Ceritasilat Novel Online

Pukulan Naga Sakti 5

Eps 5 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.

Pada mulanya Thi Eng khi mengira dirinya sudah membeli seekor kuda jempolan, siapa tahu kuda tersebut sudah ada pemiliknya, kehilangan kuda adalah soal kecil, menelantarkan persoalan baru merupakan masalah yang besar.

Maka setelah memandang sekejap ke arah kuda berbulu hitam itu dengan pandangan berat hati, tiba tiba dia membusungkan dadanya dan berseru lagi .

"Baiklah, kalau toh begitu, harap saudara Seng bersedia untuk menerima kembali kudamu itu, siaute ingin mohon diri lebih dulu."

Dia lantas membalikkan badannya siap berlalu dari situ. Seng Tiok sian segera melayang ke depan menghadang jalan pergi dari Thi Eng khi, katanya .

"Saudara Thi, jika kau tidak bersedia berbincang bincang dengan siaute, harap kau suka mengutarakan kesulitan hatimu, siaute bersedia untuk membantumu dengan sepenuh tenaga."

Walaupun Thi Eng khi merasa Seng Tiok sian adalah seorang yang gagah tentu saja dia tak menyangka kalau orang itu merupakan seorang ahli waris dari seorang tabib kenamaan dalam dunia persilatan.

Sambil bermuram durja dan tertawa getir, sahutnya cepat .

"Siaute ada urusun penting hendak pergi ke bukit Huan keng san untuk mencari seorang locianpwe!"

Ketika Seng Tiok sian menyaksikan Thi Eng khi tak mau berbicara terus terang, diapun tidak banyak bertanya lagi, sambil memanggil kuda berbulu hitamnya dia lantas berkata.

"Bila saudara Thi tidak keberatan, bagaimana kalau kau gunakan kudaku untuk melanjutkan perjalanan?"

Melihat maksud baik orang, Thi Eng khi pun tidak menampik lagi, dengan cepat dia melompat naik ke atas punggung kuda berbulu hitam itu seraya ujarnya .

"Terima kasih banyak atas maksud baik saudara Seng, bila urusan telah selesai nanti, siaute pasti akan berkunjung kembali ke sini sambil menyampaikan rasa terima kasihku."

Dengan cepat dia mencemplak kuda itu dan kabur meninggalkan tempat tersebut.

Seng Tiok sian hanya memandang bayangan punggung Thi Eng khi yang menjauh dengan termangu mangu, lama kemudian dia baru menghela napas panjang dan balik ke dalam rumahnya.

Sementara itu Thi Eng khi telah membedal kudanya secepat hembusan angin, dalam waktu singkat dia telah keluar dari lembah itu menuju ke jalan raya.

Sebelum hari menjadi gelap sorenya, dia telah tiba di Lu si.

Thi Eng khi kuatir kudanya yang lari kelewat cepat akan mengejutkan orang orang yang hendak masuk ke dalam kota maka diapun melambankan lari kudanya sambil memasuki kota.

Ketika baru sampai puluhan kaki didepan pintu kota mendadak ia saksikan ada dua orang manusia sedang berlarian keluar dari balik kota tersebut.

Thi Eng khi buru buru menjalankan kudanya menyingkir ke samping, dengan kecepatan tinggi kedua sosok bayangan manusia itu segera berkelebat lewat dari sisinya.

Menanti kedua sosok bayangan manusia itu sudah lewat berapa saat lamanya, Thi Eng Khi batu teringat akan sesuatu, dia segera berseru tertahan.

"Aaai.... Bukannya orang yang lari di depan seperti dikejar orang itu adalah Ban li tui hong Cu tayhiap? Yaa, sudah pasti dia....."

Menyusul kemudian dengan suara kaget dia lantas berteriak dengan suara dalam .

"Sekarang dia dikejar kejar orang, aku tak dapat berpeluk tangan belaka."

Dengan cepat dia membalikkan kudanya dan mengejar dari belakang.

Ban li tui hong (Selaksa li pengejar angin) Cu Ngo merupakan orang persilatan pertama yang dijumpai Thi Eng khi, demi keselamatannya pihak Thian liong pay juga telah menghadiahkan sebutir pit Toh mia kim wan yang merupakan mestika dari perguruan naga langit itu untuknya, itulah sebabnya Thi Eng khi mempunyai kesan yang mendalam sekali terhadap orang itu.

Justru karena timbulnya suatu perasaan yang tak terlukiskan dengan kata kata didalam hatinya maka diapun segera menyusul dari belakang dengan perasaan kuatir.

Dari kejauhan sana, dia saksikan sesosok bayangan manusia kembali menampakkan diri dari sisi jalan untuk menghadang jalan pergi dari Ban li tui hong Cu Ngo.

Tergerak hati Thi Eng khi setelah menyaksikan kejadian itu, dia ingin mencari tahu lebih dulu apa gerangan yang telah terjadi diantara beberapa orang itu.

Dengan suatu gerakan yang ringan dia lantas melayang turun dari kudanya dan pelan pelan berjalan mendekat.

Sementara itu rembulan telah rnuncul diangkasa dan memancarkan sinarnya yang keperak perakan diatas wajah ketiga orang itu, sehingga raut wajah maupun potongan badan mereka dapat terlihat jelas.

Tak salah lagi, orang yang terkurung itu memang tak lain adalah Ban li tui hong Cu Ngo.

Sedangkan dua orang lainnya adalah kakek berusia lima puluh tahunan, yang seorang bersenjatakan sebuah senjata aneh, sedangkan yang lain membawa sebilah pedang panjang.

Tampak sikakek yang bersenjatakan aneh itu berkata dengan suara dalam .

"Orang menyebut Ban li tui hong Cu Ngo sebagai seorang lelaki sejati dalam dunia persilatan, dimasa lalu lohu percaya seratus persen dengan perkataan itu, tapi sekarang apa yang bisa kau katakan lagi? Hayo jawab!"

Tampaknya Ban li tui hong Cu Ngo seperti merasa amat panik, dia mundur selangkah seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi kemudian niat tersebut diurungkan kembali, dengan mulut membungkam dalam seribu bahasa dia berdiri tak berkutik ditempat semula .

"Cu Ngo, kami tak akan banyak berbicara lagi, aku harap kau mempertimbangkan dirimu sendiri dan berikanlah suatu pertanggung jawaban kepada kami!"

Didesak secara begini, terpaksa Ban li tui hong Cu Ngo baru buka suara, dia menghela napas panjang, lalu ujarnya .

"Yan ciangbunjin, Pi tayhiap, asal kalian berdua suka bermurah hati dengan melepaskan diriku dikemudian hari aku pasti tak akan membuat kalian berdua menjadi kecewa, tapi dewasa ini aku benar benar mempunyai kesulitan yang tak bisa dielakkan lagi, sulit bagiku untuk menerangkan kesemua itu kepada kalian."

Yan ciangbunjin tak lain adalah si kakek yang bersenjatakan aneh itu sambil menahan marahnya dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak amat nyaring.

''Haaahhhh....

haaaahhh...

haaaahhhh...

hari ini saja kau sudah tidak memandang sebelah matapun terhadap aku orang she Yan, apalagi dikemudian hari, siapa yang akan mempercayai dirimu?

Bila kau tidak menerangkan hal yang sebenarnya, jangan salahkan kalau aku Yan Ceng wi tak akan berbuat sungkan sungkan lagi."

Sam siang kiam kek (jago pedang dari sam siang) Pi Kiat atau si kakek bersenjata pedang itu turut membentak pula .

"Cu Ngo, dalam sepasang mata aku orang she Pi telah kemasukan pasir, kau anggap kami benar benar tidak mengetahui latar belakangmu itu?"

Ban li tui hong Cu Ngo benar benar terdesak sehingga tak marnpu berkata apa-apa lagi.

Melihat lawannya membungkam, Sam siang kiam kek Pi Kiat segera menuding kearah ujung hidung Ban li tui hong Cu Ngo sambil mencaci maki kalang kabut .

"Semenjak kapan kau menjadi kaki tangannya pihak Ban seng kiong? Rencana keji apakah yang kau bawa dengan kehadiranmu dikota Seng ciu ini?"

"Jika kau tahu diri, cepat utarakan semua rencanamu itu dengan sejelas-jelasnya, hari ini pun kami berjanji tak akan menyusahkan dirimu."

Thi Eng khi yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi kaget bercampur tercengang, sebab dia tahu Ban li tui hong Cu Ngo hampir saja tewas di tangan Huan im sin ang dimasa lalu, kalau dibilang dia bergabung dengan pihak Ban seng kiong sekarang, kejadian ini benar-benar membuatnya tidak percaya.

Tampaknya rahasia hati Ban li tui hong Cu Ngo tersentuh, sehingga diapun turut naik darah, dengan cepat suaranya berubah makin ketus dan kasar, katanya .

"Aku tak bisa berkata apa-apa lagi jika kalian berdua mempunyai suatu kemampuan, akan kusambut semuanya dengan lapang dada!"

Seraya berkata, dia lantas mengeluarkan sepasang senjatanya dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Sam siang kiam kek Pi Kiat benar-benar amat gusar, sambil tertawa keras teriaknya .

"Bagus! Bagus sekali, biar aku Pi Kiat yang mencoba dahulu kelihayan ilmu silat Cu tayhiap!"

"Nguuunnng.!"

Diiringi desingan angin tajam, pedang ditangan Sam siang kiam kek Pi Kiat menyambar ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, kekuatannya amat lihay, jelas dia mempunyai kesempurnaan yang menyakinkan didalarn permainan ilmu pedangnya.

Ban li tui hong Cu Ngo merasa terkejut sekali, dengan perasaan bergetar keras dia menarik napas panjang-panjang, senjatanya segera di putar dengan jurus Tay lian wang gwat (mengungkap tirai menengok rembulan) balas menggulung ke atas.

Sam siang kiam kek Pi Kiat segera tertawa dingin.

"Sambutlah sebuah seranganku ini!"

Serunya.

Pedangnya dengan membawa desingan angin tajam, dengan taktik menotok, mencukil dan menusuk tiga macam perubahan segera meneter musuhnya habis-habisan.

Kesempurnaan tenaga dalam yang menyakinkan ditambah dengan kelincahan gerakan tubuhnya membuat serangan tersebut berlipat ganda kehebatannya.

Keistimewaan dari kepandaian yang dimiliki Ban li tui hong Cu Ngo adalah ilmu meringankan tubuh, kalau berbicara tentang kepandaian silat yang sebenarnya dimiliki, dia masih kalah setingkat kalau dibandingkan dengan kemampuan dari Sam siang kiam kek Pi Kiat.

Tanpa terasa perasaannya menjadi tercekat, serangan tersebut tidak berani disambut dengan kekerasan, sambil membalikkan tubuhnya dengan gaya Hwee hong wu liu (pusaran angin menarikan daun) dia meloloskan diri dari ancaman pedang itu sambil mundur sejauh lima langkah.

Sam siang kiam kek Pi Kiat sama sekali tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk menghindar, berikut pedangnya berputar kencang lalu diiringi desingan angin serangan yang memekikkan telinga,dia mengurung seluruh tubuh Ban li tui hong Cu Ngo.

Kedahsyatan dari serangan itu pada hakekatnya benar benar mengerikan sekali.

Dalam keadaan seperti ini, terpaksa Ban li tui hong Cu Ngo harus memberikan perlawanan dengan sekuat tenaga, sepasang kaitan bajanya dengan menciptakan selapis cahaya tajam langsung menyongsong datangnya ancaman lawan, sekaligus dia sambut kelima jurus serangan tanpa gentar.

Walaupun dalam soal tenaga dalam Ban li tui hong Cu Ngo masih belum sanggup untuk menandingi Sam siang kiam kek Pi Kiat, namun ilmu gerakan tubuhnya yang sempurna telah menutupi kelemahannya disektor tenaga dalam, itulan sebabnya untuk sementara waktu dia masih mampu untuk menghadapi serangan serangan gencar dari lawannya.

Begitu berpisah tubuh kedua orang itu saling menubruk maju lagi, dalam waktu singkat kedua puluh jurus sudah lewat tanpa terasa.

Begitu pertarungan berlangsung agak lama akhirnya toh Ban li tui hong Cu Ngo kena terdesak juga sehingga kalang kabut sendiri, langkahnya makin lamban dan gerakan tubuhnya semakin kaku.

Sekarang dia mulai sadar, bila keadaan seperti ini dilangsungkan lebih jauh, maka sulit baginya untuk bertahan sebanyak sepuluh gebrakkan lagi.

Tampaklah cahaya pedang yang memancar keluar dari permainan Sam siang kiam kek Pi Kiat makin lama semakin memancar keempat penjuru, diiringi berkumandangnya suara pekikan nyaring, terdengar jagoan tersebut membentak keras .

"Lepas tangan!"

"Traang....!"

Benturan nyaring berkumandang memecah keheningan, ditengah kegelapan malam tampak dua titik cahaya berkilauan diangkasa, tahu tahu senjata kaitan pendek milik Ban li tui hong Cu Ngo sudah tergetar lepas dari cekalannya.

Dengan suatu gerakan cepat Ban li tui hong Cu Ngo melayang mundur sejauh satu kaki, akan tetapi dia belum berhasil juga meloloskan diri dari ancaman ujung pedang Sam siang kiam kek Pi Kiat yang telah menempel diatas dadanya itu.

Untuk sesaat suasana menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun, namun suasananya justru jauh lebih tegang.

Dengan suara menggeledek, Sam siang kiam kek Pi Kiat, membentaknya nyaring .

"Cu Ngo, apa yang kau hendak katakan lagi?"

Ban li tui hong Cu Ngo segera memejamkan matanya rapat-rapat, jawabnya tenang .

"Aku akan menanti kematianku!"

Jawaban ini sangat menggusarkan Sam siang kiam kek Pi Kiat, dia mendengus dingin, lalu serunya .

"Kau anggap lohu tidak berani membunuh orang?"

Pedangnya digetarkan kedepan dan .....

"Breeet!"

Pakaian bagian dada yang dikenakan Ban li tui hong Cu Ngo segera tersambar robek sepanjang lima inci lebih, di antara lekukan dada yang kekar tampak ujung pedang tersebut sudah mengancam diatas dadanya, asal senjata mana digerakan lebih ke muka, niscaya kulit dada yang kekar tersebut akan terobek dan berdarah.

Yan Ceng wi segera maju ke depan dan menangkis senjata pedang Sam siang kiam kek Pi Kiat dengan senjata swastikanya, ia berseru .

"Saudara Pi, harap ampuni selembar jiwanya, mungkin saja Cu tayhiap memang benar-benar mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan kepada orang lain, lebih baik kita lepaskan dirinya saja."

Jelas dia membatalkan niatnya semula karena menyaksikan kegagahan Ban li tui hong Cu Ngo yang tidak gentar menghadapi ancaman bahaya maut.

Sam siang kiam kek Pi kiat segera menarik kembali senjatanya, kemudian berkata .

"Baiklah, hari ini kuampuni selembar jiwamu, semoga saja kau bisa tahu diri dan jangan membantu kaum penjahat untuk berbuat kekejian lagi...."

Ban li tui hong Cu Ngo berdiri dengan wajah amat sedih, tanpa menggubris senjata kaitan pendeknya yang terlepas dari cekalan lagi, dia segera menjejakkan sepasang kakinya ke tanah dan meluncur sejauh tiga kaki dari tempat semula.

"Cu tayhiap tunggu sebentar!"

Thi Eng khi segera menampakkan diri dan menghadang jalan perginya Ban li tui hong Cu Ngo tentu saja tak akan menyangka kalau orang yang akan munculkan diri dan menghadang jalan perginya adalah Thi Eng khi, dalam gusarnya dia segera membentak keras .

"Mau apa kau?"

Sepasang telapak tangannya segera didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat. Dengan cepat Thi Eng khi menyambut sebuah serangan dari Ban li tui hong Cu Ngo kemudian katanya .

"Cu tayhiap jangan salah paham, aku adalah Thi Eng khi."

Dengan cepat Ban li tui hong Cu Ngo mundur sejauh tiga langkah, dengan wajah kebingungan dan ragu dia berseru kemudian .

"Saudara Thi, kau?"

Sementara mereka sedang bertanya jawab, Yan ciangbunjin dan Sam siang kiam kek Pi Kiat telah berjalan mendekat.

Kedua orang itu segera memperhatikan Thi Eng khi sekejap kemudian dengan penuh kewaspadaan berjalan makin mendekat.

Sam siang kiam kek Pi Kiat telah menganggap pemuda itu sebagai komplotan dari Ban li tui hong Cu Ngo, dengan suara dingin dia segera menegur.

"Siapakah kau?"

Melihat kedua orang itupun menaruh kesalahan paham pada dirinya, Thi Eng khi tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab.

Ban li tui hong Cu Ngo yang sikapnya sama sekali telah berubah, buru buru memperkenalkan .

"Dia adalah Thi ciangbunjin dari partai Thian liong pay!"

Yan ciangbunjin Yan Ceng wi dan Sam siang kiam kek Pi kiat sama sama tertegun pula, kemudian katanya .

"Oooh.... rupanya Thi ciangbunjin!"

Perlu diketahui, semenjak pertemuan para jago dibukit Siong san, walaupun Thi Eng khi tidak mendemonstrasikan kepandaian silatnya dalam pertemuan itu namun kegagahannya yang luar biasa telah tersiar luas sampai diseluruh dunia persilatan.

Betul waktu itu kepercayaan orang kepadanya berkurang separuh akibat hasutan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, tapi Yan Ceng wi dan Sam Siang kiam kek Pi kiat tetap mengagumi dirinya.

Sekali lagi Thi Eng khi memberi hormat kepada kedua orang itu, kemudian dengan wajah serius dia baru berkata kepada Ban li tui hong Cu Ngo .

"Cu tayhiap, bila kau bersedia memberi muka kepadaku, harap jawablah pertanyaan dari Yan tayhiap dan Pi tayhiap tadi!"

Thi Eng khi mempunyai kesan yang sangat baik terhadap Ban li tui hong Cu Ngo maka dia tak ingin rekannya ini dicurigai orang, maka diputuskan akan menerangkan semua persoalan sampai jelas.

Berada dihadapan Thi Eng khi, ternyata Ban li tui hong Cu Ngo telah berubah semua sikapnya tadi, tanpa banyak alasan dia segera menyanggupi permintaan orang.

Sam siang kiam kek Pi kiat dan Yan Ceng wi segera saling berpandangan sekejap setelah menyaksikan kejadian itu, mereka sama sekali tidak menyangka kalau Ban li tui hong Cu Ngo bisa bersikap begitu hormat kepada Thi Eng khi.

Oleh karena itulah, merekapun lantas mempunyai pandangan yang lain pula terhadap Thi Eng khi.

Mereka berdua lantas menawarkan kepada Thi Eng khi dan Ban li tui hong Cu Ngo untuk berbincang bincang didalam kota raja.

Thi Eng khi sendiri memang ada minat untuk bermalam di kota Lu si, tentu saja dia tidak menampikkan tawaran tersebut.

Sebaliknya Ban li tui hong Cu Ngo segera berkerut kening seraya berkata .

"Dalam kota banyak orang dan kurang leluasa untuk berbincang bincang, menurut pendapatku lebih baik kita mencari suatu tempat disekitar tempat ini saja untuk berbicara."

Ketika Sam siang kiam kek Pi Kiat menyaksikan Ban li tui hong Cu Ngo berbicara dengan amat serius, dia lantas menduga kalau apa yang hendak dibicarakan orang she Cu itu adalah suatu masalah yang maha penting dan tak ingin diketahui orang lain.

Maka setelah berpikir sebentar katanya .

"Aku mempunyai suatu tempat yang cukup rahasia letaknya harap kalian suka mengikuti diriku."

Thi Eng khi segera menuntun datang kuda berbulu hitamnya, ketika Sam siang kiam kek dan Yan ciangbunjin menjumpai Meh liong kou atau kuda naga hitam itu, diatas wajah mereka segera terlintas suatu perubahan yang sangat aneh, tapi mereka tidak berbicara apa apa lebih jauh.

Begitulah, dipimpin oleh Sam siang kiam kek Pi Kiat, berangkatlah mereka menembusi sebuah hutan memasuki sebuah lembah dan setelah berbelok kesana kemari akhirnya tiba didepan sebuah gua.

Sam Siang Kiam kek Pi Kiat segera menggerakkan tangannya meraba dinding gua itu mendadak diiringi suara nyaring muncul sebuah pintu gua yang lebar.

Semua orang berikut kuda segera melangkah masuk kedalam gua tersebut, begitu mereka tiba dalam ruangan, pintu gua itupun menutup kembali secara otomatis.

Yang lebih mengagumkan adalah suasana dalam ruangan yang terang benderang.

Sambil membawa sebuah lentera Sam siang kiam kek Pi Kiat mengajak mereka menelusuri sebuah lorong yang panjang dan memasuki sebuah ruang batu yang mirip sekali dengan sebuah kamar baca.

Sam siang kiam kek Pi Kiat segera mempersilahkan semua orang duduk, kemudian sambil tertawa katanya .

"Tempat ini merupakan tempat siaute untuk menghindarkan diri dari keramaian bila Cu tayhiap ingin mengucapkan sesuatu, katakan saja berterus terang, kujamin tak akan sampai bocor keluar!"

Menyusul kemudian penuturan dari Ban li tui hong Cu Ngo membuat semua orang menjadi tertegun.

Jilid 16 Kiranya setelah Ban li tui hong Cu Ngo ditolong jiwanya oleh Thian liong ngo siang dengan obat Toh mia kim wan dan meninggalkan perkumpulan Thian liong pay, tak lama kemudian ia terjatuh kembali ke tangan Huan im sin ang.

Tapi kali ini Huan im sin ang tidak menghendaki selembar jiwanya, melainkan mengancam dengan menggunakan nyawa dari Thi Eng khi serta Thian lion ngo siang sebagai taruhannya, Ban li tui hong Cu Ngo diperintahkan untuk menuruti semua perkataannya.

Ban li tui hong adalah seorang pendekar sejati di dalam dunia persilatan, sebagai seorang yang mengutamakan budi, setelah selembar jiwanya ditolong pihak Thian liong pay, tentu saja dia tak ingin disebabkan dirinya sehingga berakibat mencelakai jiwa tuan penolongnya.

Itulah sebabnya dengan syarat Huan im sin ang tak akan mencelakai jiwa Thi Eng khi dan Thian liong ngo siang, dia bersedia menjadi anak buahnya Huan im sin ang dan berbakti baginya.

Itulah sebabnya ketika Thi Eng khi datang ke perkampungan Ki hian san ceng tahun lalu, pemuda tersebut tidak bertemu dengan dirinya.

Kemudian Ban li tui hong Cu Ngo mendengar pula banyak kabar tentang Thi Eng khi, Huan im sin ang kuatir dia berkhianat maka kecuali mengancam dengan menggunakan keselamatan orang-orang Thian liong pay, diapun menggunakan suatu cara yang keji untuk mencelakai dirinya sehingga membuat jago ini tak berani menaruh perasaan untuk memberontak .....

Di samping itu, Ban li tui hong Cu Ngo yang sudah lama bergaul dengan Huan im sin ang, lama lama timbul juga perasaan ngeri bercampur takut terhadap car kerja serta kepandaian yang dimiliki Huan im sin ang ......

Betul, dia bisa saja tak usah menggubris keselamatan jiwanya, tapi ia tak bisa tidak harus memikirkan keselamatan dari orang orang Thian liong pay yang merupakan tuan penolongnya.

Ketika selesai mendengarkan kisah tersebut, Thi Eng khi segera menghela napas panjang, katanya .

"Padahal sikap Huan im sin ang terhadap diriku bukannya berubah karena Cu tayhiap bersedia mendengarkan perkataannya, penipuan semacam ini bukan cuma dialami oleh Cu tayhiap seorang, cucu kesayangan dari Tiang pek lojin pun merupakan suatu contoh yang paling baik."

Menyusul kemudian dia lantas menceritakan kembali kisah tragis yang telah menimpa So Bwe leng. Setelah mendengarkan penuturan itu, Ban li tui hong Cu Ngo menghela napas panjang, katanya kemudian .

"Aaai, itu berarti pengorbananku selama ini untuk menuruti perkataan bajingan itu hanya sia-sia belaka, mulai sekarang sekalipun aku harus tersiksa dan menderita, tak akan kuturuti lagi perkataan dari bajingan tua itu."

Thi Eng khi segera menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Menurut pendapatku, untuk sementara waktu lebih bak Cu tayhiap tetap berada dalam istana Ban seng kiong lebih dulu!"

Katanya.

"Thi ciangbunjin, harap kau jangan mengejek diriku!"

Seru Ban li tui hong Cu Ngo sambil tertawa getir.

"Cu tayhiap selanjutnya bila kau dapat menyampaikan semua kabar atau rahasia yang kau ketahui tentang Huan im sin ang, bukankah hal ini berarti akan menguntungkan dunia persilatan?"

"Baiklah, aku akan menuruti perintah!"

Ucap Ban li tui hong Cu Ngo kemudian dengan wajah sungguh sungguh.

Maka merekapun membicarakan pula cara untuk saling mengadakan kontak rahasia, sehingga untuk sesaat membuat Sam siang kiam kek dan Yan ciangbunjin melupakan persoalan yang paling dikuatirkan oleh mereka.

Menanti persoalan tersebut sudah ada keputusannya, dengan agak tersipu sipu Sam siang kiam kek Pi Kiat baru menyinggung kembali persoalan lama.

"Cu tayhiap, sebenarnya tugas apakah yang kau bawa dalam kedatanganmu ke propinsi Sam siang ini?"

"Siaute datang untuk menyelidiki jejak dari seorang locianpwe ....."

Jawab Ban li tui hong Cu Ngo tanpa tedeng aling aling lagi.

"Siapakah locianpwe itu?"

Tanya Yan Ciangbunjin.

"Pada puluhan tahun berselang, locianpwe itu merupakan seorang tabib sakti yang amat termasyur dalam dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Giam lo heng (pembenci raja akhirat) Kwik Keng thian, Kwik locianpwe."

"Kwik locianpwe?"

Seru Yan Ceng wi dan Sam siang kiam kek hampir berbareng.

"Bukankah dia orang tua telah meninggal dunia?"

"Locianpwe itu benar-benar sudah meninggal dunia?"

Seru Thi Eng khi pula dengan wajah tegang. Sam siang kiam kek Pi Kiat manggut manggut.

"Walaupun Kwik locianpwe adalah penduduk Sam siang, tapi sudah lama ia meninggal dunia, dan lagi dimasa lalu diapun tidak berdiam disekitar tempat ini."

Thi Eng khi segera merasakan hatinya menjadi dingin dan sedih, untuk sesaat dia tertunduk dengan wajah murung. Tiba-tiba Sam siang kiam kek Pi Kiat berkata lagi .

"Cuma orang persilatan memang sukar diketahui mati hidupnya, bisa saja orang yang masih hidup dianggap sudah mati, bisa saja orang yang sudah mati dianggap hidup, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak dapat mengatakan secara pasti."

Perasaan Thi Eng khi yang sudah diliputi perasaaan kecewa itu segera berkobar kembali setitik pengharapan, walaupun pengharapan itu sedemikian tipisnya, namun dia tak akan melepaskannya dengan begitu saja.

Yan Ceng wi lantas bertanya lagi .

"Tahukan Cu tayhiap, apa yang menjadi tujuan Huan im sin ang dalam usahanya menemukan jejaknya dari Giam lo heng Kwik locianpwe?"

"Dalam memberikan perintahnya kepada seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan, gembong iblis itu tak pernah menerangkan alasannya, tugasku hanya melakukan pemeriksaan di sekitar tempat ini, tentang persoalan selanjutnya bila jejak Kwik locianpwe diketahui, aku kurang bergitu mengerti."

"Apakah kau sudah mendapatkan sesuatu hasil?"

Buru buru Thi Eng khi bertanya. Ban li tui hong Cu Ngo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya .

"Mencari sebatang jarum di dasar samudera, apakah pekerjaan ini bisa dianggap gampang? Sudah setengah tahun lamanya aku bekerja keras, namun setitik bayangan pun tidak berhasil kutemukan, malahan jejakku ini menimbulkan kecurigaan dari Yan ciangbunjin dan Pi tayhiap."

Sam siang kiam kek Pi Kiat segera tertawa lebar, ujarnya .

"Yan ciangbunjin sudah menaruh perasaan was was terhadap kemunculan Huan im sin ang di dalam dunia persilatan, oleh sebab itu semua anggota perguruannya melakukan pengawasan yang ketat terhadap setiap umat persilatan yang datang dari luar, apalagi kedatangan Cu tayhiap ke tempat ini sudah mencapai setengah tahun lamanya, apakah hal ini tak akan menimbulkan kecurigaan orang?"

Ban li tui hong Cu Ngo segera menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu, katanya .

"Andaikata setiap umat persilatan di pelbagai daerah bisa berwas was seperti Yan ciangbunjin, sudah pasti Huan im sin ang tak akan berhasil memperoleh hasil seperti apa yang dia capai pada saat ini."

Jelas dari ucapan tersebut menunjukkan kalau kekuasaan Huan im sin ang telah meliputi seantero jagad.

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi bertiga menjadi murung, kesal dan sedih.

Mendadak Ban li tui hong Cu Ngo bangkit berdiri, kemudian ujarnya dengan keras .

"Sekarang jejakku sudah ketahuan, sudah jelas aku tak dapat berdiam disini lebih lama lagi, aku harus segera kembali untuk menyampaikan laporan."

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh .

"Setelah kepergianku, harap kalian berdua suka memperhatikan dengan lebih seksama lagi terhadap daerah di sekitar di tempat ini, kemungkinan besar gembong iblis tua itu akan mengirim orang lain untuk datang kemari."

Thi Eng khi segera menyampaikan pula pesannya tentang tempat tempat untuk mengadakan kontak, tapi toh dia tetap bersabar tidak mengungkapkan tujuannya untuk mencari si pendendam raja akhirat Kwik Kong thian, bukannya dia tak percaya terhadap mereka, melainkan kuatir kalau sampai terjadi hal-hal yang sama sekali diluar dugaan.

Setelah semua orang keluar dari lembah, merekapun berpencar menuju ke tempat tujuan masing-masing.

Thi Eng khi menginap semalam di kota Lu si, untuk kemudian pada keesokan harinya melanjutkan kembali perjalanannya.

Walaupun bukit Huan keng san terletak di propinsi Kui ciu, tapi letaknya berada di antara sungai Wan kang dan Hu kang, sehingga bersambungan dengan bukit Bu leng san.

Dengan melewati Kan sia, Thi Eng khi berangkat ke Siong tho dan masuk propinsi Oulam.

Baru saja dia bersiap siap untuk mendaki bukit itu, mendadak suara ringkikan kuda berkumandang dari balik sebuah lembah bukit.

Ketika mendengar suara pekikan tersebut, kuda hitam Hek liong kou turut meringkik keras, kemudian dengan suatu gerakan yang amat cepat menerjang masuk kedalam lembah itu.

Setelah ada pengalaman sekali, Thi Eng khi tidak mengekang jalan lari kuda Hek liong kou tersebut, dia membiarkan kuda itu lari semaunya sendiri disamping rasa ingin tahunya membuat diapun bernapsu untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi di situ.

Kuda Hek liong kou yang ditunggangi Thi Eng khi berlari amat kencang sekali, sebelum memasuki lembah bukit tersebut mendadak tampak sesosok bayangan hitam sedang meluncur keluar dari balik lembah dengan kecepatan tinggi.

Ternyata bayangan hitam itupun merupakan seekor kuda Hek liong kou pula, dengan gerak gerik seperti gembira, kuda hitam tersebut menyongsong kedatangan mereka.

Kuda hitam yang ditunggungi Thi Eng khi segera meluncur maju beberapa kaki kemudian saling bergesekan dengan kuda hitam yang baru muncul.

Melihat hal itu, Thi Eng khi segera melompat turun dari punggung kudanya dan membiarkan sepasang kuda hitam itu saling bermesraan, pikirnya .

"Jika kuda Hek liong kou ini tiada pemiliknya, ooh, sungguh menyenangkan sekali."

Maka diapun segera mengamati pelana kuda Hek liong kou itu dengan seksama, dia ingin tahu apakah diatas punggung kuda itu terdapat barang lain.

Mendadak terdengar ujung baju tersampok angin bergema datang dari belakang tubuhnya, buru buru dia membalikkan badannya sambil bersiap siap.

Tampaklah seorang kakek berjubah lebar berwarna kuning telah berdiri tak jauh di belakang tubuhnya.

Agaknya kakek itu tak menyangka kalau Thi Eng khi memiliki kepandaian silat yang begitu tinggi, sehingga gerakan tubuhnya segera diketahui pemuda itu begitu dia mencoba untuk mendekat, rasa tercengang dengan cepat menyelimuti wajahnya.

Kakek berjubah kuning itu tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa gelak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haahhhh.... anak muda, tajam benar pendengaranmu! Benar benar tak malu disebut seorang jagoan muda dalam dunia persilatan. Yaa, lohu memang sudah tua, orang baru memang harus menggantikan yang tua!"

Baru pertama kali ini Thi Eng khi dipuji orang, mukanya yang putih kontan saja berubah menjadi merah padam karena malu.

"Locianpwe terlalu memuji, membuat aku menjadi malu saja,"

Katanya sambil tersenyum.

"Locianpwe gagal dan berwajah anggun, sudah pasti seorang tokoh sakti, bolehkah aku tahu siapa namamu?"

Kakek berjubah kuning itu menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sudah puluhan tahun lamanya lohu tak pernah menginjakkan kaki dalam dunia persilatan, nama yang lalu tak usah disinggung kembali! Kulihat engkoh cilik menyoren pedang Thian liong kim kiam, apakah kau adalah Thi ciangbunjin dari Thian liong pay?"

Padahal Thi Eng khi tak usah berpikir panjang pun dia dapat menemukan banyak sekali titik kelemahan dibalik ucapan si kakek berjubah kuning itu, seandainya dia benar benar tidak mencampuri urusan dunia persilatan, darimana pula bisa mengetahui namanya?

Cuma saja dia merasa rikuh untuk mengungkapkan titik kelemahan orang, apalagi mereka baru berjumpa satu kali, maka diam diam dia merasa geli, tapi paras mukanya masih tetap tenang seperti sedia kala.

"Yaa, benar boanpwe memang Thi Eng khi dari partai Thian liong pay ....."

Sahutnya kemudian. Mendadak paras muka kakek berjubah kuning itu berubah menjadi tak senang hati, katanya tiba-tiba .

"Apakah bocah keparat she Seng yang suruh kau datang mencari lohu disini?"

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi menjadi tertegun tapi dengan cepat diapun menjadi mengerti.

Mungkin kakek berjubah kuning itu tak suka berjumpa dengan orang luar, maka kedatangannya membuat ia jadi tak senang hati.

Buru buru katanya .

"Harap locianpwe jangan salah paham, boanpwe hanya secara kebetulan salah lewat disini, bukannya ada maksud untuk mengganggu ketenangan locianpwe."

Kemudian diapun menerangkan kisah yang sebenarnya terjadi, dimana kuda hitamnya lari ke tempat itu.

Akhirnya tanpa mempedulikan apakah kakek berjubah kuning itu bersedia memaafkan dirinya atau tidak, dia segera menjura seraya berkata .

"Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu!"

Dengan cepat dia melompat naik keatas punggung kudanya, menarik tali les dan siap berlalu dari situ.

Sungguh aneh sekali gerak gerik dari kakek berjubah kuning itu, menyaksikan Thi Eng khi hendak pergi, rasa tak senang hati yang semula menghiasi wajahnya kontan lenyap tak berbekas.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh.... Thi sauhiap, apakah kau marah kepada lohu?"

Tegurnya. Sesungguhnya Thi Eng khi memang merasa agak mendongkol, akan tetapi setelah mendengar perkataan dari kakek berjubah kuning itu, terpaksa dia harus menahan lari kudanya lagi seraya berkata .

"Harap locianpwe jangan berpikir yang bukan bukan, sesungguhnya boanpwe benar benar masih ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan cepat, maka aku tak bisa berdiam terlalu lama disini!"

Mendadak kakek berjubah kuning itu menghadang jalan pergi Thi Eng khi, kemudian ujarnya .

"Selamanya lohu mempunyai suatu watak yang sangat aneh, yakni selamanya tak akan menerima orang yang datang untuk mencariku, tapi bila orang itu bertemu dengan lohu tanpa disengaja, lohu pasti akan memberi sedikit kebaikan kepadanya."

Setelah berhenti sebentar, dia menuding kearah kuda yang berada di sampingnya, kemudian sambungnya lebih jauh .

"Bukankah kau tertarik dengan kuda Meh liong kou milik lohu ini? Nah, lohu akan menghadiahkan kuda itu kepadamu!"

Thi Eng khi sama sekali tak menyangka kalau kakek berjubah kuning itu berwatak begini aneh, baru berbicara dua tiga patah kata, kuda jempolan miliknya telah dihadiahkan kepada orang, tentu saja hal ini membuat hatinya amat gembira.

Sekalipun demikian, dimulut dia masih berkata agak sungkan .

"Pemberian locianpwe yang begitu besar, mana berani boanpwe terima? Lebih baik locianpwe menarik kembali ucapan itu."

Tampaknya kuda Meh liong kou tersebut memahami ucapan dari si kakek berjubah kuning itu, dengan sikap seperti berat hati, dia mendekati kakek tersebut dan menarik narik ujung bajunya.

Kakek berjubah kuning itu segera mengebaskan ujung bajunya seraya berseru .

"Tak usah banyak berbicara lagi, cepat bawa dia pergi!"

Termakan oleh kebasan tangan kakek berjubah kuning itu, kuda hitam tadi segera terhantar ke hadapan Thi Eng khi.

Terpaksa Thi Eng khi mengucapkan banyak terima kasih kepada kakek berjubah kuning itu, satu orang dengan dua ekor kuda segera berlari keluar dari lembah tersebut.

Lari kuda Meh liong kou memang cepat luar biasa, tak lama kemudian puncak Huan keng san secara lamat lamat sudah muncul didepan mata.

Thi Eng khi segera berpekik nyaring, dia melarikan kuda Meh liong kounya semakin cepat lagi.

Menyaksikan bukit Huan keng san setapak demi setapak semakin dekat, Thi Eng khi merasa gembira sekali.

Pada saat itulah, mendadak tampak sesosok bayangan manusia berwarna merah melompat keluar dari samping jalan seperti sekuntum awan merah dan melompat naik keatas kuda kosong yang mengikuti dibelakang Thi Eng khi.

Bersama itu pula terdengar seseorang tertawa cekikikan sambil berseru dengan gembira.

"Engkoh Tiok, kau sangat baik, kau telah membawakan ....."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan terdengar kuda Meh liong kou itu meringkik panjang, kaki belakangnya menyepak nyepak keras, lalu berputar satu lingkaran, dia melempar tubuh si nona berbaju merah itu dari atas punggungnya.

Kebetulan Thi Eng khi sedang berpaling karena mendengar suara tersebut, menyaksikan nona berbaju merah itu terlempar dari atas punggung Meh liong kou, kuatir dia sampai terluka, dengan cepat tubuhnya melejit ke tengah udara dengan jurus Thian liong sip sui (naga langit menghisap air) untuk menyambar tubuh nona berbaju merah itu.

Tampaknya ilmu silat yang dimiliki nona berbaju merah itu pun cukup tangguh, justru lantaran panik dia baru kena dilemparkan dari atas punggung kuda tersebut.

Dengan cepat tubuhnya berjumpalitan dengan jurus cay hong keng tian (burung hong mematahkan sayap) dan melayang turun di samping tubuh Thi Eng khi.

Ketika dua orang itu saling bertatapan, muka nona berbaju merah itupun baru membentak secara tiba tiba dengan kening berkerut .

"Bocah keparat, siapakah kau? Berani benar menggunakan kuda Meh liong kou untuk mengelabui nona?"

Seraya berkata telapak tangannya segera diayunkan kemuka untuk menampar wajah Thi Eng khi.

Menyaksikan nona berbaju merah itu mengayunkan telapak tangannya secepat kilat, dengan cekatan Thi Eng khi berkelit ke samping lalu mundur, kemudian sambil mengoyangkan tangannya berulang kali serunya cepat cepat .

"Nona, kau sendiri yang kurang berhati hati, mengapa sekarang malahan memukul aku?"

Dalam malu dan gusarnya, nona berbaju merah itu sama sekali tidak menggubris pertanyaan dari Thi Eng khi, begitu serangannya mengenai sasaran yang kosong, telapak tangan yang lain segera melancarkan serangkaian serangan berantai.

Secara beruntun Thi Eng khi menghindarkan diri dari tiga buah serangan lawan, ketika dilihatnya nona berbaju merah itu semakin kalap tiada hentinya, lama kelamaan hawa amarahnya berkobar juga, diam diam dia mengerahkan sian thian bu khek ji gi sin kang untuk melindungi wajah lalu tanpa berkelit lagi dia sambut tamparan tersebut, tujuannya ingin memberi pelajaran kepada sang nona tersebut.

Sudah barang tentu nona berbaju merah itu tidak menyangka kalau Thi Eng khi ada niat untuk memberi pelajaran kepadanya, melihat gerakan tubuhnya menjadi lambat sehingga terbuka sebuah titik kelemahan, dengan cepat tubuhnya menerobos maju ke depan sambil mengayunkan telapak tangannya berulang kali.

"Plaak, plaaak!"

Beberapa kali tamparan keras bersarang telak di atas pipi Thi Eng khi, tapi dia segera merasakan telapak tangannya seperti menghajar diatas baja yang amat keras, membuat telapak tangannya tergetar keras dan akibatnya sakit bukan kepalang.

Akhirnya sambil menjerit kaget, bayangan merah tampak berkelebat lewat dan tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Walaupun Thi Eng khi berhasil memukul mundur nona berbaju merah itu, akan tetapi dia sendiripun merasa amat tak enak hatinya, sambil mencemplak kudanya dengan wajah lesu pelan pelan melanjutkan kembali perjalanannya.

Ketika ia tiba di tepi bukit Huan keng san, tampaklah nona berbaju merah itu telah muncul kembali diiringi seorang nenek yang sudah berkeriput.

Begitu menampakkan diri, nona berbaju merah itu segera menuding ke arah Thi Eng khi dan berseru kepada si nenek dengan manja.

"Popo, keparat itulah orangnya, dia hendak menggunakan cara yang licik untuk membohongi orang. Lihat, kuda Meh liong kou milik engkoh Tiok pun telah dirampas olehnya!"

Nenek itu memang berangasan sekali orangnya, tanpa menanyakan duduk persoalan lagi, dia segera membentak keras .

"Bocah keparat, kau berani mempermainkan nona kami? Aku harus membacok tubuhmu hidup hidup!"

Sambil bergerak maju ke depan dia melepaskan serangannya dengan jurus Tui bun kian san (mendorong pintu melihat bukit), serangannya tertuju ke dada si anak muda itu.

Thi Eng khi segera berkerut kening .

"Hmm!"

Sambil mendengus dingin, kelima jari tangannya yang dibentangkan seperti kaitan menyambar jalan darah Tay leng hiat pada nadi pergelangan tangan si nenek dengan jurus Kim liong than jiau (naga emas mementangkan cakar).

Nenek itu Nampak terkesiap, buru buru dia menarik kembali tangannya sambil mundur lima langkah, kemudian sambil menatap tajam wajah Thi Eng khi, tegurnya dengan nada dingin .

"Kau berasal dari perguruan Thian liong pay?"

Thi Eng khi tak ingin sembarangan melakukan kesalahan terhadap orang yang tak dikenalnya, apalagi kedatangannya ke bukit Huan keng san adalah untuk mencari orang.

Mendengar perkataan itu, buru buru dia membungkukkan badannya seraya menjawab .

"Aku adalah ciangbunjin angkatan sebelas dari Thian liong pay, Thi Eng khi adanya!"

Nenek itu memandang sekejap kearah nona berbaju merah itu dengan sorot mata sangsi, kemudian serunya .

"Nona Un, kau ....."

Nona berbaju merah itu segera mencibirkan bibirnya dengan wajah tak senang hati.

"Popo, apa yang kau takuti? Apa sih hebatnya dengan Thian liong pay? Hajar saja orang itu, pokoknya aku yang bertanggung jawab."

Mendadak nenek itu tertawa tergelak.

"Haaahhhh.... haaahhh.... haaahhhh...... nona Un, berani aku untuk menghajarnya."

"Kalau memang berani, mengapa popo tidak segera turun tangan?"

Kata si nona berbaju merah itu dengan nyaring. Si nenek segera mendelik besar, ujarnya .

"Seandainya dia sahabat karib dari engkoh Tiok mu dan bila kita hajar dia sekarang, bagaimanakah pertanggung jawabanmu terhadap engkoh Tiok dikemudian hari?"

Nona berbaju merah itu menjadi tertegun lalu sambil berpaling kearah Thi Eng khi, bentaknya .

"Eeeh.... apakah kenal dengan Hui cun siukay (sastrawan penolong manusia) Seng Tiok sian?"

"Aku dan saudara Seng berkenalan secara kebetulan, karena merasa cocok satu sama lain maka bersahabat, kuda Meh liong kou ini adalah pinjaman darinya."

Tahu kalau Thi Eng khi adalah sahabatnya Seng Tiok sian, sikap nona berbaju merah itu segera berubah seratus delapan puluh derajatm dengan wajah berseri katanya kemudian.

"Kalau begitu, apakah dia menitipkan seekor kuda Meh liong kou yang lain itu kepadamu untuk dihadiahkan kepadaku?"

"Kuda Meh liong kou yang lain adalah pemberian seorang kakek berjubah kuning untukku!"

"Kau kenal dengan kakek berjubah kuning itu?"

Kembali nona berbaju merah itu bertanya. Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku sama sekali tidak kenal dengan dia orang tua."

"Kalau toh kalian tidak saling mengenal apa sebabnya dia menghadiahkan kuda Meh liong kou tersebut kepadamu?"

Tanya si nona tersebut lebih jauh.

Thi Eng khi merasa alasan dari si kakek berjubah kuning ketika menghadiahkan kuda Meh liong kou tersebut kepadanya tak bisa dianggap sebagai suatu alasan yang bisa diterima dengan akal sehat, terpaksa sambil tertawa getir katanya .

"Aku tak dapat menjawab pertanyaan dari nona itu."

Mendadak si nona berbaju merah itu berkerut kening, kemudian dengan wajah dingin katanya .

"Omong kosong, aku sudah berapa tahun meminta kuda itu dari dia orang tua, tapi dia orang tua selalu pelit dan tak sudi memberikan kepadaku, masa sekarang tanpa sebab musabab dia menghadiahkan kuda Meh liong kou tersebut kepadamu? Benar benar sebuah lelucon yang tidak lucu....! Cepat katakan, siapakah kau? Dan ada urusan apa datang ke bukit Huan keng san ini? Bila kau berani bermain licik lagi, jangan salahkan kalau nona tak akan sungkan sungkan kepadamu."

Menghadapi keadaan seperti ini, Thi Eng khi dibuat naik darah juga, pikirnya kemudian .

"Sikap orang ini terhadap orang lain benar benar tak sungkan sungkan."

Baru saja dia akan mengumbar hawa amarahnya, mendadak teringat kembali olehnya akan nasib Pek leng siancu So Bwe leng yang terancam bahaya maut, apakah nona itu masih ada harapan untuk hidup atau tidak, semuanya tergantung pada Giam lo heng Kwik Keng thian yang dicarinya selama ini.

Berada dalam keadaan begini, dia merasa tidak seharusnya mencari banyak urusan dengan orang lain.

Berpikir demikian, amarahnya segera mereda, kemudian sambil menahan gejolak perasaannya, dia berkata .

"Aku datang kemari untuk memohon kepada si Pembenci raja akhirat Kwik locianpwe agar dia suka menyembuhkan penyakit seseorang, bila nona bersedia memberitahukan tempat tinggal Kwik locianpwe kepadaku, aku akan merasa berterima kasih sekali."

Mendadak nona berbaju merah itu tertawa terpingkal pingkal seperti menghadapi suatu kisah cerita yang menggelikan sekali.

"Haaahhh.... haahhhhh.... haaahhh..... kau hendak mencari si Pembenci raja akhirat Kwik locianpwe? Popo, percayakah kau dengan perkataan itu?"

Si nenek yang mendengar perkataan itu turut merasa geli sehingga tertawa tergelak, menyusul kemudian sambil mengerutkan wajahnya yang telah berkeriput, dia berkata .

"Dia orang tua tidak berada di bukit Huan keng san!"

Berada di bukit Huan keng san atau tidak adalah suatu persoalan, paling tidak dari pembicaraan tersebut Thi Eng khi ingin mengetahui apakah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian masih berada di dunia ini atau tidak, malah dari pembicaraan orang, tampaknya mereka tahu akan tempat tinggal dari pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, hal ini membuat pemuda tersebut menjadi girang sekali.

Buru buru dia menjura dengan hormat kepada nenek itu, lalu pintanya dengan nada memelas .

"Popo, harap kau bermurah hati dengan memberitahukan tempat tinggal dari Kwik locianpwe itu kepadaku, atas kebaikanmu itu, boanpwe pasti akan merasa berterima kasih sekali."

Nenek itu menghela napas panjang.

"Aaai.... bukannya aku tak ingin memberitahukan kepadamu,"

Katanya pelan.

"tapi setiap orang yang kenal dengan dia orang tua, tak nanti akan memberitahukan tempat tinggalnya kepadamu!"

"Mengapa?"

Tanya Thi Eng khi dengan perasaan cemas.

"Itulah satu satunya permintaan yang dia orang tua pintakan untuk menjaga hubungan persahabatan diantara kami semua, siauhiap, tentunya kau tak akan menyalahkan diriku bukan?"

Walaupun masa Thi Eng khi terjun dalam dunia persilatan amat pendek, namun dia cukup mengenal tentang watak aneh dari orangorang persilatan serta sifat memegang janji yang selalu mereka pegang teguh.

Dia tahu bahwa nenek itu tak nanti akan memberitahukan alamat dari si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian kepadanya, maka diapun tidak terlalu memaksa sebaliknya menyusun rencana lain.

Rupanya dari pembicaraan si nenek tadi, ia mendapat kesan bahwa si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian meskipun tidak tinggal di bukit Huan keng san, paling tidak tempat tersebut tak jauh letaknya dari sana.

Orang bilang .

Tiada pekerjaan yang sulit di dunia ini, yang penting adalah kemauan.

Tiba tiba timbul perasaan tinggi hati dalam benaknya , dia tidak percaya kalau tabib sakti tersebut tak bisa ditemukan dengan pencarian yang dilakukan sendiri.

Maka setelah mengucapkan terima kasih kepada nenek itu, dia membalikkan badannya siap pergi.

Siapa tahu nona berbaju merah itu segera menghadang jalan perginya sambil berseru .

"Kau hendak mengundang dia orang tua untuk menyembuhkan penyakit siapa?"

Thi Eng khi memang seorang yang pintar, mendengar dari nada suaranya, dia lantas tahu kalau pertanyaan sinona itu ada maksud tertentu, maka dia lantas mengisahkan bagaimana Pek leng siancu So Bwe leng terluka dan tak mau menerima pengobatan dari lawan ......

Nona berbaju merah itu nampak terharu sekali, sehabis mendengar kisah tersebut, airmatanya jatuh bercucuran membasahi pipinya, kebinalan dan kekasarannya kontan lenyap tak berbekas, mendadak ia memanggil lirih .

"Popo...."

Cepat cepat nenek itu melengos kearah lain tanpa menggubris dirinya. Nona berbaju merah itu segera mendepak depakkan kakinya keatas tanah, seperti sudah mengambil keputusan , tiba tiba serunya .

"Biar aku yang memberitahukan kepadamu!"

Nenek itu tampak terperanjat, buru buru serunya .

"Nona Un, kau lupa dengan janji kita kepada dia orang tua?"

"Enci dari keluarga So itu cukup mengenaskan sekali nasibnya,"

Kata nona berbaju merah itu dengan sedih.

"kita tak usah mempersoalkan hal itu lagi, apalagi jika kita melihat si sakit tanpa menolong, lantas apa gunanya membicarakan keadilan kek, soal berkelana dalam dunia persilatan kek.... aku pikir sekalipun ayah tahu, dia juga tak akan menyalahkan aku."

Ternyata nona berbaju merah itu hanya berkata dengan emosi saja tanpa menyebut alamat dari si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, kepalanya kemudian tertunduk seperti lagi termenung.

Thi Eng khi menarik napas panjang panjang untuk menahan denyutan jantungnya yang serasa melompat keluar dari rongga dadanya itu, dengan tenang dia berdiri di situ sambil menunggu keputusan terakhir dari si nona.

Mendadak sekulum senyuman menghiasi wajah nona berbaju merah itu, sambil bertepuk tangan serunya .

"Aaah, aku punya sebuah cara yang bagus, cara itu amat sempurna dan tak akan merugikan kedua belah pihak, mari kita bermain teka teki saja!"

Thi Eng khi tidak tahu teka teki apa yang hendak diucapkan olehnya, saking kuatirnya tak bisa menebak sehingga membengkalaikan urusan besar, dengan wajah tegang ia memasang telinga baik baik.

Pelan pelan nona berbaju merah itu mengalihkan sorot matanya keatas punggung si kuda hitam tanpa pelana itu, Thi Eng khi mengira dia ingin mendapatkan kuda hitam tersebut, maka buru buru serunya .

"Jika nona suka dengan kuda hitam ini, bagaimana kalau kuhadiahkan saja kepada nona?"

Nona berbaju merah itu segera tersenyum.

"Terima kasih atas maksud baikmu,"

Katanya.

"kuda itu toh hadiah dari dia orang tua untukmu!"

Sewaktu mengucapkan kata "dia orang tua"

Sengaja aksennya diperberat. Dasar memang cerdas, Thi Eng khi segera menyadari sesuatu, buru buru dia menjura kepada nona berbaju merah itu seraya berseru .

"Terima kasih banyak nona atas petunjukmu!"

Lupa menanyakan lagi dia lantas melompat naik ke atas kuda hitam itu dan melarikannya menelusuri jalan semula.

Dari arah belakang sana, ia masih sempat mendengar nona berbaju merah itu berseru nyaring .

"Bila berjumpa dengan engkoh Tiok, tolong sampaikan kepadanya, mengapa sudah lama dia tak pulang ke bukit Huan keng san?"

Dengan kecepatan bagaikan hembusan angin, Thi Eng khi melarikan kudanya kembali ke lembah dimana dia berjumpa dengan kakek berjubah kuning itu, lalu kepada kuda hitam pemberian si kakek berjubah kuning, serunya nyaring .

"Hayo jalan! Kembali ke tempat kediaman majikan tuamu!"

Kuda hitam itu segera meringkik panjang dengan melewati Thi Eng khi segera berlarian lebih dulu dimuka.

Thi Eng khi benar benar merasa gembira sekali, diapun turut berpekik nyaring hingga suaranya menggetarkan seluruh lembah.

Dua ekor kuda ditambah seorang pemuda segera berputar kesana putar kemari setengah harian kemudian akhirnya mereka menelusuri sebuah gua yang panjang beberapa li.

Ketika keluar dari gua itu, dihadapannya terbentang sebuah kebun yang luas dengan bau bunga yang harum semerbak.

Tanpa terasa Thi Eng khi merasakan semangatnya berkobar kembali, dengan cepatnya mereka melanjutkan perjalanan ke depan dan akhirnya berhenti didepan sebuah rumah gubuk.

Thi Eng khi segera melompat turun dari kudanya, tapi tak berani langsung masuk ke dalam.

Dari depan pintu dia hanya berseru dengan suara lantang .

"Boanpwe Thi Eng khi mohon berjumpa dengan Kwik locianpwe."

Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap, tak kedengaran suara jawaban, dua kali Thi Eng khi berseru lantang, namun tak kedengaran juga suara sahutan.

Terpaksa Thi Eng khi harus mendorong pintu dan berjalan masuk ke dalam.

Pada ruangan pertama merupakan ruangan tamu, kursi dan meja terbuat dari perabot yang sederhana, hanya lantainya bersih tanpa debu sehingga menimbulkan perasaan segar bagi yang melihatnya.

Pada dinding sebelah kiri tergantung sebuah lukisan "Tong thian san tong"

Pemandangannya indah dan juga menawan.

Sedang di sebelah kanan juga tergantung sebuah lukisan, itulah lukisan pemandangan salju dari pelukis kenamaan pada ahala Lam song.

Kedua buah lukisan itu merupakan lukisan pelukis kenamaan, dari sini membuktikan kalau orang tua itu merupakan seorang ahli seni yang baik.

Berhubung tuan rumah belum pulang, Thi Eng khi tak berani memasuki kamar yang lain, maka dia menanti di ruang tamu sambil menikmati hasil karya pelukis kenamaan tersebut.

Lambat laun suasana di depan rumah makin suram, malam telah menjelang tiba membuat suasana dalam ruangan tamu pun semakin remang remang.

Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi amat sempurna, dia sudah memiliki kepandaian untuk melihat didalam kegelapan, tapi berbicara tentang sopan santun dia tak ingin duduk seorang diri dalam kegelapan seperti seorang pencuri, sebab bukan saja hal ini tidak menunjukkan kejujuran, juga sedikit agak mencurigakan orang.

Keadaan semacam ini gampang sekali menimbulkan kecurigaan serta sikap memandang rendah tuan rumah bila secara kebetulan kembali kerumahnya.

Maka dia mencari dulu disekeliling di ruangan tamu itu, ketika tidak dijumpainya lentera, dia ragu untuk memasuki ruangan kedua, terpaksa pemuda itu duduk menanti kembali beberapa saat.

Setengah jam kembali sudah lewat, tampaknya hari ini Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian tak mungkin akan segera kembali.

Dalam keadaan begini, mendadak Thi Eng khi mendapatkan suatu pikiran aneh, orang persilatan biasanya bebas tanpa mengikat diri pada peraturan serta segala tetek bengek adat istiadat, malah tindakannya ini justru mencerminkan kesempitan jiwanya.

Maka sambil menertawakan kebodohan sendiri, dia bangkit dan berjalan masuk ke bilik sebelah kanan, tempat itu merupakan suatu ruangan untuk bersemedi, kecuali sebuah pembaringan bambu ditambah sebuah kasur untuk duduk, tiada lain yang terlihat.

Maka diapun memasuki ke dalam bilik lain, tempat itu merupakan sebuah kamar baca.

Meja tulis diletakkan dekat jendela bambu, ternyata di depan meja terlihat sesosok tubuh manusia duduk di sana.

Dengan terkejut, Thi Eng khi mundur dua langkah sambil menjerit tertahan .

"Siapa kau?"

Pada hakekatnya pertanyaan semacam itu tidak berguna, tak heran kalau Thi Eng khi segera tertawa geli setelah mendengar pernyataan mana diutarakan, kalau orang itu bukan Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, siapa lagi dirinya?

Untung saja pihak lawan tidak bermaksud untuk menertawakannya, dia cuma cukup membungkam diri dalam seribu bahasa.

Pelbagai rasa curiga segera berkecamuk dalam benak Thi Eng khi, meski begitu ujarnya pula dengan hormat .

"Boanpwe Thi Eng khi telah memasuki ruangan locianpwe tanpa permisi, untuk itu harap locianpwe sudi memaafkan!"

Belum ada juga sesuatu reaksi dari bayangan manusia tersebut. Satu ingatan lantas melintas dalam benak Thi Eng khi, pikirnya kemudian .

"Jangan jangan dia bukan Kwik locianpwe?"

Dengan cepat dia melompat ke depan sambil menyambar bahu bayangan hitam itu.

Ternyata tangannya menyentuh sebuah badan yang sudah dingin dan kaku, sewaktu kena tersentuh olehnya tadi, tubuh itu segera roboh terjengkang ke samping.

Mimpipun Thi Eng khi tidak menyangka kalau bayangan hitam itu adalah sesosok mayat, pertama karena dia tak siap, kedua iapun belum berpengalaman menyentuh mayat, sekalipun ilmunya sangat tinggi, tak urung anak muda itu mundur juga beberapa langkah dengan perasaan amat terkejut.

"Blaaammm....!"

Mayat itu segera roboh terjengkang keatas tanah dengan menimbulkan suara keras. Thi Eng khi merasa terkesiap sekali oleh suara mayat yang roboh menyentuh tanah itu, segera pikirnya lagi .

"Habis sudah, semuanya habis sudah... punah seluruh harapanku kali ini!"

Semacam perasaan sedih dan kecewa membuat Thi Eng khi merasakan pandangan matanya menjadi gelap dan tubuhnya mundur lagi beberapa langkah dengan gontai.

Akhirnya dia berusaha keras untuk menenangkan hatinya, mula mula dicarinya sebuah lentera kecil untuk membuat lampu, begitu cahaya api memancar keempat penjuru seluruh ruangan menjadi terang benderang bermandikan cahaya.

Mayat itu masih terbaring dibawah bayangan gelap dari meja tulis.....

Dengan memberanikan diri, Thi Eng khi menggeserkan cahaya lentera itu ke depan sambil membalikkan mayat tadi.....

Tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya segera menghembuskan napas panjang, harapan yang semula sudah punah, kini muncul kembali.

Ternyata mayat itu bukanlah mayat dari si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian.

Dengan cepat Thi Eng khi berhasil mendapatkan kembali ketenangan hatinya, sekali lagi dia melakukan pemeriksaan yang seksama atas mayat serta seluruh isi ruangan itu.

Mayat itu mengenakan jubah panjang berwarna coklat, usianya sudah lanjut dan sebilah anak panah sepanjang beberapa inci menancap di atas punggungnya, ujung panah itu berwarna biru tua, jelas mengandung racun yang amat keji.

Tak heran kalau kakek itu tak sempat menggerakkan tubuhnya setelah terkena hantaman panah beracun itu hingga akhir hidupnya.

Diatas meja terletak se

Jilid kitab buku yang sedang terbalik pada halaman tengah.

Selain daripada itu, empat dinding penuh dengan rak buku dengan pelbagai macam buku yang diatur secara rapi, jelas terlihat kalau buku buku tadi tak pernah dijamah orang.

Dari sini dapat diketahui atas jalannya peristiwa hingga kematian kakek itu.

Sudah pasti kakek itu adalah seorang sahabat karib si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, suatu hari dia datang berkunjung kesitu, tapi lantaran Kwik Keng thian tak ada di rumah maka diambilnya se

Jilid buku untuk dibaca.

Siapa tahu pada saat itulah muncul seseorang yang membidikkan sebuah panah beracun maka kakek itupun menemui ajalnya tanpa diketahui oleh sang korban sendiri.

Mungkin saja jalannya peristiwa ini hampir mirip dengan apa yang diduga oleh Thi Eng khi, tapi kalau dipikirkan lebih ke depan, penemuan beberapa hal yang mencurigakan ini sulit rasanya untuk memperoleh penjelasan....

Seperti misalnya tujuan dari pembunuh itu sebetulnya kakek ini yang diincar sebagai sasarannya?

Ataukah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian?

Selain itu, kakek ini apakah seorang jago persilatan pula?

Kalau diapun seorang jago persilatan, hal ini menunjukkan kalau pembunuh tersebut memiliki kepandaian silat yang amat lihay, kalau tidak, mustahil dia bisa mendekati korbannya sedemikian dekat tanpa diketahui oleh sang korban.

Selain itu, kemana perginya si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian?

Apakah selama ini dia belum pernah pulang?

Ataukah dia telah melakukan pengejaran karena menemukan jejak musuh?

Satu malam suntuk Thi Eng khi duduk termenung disitu sambil berusaha untuk memecahkan teka teki itu, namun akhirnya tidak berhasil menemukan kesimpulan apa apa, sementara si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian juga tidak nampak muncul kembali di rumahnya.

Terpaksa pada keesokan harinya Thi Eng khi mengubur jenasah kakek itu, disamping diapun bertekad untuk tinggal sementara waktu disana hingga si pendendam raja akhirat Kwik keng thian balik kembali kerumahnya.

Sabab hanya duduk sambil menanti baru merupakan cara yang paling baik untuk menghadapi segala macam perubahan, kalau tidak kendatipun dia musti menjelajahi seluruh kolong langit, belum tentu orang yang dicari bisa ditemukan.

Hari pertama, Thi Eng khi berada dalam keadaan menganggur sekali, ternyata si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian tidak kembali.

Hari kedua, pemuda itu harus menunggu dengan perasaan murung.

Hari ketiga dilewatinya dalam kegelisahan.

Hari keempat, Thi Eng khi malah jauh lebih tenang karena pikirannya bertambah dewasa, untuk membunuh waktu, dia mulai mengambil buku buku milik si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian untuk dibaca, ternyata orang yang ditunggu belum datang juga.

Kitab bacaan yang disimpan pendendam raja akhirat Kwik Keng thian dalam kamar bacaannya banyak sekali, sebenarnya Thi Eng khi memang seorang anak sekolahan sebelum terjun ke arena persilatan.

Biasanya orang sekolahan gemar membaca buku, begitu mendapat buku bacaan maka sebagian persoalan yang memenuhi benaknya pun jadi terlupakan sama sekali.

Ternyata buku yang disimpan si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian terbagi menjadi tiga kelompok besar .

ilmu sastra, ilmu silat dan ilmu pertabiban.

Thi Eng khi datang karena ingin mendapatkan pertolongan , itulah sebabnya tanpa sadar ia menaruh perhatian khusus terhadap kitab kitab ilmu pertabiban milik pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, maka dia mengesampingkan kitab ilmu sastra dan ilmu silat dan mengkhususkan diri membaca buku buku pertabiban.

Semenjak empat puluh tahun berselang, si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian sudah merupakan seorang tabib sakti nomor wahid dikolong langit, kitab pertabiban yang disimpan boleh dibilang semuanya merupakan kepandaian sakti yang langka sekali di dunia ini.

Thi Eng khi yang cerdik menjadi makin tertarik dengan pelajaran baru tersebut, tak sampai belasan hari lamanya, bukan saja dia telah menghafalkan seluruh isi kitab ilmu pertabiban yang dimiliki si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, malah semua kepandaian tersebut telah diserapnya dan bisa dia manfaatkan.

Perlu diketahui ilmu pertabiban bukan hanya mengandalkan dalam soal obat obatan saja, yang penting adalah mengetahui jenis penyakit yang diderita sebelum mengetahui obat apa yang musti diberikan.

Dewasa ini, Thi Eng khi boleh dibilang sudah termasuk seorang ahli pertabiban, hanya saja pengalaman belum ada, cuma dia sendiripun tidak menyadari akan hal ini.

Di samping itu, oleh karena dia sudah memahami ilmu pertabiban, hal ini membuat dia mengenal organ tubuh manusia, akibatnya dalam bidang ilmu silat pun dia memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Ketika semua kitab pertabiban dari si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian sudah selesai dibaca namun tuan rumah belum balik juga, anak muda itu mulai gelisah.

Maka untuk membunuh waktu, dia mulai menyelidiki gejala penyakit yang diderita oleh Pek leng siancu So Bwe leng.

Beberapa hari sudah lewat, akhirnya jerih payahnya itu mendatangkan hasil juga terhadap penyakit yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng, ia berhasil mendapatkan suatu gambaran tertentu serta cara pengobatannya.

Tak tahan lagi dia segera menggebrak meja sambil berseru .

"Aaah, betul! Begitulah caranya....."

Tapi dengan cepat wajahnya menjadi murung kembali, sambil menghela napas gumamnya .

"Tapi kemanakah aku harus pergi mencari Si toan kim khong?"

Sementara dia masih belum sadar, mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara parau .

"Siapa yang berani memasuki kamar baca lohu? Kau ....."

Belum habis perkataan itu diucapkan, terdengar seseorang terjatuh ke atas tanah dengan menimbulkan suara keras.

Pada waktu itu, perhatian Thi Eng khi sedang terpusat kedalam satu persoalan, maka dia tidak merasa kalau ada orang mendekatinya, bahkan apa yang diucapkan orang itupun tidak terdengar olehnya.

Dari sini dapat diketahui betapa kuatir serta besar perhatian Thi Eng khi terhadap penyakit yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng.......

Menanti orang itu jatuh ke tanah, Thi Eng khi baru tersentak kaget dan melompat bangun, segera bentaknya .

"Siapa di situ?"

Dia membalikkan badannya sambil menengok, menyusul kemudian sambil berseru tertahan, tegurnya .

"Mengapa dengan kau orang tua?"

Ternyata orang yang roboh keatas tanah itu adalah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, hanya saja waktu itu dia sudah menderita luka yang cukup parah sehingga keadaannya sangat menguatirkan.

Buru buru Thi Eng khi menghampiri si kakek itu dan membaringkannya keatas ranjang, lalu dengan bekal apa yang dibacanya selama ini, dia mulai memberikan pengobatan.

Ketika jari tangan Thi Eng khi menyentuh diatas urat nadi Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, saking kagetnya sampai untuk beberapa saat lamanya pemuda itu membungkam terbengong.

Ternyata di dunia ini bisa terjadi suatu peristiwa yang begitu kebetulan, luka yang diderita si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian sekarang ternyata persis seperti luka yang diderita oleh Pek leng siancu So Bwe leng.

Berada dalam keadaan seperti ini, kecuali menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir, Thi Eng khi tak sanggup berbuat banyak.

Bagaimanapun juga, tenaga dalam yang dimiliki si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian memang amat sempurna, walaupun luka yang dideritanya sama seperti yang dialami oleh Pek leng siancu So Bwe leng, akan tetapi dia masih sanggup menahan diri dan bertahan dengan mengandalkan tenaga murninya.

Lebih kurang setengah sepertanak nasi kemudian, pelan pelan si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian tersadar kembali dari pingsannya, bahkan dengan suara yang lirih dia perintahkan kepada Thi Eng khi agar mengambil sebotol obat dari kolong ranjang dan sebungkus jarum dari laci meja tulis.

Mula mula dia menyuruh Thi Eng khi mempergunakan jarum perak yang paling kecil untuk menusuk jari dari kesepuluh jari tangannya, kemudian diapun menyuruh anak muda itu untuk menusuk jalan darah Hap kok hiat, Kit ham hiat, Thian keng hiat, Ciong bun hiat, Im tok hiat, Im lian hiat, Tiong hu hiat, Hee kwan hiat, Tong thian hiat, Hong ti hiat, Kwan goan hiat, Mia bun hiat, Thian ti hiat, Khek swan hiat, serta Sau hay hiat lima belas buah jalan darah.

Untung saja selama belasan hari ini Thi Eng khi mempelajari ilmu pertabiban dengan tekun, ditambah lagi petunjuk dari si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian sekarang, tusukan jarumnya bisa dilakukan dengan tepat dan mantap, tak ada bedanya dengan seorang ahli, hal ini membuat pendendam raja akhirat Kwik Keng thian diam diam merasa terkejut bercampur keheranan.

Setelah tusuk jarum, dia baru menitahkan kepada Thi Eng khi untuk mengeluarkan sembilan butir obat dan memasukkan ke dalam mulutnya ....

Kemudian dia pun menyuruh anak muda itu untuk mengerahkan tenaga dalamnya membantu dia.

Tatkala tenaga dalam yang dipancarkan Thi Eng khi masuk kedalam tubuh Kwik Keng thian, dengan cepat pemuda itu dibikin kaget bercampur keheranan.

Ternyata peredaran darah di dalam tubuh si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian sekarang bukan saja sudah berjalan lancar kembali, bahkan reaksi yang timbul sama sekali berbeda dengan keadaan yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng, seakan akan dia sudah sembuh sama sekali.

Menyaksikan hasil tersebut, sekali lagi Thi Eng khi mengulangi kembali seluruh pelajaran ilmu pertabiban yang telah dihapalkannya selama ini, akan tetapi hasilnya dia tetap tidak berhasil menemukan alasannya, hal ini membuat anak muda itu semakin tertarik untuk menyelidiki keadaan dari So Bwe leng.

Mendadak timbul satu ingatan dalam benaknya, jika si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian yang menderita penyakit yang sama bisa membaik setelah diberikan pertolongan dengan cara itu, mengapa cara tadi tidak diterapkan pula pada diri Pek leng siancu So Bwe leng?

Tentu saja pada saat itu, dia tak berani mengusik ketenangan Kwik Keng thian dengan persoalan pribadinya sehingga mengganggu hasil latihan tabib sakti itu.

Tak sampai sepertanak nasi kemudian, si pendendam raja akhirat Kwik Keng thia telah menyelesaikan semedinya dan duduk seperti orang biasa.

Hal ini membuat Thi Eng khi menjadi terkejut bercampur keheranan sehingga untuk beberapa saat dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun jua....

Dengan termangu mangu si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian mengawasi pula wajah Thi Eng khi setengah harian kemudian ia baru menghela napas panjang sambil berkata .

"Aaai.... lohu tersohor sebagai tabib sakti nomor wahid di kolong langit, sungguh tak disangka selembar nyawa sendiri harus ditolong kembali dengan mengandalkan bantuan orang lain!"

Menyusul kemudian dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haahhh..... haaahhh.... haaahhhh..... menggelikan, benar benar menggelikan, masa seorang tabib sakti nomor wahid di kolong langit musti minta bantuan orang lain, peristiwa ini betul betul suatu lelucon yang amat besar!"

Thi Eng khi kuatir kalau gelak tertawa itu akan mempengaruhi keadaan lukanya, tak tahan dia lantas menghibur sambil katanya .

"Locianpwe, yang penting adalah kesehatan badanmu, janganlah kelewat emosi!"

Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan yang menembusi dinding rumah dan mematahkan sebatang pohon di luar halaman sana, kemudian sekali lagi dia tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh..... kau anggap lohu bakal mampus?"

Pohon itu besarnya beberapa depa tapi hanya termakan sekali pukulan saja sudah patah menjadi dua, kesempurnaan tenaga dalam seperti ini hakekatnya jarang sekali dijumpai didunia ini, tapi kenyataannya sekarang tenaga dalam sesempurna itu diperlihatkan oleh seorang kakek yang sedang terluka parah, hal ini kontan saja membuat Thi Eng khi terbungkam dalam seribu bahasa.

Kalau sedang terluka saja tenaga dalam yang dimiliki si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian sudah begitu lihaynya, apalagi jika dia sedang berada dalam keadaan sehat, kepandaiannya benar benar tak terlukiskan dengan kata kata.

Sementara Thi Eng khi masih termenung dengan pelbagai pikiran, mendadak pendendam raja akhirat Kwik Keng thian menghentikan gelak tertawanya, kemudian sambil menggelengkan kepalanya berkata .

"Jika tiada Si toan kim khong lohu pun tak mungkin bisa hidup lebih jauh!"

Sebentar mengatakan tak bakal mati sebentar lagi mengatakan tak bisa hidup, pernyataan yang simpang siur ini segera membuat Thi Eng khi menjadi tertegun sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Pelan pelan paras muka si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berubah menjadi amat serius sekali, kemudian terdengar ia berkata .

"Sejak lohu pura pura mati dan mengasingkan diri di sini, belum pernah kumohon bantuan dari seseorang, sekarang kita kesampingkan dulu secara bagaimana sauhiap bisa menemukan tempat tinggal lohu ini, kalau dilihat dari kesabaran sauhiap menunggu kedatangan, dapat diketahui jika sauhiap mempunyai persoalan penting yang hendak dirundingkan dengan lohu, nah bila sauhiap ada persoalan, katakan saja, waktu yang tersedia tidak banyak, sebentar lohu harus pergi lagi."

Seandainya Thi Eng khi adalah seorang yang egois, terlalu mementingkan kepentingan sendiri, dia pasti mengutarakan persoalannya kemudian buru buru berangkat pulang untuk menyembuhkan luka yang diderita oleh Pek leng siancu So Bwe leng.

Akan tetapi, dia bukan seorang manusia macam begitu, benar mati hidup So Bwe leng menempati posisi yang penting dalam hatinya, namun setelah menyaksikan gerak gerik si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian yang serba aneh, timbul jiwa pendekarnya untuk memberi pertolongan .

Sekarang dia sudah tidak memikirkan kepentingan dirinya lagi, melainkan berpikir demi kepentingan tabib sakti itu.

Demikianlah, dengan penuh rasa kuatir dia lantas berkata .

"Locianpwe, kau ada persoalana apa yang hendak diselesaikan? Harap kau suka menyampaikannya kepada boanpwe, agar aku yang melakukan bagimu, sedang mengenai persoalan boanpwe, biar nanti saja baru kumohon petunjuk locianpwe."

Mencorong sinar tajam dari balik mata si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian .

"Lohu pergi hendak mencari mati, apakah kau dapat mewakilinya? Ada persoalan apakah yang hendak kau utarakan, cepat kau katakan, daripada menghalang halangi perjalanan lohu saja."

Mendengar si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian hendak pergi mencari mati, dengan cepat Thi Eng khi menghadang di depan pintu dengan wajah gelisah, serunya .

"Locianpwe adalah seorang yang mulia dan berilmu tinggi, sekalipun kau dilukai orang, tidak seharusnya kalau mempunyai pikiran pendek. Orang bilang selama gunung nan hijau, tak akan kuatir kehabisan kayu bakar, harap locianpwe suka berpikir tiga kali sebelum bertindak!"

Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian tertawa getir .

"Thi sauhiap, apakah kau mengira aku sudah putus asa dan bermaksud untuk membunuh diri?"

Serunya. Thi Eng khi memang tak dapat meraba jalan pikiran tabib sakti nomor wahid di kolong langit ini, dia mengira pandangannya keliru, maka sambil tertawa rikuh katanya .

"Boanpwe benar benar tidak mengerti apa yang locianpwe maksudkan ....."

Tampaknya si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian juga sudah tahu kalau Thi Eng khi adalah seorang pemuda yang keras kepala, jika persoalannya tidak dijelaskan, mustahil dia dapat meninggalkan rumah itu.

Kalau menerjang dengan kekerasan bukan saja hal ini akan menurunkan derajatnya, lagipula terhadap daya tahan tubuhnya akan merupakan suatu kerugian besar.

Karena itu dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia mesti bertanya dengan terus terang.

"Thi sauhiap, tahukah kau luka apakah yang lohu derita?"

Tanpa ragu-ragu Thi Eng khi segera bertanya .

"Apakah locianpwe telah dipukul oleh Huan im sin ang dengan ilmu Jit sat hian cin khinya yang telah menyusup ke dalam jantung?"

Selintas rasa tercengang segera menghiasi wajah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, tanya kemudian .

"Apakah Thi sauhiap mengerti cara pengobatannya?"

Thi Eng khi berpikir sebentar, lalu sahutnya .

"Menurut apa yang boanpwe ketahui kecuali menggunakan tusuk jarum, hanya si toan kim khong saja yang ada harapan untuk menyembuhkan penyakit tersebut."

Tak tahan si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian segera berseru tertahan, jelas dia merasa kaget bercampur tercengang atas luasnya pengetahuan Thi Eng khi dalam ilmu pertabiban.

Tapi dengan cepat dia bertanya kembali .

"Sauhiap, tahukah kau Si toan kim khong itu hanya bisa ditemukan dimana?"

"Justru persoalan inilah yang hendak boanpwe tanyakan kepada locianpwe, dimanakah Si toan kim khong itu baru bisa ditemukan?"

Jawab Thi Eng khi dengan wajah tegang.

Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thia salah mengartikan maksud dari Thi Eng khi itu, dia mengira anak muda tersebut hendak mencari Si toan kim khong untuk menyembuhkan lukanya.

Dengan ucapan rasa terima kasih segera serunya .

"Terima kasih banyak atas maksud baik sauhiap, paling banter lohu hanya bisa hidup selama sepuluh hari lagi, sekalipun sauhiap memiliki Si toan kim khong juga tak sempat untuk dipakai menolong selembar nyawa lohu."

Mendadak Thi Eng khi teringat kalau dia hampir sebulan lamanya berada disini, kalau si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian saja hanya bisa bertahan selama sepuluh hari, bukanlah hal ini berarti Pek leng siancu So Bwe leng sudah lama meninggal dunia?

Berpikir sampai disitu, paras mukanya segera berubah dan hatinya mulai tak tenang.

Jilid 17 Terdengar si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian menghela napas panjang, lalu katanya .

"Usia lohu sudah mencapai seratus sembilan tahun, kehidupan yang kelewat lama kadangkala justru menjemukan, tapi lohu tidak rela kalau disuruh mati karena terkena sergapan orang secara licik. Oleh karena itu, buru buru aku berangkat pulang ke rumah, aku ingin menggunakan segenap pengetahuanku tentang ilmu pertabiban serta ilmu tusuk jarum untuk menambah kekuatanku, kemudian dengan mengandalkan sisa kekuatan yang kumiliki akan kucari penyergap itu guna membuat perhitungan sekalian melenyapkan bencana dari dunia persilatan, siapa tahu luka tersebut kambuh kelewat cepat, seandainya tidak berjumpa dengan sauhiap, maka usahaku selama ini akan sia sia belaka."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan kembali .

"Ilmu Kim ciam kok hiat gi kang ci hoat (ilmu tusukan jarum emas menghimpun tenaga) telah membuat sisa tenaga murni terakhir yang lohu miliki terpancar keluar walaupun untuk sementara waktu aku tak bakal mati bahkan tenaga dalam ku berlipat ganda, tapi selewatnya sepuluh hari aku akan kehabisan tenaga ibaratnya lentera yang kehabisan minyak, dan saat itulah merupakan saat bagi lohu untuk meninggalkan dunia yang fana ini."

Sekarang Thi Eng khi baru mengerti apa sebabnya secara tiba tiba semangat si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian bisa berkobar dengan hebatnya, meski begitu ada satu hal yang masih membingungkan hatinya maka tak tahan dia lantas bertanya .

"Locianpwe, andaikata kau tidak mempergunakan ilmu Kim ciam kok hiat gi kang ci hoat, maka kau bisa ....."

Meskipun perkataan itu tidak dilanjutkan, namun apa maksudnya sudah cukup jelas. Dengan cepat tabib sakti itu menjawab .

"Itu berarti aku masih harus menderita selama seratus hari lamanya, sauhiap menurut pendapatmu cara kematian macam apakah yang paling baik....?"

Mengetahui kalau luka tersebut masih dapat bertahan seratus hari lamanya Thi Eng khi merasa agak lega juga untuk keselamatan So Bwe leng tapi bila teringat kalau tenaga dalam serta kondisi badan So Bwe leng tidak seprima keadaan dari Kwik Keng thian, dia mulai meragukan lagi waktu yang seratus hari itu.

Namun kekuatiran tersebut hanya berlangsung sebentar saja, karena dengan cepat dia telah melimpahkan segenap harapannya pada kakek yang berada di hadapannya sekarang.

Maka dengan cepat dia memusatkan perhatiannya untuk berpikir bagaimana caranya menjawab pertanyaan terakhir dari Kwik Keng thian itu.

Dengan kening berkerut katanya kemudian .

"Menurut pendapat boanpwe, keputusan locianpwe untuk beradu jiwa dengan gembong iblis itu dalam waktu sepuluh hari bukanlah suatu cara yang tepat!"

Mendengar jawaban tersebut, si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian menjadi tertegun.

"Sauhiap, jelaskan perkataanmu itu!"

"Tahukah locianpwe, keparat manakah yang telah melukai dirimu itu .....?"

"Agaknya sauhiap telah menyinggung tadi, dia adalah Huan im sin ang hanya saja lohu kurang jelas manusia macam apakah Huan im sin ang tersebut."

Dengan mempergunakan kesempatan itu, Thi Eng khi lantas menerangkan garis besar tentang gembong iblis itu, akhirnya dia menambahkan lagi .

"Selain berhati keji dan banyak akal muslihatnya, gembong iblis tua itupun pandai sekali ilmu menyaru muka, jangan toh batas waktu sepuluh hari amat singkat sehingga harapan locianpwe untuk menemukan dirinya amat minim, sekalipun bisa berhadapan muka dengannya juga belum tentu bisa membedakan asli atau tidaknya orang itu, tolong tanya cianpwe, bila berada dalam keadaan seperti ini bagaimanakah cara locianpwe untuk bertarung melawannya, bila sepuluh hari sudah lewat dan locianpwe tidak berhasil menemukan sasarannya, kau akan mati sambil menanggung dendam, aah, kematian semacam itu benar benar suatu kematian yang sama sekali tidak berharga!"

Berubah juga muka si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian setelah mendengar perkataan itu, sambil menghela napas katanya kemudian .

"Aaai, kalau begitu lagi-lagi lohu salah berpikir, lantas bagaimana baiknya sekarang?"

"Harap locianpwe memberitahukan kepadaku dimanakah Si toan kim khong itu bisa didapatkan, dengan kuda hitam pemberian locianpwe, siapa tahu kalau dalam sepuluh hari mendatang boanpwe dapat kembali kemari?"

Setelah berhenti sebentar, diapun mengemukakan pula maksud hati sendiri.

"Selain itu, boanpwe sendiri juga membutuhkan Si toan kim khong tersebut untuk menyembuhkan luka seorang gadis, jadi tindakan boanpwe ini boleh dibilang sekali tepuk dua lalat, harap locianpwe jangan memikirkannya di dalam hati."

"Ooh... kalau begitu sauhiap datang mencari lohu karena hendak menolong gadis itu? Tapi heran .... sejak lohu pura pura mati dan mengasingkan diri di sini, jarang sekali ada yang mengetahui kalau lohu masih hidup, kenapa kau bisa menemukan tempat ini?"

Thi Eng khi segera menceritakan kembali bagaimana Pek leng siancu So Bwe leng terluka dan bagaimana ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memberi petunjuk kepadanya agar pergi ke bukit Huan keng san.....

Padahal si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sendiri tidak tahu kalau si pendendam raja akhirat belum mati dan tinggal disitu.

Ia bisa berkata demikian karena ia pernah mendengar kalau tabib sakti itu berasal dari wilayah sekitar sana, itulah sebabnya dia lantas menyebutkan nama bukit Huan keng san.

Siapa sangka petunjuk yang mengawur itu ternyata secara kebetulan menunjukkan tempat yang benar.

"Aah betul!"

Seru pendendam raja akhirat Kwik Keng thian tiba tiba,"

Sudah pasti budak dari keluarga Ting menyaksikan kuda hitam milik engkoh tioknya berada bersamamu maka dia lantas membocorkan rahasia lohu, betul betul kurang ajar!"

Tampaknya dia menjadi marah, tapi kemudian gumamnya kembali .

"Tapi .... budak yang cerewet itupun tidak mengetahui alamatku yang pasti!"

Sambil tertawa Thi Eng khi lantas berkata .

"Padahal locianpwe sendiri yang memberi petunjuk kepada boanpwe, harap kau jangan salahkan nona dari keluarga Ting."

"Apa maksud perkataan itu?"

Seru Kwik Keng thian agak tertegun.

"Bukankah locianpwe telah menghadiahkan seekor kuda berbulu hitam buat boanpwe."

Mendengar perkataan itu, si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh.... haahhhh.... haaahhh..... rupanya binatang itu yang menghantar sauhiap sampai kesini, betul betul takdir namanya ..... Yaa, coba kalau aku tidak menghadiahkan kuda itu kepadamu, bagaimana mungkin aku bisa berjumpa dengan sauhiap hari ini, dan mana mungkin kau bisa menyelamatkan jiwa lohu?"

Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata .

"Tentunya sauhiap sudah berapa hari tinggal disini bukan? Mengapa kau begitu sabar menunggu hingga hari ini?"

"Sejak boanpwe mendapat hadiah kuda hitam dari locianpwe, aku telah balik kemari tetapi berhubung locianpwe belum juga kembali maka untuk membunuh waktu, aku telah membaca buku pertabiban milik locianpwe yang berada di rak buku itu."

"Dulu kau pernah belajar ilmu pertabiban dari siapa?"

"Dulu boanpwe belum pernah belajar ilmu pertabiban, pengetahuan ilmu pertabiban yang boanpwe miliki sekarang berasal dari kitab bacaan milik locianpwe."

Mendengar perkataan itu, Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh..... haaahhhh..... haaahhhhh.... pengetahuan ilmu pertabiban? Kau maksudkan pengetahuan? Di kolong langit dewasa ini mungkin tak akan dijumpai orang ketiga yang memiliki pengetahuan tersebut."

Kejut dan girang Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian .

"Apakah boanpwe telah ......"

Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian tidak mempedulikan ucapan dari anak muda itu lagi, terdengar ia bertanya .

"Apakah sauhiap telah hapal dengan semua ilmu pertabiban yang lohu miliki?"

Bukan saja Thi Eng khi sudah hapal dengan semua ilmu pertabiban tersebut, bahkan sudah memahaminya pula. Meski begitu, dimulut dia tetap merendah .

"Ya, kalau dipaksakan memang boanpwe sudah hapal semua."

Rasa kaget bercampur kagum segera menghiasi wajah Kwik Keng thian, dengan sorot mata yang memancarkan cahaya aneh, katanya .

"Bagian obat obatan merupakan bagian yang paling susah untuk dihapalkan, satu satunya murid lohu Seng Tiok sian sudah terhitung manusia pintar yang berbakat dalam pandangan lohu, tapi untuk mempelajari kitab pengobatan itu, dia membutuhkan waktu selama setahun sebelum berhasil menguasainya, sedang sekarang sauhiap cuma membutuhkan waktu belasan hari saja sudah dapat hapal, kalau bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sampai robekpun mulut orang untuk membicarakan soal ini, lohu pasti tak akan percaya. Aaai..... dari sini dapat diketahui kalau kemampuan sauhiap masih sepuluh kali lipat lebih hebat daripada muridku."

Sekarang Thi Eng khi baru tahu kalau Seng Tiok sian adalah murid dari kakek ini, andaikata dia tahu akan hal itu, mungkin tak nanti ada penemuan aneh yang bakal dialaminya seperti sekarang ini.

Agak rikuh juga Thi Eng khi mendengar pujian orang, buru buru serunya merendah .

"Saudara Tiok sian gagah perkasa dan pandai, dia adalah naga diantara manusia, mana mungkin boanpwe dapat menandinginya."

"Jika kau tak mampu melebihi muridku mengapa lohu hadiahkan kuda berbulu hitam itu kepadamu?"

Kedua orang itu segera saling berpandangan sekejap, lalu tertawa terbahak bahak. Saat itulah si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian baru menerangkan kalau "Si toan kim khong"

Merupakan benda mestika milik Sim ji sinni di bukit Bu gi san.

Dari Oulam menuju ke Bu gi san mencapai dua ribu li perjalanan, itu berarti bolak balik mencapai empat ribu li sekalipun ada kuda hitam yang bisa berlari cepat mustahil dalam sepuluh hari saja bisa balik kembali ke situ.

Mengetahui keadaan tersebut, Thi Eng khi menjadi terbungkam dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Sebaliknya Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berlagak seakan akan tidak melihat, sambil tersenyum dia lantas menyuruh anak muda itu berangkat.

Thi Eng khi segera mempersiapkan kuda hitam pemberian dari Kwik Keng thian itu, baru akan berangkat, kakek itu memanggilnya lalu sambil menyerahkan se

Jilid kitab berwarna kuning, dia berkata .

"Kitab Ih keng ini merupakan kepandaian terakhir yang lohu miliki, dengan kecerdasan dari sauhiap sudah pasti kau dapat menguasai kepandaian itu secara sempurna, silahkan sauhiap terima untuk mempelajari."

Mendengar itu, Thi Eng Khi lantas berpikir .

"Kitab ini merupakan hasil karya dari segenap kepandaian yang dimilikinya, ilmu tersebut lebih pantas kalau diwariskan kepada muridnya, sedang aku bukan sanak bukan keluarga dengannya, masa kitab tersebut mesti kuterima?"

Berpikir demikian, dia lantas mengambil suatu keputusan dalam hatinya, bila berjumpa dengan Seng Tiok sian dikemudian hari maka kitab tersebut akan dikembalikan kepadanya.

Itulah sebabnya tanpa banyak berbicara lagi, dia segera menerima pemberian kitab itu.

Kemudian setelah menghibur Kwik Keng thian dengan beberapa patah kata, ia segera berangkat meninggalkan tempat itu.

Thi Eng khi berangkat terlalu tergesa gesa, bukan saja dia tak bertanya jelas kisah Kwik Keng thian hingga menderita luka, bahkan diapun lupa memberitahukan kepadanya bahwa ia telah menemukan sesosok mayat orang tua dan membiarkan panah pendek beracun itu tetap diatas meja baca.

Keteledorannya itu entah bakal menimbulkan beberapa banyak kesulitan lagi baginya dikemudian hari?

Bu gi san terletak di propinsi Hok kian di sebelah selatan keresidenan Tiong san pegunungan itu memanjang beratus ratus li dengan puncak Sam yang hong sebagai puncak tertinggi.

Diatas puncak itulah terdapat sebuah kuil yang bernama Sam Sim an.

Ketua kuilnya tak lain adalah Sim ji sinni, nikou nomor wahid di kolong langit.

Kalau dulu didalam kuil itu hanya berdiam dua orang saja, kecuali Sim ji sinni hanya ada seorang nyonya tua yang bertubuh tinggi besar dan berambut putih.

Maka sekarang dari dua menjadi tiga, sebab disitu telah bertambah lagi dengan nona Ciu Tin tin.

Hari kedua setelah Sim ji sinni membawa pulang Ciu Tin tin, secara resmi, dia telah menerima gadis itu sebagai muridnya.

Setelah mempunyai ahli waris, tak terlukiskan lagi rasa gembira Sim ji sinni, tapi yang membuat Ciu Tin tin tidak habis pikir adalah kegembiraan si nenek berambut putih yang beberapa kali lipat melebihi Sim ji sinni.

Di samping itu, ada satu hal lagi yang tidak dipahami Ciu Tin tin yakni hubungan antara nenek berambut putih itu dengan Sim ji sinni.

Terhadap nikou tersebut, sikap nenek berambut putih itu luar biasa hormatnya, sedangkan Sim ji sinni juga amat menaruh hormat kepada si nenek, hal ini membuat hubungan mereka bagaikan ibu dan anak, seperti juga hubungan majikan dengan pembantu ....

Ciu Tin tin mendapat perintah untuk memanggil nenek berambut putih itu sebagai Bu nay nay (nenek Bu), oleh karena itu dia hanya tahu kalau nenek itu she Bu, tapi kecuali itu dia tidak tahu apa apa .....

Ada kalanya diapun menanyakan hal ini kepada mereka, namun tiada sesuatu hasil pun yang diperoleh.

Sim ji sinni pernah makan buah Tiang kim ko maka ia nampak amat muda sekali sehingga mirip adiknya Ciu Tin tin.

Buah Tiang kim ko adalah buah yang dihasilkan oleh Si toan kim khong setiap seratus tahun, konon belakangan ini kembali ada sebiji buah yang sudah hampir masak.

Dari sini dapat diketahui kalau Sim ji sinni makan buah Tiang kim ko tersebut pada seratus tahun berselang atau dengan perkataan lain, usianya sekarang sekitar seratus sepuluh sampai seratus dua puluh tahunan.

Menurut rencana dari kedua orang cianpwe itu, buah Tiang kim ko yang hampir masak itu akan diberikan untuk Ciu Tin tin.

Padahal semenjak tiba di bukit Bu gi san, Ciu Tin tin sudah makan banyak ragam obat mustajab, meski hanya dalam waktu bulan saja, namun kemajuan tenaga dalam yang diraihnya sudah tak terlukiskan dengan kata kata, itulah sebabnya dia tidak terlalu memperdulikan soal buah Tiang kim ko tersebut.

Sekarang satu satunya persoalan yang menjadi beban dalam pikirannya adalah sikap adik Eng kepadanya, dia mempunyai alasan untuk mendendam kepadanya, namun rasa benci itu tak dapat mengalahkan rasa cintanya yang tebal, hingga saat itu dia berdiri melamun dibalik kabut sambil membayangkan kekasihnya itu.

Tampaknya dia sudah begitu kesemsem sehingga lupa daratan.

Mendadak Bu nay nay melompat keluar dari balik kuil dan melompat ke belakang tubuh Ciu Tin tin, kemudian sambil mementangkan kelima jari tangannya mencengkeram bahu kanan gadis itu.

Serangan dari Bu naynay dilakukan secepat kilat dan tanpa menimbulkan sedikit suarapun, tampaknya cengkeraman itu segera akan bersarang diatas bahu gadis itu.....

Mendadak Ciu Tin tin miringkan bahu kanannya sehingga cengkeraman Bu naynay meleset, dengan cepat nenek itu merubah ancamannya dengan membabat pinggang sinona.

Namun Ciu Tin tin kembali tidak bergeser, tangan kanannya mendadak dibalik kebelakang mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Bu naynay dengan jurus Huan kian kim lian (sambil membalik menggulung kaki).

"Bagus!"

Puji Bu naynay.

"tampaknya kewaspadaanmu makin lama semakin hebat!"

Sambil berseru dia lantas mundur sejauh lima depa dan tertawa terkekeh kekeh.

Rupanya Bu naynay hanya bermaksud untuk menjajal kepandaian silat dari Ciu Tin tin saja.

Gadis itu segera berpaling sambil berseru manja .

"Nenek, kau selalu tidak memberi kesempatan kepada Tin ji untuk merasakan ketentraman!"

"Tin tin,"

Kata Bu naynay sambil tertawa.

"berbicaralah terus terang, benarkah pikiranmu pada saat ini setenang air telaga?"

Ciu Tin tin segera menundukkan kepalanya dengan tersipu sipu, merah padam selembar pipinya. Sambil tertawa keras kembali Bu naynay berkata .

"Keadaanmu persis seperti keadaan suhumu dikala masih muda dulu, apa yang terpikir dalam hati pasti terasa jelas diatas wajahnya ...."

"Bu naynay, kau lagi lagi hendak mengatai soal diriku dibelakang orang .....!"

Tiba tiba dari balik kuil berkumandang suara teguran yang merdu.

Meski sudah tua ternyata sikap Bu naynay seperti anak kecil saja, ia segera membuat muka setan dan buru buru menarik tangan Ciu Tin tin seraya berkata keras .

"Tin tin, mari kita melihat apakah buah Tiang kim ko sudah matang atau belum."

Dua orang dengan membentuk menjadi sesosok bayangan manusia langsung meluncur kebelakang bukit sebelah timur.

Setelah melewati sebuah tebing yang terjal, mereka langsung menuju puncak Sam yang hong.

Puncak Sam yang hong menjulang tinggi ke angkasa, pada puncak mana terdapat sebidang tanah datar seluas lima kaki ditengahnya terdapat sebuah kolam berair jernih, di tengah kolam terdapat sebatang tumbuhan dengan sembilan lembar daun berwarna biru, diantara kesembilan lembar daun tadi terdapat sebatang putih berwarna putih keperak perakan dengan diujungnya tumbuh sebiji buah berwarna merah.

Bu naynay dan Ciu Tin tin berdiri berjajar di tepi telaga, sambil menuding kearah buah mana, nenek Bu berkata .

"Kurang lebih masih ada lima jam lagi buah Tiang kim ko itu akan berubah menjadi hijau."

Ciu Tin tin jadi amat keheranan, serunya .

"Masa setelah menjadi merah dapat berubah jadi hijau?"

"Kalau tak dapat berubah menjadi hijau masa namanya Tiang kim ko. Satu satunya perbedaan antara Tiang kim ko dengan buah yang lain adalah buah itu baru menjadi matang bila sudah berubah warnanya menjadi hijau."

"Selain dapat membuat orang menjadi awet muda, apakah buah Tiang kim ko mempunyai kasiat untuk mengembalikan yang tua menjadi muda kembali?"

"Tentu saja!"

Sahut nenek Bu sambil tersenyum. Ciu Tin tin segera tertawa merdu.

"Kalau begitu aku tak akan makan buah Tiang kim ko ini!"

Sahutnya cepat.

"Hey, rencana apa lagi yang sedang kau susun?"

Seru nenek Bu kemudian dengan wajah tercengang.

"Aku tahu, seandainya Tin tin tidak naik gunung, suhu pasti akan memberikan buah Tiang kim ko tersebut buat kau orang tua, coba bayangkan kedatangan Tin tin justru menambah kesulitan untuk kau orang tua, malah sekarang hendak merampas buah Tiang kim ko milikmu lagi, sekalipun Tin tin masih muda dan tak tahu urusan juga tak akan melakukan perbuatan seperti ini, pokoknya Tin tin sudah bertekad tidak akan makan buah Tiang kim ko tersebut."

Sewaktu mengutarakan ucapan tersebut, Ciu Tin tin berbicara dengan wajah sungguh sungguh dan nada cepat lagi gencar, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada nenek Bu untuk menimbrung.

Sekalipun demikian, nenek Bu telah dibuat terharu sekali oleh ketulusan hati Ciu Tin tin sehingga air matanya jatuh bercucuran dengan deras.

Sambil membelai rambut Ciu Tin tin dengan penuh kasih sayang, serunya dengan suara lirih .

"Ooh, anak baik, anak baik!"

Ketika Ciu Tin tin sudah menyelesaikan kata katanya, dengan suara parau dia baru berkata .

"Nak, nenek tahu kalau hatimu sebaik hati gurumu, tapi kaupun harus tahu usia nenek sudah amat tua bila saat ajalku sudah tiba, jiwaku pasti akan melayang meninggalkan raga. Betul buah Tiang kim ko merupakan buah yang mustika dan tak ternilai harganya, akan tetapi tak dapat menambah usia seseorang. Oleh karena itu, meski buah Tiang kim ko dianggap benda yang langka didunia ini, dalam pandangan nenek justru tak ada harganya, pada mulanya ketika aku hendak memberikan buah Tiang kim ko tersebut padamu, entah berapa banyak perkataan yang mesti kuucapkan guna membujuk gurumu, sekarang kau lagi lagi menggunakan cara yang sama untuk membujukku, tampaknya kehidupan aku si nenek di dunia ini selain hanya bisa membonceng ketenaran orang. Kesempatanku untuk menunjukkan rasa baktiku kepada orang lain pun tak punya, aai, lebih baik aku cepat cepat mampus saja."

Sehabis berkata, dia benar benar akan terjun ke air telaga berwarna biru yang tak terukur dalamnya itu. Dengan cemas Ciu Tin tin segera menarik tangannya sambil berteriak keras .

"Nenek, nenek kau orang tua tak boleh mati, Tin tin ucapakan banyak terima kasih dulu atas maksud baikmu itu."

Nenek Bu segera menarik kembali gerakan tubuhnya seraya tertawa terbahak bahak.

"Haahhh.... haaahhh..... haaahhh..... anak Tin, kau kira nenek benar benar memiliki kepandaian untuk terjun ke dalam air telaga ini?"

"Nenek, jadi kau bukan sungguhan hendak mati?"

Seru Ciu Tin tin agak tertegun.

"Asal kau bersedia makan buah Tiang kim ko tersebut, tentu saja nenek tak ingin mati!"

Sekarang Ciu Tin tin baru tahu kalau ia sudah ditipu oleh nenek Bu, dengan manja segera serunya .

"Nenek jahat, nenek jahat, Tin ji tak mau menggubris dirimu lagi ...."

"Berbicara yang sebenarnya,"

Kata nenek Bu dengan wajah serius.

"air suci langit biru bukan sembarangan air, benda apapun jangan harap bisa mati disana."

Ciu Tin tin menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, ia tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan nenek Bu, sementara otaknya masih berputar kencang, mendadak dari atas langit meluncur datang seekor burung bangau berwarna abu abu yang meluncur di atas air telaga tersebut.

Sambil menuding kearah burung bangau itu, nenek Bu segera berkata lagi .

"Anak Tin, coba kau lihat suatu peristiwa aneh akan segera kau saksikan."

Ciu Tin tin segera mengalihkan sorot matanya untuk memperhatikan burung bangau itu, tampaklah burung itu sewaktu terbang diatas telaga Kim khong leng swan, mendadak seperti terhadang oleh segulung tenaga tak berwujud yang amat kuat, ternyata ia tak mampu terbang untuk melintasinya.

Burung bangau itu bertindak cukup cekatan, mendadak ia miringkan tubuhnya ke samping membuat satu gerakan busur, begitu menghindari dari wilayah sekitar telaga Kim khong leng swan tersebut, ia terbang lagi membumbung ke angkasa.

Ciu Tin tin yang menyaksikan kejadian itu hanya berdiri tertegun belaka, dia tak berhasil memahami arti dari kesemuanya itu.

Sementara Ciu Tin tin masih melongo, mendadak nenek Bu mengerahkan tenaganya mendorong Ciu Tin tin ke belakang, dalam keadaan tak siap dan lagi tenaga dorongan itu sangat kuat, gadis itu tak sanggup berdiri tegak lagi, dengan cepat ia jatuh terjengkang ke dalam telaga.

Terpaksa Ciu Tin tin harus memejamkan matanya rapat rapat sambil bersiap sedia mandi dalam air telaga itu.

Siapa tahu, sewaktu tubuh Ciu Tin tin hampir terjatuh ke tepi telaga tadi, seakan akan membentur selapis dinding hawa murni yang lunak, tubuhnya segera memental balik kembali.

Yang aneh adalah tenaga pantulan itu ternyata persis telah mementalkan kembali tubuhnya ke tempat semula.

Dengan keheranan Ciu Tin tin lantas bertanya .

"Sebetulnya apa yang telah terjadi?"

"Sejak dulu, diatas air telaga kim khong leng swan tersebut sudah terdapat semacam hawa lunak yang amat kuat untuk melindungi sekeliling telaga tersebut, bagaimana pun lihaynya seseorang, jangan harap bisa mendekati tempat tersebut."

"Kalau manusia tak bisa masuk ke dalam sana, lantas bagaimana cara kita untuk bisa memetik buah Tiang kim ko tersebut?"

"Inilah satu kemujijatan yang diciptakan oleh Thian alam semesta ini!"

Sahut nenek Bu. Setelah berhenti sejenak, ketika dilihatnya Ciu Tin tin tidak menimbrung, ia menyambung lebih jauh .

"Untuk menembusi hawa murni pelindung telaga tersebut guna mengambil buah Tiang kim ko, hanya ada satu saat yang singkat dapat dilakukan, bila saat mana bisa dipergunakan dengan sebaik baiknya maka buah Tiang kim ko baru bisa didapat, bila waktunya sudah lewat maka itu berarti harus menunggu orang yang pernah makan buah Tiang kim ko untuk memetikkan. Sebab terhadap orang yang pernah makan buah Tiang kim ko, hawa sakti pelindung telaga tersebut tak bisa mewujudkan kekuatannya....."

"Anak Tin ingin memetik sendiri buah Tiang kim ko tersebut, harap nenek suka memberitahukan kepada anak Tin pada saat yang bagaimanakah aku baru bisa menembusi pertahanan hawa sakti tersebut."

"Pada saat buah Tiang kim ko akan menjadi masak, hawa sakti Leng swan ceng khi tersebut akan kehilangan kekuatannya."

Ciu Tin tin yang berotak cerdas lagi cermat segera termenung, sambil berpikir sebentar kemudian katanya .

"Seberapa singkatkah hawa murni Leng swan ceng khi itu kehilangan kekuatannya?"

"Anak Tin, kau memang cermat sekali, hal ini memang merupakan suatu hal yang sangat penting, sebab saat hawa sakti Leng swan ceng khi kehilangan kekuatannya hanya berlangsung amat singkat, kurang lebih hanya satu atau dua kali lompatan orang biasa, sedemikian singkatnya waktu tadi hingga sukar rasanya untuk dihitung secara tepat."

Diam diam Ciu Tin tin lantas memperhitungkan waktu satu lompatan dari manusia biasa, walaupun seseorang memiliki tenaga dalam yang amat sempurna pun waktu sesingkat itu hanya bisa digunakan untuk menyeberangi telaga, padahal untuk mengambil buah Tiang kim ko tersebut seseorang musti melambung di udara.

Namun untuk hal itu bukan suatu masalah buat Ciu Tin tin, sebab baginya melakukan gerakan melambung hanya merupakan suatu perbuatan yang gampang sekali.

Yang paling penting sekarang adalah bagaimana menggunakan waktu yang setepatnya sehingga tidak sampai mengalami kegagalan, karena kunci dari kesuksesannya terletak pada penggunaan waktu yang tepat.

Menyaksikan Ciu Tin tin termenung belaka tanpa berbicara, nenek Bu segera menegur sambil tertawa ;

"Anak Tin, apakah kau telah berhasil menemukan cara yang baik?"

Didengar dari nada ucapan tersebut, seolah olah dia sedang berkata begini .

"Menyerah saja kalau tidak bisa menemukan cara yang baik biar nenek yang memberitahukan kepadamu."

Mendadak berkilat tajam sepasang mata Ciu Tin tin, katanya tiba tiba .

"Anak Tin telah berhasil menemukan suatu cara untuk mengendalikan soal waktu, hanya ada satu hal yang kurang kupahami, harap nenek suka memberi petunjuk."

"Dalam hal yang mana kau tidak mengerti? Katakan saja dengan terus terang?"

Ucap nenek Bu sambil tertawa.

"Dikala buah Tiang Kim ko hendak masak, gejala istimewa apakah yang akan terlihat? Dan jaraknya dengan waktu yang amat singkat itu selisih berapa lama?"

"Bila buah Tiang Kim ko akan masak, warnanya dari merah akan berubah menjadi putih, putih bercahaya keperak perakan, kurang lebih setengah perminum teh kemudian warnanya baru akan berubah menjadi hijau dan masak."

Ciu Tin tin tidak berbicara lagi, dia lantas mematahkan sebatang ranting dan ditutulkan kearah lapisan tenaga sakti itu, sewaktu menyentuh dengan kekuatan mana ranting tersebut segera memantul dan tak mampu bergerak lagi.

Ciu Tin tin mencobanya beberapa kali lalu baru berkata .

"Anak Tin sambil menghimpun tenaga dalam siap melakukan gerakan, ranting tersebut kutempelkan terus diatas hawa sakti Hu swan ceng khi, asal tenaga pelindung itu lenyap, anak Tin akan segera mengetahui jika saatnya telah tiba, pada waktu itulah tenaga yang telah kupersiapkan akan segera kukerahkan guna memetik buah tadi, aku rasa cara ini pasti tidak akan meleset."

Cara semacam itu sesungguhnya amat sederhana, justru karena kesederhanaannya sering kali dilupakan orang, maka jarang sekali ada yang bisa menemukan cara tersebut.

Begitu selesai mendengar ucapan tadi, dengan gembira nenek Bu segera memuji .

"Anak Tin, caramu itu persis seperti cara yang digunakan suhumu untuk mengambil buah Tiang kim ko dimasa lalu, tak kusangka kalau kau dapat menemukannya!"

Mendadak nenek Bu menemukan sesuatu, dengan wajah tegang segera serunya lagi.

"Anak Tin, coba kau lihat, warna merah dari buah Tiang kim ko itu sudah makin tawar!"

Ternyata sementara mereka berbicara, warna buah Tiang kim ko itu sudah hampir berubah menjadi. Ciu Tin tin segera mempersiapkan gerakannya seraya berkata .

"Nenek Bu, coba kau lihat anak Tin akan memetik buah Tiang kim ko itu dengan mudah!"

Nenek Bu tertawa.

"Nenek ucapkan semoga kau ......"

Belum habis dia berkata, mendadak dari atas puncak diseberang sana melayang turun seorang kakek jelek berbaju serba hitam, bukan saja kakek itu mengenakan pakaian warna hitam, bahkan wajahnyapun berwarna hitam pula.

Ditangannya juga membawa sebatang ranting, sambil berdiri tak berkutik di tepi telaga ia tidak berbicara tapi gayanya persis menirukan gaya dari Ciu Tin tin.

Rupanya saking asyiknya nenek Bu berbincang bincang dengan Ciu Tin tin, mereka sama sekali tidak menyangka kalau di seberang bukit itu bersembunyi seseorang.

Tapi kalau dilihat dari kemampuan orang berbaju hitam itu untuk mengelabui ketajaman mata dan pendengaran nenek Bu serta Ciu Tin tin dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimilikinya sangat lihay ......

Dalam keadaan seperti ini mustahil bagi Ciu Tin tin untuk turun tangan menghadapi kakek berbaju hitam itu, terpaksa dia berlagak seakan akan tidak melihat dia dan memusatkan perhatiannya untuk menunggu datangnya saat yang dinanti nantikan.

Sebaliknya nenek Bu merasa gusar sekali sambil tertawa dingin ia segera menerjang ke depan, teriaknya .

"Setan hitam, siapakah kau? Hayo cepat menggelinding pergi dari tempat ini."

Sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan, angin pukulan yang amat kuat dengan cepat menggelundung kearah kakek berwajah hitam tersebut.

Meski diluar berwajah bengis, nenek Bu tidak berniat melukai orang, maka meski angin pukulannya kencang, serangan tadi hanya gertak sambal belaka.

Walaupun begitu, perlu diketahui Bu naynay adalah seorang jago yang berilmu tinggi sekalipun kepandaian silatnya agak selisih bila dibandingkan dengan Sim ji sinni, namun selisihnya tak banyak, betul cuma gertak sambal belaka, namun kakek bermuka hitam itu juga tak akan tahan.

Aneh bila ia tak sampai tergulung jatuh ke bawah bukit.

Tapi dibilang aneh, kenyataannya memang aneh, kakek bermuka hitam itu cuma tertawa melulu, membalaspun tidak, akan tetapi ketika angin pukulan dari Bu naynay menggulung diatas badan kakek jelek itu, tahu tahu kekuatannya punah.

Jangankan melukai, mengibarkan ujung bajunya pun tidak.

Kontan saja Bu naynay merasa seperti kehilangan muka, dari malu dia jadi marah, segera bentaknya keras keras .

"Tenaga dalam yang amat sempurna, coba kau rasain sebuah pukulan lagi!"

Kali ini dia menghimpun tenaga dalamnya mencapai sepuluh bagian lebih, lalu dilontarkan kedepan.

Walaupun disertai kekuatan sebesar sepuluh bagian, dalam kenyataan serangan itu malah sama sekali tak menimbulkan suara seolah olah suatu serangan tipuan belaka.

Tampak paras muka kakek bermuka hitam itu menunjukkan suatu perubahan yang sangat aneh, tiba tiba dia berguman .

"Yaa, bagaimanapun juga aku memang terbiasa kau hajar, dihajar sekali lagi pun tidak menjadi soal!"

Ucapan itu amat ringan seakan akan tak pernah terjadi peristiwa semacam itu saja, seperti serangan yang dilepaskan Bu naynay tadi memang cuma serangan kosong saja.

Berkilat sepasang mata Bu naynay menyaksikan kejadian itu, timbul perasaan sangsi diatas wajahnya, dia bukannya sangsi akan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki kakek berwajah hitam itu melainkan sangsi atas ucapannya.

Perkataan tersebut telah mengingatkannya akan seseorang, sebab hanya orang itu saja yang akan mengutarakan kata kata semacam itu kepadanya.

Tapi.....

kakek bermuka hitam itu sama sekali bukan orang yang dipikirkan, sebab itu mau tak mau dia harus putar otak untuk memikirkan persoalan ini sedang matanya berusaha untuk memperhatikan wajahnya.

Mendadak dengan wajah berubah hebat dia menghampiri kakek bermuka hitam itu dengan sempoyongan, lalu dengan wajah tegang, serunya .

"Kau, kau ......"

"Berhenti!"

Tiba tiba kakek bermuka hitam itu membentak keras.

"Jangan datang kemari, sebab dengan begitu justru akan mencelakai dirimu sendiri."

Bu naynay benar benar berhenti, tapi katanya lagi dengan suara tergagap.

"Dengan mendengar ucapanmu itu, aku semakin dapat memastikan kalau kau benar benar adik Im."

"Benar, siaute memang Bu Im, saudaramu yang telah toaci anggap mampus sejak dulu,"

Sahut si kakek bermuka hitam dengan sikap yang jauh lebih lemah. Bu naynay segera dipengaruhi oleh luapan emosi, teriaknya dengan setengah melengking .

"Kau ..... kau.... mengapa kau bisa berubah menjadi begini rupa?"

Bu Im menghela napas panjang.

"Aaai..... oleh karena siaute harus melatih semacam sinkang yang maha dahsyat, aku harus membuat sejenis obat, dasar sial aku salah mencampurkan bahan obat itu sehingga jadi beginilah mukaku."

"Mengapa kau hendak melatih ilmu khikang tersebut?"

Bu naynay bertanya dengan rasa kuatir.

"Sebab siaute ingin mencari suatu kesempatan guna memenangkan cici!"

Mendengar perkataan itu, Bu naynay merasa semakin sedih, segera ujarnya .

"Saudaraku, maksud hatimu kelewat mendalam, apakah kau telah menganggap cicimu sebagai musuh besarmu?"

"Yaa, siaute telah salah melangkah sehingga menyesalpun tak ada gunanya, aku mohon enci suka memandang atas hubungan persaudaraan kita untuk menolong diri siaute."

"Bantuan apakah yang dapat kuberikan?"

Bu naynay tampak ragu ragu.

"Siaute mohon kepada cici agar mau menghadiahkan buah Tiang kim ko tersebut kepadaku, agar racun yang mengeram dalam tubuhku bisa punah dan wajah asliku pulih kembali!"

Bu naynay hanya menundukkan kepalanya tidak menjawab, jelas timbul pertentangan di dalam hatinya.

Rupanya Bu naynay dengan adik kandungnya Bu Im sejak kecil sudah mempunyai hubungan persaudaraan yang akrab, hanya dalam hal ilmu silat Bu Im selalu mengagumi kehebatan encinya, dengan segala daya dan upaya dia tak pernah berhasil memenangkan dirinya.

Sebaliknya Bu naynay amat menyayangi adiknya, dalam hal apapun dia selalu mengalah kepadanya, tapi justru hanya dalam ilmu silat ia enggan mengalah, setiap kali pertarungan berlangsung, rasa ingin menangnya selalu meliputi benaknya sehingga ia tak pernah bermaksud untuk mengalah.

Itulah sebabnya, Bu Im tak pernah meraih keuntungan apa-apa ditangannya.

Kemudian, dikarenakan suatu kejadian kakak beradik ini harus hidup terpisah tapi setiap lima tahun sekali mereka berdua pasti melangsungkan sekali pertarungan, hingga enam puluh tahun berselang, ketika Bu Im sekali lagi menderita kekalahan diatas bukit Bu gi san, mulai saat itulah dia tak pernah lagi datang mencari Bu naynay untuk beradu kepandaian.

Dalam keadaan begini, Bu naynay tentu saja kehilangan kabar beritanya, puluhan tahun lewat tanpa terasa, siapa tahu akhirnya mereka harus bersua kembali dalam keadan seperti ini, tak heran kalau Bu naynay dibuat serba salah.

Pertentangan batin yang hebat segera berkecamuk dalam dada Bu naynay, sampai lama kemudian dia baru mengambil keputusan tegas, katanya dengan cepat .

"Adik Im, tahukah kau bahwa aku tak dapat meluluskan permintaanmu itu?"

Bu Im nampak agak kecewa.

"Kau kuatir kalau ilmu silatku jauh melampaui kemampuanmu?"

Katanya segera.

"Aku tahu, ilmu silatmu sudah jauh melampaui diriku, hal ini sudah terbukti dengan jelas dalam kegagalanku melepaskan dua buah serangan tadi...."

"Itulah ilmu pukulan Hua lek sin kang yang baru saja siaute kuasai!"

Sekulum senyuman bangga segera menghiasi wajah Bu Im.

"Hua lek sin kang?"

Seru Bu naynay terkejut.

"ilmu silat Hua lek sin kang adalah suatu ilmu silat sakti yang sudah ratusan tahun lenyap dari dunia persilatan. Ilmu itu bukan termasuk ilmu sesat, mengapa kau membutuhkan bantuan obat?"

Bu Im tertawa getir.

"Tanpa sengaja siaute berhasil menemukan ilmu silat sakti tersebut pada enam puluh tahun berselang, sesudah kulatih ilmu tersebut selama lima puluh tahun tapi kenyataannya tidak berhasil mencapai apa yang kuharapkan, tingkatan yang paling tinggi masih jauh dari raihanku!"

"Bakat merupakan faktor terpenting dalam melatih ilmu silat, bukan enci mengatai dirimu, kau bukan seorang yang berbakat untuk belajar silat, sebab itu harapanmu untuk berhasil terasa nihil."

"Siaute cukup memahami titik kelemahanku ini, itulah sebabnya dengan mengorbankan waktu selama dua tahun, aku berusaha untuk mencari bahan obat-obatan yang bisa membantuku untuk menambah tenaga, siapa tahu meski semua bahan obat obatan telah siap, lantaran aturan percampuran obat tersebut tidak benar, meski setelah obat itu kuminum, tenaga yang kuharapkan bisa tercapai juga seperti yang diharapkan, namun timbul pula suatu reaksi lain, yang mengakibatkan aku berubah menjadi begini rupa sekarang ...."

"Aaai..... semuanya sudah digariskan oleh takdir, manusia memang tak dapat merubahnya dengan paksa, kau ...."

"Tekad siaute untuk melawan takdir bukankah bakal berhasil bila tindakan yang terakhir inipun bisa kucapai? Asal enci mau membantu siaute, niscaya aku dapat melawan takdir,"

Tukas Bu Im cepat. Bu naynay segera menggelengkan kepala.

"Adik Im, harap kau jangan memaksa enci untuk mengatakan "Tidak...!"

"Katanya. Bu Im nampak amat sedih sekali.

"Cici, bila ...."

Belum habis dia berkata, mendadak hawa sakti diatas telaga itu telah punah dan lenyap.

Tapi sayang dia sedang memecahkan perhatiannya untuk berbicara, sehingga ketika dia melakukan tindakan, sudah banyak waktu yang hilang, baru saja setengah badan lewat setengah badan yang lain telah terhisap kembali oleh hawa sakti telaga tersebut, betul ia sudah mengerahkan ilmu Hue lek sin kangnya, toh tiada yang diperoleh.

Terpaksa dia harus menarik diri untuk mundur dan nyatanya sewaktu mundur, ia sama sekali tidik menjumpai kesulitan apa apa.

Berbeda dengan Ciu Tin tin, dia dapat memanfaatkan waktu tersebut secara tepat, begitu hawa pelindung telaga punah, dengan jurus Tan hong tian ci (burung Hong pentang sayap) dia melayang keudara, kemudian dengan gerakan Tiang hong sip sui (pelangi panjang menghisap air) dia hisap buah Tiang kim ko itu ke tangannya lalu dengan cekatan melayang turun tepat di samping badan Bu naynay.

Rupanya apa yang dibicarakan Bu naynay dengan Bu Im tadi telah didengar semua oleh Ciu Tin tin, maka dia lantas mengambil keputusan didalam hatinya, dengan memandang diatas wajah Bu naynay, dia bertekad hendak menghadiahkan buah Tiang kim ko tersebut untuk Bu Im.

Sudah barang tentu diapun cukup tahu akan tabiat Bu naynay, apa yang telah diucapkan selamanya tak pernah dirubah.

Bila secara terang terangan buah Tiang kim ko itu disodorkan kepada Bu Im, niscaya Bu naynay tak akan terima, selain itu hal inipun menunjukkan seakan akan dia tidak berniat sungguh sungguh untuk menghadiahkan kepada orang.

Maka, munculkah satu ingatan dalam benaknya.

Sewaktu tubuhnya melayang turun keatas tanah tadi, seperti sengaja tak sengaja dia timpuk buah Tiang kim ko tersebut kearah mulut Bu Im, kemudian baru berkata .

"Boanpwe bersedia menghadiahkan buah Tiang kim ko tersebut untuk menghormati Bu locianpwe."

Buah Tiang kim ko tersebut dengan merubah diri menjadi sekilas cahaya hijau langsung meluncur ke mulut Bu Im.

Bu naynay yang menyaksikan peristiwa itu, menjadi panik, sepasang tangannya segera mencakar sekenanya kedepan, dua gulung tenaga murni segera meluncur ke depan siap menghisap kembali buah Tiang kim ko itu.

Berbicara soal tenaga dalam yang dipunyai Bu naynay, semestinya bukan suatu pekerjaan yang sukar untuk menghisap kembali buah mana, siapa tahu Ciu Tin tin telah menduga sampai kesitu, diam diam ia telah sertakan tenaganya sebesar sepuluh bagian lebih .....

Dengan demikian, kecuali tenaga dalam yang dilancarkan Bu naynay satu kali lipat lebih besar dari tenaga yang dipancarkan Ciu tin tin, kalau tidak, jangan harap dia mampu menghisap balik buah Tiang kim ko tersebut.

Di dalam kenyataan, tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin sekarang telah mencapai tingkatan yang luar biasa, apalagi akibat pengaruh obat mustajab yang sudah banyak dimakannya, membuat kekuatannya tidak kalah dengan kemampuan Bu naynay.

Oleh sebab itu, terlihatlah buah Tiang kim ko tersebut dengan membawa desingan angin lirih langsung masuk ke mulut Bu Im dan lenyap tak berbekas.....

Dengan hati mendongkol, Bu naynay langsung mendamprat .

"Adik Im, Sinni telah menghadiahkan buah Tiang kim ko tersebut kepada nona Ciu, kau tak boleh menelannya, hayo cepat muntahkan kembali."

Dengan gelisahnya dia seperti tak berpikir, benda yang sudah masuk ke mulut orang lain apakah mau dimakan lagi oleh Ciu Tin tin.

"Bu naynay!"

Cepat Ciu Tin tin berseru.

"kau anggap aku sudi makan buah bekas mulut orang lain?"

Bu naynay tertegun, lalu sambil mendepak depakkan kakinya berulang kali, ia menjerit .

"Kau..... kau.... betul betul menggemaskan!"

Yaa, apalagi yang dapat ia ucapkan? Bu Im gembira setengah mati, sambil tertawa ia lantas berseru .

"Buah Tiang kim ko mencair begitu bertemu dengan air liur, sekalipun siaute ingin muntahkan keluar juga tak mungkin bisa terjadi."

Ia membalikkan badannya dan segera menjura kepada Ciu Tin tin, katanya lebih jauh .

"Nona Ciu, kau berbudi luhur dan berjiwa pendekar, budi yang amat besar ini tak akan Bu Im lupakan untuk selamanya, harap nona suka menerima hormatku."

Orang persilatan tak pernah menyatakan rasa terima kasihnya dengan mulut, sekalipun demikian, dalam hati kecil mereka selalu akan mencatat budi kebaikan itu untuk dibalas kemudian hari.

Oleh karena hubungannya dengan Bu naynay, tentu saja Ciu Tin tin enggan menerima penghormatan Bu Im, buru buru dia menyingkir ke samping, lalu sambil tertawa dan menggoyangkan tangannya berulang kali katanya .

"Bu locianpwe, harap kau jangan begitu, Tin tin tak berani menerima penghormatanmu itu!"

Karena nasi telah menjadi bubur, marah pun tak ada gunanya, maka dengan mata mendelik Bu naynay lantas berkata .

"Bu Im, kau harus menyatakan dulu janjimu."

"Haahhhh..... haaahhhh...... haaahhhh..... tepat sekali ucapan dari cici....!"

Bu Im tertawa nyaring. Dia lantas berpaling ke arah Ciu Tin tin sambil ujarnya .

"Nona Ciu, apakah kau berminat untuk mempelajari ilmu sakti Hua lek sin kang?"

Ciu Tin tin tahu kalau tawaran dari Bu Im ini muncul dari hati yang tulus, maka buru buru dia memberi hormat seraya menjawab .

"Terima kasih banyak atas maksud baik Bu locianpwe!"

"Terima kasih apa,"

Tukas Bu naynay.

"ilmu sakti Hua lek sin kang mana bisa dibandingkan dengan hatimu yang tulus dan mulia itu?"

Walaupun ia berkata demikian, toh pesannya juga kepada Bu Im .

"Cepat cari suatu tempat yang terpencil dan wariskan simhoat tenaga dalam dari ilmu Hua lek sin kang tersebut kepada nona Ciu."

"Tak usah mencari tempat lain lagi, disinipun cukup baik."

"Kalau begitu aku akan berangkat selangkah lebih duluan, adik Im, kau harus baik baik terhadap nona Ciu, kaupun musti menyampaikan rasa terima kasihmu kepada Sim ji sinni, aku akan menunggu kalian di kuil Sam sin an...!"

Selesai berkata dia lantas membalikkan badannya siap pergi meninggalkan tempat itu.

"Cici, jangan pergi dulu,"

Bu Im segera berseru.

"kini jalan pikiran siaute pun telah terbuka, siaute tak ingin memenangkan cici lagi, apa salahnya kalau cicipun ikut mendengarkan penjelasanku tentang kehebatan ilmu Hua lek sin kang?"

Bu Im bisa berjiwa besar seperti ini, tentu saja kejadian mana membuat Bu naynay yaa girang yaa menyesal.

Menyesal karena dia memang merasa tak puas atas kehebatan ilmu Hua lek sin kang, terutama dua kali serangannya yang gagal melukai Bu Im tadi.

Bagaimanapun juga hal mana membuatnya tak puas, maka rasa ingin menang masih membara di dalam dadanya.

Siapa tahu Bu Im bisa menyesal kesalahannya lebih dulu, bagaimana mungkin hatinya tidak menyesal?

Ia girang karena adiknya mempunyai kebesaran jiwa yang mengagumkan itu berarti keluarga Bu akan muncul kembali sebagai manusia yang berjiwa ksatria.

Dalam girang dan menyesalnya Bu naynay jadi rikuh sendiri untuk turut mempelajari ilmu Hua lek sin kang, maka dia tak merubah tujuannya dengan tetap meneruskan gerakan tubuhnya melayang pergi dari tempat itu.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Bu Im menghela napas panjang, terpaksa ia membiarkan encinya pergi.

Kemudian diapun mulai mewariskan simhoat dari ilmu Hua lek sin kang tersebut kepada Ciu Tin tin dengan ilmu menyampaikan suara.

Bu Im memang cukup waspada, terutama sebagai jagoan kawakan dari dunia persilatan, untuk menghindari segala hal yang tak diinginkan dia putuskan untuk memberi pelajaran dengan ilmu menyampaikan suara.

Sebagaimana dia sendiri sewaktu bersembunyi di balik bukit sambil menyadap pembicaraan antara Bu naynay dengan Ciu Tin tin tadi, dia tak ingin ada orang turut menyadap pula pelajaran silatnya.

Tatkala simhoat ilmu Hua lek sin kang telah selesai diwariskan kepada Ciu Tin tin, Bu Im lantas berkata .

"Setan cilik takut bertemu dengan Pousat, akupun tak akan pergi ke kuil Sam sim an lagi, bila ada jodoh kita berjumpa lagi lain waktu, terima kasih banyak atas bantuanmu kali ini."

Tidak menanti bagaimanakah pernyataan dari Ciu Tin tin, dia lantas berjumpalitan dan turun dari bukit itu.

Ciu Tin tin menghela napas panjang, diapun segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk kabur kembali ke kuil Sam sin an.

Belum lagi mencapai kuil tersebut, dari kejauhan ia sudah mendengar suara makian Bu naynay serta suara pukulan yang menderu deru.

"Heran, siapa yang begitu bernyali berani datang mencari gara gara disini? Padahal suhu ada dalam kuil?"

Demikian Ciu Tin tin berpikir.

Dia segera mempercepat larinya seperti anak panah yang lepas dari busur, dengan cepat tubuhnya melesat kedepan kuil.

Akan tetapi setelah diketahuinya orang yang sedang bertarung melawan Bu naynay adalah Thi Eng khi, dengan cepat teriaknya lagi .

"Naynay, hentikan seranganmu, adik Eng adalah orang sendiri!"

Dia tidak menyuruh adik Eng nya yang menghentikan serangan, melainkan minta kepada Bu naynay yang hentikan serangan lebih dulu, dalam anggapannya hal itu merupakan suatu yang wajar.

Sebab walaupun dia menaruh rasa cinta kepada Thi Eng khi, tapi berhubung sikap Thi Eng khi, hal ini membuatnya enggan untuk menegur pemuda tersebut dalam perjumpaan tersebut, serta merta diapun meminta kepada Bu naynay untuk menghentikan serangannya lebih dulu.

Padahal Bu naynay sudah merasa tak berhasil menangkan Thi Eng khi, maka ketika didengarnya Ciu Tin tin hanya menyuruh dia seorang yang menghentikan serangan, dianggapnya Ciu Tin tin hanya memikirkan adik Eng nya dan melupakan Bu naynay.

Akibat dari semuanya itu, bukan saja serangannya tidak dihentikan, malahan dia melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga dan lebih gencar lagi.

Bersamaan itu pula dia berseru sambil tertawa .

"Bocah keparat ini pada hakekatnya bukan manusia baik baik, sudah tahu kalau penghuni kuil semuanya perempuan, dia masih bersikeras hendak menyerbu masuk kedalam kuil, coba bayangkan saja apakah dia pantas untuk dihajar atau tidak?"

Sudah jelas dia tahu kalau Thi Eng khi adalah kekasih Ciu Tin tin, tapi lagaknya masih tetap seolah olah tidak tahu, hal ini membuat Ciu Tin tin menjadi amat jengah dan rikuh untuk buka suara.

Terpaksa sorot matanya yang jeli saja dialihkan ke wajah Thi Eng khi.

Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang sudah bukan tandingan dari Bu naynay lagi, tapi berhubung dia berniat memohon bantuan orang, maka pemuda itu sungkan untuk menggunakan kekerasan yang kelewat batas.

Dalam pertarungan yang berlangsung, dia lebih mementingkan melindungi keselamatan sendiri daripada merebut kemenangan, dengan demikian Bu naynay tak sampai dikalahkan.

Kemunculan Ciu Tin tin secara mendadak itu sama sekali di luar dugaannya, karena di masa lalu hubungan mereka pernah dilewati dalam suasana tak enak, sehingga membuat hatinya menyesal, maka diapun merasa canggung untuk menegur Ciu Tin tin lebih dulu.

Dia kuatir bila gadis itu tak sudi menggubriskan dirinya sehingga membuatnya mendapat malu.

Tapi kemudian, ketika dilihatnya Ciu Tin tin berpaling dan memandang kearahnya dengan sikap seakan akan ada perkataan tapi sukar diutarakan, dia menjadi tak tahan lagi, dengan cepat tubuhnya melompat mundur kebelakang kemudian memanggil .

"Enci Tin."

Dalam keadaan demikian, Bu naynay tak dapat melanjutkan serangannya lagi, terpaksa dia mengundurkan diri pula ke samping sambil marah marah.

Ciu Tin tin memandang sekejap wajah Thi Eng khi lalu menghela napas sedih katanya .

"Adik Eng, apakah ayahmu yang memberitahukan kepadamu bahwa aku berada di bukit Bu gi san?"

Ciu Tin tin mengira Thi Eng khi datang kesana untuk mencarinya, maka diajukannya pertanyaan tersebut.

Sudah barang tentu Thi Eng khi dapat memahami pula apa yang dimaksudkan, namun dalam kenyataan dia sama sekali tak tahu kalau Ciu Tin tin sedang belajar silat disitu.

Dia datang ke bukit Bu gi san karena ingin mendapatkan Si toan kim khong yang langka itu.

Oleh karena itu, dia sudah menaruh perasaan menyesal terhadap Ciu Tin tin, saat inipun dia tak ingin berbohong, maka sahutnya dengan kening berkerut .

"Enci Tin, terus terang siaute katakan siaute kemari karena ingin meminta Si toan kim khong."

Dalam kecewanya, sempat terlintas rasa heran diatas wajah Ciu Tin tin, segera tanyanya .

"Adik Eng, demi siapakah kau telah melakukan perjalanan sejauh ini....?"

"Demi keselamatan Pek leng siancu adik Leng serta pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, siaute datang kemari untuk memohon Si toan kim khong dari sinni."

Mendengar kalau Thi Eng khi bersusah payah demi Pek leng siancu So Bwe leng, Ciu Tin tin segera merasakan hatinya amat perih, sepasang matanya kontan terasa panas, hampir saja airmatanya jatuh bercucuran.

Buru buru dia melengos ke samping dan berusaha menenangkan hatinya yang bergolak.

Thi Eng khi sendiripun merasakan hatinya bergetar keras, dia turut merasa amat sedih, tapi dewasa ini dia tak dapat mengutarakan isi hatinya maka sambil membusungkan dada dan mengeraskan hati katanya .

"Siaute ingin sekali berjumpa dengan Sim ji locianpwe, apakah enci Tin bersedia untuk membawaku menghadap?"

"Yaa, enci memang sudah sepantasnya melaporkan kunjunganmu itu, harap adik Eng tunggu sebentar, aku segera kembali,"

Sahut Ciu Tin tin cepat meski hatinya amat pedih. Dia lantas membalikkan badan dan melayang masuk kedalam kuil. Mendadak Bu naynaya berseru .

"Sinni sudah pergi berpesiar!"

"Bukankah tadi orang tua masih berada di situ?"

Bantah si gadis. Bu naynay melirik sekejab ke arah Thi Eng khi lalu sahutnya .

"Tadi adalah tadi, Sinn toh tak tahu kalau bocah keparat ini akan datang kemari."

Ia selalu menyebut dengan nama bocah keparat, dari sini dapat diketahui bahwa amarahnya belum pudar.

Mendadak Ciu Tin tin teringat kalau suhunya pernah berkata hendak memberi nasehat kepada Thi Eng khi, tanpa terasa serunya dengan gelisah .

"Dia orang tua mengatakan kapan baru kembali?"

Sewaktu Thi Eng khi mendengar bahwa Sim ji sinni tak ada di kuil, diapun nampak sangat gelisah, serunya pula .

"Aduuuh celaka, kalau aku datang sedetik lebih awal, bukankah akan kujumpai dia orang tua? Waah, sekarang bagaiman baiknya? Bagaimana baiknya ....."

Bu naynay sama sekali tidak memandang Thi Eng khi, bahkan melirik pun tidak, hanya ujarnya kepada Ciu Tin tin .

"Sinni telah meninggalkan pesan tadi, kau diperintah untuk duduk semedi selama sehari penuh untuk melatih ilmu sinkang yang baru dipelajari, mulai sekarang dilarang berbicara dengan siapapun."

"Aah, aku rasa suhu tak akan memberikan perintahnya seketat ini, Naynay, ijinkanlah Tin tin berbicara lebih banyak dengan adik Eng, boleh bukan?"

"Sinni menitahkan kepada Naynay untuk mengawasi dirimu secara ketat, sekalipun Naynay yang melarangmu untuk berbicara lagi dengan bocah keparat ini, apakah kau berani membangkang?"

Kata Bu naynay dengan suara dingin.

Ciu Tin tin segera menghela napas panjang, setelah memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, terpaksa dia berjalan masuk ke dalam kuil.

Sekali lagi Bu naynay memandang sekejap ke arah Thi Eng khi kemudian diapun ikut masuk ke dalam kuil dan ....."Blaam!"

Pintu gerbang dibantingnya keras-keras.

Sewaktu Ciu Tin yin akan berlalu tadi, beberapa kali Thi Eng khi hendak memanggilnya untuk mencari tahu kabar tentang Si toan kim khong, akan tetapi sikap Bu naynay yang bengis dan galak itu, ucapan yang sudah sampai diujung bibir segera ditelannya kembali.

"Kini sinni tak ada di rumah, kalau merekapun dilepaskan begitu saja, kemana kita harus mencari Si toan kim khong tersebut?"

Demikian ia berpikir.

"Bodoh!"

Setelah mendamprat diri sendiri, dia segera melayang ke depan pintu kuil dan siap mendorongnya.

Siapa tahu belum sempat dia mendorong pintu itu, pintu kuil telah membuka dengan sendirinya, kemudian muncullah kepala Bu naynay dari balik ruangan.

Dengan mata melotot besar, nenek itu kembali mendamprat .

"Hei, katanya saja kau adalah seorang ciangbunjin, mengapa begitu tak tahu adat? Kau tahu tidak kalau tempat ini adalah sebuah kuil nikou? Hmm..... masih muda, sudah tak tahu adat, bagaimana jadinya setelah dewasa nanti?"

Kontan Thi Eng khi merasakan mukanya menjadi panas karena jengah, darah panas tersirap diatas benaknya, tanpa mempedulikan keadaan luka dari So Bwe leng dan Kwik Keng thian, dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

"Blaammm....."

Pintu gerbang di belakang tubuhnya kembali dibanting keras keras.

Suara yang keras itu mendadak menyadarkan kembali anak muda itu, dia jadi menyesal dengan sikapnya sendiri yang begitu mudah terpengaruh emosi, coba kalau dirinya merengek dengan kata halus, siapa tahu si nenek yang menjemukan itu akan berubah pikiran?

Berpikir demikian, dia lantas berjalan balik lagi dan siap mengetuk pintu kuil.

Sekarang dia sudah tahu, sekalipun dia harus merengek kepada orang lain demi kepentingan orang, hal mana sama sekali tak akan mempengaruhi nama baik serta wibawanya, malah sebaliknya bila sampai mencelakai jiwa orang, keadaan seperti itu lah yang baru pantas disesalkan.

Maka dia berjalan kembali lagi kedepan pintu kuil, kemudian sambil mengerahkan tenaga serunya kemudian .

"Thi Eng khi berbuat demikian bukan demi kepentingan sendiri, harap locianpwe suka berbuat kebajikan dengan menghadiahkan sedikit Si Toan kim khong kepada boanpwe. Benda itu, boanpwe butuhkan untuk mengobati dua orang korban dari Huan im sin ang."

Suasana amat hening, dari dalam kuil Sam sim an sama sekali tak terdengar sedikit suarapun.

Dengan tenang Thi Eng khi menunggu beberapa saat lamanya, ketika belum ada juga jawaban yang bergema, kemarahannya segera berkobar, teriaknya kemudian .

"Baiklah, bila kalian enggan menerima permintaan boanpwe ini, terpaksa Thi Eng khi akan menggunakan kekerasan!"

Sepasang telapak tangannya segera dirangkap menjadi satu kemudian hawa sakti Sian thian bu khek ji gi cin khinya dihimpun sebesar tiga bagian.

Tatkala pukulan tersebut hampir dilontarkan ke depan, tiba tiba ia mendengar suara Ciu Tin tin bergema di sisi telinganya .

"Adik Thi, diatas kata sabar adalah sebilah golok, akibat dari kecerobohan hanya akan merugikan orang lain, juga akan merugikan diri sendiri, aku ...."

Belum habis ucapa tersebut diutarakan mendadak perkataan itu terhenti sampai di tengah jalan, jelas perbuatan si nona telah ketahuan.

Jilid 18 Sikap Ciu Tin tin yang begitu memperhatikan dirinya membuat anak muda itu teringat pula akan sikapnya terhadap Ciu Tin tin dimasa lalu, rasa malu dan menyesal segera timbul dalam benaknya membuat anak muda itu pelan pelan menurunkan kembali sepasang telapak tangannya.

Baru saja amarahnya sirap, pintu gerbang kembali dibuka orang, lalu muncullah Bu naynay dengan wajah dingin dan kaku serunya .

"Budak Tin menjadi kehilangan semangat gara gara aku melarang berbicara denganmu, demi dia terpaksa aku akan mengijinkan kalian untuk bertemu sekali lagi."

Begitu mengetahui kalau dia boleh berjumpa sekali lagi dengan Ciu Tin tin dan ia tahu bila sampai bertemu dengan gadis itu berarti dia dapat mencari tahu kabar tentang Si toan kim khong, Thi Eng khi menjadi girang sekali.

Tidak menanti Bu naynay menyelesikan kata-katanya, dia segera menjura sambil ujarnya .

"Boanpwe ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan locianpwe ini."

Dengan langkah lebar dia lantas berjalan masuk ke dalam ruangan kuil Sam sim an. Mendadak Bu naynay membentak lagi .

"Lelaki tak boleh memasuki kuil ini, Tin tin akan keluar untuk menjumpai dirimu disini, tunggu saja di tempat!"

Berada di bawah kekuasaan orang, terpaksa Thi Eng khi harus menerima semua perintah, sahutnya dengan cepat .

"Baik!"

Diatas wajahnya, ia sama sekali tak berani memperlihatkan rasa tak senangnya.

Untung Ciu Tin tin tidak menyuruhnya menunggu terlalu lama, hampir bersamaan waktunya dengan mundurnya Bu naynay dari situ, gadis tersebut telah muncul pula di depan pintu.

Dalam pertemuan kali ini, tanpa menunggu Ciu Tin tin bersuara, Thi Eng khi segera berkata lebih dulu .

"Enci Tin, siaute merasa bersalah kepadamu!"

Airmata bercucuran membasahi wajah Ciu Tin tin, dia tertawa hambar.

"Adik Eng, kau jangan terlalu menyalahkan dirimu, kau toh tidak berbuat apa-apa terhadap enci."

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh .

"Adalah Si toan kim khong yang adik Eng kehendaki, enci betul betul tidak mampu untuk mendapatkannya."

"Kenapa? Apakah sinni tak mau menolong jiwa orang?"

Teriak Thi Eng khi dengan cemas.

Dibalik perkataan itu, lamat lamat dia sertakan pula nada menegur.

Ciu Tin tin lantas membeberkan ........

Page 6 -7 (missing) Oleh sebab itu, dengan membawa keyakinan pasti berhasil dan tak boleh sampai gagal, dia mundur ke tepi puncak dimana terdapat sebuah tanah lapang yang datar.

Kemudian hawa sakti Sian thian bu khek ji gi sin kangnya dikerahkan mencapai dua belas bagian, diiringi suara yang amat nyaring, kesepuluh jari tangannya yang disertai tenaga penuh langsung menerjang ke tengah telaga.

Berbicara menurut tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, sekalipun selembar lempengan besi baja pun mungkin tak akan sanggup menahan serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu.

Waktu itu, tubuhnya masih melayang di tengah udara, meski jaraknya hanya beberapa tombak namum membawa suara desingan yang memekikkan telinga, dari sini bisa diketahui betapa dahsyatnya tenaga serangan yang disertakan dalam serangan tersebut.

Ketika Thi Eng khi menerjang sampai di tepi telaga, mendadak terjangannya yang dahsyat itu seolah olah terhadang oleh selapis tenaga tak berwujud yang besar sekali, jangankan maju lebih depan bahkan di kala badannya terhenti muncullah suatu tenaga pantulan yang sangat kuat melemparkan badannya ke belakang.

Cepat nian tenaga lentingan tersebut, dalam sekejap mata tubuhnya sudah terlempar sejauh beberapa kaki lebih dari tempat semula.

Merasa tubuhnya dilemparkan keluar tebing, Thi Eng khi sama sekali tidak gugup atau panik, pikirnya.

"Di bawah awan putih sana, paling cuma tebing tebing bukit belaka apanya yang perlu kutakuti?"

Dia lantas menghimpun tenaga dalamnya lalu menggunakan ilmu bobot seribu untuk mengerem tenaga lentingan tersebut, sehingga badannya lurus jatuh ke bawah jurang.

Beberapa kaki permulaan, hatinya masih tenang sekali, bahkan dia berencana begitu mencapai tanah maka dia akan mencobanya sekali lagi.

Siapa tahu daya luncur tubuhnya kian lama kian bertambah cepat, bahkan permukaan tanah yang ditunggu tunggu tak kunjung datang.

Dalam waktu singkat, ia telah menembusi beberapa lapis awal tebal, bahkan meluncur terus ke bawah.

Dengan cepat, dia melongok ke bawah, begitu menyaksikan jurang yang menganga dibawah sana, terkesiaplah hatinya, ia merasa sukma serasa melayang meninggalkan raga.

Rupanya tempat dimana Thi Eng khi mulai dengan terjangannya tadi justru merupakan tepian yang paling ujung dekat jurang namun oleh karena awan amat tebal, sulit untuk melihat keadaan di bawah, akibatnya terjadilah kesalahan yang fatal.

Thi Eng khi sudah mempunyai pengalaman dua kali tercebur kedalam jurang, rasa kaget hanya melintas sesaat dalam benaknya untuk kemudian menjadi tenang kembali.

Mula-mula dia himpun dulu semua perhatiannya menjadi satu, lalu keempat anggota badannya direntangkan lurus kedepan berbentuk seperti burung sedang terbang kemudian sambil mengerahkan tenaganya untuk menggembungkan pakaiannya, dia mencoba untuk menggerem daya luncur badannya sehingga jauh lebih lamban.

Sementara itu sepasang matanya yang tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu untuk mencari tempat untuk berpijak.

Tiba-tiba dia berpekik panjang, tubuhnya segera menukik kesamping dan meluncur ke atas sebatang pohon siong lebih kurang tiga empat kaki di hadapannya.

Ketika menimpa batang pohon yang pertama, oleh tenaga tekanan yang kuat pohon itu segera patah menyusul kemudian batang pohon kedua secara beruntun dia menumbuk lima batang pohon sebelum daya luncurnya yang kuat itu sudah terpunahkan sebagian besar.

Berada dalam keadaan begini, kembali dia berpekik nyaring, sambil menekuk pinggang badannya segera melayang turun diatas batang pohon yang terakhir, waktu itu daya luncurnya sudah hampir hilang, sehingga ketika mencapai diatas dahan, daya luncurnya sudah tidak mirip dengan orang yang terjatuh dari ketinggian lagi.

Baru saja badannya berdiri tenang dan siap melompat keatas permukaan tanah, mendadak ia mendengar suara helaan napas lirih berkumandang datang dari samping kirinya.

Dengan cepat pemuda itu meluncur ke arah mana berasalnya suara itu, sementara dalam hati ia berpikir .

"Bila disini ada orang, berarti jalan menuju ke lembah pasti ada, biar kumohon petunjuk darinya ."

Tiba di tempat tujuan, ternyata tempat itu adalah sebuah dinding batu yang besar, datar dan licin, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Baru saja dia kan memanggil, mendadak suara itu berkumandang lagi dari arah lain, dengan cepat dia menerjang ke sana, tapi suara tersebut telah berpindah lagi ke arah yang lain, begitu seterusnya, Thi Eng khi harus menubruk kesana menubruk kemari tanpa berhasil menemukan orangnya.....

Merasa dirinya dipermainkan, timbul rasa gusar dalam dada anak muda itu, dia segera bertolak pinggang dan berteriak keras .

"Jika punya kepandaian, hayolah keluar untuk beradu tiga buah pukulan denganku, jika kau main sembunyi terus, aku segan untuk menggubris dirimu lebih jauh."

Dari empat delapan penjuru segera berkumandang pula suara yang sama. Terdengar orang itu menjawab .

"Kau tak usah berlagak dulu, kalau punya kepandaian coba temukan lohu, jangan toh baru tiga buah pukulan, seratus pukulan pun tak menjadi soal."

Menyusul kemudian suara yang sebentar di timur sebentar di barat berkumandang kembali di sisi telinga Thi Eng khi.

Thi Eng khi benar benar tak sanggup menahan rasa mendongkolnya, dengan cepat dia kerahkan ilmu Thian liong sin hoat untuk melacaki sumber dari suara itu.

Lambat laun diatas wajah Thi Eng khi segera muncul rasa kaget dan tercengang yang sangat tebal, tapi kemudian suatu sikap seperti memahami akan sesuatu menyelimuti wajahnya, dengan cepat badannya mulai menari kian kemari mengikuti bergemanya suara yang melambung tak menentu.

Rupanya sudut arah berasalnya suara itu selalu tertentu, waktunya bergema pun tetap dan sangat berirama, hal ini dengan cepat menimbulkan suatu ilham bagi Thi Eng khi untuk mengikuti arah suara dan irama tadi dengan seksama.

Karena dengan cepat dia mengetahui kalau gerak perpindahan badan itu sesungguhnya adalah serangkaian ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, bahkan kedahsyatannya jauh melebihi ilmu Thian liong sin hoat dari Thian liong pay.

Sejak Thi Eng khi menyelesaikan pelajaran silat aliran Thian liong pay, sikap kakunya untuk tidak mempelajari ilmu silat aliran lain sudah mulai mengalami perubahan, maka dalam keadaan seperti itulah diam diam ia terima kebaikan orang tersebut.

Ketika untuk ketiga kalinya orang itu mewariskan ilmu gerakan tubuhnya yang sangat lihay dengan ilmu petunjuk suara, Thi Eng khi telah berhasil menguasai segenap kepandaian itu secara sempurna.

Menghadapi bakat yang begitu bagus dari Thi Eng khi, orang itu segera menghela napas panjang, katanya .

"Aaai..... kau benar benar berbakat bagus, akhirnya ilmu Hu kong keng im (cahaya kilat lintasan bayangan) lohu ini berhasil juga mendapatkan pewarisnya!"

Mungkin saking girangnya mendapatkan pewaris yang pandai, orang itu jadi teledor, helaan napas tersebut sama sekali tidak disampaikan dengan ilmu Hwe ing to siang (gema suara mengacaukan arah) sehingga Thi Eng khi segera dapat mengenalinya berasal dari tengah pohon dimana dia berada semula.

Thi Eng khi segera menggunakan ilmu Hu kong keng im yang baru dipelajarinya untuk menyelinap kedepan pohon besar itu sebelum orang tadi menyelesaikan kata-katanya, sambil menjura dia lantas berkata .

"Boanpwe Thi Eng khi dari Thian liong pay mengucapkan banyak terima kasih atas pelajaran ilmu sakti dari locianpwe!"

Orang itu benar benar sangat aneh, mendengar ucapan terima kasih itu, dia malah berkata dengan dingin .

"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, lohu tidak memberikan kebaikan apa apa kepadamu, hal ini hanya bisa dianggap sebagai jodohmu yang baik ...."

Thi Eng khi segera mendongakkan kepalanya, lebih kurang satu kaki diatas pohon itu terlihatlah sebuah lubang kecil, ditengah lubang itu muncullah seraut wajah yang warnanya hampir persis dengan warna kulit pohon, seandainya dia tidak memiliki sorot mata yang tajam sehingga memancing perhatian orang, sulit rasanya untuk menemukan raut wajah orang itu.

Thi Eng khi saling bertatapan mata sekejap dengan orang dalam pohon itu.

Dia merasa sorot mata orang itu tidak sedingin nada suaranya, baru saja ia merasa bingung apa yang musti diutarakan, tiba tiba dengan senyuman dikulum orang itu telah berkata lagi .

"Apakah kau dipantulkan oleh tenaga pantulan yang terpancar dari telaga diatas bukit sana?"

"Dari mana locianpwe bisa tahu?"

Seru Thi Eng khi keheranan.

"Lohu adalah orang yang sudah berpengalaman, tentu saja dapat menebaknya dengan tepat, cuma nasib lohu tidak sebaik nasibmu, boleh juga dibilang tenaga dalam lohu pada enam puluh tahun berselang tidak sesempurna tenaga dalammu sekarang, sehingga akhirnya aku jadi mati tidak hiduppun tidak."

"Locianpwe menderita luka?"

"Bukan hanya terluka saja, seandainya tidak ada pohon Ciang siong ini, lohu sudah tewas semenjak enampuluh tahun berselang."

"Jadi pohon siong ini adalah pohon Ciang siong?"

Perlu diketahui, Ciang siong adalah sejenis pohon siong yang mengandung bau harum seperti kayu cendana, kasiatnya luar biasa dan dapat melanjutkan kehidupan manusia sakit atau lemah, boleh dibilang pohon itu termasuk sebatang pohon aneh.

Thi Eng khi pernah membaca keterangan tentang pohon ini dari kitab pertabiban milik Kwik Keng thian, tak heran kalau dia berseru kaget dan heran.

"Sewaktu terjatuh kemari, nadiku sudah putus tiga bagian,"

Kata orang dalam pohon itu.

"coba kalau tak ada pohon Ciang siong ini, bayangkan saja, apakah aku bisa hidup sampai kini?"

"Walaupun luka yang locianpwe derita amat parah, setelah melalui pengobatan selama puluhan tahun, tentunya lukamu itu sudah sembuh bukan?"

Orang itu segera tertawa getir.

"Dengan kasiat pohon Ciang siong, semestinya lukaku sudah sembuh dan kini sudah meninggalkan lembah ini, sayang nasib lohu memang jelek, justru sesaat sebelum latihanku selesai, jalan darah Jin tiong hiatku kena dipatuk oleh seekor burung sehingga usaha lohu selama ini gagal total, jangankan meninggalkan lembah untuk keluar dari pohon pun tak mampu."

Thi Eng khi tahu akan kasiat pohon Ciang siong yang dapat menyambung hidup manusia, sekalipun kakek itu tidak makan tidak minum diatas pohon karena ia mendapat saluran hawa dan sari makanan dari pohon tersebut, sepanjang hidup ia tak perlu murung atau kuatir kelaparan.

Hanya saja untuk menyembuhkan luka memang dibutuhkan kekuatan sendiri untuk mengobatinya.

Dewasa ini, Thi Eng khi sudah merupakan seorang tabib sakti, selain itu, diapun masih memiliki sebutir pil Toh mia kim wan, dengan wataknya sudah barang tentu dia tak akan sayang untuk mengorbankan sebutir Toh mia kim wan guna menolong kakek dalam pohon itu, apalagi dia sudah menerima kebaikan lebih dulu, sudah barang tentu dia tak akan sayang untuk mengorbankannya.

Sambil menarik napas panjang, Thi Eng khi segera melompat naik ke atas pohon, tanpa menerangkan alasannya, dia segera menjejalkan sisa pil Toh mia kim wan yang dimiliknya itu ke mulut kakek, kemudian telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah pek hwee hiat kakek itu dan menyalurkan hawa murninya.

Sepertanak nasi kemudian Thi Eng khi baru melayang turun kembali ketempat semula, katanya sambil tersenyum .

"Silakan locianpwe coba mengerahkan tenaga, coba periksalah apakah lukamu telah sembuh?"

Kakek dalam pohon itu segera bersemedi beberapa saat, mendadak ia berpekik nyaring, menyusul kemudian dari balik pohon berkelebat lewat sesosok tubuh yang putih bersih dan menyelinap masuk ke dalam hutan.

Kiranya kakek itu sudah terkurung selama delapan puluh tahun lamanya dalam pohon Ciang siong, pakaian yang dikenakan sudah hancur dan rusak, dia merasa sungkan pula untuk berjumpa dengan Thi Eng khi dalam keadaan telanjang, maka untuk sementara waktu dia menyembunyikan dirinya.

Tak lama kemudian, kakek itu muncul kembali dengan bagian vitalnya tertutup dedaunan, begitu muncul dari hutan, dengan wajah berseri karena gembira katanya.

"Lohu masih bisa lolos dari bencana, kesemuanya ini adalah pemberian dari Thi sauhiap, mulai sekarang ....."

Ketika didengarnya nada suara orang itu kurang beres, dia kuatir ucapan orang itu melampaui batas sehingga akhirnya sukar diatasi, buru buru dia menggoyangkan tangannya berulang kali sambil menukas.

"Tadi locianpwe telah mewariskan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im kepada boanpwe, apa pula arti dari sebutir pil Toh mia kim wan? Bagaimana kalau kita berdua sama sama tidak berhutang?"

Lama sekali kakek itu mengawasi wajah Thi Eng khi yang tampan berbicara, akhirnya dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh...... haaahhhhh..... haaahhh..... bagus, bagus, bagus, suatu keputusan yang bagus sekali, kalau begitu marilah kita berteman saja."

"Kalau toh locianpwe begitu memandang tinggi diri boanpwe, lebih baik tak usahlah bertindak kelewat sungkan...."

"Bagus sekali, kalau memang begitu kita berteman, tolong lepaskan dulu satu stel pakaianmu agar bisa kukenakan."

"Aaah.... maaf kalau boanpwe lupa akan hal itu!"

Thi Eng khi tertawa. Cepat dia meloloskan jubahnya dan diberikan kepada kakek itu.

"Hei, kalau toh kita sudah berteman apalagi mengikat tali persahabatan yang akrab, janganlah menyebut aku sebagai locianpwe, locianpwe terus, tak sedap rasanya didengar,"

Kata kakek itu lagi.

"aku lihat lebih baik kau memanggil lo kian kepadaku dan aku memanggil Thi lote kepadamu, bagaimana?"

Pengalaman yang diperoleh Thi Eng khi selama ini sudah bertambah banyak, dia tahu bila bersahabat dengan manusia manusia aneh dalam dunia persilatan, paling baik kalau bersikap blak blakan dan tanpa disertai segala adat kesopanan, maka kemudian sahutnya .

"Jika Lo kian berkata begitu, biarlah Eng khi menurut!"

Lo kian manggut manggut sambil tertawa.

"Bagus, bagus, akupun sungkan untuk meributkan soal sebutan lagi, Lo kian atau Kian lo keduanya sama saja, sekarang mari kita berusaha mencari akal untuk keluar dari lembah ini."

Waktu itu Thi Eng khi sendiripun tak sempat menanyakan asal usul dari Lo kian lagi, tapi tanpa disengaja justru dia bersahabat dengan seorang asli yang bakal membantu usahanya dalam menanggulangi keganasan kaum iblis dikemudian hari.

Begitulah, mereka berdua segera berputar putar di bawah lembah itu untuk mencari jalan keluar, setengah harian sudah lewat, namun empat penjuru hanya bukit yang menjulang ke angkasa, pada hakekatnya tiada jalan yang ditemukan untuk keluar dari lembah tersebut.

Thi Eng khi masih teringat akan usahanya untuk mendapatkan Si toan kim khong tanpa terasa serunya dengan cemas .

"Benarkah sudah tak ada jalan keluar dari lembah ini?"

Mendadak Lo kian menepuk kepala sendiri sambil berseru .

"Aah, aku telah mempunyai sebuah harapan yang dapat dicoba."

Dengan cepat dia lari menuju kebelakang sebuah batu besar di kaki tebing sana, tak lama kemudian terdengar ia bersorak gembira .

"Thi lote, cepat kemari! Disini benar benar terdapat hal yang mencurigakan."

Mendengar teriakan itu, dengan cepat Thi Eng khi lari menghampirinya, tiba di belakang batu ia saksikan munculnya sebuah gua kecil diatas dinding bukit, dari dalam gua itulah suara Lo kiankembali berkumandang keluar .

"Thi lote, cepat masuk!"

Tanpa sangsi lagi Thi Eng khi segera menerobos kedalam gua kecil itu, matanya segera terasa silau, ternyata ruangan di dalam gua itu tinggi dan lebar, suasanapun terang benderang bagaikan di tengah hari bolong saja.

Waktu itu Lo kian sedang berdiri ditepi sebuah kolam ditengah gua, matanya terbelalak lebar dengan mulut melongo, lama sekali dia berdiri termangu mangu.

Thi Eng khi segera lari menghampirinya tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat pemuda itu pun menjerit kaget .

"Si toan kim khong!"

Saking gembiranya untuk beberapa saat diapun tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Ternyata di tengah kolam kecil yang dikelilingi pagar kemala putih tumbuh sekelompok Si toan kim khong yang hijau dan subur, tumbuhan itu nampak jauh lebih segar dan besar bila dibandingkan dengan Si toan kim khong yang berada di puncak Sam yang hong.

Yang lebih menggembirakan lagi adalah di tengah rumpun Si toan kim khong itu, terdapat pula sebiji buah Tiang kim ko.

Thi Eng khi yang sudah kenyang membaca buku pelajaran ilmu pertabiban milik Kwik Keng thian, begitu melihat bentuk buah Tiang kim ko, dia segera tahu kalau sast masak sudah hampir tiba, kenyataan ini membuat hatinya kembali bergolak keras.

Ia menaruh perasaan menyesal yang amat mendalam terhadap Ciu Tin tin, oleh karena itu, timbul hasratnya untuk memetik buah Tiang kim ko itu dan menghadiahkan kepada Ciu Tin tin.

Sementara itu terdengar Lo kian sedang menghela napas panjang, lalu gumamnya .

"Aaai, sudah terlambat, sudah terlambat, bila segala sesuatunya berlangsung pada enam puluh tahun berselang, ooooh, betapa indahnya waktu itu ...."

"Lo kian, darimana kau bisa tahu kalau didalam ini terdapat sebuah gua ....?"

Mendadak Thi Eng khi bertanya dengan keheranan.

"Sudah lama aku tersekap dalam batang Ciang siong, meski orangnya tak dapat bergerak, namun pandanganku bisa mencapai tempat yang sangat luas, aku masih ingat setiap sepuluh tahun sekali pasti ada sepasang monyet putih yang berjalan keluar dari batuan di belakang sana, setelah melakukan pemeriksaan sebentar disekeliling tempat ini, merekapun pergi dengan begitu saja. Aku lihat di hari hari biasa sepasang monyet itu tak pernah munculkan diri, dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau mereka datang dari tempat luar, tapi kalau dipikirkan lagi tempat yang dimasuki monyet itu, bisa kuduga kalau dibelakang batu pasti terdapat sebuah lorong yang berhubungan langsung dengan tempat lain, sungguh tak kusangka ternyata disini terdapat Si toan kim khong."

Thi Eng khi kembali menuding kearah kolam yang dipagari dengan batu kemala putih itu kemudian ujarnya .

"Jika dilihat dari pagar batu kemala putih di tempat ini, bisa diketahui kalau si toan kim khong tersebut ada pemiliknya, sekarang tuan rumah tak ada di sini, bila kita harus mengambil barangnya tanpa permisi, rasanya hal ini kurang sesuai, tapi jauh jauh siaute datang kemari tujuannya adalah untuk mendapatkan Si toan kim khong tersebut, aaai..... kenyataan ini benar benar membuat siaute jadi serba salah."

Mendengar perkataan itu, Lo kian segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhhh...... Thi lote, kau betul betul kelewat displin, seandainya benda ini ada pemiliknya, masa tiada orang yang menjaga disini?"

"Kalau benda itu tiada pemiliknya, apakah pagar batu kemala putih itu merupakan barang ciptaan alam?"

"Mungkin saja Si toan kim khong tersebut ada pemiliknya dimasa lalu, tapi sekarang sudah merupakan benda tanpa tuan."

"Apa maksud Lo kian berkata begini?"

"Sudah enam puluh tahun lamanya lohu tinggal disini, seandainya tuan rumah masih ada, masa dia tak pernah keluar dari gua tersebut walau hanya satu kalipun?"

Thi Eng khi berpikir sebentar, dia segera merasa kalau ucapan Lo kian ada benarnya juga, namun hatinya belum lega, maka dia pun berteriak memanggil pemilik gua.

Siapa tahu suasana tetap sepi dan tak seorang manusia pun yang munculkan diri, kenyataan ini segera membuat anak muda tersebut menjadi lega hati.

Ia sudah pernah merasakan kelihayan dari Leng swan ceng khi, mau tak mau dia harus mempercayai ucapan Ciu Tin tin maka kali ini dia mengikuti caranya dengan menempelkan ranting diatas kolam sambil menantikan tibanya waktu.

Siapa tahu sewaktu dicoba, diatas permukaan kolam itu tidak diliputi oleh kabut leng swan ceng khi.

Dengan begitu, berarti Si toan kim khong bisa diambil setiap saat bilamana dibutuhkan.

Thi Eng khi bukan seorang yang terlalu kemaruk dengan benda mestika, apalagi harus memburu waktu pulang, dia tak sempat untuk menunggu sampai masaknya buah Tiang kim ko lagi.

Ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu melejit ke udara, begitu badannya mencapai tiga depa diatas kolam, tangannya segera menyambar daun Si toan kim khong.

Apa yang terjadi?

Ketika tangannya menyentuh daun Si toan kim khong, ternyata benda itu hancur menjadi bubuk, secara beruntun Thi Eng khi mencabut lagi beberapa batang, tapi kenyataannya begitu semua.

Hal mana membuat anak muda itu menjadi tertegun, sehingga tanpa terasa tangannya menyentuh buah Tiang kim ko yang belum matang.

Anehnya, begitu buah Tiang kim ko tersentuh, mendadak dari dasar tanah berkumandang suara gemuruh yang amat keras.

Pada saat itulah, Lo kian berteriak keras .

"Thi lote, cepat kembali, semua benda dalam gua ini aneh sekali, jangan kelewat gegabah."

Tidak menanti ucapan Lo kian selesai diutarakan, Thi Eng khi telah melayang kembali ke samping tubuh Lo kian.

"Daun Si toan kim khong itu palsu ...."

Serunya tertahan.

Belum habis dia berkata, dinding gua di seberang mereka telah bergerak turun ke bawah, lalu muncullah sebuah pintu dibalik itu suasana gelap gulita, tampaknya dalam sekali.

Pada saat itulah, tiba tiba dari dalam pintu memancar keluar kilatan cahaya tajam, kemudian muncul sebuah kereta dari balik pintu, diatas kereta duduk seorang kakek berbaju pendeta yang tersenyum simpul.

Begitu sampai di depan pintu, kereta itu segera berhenti.

Berhubung kereta itu bergerak dan berhenti secara otomatis tanpa ada yang mendorong, kedua orang itu sama sama merasa keheranan.

Tangan kanan tosu tua diatas kereta itu lurus kedepan dada dengan gaya mendorong tapi tangan itu sudah kaku tanpa bergerak.

Thi Eng khi maupun Lo kian dapat membaca, diatas telapak tangan tosu tua itu tertera beberapa huruf yang berbunyi .

"Pintu Thio Biau liong!"

Thi Eng khi tak tahu siapakah Thio Biau liong itu, sebaliknya paras muka Lo kian segera berubah serius setelah membaca tulisan itu, sambil menarik tangan Thi Eng khi serunya .

"Thi lote, kita telah bertemu dengan seorang locianpwe."

Dengan cepat dia memberi hormat lebih dulu sambil berkata .

"Angkatan muda dari dunia persilatan Kian kim siang menjumpai Thio locianpwe."

Melihat Lo kian sudah memberi hormat, Thi Eng khi merasa walaupun dirinya seorang ciangbunjin, namun usianya masih muda meski terhadap ketua partai lain dia bersikap sama sederajat, namun berbeda halnya bila berhadapan dengan seorang bu lim cianpwe.

Maka diapun segera turut memberi hormat sambil berkata .

"Boanpwe Thi Eng khi memberi hormat."

Baru saja kedua orang itu membungkukkan badannya memberi hormat tiba tiba terdengar suara senjata rahasia berkelebat lewat tepat dari atas kepala mereka.

Andaikata mereka tidak lagi membungkukkan badan untuk memberi hormat, niscaya tubuh mereka akan menjadi sasaran senjata rahasia.

Menyusul kemudian terdengar senjata rahasia itu menghajar diatas semacam benda besi dibelakang tubuh mereka dan menimbulkan tujuh kali suara dentingan nyaring.

Ternyata senjata rahasia itu semuanya berjumlah tujuh batang.

Sudah barang tentu dengan kepandaian silat yang mereka miliki sekarang, jangankan baru tujuh batang senjata rahasia, sekalipun lebih banyak juga jangan harap bisa melukai mereka sekalipun tak bisa ditangkap paling tidak, akan terpukul rontok.

Namun bila sampai benar benar terjadi demikian, keadaannya akan menambah runyam.

Sebab asal senjata rahasia itu ada sebatang saja yang tidak mengena diatas lempeng besi dibelakang situ, maka Thi Eng khi dan Kian Kim siang jangan harap bisa keluar lagi dari dalam gua tersebut.

Ternyata disitu telah dipasang semacam alat rahasia yang amat lihay, seandainya Thi Eng khi dan Kian Kim siang tidak mempunyai niat untuk menghormati angkatan tua, maka berarti pula mereka tak tahu sopan santun.

Seseorang yang tak tahu sopan santun tentu akan menganggap senjata rahasia yang menyambar lewat sengaja ditujukan kepada mereka.

Maka serta merta mereka akan merontokkan senjata rahasia itu.

Bila senjata rahasia itu tak bisa menghajar lempengan besi dibelakang mereka, maka hal ini akan berakibat alat rahasia berikutnya yang jauh lebih lihay tak dapat dikendalikan.

Jadi sesungguhnya, justru karena sopan santun mereka itulah, tanpa disadari mereka berdua telah berhasil meloloskan diri dari suatu bencana besar.

Begitu ketujuh kali dentingan tersebut berkumandang lewat, Thio Biau liong menarik tangan kanannya dan meluruskan telapak tangan kirinya.

Diatas telapak tangan itu tertera pula dua patah kata yang berbunyi .

"Silakan masuk!"

Menyusul kemudian, kereta itu secara otomatis mundur kembali kebalik pintu.

Thi Eng khi tidak tahu akan asal usul dari Thio Biau liong, maka ia tidak turut maju, kedepan Kian Kim siang segera bisiknya .

"Lo kian, Thio locianpwe ....."

"Thio locianpwe adalah seorang tokoh sakti pada ratusan tahun berselang,"

Sela Kian Kim siang dengan wajah serius.

"mari kita ikuti dia orang tua masuk ke dalam lebih dulu, urusan lain kita bicarakan belakangan...."

"Dia orang tua menggunakan tulisan sebagai pengganti kata, betul betul aneh sekali,"

Kembali Thi Eng khi berkata.

"Manusia aneh, kejadian aneh banyak sekali di dunia ini. Thi lote, kau jangan sembarangan menerka."

Sementara mereka bercakap cakap, Thio Biau liong yang berada diatas kereta telah mengundurkan diri ke dalam ruangan.

Thi Eng khi dan Kian Kim siang segera bersama sama masuk ke dalam ruangan, setelah mengitari sebuah penyekat yang terbuat dari batu kemala hijau, dihadapan mereka terbentang sebuah ruangan besar yang amat lebar dan beralaskan batu kemala putih.

Di tengah ruangan diatas pembaringan yang terbuat dari batu kumala, Thio Biau liong telah duduk bersila disitu menantikan kedatangan mereka.

Thi Eng khi dan Kian Kim siang bersama sama menuju ke hadapan Thio Biau liong, kemudian setelah memberi hormat, katanya .

"Entah ada persoalan apakah locianpwe mengundang boanpwe sekalian berkunjung kemari?"

Lagak dari Thio Biau liong waktu itu sungguh amat besar, terhadap pembicaraan mereka berdua ternyata tidak menggubris maupun menanggapi.

Berulang ulang mereka berdua menyampaikan kata katanya, namun Thio Biau liong tetap tidak menggubris, hal ini membuat mereka jadi tersipu sipu dan kehilangan muka.

Dengan cepat Thi Eng khi berpikir .

"Kau pun terhitung seorang tokoh persilatan, tidak sepantasnya bersikap begitu tak tahu adat kepada orang lain?"

Dengan perasaan tak puas dia lantas berpaling kepada Kian Kim siang, lalu katanya.

"Lo kian, siaute merasa tak punya jodoh untuk tinggal lebih lama disini, biarlah aku mohon diri lebih dulu."

Dia lantas membalikkan badannya siap berlalu dari sana.

Sebenarnya Kian Kim siang sendiripun sudah curiga, tapi berhubung ia merasa pertemuannya dengan manusia seperti Thio Biau liong jarang bisa terjadi, apalagi mereka toh sampai disitu, apa salahnya menunggu beberapa saat lagi?

Tapi, dihadapan Thio Biau liong, diapun merasa kurang leluasa untuk memanggil Thi Eng khi, terpaksa sambil membalikkan badannya dia menghadang jalan pergi si anak muda itu.

Sementara itu, Thi Eng khi telah berubah ke arah lain, ia saksikan pintu depan telah tertutup secara otomatis, sedang diatas pintu tertera sebaris tulisan yang berbunyi .

"Setelah memasuki gua ini berarti kau berjodoh, mengapa tidak menanti sejenak lagi?"

Dalam keadaan begini, sekalipun hendak pergi juga tak mungkin bisa pergi. Tidak menanti Kian Kim siang buka suara, Thi Eng khi telah berkata lebih dulu .

"Tampaknya Thio locianpwe sudah melakukan persiapan disemua bidang, agaknya kita tak bisa berbuat sekehendak hati."

Terpaksa mereka berdua balik kembali ke depan pembaringan Thio Biau liong.

Waktu itu pikiran dan perasaan mereka sudah jauh lebih tenang, dengan seksama mereka mulai memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu.

Kian Kim siang yang berpengalaman dengan cepat dapat melihat bahwa Thio Biau liong jauh berbeda dengan manusia hidup biasa.

Betul wajahnya mirip orang hidup, namun sama sekali tidak membawa unsur kehidupan.

Agaknya Thi Engkhi pun berhasil menjumpai sesuatu yang tak beres, dengan suara lirih dia lantas berbisik .

"Jangan jangan Thio locianpwe yang berada di pembaringan itu adalah loyannya setelah meninggal?"

Kian Kim siang manggut manggut.

"Ketajaman mata lote memang mengagumkan, betul, Thio locianpwe yang berada diatas pembaringan memang sudah meninggal cukup lama."

Thi Eng khi berpikir sebentar, lalu ujarnya lagi .

"Tampaknya Thio locianpwe selain lihay dalam ilmu silat, dia pasti lihay pula didalam ilmu alat jebakan serta senjata rahasia.?"

"Dari mana lote bisa tahu?"

Kian Kim siang bertanya keheranan.

"Bukankah Thio locianpwe yang berada diatas kereta itupun hanya orang orangan?"

Kian Kim siang mengangguk, secara ringkas dia menceritakan kisah yang menyangkut tentang Thio Biau liong.

Ternyata Thio Biau liong sudah termashur namanya semenjak dua ratusan tahun berselang, ia tersohor karena lihay dan tiada manusia yang bisa mengalahkan dirinya.

Ilmu silat yang dimilikinya lihay bukan kepalang, diapun lihay dalam ilmu pertabiban, ilmu bintang, ilmu alat rahasia, ilmu bangunan serta pelbagai macam kepandaian lainnya.

Jangan dilihat dia berdandan sebagai tosu padahal sama sekali bukan anggota Sam cing kau, sepanjang hidupnya dia selalu berbuat kebajikan, berbudi luhur dan tak pernah banyak bertingkah, sehingga orang persilatan baik dari golongan putih maupun golongan hitam menghormatinya sebagai Cu sim ci cu (manusia polos berhati merah).

Sebenarnya rasa hormat Thi Eng khi terhadap Thio Biau liong boleh dibilang cuma rasa hormat biasa, tapi setelah mendengar penjelasan dari Kian Kim siang, apalagi setelah mendengar julukan sebagai si hati merah yang mulia, dari itu ia dapat menarik kesimpulan bagaimanakah watak orang tersebut, tanpa terasa rasa hormatnya segera meningkat berlipat ganda.

Di dalam ruangan besar berbatu kemala itu tidak ditemukan bekas bekas pintu, di sini pun tidak nampak ruangan lainnya.

Di bawah dinding gua sebelah timur terdapat sebuah rak kemala sebanyak dua buah, yang satu besar dan yang lain kecil.

Kalau dirak besar bertumpuk aneka buku yang berisi pelajaran ilmu aneh, maka diatas rak kecil terletak berbagai macam bentuk botol kemala yang besar kecil tak menentu, isinya jelas adalah obat mestika semuanya.

Waktu itu, Thi Eng khi buru buru ingin mendapatkan Si toan kim khong maka ia tidak tertarik untuk memperhatikan kitab kitab pusaka tersebut sebaliknya dia sangat menaruh perhatian pada tumpukan botol porselen berisi obat, karena ia berharap bisa menemukan obat Si toan kim khong sehingga apa yang diharapkan dapat terpenuhi.

Oleh karena perhatiannya segera ditujukan ke arah rak kecil yang berisi obat obatan tersebut.

Setelah mencari sekian lama, akhirnya dia menemukan sebuah botol yang berisikan Kim khong giok lok wan.

Tak terlukiskan rasa kejut dan girang Thi Eng khi setelah berhasil menemukan obat tersebut, buru buru dia masukkan kim khong giok lok wan tersebut ke dalam sakunya, sedang terhadap obat obatan lainnya ia sama sekali tidak tertarik.

Sebaliknya Kian Kim siang sedang dibuat kesemsem oleh se

Jilid kitab yang sedang dibaca isinya.

Perlu diketahui, kemujaraban obat Kim khong giok lok wan yang berhasil didapatkan oleh Thi Eng khi itu beratus kali lipat lebih hebat daripada buah Tiang kim ko, setetes saja sudah cukup untuk membuat orang awet muda, bayangkan saja sampai dimanakah rasa gembira Thi Eng khi sekarang.

Kini satu satunya yang diharapkan olehnya adalah menemukan pintu keluar dari gua tersebut.

Tapi empat penjuru ruangan besar itu merupakan dinding yang datar dan licin, bagaimanapun dia untuk berusaha untuk mencari dan memeriksa dengan seksama namun tiada suatu tanda pun yang berhasil dijumpai, terpaksa ia menghela napas panjang dan menghentikan usahanya.

Mendadak ia menemukan cahaya yang memancar dalam ruangan itu makin lama semakin redup bahkan warnanya turut berubah ubah.

Kalau cahaya yang memancar membawakan satu warna, maka cahaya itupun menyorot kesuatu sudut arah tertentu, dari sana iapun menyaksikan banyak sekali garis garis lekukan yang tertera diatas dinding, ia menganggap garis garis tersebut pasti menyimpan rahasia pintu keluar, maka dengan perasaan gembira dia melakukan pemeriksaan kembali.

Tapi akhirnya kembali anak muda itu dibikin kecewa.

Menyusul kemudian, dia seperti berhasil menemukan sesuatu di balik garis garis yang melengkung tak karuan itu, dengan cepat ia seperti orang gila saja, menari dan mencak mencak tiada hentinya sehingga seluruh ruangan itu seakan akan dipenuhi dengan bayangan tubuhnya.

Perubahan cahaya yang berwarna warni itu dari melamban kini semakin cepat, akhirnya perubahannya sedemikian cepatnya sehingga tak bisa diraba lagi.

Sebaliknya bayangan tubuh dari Thi Eng khi pun seolah olah telah membaur dengan cahaya warna warni itu sehingga tidak nampak pula bayangan tubuhnya.

Waktu itu, Kian Kim siang sedang terbuai oleh kitab pusaka yang sedang dibaca, terhadap apa yang dialami Thi Eng khi ternyata sama sekali tidak merasakan.

Menanti ia selesai membaca kitab itu dan menutupnya kembali, ia baru menyaksikan Thi Eng khi dengan wajah merah membara sedang berdiri di tengah ruangan tanpa bergerak.

Kian Kim siang menjadi terkejut sekali, segera ia menegur .

"Thi lote, kenapa kau?"

Untuk sesaat lamanya, Thi Eng khi tidak memberikan reaksi apaapa, karena itu kakek itu segera menarik tangannya.

Siapa tahu belum lagi telapak tangannya menyentuh tubuhnya Thi Eng khi, mendadak dirasakan olehnya seluruh badan Thi Eng khi panas sekali bagaikan kobaran api, pada hakekatnya sama sekali tak bisa didekati.

Kian Kim siang termasuk seorang jago persilatan yang sudah lama termashur namanya dalam dunia persilatan, ketika menyaksikan kejadian itu tanpa terasa timbullah keinginannya untuk mencari menang sendiri maka dia lantas menghimpun tenaga dalamnya kedalam tangan dan kemudian ia mencoba sekali lagi untuk menyentuh anak muda tersebut.

Setelah tenaga dalamnya disalurkan kedalam lengan, jangankan baru menyentuh barang yang panas membara, sekalipun suhu panasnya beberapa kali lebih hebat pun tak bakal sampai melukai dirinya.

Tapi kenyataan berbicara lain, ketika tangan yang dipenuhi tenaga dalam itu mendekati tubuh Thi Eng khi, panas yang seharusnya makin berkurang kini justru beberapa kali lipat lebih menghebat.

Dalam keadaan seperti ini tanpa terasa dia lantas menjerit tertahan .

"Sam kui cing hwee"

Dengan cepat dia menarik kembali tangannya dengan wajah kaget bercampur tercengang.

Tak lama kemudian, dari tempat Thi Eng khi berpijak muncul asap berwarna hijau yang makin lama semakin tebal, lalu batu kumala yang diinjak oleh anak muda itu mencair dan musnah, dari tempat itulah tiba tiba muncullah sebuah gua besar.

Sebaliknya tubuh Thi Eng khi yang berdiri masih tetap berdiri mengambang pada posisi semula, dia tidak menjadi lebih rendah badannya karena punahnya batu kemala tadi.

Setelah menyaksikan tenaga dalam Thi Eng khi yang sempurna, Kian Kim siang tidak tahu haruskah merasa terkejut ataukah memuji, dia hanya merasa bila dirinya dibandingkan dengan pemuda itu sekarang maka keadaannya seperti rembulan dan kunang kunang, kendatipun dia berhasil menguasai kepandaian silat yang baru dipelajarinya dari kitab pusaka, belum tentu kemampuannya bisa menyusul kemampuan anak muda itu.

Padahal, darimana dia bisa tahu kalau keberhasilan Thi Eng khi barusan diperoleh sewaktu tubuhnya menari-nari tadi.

Ternyata mengikuti perubahan cahaya yang berlangsung dalam ruangan itu, diatas garis garis pada dinding yang disoroti secara bergantian itulah tercantum intisari tenaga dalam yang dimiliki Thio Biau liong.

Dasar Thi Eng khi memang seorang pemuda yang cerdas, maka hal mana segera menimbulkan satu ingatan cerdik dalam benaknya dan membuat simhoat tenaga dalam itupun segera dipelajari sampai selesai.

Perlu diketahui, simhoat tenaga dalam milik Thio Biau liong merupakan sejenis tenaga dalam yang amat lihay dengan keistimewaan yang lain daripada yang lain.

Inti sari dari tenaga dalam itu merupakan ketenangan yang diimbangi dengan gerakan, oleh sebab itu didalam saat saat latihan, dia harus menari-nari dan mencak mencak bagaikan orang gila.

Betul dengan cara seperti ini, orang sukar untuk memahaminya tapi justru lebih mudah untuk dipelajarinya, tak heran kalau kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang boleh dibilang merupakan nomor satu di dunia.

Mengenai hal ini, Thi Eng khi pribadi pun belum mengetahuinya.

Begitulah, semakin tebal asap hijau yang mengepul keluar dari bawah kaki Thi Eng khi semakin besar pula gua yang muncul diatas permukaan lantai ruangan itu.

Tak lama kemudian, dibawah sana telah muncul kembali sebuah ruangan batu lainnya.

Saat itulah, Thi Eng khi baru berpekik panjang dan menarik kembali tenaga dalamnya.

Dengan wajah berseri, ia lantas berseru .

"Akhirnya kita berhasil juga menemukan jalan untuk keluar dari gua ini."

"Thi lote, sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku benar benar telah kau bikin kebingungan,"

Seru Kiam Kim siang.

Dengan sejujurnya Thi Eng khi lantas menceritakan apa yang berhasil ditemukannya barusan.

Mendengar perkataan itu, Kiam Kim siang menghela napas tiada hentinya sambil memuji.

Menyusul kemudian, Thi Eng khi pun berkata lebih jauh .

"Thio locianpwe telah meninggalkan surat yang menyatakan ilmu Heng kian sinkang berhasil dikuasai maka dengan meleburnya dinding batu kumala kita bisa memasuki ruang penghubung rahasia di bawah ruangan ini untuk menemukan jalan keluarnya."

"Seandainya Thi lote tidak berhasil menguasi ilmu Heng kian singkang, apakah kita tak akan berhasil menemukan jalan keluarnya?"

Thi Eng khi segera tertawa.

"Waah.... aku rasa kecuali kita mengikuti Thio locianpwe untuk berdiam disini selama hidup sudah tiada kemungkinan lagi untuk bisa keluar dari gua ini."

Sambil bergurau, kedua orang itupun melompat masuk ke ruang rahasia lain dibawah tanah.

Luas ruangan batu itu cuma satu kaki, diatas dinding penuh bergantungan batuan berwarna merah hijau yang berwarna warni, sedangkan pada dinding lainnya penuh tergantung lukisan peta.

Ternyata peta peta tersebut melukiskan perut dari gua tersebut, tampaknya ruangan itu bukan hanya dua buah saja, sedangkan batu batu berwarna warni diatas dinding lain adalah kunci untuk membuka pintu rahasia menuju ke ruangan lain.

Sedang pada dinding sisanya yang satu, tidak terdapat benda apa apa sedangkan lainnya berisikan penuh dengan tulisan.

Pada kalimat yang pertama dicantumkan tulisan yang berbunyi demikian .

"Barang siapa dapat memasuki ruangan ini, dialah pemilik baru dari gua ini, segala benda yang berada di gua ini dihadiahkan kepada penemu tersebut. Kemudian diterangkan pula orang yang berjodoh itu tak perlu mempunyai ikatan hubungan sebagai guru dan murid dengan Thio Biau liong, tapi dilarang pula membocorkannya kepada orang lain. Pemilik gua baru boleh mengambil benda apa saja yang berada dalam ruangan itu, daripada barang barang tadi tidak terpakai."

Apa yang dipikirkan Thi Eng khi sekarang adalah berusaha secepatnya meninggalkan gua itu dan menyelamatkan jiwa si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian serta Pek leng siancu So Bwe leng yang terluka.

Dia tidak ingin membuang waktu untuk menyelidiki gua lainnya, maka dengan suatu gerakan yang cepat dia segera menekan ke delapan puluh satu butir batu yang berada di atas dinding itu.

Sedemikian cepatnya gerakan tangan itu, membuat Kian Kim siang yang begitu lihaypun tak sempat mengikuti gerakan tangannya itu.

Ketika Thi Eng khi selesai menekan kedelapan puluh satu buah batu warna warni tadi tampaklah dinding yang kosong tadi tenggelam kebawah dan muncullah sebuah lorong rahasia.

Tanpa membuang waktu lagi Thi Eng khi segera melompat masuk kedalam lorong rahasia tadi.

Kian Kim siang ragu ragu sejenak, dengan berat hati dia berpaling dan memandang sekejap seluruh isi ruangan itu akhirnya dia pun mengikuti di belakang Thi Eng khi dan menelusuri lorong rahasia tadi.

Begitu mereka berdua sudah tiba dalam lorong tersebut, dinding batu tadi secara otomatis menutup kembali seperti sedia kala.

Bentuk lorong rahasia itu menukik keatas setiap puluhan langkah terdapat sebutir mutiara yang menerangi tempat itu.

Dengan tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini, tidak sulit bagi mereka untuk melambung naik keatas udara, begitulah setelah melakukan perjalanan berat selama satu jam lebih, lorong itu baru berubah menjadi datar.

Kembali mereka berjalan berbelok-belok sekian lama sebelum tiba di ujung lorong dimana terdapat sebuah dinding batu menyumbat jalan pergi mereka.

Thi Eng khi segera melepaskan tiga sentilan keatas langit langit gua tersebut, mendadak diatas dinding batu itu muncul sebuah gua kecil yang luasnya Cuma beberapa depa.

Segulung hawa dingin yang amat tajam segera berhembus lewat dan menyegarkan badan.

Thi Eng khi segera melongok kebalik gua itu, tenaga dalamnya dihimpun dan memandang keluar dengan sorot mata yang tajam, ternyata di luar gua merupakan sebuah sumur yang sangat dalam, mulut gua itu berada tiga kaki diatas permukaan air tapi masih ada sepuluh kaki dari mulut permukaan sumur bagian atas.

Beberapa butir bintang berkelip kelip di mulut gua sana, tampaknya waktu itu hari sedang malam.

Dengan menggunakan ilmu Sut kut sinkang (ilmu mengecilkan tulang) mereka menerobos keluar dari gua kecil itu, kemudian Thi Eng khi menekan tombol rahasia untuk menutup kembali mulut gua tadi, setelah itu bersama Kian Kim siang, ia baru melompat keluar dari sumur tadi.

Waktu itu rembulan sudah condong kesebelah barat, bayangan kuil Sam sin an berada didepan mata.

Ternyata sumur itu letaknya berada di kebun belakang kuil Sam sin an.

Disisi sumur tadi berdiri sebuah tugu peringatan yang bertuliskan .

"Bu sim cing"

Setitik cahaya lentera yang amat lirih memancar keluar dari balik kuil, secara lamat lamat terdengar suara isak tangis berkumandang keluar memecahkan keheningan.

Tak usah dipikirpun Thi Eng khi sudah tahu kalau orang yang sedang menangis adalah Ciu Tin tin, mungkin gadis itu mengetahui kalau dia tercebur ke dalam jurang maka dengan sedihnya menangis tersedu sedu.

Thi Eng khi segera merasakan hatinya menjadi panas, tubuhnya segera bergerak ke depan.

Sebenarnya dia hendak menghibur gadis itu, tapi kemudian kuatir kalau perjalanannya akan tertunda lagi, terpaksa sambil mengeraskan hati dia mengurungkan niat tersebut, bersama Kian Kim siang berangkatlah mereka berdua menuju kebawah gunung.

Setelah berlarian sepertanak nasi kemudian, Thi Eng khi segera berpekik nyaring tampak kuda hitamnya meringkik panjang dan segera berlarian mendekat, begitu bertemu dengan pemuda tersebut, kuda tadi segera mencak mencak kegirangan.

Oleh karena Thi Eng khi harus buru buru kembali ke rumah untuk menolong si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, ia tak dapat melakukan perjalanan bersama Kian Kim siang, maka kedua orang itupun berjanji akan bertemu lagi di kuil Siong gak bio dibukit Siong san bahkan meminta kepadanya agar menyampaikan kepada Tiang pek lojin bahwa dia akan pulang beberapa hari lagi.

Diiringi ucapan sampai jumpa, Thi Eng khi segera melarikan kudanya kencang kencang menuju ke Oulam.

Sementara itu, Sam ji sinni sebenarnya ada maksud untuk memenuhi keinginan Thi Eng khi, sewaktu pemuda itu berkunjung ke puncak Sam yang hong, sebenarnya dia orang tua tidak pergi, setelah mengetahui maksud kedatangan Thi Eng khi, dia lah yang memerintahkan Bu naynay untuk mengucapkan kata kata tersebut sedang dia pergi mengambil Si toan kim khong.

Tentu saja dia berkata demikian kepada Thi Eng khi bukan lantaran maksud jahat, dia berhasrat untuk mencoba si anak muda itu.

Kemudian sewaktu Thi Eng khi berangkat sendiri ke puncak Sam yang hong untuk memetik daun Si toan kim khong, Ciu Tin tin yang merasa tidak tentram hatinya secara diam diam mengikuti dari belakang.

Tapi akhirnya dia menyaksikan Thi Eng khi terjatuh ke dalam jurang tanpa mampu untuk memberikan bantuannya.

Peristiwa yang berlangsung secara tiba tiba dan diluar dugaan ini tentu saja membuat Ciu Tin tin menjadi sedih sekali.

Tujuan mereka semula sebenarnya hanya ingin mencoba diri Thi Eng khi, walaupun niat tersebut kemudian berhasil tercapai, tapi akibatnya pemuda itu tercebur ke jurang, bagi Ciu Tin tin hal ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang patut disesalkan.

Siapa sangka justru gara gara mendapat bencana, Thi Eng khi malah berhasil menemukan suatu penemuan yang luar biasa, bahkan berhasil melepaskan diri dari bahaya.

Tapi oleh karena Thi Eng khi terburu buru hendak menyembuhkan luka dari Pek leng siancu, ia sampai tidak menjumpai Ciu Tin tin lebih dulu, gara gara peristiwa ini akhirnya terjadilah banyak kejadian yang memusingkan kepala dikemudian hari, tapi apa boleh buat?

Mungkin itulah yang dinamakan sebagai takdir.

Dalam pada itu, Thi Eng khi dengan melarikan kudanya siang malam tanpa berhenti akhirnya pada hari kesepuluh ia berhasil tiba didepan lembah dimana si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berdiam.

Waktu itu Thi Eng khi benar benar merasa gembira sekali sehingga tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring.

Berpisah hanya sepuluh hari, tenaga dalamnya telah mendapat kemajuan yang pesat sekali, begitu pekikan tersebut berkumandang, bergemalah suara keras yang memekakkan telinga membelah angkasa.

Beberapa tebing dapat dilalui dengan cepat, akhirnya sampailah dia didepan rumah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian.

Saking girangnya, Thi Eng khi merasakan jantungnya seolah olah hendak melompat keluar, ia menarik napas panjang panjang untuk menyegarkan pikirannya, kemudian baru melambatkan larinya kuda mendekati gua tersebut.....

Siapa tahu baru saja dia berada di beberapa kaki dari gua tersebut, mendadak dari balik gua itu terdengar seseorang membentak keras .

"Bocah keparat, licik benar kau! Jangan harap kau bisa melarikan diri lagi pada hari ini, hayo cepat turun dari kudamu dan menyerahkan diri, daripada nona harus turun tangan sendiri!"

Karena mendengar bentakan keras, Thi Eng khi serta merta berpaling kearah mana berasalnya suara bentakan itu.

Ternyata nona yang sedang marah marah itu tak lain adalah nona Tin atau Tin Un yang pernah dijumpai di bukit Huan keng san tempo hari.

Di belakang tubuhnya sekarang selain berdiri sinenek yang berwajah penuh keriput, tampak juga empat orang kakek, ditinjau dari sorot mata mereka yang tajam, dapat diketahui kalau mereka memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Wajah keempat orang itu penuh diliputi oleh perasaan gusar dan hawa membunuh yang tebal, dengan sorot mata yang tajam mereka sedang mengawasi Thi Eng khi tanpa berkedip.

Thi Eng khi jadi tertegun dan tidak habis mengerti, dia tak tahu dalam hal apakah telah menyalahi nona Tin Un sehingga begitu benci dan marahnya nona itu kepadanya.

Dia segera melompat turun dari kuda hitamnya, kemudian sambil menjura ia berkata.

"Aku adalah Thi Eng khi, nona Tin mungkin kau telah salah melihat orang?"

"Hmmm, sampai menjadi abu pun nonamu tetap bisa mengenal kau sebagai Thi Eng khi,"

Jawab si nona Tin dengan suara dingin.

"sungguh keji hatimu! Kau.... kau adalah manusia keparat yang membalas air susu dengan air tuba..."

Ketika berbicara sampai disitu, meledaklah isak tangisnya dengan amat sedih.

Thi Eng khi yang didamprat menjadi semakin termangu dan tidak habis mengerti, dia tidak mengerti apa gerangan yang sebenarnya terjadi.

Ketika si nenek itu menyaksikan Tin Un menangis dengan amat sedihnya, cepat cepat dia menghibur .

"Nona Un, jangan sedih, inilah kesempatan yang baik bagimu untuk menuntut balas, kau seharusnya gembira, kenapa sekarang malah menangis? Kalau kau merasa sedih, keparat itu pasti akan makin gembira."

Kemudian dengan wajah bengis dan penuh perasaan dendam, ia membentak kearah Thi Eng khi .

"Manusia bermuka orang berhati binatang, tunggu saja pembalasan dari kami nanti, sekarang hayo masuk ke dalam!"

Thi Eng khi melongo dan merasa tidak habis mengerti, dia tidak tahu apa yang telah berlangsung disana, hanya pikirnya .

"Aah, setelah bertemu dengan si pendendam raja akhirat Kwik cianpwe, duduknya persoalan pasti akan menjadi terang kembali, buat apa aku musti banyak berbicara sekarang?"

Maka tanpa membantah atau mengucapkan sepatah katapun dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam gua.

Tin Un, si nenek dan keempat orang kakek itu segera mengikuti dari belakang Thi Eng khi seolah olah sedang mengiringi buronan saja.

Walaupun Thi Eng khi tidak takut dituduh melakukan sesuatu tapi dengan berlangsungnya peristiwa ini, maka semua rasa gembira yang semula menyelimuti hatinya kini hilang lenyap tak berbekas.

Gua yang berapa li jauhnya itu terasa begitu jauh dan tak habis habisnya untuk dilalui dalam perasaan gundah seperti ini.

Ketika mereka hampir keluar dari gua tersebut, si nenek yang berada dibelakangnya segera bersuit nyaring, seakan akan sedang memberi tanda rahasia kalau mereka telah kembali.

Betul juga, baru saja Thi Eng khi keluar dari gua dan memasuki kebun bunga tampaklah Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah munculkan diri dengan langkah cepat.

Thi Eng khi segera merasakan hatinya lega sekali setelah melihat Hwee cun siucay Seng Tiok sian juga berada disana, sekalipun perkenalannya dengan orang itu cuma sebentar tapi dia merasakan suatu kecocokan dengannya membuat ia menaruh pandangan lain terhadap orang she Seng ini.

Maka diapun lantas berseru.

"Saudara Seng, kebetulan sekali kalau kaupun berada disini, siaute sengaja mencarikan obat untuk gurumu dan sekarang telah kudapatkan, tapi entah mengapa ternyata nona Tin menaruh kesalahan paham terhadap diriku, harap saudara Seng bersedia untuk menjelaskannya."

Ucapan hangat dari Thi Eng khi ini hanya disambut dengan dengusan dingin dari Seng Tiok sian, malah kemudian dia berkata ketus ;

"Kau tak usah menguatirkan keadaan luka yang diderita oleh guruku lagi."

Ucapan mana segera membuat Thi Eng khi tertegun, dia segera salah mengartikan perkataan itu, maka kembali ucapnya .

"Bagaimana dengan keadaan Kwik locianpwe? Siaute sampai datang terlambat."

"Guruku telah sembuh!"

Hwee cun siucay Seng Tiok sian mendengus dingin.

Ia tidak banyak berbicara, jelas terhadap Thi Eng khipun sudah menaruh kesalahan paham.

Bagaimanapun Thi Eng khi adalah seorang yang angkuh dan tinggi hati, setelah pembicaraannya terasa tidak cocok, maka dia pun tidak banyak bicara lagi, dengan langkah lebar pemuda itu melangkah masuk kedalam rumah gubuk.

Didepan pintu tampak si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berdiri disitu.

Dengan luapan gembira, Thi Eng khi segera berteriak .

"Kwik locianpwe ...."

Tapi sikap maupun mimik wajah dari si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian segera menyumbat kata kata berikutnya.

Tampak si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berkelit ke samping, kemudian katanya .

"Kebetulan sekali Thi tayhiap datang kembali kesini, silahkan!"

Ternyata nada pembicaraannya pun tidak bersahabat.

Diperlakukan secara kasar berulang kali, berubah juga paras muka Thi Eng khi, dengan hati mendongkol dia segera melangkah masuk kedalam rumah gubuk itu.

Jilid 19 Ternyata yang ikut masuk ke dalam ruangan hanya Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, Hwee cun siucay Seng Tiok sian serta Ting Un tiga orang.

Dalam ruangan itu sudah ada pula dua orang kakek lainnya, sehingga berikut Thi Eng khi, kini jumlahnya mencapai enam orang.

Thi Eng khi segera dipersilahkan untuk duduk di sudut ruangan yang diapit dua belah dinding, sementara dibagian pintu dan bawah jendela ditempati kelima orang tersebut, seakan akan mereka takut kalau pemuda itu sampai melarikan diri.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran Thi Eng khi, sambil tertawa dingin segera tegurnya.

"Entah dalam hal apakah aku telah menyalahi kalian sehingga kalian bersikap begini kasar kepadaku?"

Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian balas tertawa dingin kemudian menjawab .

"Thi tayhiap tak usah terburu napsu, kau tidak bertanya kepada kami, kamipun akan bertanya kepadamu! Sekarang mari kuperkenalkan dulu dengan dua orang tayhiap ini, mereka berdua adalah jagoan yang bermata tajam maka didalam pembicaraan nanti kau harus berhati hati, jangan sekali kali mencoba untuk berbohong."

Tidak menunggu Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian memperkenalkan, kakek yang berada disebelah kiri telah menyebutkan dulu nama sendiri.

"Lohu adalah To Jit hwi...."

Sedang kakek yang berada di sebelah kanan melanjutkan .

"Lohu adalah To Gwat hwi."

Hwee cun siucay Seng Tiok sian segera menyambung lebih jauh .

"Kedua orang To locianpwe ini adalah Jit gwat siang beng (matahari dan rembulan sama terang) yang termasyur karena ketajaman matanya, setelah kau berhadapan dengan mereka maka kuanjurkan kepadamu agar berbicaralah secara terus terang saja."

Menghadapi ucapan ucapan yang begitu bernada menuduh, Thi Eng khi tak tahan, segera teriaknya .

"Kalian telah menganggap aku Thi Eng khi sebagai manusia apa?"

Sekalipun diluar dia berkata ketus namun hatinya merasa amat tidak tenang, dia tak tahu apa yang telah menyebabkan mereka bersikap demikian kepadanya.

Dia cukup mengetahui akan kelihayan Huan im sin ang, ia takut si kakek bayangan semu tersebut telah menjiplak wajahnya untuk melakukan pelbagai kejahatan.

Sebab andaikata sampai terjadi keadaan seperti itu, sekalipun ia menerangkan dengan cara apapun sulit rasanya untuk membuat persoalan menjadi jelas, maka tak heran kalau dia merasa sangat kuatir.

Terdengar si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berkata .

"Kalau dilihat dari luarnya, kau nampak seperti jujur dan berbudi luhur, sungguh tak nyana kau adalah seorang manusia licik yang berwajah manusia berhati binatang. Bukan saja kau telah mencuri belajar ilmu pertabiban milik lohu, bahkan berani pula melakukan perbuatan yang amat keji, perbuatanmu itu benar benar tak bisa diampuni lagi."

Baru saja Thi Eng khi ingin bertanya perbuatan keji apakah yang dituduhkan kepadanya, Kwik Keng thian telah berseru lebih dulu .

"Tiok sian, ambil keluar tanda bukti itu daripada banyak berbicara yang tak berguna."

Hwee cun siucay Seng Tiok sian segera meminta sebuah bungkusan kecil dari tangan Ting Un dan membukanya.

Thi Eng khi segera dapat menyaksikan kalau benda tersebut adalah panah pendek bermoncong tiga yang lupa dia simpan itu.

Benda tersebut ia dapatkan dari tubuh mayat seorang kakek yang dijumpainya dalam rumah gubuk itu.

Begitu melihat benda tersebut, dia segera menghembus napas panjang, hatinya merasa lega sekali karena dia menganggap kesalahan paham ini dapat segera diselesaikan.

Ketika To Jit hwi yang duduk di sebelah kanan menyaksikan paras muka Thi Eng khi berubah menjadi mengendor dan lega, dengan suara dalam ia segera menegur .

"Sekarang apalagi yang hendak kau ucapkan?"

Baru saja Thi Eng khi akan menjawab, To Gwat hwi yang berada di sebelah kanan berkata pula .

"Inilah yang dinamakan serapat rapatnya bangkai dibungkus, akhirnya berbau juga, seandainya kau tidak meninggalkan panah pendek bermoncong tiga yang amat beracun ini, aku pasti tidak bisa menemukan kejahatan yang kau lakukan ini."

Belum sempat Thi Eng khi membantah, Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah berkata pula .

"Tahukah kau, siapakah orang yang telah kau bunuh itu?"

Sambil menuding kearah Ting Un, dia melanjutkan .

"Orang tua itu tak lain adalah ayahnya adik Ting, cengcu dari perkampungan Huan keng san ceng yang disebut sebagai Hau hau sianseng Ting tayhiap!"

Thi Eng khi tidak begitu mengetahui tentang nama nama jago persilatan yang ada di dunia persilatan, kini untuk sesaat dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Sambil menangis terisak terdengar Ting Un mencaci maki pula dirinya dengan penuh kebencian .

"Bajingan keparat! Apa dosa dan kesalahan keluarga Ting kami dengan dirimu? Mengapa kau begitu tega membunuh ayahku?"

Teringat akan budi kebaikan Ting Un yang telah memberi petunjuk kepadanya sehingga ia berhasil menemukan tempat tinggal si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, Thi Eng khi merasa amat sedih sekali, selembar wajahnya berubah menjadi merah membara.

Baru saja dia membuka mulutnya hendak berbicara, To Jit hwi telah berkata kembali.

"Tahukah kau bahwa panah pendek bermoncong tiga ini tak pernah dipergunakan oleh keluarga lain?"

Kali ini Thi Eng khi telah mempersiapkan diri, ia tak ingin melepaskan setiap kesempatan untuk berbicara maka begitu To Jit hwi selesai berkata, buru buru serunya .

"Aku tidak tahu panah pendek itu merupakan senjata rahasia dari golongan mana, memangnya merupakan senjata rahasia dari Thian liong pay?"

To Jit hwi segera menggebrak meja sambil berteriak keras .

"Tepat sekali! Panah pendek ini memang merupakan senjata rahasia khas dari Thian liong pay!"

Mula mula Thi Eng khi agak tertegun lalu sambil melompat bangun teriaknya keras-keras .

"Omong kosong, aku sebagai ketua Thian liong pay masa tidak tahu kalau senjata rahasia itu adalah senjata rahasia perguruan Thian liong pay atau bukan!"

"Hmm, ucapan itu betul betul suatu ucapan yang menggemaskan,"

Sambung To Gwat hwi dengan segera.

"didepan orang lain mungkin kau masih bisa berdebat, tapi di depan lohu bersaudara, percuma saja semua perdebatanmu itu."

Setelah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan .

"Selama seratus tahun belakangan ini, Thian liong pay memang tak pernah mempergunakan lagi panah pendek bermoncong tiga ini sebagai senjata rahasia khas dari Thian liong pay, dan hal ini merupakan suatu kenyataan yang tak akan terbantahkan oleh siapapun."

Ketika Thi Eng khi menyaksikan orang itu sengaja membuat cerita bohong untuk menyudutkan dirinya, ia menjadi gemes sekali sambil menggigit bibirnya kencang kencang, saking marahnya ia sampai tak sanggup berkata apa apa lagi.

To Gwat hwi melirik sekejap kearah Thi Eng khi, menyaksikan paras muka pemuda itu berubah menjadi merah padam saking gusarnya, dia menjadi bangga sekali.

Setelah menarik muka, kembali ujarnya .

"Sejak seratus lima puluh tahun berselang, ketika partai Thian liong pay dipegang oleh ciangbunjin angkatan ke tujuh Thian ci cu Go it, oleh karena panah pendek bermoncong tiga yang lebih dikenal sebagai Giam ong tiap (undangan raja akhirat) ini dianggap sangat keji, maka dia melarang setiap anggota perguruan untuk mempergunakannya, semenjak saat itulah Giam ong tiap baru lenyap dari dunia persilatan hingga saat ini."

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh .

"Sekalipun demikian Thi tayhiap sebagai ketua Thian liong pay berani mengatakan kalau tidak tahu menahu tentang senjata rahasia beracun ini?"

Walaupun Thi Eng khi merupakan ketua angkatan kesebelas dari perkumpulan Thian liong pay, sesungguhnya ia tidak begitu paham terhadap senjata rahasia tersebut, maka setelah titik kelemahannya ini dipegang orang, ia jadi serba salah.

Mau mengaku, rasanya tidak cocok dengan kenyataan, tidak mengaku rasanya juga tidak masuk diakal, maka setelah mendengus dingin, katanya .

"Alasan apa lagi yang hendak kalian utarakan, hayo katakan semua, emas yang murni tak akan takut dengan api, akan kudengarkan semua tuduhan kalian itu!"

Ia segera memasang telinganya baik baik dengan harapan bisa menemukan titik kelemahan dari balik ucapan tersebut untuk kemudian menyerangnya balik.

To Jit hwi mengelus jenggotnya dan mendehem pelan, lalu ujarnya lebih jauh .

"Atas dasar bukti bukti yang ada maka lohu pun dapat memperoleh gambaran terhadap garis besar perbuatan Thi tayhiap didalam melaksanakan pembunuhan ini, entah apa pun tujuan dari Thi tayhiap datang mencari Kwik Keng thian tapi yang pasti kau pasti menjadi kemaruk akan harta yang berada di dalam rumah ini setelah menemukan penghuninya tak ada di dalam rumah ....."

Melihat orang itu menodai kesucian dan kebersihan namanya, dengan kening berkerut Thi Eng khi segera berseru .

"To cianpwe, kalau berbicara harap yang jelas lagi, perbuatan tidak senonoh apakah yang telah kulakukan?"

Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian segera menjawab dengan wajah gusar .

"Lohu telah kehilangan Pek giok cian cu yang bisa memunahkan berbagai macam racun keji!"

"Kalau kehilangan barang, apa pula sangkut paut persoalan ini dengan diriku?"

"Aku harap Thi tayhiap suka memberikan bukti yang kuat kalau perbuatan itu bukan dilakukan oleh Thi tayhiap,"

Kata Kwik Keng thian lagi.

"Thi tayhiap,"

Tiba tiba To Jit hwi menyela.

"bila ada persoalan dibicarakan nanti saja, sekarang dengarkan dulu penjelasan dari lohu!"

Suasana yang amat menyudutkan posisinya ini sungguh membuat Thi Eng khi merasa gusar sekali sehingga sekujur badannya gemetar keras. Dengan amat bangga To Jit hwi melanjutkan kembali kata katanya.

"Sewaktu Thi tayhiap mencuri Pek giok cian cu milik Kwik tua, tentunya secara kebetulan Ting tayhiap sedang berkunjung kemari, karena ia berhasil menyaksikan perbuatanmu yang tak senonoh tersebut maka dalam malu dan gusarnya kau lantas turun tangan membunuhnya, sayang Ting tayhiap tidak bersiap siaga sehingga akhirnya dia tewas oleh Giam ong tiap milikmu itu. Itulah sebabnya ketika Ting tayhiap terbunuh, disekitar tempat ini tidak dijumpai bekas bekas pertempuran coba kalau mengandalkan kepandaian yang sebenarnya, kendatipun Thi tayhiap memiliki kepandaian yang hebat pun jangan harap bisa melaksanakan perbuatan tersebut!"

Setelah menelan ludah, dia berkata lebih jauh .

"Hanya panah pendek bermoncong tiga yang dinamakan Giam ong tiap saja yang bisa mematikan Ting tayhiap tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan perlawanan."

"Waaahh.... hebat betul To cianpwe ini, apa yang dituturkan seakan akan seperti menyaksikan dengan mata kepala sendiri, aku merasa amat kagum atas daya berkhayalmu itu."

To Jit hwi sama sekali tidak tersinggung oleh perkataan itu, sambil tersenyum kembali katanya .

"Selama lohu berdua dikenal orang sebagai ahli dalam menyelidik perkara pembunuhan misterius, sebab itulah orang menyebut sebagai Jit Gwan siang beng, harap Thi tayhiap jangan menertawakan."

Kemudian tanpa mempedulikan Thi Eng khi lagi, dia berkata lebih jauh .

"Thi tayhiap memang cukup licik dan lihay, setelah berhasil membunuh Ting tayhiap, kau mencabut kembali senjata rahasia tersebut karena kuatir ada orang yang menemukan Giam ong tiap tersebut di tubuh sang korban maka senjata rahasia itu diletakkannya di samping dengan maksud setelah membereskan jenasah Ting tayhiap baru mengambilnya kembali, siapa tahu setelah selesai bekerja ternyata kau lupa mengambil kembali senjata rahasia Giam ong tiap itu sehingga akhirnya terbongkarlah rahasia pembunuhan itu!"

Bicara sampai disini, dengan yang menyakinkan dia berseru .

"Thi tayhiap menurut pendapatmu benarkah apa yang kuucapkan barusan ....?"

"Apakah kalian bersedia mendengarkan pula penuturanku?"

Ucap Thi Eng khi dengan tenang. Ting Un segera mencak mencak kegusaran teriaknya .

"Manusia tak tahu malu, sekalipun kau bersilat lidah sampai busuk mulutmu pun jangan harap bisa membuat nonamu percaya, kebunuh dirimu lebih dulu!"

Ia segera mencabut pedangnya dan diiringi kilatan cahaya perak, sebuah tusukan maut dilancarkan ke arah Thi Eng khi.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, Thi Eng khi segera berkerut kening, sebenarnya dia hendak menyentil pedang tersebut, tapi Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah keburu menangkisnya lebih dulu dengan kipas emasnya.

"Adik Un, jangan keburu napsu,"

Serunya cepat.

"Memangnya kita takut dia kabur ke langit? Mari kita saksikan saja sampai sejauh manakah hatinya yang busuk itu."

Dengan gemas Ting Un menarik kembali pedangnya dan balik ke tempat semula.

Secara ringkas Thi Eng khi lantas menceritakan bagaimana dia berjumpa dengan nona Ting, bagaimana menemukan rumah tinggal si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, bagaimana menemukan jenasah seorang kakek dalam ruangan itu dan bagaimana ia mengubur jenasah kakek itu dan karena buru buru ingin mendapatkan Si toan kim khong ia lupa menceritakan hal itu kepada Kwik Keng thian....

Akhirnya setelah menghela napas panjang ia menambahkan .

"Andaikata aku berniat jahat, setelah kutinggalkan Kwik locianpwe, tak nanti aku akan balik lagi kemari."

Sesungguhnya si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian dan Hwee cun siucay Seng Tiok sian memang menaruh kesan baik terhadap Thi Eng khi, maka setelah mendengar penjelasan tersebut, hawa amarah mereka agak reda paras mukanya pun menjadi lebih mengendor.

Hanya nona Ting Un saja yang tak mau mengampuni Thi Eng khi, dia bertekad hendak mengadu jiwa dengan pemuda itu.

Sebaliknya To Jit hwi dan To Gwat hwi yang memiliki kepandaian khusus dalam menyelidiki kasus pembunuhan misterius, sebenarnya memiliki kepandaian yang tinggi, sayang mereka hanya mempunyai sebuah titik kelemahan yaitu selalu menganggap apa yang telah diuraikan merupakan suatu kejadian yang sebenarnya, mereka tak mau merubah pandangannya karena pengaruh cerita orang lain.

Oleh karena itu, mereka berdua pun segera berusaha keras untuk menemukan titik kelemahan dari balik perkataan Thi Eng khi agar bisa dijadikan sebagai bukti kalau dugaan mereka tidak salah.

Demikianlah, tiba tiba mereka berdua tertawa terbahak bahak, lalu terdengar To Gwat hwi berkata .

"Thi tayhiap, kemunculanmu kembali di sini tak lebih hanya ingin menunjukkan kepada orang lain akan kebersihanmu belaka, bukankah tadi kau telah berkata seandainya kau bermaksud jelek, kau tak akan kembali lagi kesini? Ucapanmu itu menandakan kalau kedatanganmu kemari memang sengaja berhasrat untuk menutupi kejahatan yang telah kau lakukan. Sayang kau telah bertemu dengan kami berdua sehingga usahamu itu akan sia sia belaka."

Ternyata ucapan dari dua bersaudara To itu mempunyai bobot yang luar biasa, seketika itu juga Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian dan Hwee cun siucay Seng Tiok sian dibikin sangsi kembali.

Thi Eng khi sendiripun tidak berhasil mendapatkan alasan yang lebih tepat untuk membantah perkataan orang, untuk sesaat dia menjadi tersipu sipu .....

Selain daripada itu, diapun terbayang kembali keadaan Pek leng siancu So Bwe leng yang sedang meronta dalam melawan kematian, teringat akan So Bwe leng, pemuda itupun merasa dia harus cepat cepat kembali ke bukit Siong san.

Dalam keadaan begini dia tak berminat untuk ribut dengan mereka lagi, dalam anggapannya sekalipun ia terfitnah sekarang, suatu saat toh kejadian itu akan menjadi terang dengan sendirinya.

Berpikir sampai di situ, perasaan tak tenang yang semula menyelimuti wajahnya pun segera tersapu lenyap.

Keningnya segera berkerut, sinar tajampun memancar keluar dari balik matanya sambil membusungkan dada ia berkata .

"Terus terang kukatakan, kemunculanku kembali ke sini dikarenakan maksud yang baik yakni menghantarkan obat buat Kwik locianpwe, tapi jika kalian menaruh kesalahan paham kepadaku, yaa apa boleh buat lagi? Untung saja luka yang diiderita Kwik Keng thian telah sembuh, daripada berdiam disini tanpa berguna, lebih baik aku mohon diri lebih dulu."

Selesai menjura dengan langkah lebar dia segera berjalan meninggalkan tempat itu.

Dia sadar bahwa persoalan yang dihadapinya sekarang tak mungkin bisa dibikin terang, sedang dia pun enggan melakukan perngorbanan yang tak berguna, sebab itu dia bertekad untuk menghadapi semua kejadian sebisa mungkin.

"Thi tayhiap, kau hendak kabur dengan begitu saja?"

Dua bersaudara To melompat ke depan lebih dulu menghalangi jalan perginya.

Setelah Thi Eng khi mengambil keputusan untuk pergi, ia tak mau memperlihatkan kelemahannya lagi, segera sahutnya dengan kening berkerut .

"Kalau tidak pergi, buat apa aku tetap tinggal disini?"

Ting Un segera memutar pedangnya sambil melancarkan tusukan, bentaknya keras keras .

"Serahkan nyawamu."

Hwee cun siucay Seng Tiok sian mengayunkan pula kipas emas sambil berseru .

"Thi tayhiap apakah kau anggap bisa pergi dengan begitu saja dari sini?"

Walaupun serangan yang dilancarkan nona Ting Un disertai desingan angin tajam namun kalau dibandingkan kelihayan kipas emas dari Hwee cun siucay Seng Tiok sian selisihnya jauh sekali.

Oleh karena itu, Thi Eng khi sama sekali tidak ambil peduli terhadap datangnya ancaman pedang dari Ting Un, bahkan pada hakekatnya dia tidak bermaksud untuk menangkis.

Sambil menghimpun hawa murninya untuk melindungi badan, ia bersiap sedia menyambut tusukannya itu agar bisa mengurangi rasa dendamnya.

Sebaliknya terhadap ayunan kipas emas dari Hwee cun siucay Seng Tiok sian, ia tak berani bertindak gegabah, tapi serangan itu pun tak sampai memaksanya untuk menggunakan pedang emas Thian liong kim kiam hanya kewaspadaannya saja yang ditingkatkan.

Di saat pedang Ting Un digetar balik oleh tenaga dalam khikang pelindung badan yang terpancar keluar dari balik tubuh Thi Eng khi, kipas emas dari Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah membabat pula lengan kiri Thi Eng khi.

Terhadap Hwee cun siuday Seng Tiok sian, Thi Eng khi menaruh kesan yang baik, maka sebelum turun tangan, ia tak lupa berkata lebih dulu .

"Siaute dipaksa oleh keadaan mau tak mau terpaksa aku akan bertindak kasar kepada saudara Seng!"

Bahunya segera direndahkan, lain dengan kelima jari tangannya yang dipentangkan seperti cakar dengan menggunakan jurus sin liong tham jiau (naga sakti mementang cakar) dalam suatu gerakan kilat ia telah mencengkeram gagang kipas lawannya.

Begitu jari tangan Thi Eng khi menyentuh kipas lawan, dia segera menekan sambil mendorong, kontan saja Hwee cun siucay Seng Tion sian dipaksa mundur sejauh satu langkah.

Hwee cun siucay Seng Tiok sian termasuk satu pendekar muda yang kosen dan lihay, sejak terjun ke arena persilatan, belum pernah menjumpai musuh yang tangguh, betul dia menyadari kalau tenaga dalam Thi Eng khi sangat lihay, namun dia tidak menyangka kalau tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan yang begitu sempurna.

Dia hanya merasakan daya tekanan yang hebat menekan sebentar diatas senjatanya lalu ditarik kembali, jelas pemuda itu tidak berhasrat untuk melukainya.

Demonstrasi penggunaan tenaga dalam yang amat sempurna ini kontan saja membuat Hwee cun siucay Seng Tiok sian menjadi tertegun.

Menanti dia mendongakkan kembali kepalanya, Thi Eng khi telah berada di depan pintu luar.

Ilmu gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan oleh pemuda itu sehingga secara begitu mudah ia bisa meloloskan diri dari penjagaan dua bersaudara To?

Untuk beberapa saat lamanya, lima orang yang berada dalam ruangan itu menjadi tertegun dan berdiri termenung.

Rupanya setelah Thi Eng khi berhasil memukul mundur Hwee cun siucay Seng Tiok sian tadi, timbul keinginannya untuk memperlihatkan sedikit kelihayan dihadapan dua bersaudara To yang menghadang di depan pintu.

Maka dia segera menggunakan ilmu cahaya lewat lintasan bayangan ajaran Kian Kim siang untuk menerobos lewat dari antara kedua orang itu.

Tentu saja kepandaian semacam itu membuat dua orang jagoan itu menjadi terbelalak dengan mulut melongo, hampir saja mereka mencurigai Thi Eng khi sebagai bayangan setan.

Setelah tertegun sejenak akhirnya si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berhasil mengenali asal usul dari ilmu gerakan tubuh tersebut, ia segera berteriak keras .

"Aaah, ilmu Hu kong keng im."

Perlu diketahui, ilmu Hu kong keng im merupakan ilmu andalan Bu im sin hong (angin sakti tanpa bayangan) Kian Kim siang yang amat termashur dalam dunia persilatan dimasa lalu, begitu Kwik Keng thian berseru, dua saudara To pun ikut terperanjat.

Kemunculan dua bersaudara To ke dalam dunia persilatan agak terlambat beberapa tahun meski mereka tak sempat menyaksikan kelihayan dari Bu im sin hong Kian Kim siang namun kegagahan pendekar itu sudah lama sekali tertanam dalam hati kecilnya.

Lebih lebih si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, selama puluhan tahun dia dan Kian Kim siang boleh dibilang bersahabat karib tapi tiba tiba saja Kian Kim siang lenyap pada puluhan tahun berselang ia berusaha untuk menemukan kembali rekannya itu, sayang usahanya tak pernah berhasil.

Maka setelah menyaksikan Thi Eng khi menggunakan ilmu Hu kong keng im tersebut, tanpa terasa muncul perasaan kangennya dengan sobat karibnya itu.

Dengan wajah serius, Kwik Keng thian segera berkata .

"Thi tayhiap, apakah kau kenal dengan Bu im sin hong Kian Kim siang Kian tayhiap? Darimana kau pelajari ilmu Hu kong keng im tersebut?"

Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian itu segera melihat pula betapa hormatnya mereka terhadap Kian Kim siang, dengan cepat dia menyadari kalau saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk membicarakan masalahnya secara baik-baik, maka secara ringkas dia lantas menceritakan pengalamannya sewaktu bertemu dengan Kian Kim siang.

Akhirnya diapun menambahkan.

"Aku dan Kian tua adalah sahabat karib, sekarang dia sedang di dalam perjalanan menuju ke bukit Siong san, entah ada urusan apa Kwik locianpwe menanyakan persoalan ini?"

Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian saling berpandangan sekejap dengan Jit Gwat siang beng To bersaudara, dua orang bersaudara To manggut manggut pelan tanpa berbicara.

Dari sakunya Kwik Keng thian lantas mengeluarkan sebuah benda berbentuk cangkul obat yang terbuat dari batu kemala merah sepanjang beberapa inci, sambil diserahkan kepada Thi Eng khi, katanya .

"Persoalan pada hari ini, kita akhiri sampai disini dulu, bila sauhiap tak ingin bermusuhan dengan sahabat sahabat persilatan dari wilayah Im kui dan Siang cuan, harap bawalah tanda pengenal ini untuk menjumpai Bu im sin hong Kian tayhiap, lalu ajaklah bersama untuk datang kemari guna menyelesaikan persoalan ini."

Ketika Ting Un menyaksikan Thi Eng khi akan dilepaskan, dengan gelisah ia lantas berseru .

"Jika kalian melepaskan bajingan ini, berarti kalian telah berbuat sesuatu yang menyedihkan ayahku!"

Sambil membalikkan badan sekali lagi dia menerjang ke arah Thi Eng khi sambil bersiap-siap melakukan adu jiwa.

Kwik Keng thian segera memerintahkan Hwee cun siucay Seng Tiok sian untuk menghalangi gerak maju Ting Un, kemudian katanya dengan suara dalam .

"Nona Ting, jangan bertindak gegabah, asal Kian tayhiap masih hidup, persoalan ini biarlah diselesaikan oleh Kian tayhiap!"

Sekalipun Ting Un tak mau menerima dengan begitu saja, namun berada dalam keadaan seperti ini kecuali menangis apalagi yang bisa dilakukan olehnya?

Walaupun Thi Eng khi berjumpa dengan Kian Kim siang tanpa sengaja, ia benar benar tak menyangka kalau sahabatnya itu mempunyai kedudukan yang begitu tinggi di wilayah Im kui dan Siang cuan, diapun tidak menyangka kalau kesalahan paham tersebut bisa diredakan untuk sementara waktu hanya mengandalkan nama "Kian Kim siang".

Betul masalahnya belum selesai tapi asal diberi waktu yang cukup, dia tidak takut persoalan tersebut tidak menjadi terang.

Bagaimanapun juga Thi Eng khi adalah seorang lelaki sejati, dia bukan seorang yang tidak bertanggung jawab, sambil menjura katanya .

"Kematian Ting cengcu memang tak terlepas dari tanggung jawabku, bila aku tak mampu menyelidiki siapakah pembunuhnya, aku bersedia untuk mati dihadapan kalian."

Dengan langkah lebar dia berjalan keluar meninggalkan tempat itu.

Tapi baru beberapa langkah, mendadak ia teringat kembali dengan tujuan kedatangannya ke sana, walaupun ia tak tahu mengapa luka yang diderita Kwik Keng thian dapat sembuh kembali, tapi ia merasa kurang tenteram sebelum apa yang dijanjikan tidak dipenuhi.

Akhirnya dia mengeluarkan sebutir pil Kim khong giok lok wan dan diserahkan kepada Kwik Keng thian sambil berkata .

"Walaupun kepergian boanpwe sama sekali gagal untuk mendapatkan Si toan kim khong, namun aku berhasil mendapatkan pil Kim khong giok lok wan yang lebih besar kemujarabannya, harap locianpwe suka menerima sebutir pil ini sebagai hadiah dariku."

Ia tak ambil peduli apakah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian bersedia untuk menerimanya atau tidak, sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia melemparkan pil Kim khong giok lok wan itu ke tangan orang.

Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, secara mudah ia dapat mengirim pil Kim khong giok lok wan itu ke tangan Kwik Keng thian tanpa bisa ditolak kembali.

Selain dari pada itu, Kwik Keng thian sudah lama mengenali kasiat pil Kim khong giok lok wan tersebut, berbicara terus terang dia pun merasa rikuh untuk menerimanya.

Menanti dia hendak mengembalikan pil mustika itu kepada Thi Eng khi, pemuda itu sudah lenyap dibalik pepohonan sana.

Terpaksa si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian harus bersuit panjang untuk memberi tanda kepada para penjaga gua agar membiarkan Thi Eng khi berlalu dari situ.

Dengan demikian, sepanjang jalan Thi Eng khi baru tidak menjumpai halangan apa-apa.

Tapi setelah terjadinya peristiwa ini, dia pun merasa rikuh untuk menunggang kuda hitam pemberian dari Kwik Keng thian lagi, selain itu diapun tidak bertanya kenapa luka dari Kwik Keng thian bisa sembuh.

Tindakannya ini boleh dibilang cukup gagah dan terbuka.

Sayangnya, tanpa kuda jempolan tersebut dia pun tak bisa sampai di bukit Siong san dalam waktu singkat.

Tampaknya luka yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng sudah tiada kemungkinan untuk ditolong lagi, setelah Tiang pek lojin So Seng pak sekalian mendesak Thi Eng khi agar pergi mencari harapan terakhir yang tipis harapannya untuk berhasil itu, mereka pun mulai mempersiapkan urusan terakhir dari gadis itu.

Bersama waktunya mereka pun mengirim orang ke pelbagai tempat untuk mencari gadis yang berwajah mirip dengan Pek leng siancu So Bwe leng sebagai persiapan untuk menggantikan kedudukan So Bwe leng yang asli, hal ini perlu dilakukan untuk mencegah tekad Thi Eng khi untuk bunuh diri.

Dengan kekayaan dan kemampuan yang dimiliki Tiang pek lojin, tak sampai belasan hari kemudian, segala sesuatunya telah selesai dipersiapkan.

Bahkan gadis yang berwajah mirip dengan So Bwe leng pun berhasil ditemukan puluhan orang banyak.

Diantara ada dua orang yang berwajah sangat mirip dengan wajah Pek leng siancu So Bwe leng, bahkan sampai nada suarapun hampir mirip.

Saat itulah semua orang baru bisa menghembuskan napas lega sambil menunggu tibanya saat musibah tersebut.

Ternyata keadaan luka yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng pun sangat aneh, berada dalam keadaan yang lemah dengan napas yang hampir terputus, ternyata dia dapat bertahan selama belasan hari, malah setelah itu denyut nadinya berjalan normal kembali, kesadarannya pun pulih kembali.

Ada orang berkata, gejala ini menunjukkan gejala seseorang yang sudah makin mendekati saat ajalnya.

Baca Juga: Pukulan Si Kuda Binal 2

Baca Juga: Pendekar Baja 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert