Ceritasilat Novel Online

Pukulan Naga Sakti 6

Eps 6 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.

Menyaksikan keadaan seperti ini, Tiang pek lojin So Seng pak sekalian jago lihay tak sanggup menahan rasa sedihnya lagi, mereka mengucurkan air mata dengan rasa amat sedih.

Akhirnya berita ini tersiar juga sampai di kuil Siau lim si.

Ketua Siau lim pay Ci long taysu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang dengan mengajak segenap jago golongan lurus yang belum meninggalkan bukit Siong san bersama sama mengunjungi kuil Siong gak bio.

Ternyata mereka merasa amat terharu oleh sikap Pek leng siancu So Bwe leng yang gagah berani sehingga menyebabkan rencana Huan im sin ang mengalami kegagalan dan melarikan diri dari sana.

Oleh karena itu, mereka tidak pergi meninggalkan kuil Siau lim si, hal ini sebagai petanda kalau mereka pun sangat menguatirkan keselamatan dari Pek leng siancu So Bwe leng.

Kini, dalam ruang tengah kuil Siong gak bio telah dipenuhi oleh tokoh tokoh persilatan, yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan di hari biasa.

Pek leng siancu So Bwe leng berada dalam kamar, kecuali kakeknya, dia ditunggui pula oleh ketua dari Siau lim pay, ketua dari Bu tong pay dan ketua dari Kay pang.

Mereka bertiga sedang mewakili segenap umat persilatan dari daratan Tionggoan untuk menyampaikan rasa dukanya atas musibah yang menimpa So Bwe leng.

Pada saat itulah, mendadak Pek leng siancu So Bwe leng berteriak keras .

"Engkoh Eng .....!"

Tiang pek lojin segera membungkukkan badan mendekati wajah So Bwe leng yang kurus, lalu sahutnya .

"Nak, Eng ji sedang pergi mencarikan obat bagimu, sekarang apakah kau sudah merasa agak baikan ?"

Mencoring sinar terang dari balik mata Pek leng siancu So Bwe leng, katanya lebih lanjut .

"Leng ji akan.... akan menunggu sampai .... sampai engkoh Eng pu... pulang..."

Rasa cinta yang dalam telah membangkitkan semangatnya untuk mempertahankan hidup.

"Nak, engkoh Eng mu segera akan kembali, kau harus menunggu sampai kedatangannya!"

"Yaa.... aku .... aku pasti akan me... menunggu samapai dia daa.... datang...."

Suara pembicaraannya makin lama semakin lirih sebelum akhitnya jatuh tak sadarkan diri.

Anehnya ternyata dia benar benar tidak menghembuskan napas penghapisan, ia benar benar berusaha melawan cengkeraman malaikat elmaut untuk menunggu kedatangan Thi Eng khi.

Kembali beberapa hari sudah lewat, dalam suasana sebentar baik sebentar memburuk itulah Pek leng siancu So Bwe leng menyambung hidupnya lebih jauh.

Kalau dihitung kembali, ternyata Pek leng siancu So Bwe leng dapat bertahan selama belasan hari lamanya.

Tapi Thi Eng khi belum juga kembali.

Suatu ketika, mendadak terdengar Tiang pek lojin yang berada dalam kamar berteriak keras .

"Anak Leng! Anak Leng!"

Nadanya gugup dan gelagapan, jelas keadaannya sangat berbahaya.

Tak dapat diragukan lagi, tentunya Pek leng siancu So Bwe leng sudah tak sanggup untuk mempertahankan diri lebih jauh.

Seketika itu juga, suasana dalam ruangan itu menjadi kacau balau tak karuan.

Dalam keadaan kekacauan inilah, sesosok bayangan manusia berbaju abu-abu menyelinap diantara orang banyak dan masuk ke dalam kamar tidur Pek leng siancu So Bwe leng.

Waktu itu Tiang pek lojin sekalian yang berada dalam kamar sedang dibikin panik, gugup dan sedih oleh karena So Bwe leng yang semakin kritis itu.

Sehingga mereka tak ada yang memperhatikan kalau dalam kamar telah muncul seorang lagi.

Tampak orang itu mengayunkan jari tangannya dan menotok jalan darah Jin tiong hiat di tubuh Pek leng siancu So Bwe leng.

Ternyata tak seorang manusia pun yang berada di dalam kamar itu yang mengetahui kejadian tersebut.

Setelah totokan dilepaskan, orang itu baru berkata .

"Nona So tak bakal mati!"

Walaupun suaranya kecil namun bagaikan suara genta yang bergema di pagi hari, lima orang tokoh silat yang berada dalam ruangan itu segera tersadar kembali dari lamunan.

Saat itulah mereka baru tahu kalau dalam kamar telah bertambah dengan seorang nikou yang muda belia.

Anehnya ternyata tak seorangpun diantara kelima orang tokoh silat itu yang mengenal dirinya.

Nikou muda itu tertawa pelan kepada ketua Kay pang, Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, katanya .

"Harap Cu pangcu ambilkan semangkuk kuah jian nian jinsom kemari!"

Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera mengundurkan diri tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sepeninggal Cu Goan po, keempat orang lainnya juga tak mengucapkan sepatah katapun, mereka hanya merasa nikou muda itu mempunyai suatu kewibawaan yang bisa membuat orang menaruh kepercayaan sehingga sekalipun harus menyerahkan nyawa sendiri kepadanya pun mereka akan melakukannya tanpa ragu.

Tiang pek lojin datang dari luar perbatasan sebagai tempat penghasil jinsom, tentu saja jinsom yang dibawapun amat banyak, tak selang berapa saat kemudian si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah membawa sebuah mangkuk berisi kuah jinsom berusia seribu tahun dan diserahkan kepada nikou muda itu.

Dari dalam sakunya, nikou itu segera mengeluarkan tiga belas batang tumbuh tumbuhan hijau berbentuk seperti daun berambang dan diletakkan ke atas telapak tangannya, tidak nampak bagaimana caranya menghisap, tahu tahu kuah jinsom berusia seribu tahun dalam mangkuk itu telah berubah menjadi tiga belas buah jalur putih yang bersama sama meluncur ke dalam tumbuhan hijau tadi namun anehnya tak nampak setetes air pun yang mengalir keluar.

Tampak nikou muda itu mengayunkan telapak tangannya ketiga belas lembar tumbuhan hijau itu dengan merubah diri menjadi tiga belas jalur cahaya hijau segera menyambar kedepan menembusi jalan darah ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng dan lenyap dari pandangan.

Setelah ketiga belas jalur cahaya hijau itu hilang, wajah Pek leng siancu So Bwe leng segera menampilkan perasaan sakit yang amat hebat.

Tiang pek lojin sangat menguatirkan keselamatan cucunya, baru saja dia hendak menegur nikou muda itu sudah berkata lebih dulu.

"So tayhiap boleh menggunakan tenaga sinkangmu untuk memancing berputarnya nyawa kehidupan dalam tubuh cucumu sambil membantu daya kerja obat tersebut untuk menyebar ke seluruh badan."

Tiang pek lojin tidak ragu ragu lagi, dia segera menempelkan telapak tangannya di atas jalan darah Pek hwe hiat di tubuh Pek leng siancu So Bwe leng dan menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh gadis tersebut.

Sementara perhatian semua orang yang sedang ditunjukkan ke atas tubuh Tiang pek lojin dan Pek leng siancu So Bwe leng, tahu tahu bayangan tubuh nikou muda itu sudah lenyap tak berbekas.

Dalam pada itu, dibawah bantuan tenaga dalam dari Tiang pek lojin, obat yang berada dalam tubuh Pek leng siancu So Bwe leng mulai bekerja, tak sampai sepertanak nasi kemudian, gadis itu sudah mengeluh perlahan.

Perasaan Tiang pek lojin semakin mantap, tenaga dalam yang dikerahkan keluar pun makin deras.

Kurang lebih dua jam kemudian Pek leng siancu So Bwe leng mengucapkan katanya yang pertama .

"Aku lapar!"

Tiang pek lojin segera menarik kembali telapak tangannya dan bangkit, sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya, ia berkata kepada Na im siansu So Ping gwan.

"Cepat siapkan secawan kuah jinsom untuk anak Leng."

Na im siusu So Ping gwan mengiakan dan buru buru berlalu dari ruangan.

Sekarang Tiang pek lojin baru teringat dengan nikou cilik yang telah menolong jiwa cucu perempuannya, dia lantas celingukan kesana kemari untuk mencarinya, namun tak ditemukan, dia lantas bertanya .

"Apakah kalian melihat kemana perginya siau suhu itu?"

Semua orang menjadi tertegun, siapapun tak tahu kapan siau suhu itu pergi dari sana.

"Biar aku mencarinya di luar!"

Kata si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po. Ketua Siau lim si Ci long taysu segera berkata pula.

"Mari kita mencarinya diluar, agar nona So bisa beristirahat dengan hati tenang!"

Maka dalam kamarpun tinggal Tiang pek lojin seorang.

Selesai meminum semangkuk kuah jinsom, kesegaran Pek leng siancu So Bwe leng menjadi pulih kembali.

Dua hari kemudian, ia sudah dapat berbincang bincang beberapa waktu.

Tampaknya luka yang dideritanya telah sembuh kembali, tapi lantaran kondisi badannya masih lemah maka kekuatan badannya belum pulih kembali seperti sedia kala.

Ketua Siau lim si dan ketua Bu tong pay segera menghadiahkan banyak sekali obat kuat penambah tenaga untuk gadis itu, ditambah lagi Tiang pek lojin memang mempunyai banyak obat mestika, maka kesehatan badan Pek leng siancu So Bwe leng dapat sembuh kembali dengan cepat.

Tak selang berapa hari kemudian, gadis itu sudah dapat turun dari pembaringan untuk berjalan jalan sambil bergurau.

Begitu penyakitnya sembuh, diapun menjadi tak bisa tenang lagi.

Pelbagai ingatan mulai bermunculan dari benaknya.

Dari mulut orang lain, ia mendengar pula kalau Thi Eng khi telah bersumpah akan bunuh diri untuk mendampinginya, hal ini membuat hatinya amat gembira.

Tapi satu ingatan aneh pun muncul kembali dalam benaknya, dia minta kepada Tiang pek lojin agar menganggap dia sungguh sungguh sudah mati serta melaksanakan rencana semula.

Oleh karena gadis itu baru saja sembuh dari sakitnya, tak heran kalau Tiang pek lojin kelewat sayang kepada cucu perempuannya ini, walaupun dalam hati kecilnya dia merasa enggan, namun toh diluluskan juga permintaan itu.

Karena orang yang dipersiapkan sudah hadir disitu, apalagi diberi petunjuk secara langsung oleh Pek leng siancu So Bwe leng, maka tak selang berapa saat kemudian dalam kuil Siang gak bio telah bertambah dengan beberapa orang Pek leng siancu So Bwe leng.

Dengan tenang mereka menantikan kedatangan dari Thi Eng khi .....

Sementara itu, Thi Eng khi terpaksa harus mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menggantikan kuda berbulu hitamnya, dalam waktu singkat ia telah tiba di kota Lu si, menginap semalam, ia membeli seekor kuda jempolan untuk melanjutkan perjalanannya.

Masih seperti cara semula, dia larikan kudanya sekuat mungkin dan sejauh mungkin tanpa berhenti, bila kuda itu sudah tak kuat maka diapun bergantian dengan kuda lain.

Selama beberapa hari saja, ia telah menyeberangi wilayah sam siang dan tiba di kota Seh si.

Seh si terletak di pantai utara sungai besar yang berada di sebelah tenggara kota Swan cong, kota itu termasuk dalam keresidenan Kang leng dan merupakan daerah penghasilan kapas, tak heran kalau suasana disana amat ramai sekali, apalagi sebagai pusat perdagangan.

Ketika Thi Eng khi berhasil menyeberangi sungai dan memasuki kota Sam si, hari sudah malam dan saat itu merupakan saat rumah rumah memasang lampu penerangan.

Ia lantas mencari rumah penginapan untuk beristirahat, setelah memesan kepada pelayan untuk memberi makan kudanya, dia pun memesan dua kati daging sapi dab hidangan kecil lainnya mengisi perut , selesai bersantap ia kembali ke kamar untuk beristirahat.

Selama ini boleh dibilang ia selalu menguatirkan keselamatan dari Pek leng siancu So Bwe leng.

Selama beberapa hari terakhir ini kecuali berganti kuda siang malam dia selalu melakukan perjalanan tiada hentinya, bila sudah lelah dia hanya bersemedi sebentar untuk selanjutnya meneruskan kembali perjalanannya.

Jadi malam ini, ia baru secara resmi menginap dalam sebuah rumah penginapan setelah melakukan perjalanan sekian lama.

Semenjak Thi Eng khi berhasil mendapat warisan tenaga dalam Heng kian sinkang dari Thio Biau liong, tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat termasuk juga ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang miliknya sendiripun mendapat kemajuan banyak.

Sekarang dia sedang mempergunakan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk memulihkan kembali kekuatannya, baru sampai tengah malam dia selesaikan latihannya itu, kontan semua kelelahan terusir dan semangatnya menjadi berkobar kembali.

Selesai bersemedi, ia tak sabar untuk menunggu sampai datangnya fajar pagi untuk melanjutkan perjalanan, dia segera membangunkan pelayan dari tidurnya, membayar rekening untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

Selama ini belum pernah si pelayan menjumpai tamu seaneh ini, dengan wajah tak senang hati dia bangun dari tempat tidur.

Thi Eng khi tahu, membangunkan orang di tengah malam buta memang sesuatu yang tak pantas, maka dia mengeluarkan setahil emas murni dan diserahkan kepada pelayan itu seraya berkata .

"Ini untuk membayar sewa kamarku, sisanya anggap saja sebagai persen untukmu!"

Setahil emas murni berarti sepuluh tahil perak, padahal menurut uang waktu itu, sepuluh tahil perak berarti bisa dipakai untuk ongkos menginap dalam rumah penginapan sekecil ini selama satu tahun lebih.

Padahal Thi Eng khi cuma menginap setengah malam disana, persen yang diberikan kepadanya boleh dibilang sangat berlebihan.

Setelah diberi uang sebanyak ini, bila pelayan itu masih tak senang hati, sudah pasti otaknya kurang waras.

Tapi pelayan itu memang aneh sekali, dia masih mengomel juga dengan nada tak senang .

"Kongcu benar benar seorang manusia paling aneh di dunia ini, sekalipun hal ini tidak merepotkan dirimu sendiri, tapi paling tidak kau toh harus mengingat kami orang orang kecil yang sudah bekerja seharian penuh ...."

Walaupun dia berkata begitu, nyatanya sisa uang tersebut pun tak pernah dikembalikan kepada Thi Eng khi.

Thi Eng khi sendiri tentu saja enggan untuk mengurusi tetek bengek seperti itu, dia segera mencemplak kudanya dan pada malam itu juga berangkat meninggalkan kota Seh si.

Rembulan bersinar di tengah awang awang membuat seluruh jagad menjadi cerah.

Thi Eng khi membedal kudanya kencang kencang siapa tahu ketika dia hendak menarik tali les kudanya, kuda tersebut tak mau menuruti perkataannya lagi, malah sebaliknya berlarian ke depan semakin kencang lagi.

Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Thi Eng khi membiarkan kuda itu berlarian sekehendak hatinya.

Dalam waktu singkat, puluhan li sudah dilewatkan, tiba tiba kuda itu menjadi lemas setelah meringkik panjang dan mengeluarkan buih dari mulutnya, binatang itu terletak di tanah dan tak bisa bangun lagi.

Menghadapi kejadian seperti ini, Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali menghela napas, dia menganggap kuda tersebut tak bisa ditunggangi lagi.

Dasar pemuda ini memang berhati bijak, diapun menurunkan pelananya dari punggung binatang tersebut....

Menanti pelana itu diturunkan, baru diketahui punggung kuda itu berdarah dan menderita luka yang parah.

Tak heran kalau kuda itu berlarian seperti gila, rupanya pelayan itu telah berbuat jahat dengan meletakkan tiga lembar lempengan besi dibawah pelana kuda itu yang menyebabkan punggung binatang tadi terluka.

Untuk sesaat Thi Eng khi tidak habis mengerti apa sebabnya pelayan itu bersikap begitu kepadanya, terpaksa dia harus melanjutkan perjalanan sambil berjalan kaki.

Berbicara soal ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Thi Eng khi saat ini, andaikata dia mau menempuh perjalanan cepat sekalipun kuda mestika berbulu hitam juga sukar untuk menandingi kecepatannya, cuma dengan begitu ia tak mampu untuk melakukan perjalanan siang malam.

Demikianlah, setelah Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya dengan menggerakkan ilmu meringankan tubuhnya, bayangan tubuh pemuda itu seakan akan tidak terlihat lagi, misalnya ada orang yang berpapasan dengannya di tengah jalan, maka paling banter orang itu cuma merasakan ada segulung angin yang berhembus lewat saja.

Entah sudah berapa jauh dia sudah berjalan, mendadak ia mendengar suara ringkikan kuda berkumandang datang dari dalam sebuah rumah lebih kurang puluhan kaki di tepi jalan.

Tergerak hati Thi Eng khi menjumpai hal tersebut, segera pikirnya .

"Bila kubeli kuda tersebut dengan harga tinggi, bukankah aku bisa melanjutkan perjalanan lagi tanpa membuang banyak tenaga."

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dia segera bergerak menuju kearah mana berasalnya suara ringkikan kuda tadi.

Setelah semakin dekat, ia baru tahu kalau bangunan rumah itu adalah sebuah kuil to koan.

Ketika tiba didepan pintu, dia ragu ragu untuk sesaat dan tak tahu apa yang harus dilakukan, mengetuk pintu untuk berjalan masukkah?

Atau lebih baik masuk dengan melompati dinding pekarangan?

Pada saat itulah mendadak dari dalam kuil berkumandang datang suara jeritan lengking dari seorang perempuan, suara itu penuh diliputi oleh perasaan putus asa dan ngeri.

Tanpa berpikir panjang lagi Thi Eng khi segera melompat masuk ke dalam pekarangan.

Dari sebelah kiri ruangan kuil tampak ada cahaya lampu yang mencorong keluar, lagipula dari sana terdengar suara orang sedang meronta.

Thi Eng khi merasakan darah panas bergelora didalam dadanya, dia segera menghamtam jendela kamar sambil menerobos masuk kedalam.

Tapi apa yang terlihat kemudian membuat dia menjadi tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Ternyata di dalam kamar itu terdapat sepasang muda mudi dalam pakaian dalam yang minim, perempuan tersebut sedang duduk ketakutan di sudut pembaringan dengan wajah pucat pias karena ketakutan.

Sedangkan lelaki tersebut berdiri di tanah dengan sebuah bangku sedang menindih seekor ular kecil berwarna hijau.

Berhubung Thi Eng khi menyerbu masuk secara tiba tiba lelaki itu menjadi terperanjat sampai lupa untuk menekan ular hijau tersebut dengan bangkunya.

Ular kecil itu segera meronta melepaskan diri dari tindihan lalu dengan kecepatan tinggi memagut tangan sang pria yang sedang memegang bangku.

Dalam keadaan begini, Thi Eng khi tak sempat untuk menyapa lelaki itu lagi, terpaksa dia harus melepaskan sentilan jari tangannya untuk membunuh ular kecil itu, kemudian baru katanya dengan wajah tersipu sipu.

"Kalian berdua.... kalian berdua.."

Apalagi yang bisa dia katakan?

Sudah jelas orang lain menjerit karena bertemu dengan ular, sedang dia pun masuk ke kamar orang tanpa permisi, suasana semacam ini benar benar membuatnya menjadi sangat rikuh.

Mendadak perempuan itu menjerit lagi dengan suara lengking .

"Tolong ..... tolong...... ada perampok, ada perampok!"

Keadaan seperti ini makin membuat Thi Eng khi bertambah runyam dan serba salah.

Untung saja lelaki itu masih cukup bernyali.

Setelah melihat dandanan dari Thi Eng khi dan juga melihat gerak geriknya yang halus, dia tahu kalau orang itu bukan orang jahat.

Dia lantas menyuruh perempuan itu berhenti berteriak, lalu ujarnya kepada Thi Eng khi .

"Saudara, mungkin kedatanganmu agak salah paham."

Dengan wajah memerah Thi Eng khi manggut manggut.

"Yaa, benar, aku mengira ada orang jahat yang sedang beraksi disini, sungguh tak nyana kedatanganku malah hanya mengganggu kalian, harap sudi memaafkan."

Tampaknya yang perempuan adalah seorang yang berjiwa sempit, dengan wajah tak senang hati dia segera mengomel .

"Dasar setan sembrono, masa kalau ingin menolong orang tidak dilihat dulu keadaannya? Bikin orang ketakutan saja!"

Thi Eng khi benar benar merasa sangat jengah, seandainya disitu ada lubang niscaya dia sudah menerobos masuk untuk menyembunyikan diri.

Agaknya yang pria kuatir kalau perbuatan perempuan itu menggusarkan Thi Eng khi, buru buru dia menutupi badan perempuan tadi dengan selimut dan ia sendiri pun mengenakan baju luar.

Pada saat itulah dari luar pintu kedengaran suara langkah manusia kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu sambil menegur .

"Kong tiong, ada apa? Mengapa berteriak teriak?"

Lelaki itu segera membuka pintu, seorang tosu tua segera berjalan masuk ke dalam ruangan. Ketika Thi Eng khi melihat tosu tua itu, dia baru teringat akan satu persoalan segera pikirnya .

"Heran, mengapa di dalam kuil To koan bisa muncul sepasang suami istri muda yang menginap bersama?"

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, jawabannya segera diperoleh dari lelaki itu. Terdengar lelaki tersebut menjawab .

"Paman, tadi menanti keponakan hendak turun dari ranjang, tiba tiba melihat ada seekor Jit poh kim disitu, saking kagetnya kami menjerit, rupanya jeritan kami mengundang kedatangan pendekar ini, siapa tahu dia salah paham terhadap pendekar ini dengan mengiranya sebagai penyamun sehingga akibatnya.... hal ini sampai membangunkan kau orang tua."

Tosu tua itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Yaa, hal ini memang tak bisa menyalahkan kepada orang lain, dalam tokoan ada perempuannya ..... cara dari mana ini?"

Kemudian denga wajah tersipu dia berpaling kearah Thi Eng khi sambil melanjutkan.

"Mereka adalah keponakan dan menantu keponakan pinto yang hendak pulang dusun karena perjalanan jauh mereka ikut menumpang sehari disini, harap sauhiap jangan menertawakan."

"Aaah, mana..... mana..... akulah yang gegabah sehingga mengganggu ketenangan kalian semua, harap kalian sudi memaafkan."

Sesudah menjura buru buru dia mengundurkan diri dari situ.

Tosu tua itu segera mempersilahkan Thi Eng khi untuk duduk didalam kamarnya.

Dalam kesempatan itu Thi Eng khi lantas mengutarakan niatnya untuk membeli kuda yang didengarnya meringkik dalam kuil.

Tosu tua itu bilang, kuda tersebut milik keponakan serta menantu keponakannya, jadi tak tahu apakah akan dijual atau tidak.

Mendengar itu, Thi Eng khi segera mengeluarkan sepuluh tahil emas murni, kemudian katanya sambil tersenyum .

"Agaknya kuil ini kurang banyak pengunjungnya, harap sejumlah kecil uang emas ini bisa digunakan sebagai ongkos perawatan kuil."

Mencorong sinar terang dari balik mata tosu tua itu, buru buru dia mengucapkan terima kasih. Kemudian katanya lagi .

"Rumah mertua keponakanku hanya tinggal setengah harian perjalanan, sekalipun ditempuh dengan berjalan kaki juga tidak mengapa, bila sauhiap membutuhkan kuda, besok akan pinto rundingkan dengan keponakanku itu."

Kembali Thi Eng khi mengeluarkan sepuluh tahil emas sambil berkata .

"Kalau begitu, kumohon bantuan dari totiang!"

Setelah menerima uang, tosu tua itu memberikan kamarnya untuk dipergunakan oleh Thi Eng khi.

Menggunakan kesempatan itu, Thi Eng khi segera bersemedi untuk mengembalikan tenaganya.

Tak sampai tiga kali latihan, waktu sudah menunjukkan kentongan ke empat, jaraknya dengan fajarpun tinggal satu setengah jam.

Thi Eng khi segera bangkit berdiri dan bermaksud untuk keluar dari kamar untuk berlatih ilmu pukulan.

Siapa tahu begitu tangannya menyentuh pintu kamar tersebut, ia menjadi tertegun, buru buru dia mengerahkan tenaganya untuk mendorong sekuat tenaga, alhasil pintu itu masih belum juga terbuka.

Lama kelamaan dia menjadi naik darah sambil mengerahkan tenaga dia menghantam dinding ruangan itu.

"Blaaammm...!"

Dinding ruangan itupun sama sekali tidak roboh. Ternyata seluruh ruangan tersebut terbuat dari baja asli. Pada saat itulah dari luar kamar terdengar tosu tua itu berseru sambil tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.... haaahhhhh..... haaahhhh...... Thi Eng khi, kau masih kenal dengan lohu?"

Sewaktu menyebut nama "Thi Eng khi"

Suara tersebut masih merupakan suaranya si tosu tua tapi ketika mengucapkan "masih kenal dengan lohu"

Suaranya telah berubah menjadi suara Huan im sin ang, musuh besarnya. Thi Eng khi menjadi teramat gusar, sepasang matanya sampai merah berapi api karena naik pitam, segera teriaknya keras keras .

"Iblis tua, kalau kau punya kepandaian, hayo cobalah beradu kepandaian dengan diriku."

Huan im sin ang menjengek sinis .

"Hmmm.... mau bertarung mah gampang bila hari ini kau belum mampus dibakar, besok aku pasti akan melepaskanmu keluar."

Menyusul kemudian terdengar suara orang yang mengangkut kayu bakar serta orang menyulut api.

Tak lama kemudian, asap hijau telah merembes masuk lewat lubang lubang kecil di bawah kaki dinding.

Thi Eng khi segera mengerahkan ilmu Heng kian sinkang untuk melindungi badannya siapa tahu asap hijau yang terendus olehnya kontan membuat kepalanya pening dan hawa murninya buyar, segenap tenaganya seakan akan tak mampu dihimpun kembali.

"Aduh celaka, dalam asap hijau tersebut ada racunnya ...."

Diam diam Thi Eng khi berpekik.

Buru buru dia mengeluarkan tiga butir pil kim khong giok lok wan, lalu setelah ditelan buru buru dia duduk bersila.

Sementara itu api yang berkobar di luar makin lama makin membara, seluruh kuil kecil itu sudah berubah menjadi lautan api.

Pil mestika Kim khong giok lok wan memang berkasiat luar biasa, dia segera merasakan hawa segar menyebar ke seluruh bagian tubuhnya, dalam waktu singkat keempat anggota badannya menjadi segar dan nyaman, seluruh perasaan mual yang semula mencengkam perasaannya juga mulai membuyar.

Yang tertinggal sekarang hanyalah bagaimana mencari akal untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut tersebut.

Berbicara menurut keadaan yang berada dihadapan mata sekarang, untuk menerjang keluar bukanlah suatu pekerjaan yang tak mungkin.

Dinding baja yang membara tersebut tak nanti akan tahan menerima sabuah pukulan Heng kian sinkang miliknya, cuma dengan begitu maka kepandaian sakti yang dimilikinya akan diketahui lawan terlalu awal, hal mana justru akan semakin meningkatkan kewaspadaan Huan im sin ang terhadap dirinya sehingga keadaan tersebut justru akan semakin menyulitkan usahanya untuk membasmi kaum iblis dikemudian hari.

Tindakan yang kurang cerdas, tak ingin dilakukan bilamana keadaan tidak sangat memaksa.

Maka setelah berpikir pulang pergi, tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, segera dia berpikir .

"Mengapa aku tidak mengerahkan ilmu Heng kian sinkang untuk menyalurkan hawa api Sam koay cin hwee untuk menerobos ke bawah tanah? Bila aku sudah lolos nanti niscaya iblis tua itu akan menjadi kebingungan untuk menemukan aku."

Begitu ingatan tersebut melintas lewat Thi Eng khi segera mengerahkan tenaga dalam Heng kian sinkangnya untuk memancarkan keluar hawa panas Sam koay cin hwee nya.

Pelan pelan tubuhnya seperti tenggelam kedalam tanah, begitu tubuhnya masuk ketanah, dia segera mengembalikan pasir disisinya untuk menutupi permukaan tanah yang sebelah atas agar dari atas permukaan orang tak akan mengetahui kalau dia sedang menyembunyikan diri di situ.

Baru saja dia hendak menutupi kepalanya dengan tanah kemudian mengerahkan ilmu Ku si tay hoat untuk menutup pernapasannya, mendadak ia merasa kakinya menginjak tanah gembur, kemudian muncullah sebuah lubang kecil.

Dengan cepat dia mengerahkan kembali tenaga dalamnya untuk menekan kebawah....

"Brru...."

Tanah berguguran semakin deras, dari sebuah lubang yang kecil itu telah berubah menjadi sebuah lubang besar, serta merta dia menerobos masuk kedalam gua itu.

Masih untung kedua kakinya langsung menginjak tanah.

Jilid 20 Thi Eng khi mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu dengan sorot matanya yang tajam, rupanya dia sedang berada di dalam sebuah lorong rahasia.

Penemuan yang tak terduga ini sangat menggirangkan hati Thi Eng khi, buru-buru dia mengebaskan ujung bajunya keatas untuk mengirim kembali tanah yang berguguran itu keatas lubang.

Dalam waktu singkat, lubang tersebut telah berhasil disumbat kembali olehnya menjadi seperti sedia kala, orang tak akan mengira kalau ditempat itu terdapat sebuah gua yang tembus dengan ruangan atas.

Selesai memeriksa hasil karyanya dan merasa puas, pemuda itu baru melanjutkan perjalanannya menelusuri lorong rahasia tersebut.

Permukaan lorong itu tinggi rendah tidak menentu, seandainya tenaga dalam yang dimiliki tak sempurna sehingga bisa melihat keadaan disekitar sana dengan jelas, ia benar benar tak akan berani untuk menelusuri lorong rahasia tersebut.

Sudah sekian lama dia melakukan perjalanan, akan tetapi belum juga keluar dari lorong tersebut, hatinya mulai merasa tegang, dia kuatir lorong tersebut tiada jalan keluarnya.

Untung saja pada saat itulah mendadak matanya terasa silau, tiba tiba ia saksikan ada cahaya terang memancar masuk dari atas dinding lorong, dia mengira di depan sana adalah jalan keluar dari lorong tersebut.

Dengan perasaan girang, ia segera mempercepat larinya menuju kearah depan sana.

Menanti ia tiba didepan sumber dari cahaya tersebut, dia baru menjadi tertegun dan segera menghentikan perjalanannya.

Rupanya cahaya terang itu bukan merupakan sebuah cahaya alam, melainkan memancar masuk lewat sebuah gua batu yang sangat besar.

Bukan saja tempat itu bukan merupakan sebuah jalan keluar dari lorong rahasia tersebut, pada hakekatnya dia sudah salah arah.

Diatas pintu gua yang sempit diatas lebar dibawah hingga berbentuk segitiga terdapat sebuah batu penyekat yang besar dan lebar, diatas permukaan batu penyekat tadi tampak lukisan pemandangan yang sangat indah.

Kiranya cahaya yang memancar tadi berasal dari kedua sisi batu penyekat yang memantul diatas dinding lorong rahasia.

Tak bisa disangkal lagi, dalam gua tersebut sudah pasti ada penghuninya.

Andaikata berada di hari biasa, dengan perasaan ingin tahu Thi Eng khi pasti akan menerobos masuk ke dalam untuk mengetahui apa gerangan yang berada di sana.

Tapi keadaannya sekarang sama sekali berbeda, bukannya dia tidak merasa ingin tahu, adalah dikarenakan ia sangat menguatirkan keselamatan dari Pek leng siancu yang sedang meronta dari lembah kematian.

Dia kuatir akan timbul kesulitan sehingga menunda perjalanan pulangnya ke bukit Siong san.

Maka dengan wajah serius dia berhenti, membalikkan badan dan balik kembali kearah semula.

Hanya kali ini dia berjalan dengan gerakan yang jauh lebih lamban daripada semula.

Lorong rahasia tersebut memang panjang sekali, entah berapa lama Thi Eng khi sudah berjalan tapi belum mencapai mulut gua juga, dengan perasaan kesal anak muda itu segera mempercepat perjalanannya.

Mendadak mendengar serentetan suara langkah manusia berkumandang datang dari belakang punggungnya.

Dengan kesiap siagaan penuh Thi Eng khi segera mempercepat gerakannya dan melompat keluar dari mulut lorong lebih dulu.

Ternyata mulut lorong rahasia tersebut berada di balik batang pohon yang amat besar.

Ketika dia mendongakkan kepalanya, tampak di arah barat daya sana masih berwarna merah darah, tampaknya Huan im sin ang benar benar sangat bernapsu untuk membunuhnya, siapa tahu dia toh masih lolos juga dalam keadaan selamat, tanpa terasa sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya.

Baru saja senyuman tersungging di ujung bibirnya, mendadak ia teringat kalau dari balik lorong ada orang hendak keluar, dia merasa tindakannya sekarang kelewat gegabah.

Buru buru dia menyelinap ke belakang pohon tersebut untuk menyembunyikan diri.

Tak lama kemudian, dari balik mulut lorong rahasia itu melompat keluar dua sosok bayangan manusia.

Yang seorang adalah kakek bermuka putih yang mengenakan baju hijau, sedangkan yang lain adalah seorang gadis cantik yang berbaju warna hijau pula.

Begitu memunculkan diri, tanpa membuang waktu lagi kedua orang itu segera menggerakkan tubuhnya menuju ke arah tempat kebakaran dimana Huan im sin ang sedang berusaha membakar mati Thi Eng khi.

Si anak muda itu hanya merasakan dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu bayangan hitam itu sudah tinggal setitik bayangan kecil dikejauhan sana.

Sedemikian cepatnya gerakan tubuh kedua orang itu, untuk sesaat membuat pemuda kita menjadi termangu.

Akhirnya setelah menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali, Thi Eng khi meneruskan perjalanannya menuju ke arah tujuan semula.

Sepanjang perjalanan, ia tidak menjumpai halangan lagi, dengan lancar akhirnya sampai juga di kuil Siong gak bio.

Thi Eng khi benar benar merasakan hatinya amat tegang, tanpa berusaha untuk mencari tahu keadaan penyakit dari So Bwe leng lagi, dia segera berlarian menuju ke kamar tidur gadis itu.

Tapi setibanya di depan kamar yang digunakan oleh Pek leng siancu So Bwe leng untuk merawat penyakitnya, dia baru menjumpai kalau keadaan sedikit tidak beres.

Ternyata pintu kamar tersebut tertutup rapat, debu nampak melapis diatas pintu tampaknya sudah banyak waktu tidak dibersihkan orang.

Membayangkan apa yang terjadi, Thi Eng khi segera merasakan jantungnya berdenyut keras, sekujur tubuhnya seakan akan tercebur ke dalam gudang salju, kontan menggigil keras.

Dengan suara keras, ia lantas berteriak .

"Adik Leng, aku telah kembali!"

Dari dalam kamar tidak terdengar suara jawaban, sekarang dia merasa kehilangan keberanian untuk masuk ke dalam kamarnya, gumamnya dengan suara sedih .

"Aku ..... aku telah terlambat ..... aku telah pulang agak terlambat!"

"Thi sauhiap, siapa bilang kedatanganmu terlambat?"

Tiba tiba Boan san siang koay munculkan diri sambil berseru. Thi Eng khi tak dapat membendung airmatanya lagi, dia segera menangis terisak, katanya kemudian .

"Locianpwe berdua, bagaimana keadaan adik Leng? Beritahukanlah kepadaku apa yang terjadi!"

"Harap Thi sauhiap jangan gelisah, nona So masih berada dalam keadaan sehat walafiat, mari kita berbincang bincang di sana."

Sambil berkata dia lantas mempersilahkan Thi Eng khi untuk duduk di ruang tamu.

Thi Eng khi tidak begitu percaya dengan perkataan dari Toa koay (siluman pertama) Cia Pit.

Menurut anggapannya besar kemungkinan kalau So Bwe leng sudah mengalami musibah, sedang apa yang dikatakan Toa koay tak lebih hanya bermaksud untuk menghibur hatinya.

Maka begitu duduk, dia lantas bertanya lagi dengan perasaan cemas .

"Kini adik Leng berada dimana? Harap locianpwe berdua sudi berbicara secara terus terang."

Ji koay (siluman kedua) Cia Suan segera tertawa.

"Nona So betul betul berada dalam keadaan sehat, cuma kemungkinan besar Thi sauhiap tak bisa bertemu lagi dengannya."

"Apa?"

Teriak Thi Eng khi dengan mata terbelalak.

"Penyakit yang diderita oleh nona So telah disembuhkan oleh seorang tokoh sakti tapi konon dia sudah enggan berjumpa lagi dengan sauhiap,"

Ucap Tia koay Cia Pit menerangkan. Thi Eng khi segera merasa hatinya agak lega sebagian, ujarnya kemudian dengan suara lebih tenang .

"Mengapa?"

"Aaaai.... rahasia hati nona So mana bisa diketahui orang lain?"

Sahut Ji koay Cia Suan cepat.

"bahkan So tua pun gagal untuk mengetahui sebab musababnya, maka dia orang tua terpaksa mengijinkan nona So untuk pindah dari kuil Siong gak bio ini."

"Apakah locianpwe tahu mereka telah berpindah ke tempat mana?"

"Tujuan dari nona So meninggalkan tempat ini adalah untuk menghindari diri dari sauhiap tapi So tua diam diam telah meninggalkan pesan kepadaku, silahkan sauhiap segera menyusul ke situ."

Ia lantas memberitahukan alamat baru dari Tiang pek lojin itu kepada Thi Eng khi.

Tak sempat banyak bertanya lagi, Thi Eng khi segera mohon pamit dan berlalu dari situ.

Dengan mengikuti petunjuk dari Boan san siang koay, setelah membuang banyak waktu dan tenaga akhirnya ia berhasil juga menemukan beberapa buah rumah gubuk di tengah Siong san.

Thi Eng khi segera berpekik nyaring dari luar rumah, betul juga Tiang pek lojin segera munculkan diri dari balik rumah tersebut.

Perjumpaan itu sangat mengharukan sekali, Thi Eng khi tidak mengisahkan dahulu pengalamannya, melainkan buru buru menanyakan keadaan dari Pek leng siancu So Bwe leng .

"So yaya! Bagaimanakah keadaan adik Leng?"

Menyaksikan kecemasan yang mencekam perasaan Thi Eng khi, sebenarnya Tiang pek lojin ingin mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi diapun kuatir cucu perempuannya marah, maka dengan wajah memerah segera sahutnya .

"Dia sangat baik, cuma setelah melawan musibah besar itu, dia menjadi putus asa dan kecewa terhadap kehidupan keduniawian, ia ribut ingin menjadi pendeta, sudah lohu bujuk berulang kali tapi gagal, kemarin ia telah mencukur rambut menjadi pendeta."

Selesai mengucapkan perkataan itu, kembali ia menghela napas panjang, walaupun helaan napasnya panjang, padahal sama sekali tidak mengandung nada sedih.

Waktu itu pikiran Thi Eng khi sedang kalut, tentu saja ia tak dapat menangkap nada tersebut.

Kontan saja paras mukanya berubah menjadi pucat pasi, dengan sedih katanya lagi .

"So yaya, sebetulnya apa yang menyebabkan adik Leng mencukur rambutnya menjadi pendeta?"

Tapi kemudian dengan setengah nada menduga ia mengumam .

"Yaa.... mungkinkah dia marah kepadaku karena tempo hari aku tidak memikirkan keselamatan jiwanya sehingga menyebabkan dia terluka? Tapi ...... tidak ...... tidak mungkin, hal itu merupakan kerelaannya sendiri untuk berkorban demi kepentingan seluruh umat persilatan, dia tak akan menyalahkan diriku!"

Setelah termenung sebentar, dengan kening berkerut katanya lagi .

"Jangan jangan dia masih marah karena aku pulang agak terlambat?"

Tapi selanjutnya dia berguman lebih jauh .

"Tidak, dia seharusnya tahu kalau aku sudah berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki."

Thi Eng khi hanya tahu bergumam sambil menduga, hal mana membuat Tiang pek lojin So Seng pak merasa terharu sekali.

Selain itu, ada sepasang mata yang mengintip dari balik kegelapan pun turut mengucurkan airmatanya dengan deras, hampir saja dia membatalkan niatnya untuk melanjutkan rencana nakalnya itu.

Mendadak Thi Eng khi berkata dengan wajah serius .

"So yaya, apakah adik Leng berada di dalam ruangan, aku hendak berjumpa muka dengannya?"

Tiang pek lojin segera menuding ke arah sebuah kuil nikou yang berada ratusan kaki dari situ, kemudian menjawab .

"Anak Leng menjadi pendeta di dalam kuil pendeta disebelah sana ...."

Setelah berhenti sejenak dia menambahkan.

"Tapi dia enggan untuk berjumpa dengan dirimu, sekalipun kau kesana juga tak berguna."

Thi Eng khi sama sekali tidak menggubris perkataan dari Tiang pek lojin, begitu selesai mendengarkan perkataan itu, dia segera menggerakkan tubuhnya melejit dari sana, hanya dalam beberapa kali lompatan saja ia telah tiba di depan kuil nikou tersebut.

Menanti si anak muda itu sudah berlalu, Tiang pek lojin baru berpaling ke dalam rumah sambil membentak .

"Anak Leng, telah mempermainkan anak Eng khi, bukan cuma kau saja yang berdosa bahkan yaya pun ikut bersalah!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera melompat keluar dari dalam rumah, lalu dengan suara lembut dia berseru .

"Biar tahu rasa! Siapa suruh dalam hati kecilnya dia masih mempunyai perempuan lain."

Dengan perkataan itu maka terbongkarlah rahasia hati So Bwe leng.

Rupanya entah darimana, diapun tahu kalau Thi Eng khi menaruh perasaan cinta kepada Ciu Tin tin, dia menjadi cemburu sehingga berniat untuk memberi sedikit penderitaan buat si anak muda itu.

Sampai sekarang Tiang pek lojin baru tahu kalau cucu perempuannya adalah seorang pencemburu, tak kuasa lagi dia berseru .

"Aaai...... aaai...... kesemuanya ini adalah kesalahan yaya yang kelewat memanjakan dirimu!"

Seraya berkata dia lantas berjalan menuju ke arah kuil nikou tersebut ..... Sambil mengejar dari belakang, Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru .

"Yaya! Jika kau benar benar hendak mencampuri urusanku, anak Leng betul betul tak akan menggubris dirimu lagi!"

Terpaksa Tiang pek lojin harus menghentikan langkahnya, setelah menghela napas dia berkata .

"Nak, semoga kau tahu diri dan jangan berbuat kebangetan!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera tersenyum .

"Tak usah kuatir yaya, anak Leng mengetahui hal ini ...."

Setelah mendengar perkataan tersebut, Tiang pek lojin baru tertawa lega, bersama Pek leng siancu berangkatlah mereka menuju ke arah kuil nikou itu.

Dalam pada itu, Thi Eng khi sedang berteriak dengan perasaan cemas di luar pintu kuil .

"Adik Leng! Adik Leng! Siau heng Eng khi mohon berjumpa dengan dirimu ...."

Ia sudah berteriak beberapa kali, namun dari dalam ruangan kuil tak kedengaran sedikit suarapun.

Dalam gelisahnya Thi Eng khi segera menuju ke depan sambil melancarkan sebuah pukulan ke atas pintu kuil.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, sudah barang tentu pintu kuil tersebut tak akan tahan menerima pukulannya.....

"Blaaammmm!"

Kontan saja pintu kuil tersebut terpentang lebar.

Dari dalam kuil itu terdengar seseorang menjerit kaget, kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dihadapannya telah berdiri dua orang nikou setengah umur yang menghadang jalan pergi si anak muda itu.

Tegur dengan suara dingin.

"Sauhiap, kau adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar, mengapa begitu tak tahu diri? Tahukah kau tempat ini adalah sebuah kuil nikou...?"

Thi Eng khi bertindak kasar hanya dikarenakan dorongan emosinya yang meluap luap, dia tidak memikirkan soal perbedaan antara lelaki dan wanita, apalagi tempat itu sebagai suatu kuil kaum nikou.

Menanti jalan perginya terhadang dan kedua orang nikou itu mulai menegur, dia baru dibikin tersipu sipu karena malu, mukanya merah padam, sampai sekian lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Salah satu diantara nikou setengah umur itu segera menegur sambil tertawa kering .

"Sauhiap, bila kau tiada persoalan lain, harap segera mengundurkan diri dari sini!"

Segera Thi Eng khi berlalu, sekarang ia sudah tak punya muka lagi untuk berdiam disitu lebih lama, tak berani mendongakkan kepalanya lagi, ia segera menjejakkan kakinya dan melompat keluar dari kuil tersebut kemudian menghela napas panjang.

Belum sampai dia berjalan mundur sejauh sepuluh langkah, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara teriakan dari seorang nikou setengah umur .

"Sauhiap, harap kembali, coba lihatlah siapa yang sedang munculkan diri ini?"

Dengan cepat Thi Eng khi membalikkan badannya, tampak seorang nikou cilik berdiri tenang di depan pintu, seperangkat jubah pendeta yang berwarna abu abu menutupi tubuhnya yang kecil mungil, membuat siapapun yang memandang terasa beriba hati.

Dengan sempoyongan anak muda itu segera memburu kedepan.

Tapi nikou yang menyaru So Bwe leng itu segera membentak keras .

"Jangan mendekat!"

Thi Eng khi tertegun segera menghentikan gerakan tubuhnya, teriaknya keras keras.

"Adik Leng!"

"Sauhiap, harap tahu diri, sebagai seorang pendeta harap kau jangan memanggil lagi dengan nama awamku!"

Suaranya dingin, sikapnya juga dingin, membuat perasaan Thi Eng khi yang hangat segera berubah menjadi dingin kembali, ia jadi tergagap dan untuk sesaat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Kau....... kau......"

Kesedihan yang mencekam perasaan Thi Eng khi tak terlukiskan lagi dengan kata kata.

Tiang pek lojin yang bersembunyi di balik kegelapan segera berpaling dan melotot sekejap kearah Pek leng siancu So Bwe leng yang berada disisinya lalu menegur .

"Anak Leng, sebetulnya apa tujuanmu? Mengapa kau menyuruh dia mengucapkan kata yang begitu kasar?"

"Aku sama sekali tidak suruh budak itu mengucapkan kata-kata seperti ini,"

Bantah Pek leng siancu So Bwe leng cepat. Kemudian dengan kening berkerut, dia berkata lagi dengan gemes.

"Sialan betul budak tersebut, aku pasti akan memberi pelajaran kepadanya."

Selesai berkata dia sudah menerjang kedepan siap memberi pelajaran kepada penggantinya itu. Tapi tindakan tersebut segera dicegah oleh Tiang pek lojin, katanya dengan cepat .

"Anak Leng, jangan gegabah, bayangkan sendiri keadaanmu sekarang, apakah kau bisa menampilkan dirimu? Jalan terbaik pada saat ini adalah dengan tenang menghadapi perubahan, nah.... inilah pembalasan bagi perbuatan sok pintarmu itu."

Akhirnya Pek leng siancu dapat dibujuk juga oleh kakeknya sehingga membatalkan niatnya untuk keluar, tapi ia menjadi gemas sekali sampai menggertak giginya berulang kali.

Setelah menegur cucu kesayangannya, dengan suara lembut kembali Tiang pek lojin berkata .

"Nak, kau harus tenang .....! Tenang ..... kau harus tenang menghadapi keadaan."

Pek leng siancu So Bwe leng segera mendongakkan kepalanya kembali memandang kearah depan.

Ia menyaksikan orang yang menggantikan dirinya itu sudah berubah sama sekali sikapnya sebagai seorang pendeta, setelah tertawa terkekeh kekeh katanya .

"Engkoh Eng, kau menjadi marah bukan? Haaahhhh..... haaahhhhh...... haaaahhhh...... aku hanya mengajak kau bergurau!"

Walaupun Pek leng siancu So Bwe leng adalah seorang yang tidak mempersoalkan masalah kecil, tapi dia masih tahu untuk menjaga diri, sikapnya sama sekali tidak sebrutal ini.

Kontan saja Thi Eng khi menjadi serba salah dibuatnya, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

So Bwe leng yang sembunyi di balik kegelapan justru semakin bertambah gusar, makinya berulang kali.

"Tidak tahu malu! Tidak tahu malu! Benar benar tidak tahu malu!"

Ternyata nikou kecil itu sangat pandai bermain sandiwara, setelah tertawa, kembali wajahnya berubah menjadi dingin seperti es, katanya lagi .

"Kau jangan keburu senang dulu, aku bukanlah So Bwe leng yang kau idam idamkan, So Bwe lengmu sudah mampus!"

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi segera mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

"Aaaai..... adik Leng, kau tak usah bersikap begitu, akupun tak tahu sebabnya kau begitu membenciku, sekalipun dijelaskan juga suatu tindakan yang percuma, kalau toh kau menganggap dirimu sudah mati, siau heng hanya bisa menyimpan bayanganmu yang lalu didalam hati. Sekarang, siau heng hendak mohon diri dulu!"

Selesai berkata, dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari situ. Si nikou cilik yang menyaru sebagai So Bwe leng segera membentak keras .

"Berhenti! Coba kau amati sekali lagi siapakah aku?"

Sambil berkata, dia lantas mengusap wajahnya, seketika itu juga paras mukanya berubah sama sekali.

Kini yang muncul adalah seraut wajah cantik yang diliputi hawa pembunuhan, sedikitpun tidak mirip dengan wajah Pek leng siancu So Bwe leng.

Bahkan So Bwe leng asli dan Tiang pek lojin yang bersembunyi dibalik kegelapan pun merasakan kejadian tersebut sama sekali diluar dugaan, saking kagetnya mereka sampai tercengang, mimpipun mereka tidak menyangka kalau orang itu adalah seseorang yang menyaru sebagai So Bwe leng, bukan gadis yang berwajah mirip So Bwe leng.

Dari sini dapat diketahui kalau orang itu memang datang kesitu dengan membawa rencana busuk.

Sementara mereka masih termenung, perubahan yang terjadi di tengah arena sudah berlangsung amat cepat.

Tampak Thi Eng khi maju selangkah ke depan, lalu teriaknya keras .

"See.... sebenarnya siapakah kau? Mengapa menyaru sebagai adik Leng untuk mempermainkan aku?"

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, adik Leng mu telah mampus karena penyakitnya tak terobati, oleh karena So loyacu kuatir kau bunuh diri untuk menjaga nama maka dia sengaja mengatur rencana ini untuk menipumu, dia minta aku mewakili nona Leng untuk memutuskan hubungan denganmu, tapi karena aku tak tega membiarkan kau dimaki orang sebagai manusia yang tak berperasaan maka ...."

"Sreet! Sreet...... Sreet......! Tiga batang ranting pohon dengan kecepatan luar biasa langsung meluncur kedepan dan mengancam jalan darah Hian ki hiat, Jit kan hiat serta Ki bun hiat ditubuh nikou kecil tersebut. Menyusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia menerjang keluar dari balik pohon seraya membentak.

"Anak Eng, jangan percaya dengan perkataannya itu, apa yang dikatakan semuanya tidak betul!"

Begitu Thi Eng khi mendengar suara dari Tiang pek lojin, tanpa berpaling lagi dia mengeluarkan ilmu Hu kong keng im untuk berkelebat meninggalkan tempat itu, ia tidak berbicara, tidak berpaling, pun tidak menghentikan gerakan tubuhnya.

Tiang pek lojin segera melambung ketengah udara dia mengejar kearah Thi Eng khi, berbareng itu juga pesannya kepada So Bwe leng.

"Anak Leng, jangan lepaskan siluman perempuan itu, untuk menjelaskan kesalahan paham dari anak Eng, kau harus menahannya."

Padahal sebelum Tiang pek lojin meninggalkan pesannya tadi, So Bwe leng telah menerjang kearah nikou cilik itu dengan geramnya.

Ternyata sambitan tiga batang ranting kering yang dilepaskan Tiang pek lojin tadi, berhubung tenaga serangannya kelewat kecil, maka bukan saja tak sanggup untuk melukai nikou cilik itu malahan oleh ayunan tangan nikou cilik itu, serangan itu berbalik meluncur kearah So Bwe leng.

Hal mana tentu saja membuat repotnya So Bwe leng, dia harus bersusah payah untuk menghindari diri sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Hawa amarah yang berkobar di dalam dadanya waktu itu tentu saja tak terlukiskan lagi dengan kata, kontan saja dia mencaci maki.

"Budak sialan yang pingin mampus, kau benar benar tak ingin hidup rupanya ..."

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan kian kemari bersama sama untuk mendesak tubuh si nikou cilik itu.

So Bwe leng sudah memperoleh kepandaian warisan keluarganya, tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, dia sudah merupakan seorang jago yang amat menonjol diantara kaum muda.

Oleh karena itu sangat membenci nikou cilik itu, maka serangan yang dilancarkan hampir semua ditujukan kearah tujuh buah jalan darah kematian di tubuh nikou cilik tersebut, sedikitpun tidak mengenal ampun.

Ternyata nikou cilik itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindarkan diri, ia berdiri tenang disitu dengan wajah sinis, lalu ejeknya .

"Kau benar benar tak tahu diri."

Ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat yang memaksa tubuh So Bwe leng tergetar mundur sejauh dua langkah lebih.

So Bwe leng adalah seorang yang berangasan walaupun dia tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki nikou cilik itu lebih tinggi daripada kepandaiannya, tapi ia tidak gubris tentang soal itu, tubuhnya segera merendah kemudian mendesak kemuka, dengan menggunakan jurus Pit gwat siu hoa (menutup rembulan bunga terkuncup malu) yang disertai tenaga sebesar sepuluh bagian, dihantam jalan darah Jit Kan hiat diatas dada nikou cilik itu.

Sedingin es paras muka nikou cilik itu, ujarnya dingin .

"Sekalipun kau ingin mati, sekarang masih belum waktunya bagimu untuk mati, lebih baik berbaring saja disini sambil menunggu kedatangan yayamu nanti!"

Jari tangannya bagaikan sebatang tombak yang berubah menjadi serentetan cahaya putih, segera menembusi angin pukulan So Bwe leng dan menotok jalan darah Cian keng hiat dibahu gadis tersebut.

So Bwe leng harus berganti sampai empat macam gerakan untuk meloloskan diri dari ancaman itu, namun usahanya itu toh gagal, dia tidak berhasil juga menghindarkan diri dari totokan nikou cilik itu sehingga tubuhnya segera terhajar telak.

Dasar wataknya memang keras dan tak mau takluk kepada orang, walaupun jalan darah ditubuh So Bwe leng sudah tertotok namun mulutnya tak mau berhenti memaki .

"Budak anjing, budak sialan, jika kau punya keberanian, hayolah bebaskan nyonya mudamu, mari kita bertarung sampai salah seorang diantara kita mampus!"

Nikou cilik itu melotot sekejap kearah So Bwe leng dengan gemes, kemudian menjawab .

"Gara gara membantumu bermain sandiwara, aku harus mengorbankan rambutku yang indah, kalau diingat kembali sungguh menggemaskan, hmmm! Aku harus menghadiahkan dua tamparan kepadamu untuk melampiaskan rasa mangkel dalam hati."

"Plooook! Plooook!"

Dia segera menampar pipi kiri dan pipi kanan So Bwe leng keras keras sehingga muncullah bekas telapak tangan yang merah membara.

Selain itu juga menotok jalan darah bisunya agar gadis itu tak mampu mendamprat lagi, hal mana tentu saja menggusarkan So Bwe leng tapi kecuali melotot penuh kegusaran, apalagi yang bisa dia lakukan?

Setelah menampar So Bwe leng, nikou cilik itu segera menuding kearahnya sambil mendengus, ujarnya .

"Hmmm, seorang gagah tak akan bekerja sembunyi sembunyi, aku adalah tuan putri dari istana Ban seng kiong, kali ini kuampuni jiwamu. Jika kau hendak membalas dendam, aku akan selalu menantikan kedatanganmu di dalam istana Ban seng kiong!"

Diiringi tertawa merdu, nikou cilik itu segera berkelebat keluar dari ruangan kuil dan lenyap di belakang bukit sana.

Ternyata nikou cilik itu adalah seorang gadis yang dicari Huan im sin ang untuk menggantikan Pek leng siancu menjadi seorang kiongcu dari istana Ban seng kiong.

Oleh karena gadis itu pandai mengumpak dan lagi sangat mencocoki selera Huan im sin ang, maka ia amat disayang oleh iblis tua tersebut, bukan saja segenap kepandaian silat yang dimilikinya diwariskan kepadanya, bahkan jalan darah jin meh dan tok mehnya juga telah ditembusi.

Itulah sebabnya tenaga dalam yang dimilikinya jauh melebihi kemampuan dari So Bwe leng.

Kali ini Huan im sin ang mengutusnya untuk menyelundup ke samping So Bwe leng, sebetulnya hanya dimaksudkan untuk meninggalkan mata mata disitu, sungguh di luar dugaan hasil yang kemudian berhasil diraih sama sekali diluar dugaan, hal ini boleh dibilang merupakan hasil karya dari tindakan So Bwe leng sendiri yang sok pintar.

Dalam pada itu, Tiang pek lojin telah mengerahkan tenaga dalamnya sebesar dua belas bagian untuk mengejar Thi Eng khi, walaupun tidak berhasil menyusulnya akan tetapi dia merasa yakin akhirnya akan berhasil, sebab menurut anggapannya kendatipun pemuda itu hebat, tak mungkin tenaga dalamnya bisa menangkan dia.

Siapa tahu, meski sudah sekian lama hasil tetap nihil bahkan ketika Thi Eng khi mengetahui kalau dirinya disusul terus, mendadak ia percepat tubuhnya sehingga tampaklah serentetan asap biru berkelebat lewat, tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas ....

Dalam keadaan seperti ini, terpaksa Tiang pek lojin harus menghentikan gerakan tubuhnya sambil berdiri termangu mangu, dia tak tahu bagaimanakah perasaannya ketika itu, terpaksa dengan perasaan uring uringan dia balik kembali.

Melihat So Bwe leng kembali menderita kerugian ditangan orang, setelah membebaskan jalan darahnya, dia bertekad hendak mendidik gadis ini menjadi lebih lihay lagi, maka pada hari itu juga dikirim ketempat kediaman seorang tokoh persilatan untuk mendalami kepandaian silat yang dimilikinya.

Semenjak terjadinya peristiwa itu, So Bwe leng juga merasa bertobat, wataknya sama sekali berubah, dia memusatkan segenap perhatiannya untuk melatih diri secara tekun.

Dalam pada itu, Thi Eng khi telah tiba di sebuah lembah yang terpencil setelah berhasil meloloskan diri dari pengejaran Tiang pek lojin, sambil duduk termenung diatas batu cadas, dia melakukan permikiran selama tiga hari tiga malam.

Semua tugas dan kewajiban yang harus dilakukannya sepanjang hidup dilakukan suatu pemeriksaan yang terakhir.

Akhirnya dia mengambil suatu keputusan.

So Bwe leng meninggal dunia gara garanya, maka dalam pandangannya ia tak boleh hidup sendiri di dunia ini, bahkan semakin bertekad untuk menghabisi nyawa sendiri sebagai penebus dosa.

Hanya saja dia merasa tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan selama ini masih belum terselesaikan sehingga mustahil bagi dirinya untuk menghabisi nyawanya pada saat ini.

Demikianlah, dia lantas bersumpah akan menghabisi jiwanya tiga tahun kemudian, selam tiga tahun dia berusaha keras untuk menyelesaikan beberapa persoalan, antara lain .

Pertama, mencari peta lukisan Kun eng toh yang hilang Kedua, ia pernah melepaskan Huan im sin ang satu kali, maka diapun bertekad hendak menaklukkan kembali iblis itu kemudian diserahkan kepada para jago untuk dihukum mati, dengan demikian kepercayaan orang akan pulih kembali.

Ketiga, membangun kembali Thian liong pay dan membawa perguruan itu menuju ke kejayaan.

Selewatnya tiga tahun, bila segala sesuatunya dapat berjalan lancar, maka untuk memenuhi janjinya, dia akan menghabisi nyawa sendiri.

Dalam tiga tahun ingin membangun kembali kejayaan Thian liong pay, hal ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

Thi Eng khi bisa berpikiran demikian berarti yag dibutuhkan sekarang adalah menganggap satu hari sebagai dua hari, segala persoalan yang dilaksanakan hanyalah "Cepat!

Cepat!

Cepat!"

Tanpa sangsi lagi dia meletakkan sasarannya yang paling utama pada istana Ban seng kiong di puncak Wong soat hong di bukit Wu san.

Begitu keputusan diambil, tanpa memperdulikan lagi janjinya dengan Bu im si hong Kian Kim siang, ia segera berangkat menuju ke bukit Wu san.

Dengan tekad kedatangannya pasti mendatangkan hasil, sepanjang jalan ia melanjutkan perjalanannya secara terang terangan.

Ketika tindakan itu tersiar ke telinga Huan im sin ang, baru saja Pek leng siancu So Bwe leng gadungan melaporkan hasil yang dicapainya.

Huan im sin ang sama sekali tidak menyangka kalau kebakaran besar itu gagal membunuh pemuda tersebut, dlaam keadaan kaget timbullah satu ingatan keji dalam hatinya, ia segera memerintahkan orang untuk membangun sebuah "sambutan hangat"

Yang meriah buat musuhnya, bila Thi Eng khi sudah datang nanti maka dia akan dibunuh secara keji.

Walaupun Thi Eng khi telah berhasil mendapatkan ilmu Heng kian sinkang peninggalan Thio Biau liong sehingga kelihayannya begitu luar biasa melebihi orang lain, tapi berhubung orang lain tidak menyangka akan taraf kepandaian dimilikinya sekarang maka terhadap tindakannya mendatangi istana Ban seng kiong seorang diri boleh dibilang amat memuji, tapi mereka tidak mengharapkan suatu hasil yang besar dari kedatangannya ke sarang lawan.

Paling banter mereka cuma tertawa sambil memuji .

"Yaa, kalau anak muda bisa memiliki keberanian seperti itu, hal mana memang pantas dipuji!"

Tentu saja hal itu hanya sebatas pada orang orang yang tidak memahami tentang dirinya atau tidak menaruh perhatian kepadanya.

Padahal dilain pihak terdapat banyak orang pula yang meras gelisah dan cemas sekali atas perbuatan yang dilakukan oleh Thi Eng khi tersebut.

Diantaranya terdapat seseorang yang paling istimewa, dia dengan seribu macam alasannya berusaha mendahului Thi Eng khi untuk tiba lebih dahulu di istana Ban seng kiong.

Dengan gerakan tubuh yang paling cepat, dia berjalan menelusuri semak belukar menghindari penghadangan penghadangan yang dipersiapkan Huan im sin ang dan muncul di depan pintu gerbang istana Ban seng kiong yang sudah dihiasi dengan rapi itu.

Kemunculannya ibarat malaikat yang turun dari kahyangan, ternyata dari delapan belas orang lelaki berbaju hijau yang berdiri kedua belah sisi pintu gerbang Ban seng kiong tak seorangpun yang tahu ia datang dari arah mana.

Orang itu sama sekali tidak menggubris kedelapan belas orang lelaki berbaju hijau itu, dia masih berlagak seakan akan tidak tahu.

Sebaliknya kedelapan belas orang lelaki itupun tetap berdiri tegak di tempat semula bagaikan sebuah patung, tak seorangpun diantara mereka yang menghalangi perjalanannya.

Di balik pintu merupakan sebuah tanah lapang kecil, berdiri ditengah arena dia berseru lantang .

"Siauceng Huang oh, mohon berjumpa dengan Huan im sin ang!"

Suaranya keras dan lantang, menembusi pintu yang berlapis dan bergema disisi telinga Huan im sin ang.

Baru saja dia selesai berkata, dari ruangan disisi kanan gedung istana muncul dua orang pemuda berbaju hijau, dengan gerakan tubuh yang cekatan mereka melompat kedepan dan menghadang dihadapan Huang oh siansu.

Jangan dilihat potongan badan mereka halus lembut seperti anak sekolah, ternyata ucapannya kasar sekali.

Terdengar pemuda tampan yang ada disebelah kiri segera membentak nyaring .

"Istana kami tidak berjodoh dengan kaum pendeta atau hwesio, hei, kepala gundul lebih baik kau segera enyah dari hadapan sauya!"

"Omitohud"

Seru Huang oh siansu.

"Sauhiap menitahkan siauceng keluar dari sini, apakah tidak takut ditegur oleh sancu?"

"Hei, hwesio! Kau manusia macam apa? Tak mungkin Sancu akan bersikap hormat terhadap manusia macam kau ...."

Pemuda yang berada disebelah kanan meraung gusar. Belum habis dia berkata, mendadak dari dalam istana terdengar seorang gadis berseru nyaring .

"Cho yu ji tong (dua bocah kiri kanan), jangan kurang ajar!"

Menyusul kemudian sesosok bayangan manusia berbaju hijau melayang keluar dari dalam ruangan istana dan melayang turun dihadapan Huang oh siansu, kemudian sambil mengulapkan kedua tangannya kepada dua orang pemuda tampan itu, serunya .

"Enyah kalian berdua dari sini!"

Tampaknya kedua orang pemuda tampan itu merasa takut sekali dengan gadis berbaju hijau itu, dengan hormat dia segera mengiakan .

"Baik!"

Dengan cepat mereka mengundurkan diri dari tempat itu. Sepeninggal mereka berdua, gadis berbaju hijau itu baru berkata kepada Huang oh siansu .

"Sancu mempersilahkan siansu masuk."

Huan im sin ang tidak muncul untuk menyambut sendiri kedatangannya, otomatis Huang oh siansu lah yang diminta untuk masuk kedalam istana guna menjumpainya.

Sebagai seorang pendeta, Huang oh siansu tidak terlalu memperdulikan kepongahan Huan im sin ang, sambil tertawa segera sahutnya .

"Silahkan nona!"

Dengan mengikuti dibelakang gadis berbaju hijau itu, Huang oh siansu masuk kedalam istana Ban seng kiong, ia saksikan Huan im sin ang sedang duduk dikursi utama dengan sikap yang pongah, ternyata ia sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya meski melihat Huang oh siansu berjalan masuk ke dalam.

Hanya tegurnya dengan dingin .

"Hei hwesio, ada urusan apa kau datang mencari diriku?"

Huan im sin ang memang telah berhasil menyelidiki kalau Huang oh siansu tinggal di utara puncak Huang soat hong, oleh karena dia pernah menolong jiwa Thi Eng khi dan sanggup memunahkan pengaruh Jit sat cinya, maka semenjak semula dia telah menganggapnya sebagai salah seorang musuhnya.

Walaupun begitu, hingga sekarang dia masih belum mengetahui siapa gerangan Huang oh siansu yang sebenarnya.

Sikap Huang oh siansu amat tenang, katanya pelan .

"Sudah lama aku mendengar kalau siauseng memiliki ilmu Jit sat hiam im sinkang yang sangat lihay, oleh karena itu, sengaja siauceng datang kemari untuk meminta petunjukmu!"

Huan im sin ang sama sekali tidak menyangka kalau hwesio itu mengetahui banyak tentang dirinya, sedikit banyak terperanjat juga hatinya setelah mendengar ucapan itu.

Tapi air mukanya sama sekali tidak berubah, hanya katanya dengan suara dingin.

"Hwesio, kalau toh kau mengetahui tentang ilmu Jit sat hian im singkang, tentunya kau juga tahu akan kelihayannya, yakinkah kau dengan kepandaian silat yang kau miliki itu sanggup untuk melawan lohu?"

Huang oh siansu masih tetap tertawa, jawabnya .

"Siauceng hendak mencoba untuk melawan kepandaian sakti sin ang dengan ilmu sian thian bu khek ji gi sin kang, sanggup atau tidak, siauceng tak berani sembarangan menduga."

"Ooh, kau adalah anggota Thian liong pay?"

Seru Huan im sin ang dengan wajah tertegun. Huang oh siansu memang datang dengan suatu tujuan tertentu, maka diapun tidak bersikap rahasia terhadap lawannya, dengan berterus terang sahutnya .

"Siauceng bernama Thi Tiong giok, tentunya sin ang tak akan merasa asing dengan nama ini bukan?"

Lan ih cu tok Thi Tiong giok adalah seorang jago kenamaan dari dunia persilatan, sekalipun masa berkelananya dalam dunia persilatan amat singkat, namun namanya amat termashur, bahkan jauh lebih terkenal daripada sekawanan ciangbunjin dari dunia persilatan lainnya.

Yang dikatakan manusia punya nama pohon punya bayangan seketika itu juga suasana dalam ruangan istana itu menjadi gempar, seruan tertahan bergema dari sana sini.

Huan im sin ang sendiri juga nampak agak tertegun tapi dengan cepat ia dapat mengendalikan diri kembali, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak untuk menutupi kegugupannya sendiri.

"Ooh... rupanya kau adalah Lan ih cu tok Thi tayhiap yang amat termashur itu, maaf..... maaf...."

Walaupun ucapannya amat sungkan, tapi sama sekali tidak mempersilahkan tamunya untuk duduk, dia membiarkan Huang oh siansu tetap berada di tengah ruangan.

Huang oh siansu sendiri bertujuan untuk membereskan Huan im sin ang kalau bisa sebelum kedatangan Thi Eng khi disitu, agar apa yang diharapkan bisa tercapai, maka diapun tidak terlalu memperdulikan sikap Huan im sin ang yang tak tahu sopan itu, hanya katanya .

"Apakah sin ang bersedia memberi petunjuk?"

Huan im sin ang yang licik segera tersenyum simpul, sahutnya cepat .

"Aaah, mana! Mana...!"

Ucapannya tiada berarti, hal tersebut sama artinya dengan tidak berbicara, sementara sepasang mata iblisnya dialihkan kewajah seorang kakek bermuka hitam yang berada disisi kanannya.

Sekalipun dia tidak mengucapkan sepatah katapun, namun kakek itu segera melompat kedepan, kemudian serunya kepada Huang oh siansu .

"Sin ang adalah seorang sancu yang sangat terhormat, ia tak bakal sudi untuk bertarung melawan seorang hwesio liar macam kau, bila kau bersikeras ingin bertarung, lohu bersedia memberi petunjuk satu dua jurus serangan kepadamu."

Nadanya sombong dan sikapnya sangat tekebur. Huang oh siansu memperhatikan kakek berbaju hitam itu sekejap kemudian katanya .

"Sudah lama siauceng mendengar akan nama besar Im hong kui jiu (tangan setan angin dingin) Thio tayhiap, sungguh beruntung hari ini bisa mendapat kesempatan untuk memperoleh petunjuk, silahkan!"

Tubuhnya yang berdiri ditengah arena mendadak melambung tiga depa ketengah udara kemudian setelah satu lingkaran, pelan pelan dia melayang keluar menuju ketengah lapangan diluar ruang istana.

Kalau dibilang, gerakan itu sederhana sekali, tapi cukup menggetarkan perasaan setiap orang, kontan saja paras muka semua orang berubah sangat hebat.

Perlu diketahui ilmu meringankan tubuh memang dikuasai setiap orang, tapi bukan semua orang bisa melakukan gerakan melambung dengan begitu pelan ditengah udara, bila seseorang tidak memiliki ilmu yang maha dahsyat, jangan harap hal mana bisa dilakukan.

Kawanan jago golongan hitam yang berada dalam ruangan kontan saja menjadi amat terperanjat, mereka tidak menyangka kalau musuhnya berilmu begitu lihay.

Terutama sekali Im hong kui jiu Thio Put cay, hatinya dingin separuh lebih dulu, dia tahu kalau kepandaian silat yang dimilikinya masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan Huang oh siansu.

Maka ia tak berani mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya, dengan suatu lompatan biasa dia turut keluar dari ruangan istana.

Huang oh siansu bukan orang bodoh, ia sudah memahami maksud hati dari Huan im sin ang, agaknya dia sendiri tidak berniat untuk bertarung dengannya, maka dia hendak menggunakan jiwa anak buahnya untuk menggantikan kedudukannya.

Jelas andaikata hal itu sampai terjadi, maka tujuan yang telah disusunnya selama ini akan terbengkalai, hal mana berarti amat tidak menguntungkan bagi dirinya.

Seketika itu juga dia menyusun satu rencana baru untuk menanggulangi keadaan tersebut.

Perlu diketahui, dimasa lalu Lan ih cu tok Thi Tiong giok adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, walaupun sudah menjadi hwesio namun selama ini diapun harus memikirkan soal keselamatan Ciu Tin tin dengan ibunya, betul iapun mendalami ilmu agama Buddha, namun pikirannya belum dapat melepaskan sama sekali dengan soal keduniawian.

Sudah barang tentu dia tak ingin melakukan suatu pengorbanan yang tak berguna.

Maka ia tak ingin bertarung didalam ruang istana, dia berusaha untuk mencari kesempatan agar bisa bertarung langsung dengan Huan im sin ang.

Dengan berhasilnya memancing keluar Im hong kui jiu Thio Put cay dari dalam ruangan, sudah barang tentu dia berhasil pula memancing Huan im sin ang serta begundalnya keluar pula dari dalam ruangan.

Ketika Huan im sin ang menyaksikan jumlah anak buahnya yang hadir di arena amat banyak, dimana setiap saat dia dapat membunuh hwesio itu kalau mau maka diapun tidak memperoleh hal mana didalam hati, otomatis diapun tak sampai membayangkan rencana yang sedang disusun oleh Huang oh siansu.

Sebelum pertarungan dilangsungkan, baik Huang oh siansu maupun Im hong kui jiu Thio Put cay memperhatikan sekejap posisi lawannya, kemudian tanpa sungkan lagi dia berseru .

"Silahkan!"

Kemudian pendeta itu sama sekali tidak berkutik, dia hanya mengawasi wajah Im hong kui jiu Thio Put cay tanpa berkedip, sedang dalam hatinya segera menyusun satu rencana, dia ingin mengalahkan musuhnya dalam satu gerakan, kemudian menggunakan kesempatan dikala semua orang sedang tertegun dia akan menerjang langsung kearah Huan im sin ang.

Im hong kui jiu Thio Put cay sesungguhnya adalah seorang manusia yang sudah banyak tahun melakukan kejahatan di dalam dunia persilatan, diapun tanpa sungkan sungkan segera berseru .

"Maaf ....!"

Tangan kirinya segera menyambar ke depan, cakar setannya yang direntangkan lebar lebar langsung menyambar ke depan dengan dahsyatnya.

Siapa tahu belum sampai ancaman itu mencapai tengah jalan, ia sudah merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku, tahu-tahu lengannya telah terjatuh pula ke tangan Huang oh siansu.

Belum sempat Im hong kui jiu Thio Put cay melakukan sesuatu tindakan, kembali tubuhnya sudah diangkat oleh Huang oh siansu dan dilemparkan ke tubuh Huan im sin ang.

Bersamaan itu pula Huang oh siansu dengan gerakan Ji im sui heng langsung menyusul pula kearah depan tubuh iblis tua tersebut.

Tubuh Im hong kui jiu Thio Put cay bergerak didepan sementara tubuh Huang oh siansu mengikuti dari belakang, tapi lantaran gerakan tubuhnya kelewat cepat, orang lain hanya merasakan bayangan tubuh Huang oh siansu tahu tahu lenyap tak berbekas, ia tidak tahu jika pendeta tersebut sebenarnya membuntuti di belakang Im hong kui jiu.

Huan im sin ang sendiri, walaupun dia sempat menyaksikan Huang oh siansu mengikuti dibelakang tubuh Im hong kui jiu Thio Put cay sambil menerjang ke depan, tapi ia tidak mengetahui apakah yang menjadi maksud tujuan dari Huang oh siansu.

Maka dari itu, terpaksa dia harus mengayunkan telapak tangannya lebih dulu untuk menghajar tubuh Im hong kui jiu Thio Put cay sampai mencelat mampus ke tanah.

Setelah itu sambil berkelit ke samping dia baru mengejek sambil tertawa seram .

"Benarkah kau bersikeras hendak mencari lohu untuk bertarung?"

Huang oh siansu berhenti kurang lebih lima kaki di depan tubuh Huan im sin ang, dalam jarak sedekat ini berbicara untuk jago jago lihay seperti Huang oh siansu maupun Huan im sin ang, tak mungkin akan membiarkan orang ketiga untuk turut serta dalam pertarungan ini.

Sudah barang tentu Huan im sin ang tak dapat menunjukkan kelemahannya di hadapan para anak buahnya dan menolak untuk bertarung melawan Huang oh siansu.

Sementara itu Huang oh siansu tidak sungkan sungkan lagi, tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya segera dihimpun mencapai sepuluh bagian setelah itu dengan wajah serius dia berkata .

"Sin ang, bila kau merasa tak sanggup untuk memberi perlawanan, tentu saja siauceng akan sudahi persoalan sampai disini saja!"

Kena dipegang dengan kata kata oleh musuhnya, terpaksa Huan im sin ang harus tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhhh..... haaahhhhh...... kalau toh siansu berhasrat besar, tentu saja lohu tak akan membuatmu kecewa, marilah lohu akan memberi beberapa petunjuk kepadamu!"

Setelah itu kepada para jago lainnya, dia mengulapkan tangannya seraya berkata .

"Kalian semua mundurlah sejauh lima kaki dan saksikan pertarungan ini dengan tenang tenang bila ada yang berani ikut serta dalam pertarungan ini, akan dihukum dia dengan hukuman mati."

Untuk memperlihatkan gengsi sendiri, mau tak mau terpaksa ia mesti bersikap demikian.

Sudah barang tentu hal ini pun disebabkan karena dia yakin bisa menangkan Huang oh siansu.

Kemudian Huan im sin ang berkata lagi kepada Huang oh siansu.

"Siansu, kau hendak menggunakan senjata apa?"

"Pinceng akan menggunakan sepasang telapak tangan ini saja,"

Sahut Huang oh siansu sambil mempelihatkan sepasang tangannya.

"Kalau begitu, kita bertarung untuk saling beradu tenaga dalam, ataukah hendak beradu jurus serangan?"

"Semuanya digunakan dan kita boleh pergunakan semua kemampuan yang dimiliki!"

Dari ancaman tersebut, setiap orang dapat menarik kesimpulan bahwasanya Huang oh siansu memang bertekad untuk bertarung sampai titik penghabisan.

Walaupun Huan im sin ang tak pernah memandang sebelah matapun terhadap orang lain, dalam keadaan demikian, mengerut juga keningnya, ia lantas berseru .

"Siansu, apakah antara kau dengan lohu mempunyai dendam sakit hati sedalam samudera?"

"Demi melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, mengapa harus mempunyai dendam sakit hati lebih dulu baru bertarung?"

Ambisi Huan im sin ang memang menguasai seluruh dunia persilatan, tentu saja ia enggan untuk beradu jiwa dengan Huang oh siansu, sebab entah menang atau kalah, baginya tindakan tersebut merupakan suatu tindakan yang tidak cerdas.

Sorot matanya segera dialihkan ke sekeliling tempat itu dengan harapan bisa mengalihkan sasaran Huang oh siansu kesasaran lainnya.

Tapi Huang oh siansu yang datang dengan tujuan mengajak musuhnya bertarung sampai titik penghabisan, sudah barang tentu tak ingin memberi kesempatan bagi Huan im sin ang untuk mengembangkan permainan busuk lainnya.

Diapun kuatir bila terlalu mengulur waktu maka akibatnya bisa terjadi hal hal yang tak diinginkan sehingga rencananya gagal total maka tanpa memperdulikan soal tata kesopanan lagi, dia segera melontarkan sebuah pukulan sambil berseru .

"Maaf, pinceng akan melancarkan serangan lebih dahulu!"

Dia melakukan suatu dorongan yang enteng dan pelan, tiada hembusan angin dan tiada sesuatu keistimewaan, semua orang tidak dapat menyaksikan dimanakah letak kelihayannya.

Tapi Huan im sin ang justru merasa terkejut sekali, untuk menyimpan tenaga, dia tak ingin melakukan serangan serangan yang bersifat adu kekerasan.

Maka seraya berkelit dari ancaman tersebut, cakar mautnya segera diayunkan kemuka mencengkeram bahu Huang oh siansu.

Dia tidak berniat beradu tenaga maka ia berharap bisa menangkan Huang oh siansu dengan jurus serangannya.

Pertarungan semacam ini akan lebih menguntungkan baginya, karena sekalipun berlangsung ratusan jurus juga tak sampai merusak kekuatannya, asal beristirahat sebentar saja dia masih mempunyai cukup modal untuk menghadapi kehadiran Thi Eng khi.

Huang oh siansu yang kena didesak, terpaksa harus menggetarkan sepasang telapak tangannya, kemudian menyambut datangnya serangan lawan dengan ilmu pukulan Thian liong ciang.

Kedua orang itu sama sama mengandalkan jurus serangan yang cepat untuk saling bertarung dalam waktu singkat lima puluh gebrakan sudah lewat.

Mendadak Huang oh siansu merubah permainan pukulannya, kini telapak tangannya bagaikan sebatang golok dengan serangan kilat yang berantai secara beruntun melancarkan sembilan buah serangan dahsyat.

Kesembilan buah serangan itu dilancarkan secara beruntun dan sukar diduga arah tujuannya, seketika itu juga seluruh angkasa diliputi oleh bayangan telapak tangan yang menguasai tiga puluh enam buah jalan darah penting diseluruh tubuh Huan im sin ang.

Berada dalam keadaan begitu, asalkan Huan im sin ang berani cabangkan sedikit pikirannya saja, niscaya sebuah pukulan dahsyat itu akan merenggut nyawanya.

Huan im sin ang memang seorang jago yang sangat lihay, melihat datangnya ancaman yang begitu dahsyat dari musuhnya, dengan suatu gerakan yang lincah dia bergerak kesana kemari berusaha untuk menghindarkan diri dari kedelapan buah serangan itu.

Tapi dia hanya sempat meloloskan diri dari kedelapan buah pukulan itu, pada serangan yang terakhir, dalam keadaan terdesak terpaksa dia harus menyambut pukulan itu dengan keras melawan keras.

Akibatnya Huang oh siansu tergetar muncur sejauh dua langkah, jarak dengan lawannya pun selisih lima depa lebih.

Sedangkan Huan im sin ang juga tergetar mundur sejauh dua langkah, tapi dia hanya mundur sejauh empat depa lima inci saja.

Dari selisih lima inci tersebut dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dimiliki Huan im sin ang masih memiliki kemampuan Huang oh siansu.

Dalam pandangan seorang ahli persilatan dari bentrokan kekerasan itu bisa ditarik kesimpulan bahwa Huan im sin ang berhasil meraih kemenangan....

Tapi berhubung Huang oh siansu telah bertekad untuk mengadu jiwa, maka didalam pengaruh, dia malah justru tampak lebih berwibawa dan mengerikan.

Pertarungan antara jago jago lihay, selamanya memang dilangsungkan dengan suatu kecepatan yang tak dapat dilukiskan dengan kata kata, tentu saja kawanan jago biasapun tak dapat mengikuti jalannya pertarungan itu dengan jelas.

Semua orang hanya merasa ada dua gulungan bayangan manusia saling berpisah, lalu bergerak maju kembali, siapapun tak sempat melihat kalau kedua orang itu telah melangsungkan suatu pertarungan adu kekerasan.

Begitulah, pertarungan kembali berkobar dengan sengitnya antara kedua orang itu, bayangan manusia saling menyambar dan untuk sesaat sulit buat orang lain untuk membedakan mana yang Huan im sin ang dan mana pula yang Huang oh siansu.

Pukulan demi pukulan yang dilepaskan dengan penuh tenaga segera menimbulkan pula pusaran angin berpusing yang maha dahsyat disekeliling arena, hal mana memaksa para penonton terpaksa harus mundur sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Dalam pada itu, dari bawah kaki bukit barusan telah dilepaskan tanda rahasia berwarna merah, hal itu menandakan kalau Thi Eng khi sudah bergerak naik gunung.

Tapi pada waktu itu tak ada orang yang memperhatikan tanda rahasia tersebut, karena sorot mata semua orang telah terhisap oleh jalannya pertarungan yang sedang berlangsung di tengah arena.

Thi Eng khi dengan suatu gerakan tubuh yang sangat cepat bergerak terus keatas bukit....

Ketika dia menjumpai bayangan manusia yang sedang bertarung di tengah arena hampir saja jantungnya melompat keluar dari dadanya karena terperanjat.

Dengan kemampuan yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, hanya didalam sekilas pandangan saja, dia sudah tahu betapa berbahayanya situasi pertarungan yang sedang berlangsung sekarang.

Sekalipun Huan im sin ang tidak berhasrat untuk beradu jiwa, tapi setelah dipaksa oleh Huang oh siansu dalam suatu pertarungan adu jiwa, mau tak mau terpaksa dia harus melakukan perlawanan pula dengan sepenuh tenaga.

Pertarungan semacam ini bila dibiarkan berlangsung terus maka entah siapa yang menang dan siapa yang kalah, akhirnya kedua belah pihak pasti akan menderita kerugian yang hampir sama saja.

Apalagi dalam pandangan Thi Eng khi, dia bisa melihat kalau ilmu silat dan tenaga dalam yang dimiliki oleh Huang oh siansu masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan kemampuan Huan im sin ang.

Kelebihan yang sedikit saja bagi seorang jago lihay, kadangkala justru menentukan kemenangan pula bagi pihaknya.

Sudah barang tentu Thi Eng khi juga sudah melihat kalau Huang oh siansu bertarung dengan tekad harus berhasil meraih kemenangan.

Mendadak bayangan manusia yang sedang saling bergumul itu berpisah satu sama lainnya.

Mereka telah saling beradu kekuatan sekali dan masing masing pihak mundur sejauh tiga langkah.

Thi Eng khi segera melompat masuk ketengah arena, kemudian teriaknya keras keras .

"Tunggu sebentar!"

Huang oh siansu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Thi Eng khi untuk berbicara lebih lanjut, ujung bajunya cepat cepat dikibaskan kearah Thi Eng khi, kemudian bentaknya keras keras .

"Mundur! Bila kau berani mencampuri urusan ini berarti kau adalah seorang anak yang tidak berbakti!"

Thi Eng khi berpekik sedih, menggunakan kesempatan itu dia segera melompat mundur ke belakang.

Dengan cepat Huan im sin ang dan Huang oh siansu terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang seru.

Setelah kena digetar mundur oleh Huang oh siansu tadi, Thi Eng khi dapat menyaksikan pula sorot matanya yang tegas tapi penuh kasih sayang itu, tak terlukiskan lagi perasaan sedih yang mencekam perasaannya sekarang.

Dia tahu sekalipun dia pertaruhkan sebutan "anak tak berbakti"

Dengan terjun kedalam arena, belum tentu persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan baik.

Diapun cukup memahami akibat dari keturutcampurannya dalam pertarungan itu, hal mana akan sama artinya dengan dia membunuh ayahnya sendiri, karena Huang oh siansu pasti akan tak akan memaafkan perbuatannya dan bunuh diri.

Sebab hal ini mempengaruhi nama baik Thian liong bun, mempengaruhi nama baik keluarga Thi.

Hmmm!

Dalam tubuh Thi Eng khi mengalir darah dari keluarga Thi, mengenakan pakaian dandanan Thian liong pay, bila dia yang harus menghadapi keadaan yang sama, niscaya diapun akan melakukan pikiran dan tindakan yang sama pula.

Perasaannya pada saat ini benar benar amat sakit, dia merasa bagaikan ada beribu ribu batang anak panah yang menembusi dadanya tapi ia masih tetap berusaha untuk menahan diri, mendadak pandangan matanya menjadi gelap dan hampir saja tubuhnya roboh terjengkang keatas tanah.

"Adik Eng!"

Jilid 21 Mendadak sebuah tangan yang putih halus memayang tubuh Thi Eng khi.

Entah sedari kapan ternyata Ciu Tin tin telah berdiri dibelakang tubuhnya.

Sementara Thi Eng khi hampir jatuh pingsan karena murung dan sedihnya, di tengah arena telah berkumandang dua kali suara dengusan tertahan, kemudian bayangan manusia saling berpisah dan seorang roboh kesebelah kiri yang lain roboh kesebelah kanan.

Ternyata Huang oh siansu yang menyaksikan Thi Eng khi telah menyerbu ke dalam istana Ban seng kiong, dia segera bertekad untuk menyelesaikan pertarungan itu secepat mungkin.

Maka tanpa memikirkan lagi, Huang oh siansu segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang dengan tenaga sebagian, dia mainkan jurus Sin liong pay wi (naga sakti menggoyangkan ekor), didalam jurus serangan tersebut dia sengaja memperlihatkan sebuah titik kelemahannya untuk memancing serangan Huan im sin ang untuk menghajar tulang bahu kirinya.

Ketika Huan im sin ang berhasil menyarangkan serangannya ketubuh lawan sebenarnya dia sedang merasa girang, siapa tahu justru pada saat itulah Huang oh siansu telah mempersiapkan tangan kanannya yang telah disertai tenaga dalam sebesar dua belas bagian.

Kemudian dengan suatu gerakan yang datang dari suatu sudut yang tak terduga, dengan jurus Sin liong pay wi (naga sakti menggoyangkan ekor) dia hantam punggung Huan im sin ang keras keras.

Dengan tekad bertarung sampai titik penghabisan, akhirnya Huang oh siansu berhasil juga menghajar Huan im sin ang sampai terluka parah, hal ini boleh apa yang diharapkan pun berhasil dicapai.

Thi Eng khi berdua segera menjerit kaget serentak mereka melompat ketengah arena untuk memberi pertolongan.

"Empek Thi!"

Ciu Tin tin berteriak keras sambil menyusul ketengah arena. Thi Eng khi segera berjongkok untuk memeriksa denyutan nadi Huang oh siansu, kemudian sambil menghembuskan napas panjang, katanya .

"Ayah, keselamatan jiwamu tidak membahayakan!"

Sekulum senyuman getir segera menghiasi wajah Huang oh siansu, katanya cepat .

"Aku ingin tahu bagaimana dengan keadaan Huan im sin ang?"

Thi Eng khi segera memeriksa pula denyutan nadi Huan im sin ang, setelah itu sahutnya.

"Sekalipun Huan im sin ang tak sampai tewas namun tenaga dalamnya akan berkurang sebanyak lima enam bagian, dia sudah tak dapat melakukan kejahatan lagi dalam dunia persilatan."

Huang oh siansu segera berpaling kearah Ciu Tin tin, lalu sambil menyuruh mereka berjalan mendekat, katanya .

"Kalian harus baik baik hidup bersama!"

Dari ucapan tersebut, Thi Eng khi segera mendapat suatu firasat jelek, buru buru serunya .

"Ayah, kau..... kau...."

Huang oh siansu tertawa pedih, mendadak dia berbisik .

"Saudara Cu giok, kedatangan siaute terlalu lambat."

Kemudian berkata lagi .

"Nak, kalian harus baik baik menjaga diri."

Mendadak kepalanya terkulai, dia telah memutuskan nadi sendiri dan mati.

Thi Eng khi segera menubruk keatas jenasah ayahnya dan menangis tersedu sedu.

Ciu Tin tin juga merasa amat sedih, namun demi keselamatan Thi Eng khi dia tak berani bertindak gegabah, sambil meloloskan pedangnya dia bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Dalam pada itu, kawanan iblis dari Ban seng kiong yang menyaksikan ketua mereka terluka parah, suasana menjadi gempar, serentak mereka menyebarkan diri dan mengurung Thi Eng khi dan Ciu Tin tin rapat rapat.

Empat orang dayang cantik berbaju hijau segera muncul kearena dan menggotong Huan im sin ang masuk kedalam istana.

Dalam pada itu, Thi Eng khi telah berhenti menangis, mendadak dia melompat bangun, lalu dengan wajah memerah mata melotot bagaikan orang gila, dia kebaskan sepasang tangannya seraya membentak .

"Enyah kalian semua dari sini!"

Dalam gusarnya ternyata dia telah mengerahkan ilmu sakti Heng kian sinkangnya mencapai pada puncaknya.

Tampaklah segulung angin berpusing yang amat dahsyat bergulung keluar dan memancar keluar keempat penjuru.

Dalam waktu singkat kawanan jago yang berdiri disekitar arena segera tersapu oleh serangan dahsyat itu sehingga tunggang langgang dan terdesak mundur sejauh berapa kaki.

Demontrasi kelihayan yang dilakukan oleh si anak muda itu kontan membuat suasana di sekeliling tempat itu menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, mereka semua seolah olah dibuat terperana oleh kelihayan lawannya.

Pada saat itulah dari luar pintu gerbang mendadak meluncur masuk tiga sosok bayangan manusia.

Salah satu diantaranya tak lain adalah Kiongcu dari istana Ban seng kiong yang pernah berada di samping Pek leng siancu So Bwe leng dan menyaru sebagai penggantinya.

Sedangkan dua orang lainnya pun pernah dijumpai Thi Eng khi sebelum kejadian ini.

Ternyata mereka adalah dua orang yang pernah dijumpai Thi Eng khi sewaktu dia lolos dari kuil yang dibakar dan berlarian dalam lorong rahasia bawah tanah itu.

Sebab tak lain adalah si kakek berwajah putih berjubah hijau serta si perempuan yang cantik jelita.

Begitu Kiongcu dari istana Ban seng kiong munculkan diri, suasana di arena menjadi sangat ramai, pelbagai seruan bergema memenuhi seluruh ruangan .

"Bagus ..... untung saja Kiongcu telah datang.... kita tenang dulu, nantikan perintah dari Kiongcu!"

Dengan cepat Kiongcu dari istana Ban seng kiong itu mengebaskan ujung bajunya, kemudian berkata .

"Disini tidak membutuhkan kalian lagi, sekarang juga kalian boleh kembali ke tempat masing masing, bila ada persoalan kami akan mengumumkannya nanti."

Diantara kawanan iblis itu segera terdengar seseorang berseru keras .

"Sancu telah terluka parah, Kiongcu kau tak boleh melepaskan merek pergi!"

"Siapa suruh kalian banyak mulut?"

Hardik Kiongcu dari Ban seng kiong dengan wajah dingin.

"hayo cepat pergi semua dari sini."

Dalam waktu singkat kawanan jago itu segera mengundurkan diri dari dalam ruangan istana.

Dalam waktu singkat didalam ruangan itu tinggal delapan orang kakek yang tidak mau menuruti perintah dari Kiongcu nya, mereka masih tetap berdiri ditempat semula dengan wajah tidak puas.

Ban seng kiongcu yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa dingin tapi diapun tidak menggubris mereka, dengan langkah yang lemah gemulai dia berjalan ke hadapan Thi Eng khi.

Kemudian setelah melirik sekejap kearah Ciu Tin tin, katanya sambil menghela napas panjang .

"Tampak kematian dari Pek leng siancu So Bwe leng hanya suatu kematian yang sia sia belaka!"

Oleh karena Ciu Tin tin tidak tahu kalau Thi Eng khi pernah berjanji akan menyusul So Bwe leng ke alam baka, untuk sesaat dia menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa dia mengerling sekejap ke wajah pemuda itu.

Tampak sorot mata Thi Eng khi sangat tidak tenang, dia pun tak berani menatap langsung wajah Ban seng kiongcu tersebut.

Sementara ia masih keheranan, tiba tiba terdengar Ban seng kiongcu berkata lagi dengan wajah iba .

"Aku benar benar turut merasa kasihan kepadamu, bukan saja melanggar perintah ayahmu juga melanggar permintaan isterimu ...."

Kemudian dengan wajah serius katanya lebih jauh .

"Hari ini aku tak akan menyusahkan dirimu, pergilah! Apakah kau seorang enghiong atau seorang cecunguk, kita saksikan saja dikemudian hari ....."

Benarkah Ban seng kiongcu berbaik hati dengan melepaskan Thi Eng khi dengan begitu saja?

Tidak, sesungguhnya dia merasa kuatir sekali dengan kepandaian silat yang dimiliki Thi Eng khi, oleh karena itu, dia ingin mempergunakan akalnya yang licik untuk menyudutkan si anak muda itu ke suatu jalan kematian sendiri.

Beberapa patah kata yang diucapkan olehnya tadi mungkin tak akan menimbulkan kesan apa apa bagi pendengaran orang lain, tapi bagi pendengaran Thi Eng khi justru jauh lebih memedihkan hatinya daripada membunuhnya sekaligus.

Ucapan tersebut artinya sama dengan memaki dia tak berbakti kepada ayah, tak berbakti kepada sahabat, buat apa kau hidup terus di dunia ini?

Lebih baik mati saja.

Thi Eng khi yang mendengar perkataan semacam itu benar benar merasa malu sekali tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera membopong jenasah Huang oh siansu dan tanpa menyapa Ciu Tin tin lagi, tiba tiba saja membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Waktu itu Ciu Tin tin sedang memikirkan arti dari ucapan Ban seng kiongcu tersebut, ketika ia berpaling tahu tahu Thi Eng khi telah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula.

Buru buru dia lantas berseru .

"Adik Eng, tunggu aku sebentar!"

Bagai sambaran petir cepatnya, dia segera menyusul dari belakangnya.

Walaupun Ciu Tin tin hanya sebentar saja mengikuti Sim ji sinni untuk memperdalam ilmunya, tapi berhubung Thi Tiong giok telah membantunya dengan pelbagai obat obatan yang mujarab, ditambah pula dengan kasih sayang yang luar biasa dari Sim ji sinni, maka selain tenaga dalamnya berhasil mendapat kemajuan yang amat pesat, bahkan urat jih meh nya berhasil ditembusi.

Bagi seorang jago silat, andaikata jih meh dan toh meh nya berhasil ditembusi, itu berarti ilmu silatnya telah mencapai ketingkatan yang paling tinggi, atau dengan perkataan lain, kemajuan yang dapat diraih dalam ilmu silat akan mencapai ke tingkatan yang luar biasa.

Tak heran kalau dalam waktu singkat saja dia telah berhasil menyusul si anak muda itu sampai di depan pintu gerbang.

Orang bilang diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia lain, kecepatan gerakan tubuh Ciu Tin tin benar benar luar biasa sekali, siapa tahu justru ada orang lain yang lebih cepat daripadanya.

Baru saja dia akan melangkah dari pintu gerbang, tahu tahu seseorang telah menghadang jalan perginya.

Ternyata orang itu tak lain adalah si kakek bermuka putih berjubah hijau yang muncul bersama sama Ban seng kiongcu tadi.

Ciu Tin tin enggan untuk membuang waktu, pada saat itu dia hanya bertujuan untuk menyusul Thi Eng khi, maka sewaktu dilihatnya ada orang yang menghadang jalan perginya, tanpa ditanya dulu apakah dia teman atau lawan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.

"Minggir!"

Bentaknya.

Sedangkan gerakan tubuhnya berbareng dengan serangan itu ikut menerjang kemuka.

Dalam anggapannya, setelah jih meh dan toh meh nya berhasil ditembusi, otomatis kekuatan serangannya itu amat dahsyat sekali dan tak sulit untuk menggetarkan tubuh lawan.

Siapa tahu sewaktu angin pukulan itu menerjang diatas badan si kakek bermuka putih itu, bukan saja tidak berhasil melukainya, malahan tenaga pukulan itu segera memantul dan menghantam ketubuh sendiri.

Akibatnya, bukan saja gerakan tubuhnya terhambat, bahkan tubuhnya ikut terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.

Dengan wajah tercengang Ciu Tin tin segera mengalihkan sorot matanya kewajah lawan, dia tahu musuh yang berada di hadapan matanya adalah seorang musuh yang amat tangguh.

Sementara itu, si kakek bermuka putih itu dengan senyum tak senyum telah berkata .

"Nona, jangan pergi dulu! Pun tee kun ada urusan hendak dibicarakan denganmu!"

Ciu Tin tin kuatir menggusarkan orang itu, terpaksa sambil menahan diri dia bertanya .

"Kau ada urusan apa?"

"Nona, tolong tanya apa hubunganmu dengan Sim ji sinni?"

Diam diam Ciu Tin tin merasa terkejut juga atas ketajaman mata kakek bermuka putih itu hanya menyaksikan dari gerakan tubuhnya saja segera asal usulnya berhasil diketahui.

Ia tak berani berbohong, maka segera sahutnya .

"Dia adalah guruku!"

"Bagus, bagus, bagus sekali!"

Seru kakek bermuka putih itu sambil tertawa kering, setelah kembali dari sini, katakanlah kepada gurumu bahwa Ban seng kiong berniat untuk memberi kedudukan Cu ciok tongcu kepadanya, kuperintahkan kepadanya dalam tiga bulan mendatang harus datang memberi laporan kepadaku!"

Selain lagaknya besar, ucapannya juga amat tak sedap didengar. Kontan saja Ciu Tin tin naik pitam dibuatnya, sambil tertawa dingin dia segera berseru .

"Aaah, kau ini adalah manusia macam apa?"

Ternyata kakek bermuka putih itu tidak menjadi gusar, sambil melemparkan sekerat tulang sepanjang satu inci, katanya .

"Benda ini merupakan tanda pengenalku. Asal gurumu sudah melihat benda tersebut, dia akan mengetahui siapakah aku, nah pergilah!"

Tidak melihat dia menggerakkan tangannya, tahu tahu Ciu Tin tin merasakan adanya segulung angin pukulan yang kuat muncul dari atas tanah dan melemparkan tubuhnya ketengah udara.

Begitu berhasil melemparkan tubuh Ciu Tin tin dari situ, bagaikan bayangan setan, si kakek bermuka putih itu sudah berkelebat kembali kedepan delapan orang kakek yang membangkang perintah tadi, katanya kemudian dengan suara dingin .

"Kalian setiap orang mengutungi sebuah lengan sendiri sebagai hukuman atas pelanggaran kalian!"

Kedelapan orang kakek itu merupakan Thian lam pat koay yang diundang datang oleh Huan im sin ang dengan pembayaran tinggi, mereka semua selain berilmu tinggi juga memiliki tenaga dalam yang sempurna bahkan kemampuan mereka hanya setingkat dibawah Huan im sin ang.

Di hari biasa biasa, Ban seng kiongcu selalu memanggil mereka dengan sebutan locianpwe tapi barusan kiongcu tersebut bersikap angkuh dan jumawa terhadap mereka, hal ini segera menimbulkan rasa tak senang di hati mereka berdelapan, itulah sebabnya mereka sengaja hendak memberikan kesulitan untuk perempuan itu.

Padahal mereka mana tahu kalau perubahan sikap dari Ban seng kiongcu ini justru dikarenakan ia sudah mempunyai tulang punggung yang cukup kuat untuk menunjang dirinya.

Sebagai seorang manusia yang berpengalaman, sudah barang tentu kedelapan orang kakek itupun tahu kalau manusia bermuka putih itu berilmu sangat lihay, bahkan jauh lebih lihay daripada Huan im sin ang pribadi.

Tapi orang bilang, manusia punya nama pohon punya bayangan, demi gengsi dan nama sendiri, sudah barang tentu mereka enggan untuk mengundurkan diri mereka dengan begitu saja.

Apalagi merekapun sangat mengandalkan ilmu kerja sama yang amat lihay dengan tenaga gabungan mereka berdelapan, orang-orang itu yakin kalau di kolong langit belum ada orang yang mampu mengalahkan mereka.

Maka dari itu, ketika si kakek bermuka putih tersebut selesai berkata, pemimpin dari Thian lam pat koay, Kim bi siu (si kakek bermuka emas) Ui Hong segera tertawa seram.

"Heeehhhhh..... heeehhhh..... heehhhh..... engkau berani berbicara sesumbar, apakah tidak tahu siapakah kami? Hmmm, lebih baik sebutkan dulu siapa namamu?"

Kakek bermuka putih itu segera mengeluarkan sekeping tulang kering dan diletakkan diatas telapak tangannya, kemudian katanya .

"Kalau kuandalkan benda ini, apakah aku cukup berhak untuk menghukum kamu semua?"

Tadi Thian lam pat koay belum melihat jelas benda tersebut, tapi sekarang setelah dapat menyaksikan benda itu dengan jelas, kemarahan mereka kontan menjadi lenyap tak berbekas, bahkan seluruh tubuh mereka menggigil keras bagaikan seseorang yang baru keluar dari gudang salju yang amat dingin.

Tiba tiba ji koay (siluman kedua) Gin tay siu (si kakek berkepala perak) Thio Beng berbisik .

"Toako, mungkin dia adalah gadungan!"

Tapi tujuh orang lainnya tetap berwajah murung, tak seorang pun diantara mereka yang penuju dengan pandangan tersebut. Sementara itu, dengan suara keras si kakek bermuka putih itu telah berkata lagi .

"Sudah selesaikah kalian berunding? Waktu yang ditetapkan tidak terlalu lama lagi!"

Si kakek bermuka emas Ui Hong seraya menghela napas panjang, tiba tiba serunya .

"Saudara sekalian mari kita pasrah pada nasib saja!"

Begitu selesai berkata, telapak tangan kanannya segera diayunkan lebih dulu untuk membacok kutung lengan kiri sendiri, kemudian dengan cepat ia menotok jalan darahnya untuk menghentikan aliran darah.

Menyusul kemudian tujuh orang lainnya juga melakukan perbuatan yang sama, hanya di waktu singkat seluruh permukaan tanah telah berserakan lengan lengan yang kutung.

Dengan wajah tanpa berubah, si kakek bermuka putih itu berseru .

"Hmm, anggap saja kalian masih tahu diri, lain kali kalau berani lagi, jangan salahkan kalau aku bertindak keji."

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan masuk kedalam ruang tengah Ban seng kiong, ia sama sekali tidak menggubris kedelapan orang itu lagi.

Sedangkan Thian lam pat koay pun bagaikan domba yang menurut dengan kepala tertunduk segera mengikuti di belakangnya, jangan toh membantah, untuk bernapas keras keras pun tak berani.

Tentu saja semua adegan tersebut dapat disaksikan pula oleh kawanan iblis yang lainnya.

Kalau sampai Thian lam pat koay yang termashur karena kelihayannya pun tak berani membangkang, siapa lagi yang berani melawan?

Maka semua iblis yang bergabung dalam istana Ban seng kiong tak berani berkutik lagi, mereka kuatir kalau sampai memancing perhatian kakek bermuka putih itu.

Setelah masuk kedalam ruangan tengah, Ban seng kiongcu segera mengangkat kursi kebesaran sendiri ke tengah ruangan, kemudian mempersilahkan kakek itu untuk duduk.

Setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, bersama si gadis yang datang bersama kakek berwajah putih itu, ia berdiri dibelakangnya.

Kakek bermuka putih itupun tidak mengumumkan siapakah dirinya, begitu duduk dia lantas berseru .

"Gotong masuk Ui Sam ciat!"

Empat orang dayang cantik segera menggotong tubuh Huan im sin ang dan masuk kedalam ruangan istana. Kakek itu lantas berpaling kearah gadis yang datang bersamanya, kemudian berkata .

"Cun ji, hari ini aku akan mencoba untuk menguji ketrampilanmu!"

Nada ucapan tersebut amat lembut sekali, walaupun bukan diucapkan kepada orang lain, tapi setiap orang ikut merasa lega hati setelah mendengar kata kata lembut itu.

Si gadis yang bernama Cun ji itu segera maju kedepan dan menempelkan telapak tangannya diatas pusar Huan im sin ang, setelah itu katanya dengan alis mata melenting.

"Orangnya sih tidak bakal mati, sedang tenaga dalamnya juga bisa dipertahankan sebesar enam bagian."

Tampaknya kelihatan dalam menganalisa keadaan Huan im sin ang masih dua tingkat lebih lihay daripada Thi Eng khi, hal ini bukan dikarenakan ilmu pertabiban yang dimiliki Thi Eng khi masih kalah kalau dibandingkannya, adalah dikarenakan aliran ilmu silat yang dimiliki Huan im sin ang sealiran dengannya, maka dia lebih jelas mengetahui keadaan tersebut.

Tampak kakek bermuka putih itu manggut manggut, kemudian katanya lagi dengan lembut .

"Kalau begitu bekerjalah!"

Gadis yang bernama Cun ji itu segera duduk bersila di samping Huan im sin ang, setelah menghimpun tenaganya mendadak sambil melompat bangun ia membentak keras.

Kesepuluh jari tangannya serentak diayunkan kedepan, sepuluh jalur cahaya putih dengan cepat memancar keluar dan menotok jalan darah penting di seluruh badan Huan im sin ang.

Yang paling aneh adalah setelah dia menotok jalan darah di depan tubuh Huan im sin ang, ternyata secara otomatis orang itu bisa membalikkan badannya sendiri sehingga berbaring dengan posisi tertelungkup.

Ketika jalan darah di belakang punggung juga selesai ditotok, gadis itu baru mengayunkan tangannya menghantam dada Huan im sin ang sehingga iblis itu jatuh bergulingan sebanyak sembilan kali, tapi setelah itu melompat bangun dari tanah, ternyata luka yang dideritanya itu telah sembuh kembali.

Huan im sin ang pelan pelan membuka matanya kembali, ketika mengetahui kalau orang yang telah menyembuhkan lukanya adalah seorang gadis cantik berusia dua puluh tahunan, dia hendak mengucapkan rasa terima kasihnya.

Tapi sebelum dia mengucapkan sesuatu gadis itu telah mengulapkan pula tangannya sambil berkata .

"Cepat berterima kasih dulu kepada Tee kun!"

Waktu itu, berhubung Huan im sin ang berdiri dengan panggung menghadap kedalam, maka dia tak sempat melihat si kakek bermuka putih yang duduk dibelakangnya.

Setelah diperingatkan oleh gadis itu, dia baru membalikkan badannya, tapi begitu dilihatnya gaya maupun tingkah laku kakek bermuka putih itu segera timbullah perasaan tak senangnya didalam hati.

Sekalipun luka yang dideritanya berhasil disembuhkan berkat bantuan dari kakek bermuka putih itu namun tindakan lawan yang menempati kursi singgasannya itu juga merupakan suatu tindakan yang melanggar pantangan besar bagi umat persilatan.

Berbicara baginya, kejadian itu merupakan suatu aib atau penghinaan yang amat memalukan.

Apalagi setelah menyaksikan Ban seng kiongcu yang belum lama diangkat olehnya itu berdiri di belakang si kakek bermuka putih dengan senyuman mengejek, hawa amarahnya kontan saja menggelora didalam dadanya.

Perasaan terima kasih yang semula menyelimuti perasaannya seketika lenyap tak berbekas.

Pada dasarnya dia memang seorang yang tidak kenal budi, apalagi setelah timbul perasaan tak senang dalam hatinya, tentu saja dia tak ingin kehilangan pamornya sebagai Sancu dari istana Ban seng kiong.

Maka dengan suara lantang serunya keras keras .

"Mana pengawal? Cepat ambilkan kursi buat tamu agung kita!"

Seandainya berada di masa lampau, pasti ada orang yang menyahut dan segera melaksanakan perintahnya.

Tapi sekarang keadaannya telah berbeda, Thian lam pat koay merupakan suatu contoh yang jelas sekali, sebelum semua orang memahami maksud hati dari kakek bermuka putih itu, siapapun tak berani menyahut, otomatis tidak ada orang yang melaksanakan perintah itu.

Huan im sin ang merupakan seorang iblis yang licik dan cekatan, dari situisi yang terlintas dihadapannya sekarang, dengan cepat dia telah menyadari bagaimana keadaan yang sesungguhnya dari istana Ban seng kiong yang dibinanya dengan susah payah itu.

Tampaknya dia sudah bukan majikan dari istana Ban seng kiong lagi, kedudukan mana telah dirampas oleh si kakek bermuka putih.

Akhirnya dengan sorot mata mohon bantuan dia mengerling sekejap kearah kawanan iblis yang dianggapnya berpihak kepadanya, pertama tama dia berpaling kearah Thian lam pat koay.

Tapi si kakek bermuka emas segera menggelengkan kepalanya dengan wajah apa boleh buat.

Namun dia pantang menyerah sampai disitu saja, kembali sorot matanya memandang sekejap kawanan iblis yang lain.

Ternyata semua orang berdiri dengan wajah kaku tanpa memberikan reaksi sedikitpun, melihat itu semua, dia lantas berpikir .

"Waaah, tampaknya kali ini habis sudah riwayatku ....."

Tapi pikiran lain segera melintas kembali didalam benaknya.

"Aaah, tidak, lohu bukan seorang yang pantang menyerah dengan begitu saja, sekalipun mereka berani membantuku, aku yakin mereka pun tak akan menentangku, asal aku dapat menaklukkan si kakek bermuka putih ini, bukankah istana Ban seng kiong akan terjatuh kembali ke tanganku?"

Berpikir sampai disitu terasa keningnya berkerut.

Kakek berwajah putih itu benar benar memiliki ketenangan yang luar biasa, ternyata dia tidak mengganggu Huan im sin ang untuk berpikir dengan jalan pikirannya.

Selang sesaat kemudian, dengan suara dingin baru katanya .

"Ui Sam ciat, setelah bertemu dengan Tee kun, mengapa kau tidak tahu memberi hormat?"

Agaknya dia maksud untuk memancing kobaran hawa amarah di dalam dada Huan im sing ang.

Sekali lagi Huan im sin ang mengerutkan dahinya, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh.... haaahhhhh.... pun sin ang sih tidak ambil peduli orang lain mengeritikku sebagai seseorang yang lupa budi, aku hanya ingin bertanya dulu atas dasar apakah kau berani berlagak besar dengan maksud merampas kedudukanku?"

Kakek bermuka putih itu segera mendengus .

"Hmmm, jalan pemikiranmu benar benar polos dan kekanak kanakan!"

Sambil berpaling kearah Ban seng kiongcu segera katanya .

"Gunakanlah kepandaian silat ajarannya untuk merobohkan dia didalam satu gebrakan."

Ban seng kiongcu segera mengiakan, sahutnya .

"Turut perintah!"

Setibanya dihadapan Huan im sin ang, dengan nada sinis katanya lebih jauh .

"Ui Sam ciat, sekarang kau boleh melancarkan serangan lebih dahulu ...!"

Menyaksikan tingkah laku dari Kiongcunya itu, Huan im sin ang benar benar merasa gusar sekali sampai matanya terbelalak amat besar, segera teriaknya .

"Ciu lan, kau berani?"

"Kau anggap nama Ciu lan boleh kau sebut seenaknya?"

Teriak Ban seng kiongcu dingin.

"lihat serangan!"

Dengan suatu gerakan yang sederhana dia segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Dengan penuh kemarahan Huan im sin ang melancarkan serangan balasan berbareng itu pula serunya sambil tertawa seram.

"Tampaknya kau ingin mampus."

Belum lagi kata mampus selesai ducapakan, dia sudah merasakan tenaga pukulan yang dilancarkan Ciu lan menindih tubuhnya seperti batu karang, seketika itu juga dia kena terhajar sampai mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.

Waktu itu Huan im sin ang belum tahu kalau setelah sembuh dari luka dalamnya, sisa tenaga dalam yang dimilikinya tinggal enam bagian, maka dia sangat berharap bisa menangkan pertarungan tersebut.

Tapi setelah terjadinya bentrokan tersebut dia baru sadar apa sebabnya orang lain memandang hina kepadanya, ternyata dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, dia hanya bisa mencapai kedudukan kelas tiga saja disitu.

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak sekujur badannya terasa menjadi kaku tahu tahu jalan darahnya sudah kena ditotok oleh Ciu lan sehingga tak mampu berkutik lagi.

Setelah berhasil menotok Huan im sin ang dengan langkah yang lemah gemulai Ciu lan segera kembali ke belakang tubuh si kakek bermuka putih itu.

Pada saat itulah, si kakek bermuka putih itu baru mengeluarkan sekerat tulang kering dan diperlihatkan ke seluruh ruangan, kemudian dengan suara dalam katanya .

"Lohu adalah Hian im Tee kun!"

Sembari berkata, sorot matanya yang tajam segera menyapu sekejap sekeliling arena. Ketika semua orang yang berada di ruangan istana mendengar nama "Hian im Tee kun"

Tersebut, kontan saja paras muka mereka berubah menjadi pucat dan tubuh mereka menggigil keras karena ketakutan.

Terutama sekali Huan im sin ang yang berdiri kaku di tengah arena, perasaan terkejut dan tercengang segera menyelimuti seluruh wajahnya.

Dengan bangga sekali kakek bermuka putih itu mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh..... mulai hari ini, lohu adalah pemilik istana Ban seng kiong yang baru, lohu akan bersama sama dengan saudara sekalian berjuang untuk menguasai seluruh dunia persilatan!"

Jelas sekali ucapannya itu, dia mengartikan bahwa semua iblis, yang berada disitu telah dianggapnya pula sebagai anak buah sendiri.

Diantara manusia manusia yang berada disitu, mana mungkin ada seorang pun yang terhitung manusia baik?

Bagi mereka mengikuti Huan im sin ang ataukah mengikuti Hian im Tee kun adalah sama saja.

Kontan saja sorak sorai yang gegap gempita berkumandang memecahkan keheningan.

Pelan pelan Huan im Tee kun mengulapkan tangannya, segera suasana yang gaduh menjadi tenang kembali, kemudian dia membebaskan totokan jalan darah dari Huan im sin ang dan menantikan reaksinya.

Padahal sewaktu Hian im Tee kun mengumumkan namanya tadi, diam diam Huan im sin ang telah mengambil keputusan di dalam hatinya, bagi manusia munafik seperti dia tentu saja nyawa lebih dipentingkan daripada nama serta kedudukan maka dari itu keputusan yang diambilpun sudah barang tentu adalah "menyerah".

Tapi diapun seorang manusia licik yang tahu melihat gelagat, dia tahu bahwa tindakan Hian im Tee kun yang membebaskan jalan darahnya tanpa mengucapkan sesuatu itu merupakan kunci yang menentukan mati hidupnya.

Dia kuatir Hian im Tee kun mencurigai ketulusan hatinya, maka begitu jalan darahnya bebas, dengan cepat dia segera menjatuhkan diri berlutut dan berseru dengan wajah bersungguh sungguh .

"Ui Sam ciat bersedia berbakti untuk Tee kun!"

"Kau akan mendendam kepadaku?"

Tanya Hian im Tee kun. Dengan ketakutan buru buru Huan im sin ang menyahut .

"Ilmu silat hamba berasal dari kitab pusaka Jit sat hian im cinkeng, adapun tujuan mendirikan istana Ban seng kiong juga hanya ingin mengembangkan kepandaian sakti Hian im, sebaliknya Tee kun merupakan pemimpin dari perguruan Hian im bun, kalau dibicarakanpun kau masih angkatan tua ku, hamba bisa menunjukkan baktiku kepada mu hal ini sudah merupakan sesuatu yang luar biasa, bila Tee kun hendak memberikan perintah, sampai matipun hamba tak akan menampik."

Diam diam dia menjelaskan pula hubungan diantara mereka dalam ucapan tersebut.

Hian im Tee kun segera memerintahkan Huan im sin ang agar berdiri di samping.

Dengan sikap yang sangat menghormat Huan im sin ang mengucapkan terima kasih, kemudian dengan munduk munduk dia baru menyingkir ke samping.

Kegagahan dan kekerenannya di masa lalu, kini sudah hilang lenyap tak berbekas.

Hian im Tee kun memandang sekejap kearah Huan im sin ang, sikapnya ternyata berubah sambil tertawa ramah, katanya .

"Sam ciat, apakah kitab pusaka Jit sat hian im cinkeng yang kau dapatkan itu berhasil kau temukan diatas batu hijau dalam sebuah lembah buntu di bukit Lay pa san pada empat puluh tahun berselang?"

Nada ucapannya sekarang ternyata amat lembut dan ramah.

Mendengar perkataan itu, dengan perasaan kaget bercampur keheranan, Huan im sin ang segera membelalakkan matanya lebar lebar, serunya dengan nada tanda tanya.

"Dari .... darimana kau .... kau orang tua bisa ..... tahu..."

Dia berbicara dengan terbata bata sampai lamanya sebelum berhasil mengutarakan semua maksud ucapannya.

"Tahukah kau bahwa pun Tee kun lah yang bermaksud untuk menjadikan dirimu?"

Ucap Hian im Tee kun lagi.

Ucapan itu mau tak mau harus dipercayai oleh Huan im sin ang, sebab ketika secara kebetulan dia berhasil menemukan kitab pusaka Jit sat hian im cinkeng itu, tiada orang kedua yang hadir disitu, selama ini diapun belum pernah menyinggungnya kepada orang lain, apalagi kitab pusaka Jit sat hian im cingkeng memang berasal dari Hian im bun, maka setelah persoalan itu disinggung sendiri oleh Hian im Tee kun.....

Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, Huan im sin ang cepat cepat menjatuhkan diri berlutut diatas tanah sambil berseru .

"Insu, tecu ...."

Belum habis dia berkata, Hian im Tee kun telah mengulapkan tangannya sembari berkata .

"Kau tidak bisa dihitung sebagai muridku, karena kitab pusak Jit sat hian im cinkeng bukan merupakan ilmu silat yang diandalkan dalam perguruan kami, kepandaian tersebut hanya bisa dikatakan sebagai suatu ilmu sampingan belaka didalam perguruanku."

Huan im sin ang segera merasakan hawa dingin menyelinap ke dalam benaknya, dia merasa kecewa sekali. Tiba tiba Hian im Tee kun berkata lagi .

"Oleh karena aku memang berhasrat untuk menjadikan kau, maka dari itu aku menjadikan kepadamu untuk memanggil Cun Bwee dan Ciu lan sebagai Su koh (bibi guru)!"

Begitu selesai berkata, sepasang matanya yang tajam segera dialihkan ke wajah Huan im sin ang, seakan akan dia bermaksud agar Huan im sin ang segera memberi hormat.

Huan im sin ang memang seorang yang luar biasa, kulit mukanya pun tebal sekali, walaupun berada di hadapan anak buahnya, ternyata dia tidak berubah muka, seakan akan pada dasarnya dia memang keponakan muridnya Cun Bwee dan Ciu lan saja, ternyata dengan sikap yang sangat menghormat ia menjalankan penghormatan besar dihadapan mereka.

"Siautit memberi hormat buat sukoh berdua, dikemudian hari harap sukoh bersedia memberi banyak petunjuk."

Cun Bwee masih tidak merasakan apa apa, sebab dia memang sebelumnya tidak kenal dengan Huan im sin ang, dengan tanpa canggung dia menerima penghormatan tersebut.

Berbeda sekali dengan Ciu lan, dahulu dia adalah muridnya Huan im sin ang, sekalipun mukanya lebih tebalpun, sekarang dia merasa amat canggung untuk menerima penghormatan dari Huan im sin ang, kontan saja dia dibikin tersipu sipu.

Hian im Tee kun segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.... haaahhhh.... haahhhh.... Cun ji kau hanya melaksanakan tugas belaka, jadi bukan benar benar mempunyai hubungan guru dan murid dengan dirinya, jadi sebutan sukoh tersebut, sesungguhnya pantas untuk kau terima."

Dari ucapan tersebut, Huan im sin ang baru merasa terkesiap, sekarang ia baru tahu kalau kedudukannya sudah lama diincar orang, bahkan Ciu lan yang diterima sebagai muridnya dan diangkat menjadi Ban seng kiongcu pun tak lain merupakan mata mata yang sengaja disusupkan oleh lawan ke dalam tubuh perguruannya.

Meski begitu, dia sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa apa di atas wajahnya, malah mengikuti nada pembicaraan dari Hian im Tee kun dia berkata .

"Perkataan dari Tee kun memang benar, harap memaafkan ketidak tahuan siautit!"

Selanjutnya Hian im Tee kun berkata lagi kepada Huan im sin ang .

"Sebenarnya pun Tee kun ada maksud untuk memupuk dirimu untuk membangun kembali kejayaan perguruan kita, siapa sangka walaupun usia mu telah lanjut, namun cara kerjamu agak gegabah, hal ini membuat aku merasa kecewa sekali, itulah sebabnya terpaksa aku harus turun tangan sendiri untuk mengambil alih pimpinan."

Setelah mengetahui kalau separuh hidupnya telah terjatuh didalam hitungan orang lain, Huan im sin ang tak dapat berkata apa apa lagi kecuali diam diam menghela napas panjang.

Mendadak Hian im Tee kun mengalihkan kembali pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya kepada segenap anggota perguruan .

"Mulai sekarang di dalam istana Ban seng kiong sudah tidak berlaku lagi kedudukan Sancu dan Kiongcu, dibawah pun Tee kun adalah Hian im ji li (dua gadis hian im), selanjutnya terbagi dalam empat bagian yang masing masing merupakan Cing long tong, Cu ciat tong, Pek hou tong dan Han bun tong, di bawah keempat bagian tersebut pula menjadi ruang cabang, dibawah ruang cabang adalah bagian ranting, sedang sisanya merupakan anggota anggota biasa."

Berbicara sampai disitu, sorot matanya segera dialihkan kearah Thian lam pat koay.

Thian lam pat koay yang sudah patah semangat, secara tiba tiba timbul kembali harapannya, mereka berharap bisa menduduki sebuah kepala bagian atau paling tidak wakil dari kepala bagian.

Siapa sangka Hian im Tee kun hanya memerintahkan mereka berdelapan untuk berbakti kepada Huan im sin ang sebagai mencari berita atau penyampai berita atau tegasnya sebagai kurir.

Sedangkan Huan im sin ang hanya mendapatkan bagian sebagai ketua cabang dari bagian "kurir"

Yang berada di bawah kekuasaan kedua orang nona tersebut.

Sedangkan kedudukan yang lain, untuk sementara waktu dipangku semua oleh Hian im ji li, tentu saja orang orang yang digunakan Huan im sin ang dulu, tak seorangpun diantaranya berhak memangku jabatan sebagai kepala cabang atau kepala ranting.

Begitulah setelah Hian im Tee kun menunjuk Huan im sin ang sebagai kepala cabang bagian "kurir", dia lantas mengeluarkan tiga ruas tulang kering dan berkata kepadanya .

"Ui Sam ciat, sekarang juga kau turun gunung dan atas nama Pek kut leng (lencana tulng putih) ku ini sampaikan kepada Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak dan Bu im sin hong Kian Kim siang untuk masing masing menduduki jabatannya sebagai ketua bagian Cing long tong, Pek hou tong dan Han bun tong, beri waktu kepada mereka untuk dalam waktu tiga hari kemudian datang melaporkan diri."

Padahal Huan im sin ang Ui Sam ciat hanya tahu kalau Tiang pek lojin berada di kuil Siong gak bio dibukit Siong san, sedangkan mati hidup Keng thian giok cu Thi Keng serta Bu im sin hong Kian Kim siang sama sekali tidak diketahui olehnya, tentu saja untuk mencarinya bukan sesuatu yang gampang.

Tak heran kalau dia menjadi ragu sesudah menerima perintah tersebut....

Hian im Tee kun segera menyentilkan jari tangannya, dua titik cahaya putih dengan cepat terjatuh ke tangan Huan im sin ang, katanya kemudian dengan lantang .

"Laksanakan saja perintahku itu!"

Huan im sin ang tahu didalam gulungan kertas yang dilontarkan kepadanya itu pasti sudah tercantum petunjuk yang diperlukan maka tanpa membuang waktu lagi, dia segera berangkat meninggalkan tempat itu.

Begitulah, sejak Hian im Tee kun menguasai istana Ban seng kiong, situasi dalam dunia persilatan kembali terjadi perubahan besar.

Tapi justru karena itu pula Thi Eng khi menjadi semakin berpengalaman dan nama besarnya makin memancar keempat penjuru.

Dalam pada itu, Thi Eng khi yang dimaki oleh Ciu lan sebagai mahkluk berdarah dingin yang tidak berbakti dan tidak setia kawan, dengan mata berkunang kunang karena malu dia berlalu dari situ.

Dalam keadaan seperti itu, tentu saja tiada semangat lagi baginya untuk melangsungkan pertarungan.

Sambil membopong jenasah Huang oh siansu, sekaligus dia menempuh perjalanan sejauh ratusan li sebelum akhirnya berhenti.

Pada saat itulah, dia baru membaringkan jenasah Huang oh siansu dibawah pohon siong, kemudian ia berlutut disampingnya.

Rasa sedih yang menyelimuti perasaan waktu itu tak terlukiskan dengan kata kata.

Diapun tak tahu berapa lama sudah dia termenung disitu, akhirnya dia baru menyembah tiga kali dihadapan jenasah Huang oh siansu sambil berguman .

"Ananda cukup mengetahui akan maksud hati dari kau orang tua, semenjak empek Ciu meninggal dunia, sambil menanggung derita kau sudah berhasrat untuk menyusulnya, tapi demi enci Ciu dan ananda, kau orang tua telah memperpanjang hidupmu selama dua puluh tahunan lagi ...."

Menyinggung soal enci Ciu, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, sesudah termenung beberapa saat, dia baru berkata lagi .

"Oleh karena kau orang tua sudah berhasrat untuk mengakhiri hidupmu demi teman dan lagi bermaksud untuk melindungi putramu maka hari ini kau orang tua baru mengambil tindakan untuk beradu jiwa dengan Huan im sin ang, tindakan ayah untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan ini sungguh membuat ananda merasa amat kagum."

Setelah menyembah lagi tiga kali, dengan wajah yang bersungguh sungguh dia berguman lebih lanjut .

"Kau orang tua selalu mengutamakan kesetiakawanan, kalau toh ayah memang berhasrat untuk menyusul empek Ciu, ananda dengan tulus hati menghantar keberangkatan kau orang tua!"

Setelah memberi hormat, dia baru mencari sebuah gua yang sepi untuk menyimpan jenasah ayahnya, kemudian mulut gua disumbat dengan batu besar agar tiada binatang buas yang merusak jenasahnya.

Kemudian dia baru kekota untuk membeli peti mati, menyewa kereta dan berganti pakaian berkabung, untuk berangkat pulang ke tempat dimana jenasah Huang oh siansu disimpan.

Setelah semua persiapan selesai dan siap berangkat, tiba tiba Thi Eng khi baru menjerit keras.

Kusir kereta itu adalah seorang kakek kecil yang memakai topi besar, ketika mendengar jeritan kaget dari Thi Eng khi, dia turut menjadi ketakutan, buru buru serunya dengan gemetar.

"Kongcu, ada urusan apa yang membuatmu kaget?"

"Aku tidak tahu jalan yang musti dilalui,"

Sahut Thi Eng khi tersipu sipu.

Yaa, dimanakah Ciu Cu giok disemayankan bukan saja tidak diketahui oleh Thi Eng khi, mungkin Ciu Tin tin dan ibunya juga tak tahu, maka untuk sesaat dia menjadi tidak tahu apa yang musti dilakukan.

Tentu saja si kusir kareta tak tahu urusan yang sedalam dalamnya, ia hanya merasa kongcu ini benar benar seorang manusia yang gegabah sehingga jalanan untuk pulang pun tidak diketahui.

Maka sambil menahan gelinya, diapun berkata .

"Aku sudah pernah menjelajahi seluruh kolong langit, harap kongcu katakan saja nama tempat itu, niscaya aku dapat menghantarmu sampai di tempat tujuan!"

"Aku tidak tahu!"

Jawab Thi Eng khi cepat.

Tentu saja yang dimaksudkan sebagai tidak tahu adalah tempat Ciu Cu giok dikubur.

Tapi si kusir kereta itu salah menganggap Thi Eng khi tak tahu alamat rumahnya sendiri, dia lantas merasa kalau penyakit kongcu ini sudah tak tertolong lagi, tak kuasa lagi dia menjadi tertawa geli.

Tapi begitu tertawa, dia lantas menyadari kesilapannya, buru buru pikirnya .

"Aku benar benar pikun, orang lagi kesusahan masa aku malah tertawa geli."

Untung saja, Thi Eng khi sedang diliputi persoalan pelik, sehingga tidak begitu memperhatikan perbuatan dari kakek itu.

Setelah berhasil memenangkan diri dan melihat Thi Eng khi belum juga mengemukakan sesuatu sambil menghela napas, kusir itu berkata .

"Kongcu, daripada tidak tahu tempat tujuanmu, bagaimana kalau aku saja yang mengusulkan suatu tempat?"

"Harap lotiang suka memberi petunjuk!"

Sahut Thi Eng khi sambil sadar kembali dari lamunannya. Sambil menunjuk ke depan sana, kusir itu berkata .

"Setelah membelok sebuah tikungan didepan bukit sana terdapat sebuah kuil yang bernama Bu tok si, lantaran tempat itu terpencil dan letaknya jarang sekali dikunjungi jemaah lagipula dalam kuil itu sering dipakai orang untuk menyimpan peti mati, andaikata kongcu tidak dapat mengambil keputusan bagaimana kalau untuk sementara waktu peti mati itu disimpan saja dalam kuil tersebut, kemudian bila tempat yang kau tuju telah ditemukan kembali, barulah diangkut kembali?"

Thi Eng khi memang tidak berhasil menemukan cara yang lain lagi, terpaksa dia menuruti perkataan dari kakek itu dan untuk sementara waktu menyimpan peti jenasah tersebut dalam kuil Bu tok si.

Mungkin dimasa lalu kuil Bu tok si adalah sebuah kuil yang sering dikunjungi orang, buktinya walaupun keadaannya sekarang sudah porak poranda, namun dekorasi didalam ruangan kuil itu masih tetap megah dan menarik.

Kuil itu mencakup suatu wilayah yang amat luas, ruangan kuil pun banyak sekali, namun di dalam kuil hanya terdapat seorang hwesio tua dan seorang hwesio kecil, oleh karena itu banyak ruangan diantaranya tertutup oleh debu dan sarang labalaba.

Dalam suasana sedih dan banyak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, sepanjang hari Thi Eng khi merasa murung sekali, maka untuk sementara waktu diapun berdiam di dalam kuil Bu tok si itu untuk beristirahat sambil menenangkan pikiran.

Hwesio tua yang menghuni dalam kuil itu seorang pendeta yang saleh dan ramah, sedangkan si hwesio cilik itu masih bersifat kekanak kanakan, sekalipun mereka adalah pendeta, namun pergaulannya dengan manusia lain amat luwes.

Tak heran walau baru dua hari berkumpul masing masing pihak dapat berkumpul seperti sahabat yang telah berkenalan selama puluhan tahun lamanya.

Malam itu, Thi Eng khi telah mengambil keputusan untuk meninggalkan kuil tersebut pada keesokan harinya.

Sungguh tak disangka olehnya, walau hanya berdiam dua hari saja didalam kuil itu, dalam hati kecilnya telah timbul suatu kesan yang amat mendalam sekali, bahkan pikirannya terasa menjadi tidak tenang.

Bagi seorang yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, namun bisa mengalami keadaan seperti ini, sesungguhnya kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang aneh.

Dengan perasaan yang gundah, akhirnya dia mendorong pintu dan berjalan keluar, dia bermaksud untuk berjalan jalan disekeliling kuil tersebut.

Memandang rembulan yang sudah condong kebarat, pikiran Thi Eng khi pelan pelan menjadi tenang kembali, entah berapa saat kemudian, pelan pelan iapun berjalan siap kembali kekamarnya.

Tiba tiba ....

pada saat itulah dia menyaksikan dari dalam kuil melayang keluar sesosok bayangan manusia yang kecil, tak disangkal lagi jelas orang itu adalah si hwesio kecil.

Dengan cepat Thi Eng khi menyembunyikan diri kebalik tempat kegelapan, dia saksikan hwesio itu berputar dua kali disekitar halaman kuil, tampaknya sedang melakukan pemeriksaan apakah disekitar tempat itu terdapat jago persilatan yang menyembunyikan diri.

Untung tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sangat lihay, kalau tidak niscaya jejaknya akan ketahuan.

Akhirnya hwesio itu dengan ilmu menyambut Liu seng kan gwat (bintang jatuh mengejar rembulan) melepaskan dua biji batu kecil ke udara.

"Taaak!"

Ketika batu yang belakang menumbuk batu yang depan, segera terdengarlah suara benturan nyaring.

Menyusul suara benturan tersebut, tampaklah si hwesio tua itu melompat keluar dari balik kuil.

Kedua orang itu segera berbisik bisik dengan suara lirih kemudian hwesio cilik itu lari kedepan sejauh beberapa kaki dari tempat semula dan berjaga jaga di sana.

Sedang hwesio tua itu sekali lagi melakukan penggeledahan yang seksama atas sekeliling tempat itu.

Thi Eng khi merasa amat keheranan menyaksikan ketelitian mereka dalam melakukan pemeriksaan, apa sebenarnya tujuan mereka?

Dalam pada itu, si hwesio tua telah kembali ke depan kuil dia berjalan menuju ke undak undakan batu yang keempat, lalu meletakkan telapak tangan kirinya pada batu yang ketiga dari sebelah kanan.

Setelah itu, dengan sangat berhati-hati sekali dia mengangkat batu itu setinggi beberapa depa dan meraba permukaan tanah dibawah batu itu, akhirnya dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang disimpan kedalam sakunya dengan hati hati sekali.

Akhirnya setelah memberi tanda kepada hwesio cilik itu, berangkatlah mereka berdua menuju ke timur.

Sesungguhnya Thi Eng khi menaruh kesan yang sangat baik terhadap kedua orang pendeta ini, akan tetapi setelah menyaksikan gerak gerik mereka yang mencurigakan segera timbul perasaan ingin tahu didalam hatinya, serta merta diapun melakukan pengejaran dari belakang.

Dia ingin tahu apa gerangan yang sebenarnya dilakukan oleh kedua orang hwesio itu.

Sungguh lihay kepandaian silat yang dimiliki hwesio tua itu, sekalipun harus menggandeng tangan si hwesio cilik, namun kecepatan geraknya masih tetap luar biasa sekali.

Akan tetapi, bila dibandingkan dengan Thi Eng khi, dia masih selisih amat jauh.

Setelah berlarian sekian lama, akhirnya sebuah sungai besar terbentang di depan mata.

Kedua orang itu langsung menuju ketepi sungai, kemudian menyambitkan sebutir batu ke tengah sampan yang menggantungkan lampu berwarna kuning di tengah sungai.

Sambitan itu amat tepat, mula mula batu itu jatuh diatas bumbungan ruangan perahu, setelah itu baru jatuh ke atas geladak, sehingga suara yang ditimbulkan adalah dua kali.

Mungkin kode rahasia tersebut telah dijanjikan mereka sebelumnya.

Betul juga, lampu kuning yang berada diatas perahu itu, segera berubah menjadi lampu berwarna merah.

"Ada bahaya diatas perahu!"

Hwesio cilik itu segera berseru dengan perasaan tegang.

Paras muka hwesio tua itu berubah menjadi amat serius, dia mengeluarkan bungkusan kecil itu dari sakunya dan diserahkan kepada hwesio cilik itu, kemudian memesannya agar menunggu di tepi sungai.

Setelah itu, sebelum dia berlalu pesannya lagi .

"Seandainya aku menemukan sesuatu musibah yang berada diluar dugaan, kau harus segera kembali kekuil dan memohon kepada Thi siangkong yang menginap di kuil kita itu untuk mengambil keputusan."

"Apakah dia dapat membantu kita?"

Tanya hwesio cilik itu ragu ragu. Sambil membelai kepala si hwesio cilik yang gundul, sahut hwesio tua itu .

"Thi siangkong adalah orang yang berilmu tinggi, dia sudah pasti akan sanggup untuk membantu dirimu."

Seandainya dia tidak bersedia membantu .

"Tidak mungkin! Walaupun Thi siangkong sedang diliputi kemurungan, namun jiwa pendekarnya amat mengagumkan, asal kau menceritakan keadaan yang sebenarnya, niscaya dia akan membantumu. Kau harus mempercayai dirinya!"

Thi Eng khi yang diam diam menyadap pembicaraan tersebut, menjadi terharu sekali setelah mendengar perkataan itu, dia merasa darah panas didalam dadanya mendidih sedang dalam hati kecilnya segera bertekad untuk mencampuri urusan ini.

"Suhu!"

Bisik si hwesio cilik itu agak berisik.

"mengapa kita tidak segera kembali untuk mengundang Thi siangkong agar membantu kita?"

"Sudah puluhan tahun lamanya aku berkelana dalam dunia persilatan, tapi belum pernah memohon bantuan orang lain, apakah kau tidak mengetahui hal ini?"

Seru hwesio tua itu dengan wajah bersungguh sungguh.

"Kalau memang begitu, mengapa suhu tidak menyuruh tecu saja yang pergi memohon kepadanya?"

"Hal itu merupakan urusan pribadiku sendiri, dengan kau sibocah yang masih kecil, mana mungkin bisa dibandingkan dengan diriku?"

Hwesio cilik itu tidak puas, dia segera berseru .

"Kalau memang ambisi perguruan kita amat besar, tecupun bersumpah tak akan memohon bantuan orang."

Mula mula hwesio tua itu agak tertegun kemudian sahutnya .

"Bagus! Bagus! Bagus!"

Setelah menatap hwesio cilik itu sekian lama katanya lagi sambil menghela napas .

"Kau memang tak malu menjadi murid aku Hud sim giam ong (raja akhirat berhati buddha) hanya sayang aku tak punya banyak waktu lagi untuk memberi pelajaran kepadamu!"

Dari sakunya ia mengeluarkan se

Jilid kitab kecil dan diserahkan kepada hwesio itu, kemudian lanjutnya .

"Di dalam kitab ini tercantum rahasia ilmu silat dari perguruan kita, baik baik kau menjaga diri."

Tampaknya dia sudah bertekad untuk mati, hal mana mambuat Thi Eng khi beriba hati.

Setelah mengebaskan ujung bajunya, hwesio tua itu segera menggunakan jurus Toa tiau tian ci (rajawali raksasa membentang sayap) melompat ke tengah sungai tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Dengan termangu mangu hwesio cilik itu menyaksikan hwesio tua tersebut melompat naik keatas perahu, kemudian ia baru menyembunyikan diri dibalik semak belukar.

Mendadak dari atas perahu berkumandang suara gelak tertawa yang memekak telinga.

"Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh...... rupanya kau siraja akhirat berhati Buddha yang mengacau dari tengah!"

Begitu Thi Eng khi mendengar suara tertawa yang muncul dari atas perahu dan penuh dengan pancaran tenaga dalam yang amat sempurna itu, dalam hati kecilnya segera berpekik .

"Aduh celaka!"

Buru buru ia mengerahkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im untuk melambung ditengah angkasa lalu dengan mengandalkan hawa murninya yang sempurna, dia langsung meluncur keatas perahu ditengah sungai tersebut.

Hwesio cilik itu masih belum tahu kalau bintang penolong telah datang, ia masih menguatirkan keselamatan dari gurunya.

Waktu itu Thi Eng khi melayang turun diatas perahu, seakan akan enteng bagaikan kapas begitu entengnya gerakan tubuh itu sehingga boleh dibilang semua orang yang berada dalam ruangan sampan tersebut kena dikelabui olehnya.

Dengan cepat dia mencari tempat yang strategis didalam ruangan perahu dan mulai mengintip kedalam.

Ternyata di dalam ruangan perahu itu hadir empat orang yang seorang duduk membelakanginya sedangkan tiga orang lainnya dapat terlihat wajah mereka dengan jelas.

Si hwesio yang bernama Raja akhirat berhati Buddha itu duduk dibagian tengah, di sebelah kirinya duduk seorang kakek berumur lima puluh tahunan yang berwajah bersih, sedangkan di sebelah kanannya duduk seorang sastrawan yang berusia tiga puluh tahunan.

Kedua orang itu nampak lemas sayu dan mengenaskan sekali keadaannya, jelas mereka baru saja menderita siksaan hebat.

Dengan wajah penuh rasa heran dan ingin tahu, raja akhirat berhati Buddha merangkap tangannya dan menjura kepada orang yang duduk membelakangi Thi Eng khi itu, lalu katanya .

"Ooooh ...... rupanya Bu im sin hong (angin tanpa bayangan) Kian tayhiap yang sakti telah datang, selamat bersua, selamat bersua!"

Benarkah orang ini adalah Bu im sin hong Kian Kim siang? Kenyataan tersebut hampir saja membuat Thi Eng khi tidak percaya dengan telinga sendiri, didalam hati .

"Pikun! Sewaktu dibukit Siong san tempo hari, kenapa aku lupa untuk mengadakan perjanjian dengannya?"

Sebenarnya dia akan turun munculkan diri untuk melerai itu tapi dengan cepat ingatan lain melintas dalam benaknya .

"Aaah, lebih baik aku menanti sebentar lagi coba kulihat kesalahan paham apakah sebenarnya telah terjadi diantara mereka barulah setelah duduknya perkara menjadi jelas, baru munculkan diri lagi untuk melerai."

Karena berpikiran demikian, maka diapun lantas mengurungkan niatnya untuk menampilkan diri. Dalam pada itu, Bu im sin hong telah berseru sambil tertawa dingin .

"Bu kay kwesio, tak nyana kau masih ingat dengan raut wajah lohu .... benar benar tak kusangka...."

Tampaknya si raja akhirat berhati Buddha Bu kay hwesio merasa amat jeri sekali terhadap Bu im sin hong Kian Kim siang, mengikuti nada ucapannya itu buru buru dia berseru .

"Pinceng masih ingat, pada enam puluh tahun berselang, ketika pinceng mengikuti mendiang guruku mengunjungi tayhiap, berkat petunjuk tayhiap lah pinceng ...."

Belum habis perkataan itu diutarakan, tiba tiba Bu im sin hong Kian Kim siang membentak keras .

"Tak usah banyak berbicara, aku harus selesaikan dulu tugas ini sebelum berbincang bincang kembali denganmu, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah barangnya sudah kau bawa kemari?"

Paras muka Raja Akhirat berhati Buddha Bu kay hwesio berubah hebat, ia tak berani menjawab pertanyaan Bu im sin hong Kian Kim siang secara terang terangan, dengan sinar matanya dia memandang sekejap kearah kakek yang berada disampingnya, seakan akan ingin tahu apa saja yang telah dia ucapkan.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa dingin tiada hentinya, dia sama sekali tidak bermaksud untuk menghalangi perbuatan mereka.

Terpaksa kakek itu mengucapkan sepatah kata secara ringkas .

"Dia sudah tahu kalau benda tersebut berada ditangan siansu!"

Kemudian dengan wajah memerah dia menundukkan kepalanya rendah rendah.

Di masa dahulu, si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay hwesio terhitung pula sebagai seorang pendekar besar yang termashur namanya dala dunia persilatan, dia termashur karena tindakannya yang tegas seperti raja akhirat tapi berhati welas kasih bagaikan Buddha.

Pada usia tuanya meski sudah mencukur rambutnya menjadi seorang pendeta akan tetapi jiwa kependekarannya sama sekali tidak berkurang.

Sambil menarik muka dia lantas berseru .

"Yu sicu, kau bukan terhitung seorang prajurit tak bernama di dalam dunia persilatan, mengapa tindakanmu justru melanggar kesetiaan kawan yang diperlukan seorang jago persilatan?"

Kakek yang ditegur itu hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, tiba tiba dia mengayunkan telapak tangan untuk menghantam keatas ubun ubun sendiri.

Serta merta Bu im sin hong Kian Kim siang mengangkat tangannya sambil menotok jalan darah kakek itu, dengan demikian niatnya untuk membunuh diri jadi tercegah.

Setelah itu sambil tertawa seram katanya .

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhhh..... sebelum urusan menjadi jelas jangan harap kalian bisa mati dengan seenaknya sendiri, apakah kau melupakan kembali perkataan dari lohu? Kalau tidak, tak ada salahnya jika kau merasakan ilmu jari Siau hun ci hoatku sekali lagi!"

Seraya berkata dia lantas menggerakkan jari tangannya seperti siap melakukan totokan. Dengan cepat si raja akhirat berhati Buddha melompat kedepan dan menghadang dihadapan kakek itu serunya .

"Dengan nama besar Kian tayhiap dalam dunia persilatan, tak nyana kalau perbuatanmu begitu rendah, sehingga terhadap seorang angkatan muda dari dunia persilatan pun melakukan tindakan sekeji ini, kalau begitu pinceng telah salah menegur Yu sicu."

Perlu diketahui ilmu jari Siau hun ci hoat merupakan salah satu ilmu beracun dari dunia persilatan, barang siapa yang terkena totokan tersebut, dia tak akan merasa sakit ataupun gatal, tapi akan merasa linu sekujur badannya seakan akan seluruh tulang belulangnya menjadi lepas dan sukmanya melayang meninggalkan raganya.

Jilid 22 Siksaan tersebut melebihi penderitaan ditusuk tusuk dengan senjata tajam, sekalipun seseorang terdiri dari otot kawat tulang besi, jangan harap bisa menahan siksaan semacam itu.

Kakek she Yu itu terdiri dari darah dan daging, sudah barang tentu dia tak akan sanggup menahan diri, dalam keadaan demikian siapapun pasti akan berbicara dengan terus terang.

Cuma saja cara semacam ini merupakan sebuah cara yang amat keji dan rendah, kebanyakan jago persilatan dari golongan lurus enggan untuk menggunakan cara tersebut sehingga menodai nama baiknya.

Pada enam puluh tahun berselang, nama besar Bu im sin hong Kian Kim siang sudah termashur didalam dunia persilatan, terutama empat propinsi di wilayah selatan, kebesaran namanya dan kebesaran kedudukannya boleh dibilang sejajar dengan kedudukan Keng thian giok cu Thi keng maupun Tiang pek lojin So Seng pak sekalian.

Sungguh tak disangka enam puluh tahun kemudian, wataknya telah berubah sama sekali dan berubah menjadi seorang manusia yang dibenci setiap umat persilatan.

Bu im sin hong Kian Kim siang sedikit pun tidak nampak malu ataupun menyesal, jari tangannya masih tetap digerak gerakkan diatas wajah Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu sembari mengancam .

"Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan lagi, sudah kau bawakan barang itu?"

Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhhh...... haaahhhh..... kau hendak menggertak pinceng dengan mempergunakan ilmu jari Siau hun ci hoat? Sayang sekali kau salah mencari sasaran, sampai matipun pinceng tak nanti akan takut menghadapi dirimu."

Sembari berkata dia lantas menotok jalan darah Khek swan hiat ditubuhnya lebih dahulu.

Dengan demikian, sekalipun dia kalah dalam pertarungan dan tertangkap lawan.

Bu im sin hong Kian Kim siang tak mungkin bisa menggertak dirinya lagi.

Sebab dengan menotok jalan darah Khek swan hiat tersebut, hal itu merupakan satu satunya cara untuk menghindari diri dari siksaan Siau hun ci hoat.

Yang dimaksud sebagai "menghindarkan diri"

Adalah jika ilmu totokan siau hun ci hoat tersebut ditotokkan keatas tubuhnya maka dia akan segera tewas, sehingga dapat terhindar dari siksaan akibat totokan ilmu jari siau hun ci hoat tersebut.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian itu menjadi mendongkol sekali, teriaknya sambil mencak mencak karena kegusaran .

"Kau anggap lohu sudah tidak punya cara lain lagi untuk menyiksa dirimu ....?"

Tiba tiba dia mementangkan cakarnya dan secepat kilat menyambar bahu kiri si Raja akhirat berhati Buddha.

Dengan wajah serius, si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu menghindarkan diri ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman cengkeraman itu.

Bu im sin hong Kian Kim siang bergerak secepat sambaran petir, tampak ia sama sekali tidak berganti jurus, sambil membalikkan telapak tangannya tahu tahu dia sudah mencengkeram tubuh Hud sim giam ong secara telak .....

Berbicara soal tenaga dalam, Hud sim giam ong Bu kay siansu terhitung mempunyai kemampuan yang sederajat dengan ciangbunjin pelbagai partai besar dalam dunia persilatan, akan tetapi bila dibandingkan dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, maka selisihnya masih cukup jauh, apalagi ruangan dalam perahu amat sempit dan tidak leluasa untuk dipakai menghindarkan diri.

Begitu cengkeramannya berhasil dengan telak, Bu im sin hong Kian Kim siang segera mengerahkan tenaganya untuk menekan tubuh lawan, setelah itu diseretnya tubuh Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu sehingga bergeser satu langkah ke sebelah kiri.

Waktu itu si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu sudah bertekad untuk mati, ia sama sekali tidak memperdulikan keselamatan dirinya, menggunakan kesempatan tersebut pergelangan tangannya segera diputar dan balas membabat jalan darah Ciang bun hiat dipinggang sebelah kiri Bu im sin hong Kian Kim siang.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa dingin, jengeknya .

"Kau anggap masih bisa banyak bertingkah dihadapan lohu? Lebih baik roboh saja kau!"

Sekali lagi hawa murninya disalurkan keluar untuk menekan tubuh lawan, seketika itu juga tubuh si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu yang sedang menerjang kemuka malah terdesak mundur selangkah, kakinya tak sanggup berdiri tegak dan ia segera menubruk ke depan.

Bu im sin hong Kian Kim siang berdiri dengan telapak tangan kanannya disilangkan didepan dada, kemudian secepat kilat menghantam jalan darah ciang tay hiat ditubuh Hud sim giam ong Bu kay siansu tersebut, katanya sambil tertawa jengah .

"Bila lohu tidak sanggup untuk merobohkan dirimu, tidak pantas aku menjabat sebagai tongcu ruangan Hian bu tong dalam istana Ban seng kiong ....."

Serangan dari Bu im sin hong Kian Kim siang dilancarkan bertubitubi, seandainya sampai terkena serangan itu secara telak, niscaya si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu bakal mampus seketika.

Rupanya Bu im sin hong Kian Kim siang telah mempergunakan ilmu Huan cing hui hiat (membalik otot memutar darah) suatu kepandaian yang lebih dahsyat dari ilmu jari Siau hun ci hoat untuk menghadapi lawannya.

Mendadak dari luar ruangan perahu terdengar seorang membentak nyaring .

"Kian lo tunggu sebentar!"

Tampaknya Thi Eng khi sudah tak tahan menyaksikan tindak tanduk yang dilakukan rekannya, dia segera menerobos masuk kedalam ruangan dan mencegah Bu im sin hong Kian Kim siang untuk melanjutkan serangan kejinya ....

Bu im sin hong Kian Kim siang agak menghentikan sebentar ancaman itu, tapi kemudian setelah mendengus dingin, ia meneruskan kembali ancamannya.

Thi Eng khi sama sekali tidak menyangka kalau perpisahannya selama puluhan hari telah mengakibatkan perubahan besar bagi Bu im sin hong Kian Kim siang, bukan saja bertambah keji bahkan sama sekali tidak mengenali dirinya lagi.

Kenyataan tersebut membuat hatinya menjadi marah sekali, sambil miringkan badan lantas membacok keatas urut nadi pada pergelangan tangan Bu im sin hong Kian Kim siang.

Berada dalam keadaan demikian andaikata Bu im sin hong Kian Kim siang tidak segera menarik kembali serangannya, bisa saja dia meneruskan ancamannya dan membunuh Hud sim giam ong Bu kay siansu diujung telapak tangannya, akan tetapi lengannya pun akan terpapas kutung pula di tangan Thi Eng khi.

Dalam keadaan terpaksa menarik kembali ancamannya dan menyongsong datangnya ancaman dari Thi Eng khi.

Begitu sepasang telapak tangan mereka saling bertemu segera terjadilah benturan keras yang memekikkan telinga, seketika itu juga Bu im sin hong Kian Kim siang terdesak mundur selangkah.

Sebaliknya Thi Eng khi tetap berdiri tak berkutik di tempat semula.

Masih untung Thi Eng khi cuma mempergunakan tenaga sebesar lima bagian saja, kalau tidak, mungkin tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang sudah mencelat keluar dari ruangan perahu.

Dengan perasaan terperanjat Bu im sin hong Kian Kim siang membentak keras .

"Siapakah kau?"

Pertanyaan tersebut membuat Thi Eng khi menjadi tertegun, segera pikirnya .

"Baru berpisah puluhan hari, masa dia sudah tidak kenal lagi dengan aku...?"

Tapi ingatan lain dengan cepat melintas didalam benaknya .

"Jangan jangan karena aku mengenakan pakaian berkabung, maka dia tak melihat jelas wajahku?"

Berpikir demikian, sambil tertawa segera ujarnya .

"Siaute adalah Thi Eng khi!"

Lima orang yang berada dalam ruangan perahu itu sama sama menjadi tertegun dan segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Thi Eng khi.

Perlu diketahui, semenjak pertemuannya di bukit Siong san serta keberaniannya untuk mendatangi istana Ban seng kiong seorang diri, nama besar Thi Eng khi sudah diketahui oleh setiap umat persilatan yang berada dalam dunia persilatan.

Tapi semua orang hanya mengetahui kalau dia adalah seorang yang berjiwa panas, siapapun tidak ada yang mengira kalau tenaga dalam yang dimilikinya begitu sempurna sehingga mampu untuk bertarung menghadapi Bu im sin hong Kian Kim siang.

Yang paling tersipu sipu keadaannya adalah Bu im sin hong Kian Kim siang sendiri apalagi setelah dipaksa mundur oleh seorang anak muda dihadapan orang lain, kemarahannya makin berkobar.

Mendadak dia membentak keras .

"Ooh, rupanya kau, sambutlah pukulanku sekali lagi!"

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat. Dengan kening berkerut, Thi Eng khi segera berpikir .

"Tampaknya dari malu Kian lo menjadi naik darah!"

Dia tak ingin terlalu memaksa orang, maka kali ini dia hanya mempergunakan tenaga sebesar enam bagian untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Ketika sepasang telapak tangan saling membentur, segera terjadilah suatu ledakan yang memekikkan telinga.

Sekalipun Bu im sin hong Kian Kim siang telah mempergunakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, sedangkan Thi Eng khi hanya enam bagian ternyata keadaannya masih tetap seimbang, kedua belah pihak sama sama tidak tergoyah barang setengah langkah pun.

Tapi akibatnya perahu itu menjadi oleng dan bergoyang keras sekali akibat tekanan hawa pukulan mereka berdua.

Si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu sekalian tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, dalam anggapan mereka kekuatan yang dimiliki kedua orang itu seimbang, sehingga tanpa terasa mereka menghembuskan napas dingin dan hatinya amat tak tenang.

Berbeda sekali dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, dia merasa terperanjat sekali dan malu untuk berbincang bincang dengan Thi Eng khi lebih jauh, begitu menghajar dinding perahu sampai ambrol sebagian, dia segera melompat keluar dari ruang perahu dan melarikan diri dari tempat tersebut.

Thi Eng khi hanya berdiri dengan penuh tanda tanya, tapi diapun tidak menghalangi.

Sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas, dia membangunkan Si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu dari atas perahu, katanya .

"Siansu kau dibuat terkejut."

Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu memegang sepasang bahu Thi Eng khi sambil tertawa terbahak bahak, kejut dan girang menyelimuti seluruh wajahnya.

"Haaahhh..... haaahhhh.... haaahhh..... walaupun pinceng sudah tahu kalau Thi sauhiap adalah seorang pandai tapi sama sekali tak kusangka kalau kau adalah ketua Thian liong pay yang termashur namanya dalam dunia persilatan, maaf ..... aku benar benar minta maaf. Untung saja Thi ciangbunjin bersedia untuk turun tangan dan membantu kami hari ini, kalau tidak pinceng sekalian pasti akan mati secara mengenaskan!"

Di tengah ucapan terima kasih itu, si kakek setengah tua dan sastrawan muda itu telah bangun berdiri dan memberi hormat kepada Thi Eng khi.

Dari pembicaraan tersebut, baru diketahui bahwa kedua orang inipun terhitung manusia kenamaan dalam dunia persilatan.

Yang tua bernama Kim gin siang pian (sepasang ruyung emas perak) Yu Cian hian, sedangkan si sastrawan muda itu bernama Hek pek san (Kipas hitam putih) Ong Liu tong.

Semua orang mempersilahkan Thi Eng khi untuk duduk di kursi utama, Thi Eng khi tahu dalam keadaan demikian tak ada gunanya untuk mengalah maka untuk menyenangkan hati semua orang, tanpa sungkan sungkan lagi dia segera duduk di kursi utama.

Sementara itu, si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu telah menghembuskan napas panjang seraya berkata .

"Bu im sin hong Kian tayhiap sudah lama termashur sebagai seorang pendekar besar yang suka membantu kaum lemah dan membantu kesulitan orang, sungguh tak disangka puluhan tahun kemudian, wataknya bisa berubah menjadi begitu jelek, bahkan telah bergabung pula dengan pihak Ban seng kiong untuk melakukan kejahatan, peristiwa ini benar benar merupakan suatu ketidak beruntungan bagi umat persilatan. Thi Eng khi segera teringat pula hubungannya dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, katanya pula .

"Kesemuanya ini merupakan kesalahan diriku yang masih muda dan berpengalaman cetek hingga aku telah salah menolong orang."

Mendengar perkataan itu, si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu menjadi keheranan, serunya kemudian .

"Entah apa maksud Thi ciangbunjin mengucapkan perkataan itu?"

Page 16-17 missing dengan sikap hina banyak jago terhadap perguruan Thian liong pay, dia mengira Raja akhirat berhati Buddha merasa tak sudi untuk bergaul dengannya, maka dengan wajah sedingin es, segera ujarnya .

"Jika siansu menganggap aku tak cocok untuk bergaul denganmu, baiklah aku hendak mohon diri dulu."

Selesai menjura, dia segera melangkah keluar dari ruang perahu tersebut.....

Si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu menjadi amat gelisah, buru buru serunya sambil menggoyangkan tangannya berulang kali .

"Thi ciangbunjin, harap jangan salah paham, pinceng sama sekali tidak bermaksud demikian."

Selain gugup, dia pun nampak panik sekali.

Ketika Thi Eng khi menyaksikan Si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu berbicara dengan wajah bersungguh sungguh, hatinya menjadi rikuh sendiri, dia kuatir kalau niatnya untuk pergi dilanjutkan maka orang akan menganggapnya berjiwa sempit, maka dia lantas melangkah balik ke tempat semula.

Gerakannya baik sewaktu pergi maupun sewaktu kembali dilakukan secepat kilat, semua orang hanya merasa dia menggeserkan posisinya tapi tidak tahu ilmu gerakan tubuh apakah yang digunakan.

Terkesiaplah Si Raja akhirat berhati Buddha sekalian setelah menyaksikan kejadian itu, mereka tidak tahu sampai dimanakah kelihayan dan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi.

Setelah menghela napas panjang, Si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu segera berkata .

"Sahabatku itu tak lain adalah Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap, kepala kampung dari perkampungan Ki hian san ceng dibukit Hong san."

Dengan kening berkerut Thi Eng khi hanya mengucapkan "aah, aah, oh, oh"

Tanpa sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.

Agaknya si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu sudah menduga kalau Thi Eng khi bakal menunjukkan sikap seperti ini, maka paras mukanya sama sekali tidak berubah, pelan pelan katanya .

"Walaupun pinceng tidak menyaksikan sendiri persengketaan yang terjadi antara Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap dengan Thi ciangbunjin, tapi pinceng cukup mengenali watak dari Sangkoan tayhiap. Dilihat dari tabiatnya itu aku pun tahu kalau kesalahan tersebut pasti bukan terletak pada diri Thi ciangbunjin. Setelah berjumpa hari ini, hal tersebut makin mempertebal dugaanku kalau dugaan pinceng tak salah. Cuma ..... entah bersediakah Thi ciangbunjin memandang pada gawatnya situasi dalam dunia persilatan untuk mengesampingkan dulu perselisihan pribadi dan mau bersatu padu untuk bersama sama menanggulangi krisis dalam dunia persilatan? Pinceng bersedia menjadi perantaranya dalam hal ini..... bila benar benar bisa terwujud, hal ini sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi umat persilatan."

Thi Eng khi adalah seorang pemuda yang berjiwa besar, dengan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong juga tidak mempunyai dendam kesumat, cuma saja lantaran sikap mereka yang keterlaluan, hal ini memaksanya mau tak mau harus mengambil tindakan pula.

Maka setelah disinggung kembali oleh si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu, dengan cepat diapun menyatakan kesediaannya.

Sementara dia hendak mengemukakan sikapnya, tiba tiba si hwesio cilik itu menimbrung .

"Suhu, Thi ciangbunjin adalah seorang pendekar sejati yang mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, tentu saja ia bersedia untuk memperbaiki hubungan tersebut, yang dikuatirkan adalah Sangkoan tayhiap yang keras kepala dan sampai mati tak mau mengaku salah!"

Thi Eng khi memang tak malu disebut seorang manusia yang luar biasa, dengan wajah bersungguh sungguh dia lantas berkata .

"Maksud mulia siansu tak berani kutampik, begitulah, kuserahkan persoalan ini kepada siansu! Asal Sangkoan tayhiap bisa melupakan kejadian masa lalu, akupun setiap saat bersedia untuk menjumpainya!"

Sikap Thi Eng khi yang terbuka dan berjiwa besar ini segera disambut oleh Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu sekalian dengan perasaan kagum tanpa merasa mereka berseru bersama .

"Bagus!"

Rasa kagum mereka terhadap Thi Eng khi pun otomatis semakin bertambah ....

Dengan penuh kegembiraan si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu segera mengambil keputusan untuk mengajak hwesio cilik itu bersama Kim gin siang pian Yu Cian hian serta Hek pek san Ong Liu tong untuk bersama sama berangkat ke perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san.

Setelah berpisah dengan keempat orang itu, Thi Eng khi merasa munculnya suatu perasaan kosong dalam hatinya, tapi karena persoalan yang harus diselesaikan terlalu banyak, untuk sesaat dia tak bisa mengambil keputusan dan tak tahu kemana harus pergi.

Dengan tanpa tujuan akhirnya dia berjalan menelusuri sungai.

Walaupun dia hanya berjalan dengan santai, tapi tanpa terasa sampai juga dijalanan menuju ke rumah.

Setelah melewati Swan hong, diapun menembusi kota Sah si.

Di depan matanya kini tampak kuil tokoan yang pernah digunakan untuk menjebaknya dan hampir saja membunuhnya dulu.

Sekarang kuil tersebut sudah hancur dan tinggal puing puing yang berserakan.

Sementara ia masih memandang sekitar tempat itu, dari depan sana tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, ketika orang itu menjumpai Thi Eng khi, mendadak tubuhnya melambung ke tengah udara, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia melayang turun dibelakang tubuh si anak muda tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi memang sangat lihay, walaupun berada dalam keadaan melamun, namun suatu gerakan yang mencurigakan saja dibelakang tubuhnya segera meningkatkan kewaspadaannya.

Dengan cepat dia membalikkan badan dengan menyilangkan telapak tangannya didepan dada kemudian bentaknya keras keras .

"Siapa di situ .....?"

Dengan wajah berseri seri orang itu menerjang tiba, kemudian teriaknya keras keras.

"Saudara Thi, kau benar benar membuat aku Lo Kian menjadi kelabakan setengah mati!"

Dengan cepat ia mendekat dan maksud untuk merangkul bahu Thi Eng khi.

Serta merta Thi Eng khi berkelit ke samping dan mundur sejauh tiga langkah dengan perasaan muak, lalu sambil melintangkan sepasang telapak tangannya di depan serunya dingin .

"Sejak berpisah diatas perahu, beberapa hari baru lewat, ada urusan apa kau datang mencariku?"

Menghadapi sikap Thi Eng khi yang dingin dan kaku, orang tersebut nampak agak tertegun dan segera menghentikan langkahnya, kemudian setelah membalikkan matanya berulang kali, dia berseru .

"Sejak berpisah denganmu di bukit Bu gi san tempo hari, di tengah jalan aku telah berjumpa dengan seorang sahabat karibku hingga perjalananku agak tertunda, tak disangka ketika tiba di bukit Siong san, kau telah pergi lebih dulu, dengan susah payah aku mencari dirimu hingga hari ini tapi mengapa sikapmu terhadap sahabat karib berubah sekasar ini? Siapakah yang telah berjumpa denganmu didalam sampan? Coba perhatikan lagi dengan seksama, siapakah diri lohu ini?"

"Hmm, kau masih pandai sekali berlagak pilon,"

Sumpah Thi Eng khi dalam hati. Dengan wajah dingin dan kaku dia berseru .

"Nama besar Bu im sin hong Kian tayhiap sudah termashur di seluruh kolong langit, sekarang pun sudah menjadi Tongcu ruang Hian bu tong di istana Ban seng kiong, aku tak berani mengikat tali persahabatan denganmu, lebih baik kita bersua lagi di dalam istana Ban seng kiong, waktu itu aku tak akan berbicara sesungkan hari ini."

Selesai berkata dia lantas miringkan badan dan berlalu dari tempat tersebut.

Bu im sin hong Kian Kim siang adalah seorang jago tua yang amat berpengalaman dalam dunia persilatan, setelah menyaksikan hal tersebut dia lantas menduga kalau Thi Eng khi telah menganggap seseorang lain sebagai dirinya.

Tentu saja dia tak membiarkan Thi Eng khi pergi dengan begitu saja, karena bila sampai berbuat demikian, kesalahan paham diantara mereka pasti akan bertambah mendalam.

Maka sambil menghalangi jalan pergi Thi Eng khi katanya .

"Thi lote, tunggu dulu, dibalik peristiwa ini pasti ada hal hal yang tak beres, jangan kelewat menuruti napsu, kita mesti selidiki dahulu dengan baik baik!"

Thi Eng khi menjadi terkejut sekali dan menghentikan langkahnya sambil membungkam, dia teringat kembali dengan kemampuan Huan im sin ang untuk menyaru sebagai wajah orang lain.

Ditinjau dari kejadian mana bisa disimpulkan kalau orang yang dijumpainya dalam sampan tempo hari adalah Bu im sin hong gadungan, tapi siapa pula yang percaya kalau Bu im sing hong Kian Kim siang yang berada di hadapannya sekarang adalah Bu im sin hong Kian Kim siang yang sesungguhnya.

Sekalipun yang berada di hadapannya adalah yang asli, namun siapa pula yang bisa membuktikan kalau dia belum menggabungkan diri dengan pihak Ban seng kiong?

Siapa tahu dia datang dengan maksud untuk membohongi dirinya .....?

Pertanyaan pertanyaan ini tak mungkin bisa dibuktikan dengan segera, untuk sesaat Thi Eng khi menjadi serba salah dibuatnya.

Bu im sin hong Kian Kim siang adalah seorang jago kawakan yang sangat berpengalaman, dalam sekilas pandangan saja dia sudah dapat meraba jalan pikiran Thi Eng khi, maka dengan cepat dia mengemukakan suatu rahasia untuk membuktikan keaslian dari dirinya.

"Cahaya aneh melindungi badan, tiada perasaan melepaskan naga...."

Sebagaimana diketahui, ilmu sakti Heng kian sinkang yang dimiliki Thi Eng khi sekarang berasal dari gua pertapaan Thio Biau liong, peristiwa itu pun hanya diketahui Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang yang asli.

Maka dengan perasaan sangsi, Thi Eng khi segera berkata .

"Kian lo, siaute masih ada satu persoalan yang tidak kupahami, harap kau suka memberi penjelasan!"

Nada suaranya sekarang jauh lebih lembut dan lunak. Bu im sin hong Kian Kim siang mengenyitkan alis matanya, lalu berkata pelan .

"Thi lote, bila dalam hatimu tumbuh kecurigaan, silahkan saja diutarakan dengan berterus terang!"

"Harap kau suka membuktikan kalau dirimu bukanlah tongcu ruangan Hian bu tong dari istana Ban seng kiong?"

Tapi bagaimana caranya untuk membuktikan hal ini?

Walaupun Bu im sin hong Kian Kim siang berpengalaman luas, toh dia dibikin serba salah juga oleh tindakan Thi Eng khi ini, sebab sulit untuk membuktikan hal itu.

Sementara kedua orang itu bertatapan muka dengan mulut membungkam, dan Thi Eng khi dengan paras muka berubah sudah siap siap untuk meninggalkan tempat itu, mendadak dari jalan raya muncul sesosok bayangan manusia.

Begitu menyaksikan kedatangan orang itu, Thi Eng khi nampak semakin tersipu sipu, dengan perasaan apa boleh buat segera panggilnya .

"So yaya!"

Kemudian ia menundukkan kepala dan membungkam dalam seribu bahasa. Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi gembira sekali, segera teriaknya keras keras .

"Saudara So, tepat kedatanganmu, Thi lote sedang mencurigai siaute telah bergabung dengan pihak Ban seng kiong dan menjadi tongcu dari ruangan Hian bu tong, padahal kita belum lama berpisah, harap kau suka menjadi saksi!"

Tiang pek lojin So Seng pak segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.... haaahhhh..... haaahhh...... apa jeleknya menjadi tongcu dari istana Ban seng kiong? Saudara Kian, apa salahnya jika kau mengaku secara terus terang saja?"

Mendengar perkataan itu, kontan saja Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi berdiri melongo, dia mengira Tiang pek lojin So Seng pak sengaja mengajaknya bergurau, buru buru serunya dengan gelisah .

"Kau... kau ..... jangan jangan kau sedang mabuk?"

Paras muka Tiang pek lojin So Seng pak kembali berubah menjadi amat serius, ujarnya lebih jauh .

"Lohu berada dalam keadaan yang sadar, mungkin kau sendiri yang sedang pikun sehingga melupakan diri, Eng ji toh orang sendiri, sudah seharusnya kita bersama sama mengajaknya, buat apa kau main sembunyi? Apakah hal inilah yang menjadi watakmu?"

Thi Eng khi sedang berkerut kening, dia merasa perkataan dari Tiang pek lojin So Seng pak amat menusuk pendengaran.

Sementara dia masih termangu, terdengar Tiang pek lojin So Seng pak telah berkata lebih jauh .

"Ban seng kiong telah dipimpin langsung oleh Hian im Tee kun, lohu sudah ditarik menjadi tongcu ruangan Pek hou tong bersama Kian lo ...."

Paras muka Thi Eng khi berubah berulang kali, tidak menunggu Tiang pek lojin menyelesaikan perkataannya, dengan sekujur tubuh gemetar keras ia telah menutupi sepasang telinganya sambil berteriak keras .

"Tidak! Tidak! Aku tak mau mendengarkan ...."

Kemudian dia menjerit lagi .

"Ooo Thian!"

Tanpa membuang waktu dia segera membalikkan badan dan berlalu meninggalkan tempat itu. Dari belakang tubuhnya kedengaran suara Tiang pek lojin So Seng pak sedang berkata sambil tertawa terbahak bahak.

"Haahhh.... haaahhhh..... haaahhhh...... kakekmu Keng thian giok cu Thi loko pun telah menerima perintah dari Tee kun untuk menjabat sebagai Tongcu ruangan Cing liong tong! Dia telah meninggalkan pesan yang memerintahkan kepadamu untuk segera menjumpainya dan menerima perintah!"

Sekali lagi Thi Eng khi berteriak keras, larinya tampak bertambah cepat lagi.

Dalam keadaan seperti ini, Bu im sin hong Kian Kim siang tak sempat untuk menganggapi ucapan Tiang pek lojin lagi, dia segera berteriak keras .

"Thi lote!"

Dengan cepat, dia mengejar dibelakangnya.

Melihat itu, Tiang pek lojin So Seng pak tertawa tergelak semakin bangga lagi.

Ketika Ciu Tin tin mencapai di luar pintu gerbang Ban seng kiong setelah terhalang oleh Hian im Tee kun, ia kehilangan jejak dari Thi Eng khi, ia tahu setelah kehilangan jejaknya, maka bila ingin menyusulnya hal itu jauh lebih sulit daripada naik ke langit.

Dalam keadaan begini, dia lantas menundukkan kepalanya dan memandang sekejap kearah tulang kering sepanjang satu inci ditangannya itu, sementara otaknya berpikir kembali akan ucapan Hian im Tee kun yang meminta gurunya agar menjabat sebagai Tongcu ruangan Cu ciok tong dalam istana Ban seng kiong.

Setelah mempertimbangkan berat ringannya, sambil menggertak gigi akhirnya diputuskan untuk pulang ke gunung lebih dulu.

Mengapa Ciu Tin tin bisa munculkan diri dalam istana Ban seng kiong kali ini?

Ternyata pada malam ketika Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang berpisah di bukit Sam yang hong tempo hari, karena Thi Eng khi telah berpekik lirih untuk memanggil kuda berbulu hitamnya, maka dalam keadaan ilmu Heng kian sinkang yang baru berhasil dipelajari dan belum mampu dikendalikan sebaik baiknya, ditambah lagi malam itu hening, akhirnya suara tersebut didengar pula oleh Ciu Tin tin yang sedang menangis.

Mendengar suara tersebut, Ciu Tin tin segera mengetahui siapakah orangnya, dia segera menyusul kedepan, sayang kemunculannya terlambat selangkah dan ia tak berhasil menjumpai bayangan tubuh dari Thi Eng khi.

Walaupun masih murung namun rasa sedih yang semula mencekam hatinya telah jauh berkurang.

Paling tidak, ia sudah tahu kalau Thi Eng khi telah berhasil meloloskan diri dari bahaya maut.

Terdorong oleh gejolak perasaan pada hatinya, dia segera memutuskan untuk secara diam diam meninggalkan bukit Bu gi san, karena ia beranggapan sebelum dapat bertemu muka dengan adik Eng, sekalipun tinggal di Bu gi san, dia tak akan merasa lega hati.

Sewaktu dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan Thi Eng khi akan mendatangi istana Ban seng kiong seorang diri, Ciu Tin tin segera menyusul ke istana Ban seng kiong, akhirnya dia berjumpa dengan Thi Eng khi dan menghantar keberangkatan Huang oh siansu berpulang ke alam baka.

Walau sudah berjumpa, ternyata mereka tak mengucapkan sepatah katapun dan harus berpisah kembali, rasa sedih yang mencekam perasaan Ciu Tin tin benar benar tak terlukiskan dengan kata.

Akan tetapi bagaimanapun juga Ciu Tin tin memang seorang gadis yang luar biasa, berada dalam situasi yang amat kritis ini, dia memutuskan untuk mendahulukan soal tugas umum daripada kepentingan pribadi.

Maka ia mengurungkan niatnya untuk mencari Thi Eng khi dan berangkat pulang ke kuil Sam sim an dibukit Bu gi san untuk menyampaikan dahulu pesan dari Hian im Tee kun.

Sementara itu, Sim ji sinni yang telah membagikan Si toan kim khong kepada pendendam raja akhirat Kwik Keng thian dan Pek leng siancu So Bwe leng, dengan perasaan lega telah kembali ke kuil Sam sim an.

Karena itulah dia tak tahu kalau Thi Eng khi telah mendatangi istana Ban seng kiong seorang diri, waktu itu dia malah sedang sedih karena peristiwa terjatuhnya Thi Eng khi kedalam jurang dan perginya Ciu Tin tin tanpa pamit.

Sebenarnya Sim ji sinni bertindak semacam itu selama ini hanya bermaksud baik untuk Thi Eng khi, siapa sangka justru kebalikannya yang ditemui peristiwa tragedi ini segera membuat Sim ji sinni amat sedih bercampur menyesal.

Tatkala Ciu Tin tin tiba kembali di kuil Sam sim an, Sim ji sinni saat itu sedang berdiri seorang diri diatas tebing sambil menahan rasa sedih dalam hatinya.

Ciu Tin tin menjadi amat sedih setelah menyaksikan kejadian itu, dia segera berseru lirih .

"Suhu ...!"

Dengan cepat dia menubruk ke dalam pelukan Sim ji sinni dan menangis tersedu sedu.

Agak lega juga hati Sim ji sinni menyaksikan Ciu Tin tin telah kembali dengan selamat, dibelainya rambut nona itu dengan kasih sayang, kemudian hiburnya .

"Anak Tin, dalam perjalananmu turun gunung kali ini apakah telah menjumpai suatu kejadian yang memedihkan hatimu?"

Setelah menangis sekian waktu, pelan pelan Ciu Tin tin baru dapat menenangkan kembali hatinya, dia lantas mengeluarkan lencana tulang putih pemberian Hian im Tee kun, kemudian tanya .

"Suhu, apakah kau kenal dengan lambang tulang kering ini?"

Begitu menyaksikan benda tersebut, paras muka Sim ji sinni segera berubah hebat serunya tanpa terasa .

"Omitohud .... dari mana kau dapatkan lencana Pek leng kut tersebut ....?"

Suaranya kedengaran gemetar keras, jelas nikou sakti dari kolong langit ini dibuat terperanjat setelah menyaksikan lencana pek leng kut tersebut ....

Meninjau dari perubahan wajah gurunya, Ciu Tin tin segera sadar kalau masalahnya amat gawat, maka secara ringkas dia lantas melaporkan semua pengalamannya sejak turun gunung.

Tatkala Sim ji sinni mendapat tahu kalau Thi Eng khi belum mati, hatinya merasa lega sekali, sambil memandang wajah Ciu Tin tin sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya.

Akan tetapi, ketika ia mendengar Hian im Tee kun menitahkan kepadanya untuk menjabat tongcu ruangan Cu ciok tong dalam istana Ban seng kiong, paras mukanya kembali menjadi tegang, ia tampak tidak tenang sekali.

Ciu Tin tin sama sekali tidak menyangka kalau gurunya bakal jeri terhadap manusia yang bernama Hian im Tee kun tersebut, dalam hatinya ia merasa sangat tidak puas, serunya .

"Tua bangka itu sungguh mengemaskan, lain kali jika anak Tin berjumpa lagi dengannya pasti akan kutunjukkan sedikit kelihayanku kepadanya!"

Rasa tegang yang semula mencekam perasaan Sim ji sinni agaknya terbuka juga oleh kepolosan Ciu Tin tin, dia segera tersenyum, katanya .

"Anak Tin, tahukah kau manusia macam apakah Hian im Tee kun tersebut...?"

"Hmmm .... tak lebih cuma seorang tua bangka berjubah hijau, apanya yang luar biasa?"

Dengan kening berkerut, Sim ji sinni segera berkata .

"Berbicara soal Hian im Tee kun, dia merupakan seorang manusia yang paling hebat dalam dunia persilatan dewasa ini, aku belum bisa membayangkan siapakah diantara jago jago persilatan yang ada sekarang dapat mengalahkan dirinya."

Ciu Tin tin segera teringat dengan kegagahan dari Keng thian giok cu Thi Keng, kakek dari Thi Eng khi, seharusnya dialah yang terhitung berilmu paling lihay, maka dengan riang gembira ujarnya .

"Kalau Keng thian giok cu Thi yaya masih berada di dunia, andaikata bisa menjumpai dia orang tua, rasanya tak sulit untuk merobohkan Hian im Tee kun tersebut!"

"Tenaga dalam yang dimiliki Keng thian giok cu Thi tayhiap berada seimbang denganku, padahal dengan kepandaian yang kumiliki sekarang paling banter hanya bisa tahan sebanyak seratus gebrakan belaka, aku rasa Thi lotoa juga tak akan lebih hebat daripada diriku."

Sekarang Ciu Tin tin baru merasa sangat tegang, serunya dengan cepat .

"Sebetulnya manusia macam apakah dia? Mengapa bisa sedemikian lihaynya.....?"

"Berbicara soal asal usul dari gembong iblis ini, tak mungkin bisa selesai dalam sepatah dua kata saja, pokoknya dia merupakan seorang gembong iblis yang berkepandaian paling tinggi selama ratusan tahun belakang ini, sejak dua puluh tahun terjun ke dunia persilatan sampai sekarang belum pernah ada tandingannya, bahkan pada seratus tahun berselang, dunia persilatan sempat dibikin porak poranda oleh perbuatannya itu ...."

Ketika berbicara sampai disitu, dia segera menghembus napas panjang .... Ciu Tin tin segera menimbrung .

"Suhu, apakah kau tidak terlalu menyanjung kehebatan dari Hian im Tee kun itu? Seandainya dia lihay, sejak dulu dia sudah merajai dunia persilatan dan rasanya tak perlu untuk menunda sampai sekarang dan baru muncul serta mengalahkan para angkatan muda."

Sim ji sinni segera tertawa.

"Anak Tin, kau jangan menimbrung dulu toh perkataanku belum selesai kuucapkan!"

"Tecu merasa amat tidak leluasa menyaksikan sikap congkak dan jumawa dari keparat tua itu, rasanya ingin sekali kuhajar dirinya habis habisan untuk melampiaskan rasa gemas didalam hati."

"Untung saja pada waktu itu muncul seorang jago lihay yang sangat hebat dan berilmu tinggi, dalam suatu pertarungan yang hebat akhirnya dia berhasil mengalahkan Hian im Tee kun dan menghindarkan dunia persilatan dari tragedi yang mengenaskan."

Ciu Tin tin segera merasakan semangatnya berkobar kembali, buru buru serunya .

"Siapakah dia .... dia orang tua? Masih hidupkah dia di dunia ini? Mengapa kita tidak mengundang kemunculannya?"

Sim ji sinni mendongakkan kepalanya dan memandang sekumpulan awan putih yang sedang bergerak diangkasa, setelah itu katanya lebih jauh .

"Dia...... sebelum mengalahkan Hian im Tee kun, dia hanya seorang manusia tanpa nama dari dunia persilatan, tapi setelah mengalahkan Hian im Tee kun, belum lagi orang lain mengetahui namanya, dia sudah lenyap dari dunia persilatan, seakan akan sebuah bintang di langit saja, walaupun memancarkan sinar terangnya keempat penjuru namun sifatnya hanya sementara."

Ciu Tin tin menjadi kecewa sekali, dia segera menghela napas panjang .

"Aaai..... sungguh sayang."

Mendadk hatinya tergerak, ia merasa sikap maupun cara gurunya berbicara nampak aneh sekali dan jauh berbeda dengan keadaan di hari hari biasa.

Sorot mata yang memancar keluar dari balik matanya itu nampak begitu lembut dan halus, seakan akan tersimpan sesuatu dibalik kesemuanya itu.

"Aaaah, jangan jangan dia adalah ....."

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi segera teriaknya tertahan .

"Suhu, kau orang tua kenal dengannya?"

Tiba tiba paras muka Sim ji sinni berubah menjadi merah padam karena jengah, dipandanginya Ciu Tin tin sekejap, kemudian menjawab .

"Tidak, suhu tidak kenal dengannya!"

Kemudian setelah menghela napas panjang, lanjutnya .

"Suhu hanya tahu kalau dia adalah seorang murid dari Thio Biau liong locianpwe, bahkan akupun pun tahu kalau goa tempat tinggal dari Thio locianpwe terletak disekitar puncak Sam yang hong ini."

Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang cerdik, sekalipun gurunya selalu berusaha untuk menyangkal, tapi hal ini sama artinya dengan dia mengakui kalau punya hubungan yang luar biasa dengan manusia aneh tersebut, kalau tidak mengapa imamnya yang sudah tebal karena pertapaannya selama seratus tahun bisa menjadi goyah?

Cuma saja jalan pemikiran tersebut dia simpan dalam hati saja, sementara di wajahnya dia bertanya lagi sambil tersenyum .

"Suhu, dari mana kau bisa tahu kalau Thio locianpwe mempunyai tempat tinggal dekat dengan puncak Sam yang hong ini?"

"Kita adalah sama sama dalam pertapaan, tentu saja aku mengenalnya ...."

"Suhu kalau kau menerangkannya sejak tadi, bukankah hal ini menjadi beres ...?"

Terdengar Sim ji sinni menghela napas panjang, kemudian berkata lebih jauh .

"Ya.... dia pula yang memberitahukan kepadaku letak gua pertapaan dari Thio locianpwe itu."

Setelah berhenti sejenak, dengan wajah penuh kepedihan, dia berkata lebih jauh .

"Sayang sekali karena luka yang dideritanya terlampau parah, akhirnya dia terjatuh diatas batu hijau dan menghembuskan napas penghabisan ...."

Sembari berkata, dia lantas menuding sebuah batu hijau di bawah sebatang pohon siong yang berada tak jauh dari sana.

"Jadi maksudmu, dia orang tuapun akhirnya kalah juga?"

Kata Ciu Tin tin dengan sepasang mata agak basah.

"Siapa yang mengatakan dia kalah?"

Ujar Sim ji sinni serius.

"hanya bisa dibilang dia terluka parah karena pertarungannya dengan Hian im Tee kun dan dia ..... karena hendak memberitahukan kepadaku soal yang menyangkut tentang gua pertapaan dari Thio locianpwe, siang malam dia menempuh perjalanan jauh datang kemari, akibatnya luka yang dideritanya makin parah dan akhirnya malah mencelakai jiwa sendiri."

Sewaktu berbicara sampai disitu, dia tak sanggup menahan diri lagi, dua titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Walaupun dibalik perkataannya itu masih terdengar suara cintanya dalam, namun Ciu Tin ti turut mengucurkan air matanya juga karena sedih, dia tak berani bertanya lagi karena kuatir akan semakin menyedihkan hati gurunya.

Guru dan murid saling berpandangan beberapa saat lamanya, mendadak Sim ji sinni menguasai kembali emosinya dan berkata dengan wajah bersungguh sungguh .

"Asal kita dapat menemukan gua pertapaan dari Thio locianpwe, kita pasti akan menemukan sebuah cara untuk menaklukkan Hian im Tee kun!"

Mendadak pada saat itulah dari atas pohon siong dekat batu hijau yang ditunjuk oleh Sim ji sinni tadi, berkumandang suara gelak tertawa amat nyaring.

"Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh..... gua pertapaan dari Thio locianpwe telah didatangi lebih dulu oleh orang lain!"

Bersamaan dengan berkumandangnya suara itu, Bu im sing hong Kian Kim siang telah munculkan diri didepan mata. Setelah menjura, dia lantas berkata .

"Puluhan tahun tak bersua, tak nyana kalau keadaanmu masih seperti sedia kala, sungguh patut digirangkan, sungguh patut diucapkan selamat."

Padahal berbicara tentang tenaga dalam yang dimiliki Sim ji sinni, kendatipun Bu im sin hong Kian Kim siang memiliki ilmu meringankan tubuh hu kong keng im yang lihay, tak mungkin jejaknya tak akan diketahui olehnya dalam jarak lima kaki.

Akan tetapi berhubung dia sedang dicekam oleh suatu masalah yang memedihkan hatinya, maka akibatnya dia menjadi teledor dan kurang waspada.

Sim ji sinni segera menitahkan kepada Ciu Tin tin untuk memberi hormat kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, setelah itu ujarnya dengan wajah serius .

"Kian sicu mengatakan kalau gua pertapaan dari Thio locianpwe telah didatangi orang, benarkah itu?"

Sebenarnya Bu im sin hong Kian Kim siang mengucapkan perkataan itu tanpa sengaja, setelah ditanya oleh Sim ji sinni, dia baru teringat dam pesan dari Thio Biau liong yang melarang untuk membocorkan rahasia itu kepada orang lain.

Kontan saja paras mukanya berubah merah padam serunya dengan nada terbata-bata .

"Aku hanya salah berbicara saja, harap sinni sudi memaafkan, lohu tak berani melanggar perintah dari Thio locianpwe."

"Oooh .... rupanya locianpwe yang telah berkunjung lebih dulu ke situ ....!"

Seru Ciu Tin tin cepat.

Sim ji sinni juga mengawasi wajah Bu im sin hong lekat lekat, sementara senyuman menghiasi ujung bibirnya.

Dengan cepat Bu im sin hong Kian Kim siang menggoyangkan tangannya berulang kali sambil membantah .

"Bukan aku, bukan aku, masih ada orang lain, masih ada orang lain! Lohu hanya secara kebetulan saja mengiringi dirinya dan beruntung dapat menjumpai Thio locianpwe, jadi tak bisa dibilang sebagai ahli waris Thio locianpwe."

Baru saja Ciu Tin tin hendak mendesak lebih jauh, sambil tertawa Sim ji sinni telah menukas .

"Anak Tin, kau tak usah bertanya lagi, orang yang bisa berada bersama dengan Kian sicu sudah pasti bukan manusia sesat, dengan begitu pinni pun boleh berlega hati."

Sim ji sinni segera mempersilahkan tamunya untuk duduk, setelah menghidangkan air teh, kebetulan Bu naynay baru pulang dari luar, semua orang pun merupakan kenalan lama, maka begitu Bu naynay menyaksikan kehadiran Bu im sin hong Kian Kim siang, dengan paras muka berubah hebat serunya keras keras .

"Kian lotau, mau apa kemari? Apkah kau hendak membujuki sinni kami agar menerima kedudukan Tongcu tersebut?"

Rupanya dalam perjalanannya turun gunung kali ini, Bu naynay sempat mendengar orang bercerita tentang diadakannya ruangan Cing liong, Pek hou, Cu ciok dan Hian bu dalam istana Ban seng kiong, dimana sinni dicantumkan pula, maka diapun mengajukan pertanyaan tersebut.

Akan tetapi menyaksikan Ciu Tin tin juga hadir disitu, dia kesampingkan diri Bu im sin hong Kian Kim siang dan berkata kepada gadis tersebut .

"Tin ji, baik baiklah kau? Mengapa kau pergi tanpa pamit? Membuat aku dan suhumu panik setengah mati! Lain kali kalau ingin pergi, kau mesti memberitahukan dulu kepada nenek, bila nenek menemanimu maka kita tak usah kuatir dengan segala tipu muslihat dalam dunia persilatan lagi..."

Luapan cinta kasih yang ditunjukkan membuat setiap orang merasa sangat terharu. Ciu Tin tin segera menggengam tangan Bu naynay yang telah berkeriput itu dan berkata dengan gembira .

"Dengan mengandalkan nama besar dari suhu dan nenek, siapa lagi yang berani mempermainkan diriku?"

Diumpak oleh Ciu Tin tin, Bu naynay kelihatan gembira sekali.

"Anak Tin, pergilah beristirahat atau mungkin kau sudah lapar, nenek akan segera menyiapkan hidangan untukmu!"

Sambil tertawa dia lantas mengundurkan diri dari situ.

"Bu toanio,"

Teriak Bu im sin hong Kian Kim siang dengan lantang.

"jangan lupa bagian lohu!"

Dalam kuil memang tersedia sayur dan nasi, maka dengan cepat hidangan telah disiapkan, cuma dia khusus buatkan dua macam sayur lagi yang diletakkan di depan Ciu Tin tin.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan hal itu segera menggoda Bu naynay yang dikatakan pilih kasih.

Selesai bersantap, mereka pun membicarakan lagi situasi dunia persilatan dewasa ini.

Dalam pembicaraan itu, Sim ji sinni baru tahu kalau dalam setengah bulan saja, istana Ban seng kiong telah berganti pemilik dan muncul dengan wajah baru.

Yang membuat Sim ji sinni mendongkol bercampur marah adalah ucapan sesumbar dari Hian im Tee kun, dimana selain dia sendiri, Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak dan Bu im sin hong Kian Kim siang telah diundang untuk menjabat sebagai Tongcu.

Menurut Bu im sin hong Kian Kim siang, sewaktu dia berjumpa dengan Thi Eng khi dekat kota Sah si beberapa hari berselang, Thi Eng khi telah memandangnya sebagai Tongcu dalam istana Ban seng kiong.

Bahkan dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan Tiang pek lojin menerima jabatan tersebut, bahkan konon Keng thian giok cu Thi Keng juga telah tiba di istana Ban seng kiong.

Oleh karena tak kuat menahan pukulan batin inilah, Thi Eng khi telah lenyap dari keramaian dunia persilatan.

Atau dengan perkataan lain, diantara empat manusia aneh dari kolong langit, sudah ada dua orang yang bergabung dengan Hian im Tee kun, sedangkan sisanya tinggal Sim ji sinni dan Bu im sin hong Kian Kim siang.

Sim ji sinni sekalian bertiga menjadi murung dan amat kesal.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menghela napas panjang, katanya .

"Ada pun kedatangan lohu kemari mempunyai dua tujuan, pertama untuk merundingkan cara untuk menanggulangi persoalan ini, kedua menemukan kembali jejak Thi Eng khi."

Kemudian setelah berhenti sejenak dan tertawa jengah, katanya lebih lanjut .

"Sekarang persoalan telah berkembang jadi begini, lohu pun tak bisa memenuhi permintaan dari Thio locianpwe lagi, hendak kusampaikan sebuah kabar penting untuk kalian."

"Kami akan mendengarkan dengan seksama!"

Sim ji sinni sekalian bertiga segera menyahut dengan wajah bersungguh sungguh. Dengan serius Bu im sin hong Kian Kim siang berkata .

"Perkataan ini muncul dari mulut lohu, semoga hanya berakhir dengan sampai di telinga kalian bertiga saja, jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya lagi."

"Tak usah kuatir Kian sicu, kami semua akan menjaga rahasia ini dengan sebaik baiknya,"

Janji Sim ji sinni dengan wajah serius. Bu im sin hong Kian Kim siang segera mendongakkan kepalanya berdoa dulu, kemudian baru berkata .

"Thi lote tak lain adalah orang yang telah mendapat warisan dari Thio locianpwe, lohu duga di dalam putus asanya kemungkinan besar dia masuk kembali ke gua pertapaan Thio locianpwe, maka dari itu aku sengaja datang kemari untuk mencarinya."

"Oooooh!"

"Oooooh!"

"Oooh..."

Ketiga orang itu saling berpandangan sekejap dengan wajah tertegun, siapapun tidak menyangka kalau orang yang berhasil mendapatkan warisan dari Thio locianpwe adalah Thi Eng khi.

Setelah jeritan kaget agak mereda, Sim ji sinni baru berkata lagi sambil tersenyum .

"Pinni sudah seratus tahun lamanya mencari tempat itu, tak nyana orang yang akhirnya berjodoh adalah Thi Eng khi, tampaknya Thian memang mengatur segala galanya. Nah, anak Tin, sekarang kau boleh merasa gembira bukan?"

Tentu saja kegembiraan Ciu Tin tin melebih siapapun, segera tanyanya dengan cepat.

"Gua pertapaan dari Thio locianpwe itu berada dimana? Mari kita segera pergi untuk mencarinya!"

"Pintu keluar dari gua pertapaan itu letaknya berada di dalam sumur Bu sim cing di belakang kebun kuil."

Bu im sin hong Kian Kim siang kembali menerangkan.

Untuk kesekian kalinya ketiga orang itu menjadi tertegun dan berdiri termangu mangu.

Sambil memandang kearah Ciu Tin tin, Bu im sin hong Kian Kim siang berkata lebih jauh .

"Sewaktu kami lolos dari kurungan tempo hari, Thi lote mendengar pula keluh kesah dari nona Ciu, sebenarnya dia hendak menjumpai nona, tapi entah apa yang terjadi kemudian dia telah bertekad untuk pergi meninggalkan tempat ini."

Ciu Tin tin segera berkerut kening setelah mendengar perkataan itu, jelas nampak ia merasa kecewa dan sedih, pikirannya pun segera terjerumus dalam lamunan.

Tak selang beberapa saat kemudian, dia baru berwajah cerah kembali, ujarnya sambil tertawa .

"Adik Eng adalah seorang yang mengutamakan kesetiaan kawan, mungkin dia kuatir kalau sampai menunda urusan penting lainnya maka dia baru tidak memperdulikan soal ....."

Kata "cinta"

Yang seharusnya dikatakan, mendadak disabot dan diurungkan .... Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh..... nona Ciu nampaknya kau sangat memahami perasaan hatinya!"

Ciu Tin tin menjadi tersipu sipu dibuatnya, dia segera membalikkan badan dan lari menuju ke kebun belakang, serunya .

"Mari kita segera mencari adik Eng!"

Setibanya di tepi sumur Bu sim cing, dia siap sedia untuk melompat masuk ke dalam sumur itu.

Siapa tahu baru saja, dia hendak melompat masuk, terasa lengannya ditarik orang, ternyata Bu im sin hong Kian Kim siang telah mencekalnya kencang kencang.

Terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang berkata lagi .

"Tunggu sebentar nona Ciu, air dalam sumur dingin sekali!"

Ciu Tin tin membelalakan matanya lebar lebar lalu berseru dengan wajah tertegun .

"Locianpwe, bukankah kau mengatakan sumur ini?"

Sim ji sinni dan Bu naynay memandang pula kearah Bu im sin hong Kian Kim siang dengan sorot mata yang sama. Menyaksikan itu, Bu im sin hong Kian Kim siang segera berkata .

"Mulut masuk menuju ke gua pertapaan Thio locianpwe terletak pada dinding sumur tiga kaki dari permukaan air, bila kau tak tahu letak pintu masuknya, sekalipun terjun ke air juga tak akan menemukan pintu tersebut, lebih baik lohu yang berjalan di depan!"

"Anak Tin, ucapan Kian sicu memang benar,"

Ucap Sim ji sinni pula.

"mari kita menuju ke tepi sumur sambil menunggu petunjuk dari Kian sicu ...."

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menghimpun tenaga dalamnya dan berjalan ke tepi sumur, baru saja dia akan melompat turun, mendadak dari luar kebun nampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, kemudian terdengar seseorang berteriak keras .

"Hati hati Sinni, jangan sampai tertipu oleh tipu muslihat orang, cepat cegah dia terjun ke sumur!"

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Sim ji sinni, cepat dia mengebaskan ujung bajunya melepaskan pukulan Boan yok sinkang untuk menutup mulut sumur itu, kemudian serunya .

"Kian sicu, harap tunggu sebentar, yang datang adalah Tiang pek lojin So sicu!"

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, Tiang pek lojin So Seng pak telah munculkan diri disitu.

Dalam waktu singkat, Bu im sin hong Kian Kim siang, Tiang pek lojin dan Sim ji sinni berdiri pada posisi yang berbeda dan saling bertatapan dengan sorot mata tajam.

Tiga orang dengan tiga hati dan tiga macam pikiran, tapi semuanya diliputi tanda tanya besar.

Sebaliknya Bu naynay dan Ciu Tin tin hanya berdiri tertegun ditepi arena dengan mata terbelalak.

Yang datang memang Tiang pek lojin So Seng pak, dia muncul dengan membawa sikap seratus persen perasaan curiga terhadap maksud jelek Bu im sin hong Kian Kim siang.

Karena dalam pengejarannya terhadap Thi Eng khi, bukan saja dia telah mendengar tentang diangkatnya empat orang Tongcu oleh Ban seng kiong, bahkan dia telah menerima selembar surat permohonan.

Yang paling membuatnya tidak tahan adalah dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan mengandalkan nama Ban seng kiong telah banyak melakukan perbuatan jahat dan keji di tempat luaran.

Sebaliknya Bu im sin hong Kian Kim siang juga mencurigai Tiang pek lojin sebagai utusan yang mendapat perintah dari Hian im Tee kun untuk mengadu domba mereka serta membujuk Sim ji sinni masuk perangkap.

Sim ji sinni berdiri dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti .....

Begitulah, untuk setengah harian lamanya ketiga orang itu berdiri saling berhadapan dengan wajah tegang.

Kemudian Tiang pek lojin So Seng pek menjura kepada Sim ji sinni dan berkata .

"Tempo hari berkat bantuan dari sinni, cucuku Bwe leng berhasil selamat dari ancaman bahaya, waktu itu aku betul betul sudah pikun sehingga sama sekali tidak mengetahui kehadiran sinni, bilamana pelayananku kurang memadai, harap sinni sudi memaafkan."

Sim ji sinni segera tertawa setelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian .

"Yang kurang hormat seharusnya adalah pinni, harap So sicu jangan menertawakan."

Setelah sopan santun dilewatkan, Tiang pek lojin baru menuding kearah Bu im sin hong Kian Kim siang sembari berkata .

"Sinni, apakah kau mengetahui latar belakang yang sebenarnya dari orang ini?"

Melihat dirinya dituding oleh Tiang pek lojin, dengan cepat si angin sakti tanpa bayangan Kian Kim siang berseru pula .

"Sinni, hati hati dengan orang ini, perkataannya berbisa dan membahayakan persatuan kita."

Baru saja Sim ji sinni hendak buka suara, Tiang pek lojin telah menimbrung kembali.

"Orang itu sudah menggabungkan diri dengan pihak Ban seng kiong kini dia menjabat sebagai ketua tongcu dari ruangan Hian bu tong!"

Mendengar perkataan itu, kontan saja Bu im sin hong Kian Kim siang melototkan sepasang matanya bulat bulat, teriaknya dengan cepat .

"Orang ini telah bergabung dengan pihak Ban seng kiong dan kini sebagai ketua tongcu ruangan Pek hou tong!"

"Omong kosong!"

Teriak Tiang pek lojin dengan gusar.

"Kau sendiri yang omong kosong,"

Balas Bu im sin hong Kian Kim siang tak mau kalah.

"Kau ...."

"Kau ...."

Keduanya tak mampu melanjutkan cekcoknya karena tak sanggup berkata kata lagi. Dengan cepat Sim ji sinni menenangkan hatinya, kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dia berkata .

"Harap sicu berdua jangan cekcok disini, pinni tak mau mendengarkan perkataan kalian semua, sekarang lebih baik kalian berdua turun saja dari bukit ini."

Tampaknya karena tak berdaya menghadapi kesulitan yang dihadapinya itu, terpaksa dia mengambil tindakan dengan mempersilahkan tamunya untuk pergi.

Tiang pek lojin So Seng pak menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, segera serunya .

"Lohu datang kemari karena sedang mengejar Thi Eng khi, harap sinni segera mengundang keluar Thi Eng khi, lohu ingin mengucapkan beberapa kata kepadanya sebelum pergi dari sini!"

Agaknya orang tua ini bermaksud untuk menjelaskan soal mati hidup Pek leng siancu So Bwe leng kepada si anak muda tersebut.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang mendengar perkataan itu, dengan cepat menimbrung.

"Asal lohu bisa berjumpa denngan Thi Eng khi, tak usah disuruh sinniipun aku bisa segera turun gunung sendiri."

Ditinjau dari perkataan tersebut, tampaknya kedua orang itu sama sama tidak bersedia untuk pergi meninggalkan tempat itu. Sim ji sinni segera berkerut kening, mendadak serunya .

"Tin ji, antar tamu kita!"

Tiang pek lojin So Seng pak segera mendengus, dengan mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati dia mengawasi wajah Bu im sin hong Kian Kim siang tanpa berkedip.

Bu im sin hong Kian Kim siang pun mendongakkan kepalanya dan tertawa seram .

"Heeehhhh..... heeehhhh...... So Seng pak, kau memang betul betul hebat, terutama sekali kepandaianmu untuk mengadu domba, betul betul luar biasa, lohu bersedia meminta petunjuk beberapa jurus ilmu silat darimu!"

Mendengar suasana semakin menegang, dengan cepat Ciu Tin tin menyelinap kedepan dan berdiri diantara kedua orang itu, kemudian sambil menjura kekiri kekanan serunya berulang kali .

"Boanpwe menanti locianpwe berdua untuk turun dari gunung ....."

Sebetulnya kedua orang itu sudah berniat untuk melakukan pertarungan adu jiwa, tapi lantaran Ciu Tin tin berdiri di tengah arena dan lagi untuk menjaga "gengsi", tentu saja mereka tak bisa turun tangan secara gegabah.

Terpaksa sambil tertawa kering, mereka berdua saling berpandangan dengan mata melotot.

Sim ji sinni tertawa dingin, tiba tiba selanya .

"Kalau toh kalian berdua sama sama tak pandang sebelah matapun terhadap yang lain, terpaksa pinni harus menghantar sendiri kepergian kalian berdua dari sini!"

Kemudian dengan wajah serius, dia menghimpun tenaga Boan yok sinkangnya hingga dua belas bagian, kemudian selangkah demi selangkah menghampiri mereka berdua.

Baru saja dia berjalan dua langkah, mendadak dari sisi arena muncul kembali sesosok bayangan manusia dan melayang turun diantara tiga orang itu, serunya dengan lantang .

"Sinni, dalam peristiwa ini terdapat kecurigaan yang maha besar, bagaimanapun urusan harus diperiksa dulu!"

Kehadiran orang itu ternyata sama sekali tidak dirasakan oleh ketiga tokoh persilatan tersebut, dari sini dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dimiliki pendatang itu benar benar luar biasa hebatnya.

Tanpa terasa semua orang menjadi terperanjat dan bersama sama mendongakkan kepalanya.

Ternyata pendatang itu adalah seorang kakek berambut perak berjubah biru dan berwajah penuh senyuman, dengan sorot mata tajam ia memandang sekejap kearah mereka bertiga lalu menjura kepada masing masing orang.

Begitu mengetahui siapa yang datang, Tiang pek lojin So Seng pak segera bersorak gembira .

"Toako! Siaute sungguh rindu kepadamu."

Jilid 23 Bu im sin hong Kian Kim siang dengan wajah berseri turut berseru pula dengan lantang .

"Thi tayhiap, setelah kau datang kemari, urusan akan lebih gampang untuk diselesaikan."

Sedangkan Sim ji sinni segera merangkapkan tangan didepan dadanya sambil berbisik .

"Omitohud .... Thi tayhiap tak pernah berbicara sembarangan, pinni mohon petunjuk darimu."

Kemunculan Keng thian giok cu Thi Keng secara tiba tiba di puncak Sam yang hong selain berhasil menghindari meletusnya suatu pertempuran besar, bahkan membuat jantung Ciu Tin tin berdebar keras sehingga hampir saja melompat keluar dari rongga dadanya.

Kakek kekasih hatinya berarti pula kakek sendiri, kalau dipikirkan kembali dia menjadi tersipu sipu malu.

Keng thian giok cu Thi Keng tidak segera menjawab perkataan dari Sim ji sinni, dia hanya tertawa kemudian mengalihkan sorot matanya yang tajam keatas wajah Ciu Tin tin.

Dipandang secara begini rupa, Ciu Tin tin segera merasakan tubuhnya menjadi gatal, seperti ada beribu ekor semut yang berjalan diatas tubuhnya, ia menjadi sangat tidak tenang.

Sambil tertawa Sim ji sinni segera berseru .

"Anak Tin, mengapa kau tidak segera memberi hormat kepada Thi locianpwe?"

Ciu Tin tin semakin gugup sehingga tak berani mendongakkan kepalanya tapi dia toh maju juga dan menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada Keng thian giok cu Thi Keng.

"Anak Tin menjumpai Thi yaya!"

Bisiknya lirih.

Keng thian giok cu Thi Keng menerima penghormatan dari Ciu Tin tin tersebut, kemudian entah apa yang terjadi tahu tahu muncul segulung tenaga yang amat besar membimbing gadis itu bangun.

"Apakah ayahmu adalah Gin ih kiam kek Ciu tayhiap?"

Tegurnya dengan mata berkaca.

"Benar!"

Sahut Ciu Tin tin sambil sesenggukkan menahan isak tangisnya. Dengan penuh kasih sayang, Keng thian giok cu Thi Keng segera membelai rambut Ciu Tin tin yang halus, katanya pelan .

"Nak, kau baik sekali!"

Ciu Tin tin segera merasakan titik air mata jatuh bercucuran dengan derasnya membasahi seluruh wajahnya, dia merasa Thi yaya ini baik sekali kepadanya.

Mendadak rasa malunya lenyap tak berbekas, sembari menubruk kedalam pangkuan Keng thian giok cu Thi Keng, serunya sambil tersedu .

"Yaya, adik Eng terlalu menderita!"

Keng thian giok cu Thi Keng merasa dia telah berbuat salah kepada cucu kesayangannya, maka setelah mendengar ucapan dari Ciu Tin tin tersebut untuk sesaat lamanya dia tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun.

Berbareng itu pula, suara helaan napas segera berkumandang dari empat penjuru di sekeliling tempat itu.

Tampaknya hubungan mesra antara kakek dan cucu ini, membuat Tiang pek lojin menjadi teringat kembali dengan musibah yang menimpa cucu kesayangannya Pek leng siancu So Bwe leng, dia menggelengkan kepalanya berulang kali dengan perasaan amat sedih.

Sewaktu kejadian itu diketahui oleh Keng thian giok cu Thi Keng, sambil tertawa orang tua itu segera berkata .

"Saudaraku, aku sudah pernah bersua dengan Bwe leng si bocah itu, aku amat menyukainya, kau tak usah kuatir!"

Ucapan itu bermaksud ganda dan amat jelas sekali artinya, kontan saja Tiang pek lojin menjadi girang dan wajahnya kembali berseri-seri......

Kemudian pelan pelan Keng thian giok cu Thi Keng mendorong tubuh Ciu Tin tin, katanya lembut .

"Nak, berdirilah dulu di samping, yaya lupa menjawab pertanyaan dari gurumu."

Dengan berat hati Ciu Tin tin segera meninggalkan pelukan Keng thian giok cu Thi Keng dan kembali kesisi Bu naynay, sementara sepasang matanya yang jeli dan lembut tak pernah beralih sekejappun dari tubuh kakek itu.

Paras muka Keng thian giok cu Thi Keng segera pulih kembali pada sikapnya yang perkasa seperti dulu, kepada Sim ji sinni katanya sambil tertawa .

"Sinni, kau sendiripun belum lama pulang gunung, hal ini berarti kaupun wajib untuk mencuci bersih dirimu dari segala kecurigaan."

Sim ji sinni segera tertawa, seperti memahami sesuatu diapun segera berkata .

"Thi sicu, rupanya kaupun menganggap pinni telah takluk dan bergabung dengan Ban seng kiong?"

"Lohu pernah menyaksikan keempat tongcu muncul bersama sama dalam istana Ban seng kiong."

"Haaaah....!"

Perkataan itu kontan saja disambut tiga orang lainnya dengan jeritan kaget. Ciu Tin tin juga tak kuasa menahan diri, dengan cepat diapun menimbrung dari samping.

"Maksud yaya, ada empat orang yang berwajah mirip dengan yaya sekalian telah muncul di istana Ban seng kiong?"

Keng thian giok cu Thi Keng segera manggut manggut.

"Benar! Aku menjumpai mereka berempat telah menyaru dan mencatut nama kita berempat!"

Setelah berhenti sejenak, diapun menyahut lebih jauh .

"Oleh karena itu, mau tak mau kita harus berpikir dan menduga kalau salah seorang diantara kita berempat besar kemungkinan ada yang gadungan ...."

Bu im sin hong Kian Kim siang tidak percaya dengan ucapan tersebut, dengan cepat dia berseru .

"Tapi untuk mencari empat orang yang berwajah agak mirip dengan kami dan menyaru sebagai kita berempat, rasanya hal ini mustahil bisa dilakukan ...."

Mendengar perkataan itu, Tiang pek lojin segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh..... ilmu menyaru muka yang dimilik Huan im sin ang tiada keduanya didunia ini, jangankan baru empat orang, sekalipun seratus orang juga bukan kesulitan baginya!"

Tentu saja Bu im sin hong Kian Kim siang tidak percaya dengan kenyataan tersebut, akan tetapi setelah dijelaskan pula oleh Sim ji sinni dan Keng thian giok cu Thi Keng, dia baru tak sanggup untuk berkata apa apa lagi.

Sebagaimana diketahui, dia belum lama lolos dari kurungan, tentu saja dia pun kurang mengenal terhadap kemampuan dari Huan im sin ang untuk mengubah raut wajah, tak heran kalau rekan rekan lainnya harus berbicara banyak untuk menyakinkan dirinya.

Di dalam kenyataan, empat orang tongcu yang berada dalam istana Ban seng kiong sekarang, tak seorang pun yang asli.

Berbicara yang sebetulnya, hal mana tak lebih hanya merupakan semacam siasat keji dari Hian im Tee kun belaka.

Rupanya Hian im Tee kun selain bermaksud merusak nama besar dan kepercayaan orang terhadap pamor Keng thian giok cu sekalian berempat, diapun punya rencana busuk untuk mengadu domba kaum persilatan dari golongan lurus.

Dia menitahkan kepada Huan im sin ang untuk mempergunakan ilmu menyarunya yang lihay merubah empat orang gembong iblis anak buahnya menjadi Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak, Sim ji sinni serta Bu im sin hong Kian Kim siang.

Perbuatan ini dilakukannya dengan sangat rahasia sekali, kecuali Huan im sin ang seorang, boleh dibilang kawanan iblis lainnya tak ada yang mengetahui, bahkan mereka bergembira karena mengira keempat orang tongcu tersebut benar benar dijabat oleh Keng thian giok cu Thi Keng sekalian berempat.

Perlu diketahui, nama besar Keng thian giok cu Thi Keng di dalam dunia persilatan dewasa ini amat termashur dan jarang sekali ada yang bisa menandingi, asal keempat tokoh utama ini berhasil dibereskan, maka kawanan jago lainnya bukanlah merupakan suatu ancaman yang serius.

Tindakan yang dilakukan Hiam im Tee kun kali ini memang sangat lihay sekali, kendatipun Keng thian giok cu Thi Keng sekalian tak sampai diperalat olehnya, tapi atas tindak tanduk yang dilakukan oleh penyaru penyaru tersebut, akibatnya nama besar mereka akan rusak, umat persilatan tak akan percaya lagi kepada mereka, dan akhirnya mereka tak bisa menancapkan kaki lagi dalam dunia persilatan.

Apakah hasil dari rencana yang disusun oleh Hian im Tee kun ini bisa berhasil sukses seperti apa yang diharapkan, baiklah kita nantikan perkembangan selanjutnya.

Sementara itu, ketika Keng thian giok cu Thi Keng menyaksikan Bu im sin hong Kian Kim siang sudah mempercayai apa yang dikatakan semua orang, sambil mengangguk ia baru berkata .

"Oleh karena itu, pertama tama yang harus kita lakukan adalah bagaimana membuktikan keaslian diri sendiri kemudian baru bersama sama merundingkan cara yang terbaik untuk menanggulangi musibah tersebut."

Tiang pek lojin yang pertama tama menyanggupi usul itu paling dulu, dengan cepat serunya .

"Apa yang dikatakan toako memang benar, tapi dengan cara apakah kita membuktikan keaslian kita masing masing?"

"Omitohud"

Bisik Sim ji sinni.

"menurut pendapat pinni, bagaimana kalau kita pergunakan ilmu silat simpanan masing masing perguruan untuk membuktikan keaslian dari diri sendiri?"

"Bagus sekali,"

Seru Tiang pek lojin So Seng pak dengan cepat.

"kendatipun Hiam im Tee kun bisa menyaru wajah kita namun dalam hal ilmu silat mustahil mereka bisa menirukan secara persis, terutama dalam soal kematangan, bagi mata seorang ahli hal tersebut mudah untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, pendapat dari sinni ini memang tepat sekali."

"Sinni!"

Ujar Bu im sin hong Kian Kim siang kemudian.

"ilmu Boan yok sinkangmu sudah mencapai puncak kesempurnaan dan bisa dipergunakan menurut jalan pikiran, dalam seratus langkah dapat melukai orang tanpa berwujud. Kami sekalian akan menggunakan kesempatan ini untuk menikmati kelihayanmu itu."

Sim ji sinni tertawa.

"Ilmu Sian thian bu kek ji gi sinkang dari Thi sicu merupakan ilmu yang maha dahsyat di dunia ini, mengapa kita tidak minta kepadanya untuk mendemonstrasikan kelihayannya agar membuka mata kita semua?"

Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata .

"Ilmu Kiu coan hian kang dari So lote dan ilmu gerakan Hu kong keng im dari Kian tayhiap semuanya merupakan ilmu silat utama dalam dunia persilatan, sudah sepantasnya kepandaian kepandaian yang hebat lebih dulu menunjukkan kelihayannya masa lohu berani mendahului?"

Tiang pek lojin memandang sekejap kearah Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian ujarnya sambil tertawa .

"Biarlah burung yang bodoh terbang lebih dulu, siaute akan mendemonstrasikan kejelekanku lebih dulu untuk membuka upacara ini."

Kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya .

"Bilamana ada kesilapan harap kalian semua jangan menertawakan."

Setelah itu, dia lantas berjalan menuju ke sumur Bu sim cing tersebut, kemudian sambil menghadap kemulut sumur, telapak tangannya ditekan lalu diayunkan keatas sambil membentak keras .

"Naik!"

Air sumur yang berada tiga puluh kaki dibawah permukaan tanah itu diiringi pancuran yang maha dahsyat mendadak menyembur keluar dan mencapai ketinggian beberapa kaki, seakan akan ada sebuah tonggak berwarna putih keperak perakan yang menancap di tengah sumur yang menjulang keangkasa.

Bila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai puncak kesempurnaan, jangan harap dia bisa melakukan tindakan semacam ini.

"Bagus!"

Teriak semua orang.

Belum lenyap suara tersebut, Tiang pek lojin telah mengalihkan sorot matanya yang tajam keujung tonggak air tersebut, kemudian bentaknya lagi.

Tampak tonggak air yang menjulang ke angkasa itu mendadak berputar memenuhi angkasa, keadaan tersebut ibaratnya naga sakti yang sedang menari nari dengan cepatnya.

Ciri khas dari ilmu Kiu coan hian kang pun segera terlihat pada sembilan perputaran yang segera tercipta ditengah udara.

"Bagus sekali,"

Tiba tiba Bu im sin hong Kian Kim siang membentak nyaring.

"siaute akan memeriahkan pula acara ini!"

Tampak tubuhnya melayang ke tengah udara, sekilas pandangan nampaknya amat lamban, padahal cepatnya bagaikan sambaran kilat, tahu tahu dia sudah melayang turun di atas sembilan naga yang sedang menari itu, kemudian dengan mengandalkan hawa murninya, dia berdiri tegak di ujung tonggak air tersebut sehingga seakan akan dia menjadi kepala naga yang tersumbul keluar dari balik tonggak air.

Ilmu gerakan tubuh semacam ini nampak jauh lebih hebat setingkat bila dibandingkan dengan ilmu Leng siu poh hoat.

Sim ji sinni segera berkata kepada Keng thian giok cu Thi Keng sambil tertawa .

"Demonstrasi ilmu sakti yang diperlihatkan So sicu dan Kian sicu sudah membuktikan kalau mereka memang orang yang asli. Sekarang tiba giliran pinni untuk menunjukkan kejelekanku!"

Selesai berkata dia mengangkat tangannya sambil memuji .

"Omitohud!"

Kemudian sambil memejamkan matanya, dia tidak berbicara atau bergerak, tidak nampak pula sesuatu gerakan apapun.

Ciu Tin tin sampai setengah harian lamanya mengawasi gurunya dengan seksama, akan tetapi dia tak berhasil menemukan dimanakah letak kelihayan dari ilmu Boan yok sinkang tersebut.

Tanpa terasa dia lantas berbisik kepada Bu naynay.

"Bu naynay, Tin ji tidak mengerti!"

Bu naynay segera menggelengkan kepalanya, jelas diapun tidak lebih bodoh daripada Ciu Tin tin. Sambil tersenyum Keng thian giok cu segera berkata .

"Sinni sedang menggunakan naga air yang sedang menari sebagai sasarannya untuk mendemonstrasikan daya kekuatannya melukai orang dari jarak jauh."

Akan tetapi Ciu Tin tin masih saja kebingungan, jelas dia tidak berhasil melihat dimanakah letak kelihayan gurunya.

"Tin ji,"

Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata.

"tidakkah kau saksikan dibalik naga air tersebut terdapat sepotong tangkai pohon berwarna hijau?"

Ciu Tin tin mengerahkan tenaganya dan harus mencari sekian lamanya sebelum berhasil menemukan sebatang ranting pohon berwarna hijau yang lima inci panjangnya sedang bergerak kian kemari mengikuti gerakan air di pinggang naga air.

Mendadak ranting pohon itu terbelah menjadi empat lalu menyusul kemudian ranting pohon yang berwarna hijau itu lambat laun berubah menjadi kuning, jelas ranting tadi sudah hampir berakhir masa hidupnya.

Menyusul kemudian suatu peristiwa aneh terjadi, ranting kuning yang semula terbelah menjadi empat itu menyatu kembali secara otomatis, sementara warna kuning yang hampir layu itu pelan pelan pulih kembali menjadi hijau segar.

Sekarang Ciu Tin tin baru dapat menyaksikan kelihayan ilmu sakti gurunya yang benar benar luar biasa itu.

Keng thian giok cu Thi Keng segera berpekik nyaring, baru saja suara pekikan tersebut melengking, suaranya berubah menjadi panjang seakan akan terdapat benda yang berwujud yang ikut tergulung gulung mengikuti gelombang naga air hasil ciptaan Tiang pek lojin So Seng pak.

Naga air yang semula lincah menari nari itu, mendadak menjadi lambat laun gerakannya, gulungan dan getaran pun ikut menjadi pelan.

Ternyata keng thian giok cu Thi Keng telah menggunakan ilmu sian thian bu kek ji gi sinkang yang dirubah dari irama menjadi suatu kenyataan untuk beradu kekuatan dengan Tiang pek lojin.

Cuma saja serangan itu dilancarkan sekilas lewat dan tidak mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya.

Keng thian giok cu Thi Keng berpekik nyaring kemudian tertawa terbahak bahak, serunya .

"Haaahhhh..... haaahhhh.... haaahhhh.....saudara So harap kau sudi memaafkan kesilapan diriku!"

Dalam waktu singkat, langit menjadi cerah dan pelan-pelan naga air itu kembali ke dalam sumur. Keempat orang tua itu bersama sama tertawa tergelak, kemudian katanya berbareng .

"Sungguh beruntung diantara kita berempat tak ada yang gadungan ...."

"Selanjutnya kita harus menentukan suatu kode rahasia atau kata sandi yang menentukan asal usul kita, daripada jejak kita selanjutnya dicatut orang,"

Kata Keng thian giok cu Thi Keng lagi.

"Tampaknya saudara Thi sudah memikirkan semua persoalan dengan seksama, harap kau suka mengutarakan sekalian usulmu,"

Ucap Bu im sin hong Kian Kim siang.

Dengan mengerahkan ilmu penyampaikan suara, Keng thian giok cu Thi Keng saling bertukar pandangan dan usul, akhirnya sambil tersenyum keempat orang itu tertawa terbahak bahak, sekarang mereka tak usah kuatir lagi lagi untuk menganggap temen sebagai lawan dan menganggap lawan sebagai teman.

Terutama sekali antara Tiang pek lojin So Seng pak dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, bila teringat kesalahan paham yang berlangsung diantara mereka tadi, tak tahan lagi kedua belah pihak saling berpandangan sambil tertawa tergelak.

Sekarang asal usul mereka berempat sudah jelas, mereka tak usah kuatir lagi terhadap lawan bicaranya.

Sekali lagi Bu im sin hong Kian Kim siang mengulangi kembali kecurigaannya kalau Thi Eng khi kemungkinan besar bersembunyi di dalam gua pertapaan Thio Biau liong.

Keng thian giok cu Thi Keng termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata .

"Biarlah dia pergi! Untuk sementara waktu kita tak usah pergi mencarinya, sebab bila sampai begitu malah dia akan merasa dirinya tersudut ....."

"Eng ji pernah bersumpah akan menyusul Leng ji kealam baka,"

Kata Tiang pek lojin So Seng pak dengan wajah murung.

"jikalau dia tidak mengetahui kalau Leng ji masih hidup dan sampai dia menghadapi hal hal yang tidak diinginkan, bagaimana jadinya?"

"Eng ji mempunyai ambisi dan cita cita yang tinggi, dia pasti akan menganggap tindakan lohu menggabungkan diri dengan Ban seng kiong merupakan suatu penghinaan yang memalukan, sebelum penghinaan ini dihapus, dia tak akan mengakhiri hidupnya dengan begitu saja, itu berarti jika dia hendak menyusul Leng ji itupun akan dilakukan di kemudian hari, atau dengan perkataan lain kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkan jiwanya, aku rasa persoalan paling penting yang sedang kita hadapi kini adalah bagaimana menghadapi rencana keji dari Hian im Tee kun!"

Keng thian giok cu Thi Keng adalah kakek dari Thi Eng khi, setelah dia mengusulkan agar jangan mengusik Thi Eng khi, tentu saja semua orang tak bisa berkata apa-apa lagi.

Hanya Ciu Tin tin seorang yang sangat merindukan Thi Eng khi, dengan perasaan yang tak terkendali dia lantas berseru .

"Yaya..."

"Ada apa anak Tin?"

Tanya Keng thian giok cu Thi Keng. Merah padam selembar wajah Ciu Tin tin, tentu saja apa yang menjadi rahasia hatinya tak berani dikemukakan, sahutnya .

"Mengapa kalian tidak bersama sama masuk ke dalam kuil dan merundingkan persoalan ini pelan pelan?"

Sim ji sinni segera berseru pula sambil tertawa.

"Aaah, pinni benar benar kurang sopan, untung Tin ji mengingatkan, mari .... mari masuk!"

Mereka semua lantas bersama sama memasuki kuil Sam sim an dan mengambil tempat duduk, setelah menghidangkan air teh, Ciu Tin tin dan Bu naynay mengundurkan diri keluar dari kuil dan berjaga di empat penjuru kuatir ada orang menyadap hasil perundingan itu.

Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 8

Baca Juga: Pendekar Kembar 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert