Ceritasilat Novel Online

Raja Naga Tujuh Bintang 4

Eps 4 Raja Naga Tujuh Bintang - Khu Lung

Baca online Raja Naga Tujuh Bintang - Khu Lung

Cersil Raja Naga Tujuh Bintang - Khu Lung.

"Ada kalanya jika aku membohongimu, itu hanya karena aku tidak ingin membuatmu marah."

Nona besar Lei tertawa senang, tertawanya benar-benar seperti tawa seorang nona besar.

"Kau tidak boleh membohongiku kali ini."

Lalu dia membalikkan kepalanya dan bertanya.

"Apakah kau pernah merasa menyesal setelah menikah denganku?"

"Mengapa aku harus menyesal?"

"Karena tidak hanya umurku jauh lebih tua darimu, tapi juga galak, judes, dan cemburuan."

"Kau galak juga demi kebaikanku, kau cemburu juga karena kau suka padaku, takut aku mencari wanita yang usianya jauh lebih muda darimu,"

Kata kakek tua itu "Jika kau tidak suka padaku, meskipun aku mendapatkan 800 orang wanita dalam sekejap. meskipun aku berlutut di depanmu memohon supaya kau cemburu, kau juga tidak akan cemburu."

Dia tiba-tiba menggenggam tangan istrinya, sama seperti anak muda yang menggenggam tangan orang yang dicintainya.

"Aku tanya padamu, bertahun-tahun ini, hari-hari yang kita lalui apakah sangat bahagia?"

Nona besar Lei menganggukkan kepalanya.

"sejak menikah denganmu, hari-hari yang kulalui setiap hari benar-benar membahagiakan, jika tuhan mengijinkan aku hidup sekali lagi, aku tetap akan menikah denganmu."

Dia tiba-tiba membalikkan kepalanya bertanya pada Tang Lan Tang.

"Apakah kau merasa kami ini sangat menjijikkan?"

Tang Lan Fang tidak menjawab dan tidak perlu menjawab, dia percaya mereka juga tahu perasaannya terhadap mereka.

Jika sekarang ada orang yang mengatakan bahwa mereka berdua menjijikkan, tidak peduli siapa orangnya, dia akan langsung memberikan tamparan pada mereka.

sebenarnya mula-mula dia juga merasa sepasang suami istri ini sangat menggelikan, tapi sekarang dia justru ingin meneteskan air mata.

Air matanya benar-benar jatuh.

seperti orang yang sudah lama tinggal di dalam kegelapan, lalu tiba-tiba melihat langit yang cerah, gunung yang biru, pohon yang hijau, bunga yang merah dan sinar mentari yang menyinari bumi, air matanya mulai berjatuhan satu demi satu.

"Kau menangis?"

"Aku tidak menangis."

"Kau jelas-jelas sedang meneteskan air mata."

"Meneteskan air mata belum tentu menangis,"

Kata Tang Lan Fang.

"Pada saat menangis juga belum tentu harus meneteskan air mata."

"Kalau begitu mengapa kau meneteskan air matamu?"

Nona besar Lei berkata.

"Nenek-nenek seperti aku ini, masih berdandan seperti layaknya seorang gadis muda, kau pasti merasa sangat lucu, tapi mengapa kau malah meneteskan air mata?"

"Aku tidak tahu,"

Kata Tang Lan Fang.

"Aku benar-benar tidak tahu."

Sebenarnya dia mengetahuinya hanya tidak bisa mengemukakannya. Kakek tua itu mewakilkan dirinya untuk mengatakannya.

"Jika kau merasa dirimu masih muda, siapa yang berani mangatakan dirimu sudah tua?"

Kakek tua itu memberitahu istrinya "Jika dirimu tidak merasa sudah tua, tidak peduli kau berdandan seperti apa pun, tidak akan ada orang yang merasa kau menggelikan."

Dia melanjutkan.

"seseorang itu tua atau tidak bukan dilihat dari umurnya, melainkan dari hatinya. oleh karena itu ada sebagian orang pada usia 18 tahun sudah menjadi tua, ada sebagian orang yang hidup sampai usia 80 tahun tapi tetap muda."

Nona besar Lei tertawa, mengusap secara perlahan wajah Tang Lan Fang "jika aku saja tidak bisa dikatakan sudah tua, bagaimana kau berani mengatakan dirimu sudah tua? Mari, cepat ikut aku pulang."

"Pulang?"

Tang Lan Fang bertanya.

"Pulang ke mana?"

"Tentu saja pulang ke samping barang berharga-mu yang hidup itu."

Dia sudah menarik Tang Lan Fang bersiap untuk pergi dan wajah Tang Lan Fang sudah menjadi merah.

"Tunggu dulu."

"Tunggu apa lagi?"

"Masih ada hal yang belum kalian tanyakan padaku."

"Hal apa?"

"Meskipun dia benar-benar bersedia menikahiku, tapi apakah aku bersedia atau tidak menikah dengannya?"

Tang Lan Fang berkata dengan wajah yang memerah.

"Bagaimanapun juga, kalian seharusnya menanyakannya dulu padaku."

Dia mengeluarkan keberaniannya baru bisa mengeluarkan perkataan seperti itu, tapi bagi nona besar Lei hal ini bukanlah masalah.

"Tentu saja kau bersedia menikah dengannya,"

Kata nona besar Lei.

"orang seperti dia, gadis yang mau menikah dengannya sudah tidak terhitung banyaknya .Jika menyuruh mereka berbaris, dari sini bisa-bisa sampai ke kota Gai Feng."

"Benarkah sebanyak itu gadis yang ingin menikah dengannya?"

"Tentu saja benar."

"Kalau begitu kau suruh saja mereka menikah dengannya."

"Mengapa aku harus menyuruh orang lain menikah dengannya?"

"Karena aku bukan orang lain,"

Kata Tang Lan Fang sambil memalingkan wajahnya.

"orang lain bersedia, aku tidak"

Nona besar Lei tertawa lagi.

"Aku tahu... aku tahu... semua wanita pasti begitu. Meskipun di mulut berkata tidak mau, tetapi di hati sudah 1000-10000 kali mau"

Dia sepertinya sudah menetapkan hal ini dan tidak bisa diubah, terserah Tang Lan Fang mau berkata apa, dia tidak akan mendengarkannya.

Tang Lan Fang hanya bisa mengikutinya pergi.

Bertemu dengan orang seperti ini, apakah kau masih ada cara yang lain?

sinar di musim semi menyinari bumi, bunga-bunga bermekaran.

Ada sebagian bunga yang mekar terlebih dahulu, ada sebagian lagi yang terlambat mekar, ada sebagian lagi yang selalu mekar.

Bunga yang mekar terlambat ada kalanya lebih indah dari bunga yang mekar terlebih dahulu.

Hidup sebagian orang juga sama, sama seperti bunga yang mekar terlambat, pada saat dirinya merasa seumur hidupnya dia tidak akan memiliki kesempatan untuk mekar, penguasa di atas justru sengaja memberi kejutan, membuat dirinya menjadi mekar dan mekarnya sangat indah.

Jadi orang asalkan masih hidup pasti masih ada harapan.

Hati Tang Lan Fang sedang berdegup kencang, jarak sampai ke rumahnya semakin dekat, degupnya semakin kencang.

Apa yang akan terjadi setelah bertemu dengan Yuan Bao?

Apa yang akan dilakukan Yuan Bao padanya?

Dia harus bagaimana menghadapi Yuan Bao?

Dia masih tidak berani memikirkannya.

setan kecil itu hanya karena mabuk baru dengan sembarangan mengeluarkan perkataan seperti itu, mungkin dirinya sendiri tidak menyadari sudah berapa kali dia berkata hal yang sama kepada gadis yang lain.

Mungkin dirinya sendiri sudah lupa kalau dirinya pernah mengeluarkan perkataan seperti itu.

Tapi sepasang suami istri ini justru menganggapnya serius, seperti yang menganggap Yuan Bao benar-benar akan melamarnya, seperti yang ingin segera mengiring mereka memasuki kamar pengantin.

Begitu memikirkan hal ini, hatinya berdegup semakin kencang.

Dia sangat menyukai Yuan Bao, benar-benar menyukainya, tapi rasa sukanya masih belum sampai mencapai tahap bersedia segera menikah dengannya.

ooo)o(ooo BAB XIX SEPASANG TANGAN DAN SEPASANG KAKI Dia belum pernah terpikirkan untuk menikah dengan seseorang.

Tetapi jika Yuan Bao memalingkan wajahnya dan tidak mengakui pernah mengatakan kata-kata seperti itu, dia pasti bakal marah setengah mati.

Bagaimana bisa seorang wanita yang berumur 34 tahun secara tiba-tiba berubah menjadi seperti seorang gadis kecil?

Dia menampar sendiri kedua belah pipinya.

Di mana Yuan Bao?

Apakah saat ini sudah bangun?

Begitu terbangun dan tidak melihat dirinya berada di ruangan itu, bagaimanakah reaksinya?

Kakek tua itu memandanginya sambil tertawa perlahan, seperti yang sudah menebak apa yang ada dalam hatinya, lalu tiba-tiba berkata.

"Tenang saja, dia tidak mungkin pergi. Walaupun ada orang yang mengusirnya dengan sapu sekalipun, dia tidak akan pergi, karena aku tahu dia benar-benar menyukaimu, jadi dia pasti menunggumu pulang."

Tang Lan Fang tidak memperdulikannya, tapi kakek tua itu justru sengaja mengganggunya dengan sengaja bertanya.

"Apakah kau tahu siapa dia yang kumaksud itu?"

Tang Lan Fang sengaja menjawab.

"Aku tidak tahu."

"Benarkah tidak tahu?"

"Ng."

"Kalau begitu aku sebaiknya memberitahukannya padamu."

Kakek tua itu berkata sambil memutar bola matanya.

"Dia adalah barang berharga hidupmu itu, yang juga calon suamimu."

Wajah Tang Lan Fang memerah lagi.

Kakek tua itu tertawa sambil bertepuk tangan, bahkan giginya yang tinggal satu itu sepertinya bisa tanggal akibat tawanya.

Nona besar Lei sangat gembira, bahkan bunga merah yang disematkan di rambut putihnya pun seperti sedang tertawa senang jika Tang Lan Fang hendak marah pun tidak akan bisa marah.

Hidup begitu indahnya, mereka mana ada alasan untuk bersedih?

Mana ada alasan untuk marah?

oleh karena itu mereka semua sangat gembira karena mereka tidak tahu apa yang sedang dihadapi Yuan Bao saat ini.

Meskipun mereka tahu, kemungkinan besar juga tidak akan mempercayainya.

Masalah yang sedang dihadapi Yuan Bao saat ini, bahkan Yuan Bao sendiri juga tidak percaya.

Tanggal 19 bulan 4, lewat tengah hari.......

Lewat tengah hari pada suatu hari di musim semi, sinar matahari sore masuk melalui jendela dan menyoroti pot bunga teh gunung yang berada di sudut kamar.

sisa masakan daging dan ikan sisa kemarin masih ada, di atas bantal masih tertinggal helai rambut dan wangi tubuh Tang Lan Fang.

Keadaan di dalam ruangan ini sama seperti sebelum ditinggalkannya, sama sekali tidak ada perubahan, yang tidak sama adalah saat ini sudah tidak ada seorang pun di dalam ruangan ini.

Mana Yuan Bao?

Dia pasti sudah menyesali semua perkataan yang dikatakannya kemarin malam, maka dari itu dia pergi secara diam-diam.

Tang Lan Fang sekuat tenaga menahan dirinya agar wajahnya tidak menampakkan sedikit pun rasa sakit hati dan kecewa, hanya berkata dengan dingin, Dia sudah pergi, bagus juga kalau sudah pergi.

Dia berkata, orang yang seharusnya pergi, memang pada dasarnya tidak akan ada orang yang bisa menahannya.

Dia sama sekali tidak melihat ekspresi yang tertera pada wajah nona besar Lei dan suaminya.

Dia berjalan mendekati ranjang itu dan memungut helai rambut yang ada di atas bantal di ranjang itu.

Ini adalah rambutnya?

Ataukah rambut Yuan Bao?

Dia berdiri di samping ranjang dan memperhatikan helai rambut itu seperti orang bodoh, dan tidak tahu sudah lewat berapa lama tiba-tiba serasa sesuatu yang dingin di dekat kakinya dan rasa dingin itu naik ke atas sampai ke tulangnya, lalu mendadak bahkan berdiri pun sepertinya tidak kuat lagi.

Tiba-tiba dia melihat satu buah sepatu, sepatu milik Yuan Bao.

sepatu bukanlah sebuah benda yang menakutkan, tapi begitu dia melihat sepatu ini, wajahnya langsung memancarkan kengerian dan ketakutan yang sukar untuk dikatakan.

Begitu dia mengangkat tubuhnya berdiri, barulah tersadar bahwa ekspresi pada wajah suami istri itu sama dengan dirinya.

"Dia belum pergi,"

Kata Tang Lan Fang.

"Dia pasti bukan pergi karena kehendak sendiri oh?"

Siapa pun tidak akan pergi dengan hanya mengenakan sebuah sepatu.

Tang Lan Fang mencengkram bantal itu dengan erat, menahan dirinya supaya tidak pingsan.

Lagipula dia sama sekali tidak bertenaga, sama sekali tidak bisa keluar dari taman ini.

"oh?"

"Tidak ada perintah dariku, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam taman ini. Tetapi di luar taman ini selalu dijaga oleh pengawal baik siang mau pun malam, tidak akan mungkin membiarkan dia kabur."

"Tapi tadi kaupercaya sepenuhnya kalau dia pergi karena kehendak sendiri"

Nona besar Lei berkata.

"Mengapa tadi tidak terpikirkan olehmu akan hal ini?"

"Aku tidak tahu."

Tang Lan Fang akhirnya duduk.

"Aku benarbenar tidak tahu."

"sebenarnya dia tahu, hanya tidak bisa mengucapkannya saja,"

Kakek tua itu lagi-lagi mewakilkannya untuk menjawab.

"Karena kau sudah menyukainya, justru tidak merasa pasti apakah dia benar-benar menyukaimu atau tidak. Kau sudah menyimpulkan sendiri begitu melihat Yuan Bao tidak ada di dalam. hatimu sudah kacau sehingga bagaimana mungkin memikirkan hal yang lain?"

"Lalu kau?"

Nona besar Lei bertanya.

"Apakah hatimu tidak kacau?"

"sejujurnya, hatiku pun kacau setengah mati."

Kakek tua itu berkata sambil tertawa dingin.

"Jika terjadi sesuatu pada dirinya, kau lebih baik bunuh diri dengan terjun ke laut."

"Apa yang akan terjadi pada dirinya?"

Nona besar Lei berlagak yakin.

"Aku tidak percaya ada orang yang berani menyentuhnya."

Dia maju mendekat dan mengelus rambut Tang Lan Fang.

"Kau tenang saja, aku berani menjamin di bawah langit ini tidak akan ada seorang pun yang berani menyentuhnya seujung rambut pun, bahkan Gao Tian Jue sekali pun tidak akan memiliki keberanian untuk melakukannya ."

Kakek tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluh.

"Tadinya aku juga berpikir demikian Lalu sekarang... sekarang aku baru ingat kalau Gao Tian Jue itu adalah seorang wanita."

"Kalau wanita lalu kenapa?"

Bersambung l0. Jilid-10

"Ya, tidak kenapa-kenapa."

Kakek tua itu menghela nafasnya sambil berkata.

"Sayangnya jika seorang wanita bertemu dengan bocah manis seperti Yuan Bao, ada kalanya apa pun bisa saja terjadi, tidak peduli berapa usianya dan siapa dirinya, semuanya sama saja."

Nona besar Lei berteriak,"Apakah kau pikir seorang nenek-nenek seperti Gao Tian Jue juga bisa tertarik pada Yuan Bao?"

"Jika seorang kakek-kakek bisa tertarik pada seorang gadis kecil, mengapa seorang nenek-nenek tidak bisa tertarik pada bocah kecil?"

Kakek tua itu berkata.

"Lagipula Gao Tian Jue juga tidak bisa dibilang sangat tua, bahkan...."

Dia tidak menyelesaikan perkataannya karena tiba-tiba dia melihat sebuah benda yang aneh.

Benda yang jauh lebih aneh daripada sepatu Yuan Bao.

Pada saat itu, di tempat itu, siapa pun yang melihat benda seperti itu pasti akan sangat terkejut.

Sekarang nona besar Lei dan Tang Lan Fang juga melihat benda itu.

Yang mereka lihat adalah sebuah kaki.

setiap orang pasti memiliki kaki, sebuah kaki sama sekali bukanlah hal yang aneh dan menakutkan.

Lagipula kaki ini bukanlah kaki yang dipotong orang, tidak ada darah yang menetes dari dalam sebuah karung goni.

Kaki ini keluar dari bawah tempat tidur, memang pada dasarnya biasanya pasti ada kaki yang terjulur keluar tempat di bawah tempat tidur.

Tapi baik Tang Lan Fang maupun suami istri nona besar Lei samasama terkejut saat melihat kaki ini.

Karena kaki ini sama sekali bukan kaki Yuan Bao.

Kaki ini adalah kaki seorang wanita, sebuah kaki wanita yang sangat enak dipandang, benar-benar indah dan mulus seperti yang dipahat oleh seorang pengrajin pada giok yang cantik dengan sepenuh hati.

Di bawah tempat tidur yang ada di dalam kamar ini, bagaimana mungkin bisa ada sebuah kaki seorang wanita?

Mata kakek tua itu sudah melebar.

Pria yang sangat mengagumi wanita, dia pasti akan semakin mengagumi kaki wanita.

Pria setua dirinya pasti umumnya sudah pernah mengagumi wanita, tapi paling hanya bisa mengaguminya saja, tidak lebih.

sayangnya, untuk mengagumi saja pun dia tidak bisa karena di sampingnya ada istri yang sangat pencemburu melebihi siapa pun.

Nona besar Lei lagi-lagi memberinya sebuah pukulan.

"Mengapa kau tidak segera menutup kedua matamu itu? Apakah kau mau kucungkil keluar keduanya?"

"Tentu saja tidak mau."

Kakek tua itu segera beranjak dan berdiri di depan pintu, tetapi tetap saja tidak dapat menahan dirinya untuk menghembuskan nafas panjang.

"Jika seorang pria bahkan kaki seorang wanita pun tidak diperbolehkan untuk melihatnya, apa masih ada artinya hidup di dunia ini?"

Kali ini nona besar Lei pura-pura tidak mendengarnya, malah bertanya kepada Tang Lan Fang.

"Bukankah kau baru saja berkata bahwa tanpa ada perintah darimu, tidak akan ada seorang pun yang berani masuk ke mari?"

Tang Lan Fang mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menggelengkan kepalanya dan berkata.

"selain aku, masih ada satu orang lagi yang boleh masuk."

"siapa?"

"Xiao cai"

"Xiao Cai itu siapa?"

"seorang anak gadis."

Tang Lan Fang berpikir lama baru berkata.

"Dia adalah anak pungutku."

"Apakah mungkin kaki ini adalah miliknya?"

"Tidak mungkin."

"Mengapa?"

"Karena kakinya sama seperti kakiku, jari keduanya lebih panjang daripada ibu jarinya."

Nona besar Lei menatapnya dengan pandangan yang anehi juga melihat kaki yang ada di atas lantai.

"Lalu siapa orang ini?"

Kakek tua itu tidak bisa lagi menahan dirinya.

"Jika kau ingin tahu siapa dirinya, mengapa tidak kau tarik dia dari bawah tempat tidur untuk dilihat dengan jelas?"

Kata kakek tua itu "Jika kau tidak berani menyentuhnya, biar aku yang melakukannya."

Nona besar Lei melotot padanya "Jika kau berani menyentuhnya, jika berani menyentuhnya sedikit saja, maka akan kupotong kaki ini dan akan kupanggang dengan arak kemudian akan kusuruh kau makan panas-panas."

Kakek tua itu berteriak "Bagaimana mungkin kau tega menyuruhku memakan kaki orang lain? Kau sendiri kan tahu, selain kakimu, aku tidak mau makan kaki yang lain."

Nona besar Lei tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa, tapi begitu memandang kaki itu, tertawanya tiba-tiba berhenti.

Kaki ini dingin seperti es, sama sekali tidak ada hangat sedikit pun, persis seperti kaki orang mati saja.

Tangan nona besar Lei baru saja terjulur keluar, segera ditariknya kembali dan memutar kepalanya berkata kepada suaminya.

"sebaiknya kau saja yang melakukannya."

"Mengapa tiba-tiba kau berubah tidak cemburu lagi?"

"Aku lebih baik memakan cemburu dari orang yang masih hidup, bahkan tidak bisa tidak."

Nona besar Lei menghela nafasnya dan berkata.

"Tetapi jika cemburu dari orang yang sudah mati pun dimakan, apakah tidak keterlaluan."

Siapakah sebenarnya orang yang berada di bawah tempat tidur itu Waktu melihat kakek tua itu menarik tubuh orang ini dari bawah tempat tidur itu, jantung Tang Lan Fang seakan-akan sudah berhenti berdetak.

orang yang di bawah tempat tidur itu sudah diangkat ke atas tempat tidur.

Ternyata dia benar-benar seorang wanita, seorang wanita yang sangat jarang bisa ditemukan di muka bumi ini, bahkan banyaknya di dunia ini bisa dihitung dengan jari.

Karena dia benar-benar teramat cantik, luar biasa cantik, cantik yang membuat orang tidak berani membayangkannya.

Tangannya, kakinya, kulitnya, tubuhnya, bahkan sampai pakaian dalam yang dikenakannya pun sangat indah, indahnya sampai membuat orang tidak berani untuk menyentuhnya .

Kecantikan yang seperti ini sudah membuat orang merasa takut.

Tapi yang paling menakutkan bukanlah kecantikannya, melainkan kejelekannya.

Dia memang luar biasa cantik tapi juga luar biasa jelek, kecantikannya benar-benar diluar bayangan orang-orang tapi kejelekannya juga sama diluar bayangan orang-orang.

Bagiannya yang cantik memang sampai membuat orang merasa takut tetapi bagiannya yang jelek juga sama menakutkan.

Tangannya sangat indah dan mulus, bahunya sangat licin seperti gioki bahkan seorang pemahat pun tidak akan dapat menemukan giok yang lebih indah dari itu Tetapi dia hanya mempunyai sebelah tangan dan bahu.

Rambutnya hitam lebat dan bercahaya, wajahnya bahkan jauh lebih cantik, setiap guratan dan lekukan wajahnya juga sangat cantik, Tapi di wajahnya tertoreh huruf shi (sepuluh) yang berwarna merah darah.

Huruf shi (sepuluh) yang ditorehkan dengan menggunakan pisau yang dipenuhi oleh perasaan benci dan dendam.

Begitu pisau ditorehkan, tidak hanya menguak darah dan daging, bahkan tulangnya pun ikut hancur.

Walaupun bekas luka pisau itu sudah menutup tetapi bekas iuka pisau itu telah membekas dan berwarna merah darah.

Nona besar Lei tiba-tiba merasa perutnya mual, pori-pori pun terasa mengerut Jika bekas luka pisau itu berada di wajah orang lain paling-paling dia hanya akan merasa sedih, tetapi bekas luka itu justru ada pada wajah yang demikian cantik tentu saja perasaannya akan berbeda.

Dia hanya merasa gemetaran dan perasaan seram yang sukar untuk digambarkan, hanya berharap dirinya tidak pernah melihat orang ini seumur hidupnya.

Gao Tian Jue berkata.

"Tak heran mengapa dia selalu mengenakan topeng perak di wajahnya, jika aku adalah dia, aku juga tidak sudi membiarkan orang lain melihat wajahku."

"Dia juga tidak sudi melihat wajah orang lain."

Tang Lan Fang tiba-tiba berkata.

"Paling tidak ada sebagian orang yang tidak sudi dilihatnya."

"oh"

"Aku pernah melihat topengnya,"

Kata Tang Lan Fang.

"Pada topeng itu sama sekali tidak terdapat sepasang lubang mata untuk melihat."

Nona besar Lei menarik nafas panjang.

"Aku dapat mengerti perasaannya, jika aku adalah dia, aku juga akan berubah seperti itu."

Sekarang wajah Gao Tian Jue sudah tidak tertutup topeng lagi, tetapi di pandangan matanya masih tetap kosong seperti yang tidak bisa melihat apa pun.

Apa yang dikatakan orang lain pun sepertinya tidak terdengar olehnya.

"Ada beberapa hal yang tidak kumengerti,"

Kata nona besar Lei.

"Puluhan tahun yang lalu, suami istri Gao Tian Jue dan Guo Di Mie sudah bisa dikatakan sebagai pendekar hebat muda di dunia persilatan, bahkan ada yang mengatakan jika kedua suami istri itu menggabungkan kekuatan mereka sudah bisa dikatakan sebagai jagoan tak terkalahkan."

"Aku sendiri juga akan berkata seperti itu,"

Kata kakek tua itu "Jika kedua suami istri itu menggabungkan kekuatan mereka maka sudah pastijagoan yang tak terkalahkan. Kita suami istri juga tidak bisa mengalahkan mereka?"

"Tidak bisa."

Kakek tua itu berkata dengan tegas dan mantap sehingga membuat istrinya tidak terima.

"Dari mana kau tahu kalau kita berdua tidak akan bisa mengalahkan mereka? Kapan suami istri Jarum Petir dan Paku Halilintar pernah kalah terkenal dibandingkan mereka?"

Ternyata kedua suami istri ini adalah pasangan petir dan halilintar yang dulunya sangat terkenal di dunia persilatan, bahkan Tang Lan Fang pun ikut terkejut.

Tetapi pasangan yang dulunya terkenal di dunia persilatan ini yang tidak pernah bersuara sebelumnya ini malah berkata.

"Nama kita tidak lebih jelek daripada mereka karena kita belum pernah bertarung dengan mereka."

Kali itu nona besar Lei tidak membantah perkataan suaminya, malah menghela nafas.

"Mungkin apa yang kau katakan benar adanya, oleh karena itu aku tidak bisa mengerti."

"Apa yang tidak kau mengerti?"

"Jika kemampuan mereka suami istri demikian besar, mengapa sekarang menjadi seperti ini?"

"sekarang Guo Di Mie sudah meninggal, Gao Tian Jue berubah menjadi cacat. Jika mereka benar-benar tidak terkalahkan, lalu siapa yang bisa melukai mereka?"

"Tentang hal ini aku juga tidak mengerti."

Kakek tua itu juga menghela nafasnya.

"Masalah ini termasuk dua masalah yang misterius di dunia persilatan."

"Masalah yang satu lagi adalah perihal jejak Da Xiao Jiang jun dan barang berharga hasil curiannya yang tak terhitung banyaknya itu. Lebih dari 10 tahun belakangan ini, tidak diketahui berapa banyak orang dari dunia persilatan yang terus melacaknya dan tidak akan berhenti sebelum menemukannya."

Biji mata kakek tua itu bergerak-gerak, lalu tiba-tiba berkata "Jika kau benar-benar ingin aku menebak siapa yang telah melukai mereka, setelah berpikir dan berpikir, hanya ada dua orang.

siapa dua orang itu?"

"Mereka sendiri"

"Mereka sendiri?"

Teriak nona besar Lei.

"Apakah maksudmu Guo Di Mie mati ditangannya sendiri? Tangan dan wajah ao Tian Jue juga dirusak sendiri olehnya?"

"Betul"

"Apakah kau gila?"

"Tidak."

"Kau pasti sudah gila,"

Kata nona besar Lei.

"Hanya orang gila yang berpikiran seperti itu."

Gao Tian Jue yang semenjak tadi tidak bersuara dan tidak melihat, tiba-tiba berkata dengan dingin.

"Dia tidak gila."

Semua orang terkejut mendengar perkataan ini, dalam situasi seperti itu tidak akan ada orang yang menyangka Gao Tian Jue akan membuka suara untuk berbicara.

"Dia tidak gila,"

Nona besar Lei berteriak lagi.

"Kau juga berkata dia tidak gila?"

"Pada dasarnya dia memang tidak gila."

Nada suara Gao Tian Jue masih tetap tenang.

"Karena apa yang dikatakannya sama sekali tidak bersalah."

"Kalian berubah seperti sekarang ini, apakah benar karena kalian melukai diri kalian sendiri?"

"Benar,"

Kata Gao Tian Jue dengan dingin.

"Tian Jue Di Mie, tak terkalahkan. selain kami sendiri, siapa lagi yang bisa menyentuh seujung rambut kami?"

Nona besar Lei terdiam.

Tang Lan Fang juga terdiam.

Tidak ada yang menyangka seseorang bisa melukai dirinya sendiri sampai cacat, tapi siapa pun juga pasti bisa menduganya bahwa di balik semua itu pasti ada suatu rahasia yang besar.

Rahasia ini adalah rahasia yang tidak bisa ditanyakan oleh siapa pun, tidak boleh ditanyakan, bahkan pasti tidak akan ditanyakan.

Nona besar Lei justru terpikirkan masalah yang lainnya.

"Lalu kali ini?"

Tanyanya pada Gao Tian Jue.

"Apakah kali ini kau sendiri juga yang menotok jalan darahmu sendiri? Kau sendiri yang bersembunyi di bawah tempat tidur ini?"

Gao Tian Jue justru menolak menjawab pertanyaan ini. Nona besar Lei berkata lagi.

"Lalu Yuan Bao? Ke mana Yuan Bao pergi?"

"Yuan Bao?"

Suara tenang Gao Tian Jue tiba-tiba berubah menjadi pahit dan dingin.

"Tidak peduli dia pergi ke mana, kalian sudah tidak mungkin bisa melihatnya lagi, selamanya tidak akan bisa melihatnya lagi."

Gao Tian Jue adalah orang yang seperti itu, tidak peduli dalam situasi apa pun, tidak ada orang yang berani mencoba mengadu kekuatan dengannya.

Jika dia berkata suami istri petir dan halilintar dan Tang Lan Fang selamanya tidak akan menjumpai Yuan Bao lagi, kemungkinan mereka harus menunggu sampai ajal mereka tiba baru bisa berjumpa lagi dengannya.

"Kau adalah seorang wanita dan aku juga, perkataan seorang wanita biasanya tidak bisa terlalu dipercaya."

Nona besar Lei melotot pada Gao Tian Jue.

"Tapi aku percaya padamu."

"oh?"

"Karena kau berani berkata seperti itu, maka aku percaya bahwa kau tidak hanya sudah membunuh Yuan Bao bahkan sudah bersiapsiap untuk menghadapi kami."

Nona besar Lei berkata.

"Karena kami sudah melihat wajahmu yang seperti itu, kau pasti tidak akan membiarkan kami hidup."

Dia menghela nafasnya .

"Jika aku adalah kau, pasti juga akan berbuat seperti itu."

Gao Tian Jue tiba-tiba balas bertanya.

"Mengapa kau tidak bertanya padaku apakah punya jaminan bisa menghadapi kalian bertiga sekaligus?"

"Aku tidak perlu bertanya."

"Mengapa?"

"Karena kau sudah membunuh Yuan Bao, kami pun tidak akan membiarkan kau hidup begitu saja."

Nada suara nona besar Lei juga mendadak berubah menjadi tenang.

"Pada akhirnya nyawa kami ini akan kami pertaruhkan, untuk apa banyak bertanya?"

"Betul,"

Jawab Gao Tian Jue.

"Kau tidak perlu bertanya lebih lanjut."

"Tadi kami melihat bahwa jalan darahmu ditotok oleh orang, tetapi sekarang aku juga bisa melihat bahwa kau sudah bisa membebaskan sendiri jalan darahmu."

"Untuk hal ini aku dan auami saja tidak bisa melakukannya,"

Kata nona besar Lei.

"Ilmu silatmu memang jauh di atas kami."

Dia menghela nafas lagi.

"Beberapa tahun belakangan ini, walaupun kami sudah tidak turut campur lagi urusan yang ada di dunia persilatan, tetapi urusan yang kami buat sudah terlalu banyak, kami pasangan tua ini dari awal tahun sampai akhir tahun, dari pagi sampai malam selalu membuat urusan yang tidak ingin dilakukan, juga tidak pernah berbuat urusan yang penting."

"oh."

"Aku dan dia sibuk sepanjang hari menanam bunga dan mencabuti rumput, bermain catur dan bercengkrama, cemburu dan bersilat lidah, piknik di gunung dan bermain air, memancing dan menangkap ikan. Kami mana ada waktu untuk melakukan hal yang penting."

Nona besar Lei menarik nafas dalam-dalam dan berkata.

"Hal ini meskipunjauh lebih menyenangkan daripada melakukan hal yang penting, tetapi beberapa tahun ini kami sama sekali tidak mendapatkan penghargaan akan apa yang telah kami lakukan, tentu saja tidak bisa dibandingkan denganmu."

Walaupun dia mengeluh tetapi raut wajahnya terlihat senang, sama sekali tidak terlihat rasa menyesal sedikit pun.

Walaupun Gao Tian Jue tidak mengeluh, tetapi dalam matanya dipenuhi rasa penyesalan dan penderitaan.

"Walaupun kita sekarang satu lawan tiga, tetapi gadis bermarga Tang itu tidak bisa dihitung sebagai satu orang,"

Kata nona besar Lei.

"saat kami bergerak, dia sama sekali tidak berguna. oleh karena itu kau cukup menghadapi kami berdua saja."

Kakek tua itu tiba-tiba membuka mulutnya.

"sebenarnya kita berdua juga tidak bisa dihitung sebagai dua orang."

"Mengapa?"

"Karena kita berdua adalah satu orang,"

Jawab kakek tua itu.

"saat kita bertarung dengannya, kau pasti akan mati-matian melindungiku, aku juga akan mati-matian melindungimu Jika aku terluka sedikit saja, hatimu pasti kacau Jika kau yang terluka, hatiku juga pasti kacau Jika demikian maka dia jadi punya kesempatan."

Kakek tua itu menghela nafas.

"Makanya tadi aku katakan kita berdua selamanya tidak sebanding denga mereka suami istri."

Pada saat dia menghela nafas tadi, ekspresinya justru malah senang, juga sama tidak ada rasa menyesal sama sekali.

"Apakah maksudmu pada pertarungan ini kita sudah pasti kalah?"

Tanya nona besar Lei.

"Kurang lebih begitu."

"Kalau begitu jangan-jangan kita sudah pasti mati? "setiap orang pasti akan mati, apa yang perlu dirisaukan? lagi pula kita sudah pernah merasakan hidup yang lebih bahagia daripada siapa pun,"

Kata kakek tua itu.

"Tapi ada satu hal yang harus aku katakan pada mu sebelum aku menemui ajalku."

"Apa itu?"

"Ada suatu tahun di mana kita tinggal di Gunung Zhong Nan untuk membuat pil mujarab, adik seperguruanmu datang mengunjungi kita dan tinggal bersama kita selama beberapa bulan."

Kakek tua itu bertanya pada istrinya.

"Apakah kau masih ingat?"

"Aku ingat."

"Pada suatu kali kau pergi ke belakang gunung selama beberapa hari untuk memetik obat, pada saat itu aku dan adik seperguruanmu telah melakukan suatu hal tidak pantas. Kami telah bersalah terhadapmu."

Kakek tua itu berkata.

"walaupun kami menyesalinya, tetapi setelah segala sesuatunya terjadi, menyesal pun sudah terlambat."

Nona besar Lei menatapnya tajam, lalu kemudian raut wajahnya terlihat tersenyum, senyum yang sangat manis seperti bunga Lili.

"Apa kau kira aku tidak mengetahuinya?"

Dia berkata.

"Apa kau kira kau bisa membohong iku?"

"Kau sudah tahu?"

Kakek tua itu sangat terkejut.

"Kau sudah tahu semuanya?"

"sudah sejak semula aku tahu."

"Lalu mengapa kau tidak mengatakannya? Mengapa tidak marah? Mengapa tidak memusuhiku?"

"Karena kita adalah suami istri,"

Kata nona besar Lei dengan lembut.

"Suami istri selamanya suami istri, tidak sama dengan kakak adik, teman, atau kerabat Jika aku merasa kau sudah berbuat suatu kesalahan padaku lalu aku bermusuhan denganmu, maka yang salah itu bukan kau melainkan aku."

Gao Tian Jue sedang mendengarkan dengan tenang sejak tadi, sampai saat ini dia baru membuka suara.

"Aku juga mempunyai suami, dia bermarga Guo namanya Guo Di Mie. Dia orang yang sangat pintar, lelaki yang benar-benar rupawan. pria yang pernah kujumpai selama ini tidak ada yang bisa menandinginnya satu jaripun."

Dia berkata.

"sewaktu kami muda, kami juga merupakan pasangan suami istri yang saling mengasihi. Kami semua juga tahu akan hal ini.sekarang dia sudah mati."

Gao Tian Jue tiba-tiba bertanya.

"Apakah kalian tahu bagaimana dia bisa mati?"

"Tidak tahu."

Nona besar Lei berkata lebih lanjut.

"Tetapi kami sudah lama ingin mengetahuinya."

"Kalau begitu sekarang aku beritahu padamu, dia mati di tanganku."

Gao Tian Jue melanjutkan perkataannya.

"Aku membunuhnya dengan cara yang paling kejam."

Nada suaranya masih tetap tenang, tenang yang sangat menakutkan, tenang yang sampai membuat orang tidak tahan.

"Apakah kalian tahu mengapa aku sampai membunuhnya?"

Gao Tian Jue berkata.

"Kalian tentu saja lebih tidak tahu."

"Lalu mengapa kau membunuhnya?"

"Karena seorang anak kecil."

"Anak kecil?"

Nona besar Lei tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.

"Karena seorang anak kecil kau sampai tega membunuh suamimu sendiri?"

"Benar"

"Dia anak siapa?"

"Anak suamiku dengan kakak perempuanku,"

Kata Gao Tian Jue.

"Kakak kandungku"

Tiba-tiba tidak terdengar suara lagi dalam kamar itu, bahkan suara nafas pun berhenti.

setiap orang menyadarinya bahwa dia berubah menjadi wanita seperti itu pasti karena kebencian yang sangat mendalam di hatinya, tetapi tidak akan ada orang yang menyangka kalau yang dibencinya adalah kakak kandung dan suaminya sendiri Gao Tian Jue tiba-tiba bertanya kepada nona besar Lei "Jika kau adalah aku, kau akan bagaimana?"

Nona besar Lei terpaku, setelah beberapa lama baru menjawab dengan perlahan.

"Aku tidak tahu, aku sendiri juga tidak tahu."

Gao Tian Jue malah menghela nafasnya.

"Bagaimana pun juga kita berdua sangat berbeda, kalian berdua adalah pasangan suami istri yang saling mengasihi sampai tua karena kau bisa sabar. sedangkan aku adalah wanita yang kejam dan sadis, sehingga bisa berubah menjadi seperti ini."

Dia tiba-tiba tertawa "Jadi apa pun yang kalian katakan tadi, semuanya tidak ada gunanya."

"Perkataan mana yang tidak berguna?"

"Kalian sengaja berkata seperti itu untuk kudengar, sengaja menyiksaku supaya aku sedih, sehingga kalian baru ada kesempatan untuk membunuhku. Ini salah satu taktik, tidak menyerang orang tapi menyerang hati terlebih dahulu, taktik tingkat tinggi, jika salah satu pihak hatinya sudah kacau maka sebelum perang dimulai sudah dinyatakan menang.sayangnya taktik yang kalian gunakan tidak akan mempan terhadapku."

Gao Tian Jue berkata dengan dingin.

"Karena bukan hanya hatiku sudah mati, tetapi memang pada dasarnya aku sudah siap untuk mati, hari kematiannya adalah hari ini."

Nona besar Lei lagi-lagi terheran-heran.

"Kau pada dasarnya sudah siap untuk mati?"

"Tidak hanya bersiap untuk mati, bahkan sepenuh hati ingin mati. oleh karena itu tidak peduli apa yang katakan padaku, semuanya tidak ada gunanya bagiku."

Gao Tian Jue berkata.

"Tetapi kalian justru tidak ingin mati, jadi kalian malah pasti mati."

Dia lagi-lagi menghela nafas.

"Ada banyak hal di dunia ini yang seperti itu, orang yang tidak ingin mati justru mati lebih cepat dibandingkan dengan orang yang ingin mati."

Tang Lan Fang tibatiba mengeluh.

"orang yang paling tidak ingin mati adalah aku."

Dia berkata.

"Tetapi aku juga tahu, orang yang mati pertama pasti aku."

"Benar."

Gao Tian Jue berkata dengan dingin.

"orang yang mati paling pertama adalah kau."

Ooo)o(ooo BAB XX BINTANG YANG KEDUA Tanggal 19 bulan 4, sebelum matahari terbenam......

Sinar mentari yang tadinya menyinari bunga teh gunung (San cha Hua) itu dalam sekejap tiba-tiba sudah berubah menjadi seberkas bayangan cahaya.

Bunga teh gunung yang tadinya terlihat segar tiba-tiba dalam sekejap terlihat seakan-akan layu dan tidak segar.

Karena mereka pada dasarnya tidak memiliki cahaya sendiri, cahaya yang sesaat tadi hanyalah sinar mentari yang kebetulan masuk melalui jendela yang tepat mengenai pot bunga itu.

Ada orang yang juga sama seperti itu.

Dalam hidup sebagian orang, meskipun ada kalanya melewati usia yang gemilang, tapi tak disangka dalam waktu sekejap akan tiba-tiba menjadi tua dan lemah, meskipun hidup tapi hanyalah menunggu waktu saja.

Untungnya di dunia ini masih ada sebagian orang yang tidak seperti itu Karena dalam diri mereka memiliki cahaya dan kekuatan sehingga tidak pernah bergantung pada orang lain sebelumnya, asalkan mereka masih hidup maka tidak akan ada orang yang berani menyinggung mereka, menunggu mereka mati pun sama saja.

Pakaian yang serba hitam, mantel jubah yang berwarna hitam, serta topeng perak yang bersinar dibawah sinar matahari sore.

Air di danau besar Ming juga bersinar diterpa sinar matahari.

Gao Tian Jue berdiri di pinggiran danau, kelihatannya pembawaannya agak sedikit berubah, seperti yang sedikit lelah dan banyak pikiran.

Perubahannya apakah disebabkan karena si bocah tengik Yuan Bao yang patut mati itu?

Yuan Bao tidak ada di sampingnya, dia kembali sendirian.

Di mana Yuan Bao?

Yuan Bao pergi ke mana?

Apakah sudah mati ditangannya?

sangat disayangkan jika anak muda yang manis seperti dia mati begitu saja, bagaimana mungkin dia bisa tega melakukannya?

Perahu yang ringan seperti daun di atas danau itu datang mendekat dan sampai di bawah naungan pohon pillow.

Ada seorang yang berbaju abu-abu berdiri menghormat dengan takzim di atas perahu itu, sama sekali tidak berani memandang wajah Gao Tian Jue.

setelah waktu berlalu lama, barulah Gao Tian Jue perlahan-lahan memasuki perahu, langkah kakinya lebih berat sedikit daripada sebelumnya.

Luka di hatinya pastinya sangatlah berat.

Membunuh orang bukanlah suatu pekerjaan yang menggembirakan, terutama setelah membunuh seseorang yang sangat tidak ingin dibunuhnya, perasaan siapa pun pasti jauh lebih berat daripada sebelumnya.

sinar matahari mulai kabur, bahkan bayangan gunung dipermukaan air danaupun mulai kabur.

Gao Tian Jue perlahan-lahan memasuki perahu ringan itu, orang yang berbaju abu-abu yang umurnya agak lebih tua membungkuk memberi hormat dan memberikan laporan padanya.

"Kami sudah mengutus enam kelompok orang untuk turun ke dalam air, tetapi tetap belum menemukan mayatnya.Tetapi orangnya pasti masih berada di dalam air,"

Kata orang itu dengan yakin.

sejak kemarin malam, di empat penjuru di tepi danau telah dijaga ketat secara bergiliran, jika benar dia belum mati, mau sampai ke tepianpun dia tidak akan bisa.

Gao Tian Jue tertawa dingin.

orang berbaju abu-abu itu berkata lagi.

"Tetua Xiao itu sudah ada di bawah semenjak tadi, tidak mau makan apa pun dan tidak mau bicara sedikit pun, seperti yang tidak bergigi saja. Dari tadi hanya duduk di sana tidak bergerak sedikit pun."

Xiao Jun memang tidak bergerak sedikit pun.

Nafasnya belum putus, jantungnya masih berdetak, tapi dia justru benar-benar seperti orang mati, bersamaan dengan saat matinya Li Jiang Jun.

sewaktu pedang pendek itu menembus jantung Li Jiang Jun, seakan-akan juga sama menusuk jantungnya pada waktu yang bersamaan.

Gao Tian Jue malah masuk ke dalam dengan diam-diam, dengan diam-diam berdiri di hadapannya, tetapi dia tetap saja tidak bergeming.

Matanya sepertinya juga dibuat buta oleh tusukan pedang itu Walaupun membunuh orang bukanlah sesuatu hal yang bisa membuat orang merasa senang, tapi juga tidak seharusnya membuat seseorang menjadi menderita sedemikian rupa.

Dia memang sejak awal ingin membunuh orang ini, dia hidup justru karena ingin orang itu mati di bawah tusukan pedangnya.

sekarang harapannya sudah terkabul, lalu mengapa justru jauh lebih menderita dan sedih daripada sebelumnya?

Gao Tian Jue lagilagi tertawa dingin.

"Kau sudah mati,"

Katanya.

"Walaupun kau masih bisa hidup sampai umur 80 tahun, juga tidak akan ada bedanya dengan sebuah mayat hidup,"

Xiao Jun tidak bergeming.

"Kau sendiri yang menghendaki kematian,"

Kata Gao Tian Jue.

"Padahal sebenarnya bisa terus melanjutkan hidup dengan sebaikbaiknya, tapi kau sendiri yang justru ingin mati."

Xiao Jun tidak bergeming.

"Jika ada yang tahu bahwa kau sendiri yang membuat dirimu mati, pasti akan banyak orang yang merasa senang."

Gao Tian Jue berkata.

"Aku seharusnya membawa mereka semua kemari agar mereka bisa melihat seperti apa jadinya tetua dari perkumpulan pengemis saat ini."

Xiao Jun masih saja tidak bergeming.

"Kau tahu tidak apa yang hendak kuperbuat saat ini?"

Gao Tian Jue sepertinya sedang marah.

"Aku benar-banar ingin memberimu sebuah tamparan."

Xiao Jun kali ini tiba-tiba bergeming karena dia tiba-tiba melihat sebuah benda yang sangat aneh.

Biji matanya mendadak mengerut, seperti yang melihat sesosok hantu dan seekor naga beracun.

Tapi dia sama sekali tidak melihat hantu ataupun naga beracun.

Yang dilihatnya hanyalah sebuah tangan.

setiap orang pasti memiliki tangan, sebuah tangan tidak bisa dihitung sebagai benda yang aneh dan menakutkan.

Lagi pula tangan ini sama sekali bukan bekas dipotong oleh orang lain.

Tapi begitu dia melihat tangan ini, dia jauh lebih kaget dibandingkan dengan melihat sesosok hantu atau seekor naga beracun.

Ada apa sebenarnya?

Melihat sebuah tangan sama sekali bukan hal yang aneh, setiap orang setiap harinya tidak tahu sudah melihat berapa banyak tangan.

Yang aneh adalah tangan ini seharusnya tidak mungkin terjulur keluar dari tempat ini, walaupun Xiao Jun melihat sebuah tangan tiba-tiba terjulur keluar dari bawah perahu ini sekalipun tidak mungkin seaneh sekarang.

Karena ini adalah sebuah tangan kiri yang terjulur keluar dari mantel hitam yang dikenakan di tubuh Gao Tian Jue.

Gao Tian Jue sama sekali tidak memiliki tangan kiri.

Gao Tian Jue yang ini justru memiliki tangan kiri, tentu saja bukan Gao Tian Jue yang asli.

Xiao Jun ingin segera membuka topeng orang ini dan bertanya dengan suara berat.

"siapa kau? "

Yuan Bao membuka tudung hitam yang menutupi kepalanya dan melepaskan topeng perak di wajahnya lalu memandang Xiao Jun sambil menyengir.

"Tetua Xiao, lama tidak jumpa, apa kabar?"

"Kau."

Nada suara Xiao Jun berubah.

"Bagaimana mungkin kau?"

"Mengapa tidak mungkin aku?"

Yuan Bao berkata sambil tertawa.

"sejak hari pertama aku dilahirkan, aku adalah aku, bukan menjadi Zhang atau Li, juga bukan wang atau Man."

Dia tertawa sangat senang.

"Hanya saja jika ada orang yang menganggap aku sebagai Gao Tian Jue, aku juga tidak bisa apa-apa."

Xiao Jun memandangi dandanannya sambil terkejut.

"Bendabenda ini milik siapa?"

"Tentu saja milik Gao Tian Jue."

Yuan Bao menaruh topeng perak itu di atas kepalanya.

"selain dia, siapa lagi yang memiliki topeng aneh seperti ini?"

"Mengapa dia memberikan semua benda ini padamu?"

"siapa yang berkata kalau dia memberikan semua benda ini padaku?"

Tanya Yuan Bao.

"semua ini adalah benda berharganya, walaupun kau membunuhnya, dia juga tidak akan pernah memberikannya pada orang lain."

"Tetapi sekarang benda-benda ini sudah ada di tanganmu."

"Aku kan hanya sekedar meminjamnya sebentar saja."

"Dia bersedia meminjamkannya padamu?"

"Dia tidak bersedia."

"Jika dia tidak bersedia, lalu bagaimana kau bisa meminjamnya?"

Yuan Bao menghela nafas.

"sebenarnya, aku sama sekali tidak meminjamnya."

Xiao Jun sebenarnya tidak suka mengejar kebenaran seseorang dengan bertanya tanpa berhenti, tetapi kali ini dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

"Ini juga bukan hasil pinjamanmu?"

"Bukan."

"Kalau begitu benda-benda ini datang dari mana?"

"Aku sendiri yang mengambilnya,"

Kata Yuan Bao "Justru karena dia tidak mau meminjamkannya padaku, terpaksa aku mengambilnya sendiri."

"Bagaimana cara kau mengambilnya?"

"Aku hanya memiliki sepasang tangan, tentu saja mengambilnya dengan cara demikian,"

Kata Yuan Bao.

"Ambil tudung dan topengnya terlebih dahulu baru jubah dan pakaiannya."

"Dari mana kau mengambilnya?"

Yuan Bao memandanginya dengan raut wajah yang terheranheran.

"Pertanyaan yang mudah seperti itu pun harus kau tanyakan padaku?"

"Aku sudah terlanjur bertanya."

Yuan Bao menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.

"Kalau begitu aku juga terpaksa memberitahumu, tudung aneh ini aku ambil dari atas kepalanya, topeng ini aku lepaskan dari wajahnya, jubah dan pakaian ini aku lucuti dari tubuhnya."

Dia sengaja menelan ludah dan dengan lambat laun melanjutkan perkataannya.

"Kalau sepatu ini jauh lebih sulit karena terlalu sempit sehingga lama sekali aku baru bisa melepaskannya dari kakinya."

Xiao Jun terpaku lama.

"semua benda ini kau ambil dari tubuhnya?"

"semuanya aku ambil dari tubuhnya."

"Lalu orangnya?"

Tanya Xiao Jun.

"Ada di mana dia sekarang?"

Yuan Bao terlonjak lagi.

"Apakah kata-kata itu keluar dari mulutmu? Pertanyaan yang seperti kotoran anjing itu pun bisa kau tanyakan?"

Yuan Bao berkata.

"orangnya tentu saja ada di sana, kepalanya ada di dalam tudungnya, wajahnya ada di balik topengnya, tubuhnya ada di balik pakaian dan jubahnya, kakinya ada di dalam kedua sepatu ini, hal yang mudah seperti itu pun tidak bisa kaupikirkan?"

"Apakah orangnya sudah mati di sana?"

"Belum,"

Kata Yuan Bao.

"orang seperti dia mana mungkin bisa mati."

"Dia masih hidup di sana tetapi kau menginginkan semua benda miliknya, dia membiarkan kau mengambilnya begitu saja?"

"Dia tidak membiarkan aku mengambilnya juga tidak bisa."

"Mengapa?"

"Karena aku adalah Yuan Bao"

Jarinya menunjuk pada hidungnya.

"Barang berharga yang besar, bulat, manis, dan cantik,"

Xiao Jun tidak berkata, dia sudah tidak punya kata-kata yang bisa diucapkan.

Dia tidak percaya akan hal ini, dari awal sampai akhir tidak percaya, jika bocah ini tidak gila maka kulit wajahnya sudah jauh lebih tebal sepuluh kali lipat daripada sebelumnya, sehingga baru bisa mengeluarkan kata-kata yang aneh seperti itu.

Cara yang paling baik dalam menghadapi orang seperti itu adalah tidak mempedulikan dia sama sekali.

Tetapi di dunia ini justru ada orang yang kulit wajahnya tebal seperti itu, kau ingin mengabaikannya juga tidak bisa.

"Kau sudah bertanya padaku dari tadi, sekarang giliranku yang bertanya beberapa hal padamu."

Yuan Bao bertanya.

"wajah mu pucat seperti itu apa karena kau sudah membunuh seseorang?"

Xiao Jun mengabaikannya.

"Membunuh sama sekali bukan hal yang baik, jika aku membunuh orang, aku juga akan menyesal dan menderita."

Yuan Bao berkata.

"Tetapi kau berbeda, orang yang kau bunuh itu adalah orang yang sejak dulu ingin kau bunuh, mengapa kau menderita?"

Xiao Jun tidak bisa mengabaikannya.

"Dari mana kau tahu aku sudah membunuh seseorang? "tanyanya pada Yuan Bao.

"Kau tahu siapa yang kubunuh?"

"Tentu saja aku tahu."

Wajah pucat Xiao Jun tiba-tiba mengeluarkan aura membunuh yang hanya keluar pada saat hendak membunuh orang. Yuan Bao sepertinya sama sekali tidak merasakannya, malahan berkata dengan gembira.

"Yang kau bunuh adalah san Xiao Jing Hun Li Jiang Jun."

Yuan Bao berkata.

"Pada dasarnya dia adalah orang yang dikehendaki orang-orang untuk dibunuhi siapa pun yang membunuh"

"dalam semalam kabarnya langsung tersebar ke seluruh negeri. Beberapa hari belakangan ini orang yang hendak membunuhnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan tikus yang ada di gudang beras, tetapi hanya kau sendiri yang berhasil. Kau seharusnya senang, tetapi dari wajah mu justru kelihatannya kau menderita setengah mati. Apa sebenarnya yang terjadi?"

Xiao Jun menatapnya tajam, lama baru bertanya padanya dengan terpatah-patah.

"Kau benar-benar tidak mengerti?"

"Tadinya aku benar-benar tidak mengerti,"

Kata Yuan Bao.

"Walaupun kau pukul kepalaku sampai pecah, aku juga tetap tidak mengerti."

"Lalu sekarang?"

"sekarang?"

Biji mata Yuan Bao mendelik.

"sekarang langit sepertinya akan segera gelap. sudah sampai waktunya untuk makan malam, jika ada sepanci masakan kaki babi dengan ayam betina, ditambah dengan semangkuk nasi dari beras wangi, aku berani jamin aku bisa menghabiskannya sendiri tanpa bantuanmu."

Wajah Xiao Jun berubah menjadi hijau.

"Lalu sekarang?"

Dia sengaja menanyakan lagi pertanyaan yang sama dan nada suaranya pun berubah.

"Apakah sekarang kau sudah mengetahuinya?"

"Betul."

Yuan Bao akhirnya mengakui, menarik nafas panjang dan berkata.

"sekarang aku ingin tidak ingin tahu pun sudah tidak bisa."

Xiao Jun segera menegakkan tubuhnya, mengerahkan tenaganya dan kelima jari tangan kanannya membentuk cakar, seperti yang siap hendak menangkap ular berbisa saja layaknya.

Ini adalah jurus cakar andalan murid perkumpulan pengemis, tidak hanya ular berbisa yang tidak bisa lolos dari cakar ini, manusia juga sulit menghindar dari cakar ini.

Jika cakar ini digunakan untuk menangkap ular berbisa, jurus ini adalah jurus yang mematikan, jika digunakan untuk menangkap orang, jurus ini juga bisa melukai sampai tidak bisa tertolong lagi.

Di dalam perahu itu tidak ada ular berbisa, hanya ada manusia.

Yuan Bao yang demikian hidup dan manis itu, di matanya sepertinya telah berubah menjadi seekor ular berbisa yang kejam dan menakutkan.

Yuan Bao tidak mengedipkan matanya sedikit pun.

"Mengapa kau tidak bertanya padaku apa saja yang aku ketahui? Dan bagaimana bisa tahu?"

Perkataan ini keluar tepat pada waktunya, cakar Xiao Jun yang tadinya sudah siap menyerang jadi tidak jadi.

Karena jawaban dari pertanyaan itu justru adalah jawaban yang sangat ingin diketahuinya.

Yuan Bao tertawa.

"Begitu baru benar, walaupun kau ingin membunuh orang untuk menutup mulutnya, paling tidak juga harus menanyakannya dengan jelas terlebih dahulu baru bertindak."

Xiao Jun benar-benar tidak bisa tidak bertanya.

"sebenarnya apa saja yang kau ketahui?"

"sejujurnya, yang kuketahui itu tidaklah sedikit,"

Yuan Bao malah menjawab seperti itu.

"Hal yang tidak kau inginkan ada orang lain yang tahu, aku malah tahu semuanya. Katakan Gao Tian Jue sebenarnya ingin kau membunuh seseorang untuknya dan setelah kau membunuhnya dia baru akan mengatakannya padamu bahwa orang itu sebenarnya tidak boleh kau bunuh."

Yuan Bao berkata.

"Biarpun semua orang di dunia ini bisa membunuhnya, kau tetap tidak boleh membunuhnya karena kau adalah anaknya."

Tangan Xiao Jun mengepal, bukan untuk melukai orang, juga bukan untuk menangkap ular berbisa. tangannya itu sebenarnya menahan dirinya sendiri, menahan jiwanya dan raganya.

"selain Gao Tian Jue, tidak akan ada yang menyangka bahwa kau adalah anak dari san Xiao Jing Hun Li Jiang Jun, kau sendiri lebih tidak menyangka lagi."

Yuan Bao berkata.

"Karena kau selama ini menyangka kalau ibumu mati ditangannya."

Yuan Bao meneruskan.

"Gao Tian Jue berkata padamu, walaupun ibumu mati ditangannya, kau juga tidak bisa tidak mengakui kalau kau itu bukan anaknya. Gao Tian Jue sangat membencinya, karena itu sengaja mempersiapkan taktik ini agar kau pergi membunuhnya, agar dia tidak bisa mati dengan tenang, agar kau menyesal seumur hidupmu."

Xiao Jun tidak bereaksi sedikit pun, karena sekujur tubuhnya serasa sudah hancur.

"Yang tidak pernah kusangka adalah ternyata di dunia ini ada orang yang menggunakan cara yang demikian kejamnya untuk membunuh orang."

Yuan Bao berkata "Jika bukan Gao Tian Jue sendiri yang mengatakannya padaku, aku sama sekali tidak akan percaya."

"Dia sendiri yang mengatakannya padamu?"

Xiao Jun seperti orang yang baru saja keluar dari mimpinya karena ditusuk seseorang dengan jarum.

"Mengapa dia mau mengatakan hal seperti ini padamu?"

"Mungkin karena dia merasa sangat bangga akan dirinya sehingga tidak tahan untuk memberitahukan orang lain, mungkin karena dia ingin meminjam mulutku untuk memberitahukannya pada orang lain bahwa dia sudah menggunakan cara seperti itu untuk membalas dendam agar semua orang di dunia persilatan selalu mengingatnya."

Dua dugaan tadi memang ada kemungkinan benar. Yuan Bao malah menghela nafas lagi.

"Tetapi alasan sebenarnya mengapa dia mengatakan hal ini padaku, mungkin hanya Tuhan yang tahu."

Xiao Jun memandanginya, walaupun tubuhnya terkesan biasa, tetapi pandangan matanya seperti yang ingin membunuh.

"Kau seharusnya tidak perlu tahu tentang hai ini."

Dia juga menarik nafas dalam-dalam.

"Aku benar-benar berharap kau tidak pernah tahu."

"Aku mengerti maksudmu."

"Kau mengerti?"

"orang yang manis seperu aku ini, bahkan kaupun tidak bisa tidak menyukaiku."

Yuan Bao berkata.

"Tetapi setelah aku mengetahui hal ..ni, kau tidak bisa tidak membunuhku untuk menutup mulutku."

Dia berkata lagi.

"walaupun kau sendiri sudah tidak ingin hidup lagi, tetap saja harus membunuhku terlebih dahulu supaya aku tidak bisa membocorkan rahasia kalian. Hal ini memang tidak boleh sampai diketahui oleh orang lain."

Xiao Jun sama sekali tidak menyangkalnya.

Dia sudah menahan tenaga dalamnya semenjak tadi.

Tapi Yuan Bao seperti tidak menyadarinya.

Banyak orang yang bahkan bayangannya sendiri tidak menyadarinya, dia sudah menyadarinya sejak awal.

Tetapi ada banyak orang yang orang lain sudah merasakannya, dia malah tidak tidak merasakannya.

sekarang semua orang bisa melihatnya kalau Xiao Jun sudah bersiap-siap untuk membunuhnya seperti membunuh seekor ular berbisa saja, tetapi Yuan Bao malah dengan tampang yang gembira dan tertawa terbahak-bahak sambil berkata kepada Xiao Jun.

"Hal ini adalah hal yang seharusnya tidak boleh kuketahui, tetapi sekarang aku ingin tidak tahu pun tidak bisa."

Yuan Bao berkata.

""Untungnya aku juga tahu akan hal yang lain."

"Hal apa?"

"Hal yang seharusnya aku tahu."

Yuan Bao berkata.

"Hal yang tidak hanya bisa membuat diri sendiri senang tapi juga bisa membuat orang lain senang, siapa pun yang mengetahui hal ini pasti akan berumur panjang dan hidup damai seumur hidup,"

Dia tertawa seperti yang senang sekali.

"Hal ini tentu saja hanya orang yang pintar seperti aku saja yang baru bisa mengetahuinya."

Ada beberapa orang yang setiap saat tidak akan lupa untuk membanggakan diri sendiri, membual, menorehkan emas pada wajah sendiri, agar orang lain memandangnya dan mengakui keberadaannya.

Xiao Jun sudah tahu kalau Yuan Bao bukan orang yang seperti itu.

Dia hanya senang berbicara dengan cara seperti itu, karena dia berharap dirinya bisa membuat orang lain senang, berharap orang lain juga bisa seperti dia, melihat dan berpikir dengan lebih terbuka terhadap masalah apa pun.

Patah semangat, gelisah, sedih, marahi terburu nafsu, tidak hanya tidak menyelesaikan masalah, malah bisa membuat orang melakukan kesalahan dan dosa yang tidak termaafkan.

seseorang harus bisa mempertahankan perasaan yang gembira dan terbuka baru bisa membuat suatu keputusan dan analisa yang tepat.

oleh karena itu Xiao Jun sudah tidak lagi menganggap Yuan Bao sebagai anak kecil bermuka tebal yang hanya bisa membual, karena itu dia bertanya lagi padanya.

"Hal apa itu?"

"Misalnya, ada beberapa orang yang sudah yakin dirinya telah membunuh orang, bahkan yang dibunuhnya adalah orang yang sama sekali tidak boleh dibunuhnya, karena itu hatinya amat sangat menderita karena dia tidak tahu kalau orang itu sebenarnya belum mati."

Yuan Bao berkata.

"Tetapi aku tahu."

"Kau tahu"

Xiao Jun memperlihatkan keterharuan di wajahnya.

"siapa yang kau maksud belum mati itu?"

"Tentu saja Li Jiang Jun."

"Apa kau benar-benar tahu kalau dia belum mati?"

Yuan Bao menghela nafas dan tertawa pahit sambil menggelengkan kepala.

"Memangnya kau pikir siapa dirimu? Pendekar Harum Chu? si Pencari Bunga (--^ Wanita), Xiao Li?"

"Bukan."

"Tentu saja kau bukan."

Yuan Bao berkata.

"Kau sama sekali tidak sebanding dengan mereka."

Xiao Jun mengakuinya. Walaupun selama ini dia adalah orang yang sangat sombong, tetapi terhadap nama besar kedua senior itu, dia selalu merasa hormat dan kagum sama seperti yang lainnya.

"Jika kau sendiri mengakui bahwa kau memang tidak bisa sebanding dengan mereka, lalu mengapa kau tidak terpikirkan olehmu, bagaimana mungkin san Xiao Li Jiang Jun yang sudah terkenal di seluruh dunia itu bisa terbunuh ditangan orang seperti dirimu?"

Xiao Jun bungkam.

Dia sendiri tahu bahwa dirinya bukanlah lawan Li Jiang Jun dan berharap kejadian ini sama sekali tidak terjadi.

Tetapi di bawah sinar bulan yang dingin itu, dia melihat sendiri pedang pendeknya menusuk tepat di jantungnya.

Perasaan saat pedang itu menusuk daging dan darah dan ekspresi wajah Li Jiang Jun saat itu, selamanya tidak akan bisa dia lupakan.

"Mengapa kau jadi diam?"

Yuan Bao lagi-lagi bertanya.

"Apakah kau masih yakin kalau kau sudah membunuhnya?"

Xiao Jun lagi-lagi terbungkam lama, baru setelah itu berkata dengan perlahan-lahan.

"Aku masih berada di sini justru karena berharap dia masih hidup, berharap dia muncul sekali lagi. Kalaupun dia mati, aku juga berharap bisa melihat mayatnya."

"Tetapi mayatnya sama sekali tidak ditemukan,"

Kata Yuan Bao.

"Mereka sudah mengganti orang beberapa kali untuk mencari di bawah air, tetap saja bahkan bayangannya pun tidak ditemukan."

"Benar."

"Apaklah kau tahu mengapa mereka tidak bisa menemukan mayat Li Jiang Jun?"

Yuan Bao berkata.

"Kau seharusnya tahu."

"Tetapi sayangnya aku tidak tahu."

"Kau benar-benar tidak tahu?"

Yuan Bao sepertinya terkejut.

"Hal yang mudah seperti itu pun kau tidak tahu? "

Bersambung-11. Jilid-11 Dia lagi-lagi menggelengkan kepala sambil menghela nafas.

"Mereka tidak bisa menemukan mayatnya karena dia sama sekali belum mati."

Yuan Bao seperti yang sedang mengabari seorang anak kecil saja.

"Seseorang jika belum mati tentu saja tidak akan ada mayatnya, jika hal yang mudah seperti itu saja kau masih tidak mengerti, maka kau benar-benar seorang idiot."

"Walaupun benar dia tadi belum mati, tapi sekarang dia pasti sudah mati."

"Mengapa?"

"Karena di tepian danau di empat penjuru sudah ada orang yang berjaga dan mereka adalah orang-orang yang sangat terlatih,"

Kata Xiao Jun. Gao Tian Jue sedikitnya membutuhkan waktu 10 tahun untuk melatih orang-orang ini.

"Aku percaya itu."

"Walaupun ilmu silat orang-orang ini tidak bisa dibandingkan dengan para jagoan tingkat atas, tetapi kekuatan mata, telinga, tenaga dalam, kemampuan melihat dan menganalisa sesuatu, sudah pasti nomor satu."

"Aku percaya itu."

"Karena itu jika kau berpendapat bahwa Li Jiang Jun sudah naik ke tepian, sudah pasti tidak mungkin."

Xiao Jun berkata.

"Karena meskipun mereka tidak bisa menahannya, paling tidak bisa melihatnya."

"Siapa bilang Li Jiang Jun sudah naik ke tepian?"

Seru Yuan Bao "Jika dia naik ke tepian tentu saja tidak akan lolos dari mata dan telinga mereka."

"Jika begitu dia pasti sudah mati tenggelam di dasar danau,"

Kata Xiao Jun.

"sejak dia jatuh ke dalam air sampai sekarang sudah satu hari satu malam. Tidak ada seorang pun yang bisa bertahan di dalam air demikian lama, lagi pula saat itu meskipun dia tidak mati, lukanya pun tidak ringan."

Yuan Bao menatapnya tajam untuk waktu yang lama, baru kemudian bertanya dengan dingin.

"Apakah kau sudah merasa pasti kalau dia sudah mati?"

Xiao Jun tidak menjawab pertanyaan ini karena dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya.

Dia pada dasarnya bukanlah orang yang banyak bicara, meskipun di saat harus berbicara sekalipun, bicaranya juga tidak banyak.

saat ini seharusnya hatinya sedang menderita sampai tidak bisa berkata-kata, tetapi dia malah berbicara jauh lebih banyak.

Karena di dalam hatinya masih ada sedikit harapan.

Walaupun di bibir berkata demikian, dia berharap Yuan Bao bisa menjamin bahwa semua ucapannya tadi adalah kenyataan.

"Jika kau melihat seseorang melakukan sesuatu yang kebalikan dari biasanya, bisa memaafkannya, barulah hatinya bisa disebut lapang, baru bisa disebut sebagai laki-laki sejati."

Yuan Bao menatapnya lama dengan tajam, lalu tiba-tiba berkata.

"Aku tahu kau tidak berani bertaruh denganku."

Dia berkata.

"Aku tahu kau pasti tidak akan berani."

"Kau ingin bertaruh apa?"

"Aku bertaruh dia masih belum mati."

Yuan Bao berkata.

"Kau berani tidak bertaruh denganku?"

Biji mata Yuan Bao menatap Xiao Jun dan tampangnya seperti yang sengaja memanas-manasi.

"Aku sarankan kau sebaiknya tidak bertaruh karena kali ini aku pasti tidak akan kalah."

Wajah putih pucat Xiao Jun tiba-tiba terlihat ada semburat merah, warnanya sama seperti darah segar yang tiba-tiba lumer.

Dia tahu Yuan Bao bukan benar-benar ingin bertaruh dengannya, terlebih bukan karena ingin menang darinya.

Karena dia juga berharap yang kalah itu adalah dirinya.

Mungkin Yuan Bao ingin menggunakan cara seperti itu untuk menenangkan dirinya, membangkitkan semangatnya, sebab jika tidak dia bakal patah semangat, jika tidak dia ingin mati begitu saja.

Tidak peduli perbuatan Yuan Bao itu benar atau tidak, di dalam hatinya tetap saja merasa terharu.

"Aku akan bertaruh denganmu,"

Kata Xiao Jun.

"Tidak peduli kau ingin bertaruh apa, aku akan bertaruh denganmu."

Yuan Bao tertawa.

"Kau tidak menyesal?"

"Tidak menyesal."

"Jika aku bisa menemukan Li Jiang Jun, bahkan akan membuatmu melihatnya dengan mata kepala sendiri kalau dia masih segar bugar."

Yuan Bao bertanya kepada Xiao Jun.

"Pada saat itu apa yang akan kau lakukan?"

"Terserah apa maumu."

Perkataan ini sebenarnya adalah perkataan tidak mungkin keluar dari mulut Xiao Jun, dengan kedudukan dan derajatnya, dalam situasi apa pun dia tidak boleh mengeluarkan perkataan seperti itu.

Tetapi sekarang dia malah mengatakannya.

Karena jika dia kalah oleh Yuan Bao, dia benar-benar akan berbuat demikian, apapun yang dikehendaki Yuan Bao, dia bersedia.

Bahkan berharap yang kalah itu benar-benar adalah dirinya.

sarangnya, bagaimana pun juga dia tidak bisa membayangkan bagaimana Yuan Bao bisa menang, lebih tidak terbayang lagi bagaimana dia bisa menemukan Li Jiang Jun.

Li Jiang Jun sebenarnya memang sudah mati walaupun dia punya 1000 nyawa sekalipun, walaupun dia masih hidup sekalipun, Yuan Bao juga tidak mungkin tahu di mana dia berada.

Tidak ada alasan sedikit pun bagi Yuan Bao untuk tahu.

Warna merah di wajah Xiao Jun sudah menghilang karena walaupun dia ingin agar yang kalah itu adalah dirinya, tetap saja dia merasa bahwa Yuan Bao sudah pasti kalah.

Yuan Bao bisa menebak apa yang ada dalam benaknya.

"Mengapa kau tidak bertanya padaku, jika aku kalah bagaimana?"

"Aku membiarkanmu mengatakannya sendiri"

Yuan Bao sengaja mendongkakkan kepalanya sambil berpikir, lalu tiba-tiba bertanya kepada Xiao Jun.

"Kau tahu tidak mengapa Gao Tian Jue tiba-tiba berubah menjadi begitu penurut? Mengapa membiarkan aku begitu saja mengambil semua barang berharga ini dari tubuhnya?"

Hal ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan taruhan mereka, tetapi memang hal yang tidak dimengerti Xiao Jun, hal yang selalu ingin diketahui olehnya, oleh karena itu dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Mengapa?"

"Karena saat itu dia sudah ditangkap olehku,"

Kata Yuan Bao.

"Aku langsung menotok 6-7 buah aliran darahnya."

"oh?"

"Kau tidak percaya, aku sudah tahu kau tidak akan percaya."

Yuan Bao tertawa dengan gembira dan bahagia.

"Bagaimana mungkin orang yang berilmu tinggi seperti Gao Tian Jue bisa ditotok jalan darahnya olehku?"

Yuan Bao tertawa terbahak-bahak sambil berkata.

"Kau pasti berpikir, anak kecil ini jika tidak sakit maka kulit mukanya pasti tebal tak terkira. Karena itu bisa membual dan mengeluarkan cerita bohong seperti itu."

Xiao Jun tidak bisa menyangkal karena di dalam hatinya dia memang pernah berpikir demikian.

"Tetapi mengapa kau tidak coba berpikir, jika aku tidak menotok jalan darahnya, bagaimana mungkin benda-benda ini bisa berada di tanganku?"

Tidak ada orang yang bisa menyangkalnya, karena itu Xiao Jun tidak bisa tidak bertanya kepada Yuan Bao.

"Bagaimana caranya kau bisa menotok jalan darahnya?"

"sebenarnya tidak sulit juga, aku hanya memperlihatkan sebuah benda padanya."

"Kau hanya memperlihatkan sebuah benda padanya, kau langsung menotok jalan darahnya dan kemudian dia tidak bisa melawan lagi?"

Xiao Jun lagi-lagi terheran-heran dan juga penasaran.

"Benda apa yang kau perlihatkan padanya?"

"Tentu saja bukanlah sebuah benda yang sembarang,"

Kata Yuan Bao.

"sangat unik," 20 tahun yang lalu, Gao Tian Jue pernah merajai dunia persilatan dan merupakan jagoan nomor satu. Dalam kurun waktu 20 tahun ini, dia juga tidak tahu dirinya sudah berapa kali berbuat sesuatu yang membuat orang kagum dan membuatnya menjadi terkenal, tetapi di tengah malamnya dia malah meneteskan air mata. setelah melewati kegagalan dan tempaan melama 20 tahun, dia tidak hanya berubah menjadi dingin dan kejam, tapi ilmu silatnya juga menjadi lebih hebat. Jika benar di dunia ini ada sebuah benda yang mampu membuatnya panik dan kelabakan, jalan darahnya bisa ditotok oleh seorang bocah berusia belasan tahun, benda ini tentu saja bukanlah benda yang biasa saja. semua orang juga bisa menduganya. orang-orang di dunia persilatan pasti bersedia mempertaruhkan seluruh jiwa raganya demi mendapatkannya. Yuan Bao malah berkata dengan dingin "Jika aku kalah, maka aku akan memberikan benda ini padamu."

Tidak tahu kapan, benda itu sudah ada di dalam genggamannya.

Hanya sayangnya, walaupun dia orangnya tidak bisa dibilang besar, tangannya justru tidak kecil dan tidak ada orang yang bisa melihat dengan jelas benda apa yang digenggamnya itu.

Xiao Jun sebenarnya tidak ingin memenangkan benda itu, tetapi semua orang memiliki rasa penasaran di dalam hatinya.

Jadi dia juga tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Benda itu sebenarnya apa?"

"sebenarnya bukan apa-apa."

Yuan Bao sengaja berkata dengan enteng.

"Hanya sebuah bintang saja."

"sebuah bintang?"

Xiao Jun bertanya.

"Bintang yang seperti apa?"

"sebuah bintang kecil."

Yuan Bao sepertinya merasa bersalah dan tidak enak, sehingga menghela nafasnya.

"sebuah bintang yang sangat.. .sangat... kecil."

Sesudah itu Yuan Bao mengeluarkan bintangnya yang kedua.

ooo)o(ooo BAB XXI BINTANG KECIL BERSINAR TERANG Bintang kecil bersinar terang, jika di langit banyak bintang maka bulan tidak terang, jika di bumi banyak orang maka hati tidak tenang.

Malam di musim gugur, bintang bermunculan.

seorang anak lakilaki, dua orang anak perempuan, tiga orang anak hanya memiliki satu buah hati juga satu buah bintang.

sebuah bintang yang sangat...

sangat...

kecil.

Kemudian anak-anak tumbuh besar, satu buah hati berubah menjadi tiga buah hati, tetapi mereka tetap hanya memiliki satu buah bintang saja.

Hanya memiliki sebuah bintang yang sangat...

sangat...

kecil.

Anak yang tumbuh besar tadi kemudian menjadi tua, malah mungkin ada yang sudah mati, ada beberapa orang yang meskipun belum mati, hatinya justru sudah mati.

Bintang mereka yang tadi begitu kecil...begitu kecil..., tetap saja sedikit pun tidak berubah.

Karena bintang ini sama sekali tidak memiliki perasaan, tidak memiliki nyawa, tidak mengerti bagaimana harus mencintai, dan juga tidak mengerti bagaimana harus membenci, karena itu tidak akan berubah dan juga tidak akan menjadi tua.

Karena bintang ini hanya terbuat dari kulit kerang yang berasal dan daerah Hai Nan.

Tetapi menjadi orang yang sudah berubah menjadi tua, orang yang belum mati tapi hatinya sudah mati, pada waktu melihat bintang kecil yang selamanya tidak akan pernah berubah ini, akan terdapat perasaan seperti apakah di dalam hatinya.

selain mereka sendiri, siapa lagi yang bisa mengetahuinya?

Tanggal 19 bulan 4, menjelang senja........

sinar bintang yang ada di langit masih belum menghilang, tangan Yuan Bao sudah mengeluarkan sebuah bintang.

sebuah bintang yang terbuat dari kulit kerang yang sangat indah dan mahal, pada punggung bintang itu terukir sebuah bunga yang indah dan dua buah huruf ukiran tangan yang aneh.

Di dalam laut ada sejenis kerang yang sangat berharga sama seperti layaknya sebuah mutiara, cahaya gemerlapan dan warnanya selamanya tidak akan hilang.

Tapi kulit kerang itu dengan kulit kerang yang ada ukirannya ini sama sekali tidak ada bedanya, tetap saja hanya sebuah kulit kerang saja, tidak ada bagian yang berbeda.

Karena itu Xiao Jun lagi-lagi tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Benda yang kau perlihatkan kepada Gao Tian Jue itu adalah bintang ini?"

"Betul."

"sewaktu melihat bintang ini, pada saat kau menohoknya, dia langsung tertotok?"

"Ya."

"Apakah begitu dia melihat bintang ini, dia lalu kehilangan tenaga untuk melawan?"

"Ya..., tidak begitu juga,"

Kata Yuan Bao.

"Hanya saja begitu melihat bintang ini, jarinya langsung gemetar, seluruh badannya langsung gemetar, sayangnya aku tidak bisa melihat wajahnya, jadi tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat itu."

"Apakah saat itu wajahnya masih mengenakan topeng ini?"

"Ya."

"Kalau begitu bagaimana dia bisa melihatnya?"

Yuan Bao tertawa.

"Kau benar-benar orang yang sangat hati-hati, paling tidak kau merasa dirimu sangat hati-hati, bahkan hal sekecil apa pun tidak terlewatkan."

Yuan Bao lagi-lagi menghela nafas.

"sayangnya, pada dasarnya kau bukanlah orang yang seperti itu."

"oh?"

"Apakah kau benar-benar mengira bahwa karena Gao Tian Jue mengenakan topeng ini maka dia tidak bisa melihat apapun?"

Yuan Bao berkata.

"Kalau begitu bagaimana caranya aku bisa membawa topeng itu kemari, bahkan masih bisa melihat sosokmu?"

Dia memberitahu Xiao Jun,"jika kau benar-benar orang yang sangat hati-hati seperti yang selama ini kau bayangkan, maka kau akan menyadari walaupun topeng ini tidak ada lubang matanya, tetapi ada dua buah lubang yang besarnya lebih besar dari biji mata yang ditutupi oleh dua buah kristal yang sudah digosok halus, jadi hanya bisa dilihat dari dalam topeng saja.

sepertinya hanya anak yang pintar dan jenius seperti aku saja yang bisa mengetahuinya."

Xiao Jun hanya bisa menutup mulutnya.

"orang yang tidak membiarkan orang lain melihat dirinya adalah seorang yang jenius, jika tidak memperbolehkan diri sendiri melihat orang lain, maka dia adalah orang yang sangat bodoh,"

Kata Yuan Bao. Yuan Bao menh embuskan nafas.

"Coba kau pikir, bagaimana mungkin Gao Tian Jue bodoh seperti itu?"

Perkumpulan pengemis (GaiBang) adalah perkumpulan nomor satu di dunia persilatan, tidak hanya muridnya yang paling banyak, wataknya pun beraneka ragam.

sekarang mereka menerapkan hukuman baru, bertekad membenah diri, tetua bagian penerapan hukuman setiap hari tidak hanya sibuk menangani seribu satu urusan, tetapi juga memeriksa sedetail-detailnya dengan bijaksana, keputusan yang benar-benar lurus.

Tetapi di depan bocah kecil yang pandai membual dan suka tertawa bodoh serta pura-pura manis ini, tetua Xiao ini bisa tidak berkutik sampai tidak bisa berkata-kata.

Tetapi Yuan Bao malah sengaja bertanya padanya.

"Apakah kau bisa melihat hal yang tidak biasa pada bintang ini? Mengapa bisa membuat Gao Tian Jue menjadi seperti itu?"

"Aku tidak bisa."

"Aku juga tidak,"

Kata Yuan Bao.

"Karena kau bukan Gao Tian Jue, aku juga bukan."

Dia berkata dengan serius.

"Bintang ini di mata kita hanyalah mainan anak-anak yang terbuat dari kulit kerang saja. Tetapi bagi sebagian orang, sepertinya memiliki kekuatan yang luar biasa."

"sebagian orang?"

Tanya Xiao Jun.

"sebagian orang yang mana?"

"saat ini aku belum bisa mengatakannya padamu."

"Mengapa?"

"Karena saat ini aku sendiri pun masih belum tahu,"

Jawab Yuan Bao.

"saat ini aku hanya tahu bintang ini sangat berguna untuk menghadapi Gao Tian Jue, jauh lebih berguna dibandingkan dengan senjata yang paling mematikan sekalipun. Ini sudah cukup, bintang ini sekarang boleh dikatakan sebagai benda pusaka.Bagi sebagian orang, bintang ini lebih berharga dibandingkan dengan bintang merubah besi menjadi emas."

"sekarang aku bertanya padamu, kau mau menerima tidak taruhanku ini?"

Tanya Yuan Bao.

"Aku terima."

Yuan Bao mengantungi bintang itu, mengenakan topeng, dan mengenakan kerudung hitamnya lalu berkata.

"Kalau begitu sekarang ikutlah denganku."

"Ke mana?"

"Tentu saja pergi mencari Li Jiang Jun."

"Kau bisa menemukannya?"

"Tentu saja bisa, malah harus bisa menemukannya,"

Kata Yuan Bao "Jika tidak bintangku ini akan jatuh ke tanganmu."

"Di mana dia?"

"Tentu saja ada di atas perahu ini."

Xiao Jun lagi-lagi tidak bisa berkata-kata.

Meskipun dia sudah percaya sepenuhnya akan perkataan Yuan Bao, percaya bahwa Li Jiang Jun masih belum mati, percaya bahwa begitu Gao Tian Jue melihat bintang ini langsung bisa ditotok jalan darahnya.

Meskipun dia percaya semuanya, dia masih tidak percaya Li Jiang Jun masih ada di atas perahu ini.

Atas perahu itu sudah disinari oleh sinar lentera, di bawah perahu juga ada lentera, tetapi tidak ada satu bayangan pun yang terlihat.

Karena pada waktu Gao Tian Jue yang bukan Gao Tian Jue ini sampai ke bawah kapal, pernah memberikan perintah sebelumnya.

semuanya naik ke atas, tidak ada seorang pun yang boleh turun ke bawah.

Walaupun perkataan ini Yuan Bao yang mengatakannya, tapi sama pengaruhnya dengan perkataan Gao Tian Jue.

Karena kerudung hitam di kepalanya, topeng di wajahnya, mantel di tubuhnya, sepatu di kakinya, masing-masing memancarkan kekuatan yang luar biasa, tidak bisa ditahan.

Tidak pernah ada orang yang meragukan kekuatan ini.

Tidak ada orang yang pernah mengambil benda-benda ini dari tubuh Gao Tian Jue.

Luas ruang bawah perahu itu jauh lebih besar dari yang dibayangkan orang, tingkat yang paling bawah ada sebuah kabin kosong.

Dalam kabin kosong itu sama sekali tidak ada apa-apa, tetapi jika tidak ada kabin kosong ini, maka perahu ini tidak akan bisa mengapung.

Jika kabin ini dipenuhi oleh barang-barang, perahu ini kemungkinan juga akan tenggelam Justru karena didalam sana tidak ada apa pun, maka perahu ini bisa goyang, kabin jauh lebih penting dibandingkan dengan kabin mana pun.

Banyak hal di di dunia ini yang seperti itu.

Ruangan di bawah itu ternyata terdiri dari sepuluh buah kamar, ada kamar majikan, juga ada gudang bahan makanan.

Yuan Bao membawa Xiao Jun mencari di setiap kamar-kamar itu, meskipun tidak terlihat bayangan orang sedikit pun tetapi tetap percaya diri "Aku tahu kau pasti tidak percaya kalau Li Jiang Jun berada di atas perahu ini,"

Kata Yuan Bao. Xiao Jun mengakuinya, Yuan Bao menanyakan pertanyaan yang penting padanya.

"Mengapa kau tidak percaya?"

Setelah berpikir baru Xiao Jun menjawabnya.

"Karena ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi, siapa pun tidak akan percaya."

"Apakah maksudmu dia tidak mungkin bersembunyi di dalam perahu ini?"

"Benar."

"Aku mengerti maksudmu."

Yuan Bao tertawa.

"Cara berpikirmu sekarang sama seperti dua hari yang lalu kalian tidak menyangka kami akan bersembunyi di dalam penjara di kota Ji Nan."

Xiao Jun juga mengerti maksudnya Jika orang seperti Li Jiang Jun ingin bersembunyi, haruslah mencari tempat yang tidak disangka orang.

"Aku juga mengerti maksudmu,"

Kata Xiao Jun.

"Tetapi apakah tidak pernah terpikir olehmu, bagaimana caranya dia bisa naik perahu ini?"

Yuan Bao sengaja membalikkan wajahnya sambil berkata dengan serius.

"Ini memang sesuatu hal yang tidak mungkin,"

Kata Yuan Bao.

"Perahu ini penuh dengan orang dan mata setiap orang demikian tajamnya, bahkan yang setengah buta pun tidak ada. Li Jiang Jun tidak bisa sihir, juga tidak memiliki jurus 72 jurus merubah wujud seperti sun wu Kong sehingga bisa mengubah dirinya menjadi seekor kumbang dan terbang."

Dia lagi-lagi sengaja menghela nafas.

"Kelihatannya pandanganmulah yang benar, dia tidak akan bisa naik ke atas perahu ini.Karena itu dia tidak mungkin berada di atas perahu ini."

Yuan Bao menghembuskan nafasnya dan berkata dengan perlahan.

"Untungnya kau bukan, untungnya kau bukan."

"Untungnya aku bukan apa?"

"Untungnya kau bukan Li Jiang Jun, Li Jiang Jun juga bukan kau."

Yuan Bao berkata.

"Jika tidak sekarang ini dia pasti sudah mati dan aku juga sudah pasti kalah."

"Apakah kau masih berpendapat bahwa dia ada di atas perahu ini?"

Yuan Bao tidak menjawab, dia menarik gerendel dari besi pada pintu papan yang ada di bawahnya dan menariknya serta berkata.

"Lebih baik kau turun ke bawah dan lihatlah."

Di bawah adalah sebuah kabin kosong, tidak ada orang, tidak ada barang, tidak ada cahaya lentera, kabin kosong yang tidak ada apaapa.

Xiao Jun akhirnya turun juga ke bawah hanya untuk sekedar mencari.

Akhirnya dia terkesiap.

Di dalam kabin kosong itu ternyata benar-benar ada seseorang.

orang ini adalah saudagar yang paling kaya dan berkuasa di kota Ji Nan yang sudah meninggal, sun Ji Cheng, dan juga yang kabur lalu kembali lagi ke kota Ji Nan sebagai Wu Tao, sesudah itu baru muncul sebagai san Xiao Jing Hun Li Jiang Jun Li Jiang Jun gemetar di bawah sana, tubuhnya setengah duduk setengah berdiri, punggungnya bersandar ke dinding, sepertinya sudah tidak mempunyai tenaga untuk duduk.

Walaupun pedang itu tidak menusuk tepat di jantungnya, tetapi lukanya sepertinya juga tidak ringan.

Tetapi kedua matanya masih tetap bercahaya, waktu melihat Xiao Jun wajahnya malah masih memancarkan tawa, tawa yang penuh ketenangan juga penderitaan.

Dia tiba-tiba bertanya kepada Xiao Jun.

"Mana Yuan Bao?"

Yuan Bao juga turun, tangannya meraba-raba di dalam gelap.

Dia meniru gaya berjalan Gao Tian Jue dan perlahan-lahan sampai di hadapan Li Jiang Jun.

Dia benar-benar jenius, mempelajari gaya orang lain sampai serupa dengan yang aslinya.

"Yuan Bao bocah brengsek itu sudah kubunuh dan kuantar ke raja neraka,"

Dia sengaja berkata demikian.

"Kau tidak akan pernah melihatnya lagi"

Li Jiang Jun sudah tertawa dari tadi. Bagaimana bisa seseorang mengatakan dirinya seorang brengsek? Dia berkata.

"Kita adalah teman, jika kau adalah bocah brengsek, lalu aku apa?"

Yuan Bao juga tertawa.

"Bagaimana kau tahu ini aku?"

Tanyanya pada Li Jiang Jun.

"Dari mana kau tahu aku akan datang?"

"Karena sewaktu aku bersembunyi di sini aku berpikir, jika ada orang yang bisa menemukan aku, orang itu pastilah si kecil Yuan Bao."

Yuan Bao segera menganggukkan kepalanya pertanda setuju.

"selain aku tentu saja tidak akan ada orang lain yang bisa menemukanmu, orang jenius seperti aku ini memang tidak ada yang kedua."

Yuan Bao menarik nafas.

"Adakalanya aku sendiri kagum akan diriku sendiri"

Tiba-tiba dia menepuk pundak Xiao Jun dengan keras.

"Apakah kau tidak bisa mengagumi aku juga?"

Untungnya Xiao Jun seperti sedang bermimpi, menatap Li Jiang Jun dengan diam.

Ini adalah orang yang belum pernah dijumpainya seumur hidupnya, jika benar dia adalah ayahnya, mengapa meninggalkan dirinya serta ibunya 7 Membuat ibunya mati karena benci dan membiarkan dirinya hidup dalam penderitaan?

Bagaimana pun juga, orang ini sekarang masih hidup, walaupun dia sudah berbuat dosa tetapi bukanlah dosa besar yang tidak dapat ditebus.

Xiao Jun menatap tajam orang yang asing tetapi juga dekat dengannya ini, tidak tahu hatinya ini benci, cinta, menderita, atau gembira.

Yuan Bao justru senang sekali.

"Tidak ada seorang pun yang menyangka kau bisa naik ke atas perahu ini."

Yuan Bao berkata.

"selain diriku, tidak ada yang tahu cara apa yang kau gunakan."

"Bagaimana kau tahu?"

Tanya Li Jiang Jun.

"sewaktu melihat pakaian khusus yang dikenakan orang-orang yang terjun ke danau untuk mencarimu itu, aku langsung tahu.Pakaian yang dikenakan oleh orang-orang itu adalah pakaian khusus yang terbuat dari kulit ikan yang tahan air, seluruh badannya ditutupi oleh pakaian itu sampai bagian kepala pun sama.

Sekarang pakaian yang dikenakan Li Jiang Jun adalah pakaian khusus itu.

"Walaupun kekuatan menyelam orang-orang itu lumayan, walaupun kau sedang terluka, tetapi jika ingin menghadapi salah satu dari mereka sama sekali tidak sulit."

Li Jiang Jun tertawa.

"Itu adalah hal yang mudah sekali."

"Kau melepaskan pakaian yang dikenakannya dan mengenakannya pada dirimu, lalu kau sembunyikan mayatnya di dalam rumput yang ada di dalam danau, dan kau menampakkan dirimu di depan yang lainnya lalu kemudian naik ke atas perahu. setelah itu memanfaatkan waktu pergantian penjaga yang singkat, kau diam-diam menyelinap kemari,"

Kata Yuan Bao.

"Waktu itu langit belum terang, air di permukaan dan di dasar danau masih gelap sehingga tidak kelihatan apa-apa, jadi jika ingin melakukan hal itu bukanlah hal yang sulit."

Li Jiang Jun tersenyum sambil menghela nafas dalam-dalam.

"Aku sendiri juga sekarang agak sedikit kagum padamu."

"Hanya sedikit kagum?"

Yuan Bao seperti yang terkejut sekali.

"Aku tadinya merasa kau sedikitnya harus 70-80 baru benar.

"Dia malah menekankan.

"Aku tadinya merasa kau harusnya seperti itu kagum padaku, sudah seharusnya demikian."

Berkata seperti itu sangatlah keterlaluan, tapi dia malah berkata seperti itu dan itu tentu saja ada alasannya. oleh karena itu Li Jiang Jun pun tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"sudah seharusnya demikian? Mengapa sudah seharusnya demikian?"

Yuan Bao malah menjawabnya dengan mantap.

"Karena matamu tidak buta."

"Aku memangnya tidak buta."Jawaban Li Jiang Jun terhadapnya agak sedikit ketus dan tidak mengerti.

"Apa hubungannya mataku buta atau tidak buta dengan aku kagum atau tidak kagum padamu?"

"Tentu saja ada,"

Kata Yuan Bao.

"Jika matamu tidak buta, seharusnya kau bisa menebak dandananku sekarang ini sebenarnya milik siapa?"

Dia berkata dengan tampang bangga, Hendak mengambil bendabenda ini dari tubuh Gao Tian Jue bukanlah suatu hal yang mudah.

"Kau mengambil semua benda ini dari tubuhnya?"

"Ya, setiap bagiannya."

"Aku hanya cukup memperlihatkan sebuah benda padanya,"

Kata Yuan Bao.

"Begitu dia melihatnya, langsung kutotok jalan darahnya sehingga aku bisa mengambil semua benda ini darinya."

Li Jiang Jun menatapnya lama, ekspresi wajahnya sama dengan ketika Xiao Jun mendengar tentang hal ini sebelumnya.

Hal ini sebenarnya tidak akan ada orang yang percaya, karena itu Li Jiang Jun lagi-lagi tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.

"Benda apa yang kauperlihatkan padanya?"

"sebuah bintang,"

Kata Yuan Bao.

"sebuah bintang yang sangat kecil."

Yuan Bao selalu membawa segala macam barang di tubuhnya, semua orang mengira pastinya barang-barang rongsokan yang tidak ada artinya.

Yuan Bao sendiri juga tidak memperbolehkan orang lain melihatnya.

Kali ini dia juga tadinya tidak ingin memperlihatkan bintang itu pada Li Jiang Jun, tapi dia tidak menunggu Li Jiang Jun membuka suara, dia langsung mengeluarkannya bahkan menyodorkannya ke hadapan Li Jiang Jun, seperti yang takut dia tidak dapat melihatnya dengan jelas.

"Bintang yang ini,"

Kata Yuan Bao.

"Ini bukanlah bintang yang jatuh dari langit, tapi sepertinya berasal dari pantai."

Raut wajah Li Jiang Jun langsung berubah.

Perkataan Yuan Bao belum selesai diucapkan, raut wajahnya sudah berubah sama seperti Gao Tian Jue, hanya dengan sekali lihat raut wajahnya langsung berubah, seperti orang yang ditusuk oleh sebuah jarum yang panjang, runcing, dan tajam tepat dijantungnya.

Bintang ini hanyalah sebuah benda mainan anak kecil, meskipun terjatuh di tengah jalan sekalipun, pastinya sedikit sekali orang yang mau mencurinya, jika kau memberikannya kepada orang lain sebagai hadiahi pastinya tanpa segan-segan melemparkannya ke dalam selokan.

Tapi di mata Da Xiao Jiang Jun yang sudah malang melintang di dunia persilatan dan tanpa tanding ini, bintang ini seperti kegembiraan dan kutuk yang sudah melewati langit kesembilan, neraka tingkat kesepuluh, empat penjuru, delapan benua, yang sudah berubah menjadi mutiara yang paling berharga di antara yang lain.

Dia mengulurkan tangannya hendak mengambil bintang itu Tangannya sudah gemetaran, sama seperti Gao Tian Jue, terus gemetaran tidak berhenti.

Kali ini tentu saja Yuan Bao tidak akan mengunci jalan darahnya, malah justru menghindar.

"Ini adalah milikku."

Yuan Bao berkata sambil tertawa.

"orang dewasa tidak boleh merebut barang milik anak kecil."

"Ini bukan milikmu."

Nada suara Li Jiang Jun sudah berubah menjadi parau dan penuh derita.

"Aku tahu bukan milikmu."

"Walaupun dulunya bukan, tetapi sekarang sudah menjadi milikku,"

Kata Yuan Bao.

"Tidak ada seorang pun yang boleh mengambilnya dariku."

"Dari mana kau dapatkan benda itu?"

"Itu adalah urusanku,"

Kata Yuan Bao sambil mengedipkan mata.

"Bolehkan aku mewakilkan diriku sendiri untuk menyimpan sedikit rahasia?"

Li Jiang Jun menatapnya lama baru kemudian menghela nafas panjang-panjang.

"Kau memang anggota dari keluarga Long (naga)."

Lalu dia bertanya pada Yuan Bao.

"Kau anak ke berapa? Kedelapan atau kesembilan?"

Yuan Bao tidak menjawab malah balik bertanya.

"Dari mana kau tahu aku adalah anggota keluarga Long?"

"Karena aku tahu bintang ini tidak mungkin jatuh ke tangan orang lain,"

Kata Li Jiang Jun dengan pasti. Yuan Bao tidak menyangkal lagi, hanya bertanya pada nya "Jika aku bukan anggota keluarga Long, apakah kau sekarang sudah merebut bintang ini dariku?"

Li Jiang Jun lagi-lagi menatapnya lama "Jika kau bukan anggota keluarga Long, saat ini kau pasti sudah menjadi mayat."

"Mengapa?"

"Karena aku tidak akan membiarkan bintang ini jatuh ke tangan orang lain."

Li Jiang Jun tiba-tiba bertanya kepada Yuan Bao.

"Bersediakah kau memberikan bintang itu padaku?"

"Ditukar dengan apa?"

"Terserah kau ingin ditukar dengan apa,"

Kata Li Jiang Jun.

"Emas, perak, mutiara, perhiasan, terserah mau kau tukar dengan apa pun boleh."

Yuan Bao tertawa "Jelas-jelas kau tahu aku tidak akan berani menukarkannya, benda ini memang tidak bisa dikenakan juga tidak bisa dimakan, diberikan pada ku juga aku tidak mau."

Li Jiang Jun berkata seperti itu juga karena terpaksa, di dunia ini entah sudah berapa banyak orang yang bertumpahan darah demi mendapatkan benda ini, tetapi di mata Yuan Bao benda ini justru sepertinya tidak berharga sepeserpun.

Li Jiang Jun lagi-lagi menghela nafas.

"Memang benar, aku sebenarnya sudah tahu kau tidak akan berani menukarnya, murid keluarga Long bagaimana mungkin tertarik pada harta dan kekayaan."

"Karena itu sewaktu aku melihat bahwa kau benar-benar belum mati, hatiku senangnya bukan main,"

Kata Yuan Bao sambil tertawa.

"Karena jika kau mati, bintang ini pasti sudah menjadi milik orang lain."

"Mengapa?"

"Karena tadi aku bertaruh dengan tetua Xiao ini,"

Kata Yuan Bao.

"Yang kupertaruhkan justru bintang ini."

"Kalian bertaruh apa?"

"Aku berkata padanya bahwa kau pasti belum mati."

Tawa Yuan Bao semakin senang "Jagoan No satu di dunia, san Xiaojin Hun Li Jiang Jun, bagaimana mungkin seenaknya mati begitu saja?"

Raut wajah Li Jiang Jun lagi-lagi berubah, menyiratkan derita dan luka yang sukar untuk dikatakan.

Tetapi dalam matanya tiba-tiba memancarkan cahaya, cahaya bintang di musim gugur yang dingin.

Yuan Bao lagi-lagi sedang menepuk bahu Xiao Jun.

"sekarang kau sudah kalah, karena itu bintang ini masih menjadi milikku."

Yuan Bao bertanya kepada Xiao Jun sambil tertawa terbahak-bahak "kau belum lupa kan apa yang akan kau berikan pada ku setelah kau kalah?"

Xiao Jun terpaku, Li Jiang Jun tiba-tiba berkata dengan aneh.

"Dia belum lupa,"

Kata Li Jiang Jun dengan terpatah-patah.

"Tapi dia tidak kalah."

"Dia tidak kalah?"

Yuan Bao merasa heran, juga geli.

"Memangnya yang kalah adalah aku?"

"Benar,"

Kata Li Jiang Jun.

"Yang kalah adalah kau."

Yuan Bao tertawa sampai sakit perut.

"Aku tertawa sampai mau mati rasanya,"

Kata Yuan Bao.

"seumur hidupku belum pernah aku mendengar perkataan yang menggelikan seperti itu."

"oh? "

"Jika aku mengatakannya pada orang lain, san Xiao Jin Hun Li Jiang Jun juga membantu anaknya sendiri melindungi mukanya, tidak tahu berapa banyak orang di dunia persilatan yang akan menertawakannya sampai mati,"

Kata Yuan Bao.

"Jika hendak mengundang orang-orang yang dibuat tertawa sampai mati itu kemari, dengan menggunakan 500 buah kereta yang beroda delapan juga harus memakan waktu tiga hari tiga malam."

Dia sepertinya sudah tertawa sampai tidak bisa bernafas, seperti yang benar-benar mau mati karena tertawa.

Li Jiang Jun sama sekali tidak bertampang sedang bergurau, penampilannya justru jauh lebih lemah dibandingkan dengan orang sehat dihadapannya.

Menunggu sampai Yuan Bao sudah tidak merasa lucu lagi, Li Jiang Jun baru berkata dengan perlahan-lahan.

"Jika ada orang di dunia persilatan yang tahu akan hal ini, tentu saja akan ada yang mati.Jika ada satu yang tahu maka akan mati satu orang, jika ada 10.000 orang yang tahu maka akan ada 10.000 orang yang mati. Tetapi aku berani jamin mereka bukan mati karena tertawa."

Nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi dingin.

"Karena hal ini sama sekali tidak lucu."

Yuan Bao tidak bisa tertawa lagi.

"sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?"

Tanyanya pada Li Jiang Jun.

"Mengapa kau mengatakan bahwa aku pasti kalah?"

"Karena yang kalah memang dirimu."

Yuan Bao memandang kepada Xiao Jun, lalu kembali memandang Li Jiang Jun.

"Kalau begitu, dia bukanlah anakmu?"

"Dia adalah anakku,"

Jawab Li Jiang Jun.

"Dia adalah darah dagingku."

"Kalau begitu, sebenarnya kau ini sudah mati?"

Yuan Bao bertanya lagi, tentu saja ini adalah pertanyaan yang disengaja.

"Aku masih belum mati."

"Kalau begitu aneh dong,"

Kata Yuan Bao.

"Kau jelas-jelas belum mati, bagaimana mungkin aku yang kalah?"

"Karena meskipun aku belum mati, Li Jiang Jun memang sudah mati, sudah mati beberapa tahun yang lalu."

Yuan Bao terkejut setengah mati.

"Li Jiang Jun sudah mati? Lalu kau sebenarnya bukan Li Jiang Jun?"

"Bukan."

Yuan Bao terpaku.

Dia memandangi dengan seksama orang yang dikejar-kejar dan diburu hendak dibunuh oleh semua orang di dunia persilatan, orang yang disangka oleh semua orang sebagai Li Jiang Jun, lalu memandang lagi kepada Xiao Jun.

"Gao Tian Jue sendiri yang memberitahukannya padaku bahwa dia adalah anaknya Li Jiang Jun,"

Kata Yuan Bao.

"Aku percaya Gao Tian Jue tidak mungkin berbohong."

"Dia memang tidak mungkin berbohong."

"Kalau begitu dia memang benar-benar anak Li Jiang jun?"

"Ya."

"Kau juga yang tadi mengatakan padaku bahwa dia adalah anakmu, darah dagingmu?"

"Ya."

"Kau juga sepertinya bukan orang yang suka berkata bohong, tapi kau membuatku benar-benar bingung,"

Kata Yuan Bao sambil tertawa pahit.

"Tolong katakan padaku, bagaimana sebenarnya masalah ini?"

"Hal ini sebenarnya tidaklah rumit, hanya kau sendiri saja yang membuatnya menjadi rumit."

"oh?"

"setiap orang pasti memiliki orang tua dan orang tua bukanlah satu orang saja."

Yuan Bao akhirnya mengerti, tetapi tetap saja belum bisa percaya.

"Apakah Li Jiang Jun adalah ibunya?"

"Benar."

"Kalau begitu, Li Jiang jun adalah seorang wanita?"

"Benar."

Yuan Bao lagi-lagi terpaku.

san Xiao Jin Hun Li Jiang Jun yang terkenal di seluruh dunia ternyata adalah seorang wanita, hal ini benar-benar hal yang mengagetkan orang.

Meskipun belum ada orang yang melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa tampang Li Jiang Jun, juga tidak ada yang tahu dia itu sebenarnya laki-laki atau perempuan, tetapi di dalam hati semua orang, siapa pun tidak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah seorang wanita.

Di pikiran semua pendekar di dunia persilatan, perempuan selamanya adalah makhluk yang lemah, selamanya tidak akan bisa melebihi laki-laki.

"Li Jiang Jun adalah ibunya, lalu kau adalah ayahnya,"

Kata Yuan Bao sambil menghela nafas.

"setidaknya aku juga jadi mengerti sedikit hal ini."

"Hal apa lagi yang belum kau mengerti?"

"Kau."

Yuan Bao berkata.

"Aku semakin lama semakin tidak mengerti siapa sebenarnya kau ini?"

"Laki-laki yang bisa bersanding dengan Li Jiang Jun tentu saja tidak mungkin orang yang biasa-biasa saja. Ilmu silatmu, kepandaianmu, pengetahuanmu, kharismamu, seumur hidupku aku belum pernah menemukan orang kedua yang bisa menandingimu."

Yuan Bao berkata dengan serius.

"Jika kau adalah Li Jiang Jun, tentu saja hal ini tidak aneh karena dalam pikiranku Li Jiang Jun memang seharusnya orang yang seperti itu."

Yuan Bao lagi-lagi menhela nafas.

"Tetapi kau bukan Li Jiang Jun, jadi aku semakin lama semakin tidak mengerti"

"Tidak mengerti apa?"

"Jika kau bukan Li Jiang Jun, lalu siapa sebenarnya dirimu?"

Yuan Bao berkata.

"Aku sudah berpikir dari tadi, di dunia persilatan tidak mungkin ada orang yang seperti dirimu, orang seperti dirimu memang seharusnya tidak mungkin ada."

"Apa yang kau katakan itu benar, aku memang tidak seharusnya ada."

Orang ini diam dan tertawa.

"Karena aku memang sudah mati dari dulu."

"siapa kau sebenarnya?"

"Aku adalah Guo Di Mie."

Orang ini berkata.

"Aku adalah Guo Di Mie yang seharusnya sudah mati 17 tahun yang lalu."

Guo Di Mie dan Gao Tian Jue adalah sepasang suami istri yang ilmu jilatnya paling hebat di dunia persilatan.

Mereka dan Li Jiang Jun memang seharusnya sudah mati.

Tian Jue Di Mie sangat terkenal dalam menangkap dan memberantas penjahat, sudah tidak terhitung berapa banyak penjahat yang berilmu tinggi yang mati di tangan sepasang suami istri ini.

Sewaktu San Xiao Jin Hun Li Jiang Jun masih merajai dunia persilatan, dia merupakan lawan dari sepasang suami istri ini.

semua orang tahu bahwa Tian Jue Di Mie tidak akan melepaskan dia, jika tidak bisa mengalahkan pencuri ulung seperti dia adalah penyesalan sepasang suami istri ini.

Karena itu orang dunia persilatan sedang menunggu untuk melihat pertempuran antara naga dan macan ini.

Pertarungan ini siapa yang menang dan siapa yang kalah, tidak ada yang bisa memastikan.

Kemudian, perkumpulan Tian Jue Di Mie tiba-tiba menghilang, Guo Di Mie tiba-tiba menghilang dari dunia persilatan, semua orang menyangka dia telah mati, bahkan pasti mati di tangan Li Jiang Jun.

Karena itu semua orang menyangka munculnya kembali Gao Tian Jue kali ini pasti disebabkan karena Li Jiang Jun, untuk membalaskan kematian suaminya.

Tidak peduli seberapa kejam dan jahatnya cara yang digunakan Gao Tian Jue, orang-orang tidak akan merasa heran.

Tidak disangka Li Jiang Jun yang ingin dikalahkannya bukanlah Li Jiang Jun yang asli, melainkan suaminya sendiri Guo Di Mie.

Tentu saja dia tahu orang ini bukanlah Li Jiang Jun melainkan Guo Di Mie, meskipun semua orang di dunia ini tidak ada yang tahu, Gao Tian Jue pasti tahu.

Mengapa dia mengganggap suaminya sendiri sebagai musuhnya?

Mengapa Guo Di Mie belum mati?

Mengapa bisa memiliki anak dengan musuh bubuyutan Tian Jue Di Mie, Li Jiang Jun?

Ketua perkumpulan pengemis yang sebelumnya, Ketua Pen, yang mengasuh Xiao Jun, mengapa mengatakanpada Xiao Jun kalau yang membunuh ibunya adalah Li Jiang Jun?

sewaktu Guo Di Mie dikejar dan diburu oleh orang-orang di dunia persilatan, mengapa dia mau mengakui dirinya sebagai Li Jiang Jun?

siapa yang memaksakan keadaan seperti ini kepada Guo Di Mie?

selama 17 tahun ini, belum pernah ada orang yang bisa menemukan dia, tetapi mengapa hanya dalam waktu satu malam saja semua orang datang ke kota Ji Nan untuk mencarinya?

siapa yang bisa menjelaskan hal ini?

ooo)o(ooo BAB XXII SEBUAH CERITA Tanggal 19 bulan 4, malam.........

Udara di dalam kabin kosong itu bertiup pelan karena perahu sekarang sudah berada di atas danau.

Tapi Yuan bergembira bukan karena angin di dalam kabin kosong ini melainkan orang yang bernama Guo Di Mie ini.

Jika ingin tahu semua masalah yang dimiliki oleh orang ini tentu saja sesuatu yang tidak mungkin bakal terjadi, juga tentu saja tidak akan ada orang yang mengerti.

Tapi Yuan Bao justru tidak bisa menerimanya.

Dia selalu berpikir untuk mencari jawaban dari kejadian ini, berpikir sampai kepalanya sendiri pusing sekalipun tetap saja tidak menemukan jawabannya.

"Kalian tidak memperhatikan kepalaku."

Tiba-tiba dia bertanya kepada Guo Di Mie.

"Apakah kau bisa melihat bahwa dia sudah berubah?"

"Aku tidak bisa melihatnya."

"Tapi aku tahu dia sudah berubah menjadi tiga kali lipat lebih besar dari biasanya,"

Kata Yuan Bao sambil tertawa pahit.

"Meskipun kepalaku memang tidak kecil, tetapi sekarang besar kepalaku ini sebesar tiga buah kepala, besarnya bukan main."

Dia lagi-lagi bertanya kepada Guo Di Mie.

"Apakah kau tahu mengapa kepala seseorang bisa dengan tiba-tiba berubah menjadi besar?"

"Mengapa?"

"Karena aku sama sekali tidak habis pikir,"

Akhirnya Yuan Bao mengaku.

"Aku ingin tahu urusan kalian antara suami istri dan antara ayah dan anak tetapi aku sama sekali tidak mengerti."

Dia menggaruk-garuk kepalanya.

"Tadinya aku masih mengira diriku adalah yang paling pintar.sekiranya tidak ada hal di dunia ini yang tidak kumengerti. Tetapi begitu memikirkan masalah kalian, kepalaku langsung membengkak menjadi besar dan berat, bahkan saking beratnya sampai-sampai leherku serasa mau putus saja."

"Memang pada dasarnya kau tidak perlu memikirkannya,"

Kata Guo Di Mie.

"Masalah ini seharusnya adalah rahasia yang tersimpan rapat, selain kami bertiga, tidak ada orang lain yang boleh mengetahuinya."

"Mengapa?"

"Karena rahasia ini seperti sebuah golok pembunuh yang bisa melukai orang,"

Kata Guo Di Mie.

"Jika ada orang yang memaksa untuk membongkarnya, maka bukan hanya kami saja yang terluka tetapi dirinya sendiri pun akan ikut terluka."

"Yang kau maksud dengan kami bertiga itu siapa? "Yuan Bao lagilagi bertanya.

"Apakah Li Jiang Jun, Gao Tian Jue, dan kau sendiri?"

"Betul."

"Tetapi sekarang kau seharusnya membiarkan dua orang yang lainnya untuk mengetahuinya,"

Kata Yuan Bao.

"Karena kedua orang ini berhak tahu."

Dia sepertinya takut Guo Di Mie salah mengerti.

"Yang kumaksud dua orang itu tentu saja aku dan anakmu ini,"

Kata Yuan Bao.

"setiap orang berhak mengetahui rahasia asal-usul dirinya sendiri."

"Lalu kau?"

Guo Di Mie bertanya pada Yuan Bao.

"Mengapa kau juga berhak untuk tahu rahasia orang lain?"

"Karena sekarang aku sudah tidak bisa tidak mengetahuinya,"

Kata Yuan Bao.

"Jika kau tidak memberitahuku maka dirimu sendiri akan merasa sangat menderita."

Dia sebenarnya sama sekali tidak memiliki alasan untuk berkata seperti itu, tetapi dia justru kelihatannya seperti yang memiliki 100 macam alasan, bahkan mengatakannya dengan penuh semangat.

"Bahkan walaupun di tanganku ini ada sebuah golok pembunuh sekalipun, aku tidak akan menggunakannya untuk melukai orang lain."

Yuan Bao berkata dengan gembira.

"walaupun benar itu adalah sebuah golok pembunuh, begitu sampai di tanganku maka akan berubah menjadi golok pembawa keberuntungan."

Guo Di Mie menatapnya, kemudian menatap Xiao Jun yang berdiri seperti sepotong kayu di sana, lalu tiba-tiba menghela nafas panjang.

"Baiklah, aku akan memberitahukannya padamu."

Guo Di Mie berkata terhadap Yuan Bao.

"Memang pada dasarnya tidak ada satu rahasia pun di muka bumi ini yang bisa disimpan selamanya, dan sekarang sepertinya sudah tiba waktunya bagiku untuk mengatakan rahasia ini."

Yuan Bao juga sedang menatapnya, pembawaannya tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.

"Bicaralah, aku menjamin kau tidak akan menyesal."

Mereka saling mendukung, hati mereka sepertinya ada semacam perasaan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka.

Mereka mengerti bahwa lawan bicara mereka sudah dapat mengerti apa yang dipikirkannya.

Lalu Guo Di Mie menceritakan kisahnya.

"Beberapa tahun yang lalu, ada seorang anak laki-laki yang nakal dan tidak bisa diam tersesat ketika sedang bermain ke tengah gunung. orang yang tersesat di dalam gunung itu, jika tidak dijadikan santapan harimau, pasti mati kelaparan secara perlahanlahan karena tidak pernah ada orang yang keluar hidup,hidup dari sana. Nasib anak ini sangatlah bagus, di saat kebingungan seperti itu dla masuk ke sebuah lembah yang misterius dan bertemu dengan sepasang anak perempuan kakak-adik yang sangat cantik bagaikan bidadari yang umurnya kurang lebih sebaya dtngan dirinya. Mereka tidak hanya menolongnya, bahkan membawanya pulang ke rumah mereka. Anak laki-laki ini tentu saja adalah anak yang sangat pintar dan sangat manis, bahkan bisa membuat orang yang melihatnya langsung menyukainya. Ini berkat pengalaman hidupnya yang keras. sebenarnya dia adalah anak yatim piatu yang bernasib malang, tetapi sejak saat itu nasibnya telah berubah. Karena ayah sepasang kakak-adik itu adalah seorang persilat tangguh yang hidup mengasingkan diri, ilmu silatnya sangatlah tinggi, tetapi karena ditinggal mati oleh istri tercintanya maka dia meninggalkan nama besarnya dan mengasingkan diri ke dalam gunung ini.

Bersambung-12 Jilid-12 Dia menerima anak ini.

Dia bisa melihat bahwa kedua anaknya menyukai anak ini, juga bisa melihat bahwa anak ini sangat cerdas dan pintar.

Meskipun kedua kakak-adik ini sama cantiknya tetapi perangainya sangatlah berbeda, sang kakak lembut dan tenang, sedangkan sang adik kuat dan liar bahkan ada kalanya berperangai jelek, Meskipun usia anak laki-laki ini masih kecil, tetapi dia sudah tahu bagaimana caranya untuk menyenangkan hati kedua kakak-adik ini.

Jika ingin bertahan hidup di dunia yang keras dan penuh penderitaan, setiap orang pasti berusaha untuk belajar caranya, apalagi pada saat itu dia hanyalah anak yang baru berusia belasan tahun.

Setiap anak pasti ada waktunya untuk menjadi dewasa, mereka pun tanpa disadari telah tumbuh menjadi dewasa.

Walaupun tidak ada orang yang mengajarkan pada mereka, tetapi mereka sudah mengerti tentang hubungan antara pria dan wanita.

Banyak hal di dunia ini yang tidak memerlukan ajaran orang lain.

Usia ayah mereka sudah tua, dia sudah bersiap-siap untuk menjadikan anak laki-laki yang sudah dewasa ini menjadi mantunya.

Anak ini juga mengerti akan hal itu.

Meskipun dia selalu sabar dan mengalah pada sifat sang adik, tetapi sang kakaklah yang menjadi pujaan hatinya.

Sang kakak saat itu sudah menjadi seorang wanita yang matang sehingga tentu saja dia juga bisa merasakannya.

Karena itu sepasang muda mudi yang belum melakukan pernikahan secara sah ini, kedua tubuh dan hati mereka sudah menyatu di suatu malam di musim panas.

sebetulnya ini adalah sebuah cerita yang sangat indah, seindah kata-kata mutiara.

Tetapi perubahan yang terjadi kemudian justru membuat mereka bertiga menderita dan menyesal seumur hidup."

Mendengar kisah ini, Yuan Bao tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya kepada Guo Di Mie.

"Anak laki-laki itu adalah kau?"

"Benar."

"Lalu sang kakak?"

"Apakah dia Li Jiang Jun?"

"Benar."

"sang kakak adalah Jiang Jun, maka sang adik pastilah Gao Tian Jue, kakak beradik sekandung mengapa akhirnya bisa berubah menjadi musuh? Mengapa sang kakak yang lembut dan tenang bisa berubah menjadi seorang pencuri besar yang merajalela di dunia persilatan, Li Jiang Jun?"

Yuan Bao tentu saja tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"selanjutnya bagaimana?"

Dia bertanya pada Guo Di Mie.

"Apa yang terjadi kemudian?"

"Kemudian sang ayah perlahan-lahan menjadi tua, sepertinya jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya. Karena hidupnya terlalu sepi dan membosankan, terlalu banyak mengenang akan masa lalu. Hal ini adalah hal yang paling cepat membuat orang menjadi tua dan lemah. Di suatu malam yang penuh dengan angin dan hujan, tepat di hari peringatan kematian istrinya, dia meminum sedikit lebih banyak dari biasanya arak yang terbuat dari buah gunung. Malam itu dia jatuh pingsan. setiap orang pasti akan menjadi tua, sakit lalu mati, apalagi orang yang memang sudah sejak lama tidak peduli akan nyawanya. Pada saat dia sekarat, dia masih sempat mengutarakan harapan, harapan terakhirnya dan permintaan terakhirnya pada anak laki-laki itu. Dia ingin agar anak ini menikahi anak perempuannya yang kedua, dan ingin agar anak ini berjanji akan selamanya menjaganya seumur hidupnya. Ini bukan karena hatinya berubah, tetapi ini karena dia sangat mengerti akan kedua anak perempuannya itu. Dia berbuat demikian karena dia tahu walaupun sang adik dari luar kelihatannya lebih kuat daripada kakaknya, tetapi sebenarnya hatinya sangat lemah, tidak kuat menerima siksaan dan tekanan jika tidak ada laki-laki yang mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk melindungi dirinya, dia akan sangat mudah berubah menjadi tak terkendali. Anak ini adalah calon yang sangat tepat, lagipula dia selalu lembut dan perhatian terhadap putri keduanya dan saling menyayangi. Karena itu dia merasa bahwa keputusannya itu adalah keputusan yang benar dan tepat, tetapi dia tidak menyadari bahwa keputusannya ini bakal membuat hidup kedua putrinya menderita sepanjang hidupnya. seorang orang tua yang kesepian, bagaimana mungkin bisa mengerti akan isi hati anak muda? Anak laki-laki ini dibesarkan oleh orang tua itu, bagaimana mungkin dia tega menolak permohonan terakhir menjelang ajalnya? sang kakak juga tidak berkata apa-apa. Ayahnya sama sekali tidak salah menilai dirinya, selama ini dia memang seorang yang lembut dan pengertian, derita dan tekanan macam apa pun bisa dia terima, apa pun derita yang diterimanya, dia tidak akan pernah mengatakannya. Karena itu pada hari kedua seteiah kematian orang tua itu, dia pergi dengan diam-diam meninggaikan satu-satunya keluarganya dan satu-satunya orang yang dikasihinya. Dia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa saat itu dia sudah mengandung. Karena itu sebelum bayi ini dilahirkan, dia sudah digariskan dalam suratan takdir untuk tidak mempunyai ayah."

Yuan Bao belum melihat bagaimana raut wajah Xiao Jun sekarang.

Dia tidak tega juga tidak ingin melihatnya, meskipun dia ingin melihatnya juga belum tentu dapat melihatnya dengan jelas.

Karena pandangan matanya sendiri saat ini sedang kabur, air matanya sepertinya bisa mengalir setiap saat.

Dia bersimpati kepada Guo Di Mie.

Dia juga bersimpati kepada sang kakak yang lembut dan tegar itu Dia tidak berani membantah keinginan terakhir ayahnya, dia juga tidak berani merusak kebahagian adiknya.

Dia juga tidak ingin orang yang dikasihinya susah dan menderita.

selain pergi, apa lagi yang bisa dilakukannya?

Yuan Bao bisa menebaknya.

"ketika dia pergi pasti hatinya sangatlah hancur."

Yuan Bao jauh lebih simpati kepada anaknya.

"Tetapi dia juga menyadari bahwa sang adik sama sekali tidak bersalah karena dia sama sekali tidak tahu menahu. Dia tentu saja tidak akan membantah keinginan terakhir ayahnya, karena sudah sejak semula dia sudah memberikan seluruh hidupnya untuk Guo Di Mie. Bagaimana mungkin seorang wanita tanpa alasan tiba-tiba menolak menikah dengan orang yang dicintainya? orang tua itu tidak salah menilai. seorang ayah menjelang ajalnya sudah menetapkan pasangan untuk membahagiakan putrinya, siapa yang bisa mengatakan bahwa apa yang dilakukannya itu salah? Mereka semua tidak salah, lalu yang salah siapa?"

Yuan Bao juga tidak bisa menjawabnya.

"masalah ini memang masalah yang sukar untuk dipecahkan oleh siapa pun."

Karena itu Yuan Bao hanya bisa berkata.

"Lalu?"

Dia bertanya pada Guo Di Mie.

"Apa yang terjadi kemudian?"

"Kemudian Tian Jue Di Mie muncul di dunia persilatan, tiba-tiba muncul begitu saja. saat itu belum ada yang tahu bahwa mereka adalah sepasang suami istri, juga tidak ada yang tahu bahwa Gao Tian Jue adalah seorang wanita karena dia juga tidak membiarkan orang lain mengetahuinya. Karena dia berpendapat bahwa wanita di dunia persilatan selalu diremehkan, banyak pendekar tangguh di dunia persilatan yang mengalah tiga langkah terhadap wanita, bahkan ada sebagian yang tidak ingin beradu ilmu dengan wanita. Dia tidak mau orang lain mengalah padanya, dia ingin orang lain takut padanya. Nama besar Tian Jue Di Mie menjadi panutan di dunia persilatan, pahlawan pemberantas kejahatan, sudah tidak terhitung berapa banyak yang sudah jatuh ke tangan mereka, jika mereka ingin menangkap seseorang, tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari cengkeraman mereka."

Hanya ada satu pengecualian.

orang ini adalah orang yang muncul pada saat nama mereka sedang melambung, yaitu san Xiao Jin Hun Li Jiang Jun.

Demi menangkap Li Jiang Jun, Tian Jue Di Mie menggunakan berbagai cara, mengerahkan seluruh kekuatannya dan kemampuannya serta anggotanya, bahkan sampai menunggu 6 bulan lamanya.

Tetapi mereka tetap saja gagal.

semua taktik mereka sepertinya sudah terbaca sebelumnya oleh Li Jiang Jun.

Mereka belum pernah bertemu dengan Li Jiang Jun, tetapi Li Jiang Jun sepertinya sangat memahami kehidupan mereka, malah sepertinya sangat memahami cara berpikir dan kebiasaan mereka.

Di langit dan di bumi ini, hanya ada satu orang yang benar-benar bisa mengerti mereka.

Hanya satu orang."

Udara di dalam kabin itu semakin sedikit, Guo Di Mie semakin sulit bernafas. Lukanya sudah sangat parah tapi dia masih kuat untuk melanjutkannya.

"Pada saat itu kami baru terpikir, Da Xiao Jiang Jun ini kemungkinan besar adalah Gao Tian sha."

Gao Tian sha, ini adalah pertama kalinya Yuan Bao mendengar nama asli dari Li Jiang Jun, juga pertama kalinya bagi Xiao Jun mendengar nama ibunya. Pembawaan Guo Di Mie menjadi kaku.

"Kami bertiga sudah hidup bersama selama bertahun-tahun. selain dia, tidak akan ada lagi yang bisa demikian mengerti kami."

Dia berkata.

"Tetapi sampai saat itu, Gao Tian Jue masih tidak mengerti mengapa kakaknya ingin melawan kami."

"Mengapa tidak kau katakan padanya?"

"Ada satu orang yang sakit hati sudah lebih dari cukup, mengapa aku juga harus membuatnya sakit hati?"

Guo Di Mie menghela nafas dalam-dalam.

"Lagi pula masalah ini memang tidak seharusnya diketahui oleh orang luar, dikatakan pun tidak akan ada gunanya."

"Aku tidak menyalahkanmu, karena kau adalah orang yang terjepit di lengah-lengah."

Yuan Bao juga menghela nafas.

"Menjadi orang tengah memang setidaknya harus mengerti aturan."

Dia berkata lagi.

"Tapi aku juga tidak mengerti, waktu itu dia sudah pergi dengan diam-diam, dia sudah bersedia menerima amanat ayahnya dan merestui kalian, lalu mengapa kemudian malah berbuat seperti itu?"

"Waktu itu aku juga tidak mengerti karena saat itu aku tidak tahu kalau dia sudah punya anak dariku,"

Kata Guo Di Mie.

"Ada jawaban yang semakin dicari semakin mati, semakin tidak bisa berpikir. Ada beberapa hal yang juga sama, semakin dipikir semakin tidak bisa berpikir Jika seorang wanita sudah melahirkan anaki maka cara berpikir pun akan berubah."

"Memang tidak ada seorang pria pun yang bisa memahami seluruhnya isi hati wanita."

Guo Di Mie berkata.

"Karena itu pada saat itu aku ingin pergi mencarinya dan berbicara empat mata dengannya."

"Kau menemukannya?"

"Aku menemukannya."

"Kalian mengutus begitu banyak orang tetap saja tidak dapat menemukannya, mengapa sewaktu kau mencarinya sendirian justru bisa menemukannya?"

"Karena saat itu aku sudah tahu siapa dirinya."

Guo Di Mie berkata.

"Kami juga sama-sama mengerti cara dia berpikir serta kebiasaannya."

Yuan Bao tiba-tiba menghembuskan nafasnya.

"Celakalah kalau begitu."

"Mengapa?"

"Kalian bertiga tumbuh bersama-sama, jika kau bisa menemukannya maka Gao Tian Jue pun pasti bisa menemukannya."

Yuan Bao berkata.

"Pada saat kau menemukannya, Gao Tian Jue pasti sudah berada di sekitarmu."

Yuan Bao tertawa pahit.

"sayangnya waktu itu kau bukan hanya dalam keadaan terjepit, juga tidak sepintar diriku, sehingga tidak bisa berpikir sedikit pun dan pastinya langsung tertangkap basah oleh Gao Tian Jue di tempat itu."

Guo Di Mie tidak menjawab karena dia sudah semakin sulit bernafas sehingga sudah tidak bisa berkata-kata lagi.

sebenarnya masih banyak pertanyaan yang hendak ditanyakan Yuan Bao.

Cara yang seperti apa yang dilakukan Gao Tian Jue untuk menyelesaikan masalah ini setelah mengetahui hubungan geiap antara suaminya dan kakak perempuannya?

Bagaimana caranya lengan Gao Tian Jue bisa putus?

siapa yang memotongnya?

Li Jiang Jun mengapa tiba-tiba mundur?

Dengan diam-diam pergi dengan membawa anak laki-lakinya dan meninggal sambil membawa kebencian, dan sebelum meninggal mengapa dia memberikan anaknya pada perkumpulan pengemis?

Mengapa saat itu Guo Di Mie langsung memutuskan hubungan dengan istri dan kekasihnya?

Mengapa di hadapan semua pendekar yang memburunya dia mengaku sebagai Li Jiang Jun?

Xiao Jun sekarang sudah mengerti banyak hal.

Dia sudah mengerti mengapa Gao Tian Jue memotong sebelah lengannya.

Dia juga sudah mengerti mengapa pada saat dia mendengar suara Gao Tian Jue, dia merasa begitu kenal dan dekat.

Dia juga sudah mengerti mengapa Ketua Ren berkata bahwa ibunya mati dibunuh oleh Li Jiang Jun.

Jika bukan disebabkan oleh cinta dan dendam yang tak bisa diuraikan, bagaimana mungkin ibunya mengubah dirinya menjadi Li Jiang Jun Jika orang yang bernama Li Jiang Jun ini tidak pernah muncul, bagaimana mungkin ibunya mati dengan begitu menderita?

Dia juga tentu saja sudah mengerti mengapa Gao Tian Jue bersikeras agar Guo Di Mie mati ditangannya.

Kisah yang begitu menyedihkan im akhirnya bisa dimengerti oleh Xiao Jun, tetapi apa yang masih tidak dimengerti Yuan Bao juga sama tidak dimengerti oleh Xiao Jun.

Dia juga ingin menanyakannya dengan sejelas-jelasnya sama seperti Yuan Bao.

Tetapi sekarang mereka sudah tidak bisa bertanya lagi.

saat ini masalah itu bukanlah masalah yang paling penting, masalah yang paling penting saat ini adalah bagaimana caranya agar mereka bisa meninggalkan tempat ini.

Karena jika mereka tidak segera meninggalkan tempat ini, ada kemungkinan akan mati karena sesak nafas.

Pada saat itu mereka tidak menyadari bahwa udara di dalam kekurangan oksigen, sehingga setinggi apa pun ilmu yang dimiliki seseorang pasti akan merasa lemah, letih, dan tidak bertenaga, lalu kemudian tidak bisa bangkit lagi.

Tapi jika seseorang tidak bisa bernafas maka pasti akan mati sesak nafas, semua orang pasti mengetahui akan hal ini.

Yuan Bao tiba-tiba berkata.

"Hanya ada satu cara."

Dia berkata.

"Aku sudah berpikir semenjak tadi dan hanya ada satu cara."

"Cara apa?"

"Lubangi dinding papan yang ada pada perahu ini agar air danau dapat masuk kemari, setelah itu baralah kita bisa keluar dari sini."

Yuan Bao menghela nafas.

"sayangnya, cara ini tidaklah mudah."

"Tentu saja cara ini tidak mudah."

Karena perahu ini adalah perahu yang dibuat khusus, semua papan yang ada pada perahu ini semuanya sudah melewati proses seleksi bagi kayu terbaik, bahkan siapa pun bisa melihatnya bahwa papan kayu ini jauh lebih tebal dibandingkan yang lainnya.

Jika Guo Di Mie tidak terluka, bagi dirinya ini hanya cukup dengan menggunakan satu tangan saja.

Tetapi dia tidak hanya terluka, bahkan lukanya sangatlah parah.

Tapi Yuan Bao masih memiliki 10.000 harapan, karena itu dia bertanya pada Guo Di Mie.

"Bagaimana dengan lukamu? Apakah sudah sedikit membaik?"

Orang dunia persilatan yang sudah hidup bersama dengan golok, tak bisa dihindari pastilah ada masanya untuk terluka sehingga mereka sudah mempersiapkan diri dengan membawa obat-obat luka dari perguruan mereka masing-masing di tubuh mereka.

Tetapi Guo Di Mie bukanlah orang lain, karena itu Yuan Bao segera menghapus pikirannya itu.

"Tentu saja kau tidak memiliki obat luka."

Yuan Bao hanya bisa menghela nafas panjang.

"Jika ilmu silatku sehebat dirimu dan sudah merasa bahwa di dunia ini tidak akan ada orang yang bisa melukaimu seujung rambut pun, aku juga tidak akan membawa obat luka."

Guo Di Mie sudah tidak bereaksi.

Dia tiba-tiba merasa sangat letih, sangat.

..sangat.

..letih, seumur hidupnya belum pernah dia merasa demikian letihnya.

Meskipun dia masih bisa mendengar perkataan Yuan Bao, tetapi dia sudah tidak mempunyai tenaga untuk membalasnya.

sama seperti Yuan Bao dan Xiao Jun, meskipun mereka masih bisa berpikir, tetapi cara berpikir mereka sudah jauh lebih lambat dari biasanya.

Mereka tiba-tiba juga merasa setengah sadar.

sampai mereka mendengar suara tembok dipukul ting ting dong dong, baru mereka agak sedikit lebih sadar.

suara itu berasal dari luar papan kayu yang tadinya hendak mereka hancurkan.

Mereka tadinya ingin membuat sebuah lubang pada dinding papan kayu itu tetapi mereka sudah tidak bertenaga lagi.

Ternyata di luar sudah ada orang yang menggantikan mereka untuk memukulnya, bahkan sepertinya dengan cepat akan tercipta sebuah lubang.

siapa orang yang di luar itu?

Kabin kosong ini merupakan bagian perahu yang paling bawah dan sudah berada di dalam air.

Begitu terdengar suara tong, dinding papan kayu segera terbuka sebuah lubang, tetapi sama sekali tidak ada air danau yang masuk dari luar.

Bahkan setetes air pun tidak ada, yang ada hanyalah angin.

Yuan Bao segera tersadar dan sebera bangkit berdiri Dia memang seorang yang sangat pintar dan cerdas, tapi dia juga sama sekali tidak mengerti mengapa di luar sama sekali tidak ada air melainkan hanya ada angin?

ooo)o(ooo BAB XXIII TEPUK TANGAN Tanggal 19 bulan 4, tengah malam......

semua orang yang melewati pinggiran danauMing sebelah kiri pada malam ini pasti akan merasa sangat aneh, sangat....

sangat...

aneh.

Karena mereka melihat sebuah perahu.

Melihat sebuah perahu sebenarnya bukanlah suatu hal yang aneh, walaupun melihat puluhan bahkan ratusan perahu pun tidak bisa dibilang aneh.

Yang aneh adalah mereka jelas-jelas melihat perahu itu tadi berada di atas air lalu tiba-tiba perahu itu berjalan ke atas tepian danau.

Bagaimana mungkin sebuah perahu bisa berjalan di atas tanah?

Ada sebagian orang yang menyangka ada masalah pada indera penglihatan mereka dan sebera berlari pulang dan tidur.

Ada sebagian lagi yang pulang ke rumah untuk memberitahu istrinya dan langsung menerima tamparan di pipi dan mengatakan bahwa mereka pasti minum-minum bersama wanita lain di luaran, kemudian pulang dengan mengatakan hal seperti itu untuk membohongi orang.

Kejadian ini memang seharusnya tidak mungkin terjadi.

Ada beberapa orang yang keberaniannya lebih besar dan rasa penasaran di hati yang lebih berat, menetapkan hati untuk melihat yang sebenarnya.

Mereka malah melihat di bawah perahu itu terdapat berpasangpasang kaki.

sebuah perahu tidak mungkin bisa mengeluarkan kaki, kaki-kaki ini tentu saja kaki manusia.

Perahu ini tentu saja tidak berjalan sendiri ke daratan, tetapi diangkat ke atas oleh banyak orang, orang-orang yang bertenaga kuat.

Apakah orang-orang ini gila?

Mengapa mau bersusah payah mengangkat sebuah perahu dari dalam danau ke daratan?

Di bawah air tentu saja tidak mungkin ada angin, lalu dari mana datangnya angin?

Yuan Bao melihat pada papan kayu itu tiba-tiba terdapat sebuah lubang, lalu tiba-tiba dia tertawa.

Lentera yang dibawa Xiao Jun sudah padam semenjak tadi dan di luar semuanya gelap.

tidak terlihat apa pun dan tentu saja terlebih lagi tidak bisa melihat orang.

Yuan Bao tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang membuat orang lain terheran-heran.

"Coba kau tebak siapa?"

Tanya Yuan Bao pada Xiao Jun.

"Gao Tian Jue atau Tian Ji Zi?"

Xiao Jun sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan ini karena dia sama sekali tidak mengerti apa maksud Yuan Bao.

Yuan Bao menjelaskan "Jika perahu ini masih ada di atas air, kabin kosong ini pasti berada di dalam air."

Dia berkata.

"Tapi di dalam air tidak mungkin ada angin."

"Kalau begitu apakah perahu ini sudah tidak berada di atas air?"

"sepertinya tidak,"

Kata Yuan Bao.

"Tetapi sebuah perahu tidak mungkin berjalan di daratan."

"Apakah menurutmu sudah ada orang yang membawa perahu ini ke atas daratan?"

Yuan Bao menganggukkan kepalanya.

"Karena itu aku bertanya padamu, apakah menurutmu Gao Tian Jue yang menyuruh orang untuk melakukannya? Ataukah Tian Ji Zi?"

"Mengapa pasti harus kedua orang ini?"

"Jika ingin membawa perahu yang sebesar ini ke daratan, harus ada 17-18 orang yang berilmu lumayan baru bisa mengangkatnya,"

Kata Yuan Bao.

"Selain mereka berdua, siapa lagi yang bisa memerintahkan begitu banyak jagoan untuk melakukan hal ini?"

"Masalah ini memang demikian adanya, dalam pandangan orang lain, orang yang bisa melakukan hal ini kalau tidak idiot, pastinya juga gila. Mengapa mereka melakukan hal seperti ini?"

"Karena mereka sudah menebak dengan cermat bahwa kita pasti akan bersembunyi di dalam kabin kosong ini."

Yuan Bao menghela nafas.

"Kau tentu bisa melihatnya juga, walaupun Gao Tian Jue dan Tian Ji Zi sedikit lebih bodoh daripada aku, tapi tetap jauh lebih pandai daripada orang lain."

Tidak ada orang yang bisa menyangkalnya karena Gao Tian Jue dan Tian Ji Zi adalah orang-orang yang memang berbakat di dunia dunia persilatan.

"Kita bertiga adalah orang yang selalu ingin mereka tangkap. bahkan dalam keadaan masih bernyawa,"

Kata Yuan Bao.

"Mereka juga pasti terpikirkan bahwa ada kemungkinan kita akan membuat sebuah lubang pada dinding papan kayu perahu dan kabur melalui air."

Yuan Bao berkata.

"Di bawah air, hanya ada sedikit perbedaan antara manusia dengan ikan. Di bawah air, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa mengendalikannya, jadi ilmu silat mereka di bawah air pastinya juga tidak begitu hebat."

Xiao Jun juga berpikir demikian.

"Ketua perkumpulan pengemis terdahulu selalu berenang di danau Ming dan dia yang sebatang kara ini selalu mengikutinya. Ilmu silatnya di bawah air tidak lebih jelek dari ilmu silatnya di atas air. Hal ini diketahui juga oleh semua orang di dunia persilatan, karena itu tidak ada yang berani menantangnya bertarung di dalam air. Tapi kalau di daratan tentu saja berbeda,"

Kata Yuan Bao.

"Mereka tentu sudah tahu kalau Guo Di Mie sedang terluka parah."

"Begitu sampai di daratan, mereka tidak akan memandang sebelah mata pada kita,"

Kata Yuan Bao.

"Bagi mereka, membawa sebuah perahu ke atas daratan bukanlah suatu hal yang sulit, juga tidak perlu membuang tenaga dalam mereka secara sia-sia."

Yuan Bao lagi-lagi menghela nafasnya.

"Jadi tidak peduli Gao Tian Jue atau Tian Ji Zi, demi keamanan, mereka terpaksa berbuat begitu."

Yuan Bao berkata lagi.

"Aku sendiri juga akan berbuat begitu."

Akhirnya terdengar suara dari luar, suara tepukan tangan.

Yuan Bao tertawa sambil membungkukkan tubuhnya sama seperti seseorang yang menerima penghormatan setelah selesai mementaskan suatu pertunjukkan saja.

Kemudian dia berkata dengan suara yang gembira.

"Dapat membuat tuan Tian kagum padaku benar-benar suatu hal yang tidak mudah, jika di sini ada arak maka aku akan menyulangimu sebanyak tiga cangkir."

Suara tepukan tangan di luar terhenti, kemudian terdengar suara dari luar yang bertanya.

"Bagaimana kau tahu ini aku?"

Yuan Bao menjawabnya dengan sangat mudah.

"Karena Gao Tian Jue tidak mungkin bertepuk tangan. orang yang hanya memiliki sebelah tangan saja, bagaimana mungkin bisa bertepuk tangan?"

Orang yang berada di luar itu tertawa keras.

suara tawa itu benar-benar suara tawa milik Tian Ji Zi, tapi dia sama sekali tidak masuk ke dalam dan yang terlihat di luar lubang pada dinding perahu itu hanyalah kegelapan, ada sawah (Tian) juga tidak terlihat ada sawah (Tian), ada ayam (Ji) juga tidak terlihat ada ayam (Ji), ada manusia juga tidak terlihat ada manusia.

Karena itu Yuan Bao tidak dapat menahan diri untuk bertanya.

"Tuan Tian."

Dia bertanya pada Tian Ji Zi.

"Apakah kau yang akan masuk atau aku yang keluar?"

"Coba kau tebak apakah aku akan membiarkanmu keluar?"

"Kau tidak akan."

Yuan Bao menghela nafas.

"Aku hanya berharap pada saat kau masuk bawalah sedikit barang ke mari."

"Apa yang kau ingin aku bawa?"

"Menurutmu?"

"Bagaimana kalau sedikit arak?"

Tanya Tian Ji Zi.

"selain itu bawa sedikit sayuran sebagai peneman arak."

"Tidak bagus."

"Tidak bagus?"

Suara Tian Ji Zi terkandung suara yang terheranheran.

"Mengapa tidak bagus?"

"Karena kau terlalu pelit,"

Kata Yuan Bao "Jika kau ingin membawakan arak maka hanya membawakannya sedikit, penyakit ku adalah sama sekali tidak bisa menerima hanya sedikit arak, sedikit sayuran, dan sedikit orang."

"Apa maksudnya dengan sedikit orang?"

"sewaktu kau masuk, kau tidak seluruhnya masuk tapi hanya masuk sedikit."

Yuan Bao berkata.

"Misalnya kau hanya memasukkan sedikit tangan, sedikit kaki, dan membiarkan sebagian besar lainnya di luar, coba kau katakan apakah aku bisa menerimanya?"

Tian ji Zi tertawa lagi.

"Aku berani jamin bahwa aku pasti masuk semua, bahkan aku akan membawa serta seluruh harta kekayaanku masuk."

"sekarang ini seluruh kekayaanmu ada berapa banyak?"

Yuan Bao menghembuskan nafas.

"Aku tahu bahwa selama ini harta kekayaanmu tidaklah terlalu banyak."

"Tetapi sekarang berbeda,"

Kata Tian Ji Zi.

"Aku berani jamin, sewaktu kau melihatnya pasti akan sangat terkejut."

Lentera, lentera yang terang, sebuah.....

dua buah...

tiga buah...

.empat buah....

lima buah....

Terdapat banyak sekali lentera yang sangat terang.

Benda-benda inilah yang pertama-tama dilihat Yuan Bao.

Kemudian dia melihat gadis-gadis yang sedang membawa lentera.

Gadis-gadis cantik itu mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra bermotif sulaman bunga.

Mata Yuan Bao semakin membesar.

Karena semua tampang gadis-gadis yang membawa lentera itu membuat orang terpana, kulitnya putih bercahaya seperti bulan dan mulus.

Delapan orang gadis cantik yang ada di luar lubang perahu itu membungkukkan badan memberi hormat dan kemudian memasuk, perahu itu.

Mereka berpencar ke dua arah, masing-masing terdiri dari empat orang gadis yang berdiri dan tidak bergerak sedikit pun.

sebuah suara yang lantang dan datang dari jauh tiba-tiba terdengar.

"Ni Er Hong yang berusia 20 tahun"

Empat orang gadis yang sama cantiknya, dua di depan dan dua di belakang membawa dua buah tongkat kayu yang di tengahnya terdapat selembar kulit macan tutul dan di tengahnya terdapat sebuah Guci arak, Mereka memasuk, kabin perahu itu dan tersenyum pada Yuan Bao serta menaruh Guoi arak itu dengan perlahan-lahan ke hadapannya, setelah itu mereka mengundurkan diri keluar.

suara yang datang dari kejauhan itu terdengar lagi.

"Gui Zhou Mao Tai yang berusia 20 tahun"

Empat orang gadis tadi bergerak bersamaan, menaruh arak Gui Zhou Mao Tai di hadapan Yuan Bao.

"Kemudian arak Lian Hua Bai, Zhu Ye Qing, Bo Li Pu TaoJiu......."

Lalu kemudian tiba-tiba masuklah seseorang yang ternyata bukanlah seorang gadis cantik, melainkan seorang yang berperawakan tinggi yang telanjang dada.

orang ini tidak mengeluarkan suara sedikit pun, dia mengukurngukur tepi lubang itu, kemudian dia mengeluarkan tangannya dan menghancurkan tepian lubang itu menjadi berbentuk kotak.

Kemudian dia memasukkan sebuah meja kayu yang berwarna hitam dan terang ke lengah kabin perahu itu, lalu mundur keluar.

Lalu terdengar lagi suara lantang dari kejauhan.

"Baso mutiara"

Yuan Bao menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata.

"Baso mutiara juga termasuk nama semacam masakan?"

Di atas meja tadi memang ditaruh sebuah keranjang yang berisi baso mutiara yang baru dibawa masuk, harumnya bisa tercium sampai jauh.

Xiao Jun melihat masakan ini, ekspresi di wajahnya ternyata jauh lebih heran daripada Yuan Bao dan ekspresi orang lainpun tidak akan jauh berbeda.

Karena ini adalah baso mutiara yang sangat mahal, di mana di atas setiap baso itu terdapat sebuah mutiara yang ditaruh di atasnya.

Mutiara yang bulat dan putih bersinar Yuan Bao benarbenar terkejut.

"sekarang kau pasti percaya padaku kan?"

Suara Tian Ji Zi tibatiba terdengar dari luar lubang itu. Kemudian dia sengaja memperdengarkan suara tawanya. Yuan Bao menahan nafas.

"Tidak disangka Ji Zi (ayam) juga ada waktunya untuk tumbuh"

"Ji Zi memang pada dasarnya pasti tumbuh."

Tian Ji Zi berkata dengan gembira.

"Apakah kau tidak pernah melihat bahwa semua mahkota ayam jantan itu sangat indah?"

"Kau memang ayam jantan yang bisa bertelur"

Kata Yuan Bao.

"Bukan hanya melakukan sesuatu dengan indah, juga bisa mengubah uang."

"Betul, betul sekali."

Tian Ji Zi sepertinya belum berubah banyak, masih bertampang orang dari golongan kaya, jika bisa duduk maka dia tidak akan bersedia berdiri.

Tetapi dia sekarang sudah tidak lagi duduk di atas kursi yang ada rodanya dan tidak perlu menggunakan tangan sendiri untuk mendorongnya.

Dia duduk dengan nyaman di atas sebuah dipan empuk yang disulam emas yang diangkut besar ke dalam oleh empat orang gadis yang tinggi besar, sehat dan cantik, dan setiap gadis itu memiliki sepasang kaki yang mulus dan indah.

Yuan Bao ternyata mengenali salah seorang dari gadis itu, sepasang kaki yang paling panjang, paling mulus, dan yang paling enak dipandang.

Dia tentu saja tidak akan pernah melupakan gadis ini, walaupun dia tidak memiliki perasaan apa-apa tetapi dia bukanlah orang yang tidak tahu membalas budi.

Gadis ini pernah menolong dia tanpa memikirkan keselamatannya, tentu saja gadis ini pun tidak lupa padanya.

Tetapi sekarang sewaktu melihat Yuan Bao, dia seperti yang tidak melihatnya.

Karena itu Yuan Bao juga berpura-pura tidak pernah melihatnya, tidak peduli apa alasannya mengapa dia tidak bebas bergerak di dunia persilatan, dan tidak peduli apa alasannya mengapa sekarang dia tidak mau mengakui pernah mengenal Yuan Bao, Yuan Bao juga tidak ingin membocorkan rahasianya.

Kabin kosong itu sudah tidak kosong lagi, Tian Ji Zi juga sudah bukan Tian Ji Zi yang dulu lagi.

Yuan Bao melihatnya lama dari atas sampai bawah, baru setelah itu bertanya padanya.

"Tadi bukankah kau mengatakan bahwa apa yang aku katakan adalah benar?"

"sepertinya begitu."

"sebenarnya salah, sama sekali salah,"

Kata Yuan Bao.

"sebenarnya kata-kataku tadi hanyalah kentut belaka."

"Kentut?"

Tian Ji Zi lagi-lagi tertawa.

"Memangnya mulutmu bisa mengeluarkan kentut?"

"Bukan hanya bisa, tetapi bisa mengeluarkan gas yang tak terkalahkan."

"oh."

"Ayam jantan tidak mungkin bisa bertelur, tidak peduli ayam jantan besar atau pun ayam jantan kecil, sama-sama tidak akan bisa bertelur,"

Kata Yuan Bao.

"Uang perak juga tidak mungkin keluar dengan begitu saja."

"oh?"

"Cara tuan besar Tian mengajar anaknya sangatlah terkenal, walaupun punya uang pasti tidak akan diberikannya padamu."

Yuan Bao berkata.

"Meskipun diberikan sedikit padamu, dia juga tidak akan membiarkan kau menghambur-hamburkannya."

Tian Ji Zi menghela nafasnya.

"sesungguhnya, uang yang aku dapatkan setiap bulannya jauh lebih sedikit dibandingkan nenek tua yang menjual bunga di depan pintu Da san Yuan."

"Lalu bagaimana caranya kau bisa tiba-tiba menjadi makmur seperti ini?"

"Menurutmu?"

"Jika aku tidak bisa menebaknya, kau pasti mengira aku adalah seorang yang sangat bodoh."

Yuan Bao berkata "Jika aku bisa menebaknya, kau juga tidak akan mengakuinya."

"Belum tentu,"

Kata Tian Ji Zi "jika benar kau bisa menebaknya, mungkin saja aku akan mengakuinya ."

"Kau benar-benar ingin aku mengatakannya?"

Tian Ji Zi menghela nafasnya.

"Walaupun sekarang aku tidak ingin kau mengatakannya juga tidak bisa."

Yuan Bao tertawa terbahak-bahak.

"Kau benar-benar orang yang pintar, kurang lebih hampir sama pintarnya dengan diriku, aku seharusnya menghormatimu dengan beberapa cangkir arak,"

Dia malah seperti seorang tuan rumah yang ramah terhadap tamunya, dia bertanya pada Tian Ji Zi.

"Kau ingin minum apa? Apakah Ni Er Hong yang berusia 20 tahun? Ataukah Zhu Yo Qing? Kau mau minum apa, minumlah Jangan sungkan-sungkan."

Tian Ji Zi juga tertawa.

"sebenarnya tuan rumahnya itu aku atau kau?"

Baca Juga: Pendekar Setia 6

Baca Juga: Golok Bulan Sabit 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert