Ceritasilat Novel Online

Naga Merah 2

Eps 2 Naga Merah - Khu Lung

Baca online Naga Merah - Khu Lung

Cersil Naga Merah - Khu Lung.

Sehabis berkata, ketua Siao lim pay ini lalu mengajak kedua kawan dan semua anak muridnya pergi meninggalkan tempat tersebut.

Semua orang menyaksikan berlalunya tiga ketua partai besar bersama-sama anak muridnya masing-masing sambil menarik napas panjang-panjang.

Ciang hay Sin kun mengawasi Pek lek cu sejenak lalu berkata.

"Kalau dilihat dari sepak terjangnya rupanya Naga Merah benar-benar sudah angot.

Kenapa dia mau menggulung seluruh orang-orang dalam rimba persilatan?

Perbuatannya itu berarti akan membawa bencana bagi dunia Kang-zsouw yang selama ini tenang tenteram."

"Aku pasti mau bertemu sekali lagi dengan si Naga Merah. Dia secara terang-terangan sudah berani menusukkan konde itu ke badannya ketua Siao lim pay rupanya. Goan khut si hwesio tua itu sudah terancam jiwanya."

Bicara sampai di situ agaknya orang yang baru bicara ini, Pek lek cu ingat sesuatu mendadak berkata pula.

"Hui Chiang hay Setan tua! Apa kau juga ada dugaan kalau pemuda aneh baju kelabu itu ada hubungannya dengan si Naga merah?"

"Rasanya tidak mungkin."

Demikian jawab Ciang hay Sin kun.

"Bagaimana dia mempunyai hubungan dengan si Naga Merah? Kau Pek lek cu tidak perlu banyak curiga."

Mengucapkan kata-katanya ini Ciang hay Sin kun sambil bersenyum. Ketika itu Pek lek cu membungkam seperti orang berpikir lama sekali akhirnya berkata lagi.

"Kau tahu, ke mana pemuda aneh itu?"

Mengingat dirinya pemuda aneh berbaju kelabu itu, Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya semua merasakan bahwa pemuda itu sama halnya dengan Si Naga Merah yang juga merupakan seorang aneh yang sangat misterius tindak tanduknya.

Ciang hay Sin kun juga lantas berkata.

"Ia sebetulnya seorang anak muda yang sangat misterius. Aku yakin belum jauh keluar ia dari sini selat Ba Siong Hiap ini. Mari kita cari !"

Pek lek cu ingin mencari jejaknya Naga Merah lagi, lantas mengadakan permufakatan dengan Ciang hay Sin kun dan kawan-lawannya lantas pamitan kepada mereka bertiga, hingga sebentar kemudian sudah menghilang dari depan mereka.

Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya balik kembali mencari si pemuda aneh di tempat di mana tadi ia bertaruh dengan Pek lek cu.

Tapi pada waktu itu si pemuda aneh yang sedang mengadakan pertaruhan baru dalam pengetahuan ilmu silat dengan si gadis baju merah sudah memasuki babak yang menentukan.

Tan Liong pemuda aneh itu, kelihatan sudah mengucurkan keringat dahinya, sebab ilmu silat yang disebutkan si nona tadi, sebetulnya adalah salah satu jurus ilmu silat yang luar biasa.

Diam-diam Tan Liong terkejut, hatinya sedikit gelisah.

Sama sekali belum pernah diduga bahwa nona itu merupakan lawannya yang kuat sekali.

Makin berpikir pemuda itu makin nampak gelisahnya, berdirinya sudah tak tetap lagi.

Mendadak di dalam otak terlintas bayangan orang tua, seperti membangunkan semangat.

Iapun ambil keputusan tidak membiarkan potongan mangkok pecah itu terjatuh dalam tangan si nona itu.

Ia menyusut keringat yang mengucur di dahi, matanya memandang ke arah si nona.

Pandangan sepintas lalu itu telah mengejutkan hatinya.

Saat itu diam-diam ia berpikir.

"Mengapa mukanya mirip benar dengan dia? Siapa sebenarnya perempuan ini? Dari mana dia mendapatkan kepandaian begitu tinggi? "

Gadis baju merah itu ketika melihat Tan Liong mengawasinya, lalu menegur sambil unjuk senyum manis di bibirnya.

"Perlu apa kau memandangi aku saja? Kalau kau tidak bisa memikirkan jawaban jurus tadi mengaku kalah saja, kan baik?"

Dengan wajah kemalu-maluan Tan Liong yang ditegur menunjuk, setelah kertak gigi mendadak matanya dibuka lebar-lebar. Saat itupun ia lalu menjawab.

"Ceng-lie Sang hoay."

Gadis baju merah itu lalu berkata sambil memutar-mutar biji matanya.

"Benar. Dan sekarang kau boleh sebutkan jurus yang kedua."

Tan Liong lantas menyebut namanya tipu sakti yang kedua.

"Goat lok Hoa cian."

Katanya.

Gadis baju merah itu nampak mengerutkan keningnya, pikirannya sedang bekerja keras rupanya.

Tan Liong menarik napas lega.

Matanya kembali ditujukan keatas wajah gadis baju merah itu.

Gadis itu tidak memperlihatkan sikap apa-apa tetapi dari parasnya yang berwibawa membikin jeri siapa yang melihatnya.

Dari wajah si gadis baju merah itu Tan Liong agaknya menemukan apa-apa.

Ia ingat benar bahwa semasa hidupnya waktu lampau pernah ada seorang wanita yang rupanya mirip benar dengan gadis di hadapannya yang pernah menempati hatinya, mencuri hatinya.

Wanita yang berhasil meminta tempat dalam lubuk hatinya itu baik paras maupun bentuk tubuhnya, sungguh mirip sekali dengan gadis baju merah yang sekarang berada dihadapannya itu.

Yang berbeda hanyalah usianya.

Ebook by .

Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com Kelihatannya gadis baju merah yang dihadapinya ini lebih tua sedikit dari gadis yang pernah menempati hatinya.

Akan tetapi gadis yang ia cintakan sudah pergi!

......

Kawin dengan lelaki lain .....

Mengingat gadis idamannya itu diam-diam si pemuda kertak gigi.

pikirnya.

"Itulah perempuan.

Kalau aku tidak menemukan nasib seperti sekarang ini hingga saat ini barangkali ia masih berada disisiku.

Segala sumpah yang pernah dinyatakan bersama segala kata-kata sehidup semati seperti masih berada dalam otakku.

tapi kemana sekarang dia?

Dia sudah pergi untuk tidak kembali lagi ......"

Selagi masih terbenam dalam lamunannya yang pahit getir tiba-tiba terdengat suara gadis baju merah.

"Cun yang Sang loan".

"Kalau begitu sekarang giliran nona, katakanlah jurus nona yang kedua."

Si nona lalu berkata sambil perlihatkan senyumnya yang menggiurkan.

"Jurus ke dua, Pie bun Ie su."

Pengetahuan dan kepandaian dalam ilmu silat gadis baju merah ini memang jauh berada di atasnya apa yang dimiliki Tan Liong.

Dari selang waktu untuk menjawab setiap perkataan yang diucapkan masing-masing lawan itu sudah dapat dilihat perbedaan tingkat mereka.

Nama yang disebut oleh si gadis baju merah itu kembali membuat Tan Liong harus menggunakan otaknya lagi dengan keras, kelihatan makin lama makin gelisah.

Sang waktu sedetik demi sedetik terus berlalu.

Tan Liong masih belum mampu menyebutkan jawaban jurus yang disebut nona itu.

Si gadis baju merah memandang Tan Liong sejenak!

Lalu berkata.

"Kau kalah."

Mendengar pernyataan itu Tan Liong merasa kepalanya disambar geledek, hampir badannya roboh di tanah, wajahnya pucat pasi hatinya mendelu.

Si gadis baju merah masih tetap dengan sikap dinginnya, sambil ketawa dingin pula ia berkata.

"Tan Liong, kau sudah kalah dalam pertandingan ini, maka benda ini hendak kubawa pergi."

Sehabis mengucapkan perkataannya, lalu nampak bayangan merah berkelebat, hendak berlalu. Tan Liong nampak gelisah, ia lantas berseru.

"Harap nona suka tunggu sebentar ......"

Gadis baju merah itu balik badan dan menanya dengan suara dingin.

"Kau masih perlu apa lagi?"

Tan Liong setelah mengalami kekalahan dan kekuatiran kini sudah berobah menjadi tenang kembali.

Potongan pecahan mangkok itu meski besar sekali hubungannya dengan dirinya sendiri, tetapi karena sudah ada perjanjian di muka, sudah tentu ia tidak dapat kembali begitu saja, ia juga tahu bahwa dalam kekalahan kali ini ada tipis harapannya untuk mengambil kembali benda itu dari tangannya si nona.

Namun ia masih terus mencoba.

Maka setelah menghela nafas perlahan ia lalu berkata.

"Sekalipun nona sudah berhasil menangkan aku, tapi itu juga bukan suatu hal yang patut dibanggakan. Bolehkah nona memberitahukan kediaman nona? Dalam waktu sebulan ini aku nanti pasti akan ambil kembali mangkok pecah itu. Dengan terus terang kuberitahukan pada nona benda itu besar sekali artinya bagiku, yang sebetulnya tidak boleh gampang-gampang dibikin hilang. Tapi karena sekarang aku sudah kalah dalam pertandingan tadi, benda itu untuk sementara boleh kau bawa pergi aku tidak menyesalkan tindakan nona."

Wanita itu berkata sambil bersenyum.

"Boleh Cuma dalam waktu sebulan ini kau tidak boleh membunuh orang lagi."

Tan Liong terkejut bukan main, matanya terus menatap si nona.

Wajahnya yang tadi dingin kecut, kini mulai berobah, kuatir tergetar dan tegang ....

Semua perasaan itu terkilas diwajahnya.

Siapakah dia?

......

Pertanyaan ini kembali berputaran seperti roda pedati dalam otak.

Tetapi masih tetap ia belum dapat menduga siapa adanya gadis baju merah itu.

Ia insyaf bahwa untuk pertama kali ini ia menghadapi suatu soal yang amat sulit.

Dulu belum penah ia merasa kuatir sampai sedemikian rupa, sekarang harus meragukan hal demikian tentu saja sulit sekali keadaannya.

Sejurus ia tergagap tak dapat menjawab sambil tatap mengawasi si nona, akhirnya lama baru menjawab.

"Boleh."

Wanita baju merah itu berkata sambil ketawa dingin.

"Baiklah, aku berdiam di lembah Hong hwee kok di gunung Im yang san. Tetapi kau juga harus menerima syaratku yang lain, tempat kediamanku itu tak boleh kau beritahukan pada orang kedua."

"Kau tak usah kuatir."

Jawab Tan Liong singkat.

Wanita baju merah itu lalu tak berkata apa-apa lagi, kembali ia putar badannya dan sebentar kemudian sudah menghilang dari depan mata Tan Liong.

Gerakannya yang sangat gesit dan lincah itu sangat mengejutkan hati Tan Liong si pemuda baju kelabu.

"Sesungguhnya kepandaian wanita baju merah itu kalau dilihat gerakannya, mungkin tidak dibawahnya si Naga Merah." 0—dw---0 KEMBALI ia menarik napas panjang, .... pikirannya dirasakan ruwet tidak karuan. Dalam hidupnya, untuk kedua kali ini ia jatuh di tangan wanita. Tapi kali ini jatuhnya sangat mengenaskan sekali. Pertama kali juga dikarenakan adanya wanita yang menyebabkan seluruh jalan darah pentingnya tertutup semua, hingga kepandaian ilmu silatnya tak dapat digunakan. Tetapi iapun tahu benar bahwa perbuatan wanita pertama itu dilakukannya tanpa sengaja. Dan kini untuk kedua kalinya ia terjungkal ditangannya gadis baju merah, wanita juga malah kali ini benar-benar ia jatuh ! Sebab pecahan mangkok yang sepotong itu yang dipercayakan oleh suhunya boleh dibawanya kini telah dibawa pergi oleh si gadis baju merah. Dalam hatinya si pemuda ini terus berpikir.

"Jikalau suhu mengetahui hal ini entah bagaimana gusarnya...."

Memikir sampai di situ, diam-diam ia merasa bergidik sendiri.

Kembali ia memikirkan wanita baju merah itu.

Bagaimana ia bisa mengetahui namanya dan apakah benar tahu juga wanita itu mengenai asal usulnya?

Hal tersebut masih disangsikan olehnya.

Demikian berpikir pergi datang kemudian mencetuskan semacam pikiran sebagai jawabannya ia berkata sendiri, sampai dihampiri oleh tiga orang juga ia masih belum sadar.

Ketiga orang yang mendatanginya itu tidak lain adalah Yan san It Hiong.

Pendekar Kalong dan kawannya.

Melihat ketiga orang itu, Tan Liong bersenyum simpul.

Dalam hatinya berkata pada diri sendiri.

Ada satu hari jikalau kepandaianku sudah kembali seperti asal, aku nanti akan serang kau, Ciang hay Sin kun mati dalam cengkeramanku.

Matanya pemuda baju kelabu ini lalu ditujukan ke arah Pendekar Kalong seperti ingat sesuatu lalu bertanya pada pendekar itu "Locianpwee, aku ingin menanyakan padamu satu hal.

Apakah dalam dunia Kangouw ada seorang wanita kosen yang mempunyai kesukaan memakai baju merah ......

Selanjutnya, ia memberitahukan raut muka, bentuk tubuh dan lain-lain seperlunya dari wanita yang ditanyanya itu.

Pendekar Kalong yang ditanya demikian agaknya juga kaget, berpikir sejenak lalu menjawab sambil geleng-gelengkan kepala.

"Tidak ...... Bagaimana tuan mendadak bisa mengeluarkan pertanyaan demikian? "

"Aku hanya ingin menanya saja."

Jawab Tan Liong hambar.

"Harap tuan suka maaf jikalau aku berlaku gegabah. Bolehkah tuan beritahukan siapa nama guru tuan yang mulia?"

Demikian balik Tanya Pendekar Kalong.

"Tentang ini"

Jawab Tan Liong.

".... maaf tak dapat kuberitahukan? "

"Diantara tuan dengan si Naga Merah apa masih ada lain hubungan?"

Kini adalah Ciang hay Sin kun yang bergilir bertanya. Mendengar pertanyaan itu, mendadak wajah Tan Liong berubah. Pemuda ini dengan suara ketus bernada bengis berkata.

"Apa perlu kau menanyakan soal itu? "

Bentakan itu laksana bunyi halilintar di tengah hari bolong, membuat Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya terkejut. Lama sekali orang tua itu baru berkata lagi.

"Lohu hanya ingin menanya saja."

Sikap Tan Liong cepat kembali seperti semula, ketus dingin ia berkata pula.

"Naga merah sudah pergi. Kalian juga boleh pergi."

"Peristiwa di sekitar selat Bu siang hiap meskipun kini sudah lewat, akan tetapi bencana akan timbul lagi di biara Siao sie digunung Siong san."

Kata Ciang hay Sin kun. Mendengar kata kata ini, Tan Liong rupanya terkejut.

"Apa Naga Merah berani mencari setori dengan Siao lim pay? "

"Benar. Apa tuan juga ingin pergi ke bukit Siong san? "

Tan Liong memandang Ciang hay Sin kun sejenak, lalu berkata.

"Sudah tentu aku akan datang kalau waktunya sampai. Biar bagaimana aku harus membuka kedoknya Naga Merah itu."

Naga Merah sudah terang-terangan menantang Siao lim pay.

Perlambang mautnya tusuk konde juga sudah berada di tangan ketua Siao lim pay, telah membuat Tan Liong kaget dan terheran-heran.

Ciang hay Sin kun mengawasi sikap dan wajah Tan Liong setelah berdiam sejenak lalu berkata pula.

"Kalau tuan memang ada maksud hendak pergi ke Siao lim sie, tiga hari kemudian kita nanti bertemu lagi di sana."

Sehabis mengucapkan perkataan itu bersama-sama Pendekar Kalong dan Yau san It hiong lantas Ciang hay Sin kun berlalu.

Tan Liong yang menyaksikan keadaan sekitar selat Bu siong hiap yang kini telah sunyi senyap keadaannya lalu menghela napas panjang.

Dalam otaknya selalu memikirkan dirinya Naga Merah itu, entah siapa adanya Naga merah ini ........

Tentang siapa adanya orang yang mengaku dirinya Naga Merah itu bukan hanya Tan Liong saja yang tak dapat memikirkan sekalipun orang-orang di seluruh rimba persilatan juga tak seorang yang dapat mengetahui.

Meskipun tusuk konde berukiran Naga Merah yang merupakan lambang maut itu sudah muncul sampai enam belas kali serta sudah minta korban enam belas jiwa pula akan tetapi wajah asli Naga Merah itu masih tetap merupakan wajah di balik kerudung yang sukar disingkap.

Sebab, yang dilihat orang dari luaran Naga Merah hanya merupakan seorang yang memakai kerudung merah dengan pakaian serba merah pula.

Sekalipun Pek lek cu sendiri, salah seorang dari Bu lim Sam cu, juga masih belum mengetahui siapa adanya orang yang mengaku Naga Merah itu.

Setelah Naga Merah muncul dalam dunia Kang-zsouw apa sebabnya ia harus melakukan pembunuhan terhadap orang-orang dunia Kang-zsouw?

Tak seorangpun dapat menduga teka teki yang menyeramkan itu.

Lambang maut yang berupa tusuk konde untuk ketujuh belas kalinya akan muncul lagi, kini perhiasan rambut wanita ini jatuh dalam tangannya ketua Siao lim pay ketua partai terbesar dalam dunia rimba persilatan.

Hal ini dengan sendirinya sebentar saja menjadi buah tutur orang-orang menggemparkan seluruh rimba persilatan !

Nyalinya Naga Merah sungguh tidak kecil, terhadap Siao lim pay, partai terbesar begitu berani menantang secara terang-terangan pula, sudah merupakan suatu hal yang boleh dikata terlalu meninggikan diri sendiri.

Oleh karena Siao lim pay merupakan suatu partai yang boleh dikata terbesar dalam dunia Kang-zsouw maka dengan sendirinya tak mengherankan kalau dalam waktu sekejap orang-orang telah mengetahui peristiwanya.

Hal itu benar-benar merupakan peristiwa besar yang belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Perlu kiranya diketahui Siao lim pay yang mempunyai kedudukan tertinggi sebagai pemimpin seluruh cabang persilatan di daerah Tiong goan atas perbuatan Naga Merah itu terhadap partai besar itu tidak seorangpun yang tidak mengagumi nyalinya.

Tetapi benarkah Naga Merah berani mengunjungi Siao lim pay itu?

Pertanyaan ini segera menjadi buah tutur hampir semua orang-orang Kang-zsouw.

Bagi Siao lim pay sendiri pihak yang mendapat tantangan tersebut, juga tentunya sangat terkejut.

Dan oleh karenanya pula maka Siao lim pay lantas memerintahkan seluruh anak muridnya mengadakan penjagaan yang sangat kuat, sebab mereka kuatir Naga Merah nanti setiap saat datang ke biara Siao lim sie.

Satu malam yang gelap gulita ..........

Kegelapan di malam itu menyelubungi alam kabut disekitar bukit Siao sie hong yang menjulang tinggi ke langit.

Dari dalam biara Siao lim sie terkadang berkumandang suara yang menggema tajam dan setelah bunyi genta itu sirap, keadaan sunyi senyap seperti sedia kala.

Dalam keadaan gelap petang itu terlihat gerak tubuh para pendeta biara Siao lim sie yang semuanya bersikap tegang.

Biara Siao lim sie yang namanya terkenal dimana-mana, yang juga merupakan salah satu biara terbesar, di halaman sunyi itu keadaannya seolah-olah diliputi oleh awan ketegangan.

Siao lim pay sudah didirikan oleh Tat mo Siansu hingga masa kini, selama beberapa ratus tahun belum pernah mengalami kejadian seperti malam itu.

Dalam kesunyian yang mengandung juga keseraman itu, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan yang dengan gerakan sangat gesit dalam waktu sekejap sudah sanpai di depan biara besar yang megah itu.

Kini tampak jelas bayangan tersebut berwarna merah.

Setelah mengawasi tiga huruf besar Siao lim sie yang terukir dari emas semuanya, lalu memperdengarkan suara dingin.

Meskipun di dalam biara sudah diadakan penjagaan kuat rapat, namun bayangan merah itu dengan caranya yang begitu berani sudah masuk ke dalam biara, betapa tidak mengejutkan?

Bayangan merah itu gerakannya gesit laksana berkelebatnya sinar kilat, dalam waktu sekejapan saja sudah berhasil melampaui beberapa puluh genteng kamar dan terus menuju kebagian pendopo ruangan Tat mo-ie.

Tat mo-ie merupakan suatu tempat, juga tempat bersemadinya Goan khut ketua Siao lim pay pada masa itu.

Dan kalau bayangan merah itu lari menuju ke Tat mo-ie sudah tentu ada maksudnya.

Apa yang mengherankan ialah, pendeta-pendeta yang tersebar begitu luas rupanya tidak melihat sama sekali kedatangannya bayangan merah itu.

Apakah bayangan merah ini bukannya Naga Merah?

Sudah tentu pertanyaan ini paling depan harus diajukan.

Karena siapa lagi kalau bukan Naga Merah yang begitu datang terus ke Tat mo ie?

Bayangan merah itu rupanya terkejut, seketika itu lompat melesat dan bersembunyi di dalam rimba sekitar Tat mo-ie.

Setelah suara genta itu sirap, para pendeta yang meronda melakukan penjagaan semua lantas berhenti berjalan.

Tidak lama setelah bayangan merah itu masuk ke dalam biara Siao lim sie, pendeta-pendeta yang tadi meronda rupanya sudah mendapat firasat kalau biaranya sudah kemasukan orang jahat.

Tetapi karena menganggap penjagaan mereka sudah cukup kuat, yang mereka kira meski seekor burung saja tak dapat lalu diatas daerahnya pasti takkan lolos dari matanya pendeta-pendeta penjaga tadi.

Bayangan merah yang tadi masuk secara mudah, sedianya mau mengira kalau di dalam biara itu tidak diadakan penjagaan sedikitpun, akan tetapi siapa yang pernah menyangka diluar dugaannya segala gerak geriknya sudah diincar secara diam-diam dan tidak barang setapak bisa luput dari mata orang-orang yang bersembunyi disekitarnya.

Oleh karena menganggap perbuatannya tidak ada yang melihat, maka setelah suara genta sirap bayangan merah itu lalu keluar dari dalam rimba dan terus lari ke Tat mo-ie.

Siapa nyana baru saja kakinya bergerak dihadapannya sudah muncul seorang pendeta gemuk dan tinggi besar yang dengan tangan memegang serenceng tasbeh menghadang perjalanannya.

Pendeta tinggi gemuk itu setelah menyebut nama Budha lalu berkata.

"Ada maksud apa tengah malam buta sicu mengunjungi biara? "

Orang baju merah itu memperdengarkan suara ketawanya yang menyeramkan, lalu menjawab.

"Aku kepingin tahu biara yang namanya kesohor di kolong langit ini sebetulnya ada seperti sarangnya naga atau gua macan atau tidak? "

"Kalau begitu sicu ini adakah yang disebut orang-orang Naga Merah? "

"Benar,"

"O Mie To Hud!

Pintu Budha masih luas terpentang bagi siapa saja ingin mengakui dosanya.

Sicu telah melakukan begitu banyak pembunuhan atas jiwa-jiwa manusia.

Sudah seharusnya jikalau segera bisa insyaf agar ......

agar jangan sampai ....."

Belum habis ucapan yang keluar dari mulut pendeta gemuk itu mendadak Naga Merah memotong.

"Hwesio kepala gundul !

Naga Merah dengan kalian orang-orang Siao lim pay ada permusuhan sangat dalam.

Malam ini kalau aku tidak mampu mengobrak abrik biara Siao lim sie bersumpah tidak mau jadi orang lagi."

Sehabis berkata lantas badannya bergerak menerjang si pendeta tinggi gemuk.

Pendeta tinggi gemuk itu dalam barisan anak murid Siao lim pay mendapat kedudukan sangat tinggi.

Dia adalah Susioknya Goan khut yang kini memegang tampuk pimpinan Siao lim pay.

Hwesio ini bergelar Ceng goan.

Diserang secara mendadak Ceng goan menyebut nama Budha dan kakinya lantas digeser kesamping badannya menyingkir setombak lebih kemudian setelah mengebut dengan lengan jubahnya dari situ lantas meluncur angin dingin yang langsung menyerang si Naga Merah.

Semua gerakan tadi dilakukan pendeta tua itu dalam waktu singkat cepat sekali.

Walaupun demikian ternyata si Naga merah dapat bergerak lebih gesit Nampak berkelebat bayangan merah di Naga merah sudah menyambuti serangan Ceng goan dan kemudian malah balas menyerang.

Kedua orang itu bertempur gerakannya cepat laksana kilat.

Naga Merah yang sudah berani menantang Siao lim pay apalagi memang hatinya kejam dan tangannya telengas maka kedatangannya ke biara itu dengan sendirinya sudah membawa tekad menghancurkan musuh.

Maka serangannya itu dilakukan dengan tenaga besar sepenuhnya.

Setelah serangannya barusan dilancarkan, mulutnya lantas berseru.

"Hwesio kepala gundul, rebah kau ! "

Suara itu disusul oleh suara yang gemuruh hebat !

Kekuatan tenaga dalam yang meluncur dari tangannya seketika itu menimbulkan angin puyuh begitu hebat, hingga badan Ceng goan yang gemuk dan tinggi sampai terpental mundur beberapa tindak untuk selanjutnya jatuh terjengkang !

Kekuatannya si Naga Merah betul-betul sangat mengejutkan.

Dalam waktu segebrakan saja sudah berhasil dia merubuhkan salah satu orang terkuat yang berdiam dalam ruangan partai besar Siao lim pay.

Beberapa hwesio yang sembunyi ditempat gelap, ketika menyaksikan kejadian demikian semuanya pada terperanjat.

Dan mereka kini baru mendapat kenyataan bahwa desas-desus di dunia Kang-zsouw tentang tingginya kepandaian si Naga Merah ternyata benar adanya.

Naga Merah setelah merobohkan lawannya lantas tertawa tergelak-gelak.

Puas ia ketawa lalu lompat melesat dan terus menuju ke ruangan Tat mo-ie.

Tetapi sebelum tempat tujuan tercapai kembali terdengar suara orang membentak.

Si Naga Merah merandak, dihadapannya telah berdiri empat orang hwesio yang masing-masing membawa senjata tongkat dan berdiri merintangi perjalanannya.

Salah seorang dari keempat pendeta itu malah lantas berkata dengan suara dingin.

"Sicu tengah malam buta berani memasuki biara kami berarti sicu tidak pandang sebelah mata partai kami lagi."

Demikian katanya.

"Bahkan sicu berani melukai salah satu Tiang lo partai kami, maka malam ini kami nanti akan suruh sicu tidak bisa pulang dalam keadaan utuh."

Sehabis berkata empat pendeta itu perlahan-lahan mulai mengurung si Naga Merah.

Selagi empat hwesio itu hendak bergerak disekitarnya kembali sudah muncul empat belas orang hwesio.

Empat belas hwesio yang belakangan ini masing-masing memegang senjata di tangan telah mengurung rapat si Naga Merah ditengah-tengah.

Ditilik dari gerakan para hwesio tersebut itu merupakan suatu kejadian yang langka selama beberapa ratus tahun berdirinya biara Siao lim sie.

Di samping pendeta-pendeta yang menghadapi musuh itu yang lainnya juga sudah siap sedia ditempat gelap.

Suasana tegang lantas meliputi puncak Siao sie hong di gunung Siong san itu.

Sebetulnya apa sebab Naga Merah bisa mengunjungi biara Siao lim sie dan hendak merobohkan partai Siao lim pay dalam hal ini sudah barang tentu bukan tanpa sebab.

Akan tetapi sebab musababnya terjadi permusuhan antara si Naga Merah dengan Siao lim pay itu sekalipun ketuanya sendiri Goan khut yang memimpin partai besar itu juga tidak tahu.

Mendadak, mendadak sekali sebelum 18 orang hwesio itu hendak turun tangan terhadap si Naga Merah, lantas terdengar suara seperti setan yang memecahkan suasana sunyi di malam itu.

Suara itu adalah suaranya si Naga Merah setiap kali apabila ia hendak unjuk gigi..

Akan tetapi suara itu sesungguhnya sangat ganjil terdengarnya, sebab Naga Merah yang seluruh badan dan kepalanya merah terang terangan waktu itu sedang berdiri terkurung rapat oleh 18 hwesio-hwesio Siao lim sie, bagaimana mendadak bisa timbul pula suara yang terdengarnya bersumber dari tempat kejauhan?

Suasana di biara Siao lim sie malam itu tidak beda dengan keadaannya di selat Bu siong hiap sebagai orang-orang kuat menantikan untuk menghadapi si Naga Merah empat hari.

-o0o0dw0o0o-

Jilid ke .

5 Hanya yang sedikit berlainan di bukit Seng san ini tidak terdapat orang-orang kuat lainnya yang menyaksikan dan sebagai gantinya adalah hwesio-hwesio dari biara Siao lim sie sendiri yang sudah pada muncul.

Di samping para hwesio itu hanya terdapat Pek lek cu Ciang hay Sin kun, pendekar Kalong dan Yan san It Hong yang saat itu keempatnya datang ke biara Siao lim sie khusus untuk menyaksikan peristiwa tersebut, mereka berempat pada bersembunyi di tempat gelap untuk menantikan segala perubahan.

Dan mereka berempatpun ketika mendengar suara seperti setan itu diam-diam pada merasa kaget dan keheran-heranan.

Dalam hati masing-masing sudah barang tentu pada menanya, bagaimana di biara Siao lim sie kali ini bisa muncul dua Naga merah?

Setelah suara seperti setan hilang, Naga Merah yang terkurung oleh 18 hwesio seketika memperdengarkan suara ketawanya yang menyeramkan dan pada saat itu pula 18 hwesio sudah pada mulai bergerak, senjata-senjata tongkat mendadak melakukan serangan dari berbagai penjuru.

Naga merah ketawa dingin lalu tangannya nampak berputar sedangkan mulutnya terbuka dan membentak.

"Hai, kawanan orang-orang gundul! Aku kepingin tahu apa dengan cara main keroyok seperti ini kalian kawanan hwesio dari Siao lim sie bisa berbuat apa terhadapku? "

Setelah berkata begitu, ia lantas balas menyerang dengan hebat.

Tetapi si Naga Merah ternyata sudah salah hitung terhadap gabungan delapan belas hwesio itu.

Delapan belas orang hwesio itu bukan hanya merupakan tenaga-tenaga pilihan dari partai Siao lim pay, bahkan itu (barisan) yang digunakan oleh delapan belas orang hwesio itu adalah Cap pek Lo han tin, salah satu barisan yang memakan pikiran berkat ilmu simpanan leluhur Siao lim pay.

Betapapun hebatnya serangan si Naga Merah tadi, tetapi sedikitpun tidak menggoyahkan atau membikin kalut barisan kecil itu.

Hanya tampak mundurnya barisan itu secara teratur sejenak, setelah itu lantas pada maju meluruk lagi.

Selagi pertempuran masih berjalan dengan sengitnya disekitar delapan belas hwesio itu kembali muncul lagi tiga puluh hwesio !

Sedang menurut perhitungan Naga Merah ketika ia mengirim serangannya tadi, sedianya sudah mengira kawanan hwesio sekalipun tidak mampus sedikitnya pasti ada beberapa orang yang akan terluka parah.

tetapi kenyataannya tidak seperti apa yang ia duga.

beberapa orang dari antara 18 hwesio itu meskipun ada yang berkelit menghindarkan serangannya, tetapi lainnya sudah mengurung dan menyerang lagi.

Hal ini membuat si Naga Merah diam-diam juga terkejut, Mana ia tahu bahwa barisan Cap pek Lo han-tin ini ada merupakan salah satu buah ciptaannya Tat mo Siansu, barisan itu ada mengandung ilmu Pat kwa dan Kui kiong.

Ebook by .

Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com Delapan belas hwesio itu maju mundurnya semua mempunyai gerak dan bahkan garis yang tertentu.

Bahkan ini sebenarnya jarang sekali digunakan apabila tidak menghadapi musuh kuat.

Dari situ sudah merupakan suatu bukti betapa hebatnya barisan tersebut.

Semula Naga merah tidak pandang mata barisan tersebut, tetapi setelah beruntun lima kali melancarkan serangannya tanpa hasil tidak ada salah satu orangpun diantara 18 orang itu yang dapat diambil nyawanya, barulah ia tahu hebatnya barisan tersebut dan bahkan ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa delapan belas hwesio itu semua ada begitu lihai.

Pada waktu itu suara siulan seperti setan itu kembali terdengar berkumandang nyaring kedengarannya semakin dekat dan malah sudah dekat sekali.

Hwesio yang berada di situ ketika mendengar suara itu lantas pada berubah wajahnya.

Selagi dalam keadaan demikian tiba-tiba terdengar suara yang diucapkan dengan nada dingin kaku "Tidak nyana Siao lim sie juga bisa menggunakan cara main keroyok.

Mau peroleh kemenangan dengan mengandalkan jumlah orang yang lebih banyak.

Apakah dengan cara itu masih berani mengagulkan diri sebagai partai terkuat di dalam dunia Kang-zsouw?

Hal ini sesungguhnya sangat mengecewakan."

Karena suara itu datangnya secara dan diucapkan dengan nada demikan dingin menyeramkan, hingga seketika membikin bulu roma setiap pendengarnya pada berdiri.

Begitu sirap suara seram dingin itu seorang hwesio sudah bergerak dan melesat kearah suara tadi.

Hwesio itu juga merupakan seorang terkuat dalam barisan anak murid Siao lim pay pada dewasa itu.

Maka sebentar saja sudah sampai kedalam rimba dari mana suara tadi terdengar.

Tetapi baru saja hwesio itu injak kaki lantas terdengar suara tadi ditempat lain yang berkata.

"Bangsat kepala gundul enyah kau dari sini !"

Menyusul bentakan itu lalu terdengar suara gedebukan barang jatuh.

Kiranya hwesio yang menerjang ke dalam rimba tadi badannya yang gemuk sudah terpental dan melayang ke tengah udara untuk akhirnya jatuh ke tempat sejauh satu tombak dari barisan pengurung Naga Merah, mulutnya menyemburkan darah dan sudah tidak bisa bangun lagi.

Murid-murid Siao lim pay lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut tentu saja kaget sekali.

Pada saat hwesio gemuk tadi dibikin terpental keluar rimba, Pek lek cu sudah bergerak, menerjang ke dalam rimba sembari berseru.

"Siapa sahabat di sana? Tanpa sebab kau membunuh anak murid kalangan Budha, ini adalah salah satu kejahatan besar yang tak bisa diampuni! Mengapa kau tidak berani unjuk muka? "

Tetapi sebagai jawabannya hanya terdengar suara ketawa dingin yang kemudian menusul suara berkata.

"Tidak nyana kau Pek lek cu juga bisa pura-pura berlaku baik hati. Pada beberapa puluh tahun dulu bukankah kau pernah menggunakan sebuah bom Pek lek cu membikin hancur lebur seperti bubur badannya orang-orang kuat dunia Kang-zsouw? Dan diantara orang-orang yang membunuh dengan bommu itu ada delapan orang anak muridnya Budha. jikalau ucapanmu tadi boleh dipakai sebagai ukuran, bukankah kau sendiri, Pek lek cu juga akan merupakan seorang berdosa besar yang tak dapat diampuni dosa-dosamu? "

Dijawab demikian Pek lek cu bungkam dalam seribu bahasa, nerdiri terpaku tanpa dapat menjawab.

Lama sekali ......

diam-diam ia merogoh saku mengeluarkan sebuah bom Pek lek tannya kemudian baru buka suara lagi.

"Ucapanmu itu memang benar. Kita berdua memang orang-orang bersalah. Tapi ke mana kau justru main sembunyi-sembunyi tidak berani unjuk diri? "

Baru saja ditutup suara Pek lek cu, di belakang dirinya mendadak terdengar suara orang berkata.

"Kapan Naga Merah pernah main sembunyi-sembunyi? "

Bukan kepalang takutnya Pek lek cu, ketika balikkan badan kebelakangnya ternyata telah berdiri seseorang berperawakan tinggi besar berpakaian merah serta berkerudung merah pula !

Dan orang serba merah itu ternyata si Naga Merah yang pernah menggetarkan dunia Kang-zsouw .......

Pek lek cu menjadi pucat mukanya, sama sekali tak pernah disangkanya bahwa di dalam biara Siao lim sie itu dengan berbareng bisa melihat Dua Naga Merah.

Naga Merah yang semula unjuk diri tadi, masih tetap terkurung barisan Cap pek Lohan tin.

Semua anak murid Siao lim pay ketika secara mendadak melihat munculnya lagi seorang yang mengaku Naga Merah juga, diam-diam pada terheran-heran.

Entah yang mana sebenarnya Naga merah asli di antara kedua orang yang mengaku Naga Merah itu?

Naga Merah yang muncul kebelakang itu dengan sorot mata dingin memandang Pek lek cu yang masih berdiri kesima, lalu berkata padanya dengan suara dingin.

"Pek lek cu, jangan kata bahwa orang-orangnya Siao lim sie tidak mampu mengurung diriku, sekalipun tembok besi atau dinding baja. Naga Merah masih anggap sepi. Sekarang aku kepingin lihat apakah bom Pek lek tanmu yang dahsyat itu bisa membikin hancur badanku atau tidak?"

Sehabis berkata lalu lompat melesat ke arah Tat mo ie.

Pek lek cu membentak dengan suara keras, ia mengejar dibelakangnya Naga Merah sambil meluncurkan satu serangan jarak jauh dengan sepasang tangannya.

Selagi Naga merah hendak balikkan badannya untuk balas menyerang Pek lek cu dari tempat gelap tiba-tiba menyambar satu kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat mengarah dirinya.

Kemudian terdengar suaranya orang berkata.

"Kalau memang Naga Merah tidak pandang mata kepada orang-orang Siao lim sie jangan sesalkan kalau lolap berlaku kurang ajar kepadamu! "

Naga Merah ketawa dingin kemudian kelihatannya berkelebatannya satu bayangan merah dan semua serangan yang menyambar ke arah dirinya tadi telah mengenakan tempat kosong.

Tatkala itu Naga Merah ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.

Gerakan Naga Merah yang laksana setan bisa menghilang, dalam waktu sekejapan saja lenyap dari depan matanya Pek lek cu benar-benar membuat Pek lek cu terheran-heran tidak habisnya.

Ia masih merasa penasaran ia coba mencari sana sini tapi entah ke mana sembunyinya si Naga Merah itu ia tidak tahu.

Selagi dalam keadaan demikian mendadak telinganya mendengar suara geraman.

Dan tatkala dia menoleh ke arah dari mana datangnya suara itu, segera dilihatnya si naga merah yang terkurung dalam barisan Cap pek lo han-tin sedang berkutetan dan sedang melancarkan tiga kali serangannya.

Pek lek cu dalam hati merasa heran, bagaimana ada dua Naga Merah muncul secara berbareng pikirnya.

Memang sesungguhnyalah itu merupakan suatu hal yang sangat ganjil, suatu hal yang tidak mungkin dapat terjadi.

jikalau di sini ada satu Naga Merah bagaimana dan dari mana datangnya satu Naga Merah lain yang unjukkan diri dihadapannya tadi?

Dan entah yang mana satu yang tulen, serta mana pula yang palsu?

sebetulnya siapakah itu orang yang mengaku dirinya sebagai Naga merah?

Setelah suatu geraman tadi berlalu Pek lek cu yang ingin sekali lekas-lekas membuka kedok orang aneh yang diselubungi rahasia itu terus menghampiri Naga Merah yang terkurung dalam barisan itu ditangannya tetap ia masih menggenggam bom Pek lek tannya.

NAGA MERAH yang terkurung dalam barisan Cap pek Lo han tin sudah lebih dari setengah jam tetapi masih belum juga mampu memecahkan barisan tersebut, bukan saja merasa kaget dan terheran-heran, bahkan sudah mulai gemas hatinya.

Ia sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya namun masih tetap tidak berdaya dalam usahanya keluar kepungan.

Tiba-tiba agaknya si Naga Merah ingat pada sesuatu lalu setelah menyerang sekali ia bersiul nyaring dengan suaranya yang seperti setan itu, hingga membuat bulu roma berdiri bagi siapa yang mendengarnya.

Suaranya itu betul saja mengagetkan pendeta-pendeta yang mengurungnya dalam barisan Cap pek lo han tin itu.

Si Naga Merah setelah bersiul panjang dengan gerakannya yang cepat sekali lalu melancarkan lagi empat kali serangan beruntun mengarah empat orang hwesio yang berada di tempat paling dekat dengannya.

Serangan tersebut dilakukan dengan tenaga sepenuhnya, dan dengan cara yang berlainan pula.

Dalam kagetnya empat pendeta yang diserang itu lantas pada mundur berbareng.

Kesempatan itu telah digunakan sebaik-baiknya oleh si Naga Merah.

Selagi pendeta-pendeta lainnya belum medapat kesempatan untuk meintangi tindakannya, mendadak si Naga Merah sudah melesat keluar dari kurungan barisan tersebut.

Si Naga Merah ternyata bisa lolos dari kepungan barisan yang amat dahsyat itu dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian orang yang sangat misterius ini.

Berbareng pada waktu si Naga Merah melesat keluar dari dalam kepungan Cap pek Lo han tin, tiba-tiba terdengar suara mengaung, sebuah bom Pek lek tan telah jatuh di tempat berdirinya empat puluh hwesio itu ....

Empat puluh hwesio yang tadi masih dibikin kesima oleh gerakannya si Naga Merah, dan kini mendadak kesambar bom Pek lek tan secara mendadak, bukan saja tidak merasa, bahkan memang takkan menduga sama sekali akan terjadinya perobahan secara tiba-tiba itu.

Suara ledakan bom Pek lek tan yang amat dahsyat itu yang akhirnya meledak juga, meledaknya justru di biara Siao lim sie yang dipandang sebagai tempat suci oleh anak murid golongan Budha.

Apakah bom itu keluar dari tangannya Pek lek cu?

Dan apa sebabnya Pek lek cu harus membom anak muridnya Siao lim pay?

Suara ledakan tadi begitu menggetarkan seluruh biara Siao lim sie, dan lantas disusul dengan terdengarnya suara jeritan di sana sini.

Tempat di mana bom tadi meledak disitu terdapat banyak bangkai manusia yang sudah tidak karuan macamnya.

Tiada suatu peristiwa pembunuhan besar besaran yang sangat mengerikan.

Anak murid kasih Budha yang tidak berdosa telah dibikin hancur jadi bubur badannya, sesungguhnya tidaklah pernah terdengar bahwa biara Siao lim sie yang dipandang sebagai tempat suci itu akan mengalami bencana hebat seperti itu.

Selama beberapa ratus tahun biara suci yang namanya kesohor di seluruh dunia itu untuk pertama kalinya kebanjiran darah dari empat puluh lebih anak muridnya sendiri.

Setelah suara ledakan tadi sirap potongan kaki tangan serta kepala-kepala manusia berserakan disana-sini, darah manusia seperti telah membanjiri tanah suci dan empat puluh lebih anak muridnya telah menjadi korban keganasannya bom Pek lek tan.

Bom Pek lek tan itu bukan saja sudah meminta kurbannya empat puluh lebih anak muridnya Siao lim sie, bahkan juga telah menghancurkan dua ruangan kamar di biara tersebut.

Seluruh anak murid di biara Siao lim sie ketika pada hari ketempat terjadinya ledakan tadi, disitu cuma kedapatan para saudaranya yang sudah menjadi bangkai tanpa kepala kaki maupun tangan.

Keadaan demikian itu sebetulnya sangatlah mengenaskan.

Setiap orang yang menyaksikan pada merangkap tangan dan menyebut nama Budha.

Dalam waktu sekejapan saja biara Siao lim sie telah diliputi awan duka yang tidak terhingga.

Pada waktu itu Ceng tim Hwesio yang merupakan salah seorang dari lima orang golongan tua-tua Siao lim pay tiba-tiba menghampiri pek lek cu yang masih berdiri kesima.

"Pek lek cu tidak nyana kau yang kami perlakukan sebagai tamu terhormat ternyata telah berserikat dengan Naga Merah dan dengan sebuah bom Pek lek tan yang ganas kau telah membunuh empat puluh lebih anak murid kami yang tidak berdosa. Dimanakah kau taruh hatimu yang bersih itu? "

Demikian hwesio tua tersebut dengan tegurannya kepada Pek lek cu. Yang ditegur tidak mejawab masih berdiri kesima seperti orang linglung. Ceng tim Hwesio berkata pula dengan suara lebih keras.

"Pek lek cu! Kau sudah membunuh empat puluh lebih anak murid partai kami dengan apa kau hendak pertanggung jawabkan perbuatanmu ini? "

Pek lek cu masih tetap membisu.

Ceng tim Hwesio wajahnya berobah seketika, lalu berkata pula!

"Pek lek cu!

Kau sudah membunuh banyak anak murid kami.

Kau kira kami mau sudahi perkara ini begitu saja?"

Sehabis mengucapkan perkataannya tangannya lalu mengayun menyerang ke arah Pek lek cu.

Hwesio tua ini yang menyaksikan empat puluh lebih anak murid Siao lim sie semua binasa karena gara-garanya bom Pek lek tan.

Sudah barang tentu gusarnya telah melampaui takaran.

Maka ia turun tangan tanpa mengenal kasihan lagi.

Begitu Ceng tim Hwesio bergerak, pendeta-pendeta lainnyapun lantas pada maju mengerumuni pek lek cu sambil berteriak-teriak dan menyerang.

Serangan Ceng tim hwesio sendiri sebetulnya sudah sangat hebat.

Akan tetapi Pek lek cu tidak berkelit juga tidak menyingkir maka serangan hwesio tua itu dengan telak telah mengenai sasarannya.

Yang diserang ini mulutnya lantas menyemburkan darah badannya mundur sempoyongan.

Ceng tim hwesio masih belum mau sudah.

Dikirimnya pula serangan keduanya, yang lebih hebat lagi !

Serangan itu bukan saja hebat bahkan dilakukan cepat sekali ......

Pek lek cu setelah menerima gebukan sekali dari serangan Ceng tim Hwesio rasa sakit mendadak menyadarkan ia dari lamunannya.

Saat itu matanya lalu terbelalak lebar dan memancarkan sinar yang menakutkan.

Ketika serangan kedua Cebg tim Hwesio hampir mengenai lagi sasarannya secara reflek lalu tangannya mengayun ke depan memapaki serangan berbareng sekalian balas menyerang.

Serangan yang dilakukan dalam keadaan antara setengah sadar dan tiada ingat tadi nampaknya tak seberapa hebat.

Akan tetapi tangan tadi sejak tadi sudah menggenggam sebuah bom Pek lek tan.

Dan secara tidak disadari oleh pemiliknya, bom tersebut mendadak lepas dari tangannya.

Saat sedetik membuat Pek lek cu sendiri terkejut.

"Awas bom Pek lek tan! Mundur! "

Demikian serunya dalam kaget.

Tapi seruan itu sudah terlambat.

Pek lek tan yang tergenggam dalam tangannya tadi kembali perdengarkan suara ledakan yang gemuruh.

Untuk kedua kalinya suara ledakan itu telah menggetarkan seluruh bukit, biara Siao lim sie yang selama itu tenang tentram kini seakan akan sedang menghadapi hari kiamat, keadaan kalut dimana-mana.

Kembali dua ruangan kamar biara Siao lim sie hancur oleh bom kedua yang meledak ini.

Meskipun ada beberapa hwesio yang dapat menyingkir karena suara peringatan Pek lek cu tadi, tetapi yang tidak sempat melarikan diri sudah tentu menjadi korban kedahsyatan bom tersebut.

Ledakan bom kedua kali ini kembali sudah minta korban dua puluh lebih anak murid Siao lim pay, termasuk juga salah sati Tiang lo, yalah Ceng tim Hwesio.

Peristiwa berdarah itu kembali terulang dalam tempat suci itu, hingga dalam waktu sekejap saja tempat suci tersebut berubah menjadi tempat jagal manusia.

Hanya dua biah bom Pek lek tan saja cukup dapat meminta korban enam puluh lebih jiwa anak murid Siao lim pay.

Jumlah tersebut jika dibilang dengan jari sudah barang tentu besar sekali.

Siao lim pay sejak didirikan oleh pendirinya Tat mo Siansu selama beberapa ratus tahun itu adalah untuk pertama kalinya mengalami soal kematian anak muridnya dalam sarang sendiri sampai begitu besar jumlahnya, hingga yang ketinggalan dan yang dapat lolos dari bencana maut tersebut hanya beberapa puluh orang lagi saja.

Anak murid Siao lim pay yang masih hidup ini sudah tentu pula tidak berani menerjang Pek lek cu lagi.

Keganasannya bom Pek lek tan telah menciutkan hati semua anak murid Siao lim pay ini rupanya.

Malam sunyi ......

suasana seram dan menyedihkan meliputi seluruh bukit Siong san.

Siapapun tidak pernah menduga, pada malam yang tenang sunyi itu sudah terjadi pembunuhan besar-besaran di biara Siao lim sie yang selama beberapa ratus tahun tenang tenteram.

Jumlah enam puluh lebih jiwa manusia itu sudah barang tentu bukanlah jumlah kecil maka itu boleh dikata sebagai suatu bencana hebat bagi orang kuat umumnya rimba persilatan khususnya.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara.

"O Mie To Hud"

Yang amat nyaring.

Dan seorang hwesio tua, yang jenggotnya sudah putih seluruhnya dan yang pada waktu itu wajahnya merah padam sudah muncul tiba-tiba.

Jenggot putih hwesio tua itu hampir sampai di bagian perutnya, ini menunjukkan usianya yang sudah terlalu lanjut.

Namun kalau dilihat dari paras mukanya, wajah itu merah benar, seperti bayi lahir.

Begitu sampai di tempat tersebut, melihat peristiwa berdarah itu lantas pejamkan matanya dan rangkap kedua tangannya, sedang sela-sela mata yang tertutup itu muncul beberapa tetes air mata murni yang putih bersih.

Sebentar lalu terdengar suaranya hwesio tua itu lagi.

"Pek lek cu! Kau sungguh berani dengan bom mu kau sudah membunuh begitu banyak anak murid partai kami ada permusuhan apakah anak murid partai kami dengan kau hingga kau menurunkan tangan begitu kejam? "

Pek lek cu diam saja.

Badannya nampak gemetar, giginya bercatrukan.

Tiba-tiba ia menengadahkan mukanya, sejurus dalam keadaan khidmah lalu menjawab tetapi rupanya jawaban itu bukan ditujukan pada hwesio tua karena katanya demikian.

"Naga Merah ! Selama Pek lek cu masih hidup pasti tidak akan ijinkan kau hidup dengan dosa-dosamu ini"

Hwesio tua itu ketika mendengar gerendengan demikian dari mulutnya Pek lek cu lantas membentak dengan suara keras.

"Pek lek cu ! Kau sudah membunuh begitu banyak jiwanya anak murid kami ada hubungan apa kau sebut si Naga Merah?"

Pek lek cu mengawasi bangkai anak murid Siao lim pay yang bergelimpangan tak berbentuk lagi itu di tanah, matanya mendadak mengucurkan air mata.

Keadaan seperti itu membikin si hwesio tua yang melihatnya dengan mata gusar rupanya membikin dia terheran-heran.

Waktu itu barulah pek lek cu berkata pula.

"Pek cie Taysu, bom Pek lek tan yang terlepas dari tangannya Pek lek cu tadi dilakukan dengan tidak sengaja.

Sebenarnya bukan maksudku membunuh anak murid Siao lim pay dan bom Pek lek tan yang meledak mula-mula ......

itu bukan perbuatan Pek lek cu."

Pek cie Taysu dengan alis berdiri berkata pula, terang ia masih gusar.

"Apakah di dalam rimba persilatan masih ada seorang pek lek cu lagi? "

Pertanyaan Pek cie Taysu tadi yang memotong bicaranya pek lek cu memang benar.

Pek lek cu kata, bom Pek lek cu yang meledak mula-mula bukan perbuatannya.

Kalau begitu apakah sebuah bom Pek lek tan yang mengambil jiwa empat puluh lebih anak murid Siao lim pay disambitkan oleh orang lain?

Atas pertanyaan Pek cie Taysu tadi Pek lek cu hanya dapat berkata.

"Di dalam rimba persilatan meskipun tidak ada Pek lek cu yang kedua, tetapi sebuah bom Pek lek tan yang pertama tadi sungguh bukanlah Pek lek cu yang melempar, itu adalah si Naga Merah yang menyambitkan."

Nada suaranya Pek lek cu getir.

"Kalau begitu kau sudah berkomplot dengan si Naga Merah menurut katamu itu, dan kau sengaja hendak membikin huru hara dalam biara Siao lim sie, betulkah? "

"Pek cie Taysu, mungkin kau tidak mau percaya perkataan Pek lek cu tadi. Tetapi sesungguhnyalah, demi Allah, bom Pek lek tan yang meledak duluan dan mengambil jiwa anak-anak murid partaimu, itu bukanlah perbuatanku. Sekali lagi kukatakan, itu adalah perbuatan si Naga Merah !"

Baru habis Pek lek cu dengan perkataannya, lalu terdengar suara orang berkata.

"Itu memang benar. Bom pek lek tan yang mula-mula meledak tadi mungkin betul perbuatan Naga Merah"

Setelah itu lantas muncul si pendekar Kalong, Ciang hay Sin kun dan Yan san It hiong yang tadi datang bersama-sama Pek lek cu ke biara Siao lim sie. Ciang hay Sin kun lantas berkata pula.

"Pek-cie Taysu, perkataan pek lek cu tadi memang benar. Sebuah bom Pek lek tan yang semula tadi, bukan dia yang melemparkan, itu benar."

"Kalau begitu Naga Merah kau mau maksudkan pernah mencuri sebuah bom Pek lek tanmu? "

Bertanya Pek-cie Taysu dengan nada dingin. Pek lek cu tidak dapat membantah, hanya dalam hatinya saja diam-diam berpikir.

"Pebuatannya Naga merah benar-benar terlalu ganas."

Kemudian ia berpaling ke arah Ciang hay Sin kun, kenapa orang tua itu berkata.

"Ciang hay si setan tua! Apa kau masih ingat tentang itu dan bomku Pek lek tan yang aku sambitkan ke arah Naga Merah di selat Ba siong hiap? "

"Terang masih ingat dua Pek lek tan tidak meledak."

Jawab Ciang hay Sin kun lekas.

"Itulah"

Kata pula Pek lek cu.

"Naga Merah membawa dua bom Pek lek tanku dan sekarang dibawa ke biara Siao lim sie dan dipakai sekalian membom anak muridnya Siao lim pay."

"Benar"

Suara Ciang hay Sin kun pula.

"sebuah bom yang pertama tadi memang dilemparkan oleh si Naga Merah."

Pek lek cu berkata lagi.

"Waktu bom Pek lek tan mula-mula meledak secara mendadak tadi aku sendiri juga sangat kaget sebab belum lagi kusambit bom yang tergenggam ditanganku, siapa lagi yang bisa menyambit dengan bom itu membinasakan Siao lim pay?"

Sejenak ia diam setelah menelan ludah, katanya pula.

"Karena peledakan itu begitu mendadak aku juga sedang memeras otak mencari jalan ke luar memecahkan persoalannya, namun masih belum lagi bisa menemukan jawabannya sebab disamping dua buah yang kuberikan kepada pemuda aneh setelah aku mengaku kalah dalam bertaruh tempo hari, masih ada dua buah lagi yang pernah kusambitkan ke Si Naga merah yang kedua-duanya tidak meledak.

Sedang bomku sendiri yang semula hendak kugunakan untuk menyambit si Naga merah ternyata masih tergenggam dalam tanganku.

Selagi pikiranku masih bekerja keras, Ceng tim Siansu mendadak menyerang aku hingga aku dalam keadaan tak sadar berdarah dan terluka.

Dan ketika aku merasakan sakitku itu, baru sadar aku kalau aku sedang melamun.

Dalam keadaan begitu Ceng tim Siansu tiba-tiba sudah menyerangku lagi serangannya sudah dekat sekali.

Dalam keadaan gugup lalu aku menyodorkan tangan kananku, maksudku untuk memapaki serangan Ceng tim Siansu.

Apa mau dikata, aku lupa kalau tangan yang dipakai menangkis itu masih menggenggam bom.

Dan ketika kedua kekuatan beradu dengan Ceng tim Siansu bom itu tanpa sengaja lepas dari tanganku.

Semua itu terjadinya tidak disengaja karena aku kurang ingat."

Perkataan Pek lek cu tadi meski diucapkan dengan sejujurnya, tetapi Pek cie Taysu masih berkata dengan dingin.

"Pek lek cu! Jikalau perkataan yang keluar dari mulutmu tidak bohong meski benar enam puluh lebih jiwa anak murid partai kami bukan kau yang membunuh langsung, tapi biar bagaimana mereka itu toh terbunuhnya oleh bom peledakmu bukan? Dan bom itu selalu minta korban jiwa juga sudah merusak empat ruangan kamar biara Siao lim sie kami. Apa sedikitpun kau tidak merasa bertanggung jawab atas kerugian semua itu? "

"Dalam hal ini aku Pek lek cu nanti sudah tentu akan mencari si Naga Merah untuk membuat perhitungan ......"

Belum lagi Pek lek cu habis dengan kata-katanya suara ketawa dingin yang kedengarannya sangat menyeramkan terdengar pula dari tempat gelap.

Semua orang yang ada di situ lantas pada berpaling menengok ke arah dari mana suara itu terdengar.

Disuatu tempat kira-kira dua tombak jauhnya nampak berdiri dua bayangan merah !

Kedua orang tersebut seluruh badannya sampai kekepala merah semuanya ......

Naga Merah ternyata ada dua !

Kini telah menjadi suatu kenyataan, bahwa Naga Merah ternyata ada dua orang.

dan apa yang mengherankan, dua orang Naga Merah itu bisa berdiri berendeng, dan muncul di suatu tempat.

Dan Naga Merah saling gandeng menggandeng di suatu tempat tanpa terjadi saingan apa-apa, maka diantara dua Naga Merah itu terang ada hubungan apa-apa.

Meskipun Naga Merah itu sudah muncul berbareng di dunia Kang-zsouw namun bagaimana wajah tiap-tiap Naga Merah itu, dan yang mana salah satu Naga Merah yang tulen, atau yang kedua-duanya palsu, semua hal masih tetap merupakan suatu teka teki besar yang tak dapat dijawab oleh semua orang.

Terhadap munculnya Naga Merah, yang perbuatannya begitu terkutuk, Pek lek cu bukan saja merasa diputar-putar kepalanya dalam menghadapi mereka, bahkan sudah juga ia dibikin gusar bukan kepalang sampai dadanya turun naik bergelombang.

Akan tetapi apa dayanya?

Ia tak tahu bagaimana baiknya bertindak.

Dan kini, mendadak muncul dua Naga Merah berbareng, hal ini sudah barang tentu mengejutkan semua orang apalagi Pek lek cu yang sudah terbenam dalam pikirannya sendiri, perasaannya diliputi oleh berbagai pertanyaan.

Sudah terang, di antara dua Naga Merah itu mungkin tidak ada satu yang tulen, tetapi sebelum terbuka kedoknya, hal itu masih suatu tanda tanya besar.

Pek lek cu dalam keadaan murka mendadak tertawa tergelak-gelak, dari dalam sakunya lalu dikeluarkan tiga buah bom Pek lek tan, setelah mana membentak ke arah dua Naga Merah yang brdiri bergandengan itu.

"Mana bisa jadi Naga Merah ada dua orang! Di antara kalian yang mana satu sebetulnya yang dulu ikut ambil bagian dalam pertandingan ilmu silat di gunung Boan san? "

Naga Merah yang sebelah kiri, yang dedeg serta perawakannya agak lebih tinggi dari yang kanan, lantas menjawab sambil perdengarkan ketawa menyeramkan.

"Pek lek cu! Hal ini apa kau mau tahu? "

Semua anak murid Siao lim pay yang hadir di situ hampir serentak lalu mengepung si Naga Merah ....

Tetapi selagi beberapa anak murid Siao lim pay itu bergerak, Naga Merah kembali mengucapkan perkataannya yang menyeramkan.

"Kalian kalau sudah tidak sayangi jiwa kalian sendiri boleh coba lagi rasanya bom Pek lek tan! "

Digertak demikian beberapa murid Siao lim pay yang tadi hendak meluruk ke arah Naga merah yang dua orang itu lantas pada urungkan niatnya.

Bom pek lek tan sekali disebut ternyata hebat sekali pengaruhnya!

Benarlah ditangan Naga merah salah satunya pada kala itu memang terlihat tergantung bom Pek lek tan sebuah.

Apabila bom yang sebuah itu diledakkan lagi, maka anak murid Siao lim pay sudah tidak akan lolos dari bencana kehancuran.

Salah seorang dari dua Naga merah itu kemudian berkata sambil tertawa tergelak-gelak.

"Pek lek cu! Aku berterima kasih padamu yang sudah begitu murah hati memberikan dua bom Pek lek tanmu."

Setelah berkata demikian, ia memandang Pek cie Taysu, kepada pendeta ini ia berkata pula.

"Siao lim pay tidak tahunya cuma sebegini saja. Tadinya aku mengira kalau di dalam biara ini banyak bersembunyi orang-orang kuat. Tapi nyatanya? Ha-ha ! "

Setelah menjengek demikian, kembali ia tertawa.

Suaranya menyeramkan sekali.

Kemudian lagi entah dengan menggunakan gerakan apa mendadak kedua-duanya menghilang dari tempat itu.

Pek lek cu membentak dengan keras, semula ia bermaksud mengejar, tetapi tidak berhasil dapat menyandak.

Bukan kepalang kagetnya Pek lek cu.

Tetapi ia hanya dapat kertak gigi, tidak dapat berbuat lain.

dalam hatinya lantas berpikir ; kalau hendak membasmi Naga Merah rasanya hanya dengan jalan ini saja.

Sesaat kemudian ia lantas lompat melesat dengan diam-diam meninggalkan Siao lim sie yang menyeramkan itu.

Sementara itu dengan cara apa Pek lek cu hendak menghadapi Naga Merah?

Di bagian belakang nanti akan dijelaskan lagi.

Kita balik lagi kepada murid-muridnya Siao lim pay yang juga Cuma bisa mengawasi berlalunya Naga merah dengan perasaan gusar dan panas namun tidak bisa berbuat suatu apa.

Tapi benarkah si Naga Merah sudah meninggalkan biara Siao lim sie?

tiada seorangpun yang mampu memastikan.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara jeritan.

Suara jeritan itu telah mengejutkan semua anak murid Siauw lim pay yang kala itu masih pada berdiri kesima memikirkan sepak terjangnya Naga Merah.

Pek cie Taysu dengan lantas lari menuju ke kamar Tat mo-ie Dan apa yang disaksikan?

Hampir saja membuat pendeta saleh itu tidak percaya kepada matanya sendiri.

Ia telah dapatkan dirinya ketua Siao lim pay Goan khut sudah rebah terlentang dengan mulut mengeluarkan darah.

Keadaan itu telah membuat pendeta tua itu hampir merasa meledak dadanya.

Pek cie Taysu segera menghampiri ketuanya yang sudah tidak ingat orang itu, ia lantas ulur tangan kananya dan hendak menotok jalan Tok me hiat dibadannya Goan khut.

Tapi belum lagi jari tangannya bergerak mendadak terdengar suara bentakan orang.

"Hwesio tua apakah kau sudah tidak mengingini jiwa Ciang bu jinmu lagi?"

Mendengar perkataan itu bukan kepalang kagetnya Pek cie Taysu, seketika lantas urungkan maksudnya dan mundur beberapa langkah.

Ketika ia berpaling di luar kamar Tat mo ie itu ada berdiri seorang pemuda berbaju kelabu.

PEK CIE TAYSU ketika dapat lihat mendadak ada seorang pemuda berbaju kelabu di depan kamar Tat mo ie diam-diam sangat terperanjat.

Pemuda itu yang bukan lain daripada Tan Liong adanya, lantas mengawasi ketua Siao lim pay Goan khut yang kala itu rebah terlentang dalam keadaan terluka dengan banyak darah mengucur keluar.

Perlahan-lahan tetapi teratur pemuda ini berjalan menghampiri ketua Siao lim pay ini.

"Sicu dari mana? Tahukah sicu kalau ruangan Tat mo ie ini adalah tempat kediamannya ketua partai Siao lim pay kami? Dan pernahkah sicu dengar bahwa jikalau tidak ada perintah dari Ciang bun jin sendiri sekalipun lolap juga tidak diperbolehkan memasuki kamar ini secara sembarangan? Sicu yang bukan anggota juga bukan anak murid golongan kami mengapa datang lalu berani berlaku lancang masuk kedalam ruangan ini? "

Setelah Pek cie Taysu menegur demikian yang sudah terang memperlihatkan wajah tidak senang, berbareng pun ia maju merintangi majunya Tan Liong.

"Jikalau kalian memang sudah tidak menghendaki lagi jiwa Ciang bun jin kalian sendiri, buat apa aku turut campur tangan dalam urusan ini?"

Demikian Tan Liong sebagai jawaban mengucapkan kata-katanya sambil ketawa dan setelah itu lalu putar badannya hnedak meninggalkan tempat tersebut.

Mendengar perkataan si anak muda Pek cie Taysu tergerak hatinya.

dengan cepat ia lantas berkata.

"Benarkah sicu anggap Ciang bun jin kami masih ada harapan untuk ditolong jiwanya? "

Tan Liong tanpa berpaling menjawab ketus.

"Kalau dalam waktu setengah jam tidak lantas dibuka jalan darah di bagian nadinya itu ia akan mengeluarkan banyak darah dan pasti binasa."

Ini adalah suatu pernyataan berupa keterangan.

dan ini justeru mengejutkan hatinya Pek cie Taysu dari keterangan pemuda baju kelabu itu yang rupanya sudah mengetahui jelas pula keadaan Ciang bun jinnya yang terluka parah itu maka lantas ia berkata sambil lerutkan alis.

"Jikalau sicu bisa menolong jiwa Ciang bun jin kami dari cengkeraman maut, kami orang-orang Siao lim pay selamanya takkan melupakan kebaikan sicu....."

"Akan tetapi bukankah taysu tadi pernah mengatakan bahwa aku yang rendah tidak boleh sembarang masuk ke dalam ruangan Tat mo ie ini? "

Disambut dengan jengekan demikian Pek cia Taysu wajahnya merah seketika.

Ucapan Tan Liong tadi dengan tepat mengena di hatinya seakan-akan merupakan satu tamparan hebat di pipinya Pek cie Taysu.

Lama pendeta ini tak dapat menjawab.

Tetapi karena mengingat kepentingan bagi Ciang bun jinnya akhirnya menjawab juga pendeta tua ini sambil unjuk ketawa meringis.

"Tat mo ie adalah suatu tempat terpenting dalam biara Siao lim sie. Semua anak murid Siao lim pay jika tidak mendapat perintah Ciang bun jin setapak juga tidak dapat memasuki ruangan ini. Ini memang suatu peraturan yang berlaku selama bertahun-tahun lamanya. Tetapi kali ini jikalau sicu memang benar sanggup menolong jiwa Ciang bun jin kami, sudah tentu ada kecualinya."

Tan Liong berpaling sambil unjuk ketawa hambar lalu ia balikkan badan dan menghampiri Pek cie Taysu.

Pada saat itu di luar kamar tempat Tat mo ie itu mendadak terlihat sesosok bayangan manusia yang lari mendatangi dan dalam sekejapan saja sudah berdiri di luar kamar tersebut sejarak tiga tombak jauhnya.

Pek cie Taysu ketika melihat bayangan tersebut lantas menegur dengan suara keras.

"Ada kepentingan apa sutit memerlukan datang ke Tat mo ie?"

Orang yang baru datang itu adalah ketua bagian keamanan yang bergelar Kui su. Waktu Kui su sudah berlutut dan berkata.

"Hunjuk beritahu kepada susiok, jenasah saudara-saudara yang terbunuh bom Pek lek tan tadi, pada waktu ini masih belum dikebumikan. Harap susiok suka mengeluarkan perintah untuk cepat dilaksanakan penguburannya."

Pek cie Taysu yang mendengar itu hatinya seperti diiris-iris. dengan mata tergenang air uia lantas berkata sambil kertak gigi.

"Perintahkan setiap anak murid yang masih ada lekas mengubur semua jenasah kemudian lekas juga bersihkan semua tanda-tanda darah di lantai. Dan setelah itu kau boleh perintahkan sekalian saudara saudaramu supaya lekas berkumpul di ruangan Hoan sin ie,.."

"Sutit terima perintah."

Setelah itu Kui su dengan sikap hormat telah mengundurkan diri.

Memikirkan peristiwa yang mengenaskan, Pek cie Taysu masih merasa hatinya seperti diiris-iris.

Tempat Budha yang dipandang suci oleh segenap umat Budha adalah untuk pertama kalinya itu mengalami nasib demikian menyedihkan.

Kematiannya begitu banyak anak murid Siao lim pay merupakan suatu pukulan hebat bagi partai besar ini.

Hal tersebut membuat mau tidak mau semua anak murid Siao lim pay masih ada pada merasa seperti ditikam pedang tajam saja.

Setelah memberi perintah pada keponakan muridnya tadi, Pek cie Taysu balik pula dan menghadapi Tan Liong.

Sambil memperlihatkan senyum ewah Tan Liong si pemuda baju kelabu masuk ke dalam kamar.

Matanya mengawasi Goan khut dalam keadaan yang amat payah alisnya nampak dikerutkan.

Pek cie Taysu mengawasi wajah dan gerak gerik tan Liong.

terhadap ucapan pemuda itu tadi yang mengatakan bisa menolong jiwa Goan khut, agaknya masih diragukan.

Tan Liong setelah berdiri sejenak lalu mengulur tangan kanannya dengan kecepatan kilat menyambar dadanya Goan khut.

Gerakan yang dilakukan secepat kilat oleh si pemuda baju kelabu itu membikin was was Pek cie Taysu yang terus mengawasi perbuatannya itu.

Kala itu mendadak terdengar suara.

Sreeet!

Dan ......

jubah bagian dada Goan khut ternyata sudah dirobek oleh gerakan tangan Tan Liong tadi.

Pek cie Taysu yang menyaksikan perbuatan Tan Liong itu wajahnya agak berubah.

Perasaan gusar nampak tegas di atas wajahnya.

Goan khut adalah Ciang bun jin atau ketua partai Siao lim pay.

Dalam keadaan tidak ingat orang, sang ketua tersebut diperlakukan demikian rupa oleh orang luar tidaklah mengherankan kalau perbuatan itu dimata pendeta tua itu sangat gegabah maka seketika itu juga sudah membuat ia gusar sekali.

Pek cie Taysu segera menghampiri Tan Liong.

Jikalau Tan Liong menjamah badan maupun baju Goan khut lagi, ia siap akan merintangi.

Bagi Tan Liong, perubahan sikap Pek cie Taysu tadi agaknya tak terlihat sama sekali.

Mata pemuda ini hanya ditujukan ke arah dada Goan khut tanpa berkedip.

Setelah agak lama memandang wajahnya kelihatan berubah.

Ternyata di atas dada Ciang bun jin Siao lim pay itu dengan tegas terlihat dua titik tanda merah.

Tan Liong kala itu sedang berpikir.

"Heran,"

Pikirnya.

"Siapa sebenarnya Naga Merah itu ..... ? Kenapa dia juga bisa melakukan serangan yang serupa benar?"

Perlahan rupanya sudah tenang kembali pikirannya, pemuda baju kelabu itu sambil kerutkan alis gertak gigi, pikirannya dikerjakan keras.

Naga Merah ......

Naga Merah ......

Dan Naga Merah muncul berbareng di biara Siao lim sie ......

Mengingat hal itu pemuda tersebut ketawa sendiri seperti orang gila.

Suara ketawa itu mengejutkan sekali Pek cie.

Ketika mereka menengok dan mengawasi ke arah Ciang bun jinnya saat itu kelihatan payah sekali keadaannya seakan-akan lampu sudah kehabisan minyak.

Keadaan serupa itu membuat Pek cie Taysu mencucurkan air mata.

Pek cie lalu berkata.

"O Mie to hud !"

Serunya "

Teecu sekalian telah berdosa hingga mengakibatkan siao lim sie mengalami bencana begini mengenaskan ...... Ow! Budha yang welas asih berikanlah kehidupan baru kepada Ciang bun jin kami ......"

"Hwesio tua perlu apa menangis? Ciang bun jin kalian toh tidak akan mati."

Mendengar perkataan anak muda itu Pek cie taysu tercekat hatinya, berbareng pun semangatnya terbangun. Ia bertanya.

"Benarkah jiwa Ciang bun jin kami dapat ditolong? "

"Sudah tentu. Cuma dalam hal ini kesembuhannya ada tergantung padaku, apa aku mau menolong atau tidak? "

Pernyataan tersebut membikin kaget pendeta itu.

Sangat janggal terdengarnya ucapan pemuda aneh ini, sebab apabila ia benar ingin menolong, mengapa harus mengatakan lagi mau atau tidaknya tergantung dari pikirannya.

Maka mendengar itu Pek cie Taysu lantas berkata dengan suara gemas.

"Sicu kalau bisa menolong mempertahankan jiwa Ciang bun jin kami, meskipun orang-orang Siao lim pay tidak berani mengucapkan janji apa-apa tetapi yang terang selanjutnya apabila sicu membutuhkan tenaga sekalipun terjun kejurang atau kelautan api kami tidak akan menolak.

Tan Liong hanya ketawa menyeringai, sedang dalam hatinya berpikir.

"Sungguh enak kedengarannya perkataanmu ini, Hmmm ! Jikalau tidak karena kepandaianku sudah musnah semua aku juga akan melemparkan sebuah bom di biara Siao lim sie ini."

Sudah tentu pikirannya itu tidak dikeluarkan melalui bibirnya. Atas perkataan pendeta tua tadi ia hanya menjawab.

"Dalam hal ini aku yang rendah tidak pernah pikirkan semua.

Cuma jikalau suruh aku menolong mempertahankan jiwa Ciang bun jin kalian sesungguhnya tidak usah asal kalian bisa menyanggupi syarat yang akan kuajukan."

"Apa syarat itu? Coba tolong kalian sicu sebutkan."

"Kepandaian ilmu silat partai kalian sejak dahulu sudah menjagoi rimba persilatan.

Di dalam tujuh puluh dua jenis ilmu silatnya Tat mo Siansu yang kesohor itu, setiap jenisnya merupakan pelajaran ilmu silat yang tertinggi.

Dan diantara tujuh puluh dua jenis ilmu-ilmu itu, yang paling ampuh adalah ilmu yang disebut Pan Giok Sinkang."

"Pan Giok Sinkang"

Menyelak Pak cie Taysu.

"meski benar ilmu silat yang tidak ada taranya, tetapi masih ada beberapa jenis yang lainnya yang lebih hebat. Umpama saja Jin kut Cin kang, Hoan hie Tay lek Cin kang dan lain-lainnya lagi."

"Tapi aku hanya ingin membicarakan satu Pang giok Sin kang saja."

"Buat apa sicu hendak membicarakan ilmu silat ini?"

"Diantara begitu banyak anak murid partai kalian, apakah ada seorang yang pernah meyakinkan ilmu Pan giok Sin kang itu? "

Pek cie Taysu mendengar pertanyaan itu tidak mengetahui apa makna perkataan Tan Liong yang katanya ingin membicarakan ilmu tersebut, maka lantas pendeta tua ini menjawab sambil kerutkan alis.

"Ilmu Pan giok Sin kang ada termasuk salah satu dari enam jenis ilmu silat terampuh dari partai kami, menurut apa yang lolap tahu, selama beberapa puluh tahun ini, pernah ada beberapa puluh murid golongan partai kami yang menggunakan waktu hampir seumur hidupnya untuk mempelajari ilmu tersebut, dan toh tidak ada satu yang mencapai maksudnya."

"Kalau begitu dalam partai kalian, sudah tidak ada seorang yang mahir ilmu tersebut? "

"Ilmu Pan giok Sin kang adalah ilmu silat golongan Budha yang tertinggi dan tersulit serta terampuh, menurut apa yang lolap tahu di dalam kalangan murid-murid partai kami tidak seorangpun yang paham ilmu tersebut."

Tan Liong tertegun mendapat jawaban demikian.

Memang betul seperti apa yang gadis baju merah itu katakan, apabila ia tidak bertemu dengan Hiat im cu atau dengan ilmu silat golongan Budha ‘Pan giok Sin kang’ maka ilmu silat dan kekuatan yang ia punya akan musnah untuk selama-lamanya.

Memikirkan akan nasibnya sendiri maka lama sekali ia baru bisa berkata lagi.

"Benarkah diantara murid golongan partai Siao lim pay sudah tidak ada yang mempelajari ilmu ‘Pan giok Sin kang’ itu?"

"Tidak ada!"

Jawab Pek cia Taysu sambil gelengkan kepala. Kembali Tan Liong merasa kecewa, mendadak ia dapat satu pikiran, lalu berkata pula.

"Taysu, jikalau kau masih ingin jiwa ciang bun jinmu tertolong, masih ada lain syarta lagi!"

"Syarat apa? Coba kau jelaskan"

"Aku akan menolong jiwa Ciang bun jinmu, tapi kau harus berikan ‘Pan giok Sin kang Pit kip"

Pek cie Taysu diam-diam merasa kaget, perkataan Tan Liong ini sesungguhnya diluar dugaannya.

"Pan giok Sin kang Pit kip ada merupakan salah satu kitab berharga dari partai Siao lim pay yang merupakan salah satu benda pusaka partai kami bagaimana bisa diberikan kepada orang luar dengan cara begitu mudah? Pada enam puluh tahun berselang, kitab Pan giok Sin kang ini pernah dicuri oleh salah satu muridnya Bu tong pay yang masih muda, sehingga Siao lim pay harus menggerakkan seluruh anak muridnya, bertempur dengan Bu tong pay. Dalam pertempuran hebat itu, kedua fihak telah jatuh banyak korban. Kemudian Bu tong pay desak muridnya yang dianggap bersalah itu menyerahkan kitab tersebut dan lantas hukum anak muridnya itu menurut peraturan dalam partainya, dengan demikian kedua partai besar ini baru akur lagi. Kitab Pan giok Sin kang ini bagi partai Siao lim pay bukan saja merupakan kitab peninggalan Tat mo Couwsu. Suadah tentu dengan sendirinya tidak boleh diberikan kepada sembarangan orang"

Tan Liong yang mengetahui bahwa hwesio tua ini keberatan memberikan kitab pusakanya, lantas berkata dengan suara dingin!

"Taysu, kalau merasa keberatan memberikan kitab itu sebagai syarat untuk aku menolong jiwa Ciang bun jin kalian, tidak perlu kita bicarakan lagi."

Sehabis berkata ia berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut.

Pek cie Taysu sangat gelisah.

Ia hitung-hitung waktunya.

Setengah jam sudah hampir habis, jika tidak ditolong maka jiwanya Goan khut pasti akan melayang.

Maka ia lantas berseru memanggil Tan Liong.

"Sicu, harap suka tunggu sebentar ....."

Tan Liong balikkan badan dan menanya.

"Kau terima baik permintaanku?"

"Dengan sebenar-benarnya, kitab Pan giok Sin kang itu memang merupakan kitab pusaka bagi partai kami, yang tidak boleh terjatuh ditangannya sembarangan orang."

"Kalau begitu, perlu apa dibicarakan lagi? "

"Apakah sicu berani jamin kalau Ciang bun jin kami tidak akan binasa?

Oleh karena dalam hal ini kami masih belum melihat buktinya sudah tentu tidak berani sembarangan menyerahkan kitab pusaka partai kami sebagai barang tanggungan."

"Apa Taysu tidak percaya aku dapat menolong jiwa Ciang bun jin kalian sehingga tidak binasa? "

"Jikalau ada buktinya sudah tentu kami mau percaya."

"Taysu tidak perlu menggunakan segala perkataan untuk memancing orang. Aku beritahukan kepadamu, Ciang bun jin kalian sudah terkena totokannya si Naga merah yang bernama ‘Hiat hun Im kang’. Bagi orang biasa begitu terkena ilmu totokan tersebut, jiwanya lantas melayang seketika itu juga. Oleh karena tenaga dalam Ciang bun jinmu ada begitu sempurna dan sangat kuat, apalagi si Naga Merah turun tangan tidak terlalu berat, maka tidak lantas binasa. Cuma di dalam waktu setengah jam, jika tidak lantas tertolong sekalipun ada dewa yang turun dari kayangan, juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

Ia berhenti sejenak, matanya terus mengawasi Pek cie Taysu, kemudian berkata pula.

"Jika menurut cara Taysu, sudah tentu akan membuka jalan darah bagian ‘Jim tok’ dan ‘Beng bun’ lebih dahulu kemudian dengan menggunakan hawa tenaga murni Taysu salurkan melalui jalan darah ‘Thian teng hiat’ ke dalam tubuhnya Goan khut Taysu. Meskipun itu ada merupakan satu cara yang cukup sempurna, tapi jika digunakan untuk menolong orang yang terkena ilmu totokan Hiat hun Im kang, hawa murni itu akan berubah menjadi Im kang, jangan kata sudah tidak bisa digunakan untuk menolong jiwanya, bahkan mempercepat kematiannya."

Keterangan Tan Liong itu telah membuat Pek cie Taysu yang mendengarkan dengan saksama merasa terkejut.

Pengetahuan dan kepandaiannya mengobati orang luka di dalam, bukan saja sudah faham benar, malah dapat menjelaskan begitu tepat.

Dan apa yang membuat kaget dan heran pendeta tua itu ialah anak muda yang usianya baru kira-kira dua puluh tahun itu ternyata ada mempunyai pengetahuan begitu luas dan kepandaian begitu tinggi.

Tan Liong menatap wajah Pek cie Taysu lagi sejenak, lalu berkata pula; -o0o0dw0o0o-

Jilid ke . 6

"Baiklah, jikalau tidak percaya, aku dapat menolong jiwa Ciang bun jin kalian, sekarang aku unjukkan buktinya dulu, hitung-hitung memberi kelonggaran kepada kalian."

Setelah itu ia lalu menghampiri dirinya Goan Khut yang masih tidak ingat orang, kemudian ulur tangan kanannya dengan kecepatan bagaikan kilat ia menepok beberapa bagian jalan darah dianggota badannya Goan khut.

Gerakan tangan Tan Liong itu bukan saja tepat, tapi juga caranya agak aneh, Pak cie Taysu yang merupakan orang terkuat dalam golongan anak murid Sio lim pay juga masih belum dapat melihat dengan jelas entah ilmu apa yang digunakan oleh Tan Liong itu.

"Sudah, sekarang taysu boleh berikan padanya sebutir obat pil 'Kim sin tan' buatan partai siao lim pay dulu, ia akan segera siuman. Dengan cara ini ia hanya dapat tahan hidup setengah bulan saja. Dalam tempo setengah bulan ini, apabila tidak mendapat pertolongan yang tepat aku juga tidak berdaya."

Ia ketawa dingin kemudian berkata pula.

"Sekarang kau sudah kuberikan sedikit kelonggaran, selanjutnya kau masih menghendaki jiwa ciang bun jin kalian atau tidak, terserah kepada kalian sendiri. Jikalau kau bisa menahan pendirian dan mau memberikan kitab Pan Giok sin kang sebagai barang pertukaran dengan jasaku ini, di dalam tempo setengah bulan ini, setiap saat kau boleh mengatakan."

Sehabis mengucapkan perkataannya itu dengan tanpa menunggu jawaban Pek ci Taysu, ia sudah balikan badan dan berlalu.

Pek cie taysu tidak merintangi berlalunya anak muda itu, ia lantas mengambil pil obat Kim sin tan yang lantas dimasukkannya kedalam mulutnya Goan khut.

Gunung Siong san, dimana gereja Siao lim sie itu telah didirikan, malam itu masih diliputi oleh kabut kedukaan, tanah Buddha yang selama itu dipandang sebagai tempat sunyi, itu malam telah dijadikan jagal manusia oleh si Naga Merah, seorang misterius yang belum diketahui siapa sebenarnya.

Saat itu semua jenasah 60 lebih anak murid Siao lim pay yang menjadi korban Bom Pek lek tannya Pek lek cu, kini sudah selesai dikubur.

Sisanya yang masih hidup, pada berjalan menuju keruangan Hoan sim ie.

Tan Liong tatkala jalan melalui tempat dimana tadi bom Pek lek tan meledak, unjukkan ketawa hambar dan berjalan lagi.

Pada saat itu Ciang hay Sin kun, Pendekar Kalong dan Yan san It hiong mendadak mendapat lihat dirinya pemuda baju kelabu itu, dalam hati diam-diam pada terkejut.

Tan Liong mengawani Ciang hay Sin kun dan kedua kawannya yang sedang berdiri dalam keadaan kesima lalu berkata dengan suara dingin.

"Naga Merah yang tadi mengganas di gereja Siao lim sie ini kini sudah berlalu dari sini, tuan-tuan juga sudah boleh pulang!"

"Ya! kita juga sudah boleh pulang!"

Jawabnya Ciang hay Sin kun hambar.

Dan kemudia lantas lalu bersama-sama kedua kawannya.

Tapi selagi Ciang hay Sin kun bertiga meninggalkan gereja Siao lim sie, mendadak terdengar suara siulan seperti suara setan yang memecahkan suasana sunyi malam itu.

Suara itu mengejutkan semua orang yang masih ada disitu, bayangannya Naga Merah yang sekujur badannya diselimuti pakaian warna merah, telah melintas pula dalam benak mereka.

Sementara itu, Ciang hay Sin un dan kedua kawannya yang tadi sudah meninggalkan tempat tersebut ketika mendengar suara itu juga lantas hentikan kakinya.

Ketika mereka pasang mata, kecuali pohon siong yang rindang yang banyak tumbuh digunung tersebut, mereka tidak dapat melihat apa-apa lagi.

Tan Liong masih tetap dengan sikapnya yang dingin berdiri terus, tiba-tiba kedengaran suara ketawanya yang seperti disengaja hendak menantang bertempur pada iblis yang sangat ganas itu.

BELUM suara ketawa dinginnya Tan Liong hilang, suara seperti kaki dari orang berjalan yang keresekan tiba-tiba terdengar disekitar tempat itu.

Ciang hay Sin kun, Pendekar Kalong dan Yan san It hiong yang mendengar juga suara itu, wajahnya pada berubah.

Karena mereka maklum bahwa Naga Merah ternyata masih belum berlalu dari tempat itu.

Dan kini muncul lagi memedi itu, entah apa maksud dan tujuannya..?

Suara kaki orang berjalan keresekan yang menyeramkan itu mendadak berhenti.

Disuatu tempat sejauh kira-kira setombak kelihatan berdiri sesosok tubuh manusia yang sekujur badannya mengenakan pakaian warna merah begitupun kepala, kecuali bagian matanya, juga ditutupi dengan kerudung kain merah.

Semua orang yang ada didalam gereja seolah-olah tengah menghadapi satu hantu, hingga dalam hati merasa jeri.

Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya tanpa diperintah lagi masing-masing pada mundur tiga langkah.

Hanya Tan Liong seorang dengan wajah tidak memperlihatkan sikap takut sedikitpun, matanya mengawasi Naga Merah yang berdiri sejarak tiga tombak dihadapannya, malah dengan berani pemuda ini menanya dengan suara dingin.

"Barangkali tuankah yang tadi digunakan ilmu Hiat hun Im kang terhadap ketua Siao lim pay, Goan khut taysu?"

Demikian tanyanya.

Naga Merah ketawa, Sebentar nampak bayangan merah berkelebat dan mendadak sudah berdiri disisinya Tan Liong!

Dari sela-sela dua lobang kerudung mukanya Naga Merah nampak jelas sinar matanya yang tajam.

Ketika itu pula ia balas menanya dengan suara dingin.

"Kalau begitu tuankah yang tadi membuka totokan jalan darah Goan khut dengan ilmu Hiat pek Sin ciu?"

Tan Liong dongakkan kepala dan ketawa terbahak-bahak.

"Benar!"

Jawabnya.

Pada waktu itu Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya diam-diam sudah menjauhkan diri dari si Naga Merah.

Dengan munculnya kembali Naga Merah, kini suasana digereja Siao lim sie dalam suasana pembunuhan yang mengerikan pula.

Dipihaknya orang baju merah itu hanya kedengaran suara ketawanya yang dingin serta menyeramkan berulang-ulang, makin dekat kakinya menghampiri Tan Liong, sedang bekas atau jejak yang ditinggalkan kedapatan tanda telapak kaki merah laksana darah.

Setelah berada dekat sekali pada si pemuda, Naga Merah berkata dengan suara dingin.

"Tuan sungguh berani mati! Dengan pandang kau berani menghalangi perbuatanku, apa kau sudah merasa bosan hidup?"

Tan Liong agaknya tidak memandang mata sama sekali pada si Naga Merah yang gerak-geriknya seperti hantu itu, ketika mendengar teguran tadi malah ia menjawab sambil tertawa-tawa.

"Apa? Kau ini adalah Naga Merah?"

Pertanyaan itu sesungguhnya jauh diluar dugaan semua orang.

Apakah Naga Merah yang berada didepan matanya itu bisa menjadi Naga Merah palsu?

Hal tersebut bukan saja membuat Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya merasa keheranan, sekalipun itu orang yang sekujur badannya memakai pakaian serba merah dan yang mengaku dirinya sebagai Naga Merah agaknya juga merasa heran, hingga sesaat lamanya dia berdiri tertegun seperti patung.

Lama sekali, orang berbaju merah itu baru menjawab sambil ketawa, suaranya kedengaran sangat menyeramkan.

"Apa kau kira ada Naga Merah yang palsu?"

Selagi Tan Liong akan menjawab, dibelakangnya tiba-tiba terdengar suara yang amat merdu, yang menyambuti pertanyaan orang baju merah itu.

"Benar.. benar! kau Si Naga Merah palsu!"

Suara itu kedengarannya seperti tiba-tiba, maka sudah barang tentu kalau mendadak juga telah mengejutkan semua orang.

Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya lantas menengok kearah mana suara itu terdengar, ditempat sejarak tiga tombak jauhnya dari mereka entah sejak kapan sudah berdiri seorang gadis baju merah.

Tan Liong ketika melihat munculnya gadis baju merah itu mendekat.

Diam-diam ia juga terperanjat.

Pikirnya.

"Gadis baju merah ini mengapa juga unjukkan diri disini?"

Selagi berpikir demikian, Naga Merah yang berdiri dihadapannya mendadak melesat ke arah si gadis baju merah, Kepada wanita baju merah itu, ia berkata dingin.

"Kalau begitu, siapakah sebetulnya Naga Merah yang tulen?"

Gadis baju merah itu perdengarkan suara ketawanya berulang-ulang dengan sikap acuh tak acuh kemudian menjawab.

"Ku beritahukan padamu, Naga Merah yang tulen adalah dia...."

Sambil mengucapkan perkataan tersebut, jari telunjukkan ke arah Tan Liong.

Perkataan gadis baju merah itu bukan saja mengejutkan itu orang baju merah yang mengaku dirinya sebagai Naga Merah, sekalipun Ciang hay Sin kun, Pendekar Kalong dan Yan san It hiong bertiga pun tidak kurang herannya.

Tan Liong adalah si Naga Merah!

Sungguh jauh meleset dari perkiraan mereka...

Untuk sekian lamanya suasana berubah menjadi sepi dan sunyi...

Kejadian yang terjadi secara mendadak itu, yakni perkataan yang dikeluarkan dari bibir kecilnya sigadis baju merah membuat terkejut semua orang.

Kini semua mata ditujukan kearah Tan Liong seorang.

Mereka rata-rata hampir percaya bahwa anak muda yang sikiapnya dingin ketus dan kelihatan sangat aneh itu, adalah itu manusia buas yang menakutkan, si Naga Merah.

Hal demikian rasanya tidak mungkin terjadi.

Setelah hening keadaan sekian lama, lagi tiba-tiba terdengar suara si pemuda baju kelabu Tan Liong.

"Benar!!"

Katanya "Aku adalah Naga Merah yang kedua... Naga Merah yang pertama adalah suhuku sendiri!"

Berkata demikian matanya lalu mengawasi matanya itu orang serba merah dan bertanya lagi! "Kau siapa sebetulnya?! Kenapa begitu berani mati kau mengakui sama orang lain? Lekas jawab!! kalau tidak....."

Pada waktu itu dari jauh kembali terdengar suara siulan seperti setan dari orang serba merah itu.

Seberhentinya suara tadi, lantas menghilang dari hadapan Tan Liong.

Tan Liong dapat lihat bahwa orang serba merah itu mendadak berlalu, namun ia pun tidak mengejarnya.

Pada hakekatnya ia juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengejarnya, sebab kala itu kepandaianya telah musnah.

Maka ia hanya unjukkan senyum dan seorang diri kemak-kemik berkata.

"Ada satu hari aku pasti akan buka kedok kalian dua ekor Naga Merah siapa sebetulnya..."

Dan ketika ia mengawasi kearah si gadis baju merah, ternyata masih tatap dengan wajah dingin gadis itu mengawasinya, hingga hal tersebut dengan sendirinya membuat Tan Liong terkejut.

Pertanyaan "Siapakah gadis baju merah ini?"

Selain terulang dalam otaknya.

Ia juga rupanya heran mengapa gadis itu sampai tahu kalau ia Naga Merah yang asli?

Karena pikirannya itu, maka ia mengawasi agak lama si gadis baju merah tersebut, mendadak ia merasa seperti kalau gadis baju merah ini begitu mirip dengan si "dia"-nya.

Akan tetapi iapun tahu benar bahwa gadis baju merah itu bukanlah si dia.

Gadis yang pernah mencuri hatinya.

Meskipun kedua orang itu wajahnya mirip satu dengan yang lain, tetapi masih ada sedikit ciri-ciri perbedaannya.

Saat itu Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya ketika melihat Naga Merah sudah berlalu juga pada berjalan hendak keluar.

Tiba-tiba mereka dengar suara Tan Liong si pemuda baju kelabu memanggil.

"Kalian sukakah tunggu sebentar?"

Ketiga orang yang sudah akan berlalu itu lantas urungkan maksudnya. Mereka berpaling dan mengawasi Tan Liong yang mengaku sebagai Naga Merah kedua itu.

"Apa kalian hendak pikir?"

Tanya Tan Liong ketika mereka membalik serentak.

"Benar!"

Itu adalah suara Ciang hay Sin kun, badannya agak bergetar.

"Kalian hendak pergi, boleh saja! Tapi diantara kalian jika ada yang berani membuka rahasiaku, aku nanti suruh kalian mati dibawah tusuk konde Naga Merah!"

Perkataan pemuda baju kelabu itu diucapkan dengan suara bulat, rupanya memang bukan semacam gertakan belaka.

Ciang hay Sin kun bertiga yang mendengar perkataan berupa ancaman itu benar-benar merasa jeri rupanya, hingga tak seorangpun yang berani menjawab.

Setelah diam lagi sejenak, mereka lalu balikkan diri lagi dan berlalu, Sebentar kemudian ketiga orang tersebut sudah menghilang ditempat gelap.

Tan Liong kini mengalihkan pandangannya lagi, mengawasi si gadis baju merah.

Dengan sikap tetap dingin kepada gadis ini, dia bertanya.

"Tidak tahu nona ini orang pandai dari manakah sampai begitu jelas mengetahui segala halku? Sukakah disini nona memberikan sedikit keterangan?"

Gadis baju merah itu tidak memperlihatkan sikap bangga atas pertanyaan si pemuda, ia hanya menjawab hambar.

"Hal itu apa yang perlu diherankan? jangan kata kau muncul sebagai Naga Merah sekalipun asal usul yang menyangkut dirimu aku juga tahu semuanya."

Tan Liong diam-diam terperanjat.

"Coba kau jelaskan."

Demikian pintanya.

Didalam pandangan Tan Liong, gadis baju merah tersebut sebetulnya masih merupakan teka teki besar.

Mengapa gadis tersebut dapat mengetahui asal-usulnya bahkan semua kejadian yang bersangkutan dengan ia?

Hal inilah yang membuat dia tidak habis pikir.

Sebab sejak munculnya ia dalam dunia kangouw, belum pernah ada seorangpun yang mengenalnya, apalagi asal-usulnya.

Sampaipun itu gadis Hoan Giok Hoa yang mengakibatkan ia kehilangan seluruh ilmunya juga tidak terkecuali, serba gelap akan hal dirinya.

Mengingat dirinya Hoan giok Hoa, dalam hati si pemuda timbul semacam perasaan pedih...

"Ayahmu bukankah Tan Ciang itu orang yang dijuluki Bwe hoa Sin kiam? Betul tidak?"

"Benar...!"

Demikian tanpa merasa Tan Liong menyahut.

"Ayahmu, Bwee hoa Sin kiam itu pada masa dua puluh tahun yang silam pernah kepincut dengan seorang yang bernama Siao hun lie ciang Bun bun, lalu keduanya lari meninggalkan ibumu, Cai hoa Sian cu! Betul tidak?"

"Kau teruskan?"

"Kala itu ibumu baru melahirkan kau belum lama dan setelah mengalami nasib ditinggal suami, sudah tentu ia sangat berduka. Dan jikalau tidak karena baru melahirkan, ibumu mungkin sudah tidak ada keberanian untuk hidup terus. Tetapi oleh karena kau, ia rela menerima segala penderitaan hidupnya, selalu berusaha membesarkan kau. Sampai kau berusia lima tahun, kedukaan ditambah kebencian yang selama itu terkandung dalam hati, suatu hari ibumu akhirnya berubah menjadi suatu kekuatan dan menimbulkan hasrat begitu besar niatnya hendak membunuh ayahmu sendiri, Tan ciang Jiu itu. Sudah barang tentu juga ibumu tidak mau memaafkan ayahmu itu lekaki belang dan sudah tentu juga tidak akan dibiarkan laki-laki itu hidup enak-enakan. Tetapi ibumu cukup maklum dengan kepandaian yang dimilikinya pada masa itu, jangan kata mampu menandingi ayahmu, sekalipun untuk menghadapi Siao hun lie seorang masih tidak nempil."

"Untuk membalas sakit hati, akhirnya ibumu nekad-nekadan"

Demikian katanya pula, setelah menelan ludah "

Pada suatu malam ia mencuri masuk kerangon tempat menyimpan kitab pusaka dalam gereja siao lom sie, maksudnya hendak mencuri kitab pusaka Siao lom pay yang terkenal dengan nama Pan giok Sin kang.

Tapi lebar, perbuatannya dipergoki oleh seorang padri disitu, hingga akhirnya babak belur ia dihajar oleh Ciang bun jin siao lim pay setelah muntahkan banyak darah, akhirnya bisa kabur..."

Tan Liong yang mendengarkan penuturan gadis baju merah itu makin lama nampak makin tergerak hatinya... Terdengar suara gadis baju merah itu berkata pula.

"Meskipun ibumu berhasil melarikan diri dari gereja siao lim sie, tetapi serangan Ciang bun jin Siao lim pay telah menyuruh dia merawat diri sendiri sampai dua tahun baru bisa sembuh dari luka-lukanya, sedang hasratnya hendak membunuh ayahmu makin lama makin besar. akhirnya ia pergi ke gunung Bu tong san.. Dan kepergiannya kesitu hendak mencari kitab pusaka Bu tongpay yang diciptakan oleh Thio Sam Hong sendiri, pendiri Bu tong pay yakni kitab pelajaran ilmu pedang yang terkenal dikalangan kangouw bernama Hai hong Cap pak sek. Kalau waktu itu bukan ada jasa Pendekar Kalong yang menjamin keselamatan jiwanya mungkin ibumu waktu ini sudah tidak ada mayatnya dibuang dipinggir jurang Bu tong san, ibumu yang berkali-kali mengalami kegagalan itu hatinya rupanya mulai dingin, paling akhir dicobanya sekali lagi menyatroni Kun lun pay disitu maksudnya hendak mencuri dan mempelajari ilmu kitab Kim kong ciang, tetapi disini usahanya juga, bahkan kena dihajar lagi oleh orang-orang kuat Kun lun pay. Maka walaupun berhasil meloloskan diri akhirnya. Tetapi keadaannya sudah payah betul, sukar dipertahankan karena luka-lukanya begitu parah sehingga tidak lama sepulangnya dirumah lantas meninggal dunia."

Tan Liong yang mendengarkan kisah ibunya yang demikian mengharukan, air matanya titik berlinang, sikapnya kelihatan begitu lesu dan kedukaan hebat agaknya meliputi seluruh hatinya.

Gadis baju merah berhenti sejenak, setelah membesut keringat atas dahinya lalu ia berkata pula.

"Jikalau kisah tadi menyayat hatimu, aku boleh tidak usah ceritakan lagi."

"Tidak apa!"

Jawab Tan Liong lekas.

"Kau boleh ceritakan terus."

"Apa kau tidak takut kejadian dimasa lampau itu akan membikin susah hatimu?"

"Susah yang kualami masa lalu sudah terlalu banyak sekali. itu bukan soalnya."

"Tatkala ibumu hendak menutup mata, pernah meninggalkan pesan, supaya kau setelah besar, bisa menuntut balas, membunuh ayahmu sendiri. Tan ciang Jin dan itu perempuan yang menjadi gara-gara pecah belahnya keluarga, bahkan sampai kematian ibumu sendiri, Ciang Hua ban san dalam keadaan luka hati, demikian kau ternyata lantas terima baik pesanan ibumu. Akan tetapi buat membunuh lain orang rasanya masih tidak sukar, tetapi membunuh ayah kandung sendiri? Aku yakin kau tidak menahan hatimu... Dan waktu itu, ibumu selain berpesan padamu supaya mengusahakan penuntutan balas sakit hatinya itu, pernah juga ia menyuruh kau pergi pada seorang yang bernama Cu Goan kui yang dalam rimba persilatan gelarnya terkenal sebagai Tiat khek."

"Cu Goan kui dengan ayahmu sebetulnya dulu adalah sahabat kental. Dia pada waktu ibumu masih belum meninggal dunia, pernah menjodohkan anak perempuannya yang bernama Cu Lian kepadamu. Kala itu kau sudah berumur lima tahun, tentang ini didalam hati dan pikiranmu aku yakin tentu tidak akan melupakan untuk selama-lamanya. Maka dengan hati duka tak terhingga kau lalu pergi mencari-cari Goan Kui."

"Tetapi apa yang kau dapatkan padanya membuat kau merasa kecewa. Dia tidak perlakukan kau sebaik seperti yang dikatakan ibumu bahkan dia memandang rendah padamu, menghina kau. Maka dalam hati kecilmu mulai saat itu sudah diliputi oleh rasa dendam dan sakit hati terhadap kehidupan manusia. Tetapi satu-satunya yang merupakan hiburan pokok bagi hati yang sedang berduka berbareng benci itu adalah sikap dan kelakuan serta cinta kasihnya Cu Lian terhadapmu. Sewaktu kau menerima caci maki cu Goan kui, dialah satu-satunya orang yang memberi hiburan hingga memberanikan kau untuk hidup terus dalam perjuangan. Meskipun kau mendendam dan benci sekali kepada Cu Goan Kui, akan tetapi kau begitu dalam menyintakan Cu Lian, puterinya. Beberapa kali kau hendak meninggalkan keluarga Cu, tapi juga selalu kau urungkan sendiri karena sikap dan kasih sayang Cu Lian yang diberikan padamu. Sumpah sehidup semati dengan Cu Lian didalam hati sanubari kalian yang waktu itu masih suci murni biar bagaimana tentu membuat hatimu tidak bisa melepas bayangan gadis itu. Kau tak usah menyangkal kalau kau begitu dalam menyintai dia. Dalam usia 15 tahun waktu itu perbuatan Cu Goan kui telah membuat kau benar-benar sudah tidak ada waktu itu keberanian untuk berdiam lebih lama dalam rumah tangganya, maka akhirnya kau berlalu dari keluarga Cu dan meninggalkan buah hatimu. Tatkala kau hendak meninggalkannya, Cu Lian pernah berkata padamu, 'engko Liong, kau pasti kembali. Akan kunantikan kau selama-lamanya, karena hatiku ini adalah kepunyaanmu sejak hari ini.'"

"Pernyataan kasih sayang gadis itu telah memberi semangat dan hati hangat kepadamu, tetapi akhirnya juga terpaksa kau meinggalkannya dengan hati hancur lebur..Setelah kau pergi meninggalkan keluarga cu, kau tidak tahu kearah mana harus menuju karena kau yang hidup sebatang kara tidak mempunyai sanak famili, maka kemana kau pergi tentu belum dapat kau tentukan seidiri pada kala itu. Itulah sebabnya kau lalu bergelandangan dijalan satu hari lewat satu hari... dan dirimu. Kau pernah jatuh pingsan dipinggir jalan, tapi karena tekadmu begitu bulat untuk menuntut balas, kau gemar sekali menerima segala penderitaan. Dengan hati pedih dan badan tak bertenaga itu kau memasuki suatu daerah pergunungan yang kau sendiri tidak tahu namanya, sudah berapa tempat dan jauh jarak yang kau lalui,. Yang hanya ada pada hatimu memetik buah pada kala kau merasa lapar, lain dari itu, setiap hari kau lewatkan hidupmu dalam keadaan menggenaskan. Itu juga akhirnya yang membikin tabah dan kuat sifat pribadimu."

"Ada satu hari tanpa kau sengaja juga diluar tahumu sendiri kau menelan lima buah Leng cie yang sudah berumur ribuan tahun. buah Leng cie yang sudah ribuan tahun umurnya itu adalah barang mujijat dalam dunia. Kala itu meski kau cuma mengerti saja ilmu kepandaian silat, tetapi lima buah Leng cie lantas membikin kau tambah semangat dan tambah tenaga berlipat ganda. Juga pada malam itu tatkala kau memasuki sebuah kuil tua, mendadak disitu kau lihat ada sesosok jerangkong jenasah manusia. Oleh karena terdorong peruntunganmu, akhirnya kau mendapatkan kitab pelajaran ilmu silat aneh peninggalan ketua Ciong-lam pay turunan ke duabelas, yakni yang bernama Yo Sai Peng. dan selain itu kau dapatkan juga sebuah panji partai Ciong lam. Kitab pusaka dari partai Ciong lam itu ialah pelajaran ilmu silat yang ditulis oleh Yo Sai Peng yang ditinggalkan untuk partainya ketika akan menghembuskan napasnya yang penghabisan, teraniaya oleh musuhnya. Dalam pesannya tertera dalam kitab itu, ia juga minta pada siapa yang mendapatkan kitab dan mempelajari isi kitabnya itu harus memegang pimpinan dan menjadi ketua partai Ciong lam pay. Sedang yang mengenai orang yang menganiayanya, dalam kitab itu juga dituliskan pembunuh itu adalah itu orang yang bergelar Sam gan Mo kun dengan kekasihnya yang bernama Thian liong lie. Kedua musuh-musuhnya itu harus dibunuh. Kala itu kau belum mengerti arti ilmu silat yang terdapat dalam kitab mujijat itu, hanya bolak balik melihat-lihat gambaran dan membaca sendiri akhirnya sampai berulang-ulang membaca seluruh isi kitab itu, sepuluh hari kemudian setelah kau meninggalkan kuil itu dan selagi berjalan melewati kaki bukit Pak kut gan, kau lalu menemukan seseorang yang terkenal ganas, Naga Merah yang tersekap dalam sebuah gua dibawah kaki bukit itu dengan kunci mujijat mengekangnya. Tatkala Naga Merah melihat rupamu segera ia tahu bahwa kau mempunyai bakat luar biasa yang menyebabkan ia mengambil keputusan akan mendidik dan menjadikan kau seorang kuat tanpa tanding dalam rimba persilatan. Dari dirinya si Naga Merah itu juga kau lalu mendapatkan apa-apa yang sebelumnya kau tidak bisa itu ilmu yang kau idam-idamkan seumurmu. dia telah menurunkan seluruh kepandaiannya kepadamu. Tiga tahun kemudian ia menuturkan kisah hidupnya. Meskipun pernah berkali-kali ia membunuh manusia tetapi orang-orang yang dibunuhnya semua itu adalah orang-orang yang bermusuhan dengan dia dan orang yang menyekapnya dalam goa tersebut adalah itu orang yang bernama Ong Cia San dengan gelarnya Lam khek Sian oang. dia juga berpesan padamu, setelah kau nanti terjun dalam dunia kangouw, harus mewakilnya membunuh delapan orang yang lantas satu-satu disebutkannya dan setelah itu kau lantas mencari Lam khek sian ong, Ong cin san suruh kau dari padanya minta sebuah kunci yang digunakan untuk membuka pintu goa, supaya dia bisa bebas kembali."

"Waktu pertama kali kau muncul dalam dunia kangouw, dia memberikan kau seperangkat pakaian warna merah darah dan dua buah pecahan mangkok. Yang sepotong adalah barang tulen peninggalan dari pengemis sakti dan sepotong yang lainnya adalah yang palsu. Selain daripada itu juga diberikan padamu sebuah tusuk kundai batu giok yang berukiran Naga dengan warnanya yang indah merah. Dipesannya pula, jikalau hendak mengambil jiwa itu delapan orang yang hendak kau ambil jiwanya, lebih dulu tusuk konde itu harus dikirim pada orang-orang itu dan dalam waktu tiga hari kemudian barulah kau diperbolehkan turun tangan. Setelah kau muncul didunia kangouw, benar juga kalau demikian waktu itu kau melakukannya pesan-pesan suhumu, bergiliran sudah merenggut tujuh jiwa manusia hingga didunia kangouw menjadi gempar setiap orang merasa tidak aman dirinya. Naga Merah muncul lagi dunia kangouw. Dan sebelum mengambil jiwa orang kedelapan, orang terbelakang, kau kemudian bertemu dengan seorang gadis yang tergila gila dan cinta padamu. Gadis itulah Hoan Giok Hoa. Ia sudah tergila-gila begitu rupa terhadapmu, tetapi tidak kau balas sebagaimana mestinya cinta seorang gadis terhadapmu. Sebabnya, gadis yang ada didalam hatimu adalah hanya seorang gadis yang namanya Cu Lian, yang merupakan juga kawanmu semasa kanak-kanak. Tetapi akhirnya kau mendadak menerima kabar suatu berita yang menyayat sekali hatimu. Berita itu adalah menyangkut dengan gadis idamanmu yang hingga sekarang belum ketahuan tempat tinggalnya. Beritu itu merupakan pukulan batin sangat hebat bagimu, sampai hamoir kau tidak kuat menahan penderitaan hatimu. Dan untuk mengisi kekosongan hatimu yang hampa itu, terhadap Hoan Giok Hoa kau lantas ambil perhatian. Diantara kalian saling menuturkan perasaan hati masing-masing yang sangat. Tapi setelah itu kau juga merasa bahwa kau tidak cinta benar-benar terhadap gadis itu, perbuatanmu hanya sekedar buat melampiaskan hatimu yang kosong. Sudah itu hanyalah hiburan yang kau cari yang waktu itu kau begitu sedih. Tetapi, Hoan Giok How sendiri sebaliknya begitu dalam anggapannya bahwa ia telah mendapat kasih sayangmu. Pada suatu hari waktu kau sedang bersemedi melatih ilmu, mendadak ia datang menemui kau. Dia mula mula ingin membikin terkejut membentak, tiba-tiba dari belakangmu. Siapa tahu perbuatan yang dilakukan tak disengaja itu akhirnya membikin tertutup jalan darahmu hingga ilmumu musnah sekalian, Semula sebetulnya kau ingin menganiayanya, tetapi setelah kau melihat wajah dan matanya yang masih putih bersih, kau lantas tidak tega turun tangan. Dan tatkala ia juga tahu kalau perbuatannya yang main-main itu mengakibatkan musnahna seluruh kepandaianmu, ia juga merasa sedih, hampir saja membuat ia mencari jalan buntu, hingga ia dengan diam-diam pegi ke gereja Ban hud sie digunung Ngo bie san untuk mengambil Cian lion Soat som..."

Gadis baju merah itu ketika menutur sampai disitu tiba-tiba terdengar Tan Liong bertanya keheranan.

"Apa?"

Tanyanya "Hoan Giok Hoa pegi kegereja Ban hud sie di gunung Ngo bie san?"

Gadis baju merah itu tersenyum, lalu menjawab.

"Ya. Sikap dan keadaan Hoan Giok hoa itu patut dikasihani. Karena begitu dalam cintanya terhadapmu, sudah tentu ia sejujurnya ingin mengambil cian lian soat Som untukmu. Sekalipun mengorbankan jiwanya ia tidak merasa sayang."

Partai Ngo bie pay yang selama beberapa tahun sudah beberapa kali bercidera dengan partai Ciong lam pay, hingga kehilangan banyak orang kuatnya yang juga hampir meruntuhkan namanya, tetapi oleh karena itu juga pula maka penjagaan atas gunung itu juga sangat kuat.

Apakah Hoan Giok Hoa mampu lolos dari penjagaan orang-orang Ngo bie pay yang melakukan penjagaan keras tiap hari siang malam itu masih merupakan suatu pertanyaan.

"Setelah Hoan Giok Hoa berlalu, dikalangan kangouw tiba-tiba muncul lagi tusuk konde berukiran naga merah. Dalam waktu singkat, dua puluh hari saja beruntun Naga Merah sudah membunuh delapan orang. Hal itu dengan sendirinya membikin kau terkejut. sebab tusuk konde batu giok berukiran Naga Merah itu sebetulnya cuma ada satu, Mana boleh mendadak bisa muncul lainnya begitu pikirmu. dan kau selain kaget tentu merasa kuatir. Tatkala tusuk konde Naga merah itu muncul untuk keenam belas kalinya diselat Bu siong hiap, kau juga hadir disitu dengan sepotong pecahan mangkok palsu kau bermaksud ingin memancing Naga Merah. Tetapi Naga Merah palsu itu ternyata begitu licin, hingga kalau bukan karena gara-garanya Pek lek cu, aku yakin siang-siang kau sudah mengetahui siapa adanya orang yang mengaku Naga Merah palsu itu."

"Dan selanjutnya apakah masih perlu kau suruh aku mengucapkan lagi banyak kata-kata?"

Demikian gadis baju merah itu dalam mengakhiri penuturannya.

Dengan sorot mata terheran-heran, Tan Liong memandang gadis baju merah itu.

Ia tidak habis pikir mengapa gadis baju merah ini begitu jelas mengetahui riwayat hidupnya?

Dengan sikap muram ia menghela napas, dan berkata.

"Tidak usah kau ceritakan lagi, tetapi aku merasa heran mengapa kau megetahui jelas sekali riwayat hidupku?"

Gadis baju merah tersenyum dan berkata.

"Sudah tentu ada orang yang memberitahukan padaku. Sebetulnya juga tidak ada apa-apanya yang harus dibuat heran, sebab sejak kau muncul didunia Kangouw, hampir selalu aku berada didekatmu."

"Kau menguntit aku?"

Tanya Tan liong keheranan.

"Jikalau kau anggap demikian boleh jugalah."

Tan Liong mengingat soal sepotong mangkok pecah yang diambil oleh gadis baju merah itu dalam hatinya timbul semacam perasaan tidak senang, maka waktu itu ia lantas ketawa dingin dan menanya si nona.

"Kalau begitu apa maksud nona mengambil sepotong mangkok pecahanku?"

"Itu adalah suhu yang suruh aku ambil kembali. Jikalau tidak terpaksa aku juga tidak bisa datang keselat Bu Siong hiap dan dengan cara menangkap pertandingan secara lisan dengan kau baru aku mendapatkan sepotong pecahan mangkokmu itu. Sebetulanya siang-siang kau sudah boleh turun tangan atau mencuri barang itu, tapi aku tidak suka berbuat demikian..."

Wanita itu lalu menghela napas perlahan berkata pula perlahan hampir tidak dapat ditangkap oleh telinga manusia.

"Ulat sutera sampai mati baru habis suteranya..."

Perkataan selanjutanya tidak dapat didengar lagi. Setelah menutup mulut lalu gadis baju merah itu balik badan dan berjalan perlahan-lahan. Tan Liong tergoncang hatinya. Tanpa sadar ia berseru.

"Nona..."

Tetapi ia hanya dapat mengucapkan perkataan itu saja, selanjutnya tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Gadis baju merah itu lalu berkata sambil tersenyum.

"Aku sudah beritahukan kau tempat kediamanku. Setiap waktu boleh kau datang ambil barang itu. Cuma dengan kepandaianmu seperti sekarang ini kau masih bukan tandinganku dan sudah tentu bukan tandingan suhuku. Sampai disini saja kata-kataku ini semoga dilain waktu kita bisa saling bertemu lagi."

Setiap patah kata yang keluar melalui bibir gadis baju merah itu seperti mengandung rasa duka dan berat tidak terhingga.

Selagi Tan Liong hendak menjawab, tiba-tiba terlihat berkelebatnya bayangan merah dan gadis baju merah itu sudah menghilang dari depan matanya.

Suatu perasaan sedih sunyi menyesal dan lain-lain lagi mendadak berputaran dalam hatinya.

Ia seperti orang kehilangan barang.

Didalam otaknya saat itu terbayang kembali wajah serta sikap serta kata-katanya wanita berbaju merah itu yang dingin kaku, tetapi cukup mengesankan.

Siapakah dia itu?...

Pertanyaan ini selalu berputaran dalam otaknya, tetapi siapa sebetulnya gadis baju merah itu, sudah tentu belum dapat dijawabnya sendiri.

Dan sepotong pecahan mangkok ada satu hari pasti akan dia ambil kembali karena itu adalah pemberian suhunya, biar bagaimana tentu tidak dibiarkan barang berharga tersebut jatuh ke dalam tangan orang lain.

Dan siapa pulakah itu dua orang berpakaian serba merah tadi yang mengaku Naga Merah?

Teka teki itu semuanya harus dapat dipecahkan juga, kalau dapat lebih cepat lebih baik.

pikirnya.

Setelah itu ia lantas memikirkan hendak mencari ayahnya dah Siao hun lie untuk melaksanakan pesan ibunya sebelum menutup mata.

Mengingat sampai disitu, ia merasa bahwa urusan yang harus diselesaikannya banyak sekali sesungguhnya.

Karena bukan saja hendak menyelesaikan tugas yang dibebankan suhunya tetpai juga karena ia sudah diangkat sebagai ketua Ciong lam pay, ia merasa bahwa tugas dan kewajibannya berat sekali.

Tetapi hingga saat itu hanya sebagian saja yang baru diselesaikannya, hal mana membuatnya berduka karena sekarang ia terluka serta tidak berkepandaian lagi.

Jikalau mengingat itu semua, ia cuma bisa menggertak gigi menarik napas saja, saat itu pikirannya dirasakan pepat, sedianya hendak berlalu dari tempat tersebut.

Mendadak ia dengar orang memanggil.

"Sicu, tunggu dulu!"

Tan Liong yang mendengar panggilan itu, agaknya terkejut, Ketika ia berpaling, segera dilihatnya Ceng sim siansu dari siao lim sie sedang memburu datang menghampirinya.

Tan Liong merasa keheran-heranan, Ceng sim siansu setelah berada di hadapannya lalu anggukkan kepala memberi hormat seraya katanya.

"Lolap mendapat perintah Pek cia suheng minta sicu dengan lolap datang menghadapnya sebentar."

Tan Liong semngatnya terbangun. Lalu ia menanya "Apa kalian sudah mengambil putusan terima baik permintaanku?"

"Tentang ini lolap tidak tahu. Lolap hanya menjalankan perintah saja, sicu suka maafkan."

Tan Liong anggukkan kepala, bersama-sama Ceng Sim siansu lantas berjalan masuk gereja siao lim sie lagi.

Pek cia taysu menyuruh Ceng sim Siansu memanggil Tan Liong balik, sudah tentu bukan tidak ada sebabnya.

Perlu kiranya diketahui, Siao lim pay merupakan partai terbesar didaerah Tionggoan, apabila ketuanya sampai binasa semudah demikian, bukankah akan rusak dan runtuh pamor Siao lim pay?

Bukankah lebih besar lagi kerugian bagi partai tersebut dikemudian hari?

Barang yang dikehendaki oleh Tan Liong adalah kitab ilmu pelajaran silat Pan giok sin kang.

Kitab tersebut adalah salah satu kitab peninggalan dari Tat mo Cousu, meskipun tidak boleh terjatuh dalam tangan lain orang secara gampang, akan tetapi demi kepentingan dan demi menjaga nama baiknya siao lim pay.

Pek cia taysu sudah berpikir bolak balik untuk berdamai dengan Tan Liong.

Jiwanya Goan khut ketua siao lim pay yang sudah ditarik kembali dari tangan elmaut telah membuat paderi tua itu tertarik oleh kepandaiannya Tan Liong.

Saat itu Tan Liong lantas diajak masuk kekamar Tat mo ie.

Sedang Goan khut sudah baik dan merawat dirinya.

Tan Liong disambut oleh Pek cie taysu setelah dipersilahkan duduk hweeshio tua itu lantas berkata.

"Lolap minta sicu balik ke Tat mo ie..."

Bicara baru sampai disitu, wajahnya tampak murung setelah berhenti sejenak, lalu berkata pula.

"Kitab Pan giok Sin kang ada merupakan benda pusaka bagi partai kami, sudah tentu tidak boleh sembarangan pindah tangan. Tapi sekarang ini karena kami sedang mengalami nasib begini, dan ketua kami sedang terluka oleh si Naga Merah, maka demi kepentingan partai kami dan untuk menolong jiwa ketua partai kami, atas nama partai lolap ingin berunding dengan sicu."

Paderi tua ini menatap wajah Tan Liong sejenak lalu menanya.

"Pan giok sin kang adalah ilmu silat golongan Buddha yang tertinggi, Sicu meskipun mempunyai kepandaian dan kecerdasan lebih dari orang biasa, tapi rasanya kalau hendak mempelajari dan paham betul arti dan isinya, apa lagi sari kitab ilmu silat itu juga bukan suatu hal yang sangat mudah. Entah ada maksud apakah sicu menghendaki kitab pusaka partai kami itu?"

Dalam hati Tan Liong saat itu lalu berpikir.

Perkataan hweeshio tua ini memang tidak dilebih-lebihkan.

Memang sebetulnya Pak giok Sin kang itu adalah ilmu silat golongan Buddha yang paling tinggi.

Kalau ingin memahami dan mempelajari sarinya untuk menyembuhkan lukaku juga bukan suatu soal yang mudah....

Berpikir demikian, ia lantas berkata.

"Dalam badanku ini pada waktu ini sebetulnya sedang mengeram penyakit jahat. Hanya dengan ilmu yang terdapat dalam Pan giok Sin kang, lukaku baru bisa disembuhkan, baru bisa kepandaian dan kekuatanku dipulihkan."

"Kalau cuma begitu, sekarang begini saja kita tetapkan karena seperti yang lolap katakan tadi karena kitab itu adalah pusaka partai kami yang sicu tentu juga tahu tidak boleh sembarangan jatuh ketangan orang lain makan bolehkan kalau syarat yang sicu katakan tadi, kita robah sedikit? Begini, kita itu kami pinjamkan kepada sicu utuk jangka waktu tiga tahun. Setelah habis waktunya sicu kembalikan lagi kepada partai kami. Tetapi sebelum sicu bawa pergi kitab itu sudah tentu harus menolong jiwanya ketua kami lebih dulu."

Mendengar perkataan Pek cia taysu itu, Tan Liong malah merasa tidak enak hati. Ia lalu menyahut sambil perhatikan senyum ewah..

"Maksudku sebetulnya bukan kutujukan pada kitab Pan giok Sin kang itu. Jikalau dalam partai Siao lim pay ada orang yang meyakini dan paham benar ilmu itu serta bisa menyembuhkan lukaku, tidak perlu aku melihat kitab tersebut, aku tidak bermaksud hendak mengangkangi kitab pusaka kalian itu."

Pek cia taysu dengan wajah masih tetap suram muram mengawasi Ceng sim Siansu yang berdiri disamping, kepada kawannya itu ia berkata.

"Sutee, coba kau pikir-pikir lagi. Diantara saudara kita kau tahukah ada yang pernah mempelajari ilmu Pan giok sinkang itu?"

Ceng sim siansu yang ditanya juga sedang murung.

Ketika ditanya lalu memejamkan mata, berpikir ia agaknya, Tan liong mendadak ingat ibunya, sang ibu itu pernah sekali mengunjungi gereja siao lim sie hendak mencari kitab didalam ruangan penyimpanan kitab, tetapi akhirnya terluka parah.

Mengingat nasib ibunya, wajahnya lantas berubah.

Ditatapnya wajah Pek cie taysu sejenak, lalu ia berkata.

"Taysu, kalau aku nanti dapat menyembuhkan dan menghidupkan ketua kalian dan kalian pun sudah menyembuhkan lukaku itu, baru namanya tukar menukar yang adil. Dalam hal itu tidak terselip soal utang budi diantara kita juga tidak ada permusuhan. Hanya aku dengan partai kalian masih ada sedikit perhitungan yang nanti akan kutuntut dari kalian."

Pek cie taysu yang mendengar perkataan Tan Liong semula kaget, tetapi segera dapat tenang kembali, lalu ia menanya.

"Kapankah pernah partai kami melakukan kesalahan terhadap sicu?"

Tan Liong tidak menjawab pertanyaan itu, hanya diganda ketawa olehnya. Pada saat itu mendadak Ceng sim Taysu berseru.

"Aaaaa..!!"

Seruan itu keruan saja mengejutkan Tan Liong dan Pek cie Taysu.

Pek cie taysu yang seketika itu mengawasi Ceng sim siansu, segera melihat sang sutee itu berubah wajahnya, nampak seperti orang kegirangan.

"Suheng, sekarang aku ingat seseorang."

Demikian Ceng sim siansu berkata.

"Siapa?"

"Goan beng supek."

Mendengar jawaban singkat itu, wajah Pek cie taysu yang sejak tadi kelihatan murung seketika lantas berubah kegirangan lalu berkata dengan bernafsu.

"Oyaa.. oyaa.. Goan beng supek sudah mempelajari 80 tahun lebih lamanya. Itu berarti jikalau supek masih belum dapat memahami sari pelajaran ilmu tersebut, baru kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

Itu ada sebuah kuil tua, yang letaknya dibelakang gereja siao lim sie digunung siong san.

Diruangan dalam kuil tua itu tampak ada dua orang berdiri, mereka adalah Pek cie taysu dan Tan Liong.

Disebuah pembaringan didepan mereka tampak seorang hweeshio tua yang sedang duduk.

Hweeshio ini badannya kurus sekali, pipinya sudah keriputan.

Tatkala hweeshio tua itu membuka sepasang matanya, sinarnya tampak bercahaya.

Hweeshio ini tatap wajah Pek cie taysu seraya katanya.

"Apa yang kau katakan tadi semua benar."

Pek cie taysu lantas berlutut dan lantas juga berkata dengan sikap masih tetap menghormati.

"Teecu tidak berani mengucapakan yang bukan-bukan. Harap supek suka memaafkan."

Hweeshio tua itu adalah Goan-beng sendiri. Terdengar ia berkata dengan suara dingin.

"Naga Merah nyalinya terlalu besar. Dia berani terlalu tidak pandang mata pada partai, mengobrak-abrik partai kita."

Sehabis berkata, dijawabnya yang sudah banyak keriputan nampaknya bergerak-gerak, suatu tanda kalau hweeshio tua tersebut sedang murka, ketika ia memandang Tan Liong, berkata padanya.

"Nanti setelah aku membuka semua urat dan jalan darahmu dengan ilmu Pan giok sin kang, aku juga akan mencari Naga Merah untuk membikin perhitungan atas sepak terjangnya."

Tan Liong yang sejak tadi berdiri diam, ketika menyaksikan sikap hweeshio tua itu, diam-diam juga merasa keder. Saat itu ia dengar pula suara Goan beng yang berkata dengan suara perlahan.

"Sekarang aku akan mulai membuka seluruh jalan darahmu yang tertutup itu."

Tan Liong kasihkan dirinya disembuhkan oleh paderi berilmu itu.

Pan Giok sinkang adalah ilmu silat tertinggi dari golongan Buddha.

Selama beberapa ratus tahun belakang tidak sedikit anak murid partai Siao lim yang coba-coba ingin meyakini, tapi tidak seorangpun yang memahami isi maupun sari kitab tersebut.

Goan beng hosiang, setelah menggunakan waktu hampir delapan puluh tahun toh masih belum dapat memahami keseluruhan isi kitab tersebut.

Jikalau Goan beng tidak memiliki kecerdasan dan bakat luar biasa, barangkali tidak mampu mempelajari sekalipun hanya separuhnya saja.

Tan Liong saat itu merasakan bahwa jari-jari tangan Goan beng hosiang itu seolah-olah ada hawa panas luar biasa, Hawa itu menyelusup ke urat dan jalan darah diseluruh badannya, lalu menembusi jalan darah terpenting, seperti Ciang thay Hiat, Hoa kay hiat, sim khan hiat dan terus ke Khio hay hiat.

Cara penyembuhan luka semacam itu bagi Tan Liong sesungguhnya suatu keuntungan besar, sebab ilmu Pan giok sin kang itu, sebagai suatu ilmu yang mengandung kekuatan Yang murni yang bersifat panas, yang justru dapat menyembuhkan atau mengusir hawa Im yang sifatnya dingin yang selama itu mengeram dalam tubuhnya Tan Liong.

Cara pengobatan itu memakan wakut hampir dua jam lamanya.

Tan Liong yang pada kala itu boleh dibilang sudah sembuh seluruh penyakitnya, bahkan karena adanya bantuan Pak giok sinkang, kekuatan tenaga dalamnya sudah mendapat kelebihan dari yang dulu pernah dimilikinya.

Sekeluarnya Tan Liong dari kuil tua itu, hari sudah hampir pagi.

Ia lalu balik kembali kekamar Tat mo ia digereja siao lim sie untuk membuka totokannya Goan khut, sekalian menyembuhkan luka-luka dalamnya.

Dan selesai dengan pekerjaannya itu, semua cuaca sudah terang sekali.

Tan Liong karena sudah berhasrat besar sekali hendak membuka kedok Naga Merah, maka lantas ditinggalkan Gereja Siao lim sie ketika itu juga.

Sebelum ia meninggalkan gereja tersebut, ia memberitahukan Pek cia taysu bahwa dilain hari ia akan kembali untuk membuat perhitungan.

Pek cia taysu tentu saja tidak tahu ada ganjalan sakit hati apa antara pemuda itu dengan partai Siao lim pay.

Hanya dengan pikiran diliputi tanda tanya lantas disuruhnya beberapa orang padri mengantarnya Tan Liong keluar dari gereja siao lim sie.

Hari kedua sekeluarnya Tan Liong dari gereja Siao lim sie suatu kejadian yang menggemparkan dunia rimba persilatan telah terdengar ramai....

Kejadian tersebut, Sebuah tusuk konde batu giok berukiran Naga Merah untuk kedelapan belas kalinya muncul lagi dikota Kay hong.

Dan apa yang membikin gempar tusuk konde itu kali ini justru jatuhnya pada seorang tingkatan muda yang namanya belum terkenal.

Sewaktu Tan Liong mendengar berita tersebut, bukan kepalang gusar hatinya.

Keganasan dan sepak terjangnya dua Naga Merah palsu itu sebetulnya sungguh keterlaluan.

Maka pada hari pertama, tatkala tusuk konde itu muncul dikota Kay Hong, Tan Liong juga sudah tiba dikota itu.

Kira-kira sepuluh lie disebelah utara kota Kay Hong, ada sebuah kampung kecil yang penduduknya cuma kira-kira beberapa puluh jiwa saja.

Dan disebelah selatan kampung tersebut, ada sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu dan papan.

penghuni rumah tersebut adalah Koan Beng dan orang inilah yang kali itu mendapat kehormatan menerima tusuk konde Naga Merah untuk kesembilan belas kalinya.

Malam itu cuaca gelap, angin berhembus kencang.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan manusia yang dengan kecepatan serta kegesitan luar biasa melayang keatas sebuah pohon besar didalam pekarangan rumah kayu tersebut.

Bayangan itu bukan lain daripada Tan Liong sendiri!

Ketika pemuda baju kelabu itu melongok dan mengawasi keadaan dalam rumah ternyata lampunya masih menyala, keadaan disekitar rumah terang benderang.

Tetapi disitu tidak nampak bayangan seorangpun juga.

Tan Liong diam-diam merasa heran.

Apakah penghuni rumah disitu yang telah menerima tusuk konde Naga Merah sudah mati?

Memikir demikian, diam-diam ia merasa kuatir sendiri.

Apabila malam itu tidak berhasil ia membuka kedok orang yang mengaku bernama Naga Merah itu dan membiarkan mereka mengganas terus, pasti akan membuat dunia persilatan lebih gempar.

Ia lalu lompat turun dari atas pohon.

Tan Liong demikian orang dari atas pohon itu yang sudah pulih kekuatan serta kepandaiannya, tidak kuatir pada siapa saja, sekalipun musuhnya yang tinggi sekali kepandaiannya.

Tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, Tan Liong melayang turun kedepan pintu rumah papan itu.

Melalui lubang jendela ia melongok, maksudnya hendak mengetahui keadaan di dalam rumah.

Didalam tetap tak dapat dilihat bayangan seorang pun juga.

Keadaan itu mau tidak mau membuat dia diam-diam merasa kaget dalam hati, benarkah penghuni rumah tersebut sudah celaka ditangan manusia kejam tak berprikemanusiaan itu?

Sementara itu hatinya diam-diam berpikir.

"Siapa sebenarnya anak muda yang menerima tusuk konde dari Naga Merah itu? Ada permusuhan antara ia dengan si Naga Merah palsu itu....?"

Waktu itu kentongan ditalu tiga kali waktu malam yang sunyi senyap itu, kecuali suara burung hantu yang dapat membangkitkan bulu roma, hanya terlihat sinar kelak-keliknya binatang kunang-kunang, membuat tambah seram keadaan dalam kampung tersebut.

Tatkala Tan Liong mengingat bahwa orang yang menerima tusuk konde itu mungkin sudah terbinasa oleh Naga Merah palsu, hatinya menjadi cemas hingga tanpa memperdulikan apa-apa lagi lantas ia mendorong pintu dan menerjang masuk.

Pintu rumah itu ternyata tidak berpalang.

Maka dengan dorongan perlahan saja cukup dapat terbuka lebar-lebar.

Kemudian Tan Liong dengna gerakan badan cepat laksana kilat, menerjang keruangan dalam.

Mendadak, selagi Tan Liong hendak bersembunyi didalam kamar..

dibelakangnya tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Kalau tuan berani bergerak lagi, hati-hati, ujung pedang ku ini tidak mengenal kasihan lagi..."

Ternyata ujung pedang yang tajam dan dingin itu sudah mengancam dibelakang lehernya.

Bukan main kagetnya Tan Liong ketika itu tentunya.

Sebab dengan kepandaian yang dimilikinya waktu itu masih tidak mengetahui ada orang datang menghampiri bahkan mengancam lagi dengan pedangnya, dapatlah dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang tersebut.

Sang waktu kemudian berlalu lagi, sunyi dan tegang..

-o0o0dw0o0o-

Jilid ke .

7 Tan Liong benar saja, sementara diantaranya tadi tak berani bergerak.

Sudah jelas apa bila sedikit saja ia mengadakan pergerakan dengan maksud melawan, maka tidak ampun lagi ujung pedang yang berada diatas lehernya akan menamatkan riwayat hidupnya.

Mendadak terdengar pula suara yang mengancamnya tadi, yang bernada dingin.

"Tuan siapa?"

Tegur orang itu.

"Ada maksud apa tuan tengah malam buat masuk kedalam rumahku. Jikalau kau berani membohong, awas!! ujung pedang yang menempel dilehermu ini sedikit juga tidak akan mengenal kasihan."

Tan Liong diam-diam mengeluh. Ia tidak pernah menyangka bahwa maksud baiknya diterima salah oleh tuan rumah. Maka setelah mendengar pertanyaan tadi, ia lantas menanya.

"Kalau begitu, kau sendirian yang mendiami rumah ini?"

"Tidak salah! Apa tuan ini konconya Naga Merah?"

Tan Liong merasa sedikit ada harapan. Ia tahu bahwa penghuni rumah tersebut ternyata masih hidup, belum binasa ditangan si Naga Merah seperti semula yang disangkanya.

"Jikalau tuan tidak menjawabnya terus terang berarti tuan memaksanya ku turun tangan segera!"

Demikian suara itu pula terdengar lebih bernada ketus.

"Apa tuan anggap aku ini si Naga Merah?"

Demikian kata Tan Liong.

Pertanyaan tersebut malah membuat orang itu kemekmek rupanya, hingga lama tidak bisa berkata apa-apa.

Ketika Tan Liong memeriksa keadaan tempat tersebut, diam-diam juga mengeluh dalam hati.

Sebabnya adalah karena sebelum penghuni rumah tersebut mendapat penjelasan dan maksud kedatangannya sudah terang tidak akan dilepasnya ancaman ujung pedang pada lehernya itu.

Dan iapun maklum betapa lebih tinggi lagi kepandaiannya, pasti dalam ancaman serupa itu ia takkan mampu berbuat apa-apa.

Oleh karenanya, terpaksa ia keraskan hati dan berpasrah menyerahkan nasib ditangan yang berkuasa.

"Jikalau tuan bukannya Naga Merah, atau setidak-tidaknya kelompotannya, perlu apa tuan tengah malam buta masuk kedalam rumah orang? Perbuatanmu ini yang seperti maling, bagaimana bisa tidak membikin orang lain curiga?"

Demikian kembali Tan Liong mendengar orang dibelakangnya berkata.

"Jikalau tidak karena tusuk konde Naga Merah itu jatuh ke tangan tuan, aku juga tidak akan datang kemari."

Jawab Tan Liong akhirnya terpaksa.

"Kalau begitu, apa tuan lantaran si Naga Merah baru mau masuk kerumahku ini?"

"Benar! Penerangan waktu dirumah tuan ddiwaktu tengah malam buta seperti ini masih kelihatan terang benderang, tetapi disini tadi kulihat tak ada seorang pun juga. Ketika aku mengintip di lubang jendela, aku sudah menyangka kalau tuan sudah binasa ditangannya Naga Merah."

Mendengar keterangan Tan Liong itu, orang dibelakangnya itu lalu berkata sambil perdengarkan suara ketawa dingin.

"Hati manusia susah diraba. Dengan apa tuan hendak membuktikan bahwa tuan betul tidak ada hubungannya dengan Naga Merah!"

Mendengar perkataan tegas itu, wajah Tan Liong berubah seketika, lantas ia berkata dengan perasaan sedikit mendongkol.

"Tuan ternyata susah mengukur baju orang dibadan sendiri. Tuan berpikir terlalu cepat. Kalau benar-benar tuan tidak percaya ucapanku, bukankah pedangmu setiap saat boleh ditusukkan?"

Perkataan Tan Liong kali ini sebaliknya sudah bisa membikin orang dibelakangnya mengerti.

Sebab ujung pedang yang mengancam belakang lehernya itu mendadak disingkirkan.

Tan Liong lalu balik badan, seorang pemuda berusia kira-kira dua puluh tiga sampai dua puluh empat tahun sedang berdiri dihadapannya.

Pemuda tersebut, badannya tegap besar, wajahnya tampan dan keren.

Hanya yang harus dibuat sayang, sikapnya bukan seperti laki-laki gagah.

Pemuda itu ketika berhadapan muka dengan Tan Liong, agaknya merasa kaget, karena kakinya lantas mengisar menjauhinya.

Tetapi kemudian ketawa bergelak-gelak.

Suasana yang tadinya tegang, kemudian begitu kedua pemuda itu bertemu muka, lantas menjadi gembira.

Tuan rumah lantas berkata riang.

"Jikalau tadinya aku tahu tuan masih begini muda, pasti tidak akan begitu sembrono kelakuanku terhadapmu. Ha..ha..."

Sambil kerutkan alis, Tan Liong menanya.

"Apakah tuan ini yang bernama Koan Beng, yang menerima tusuk konde Naga Merah lambang maut itu?"

Mendengar pertanyaan itu, Koan Beng yang tadinya sudah tertawa mendadak nampak murung, sebagai jawaban ia hanya mengangguk.

Selagi Tan Liong hendak menanya pula, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang yag kedengaran dari jarak kejauhan, namun begitu nyaringnya hingga seketika memecahkan kesunyian dimalam sunyi seperti malam itu.

Koan Beng yang mendengar suara itu berubah pula wajahnya.

Baru ia hendak bergerak lari keluar, tiba-tiba Tan Liong mengulurkan tangannya, menarik kembali badan Koan Beng yang sudah hendak keluar.

Kepada tuan rumah ini Tan Liong dengan suara rendah berkata.

"Saudara Koan, jangan keluar sembarangan. Suara itu bukan suara si Naga Merah."

Tan Liong tidak tahu bahwa Koan Beng semenjak menerima tusuk konde Naga Merah itu setiap hari hatinya kebat kebit, maka tadipun begitu mendengar suara tadi semula mau menyangka bahwa si Naga Merah sudah mau beraksi.

Kemudian setelah ditarik badannya dan dihalangi maksudnya oleh Tan Liong, terpaksa ia mengurungkan maksudnya hendak keluar.

Dia dengan sorot mata bertanya-tanya dengan tuan rumah yang masih muda ini mengawasi Tan Liong terus tanap berkedip.

Dengan mata terus ditujukan kearah rumah, Tan Liong berkata dengan suara lembut.

"Itu adalah suaranya beberapa orang kangouw yang ingin menyaksikan Naga Merah bertindak. Rasanya malam ini Naga Merah belum waktunya unjukkan diri."

Diluar dugaan Tan Liong, keterangannya tersebut membikin Koan Beng berubah wajahnya dengan sorot mata tajam dan dingin, lantas berteriak gusar.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau si Naga Merah malam ini tidak akan muncul?"

Tan Liong tahu bahwa ia tadi sudah keterlepasan omong, hingga membuat tuan rumah salah paham. Setelah sekian lama dalam keadaan kemekmek ia lalu menanya.

"Kapan kau terima tusuk konde itu?"

"Satu hari sebelum hari ini."

"Biasanya Naga Merah sebelum sampai hari ketiga sejak waktu mengirimkan tusuk kondenya tidak akan turun tangan. Malam ini baru termasuk hari kedua. Dari sini kita bisa menduga tentu Naga Merah tidak akan unjukkan diri."

Goan Beng mulai tenang hatinya, ia lalu berkata setelah tarik nafas panjang.

"Siaute yakin benar tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan Naga Merah. Sungguh tidak dinyana, tusuk konde itu bisa jatuh ke rumah siaute."

Katanya lalu kembali menarik nafas, kemudian baru mengatakan lagi.

"Apa sebabnya sebetulnya sungguh tidak bisa siaute pikir."

Ia lalu mengawasi Tan Liong sejenak, lalu berkata pula.

"Selama beberapa hari ini, siaute selalu berjaga-jaga menjaga kalau Naga Merah muncul dengan tiba-tiba, hingga tentu saja membikin hati dan pikiran siaute tidak tenang. Aihh.. Manusia berapa lama hidup dalam dunia? Dia bukankah akhirnya akan berpulang ketempat asalnya..? Kalau benar kedatangan saudara ini adalah karena Naga Merah, maka kita sekarang baik minum-minum dulu beberapa cawan, nanti kita bicara lagi."

Sehabis berkata demikian, wajah Koan Beng lantas memperlihatkan sikap sungguh-sungguh, hal mana membuat Tan Liong merasa tidak enak kalau menampik ajakannya.

Goan Beng, si tuan rumah lalu mengajak Tan Liong masuk kedalam ruangan dalam.

Ruangan dalam rumah itu meskipun alat serta perabotannya serba sederhana, tetapi segala-galanya diatur rapih dan bersih pula.

Kalau orang itu selagi berjalan memasuki ruangan tamu diruangan belakang, didekat pagar tiba-tiba terlihat sesosok bayangan manusia.

Tan Liong yang sempat melihat bayangan itu, bukan main terkejutnya.

Lantas ia membentak.

"Siapa?!"

Suara bentakan Tan Liong tadi keras sekali membikin tuan rumah kaget sampai mundur.

Berbareng dengan suaranya itu ia pun sudah lompat melesat menerjang kearah bayangan orang tersebut.

Gerakan Tan Liong itu dilakukan dalam waktu beberapa deik, sebentar saja sudah berada ditempat bayangan tadi bersembunyi dan secepat kilat pula tangannya sudah menyambar badan bayangan orang itu.

Koan Beng yang menyaksikan seluruh kejadian agaknya terkejut sekali.

Sedangkan orang itu sendiri agaknya sama sekali tidak pernah menduga bahwa akan ada orang turun tangan terhadapnya.

Dalam kagetnya tangannya telah berada dalam gengamannya keras Tan Liong.

Orang itu lalu balikkan badan dan tatkala saling berhadapan dengan muka Tan Liong, dan orang itu sama-sama mengeluarkan seruan tertahan!

Suara seruan tertahan kedua orang itu yang berbareng keluarnya dimalam sunyi itu kedengarannya nyata sekali..

Tan Liong setelah berseru merasakan kepalanya pening seperti disambar geledek.

Tangannya yang tadinya mencekal pergelangan tangan orang itu lalu terlepas dengan sendirinya dan ia sendiripun mundur sampai tiga langkah.

Semua itu terjadinya dalam waktu sangat singkat sekali.

Sebabnya ia melepaskan cekalannya pada orang itu ialah dia adalah seorang wanita muda.

Dan wanita itu bukan lain daripada Cu Lian orang yang selama ini dicarinya dimana-mana.

Semua kenang-kenangan masa kanak-kanak lantas berputaran dikepalanya, tetapi sebentar sudah lenyap kembali.

Dengan suara gugup lantas ditegurnya wanita itu.

"Kau...kau.. bukankah Cu Lian?"

Tan Liong hanya mampu mengucapkan beberapa patah kata-kata itu saja, tenggorokannya dirasakan seperti tersumbat, sekian lama ia masih tergagap sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.

Rasanya memang tidak bisa salah lagi, orang atau wanita yang didepannya itu tidak bisa jadi orang lain.

Cu Lian itu orang dengan wajahnya yang cantik rupawan sudah tercetak dalam otaknya.

Itu adalah suatu wajah dari seorang wanita yang tidak bisa terlupakan seumur hidupnya.

Memang tidak salah dugaan Tan Liong, wanita dihadapannya yang barusan dilepaskan cekalannya memang betul adalah Cu Lian adanya..

Dan bagi Cu Lian sendiri itu juga merupakan suatu hal yang diluar dugaannya, maka ketika matanya beradu dengan mata pemuda itu lantas wajahnya pucat pasi dan tanpa merasa kakinya sudah mundur dua tindak.

Dengan perasaan kaget serta ketakutan terus diamat-amatinya wajah pemuda dihadapannya itu, pemuda yang sudah lima belas tahun menghilang dari depan matanya.

Dalam pendengarannya Tan Liong saat itu seolah-olah berkumandang perkataannya Cu Lian ketika ia hendak meninggalkannya.

Cu Lian pada waktu itu dengan suara lemah lembut dan mengharukan pernah berkata demikian padanya.

"...Engko Liong, aku akan menantikan kau untuk selama-lamanya sampai kau balik kembali, jikalau aku menikah dengan lelaki lain, aku rela binasa dalam tanganmu. Percayalah aku engko Liong...."

Hawa amarah yang meluap-luap dalam hati Tan Liong saat itu membuat wajahnya merah padam. Tetapi saat itu tiba-tiba terdengar suara Koan Beng berkata.

"Saudara, jangan salah mengerti.... itu adalah istriku."

Berbareng pada waktu itu orangnya sudah sampai disebelah Tan Liong. Tan Liong sadar mendadak. Ia yang tadinya begitu merah padam mukanya, mendadak menjadi pucat pasi.

"Isteri...? Isteri??"

Dan seperti orang gila ia lalu tertawa.....

tetapi ketawanya itu bukanlah suara manusia wajar.

Koan Beng agaknya masih belum mengetahui perubahan sikap Tan Liong yang sebentar-sebentar berubah itu, ia lalu berkata pada Cu Lian.

"Adik Lian ini adalah saudara...."

Tan Liong lantas menyambung.

"Aku yang rendah seorang she Tan, namaku cuma Liong."

"Kedatangan saudara Tan ini juga oleh karena si Naga Merah. Adik Lian, kau tak usah menjaga disini lagi. Kapan saja Naga Merah bakal datang, boleh kita hadapi bersama-sama. Sekarang pergilah kau membuat sedikit hidangan, aku ingin makan minum bersama-sama dengan saudara Tan."

Demikian Koan Beng berkata pada isterinya itu. Cu Lian bersenyum mendadak, ia berkata.

"Tan siauhiap jikalau ingatanku tidak salah kita rasanya pernah bertemu muka satu sama lain, betul tidak?"

Pertanyaan itu merupakan suatu tamparan hebat bagi Tan Liong. Tetapi ia masih mau jawab sambil anggukan kepala.

"Ya. aku juga rasa-rasanya pernah melihat kau.."

Diucapkannya perkataan itu dengan hati seperti diiris-iris. Sejenak ia berhenti menelan ludah, kemudian melanjutkan.

"Barang kali itu ada dalam impian..."

Koan Beng sudah tentu tidak tahu bahwa antara Tan Liong dan isterinya dulu pernah merupakan kekasih satu sama lain. Maka atas tanya jawab tadi ia lantas menyambangi sambil ketawa.

"Saudara Tan baru pertama kali ini datang kerumah kita. Dan kau yang selamanya tidak pernah keluar pintu, bagaimana bisa kata pernah melihatnya? Ini sesungguhnya sangat ganjil. Tapi ah... sudahlah... Pergi kau membuat sedikit hidangan..."

Cu Lian kemekmek, masih mengawasi Tan Liong sejenak, tetapi lantas berlalu dengan tergesa-gesa.

Dengan hati dan perasaan yang hanya diketahui oleh Tuhan saja Tan Liong mengawasi wanita muda itu yang kelihatannya sedikitpun belum pernah berubah segala-galanya.

Yang agak berbeda ialah wanita itu kelihatan badannya sedikit lebih gemuk.

Setelah Cu Lian berlalu, perasaan gusar kembali menguasai hati Tan Liong.

Ingin sekali rasanya ia membunuh wanita tersebut, sebab tidak bisa memegang janji sendiri.

Semua kenang-kenangan dimasa kanak-kanak seakan-akan ular berbisa yang mendadak memagut ulu hatinya.

Masa silam yang penuh dengan kenangan itu rupanya masih tergores dalam otaknya, akan tetapi kini, wanita yang menjadi idam-idamannya itu telah menjadi isteri lain orang.

Ia benci sekali terhadap wanita itu, sumpah sehidup sematinya yang pernah dikeluarkan dari bibirnya yang mungil dimasa yang lampau, sekarang entah telah terbang kemana.

Ya..

sungguh ingin ia membunuh!

Tidak bisa ia menyaksikan lebih lama, wanita yang dicintainya dengan sepenuh hati berada dalam pelukan lelaki lain..

Ia tidak dapat mengampuni itu wanita yang tidak setia.

Mengingat hal itu semua, matanya tiba-tiba tampak beringas.

Koan Beng mengawasi Tan Liong yang berdiri menjublek sejak istrinya pergi, lalu berkata padanya.

"Saudara Tan! Mari masuk,!"

Tan Liong lantas tersadar dari lamunannya.

Berbareng dengan itu, seperti lakunya orang kemasukan setan, tanpa dapat dikekang oleh perasaan hatinya sendiri berjingkrak-jingkrak.

Saat itu dalam hatinya berpikir.

"Biarlah Naga Merah itu mengambil jiwa dua manusia ini..."

Karena pikirannya itu, setelah berjingkrak dua kali lantas ia berkata pada Koan Beng.

"Saudara Koan, tidak usah repot-repot. Siaute masih ada urusan yang masih perlu tangan siaute sendiri mengurusnya. Biarlah sampai disini saja dulu, dan sampai lain waktu semoga dapat kita bertemu lagi."

Perkataan itu membuat Koan Beng kaget keheran-heranan lantas ia berseru "Apa? Saudara Tan, kau mau pergi?"

Pernyataan Tan Liong tadi sesungguhnya jauh diluar dugaan Koan Beng.

Sebab menurut pernyataan tamu tak diundang itu semula, kedatangannya karena si Naga Merah.

Tetapi mengapa sang waktu belum berlalu lama, mendadak berubah lagi pendiriannya?

Tetapi bagaimana Koan Beng bisa tahu perasaan yang sedang dipikir oleh tamunya pada saat itu?

Sebab jikalau ia tidak pergi, tentu Koan Beng tidak bisa binasa ditangan Naga Merah palsu.

Kalau orang she Koan itu ditinggal pergi, Tan Liong meminjam tangan Naga Merah supaya sepasang suami isteri itu dibunuhnya.

Maka atas pertanyaan tadi yang begitu kaget, ia lantas menjawab kaku.

"Bentar.. aku hendak pergi."

Sehabis berkata tanpa menantikan jawaban Koan Beng lantas ia balikkan badan dan berlalu cepat sekali.

Terhadap tindak tanduknya Tan Liong itu, meskipun Koan Beng merasa heran akan tetapi sama sekali tak pernah dipikirnya bahwa diantara Tan Liong tamunya barusan dengan istrinya pernah terjadi cinta kasih yang begitu mesra.

Maka setelah sekian lama berada dalam keheranannya lalu berkata memburu.

"Jikalau saudara Tan ingin pergi, siaute juga tidak bermaksud terus memegang tangan saudara Tan. Hanya sudilah saudara Tan memandang masakan yang baru pertama kali mendapat sahabat seperti saudara untuk sekedar minum dulu baru pergi. Apa lagi setelah perpisahan kita malam ini, dikemudian hari masih ada waktu bagi kita bertemu kembali atau tidak, masih merupakan suatu pertanyaan besar."

Mendengar perkataan itu, hati Tan Liong merasa tidak enak. Tapi terpaksa dengan keraskan hati, sambil kerta gigi dan geleng-geleng kepala menjawab.

"Maksud baikmu terpaksa cuma bisa kuterima dalam hati. Lain hari saja nanti aku berkunjung lagi."

Tan Liong lalu berjalan.

Baru sampai diambang pintu, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam yang lantas membujur didepannya.

Tan Liong tercengang, sebab orang yang menghadangnya itu ternyata adalah Cu Lian sendiri.

Dengan hati berdebaran keras, ia mundur dua tindak.

Cu Lian lalu berkata pada Tan Liong.

"Tan siauhiap! Apa tidak dapat kau tunda sebentaran maksudmu pergi itu? Apakah karena gubukku ini sangat kotor hingga kau pikir tidak baik berdiam terlalu lama atau hidangan yang kubuat tidak mencocoki seleramu?"

Pertanyaan itu membuat Tan Liong berubah wajahnya. Lantas dijawabnya pertanyaan tersebut dengan nada dingin.

"Semula bukan itu sebabnya, satu-satunya sebab ialah karena aku terkenang pada kekasihku yang pertama. Kekasihku itu pernah berkata, katanya kalau ia meninggalkan aku, ia binasa ditanganku. Meskipun aku tiak mau membunuhnya sendiri, tetapi aku juga kepingin tahu dengan cara bagimana ia nanti menemui ajalnya. Maka itu, ha..ha..! Aku ingin melihat manusia itu nanti bertemu dengan kematian."

Tan Liong yang saat itu sudah seperti orang gila ucapannya, semua tidak karuan juntrungan diucapkannya juga dengan suara agak tergetar.

Selagi Cu Lian hendak menjawab, terdengar suara tangisan anak orok yang masuk kedalam telinga mereka.

Tangisan itu datangnya dari sebuah kamar dalam rumah Koan Beng tersebut.

Cu Lian yang tadi ketika mendengar perkataan Tan Liong tertegun sejenak, kemudian berkata dengan suara murung.

"Hatimu terlalu kejam..."

"Yang kejam sebetulknya bukanlah aku..."

"Tetapi kau tidak seharusnya melihat ia mati ditangan lain orang."

Pada saat itu Koan Beng sudah berada diantara keduanya.

Ketika mendengar perkataan istrinya untuk sesaat juga merasa bingung melihat perubahan sikap tamunya itu.

Oleh karena ia masih belum tahu juga perkara yang sebenarnya, maka hanya berkata.

"Menurut perkataan saudara Tan tadi, nona itu tentunya pernah berlaku tidak baik kepada saudara. dan karena saudara Tan tidak tega membunuhnya, tentu dalam hati saudara masih ada terselip rasa cinta. Ooo.. entah siapa ini nona yang saudara Tan maksudkan?"

Tan Liong hanya tertawa, tidak menjawab. Koan Beng yang juga agaknya sudah mendengar suara tangisan bayi, lalu berkata pada Cu Lian.

"Adik Lian, In Liong telah mendusin. Pergilah kau gendong dia keluar."

Mendengar itu, Tan Liong agak terkejut, ia lalu bertanya.

"Apa kalian sudah mempunyai anak?"

Koan Beng tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Pertanyaan saudara Tan ini sesungguhnya amat ganjil. Orang mau mendirikan rumah tangga, sudah seharusnya juga menghendaki anak. Kau kata betul atau tidak?"

Pada saat itu Cu Lian sudah meninggalkan mereka, mendiamkan anak yang menangis.

Pikirannya dirasakan tidak keruan.

Duka pedih mengamuk menjadi satu, hingga tanpa sadar air matanya mengalir keluar, membasahi kedua belah pipinya....

Untung semua perubahan itu tidak dapat dilihat oleh Koan Beng, begitu juga Tan Liong.

Sudah beberapa tahun Cu Lian selalu menantikan kembalinya Tan Liong.

Tidak dapat disangkal kalau cinta kasihnya yang diberikan dulu pada Tan Liong masih tetap.

Demi kekasih tersebut pernah dinanti-nantikan empat tahun lamanya, dan setelah empat tahun ia menantikan dengan sia-sia akhirnya tidak dapat menahan desakan orang tuanya hingga terpaksa lalu menikah dengan Koan Beng.

Kini setelah secara tidak tersangka-sangka berjumpa pula dengan kekasihnya yang lama itu, semua kenangan dan cinta kasihnya terhadap kekasih tersebut dimasa lampau lantas timbul pula didalam otaknya.

Ia tadinya sudah ingin sekali memeluk dan menubruk kekasih lamanya itu untuk menceritakan segala penderitaan hidup selama ditinggal pergi.

Akan tetapi oleh karena suaminya yang sekarang, yakni Koan Beng masih berada di sampingnya, dan diantara kekasih lama dan suaminya itu, apa yang dapat dilakukannya?

Maka terpaksa ia membiarkan semua kenangan yang lama itu mengganggu kembali otaknya.

Dan ia juga harus berdaya upaya untuk menindas perasaan cintanya terhadap bekas kekasihnya sejak masih kanak-kanak itu.

Tan Liong dengan mata melotot dan mulut menganga mengawasi berlalunya Cu Lian, tiba-tiba menghela napas dan berkata seperti pada dirinya sendiri "Yah...

inilah buahnya...

buahnya perkawinan..."

Setelah itu ia lalu ketawa sendiri, tetapi ketawanya banyak mengandung kepedihan dan kegetiran.

Koan Beng adalah seorang cerdik.

Melihat perubahan Tan Liong secara mendadak itu, dalam pikirannya lalu timbul perasaan curiga.

Maka ia lalu menanya.

"Benarkah Saudara Tan pernah kenal dengan isteriku?"

Tan Liong terperanjat. Dengan sikap kaget sambil geleng-gelengkan kepala segera menjawab.

"Tidak.. tidak! aku cuma mengingat seseorang yang mirip benar dengan dia. Jikalau pada waktu dulu itu aku kawin dengan dia, aku percaya dalam perkawinan itu tentu aku sudah menghasilkan buah. Karena mengingat nasibku yang buruk itu perasaanku banyak terganggu."

Koan Beng agaknya mau juga percaya adanya keterangan Tan Liong itu, maka ia lantas berkata.

"Oo.. sudah tentu.. itu sudah tentu."

Tan Liong tertawa hambar, lalu berkata lagi.

"Siaute permisi pergi dulu. Lalu hari lain kalau ada tempo siaute nanti datang lagi."

Setelah itu benar-benar ia lantas berlalu meninggalkan rumahnya.

Koan Beng hanya dapat mengawasi berlalunya tetamu yang serba aneh itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Keadaan malam itu nampak semakin sunyi.

Hanya kunang-kunang kecil yang kelak kelok bersama-sama bintang-bintang dilangit yang ada diatas perkampungan itu, menambah suasana makin remang-remang dan seram.

Malam itu keadaan disekitar kampung itu hampir serupa dengan keadaannya di Bu-tong hiap tempo hari.

Banyak orang-orang rimba persilatan tua maupun muda datang berduyun-duyun kekampung tersebut.

Tetapi malam itu apakah Naga Merah tiruan itu benar-benar akan muncul atau seperti yang diduga Tan Liong, pada hari ketiga baru mau unjukkan diri?

Sudah tentu pertanyaan itu rasanya hanya Naga Merah tiruan sendiri yang dapat menjawabnya, Tan Liong yang saat itu sudah keluar dari rumahnya Koan Beng dengan pikiran kusut ruwet menantikan kedatangannya Naga Merah tiruan yang hendak mengambil jiwanya Koan Beng.

Oleh karena 'cinta' dan 'benci' mendadak ia merubah semua rencananya.

Karena disitu ia menemukan bekas kekasihnya yang meninggalkannya yang sudah menikah dengan lain pria, terhadap wanita yang tidak setia terhadap sumpanya sendiri itu, ia hendak menggunakan tangan lain orang membunuhnya.

Pada anggapannya adalah dengan cara itu saja setidak-tidaknya masih lebih baik daripada turun tangan sendiri.

Mengingat sampai disitu, diwajahnya terlintas satu senyuman iblis.

Dari senyumannya itu dapat dilihat dengan tegas betapa gusar, sedih dan hancur luluh hatinya kala itu.

Selagi masih terbenam dalam alam pikirannya sendiri, mendadak telinganya mendengar suara siulan seperti suara setan itu.

Diwaktu malam yang sunyi senyap kedengaran suara itu makin menyeramkan.

Tan Liong yang mendengar itu diam-diam juga terperanjat.

Ia tahu bahwa suara itu adalah suara Naga Merah tiruan yang akhirnya muncul juga pada malam itu.

SETELAH ketawa dingin Tan Liong berkata pada diri sendiri.

"Biarkan mereka mampus semua! Biar mampus dibunuh si Naga Merah palsu!"

Berkata demikian lalu diputarnya tubuhnya dan lalu berjalan dengan cepat.

Munculnya Naga Merah tiruan dimalam itu bukannya hanya mengejutkan Tan Liong seorang, sedang Koan Beng dan Cu Lian yang mendengar suara itu wajah mereka suami istri itu juga berubah seketika.

Dengan wajah pucat pasi, Koan Beng mengawasi Cu Lian yang waktu itu sedang menggendong bayinya.

Dan sang suami ini lalu berkata pada istrinya.

"Adik Lian, barusan itu suara tentunya ada suatu tanda datangnya Naga Merah kemari."

Cu Lian hanya angguk-anggukan kepala dan hatinya kebat-kebit terus memikirkan semua kejadian-kejadian masa lampau.

Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Koan Beng doangkkan kepala.

Setelah menghela napas panjang, ia berkata.

"Adik Lian, sejak kita kawin setahun lebih lamanya belum pernah berpisahan. Dan sekarang barangkali kau benar-benar akan..."

"Engko Beng, kau tidak usah mengucapkan perkataan yang begitu melantur.."

Koan Beng ketawa getir. Ia mengawasi wajah istrinya yang lagi menggendong bayi. Sang istri dilihatnya sudah basah dengan air mata, maka kembali ia berkata dengan nada getir.

"Adik Lian, aku tahu maksudmu. Tetapi bahaya sudah didepan mata, apa daya kita? Naga Merah bisa membunuh manusia tanpa mengela kasihan. Dan tidak sedikit sudah meminta jiwa manusia. Rasanya kita juga tidak mampu lolos dari tangannya."

Suaranya kedengaran sangat menggenaskan. Kembali Koan Beng ketawa getir dan sejurus berkata pula.

"Adik Lian, aku tahu kau cinta padaku. Dan untuk menjaga keturunan keluarga Koan, aku minta kau bersama Ie Liong sembunyi dulu sementara, jangan sampai kita semua mati ditumpas oleh Naga Merah semuanya. Adik Lian, apa kau bisa meluluskan permintaan ku ini?"

"Tidak!! Engko Beng, sekalipun aku harus mati, aku juga akan mati bersama-sama dengan kau. Jangan kau tinggalkan aku hidup sendiri..."

Perpisahan antara mati dan hidup itu didalam matanya sepasang suami istri yang saling mencintai itu sesungguhnya sangat berharga.

Akan tetapi pada waktu itu suasana sudah sangat menggenaskan.

Cu Lian merasa hancur luluh hatinya, sedang Koan Beng merasa sangat sedih hatinya.

Merekapun agaknya maklum kecuali ada terjadi kegaiban tidak mungkin mereka bisa lolos dari bahaya maut itu.

Koan Beng meski dengan perasaan sedih dan hati hancur, masih sedapat mungkin berdaya menghibur istrinya.

"Adik Lian."

Katanya.

"Untuk kepentingan anak kita seharusnya kau kuatkan hati untuk hidup. Dengarlah perkataanku, lekas kau sembunyi didalam terowongan dibawah tanah itu."

Baru selesai perkataan Koan Beng suara seperti setan yang menyeramkan itu kembali terdengar amat nyaring.

Kali ini kedengarannya makin dekat dan makin dekat saja, agaknya sudah sampai ditempat sejauh sepuluh tombak lagi dari rumah tersebut.

Koan Beng berubah biru wajahnya dengan perlahan tapi tegas, istrinya dibentak.

"Lekas pergi! Kalau tidak sudah tidak ada lagi waktunya."

Sehabis berkata, tanpa menunggu lagi jawaban Cu Lian, Koan Beng lompat melesat keluar rumah.

Tetapi ketika ia pasang mata, keadaan disekitarnya masih tetap gelap dan sunyi, tidak kelihatan barang seorang pun juga.

Koan Beng yang sedang menghadapi nasib antara mati dan hidup, meskipun perasaannya sedang tegang, tapi wajahnya masih memperlihatkan sikap tenang.

Dengan ketenangan yang dibuat dibuat itu kala itu ia lantas membentak keluar.

"Sahabat Naga Merah."

Serunya.

"Kau sudah lama meninggalkan lambang Naga Merah kerumahku si orang she Koan sudah lama menantikan kunjunganmu, sekarang lekaslah kau unjukkan diri."

Orang-orang dunia kangouw yang sembunyikan diri disekitar rumah tersebut tatkala mendengar perkataan Koan Beng semua matanya lalu ditujukan pada orang ini.

Mereka dapat lihat bahwa orang she Koan itu ternyata masih sangat muda sekali.

Jikalau sampai mati oleh Naga Merah, sesungguhnya sangatlah sayang.

Pada saat itu, suara orang ketawa dingin tiba-tiba menggema ditengah-tengah alam yang sunyi itu.

Suara ketawa itu bukan hanya dingin saja, tetapi juga bisa bulu roma siapa yang mendengar berdiri seluruhnya.

Tetapi setelah suara itu sirap, keadaan kembali menjadi sunyi senyap.

Dan tidak antara lama kemudian, kembali terdengar suara keresekan, itu adalah suara orang berjalan...

Orang itu rupanya berjalan dengan sengaja kaki diseret.

Suara ini pula kembali memecahkan suasana sunyi dan membangkitkan bulu roma orang.

Suara kaki diseret itu merupakan salah satu ciri akan datangnya malaikat elmaut yang hendak menjemput jiwa.

Tak usah disangsikan lagi bahwa Naga Merah tiruan itu benar-benar sudah akan segera sampai!.

Koan Beng sudah mengeluarkan keringat dingin berketel-ketel, hatinya dirasakan tegang, pikirannya pepat.

Tangannya memegang gagang pedang erat-erat, matanya ditujukan kedalam rimba yang tidak jauh letaknya dari rumahnya sendiri.

Kecuali suara keresekan yang dapat sunyi senyap.

Hanya suara tarikan napas orang dapat didengar dengan nyata.

Suara orang jalan dengan menyeret kaki itu makin lama makin dekat.

Tetapi dilain pihak, terdengar pula suara orang berjalan seperti itu yang makin lama makin menjauh.

Itu adalah suara gesekan kakinya Tan Liong yang ketika itu sedang dirundung malang dan hancur lebur hatinya.

Tan Liong yang merasa benci terhadap wanita bekas kekasihnya itu sudah mengambil keputusan untuk membiarkan kekasihnya itu mati oleh Naga Merah palsu.

Ia tidak mau memusingkan lagi wanita yang dianggapnya tidak setia itu.

Saat itu merupakan detik-detik maut bagi Koan Beng.

Apabila Tan Liong tidak balik kembali, maka dalam waktu setengah jam lagi dapatlah diramalkan kalau Kaon Beng dan Cu Lian begitu dengan anak oroknya itu pasti akan mati semuanya oleh si Naga Merah palsu.

Mengingat sampai pada bayi itu, Tan Liong agak bercekat hatinya.

Semacam pikiran sehat mendadak melintas dalam otaknya.

Meskipun ia sangat membenci Cu Lian, ibu anak itu, tetapi biar bagaimana anak toh tetap anak, anak itu tidak mengerti apa-apa.

Bagaimana kalau anak itu yang masih suci murni dibiarkan juga mati?

Mendadak pada saat itu ia seperti mendengar suara Cu Lian yang tadi dikatakannya.

"..........Hatimu terlalu kejam................"

"........Kau tidak seharusnya melihat ia binasa ditangan lain orang......"

Tiba-tiba ia menghela napas dengan perasaan bingung, ia bertanya pada dirinya sendiri.

"Apa aku harus balik lagi untuk menolongnya?"

Ya!!

harus balik!!!

Demikian mendadak timbul pikiran bahwa tanpa memperdulikan siapapun lagi, tanpa memikirkan kesalahan orang, ia harus balik lagi.

Ia tidak dapat membiarkan wanita yang pernah dicintainya sepenuh hati itu dibinasakan berikut oroknya.

Semua pengharapan dan keberuntungannya justru adalah tergantung ditangan sendiri.

Jikalau kebinasaan itu sampai terjadi, bukankah ia selanjutnya ia akan digoda oleh kemenyesalan dan tidak dapat hidup lagi dengan baik tenagn dan tentram?

Untuk kebahagiaan dan demi kepentingan anak orok dari ibu yang dibencinya itu, ia harus membantu kekasih yang dibencinya itu, memelihara dan membesarkan anak itu.

Tidak seharusnya karena rasa dendam dan benci terhadap sang ibu lalu anaknyapun dibenci dan ditelantarkan.

Mengingat sampai disitu, Tan Liong lalu ketawa sendiri.

Saat itu pikiran yang waras agaknya sudah menguasai dirinyalagi.

Maka lantas ia balik dan melesat sejauh tujuh-delapan tombak, balik kerumah tempat kediaman Koan Beng.

Ketika suara keresekan seperti suara kaki jalan itu mendadak sirap.

Waktu Koan Beng pasang mata, ditempat sejauh kira-kira tiga tombak tampak berdiri sesosok bayangan orang yang serba merah dandanannya.

"Naga Merah"

Akhirnya muncul juga. Ia lantas dengar "Naga Merah"

Itu berkata dengan nada dingin kepadanya.

"Sahabat Koan! Kenapa nyonyamu tidak kelihatan?"

Pertanyaan itu membuat Koan Beng bergidik.

"Naga Merah"

Terang-terangan sudah meminta isterinya keluar. Koan Beng menggigil, lagi hendak berkata, tiba-tiba ada orang lain yang mendahului berkata.

"Jikalau kau sahabat Naga Merah masih memiliki kepandaian asli, Koan Hu jin sudah tentu akan menemui kau."

Ditutupnya perkataan itu lalu disusul oleh melayangnya bayangan orang lantas turun disampingnya Koan Beng.

Kedatangan bayangan itu membikin Koan Beng terperanjat sekali, sehingga ia lantas mundur sampai tiga langkah.

Berbarengpun ia lantas menghunus pedangnya siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Dalam waktu beberapa detik itu ketegangan lantas meliputi seluruh tempat yang tadinya sunyi senyap.

Bayangan orang tadi bukan lain daripada Tan Liong sendiri.

Dan pemuda itu ketika melihat wajah Koan Beng yang demikian tegang lantas berkata dengan suara perlahan.

"Menghadapi musuh kuat tidak seharusnya saudara Koan bersikap setegang itu."

Koan Beng yang saat itu agaknya juga sudah mengetahui kalau yang datang tadi bukan istrinya melainkan Tan Liong sendiri benar merasa heran berbareng juga sangat kegirangan.

Dengan wajah ketolol-tololan ia mengawasi Tan Liong sejenak lalu bertanya.

"Saudara Tan, mengapa kau balik lagi?"

"Perkara ini boleh dibicarakan belakangan."

Setelah berkata demikian, tangannya merogoh saku dan lantas mengeluarkan tiga buah bom Pek Lek tan. Dengan suara perlahan kembali berkata.

"Biarlah aku yang menghadapi manusia ini Saudara Koan lekas kau panggil enso keluar."

Koan Beng meskipun merasa keadaan sudah sangat mendesak juga tidak mengerti apa maksudnya Tan Liong sitetamunya itu menyuruh Cu Lian juga keluar?

Pada hakekatnya Koan Beng sampai saat itupun masih belum mengetahui apa yang sedang dipikirkan Tan Liong.

Sebabnya Tan Liong mengetahui benar Naga Merah ada dua, jikalau seorang didepan dan yang lain mendadak datang dari belakang, maka bagaimana Cu Lian dapat menandinginya?

Maka dalam keadaan seperti itu, ia lantas minta Koan Beng menyuruh Cu Lian keluar.

Siapa nyana, belum hilang kumandang perkataan Tan Liong tadi, dibelakang badannya terdengar suara halusnya seorang wanita.

"Aku ada disini."

Dan ketika ia berpaling, dilihatnya Cu Lian dengan sebelah tangan menggendong bayi dan sebelah lainnya menggenggam pedang menghadang ditengah pintu.

Nyonya muda itu mengawasi Tan Liong sejenak lalu berkata dengan nada dingin.

"Aku tidak nyana kau bisa balik lagi, seharusnya aku ucapkan terima kasih kepadamu."

Tan Liong bungkam, tidak menjawab. Sebaliknya Naga Merah tiruan yang berada didepan rumah sejauh kira-kira tiga tombak lantas berkata dengan suara dingin.

"Bagus! Nyonya Koan sudah keluar juga. Dan masih ada tuan ini lagi, maka hasilnya Naga Merah kali ini tidak sedikit.. Ha..Ha..Ha..."

Suara ketawa itu dapat membuat siapapun yang mendengar akan bergidik.

Tatkala semua mata ditujukan kearah darimana datangnya suara itu, lantas terlihat seorang yang sekujur badannya mengenakan pakaian merah dengan kerudungnya yang pun merah perlahan-lahan berjalan menghampiri pintu rumah Koan Beng.

Suasana semakin tegang.

Terdengar suara Tan Liong berdesis perlahan sekali, ditujukan kepada Koan Beng.

"Harap saudara Koan dan enso berdiri sebelah membelakangi, awasilah sekitar tempat ini. Kalian berdua masing-masing boleh menggengam sebuah bom Pek lek tan ini, Jikalau kalian dapat melihat ada muncul bayangan merah yang kedua, boleh kalian sambitkan bom Pek lek tan ini."

Setelah berkata demikian, ia lantas menyisipkan masing-masing sebuah bom Pek lekz tan ditangan Koan Beng dan Cu Lian.

Naga Merah tiruan setelah berada agak dekat lantas berkata pula sambil ketawa dingin.

"Koan Beng. Kau masih ada peranan apa-apa atau tidak?"

Tan Liong lantas ketawa bergelak-gelak dan balas menegurnya.

"Hai Naga Merah palsu! Apa kau masih hendak meninggalkan pesan apa-apa tidak?"

Setelah itu ia menggeser kakinya dan berjalan mendekati Naga Merah tersebut.

Kedua orang jaraknya makin lama makin dekat, suasan makin lama juga makin tegang.

Suasana yang demikian tegang membuat semua orang yang menyaksikan secara sembunyi sembunyi pada menahan napas dengan hati berdebaran ingin menyaksikan si Naga Merah asli.

Tan Liong bagaimana sikapnya menghadapi Naga Merah palsu itu.

Koan Beng dan Cu Lian ditangan masing-masing sudah menggenggam sebuha bom Pek lek tan yang dahsyat.

Apabila benar muncul lagi bayangan merah yang kedua, akan disambar tentu dengan bom Pek lek tan yang tersedia ditangan mereka itu.

Tan Liong dan Naga Merah palsu itu sudah saling berhadapan.

Dengan wajah beringas, diliputi oleh hawa angkara murka yang sangat hebat, Tan Liong lantas berseru.

"Tuan dengan cara begini berani menggunakan nama Naga Merah, mengganas didunia kangouw, membunuh jiwa manusia tak bersalah dimana-mana! Malam ini ingin sekali kulihat siapa sebetulnya kau yang begitu berani pakai nama Naga Merah!"

Naga Merah tiruan itu memperdengarkan suara ketawa seram kemudian berkata.

"Kau sendiri juga bukan Naga Merah yang sebenarnya. Lagipula tidak ada hukum mengganggu gugat hakz ku dalam bertindak. Kita belum pernah adu kekuatan, sekarang bolehlah mencari keputusan! Dan jikalau tuan pikir tidak ingin mencampuri soal ini adalah yang paling baik!"

Tan Liong mendelikkan matanya lebar-lebar.

Seketika itu juga ia ketawanya berkakakan.

Setelah puas ketawa dengan kecepatan kilat menubruk kearah orang baju merah itu!

Ketika bergerak tadi, tangan kanannya diayun mengirim serangan secara mendadak.

Suatu pertempuran dahsayt akhirnya telah dimulai.

Naga Merah tulen berhadapan dengan Naga Merah palsu.

Gerakan Tan Liong tadi cepatnya luar biasa ditambah pula karena pernah ia menelan buah Leng cie yang berusia ribuan tahun sampai lima buah banyaknya maka kekuatan tenaga dan ilmu mengentengi tubuhnya dikalangan kangouw barangkali sudah tidak ada duanya lagi.

Orang baju merah yang menyaksikan gerak serangan Tan Liong yang demikian lincah, dalam hati juga agaknya terperanjat, buru-buru ia egoskan diri.

Sedang sementara orang yang menyaksikan pertandingan antara dua Naga Merah itu pada ribut.

sebab dengan gerak terjangannya Tan Liong dan gerak mundurnya orang baju merah itu sama-sama membikin jarak antara keduanya terpisah seperti semula.

Tan Liong berkata sambil ketawa bergelak-gelak.

"Bagus.. bagus.. Sejak aku muncul didunia kangouw, orang yang mampu menyambut seranganku cuma baru terhitung kau seorang."

Orang baju merah itu dengan dingin berkata.

"Jangan cuma keluarkan sekali kau tentu tidak mampu bikin apa-apa."

"Itu bagus sekali!"

Seru Tan Liong.

"Dalam tiga kali serangan."

Katanya melanjut.

"Aku nanti suruh kau menyemburkan darah dari mulutmu."

Sehabis berkata demikian, kembali Tan Liong bergerak, kedua tangannya melancarkan serangan sekaligus.

Dan tipu serangan yang dilancarkan tangan kanan dan kiri Tan Liong tadi aneh.

Dari tangan kanannya keluar serangan salah satu dari tipu yang tertampak yang dinamakan Cin Liong cap pek sek, sedang serangan yang melancar dari tangan kirinya memaki salah satu jurus tipu serangan Ciong lam pay yang didapatnya dari kitab ilmu silat peninggalan Yo Sai Peng.

Adapun kedua tipu serangan itu semua terdiri dari jurus-jurus hebat.

Oleh karena kedua tipu itu menggunakan cara yang berlainan, ditambah pula karena orang serba merah itu tidak pernah menduga kalau gerakan Tan Liong bisa begitu cepat, seketika itu ia memutar berdirinya dan melayang..

Tetapi sama seklai belumlah diketahuinya bahwa dua serangan yang dilancarkan Tan Liong itu ada dua rupa ilmu yang terampuh dalam dunia rimba persilatan.

Serangan itu begitu meluncur lantas bisa berubah dengan aneka cara pula.

Orang baju merah yang dapat menghindarkan diri dari serangan tangan kanan, namun tidak bisa lolos dari terjangan susulan tangan kiri.

Kedua macam serangan yang digunakan dengan cara kombinasi itu bukan hanya cepat dan hebat saja, tetapi juga sulit untuk dihindarkan oleh lawan.

Tetapi kepandaian orang baju merah itu juga bukan sembarangan.

Dalam keadaan demikian ia terpaksa mengulur tangan kanannya untuk menyambuti serangan tangan kiri Tan Liong yang sudah mengancam dirinya.

Dalam pada itu pula ia coba lompat melesat, hendak menghindarkan serangan susulan tangan kanan.

Tetapi Tan Liong tidak sudi membiarkan orang baju merah itu menyingkir begitu saja.

Ia lalu menyusul serangannya yang disebut Ie ya Hui han.

Setelah itu lalu terdengar suara duk!

dan sesosok bayang merah lain terbang tinggi keatas!

Kepandaian serupa itu begitu mengejutkan dan mengagumkan semua orang rimba persilatan ditempat tersebut.

Tan Liong hanya dengan tiga jurus serangan saja sudah dapat menggulingkan pamornya Naga Merah sampai jatuh tersungkur dan muntah darah.

hal demikian sungguh mengagumkan sekali.

Dan selagi bayangan merah itu jatuh tersungkur.

Tan Liong membarengi melompat memburunya, tangan kanannya menjambret kerudung merah yang menutupi wajah Naga Merah tersebut.

Setelah sekali terdengar suara Srreettt panjang, kerudung merah yang menutupi wajah Naga Merah tiruan itu telah tersobek dengan sebagian masih tergengam ditangan Tan Liong.

Dan apa yang disaksikan Tan Liong dibalik kerudung merah itu, seketika membuat ia berseru kaget dan lantas mundur tiga tindak.

Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut juga pada terperanjat.

Sebab apa yang terbentang dihadapan orang banyak itu adalah satu paras cantik dari seorang wanita muda.

Iblis yang menakutkan yang gemar membunuh jiwa manusia seperti halnya membabat rumput ini, tidak nyana adalah seorang gadis remaja.

Ini agaknya seperti kejadian dalam dongengnya yang tidak mungkin sekali.

Tan Liong berdiri kesima.

Apabila pada waktu sebelumnya ia telah mengetahui kalau orang yang menyamar sebagai Naga Merah itu wanita adanya, ada kemungkinan besar ia tidak akan turun tangan begitu berat.

Baca Juga: Pendekar Cacad 10

Baca Juga: Raja Naga Tujuh Bintang 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert