Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bayangan Setan 6

Eps 6 Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung

Baca online Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung

Cersil Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung.

Jarak antara bangunan kuno serta jalan raya tidak terlalu jauh, hanya di dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah menemukan sebuah kereta kencana yang amat mewah dengan amat cepatnya meluncur datang dari arah Timur debu mengepul memenuhi angkasa diselingi suara bergetarnya cambuk memecahkan kesuyian Dalam keadaan samar-samar itulah mendadak dia menemukan kusir kereta tersebut ternyata bukan lain adalah si kakek tua berkerudung hitam itu.

Dengan penemuan ini seketika itu juga sang pemuda merasa terkejut bercampur girang.

"Berhenti...."

Bentaknya keras.

"Sreeet....!?"

Dengan cepatnya dia mengenjotkan tubuhnya melayang ke depan untuk mengadakan pengejaran Ilmu meringankan tubuh "Poh Poh Cim Im"

Yang digunakan Tan Kia-beng ini adalah sebuah ilmu meringankan tubuh yang amat dahsyat sekali di dalam Bulim hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menyandak tepat di belakang kereta kencana tersebut.

Agaknya penghuni kereta tersebut merasa adanya orang yang lagi mengadakan pengejaran, larinya kudapun semakin dipercepat lagi.

Terdengar suara berputarnya roda yang amat membisingkan telinga kereta tersebut dengan amat cepatnya menerjang masuk ke dalam sebuah hutan pohon siong.

Dikarenakan adanya pengalaman tempo hari kali ini Tan Kia-beng tidak berani berlaku gegabah lagi hawa murninya ditarik panjang panjang sehingga kecepatan gerakannyapun bertambah hanya di dalam sekejap saja diapun ikut menerjang masuk ke dalam hutan hutan pohon siong ini amat rapat dan gelap sedikit sinarpun tidak ada yang memancar masuk ke dalam sehingga suasana menjadi gelap gulita.

Sebentar saja dia telah kehilangan jejak dari kereta kencana tersebut.

Tapi tiba-tiba dia menemukan kereta itu kembali muncul diluar hutan hatinya jadi mendongkol sehingga tak kuasa lagi bentaknya keras.

"Malam ini sekalipun kau terbang kelangit siauw yamu tetap akan melakukan pengejaran."

Dengan menggunakan gerakan Uh Huan Sing Ih atau barang berpindah bintang bergeser dia meluncur ke dalam hutan semakin cepat untuk kemudian menubruk ke arah kereta kencana itu.

Waktu itu kereta kencana sedang menaiki sebuah bukit kecil dengan kecepatan yang luar biasa, tetapi jelas kelihatan bergoyang keras seperti kehilangan kendali Baru saja Tan Kia-beng berhasil menubruk ke atas kereta, kuda itu sudah lari miring kesamping....

Pemuda yang memangnya merupakan seorang penunggang kuda jempolan dengan sebatnya melayang ke depan kereta, waktu itulah dia baru menemukan kalau sang kusir sudah lenyap tak berbekas.

Tanpa pikir panjang lagi sepasang tangannya lantas menyambar tali les dan menggetarkannya kembali ke jalan yang sebetulnya, dengan begitu kereta tersebut kembali jadi tenang Setelah keadaan bisa dikuasai dengan telapak tangan melindungi dada Tan Kia-beng mulai memeriksa seluruh ruangan dari kereta itu.

Jelas tak usah diterangkan si kakek tua berkerudung hitam itu tentunya sudah melompat naik ke atas pohon sewaktu melewati hutan pohon siong yang gelap tadi, karena dirinya kurang waspada sudah terkena siasat orang lain membuat pemuda ini jadi cemas bercampur gusar.

Kedua ekor kuda yang menarik kereta kencana itu adalah kuda kuda jempolan yang bisa lari seribu satu hari, setelah keadaan jadi tenang kembali iapun lantas berlari ke dalam hutan.

Pada saat sang pemuda lagi kebingungan dan ragu ragu itulah mendadak sebuah jala yang amat besar jatuh dari atas dan mengurung seluruh kereta tersebut kencang kencang.

Tidak lama jala itu jatuh dari atas pohon mengurung kereta tersebut kembali tampak berkelebatnya sinar kebiru biruan disusul meluncurnya sesosok bayangan manusia menjebol jala tersebut.

Kiranya Tan Kia-beng sudah mencabut keluar pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya dan menghancurkan jala tersebut sewaktu dia merasa terkurung Dengan ketajaman pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam yang amat tajam itu sudah tentu tidak sulit baginya untuk membuat satu lubang pada jala itu.

Baru saja tubuhnya melayang ke atas permukaan tanah, dari empat penjuru segera berkumandang keluar suara bentakan yang amat ramai disusul dengan munculnya berpuluh puluh orang disana.

Orang pertama yang unjukkan dirinya bukan lain adalah Hwee Im Poocu Ong Cang bersama seorang nenek tua berambut putih yang mencekal sebuah tongkat.

Sambil menuding ke arah Tan Kia-beng mendadak dia memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

"Aku orang she Ong ada dendam apa dengan kau? kenapa kau membunuhi anggota bentengku menggunakan kesempatan sewaktu tak ada di dalam Benteng? kau bangsat anak jadah! aku bunuh kau!"

Tan Kia-beng jadi melengak belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun mendadak dari samping kalangan muncul kembali seorang pemuda tampan berusia tujuh delapan belas tahunan yang sudah menyambung dengan suara dingin.

Di tengah malam membunuh orang di tengah angin kencang membakar semua rumah semuanya adalah perbuatan seorang bajingan, tidak kusangka perbuatan itu bisa muncul di tangan pemuda seperti kau....

hoo....

aku ikut merasa sayang buat dirimu"

"Omong kosong!"

Bentak Tan Kia-beng sambil mengerutkan alisnya rapat rapat.

"Aku orang she Tan bukanlah manusia macam itu!"

"Haa haa aku orang she Sak paling tidak suka ikut campur urusan orang lain, urusan ini tidak usah kita bicarakan lagi, sekarang aku mau tanya orang yang menunggang kereta mengacau di kuil Sam Cing Kong di gunung Bu-tong-san apakah kalian suhu murid berdua?"

Belum sempat Tan Kia-beng menjawab mendadak dari tengah hutan kembali terdengat suara bentakan yang amat nyaring seorang Tootiang tua yang menyoren pedang sambil membaca doa muncul di tengah kalangan dengan langkah yang amat perlahan.

Tootiang ini bukan lain adalah Loo Hu Cu salah satu anggota Go-bie Ngo cu, dengan wajah dingin menyeramkan dia memandang ke arah sang pemuda tanpa berkedip, lalu sambil merangkap tangannya dia memberi hormat kepada pemuda tampan tersebut.

Kepada Hwee Im Poocu diapun kemudian mengangguk.

"Ouw.... Ong heng juga sudah datang?"

Mendadak dia menemukan si nenek tua yang ada disamping Hwee Im Poo cu itu dengan wajah penuh perasaan terperanjat dia merangkap tangannya memberi hormat.

"Oouw, kiranya Ih Bok Popo juga ada di sini."

Ih Bok Popo ini adalah istri dari "Gak Yang Kiam Khek atau dengan perkataan lain adalah Sunyio dari Hwee Im Poocu kedudukannya di dalam Bulim sangat tinggi jadi orang pun amat sombong dan berangasan, sedikit salah lantas dia sudah turun tangan membunuh orang.

Kini melihat Loo Hu Cu menyapa terhadap dirinya dia pun lantas mengangguk.

"Ada urusan apa yang begitu penting sehingga mengagetkan ciangbunjin dari Go-bie pay untuk turun tangan sendiri?"

Ujarnya.

Sikapnya kembali jadi sombong kembali.

Dengan sinar mata penuh perasaan benci dan mendendam Loo Hu Cu melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng kemudian menghela napas panjang.

Teringat olehnya akan kedahsyatan dan ketenaran nama Go-bie Ngo Cu tempo hari di dalam Bulim tidak disangka ini hari hanya tertinggal dia seorang saja seketika itu juga membuat semangat serta nafsu untuk merebut gelar jagoan nomor wahid diseluruh dunia kangouwpun ikut terhapus musnah saat ini yang dpikirkan hanyalah bagaimana mencari balas atas kematian kawan kawannya.

Ih Bok Popo yang melihat lama sekali Loo Hu Cu tidak mengucapkan kata-kata kembali dia mendengus dengan amat dinginnya.

"Aku sebetulnya sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia kangouw dan tidak ingin mencampuri urusan keduniawian lagi, kali ini Jiang jie terus menerus mengundang dan mendesak aku suruh turun gunung satu kali untuk bergebrak melawan si iblis tua, tidak disangka orang itu tidak lebih cuma seorang bocah ingusan! Jiang jie kau sungguh keterlaluan"

Di dalam ucapannya seorang Hwee Im Pocu yang begitu terhormat dan mempunyai nama terkenal di dalam Bulim sudah berubah menjadi sebutan Jiang jin apa lagi terhadap Tan Kia-beng sama sekali memandang rendah, walaupun pada mulanya Loo cu tidak berbicara tetapi dalam hati diam-diam mendengus dingin, pikirnya.

"Nenek tua kau tidak usah berjual lagak lagi nanti kau bakal tahu sendiri kalau si bocah ingusan inipun sama saja tidak gampang untuk dilayani!" ---0-dewi-0---Kita kembali pada si pemuda tampan yang ketanggor batu dengan Loo Hu Cu, dalam hati dia merasa amat gusar sekali. Dia sebenarnya adalah murid kesayangan dari Thian Bok Tootiang dari Bu-tong-pay dan merupakan sekuntum bunga yang paling aneh diantara angkatan muda. Dia bernama Sak Ie dan mempunyai kedudukan yang sederajat dengan Leng Hong Tootiang itu ciangbunjin dari Butong-pay bilamana membicarakan soal tingkat kedudukan sebetulnya dia tidaklah berada dibawah Loo Hu Cu. Diapun seorang yang amat sombong dan jumawa, melihat Loo Hu Cu sama sekali tidak mengambil gubris dirinya mendadak dia putar badan mendesak ke arah Tan Kia-beng dan memperhatikan pemuda tersebut dengan amat teliti. Beberapa saat kemudian Sak Ie lantas merasa si pemuda tampan ini sangat gagah dan sama sekali tidak mirip dengan seorang yang gemar berbuat jahat sehingga dalam hati tidak terasa amat keheranan "Orang macam begini bagaimana mungkin bisa disebut sebagai iblis?"

Pikirnya. Dikarenakan dalam hati dia merasa curiga dan ragu ragu maka itu nada suaranya pun tanpa terasa sudah berubah jadi semakin halus. Dia lantas merangkap tangannya menjura.

"Jien heng apakah sianakan iblis yang dihebohkan orang-orang dunia kangouw itu? Bilamana dipandang dari dandanan serta sikapmu sangat tidak sesuai, kenapa kau hendak berbuat jahat di dalam dunia persilatan"

Tan Kia-beng pun hanya di dalam sekejap itu sudah meneliti pihak dia merasa pemuda ini sangat berbeda sekali dengan Pek Lok Suseng sekalian, mungkin karena sikapnya yang ramah itulah dalam hati dia lantas menaruh rasa simpatik Dengan cepat diapun merangkap tangannya membalas hormat.

"Siapakah nama besar dari saudara dan berasal dari mana? Mengenai apa yang disiarkan di dalam Bulim semuanya hanya dikarenakan kesalah pahaman saja bilamana Cun heng merasa tidak keberatan cayhe sanggup untuk menjelaskan."

"Cayhe she Sak bernama Ie, merupakan anak murid dari Bu-tong-pay, bilamana saudara mempunyai sesuatu yang hendak diucapkan cayhe tentu akan mendengarkan dengan penuh perhatian."

Pada saat itulah Hwee Im Poocu dengan membawa serta anak buahnya pada berjalan mendekati Tan Kia-beng dengan sikap yang amat kasar sekali.

Tan Kia-beng tetap berdiri tegak!

Sinar mata dengan dingin menyapu sekejap kesekeliling tempat itu kemudian memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat menyeramkan.

Sak Ie yang ada disisinya jadi melengak dia merasa sangat tidak puas dengan situasi yang dihadapinya saat ini, dengan dinginnya ia mendengus.

Belum sempat Sak Ie mengucapkan kata-kata untuk mencegah Loo Hu Cu mendadak berjalan maju ke depan.

"Hey! orang muda ayoh cepat menyingkir!"

Bentaknya kasar.

"Tempat ini bukanlah tempat untuk mengikat persahabatan cepat menggelinding sana biar pinto turun tangan kasih sedikit hajaran buat dirinya"

Sak Ie yang tadi ketanggor batu ditangan kini melihat sikapnya sama sekali tidak pakai aturan semakin dibuat gusar lagi.

"Eee.... heee.... tempat ini bukanlah kuil Kun Yuan Koan di atas gunung Go-bie san, kenapa kau tidak memperkenankan aku untuk angkat bicara?"

Serunya sambil tertawa dingin. Loo Hu cu yang melihat seorang pemuda dari angkatan rendah berani menyindir dirinya seketika itu juga naik darah.

"Siapa namamu dan berasal dari partai mana?"

Teriaknya keras.

"Sungguh besar nyalimu berani berlaku kurang ajar dengan pinto"

"Cayhe adalah Sak Ie dari partai Bu-tong-pay"

"Bagaimana sebutanmu dengan Leng Hong Tootiang?"

"Dia adalah suhengku!"

Kembali Loo Hu Cu tertawa dingin.

"Heee, heee kiranya kau mengandalkan nama besar Butong-pay serta kedudukanmu yang tinggi lalu berani bertindak kurang ajar dengan pinto?"

"Cayhe sama sekali tidak mengandalkan apa untuk menghina orang lain tetapi cayhepun tidak akan jual mahal dihadapan orang lain, bilamana kau ingin menghadapi orang ini maka urusan harus dijelaskan dulu, kalau tidak.... Hmmm jangan salahkan aku main kasar dengan kalian...."

"agaimanapun juga Bu-tong-pay adalah sebuah partai besar yang pengaruhnya amat luas, walaupun di dalam hati Loo Hu Cu merasa teramat gusar tetapi diapun tidak ingin banyak berurusan dengan dirinya. Setelah tertegun beberapa saat lamanya akhirnya dia membentak kembali dengan suara yang amat keras.

"Urusan yang sebenarnya buat apa dibicarakan lagi? coba kau lihat bukankah di atas roda kereta itu membawa bekas darah?"

Dengan adanya peringatan dari dirinya ini maka semua orang tak terasa lagi sudah pada mengalihkan sinar matanya ke atas kereta kencana tersebut.

Sebuah kereta kencana yang amat mewah kini sudah dikotori dengan percikan darah segar.

Melihat begitu banyaknya noda darah di atas kereta seketika itu juga membuat rasa dendam serta marah dari orang-orang itu lebih mendalam satu tingkat lagi.

Terdengar Hwee Im Poocu berteriak keras.

"Tootiang harap kau suka berjaga jaga di luar kalangan, biarlah aku orang she Ong mencoba-coba kepandaian silat dari aliran Teh-leng-bun ini."

Loo Hu Cu pun tahu kalau pemuda ini sulit untuk dihadapi, karena itu dengan mengikuti aliran air mendorong perahu dia lantas menyingkir ke samping membuka suatu tempat yang kosong.

Sepasang mata Hwee Im Poocu memancarkan sinar yang amat buas, dengan perlahan pedangnya dicabut keluar dari dalam sarungnya.

Ayoh cepat cabut keluar pedangmu."

Teriaknya sambil menuding ke arah Tan Kia-beng, Aku akan suruh kau mati dengan jelas."

"Hmmm! Lebih baik kalian sedikit tahu diri,"

Ujar Tan Kia-beng sambil melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin.

"Kereta kencana ini bukanlah cayhe yang kemudikan cayhe tidak lebih hanyalah salah satu pengejar belaka aku nasehati kalian lebih baik jangan mendesak keterlaluan, haruslah kalian ketahui sabar itu ada batasnya."

Hwee Im Poocu yang lagi merasa gusar mana suka mendengarkan perkataannya, kembali dia membentak keras.

"Siapa yang mau mendengarkan omongan setanmu itu?"

Sreeet!

dengan disertai suara desiran yang amat tajam pedang tersebut dengan sejajar dada meluncur ke depan.

Hwee Im Poocu sebagai seorang poocu dari suatu Benteng, sudah tentu memiliki kepandaian silat yang amat dahsyat pedangnya dengan memancarkan cahaya keperak perakan meluncur dengan cepatnya ke arah sebelah depan.

Dalam hati Tan Kia-beng tahu bilamana dia menerima datang serangan tersebut maka suatu pertempuran yang sengit dan bakal menimbulkan banjir darah akan berlangsung dihadapan mata dia benar-benar tidak suka menimbulkan urusan lagi.

Dengan cepat kakinya sedikit digerakkan ke arah samping kira-kira tiga depa jauhnya.

"Tahan!"

Bentaknya keras.

"Aku orang she Tan sama sekali tidak takut dengan dirimu, cuma di dalam urusan ini ada sedikit kesalah pahaman apa kalian benar-benar tidak suka memberi kesempatan kepadaku untuk mengucapkan beberapa patah kata? Hwee Im Poocu yang sudah peras keringat dan otak untuk membalas dendam buat anggota Benteng Hwee Im poonya dengan tidak mudah mengumpulkan seluruh jagoan berkepandaian tinggi dari bentengnya untuk menjerat kereta kuda tersebut dengan menggunakan jala dan telah menemukan pula kalau orang itu bukan lain adalah murid dari Si Penjagal Selaksa Li sudah tentu tidak akan lepas tangan begitu saja. Apalagi kini sudah ada sunionya disana, keinginan untuk merebut pedang pusaka tersebutpun muncul pula dihatinya. Terang terangan dia mendengar suara bentakan dari Tan Kia-beng tetapi justru pura pura tidak mendengar. Sinar pedang berkelebat menyilaukan mata, dengan disertai desiran tajam pedang tersebut menyambar ke arah pinggang sang pemuda. Tan Kia-beng yang melihat datangnya serangan itu segera mengerutkan alis rapat rapat, dia mendengus dingin dan siap-siap turun tangan. Sekonyong konyong.... Bayangan biru berkelebat. Sak Ie meoncat ke depan dengan menggunakan jurus Hun Kuang Lieh Im atau Sinar berpisah, Bayangan berkelebat, tangannya laksana kilat cepatnya menjepit ke arah datangnya serangan pedang tersebut. Jurus Hun Kuang Lieh Im ini adalah salah satu jurus yang terlihay dari partai Bu-tong-pay, kedahsyatannya luar biasa! Hwee Im Poocu yang lagi melancarkan serangan dengan sekuat tenaga mendadak dari samping tubuhnya melayang datang seorang yang menjepit pedangnya, di dalam keadaan gugup lantas menarik napas panjang, pedangnya ditarik ke belakang kemudian tubuhnya mundur lima depa jauhnya. Ketika dapat dilihat orang yang baru saja merebut pedangnya itu bukan lain adalah itu sianak muda murid Butong-pay, air mukanya berubah hebat.

"Apa artinya ini? apa kau hendak membantu dirinya?"

Sak Ie lantas angkat kepalanya tertawa panjang.

"Ada pepatah mengatakan kepalan dikeluarkan cengli akan tertutup, sekalipun poocu memiliki kepandaian silat yang amat dahsyat seharusnya mengerti untuk berbicara kata cengli! cayhe bukannya bermaksud untuk menolong Heng thay ini, cuma urusan harus kita bikin terang dulu kemudian baru mengambil tindakan!"

"Haa.... haa.... bagus, bagus sekali!"

Teriak Hwee Im Poocu sambil tertawa seram.

"Tidak kusangka anak murid Butong pay ternyata berani turun tangan membantu bangsat itu berbicara. Hmm! Aku merasa amat sayang buat nama baik Butong pay!"

Mendadak dia menarik kembali suara tertawanya.

"Memandang di atas wajah Leng Hong Tootiang aku tidak akan banyak cari urusan dengan dirimu ayoh cepat menggelinding pergi dari sini....!"

Bentaknya keras.

Dengan perasaan amat gusar dia melangkah ke samping siap-siap melancarkan serangan kembali ke arah Tan Kia-beng.

Sak Ie sama sekali tidak jadi mundur karena melihat kegusaran dia, seperti tak pernah terjadi urusan dia putar badan dan menghadap ke arah Tan Kia-beng Tan Kia-beng yang melihat pemuda dari Bu-tong-pay ini suka turun tangan mengambil tindakan dalam hati merasa terharu bercampur terima kasih dan merangkap tangannya menjura.

"Tindakan hengtay ini sungguh membuat cayhe merasa terharu, tetapi cayhe benar-benar tidak ingin dikarenakan urusan cayhe ini menyeret sekalian heng cayhe dalam kancah kekacauan ini lebih baik biarlah aku sendiri yang menghadapi mereka.

"Kau tidak usah merasa sungkan sungkan!"

Seru Sak Ie sambil tertawa dingin.

"Tindakan cayhe ini kesemuanya bukan dikarenakan dirimu, lebih baik kau terus terang saja ceritakanlah persoalan ini, bilamana berani berbohong jangan salahkan pedang cayhe tidak akan mengampuni orang."

Waktu itu Hwee Im Poocu kembali sudah menerjang kehadapannya, dia tidak ingin sampai mengikat permusuhan dengan pihak Bu-tong-pay, tetapi bilamana keadaan terpaksa diapun hendak mencari satu cara yang baik untuk menyingkir.

Karena itulah dia sama sekali tidak langsung mencari gara gara dengan anak murid Bu-tong-pay ini, tubuhnya berputar ke samping menghindari Sak Ie dan menyerang kembali ke arah Tan Kia-beng.

Tiba-tiba....

Bayangan manusia kembali berkelebat sekali lagi Sak Ie menghadang dihadapannya.

"Cayhe masih tetap seperti perkataan semula"

Ujarnya dingin.

"Biarlah aku bikin urusan ini jadi jelas dulu baru bicara lagi bilamana kau begitu berangasan tidak pakai aturan maka aku orang she Sak terpaksa harus melayani beberapa jurus dengan dirimu!"

Loo Hu Cu yang berdiri disamping sejak tadi sudah merasa tidak puas terhadap Sak Ie, kini melihat dia menantang Hwee Im Poocu bertempur lantas merasa inilah satu kesempatan yang baik buat dirinya untuk munculkan dirinya ambil tindakan pikirnya.

"Sekalipun dia memperoleh pelajaran ilmu silat yang dahsyat tetapi tidak bakal bisa lebih hebat dari Leng Hong tootiang ciangbunjin Bu-tong-pay, terhadap Leng Hong saja Too ya tidak takut apalagi untuk membereskan dirinya?"

Perhitungannya adalah biar dia yang membereskan Sak Ie sehingga memberi kesempatan buat Hwee Im Poocu untuk melancarkan serangan ke arah Tan Kia-beng.

Menanti masing-masing pihak sudah bertempur hingga lelah maka dia mempunyai kesempatan untuk turun tangan merebut pedang.

Bilamana pedang pusaka tersebut berhasil dia dapatkan maka pada pertemuan puncak para jago digunung Ui San kemudian hari dia mempunyai satu bagian harapan untuk memperoleh kemenangan.

Karenanya baru saja Sak Ie selesai berbicara dia sudah melayang kehadapannya.

"Tujuh partai besar di dalam Bulim selamanya bermaksud satu dan tidak pernah ada manusia yang bandel seperti kau"

Bentaknya dengan keras.

"Keadaan saat ini sudah amat mendesak, pinto terpaksa mau tak mau akan mewakili Leng Hong Tootiang untuk kasi sedikit pelajaran kepadamu"

"Hmm! sekalipun ini hari dewa atau kaisar langit yang turun dari kahyanganpun bilamana tak pakai aturan aku orang she Sak tetap bertindak tidak sungkan sungkan terhadap dirinya"

Seru Sak Ie sambil mendengus dingin. Perkataan yang diucapkan sangat kasar ini seketika itu juga membuat Loo Hu Cu saking khe kinya jadi marah, matanya berapi api wajahnya berubah merah padam.

"Manusia yang tidak tau diri"

Teriaknya keras.

"Bilamana malam ini pinto tidak kasi sedikit hajaran kepadamu maka kau pasti tidak akan tahu seberapa tingginya langit dan tebalnya tanah". Telapak tangannya berputar satu lingkaran lalu dibabat ke arah bawah. Dia sebagai Ciangbunjin suatu partai besar tentu memiliki tenaga dalam seimbang dengan Ci Si Sangjien sudah tentu serangan yang kini dilancarkan amat dahsyat bagaikan ambruknya gunung Thay-san. Diam-diam Tan Kia-beng merasa kuatir buat keselamatan Sak Ie, maka tubuhnya maju ke depan siap-siap mewakili pemuda Bu-tong-pay itu menerima datangnya serangan tersebut. Tetapi pada saat yang bersamaan pula mendadak Hwee Im Poocu membentak keras, pedangnya laksana menyambarnya petir berturut turut melancarkan tusukan dahsyat. Seketika itu juga seluruh kalangan dipenuhi dengan hawa pedang yang mengerikan beberapa depa disekitar tubuh Tan Kia-beng sudah terbungkus rapat oleh lapisan bayangan pedang yang mengaburkan pandangan. Air muka Tan Kia-beng segera berubah hebat, nafsu membunuh mulai melapisi wajahnya hawa amarah dengan perlahan mulai menjalar ke atas benaknya.

"Hee.... hee.... hee.... kau kira siauw yamu sungguh sungguh tidak berani bergebrak dengan dirimu?"

Serunya sambil tertawa.

Belum habis dia berkata mendadak di tengah arena berkumandanglah suara tertawa yang amat dan tampak dua sosok bayangan manusia bagaikan kilat cepatnya menerjang datang, yang satu menubruk Loo Hu Cu sedang yang lain menyusup ke dalam bayangan pedang Hwee Im Poocu "Braaak....!"

Dengan disertai suara bentrokan yang keras orang itu sudah menerima datangnya angin pukulan dari Loo Hu Cu tersebut.

Debu serta batu kerikil pada beterbangan memenuhi angkasa, masing-masing pihak pada mundur dia lengkah ke belakang.

Loo Hu cu segera merasa tenaga dalam dari orang itu amat dahsyat sekali tidak berada dibawah tenaga dalamnya sendiri, dalam hati diam-diam merasa bergidik juga.

Ketika matanya bisa menangkap siapakah orang itu hatinya semakin terperanjat lagi karena dia bukan lain adalah si siluman aneh yang membuat orang-orang kangouw jadi pusing kepala, si rasul Pek-tok Cuncu adanya.

Dia sangat tidak mengharapkan sampai bentrok dengan manusia racun ini, karenanya dengan wajah dihiasi senyuman paksaan dia tertawa terbahak-bahak.

"Pinto dengan Cuncu selamanya tidak pernah mengikat permusuhan apa apa, apa maksud dari tindakan Cuncu ini?"

"Hmmm! selamanya loohu tidak pernah mencampuri utusan Bulim dan tidak pernah mengadakan hubungan dengan orang-orang kangouw, ini hari aku cuma ada satu perkataan saja, Toakoku bukanlah simajikan kereta kencana itu, bilamana siapa saja yang berani turun tangan terhadap dirinya maka aku serta si pencuri tua tidak akan sungkan sungkan terhadap kalian."

Loo Hu Cu yang mendengar perkataan itu segera salah menganggap yang dimaksudkan sebagai Toakonya adalah si "Penjagal Selaksa Li"

Hu Hong, dia jadi terperanjat.

"Seorang Penjagal Selaksa Li Hu Hong saja sudah cukup mengacau dan mengaduk aduk seluruh dunia persilatan, apalagi bilamana ditambah lagi dengan kedua orang siluman tua itu, maka hal ini semakin luar biasa lagi, pikirnya. Otaknya dengan cepat berputar memikirkan akal sedang matanya dengan diam-diam melirik sekejap ke arah Su Hay Sin Tou si pencuri sakti itu. Tampaklah sepasang telapak tangannya bagaikan cakar burung elang dengan dahsyatnya mendesak Hwee Im Poocu sehingga mundur terus menerus sedang dari mulut tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa aneh yang amat menyeramkan.

"Hee.... hee.... sungguh memalukan, sungguh memalukan!"

Teriaknya keras.

"Hanya mengandalkan sedikit kepandaian yang tidak berarti itu kau sudah berani mencari balas dengan toako kami, sungguh tidak tahu kekuatan sendiri."

Dengan munculnya dua orang siluman tua disana maka situasi seketika itu juga berubah, Hwee Im Poocu serta Loo Hu Cu yang semula bersemangat dan bernafsu kini pada meringkik tak berani banyak berkutik.

Walaupun Loo Hu Cu tidak ingin berbuat dosa terhadap si Rasul Racun ini tetapi telapak tangan dari si raja racun ini sudah mendesak ke arahnya disertai tenaga penuh.

Tan Kia-beng sejak tadi sudah tidak ingin beribut dengan orang-orang ini, kini melihat munculnya kedua orang siluman tua itu secara mendadak dan tanpa banyak cakap sudah turun tangan walaupun dalam hati merasa kurang puas mendadak dia membentak keras.

"Tahan! kalian berdua tahan dulu, aku ada perkataan yang hendak disampaikan."

Jika dibicarakan sungguh aneh sekali, Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cown Cu si Rasul yang amat sombong kukoay dan eksentrik itu ternyata sangat penurut sekali.

Mendadak mereka menarik kembali serangannya dan melomcat ke samping kanan dan samping kiri Tan Kia-beng.

Terhadap manusia manusia yang tidak pakai aturan dan jumawa ini buat apa toako berlaku sungkan sungkan?"

Teriak mereka berbareng.

Dengan air muka keren Tan Kia-beng menggelengkan kepalanya.

Saat itu suasana di tengah kalangan sudah memberat, masing-masing orang dengan pandangan terperanjat memandang ke arah Tan Kia-beng dengan pandangan pandangan melongo sampai Sak Ie itu anak murid Bu-tong-pay yang memiliki kepandaian silat amat tinggi itupun tidak terkecuali.

Kenapa tidak?

pemuda yang mempunyai julukan sebagai anakan iblis ini bukan saja mempunyai asal usul yang aneh, kepandaian silat yang aneh bahkan manusianyapun amat aneh!

mereka sama sekali tidak menyangka kalau dia sudah menjadi toako dari dua orang siluman tua yang paling membuat orang kangouw pusing kepala.

Setelah memanggil kembali kedua orang siluman tua itu ke samping tubuhnya Tan Kia-beng lantas menyapu sekejap keseluruh ruangan, teriaknya dengan keras.

"Cayhe she Tan bernama Kia-beng, suhuku adalah si "Ban Lie Im Yen"

Lok Tong, kemudian mengangkat Teh Leng Kauwcu Han Tan Loojien sebagai guruku yang kedua"

Dari dalam sakunya dia mengambil keluar seruling Pek Giok Siauwnya dan digetarkan di tengah udara.

"Inilah senjata yang digunakan dia orang tua tempo hari, atau dengan perkataan lain cayhe sudah memperoleh seluruh ilmu silat aliran Teh-leng-bun". Kembali dia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu sambungnya;

"Mungkin ada beberapa orang kawan kangouw yang sudah menaruh kesalah pahaman terhadap diri cayhe dan urusan ini terjadi menyangkut soal kereta kencana itu.

"Peristiwa yang terjadi pada mulanya memang adalah perbuatan dari suhengku si Penjagal Selaksa Li Hu Hong tetapi peristiwa yang terjadi dibelakang hari adalah perbuatan orang lain yang sengaja hendak memfitnah dirinya, cukup dengan bukti peristiwa malam ini saja, kereta kencana ini cayhe dapatkan di tengah jalan cuma sayang orang yang mengendarai kereta ini berhasil melarikan diri.

"Perkataan dari cayhe cukup sampai disini saja, kalian suka percaya atau tidak itu bukan urusan diri cayhe lagi."

Ih Bok Popo yang selama ini berdiam diri mendadak mengayunkan tongkatnya dan berjalan ke depan.

"Heee, heee, beberapa perkataanmu itu cuma bisa digunakan untuk menipu bocah umur tiga tahun saja tetapi jangan harap bisa main gila terhadap loo nio"

Teriaknya sambil tertawa dingin.

"Teh Leng kauwcu sewaktu munculkan dirinya dalam dunia kangouw waktu itu dia sudah berusia tujuh, delapan puluh tahunan, kini loo nio sudah berusia delapan dua tahun, Hmm! apa dia bisa hidup selama seratus lima, enam puluh tahunan? kau jangan berbohong!"

Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi;

"Urusan lain tidak usah kita bicarakan lagi, hutang darah pada benteng Hwee Im Poo harus dibayar dengan menggunakan darah pula, perduli iblis tua itu suhengmu atau suhumu malam ini loo nio akan jagal dulu dirimu!"

Tidak menanti jawaban lagi tongkatnya sudah diangkat ke atas lalu dengan disertai tenaga sambaran yang dahsyat menghantam ke arah bawah.

Jangan dilihat tongkat besinya itu amat tipis tetapi sewaktu dihantamkan beratnya laksana gunung Thay-san bahkan disertai sambaran angin yang mengejutkan.

Pek-tok Cuncu si Rasul Racun maupun Su Hay Sin Tou si pencuri sakti yang melihat kejadian ini bersama jadi amat gusar.

"Kau berani?"

Bentaknya berbareng. Masing-masing orang menggerakkan telapak tangannya siap turun tangan. Tetapi tubuh Tan Kia-beng jauh lebih cepat dari mereka berdua, teriaknya.

"Kalian mundur, biar aku yang menyambut serangannya."

Diapun melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan, serangan tongkat yang berat dan disertai suatu dengungan keras itu seketika itu juga tergetar pental kesamping.

Walaupun di dalam pertaruhan tempo hari kedua orang siluman tua itu sudah jatuh kecundang ditangan pemuda ini tetapi mereka sama sekali belum pernah benar-benar menjajal kepandaian silatnya kini melihat dia turun tangan dengan begitu dahsyatnya dalam hati baru merasa kalau tenaga dalam Toako mereka ini benar luar biasa, sehingga dalam hati mereka merasa bertambah kagum.

Tan Kia-beng yang serangan telapaknya berhasil mementalkan serangan tongkat Ih Bok Popo lantas membentak keras.

"Sekali lagi cayhe terangkan, munculnya kereta bencana beberapa hari ini aku orang she Tan pun pernah mendengar dan kini sedang melakukan penyelidikan tetapi haruslah kalian ketahui bahwa peristiwa ini bukanlah perbuatan dari suhengku Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong harap kalian jangan salah paham."

Sifat Ih Bok Popo sangat berangasan dan tidak mau mengalah, kini sudah turun tangan sudah tentu tidak akan suka mendengarkan perkataannya lagi.

Di tengah menggetarnya tongkat besi yang berat dan keras itu segera menimbulkan angin sambaran yang tajam membuat pasir serta kerikil pada beterbangan memenuhi angkasa.

Tan Kia-beng tidak bisa menahan sabar lagi, mendadak dia tertawa panjang.

"Haaa.... haaa.... kau orang tua sungguh kasar dan berangasan, kau kira siauw yamu takut dengan dirimu? Hmmm! Kalau memangnya kau kepingin bergebrak biarlah aku suruh kau merasakan kelihayan dari siauw yamu ini!"

Tubuhnyapun maju ke depan lalu dengan kecepatan luar biasa berputar dan menerjang keangkasa.

Diantara berkelebatnya cahaya terang yang menyilaukan mata seruling Pek Giok Siauw yang menggetarkan seluruh dunia kangouw sudah dicabut keluar.

Diantara tutulan serta babatan tongkat besi itu kembali berhasil digetarkan pental dari hadapannya.

Mendadak tubuhnya semakin maju mendesak ke depan, seruling Pek Giok Siauwnya dengan disertai suara suitan yang amat aneh dan membetot hati hanya di dalam sekejap sudah melancarkan tiga serangan sekaligus.

Ih Bok Popo ini sejak masa mudanya sudah mempunyai nama besar di dalam dunia persilatan, semasa tuanya tutup pintu berlatih diri sudah tentu kepandaian silat yang dimilikinya kini amat dahsyat sekali cuma saja sifatnya yang kasar dan berangasan selamanya tidak bisa diubah.

Melihat datangnya serangan seruling dari Tan Kia-beng, ini bukannya menyingkir atau menghindar sebaliknya melintangkan tongkat besinya ke depan.

"Ting.... ting.... Traang!"

Dengan keras dia menangkis datangnya ketiga serangan tersebut diikuti balas melancarkan serangan ke depan.

Tongkat besi adalah termasuk senjata berat dan setiap serangan tentu disertai suara desiran angin yang tajam.

Tampaklah seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan sambaran angin serangan, bayangan tongkat berkelebat rapat laksana gunung hanya di dalam sekejap saja Tan Kia-beng sudah terkurung di dalam bayangan tongkat tersebut.

Tan Kia-beng yang selama satu malaman harus menahan diri bersabar saat ini tidak kuat sudah untuk menahan sabarnya lagi, dengan cepat dia melantirkan keluar seluruh kepandaian silat yang diperoleh dari peninggalan Han Tan Loojien.

Tubuhnya dengan cepat menerjang diantara bayangan tongkat lalu menerjang kekiri dan kekanan dengan gerakan bagaikan kilat.

Suatu pertempuran yang amat seru, seram dan amat berbahaya inipun segera berlangsung setiap serangan serta setiap gerakan yang dilancarkan tentu merupakan jurus yang ganas dan telengas sehingga boleh dikata pertempuran ini mirip dengan suatu pertempuran mengadu jiwa.

Pada mulanya jurus jurus serangan yang dilancarkan masing-masing pihak masih kelihatan dengan jelas tetepi lama kelamaan jurus serangannya semakin cepat dan semakin santer.

Tampak dua sosok bayangan manusia saling menyambar tanpa hentinya yang semakin lama bertambah semakin cepat, angin serangan yang ditimbulkan oleh serangan seruling itu pun dengan cepat menggetarkan seluruh kalangan membuat rerumputan serta pasir pada beterbangan.

Su Hay Sin Tou serta Pek-to un cu walau pun sudah berkelana selamanya dalam dunia kangouw saat ini hatinya terasa terkejut oleh kedahsyatan serta keseruan pertempuran ini, tak terasa lagi mereka sudah menggerakkan kakinya maju ke depan.

Sedang Hwee Im Poocu hatinya semakin bertambah kuatir, pedangnya dicekal kencang kencang sedang matanya tak berkedip memperhatikan terus ke tengah kalangan dia bersiap-siap setiap melancarkan serangan untuk menolong Sunionya itu.

Loo Hu Cu yang sejak dahulu mempunyai maksud untuk merebut gelar jagoan nomor wahid diseluruh Bulim kini setelah melihat pertempuran yang sangat seru antara Tan Kia-beng dengan Ih Bok Popo rasa berdesir berkecamuk dihatinya dia tidak berani membayangkan bagaimana akibatnya bilamana dia kini yang turun tangan sendiri.

Saat ini di tengah kalangan pertempuran masing-masing pihak masih melancarkan serangan dengan gerakan cepat bagaikan kilat, hanya dalam sekejap saja tiga puluh jurus sudah berlalu.

Wajah Ih Bok Popo kini sudah berubah amat menyeramkan, rambutnya yang beruban awut awutan tidak karuan, sembari menggerakkan tongkat besinya dia berteriak.

"Coba kau rasakan ilmu tongkat Ci Ci Tiong Liuw dari Loo nio ini."

Di tengah suara suitan yang amat aneh gerakan tongkatnya berubah dengan gaya menotok, memukul, menyapu serta membabat berturut turut dia melancarkan serangan serangan gencar mendesak pihak musuhnya.

Seketika itu juga angin menyambar nyambar saling susul menyusul, bagaikan menggulung ombak di tengah amukan angin taufan dengan cepatnya melanda ke depan.

Dalam keadaan kepepet Tan Kia-beng segera terdesak mundur beberapa langkah ke belakang.

Melihat kejadian itu air muka Su Hay Sin Tou serta Pek-tok Cuncu berubah hebat, masing-masing mengangkat tangannya siap-siap melancarkan serangan.

Hwee Im Poocu pun dengan cepat menggetarkan pedangnya membentuk bunga bunga pedang.

"Haaa.... haah....bagaimana? Ingin main keroyok?"

Serunya sambil tertawa tergelak.

Tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan sedang para jago Hwee Im Poo pun masing-masing menyahut keluar pedangnya dan mengerubut maju ke depan, agaknya suatu pengeroyokan secara massal bakal berlangsung Mendadak tampaklah Tan Kia-beng mengerutkan alisnya rapat rapat, dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali.

"Hmm! ilmu toya Ci Ci Tong Liuw tidak lebih cuma demikian saja"

Ejeknya. Sekarang coba kau rasakan kelihayan dari ilmu Uh Yeh Cing Hun dari siauwyamu ini"

Hanya di dalam sekejap saja seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan suara suitan yang menggetarkan hati tampak serentetan cahaya terang membumbung keangkasa lalu berpisahan menjadi berjuta juta titik terang menggulung ke arah depan.

Ilmu seruling Uh Yeh Cing Hun ini benar-benar amat dahsyat sekali dan cukup membuat sebuah gunung Thay-san dihajar ambruk, hanya di dalam sekejap saja Ih Bok Popo kena didesak sehingga mundur ke belakang sejauh satu kaki delapan depa.

Ih Bok Popo yang berhati berangasan suka menang sendiri melihat dia berada di dalam keadaan bahaya hatinya gemas serasa diiris iris, sambil menggigit kencang bibirnya dia memutar toyanya lebih santar lagi.

Tetapi jurus serangan yang amat aneh dan sakti ini mana bisa dipencahkan dengan begitu mudah, di tengah berkelebat bayangan seruling diantara sembaran toya terdengar suara mendengus berat bergema memenuh iangkasa, bagaikan disengat ular Ih Bok Popo mengundurkan diri sejauh satu kaki.

Air mukanya berubah amat menyeramkan setelah melemparkan toya besinya ke atas tanah seperti orang kalap ia melarikan diri ke tengah hutan yang amat gelap itu, tidak salah lagi dia sudah kena jatuh kecundang di tangan pemuda tersebut.

Sedih marah, gemas dan perih bercampur aduk di dalam hatinya yang kemudian dikeluarkan semua bersamaan dengan daya lempar toya tersebut.

Dengan dahsyatnya toya itu menamcap di atas tanah sehingga seluruhnya lenyap dari pandangan, cukup hal ini saja sudah menunjukkan betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dia miliki.

Ih Popo yang namanya menggetarkan dunia kangouw sudah kalah, nama besar serta kecemerlangan yang dipupuk selama puluhan tahun inipun ikut musnah terkubur ditepi hutan pohon siong tersebut.

Para jago yang hadir di tengah kalangan itu pada terperanjat semua, saking kagetnya mereka pada saling bertukar pandangan.

Dengan perlahan Tan Kia-beng menyimpan kembali seruling Pek Giok Siauwnya ke arah pinggang lalu dia gelengkan kepalanya.

Dia yang sudah memperoleh kemenangan sama sekali tidak menunjukkan kecongkakkannya, sebaliknya dalam hati merasa menyesal karena sudah menghancurkan nama baik seorang yang telah dipupuk selama puluhan tahun lamanya.

Su Hay Sin Tou yang melihat Toakonya saking girangnya lantas bertepuk tangan.

"Hooree.... Toako menang! jurus "Hong Bok Han Pei"

Atau angin dingin mengandung kesedihanmu itu benar-benar membuat dia menderita kekalahan dengan puas!"

Serunya. Dengan perlahan Tan Kia-beng menoleh sekejap ke arah Hwee Im Poocu lalu tersenyum tawar.

"Toako!"

Tiba-tiba terdengar Pek-tok Cuncu berkata.

"kau pulanglah dulu untuk beristirahat, biar aku serta si pencuri tua ini menyusul dari belakang."

Dengan perlahan Tan Kia-beng mengangguk, mendadak dia mengenjotkan tubuhnya melayang ke tengah hutan.

Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun saling bertukar pandangan sesaat dengan misterius lalu putar badan dan berlalu juga dari sana.

Tak seorangpun yang turun tangan menghalangi, tetapi tak seorangpun yang suka percaya terhadap apa yang diucapkan oleh Tan Kia-beng tadi, terkejut!

seram!

marah sedih!

bercampur baur di dalam benak setiap orang.

Dengan sedihnya Hwee Im Poocu menundukkan kepala dan menghela napas panjang, sedang Loo Hu Cu dengan wajah menyengir kejam memandang ke arah dimana lenyapnya bayangan punggung Tan Kia-beng.

Rakus!

iri!

dengki!

bercampur baur dihatinya, otaknya dengan cepat berputar.

"Dengan cara apa aku baru bisa melenyapkan dirinya? dengan cara apa aku baru bisa memperoleh pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya?"

Pada saat itulah mendadak dari balik hutan muncullah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang amat dipercaya orang-orang Bulim serta istrinya yang cantik Lie Hua Hweecu, sedang disisinya kelebihan seorang siucay berusia pertengahan yang mencekal sebuah kipas besar.

Wajahnya masih tetap tersungging senyuman yang menarik kepada para jago yang hadir di tengah kalangan dia merangkap tangannya memberi hormat.

"Haa.... haa.... kalian sungguh menyenangkan sekali"

Serunya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Di tengah malam buta begini masih menikmati rembulan di tengah hutan."

Hwee Im Poocu yang dikarenakan pernah bentrok dengan dia lantas angkat kepalanya memandang sekejap ke arahnya tapi tak mengucapkan sepatah katapun.

Sebaliknya pada wajah Loo Hu Cu segera terlintaslah satu cahaya kegembiraan, dengan terburu-buru dia merangkap tangannya membalas hormat.

"Terus terang saja Bok Heng, kami sekalian baru saja jatuh kecundang ditangan bangsat cilik itu!"

"Aaakh! di dalam dunia kangouw ternyata masih ada orang bisa memaksa Tootiang sekalian jatuh kecundang?"

Seru Bok Thian-hong pura pura terperanjat. Boh hong buat apa kau menempeli wajah pinto dengan emas?"

Dia lantas menuding ke arah kereta kencana itu dan ujarnya lagi.

"Walaupun kereta kencana tersebut berhasil ditahan oleh Ong heng dari benteng Hwee Im Poo tapi manusianya berhasil meloloskan diri tanpa ada yang bisa menahan dirinya."

"Kalau begitu dia tentunya datang bersama-sama?"

Yang tua tidak kelihatan, cuma si anakan iblis itu saja."

Dia menghela napas dengan perlahan lalu tambahnya.

"Kepandaian silat dari anakan iblis ini amat aneh dan dahsyat, sampai Ih Bok Popo yang amat terkenal itupun dikalahkan ditangannya. Heey.... kedua orang iblis ini bilamana tidak cepat-cepat dibasmi maka orang-orang Bulim tidak bakal bisa hidup dengan tenang!"

"Walaupun cayhe mempunyai maksud untuk menyapu kawanan iblis menegakkan keadilan di dalam Bulim tetapi justru kekurangan kawan kawan sejalan dan sependirian"

Ujar Bok Thian-hong sambil menghela napas pula.

"Heei.... kini penjagalan manusia secara besar besaran sudah berlangsung, kita tak boleh berpeluk tangan terus."

Dari sepasang mata Loo Hu Cu mendadak memancar keluar sinar yang amat aneh.

"Nama besar Bok heng sudah terkenal di seluruh Bulim, cukup kau mengundang para jago sudah pasti akan berdatangan, pinto tidak becus, bilamana Bok heng suka menerima pekerjaan ini tentu aku bantu sepenuh tenaga."

Berbicara sampai disini dia lantas memberi hormat kepada Hwee Im Poocu yang lagi berdiri termangu-mangu itu.

"Ong heng! bagaimana kalau kaupun ikut kemari untuk bercakap-cakap!"

Hwee Im Poocu yang lagi merasa sedih dan kecewa atas kekalahan tadi saat ini memangnya lagi memikirkan cara untuk mencari bala bantuan guna menghadapi majikan kereta berdarah tersebut.

Tetapi berhubung dia sudah pernah bentrok dengan Thay Gak Cungcu maka dalam hati merasa sungkan untuk ikut maju kesana.

Tetapi kini sesudah mendengar suara sapaan dari Loo Hu Cu diapun dengan langkah lebar berjalan mendekat, Thay Gak Cungcu dengan wajah penuh senyuman seperti belum pernah terjadi sesuatu urusan maju menyambut.

"Haa.... haa.... selama ini apakah Ong heng baik-baik saja?"

Tanyanya sambil merangkap tangannya menjura.

"Terima kasih, terima kasih, segalanya masih seperti sedia kala, cuma, cuma.... Heee! urusan sukar untuk dibicarakan!"

"Apa yang sudah terjadi di dalam benteng Hwee Im Poo cayhe sudah dengar orang berkata"

Hibur Thay Gak Cungcu dengan cepat.

Terus terang aku beritahukan kepada heng thay sekalian, mengenai sarang iblis itu setelah mengalami penyelidikan yang cukup sulit dari orang-orangku kini sudah memperoleh sedikit kabar bilamana orang-orang kita sudah cukup maka kita segera berangkat menghancurkan iblis iblis pengacau Bulim itu"

Diapun lantas memperkenalkan siucay berusia pertengahan itu kepada mereka berdua.

"Saudara ini adalah "Mo Pek Miauw Sit Suseng"

Atau sastrawan berseruling bagus dari daerah gurun pasir Bun Ih Ping yang sengaja datang kemari untuk menyambangi kawan kawan dari seluruh dunia persilatan."

Loo Hu Cu serta Ong Jian terburu-buru lantas maju ke depan memberi hormat.

Sikap serta tindak tanduk dari sastrawan berusia pertengahan itu amat dingin dan congkak, dia hanya sedikit menganggukkan kepalanya dan tetap menggoyang goyangkan kepalanya.

Sedang matanya dengan pandangan yang amat aneh dialihkan ke atas tubuh Sak Ie itu jagoan dari Bu-tong-pay yang lagi berdiri sambil bergendong tangan disamping kalangan Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang melihat Sak Ie lantas menunjukkan sikap yang luar biasa sekali seperti baru saja mendapatkan harta pusaka.

"Ee.... siapakah Jien heng ini? kau anak murid diapa?"

Tanyanya dengan terburu-buru Loo Hu Cu yang hawa amarahnya masih belum sirap mendengus dingin.

"Sute dari Leng Hong Tootiang, Sak Ie adanya!"

Sahutnya.

Sekali pandang saja Thay Gak Cungcu ini lantas mengerti kalau diantara mereka berdua pasti pernah terjadi satu urusan yang tidak menyenangkan, dengan cepat dia maju ke depan dan menyapa dengan suara ramah.

"Lama sekali mengagumi Sak heng bagaikan naga diantara manusia, pertemuan kita ini hari sangat mengasikkan sekali, aku orang she Bok benar-benar merasa kagum terhadap dirimu." ---0-dewi-0---JILID. 18 Sak Ie jadi orang amat cekatan dan tajam penglihatannya, walaupun selama ini dia berdiri termangu-mangu tetapi sejak semula sudah bisa melihat seluruh keadaan dengan amat jelas. Dia merasa Bok Thian-hong ini walaupun diluarnya bicara gagah dan penuh disertai maksud demi tegaknya keadilan, padahal di dalam hatinya amat licik dan berbahaya. Ketika dengan penuh perhatian dia lagi mendengarkan perbuatan apa yang dia lakukan mendadak dia memperkenalkan Miauw Pit suseng, Bun Ih peng kepada semua orang hatinya jadi rada tertarik. Kini melihat Bok Thian-hong berjalan mendekati dirinya dia lantas menjawab dengan suara yang amat dingin.

"Aku orang she Sak belum lama berkelana di dalam dunia kangouw, tidak berani aku menerima pujianmu yang begitu tinggi itu."

"Haaa.... haaa.... Sak heng terlalu merendah bilamana kau pandang remeh diriku bagaimana kalau kaupun ikut duduk disana untuk bercakap-cakap?"

Dengan tawarnya Sak Ie lantas menyahut kemudian dengan mengikuti Bok Thian-hong berjalan kesisi Loo Hu Cu sekalian dan duduk di atas tanah.

Demikianlah mereka lantas duduk disana sambil bercakap-cakap, dengan menggunakan kesempatan itulah Bok Thian-hong mulai membual tentang kekuatan yang ada di Bulim dewasa ini serta seluruh kejadian besar kecil yang pernah dia ketahui.

Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu semakin mendengar semakin tertarik sedangkan Sak Ie sendiri jadi semakin menaruh curiga.

Akhirnya bahan pembicaraan dialihkan kembali kepersoalan yang sebenarnya.

"Sungguh sukar untuk memperoleh kepercayaan dari saudara saudara terhadap diriku"

Ujarnya mendadak.

"Tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuk bercakap-cakap bagaimana kalau kita ikut serta diriku untuk duduk duduk di dalam perkampungan Thay Gak Cung?"

Maksud Bok heng....

seru Loo Hu Cu sambil mengelus jenggotnya yang panjang.

Pada saat itulah dari tengah hutan mendadak terdengar suara seram yang amat mendirikan bulu roma.

Air muka Bok Thian-hong pun segera berubah hebat.

"Siapa....?"

Bentaknya keras.

Di tengah suara bentakan yang amat keras dengan cepat dia menubruk ke arah tengah hutan.

Begitu dia bergerak Miauw Pit suseng yang ada disisinyapun ikut mengenjotkan tubuhnya menubruk ke arah dalam hutan.

Bok Thian-hong yang menggerakkan badannya terlebih dulu sudah tentu tiba lebih pagi dari dirinya, siapa sangka baru saja tubuhnya melayang datang terasa ada segulung angin tajam berkelebat lewat disisinya.

Melihat adanya sambaran dari sesosok bayangan manusia Bok Thian-hong jadi terperanjat dalam keadaan terburu-buru dia mengirimkan satu pukulan dahsyat ke arah depan.

Bagaimana manusia itu sewaktu melihat mendadak dia melancarkan serangan tubuhnya berputar satu lingkaran di tengah udara kemudian menyambar dari sisinya dan meluncur dengan cepatnya ke dalam hutan yang lebat itu.

Di tengah malam yang buta musuh berada di tempat yang terang sedang dia berada di dalam kedudukan gelap sekalipun Bok Thian-hong memiliki kepandaian silat yang amat tinggi diapun tidak berani mengejar secara gegabah.

Pada saat itulah Miauw Pit Suseng pun sudah mengejar ketepi hutan, dia yang melihat berkelebatnya sesosok bayangan hitam menerjang ke arahnya dengan cepat kakinya dipercepat sedang sepasang telapak tangannya dengan dahsyatnya mencengkeram ke arah bayangan hitam itu.

Agaknya seluruh gerak gerik bayangan hitam itu amat cepat dan gesit sekali, baru saja tangannya menempel ujung baju lawannya mendadak terasalah segulung hawa dingin meresap ke dalam jari tangannya untuk kemudian menyusup ke dalam tubuh hatinya jadi terperanjat sekali sehingga terburu-buru dia menarik kembali telapak tangannya ke belakang.

Dan pada saat dia sedikit berayal itulah bayangan hitam itu sudah lenyap tak berbekas.

Dalam keadaan gusar dia bersuit aneh badannya bergerak siap mengadakan pengejaran.

Bok Thian-hong yang waktu itu sudah tiba dibelakang tubuhnya dengan cepat berteriak mencegah.

"Musuh gelap kita berada dalam kedudukan terang, Bun heng jangan gegabah biarlah dia pergi."

Mereka berdua yang menubruk tempat kosong sambil menundukkan kepala lantas mengundurkan diri keluar hutan.

Loo Hu Cu sekalian yang melihat mereka berdua keluar dari hutan lantas pada menyongsong ke depan.

"Bok heng apa menemukan sesuatu?"

Tanyanya.

"Hmm!! dia berhasil meloloskan diri"

Seru Thay Gak Cungcu dengan wajah seram sekali.

Dengan nama serta kepandaian dari Bok Thian-hong yang amat terkenal itu pihak lawan ternyata berhasil juga meloloskan diri, cukup dari hal ini bisa diketahui kalau kepandaian silat orang itu amat dahsyat sekali.

"Aduh celaka! cayhe kena jatuh kecundang!"

Tiba-tiba terdengar Miauw Pit Suseng Bun Ih Beng mendengus dingin "Apa? Bun heng kena diselomoti orang?"

Teriak Bok Thian-hong terkejut.

"Coba kau lihat, ilmu kepandaian macam apakah ini?"

Seru Miauw Pit suseng Bun Ih Peng sambil memperhatikan telapak tangannya.

Bok Thian lantas menarik Bun Ih Peng ke bawah, sorotan sinar rembulan kemudian memeriksa telapak tangannya.

Tampaklah di atas telapak tangannya yang putih bersih itu kini sudah berubah jadi hitam pekat disertai suatu jalur hitam yang memanjang hingga sampai dibawah ketiak.

"Aaakh.... kau bukan dilukai dengan ilmu silat melainkan terkena racun!"

Teriaknya keras.

"Mari kita cepat-cepat kembali ke dalam perkampungan! racun ini tidak boleh terlambat lagi."

Miauw Pit suseng Ben Ih Peng pun sejak tadi sudah merasa keadaan rada tidak beres terburu-buru dia menutup jalan darahnya untuk mencegah menjalarnya racun tersebut ke tempat yang lebih luas.

Kini melihat wajah Bok Thian-hong berubah amat terperanjat tidak kuasa lagi sudah tertawa panjang.

"Haaa.... haa.... cuma terkena sedikit racun begini tidak bakal sampai maut nyawa aku orang she Bun, cuma saja aku tidak menyangka kalau di daerah Tionggoan ada orang yang berani menggunakan racun untuk melukai orang manusia kerdil dan laknat semacam ini benar-benar membuat cayhe merasa cemas.

"Aah.... aku sekarang sudah paham!"

Tiba-tiba teriak Loo Hu Cu seperti telah memahami sesuatu urusan, Racun ini pasti hasil perbuatan dari siluman tua itu"

"Siapakah orang itu?"

Tanya Miauw Pit suseng dengan gugup.

Orang itu bukan lain adalah siluman tua yang disebut orang-orang kangouw sebagai Pek-tok Cuncu si Rasul Racun.

Kepandaiannya bermain racun sangat dahsyat sekali, kini dia sudah menjadi kaki tangan dari anak iblis itu.

Mendengar perkataan tersebut Miauw Pit suseng segera melototkan sepasang matanya lebar-lebar lalu memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan.

"Pada suatu hari bilamana ia bertemu dengan aku orang she Bun aku mau suruh dia merasakan kelihayan aku orang she Bun Waktu itu cuaca sudah hampir terang tanah, sekali lagi Bok Thian-hong mengajak semua orang untuk melakukan perjalanan. Dengan cara iring iringan mereka lantas berlalu dari sana dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap di tengah kegelapan menjelang pagi hari itu ---0-dewi-0---Kita balik pada Tan Kia-beng, sekembalinya ke dalam rumah penginapan.... Dengan amat telitinya dia mulai memikirkan seluruh kejadian yang baru saja dialaminya itu, dia merasa urusan itu terlalu jelas dan terang terangan bisa diketahui dengan sekali pandang saja. Cuma sayang dendam dari Loo Hu Cu sekalian terhadap dirinya terlalu mendalam sehingga terhadap penjelasannya sama sekali tidak mau terima. Kereta kencana itu secara tiba-tiba bisa muncul disana tanpa pengemudi, hal ini berarti pula sipengacau tersebut pasti ada di sekeliling tempat itu. Di dalam hati dia lantas mengambil satu keputusan untuk tinggal lebih lama satu hari lagi disana untuk secara diamdiam mengadakan penyelidikan lebih teliti lagi. Sedang dia duduk termenung seorang diri itulah mendadak terdengar suara ujung baju yang tersempok angin bergema masuk ke dalam telinganya. Dengan cepat dia bangun berdiri mengadakan persiapan!! Mendadak terasa bayangan manusia berkelebat Sak Ie itu anak murid dari Bu-tong-pay yang ditemuinya sewaktu di dalam hutan kini sudah muncul di dalam kamarnya. Terhadap orang ini dalam hati Tan Kia-beng memangnya sudah menaruh rasa simpatik, dengan cepat dia bangun berdiri dan menjura ke arahnya. oOo Sak Heng malam malam datang kemari entah ada urusan apa? Sak Ie sedikitpun tidak berlaku sungkan begitu masuk ke dalam kamar dia lantas mengambil tempat duduk.

"Sengaja aku hendak menemui Heng thay dan membicarakan persoalan persoalan yang rumit,"

Sahutnya. Tidak menanti Tan Kia-beng menjawab dia kembali menyambung.

"Perkataan yang heng thay katakan sewaktu berada di dalam hutan tadi siauwte amat mempercayainya, jika dipikirkan pada saat aku merasa dugaan dari heng thay serta rasa curiga dari siauwte adalah sama."

Tan Kia-beng tidak mengerti apa yang sedang diucapkan olehnya sepasang matanya melotot lebar-lebar menanti ucapan selanjutnya.

Bukan saja siauwte menaruh curiga ada orang mengacau dari dalam bahkan siapakah orang yang sudah mengacau secara diam-diam pun bisa diduga beberapa bagian mulai sekarang,"

Sambung Sak Ie lebih lanjut. Waktu itulah Tan Kia-beng baru sadar apa yang dimaksud.

"Sak heng tidak malu disebut anak murid partai kenamaan, setiap urusan bisa dia pecahkan dengan begitu jelas...."

Ujarnya memuji.

Pertemuan kita yang kebetulan ini merupakan jodoh sehingga ikatan persahabatan diantara kita terasa semakin akrab bagaimana kalau kita masing-masing menulis nama orang yang kita curigai di atas telapak tangan masing-masing coba kita lihat sama tidak dugaan kita."

"Bagus. bagus sekali!"

Seru Sak Ie sambil tertawa terbahak-bahak.

Demikianlah berdua lalu menulis beberapa hurup di atas telapak tangan masing-masing lalu dibuka bersama-sama di bawah sorotan lampu lentera.

Tetapi sebentar kemudian mereka sudah pada tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.

Kiranya apa yang ditulis mereka berdua adalah sama.

"Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong."

"Sebetulnya cayhe tidak menaruh curiga sampai disitu,"

Ujar Sak Ie secara tiba-tiba.

"Cuma saja dengan secara mendadak dia itu memperkenalkan seorang Miauw Pit suseng Bun Ih Peng yang datang dari daerah Me pak maka dalam hati cayhe baru merasa curiga.

"Orang yang datang dari Me Pak?...."

Seru Tan Kia-beng mendadak "Suhuku Thia Bok Tootiang bersama-sama dengan Cu Swee Tiang Cing Tan Cia Liang serta Leng Siauw Khek dari gunung Cing Shia setelah pergi ke Mo Pak hingga kini tiada kabar beritanya, sebetulnya Siauwte bermaksud hendak berangkat ke gurun pasir mencari jejak mereka, tetapi berhubung munculnya peristiwa kereta kencana di dalam Bulim yang membuat dunia kangouw kacau balau dan banjir darah maka cayhe bermaksud mencari beberapa orang kawan lagi untuk diajak berangkat bersama-sama siapa tahu kini muncul orang yang berasal dari gurun pasir bahkan bersama-sama Bok Thian-hong, hal ini membuat hatiku menaruh rasa curiga."

"Setelah diangkat oleh Sak Ie Tan Kia-beng pun lantas menaruh rasa rindu terhadap suhunya "Ban Lie Im Yen"

Lok Tong."

Tak kuasa lagi dia menghela napas panjang.

"Heei.... Siauwte pun mempunyai perasaan begitu, suhuku si Ban Lie Im Yen Lok Tong setelah berangkat ke daerah Mo Pak hingga kini tak ada kabar beritanya hal ini membuat cayhe merasa makan tak tenang tidurpun tak nyenyak, bilamana heng thay juga mempunyai maksud demikian bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama setelah waktunya tiba?"

"Terus terang saja cayhe katakan, kali ini siauwte bersama-sama dengan Loo Hu Cu sekalian sudah memperoleh undangan dari Thay Gak Cungcu untuk mengunjungi perkampungan Thay Gak Cung ujar Sak Ie sambil bangun berdiri, sekarangpun aku diam-diam mencuri keluar sewaktu mereka lagi beristirahat, maaf siauwte tidak bisa berdiam lebih lama lagi, lain hari nanti bilamana hendak berangkat ke gurun pasir kita bicarakan kembali"

Sudah amat lama sekali Tan Kia-beng punya maksud untuk menyelidiki perkampungan Thay Gak Cung tersebut, setelah mendengar perkataan itu hatinya rada bergerak "Sak heng bagaimana kalau secara diam-diam aku membuntutimu?"

Serunya. Sak Ie termenung sebentar, kemudian sahutnya.

"Musuh musuh heng thay tersebar diseluruh penjuru, urusan yang demikian bahayanya ini tidak seharusnya heng thay ikut pergi tetapi bilamana heng thay ngotot mau pergi juga boleh saja aku kabulkan"

Dengan menggunakan air teh dia lantas melukis sebuah tanda yang amat aneh sekali di atas meja "Tanda ini adalah tanda yang biasa digunakan partaiku untuk minta bantuan, bilamana heng thay benar-benar bermaksud hendak pergi secara diam-diam kau boleh mengikuti tanda tanda ini, tapi kau harus ingat Thay Gak Cungcu adalah seorang yang amat licik secara diam-diam dia pasti sudah kirim orang untuk mengadakan pengawasan, harap heng thay suka bekerja lebih berhati-hati lagi."

"Cayhe sudah tentu akan selalu waspada,"

Sahut Tan Kia-beng sambil mengangguk berulang.

"Tetapi heng thay yang memasuki sarang macanpun harus lebih berhati-hati lagi"

"Cayhe sudah punya maksud untuk memasuki sarang macan, sudah tentu terhadap urusan mati hidup tak terpikir dalam hati"

Sahut Sak Ie sambil tertawa tergelak.

Dia lantas merangkap tangannya memberi hormat dan berlalu dari sana dengan meloncat keluar dari jendela kamar.

Tan Kia-beng yang secara tidak sengaja sudah memperoleh kesempatan untuk memasuki perkampungan Thay Gak Cung dalam hati merasa amat girang sekali bersamaan itu pula dia merasa terharu oleh kegagahan dari Sak Ie pikirnya.

"Kini aku tak ada urusan yang lain, demi kawan yang gagah seharusnya akupun ikut menerjang ke tempat bahaya untuk memberi bantuan kepadanya bilamana perlu. Dengan terburu-buru dia lantas membereskan buntalannya meletakkan sekeping perak di atas meja dan siap-siap meloncat keluar dari kamar. Mendadak.... Terdengar suara menyambarnya ujung baju tersampok angin, dua sosok bayangan manusia yang tinggi besar dengan cepatnya sudah menerjang masuk ke dalam kamar. Kini musuh tangguh tersebut diempat penjuru apa lagi pada saat itu Tan Kia-beng berada di dalam keadaan tidak bersiap sedia terburu-buru dia kebaskan tangannya memadamkan lampu lentera tubuhnya menying ke samping siap-siap menanti serangan musuh.

"Toako apakah sampai aku si pencuri tua pun kau sudah tidak kenal?"

Tiba-tiba terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak.

Terburu-buru Tan Kia-beng menarik kembali serangannya dan menyingkir kesamping.

Menanti kedua orang siluman tua itu masuk ke dalam kamar diapun lalu menceritakan undangan Thay Gak Cungcu terhadap Lo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sekalian untuk mengunjungi perkampungan Thay Gak Cung, dan bagaimana dia bermaksud untuk menguntit secara diam-diam.

Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun lalu saling bertukar pandang sekejap kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haaa haaa.... urusan ini aku serta siluman siracun ini sudah tahu sejak tadi"

Sahutnya Bukan hanya begitu saja, bahkan kami pun sudah berguyon sebentar dengan diri mereka Dan dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah medali pualam yang memancarkan cahaya terang dan diserahkan ketangan Tan Kia-beng Medali pualam itu aku si pencuri tua dapatkan dari badan Bok Thian-hong untuk sementara baiknya disimpan disaku Toa ko saja.

Tan Kia-beng lantas menerima medali pualam itu dan diperiksanya dengan teliti.

Tampaklah luas medali pualam itu ada dua Cun dengan di atasnya terlukis banyak lukisan yang jeals di tengah-tengah medali terukir sebuah lukisan kelabang emas yang lagi mementangkan giginya dengan piliknya terukir delapan buah tulisan.

"Tiong Ci Jen Jiang, Sim Si Tan Tan"

Untuk berberapa saat lamanya pemuda ini tak mengerti apa maksud dari tulisan tersebut, tetapi dia menduga benda tersebut tentulah suatu tanda kepercayaan dari golongan tertentu karenanya dia lantas masukkan benda itu ke dalam sakunya.

"Toako!"

Tiba-tiba Pek-tok Cuncu menegur.

"Bilamana kau hendak menguntit Bok Thian-hong sekalian pergilah dengan berhati-hati, kamipun harus berangkat dulu."

Sehabis berkata dia meloncat keluar dari jendela dan berlalu terlebih dulu. Su Hay Sin Tou si pencuri saktipun lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... ada kemungkinan kita bertiga bisa kembali bersama-sama, aku si pencuri tua berangkat lebih dulu"

Diantara berkelebatnya bayangan hitam diapun berlalu dengan amat cepatnya dari sana.

Tan Kia-beng tahu diantara mereka berdua sudah terikat pertandingan sepuluh hari dan kini sedang mengadu kepandaian karenanya dia tidak mencegah.

Sambil tersenyum tubuhnyapun berkelebat keluar dari jendela kamar itu.

Dengan emngikuti arah yang ditunjuk oleh Sak Ie dia berlari terus ke arah depan.

Ternyata sedikitpun tidak salah tidak jauh setelah dia meninggalkan kota dengan mudahnya dia mendapatkan tanda rahasia Bu-tong-pay yang ditinggalkan oleh Sak Ie Dengan mengikuti arah yang ditunjuk itulah Tan Kia-beng melanjutkan perjalanannya ke arah depan.

Mendadak tanda itu berubah arah dan menuju ke arah suatu tempat yang amat asing sekali, hal ini membuat hati pemuda tersebut jadi amat cemas.

Pertama dia menaruh rasa kuatir atas keselamatan dari kawannya yang baru Sak Ie keduanya dia merasa undangan Bok Thian-hong terhadap Loo Hu Cu, Hwee Im Poocu serta orang dari gunung pasit itu walaupun kedengarannya soal hubungan pribadi padahal yang sebenarnya menyangkut mati hidupnya orang Bulim.

Karena itu dia harus cepat-cepat memecahkan rahasia ini dan membuat urusan jadi lebih jelas.

Dengan mengikuti tanda rahasia yang ditinggalkan Sak Ie kembali Tan Kia-beng melakukan perjalanan selama satu jam, mendadak dia menemukan tanda rahasia yang ditinggalkan jagoan Bu-tong-pay itu terputus sampai di tengah jalan dan tak ditemukan kembali sedikit jejakpun disekitar tempat itu.

Hatinya jadi amat terperanjat sekali.

"Celaka! apa mungkin Sak Ie sudah menemui bencana?"

Pikirnya dalam hati.

Dengan cepatnya dia melakukan pemeriksaan di sekeliling tempat itu tetapi hasil yang diperolehnya adalah nihil hatinya mulai ragu ragu dan menaruh rasa cemas.

Ditinjau dari keadaan ini maka cuma ada dua kemungkinan saja.

Pertama, Sak Ie sudah tidak memperoleh kesempatan lagi untuk meninggalkan tanda rahasia partainya.

Kedua, tanda rahasia yang ditinggalkan olehnya sudah diketahui oleh orang-orang perkampungan Thay Gak Cung sehingga dimusnahkan dengan cepat.

Hal ini membuat hatinya semakin cemas lagi pikirnya.

"Sekalipun jejak mereka lebih rahasiapun tidak mungkin kalau sampai benar-benar lenyap, aku tidak percaya kalau tidak berhasil menemukan mereka."

Walaupun di dalam hati dia lagi berpikir tetapi sepasang matanya dengan amat tajam memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat memandang si Pek Ih Loo Sat Hu Siau Cian dengan cepatnya sudah muncul dihadapannya.

"Tan Kia-beng, kau pun ikut datang?"

Terdengar gadis itu berteriak kegirangan sewaktu dilihatnya pemuda itu bukan lain adalah Tan Kia-beng, idaman hatinya.

Dengan cepatnya ia lari ke depan dan memeluk tubuh pemuda itu erat-erat.

Kepalanya direbahkan ke dalam pangkuan sang pemuda sedang tangannya merangkul erat-erat, saking girangnya sehingga setengah harian lamanya dia tak dapat mengucapkan sepatah katapun Beberapa waktu ini diapun benar-benar sangat kasihan sekali ayahnya "Si Penjagal Selaksa Li"

Hu Hong dikarenakan hendak menghadapi musuh musuhnya telah menitipkan dirinya dirumah seorang sahabat karib tetapi kawannya itu mempunyai sifat yang amat kukoay selama setahun lamanya jarang sekali berbicara sepatah katapun dengan orang.

Coba bayangkan dengan sifat Hu Siauw-cian yang amat lincah dan suka bergerak ini mana dia merasa kerasan untuk hidup bersama-sama dengan siluman tua yang membisu seperti orang mati itu?

Tidak sampai berapa hari lamanya secara diam-diam dia sudah mencuri keluar dari tempat tersebut.

Tetapi di dalam dunia kangouw dia tak berkawan, apalagi jejak musuh tersebar di setiap tempat dan keadaannya disetiap waktu amat berbahaya membuat dia benar-benar terasa tersiksa.

Dengan kakunya Tan Kia-beng berdiri tegak disana dan membiarkan gadis itu memeluk dirinya kencang kencang.

Terasa bau harum tersiar masuk ke dalam hidungnya membuat dia tanpa terasa sudah menunjukkan reaksi sepasang tangannya pun dengan cepat balas memeluk pinggangnya erat-erat.

Tindakannya ini dilakukan tanpa sadar dan muncul dari reaksi seorang lelaki terhadap lawan jenisnya, demikianlah mereka berdua pun saling berpeluk selama seperminuman teh lamanya.

Mendadak Tan Kia-beng sadar kembali, pikirnya dihati.

"Celaka, bagaimana aku bisa jadi begini?"

Terburu-buru dia lepas tangan dan hendak mendorong dirinya, tetapi sepasang wajahnya yang cantik kini sudah penuh dibasahi oleh butiran air mata membuat dia merasa kasihan.

Tan Kia-beng tidak ingin melukai hatinya lagi, dia tahu gadis ini tak mempunyai seorang kawanpun dalam dunia kangouw, bilamana kini dia berbuat demikian kasar terhadapnya, bagaimana perasaan hatinya waktu itu?

Maka tangannya dengan perlahan membelai rambutnya yang halus itu sedang mulutnya tiada hentinya menghibur.

"Siauw Cian, bagaimana keadaanmu dalam waktu mendekat ini? apakah kau sudah bertemu dengan ayahmu?"

Dengan perlahan Hu Siauw-cian dongakkan kepalanya yang dipenuhi dengan air mata itu kemudian dengan sedihnya dia menggeleng kepala.

---0-dewi-0---Bulan lima adalah musim panas sehingga hawa terasa amat panas, saat ini gadis tersebut hanya memakai dua lapis kain putih yang amat tipis sehingga membuat bentuk serta liku liku tubuhnya tertera amat jelas apalagi saat ini tubuh mereka saling bergesek hal ini membuat Tan Kia-beng merasa hatinya bergolak.

Berapa kali dia kepingin menundukkan kepalanya mencium kedua belah bibirnya yang mungil dan berwarna merah segar itu Tetapi bagaimanapun dia seorang lelaki yang memegang taguh adat kesopanan merasa hatinya berdebar keras terburu-buru dia pusatkan pikirannya yang membuang jauh jauh maksud jahat itu setelah itu dengan halusnya dia mendorong tubuh gadis itu menjauh.

"Kini suasana di dalam Bulim amat tegang dan berbahaya apalagi ayahmu tak ada disini, lebih baik kau jangan lari sembarangan, bagaimana misalnya bila kau sampai bertemu dengan musuh tangguh?"

Serunya perlahan. Mendadak Hu Siauw-cian mendorong dia ke belakang dan tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

"Apanya yang aneh! bilamana belum bertemu dengan orang-orang yang berkepandaian biasa maka itulah nasib mereka harus mati yang mereka cari jalan maut buat dirinya sendiri bilamana bertemu dengan jago-jago berkepandaian lihay, biarlah aku adu jiwa yang selalu sial ini, haa haa."

Tertawanya mengandung nada kesedihan jelas kalau suara tertawanya kali ini bukan dikarenakan kesombongan hatinya tetapi karena desakan batin yang mendesak terus jiwanya.

Sesudah tertawa seram beberapa saat lamanya dia putar badan dan menghela napas panjang.

"Bagaimanapun juga orang semacam aku ini sekalipun mati juga tak ada orang yang ikut merasa sedih"

Tan Kia-beng yang melihat secara tiba-tiba dia merasa sedih terburu-buru ia maju ke depan dan hiburnya dengan suara perlahan.

"Tidak seharusnya kau berpikir demikian kau harus tahu bagaimanakah cintanya ayahmu terhadap dirimu? bilamana kau benar-benar menemui bencara atau bahaya dia pasti merasa amat sedih."

"Hei.... urusan ini tidak bisa dihindari lagi, aku masih muda, sekalipun aku tidak mau, hal ini juga tidak mungkin tak menjadi aku tidak akan mengorbankan seluruh kebahagiaan di atas gunung yang sunyi dan tak bermanusia ini, apalagi akupun merasa tidak lega atas keselamatanmu, keadaanmu jauh lebih berbahaya daripada diriku apalagi kaupun tidak memiliki sedikit pengalaman di dalam dunia kangouw, hal ini benar-benar membuat aku merasa cemas,d an kuatir!"

Bilamana ucapan ini didengar tempo dulu mungkin Tan Kia-beng tidak akan terharu seperti ini hari, tetapi kini keadaan sudah lain, dia dengan Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong mempunyai ikatan perguruan yang erat, atau dengan perkataan lain mereka adalah satu keluarga.

Ditambah lagi jika membicarakan soal tingkatan Siauw Cian seharusnya adalah sutit linya, karena itu diapun ikut bertanggung jawab terhadap dirinya.

Kini melihat gadis tersebut menaruh rasa kuatir buat keselamatannya dalam hati dia merasa benar-benar amat terharu, dengan perlahan dia membelai rambutnya yang panjang dan berkata.

"Kau tidak usah menaruh rasa kuatir terhadap keselamatanku. Kau sendirilah yang harus lebih waspada lebih baik kau pulanglah! Menanti urusan sudah menjadi terang aku akan datang mencari dirimu."

"Tidak! Tidak! Aku mau melakuakn perjalanan bersama-sama dengan kau"

Seru gadis itu sambil menggoyangkan kepalanya.

Hal ini membuat Tan Kia-beng jadi serba susah mengetahui perjalanannya kali ini amat berbahaya sekali.

Bilamana dirinya yang menemui bencana masih tidak mengapa, tetapi bilamana dia membawa serta gadis tersebut dan menemui bencana bagaimana dia harus bertanggung jawab kepada suhengnya si Penjagal Selaksa Li dikemudian hari?

Apalagi tujuan semua orang adalah mereka ayah beranak, bilamana dia harus melakukan perjalanan bersama dengan gadis itu maka jejaknya mudah diketahui orang, karena itu untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Mendadak Hu Siauw-cian putar badan dan berseru dengan amat sedihnya.

"Aku tahu kau pasti tidak mau, tetapi sejak pertemuan kita untuk pertama kalinya aku selalu memikirkan dirimu, aku tak ingin berpisah dengan dirimu lagi. Heeii inilah yang dinamakan mencari kesulitan buat diri sendiri...."

Dengan perlahan dia melangkah menuju kesebuah pohon besar perkataan yang baru saja diutarakan ini amat jelas sekali dan tanpa disadari diapun sudah memperlihatkan perasaan hatinya yang sesungguhnya.

Tan Kia-beng yang mendengar perkataan tersebut kontan jadi melengak dan berdiri termangu-mangu, dalam hati dia benar-benar merasa amat kaget.

"Aduh celaka!"

Pikirnya.

"Kiranya dia sudah jatuh hati kepadaku! tetapi, tetapi.... heeei...."

Pada waktu itulah dia dapat melihat dari kedua kelopak mata gadis tersebut dengan perlaahn menetes keluar butiran air mata dengan derasnya keadaan yang amat menyedihkan ini seketika itu juga membuat hatinya tergetar dan merasa tidak tega.

Dia mengerti jelas kalau gadis yang sombong seperti dia sudah tidak seharusnya membuka rahasia hatinya dengan terang terangan apalagi bilamana kini dia menusuk hati lagi, mudah sekali memancing dia untuk mengambil keputusan pendek karena itu dengan cepat dia berjalan ke samping tubuhnya.

"Bukannya aku tidak suka mengajak kau melakukan perjalanan bersama-sama"

Hibunya.

"Tetapi justru perjalananku kali ini sangat berbahaya sekali kau tidak seharusnya ikut ak umenemui bencana bersama-sama Mendengar perkataan itu mendadak Hu Siauw-cian putar badannya dan berseru dengan amat girang.

"Kau sudah setuju?"

Nada suaranya penuh disertai rasa terkejut dan girang, agaknya dia sama sekali tidak pernah berpikir bagaimana bahayanya perjalanan yang akan ditempuh pemuda itu.

Dengan perlahan Tan Kia-beng menghela napas panjang kemudian mengangguk tak sepatah katapun diucapkan keluar.

Beberapa saat kemudian mendadak terdengar suara ujung baju yang tersempok angin berkumandang datang.

Sreet!

Sreeet!

Sreeet!

tiga sosok bayangan manusia bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya sudah meluncur datang.

"Bangsat cilik, kiranya kau ada disini,"

Terdengar suara bentakan yang amat keras berkumandang datang diiringi berkelebatnya bayangan manusia itu.

Tan Kia-beng berdua jadi amat kaget buru-buru memisah ke samping untuk menghindar.

Di tengah berkibarnya ujung baju, Pek Ih Loo Sat sudah melayang ke depan sedang telapak tangannya berturut turut melancarkan tiga buah serangan dahsyat mendesak ke arah orang itu.

Sekali pandang saja Tan Kia-beng sudah dapat melihat kalau mereka bertiga bukan lain "Hong Jen Sam Yu"

Sedang orang yang baru saja membentak tidak lain adalah si hweesio yang terkenal akan berangasannya itu. Terburu-buru dia lantas berteriak.

"Siau Cian tahan! orang sendiri."

Tetapi si hweesio berangasan itu sudah keburu didesak mundur sejauh tujuh delapan langkah oleh serangan yang amat gencar yang membuat dia saking khekinya sepasang matanya dipentangkan bulat bulat.

"Budak liar, kau sungguh mau bergebrak melawan aku si hweesio?"

Teriaknya marah. Pada saat itulah Tan Kia-beng sudah maju ke depan melerai dan menarik Hu Siauw-cian ke belakang.

"Kau budai cilik, tak nyana semakin hari bertambah liar haa.... haaa...."

Terdengar supengemis aneh menggoda sambil tertawa terbahak-bahak.

Sejak Hu Siauw-cian mengerti urusan apa yang dialami olehnya kalau bukan bertempur tentulah saling bunuh membunuh, apalagi setiap tahun musim semi sewaktu berpesiar menunggang kereta sedikit dikit lantas berkelahi dengan orang lain, hal ini membuat dia berprasangka kalau setiap kali ada orang yang datang mencari dirinya tentulah merupakan musuh musuh yang membenci dia.

Oleh sebab itulah secara tidak sadar di dalam tubuhnya sudah terdidik suatu perasaan waspada yang amat tajam serta reaksi yang cepat.

Kini melihat dia sudah salah menyerang kawan engkoh Bengnya tidak terasa ia jadi tertegun apalagi kini digoda oleh pengemis aneh itu membuat dia jadi jengah dan kemudian bersembunyi di belakang tubuh Tan Kia-beng sambil tertawa cekikikan.

Sikap serta gerak geriknya mirip dengan seorang gadis yang untuk pertama kalinya muncul di depan orang.

Waktu itulah Tan Kia-beng pun lantas memperlihatkan sikapnya sebagai seorang susiok, serunya dengan serius.

"Sudah begitu besar masih bersikap kekanak kanakan ayoh cepat kemari! Dan hunjuk hormat kepada ketiga orang cianpwee ini mereka berdua adalah si hweesio berangasan serta si toosu dengkil dari Hong Jan sam Yu!"

"Hmm! siapa yang masih seperti bocah?"

Seru Hu Siauw-cian sambil mencibirkan bibirnya.

Dengan genitnya dia lantas berjalan ke depan dan dengan hormatnya menghunjuk hormat kepada ketiga orang itu.

Dengan perbuatannya ini maka sifat berangasan dari si hweesio yang sudah semakin menjadi jadi sirap kembali.

"Tidak usah! tidak usah!"

Serunya sambil menggaruk garku kepalanya yang gatal.

"Anggap saja gebukanmu ini hari adalah begukan sia-sia!"

"Hiii.... hiii.... kau orang tua berkepandaian amat tinggi, cuma kena digebuk oleh boanpwee mana bisa bisa terasa?"

Seru Siauw Cian sambil tertawa cekakakan.

Si hweesio berangasan paling suka memakai topi tinggi, justru Siauw Cian sendiri paling suka mencari hati dengan hati orang lain, dengan sikapnya yang genit dan panggilan Loocianpwee dengan suara halus membuat si hweesio berangasan itu benar-benar merasa kegirangan, tak kuasa lagi dia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha.... bagus! bagus sekali, hitung hitung perkataanmu memang cengli gebukanmu tadi anggap saja hadiah perkenalanmu terhadap aku si hweesio!"

Setelah perkataan itu diucapkan keluar maka kontan dia memancing rasa geli dari semua orang, suara tertawa semakin keras lagi bergema diseluruh angkasa.

Suasana yang tidak menyenangkan dengan cepatnya sudah tersapu bersih dari angkasa kini tampaklah si pengemis aneh dengan tajamnya memperhatikan Tan Kia-beng beberapa saat kemudian sambil mengerutkan alisnya rapat rapat katanya.

"Suara angin pada waktu mendekat ini semakin santar, apalagi beberapa hari yang lalu, Loote kenapa kau melepaskan kembali penyamaran itu? apalagi kedua buah barang pusaka yang paling mudah menarik perhatian orang itu justru kau gembol diluar tubuh?"

Jika didengar dari suara teguran dari dia jelas menunjukkan kalau si pengemis ini benar-benar menaruh rasa kuatir terhadap diri pemuda tersebut.

"Teguran dari Toako sedikitpun tidak salah"

Sahut Tan Kia-beng sambil tersenyum "Tetapi tindakan siauwte ini bukan muncul dari hatiku sendiri sebaliknya maksud hati dari Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun, mereka menganggap diriku yang tidak pernah berbuat sesuatu urusan yang merugikan orang lain kenapa harus menyembunyikan asal usul yang sebenarnya?

isauw te setuju dengan perkataan kedua orang 'Loote' itu makanya aku lantas copot kembali penyamaranku coba bayangkan aku orang she Tan adalah seorang lelaki sejati yang tidak jeri terhadap apapun, kenapa tindakanku harus bersembunyi sembunyi?"

"Kau bilang apa? kedua orang siluman tua itu adalah Lootemu?"

Seru si pengemis aneh yang secara tiba-tiba sambil mebelalakkan matanya.

Bukan saja si pengemis aneh yang merasa kebingungan sekalipun si toosu dengkil serta si hweesio berangasanpun merasa keheranan Sambil tertawa Tan Kia-beng pun lantas menceritakan seluruh kisahnya bagaimana dia bia berkenalan dengan dua orang siluman tua itu, akhirnya dia menambahkan.

"Saat ini mereka berdua lagi bertaruhan untuk menyelidiki siapakah majikan kereta kencana yang palsu itu dan rencana busuk apa yang sedang dia susun, kedua orang tua itu benar-benar menaruh perhatian untuk membantu diriku."

Kembali si pengemis aneh itu tertawa.

"Aku si pengemis tua cuma tahu kalau tindakan kedua orang siluman tua itu amat kukoay, tidak disangka manusia manusia seperti itu suka membantu dirimu, eei.... kau harus tahu mereka berdua adalah tenaga penting bagimu untuk memulihkan kembali Teh-leng-bun dikemudian hari."

Dia berhenti sejenak untuk kemudian dengan wajah serius sambungnya;

"Aku si pengemis tua memang lagi mencari dirimu, untuk merundingkan satu urusan yang maha penting, disini bukanlah tempat yang baik untuk bercakap-cakap, mari ikut aku!"

Beberapa orang itupun lantas pada mengikuti si pengemis aneh berkelebat menuju ke sebuah kuil bobrok yang kecil, sewaktu memasuki pintu kuil segera terciumlah bau arak yang semerbak menusuk hidung.

Kiranya pada pojokan kuil tersebut sudah tersedia arak serta ayam yang lagi dipanggang di atas api unggun.

"Hii hii haa haa hitung hitung ini hari kalian berdua sangat beruntung sekali"

Terdengar si pengemis itu tertawa terbahak-bahak.

"Aku pengemis tua memangnya kebetulan lagi memanggang seekor ayam dan menyediakan segentong arak, mari sembari makan kita bercakap-cakap!"

Beberapa orang itupun lantas mulai menggerakkan tangannya menyikat ayam yang ada di atas panggang api itu "Hoore.... sungguh wangi baunya, baru pertama kali ini aku merasakan kesedapannya"

Teriak Siauw Cian sambil bertepuk tangan gembira.

Si hweesio berangasanpun lantas mencari dua buah cawan bobrok untuk diisi penuh dengan arak dan diminum beramai2.

Tampaklah pengemis aneh sambil minum arak dan menyikat ayam panggang itu ujarnya.

"Kau datang kemari apakah lagi menguntit jejak dari Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong?"

Tan Kia-beng mengangguk, diapun lantas menceritakan kisah pertemuannya dengan Sak Ie anak murid Bu-tong-pay serta rasa curiga yang meliputi dirinya.

"Sejak semula aku si pengemis tua sudah menaruh curiga kalau orang ini amat berbahaya, dilaurnya baik padahal hatinya licik dan keji bagaikan serigala, dia pasti bukan jago kangouw seperti yang disiarkan di dalam Bulim"

Kata Si pengemis aneh itu.

"Kali ini dia mengundang Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sekalian untuk mengunjungi perkampungan Thay Gak Cung tentunya sedang mengadakan suatu perundingan rahasia yang akan mengacau dunia persilatan."

"Eeei, bagaimana toako bisa tahu akan urusan ini?"

Tanya pemuda itu keheranan.

"Dikarenakan urusan kereta kencana ini hampir membuat kakiku jadi lumpuh saking lelahnya,"

Sambung si toosu dekil dengan cepat.

"Bilamana cuma urusan ini saja tidak tahu bukankah sama saja nama dari Hong Jan Sam Yu jadi jatuh kecundang!"

Lalu dia mengambil cawan yang berisi untuk diteguknya hingga puas, setelah itu baru sambungnya.

"Aku beritahu lagi satu berita penting kepadamu! Chuan Tiong Ngo Su yang menjagoi dua daerah besar itu kini sudah pada berangkat ke Barat untuk mencari perhitungan dengan orang-orang perkampunan Thay Gak Cung keramaian ini patutlah kita tonton!"

"Apakah Chuan Tiong Ngo Su yang membinasakan raja muda she Mo itu?"

"Kalau bukan mereka lalu ada siapa lagi"

Tan Kia-beng seketika itu juga mengerutkan alisnya rapat rapat, hatinya benar-benar merasa amat gemas.

Dikarenakan hubungannya dengan Mo Tan-hong membuat diapun menaruh perhatian penuh terhadap pembalasan dendam atas kematian raja muda tersebut.

Si pengemis aneh yang melihat perubahan air mukanya segera mengetahui apa yang sedang dipikirkan di dalam hati.

"Kau jangan keburu nafsu dulu"

Serunya tiba-tiba.

"Untuk sementara waktu lebih baik kita menonton saja jalannya pertempuran itu kemudian baru turun tangan sesuai dengan keadaan pada saat itu"

Tan Kia-beng yang melihat urusan yang dihadapinya semakin hari semakin bertambah kacau hatinya merasa benar-benar bingung.

Setelah mendengar perkataan itu dengan perlahan dia dongakkan kepalanya dan bertanya.

"Cianpwee, cayhe ada beberapa persoalan yang tidak paham, harap Toako suka memberi petunjuk. Pertama, orang yang menyaru sebagai si Penjagal Selaksa Li Hu Hong itu mengapa harus berbuat demikian? bilamana dikatakan memfitnah mata atau dua kali sudah lebih dari cukup, kenapa dia terus menerus berbuat demikian, apakah dia tidak takut menimbulkan rasa gusar dari seluruh jago Bulim? Kedua bilamana orang yang menyaru itu benar-benar adalah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong, lalu apakah tujuannya dia berbuat demikian? Ketiga, kenapa Chuan Tiong Ngo Su mencelakai raja muda she Mo? Padahal raja muda she Mo itu adalah seorang yang patut dihormati dan anak buahnya tidak ada yang seberapa lihay...?"

Belum habis dia berkata si pengemis aneh itu sudah tertawa terbahak-bahak memutuskan perkataannya.

"Sudah cukup! sudah cukup! cukup tiga macam persoalan itu saja sudah mengharuskan aku si pengemis tua harus bercerita selama tiga malam lamanya."

"Soal pertama, perkataanmu sedikitpun tidak salah, bilamana dia bermaksud untuk memfitnah maka satu, dua kali sudah lebih dari cukup buat dia memancing timbulnya amarah dari para jago Bulim? soal ini aku si pengemis tua mengira ada dua kemungkinan, Pertama, untuk menutupi sesuatu rencana busuk yang lebih besar dia sengaja berbuat demikian agar perhatian dari pada jago-jago Bulim dari setiap partai besar tercurah di dalam peristiwa ini. Kedua ada kemungkinan dia berbuat demikian untuk membalas dendam. Sedang mengenai pertanyaanmu yang kedua hal itu cuma dugaan saja. Bok Thian-hong memang mempunyai hal hal yang patut dicurigai tapi belum tentu dia yang berbuat, orang ini sering disebut sebagai Thay Gak Cungcu tetapi dimanahak perkampungan Thay Gak Cung yang sebenarnya?"

Bilamana dia benar-benar adalah orang dari kalangan lurus kenapa alamat perkampungannya tidak diberitahukan kepada orang-orang Bulim?

Disamping itu orang ini berwajah jujur tetapi hatinya amat licik dan keji apakah julukan "Cun Hong Hung Yu"nya itu didapatkan dari maha liciknya!

sejak perbuatannya dengan Cun-cu palsu serta memancing para jago Bulim untuk mengangkat dia sebagai beng cu maka seluruh siasat liciknya sudah ketahuan, kali ini dengan amat rahasia dia membawa datang seorang tetamu dari gurun pasir hal ini semakin mencurigakan lagi kedudukannya.

Sedang mengenai urusan yang menyangkut raja muda she Mo biarlah aku si pengemis tua sedikit menceritakan sejarah dari raja muda tersebut, ada kemungkinan dari hal ini kau bisa memperoleh sedikit banyak keterangan buat dirimu.

Raja muda she Mo ini adalah menantu dari kaisar yang dengan menguasahi tiga daerah besar, dengan kedudukan serta hubungannya yang erat dengan kaisar sudah tentu pengaruh serta hartanya pun melebihi orang lain.

Heei....

tidak disangka setelah raja muda itu meninggal kini cuma tinggal seorang perempuan yang lemah serta seorang kakek tua yang sudah pikun pula....

Apalagi dengan banyaknya para jago Bulim yang berhubungan dan bersahabat dengan raja muda itu, seharusnya dia tidak sampai menemui ajalnya dengan begitu mudah ditangan Chuan Tiong Ngo Su!"

"Menurut dugaanku si pengemis tua, ada dua kemungkinan yang menyelimuti hal ini. Pertama, diantara anak buah dibawah pimpinan raja muda she Mo tentu ada orang yang secara diam-diam mengadakan hubungan dengan Chuan Tiong Ngo Su sehingga mereka bisa berhasil dengan amat mudah. Kedua, anak buah yang tertinggal dibangunan raja muda di kota Tiang-sah itu begitu mendengar berita matinya raja mudanya sudah pada merampok seluruh harta kekayaannya sehingga ludes dan tertinggallah seorang gadis yang lemah gemulai...."

Berbicara sampai disitu dia berhenti karena pengemis aneh dapat melihat selama ini Tan Kia-beng mendengarkan dengan amat tanpa mengajukan mengajukan pertanyaan pertanyaan yang merugikan hatinya.

"Beberapa patah kata ini hanyalah menurut pandangan kasar dari aku si pengemis tua"

Sambungnya dengan cepat.

"Urusan yang sebetulnya tidak sedemikian mudahnya, lain kali kau saja selidiki dengan perlahan-lahan". Waktu itu arak sebanyak satu guci sudah tersikat habis, tampaklah si hweesio berangasan sambil berdiri menepuk nepuk perutnya dia berseru.

"Perut sudah kenyang seharusnya cepat berangkat. hey pengemis busuk buat apa kau banyak bicara, ayoh jalan!"

Si pengemis aneh itupun segera bangun berdiri.

"Lebih baik kita berangkat secara berpisah saja!"

Katanya terhadap pemuda tersebut.

"biar aku si pengemis tua berangkat satu tindak terlebih dulu dan akan meninggalkan tanda tanda rahasia disepanjang jalan, dan kalian menyusullah perlahan-lahan dari belakang urusan ini mempunyai sangkut paut yang amat besar dengan peristiwa di dalam Bulim harap kalian suka bertindak waspada."

Setelah memberi petuah seperlunya mereka bertiga baru meloncat dan berlalu dari sana Dengan aras-arasan si "Pek Ih Loo Sat"

Hu Siauw-cian pun bangun berdiri.

"Eeei, sebenarnya si pengemis aneh itu lagi membicarakan soal penting apa? sungguh membosankan sekali"

Omelnya.

Keadaan dari Tan Kia-beng jauh berbeda dengan keadaannya, dia yang mempunyai rasa tidak puas atas kejadian yang menimpa di dalam Bulim, walaupun hanya mendengar sepintas lalu saja terhadap perkataan dari pengemis tua itu tetapi dia bisa mendapatkan beberapa titik terang.

Oleh karena itu pikirannyapun tak terasa sudah terjerumus di dalam persoalan yang rumit itu.

Kini setelah mendengar omelan dari Hu Siauw-cian pikirannyapun jadi sadar kembali cepat-cepat dia meloncat bangun.

"Walaupun biasanya si pengemis aneh ini suka geguyon tetapi beberapa patah perkataannya itu sangat cengli bersamaan itu pula sudah memberi suatu bahan pertimbangan buat kita untuk memahami urusan yang sebenarnya"

Dengan cepat mereka berduapun meninggalkan kuil bobrok itu melanjutkan kejarannya ke depan dengan mengikuti tanda tanda rahasia yang ditinggalkan oleh si pengemis aneh itu.

Semakin lama keadaanpun semakin berbahaya, di tengah jalan sering sekali mereka berdua bertemu dengan jejak musuh hanya untung ilmu meringankan tubuh mereka sudah mencapai taraf kesempurnaan dan jauh berada di atas Bok Thian-hong sendiri sehingga walaupun di tengah jalan banyak halangan atau cegat cegatan maka dapat dilalui mereka dengan amat mudahnya.

Menanti senja sudah menjelang merekapun telah tiba disebuah mulut gunung yang amat curam dan berbahaya tanda rahasia yang ditinggalkan sipenemis aneh itupun mendadak lenyap tak berbekas.

Dengan terburu-buru Tan Kia-beng menarik tangan Hu Siauw-cian ke samping dan bisiknya dengan suara yang lirih.

"Sarang markas dari Tay Gak Cungcu ada kemungkinan terletak di dalam mulut lembah itu, kita harus bertindak lebih berhati-hati lagi untuk merembes masuk."

"Hmm! kalau memang kita masuk ke dalam masuklah dengan terang terangan dan menerjang dengan gagah buat apa sembunyi seperti cucu kura kura!"

Tegur Hu Siauw-cian sambil mencibirkan bibirnya. Mendengar teguran itu Tan Kia-beng merasa hatinya sangat tidak puas.

"Bilamana kita tidak berbuat demikian bagaimana bisa berhasil menghasil rahasia mereka?"

Serunya.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara langkah yang amat ramai berkumandang datang semakin mendekat.

Mereka berdua dengan cepat merapatkan badannya ke belakang pepohonan untuk sembunyi.

Sreet!....

sreet!

berturut turut lima sosok bayangan manusia dengan amat cepat laksana larinya sang kuda berkelebat masuk ke dalam mulut lembah itu.

"Apa mungkin Chuan Tiong Ngo Su sudah tiba?"

Pikir pemuda itu diam-diam. Baru saja kelima sosok bayangan manusia itu tiba di depan mulut lembah mendadak dibalik batu terdengar suara bentakan yang amat keras bergema datang.

"Kawan kangouw darimana yang sudah datang? harap menghentikan langkahnya"

"Cuan Tiong Ngo Hiong!"

Sahut salah seorang diantara mereka berlima dengan suara berat.

Walaupun mulutnya menjawab tapi kakinya sama sekali tidak berhenti, mereka tetap melanjutkan gerakannya menerjang ke dalam mulut lembah tersebut.

Tampaklah dari balik tempat kegelapan berkelebat bayangan manusia berturut turut muncullah puluhan orang berbaju merah yang menghalangi perjalanan mereka.

"Cepat berhenti!"

Terdengar suara bentakan berkumandang keluar lagi.

"Kalau tidak jangan salahkan kami akan menyalahi kawan kawan sekalian."

Tetapi mereka berlima bagaikan kilat cepatnya meneruskan terjangannya ke dalam.

Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema saling susul menyusul diikuti dengan rubuhnya berpuluh puluh sosok tubuh ke atas tanah, hanya di dalam sekejap saja mulut lembah itu kembali menjadi sunyi senyap sedang kelima sosok bayangan manusia tersebut tetap meneruskan gerakannya meluncur masuk ke dalam lembah.

Tan Kia-beng yang melihat kejadian yang amat mengerikan itu tidak kuasa menahan kegusaran hatinya.

"Hmm! sungguh kejam tindakannya". Dengan meminjam kesempatan inilah cepat-cepat dia menarik tangan Siauw Cian dan bagaikan menggulungnya angin berlalu ikut menerjang masuk ke dalam lembah tersebut. Setelah masuk ke dalam mulut lembah sampailah mereka disebuah selat yang penuh ditumbuhi pepohonan yang rindang, diantara pepohonan itu secara samar-samar terlihatlah sebuah bangunan perkampungan yang tinggi besar dengan mendiami tanah yang amat luas sekali. Ketika memandang lagi ke arah lima sosok bayangan hitam itu kini sudah lenyap tak berbekas, diam-diam ia merasa terperanjat juga terhadap kedahsyatan dari ilmu silat Chuan Tiong Ngo Kui ini, cukup ditinjau dari ilmu meringankan tubuhnya saja sudah lebih dari cukup untuk menjagoi Bulim. Yang paling aneh lagi adalah sejak halangan yang pertama tadi hingga tiba di depan pintu perkampungan sama sekali tidak ditemui lagi para penjaga yang bersembunyi. Hu Siauw-cian yang mempunyai hati paling cemas dengan cepat melayang melewati tembok bangunan itu dan berkelebat ke atas sebuah bangunan yang terang benderang. Tan Kia-beng yang menyusul dari belakang, setelah dilihatnya situasi disekitar tempat itu dia menyusul Siauw Cian meloncat ke depan. Bangunan perkampungan itu sekalipun besar tapi bukanlah tempat penting dari Thay Gak Cungcu, setiap bilik di setiap ruangan semuanya berada di dalam keadaannya begitu tenang dan sunyi sehingga terasa amat menyeramkan. Dengan amat ringannya mereka berdua meloncat ke atas wuwungan rumah dan menengok kekiri kekanan untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu. Tampaklah disebuah ruangan besar yang terang benderang duduklah berpuluh puluh orang jago Bulim diantara mereka kelihatan Ciangbunjin dari Go-bie pay, Loo Hu Cu.

"Hwee Im Poocu"

Ong Ciang, Sak Ie itu anak murid dari Bu-tong-pay, Chiet Poh Tui Hun, Tiauw Tong, Im Yang Siauwsu, Hauw Cian, Jien Liong So, Ong Hong Ci, serta Sin ci Lie Ie sian sekalian.

"Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong Le Han Hwecu serta tetamu dari gurun pasir itupun kelihatan ada di dalam ruangan kelihatannya mereka lagi merundingkan suatu urusan yang amat penting. Terdengar Bok Thian-hong tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Haa.... haa.... bagaimana sikap aku orang she Bok terhadap kawan kawan Bulim siapapun tahu pertama aku tidak suka mencari keuntungan diri sendiri dan berharap kalau situasi di dalam dunia persilatan selalu tenang aman dan terhindar dari segala perbuatan jahat saling bunuh membunuh, karena itulah cayhe memberanikan diri untuk mengajukan diri memimpin saudara saudara sekalian untuk melenyapkan banjir darah yang sedang mencengkeram seluruh dunia kangouw.

"Heeei.... tetapi kalau memangnya kawan kawan Bulim pada menaruh curiga kalau ak uorang she Bok bermaksud untuk merajai Bulim maka hal itu adalah suatu kejadian yang benar-benar menyedihkan sekali.

"Hmm! selama ini tujuh partai besar Bulim selalu bekerja sama di dalam menghadapi segala urusan"

Sambung Loo Hu Cu dengan gemas bercampur gusar.

"siapa sangka kali ini ada berjalan menurut rencana sendiri sendiri bahkan ada orang yang memaki pinto tidak mengerti urusan. Hmmm! hmmm! sungguh kurang ajar sekali!"

Hwee Im Poocu pun tertawa dingin.

"Selama ini tujuh partai besar selalu memimpin Bulim dan tidak pandang sebelah matapun kepada orang lain"

Katanya.

"Menurut penglihatan cayhe ciangbunjin ciangbunjin dari tujuh partai besar itu tak ada yang bisa dihormati, bukannya aku orang she Ong mencarimuka, terus terang saja aku katakan Bok Cuncu lah orang pertama yang paling aku kagumi dan merasa pantas untuk menjabat sebagai pimpinan di dalam usaha pengamanan dunia persilatan.

"Haa.... bagus, bagus!"

Teriak Bok Thian-hong kegiranan.

"Ong heng benar-benar terlalu memandang tinggi diri cayhe! sejarah dari tujuh partai besar sudah lama dan banyak terdapat jago-jago berbakat dalam hal ini benar-benar patut dikagumi, sebaliknya aku orang she Bok tidak lebih cuma manusia yang punya nama kosong belaka kali ini aku memberanikan diri untuk mengumpulkan seluruh kekuatan Bulim untuk bersama-sama menghadapi majikan kereta kencana kesemuanya ini adalah demi kebaikan kita bersama. ---0-dewi-0---JILID. 19 Untung saja saudara saudara suka memandang muka cayhe dengan mempercayakan urusan ini kepadaku, semoga sama usaha kita untuk melenyapkan iblis tua itu berhasil dengan sukses dengan demikian aku orang she Bok pun bisa bertanggung jawab dihadapan umum."

Tampaklah tetamu dari gurun pasir itu Bun Ih Peng dengan pandangan yang tajam menyapu sekejap keseluruh kalangan, baru saja dia bermaksud berkata, mendadak suara suitan aneh yang amat menyeramkan berkumandang datang disusul berkelebatnya lima gulung bayangan hitam dari tengah udara dan menancap di atas meja persegi delapan di tengah ruangan besar itu.

Kelima gulungan bayangan hitam itu bukan lain adalah lima buah panji kecil berdasar warna hitam dengan tulisan warna putih, di tengahnya terukirlah dua karat tulang putih yang berbentuk "X", keadaan yang amat menyeramkan itu seketika itu juga membuat suasana di tengah kalang jadi kagum sedang air muka para jagopun pada berubah hebat.

Tetapi paras muka Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong masih tetap tenang-tenang saja, diapun lantas bangkit berdiri dan menjura.

"Saudara berlima dari Chung Tiong sudah datang mengapa tidak unjukkan diri untuk bertemu?"

Serunya sambil tertawa.

Baru saja dia habis berkata diempat penjuru ruangan besar itu muncullah suara tertawa yang amat menyeramkan disusul dengan munculnya lima orang manusia aneh di tengah kalangan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun.

Bukan para jago yang hadir di tengah kalangan saja, sekalipun Tan Kia-beng serta Hu Siauw-cian yang bersembunyi dibalik wuwunganpun tidak mengetahui bagaimana mereka bisa muncul secara tiba-tiba di tengah kalangan itu.

"Hee.... hee.... tidak kusangka orang-orang Bulim di daerah Tionggoan tidak lebih hanyalah manusia manusia tikus yang beraninya sembunyi sembunyi seperti cucu kura kura hal ini sungguh membuat aku orang she Bun merasa geli sampai sakit perut"

Seru Bun Ih Peng sitetamu dari gurun pasir itu sambil tertawa dingin.

"Ooow begitu?"

Teriak seorang kakek tua berperawakan tinggi besar, berwajah putih pucat sambil tertawa seram, Ujung bajunya dikebutkan ke depan segulung angin dingin yang membawa bau amis yang menusuk hidung segera menggulung dengan hebatnya ke depan.

Dengan dinginnya Bun Ih Peng mendengus, tanpa bangun berdiri lagi dia membabatkan telapak tangannya ke depan melancarkan satu pukulan yang jauh lebih dahsyat lagi.

"Braaak....!"

Dengan cepat kedua gulung angin pukulan yang santer itu terbentur satu sama lain sehingga menimbulkan angin kencang di tengah ruangan seketika itu juga beberapa batang lilin besar yang terpasang di dalam ruangan bergoyang tiada hentinya hampir hampir dibuat padam.

Air muka Bun Ih Peng segera berubah hebat mendadak dia meloncat bangun sedang tempat duduknya sudah terpukul hancur menjadi beberapa bagian dan rubuh ke atas tanah.

Hanya karena kurang waspada dan berlaku sedikit gegabah dia sudah menderita kerugian besar sudah tentu membuat hati tetamu dari gurun pasir ini merasa tidak terima, air mukanya yang dingin kaku secara sama-sama muncullah napsu untuk membunuh.

Tubuhnya dengan cepat bergerak maju telapak tangannya disilangkan di depan dada siap melancarkan serangan balasan.

Pada saat itulah Bok Thian-hong mendadak bertindak maju mencegah.

"Haa.... haa.... kita semua adalah kawan, harap Bun heng jangan salah paham!"

Sembari berkata dia lantas kirim dua kerlingan ke arah tetamu dari gurun pasir ini Orang yang baru saja turun tangan ini bukan lain adalah lootoa dari "Chuan Tiong Ngo Su"

Dengan gelar "Siauw Bian Coa Sim"

Atau simuka riang berhati ular Go Tou Seng, dia jadi orang teramat kejam, licik dan banyak akal. Sewaktu dilihatnya Bok Thian-hong unjukkan dirinya tidak terasa lagi dia sudah tertawa dingin.

"Heee.... hee.... sungguh enak sekali perkataan dari Bok heng, tanpa sebab kau menggunakan nama dari anak buahku.

"Chuan Lam Sam Sah"

Untuk menipu kitab pusaka "Sin Tok Poo Liok"

Hmm! dengan perbuatan itu apakah masih memandang sebelah mata kepada Chuan Tiong Ngo Kiat?"

Bok Thian-hong yang begitu mendengar dia mengungkat kembali persoalan ini dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat.

Pengaruh Chuan Tiong Ngo Kui di daerah Si Lam amat kuat dan luas sekali kali ini mereka sengaja datang mencari balas bukan saja akan merusak rencananya yang sudah disusun masak masak bahkan telah memecahkan rahasianya sekalian, hal ini bilamana tidak cepat-cepat dihadapi ada kemungkinan seluruh usahanya selama ini akan menemui kegagalan total.

Walaupun dalam hati dia merasa terperanjat tetapi tidak sampai ditunjukkan pada paras mukanya, malu terdengar dia berbatuk batuk ringan.

"Tentang urusan ini harap Go heng jangan salah paham!"

Serunya.

"Coba bayangkan sendiri saja raja muda Mo sangat setia dan bakti terhadap negara, tidak disangka Chung Lam Sam sah membinasakah juga bilamana cayhe tidak menghukum mereka bagaimana tanggapan orang-orang Bulim terhadap sikapku ini? sedang mengenai anggapan saudara cayhe telah menggunakan nama anak buahmu untuk menipu kitab pusaka Sian Tok Poo Liok hal ini sama sekali tidak benar cayhe rasa kalian tentunya sudah menaruh rasa kesalah pahaman terhadap diriku."

"Heee.... heee.... tindakanku untuk membela pembesar setia boleh dibuktikan hadapan umum, kalau kau tidak percaya tanyakan kepada para jago-jago Bulim lainnya."

Terang terangan raja muda Mo mati di tangan Chuan Tiong Ngo Kui tapi dengan halus Bok Thian-hong sudah singkirkan tanggung jawab itu ke atas tubuh Chung Lam Sam sah sekalipun Chuan Tiong Ngo Kui lebih ganaspun sudah tentu tidak suka mengaku terus terang kesalahannya dihadapan para jago Bulim, kini mendengar perkataan Bok Thian-hong sangat tepat sekali merekapun tidak leluasa untuk mengumbar hawa napsunya selanjutnya.

Karena itu terdengar dia tertawa dingin kembali.

"Sekalipun maksud Bok heng adalah menguntungkan kami tetapi haruslah kau ketahui negara memiliki peraturan negara sedang rumah mempunyai peraturan rumah yang tersendiri, sekalipun Chuan Lam Sam sah telah berbuat jahat seharusnyalah kami bersaudara yang turun tangan memberi hukuman, kenapa kau ikut campur di dalam urusan ini? karena itu malam ini sengaja kami datang kemari untuk minta beberapa petunjuk dari Bok heng."

Walaupun nada ucapannya masih keras dan amat mendesak tetapi jika dibandingkan dengan nada suara semula jauh lebih lunak beberapa bagian.

Bok Thian-hong yang mengerti akan hal ini mana suka melepaskan kesempatan itu dengan demikian saja, buru-buru dia merangkap tangannya menjura.

Urusan itu kesemuanya telah cayhe perbuat dengan memberanikan diri harap saudara berlima suka memaafkan kesalahanku itu!"

Biji matanya berputar putar memandang sekeliling tempat itu lalu sambungnya lagi.

"Kini Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong beserta anak muridnya Tan Kia-beng yang dengan mengandalkan senjata pusaka Kiem Ceng Giok Hua Kiam sudah turun tangan menjagali seluruh jago juga lihay dari Bulim kami sekalian kini lagi merasa murung akan urusan tersebut. Disamping itu putri dari raja muda Mo sudah memperoleh kitab pusaka Sian Tok Poo Liok serta ilmu silat dari Ui Liong-ci sihidung kerbau itu, lain kali bilamana dia mendapat berita tentang terbunuhnya orang tua serta keluarganya dia pastilah akan menaruh kesalah pahaman juga kepada saudara berlima harap di dalam urusan ini kalian bisa berjaga jaga. Mendengar perkataan itu simuka berseri Go Toa Seng mendengus dengan dinginnya sinar matanya yang tajam dengan perlahan menyapu sekejap ke arah empat kawan lainnya, hanya dalam sekejap itulah dia sudah bertukar pendapat dengan saudara saudara lainnya. Bok Thian-hong yang melihat perkataannya yang halus itu sudah memperoleh hasil, kembali ia menghela napas panjang.

"Menurut berita yang tersiar Mo Cuncu serta si anakan iblis Tan Kia-beng ada ikatan percintaan yang mesrah diantara mereka berdua yang satu memiliki pedang pusaka yang lain memiliki kitab pusaka bilamana dikemudian hari mereka terjunkan diri bersama-sama ke dalam dunia kangouw keadaan tentu akan semakin runyam lagi, saudara berlima pada memiliki ilmu silat yang amat lihay, harap kalian suka unjukkan diri untuk ikut membantu kami demi tertumpasnya bibit bencana bagi seluruh keselamatan dunia kangouw."

Dia sengaja mengucapkan kata-kata "Pedang Pusaka"

Serta "Kitab Pusaka"

Dengan kata-kata berat dan tegas justru menginginkan agar kelima orang tikus itu memperhatikan lebih jauh.

"Padahal sejak semula Chuan Tiong Ngo Kui sudah mendengar munculnya pedang pusaka Kiem Cing Giok Hun Kiam di dalam dunia kangauw, apalagi kitab pusaka Sian Tok Poo Liok itupun merupakan barang yang diinginkan dan diincar mereka sejak dulu, hanya saja pada tempo dulu mereka berluma lagi berlatih sebuah barusan yang bernama Ngo Kui Im Hong Kiam Tin"

Sebagai pertemuan puncak para jago digunung Ui san pada kemudian hari maka tak ada kesempatan buat mereka untuk ikut campur."

"Kali ini mereka menuju ke Barat untuk mencari balas dendam dengan Thay Gak Cungcu justru hanya ingin mencari tahu jejak dari barang-barang pusaka itu."

Kini setelah mendengar perkataan dari Thay Gak Cungcu yang justru merupakan apa yang ingin diketahui dalam hati lantas mereka rada berdebar.

Maka terdengarlah Loo toa dari Chuan Tiong Ngo Kui itu kembali tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.

"Haa haa haaa.... Ih heng mengandalkan kepandaian apa untuk ikut memberi bantuan menjaga keamanan dari Bulim, tetapi bilamana Bok heng punya maksud begini maka Ih heng sekalian suka juga mengiringi dari samping untuk bersama-sama pergi menghadapi iblis pengacau ketenteraman Bulim itu."

Tan Kia-beng yang menonton semua kejadian ini dari samping lantas merasakan hatinya amat gemas.

"Hmm! hawa bau kalau bertemu tentu akan melengket sungguh tepat sekali perkataan ini"

Makinya dalam hati.

Tetapi dari hal ini pula dia lebih mengetahui bagaimanakah sifat yang sebenarnya dari Thay Gak Cungcu ini.

Waktu itulah di tengah ruangan besar sudah ramai dengan suara tertawa yang memekikkan telinga, waktu itulah Bok Thian-hong lagi memperkenalkan Ngo Kui kepada para jago lainnya.

Hu Siauw-cian adalah seorang gadis yang suka bergerak, setelah melihat keadaan tersebut sejak semula merasa rada tidak sabar apalagi kini beberapa kali Bok Thian-hong bermaksud hendak menghadapi mereka ayah beranak, hatinya jadi semakin gusar lagi.

Beberapa kali dia bermaksud untuk loncat turun, tapi untung keburu dicegah oleh Tan Kia-beng.

Masih untung saja karena suasana yang ramai dibawah ruangan itu membuat mereka pada tidak tahu kalau di atas atap masih ada orang lagi mengintip.

---0-dewi-0---Baru saja mereka duduk kembali ke tempatnya masing-masing mendadak terasa ada segulung angin berlalu, tampaklah seorang gadis mua berbaju hijau bagaikan seekor burung walet dengan gesitnya sudah melayang rurun masuk ke dalam ruangan itu.

Melihat munculnya gadis tersebut dalam hati Tan Kia-beng merasa rada bergera.

"Nukankah gadis ini adalah gadis yang memaki dirimu sebagai anakan iblis sewaktu berada diloteng arak tempo hari?"

Cuma saja tempo hari dia membelakangi dirinya sehingga tak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya.

Tetapi kini dia bisa melihat dengan terangnya bagaimana wajah cantik dari gadis berbaju hijau itu.

Tampaklah gadis itu mempunyai paras yang patut disayangi, cuma sayang alisnya melentik sehingga kelihatannya agak dingin dan suram, wajahnya kaku tak berperasan sedang sepasang matanya yang besar bulat dengan tawarnya menyapu sekejap keseluruh ruangan.

Begitu melihat munculnya gadis terburu-buru Bok Thian-hong bangun berdiri dan menjura.

"Nona Hong sudah datang!"

Serunya.

Dia tidak melanjutkan kata-kata selanjutnya lalu menyingkir ke samping sedang si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng pun waktu sudah bangun berdiri dan menjura dengan hormatnya terhadap gadis tersebut.

Dengan gaya yang amat jumawa gadis itu mengulapkan tangannya mengundurkan ke kedua orang itu.

"Dari mana datangnya orang-orang ini?"

Tanyanya dengan dingin. Terburu-buru Bok Thian-hong kembali memperkenalkan para jago itu kepada gadis tersebut.

"Toosu ini adalah ciangbunjin dari Go-bie pay, saudara berlima ini adalah Chuan Tiong Ngo Kui, saudara itu adalah...."

Loo Hu Cu jadi orang paling licik, sewaktu dilihatnya Bok Thian-hong sangat menaruh hormat kepada gadis itu, dalam hati dia lantas tahu kalau orang ini tentu mempunyai asal usul yang besar, karenanya dia pun lantas bangun berdiri dan menjura.

Si Siauw Biau Bian Coa Sim dari Chuan Tiong Ngo Kui yang selalu tersungging senyuman pada wajahnyapun lantas mengangguk pula untuk memberi hormat kepada gadis itu.

Diantara mereka cuma Sak Ie itu anak murid Bu-tong-pay saja yang melengos ke samping dan mendengus sewaktu diperkenalkan kepadanya, agaknya sejak tadi dia sudah merasa tidak kerasan dengan sikap congkak dari gadis berbaju hijau itu sehingga hatinya terasa amat gemas.

Dengan gusarnya gadis berbaju hijau itu segera menerjang kehadapannya.

"Siapakah kau? Berani betul, menghina nonamu!"

Bentaknya.

"Siapakah cayhe adanya, kaupun tak usah banyak urus, aku merasa tidak ada keharusan untuk melaporkan namaku!"

"Aku beritahu padamu.... lain kali lebih baik kau sedikit berhati-hati. Hmm! Bilamana sampai menggusarkan nonamu lagi jangan harap ada kebaikan buat dirimu."

"Haa haa haa kenapa kau tak bilang saja bilamana sampai menggusarkan Toa yamu, sama saja tak ada kebaikan buat dirimu?"

Sejak mendatangi daerah Tionggoan ini belum pernah gadis berbaju hijau ini menemui orang yang berani begitu kurang ajar terhadap dirinya saking kekinya dia lantas angkat tangannya mengirim satu gaplokan ke atas pipi Sak Ie.

Sak Ie yang sejak kecil memperoleh didikan keras dari Thian Bok Tootiang selama terjun di dalam dunia kangouw pun belum pernah mendapatkan gangguan apapun sudah tentu diapun tidak memandang sebelah matapun terhadap budak liar dari gurun pasir ini.

Dan begitu melihat datangnya tamparan tersebut dengan gesitnya dia lantas menyingkirkan kesamping.

"Heee.... heee.... kau sungguh sungguh bermaksud untuk menantang Toa yamu?"

Serunya sambil tertawa dingin. Kini air muka gadis berbaju hijau itu sudah berubah jadi hijau membesi, tak sepatah katapun diucapkan keluar.

"Ciiinng....!"

Medadak dia mencabut keluar pedang yang tersoren pada punggungnya lalu berturut turut melancarkan tiga serangan dahsyat membabat ketubuh Sak Ie.

Kecepatan gerakannya luar biasa sekali, jurus serangannya dan aneh, buas dan telengas jauh berbeda dengan ilmu pedang aliran Tionggoan Walapun Sak Ie sendiri adalah seorang ahli ilmu pedang saat itupun kena didesak mundur sejauh tujuh delapan depa hingga dipojok ruangan dia baru berhasil mencabut keluar pedangnya.

Nona itu sama sekali tidak mengalah kepada siapapun, pedangnya kembali berkelebat melancarkan tiga serangan dahsyat membabat tubuhnya.

Seketika itu juga seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan hawa pedang yang menyeramkan, angin dingin menyambar dan menderu deru menggigilkan tubuh, dua kaki di sekeliling tempat itu kontan diliputi oleh selapis dinding pedang yang amat kuat.

Sak Ie yang melihat nona itu berhasil menyalurkan hawa murninya diantara berkelebatnya sang pedang dalam hati merasa rada bergidik, seluruh perhatiannya segera dipusatkan menjadi satu sedang pedangnya pun mulai bergerak melancarkan serangan balasan.

Setengah sinar hijau yang menyilaukan mata dengan cepatnya sudah meluncur ke tubuh gadis tersebut.

Perduli bagaimanapun juga Sak Ie tetap merupakan seorang jagoan pedang yang kenamaan walaupun hawa pedang yang dilancarkan gadis itu memenuhi seluruh angkasa tetapi berhasil juga dihalangi oleh sinar hijau tersebut pada jarak tiga depa dari tubuhnya.

Thay Gak Cungcu yang melihat mereka berdua sudah bergebrak dengan amat serunya tanpa berhasil dicegah, terburu-buru dia berjalan maju ke depan sambil goyangkan tangannya berulang kali "Berhenti....

berhenti....

apa urusan biarkan kita bicarakan baik-baik saja, buat apa bergebrak menggunakan kekerasan?

Sak heng cepatlah berhenti, kita bicarakan secara baik-baik saja...."

"Heee.... heee.... Bok heng tidak usah mencegah lagi!"

Tegur sitetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng secara tiba-tiba dengan suara yang amat dingin.

"Biarlah kawan kawan Tionggoan pada mengerti bagaimana dahsyatnya ilmu sakti dari luar daerah. Heee heee."

Jika didengar dari nada suaranya yang dingin sombong dan penuh kepercayaan itu agaknya ia sudah merasa yakin kalau malam ini Sak Ie pasti menemui kekalahan.

Tan Kia-beng yang mengerti dan memahami ilmu pedang dari berbagai aliran cukup sekali pandang tentu mengerti dimana letaknya kehebatan ilmu pedang tersebut, tetapi saat ini dia tidak mengerti ilmu pedang apakah yang digunakan nona berbaju hijau ini Dia cuma merasa ilmu pedang yang digunakan ini sangat berlainan sekali dengan ilmu pedang dari Tionggoan, bukan saja gerakannya amat ganas bahkan telengas banyak jurus jurus serangan yang sebenarnya tidak mungkin bisa digunakan mendadak dia dapat melancarkan gerakan tersebut dengan dahsyatnya.

Ketika memandang pula ke arah Sak Ie tampaklah paras mukanya kini sudah berubah menjadi amat keren dan serius, gerak geriknya mantap dan berat, setiap serangannya pasti menggunakan jurus jurus serangan aliran Bu-tong-pay yang maha dahsyat gerakannyapun merupakan kebalikan dari ilmu pedang pihak lawan, hal ini membuat hatinya diam-diam memuji.

"Ilmu pedang yang bagus!"

Masing-masing pihak dengan seru dan dahsyatnya laksana curahan hujan badai saling serang menyerang sebanyak tiga puluh jurus tanpa dapat diketahui siapa yang menang siapa yang kalah.

Pada biasanya cukup gadis berbaju hijau itu melancarkan tiga jurus atau paling banyak lima gerakan pihak lawan sudah tentu menemui ajalnya, tidak disangka ini hari sekalipun ia sudah menggunakan seluruh kepandaiannya belum juga berhasil mengalahkan pemuda dihadapannya ini, tak terasa dia jadi cemas bercampur gusar.

"Aku tidak percaya kalau tidak berhasil membereskan kau bajingan kecil"

Bentaknya nyaring.

Gerakan pedangnya segera berubah, mendadak di dalam sekejap mata dia melancarkan tujuh serangan dahsyat membuat seluruh angkasa dipenuhi dengan suara desiran yang amat tajam.

Setelah mengalami pertempuran yang amat sengit ini terhadap ilmu pedang pihak lawan Sak Ie sudah rada memahami mendadak dia tertawa panjang "Haaa....

haaa....

aku orang she Sak pun tidak mau percaya dengan mengandalkan beberapa jurus dalam ilmu cakar ayammu itu bisa mengapa apakan diriku!"

Pergelangannya kembali digerakkan diantara suara suitan nyaring sinar hijau kembali memanjang ke depan sedang suara babatan pedangpun menderu deru laksana tiupan topan menggulung ke arah datangnya serangan nona berbaju hijau itu.

Sak Ie yang merupakan murid termuda dari Thiat Bok Tootiang tetapi karena memiliki bakat yang luar biasa apalagi kini dia sudah memperoleh rahasia ilmu pedang Bu-tong-pay yang paling lihay membuat usianya sekalipun masih muda tetapi ilmu pedangnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari Leng Hong Tootiang itu ciangbunjin dari Bu-tong-pay.

Dalam keadaan gusar kini dia melancarkan serangannya dengan sepenuh tenaga seketika itu juga membuat seluruh angkasa dipenuhi dengan desiran angin serangan laksana mengamuknya naga di tengah samudra, sungguh amat dahsyat sekali.

Tidak sampai tiga, lima jurus nona berbaju hijau itu sudah kena didesak mundur sejau lima, enam langkah ke belakang dalam keadaan payah sekali.

Si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng yang berdiri ditepi kalangan sewaktu dilihatnya keadaan dari gadis itu amat menyedihkan paras mukanya berubah hebat, diantara berkelebatnya sinar yang menyilaukan mata kipas yang terbuat dari besi baja itu sudah berada ditangannya.

Sak Ie yang melihat kejadian itu segera tertawa dingin hawa murninya ditarik panjang panjang dari dalam pusar mengelilingi seluruh tubuh Ilmu pusaka aliran Bu-tong-pay yang paling dahsyatnya Jan Jan Pek Swie Siuw Tiong Han dengan cepat dilancarkan ke depan.

Sinar pedang menyilauka mata hawa pedang berdesir menderu deru serentetan sinar hijau yang amat tajam dengan hebatnya mengurung seluruh tubuh gadis berbaju hijau itu.

Bun Ih Peng jadi semakin cemas lagi, terburu-buru dia maju ke depan sambil membentak keras.

"Jangan turun tangan jahat aku orang she Bun datang minta pengejaran!"

Dengan dahsyatnya kipas besi yang dipentangkan lalu melancarkan tiga jurus serangan mengancam jalan darah "Hong Wi"

"Kwan Peng"

Serta "Cing Cu"

Tiga jalan darah penting, dan angin serangan ia mendesir tajam yang membentuk sinar kalur di tengah udara.

Dan pada saat yang bersamaan pula, sekonyong konyong.

Sinar emas berkemilauan, tiba-tiba nona berbaju hijau itu sudah mencabut keluar sebuah senjata yang aneh sekali mengelilingi seluruh tubuhnya dengan disertai suara desiran keras.

Seketika itu juga sinar emas memenuhi angkasa kemudian dengan cepat mengurung seluruh tubuh Sak Ie Inilah senjata rahasia yang paling lihay dari perbatasan senjata rahasia jarum "Pek Bu Kiem Uh Yen Wie Ciam"

Dimana ujung senjata itu sudah dipolesi dengan racun dahsyat yang bisa disembunyikan dibalik cambuk Kiem Uh Pian sehingga dapat melukai orang yang ada di tempat jauh.

Sak Ie yang sedang menggunakan jurus yang terlihay dari ilmu pedang Jan Pek Swie Siauw Tiong Han"

Untuk mengalahkan nona berbaju hijau itu mendadak melihat Bun Ih Peng melancarkan serangan dari sisinya memaksa dia mau tak mau harus membubarkan jurus serangannya untuk melindungi diri sendiri, dengan menggunakan kesempatan yang luang itulah nona berbaju hijau itu sudah mengeluarkan cambuk kelabang emasnya dan sebatang jarum emas ke depan.

Masing-masing pihak berdiri pada jarak yang amat dekat apalagi masih berada di dalam keadaan kepepet, dengan cepat Sak Ie memutar pedangnya melindungi wajahnya sedang tangan serta kakinya sudah kena dihajar oleh beberapa batang senjata itu Jarum beracun ini amat lihat sekalidaya bekerjanya, begitu terkena seluruh tubuh terasa jadi kaku, Sak Ie amat terperanjat dengan cepat dia kerahkan tenaga dalam untuk menutup jalan darahnya agar racun tidak menjalar ke tempat lain.

Sitetamu dari gurun pasir sewaktu melihat Sak Ie sudah kena dihajar oleh senjata rahasia kipas besinya dengan dahsyatnya melancarkan kembali tiga serangan gencar mendadak tubuhnya sedangkan nona berbaju hijau itupun dengan paras muka penuh dengan napsu membunuh membabatkan cambuknya ke arah depan.

Sak Ie tidak menyangka kalau mereka berhati kejam sangat telengas, di dalam keadaan cemas bercampur gusar dia membentak keras.

Pedangnya digetarkan membentuk sinar hijau yang amat tajam.

"Traaang.... trang....!"

Dengan keras lawan keras dia menangkis datang serangan keras dari Bun Ih Peng.

Walaupun tenaga dalam yang dimilikinya amat dahsyat tetapi berhubung saat ini dia lagi menutup jalan darahnya, membuat Sak Ie jadi menemui kerugian pedangnya kena digetarkan oleh kipas besi Bun Ih Peng segera miring ke samping dan mendengus tiada hentinya.

Bersamaan waktu itu pula pedang dari nona berbaju hijau itu sudah meluncur datang ke depan dadanya.

Peristiwa ini terjadi bersamaan waktunya sekalipun kepandaian silat Sak Ie amat tinggipun belum tentu bisa menolong dirinya dari serangan tersebut.

Kelihatannya pemuda dari Bu-tong-pay bakal mati dibawah serangan tiga jurus dari pihak lawan, tiba-tiba....

"Kalian berdua mengerubuti seorang pemuda, sungguh tidak tahu malu"

Terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari tengah udara Tampaklah bayangan putih berkelebat segulung angin pukulan berhawa dingin dengan cepat menekan ke arah bawah Gadis berbaju hijau yang melihat bilamana dirinya tidak lekas lekas menarik serangan dan mundur ke belakang akan terluka dibawah serangan pukulan berhawa dingin itu terburu-buru menarik kembali senjatanya ke belakang dan meloncat mundur sejauh lima depa.

Dan bersamaan dengan munculnya angin pukulan berhawa dingin itulah segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat lagi sudah menggulung ke arah Bun Ih Peng sehingga tubuhnya tergetar mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan Para jago yang sedang asyik menonton jalannya pertempuran sengit di tengah kalanan itu tanpa ada seorangpun yang turun tangan mencegah terjadinya peristiwa yang menyedihkan ini mendadak melihat munculnya sepasang muda mudi dari atas wuwungan mendadak mundur gadis berbaju hijau serta Bun Ih Peng tak terasa pada menjerit kaget Sekali pandang saja Hwee Im Poocu sudah mengenali kembali kalau orang yang baru saja datang itu bukan lain adalah Hu Siauw-cian serta Tan Kia-beng tidak kuasa lagi dia menjerit kaget.

"Siluman perempuan...."

"Hmmm! anakan iblis sungguh nyalimu amat besar!"

Dengus Loo Hu Cu pula dengan dingin.

Diantara orang-orang yang hadir di sana Hu Siau Cian paling membenci Thay Gak Cungcu itu ilmu pukulan Tok Yen Mo Ciang nya sesudah berhasil mendesak mundur gadis berbaju hijau itu dia lantas berkelebat ke depan menubruk ke arah Bok Thian-hong.

Mendadak di tengah kalangan berkumandang kembali dua bentakan nyaring, Jen Liong So, Ong Hong Kie serta Sin ci Lie Ih Sian bersama-sama sudah meloncat ke depan menghalangi perjalanannya.

Sie poa besi ditangan Lie Ih Sian dengan disertai suara yang nyaring mengancam kepalanya sedang cakar setan dari Oh Hong Kie mencengkeram ke arah dadanya.

Melihat kejadian itu Hu Siauw-cian jadi amat gusar napsu membunuh mulai melintasi wajahnya.

"He he hee.... kalian mencari mati ya? hee he...."

Serunya sambil tertawa dingin.

"Hmm! jangan menyalahkan nonamu akan turun tangan kejam terhadap kalian!"

Tubuhnya yang langsing bagaikan putaran roda kereta dengan cepatnya meluncur ke depan, sepasang telapak tangannya didorong ke depan menghajar musuhnya.

Kepandaian silatnya ini bukan saja diperoleh dari ibunya Ling Lang Sian Ci bahkan memperoleh juga didikan keras dari ayahnya si Penjagal Selaksa Li Hu Hong Oleh karenanya walaupun berada dibawah kerubutan dua orang jagoan berkepandaian tinggi dengan gesitnya dia masih bisa melawan dengan seenaknya.

Sebaliknya Tan Kia-beng setelah meloncat turun dari wuwungan rumah dan mendesak mundur Bun Ih Peng dia lantas berjalan ke sisi Sak Ie "Su heng bagaimana dengan keadaan lukamu?

tidak mengapa bukan?

Untuk sementara waktu masih bisa dipertahankan!

sahut Sak Ie sambil menggigit kencang bibirnya.

Padahal waktu itu wajahnya sudah berubah jadi menghijau, tubuhnya bergoyang tiada hentinya, dengan cepat Tan Kia-beng merangkul dirinya.

"Mari aku bopong kau untuk meninggalkan tempat ini!"

Gadis berbaju hijau itu sewaktu melihat munculnya Tan Kia-beng disana segera menjerit kaget.

"Aaa.... kau?!!"

Dari nada ucapannya seperti pernah berkenalan saja Tan Kia-beng yang sama sekali tidak kenal dia segera mendengus dingin dia pun tak mengucapkan sepatah katapun.

Si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng yang kena didesak mundur oleh Tan Kia-beng di hadapan umum mana sudi menyerah kalah dengan begitu saja, maka kembali dia membentak keras dan mendesak maju lagi ke depan.

"Jangan pergi dulu"

Teriaknya.

"Aku orang she Bun ingin minta beberapa petunjuk darimu"

Telapak tangannya didorong ke depan melancarkan satu angin pukulan yang amat cepat dan dahsyat laksana gulungan ombak di tengah samudra, agaknya dia bermaksud untuk mengembalikan rasa malunya tadi dengan pukulan ini karena itu tenaga dalamnya sudah dikerahkan mencapai sepuluh bagian.

Tan Kia-beng yang lagi membimbing tubuh Sak Ie karena takut pukulan tersebut mengenai tubuhnya dengan cepat dia miring ke samping telapak tangannya dengan membentuk setengah lingkaran dibabat ke depan menyambut datangnya serangan itu.

Pukulannya kali ini dia sudah mengerahkan delapan, sembilan bagian tenaga dalamnya.

"Braaak!"

Di tengah suara benturan yang amat dahsyat Bun Ih Peng tergetar mundur empat lima langkah ke belakang dengan sempoyongan, sedang Tan Kia-beng yang sedang membimbing tubuh Sak Ie hanya kena didesak mundur dua langkah saja.

Bun Ih Peng yang berturut turut mendapat malu di depan umum sifat buasnya mulai nampak kipas besinya dengan cepat dipentangkan lebar-lebar siap melancarkan serangan dahsyat.

Tunggu dulu!

Aku ada perkataan yang mau ditanyakan"

Tiba-tiba gadis berbaju hijau itu membentak keras. Diantara berkelebatnya bayangan tubuh dia sudah meloncat ke depan tubuh Tan Kia-beng "Siapakah namamu?"

Teriaknya sambil menuding sambil menggunakan ujung pedangnya.

"Siauw ya adalah Tan Kia-beng"

Sahut pemuda itu dingin. Mendadak ujung pedang gadis itu dengan lemasnya menunjuk ke bawah, dia menundukkan kepalanya dengan sedih.

"Kenapa kau bersikap begitu galak dengan diriku?"

Tanyanya.

"Haa.... haa.... pertempuran diantara senjata tajam buat apa membicarakan soal sikap? apalagi diantara kita berdua ini tidak saling mengenal"

"Tetapi kawanmu itu sudah terkena jarum rahasia Pek Cu Kim Uh Yen Wie Cian yang amat lihay, bilamana tidak cepat-cepat diobati maka di dalam dua belas jam seluruh tubuhnya akan membusuk dan mati"

"Budak rengah sungguh kejam perbuatanmu, kau berani menggunakna senjata rahasia yang demikian berbahaya untuk melukai orang". Karena hatinya cemas Tan Kia-beng sama sekali lupa kalau dia lagi membimbing tubuh Sak Ie Mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan mencengkeram pergelangan tangan kiri nona berbaju hijau itu gerakannya yang dilancarkan cepat bagaikan kilat ditambah pula nona tersebut berada di dalam keadaan tidak siap sedia maka segera kena dicengkeram. Sewaktu dia lagi mengerahkan tenaga dalamnya siap memaksa dia untuk menyerahkan obat pemunah itulah mendadak terdengar suara jatuhnya sesuatu benda, Sak Ie yang berada dibelakangnya sudah rubuh ke atas tanah. Melihat Sak Ie jatuh si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng bagaikan segulung angin dengan cepat menubruk ke arahnya. Melihat kejadian itu Tan Kia-beng jadi amat terperanjat, tanpa perduli diri nona berbaju hijau itu lagi mendadak tubuhnya berputar dan membentak keras, telapak tangannya dengan dahsyat dibabat ke arah Bun Ih Peng sedang tangannya yang lain membimbing kembali Sak Ie. Sak Ie yang baru saja rubuh ke atas tanah kesadarannyapun agak pulih kembali, dengan menggunakan pedangnya ia memperhatikan diri sambil merintih.

"Tan heng silahkan menghadapi mereka dengan sepenuh tenaga, siauwte masih bisa mempertahankan diri untuk beberapa saat bilamana keadaan tidak sanggup lagi maka harap Tan heng suka kirim surat kepada suhengku di gunung Bu tong cukup dengan perbuatanmu itu siauwte sudah merasa sangat berterima kasih sekali" ---0-dewi-0---Pada waktu ini gadis berbaju hijau tersebut sudah menjadi gusar oleh karena serangan Jien Nah So Hoan yang amat lihay itu, bersama-sama denan Bun Ih Peng mereka kembali melancarkan serangan serangan dahsyat ke depan. Tan Kia-beng tidak sempat menjawab perkataan dari Sak Ie lagi, sepasang telapak tangannya dipentangkan keluar berturut turut melancarkan tujuh buah serangan babatan menangkis datangnya serangan dari kiri serta kanan. Tetapi kedua orang muda mudi dari gurun pasir ini bukanlah manusia manusia lihay kepandaian biasa, apalagi waktu ini bekerja sama dengan begitu ketatnya hawa pukulan yang dihasilkan benar-benar sangat dahsyat sekali. Seketika itu juga di tengah kalangan kembali terjadi suatu pertempuran yang dahsyat. ---0-dewi-0---Kita balik pada si "Pek Ih Loo Sat"

Hu Siauw-cian yang ditahan serangannya oleh sepasang cakar besi dari Jien Liong So serta Sie poa besi dari Sin Sie Ci, saat itu dia tidak dapat melancarkan serangan ke arah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong juga tidak berhasil pula menolong Tan Kia-beng saking cemasnya seluruh wajahnya berubah memerah hawa napsu membunuh sudah melintasi seluruh wajahnya sehingga menembus ke alis.

Di tengah suara bentakannya yang amat keras mendadak jurus ilmu pukulannya berubah, tampaklah tangannya yang putih halus berkelebat tiada hentinya memaksa si "Jien Liong So"

Ong Hong Kie terpukul dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Mendadak tubuhnya melompat ke depan menerjang keluar dari tengah kalangan dan menerjang ke arah Tan Kia-beng Tetapi di tengah kalangan terdapat begitu banyak jago-jago lihay yang mengepung tempat itu rapat rapat, mana mereka suka membiarkan dirinya lolos dari kepungan?

terdengar suara bentakan yang ramai bergema memenuhi seluruh angkasa.

Chiet Poh Tui Hun Tiauw Tong, si Im Yang Siauw So Hauw Cian, Hwee Im Poocu Ong Jian masing-masing pada meninggalkan tempat duduknya melancarkan serangan menghadang jalan perginya.

Hwee Im Poocu yang menaruh rasa dendam yang paling mendalam terhadap gadis itu begitu turun tangan pedangnya segera melanvarkan serangan yang amat dahsyat sekali dengan menggunakan jurus Kui Ci Sing cing atau setan menangkis malaikat terkejut.

Hawa pedang yang memenuhi seluruh angkasa berubah jadi bintik bintik cahaya yang amat tajam lalu dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh gadis tersebut, jurus ini adalah jurus simpanan dari Hwee Im Poocu, kehebatannya benar-benar luar biasa.

Si "Pek Ih Loo Sat"

Yang tubuhnya masih ada di tengah udara, tidak berani menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, maka ujung bajunya dikebutkan ke depan tubuhnya tahu-tahu sudah mencelat tiga depa lebih tinggi lalu melayang turun disebelah kanan.

Baru saja sepasang kakinya menginjak permukaan tanah, kembali si tujuh tindak pencabut nyawa Tiauw Tong serta Im Yang Siauw su menubruk ke arah depan.

Keadaan semakin lama semakin tegang, situasi buat si "Pek Ih Loo Sat"

Serta Tan Kia-beng pun semakin lama semakin terdesak dan berada dalam keadaan yang berbahaya.

Waktu itulah mendadak dari atas wuwungan rumah berkumandang datang suara tertawa aneh yang menyeramkan sesosok bayangan manusia yang tinggi besar bagaikan seekor burung elang dengan gesitnya meluncur masuk ke dalam ruangan.

Suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi ruangan, si tujuh tindak pencabut nyawa Tiauw tahu-tahu sudah kena dihajar oleh pukulan orang tersebut sehingga tubuhnya terpental sejauh satu kaki dan membentur dinding ruangan.

Seketika itu juga orang itu menemui ajalnya, dari tujuh lobang badannya mengucur keluar darah hitam.

Setelah berhasil menghajar mati si tujuh tindak pencabut nyawa orang itu kembali memperdengarkan suara tertawanya yang sangat aneh, seram, berat dan mengerikan.

Seketika itu juga seluruh ruangan diliputi suasana yang amat seram dan penuh diliputi oleh ketegangan dan nafsu membunuh.

Dengan adanya kejadian ini seluruh jago yang hadir dalam ruangan pada terperanjat dan menoleh ke arah mana, tetapi sebentar kemudian suara jeritan kaget sudah memenuhi seluruh angkasa.

Kiranya orang itu bukan lain adalah si "Penjagal Selaksa Li"

Hu Hong yang paling dibenci dan ditakuti oleh setiap orang-orang kangouw. Di dalam waktu yang bersamaan si "iblis tua"

Si "Siluman perempuan"

Dan "anakan iblis"

Bersama-sama sudah hadir disana, walaupun Thay Gak Cun-cu Bok Thian-hong mempunyai nyali yang besarpun pada waktu ini rada bergidik juga.

Hu Siauw-cian yang melihat ayahnya muncul secara tiba-tiba disana tidak bisa menahan sabar lagi, teriaknya dengan manja.

"Ayah...."

Bagaikan seekor burung walet dengan gesitnya dia berkelebat jatuhkan diri ke dalam pelukan ayahnya. Dengan perlahan si Penjagal Selaksa Li Hu Hong mendorong badannya ke depan.

"Cian jie jangan bersifat kekanak kanakan lagi"

Tegurnya.

"Aku harus membereksan dulu urusan yang ada disini, sebentar lagi empek "Su Im"

Bakal datang juga."

Mendengar perkataan itu terburu-buru Hu Siauw-cian menoleh ke atas wuwungan rumah, tampaklah di tengah kegelapan berdirilah seorang tua berdandankan sastrawan yang waktu ini sedang bergendong tangan dan mulutnya kemak kemik seperti lagi membaca sesuatu.

Dia segera mencibirkan bibirnya dan tertawa cekikikan.

"Apa yang lagi dihapalkan dia? sungguh lucu sekali,"

Serunya.

Suasana yang meliputi ruangan besar itu kini berubah amat tegang, para jago mulai menyalurkan hawa murninya ke atas telapak masing-masing siap-siap menghadapi serangan bokongan, sampai sampai Chuan Tiong Ngo Kui yang selama ini menonton jalannya pertempuran disampingpun sikapnya berubah jadi amat tegang.

Wajah si Penjagal Selaksa Li Hu Hong masih tetap tenang-tenang saja, dengan langkah yang lebar dia berjalan kehadapan Thay Gak Cungcu lalu tertawa seram.

"Tindakan saudara benar-benar amat lihay sekali, sindirnya dengan suara yang amat dingin. Tetapi jikalau kau mengira perbuatanmu itu bisa menutupi seluruh mata jago-jago dikolong langit, maka hal itu masih terpaut amat jauh, aku orang she Hu sudah berhasil mengetahui asal usul serta tujuanmu, sekarang, aku mau tanya padamu, bergebrak mati matian pada hari ni juga atau lain waktu? Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong yang mendengar perkataan tersebut diam2 dalam hati merasa amat terkejut, karena ia takut Hu Hong melanjutkan kembali kata-katanya buru-buru dia menyambung sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... perbuatan dari aku orang she Bok setiap harinya jelas dan terang laksana matahari disiang hari dan rembulan dimalam hari, siapapun tahu akan hal ini, tetapi saudara dengan mengandalkan kepandaian silatmu yang lihay itu sudah menjagali kawan kawan Bulim, tindakan serta perbuatanmu amat kejam dan patut dikutuk oleh siapapun hee.... hee.... Bangungan Cun Hoa inilah merupakan tempat kuburmu buat malam ini."

Tidak menanti Hu Hong menjawab dia sudah berteriak kembali dengan suara yang amat keras;

"Berkat kebaikan dari Thian secara kebetulan siiblis bangsat ayah beranak serta muridnya pada berkumpul disini, saudara saudara yang mempunyai dendam serta sakit hati silahkan mulai turun tangan untuk menuntut balas. dendam berdarah harus dibayar dengan darah, hutang uang harus bayar dengan uang. ayoh! serbu, kita basmi dan bunuh bangsat bangsat ini....!"

Di tengah suara bentakan yang amat keras si "Thiat sie cie"

Lie Ih Sian serta "Jien Liong So"

Ong Hong Kie sudah menubruk ke depan dari arah kiri serta kanan, sedang Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sambil menyambut keluar pedangnya menerjang dari tengah.

Diantara mereka cuma Chuan Tiong Ngo Kui yang masih tenang-tenang saja menanti seluruh perhatian para jago dicurahkan pada Hu Hong ayah beranak, secara diam-diam mereka mulai meninggalkan tempatnya lalu dengan wajah seram berjalan mendekati Tan Kia-beng.

Si "Pek Ih Loo Sat"

Hu Siauw-cian yang melihat orang-orang itu tanpa mengucapkan sepatah katapun mendadak pada mengerubut maju hatinya jadi amat khe kie wajahnya segera berubah amat dingin sedang matanya melotot berapi api.

"Tidak tahu malu!"

Bentaknya dengan keras.

Tubuhnya dengan cepat merendah siap-siap melancarkan serangan menyambut datangnya pukulan pukulan pihak musuh.

Tiba-tiba dari atas wuwungan rumah kembali terdengar suara seseorang yang sangat aneh sekali.

"Manusia manusia golok yang sudah dicekoki obat pemabok ini benar-benar sangat menjengkelkan sekali, biarlah dia merasakan sedikit penderitaan, Hu heng! buat apa kita harus ribut ribut dengan mereka? ayoh jalan! kita tinggalkan tempat ini". Agaknya si "Penjagal Selaksa Li"

Hu Hong sangat menuruti perkataan dari sastrawan tua itu, begitu mendengar perkataan itu dia lantas menarik tangan Hu Siauw-cian dan melompat ke atas meloloskan diri dari kepungan.

Sambil melayang ke atas wuwungan rumah dia menoleh ke arah Tan Kia-beng dan berteriak.

"Eeei kawanmu sudah terkena racun yang amat jahat, lebih baik cepat-cepat tinggalkan tempat ini! kalau sedikit berayal akan terlambat". Sembari bergebrak Tan Kia-beng lantas melirik sekejap ke arah muka Sak Ie, sedikit pun tidak salah keadaannya makin lama semakin payah dan berbahaya sekali. Setelah mendapat peringatan dari Hu Hong ini pikirannya jadi sadar kembali, di tengah suara bentakannya yang amat keras telapak tangannya dibabat ke depan dengan menggunakan jurus "Jiet Ceng Tiong Thian"

Serangan yang dilancarkan dengan menggunakan seluruh tenaga ini benar-benar luar biasa pengaruhnya, angin taupan bertiup menderu deru bagaikan ombak di tengah samudra menggulung ke depan dengan cepatnya.

Keanehan dari ilmu pukulan serta kedahsyatan dari tenaga serangan seketika itu juga mendesak nona berbaju hijau serta Bun Ih Peng mundur sempoyongan.

Mengambil kesempatan yang luang inilah pemuda itu lantas menyambar tubuh Sak Ie dan meloncat naik ke atas wuwungan rumah.

Saat itu suasana di dalam ruangan benar-benar amat kacau dan gaduh, suasana bentakan gusar bergema memenuhi angkasa diselingi suara jeritan marah dari "Lei Hun Hwee Ci"

"Cepat kejar! jangan sampai bajingan bajingan itu berhasil meloloskan diri! ayoh cepat kejar dan bunuh mereka."

Dan bayangan manusiapun berkelebat tiada hentinya, para jago dengan kecepatan yang luar biasa pada meloncat ke atas wuwungan rumah.

Si sastrawan tua yang berdiri di atas wuwungan rumah mendadak berseru dengan suara yang lantang.

"Srigala yang tidak ganas adalah janggal, harimau tidak keren tidak menakutkan, kasihan kalian kura kura goblok, sampai mati pun tidak bakal sadar Ujung jubahnya yang dekil segera dikebutkan ke depan, terdengar suara jeritan kaget memenuhi angkasa kiranya para jago yang sedang meloncat ke atas wuwungan rumah kena terhalang oleh sebuah dinding hawa khi kang yang lihay sehingga terdesak kembali ke dalam ruangan. Menanti mereka meloncat naik ke atas wuwungan rumah untuk kedua kalinya si Penjagal Selaksa Li Hu Hong si Pek Ih Loo Sat Hu Siauw-cian serta sastrawan tua itu telah lenyap tak berbekas. ---0-dewi-0---Kita balik pada Tan Kia-beng yang melarikan diri dari ruangan perkampungan Thay Gak Cung dan menggendong tubuh Sak Ie. Bagaikan kilat cepatnya dia meluncur ke depan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh "Poh Poh Ciang Im"nya yang amat lihay, hanya dalam sekejap saja mereka sudah sampai disuatu tempat pegunungan yang sunyi sekali. Dengan cepat dia menghentikan larinya dan meletakkan tubuh Sak Ie ke atas tanah.

"Sak heng.... panggilnya sambil menggoyangkan tubuhnya. Tetapi Sak Ie tidak menyahut, waktu ini dia berada dalam keadaan tak sadarkan diri. Tan Kia-beng yang tidak memiliki pengalaman untuk mengobati luka dan kini sudah menemui kejadian seperti ini dia benar-benar dibuat kebingungan. Kini dia tidak mendengar suara jawaban dari Sak Ie walaupun sudah dipanggil beberapa kali hatiya semakin gugup lagi, teringat akan kejujuran serta kejantanan dari orang itu apalagi dengan dirinya pun mempunyai ikatan persahabatan yang akrab pikirannya jadi semakin kacau. Dia merasa bilamana dirinya merasa tidak berhasil menolong dia untuk memunahkan racun yang mengeram di dalam badannya bagaimana perasaannya waktu itu terhadap orang? Setelah bermenung dan berpikir beberapa saat lamanya pemuda itu merasa satu satunya jalan adalah pergi mencari nona berbaju hijau untuk paksa dia menyerahkan obat pemunah. Berpikir sampai disitu dia putar tubuhnya dan siap-siap enjotkan badan berlalu dari sana, tetapi sebentar kemudian satu pikiran kembali berkelebat di dalam benaknya.

"Aah, tidak baik.... saat ini Sak heng lagi berada dalam keadaan tidak sadar bilamana aku pergi siapa yang hendak mengurus dirinya? "Seorang diri seperti semut dikuali panas dia berjalan bolak balik dengan cemas,"

Pikirannya benar-benar sangat bingung sekali. Kurang lebih seperminum teh lalu mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia melayang datang dihadapannya sambil berteriak.

"Toako! pertemuan para jago pada malam ini sudah kedatangan banyak sekali manusia lihay dari Bulim, kenapa kau seorang berdiri terpekur di tempat ini?"

Tan Kia-beng yang melihat orang tersebut bukan lain adalah si Rasul Racun Pek-tok Cuncu hatinya jadi girang.

"Akhh, kedatanganmu sunggu kebetulan sekali, tolong kau jagakan dirinya sebentar. Kini Sak heng lagi terluka! Biarlah aku pergi sebentar akan kembali lagi."

"Dia terluka?"

"Benar dia sudah terhajar jarum beracun Pek Cu Kiem Uh Yen Wie Ciam dari sibudak tersebut, keduanya sangat berbahaya sekali."

"Lalu Toako hendak pergi kemana?...."

"Pergi mencari budak itu untuk dimintai obat pemunahnya."

"Kau tidak usah pergi lagi, biarlah loohu yang memeriksa lukanya."

"Kau bisa memunahkan racun itu?"

Tiba-tiba Pek-tok Cuncu si Rasul Racun ini tertawa tergelak dengan gelinya.

"Haa.... haa.... aku percaya hanya sedikit racun yang tak berarti ini tidak bakal menyusahkan diri loohu,"

Serunya. Waktu itulah Tan Kia-beng baru sadar kembali, kalau dia punya julukan sebagai "Pek-tok Cuncu"

Si Rasul Racun, sudah tentu pandai pula mengobati luka yang kena racun!

Sewaktu Tan Kia-beng lagi kegirangan itulah si Pek-tok Cuncu si Rasul Racun itu sudah berjalan ke samping tubuh Sak Ie dan membuka pakaiannya untuk mengadakan pemeriksaan.

Setelah itu dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah besi sembrani berwarna hitam pekat untuk ditekankan pada mulut luka dan menghisap keluar seluruh jarum-jarum beracun itu.

Dari mulut luka yang kecil bagaikan bulu segera menetes keluar darah hitam mengiringi tercabutnya jarum-jarum tersebut.

Setelah Pek-tok Cuncu berhasil mencabut keluar jarum Yen Wie Ciam itu dia lantas mencium beberapa kali ujung jarum yang beracun itu dan diperiksanya dengan teliti.

Akhirnya dia tertawa dingin dengan amat seram.

"Hee.... hee.... budah rendah itu sungguh berhati keji, racun yang digunakan untuk mempolesi jarum itu benar-benar merupakan racun jahat, bilamana bukannya bertemu dengan loohu pada malam ini si bocah cilik ini tidak bakal bisa hidup lebih lama!"

Dan dari sakunya dia lantas mengambil keluar sebuah botol yang terbuat dari porselen hijau dan mengambil keluar empat butir pil putih sebesar kedelai lalu dijejalkan ke dalam mulut Sak Ie.

Setelah itu dari sakunya kembali dia mengambil keluar sebuah cupu cupu dan membuka penutupnya.

"Tempat ini tak ada air, terpaksa biarlah gunakan arak pribadi loohu ini untuk menggantikannya". Tan Kia-beng segera merasakan arak yang tercium keluar dari cupu cupu itu benar-benar sangat keras dan wangi sekali, sekalipun orang yang tak pandai minum saat ini juga pasti merasa kepingin. Pek-tok Cuncu sesudah membantu Sak Ie untuk kmeneguk dua tegukan tak tertahan lagi dia sendiripun menegak isi arak tersebut.

"Toako"

Ujarnya kemudian sambil menghembuskan napas panjang.

"Tolong gunakan tenaga hawa Yang dibadanmu untuk bantu dia mendesak keluar sisa sisa racun yang masih mengeram di dalam tubuhnya. Walaupun dia tidak tahu kalau Tan Kia-beng pernah menelan pil dari ular raksasa berumur selaksa tahun tetapi dia mengerti kalau di dalam badan pemuda ini memiliki suatu kekuatan untuk melawan daya bekerjanya racun. Tan Kia-bengpun menurut saja, diapun lantas mengerahkan tenaga dalam Pek Tiap Sin Kang"nya kepada Sak Ie. Segulung hawa panas yang aneh dan tak terkira nyamannya mengalir keluar dari telapak tangan menembus tubuh pemuda itu dan mengalir masuk melalui pusar menuju ke Khi Hay dan menembus dua belas rintangan itu hingga mencapai jalan darah "Pek Huy"

Lalu mengalir turun kembali ke bawah.

Terhadap kawan pemuda itu paling menaruh perhatian, karena dia takut tenaga dalammya sendiri tidak cukup untuk mendesak racun itu keluar maka begitu mengerahkan tenaga dalam dia lantas menggunakan tenaga sakti "Pek Tiap Sin Kang"

Untuk menolong.

Hanya di dalam sekejap saja sembab sembab bekas terkena racun ditubuh Sak Ie sudah kempes kembali bahkan sudah berubah jadi sedia kala.

Melihat akan hal ini Pek-tok Cuncu lalu berteriak.

"Sudah cukup! dengan perbuatan itu bukan saja seluruh racun yang mengeram di dalam tubuh bocah ini sudah lenyap, mungkin dikarenakan bencana, malah malah mendapatkan rejeki. Mendengar perkatan tersebut Tan Kia-beng baru menarik kembali telapak tangannya dan bangkit perlahan-lahan lalu memandang ke arah Sak Ie. Tampaklah pada keningnya sudah dibasahi oleh keringat, pada saat itupun baru saja membuka matanya.

"Sak heng untuk sementara waktu kau jangan bergerak dulu"

Cegahnya gugup.

"Cukup kau salurkan dulu hawa murnimu satu kali bilamana tidak ada halangan kau barulah bangun."

Sak Ie menurut dan diam-diam mulai menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh, segera terasalah seluruh tubuhnya amat nyaman sekali bahkan tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat jika dibandingkan sebelum terluka.

Saking girang dan terharunya terburu-buru dia meloncat bangun dan menjura dengan hormatnya kepada Tan Kia-beng.

"Terima kasih Tan heng suka menyembuhkan lukaku, siaute benar-benar merasa amat berterima kasih."

Terburu-buru Tan Kia-beng menyingkir ke samping.

"Eei.... jangan mengucapkan terima kasih kepadaku, kesemuanya ini berkat bantuan pil pemunah racun dari Pek-tok Cuncu!"

Serunya.

Sedikitpun tidak salah, Sak Ie bisa sembuh dengan demikian cepatnya sebagaian besar memang dikarenakan daya bekerja dari pil pemunah racun dari Pek-tok Cuncu ini.

Memang Sak Ie terjunkan diri ke dalam Bulim jauh lebih pagi dari Tan Kia-beng ditambah pula dia sering mendapatkan petunjuk dari para suhengnya, maka terhadap orang-orang Bulim sudah tentu dia jauh lebih banyak yang tahu.

Telah lama dia mendengar kalau di dalam dunia kangouw ada seorang yang bernama Pek-tok Cuncu dan sangat pandai menggunakan beratus macam racun, hanya saja sifatnya rada aneh dan kukoay.

Kini melihat kakek tua yang ada dihadapannya itu bukan lain adalah si Rasul Racun terburu-buru dia lalu menjura untuk memberi hormat.

"Sak Ie mengucapkan terima kasih atas bantuan loocianpwee yang suka menyembuhkan luka racun dari boanpwee!"

Serunya. Pek-tok Cuncu dengan angkuhnya segera dongakkan kepalanya ke atas.

"Kau tidak usah berterima kasih dengan diriku"

Serunya dingin.

"Selama ini aku tidak mempunyai ikatan persahabatan apa apa dengan pihak Bu-tong-pay, perbuatanku tadi pun semua dikarenakan memandang wajah Toako bilamana kau hendak mengucapkan terima kasih sampaikan saja kepada Toako! Loohu tidak suka menerima ucapan terima kasih dari orang lain dengan percuma. sak Ie yang mendengar perkataan tersebut kontan jadi melengak. Tan Kia-beng yang takut dia jadi merasa malu, buru-buru ujarnya. ---0-dewi-0---JILID. 20

"Sak heng kau tidak tersinggung, si Rasul Racun ini memang punya sifat begitu dia tidak suka diucapkan terima kasih yaa sudahlah!"

Bagaimanapun juga Sak Ie adalah seorang pemuda yang berhati panas, sekalipun dia tidak mengucapkan sesuatu apapun tetapi hatinya rada tidak enak, setelah tertegun beberapa saat lamanya mendadak dia merangkap tangannya menjura.

"Bantuan dari saudara berdua tidak akan aku lupakan untuk selama lamanya, saat ini siauwte masih ada urusan yang harus diselesaikan apalagi peristiwa inipun harus dilaporkan cepat-cepat kepada suheng, maaf siauwte mohon diri dulu,"

Katanya.

Selesai berkata dia enjotkan badannya berlalu dari tempat itu dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Dengan tajam Pek-tok Cuncu memperhatikan tempat dimana bayangan Sak Ie lenyap, sesaat kemudian dari dalam sakunya mendadak dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan diserahkan kepada pemuda itu.

"Toako! Botol porselin ini berisikan pil pemunah racun yang amat mujarab, bukannya Loohu sengaja bicara besar, perduli racun yang bagaimana ganaspun asalkan menelan dua butir pil ini maka seketika itu juga racun akan dipunahkan, nyawapun bisa dipertahankan kembali."

Tan Kia-beng pun tak menolak lebih lanjut, dia lantas menerima pemberian itu dan dimasukkan ke dalam sakunya. Mendadak Pek-tok Cuncu si Rasul Racun itu tertawa tergelak kembali dengan kerasnya.

"Ha haa.... ini hari sudah tanggal enam belas, jarak dengan perjanjian kitapun tinggal empat hari lagi, sampai waktunya aku mau lihat si pencuri tua hendak melaporkan secara bagaimana."

Agaknya dia merasa kemenangan pasti berada ditangannya sehingga dalam hati merasa amat bangga!

Tan Kia-beng pun tahu kalau apa yang baru saja diucapkan adalah mengartikan pertaruhannya dengan si Su Hay Sin Tou si pencuri sakti, terburu-buru tanyanya.

"Apakah kau sudah memperoleh berita tentang kereta iblis itu?"

"Sekalipun belum begitu pasti tetapi kiranya lumayan juga!"

Pek-tok Cuncu setelah selesai mengucapkan kata-kata itu dia lantas meloncat pergi sejauh tiga puluh kaki lebih.

Betul juga, dia hendak pergi, mendadak terdengar suara tertawa kembali berkumandang datang.

"Haa haa.... biarkanlah dia merasa bangga dulu! Aku si pencuri tua belum tentu bisa dikalahkan olehnya."

Tan Kia-beng pun segera menoleh tampaklah Su Hay Sin Tou si pencuri sakti dengan wajah penuh kebanggaan berjalan mendatang. Tidak terasa lagi dia lantas tertawa geli serunya.

"Semoga saja kalian berdua bisa mendapatkan hasil, dengan begitu akupun tidak usah susah susah lagi."

Su Hay Sin Tou si pencuri sakti sama sekali tidak menjawab perkataannya, dan dari dalam saku dia mengambil keluar sebuah medali pualam dan diangsurkan ke depan.

"Apakah Toako kenal dengan benda ini?"

Tanyanya.

Tan Kia-beng yang melihat medali pualam itu bentuk maupun guratan guratannya sama seperti medali yang didapatkan dari saku Bok Thian-hong tempo hari segera dia mengambil keluar medali dari dalam sakunya dan disosokkan dengan medali pualam ditangan si pencuri sakti itu.

"Hii?! benda ini kau dapatkan dari mana lagi?"

Tanyanya keheranan. Su Hay Sin Tou si pencuri sakti itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... rahasia langit tidak boleh dibocorkan, harap Toako suka bersabar untuk beberapa lagi."

Dia berhenti sebentar, lalu dengan wajah yang bersungguh sungguh tambahnya lagi.

"Angin dan taupan yang melanda Bulim pada beberapa hari ini rada mengencang dari daerah Kiang Ham pun sudah kedatangan lagi berpuluh puluh orang jagoan lihay gerak gerik dari Toako lebih baik sedikit berhati-hati lagi!"

"Soal ini pun sudah merasakannya"

Sahut Tan Kia-beng sambil mengangguk.

"Kau berlegalah hati! rasanya urusan urusan ini masih cukup dan bisa aku hadapi seorang diri."

Su Hay sin Tou pun mengetahui kalau Toakonya mempunyai kemantapan hati yang luar biasa, mendengar perkataan itu diapun lantas tersenyum.

Kalau begitu aku pergi dulu, beberapa hari lagi kita tiga bersaudara berkumpul kembali dengan hati gembira!"

Selesai berkata tubuhnyapun segera berkelebat dan hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.

Dua orang siluman tua ternyata suka bekerja baginya dengan sepenuh tenaga hal ini membuat Tan Kia-beng merasa amat terharu, bersamaan itu pula beberapa urusan yang ada di depan matanya berubah semakin jelas lagi.

Pertama Thay Gak Cungcu secara tiba-tiba mengundang datang begitu banyak jago untuk berkumpul diruangan Cun Hoa nya guna adakan suatu perunding rahasia, dalam hal ini pastilah lagi menyusun suatu rundingan besar yang amat busuk.

Tapi apakah yang sedang dirundingkan oleh mereka?

Kedua.

Apa hubungan serta sangkut pautnya antara sitetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng serta Bok Thian-hong?

dan dari mana asal usul dari sinona berbaju hijau itu?

kenapa Bok Thian-hong bersikap begitu menghormat terhadap dirinya apakah Bok Thian-hong pun merupakan satu keluarga dengan dirinya atau dia hanya seorang kaki tangannya saja?

Ketiga.

Selamanya Chuan Tiong Ngo Kui jarang sekali berkelana di dalam dunia kangouw kali ini mereka bersama-sama berangkat ke daerah Barat bahkan dengan begitu cepatnya suka bergabung dengan Bok Thian-hong, sudah tentu ada suatu maksud tertentu.

Apakah maksud tujuan mereka?

Keempat.

Sejak Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong munculkan dirinya di tempat itu berita yang menyangkut soal kereta kencana tidak kedengaran lagi, apakah mungkin si kakek tua berkerudung hitam itu adalah hasil penyamaran dari Bok Thian-hong?

Dengan seorang Tan Kia-beng putar otak memikirkan urusan ini selama beberapa waktu lamanya, dia merasa apa yang diduga olehnya ini ada kemungkinan semua.

Diam-diam pikirnya di dalam hati.

"Sekarang Sak Ie sudah tak ada persoalan lagi, biarlah aku kembali kebangunan Cun Hoa itu untuk mengadakan penyelidikan!"

Berpikir sampai disini mendadak dia teringat kembali akan Hong Jen Sam Yu yang berangkat lebih dulu, kenapa mereka tidak munculkan dirinya?

apakah di tengah perjalanan sudah menemui bencana?

Tetapi teringat akan kepandaian silat yang dimiliki oleh Hong Jen Sam pemuda itu pun merasa rada lega.

Dengan pengalaman serta kepandaian mereka bertiga tidak mungkin bisa menemukan bahaya tentunya mereka di tengah jalan sudah menemui sesuatu peristiwa yang menyolok sehingga sudah merubah rencana.

Waktu itu hari sudah menunjukkan kentongan ketiga, rembulan yang bulat itu pun memancarkan cahaya keperak perakan dan jauh berada di tengah awang awang angin malam berhembus sepoi sepoi, suara jangkrik berbunyi mengiringi malam nan sunyi....

suasana waktu itu betul-betul amat nyaman.

ooOoo Tan Kia-beng mulai menggeserkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu Mendadak.

dari empat penjuru berkumandang suara tertawa yang amat seram disusul dengan munculnya Chuan Tiong Ngo Kui di tengah sorotan sinar rembulan dan dengan perlahan mendekati ke arahnya.

Sinar mata pemuda itu berkelebat menyapu sekejap ke arah orang-orang itu lalu menghentikan langkahnya.

"Heee.... heee.... aku masih belum ada waktu untuk mencari kalian membikin perhitungan tidak disangka kalian malah mencari aku terlebih dahulu"

Serunya dengan dingin.

Hmm!

begitupun baik juga, malam ini kita membuat keputusan di tengah tanah kuburan ini saja!

Chuan Tiong Ngo Kui sama sekali tidak kenal dengan pemuda ini kedatangan mereka kali ini pun disebabkan oleh karena mengincar pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam tersebut tidak disangka tiba-tiba saja mereka dikatai demikian tak kuasa lagi pada melengak dibuatnya.

Si Toa Kui Siauw Bian Coan atau si wajah riang berhati ular Go Touw Seng memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

"Heee.... heee.... toa yamu tidak saling kenal dengan dirimu darimana datangnya ganjalan hati.... heee.... hee.... lebih baik kau tidak usah banyak sembarangan bicara saja"

Katanya. Dari sepasang mata Tan Kia-beng pun mendadak memancarkan cahaya yang amat tajam, selangkah demi selangkah dia mendesak lebih mendekat lagi.

"Hmm! apakah kalian sudah melupakan peristiwa terbunuhnya raja muda Mo? malam ini siauw yamu akan membalaskan dendam berdarah dari terbunuhnya Mo Cun Ong itu!"

Siauw Bian Coa Sim yang jadi orang sangat ganas dan buas inipun kini dibuat terperanjat dari pemuda tersebut, tak kuasa lagi dia mundur beberapa langkah ke belakang. Jie kui, si "Sya Hun Bu Ciang"

Atau Setan Gantung Pengikat Sukma mendadak tertawa dingin.

"Buddha tanah menyeberangi sungai untuk menjaga diripun belum tentu bisa masih ingin membalaskan dendam dari si setan tua itu. Hmm, heee.... lebih baik juga nyawamu sendiri,"

Sindirnya dengan suara yang amat dingin. Sam Kui, Cui Ming Kei"

Atau si Setan Pengejar Nyawa Ong Kiam segera mengangkat medali pengejar nyawanya ke atas, mendadak bentaknya.

"Berhenti! bilamana kau berani maju setindak lagi, ya yamu segera akan mengetuk hancur sepasang kakimu"

Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng segera memutar badannya.

"Kedatangan kalian pada malam ini mencari siauw yamu sebenarnya ada urusan apa?"

Si wajah riang berhati ular Gow Touw Seng pada saat inilah baru sadar dan menyesali sikapnya yang terlalu lunak, mendengar pertanyaan itu dia lantas menyahut dengan suara dingin dan seram.

"Chuan Tiong Ngo Kiat selamanya tidak suka berbuat pekerjaan dengan sembunyi sembunyi kedatangan kami pada malam ini hendak meminta pedang Giok Hun Kiam yang ada pada pinggangmu itu, bilamana kau menginginkan bisa terhindari bencana malam ini lebih baik menurut saja untuk serahkan pedang tersebut, kalau tidak heee heee.... barisan Ngo Kui Im Hong Kiam Tin tidak akan enak rasanya."

Sekalipun si setan pertama dari Chuan Ngo Kui in imenyebutkan Tan Kia-beng pun bisa menebak beberapa bagian maksud tujuan dari kedatangan mereka malam ini, kini setelah mendengar perkataan tersebut hawa amarahnya segera berkobar memenuhi seluruh benaknya.

Sebetulnya dia memang ada maksud untuk mencari kelima orang setan ini untuk mewakili Mo Tan-hong membalaskan dendam sakit hati terbunuhnya raja muda Mo kini melihat mereka berlima sudah datang mencari dirinya sudah tentu lebih kebetulan sekali.

Alisnya dikerutkan rapat rapat napsu membunuh berkilas memnuhi wajahnya, pipinya mulai memerah kemudian diantara suara tertawanya yang amat nyaring mendadak dia maju mendesak ke depan sepasang telapak tangannya didorong ke depan melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat sekali.

Walaupun si setan berwajah riang berhati ular itu menduduki sebagai pemimpin dari kelima orang setan itu waktu ini tidak berani menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, maka kakinya dengan cepat berkelebat ke samping sejauh tiga depa.

Pada saat yang bersamaan pula empat orang setan lainnya sudah mulai menggerakkan senjatanya masing-masing maju mengerubuti.

Jie Kui dengan senjatanya tongkat pengikat sukma dengan dahsyatnya menghajar ke arah batok kepala sang pemuda, medali penghadang nyawa dari Sam Kui menyapu ke arah pinggang sedang pit pengikat sukma dari Su Kui bagaikan kilat cepatnya menotok jalan darah Sian Khei serta "Kie Ciat dua buah jalan darah kematian dan terakhir golok bergerigi dari Ngo Kui dengan disertai sambaran angin tajam membabat tubuh bagian bawah dari Tan Kia-beng.

Tenaga dalam dari Chuan Tiong Ngo Kui amat dahsyat sekali dan masing-masingpun memiliki tenaga latihan selama empat, lima puluh tahun lamanya, maka dengan kesempurnaan tenaga lweekang mereka ini kini bersama-sama melancarkan serangan mengerubut keadaannya benar-benar luar biasa sekali.

Hanya di dalam sekejap saja angin pukulan berhawa dingin menyambar laksana kilat dan menggulung tiada hentinya di tengah udara.

Dalam hati Tan Kia-beng benar-benar merasa amat terperanjat, tubuhnya berputar lalu menerjang ke tengah angkasa dan melayang di atas sebuah batu nisan dari kuburan yang ada didekat tempat itu.

"Heee, heee, kepandaian dari Chuan Tiong Ngo Kui kiranya cuma demikian saja sungguh menggelikan sekali!"

Ejeknya sambil tertawa dingin. Di atas wajah Siauw Bian Coa Sim yang amat dingin dan kaku perlahan-lahan terlintaslah satu senyuman yang amat menyeramkan.

"Selamanya Chuan Tiong Ngo Kiat bertempur secara bersama-sama menghadapi selaksa pun sama saja. Bilamana kau bangsat cilik sudah merasa takut lebih baik cepat-cepatlah berlutut dan serahkan pedang itu kepada kami, Yayamu pasti akan membuka sedikit kemurahan dengan mengampuni nyawa anjingmu itu."

Katanya. Sebaliknya Tan Kia-beng jadi amat gusar.

"Nenek kura kura"

Bentaknya keras.

Kemudian tubuhnya meloncat dengan gaya menggunting sedang telapak tangannya bagaikan seekor burung elang menubruk ke bawah dengan amat dahsyatnya.

Dengan gusarnya Chuan Tiong Ngo Kui membentak bersama-sama, masing-masing orang mengerakkan senjatanya sendiri sendiri untuk melindungi bagian kepala lalu bersama-sama pula melancarkan satu pukulan ke atas.

Dengan bersusah payah akhirnya mereka berhasil juga menghindarkan diri dari serangan itu.

Walaupun begitu tubuh mereka sudah terdesak mundur ke belakang dalam keadaan sempoyongan.

Dengan adanya kejadian ini Chuan Tiong Ngo Kui semakin dibuat gusar lagi tidak menanti pemuda itu berdiri tegak dengan santernya mereka sudah menubruk ke depan melancarkan serangan serangan mematikan Nama besar Chuan Tiong Ngo Kui ternyata bukan nama kosong belaka, serangan yang dilancarkan untuk kedua kalinya ini benar-benar luar biasa sekali tanah kalangan seluas lima kaki hampir hampir boleh dikata berada dibawah lingkungan serta kekuasaan angin pukulan serta bayangan senjata mereka.

Musuh tangguh kin isudah berada di depan mata maka Tan Kia-beng tidak berani berlaku ayal lagi, seluruh perhatiannya dipusatkan untuk menghadapi serangan serangan musuh.

Di bawah sorotan sinar rembulan tampaklah enam sosok bayangan hitam berkelebat saling silih berganti, keadaan benar-benar amat menyeramkan!!

Angin pukulan menderu deru, cahaya terang berkelebat laksana petir ada kalanya diselingi dengan suara bentakan bentakan yang amat keras membuat suasana dimalam yang amat sunyi itu penuh diliputi oleh hawa pembunuhan!!

Hanya di dalam sekejap saja masing-masing pihak sudah saling bergebrak sebanyak seratus jurus lebih serangan serangan dari Chuan Tiong Ngo Kui pun semakin lama semakin mencapai pada puncak kedahsyatannya, terasa hawa tekanan yang menyelimuti empat penjuru kalangan peretmpuran semakin lama hatinya makin merasa cemas, pikirnya.

"Kekuatan dari tenaga gabungan mereka berlima benar-benar amat dahsyat sekali. bilamana aku tidak menggunakan jurus jurus aneh untuk merebut kemenangan maka akhirnya aku akan kepayahan dan mati karena kelelahan."

Demikianlah secara diam-diam dia mulai menyalurkan hawa saktinya hingga dua bagian dengan menggunakan hawa pukulan Im serta Yang yang dipisahkan telapak kirinya mulai dibabat ke depan dengan menggunakan jurus serangan dari ilmu Tok Yen Mo Ciang."

Terasalah segulung hawa pukulan yang maha dingin bagaikan angin taupan menggulung ke depan.

Diikuti hawa murninya disalurkan melalui pusar keseluruh badan, sambil membentak keras telapak kanannya berputar melancarkan satu pukulan menggunakan jurus "Jiet Ceng Tiong Thian"

Tampaklah segulung tenaga pukulan berhawa khie kang dengan diselingi suara ledakan guntur yang memekikkan telinga bergabung dengan pukulan hawa Im tadi menghajar ke depan.

Chuan Tiong Ngo Kui yang sedang kena pukulan berhawa dingin tadi tubuhnya sudah tergetar, kini melihat datangnya hawa pukulan yang begitu dahsyat laksana sambaran angin topan jadi amat kaget sekali.

Si Setan Gantung Pengikat Sukma Ong Thian serta si Setan Pengejar Nyawa Ong Kiam yang menerjang palig depan segera memperdengarkan suara jeritan yang seram dan mendirikan bulu roma tubuhnya beserta senjata ditangannya kena digulung sehingga mencelat sejauh tiga kaki dan rubuh ke dalam rerumputan dengan amat kerasnya.

Melihat kejadian itu si Siauw Bian Coa Sim jadi amat terperanjat sekali dengan cepat dia menarik kembali serangannya dan mundur delapan depa ke belakang.

"Siapkan pedang!"

Bentaknya keras.

Dari punggungnya sendiri ia mencabut keluar sebilah pedang kematian yang amat lebar dan dikebas kebaskan di atas udara, selapis hawa membunuh dengan perlahan tersungging pada wajahnya.

Dari tadi Tan Kia-beng sudah mendengar nama dari barisan pedang Ngo Kui Im Hong Kiam Tin tersebut cuma saja dia tidak tahu bagaimanakah lihaynya barisan tersebut kini melihat dia mencabut keluar pedang kematian tersebut dengan telitinya pemuda itu memperhatikan terus Tampaklah pedang tersebut berwarna hitam dan memancarkan yang amat terang sekali, di tengah-tengah tubuh pedang kematian tersebut terdapat lekukan berwarna merah darah dengan banyak lubang, lubang tersebar di atasnya cuma dia tidak mengetahui apakah keistimewaan dari pedang itu tetapi sewaktu mendengar nada suara mereka yang begitu mantap terpaksa dia pun lantas mencabut keluar seruling Pek Giok Siauw nya.

Saat ini jaraknya dengan Siauw Bian Coa Sim tidak lebih cuma lima depa mendadak terdengar suara jeritan yang mendirikan bulu roma....

Sreeet sreeet!

bagaikan kilat cepatnya dia sudah melancarkan delapan tusukan dahsyat.

Jie Kui yang ada dibelakangnya hampir pada saat yang bersamaan melancarkan serangan pula ke depan, Seketika itu juga seluruh angkasa telah dipenuhi dengan kabut cahaya pedang yang menyilaukan mata diselingi suara dengusan yang mendebarkan hati hawa dingin terasa menusuk tulang makin lama semakin menebal membuat tubuhnya hampir hampir membeku.

Waktu inilah Tan Kia-beng baru tahu kalau Chuan Tiong Ngo Kui sebetulnya sudah melatih semacam ilmu yang sangat beracun.

Sewaktu melancarkan serangan pedang secara diam-diam mereka mengerahkan tenaga dalam ke dalam tubuh pedang lalu menggunakan lubang lubang kecil yang ada di atas pedang itu untuk menimbulkan hawa dingin serta suara dengusan yang dapat mengacaukan pikiran musuh.

Tetapi perduli mereka berbuat demikian serangan serangan pedang yang laksana menyambarnya selaksa batang anak panah itu tidak boleh dipandang rendah.

Terburu-buru Tan Kia-beng pusatkan seluruh perhatiannya menanti kesempatan yang lebih baik, seruling pualamnya diputar balik menimbulkan cahaya yang tamam untuk mengelilingi seluruh tubuhnya.

Dengan tiadanya gerakan dari pemuda itu maka hal ini memberi kesempatan buat ketiga orang setan itu untuk menduduki kedudukan segi tiga dan mengurung Tan Kia-beng rapat rapat.

Serangan serangan pedang yang dilancarkan pun bertambah jurus bertambah lihay barisan tersebut dengan membentuk suatu jaringan dinding bersinar merah yang amat rapat dan mengaburkan pandangan mata Tan Kia-beng yang kena dikurung di tengah kalangan mulai merasakan napasnya sesak, bau busuk semakin menusuk hidung maka serulingnya dengan payah dan ngotot terus menerus dibolang balingkan menangkisi setiap serangan yang ditujukan kepadanya.

Baca Juga: Pendekar Baja 11

Baca Juga: Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert