Ceritasilat Novel Online

Pukulan Naga Sakti 4

Eps 4 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.

Ciu Tin tin segera membentur tubuh Thi Eng khi dengan bajunya, kemudian menjawab .

"Aduuh hiyung..... giginya sakit lagi!"

Dengan cepat Thi Eng khi mengerti pasti ada sesuatu yang tak beres, tapi dia menahan diri dan membungkam diri dalam seribu bahasa.

Menanti lelaki itu sudah pergi jauh, Ciu Tin tin baru menuding bayangan tubuh lelaki itu sambil berkata .

"AdiK Eng, tahukah kau siapa gerangan orang tadi?"

"Siaute belum lama terjun kedalam dunia persilatan, orang yang kukenalpun masih terbatas sekali, toako tak usah mengetes diriku lagi."

"Dia tak lain adalah Hek bin bu pa (raja lalim bermuka hitam) To Thi gou, salah seorang diantara Cap sah Tay poo yang pernah kau sebutkan kepada kami."

Berbicara sampai disitu, biji matanya segera diputar, mendadak dia menjerit tertahan.

"Aduh celaka! Adik Eng, kita tak bisa berdiam lebih lama lagi di Kang im ini!"

Kemudian sambil menarik tangan Thi Eng khi, dia segera mengejar ke arah mana Hek bin bu pa To Thi gau melenyapkan diri tadi.

Dalam waktu singkat kedua orang itu berhasil mengejar si raja lalim bermuka hitam To Thi gou, tampak orang itu memasuki rumah suatu keluarga miskin.

Dengan suara lirih Thi Eng khi segera berbisik.

"Toako, mari kita menyelinap kesana, coba kita lihat apa yang sedang ia lakukan di sana?"

Ciu Tin tin segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.

"Tak usan dilihat lagi, Ih heng sudah dapat menebak garis besarnya."

"Darimana kau bisa menduganya? Coba terangkan kepada siaute."

Sambil memperketat larinya sehingga tubuhnya meluncur kedepan secepat sambaran kilat, Ciu Tin tin berkata .

"Sekarang aku tak sempat memberikan keterangan, nanti saja, setelah berjumpa dengan Pek bo, kau akan tahu dengan sendirinya!"

Mendengar kalau perjalanan itu menuju ke rumah ibunya, Thi Eng khi menjadi girang sekali, diapun tidak bertanya apa apa lagi, dengan suatu gerakan cepat dia turut meluncur ke depan.

Setelah melakukan perjalanan sekian waktu akhirnya muncullah sebuah bukit kecil didepan sana, dikaki bukit terdapat beberapa buah rumah petani, sambil menuding ke arah salah satu rumah gubuk berdinding batu yang berdiri sendiri didepan sana, Ciu Tin tin berkata .

"Pek bo berada didalam rumah gubuk itu."

Ternyata dia hapal sekali dengan jalanan ditempat itu, seakan akan sedang kembali ke tempat yang dikenal saja, hal mana segera menimbulkan kecurigaan dalam hati Thi Eng khi, dengan cepat dia menegur .

"Toako, tampaknya kau sudah pernah datang kemari?"

Ciu Tin tin segera tertawa.

"Kali ini kau berhasil menebaknya dengan jitu, benar, memang akulah yang menghantar pek bo sekalian datang kemari!"

Tak terlukiskan rasa haru Thi Eng khi menghadapi kenyataan ini, tiba tiba serunya dengan tercengang .

"Toako, sebenarnya siapakah kau?"

Ciu Tin tin tidak langsung menjawab pertanyaan itu, sebaliknya hanya bergumam seorang diri .

"Setelah Ing heng menghantar Pek bo sekalian datang kemari, akupun pergi mencari kabar tentang dirimu, diluar dugaan kutemukan surat yang ditinggalkan Pek bo telah terjatuh ke tangan Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji."

"Maka toako pun menukar kertas surat itu dengan giok bei milikku?"

Sambung Thi Eng khi sambil menghela napas panjang. Setelah berhenti sejenak, dengan kening berkerut dia melanjutkan .

"Lantas, mengapa toako tidak memberitahukan hal itu kepada siaute semenjak dulu?"

Paras muka Ciu Tin tin berubah agak merah, sahutnya dengan segera .

"Tentu saja dibalik kesemuanya itu masih ada alasan lain yang.... yang tak dapat diberitahukan kepadamu!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah sampai didepan pintu rumah gubuk.

Ciu Tin tin segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat untuk Thi Eng khi.

Sebelum masuk kedalam rumah, Thi Eng khi telah berteriak berulang kali.

"Ibu! Ibu! Eng ji telah pulang....... anak Eng telah pulang...."

Dia langsung menyerbu masuk kedalam.

Tiba dalam ruangan tampak ibunya sedang berdiri diruang tengah dengan wajah termangu, sepasang matanya terbelalak lebar, sekujur tubuhnya gemetar keras, jelas saking terkejut dan girangnya ia sampai gelagapan dibuatnya.

Kecuali ibunya, dalam ruangan itu tidak tampak Thian liong ngo siang lainnya.

Berhadapan dengan ibunya, Thi Eng khi belum sampai berpikir ke soal lain, dengan cepat dia memburu ke depan dan menjatuhkan diri berlutut,katanya dengan air mata bercucuran .

"Ibu.... ananda telah kembali...."

Yap Siu ling segera sadar kembali dari lamunannya dan menahan air matanya yang hampir meleleh keluar. Kemudian dengan wajah dingin seperti es katanya .

"Sewaktu pergi dulu, kau nampak gagah dan perkasa, apakah sekarang kau pulang kembali dengan tiada suatu perubahanpun!"

Oleh karena pada mulanya dia menolak Thi Eng khi berlatih silat maka akibatnya sekarang dia menginginkan anaknya bisa cepat cepat menjadi seorang pendekar yang luar biasa.

Dengan ketakutan Thi Eng khi berseru .

"Ananda sama sekali tidak mengecewakan harapan kau orang tua, ananda telah berhasil menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip."

"Oooh....oohhh...."

Yap Siau ling berseru tertahan, ia segera menarik tubuh Thi Eng khi dan memeluknya erat erat, katanya sambil melelehkan air mata karena girang.

"Oooh anakku,...oooh anakku! Betul betul aku telah menyusahkan dirimu...."

Kini Thi Eng khi sudah berusia dua puluh tahun, dia telah menjadi seorang pemuda tanggung malah tubuhnya jauh lebih tinggi dari tubuh ibunya, tentu saja ia merasa rikuh dalam pelukan ibunya terutama sekali berada dihadapan seorang toakonya yang hingga kini belum diketahui namanya.

Maka setelah menenangkan hatinya, diapun berkata kepada ibunya dengan suara lembut.

"Ibu, kita masih ada tamu ..."

Kemudian sambil berpaling, teriaknya .

"Toako....."

Siapa tahu bayangan tubuh dari toakonya yang masih belum diketahui namanya itu sudah lenyap tak berbekas.

Yap Siu ling semenjak tadi berdiri didepan pintu, kecuali Thi Eng khi, boleh dibilang ia belum menyaksikan ada orang kedua yang memasuki ruangan itu, maka dengan keheranan tanyanya .

"Toako apa?"

Thi Eng khi sampai kini masih belum mengetahui siapa nama "toako"

Nya itu, mendapat pertanyaan tersebut, pipinya berubah menjadi merah padam, katanya agak tersipu.

"Toako adalah si manusia bermantel perak yang telah mengatur kau orang tua untuk menetap ditempat ini."

"Oooh.... rupanya dia (perempuan), apakah dia juga turut datang kemari?"

"Atas petunjuk dari toakolah, ananda baru berhasil sampai disini."

"Apa toako, toako?'' tegur Yap Siu ling sambil berkerut kening.

"Eng ji, usiamu sudah tidak muda lagi. Kenapa dalam hal sopan santun makin lama semakin berkurang? Orang lain telah berjuang mati matian demi keluarga Thi kita, sedang kau..."

Belum habis dia berkata, mendadak dari balik ruangan muncul seorang nona berbaju putih yang segera menukas pembicaraan itu.

"Pek bo, Tin tin mengucapkan selamat kepadamu atas keberhasilan kau orang tua berjumpa kembali dengan putramu!"

Yap Siu ling segera meninggalkan Thi Eng khi dan maju ke depan memeluk Ciu Tin tin, katanya sambil membelai tubuh gadis itu dengan penuh kasih sayang .

"Nak Pek bo tak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih kepadamu...?"

"Oooh Pek bo, kau.... kau orang tua terlalu baik kepada keluarga Ciu kami!"

Agaknya Yap Siu ling merasakan pula kepedihan yang dalam namun diluaran dia bersikap seperti amat riang, katanya .

"Nak, jangan kau pikirkan persoalan yang lain, apalagi siapapun tidak bersalah, hanya nasib kita semualah yang kurang baik."

Dia lantas berpaling bermaksud untuk memperkenalkan Thi Eng khi tapi dijumpainya pemuda itu sedang berdiri tertegun disana tanpa berkutik sedikitpun juga, seakan akan sedang merasa sedih dan murung.

"Heran, kenapa dengan bocah ini?"

Demikian Yap Siu ling berpikir. Dengan cepat dia lantas menegur .

"Anak Eng, kenapa kau hanya termangu mangu saja?"

Dengan cepat Thi Eng khi tersentak bangun dari kagetnya, untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi situasi yang serba rikuh ini.

Ketika ia berjumpa dengan "toako"nya untuk pertama kali dulu walaupun terasa olehnya kalau wajah orang itu pernah dikenalnya, namun ia tak mengira orang itu adalah Ciu Tin tin, setelah melihat Ciu Tin tin mengenakan pakaian perempuan, ia baru menyadari keadaan yang sesungguhnya.

Ia bukan seorang pemuda yang bodoh, terbayang kembali apa yang dialaminya di sepanjang jalan sudah barang tentu dapat diduga olehnya apa gerangan yang dipikirkan Ciu Tin tin.

Dia cukup memahami posisi Ciu Tin tin, lebih lebih menambah simpatik terhadap sikap gadis itu, tapi ia telah salah menganggap terhadap perasaan nona yang sebenarnya.

Ia menggangap gadis itu membaiki dirinya dan selalu membantu usahanya karena dia ingin menebus dosa ayahnya, sebagai seorang lelaki sejati mana mungkin dia dapat menerima pelampiasan cinta yang bukan timbul dari dasar hati yang jujur ini?

Tentu saja kalau dibilang ia sama sekali tidak menaruh perasaan tertarik dan kagum terhadap gadis cantik dan pintar seperti Ciu Tin tin ucapan itu hanya perkataan bohong namun dia mempunyai jalan pemikirannya sendiri, ia boleh saja tidak mempersoalkan pertikaian antara Gin san kiam kek dengan keluarganya, akan tetapi dia enggan untuk menerima pembalasan yang tidak menurut jalan yang sebenarnya itu.

Oleh karenanya, dia harus mengelabuhi perasaan sendiri, juga mengesampingkan perasaan Ciu Tin tin kepadanya.

Pelbagai pikiran segera berkecamuk dalam benak pemuda ini, pikir punya pikir, dia menjadi agak terlena.

Setelah ditegur oleh ibunya, dia baru cepat cepat menyahut .

"Aaah.... tidak apa apa!"

Yap Siu ling sendiripun merasa tidak leluasa untuk mendesak anaknya dihadapan Ciu Tin tin, maka sambil tersenyum dia lantas berkata .

"Anak Eng, coba lihat bukankah enci Tin adalah toakomu? Nak, kau benar benar terlalu gegabah!"

Thi Eng khi tak sempat menghindarkan diri lagi, terpaksa dia menjura lalu ujarnya dengan nada yang tak leluasa . ''Aku menjumpai nona Ciu!"

Sikapnya semakin menjauh dan seakan akan berusaha untuk memberikan suatu jarak tertentu.

Ciu Tin tin tampak agak sedih, tapi dia pun membalas hormat tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Yap Siu ling yang merasa tidak leluasa menyaksikan keadaan itu, kepada Thi Eng khi segera tegurnya .

"Kini sang kakak telah berubah menjadi enci, anak Eng, kau seharusnya menyebut enci Tin kepadanya!"

Thi Eng khi memang seorang anak yang berbakti ia tak berani membangkang perintah ibunya, terpaksa dengan nada kaku panggilnya .

"Enci Tin!"

Ciu Tin tin merasakan hatinya amat gundah, getir dan pahit terasa bercampur aduk dalam hatinya, diapun berseru .

"Adik Eng!"

Dia merasa usahanya selama ini hanya sia sia belaka, tak terlukiskan rasa sedih yang mencekam hatinya kini.

Tapi dia tetap mempertahankan sikapnya yang terbuka dan supel sambil memaksakan sebuah senyuman, katanya kepada Yap Siu ling .

"Pek bo, setelah berjumpa dengan anakmu, sudah pasti banyak persoalan yang hendak kalian bicarakan, biarlah titli mohon diri lebih dulu untuk sementara waktu, sekalian menyiapkan hidangan untuk adik Eng."

Selesai berkata dia lantas mengundurkan diri dari situ.

Yap Siu ling segera menemukan suatu kekakuan dan ketegangan diantara kedua orang ini tapi berhubung Thi Eng khi baru pulang, dia merasa kurang leluasa untuk menekannya terlalu hebat, terpaksa masalah itu disimpan dalam hati sambil mencari kesempatan lain untuk dibicarakan lebih jauh.

Yap Siu ling mengawasi Thi Eng khi beberapa saat lamanya, kemudian sambil menghela napas panjang katanya .

"Eng ji, cepat ceritakan kisah pengalamanmu selama setahun lebih ini kepada ibu."

Thi Eng khi segera manggut manggut, diapun menceritakan apa yang dialaminya selama ini dengan seksama.

Yap Siu ling mendengarkan dengan serius, adakalanya dia merasa berdebar dengan perasaan tercekat, kemudian kejut bercampur girang sampai lama kemudian ia baru menghembuskan napas panjang, katanya .

"Terima kasih langit, terima kasih bumi, rupanya Kong kong dia orang tua masih hidup sehat didunia ini."

Thi Eng khi manggut manggut, katanya .

"Oleh karena ananda berhasil mempelajari kitab pusaka itu lebih awal dua bulan dari waktu yang ditentukan, maka ananda bermaksud untuk menunggu saat untuk berjumpa dengan dia orang tua, tapi kemudian setelah kutemukan pesan dari dia orang tua ada urusan harus pergi dan bisa menunggu lebih jauh, terpaksa dengan perasaan kecewa ananda kembali kedaratan Tionggoan."

Menyusul kemudian, Yap Siu ling pun mengisahkan pengalamannya sampai pindah ketempat itu kepada Thi Eng khi.

Ternyata sejak kepergian Thi Eng khi setiap hari Yap Siu ling dan Thian liong su siang merasa kuatir dan tak tentram.

Semenjak terluka oleh ilmu jari Jit sat ci dari Huan im sin ang, makanan sehari hari dari Thian liong su siang harus disediakan oleh Yap Siu ling, sudah barang tentu tak mungkin bagi mereka untuk pergi mencari kabar berita diluaran.

Sebaliknya Yap Siu ling sendiripun tak lebih hanya seorang perempuan yang belum pernah keluar rumah, soal dunia persilatan sama sekali tidak dipahami olehnya, tentu saja lebih lebih tak mungkin baginya untuk mengadakan kontak dengan dunia luar.

Maka, semua orangpun terpaksa hanya tinggal di "rumah"

Sambil menahan rasa gelisah yang makin hari makin meningkat.

Masa masa selama ini bagi mereka boleh dibilang merupakan masa masa yang paling berat, ketika ditunggu sampai tujuh delapan bulan lamanya tetap tak nampak Thi Eng khi balik kembali, saking cemasnya hampir saja mereka menjadi gila.

Suatu hari, ketika malam telah tiba, ruangan Thian liong Tong hanya diterangi oleh sebuah lentera kecil.

Waktu itu Yap Siu ling sedang menyiapkan hidangan didalam dapur, sedangkan Thian liong su siang ngobrol diluar.

Pada saat itulah tiba tiba tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat, tahu tahu seorang yang bermantel perak telah melayang turun didepan pintu ruang Thian liong tong.

Mantel berwarna kuning perak merupakan ciri khas dari Gin san kiam kek (jago pedang berbaju perak) Ciu Cu giok, sebagai sahabat karib ayah Thi Eng khi yakni Thi Tiong giok, tentu saja Thian liong su siang mengetahui dengan jelas tentang hal ini.

Itulah sebabnya begitu melihat mantel berwarna perak muncul disana tanpa berpikir panjang lagi mereka lantas mengira Gin san kiam kek Ciu cu giok telah datang kesana.

Sejak Thian liong pay mengalami musibah, Gin san kiam kek Ciu Cu giok tak pernah berkunjung lagi ke gedung Bu lim tit it keh ini, oleh karena itu didalam pandangan Thian liong su siang, ia sudah bukan sahabat karib partai Thian liong pay lagi.

Sin lui jiu (si tangan geledek) Kwan Tin say yang paling berangasan kontan saja tertawa dingin tiada hentinya, kemudian tegurnya .

"Hey orang she Ciu, kau masih ingat kalau dirimu adalah sahabat Thian liong pay."

Ciu Tin tin merasa amat terkejut, sama sekali tak disangka olehnya kalau pihak lawan menegurnya seperti itu.

Untuk sesaat dia menjadi tertegun dan berdiri kaku didepan pintu, untuk beberapa saat lamanya ia tak berani masuk kedalam ruang sin tong.

Melihat orang itu berhenti dan tidak berani masuk, sekali lagi Sin liu jiu Kwan Tin say menegur dengan suara dalam .

"Ciu Cu giok, partai kami tidak membutuhkan teman seperti kau, lebih baik kembali saja!"

Sekarang Ciu Tin tin baru tahu kalau orang telah menganggap dia sebagai ayahnya maka dia lantas melangkan masuk ke dalam ruangan Sin tong.

Tatkala Thian liong su siang berhasil melihat jelas raut wajahnya, tanpa terasa mereka menjerit tertahan, kemudian tegurnya .

"Nona, siapakah kau? Ada urusan apa datang kemari?"

Ciu Tin tin berusaha keras berbicara dengan nada seramah dan selembut mungkin, katanya .

"Boanpwe bernama Ciu Tin tin, ayahku bernama Ciu Cu giok, sengaja ayah mengutus aku datang kemari untuk menyambangi locianpwe, sekalian hendak menyampaikan suatu persoalan penting."

San tian jiu (Si tangan kilat) Oh Tin lam mendengus dingin.

"Hmm, kalau toh ayahmu sudah tak sudi lagi melangkah masuk ke gedung ini, buat apa dia menyuruh kau datang kemari?"

Ciu Tin tin sama sekali tidak mengubris suasana ditempat itu, katanya lagi dengan lembut .

"Sejak sembilan belas tahun berselang ayahku telah mencukur rambut menjadi pendeta, bahkan rumah sendiripun belum pernah pulang satu kali, mana mungkin ia berkunjung ke tempat lain? Bukan berarti beliau telah melupakan cianpwe sekalian."

Mendengar perkataan itu, Thian liong su siang menjadi tertegun, hampir pada saat yang bersamaan mereka berseru .

"Oooh.... rupanya ayahmu telah menjadi pendeta, kalau begitu kami telah salah menegurnya."

Sam ciat jiu (si Tangan sakti) Li Tin tiong segera tertawa getir, katanya .

"Kami berempat telah terluka parah dan tidak leluasa untuk berjalan, terpaksa kami mempersilahkan nona Ciu untuk duduk disembarangan tempat, bila pelayanan kurang baik, harap nona suka memaafkan."

Ciu Tin tin memandang sekejap sekeliling ruangan, menyaksikan dinding ruangan yang kotor dan penuh sarang laba laba, kejut juga perasaannya, ia lantas mencari sebuah kursi dan duduk.

Menanti nona itu sudah duduk, Pit tee jiu (Tangan sakti penutup tanah) Wong Tin pak baru berkata .

"Boleh aku tanya ada urusan apakah nona Ciu datang kemari hari ini.....?"

Dengan berterus terang Ciu Tin tin segera membeberkan maksud kedatangannya.

"Dalam dunia persilatan tersiar kabar yang mengatakan kalau Thi sauhiap, ciangbunjin angkatan kesebelas dari Thian liong pay telah dibekuk orang di Benteng keluarga So di luar perbatasan, Tiang pek lojin So locianpwe telah menuduh perbuatan ini hasil pekerjaan dari Siau lim dan Bu tong dua partai besar. Kini ia telah membawa jago jago dari luar perbatasan datang mencari keadilan disini, sekarang mereka telah saling bersitegang dengan pihak partai Siau lim pay."

Mendengar kabar tersebut, Thian liong su siang merasa terperanjat sekali sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Dari luar pintu kedengaran suara mangkuk yang terjatuh ke lantai dan pecah lalu nampak Yap Siu ling, ibu Thi Eng khi lari masuk kedalam ruangan dengan wajah pucat pias, dengan suara yang tak jelas serunya tergagap.

"Apa kau bilang? Kenapa dengan anak Engku?"

Begitu gelisah dan cemasnya menguatirkan keselamatan Thi Eng khi sehingga dia tak sempat memberi hormat kepada Ciu Tin tin.

Mendengar dari ucapan tersebut, Ciu Tin tin segera mengetahui siapa gerangan perempuan ini, buru buru ia memayang Yap Siu ling sambil sahutnya .

"Menurut kabar yang tersiar dalam dunia persilatan, konon Thi sauhiap telah ditawan oleh pihak Siau lim dan Bu tong pay, aku rasa tak mungkin ada bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya, pek bo, kau harus baik baik menjaga kesehatan tubuhmu, jangan sampai karena memikirkan yang bukan bukan berakibatkan kau orang tua menjadi jatuh sakit."

Yap Siu ling adalah seorang perempuan yang berpengetahuan luas, sesudah tenang hatinya maka sikappun pulih kembali seperti sedia kala, kepada Ciu Tin tin ujarnya sambil tersenyum .

"Aku terlampau dipengaruhi emosi, harap kau jangan menertawakan."

Sesudah berhenti sejenak ditatapnya wajah gadis itu lekat lekat, kemudian ujarnya lebih lanjut .

"Tadi nona memanggilku sebagai Pek bo entah...."

Buru buru Ciu Tin tin menerangkan .

"Ayahku dan Empek Thi adalah sahabat karib, itulah sebabnya titli sudah sepantasnya memanggil Pek bo kepadamu!"

"Ayahmu adalah....?"

Yap Siu ling kelihatan ragu.

Diam diam Ciu Tin tin menyumpahi dirinya yang berbicara tidak jelas sehingga tidak menerangkan asal usulnya lebih dulu.

Dengan wajah merah padam lantaran jengah, dia lantas berkata .

"Boanpwe she Ciu bernama Tin tin, ayahku bernama Ciu Cu giok, dengan empek Thi dibuat orang persilatan sebagai Bu lim siang giok (sepasang kemala dari dunia persilatan), masih ingatkah Pek bo?"

Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Yap Siau ling, cepat cepat serunya .

"Oooh.... rupanya Ciu Hian titli, silahkan duduk! Silahkan duduk.....!"

Ciu Tin tin segera membimbing Yap Siu ling duduk dikursi yang lain, sedangkan dia sendiri berdiri disamping perempuan itu, setelah mengulangi kembali apa yang dikatakan tadi, sambungnya lebih lanjut .

"Pihak Siau lim dan Bu tong pay tidak mau mengakui kalau pihak merekalah yang telah menculik Thi sauhiap, maka semua orang beranggapan hanya setelah Thi sauhiap ditemukan maka kesalahan paham ini baru dapat terselesaikan, kini akan berdatangan pelbagai manusia untuk mencari kabar dari para locianpwe sekalian."

"Bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya, dari mana kita bisa tahu?"

Kata Yap Siu ling. Sin lui jiu Kwan Tin say berseru pula dengan suara keras .

"Kami akan menutup pintu dan menolak untuk berjumpa dengan siapapun....!"

Dengan kening berkerut, Ciu Tin tin segera menambahkan .

"Menurut hasil penyelidikan titli dan ayahku, dapat diketahui kalau masih ada kelompok manusia yang sebetulnya sedang menciptakan kekacauan dalam dunia persilatan walaupun mereka tahu kalau locianpwe sekalian tidak tahu tentang jejak Thi sauhiap akan tetapi sengaja mereka susun rencana busuk untuk mencelakai kalian semua agar pihak siau lim dan Bu tong disatu pihak semakin menaruh kesalahan paham terhadap Tiang pek lojin dilain pihak."

Mendengar perkataan itu Yap Siu ling sekalian menjadi amat terperanjat, buru buru serunya .

"Aaaah, masa telah terjadi peristiwa semacam ini?"

"Ayahku telah melihat dan mendengar dengan mata kepala sendiri, sudah barang tentu berita ini dapat dipertanggungjawabkan!"

Tergerak hati sam ciat Li Tin tiong setelah mendengar ucapan ini, tiba tiba muncul kewaspadaan dihatinya, dia lantas berseru cepat .

"Kalau toh berita ini diperoleh ayahmu, mengapa ia tidak datang sendiri kemari? Sedang menurut perkataan nona Ciu tadi, semenjak menjadi pendeta ayahmu belum pernah pulang ke rumah, lantas darimana nona Ciu bisa mengetahui akan persoalan ini?"

Rasa sedih segera menyelimuti wajah Cui Tin tin, sahutnya .

"Dalam kenyataan sudah dua puluh tahun lamanya ayahku meninggalkan rumah, setengah tahun berselang, titli mendapat perintah dari ibuku untuk mencari jejak ayahku, sampai akhirnya berhasil kujumpai secara tak terduga di bukit Wu san, selama setengah tahun ini, titli selalu melangsungkan hubungan kontak dengan ayahku, itulah sebabnya kali ini ayahku telah menitahkan kepada titli untuk datang menyampaikan kabar, sekalian mengaturkan tindakan yang harus cianpwe sekalian ambil."

Yap Siu ling dan Thian liong su siang berpandangan sekejap, kemudian termenung dan membungkam dalam seribu bahasa, untuk sesaat lamanya mereka tak dapat mengambil keputusan.

Untuk berlomba dengan waktu, Ciu Tin tin segera mengeluarkan sebilah pedang pendek dari dalam sakunya, lalu diserahkan kepada Yap Siu ling, ujarnya .

"Sebelum meninggal dunia dulu, empek Thi telah menyerahkan pedang pendek ini kepada ayahku sambil berpesan untuk melindungi keselamatan Pek bo, setelah Pek bo memeriksa pedang ini, tentunya akan mengetahui kalau perkataan titli bukan kosong belaka."

Pedang pendek itu merupakan tanda pengenal dari Thi Tiong giok selama berkelana didalam dunia persilatan, menyaksikan benda tersebut Yap Siu ling menjadi teringat kembali dengan pemiliknya, tak tahan lagi ia menangis tersedu sedu.

"Apakah ayahmu telah menyaksikan sendiri kematian dari empek Thimu?"

Katanya. Ciu Tin tin cukup mengerti, seandainya ia membeberkan keadaan yang sesungguhnya sudah pasti hal mana akan berakibat timbulnya keadaan yang tidak diinginkan, terpaksa jawabnya .

"Persoalan ini panjang sekali kalau dibicarakan, dikemudian hari pasti akan titli ceritakan, sekarang harap pek bo sekalian percayai diri titli untuk....."

Dengan menggunakan kerlingan matanya Yap Siu ling minta pertimbangan dari Thian liong su siang, kemudian katanya dengan wajah serius .

"Titli jauh jauh datang kemari dengan maksud baik, masa aku akan menaruh curiga kepadamu!"

Ciu Tin tin segera menghembuskan napas panjang katanya .

"Titli sengaja datang kemari untuk mengajak Pek bo sekalian mengungsi ke suatu tempat yang aman guna menghindarkan diri dari bencana besar ini."

Yap Siu ling segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku rasa kami tak bisa pergi dari sini,"

Katanya.

"selain itu, kamipun tak bisa pergi sebab seandainya Eng ji sampai balik kemari dia harus pergi kemana untuk mencari kami sekalian."

"Demi Thi sauhiap, Pek bo sekalian sekalian sepantasnya kalau segera mengungsi sebab andaikata Pek bo sekalian sampai ketimpa sesuatu musibah, apakah Thi sauhiap bisa hidup dengan hati yang tentram?"

Setelah perundingan dilakukan akhirnya Yap Siu ling memutuskan untuk meninggalkan sepucuk surat buat Thi Eng khi dan pada malam itu juga dipimpin oleh Ciu Tin tin mereka berangkat ke bukit Hong san dekat kota Kang im untuk menetap.

Kemudian ke empat orang dari Thian liong ngo siang yang terluka parah, tahu tahu pada suatu tengah malam telah diobati seseorang sehingga luka dalam yang mereka derita sembuh sama sekali.

Selesai mengobati mereka, orang itu pun telah meninggalkan catatan tentang beberapa macam kepandaian sakti aliran Thian liong pay, untuk mempelajari kepandaian tersebut, kini mereka telah berpindah kesuatu tempat lain yang lebih sepi dan terpencil.

Ciu Tin tin sendiri membutuhkan waktu selama hampir satu bulan lebih untuk menarik kesan baik dari Yap Siu ling, kemudian ia baru membeberkan kisah sedih yang telah menimpa keluarga Ciu serta keluarga Thi.

Mendengar kisah sedih itu, sudab barang tentu Yap Siu ling merasa sedih sekali tapi dia adalah seseorang yang cukup mengetahui tentang keadaan, lagipula kejadian sudah berlangsung, bukan saja dia tidak menyalahkan Ciu Tin tin ataupun ayahnya Ciu Cu giok, malahan dia merasa terharu sekali oleh semangat serta pengorbanan yang diberikan Ciu Tin tin selama ini, hal mana membuatnya semakin menyayangi gadis itu dan menganggapnya sebagai putri kandung sendiri.

Demikianlah, ketika Yap Siu ling dan Thi Eng khi sedang saling menuturkan pengalaman yang telah mereka alami, mendadak dari luar pintu sana kedengaran Ciu Tin tin sedang membentak keras .

"Siapa disitu? Berhenti!"

Thi Eng khi sangat terkejut, dengan cepat dia melompat ke depan pintu pula untuk memeriksa.

Tampaklah seorang pengemis tua yang berpakaian compang camping dan berwajah dekil, berambut kusut sedang melompat mendekat dengan kaki tunggalnya.

Pengemis berkaki tunggal itu sudah tua, bila dilihat dari kemampuannya untuk melompat mendekat, bisa diketahui kalau tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna sekali.

Dalam sekilas pandangan saja Thi Eng khi dapat mengenalinya sebagai kakak seperguruan dari ketua Kay pang sekarang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang bernama To kak thi koay (kaki tunggal tongkat baja) Li Goan gwee atau dengan perkataan lain salah seorang diantara Cap sah tay poo ciptaan Huan im sin ang.

Memandang atas hubungan pengemis berkaki tunggal ini dengan si pengemis sakti bermata harimau tanpa terasa Thi Eng khi berkerut kening dan menunjukkan keragu-raguannya.

Sementara Thi Eng khi masih termenung sikaki tunggal bertoya baja Li Goan gwee telah berhenti dihadapan Ciu Tin tin dan membuka suara untuk berbicara.

Suaranya keras dan lantang ibarat guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong.

Terdengar ia berkata dengan sikap yang amat menghormat .

"Lohu adalah To kak thi koay (kaki tunggal toya baja) Li Goan gwee dari Kay pang boleh aku bertanya kepada nona, apakah ketua Thian liong pay Thi sauhiap, saudara kecil Thi tinggal disini?"

Didalam dunia persilatan si Kaki tunggal tongkat besi Li Goan gwee mempunyai nama yang amat termashur, tentu saja Ciu Tin tin juga mengetahui akan hal ini, tapi oleh kerena dalam hatinya masih ada urusan, maka dia tak berhasil mengenalinya tadi.

Tapi setelah mendengar pihak lawan menyebutkan namanya, diam diam ia baru berseru dalam hati kecilnya .

"Sungguh memalukan!"

Sambil tersenyum, dia lantas menyahut .

"Ooooh... rupanya Li locianpwe yang telah datang, boanpwe Ciu Tin tin telah bersikap kurang hormat, harap locianpwe memakluminya!"

To kak thi koay, Li Goan gwee memperhatikan beberapa kejap ke arah mantel berwarna perak yang dikenakan Ciu Tin tin itu, kemudian dengan wajah tercengang serunya lagi .

"Nona mengenakan mantel berwarna perak milik Gin san kiam keh Ciu lote, entah apa hubungan nona dengannya?"

"Dia orang tua adalah ayah boanpwe,"

Jawab Ciu Tin tin cepat sambil menundukkan kepalanya. To kak thi koay Li Goan gwee semakin gembira lagi, serunya dengan cepat .

"Aku sipengemis tua adalah sahabat karib ayahmu dimasa lalu, sudah sepantasnya bila aku menyebutmu sebagai Hian titli (keponakan perempuan)!"

"Sudah hampir dua puluh tahun lamanya ayahmu tak pernah muncul didalam dunia persilatan, apakah belakangan ini dia berada dalam keadaan baik baik?"

Sikap Ciu Tin tin berubah menjadi amat sopan sekali, dia lantas memanggil pengemis itu sebagai empek Li.

"Empek Li!"

Sahutnya.

"ayahku telah merasa jemu dengan kehidupan keduniawian, maka sekarang beliau sudah menjadi seorang pendeta semenjak dua puluh tahun berselang!"

Mendengar itu, si kaki tunggal bertongkat besi Li Goan gwee menghela napas panjang.

"Aaai.... dimasa mudanya dulu ayahmu adalah seorang pendekar yang sangat lihay sungguh tak disangka dia adalah seorang yang berjodoh dengan kaum Buddha!"

Menyusul kemudian sambil menepuk kaki tunggal sendiri dan menunjukkan wajah menyesal, lanjutnya .

"Tempo dulu, seandainya aku si pengemis ini tidak memperoleh pertolongan dari ayahmu, mungkin kaki tunggalku ini berikut selembar nyawa tuaku juga turut melayang, aaai... kalau teringat oleh kegagahan ayahmu dimasa lampau, aku merasa amat sedih sekali."

Pengemis tua itu hanya ribut dengan perasaan sendiri, ternyata dia telah melupakan tugasnya datang ke situ. Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian itu diam diam lantas berpikir .

"Entah rencana busuk apakah yang sedang dipersiapkan olehnya? Aku tak boleh membiarkan dia untuk mengembangkannya lebih lanjut, bisa amat berbahaya nantinya!"

Berpikir sampai disitu, dia lantas berpekik nyaring dan melangkah keluar pintu dengan tindakan lebar. Ciu Tin tin segera menyingkir kesamping sambil memperkenalkan .

"Empek Li, dialah Thi sauhiap kita!"

Si Kaki tunggal bertongkat besi Li Goan gwee segera mendongakkan kepalanya dan terbahak bahak.

"Haaaahhh.... haahhh.... haaahhhh.... pangcu pernah membicarakan tentang kelihayan saudara cilik serta keberanian yang luar biasa, hal mana sungguh membuat aku si pengemis tua merasa kagum sekali!"

Sembari berkata dengan sepasang telapak tangannya yang besar dia siap menepuk bahu anak muda itu.

Dengan cekatan Thi Eng khi mundur selangkah kebelakang dan menghindarkan diri dari tepukan sepasang tangannya itu, Si Kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee agak tercengang tapi kemudian ia tertawa tergelak kembali .

"Haaahh.... haaahhh..... haahhh.... saudara cilik....."

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapksn, Thi Eng khi kembali telah berkata .

"Belum berapa lama aku pulang ke rumah, cepat benar kabar berita yang kalian peroleh!"

Untuk kesekian kalinya si kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee dibuat tertegun kemudian dia merasa rikuh sekali.

Dari pada pembicaraan si anak muda itu, Ciu Tin tin segera mendapat tahu kalau Thi Eng khi telah menyamakan si kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee sebagai satu komplotan dengan Hek bin bu pa To Thi gou sekalian, buru buru dia menjelaskan .

"Empek Li adalah kakak seperguruan dari ketua Kay pang Cu locianpwe .....!"

"Aku tahu, julukannya adalah To kak thi koay!"

Tukas Thi Eng khi dengan cepat.

Dia memang amat membenci akan segala macam kejahatan, terutama sekali terhadap tindak tanduk Cap sah tay poo ciptaan Huan im sin ang, apalagi sejak Lak bin wangwee melepaskan serangan yang mematikan, timbul perasaan bencinya terhadap orang orang itu.

Maka dari itu, ucapan yang kemudian diutarakan pun amat ketus sekali, sedikitpun tidak bersahabat.

Ciu Tin tin tidak tahu kalau Thi Eng khi sudah mempunyai pandangan jelek terhadap si Kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee, disangkanya pemuda itu memang sengaja hendak menyusahkan dirinya, tanpa terasa dia mundur selangkah dengan wajah sedih, sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Si pengemis berkaki tunggal itupun kontan melototkan sepasang matanya bulat bulat dengan kemarahan yang berkobar ia mendengus dingin berulang kali.

Kemudian setelah mendengus, dia menggunakan kesabaran yang paling besar ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring untuk melampiaskan semua kemarahan yang mencekam perasaan hatinya sekarang.

Setelah hening beberapa saat kemudian, ia berkata pelan .

"Anak murid kay pang tersebar diseluruh kolong langit gerak gerik sauhiap tak bisa lolos dari pandangan mata anggota perkumpulan kami, itulah sebabnya aku si pengemis tua dapat segera menemukan dirimu di tempat ini....."

"Sekarang kau sudah menemukan aku, ada urusan apakah yang hendak kau sampaikan?"

Si pengemis berkaki tunggal Li Goan gwee benar benar merasa tidak tahan menghadapi keketusan dan keangkuhan Thi Eng khi tersebut, dengan wajah gusar dia menjawab .

"Aku si pengemis tua mendapat perintah dari pangcu kami untuk menyampaikan sesuatu!"

"Akan kudengarkan dengan seksama!"

Jawab Thi Eng khi dengan nada suara yang jauh lebih lunak.

"Pangcu kami telah bertemu dengan Tiang pek lojin So locianpwe, atas pesan dari So locianpwe, dipersilahkan Thi cianbunjin berangkat kebukit Siong san untuk bersama sama menyusun rencana guna menolong keselamatan nona Bwe leng!"

Thi Eng khi memang senang sekali akan kepolosan serta kelincahan So Bwe leng, itulah sebabnya diapun sangat memperhatikan keselamatan jiwanya, mendengar perkataan itu, dia menjadi tertegun, kemudian serunya .

"Mengapa dengan adik Leng?"

Sikap yang amat menaruh perhatian ini segera menimbulkan perasaan sedih dalam hati Ciu Tin tin.

"Lohu hanya menyampaikan kabar saja, keadaan yang sebenarnya kurang begitu jelas!"

Ucap Li Goan gwee segera. Tiba tiba tergerak hati Thi Eng khi, segera pikirnya .

"Jangan jangan hal inipun merupakan siasat busuk yang disusun oleh Huan im sin ang?"

Setelah mempunyai ingatan semacam itu dia tak ingin banyak berbicara lagi dengan Li Goan gwe, sambil menjura katanya kemudian .

"Terima kasih banyak atas pemberitahuanmu itu!"

Bukan saja tiada niatnya untuk mempersilahkan tamunya masuk, bahkan jelas sekali kalau dia sedang mengusir tetamunya.

Si pengemis berkaki tunggal bertongkat baja Li Goan gweed segera menghentakan kaki tunggalnya keatas tanah, sepasang matanya melotot besar karena gusar, sambil mendengus dingin serunya .

"Lohu akan mobon diri lebih dahulu!"

Dengan gaya ikan lehi melentik, tubuhnya segera mencelat sejauh beberapa kaki, kemudian didalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Memandang bayangan pungungnya itu, Thi Eng khi menghela napas panjang, gumamnya .

"Aku sih tak akan termakan oleh siasatmu itu!"

Gumamnya itu amat lirih lagipula tidak jelas ucapannya, Ciu Tin tin tidak sempat mendengarnya dengan jelas, sehingga tak tahan dia bertanya pula keheranan .

"Nona So cantik jelita dan cerdik sekali, bila dia sampai terjatuh ketangan Huan am sin ang hal mana benar benar mencemaskan sekali hati orang, apa rencana adik Eng selanjutnya?"

Dengan ucapannya itu sesungguhnya dia ingin menyelidiki sejauh manakah perasaan Thi Eng khi terhadap So Bwee leng.

Sebagai seorang pemuda yang cerdas sudah barang tentu Thi Eng khi dapat menangkap maksud Ciu Tin tin yang sesungguhnya, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya.

"Lebih baik kuutarakan saja beberapa patah kata yang mesra dan hangat terhadap Leng, agar diapun bisa memadamkani niatnya untuk menebus dosa ayahnya...."

Berpikir sampai disitu, dia segera berlagak amat menguatirkan keselamatan gadis tersebut, sahutnya .

"Pikiran dan perasaan siaute sekarang amat kalut, terpaksa akan kusampaikan kepada ibuku untuk segera melanjutkan perjalanan."

Ciu Tin tin menundukkan kepalanya rendah rendah, dia segera membalikkan badannya dan lari masuk keruangan dalam.

Dari kejauhan Thi Eng khi masih sempat mendengar suara isak tangisnya, hal mana justru melegakan hati pemuda ini.

"Sekarang tentunya kau akan mengurungkan niatmu itu!"

Demikian dia berpikir. Kemudian dengan kening berkerut, dia rnenghela napas panjang, gumamnya lagi .

"Aaaai....enci Tin, seandainya diantara kita tidak terdapat peristiwa yang memedihkan hati itu, hal mana sungguh baik sekali!"

Jelas terhadap Ciu Tin tin, sesungguhnya diapun menaruh perasaan cintanya....

Dalam keadaan demikian, Thi Eng khi merasa segan untuk kembali ke ruangan dalam, ia tak ingin menimbulkan kerikuhan pada diri Ciu Tin tin, maka ia lantas berjalan jalan disekitar rumah gubuk itu.

Tanpa terasa, dia telah berjalan sejauh puluhan kaki dari tempat semula.

Mendadak ia teringat kembali akan sebab musabab dia dan Ciu Tin tin sampai memburu pulang ke rumah, waktu itu adalah dikarenakan bertemu dengan Hek bin bu pa To Thi gou, itu berarti Huan im sin ang telah berhasil mengetahui tempat persembunyian ibunya dan bermaksud untuk mencelakai ibunya itu.

Padahal dia sudah balik ke rumah sekarang, mengapa tidak ia laporkan hal ini kepada ibunya agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk menyingkir dari tempat tersebut?

Berpikir sampai disitu, diam diam dia lantas memakai diri sendiri .

"Aku benar benar semberono!"

Ia lantas membalikkan badannya siap berjalan balik.

Siapa tahu baru saja dia membalikkan badannya, tampaklah enam orang kakek berwajah menyeringai menyeramkan telah menghadang jalan perginya.

Dalam kagetnya dia segera berpaling ke aran depan sana, tampaklah puluhan manusia lainnya telah mengurung rumah gubuk itu rapat rapat.

Dalam cemasnya pemuda itu segera meloloskan pedang Thian liong kim kiam dari sarungnya, kemudian sambil menuding ke aran ke enam orang kakek tadi serunya .

"Harap kalian menyingkir dari sini!"

Bunga pedang menggulung di udara dan langsung menerjang ke muka. Ke enam orang kakek itu tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, salah seorang diantaranya berkata sambil tertawa dingin .

"Anak muda, kau membawa pedang Thian liong kim kiam, rupanya engkaulah yang bernama Tni Eng khi?"

Sembari berkata, dia menggerakkan sepasang senjata kaitannya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut.

Tujuan Thi Eng khi pada saat ini hanyalah berusaha untuk menerjang pulang ke rumah gubuk itu, dia sama sekali tidak berniat untuk terlibat dalam pertarungan melawan mereka.

Oleh sebab itu secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai yang memaksa kakek bersenjata kaitan itu terdesak mundur sejauh tiga langkah dari tempat semula.

"Tahan!"

Mendadak seorang kakek lainnya membentak keras. Thi Eng khi segera menarik kembali serangannya, kemudian bertanya dengan suara dingin .

"Kalau ingin berbicara, mari kita berbicara didepan rumah gubuk sana.........."

Kakek itu segera tertawa licik, sahutnya .

"Tak usah kuatir Thi sauhiap, sebelum mendapat tanda perintah lohu, mereka tak akan bertindak kurang sopan terhadap ibumu."

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi .

"Thi Sauhiap, tahukah kau siapa lohu sekalian? Ada urusan apa datang kemari?"

"Hmmm... paling paling juga kaki tangan Huan im sin ang, aku merasa tak perlu untuk mengetahui nama nama kalian!"

Kakek bersenjata kaitan itu menjadi gusar sekali, segera bentaknya keras keras .

"Omong kosong! Siapa yang kesudian menjadi kaki tangannya Huan im sin ang."

Ketika dilihatnya orang orang itu menyangkal diri mereka sebagai komplotannya Huan im sin ang, Thi Eng khi tampak agak tertegun juga, katanya kemudian .

"Lantas siapakah kalian semua?"

Suaranya juga jauh lebih lunak.

"Lohu sekalian adalah Yan san lak kiat (enam orang gagah dari bukit Yan san)!"

Jawab kakek kedua. Setelah berhenti sejenak, dia memperkenalkan dirinya satu persatu .

"Lohu adalah Sin kou (kaitan sakti) Tio Yan kim!"

Kemudian yang lainpun menyusul .

"Lohu adalah Pak cui (Palu maut) Tio Yan Im!"

"Lohu adalah Im to (golok dingin) Tio Yan ci!"

"Lohu adalah Yang cay (tombak panas) Tio Yan sang!"

"Lohu adalah Tong tang (borgol tembaga) Tio Yan leng!"

"Lohu adalah Tong huan (gelang tembaga) Tio Yan siau!"

Thi Eng khi tidak begitu mengetahui tentang asal usul Yan san lak kiat tersebut terpaksa katanya .

"Selamat berjumpa!"

Dengan menegur, si kaitan sakti Tio Yan kim segera berkata .

"Sauhiap, pandai benar kau mencari kesenangan sendiri dengan menyusahkan orang lain! Tahukah kau bahwa para jago dari daratan Tionggoan dan luar perbatasan sudah siap melangsungkan pertumpahan darah gara gara hilangnya dirimu?"

Dengan nada menyesal Thi Eng khi menyahut .

"Aku merasa menyesal sekali terhadap terjadinya kesalahan paham diantara sahabat sahabat persilatan atas terjadinya ini, sekarang aku memang bermaksud untuk berangkat ke bukit Siong san untuk memberikan penjelasan agar sahabat dari luar maupun dalam perbatasan bisa bersatu padu untuk bersama sama menghadapi musuh kita yang sebenarnya."

Sin kau Tio Yan kim kembali tertawa dingin .

"Kalau memang sauhiap ada maksud untuk memunahkan kesalah pahaman itu kenapa kau tidak cepat cepat berangkat ke bukit Siong san untuk melerainya, sebaliknya bersikeras hendak menunggu sampai diselenggarakannya pertemuan besar itu?"

Thi Eng khi segera dibikin terbungkam dalam seribu bahasa.

Seharusnya ia memang musti berangkat dulu ke bukit Siong san untuk menjelaskan duduknya persoalan kemudian baru menyelesaikan persoalan lainnya.

Sayang pengalaman yang dimiliki anak muda ini masih amat cetek, dia hanya memikirkan keselamatan ibunya serta ke empat orang susioknya yang terluka oleh pukulan Jit sat ci, oleb karenanya hal mana telah mengesampingkan persoalan yang sebenarnya maha penting itu.

Dengan perasaan tidak tenang dia lantas bertanya .

"Apakah Tio tayhiap berharap agar aku berangkat ke bukit Siong san sekarang juga?"

"Benar! Kami mendapat perintah dari ketua Siau lim dan ketua Bu tong untuk mengundang kehadiranmu."

"Baik!"

Kata Thi Eng khi kemudian dengan wajah serius.

"sekarang juga aku akan berangkat bersama kalian!"

Sambil berkata dia lantas melangkah maju kedepan dengan maksud menembusi ke punggung Yan san lak kiat untuk mengajak ibunya bersama sama berangkat kebukit Siong san.

Siapa tahu..

meskipun dia sudah maju beberapa langkah, namun Yan san lak kiat masih tetap berdiri ditempat semula tanpa maksud untuk menyingkir kesamping.

Thi Eng khi mengira mereka tidak memahami maksudnya, maka segera ujarnya .

"Harap kalian mau menunggu sebentar, setelah urusan kuselesaikan, kita segera berangkat."

Menanti Yan san lak kiat belum juga menyingkir kesamping, Thi Eng khi baru curiga pikirnya .

"Engkoh tua pengemis telah berangkat ke bukit Siong san untuk menyampaikan pesanku kepada ketua Siau lim pay dan Bu tong pay, agaknya mereka tidak perlu mengirim orang lagi untuk menjemputku, sekalipun mereka mengirim orang juga tak akan bersikap seakan akan menghadapi mnsuh besar saja, apalagi mengirim orang dalam jumlah begini banyak... yaaa, dibalik kesemuanya ini pasti ada sesuatu yang tak beres, aku tak boleh bertindak terlalu gegabah."

Sementara kedua belah pihak masih saling berhadapan dengan suasana tegang, mendadak dari balik rumah gubuk itu terdengar seseorang menjerit keras, menyusul seseorang melompat keluar dari balik rumah gubuk tersebut.

Waktu itu malam sudah menjelang tiba, walaupun Thi Eng khi dapat melihat ada sesosok bayangan manusia melompat keluar dari balik rumah gubuk itu namun ia tak sempat melihat jelas siapa gerangan orang tersebut.

Tercekat perasaan hatinya, dia tahu sesuatu kejadian telah berlangsung dalam rumah tersebut, sambil mengangkat pedang Thian liong kim kiamnya dia membentak gusar .

"Hampir saja aku tertipu oleh siasat kalian, enyah kalian semua dari sini!"

Tubuhnya merendah lalu tubuh berikut pedangnya dengan menciptakan serentetan cahaya tajam langsung menerjang kearah Yan san lak kim kiam kiat.

Bagaimana keadaan Thi Eng khi selanjutnya yang gagal mendekati ruangan gubuk tersebut untuk sementara kita tinggalkan dulu.

Dalam pada itu, Ciu Tin tin telah balik ke dalam ruangan dengan hati yang hancur luluh semakin dipikirkan dia merasa semakin sedih, sehingga akhirnya sambil menggertak gigi sambil menulis surat perpisahan yang ditinggalkan kedalam kamarnya.

Ia merasa lebih baik cepat cepat menyingkir saja dari situ daripada dirinya makin lama dirinya makin terperosok kedalam kesalah pahaman yang makin melebar.

Bila sampai mengakibatkan kerugian bagi kedua belah pihak jelas hal ini tak diinginkan.

Ciu memang seorang gadis yang cerdik dan cukup mengerti duduknya persoalan, dia lebih suka mengorbankan diri daripada membiarkan Thi Eng khi bersedih hati karena kejadian itu.

Baru saja tubuh melompat keluar dari pintu gerbang mendadak dilihatnya ada sekelompok lelaki kekar yang berjumlah empat lima orang sedang berjalan mendekati rumah gubuk tersebut.

Dalam pada itu Thi Eng khi juga baru saja berjumpa dengan Yan san lak kiat, pemuda itu hanya menyaksikan ada puluhan orang jago persilatan mengurung rumah tadi, ia tak tahu kalau sesungguhnya ada beberapa orang diantaranya yang telah berhasil menyusul masuk ke dalam.

Ciu Tin tin segera balik kembali kedalam ruangan, ketika diawasinya orang orang itu, tampak Hek bin bu pa To Thi gou terdapat diantaranya.

Dengan kehadiran orang itu maka persoalannya menjadi jelas, dapat diketahui pula siapa yang menjadi dalang dalam pengepungan ini serta apa maksud kedatangan mereka.

Dengan suatu gerakan cepat, Ciu Tin tin meloloskan pedangnya sambil menghadang di depan pintu ruangan, dia kuatir pendatang itu melukai ibu Thi Eng khi, maka sambil mempersiapkan senjata dia membentak gusar .

"Ada urusan apa kalian menyerbu masuk kemari?"

Tampaknya Hek bin bu pa To Thi gou adalah pemimpin dari rombongan tersebut, sambil tertawa terbahak bahak sahutnya .

"Haaahhhh... haaahhh.... Haaahhhh..... dihadapan orang yang jujur tak perlu berbohong, siapakah kami dan apa tujuan kami datang kemari masa tidak kau ketahui?"

Setelah berhenti sejenak dan mendengus dingin, lanjutnya .

"Kau bukan anggota keluarga Thi, kami pun tidak bermaksud mengusikmu, asal kau serahkan ibu dari Thi Eng khi si bocah keparat itu, kami akan mengampuni selembar jiwamu!"

Air muka Ciu Tin tin segera berubah menjadi dingin seperti es, sahutnya ketus .

"Selama aku Ciu Tin tin masih bisa bernapas, tak akan kubiarkan kalian membawa pergi Thi pek bo."

"Nak, menyingkirlah kau, biar kutanyakan kepada mereka, sebenarnya apa maksud mereka mendesak diriku terus menerus."

Rupanya dia menampakkan diri setelah mendengar suara ributribut diluar rumahnya.

Jangan dilihat Hek bin bu pa To Thi gou bertubuh kasar seperti kerbau, sesungguhnya dia berakal licik sekali, dengan wajah tersenyum simpul segera katanya .

"Hujin, apakah kau adalah ibu Thi ciangbunjin? Aku Hek bin bu pa To Thi gou memberi hormat untukmu!"

Selesai berkata dia benar-benar merangkap tangannya sambil memberi hormat.

Yap Siu ling adalah seorang perempuan yang berpendidikan, ketika dilihatnya orang lain memberi hormat dengan sopan, tentu saja diapun enggan memperlihatkan sikap kasarnya, maka sambil memberi hormat diapun menjawab .

"To tayhiap tak usah sungkan sungkan, silahkan duduk dulu untuk minum teh!"

"Terima kasih banyak harap Thi hujin tak usah repot repot, aku datang untuk melaksanakan tugas, sedang majikan kami masih menantikan kabar beritanya!"

Dengan kening berkerut Yap Siu ling segera menukas .

"To tayhiap bila ada persoalan utarakan saja berterus terang dan blak blakan!"

Paras muka Hek bin bu pa To Thi gou segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, dia merasa semua perkataan yang telah disusun menjadi perkataan dan tak mampu digunakan lagi, terpaksa diapun berkata apa adanya .

"Majikan kami adalah Lo sancu dari istana Ban seng kiong, oleh karena amat mengagumi Thi sauhiap maka sengaja mengutus kami untuk mengundang kehadiran hujin untuk berkunjung keistana Ban sen kiong."

Diam diam tercekat juga hati Yap Siu ling setelah mendengar perkataan itu, dia tahu Huan im sin ang hendak menggunakan dirinya sebagai sandera agar Thi Eng khi bisa diperalat olehnya.

Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tadi.

Hek bin bu pa To Thi gou segera tertawa kering, lalu ujarnya .

"Bagaimanakah maksud hujin? Majikan kami sedang menantikan jawabannya........"

Pada waktu itu pikiran dan perasaan Yap Siu ling merasa sangat kalut, ia tahu bila mana dirinya sampai terjatuh ke tangan Huan im sin ang, maka jangan harap Thi Eng khi bisa melepaskan diri dari cengkeraman Huan im sin ang untuk selamanya, itu berarti jangan harap ia bisa membangun kembali kejayaan partai Thian liong pay.

Walaupun selama tahun tahun belakang ini diapun mulai belajar silat di bawah petunjuk dari keempat orang suhengnya, namun bagaimanapun juga karena waktu yang terbatas membuat keberhasilannya tidak memuaskan, sudah barang tentu diapun bukan tandingan dari musuh musuhnya itu.

Maka walaupun sudah dipikirkan pulang pergi, dia belum berhasil juga untuk menemukan suatu cara yang baik.

Akhirnya setelah termenung sekian lama dia bertekad untuk menghabisi nyawa sendiri seandainya tidak berhasil meloloskan diri dari cengkeraman musuhnya nanti, asal dia mati maka akan musnahlah harapan Huan im sin ang untuk menyandera dirinya serta memperalat Thi Eng khi demi kepentingannya.

Begitulah, tatkala Hek bin bu pak To Thi gou mengulangi kembali perkataan itu untuk kedua kalinya, dia telah mengambil keputusan dalam hatinya, maka dengan wajah bersungguh sungguh jawabnya .

"Maksud baik Sancu kalian sungguh mengharukan hatiku, sayang aku tak lebih hanya seorang perempuan lemah, aku rasa kurang leluasa bagiku untuk berangkat ke istana Ban sen kiong, lebih baik To tayhiap sampaikan saja rasa terima kasihku!"

Dengan cepat Hek bin bu pa To Thi gou mengerutkan sepasang alis matanya yang tebal, betul dia adalah salah satu diantara cap sah tay poo dibawah pimpinan Huan im sin ang, namun berhubung wataknya memang tidak termasuk keji atau kejam, lagipula dia merasa mencelakai seorang perempuan lemah hanya akan merusak nama baiknya saja, maka untuk sesaat dia menjadi ragu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Pada saat itulah, tiba tiba kedengaran seorang lelaki yang berada dibelakangnya menegur sambil tertawa seram .

"Heeehhh... heeehhh... heehhh....To tayhiap, jangan lupa dengan perintan dari Sancu!"

Hek bin bu pa To Thi gou nampak agak terkesiap, kemudian buru baru serunya .

"Hujin, bila kau menampik untuk berangkat ke istana Ban seng kiong, terpaksa aku harus bertindak keras kepadamu!"

Mendadak dia mementangkan telapak tangannya yang besar dan segera mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Yap Siu ling.

Ciu Tin tin yang berada disampingnya segera menggerakkan pedangnya sambil melangkah ke depan, dengan jurus Sia ci im khi (awan miring menutupi panji) dia menggulung tubuh Hek bin bu pa.

Dari serangan mencengkeram, buru buru Hek bin bu pa merubah ancamannya menjadi sebuah pukulan telapak tangan yang langsung menghajar ke tubuh pedang Ciu Tin tin, sementara tangannya yang lain dengan jurus Kim si cian wan (serat emas membelenggu tangan) mencengkeram tubuh Yap Siu ling.

Serangan yang dilancarkan tersebut telah disertakan tenaga dalam yang amat dahsyat, ternyata pedang Ciu Tin tin kena ditangkis sehingga tergetar keras dan mencelat setinggi beberapa depa keudara.

Walaupun tangkisan tangan tanan Hek bin bu pa To Thi gou berhasil menggetarkan pedang Ciu Tin tin, akan tetapi tangan kirinya yang mencengkeram tubuh Yap Siu ling telah mengenai sasaran yang kosong Ternyata walaupun Yap Siu ling belum memiliki pengalaman dalam menghadapi suatu pertarungan, tenaga dalam yang dimilikinya juga masih jauh bila dibandingkan dengan kemampuan Hek bin bu pa, namun ilmu silat aliran Thian liong pay merupakan suatu kepandaian yang maha sakti, dalam pandangan remeh Hek bin bu pa yang tidak memandang sebelah matapun terhadapnya, dengan gampangnya dia berhasil menghindarkan diri dari cengkeraman musuhnya itu.

Begitu Hek bin bu pa To Thi gou gagal mencengkeram korbannya, Ciu Tin tin telah mengembangkan permainan ilmu pedang Liu soat kiam hoat perguruannya.

Cahaya perak segera menyelimuti seluruh angkasa, untuk kedua kalinya dia melancarkan serangan dahsyat kedepan.

Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang berbakat bagus, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang jauh melebihi kemampuan Hek bin bu pa setelah memperoleh tambahan dari Huan im sin ang, apalagi setelah mengembangkan permainan ilmu pedang liu soat kiam hoat yang maha dahsyat itu....

kontan saja Hek bin bu pa kena dikurungnya rapat rapat sehingga tak mampu lagi untuk mengusik Yap Siu ling.

Mengetahui kalau kemampuannya masih belum cukup untuk mengalahkam Ciu Tin tin, dengan cepat Hek bin bu pa To Thi gou memberi perintah kepada ke tiga orang lelaki lainnya dengan kata kata sandi untuk membekuk Yap Siu ling.

Berbicara yang sebenarnya ketiga orang lelaki itu merupakan jago jago yang termashur pula didalam dunia persilatan walaupun tenaga dalamnya masih jauh dibandingkan dengan Hek bin bu pa To Thi gou, namun dengan kemampuan mereka bertiga untuk menangkap Yap Siu ling boleh dibilang gampangnya seperti merogoh barang didalam saku sendiri.

Itulah sebabnya tak sampai dua tiga gebrakan keadaan Yap Siu ling sudah kritis sekali.

Agaknya Yap Siu ling cukup mengerti kalau dia sudah tiada harapan untuk meloloskan diri lagi,dalam repotnya menghindari serangan lawan segera serunya kepada Ciu Tin tin.

"Nak, aku serahkan anak Eng kepadamu, semoga kau bisa baik baik menjaga dirinya selain itu, beritahu kepadanya kalau ibunya minta dia ingat terus untuk menegakkan keadilan dan kebenaran sebagai tanda kebaktiannya kepadaku!"

Selesai berkata dia lantas membalikkan telapak tangan kanan menghantamnya keatas ubun ubun sendiri.

Siapapun tidak menyangka kalau perempuan itu akan mengambil keputusan pendek untuk bunuh diri.

Tentu saja keadaan tersebut bukan keadaan yang diharapkan oleh anak buah Huan im sin ang, untuk sesaat ketiga orang lelaki yang mengurungnya menjadi gugup dan berubah muka dalam kaget dan tercengangnya mereka sampai lupa untuk memberi pertolongan.

Ciu Tin tin serta Hek bin bu pa To Thi gou yang sedang bertarung juga sama sama menerjang kearah Yap Siu ling dengan harapan bisa mencegah niatnya untuk bunuh diri.

Tapi sayang, secepat cepatnya gerakan tubuh mereka, tak akan lebih cepat daripada gerakan tangan Yap Siu ling.

Dalam waktu singkat telapak tangannya itu sudah berada beberapa inci di atas ubun ubun perempuan itu.

Di saat yang amat kritis inilah mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, lalu tampak sekilas cahaya perak menyambar jalan darah Ci ti hiat diatas tubuh Yap Siu ling, kontan saja semua tenaga yang dimiliki Yap Siu ling punah tak berbekas, walaupun akhirnya telapak tangan itu menyentuh juga diatas ubun ubun, namun sama sekali tidak menimbulkan luka apa apa.

Jilid .

13 MENYUSUL kemudian tampak sesosok bayangan putih meluncur masuk ke dalam ruangan ketika tubuhnya masih berada ditengah udara, tangannya telah menyambar tubuh Yap Siu ling yang dibawanya mundur beberapa langkah, kemudian dia baru melayang turun dihadapannya.

Yap Siu ling hanya merasakan pandangan matanya menjadi silau, tahu tahu sesosok bayangan punggung telah menghalangi pandangan matanya.

Dia tak sempat melihaf jelas paras muka penolongnya, akan tetapi kalau dilihat dari bayangan punggungnya tak sulit untuk diketahui bahwa penolongnya juga seorang perempuan.

"Siapa gerangan orang ini?"

Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya tiba tiba terdengar Ciu Tin tin berteriak dengan penuh kegembiraan .

"Ibu....!"

Tubuhnya segera meluncur kedepan dan melayang turun disamping kanan perempuan berbaju putih itu, kemudian berdiri berjajar disisinya.

Ternyata orang yang baru saja rnenampakkan diri itu tak lain adalah ibunya Ciu Tin tin, istri Gin ih kiam kek Ciu Cu giok, dua puluh tahun berselang perempuan ini termashur dalam dunia persilaian sebagai Cay hong sian ci (Dewi cantik burung hong) Liok Sun hoa.

Mengetahui kalau orang yang datang adalah ibu Ciu Tin tin, Yap Siu ling segera menghembuskan napas panjang, sebab dari mulut Ciu Tin tin dia sudah mengetahui akan kemampuan dari perempuan ini.

Hek bin bu pa To Thi gou yang harus bertarung melawan Ciu Tin tin tadi meski merasa punya kemampuan untuk meraih kemenangan namun diapun mengerti bahwa hal ini hanya bisa berlangsung setelah bertarung sebanyak seratus gebrakan kemudian.

Maka dikala mengetahui kalau perempuan yang datang ini adalah ibunya Ciu Tin tin, apalagi menyaksikan kepandaian silatnya begitu lihay tanpa terasa kewaspadaannya ditingkatkan, ia segera memberi tanda agar ketiga orang lelaki itu balik kesisi tubuhnya.

Dengan demikian maka posisinya sekarang menjadi tiga melawan empat.

Sebenarnya Cay hong sian ci Liok Sun hoa adalah seorang perempuan setengah umur akan tetapi paras mukanya justru mirip seorang nona yang baru berusia dua puluh lima enam tahunan, wajahnya yang cantik diliputi oleh hawa dingin yang kaku.

Saat itu dia sedang melotot gusar ke arah Hek bin bu pa To Thi gou sambil membentak gusar.

"Mengapa kalian belum juga menggelinding pergi dari sini!"

Hek bin bu pa To Thi gou segera tertawa terbahak babak.

"Haaahh.... Haaahh..... haaahh.... Hanya mengandalkan sepatah kata saja, apakah kau kira sudah dapat membuat kami kabur ketakutan?"

Ciu Tin tin segera mendekati telinga ibunya sambil berbisik .

"Ilmu silat yang dimiliki Hek bin bu pa paling lihay diantara beberapa orang ini asal ibu dapat menaklukkan dirinya, niscaya yang lainpun akan menuruti perkataan kita."

Cay hong sian ci Liok Sun hoa manggut manggut, dia lantas mengayunkan pedangnya menotok jalan darah Hian ki hiat ditubuh Hek bin bu pa, setelah itu bentaknya .

"Lebih baik kau enyah lebih dulu!"

"Aah, belum tentu!"

Jawab Hek bin bu pa To Thi gou cepat.

Sambil berdiri dengan tangan sebelah diangkat ke atas, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu, kemudian dilancarkannya sebuah pukulan ke arah mana datangnya ancaman tersebut.

Darimana dia bisa tahu kalau ilmu jari Liok hoa ci yang dimiliki Cay hong sian ci Liok Sun hoa merupakan salah satu kepandaian andalannya di masa lalu, tentu saja dengan mengandalkan kemampuan pukulannya mustahil serangan tersebut bisa ditahan.

Tapi dia bersikeras juga untuk menyambut ancaman tersebut dengan keras lawan keras, kalau tidak dipecundangi boleh dibilang mujur sekali nasibnya.

Begitulah, tatkala serangannya telah dilancarkan, telapak tangannya segera bergetar keras, kekuatan jari tangan Cay hong sian ci ternyata berhasil menembusi pertahanannya itu.

"Aduuuh celaka!"

Diam diam ia berpekik.

Buru buru badannya berputar kekanan untuk menghindarkan diri, walaupun begitu toh bahu kirinya termakan juga oleh serangan dahsyat dari Cay hong sian ci, Liok Sun hoa tersebut.

Kontan saja sekujur badannya menjadi kaku walaupun tak sampai terluka parah toh tenaga serangannya punah tak berbekas, untuk sesaat dia tak mampu untuk menghimpun kembali tenaganya.

Cay hong sian ci Liok Sun hoa sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Hek bin bu pak To Thi gou untuk menghimpun kembali tenaganya, sepasang ujung bajunya segera dikebaskan kedepan dengan jurus Cay siu hui im (ujung baju menyapu awan).

Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat mementalkan tubuh Hek bin bu pa sehingga mencelat keluar rumah.

Itulah bayangan yang tampak oleh Thi Eng khi mencelat keluar dari rumah gubuk tersebut.

Sementara Thi Eng khi dengan menggunakan pedang emasnya secara beruntun melancarkan serangan dengan jurus Cun han cah tian (udara dingin mengembang kejagad) serta Jin yan sia hui (burung walet terbang miring) untuk mendesak Yan san lak kiat dan berusaha menjebolkan suatu titik kelemahan.

Menghadapi ancaman mana, Yan san lak kiat segera tertawa terkekeh kekeh.

"Heeehhh..... heeehhh...... heeehhh.... Thi sauhiap, kau terlalu memandang remeh kami enam bersaudara."

Enam sosok bayangan manusia bagaikan gerakan ular lincah, dengan cepat mengurung tubuh Thi Eng khi rapat rapat.

Walaupun Thi Eng khi telah mempelajari ilmu silat aliran Thian liong pay yang maha dahsyat serta tenaga dalam yang sempurna hasil perpaduan empat macam obat mestika, bagaimanapun juga pengalamannya masih cetek dan kepandaian itu baru dipelajarinya belum lama, otomatis kekuatan yang dapat dipancarkan juga amat terbatas sekali.

Alhasil, dia hanya mampu bertarung seimbang melawan Yan san lak kiat, sedang untuk menembusi kepungan tersebut sulitnya bukan kepalang.

Walaupun demikian, hal mana sudah cukup menggusarkan Yan san lak kiat, sebab dengan nama besar enam jagoan dari bukit Yan san yang begitu termashur dalam dunia persilatan ternyata tak mampu membereskan seorang bocah muda yang belum ternama, bagaimanapun juga kejadian ini benar benar merupakan suatu kejadian yang amat memalukan.

Perlu diketahui, semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, dengan kekuatan hubungan mereka berenam, belum pernah ada orang yang sanggup bertahan sebanyak dua puluh gerakan ditangan mereka.

Oleh sebab itu, nama besar Yan san lak kiat makin lama semakin tenar, selama berkelana didalam dunia persilatan, belum pernah ada yang berani melawan mereka.

Tapi kenyataannya sekarang, mereka tak berhasil merobohkan Thi Eng khi, seorang pemuda ingusan.

Dalam kejut dan gelisahnya, ke enam orang itu segera menghimpun tenaga dalamnya hingga mencapai tingkatan yang semaksimal mungkin, serangan kekuatan merekapun makin berlipat ganda.

Lama kelamaan, akhirnya Thi Eng khi mulai menunjukkan tanda tanda tak sanggup untuk menahan diri.

Dipihak lain, walaupun Hek bin bu pa To Thi gou berhasil dilemparkan keluar dari dalam rumah gubuk tadi, namun mereka tidak berhasil mengusir tiga orang lainnya malah sebaliknya mengundang lebih banyak jagoan yang menyerbu kedalam rumah gubuk itu.

Suatu pertarungan sengit yang amat menggetarkan hatipun segera berlangsung disitu.

Cay hong sian ci Liok Sun hoa dan Ciu Tin tin yang memiliki kepandaian silat tinggi, berhubung harus melindungi pula keselamatan Yap Siu ling maka kemampuan mereka tak mampu dikembangkan sehebat mungkin, keadaanpun menjadi seimbang dan sama kuat.

Cay hong sian ci Liok Sun hoa sesungguhnya tidak kenal dengan Yap Siu ling, juga tidak tahu maksud serta tujuan Ciu Tin tin terhadap keluarga Thi, kali ini dia turun ke dunia persilatan karena hendak mencari jejak putrinya yang sudah lama pergi mencari ayahnya tanpa kembali.

Mental perak merupakan ciri khas yang mudah dikenal, itulah sebabnya sepanjang jalan mengejar kemari, secara kebetulan dia telah menemukan peristiwa tersebut.

Dia cukup mengetahui akan watak putrinya yang amat memandang serius suatu masalah yang sedang dihadapinya, maka tatkala dilihatnya anak gadisnya membelai Yap Siu ling mati matian, dia tak sempat bertanya lagi, dia tahu putrinya pasti mempunyai alasan yang kuat maka sikapnya menjadi menaruh perhatian pula terhadap Yap Siu ling.

Walaupun tenaga dalamnya tinggi akan tetapi setelah muncul beban didepan mata, kekuatannya menjadi tak berkembang, sekalipun kekalahan bisa dihindari, untuk mengundurkan musuh bukan suatu yang gampang.

Dalam pada itu, Thi Eng khi tampaknya sudah tidak tahan dan segera akan menderita kekalahan dan dibekuk, mendadak tampak Sin kou Tio Yan kim terpeleset kesamping dan sepasang senjata kaitannya tanpa sebab terjatuh ketanah menyusul kemudian sambil melompat mundur dia menggoncangkan lengannya kencang kencang sambil membentak keras.

Menyusul kemudian Im to Tio Yan ci turut melompat mundur pula sambil berkoak-koak.

Melihat kejadian ini, sisa empat orang dari Yan san lak kiat tersebut menjadi amat terperanjat, mereka lantas tahu kalau ada orang yang secara diam diam telah membantu Thi Eng khi.

Sebaliknya Thi Eng khi segera merasakan semangatnya berkobar kembali, sambil berpekik tiada hentinya dia menyerang semakin menghebat, dalam waktu singkat ke empat orang jago itu sudah kena didesaknya sehingga kalang kabut tak karuan.

Sin kou Tio Yan kim yang sudah tak mampu untuk melanjutkan pertarungan itu segera memeriksa sekejap situasi dalam arena, begitu menyadari kalau kekalahan lebih besar daripada kemenangan.

Dia lantas berpekik nyaring tiada hentinya, enam sosok bayangan rranusia dengan kecepatan luar biasa segera mengundurkan diri dari sana.

Berbareng itu juga, kawanan lelaki yang mengurung disekitar rumah gubuk itu mengundurkan diri dari arena, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.

Menanti Thi Eng khi memburu ke depan pintu rumah, waktu itu Yap Siu ling beserta Cay hong sian ci Liok Sun hoa serta Tin tin sedang memburu keluar dari dalam ruangan.

Melihat ibunya sehat sehat saja, Thi Eng khi segera berteriak keras .

"Oooh....ibu!"

Ibu dan anak berdua segera saling berangkulan.

"Nak, kau tidak apa apa bukan?"

Tanya Yap Siu ling kemudian dengan suara lirih.

"Ibu, kau juga tidak terluka?"

Tanya Thi Eng khi pula dengan perasaan bergolak.

Mereka berdua hanya menanyakan keadaan masing masing sehingga untuk sesaat menjadi lupa dengan Ciu Tin tin serta ibunya.

Dalam pada itu, Cay hong sian ci Liok Sun hoa telah memperhatikan sekejap diri Thi Eng khi, lalu memandang pula ke arah putrinya yang sedang berdiri terpesona, dengan cepat ia menjadi sadar kembali apa gerangan yang telah terjadi.

Diam diam ia menjadi gembira sekali, sebab sudah diketahui olehnya mengapa selama setahun lamanya putri kesayangannya ini tidak pulang ke rumah.....

Tanpa terasa diawasinya pemuda itu, makin teliti makin dilihat semakin senang sehingga untuk beberapa saat lamanya ia menjadi termangu mangu belaka.....

Lewat lama kemudian, Ciu Tin tin baru menghembuskan napas panjang, sambil menarik ujung baju ibunya dia berkata .

"Ibu, mari kita pergi saja!"

"Mengapa?"

Tanya Cay hong sian ci Liok Sun hoa agak tertegun. Saking sedihnya dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Ciu Tin tin.

"Ibu!"

Katanya kemudian.

"setelah meninggalkan tempat ini nanti akan keberitahukan kepadamu!"

Cay hong sian ci Liok Sun hoa ingin menyapa Yap Siu ling, tapi kembali dicegah oleh Ciu Tin tin .

"Ibu lebih baik kita pergi tanpa memberitahukan kepada mereka lagi...."

Kemudian ditariknya perempuan itu meninggalkan ruangan dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Menanti Thi Eng khi berdua teringat kalau disampingnya masih ada tamu, bayangan kedua orang itu sudah lenyap tak berbekas.

Yap Siu ling segera mengomel .

"Nak, coba kau lihat, Ciu pek bo telah menyelamatkan jiwa ibumu,tapi kita hanya ribut untuk berbicara sendiri dan lupa menyapa tamu, perbuatan semacam ini benar benar merupakan suatu perbuatan yang kurang sopan!"

"Mereka ibu dan anakpun sudah lama tak bersua muka, siapa tahu mereka sengaja menyingkir untuk berbincang bincang sendiri?"

"Nak, cepat cari mereka berdua untuk datang, aku akan persiapkan hidangan malam sekalian menambah dengan beberapa macam sayur, sebentar kau harus menghormati enci Tin dengan dua cawan arak sebagai tanda rasa terima kasihmu atas bantuan ibu dan anak berdua."

Kemudian sambil tersenyum dia berjalan masuk keruangan dalam.

Thi Eng khi segera melakukan pencarian disekeliling tempat itu ketika tidak menjumpai jejak kedua orang tersebut, terpaksa dia pulang kerumah dengan tangan hampa.

Baru saja dia sampai didepan pintu, tiba tiba dari arah jalan bukit tampak sesosok bayangan manusia berlari mendekat.

Pada saat itu, Thi Eng khi sedang diliputi oleh rasa gusar dan mendongkol, sambil rnendengus dingin ia lantas menerjang kearah bayangan manusia itu sambil membentak.

"Anjing sialan, kau anggap apa aku benar benar mudah dipermainkan? Lihat serangan!"

Tenaga dalamnya segera dihimpun dan melepaskan sebuah pukulan kearah orang itu dengan tenaga sebesar delapan bagian, dari sini dapat diketahui kalau dia benar benar sudah diliputi oleh hawa amarah sehingga kalau bisa ingin membinasakan orang itu dalam sekali pukulan.

Tak terlukiskan betapa dahsyatnya serangan Thi Eng khi yang telah disertakan tenaga sebesar delapan bagian itu, dimana desingan angin tajam menyambar lewat, orang itu tak kuasa menahan ancaman tersebut.

Kontan saja seluruh tubuhnya mencelat sejauh beberapa kaki dan muntah darah segar.

Menyusul serangan itu, Thi Eng khi segera melompat ke hadapan orang itu, sekarang dia baru melihat jelas paras muka pendatang tadi, kemarahannya makin memuncak.

"Pengemis berkaki tunggal,"

Teriaknja.

"seandainya aku tidak memandang diatas wajah Cu loko, tak akan kubiarkan kau pergi dari sini dengan selamat, apa maksudmu lagi pada saat ini? Andaikata kau tidak menjelaskan kepadaku, jangan harap bisa pergi lagi dari sini dalam keadaan hidup"

Orang yang baru saja munculkan diri itu tak lain adalah To kak thi koay (kaki tunggal bertongkat baja) Li Goan gwee, kakak seperguruan dari pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

Walaupun ilmu silat yang dimilikinya termasuk jago kelas satu didalam dunia persilatan, akan tetapi dia masih bukan tandingan dari Thi Eng khi, apalagi diserang dengan tenaga sebesar delapan bagian dan dikala badannya melambung diudara, tak heran kalau luka yang dideritanya amat parah sehingga tak sanggup untuk menjawab.

Sesungguhnya dia bukanlah salah satu di antara Cap sah tay poo seperti apa yang dikatakan oleh Huan im sin ang.

Ketika Huan im sin ang menyebut nama dari ketiga belas orang Tay poo ketika berada diluar perbatasan tempo dulu, ada separuh diantara memang benar benar merupakan anggota dari tiga belas pangerannya tapi ada pula diantaranya yang cuma bualannya belaka untuk membesar besarkan kemampuannya.

Sebab pada waktu itu meski dia berhasrat untuk membentuk Cap sah tay poo namun jumlahnya belum komplit.

Tentu saja, orang orang yang disebutkan oleh Huan im sin ang tersebut merupakan orang orang yang diincarnya, cuma kemudian kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga tujuannya tidak tercapai.

Kini, To kak thi koay telah dianggap Thi Eng khi sebagai salah seorang diantara tiga belas pangerannya Huan im sin ang, boleh dibilang kejadian ini amat mengeneskan pengemis tua itu.

Setelah memperoleh caci maki dari Thi Eng khi pada pagi harinya tadi, dengan penuh rasa mendongkol dia mengundurkan diri dari sana, boleh dibilang kesannya terhadap Thi Eng khi jelek sekali, kalau bisa dia ingin segera berangkat pulang dan menegur adik seperguruannya yang punya mata tak berbiji sehingga salah memilih teman.

Siapa tahu justru dia menyaksikan Huan im sin ang menyusun rencana untuk menculik Yap Siu ling dan menguasai Thi Eng khi.

Sebagai seorang lelaki sejati yang berjiwa pendekar, dengan cepat ia melupakan semua sikap kasar Thi Eng khi terhadap dirinya dan balik kesana dengan harapan bisa membantu Thi Eng khi untuk menghalau musuh tangguh.

Siapa tahu dia telah datang terlambat sehingga tindakannya itu menambah kesalahan paham Thi Eng khi terhadapnya.

Itulah sebabnya pula, dia sampai terhajar terluka parah.

Pada saat itu, rasa sedihnya tak terlukiskan dengan kata kata, sebab dia sama sekali tidak tanu kalau Thi Eng khi telah menaruh kesalahan paham atas dirinya.

Dia menganggap Thi Eng khi tak lebih hanyalah seorang manusia kasar yang tak tahu diri.

Tak heran kalau kesannya terhadap pemuda inipun semakin jelek.

Masih mendingan kalau hanya memukul saja, ternyata Thi Eng khi mencaci maki pula dirinya, ini semua membuat hatinya meledak ledak saking mendongkolnya dalam gusarnya dia membungkam diri dalam seribu bahasa, dia mau melihat apa yang hendak dilakukan Thi Eng khi terhadap dirinya.

Tatkala Thi Eng khi menyaksikan To kak thi koay Li Goan gwee memandangnya dengan wajah menghina, bahkan tak rnengucapkan sepatah katapun, kontan saja hawa amarahnya semakin memuncak teriaknya .

"Jika kau masih membungkam terus, jangan salahkan kalau aku tak akan sungkan sungkan lagi."

Jari tangannya segera ditegangkan seperti tombak, kemudian siap disodokan ke bawah. To kak thi koay Li Goan gwee mendengus dingin, jengeknya .

"Apa yang hendak kau lakukan,lakukan saja kepadaku, anggap saja aku sipengemis tua telah salah melihat orang!"

Thi Eng khi segera mendengus dingin.

"Hmmm... jangan dianggap aku Thi Eng khi masih berusia muda maka bisa ditipu seenaknya, kau sendirilah baru orang yang tak bermata."

Jari tangannya segera disodok kedepan, segulung desingan angin tajam segera menyebar kearah jalan darah Hian ki hiat di tubuh To kak thi koay Li Goan gwee agaknya dia memang berniat untuk memberikan sedikit pelajaran kepada pengemis tua tersebut.

To kak thi koay Li Goan hanya melototi wajah Thi Eng khi, kemudian tertawa pedih.

Tampak serangan tersebut segera akan menerjang ke tubuh To kak thi koay, pada saat itulah tiba tiba Thi Eng khi menemukan sikap gagah dan pantang menyerah yang terpancar dari wajah pengemis tersebut.

Tercekat hatinya setelah menyaksikan hal ini, dia kuatir apa yang dilakukannya sekarang kelewat batas.

Tapi golok sudah keburu diloloskan, apalagi hatinya terpengaruh oleh emosi walaupun timbul ingatan tersebut, serangannya sama sekali tidak dibatalkan.

Siapa tahu pada saat itulah dari samping arena meluncur datang segulung angin pukulan yang menghantam serangan dari Thi Eng khi tersebut, kemudian dengan cepatnya membawa tubuh To kak thi koay menyingkir ke samping.

Thi Eng khi segera membalikkan badan sambil menerjang ke arah sebatang pohon, bentaknya .

"Siapa disitu?"

Pohon itu berada lebih kurang dua kaki jauhnya dihadapan Thi Eng khi, baru saja pemuda itu melompat kedepan, dari atas pohon telah melayang turun seorang pendeta berkerudung.

"Thi sauhiap, tenaga dalammu telah memperoleh kemajuan yang amat besar, sekarang boleh dibilang sudah cukup untuk menjagoi dunia persilatan, entah masih kenali teman lama tidak?"

Tegurnya.

Didengar dari ucapan itu, bisa diketahui kalau pendeta tersebut merasa sangat tidak puas.

Buru buru Thi Eng khi mengerahkan ilmu bobot seribu untuk melayang turun ke tempat semula, lalu serunya agak tertegun .

"Kalau memang kau adalah temanku, kenapa...."

Akan tetapi bicara sampai disitu, satu ingatan segera terlintas kedalam benaknya, dengan cepat dia mengetahui siapa gerangan pendeta tersebut.

Sebab semenjak dia terjun kedalam dunia persilatan, hanya dua orang pendeta saja yang bisa dianggap sebagai rekan lamanya.

Yang seorang adalah Ci kay taysu yang dikenalnya dalam perkampungan Ki hian san ceng, sedangkan yang lain adalah Huang oh taysu, ayah Ciu Tin tin.

Kalau Ci kay taysu berperawakan tinggi besar maka mustahil dia adalah pendeta berkerudung dihadapannya sekarang itu berarti satu satunya kemungkinan adalah Huang oh siansu.

Terhadap Ciu Tin tin dia memang sudah menaruh rasa menyesal, maka terhadap Huang oh siansupun tak berani bertindak kurang hormat, setelah mundur selangkah katanya.

"Ternyata siansu yang telah berkunjung kemari, terimalah hormat dari boanpwe."

Seraya berkata dia lantas menjura sementara dalam hatinya diam diam ia berpikir.

"Setelah menjadi pendeta, masa dia masih memiliki kesulitan yang tak bisa diketahui orang? Kalau tidak, kenapa dia mengenakan kain kerudung untuk menutupi wajahnya?"

Sementara itu Huang oh siansu telah mengulapkan tangannya sembari berkata .

"Kalau memang Thi sauhiap ingat dengan pinceng, apakah kau pun bersedia memberi muka kepadaku?"

Thi Eng khi memandang sekejap kearah To kak thi koay Li Goan gwee, kemudian ujarnya.

"Apakah Siansu meminta agar boanpwe melepaskan sampan masyarakat ini...?"

Mendengar dirinya dimaki sebagai "sampah masyarakat", kontan saja To kak thi koay mencak mencak kegusaran, bentaknya .

"Sudah puluhan tahun lamanya lohu berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah satu kalipun kulakukan perbuatan yang biadab atau melanggar kebenaran, kau masih berusia muda, kenapa sudah menfitnah orang seenaknya sendiri?"

"Kau adalah salah seorang dari cap sah tay poo nya Huan im sin ang, perbuatan ini sudah merusak nama baik Kay pang, orang lain memang tak tahu, tapi aku telah mendengar hal ini dari mulut Huan im sin ang sendiri, memangnya aku sengaja memfitnahmu?"

To kak thi koay Li Goan gwee semakin gusar lagi setelah mendengar tuduhan tersebut sampai sekujur tubuhnya gemetar keras, dengan suara yang tak jelas katanya .

"Kau.... Kau....."

Dia ingin mengucapkan sesuatu, namun tak tahu apa yang musti diutarakan keluar.

Baru saja Thi Eng khi bermaksud untuk membongkar rencana busuk seperti apa yang diduganya semula, Huang oh siansu telah menggoyangkan tangannya berulang kali sambil mencegah.

"Omintohud! Thi sauhiap, kau sudah ditipu oleh Huan im sin ang, pinceng berani jamin, Li tayhiap bukanlah salah seorang diantara Cap sa tay poo!"

Thi Eng khi masih belum mau percaya, gumamnya .

"Soal ini.... Soal ini ...."

"Kalau kulihat dari wajah sauhiap, tampaknya kau sudah percaya penuh dengan apa yang dikatakan Huan im sin ang, aaai ....."

Helaan napas panjang itu mencakup sisa perkataan yang belum terungkapkan.

Walaupun ucapan tersebut tidak dilanjutkan, akan tetapi peluh telah jatuh bercucuran membasahi tubuh Thi Eng khi, ia cukup memahami kekecewaan Huang oh siansu terhadap dirinya.

Tanpa terasa dia lantas berpikir .

"Huang oh siansu adalah seorang manusia yang jujur dan saleh, kalau tidak kupercayai perkataannya, apakah harus percaya dengan perkataan Huan im sin ang? Andaikata Huan im sin ang benar benar berniat jelek, bukankah aku telah diperalat olehnya tanpa sadar?"

Tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, diapun berpikir lebih jauh .

"Andaikata To kak thi koay benar benar adalah salah satu dari Cap sah tay poo pimpinan Huan im sin ang, masa Huan im sin ang bisa bertindak bodoh dengan mengutusnya lagi untuk menipu diriku? Hanya berdasarkar hal ini saja sudah lebih dari cukup yang membuktikan kalau aku telah terkecoh olehnya."

Pada dasarnya pemuda itu memang seorang lelaki sejati yang berjiwa besar, setelah memahami hal itu, paras mukanya berubah menjadi serius, cepat dia memburu ke hadapan To kak thi koay sambil berkata seraya menjura .

"Thi Eng khi telah termakan oleh hasutan manusia laknat yang mengatakan engkoh tua sebagai salah satu dari tiga belas pangeran, harap engkoh tua suka memandang diatas wajah Cu lo koko untuk memaafkan kesilapan siaute ini."

Agaknya To kak thi koay Li Goan gwee sama sekali tidak menyangka kalau Thi Eng khi adalah seorang yang berani mengakui kesalahan sendiri, berani berbuat berani pula bertanggung jawab, sikap gagah semacam ini makin jarang ditemui dalam dunia persilatan ini.

Maka sambil tertawa terbahak babak dia menarik tangan Thi Eng khi seraya berkata .

"Aaaah, mana, mana! Kalau tidak saling bertarung mana bisa saling berkenalan? Harap saudara cilik jangan memikirkan persoalan ini didalam hati, kalau harus disalahkan maka harus salahkan aku si pengemis yang sudah berkelana setengah abad ini masih tidak berhasil menyaksikan keanehan pada sikapmu itu, haaahh.... haahhh.... haaahhh.... aduh!"

Karena tak tahan dengan penderitaan yang dialaminya, dia lantas berteriak kesakitan, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran dengan amat derasnya.

Dengan cepat Thi Eng khi membimbingnya bangun, kemudian dengan nada menyesal dia berkata .

"Engkoh tua, parahkah luka yang kau derita?"

"Aaah, tidak menjadi soal,"

Sahut To kak thi koay sambil meluruskan pinggangnya.

"aku si pengemis tua masih sanggup untuk mempertahankan diri."

Walaupun dimulut dia berkata demikian, sekujur badannya masih tetap bergetar keras. Buru buru Thi Eng khi menempelkan telapak tangannya diatas punggung pengemis tua itu lalu katanya .

"Biar siaute membantu engkoh tua untuk menyembuhkan luka!"

Segulung aliran hawa panas dengan cepat menyusup masuk kedalam tubuh To kak thi koay, lebih kurang setengah pertanak nasi kemudian, Thi Eng khi baru menarik kembali tangannya.

Sekali lagi pengemis tua itu tertawa terbahak bahak.

"Haaahh....haaahh...haaahh....sungguh amat sempurna tenaga dalam yang saudara cilik miliki, berkat bantuanmu aku sipengemis tua telah memperoleh kesembuhan total!"

Setelah saling merendah dari lawan kedua orang itupun menjadi sahabat karib.

Ketika Huang oh siansu menyaksikan Thi Eng khi dapat membaiki kesalahannya, dia menjadi gembira sekali, meski demikian katanya pula dengan wajah bersungguh sungguh .

"Hanya suatu kesalahan yang kecil sekali bisa mengakibatkan dunia persilatan menjadi kacau balau, aku harap kejadian pada hari ini dianggap sebagai suatu pelajaran untuk sauhiap, semoga saja mulai sekarang kau bisa berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak, jangan bertindak lantaran emosi, mencelakai orang sama dengan mencelakai diri sendiri, perlu kau ketahui memberi selangkah jalan mundur buat orang lain berarti rnelakukan suatu kebaikan. Thian menghendaki umatnya hidup rukun daripada orang jahat dibunuh lebih baik nasehatilah agar bertobat, entah bagaimanakah pendapat Thi sauhiap dengan ucapan pinceng ini?"

"Boanpwe mengucapkan banyak terima kasih atas nasehat dari siansu, sepanjang hidup akan kucamkan baik baik nasehat itu,"

Jawab anak muda itu dengan wajah bersungguh sungguh. Huang oh siansu segera manggut manggut.

"Kalau begitu lolap akan mohon diri lebih dulu!"

Katanya kemudian.

Tanpa menggerakkan tubuhnya tahu tahu dia sudah berada lebih kurang beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.

Siapa tahu, pada saat itulah mendadak terdengar seseorang membentak gusar .

"Kau...kau.. berhenti kau!"

Huang oh siansu berjalan lagi sejauh beberapa kaki dengan langkah lamban, kemudian baru berhenti, agaknya dia berniat untuk balik kembali.

Sementara itu Yap Siu ling telah melangkah keluar dari dalam rumah, kemudian dengan sorot mata yang amat tajam mengawasi Huang oh siansu tanpa berkedip.

Tiga orang enam buah mata bersama sama tertuju ke tubuh Huang oh siansu.....

Mendadak Huang oh siansu menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian sepasang bahunya bergerak, agaknya dia ada maksud untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Buru buru Thi Eng khi maju ke depan, lalu setelah memberi hormat katanya .

"Ibuku berharap siansu suka berhenti sejenak!"

Huang oh siansu membungkam diri dalam seribu bahasa walaupun wajahnya berkerudung hitam sehingga tidak nampak perubahan mimik wajahnya, namun tak sulit untuk diduga kalau ia merasa amat tak tenang dengan situasi yang terbentang didepan matanya sekarang.

"Siancu!"

Kembali Thi Eng khi berseru.

"ibuku adalah seorang yang dapat membedakan antara jahat dan benar, harap siansu pun bersedia untuk menjumpainya."

Huang oh siancu masih tetap membungkam dalam seribu bahasa, agaknya dia merasa ragu untuk rnengambil keputusan apakah harus tetap tinggal atau pergi dari situ.

Terdengar suara Yap Siu ling telah berkumandang lagi dari belakang diiringi helaan napas panjang .

"Aaai... dari nada suaramu dan potongan badanmu, aku sudah tahu siapakah dirimu itu, kalau kulihat dari keraguanmu, hal mana menunjukkan kalau rasa cintamu belum putus, aku kini sudah tidak memikirkan apa apa lagi."

Mendadak ia berhenti sejenak, kemudian serunya kepada Thi Eng khi .

"Eng ji! Minggir, beri jalan untuk siansu ........"

"Baik!"

Jawab Thi Eng khi dengan perasaan bingung. Kemudian setelah menyingkir dan memberi hormat katanya .

"Boanpwe menghantar kepergian siansu!"

Huang oh siansu rupanya belum dapat melupakan diri sendiri, tampak sekujur badannya gemetar keras, mendadak kain kerudungnya terlepas sehingga tampak raut wajahnya yang tampan.

Sambil memandang ke arah Thi Eng khi ia berkata sembari tertawa getir .

"Nak, mari kita kesana!"

Sebutan "nak"

Tersebut membuat Thi Eng khi tertegun, dia menjadi tidak habis mengerti dan berdiri tertegun.

Mendadak ia merasa pergelangan tangannya menjadi kencang, tahu tahu ia sudah diseret oleh Huang oh siansu kembali ketempat semula.

Dengan kebingungan dia memperhatikan sekeliling tempat itu, tampak ibunya sedang berdiri dengan air mata berlinang, namun tidak terdengar suara isak tangisnya yang jelas ditahan dengan sepenuh tenaga.

Huang oh siansu sendiripun menatap ibunya dengan pandangan tajam, diatas wajahnya yang saleh itu telah memancarkan cahaya kemerah merahan..

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Thi Eng khi, akhirnya dia menjadi sadar dan segera berseru tertahan .

"Aaaah.....!"

Seruan setelah itu dengan cepat menyadarkan kembali Huang oh siansu dan Yap Siu ling dari lamunannya.

Dengan perasaan terkesiap Huang oh siansu dan Yap Siu ling sama sama berusaha menahan gejolak perasaan masing masing.

"Omitohud!"

Bisik Huang oh siansu kemudian.

"lolap adalah orang yang telah melupakan diri, harap hujin suka memaklumi."

Yap Siu ling segera menyeka air matanya dengan ujung baju kemudian ujarnya sambil menahan isak tangisnya .

"Eng ji, cepat kau jumpai ayahmu yang telah menjadi pendeta."

Thi Eng khi segera menjatuhkan diri berlutut serunya .

"Ooh... ayah, kau benar benar tega!"

Huang oh siansu mengebaskan ujung bajunya sambil membangunkan Thi Eng khi, tanpa terasa dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia berkata .

"Gin ih lan san (baju perak baju biru) telah mati bersama, Tin tin sudah kehilangan kasih sayang ayahnya, nak, apakah kaupun masih boleh mempunyai ayah?"

Thi Eng khi merasakan hatinya terkesiap, serunya kemudian .

"Maafkanlah ananda bila telah salah berbicara!"

Huang oh Siansu segera mengalihkan sorot matanya ke wajah To kak thi koay, kemudian katanya sambil tersenyum .

"Siauseng tak bisa melupakan diri, harap Li tayhiap jangan mentertawakan...."

To kak thi koay Li Goan gwee adalah seorang yang sama sekali berada diluar garis, dia tidak tahu akan perselisihan antara Gin ih kiam kek Ciu Cu giok dengan Lan san cu tok Thi Tiong giok, dia lebih lebih tidak memahami arti dari pembicaraan ketiga orang itu, namun ada satu hal yang dipahaminya, yakni Huang oh siansu yang berada dihadapannya sekarang adalah sahabat karibnya pula, yakni Lan san cu tok Thi tiong giok yang amat tersohor itu.

To kak thi koay Li Goan gwee adalah seorang yang berjiwa besar, setelah tertegun sejenak, ia segera tertawa terbabak bahak.

"Haaahh.... haahhh.... haaahh.... aku si pengemis tua bagaikan baru sadar dari impian saja, sungguh tak kusangka kalau Thi tayhiap bisa mencukur rambut menjadi pendeta, apakan dibalik berita yang tersiar pada dua puluh tahun berselang, masih terdapat banyak rahasia lain yang tersembunyi?"

Huang oh siansu segera manggut manggut.

"Pinceng merasa menyesal sekali, lebih baik tak usah dibicarakan lagi...."

Katanya.

Orang lain tidak berbicara, tentu saja To kak thi koay Li Goan gwee merasa sungkan bertanya, selain itu sebagai seorang kenamaan, bila harus menanyakan rahasia orang lain, hal itu merupakan suatu perbuatan yang tidak sopan, sudah barang tentu To kak thi koay tak ingin melakukan perbuatan seperti itu.

Rupanya dia tahu kalau tempat itu tak bisa didiami lebih lama lagi, maka sambil menjura katanya kemudian.

"Saat bertemunya ayah dan anak merupakan saat paling bahagia, aku si pengemis tua tak ingin mengganggu lebih lama lagi, maaf kalau aku hendak mohon diri lebih dulu!"

Dia segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melompat pergi dari situ. Huang oh siansu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya tiba-tiba.

"Tin tin sekarang berada dimana?"

Thi Eng khi segera merasakan kepalanya menjadi kaku, ia tertunduk rendah rendah dan tak mampu menjawab barang sepatah katapun.

Sebenarnya Yap Siu ling munculkan diri dari dalam ruangan karena berhasil menemukan surat yang ditinggalkan Ciu Tin tin.

Dia keluar karena hendak menegur Thi Eng khi, sungguh tak disangka secara kebetulan telah bertemu dengan suaminya dan berhasil menyingkap wajah Huang oh siansu yang sebenarnya, kejut dan girang segera berkecamuk bersama rasa sedih yang amat tebal.

la merasa terkejut dan girang karena Thi Tiong giok belum mati, bahkan telah datang kembali.

Tapi diapun amat sedih karena Thi Tiong giok begitu tega menjadi seorang hwesio, itu berarti dia tetap akan kehilangan dirinya untuk selamanya.

Mengenai hal ini, dia merasa tak dapat menerimanya dengan begitu saja, itulah sebabnya dia merasa seperti kehilangan semangat.

Menanti Huang oh siansu menyinggung soal Ciu Tin tin, dia baru teringat dengan kertas yang masih berada dalam genggamannya itu, kepada Thi Eng khi segera teriaknya .

"Nak, kau telah berbuat suatu kesalahan besar, bagaimana tanggung jawabmu nanti terhadap enci Tin? Coba kau lihat, inilah surat yang ditinggalkan enci Tin mu!"

Thi Eng khi merasa menyesal sekali dia segera membuka kertas surat itu dan membacanya .

"Pek bo yang terhormat, Titli tak dapat berdiri disini lagi, dari pada mempengaruhi perasaan adik Eng untuk itu aku minta maaf yang sebesar besamya untuk ayahku dan diriku sendiri. Keponakan . Ciu Tin tin. Belum habis Thi Eng khi membaca tulisan itu, air matanya sudah jatuh bercucuran. Setelah orangnya tidak ada, dia baru merasakan bahwa Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang menyenangkan dan patut dihormati, selain itu rasa cinta yang selama ini tertanam dalam hatinya turut bergolak pula dengan hebatnya. Huang oh siansu merasa kurang leluasa untuk menegur Thi Eng khi, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang.

"Setelah kepergian Tin tin, pinceng semakin merasa malu terhadap sobat lamaku di alam baka!"

Dengan cepat Thi Eng khi berseru .

"Sekarang juga ananda akan berangkat untuk menyusul enci Tin, seandainya ia tak dapat memaafkan ananda, anandapun merasa tak punya muka lagi untuk berjumpa dengan kalian orang tua berdua."

"Anak Eng, kau harus ingat,"

Kata Yap Siu ling dengan sedih.

"keluarga Thi serta partai Thian liong tak bisa kekurangan dirimu."

Huang oh siansu dengan sepasang mata yang memancarkar sinar tajam menatap pula wajah Thi Eng khi tanpa berkedip katanya dengan wajah serius .

"Tugas berat untuk membangun kembali Thian liong pay berada ditanganmu, aku harap kau jangan melupakan tugasmu. Selain itu, bulan delapan tanggal limabelas nanti, pertemuan dibukit Siong san akan diselenggarakan, persoalan ini timbul gara gara kau, itulah sebabnya kau berkewajiban untuk melerai pertikaian itu, aku harap kau suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak.........!'' Untuk sesaat lamanya Thi Eng khi menjadi amat terharu sehingga menundukkan kepalanya dengan wajah malu dan mulut terbungkam dalam seribu bahasa.... Setelah menasehati Thi Eng khi, nada suara Huang oh siansu pun menjadi lebih lunak katanya lembut .

"Besok, kau harus segera melanjutkan perjalanan menuju ke bukit Siong san... selesaikan kesalahan paham itu sebaik-baiknya!"

Thi Eng khi teringat kembali dengan ibunya, bila dia harus pergi, bukankan ibunya akan sendirian? dengan perasaan kuatir, katanya dengan nada sedih .

"Ananda merasa amat kuatir membiarkan ibu berada disini seorang diri!"

Besok pagi keempat orang susiokmu akan sampai disini dan bersama ibumu akan kembali ke Huay im untuk mengumpulkan semua anggota Thian liong pay dan membangun kejayaan partai, tak usah kuatir, pergilah dengan hati tenang!"

Tiba tiba Thi Eng khi teringat kembali dengan luka Jit sat ci dari keempat susioknya yang telah disembuhkan orang, timbal kecurigaan dalam hatinya, dia lantas bertanya .

"Apakah kau orang tua yang telah menyembuhkan luka yang diderita keempat orang susiok?"

Huang oh siancu menghela napas panjang .

"Aaai... aku sudah menjadi seorang pendeta, namun pikiranku masih tertinggal dirumah, aku benar benar telah menyia-nyiakan ajaran Buddha....."

Tak bisa disangkal lagi, memang semuanya itu merupakan hasil perbuatannya...

Thi Eng khi sendiripun cukup menyadari ayahnya masuk menjadi pendeta karena dia merasa menyesal terhadap kematian Gin ih kiam kek.

Tapi setelah menjadi pendeta, diapun merasa sedih karenaThian liong pay menjadi kehilangan pamornya lantaran kehilangan dia.

Membayangkan semua pengalaman pedih yang dialaminya, tanpa terasa Thi Eng khi ikut merasa bersedih hati.

Waktu itu rembulan telah berada diawang awang, tiga sosok bayangan manusia berdiri ditempat masing masing tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Akhirnya Huang oh siansu merangkap tangannya didepan dada sambil berkata .

"Harap hujin baik baik menjaga diri, sianceng ingin mohon diri lebih dahulu!"

Yap Siu ling menjadi sedih sekali, bisiknya .

"Kau... kau... kau... kau akan .."

Mendadak ia merasa amat terperanjat sebab berada dihadapan suaminya yang telah menjadi pendeta memang tidak sepantasnya mengucapkan kata semacam itu lagi, teringat sikapnya tersebut, ia tertunduk dengan wajah memerah karena jengah, tak sepatah katapun sanggup diutarakan lagi.

"Ayah, kau tak boleh pergi!"

Pekik Thi Eng khi sedih. Sekuat tenaga Huang oh siansu berusaha untuk mengendalikan perasaannya, lalu dengan dingin dia berkata .

"Anak dungu, ayahmu sudah menjadi seorang pendeta, kalian tak usah banyak berbicara lagi!"

Seusai berkata dia lantas melompat pergi sejauh puluhan kaki lebih dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Yap Siu ling dan Thi Eng khi berdua musti amat sedih atas kepergian pendeta itu, namun mereka cukup mengetahui akan batas batas yang ada, maka terhadap kepergian Huang oh siansu sama sekali tidak menghalanginya....

Keesokan harinya, betul juga, keempat susioknya telah muncul kembali disana.

Perjumpaan ini sangat mengharukan semua orang.

Tengah hari sudah tiba namun Thi Eng khi belum juga ada niat untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya Yap Siu ling yang mendesaknya berulang kali sehingga akhirnya harus memohon diri kepada ibu dan keempat orang susioknya untuk berangkat ke bukit Siong san.

Tujuannya kali ini adalah bukit Siong san, itu berarti dia harus melewati kembali Kang im, teringat kembali pemandangan sewaktu dia dan Ciu Tin tin berjalan bersama ditepi sungai kemarin, kembali hatinya merasa sedih.

Waktu itu mereka berdua saling menyebut saudara dan akrab sekali hubungannya sungguh tak disangka hanya selisih satu hari saja, gadis cantik itu entah sudah kemana, karena sedih tanpa terasa langkahnya sudah semakin lambat.

Ditengah jalan raya tak jauh dari situlah To kak thi koay Li Goan gwee menyaksikan Thi Eng khi sedang berjalan mendekati kearahnya.

Waktu itu Thi Eng khi mempunyai urusan, ketajaman mata dan pendengarannya boleh dibilang tidak berfungsi, sekalipun Tok kak thi koay Li Goan gwee berdiri ditengah jalan ternyata pemuda itu sama sekali tidak memperhatikannya.

Menanti Thi Eng khi sudah berada dihadapannya, pengemis tua berkaki tunggal itu baru tertawa terbahak bahak sambil menegur .

''Saudara cilik, karena urusan apa kau seperti kehilangan semangat?"

Teguran ini membuat Thi Eng khi amat terperanjat dan mundur tiga kaki kebelakang, menanti dia mendapat tahu kalau orang itu adalah To kak thi koay Li Goan gwee, sambil tertawa jengah sahutnya .

"Oooh.... tidak apa, tidak apa apa "

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... aku lihat tentunya disebabkan kepergian nona Ciu bukan?"

Tegur To kak thi koay Li Goan gwee sambil tertawa tergelak. Thi Eng khi menjadi agak tertegun.

"Darimana kau bisa tahu kalau enci Ciu telah pergi?"

Dia balik bertanya dengan keheranan.

"Kemarin sewaktu aku balik kemari, anak murid Kay pang telah datang melapor dan mengatakan telah melihat nona Ciu serta seorang perempuan cantik setengah umur sedang berlarian menelusuri sungai, menurut laporan anggota kami itu nona Ciu seperti nampak agak sedih, sepanjang jalan dia hanya menghela napas panjang pendek dan amat tidak senang hati, untung saja perempuan cantik setengah umur itu menghiburnya terus menerus sehingga dia tak sampai menangis."

Thi Eng khi semakin sedih setelah mendengar perkataan itu, katanya tersipu sipu .

"Tak usah dikatakan lagi, kesemaunya itu adalah gara gara siaute yang telah membuatnya bersedih hati."

"Kalau begitu kau datang kemari untuk mengejarnya?"

"Tidak,"

Thi Eng khi menggeleng.

"siaute mendapat perintah untuk berangkat kebukit Siong san terpaksa masalah tentang nona Ciu harus disingkirkan lebih dulu."

Setelah berhenti sebentar, mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, dengan cepat ujarnya .

"Siaute mempunyai suatu permintaan yang tidak pantas, entah engkoh tua bersedia untuk mengabulkannya atau tidak?"

Berkilat sepasang mata To kak thi koay Li Goan gwee setelah mendengar perkataan itu.

"Bila ada kesempatan buat aku si pengemis tua menyumbang tenaga, dengan senang hati engkoh tua akan melaksanakannya,"

Ia menyahut cepat.

Jawaban ini hangat dan simpatik sekali.

Tanpa terasa Thi Eng khi jadi teringat kembali dengan sikap kasarnya semalan, bukan cuma mencemooh saja bahkan menghajarnya pula sampai terluka padahal orang itu amat ramah sekali sikapnya, rasa malu dan menyesal menyelimuti pula benaknya.

Setelah menghela napas, katanya .

"Engkoh tua amat gagah dan ringan tangan, siaute benar benar merasa menyesal sekali."

"Saudara cilik, lebih baik tak usah membawa pokok persoalan ke masalah yang lain,"

Teriak To kak thi koay Li Goan gwee cepat cepat,"begitu kau membawa pembicaraan ke soal lain, aku jadi tak jelas mendengarnya. Ada urusan apa sih? Cepat katakan saja berterus terang!"

Terpaksa sambil tebalkan muka Thi Eng khi berkata .

"Sudah lama aku dengar orang berkata, konon anak buah Kay pang tersebar sampai di seluruh penjuru langit, ketajaman mata dan pendengarannya mengagumkan dan tiada tara didunia, karena itu siaute mohon bantuan engkoh tua untuk memberitahukan kepada semua anggota untuk setiap saat mengawasi gerak gerik nona Ciu, kemudian menyampaikannya kepada siaute, atas bantuan ini siaute akan merasa amat berterima kasih sekali."

"Aaaah.... itu mah soal kecil, serahkan saja kepada engkoh tuamu,"

Kata To kak thi koay Li goan gwee sambil menepuk dada. Sambil tertawa Thi Eng khi segera menyampaikan rasa terima kasihnya yang tak terkirakan. Kembali To kak thi koay Li Goan gwee berkata .

"Saudara cilik hendak pergi ke bukit Siong san, apakah kau tahu memotong jalan?"

Sambil tertawa getir Thi Eng khi menggeleng.

"Siaute merasa asing sekali dengan daerah disekitar tempat ini, terpaksa sebagian jalan dilewati aku harus bertanya bagian jalan yang lain kepada orang."

"Kebetulan sekali aku si pengemis tua juga hendak berangkat ke bukit Siong san untuk memberi laporan, bagaimana andaikata saudara cilik melakukan perjalanan bersama aku si pengemis tua?"

Thi Eng khi menjadi girang setengah mati, sahutnya cepat cepat .

"Itulah yang siaute harapkan, terima kasih banyak atas kebaikan engkoh tua....."

To kak thi koay Li Goan gwee segera menggape seorang pengemis cilik dan menyampaikan pesan beberapa patah kata, kemudian bersama Thi Eng khi menembus kota Kang im dan langsung berangkat menuju ke bukit Siong san.

Dengan adanya si pengemis tua itu sebagai penunjuk jalan, perjalanan yang ditempuh kedua orang itu menjadi lebih cepat lagi, sepanjang jalan mereka jarang sekali berhenti sehingga tak selang beberapa waktu kemudian mereka sudah memasuki wilayah Hoolam.

Suatu hari sampailah mereka disebuah kota yang tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar, kota itu bernama Ciu keh ko.

Sebagaimana dihari hari sebelumnya, pengemis tua itu tak pernah tinggal bersama Thi Eng khi, dia disambut oleh para anggota partainya.

Sedangkan Thi Eng khi segera mencari rumah penginapan untuk beristirahat.

Rumah penginapan itu bisa ditinggali enam orang tamu, tapi hari ini rupanya agak sepi, sebab dalam rumah penginapan itu, kecuali Thi Eng khi, hanya ada seorang kakek peramal yang sudah buta matanya.

Ketika Thi Eng khi masuk kedalam rumah penginapan, kakek buta itu segera tertawa kepadanya sehingga tampaklah sepasang giginya yang putih dan bersih.

Thi Eng khi tidak memperhatikan gigi dari kakek buta itu namun dia merasa heran dengan senyuman terhadap dirinya itu, sebab dia adalah seorang yang buta, kenapa bisa melihat orang?

Kalau tidak melihat, kenapa tertawa?

Sementara dia masih termenung, kakek buta itu telah berkata lebih dahulu.

"Kek koan, kau hendak meramalkan nasib?"

Kembali Thi Eng khi berpikir .

"Kakek buta ini pasti sudah mendengar suara langkah kakiku, maka dianggapnya aku datang untuk melihat nasib..."

Setelah berpikir demikian, otomatis rasa curiganya menjadi lebih tawar banyak sekali. Maka sahutnya pula dengan cepat .

"Aku datang untuk mencari kamar!"

"Kalau ingin mencari kamar, hal ini lebih baik lagi, kita memang sama sama menginap ditempat ini, toh tak ada urusan lain? Bagaimana kalau aku si buta mempersembahkan sebuah ramalan tanpa membayar?"

Ketika Thi Eng khi menyaksikan waktu masih pagi, diapun lantas duduk disamping mejanya seraya berkata .

"Kalau begitu merepotkan losianseng!"

Menyusul kemudian dia menyebutkan tanggal, bulan, hari dan jam kelahirannya. Kakek buta itu menghitungnya beberapa waktu, kemudian dengan wajah membesi katanya agak tergagap .

"Soal ini... soal ini..."

"Nasibku memang tidak baik, sudahlah, tak perlu diramalkan lagi!"

Kata Thi Eng khi sambil tertawa nyaring.

Seraya berkata dia lantas bangkit berdiri dan siap berlalu dari tempat itu.

Dengan cepat kakek buta itu merentangkan bambu hitamnya sambil berseru dengan gelisah .

"Harap tunggu sebentar kek koan, walaupun nasib tuan sukar diduga, namun dari gelak tertawa tadi bisa diketahui kalau kau memiliki gejala hoki dan terhormat, entah bolehkah kek koan mengijinkan aku si buta untuk meraba tulangmu?"

Thi Eng khi benar benar dibuat serba rikuh untuk menampik, terpaksa dia mengabulkan permintaan orang.

Akan tetapi ketika telapak tangan si buta itu menempel diatas badannya, mendadak timbul kewaspadaan didalam hatinya, diam diam hawa murni sian thian bu khek ji gi sin kang miliknya dikerahkan untuk melindungi semua jalan darah penting disekujur tubuhnya.

Kakek buta itu meraba tubuh Thi Eng khi beberapa saat lamanya, ketika Thi Eng khi menyaksikan gerakan mana seakan akan tidak mendekati jalan darah didalam tubuhnya dia menjadi keheranan bercampur geli, pikirnya cepat .

"Aku benar benar melakukan tindakan yang bodoh, kenapa badanku musti dibiarkan dia raba? Aku...."

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, mendadak dia merasakan telapak tangan kakek buta itu menekan keatas tubuhnya, menyusul kemudian terasa ada sebuah benda yang menembusi jalan darah Hong wi hiat dipunggungnya.

Thi Eng khi memiliki tenaga dalam yang sempurna, ditambah lagi dengan perlindungan hawa sian thian bu khek ji gi sin kang pada waktu itu dia hanya tersenyum belaka ingin diketahui olehnya apakah sibuta itu benar benar berniat melukai orang.

Selain daripada itu, hawa murninya segera dihimpun bersiap sedia melakukan gerakan untuk merobohkan lawan.

Benda yang berada dalam telapak tangan kakek buta itu mulai menyentuh kulit badan Thi Eng khi akan tetapi tidak ditusukkan kedalam atau menusuknya kuat kuat.

Secara beruntun dia hanya menusuknya sebanyak tiga kali saja.

Thi Eng khi tidak habis mengerti permainan setan apakah yang sedang dilakukan kakek buta itu terhadap dirinya, sebelum dia hendak buka suara, kakek buta itu sudah berseru sambil tertawa.

"Kek koan memiliki tulang yang bagus dan tiada duanya didunia ini, kali ini aku si buta benar benar dibuat kebingungan."

Belum habis perkataan itu diutarakan, Thi Eng khi segera merasakan telapak tangan kakek buta itu kembali menekan jalan darahnya.

Tahu tahu benda tersebut sudah menembusi pelindungan hawa khikang Sian thian bu khek ji gi sin kang disekeliling tubuhnya, kemudian menusuk masuk ke dalam dan menyusup ke dalam organ tubuhnya.

Sekarang Thi Eng khi baru menyadari akan datangnya ancaman bahaya maut, dengan wajah berubah hebat dia segera berpekik keras didalam hati kecilnya .

"Aduh... celaka!"

Tanpa membuang waktu lagi dia membalikkan tubuhnya sambil melancarkan sebuah pukulan kencang ke arah tubuh si kakek buta tersebut.

Siapa tahu, tatkala telapak tangannya menghajar diatas tubuh kakek buta itu, hanya kedengaran suara benturan yang amat nyaring belaka.

"Plaaaak...!"

Diiringi suara yang nyaring telapak tangan itu menghantam tubuh si kakek buta, namun sama sekali tidak menimbulkan luka atau akibat apapun.

Ternyata hawa murni yang berhasil dihimpunnya tadi kini sudah lenyap tak berbekas, seolah olah sebuah bola yang tahu tahu ditusuk dengan sebuah jarum, kontan bola itu menjadi kempes.

Sementara si anak muda itu merasa terperanjat, si buta itu sudah memutar balikkan biji matanya sehingga kelihatan kembali bola matanya yang hitam, sambil menatap pemuda itu dengan pandangan tajam, dia tertawa terkekeh dengan seramnya.

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh... Tong thian si kut ciam (jarum tajam penebus tulang) merupakan senjata yang khusus untuk menghancurkan hawa murni orang, bocah keparat, kau tertipu kali ini!"

Cay hong sian ci Liok Sun hoa ditarik putri kesayangannya berangkat meninggalkan Yap Siu ling dan Thi Eng khi, ketika dilihatnya perjalanan dilakukan semakin lama semakin cepat dan sama sekali tiada maksud untuk berhenti, rasa heran dan tercengang segera menyelimuti wajahnya.

Kepada putrinya yang amat murung itu dia menegur .

"Nak, kau ada persoalan apa? Sekarang boleh kau sampaikan kepadaku?"

Ketika itu pikiran maupun perasaan Ciu Tin tin sedang kalut sekali, pengalamannya selama setahun berkecamuk didalam benaknya, dia tak tahu harus berkisah dari mana lebih dahulu.

Akhirnya dia merasakan hatinya menjadi kecut dan titik air mata bagaikan layang layang putus berderai membasahi pipinya, dia berhenti ditepi jaian dan tidak melanjutkan perjalanannya lagi.

Dengan cepat Cay hong sian ci Liok Sun hoa memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang, kemudian tegurnya dengan gelisah .

"Nak, kejadian apakah yang telah kau alami? Cepat katakan kepadaku, tak usah disembunyikan didalam hati lagi, apabila disimpan terus badanmu bisa sakit dan aku akan semakin sedih!"

Perasaan Ciu Tin tin pada saat ini ibaratnya kuda yang terlepas dari talinya, dia tak sanggup mengendalikan diri lagi, sambil menubruk kedalam pelukan ibunya dia berseru.

"Oooh... ibu!"

Hanya sepatah kata saja yaag dapat dia ucapkan.

Sambil membelai rambut putrinya yang halus dengan penuh kasih sayang, Cay hong sian ci Liok Sun hoa membiarkan ia menangis sepuasnya kemudian sambil mengangkat wajahnya dia berkata sambil menghela napas panjang .

"Nak, apakah kau sedang bercekcok dengan bocah dari keluarga Thi itu.....?"

Bagaimanapun juga perasaan seorang ibu memang jauh lebih tajam, ternyata Cay hong san ci Liok Sun hoa berhasil menebaknya dengan jitu.

Ciu Tin tin segera mengangguk, lalu menggeleng lagi, dengan suara yang begitu lirih sehingga hanya ibunya saja yang mendengar, dia berbisik kembali .

"Tidak! Dia sama sekali tidak senang kepadaku....uuuh....uuuh... ."

Kembali dia menangis tersedu-sedu. Mendengar perkataan itu, Cay hong sian ci Liok Sun hoa mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian serunya dengan gusar .

"Kurangajar, dengan wajah anakku yang begini cantik, sekalipun belum bisa dikatakan tiada keduanya didunia ini, belum tentu bisa dijumpai berapa orang lagi, bocah muda itu benar benar punya mata tak berbiji, tidak bisa dibiarkan terus, ibu harus bertanya kepadanya, sebenarnya dia mempunyai maksud dan tujuan apa?"

Walaupun berkata demikian, padahal dia sama sekali tidak berniat untuk benar benar pergi menegur Thi Eng khi, apa yang diucapkan tak lebih hanya ingin mengurangi rasa kesal yang sedang mencekam perasaan putrinya belaka.

Menyusul kemudian, Cay hong sian ci Liok Sun hoa menghela napas panjang dan berkata lagi .

"Berbicara tentang bocah dari keluarga Thi itu baik soal wajah maupun soal ilmu silat semuanya memang bagus sekali bila kau bisa memperoleh seorang lelaki macam dia sebagai suami, tentu bahagia hidupmu, dengan begitu ibupun bisa mempertanggung jawabkan diri kepada ayahmu yang tak berperasaan itu! Cepat katakan kepadaku, persoalan apakah yang sedang melibatkan kalian berdua, agar ibu pun bisa turut memikirkan dan berusaha untuk memecahkannya!"

Ciu Tin tin segera menyeka air mati yang membasahi pipinya, lalu berkata agak lersipu.

"Dia orangnya baik sekali, cuma sedikit agak tidak mengerti soal kasih sayang."

Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa ringan.

"Nak, kau benar benar mengejutkan ibu kalau hanya persoalan sekecil ini, masa dengan kecerdasan otakmu juga tak dapat mengatasinya. Nak, bukankah ibu seringkali memberitahukan kepadamu dalam menghadapi persoalan apapun harus dikerjakan baik baik, harus punya kesabaran, jangan gampang putus asa, sekali gagal coba kedua kalinya, gagal lagi coba untuk ketiga kalinya, dengan begitu lama kelamaan apa yang kau harapkan sudah pasti akan tercapai...."

Dengan sedih Ciu Tin tin berkata .

"Sesungguhnya antara keluarga Ciu dan keluarga Thi mereka terdapat suatu persoalan yang sukar untuk dihilangkan dengan begitu saja. Itulah sebabnya ananda tak tahu apa yang harus dilakukan!"

Cay hong sian ci Liok Sun hoa sama sekali tidak tahu kalau Ciu Tin tin telah menganggap Lan in cu tok Thi Tiong giok sebagai ayahnya, dia mengira anak gadisnya berkenalan dengan Thi Eng khi sewaktu mencari ayahnya dan mereka saling jatuh cinta.

Itulah sebabnya dia menjadi agak bingung mendengar perkataan itu, ujarnya .

"Bukankah ayah si bocah dari keluarga Thi adalah Thi Tiong giok?"

Ciu Tin tin mengangguk.

"Yaa benar, memang dia orang tua!"

Kembali Cay hong sian ci Liok Sun hoa tertawa.

"Apa jeleknya? Dahulu ayahmu dan Thi Tiong giok adalah sahabat yang paling akrab, asal ibu mau menampilkan diri, persoalan apapun pasti akan beres dengan sendirinya!"

Sampai sekarang, Ciu Tin tin baru ingat kalau dia belum menceritakan kisahnya di mana berhasil menemukan jejak ayahnya kepada ibunya, teringat soal ayah, semua kemurungan segera hilang lenyap tak berbekas, sebagai gantinya sekulum senyuman menghiasi wajah gadis itu.

"Ibu, ananda akan menyampaikan sebuah kabar gembira kepadamu!"

Serunya kemudian Cai hong sian ci Liok Sun hoa mengira Ciu Tin tin melantur dan mengalami perubahan sikap sehingga bicaranya semakin tak karuan. Dengan kening berkenyit serunya .

"Nak, sampai dimana pembicaraanmu itu kau bawa?"

Ciu Tin tin ada maksud untuk membuat ibunya terkejut, dengan cepat dia berseru .

"Aku berhasil menemukan ayah!"

Betul juga, ucapan tersebut segera membuat Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi girang setengah mati, dia segera mencengkeram bahu Ciu Tin tin sambil menegaskan.

"Nak, apa kau bilang?"

"Ananda telah berhasil menemukan ayah!"

Ulang Ciu Tin tin lagi dengan wajah berseri.

Agaknya Cay hong sian ci Liok Sun hoa tidak kuat menghadapi berita gembira ini..

seketika itu juga dia merasakan kepalanya menjadi pening, badannya menjadi lemas dan gontai tiada hentinya.

"Aaaah..aaahh... ternyata dia masih hidup, ternyata dia masih hidup..."

Gumamnya tak henti.

"Ananda memang pantas ditegur, seharusnya berita gembira ini musti disampaikan cepat cepat kepadamu, tidak membuat ibu menjadi susah dan harus keluar rumah mencari diriku,"

Kata Ciu Tin tin lagi sambil memayang tubuh ibunya. Cay hong sian ci Liok Sun hoa menggelengkan kepalanya berulang kali, dengan pikiran yang jauh lebih jernih dia berkata .

"Benarkah itu nak? Persoalan besar seperti ini kenapa tidak kau sampaikan dulu kepada ibu?"

Mendadak kemurungan menyelimuti kembali wajah Ciu Tin tin, katanya lebih jauh .

"Oleh karena persoalan dari ayah mempunyai sangkut paut dengan keluarga Thi, sedangkan keluarga Thi sedang menghadapi suatu musibah besar, maka ananda harus menuruti keinginan ayah untuk secara diam diam melindungi keselamatan keluarga Thi, itulah sebabnya pula akupun tak punya waktu untuk pulang ke rumah dan menyampaikan kabar berita ini kepada kau orang tua."

"Apakah sudah kau tanyakan kepada ayahmu, kenapa selama dua puluh tahun lamanya dia tak pernah pulang rumah?"

Tanya Cay hong sian ci Liok Sun hoa lagi... Ciu Tin tin menerangkan lebih dahulu soal pertarungan antara Thi Tiong giok dengan ayahnya, kemudian dia baru menambahkan .

"Oleh karena ayah merasa menyesal sekali atas terjadinya peristiwa ini, rnaka beliaupun memutuskan untuk menjadi seorang hwesio. Ketika ananda berjumpa dengannya waktu itu, dia masih belum dapat melupakan peristiwa itu."

Cay hong sian ci Liok Sun hoa termenung dengan sedih, kemudian katanya pelan .

"Apa yang dilakukan ayahmu memang benar, ibu tak dapat menyalahkan dirinya."

Benar benar tak disangka kalau Cay hong sian ci Liok Sun hoapun merupakan seorang perempuan yang berpandangan luas dan berlapang dada. Menyusul kemudian, dia bertanya lagi .

"Apakah keluarga Thi sudah mengetahui akan persoalan ini?"

Ciu Tin tin mengangguk .

"Ya, mereka sudah mengetahui akan hal ini dan mereka bersedia untuk memaafkan ayah!"

Cay hong sian ci Liok Sun hoa memuji .

"Ibu dan anak dari keluarga Thi itu memang seorang yang mengagumkan, kalau memang begitu apakah yang menjadi pangkal persoalanmu sekarang?"

Jilid . 14 PARAS muka Ciu Tin tin kembali berubah menjadi amat sedih sekali sahutnya .

"Sebenarnya ananda mempunyai maksud untuk membuat pahala bagi keluarga Thi guna menebuskan dosa ayah, tapi rupanya adik Eng mengetahui akan hal ini dan ia tidak bersedia menerima kebaikan ananda!"

Dengan kening berkerut Cay hong sian ci Liok Sun hoa termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata .

"Nak, kalau begitu hal ini tak bisa disalahkan Thi Eng khi, seandainya dia menerima pembalasan semacam ini, bukankah hal ini akan membuatnya menjadi semakin murung?"

Ciu Tin tin menundukkan kepalanya rendah rendah, kemudian katanya dengan lirih .

"Ananda bukan bermaksud menyalahkan keadaannya, cuma saja.... cuma saja.... isi hati anda....."

Tiba tiba pipinya berubah menjadi merah dan tak sanggup untuk dilanjutkan lagi, Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera tertawa.

"Tak usah kuatir nak"

Katanya.

"bagaimanapun juga kita harus mencari sebuah cara yang baik untuk mengulangi persoalan ini, sekarang mari kita pergi mencari ayahmu, dia berada di mana?"

"Ayah tinggal di pagoda Ci hong kek di bukit Si soat!"

Maka kedua orang itupun segera berangkat menuju ke bukit Si soat san.

Pagoda Ci hong kek terletak dipungggung bukit sebelah barat, sepanjang jalan menuju ke kuil itu terdapat undak undakan batu yang berjumlah ratusan banyaknya.

Disebelah barat dan timur bangunan terdapat serambi, diserambi sebelah timur saling berhadapan dengan bukit Cian hud nia yang banyak terdapat batuan cadas.

Sedangkan serambi bagian barat menghadap bukit barat, puluhan kaki didepannya terdapat sumber mata air yang dinamakan Tin cu swey.

Waktu itu adalah bulan delapan musim gugur yang dingin, daun merah memenuhi permukaan tanah seperti sinar diwaktu senja pemandangan indah dan menawan hati.

Diatas permukaan tanah berlapiskan dedaunan merah itu, tampaklah dua sosok bayangan manusia sedang bergerak dengan kecepatan tinggi.

Yang berjalan didepan adalah Ciu Tin tin, sedangkan dibelakangnya mengikuti seorang perempuan setengah umur, tentu saja dia tak lain adalah Cay hong sian ci Liok Sun hoa.

Setelah melakukan perjalanan sekian waktu, akhirnya sampailah mereka dibawah bukit Ci hong cay.

Ciu Tin tin segera membuat muka setan kepada ibunya sambil berbisik .

"Ibu, tunggulah aku disini, ananda akan rnengundang ayah datang kemari, agar dia merasa terkejut bercampur gembira."

"Ciss.... kau lagi lagi menjadi nakal!"

Desis Cay hong sian ci Liok Sun hoa.

Tapi ia toh menyelinap pula kebelakang setumpukan daun merah dan menyaksikan Ciu Tin tin melanjutkan perjalanannya menuju ke kuil.

Ia merasa jantungnya berdebar amat keras, wajahnya tanpa terasa berubah pula menjadi merah padam.

Dengan suatu gerakan yang amat enteng Ciu Tin tin langsung mendekati jendela kamar sebelah barat, lalu mengintip kedalam.

Ditangannya membawa sebatang ranting kering, dia bermaksud untuk mengajak ayahnya bergurau.

Siapa tahu, apa yang kemudian terlihat olehnya membuat dia bergetar keras dan menjadi ragu.

Dalam kamar itu bukannya tak ada orang, yang berada disana tidak mirip ayahnya, orang itu duduk dengan membelakangi jendela, walaupun kepalanya juga gundul akan tetapi perawakan tubuhnya jauh lebih kecil daripada Huang oh siansu.

Ciu Tin tin menjadi keheranan setengah mati, pikirnya kemudian .

"Jangan jangan ayah sudah pindah ke tempat lain?"

Sementara dia masih ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan, mendadak orang yang berada dalam kamar itu telah membalikkan badannya berikut kursi yang didudukinya, cepat sekali gerakan tubuh orang itu, Ciu Tin tin hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan orang itu sudah berdiri dihadapannya.

Ternyata dia adalah seorang nikou kecil berusia tujuh delapan belas tahunan, sambil manggut manggut ke arah Ciu Tin tin seraya berkata .

"Apakah nona Ciu yang berdiri diluar jendela? Pinni sudah lama sekali menantikan kedatanganmu!"

Ciu Tin tin tidak mengira kalau nikou kecil itu kenal dengannya, dengan wajah tercengang karena keheranan, tegurnya .

"Sau suhu, tolong tanya siapa namamu?"

Tiba tiba nikou kecil itu tertawa tergelak, katanya .

"Pinni Sim ji, apakah nona Ciu juga pernah mendengar namaku disebut orang..."

Ciu Tin tin harnpir saja tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dengan cepat mengulangi lagi pertanyaannya .

"Oooh.... jadi sau suhu adalah muridnya Sim ji Sinni?"

"Pinni lah Sim ji!"

Jawab Sim ji sinni sambil tersenyum.

Melihat wajah yang serius, Ciu Tin tin mengira nikou itu sedang berlagak hendak menggunakan nama besar dari Sim ji sinni untuk menggodanya, maka kontan saja dia tertawa terpingkal pingkal.

"Sau suhu, kau jangan menggertak orang walaupun siaumoay belum pernah bersua dengan Sim ji sinni dia orang tua, namun aku juga tahu kalau kau telah melanggar pantangan untuk berbohong."

Perlu diketahui, Sim ji sinni adalah seorang nikou saleh yang sudah termashur hampir seratus tahun lamanya, kepandaian silat yang dimilikinya amat lihay dan tiada taranya didunia ini, seandainya belum mati, usianya juga berada diatas seratus tahun, mana mungkin dia bisa berwujud seorang nikou berumur tujuh delapan yang berada dihadapan matanya sekarang?

Oleh karena itu, Ciu Tin tin lantas menuduh nikou muda itu telah melanggar pantangan berbohong.

Sim ji sinni yang berada didalam kamar hanya tersenyum belaka, ia sama sekali tidak membantah lagi.

Tapi pada saat itulah dari belakang tubuh Ciu Tin tin telah terdengar suara Cay hong sian ci Liok Sun hoa yang sedang menegur .

"Anak Tin, mengapa kau tak tahu sopan santun? Setelah berjumpa dengan Sim ji locianpwe kenapa belum juga memberi hormat?"

Rupanya Cay hong sian ci Liok Sun hoa tidak sabar untuk menunggu terlalu lama, maka diapun menyusul ke sana.

Menanti Ciu Tin tin membalikkan kepalanya, dia saksikan ibunya sudah menyembah dihadapan nikou itu sembari berkata .

"Boanpwe Liok Sun hoa beserta putri boanpwe Ciu Tin tin menghunjuk hormat buat locianpwe."

Setelah menyaksikan ibunya pun turut menyembah, Ciu Tin tin tak berani banyak berbicara lagi, buru buru dia turut berlutut sambil berkata dengan ketakutan .

"Boanpwe masih muda dan cetek pengetahuannya, harap Lo sutay bersedia memaafkan kesalahanku."

Baru selesai perkataan itu diutarakan, Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa merasakan tubuhnya menjadi enteng, entah kepandaian apakah yang telah dipergunakan oleh Sim ji nikou, tahu tahu mereka sudah ditarik masuk ke dalam kamar, bahkan posisi mereka yang sedang berlutut tadi kinipun menjadi berdiri.

Semua kesangsian yang semula masih menyelimuti benak Ciu Tin tin dengan cepat berubah menjadi kekaguman yang tak terhitung, dengan termangu mangu dia hanya bisa mengawasi wajah Sim ji sinni tanpa berkedip.

Sim ji sinni segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Cay hong sian ci Liok Sun hoa, kemudian ujarnya sambil tertawa .

''Nona Liok, mungkin sudah ada tiga puluh lima enam tahunan kita tak pernah saling bersua bukan, aku masih ingat ketika itu kau masih berumur sepuluh tahun, masih merupakan seorang nona cilik yarg nakalnya bukan alang kepalang."

Mendengar kalau Sim ji sinni masih teringat dengannya, Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi amat gembira sekali, serunya dengan penuh rasa hormat .

"Tahun ini boanpwe berusia empat puluh delapan tahun, kalau dihitung memang sudah ada tiga puluh delapan tahun lamanya tak pernah bersua dengan kau orang tua, sungguh tak nyana wajah kau orang tua masih seperti sedia kala, bahkan semangatnya masih nampak segar, benar benar membuat malu kami yang menjadi boanpwe saja."

"Aaah... hanya tanpa sengaja pinni berhasil makan buah Tiang kim ko yang bisa membuat orang awet muda, itu mah tidak terhitung seberapa, aku lihat putrimu justru berbakat bagus, sungguh membuat pinni merasa kagum sekali."

Sambil berkata dengan sepasang matanya yang jeli dan tajam dia awasi Ciu Tin tin tak berkedip, membuat gadis itu menjadi serba salah dan rikuh sekali.

Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera menyadari apa maksud dari perkataan nikou itu, kejut dan girang membuatnya menjerit tertahan .

"Kau...kau orang tua .... Apakah kau orang tua menganggap Tin tin masih bisa dididik?"

Dalam gembiranya, dia sampai lupa memberi tanda kepada Ciu Tin tin. Sambil menjatuhkan diri berlutut, serunya .

"Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwe untuk menerimanya!"

Sim ji sinni segera tertawa, tukasnya .

"Nona Liok, yang harus memberi hormat bukan kau melainkan putrimu."

Segulung tenaga yang amat besar segera membimbing tubuh Cay hong sian ci untuk bangkit berdiri.

Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi tersipu sipu, sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata .

"Setelah mendengar kabar gembira dari locianpwe, hampir saja boanpwe menjadi lupa diri." ''Aku lihat putrimu mempunyai pandangan lain, belum tentu dia bersedia menjadi murid pinni."

Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera berpaling kearah putrinya sambil berseru .

"Tin tin, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa tidak cepat cepat memberi hormat kepada suhu?"

Betul juga, Ciu tin tin segera menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

"Aaai.... ayah pernah berkata kepada boanpwe, dia hendak mencarikan seorang suhu yang baik untuk boanpwe dan boanpwe telah meluluskan permintaan dia orang tua, atas kebaikan hati locianpwe yang memandang diriku, boanpwe merasa berterima kasih sekali, tapi boanpwe tak ingin sembarangan mengangkat guru tanpa persetujuan ayah, karena itu harap locianpwe sudi memaafkan."

"Tahukah kau siapakah yang hendak dicarikan oleh Huang oh siansu untuk dijadikan gurumu?"

Tanya Sim ji sinni.

Semestinya, Sim ji sinni harus membasahi 'Huang oh sinni' sebagai "ayahmu' cuma hal tersebut sama sekali tidak menarik perhatian Ciu Tin tin berdua.

Dengan wajah yang terang, gadis itu segera menggeleng.

"Ayahku tidak memberi keterangan apa-apa,"

Sahutnya. Dengan suara yang tegas Sim ji sinni lantas berkata . ''Pinni bertanya andaikata aku adalah orang yang diundang Huang oh siansu untuk menjadi gurumu, apakah kau mengakuinya?"

Dihadapkan pada pertanyaan yang sangat aneh ini, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Ciu Tin tin sekalipun dia merasakan pertanyaan itu kurang wajar namun belum terpikirkan olehnya kalau Huang oh siansu sebetulnya bukan ayahnya.

Maka sahutnya kemudian .

"Huang oh siansu adalah ayahku, perkataan dari Huang oh siansu sama dengan ucapan dari ayahku!"

"Andaikata perkataan dari Huang oh siansu tak dapat melambangkan maksud hati dari ayahmu?"

Tanya Sim ji sinni tibatiba dengan wajah amat serius. Cay hong sian ci Liok Sun hoa lantas menimbrung .

"Walaupun suamiku telah menjadi seorang pendeta, namun terhadap istri dan anak sendiri tidak seharusnya memandang asing, ucapan dari locianpwe itu sungguh membuat boanpwe sekalian merasa tidak habis mengerti."

Sim ji sinni menggelengkan kepalanya berulang kali dengan kening berkerut ujarnya .

"Apakah kalian berdua masih menganggap Huang oh siansu sebagai Gin ih kiam kek (jago pedang baju perak) Ciu Cu giok?"

Mendengar pertanyaan itu, paras muka Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa berubah sangat hebat serunya tergagap .

"Apakah dia .... apakah dia....."

Untuk sesaat mereka tak berani melanjutkan kembali kata katanya. Sambil menghela napas panjang Sim ji sinni mengangguk, sahutnya pelan .

"Yaa, Huang oh siansu bukan orang lain, dia adalah Lan sin cu tok (pemuda tampan berbaju biru) Thi Tiong giok yang angkat nama bersama sama Gin ih kiam khek!"

Suara yang berat dan kata kata yarg mengejutkan betul betul menggetarkan perasaan.

Dalam keadaan sama sekali tidak siap, kabar berita itu cukup membuat Ciu Tin tin berdua merasakan pukulan batin yang sangat berat, tanpa bisa membendung gejolak perasaan mereka lagi, kedua orang itu saling berpelukan sambil menangis tersedu sedu.

Sim ji sinni membiarkan mereka berdua menangis sepuas puasnya sampai semua kepedihan yang mencekam perasaan mereka terlampiaskan keluar, kemudian dengan suara lembut, ia baru berkata .

"Dalam peristiwa yang menyangkut soal keluarga Ciu dan keluarga Thi, berbicara yang sebenarnya, Thi Tiong giok sama sekali tidak salah, kalian tak boleh terlampau menyalahkan dirinya."

Ciu Tin tin menjadi teringat kembali dengan nasehat yang dilontarkan kepada Thi Eng khi ketika pada waktu itu dia mengira Thi Tiong giok sebagai ayahnya, sungguh tak disangka perkataan itu sama halnya dengan menasehati diri sendiri.

Kini,dia tak dapat berkata apa apa lagi, dengan suara yang amat sedih ia lantas berseru.

"Ibu...oooh, ibu..... empek Thi..... dia...."

Belum selesai dia berkata, Cay hong sian ci Liok Sun hoa telah menyeka air matanya dan berkata dengan serius .

"Nak, kau tak usah kuatir, ibu masih bisa memandang persoalan ini jauh lebih luas. Ketika itu pihak keluarga Thi pun bisa melupakan soal dendamnya terhadap keluarga Ciu, bahkan menganggap kau sebagai putri sendiri. Apakah keluarga Ciu kita tak dapat pula berbuat seperti apa yang dilakukan keluarga Thi? Aku pasti akan menganggap pula engkoh Engmu itu sebagai anakku sendiri. Kalau harus disalahkan maka nasib kita yang jeleklah yang harus disalahkan, akupun tak akan berkata lebih banyak dari sepatah kata itu saja."

Sim ji ji Sinni yang mendengar perkataan itu menjadi terharu sekali, tak tahan dia lantas menghela napas sambil memuji .

"Kalian keluarga Ciu dan keluarga Thi bisa sama sama berjiwa besar dan bersikap dewasa, hal ini benar benar merupakan suatu contoh yang patut diikuti oleh umat persilatan lainnya, loni turut bergembira sekali atas kejadian ini, moga moga saja apa yang telah kalian lakukan hari ini akan mempengaruhi pula keadaan dalam dunia persilatan pada umumnya!"

Setelah menghela napas panjang, nikou itu berkata lebih jauh .

"Berbicara kembali tentang peristiwa pada waktu itu pinni boleh dibilang merupakan satunya satunya orang yang ikut menyaksikan satu musibah tersebut."

"Apakah waktu itu locianpwe juga hadir disana?"

Tanya Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa hampir bersama.

"Pinni telah datang terlambat, waktu itu ayahmu telah meninggal dunia ....."

Setelah berhenti sebentar, terusnya .

"Sedangkan Lan sin cu tok Thi Tiong giok berlutut disamping jenasah ayahmu sambil menangis tersedu-sedu, melihat itu pinni lantas menyembunyikan diri, aku ingin melihat bagaimanakah sikapnya menghadapi peristiwa tersebut. Setelah menangis sampai air matanya mengering dan jatuh pingsan beberapa kali, Lan sin cu tok Thi Tiong giok baru menggali sebuah liang dan mengubur jenasah ayahmu, kemudian dicarinya dua buah batu bongpay, pada batu bongpay yang pertama diukir nama ayahmu sedangkan pada batu bongpay yang lain dituliskan kata "Tempat bersemayan Thi giok", setelah itu dia menggali sebuah liang lagi, memasang batu nisan itu dan membaringkan diri ke dalam liang, lalu dengan ilmu tenaga dalamnya dia hisap tanah pasir itu ke atas tubuhnya dengan tujuan menguburnya hidup hidup agar bisa mengiringi kematian temannya."

Mendengar sampai disitu, Liok Sun hoa serta Ciu Tin tin menjadi terkejut sekali sehingga tanpa terasa berseru tertahan kemudian mereka memuji bersama .

"Empek Thi memang merupakan seorang lelaki yang luar biasa didunia ini!"

Sim ji sinni tertawa pelan, katanya lagi .

"Setelah menyaksikan orang yang begitu perkasa dan setia kawan, tentu saja Pinni tak dapat membiarkan dia mati dengan begitu saja, maka pinnipun menampakkan diri dan mencegah keinginannya untuk bunuh diri, setelah menasehatinya selama tiga hari tiga malam ia baru bersedia mengurungkan niatnya untuk mati dan masuk menjadi pendeta."

Setelah mendapat keterangan dari Sim ji sinni ini, Ciu Tin tin dan ibunya baru mengerti bahwa kebesaran Thi Tiong giok serta kesetia kawannya jauh melebihi apa yang mereka bayangkan semula.

Terdengar Sim ji sinni berkata lebih lanjut .

"Untuk mendidik anak Tin menjadi seorang pendekar, Huang oh siansu sengaja meminta kepada pinni untuk menerimamu menjadi murid, pinni dapat merasakan kebesaran jiwanya itu, maka akupun tidak menampik keinginannya tersebut. Selain daripada itu, Huang oh siansu telah menyerahkan kepada pinni beberapa macam obat obatan mestika yang berhasil dikumpulkan selama banyak tahun ini untuk digunakan oleh anak Tin!"

Makin berbicara Sim ji sinni berkata semakin keras, sehingga akhirnya karena terharu Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa sampai mengucurkan air matanya.

Pada saat itu dari luar pintu ruangan berkumandang suara pujian kepada sang Buddha .

"Omimohud!"

Kemudian seseorang berkata .

"Sinni terlalu memuji, siauceng tidak berani menerimanya."

Seorang hwesio muda pelan pelan berjalan masuk ke ruangan dan menuju ke hadapan Ciu Tin tin berdua.

Pendeta itu tak lain adalah Huang oh siansu.

Setibanya dihadapan kedua orang itu, dia lantas merangkap tangannya didepan dada sembari berkata .

"Terima kasih banyak atas kesediaan enso dan Hian titli untuk memaafkan dosa dosaku."

Paras muka Cay hong sian ci Liok Sun hoa berubah hebat, tapi sejenak kemudian telah pulih kembali menjadi sedia kala bahkan sambil balas memberi hormat sahutnya .

"Empek Thi amat setia kawan dan berjiwa besar, kami keluarga Ciu merasa terima kasih ...."

Diam diam Ciu Tin tin menarik ujung baju Cay hong sian ci Liok Sun hoa, walaupun ia tidak berkata apa apa, namun hubungan batin antara ibu dan anak memang biasanya erat sekali.

Dengan cepat ia memahami apa yang dimaksudkan putrinya itu maka sambil tersenyum dia manggut manggut.

Ciu Tin tin segera maju kehadapan Huang oh siansu, kemudian ujarnya .

"Ayah, Tin tin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam dalamnya kepada kau orang tua, dimana kau telah melindung kami..."

Mendengar Ciu Tin tin masih menyebut ayah kepadanya, Huang oh siansu nampak agak tertegun menyusul kemudian katanya setelah menghela napas panjang.

"Nak, panggilanmu itu memang tepat sekali dan pinceng menerima panggilanmu itu padahal aku memang sudan lama menganggap dirimu sebagai anakku sendiri!"

Dari perkataan itu, tak bisa disangkal lagi kalau dia mengartikan bahwa Ciu Tin tin telah dianggap sebagai anak menantunya.

Perlu diketahui, perkawinan pada jaman itu tidak sebebas sekarang, waktu itu perkataan dari orang tua jauh lebih bernilai daripada hubungan cinta kasih secara pribadi, sedang kaum pemudanya waktu itu juga tak berani membangkang perintah dari orang tuanya.

Oleh sebab itu, setelah ada janji dari Huang oh siansu, tak nanti Thi Eng khi bisa lolos dari cengkeraman Ciu Tin tin lagi.

Tentu saja Ciu Tin tin maupun Liok Sun hoa memahami akan hal ini, diam diam perasaan merekapun menjadi sangat lega.

Walaupun dalam perkataannya Huang oh siansu telah menyampaikan maksud hatinya namun didalam sopan santun, dia masih tetap harus melaksanakan cara meminang yang berlaku pada waktu itu.

Maka sambil menjura lagi kepada Cay hong sian ci Liok Sun hoa, dia berkata .

"Pinceng atas nama anakku Eng khi hendak meminang putri enso untuk dijadikan istrinya, apakah enso tidak merasa keberatan?"

Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera tertawa.

"Anak Tin tidak cantik, ilmu silatnya cetek lagi bodoh, kuatirnya tidak cocok untuk mendampingi putra anda."

Tentu saja itupun hanya kata sopan santun belaka, padahal sesungguhnya pinangan tersebut telah diterima. Sim ji sinni yang berada disampingnya segera menimbrung sambil tertawa lebar .

"Siapa yang berani mengatakan kalau murid pinni tak pantas untuk rnendampingi seorang bocah berandal?"

Kembali Huang oh siansu menjura kepada Sim ji sinni seraya berkata .

"Pinceng memohon kepada Sinni agar bersedia menjadi mak comblang untuk perkawinan ini."

"Baik, sampai waktunya pinni pasti akan melaksanakan tugas ini,"

Sahut Sim ji sinni sambil tertawa.

"nah, anak Tin, mari ikut pinni pulang ke gunung sekarang juga."

Ciu Tin tin berdua tidak menyangka kalau Sim ji sinni secepat itu akan pergi.

Mereka sudah lama hidup bersama,kini harus hidup berpisah beberapa tahun rasa berat hati muncul juga dalam hati mereka.

Sementara itu Huang oh siansu telah merangkap tangannya sambil berkata .

"Semoga sinni selamat sepanjang jalan!"

Tak disangkal lagi dia hendak memberitahukan kepada Ciu Tin tin dan ibunya agar mengeraskan hatinya dan membiarkan Ciu Tin tin mengikuti Sim ji sinni pergi memperdalam ilmunya.

Ciu Tin tin amat menguatirkan keadaan Thi Eng khi, tak tahan dia lantas berbisik kepada ibunya .

"Ibu, jika adik Eng datang mencariku, kau harus berpesan kepadanya agar dia mau bersabar dalam menghadapi setiap persoalan."

Penampilan rasa cinta yang amat mendalam segera nampak pada mimik wajahnya itu. Sim ji sinni yang melihat keadaan itu segera tertawa geli, katanya dari samping.

"Emas murni tidak takut api, buat apa mesti kau cemaskan?"

Merah padam selembar wajah Ciu Tin tin karena jengah, dia lantas membalikkan badannya sambil berseru manja .

"Aaah, suhu...."

"Hayo berangkat!"

Tukas Sim ji sinni.

Sambil menarik tangan Ciu Tin tin, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tahu tahu kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Sekalipun Huang oh siansu dan Cay hong sian ci memilik kepandaian silat yang sangat lihai, ternyata kedua orang itu tidak berhasil melihat jelas bagaimana caranya nikou sakti itu berlalu dari sana.

Dengan perasaan kaget bercampur kagum Cay hong sian ci Liok Sun hoa menghela napas panjang, gumamnya .

"Tidak kusangka dia orang tua yang telah berusia seratus tahun lebih masih tetap segar bugar seperti orang muda saja. Aaai... mungkin nasib anak Tin memang lagi mujur."

"Hatinya yang penuh welas kasih bagaikan hati pousat itulah yang membuat ia bersedia untuk mengabulkan permintaan pinceng. Yaaa, dia memang seorang yang mengagumkan."

Berbicara sampai disitu, Huang oh siansu mengambil keluar sebilah pedang antik bersarung perak dan diserahkan kepada Cay hong sian ci sambil katanya .

"Inilah pedang Gin kong liu soat kiam milik saudara Cu giok, harap enso bersedia untuk menerimanya kembali, maaf pinceng harus mohon diri lebih dahulu."

Menyebut kembali pedang Gin kong liu soat kiam milik mendiang suaminya, Cay hong sian ci Liok Sun hoa merasakan hatinya amat kecut sehingga tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, tak tahan dia lantas melengos ke arah lain.

Menanti dia berpaling kembali, bayangan tubuh Huang oh siansu telah lenyap dari pandangan mata.

Untuk sesaat dia berdiri tertegun dengan perasaan sedih yang bercampur aduk dalam hati sampai lama, lama kemudian dia baru beranjak pergi dan menuruni bukit Si soat san.

Tatkala Thi Eng khi sadar kembali, dia merasakan dirinya dimasukkan orang ke dalam sebuah peti mati, suasana gelap gulita, keempat anggota badannya lemah tak bertenaga dan sedikitpun tak mampu untuk bergerak.

Telinganya sempat mendengar suara bentakan bentakan diluar serta bunyi roda kereta yang melindungi, dia telah menyadari sekarang bahwa dirinya sedang diangkut orang menuju kesuatu tempat tertentu.

Diam diam dia lantas mencoba untuk menghimpun kembali tenaga Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya, namun hasilnya nihil, sekalipun telah berusaha sekian lama, tiada hasil apapun yang berhasil didapatkan.

Ternyata jarum Tong thian si kut ciam mempunyai keistimewaan untuk membuyarkan hawa murni jang berada dalam tubuh seseorang, barang siapa kena tertusuk maka bila tidak berlatih lagi selama seratus hari dengan tekun, jangan harap tenaga dalamnya bisa dihimpun kembali seperti sedia kala.

Thi Eng khi baru tertusuk dua tiga hari masih amat lama, sudah barang tentu dia tak mampu untuk menghimpun kembali tenaga dalamnya.

Sedangkan mengenai tangan dan kaki Thi Eng khi tak bisa berkutik, lantaran secara beruntun dia telah ditotok jalan darah tidur dan lemasnya, setelah melewati waktu yang cukup lama, sekujur tubuhnya menjadi kaku dan hilang rasa.

Thi Eng khi bukan seorang yang rela menyerah dengan begitu saja, kendatipun hatinya merasa amat kecewa namun semangatnya tidak luntur, setelah melewati percobaan demi percobaan yang dilakukan berulang kali untuk menggerakkan kembali tangan kakinya lama kelamaan sepasang tangannya dapat digerakkan juga, hanya bagaimana pun juga dia berusaha untuk menyalurkan tenaga, tiada sedikit kekuatanpun yang dimilikinya.

Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus memutar otak untuk mencari akal guna menyelamatkan diri.

Banyak sudah akal yang didapatkan namun semuanya tidak mendatangkan hasil apa apa, akhirnya dia teringat dengan Pil Toh mia kim wan yang dimiliki Thian liong pay turun temurun.

Konon obat mustika itu memiliki kemampuan untuk menghimpun kembali tenaga orang yang sudah hampir mati, cuma tidak diketahui apakah obat itu masih berada dalam sakunya atau tidak?

Setelah diperiksa isi sakunya, entah karena kecerobohan orang atau memang nasibnya lagi mujur, ternyata sakunya sama sekali tidak diperiksa, semua benda miliknya masih berada disana.

Dengan tekad untuk mencoba semua kesempatan yang ada, dia segera mengambil sebutir pil Toh mia kim wan dan ditelan sebutir.

Berbicara tentang Toh mia kim wan milik Thian liong pay, Keng thian giok cu Thi Keng sebenarnya hanya memiliki tiga butir, Kay thian jiu Gui Tin tiong telah menggunakan sebutir untuk menolong jiwa Ban li tui hong Cu Ngo, itu berarti seharusnya ada dua butir lagi, tapi dalam pesan terakhirnya Kay thian jiu Gui Tin tiong mengatakan pil mestika Toh mia kim wan masih ada tiga butir, hal ini berarti menjadi kelebihan satu butir, lalu bagaimana sebenarnya?

Kenyataan yang sebetulnya, Keng thian giok cu Thi Keng memang hanya meninggalkan tiga butir pil Toh mia kim wan, setelah digunakan untuk menolong Ban li tui hong Cu Ngo sebutir maka sisanya tinggal dua butir lantas kenapa dalam pesan terakhirnya Kay thian jiu Gui Tin tiong mengatakan masih ada tiga butir?

Rupanya jauh sebelum Keng thian giok cu Thi Keng pergi meninggalkan rumah dulu, ia pemah menghadiahkan sebutir pil mestika Toh mia kim wan untuk Kay thian jiu Gui Tin tiong namun pil tersebut tak pernah digunakannya, hingga menjelang saat kematiannya, dia hadiahkan pula pil itu untuk Thi Eng Khi, dengan begitu jumlahnya menjadi tiga butir.

Sampai detik ini Thi Eng khi telah memakai dua butir yakni satu butir diberikan Huang oh siancu kepadanya ketika berada dibukit Bong soat hong, dan kini menelan sebutir lagi, berarti sisa yang berada dalam sakunya kini benar benar tinggal sebutir.

Dalam itu pula ketika Thi Eng khi telah menelan pil Toh mia kim wan, dia segera merasakan dari pusarnya muncul kekuatan yang melonjak lonjak sewaktu dia tarik napas panjang, ternyata hawa murninya telah meluncur kembali ke seluruh anggota badannya, bagaikan gulungan ombak samudera dalam waktu singkat segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah pulih kembali seperti sedia kala.

Dalam girangnya dia menggerakkan telapak tangannya siap menjebol peti mati dan memberi hajaran kepada si peramal buta yang mencelakainya itu, namun setelah telapak tangannya menempel di atas tutup peti mati itu, mendadak satu ingatan lain melintas dalam benaknya, dia lantas berpikir lebih jauh.

"Kenapa aku tidak menggunakan siasat untuk melawan siasat? Akan kulihat permainan busuk apakah yang hendak mereka lakukan terhadap diriku..?"

Setelah ingatan tersebut melintas lewat, dia segera menarik kembali tenaga serangannya dan mengatur pernapasan dengan tenang sambil menantikan datangnya kesempatan baik.

Dua hari sudah lewat, dalam dua hari ini ternyata tiada orang yang menggubris dirinya, tak ada pula yang menggubris soal makan dan minumnya, untung saja tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu amat sempurna hingga meski kelaparan ia sanggup untuk mempertahankan diri.

Tapi setelah rasa lapar mengusik pikirannya, dia tak sanggup lagi untuk bersemedi dengan baik.

Akhirnya kereta itu seperti berhenti dalam sebuah halaman besar menyusul kemudian ada orang yang menggotong turun peti mati itu dan dihantar masuk kedalam ruangan dalam.

Sebelum penutup peti mati itu dibuka, terdengar suara dari Pek leng siancu So Bwe leng sedang berteriak teriak keras .

"Kalian semua terlalu kejam, mengapa kalian sekap dia dalam peti mati? Mana dia tahan?"

Menyusul kemudian terdengar Huan im sin ang menjawab .

"Bocah muda ini sangat buas dan tak tahu diri, seandainya tidak diberi pelajaran, darimana dia bisa merasakan penderitaan dan kesungguhan hatimu kepadanya?"

"Cepat kalian buka penutup peti mati itu, dia bisa tak tahan?"

Seru Pek leng Siancu lagi gelisah.

Tatkala Thi Eng khi mendengar ucapan dari Pek leng siancu So Bwe leng tersebut, diam diam ia menghela napas dan merasa terharu sekali.

Menyusul kemudian, ia mendengar ada suara bisikan selirih suara nyamuk berkumandang disisi telinganya.

"Bocah keparat, sebelum kau keluar, ada beberapa persoalan hendak lohu pesankan kepadamu . Pertama, So Bwe leng telah kulukai urat sim kengnya dengan menggunakan ilmu Jit sat hian im ceng khi, jika ia tidak mempelajari ilmu silat lohu, tak sampai satu tahun nadinya akan membeku yang berakibat kematian,itu berarti mati hidupnya hanya tergantung pada pemikiranmu sendiri sampai waktunya jangan kau salahkan lohu tidak memberi peringatan. Kedua, setelah terkena jarum Tong thian ti kut ciam milik lohu tenaga dalammu telah buyar, dalam seratus hari mustahil bagimu untuk menghimpun kembali kekuatan yang kau miliki, maka lohu peringatkan kepadamu, jika kau masih menginginkan selembar jiwamu, setelah keluar nanti ikuti semua perkataan yang kusampaikan kalau tidak, lohu akan menyuruh kau merasakan kelihayanku. Ketiga, untuk membuat So Bwe leng mendengarkan semua perkataanku dengan tenang aku pernah mengutus orang untuk menyaru sebagai kau dan disekap dalam ruang batu dibukit Ci sia san, bulan berselang lohu pernah mengajaknya ke sana untuk menengok orang itu, maka dalam pembicaraanmu nanti, kau harus perhatikan hal ini baik baik, jangan biarkan dia sampai menaruh curiga. Pokoknya, bila kau sampai memporak porandakan persoalan lohu maka lohu tak akan membiarkan kau merasakan kebaikan apapun. Aku harap kau bisa memahami persoalan ini dengan sebaikbaiknya."

Mendengar semua perkataan itu, Thi Eng khi merasa geli sekali, tapi untuk berlagak seolah olah tenaga dalamnya memang belum pulih kembali, terpaksa ia musti berlagak pilon dengan menuruti kata katanya.

Tak selang berapa saat kemudian, penutup peti mati dibuka dan Thi Eng khi diseret keluar dari dalam peti mati.

Ketika memandang kehadiran Huan im sin ang yang berdiri dihadapannya, timbul juga perasaan mendongkol didalam hatinya dengan suara mengejek, sindirnya .

"Terima kasih banyak atas perlayanan yang amat bagus untuk siauseng selama ini!"

Huan im sin ang tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh....haaahhh ..... haaaahhh...... saudara cilik tak usah sungkan, seandainya Bwe leng si bocah ini tidak rindu kepadamu tiap hari, jangan harap kau bisa keluar dari dalam ruangan batu itu...."

Huan im sin ang segera berkelit ke samping dan memberi jalan lewat untuk So Bwe leng, segera tampak sesosok bayangan hijau berkelebat lewat dihadapan orang banyak ternyata gadis itu memeluk Thi Eng Khi erat-erat sambil menangis terisak.

"Oooh... engkoh Eng, akhirnya kau lolos juga dari kurungan!" ''Adik Leng, aku sungguh merasa berterima kasih sekali kepadamu!"

Terpaksa Thi Eng khi harus berlagak dengan membohongi gadis itu.

Pek leng siancu So Bwe leng bersandar mesra dalam rangkulan Thi Eng khi sekian lamanya dia bersandar sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan rangkulan itu.

Thi Eng khi merasa terharu sekali oleh cinta kasihnya, diapun merasa enggan untuk mendorongnya, maka ia biarkan gadis itu bersandar dalam pelukannya sambil melelehkan air mata.

Lama kelamaan Huan im sin ang tidak tahan juga, dengan kening berkerut lantas berseru .

"Anak leng, kita harus segera melanjutkan perjalanan!"

Setelah mendengar teguran itu So Bwe leng baru mendongakkan kepalanya dan berkata kepada Huan im sin ang .

"Aku ingin naik kereta bersama engkoh Eng!'' "Boleh saja,"

Jawab Huan im sin ang sambil tertawa seram.

"Tapi kau tak boleh nakal, kau harus tahu, tanpa bantuan dari lohu, jangan harap tenaga dalam yang dimiliki engkoh Eng mu bisa pulih kembali seperti sedia kala."

Thi Eng khi tidak tahu cerita bohong apakah yang telah diciptakan oleh Huan im sin ang untuk membohongi Pek leng siancu, oleh karena dia sudah mempunyai suatu tujuan tertentu, lagipula kuatir Pek leng siancu tak bisa memegang rahasia maka pemuda itu bertekad untuk merahasiakan hal itu dihadapan So Bwe leng, sebaliknya terhadap Huan im sin ang dia tertawa dingin tiada hentinya.

Pek leng siancu So Bwe leng segera mengajak Thi Eng khi naik keatas sebuah kereta besar berwarna hijau, diiringi dua puluh empat orang lelaki berpakaian ringkas, berangkatlah rombongan itu menelusuri jalan raya.

Ditengah jalan, Thi Eng khi berbisik kepada Pek leng siancu So Bwe leng .

"Adik Leng, kita akan berangkat ke mana?"

"Menuju ke bukit Siong san untuk menghadiri pertemuan besar.'' "Adik Leng mengapa kau bersedia diperalat olehnya? Apakah kau tidak kuatir So yaya menjadi marah?"

"Tapi aku toh tak bisa tidak menggubris dirimu!"

Jawab Pek leng siancu SO Bwe leng dengan wajah serius.

Thi Eng khi makin terharu sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Dinding istana Ci bu ciat berada di sebelah barat loteng istana Tay si ciat, selisih jaraknya antara tiga li dan disebut Say ciat, dinding loteng istana itu didirikan oleh Raja Han pada tahun Siang kong kedua.

Bentuk dinding istana ini menyerupai pintu gerbang dan terbuat dari batu cadas.

Pertemuan besar para jago kali ini diselenggarakan diatas sebuah tanah lapang yang luas.

Ci bu ciat menjadi pintu gerbang pertemuan tersebut....

Di tengah tanah lapang itu dibuat sebuah lingkaran seluas puluhan kaki dari batu kapur putih, bagian luar lingkaran tersebut tepatnya menghadap ke arah pintu gerbang telah tersedia puluhan buah meja, agaknya tempat itu sengaja dipersiapkan bagi kawanan jago persilatan yang termashur dalam dunia persilatan sebaliknya tempat yang tidak tersedia meja ditujukan bagi kawanan jago persilatan lainnya untuk berdiri.

Biasanya mereka yang tidak ternama justru merupakan penonton yang paling bersemangat, tidak berbeda pula dengan keadaan kali ini, belum lagi tengah hari tiba tempat berdiri disekeliling arena pertemuan sudah penuh dengan lautan manusia.

Tengah hari tepat, dengan dipimpin oleh pihak Siau lim pai dan Bu tong pay, kawanan jago masuki arena pertemuan dan menempati kursi yang tersedia dibagian kiri.

Tak lama kemudian serombongan jago lagi muncul disana dibawah pimpinan Tiang pek lojin dan menempati kursi kursi bagian kanan.

Seketika itu juga suasana dalam arena menjadi tegang, semua orangpun merasakan napasnya menjadi memburu cepat.

Tapi bagi mereka yang teliti dan lebih tenang, dengan cepat menemukan beberapa hal yang mencurigakan pada wajah kedua belah pihak yang bertentangan itu, seakan akan sifat dari pertemuan itu sudah mengalami perubahan besar.

Dalam kenyataan, sifat dari pertemuan tersebut memang benar benar telah mengalami perubahan yang besar sekali.

Adapun sebab utama dari perubahan sifat pertemuan itu tentu saja berkat diplomasi ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang mondar mandir kesana kemari membicarakan masalan yang terjadi itu.

Tapi yang menjadi pokok utama dari perubahan suasana tersebut adalah gagalnya Huan im sin ang di dalam melaksanakan rencana buruknya.

Dia tidak seharusnya mengatur perjanjian yang tidak mendatangkan hasil ketika itu sehingga hal mana membuat Tiang pek lojin mulai melakukan pengecekan terhadap semua yang telah dilakukannya sekarang serta menyadari akan munculnya pihak ketiga yang berusaha untuk memancing di air keruh.

Setelah mempertimbangkan kembali semua keadaan dan situasi yang dihadapinya, bukan saja dia segera sadar kalau impian indahnya sukar terwujud, dan lagi diapun sadar kalau semua peristiwa ini timbul karena permainan busuk seseorang, Huan im sin ang lah yang menjadi dalang dari semua kericuhan yang terjadi sekarang.

Sebagai seorang yang berpengalaman apalagi dengan usianya yang sudah menanjak tua, kenyataan kenyataan baru ini segera menyadarkan dia dari impian.

Tujuan Tiang pek lojin memasuki wilayah Tionggoan memang tak terlepas dari kobaran ambisinya, cuma dia adalah seorang kakek yang keras dan berpendirian teguh, yang dimaksudkan sebagai ambisi tak lain adalah ingin menggunakan alasan demi keadilan Thi Eng khi, dia hendak menanamkan pengaruhnya pada pelbagai partai yang ada dalam dunia persilatan, jadi sama sekali tidak terlintas ingatan dalam benaknya untuk merajai kolong langit dan berbuat semena mena.

Oleh karena itu setelah pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menyampaikan pesan dari Thi Eng khi, maka diapun merasa tidak leluasa lagi untuk melanjutkan cita-citanya.

Dengan mengendornya sikap Tiang pek lojin dan melunaknya desakan itu, sudah barang tentu pihak Siau lim pay dan BU tong pay tidak banyak berbicara lagi.

Maka pemimpin dari kedua belah pihak mulai memikirkan jalan mundurnya serta menarik kembali sikap permusuhan antara kedua belah pihak.

Sekarang asal Thi Eng khi munculkan diri maka secara resmi perdamaian bisa diwujudkan kembali dan secara otomatis penggabungan dari kedua golongan yang semula saling bertentangan ini akan dialihkan menghadapi Huan im sin ang.

Kedatangan To kak thi koay dan Thi Eng khi menuju ke bukit Siong san disampaikan oleh murid Kay pang.

Kedua belah pihak dengan kesabaran yang ditekan berharap harap kedatangan Thi Eng khi secepatnya.

Itulah sebabnya walaupun jago jago dari kedua belah telah berdatangan semua namun tiada tanda tanda yang menunjukkan kalau perselisihan akan segera dilangsungkan, tak heran kalau setiap orang dapat merasakan perubahan sifat dari pertemuan ini.

Sementara semua orang sedang memperbincangkan persoalan ini, tiba tiba tampak ketua Kay pang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berjalan mendekat mula mula ia berbisik disisi telinga Tiang pek lojin, dengan wajah berubah Tiang pek lojin segera menjawab pula dangan beberapa patah kata, setelah itu ketua Kay pang itu berpindah lagi ke pihak Siau lim pay dan Bu tong pay untuk membicarakan sesuatu.

Jelas dia sedang menjadi duta damai bagi kedua belah pihak.

Tapi sebelum hasil perundingan damai itu memberikan hasil, mendadak terdengar seseorang berseru lantang .

"Ban seng kiong tiba!"

Maka semua orangpun mengalihkan sorot matanya kearah depan pintu gerbang sebaliknya perundingan perdamaian antara pihak Tiang pek lojin dengan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay pun terhenti sampai ditengah jalan.....

Tampak puluhan orang manusia dengan rnengiringi seorang pemuda, seorang gadis dan seorang kakek menerobos Ci bu ciat dan berjalan mendekat.

Setiap orang yang pernah berkunjung ke perkampungan Ki hian san ceng segera mengenali kakek itu sebagai Huan im sin ang dan pemuda itu sebagai Thi Eng khi, tentu saja juga ada yang mengenali gadis itu sebagai cucu kesayangan Tiang Pek lojin, Pek leng siancu So Bwe leng.

Ternyata kali ini So Bwe leng tidak mengenakan topeng kulit manusia, sehingga ada orang yang mengenalinya.

Seketika itu terdengar suara berbisik bisik memecahkan keheningan, beratus pasang mata bersama sama dialihkan ke wajah Tiang pek lojin, semua orang mengira hal ini merupakan permainan busuk dari Tiang pek lojin.

Bahkan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay pun menaruh pula perasaan curiganya terhadap Tiang pek lojin.

Seketika itu juga terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan.

Tiang pek lojin yang menyaksikan cucu kesayangannya dan Thi Eng khi datang bersama Huan im sin ang pun ikut merasa terkejut bercampur keheranan, sebab dilihat dari keadaan yang terbentang didepan mata sekarang, jelas apa yang dikatakan ketua Kay pang Cu Goan po sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.

Oleh karena itu, timbul juga perasaan mendongkol dalam hatinya, dia merasa seakan akan sudah tertipu oleh Cu Goan po dan orang orang Siau lim serta Bu tong pay.

Tiada orang yang menyapa rombongan dari Ban seng kiong tersebut, merekapun membawa kursi sendiri, begitu tiba, serentak mereka mengambil tempat duduk dibagian tengah.

Dengan sorot mata membara karena gusar, Tiang pek lojin segera membentak keras .

"Bwe leng, kemari!"

Pek leng siancu So Bwe leng mengerutkan kulit wajahnya sambil mengeraskan hati dan tidak menjawab panggilan dari kakeknya itu.

Dengan perasaan amat sedih, sekali lagi Tiang pek lojin memanggil dengan suara gemetar .

"Bwe leng, kemari!"

Pek leng siancu So Bwe leng belum menjawab juga. Huan im sin ang yang berada di sampingnya segera berkata .

"Sekarang Bwe leng adalah tuan putri Ban seng kiong, aku minta So lo jangan mencampuri urusan pribadi dengan urusan dinas!"

Jelas kata-kata itu bersifat mengadu domba, seakan akan menerangkan kepada semua hadirin bahwa Tiang pek lojin dengan pihak Ban seng kiong sesungguhnya telah melebur diri menjadi satu.

Tiang pek lojin menjadi teramat gusar wajahnya sampai memucat dan untuk beberapa saat lamanya, dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Na im siusu (pelajar penggaet awan) So Ping gwan yang berada di sampingnya segera menghibur dengan suara lembut.

"Kau orang tua tak usah marah-marah dulu, siapa tahu anak leng memang mempunyai kesulitan sendiri? Tidakkah kau lihat sepasang matanya berkaca kaca?"

Tiang pek lojin sama sekali tidak menggubris hal itu, dia hanya merasa perbuatan So Bwe leng telah membuatnya kehilangan muka. Dengan penuh kegusaran, serunya .

"Seandainya dia adalah anak cucu keluarga So, kendatipun mempunyai kesulitan, sekalipun harus mati ditempat, tidak seharusnya dia perlihatkan sikap macam begitu hingga membuat keluarga So kehilangan muka."

Kemudian sambil mendengus kembali dia berkata .

"Thi Eng khi si bocah keparat itupun bukan manusia baik baik, tak kusangka kalau dia akan bergabung pula dengan pihak Ban seng kiong, aaai ...... kali ini aku benar benar telah kehilangan muka."

Karena tak bisa menghibur ayahnya, terpaksa Na im siusu So Ping gwan menghela napas panjang katanya .

''Ayah, Leng ji dan Eng khi bukan manusia macam begitu, mari kita tenangkan dulu pikiran dan perasaan, kita hadapi semua perubahan yang kemungkinan akan terjadi."

"Tidak bisa!"

Teriak Tiang pek lojin sambil menggebrak meja.

"nama baik lohu selama puluhan tahun tak bisa dibiarkan hancur berantakan oleh ketidak baktian budak Leng!"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya kelihatan amat sedih dan menderita sekali.

Sebenarnya Na im siusu So Ping gwan bermaksud untuk menghibur hati ayahnya tapi setelah menyaksikan keadaan orang tua tersebut, tiba tiba ia mengeraskan hatinya seraya berseru .

"Kalau begitu, biar ananda membunuhnya sekarang, daripada kau orang tua merasa sedih."

Dia lantas melangkah maju ke depan siap terjun ke arena. Tiang pek lojin So Seng berkerut kening, mendadak ia berseru .

"Ping gwan, kemari dulu, aku mempunyai rencana lain!"

"Baik, ayah!"

Sahut Na im siusu So Ping gwan dengan hormat, kemudian mengundurkan diri ke belakang tubuh ayahnya.

Ketika melirik ke samping, dilihatnya wajah orang tua itu diliputi oleh tekad dan rasa sedih yang mendalam.

Sikap semacam ini belum pernah dijumpai sebelumnya, ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya sekarang.

Tiang pek lojin menghela napas panjang, pelan pelan ia bangkit berdiri kemudian sambil menjura ke arah para jago Tionggoan yang bergabung dipihak Siau lim pay dan Bu tong pay, ia berkata .

"Lohu tak tahu duduk persoalan yang sebenarnya sehingga gara gara urusan Thi Eng khi telah menyalahkan teman teman sekalian. Sekarang aku mohon maaf kepada kalian atas kesalahanku ini semoga teman teman semua bersedia memberi kesempatan kepada lohu untuk menebus dosa dan menyumbangkan sedikit tenaga bagi umat persilatan untuk bersama sama menghadapi Huan im sin ang."

Dengan kedudukan Tiang pek lojin dalam dunia persilatan ternyata mengucapkan kata kata semacam itu, boleh dibilang belum pernah hal semacam ini terjadi dalam dunia persilatan.

Akan tetapi nyatanya hal itu tidak mengurangi kewibawaannya malahan segera memperoleh tampik sorak dan pujian yang amat gegap gempita.

"Bagus!"

"Benar benar sikap jantan seorang ksatria."

Ci long taysu dari Siau lim pay dan Keng hian totiang dari Bu tong pay mengagumi juga atas kebesaran jiwa Tiang pek lojin, diam diam mereka manggut manggut.

Tampaknya semua umat persilatan akan segera memaafkan kesalahan yang telah dilakukan Tiang pek lojin selama ini.

Mendadak, dari kerumunan orang banyak berkumandang suara seruan dingin yang bernada sinis .

"Hmm... So Seng pak adalah seorang manusia licik yang berhati busuk! la pandai bermain sandiwara, semua harus berhati hati, jangan sampai kena terjebak oleh persekongkolan mereka."

Ucapan yang bernada hasutan ini segera menimbulkan pelbagai pikiran lagi dalam benak pikiran setiap orang, semakin dipikir mereka makin curiga, bahkan orang orang yang semula mengagumi Tiang pek lojin pun membungkam dalam seribu bahasa.

Bukan begitu saja, ketua Siau lim pay dan Bu tong pay pun ikut menjadi sangsi, merekapun tidak memberikan pernyataan yang bernada menyambut lagi.

Tiang pek lojin menjadi berdiri kaku di tempat semula, dia benar benar kehilangan muka dan tak dapat melepaskan diri dari situasi yang serba runyam itu.

Pukulan batin ini membuat kegagahannya sama sekali rnenjadi runtuh, dengan wajah tersipu akhirnya dia duduk kembali ke tempat semula.

Para jago dari luar perbatasan serta para jago wilayah Tionggoan yang setia kepada Tiong pek lojin kontan saja berubah wajah, dengan muka hijau membesi dan sorot mata berapi api karena gusar, mereka bersiap sedia melakukan gerakan.

Huan im sin ang memang pandai memanfaatkan kesempatan baik tiba tiba ia tertawa tergelak, lalu berkata .

"Tua bangka So, sudah kau lihat jelas keadaan disekelilingmu? Sebaik baiknya hatimu paling banter kau cuma dibuat sebagai umpan untuk anjing, menurut penglihatanku, lebih baik kau memimpin istana Ban seng kiongku saja."

Tiba tiba Tiang pek lojin rnelompat bangun kemudian sambil tertawa dingin katanya .

"Hmm.... Ban seng kiong masih belum pantas untuk menarikku!"

Tiba tiba dia mengangkat tangannya ke atas memberi tanda, dengan airmata bercucuran serunya .

"Anak anak, kita mundur dari sini!"

Dalam keadaan demikian, mau tak mau dia memang harus mengundurkan diri dari situ.

Serentak para jago dari luar perbatasan serta para jago Tionggoan yang simpatik kepadanya bangun berdiri dari tempat duduk.

Tampaknya mereka sudah menaruh rasa benci dan dendam terhadap umat persilatan yang mencurigai orang tanpa memeriksa lebih dulu dan rasa benci itu tampak jelas dibalik sorot mata mereka.

Sejak masuk ke dalam arena, walaupun paras muka Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng telah memperlihatkan perubahan hebat, namun mereka tidak mengucapkan sepatah katapun, suasana yang begini hening ini tentu saja merupakan salah satu rencana dari Huan im sin ang.

Beberapa kali Pek leng siancu So Bwe leng ingin tidak menggubris peringatan dari Huan im sin ang untuk lari ke hadapan kakeknya dan mengemukakan kesulitannya, namun dia selalu memikirkan pula keselamatan Thi Eng khi, hingga untuk sesaat dia menjadi sangsi dan tak dapat mengambil keputusan apa-apa.

Thi Eng khi sendiri walaupun ilmu silatnya telah pulih kembali seperti sedia kala namun diapun tak bisa tidak menggubris ancaman dari Huan im sin ang tersebut, terutama setelah dia tahu kalau Pek leng siancu bersedia menuruti perkataan Huan im sin ang lantaran dia, hal tersebut membuatnya menjadi amat terharu.

Oleh karena itu, dia dipaksa untuk melepaskan rencananya semula dan tak berani turun tangan untuk menghadapi Huan im sin ang.

Dalam keadaan serba salah itu, dia mendengar pula pekikan sedih dari Tiang pek lojin, hal mana menimbulkan suatu bentrokan batin dalam benaknya antara bertahan dengan pendiriannya semula atau jangan.

Sementara itu Tiang pek lojin sudah bersiap siap meninggalkan arena karena malu, kejadian ini membuatnya jadi nekad.

Tiba tiba ia menggenggam tangan Pek leng siancu So Bwe leng sebagai pernyataan rasa menyesalnya, kemudian sambil bangkit berdiri dia berkata.

"So yaya, harap tunggu sebentar, Eng khi hendak mengucapkan sesuatu kepadamu."

Mendengar Thi Eng khi berbicara, pertama tama yang menjadi terperanjat lebih dulu adalah Pek leng siancu So Bwe leng, segera jeritnya lengking .

"Engkoh Eng khi, kau.... kau.... kau.... jangan berbicara!"

Pada saat yang bersamaan, Huan im sin ang berseru pula sambil tertawa dingin .

"Keparat, rupanya kau sudah makan hati beruang nyali macan sehingga berani membantah perintahku!"

Sebaliknya Tiang pek lojin So Seng pak tertawa seram, serunya penuh rasa gusar .

"Siapa yang menjadi So yaya mu? Kau masih punya muka untuk bertemu dengan aku?"

Dengan langkah lebar dia beranjak lebih dulu meninggalkan tempat duduknya.

Setelah buka suara berarti Thi Eng khi sudah mempunyai keputusan didalam hatinya, dalam keadaan demikian terpaksa dia harus mengutamakan kepentingan umum lebih dulu daripada kepentingan pribadi, maka terhadap jeritan Pek leng siancu So Bwe leng dan peringatan Huan im sin ang sama sekali tidak ambil peduli, sekali melompat dia sudah tiba di hadapan Tiang pek lojin.

Thi Eng khi dapat melompat ke depan, hal ini membuktikan kalau ilmu silatnya belum hilang.

Seketika itu juga kejadian ini menggirangkan Pek leng siancu So Bwe leng dan mengejutkan Huan im sin ang.

Pek leng siancu So Bwe leng segera melejit ke udara dan meluncur ke muka, dia tak perduli lagi dengan segala ancaman Huan im sin ang, sebab dirasakan bahwa dirinya sudah bebas merdeka sekarang.

Siapa tahu belum sampai berapa kaki, mendadak ia merasakan punggungnya menjadi kencang, tahu tahu tubuhnya sudah kena dicengkeram oleh Huan im sin ang, menyusul kemudian jalan darah siau yau hiatnya menjadi kaku dan ia diseret kembali ke tempat semula.

Setelah berhasil mencengkeram tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, Huan im sin ang tertawa seram.

"Thi Eng khi! Bila kau sudah tidak perdulikan keselamatan So Bwe leng lagi, silahkan kau berbicara sekehendak hatimu!"

Sebenarnya Tiang pek lojin tak ingin menggubris ucapan dari Thi Eng khi lagi, akan tetapi perubahan situasi yang kemudian berlangsung membuat sadar kembali bagaimanakah posisi Thi Eng khi dan cucu kesayangannya ketika itu, hal ini membuktikan pula kalau kedua orang bocah itu sama sekali tidak bersalah.

Setelah tertegun sebentar, diapun segera berhenti.

Sorot matanya yang tajam segera dialihkan kewajah Thi Eng khi kemudian katanya dengan suara dalam .

"Perkataan apakah yang kau hendak ucapkan? Sekarang boleh diutarakan keluar, tak usah perdulikan mati hidup Bwe Leng lagi, So yaya tidak doyan dengan ancaman semacam itu!"

Thi Eng khi membalikkan badannya menghadap kearah Huan im sin ang, kemudian hardiknya.

"Apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?"

"Heeehhh.... heehhhh...... heeehhh.... tentang soal ini, tak perlu kau urusi,'' sahut Huan im sin ang sambil tertawa seram. Pek leng siancu So Bwe leng melompat lompat, berusaha untuk melepaskan diri, kemudian teriaknya .

"Engkoh Eng, kau tak usah mengurusi diriku, lakukanlah apa yang harus kau lakukan! Aku tidak takut kepadanya, aduuh... aduuuh. ..."

Agaknya Huan im sin ang telah rnelancarkan serangan berat kearahnya ketika ia sedang berbicara lagi.

Mencorong sinar mata membara dari balik mata Thi Eng khi sambil menuding ke arah Huan irn sin ang teriaknya .

"Bajingan tua yang tak tahu malu cara kerjamu itu benar benar rendah dan terkutuk!"

Setelah berteriak beberapa kali, agaknya rasa sakit dalam tubuh So Bwe leng sudah jauh berkurang, dengan wajah merah membara katanya dengan keras .

"Engkoh Eng kau tak usah mengurusi aku."

"Baik, adik Leng maafkan aku, jika bajingan tua itu berani bertindak keji kepadamu, aku pasti akan membalaskan dendam bagimu, bila gagal membalaskan dendam aku akan menyusulmu kealam baka."

Melihat ancamannya tidak mendatangkan hasil Huan im sin ang menjadi amat tegang tapi ucapannya masih tetap keras .

"Lohu akan suruh dia mampus dengan sengsara heehh... heeehh... heeehh....sekarang juga aku akan menyuruh dia rasakan siksaan hidup yang pertama."

Begitu tangannya diayunkan, terdengar Pek leng siancu So Bwe leng menjerit keras dan jatuh tak sadarkan diri.

Peristiwa ini terjadi dihadapan para jago dari pelbagai perguruan besar yang berkumpul disana, akan tetapi tak seorang manusiapun yang mencegah atau turut campur, malahan beberapa diantara mereka tertawa dingin tiada hentinya, seakan akan menyindir kalau permainan sandiwara Thi Eng khi dan So Bwe leng cukup hidup.

Para jago dari luar perbatasan juga tak ada yang berani turun tangan secara sembarangan..

sebab Tiang pek lojin sendiripun tidak melakukan tindakan apa apa.

Dengan wajah hijau membesi Tiang pek lojin segera berseru .

"Eng ji sekarang kau boleh mengatakan apa yang hendak kausampaikan kepadaku!"

Dengan menahan rasa sedih Thi Eng khi segera mengutarakan pengalamannya serta bagaimana diancam Huan im sin ang untuk menghadiri pertemuan besar ini, sebagai akhir kata dia menambahkan.

"Huan im sin ang sengaja berbuat demikian, tujuannya tak lain adalah ingin mengadu domba sesama umat persilatan agar saling gontok gontokan dan membunuh, bila keadaan sudah lemah maka bajingan tua berusaha mewujudkan ambisinya untuk menguasai seluruh dunia persilatan!"

Setelah mendengar penjelasan dari Thi Eng khi tadi, maka sebagian besar diantara kawanan jago itu menjadi paham kembali. Tiang pek lojin segera mencekal tubuh Thi Eng khi erat erat sambil berseru .

"Nak, kalau begitu yaya telah salah menuduh diri titli."

Ketua Kay pang, Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pun turut melompat kemuka, dengan wajah merah membara katanya .

"Saudara cilik, kau benar benar membuat engkoh tua menjadi kebingungan setengah mati."

Keng hian totiang, ketua partai Bu tong juga ikut maju ke depan sambil berkata .

"Pinto mewakili perguruan kami meminta maaf kepada Thi ciangbunjin."

Tak menanti Thi Eng khi menjawab, Tiang pek lojin telah tertawa terbahak bahak, katanya .

"Tak menjadi soal, Eng ji tak akan menyalahkan semacam itu ....!"

Mendadak terdengar Ci kay taysu dari Siau lim pay berteriak keras .

"Harap saudara sekalianpun perhatikan, jangan lepaskan orang orang dari Ban seng kiong!"

Tiang pek lojin segera memburu kedepan dan menerjang ke arah Huan im sin ang (kakek sakti bayangan setan), kemudian bentaknya .

"Tua bangka, kau masih ingin mencoba untuk melarikan diri?"

Huan im sin ang sama sekali tidak menyangka kalau satu langkah saja dia salah bertindak mengakibatkan semua rencananya menjadi berantakan, untuk mewujudkan apa yang diinginkan jelas sudah tak mungkin bisa terpenuhi lagi.

Untung saja Pek leng siancu So Bwe leng tidak sampai lolos dari cengkeramannya, di kemudian hari dia masih bisa menggunakan gadis itu untuk mencari kesempatan.

Maka dikala perhatian semua orang tertuju ke tubuh Thi Eng khi, diam diam ia pimpin anak buahnya untuk melarikan diri dari situ.

Siapa tahu perbuatannya itu kembali diketahui oleh Ci kay taysu dari Siau lim pay sehingga menyebabkan datangnya terjangan dahsyat dari Tiang pek lojin.

Cepat cepat Huan im sin ang mengangkat tubuh pek leng siancu So Bwe leng sebagai tameng, kemudian sambil memandang kearah Tiang pek lojin, ia tertawa seram.

"Tua bangka she So, mau apa kau sekarang?"

Ejeknya.

Tiang pek lojin merasa amat terkejut, setelah memandang sekejap kearah So Bwe leng, dia segera berhenti.

Bagaimanapun dia telah mengeraskan hatinya untuk mendengarkan perkataan Thi Eng khi tadi, tapi setelah dihadapkan pada kenyataan sekarang, dia tak sanggup lagi untuk mengeraskan hatinya.

Untung saja Thi Eng khi yang menerjang datang pula segera berseru .

"Asalkan kau tinggalkan orang itu pun ciangbunjin bersedia untuk meminta kesudian rekan rekah lainnya untuk melepaskan kau pergi. Selewatnya hari ini, dimana kita berjumpa disitu pula kita bikin perhitungan."

Huan im sing ang mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia segera menyadari walaupun dia pribadi masih memiliki kemampuan untuk meloloskan diri dari kepungan, namun kekuatan yang telah dibina dan dipupuknya selama banyak tahun dengan mengorbankan banyak pikiran dan tenaga itu niscaya akan mengalami kehancuran dan kemusnahan sama sekali dalam pertempuran ini.

Tentu saja dia enggan mencari kerugian yang jelas berada didepan mata.

Maka setelah mempertimbangkan sejenak keadaan yang terbentang didepan mata, dia bertekad akan melepaskan So Bwe leng untuk menjamin keselamatan bagi rombongannya.

Kendatipun dihati ia berpikir demikian, namun dimulut ia sama sekali tak mau mengalah, katanya .

"Huuuh, hanya mengandalkan kemampuanmu juga bisa mengambil keputusan?"

Thi Eng khi menjadi tertegun, dengan mengandalkan kedudukannya sekarang, dia memang tak berani mengucapkan kata sebesar itu.

Sebab orang yang benar-benar bisa mengambil keputusan pada saat ini selain Tiang pek lojin, mungkin hanya ketua Siau lim pay dan ketua Bu tong pay saja yang dapat melakukannya.

Tentu saja Tiang pek lojin tak akan berbuat banyak dalam keadaan begini, sebab cucunya yang menjadi penyebab.

Pada saat itulah, Ci long taysu ketua Siau lim pay dan Keng hian totiang ketua Bu tong pay telah melompat datang sambil berseru lantang .

"Asal kau meninggalkan nona So disini, hari ini kau boleh pergi meninggalkan tempat ini."

Jilid . 15

"Jangan!"

Cegah Tiang pek lojin dengan wajah serius.

"kalian berdua jangan sekali kali memikirkan keselamatan cucuku sehingga meninggalkan bibit bencana bagi umat persilatan!"

"Omitohud!"

Kata Ci long taysu sambil merangkap tangannya didepan dada.

"nona So sudah banyak menderita bagi dunia persilatan, harap kau sudi menerima kebaikan dan niat tulus dari umat persilatan didaratan Tionggoan."

Keng hian totiang dari Bu tong pay juga turut berkata .

"Bila hari ini kami membiarkan nona So menderita lagi ditangan orang itu, seluruh umat persilatan didunia ini tak punya muka lagi untuk menancapkan kaki dalam dunia persilatan."

Menyaksikan keadaan yang dinantikan telah tiba, Huan im sin ang sama sekali tidak menggubris apakah Tiang pek lojin setuju atau tidak, diam diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan mendorong tubuh So Bwe leng ke arah Thi Eng khi, kemudian serunya .

"Kuserahkan nona ini kepadamu, kau anggap luka dalam yang dideritanya dapat kau sembuhkan?"

Huan im sin ang memang seorang yang licik, sudah jelas dia enggan menyembuhkan luka dalam yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng, akan tetapi justru dengan kata kata yang pedas dia memanasi lawannya agar pihak lawan tak usah mengajukan syarat agar dia menyembuhkan lukanya itu.

Thi Eng khi masih muda, darahnya masih panas, manusia semacam inilah yang paling gampang terjebak.

Benar juga, dengan mata melotot dia lantas berseru .

"Kau jangan menganggap kepandaianmu hebat, aku tidak percaya kalau luka yang dideritanya tak dapat disembuhkan, lihat saja nanti!"

Huan im sin ang tertawa seram, dengan membawa serta anak buahnya dia segera beranjak pergi dari situ.

Ketika hampir keluar dari arena, mandadak Thi Eng khi melompat ke depan dan menghadang jalan perginya.

Huan im sin ang segera tertawa dingin, serunya .

"Apa yang kalian ucapkan itu masih bisa dianggap atau tidak?"

"Hmmm..."

Thi Eng khi mendengus "aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi kepadamu!"

"Pertanyaanmu terlampau banyak,"

Dengus Huan im sin ang sinis.

"Ketika berada diperkampungan Ki hian san ceng tempo hari, kau telah merampas lukisan Kun eng toh, apakah sampai sekarang masih kau simpan baik baik?"

"Hmmm, siapa yang merampas lukisanmu? Bila ingin menagih hutang, tagihlah kepada orang yang berhutang kepadamu. Lukisanmu itu bagaimana hilangnya? Seharusnya kau musti pergi ke perkampungan Ki hian san ceng dan menagihnya sendiri dari kawanan manusia tak becus itu."

Bukan saja menampik permintaan bahkan berusaha untuk menyinggung kembali sakit hati lama dari Thi Eng khi.

Dengan cepat kejadian yang dialaminya dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari terlintas kembali dalam benak Thi Eng khi, tanpa terasa ia menjadi amat murung.

Ketika Huan im sin ang lewat dari sisinya dan pergi jauh, dia masih belum merasakan apa apa, setelah sampai jauh, suara tertawa dari Huan im sin ang baru terdengar kembali .

"Bocah keparat, kau tak usah kuatir, lukisan itu masih tidak kupandang sebelah matapun, asal kau punya nyali, istana Ban seng kiong dibukit wu san selalu menantikan kedatanganmu."

Sesungguhnya Thi Eng khi memang sama sekali tidak berhasrat untuk mencegah kepergian Huan im sin ang, dia hanya teringat kalau lukisan tersebut masih berada ditangan Huan im sin ang belaka, karena dia pernah bersumpah hendak mengandalkan kepandaiannya untuk merampas kembali benda itu.

Maka ketika dilihatnya Huan im sin ang berlalu dengan membawa kekalahan dia sama sekali tidak berniat untuk menghalanginya.

Menanti Huan im sin ang sekalian sudah lenyap dari pandangan mata, ketua Kay pang si Pengemis tua sakti bermata harimau Cu Goan po baru menghela napas panjang katanya.

"Saudara cilik, gara gara ucapanmu tadi aku kuatir nona Leng bakal menderita banyak siksaan!"

Setelah mendengar perkataan itu, Thi Eng khi sendiripun merasa menyesal dengan perkataan tadi sehingga melepaskan Huan im sin ang dengan begitu saja sebelum memaksanya untuk menyembuhkan dulu luka yang diderita So Bwe leng....

Sebaliknya Tiang pek lojin segera menghibur sambil tertawa.

"Anak Eng, kau tidak salah, bila kita tidak berhasil menyembuhkan luka dalam yang diderita Leng ji, percuma saja kita berbicara tentang bagaimana menghadapi Huan im sin ang!"

Mendengar ucapan tersebut, Thi Eng khi segera merasakan semangat jantannya berkobar kembali .

"Benar, kita harus berusaha sendiri untuk menyembuhkan luka yang diderita adik Leng."

Sementara sorot mata yang penuh perasaan menyesal dialihkan ke wajah Pek leng siancu So Bwe leng. Mendadak terdengar suara seseorang yang parau berkumandang disisi telinga Thi Eng khi .

"Melepaskan harimau mudah, menangkapnya sukar, gara gara keselamatan seorang gadis, Huan im sin ang harus dilepaskan dengan begitu saja, terhadap tindakan ini, lohu merasa amat tidak setuju!"

Dengan terkejut Thi Eng khi berpaling, hatinya yang sudah tak senang kini semakin tak senang lagi, sebab orang yang berbicara sekarang tak lain adalah lo pangcu dari perkampungan Ki hian san ceng Sangkoan Yong adanya.

Dibelakangnya berdiri pula sekelompok jago yang pernah dijumpai ketika berada dalam perkampungan Ki hian san ceng dulu.

Ternyata sejak dipermainkan oleh Huan im sin ang dalam perkampungan Ki hian san ceng dulu, kemudian lukisan Kun eng toh dirampas pula oleh lawan, Sangkoan Yong sekalian merasa makin lama semakin tak sedap, rnereka sadar bila peristiwa ini sampai tersiar ke dalam dunia persilatan, maka kejadian itu pasti akan ditertawakan semua orang.

Kalau orang mengindap penyakit yang sama, otomatis merekapun akan bergabung serta memiliki pandangan yang sama pula, itulah sebabnya orang itu malahan justru bersatu padu dan mengelompok dengan akrabnya, dengan demikian terciptalah suatu kelompok kecil yang tersendiri.

Tak dapat disangkal lagi orang orang itu amat membenci Huan im sin ang, tapi terhadap Thi Eng khi pun tidak menaruh kesan yang baik, sebab mereka beranggapan jika Thi Eng khi tidak menerobos masuk ke dalam berkampungan Ki hian san ceng dan tidak mengeluarkan lukisan tersebut, tak akan menunjukkan perbuatan rnemalukan, dengan begitu merekapun tak akan ditertawakan oleh umat persilatan.

Oleh sebab itu, tatkala mereka mendengar kalau pihak Siau lim pay dan Bu tong pay telah bentrok dengan Tiang Pek lojin gara gara urusan Thi Eng khi, mereka segera berangkat ke kuil Siau lim si untuk memberikan bantuan.

Dalam anggapan mereka, dengan perbuatannya ini, Thi Eng khi sudah pasti tidak mempunyai teman lagi didalam daratan Tionggoan.

Siapa tahu, berkat diplomasi si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, rasa permusuhan Ci long taysu ketua Siau lim pay dan Keng hian totiang ketua Bu tong pay terhadap Tiang pek lojin telah lenyap sama sekali, kenyataan ini membuat mereka menjadi kecewa sekali.

Apalagi setelah menyaksikan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay telah bersatu padu kembali bahkan memberi kesempatan kepada Thi Eng khi untuk menampilkan diri, merasa kalau termashurnya Thi Eng khi bakal mendatangkan ancaman bagi mereka kontan saja timbul niat jahat mereka untuk merusak nama baik Thi Eng khi, agar si anak muda itu tak bisa menampilkan diri untuk selamanya.

Tentu saja hal ini merupakan pandangan mereka sendiri terhadap perbuatan Thi Eng khi sedang mengenai bagaimanakah sikap Thi Eng khi sendiri terhadap orang orang yang dijumpainya dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, apakah dia masih mendendam dihati, atau merasa tak senang, atau sudah tidak menganggap mereka sebagai musuh lagi, dalam keadaan begitu mereka enggan untuk mempertimbangkannya.

Tapi hal inipun tak dapat salahkan mereka, sebab memang demikianlah keadaan dalam persilatan pada waktu itu, bila ada dendam tak dibalas dia bukan lelaki sejati, kalau ada sakit hati tidak dituntut dia bukan lelaki gagah, apa bedanya pula dengan mereka?

Berbicara sesungguhnya, Thi Eng khi sendiripun sama sekali tidak mempunyai kesan baik terhadap mereka.

Oleh karena itu dia segera berpaling setelah mendengar perkataan itu dan paras mukanya juga berubah amat dingin seteiah mengetahui siapakah mereka, serunya dengan gusar .

"Aku Thi Eng khi berani berbuat berani bertanggung jawab, hari ini aku lepaskan Huan im sin ang, dikemudian hari aku pula yang bertanggung jawab untuk menaklukkan penjahat tersebut!"

Mendengar perkataan itu, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong tertawa terbahak bahak.

"Haaaahhh...... haaaahh.... haaahhhh.... kalau omong besar sih setiap orang bisa, tapi sudahkah kau bayangkan bagaimana akibatnya? Mulai sekarang jika ada orang yang kena dicelakai oleh gembong iblis tua itu, maka hal tersebut merupakan akibat dari perbuatanmu yang mementingkan kepentingan pribadi. Tampangnya saja kelihatan seperti gagah dan perkasa, tak tahunya cuma seorang manusia mementingkan kepentingan pribadi belaka, sedang terhadap keselamatan umat persilatan boleh dibilang sama sekali tidak memperhatikannya, lohu sebagai salah seorang anggota persilatan merasa tidak senang dengan perbuatanmu itu, demi kepentingan umat persilatan mau tak mau aku baru mengucapkan beberapa patah kata kepadamu."

Setelah berhasil menangkap titik kelemahan dari Thi Eng khi karena ia melepaskan Huan im sin ang, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera melancarkan pukulan dahsyat yang sama sekali tidak mengenal rasa kasihan....

Sewaktu mengucapkan kata kata tersebut suaranya amat keras dan nadanya nyaring setiap patah kata boleh dibilang diucapkan dengan mengerahkan tenaga dalam yang sempurna.

Betul sasarannya adalah Thi Eng khi, tapi yang benar tujuannya adalah agar setiap orang dapat turut mendengarnya.

Begitu mendengar perkataan tersebut, paras muka setiap orang lantas berubah, rupanya mereka terpengaruh juga oleh hasutan tersebut dan merasa tidak seharusnya Thi Eng khi rnelepaskan gembong iblis tua itu dengan begitu saja gara gara seorang gadis dari luar perbatasan, sehingga meninggalkan bibit bencana bagi umat pesilatan.

Tapi saat ini siapapun tak ada yang berpikir dengan lebih seksama lagi, mereka tak ada yang mau tahu, andaikata Thi Eng khi tidak berbesar jiwa dan bersedia berkorban dengan pertaruhan nyawa sendiri untuk membongkar rencana busuk Huan im sin ang untuk mengadu domba jago jago dari daratan Tionggoan dan jago jago luar perbatasan itu jadi berantakan, bagaimana pula akibatnya.

Thi Eng khi segera merasakan dirinya bagaikan kena difitnah, diapun enggan untuk memamerkan jasa sendiri saking marahnya merah padam selembar wajahnya.

"Tak mau banyak berbicara lagi,"

Sahutnya kemudian.

"kalau memang Sangkoan tayhiap merasa begitu, mengapa kau tidak turun tangan untuk membekuk iblis tua itu? Asal kalian turun tangan, bukanlah cita cita kamu semua menjadi terwujud?"

Kembali Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.... haaahhh....... haaahhh...... lohu tak ingin menodai nama baik ketua Siau Sim pay dan Bu tong pay maka peringatan ini baru kusampaikan setelah kejadian, saudara, dengan ucapan ini apakah kau ingin mencoba untuk mengadu domba umat persilatan dari daratan Tionggoan?"

Setelah tertawa dingin, dia melanjutkan .

"Heeeehhh.... heehhhh.... heeehhhh......hidup sebagai seorang manusia, janganlah sekali kali melupakan pada nenek moyang sendiri, kau jangan menganggap dengan adanya jago jago dari luar perbatasan menjadi tulang punggungmu maka kau memandang rendah kemampuan sobat-sobat persilatan didaratan Tionggoan, ketahuilah, bagaimanapun kau tetap merupakan seorang ketua dari suatu perguruan yang ada didalam daratan Tionggoan..."

Bukan saja nadanya amat berat sukar dilukiskan dengan kata kata, tujuannya pun ingin menghasut para jago dari daratan Tionggoan agar menaruh kesan jalek terhadap Thi Eng khi.

Saking gusarnya paras muka Thi Eng khi telah berubah menjadi hijau membesi, empat anggota badannya gemetar keras, ia sudah tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Sebaliknya Tiang pek lojin merasa marahnya bukan kepalang, sepasang matanya melotot besar, mukanya merah padam, rambutnya pada berdiri seperti landak, agaknya ia sudah bersiap siaga untuk melancarkan serangan.

Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay segera dapat merasakan gelagat yang kurang menguntungkan, dia tahu jika percekcokan ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, kemungkinan besar akan tercipta suatu pertumpahan darah yang mengerikan.

Maka dengan cepat dia menyelinap ke tengah tengah kedua kelompak manusia itu, lalu berseru memuji keagungan sang Buddha.

"Omitohud, kalian berdua sama sama adalah teman baik Siau lim si kami, kini pertemuan sudah bubar, bila masih ada persoalan, bagaimana kalau kita bicarakan di dalam kuil saja?"

Tujuan yang sebenarnya dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sebetulnya adalah hendak memberi pelajaran kepada Thi Eng khi agar dia jangan memandang rendah kelompok manusia dari Ki hian san ceng, apalagi perkataannya tadi telah berhasil menghasut para jago hingga menaruh kesan jelek terhadap Thi Eng khi.

Begitu tujuannya tercapai, diapun enggan untuk mencari gara gara lagi dengan pihak Siau lim si, dengan senyuman dikulum segera ujarnya .

"Bergembira sekali dapat menyaksikan kuil anda berjabatan tangan lagi secara damai dengan Tiang pek lojin, kejadian ini sungguh merupakan keuntungan buat umat persilatan didaratan Tionggoan, sayang kami semua masih ada urusan penting yang belum terselesaikan, biarlah kami mohon diri lebih dahulu."

Selesai berkata dia lantas menjura dan mengajak kawannya berlalu dari bukit Siong san.

Kawanan jago lainnya yang kena dihasut pun serentak bangkit berdiri dan turut meninggalkan tempat itu.

Tak lama kemudian, kecuali para jago dari luar perbatasan serta para jago dari Siau lim pay dan Bu tong pay hampir semuanya sudah berlalu dari sana.

Keng hian totiang, ketua Bu tong pay yang menyaksikan kejadian itu segera menghela napas panjang, katanya lirih .

"Sebenanya tiada persoalan di dunia, manusialah yang banyak bertingkah."

Dengan penuh rasa marah bercampur mendongkol ketua Kay pang Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berseru pula lantang .

"Dalam pertemuan di perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, perbuatan mereka benar benar memalukan sekali, itulah sebabnya mereka selalu menaruh perasaan was was terhadap Thi ciangbunjin, kuatir kalau Thi ciangbunjin akan melepaskan mereka dari malu rupanya mereka menjadi gusar maka merekapun tidak membiarkan Thi ciangbunjin bisa tampilkan diri dalam mata masyarakat."

"Ucapan engkoh tua memang benar,"

Kata Thi Eng khi.

"mengalah bukan berarti kalah, asal mereka tidak terlalu mendesakku sehingga kelewat batas, siautepun tak akan ribut dengan mereka!"

Ci long taysu dari Siau lim pay dan Keng hian totiang dari Bu tong pay segera berseru memuji .

"Omitohud!"

"Buliangohud!"

"Kebajikan dan kebaikan dari Thi ciangbunjin sungguh agung dan mulia, hal ini benar benar merupakan keberuntungan bagi umat persilatan!"

Setelah mendengar perkataan itu, kemarahan Thi Eng khi terhadap tingkah laku Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang kelewat tadipun sudah menjadi mereda.

Tampaknya Tiang pek lojin merasakan pula keadaan yang sama, katanya .

"Belajar sampai tua, tak ada habisnya, menjelang usia tua begini tak nyana lohu akan mengalami kejadian seperti ini, aaai ...."

Dengan penuh rasa sedih dan menyesal, ia menghela napas panjang. Thi Eng khi segera membopong tubuh pek leng siancu So Bwe leng, lalu sambil menengadah katanya .

"So yaya, kitapun harus pergi dari sini, luka yang diderita adik Leng tidak enteng."

Tampaknya Tiang pek lojin pun merasa tiada kepentingan untuk tetap tinggal disana, diapun mengajak anak buahnya mengundurkan diri dari situ.

Maka pertemuan besar dibukit Siong san pun berakhir dalam suasana kesedihan, ancaman badai pun mereda.

Di belakang kuil Siong gak bio terdapat sebuah kamar kecil yang berdiri sendiri, Na im siusu So Ping gwee berdiri tegak didepan pintu, Boan san siang koay berdiri di kiri dan kanannya sedang Tiang pek sam nio dan Pek sui su kui mengelilingi di sekelilingnya, hingga ruangan kecil itu boleh dibilang terlindung kuat sekali.

Dalam kamar diatas pembaringan, terbaringlah Pek leng siancu So Bwe leng dengan wajah pucat kehijau hijauan, telapak tangan tunggal dari Thi Eng khi sedang ditempelkan di atas jalan darah Pek hwee hiat ditubuh So Bwe leng, dia sedang menggunakan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat untuk menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya dan menyalurkan ke dalam tubuh Pek leng siancu So Bwe leng.

Ilmu Pek hui tiau yang tayhoat merupakan suatu kepandaian sinkang dari aliran Thian liong pay yang cuma bisa dipelajari bila ilmu sian thian bu khek ji gi sin kang telah selesai dipelajari, oleh karena berunsur im dan yang, oleh karena itu kekuatan mana mempunyai sifat untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita seseorang, untuk menolong jiwa Pek leng siancu So Bwe leng, kini Thi Eng khi dengan tak sayangnya telah mempergunakan kepandaian itu.

Paras muka Pek leng siancu So Bwe leng yang semula memucat, lambat laun berubah menjadi merah, tapi warna merah itu mengenaskan sekali sebab sedemikian tipisnya hingga sukar untuk ditemukan bila tidak diamati lebih seksama.

Sekarang, semua harapan Tiang Pek lojin telah dicurahkan ke atas tubuh Thi Eng khi.

Akan tetapi, satu jam sudah lewat, warna merah yang tipis itu lagi lagi tertelan oleh warna putih pucat tersebut.

Sekujur badan Thi Eng khi sudah basah kuyup oleh peluh dingin bahkan sekujur badannya mulai gemetar keras.

Tak terlukiskan rasa kaget Tiang pek lojin, setelah menyaksikan kejadian itu, buru buru dia tempelkan telapak tangannya diatas punggung Thi Eng khi sambil membantu pemuda itu untuk pulihkan tenaga, dengan ilmu menyampaikan suara katanya .

"Anak Eng yang bisa dilakukan lakukanlah, tapi jangan terlampau memaksakan diri sehingga akibat kedua belah pihak sama sama menderita kerugian besar!"

Dengan sedih Thi Eng khi segera menarik kembali tangannya, kemudian berkata .

"Eng ji tak becus, aku telah menyia nyiakan harapan So yaya!"

Tiang pek lojin cukup mengetahui akan kehebatan ilmu pek hui tiau yang tayhoat dari Thian liong pay, kalau ilmu pek hui tiau yang tayhoat pun tidak mendatangkan hasil, sekalipun tenaga dalam yang dimiliki lebih sempurna pun ia tak berani mencoba secara gegabah.

Terpaksa dengan nada menyelidiki dia bertanya .

"Anak Eng sewaktu mengerahkan tenaga tadi, apakah kau telah rnenemukan suatu keanehan didalam tubuh anak Leng?"

Thi Eng khi termenung sambil berpikir sebentar, lalu sahutnya dengan sedih .

"Semua nadi didalam tubuh adik Leng bebas dan lancar, ketika kukerahkan tenaga dalam tadi bagaikan memasuki samudera luas yang tak bertepian, oleh karena itu sukar untuk menemukan letak lukanya hingga tak bisa membangkitkan semangat hidupnya. Sekalipun Eng ji telah mengerahkan segenap tenaga yang kumiliki, hasilnya tetap nihil."

Paras muka Tiang pek lojin segera berubah hebat, setelah termenung sejenak, akhirnya dia berkata dengan sedih .

"Gejala tersebut merupakan pertanda kalau hawa murninya telah buyar dan darah mendekati tanda mengering, bila tidak bisa ditolong dalam beberapa hari ini, mungkin anak Leng sudah tiada harapan untuk tertolong lagi."

Thi Eng khi segera mengulurkan pil Toh mia kim wan terakhir yang dimilikinya lalu berkata .

"Aku masih mempunyai sebutir pil Toh mia kim wan, coba dilihat bagaimanakah kemujuran nasibnya!"

Selesai berkata dia lantas menjejalkan pil Toh mia kim wan tersebut kemulut Pek leng siancu So Bwe leng.

Tiba tiba Tiang pek lojin mencengkeram pergelangan tangan Thi Eng khi lalu sambil menggelengkan kepalanya dia berkata .

"Pil Toh mia kim wan merupakan mestika dalam dunia, percuma kalau kau berikan pada anak leng sebab dia sudah kehilangan tenaga hisapnya, tak usah dicoba lagi!"

"Bagaimana juga, anak Eng harus berikan pil kim wan ini untuk adik Leng!"

Seru Thi Eng khi dengan air mata bercucuran. Walaupun sedang sedih ternyata Tiang pek lojin tidak kehilangan kewibawaannya, dia berkata .

"Anak Eng tak boleh begitu, menyia nyiakan benda mestika rnerupakan dosa besar yang tak terampuni, sekalipun kau berbuat demikian, mengapa tidak kau simpan pil mestika itu dan dikemudian hari diberikan kepada orang lain atas nama Leng?"

Thi Eng khi berpikir sebentar, kemudian dengan sedih ia serahkan pil Toh mia kim wan tersebut kepada Tiang pek lojin, katanya .

"Kalau begitu harap So yaya bersedia mewakili adik Leng untuk menyimpan pil ini, gunakanlah untuK menolong mereka yang membutuhkan dikemudian hari."

Ketikadilihatnya paras muka Thi Eng khi aneh sekali, Tiang pek lojin menjadi tercengang, serunya dengan cepat .

"Apa bedanya jika pil Toh mia kim wan tersebut disimpan dalam sakumu...."

Thi Eng khi nampak sedih sekali, sahutnya .

"Eng ji tidak memperdulikan keselamatan adik Leng, kemudian tak tahu diri dengan menerima hasutan Huan im sin ang, setelah salah berbuat kesalahan lagi sehingga menyebabkan adik Ling terjerumus dalam keadaan demikian, bila adik Leng sampai menjumpai keadaan yang tidak beres, Eng ji pun tak akan hidup seorang diri didunia ini. Oleh karena itu, mau tak mau harus kutitipkan dulu pesan ini kepada kau orang tua!"

Tiang pek lojin merasa terkesiap sekali setelah mendengar ucapan itu, peluh dingin sampai jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, tapi ia tak berani berdebat dengan Thi Eng khi sebab kuatir kalau salah berbicara hingga menyebabkan keadaan yang semakin runyam.

Andaikata Thi Eng khi sampai mengambil keputusan untuk melakukan perbuatan nekad, peristiwa semacam inilah baru benar benar merupakan suatu tragedi besar.

Menyadari akan pelbagai resiko yang dihadapi, terpaksa dia harus menekan perasaan sedihnya didalam hati, kemudian sambil tertawa nyaring ia berkata .

"Anak bodoh, mengapa kau ucapkan perkataan semacam itu? Orang bilang manusia punya keinginan, Thian punya kuasa, segala sesuatu yang ada dialam semesta ini. Dialah yang menentukan! Yaya tentu saja tak akan rela membiarkan Leng-ji meninggal dengan begitu saja. Sekarang, simpan dulu pil Toh mia kim wan tersebut, kita tak usah menganggu ketenangan anak Leng disini, mari kita berunding diluar sana sambil berusaha untuk mencari akal lain."

Tidak menanti jawaban lagi, dia lantas menarik Thi Eng khi, dan diajak menuju ke ruangan lain.

Didalam kamar itu, selain Tiang Pek lojin dan putranya, juga hadir Thi Eng khi, Boan san siang koay, Tiang pek sam nio serta ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

Secara ringan Tiang pek lojin menjelaskan keadaan luka yang dialami Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian sambil memberi tanda dengan kerlingan mata kearah si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, katanya .

"Hei, orang she Cu, lohu sudah lama tak pernah terjun kedaratan Tionggoan, kini aku menjadi seseorang yang picik pengetahuannya, tolong lote suka memperkenalkan seorang tabib sakti yang bisa menyelamatkan jiwa Leng ji, lohu dan Eng ji tentu akan terima kasih sekali kepadamu."

Si pengemis sakti bermata harimau bukannya tidak melihat kerlingan mata dari Tiang pek lojin, akan tetapi ia tidak memahami maksud hati dari orang tua tersebut, maka sambil menggelengkan kepala dia berkata lebih jauh .

"Dalam daerah seputar daratan Tionggoan selama puluhan tahun ini minim dengan tabib kenamaan, aku si pengemis tua benar benar tidak berhasil menemukan nama dari seorang tabib kenamaan yang mempunyai ilmu tinggi dan bisa menyelamatkan nona Leng dari musibah ini."

Thi Eng khi segera merasakan hatinya menjadi kecut sekali, tanpa terasa titik-titik air mata jatuh bercucuran.

Dengan gelisah bercampur panik, Tiang pek lojin mendepak depakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, kemudian serunya lagi .

"Enam puluh tahun berselang, lohu masih ingat terdapat seorang tabib kenamaan didunia ini yang bernama ..... apa ...... seperti memakai julukan boneka......"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po bukannya seorang yang bodoh, akan tetapi menghadapi pertanyaan yang tidak diketahui ujung pangkalnya ini, untuk sesaat dia menjadi gelagapan sendiri dan tak tahu bagaimana musti menjawab.

Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa dia harus menjawab dengan berterus terang .

"Satu satunya tabib sakti yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada enam puluh tahun berselang adalah Giam lo heng (pendendam raja akhirat) Kwik Keng thian, selama masa jayanya belum pernah ia gagal menyelamatkan jiwa manusia sehingga pekerjaannya itu seolah olah memusuhi tugas raja akhirat, itulah sebabnya orang persilatan menghadiahkan nama Pembenci Raja akhirat kepadanya. Aai.... sayang sekali pada akhirnya dia toh tak berhasil juga memenangkan kekuasaan raja akhirat, konon selembar jiwanya juga telah menghadap ke depan Giam lo ong!"

Saking kagetnya Thi Eng khi menjerit tertahan, tubuhnya segera gontai karena sedih. Tiang pek lojin menjadi gusar sekali, teriaknya kemudian keras keras .

"Omong kosong .....! Ucapanmu benar benar ngaco belo belaka! Siapa yang mengatakan kalau si Pembenci raja akhirat sudah mati? Bukankah dia..... dia..... tinggal ditempat.... apa namanya?"

Sekarang pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po baru memahami maksud hati yang sebenarnya dari Tiang pek lojin, dengan gugup buru buru dia berganti ucapan .

"Aaah, betul betul! kemudian dia mula yang mengatakan kalau berita kematian dari Pembenci raja akhirat tak lebih cuma berita isapan jempol belaka, yang benar dia sudah tidak mencampuri urusan keduniawian lagi dan mengasingkan diri kebukit Huan keng San."

Dalam pembicaraan terakhir itu hanya satu dua bagian merupakan kenyataan, sedang delapan sampai sembilan puluh persen sisanya merupakan karangannya sendiri.

Sekalipun Thi Eng khi terhitung seorang pemuda yang amat cerdas, tapi berhubung pikiranya sedang kalut, maka apa yang didengar hanya terbatas pada apa yang ingin diketahui saja, sedangkan penyakit di balik ucapan tersebut boleh dibilang sama sekali tidak ditemukan olehnya.

Semangatnya segera berkobar kembali setelah mendengar perkataan yang terakhir itu, sambil melompat bangun serunya .

"Yaya, kamu mesti berusaha untuk mencari akal guna memperpanjang kehidupan adik Leng selama beberapa hari,sekarang juga Eng ji akan berangkat ke bukit Huan keng san!"

Begitu selesai berkata dia lantas melompat keluar dari ruangan dengan menerobosi jendela.Tiang pek lojin segera melemparkan seuntai mutiara kepadanya seraya berseru .

"Gunakanlah seuntai mutiara ini sebagai ongkos selama perjalananmu, kami akan berusaha dengan segala macam kemampuan untuk memperpanjang kehidupan anak Leng sampai kedatanganmu kembali."

Thi Eng khi tidak banyak berbicara lagi, setelah menerima untaian mutiara itu, secepat kilat dia berlalu dari sana.

Menanti pemuda itu sudah berlalu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang sudah diliputi pelbagai pertanyaan yang membingungkan hatinya, tak tahan segera berkata .

"Locianpwe, barusan kau telah memberikan teka teki apa saja kepada aku si pengemis tua?"

Tiang pek lojin segera berkerut kening kemudian dia membeberkan niat Thi Eng khi yang hendak menghabisi nyawa sendiri, setelah mendengar keterangan tersebut, semua orang baru menghela napas gegetun.

Dengan nada sedih bercampur murung, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera berkata .

"Aku tahu, watak saudara cilikku ini memang keras dan panas, sekalipun untuk sesaat aku dapat membohonginya, bukan berarti bisa membohonginya terus menerus, bagaimanakah selanjutnya?"

Seperti sudah mempunyai rencana tertentu, Tiang pek lojin segera berkata .

"Sekarang Eng ji sedang berada dalam perjalanan menuju bukit Huan keng san padahal jarak dari sini ke tempat itu tidak dekat, menanti dia tidak berhasil menemukan jejak Pembenci raja akhirat dan kembali kesini, paling tidak hal itu akan terjadi dua bulan kemudian. Nah, selama ini kita bisa pergunakan kesempatan yang ada untuk berusaha menyembuhkan penyakit dari Leng ji disamping mencari akal lain yang jauh lebih baik. Kemudian mengutus orang pula untuk mencari seseorang yang berwajah mirip dengan Leng ji untuk menggantikan kedudukan Leng ji dan menipunya sekali lagi."

"Suadara cilikku adalah seseorang pemuda yang amat cerdas, aku rasa bukan suatu pekerjaan yaag gampang untuk membohonginya. Apalagi untuk mencari seseorang yang berwajah kembar bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang."

"Apa susahnya? Asal kita berhasil menemukan seseorang yang berwajah agak mirip saja, aku sudah mempunyai akal untuk membohongi dirinya."

"Boanpwe siap mendengarkan semua keterangan dari cianpwe,"

Ucap pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kemudian.

"Asal kita bisa menemukan seseorang yang mirip, maka kita bisa saja mengatakan kalau Leng ji telah meloloskan diri dari ancaman maut dan menembusi soal keduniawian sehingga diputuskan ia hendak mencukur rambut menjadi pendeta, setelah mengenakan dandanan yang berbeda bisa dipastikan sulit buatnya untuk menemukan perbedaan tersebut. Di samping itu, kitapun bisa menggunakan alasan ini guna menjauhkan anak Leng dari Eng ji, agar Eng ji hanya bisa memandangnya dari kejauhan saja, bukankah cara ini manjur sekali?"

"Tapi dengan terjadinya peristiwa ini, entah sampai dimanakah rasa sedih saudara cilikku itu?"

Seru Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan wajah iba.

"Yaa, kita sedang menghadapi suatu masalah yang amat pelik, asal Eng ji mengetahui kalau Leng ji masih hidup, dia tak akan mencari kematian untuk diri sendiri dan inilah pekerjaan yang harus kita lakukan sekarang."

Walaupun Tiang pek lojin dapat berkata demikian tapi sampai akhirnya dia sendiripun tak dapat menahan emosinya sehingga suasana menjadi sesenggukan.

Thi Eng khi melakukan perjalanan cepat menuju kekota Yap sian setelah menjual sebutir mutiara dia membeli seekor kuda jempolan, dengan kecepatan paling tinggi melanjutkan kembali perjalanannya.

Menanti kudanya sudah tak sanggup menahan diri untuk berlari lebih jauh, dia membeli seekor kuda baru untuk menyambung kembali perjalanannya.

Begitulah seterusnya, secara beruntun dia telah membeli puluhan ekor kuda, sementara dia sendiripun sudah tiba di Se te sian dalam keresidenan Sam siang.

Pada waktu itu kudanya benar benar sudah kehabisan tenaga dan tak sanggup melanjutkan perjalanan lagi.

Se te sian merupakan suatu tempat pemberhentian yang cukup besar, manusia yang berlalu lalang disitu cukup ramai.

Dengan uang sebesar lima puluh tahil perak Thi Eng khi kembali membeli seekor kuda berbulu serba hitam yang cuma berwarna putih pada keempat kakinya.

Sepintas lalu kuda hitam itu kelihatan gagah sekali, meski demikian harganya tidak sampai mencapai lima puluh tahil, tapi penjual kuda itu selain menawarkan dengan harga murah, lagi pula setelah menerima uang segera melarikan diri, seakan akan kuatir kalau Thi Eng khi sampai merasa menyesal.

Thi Eng khi hanya berpikiran bisa cepat melanjutkan perjalanan, meski diapun merasakan keanehan dari penjual kuda itu, namun dia beranggapan mungkin kudanya kelewat binal dan sukar ditunggangi, maka penjual kuda itu keburu merat.

Thi Eng khi dengan kepandaian silatnya yang luar biasa tentu saja tidak kuatir gagal menundukkan seekor kuda binal maka diapun tidak begitu menaruh perhatian.

Sambil meningkatkan kewaspadaannya, dengan cepat dia melompat naik keatas punggung kuda itu.

Ternyata kuda berbulu hitam itu cukup jinak, sama sekali tidak melakukan perlawanan apa-apa.

Maka Thi Eng khi pun lantas menganggap kuda itu sudah cocok dengannya maka menganggap dia sebagai majikannya dan sama sekali tidak melakukan perlawanan.

Berpendapat demikian, sikapnya terhadap kuda itupun bertambah simpatik, dengan perasaan yang lega dia membedal kudanya cepatcepat.

Dalam sekejap mata puluhan li sudah dilewatkan tanpa terasa.

Kuda berbulu hitam ini memang seekor kuda yang jempolan, langkah kakinya lebar lebar dan larinya amat stabil, memang tak malu disebut seekor kuda jempolan.

Thi Eng khi sangat menguatirkan perubahan penyakit yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng, maka dia melakukan perjalanan dengan kecepatan tinggi, sekarang setelah memperoleh kuda jempolan tersebut, sudah barang tentu dia merasa girang sekali.

Dalam waktu singkat, puluhan li kembali sudah dilewati, mendadak berkumandang suara pekikan nyaring, berkumandang datang dari balik sebuah lembah bukit.

Ketika mendengar pekikan tersebut, kuda berbulu hitam itu segera menggerakkan telinganya sambil balas berpekik panjang, kemudian dengan kecepatan tinggi binatang tersebut berlarian menuju kearah mana berasalnya pekikan nyaring tadi.

"Berhenti!"

Thi Eng khi segera membentak keras.

Sambil membentak dia menggerakkan tali lesnya untuk membawa kuda berbulu hitam itu menuju kearah lain.

Tapi kali ini kuda tersebut tidak menuruti perkataannya lagi, walaupun tali lesnya sudah digerakkan berulang kali, kuda itu masih berlarian dengan kencangnya menuju ke arah mana berasalnya suara pekikan tadi.

Thi Eng khi berusaha beberapa kali lagi, ketika usahanya itu belum mendatangkan hasil juga, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia membiarkan binatang tersebut melarikan dirinya menuju kearah suara pekikan tadi.

Dengan mengendornya tarikan tali les kuda berbulu hitam itu lari semakin kencang lagi, dalam waktu singkat dia telah memasuki lembah bukit tersebut.

Dalam lembah itu penuh dengan tumbuhan pohon bambu, suasana amat hijau dan rindang.

Setelah melewati hutan bambu, sampailah mereka didepan sebuah air terjun yang berpemandangan alam sangat indah.

Air itu dimuntahkan lewat sebuah celah jurang yang amat dalam dan memancar kedalam sebuah telaga yang luas, oleh karena pancaran air terjun tersebut sangat kuat membuat gulungan ombak amat meninggi dan butiran air memercik sampai dimana-mana.

Disamping kiri telaga besar itu terdapat sebuah bangunan rumah berloteng yang megah, bangunan tersebut dibangun menghadap ke arah telaga sehingga tampak mungil dan menarik hati.

Kuda berbulu hitam itu sama sekali tidak mengurangi kecepatan larinya, dengan cepat binatang tadi lari menuju ke depan bangunan berloteng itu dan berhenti, sejak itu binatang tadi tidak bergerak lagi.

Jelas kuda ini mengerti akan inti sari ilmu silat tingkat tinggi, sebab gaya yang ditunjukkan kuda itu sekarang merupakan gerakan Teng im lik ki (berhenti diawan berdiri tegak) dari suatu ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.

"Aaaai....!"

Thi Eng khi segera berseru tertahan wajahnya segera menunjukkan perasaan kaget bercampur tercengang.

Belum lagi dia melompat turun dari kudanya, mendadak dari balik jendela bangunan rumah berloteng itu sudah melayang turun sesosok bayangan manusia berbaju putih, dia adalah seorang sastrawan yang amat tampan sekali.

Begitu melayang turun dihadapan kuda tersebut, tegurnya sambil tertawa .

"Siauseng memang kurang sopan sehingga tiba tiba saja menganggu perjalanan Thi ciangbujin!"

Thi Eng khi ketika itu hanya rnemikirkan tentang keselamatan dari Pek leng siancu So Bwe leng belaka, ia tidak berniat turun dari kudanya. Maka sambil menjura dari atas punggung kudanya, dia berkata .

"Saudara mengundang aku datang kemari, tolong tanya ada urusan apakah yang hendak disampaikan?"

Sastrawan berbaju putih itu segera tertawa ramah, ujarnya .

"Siaute she Seng bernama Tiok sian, sudah lama mengagumi kegagahan saudara Thi bersediakah saudara Thi bersahabat dengan diriku....?"

Sejak berjumpa dengan Seng Tiok sian, Thi Eng khi sudah mempunyai kesan yang mendalam terhadap orang ini, tapi lantaran kuatir kalau perbincangan mereka akan menunda perjalanannya, terpaksa ia menjura kembali dari atas kudanya sambil berkata.

"Saudara Seng adalah seorang yang gagah siaute kuatir tak sanggup untuk menerima uluran tanganmu itu?"

Seng Tiok sian segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh.... haahhh.... saudara Thi kalau toh kau bersedia memberi muka kepada siaute, mengapa tidak turun dari kudamu dan beristirahat sebentar dalam ruangan agar kita bisa berbincang bincang semalam suntuk."

Thi Eng-khi segera tertawa getir.

"Maaf, kebetulan siaute ada urusan penting yang harus segera diselesaikan sehingga tak mungkin bisa berdiam kelewat lama di sini, bagaimana kalau perbincangan ini kita tunda sampai di kemudian hari saja?"

Sambil berkata dia lantas menggerakkan tali les kudanya siap berlari dari situ.

Tapi aneh sekali, bagaimanapun Thi Eng khi berusaha untuk menggerakkan tali les kudanya, ternyata kuda berbulu hitam itu hanya meringkik belaka tanpa bergerak dari tempat semula.

Seng Tiok-sian segera menepuk-nepuk kepala kuda berbulu hitam itu seraya berkata .

"Meh-ji, hantarlah saudara Thi ke belakang, kemudian kau baru balik kembali!"

Thi Eng khi yang mendengar perkataan itu jadi tertegun, sambil berseru tertahan dia segera melompat turun dari atas punggung kuda berbulu hitam itu.

Setelah melompat turun dari kuda tersebut, Thi Eng khi baru berkata agak gugup .

"Ooh.... rupanya kuda jempolan ini adalah kuda milik saudara Seng...?"

Seng Tiok sian segera manggut manggut.

"Yaa, berhubung siaute kuatir saudara Thi enggan datang kernari, maka kugunakan sedikit akal untuk mengundangmu kemari, harap kau bersedia tinggal disini!"

Baca Juga: Pendekar Binal 1

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert