Ceritasilat Novel Online

Lencana Pembunuh Naga 8

Eps 8 Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung

Baca online Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung

Cersil Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung.

"Sedikitpun tiada terkecuali, tak sedikit pertarungan besar dan kecil yang pernah lohu alami, situasi yang lebih gawat dan berbahaya daripada suasana saat inipun sudah banyak yang kujumpai, jika kau cerdik lebih baik suruh saja mereka untuk menurunkan bendabenda yang memuakkan itu!"

Agaknya Si Tiong pek sudah mempunyai rencana yang cukup matang dalam hatinya, ia berkata.

"Tidak sulit jika kalian berharap agar kami lepas tangan, tapi kamu berdua harus menyanggupi pula sebuah permintaanku..."

"Tak usah membuang waktu dengan percuma"

Tukas Ji Cin peng sambil goyangkan tangannya berulangkali.

"nonamu tak akan mengabulkan satu permintaanpun!"

"Hmmm..! Bagus sekali, kalau begitu jangan salahkan kalau aku tidak berperasaan!"

Baru saja dia akan memberi tanda kepada anak buahnya untuk melepaskan panah, mendadak dari arah belakang terdengar seorang berseru dengan suara dingin.

"Untuk menyelamatkan jiwa sendiripun tak mampu, masih beraninya berlagak sok gagah disini!"

Si Tiong pek amat terkesiap, dia tahu suara tersebut berasal dari belakang tubuhnya...

Ketika ia mencoba untuk berpaling ke belakang maka tampaklah dibelakang kedelapan belas elang baja itu telah berdiri puluhan orang jago lihay dari perguruan panah bercinta yang sama-sama mementangkan pula gendewanya, moncong anak panah tertuju kepunggung mereka.

Tampaknya jika ia berani memberi tanda untuk melancarkan serangan sekalipun mereka berhasil melukai Buncu dari perguruan panah bercinta, namun korban dipihaknya lebih parah lagi, bahkan kemungkinan besar seluruh pasukannya akan musnah disitu...

Melihat gelagat berbalik tidak menguntungkan pihaknya, Si Tiong pek kembali tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... kelabang menangkap comberet, tak tahunya sang burung mengintai dari belakang, tampaknya tindakan dari aku orang she Si terlambat selangkah!"

"Hmm, kau bisa lunak bisa keras, memang tak malu sebagai seorang lelaki!"

Kata Ji Cin peng dingin.

Seperti diketahui, Si Tiong pek adalah seorang pemuda yang licik dan berhati keji, setelah mengetahui bahwa situasi tidak menguntungkan bagi pihaknya, dengan cepat dia mengambil keputusan untuk bersikap ramah kepada lawannya, senyumanpun segera menghiasi ujung bibirnya.

Mendengar sindiran tersebut, merah padam selembar wajahnya karena jengah, sahutnya.

"Kalau dibandingkan dengan perguruan panah bercinta, aku orang she Si masih kalah jauh sekali!"

Ji Cin peng mendengus dingin.

"Hmm! Kau masih belum suruh mereka menurunkan benda-benda yang memuakkan itu"

"Oooh, tentu saja, tentu saja!"

Jawab Si Tiong pek buru-buru sambil tertawa.

Ketika ia memberi tanda dengan ulapan tangan, delapan belas elang baja tersebut serentak menarik kembali anak panahnya.

Ji Cin peng tertawa dingin, katanya kemudian.

"Barusan kau yang berlagak sok, maka sekarang tibalah giliranku untuk menunjukkan kebolehan!"

Diam-diam Si Tiong pek merasa terkesiap setelah mendengar perkataan itu, katanya lagi dengan lirih.

"Mana, mana, sampai hari ini aku orang she Si belum pernah berlagak sok kepada siapapun!"

"Aku hendak mengajukan beberapa buah pertanyaan kepadamu, aku minta kau menjawab dengan sejujurnya!"

Senyum licik menghiasi ujung bibir Si Tiong pek.

"Kalau aku enggan menjawab?"

Dia bertanya.

"Hmm, aku pikir kau pasti bisa membayangkan sendiri akibatnya bukan..?"

Dalam keadaan yang terdesak begini Si Tiong pek tak berani membangkang lagi, katanya dengan dingin.

"Ajukanlah pertanyaanmu!"

Dalam hati diam-diam ia tertawa dingin pikirnya.

"Perempuan sialan, kau tak usah bermimpi disiang hari bolong kalau ingin mengorek keterangan dari mulut aku Si Tiong pek, hal ini bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang!"

Ji Cin peng berpikir sejenak, kemudian katanya.

"Air didalam istana air apakah bisa dialirkan kedalam istana api?"

Terkesiap Si Tiong pek ketika mendengar pertanyaan itu jawabnya cepat-cepat.

"Tidak bisa, kamipun tak berani?"

"Kenapa?"

Tanya gadis itu tertegun. Dengan berterus terarg Si Tiong pek menerangkan.

"Sebab sebagian besar air yang terkandung didasar tanah adalah air hitam, jika air hitam tersebut sampai berjumpa dengan api, bukan saja tak akan memadamkan api didalam istana api, malahan akan semakin menambah besarnya kobaran api ditempat itu, karena resikonya amat besar dan lagi tiada manfaatnya, terpaksa pihak Thi eng pang kami harus urungkan niat ini!" (Yang dimaksudkan air hitam disini, sekarang lazim dikenal sebagai minyak bumi) "Sungguhkah perkataanmu itu?"

Seru Ji Cin peng dengan wajah tercengang, rupanya dia kurang percaya.

"Setiap patah kataku adalah ucapan yang sejujurnya!"

Sahut Si Tiong pek dengan serius.

"Kalau begitu pergilah!"

Selesai berkata Ji Cin peng segera berlalu dari tempat itu, diikuti para jago lainnya dia langsung berangkat menuju keistana api.

Sementara itu Si Tiong pek masih berdiri termangu-mangu ditempat semula, belum dia sempat berlalu dari situ, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara senandung yang amat keras.

"Rumput nan hijau, hatiku murung. Bukankah hanya kepadaku, tiada sanak tiada keturunan. Rumput nan hijau, betapa rindu hatiku. Tidak cinta padaku, tiada terkabul keinginanku. Sehari tak bersuara, rasanya bagaikan tiga bulan. Senandung itu membawa nada yang memedihkan hati, membuat siapapun yang mendengar ikut merasa terharu. Ketika Si Tiong pek mendongakkan kepalanya dan mengetahui siapa yang datang, dengan perasaan ngeri bercampur takut, ia mundur beberapa langkah kebelakang. Tampak seorang nyonya tua berbaju putih sambil membawa beberapa kerat tulang manusia bergerak datang dari kejauhan dengan kecepatan luar biasa, ternyata dia bukan lain adalah Hay sim li yang sudah sinting dan tidak waras otaknya itu. Tiba-tiba Hay sim li tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya.

"Ooh Yo long! Kau sungguh amat menderita"

Ketika dilihatnya Si Tiong pek berada disitu, dengan suara penuh kegusaran bentaknya.

"Bocah keparat, kau si bocah keparat yang telah membohongi diriku... kau keparat!"

Dengan ketakutan Si Tiong pek mundur beberapa langkah kebelakang, jeritnya.

"Locianpwe!"

"Kau adalah penipu ulung, heeehh... heeehh... heeehh... kau bilang kaulah murid Yo long!"

Seru Hay sim li sambil tertawa seram, selangkah demi selangkah ia berjalan makin mendekat. Si Tiong pek yang menyaksikan raut wajahnya makin menyeringai menakutkan, ia semakin ketakutan lagi, serunya.

"Aku..."

"Haaahh... haaahh... haaahh... kau bilang Yo Long belum mati, dimanakah dia sekarang?"

Paras muka Si Tiong pek berubah bebat tapi ketika dilihatnya beberapa kerat tulang yang berada dalam bopongannya itu, dengan cepat dia berseru.

"Itu dia berada dalam boponganmu!"

Hay sim li segera membelai tulang manusia itu dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... benarkah? Yo Long, benarkah kau berada dalam boponganku?"

Jelaslah sudah hawa kesadaran otak perempuan ini sudah kacau dan tidak waras lagi, sepanjang hari yang dia ingat hanya muridnya...

tidak lebih tepat kalau dikatakan sebagai kekasihnya Tok liong cuncu Yo Long...!

Buru-buru Si Tiong pek berseru kembali.

"Yaa, benar, Yo Long berada didalam boponganmu!"

Gelak tertawa Hay sim li semakin memekikkan telinga.

"Haaahh... haaahh... haaahh... kau baik sekali, tolong beritahu kepadaku, dia sudah mati atau belum?"

Untuk sesaat lamanya Si Tiong pek tak tahu bagaimana harus menjawab, maka jawabnya kemudian.

"Dia belum mati!"

Tiba-tiba Hay sim li mendengus marah.

"Hmmm! Kau lagi-lagi membohongi aku, kalau dia belum mati, berada dimanakah dia sekarang?"

Ketika dilihatnya perempuan itu menjadi gusar kembali, terpaksa sambil keraskan kepala sahut Si Tiong pek.

"Dia berada dalam hatimu!"

Dengan suatu gerakan yang sangat cepat. Hay sim li mencengkeram urat nadinya, lalu berkata dengan lirih.

"Kenapa aku tak melihat dirinya?"

Sekarang Si Tiong pek sudah yakin kalau dia benar-benar telah gila, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya.

"Yo Long telah pergi kesuatu tempat yang jauh sekali"

Katanya.

"ia tak akan kembali lagi kesini, kecuali kalau kau pergi mencari dirinya...!"

"Dia telah kemana?"

Tanya Hay sim li setelah tertegun beberapa saat lamanya.

"Pergi ke langit barat yang penuh kebahagiaan!"

Sahut Si Tiong pek sambil menggertak giginya kencang-kencang.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh..."

Menyusul gelak tertawa yang amat keras itu, Hay sim li melemparkan tubuh Si Tiong pek ketengah udara...

"Aku akan pergi mencarinya"

Demikian ia berseru sambil berhenti tertawa.

"kalau tidak kutemukan, maka kau harus membantuku untuk mencarinya sampai ketemu!"

Si Tiong pek tidak menyangka kalau dia sudah segila ini mencintai kekasihnya, buruburu serunya kembali.

"Untuk bisa menemukan kembali dirinya maka kau harus melakukan perjalanan yang jauh, jauh sekali..."

Cepat-cepat dia merangkak bangun dari atas tanah dan menyingkir sejauh-jauhnya dari situ.

Ia kuatir dilemparkan kembali oleh Hay sim li ketengah udara...

Sekali lagi Hay sim li tertawa terbahak-bahak dengan suara yang lengking, tajam dan mengerikan.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku tidak takut untuk melakukan perjalanan jauh, aku pasti akan mencarinya sampai ketemu... aku pasti akan menemukannya kembali"

Seraya berkata dia lantas berkelebat pergi dari situ dan berangkat menuju kearah barat.

ooocooOooooooo ISTANA API!

Istana tersebut merupakan tempat yang paling berbahaya dalam istana Kiu ciong kiong.

Bara api yang membara, bisa membuat langit serasa berubah menjadi kota api.

Batu karang pun bisa hancur menjadi abu dan berubah menjadi air, bagaikan selokan mengaliri kedasar tebing.

Kecuali kobaran api yang membakar, hakekatnya dalam istana api tidak dapat dijumpai sesuatu benda apapun, berhubung api memancar keluar tiada hentinya dari dasar bumi, hal mana membuat pemandangan disitu tampak indah tapi mengerikan.

(Kalau jaman sekarang, orang mengatakan tempat semacam itu sebagai gunung berapi).

Api!

Api!

Api!

Itulah satu-satunya yang bisa ditemukan dalam istana tersebut.

Baru saja memasuki istana api, Gak Lam kun segera merasakan sekujur tubuhnya kepanasan bagaikan mau terbakar saja, ia merasa dirinya mulai tak kuasa menahan diri,sehingga tanpa terasa ia tak berani maju lebih kedalam selangkah lagi.

Padahal pada waktu itu mereka belum benar-benar mendekati tempat yang berapi tempat itu baru tiga kaki jauhnya dari mulut gua, bila maju beberapa kaki lagi kedepan, kepundan dimana api berkobar baru akan terlihat jelas.

Anehnya, ternyata gadis berbaju perak itu sama sekali tak nampak menderita, malahan sambil tertawa cekikikan katanya.

"Kau masih sanggup mempertahankan diri

Jilid 20 Gak Lam-kun adalah seorang lelaki aneh dari dunia persilatan, bukan saja bakatnya bagus, otaknya juga cerdas, hal mana menimbulkan sifat tinggi hati pada dirinya.

Ketika mendengar pertanyaan tersebut, ia segera tertawa dingin kemudian sambil menggertak gigi dia maju beberapa kaki lagi kedepan.

Tapi gelombang udara panas yang berhembus datang kian lama kian bertambah kuat, ia merasakan sekujur tubuhnya hampir musnah rasanya, peluh yang mengucur keluar bagaikan hujan deras, ketika menetes ketanah segera berubah menjadi uap putih dan lenyap tak berbekas.

Sambil menahan penderitaan, jawabnya.

"Aku tidak takut!"

Mendadak gadis berbaju perak itu mendekati tubuhnya, lalu berkata.

"Aku paling suka dengan watak yang berjiwa seperti kau!"

Sambil berkata, dengan telapak tangannya yang putih mulus dicekalnya lengan Gak Lam-kun.

Segulung udara dingin yang menyegarkan dengan cepat mengalir keluar dari tubuhnya.

Gak Lam-kun segera merasakan udara panas yang menyerang tubuhnya lenyap seketika itu juga, penderitaan yang menyiksa tubuhnya ikut pula berkurang, kenyataan ini membuatnya menjadi terkejut bercampur keheranan.

Dengan cepat dia berpikir.

"Heran, kenapa dia tidak takut panas? Kenapa pula dari balik tubuhnya bisa berhembus keluar hawa sedingin ini?"

Ketika dilihatnya tangan sinona yang putih halus itu hendak memegang tangannya, dengan cepat dia berkelit kesamping sambil serunya.

"Antara laki-laki dan perempuan ada batas-batasnya, lebih baik nona bisa eedikit menjaga diri!"

Gadis berbaju perak itu menghela napas sedih.

"Aaai... mengapa sikapmu begitu dingin dan sama sekali tidak berperasaan?"

Keluhnya.

"Aku sama sekali tidak bermaksud menghina atau memandang rendah diri nona!"

Gadis berbaju perak itu gelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang lagi.

"Aaai...! Kau memang seorang manusia aneh yang menyenangkan, tapi kaupun seorang laki-laki yang menggemaskan!"

"Seperti apa yang kau katakan, mungkin aku adalah manusia macam begitu!"

Gadis berbaju perak itu segera tertawa cekikikan.

"Tapi aku amat suka denganmu!"

Tambahnya.

Perkataan itu diucapkan dengan jujur dan terbuka, dari atas wajahnya sama sekali tidak ditemukan kepalsuan atau kepura-puraan, bahkan sehabis mengucapkan kata tersebut ditatapnya wajah Gak Lam-kun dengan sinar mata penuh rasa cinta.

Diam-diam Gak Lam-kun merasa terkesiap, sengaja dengan suara dingin dia berkata.

"Apakah tujuanmu mengajak aku memasuki istana api ini hanya untuk menyampaikan kata-kata itu?"

"Bukan!"

Gadis berbaju perak itu menggelengkan kepalanya berulangkali.

"aku hendak menciptakan dirimu sebagai manusia yang paling tangguh didunia ini!"

Dengan cepat Gak Lam-kun menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Aku sama sekali tak berminat untuk menjadi manusia nomor satu dalam dunia ini, aku hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan budi dan dendam diantara kita berdua, asal ini sudah beres maka hatiku pun merasa puas, maksud baik nona biar kuterima dalam hati saja!"

Seusai berkata dia lantas putar badannya dan siap pergi meninggalkan tempat itu.

"Tunggu sebentar!"

Seru gadis berbaju perak itu mendadak sambil menyambar tangannya. Gak Lam-kun menjadi tertegun.

"Kau masih ada urusan apalagi?"

Pelan-pelan gadis berbaju perak itu menghela napas sedih.

"Apakah tujuan dari gurumu menyuruh kau datang kemari untuk menerima Lencana pembunuh naga ini?"

Ia bertanya.

"Sekali lagi Gak Lam-kun tertegun.

"Suhu sama sekali tidak meninggalkan pesan apa-apa, karena dia keburu sudah mati lebih dulu!"

Gadis berbaju perak itu segera tertawa sedih.

"Sungguh mengharukan dan kasihan, tapi ibuku jauh lebih mengenaskan lagi!"

Setelah gelengkan kepalanya berulangkali, tiba-tiba dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia berkata lebih jauh.

"Ketika suhumu menyerahkan Lencana pembunuh naga tersebut kepada ibuku dulu, dia pernah berkata bahwa dua puluh tahun kemudian jika ada seorang Jago lihay yang tiada tandingannya muncul di kolong langit, maka orang itu pasti adalah muridnya!"

"Ibu tidak percaya, setelah menerima Lencana itu dia bersumpah kepada gurumu dengan menyatakan bahwa dua puluh tahun kemudian Lencana pembunuh naga ini pasti akan terjatuh ketanganku, karena sumpah itu mereka berdua menjadi berselisih dan akhirnya mengakibatkan pertengkaran hebat."

Baru untuk pertama kali ini Gak Lam-kun mendengar kisah tentang gurunya, buru-buru dia berseru.

"Jadi kalau begitu Lencana pembunuh naga ini adalah benda yang harus diperebutkan diantara kita berdua?"

"Yaa, dalam kenyataan memang demikian, tapi agaknya aku sudah tiada harapan lagi!"

Gak Lam-kun tidak mengerti apa yang dimaksudkan sebagai tiada harapan lagi itu?

Tapi ia tahu bahwa hal ini pasti ada alasannya.

Pemuda ini tahu gurunya Tok liong Cuncu adalah manusia yang amat memandang tinggi soal nama, maka jika dia pernah bersumpah demikian, itu berarti gurunya telah memperhitungkan bahwa Lencana pembunuh naga itu pada akhirnya pasti akan menjadi miliknya.

Mendengar kisah tersebut Gak Lam-kun segera mengambil keputusan didalam hati, pikirnya.

"Suhu tewas dalam keadaan yang mengenaskan sebelum meninggal diapun meminta kepadaku untuk mencemerlangkan kembali namanya serta membalaskan dendam atas sakit hatinya, jikalau Lencana pembunuh naga memang benar merupakan benda yang dipersengketakan antara suhu dengan Thian san soat li, maka bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk mendapatkan benda itu"

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa terbahak-bahak dia lantas berkata.

"Masa depan nona masih terbentang luas, kenapa kau mengatakan kalau sudah tiada harapan lagi?"

Gadis berbaju perak itu menghela napas panjang.

"Sejak ibu melahirkan aku, ia sudah ditakdirkan untuk kalah, akupun telah bersiap-siap untuk tidak berebut denganmu, tapi dipihak yang lain sudah dipastikan akulah yang bakal menang, cuma dalam bagian apakah itu, maaf kalau aku tak bisa memberitahukan kepadamu!"

Kata-kata yang mengandung maksud mendalam ini sungguh membuat orang merasa bingung dan tercengang. Dengan cepat Gak Lam-kun menjura.

"Terima kasih banyak atas kesediaan nona untuk memenuhi harapanku, aku mengucapkan terima kasih lebih dulu!"

Gadis berbaju perak itu segera menangkap tangan pemuda itu, kemudian katanya.

"Sekarang aku boleh memegang tanganmu bukan?"

"Aku tidak tahu!"

Jawab Gak Lam-kun dengan wajah merah membara karena jengah. Gadis berbaju perak itu menghela napas sedih, katanya lagi.

"Kau jangan menganggap aku ini rendah dan tak tahu malu sengaja hendak bermesraan denganmu, sebab jika aku tidak berbuat demikian, maka jangan harap kau bisa memasuki istana api ini!"

Walaupun diluar Gak Lam-kun tidak berkata apa-apa lagi, namun dalam hatinya merasa amat setuju dengan kata-kata tersebut...

Dengan sepasang biji matanya yang jeli, gadis berbaju perak, itu melirik sekejap kearahnya, tiba-tiba ia tertawa merdu.

Agaknya ia telah berhasil menebak suara hatinya, maka sambil tertawa kembali katanya.

"Apakah kau tidak merasa heran kenapa aku tidak takut dengan hawa panas disini?"

Gak Lam-kun ikut tertawa.

"Semenjak tadi aku sudah merasa keheranan, hanya saja aku tak tahu bagaimana harus bertanya!"

"Kesemuanya ini adalah disebabkan oleh khasiat Lencana pembunuh naga tersebut, diatas lapisan Lencana itu terdapat selapis batu kemala dingin yang berasal dari tanah bersalju, kemala dingin itu merupakan tandingan dari kobaran api disini, bila kau berada dekat denganku, maka kau tak akan merasa takut lagi dengan panasnya kobaran api ditempat ini..."

Begitulah, sambil bersenda gurau tanpa terasa mereka sudah masuk puluhan kaki lagi kedalam istana api.

Sementara itu jilatan api sudah membara diempat penjuru, disetiap sudut ruangan hanya gumpalan api yang membara saja yang dapat dijumpai, ini membuat pemandangan disitu berubah menjadi merah membara...

Keajaiban alam memang tak bisa dibicarakan dengan kata-kata, oleh karena mereka berdua memiliki kemala dingin yang merupakan tandingan hawa panas, maka kedua orang itu bisa lewat dengan selamat.

dimana mereka berjalan, disitu kobaran api menyingkir dengan sendirinya, bahkan tanah yang mereka laluipun ikut terasa menjadi dingin.

Gak Lam-kun merasakan suatu keanehan yang luar biasa, ia hampir tak percaya kalau dirinya masih bisa hidup segar bugar dalam istana api, tapi kenyataan berbicara demikian, sekalipun merasa heran juga tak ada gunanya.

Mendadak...

dari arah depan sana berkumandang suara auman yang aneh sekali.

Menyusul auman yang keras dan memekikkan telinga itu, terdengar suara gesekan tanah yang keras diikuti getaran gempa yang kuat melanda dinding batu disekitar sana.

Paras muka gadis berbaju perak itu kontan saja berubah hebat, serunya tertahan.

"Aduh celaka, naga api telah munculkan diri!"

"Naga api?"

Ulang Gak Lam-kun tak kalah kagetnya.

Baru selesai mereka berkata, tiba-tiba dari depan sana muncul sebuah makhluk aneh yang berbentuk mengerikan, empat buah mata raksasa yang menonjol keluar terpancang pada dua buah kepala aneh yang besar, sambil bergerak maju betul lidahnya yang merah tiada hentinya menyemburkan kobaran api besar.

Sejak dilahirkan didunia, belum pernah Gak Lam-kun menjumpai makhluk raksasa seaneh ini, saking kagetnya dia sampai berdiri mematung disana.

Selapis hawa murung menghiasi pula wajah nona berbaju perak itu, katanya.

"Sepanjang hidupnya makhluk aneh ini hanya makan api, sekarang kita tak bisa maju kedepan, entah bagaimana baiknya?"

"Apakah didunia ini tiada cara lain untuk menaklukkan mereka?"

Tanya Gak Lam-kun dengan perasaan tercekat. Gadis berbaju perak itu menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Untuk sesaat aku masih belum berhasil menemukan suatu cara yang baik untuk mengatasi hal ini!"

Mendadak naga api itu menjulurkan kepalanya yang besar dan menerjang kearah mereka berdua.

"Cepat mundur!"

Hardik Gak Lam-kun. Sambil menarik tangan gadis berbaju perak itu mereka mundur kebelakang, dengan cepat telapak tangan kanannya didorong kedepan...

"Blaam...!"

Oleh tenaga pukulan yang sangat dahsyat tersebut, tubuh naga api tersebut hanya goncang sedikit saja, bukan saja tidak menjadi takut sebaliknya malah meraung keras, mengikuti raungan yang amat dahsyat tersebut kobaran api yang membara dalam gua itu makin menghebat.

Gak Lam-kun segera merasakan silaunya sinar yang amat menusuk pandangan mata.

Gadis berbaju perak itupun menjerit kaget.

"Aduh mataku sakit benar!"

Tanpa mereka berdua sadari, kedua orang itu sudah terkena racun panas yang luar biasa dahsyatnya dalam dunia ini, untung saja tenaga dalam yang mereka miliki amat sempurna, sehingga racun itu tak sampai bekerja cepat.

Pada saat yang kritis inilah, mendadak gadis berbaju perak itu mengeluarkan lencana pembunuh naga dari sakunya, sambil menghela napas ia mengeluh.

"Bisa atau tidak melewati bencana ini, terpaksa kita harus tergantung pada tindakan ini!"

Lencana pembunuh naga itu segera diayunkan ketengah udara kemudian digoyangkan berulangkali.

Tiba-tiba suatu peristiwa aneh telah terjadi...

Tersorot oleh cahaya yang memancar keluar dari Lencana pembunuh naga tersebut, mendadak naga api itu mundur kebelakang dengan ketakutan bahkan sikapnya tampak mulai gugup.

Sambil maju kedepan, gadis berbaju perak itu segera membentak.

"Mengapa masih belum enyah dari sini?"

Naga api itu menjerit sedih, tanpa membuang waktu lagi binatang tersebut memutar badannya dan berlalu dari situ, dalam waktu singkat tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Setelah naga api itu lenyap dari pandangan, Gak Lam-kun baru menghembuskan napas lega keluhnya dihati.

"Oooh, sungguh berbahaya!"

Mereka berdua tak berani berhenti lebih lama lagi disitu cepat-cepat kedua orang itu angkat kaki dari sana dan melanjutkan perjalanannya masuk kedalam istana api.

Tiba-tiba...

kedua orang itu sama-sama berdiri tertegun.

Pada ujung istana api itu terdapat sebuah selokan kecil yang melingkar kesana kemari sebagai sungai, sungai itu telah menghadang merapatnya kobaran api lebih kedalam.

Tepat berseberangan dengan gua api itu, tampak rumput tumbuh dengan suburnya, aneka warna bunga menyiarkan bau yang harum semerbak, ternyata disitu terdapat sebuah tempat yang sangat indah bagaikan nirwana.

Diatas permukaan rumput nan hijau, lamat-lamat berlapiskan salju tipis yang menambah segarnya suasana...

Kejadian aneh memang bisa dijumpai didalam dunia yang penuh keajaiban ini, siapa yang akan menyangka kalau ditepi neraka yang panas bisa terdapat sebidang tanah yang subur dengan udara yang segar?

Tidak mengalami sendiri, siapapan tak akan percaya kalau hal ini merupakan suatu kenyataan.

Dengan wajah berseri dan penuh kegembiraan, gadis berbaju perak itu berteriak.

"Oooh... tempat ini sungguh merupakan sebuah tempat yang sangat indah sekali!"

Gak Lam-kun tertegun pula menghadapi kejadian itu, tiba-tiba ujarnya.

"Coba kau lihat!"

Mengikuti arah yang ditunjuk, dari bawah bunga sakura yang sedang mekar tiba-tiba muncul seorang gadis berbaju merah.

Dengan mengitari sungai kecil itu, dengan cepat mereka berdua lari mendekati gadis itu.

Gadis berbaju merah yang berdiri dibawah pohon bwe itu memiliki wajah yang cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan, ditambah suasana yang permai dan pemandangan indah disitu, membuat siapapun merasa seolah-olah dirinya sudah tiba didalam swargaloka.

Semua keajaiban yang terbentang dihadapannya ini membuat Gak Lam-kun tertegun dan berdiri termangu untuk beberapa saat, pikirnya.

Gadis berbaju perak ini sudah terhitung gadis cantik rupawan yang tiada keduanya didunia ini, tapi bila dibandingkan dengan gadis berbaju merah ini, maka ibaratnya kunang-kunang dengan rembulan, sungguh nyata sekali bedanya aku benar-benar tak percaya kalau didunia ini benar-benar terdapat gadis secantik ini!

Mendadak terdengar suara yang dingin tapi lembut berkumandang disisi telinga mereka...

Kedengaran gadis berbaju merah itu berkata.

"Kalian jangan menyentuh aku"

"Kenapa?"

Tanya gadis berbaju perak itu tertegun. Mencorong sinar tajam dari mata gadis berbaju merah itu, sahutnya pelan.

"Tubuh kasarku telah mati tapi sukmaku masih utuh, bila kau menyentuh diriku maka sepanjang masa aku tak dapat menitis kembali."

Gadis berbaju perak itu menjadi bergidik.

"Kau ini manusia atau setan?"

Bisiknya.

Paras muka gadis berbaju merah itu sama sekali tanpa emosi, kecuali sepasang biji matanya yang masih bisa bergerak, sekujur badannya seperti telah mati saja, berdiri kaku disitu tanpa berkutik barang sedikitpun juga.

Setelah menghela napas panjang, ia menerangkan.

"Sudah hampir enam puluh tahun lamanya aku berdiri terus disini, karena melanggar pantangan aku dikirim kemari oleh pemilik istana api, dan hari ini kalian telah datang kesini berarti aku bisa menitis kembali..."

"Enam puluh tahun? Apakah selama ini kau berdiri terus disitu?"

Tanya sang nona.

"Benar selama enam puluh tahun lamanya siang malam aku selalu berharap ada orang yang membawa lencana pembunuh naga datang kemari, akupun selalu berharap pendatang itu adalah seorang gadis kalau tidak..."

"Kenapa harus demikian tukas Gak Lam-kun keheranan.

"Hanya seorang gadis yang bisa membuatku menitis kembali, aku akan meletakkan sukmaku yang masih utuh dan tak mau membuyar ini kedalam tubuh kasar gadis tersebut, dengan demikian walaupun jasadku telah mati, sukmaku masih hidup..." (Tentang apa sebabnya bisa demikian? Hingga kini para ahli ilmu sukma masih giat melakukan penyelidikan).

"Jadi kalau begitu, kau hendak menggunakan tubuhku sebagai tempat penitipan sukmamu?"

Seru gadis berbaju perak itu terperanjat.

"Yaa benar, inilah keberuntunganmu!"

Sahut gadis berbaju merah itu, pada enam puluh tahun berselang aku Ang ih kim cha (tusuk kundai emas berbaju merah) adalah perempuan paling cantik didunia ini, setelah sukmaku masuk kedalam tubuh kasarmu, maka bukan saja kau akan menjadi gadis paling cantik didunia ini, kaupun akan menjadi manusia yang paling tinggi ilmu silatnya diseantero jagad..."

Pada saat itulah mendadak Gak Lam-kun menyeka matanya dengan kesakitan sambil mengeluh.

"Aduh... kenapa dengan mataku..."

Gadis berbaju merah itu menjawab.

"Kalian sudah terkena serangan racun api yang menyusup kedalam tubuh kalian berdua, walaupun lencana pembunuh naga bisa melawan pengaruh racun api itu, namun hanya mata yang tak sanggup menahan diri, dalam satu jam mendatang kalian akan menjadi buta!"

Habis-habislah sudah segala sesuatunya, kalau Gak Lam-kun benar-benar menjadi buta maka segala sesuatunya benar-benar akan selesai...

"Oooh... tak mungkin..."

Keluh Gak Lam-kun sambil menggosok terus matanya yang sakit.

"Kalian tak usah panik"

Kembali gadis berbaju merah itu berkata, dibawah kakimu terdapat sebuah bunga bwe merah, disitu terdapat dua lembar daun yang lebar, bunga itu tumbuh oleh panasnya api dari dasar bumi, jika kalian berdua memakannya maka bukan saja racun yang menyerang mata kalian akan sembuh dengan sendirinya, bahkan bisa pula membuat kalian berdua selamanya memiliki tenaga yang melampaui siapapun dan tiada tandingannya didunia ini..."

Ketika gadis berbaju perak itu menundukkan kepalanya dan memperhatikan tempat yang dimaksud, benar juga, ia temukan disitu tumbuh sebuah pohon bunga bwe yang berwarna merah membara, disisinya tumbuh dua lembar daun yang berwarna merah pula seperti darah, daun itu tampak segar, merah dan menyenangkan.

Cepat-cepat mereka berdua memetik daun itu dan ditelannya, betul juga, tak lama kemudian mata mereka yang sakit telah sembuh kembali seperti sedia kala.

Pelan-pelan gadis berbaju merah itu berkata lebih lanjut.

"Adapun tujuan adanya Lencana pembunuh naga dalam dunia adalah untuk menolong diriku dari penderitaan, orang yang akan menolongku ini bisa memperoleh tambahan tenaga dalam sebesar puluhan tahun hasil latihan, itulah yang diinginkan oleh setiap umat persilatan yang berada didunia ini..."

Mendadak paras muka Gak Lam-kun berubah menjadi merah membara, dari balik matanya tiba-tiba memancar keluar serentetan sinar yang aneh sekali.

Sedangkan gadis berbaju perak itupun memperlihatkan gejala yang sama, sepasang pipinya berubah menjadi merah membara bagaikan buah tho yang masak merah diantara putih yang menyelimuti pipinya membuat ia tampak lebih cantik.

Suatu gejolak api asmara yang tiba-tiba membara dalam dada Gak Lam-kun membuat pemuda itu tak sanggup mengendalikan diri akhirnya seperti harimau kelaparan ia menubruk kedepan lalu merangkul gadis berbaju perak itu erat-erat.

Ketika tubuhnya disambar oleh pemuda itu ternyata gadis berbaju perak itupun menjatuhkan diri kedalam pelukannya malah kemudian ia balas merangkul pemuda itu dan menempelkan bibirnya yang mungil itu keatas bibir Gak Lam-kun.

Ketika empat lembar bibir saling menempel dan berciuman, tubuh mereka berdua sama-sama bergetar keras.

Membutuhkan...

membutuhkan...

tiba-tiba muncul suatu kebutuhan mendadak dalam hati mereka berdua.

Sambil memejamkan matanya, kata nona berbaju merah itu.

"Barang siapa mendapatkan Lencana pembunuh naga dia harus menjadi suami istri, ini sudah ditakdirkan semenjak dulu. Ketahuilah bunga bwe merah yang kalian makan itu adalah Yen yang bwe (bunga bwe perjodohan), jika birahi yang merangsang ditubuh kalian tidak disalurkan, maka darah dalam tubuh kalian akan meledak yang mengakibatkan kematian secara mengerikan!"

Kata-kata tersebut diucapkan dengan nada wajar, seakan-akan hal mana sudah pasti akan terjadi.

Namun kata-kata terakhirnya itu sudah tidak terdengar lagi oleh Gak Lam-kun maupun gadis berbaju perak itu, mereka hanya merasakan pergolakan napsu birahi yang sangat hebat didalam hatinya, membuat siapapun tak sanggup mempertahankan diri.

Api birahi telah berkobar dalam dada Gak Lam-kun, tiba-tiba ia berbisik lirih.

"Adikku sayang, aku ingin..."

"Ehmm... aku... akupun ingin..."

Sahut nona berbaju perak itu lirih.

"Bersediakah kau serahkan kesucianmu kepadaku!"

Bisik Gak Lam-kun lagi dengan kesadaran makin punah. Kesadaran si nona berbaju perakpun sudah makin pudar, dengan suara merayu sahutnya.

"Pintu kesucian telah lama menanti kedatangan kekasih, ooh engkoh Kun... cepatlah labuhkan sampanmu dalam dermagaku..."

Dengan gerakan yang cepat, Gak Lam-kun mulai melepaskan pakaiannya satu persatu...

dari gaun, baju dalam, sampai celana dalamnya...

kemudian membelai, meremas dan merabanya dengan penuh kenikmatan...

Dalam waktu singkat, nona berbaju perak itu telah berada dalam keadaan bugil, tubuh yang putih dan mulus bagaikan salju ternyata memiliki sepasang payudara yang montok dan menggairahkan, pahanya yang setengah terbuka yang memperlihatkan sebuah jalur merah yang menongol keluar disekeliling hutan bakau lebat...

Gak Lam-kun tak sanggup menguasai diri lagi, terutama sesudah menyaksikan belahan "selokan"

Yang merah merekah itu...

mendadak ia tanggalkan pula semua pakaiannya lalu menubruk keatas tubuh gadis itu, menindihnya...

merabanya...

meremas payudaranya...

dan sampan pun melabuh dengan tenangnya memasuki dermaga.

Titik-titik merah menghiasi tanah rerumputan nan hijau...

Gak Lam-kun tak sanggup mengendalikan birahinya lagi, ia peluk tubuh gadis berbaju perak itu erat-erat, menggerakkan tubuhnya dengan penuh gairah...

matanya terpejam rapat, sementara bibirnya merintih melagukan irama syahdu...

Tampaknya gadis berbaju perakpun tak sanggup mengendalikan kobaran napsu dalam hatinya, dia imbangi gerakan kekasihnya dengan suatu permainan yang menawan hati...

Dengan napas yang memburu, tetesan keringat yang membasahi tubuh serta rintihan kenikmatan menciptakan serangkaian pemandangan yang menawan hati...

Pada saat puncak kenikmatan inilah, mendadak...

nona berbaju merah yang berdiri kaku itu jatuh keatas tanah dengan memperdengarkan suara keras.

Menyusul kemudian gadis berbaju perak dan Gak Lam-kun tergetar keras tubuhnya, dengan cepat mereka tersadar kembali dari pengaruh birahi masing-masing...

Nasi telah menjadi bubur, sampanpun telah berlabuh didermaga, sepasang muda mudi itu hanya bisa saling berpandangan dengan mata terbelalak dan muka terheran-heran...

Akhirnya meledaklah isak tangis yang memilukan hati dari nona berbaju perak itu.

Ini semua membuat Gak Lam-kun merasa pikirannya makin kalut, ia merasa makin bersedih hati.

Isak tangis gadis berbaju perak itu sungguh memedihkan hati, ia merasa tidak seharusnya keperawanannya hilang dengan begitu saja, atau paling tidak, ia harus dilamar lebih dahulu secara resmi sebelum mempersembahkan kesucian tubuhnya kepada anak muda tersebut.

Dengan isak tangis yang tertahan, diapun berbisik.

"Engkoh Kun, sejak kini tubuhku sudah menjadi milikmu...!"

Gak Lam-kun merasa hatinya sakit sekali bagaikan diiris-iris dengan pisau, diam-diam ia memaki diri sendiri.

"Gak Lam-kun wahai Gak Lam-kun... kau telah merusak keperawanan Ji Cin peng, sekarang merusak pula keperawanan gadis ini, begitu tegakah hatimu untuk melakukan kesemuanya itu? Ingatlah, Ji Cin peng mati lantaran kau."

Dengan pikiran yang kalut, ia lantas mengangguk berulangkali.

"Aku tahu, aku dapat menjaga dirimu baik-baik!"

"Apakah kau hanya akan menjaga diriku saja?"

Tanya si nona berbaju perak itu dengan wajah tak senang. Tercekat hati Gak Lam-kun.

"Tidak!"

Buru-buru sahutnya.

"aku dapat mencintaimu sedalam-dalamnya...!"

Setelah nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang bisa dia lakukan kecuali mengakui kenyataan tersebut? "Semoga saja kau dapat berbuat demikian!"

Kata nona berbaju perak itu dengan sedih. Tiba-tiba terdengar Gak Lam-kun menjerit kaget.

"Haah...! Kau telah berubah!"

Betul, paras muka nona berbaju perak itu mulai terjadi suatu perubahan besar.

Ia berubah menjadi jauh lebih cantik daripada semula, cantiknya seperti sekuntum bunga mawar, berlipat-lipat kali lebih indah dan ayu daripada dahulu.

Ada satu hal lagi yang membuat Gak Lam-kun merasa tidak habis mengerti, yaitu raut wajah gadis berbaju perak itu makin lama berubah semakin mirip dengan wajah gadis berbaju merah itu, hakekatnya bagaikan pinang dibelah dua saja.

(Tentang mengapa bisa demikian, hingga kinipun kejadian tersebut masih berada dalam penyelidikan para ahli).

Nona berbaju perak itu meraba pipinya sendiri dengan penuh rasa tak percaya katanya.

"Benarkah aku telah berubah?"

Ia mengira wajahnya telah berubah menjadi jelek, sehingga timbul rasa sedih dalam hatinya.

"Kau berubah lebih cantik!"

Kata Gak Lam-kun lagi dengan penuh rasa kagum.

Mereka berdua segera tertawa, tertawa yang muncul dari dasar hati masing-masing kemudian saling berpelukan dengan penuh kemesraan.

OOOOfJOOOO OOO0O 100 000000000 Seperempat jam sudah lewat...

Seperempat jam kembali lewat...

Tiga perempat jam sudah berlalu dengan lambat.

Sudah hampir tiga jam lamanya Ji Cin peng menunggu diluar istana api.

Wajah yang murung dan sedih kian bertambah kesal, akhirnya titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Tak usah ditunggu lagi"

Bisiknya.

"sudah pasti Gak Lam-kun telah habis riwayatnya."

"Tidak!"

Kata Ji Kiu liong sambil menggoyangkan tangannya berulangkali.

"toako ku tak nanti akan mati!"

Pelan-pelan Ji Cin peng menggelengkan kepalanya.

"Tenaga manusia ada batasnya, siapakah dapat melawan kobaran api dalam istana tersebut? Adik Liong mari kita masuk!"

Katanya.

Seraya berkata, dengan langkah lebar dia masuk kedalam istana api tersebut.

Pada saat ini, tiga malaikat dari wilayah See ih sudah tak berani menghalangi mereka lagi, terpaksa ketiga orang jago tersebut menyingkir kesamping untuk memberi jalan lewat bagi Ji Cin peng.

"Buncu!"

Buru-buru si nenek berambut putih dari perguruan panah bercinta membentak.

"kobaran api didalam sana amat besar dan kuat, jika kau kesitu maka akan musnah jiwamu!"

Ji Cin peng segera berpaling dan tertawa sedih.

"Apakah aku harus berpeluk tangan belaka"

Katanya. Dengan sedih nenek berambut putih itu berkata.

"Aku tahu akan kesedihan yang mencekam hatimu, tapi perbuatan ini bukan perbuatan yang bisa dilakukan dengan keberanian belaka, siapa yang sanggup melawan api alam yang panas? Jika kau pergi seorang diri, itu sama pula artinya dengan membawa perguruan panah bercinta menuju kejurang kehancuran..."

"Baik!"

Kata Ji Cin peng kemudian sambil bertepuk tangan.

"mari kita pergi bersama!"

Ucapannya amat tegas sekali, kemudian dengan air mata bercucuran ia berjalan kearah luar. Tiba-tiba Ji Kiu liong berteriak keras.

"Kalian berangkatlah lebih dulu aku akan menunggu sehari semalam lagi disini, jika toako belum juga keluar aku baru akan pergi mencari kalian lagi..."

Hubungan batinnya dengan Gak Lam-kun memang mendalam sekali, ia merasa berat hati untuk meninggalkan tempat itu. Ji Cin peng manggut-manggut.

"Bagus sekali, kalau begitu akan kutunggu kedatanganmu didepan sana...!"

Katanya.

Para jago dari perguruan panah bercinta telah berlalu, Ji Cin peng dengan membawa hatinya yang hancur pun terpaksa harus pergi dari situ untuk menyelesaikan lebih dulu tugasnya yang belum selesai, tapi tak bisa dibayangkan betapa sedih dan menderitanya gadis itu...

ooooOoooo ooooOoooo ooooOoooo Dari kejauhan sana terdengar bunyi gema lonceng yang pelan, seakan-akan menyambut datangnya kesedihan bagi setiap manusia didunia ini...

Mendadak kilat menyambar-nyambar, diikuti suara gemuruhnya guntur membelah angkasa hujan turun dengan amat derasnya.

Diantara kilat yang menyambar-nyambar tiba-tiba tampaklah dua sosok bayangan manusia sedang berlarian ditengah hujan yang amat deras.

Karena apa kedua orang itu melakukan perjalanan ditengah badai hujan begini?

Dilihat dari langkah mereka yang tergesa-gesa dapat diketahui bahwa suatu peristiwa besar tentu telah terjadi disana.

ooooOoooo Sambil membuat air hujan yang bercampur dengan peluh, Kiu wi hou (rase berekor sembilan) Kongsun po dari bukit Hoa san berkata.

"Saudara Say, percayakah kau dengan kejadian tersebut?"

Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say khi pit segera tertawa seram.

"Tidak percaya pun juga apa boleh buat"

Jawabnya.

"bukankah kita sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri atas kemunculan Tok liong cuncu? Dulu Gak Lam-kun yang menyamar sebagai Tok liong Cuncu, tapi sekarang... siapa pula yang menyamar?"

Kongsun Po tertawa dingin, katanya.

"Menurut pendapatmu, mungkinkah Tok liong Cuncu mempunyai seorang murid lagi..."

"Tidak mungkin, tidak mungkin, selamanya perguruan Tok liong pay tak pernah mempunyai murid rangkap..."

Sahut Giok bin sin ang Say Khi pit dari bukit Siau ngo tay sambil gelengkan kepalanya berulangkali.

Sebetulnya kedua orang itu masih berminat untuk mengincar Lencana pembunuh naga, tapi sejak mendengar kabar tentang munculnya Tok liong Cuncu, setelah melakukan penyelidikan secara diam-diam, masing-masing segera kabur karena ketakutan, tapi sekarang mereka muncul kembali disana.

Kiu wi hou (si rase berekor sembilan) Kongsun Po terkekeh-kekeh dengan seramnya.

"Heeehh... heeehh... heeehh... perduli amat apakah Tok liong Cuncu asli atau palsu, hari ini kita harus mencarinya sampai ketemu..."

Mendengar perkataan itu Kakek sakti berwajah pualam Say Khi phit segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... tentu saja, tentu saja jika hari ini kita tak dapat membuktikannya mungkin hati kita semua menjadi tak tenang, sekalipun Yan Lo-sat (perempuan iblis cantik) Hong Im sendiripun tak akan merasa lega..."

"Benar, benar sekali"

Sambung Kongsun Po lagi sambil tertawa.

"sehari Tok liong Cuncu belum dilenyapkan dari muka bumi, berarti sehari pula kehidupan kita harus dilewatkan dengan hati tak tenang, cuma... walaupun hari ini kita akan dibantu oleh Yan Lo-sat, bagaimanapun juga harus lebih berhati-hati..."

Say Khi pit tertawa terbahak-bahak.

"Kedatangan nona Hong im kali ini meski diluaran seperti hendak menyelidiki jejak Tok liong Cuncu, agaknya diam-diam bukan itu tujuan kedatangannya, agaknya dia datang dengan membawa suatu rencana tertentu..."

Kongsun Po menjadi tertegun.

"Darimana kau bisa tahu?"

Tanyanya. Say Khi pit segera tertawa dingin.

"Mungkin persoalan ini dapat mengelabuhi orang lain, tapi jangan harap bisa mengelabuhi diriku.."

Mendadak...

Dari balik hujan yang deras muncul sesosok bayangan manusia yang segera menghadang jalan pergi kedua orang itu.

Dalam lamat-lamatnya cuaca, sulit bagi kedua orang itu untuk melihat jelas paras muka lawan, mereka hanya merasa bahwa orang itu adalah sesosok bayangan hitam yang tinggi besar.

Dengan perasaan terkesiap, Say Khi pit segera membentak.

"Siapa disitu?"

Orang itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh... haahh... haahh... pokoknya bukan Tok liong Cuncu..! Jangan kuatir?"

Jawabnya latah. Diam-diam Kongsun Po terkesiap.

"Apakah kau adalah sekomplotan dengan mereka..."

"Heehmm... Lui sim cian masih bukan terhitung manusia semacam itu?"

Jawab orang itu seraya mendengus.

Orang itu bukan lain adalah Jit poh lui sim ciam (panah inti geledek yang mencabut nyawa dalam tujuh langkah) Lui Seng thian adanya.

Pelan-pelan ia berjalan menghampiri kedua tokoh persilatan itu.

Lega hati Say Khi pit setelah mengetahui siapa yang datang, ia tertawa terbahak-bahak.

"Haahh... haahh... haahh... saudara Lui, kau menunggu kedatangan kami ditengah hujan deras, tolong tanya ada urusan apa?"

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian kembali tertawa seram.

"Kalian berdua melakukan perjalanan sendiri ditengah bukit yang gersang apakah tidak merasa bahwa tindakanmu itu terlalu berbahaya?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan seketika itu juga dua orang jago lihay tersebut menjadi amat terperanjat, tanpa sadar masing-masing mundur selangkah kebelakang.

Kongsun Po memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya.

"Saudara Lui kau bukan sedang bergurau bukan?"

Lui Seng thian segera mendengus dingin.

"Hmmm! Tanggung aku bukan lagi beromong besar untuk menakut-nakuti kalian dewasa ini pihak perguruan panah bercinta, pihak Thi eng pang dan See thian san tidak melakukan pergerakan apa-apa, menunggu dengan tenang... haahh... haahh... saudara berdua, coba kalian berpikirlah sendiri"

Sengaja ia menghentikan perkataannya itu dan tidak melanjutkan kembali, hal ini membuat Say Khi pit dan Kongsun Po menjadi tak sabar untuk menanti, diam-diam mereka gemas akan kekejaman orang.

Buru-buru Kongsun Po tertawa lalu katanya.

"Saudara Lui, buat apa kau berlagak tuli dan bisu? Bicaralah yang jelas dan terang!"

Lui Seng thian tertawa bangga, katanya.

"Kalian berdua sama-sama terhitung seorang tokoh persilatan, apakah kau sama sekali tak tahu akan peristiwa yang telah terjadi belakangan ini"

Kongsun Po serta Say Khi pit segera gelengkan kepalanya berulangkali, mereka termangu dan merasa tidak habis mengerti. Lui Seng thian segera tertawa seram ujarnya.

"Konon Gak Lam-kun serta Thian san soat li telah masuk kedalam istana api..."

Mendengar kabar itu, Say Khi pit kontan saja membelalakkan sepasang matanya lebarlebar.

"Apakah mereka telah berhasil menemukan ruang rahasia penjagal naga...?"

"Seperti yang kau duga, kemungkinan besar ruang rahasia pembunuh naga itu telah mereka temukan..."

Kongsun Po menjadi cemas sekali, buru-buru katanya pula.

"Saudara Lui, tahukah kau benda-benda apa saja yang terdapat dalam ruangan itu?"

Sengaja Lui Seng thian gelengkan kepalanya berulangkali.

"Aku sendiri juga kurang begitu jelas, konon dalam ruang rahasia pembunuh naga terdapat dua tiga macam benda mustika yang sangat langka didunia ini, siapa yang berhasil menemukannya, dia akan menjadi seorang jago persilatan yang tiada taranya didunia ini..."

Kata-kata yang diucapkan dengan serius melukiskan seakan-akan peristiwa itu sebagai benar-benar telah terjadi. Say Khi pit segera bertepuk tangan, teriaknya.

"Kalau begitu kita harus pergi menyaksikannya"

Diam-diam Lui Seng thian merasa girang, ujarnya.

"Jika kalian berdua mau bekerja sama dengan lohu, dalam perebutan mestika diruang rahasia pembunuh naga nanti, mungkin saja masih ada beberapa bagian harapan..."

Kongsun Po tertawa seram.

"Heeehh... heeehhh... heeehh... rupanya kau sedang mengajak kami untuk berkomplotan"

Lui Seng thian tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahhh... haaahhh mungkin saja lohu memang berhasrat untuk berbuat demikian, tapi sepenuhnya juga demi kalian berdua."

"Karena kami berdua"

Tanya Say Khi pit agak tertegun.

"Betul, coba kalian bayangkan, andaikata kita berhasil mendapatkan barang-barang itu maka dunia persilatan sudah tidak terdapat seorang manusiapun yang bisa menandingi kita, sedangkan kalian berduapun tak usah takut lagi kepada Tok liong Cuncu!"

Setelah berhenti sejenak katanya lebih jauh.

"Adapun tindakan lohu untuk mengajak kalian berkomplot adalah atas dasar dua alasan, pertama kekuatan lohu seorang tidak cukup, belum mungkin bagiku untuk bertarung melawan pihak Thi eng pang dan perguruan panah bercinta, kedua karena tahun belakangan ini nasibku kurang mujur, lohu ingin sekali mengajak kalian berdua untuk bersama-sama melakukan suatu usaha besar"

Haruslah diketahui, mereka bertiga semuanya merupakan gembong-gembong iblis yang tiada taranya dalam dunia persilatan, meskipun diluaran kata-katanya merdu dan enak didengar, padahal secara diam-diam mereka sedang saling beradu kecerdasan.

Kongsun Po segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bagus sekali kalau begitu, kita tetapkan demikian saja!"

Katanya.

"Lohupun tidak punya usul lain?"

Sambung Say Khi pit dengan suara menyeramkan. Dengan mempunyai tujuan sendiri-sendiri, sudah barang tentu mereka bersepakat untuk berkomplot. Sambil tertawa dingin Lui Seng thian lantas berkata.

"Seandainya kerja sama ini bisa berhasil, maka dunia akan menjadi milik kita bertiga!"

"Besar amat kata-kata kalian itu!"

Mendadak seseorang berseru sambil tertawa ringan.

Ucapan yang muncul secara tiba-tiba itu membuat ketiga orang jago tersebut menjadi tertegun, mereka tidak menyangka kalau masih ada orang yang bersembunyi disisi mereka bertiga, mendengar ucapan itu, dengan perasaan terperanjat serentak mereka memencarkan diri dan menubruk kearah tiga arah yang berlainan.

Tapi tak seorang manusiapun yang tampak disitu, merekapun tidak berhasil mengetahui sumber datangnya ucapan itu.

Dengan gusar Lui Seng thian membentak.

"Kiranya hanya manusia bangsa tikus yang tak berani bertemu dengan manusia!"

Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, mendadak orang yang bersembunyi dibalik kegelapan itu tertawa dingin.

"Anjing bermata buta yang tak tahu diri!"

Mengikuti ucapan tersebut dari tengah udara melayang datang seorang perempuan yang cantik jelita. Menyaksikan kemunculan perempuan tersebut, kontan saja sekujur tubuh Say Khi pit gemetar keras.

"Nona Hong im...!"

Bisiknya. Orang itu memang tak lain adalah Yan Lo-sat (iblis perempuan berwajah cantik). Dengan wajah sedingin es Yan Lo-sat mendengus dingin, kemudian tubuhnya bergerak maju kedepan.

"Siapakah kalian berdua? Kenapa begitu takabur dan tak tahu diri?"

Tegurnya dengan suara dingin. Buru-buru Kongsun Po maju kedepan seraya berkata.

"Kita semua adalah orang sendiri, nona Hong harap kau jangan marah-marah dulu"

Yan Lo-sat mengerling sekejap kearahnya kemudian mengejek.

"Siapa yang sudi menjadi orang sendiri denganmu!"

Tiba-tiba Kongsun Po merasa dibalik perkataannya ada penyakit tak kuasa lagi merah padam wajahnya, ia menjadi tersipu-sipu.

"Nona, kenapa kau musti gusar?"

Katanya sambil tertawa jengah.

Dari ucapannya itu dapat ditangkap betapa jeri dan takutnya jago ini terhadap perempuan tersebut, membuat Lui Seng thian yang menyaksikan kejadian itu merasa tidak habis mengerti.

Ketika dilihatnya semua ucapan yang diutarakan perempuan itu amat menyudutkan orang, Lui Seng thian menjadi naik pitam sambil tertawa seram katanya.

"Siapa kau?"

Yan Lo-sat Hong Im mendengus dingin.

"Hmm! Kalau cuma nyonya besar saja tidak kenal buat apa kau melakukan perjalanan dalam dunia persilatan?"

Serunya. Ucapan tersebut semakin menggusarkan Lui Seng thian ia segera membentak.

"Rupanya kau ingin mampus!"

Wees...! Sepasang tinjunya segera diayunkan kedepan melancarkan serangkaian pukulan berantai. Hong Im segera tertawa sinis.

"Hmm... tampaknya masih terhitung hebat juga tenaga pukulan itu...!"

Ejeknya.

Dengan suatu gerakan yang enteng ia mengegos kesamping, kemudian dengan gesitnya meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Dari kejauhan telapak tangannya diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yang sangat kuat bagaikan hembusan angin puyuh dengan cepat meluncur kedepan.

Terkesiap Lui Seng thian menghadapi serangan itu, pikirnya.

"Waah... agaknya perempuan ini mempunyai ilmu simpanan yang mengerikan hati!"

Dengan cepat ia berkelit pula kesamping lalu sepasang telapak tangannya diayunkan kembali kedepan.

"Blaam...!"

Suatu benturan keras yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.

Tubuh Lui Seng thian segera tergetar mundur sejauh puluhan langkah lebih, dadanya naik turun, napasnya tersengal-sengal, hampir saja ia muntahkan darah segar...

Sebaliknya Yan Lo-sat Hong Im cuma tergetar sedikit tubuhnya, dari keadaan tesebut dapat diketahui bahwa tenaga kekuatan yang dimiliki Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan gadis tersebut.

Buru-buru Say Khi pit maju kedepan sambil melerai, katanya sambil tertawa.

"Kita semua adalah orang sendiri, harap kalian berdua jangan menganggap sungguhsungguh pertarungan ini..."

Cepat Yan Lo-sat Hong Im mendorongnya kebelakang, katanya.

"Jika manusia atau semacam ini tidak diberi sedikit pelajaran, dia tentu tak akan tahu tingginya langit dan tebalnya bumi..."

Tiba-tiba Lui Seng thian mendongakkan kepalanya dan tertawa seram...

Selama setengah abad melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, belum pernah dia mengalami kejadian seperti hari ini, bukan saja dipermainkan seorang perempuan bahkan dihina, diejek dan dicemooh.

"Baik."

Katanya kemudian sambil tertawa seram.

"lohu akan beradu jiwa denganmu!"

Paras mukanya segera berubah menjadi serius, senyuman yang semula menghiasi wajahnya kontan saja lenyap tak berbekas.

Segenap tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun menjadi satu dengan berdiri tegak bagaikan pagoda, ia memang kelihatan lebih berwibawa dan gagah.

Yan Lo-sat agak tercekat juga menyaksikan sikap tenang lawan, pikirnya.

"Sungguh tak kusangka sewaktu tertawa maupun marah, ia masih dapat menjaga ketenangan hatinya, dilihat dari sikap tenangnya yang begitu mantap, rasanya sulit untuk menemukan beberapa orang yang bisa menandinginya dalam dunia persilatan..."

Meskipun dalam hati ia merasa tercekat, namun paras mukanya masih tetap seperti sedia kala, katanya dengan dingin.

"Dalam dua puluh gebrakan, kau pasti akan menderita kekalahan total ditanganku!"

Siapa tahu bukan menjadi marah, Lui Seng thian malahan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... benarkah?"

Sikapnya ini sebaliknya malah mendatangkan perasaan makin tercekat dalam hati Yan Lo-sat Hong Im, dalam anggapannya Lui Seng thian pasti akan menjadi gusar setelah dihina olehnya, siapa tahu dia malahan sanggup untuk mempertahankan diri.

Dengan perasaan tercekat segera katanya.

"Aku akan mengalah tiga jurus kepadamu, nah sekarang silahkan turun tangan lebih dulu!"

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang santai dan pelan, dari wajahnya juga tidak menemukan rasa kaget atau takut, malahan terlintas selapis hawa dingin yang tawar, seakan-akan sama sekali tidak memandang sebelah matapun kepadanya.

Lui Seng thian tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... daripada menolak lebih baik aku menurut saja, maaf kalau lohu akan turun tangan lebih dahulu..."

Tiba-tiba tubuhnya bergerak maju kedepan telapak tangan kanan dan kirinya secepat kilat menghajar jalan darah Ki sou hiat ditubuh Hong Im.

"Sebuah jurus Kim tui ki see (palu emas menghantam barat) yang sangat bagus!"

Puji Yan Lo-sat sambil berkelit kesamping.

Gaya tubuhnya sangat indah tampaknya seakan-akan tidak menggunakan tenaga barang sedikitpun ini membuat Say Khi pit dan Kongsun Po yang berada disisi kalangan merasa makin takluk diam-diam mereka bersorak memuji didalam hati.

Gagal dengan serangannya, Lui Seng thian segera berubah jurus, tubuhnya berputar kencang kemudian dari jurus Siau ci tham lam (sambil tertawa menuding langit selatan) dia merubahnya menjadi jurus Muk ku ceng ciong (tambur senja lonceng pagi) serta San tian lui beng (lari secepat sambaran kilat).

Ketiga jurus serangannya itu hampir boleh dibilang dilancarkan pada saat yang bersamaan.

Diam-diam terkesiap juga Hong Im menghadapi serangan lawan itu, serunya tertahan.

"Ooh... rupanya ada simpanan juga!"

Dengan kecepatan tinggi telapak tangannya dibalik, kemudian ia melepaskan sebuah tendangan kilat.

Jurus serangan ini digunakan bukan saja dengan gerakan yang aneh dan sakti, kekuatannya juga luar biasa, membuat Lui Seng thian menjadi termangu-mangu dibuatnya.

Dalam keadaan seperti ini, mau tak mau ia harus menarik kembali serangannya sambil mundur, kalau tidak maka tendangan yang sangat aneh itu akan segera menghajar diatas lambungnya.

Dalam waktu singkat dua orang itu sudah bertarung sekitar dua puluh gebrakan lebih.

Mendadak Hong Im membentak keras.

"Enyah kau dari sini!"

"Blaaam..."

Suatu benturan yang sangat keras berkumandang memecahkan keheningan, tiba-tiba sesosok bayangan manusia terlempar ketengah udara.

Paras muka Lui Seng thian berubah menjadi mengenaskan sekali, noda darah mulai meleleh membasahi bibirnya.

Setelah tertawa pedih, katanya.

"Lohu akan beradu jiwa denganmu"

Seusai berkata, dengan suatu gerakan yang cepat dia menerjang kemuka, dengan cepat suasana dalam gelanggangpun mengalami perubahan yang sangat besar. Terdengar Hong Im menjerit kaget.

"Haaah... jit poh lui sim ciam!"

Lui Seng thian segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau tahu kalau panah ini adalah jit poh lui sim ciam? Sayang segala sesuatunya telah terlambat...!"

Pada saat yang kritis itulah tiba-tiba Kongsun Po melompat kedepan dan menghadang dihadapan Lui Seng thian, ujarnya.

"Saudara Lui apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu ini adalah membesar-besarkan suatu persoalan yang kecil?"

Dengan anak panah inti geledek siap ditangan, Lui Seng thian menjawab dengan penuh kebencian.

"Aku tak akan memperdulikan hal-hal semacam itu lagi!"

"Apakah kau sudah lupa dengan apa yang kau katakan tadi?"

Buru-buru kongsun Po berbisik kembali. Mendengar ucapan tersebut, seperti baru sadar saja dari impian, Lui Seng thian terperanjat, kemudian serunya dengan cepat.

"Saudara Say, saudara Kongsun cepat ikuti lohu!"

Seusai berkata, dengan langkah lebar dia bergerak lebih dahulu meninggalkan tempat itu. Hong Im segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... aku sudah tahu kalau dia tak akan membidik diriku!"

Say Khi pit segera tertawa, umpaknya.

"Sekalipun anak panah Jit poh lui sim ciam sudah dibidikkan juga belum tentu bisa melukai seujung rambutmu!"

Sementara itu, Lui Seng thian yang menyaksikan Kongsun Po, serta Say Khi pit belum juga mengikuti dari belakang, tanpa terasa segera berpaling sambil menegur.

"Saudara Say, saudara Kongsun, kalau kalian berdua enggan untuk berkomplot dengan lohu, maka kita batalkan saja pembicaraan tadi sampai disini saja"

Say Khi pit segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahhh... haaaahhh... harap saudara Lui jangan banyak curiga, lohu segera akan mengikuti dirimu!"

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian kembali mendengus dingin, kemudian melanjutkan kembali perjalanannya. Yan Lo-sat Hong Im tiba-tiba bertanya dengan suara dingin.

"Sudahkah Tok liong cuncu munculkan diri."

"Belum!"

Kongsun Po segera menggelengkan kepalanya berulangkali. Yan Lo-sat Hong Im menghela napas panjang, bisiknya kemudian.

"Semoga saja malam nanti kita bisa berjumpa kembali...!"

Berbicara sampai disitu dia menghela napas dan mendongakkan kepalanya memandang awan diangkasa, untuk sesaat lamanya dia hanya termangu-mangu belaka terbuai lamunan.

Lama, lama sekali, dia baru menarik kembali lamunannya seraya berkata.

"Secara garis besarnya aku telah melakukan peninjauan kearah pulau ini, memang tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang sangat misterius..."

Say Khi pit menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia bertanya.

"Nona, jangan-jangan kaupun datang untuk mendapatkan Lencana pembunuh naga?"

Sambil menghela napas panjang Hong Im menggelengkan kepala berulangkali.

"Bukan, yang terutama kedatanganku kemari adalah untuk mencari susiokku"

"Susiokmu? Siapa namanya?"

Tanya Kongsun Po keheranan, Hong Im berpikir sejenak kemudian ia menjawab.

"Hoa ih kim cha (tusuk konde emas berbaju merah)!"

Mendengar nama itu, Say Khi pit tampak sangat terkejut sehingga wajahnya berubah serunya tertahan.

"Apakah orang yang disebut sebagai perempuan paling cantik didunia pada enam puluh tahun berselang?"

Hong Im segera mengangguk.

"Yaa, aku selalu curiga kalau dia bersembunyi ditempat ini, tapi hingga detik ini jejaknya belum juga berhasil kutemukan..."

Mendadak...

Dari kejauhan sana berkumandang suara tertawa panjang yang memekikkan telinga, menyusul kemudian tampak sesosok bayangan putih berkelebat lewat dan lenyap kembali dalam waktu singkat.

Paras muka Hong Im segera berubah sangat hebat serunya.

"Orang ini sudah sehari semalam menguntil terus dibelakangku sekarang lagi-lagi dia munculkan dirinya, aku harus segera pergi dari tempat ini..."

Sekali berkelebat tubuhnya sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula, kemudian dalam waktu singkat tubuhnya sudah lenyap dibalik kabut dan hujan yang deras.

Dikala Yan Lo-sat sedang berangkat pergi itulah, tiba-tiba dari arah istana api memancar keluar sebuah jalur sinar emas yang amat menyilaukan mata.

Dengan cepat Say Khi pit bergerak maju, serunya.

"Hayo cepat berangkat, kemungkinan besar pertarungan sudah berkobar disana. Dengan kecepatan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, berangkatlah kedua orang itu menuju kedepan, tak selang beberapa lama kemudian istana api telah berada didepan mata. Dari kejauhan terlihatlah Thi eng sin siu Oh Bu hong dari perkumpulan Thi eng pang sedang terlibat dalam suatu pertempuran yang amat seru melawan malaikat pedang Siang Ban im dari See ih sam seng. Ketika Jit poh lui sim ciam menyaksikan bala bantuannya telah tiba, dengan suara lantang dia lantas berseru.

"Saudara berdua cepat kemari! Pertunjukkan bagus segera akan dimulai..."

Dengan pandangan mata yang dingin dan sinis Si Tiong pek memandang sekejap kesekeliling gelanggang, kemudian jengeknya sambil tertawa dingin.

"Oooh... rupanya kalian adalah sekomplotan!"

Kongsun Po tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... pertemuan semacam ini sulit dijumpai dalam dunia persilatan sudah barang tentu kami harus manfaatkan kesempatan semacam ini untuk menambah pengetahuan!"

Mendadak terdengar malaikat pedang Siang Ban im membentak nyaring.

"Orang she Oh, kau benar-benar sanggup untuk masuk kedalam?"

Oh Bu hong tertawa tergelak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... lohu sudah mempunyai cara yang praktis untuk mengendalikan hawa panas didalam, asal kalian ijinkan diriku untuk masuk kedalam, lohu yakin pasti dapat masuk kedalam dengan leluasa"

"Aku tidak percaya kalau didunia ini masih ada orang yang mampu..."

Bentak malaikat pedang. Oh Bu hong segera menukas kata-katanya yang belum selesai itu.

"Lohu telah berhasil mendapatkan Lam-hay beng cu (mutiara mustika dari laut selatan), kalau tidak percaya silahkan saja menyingkir dari sini"

Selesai berkata dengan langkah lebar dia lantas berjalan masuk kedalam istana api.

Mendadak...

Dari dalam istana api berkumandang suara auman keras yang amat memekikkan telinga...

Mendengar suara pekikan yang mengerikan itu, Si Tiong pek menjadi terperanjat, serunya.

"Suhu, apaksh suara keras itu adalah suara dari naga api yang konon tersiar dalam dunia persilatan.

"Benar!"

Jawab Oh Bu hong.

"kalian cepat pertahankan tempat itu, kemungkinan besar dia akan munculkan dirinya!"

Belum habis perkataan itu diucapkan tiba-tiba dari balik istana api menyembur keluar sebuah jalur api yang membara.

Begitu menyaksikan semburan api itu, See ih samseng cepat-cepat melayang keluar dari tempat itu.

Sedangkan Oh Bu hong segera membentak gusar.

"Lohu akan masuk kedalam!"

Ternyata seperti apa yang dia katakan, ketika semburan api itu menyentuh tubuhnya ternyata tidak menimbulkan kebakaran atas badannya, malahan begitu selesai berkata, badannya segera menyerbu kedalam dan sekejap kemudian sudah lenyap dibalik kobaran api yang membara tersebut.

Mendadak berkumandang jeritan ngeri dari dalam istana api itu...

"Auuuh celaka...!"

Menyusul kemudian tampaklah Oh Bu hong sambil menutupi wajah sendiri kabur keluar dari balik istana...

Dari belakang tubuhnya tampak seekor makhluk raksasa mengikutinya dengan garang, bahkan menerjang kedepan dengan membawa kekuatan yang luar biasa.

"Suhu, cepat mundur!"

Si Tiong pek segera berteriak keras.

Tubuhnya bergerak cepat kedepan, buru-buru ia menurunkan perintah begitu komando diturunkan, serentak para jago lihay dari perkumpulan Thi eng pang itu menyambitkan serentetan bintang hitam kearah makhluk raksasa tersebut.

0000O0000 Naga api itu dengan membawa selapis cahaya api yang berkobar-kobar menerjang keluar dari balik liang gua dan menubruk kearah kawanan jago dari Thi eng pang itu dengan garangnya.

"Lepaskan senjata rahasia"

Bentak Si Tiong pek.

Para jago dari perkumpulan Thi eng pang segera mengayunkan kembali tangannya, berpuluh-puluh titik cahaya bintang sekali lagi meluncur kearah tubuh naga raksasa tersebut.

Cahaya bintang begitu menyambar lewat, suara dentingan nyaring yang memekikkan telingapun berkumandang memecahkan keheningan.

Begitu naga api tersebut menggetarkan tubuhnya senjata-senjata rahasia beracun yang tajam dan kuat itupun serentak rontok keatas tanah.

Melihat kekebalan tubuh naga api tersebut atas senjata rahasia, para jago dari Thi eng pang menjadi amat terperanjat, masing-masing segera mengundurkan diri keluar.

"Weeess...!"

Segulung kobaran api dahsyat menyembur keluar dari mulut naga api tersebut dan menyapu tubuh kawanan jago yang tak sempat melarikan diri.

"Aduuuh... aduuuh..."

Jeritan-jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan.

Beberapa jago dari Thi eng pang yang terlambat mengundurkan diri dari situ segera tergulung dibalik kobaran api dahsyat itu dan terbakar hangus.

Lidah raksasa dari naga api itu kembali menggulung, dua sosok tubuh yang tergeletak diatas tanah tersebut segera ditelannya kedalam perut.

Menyaksikan peristiwa itu, semua jago makin terkesiap dibuatnya, buru-buru mereka mundur jauh lebih kebelakang.

Ji Cin peng kuatir anak buah perguruan panah bercintanya mengalami nasib yang naas, buru-buru ia membentak.

"Semua anggota perguruan panah bercinta cepat mundur sejauh lima kaki dari sini!"

Terdengar suara ujung baju yang tersampok angin berkumandang memecahkan keheningan, semua anggota perguruan panah bercinta segera meninggalkan gelanggang sejauh lima kaki lebih.

Mendadak Oh Bu hong membentak keras.

"Pek ji, lindungi aku, aku hendak membunuh naga untuk diambil empedunya!"

Haruslah diketahui bahwa Oh Bu hong sudah lama tahu jika dalam istana api terdapat seekor naga raksasa yang berusia sepuluh laksa tahun karena setiap hari menghirup sari api sebagai bahan makanannya, ia telah membentuk sebutir mustika Lei hwe po wan didalam tubuhnya.

Konon menurut cerita dongeng, barangsiapa dapat menelan pil Lei hwe po wan tersebut, bukan saja dapat menyembuhkan luka beracun, dapat pula menambah usia seseorang selain itu masih ada khasiat lain yang lebih berharga lagi, yakni bisa membuat tenaga dalam yang dimiliki seorang jago silat menjadi enam puluh tahun hasil latihan lebih hebat.

Hanya saja, pil Lei hwe po wan tidak mudah diperoleh, apalagi naga raksasa berusia sepuluh laksa tahunpun merupakan makhluk yang langka dalam dunia persilatan, jangankan memang jarang dijumpai didunia ini orang yang mengetahui akan hal inipun jarang sekali.

Sejak Thi eng sin siu Oh Bu hong menyaksikan munculnya naga tersebut, diam-diam ia sudah merasa amat girang, pikirnya.

"Orang mengatakan rahasia mestika Lencana pembunuh naga adalah mestika yang paling hebat didunia ini, darimana mereka tahu jika pil mestika Lei hwe po wan justru merupakan benda mestika yang lebih berharga lagi didunia ini? Sekalipun rahasia mestika Lencana pembunuh naga gagal didapatkan, asal bisa mendapatkan pil mestika dari naga api inipun masih tidak terhitung sia-sia perjalananku kali ini!"

Jilid 21 BERPIKIR sampai disitu, tiba-tiba tubuhnya berkelebat maju ke depan.

Oleh karena dalam sakunya dia membawa batu kemala dingin, maka gelombang panas yang menyengat tubuhnya itu sementara waktu tak berhasil menyerang badannya.

Telapak tangan kirinya segera melancarkan serangan dengan jurus Nuh-siau sam-kang (badai keras melanda sungai), sedangkan toya baja ditangan kanannya menyapu datang ke depan.

Naga raksasa itu segera mengebaskan kepalanya, kemudian sepasang cakarnya yang tajam menyambar tiba untuk mencengkeram toya bajanya itu.

Menghadapi ancaman tersebut, Oh Bu-hong merasakan hatinya tercekat.

Sambil melejit, ia mundur kebelakang.

Diam-diam peluh dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Meski dia lihay namun dibikin apa boleh buat juga oleh naga raksasa yang berotak cerdas tersebut.

Dengan cepat ia berpaling dan memandang sekejap ke arah kawanan jago, kemudian serunya lantang.

"Diantara saudara-saudara sekalian, siapakah yang berniat untuk membantu lohu?"

Semua orang tetap membungkam dan tidak menggubris teriakannya itu.

Ternyata para jago hanya berniat untuk menjadi penonton belaka.

Sementara ia sedang merasa terdesak mundur bercampur malu...

Mendadak terdengar si Rase Berekor Sembilan Kongsun Po memperdengarkan suara tawa panjang yang memekakkan telinga...

Kemudian sambil berhenti tertawa, dia berkata.

"Membantumu tanpa memperoleh kebaikan apa-apa. Siapa yang sudi menyerempet bahaya untuk menjual tenaga buat Thi Eng-pang kalian....". Tak bisa disangkal lagi, si Rase Berekor Sembilan Kongsun Po pun sudah mengetahui akan kebaikan serta kegunaan naga api tersebut. Hanya saja lantaran pengetahuannya yang terlampau cetek, sehingga ia belum menduga manfaat serta kemestikaannya pil Lei hwe po wan yang dihasilkan naga tersebut. Thi-eng siu Oh Bu-hong bukan manusia sembarangan yang berotak bebal. Dia sendiri pun sadar bahwasanya kekuatan Thi-eng pang masih sangat lemah. Mustahil dengan kekuatan yang dimilikinya itu dapat membunuh naga api dan mengambil Lei hwe po wan nya. Oleh sebab itu dia harus mencari lagi beberapa orang pembantu. Asal ada beberapa orang pembantu yang kosen, dapat menahan naga api itu agar jangan kembali ke dalam gua, maka lama kelamaan naga tersebut pasti akan melemah dan akhirnya mati karena tiada api disekitar sana. Naga api menggunakan api sebagai bahan makanannya. Selama hidup, bila ia meninggalkan sumber api, maka tubuhnya tak akan tahan menghadapi hembusan angin dingin, serta merta kobaran api ditubuhnya akan makin melemah dan padam. Bila api sudah padam maka kekuatan tubuhnya secara otomatis juga tak sanggup dikerahkan kembali. Hal ini ibaratnya dengan sepotong besi yang membara karena dipanaskan, jika potongan besi yang membara itu dikeluarkan dari tungku api dan diceburkan ke air maka dia akan menjadi dingin. Naga api tak dapat meninggalkan api, kejadian tersebut bersumber pula pada teori tersebut. Ketika Thi-eng Siu Oh Bu-hong menyaksikan Kongsun Po telah angkat bicara, buru-buru dia melayang mundur sejauh beberapa kaki dari tempat semula. Agaknya naga berapi itupun cukup mengetahui akan titik kelemahannya. Ternyata diapun tidak melakukan pengejaran lebih jauh. Mengetahui kalau Kongsun Po sudah tertarik, Oh Bu-hong segera tertawa terbahakbahak, katanya.

"Saudara Kongsun, kau adalah seorang yang cerdik. Tentunya kau ketahui bukan bahwa diantara terdapat banyak sekali kebaikan, Naga berapi ini bukan saja telah menghasilkan Lei hwe cu yang langka dan luar biasa berharganya. Sepasang matanya yang berapi pun merupakan mestika yang tak ternilai harganya. Asal saudara Kongsun bersedia untuk membantu lohu, paling tidak satu bagian diantara barang-barang tersebut akan menjadi bagianmu". Tertarik juga Kongsun Po oleh kata-katanya itu. Dia lantas bertanya dengan cepat.

"Saudara Oh, benarkah naga berapi itu mempunyai begitu banyak kebaikan dan manfaat?"

Oh Bu-hong tertawa terkekeh-kekeh.

"Selain daripada itu, masih banyak manfaat lain yang tak bisa kuterangkan satu persatu pada saat ini. Tunggu saja setelah naga berapi itu mati, lohu baru menerangkannya kepada Kongsun-heng"

"Kalau memang terdapat begitu banyak kegunaannya, lebih baik saudara Oh dapatkan sendiri saja"

Seru Kongsun Po sambil tertawa dingin.

Oh Bu-hong kembali merasa terkesiap.

Dia tidak menyangka kalau disaat yang terakhir Kongsun Po kembali mengeluarkan tindakan seperti itu.

Buru-buru katanya lagi sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haa.. haa.. haa.. ada kesenangan kita nikmati bersama, ada kesulitan kita tanggulangi bersama. Lohu bersedia untuk menikmati bersama hasil yang kita peroleh nanti dengan saudara Kongsun...". Perbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak Kongsun Po, ujarnya kemudian.

"Saudara Oh, kau memang cukup menarik hati orang, sedikit banyak lohu agak tertarik juga dibuatnya". Mendengar ini, diam-diam Oh Bu-hong mencaci maki dihati, sedangkan diluaran katanya dengan cepat.

"Lohu bermaksud sungguh-sungguh. Harap saudara Kongsun jangan sampai menyia-nyiakan uluran tanganku ini". Dalam pada itu, naga berapi tersebut tidak maju pun tidak mundur. Dengan empat buah matanya yang besar dan aneh ia menatap buas setiap jago yang berada dalam gelanggan tersebut. Tiba-tiba Giok bin sin ang Say Khi-pit tampil pula ke depan, serunya sambil tertawa dingin.

"Saudara Oh, setelah mempunyai kesempatan yang begini baik untuk menjadi kaya raya, mengapa kau tidak mengajak pula diri siaute?"

Diam-diam Oh Bu-hong merasa girang juga oleh keberhasilan siasatnya, segera ia menjawab.

"Aaah... mana... mana. Selama ini saudara Say tidak mengemukakan pendapatnya. Lohu mana berani mengganggu ketenanganmu. Bila aku telah berbuat kekeliruan, harap saudara Say suka memakluminya!".

"Hmm, Mana... Mana.."

Say Khi-pit mendengus dingin.

"Apabila saudara Saya bersedia pula untuk memperkuat barisan kami untuk mengepung naga tersebut, kekuatan lohu tentu akan jauh lebih tangguh lagi. Orang ini memang betul-betul licik sekali. Dia tahu Kakek Sakti Berwajah Pualam Say Khi-pit adalah seorang manusia yang suka diumpak. Asal disanjung-sanjung dengan beberapa patah kata, mungkin nama marga sendiri pun akan dilupakan olehnya. Siapa tahu Giok bin sin ang Saya Khi-pit yang sekarang jauh berbeda dengan Giok bin sin ang Say Khi-pit yang dulu. Hanya dengan dua tiga patah kata sanjungan tersebut, tentu saja belum sanggup untuk menggerakkan hatinya. Dengan suara dingin, Say Khi-pit berkata.

"Dalam perkumpulan anda oraang pintar bertumpuk-tumpuk, sedangkan kami tak lebih hanya manusia kurcaci yang tak punya kepandaian apa-apa. Mana mungkin kepandaian kami bisa menarik perhatian saudara Oh?".

"Betul!"

Timbrung Kongsun Po.

"Dihari-hari biasa, saudara Oh selalu meletakkan sepasang matanya di atas kepala. Mana mungkin kau anggap kami dalam pandangan". Kata-kata tersebut dengan cepat membuat Oh Bu-hong menjadi tersipu-sipu. Keadaannya berubah menjadi mengenaskan sekali. Tapi Thi-eng-siu Oh Bu-hong adalah seorang manusia yang berotak tajam. Dia hanya menanggapi kata-kata mereka dengan senyuman dikulum. Meski dihati kecilnya rasa benci tersebut sudah merasuk sampai ke tulang sumsum, tapi dia tak ingin menimbulkan ribut. Dalam suasana begini, maka sambil tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Saudara berdua mengapa ingin mencari gara-gara dengan lohu? Persoalan semacam ini tak bisa ditunda lagi. Lebih baik tinggalkan dulu perselisihan dimasa lalu untuk bekerjasama dengan loju. Asal Lei hwe po wan berhasil didapatkan, kita semua pasti akan menarik manfaatnya"!. Si Tiong-pek yang berjiwa muda dan biasanya selalu bertinggi hati, menjadi tak tahan menyaksikan suhunya Oh Bu-hong selalu mengalah kepada orang lain. Sifat kasarnya segera timbul dan rasa tak senangpun muncul di atas wajahnya. Sambil tertawa dingin katanya kemudian.

"Suhu! Kenapa sih kau orang tua? Mengapa selalu mengumpak orang saja. Aku tak percaya kalau Thi-eng pang tak sanggup menghadapi seekor naga berapi pun. Jika berita ini sampai tersiar diluaran, apakah orang lain tidak mentertawakan ketidak-becusan kita"

"Tepat sekali... Tepat sekali!"

Sambung Kongsun Po sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Apa yang siaute ucapkan memang betul. Thi-eng pang kan perkumpulan yang paling besar di dunia ini". Dengan gusar Oh Bu-hong memandang sekejap ke arah Si Tiong-pek, kemudian katanya.

"Pek-ji, kau kiranya punya hak untuk ikut berbicara dalam keadaan seperti ini? Kalau mengambil tindakan saja tidak mampu, tentu lebih banyak kegagalan yang dijumpai daripada keberuntungan. Apa kau sudah lupa dengan masehat suhu dihari-hari biasa? Hmmm..."

Tak terlukiskan rasa gusar Si Tiong-pek setelah ditegur oleh Oh Bu-hong dihadapan orang banyak.

Rasa mangkel tersebut sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Tapi diatas wajahnya ia tak berani menunjukkan rasa marah barang sedikitpun juga, dia lantas tertawa getir.

Tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi kembali wajah Oh Bu-hong, katanya kemudian.

"Saudara Kongsun, saudara Say, orang yang bijaksana tak akan mengingat-ingat kesalahan orang rendah. Muridku masih muda dan tak tahu urusan. Jika sampai berbuat salah, harap kalian berdua suka memakluminya. Aku pun berharap agar kalian berdua bisa cepat-cepat mengambil keputusan tentang persoalan tadi, lohu..."

Belum habis ia berkata, mendadak dilihatnya kobaran api di tubuh naga berapi itu sudah makin mengecil.

Diantara aumannya yang keras makhluk raksasa tersebut sudah mengebaskan ekornya sambil menundukkan kepala, tampaknya ia sudah bermaksud untuk kembali ke dalam guanya.

Menyaksikan kejadian tersebut, tubuhnya segera bergerak ke depan dan maju beberaopa langkah.

Segenggam jarun beracun Yan-hwi tok ciam dipersiapkan ditangan kirinya untuk bersiap sedia melancarkan serangan atas keempat buah mata naga berapi tersebut.

Say Khi-pit segera berbisik kepada Kongsun Po.

"Saudara Kongsun, bagaimana menurut pendapatmu?". Dewasa ini, kawanan jago yang berkumpul disini amat banyak jumlahnya"

Kata Kongsun Po.

"Sekalipun kita sekalian berhasil mendapatkan Lei hwe wan tersebut juga belum tentu bisa mengundurkan diri dengan selamat. Apakah tidak kau lihat orang-orang dari perguruan Panah Bercinta sedang mengawasi kemari. Dengan mata melotot? Agaknya mereka sedang menunggu kesempatan baik!"

"Kalau begitu kita tak usah membantu Oh Bu-hong lagi"

Kata Say Khi-pit setelah memandang sekerjap ke arah para jago dari perguruan Panah Bercinta. Kongsun Po berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Maksud tujuan Oh loji masih sukar untuk diduga. Membantu dirinya juga tak menjadi soal. Tapi diapun dapat kita peralat..."

Sementara mereka berdua masih berbisik dengan suara lirih, tiba-tiba dari tengah arena berkumandang suara dengusan tertahan karena kesakitan.

Rupanya si malaikat racun Lo Kay-seng dari See ih sam seng berdiri terlampau dekat dengan naga berapi itu sehingga lengan kirinya kena disembur sampai terluka.

Sambil meringis kesakitan, buru-buru dia mengundurkan diri ke belakang.

Malaikat pedang Siang Ban-im yang menyaksikan kejadian itu menjadi gusar sekali, bentaknya.

"Binatang, kau berani!"

Sekilas cahaya tajam dengan cepat menyambar ke depan.

Auman keras yang memekakkan telinga berkumandang memenuhi angkasa.

Mendadak naga berapi itu mengangkat tubuhnya ke atas.

Cakar mautnya direntangkan dan diayun kemuka, kemudian menyambut datangnya cahaya pedang tersebut.

Melihat kesempatan baik telah berada didepan mata Oh Bu-hong segera membentak keras.

"Pek-ji, cepat serang sayap kanannya!". Sejak tadi Si Tiong-pek sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, mendengar perintah tersebut, segera sahutnya.

"Baik!"

Dengan jurus Kan ku see gi (alam semesta bergeser ke barat), satu jurus pukulan yang tercantun dalam kitab pusaka Ciong hay kun boh, dia melancarkan sebuah pukulan ke depan.

Dibawah kerubutan tiga orang jago tersebut, ternyata naga berapi itu sama sekali tidak takut.

Sambil meraung keras, ekornya yang panjang dan besar tiba-tiba disapu keluar dengan menerbitkan deruan angin puyuh yang luar biasa.

"Sin liong pawi (naga sakti mengebaskan ekor)"

Tiba-tiba Si Tiong-pek teringat kalau diantara jurus-jurus serangan yang tercantum dalam kitab pusaka Ciong bay kun boh terdapat sebuah jurus sin liong pawi yang mirip-mirip dengan gerakan tubuh naga berapi itu.

Dia cukup mengeyahui akan kelihayan jurus serangan itu, buru-buru tubuhnya melompat ke udara untuk menghindarkan diri.

"Suhu, cepat mundur!"

Teriaknya dari tengah udara.

Thi-eng-siu Oh Bu-hong tidak mengetahui akan kelihayan jurus serangan tersebut.

Baru saja dia hendak menyongsong datngnya ancaman tersebut dengan toya bajanya, tiba-tiba ia mendengar bentakan dari Si Tiong-pek tersebut, segera sadarlah dia kalau keadaan tidak beres.

Dengan gerakan mendatar tubuhnya meluncur keluar dari situ.

"Blammm!"

Suatu benturan keras terjadi di udara, tahu-tahu sebuah liang yang amat besar telah muncul di atas permukaan tanah.

Ketika sapuan ekornya gagal melukai orang, naga berapi itu semakin gusar.

Sambil meraung keras, kakinya dihentak-hentakkan di atas tanah.

Ini mengakibatkan seluruh permukaan tanah bergetae keras.

"Sungguh berbahaya....!"

Pekik Oh Bu-hong di dalam hati.

Saking kagetnya peluh dingin telah membasahi sekujur tubuhnya.

Untuk sesaat nyalinya menjadi pecah dan ia tak berani untuk menubruk ke depan lagi.

Dalam pada itu, Malaikat Pedang Siang Ban-im juga tak berani melancarkan serangan secara gegabah lagi.

Dia hanya mengawasi naga berapi itu dengan mata terbelalak karena kaget.

Untuk sesaat lamanya ia termangu-mangu dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak terdengar Kongsun Po tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya lantang.

"Haa... haa... haa... Saudara Oh, mari biar lohu membantumu!"

"Haa... haa... haa... Bagus sekali. mari kita bekerjasama untuk membekuk naga itu!"

Jawab Oh Bu-hong sambil tertawa terbahak-bahak pula.

Menyusul di belakang Rase Berekor Sembilan Kongsun Po, si Kakek Sakti Berwajah Pualam Say Khi-pit pun ikut maju ke depam memberikan bantuannya.

Dengan demikian, para jago lihay serentak maju bersama untuk menghampiri naga berapi itu.

Ternyata naga berapi itu cukup cerdik.

Kali ini ia bersikap lebih kalem dengan mengawasi orang-orang itu menggunakan sinar matanya yang merah berapi-api.

Oleh karena ia memiliki empat buah mata maka gerak-gerik setiap orang tak ada yang lolos dari pengawasannya.

Kongsun Po menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan kesemuanya itu.

katanya.

"Saudara Oh, dimanakah letak titik kelemahan yang mematikan dari makhluk ini?"

"Lohu belum berhasil menemukannya"

Jawab Oh Bu-hong sambil tertawa seram. Say Khi-pit segera menggerakkan sepasang telapak tangannya, lalu berkata.

"Lohu akan bertarung dari babak yang pertama. Harap saudara sekalian mau melindungi aku dari samping!". Kemudian sambil merendahkan tubuhnya, ia melancarkan sebuah pukulan yang sangat kuat ke depan. Naga raksasa itu mendongakkan kepalanya, sambil meraung keras, menyusul kemudian terjadi benturan yang memekakkan telinga. Naga berapi itu sama sekali tidak menghentikan tubuhnya, tapi Say Khi-pit telah merasakan separuh lengannya menjadi kaku dan agak tak sanggup untuk diangkat kembali. Ia tidak menyangka kalau tubuh naga berapi itu memiliki daya lenting yang begini kuat. Dengan hati tercekat ia mundur ke belakang, kemudian serunya.

"Saudara Oh, aku lihat makhluk ini luar biasa. Jika tidak diketahui cara untuk menaklukkannya, belum tentu kita bisa menundukkannya hari ini. Untuk membunuh naga harus tahu dulu caranya membunuh. Aku lihat lebih baik kita mencari dulu akal lain!"

"Oh Bu-hong segera mendengus dingin.

"Hmmmm....! Kalau aku sudah tahu caranya, tak nanti lohu sampai memohon bantuan orang lain...."

Mendengar ucapan tersebut Say Khi-pit menjadi naik pitam, teriaknya.

"Lohu pun tak sudi dengan benda mestika itu!"

Seusai berkata ia lantas putar badan dan berjalan keluar dari gelanggang, seakan-akan ia hendak berlalu dari sana. Buru-buru Kongsun Po berseru dengan lantang.

"Saudara Say, setelah masuk kedalam bukit mestika, masa kita akan pulang dengan tangan hampa". Say Khi-pit agak tertegun, kemudian pikirnya.

"Ya benar. Jika aku pergi dengan begini saja, pihak Thi-eng pang pasti akan mentertawakan ketidak becusanku. Setelah tahu sulit baru mengundurkan diri. Hmmm..... aku orang she Say tidak boleh pergi dengan begini saja"

Berpikir sampai disitu, buru-buru ia balik lagi ketempat semula dn berdiri berjajar dengan Kongsun Po. Sambil tertawa terbahak-bahak Kongsun Po lantas berkata.

"Saudara Oh hari ini kami dua bersaudara hendak menjual nyawa untuk kalian. Aku harap dikemudian haripun pihak Thi-eng pang bersedia pula memberi muka untuk kami..."

Kata-kata dua bersaudara sengaja diucapkan dengan nada keras, jelas dia berniat untuk menarik Say Khi-pit agar berpihak kepadanya.

Oh Bu-hong yang cerdik, tentu saja dapat menebak pula maksud hatinya.

Ia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa... haa... tentu saja... tantu saja... Asal saudara bersedia untuk menyumbangkan tenaga, siau loji pantas akan menghadiahkan sepasang mata naga tersebut untuk kalian berdua..."

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang menusuk pendengaran berkumandang di angkasa.

Suara tertawa itu dingin, keji dan menggidikkan hati, membuat para jago yang berada dalam gelanggang meraskan hatinya bergetar keras.

Ketika semua orang berpaling maka tampaklah si Malaikat Racun Lo Kay seng sedang memandang ke arahnya dengan pandangan dingin.

"Lo Kay seng, si makhluk beracun tua, Apa yang sedang kau tertawakan....? tegue Oh Bu-hong dengan kening berkerut. Lo Kay seng tertawa ternahak-bahak.

"Kalian anggap pil Lei hwe po wan tersebut benar-benar bisa kalian dapatkan dengan begitu saja?".

"Kalau kami tak mampu, apakah kau mampu?"

Jengek Kongsun Po ketus. Lo Kay seng segera tertawa seram lagi.

"Tentu saja, tentu saja. Lohu pasti akan mampu untuk mendapatkan pil Lei hwe po wan tersebut!". Oh Bu-hong yang licik dan keji, ketika dilihatnya Jit poh Toan Kwik to berdiri disana, mendadak sebuah akal busuk melintas di dalam benaknya. Ia lantas tertawa seram, kemudian drngan nada menghina katanya.

"Saudara Lo jangan lupa kalau orang yang merajai dunia ini dengan ilmu beracunnya bukan cuma kau seorang....". Selama ini si Malaikat Beracun Lo Kay seng selalu menganggap ilmu beracunnya merupakan kepandaian yang tiada taranya didunia ini, kontan saja sepasang alis matanya bekernyit setelah mendengar perkataan itu. Selapis hawa nafsu membunuh pun dengan cepat menyelimuti wajahnya. Sekulum senyuman dingin ikut menghiasi pula wajahnya. Ia tertawa angkuh, kemudian ujarnya.

"Lohu tidak percaya kalau didunia ini masih terdapat orang lain yang mampu mengalahkan lohu!"

Diam-diam Oh Bu-hong merasa gembira sekali setelah mendengar perkataan itu. Katanya dengan cepat.

"Aaaah.. belum tentu demikian..."

"Coba menurut pendapatmu, masih ada siapa lagi yang lihay dalam ilmu beracun"

Teriak Lo Kay seng dengan gusar. Oh Bu-hong segera menuding ke arah Jit Poh Toan-hun Kwik To sambil katanya.

"Dewasa ini, Kwik heng yang berdiri di hadapanmu juga merupakan seorang ahli racun yang berpengalaman!"

Jelas Oh Bu-hong memang sengaja hendak mengobarkan pertarungan diantara mereka, agar dua orang jago lihay yang tersohor karena ilmu beracunnya itu saling gontok-gontokan sendiri....

Jit Poh toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To cuma tertawa ringan dan sama sekali tak menggubris.

Tok seng (si Malaikat Beracun) Lo Kay seng tidak memiliki kecerdasan seperti Kwik To.

Dia pun tak dapat melihat maksud hati Thi-eng siu (Kakek Sakti Elang Baja) Oh Bu-hong yang sebenarnya.

Dengan wajah sedingin es ia tertawa dingin tiada hentinya.

"hee... hee... heeh... Manusia semacam itu mana mungkin bisa diajak berbicara?"

Saat inilah Jit poh toan-hun Lo Kay seng pasti dapat merasakan atau paling tidak menduga akan siasat keji dari Oh Bu-hong tersebut.

Siapa tahu ternyata dia adalah seorang manusia yang paling tolol di dunia ini.

Sambil tertawa seram, Kwik To berkata.

"Wahai Lo Kay seng, kita berdua sama-sama termashur dalam dunia persilatan karena ilmu beracunnya. Soal nama dan tingkat kedudukan bukanlah suatu persoalan yang patut diributkan. Sedang lohu pun tidak akan mengingat-ingat kesalahan yang dibuat orang rendah. Untuk sementara ini kuampuni selembar jiwamu..."

Kemudian sambil berpaling ke arah Oh Bu-hong katanya pula sambil tertawa sinis.

"Saudara Oh, kau memang pandai sekali memutar balikkan duduk persoalan. Tampaknya soal hasut-menghasut merupakan modal yang terutama bagimu dalam kariermu selama ini"

Merah padam selembar wajah Oh Bu-hong karena jengah. Cepat-cepat katanya sambil tertawa.

"Mana, mana. Kehebatan saudara Kwik sudah merajai kolong langit. Lohu tak lebih hanya memuji seperti apa yang kupikirkan. Siapa yang berani untuk...."

Mendadak.......

Naga api yang selama ini tak berkutik mulai mundur ke belakang.

Rupanya binatang itu bersiap-siap hendak mengundurkan dirinya ke dalam istana api....

Menyaksikan itu Oh Bu-hong menjadi sangat terkejut, buru-buru bentaknya keras.

"Kekuatan api dari naga berapi itu semakin melemah, harap saudara sekalian bersedia membantu lohu...."

Sembari berkata, tubuhnya bergerak lebih dahulu menerjang ke arah naga berapi terebut.

Begitu ia menggerakkan tubuhnya, Kongsun Po dan Say Khi-pit menggerakkan pula badannya menyusul dari belakang.

Dalam waktu singkat, bayangan manusia saling menyambar.

Bayangan naga bergetargetar.

Pasir dan batu dilapisi kobaran api yang menyengat badan segera berhamburan kemana-mana.

Naga berapi itu sepanjang tahun hidup di dalam istana api, meninggalkan sumber api baginya berarti kematian.

Semenjak kemunculannya dari istana api tadi, hampir satu jam sudah lewat tanpa terasa.

Lambat laun binatang aneh itu mulai tak tahan menghadapi serangan-serangan hawa dingin di luar gua.

Tampaknya makhluk inipun tahu bahwa manusia-manusia yang sedang dihadapinya sekarang bukan manusia sembarangan.

Karena itu ia tak pernah melangkah keluar dari guanya barang selangkahpun.

Selama ini cuma mendekam terus di mulut gua tersebut.

Ji Cin-peng selama ini cuma meonton dari samping arena tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tapi setelah disaksikannya naga berapi itu sama sekali tidak menunjukkan tanda kelelahan meski sudah bertarung sengit sekian lama melawan jago-jago lihay sebanyak itu, hatinya mulai terkesiap.

Kepada nyonya tua berambut putih yang berada disampingnya, ia lantas berkata sambil tertawa.

"Nenek, bukankah kau memiliki seutas Wu kim ciu-kou (pancingan sakti benang emas). Nenek berambut putih itu tertawa terkekeh, lalu menjawab.

"Selembar serat tak akan menjadi benang betul. Kaitan emas Wu kim ciu-kou milikku dapat mengkait makhluk besar ini. Tapi kekuatannya terlampau besar seperti bukit. Aku kuatir sampai waktunya bisa jadi kita akan terseret masuk ke dalam istana api. Mencuri ayam gagal, segenggam beras lenyap, bukankah hal ini terlalu rugi..."

Ji Cin-peng berpikir sebentar, kemudian menjawab.

"Seandainya kita sumbat mulut istana api, bukankah naga api itu bisa kita tangkap dengan mudah"

Mendengar perkataan itu, nenek berambut putih itu menjadi sangat terkejut. Segera katanya.

"Naga berapi ini sudah memiliki akal budi. Sebelum dia dibikin gusar, jangan harap mau meninggalkan gua tersebut barang selangkahpun. Apalagi ingin menangkapnya hidup-hidup. Ketahuilah, benda mestika hanya akan dimiliki oleh mereka yang berjiwa mulia. Lebih baik kita jangan memikirkan soal itu"

Pada saat itulah mendadak terdengar Oh Bu-hong membentak keras.

"Saudara sekalian, berusahalah untuk memancingnya keluar..."

Meskipun menghadapi serangan-serangan gencar dari empat lima orang jago lihay, ternyata naga berapi itu tidak bergeser dari tempat semula walau selangkahpun.

Malahan sambil mundur ia dapat melindungi badan, sewaktu maju bisa menyerang musuh.

Makhluk ini betul-betul seekor makhluk yang luar biasa.

Sembari melancarkan pukulan dahsyat, Kongsun Po berseru.

"Ia teramat cerdik, sulit untuk memancingnya keluar!". Belum habis perkataannya naga berapi tersebut telah menyemburkan apinya mengarah dia. Paras muka Kongsun Po berubah hebat. Saking kagetnya, cepat-cepat ia menarik kembali serangannya sambil mundur. Diam-diam peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya saking kaget. Tiba-tiba... Jit poh lui sim cian Lui Thian seng menyelinap maju ke depan. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia berkata.

"Haa... haa... haa... Saudara Oh, seandainya lohu sanggup untuk memancingnya keluar dari situ, bagaimana caramu untuk mengucapkan rasa terima kasihmu kepadaku?". Oh Bu-hong memutar sepasang biji matanya, lalu berkata.

"Asal lohu berhasil mendapatkan pil mestika Lei hwe po wan, aku bersedia untuk memberikan segala sesuatu yang diinginkan kepada diri Lui heng!"

"Haa... haa... haa... Termasuk barang mestiika pembunuh naga?"

Seru Lui Thian seng lagi sambil tertawa terbahak-bahak. Tergetar keras dada Oh Bu-hong sehabis mendengar perkataan itu, serunya tergagap.

"Tentang soal ini... Tentang soal ini..."

Untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana harus menjawab, karena itu hanya senyuman tersipu-sipu yang menghiasi seluruh wajahnya. Lui Thian seng mendengus dingin, kembali ia berkata.

"Kalau toh saudara Oh tidak mempunyai niat jujur dan bersungguh-sungguh, yaa sudahlah!. Anggap tiada saja ucapanku tadi!"

Seusai berkata ia lantas melangkah mundur dari situ dan balik ketempatnya semula.

Pancaran sinar dingin dan sinis mencorong keluar dari balik matanya.

Mimpipun Oh Bu-hong tidak mengira kalau dalam keadaan gawat seperti ini, Jit poh lui sim cian Lui Thian seng bisa mengeluarkan kartu yang mematikan dirinya.

Dengan suatu pemikiran yang cepat ia berusaha mengelupas masalah tersebut, kemudian buru-buru katanya lagi sambil tertawa.

"Lohu cuma dapat membantu untuk merampasnya, tapi tidak menjamin akan keutuhan serta keamanan benda tersebut". Orang ini memang cukup licik. Dia tahu Jit poh lui sim cian Lui Thian seng bisa berkata begitu berarti dia betul-betul memiliki kemampuan untuk memancing kemunculan naga berapi tersebut. tapi pihak Thi-eng pang pun berhasrat besar untuk mendapatkan benda mestika pembunuh naga. Ia merasa agak keberatan untuk menyanggupi permintaan orang. Sebaliknya kalau tidak disanggupi, terlampau sayang jika pil Lei hwe po wan yang amat langka itu lenyap dengan begitu saja. Dalam keadaan demikian, maka ia mengambil keputusan untuk menyanggupi sementara waktu, padahal secara diam-diam ia telah menyusun suatu siasat keji lainnya. Lui Thian seng kembali tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa... haa... Asal pihak Thi-eng pang bersedia melindungi lohu dari garis arena, itu sudah lebih dari cukup!"

Demikian ia berseri. Oh Bu-hong tertawa seram pula.

"Kalau memang sudah setuju, harap saudara Lui segera mempersiapkan diri untuk memancing kemunculan naga berapi itu".

"Hee.. hee... heeeh... Ucapan seorang kuncu bagaikan sebuah cambukan bagi kuda jempolan. Sampai waktunya aku berharap saudara Oh jangan menyesali!". Terkesiap Oh Bu-hong sesudah mendengar perkataan itu. Dia tertawa kering dan menjawab.

"Aaaah...! Apa maksudmu berkata demikian?. Lohu bukanlah manusia semacam itu!". Dengan penuh perasaan bangga Lui Thian seng tertawa tergelak-gelak. kemudian pelan-pelan maju ke tengah arana. Ketika mencapai lebih kurang lima enam kaki dari naga berapi itu, mendadak ia berpaling seraya berseru.

"Saudara Oh, dapatkah kau mengutus seorang untuk menyumbat mulut gua istana api. Jika naga berapi itu sudah pergi meninggalkan guanya nanti...."

Oh Bu-hong belum pernah berpikir sampai kesitu, maka buru-buru jawabnya cepat.

"Ooh.. itu maah soal gampang!"

Sambil membalikkan badan ia berseru ke arah para anggota Thi-eng pang nya.

"Dimana Wan Kiamciu?"

"Lohu berada disini!"

Cian seng khi su Wan Kiamciu segera tampil ke depan sambil menyahut. Oh Bu-hong tertawa terkeke-kekeh, ujarnya.

"Cepat siapkan kayu-kayu besar dan cada sebagai persiapan bilamana perlu nanti"

"Terima perintah!"

Sahut Wan Kiamciu cepat.

Dengan memimpin puluhan orang jago lihay dari perkumpulan Thi-eng pang, dengan kecepatan luar biasa berangkatlah mereka menuju keluar gua tersebut.

Ketika Jit poh lui sim cian Lui Thian seng menyaksikan semua persiapan telah selesai, buru-buru serunya.

"Hadapilah binatang itu dengan berhati-hati. Wahai saudara sekalian, bila sedang marah, naga berapi itu bisa melukai orang!"

Dengan suara lantang Oh Bu-hong segera berseru.

"Semua murid perkumpulan Thi-eng pang harap mundur sejauh sepuluh kaki dari posisi masing-masing!"

Dalam waktu singkat bayangan manusia saling berkelebat.

Banyak diantara para jagojago yang merasa kepandaiannya cetek bersama-sama melompat mundur ke belakang.

Para jago dari perguruan panah bercinta juga kuatir kalau mendapat kerugian besar, buru-buru mereka ikut mundur beberapa kaki jauhnya dari posisi semula.

Sementara semua orang sedang bergerak mundur....

"Blaamm.....!"

Tiba-tiba terjadi suatu ledakan dahsyat yang amat memekakkan telinga.

Cahaya emas memancar ke empat penjuru, tahu-tahu panah inti geledek yang bisa merengut nyawa orang dalam tujuh langkah itu sudah dilepaskan ke arah kepala naga berapi tersebut.

"Cepat mundur.....!"

Kembali Jit poh lui cim sian Lui Thian seng membentak keras. Seketika itu juga segenap jago yang hadir di arena bersama-sama melayang mundur dari tempat itu.

"Auuuuumm... Auuummm....!"

Suara pekikan dahsyat yang memekakkan telinga berkumandang dalam ruangan gua itu.

Sedemikian kerasnya suara itu sehingga seluruh bumi serasa bergoncang keras.

Ini menandakan bahwa naga berapi itu sudah dibuat teramat gusar.

"Aaaah..."

Serentetan jeritan kaget menggema pula dalam ruangan tersebut.

Tiba-tiba naga berapi itu meluncur ke depan sambil berpekik nyaring.

Dengan sinar mata bengis dan wajah buas makhluk raksasa tersebut maju kemuka dan menyergap kawanan jago tersebut.

Cahaya petir kembali membelah angkasa.

Tiba-tiba dari tengah udara meluncur datang serentetan cahaya ungu yang menyilaukan mata.

Menyusuk kemudian memancar keluar serentetan cahaya emas yang menyelimuti seluruh angkasa.

Seluruh jagad seolah-olah diselimuti oleh jalur api yang bewarana merah keemas-emasan.

Gerak maju naga berapi itu teramat cepat.

Setelah merentangkan cakarnya yang tajam, ia menyergap tubuh Jit poh lui cim sian Lui Thian seng dan mencengkeram tubuhnya.

Menghadapi ancaman seperti ini, Jit poh lui cim sian Lui Thian seng merasa terkejut sekeli hingga hatinya bergetar keras, bentaknya penuh kegusaran.

"Binatang keparat!". Dalam keadaan terdesak, secepat kilat ia menekan tombol di atas tabung anak panahnya.

"Blaaaam...!"

Diiringi suara ledakan dahsyat, kembali hujan anak panah berhamburan ke tubuh makhluk raksasa itu.

Dengan cepat naga berapi itu menggerarkan sisik-sisik diatas badannya seraya miringkan kepala.

Begitu terhindar dari hujan anak panah yang gencar, dia mendongakkan kepalanya berpekik nyaring, kemudian bergerak maju lagi kedepan.

oooOOOOooo SEMENTARA itu Jit poh lui sin cian Lui Thian seng sudah mundur sejauh lima kaki lebih dari tempat semula.

Tak lama kemudian, naga berapi sudah dua kaki lebih meninggalkan mulut guanya.

Saat itulah Oh Bu-hong merasa kesempatan yang sangat baik ini tak boleh disia-siakan, buru-buru bentaknya.

"Cepat sumbat mulut gua tersebut!"

Semenjak tadi Cian seng khik su Wan Kiam ciu sudah mempersiapkan diri sebaikbaiknya untuk melaksanakan perintah.

Mendengar bentakan itu, dia lantas mengulapkan tangannya seraya berseru.

Puluhan orang jago dunia persilatan yang telah mempersiapkan batangan-batangan kayu besar dan batu-batu cadas itu segera menyerbu ke depan mulut gua.

Dalam pada itu, sifat buas dari naga berapi itu sudah berkobar.

Hakekatnya ia tak menduga kalau jalan mundurnya bakal dibuntukan.

Kemarahannya makin memuncak.

sambil meraung-raung kegusaran dia menyambar kesana kemari dengan dahsyatnya.

Kawanan jago persilatan yang berada disekitar situ makin panik dibuatnya.

Dengan ketakutan mereka lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.

"Aduuh...!. Aduuh...! beberapa jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan. Ada dua jago dari perkumpulan Thi-eng pang yang tak sempat menghindarkan diri roboh terkapar di atas tanah. Oh Bu-hong segera memutar senjata toya bajanya sembari berseru.

"Saudara Kongsun, saudara Say, hayo kita cepat bertindak!"

Seketika itu juga para jago yang berada disekitar arena mulai turun tangan.

Pertarungan antara manusia melawan binatangpun segera berkobar dengan sengitnya.

Pada saat itulah....

tiba-tiba Ji Cin-peng tertawa merdu, kemudian serunya.

"Nenek, mari kita tampil ambil bagian di dalam pertarungan ini!"

"Kau juga berniat untuk turut memperebutkan pil Lei hwe po wan tersebut?"

Tanya si nenek berambut putih dengan wajah agak sangsi. Ji Cin-peng mengangguk.

"Setiap orang yang berada di dunia selalu berharap bisa mendapatkan benda mestika. Setelah aku tiba disini, sudah sepantasnya bila turun tangan didalam gerakan ini!". Nenek berambut putih itu segera tertawa dingin.

"Kalau Bengcu memang berminat, sudah barang tentu dengan senang hati aku si nenek akan melaksanakannya". Seraya berkata dia menggerarkan tanganny. Sebuah kaitan emas Wi Kim cui kou yang bewarna keemas-emasan dicabut keluar dari balik saku bajunya. Tiba-tiba... Tok seng (malaikat racun) Lo Kay seng maju ke depan seraya berkata.

"Bengcu, bagaimana kalau kita bekerjasama dalam usaha kali ini?"

"Kenapa? Apakah See ih sam seng berniat untuk mengambil bagian dalam persoalan ini?"

Kata Ji Cin-peng dengan mata melotot besar. Malaikat Racun Lo Kay seng tertawa seram.

"Betul..!"

Jawabnya.

"Lohu memang berniat untuk mengambil bagian dalam persoalan ini!". Selesai berkata ia tertawa terkekeh-kekeh lalu dari sakunya mencabut keluar sebuah tabung bambu.

"Bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menangkap naga berapi. Apakah kau mempunyai suatu akal bagus?"

Ujar Cin-peng dingin. Malaikat Racun Lo Kat seng tertawa seram.

"Bila dua telapak tangan bertemu, suara tepukan baru kedengaran. Hanya tangan sebelah tak mungkin bisa berkumandang suara tersebut. Kau mempunyai kaitan emas Wi kim ciu kou, aku punya obat pemabuk Thian san liong hiang. Dengan kombinasi dua macam benda ini, sekalipun naga bisa terbang juga tak bakalan lolos dari cengkeraman kita. Cuma terserah kepadamu bersedia untuk bekerja sama atau tidak?"

Dengan cepat Ji Cin-peng berpikir sejenak, lalu jawabnya.

"Baiklah, kulihat dulu kehebatannya". Malaikat Racun Lo Kay seng segera melepaskan tabung bambunya itu kedepan naga beracun tersebut, katanya.

"Kau boleh menyaksikan sendiri kehebatan dari benda milikku ini"

"Blaaaam!"

Tiba-tiba ditengah udara bergema suara ledakan.

Selapis kabut bewarna merah yang membawa segulung angin harum dengan cepat menyambar ketengah udara dan menebar kemana-mana.

Kabut merah itu pelan-pelan melayang kedepan dan menyelimuti sekeliling badan naga berapi itu.

Rupanya naga berapi itu gemar dengan segala yang berbau harum.

Mengendus bau tersebut, tiba-tiba terhenti dan tidak bergerak lagi.

Dengan hidungnya yang besar ia mengendus kesana kemari disekeliling udara.

Setelah itu berpikir tiada hentinya.

Tak lama kemudian semua bau harum yang tebal sudah terhisap ke dalam perutnya.

"Hey si nenek. cepat lemparkan kaitan emasmu!"

Malaikat Racun Lo Kay seng buruburu berseru. Nenek berambut putih itu mendengus dingin.

"Hmm! Atas dasar apa kau hendak memerintah diriku!"

Serunya.

Ucapan itu membuat Malaikat Racun Lo Kay seng tertegun, sampai lama sekali dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Terpaksa Ji Cin-peng berkata sambil tertawa "Nenek, silakan turun tangan!"

"Terima perintah"

Dengan penuh rasa hormat si nenek berambut putih itu mengiakan.

"Sreeet..! Serentetan cahaya putih yang menyilaukan mata meluncur keluar dari balik tangannya. Dengan membawa desingan angin tajam, kaitan emas itu meluncur ditangah udara dan langsung membelenggu ke tubuh naga berapi itu. Sekujur tubuh naga berapi itu bergetar keras, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya.

"Kenapa tidak segera kemari!"

Bentak nenek berambut putih itu dengan suara lantang.

Seraya berkata, tenaga dalamnya segera disalurkan kedalam telapak tangannya untuk membetot.

Sekujur tubuh naga berapi itu bergetar makin keras.

Setelah berpekik sedih, pelanpelan dia mendekati si nenek berambut putih dari perguruan Panah Bercinta.

Meskipun tubuhnya besar, ternyata gerak-geriknya amat lamban, bagaikan seekor kerbau tua yang sedang menarik pedati.

Perlu diketahui, saat itu si naga berapi boleh dibilang telah dikuasai sepenuhnya.

Kaitan emas yang tajam dan kuat itu tepat telah mengkait pada bagian yang mematikan diatas tubuhnya.

Bila si nenek berambut putih itu menarik keras-keras, maka ia akan meraskan kesakitan hebat.

Dalam keadaan demikian terpaksa dia harus mengikuti tarikan itu untuk maju mendekat.

Oh Bu-hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi naik pitam.

Segera teriaknya keras-keras.

"Bagus sekali, rupanya kalian perguruan Panah Bercinta hendak memungut keuntungan yang telah berada didepan mata..."

"Kami berhasil menangkap naga itu dengan mengandalkan kepandaian sejati. Lebih baik kau tak usah banyak cerewet"

Tukas Ji Cin-peng dngan wajah dingin. Mendadak paras muka Oh Bu-hong berubah hebat, serunya.

"Kami Thi-eng pang telah menjua tenaga, orangpun sudah mati beberapa. Jika kalian perguruan Panah Bercinta hanya ingin memungut hasilnya dengan tanpa bersusah payah, lohu tidak akan setuju!"

"Tidak setuju juga harus setuju. Nonamu tak akan menuruti keinginan hatimu!"

Kata Ji Cin-peng dingin. Suaranya dingin, tegas dan tandas. Ini membuat Oh Bu-hong tak mampu berbicara lagi. Dalam keadaan demikian, terpaksa Oh Bu-hong harus nekad, katanya kemudian.

"Jika nona bermaksud demikian, aku kuatir banjir darah dan pembantaian besar-besaran akan berlangsung hari ini..."

"Kau berani menggertak Bengcu kami!"

Bentak Ji Kiu liong sambil tertawa penuh kegusaran.

Oleh karena selembar jiwanya telah diselamatkan Ji Cin-peng maka tanpa merasa ia telah memasukkan dirinya kedalam bagian dari perguruan Panah Bercinta.

Ji Cin-peng segera mengerling sekejap kearahnya memberi tanda, lalu berkata.

"Soal banjir darah mah tak akan terhindar lagi. Itu cuma tergantung soal cepat atau lambatnya saja!"

Pada saat itulah, Si Tiong pek menghunus pedangnya. Sambil melompat kemuka teriaknya.

"Kalian orang-orang perguruan Panah Bercinta betul-betul terlalu menghina orang!"

"Kami menghina orang, memangnya kalian juga tidak menghina orang!"

Balas Jit poh toan bun Kwik To dengan suara yang amat dingin.

Suasana semakin tegang, pertarungan agaknya setiap saat dapat berlangsung.

Tiba-tiba Kongsun Po maju kedepan dan memisahkan mereka kekiri dan ke kanan, lalu katanya.

"Jika ada dua harimau berkelahi, maka salah satu pasti akan terluka. Alangkah baiknya jika kalian berdua jangan bentrok lebih dulu hanya lantaran urusan kecil. Lohu yang tak becus bersedia untuk menjadi penengah!"

"Kongsun Po heng bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanya Oh Bu-hong kemudian dengan penuh kebencian. Kongsun Po terkekek-kekeh seram.

"Jangan ribut, jangan ribut. Lohu sudah menemukan suatu cara yang amat jitu...."

"Cara apa yang berhasil kau dapatkan?"

Tanya Si Tiong pek rada tertegun.

"Hee... hee... hee... Sebagaimana kita ketahui, naga berapi adalah makhluk tak bertuan. Siapa yang mendapatkan toh sama saja. Menurut pendapat lohu yang bodoh, lebih baik pil Lei hwe po wan diberikan kepada pihak Thi-eng pang sedang naga berapi itu sendiri didapatkan pihak perguruan Panah Bercinta. Bukankan cara ini bagus sekali? Bagaimana pendapat kalian?"

Ji Cin-peng segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa... haa... Jika benda itu dibagi untuk kami bersua, lantas Saudara Kongsun sendiri mendapat apa....?"

Kongsun Po menjadi tertegun, lalu pikirnya.

"Hmmm....! Tak sedikit sudah aku mengeluarkan tenaga, masa aku akan pulang dengan tangan hampa..."

Pada dasarnya ia sudah mempunyai rencana busuk dalam benaknya, maka mendengar perkataan itu, kontan saja tergelaklah dia "Haa...

haaa...

haa...

Tidak susah, tidak susah.

Kalian semua telah pulang dengan membawa hasil, sudah barang tentu lohu tak bisa pulang dengan tangan hampa.

Begini saja, anggaplah mestika dari To liong pit po sebagai bagian lohu!".

Baru selesai ia berkata, Say Khi pit serta Lui Thian seng bersama-sama telah melototkan sepasang matanya lebar-lebar, jelas mereka tak senang hati.

Mendadak perempuan tua berambut putih itu membentak keras.

"Binatang, kenapa kau tidak menuruti perkataanku?"

Naga api itu kembali berpekik sedih.

Tubuhnya segera berbaring diatas tanah dan tidak bergerak lagi, kepalanya digoyang-goyangkan pertanda sudah takluk dan jinak.

Dengan cepat Ji Cin-peng berpaling sambil membentak.

"Semua anggota perguruan Panah Bercinta harap membuat persiapan....!"

Bentakan demi bentakan berkumandang dari empat penjuru, tampaklah para jago dari perguruan Panah Bercinta bersama-sama menyebarkan diri membentak sebuah barisan yang tangguh untuk menggelinding si nenek berambut putih serta naga api itu.

Si Tiong pek melayang maju kedepan dengan kecepatan luar biasa.

Setelah tertawa seram, serunya.

"Selama enam puluh tahun, angin dan air selalu berputar. Tiga puluh tahun air mengalir ke timur, tiga puluh tahun kemudian air mengalir ke barat. Tak nyana perguruan Panah Bercinta berani secara terang-terangan mencaplok pil Lei hwe po wan secara kasar. Hmm.....".

"Siapapun berhak untuk mendapatkan barang tak bertuan", kata Ji Cin-peng hambar.

"Sekalipun perguruan Panah Bercinta bukan suatu perguruan yang bernama baik, tindakan kami ini masih belum terhitung suatu perbuatan yang kelewatan....."

"Tepat sekali, tepat sekali!"

Seru Si Tiong-pek sambil tertawa seram.

"Cuma aku lihat bukan suatu persolan yang gampang bagi perguruan kalian jika ingin mengangkangi mestika tersebut seorang diri hari ini". Ji Cin-peng segera tertawa dingin.

"Pun kuncu tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak memberi keyakinan bagiku. Hari ini kami berani menangkap naga tentu saja memiliki kemampuan pula untuk melindunginya. Jika pihak Thi-eng pang kurang percaya, silakan dibuktikan saja dengan kenyataan!". Si Tiong pek tertawa terbaha-bahak.

"Haa... haa... haa... Tentu saja, tentu saja. Sudah semenjak dulu aku telah menduga bahwa pada suatu ketika antara perguruan Panah Bercinta dengan Thi-eng pang pasti akan menghadapi peristiwa semacam ini. Cuma tak kusangka kalau peristiwa ini bakal terjadi dalam waktu secepat ini...."

Berbicara sampai disitu, dia lantas mengulapkan tangannya memberi tanda.

Para jago dari Thi-eng pang yang berada disekitar tempat itu serentak maju bersama.

Agaknya suatu pertempuran massal segera akan terjadi.

Si Tiong pek memandang anak buahnya sekejap.

Kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berkata dengan sombong.

"Toa-buncu, coba kau lihat bagaimana dengan anak buahk?"

Ji Cin-peng agak tertegun, mungkin ia tidak memahami apa yang dimaksudkan, tapi kemudian pula katanya sambil tertawa dingin.

"Gerombolan bandit dan pencopet, tak bisa dianggap sebagai suatu kekuatan yang hebat!"

Si Tiong pel naik pitam setelah mendengar perkataan itu, bentaknya penuh rasa gusar.

"Kentut busukmu!"

Paras muka Ji Cin-peng berubah, hawa nafsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya, tapi hanya sebentar, karena dengan nada yang datar dan tenang katanya kemudian.

"Kalau ditinjau dari perkataanmu yang ngawur dan seenaknya, aku pantas kalau memberi sedikit pelajaran kepadamu, agar kau tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Tapi... memandang pada sumbangan tenaga yang telah kalian berikan ketika menangkap naga tadi, aku bersedia untuk memaafkan kelancanganmu itu...."

Kalau didengar dari suaranya yang lembut dan halus, orang tak akan percaya kalau perempuan ini tak lain adalah seorang iblis perempuan yang paling berkuasa dan paling hebat dalam dunia persilatan dewasa ini.

Ucapan tersebut segera saja menimbilkan rasa cengang dan tertegun bagi semua jago yang berada disekitar situ.

Tapi Si Tiong pek belum juga tahu diri, malah dengan mendongkol ia mendengus, serunya.

"Maksud baik nona boar kuterima didalam hati. Sayang persoalan antara kita berdua tak bisa diselesaikan dengan sepatah dua patah kata saja...."

Ji Cin-peng segera tersenyum.

"Aku sudah menduga akan jawabanmu itu", katanya.

"Sebelum kami memutuskan untuk menangkap naga itupun, nona telah memikirkan juga akibatnya. Mungkin disebabkan persoalan ini, suatu pertumpahan darah yang mengerikan akan terjadi hari ini..."

"Haa... haa... haa... Nona memang pintar dan betul-betil lain daripada yang lain"

Kata Oh Bu-hong sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kalau sudah tahu bahwa kejadian ini bisa berakibat terjadinya pertumpahan darah, sepantasnya kalau kau menarik diri dalam persoalan hari ini"

Ji Cin-peng mencibir sinis, katanya.

"Ucapan pangcu memang sangat tepat, sebetulnya siau li memang berhasrat untuk mengundurkan diri dari sini, cuma sebelum siau li meninggalkan gunung tempo hari, suhu siau li pernah berpesan bahwa bagaimanapun juga maka siau li harus..."

"Haa... haa... haa... Nona memang pintar dan luar biasa. Aku rasa suhumu sudah pasti adalah seorang tokoh yang maha sakti dari dunia persilatan!"

Tukas Oh Bu-hong sambil tertawa terbahak-bahak lagi.

"Aaah.... Tidak, tidak"

Kata Ji Cin-peng sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Guruku mah cuma seorang manusia biasa yang tak punya kepandaian apa-apa. Jauh dibandingkan dengan kegagahan dan kehebatan Pangcu"

Agak merah wajah Oh Bu-hong karena jengah, ujarnya.

"Suhumu pernah berkata apa?"

Ji Cin-peng tertawa ringan.

"Kalau anjing menggigit orang, itu bukan berita namanya, tapi kalau orang menggigit anjing, ini baru berita yang luar biasa...."

Paras muka Oh Bu-hong segera berubah hebat.

"Kurang ajar, kau berani memaki aku...!"

Teriaknya. Jari tangannya segera menyentil ke muka.

"Sreeeet!"

Segulung desingan angin tajam segera meluncur ke muka dan menghajar ke tubuh Ji Cin-peng.

Dengan suatu gerakan yang enteng dan cekatan Ji Cin-peng segera mengigos ke samping.

Si Tiong pek memburu ke muka, serunya sambil tertawa seram.

"Suhu, tak ada gunanya banyak berbicara pada saat ini. Hanya banjir darah yang terbentang didepan mata kita sekarang!"

Suara teriakan keras yang memekakkan telinga tiba-tiba berkumandang memecahkan keheningan.

Kawanan jago dari perkumpulan Thi-eng pang serentak maju kedepan dan menyerang orang-orang perguruan Panah Bercinta.

Dalam waktu singkatm kekuatan dari kedua belah pihak telah saling bertemu.

Suatu bentrokan senjata yang memekakkan telingapun berkumandang memecahkan keheningan...

Jeritan-jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memenuhi angkasa.

Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Bentakan keras, jeritan kesakitan dikombinasikan dengan suara deruan angin pukulan serta benturan senjata tajam, membuat suasana dan pemandangan di sekitar itu betul-betul mengerikan.

Berbicara soal jumlah kekuaatan maka anggota perkumpulan yang hadir dari kedua belah pihak boleh dibilang seimbang.

Kekuatan merekapun setali tiga uang.

Bisa dibayangkan betapa serunya pertarungan yang sedang berlangsung waktu itu.

"Maaf nona, lohu akan bertindak lancang"

Oh Bu-hong membentak keras.

Toya bajanya diputar cepat.

Hembusan angin dengan gerakan memotong, menyapu, membacok, menebas, menghantam dan memotong, secara beruntun dia lukai delapan orang jago lihay dari perguruan Panah Bercinta, kemudian langsung menyerbu ke depan Ji Cin-peng.

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan Ji Cin-peng kedepan, bentaknya nyaring.

"Kau anggap nona takut kepadamu?"

Kedua orang itu sama-sama adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.

Kelihayan tenaga dalam mereka sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Terlihat angin serangan dari toya baja serta telapak tangan itu menderu-deru kencang.

Sekitar beberapa kaki di sekitar mereka berdua boleh dibilang telah dilapisi oleh selapis hawa serangan yang tebal.

Seru dan sengit jalannya pertarungn ketika itu, sedemikian ramainya suasana boleh dibilang jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Dalam waktu singkat, korban kembali berjatuhan dari kedua belah pihak.

Meski orang-orang Thi-eng pang telah berusaha untuk menyerang berulang kali, sayang pertahanan dari orang-orang perguruan Panah Bercinta setangguh batu karang.

Usaha mereka selalu mengalami kegagalan total.

Pada saat itulah...

mendadak terdengar suatu ledakan keras yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.

Batu cadas dan kayu-kayu besar segera bermuncratan keempat penjuru.

Segulung asap hitam yang amat tebal mengumpal keluar dari balik mulut istana api itu.

Menyusul kemudian muncullah dua sosok bayangan manusia bagaikan sambaran sukma gentayangan.

Dengan suatu kecepatan yang luar biasa kedua sosok bayangan itu menerjang keluar dari balik istana api.

"Haa... haa... haa... Tidak kusangka begini banyak sobat yang berkumpul disini!". Seorang berseru sambil tertawa nyaring. Berbareng dengan selesainya perkataan itu, tiba-tiba ditengah arena telah melayang turun dua sosok manusia. Dengan terjadinya ledakan yang berlangsung secara mendadak tadi, serentak pertumpahan darah yang sedang berlangsung disana terhenti sama sekali. Masing-masing pihak mengalihkan perhatian masing-masing untuk mengawasi kedua orang itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ji Cin-peng segera tertawa setelah melihat wajah kedua orang itu. See ih sam seng berdiri tertegun sedangkan Say Khi pit dan Kongsun Po merasa gelisah bercampur panik. Peluh dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi sekujur badannya.

"Saudara Gak, baik-baikkah kau?"

Teriak Ji Cin-peng dengan wajah berseri. Gak Lam-kun melirik sekejap si nona baju perak yang berada disisinya, lalu menjawab sambil tertawa.

"Berkat doa restu dari nona Bwe, aku berada dalam keadaan sehat wal afiat!"

Tiba-tiba See ih sam seng bersama-sama maju ke depan lalu menghadang jalan pergi Gak Lam-kun.

"Gak Siauhiap"

Tegur Malaikat Racun Lo Kay seng sambil tertawa seram.

"Kemana perginya siocia kami?"

Wajah mereka, rata-rata menunjukkan kecemasan serta kegelisahan.

Sementara enam buah mata yang tajam menatap wajah Gak Lam-kun tak berkedip.

Mereka berharap bisa memperoleh kabar tentang Thian san soat li dari tubuhnya.

Gak Lam-kun tertegun menghadapi pertanyaan itu.

"Nona yang mana?"

Dia balik bertanya. Kontan saja Malaikat Racun Lo Kay seng tertawa dingin sesudah mendengar perkataan itu.

"Aku harap kau tak usah bermain setan dihadapanku"

Tegurnya.

"Hayo jawab saja berterus terang, kau telah apakan dirinya?"

Gak Lam-kun segera memahami apa yang dimaksudkan, ia tertawa terbaha-bahak karena kegelian. Nona berbaju perak itupun ikut tertawa cekikikan, serunya kemudian.

"Hey sam seng. Masa kalian sudah pangling denganku?"

Seperti apa yang diketahui, sukma Ang ih kim cha telah meminjam jasad si nona baju perak itu untuk hidup kembali di dunia.

Oleh karena itu ciri-ciri wajah Thian san soat li yang sesungguhnya lambat laun mengalami perubahan secara drastis.

Kalau ditanya mirip siapakah wajahnya sekarang maka sembilan puluh persen dia lebih mirip Ang ih kim cha daripada wajah aslinya sendiri.

Tak heran kalau See ih sam seng tak dapat mengenalinya kembali.

Seperti orang bodoh, Malaikat Pedang Pek Ban im segera bertanya.

"Siocia kenapa kau bisa berubah menjadi begitu rupa?"

Nona baju perak itu tersenyum.

"Suratan takdirku memang demikian. Aku harap kalian tak usah banyak bertanya lagi"

Tukasnya.

Meski pelbagai kecurigaan masih berkecamuk dalam benak See ih sam seng, namun bersua dalam keadaan demikian, terpaksa mereka bertiga harus manggut-manggut juga sambil mengundurkan diri.

Selesai berkata tadi, nona berbaju perak itu segera melangkah ke tengah arena.

Sambil menuding si naga berapi katanya.

"Lepaskan dia!"

"Tidak bisa!"

Jawab nenek berambut putih itu ketus. Pada hakekatnya Ji Cin-peng memang tidak menaruh kesan baik terhadap gadis berbaju perak itu. Mendengar ucapannya tersebut, ia lantas berkata dengan ketus.

"Atas dasar apa kau hendak mencampuri urusan perguruan kami?"

Untuk sesaat nona berbaju perak itu terbungkam lalu tertawa jengah.

Ia berpaling dan memandang sekejap wajah Gak Lam-kun dengan pandangan mesra.

Wajahnya yang memang cantik jelita kian banyak bertambah menawan.

Gak Lam-kun segera tertawa nyaring, katanya kemudian.

"Nona Bwe, bersediakah kau untuk memandang diatas wajah siaute...?"

Sampai sekarang dia masih belum tahu kalau Bwe Li pak adalah Ji Cin peng, maka ia selalu menyebutnya sebagai nona Bwe.

Diam-diam Ji Cin-peng menghela napas, titik air mata segera mengembang dalam kelopak matanya.

"Tentu saja kau terkecuali!"

Katanya sambil tertawa pedih. Lalu sambil berpaling katanya lagi.

"Nenek, lepaskanlah binatang itu!"

Si nenek berambut putih itu tertegun, serunya dengan cepat.

"Nona, tidak gampang untuk menangkap makhluk ini, harap kau berpikir tiga kali lagi sebelum mengambil keputusan!"

Ji Cin-peng hanya tahu memburu kesenangan, segera katanya.

"Aaaah... Tak usah banyak bicara, pokoknya laksanakan saja kan beres...!"

Nenek berambut putih itu tak berani membangkang, dia lantas menarik kembali kaitan emas Wu tim cui kou miliknya....

"Jangan lepaskan makhluk itu!"

Tiba-tiba Oh Bu-hong membentak keras.

"Kenapa?"

Tanya Gak Lam-kun sambil maju ke muka. Oh Bu-hong tertawa seram, jawabnya.

"Naga ini sudah menjadi milikku. Tanpa seiijinku, siapapun dilarang untuk melepaskannya!"

"Kalau aku tetap melepaskannya?"

Jengek Gak Lam-kun sambil menarik muka.

"Kubunuh dirimu!"

Dengus Oh Bu-hong dengan nada sinis. Toya bajanya segera diputar satu lingkaran di udara, lalu dengan disertai desingan angin tajam ia totok dada anak muda itu. Gak Lam-kun tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa... haa... Aku lihat perangai Toa pangcu masih kelewat berangasan"

Sebuah kebasan tangan dilontarkan ke muka.

Segulung hawa takanan yang amat kuat seketika mendepak Oh Bu-hong mundur selangkah.

Kebasan itu cukup kuat dan bertenaga luar biasa.

Semua jago kembali dibuat tertegun Lebih-lebih Oh Bu-hong sendiri.

Dengan perasaan tercekat, dia lantas berpikir.

"Setengah bulan tidak berjumpa, bajingan ini sudah mampu untuk mendesak mundur aku dengan pukulannya. Tenaga dalam sesenpurana ini betul-betul luar biasa. Sekarang tak seorangpun dari para jago yang hadir di arena mampu untuk menghadapinya. Apalagi dikemudian hari. Bukankah dia akan menjadi jagoan nomor wahid dalam dunia persilatan?"

Sebagai orang yang berhati iri dan culas, setelah berpikir sampai kesitu, selapis hawa nafsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya... Sambil tertawa seram ia lantas berseru.

"Bocah muda, tak kusangka ilmu silatmu hebat juga!"

Bagaimanapun juga dia tidak percaya kalau dalam setengah bulan saja tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun bisa peroleh kemajuan yang demikian pesatnya.

Bayangan toya bajanya segera dibalik, lalu dengan jurus Nu kang huan lam (ombak sungai mengulung dahsayat), membacok tubuh lawan.

Gak Lam-kun tertawa dingin.

Telapak tangan kirinya dikebaskan pelan ke muka.

Kebasan itu sungguh kuat sekali.

Dalam waktu singkat tahu-tahu sudah mencapai sasaran.

Dalam waktu singkat angin puyuh menderu-deru.

Pasir dan batu beterbangan di angkasa.

Serentetan cahaya hitam meluncur ke tangah udara.

Dengan perasaan terkesiap Oh Bu-hong mundur ke belakang, serunya.

"Kau, adalah malaikat....!"

Waktu itu sepasang tangannya sudah kosong.

Toya baja yang sangat berat itu sudah terhajar oleh serangan Gak Lam-kun sehingga mencelat ke tengah udara.

Ditengah desingan angin tajam, benda itu meluncur ke arah barat laut dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Dengan wajah sedingin es, Gak Lam-kun berkata.

"Aku adalah manusia bukan malaikat. Tapi aku justru adalah musuh tandinganmu!"

Kepandaian maha sakti yang belum pernah dilihat maupun didengar dalam dunia persilatan ini, bukan saja sudah menggetarkan hati setiap orang yang berada dalam arena, sekalipun Gak Lam-kun sendiri juga merasa agak tercengang.

Kongsun Po serta Say Khi pit yang menyaksikan gelagat tidak menguntungkan, segera membalikkan badan dan siap mengambil langkah seribu dari situ.

"Kembali!"

Bentak Gak lam-kun dengan suara keras.

"Kau hendak membunuh kami?"

Bisik Saya Khi pit dengan wajah ketakutan hebat. Gak Lam-kun tertawa sinis.

"Itu mah bukan suatu pekerjaan yang tak bisa kulakukan!"

Sahutnya. Menghadapi keadaan demikian ini, Kongsun Po segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi dada, lalu berkata.

"Sekarang urusan telah menjadi begini rupa, agaknya kami berdua harus beradu jiwa denganmu!"

"Hmmmm! Yang penting, sanggup tidak kalian berdua untuk mengajak aku beradu jiwa!"

Ejek Gak Lam-kun sambil mendengus.

Perkataan itu sama sekali tidak terdengar sombong atau sengaja membesar-besarkan keadaan.

Karena kenyataan telah membuktikan segala sesuatunya.

Kongsun Po berpikir sejenak, lalu berkata.

"Berada dalam keadaan ingin hidup tak bisa, ingin mati tak dapat, kami berdua percaya masih mampu untuk melakukan suatu perbuatan yang jauh diluar dugaan kalian semua!"

Jilid . 22

"BAIK!"

Kata Gak Lam-kun sambil maju dengan langkah lebar.

"Ingin kulihat sebetulnya kalian memiliki kekuatan macam apa yang disebut melampaui kemampuan orang itu!"

Dengan Wajah yang hambar dan dingin seperti es, selangkah demi selangkah ia berjalan kedepan Kongsun Po serta Say Khi pit. Pucat pias selembar wajah Kongsun Po, bisiknya dengan badan menggigil keras.

"Kau amat keji..."

Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, katanya lagi.

"Dalam pandangan orang lain perbuatan ini mungkin dianggap kejam, tapi dalam pandanganku hal ini justru merupakan suatu hal yang lumrah, sebab tindakan yang kalian gunakan untuk menghadapi guruku jauh lebih kejam dan busuk daripada perbuatan sekarang!"

Menyaksikan musuhnya yang maju mendekat bagaikan malaikat dari langit, tanpa terasa Say Khi pit dan Kongsun Po mundur terus berulang kali.

Wajahnya memperlihatkan rasa takut bercampur ngeri.

Peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Tiba-tiba Oh Bu-hong membentak keras.

"Harap kalian berdua cepat lari ke tempat lohu sini!"

Gak Lam-kun segera berpaling dan memandang sekejap kearahnya, kemudian katanya.

"Bila perkumpulan kalian hendak turut campur persoalan ini, jangan salahkan kalau aku akan menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat manusia!"

Setiap patah katanya tegas dan mantap, dingin seperti angin yang berhembus datang dari gunung es.

"Hey orang she Gak, kau tak usah sombong!"

Teriak Si Tiong-pek sambil memutar senjatanya.

"Hee... hee... hee... Jangan dianggap setelah memperoleh beberapa jurus ilmu silat rahasia maka kau bisa menjagoi dunia persilatan"

Ujar Gak Lam-kun sambil tertawa dingin. Si Tiong-pek tak mau kalah, ia tertawa seram pula.

"Yaa, tapi tak akan jauh selisihnya darimu"

Pada saat itulah si nenek berambut putih itu telah menarik kembali kaitan emas Wu kim cui kou nya.

Naga api itu segera barpekik nyaring.

Tubuhnya yang amat besar tiba tiba melambung ke udara dan membuat satu lingkaran di angkasa, setelah itu sambil membentangkan cakar raksasanya menerjang orang-orang Thi-eng pang.

Dimana cakar raksasanya menyambar lewat selapis warna merah segera menyelimuti seburuh angkasa.

"Cepat mundur!"

Buru-curu Oh Bu-hong membentak keras.

Bayangan manusia, segera menyebar ke empat penjuru.

Beratus-ratus orang jago dari Thi-eng pang tercerai berai kemana-mana untuk mencari keselamatan sendiri.

Oh Bu-hong sendiri sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam talapak tangan, ia menerjang kearah Gak Lam-kun dengan suatu ge-rakan yang amat ganas, serunya sambil tertawa geram.

"Gak Lam-kun, kau berani melukai orang dengan menggunakan kekuatan naga. Tidak takutkah perbuatanmu ini akan dikutuk oleh setiap manusia yang ada didunia ini?"

Bayangan tangan menyambar silih berganti.

Secara beruntun dia melancarkan serangkaian pukulan bertubi-tubi yang ditujukan ke sekujur badan Gak Lam-kun.

Dengan gesit dan lincah Gak Lam-kun berkelit kesana kemari, lalu katanya.

"Untuk menghadapi manusia bengis semacam kalian ini, kupikir cara ini merupakan suatu cara yang paling cepat"

Siapa tahu baru saja tubuhnya mundur ke belakang tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyambar datang dari arah belakang.

Sewaktu dia berpaling, maka dilihatnya Si Tiong pek, Kongsun Po serta Say Khi pit sekalian, dengan kekuatan gabungan dari empat orang sedang menyergap dirinya dengan kecepatan luar biasa.

Lam-kun tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Haa... haa... haa... Aku menjadi rikuh sendiri kalau tidak memenuhi harapan kalian, setelah kamu semua begitu baik memberi muka kepadaku!"

Dengan suatu gerakan yang amat cepat, tubuhnya berputar kencang.

Sepasang telapak tangannya direntangkan keatas bawah dan sekaligus ia sambut datangnya beberapa gulung tenaga pukulan itu.

oooOOOOooo BEBERAPA orang jago ini semuanya sudah menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya tenaga serangan yang dimiliki anak muda tersebut, ketika melihat garangnya pukulan itu masing masing segera mengigos ke samping untuk menghindarkan diri.

Tapi sayang, walaupun mereka menghindar cukup cepat, namun datangnya serangan itu jauh lebih cepat lagi.

Ditengah benturan yang memekakkan telinga, empat orang jago lihay itu bersama sama terpental ke belakang dan jatuh terduduk ditanah.

Sepasang mata Oh Bu-hong segera berkaca-kaca.

Sambil merangkak bangun dari tanah katanya.

"Gak sauhiap, lohu mengaku kalah!"

"Suhu, menang kalah bukan urusan yang penting"

Seru Si Tiong pek dengan mulut bepelopotan darah.

"Dikemudian hari kita masih ada kesempatan untuk menagihnya kembali...."

Dengan wajah yang amat sedih dan air mata bercucuran, Oh Bu-hong hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, dia membungkam dalam seribu bahasa Orang bilang "Seorang enghiong tak akan melelehkan air mata.

Jika tidak menghadapi persoalan yang betul betul memedihkan hati Thi-eng siu Oh Bu-hong adalah seorang jago tua yang sudah lama berkecimpungan dalam dunia persilatan, baik nama besar maupun kedudukannya sama sekali tidak berada di bawah siapa pun.

Tak heran kalau pukulan batin yang diterimanya kali ini membuat ia begitu sedih sehingga tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.

Gak Lam-kun tak ingin bertindak kebangetan, cepat cepat dia berseru.

"Aku betul betul berbuat ceroboh, bila telah kulakukan kesalahan...."

"Tak usah banyak bicara lagi,"

Tukas Si Tiong pek sambil membentak gusar.

"Aku orang she Si pasti akan menuntut balas atas penghinaan yang kuterima hari ini!"

Ketika mengucapkan kata kata itu, matanya membelalak memancarkan sinar buas.

Giginya saling gemerutuk menahan emosi.

Sedemikian mengerikannya wajah pemuda itu, membuat Gak Lam-kun diam diam merasa amat bergidik.

Tapi Oh Bu-hong segera menggoyangkan tangannya berulang kali, ujarnya lirih.

"Pek ji, kau tak usah banyak bicara lagi. Lohu akan segera membuyarkan perkumpulan Thi-eng pang kita!"

"Haah!? Hal ini mana boleh jadi?"

Teriak Si liong pek dengan perasaan terkesiap.

"Keputusanku telah bulat. Kau tak usah banyak berbicara lagi!"

Kata Oh Bu-hong tegas. Sementara itu, dari balik arena berkumandang lagi suara jeritan-jeritan ngeri yang menyayatkan hati. Puluhan orang jago lihay sudah roboh terkapar diatas genangan darah sendiri.

"Gak sauhiap"

Ujar Oh Bu-hong kemudian dengan wajah sedih.

"Lohu sudah menderita kekalahan total, buat apa kau harus menciptakan pembunuhan yang tak berguna"

Gak Lam-kun mengambil keluar Lencana Pembunuh Naga dari sakunya, kemudian menerjang maju menghampiri naga berapi itu.

"Naga keparat, kenapa belum kembali ke sarangmu"

Bentaknya lantang dari tengah udara.

Rupanya naga api itu tahu kalau orang tersebut adalah tandingannya, sambil mengipat ekor buru-buru makhluk raksasa itu menerobos kembali ke dalam istana api.

Setelah naga itu lenyap dari pandangan, Oh Bu-hong baru memandang sekejap kearah anak buahnya dengan perasaan berat, ujarnya dengan suara sedih.

"Saudara sekalian, sampai berjumpa lagi..."

"Suhu, kau hendak kemana?"

Teriak Si Tiong-pek cemas.

"Setinggi tingginya pohon daun akan gugur kembali kebumi. Dunia persilatan demikian luas tak sulit bagiku untuk mencari tempat pertapaan baru..."

Si Tiong-pek segera menggoyangkan tangannya berulang kali, katanya.

"Seenakenaknya dunia persilatan, di rumah sendiri adalah paling enak. Suhu! Baliklah ke dalam markas!"

Oh Bu-hong menghela napas sedih.

"Kenangan lama paling mudah menimbulkan kesedihan. Aku tak ingin kembali ke tempat lama yang penuh kenangan itu, lebih baik pergi jauh dari semua orang!"

"Suhu apakah kau sama sekali tak memperdulikan lagi usaha kita selama ini untuk membangun perkumpulan Thi-eng pang?"

Keluh Si Tiong pek, wajahnya murung.

"Kenangan lama pasti akan berlalu. Kesemuanya itu sudah tinggal impian belaka. Sejak sekarang dalam dunia persilatan sudah tiada orang yang bersama Thi-eng siu lagi...."

Si Tiong pek menghela napas panjang, kembali ia berkata.

"Kekayaan Thi-eng pang tak terhitung dengan jari tangan, apakah suhu tak akan memperdulikannya juga?"

Oh Bu-hong menggeleng.

"Nama kedudukan den harta sudah banyak kurasakan. Mulai sekarang aku tidak suka memburu hal-hal itu lagi. Aku hanya ingin mencari ketenangan hidup, melihat burung dihutan, memancing ikan di telaga hidup bebas tanpa pikiran, damai merdeka sentausa selamanya"

Tiba tiba si nenek berambut putih dari perguruan Panah Bercinta itu maju kedepan dan menuju kehadapan Oh Bu-hong sambil membawa kaitan Wu kim cui kou miliknya. Setelah menghela napas, dia berkata.

"Untuk kemenangan atas bertobatnya Oh-Pangcu dari semua kesesatan, aku si perempuan tua ingin menyumbangkan sedikit tanda mata ini sebagai kenangan..."

Air mata Oh Bu-hong jatuh bercucuran semakin deras, tiba tiba ia memegang tangan perempuan tua itu dan berbisik.

"Si-hun ikutlah aku. Mari kita pergi bersama!"

"Bu-hong, kau masih kenal aku?"

Bisik nenek berambut putih itu dengan air mata bercucuran.

"Habis gelap terbitlah terang, sudah lama aku mencarimu dalam impian. Tak nyana setelah kita sama sama menjadi tua, akhirnya bisa bersua kembali.... Yaaa, semenjak bertemu denganmu, aku sudah menduga siapakah kau....!"

Perempuan tua itu menggeleng pelan.

"Sinar senja menang cantik jelita, sayang selewatnya magrib malam haripun tiba. Kita sudah sama-sama tua renta, tak mungkin lagi untuk berdampingan sepanjang masa..."

"Sepuluh tahan kita berpisah, sembilan tahun aku terlalu tarkanang. Rembulan ada kalanya setengah ada kalanya purnama. Si hun, Walaupan kita berdua sudah tua namun perasaan kita tetap kekal, aku bisa baik-baik marawat dirimu!"

Nenek berambut putih itu tertawa sedih.

"Bertemu kembali dengan kekasih, kekasih telah tua. Sepuluh tahun terkenang air matapun mengering. Aku bertanya kepada gunung gunung tak menyahut, aku bertanya kepada telaga telaga tak juga menjawab. Bu-hong aku tak bisa mengikutimu!"

"Kenapa?"

Seru Oh Bu-hong dengan perasaan gelisah.

"Sepuluh tahun kita berpisah sembilan tahun kau selalu terkenang. Apa yang telah kau lakukan pada setahun yang terakhir?"

Tanya nenek itu pedih.

"Untuk menemukan kekasih, ujung langit kujelajahi. Sepuluh tempat yang kukunjungi sepuluh tempat kosong. Pada tahun yang terakhir aku betul betul merasa putus asa!"

Saking terharunya air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah nenek berambut putih itu .

"Kenangan lama tak akan kembali. Lebih baik kita cari dari kenyataan saja..."

Bisiknya.

"Jadi kau telah setuju?"

Seru Oh Bu-hong dengan wajah berseri karena gembira. Sambil menangis si renek berambut putih itu manggut manggut.

"Setelah kudengar pembicaraan kekasih kuketahui hati kekasih. Aku bersedia mengikutimu sampai mati. Buhong, Mari kita pergi!"

Ji Cin-peng segera maju ke depan, serunya sambil tertawa.

"Siau popo, kuucapkan selamat berbahagia untukmu. Semoga kalian berdua bisa rukun selalu sepanjang masa...."

Dengan terharu nenek itu menjawab.

"Sepuluh tahun menunggu derita akhirnya derita menjadi beres. Aku tak berharap bisa hidup sepanjang masa. Asal bisa pulang ke alam baka bersama, sekalipun harus mati di tengah gunung, apa pula yang musti dirisaukan?"

"Orang persilatan ada yang tua ada yang muda, meski ambisi kalian telah lenyap golok mestika belumlah tua moga-moga dikemudian hari kalian berdua masih mau sering-sering berkunjung ke perguruan Panah Bercinta sebagai tamu kehormatanku!"

Oh Bu-hong segera tertawa terbahak bahak.

"Kematian melenyapkan budi dan dendam senjata ditukar dengan batu kemala. Walaupun lohu telah pergi semoga Thi-eng pang dan Cian-cing kau bisa hidup damai berdampingan sepanjang masa. Moga-moga kalian jangan bertarung lagi dan bersama-sama membangun dunia persilatan....."

Agaknya gelak tertawa itu merupakan gelak tertawa yang paling bebas dan gembira selama banyak tahun ini.

Selesai tertawa ia merasa hatinya amat lega.

Tapi pada saat itulah tiba-tiba terdengar Si Tiong pek mendengus dingin, kemudian melengos ke arah lain.

Sambil menggelengkan kepalanya Oh Bu-hong menghela rapas panjang, katanya lembut.

"Anak Pek kau tak usah merasa tak puas, dikemudian hari...."

Dengan kasar dan marah Si Tioug pek mematahkan pedangnya menjadi dua bagian. Kemudian sambil membantingnya ke atas tanah, ia mundur beberapa langkah ke belakang seraya membentak.

"Sekarang kau sudah bukan suhuku lagi, kau sudah bukan guruku yaeg berada dalam bayangan ku. Dulu guruku adalah seorang jago yang gagah perkasa dan menguasahi wilayah utara dan selatan sungai besar, sedang kau? Huuuh...! Kau tak lebih cuma seorang pangemis tua yang berusaha melarikan diri dari kenyataan". Oh Bu-hong menghela napas panjang.

"Aaai.. Semua kejadian didunia ibaratnya awan di angkasa. Setelah tertembus angin maka semuanya akan buyar, apa gunanya kau mesti menyinggung kembali persoalan itu?"

"Baik!"

Kata Si Tiong pek kemudian sambil tertawa. Rupanya dia telah mengambil keputusan.

"Soal yang tua mundur yang muda muncul memang suatu hal yang umum terjadi dalam dunia persilatan. Kalau kau hendak pergi silahkan pergi. Aku pasti akan membangun duniaku sendiri...."

Seusai berkata dia lantas membalikkan badan dan melangkah pergi.

"Siau-pangcu!"

Buru-buru Cian seng khi-su Wan Min ciu berseru.

"Bagaimana dengan kami?"

Sambil berpaling dan tertawa seram jawab Si Tiong pek.

"Kalian semua telah menjadi tua mengikuti berkembangnya usia. Tunggu saja, mungkin suatu hari aku bisa membutuhkan kembali bantuan kalian..."

Oh Bu-hong gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, katanya.

"Kini murid durhakaku sudah pergi, perkumpulan Thi-eng pang telah buyar. Dalam dunia persilatan sudah tiada nama kami lagi"

Selesai berkata, sambil membimbing si nenek berambut putih itu pelan pelan mereka berjalan menuju ke barat.

"Suhu....!"

Tiba-tiba Ki Li-soat menjerit sambil menangis, lalu munculkan diri dari kerumunan orang banyak. Oh Bu-hong berpaling seraya menghela napas panjang, katanya sedih.

"Tiada daun didunia ini yang tidak gugur. Inilah saatnya buat kita untuk berpisah"

"Tidak aku hendak mengikuti sahu!"

Teriak Ki Li-soat sambil menggelengkan kepalanya. Oh Bu heng tertawa sedih, sambil mengelus jenggotnya ia berkata.

"Sekarang masa remajamu lagi mulai. Sedang aku tak lebih cuma tua bangka yang hampir memasuki liang kubur. Terlalu sayang kalau kau harus mengubur masa remajamu itu bersama kami. Anak bodoh, pergilah dari sini dan dampingilah kekasihmu..."

Belum selesai ia berkata bayangan tubuhnya sudah berada puluhan kaki dari tempat semula. Keputusannya untuk pergi betul-betul diluar dugaan siapapun .

"Suhu..! Tunggu aku!"

Teriak Ki Li-soat sambil menyusul dari belakang.

Terlihat gadis itu makin lama semakin menjauh dan akhirnya ikut lenyap pula dari pandangan mata.

Malam semakin mendekat, waktu senja makin berakhir mengikuti beredarnya sang waktu.

Bubarnya perkumpulan Thi-eng pang jauh diluar dugaan siapupun.

Perginya Oh Buhong serta nenek berambut putih dan minggatnya Si Tiong Pek dengan membawa dendam akan menjadi topik yang paling ramai dalam kisah selanjutnya.

Ji Cin-peng memandang keadaan cuaca, lalu berkata.

"Gak sauhiap kita...."

Sebelum habis ia berkata, tiba tiba terdengar suara pekikan panjang yang memekikkan telinga berkumandang datang dari tempat kejauhan.

Menyusul kemudian sesosok bayangan manusis yang bertubuh ramping, dengan kecepatan luar biasa meluncur datang.

Koogsun Po menjadi amat girang segera teriaknya.

"Nona Hong!"

Tampak seorang perempuan setengah umur yang berwajah cantik dengan gerak gerik yang genit masuk ke arena dan melirik sekejap sekeliling tempat itu. Lalu sambil tertawa terkekeh-kekeh katanya.

"Siapakah dlantara kalian yang menjadi muridnya Tok liong Cuncu?"

Gak Lam-kun segera mendengus.

"Aku orang she Gak orangnya"

Suara itu sinis dan dingin, seakan-akan tidak memandang sebelah matapun terhadap perempuan itu.

Tiba-tiba paras muka perempuan itu berubah hebat, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

Kemudian setelah berhenti tertawa dia berkata "Apakah Tok liong Cuncu masih hidup didunia ini?"

"Kau anggap itu urusanmu?"

Jengek Gak Lam-kun ketus.

"Manusia yang tak punya pendidikan, apakah suhumu tak pernah menyinggung tentang aku?"

Mendengar makian itu, Gak Lam-kun naik pitam dia langsung menyerbu kedepan sambil membentak.

"Kau sendiri yang telur busuk!". Dengan suatu gerakan yang enteng dan seenaknya, telapak tangan kirinya ditonjok kemuka dengan jurus kim cian gin seng (jarum emas bintang perak). Paras muka perempuan itu berubah hebat dengan cepat dia menghindar ke samping, kemudian dengan gerakan yang manis dia maju ke depan dan menotok bawah sikut Gak Lam-kun. Cepat nian serangan tersebut. Hakekatnya dilakukan pada saat yang hampir bersamaan. Gak Lam-kun terkesiap cepat dia mundur ke belakang seraya berseru.

"Kau adalah Yan Lo-sat (perempuan iblis cantik) Hong Im!"

Jelas dalam satu gebrakan barusan ia telah menduga siapakah lawannya.

Padahal hal ini tak perlu diherankan sebab dalam kitab catatannya Tok liong Cuncu telah menjelaskan secara terperinci ilmu silat andalan dari setiap orang musuh besarnya.

"Kalau kau sudah tahu siapakah aku, mengapa belum juga berlutut untuk minta ampun...."

Seru Yan Lo-sat Hong Im dengan suara sedingin salju. Gak Lam-kun segera tertawa terbahak babak.

"Haa.. haa... haa... Berlutut dan minta ampun kepadamu? Huuh, jangan mimpi! Justru aku hendak membunuhmu!"

"Kau tak akan mampu!"

Gak Lam-kun gelengkan kepalanya berulang kali.

"Dulu mungkin aku tak mampu. Tapi sekarang hanya masalah waktu. Coba kalau aku tidak teringat dengan pesan guruku yang ingin membalas dendam sendiri atas sakit hatinya, hari ini kau tak akan lolos dari tanganku!"

Dengan nada kurang percaya Yan Lo-sat (iblis perempuan cantik) Hong Im berkata.

"Bila Tok liong Cuncu dapat muncul sekali lagi, meski aku harus mati, aku akan mati dengan hati pasrah!"

"Baik"

Jawab Gak Lam-kun sambit tertawa.

"Tiga hari mendatang, suhuku pasti akan datang menemuimu"

"Aku rasa hal itu tampaknya suatu yang mustahil, tak mungkin bisa terjadi"

Berada dalam keadaan yang begitu jelas dan nyata, dia tetap tak percaya kalau Tok liong Cuncu masih bisa lolos dari kematiannya walaupun sekujur badannya sudah penuh ditandai dengan puluhan buah bacokan yang dalam.

Sudah barang tentu masih terdapat banyak hal yang dicurigai olehnya, apalagi Yan Losat Hong Im pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana parahnya luka yang diderita Tok liong Cuncu.

Waktu itu dia sendiripun berkeyakinan, sekalipun Hoa To lahir kembali, belum tentu ia sanggup mengobati lukanya itu.

Mendadak...

Dengan suara yang keras bagaikan geledek Jit poh lui sim ciam (tujuh langkah panah inti geledek) Lui Thian seng membentak.

"Orang she Gak, jangan bergerak!. Kalau kau berani sembarangan bergerak, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji!"

Tampak panah inti geledek yang dahsyat dan mematikan itu sudah dirasakan persis ke ulu hati Gak Lam-kun.

Dalam keadaan begini, asal dia memencet tombol pada senjatanya itu, niscaya anak panah yang mematikan itu akan berhamburan kemana-mana.

"Mau apa kau?"

Tegur Gak Lam-kun sambil mengangkat bahu. Pelan-pelan dia bergeser dari posisinya semula. Ini membuat Jit poh lui sim ciam Lui Thian tidak berani sembarangan bergerak dan melepasksn serangan.

"Serahkan Lencana Pembunuh Naga itu kepadaku!""

Bentak Jit poh lui sim ciam Lui Thian seng sambil tertawa seram. Gak Lam-kun tertawa.

"Huuh! Kau lagi bermimpi disiang hari bolong, apa tidak kuatir kalau sampai ikut melayang"

Serunya. Kembali Lui Thian seng tertawa seram.

"Hee... hee...hee... Orang mampus lantaran harta, burung mati lantaran makanan, itulah teori yang umum dan sudah lazim berlaku didunia ini"

Tiba tiba.... Serentetan suara kim yang datar dan rendah menggeletar memecahkan keheningan, suasana disekeliling jagadpun seakan-akan berubah menjadi gelap gulita.

"Plaaaak!"

Percikan bunga-bunga api berhamburan kemana-mana entah bagaimana caranya, tapi tahu-tahu panah Jit poh lui-sim cian yang maha dahsyat itu sudah rontok diatas tanah dan meledak sendiri.

Pasir dan debu segera beterbangan kemana-mana, ledakan yang keras itu amat memekikkan telinga.

Sementara Lui Thian seng, sendiri sudah terkapar diatas tanah dalam keadaan terluka parah.

"Uuaaaak....!"

Darah segar muntah keluar bagaikan air mancur dari mulut Jit poh lui sim ciam Lui Thian seng, kemudian ia mendengus karena kesakitan, pancaran sinar gusar, dendam dan penasaran mencorong keluar dari balik matanya, Mengikuti arah yang ditatap olehnya tampak si gadis berbaju perak itu sedang pelanpelan meletakkan harpanya ke dalam pangkuan.

Sambil tertawa merdu ia berkata.

"Barusan, aku cuma mempergunakan tenaga sebesar dua bagian saja. Coba kalau ku-gunakan tenaga. sebesar lima bagian, siapapun pasti sudah tak bisa bertemu lagi denganmu"

Lui Thian seng mendengus dingin.

"Hmmm... Antara kita berdua telah terikat dendam sakit hati yang lebih dalam dari samudra. Ingat saja? Hutang ini pasti akan ku tuntut suatu ketika"

Selesai berkata dengan susah payah dia merangkak bangun dari atas tanah, lalu dengan sempoyongan berlalu dari tempat itu.

Nona berbaju perak itu tertawa merdu, dia bergeser ke depan dan memandang ke arah Gak Lam-kun sambil tertawa manis.

Semua jago disekeliling tempat itu yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi tertegun dan termangu-mangu, sebab senyuman tersebut benar-benar indah, cantik dan mempersona hati orang.

Yan Lo-sat Hong Im yang menyaksikan senyuman itu juga ikut tertegun, kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut, sapanya.

"Susiok!"

"Siapa kau?"

Tegur nona berbaju perak itu agak tertegun.

"Mengapa kau sebut aku sebagai paman guru?"

"Bukankah kau adalah Ang ih kim cha (tusuk konde emas baju merah) dari perguruan Tay khek bun, Gui Bok eng yang sudah lenyap semenjak enam puluh tahun berselang?"

Seru Iblis Perempuan cantik Hong Im dengan Wajah tercengang.

Sebagaimana diketahui, semenjak Ang Ih kim cha Gui Bok eng menjatuhkan arwahnya ke dalam tubuh si nona berbaju perak itu, baik potongan wajah maupun potongan badannya telah mengalami suatu perubahan yang sungat aneh, banyak dibanyak bagian tempat justru mempunyai kemiripan dengan Ang ih kim cha itu pribadi.

Maka dengan cepat nona berbaju perak itu tersenyum,ujarnya.

"Aku telah berjumpa dengan susiokmu itu. Dia sudah lama meninggalkan dunia...."

"Bohong!"

Tiba tiba Yan Lo-sat Hong Im membentak keras.

Seraya berkata, tiba-tiba badannya melompat ke atas dengan kecepatan luar biasa, kemudian menggunakan jurus Hui hong ti seng (pelangi terbang memetik bintang), suatu jurus serangan yang tangguh dari perguruan Tay khek bun dia totok dada si nona tersebut.

Tiga malaikat dari wilayah See ih menyaksikan kejadian itu menjadi amat teperanjat, buru-buru mereka memburu ke tengah arena untuk memberi pertolongan.

Sinona berbaju perak sendiri juga merasa tertegun oleh kejadian itu.

segera bentaknya "Kau berani?"

Entah bagaimana caranya menghindari tanpa disadari ia telah pergunakan suatu gerakan tubuh yang sangat aneh dan belum dikenali sebelumnya untuk berkelit dan meloloskan diri dari sisi tubuh Yan Lo-sat Hong im.

Cepat cepat Yan Lo-sat Hong Im mengundurkan diri dari situ, dengan sikap yang sangat menghormat dia berkata.

"Susiok, kenapa kau masih mencoba untuk mengelabuhi aku?".

"Kau sudah salah melihat orang"

Seru nona berbaju perak itu dengan wajah masih diliputi hawa kegusaran.

"Tidak mungkin salah!"

Jawab Yan Lo-sat Hong Im dengan nada yang tegas dan mantap.

"Gerakan Im liong jut siu (naga mega tiga kali mencuat) yang kau pergunakan barusan merupakan gerakan tubuh susiok yang paling diandalkan. Dalam dunia persilatan dewasa ini tak mungkin ada orang kedua yang bisa pergunakan gerakan tubuh itu kecuali Susiok seorang..."

Kiranya untuk membuktikan apakah si nona berbaju perak itu benar-benar adalah Ang ih kim cha yang dulu atau bukan, Yan Lo-sat Hong Im telah mempergunakan jurus Hui hot ti seng dari Tay khek bun yang merupakan suatu serangan serangan paling dahsyat untuk melakukan percobaan.

Jurus serangan yang ia pergunakan itu merupakan salah satu ilmu yang paling diandalkan oleh perguruan Tay khek bun, tidak gampang untuk melepaskan diri dari ancaman itu kecuali bila orang tersebut sanggup menggunakan ilmu Im liong jut siu yang amat sakti tersebut.

Kalau tidak maka korban pasti akan terluka oleh serangan tersebut.

Padahal kalau dibicarakan sesungguhnya, si nona berbaju perak itupun tak tahu sedari kapan dia bisa mempergunakan ilmu langkah semacam itu, diam-diam ia merasa kaget bercampur heran.

Dari mana dia bisa tahu kalau sukma Ang ih kim cha yang berada dalam tubuhnya telah mulai mempengaruhi semua jalan pemikirannya.

Tanpa ia sadari, semua kepandaian Tay khek bun yang maha dahsyat telah dipahami olehnya tanpa terasa.

Setelah tertegun sejenak nona berbaju perak itu berkata.

"Kau bilang gerakan tubuh yaug barusan kugunakan itu adalah gerakan Im liong sam siu?".

"Betul!"

Yan lo sit Hong Im manggut-manggut tanda membenarkan "Gerakan tubuh itu merupakan salah satu ilmu langkah rahasia dari perguruan Tay khek bun yang paling tersohor dimasa silam....."

Mendengar semua penjelasan tersebut nona berbaju perak itu menghela nafas panjang.

"Aaaaah....! Mungkin saja aku adalah susiok mu, mungkin juga bukan...."

Yan Lo-sat Hong Im menjadi girang sekali, segera teriaknya.

"Susiok mari kita bersama segera pulang ke perguruan Tay khek bun....!"

Nona berbaju perak itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menarik tangan Gak Lam-kun mereka berangkat menuju keluar.

Menyaksikan hal itu Yan Lo-sat Hong Im menjadi amat gelisah dengan cepat dia mengejar dari belakang.

Gak Lam-kun segera berpaling lalu setelah tertawa dingin katanya.

"Aku sekarang belum ingin membunuhmu, buat apa kau mencari penyakit buat diri sendiri?"

Yan Lo-sat Hong Im kembali menjadi tertegun, terpaksa dia menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri termangu-mangu ditem-pat.

Gak Lam-kun kembali tertawa dingin tiada hentinya, bersama nona berbaju perak itu kembali mereka melanjutkan langkahnya.

Semua gerak-geriknya bersama gadis berbaju perak itu dapat dilihat semua oleh Ji Cinpeng dengan amat jelasnya.

Tanpa terasa timbul perasaan yang amat sedih dalam hatinya.

Ia merasa hatinya seperti disayat-sayat dengan pisau tajam.

Ia membenci kepada diri sendiri kenapa tak berani berterus terang kepada kekasihnya bahwa dia adalah kekasihnya yang dahulu.

Menyaksikan Gak Lam-kun dan nona berbaju perak itu sudah siap meninggalkan tempat itu, tanpa sadar Ji Kiu liong segera berteriak keras.

"Gak toako, kau hendak kemana?"

Ketika mendengar seruandari Ji Kiu liong itu Gak Lam-kun sendiripun merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia menghentikan gerakan tubuhnya seraya berpaling.

"Adik Liong!"

Katanya kemudian.

"Untuk sementara waktu, kau boleh berada bersamasama enci Bwe. Setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan pasti akan kujemput kembali dirimu"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling dan memandang sekejap kearah Ji Cinpeng.

Ketika itu Ji Cin-peng sedang berdiri dengan air mata membasahi seluruh wajahnya, ia balas memandang tatapannya dengan wajah yang lesu, murung dan pedih.

oooOOOOoooo MENYAKSIKAN keadaannya yang cukup mengenaskan itu, Gak Lam-kun menjadi tertegun.

Belum pernah ia menyaksikan Ji Cin-peng memperlihatkan mimik wajah seperti ini, dengan demikian kata kata yang sebenarnya telah disiapkan segera ditelan kembali kedalam perut.

Selelah termenung sekian lama, akhirnya setelah menghela napas sedih pikirnya dihati.

"Aaaaai...! Semoga saja nona Bwe jangan menaruh rasa cinta kepadaku. Sesungguhnya akupun cinta kepadamu, menghormati dirimu. Tapi sekarang aku telah menjadi suami-istri dengan nona berbaju perak ini. Sekarang aku tak berani menaruh ingatan lain kepadamu, tapi selalu akan kuingat dirimu, seperti juga rasa hormatku kepadamu di masa-masa yang lalu...."

Pikiran Gak Lam-kun terasa gundah, kalut dan bercampur baur tak karuan.

Sebaliknya Ji Cin peng merasakan hatinya hancur lebur, rasa sedihnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Ketika empat buah rnata saling bertemu sampai lama sekali mereka tak mengucapkan sepatah katapun .

Selapis rasa cemburu yang keji dan mendendam tiba tiba melintas diatas wajah si nona berbaju perak yang cantik jelita itu...

Ditengah suasana seperti inilah, Yan Lo-sat Hong Im berjalan kehadapan si nona berbaju perak itu.

Kemudian berkata dengan menghormat.

"Susiok, tecu mendapat pesan dari mandiang guruku untuk mengundang susiok agar kembali keperguruan Tay khek bun serta membangun perguruan kita agar cemerlang dan makin terkenal"

Mendengar ucapan tersebut, selapis hawa napsu membunuh yang tebal segera menyelimuti wajah noia berbaju perak itu, katanya sambil tertawa dingin.

"Aku sudah bilang tidak pulang yaa tidak pulang. Apakah kau hendak menangkap aku untuk diajak pulang? Apalagi aku juga bukan susiok kalian, aku bukan Kong ih kim cha Gui Bok eng. Kalau kau berani menghalang halangi gerakanku lagi, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji, dan tidak sungkan-sungkan lagi terhadapmu"

Paras muka Yan Lo-sat Hong Im berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, tapi nada ucapannya masih tetap sungkan dan menghormat. Kembali katanya.

"Susiok mendiang guruku pernah berpesan Bila susiok bisa ditemukan kembali, maka bagaimanapun juga kau harus diundang pulang ke perguruan, sebab hanya susiok seorang yang bisa mengembangkan perguruan Tay-khek-bun kita sehingga menjadi termashur dalam dunia persilatan"

Nona berbaju perak itu mendengus dingin dampratnya.

"Kurangajar, rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup lagi didunia ini!""

Seraya berkata jari tangannya segera disentil ke depan melancarkan sebuah serangan Segulung desingan angin tajam yang terasa menyayat badan segera meluncur kemuka dan menerjang ketubuh Yan Lo-sat Hong Im.

Menghadapi ancaman yang begitu dahsyatnya Yan Lo-sat Hong Im merasa amat terperanjat.

Buru-buru dia melangkah ke samping dan beruntun menghindar sebanyak tiga kali dengan suatu gerakan tubuh yang sangat aneh "Breeet!"

Betapa cepatnya dia menghindar, jubah panjangnya toh sempat tersambar juga oleh desingan jari tangan sinona baju perak yang maha dahsyat itu.

Paha putihnya yang montok dan halus segera tampak jelas didepan mata.

Paras muka Yao Lo-sat Hong Im segera berubah hijau membesi.

Sambil tertawa dingin serunya.

"Bagus sekali. Susiok! Kau dulu yang bersikap kasar kepade boanpwe. Jangan salahkan kalau Hong Im tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi kepadamu"

"Kau purya kepandaian apa? Gunakan saja semuanya!"

Jengek sinona baju perak itu dengan suara dingin. Tiba-tiba Yan Lo-sat Hong Im tertawa seram serunya.

"Susiok, ilmu silatmu sudah termashur di kolong langit semenjak enam puluh tahun berselang. Boanpwe juga tahu kalau kepandaianmu nada tandingannya di kolong langit. Tentu saja kepandaian boanpwe tak lebih hanya sinar kunang-kunang yeng dibandingkan dengan sinar rembulan. Walaupun demikian, boanpwe persilahkan susiok untuk merasakan kehebatan dari Tay khek ngo heng kiam tin yang baru saja kami ciptakan. Bila ada sesuatu kekurangan, sudilah kiranya susiok memberi petunjuk"

Dari perkataannya itu dapat diketahui bahwasanya dia hendak mempergunakan ilmu barisan Tay khek ngo kiam tin dari perguruan Tay-khek bun untuk mengurungi si nona berbaju perak itu.

Pada saat itulah, dari sebelah timur pelan-pelan berjalan keluar lima orang kakek berjubah abu-abu yang sama-sama menyoren pedang.

Ketika tiba disamping Yan Lo-sat Hong Im, salah seorang kakek yang bertubuh kurus dan ceking itu segera berkata dengan serak serak basah.

"Hong buncu, ada petunjuk apakah kau mengundang kami?"

Dengan suara dalam Yan Lo-sat Hong Im berkata.

"Tay khek ngo kiamsu, bentuk barisan Tay-khek ngo-heng kiam tin kali ini!"

Gak Lam-kun kuatir kalau nona berbaju perak itu kena dipecundangi orang, buru-buru dia melompat kedepan sambil tertawa tergelak-gelak dengan nyaringnya.

"Hong Im!"

Dia berseru keras.

"Biar aku orang she Gak yang mencoba dahulu kehebatan ilmu barisan itu, ingin kulihat sebenarnya sampai dimana kelihayannya"

Sementara itu, kelima orarg kakek berbaju abu-abu itu sudah menyebarkan diri dan masing masing berdiri pada posisi Ngo-heng yang terdiri dari Kim (emas), Bok (kayu), Sui (air), Hwee (api) dan Teh (Tanah).

Kelima orang itu berdiri dengan tangan kiri menyanggah pedang, tangan kanan bersiap siaga, mereka bersiap-siap dengan tubuh yang tegap kokoh bagaikan batu karang.

Dengan pandangan sinis, Yan Lo-sat Hong Im memandang sekejap ke arah Gak Lamkun.

Kemudian tanpa terasa mendongakkan kepalanya dan tertawa terkekeh kekeh.

Suara tertawanya penuh mengandung nada sindiran mengejek serta mencemooh.

Gak Lam-kun yang ditertawakan seperti itu menjadi naik pitam, dengan suara keras bentaknya.

"Hong Im, kau pastas dibikin mampus!"

Ditengah bentakan tersebut, telapak tangannya segera diayunkan ketengah udara melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang langsung menerjang ke badan Hong Im.

Mimpipun Yan Lo-sat Hong Im tidak mengira kalau dalam usia yang begitu muda ternyata Gak Lam-kun memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna.

Kekuatan dari serangannya itu sudah cukup untuk menggempur sebuah bukit.

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 16

Baca Juga: Anak Naga 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert