas aku tidak mampu .... Toako, katanya kepandaianmu sangat besar, mohon engkau sudilah mencarikan akal."
"Susul ke hilir sana,"
Ucap Po-ji dengan kening bekernyit.
"Betul, usul bagus,"
Seru Thi-wah.
Padahal cara ini sedikit pun tidak bagus, bahkan boleh dikatakan cara yang paling bodoh.
Jika sampan sudah hanyut ke hilir, ke mana lagi mereka dapat menemukannya, apalagi cuaca pun mulai gelap.
Sekonyong-konyong dari depan sana sebuah perahu meluncur tiba.
Penumpangnya juga seorang gadis berbaju hijau, keadaannya serupa Gu Thi-lan.
Segera Thi-lan berteriak.
"Lau-cici, apakah kau lihat sampanku?"
"Tidak,"
Jawab gadis itu.
"Marilah kubawamu mencarinya."
"Baik,"
Sahut Thi-lan.
"Toako, hendaknya kalian tunggu di sini saja, sampan itu kecil dan ringan, mudah ditemukan ...."
Sementara itu perahu tadi sudah mendekat. Sejak tadi Po-ji ingin bicara apa-apa, namun dapat ditahannya.
"Lekas, Samoay, tahu tidak?"
Seru Thi-wah.
Thi-lan mengiakan dan melompat ke atas perahu.
Melihat gerak tubuh Gu Thi-lan, kembali hati Po-ji tergetar.
Meski ia sendiri tidak mahir ilmu silat, namun sudah cukup banyak ia melihatnya, sekarang dapat dipastikannya adik perempuan Gu Thi-wah ini pasti menguasai ilmu silat cukup tinggi.
Dilihatnya Thi-lan memberi salam dan perahu tadi didayung pergi lagi.
Kelihatan gadis berbaju hijau itu berbisik apa-apa di tepi telinga Thi-lan entah apa yang dikatakannya, lalu menoleh dan memandang Po-ji sekejap, kemudian perahu itu pun semakin menjauh.
Memandangi kepergian adik perempuannya, tiba-tiba Thi-wah berkata dengan tertawa.
"Dandanan nona itu selain serupa benar dengan adikku, bahkan perahu yang dibawanya juga serupa sampan Losam tadi, sungguh aneh dan menarik ...."
Meski otaknya tidak selincah orang biasa, tapi orang yang berpikiran polos seperti ini sering kali dapat langsung memberi reaksi dan menyelami sesuatu persoalan secara lebih mendalam daripada orang lain, sebab jalan pikirannya tidak ruwet seperti orang lain, yang dipikir tidak sebanyak orang, maka terkadang sekaligus dapat memegang titik pokoknya dengan jitu.
Meski Po-ji sudah dapat melihat hal-hal yang mencurigakan yang tidak mungkin 223 dapat dilihat oleh Gu Thi-wah, tapi terhadap urusan yang mudah kelihatan berbalik tidak dapat memahaminya.
Sekarang hati Po-ji tergerak lagi, serunya.
"Aha, betul!"
"Apanya yang betul?"
Tanya Thi-wah.
"Oo, tidak ada apa-apa ...."
Meski demikian jawab Po-ji, tapi di dalam hati ia pikir.
"Adik perempuan Thi-wah pasti telah ikut sesuatu Pang-hwe (perkumpulan dan organisasi) rahasia, dan di dalam Pang-hwe itu pasti banyak terdapat anak gadis berdandan serupa dia. Melihat caranya menjaga rahasia, rasanya Pang-hwe itu pasti tidak berhaluan baik."
Urusan keluarga Thi-wah itu makin dipikir makin memusingkan kepala. Sebaliknya Thi-wah sendiri sama sekali tidak ambil pusing, ia telah menyeret kapal kotaknya sehingga kandas di pesisir.
"Waktu kecilnya apakah adik perempuanmu pernah belajar silat?"
Tanya Po-ji. Thi-wah menyeret kapalnya sambil menggeleng.
"Tidak pernah."
"Tapi sekarang dia sudah mahir ilmu silat,"
Kata Po-ji dengan kening bekernyit.
"Apa betul?"
Thi-wah menegas dengan tertawa.
"Wah, jika begitu tentu sangat bagus, kelak biar kuminta belajar padanya."
"Siapa gurunya yang mengajar kungfu padanya?"
Tanya Po-ji pula.
"Jika dia hidup dari menangkap ikan, mengapa ada orang mengajar ilmu silat padanya? Memangnya kau tidak heran terhadap hal-hal demikian?"
"Heran apa?"
Tanya Thi-wah dengan tertawa lebar.
Po-ji menghela napas dan tidak bicara lagi.
Kedua orang menunggu cukup lama di pantai, Thi-wah semula berdiri di tepi pantai sambil celingukan kian kemari, akhirnya ia berbaring di pesisir dan tertidur nyenyak.
Memandangi bocah gede itu, Po-ji menggeleng kepala, gumamnya.
"Sungguh orang yang polos ...."
Sementara itu sudah magrib, tabir malam sudah menyelimuti angkasa, bintang sudah berkelip di langit. Namun bayangan Gu Thi-lan masih belum lagi kelihatan. Diam-diam Po-ji membatin.
"Jangan-jangan ia khawatir kami singgah ke tempat tinggalnya, maka diam-diam tinggal pergi."
Jilid 9.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Ia sendiri lagi kesal oleh berbagai persoalan, ditambah lagi urusan sekarang, tentu saja ia tambah kepala pusing, tapi juga tidak berdaya, terpaksa ia cari sepotong batu dan duduk di situ dengan termangu-mangu.
Terlihat raut mukanya yang kecil itu masih kekanak-kanakan, matanya yang besar justru penuh rasa duka orang dewasa, entah dari mana ia mendapatkan sepotong ranting pohon, ia sedang menggores lingkaran di atas tanah, ada 224 lingkaran besar, ada lingkaran kecil, di tengah lingkaran besar diberi lingkaran kecil lagi, lingkaran yang tak terhitung jumlahnya itu terdapat sebuah kotak, di luar kotak ada goresan kotak besar ....
Siapa pun tidak dapat menerka sesungguhnya apa yang sedang dilukisnya.
Malahan mulut Po-ji sendiri juga sedang bergumam.
"Apakah ini? .... Sesungguhnya di mana? .... Di mana? ...."
Mendadak seorang mendengus di belakangnya.
"Di sini!"
Keruan Po-ji melonjak kaget, hingga terperosot dari tempat duduknya, waktu menoleh, di tengah kegelapan malam dilihatnya entah sejak kapan telah bertambah sesosok bayangan orang.
Meski gerak-gerik orang ini tidak menimbulkan suara, namun perawakannya jelas tinggi besar sehingga hampir tiada ubahnya seperti Gu Thi-wah, wajahnya juga angker, baju pun mewah, cuma sekarang rambutnya kelihatan semrawut, jenggot pun berlepotan tanah, baju yang mentereng juga penuh kotoran serupa habis dikejar orang dan terjatuh ke dalam kolam lumpur, lalu lari lagi hingga tiba di sini.
"Sia ... siapa engkau?"
Tanya Po-ji.
"Anak kecil semacam dirimu buat apa tanya asal usulku?"
Jawab lelaki itu dengan suara berat.
Meski keadaannya tampak runyam, namun ucapan dan sikapnya tetap berlagak agung supaya orang tidak berani meremehkan dia.
Po-ji berdiri dan memandangnya dengan terbelalak, katanya pula.
"Ada ... ada keperluan apa lagi?"
Lelaki itu menuding kapal kotak Gu Thi-wah dan bertanya pula.
"Kapal itu milik kalian?"
"Milik ... milik dia,"
Jawab Po-ji sambil menunjuk Gu Thi-wah.
"Bangunkan dia,"
Kata orang itu.
Po-ji menyurut mundur ke sana dengan mata melotot, dipanggilnya Thi-wah hingga beberapa kali, ditambah lagi sekali depakan barulah Thi-wah terjaga, serentak ia melompat bangun sambil kucek-kucek mata dan berseru.
"Apakah Losam sudah datang? ...."
Ketika mendadak melihat orang itu, segera ia berteriak.
"Hei, sia ... siapa engkau?"
Lelaki itu menjawab.
"Tidak perlu kau tanya siapa aku, lekas turunkan kapalmu ke air, bawa Ciangkun ke sana, tentu akan kuberi hadiah, kalau tidak ... hmk!"
Terbelalak mata Thi-wah, ia menegas.
"Engkau ini Ciangkun (jenderal)?"
"Jika kau tahu siapa diriku, harus kau turut kepada perintahku,"
Kata orang itu.
"Ah, tidak betul,"
Seru Thi-wah.
"Menurut cerita yang pernah kudengar, konon seorang jenderal itu sangat angker, tak terduga sekarang dapat kulihat jenderal 225 yang sesungguhnya, tapi ... tapi mengapa engkau tidak angker seperti dalam cerita?"
"Tolol,"
Omel orang itu.
"jenderal dalam cerita mana dapat dibandingkan dengan jenderal yang sesungguhnya."
Lalu ia mendekati kapal kotak dan berkata.
"Nah, lekas berlayar!"
Mendadak Thi-wah berteriak.
"Tidak, tidak bisa. Meski engkau ini jenderal, tidak boleh kuluncurkan kapalku."
"Sebab apa?"
Tanya orang itu dengan gusar.
"Aku sedang menunggu orang,"
Tutur Thi-wah. Kening orang itu bekernyit, tanyanya.
"Yang kau tunggu apakah ...."
"Kutunggu adik perempuanku, si Thi-lan,"
Potong Thi-wah.
"Haha, jadi dia yang kau tunggu?"
Seru orang itu.
"Wah, dia takkan datang kemari, tapi lekas luncurkan saja kapalmu, Ciangkun akan membawamu mencari dia."
"Apa betul? ...."
Seru Thi-wah dengan girang.
"Apa betul?"
Pertanyaan kedua ini ia tujukan kepada Pui Po-ji. Sejak tadi Po-ji diam saja, sekarang ia juga cuma mengangguk saja. Dengan kegirangan Thi-wah berteriak.
"Baik, akan kubawamu ke sana ... dan engkau pun membawaku ke sana!"
Segera ia mendorong kapalnya ke dalam air.
Dengan hati-hati lelaki itu menaiki kapal, ketika badan kapal bergoyang, hampir saja ia tergelincir.
Tiba-tiba kening Thi-wah bekernyit, ucapnya sambil menggeleng.
"Ah, tidak, tidak betul, masakah seorang Ciangkun tidak becus begini? Jangan-jangan sengaja kau tipu diriku?"
Lelaki itu menjawab.
"Tolol, jenderal daratan dengan sendirinya tidak biasa berada di atas kapal. Panglima perang betapa tangkasnya di daratan, kalau naik kapal juga akan mabuk."
Thi-wah tertawa cerah, katanya.
"Aha, betul, betul ...."
Segera ia jalankan kapalnya. Sekonyong-konyong dari kegelapan sana muncul pula sesosok bayangan orang secepat terbang berteriak.
"Tukang perahu, kembali ... kembali."
"Engkau siapa?"
Bentak Thi-wah.
"Jangan kau tanya asal usulku, lekas membawaku ke depan sana, tentu Houya akan memberi persen sebanyaknya, kalau tidak ... hmk."
"Engkau ... engkau ini Houya (pangeran)?"
Thi-wah menegas. Ciangkun tadi menyela.
"Lekas kita berangkat saja, jangan gubris dia!"
"Wah, tidak boleh jadi,"
Seru Thi-wah sambil menggeleng.
"Engkau Ciangkun dan dia Houya, betapa pun engkau harus tunduk pada perintahnya."
Dan tanpa tanya lagi segera ia putar haluan kapal dan menepi pula.
Mestinya Po-ji hendak mencegahnya, tapi setelah berpikir lagi ia urungkan maksudnya.
Sebelum kapal menepi, sesosok bayangan lantas melayang ke atas kapal.
Selain nada ucapan orang ini serupa dengan orang pertama tadi, bajunya juga perlente, namun keadaannya juga runyam, hanya pada tangannya menjinjing sebuah peti, rambut dan jenggotnya sama ubanan, usianya jelas jauh lebih tua daripada "jenderal"
Tadi. Setelah kedua orang itu saling pandang sekejap, serentak keduanya berseru, si kakek rambut putih berkata dengan tertawa.
"Ai, tak tersangka Pek-ma-ciangkun (jenderal kuda putih) Li Beng-sing sudah datang lebih dulu daripadaku."
Orang yang disebut Pek-ma-ciangkun itu pun tertawa dan menanggapi.
"Aha, kukira siapa, kiranya Kim-ih-hou Ciu Hong, Ciu-toako adanya. Entah mengapa jubah kebesaran Houya bisa berubah semacam ini?"
"Dan mengapa kuda putih Ciangkun juga tidak kelihatan lagi?"
Jawab si kakek alias Ciu Hong dengan tertawa. Kedua orang lantas sama terbahak-bahak dan berteriak.
"Hahaha, bagus ... hahaha!"
Mendadak dari dalam lengan baju Li Beng-sing menyambar keluar tiga titik cahaya perak langsung mengarah dada Ciu Hong.
Pada saat yang sama dari peti yang dipegang Ciu Hong juga menyambar keluar selarik cahaya mengarah tenggorokan Li Beng-sing.
Namun kedua orang sama menjatuhkan diri sehingga senjata rahasia masing-masing sama menyambar lewat di atas kepala.
Li Beng-sing lantas melompat bangun, katanya dengan tertawa menyesal.
"Ai, tak terduga pegas panahku ini ada kerusakan, entah Ciu-toako terluka atau tidak?"
Ciu Hong menjawab dengan menyesal juga.
"Ai, pantas mampus, mesin petiku ini juga mengalami kerusakan, syukur engkau tidak terluka, kalau tidak kan berdosa aku ini."
"Kebetulan kubawa sebotol arak enak, biarlah kubagi minum bersama Ciu-toako untuk merayakan pertemuan kita ini,"
Kata Li Beng-sing pula, segera ia mengeluarkan segendul arak, lebih dulu ia sendiri minum dua ceguk, habis itu disodorkan kepada Ciu Hong.
"Ada arak harus ada makanan pengiring, padaku juga ada setengah ekor ayam panggang, biarlah kubagi juga kepadamu untuk menikmati bersama,"
Kata Ciu Hong. Benar juga ia pun mengeluarkan setengah ekor ayam panggang dan disobeknya separuh untuk Li Beng-sing. Kedua orang sama tergelak dan berseru.
"Ayo silakan!"
Ciu Hong angkat botol sambil mendongak, tapi dialingi dengan lengan bajunya yang longgar, isi botol lantas disiram ke lantai kapal, dengan botol kosong ia pura-pura menenggak arak dan berulang berseru.
"Bagus, arak bagus!"
Sebaliknya Li Beng-sing gunakan kesempatan orang sedang mendongak, sepotong ayam panggang tadi segera dilemparkan ke laut, dengan mulut kosong ia pun berlagak mengunyah dengan nikmat sambil berseru.
"Hah, bagus, sungguh lezat!"
Terlihat begitu ayam panggang itu menyentuh air, seketika air bergolak dan mengepulkan asap.
Lantai kapal yang disiram arak tadi juga tampak hangus sebagian.
Nyata, hanya sebentar saja kedua orang berada di atas kapal, dengan sikap ramah dan tersenyum, keduanya sudah saling serang dengan cara yang keji dan kotor untuk membinasakan lawan kalau bisa.
Po-ji dan Thi-wah sama melenggong menyaksikan permainan luar biasa itu.
Selagi Thi-wah hendak bicara, lebih dulu Po-ji telah mendesis.
"Ssst, berada bersama orang semacam mereka, lebih baik jangan bicara, tahu tidak?"
Begitulah terlihat kedua orang itu masih terus main sandiwara, yang satu pura-pura makan dan yang lain berlagak minum, selang sejenak, Li Beng-sing berkata pula.
"Jual-beli Ciu-toako di sana tidak jadi, mungkin engkau perlu ganti tempat?"
"Ya, sama-sama,"
Sahut Ciu Hong dengan tertawa.
"Ketegangan selama dua hari ini sudah memuncak, rasanya harus bertarung mati-matian, bilamana Ciu-toako sudi bekerja sama denganku, kuyakin kita pasti akan mendapat pasaran yang bagus,"
Kata Li Beng-sing.
"Sebenarnya aku juga ada maksud demikian,"
Sahut Ciu Hong.
"Kalau mau jual-beli, keadaan kita harus dibenahi dulu,"
Ujar Li Beng-sing, segera ia suruh Thi-wah mengambilkan air, kedua orang lantas cuci muka dan membersihkan kotoran pada baju mereka, meski tidak sebersih semula, namun keadaannya sudah kelihatan rapi dan gagah.
Kapal kotak itu terus meluncur mengikuti arus sehingga laju dengan cukup cepat, Ciu Hong dan Li Beng-sing duduk bersandar dinding perahu.
Tidak lama kemudian mereka sama berseru.
"Ah, sudah sampai ...."
Setelah perahu menepi, suasana di pantai gelap gulita, namun di kejauhan ada kerlip cahaya api sehingga menambah seram kegelapan malam yang misterius ini.
Ciu Hong memandang Po-ji dan Thi-wah, katanya kemudian.
"Ciangkun tidak boleh tanpa pengawal."
"Dan Houya juga tidak boleh tanpa kacung,"
Tukas Li Beng-sing dengan tertawa. Lalu ia tepuk bahu Thi-wah dan berkata pula.
"Ayo, ikut pergi bersama kami untuk mencari adik perempuanmu!"
"Ayo berangkat,"
Tukas Po-ji.
Ia tahu mau tak mau harus ikut pergi, maka lebih baik menurut saja dengan cepat, apalagi ia juga ingin tahu apa yang akan terjadi.
Dengan sendirinya Thi-wah juga menurut saja.
Mereka berempat lantas melompat ke pantai.
Po-ji menarik Thi-wah dan mendesis.
"Apa pun yang kau temui nanti sekali-kali jangan bersuara, ingat!"
Keempat orang lantas melanjutkan perjalanan ke arah kerlip cahaya api, tidak jauh, terlihat di depan adalah rawa belaka dengan rumput gelagah, bunga gelagah sudah rontok sehingga rumput gelagah yang gundul itu serupa beribu batang panah yang memenuhi permukaan rawa.
Kerlip cahaya api beradu di tengah semak gelagah sana, sayup-sayup terdengar suara orang bicara dan kumandang suara dayung.
Mestinya Ciu Hong berdua hendak menerobos ke sana, tapi demi melihat semak gelagah ini, seketika berubah pikiran mereka.
"Sungguh tempat sembunyi yang bagus ...."
Ucap Ciu Hong perlahan dengan tertawa.
Entah sengaja atau tidak Po-ji dan Thi-wah diapit oleh mereka di bagian tengah, agaknya mereka sama khawatir akan dikerjai lawan di tengah semak gelagah itu.
Angin meniup menimbulkan suara gemeresik, keempat orang berjalan di tengah semak gelagah.
Tidak seberapa jauh, tiba-tiba Po-ji melihat di kanan-kiri mereka juga ada orang merayap ke depan.
Waktu Ciu Hong dan Li Beng-sing merandek serentak orang-orang itu juga berhenti, namun tiada seorang pun bersuara.
"Mungkin orang-orang ini pun bertujuan sama dengan kita,"
Kata Beng-sing perlahan.
"Tidak perlu kita takut kepada mereka, jika sama-sama lagi menyusup ke sana, kita justru dapat saling membantu."
"Betul,"
Tukas Ciu Hong tertawa.
Dan begitu mereka mulai melangkah, orang-orang itu juga ikut berjalan lagi.
Entah berapa banyak orang yang bersembunyi di tengah semak gelagah ini.
Diam-diam Po-ji merasa heran.
"Sesungguhnya ada rahasia apakah di sini? Mengapa datang orang sebanyak ini? Ai, entah adakah hubungannya dengan adik perempuan Thi-wah?"
Ciu Hong saling pandang sekejap dengan Li Beng-sing dan tanpa berjanji keduanya lantas melambatkan langkah.
Keduanya memang licik dan licin, jelas mereka sengaja berbuat demikian supaya orang lain yang membuka jalan bagi mereka.
Tiba-tiba di tengah semak gelagah di depan ada cahaya tajam berkelebat dua kali, jelas ada orang telah membereskan perangkap di sana.
"Bagus, sungguh hebat,"
Puji Ciu Hong.
Tidak jauh lagi mereka melangkah maju, air rawa terasa mulai dangkal, agaknya 229 mereka semakin mendekati tepi kolam gelagah.
Li Beng-sing menarik Thi-wah agar berjongkok, Ciu Hong juga mendak, hanya Po-ji saja yang tetap berdiri, sebab perawakannya memang masih kecil, tanpa berjongkok pun air sebatas dadanya.
Dalam pada itu suara dayung dan suara orang bicara sudah semakin jelas.
Li Beng-sing dan Ciu Hong sama menahan napas dan mendengarkan dengan cermat, habis itu barulah mereka menyingkap gelagah dan mengintai ke sana, terlihat kolam seluas ratusan tombak dikelilingi rumput gelagah yang tinggi, di tengah kolam berjajar tujuh buah perahu kotak dan dirantai menjadi satu, mungkin digunakan sebagai rumah terapung dan jelas sudah lama tidak pernah bergeser dari kolam ini.
Padahal kolam ini tidak begitu dalam, perahu kotak ini sukar meluncur di tempat seperti ini.
Hanya terkadang ada sampan kecil menyusur kian kemari di tengah kolam.
Di haluan ketujuh kapal kotak itu hanya diterangi tiga lentera, cahaya lentera tidak terang, dipandang dari jauh terlihat ada bayangan orang berkelebat di dalam kabin.
Seluruh kolam tidak memperlihatkan sesuatu tanda aneh, cuma diliputi semacam suasana seram dan misterius, seperti setiap saat bisa terjadi sesuatu.
Sekonyong-konyong sebuah sampan meluncur keluar dari semak gelagah sana, di haluan sampan tergantung sebuah lentera kerudung, sesosok bayangan orang setengah tiarap di haluan sampan, perawakannya kelihatan ramping, waktu angin meniup, ia miringkan kepala dan membetulkan rambutnya.
Cahaya lentera menerangi sebagian wajahnya sehingga jelas dapat dikenali dia adalah Gu Thi-lan.
Segera Thi-wah hendak berteriak, tapi pinggangnya keburu dicubit sekerasnya oleh Po-ji, saking kesakitan mulutnya yang terpentang tidak jadi mengeluarkan suara.
Sampan itu langsung menuju ke kapal kotak yang tengah, sesudah dekat, sekali lompat Gu Thi-lan hinggap di atas kapal, nyata Ginkangnya memang sudah cukup hebat.
Meski Gu Thi-wah tidak jadi bersuara, tapi mulut pun sukar terkatup lagi, sorot matanya yang penuh rasa kejut itu seakan-akan ingin tanya.
"Mengapa Thi-lan bisa berada di sini? Untuk apa dia datang ke tempat semacam ini?"
Biarpun polos, ketika Pek-ma-ciangkun tadi bilang hendak membawanya mencari Thi-lan belum lagi membuatnya percaya, siapa tahu benar-benar Thi-lan dilihatnya di sini, hal ini sungguh mimpi pun tidak tersangka.
Tidak lama sesudah Thi-lan masuk ke dalam kapal, mendadak dari dalam kabin terbit bentakan orang gusar, menyusul terdengar suara gemerantang, suara pecahnya mangkuk piring, agaknya ada orang murka dan gebrak meja di dalam kapal itu.
Kemudian sayup-sayup terdengar suara Gu Thi-lan yang sedang membujuk dan menghiburnya, namun orang itu masih membentak dengan gusar.
"Mereka berani main gila, mereka berani datang kemari? Bilamana aku Kiang Hong 230 membuat mereka pulang dengan hidup, biarlah selanjutnya aku tidak she Kiang."
Suaranya keras lantang, dari jauh pun anak telinga tergetar. Selang sejenak, suara orang yang mengaku Kiang Hong tadi bergema pula.
"Jangan hadirin menertawai diriku, perangaiku memang kasar, tapi anak kelinci itu memang terlampau menghina padaku."
Habis itu lantas ramai orang tertawa dan orang membujuknya. Dengan tertawa Kiang Hong itu berkata pula.
"Baiklah, aku tidak marah lagi. Eh, Thi-lan sayang, kemarilah, biar ku ...."
Suaranya lantas samar-samar dan tidak jelas apa lanjutannya. Seketika mata Thi-wah melotot, dengan suara parau ia memaki.
"Keparat, berani menyebut sayang pada adik perempuanku, biar ...."
Cepat Li Beng-sing mendekap mulut bocah gede dogol itu, sebaliknya Pui Po-ji merasa menyesal, melihat gelagatnya, agaknya Gu Thi-lan telah dijadikan selir pemimpin bajak di tempat ini.
Tiba-tiba ada lagi sebuah sampan meluncur masuk, di ujung sampan juga terpasang lentera, di bawah lentera juga rebah seorang gadis berbaju hijau, hanya pada tangan gadis ini bertambah sehelai panji merah.
Setelah gadis ini masuk ke kabin kapal tadi, serentak lentera di haluan ketujuh kapal kotak itu menyala, beratus obor juga disulut sehingga kolam gelagah ini terang benderang serupa siang.
Pantulan cahaya lentera di dalam air juga menimbulkan beratus obor, suasana berubah semarak.
Terlihat dari setiap kapal itu muncul empat lelaki kekar dan berbaju ringkas, baju mereka sama merah menyala, perawakan ke-28 lelaki itu serupa, langkah pun sama tegap, tangan memegang trompet berhias pita merah.
Ketika ke-28 trompet berbunyi, seketika timbul suara menggetar langit dan bumi.
Berpuluh sampan ringan beriring meluncur keluar dari perairan yang sempit itu di bawah iringan suara trompet, bentuk sampan sangat aneh, tapi juga kecil dan lincah, haluan dan buritan sampan memantulkan cahaya hijau gemerdep, setiap sampan sama membawa sebuah gantolan besi raksasa dan antara gantolan sampan sama berkait sehingga berpuluh sampan itu bereret-eretan serupa seekor ular panjang.
Di haluan sampan pertama tampak duduk bersila seorang lelaki kekar bertelanjang badan, di depannya tertaruh sebuah tambur raksasa berbentuk aneh, lelaki itu memegang pemukul tambur, begitu tambur berbunyi, dayung sampan lantas bekerja sehingga barisan sampan yang panjang itu berputar menjadi suatu lingkaran, lelaki pemukul tambur jadi terkurung di tengah, suara tambur yang berat berpadu dengan suara trompet yang keras sehingga menerbitkan suara dahsyat yang menggetar sukma.
Bila suara tambur bertambah cepat, maka suara trompet juga bertambah keras.
Di seputar sampan tempat tambur itu dikelilingi empat sampan lain, setiap 231 sampan bermuatan dua lelaki kekar bercelana biru ketat dan bertelanjang badan, hanya memakai rompi hitam sehingga kelihatan otot daging yang kuat dengan simbar dada serupa bulu suri kuda, tampaknya serupa binatang, keduanya berjubel di atas sampan yang sempit, tiba-tiba salah seorang dari setiap sampan itu berdiri.
Nyata perawakan keempat lelaki ini sama tinggi melebihi dua meter, keempat orang sama memberi tanda dan serentak terjun ke dalam air, air kolam terlampau dangkal, hanya sebatas dada mereka.
Keempat lelaki lain yang masih di sampan masing-masing lantas berdiri juga, lalu sama melompat ke atas pundak kawannya, ketika mereka meraih ke bawah, sampan tempat tambur itu segera terangkat ke atas disangga sebelah tangan masing-masing.
Sampan itu jadi terapung serupa panggung dan lebih tinggi daripada kapal kotak.
Kedelapan lelaki kekar itu berdiri di dalam air serupa tonggak, suara tambur mendadak berhenti, lelaki pemukul tambur perlahan berdiri di atas sampan yang terangkat di udara itu, tambur diangkatnya tinggi ke atas.
Po-ji tidak tahu permainan apa yang hendak diperlihatkan orang-orang itu, ia merasa tertarik.
Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan biru entah muncul dari kapal mana melompat keluar, ujung kaki melejit perlahan di atas pundak lelaki paling bawah dan segera ia melayang ke atas lagi, kemudian hinggap dengan perlahan di atas tambur raksasa yang diangkat tinggi-tinggi itu.
Gaya lompatannya sungguh gesit dan indah.
Di bawah cahaya lentera terlihat rambut orang ini panjang terurai, hanya terikat dua gelang emas berbaju biru muda dan berkibar tertiup angin, meski wajah tidak jelas kelihatan, namun gayanya yang indah memesona itu hampir saja membuat Po-ji bersorak memuji.
Mendadak suara trompet berhenti, hanya terdengar gemeresak rumput gelagah yang tertiup angin.
Dengan suara lantang orang berbaju biru itu lantas berseru dengan tertawa.
"Haha, ada tamu datang dari jauh, kenapa tuan rumah tidak menyambut keluar, cara Kiang-toacecu meremehkan tamu ini perlu didenda."
Suaranya nyaring, kalau tidak melihat orangnya tentu orang akan menyangka dia seorang gadis.
"Hai, kau minta kusambut kedatanganmu, memangnya sesuai bagimu?"
Jawab suara bengis di dalam kapal.
"Haha, lihai amat ...."
Seru orang berbaju biru dengan terbahak.
"Jika gunung tidak mau datang padaku, terpaksa aku yang mendatangi gunung. Entah Kiang-toacecu sudi menerima kawan tidur semacam diriku atau tidak?"
Selain suara tertawanya penuh rasa ejek dan menantang, juga kata "kawan tidur"
Agak membingungkan. Diam-diam Po-ji membatin.
"Kiang-toacecu itu kan bukan orang perempuan, sungguh aneh dia menawarkan diri menjadi kawan tidurnya."
Segera terdengar orang di dalam kapal berteriak dengan gusar.
"Kentut busuk! Kau setan cilik ini berani ...."
Mendadak ucapannya terputus, seperti mendadak dicegah orang, lalu suara seorang lagi yang bernada berat menukas.
"Jauh-jauh Siau-tocu datang kemari, entah ada kepentingan apa, mohon memberi penjelasan."
Meski berat suaranya, namun kuat dan panjang, sekata demi sekata berkumandang dengan jelas dan menggetar anak telinga. Agaknya si baju biru agak terperanjat, ia diam sejenak, lalu bicara perlahan.
"Tak terduga di tengah Thian-hong-cui-ce ini ternyata benar ada naga sembunyi dan harimau tidur, rupanya ada orang kosen berada di sini, sungguh aku jadi kurang hormat."
Mendadak Kiang Hong memaki.
"Tidak perlu banyak omong, kalau mau kentut lekas keluarkan!"
"Haha, Kiang-cecu memang orang yang suka terus terang,"
Kata si baju biru dengan tertawa.
"kedatanganku ke sini memang ada tiga urusan, padahal ketiga urusan ini kuyakin Kiang-cecu sudah tahu seluruhnya."
Ketika orang berhenti bicara, Gu Thi-wah lantas membisiki Po-ji.
"Sungguh aku ... aku tidak tahan lagi dan ingin bicara."
"Urusan apa yang membuatmu tidak tahan?"
Tanya Po-ji.
"Si bocah gede yang mengangkat perahu itu, salah seorang di antaranya adalah saudaraku,"
Kata Thi-wah.
"Mengapa ia pun datang kemari, sungguh aku tidak habis mengerti."
Po-ji melenggong, apa yang sukar dimengerti dalam benaknya entah berapa kali lipat lebih banyak daripada Thi-wah.
Apakah kedua golongan yang berhadapan di kolam gelagah ini ada persengketaan, dan jangan-jangan Gu Thi-lan mengetahui istri kakak kedua adalah anggota gerombolan orang she Kiang ini, maka ia sengaja masuk gerombolan orang she Kiang agar ada kesempatan untuk melampiaskan rasa dendamnya terhadap kakak ipar itu?
Tapi bila kakak iparnya itu termasuk anggota gerombolan rahasia ini, mengapa mau menjadi istri kakak Thi-lan yang sama dogolnya serupa Thi-wah ini?
Malahan sejak nikah jelas masih mengadakan hubungan erat dengan sesama anggota perkumpulan, apakah maksud tujuannya?
Jika tujuan perempuan ini cuma hendak memperalat adik Thi-wah dan pura-pura kawin dengan dia, namun seorang anak muda keluarga nelayan meski perawakannya lebih kekar daripada pemuda biasa, betapa besar nilai gunanya?
Sungguh rahasia di balik urusan ini sukar dipecahkan Po-ji.
Terdengar si baju biru tadi sedang berseru pula.
"Kedatanganku ini adalah ingin minta Kiang-cecu membagi separuh hasil usahanya yang baru didapatnya itu kepadaku agar saudara kami ikut bergembira. Mengenai anak dara itu, asalnya juga anak buah kami yang mendapatkan dia, maka diharap pula Kiang-cecu suka mengembalikan dia kepadaku."
"Hm, lalu apa lagi?"
Jengek Kiang Hong di dalam kapal.
"Antara kedua golongan kita mempunyai kekuatan yang seimbang, daripada terus-menerus bertengkar dan bertempur sehingga banyak jatuh korban, kan lebih baik kita berdamai dan berserikat. Asalkan Kiang-cecu menyatakan setuju, dengan kekuatan gabungan kedua golongan kita, tentu tidak perlu hidup terpencil lagi di rawa-rawa ini dan dapat keluar lautan untuk menghadapi si Naga Jenggot Merah."
Ia merandek sejenak, lalu menyambung.
"Apa yang kukemukakan ini timbul dari maksud baik, diharap Kiang-cecu suka mempertimbangkannya."
Tampaknya Kiang Hong rada tertarik oleh tawaran ini, ia terdiam sejenak, lalu berkata.
"Dan apa lagi urusanmu yang ketiga?"
"Urusanku ketiga ini terlebih hebat lagi,"
Ujar si baju biru dengan tertawa.
"Mengingat anggota golongan kalian kebanyakan adalah anak gadis yang belum kawin, sebaliknya anggota golongan kami kebanyakan pemuda bujangan, setelah kita bergabung, antara anggota kedua pihak tentu dapat mencari pasangan sendiri, dan jadilah cerita menarik di dunia persilatan. Malahan antara diriku dan ...."
Belum lanjut ucapannya Kiang Hong lantas berteriak murka.
"Kentut busuk!"
Kontan sebuah senjata rahasia lantas menyambar keluar, langsung mengarah muka si baju biru.
Bentuk Am-gi atau senjata rahasia itu tidak kecil, daya sambarnya cepat luar biasa, jarak kedua pihak ada beberapa puluh tombak jauhnya namun menyambar sampai di depan si baju biru senjata rahasia itu masih membawa kekuatan yang tidak lemah.
Namun sedikit mengegos dapatlah si baju biru menangkap Am-gi itu, waktu dipandang, kiranya sebuah poci teh.
Bahwa Kiang Hong mampu menyambit sebuah poci sejauh puluhan tombak, sungguh tenaganya cukup mengejutkan.
Diam-diam Po-ji melengak.
Terdengar si baju biru berseru dengan tertawa.
"Nah, kalau Kiang-cecu setuju tentu sangat baik, bila tidak setuju, kan juga tidak perlu emosi seperti ini."
Kiang Hong menjawab dengan bengis.
"Pekerjaanku sendiri sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu, adik cilik itu juga jangan harap akan kau sentuh dia. Manusia rendah tidak tahu malu semacam dirimu masakah ingin bersekutu dengan Thian-hong-pang? Hah, jangan mimpi. Anak muridmu lebih kotor daripada hewan, mimpi pun jangan harap akan mengincar anggota perempuan kami."
Sekaligus ia tolak ketiga syarat yang disebut si baju biru, tegas dan ketus.
"Hah, memangnya Kiang-pangcu tidak khawatir akan kuperlakukan kurang hormat?"
Jengek si baju biru.
"Apa kemampuanmu, boleh coba keluarkan saja, memangnya aku jeri padamu?"
Jawab Kiang Hong, berbareng itu sesosok bayangan melayang keluar dari dalam kabin, seketika terdengar suara "plang-plung"
Dua kali, dua lelaki berbaju merah yang berdiri di haluan kapal tertolak jatuh ke dalam air. Diam-diam Po-ji menggeleng kepala, pikirnya.
"Betapa keras dan pemarah watak Kiang Hong ini."
Waktu ia mengawasi, terlihat orang yang bernama Kiang Hong ini bertubuh kurus kecil, rambut panjang terurai di kanan-kiri pundak, di bawah cahaya lentera yang remang-remang tidak kelihatan wajahnya.
"Haha, hari ini tentu tidak sedikit orang kosen yang kau mintai bantuan, biarlah kesempatan ini kugunakan untuk belajar kenal dengan mereka,"
Kata si baju biru dengan tertawa.
"Hah, kau sendiri memangnya tidak membawa bala bantuan?"
Jawab Kiang Hong dengan gusar.
"Betul ...."
Belum lanjut ucapan si baju biru, tiba-tiba sebuah sampan meluncur lewat di sebelah Po-ji.
Mendadak Ciu Hong menepuk perlahan peti rotan yang dibawanya, cahaya perak yang digunakan menyerang Li Beng-sing tadi kembali menyambar ke sana.
"cret", menancap pada dinding sampan itu. Kiranya cahaya perak ini adalah seutas kawat perak halus, ujung kawat dibuat seperti kaitan, dapat mulur dan dapat mengkeret cepat dan praktis. Waktu Ciu Hong menarik, sampan itu lantas terseret kemari. Tentu saja lelaki penumpang sampan membentak gusar, dayung diangkat terus mengemplang kepala Ciu Hong. Tak tersangka dari peti rotan Ciu Hong kembali menyambar keluar sejalur asap, belum lagi dayung lelaki itu menurun, lebih dulu tubuh sudah bergoyang dan kecemplung ke dalam air. Kiang Hong menoleh dan membentak.
"Siapa itu? Tangkap dia!"
Serentak dari kanan-kiri beberapa sampan meluncur tiba dengan cepat. Ciu Hong melompat ke atas sampan sambil mengacungkan tangan dan berteriak.
"Harap Pangcu sabar dulu, ada urusan penting ingin kuberi tahukan."
Kiang Hong tampak sangsi, tanyanya kemudian.
"Urusan apa?"
Dengan sebelah tangan Ciu Hong menarik Li Beng-sing ke atas sampan, lalu berkata.
"Apakah Kiang-pangcu tidak ingin tahu orang macam apakah bala bantuan yang diundang kemari oleh Siau Bwe-jiu?"
Kiang Hong melenggong diam, belum lagi ia bersuara, si baju biru alias Siau Bwe-jiu lantas berteriak murka.
"Kiranya lagi-lagi kalian berdua manusia tidak tahu malu ini hendak mengacau. Ayo kawan, bekuk mereka!"
"Kedua orang ini sudah berada dalam Thian-hong-cui-tong, memangnya kalian berkuasa di sini?"
Bentak Kiang Hong. Ia memberi tanda dan berseru.
"Bawa kedua orang ini maju kemari."
Kelima sampan yang mendekat hendak menangkap mereka itu sekarang berubah menjadi pelindung mereka malah.
Meski Siau Bwe-jiu sangat marah juga tidak berani sembarangan turun tangan.
Li Beng-sing menoleh dan pesan kepada Thi-wah.
"Gendong anak itu dan ikut di 235 belakang sampan."
Thi-wah memandang Po-ji, anak itu mengangguk dan barulah Thi-wah menegak serta mengulet dengan senyum nikmat, habis itu baru Po-ji digendongnya dan ikut maju ke sana.
Perawakan Thi-wah jauh lebih tinggi besar daripada beberapa lelaki kekar yang mengangkat sampan, air kolam hanya sebatas dadanya saja.
Melihat anak muda segagah ini, Siau Bwe-jiu jadi heran dan kejut pula.
Po-ji mendesis di tepi telinga Thi-wah.
"Tunduk kepala, jangan menyapa saudaramu."
Thi-wah mengangguk tanda mengerti, dilihatnya adiknya berdiri membelakangi diri, kedua tangan menyangga benda berat, dengan sendirinya juga tidak berani sembarangan memandang kian kemari.
Ciu Hong dan Li Beng-sing lantas melompat ke atas kapal kotak, Thi-wah menurunkan Po-ji, lalu merambat juga ke atas kapal bersama Po-ji, keempat orang sama basah kuyup, keadaannya agak runyam.
Namun Ciu Hong dan Li Beng-sing memang mempunyai kepandaian istimewa, yaitu dalam keadaan betapa runyam mereka tetap dapat berlagak santai.
Hal ini sudah tidak membuat heran Pui Po-ji lagi, tapi ketika melihat Kiang Hong, hampir saja ia berteriak kaget.
Sebab dilihatnya Kiang Hong itu bertubuh kecil mungil, berbaju sutra halus, rambut panjang terurai, alis lentik dan mata jeli, kulit tubuh seputih kemala, mulut kecil dan bibir merah ....
Bajak yang berwatak pemberang dan suka bicara kasar ini ternyata seorang perempuan cantik dan bertubuh menggiurkan.
Pikir Po-ji dengan terkesima.
"Pantas orang she Siau itu bilang mau menjadi teman tidurnya, kiranya dia seorang perempuan. Ai, sungguh mimpi pun tidak terduga."
Dalam pada itu Li Beng-sing lantas memberi hormat dan berseru lantang.
"Cayhe Li Beng-sing dan berjuluk Pek-ma-ciangkun, sahabatku ini adalah Kim-ih-hou Ciu Hong, Ciu-tayhiap."
Tiba-tiba seorang menukas dari dalam kabin.
"Kim-ih-hou ... wah, entah ada hubungan apa antara Anda dengan Ci-ih-hou?"
Suaranya berat dan kuat, jelas orang yang main bentak tadi. Ciu Hong tergelak, jawabnya.
"Tentang hubunganku dengan Ci-ih-hou ... hehe, kukira tidak perlu kukatakanlah."
Mendadak Siau Bwe-jiu menimbrung.
"Huh, manusia yang tidak tahu malu, pakai berlagak segala. Memangnya Ci-ih-hou itu tokoh macam apa? Biarpun kau menjadi kacungnya juga tidak sesuai baginya .... Kiang-pangcu, keparat ini dan orang she Li itu cuma dua penipu belaka, jika kau percaya kepada ocehannya, tentu engkau akan masuk perangkap mereka."
Kiang Hong menarik muka, ucapnya bengis.
"Akhir-akhir ini kabarnya di dunia 236 Kangouw muncul dua penipu besar yang khusus suka menggerayangi kaum hartawan, kiranya kalian berdua ini?"
Dengan tenang Ciu Hong tertawa, jawabnya.
"Pangcu adalah tokoh terkemuka, mengapa gampang percaya kepada ocehan orang. Hendaknya dengarkan dulu ceritaku baru nanti mengambil keputusan."
"Hm, silakan saja bicara,"
Jengek Kiang Hong.
"Apakah Kiang-pangcu pernah dengar di dunia Kangouw ini ada seorang tokoh Ban-lohujin dengan baju beratus saku dan membawa senjata tongkat beratus pusaka ...."
"Apakah maksudmu ibu kandung Ban-tayhiap?"
Tanya Kiang Hong dengan melengak.
"Pribadi Ban-tayhiap tulus dan terhormat, tentang Ban-lohujin, hehe ...."
Betapa pun Ciu Hong tidak berani mengejek nyonya tua itu dengan kata-kata kasar, setelah mendengus, lalu berkata.
"Siau Bwe-jiu ini justru termakan oleh siasat adu domba Ban-lohujin sehingga timbul maksud jahatnya untuk merampas hasil usaha Kiang-pangcu dua bulan yang lalu, bilamana dia tidak didukung oleh Ban-lohujin, memangnya cuma Siau Bwe-jiu saja berani sembarangan menerobos masuk ke Thian-hong-cui-ce sini?"
Po-ji tidak menyangka urusan ini ternyata menyangkut Ban-lohujin yang berhati keji itu, pikirnya.
"Jika Siau Bwe-jiu mendapat dukungan nenek she Ban itu, agaknya Kiang Hong akan susah."
Ia coba melirik ke dalam kabin, terlihat empat lelaki kekar berbaju perlente duduk berjajar di sana, meski usia keempat orang itu berbeda, namun sama bersikap gagah dan kereng.
Keempat orang tampak duduk diam saja, hanya memandang sekejap saja Po-ji tahu mereka pasti bukan orang yang boleh diganggu, Ban-lohujin pun belum tentu dapat mengalahkan mereka.
Ketika ia berpikir, tidak diketahuinya apa yang telah diucapkan Kiang Hong tadi.
Terdengar Ciu Hong lagi berkata.
"Apakah Kiang-pangcu tahu apa sebabnya sudah sekian lama Siau Bwe-jiu ini datang kemari dan belum lagi turun tangan?"
Dengan gusar Kiang Hong menjawab.
"Justru hendak kutanyakan padamu, untuk apa kau tanya padaku?"
Ciu Hong terkekeh, katanya.
"Petang kemarin, mendadak Ban-lohujin pergi, katanya melihat satu orang dan hendak mengejarnya untuk diajak kemari dan dijadikan pembantu, baru tengah malam tadi dia pulang, sekarang Siau Bwe-jiu melulu bicara saja tanpa turun tangan, tujuannya justru sengaja mengulur waktu hingga datangnya Ban-lohujin."
Dengan melotot Kiang Hong berteriak.
"Hm, dia tidak mau turun tangan, biar aku yang turun tangan lebih dulu."
"Silakan, silakan,"
Ujar Siau Bwe-jiu dengan tertawa.
"Siapa-siapa yang ingin bergebrak denganku, silakan naik ke atas sini, pasti kuiringi."
Tempat berdirinya merupakan pusat barisan sampan, para lelaki kekar yang berada di sampan sudah siap tempur dengan senjata terhunus.
Bilamana orang lain berani menerjang barisan sampan tentu akan menghadapi rintangan berat, apalagi Siau Bwe-jiu sendiri berdiri di atas dan dapat melihat setiap sudut, siapa pula yang dapat menyergapnya?
Biarpun kungfu Kiang Hong sangat tinggi juga sukar terbang ke atas menara manusia yang beberapa tombak tingginya itu, jelas sulit baginya untuk bergebrak dengan Siau Bwe-jiu.
Seketika wajah Kiang Hong merah padam dan tak berdaya, dilihatnya kawan lelaki yang mengangkat sampan tinggi ke atas itu sejauh itu masih tetap berdiri tegak tanpa bergerak, seperti tidak kenal lelah, biarpun mengangkat sampan bertambur itu selama tiga hari tiga malam.
Tiba-tiba dari dalam kabin seorang berseru dengan suara berat.
"Ingin merobohkan orang harus panah dulu kudanya ...."
Tergugah ingatan Kiang Hong, katanya dengan girang.
"Betul, lekas panah lelaki yang mengangkat sampan!"
"Hm, boleh saja coba,"
Jengek Siau Bwe-jiu.
"Di sekeliling sini penuh gelagah, bila kau lepas panah segera kuperintahkan menyalakan api, biar kita terbakar bersama, apa boleh buat!"
"Berani kau nyalakan api?!"
Bentak Kiang Hong gusar.
Meski di mulut ia membentak, namun dalam hati ia tahu lawan pasti bertindak demikian sehingga sia-sia ia bersikap galak.
Siau Bwe-jiu tampak gembira, ia malah duduk bersila di atas tambur dan bernyanyi kecil dengan santainya.
Entah mengapa Po-ji berkesan baik terhadap Kiang Hong, makin dipandang Siau Bwe-jiu makin membuatnya muak, tiba-tiba ia tarik ujung baju Gu Thi-wah dan bertanya.
"Apakah adikmu suka turut kepada kehendakmu?"
"O, biasanya dia tidak mau tunduk kepada siapa pun, hanya perintahku saja paling dipatuhinya,"
Tutur Thi-wah dengan tertawa.
"Baik, jika begitu, lekas kau panggil dia kemari,"
Kata Po-ji. Tanpa pikir Thi-wah lantas berteriak.
"Thi-hiong ... Ji-wah ... Toako berada di sini, lekas kemari ... lekas ...."
Mendengar suara itu, satu di antara keempat lelaki kekar yang mengangkat sampan di udara itu semula melengak, ia berpaling dan memandang dua kejap, mendadak ia lepas tangan terus melompat turun dari pundak orang di bawahnya.
Ketika diangkat empat orang, sampan itu memang sangat mantap, tapi begitu salah seorang lepas tangan, seketika sampan itu kehilangan imbangan, lelaki yang berdiri di atas sampan dengan menyangga tambur itu yang lebih dulu tidak sanggup berdiri tegak lagi, kontan ia terjungkal ke bawah.
Baru saja Siau Bwe-jiu membentak marah atas perbuatan Thi-hiong, saudara Thi-wah itu, tahu-tahu lelaki penyanggah telah jatuh ke dalam air.
Maka terdengarlah suara gedebur dan blang-blung yang riuh disertai jeritan di sana-sini.
Banyak orang kecebur ke dalam air, ada juga yang jatuh ke haluan kapal dan menjerit kesakitan, paling akhir terdengar suara gemuruh, itulah suara sampan yang terangkat tadi terbanting di atas sampan bagian bawah.
Benturan dua sampan mengakibatkan papan pecah dan kayu berhamburan, barisan sampan itu seketika menjadi kacau.
Di tengah keributan itulah Gu Thi-hiong lantas lari keluar dari barisan sampan, Gu Thi-wah juga melompat turun dari kapal dan memburu ke arah saudaranya, begitu keduanya berhadapan, serentak mereka saling pukul dan saling rangkul dengan erat tanpa menghiraukan teriakan orang lain dan juga tidak peduli air rawa yang kotor itu.
Kiang Hong memandang Po-ji sekejap, sorot matanya yang dingin untuk pertama kalinya menampilkan rasa simpatik.
Hal ini dirasakan oleh Pui Po-ji melebihi beribu kata pujian, selagi ia membalas dengan tersenyum, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang menubruk ke arah Thi-wah berdua, keruan Po-ji menjerit kaget.
"Jangan khawatir!"
Seru Kiang Hong, cepat ia menerjang maju juga.
Bayangan yang menubruk tiba itu bukan lain dari Siau Bwe-jiu adanya.
Ia menjadi murka karena urusannya digagalkan oleh kedua bocah gede dan dogol ini, saking gemasnya segera timbul niatnya membunuh, dengan dahsyat ia hantam kepala Thi-wah dan adiknya.
Namun sebelum mencapai sasarannya, dari samping menyambar tiba angin pukulan yang kuat, terpaksa ia harus jaga diri lebih dulu, cepat ia berputar dan kedua tangan pun menghantam ke depan.
Pukulan dua orang beradu dan sama menggeliat, tampaknya mereka pun akan jatuh ke dalam air, siapa tahu tangan kedua orang itu sempat menahan di atas pundak Gu Thi-wah dan segera melayang lagi ke samping.
Cuma dalam keadaan kacau mereka tidak dapat lagi membedakan arah, Kiang Hong melayang ke barisan sampan sana, sedang Siau Bwe-jiu melompat ke atas kapal kotak.
Tanpa terasa Po-ji menyurut mundur dua langkah, tiba-tiba pandangan kabur, keempat lelaki yang duduk tenang di dalam kapal tadi entah sejak kapan telah melompat ke luar.
Keempat orang itu serupa malaikat maut serentak mengepung Siau Bwe-jiu di tengah.
Di sebelah sana Kiang Hong telah memukul terjungkal salah seorang penjaga sampan, menyusul seorang lagi ditamparnya hingga terjungkal ke dalam air.
Dilihatnya sebuah sampan cepat telah meluncur tiba.
Dengan ringan Kiang Hong melompat ke atas sampan, menyusul ia melayang kembali ke atas kapal kotak, gerakannya sungguh cepat dan gayanya indah.
Dalam pada itu kening Siau Bwe-jiu sudah keluar butiran keringat, sebab berulang ia menggunakan beberapa gerakan dan tetap sukar menerobos keluar dari kepungan keempat lelaki tadi.
Betapa ia menggunakan gerakan, betapa ia menerjang ke arah mana pun, asal salah seorang itu menahan dengan sebelah 239 tangan, kontan Siau Bwe-jiu terdesak kembali lagi ke tempat semula.
Melihat gelagatnya, jika keempat orang itu menyerangnya bersama, mustahil jiwa Siau Bwe-jiu takkan melayang.
Teringat demikian, mau tak mau Siau Bwe-jiu patah semangat dan tidak berani sok lagi.
"Thi-toako, Song-toako, Li-toako dan Cian-toako, orang she Siau ini sudah kelewat takaran kejahatannya, untuk apa kalian bermurah hati kepadanya?"
Seru Kiang Hong.
Lelaki berbaju perlente yang sebelah kiri beralis tebal dan berwajah hitam, meski usianya paling muda, namun tampaknya justru paling gagah, agaknya dalam waktu singkat sudah sering mengalami berbagai peristiwa maut sehingga apa yang terjadi sekarang dipandangnya sepele, segera ia mendengus.
"Apa susahnya membunuh dia? Cuma, setelah dia terbunuh, anak buahnya tentu akan kalap dan Thian-hong-cui-tong kalian ini bukankah akan rusak keindahannya karena banjir darah."
Siau Bwe-jiu tertawa terkekeh.
"Hehe, kalian ternyata tahu urusan, tentu kalian pun tokoh dunia persilatan, entah boleh tidak mengetahui nama kalian?"
"Eh, bukankah kau sedang menunggu bala bantuan, bilamana pembantumu itu sudah datang, tentu kau pun akan tahu nama kami berempat ...."
Belum lanjut uraian orang itu, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara tertawa aneh orang.
"Anak sayang, kau pun sudah datang? Bagus sekali, biar nenek memberi permen dan manisan padamu!"
Mendengar suara orang, seketika air muka Po-ji berubah hebat, diam-diam ia mundur ke pojok sana, dicomotnya segenggam lumpur dan dipoles di muka sendiri.
Agaknya lelaki tadi juga tidak sanggup menikmati permen atau manisan, sebelum terjadi sesuatu lebih dulu ia sudah menyingkir, maka terlihatlah bayangan berkelebat, seorang nenek ubanan tahu-tahu melayang tiba dari udara, perawakannya pendek buntak, wajahnya tertawa selalu, tangan memegang tongkat yang panjang, siapa lagi dia kalau bukan Ban-lohujin.
Seketika wajah Siau Bwe-jiu mengunjuk rasa girang, air keringat pada kening pun segera kering.
Ban-lohujin melotot sekejap padanya, ucapnya dengan menarik muka.
"Hm, percuma kau berkecimpung sekian tahun di dunia Kangouw, sampai asal usul keempat orang ini pun tidak tahu?"
"Mohon petunjuk Popo,"
Kata Siau Bwe-jiu. Ban-lohujin menghela napas, lebih dulu ia ambil sebiji manisan cermai, sembari makan manisan ia tunjuk salah seorang lelaki itu dan berkata.
"Inilah Jit-song-cian Thi Un-hou, itu Kay-pi-jiu Song Kong, yang sana Tah-soat-bu-hin Li Eng-hong dan yang ini Ban-jin-tik Cian Siang-sing .... Ai, tokoh terkemuka dunia persilatan daerah Tionggoan kini hanya tersisa mereka berempat ini saja."
Terperanjat juga Siau Bwe-jiu setelah tahu siapa keempat orang itu, begitu pula Pek-ma-ciangkun Li Beng-sing, diam-diam ia menarik Ciu Hong ke pinggir dan membisikinya.
"Meski nama Thian-hong-pang dan Jiu-cui-pang cukup gemilang di wilayah Tiangkang, tapi Kiang Hong dan Siau Bwe-jiu paling-paling cuma jago 240 Kangouw kelas dua saja, mengapa sekarang ada tokoh kelas terkemuka datang ikut campur urusan mereka? Sungguh sukar dimengerti."
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 9
Baca Juga: Anak Rajawali 11