Eps 9 Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Baca online Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Cersil Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung.
Terlepas soal tenaga dalam, yang terutama adalah tenaga aneh yang terpancar ke luar dari tubuhnya itu sungguh membuat orang sukar untuk menghadapinya.
Ternyata dibalik kekuatan tadi terkandung suatu tenaga hisapan yang menyerupai dengan hawa Khikang tingkat tinggi.
Sikap Yan Lo-sat Hong Im yang semula mencemooh dengan cepat beralih menjadi serius dan berat, tiba tiba saja sepasang telapak tangannya diputar dan didorong sebanyak tiga kali kedepan.
"Sret! Sreer! Sreet!"
Gulungan hawa pukulan yang kuat memancar kemana-mana.
Selembar wajah Yan Lo-sat Hong Im yang putih dan halus, segera berubah menjadi merah padam.
Lama sekali belum juga membuyar....
Kiranya gaun panjang Hong Im sebatas lutut kebawah telah dipapas robek oleh sambaran angin pukulan Gak Lam-kun yang tajam, sehingga tampaklah tumitnya yang putih bagaikan pualam dan halus itu.
Selama hidup belum pernah Yan Lo-sat Hong Im mengalami penghinaan seperti apa yang dialaminya hari ini.
Sedemikian gusarnya dia sampai sepasang matanya melotot keluar dan memancarkan selapis cahaya tajam yang menggidikkan hati, ditatapnya wajah Gak Lam-kun tanpa berkedip.
Pelan-pelan Ji Cin-peng menghampiri Gak Lam-kun, lalu ujarnya dengan nada sedih.
"Engkoh Gak, gunakan pedangku ini!"
Sebutan "Engkoh Gak"
Itu kontan saja menggetarkan perasaan Gak Lam-kun.
Ia seperti masih teringat bahwa tiga tahun berselang, ada orang juga memanggilnya dengan sebutan itu.
Dialah kekasih hatinya Ji Cin-peng!
Dari balik biji mata Ji Cin-peng yang jeli, Gak Lam-kun dapat menangkap sorotan cahaya pedih yang amat memilukan hati......
Pada ketika itu juga, kembali Gak Lam-kun merasa bahwa sorot mata itu persis seperti sorot mata Ji Cin-peng....
Mendadak gelak tertawa yang menyeramkan memotong jalan pemikiran Gak Lam-kun itu.
Tampak sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya berkilauan, dengan kecepatan luar biasa menusuk datang.
Menyaksikan datangnya ancaman tersebut Ji Cin-peng segera menjerit tertahan karena kaget.
Gak Lam-kun sedkitpun tidak menjadi gugup.
Dengan cepat tubuhnya berjumpalitan dan mundur sejauh tiga depa lebih dari posisi semula.
Pergelangan tangannya segera diputar.
Pedang pendek Giok siang kiam ini diputar sedemikian rupa membendung datangnya sergapan kilat dan pedang Hong Im tersebut.
Rasa marah dan dendam yang berkobar dalam hati Yan Lo-sat Hong Im pada saat ini tak terlukiskan dengan kata kata.
Apalagi peristiwa itu merupakan suatu kejadian yang paling memalukan untuk kaum perempuan pada jaman itu.
Dalam gelisah dan gusarnya dia membentak keras, sambil menerjang ke muka pedangmya langsung melepaskan serangan mematikan.
Ilmu silat yang dimiliki Gak Lam-kun saat ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali.
Sesudah menyambut tiga buah serangan berantai dari Hong Im dengan cepat dia unjukkan gigi pula dengan memutar senjatanya dan secara beruntun melepaskan tiga buah serangan kilat.
Menghadapi tiga serangan berantai yang tertuju ke arahnya itu, ternyata Yan Lo-sat Hong Im, sama sekali tidak berkelit ataupun menghindar.
Hawa murninya segera dihimpun ke pusat dan disalurkan ke dalam tubuh pedang.
Dengan gerakan menotok mencakil dan menekan secara beruntun ia lepaskan pula tiga kuntum bunga pedang.
"Traang. Traang! Traang!"
Benturan senjata yang amat ramai menggema di udara.
Diantara beterbangannya percikan bunga api, dengan kekerasan ia bendung datangnya ketiga buah serangan tersebut.
Tapi setelah menyambut ketiga buah serangan tadi, Yan Lo-sat Hong Im merasakan lengan kanannya menjadii kesemutan dan kaku.
Telapak tangannya pecah-pecah sakitnya bukan kepalang.
Kenyataan ini membuat hatinya amat terkesiap, pikirnya.
"Jangan-jangan ia sudah berhasil mencapai tingkatan tenaga dalam seperti apa yang dimiliki Tok Liong cuncu Yo Long dimasa lalu..."
Berpikir sampai disitu, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Yan Lo-sat Hong Im.
Cepat-cepat dia memusatkan segenap pikirannya.
Dengan melangkah ke posisi Tiong kiong, hawa murninya dihimpun kembali kepusar.
Lalu dari pusar hawa murni itu disalurkan kembali kedalam pedang.
Agaknya dia hendak mempergunakan ilmu pedang Tay khek cap sa kiam, suatu ilmu pedang andalan partai Tay khek bun untuk menghadapi kelihayan lawan.
Begitu ilmu pedang Tay khek cap sau kiam digunakan, maka ketenangannya bagaikan bukit karang.
Gerakannya bagaikan aliran sungai, begitu lembut tepi berkepanjangan sehingga membikin hati orang bergidik rasanya.
Sekalipun Gak Lam-kun sendiri berilmu tinggi, ilmu pedangnya juga telah mencapai puncak kesempurnaaan, tapi setelah bertemu dengan ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia ini, sesaat lamanya dia agak kewalahan juga dibuatnya hingga belum juga berhasil untuk memecahkannya.
Tampaklah serangan demi serangan dari Gak Lam-kun yang dahsyat dan kuat itu semuanya berhasil dipunahkan oleh Hong Im dengan ilmu pedang Tay khek cap sa nya yang memanfaatkan beberapa macam taktik lembut seperti menempel, mementil, menggetar, memancing, memunah, menggulung dan menghisap.
Tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun sungguh mengejutkan hati.
Setiap bacokan dilancarkan tentu disertai dengan hawa pedang yang sanggup membelah batu dan baja.
Lagipula pengetahuanya dalam ilmu silat luas sekali.
Banyak jurus-jurus serangan partaipartai lain yang dipahaminya.
Ini membuat Hong Im yang bertarung dengan pergunakan Tay khek kiam dibikin kewalahan juga oleh tenaga dalamnya yang sempurna.
Pada mula pertarungan, keadaan mereka masih seimbang dan sama kuat.
Tapi setelah bergebrak puluhan jurus kemudian, lambat laun jurus-jurus pedang yang dipergunakannya itu mulai didesak deh segulung tenaga tak berwujud yang memaksa gerakan serangannya makin lama semakin lamban, sedangkan Gak Lam-kun sendiri makin bertarung semakin bersemangat.
Dalam keadaan begitulah kelima orang jago pedang dari perguruan Tay Khek bun melakukan pengepungan secara tiba tiba dan mengurung Gak Lam-kun serta Hong Im ditengah arena, lima pedangnya segera bergerak bersama ikut melancarkan serangan.
Menyaksikan kejadian itu Yaan Lo-sat Hong Im menjadi amat kegirangan.
Sambil membentak gusar dia lepaskan tiga buah serangan berantai yang memaksa Gak Lam-kun harus miringkan badan sambil bergeser beberapa jengkal jauhnya, kini ia berdiri dihadapan seorang kakek yang bertubuh kurus kering.
Gak Lam-kun memandang sekejap sekeliling tempat itu.
Semangatnya tiba-tiba berkobar sambil berpekik nyaring katanya sambil tertawa.
"Sudah lama aku dengar orang bilang, Tay khek ngo heng kiam tin adalah suatu ilmu barisan yang sangat iihay dan sejajar namanya dengan barisan Lo han tin dari partai Siau lim. Banyak tahun sudah aku ingin menjajalnya tanpa menjumpai kesempatan. Sungguh tak nyana aku bakal menjumpai barisan kenamaan ini di atas pulau terpencil semacam ini. Kejadian ini benar benar merupakan kesempatan bagus yang belum pernah kujumpai. Hari ini juga aku akan mencoba sampai dimanakah kehebatan dari ilmu barisan ini...."
Ditengah gelak tertawa panjangnya, Gak Lam-kun telah berdiri sambil menyilangkan pedangnya didepan dada.
Ia berdiri kokoh dingin seperti sebuah bukit karang.
Ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin meski merupakan ilmu sakti dari perguruan Tay khek, namun selama enam puluh tahun belakangan ini belum pernah Tay khek pay mempergunakan barisan itu.
Kiranya Tay khek ngo heng kiam tin tersebut ikut lenyap dan punah bersamaan dengan hilangnya Ang ih kim cha Gui Bok Eng dari dunia persilatan.
Entah bagaimana kemudian enam puluh tahun kemudian, akhirnya rahasia ilmu pedang tersebut berhasil ditemukan kembali oleh Yan Lo-sat Hong Im setelah melewati suatu penyelidikan yang makan waktu cukup lama.
Setelah munghimpun tenaga dalamnya, pelan-pelan Gak Lam-kun mulai bergeser mendekati posisi sebelah timur kemudian ia tersenyum kepada jago jago Tay khek bun itu dan tidak berbicara.
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa, mendadak pedang paodek Giok siang-kiam itu melejit ke udara dan langsung menghajar ke tubuh kakek itu.
Dengan suatu gerakan yang enteng sikakek miringkan badannya untuk menghindar, kemudian dengan jurus Ih hwe kun tun (perputaran roda dalam jagad) dia tangkis datangnya ancaman itu.
Begitu pertarungan berkobar, barisan pedang Tay khek ngo heng kiam tin pun segera mengalami perubahan....
Si kakak disebelah timur yang menangkis pedang Gak Lam-kun itu segera memutar senjatanya dan tiba-tiba berkelit kembali kesamping gelanggang pertarungan.
Begitu menjumpai peluang baik, Gak Lam-kun bermaksud untuk maju ke depan dan menyerang Yan Lo-sat Hong Im yang merupakan motor dari ilmu barisan tersebut.
Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat.
Kakek yang berdiri dihadapannya itu telah menerjang ke muka menghadang jalan perginya.
Lalu pedangnya dengan jurus Ji gi jut ciau (dua unsur mulai berkembang) menciptakan dua kuntum bunga pedang yang menusuk bagian atas dan bagian bawah tubuh lawan.
Gak Lam-kun tertawa dingin, pedang Giok siang kiamnya diputar menciptakan selapis cahaya bianglala yang menyilaukan mata.
Senjata itu diayunkan ke muka dan segera memunahkan serangan yang aneh itu secara gampang.
Tapi sebelum Gak Lam-kun melancarkan serangan balasan, kakek yang berjaga disebelah barat telah menyelinap pergi, sementara kakek yang berjaga diposisi selatan mulai melancarkan serangan.
Semua perubahan dalam barisan Tay khek ngo heng kiam tin itu berubah dalam sekejap mata.
Sekalipun Gak Lam-kun tak sampai terkurung oleh serangan demi serangan yang dilancarkan oleh barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut, tak urung hatinya dibikin terkesiap juga olehnya.
"Ilmu barisan Tay kheh ngo heng kiam tin ini benar-benar bukan nama kosong belaka. Hari ini aku musti menghadapinya secara berhati-hati"
Demikian ia berpikir.
Padahal sesungguhnya pengaruh ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut jauh lebih lihay dari pada apa yang dibayangkan semula.
Cuma saja didalam bentrokan yang barusan berlangsung, kelihayan dari ilmu barisan tersebut masih belum tertampak semua.
Haruslah diketahui, urusan dasar dari ilmu barisan itu adalah sebuah unsur dingin ditambah lima unsur panas.
Tay khek dan ngo heng saling dorong mendorong saling bantu membantu yang berakibat timbulnya suatu sistem pertahanan serta penyerangan berantai yang berganti-ganti secara bergilir.
Gak Lam-kun adalah seorang pemuda yang cerdik, begitu dirasakan keamehan dari gerakan barisan tersebut, dengan hawa murninya dihimpun untuk bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Kiranya dalam tiga gebrakan yang barusan berlangsung, iapun dapat merasakan bahwa dalam barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut bukan saja merupakan suatu kombinasi kerja sama yang erat dan rapat dari enam jago, bahkan dalam setiap serangan dan pertahanan selalu mengandung perubahan tay khek dan ngo heng yang saling berubah tiada hentinya.
ia sadar, sekali kurang berhati-hati bisa berakibat fatal dari berubahnya, unsur ngo heng tersebut, jika pikirannya sudah dibikin kalut maka dia akan terkurung dibalik barisan pedang yang dikendalikan urusan tay khek.
Perlu diketahui, ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin yang dibentuk dengan tenaga manusia, bukan saja mengandung perubahan dari unsur ngo heng yang pada umumnya berlaku.
Lagipula lantaran maju mundurnya manusia seringkali akan mengalami pula seluruh perubahan dari gerakan barisan tersebut.
Tentu saja semua perubahan yang bakal terjadi itu sama sekali terlepas dari peraturan yang umum berlaku bagi perubahan ngo heng ini.
Ini menyebabkan seseorang yang memahami unsur Ngo hengpun kadangkala dibikin kewalahan juga untuk menghadapi perubahan didalam barisan pedang.
Apalagi sekarang ditambah lagi dengan sebuah unsur tay khek yang sifatnya Im (dingin).
Bukan saja hal mana membuat barisan pedang itu makin aneh dan rumit perubahannya membuat orang lain pun susah untuk menemukan titik kelemahan dari ilmu barisan tersebut.
Akibatnya setiap erang yang mulai terbawa oleh gerakan iimu barisan tersebut, akan kehilangan segenap kekuatannya untuk melepaskan serangan balasan.
Walaupun Gak Lam-kun angkuh dan tinggi hati, namun setelah merasakan sendiri tiga perubahan yang terjadi dalam barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut, kesombongannya segera sirna tak berbekas.
Dia pusatkan semua tenaga dan pikirannya untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Yan Lo-sat Hong Im sendiri ketika dilihatnya secara tiba-tiba Gak Lam-kun meninggalkan posisi bergerak dengan berubah menjadi tenang serta enggan melepaskan serangan lagi, diam-diam kagum juga hatinya.
Dia berpikir.
"Orang ini memang jauh berbeda dengan orang-orang yang lain, ternyata dalam sekejap mata ia berhasil mengatasi keangkuhannya"
Pedang panjang dalam genggamannya segera di angkat, lalu dengan jurus peng sah liok ing (bubung manyar melayang dipasir) dia tusuk ke muka sementara kaki kirinya, maju selangkah dan memimpin Ngo heng melakukan perubahan.....
Dalam sekejap mata, lima kakek yang berjaga pada posisi ngo heng itu mulai bergeser dan berpindah tempat.
Cahaya pedang bermunculan dari empat arah delapan penjuru dan bersama sama meluncur tiba dengan kecepatan luar biasa.
Gak Lam-kun membentak keras, pedang Giok siang kiam nya memancarkan selapis cahaya berkilauan yang tajam, dengan jurus Im wu mi thian (kabut dan mega menyelimuti angkasa) dia ciptakan berlapis kabut pedang yang menyongsong datangnya lapisan cabaya pedang lawan.
"Traaang! Traang! Traaaang"
Serentetan bunyi gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan.
Cahaya pedang yang menyerang kearahnya itu seketika lenyap dan sirna Sementara itu, kelima orang kakek itupun merasa kaget bercampur terkesiap, karena sewaktu pedangnya saling membentur lengan pedang pendek Gak Lam-kun bukan saja mereka rasakan timbulnya segulung tenaga pantulan yang memantulkan kelima belah pedang tersebut, bahkan lengan kiri mereka menjadi kesemutan sehingga pedangnya nyaris terlepas dari genggaman.
Dengan cepat mereka berpikir.
"Tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar amat sempurna. Untuk menghadapi manusia semacam ini paling benar kalau berusaha menghindar dari bentrokan kekerasan"
Perlu diketahui, kelima orang kakek ini, merupakan jago jago pilihan dari perguruan Tay khek bun.
Mereka semua sama sama cekatan dan lihay.
Tanpa diberi komando oleh Yan Lo-sat Hong Im, tiba-tiba mereka memutar tubuh masing-masing sambil melepaskan kembali sebuah tusukan kilat.
Lima bilah pedang menyergap lima buah tempat yang berlainan, bahkan dilancarkan pada waktu yang bersamaan.
Jika seorang kurang lihay ilmu silatnya, jangan harap bisa menghindarkan diri dari ancaman tersebut dalam keadaan selamat.
GaK Lam-kun sendiri kian lama kian bertambah terkesiap juga setelah dilihatnya perubahan serangan musuh lambat laun semakin gencar dan aneh.
Dalam keadaan demikian, ia lantas menekuk lutut kirinya, mendadak seluruh badannya menjadi lebih rendah separuh bagian.
Hawa murninya dihimpun kedalam kaki kanan lalu sekuat tenaga berputar.
Pedang kirinya mengikuti perputaran tersebut secepat kilat melepaskan lima buah tusukan kilat.
Dalam waktu singkat pedang-pedang yang menusuk tiba dan empat penjuru berhasil dibendung semua.
Tidak menunggu barisan lawan sampai melakukan perubahan lagi, Gak Lam-kun berpekik nyaring.
Kaki kanannya menjejak tanah sepenuh tenaga, lalu melejit ke udara.
Pergelangan tangan kanannya segera diputar dengan kecepatan tinggi....
Dimana pedang Giok Siang kiam itu menyambar, segera terciptalah selapis bayangan pedang yang tebal yang diikuti dengan hawa pedang yang memekakkan telinga.
Serangan dahsyat itu langsung mengurung sekujur badan Yan Lo-sat Hong Im dengan kecepatan tinggi.
Gak Lam-kun dapat merasakan akan keanehan serta kesaktian dari perubahan baris pedang itu.
Dia sadar bila mengambil sistem pertahanan tanpa melakukan serangan balasan, dia akan terperosok dalam posisi yang terdesak dan lambat laun besar kemungkina akan dilukai orang.
Maka satu ingatan melintas dalam benaknya, timbul niatnya untuk melancarkan serangan balasan.
Itulah sebabnya, begitu selesai membendung perubahan jurus dari lima orang kakek itu, badannya langsung melejit ke udara dan menyergap perempuan itu dari tengah udara.
Dia tahu orang yang berjaga diposisi Tay khek adalah Yan Lo-sat Hong Im sendiri.
Posisi tersebut merupakan bagian yang terpenting dari barisan pedang itu, maka serangan yang dilancarkan dalam sergapan tersebut dilakukan dengaa kedahsyatan yang luar biasa, dia berhasrat untuk berhasii didalam serangannya.
Ketika dilihatnya serangan Gak Lam-kun dari tengah udara sangat lihay dan garang.
Yan Lo-sat Hong Im tak berani menyambut secara keras lawan keras, tubuhnya segera melejit ke samping dan menghindar sejauh lima langkah lebih.
Setelah itu pedangnya segera menuding ke atas dia segera menggerakkan gerakan Ngo heng kiam yang dikombinasikan dengan Tay khek kiam.
Seketika itu juga hawa pedang menyelimuti seluruh angkasa dan menciptakan selapis kabut pedang yang tebal, bayangan pedang dengan cepat bermunculan dari empat arah delapan penjuru.
Gagal dengan serangannya, dengan cepat Gak Lam-kun terjerumus ke dalam kepungan cahaya pedang yang sangat tebal.
Tay khek ngo heng kiam tin telah memperlihatkan perubahan yang lebih dahsyat lagi.
Enam sosok bayangan saling berkelebat sambil melancarkan serangan.
Perubahan gerakan pedang mereka semakin sukar untuk diduga arah tujuannya.
Hawa pedang memenuhi seluruh angkasa, Gak Lam-kun seperti seekor naga sakti bergerak kian kemari diantara gulungan hawa pedang yang tebal.
Saban kali berputar kian kemari, sebentar dia menyerang kebarat sebentar lagi menerjang ke timur, kehebatannya tak terlukiskan dengan kata-kata Tiba tiba Yan Lo-sat Hong Im membentak nyaring setelah memancing sebuah setangan dahsyat dari Gak Lam-kun sehingga miring kesamping, tiba-tiba ia maju dua langkah kesamping kanan pe-dangnya diayunkan dua kali dengan serangan gencar.
Seteluh itu sambil memutar badannya, pedang itu menuding ke atas dan langsung melepaskan serangan kilat Tindakan yang diperlihatkan Yan Lo-sat Hong Im itu sekaligus merupakan suatu kode rahasia untuk melakakan perubahan terhadap barisan pedang itu.
Terdengar lima orang kakek itu bersama-sama berpekik nyaring.
Diantara ujung baju yang berkibar pedangnya berkibar diangkasa menciptakan pelbagai gerakan yang aneh.
Mengikuti gerakan itu posisi dimanapun segera mengalami perubahan.
Begitu ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin mulai berubah semua keadaan dan situasi disekitar sanapun ikut mengalami perubahan yang sangat besar.
Enam bilah pedang dengan mengeluarkan suara pekikan yang amat nyaring serta bayangan tebal bagaikan selapis kebut seperti ombak samudra ditengah amukan angin puyuh melanda datang berbarengan.
Secara lamat-lamat kedengaran bunyi angin dan guntur menggelegar di angkasa, baik bayangan tubuh Yan Lo-sat Hong Im mau pun lima jago pedang dari Ngo heng kiam tin seolah-olah sudah dilapisi oleh hawa pedang yang tebal sekali.
Untung saja tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun cukup sempurna.
Walaupun di kurung oleh kabut pedang yang dahsyat ba-gaikan amukan ombak di tengah samudra, namun dia tetap berdiri sekokoh batu karang dan sedikitpun tidak terpengaruh oleh dahsyatnya serangan lawan.
Pedang pedang Giok siang kiam ibaratnya seekor naga, berlompatan kian kemari ditengah lapisan hawa pedang yang sangat tebal.
Ilmu barisan Tay khek ngo heng kim tin memang benar benar amat dahsyat dan lihay.
Walaupun Gak Lam-kun cukup memahami soal ilmu barisan dan kepandaian sebangsanya, namun dia gagal untuk menemukan titik kelemahan dan keistimewaan dari Ilmu barisan ini.
Sementara itu, kawanan jago yang berada di sekitar kalanganpun sudah tertarik semua oleh barisan pedang yang ampuh dan jarang ditemui di kolong langit ini.
Tampaknya perubahan dalam Tay khek ngo heng kiam tin itu makin lama semakin rapat, gerak-gerakannya pun semakin kacau dan rumit.
Berbicara yang sesungguhnya, hampir sebagian besar kawanan japo yang hadir saat ini pada memahami soal ilmu barisan dan ilmu perbintangan namun setelah menyaksikan perubahan dari Tay khek ngo heng kiam tin itu, mereka mulai merasa berkunang-kunang juga dibuatnya.
Semenjak peristiwa berdarah di tebing Yan po gan dibukit Hoa san pada delapan belas tahun berselang, Yan Lo-sat Hong Im sudah mulai melakukan penyelidikan yang seksama atas ilmu kepandaiannya.
Ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin juga semenjak waktu itu dilatih.
Ke lima orang kakek berbaju abu abu itu merupakan jago kelas satu dalam perguruan Tay khek bun.
Selama delapan belas tahun, mereka boleh dibilang selalu memusatkan perhatiannya untuk mendalami ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin.
Bukan saja hapal terhadap semua perubahan dalam ilmu barisan itu, merekapun menguasai semua keistimewaan serta kelebihan-kelebihannya.
Malah dalam tenaga dalampun mereka ratarata memiliki kesempurnaan yang hampir seimbang.
Itulah sebabnya, serangan-serangan gerak-gerik dari ke enam orang itu sama sekali berlawanan dari keadaan pada umumnya.
Sebentar mereka bergerak lurus, sebentar berbalik anehnya bukan kepalang.
Sekalipun seseorang yang memahami soal Ngo heng tin, dibuat kebingungan juga olehnya.
Jit poh toan hun Kwik To yang menyaksikan kejadian itu segera menghela napas panjang.
katanya.
"Sudah lama orang persilatan rnengatakan bahwa ilmu pedang dari perguruan Tay khek bun telah mengalami kejadian yang pesat. Setelah dibuktikan sekarang, ternyata perkataan itu memang benar. Ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin mereka memarg terang merupakan suatu cabang ilmu silat yang luar biasa lihaynya". Ji Cin-peng manggut-manggut.
"Perkataanmu memang benar"
Katanya.
"Aku sendiripun mempunyai perasaan demikian..."
Ketika ia mercoba melirik sekejap ke arah nona berbaju perak itu dilihatnya gadis tersebut sedang memusatkan semua pikiran dan perhatiannya untuk mengikuti perubahan-perubahan dari ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut bahkan sering manggut-manggut sambil memuji.
Tapi sebentar kemudian gelengkan kepalanya sambil menghela napas seolah-olah dia telah memahami seluk-beluk dari ilmu barisan tersebut.
Mendadak terdengar gadis berbaju perak itu bergumam seorang diri.
"Sayang..... .. Sayang sekali...... Coba kalau antara keng kim dan kun terjalin hubungan pertahanan yang ketat...."
Waltu itu Gak Lam-kun yang sedang bertarung sudah mulai merasa rada kalut pikirannya, tentunya dia tidak mendengar petunjuk rahasia yang diberikan gadis berbaju perak itu untuk memecahkan barisan padahal barisan Tay khek ngo heng kiam tin itu kerapkali mengalami perubahan yang besar sekali.
Gak Lam-kun dengan kekuatan seorang ternyata sanggup bertarung melawan kerubutan enam jago lihay dari perguruan Tay khek bun tanpa memperlihatkan tandatanda akan kalah.
Kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang langka dalam dunia persilatan, hal mana membuat para penonton harus menahan napas dan mengikuti semua perubahan dengan wajah yang sangat tegang.
Ketika gadis berbaju perak itu menyaksikan Gak Lam-kun belum juga memahami kisikkisiknya, pelan-pelan segera maju ke depan.
Diikutinya semua perubahan dari Tay khek ngo kiam tin dengan seksama, lalu sekulum senyuman manis menghiasi ujung bibirnya.
"Engkoh Gak!"
Serunya kemudian dengan merdu.
"Pusatkan perhatianmu menjadi satu, jangan terlalu buru napsu untuk mencari kemenangan"
Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.
"Barisan ini mempergunakan sistem Tay khek bu ceng ngoh heng. Silahkan engkoh Gak menyerang ke utara lalu berbalik ke barat. Dengan air mengatasi api, dengan belakang yang berupa api mengganjal Tay khek. Dengan begitu keadaan pasti beres!"
Ketika mendengar panggilannya tadi, mula-mula Gak Lam-kun merasa terperanjat, cepat cepat dia memusatkan perhatiannya untuk melaksanakan seperti apa yang dikatakan.
Mendadak pedang Giok siang kiamnya menyerang ke arah utara dengan jurus Mong coa to sim (ular sawah mengeluarkan lidah).
Pada saat dia melepaskan serangannya itu, tepat dikala keng sim dan jimkui dua tempat sedang saling bergeser untuk tukar tempat, dengan, dilancarkannya serangan oleh Gak Lam-kun, kedua posisi tersebut segera kena terhadang.
Akibatnya, barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut mengalami sedikit kekalutan yang nyaris berakibat kekacauan.
Jilid 23 BEGITU berhasil dengan serangannya, Gak Lam-kun segera membalikkan badannya balas menyerang posisi penting disebelah barat.
Dengan jurus Poh Im han seng (bintang jeli di balik awan), pedang Giok-siang kiam itu langsung membacok posisi Ih bok dan Sim-kim dua tempat, kemudian langsung menyerbu ke posisi Tay-khek yang dijaga oleh Yan Lo-sat Hong Im.
Serangan serangan gencar yang dilepaskan untuk berebut posisi ini kontan mengakibatkan kekacauan dalam barisan Tay khek ngo heng kiarn tin itu, sehingga semua pergeseran posisi mengalami hambatan yang berakibat kekalutan.
Yan Lo-sat Hong Im merasa amat terkejut cepat cepat dia menekuk pinggang menghindarkan diri dari serangan Gak Lam-kun, lalu pedangnya berputar tiga lingkaran ditengah udara dan menuding kearah sebelah timur.
Mendapat petunjuk itu, lima orang kakek berbaju abu-abu itu segera berganti posisi dan berputar arah.
Barisan Tay khek ngo heng kiam tin yang mulai kalut itu segera dapat diatasi dan menjadi tenang kembali.
Sejak nona berbaju perak itu peroleh sukma dari Ang ih kim cha Gui Bok-eng, pengetahuannya tentang ilmu silat aliran Tay khek bun seakanakan begitu luas dan hapal sekali, ditambah lagi pada dasarnya ia memang seorang gadis yang menguasahi tentang segala macam kepandaian, otomatis diapun memahami pula kunci rahasia dari barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut.
Begitulah, baru saja Hong Im merubah barisannya dengan gerakan lainnya, gadis itu segera memahami kemana tujuan perempuan itu dengan barisannya.
Setelah tertawa terkekeh-kekeh, serunya dengan nyaring.
"Engkoh Gak, kali ini dia hendak menggunakan kelurusan untuk membawa Tay khek menuju keposisi Ngo heng. Kau boleh serang Posisi Ih bok, mengunci kedudukan Sim Kim lalu menyerang kedudukan Tay khek"
Gak Lam-kun sendiripun seorang pemuda yang cerdas, begitu peroleh petunjuk, jurus serangannya segera dilancarkan....
Pedang Giok siang kiam ditangan kanannya dengan jurus Siong liong ciang cu (Sepasang naga berebut mutiara) melepaskan dua gulung tenaga serangan yang maha dahsyat, untuk membendung Ih hok serta Sim kim, kemudian telapak tangan kirinya membacok keluar.
Segulung tenaga pukulan yang dahsyat dengan membawa kekuatan bagaikan angin puyuh menggulung ke tubuh Yan Lo-sat Hong Im .
Serangan yang dilancarkan kali ini jauh lebih cepat setengah tingkat dibandingkan dengan cara penyerangan yang diterangkan oleh nona berbaju perak itu.
Padahal waktu ini Yan Lo-sat sedang bermaksud merubah Tay khek ngo heng kiam tin nya dari posisi berbalik menjadi posisi lurus.
Tapi belum lagi serangannya dilancarkan, serangan kilat dari Gak Lam-kun yang begitu cepat dan dahsyat itu telah memporak porandakan barisan pedangnya itu.
Yan Lo-sat Hong Im membentak keras, pedangnya secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai...
Serangan itu cukup tajam dan hebat, memaksa Gak Lam-kun mau tak mau harus menarik pedangnya untuk menangkis.
Dengan terjadinya peristiwa ini, dengan cepat posisi barisan Ceng tay khek huan ngo heng kiam tin pulih kembali seperti sedia kata.
Suara pedang dengan enam gulung hawa pedang dengan cepat mengurung kembali Gak Lam-kun dalam barisan pedang.
Tambaknya perubahan ini telah membangkitkan hawa amarah dari jagoan muda ini.
Ia naik darah, hawa napsu membunuhpun segera menyelimuti wajahnya Pedang Giok siang kiam itu segera dialihkan ke tangan kiri, kemudian dengan jurus Kiam hay-teng liong (membelenggu naga dalam laut) menyerang posisi Koi sui.
Sedangkan kelima jari tangan kanannya dengan dipentangkan lebar-lebar mempergunakan kepandaian Tok liong ci jiau mencengkeram posisi Pia hwee.
Daya penghancur dari ilmu Tok liong ci jiau ini benar-benar luar biasa hebatnya.
Dimana desingan angin tajam menyambar lewat, jerit kesakitan segera berkumandang memecahkan keheningan Kakek baju abu-abu yang menjaga diposisi Pia hwee itu seperti memperoleh suatu pukulan berat yang dahsyat sekali, mendadak tubuhnya mencelat keudara dan terbanting sejauh dua kaki lebih dari posisi semula.
hawa napsu membunuh telah berkobar dalam tubuh Gak Lam-kun.
Begitu berhasil dengan serangannya, tidak menunggu barisan lawan melakukan perubahan lagi untuk kedua kalinya dia menghimpun tenaga dan menyerang lagi dengan ilmu Tok liong ci jiau.
Segulung angin desingan tajam yang luar biasa langsung menyerang keposisi Ih boh.
Dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan.
Kembali ada seorang kakek barbaju abu-abu yang terhajar sampai terpental jauh dari tempat semula.
Hebat sekali akibat dari serangan Gak Lam-kun dengan ilmu sakti Tok liong ci jiau ini.
Dalam waktu singkat dia mengenyahkan dua dari lima orang jago pedang itu bukan saja seluruh barisan Tay-khek ngo heng kiam tin itu terhambat gerak-geriknya bahkah boleh dibilang sudah tidak berwujud sebagai barisan lagi.
Menyaksikan dua orang anggota perguruannya mengalami nasib buruk, dan barisan Tay khek ngo heng kiam tin yang ditekuni dan dibina selama delapan belas tahun ternyata mengalami kemusnahan dan berantakan, tak terlukiskan rasa sedih dan kesal dalam hati Yan Lo-sat Hong Im.
Tiba tiba ia berpekik dengan suara yang amat nyaring.
Dalam gelisah dan gusarnya, dia lupa akan kelihayan orang.
Sambil mendesak maju pedangnya langsung diputar melancarkan serangkaian serangan secara gencar.
Gak Lam-kun tertawa dingin, dia putar pedang dan menangkis datangnya ancaman tersebut.
Sementara tiga orang kakek berbaju abu-abu lainnya sedang dibikin gusar lantaran rekan mereka dipecundangi, sambil membentak keras, mereka maju bersama sambil melepaskan serangkaian serangan yang amat dahsyat.
Serangan gabungan dari beberapa orang jago Tay khek bun ini sungguh luar biasa hebatnya, apalagi dengan tenaga dalam mereka yang terhitung tidak lemah.
Cuma, kalau tadi mereka mengandalkan kelihayan dan barisan Tay khek ngo heng kiam tin untuk mengepung musuhnya dalam barisan maka sekarang mereka bertarung dengan mengandalkan kepandaian silat yang sesungguhnya.
Dalam waktu singkat, bunga-bunga pedang beterbangan memenuhi angkasa.
Cahaya padang saling menyambar menyilaukan mata, keadaannya mengerikan sekali.
Gak Lam-kun segera berkata dengan dingin katanya.
"Hong Im, kau mencari mampus buat dirimu sendiri, jangan salahkan kalau aku Gak Lam-kun akan bertindak keji kepadamu"
Padang pendeknya masih dimainkan dengan tangan kiri, sedangkan tenaga dalamnya disalurkan kedalam telapak tangan kanan untuk mempergunakan ilmu sakti Tok liong ci jiau.
Tiba tiba ia membentak keras dan melepaskan sebuah serangan dahsyat kearah seorang kakek kurus yang ada disebelah kiri.
Tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun pada saat ini telah peroleh kemajuan yang pesat sekali.
Tenaga serangan yang disertakan dalam pukulan ini betul-betul ibaratnya bukit karang yang ambrol.
Sekalipun kakek kurus itu terhitung salah seorang jago tangguh dari perguruan Tay Khek bun, darimana mungkin ia mampu menyambut serangan dari Gak Lam-kun ini.
Terdengar dengusan tertahan berkamandang memecahkan keheningan.
Kakek kurus itu berikut pedangnya sudah terpental sejauh tujuh delapan depa dari tempat semula.
Dikala ia menggetarkan tubuh si kakek itu dengan ilmu sakti Tok liong ci jiau itu, berbareng pada saat yang sama jurus pedang yang dipakai untuk menyergap Hong Im itu tiba tiba berubah menjadi jurus Ciong eng hui jiau (cakar sakti burung elang).
Pedang pendek Giok sang kiam dengan membawa serentetan suara desingan tajam langsung menyongsong datangbya pedang si kakek cebol yang berada dihadapannya.
"Traaang......!"
Benturan nyaring yang disertai percikan bunga api terjadi ditengah udara.
Si kakek cebol segera merasakan telapak tangannya menjadi pecah dan sakit sekali.
Tahu-tahu pedangnya terlepas dari genggaman, dengan membawa serentetan cahaya perak langsung meluncur ke udara dan mencelat sejauh tujuh delapan kaki dari tempat itu.
Diantara pergantian napas, Gak Lam-kun sekali lagi melancarkan sebuah tusukan untuk membendung jurus serangan dari Yan Lo-sat.
Bersamaan waktunya telapak tangan kiri itu melepaskan juga sebuah pukulan dahsyat yang langsung menghajar si kakek yang lain.
Agaknya kakek berbaju abu-abu itu sudah tahu kalau tenaga pukulan dari Gak Lam-kun lihay sekali.
Ia tak berani menyambut dengan kekerasan, sambil bertekuk pinggang dan menggeserkan badan, dia berkelit tiga langkah ke samping untuk meloloskan diri dari serangan tersebut.
Dalam waktu singkat, Gak Lam-kun berhasil merobohkan dua orang, mendesak mundur seorang dan membuat seorang lagi kehilangan senjatanya.
Menyaksikan kesemuanya itu, sadarlah Yan Lo-sat Hong Im bahwa nama baik perguruan Tay khek bun bakal musnah akibat dari hasil pertarungan hari ini.
Rasa sedih yang amat sangat membuat parah panas dalam dadanya bergolak keras.
Wajahnya berubah menjadi pucat kehijau-hijauhan.
Dengan termangu-mangu dia berdiri ditempat tanpa berkutik barang sedikitpun juga.
Tanpa disadari beberapa titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Kemudian ditatapnya wajah Gak Lam-kun lekat-lekat dengan sorot mata penuh rasa benci dan dendam.
Ini menunjukkan kalau Yan Lo-sat telah dibuat sedih sekali sehingga untuk sesaat lamanya tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya.
Sesungguhnya telapak tangan kanan Gak Lam-kun sudah diangkat ke tengah udara dan siap dihantamkan ke atas tubuhnya.
Akan tetapi setelah menyaksikan penderitaan yang diperlihatkan pada wajahnya, pelan-pelan telapak tangan itu diturunkan kembali.
Mendadak Yan Lo-sat Hong Im mendonggakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
Tiba-tiba ia membuang pedangnya ke atas tanah, lalu membalikkan badan dan menjatuhkan diri berlutut dihadapan gadis berbaju perak itu, mohonnya dengan setengah merengek.
"Susiok mohon pengampunan dari kau orang tua atas dosa dan kesalahan yang telah aku lakukan barusan"
"Hee... hee... hee... kau tak usah mengaco belo tak karuan"
Kata sinona berbaju perak itu sambil tertawa dingin.
"Apa-apaan kamu ini? Sudah begitu tua, masih juga berlutut dihadapan orang. Apa kau anggap perbuatanmu itu bagus?"
Yan Lo-sat Hong Im masih belum bangkit juga, malah rengeknya lebih jauh.
"Susiok kalau kau orang tua tidak bersedia pulang ke perguruan Tay khek bun, tecu akan berlutut terus disini"
Mendengar ucapan tersebut, si nona berbaju perak itu segera mengernyitkan alis matanya, lalu tertawa dingin.
"Hmm, kenapa sih kau begitu tak tahu diri?. Berulang kali toh sudah kuterangkan bahwa aku bukan Hong ih kim cha Gui Bok eng, kenapa kau masih saja tidak percaya? Baik! Kalau kau ingin berlutut, silahkan berlutut terus sampai tua ditempat ini"
OoOOOoo SEUSAI berkata gadis itu lantas tersenyum seraya berpaling ke arah Gak Lam-kun, katanya.
"Engkoh Gak, mari kita berangkat!"
Gak Lam-kun mengiakan, pelan-pelan dia berjalan kehadapan Ji Cin peng, setelah menghela napas panjang, katanya.
"Nona Bwe, berulang kali cayhe mendapat bantuanmu. Budi kebaikan tersebut akan ku ingat terus didalam hati kecilku. Hingga kini ada suatu persoalan yang masih membingungkan hatiku ingin sekali kumohon petunjuk dari nona Bwe, bersediakah kau memberi petunjuk kepada diriku ini?"
Mendengar ucapan itu, Ji Cin-peng tertawa paksa, katanya kemudian setelah termenung sejenak.
"Entah persoalan apa yang membingungkan hati Gak siangkong? Aku bersedia membantumu untuk menghilangkan kerisauan tersebut apabila tenagaku mampu untuk melakukannya"
Gak Lam-kun segera manggut-manggut.
"Baiklah!"
Dia berkata.
"Pada malam bulan purnama nanti, akan kunantikan kedatangan nona Bwe dalam bangunan mungil di gedung sebelah barat daya"
Ji Cin-peng tersenyum.
"Menjelang kentongan pertama bulan purnama, aku pasti akan menunggu kedatanganmu disana, pergilah!"
Kiranya pada waktu itu si nona baju perak dengan penuh raia cemburu dan jengkel telah melengos ke arah lain dan berlalu seorang diri dari situ.
Gak Lam-kun menyerahkan kembali pedang pendek itu ke tangan Ji Cin peng, katanya lagi.
"Semoga kau suka menjaga pula adik Liong ku itu!"
Selesai berkata, dia baru membalikkan badan dan menyusul gadis berbaju perak itu.
Menyaksikan kekasihnya pergi bersama seorang gadis yang lain, Ji Cin-peng tak dapat melukiskan bagaimana perasaannya saat ini.
Titik-titik air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.
Dia tahu Gak Lim kun masih amat mencintainya.
Dia yakin didasar hati kecil Gak Lamkun sudah tertera nyata bayangan tubuhnya dan bayangan tersebut tak akan lenyap untuk selamanya.
"Jika dia tahu kalau aku adalah Ji Cin-peng rasa cintanya kepadaku pasti akan jauh lebih dalam daripada rasa cintanya kepada gadis berbaju perak itu. Tapi, aku... bagaimana mungkin aku bisa munculkan diri dengan wajah asliku... Dendam berdarah dari orang tuaku belum dituntut balas....."
Antara dendam kesumat dan cinta ia merasa tak sanggup untuk memilih salah satu diantaranya....
Hanya penderitaan dan tekanan batin yang selalu menghantui lubuk hatinya.
Titik titik air mata jatuh bercucuran membasahi di pipinya.
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa, pelan-pelan Han Hu hoa menghampirinya dan berbisik dengan suara lirih.
"Buncu, aaaai..."
Padahal dia sendiripun tak tahu harus menggunakan kata-kata apa untuk menghibur hatinya.
"Enci Bwe"
Ji Kiu-liong segera berseru dengan suara lirih.
"kau tak usah berduka. Gak toako tak akan mencintai perempuan macam gadis berbaju perak itu. Kalau dia sampai kesemsem kepada perempuan itu, aku pasti tak akan membiarkan Gak toako terbuai terus menerus....."
Mendengar perkataan itu merah padam selembar wajah Ji Cin-peng lantaran jengah, dengan gusar serunya.
"Adik Liong kau jangan sembarangan berbicara, aku bukan.... aku bukan....."
Ketika menatap wajah anak muda itu tiba-tiba gadis tersebut menghela napas sedih, katanya lagi.
"Adik Liong, Gak toako adalah seorang yang baik sekali, lain kali kau harus mendengarkan perkataannya"
Sementara itu sepasang mata Ji Kiu-liong sedang menatap wajahnya tanpa berkedip.
Sepatah katapun ia tidak berbicara, seakan-akan ada sesuatu yang menyentuh perasaannya, dia merasa gadis ini terlalu mirip dengan orang itu.
Tiba-tiba beberapa titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Ji Kiu liong, bisiknya.
"Enci Bwe, kau terlalu mirip dengan dia!"
Mendengar perkataan itu, Ji Cin-peng merasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat dia berusaha untuk mengendalikan perasaannya.
Dengan lemah lembut dia berjalan menghampirinya, lalu membelai rambut Ji Kiu-liong dengan penuh kasih sayang.
"Adik Liong, kau mengatakan aku mirip siapa?"
Tanyanya dengan suara lirih. Sambil menahan isak tangisnya, jawab Ji Kiu liong.
"Kau terlalu mirip dengan enciku. Pada hakekatnya kau menyerupai enciku yang hidup kembali, baik dalam potongan badan, logat berbicara, watak serta gerak gerik"
Merdengar perkataannya itu, Ji Cin-peng merasa hatinya sangat sedih, tanpa terasa gumamnya seorang diri.
"Adik Liong.. wahai adik Liong, akulah enci kandungmu, kau maafkanlah aku. Aku tak bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang kakak yang baik untuk membesarkan dirimu akupun malu terhadap ayah dan ibu di alam baka.
"Tapi... tapi... masih ada seorang bocah lagi yang jauh lebih mengenaskan keadaannya daripadamu. Dia bakal hidup sebatang kara tanpa ayah dan ibu. Bocah itu tak lain adalah...."
Ji Kiu-liong yang menyaksikan perempuan itu bergumam seperti orang mengigau, berusaha untuk memperhatikan kata-katanya, tapi lantaran suara ucapannya terlalu rendah maka dia hanya sempat mendengar sedikit saja.
Maka dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, diapun bertanya.
"Siapakah bocah itu?"
Mendengar pertanyaan itu, dengan terkejut Ji Cin-peng buru-buru menutup mulut dan mengalihkan sorot matanya kewajah Ji Kiu-liong, dalam hati kecilnya tak terlukiskan rasa sedih yang timbul dengan segera, tak tahu apakah dia harus berterus terang kepada adiknya atau tidak....
Akhirnya sambil menghela napas panjang, Ji Cin-peng berkata.
"Adik Liong, bocah itu adalah anakku!"
Mendengar perkataan itu dengan terkejut Ji Kiu-liong segera bertanya.
"Kau sudah... pernah kawin?"
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, wajahnya menunjukkan perasaan kecewa yang amat tebal. Tentu saja Ji Cin-peng dapat menangkap perubahan mimik wajahnya itu, ia segera menganggguk.
"Yaa, aku sudah mempunyai suami?"
Jawabnya. Dengan sedih dan kecewa Ji Kiu-liong menghela napas panjang, gumamnya kemudian.
"Aaai... Kalau begitu kau dengan engkoh Gak tak mungkin bisa.... tak mungkin bisa...."
Dengan hati sedih Ji Cin-peng mengangguk.
"Adik Liong aku mempunyai banyak persoalan yang hendak dibicarakan denganmu"
"Kau mempunyai kesulitan apa katakan secara terus terang. aku pasti akan berusaha untuk membantumu menyelesaikan persoalan-persoalan itu..."
Ketika mengucapkan kata-kata itu, dia menunjukkan sikap seperti orang yang sudah tahu urusan, seperti pemuda yang sudah meningkat kedewasaannya.
Melihat itu Ji Cin-peng merasa agak lega.
Ia merasa selama dua tahun belakangan ini adik liongnya sudah jauh lebih dewasa.
Pelan-pelan Ji Cin-peng membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah barat.
Ji Kiu-liong dengan perasaan penuh tanda tanya, mengikuti terus dibelakangnya.
Ketika tiba di bawah sebatang pohon siong, Ji Cin-peng berhenti seraya berpaling, panggilnya dengan lembut.
"Adik Liong..."
Ji Kiu-liong merasa panggilan "adik Liong"
Tersebut begitu dikenal olehnya, membuat pemuda itu hampir saja tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Mungkinkah didunia ini masih terdapat orang lain yang bisa memiliki suara maupun wajah yang begitu mirip dengan encinya?
"Atau mungkin dia adalah enciku Ji Cin peng?.
Tidak...
tidak...
hal ini tak mungkin?
Jika dia adalah enci ku, mengapa dia bisa tak kenal dengan toako Gak?
Aku rasa enci tak bisa hidup tanpa engkoh Gak"
"Adik Liong!"
Ujar Ji Cin-peng lagi dengan suara yang amat pedih.
"tahukah kau bahwa da-lam hati kecilku tersimpan suatu kejadian amat sedih yang pernah kualami dimasa lampau?"
Ji Kiu-liong manggut-manggut.
"Aku tahu!"
Tiba tiba Ji Cin-peng bertanya lagi.
"Aku ingin bertanya kepadamu, bila kau mempunyai dendam sakit hati. apakah kau bertekad untuk membalasnya?"
Sambil melototkan sepasang matanya bulat-bulat, Ji Kiu-liong segera menjawab.
"Tentu saja harus dibalas, kalau ada dendam kesumat, mengapa kita tidak menuntutnya?"
Ucapan terserut sangat menggetarkan perasaan Ji Cin peng, segera pikirnya dihati.
"Harus dibalas! Harus dibalas! Tentu saja harus dibalas! tentu saja harus dibalas!"
Setelah berhenti sejenak Ji Cin-peng menghela nafas sedih, kembali ia berkata.
"Adik Liong, aku memiliki suatu dendam kesumat keluarga yang lebih dalam dari samudra, namun dendam sakit hati itu justru tak bisa kutuntut balas".
"Kenapa?"
Tanya Ji Kiu-liong keheranan.
"apakah ilmu silatmu tak sanggup untuk menandinginya?"
"Benar ilmu silatku sungat jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan kepandaiannya"
Ji Cin-peng berkata. Mendengar itu Ji Kiu-liong menjadi amat terkejut bercampur tercengang serunya.
"Ilmu silat yang enci miliki sekarang boleh dibilang tiada bandingannya didunia ini. Siapa yang mampu mengalahkan dirimu dalam dunia persilatan sekarang? Aku Tidak percaya dengan perkataaanmu itu, siapakah sih musuh besar enci itu?"
Ji Cin-peng tidak menjawab pertanyaannya tapi berkata kembali lebih jauh.
"Bila menggunakan ilmu silat sudah barang tentu aku tak dapat menangkan dia. Tapi jika aku ingin membalas dendam, ia pasti akan membiarkan diriku melaksanakan keinginanku itu....."
Semakin mendengar Ji Kui liong merasa semakin keheranan.
Dia tahu dendam kusumat yang terjalin diantara mereka pasti suatu jalinan hubungan yang sangat pelik.
Ji Cin-peng kembali menghela nafas panjang, katanya lagi.
"Tapi selama ini aku tak berani mencarinya untuk membalas dendam, karena dia adalah kekasihku sendiri. Aku dengan dia sudah menjalin hubungan cinta yang amat mendalam, bahkan telah menmbuahkan hasil ketu-runan. Jika kubalas dendam sakit hati ini, maka anakku yang patut dikasihani itu akan kehilangan ayah dan ibunya bersama. Dia akan hidup sebatang kara sepanjang masa. Ooooh.... Betapa mengenaskan nasibnya itu"
"Enci Bwe, seandainya kau bunuh kekasihmu itu, apakah kau sendiri juga enggan untuk hidup lagi didunia ini?"
Tiba-tiba Ji Kiu-liong bertanya dengan suara lembut. Ji Cin-peng menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Adik Liong!"
Katanya "jika ada seorang perempuan telah membunuh sendiri suaminya, apakah dia mungkin akan hidup seorang diri di dunia ini?"
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Itulah.... itulah sebabnya.... antara cinta dan dendam... aku.... aku sendiripun tak tahu harus memilih yang mana. Adik Liong hari ini aku telah mengungkapkan semua rahasia hatiku kepadamu, tujuanku tak lain adalah ingin mohon bantuanmu untuk menyelesaikan kesulitan yang sedang kuhadapi ini"
Setelah mendengar kisah dendam dan cinta yang serba pelik ini. Ji Kiu-liong sendiripun merasa sedih bercampur serba salah, setelah termenung sebentar dia lantas bertanya.
"Apakah suamimu mengetahui akan persoalan ini?".
"Tidak tahu, lagi pula dia telah menganggap aku sudah mati"
Ji Kiu-liong menghela napas panjang.
"Kalau memang begitu, kau tak usah membalas lagi dendam sakit hati itu. Lenyapkan saja semua kenangan lama yang serba pahit dan getir itu dari dalam benakmu sehingga kalian suami istri dan anak bisa berkumpul dengan rukun kembali serta selamanya melewatkan penghidupan yang senang, gembira dan bahagia"
"Adik Liong, seandainya kau adalah sipemegang peranan didalam peristiwa semacam itu, apakah kaupun akan berbuat demikian?"
"Yaa, kalau tidak apakah masih ada cara lain yang lebih baik iagi? Andaikata kita memilih jalan untuk menuntut balas, sekalipun dendam tersebut dapat dituntut balas, namun akibatnya malah justru jauh lebih mengenaskan"
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Tak bisa disangkal lagi bahwa kau tidak tega untuk membunuh suamimu, itu berarti bibit atau benih dendamnya dalam hatimu sesungguhnya telah terhapus sama sekali. Kuanjurkan kepadamu lebih baik lupakan saja tragedi yang mengerikan itu!"
Setelah mendengar ucapan dari Ji Kiu-liong ini, bagaikan genta kuil di pagi hari, Ji Cinpeng segera tersadar kembali dalam lelapan impian yang buruk dan sudah mencekam hatinya selama banyak tahun.
Perasaan hatinya sekarang adalah begitu terharu begitu gembira sehingga hampir saja melupakan keadaan.
"Oooh adik Liong!"
Pekiknya dengan gembira "Aku... aku... amat menyukai dirimu"
Dipeluknya kepala Ji Kiu-liong erat erat, sementara air matanya tak bisa ditahan lagi jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Dia Ingin menangis, dia ingin menggunakan tangisannya untuk memperlihatkan luapan rasa gembira yang sedang berkecamuk dalam hatinya.
Agaknya Ji Kiu-liong merasa agak terkejut dengan sikap perempuan itu, serunya dengan nada kaget.
"Kau.... Kau.... Enci Bwe..."
"Oooh...."
Ji Cin-peng mengeluh pedih.
"adik Liong, aku adalah... enci Peng... Aku adalah enci Peng...."
"Apa?"
Ji Kiu-liong amat terkejut dan segera meronta untuk melepaskan diri dari rangkulan Ji Cin peng, kemudian dengan terkejut serunya.
"Kau... Kau... kau benar-benar adalah enci Peng? Enci Peng yang telah meninggal?"
Ji Cin-peng manggut manggut.
"Benar, adik Liong! Aku ... aku belum mati"
Paras muka Ji Kiu-liong segera berubah, hebat, serunya.
"Kalau begitu..... engkoh Gak adalah...."
Ji Cin-peng segera tertawa getir.
"Adik Liong, kita tak usah menyinggung kembali peristiwa yang penuh kesedihan itu"
Bisiknya.
""Oooh..... cici, kau betul-betul sangat mulia!"
"Adik Liong....."
Ji Kiu-liong yang polos tak dapat menguasai diri lagi. Ia menubruk kedalam rangkulan Ji Cin-peng dan menangis tersedu-sedu karena kegirangan, lalu serunya tersendat sendat.
"Enci Peng, dimanakah keponakanku itu? Aku terlalu gembira...."
"Dia berada di Lam-hay, ditempat guruku"
"Enci Peng, hayo kita susul Gak toako, biar aku yang akan menuturkan hal ini kepadanya!"
Tapi sebelum mereka sempat beranjak pergi, tiba tiba dari arah belakang berkumandang suara tertawa seram yang amat mengerikan.
"Hee... hee... hee... jangan harap kalian bisa pergi menjumpai orang she Gak itu lagi"
Dengan cepat Ji Cin-peng dan Ji Kiu-liong membalikkan tubuhnya.
Empat buah mata yang bersinar tajam segera menyapu sekeliling tempat itu.
Lebih kurang tujuh delapan kaki dihadapannya sana berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang mengenakan baju berwarna putih, orang itu tak lain adalah Mao Tam dari Tiang pek-san.
Dibelakangnya mengikuti tiga orang kakek berbentuk aneh sekali.
Waktu itu ketua Thian san pay, Bu-seng sianseng Tang Bu kong sedang bercakap-cakap dengan tiga orang kakek itu.
Sementara itu dalam arena tinggal jago jago dari perguruan panah bercinta, sedang See ih sam seng dan orang orang Tay khek bun entah sudah kemana perginya.
Jit poh-toan-hun Kwik To yang menyaksikan kemunculan Mao Tam sekalian, segera merasakan bahwa suatu pertarungan berdarah segera akan berlangsung, tanpa terasa mereka maju bersama melakukan pengepungan.
Delapan belas orang pemanah dari perguruan panah bercinta segera mempersiapkan gendewa masing masing dan mengerahkan arah panahnya ke arah Mao Tam sekalian di tengah kepungan.
Tiga orang kakek aneh yang bertubuh tinggi, pendek serta gemuk itu sama sekali tidak menggerakkan biji matanya untuk memandang sekitar arena, jelas kepandaian mereka sangat lihay sehingga kepungan tersebut sama sekali tidak menggetarkan hati mereka bertiga.
Sesungguhnya ketiga orang kakek aneh itu adalah jago jago yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan.
Orang menyebut mereka sebagai Tiang pek sam hi (tiga ekor beruang dari Tiang pek san).
Si kakek aneh bertubuh jangkung seperti bambu dengan mata yang sebesar gundu serta sekujur badannya penuh dengan bulu putih itu adalah pemimpin dari tiga beruang, Ngo kok bim cun (Malaikat beruang dari lima lembah) Leng Han tang.
Disebelah kirinya yang bertubuh pendek lagi ceking dan berambut emas macam monyet itu bernama Has thian bu im kim si him (beruang bulu emas yang terbang tanpa bayangan) Hoo Ki Seng.
Sedangkan si kakek yang gemuk bagaikan dewa Mi lek bud tapi sedikit berbeda karena tak pernah tersenyum ini bukan lain adalah beruang yang terganas di antara kadua orang rekan lainnya.
Dia bernama Im yang bim (si beruang banci) Pit Gi.
Begitu berjumpa dengan ketiga orang kakek aneh itu, Ji Cin-peng segera tahu kalau si pendatang itu bukan lain adalah Tiang Pek sam him (tiga beruang dari Tiang Pek san) tapi dasar perempuan ini memang bernyali apalagi ilmu silatnya memang lihay, ia sama sekail tidak merasa gentar untuk berhadapan dengan mereka.
Tiba tiba Im yang him Pit Gi mengalihkan sinar matanya ke tubuh Ji Cin-peng kemudian sekulum senyuman cabul tersungging diujung bibirnya.
Ji Cin-peng yang dipandang secara begitu tengik menjadi naik pitam, ia segera mendengus berulang kali.
Ji Kiu-liong tak tahan melihat ketengikan orang, kontan saja ia mencaci maki kalang kabut.
"Tiga orang itu tujuh bagian mirip setan, tiga bagian mirip manusia, entah siluman siluman darimana?"
Mao Tam yang mendengar Ji Kiu-liong memaki suhu dan susioknya menjadi naik darah pula bentaknya.
"Setan cilik rupanya kau sudah bosan hidup!"
Sambil membentak dia menerjang maju kedepan.
Ji Kiu-liong tertawa dingin, ia tak mau memperlihatkan kelemahannya, segera anak muda inipun bersiap-siap untuk menyongsong kedatangannya.
Tiba tiba Ji Cin-peng menarik tangannya sembari berbisik.
"Adik liong, jangan gegabah, ilmu silat yang dimiliki orang ini aneh sekali"
Mao Tam sudah pernah merasakan kerugian ditangan Ji Cin peng.
Ketika dilihatnya Ji Cin-peng berdiri disampingnya, ia tak berani menerjang ke muka lebih jauh, hanya ditatapnya wajah pemuda Itu dengan penuh kegusaran.
Jit poh-toan hun Kwik To segera tertawa terbahak bahak, sambil melangkah ke depan, serunya.
"Saudara, apakah kau ingin berkelahi?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, diam-diam Jit poh toan-hun Kwik To telah menghimpun tenaga dalamnya, tiba tiba sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan.
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke muka dan menghajar telak diatas lambung Mao Tam.
"Blaaaam......!"
Terjadi benturan yang amat keras sekali.
Mao Tam menjerit kesakitan sekujur badannya terasa sakit seperti dililit pisau tak ampun ia terpental ke belakang dan muntah darah segar.
Sergapan yang dilancarkan Kwik To ini sama sekali diluar dugaan Tiang pek sam him, agaknya mereka tidak menyangka kalau ada orang berani menghajar muridnya dihadapan mereka.
Hui thian bu im Kim si him segera berkelebat kedepan dan tahu-tahu sudah berdiri disamping Mao Tam.
Demontrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukan oleh si beruang berbulu emas yang terbang tanpa bayangan ini segera mengejutkan semua jago dari perguruan panah bercinta.
Sepasang alis Ji Cin-peng juga ikut berkerut kencang.
Ia lalu menyadari bahwa mereka telah berhadapan dengan musuh tangguh yang belum pernah dijumpainya sebelum ini.
Setelah mengalami sergapan sehingga mengakibatkan luka dalam isi perutnya tadi, sifat buas Mao Tam segera berkobar kembali.
Sambil menjerit aneh tiba-tiba ia melejit ke udara lalu menerjang kedepan dengan kecepatan luar biasa.
Tapi dengusan tertahan tiba-tiba berkumandang tahu-tahu Mao Tam sudah roboh kembali dari tengah udara.
Sambil tertawa dingin Jit poh toan hun Kwik To segera berkata.
"Kau sudah terhajar oleh ilmu pukulan Jian-si-tok-ciang yang amat beracun. Bila tidak berusaha mencegah menjalarnya racun didalam tubuhmu luka itu segera akan bekerja dan mengakibatkan keadaan yang lebih fatal. Tiang pek sam bin tidak percaya dengan ancaman itu, sekalipun Mao Tam sendiri juga tidak tahu kalau ia sudah kena di pecundangi orang, baru saja dia bersiap-siap turun tangan lagi..... Bu Seng sian-seng Tong Bu kong pelan-pelan tampil kedepan kemudian katanya.
"Saudara Mao memang benar benar sudah dipecundangi orang cepat mundur kemari. Untung saja suhumu hadir disini. Ilmu pukulan beracun semacam itu mah masih belum cukup untuk melukai orang"
Walaupun Mao Tam adalah seorang kasar yang tak pakai, otak namun ia tak berani bergurau dengan nyawa sendiri, buru-buru dia menghimpun tenaganya siap disalurkan ke dalam badan.
"Jangan menyalurkan tenaga dalam!"
Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram urat nadinya. Mao Tam berpaling, ketika dilihatnya orang itu adalah Hui thian bit im kim si him, tanpa terasa bisiknya.
"Susiok aku sudah keracunan..."
"Cepat salurkan hawa murninya secara terbalik untuk menyerang jalan darah Hian kwan!"
Jerit Hui thian bit im Kim si him dengan suara tinggi melengking.
Sementara itu Ngo kok bim cun Leng Han-tang serta Im yang bim Pit Gi entah menggunakan gerakan apa, tahu-tahu sudah menghampiri Jit poh toan hun Kwik To dan berhenti kurang lebih empat kaki dihadapannya.
Ketua Thian san pay Bu seng sian-seng Tang Bu kong segera mengelas jenggotnya sambil tertawa dingin, katanya.
"Delapan belas tahun berselang, dengan sekujur tubuh penuh dengan bisa Kwik heng menjagoi dunia persilatan. Tak seorang manusiapun yang tidak memberi muka kepadamu. Setelah bersembunyi selama delapan belas tahun sambil mendalami pelbagai ilmu beracun, tentunya kepandaianmu saat ini setingkat lebih hebat. Sudah lama siaute mengagumi namamu. Sungguh beruntung hari ini mendapat kesempatan sebaik ini untuk bertemu muka. Mumpung lagi ketemu, aku ingin mohon beberapa petunjuk darimu"
Jit poh toan hun Kwik To Cukup mengetahui akan kelihayan Tong Bu kong dalam ilmu pedang lagi pula sudah memiliki Sian thian kang khi yang berat, dia bersikap sangat berhati hati.
"Mana, mana"
Katanya sambil tersenyum "kalau memang kau berniat demikian dengan pertaruhkan nyawa, aku orang she Kwik bersedia untuk mengiringi keinginanmu itu"
Tong Bu kong segera meloloskan pedangnya, lalu berkata.
"Saudara Kwik silahkan meloloskan senjatamu"
"Biar aku orang she Kwik melayanimu dengan tangan kosong saja"
Tong Bu kong segera tertawa dingin.
"Pedang itu tak bermata kau tidak kuatir kalau sampai terluka?"
Ejeknya.
"Walaupun lohu tidak menggunakan senjata tapi dalam menghadapi serangan musuh aku seringkali akan melayani juga memakai benda-benda beracun yang mematikan. Mungkin juga benda itu jauh lebih menakutkan dari pada senjata. Aku harap Tong-heng suka berhati hati didalam hal ini"
"Jikalau suatu pertarungan sudah terjadi, berarti posisi kita ibaratnya api dan air. Jika saudara Kwik memiliki ilmu beracun yang lain, silahkan saja untuk digunakan semua"
Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa berbahak-bahak.
"Haa... haa... haa... perkataan saudara Tong memang tepat sekali, sungguh membuat aku merasa kagum sekali. Harap Tong heng melancarkan serangan lebih dahulu!"
"Jika saudara Kwik memang berniat mengalah, baiklah. Daripada menolak lebih baik kuturuti saja keinginanmu itu"
Pedangnya didorong ke muka dan segera melancarkan sebuah bacokan ketubuh Kwik To.
Serangan yang dilancarkan jago kenamaan memang selalu hebat dan indah.
Semua serangan pedang yang dilancarkan Tong Bu kong selalu mirip bacokan atau totokan membuat orarg sulit untuk menduga semua perubahan dalam permainan pedangnya.
Jit poh toan hun Kwik To segera terdesak sehingga harus mundur tiga langkah ke belakang Diam diam terkesiap juga hatinya menghadapi kelihayan lawan.
Sekalipun serangan dari Tang Bu kong itu tampaknya sederhana tanpa sesuatu yang aneh, sesungguhnya inilah suatu jurus pedang yang luar biasa lihaynya dengan kombinasi yang mengagumkan.
Justru dalam ilmu pedang jenis ini keistimewaannya terletak dalam kesederhanaannya, membuat siapapun akan merasa bahwa jurus tersebut merupakan suatu serangan tipuan, tapi justru tidak mudah untuk mengetahui perubahannya.
Begitu berhasil mendesak mundur Jit poh toan hun Kwik To dengan serangan kilatnya tiba tiba ketua dari Thian san pay ini, Bu Seng sian-seng Tong Bu kong maju selangkah ke depan.
Pedangnya diputar secepat angin dan mengembangkan suatu serangan kilat.
Dalam waktu singkat bayangan pedang memenuhi angkasa.
Deruan angin bercampur guntur menderu-deru amit memekakkan telinga.
Thian san kiam hoat yang digunakan Tong Bu kong ini sungguh luar biasa sekali kekuatannya.
Sekali salah perhitungkan polisi Jit poh-toan hun Kwik To segera terjepit dibawah angin.
Dihawah serangkaian serangan kilat dari Tong Bu kong yang berbasil merebut posisi di atas angin itu, dia dipaksa hingga tak sanggup untuk melancarkan serangan balasan.
Walaupun ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menangkis dan berkelit, namun selalu gagal untuk meloloskan diri dari kurungan cahaya pedang lawan.
Sangkoan Im yang menyaksikan kejadian itu segera berbisik kepada Ji Cin peng.
"Ilmu pedang Thian san kiam hoat dari Tong Bu kong amat ganas, jahat dan lihay. Aku kuatir kalau saudara Kwik tak sanggup untuk memperbaiki kembali posisinya"
"Tenaga dalam yang dimiliki Kwik To sangat lihay, aku pikir tak usah terlalu mencemaskan keselamatannya"
Sementara mereka berdua sedang berbicara situasi dalam tengah arena kembali telah terjadi perubahan besar.
Secara beruntun Tong Bu kong telah melancarkan tiga buah serangan berantai dengan jurus yang tangguh.
Cahaya pedang yang selalu melayang amat rapat itu tiba-tiba terjadi gelombang amat besar, kemudian menciptakan selapis bayangan pedang yang segera mengurung seluruh badan Jit pon toan hun.
Sesudah didesak dan diteter terus oleh permainan pedang lawan yang gencar dan beruntun, lama kelamaan dari malunya Jit-poh toan hun Kwik To menjadi naik pitam.
Hawa murninya dikipatkan ke belakang, kemudian melepaskan sebuah tenaga lembut yang memaksa pedang Tong Bu kong tergeser ke ramping Menggunakan kesempatan itu, cepat-cepat telapak tangan kanannya diayunkan ke depan menghantam dada lawan, Perubahan ini sama sekati diluar dugaan siapapun, sebab dalam suatu pertarungan yang seimbang, bukan suatu perbuatan yang gampang untuk menggeserkan senjata lawan dengan mengandalkan tenaga dalam.
Karena itu, dalam terkejutnya tahu-tahu pedang Tong Bu kong sudah kena digeser sejauh beberapa inci.
Pada saat itulah, tenaga pukulan yang di lancarkan Kwik To dengan disertai suara gemuruh yang keras telah manerjang tiba dengan kecepatan luar biasa.
Tong Bu kong kuatir di balik serangan yang dilancarkan Kwik To itu mengandung racun jahat, buru buru dia menghimpun tenaga khi kang nya untuk melindungi badan, terutama jalan darah kematian disekitar dada Setelah itu, menggunakan kesempatan tadi, pedangnya diputar kesamping berbalik membacok iga kiri Kwik To.
Belum lagi ujung pedangnya menyentuh di atas iga lawan, serangan yang dilancarkan Kwik To telah bersarang telak diatas dadanya.
Terdengar dua orang itu sama sama mendengus dingin kemudian mundur tiga langkah ke belakang.
Kiranya serangan yang barusan digunakan Kwik To itu adalah ilmu pukulan Kiam goancing yang disertai dengan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
Betul Tong Bu kong memiliki tenaga khikang pelindung badan namun dia toh tak tahan juga untuk membendung datangnya serangan yang dilancarkan secepat kilat itu.
Dadanya terasa bagaikan dihantam dengan martil berat, kontan hawa didalam dadanya bergolak keras.
Kuda-kudanya tergempur dan tanpa terasa tubuhnya mundar beberapa langkah dengan sempoyongan.
Nyaris pukulan dari Kwik To ini membuyarkan seluruh hawa khikang pelindung badan yang dimilikinya.
Sekalipun begitu Kwik To sendiri juga kena digetarkan oleh tenaga khikang pelindung badan dari Tong Bu kong sehingga tangan kanannya menjadi kaku dan kesemutan seluruh tulang pergelangan tangannya terasa amat sakit bagaikan mau retak.
Sambil mendengus dingin, dia ikut pula mundur dua langkah.
Setelah terjadi bentrokan secara kekerasan, dalam hati masing-masing pihakpun sudah mempunyai gambaran atas kekuatan lawan, diam-diam mereka mengagumi kekuatan masing-masing pihak.
Tapi apapun diantara mereka berdua tak mau menunjukkan kelemahannya dengan begitu saja, setelah mengatur pernapasan sebentar, sekali lagi mereka menerjang maju ke depan.
Tadi, KwiK To sudah merasakan pahit getirnya orang yang kehilangan posisi, sekarang kewaspadaannya dipertingkat, ia tak berani gegabah lagi menghadapi musuhnya yang tangguh itu.
Begitu turun tangan, dia lantas menggunakan ilmu pukulan Kiam goan ciang yang sudah dilatihnya selama puluhan tahun itu untuk menghadapi lawan.
Dalam waktu singkat bayangan telapak tangan yang melakukan gerakan seperti menotok, membacok, seperti juga membabat atau menusuk.
Sesungguhnya ilmu pukulan yang sangat aneh ini merupakan ilmu yang paling diandalkan olehnya sepanjang hidup.
Bilamana keadaan tidak terlalu mendesak, dia enggan untuk melakukannya secara sembarangan.
Tong Bu kong masih tetap memberikan perlawanannya dengan memainkan ilmu pedang Thian san kiam hoat.
Rangkaian ilmu pedang ini sungguh luar biasa hebatnya, semakin digunakan semakin banyak gerakan aneh yang membuat orang keheranan dan tidak habis mengerti kearah mana tujuannya.
Tiga puluh gebrakan kemudian, angin serangan makin memekikkan telinga, daya kekuatan yang tergencar dari lingkaran pedang pun tiada hentinya mengembang semakin meluas, ternyata Kwik To kembali sudah dikurung oleb lapisan cahaya pedangnya itu.
Namun Kwik To sama sekali tidak menjadi gugup atau gelagapan oleh karena kekuatan hawa pedang lawan.
Sepasang telapak tangannya masih menyapu dan menyambar tiada hentinya bagaikan dua bilah pedang tajam, semua serangannya ditujukan ke jalan darah kematian disekujur badan Tong Bu kong.
Perlu diketahui ilmu pukulan Kiam goan ciang miliknya ini bukan saja sukar diduga perubahannya, lagipula dari setiap serangan yang dilancarkan tentu tercipta bayangan tangan ibaratnya beribu-ribu batang pedang yang menyerang bersama bukan cuma membuat mata orang menjadi silau, pun membuat orang tak habis mengerti ke arah mana saja sasarannya tertuju.
Rupanya kedua belah pihak telah menggunakan segenap ilmu silat andalannya untuk bertarung.
Hal mana membuat para jago yang mengikuti jalannya pertarungan itu harus menahan napas dengan perasaan tegang, suasana menjadi sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Ditengah pertarungan yang sedang berlangsung sengit, tiba-tiba terdengar Jit poh toan hun Kwik To tertawa dingin...
Tangan kirinya diayunkan ke muka, puluhan buah titik cahaya biru yang amat lembut, tanpa menimbulkan sedikit suarapun mendadak meluncur ke tubuh Tong Bu kong.
Tempo dulu, Kwik To dengan mengandalkan senjata rahasianya yang lembut, kecil beracun ini, Hu hoat ciam (jarum rambut) pernah menjagoi dunia persilatan.
Entah berapa banyak jago persilatan yang sudah tewas terkena jarum lembut bagaikan rambut yang sangat beracun mi.
Walaupun Tong Bu kong mempunyai hawa khikang pelindung badan, rupanya ia agak keder juga menghadapi senjata rahasia lembut yang sangat beracun ini.
Ia kuatir kalau hawa khikang pelindung badannya itu tidak mampu untuk membendung kelembutan senjata rahasia lawan.
Sambil membentak keras, buru-buru ia mundur tiga langkah ke belakang.
Dalam waktu yang amat singkat inilah dia telah menyalurkan segenap hawa murni yang dimilikinya ke dalam tubuh pedang, lalu menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang serta gelombang hawa pedang yang kuat untuk merontokkan puluhan batang jarum yang lembut itu.
Kwik To segera tertawa dingin, jengeknya.
"Sanggupkah kau untuk menahan ke dua ratus enam puluh batang jarum rambut yang kulepaskan?"
Seraya berkata, lengan kirinya diayunkan sebanyak tiga kali, tiga gelombang jarum beracun segara beruntun segera melancar ke tengah udara....
Dibawah cahaya matahari, tampak kilatan cahaya biru yang menggidikkan hati beterbangan di angkasa.
ooOOOoo RUPANYA ilmu melepaskan senjata rahasia yang ia miliki benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan.
Dalam tiga gelombang serangan jarum rambut yang dilancarkan itu, hampir beratus ratus batang senjata meluncur bersama, begitu rapatnya serangan tersebut hingga mirip dengan datangnya hujan gerimis.
Sungguh membuat orang merasa susah untuk menghindarinya.
Retapa terkesiapnya Tong Bu kong ketika dilihatnya pihak lawan secara beruntun melancarkan tiga gelombang senjata rahasia, segera pikirnya dalam hati.
"Entah masih ada betapa banyak senjata rahasia beracun yang dimilikinya? Jika serangan ini di lancarkan secara beruntun dalam beberapa gelombang, sekalipun tak sampai terluka oleh jarum beracun itu, paling tidak aku akan kehilangan banyak sekali tenaga dalam jika pertarungan kemudian dilanjutkan. Sudah pasti akulah yang menderita kerugian besar. Aaaai..... daripada kehilangan banyak tenaga dalam lebih baik aku beradu jiwa saja dengan mencoba pedang terbang yang baru kuyakini itu....."
Berpikir sampai disini, dia lantas menarik napas panjang panjang.
Mendadak.......
Jit poh toan hun Kwik To tertawa panjang dengan nyaringnya, ia berjumpalitan diudara dan mundur sejauh empat lima kaki dari posisi semula.
Tong Bu kong dibikin kebingungan oleh tindakannya itu dengan perasaan tidak habis mengerti, pikirnya.
"Setan tua ini betul-betul amat licik. Masa kau bisa tahu kalau aku sudah bersiap-siap untuk beradu jiwa denganmu....."
Setelah tertawa nyaring. Kwik To berdiri di tangah arena dengan sikap yang amat santai. Terdengar ia berkata dengan suara dingin.
"Saudara Tong, kau sudah terkena racun jahat tanpa bayangan. Jika berani menggunakan tenaga dalam secara sembarangan lagi berarti hanya ada jalan kematian bagimu"
Mendengar perkataan itu Tong Bu kong menjadi amat terperanjat tapi ia belum mau percaya kalau dirinya sudah terkena serangan gelap lawan. Sambil tertawa seram dia berseru.
"Tua bangka she Kwik. kau tak usah menakut-nakuti orang dengari gertak sambal semacam itu. Ketahuilah aku Tong Bu kong bukan seorang bocah yang berusia tiga tahun. Tak nanti aku bisa kau gertak hinya dengan dua tiga patah kata belaka!"
Kwik To segera tersenyum, ujarnya.
"Saudara Tong, tidakkah kau merasa bahwa sikapmu itu keliwat angkuh dan jumawa?"
Setelah memperbaiki posisinya, dia berkata lebih jauh.
"Haa... haa... haa... Aku Kwik To tersohor dalam dunia persilatan karena ilmu beracunnya, Tentu saja kepandaianku melepaskan racun tiada taranya. didunia ini, aku bisa membuat seseorang keracunan tanpa disadari olehnya. Sudah barang tentu jangan harap korbanku itu bisa lolos dengan begitu saja"
Mendengar perkataan itu, paras muka Tong Bu kong kembali berubah sangat hebat. Sampai lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Terdengar Kwik To berkata lebih lanjut.
"Sewaktu aku melancarkan jarum beracun Hu hoat ciam gelombang yang ketiga tadi, didalamnya telah kuisi juga dengan bubuk racun tanpa bayangan, padahal waktu itu kau sedang menghirup udara untuk menghimpun tenaga, maka tak bisa dihindari lagi racun itu segera akan terhirup kedalam tubuhmu"
Tiba-tiba paras muka Tong Bu kong berubah menjadi tenang kembali, malah sambil tertawa tergelak katanya.
"Hebat. hebat. Betul-betul suatu cara yang sangat hebat. Tapi kau sendiri juga jangan harap bisa lolos dari cengkera manku"
Belum habis perkataan itu diucapkan diiringi suara pekikan yang amat nyaring.
Tong Bu kong melompat ketengah udara, pedangnya menciptakan selapis cahaya pelindung badan yang amat kuat.
Kemudian tubuh berikut pedangnya dengan menciptakan diri menjadi serentetan cahaya putih langsung mengurungi ke tubuh dari Kwik To.
Kepandaian Kiam jin hip it (pedang dan tubuh terhimpun menjadi satu) semacam ini merupakan sejenis kepandaian tingkat tinggi didalam ilmu pedang.
Semua serangan tersebut mengandalkan himpunan tenaga dalam yang meledak sebagai suatu tenaga ledakan yang kuat, membawa tubuh berikut pedangnya untuk mengancam lawan yang ada beberapa kaki jauhnya.
Bila kepandaian tersebut ditingkatkan satu tingkat lebih keatas lagi, maka hanya pedang saja yang melesat keudara untuk mencabik-cabik tubuh lawannya, itulah ilmu pedang terbang yang merupakan kepandaian paling top dari ilmu pedang .
Menyaksikan serangan maut yang dilancarkan musuh dengan ancaman yang begitu nekad itu, Kwik To amat terkesiap, diam-diam ia menghela napas, pikirnya.
"Aaai... Peristiwa yang berlangsung hari ini jelas tak bisa diselesaikan secara damai"
Maka diapun menghimpun tenaga dalamnya, Sambil melompat ke tengah udara, ia bersiap-siap menggunakan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun untuk melangsungkan duel mati dan hidup dengan lawannya.
"Kwik To, jangan beradu kekerasan. Cepat mundur!"
Tiba-tiba Ji Cin-peng berteriak keras.
Menyusul teriakan itu.
Ji Cin-peng mencelat ke udara dan meluncur ke arah kedua orang itu....
Mendadak Hui thian bu im Kim si him dari Tiang pek san him juga menggerakkan badannya sambil menyongsong kedatangan lawan dengan kecepatan luar biasa....
Berada di tengah udara Ji Cin-peng segara mengeluarkan kepandaian saktinya.
Pinggangnya dilengkungkan bagaikan gendewa sehingga menambah cepatnya daya luncur badan.
Bersamaan itu pula jari tangan kanannya segera menyentil kedepan Gerakannya yang berganti posisi ditengah udara ini kembali mengejutkan semua orang.
Tapi merekapun diam-diam mengagumi kelihayan perempuan ini.
Sekalipun begitu, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Hui thian bu im kim si him juga merupakan kepandaian nomor wahid dalam dunia persilatan.
Sepasang kakinya ditekuk sedikit kemudian berjumpalitan dua kali ditengah udara, dia langsung menyongsong datangnya tubuh Ji Cin-peng itu....
Walaupun gerakan tubuh Ji Cin-peng sangat cepat, namun serangan pedang yang dilancarkan Tong Bu kong juga luar biasa cepatnya, ditambah lagi Kwik To enggan berkelit dari sasaran tersebut sebaliknya menghimpun tenaga dalam hasil latihan puluhan tahunnya untuk beradu jiwa sudah barang tentu semuanya itu berlangsung dalam sekejap mata.
Ketika Ji Cin-peng melepaskan ilmu sentilan jari Tan ci sia thong untuk menolong keadaan tersebut sayang keadaan sudah terlambat.
Terdengar dua kali dengusan tertahan berkumandang memecahkan keheningan.
Kilatan cahaya bianglala berwarna putih itu tahu-tahu lenyap tak berbekas.
Kwik To maupun Tong Bu kong hampir pada saat yang bersamaan terjatun dari tengah udara.
Pada saat itulah Hui thian bu im kim si him telah menerjang ke arah Ji Cin-peng dengan membawa segulung tenaga serangan yang dingin lembut dan aneh sekali.
Ji Cin-peng amat terperanjat, sambil mendengus dingin, telapak tangan kirinya segera diayunkan kemuka.....
"Blaaaam...!"
Ji Cin-peng maupun si beruang berbulu emas yang terbang tanpa bayangan itu samasama merasakan timbulnya segulung tenaga dingin berhawa lunak yang tak sanggup di lawan dengan badan menerjang langsung ke dalam tubuhnya.
Tak ampun kedua belah pihak sama-sama terdorong mundur sejauh beberapa langkah.
Telapak tangan kanan Ji Cin-peng secepat kilat melepaskan kembali sebuah pukulan ke depan, berbareng itu juga tubuhnya melayang turun keatas tanah.
Pada saat yang hampir bersamaan, tubuh Hui thian bu im Kim si him juga telah melayang turun keatas tanah.
Diatas wajahnya yang aneh seperti monyet itu terlintas semacam rasa kaget yang luar biasa.
Dengan sepasang biji matanya yang kecil dan bulat dia awasi wajah perempuan itu tanpa berkedip.
Pertarungan antara mati dan hidup yang mendebarkan hati ini segera membuat semua orang yang hadir diarena ikut terkejut bercampur terkesiap.
Sementara itu Jit-poh-toan-hun Kwik To telah menggeletak diatas tanah sambil bermandi darah.
Seluruh pakaiannya sudah basah oleh darah kental yang mengucur keluar dari tubuhnya.
Ternyata diatas bahu lengan kirinya telah termakan oleh tusukan pedang Tong Bu kong sehingga tembus kebelakang.
Akan tetapi Tong Bu kong sendiri juga termakan oleh serangan balasan yang dilancarkan oleh Kwik To tepat diatas dadanya.
Betul ia memiliki hawa khikang pelindung badan.
Akan tetapi bagaimana mungkin ia bisa tahan untuk menghadap serangan Kwik To yang dilepaskan dengan segenap tenaga dalam yang dimilikinya itu?
Sejak terjatuh dari tengah udara, Tong Bu kong selalu terduduk dengan wajah memucat, napasnya memburu dan pedangnya terlempar ke samping arena.
Ji Cin-peng segera tenangkan hatinya, kemudian maju ke depan dan secepat kilat menotok jalan darah ditubuh Kwik To untuk mencegah lebin banyak darah yang mengalir keluar.
Sementara itu Songkoan Im juga Sudah memburu ke depan dengen cepat ia lantas memayang Kwik To untuk menyingkir ke sisi arena.
Ji Cin-peng mendengus dingin, tegurnya kemudian.
"Orang she Tong, hari ini kau telah mengajak jago-jago dari Tiang pek san datang mencari kami sesungguhnya apa urusanmu dengan kami orang orang dari perguruan panah bercinta?"
"Karena apa?"
Tiba tiba si beruang berbulu emas terkekeh kekeh dengan seramnya.
"Hee... hee... hee... bukankah kau yang telah menghajar murid kami?"
Seraya berkata dia lantas menuding ke arah Mao Tam yarg sedang duduk bersila di atas tanah.
"Benar!"
Ji Cin-peng segera mengangguk. Serentetan cahaya aneh segera memancar keluar dari balik mata si beruang berbulu emas yang kecil itu, teriaknya.
"Kenapa kau menghajar murid kami?"
"Ia telah menuruti perkataan orang lain untuk merampas Lencana pembunuh naga dari tanganku kenapa aku tak boleh menghajar adat kepadanya...?"
Jawab Ji Cin-peng dengan suara ketus.
Sewaktu mendengar disinggungnya "Lencana pembunuh naga", Im yang bim maupun Ngo kok bim cun segera maju ke depan dengan langkah pelan.
Dengan suara yang menyeramkan, Ngo kok bim cun yang merupakan pemimpin dari Tiang pek san-him tersebut segera berkata.
"Jika kau bersedia menyerahkan Lencana pembunuh naga itu kepada kami, semua hutang lama maupun hutang baru bersedia kami hapus seluruhnya tanpa membuat perhitungan"
"Kalau aku tak mau menyerahkannya kepadamu?"
Seru Ji Cin-peng sambil mengerutkan dahinya kencang kencang.
"Terpaksa kau akan kami bawa pulang ke bukit Tiang pek san dan memenjarakan dirimu didalam penjara salju yang dingin"
"Hee... hee... hee... yakinkah kalian bahwa aku bisa dibekuk semudah itu"
Jengek Ji Cinpeng lagi sambil tertawa dingin tiada hentinya "Hmm!
Bukan cuma kau seorang saja yang hendak kami bekuk, segenap jago lihay yang berada didaratan Tionggoan akan kami ringkus semua seadanya"
Kata Ngo kok him cun sombong.
"Sekarang, dari sekian banyak jago perguruan panah bercinta yang berkumpul disini, bagi mereka yang mampu menahan satu jurus seranganku. maka dia akan kami tawan hidup-hidup. Sedang mereka yang tak mampu menahan satu jurus seranganku akan kubunuh tanpa ampun. Aku pikir hanya kau orang kubu she Kwik dan perempuan berbaju hijau itu yang sanggup menahan satu jurus seranganku sedang yang lain tak lebih hanya akan menempuh jalan kematian"
Ji Cin-peng yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa amat terkejut.
Mungkin juga ucapan tersebut cuma gertak sambal belaka tapi kenyataannya hanya dalam sepatah kata saja ia sudah dapat mengatakan tiga orang anggota perguruannya yang berilmu tinggi.
Dari sini terbuktilah sudah bahwa ilmu silat yang dimiliki Tiang pek-sam him benarbenar luar biasa sekali.
Tiba-tiba satu ingatan cerdik melintas dalam benak Ji Cin-peng, serunya kemudian.
"Setiap anggota perguruan panah bercinta segera saling melindungi untuk meninggalkan tempat ini"
"Hee... hee... hee... Tidak segampang itu"
Jengek Im-yang him sambil tertawa dingin.
"Seorangpun jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat"
Sambil berkata tubuhnya yang gemuk dan besar itu sudah menerjang kearah delapan belas pemanah dari perguruan panah bercinta itu secara garang.
"Berhenti"
Bentak Ji Cin-peng amat gusar.
Waktu itu pedang Giok-siang kiam telah dilepaskan dari sarung.
Hawa murni yang dimiliki-nya segera dihimpun menjadi satu.
Tubuh bersama pedang seakan-akan melebur menjadi satu.
Diiringi serentetan cahaya putih pedangnya meluncur ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Inilah ilmu podang terbang yang merupakan kepandaian paling tinggi dalam rangkaian ilmu pedang.
Paras muka Im Yang him agak berubah ketika menyaksikan datangnya sambaran ilmu pedang terbang itu.
Seketika itu juga tubuhnya yang sedang meluncur kedepan itu berhenti secara tiba tiba Angin pedang berputar bagaikan roda kereta.
Cahaya bianglala yang menyilaukan mata meluncur ke muka secepat kilat.
Ketika cahaya putih itu hampir tiba didepan mata, Im Yang him segera membentak keras.
Tangan kanannya diayunkan ke depan, tiga titik cahaya putih segera melesat pula ke tengah udara.
"Triing, triing, traang, traang..."
Serentetan bunyi gemerincing beradu besi berkumandang memecahkan keheningan.
Pedang yang dilepaskan Ji Cin-peng itu tahu-tahu sudah terhajar sehingga rontok ke atas tanah.
Paras muka perempuan itu segera berubah menjadi amat serius, dia tidak menyangka, kalau dalam dunia persilatan dewasa ini masih ada orang yang sanggup mematahkan ilmu pedang terbangnya.
Ternyata tiga bilah pisau tipis liu yap to yang disambit Im Yang him barusan berhasil menghadang serangan pedang yang dilontarkan oleh Ji Cin-peng.
Sementara itu, para jago dari perguruan panah bercinta telah mengundurkan diri ke arah timur.
Beruang berbulu emas yang terbang tanpa bayangan segera menjerit aneh.
Secepat sambaran kilat dia meluncur ke muka dan menerjang ke arah delapan belas pemanah jitu dari perguruan panah bercinta.
"Sreeet, Sreeet"
Hujan panah segera berdesingan ditengah udara.
Selapis anak panah bercinta yang tajam segera berhamburan di udara dan menyambar ketubuh orang itu.
Akan tetapi, si Beruang terbulu emas yang terbang tanpa bayangan itu betul-betul memiliki ilmu meringankan tubuh yang sama sekali diluar dugaan siapapun.
Tampak tubuhnya berkelebat lewat bagaikan bayangan setan sebentar berkelebat ke kanan sebentar berkelebat ke kiri tak sebatangpun dari panah-panah bercinta yang dilepaskan kearahnya itu mengenai tubuhnya malah menowel ujung baju pun tidak.
Bayangan emas berkelebat lewat kembali ia menerjang masuk ketengah kerumunan orang banyak Jeritan kesakitan yang menyayatkan hati segera berkumadang memecahkan kesunyian Empat orang pemanah jitu dari perguruan panah bercinta secara beruntun tewas secara mengerikan ditangan iblis itu.
Darah kental segera berceceran diatas tanah.
Mayat bergelimpangan di mana-mana.
Keadaan waktu itu sungguh mengenaskan.
Ternyata di tangan si beruang berbulu emas ini mengenakan sepasang cakar beruang yang berwarna emas.
Sedemikian tajamnya cakar itu sehingga kemana saja cakar tersebut menyambar lewat darah segar berhamburan kemana-mana.
Kutungan kepala dan anggota badan tercerai berai disana sini.
Menyaksikan kebuasan orang, dengan gusar Ji Cin-peng membentak keras, sekali lagi ia menerjang kedepan sambil melancarkan ilmu pedang terbangnya.
Cahaya putih menembusi angkasa, hawa pedang menyelimati arena berkuntum kuntum bunga emas segera tersebar kemana mana.
Tapi pada saat itu juga mendadak dari arah belakang menyambar datang segulung angin serangan yang kuat aekali menyergap kepunggungnya.
Menghadapi ancaman tersebut, Ji Cin-peng tak sanggup melepaskan serangan dengan ilmu pedang terbangnya lagi, terpaksa dia harus melayang turun kembali ke tanah.
Terdengar seseorang berkala sambil tertawa seram.
"Belum pernah perkataan yang diucapkan oleh Ngo kok-him cun pernah diingkari. Aku lihat lebih baik kau cepat-cepat serahkan Lencana Pembunuh Naga itu kepadaku. Kalau tidak sejenak lagi seluruh anak buatmu akan tewas secara menggenaskan"
"Kau jangan terlalu memandang hina perguruan kami"
Bentak Ji Cin-peng marah.
"sambut dulu sebuah pukulanku ini!"
Hawa murninya segera disalurkan ke tubuh pedang, kemudian tubuhnya melejit ke tengah udara.
Tangan kirinya memainkan ilmu totokan Kiu kang ci sedang tangan kanannya memainkan pedang, secara garang dan buas dia menyerang tubuh Ngo kok him cun.
Terkekeh kekeh seram Ngo kok him cun menjumpai serangan tersebut, ejeknya.
"Silahkan kau pun merasakan kelihayan dari ilmu Soat him sat tee kang (ilmu pukulan bertiang salju) dari perguruan Tiang pek san kami!"
Sambil berkata, dia melepaskan pula sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Ji Cin-peng.....
Ji Cin-peng mendengus dingin, tubuhnya melesat sejauh beberapa kaki dari posisi semula.
Kemudian sambil membentak keras tiba tiba ia menarik kembali pedang Giok siang kiam...
Secepat kilat badannya menerjang ke muka.
Telapak tangan kanannya diayunkan ke muka melancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Boan yok ciang.
Ilmu pukulan Boan yok ciang adalah suatu kepandaian paling sakti dari Lam-hay.
Bila bertemu dengan tenaga keras maka sifat serangannya akan menjadi lembek, sebaliknya jika bertemu dengan serangan bersifat lembek maka dia akan menjadi keras.
Oleh sebab itu, ketika ilmu pukulan Soat him tee sat kang yang dilancarkan Ngo kok him cun bertemu dengan ilmu pukulan Boan yok ciang tersebut, terasalah ia seolah-olah menghajar segumpal yang lembek sekali, sedikitpun tiada tenaga barang sedikitpun juga.
kontan saja tenaga pukulan dari kedua belah pihak sama-sama punah dan lenyap tak berbekas.
Jilid 24 BARU saja Ji Cin-peng akan melancarkan serangan kembali dengan ilmu Boan yok ciang yang maha dahsyat itu tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang kembali tiada hentinya.
Tak terlukiskan betapa sakit hatinya gadis ini menyaksikan peristiwa sersebut, merah membara sepasang matanya.
Tampaklah para jago dari perguruan Panah Bercinta ada separuh diantaranya sudah tewas dalam keadaan yang mengenaskan.
Mayat bergelimpangan memenuhi permukaan tanah, darah berceceran bagaikan sebuah anak sungai, pemandangan disitu mengerikan sekali.
Ketika itu, si Beruang berbulu emas sedang melanjutkan pembantaiannya terhadap sisa-sisa jago yang masih hidup.
Di mana tubuhnya menyambar tiba, seseorang segera menjerit kesakitan dan menggeletak ke tanah dengan tubuh hancur.
Menyajikan kesemuanya itu Ji Cin-peng merasakan bawa amarahnya meluap sampai ke atas benak.
Sambil tertawa seram dia menerjang maju ke muka dengan kecepatan tinggi.....
Ibaratnya burung elang yang meluncur ke udara, lompatannya ini mencapai ketinggian tujuh-delapan kaki dari posisi semula, agaknya Ngo kok him cun tidak menyangka kalau gadis itu memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya, untuk sesaat dia tidak berhasil menghalanginya.
Dengan kecepatan tinggi Ji Cin-peng berjumpalitan di udara lalu meluncur turun ke bawah, telapak tangan kirinya diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dengan tenaga sakti Boan yok sin kang.
Sementara itu si beruang berbulu emas sedang mengayunkan lengan kanannya siap melancarkan serangan mematikan terhadap seorang pemanah jitu dari perguruan Panah bercinta.
Ketika secara tiba tiba merasakan berhembus datangnya segulung tenaga pukulan yang sangat aneh, ia menjadi terkejut.
Bagaimanapun juga dia adalah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi.
Dari hembusan angin serangan yang menerpa datang itu, dia segera tahu lihay, cepat cepat tubuhnya berjumpalitan dengan gerakan mendatar ke samping.
Secara aneh tapi jitu tahu-tahu ia sudah menyelinap sejauh dua kaki lebih dari posisi semula.
Melihat orang itu sanggup menyelamatkan diri secara cerdik, diam diam Ji Cin-peng merasa terperanjat.
Kegusarannya saat ini benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata, pedangnya segera diangkat dan pelan pelan menusuk kemuka.
Walaupun si beruang berbulu emas merasa tercengang dan tidak habis mengerti ketika dilihat-nya serangan pedang dari gadis itu meluncur tiba dengan gerakan lamban, namun ia tak berani berayal.
Telapak tangannya segera didorong ke muka untuk melakukan pembendungan.
Waktu itu Ji Cin-peng sudah bertekad untuk melancarkan serangan mematikan.
Secara diam-diam mendadak pergelangan tangannya menekan ke bawah, pedang pendek Giok siang kiam itu secepat sambaran kilat meluncur ke muka dan langsung menusuk lambung bagian kiri lawan.
Angin pedang mendesis amat memekakkan telinga, kehebatannya sungguh mengerikan.
Si beruang berbulu emas amat terperanjat.
Untung saja dia memiliki gerakan tubuh yang jauh lebih cepat ketimbang orang lain.
Ketika dilihatnya gerakan pedang dari Ji Cinpeng mengalami perubahan, cepat cepat tubuhnya menyurut mundur sejauh empat lima langkah.
Ji Cin-peng tertawa dingin, sambil memutar pedangnya ia melancarkan serangkaian serangan kilat.
Jurus demi jurus serangan yang aneh dilancarkan secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat dia telah melepaskan tujuh buah serangan berantai yang memaksa si beruang berbulu emas harus berkelit ke kiri menghindar ke kanan dengan gugup dan kelabakan setengah mati.
Ji Cin-peng benar benar telah bertekad untuk membalaskan dendam bagi kematian anak buahnya.
Semakin lama dia melancarkan serangan semakin aneh jurus serangan yang digunakan.
Sekalipun si beruang berbulu emas yang terbang tanpa bayangan terhitung seorang jagoan yang tersohor dalam dunia persilatan namun ia terdesak juga oleh serangkaian serangan kilat dari Ji Cin-peng itu.
Ia sama sekali terkurung dan kehilangan posisinya untuk melancarkan serangan balasan.
Ditengah pertarungan yang amat seru itu, tiba-tiba Ji Cin-peng berjumpalitan di udara.
Pedang mestikanya diputar sedemikian rupa menyebarkan selapis bintik2 cahaya kilat yang menyilaukan mata.
Inilah jurus Thian ho to kwa (sungai langit jatuh terbalik) yang pernah diandalkan oleh Lam-hay sinni untuk merajai dunia persilatan di masa lalu.
Satu kali si Beruang berbulu emas salah bertindak, seketika itu juga ia terkurung di balik bayangan pedang yang diciptakan oleh putaran pedang Ji Cin-peng.
"Suheng, cepat mundur....!"
Buru-buru Im yang him (si beruang banci) membentak keras.
Tangan kanannya segera diayunkan ke depan.
Dua buah pisau Liu yap to yang tipis dengan membawa suara desingan tajam yang memekikkan telinga segera menyambar ke muka.
Pada saat yang bersamaan, Ngo-kok him-cun juga melepaskan sebuah pukulan udara kosong dari kejauhan.
Meskipun angin serangan amat kuat dan cepat, namun sama sekali tidak membawa suara desingan barang sedikitpun juga Waktu itu Ji Cin-peng sudah nekad.
Sekalipun ia menyaksikan datangnya dua ancaman maut yang mungkin bisa merenggut nyawanya itu namun ia tidak gentar maupun membuyarkan serangannya.
Lebih2 ia enggan untuk melepaskan kesempatan yang sangat baik ini untuk melukai si beruang berbulu emas.
Segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera disalurkan keluar.
Pergelangan tangannya digetarkan keras dan mempergunakan kecepatan yang paling tinggi ia hujamkan pedangnya kemuka.
Dengusan tertahan segera berkumandang memecahkan keheningan.
Ujung pedang yang tajam dan mengerikan itu telah menembusi iga kiri si beruang berbulu emas hingga tembus kepunggungnya, darah segar segera berhamburan ke manamana.
Hampir pada saat yang bersamaan......
Sebatang pisau liu yap to telah menyambar lewat dari bahu kiri Ji Cin-peng dan melukainya, darah segar segera muncrat keluar membasahi seluruh pakaian yang dikenakannya.
Berbareng itu juga, segulung tenaga pukulan yang maha kuat telah menerjang tubuh Ji Cin-peng membuat tubuhnya terpental sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.
Paras mukanya segera berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, rambutnya yang panjangpun terurai tak karuan.
Jeritan ngeri, keluhan sedih berkumandang saling susul menyusul.....
Tampaklah kawanan jago dari perguruan Panah Bercinta bertumbangan satu demi satu diujung golok In yang him yang menyambar kesana kemari.
Setiap kali cahaya goloknya menyambar lewat, percikan darah segar segera berhamburan ke mana mana.
Dalam waktu singkat, delapan orang pemanah jitu dari perguruan Panah Bercinta telah punah tak berbekas, seorangpun tak ada yang dibiarkan hidup.
Han Hu hoa sambil melindungi Jit poh toan hun Kwik To dengan cepat mengundurkan diri kearah timur.
Dengan demikian, dalam arena yang begitu luas tinggal Ji Kiu-liong dan Sangkoan It dua orang.
"Cici...."
Tiba-tiba terdengar jeritan pedih berkumandang memecahkan kesunyian Jeritan pedih itu segera menyadarkan kembali Ji Cin-peng yang hampir kehilangan kesadarannya karena keliwat sedih.
Tampaklah Im yang him dengan wajah yang bengis dan mengerikan, selangkah demi selangkah berjalan mendekati Ji Kiu-liong Sambil menahan rasa sedih yang luar biasa Ji Cin-peng membentak gusar.
"Kalian tak boleh membunuhnya!"
Menyusul suara bentakan itu, pedang mestikanya digetarkan dan langsung menusuk ke perut Im yang him.
Dengan licik Im yang him tertawa licik.
Belum lagi serangan itu menyambar, tubuhnya berputar dan secepat sambaran kilat menerjang ke arah Sangkoan It.
Sementara itu Sam ciang lam kok (tiga pukulan sudah dilewati) Sangkoan It berdiri, dengan telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Sedari tadi ia sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Im yang him tertawa terbahak-bahak, bagaikan bunyi genta yang menggelegar diudara.
Pelan pelan sepasang telapak tangannya didorong ke depan.
Sangkoan It membentak keras segenap tenaga dalam yang dihimpun ke dalam telapak tangan kiri dan kanan itu susul menyusul dilontarkan ke depan.
Tapi Sangkoan It segera merasakan semua pukulan yang dilepaskan itu seakan akan dibendung oleh suatu kekuatan yang maha dahsyat yang tak terlukiskan dengan katakata, mendadak sontak semua kekuatannya itu mental kembali kebelakang.
Padahal pada waktu itu Sangkoan It sedang bersiap-siap untnk menerjang maju kemuka, ketika secara tiba tiba menjumpai bahwa segenap kekuatan serangannya tertahan balik, bahkan lenyap dengan begitu saja ia baru merasa amat terkesiap....
Cepat-cepat tenaga dalamnya dihimpun mencapai dua balas bagian lebih kemudian sekali lagi dia melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kedepan.
Siapa tahu semakin kuat Sangkoan It melancarkan serangannya semakin kuat pula tenaga pantulan yang dihasilkan pulang.
Sekujur badannya seakan-akan tersambar geledek, mendadak mencelat ke udara setinggi beberapa depa.....
Sangkoan It, seorang jago yang sepanjang hidupnya menjagoi dunia persilatan dengan mengandalkan pukulan telapak tangannya, terakhir harus mengalami nasib yang amat tragis.
Ketika termakan oleh tenaga pantulan yang sangat dahsyat itu, seketika semua urat nadi dalam tubuhnya putus, isi perutnya juga ikut hancur remuk tak ada wujudnya.
Belum sempat mengeluh, dia sudah muntah darah segar dan tewas seketika itu juga.
Keberhasilan Im yang him membinasakan seorang jago yang termashur namanya dalam dunia persilatan hanya dalam satu gebrakan ini sungguh mengejutkan Ji Cin peng.
Paras mukanya sampai berubah hebat.
Ia tahu masa jayanya sudah lewat, sekarang satu-satunya hal yang dipikirkan gadis ini adalah bagaimana caranya melindungi adik Liong nya dari bencana ini, sebab dia tahu Tiang pek sam him adalah manusia manusia buas yang tak kenal perikemanusiaan.
Sudah pasti mereka akan melakukan pembasmian sampai keakar-akarnya.
Betul juga, setelah berhasil membinasakan Sangkoan It, Im yang him segera berpekik nyaring.
Selincah kupu-kupu, ia menerjang ke muka mengejar Han Bu hoa dan Jit poh toan hun Kwik To yang sedang melarikan diri.
Sekulum senyuman licik yang penuh kebanggaan tersungging di ujung bibir Ngo kok him cun (Malaikat beruang dari panca lembah).
Ujarnya dengan suara menyeramkam.
"Jika kau tidak menyerahkan Lencana pembunuh naga itu lagi kepadaku, jangan salahkan kalau aku berlaku keji"
Seraya berkata pelan-pelan ia mengejar ke depan.
Dengan tenang tapi angkuh Ji Cin-peng berdiri kaku ditempat.
Telapak tangan kanannya diangkat ke tengah udara.....
Ngo kok him cun masih mengejar selangkah demi selangkah.
Sekulum senyuman dingin yang menyeramkan semakin menghiasi wajahnya yang mengerikan itu.
Walaupun gerak tangan Ji Cin-peng yang diayun ke atas itu dilakukan sangat lambat, tapi akhirnya juga toh terayun pula ke tengah udara.
Tangan itu berhenti sebentar disana, kemudian baru diayunkan ke depan menghajar tubuh Ngo kok him cun.
Dalam serangan yang dilancarkan ini, ia telah mengerahkan segenap kekuatan terakhir yang dimilikinya.
Dia tahu serangan tersebut telah tak berkekuatan lagi.
Itu berarti nasib buruk yang mengerikan kian lama sudah kian mendekati hadapannya.
Akhirnya serangan tersebut dilepaskan juga.
Segulung tenaga pukulan yang sama sekati tidak menimbulkan suara meluncur ke depan dan menerjang tubuh lawannya......
Ngo kok him cun tertawa dingin, ejeknya.
"Nona, kau memang tahu kalau kepandaian silatmu hebat dan melebihi siapapun. Sayangnya justru kau telah kehabisan tenaga pada saat ini. Seranganmu itu sudah tidak bertenaga sama sekali". Sembari berrketa telapak tangan kanannya didorong ke muka. Segulung tenaga pukulan yang kuat langsung menyongsong datangnya ancaman tersebut. Bagaimanapun juga Ngo kok him cun sudah terlampau memandang enteng kekuatan serangan dari Ji Cin-peng tersebut. Tendengar dengusan teriakan berkumandang memecahkan keheningan, tah-tahu tubuh Ngo kok him cun sudah terlempar ke belakang sejauh satu kaki lebih dan terjengkang di atas tanah. Kiranya ketika Ji Cin-peng menyaksikan Ngo kok him cun mendesak semakin mendekat, ia telah menghimpun segenap hawa murni yang dimilikinya. Dia ingin melukai musuh tersebut dalam sekali serangan, maka pertama-tama telapak tangan kanannya melepaskan sebuah pukulan dengan ilmu Boan yok sin kang. Haruslah diketahui, Boan yok sin kang adalah semacam kepandaian sakti yang luar biasa kegunaannya. Segenap tenaga serangan yang dilancarkan oleh Ngo kok him Cun itu segera tersapu lenyap hingga tak berbekas oleti serangannya itu. Sedangkan tenaga pentulan yang maha dahstyat itupun segera membalik dan berbalik menyerang diri sendiri. Masih untung kepandaian silat yang dimilikinya terlalu hebat. Walau terancam bahaya pikirannya tak sampai kalut. Hawa murninya segera dihimpun keluar. Telapak tangan kirinya cepat-cepat melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk membendung tenaga pantulan tersebut. Betul juga sebagian dari tenaga pantulan yang dilancarkan Ji Cin-peng itu berhasil di punahkan. Siapa tahu pada saat itu Ji Cin-peng mengayunkan kembali telapak tangan kanannya melancarkan sebuah totokan maut dengan ilmu jari Thian kangci. Desingan tajam yang memekakkan telinga langsung meluncur ke muka dan menerjang tubuh kakek tersebut. Mimpi pun Ngo kok him cun tidak menyangka kalau Ji Cin-peng masih memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya meski sudah berada dalam keadaan terluka parah. Sekali salah perhitungan, fatallah akibatnya. Baru saja dia hendak menghimpun tenaga Soat him tee sin kangnya, keadaan sudah terlambat. Terasa dadanya seakan-akan dihantam oleh martil yang beribu-ribu kati beratnya, tak bisa dikendalikan lagi tubuhnya mencelat ke udara dan terlempar keluar arena. Namun keadaan Ji Cin-peng sendiripun amat payah. Setelah terluka parah secara beruntun dia harus melancarkan serangan berulang kali, ini menyebabkan lukanya makin parah. Hawa murninya terasa tersendat-sendat, kepalanya pusing tujuh keliling dan wajahnya pucat pias seperti mayat. Keempat anggota badannya menjadi lemas dan tak ampun lagi tubuhnya roboh terduduk di tanah. Dsngan air mata bercucuran karena sedih Ji Kiu-liong berteriak keras keras.
"Cici kau... lukamu amat parah..."
Ji Cin-peng membuka matanya yang sayu dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dilihatnya Ngo koh him cun, si beruang berbulu emas, Mao Tam maupun ketua Thian san pay Tong Bu kong sedaag duduk bersila semua untuk mengatur pernapasan.
Tahulah gadis itu jika Ji Kiu-liong tidak kabur menggunakan kesempatan ini jelas tiada harapan lagi baginya untuk melarikan diri.
Diapun tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Ngo kok him cun amat sempurna, kemungkinan besar sebentar lagi kekuatannya akan pulih kembali seperti sedia kala.
"Adik Liong"
Rintihnya kemudian dengan air mata bercucuran.
"kau... kau harus segera pergi meninggalkan tempat ini"
"Tidak... tidak... aku tak akan pergi meninggalkan tempat ini"
Seru Ji Kiu-liong menggertak gigi menahan marah.
"aku hendak membalaskan dendam bagi cici, sekalipun harus mati aku juga akan membalaskan dendam untuk cici!". Ji Cin-peng menghela napas panjang.
"Aaai! Adik Liong, aku memahami perasaanmu. Tapi keturunan keluarga Ji kita tinggal kau seorang yang bisa melanjutkan. Kau musti menuruti perkataan cici. Bila ingin membalaskan dendam untuk cici, tunggulah sampai ilmu silatmu berhasil mencapai tingkat yang lebih tinggi"
"Oooh... cici... seru Ji Kiu-liong menangis tersedu sedu.
"Mana mungkin... Mana mungkin... Aku tega untuk meninggalkanmu"
"Adik Liong"
Kata Ji Cin-peng dengan air mata bercucuran.
"Jika bertemu dengan Gak toako ceritakanlah kejadian ini kepadanya. Tapi kau tak usah menyinggung soal dendam kesumat antara keluarga kita dengannya. Terutama sekali soal keponakanmu yang berada ditempatnya Lam-hay sinni, dia adalah darah daging Gak toakomu. Suruhlah Gak toako untuk menjumpainya di tempat guruku itu serta merawatnya sendiri..."
Ketika berbicara sampai disitu, paras muka Ji Cin-peng berubah semakin memucat, napasnya juga terengah-engah, terpaksa dia harus pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.
"Cici... kau... apakah kau benar-benar hendak meninggalkan aku dan Gak toako..."
Seru Ji Kio liong sambil terisak. Ji Cin-peng tertawa getir, katanya.
"Adik Liong... kaya miskin ada di langit, mati hidup sudah ditetapkan takdir. Cepatlah pergi meninggalkan tempat ini. Kalau tidak maka kau akan menjadi orang yang paling berdosa dari keluarga Ji. Tidak berbakti ada tiga, tak punya keturunan merupakan yang terutama, hayo cepat pergi, cepat tinggalkan tempat ini!"
Ji Kiu-liong adalah seorang pemuda yang cerdas walaupun berada dalam suasana perpisahan antara mati dan hidup yang menyedihkan, tapi ia cukup tahu keadaan dan bisa membedakan enteng beratnya persoalan.
Sambil menggigit bibir menahan cucuran air matanya, pemuda itu lantas berkata.
"Cici, percayalah, bila adik Liong ini tidak mampu membalaskan dendam bagimu, aku bersumpah tak akan hidup sebagai seorang lelaki dari keturunan keluarga Ji"
Selesai berkata dia membalikkan badan dan melotot sekejap kearah Ngo kok him cun si beruang berbulu emas yang terbang tanpa bayangan Mao Tam dan Thian san ciang bunjin Tong Bu kong dengan sorot mata penuh kebencian.
Kemudian tanpa mengucapkan separah katapun segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlalu dari situ.
Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Memandang kepergian adik kandungnya itu tanpa teraaa air mata Ji Cin-peng jatuh bercucuran dengan derasnya.
ooOOOoo KENTONGAN ketiga baru saja menjelang.
Bunyi jangkrik dan binatang kecil lainnya berbunyi amat memekikkan telinga....
Kecuali bunyi binatang binatang kecil itu, jagad serasa sunyi, sepi daii tiada sedikit gerakan apa pun.
Rembulan bersinar terang jauh di awang awang dan memancarkan cahaya keperak perakan keempat penjuru dunia.
Perkampungan rahasia yang luas dipulau terpencil itu tampak lebih menyeramkan dan menggidikkan hati Orang.
Ditengan sebuah halaman kecil yaag indah di banguuan sebelah timur berdiri termangu seorang pemuda baju hijau yang menyoren pedang antik dipunggungnya.
Sejak kentongan kedua ia sudah berdiri termangu seorang diri ditempat itu.
Helaan napas panjang bergema dari bibirnya, lalu pemuda itupun bergumam.
"Mengapa nona Bwe belum juga datang? Dengan kedudukannya dan wataknya tak mungkin akan mengingkari janji... Aaai, bukannya aku Gak Lam-kun terlampau romantis. Sesungguhnya aku tak kuasa untuk menangkan rasa pergolakan hatiku terhadap keanggunannya sebab ia begitu mirip dengan Ji Cin-peng"
Seusai bergumam, kembali ia mendongakkan kepalanya memandang awan diangkasa, sekali lagi hatinya terasa amat murung dan kesal.
Pemuda itu merasa bahwa kehidupan manusia begitu mirip dengan awan yang melayang diangkasa.
Membuat orang sukar menduga akhir dari kehidupannya bahkan apa yang bakai terjadi dalam sekejap kemudian.
Yaa, Gak Lam-kun waktu itu benar-benar meresapi bahwa awan putih yang tebal sesungguhnya merupakan suatu perlambang bagi kehidupan manusia didunia ini.
Tiba tiba terdengar helaan napas panjang berkumandang dari belakang tubuhnya.
"Engkoh Gak mengapa kau berada disini seorang diri? Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Terkesiap Gak Lam-kun setelah mendengar teguran itu.
Dengan cepat ia membalikkan badannya, terlihat si nona baju perak yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan itu sedang melangkah mendekat dengan gerakan tubuh yang ringan.
Gak Lam-kun segera menghela napas sedih katanya.
"Mengapa kau belum tidur juga?"
Selapis rasa kesal dan sedih menghiasi wajah si nona baju perak yang cantik, sahutnya.
"Ujung tembok menutupi daun jendela. Asap tipis menyelimuti wajah, rembulan serasa hamba. kekasih ada di mana...? Oh engkoh Gak..."
Ketika mengucapkan kata kata tersebut, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang murung itu. Gak Lam-kun segera menghampirinya, lalu berbisik lirih.
"Adik Ping, mengapa kau?"
Diambilnya secarik sapu tangan dan disekanya air mata yang membasahi pipinya itu dengan penuh kelembutan dan kehangatan, sikapnya itu amat mesra.
Tampaklah dari balik sepasang mata si nona baju perak yang besar, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Tapi sekulum senyuman muncul diujung bibirnya dengan manis pelan-pelan dia memejamkan matanya dan bersandar dalam pelukan pemuda itu.
"Engkoh Gak. apakah kau sedang menunggu Bwe Li-pek?"
Tegurnya. Gak Lam-kun mengangguk "Benar, aku ada urusan hendak dibicarakan dengannya, karena itu aku harus bertemu dengannya!"
Nona berbaju perak segera mencibirkan bibirnya, dengan nada cemburu dia bertanyalagi.
"Engkoh Gak, cintakah kau kepadanya?"
Gak Lam-kun tidak menyangka kalau gadis itu bakal mengajukan pertanyaan secara terang-terangan.
Dia tahu perempuan itu paling mudah cemburu apalagi dia telah mencintai dirinya sedemikian rupa, tak nanti dia akan ijinkan orang lain untuk terjun pula dalam kancah percintaannya dengan pemuda tersebut.
Berpikir demikian Gak Lam-kun segera berkata..
"Adik Ping. Kau tak usah berpikir yang bukan-bukan. Aku pasti akan mendampingimu selama hidup"
Mendengar janji tersebut sekulum senyuman yang manis dan hangat kembali menghiasi wajahnya yang cantik. Dalam sekejap itu pula perasaannya terasa lega dan terbuka, katanya.
"Engkoh Gak. kalau begitu bagaimana kalau kita hidup tenang dalam istana kaca Siu bing kiong yang didirikan oleh Kiu tiong-kiongcu Ku Yang-cu itu? Aku pasti akan melayanimu secara baik-baik. Aku dapat memberikan seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan kepadamu. Waktu itu kita tak akan banyak ribut dengan seorang persilatan, sepanjang hari memetik harpa bermain pedang untuk menghibur diri..."
Sesungguhnya si nona berbaju perak itu adalah seorang gadis aneh yang aneh pula wataknya.
Ia tinggi hati, terlalu egois dan tahunya menang sendiri.
Tapi ketika ia sudah menjadi istrinya Gak Lam-kun, watak yang aneh itu ternyata seratus delapan puluh derajat mengalami perubahan yang besar.
Ia berubah menjadi begitu romantis, begitu polos dan lembut, seakan akan sama sekali tiada hubungannnya dengan keanehan serta keeksentrikan wataknya dimasa lalu.
Gck Lam-kun merasa terharu sekali setelah menyaksikan ketukusan dan dalamnya cinta orang, diam diam ia berpikir di hati.
"Gak Lam-kun wahai Gak Lam-kun, sekarang kau sudah mempunyai seorang istri yang paling cantik didunia ini, apakah kau masih belum merasa puas? Apakah kau tidak merasa tindakanmu sekarang telah menyakiti hati Adik Ping...."
Berpikir sampai disitu, timbul perasaan dihati kecil Gak Lam-kun.
Ia merasa hatinya hancur lebur menjadi berkeping-keping.
Dipeluknya tubuh gadis itu dengan hangat dan mesra, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan.
Hanya titik air mata yang jatuh berlinang membasahi wajah gadis cantik itu.
Tiba tiba nona berbaju perak itu membelalakkan sepasang matanya, kemudian katanya sambil tertawa.
"Engkoh Gak, sedihkah hatimu?"
"Tidak... Aku... aku... terlalu gembira"
Sahut pemuda itu seraya menggeleng. Sehabis berkata, ia menundukkan kepalanya dan mancium bibirnya dengan mesra.
"Ehmm... kau jahat..."
Bisik nona berbaju perak itu dengan wajah memerah.
Menyaksikan pipinya yang merah karena jengah, Gak Lam-kun merasa makin dipandang gadis itu semakin mempesona hati, sehingga tanpa terasa ia membelai rambutnya dengan mesra dan timbul perasaan nyaman dan hangat yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Pelan-pelan gadis berbaju perak itu memejamkan matanya.
Sekulum senyuman manis masih menghiasi ujung bibirnya, seakan-akan ia merasa bahwa detik itu merupakan detik yang paling bahagia dalam sejarah hidupnya selama ini.
Gak Lam-kun memperlihatkan sekejap matanya yang besar dan jeli itu, senyuman manis yang menghiasi bibirnya dan sorot matanya yang lembut dan penuh kemesraan itu, tanpa terasa dia menghela napas dalam hati pikirnya.
"Kenapa aku Gak Lam-kun pernah merasakan kebahagiaan hidup seperti sekarang ini? Sejak mendapatkan Ji Cin-peng sebagai istriku, kini aku mendapat pula seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan sebagai istriku pula. Aaai... semoga Thian melimpahkan rahmatnya kepada kami sehingga bisa hidup bahagia sampai akhir masa nanti...."
Gak Lam-kun memajamkan matanya rapat-rapat dan diam-diam berdoa didalam hati. Tiba tiba terdengar nona berbaju perak itu berseru.
"Engkoh Gak, aku ingin memberituhukan sebuah rahasia besar kepadamu. Mau dengar tidak?". Mendengar ucapan tersebut, bagaikan baru sadar dari impian, cepat-cepat pemuda itu bertanya.
"Rahasia apa?"
"Kau bersedia tidak untuk mendengarkan?"
Menyaksikan wajahnya yang manja dan manis itu, apalagi kalau sedang aleman begini, kecantikannya terasa bertambah mempesonakan hati, tanpa terasa sahutnya berulang kali.
"Aku bersedia! Aku bersedia! Cepatlah kau katakan!"
Nona berbaju perak itu menatap wajah Gak Lam-kun lekat-lekat, kemudian bertanya.
"Engkoh Gak, beritahu kepadaku secara terus terang, sesungguhnya gurumu Yo Long sudah mati atau belum?"
Pertanyaan itu sangat mencengangkan hati Gak Lam-kun. Ia tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu mengajukan pertanyaan seaneh itu.
"Adik Ping. mengapa kau mengajukan pertanyaan tersebut?"
Tegurnya kemudian. Sepasang mata nona berbaju perak itu merah karena sedih bisiknya.
"Tahukah kau asal usulku?"
Diam-diam Gak Lam-kun merasa menyesal, pikirnya.
"Yaa, benar! Aku telah menjadi suami istri dengannya tapi asal usulnya masih belum kuketahui dengan jelas. Bukankah kejadian ini lucu dan menggelikan sekali?"
Berpikir demikian, dia lantas tersenyum, katanya.
"Bukankah kau putrinya Soat san thian li?"
"Kau hanya tahu itu saja, tahukah kau siapa nama ibuku?"
Merah padam selembar wajah Gak Lam-kun lantaran jengah, sahutnya agak tergagap.
"Sungguh menyesal aku...."
Nona berbaju perak itu menghela napas panjang, katanya.
"Dalam dunia dewasa ini, mungkin hanya gurumu seorang yang mengetahui asal usul ibuku... Padahal aku sendiripun tidik tahu siapakah nama ibuku yang sesungguhnya. Aku hanya lahu dia orang tua bernama Gi-gi"
Gak Lam-kun menjadi amat keheranan, segera tanyanya.
"Adik Ping, apakah ibumu tak pernah memberitahukan kepadamu siapakah nama lengkapnya?. Kalau begitu siapakah ayah-mu?"
Nona berbaju perak itu tak kuasa menahan rasa sedihnya lagi setelah mengenang kembali asal usulnya yang mengenaskan itu tanpa terasa titik air mata kembali jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Gak Lam-kun mengeluarkan sapu tangan dan menyeka air mata yang membasahi pipinya itu, kemudian berbisik.
"Adik Ping, aku benar-benar tidak mengerti kau memiliki asal usul semacam ini"
Tiba tiba nona berbaju perak itu tertawa kembali, katanya.
"Asal kau benar benar mencintaiku, aku tak akan pernah merasakan sedih lagi dengan asal usulku yang mengenaskan itu"
Ucapan tersebut sangat menggetarkan perasaan Gak Lam-kun.
Sekalipun hanya sepatah kata yang sederhana tapi sudah terpancar betapa dalamnya cinta gadis itu kepadanya.
Itu berarti dia sendiri tak boleh sampai menyia-nyiakan limpahan rasa sayangnya itu.
"Adik Ping kau jangan kuatir"
Janjinya.
"sampai mati aku Gak Lam-kun akan tetap mencin-taimu"
"Engkoh Gak tahukah kau barusan mengapa aku bertanya soal gurumu? Karena lamatlamat menurut dugaanku ayahku besar kemungkinan adalah gurumu sendiri Yo Long"
Tak terlukiskan rasa kaget Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, seruuya.
"Apa...? Hal ini... hal ini mana bisa jadi?"
"Sejak aku tahu urusan, ibu sudah malai mengajarkan aku membaca buku, bermain khim. Tapi setiap kali aku bertanya soal ayahku, wajahnya selalu memucat dan menangis dengan sedih. Dia bilang ayahku sudah lama meninggal dunia, dia suruh aku baik-baik berlatih memetik harpa serta ilmu silat, agar setelah dewasa nanti bisa pergi membunuh seorang musuh besarnya. Selama enam tujuh tahun lamanya selain ibu mengajarkan ilmu syair dan ilmu silat, mengenai soal jago-jago dalam dunia persilatan serta watak manusia di dunia luar boleh dibilang tak pernah membicarakannya. Dia selalu membungam dalam seribu bahasa, bahkan nama margaku pun tak pernah mau dikatakan. Akan tetapi sebelum dia orang tua meninggal dunia, ternyata dia telah menyerahkan Lencana Pembunuh Naga itu kepadaku. Ia berpesan agar aku datang ke pulau terpencil ini dan menunggu kedatangan Tok liong cuncu Yo long. Ia suruh aku memetikkan khim baginya. Waktu itu aku bertanya kembali siapakah nama margaku sebab bila seorang tidak memiliki nama marga berarti dia adalah anak jadah, aku tidak ingin seorang anak yang tidak berbapak."
"Apakah ibumu memberitahukan kepadamu siapa nama margamu?"
Tukas Gak Lam-kun Nona berbaju perak itu menghela napas panjang, sahutnya.
"Ketika kuajukan pertanyaan ini, sekujur tubuh ibu segera mengejang keras, akhirnya ketika ia menyebutkan bahwa aku she Yo. Dia orang tua telah menghembuskan napasnya yang penghabisan"
Gak Lam-kun segera menghels napas panjang pula.
"Aaai... ilmu silat yang dimiliki Soat san-thian li tiada tandinganya diseluruh dunia, mengapa dia bisa meninggal secara tibatiba.....?"
Pada saat itu, si nona berbaju perak itu sudah tak dapat menahan rasa sedihnya lagi mengenang kembali kematian ibunya. Air mata bercucuran dengan derasnya, dengan sedih ia berkata.
"Berhubung terlalu banyak pikiran dan hatinya tak pernah tenang, maka sewaktu melihat sejenis ilmu silat yang maha sakti dia telah mengalami jalan api menuju ke neraka yang mengakibatkan kematiannya"
Sekali lagi Gak Lam-kun menghela napas panjang.
"Bila perasaen tidak tenang pikiran ikut tak tenang, hal mana justru merupakan pantangan bagi orang untuk berlatih ilmu. Apakah dia tidak mengetahui akan hal ini?"
"Mungkin ia lebih suka cepat-cepat mati daripada hidup menanggung sengsara?"
"Kau jangan terlalu bersedih hati, kejadian dimasa lampau bagaikan impian, apa yang sudah lewat biarkan saja dia lewat"
"Engkoh Gak...."
Pekik Yo Ping, si nona berbaju perak itu lirih.
"semenjak kematian ibu, siang dan malam aku selalu memikirkan hubungan apakah yang sesungguhnya terjalin antara dia dengan Yo Long. Pada akhirnya aku sudah mulai merasakannya secara lamatlamat bahwa besar kemungkinan Tok liong cuncu Yo Long adalah ayahku yang sesungguhnya. Engkon Gak, beritahu kepadaku apakah dia sudah mati? Mari kita pergi mencarinya dan membongkar keadaan yang sebenarnya"
"Adik Ping, kau tak usah bersedih hati. Guruku telah meninggal dunia pada tiga tahun berselang!"
Kata Gak Lam-kun sambil menghela napas sedih.
"Kalau begitu asal-usulku kan tak bisa ku ketahui sepanjang masa....?"
"Aku rasa masih ada seorang yang mungkin tahu..."
"Siapa?"
"Hay sim li yang sinting itu. Asal kita dapat menyembuhkan penyakit yang menderitanya besar kemungkinan dia bisa memberitahu hubungan yang sebenarnya antara guruku dengan ibumu"
"Sekarang Hay sim li berada dimana?"
"Dia pergi mengambil tulang dari guruku. Mungkin masih berada dipulau ini"
"Engkoh Gak, malam sudah semakin kelam, mari kita pulang kcdalam rumah!"
Bisik Yo Ping lirih.
Dengan mesra Gak Lam-kun merangkul pinggangnya yang ramping dan menempelkan wajah-nya diatas wajahnya.
Sikap itu begitu hangat dan mesra, penuh dengan luapan rasa cinta yang dalam.
Pelan-pelan mereka beranjak dan kembali ke ruangan.
Tapi baru tiga kaki dia berjalan tiba-tiba dibawah sebatang pahon siang tampak sesosok bayangan manusia berdiri tegak disitu.
Yo Ping menjadi naik pitam ketika dilihatnya ada orang yang begitu berani mengintip perbuatan mereka.
Sambil membentak nyaring tangan kirinya diayunkan kedepan siap membinasakan orang itu.
Gak Lam-kun yang memiliki sepasang mata yang tajam segera dapat menangkap siapa gera-ngan orang itu, buru-buru serunya.
"Adik Ping jangan sembarangan bertindak!"
Tiba tiba orang itu meloloskan pedangnya dan secepat kilat menyambar datang.
Cahaya pedang memancar keempat penjuru amat menyilaukan mata dengan jurus Cun han Hau siau (Kabut dingin menyelimuti bukit) ia gulung tubuh kedua orang itu.
"Liong te, ako!"
Gak Lam-kun segera berteriak keras.
Di bawah sorot sinar rembulan, tampaklah bahwa orang itu tak lain adalah Ji Kiu-liong.
Dengan wajah penuh kesedihan dan perasaan aei ci Ji Kiu-liong membentak keras.
"Justru karena aku tahu kalau kau, maka aku hendak membunuh kalian berdua!"
Bukannya mundur kebelakang. pemuda itu malah maju menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
"Adik Liong, kau.....?"
Berbareng deegan bentakan yang berat, tangan kirinya secepat kilat mencengkeram kedepan.
"Aduuhh...!"
Diiringi jeritan tertahan, pedang ditangan Ji Kiu liong itu tahu-tahu sudah dipukul rontok keatas tanah oleh serangan dari Gak Lam-kun itu.
Ji Kiu-liong membentak amat gusar.
Sepasang telapak tangannya secara beruntun melepaskan tiga buah serangan berantai dan sebuah tendangan kilat.
Kaki dan tangan digunakan bersama...
itulah jurus ampuh yang diwariskan Gak Lamkun kepadanya.
Ketika dilihatnya pemuda itu menyerang bagaikan orang kalap, bahkan begitu turun tangan lantas mempergunakan jurus-jurus serangan yang dahsyat dan mematikan, Gak Lam-kun menjadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Dia tak tahu apa sebabnya Ji Kiuliong bisa melancarkan sergapan maut kepadanya?
Gak Lam-kun dan Yo Ping segera memutar tubuhnya dan secara aneh dan gesit dia menghindarkan diri sejauh tiga depa lebih dari posisi semula.
Dengan gusar Gak Lam-kun segera membentak keras.
"Adik Liong, kau jangan bergurau terus, hayo cepat hentikan seranganmu itu!"
Benar juga.
Ji Kiu-liong segera menghentikan serangannya.
Dengan sepasang mata melotot lebar diawasinya Gak Lam-kun lekat lekat.
Titik air mata jatuh bercucuran membasahi pakaiannya.
Ia tampak amat sedih dan tersiksa, mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa.
Dari sakunya Gak Lam-kun mengeluarkan sapu tangan dan menyeka air mata yang membasahi wajah Ji Kiu-liong, kemudian dengan suara lirih dia bertanya.
"Adik Liong, apa yang telah terjadi denganmu?"
Ji Kiu-liong tidak menjawab, dia malah menangis tersedu sedu.
Menyaksikan tindak tanduk pemuda itu, Gak Lam-kun semakin tertegun lagi lagi dibuatnya sehingga ia menjadi melongo dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan cepat dia berseru.
"Adik Liong, apakah nona Bwe sudah tertimpa sesuatu kejadian besar?"
Sambil menangil terisak kata Ji Kiu-liong.
"Engkoh Gak, terima kasih kuucapkan atas perhatianmu Selama banyak tahun kepadaku. Hari ini hubungan kita sudah berakhir. Sejak sekarang kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Kau.... baik-baiklah menjaga dirimu"
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu. Gak Lam-kun menjadi sangat gelisah, teriaknya keras keras.
"Adik Liong, adik Liong, harap tunggu dulu. Kau harus menjelaskan dahulu apa yang telah terjadi...!"
Pada waktu itu perasaan Ji Kiu-liong amat sedih bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau.
Terhadap teriakan dari Gak Lam-kun, hampir tak digubris olehnya.
Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas ditelan kegelapan.
Pelan-pelan Yo Ping menghampirinya dan berkata.
"Engkoh Gak. bocah itu telah menghina dirimu. Biarkanlah dia pergi dari sini!"
Gak Lam-kun mengaela napas panjang.
"Adik Ping!"
Katanya.
"tunggulah aku di dalam istana Sui cin kiong... sebentar aku datang!"
Sehabis berkata dia telah membalikkan badannya dan siap pergi meninggalkan tempat itu. Paras muka Yo Ping segera berubah hebat.
"Engkoh Gak, kau....."
"Maafkanlah aku Adik Ping. Aku tak dapat membiarkan bocah itu pergi dengan begitu saja. Ia perlu pengawasan dariku!"
Sehabis berkata, secepat sambaran kilat Gak Lam-kun berlalu dari sana mengejar kemana Ji Kiu-liong melenyapkan diri tadi.
Menyaksikan bayangan punggung Gak Lam-kun yang lenyap dari pandangan, air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Yo Ping.
Rasa sedih yang amat tebal menyelimuti wajahnya.
Dia bergumam seorang diri.
"Lelaki bedebah, rupanya mulutmu saja yang manis. Rupaya kau lebih mencintai orang she Bwe itu daripada kepadaku?"
Bergumam sampai disitu selapis hawa napsu membunuh amat tebal segera memancar keluar diatas wajah Yo ping yang dingin bagaikan es itu, serunya lagi dengan gemas.
"Baik! Kalau ingin mati, kita akan mati bersama...!"
Perempuan memang sebagian besar berhati culas dan curiga.
Apalagi terhadap masalah kecil yang sepele, biasanya mereka akan memandangnya amat serius dan berat.
Bila suatu persoalan sudah menyusup dalam benaknya maka masalah itu seakan akan selalu merongrong hatinya.
Makin dipikir persoalan yang mulanya kecil itu akan makin di besar-besarkan sehingga akhirnya akan rnenciptakan suatu tragedi yang akan disesalinya setelah semua itu telah terjadi.
Begitu pula dengan keadaan Yo Ping sekarang.
Dia mengira Gak Lam-kun telan menghianati cintanya.
Dia menganggap pemuda itu lebih mencintai gadis lain daripada mencintainya.
Ini membuat gadis tersebut makin dipikir semakin marah, akhirnya kobaran api yang membara dalam dadanya mendorong hawa napsu membunuhnya.
Ini pula akibatnya dia melangkah ke suatu jalan yang salah yang akhirnya nyaris mengakibatkan kematian banyak orang.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ji Kiu-liong?
Mengapa secara kebetulan dia dapat berjumpa dengan Gak Lam-kun serta Yo Ping disana?
Kiranya setelah senja menjelang tiba tadi, Ji Kiu liong telah meninggalkan Ji Cin peng.
Ia tahu ingin melepaskan diri dari cengkeraman Tiang pek sam him, maka tak boleh ia tinggalkan tempat itu.
Maka pemuda tersebut bersembunyi di suatu sudut dari bangunan tersebut.
Menanti kentongan keempat sudah menjelang, tiba-tiba ia teringat kembali janji Gak Lam-kun dengan kakaknya itu.
Maka secara diam-diam dia menyelinap masuk ke dalam.
ruangan bangunan itu.
Apa mau dibilang pada saat itulah ia menyaksikan adegan mesra antara Gak Lam-kun dengan Yo Ping.
Hal ini kontan saja membangkitkan rasa sedih dan sakit hatinya.
Terbayang kembali kakaknya yang bernasib jelek, hidup sengsara sepanjang masa...
bukankah kesemuanya itu karena cinta kasihnya kepada Gak Lam-kun?
Benar dia kurang begitu jelas tentang dendam keluarganya, tapi ia tidak menyangkal bahwa kesengsaraan yang dialami kakaknya tak lain adalah hasil perbuatan dari Gak Lamkun.
Bagaimanapun juga Gak Lam-kun wajib memikul tanggung jawab ini.
Cinta kasih kakaknya terhadap pemuda itu begitu mendalam, begitu suci dan murni sehingga ia rela mengorbankan segala sesuatunya demi pemuda itu.
Sebaliknya Gak Lamkun sendiri....
Semakin dipikirkan, Ji Kiu-liong dengan jalan pemikiran kekanak-kanakannya itu semakin mendendam sehingga tanpa terasa api kemarahannya berkobar didalam dada.
Itulah sebabnya dengan geram ia melancarkan tusukan maut ke tubuh Gak Lam-kun.
Dalam pada itu, Ji Kiu-liong seding berlarian dengan kencangnya.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, kini kakaknya sudah ditawan orang.
Mati hidupnya tidak diketahui.
Dengan cara apakah dia harus menyelamatkan jiwanya.....
Seandainya ia sampai mati, maka keponakanku itu mengapa harus diserahkan kepada Gak Lam-kun......
Ternyata didalam hati kecilnya itu sudah mengambil keputusan untuk memikul tanggung jawab untuk mendidik bocah kecil itu.
Dia tak rela menyerahkan keponakannya itu kepada Gak Lam-kun, sebab bagaimanapun juga bocah itu dilahirkan oleh kakaknya....
Dalam sekejap mata, Ji Kiu-liong sudah berada di pantai laut sebelah barat, memandcang gulungan ombak di samudra yang bewarna biru kehitam-hitaman itu.
Ia duduk termangu....
Angin dingin berhembus lewat membuat ombak menggulung makin ganas.
Kobaran api amarah yang membara daiam dadanya, pelan-pelan mulai mereda dan membuyar......
Dengan begitu, otaknya juga mulai dingin.
Kesadarannya mulai pulih kembali seperti sediakala....
Tapi ia menangis, menangis tersedu-sedu persis seperti seseorang anak kecil.
Kemudian, dari belakang tubuhnya tiba-tiba kedengaran seseorang menghela napas panjang.
"Adik Liong, kesedihan apakah yang kau alami, sehingga membuat batinmu begitu tertekan. Kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku? Tahukah kau bila kau sampai berbuat demikian, aku merasa malu kepada kakakmu dialam baka. Aku merasa seakanakan tak sanggup menanggung pertanggungan jawab ini"
Ji Kiu-liong makin meledak tangisannya. Tiba-tiba ia melompat bangun dari menjatuhkan diri ke dalam pelukan Gak Lam-kun.
"Adik Liong!"
Kata Gak Lam-kun sambil menepuk bahunya.
"sebagai seorang lelaki sejati, tidak pantas kau melelehkan air mata dengan begitu saja. Bila ada persoalan, katakanlah secara terus terang!"
"Gak toako!", kata Ji Kiu-liong, sambil menahan isak tangisnya.
"Aku... Aku... merasa bersalah kepadamu...."
Kasih sayang yang diperlihatkan Gak Lam-kun itu sangat mengharukan Ji Kiu-liong.
Sebagaimana diketahui seorang bocah adalah paling gampang terpengaruh emosinya, tapi paling gampang pula dibikin terharu.
Tidak terkecuali Ji Kiu-liong sendiri.
"Kau jangan bersedih hati"
Kata Gak Lam-kun lagi.
"aku tahu didalam hati kecilmu pasti terdapat kesulitan yang tak mampu diutarakan dengan kata-kata..."
Ji Kiu-liong semakin tergetar perasaannya, tak tahan lagi dia lantas berteriak keras.
"Engkoh Gak, cici ku telah ditawan oleh Tiang pek sam him....!"
Mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun mengerutkan dahinya rapat-rapat lalu berkata.
"Ilmu silat yang dimiliki nona Bwe sangat lihay, bagaimana mungkin ia bisa....."
"Nona Bwe adalah kakak kandungku. Dia adalah enci Cin peng...!"
Seru Ji Kiu-liong lagi dengan pedih.
Ibarat disambar geledek di siang hari bolong Gak Lam-kun merasakan benaknya serasa benaknya terasa kosong.
Tak terasa, dengan suara gemetar, bisiknya agak tergagap.
"Apaa..... apaa kau bilang? Nona Bwe adalah Cin peng? Sedang mimpikah aku ini?"
"Engkoh Gak mengapa kau tidak percaya?"
Teriak Ji Kiu-liong "Ia telah melahirkan seorang anak lelaki untukmu. Dia benar-benar adalah kakak kandungku..."
Gak Lam-kun berusaha keras untuk menekan pergolakan perasaan dalam hatinya ia berkata lirih.
"Adik Liong, sesungguhnya apa yang telah terjadi? Cepat kau terangkan kepadaku"
Secara ringkas Ji Kiu-liong lantas menceritakan bagaimana Ji Cin-peng mengakui keadaannya serta bagaimana terjadinya pertarungan dengan Tiang-pek sam him, sehingga mengakibatkan tertawannya dia.
Cuma dia secara sengaja telah merahasiakan hubungan dendam keluarganya dengan si anak muda itu.
Seusai mendengar kisah tersebut, Gak Lam-kun lantas bergumam.
"Dia adalah adik Peng. Yaa dia memang mirip sekali dengan Adik Peng. Baik raut wajahnya maupun potongan badannya. Tapi kenyataan ini serasa sukar diterima dengan akal.... Yaa... Yaa...! Dia pasti adalah Ji Cin-peng. Dia benar-benar adalah Ji Cin-peng...."
"Oooh adik Peng... adik Peng... mengapa kau harus meninggalkan kami...? mengapa..? Belum pernah pikiran dan perasaan Gak Lam-kun sekalut sekararg ini. Sedemikian kalutnya kepala terasa menjadi pusing tujuh keliling. Ji Kiu-liong segera berkata.
"Cici meninggalkan kita hampir setahun karena ia hendak melahirkan anak itu."
Gak Lam-kun menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian berkata.
"Kiu-liong, kau jangan berbohong. Setelah melahirkan anak itu, mengapa tidak datang mencari kita berdua?"
Ji Kiu-liong merasa amat terkejut pikirnya.
"Aduuuh... celaka? Bila ia sampai menaruh curiga, habislah sudah segala galanya"
Berpikir demikian, dengan cepat Ji Kiu-liong berkata.
"Cici meninggalkan kita tentu saja karena ia mempunyai rahasia yang tak bisa diungkapkan kepada orang. Apa salahnya bila kau tanyakan sendiri persoalan tersebut kepadanya dikemudian hari? Gak Lam-kun manggut manggut. kemudian ia bertanya lagi dengan cemas.
"Adik Liong, bagaimana keadaan lukanya?"
"Luka yang dideritanya itu parah sekali"
Jawab Ji Kiu-liong dengan sedih.
"Mungkin sekali akibat lukanya itu bisa mempengaruhi jiwanya. Andaikata ia mati. sungguh kasihan keponaklanku itu. Dia tak akan bisa merasakan kasih sayang dari ibunya lagi!"
Mendengar itu dengan geram Gak Lam-kun menggigit bibirnya menahan rasa gusar dan bencinya dihati. Ia bersumpah.
"Tiang pek san him wahai Tiang pek san him apabila Ji Cin-peng sampai mengalami sesuatu cedera, aku Gak Lam-kun bersumpah akan membumi ratakan Ngo kok kosu kalian dan mencincang tubuh kamu bertiga.....!"
Diam diam Ji Kiu-liong merasa girang setelah mendengar perkataan itn, serunya dengan cepat.
"Engkoh Gak. Mereka sudah berangkat semalam lebih awal, bila kita mengejarnya sekarang jaga mungkin ditengah jalan masib bisa menghalangi jalan pergi mereka"
Mendengar perkataan itu, bagaikan baru sadar dari impian Gak Lam-kun segera berseru.
"Adik Liong, perjalanan menuju kebukit Tiang pek san jauh sekali, apakah kau hendak ikut?"
"Gak toako, apakah kau suruh aku berada di sini seorang diri tiap hari sambil menanggung derita?"
Gak Lam-kun segera manggut manggut "Kalau begitu urusan tak bisa ditunda lagi, mari kita segera berangkat.....!"
Selesai berkata Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Setibanya dipantai, dengan sampan mereka berangkat meninggalkan pulau terpencil itu, kemudian dengan dua ekor kuda jempolan berangkat menuju ke bukit Tiang pek san.
Perjalanan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, siang malam terus berjalan untuk mengejar waktu.
Dalam waktu belasan hari kemudian tibalah ke dua orang itu diperbatasan.
Sepanjang jalan mereka selalu mencari kabar tentang rombongan Tiang pek-sam him, tapi tak pernah ada berita yang didapatkan.
Perasaan hati Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong bertambah berat dan murung.
Mereka melanjutkan perjalanannya makin cepat.
Sepanjang jalan kedua orang itu jarang berbicara.
Kurang lebih tujuh-delapan hari kemudian tibalah kedua orang itu di wilayah Tiang pek-san.
Oleh karena jalan yang tidak hapal.
setelah naik keatas bukit selama hampir tiga hari lamanya mereka tak pernah melihat ada jejak manusia, apalagi rasa haus yang luar biasa.
Tak setetes airpun yang bisa dipakai untuk mengusir dahaga.
Hari itu, mereka berdua kembali melewati sebuah tebing karang yang sangat curam dan tiba dipuncak bukit sebelah utara.
Sepanjang mata memandang meski tampak tanah rerumputan yang terpentang luas, namun tak setetes air pun yang ditemukan.
Tenaga dalam yang dimiliki Ji Kiu-liong agak cetek.
Setelah melakukan perjalanan selama dua puluh hari lebih tanpa berhenti, ia sudah kepayahan dan kehabisan tenaga, tapi ia tetap bertahan ,untuk melanjutkan perjalanan.
Gak Lam-kun tahu, bila tidak berhasil menemukan air lagi disekitar tempat itu, niscaya Ji Kiu-liong tak akan kuat untuk menahan diri lebih jauh....
Gak Lam-kun termenung beberapa saat lamanya.
Mendadak secara lamat-lamat ia menangkap suara yang amat lirih berkumandang datang dari dinding karang sebelah kanan.
Satu ingatan segera melintas dalam benaknya, dengan menelusuri dinding bukit tersebut dia bergerak menuju ke sebelah kanan.
Lebih kurang seratus kaki kemudian, tampak sebatang pohon siong yang amat besar tumbuh tegak didepan sana.
Suara percikan air tadi terdengar menggema datang dari dinding tebing di belakang pohon siong yang amat besar itu.
Ji Kiu iioag segera merasakan semangatnya berkobar kembali, teriaknya keras keras.
"Gak toako disitu ada air!"
Gak Lam-kun segera menyingkap daun pohon siong yang lebat itu dan melongok kedepan.
Dimuka situ tampaklah sebuah gua yang tingginya mencapai ketinggian seorang manusia.
Segulung angin sejuk berhembus lewat dari balik gua itu membawa bau harum yang semerbak.
Gak Lam-kun segera berpikir.
"Jikalau dari gua tersebut bisa berhembus keluar angin sejak, itu menandakan kalau gua tersebut tak akan terlalu dalam"
Ia lantas berpaling seraya berkata.
"Ikutlah dibelakangku!"
Seraya berkata dia lantas miringkan badan sambil melangkah masuk kedalam telapak tangannya yang sebelah melindungi dada, sementara tangannya yang lain disiapkan menghadapi lawan, selangkah demi selangkah berjalan maju kedepan.
Setelah melewati dua buah tikungan, dari depan situ tampak kilatan cahaya terang suara percikan airpun kedengaran makin jelas.
Dengan hati girang pemuda itu segera mempercepat langkahnya keluar dari ujung gua tersebut.
Tanpa terasa Ji Kiu-liong segera berpekik tertahan.
"Oooh...... alangkah indahnya pemandangan alam ditempat ini!"
Ternyata diluar gua tersebut seolah olah terdapat dunia lain, disana rumput tumbuh amat subur dengan aneka warna bunga yang indah menawan, angin lembut berhembus lewat membawa kelembaban air yeng sejuk.
Lebih kurang beberapa tombak jauh didepan sana, tepatnya ditebing sebelah barat tampak pohon siong tumbuh dengan suburnya.
Dahan yang melengkung diudara membuat selat sempit yang panjangnya seratus kaki dengan lebar belasan kaki ini terasa rimbun dan nyaman.
Ji Kiu-liong dan Gak Lam-kun hanya tertarik untuk menyaksikan keindahan alam di sekitar sana hingga rasa dahagapun sampat terlupakan untuk sesaat.
Tiba-tiba dua puluh kaki dari tempat itu berkumandang suara helaan napas........
oooOOOooo WALAUPUN helaan napas itu sangat lirih, tapi bagi Gak Lam-kun yang memiliki tenaga dalam sempurna dapat menangkapnya dengan jelas sekali.
Iapun bisa menangkap bahwa suara tersebut berasal dari suara seorang perempuan.
Gak Lam-kun merasa terkejut, segera pikirnya.
"Siapakah dia?"
Sebab ia merasa suara helaan napas itu agak sedikit dikenal olehnya, itu berarti perempuan itu dikenal pula olehnya.
Pelan pelan Gak Lam-kun berjalan menghampiri asal suara dari helaan napas itu.
Setelah melewati aneka bebungaan yang indah, akhirnya ditepi sebuah kolam kecil ia menyaksikan seorang gadis berbaju putih sedang duduk termenung disana.
Gadis itu duduk dengan punggung menghadap Gak Lam-kun dan wajah menghadap kedepan.
Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya?
Ketika angin sejuk berhembus lewat, rambut dan bajunya yang berwarna putih itu segera berkibar kibar.
Memandang bayangan punggungnya itu, Gak Lam-kun merasakan hatinya bergetar keras, segera pikirnya.
"Dia?! Bukankah dia adakah Ki Li-soat..."
Sementara itu si nona baju putih itu sedang menghela napas sedih, terdengar ia bergumam seorang diri.
"Aaai..... sebetulnya aku ingin melepaskan diri dari segala urusan keduniawian. Siapa tahu begitu banyak percobaan yang harus kuhadapi, apakah Thian hendak melimpahkan penderitaan tersebut kepadaku....?"
Bergumam sampai disitu, dengan suatu gerakan yang enteng dara berbaju putih itu segera bergerak menuju ke puncak sebelah kiri itu dengan gerakan ringan, seakan akan dia tidak menyadari bahwa Gak Lam-kun telah berada belasan kaki dihadapannya.
Dalam waktu singkat nona berbaju putih itu sudah tiba diatas puncak bukit itu.
Oleh tindak tanduknya yang serba aneh itu Gak Lam-kun dibikin tidak habis mengerti.
An-daikata gadis itu benar-benar adalah Ki Li-soat maka itu menandakan kalau ilmu silat yang dimilikinya sudah terhitung nomor satu dalam dunia persilatan, tapi kenapa ia tidak menyadari kalau ada orang sedang mendekatinya?
Kalau dikatakan bukan, mengapa nada suara maupun bayangan punggungnya begitu mirip apalagi kalau didengar dari gumamnya tadi tampaknya....
Semakin dipikir Gaik Lam-kun semakin keheranan sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar suara dari Ji Kiu-liong berkumandang dari belakang.
"Gak toako, siapakah perempuan itu? Cepat benar gerakan tubuh yang dimilikinya"
"Adik Liong, nantikan aku disini akan kutengok keadaan orang tersebut"
Seraya berkata Gak Lam-kun segera meluncur ke arah tebing curam yang berbatu karang itu.
Dalam beberapa puluh kali lompatan saja, tubuhnya sudah berada diatas tebing itu, setinggi ratusan kaki.
Kemudian dalam waktu singkat telah mencapai diatas tebing tersebut.
Terasalah derusan angin dingin yang berhembus lewat amat menusuk badan.
Ternyata dasar lembah dan puncak tebing itu seolah olah dua buah dunia yang berbeda.
Dalam pada itu sinona berbaju putih itu sedang berdiri diatas sebuah batu karang lebih kurang tujuh-delapan kaki dihadapannya.
Ia berdiri disana tak berkutik, seakan akan sedang menyaksikan sesuatu benda.
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak anak muda itu.
Tanpa terasa dia berjalan pula menuju ke batu cadas tersebut.
Ia tahu ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, suara daun yang rontok pada lima kaki dari tubuhpun bisa didengar olehnya dengan jelas.
Mungkinkah dia sengaja berlagak tidak mendengar kehadirannya?
Siapa tahu sekalipun Gak Lam-kun sudah tiba dibelakang punggung gadis berbaju putih itu, dia masih tetap tidak memalingkan kepalanya, seakan akan kehadirannya itu sama sekali tidak dirasakan olehnya......
Akan tetapi, ketika Gak Lam-kun dapat menyaksikan raut wajah si nona dari dekat, ia menjadi benar-benar tertegun, sebab dia memang tak lain adalan Ki Li-soat dari perkumpulan Thi-eng pang.
Sesudah termangu beberapa saat lamanya dengan suara rendah Gak Lam-kun segera menegur.
"Tolong tanya nona, kalau ingin menuju ke Ngo kok koan, jalan manakah yang harus kutempuh?"
Dari antara kelopak matanya yang lebar, tampak air mata nona baju putih itu jatuh bercucuran dengan wajah sedih dan sayu dia tertawa lirih kemudian tanyanya.
"Siangkong, tolong tanya ada urusan apakah kau pergi ke Ngo kok koan"
Gak Lam-kun pura pura berlagak kaget, segera jeritnya tertahan.
"Kau.... bukankah kau adalah nona Ki?"
Dengan sinar mata penuh pancaran sinar lembut dan kemesrahan, Ki Li-soat bertanya lirih.
"Gak Siangkong, kau.... kau datang kemari mencari siapa?"
Dengan perasaan agak kaget Gak Lam-kun menghela napas dihati pikirnya.
"Aaai..... kenapa aku Gak Lam-kun bisa mempunyai begitu banyak persoalan dalam hal cinta? Agaknya dia memang sengaja memancing kedatanganku kemari....."
Sebagaimana diketahui, sejak berjumpa dengan Gak Lam-kun, luapan rasa cinta yang aneh lelah menyelimuti seluruh benak Ki Li-soat, tapi sikap Gak Lam-kun terhadapnya sewaktu dipulau terpencil di dekat bukit Kun san itu begitu dingin dan kaku.
Lagipula ia dapat merasakan pula bagaimana si nona berbaju perak Yo Ping maupun ketua dari perguruan Panah Bercinta juga menaruh hati kepada pemuda itu, diam-diam kesemuanya ini membuat hati gadis itu menjadi amat sedih hati.
Ia sadar, baik dalam soal kecantikan mau pun dalam soal ilmu silat, dirinya masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan kecantikan serta kepandaian orang.
Timbul suatu perasaan rendah diri dihati kecilnya dan membuatnya menjadi sangat putus asa.
Ia tahu cinta semacam ini hanya akan menambah kerengsaraan dan kepedihan dalam hatinya.
Ditambah lagi dengan dibubarkannya perkumpulan Thi eng pang, membuat gadis ini merasa hidup terluntang lantung seorang diri tanpa seorang manusia pun yang menaruh perhatian kcpadanya.
Maka pandangannya terhadap kehidupan manusia menjadi kecewa sekali, diapun bertekad untuk mengasingkan diri ditempat pengasingan gurunya ini dan selama hidup tidak muncul kembali dalam dunia persilatan.
Tapi rupanya Thian tidak merestui keputusannya itu, tiba-tiba saja Gak Lam-kun telah muncul disitu.
Semua perasaan cintanya yang sudah mulai terpendam selama sebulan inipun segera bergolak kembali dengan kerasnya.
Kalau bisa, dia ingin memeluk tubuh Gak Lam-kun dan menangis tersedu-sedu.
Dia ingin mengutarakan luapan perasaan cintanya yang sudah lama terpendam didalam hatinya ini.
Akaa tetapi, ketika dilihatnya Gak Lam-kun sama sekali tidak mengucapkan sepatan katapun.
dia menjadi pedih kembali hatinya.
Air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Aku... sudah tahu banyak bercinta akan merdatangkan kepedihan. Siapa suruh aku melibatkan diri dalam masalah semacam itu? Kenapa? Kenapa? Sebetulnya hatiku sudah bersih dan terang apa mau dibilang..... Aaai....!"
Suaranya begitu pedih, begitu murung, membuat orang turut merasa beriba hati.
Gak Lam-kun sendiripun ikut merasa amat sedih, ia tidak tahu mengapa ada begitu banyak gadis yang mencitainya?
Mengapa ia harus dibuat pusing oleh masalah semacam itu?
Akhirnya sambil menghela napas, Gak Lam-kun berkata.
"Nona Ki, buat apa kau musti bersikap demikian?"
Ki-li Soat tertawa sedih, sahutnya.
"Gak siangkong tak usah kuatir, aku tak akan membuat dirimu menjadi repot. Aku sudah dapat merasakan penderitaan akibat persoalan cinta, apakah aku tak tahu bagaimanakah perasaan orang lain? Kalau toh aku sendiri yang mencari kesengsaraan bagiku sendiri, mengapa pula aku harus mendendam kepada orang lain? Aku hanya benci kenapa nasibku begitu buruk? Mengapa aku tidak berjodoh dengarmu sehingga musti menanggung semua penderitaan dan kepedihan ini?"
Ucapan tersebut sungguh membuat Gak Lam-kun menjadi terharu, ia merasa Ki-li Soat baik dalam soal kecantikan, budi pekerti mau pun ilmu silatnya tidak kalah dibandingkan dengan isteri yang tercintanya Ji Cin-peng terutama cinta sucinya itu, sungguh membuat orang merasa tak tahan.
Yaa...
sesungguhnya dia memang bisa dibilang tak borjodoh, mengapa ia tidak berjumpa dengannya sedari dulu?
Kalau tidak, seperti juga dengan Ji Cin peng, dia akan dicintainya sepenuh hati.
Pikir punya pikir, Gak Lam-kun merasakan hatinya semakin murung dan kesal hingga untuk sesaat tak tahu apa yang harus dilakukan.
Menyaksikan pemuda itu membungkam diri, Ki-li Soat menghela napas sedih, katanya.
"Gak siangkong, entah karena persoalan apakah kau datang kebukit Tiang-pek ini? Ketahuilah, ilmu silat yang dimiliki Tiang-pek sam him lihay sekali...."
Mendengar perkataan itu, seperti baru sadar dari impian Gak Lam-kun segera berseru.
"Nona Ki. aku harus segera melanjutkan perjalanan"
Dari kemurungan dan kesedihan yang menyelimuti wajah pemuda itu, Ki-li Soat segera dapat menebak apa gerangan yang telah terjadi, katanya dengan cepat.
"Gak Siangkong, Ngo kek koan amat berbahaya dan penuh dengan ancaman bahaya maut. Bila tidak mengetahui tempat yang sebenarnya, kau pasti akan tersesat. Untung saja aku sedang menganggur, aku bersedia menjadi penunjuk jalanmu"
Jilid 25 SUDAH berhari hari lamanya Gak Lam-kun melakukan perjalanan, dia tahu kalau dirinya masih berada ditengah pegunungan tersebut, padahal Ji Cin-peng telah di bekuk Tiang pek sam him dengan tidak di ketahui bagaimana nasibnya.
Menolong orang bagaikan menolong api, ia memang sangat membutuhkan seseorang sebagai petunjuk jalan untuk menolong Ji Cin-peng.
Maka setelah berpikir sejenak, sambil menghela napas Gak Lam-kun berkata.
"Bila nona Ki bersedia membantu kami, budi kebaikan ini tak akan aku orang she Gak lupakan untuk selamanya!"
Sesudah berhenti sejenak, kembali ia berkata lebih jauh.
"Aaai... kali ini aku datang kebukit Tiang-pek san adalah bermaksud untuk menolong istriku. Ia sudah ditawan oleh Tiang pek san him dan mati hidupnya tidak diketahui. Itulah sebabnya sedikit terlambat ditolong bisa mengakibatkan keadaan yang fatal"
Mendengar perkataan itu, Ki Li-soat merasa amat terkejut mimpipun ia tak menyangka kalau Gak Lam-kun sudah beristri.
Bukankah itu berarti setitik harapan yang masih tersisa dalam hatinya ikut lenyap pula kini.
Tak terlukiskan rasa sedih Ki-li Soat setelah mendengar perkataan itu, tapi ia masih berupaya keras untuk mengendalikan perasaannya dengan pedih katanya.
"Gak siangkong, dapatkah kau memberitahukan siapa nama istrimu itu?"
"Dia?"
Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.
"kau tak akan kenal......"
Tiba-tiba terdengar suara dari Jit Kiu liong berkumandang datang dangan nyaring.
"Dia adalah kakakku, Ji Cin-peng!"
Ternyata Ji Kiu-liong telah mendaki naik ke puncak tebing tersebut dari dasar lembah Ki Li-soat menjerit kaget serunya.
"Sudah kenalkan aku dangan orangnya? Siapakah dia?"
Dangan wajah murung jawab Gak Lam-kun lirih.
"Kalau dibicarakan sesungguhnya panjang sekali, dia bukan lain adalah ketua perguruan panah bercinta Bwe Li pek adanya!"
Mendengar perkataan itu, Ki Li-soat segera tersenyum katanya.
"Ooooh..... rupanya kalian sudah menikah selamat, selamat!. Gak Lam-kun tahu bahwa dia salah paham maka ujarnya kembali.
"Nona Ki, kami sudah menikah hampir dua tahun lamanya, malah sudah berputra seorang"
"Sungguh?"
Seru Ki li-Soat dengan kening berkerut.
"Sesungguhnya kejadian ini tak bisa diceritakan dengan sepatah dua patah kata saja. Aaaai....! Sebenarnya aku sendiripun mengira ia sudah berpulang kealam baka, karena itu aku tidak me-nyangka kalau Bwe Li pek sebetulnya tak lain adalah istriku sendiri yang telah tiada selama dua tahun itu"
Ketika dilihatnya Ki Li-soat makin kebingungan, pemuda iia segera berkata kembali.
"Nona Ki, jika kau tidak keberatan akan kukisahkan jalannya peristiwa ini pelan-pelan"
Ki Li-soat segera manggut-manggut.
"Duduklah dulu dalam batu disebelah sana, akan kusiapkan dulu sedikit makanan kemudian kita berangkat ke Ngo kok koan"
Ki Li-soat, Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong segera berangkat menuruni tebing batu karang ter-sebut.
Ki Li-soat membawa Gak Lam-kun menuju ke tebing bawah bukit itu, lalu sambil menunjuk sebuah gua batu didepan sana, katanya sambil tertawa.
"Gua batu ini adalah tempat yaag dipakai mendiang guruku untuk melatih diri. Selama satu bulan belakangan ini, aku berdiam dalam gua ini dengan siang malam berlatih pedang, bila diwaktu senggang seringkali aku membaca kitab kuno untuk menambah pengetahuan"
Ketika mengucapkan kata kata tersebut nada suaranya kedengaran amat sedih sekali membuat Gak Lam-kun merasa amat simpatik, dia ikut kasihan kepadanya.
Ia merasa begini cantiknya gadis itu, jika harus memendam masa remajanya diatas bukit yang terpencil, sesungguhnya, hal ini merupakan sesuatu kejadian yang tragis.
Diam-diam Gak Lam-kun mengamati gua batu itu.
Dilihatnya dalam gua kurang lebih empat kaki dengan lebar satu kaki.
Suasana dalam ruangan gua sangat bersih dan nyaman.
Setelah masuk kedalam gua, disudut kanan terdapat sebuah ruangan batu, mungkin disitulah Ki Li-soat berdiam selama ini.
Empat penjuru dinding ruang batu licin dan putih bersih seperti kemala, empat buah kursi batu yang indah dengan sebuah batu besar yang terbuat dari batu granit menghiasi ruangan tengah.
Disudut ruangan sebelah belakang terdapat sebuah tempat pembaringan.
Meskipun amat sederhana perabotnya tapi tampak rapi dan bersih.
Diam diam Gak Lam-kun harus memuji kehebatan Ki Li-soat.
Yaa...
Remaja manakah didunia ini yang bersedia hidup sengsara dan sederhana diatas bukit macam ini, apalagi bila ia memiliki wajah yang cantik.
Begitulah menggunakan sedikit waktu senggang yang tersedia itu, Gak Lam-kun dengan perasaan yang paling pedih menceritakan kisah hubungannya dengan Ji Cin-peng dimasa lalu......
Selesai mendengar penuturan tersebut, Ki Li-soat menghela nafas sedih, katanya.
"Untung saja tak lama kemudian kalian akan berkumpul kembali. Semoga kalian bisa hidup bahagia sepanjang masa dan menikmati senangnya kehidupan sebagai manusia". Diam diam Gak Lam-kun menghela napas sedih dan pelan-pelan keluar dari gua itu. Ia sedang berpikir dalam hatinya.
"Aku telah menanam bibit cinta dengan Yo Ping, entah bagaimanakah penyelesaiannya atas persoalan ini?"
Sementara itu matahari telah tenggelam di langit barat, senjapun menjelang tiba....
Gak Lam-kun mendongakkan kepalanya memandang bianglala diujung langit dimana terhias oleh cahaya matahari senja yang sedang tenggelam ke balik bukit.
Perasaannya waktu itu bagaikan matahari yang sedang tenggelam tersebut, suasananya amat mengenaskan sekali.
Memandang cahaya keemasan yang makin memudar itu, lama-lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Mendadak.....
Dari kejauhan sana, diantara rentetan pegunungan yang menjulang ke angkasa, berkumandang beberapa kali pekikan yang amat nyaring......
Pekikan tersebut berkumandang saling bersambung dan tiada hentinya.
Mungkin lantaran jaraknya terlampau jauh, sehingga suaranya kedengaran amat lirih.
Agaknya Ki Li-soat juga mendengar suara pekikan tersebut, buru-baru dia lari keluar sambil berkata.
"Mungkin di sekitar tempat itu ada orang yang telah berjumpa muka dengan orang-orang Ngo kok koan dari bukit Tiang pek-san""
Mendengar perkaitaan itu, dengan kening yang berkerut Gak Lam-kun segara bertanya.
"Apakah suara pekikan itu berasal dari Ngo kok koan?"
"Benar, urusan tak bisa ditunda lagi. Mumpung ada kesempatan baik, mari sekarang juga kita berangkat ke Ngo kok koan"
Selesai berkata, Ki Li-soat segera masuk kedalam untuk tukar pakaian ringkas, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, berangkatlah mereka menuju ke arah timur laut.
Cuaca makin lama semakin gelap, ditengah pegunungangn hampir tak ada penghuninya ini boleh di bilang hampir tiada jalan yang bisa dilalui sepanjang jalan.
Kalau bukan jurang yang terbentang lebar, bukit-bukit karanglah yang menjulang tinggi ke angkasa serta batu-batu cadas terjal dan curam.
Sulit rasanya untuk melanjutkan perjalanan itu.
Untung saja Ki Li-soat hapal dengan jalan disitu.
Dengan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliknya, perjalanan bisa dilanjutkan dengan cepat.
Hanya Ji Kiu-liong seorang yang bertenaga dalam agak cetek.
Setelah melalui beberapa buah bukit, tubuhnya sudah basah kuyup dengan keringat.
Tapi demi menyelamatkan jiwa kakaknya, dia harus menggigit bibirnya menahan derita.
Dengan memaksakan diri dia berlarian terus menelusuri jalan yang sulit.
Gak Lam-kun tahu kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya kurang sempurna.
Bila dilanjutkan terus akhirnya pemuda itu bakal mati karena kecapaian, maka dia sambar lengan kanan pemuda itu dengan tangan kirinya dan ditarik untuk maju ke depan.
Setelah lengan kanannya dipegang Gak Lam-kun, Ji Kiu-liong segera merasakan tubuhnya enteng seperti burung walet.
Angin tajam seperti berdesiran di sisi telinga.
Pemandangan disekelilingnya terasa mundur ke belakang dengan cepat.
Dia merasa dirinya seolah-olah sedang terbang di angkasa.
Ketika Ki Li-soat menyaksikan Gak Lam-kun yang musti menarik seseorang ternyata masih bisa bergerak cepat seperti burung elang, bahkan sama sekali tidak kepayahan, diam-diam ia merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Sungguh tidak kusangka ilmu silat yang dimilikinya telah peroleh kemajuan yang begini pesatnya. Bila keadaan seperti ini berlangsung teras, aku yakin tak lama kemudian dia akan menjagoi seluruh dunia persilatan"
Beberapa saat kembali sudah lewat....
Ditengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara pekikan aneh yang keras dan memekikkan telinga berkumandang kembali di udara.
Suara itu bukan cuma keras dan melengking bahkan tak sedap didengar, persis seperti jeritan setan atau lolongan serigala.
Walaupun begitu, suaranya menurut irama.
Ada suitan yang panjang ada pula suitan pendek, tampaknya memang dipancarkan oleh seseorang menurut irama yang telah ditentukan.
Gak Lam-kun dan Ki Li-soat segera menghentikan gerakan tubuh mereka dan memperhatikannya dengan seksama.
Agaknya Ji Kiu-liong merasa agak takut, dengan suara lirih ia lantas berbisik.
"Gak toako, sebenarnya suara itu suara manusia atau jeritan setan...?"
Gak Lam-kun tidak menjawab, cuma pikirnya dalam hati.
"Jeritan aneh yang sama sekali berbeda dengan suara-suara pada umumnya ini memang kedengaran sangat menyeramkan sekali.... tapi suara apakah itu?"
Ternyata untuk sesaat lamanya diapun tak bisa menebak suara apakah itu. Terdengar Ki Li-soat tertawa ringan, kemudian katanya.
"Liong siaute, suara itu bukan jeritan setan"
Sesudah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh.
"Suara itu adalah suatu sistem mengirim beri-ta yang biasa dipergunakan oleh orang-orang Liok-lim, cuma suitan setan dari Ngo kok koan ini sedikit berbeda dibandingkan dengan cara yang biasa dipakai oleh orang orang Liok lim. Diantara irama panjang dan pendek yang tersiar tersebut sesungguhnya mengandung arti kode-kode rahasia yang cuma diketahui oleh pihak mereka sendiri. Orang lain hanya bisa rnendengar irama suitan yang memanjang dan memendek, tapi tidak dapat memahami berita apakah yang sesungguhnya telah mereka kirimkan"
"Sumpritan itu ada yang terbuat dari panca logam, ada pula yang terbuat dari besi biasa. Ditengah keheningan malam bisa tersiar sejauh beberapa puluh li. Coba kita dengarkan lebih jauh, sebentar pasti ada suara sempritan setan lain yang menyahut irama tadi""
Betul juga, tak lama kemudian terdengar suara sumpritan aneh itu berkumandang lagi saling sahut menyahut.
Selisih waktu antara yang satu dengan lainnya tidak terlalu lama, tapi sesaat kemudian suara sumpritan lain yang jauh lebih aneh berkumandang kembali, cuma kali ini suara tersebut berasal dari tempat yang agak jauh.
Mendadak......
"Sreeet.....! Sreet....! Sreeet....."
Beberapa kali desingan angin tajam berkumandang memecahkan keheningan malam, menyusul kemudian dari balik kegelapan muncul tiga titik cahaya tajam yang secepat kilat menyambar ketubuh Gak Lam-kun, Ki Li-soat serta Ji Kiu-liong .
Gak Lam-kun tertawa dingin, tangan kanannya segera diayunkan kemuka, segulung desingan angin tajam yang memekikkan telinga dengan cepat menggulung kemuka dan mementalkan ketiga titik cahaya tajam tersebut.
Tiba-tiba terdengar gelak tertawa aneh berkumandang kembali diudara sekilas cahaya tajam di iringi suara desingan angin tajam secepat kilat menyergap datang.
Sementara itu Ji Kiu-liong telah meloloskan pedangnya dengan gusar ia membentak.
"Bangsat, kalian berani main sergap!"
Dengan jurus Im wu kim kong (Cahaya emas dibalik kabut) pedangnya dengan menciptakan segpulung cahaya keperak-perakan menyongsong kemuka.
"Traang....!"
Serentetan bunyi bentrokan yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, perakan bunga api berpancaran ke empat penjuru.
Akibat dari bentrokan itu, Ji Kiu-liong merasakan pergelangan tangannya menjadi kesemutan lengan kanannya kaku nyaris pedangnya terlepas dari genggaman.
Ketika dia mengamati kembali musuhnya maka tampaklah lebih kurang lima depa dihadapannya berdiri seorang tocu berbaju blacu yang aneh dandanannya dan berperawakan tinggi besar, ditangannya memegang sebilah pedan bewarna perak.
Waktu itu diapun berdiri dengan wajah terperanjat, agaknya merasa tercengang karena Ji Kiu-liong sanggup menahan sebuah serangannya.
Setelah mengamati sekejap Gak Lam-kun dan Ki Li-soat dengan dingin ia bertanya.
"Kalian datang darimana? Apakah rombongan yang baru masuk tadi adalah rekan-rekan kalian?"
Mendengar teguran tersebut Gak Lam-kun segera berpikir.
"Barusan ada serombongan manusia datang kemari? Siapakah mereka...? Mungkinkah Han Hu hoa dan Kwik To dari perguruan Panah Bercinta yang sengaja datang kemari untuk menolong Cin peng......?"
Gak Lam-kun merasa kecuali kedua orang itu rasanya tak mungkin ada orang lain yang bakal datang kemari untuk mencari gara-gara dengan pihak Ngo kok koan.
Belum sempat Gak Lam-kun menjawab Ji Kiu-liong telah menyahut sambil tertawa dingin.
"Kalau betul mau apa kau?"
Sementara tanya jawab itu sedang berlangsung kembali ada bayangan manusia yang berkelebat datang dari empat penjuru.
Dalam waktu singkat ada dua belas orang tosu yang memakai baju pendeta dari kain blacu telah mengambil posisi mengepung disekeliling tiga orang itu.
Pelan-pelan Ji Kiu-liong berjalan kesisi Gak Lam-kun, Kemudian sambil membungkukkan badannya, dengan jurus Giok li to sou (gadis cantiK.
menisik jarum) secepat kilat pedangnya menyerang ketubuh tosu tersebut.
Serangan kilat yang dilancarkan secara tiba-tiba ini sama sekali diluar dugaan tosu berbaju blacu itu, sewaktu menjumpai ia berjalan ke samping Gak Lam-kun tadi, dikiranya dia hendak menyampaikan sesuatu kepada rekannya, atau mungkin merasa sudah merasakan kelihayannya dalam bentrokam tadi, maka ia mundur sendiri dari arena pertarungan.
Siapa tahu dengan suatu gerakan yang nama sekali tak terduga, ternyata dia melancarkan sebuah tusukan lagi.
Sesungguhnya, dalam jarak yang begitu dekat apalagi melancarkan serangan tiba-tiba, sulit bagi tosu untuk menghindarkan diri.
Tapi, tosu berbaju blacu itu merupakan pemimpin dari kedua belas orang tosu yang tiba, sudah barang tentu dia memiliki ilmu silat yang luar biasa.
Begitu serangan dari Ji Kiu-liong dilancarkan, untuk menangkispun ia tak sempat lagi.
Tiba-tiba tubuhnya yang tinggi besar itu mengikuti gerakan dari pedang tersebut menjatuhkan diri kebelakang, kemudian sepasang kakinya menjejak dengan sekuat tenaga menggunakan gerakkan ikan leihi meletik, tahu-tahu ia sudah melompat mundur sejauh satu kaki tiga depa lebih.
Melihat serangannya tidak berhasil mengenai sasarannya, dia segera menekuk pinggang sambil memutar tangan, dengan gerakan yang tidak berubah, secepat bayangan dia menusuk lawan.
Serangan dan kelitan yang dilakukan ke dua orang itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat.
Sekalipun para tosu disekitar tempat itu ingin turun tangan mencegahpun tak sempat lagi.
Ketika tosu baju blacu itu menyaksikan dirinya secara beruntun didesak mundur terus oleh seorang bacah cilik yang belum hilang bau teteknya ini, dari malu ia menjadi naik darah!
Sewaktu serangan kedua dari Ji Kiu-liong itu meluncur tiba, dia segera mengembangkan lengannya untuk menyongsong datangnya ancaman itu.
Belum lagi tubuhnya berdiri tegak, pedang ditangan kanannya sudah menyapu ke depan, diantara titik kilatan cahaya yang menyilaukan mata, dengan keras lawan keras dia sambut datangnya serangan dari Ji Kiu-liong tersebut.
Rupanya Ji Kiu-liong sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki tosu itu tidak lemah.
Jika tidak melancarkan serangan mematikan, tiada harapan baginya untuk merebut kemenangan.
Pergelangan tangannya segera menekan kebawah, pedangnya berputar dengan jurus Kim ciam teng-hay (paku emas memantek samudra ).
Begitu terhindar dari tangkisan pedang lawan, tiba-tiba mata pedang yang semula menusuk ke bawah itu berubah arah dan langsung menyambar ke atas dadanya.
Untuk menggunakan jurus serangan itu Ji Kiu-liong telah melakukan suatu tindakan yang menyerempet bahaya, pedangnya dengan cepat menyambar diatas bajunya, nyaris tosu itu terluka di ujung pedangnya tersebut.
Tosu berbaju blaco itu tidak menyangka kalau Ji Kiu-liong begitu berani menyerangnya dengan menyerempet bahaya.
Sebenarnya dia ingin menangkis dulu pedangnya agar serangan lawan terbendung, kemudian baru memperbaiki posisinya.
Tapi dengan demikian dia malah dipaksa mau tak mau tak harus menghindarkan diri lebih dulu dari serangan lawan.
Dia segera menarik napas panjang.
Gerakan melompatnya yang baru dilakukan tibatiba ditarik ditengah jalan, kemudian mengikuti gerakan pedang lawan, tubuhnya menjatuhkan diri ke tanah dengan punggung menempel diatas permukaan tanah tiba-tiba ia menggelinding ke samping meloloskan diri serangan mematikan dari Ji Kiu-liong tersebut.
Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan Khu Lung
Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 7