Eps 11 Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Baca online Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Cersil Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung.
"Memangnya aku sendiripun kena ditipu dan dikelabuinya beberapa kali? Seseorang bila dia mampu mengapusi aku, mungkin jarang ada orang yang tidak bisa ditipunya."
Terdengar Cay Tio-hing berkata pula.
"Setelah badannya basah kuyup, sudah tentu tak bisa berkotbah lagi dengan tenang, maka dia harus mengeringkan dulu pakaiannya, sudah tentu permintaan bukannya tidak masuk aturan, sampaipun Im-kiongcu pun tak bisa menolak permintaannya, maka dia suruh orang untuk membawanya ke sebelah biara di kaki gunung, di sana membuat api unggun untuk mengeringkan pakaiannya."
"Untuk mengeringkan pakaian paling tidak perlu setengah jam, dalam jangka setengah jam banyak urusan yang bisa dia selesaikan."
Ujar Coh Liu-hiang.
"Dia kira nona Sutouw King yang mengerling senyum kepadanya itu pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk berhadapan dua-duaan sama dia, siapa tahu ternyata dua nona yang lain mengantarkannya ke dalam biara itu, malah setelah api unggun berkobar, mereka lantas mengundurkan diri, semua pintu dan jendela biara kecil itu ditutup rapat."
Coh Liu-hiang juga merasa heran, katanya.
"Kalau begitu, bukankah Bu Hoa tidak bisa berbuat apa-apa lagi?"
"Disaat dia mengeluh itulah, nona Sutouw itu tiba-tiba muncul dari belakang patung pemujaan, malah secara sukarela menyerahkan kesuciannya, perubahan ini menurut katanya dia sendiripun merasa di luar dugaannya."
Coh Liu-hiang juga melengak keheranan, gumamnya.
"Nona Sutouw itu muncul dari belakang patung pemujaan? Kalau demikian, biara kecil itu pasti ada jalan rahasia. Memangnya setiap rumah-rumah didalam Sin cui kiong dipasangi jalan rahasia bawah tanah? Apakah setiap jalan bawah tanah itu sama menembus ketempat tinggal Cui-bo-im-ki? Malahan ada jalan rahasia yang tembus ke Bo-dhi-am yang didatangi Liu Bu-bi itu?"
Cay Tok-hing seperti tidak mengerti apa yang dikatakannya, namun dia tidak bertanya, katanya.
"Menurut apa yang dikatakan, Sutouw King sebenarnya adalah salah satu murid kepercayaan Im-kiongcu, setelah bersenggama dan main mesra-mesraan sekian lamanya, dia lantas jatuh cinta kepati-pati, namun tujuannya hanya ingin memiliki Thian it-sin cui, maka Sutouw King lantas mencurikan sebotol buat dia, dua hari kemudian diwaktu dia turun lembah, secara diam-diam botol itu diserahkan kepadanya."
Coh Liu-hiang melengak, katanya.
"Masakah begitu gampang?"
"Dia sendiri memang tak menduga urusan bisa terjadi begitu lancar dan gampang, karena meski murid-murid Sin cui kiong sama cantik-cantik, namun sikap mereka tetap dingin dan kaku seperti tak berperasaan, mimpipun dia tak pernah menduga bahwa Sutouw King rela menyerahkan kesuciannya, begitu cabul melebihi perempuan lacur dan perempuan jalang umumnya."
Coh Liu-hiang semakin tak habis mengerti, katanya.
"Apalagi dalam dua hari dia sudah berhasil mencari sebotol penuh Thian-it-sin-cui, sudah tentu dia memang murid Cui-bo-im-ki yang tersayang, sebagai murid kesayangan tentunya bukan perempuan cabul dan genit, mana bisa begitu melihat Bu Hoa lantas jatuh hati, berubah begitu cepat?"
"Mungkin itulah yang dinamakan karma."
Coh Liu-hiang tak sependapat, katanya.
"Menurut pendapat tecu, dalam kejadian ini masih ada tersembunyi latar belakang yang belum kita ketahui."
"Peduli apa benar ada latar belakang yang belum kami tahu, yang terang kejadian ini sudah berselang, hari ini Losiu menyinggung hal ini, tidak lain hanya ingin supaya Maling romantis tahu sedikit keadaan Sin cui kiong sebagai bahan-bahan pertimbangan."
Cay Tok-hing tertawa-tawa, lalu menyambung.
"Catatan harian itu adalah tulisan Bu Hoa sendiri, apa yang tercatat didalamnya pasti bukan bualan, oleh karena itu menurut pendapat Losiu, tempat tinggal Im kiong cu pasti berada dipinggang gunung atau didekat kubangan air di bawah air terjun itu, maka diwaktu Bu Hoa berkotbah, dia baru bisa mendengar dengan jelas."
Pada saat itu juga keduanya mendadak berdiri, di luar terdengar suara lambaian pakaian tertiup angin, seseorang berkata dengan tertawa.
"Ada arak dan masakan, kenapa tidak undang aku, agaknya Cay-locianpwe memang pilih kasih dan berat sebelah!"
Ditengah gelak tawanya yang kumandang, seseorang menerobos masuk, dia bukan lain adalah Oh Thi-hoa.
Tapi diapun tahu sekarang bukan saatnya minum arak, karena dia ingin lekas-lekas bicara.
Setelah mendengar cerita pengalamannya, tanpa sadar Coh Liu-hiang mulai mengelus hidung, disaat dia merasa senang atau dirundung persoalan pelik, selalu tak disadari pasti mengelus-ngelus hidung.
"Tak usah pegang hidung, jangan kuatir akan keselamatan Yong-ji, dia lebih cerdik dan pandai bertindak seperti yang kau bayangkan!"
Kata Oh Thi-hoa.
"Menurut apa yang kau tuturkan, ke enam orang itu bukan terhitung orang-orang Kangouw kelas satu, hanya secara kebetulan saja berhasil melakukan pekerjaan besar."
Kata Coh Liu-hiang setelah berpikir sebentar. Cay Tok-hing menimbrung.
"Memangnya enam orang itu hanya kaum keroco saja, bukan Losiu sengaja hendak menguntit mereka, cuma secara kebetulan saja aku memergoki mereka."
Oh Thi-hoa tertawa, ujarnya.
"Kaum keroco seperti mereka sudah tentu tak perlu bikin susah Locianpwe, tak usah Cianpwe jelaskan akupun sudah mengetahui."
"Kalau demikian, Tonglam Yan keluar dari sarangnya jadi bukan hendak menghadapi kami, agaknya ke enam orang itu yang bernasib sial, sehingga kebentur di tangannya."
"Darimana kau bisa berpendapat demikian?"
Tanya Cay Tok hing.
"Ah, masakah Cianpwe belum jelas, menangkap juntrungannya?"
Oh Thi-hoa tertawa. Cay Tok hing tertawa, Oh Thi-hoa melanjutkan.
"Kionglam Yan adalah orang yang diutus mencari Coh Liu-hiang, kalau Im-ki suruh dia menemui Coh Liu-hiang yang kenamaan, dapatlah dibayangkan dia pasti salah satu tokoh kepercayaan yang berkepandaian tinggi dari Sin cui kiong, tapi ke enam orang itu toh kaum keroco belaka, tak perlu susah-susah dia sendiri yang turun tangan."
Coh Liu-hiang mendelik kepadanya katanya.
"Hari ini aku jadi heran kenapa kau banyak bicara, sedikit minum arak?"
"Tapi kata-kata ini jangan disalah-artikan."
Ujar Cay Tok hing.
"Orang yang diutus pihak Sin cui kiong untuk menemui Coh Liu-hiang pasti kedudukan dan tingkat kepandaiannya di dalam lembah amat tinggi, pasti bukan khusus untuk menghadapi keenam orang itu."
"Kalau demikian kedatangan Kionglam Yan dikota kecil ini memangnya khusus hendak menghadapi Coh Liu-hiang? Tapi darimana mereka bisa tahu bila Coh Liu-hiang sudah berada di sini?"
Coh Liu-hiang menepekur, sementara Cay Tok hing sudah mengukuti hidangan diatas meja dan masukan ke dalam sebuah karung lalu memadamkan lilin lagi. Katanya dengan suara kereng.
"Sinar api dimalam nan gelap, dapat menjadi perhatian orang lain, kalau Oh-heng bisa menemukan tempat ini, bukan mustahil orang lainpun bisa kemari, marilah kita mencari tempat lain saja."
Baru saja Coh Liu-hiang putar badan sampai diambang pintu, tiba-tiba dia hentikan langkahnya.
Oh Thi-hoa yang sedang berdiri diambang jendela harus makan waktu beberapa lamanya lagi baru bisa melihat jelas, ditengah keremangan malam itu melayang datang dua sosok bayangan orang.
Gerakan kedua bayangan ini begitu enteng dan cepat serta aneh lagi, terutama orang yang di sebelah kiri dengan perawakan agak pendek.
Coh Liu-hiang dan Tok hing merupakan ahli di bidang ilmu Ginkang, sekali pandang lantas mereka tahu, bukan saja Ginkang orang ini amat tinggi, malah gerak-geriknya selalu dapat bergaya dengan gemulai dan indah serta lembut, seolah-olah sedang menari ditengah angkasa mengikuti irama musik yang dibawa lalu oleh hembusan angin malam.
Oh Thi-hoa melirik kepada Cay Tok hing lalu melirik pula kepada Coh Liu-hiang, tak tahan ida menghela napas, biasanya diapun amat bangga akan ilmu Ginkangnya sendiri tapi setiap orang yang dia lihat malam ini, ilmu Ginkangnya justru jauh lebih tinggi dari dirinya, seolah-olah seluruh tokoh Ginkang yang paling top di seluruh dunia malam ini sama meluruk dan tumplek di kota ini.
Diam-diam Cay Tok hing memberi tanda dengan ulapan tangan, serempak mereka bertiga segera mengundurkan diri lewat jendela di sebelah belakang, kebetulan di luar jendela adalah lereng gunung yang lebat ditumbuhi rumput liar.
Mereka tidak menyingkir jauh, namun terpencar tidak berjauhan menyembunyikan diri didalam semak-semak rumput yang gelap, hati masing-masing sama menerka dan menebak-nebak, Siapa kedua orang itu?
Untuk apa dia kemari?
Mereka berkeputusan untuk mencari tahu sampai jelas duduknya persoalan.
Bukan saja kedua bayangan orang itu langsung menuju ke sekolahan itu, agaknya mereka bukan untuk sekali ini datang ke tempat ini, agaknya mereka sudah tahu dan apal benar akan situasi daerah sekitar ini.
Ala kadarnya mereka berputar memeriksa keadaan sekitarnya lalu masuk kelas, begitu masuk ke belakang pintu orang yang bertubuh rada pendek itu lantas berkata dengan suara berat.
"Kenapa pintu ini tidak ditutup?"
Seorang yang lain tertawa, katanya.
"Anak-anak kecil biasanya terburu-buru ingin lekas pulang, masakah mereka ingat untuk menutup pintu lagi?"
"Tapi Ong-siansing yang memberi pelajaran di sini itu, aku tahu adalah seorang tua yang kolot dan keras terhadap murid-muridnya, kerjanya selalu hati-hati dan rajin, mana bisa..."
"Bukan mustahil dia sudah dibikin pusing kepala oleh kenakalan murid-muridnya, apalagi pintu tertutup atau tidak apa sih halangannya, yang terang tempat seperti ini tiada sesuatu benda berharga yang bisa menarik perhatian orang lain untuk datang kemari."
Suara orang ini serak kalem dan tua, kedengarannya seperti sudah amat dikenal.
Dalam waktu dekat sulit Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang teringat siapa gerangan laki tinggi yang dikenal suaranya ini.
Laki-laki yang bertubuh rada pendek itu sudah beranjak mendekati jendela, tapi waktu mereka mengundurkan diri, juga lupa menutup lagi.
lapat-lapat masih kelihatan raut muka orang ini, kontan Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang melengak keheranan dibuatnya.
Ternyata orang ini bukan lain adalah laki-laki berperawakan sedang berpakaian serba hitam sebagai ahli pedang yang berkedok dan tak dikenal asal usulnya itu, kini pakaiannya sudah ganti warna tidak seperti waktu berada di Yong cui san cheng tempo hari.
Maka tak perlu diragukan lagi bahwa seorang yang lain pasti adalah Kuncu-kiam Ui Loh-ce.
Tengah malam buta rata kedua orang ini datang ke tempat sunyi ini, malah gerak-geriknya sembunyi-sembunyi seperti takut dilihat orang, memangnya apa pula tujuan mereka?
Sudah tentu Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati.
Ditengah keremangan malam kelihatan sikap dan mimik muka laki-laki sedang itu amat prihatin, sinar matanya aneh dan terang kelihatannya amat haru dan terlalu emosi.
Mengawasi tabir malam di luar jendela orang ini terlongong beberapa kejap lamanya, katanya setelah menghela napas panjang.
"Selama beberapa tahun ini hidupku seolah-olah selalu dibayangi setan dan ketakutan akan bayanganku sendiri, mungkin kau..."
Ui Loh ce menghampiri menepuk pundaknya, ujarnya.
"Aku tidak menyalahkan kau, didalam situasi dan keadaan seperti ini, berhati-hati dan selalu waspada memang jamak."
Laki-laki itu menunduk, katanya rawan.
"Setiap orang dalam dunia ini sama ingin membunuhku, hanya kau... sejak mula sampai kini sikapmu tidak berubah dan tidak pernah meninggalkan aku, sebaliknya bukan saja aku tidak bisa membalas kebaikanmu, malah selalu bikin susah dan ikut terembet urusanku."
"Bersahabat mengutamakan setia kawan perduli bagaimana sikapmu terhadap orang lain, terhadap aku, kau tetap setia dan akrab, didalam pandangan mataku, kau dibanding siapapun dalam dunia ini kau jauh lebih boleh dipercaya."
Sampai di sini dia tersenyum lalu meneruskan.
"Dalam jaman sekarang sahabat sejati memang sukar didapat, teman seperti kau, mungkin selama hidupku takkan bisa kucari yang keduanya."
Laki-laki sedang itu amat haru, katanya tersenyum.
"Seharusnya akulah yang berkata demikian, kalau kaum persilatan tahu Kuncu-kiam sudi bersahabat dengan orang seperti aku ini, mungkin bakal merupakan berita gempar yang paling aneh daripada Thian Long Taysu dari Siauwlim itu kembali preman mempersunting bini."
Suaranya riang dengan tertawa, namun raut mukanya tetap kaku. Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa beradu pandang, dalam hati masing-masing tanpa berjanji sama membatin.
"Ternyata orang ini memang memakai kedok muka."
Tapi siapakah sebenarnya orang ini?
Kenapa setiap insan persilatan ingin membunuhnya?
Pada tengah malam buta rata seperti ini mendatangi sekolahan yang kosong ini, apa sih sebetulnya maksud tujuannya?
Hampir tak tertahan ingin rasanya Oh Thi-hoa menerjang keluar, merenggut kedok muka orang ini, ingin dia melihat jelas muka orang yang sebenarnya.
Hening sebentar, terdengar Ui Loh ce buka suara pula.
"Malam ini, aku seharusnya tidak perlu kemari."
"Aku justru ingin kau kemari, karena aku ingin kau bisa melihatnya."
Sorot matanya menampilkan emosi hatinya, tak tertahan dia tertawa riang, katanya pula "Mungkin selama hidupmu kau takkan pernah melihat gadis rupawan secantik itu."
Ui Loh-ce tertawa ujarnya.
"Tak usah melihat, aku sudah tahu, dia pasti seorang nona pintar, cerdik, cantik, aku cuma... mungkin dengan kehadiranku di sini, kalian tidak akan leluasa bicara."
"Apanya yang tidak leluasa, sejak lama dia sudah tahu tentang dirimu, hari ini bila berhadapan dengan kau, pasti dia akan merasa amat senang."
Tiba-tiba dia tertawa pula, katanya lebih lanjut "Hari ini aku pastikan minum sepuasku, sudah lama aku belum pernah seriang malam ini, kelak mungkin takkan kualami..."
Ui Loh ce kembali menukas.
"Hari-hari gembira seperti ini jangan kau mengeluarkan kata-kata yang mematahkan semangat, kini waktunya sudah hampir tiba, lekaslah kau keluarkan arak hidangannya."
Ternyata kedua orang ini memang sedang menunggu kedatangan seseorang, malah hendak minum merayakan pertemuan ini. Tak urung berpikir Oh Thi-hoa dalam benaknya.
"Tak kira ruang sekolahan ini menjadi warung arak, malah dagangannya cukup laris, siapapun yang datang kemari sama ingin menikmatinya dengan riang hati."
Coh Liu-hiang bertambah heran, mendengar pembicaraan mereka, agaknya laki-laki sedang ini seperti sedang menunggu kedatangan kekasihnya, tapi kenapa mereka janji pertemuan didalam ruang sekolahan ini?
Memangnya perempuan itu juga malu dilihat orang?
Tampak laki-laki sedang itu memang membawa sebuah kantongan besar, satu persatu dia keluarkan terus ditaruh di atas meja, katanya dengan tertawa.
"Kacang bawang meski makanan kecil yang paling biasa, tapi dia justru merasa jauh lebih nikmat dari segala maskan restoran yang paling mahal, tempo hari seorang diri dia menghabiskan dua kati."
"Benar, barang yang paling biasa, justru ada orang menganggapnya sebagai barang berharga."
Laki-laki sedang itu menepekur sebentar, tiba-tiba dia memutar badan, katanya seperti menggumam.
"Aku memang salah terhadapnya, seharusnya kubawa pergi tapi aku ini jadi orang yang lemah tak punya keteguhan hati, seakan-akan aku jadi tega melihat dia hidup didalam suasana kesepian yang mencekam sanubari."
Kini dia sudah membelakangi Ui Loh ce, agaknya dia segan dilihat oleh Ui Loh ce bila tangannya sedang menyeka airmata, di luar tahunya bahwa tiga orang di luar jendela yang gelap itu menyaksikan gerak-geriknya dengan jelas.
Waktu itu Ui Loh ce sudah menyulut sebatang lilin, meski dalam rumah sudah bertambah penerangan namun suasana menjadi hening dan dingin, penerangan api lilin sedikitpun tak merubah suasana yang sepi dan menekan perasaan ini.
Karena mereka sedang menunggu, memangnya tiada sesuatu yang bisa merubah suasana lebih meriah didalam keadaan sedang menunggu seperti ini, lama kelamaan Ui Loh ce kelihatan tak sabar lagi.
Kembali lelaki sedang itu berdiri diambang jendela, dengan mendelong memandang ke tempat nan jauh.
Tabir malam dikejauhan terasa semakin pekat, akhirnya dia menghela napas, mulutnya mengigau.
"Sekarang mungkin sudah lewat kentongan ketiga."
"Kukira waktu belum selarut itu."
Laki-laki itu, geleng-geleng kepala katanya.
"Coba pikir, malam ini mungkinkah dia kemari?"
Ui Loh ce tertawa dibuat-buat, sahutnya.
"Pasti tidak datang."
Laki-laki itu membalik badan, katanya.
"Sebetulnya memang baik juga bila dia tidak kemari, kalau aku jadi dia belum tentu aku mau datang, aku..."
Tiba-tiba terdengar suara "Tok"
Di luar pintu serempak laki-laki itu dan Ui Loh ce memutar badan, maka terlihat sesosok bayangan putih semampai tahu-tahu sudah berdiri di luar pintu.
Keadaan di luar pintu masih gelap, Oh Thi-hoa tidak melihat jelas raut muka bayangan putih ini, namun waktu dia melirik dilihatnya mulut Coh Liu-hiang terpentang lebar, seperti kakinya tiba-tiba diinjak orang.
Soalnya dia sudah jelas melihat bayangan putih di luar pintu itu, dilihatnya sorot matanya yang dingin dan jeli itu, orang ini ternyata adalah Kionglam Yan.
Sungguh mimpipun dia tidak pernah menduga lelaki sedang itu ternyata sedang menunggu kedatangan Kionglam Yan di sini.
Kionglam Yan yang bersikap dingin kasar itu, ternyata adalah kekasih yang selalu diimpikan oleh lelaki sedang.
Selama ini dia berpendapat Kionglam Yan adalah gadis suci dan rupawan yang agung dan bersih, gadis yang tak boleh dijamah atau disentuh oleh sembarang orang, siapa tahu ternyata diapun punya kekasih gelap yang malu dilihat orang lain.
Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas seolah-olah merasa gegetun bahwa dirinya telah ditipu mentah-mentah umpama orang di luar itu adalah bininya diapun takkan seheran dan melengak begitu rupa.
Karena sesuatu yang bisa bikin lelaki dongkol dan marah, adalah perempuan yang tak bisa dia miliki namun dengan gampang dimiliki orang lain malah, sungguh laki manapun takkan bisa menerima kekalahan seperti ini secara konyol.
Tampak laki-laki itu menyongsong dengan kegirangan, namun tiba-tiba dia hentikan langkahnya di depan pintu, teriaknya tertahan.
"Nona King, kau!"
Dengan langkah gemetar Kionglam Yan melangkah masuk, katanya tawar.
"Tiba-tiba aku disibukkan urusan lain, maka datang terlambat, maaf ya."
Mulutnya minta maaf, namun sikapnya dingin, siapapun dapat merasakan sedikitpun dia tidak punya perasaan minta maaf.
Coh Liu-hiang justru diam-diam menghela napas lega.
Karena dari sikap dan pembicaraan ini dia sudah melihat bahwa Kionglam Yan dan laki-laki itu sedikitpun tak punya hubungan mesra dan kasih, memangnya bukan dia orang yang ditunggu oleh laki-laki ini?
Kalau bukan dia, kenapa Kionglam Yan datang kesini?
Setelah melenggong sekian saat, akhirnya laki-laki itu menunduk dan berkata.
"Sian King dia... dia tidak bisa datang, betulkah?"
"Kalau dia bisa datang akupun takkan kemari, betul tidak?"
Lelaki itu manggut dengan hambar.
"Tak datang juga baik, memang sudah kukatakan lebih bagus ia tak usah kemari."
"Apakah waktunya diubah?"
Tanya Ui Loh ce penuh perhatian dan harapan sambil mengawasi Kionglam Yan. Kionglam Yan tidak acuh akan pertanyaannya, katanya tawar.
"Selanjutnya dia takkan bisa kemari lagi selamanya takkan datang kemari."
Kedua tangan lelaki sedang itu tiba-tiba gemetar dan saling genggam dengan kencang, suaranya beringas.
"Adakah dia... adakah dia menulis surat buat aku?"
"Tiada!"
Sahut Kionglam Yan. Sekujur badan lelaki sedang gemetar semakin keras, mendadak dia menggembor seperti kalap.
"Kenapa? Suhunya pernah berjanji kepadaku, setiap lima tahun memberi izin untuk menemui aku di sini, kenapa sekarang dia ingkar janji, kenapa?"
"Guruku tak pernah ingkar janji, omongan yang pernah terucap oleh beliau selamanya tak pernah diubah lagi."
"Memangnya kenapa dia tidak kemari menemui aku? Aku tidak percaya bila dia tidak mau menemui aku."
"Bukannya dia tak mau bertemu dengan kau, yang terang kau sudah tidak bisa bertemu lagi dengan dia."
Mendadak seperti kena aliran strom sekujur badan laki-laki sedang itu mengejang, kakinya menyurut mundur, suaranya gemetar.
"Dia... apakah.. apakah dia sudah..."
Ternyata Kionglam Yan menghela napas, katanya pelan-pelan.
"Selanjutnya dia sudah takkan pernah mengecap derita kehidupan di dunia fana ini, sungguh dia jauh lebih beruntung dari pada kau, dan aku."
Belum habis dia bicara, laki-laki sedang itu sudah meloso jatuh dengan badan lemas lunglai. Lekas Ui Loh-ce memburu maju memapahnya, suaranya meratap.
"Entah sudikah nona memberitahu kepada kami, cara bagaimana dia menemui ajalnya?"
Sesaat Kionglam Yan berdiri diam. katanya pelan-pelan.
"Aku hanya bisa bilang, dia gugur demi melindungi gengsi dan kewibawaan Sin cui kiong kami, karena dia memang seorang gadis yang punya nama besar, luhur dan bakti, kami sama merasa bangga oleh pengorbanannya."
Dengan hambar laki-laki sedang itu manggut-manggut, gumamnya.
"Terima kasih kau beritahu ini kepadaku, aku... aku amat senang."
Tak tertahan airmata bercucuran deras. Kembali Kionglam Yan menepekur sekian lamanya, katanya dengan suara tangkas.
"Kau punya seorang putri yang patut dipuji, sungguh merupakan keberuntungan, karena sebetulnya kau tidak setimpal."
Mendengar sampai di sini, kembali hati Coh Liu-hiang menyesal dan mendelu.
Baru sekarang disadarinya bahwa segala rekaannya tadi ternyata salah semua, yang ditunggu laki-laki sedang ini bukan kekasihnya namun adalah putrinya.
Terdengar Kionglam Yan berkata dingin.
"Sekarang dia sudah meninggal, dengan Sin cui kiong kau sudah tiada sangkut paut atau ikatan apa-apa lagi, maka suhu harap selanjutnya kau jangan berada disekitar tempat ini."
"Tapi... tapi jenazahnya..."
"Jenazahnya, kami sudah mengebumikan dengan baik."
"Bolehkah aku menengok pusaranya?"
"Tidak boleh."
Agaknya dia enggan bicara berlarut-larut dengan laki-laki sedang ini, segera dia putar badan. Tapi setiba di depan pintu, tiba-tiba berpaling dan berkata dengan suara merdu.
"Tahukah kau di kalangan Kangouw ada seorang yang bernama Coh Liu-hiang?"
Laki-laki itu hanya manggut-manggut saja.
"Bagus, kalau kau berhadapan sama dia lebih baik kau bunuh saja, karena Sutouw King mati di tangannya."
Saking marah sampai pucat muka Coh Liu-hiang, namun tak pernah terpikir olehnya nona Kionglam Yan yang dipandangnya suci agung ini ternyata pandai membual seperti tukang jual sayuran yang menjajakan dagangannya, lebih celaka lagi karena jiwanya yang diincar dan jadi sasaran.
Kecuali itu diapun melengak heran.
Karena Sutouw King yang menjadi korban asmara dan permainan Bu Hoa itu ternyata adalah putri dari laki-laki perawakan sedang ini.
"Blang"
Sebuah meja tahu-tahu remuk redam oleh gaplokan telapak tangan lelaki sedang. Sekian lama Ui Loh-ce melongo, mulutnya mengigau.
"Ada kejadian itu? Apa benar dalam dunia ada kejadian seperti ini?"
Tiba-tiba lelaki itu berjingkrak berdiri "Bluk"
Tiba-tiba jatuh terduduk pula, seluruh badannya seolah sudah lemas lunglai dan kosong melompong, tanpa jiwa tanpa sukma, kedua tangan yang tergenggam tadipun sudah terlepas.
Sesaat lagi, tiba-tiba dia menengadah bergelak tawa seperti orang kesurupan setan.
"Kau... kau..."
Berobah air muka Ui Loh-ce. Lelaki sedang itu tertawa menggila serunya.
"Aku tak apa-apa, aku sedang mentertawakan diriku sendiri, selama hidupku aku Hiong nio-cu entah pernah menodai beberapa banyak anak gadis dan bini orang, sekarang orang hanya membunuh putri tunggalku kenapa aku harus membenci dia, mungkin inilah yang dinamakan karma, Yang Maha Esa memberi hukuman setimpal kepada diriku."
Gelak tawanya yang menggila sudah berubah jadi ratapan tangis yang memilukan.
Tapi Cay Tok-hing, Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang begitu terkejut sampai sekian lamanya melenggong tak bisa bersuara, malam ini mereka sama kebentur berbagai kejadian yang aneh di luar dugaan tapi kejadian apapun takkan jauh lebih mengejutkan daripada kejadian ini, laki-laki sedang yang serba misterius ini kiranya adalah Hiong nio cu.
Tak heran dia sendiri bilang.
"Orang di seluruh kolong langit ini masa hendak membunuhnya untuk melampiaskan dendam."
Tak heran pula buatan kedok muka yang digunakannya itu begitu halus dan baik sekali, gerak-gerik dan tindak-tanduknya pun serba sembunyi-sembunyi.
Demikian pula ilmu Ginkangnya amat tinggi.
Tak heran dia bilang.
"Siapapun pasti tidak mau percaya Kun-cu-kiam sudi bersahabat dengan dirinya."
Kuncu-kiam dipandang laki-laki sejati nomor wahid di kalangan Kangouw, ternyata benar-benar bersahabat karib dengan maling pemetik kembang nomor wahid pula di dunia ini, memangnya siapapun takkan menduga dan mau percaya, tak heran bagai bayangan mengikuti bentuknya saja hubungan intim mereka, ternyata memang dengan kedudukan dan kewibawaan Ui Loh-ce dia hendak menyembunyikan dirinya.
Tak heran Ui Loh ce berkata wanti-wanti.
"Dia mempunyai kesulitan yang tak bisa dijelaskan kepada orang lain, harap Coh Liu-hiang tak menyelidiki asal-usulnya."
Kiranya orang memang kuatir bila Coh Liu-hiang membongkar kedok aslinya.
Semua persoalan yang tak terpecahkan itu, kini sudah pecah sendiri oleh pengakuan yang bersangkutan.
Akan tetapi, bukankah Hiong nio cu sudah mampus?
Orang-orang Kangouw sama tahu bila dia sudah menemui ajalnya oleh majikan Sin cui kiong, kenapa justru sekarang masih hidup?
Sin cui kiong cu yang tak pernah menjilat ludahnya sendiri, kenapa harus membual dan menyebar kabar bohong demi manusia durjana ini?
Sin cui kiong cu yang selama hidupnya amat membenci laki-laki kenapa pula harus mengelabui orang lain demi laki-laki cabul manusia hina dina ini?
Hal ini sungguh membuat Coh Liu-hiang bertiga tak habis mengerti.
Disaat Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang melenggong, tiba-tiba terdengar suara dengusan keras, tahu-tahu Cay Tok hing sudah menerjang keluar lewat samping mereka, belum lagi badannya mencapai jendela ditengah udara dia sudah membentak dengan bengis.
"Hiong nio cu kenalkah kepadaku Cay Tok hing? Dua puluh tahun yang lalu, aku sudah bertekad membabat kejahatan bagi insan persilatan, hari ini apa pula yang ingin kau katakan?"
Hong nio cu duduk mematung seperti linglung, dengan mendelong dia awasi sinar api yang kelap-kelip di depannya, seolah-olah tak mendengar makian Cay Tok hing.
Sebaliknya Ui Loh-ce lekas memapak selangkah berhadapan dengan Cay Tok hing, katanya dengan kereng.
"Dia bukan Hiong nio-cu, Hiong nio cu sudah lama mati."
Cay Tok hing berkakakan, serunya.
"Sudah lama kudengar Kuncu kiam selama hidupnya tidak membual, tak nyana kau ini tak lebih hanya manusia ringan lidah dan pandai menipu orang melulu, orang yang suka mencatut kebaikan orang lain belaka, pada detik-detik seperti ini kau masih berani berbohong?"
Teguh tekad Ui Loh-ce, katanya tegas.
"Losiu bukan membual, Hiong nio-cu yang jahat dan durjana itu sudah lama mati, yang duduk di sini ini adalah laki-laki yang harus dikasihani karena dengan segala derita dia sudah bertobat dua puluh tahun lamanya, seorang yang mesti dikasihani karena selama ini tak pernah bisa tidur dan makan dengan tentram, seorang ayah yang baru tahu bahwa putrinya telah dibunuh orang."
"Kasihan?"
Jengek Cay Tok hing.
"Para gadis-gadis suci yang dia nodai dan berkorban jiwanya itu apakah tidak lebih kasihan? Dosa-dosa selama hidupnya apakah himpas begitu saja?"
"Umpama derita dan siksa yang dia alami ini belum setimpal buat menebus dosanya, tapi sejak lama ia sudah bertobat dan memperbaiki kesalahan, sekarang sudah berubah menjadi teman karibku yang paling berbudi, luhur jiwa dan laki-laki yang tahu aturan, maka bila sekarang kau membunuhnya, kau bukan membunuh seorang maling cabul tapi kau membunuh seorang luhur, bajik dan penuh cinta kasih."
Sampai disini Ui Loh-ce menghela napas, katanya pula.
"Setelah kau dapat memahami hal ini, jikalau masih ingin membunuhnya silahkan turun tangan! Bukan saja dia tidak akan melawan akupun tak akan merintangi, cuma..."
"Cuma apa?"
"Cuma bila aku melihat teman karibku ini menemui ajal di hadapanku, akupun takkan tinggal hidup seorang diri."
Sekilas Cay Tok hing tertegun, serta merta matanya melirik keluar jendela, agaknya ingin minta pertimbangan Coh Liu-hiang.
Tapi Coh Liu-hiang tak ingin unjuk diri!
Sudah tentu dia tidak mau dituduh dan dijatuhi dosa sebagai pembunuh Sutouw King, diapun tahu didalam waktu seperti ini, siapapun takkan bisa memberi penjelasan mengenai liku-liku peristiwa itu.
Tampak sikap kereng dan tegang Ui Loh-ce semakin mengendor dan kembali pada wajah welas asihnya, sorot matanya sebaliknya lebih tegas, siapapun akan tahu orang seperti dia terang takkan bisa bicara bohong.
Cay Tok hing menghela napas, katanya.
"Hiong nio cu dapat bersahabat dengan orang seperti kau, sungguh merupakan keberuntungan besar, anehnya, orang macam dia itu, bagaimana bisa bersahabat dengan laki-laki sejati seperti kau ini?"
Tak memberi kesempatan Ui Loh-ce bersuara, segera dia meneruskan.
"Sebetulnya akupun sudah mengira, seorang yang jahat dan cabul, pasti tak mungkin menaruh kasih sayang begitu besar terhadap putrinya sendiri seperti sikapnya itu..."
Tiba-tiba Coh Liu-hiang merasakan suara bicaranya berubah sumbang, lama kelamaan kata-katanya semakin tak lancar dan kurang jelas malah makin lama makin pelan.
Tapi Cay Tok hing sendiri agaknya tidak menyadari, katanya lebih lanjut.
"Bahwa Hiong nio cu begitu besar kasih sayangnya terhadap putrinya sendiri, sungguh suatu hal yang sukar dipercaya oleh siapapun, dan untuk hal ini, aku memang patut memberi kebebasan kepadanya."
Belum lagi kata-katanya terakhir terucapkan, tiba-tiba berubah hebat air mukanya tepat pada pada kata-kata "memberi kebebasan kepadanya", dia sudah menubruk kedepan Hiong nio cu serta menggenjot sekuat tenaga.
Hiong nio cu tetap tenang-tenang ditempatnya, tidak berkelit tidak pula menangkis, karena pukulan dahsyat dari Jian-li-tok-hing hiap yang sudah kenamaan pada enam puluhan tahun yang lalu, ternyata tidak membawa tenaga sedikitpun.
Ui Loh-ce berubah air mukanya, katanya mendelik kepada Hiong-nio-cu.
"Kau... kenapa kau..."
Suara Cay Tok hing serak tersendat.
"Kau masih bisa apa, matamu dan mataku memangnya tidak salah menilainya."
Baru sekarang Oh Thi-hoa menyadari bahwa Hiong-nio-cu secara diam-diam tengah menyebar semacam racun tak berbau tak berwarna, memabukkan, maka Cay Tok-hing dan sahabatnya sendiri Ui Loh-ce sama-sama keracunan dan roboh terkapar.
Orang begitu baik terhadapnya, ada sebaliknya membokong dan merobohkan kawannya, memang Hiong nio cu tak bernama kosong, manusia rendah budi yang hina dina dalam dunia ini.
Terasa darah memuncak keatas kepala, Oh Thi-hoa sudah bergerak hendak menerjang keluar, tak kira Coh Liu-hiang sudah menarik dan menahannya, malah mulutpun didekap.
Dalam pada itu Hiong nio cu sudah bangkit berdiri, airmata bercucuran dengan deras, kelihatan amat kontras dengan kedok mukanya yang kaku dan aneh itu.
Tampak dia menjura kepada Cay Tok-hing, seraya berkata.
"Banyak terima kasih, akan budi Cay-siansing membatalkan niatnya membunuh aku, selama hidup Cayhe takkan lupa, tapi Cay-siansing boleh lega hati, Cayhe pasti tidak akan bikin kau kecewa karena kau batal membunuhnya."
Lalu dia berputar menghadapi Ui Lih-ce, katanya dengan kepala tertunduk "Tentang kau, aku sungguh tiada omongan apa-apa yang perlu ku utarakan, kau... kau.."
Sampai disini tenggorokkannya seolah-olah tersumbat buntu, kata-katanya terputus, sementara Cay Tok hing dan Ui Loh ce saat itu memang sudah tidak dengar apa-apa lagi, mereka sudah sama-sama roboh.
Setelah rebah terlentang Ui Loh ce masih sempat mengucapkan sepatah dua patah kata, meski suaranya lemah dan lirih, tapi setiap patah katanya diucapkan dengan jelas, terdengar dia berkata.
"Aku pasti tidak akan salah menilaimu!"
Airmata yang berkaca-kaca di kelopak mata Hiong nio cu tak tertahan sudah berderai membasahi pipinya dengan deras.
Dengan menjublek dia awasi Ui Loh ce yang jatuh pingsan dan rebah di atas lantai, tiba-tiba dia berlutut lalu menyembah tiga kali, lalu ditanggalkannya jubah luarnya yang serba hitam itu ditutupkan ke atas badan Ui Loh ce.
Tangannya kelihatan gemetar menahan emosi, katanya.
"Aku memang keterlaluan terhadap kau."
Beberapa patah kata yang pendek ini entah mengandung betapa getirnya hati dan remuknya perasaannya.
Betapa besar persahabatan.
Sungguh siapapun yang melihat dan mendengar akan terkejut sanubarinya dan ikut pilu dan simpatik.
Dilain saat dengan sigap dia sudah putar badan berlari-lari kencang menyongsong kepekatan malam.
Oh Thi-hoa mengucek-ngucek hidung, katanya.
"Dia... apakah maksudnya?"
Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Dia hanya ingin masuk kedalam Sin cui kiong karena peduli putrinya itu masih hidup atau sudah mati, betapapun dia harus melihatnya untuk penghabisan kali, tapi dia toh tahu bila Ui Loh-ce pasti akan menentang dan tidak membiarkan dirinya pergi.
"Karena kepergiannya ini tak ubahnya mengantar jiwa melulu."
Ujar Oh Thi-ho.
"Ui Loh ce agaknya tidak tega dia pergi mengantar kematian."
"Ya, memang begitulah, maka aku harus menguntitnya ikut dia masuk ke Sin cui kiong, terpaksa Cay-locianpwe dan Ui-locianpwe berdua kuserahkan kepadamu."
Sekali enjot kaki badannya seketika melejit dengan enteng melampaui wuwungan rumah. Terdengar suaranya berkumandang dikejauhan.
"Jangan lupa masih ada Yong-ji."
Entah Oh Thi-hoa mendengar seruannya ini, yang terang mulutnya mengigau.
"Ternyata Hiong nio cu memang sudah bertobat dan membina diri kembali, ternyata dia tidak bermaksud jahat terhadap Ui Loh ce dan Cay Tok hing, tapi jikalau aku tadi tak tertahan benar-benar menerjang keluar, jikalau kesalahan tangan sampai membunuh dia, tanpa memberi kesempatan dia memberi penjelasan, bukankah selamanya dia akan mati penasaran dan tidak tentram dialam baka? Sebaliknya bukan mustahil aku akan tepuk dada dan merasa bangga."
Dia tidak berani berpikir lebih lanjut.
Keringat dingin gemerobyos membasahi badannya.
Untuk menguntit dan mengikuti jejak Hion nio cu bukan suatu hal yang sepele, bukan saja gerak-geriknya cekatan, cepat, malah setiap langkah dan tindak-tanduknya kelihatan amat waspada dan hati-hati, semua ini sudah dia latih dengan matang didalam kehidupan menjadi pelarian yang dikejar-kejar oleh setiap manusia, maka untuk menguntit dia secara diam-diam serta tak konangan olehnya, dalam dunia ini kecuali Coh Liu-hiang, mungkin sukar dicari orang keduanya.
Karena kecuali ilmu Ginkang Coh Liu-hiang yang tinggi luar biasa, diapun memiliki sepasang mata yang jeli dan tajam sekali, oleh karena itu dia tak perlu mengejar terlalu dekat, terlalu ketat.
Heran Coh Liu-hiang dibuatnya karena orang yang dikuntitnya ini tak berlari menuju ke atas pegunungan, sebaliknya orang berlari masuk kota langsung mendatangi salah satu hotel, memangnya dia tak ingin pergi ke Sin cui kiong?
demikian Coh Liu-hiang bertanya tanya dalam hati.
Coh Liu-hiang sudah yakin rekaannya meleset lagi.
Tempat penginapannya sendiri tak jauh dari sini, sebetulnya diapun ingin pulan menengok keadaan Soh Yong-yong akan tetapi dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menguntit jejak Hiong-nio cu, karena lapat-lapat dia sudah merasakan Hion nio cu pasti mempunyai hubungan atau suatu ikatan yang erat dengan Sin cui kiong, malah suatu hubungan yang lain dari yang lain, maka dia ingin menggunakan Hion nio cu sebagai batu lompatan karena dia berpendapat hanya inilah satu-satunya jalan yang harus dia tempuh.
Tak lama lagi hari mendekati subuh dan bakal terang tanah, kota pegunungan yang kecil ini kelihatannya bercokol tenang diselimuti hawa dingin dan bertabirkan malam dengan kabutnya yang tebal, sinar bulan yang redup menyinari jagat raya, semua penghuni rumah-rumah didalam kota masih lelap didalam tidurnya, meski kehidupan mereka sederhana dan tawar, tapi bukankah kehidupan yang biasa dan sederhana itu merupakan perlambang kehidupan yang bahagia dan makmur?
Boleh dikata Coh Liu-hiang sudah hampir lupa betapa nikmatnya tidur nyenyak didalam kamar berselimut tebal memeluk guling.
Walau keindahan malam hari nan permai ini, ditengah malam buta sembunyi di wuwungan rumah mengintip dan mencari lihat rahasia pribadi orang lain, sungguh bukannya suatu pekerjaan enak menggembirakan hati.
Untung tak lama kemudian Hiong nio cu sudah melompat keluar dari kamarnya, sorot matanya berkelebat ditengah malam, selincah kucing sigap sekali dia orang sudah menyelinap dan menghilang ditengah malam nan gelap ini.
Terlihat oleh Coh Liu-hiang meski hanya sekilas saja orang kini seperti ada membawa sebuah buntalan kulit warna hitam, jadi tujuannya kembali dulu ke dalam hotel agaknya untu mengambil kantong kulit itu.
Apakah yang terisi didalam kantong kulit itu?
Kenapa begitu besar perhatiannya terhadap kantong ini sampai susah-susah harus kembali dulu mengambilnya?
Baru kali ini Hiong niu cu langsung berlari ke arah pegunungan, setengah jam kemudian, dia sudah tiba di kaki gunung, tapi dia tak memanjat ke atas, menyusuri kaki gunung laksana terbang dia tetap berlari-lari cukup lama.
Tempat-tempat yang dilalui semakin belukar dan liar, ada kalanya harus melompati semak-semak berduri pula.
ada kalanya pula harus menyelinap melalui celah-celah batu gunung.
Walau Coh Liu-hiang amat memperhatikan tapi bila lain kali dia harus datang sendiri, belum tentu dia bisa menemukan jalan-jalan yang sudah dilalui tai.
Hiong nio cu sebaliknya sudah apal betul mengenai segala letak batu, pohon dan rumput di sepanjang jalan-jalan ini dia berhenti atau merandek untuk menemukan arah, seolah-olah sudah puluhan kali atau ratusan kali dia pernah melewati jalan-jalan ini, umpama memejamkan mata diapun bisa berjalan mencapai tujuannya.
Tapi setelah memasuki bilangan gunung sebelah dalam, gerak-geriknya tampak semakin berhati-hati, disaat badannya terapung ditengah udara, secara tiba-tiba dia sering celingukan kian kemari atau berpaling ke belakang, maka untuk menguntit dan supaya tidak konangan oleh orang Coh Liu-hiang harus bertindak lebih hati-hati, dan juga lebih payah.
Apa lagi cuaca sudah semakin terang, dan mega berwarna sudah muncul di belakang puncak sebelah sana, ketiban sinar matahari, air embun di atas daun-daun pohon pun mulai memancarkan sinar kemilau.
Begitu terang tanah jelas sekali, Coh Liu-hiang takkan mampu menguntitnya lagi.
Tatkala itu suryapun sudah terbit didalam lembah pegunungan nan sunyi dan liar serta dingin ini, seperti diselimuti sari halus nan ringan, sehingga panorama seolah-olah hanya terpandang didalam gambar lukisan yang serba misterius.
Tapi Coh Liu-hiang jadi was-was dan kuatir, bila kabut terlalu tebal bukan saja dia bisa kehilangan jejak Hiong nio cu, malah bukan mustahil bisa kehilangan arah.
Jikalau ditempat seperti ini tersesat jalan, sungguh suatu hal yang amat menakutkan sekali.
Hembusan angin yang sepoi membawa suara gemericiknya air yag mengalir ditempat nan sunyi laksana perpaduan suara musik dewata, sungguh suara irama yang mengasyikkan dan mengetuk kalbu.
Teringat akan kisah yang diceritakan oleh Soh Yong-yong, diam diam Coh Liu-hiang membatin dengan senang.
"Mungkinkah tempat ini merupakan mulut permulaan untuk masuk ke dalam Sin cui kiong? Akan tetapi setiba ditempat ini Hong nio cu malah berhenti. Ia jelajahkan pandangannya ke sekitarnya lalu melambung tinggi melesat ke arah sebuah ngarai. Lereng gunung di sebelah sini bentuknya curam dan berbahaya, bagian bawahnya lurus tegak setinggi puluhan tombak di sebelah atasnya batu-batu runcing mencuat keluar, ditengah menongol keluar sebuah batu ngarai merupakan sebuah panggung dasar. Setiba di ngarai menyerupai batu panggung ini Hiong nio-cu malah berhenti dan menghilang. Ternyata di atas ngarai ini terdapat sebuah goa, soalnya teraling batu-batu runcing yang mencuat keluar dengan berbagai bentuk yang beraneka ragamnya itu, maka dipandang dari bagian bawah, lobang goa ini tidak bisa terlihat dengan jelas. Apakah goa ini merupakan salah satu jalan rahasia yang bisa tembus ke Sin cui kiong? Coh Liu-hiang tidak segera ikut melesat naik, sedikitpun dia tidak berani bertindak secara gegabah soalnya keadaan di sekitarnya teramat berbahaya, bila sedikit lena bukan saja seketika jejaknya konangan oleh orang, kemungkinan dirinya terpojok pada posisi yang berbahaya, bila lawan segera melontarkan serangan maut bahwasanya jalan untuk mundur pun tiada lagi. Seperti cecak, Coh Liu-hiang tempelkan badannya pada dinding gunung terus merayap naik ke atas berputar ke sebelah sana, menyembunyikan diri di atas ngarai yang berbentuk seperti panggung ini, lalu dia tempelkan pula telinganya pada dinding gunung, mendengar dengan seksama. Sayup-sayup didengarnya suara aneh dari dalam goa, seperti benturan logam keras, seperti pula Hiong nio cu sedang menjajar beberapa senjata besi yang kecil-kecil di atas batu keras, suaranya lirih namun jelas. Terang Hiong nio cu masih berada didalam goa ini dan belum berlalu. Tak lama kemudian Coh Liu-hiang mendengar pula suara air tertuang masuk tenggorokan serta kecap mulut yang sedang menggerogoti sesuatu, kadang kala diselingi helaan napas berat, langkah kaki yang mondar-mandir. Sebetulnya Coh Liu-hiang sedang bertanya-tanya untuk apa dia menyembunyikan diri di dalam gua ini, baru sekarang dia menyadari bahwa orang sengaja menghabiskan waktu didalam goa ini untuk menunggu hari menjadi gelap. Lebih gamblang lagi bahwa Hiong nio cu ternyata tidak berani masuk ke dalam Sin cui kiong pada siang hari bolong. Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, terpaksa diapun menunggu di luar, kalau Hiong nio cu agaknya sudah mempersiapkan segalanya, terutama ransum dan air sudah tersedia, sebaliknya Coh Liu-hiang tidak membawa apa-apa, terpaksa dia menunggu di luar serba kekeringan. Untuk menunggu sampai gelap kira-kira harus lima enam jam lagi, menunggu selama ini sungguh merupakan suatu hal yang menyiksa, terpaksa dia mencari tempat yang tersembunyi dan teraling di lereng gunung untuk merebahkan diri, tapi sekejappun ia tidak berani memejamkan mata. Soalnya umpama Hiong nio cu sudah keluar sebelum menjadi gelap, maka dia bakal kehilangan kesempatan, walau sejak dulu Coh Liu-hiang suka menyerempet bahaya, tapi bahaya seperti ini dia tak berani menempuhnya. Menunggu orang apalagi dalam keadaan serba kering dan lapar, sudah tentu merupakan suatu derita siksa yang luar biasa. Orang macam Coh Liu-hiang yang memang sudah gemlengan umpama kelaparan tiga atau lima hari dia tak akan roboh lemas, tapi kelaparan bukan merupakan masalah kondisi badan melulu, soalnya kelaparan bisa mengakibatkan suatu kekosongan semangat pada lahiriah seseorang, mana sedapat mungkin Coh Liu-hiang giat memikirkan banyak persoalan supaya dirinya tak terlalu kesepian, untung memang banyak persoalan yang harus dia pikirkan. Selama hidupnya terdapat beraneka ragam kenangan yang patut dia pikirkan kembali, meski diantara sekian kenangan itu ada pula yang membuat hatinya terketuk dan menderita, tapi kebanyakan pengalaman hidupnya sering membawa perasaan hangat dan ketentraman bagi jiwanya. Teringat olehnya pula masa silam disaat-saat dirinya masih kecil merupakan bocah belasan tahu, itulah suatu kehidupan serba emas, kehidupan yang berlimpah-limpah. Memangnya para enghiong besar yang kenamaan, dikala meyakinkan ilmu dan menggembleng diri datang menempuh pelajaran ilmu silat sering menderita dan sengsara, diri Coh Liu-hiang sendiri dan selamanya juga tidak pernah merasakan adanya siksaan atau derita. Walau dia pernah mengalami tidak tidur tak pernah istirahat, pernah pula berlari lari di atas pegunungan yang penuh bertaburan bunga salju, untuk melatih kekuatan kondisi badan serta ilmu Ginkangnya, pernah juga di bawah terik matahari mengucurkan keringat, malah mengalirkan darah, tapi dia sendiri tak pernah anggap sebagai derita karena semua itu memang hoby dan kesenangannya, maka dimanakah dan dalam keadaan bagaimana juga dia selalu bisa menemukan kesenangan hatinya. Kembali terbayang para sahabatnya yang kental sejak masa kecilnya dulu, yaitu Ki Ping yan, Oh Thi-hoa... teringat akan Oh Thi-hoa hampir saja tak tahan dia hendak tertawa selama ini dia beranggapan Oh Thi-hoa bukan laki-laki yang betul-betul gemar minum arak yang disukai hanyalah suasana romantis bila seseorang sedang menikmati araknya. Dia mempunyai banyak teman yang beraneka ragam, terasa olehnya semua teman-teman itu tiada yang jelek bagi dirinya, maka didalam lubuk hatinya yang paling dalam selalu diliputi kehangatan persahabatan, dan kehangatan persahabatan ini membuat hatinya nyaman dan segar perasaannya. Karena arak biasanya membawakan suasana riang ramai dalam kehidupan manusia. Maka diapun terkenang pula kepada Setitik merah dan Ki Bu-yong, kedua orang ini lahiriahnya laksana gunung salju, dingin dan beda tak berperasaan, namun relung hatinya sebaliknya sepanas api membara. Entah kemana kedua orang ini sekarang, apakah Setitik merah masih melanjutkan pelariannya untuk menghindari cengkeraman sindikat gelap yang dikuasai oleh si "tangan"
Yang serba misterius dan menakutkan itu.
Dia hanya berdoa secara diam-diam.
Tatkala itu didalam suasana kosong dan sunyi ditengah pegunungan ini, terdengar suara gemericik aliran air, suara kicauan burung yang merdu serta suara serangga yang bersahutan, suara desiran angin yang menarikan rerumputan, suara daun-daun pohon yang keresekan, dari jauh kedengaran pula lolong binatang liar yang sedang mencari mangsa.
Waktu Coh Liu-hiang angkat kepala melihat cuaca, tiba-tiba didapatinya sang surya sudah doyong ke arah barat.
Memangnya sering orang menghabiskan waktu didalam kenangan masa lalu, oleh karena banyak orang-orang tua sebatangkara yang hanya hidup didalam kenangan melulu, baru bisa dia menghabiskan waktu hari-hari nan sunyi selama beberapa tahun.
Sekarang masih dua jam kira-kira untuk menunggu hari menjadi gelap, Coh Liu-hiang ulurkan kaki tangan menggeliat, baru saja ia hendak berdiri menggerakkan badan melemaskan otot, siapa tahu pada saat itu pula dari dalam lobang goa di sebelah atas itu menongol keluar seseorang.
Orang ini bukan Hiong nio cu.
Kecuali Hiong nio cu ternyata masih ada orang lain yang berada didalam goa itu, menunggunya sejak tadi, dia memang sudah menunggu kedatangan Hiong nio cu didalam gua.
Itulah seorang gadis cantik berpakaian serba putih laksana salju, berdiri di atas batu yang mencuat keluar di pinggir ngarai, rambut panjangnya yang mayang kehitam-hitaman yang halus sama melambai-lambai tertiup angin, kelihatannya begitu rupawan bak bidadari dari kahyangan.
Dan itulah Kionglam Yan.
Bagaimana Kionglam Yan bisa berada disini?
Lalu kemanakah Hiong-nio cu?
Jantung Coh Liu-hiang mulai berdebar debar tapi setelah dia amat-amati dengan lebih cermat, baru dia sadar bahwa perempuan ini ternyata bukan Kionglam Yan, namun sikapnya mirip sekali dengan Kionglam Yan.
Sikap, gerak-gerik, pakaian dan dandanannya, demikian sabuk di pinggangnya itu, semuanya ini merupakan pertanda dan sebagai pemberian tahu kepada khalayak ramai bahwa dia orang adalah anak didik dari Sin cui kiong yang menggetarkan dunia.
Memangnya kenapa dia tiba-tiba bisa berada didalam goa itu?
Apakah gua itu tembus kesalah satu jalan rahasia yang menuju ke Sin cui kiong?
Masakah Hiong nio cu sudah sampai di Sin cui kiong?
Mau tidak mau hati Coh Liu-hiang rada gelisah, tampak gadis itu melayang turun dengan enteng dari atas ngarai, ilmu Ginkangnya begitu hebat demikian pula gayanya begitu mempesonakan.
Waktu melayang inilah kelihatan sebelah tangannya menjinjing sebuah kantong kulit.
Ternyata gadis cantik ini bukan lain adalah Hiong nio cu.
Coh Liu-hiang hanya tertawa getir secara diam-diam.
Hiong nio cu memang tidak bernama kosong, ilmu tata-rias serta amarahnya jauh lebih hebat pula, hampir saja Coh Liu-hiang pun kena dia kelabui.
Lebih menakjubkan adalah, setelah dia menyalin muka menjadi seorang gadis, dari atas sampai kaki, tiada sedikitpun memperlihatkan gerak-gerik atau gaya seorang laki-laki, sekejap mata, setiap gerak tangan dan kakinya, demikian gemulai badannya, seratus persen mirip dengan perempuan asli.
Meski Coh Liu-hiang sendiri juga, bisa menyaru naga seperti naga, menjiplak harimau seperti harimau, tapi menyaru jadi perempuan semirip ini, seumur hidupnya jangan harap dapat dia lakukan dengan baik.
Setelah tiba di bawah ngarai, Hiong nio cu celingukan pula sekian lamanya, rada lama dia berdiam di sini tidak segera bergerak.
Tiba-tiba terlihat oleh Coh Liu-hiang, di ujung alis dan di pinggir mata orang sudah dihiasi banyak keriput, dilihat dari kejauhan memang dia mirip seorang gadis cantik, tapi usianya terang sudah cukup lanjut.
Apakah ini wajah asli Hiong nio cu?
Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, tak heran terhadap raut wajahnya biasanya Hiong nio cu amat bangga, boleh dikata dia memang seorang laki-laki tampan yang paling cakep di seluruh jagat ini.
Walaupun usianya sudah rada tua, tapi kecantikannya masih jauh lebih elok dari gadis-gadis muda lainnya, seorang laki-laki ternyata jauh lebih cantik dari perempuan aslinya, sungguh suatu hal yang luar biasa.
Akan tetapi bila dia toh sudah menyaru jadi perempuan dari perempuan aslinya?
Hal ini membuat Coh Liu-hiang bingung dan tak habis mengerti.
Mimpipun tak pernah terpikir olehnya bahwa Hiong nio cu ternyata mirip sekali dengan Kionglam Yan.
Memangnya antara Hiong nio cu dan Kionglam Yan mempunyai hubungan kental yang tak diketahui orang luar?
Mungkin pembaca bisa bertanya.
"Kalau Hiong nio cu sudah menyaru jadi murid Sin cui kiong untuk menyelundup ke dalam Sin cui kiong, kenapa tidak sekaligus dia menyaru jadi Kionglam Yan saja?"
Tapi Coh Liu-hiang tahu jelas pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang paling dogol, karena tata rias ilmu menyamar bukan ilmu gaib dan menyaru sudah tentu dengan mudah merubah bentuk raut wajahnya sendiri sehingga orang lain tak mengetahui rahasia samarannya, tapi sekali kali tak mungkin menyaru menjadi duplikat seseorang, bahwa Coh Liu-hiang pernah menyaru jadi Thio Sian-lim dengan baik, itulah karena tiada orang disana yang kenal siapa sebenarnya Thio Siau-lim itu!
Oleh karena itu bila benar Hiong nio cu didalam waktu sesingkat itu bisa menyaru seperti Kionglam Yan, menyelundup masuk ke dalam Sin cui kiong, maka orang-orang Sin cui kiong takkan ada seorangpun yang mengetahui, hal ini bukan merupakan sebuah cerita namun merupakan sebuah dongeng.
Jikalau Hiong nio cu diberikan waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan diri, menyiapkan diri untuk meniru dan berbuat seperti gerak-gerik, sikap dan tutur bicaranya, itu sih mungkin saja.
Akan tetapi Hiong nio cu tiba-tiba menggali sebuah liang di tanah bawah kakinya, isi kantong kulit hitam itu dituang seluruhnya ke dalam lobang galian ini, dari kantong kulit itu terang adalah bahan-bahan untuk tata rias itu.
Kini tangannya hanya menenteng kantong kulit yang sudah kosong itu.
Kantong kosong apa pula gunanya?
Kembali Coh Liu-hiang terheran heran dibuatnya.
Waktu itu meski menjelang magrib, namun sinar matahari masih memancarkan terang benderang di ufuk barat, Hiong nio cu menengadah melihat cuaca, kakinya lantas beranjak pelan-pelan.
Agaknya dia jauh lebih gelisah dari Coh Liu-hiang, tak sabar menunggu hari menjadi gelap segera dia sudah bertindak.
Setelah menunggu orang membelok ke sebuah lekukan gunung, baru Coh Liu-hiang berani bergerak mengejar ke arah sana, siap tahu setelah dia sendiri tiba di lekukan gunung itu, ternyata bayangan dan jejak Hiong nio cu sudah menghilang tanpa bekas.
Yang terang lekuk gunung ini merupakan jalan buntu, kedua sisinya berdinding tinggi lurus, sementara bagian tengah dihadang sebuah dinding gunung pula, seolah olah sebuah kotak persegi yang hilang sebagian pinggirannya.
Jikalau Hiong nio cu sudah memasuki kotak dinding ini, cara bagaimana bisa mendadak hilang?
Akan tetapi tempat ini dikelilingi dinding gunung yang tinggi, umpama tumbuh sayappun jangan harap bisa terbang ke atas, memangnya dia bisa menyelusup masuk ke bumi?
Sungguh kejadian aneh yang luar biasa, tapi rasa heran dan kejut Coh Liu-hiang cepat sekali sudah hilang, dengan seksama dan teliti selangkah demi selangkah dia mengamati tanah di sekitarnya, akhirnya dia temukan dinding sebelah kiri dengan dinding ditengah.
Lebar celah-celah dinding ini hanya satu kaki dan lagi penuh ditumbuhi dan dijalari rumput dan lumut serta kayu-kayu rotan kalau tidak dengan mata kepalanya sendiri Coh Liu-hiang saksikan Hiong nio cu menghilang ditempat ini, sudah diduga bahwa ditempat ini pasti ada jalan rahasia untuk dirinya menghilang umpama dia mencari dan meraba-raba satu hari penuhpun jangan harap dapat menemukan celah-celah dinding gunung yang penuh tertutup dedaunan dan ranting-ranting pohon ini.
Setelah melewati celah-celah gunung, maka suara gemericiknya air mengalir yang sayup-sayup sampai tadi kedengaran lebih jelas, air gemerincik bening dan merdu seperti tetesan air dipinggir telinga, kabut putih masih tebal belum buyar, sehingga seluruh lembah gunung yang belukar dan belum diinjak manusia ini serasa sepi lenggang dan menakjubkan.
Coh Liu-hiang segera membungkuk badan, dengan merunduk-runduk pelan-pelan dia maju ke arah datangnya suara air, dia insaf setiap langkah kakinya lebih mendekat berarti selangkah lebih dekat ke arah rahasia yang bakal dibongkarnya.
Akan tetapi selangkah menambah mara bahaya yang bakal mengancam jiwanya pula.
Bersambung ke
Jilid 40
Jilid 40 Sekonyong-konyong terdengar suara mendesis aneh seperti sesuatu benda yang semakin melembung.
Segera Coh Liu-hiang menghentikan langkah, pelan-pelan dia rebahkan badan, laksana seekor ular dengan kedua tangannya dia merambat maju kira-kira dua tiga kaki lagi, dari tempat sembunyinya dibalik rumput alang-alang, inilah dilihatnya Hiong nio cu.
Suara gemericik air tepat berada di bawah kaki Hiong nio cu, saat mana kedua tangannya sedang memegangi kantong kulit itu, sementara mulutnya sedang meniupkan angin sekuat-kuatnya ke dalam kantong kulit itu.
Seperti balon cepat sekali kantong kulit itu sudah melembung besar, bundar mirip benar dengan sebuah ban dalam sebuah truk.
Baru sekarang Coh Liu-hiang sadar dan paham, batinnya.
"Kiranya kantong kulit itu dia gunakan sebagai rakit, lalu naik rakit kulit ini berdayung ke dalam Sin cui kiong mengikuti arus air."
Betul juga dilihatnya Hiong nio cu sudah menaruh rakit kulit itu diatas air, lalu diulurkan sebelah kakinya untuk mencoba kekuatan daya tahan rakit kulit ini, lalu pelan-pelan dia melangkah masuk dan duduk didalamnya.
Kejap lain kulit ini terang akan bergerak mengikuti arus air yang mengalir cukup deras, disaat Coh Liu-hiang kebingungan dan kehabisan akal, cara bagaimana dirinya harus menguntit lebih jauh, tak nyana tiba-tiba terdengar cuara "Cesss"
Sigap sekali Hiong nio cu mencelat keluar dari rakit kulitnya, pakaian sarinya yang serba putih laksana salju itu beterbangan terhembus angin seolah-olah sudah senyawa dengan kabut putih yang memenuhi udara.
Sementara rakit kulit itu berputar-putar secepat roda di permukaan air, semakin putar semakin kecil, kira-kira setelah berputar tujuh delapan belas kali, lalu terdengar "blup"
Rakit kulit itu mencelat naik ke udara.
Agaknya secara diam-diam ada seseorang yang bertangan jahil menyambit dengan sesuatu sehingga rakit kulit yang penuh diisi hawa itu bocor, seperti ban yang bocor maka rakit kulit itu lantas berputar-putar dengan cepat.
Dalam pada itu Hiong nio cu sudah mencelat naik ke daratan, sorot matanya memancarkan rasa kaget dan keheranan, tiba-tiba dia membanting kaki, baru saja dia hendak putar tubuh melarikan diri, ditengah-tengah tebalnya kabut di sebelah depan sana tiba-tiba terdengar suara tawa yang lirih merdu.
Sebuah suara yang genit aleman berkata.
"Kau sudah kemari, kenapa harus berlalu?"
Maka terdengar pula suara air tersiak, tahu-tahu sebuah sampan meluncur mendatangi melawan arus muncul ditengah-tengah kabut tebal, di ujung sampan berdiri sesosok bayangan putih yang berperawakan ramping menggiurkan, di tangannya memegang sebuah galah panjang, cepat sekali sampan itu sudah merapat ke daratan, maka seringan burung walet badannya melayang naik kehadapan Hiong nio cu.
Hiong nio cu menghela napas, ujarnya.
"Ternyata kau."
Gadis baju putih itu tersenyum, katanya.
"Benar, kau tak menduga bukan? Tapi aku sudah tahu pasti kau akan datang, maka siang-siang sudah kutunggu kau disini!"
Lembah nan tersembunyi, kabut tebal, air mengalir, seperti perempuan kenyataan laki-laki, benggolan jahat kalangan Kangouw bangkit kembali dari liang kuburnya, semua ini sungguh merupakan serangkaian kejadian yang misterius dan sukar diterima oleh nalar sehat.
Tahu-tahu ditengah kabut tebal itu muncul pula sebuah sampan dengan perempuan cantik laksana bidadari, sehingga Coh Liu-hiang yang menyaksikan ditempat sembunyinya merasa kaki tangan menjadi dingin.
Apakah semua yang disaksikan ini kenyataan?
Atau khayalan?
Siapapun sukar membedakan.
Terasa olehnya perempuan serba putih ini sedemikian berisi, cantik dan montok gemulai lagi, seolah-olah indah tiada bandingan lagi keayuannya, tapi kabut terlalu tebal, dari jarak di tempatnya sembunyi, sukar melihat jelas siapa gerangan gadis jelita ini.
Lama Hiong nio cu berdiam diri, lalu katanya menghela napas.
Sebetulnya aku tak ingin kemari, tapi aku dipaksa untuk datang kemari.
Tiba-tiba gadis itu menghentikan tawanya katanya.
"Memangnya kau sudah lupa akan sumpahmu sendiri pada masa lalu?"
Mendengar suara ini terasa oleh Coh Liu-hiang bahwa dia sudah kenal betul dengan suara ini.
Maka dilihatnya gadis itu berdiri berhadapan dengan Hiong nio cu yang sama serba putih, dinilai dandanan, gaya dan kecantikannya dua-duanya laksana pinang dibelah dua.
"Aku tak pernah lupa."
Sahut Hiong nio cu rawan.
"Tapi aku hanya ingin menengok kuburan putriku saja."
Gadis baju putih itu berkata.
"Apa sih yang patut kau lihat, toh hanya segundukan tanah kuning melulu, kalau kau ingin melihat pergilah tengok kuburan-kuburan para gadis yang pernah kau nodai, bukankah kuburan di kolong langit ini sama saja?"
Kata-katanya ini mendadak runcing dan menusuk pendengaran, setelah mendengar kata ini baru Coh Liu-hiang sadar bahwa perempuan ini ternyata adalah Kionglam Yan, karena mimpipun Coh Liu-hiang tak pernah membayangkan, perempuan kaku dingin disaat mengatakan kata-katanya yang pedas itu masih bisa tertawa.
Tak kira didengarnya Kionglam Yan cekikikan lagi katanya lembut.
"Maaf ya, bukan sengaja aku hendak melukai hatimu dengan kata-kata sekasar itu, jangan kau marah padaku! Aku... selanjutnya pasti takkan kukatakan lagi!"
Kembali Coh Liu-hiang dibuat sangsi akan pendengaran kupingnya.
Betapapun dia takkan percaya Kionglam Yan bakal mengucapkan kata-kata seperti itu.
Tapi perempuan ini terang adalah Kionglam Yan, dengan langkah gemulai dia mendekati Hiong nio cu, Hiong nio cu hanya berdiri mematung di tempatnya, entah apa yang sedang berkecamuk didalam benaknya?
Kionglam Yan unjuk senyuman mekar, katanya lembut.
"Apakah aku berhadapan dengan muka aslimu? Tak heran dia selalu mengatakan wajahku hampir mirip dengan mukamu, malah jauh lebih mirip kau dari putrimu sendiri."
Mendadak Hiong nio cu angkat kepala, tanyanya.
"Dia... dia sering menyinggung diriku di hadapanmu?"
"Hm! Kionglam Yan menjawab dengan suara aleman. Pelan-pelan dia bergerak jalan mengelilingi Hiong nio cu, satu putaran lalu berhenti di depannya pula, sepasang mata yang jeli dan bening bundar tanpa berkedip menatap muka orang, katanya pelan-pelan.
"Apa kau pun sering teringat kepadanya?"
Hiong nio cu menghela napas, katanya.
"Beberapa tahun belakangan ini, siapapun sudah kulupakan semua."
Kionglam Yan cekikikan lagi, katanya.
"Tipis sekali cintamu, tidakkah kau tahu betapa orang memikirkan kau sampai pergi mati datang hidup, kau sebaliknya melupakan orang sama sekali, memangnya tiada seorangpun dalam jagat ini yang benar-benar dapat menggerakkan atau menimbulkan seleramu?"
"Tidak ada."
Sahut Hiong nio cu. Pelan-pelan dia menggigit bibir, sikap dan gayanya mirip benar dengan seorang gadis aleman yang malu-malu.
"Baru sekarang aku tahu kau sebetulnya memang seorang siluman yang pandai memelet orang, tak perlu heran bahwa sekian banyak gadis-gadis cantik yang rela menjadi korban keisenganmu, sampai aku... akupun..."
Agaknya mukanya menjadi merah, kepala tertunduk kedua tangan mengucek-ngucek ujung bajunya. Terpancar sinar terang dari biji mata Hiong nio cu, katanya lembut.
"Kaupun kenapa?"
Tertunduk semakin dalam kepala Kionglam Yan, katanya.
"Orang lain sering bilang kau paling memahami keinginan perempuan, memangnya kau belum tahu akan keinginanku? Memangnya kau belum tahu akan isi hatiku?"
Pelan-pelan Hiong nio cu menarik tangannya tiba-tiba dia lepas tangan pula, katanya menghela napas panjang.
"Lebih baik kalau aklu tidak mengerti saja."
"Kenapa?"
"Karena kau berbeda dengan kebanyakan gadis lainnya, aku tidak bisa... tidak bisa menodai kau."
"Tapi aku inipun seorang perempuan, akupun ingin... ingin..."
"Dalam pandanganku, selamanya kau adalah sedemikian halus, hangat, suci dan agung begitu molek dan lincah, asal bisa mengawasimu dari kejauhan hatiku sudah puas."
Umpamanya gadis-gadis remaja sama suka mendengar omongan seperti ini, setiap gadis pasti mengharap pandangan laki-laki terhadapnya pasti berbeda dengan pandangan orang lain, semua sama mengharap laki-laki memuja mencintainya.
Gadis remaja yang sedang mekar bila setelah mendengar bujuk rayu sehalus ini dia masih kuasa menolak keinginannya, sungguh merupakan suatu kejadian yang aneh.
Diam-diam Coh Liu-hiang merasa beruntung dan terhibur juga, untung bahwa tiada seorang hidung belang yang sedang mencuri dengar percakapan ini.
Jikalau para hidung belang mencuri belajar kata-kata rayuan selembut itu, entah berapa banyak gadis-gadis suci dalam dunia ini yang bakal menjadi korban.
Tapi setelah berpikir-pikir lagi, mau tidak mau Coh Liu-hiang tertawa getir sendiri, pikirnya.
"Seorang laki-laki bila dia berbakat dinamakan hidung belang, dengan sendirinya dia sudah pandai merangkai kata-kata mutiara yang lebih mengasyikkan, buat apa harus mencuri belajar dari orang lain?"
Bintang-bintang sudah kelap-kelip di cakrawala.
Di bawah pancaran sinar bintang sesejuk ini, perempuan yang paling kuat imannya pun akhirnya pasti runtuh, dan menjadi lemas, saat itu Kionglam Yan sudah rebah didalam pelukan Hiong nio cu.
Sambil mengelus rambutnya berkata Hiong nio cu pelan-pelan.
"Tentunya kau tahu, kita tak mungkin hidup berdampingan selamanya."
"Aku tahu."
"Kau tidak menyesal?"
"Aku pasti tak menyesal, asal bisa menikmati sekali saja, sehingga meninggalkan kenangan abadi sepanjang masa, umpama aku harus segera mampus akupun suka rela."
Hiong nio cu tidak banyak kata lagi, jari-jarinya sudah masuk ke dalam pakaian tipis orang, mulai menggeremet dari satu ke lain tempat, menyelusuri tanah tandus yang halus terus naik ke lembah hangat merambat ke atas bukit dan memelintir puting nan bundar kenyal laksana buah anggur.
Coh Liu-hiang meski bukan seorang Kuncu, namun dia tidak tega melihat adegan romantis yang merangsang ini, pelan-pelan dan hati-hati dia membalik badan rebah terlentang, bintang-bintang seperti sedang berkedip-kedip main mata sama dia.
Kionglam Yan gadis yang di pandangannya suci agung ternyata perempuan cabul yang rela menyerahkan kemurniannya sendiri.
Akan tetapi gadis remaja setelah menanjak dalam usia ini, memangnya siapa pula yang tak mendambakan buaian asmara?
Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, mengelus dada, diam-diam tertawa getir, Seolah-olah dia sendiri amat menyesal, kenapa dirinya dulu melepas kesempatan yang baik itu.
Tak tahan Coh Liu-hiang menoleh lihat ke arah sana, tampak Hiong nio cu sedang bangkit berduduk di atas sampan kecil itu, sahutnya menghela napas.
"Akupun merasa berat untuk pergi, tapi waktu amat mendesak, aku harus pergi."
"Kau hendak mencari kuburan anak King mu...?"
"Bagaimana juga jelek-jelek aku ini ayahnya, adalah pantas aku menengok keadaannya terakhir kali."
Tak usah kau tergesa-gesa, nanti ku ajak kau kesana, hayolah... sekarang..."
Sebuah tangan putih halus tampak terulur keluar dari dalam sampan, Hiong nio cu tertarik rebah lagi memang sejak tadi dia menunggu ucapan Kionglam Yan ini.
Sudah tentu Coh Liu-hiang cukup tahu bahwa Hiong nio cu memang sedang memperalat dia, sedang memancing kata-katanya ini, tapi bukan saja dia tak bisa membongkar isi hati orang, diapun tak kuasa mencegah adegan romantis berlangsung, karena Kionglam Yan sendiri yang menyerahkan diri secara suka rela.
Dia cukup tahu bila seorang gadis sudah bertekad untuk menjajal atau menikmati yang ingin dia rasakan itu, siapapun jangan harap bisa mencegah keinginannya itu, kalau tidak umpama dia tak membunuhmu, maka dia akan membencimu seumur hidup.
Sampan kecil yang berlabuh itu tiba-tiba bergoyang-goyang, dari pelan semakin keras seolah-olah ada gempa bumi atau riak air yang gemericik itu menjadi bergolak, angin malam yang menghembus sepoi-sepoi diselingi suara rintihan dan keluhan yang merangsang hati dan membaurkan pikiran.
Sinar bintang semakin redup.
Terpaksa Coh Liu-hiang sudah memejamkan mata.
Tapi kedua telinganya tak bisa dicegah untuk mendengarkan.
Sesaat kemudian terdengar bisikan Kionglam Yan, berkata.
"Kau sungguh... hebat, tak heran para gadis rela mati untuk kau, tak heran selamanya dia tak bisa melupakan kau, mungkin sampai ajalnyapun takkan melupakan kau."
Mendengar sampai di sini, Coh Liu-hiang dibuat heran pula, Si dia yang dimaksud oleh Kionglam Yan sebenarnya siapa?
Apakah kekasih Hiong-nio cu?
Deru napas Hiong nio cu semakin memburu terdengar suaranya mendengus-dengus "Kau pun pintar sekali!"
"Apa aku lebih baik dari dia?"
"Kenapa kau selalu menyinggung dia, memangnya kau dan diapun..."
Tiba-tiba Kionglam Yan tertawa terpingkal-pingkal, katanya.
"Tahukah kau kenapa aku ingin bergaul dengan kau?"
Agaknya Hiong nio cu melengak, katanya.
"Memangnya kau lantaran dia?"
"Benar, lantaran dia memilikimu, maka aku pun harus memilikimu."
Baru saja lenyap kata-katanya ini, sekonyong-konyong Hiong nio cu mengeluarkan jeritan yang menyayat hati.
Keruan kaget Coh Liu-hiang bukan kepalang, sigap sekali dia membalik badan dan melongok kesana, tampak dengan badan telanjang bulat Hiong nio cu tengah berdiri dari atas sampan, dengan sekujur badan gemetar dia menyurut mundur keujung sampan.
Dibawah pancaran sinar bintang, ditengah kabut tebal, tampak kulit dadanya yang putih halus dan bidang itu, berlepotan darah, dan masih menyembur dengan deras.
Terdengar Kionglam Yan masih tertawa-tawa terkekeh-kekeh, katanya.
"Kenapa kau kaget, aku hanya ingin memiliki hatimu, akan kukorek hatimu untuk kulihat biar jelas."
Dengan kedua tangan Hiong nio cu mendekap luka-luka di dadanya, suaranya gemetar.
"Kau... kenapa kau harus berbuat demikian?"
"Masa kau belum tahu? Kau masih kira aku betul-betul menyukai kau?"
Tanyanya masih terkekeh-kekeh, tiba-tiba diapun mencelat berdiri, di bawah penerangan bintang, potongan badan gadis yang ramping montok kelihatannya laksana tembus cahaya seperti terbuat batu jade.
Akan tetapi raut mukanya justru dilumuri hawa siluman yang sadis, pancaran sinar matanya yang indah penuh diliputi kebencian dan nafsu membunuh yang sadis, ditatapnya Hiong nio cu lekat-lekat, katanya.
"Biar kuberitahu kepadamu terus terang, sejak lama aku sudah ingin membunuhmu, aku tak tahan setiap kali mendengar dia menyinggung dirimu di hadapanku, dikatakan betapa miripku dengan kau setiap kali dia menyinggung dirimu, serasa aku hampir gila dibuatnya."
Hiong nio cu berkata terputus putus dengan gemetar.
"Kau... kau cemburu? Memangnya kau benar-benar jatuh cinta kepadanya?"
"Kenapa aku tak boleh mencintainya?"
Sentak Kionglam Yan.
"Kenapa tidak boleh?"
Hiong nio cu mengawasinya dengan pandangan kesima dan kaget! Pelan-pelan ia roboh. Kini Coh Liu-hiang lebih kebingungan lagi, si "dia"
Yang diperbincangkan oleh kedua orang ini entah lelaki atau perempuan, susah dimengerti oleh Coh Liu-hiang, kalau dia lelaki, masakah mungkin dia orang adalah kekasih Hiong nio cu?
Memangnya Hiong nio cu juga sering main homoseks?
Sebaliknya kalau dia adalah perempuan, kenapa pula Kionglam Yan bisa jatuh hati kepadanya?
Memangnya Kionglam Yan biasa bermain lesbian dengan sesama jenis?
Sungguh sukar Coh Liu-hiang untuk menentukan hubungan satu sama lain diantara kedua orang ini dengan si dia itu.
Sungguh hubungan yang misterius dan rumit serta sukar dijajagi hubungan ketiga orang ini.
Maka terdengar "Byuur!"
Badan Hiong nio cu yang telanjang itu tercebur ke dalam air, penyesalan dan bertobat selama dua puluh tahun, akhirnya tetap tak bisa mencuci bersih dosa-dosa yang pernah diperbuatnya.
Betapapun akhirnya dia mampus ditangan seorang perempuan.
Berdiri di ujung sampan, dengan mendelong Kionglam Yan mengawasi aliran air di bawah penerangan sinar bintang.
Dilain saat diapun terjun ke dalam air, setiap jengkal setiap senti kulit badan dari rambut sampai ke kaki dia cuci dengan teliti dan bersih, setelah dia mengenakan pakaiannya lagi, dia kelihatan tetap agung dan suci.
Malam semakin berlarut, kabut malah menipis.
Suara air tersiak pula, sampan kecil itu mulai berlaju di permukaan air terus mengalir cepat mengikuti aliran air.
Tanpa banyak pikir lagi, dengan hati-hati Coh Liu-hiang sedang membenamkan diri ke dalam ini, Orang sering bilang ilmu Ginkangnya tiada tandingan di seluruh kolong langit, dia sendiri sebaliknya berpendapat kepandaian renang didalam airnya justru jauh lebih sempurna dari ilmu Ginkangnya di daratan.
Umpama ikan-ikan yang pandai berlompatan selulup ke dalam airpun takkan bergerak selincah dan secepat dia.
Sampan itu berlalu di depan permukaan air, dia selulup didalam air menguntit di belakang secara diam-diam, dia yakin dan percaya, Kionglam Yan pada saat dan dalam keadaan seperti ini tak menyadari bahwa dirinya sedang dikuntit seseorang.
Maklumlah siapapun orangnya setelah selesai menikmati surga dunia perasaannya pasti berobah rada kebal dan kurang peka.
Sepanjang jalan dari pinggiran aliran sungai kecil ini pasti dihiasi pemandangan yang mengasyikkan ditimpah sinar bintang diselimuti kabut tebal, meski Coh Liu-hiang berada didalam air, dan tak bisa menikmati keindahan panorama ini, namun dia bisa membayangkan, memangnya sesuatu yang dibayangkan itu selamanya jauh lebih cantik, indah dari kenyataannya itu sendiri.
Entah berapa lama dan betapa jauh kejar mengejar secara diam-diam itu berlangsung, tahu-tahu didapati oleh Coh Liu-hiang sampan kecil itu membelok ke sebuah selokan gunung, rumput-rumput air di dasar selokan gunung ini lebih banyak, malah terasa lebih dingin dan mengeluarkan semacam bau yang menyeramkan.
Sebetulnya ingin dia menongolkan kepalanya di permukaan air untuk melihat beberapa kejap lagi dia lantas mendengar suara sampan itu sudah mendekati dermaga dan orangnya pun sudah mendarat.
Dia tetap tak menongolkan kepalanya, memang Coh Liu-hiang belum pernah mencoba tahu berapa lama sebenarnya dirinya tahan berada didalam air, yang terang Song Thiam-ji selalu beranggapan bahwa dirinya bisa mendunia di bawah air, memang jauh lebih tenang dan tentram daripada di daratan.
Lama pula dia menunggu, masih tetap tak mendengar suatu apa-apa.
maka dia mencomot sebongkah rumput air untuk menutupi kepalanya, pelan-pelan dia pentang kedua matanya yang masih sedikit di bawah permukaan air untuk melihat keadaan di atas.
Dia akhirnya melihat Sin cui kiong.
Ini bukan lembah gunung didalam kehidupan manusia lebih mirip kalau dikatakan sebuah gambar lukisan panorama yang paling indah dikolong langit ini.
Teringat oleh Coh Liu-hiang akan cerita Soh Yong-yong, bahwa didalam lembah gunung ini terdapat ratusan jenis burung-burung besar kecil, kini burung-burung sedang tertidur, namun orang-orang penghuni lembah ini justru belum tertidur.
Diantara celah-celah dedaunan di dalam hutan laksana lukisan itu, kelihatan titik titik sinar api yang membayangkan bentuk bangunan pondok-pondok berloteng dan gubuk-gubuk mini yang dibangun dengan bentuk yang berseni, pagar bambu dan atap alang-alang, terbayang pula panorama indah dari curahan air yang tumpah dari langit.
Air terjun itu tumpah dari tempat ketinggian sehingga jatuhnya air yang berhamburan laksana benang sutra dan butiran-butiran mutiara itu amat deras, anehnya air terjun yang begitu besar seperti dituang dari langit ini setelah airnya tumpah memenuhi danau kecil di sebelah bawahnya, getaran tumpahnya air tak menimbulkan suara berisik, malah kedengarannya seperti irama petikan harpa yang merdu sehingga amat mengasyikkan dan menyejukkan kalbu, terang sekali didalam danau itu pasti dipasangi apa sehingga mengurangi tekanan derasnya air mengerojok dari atas.
Ditengah hembusan angin lalu, sayup-sayup terdengar pula suara rengketan bambu yang melambai ditiup angin, dikombinasi dengan suara gemericiknya air, sehingga lembah gunung nan indah laksana sebuah lukisan gambar ini terasa begitu aman tentram dan sejuk.
Tapi teringat pula oleh Coh Liu-hiang akan peringatan bibi Soh Yong-yong yang bilang.
"Jikalau kau sembarang mondar-mandir didalam lembah ini, seketika kau akan ketimpa kemalangan"
Ditempat aman dan tentram seperti ini, darimana pula datangnya malapetaka?
Lapat-lapat Coh Liu-hiang sudah mendapat firasat kelihatannya lembah ini memang tenang dan tentram, hakikatnya Sin cui kiong bukanlah sebuah tempat suci bersih seperti yang tersiar diluaran.
Pasti di lembah ini tersembunyi suatu rahasia besar yang menakutkan dan mengejutkan masyarakat umumnya bila segalanya sudah terbongkar.
Kedatangan ini bukan saja hendak memberi penjelasan salah paham kepada Cui bo "induk air"
Im ki, diapun sudah bertekad untuk menyelidiki rahasia yang terpendam itu, maka segala gerak-gerik dan langkahnya harus amat hati-hati dan perhitungan dengan seksama.
Sampan kecil itu masih terapung di atas air terikat seutas tali yang ditambatkan pada sebuah pohon.
namun Kionglam Yan pula sudah tak kelihatan bayangannya.
Lembah sebesar ini, tenggelam didalam suasana hening tak kelihatan bayangan seorangpun, Coh Liu-hiang jadi ragu-ragu dan kebingungan dari mana dia harus mulai bergerak atau turun tangan.
Setelah menimang-nimang sebentar, tiba-tiba teringat akan pengalaman Bu Hoa seperti yang diceritakan Cay Tok hing menurut buku catatan Bu Hoa sendiri, setiap persoalan yang terjadi, semuanya bersumber dari sebuah kuil Nikoh kecil didalam lembah ini.
Waktu dia mendongak ke atas sana, benar juga d ikaki bukit sana memang terdapat sebuah kuil kecil.
Apakah induk air bersemayam didalam kuil kecil itu?
Coh Liu-hiang sudah bertekad apapun yang terjadi dia akan masuk terlebih dulu ke kuil kecil itu.
Sinar pelita didalam kuil amat guram, mata apinya yang kelap-kelip sebesar kacang laksana kunang-kunang yang kelap-kelip dimalam hari.
Hampir setengah jam Coh Liu-hiang menghabiskan waktu untuk menyusup tiba kearah kuil kecil itu, dia yakin dirinya pasti tak mengeluarkan suara yang lebih keras dari bunyi nyamuk terbang.
Meski dari pinggir sungai ke kuil kecil itu bukan jarak yang jauh, tapi di kolong langit ini kecuali Coh Liu-hiang seorang, mungkin tiada orang kedua mencapai ketempat tujuannya.
Kuil kecil ini terbenam didalam kesunyian tak kelihatan bayangan seorangpun, segalanya bersih tak berdebu, sampai pun undakan batu di luar pintu kuilpun tercuci bersih sampai mengkilap laksana kaca, sehingga orang bisa bercermin di sana.
Sebuah pelita dengan mata api sebesar kacang, kelap-kelip di depan sebuah kain gordyn yang menjuntai turun menutup pemujaan di sebelah dalamnya.
Cukup lama Coh Liu-hiang sudah memeriksa keadaan sekelilingnya dengan cermat, setelah yakin di sekitarnya memang tiada orang, baru dia berani mencelat masuk ke dalam.
Dia tahu didalam kuil kecil ini pasti terdapat sebuah jalan rahasia di bawah tanah, bukan mustahil menembus ke tempat kediaman induk air Im ki, tapi dimanakah letak dari mulut jalan rahasia itu?
Di depan meja pemujaan terdapat dua buah kasur bundar ini?
Dengan hati-hati Coh Liu-hiang memindahkan kedua kasur bundar tempat duduk samadhi itu.
tapi bawah kasur itu dan ini merupakan batu yang rata pula, dengan menghela napas dia merasa kecewa dan putus asa, pelan-pelan sorot matanya beralih ke arah tempat pemujaan yang teraling kain gordyn.
Tak tahan dia sudah ulurkan tangan hendak menyingkap kain gordyn itu.
Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar helaan napas.
Helaan napas ini amat lirih, tetapi bagi pendengaran Coh Liu-hiang sekarang helaan napas ini laksana guntur yang menggelegar di pinggir telinganya, ingin dia mundur, tapi dia insaf sudah tak keburu lagi mengundurkan diri.
Di bawah penerangan api kuning itu, tampak olehnya sesosok bayangan putih laksana sukma gentayangan saja tahu-tahu orang mucul dari bawah tanah, kini orang sedang berdiri tegak di tempatnya mengawasi Coh Liu-hiang.
Terdengar orang menghela napas serta berkata.
"Sudah dua puluh tahun tempat ini tak pernah mengalirkan darah, buat apa kau ingin mati di sini?"
Dengan tertawa getir Coh Liu-hiang kucek-kucek hidungnya, sahutnya.
"Bicara terus terang, aku sih tidak ingin mati."
Kini dilihatnya dengan jelas orang adalah perempuan yang amat cantik, cuma sang waktu yang tak kenal kasihan sudah meninggalkan bekas yang tak kenal perasan, sungguh amat kasihan.
Walaupun sorot matanya dingin kaku, namun tidak mengandung nafsu membunuh atau maksud jahat.
Apakah dia ini induk air Im Ki yang amat ditakuti oleh tokoh-tokoh silat di seluruh jagat itu?
Nyonya cantik pertengahan umur yang berpakaian serba putih ini tengah berdiri tenang mengawasinya.
Coh Liu-hiang unjuk tawa dibuat-buat, katanya pula.
"Kedatangan Wanpwe kemari tidak lebih hanya ingin berhadapan langsung dan melihat muka Kiong-cu sekali saja."
Nyonya ayu serba putih itu geleng-geleng kepala, ujarnya.
"Aku bukan orang yang ingin kalian temui, kalau tidak masakah kau sekarang masih bisa hidup?"
Berkilat mata Coh Liu-hiang, tanyanya .
"Lalu Cianpwe adalah..."
"Orang yang sudah dekat ajal, buat apa kau tanyakan nama orang lain?"
"Kalau Cianpwe hendak bunuh aku, kenapa tidak segera turun tangan?"
"Aku tak bisa turun tangan. Didalam dunia ini aku hanya punya seorang famili, masakah aku tega membunuh lelaki pujaan hatinya?"
Tergerak hati Coh Liu-hiang, tanyanya.
"Cianpwe tahu aku adalah..."
Tertawa getir nyonya ayu itu, ujarnya pula.
"Kecuali Coh Liu-hiang si maling romantis, dalam dunia ini siapa yang mampu mendatangi tempat ini? Memangnya siapa pula yang bernyali begitu besar? Coh Liu-hiang menjura dengan hormat, katanya.
"Sudah lama Wanpwe dengan Yong-ji mengatakan tentang kau orang tua, hari ini dapat berhadapan dengan kau orang tua sungguh merupakan keberuntungan dan nasib baik Wanpwe."
"Akupun pernah dengar Yong-ji bercerita tentang dirimu, jikalau bukan kau, entah Yon-ji bakal keluyuran kemana dan jadi apa sekarang, untuk membalas budi kebaikanmu itu maka sekarang akupun tidak akan mempersulit dirimu."
Lalu dia celingukan ke sekeliling, katanya lebih lanjut.
"Untung hari ini giliranku berjaga dan meronda, orang lain tidak akan datang kemari, lekas kau menyingkir."
"Wanpwe sudah berada di sini, betapapun Wanpwe ingin berhadapan dengan Im-kiong cu."
Nyonya setengah umur itu seketika menarik muka, katanya bengis.
"Selamanya kau takkan bisa menemuinya, kecuali kau memang sudah bertekad hendak mati disini."
"Mohon kau orang tua suka memberi penerangan jalan, Wanpwe sudah amat berterima kasih, soal lain, sekali kali Wanpwe takkan berani mohon bantuan dan mencapaikan Cianpwe."
Bahwasanya nyonya setengah umur tidak hiraukan dirinya, katanya mengulap tangan.
"Lekas pergi, terlambat sedikit, kau tidak akan bisa lolos lagi, lekas."
Seolah-olah Coh Liu-hiang tidak mengerti apa yang dianjurkan orang, katanya sambil bersoja.
"Wanpwe tahu di sini ada sebuah jalan rahasia."
"Jalan rahasia?"
Berubah muka nyonya pertengahan umur.
"Jalan rahasia apa?"
Melihat dirinya menyinggung "jalan rahasia"
Muka orang lantas berubah hebat. Coh Liu-hiang tahu bahwa jalan rahasia itu pasti mempunyai arti yang amat besar sekali. Maka dia semakin membandel, katanya unjuk tawa.
"Kalau di sini tiada jalan rahasia, kau orang tua muncul darimana?"
Agaknya nyonya pertengahan umur menjadi gusar, dampratnya.
"Memangnya kau sudah bosan hidup?"
"Kalau Cianpwe tak mau menerangkan, terpaksa Wanpwe biar mati di sini saja."
Dengan tajam nyonya setengah tua ini menatap Coh Liu-hiang lekat-lekat, sungguh belum pernah dia berhadapan dengan lelaki sekukuh ini, lebih tak pernah terbayang olehnya dalam keadaan genting ada orang masih dapat tersenyum simpul seriang itu.
Tapi Coh Liu-hiang memang amat tabah dan berani, orang tak menjawab, diapun berdiri diam dan menunggu dengan sabar.
Pada saat itulah suara paduan musik yang mengalun sayup-sayup itu seperti menjadi cepat dan keras laksana butiran air hujan yang berjatuhan di atas daun pisang, seperti mutiara yang bergelimpangan di atas nampan berderai cepat tak putus-putus.
Rona muka nyonya tua ini seketika berubah pula, tanyanya dengan kereng.
"Siapa lagi yang datang bersama kau?"
"Hanya Wanpwe seorang saja, tiada..."
Gelisah dan gugup air muka nyonya setengah tua ini tukasnya.
"Irama musik memberi tanda ada orang luar yang menerjang masuk ke dalam lembah, jikalau bukan teman-temanmu memangnya siapa mereka?"
Baru sekarang Coh Liu-hiang betul-betul terkejut, baru sekarang pula dia tahu betapa kuat penjagaan pihak Sin cui kiong, sampaipun irama musik laksana lagu-lagu dewata itupun merupakan alat pertanda untuk memberi isyarat bagi mereka.
Cepat sekali nyonya setengah tua ini melangkah ke ambang pintu, lalu melongok keluar, cepat sekali dia sudah mundur kembali, katanya bengis.
"Meski sekarang orangnya belum tiba tapi begitu isyarat musik mengalun tinggi, semua petugas akan segera menempati pos-pos penjagaan masing-masing siapapun kalau berani masuk selangkah ke dalam lembah, jangan harap dia dapat kembali pula, kenapa tak lekas kau berlalu, kau tetap tinggal di sini memangnya kaupun ingin menyeret aku ke dalam jurang nista?"
Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.
"Kalau lembah ini sudah menjadi lembah buntu, mungkin burungpun takkan bisa terbang lolos, lalu Wanpwe harus menyingkir kemana?"
"Kau... boleh kau mencari sesuatu tempat dulu untuk sembunyi sementara, setelah kejadian berlalu, akan ku usahakan bantu kau keluar."
Berputar biji mata Coh Liu-hiang, katanya sambil mengucek-ngucek hidung.
"Jikalau Wanpwe sembarangan bertindak, mungkin setiap langkah bakal menghadapi mara bahaya. Wanpwe juga tak tahu kemana menyembunyikan diri lebih baik, kecuali Cianpwe mau memberitahu jalan rahasia itu, biarlah Wanpwe sembunyi disana sementara."
"Jalan rahasia, jalan rahasia apa?"
Dengus nyonya setengah tua membanting kaki gegetun.
"Kau hanya tahu di sini ada jalan rahasia, tahukah kau sentral daripada jalan rahasia ini berada di kamar tidur Kiongcu, orang hanya bisa keluar dari dalam, tak bisa masuk dari luar."
Coh Liu-hiang tertegun, seketika hatinya mencelos.
Tatkala itu, irama musik yang cepat mulai lamban lagi tapi Coh Liu-hiang sudah tahu didalam irama musik yang kalem ini, setiap langkah orang yang memasuki lembah ini selalu diincar oleh mara bahaya yang menantikan, diapun tahu sikap gelisah nyonya setengah tua dihadapannya ini jelas bukan pura-pura belaka, pihak Sin cui kiong bila tahu dia bersekongkol dengan musuh menghianati perguruan, dapatlah dibayangkan akibat yang harus dia terima.
Maka Coh Liu-hiang tak banyak bicara lagi, katanya dengan menjura.
"Terima kasih akan petunjuk Cianpwe."
Belum habis ucapannya badannya sudah berputar, melesat keluar.
Nyonya setengah tua agaknya hendak mengejar keluar, tapi segera dia hentikan langkah pula, dari sorot kedua matanya yang indah itu terpancar rasa derita yang tak terperikan, katanya seperti menyesal.
"Yong-ji jangan kau salahkan aku, bukan aku tak ingin menolongnya, sebetulnya aku sendiripun tak kuasa lagi menolongnya."
Dia tahu begitu Coh Liu-hiang melangkah keluar dari kuil kecil ini itu berarti dia melangkah ke arah kematiannya.
Malam sudah berlarut lagi, setiap tempat sama gelap semua kelihatan adalah tempat baik untuk menyembunyikan diri, tapi Coh Liu-hiang tahu ditempat tempat gelap itulah bukan mustahil tersembunyi perangkap-perangkap yang bisa merenggut jiwa orang, setiap tempat yang kelihatannya amat tersembunyi mungkin pula bakal memancing orang masuk ke dalam jebakan, selangkah saja bila dia salah injak, bukan mustahil jiwa bakal melayang seketika.
Akan tetapi dia tak bisa berdiri demikian saja, lembah nan indah dan permai ini, boleh dikata tiada suatu tempat yang cocok untuk dirinya berpijak.
Hembusan angin melambaikan daun-daun pohon, seolah-olah didengarnya lambaian pakaian orang yang mendatangi terhembus angin tiba-tiba tampak oleh Coh Liu-hiang dari kejauhan sesosok bayangan putih berkelebat, tujuannya adalah tempatnya ini.
Bila dirinya sedikit ayal, jejak dan bayangannya pasti dilihat orang itu.
Di bawah pancaran sinar bintang-bintang yang bertaburan diangkasa raya, permukaan air danau yang tenang itu laksana sebongkah cermin besar nan memutih perak amat semarak.
Cepat sekali tiba-tiba Coh Liu-hiang meluncur kearah danau kecil itu.
Permukaan danau yang tenang itu hanya menimbulkan riak tak berarti dari pusaran air yang berkembang semakin membesar, belum lagi riak air kembali menjadi tenang, tahu-tahu sesosok bayangan putih sudah melayang datang.
Bayangan putih ini boleh dikata hampir sama cantiknya dengan Kionglam Yan gaya luncuran badannya begitu gemulai dan indah, biji matanya yang bening mengerling tajam sekilas dia mengerut kening, serunya perlahan.
"Sam-ci."
Nyonya setengah tua dalam kuil segera melangkah keluar menyongsong kedatangannya, sahutnya .
"Ada apa?"
"Barusah seperti kulihat ada sesosok bayangan orang, adakah Sam-ci mendengar sesuatu suara di sini?"
"Lho, kok tidak."
Sahut nyonya setengah tua tertawa.
"irama musik memberi peringatan jelas orang luar belum lagi masuk lembah mana bisa tiba di sini."
Berkilat tajam pandangan gadis ini, mulutnya menggumam.
"Memangnya aku yang salah lihat? Aneh juga."
Nyonya tua setengah umur tertawa dingin katanya.
"Kio-moay, meski sepasang mata malammu amat lihay, tapi aku toh bukan orang picak atau tuli, jikalau di sini ada orang, masakah sedikitpun aku tidak melihat atau mendengar suara?"
Gadis itu segera unjuk tawa, katanya.
"Sam-ci kenapa marah, aku hanya bertanya sambil lalu saja."
Baru sekarang nyonya setengah tua unjuk tawa juga katanya.
"Hati-hati memang baik, cuma kalau benar disini ada orang luar, kemanakah dia? Memangnya dia bisa menghilang?"
"Memangnya! Kecuali dia terjun ke dalam danau, kalau tidak kapanpun dia menyembunyikan diri pasti akan menyentuh tombol peringatan, tapi, bila benar dia berani terjun ke danau, sedikitnya toh mengeluarkan suara, kecuali ida memang siluman ikan."
Lalu dia mengulap tangan kepada nyonya setengah tua, katanya pula.
"Tamunya mungkin segera akan tiba, biar aku pergi periksa ke tempat lain, Sam-ci boleh kau mulai mempersiapkan diri. Kalau orang berani menerjang masuk kemari, betapapun kita jangan mengecewakan mereka."
Tampak laksana burung bangau melayang cepat sekali bayangan putihnya sudah melesat lewat dari permukaan danau, dalam sekejap sudah menghilang tak kelihatan lagi.
Mengawasi permukaan danau nyonya setengah tua ini melongo sekian lamanya, katanya seorang diri.
"Melarikan diri dari kematian, terhitung nasibmu baik, mara bahaya masih selalu mengintai, hati-hati dan waspadalah."
Begitu selulup ke dalam air, jantung Coh Liu-hiang masih berdetak dengan keras.
Dalam waktu sesingkat tadi, boleh dikata antara mati dan hidup sudah tiada jaraknya lagi, tapi sekarang dia sudah selamat, paling tidak selamat sementara waktu.
Aneh benar air danau ini, luar biasa bening, seolah-olah dirinya berada di dunia kaca, sinar bintang-bintang diangkasa dengan jelas dapat terlihat dari dasar danau.
Dasar danau ini ditaburi pasir putih seperti berlomba dengan bintang-bintang diangkasa, pasir-pasir inipun kelap-kelip memancarkan sinar.
Di dasar danau boleh dikata Coh Liu-hiang sebebas di atas daratan menghirup hawa nan segar.
Entah di lautan teduh, sungai atau kali, danau, sampaipun danau air asin, serta air keruh di Kanglam, terhadap sifat-sifat setiap air yang berbeda satu sama lain ini, boleh dikata Coh Liu-hiang sudah amat paham seperti memahami jari-jarinya.
Dunia indah yang aneh-aneh di dasar air, justru merupakan tempat tamasya paling disenangi.
Setiap tetumbuhan atau binatang yang hidup di dasar air, seolah-olah sudah menjadi teman baiknya, sembarang waktu dia bisa menyebut atau memanggil satu persatu nama-nama yang pernah dilihatnya.
Akan tetapi saat ini didalam relung hatinya seperti mendapat firasat jelek, hatinya tidak tentram.
Danau kecil didalam lembah permai ini ternyata merupakan danau mati, didalam air ternyata tiada satupun binatang atau tetumbuhan yang hidup, tiada ikan, udang atau keong dan sebangsanya, sampaipun rumput-rumput airpun tidak kelihatan.
Coh Liu-hiang merasa seolah-olah dirinya berada di dalam kota yang asing dan sunyi tak berbentuk meski kota ini serba rapi, bersih dan teratur namun bayangan seorang pendudukpun tidak kelihatan.
Danau kecil ini sekelilingnya ditaburi atau dipagari batu-batu raksasa warna putih dan hijau, air terjun yang tercurah dari atas berjatuhan di permukaan air hingga menimbulkan banyak buih-buih besar kecil yang berenceng seperti mutiara.
Kalau orang lain dapat selulup dan sembunyi didalam dasar danau yang tenang dan seindah ini pasti merasa dirinya amat aman takkan mengalami gangguan apapun.
Tapi Coh Liu-hiang justru merasa tempat ini rada ganjil dan menunjukkan gejala-gejala yang kurang benar, setelah dia berhasil menemukan suatu tempat sembunyi yang dirasa aman dan terahasia diantara celah-celah batu-batu besar barulah deburan jantungnya mulai mereda dan legalah hatinya.
Selanjutnya teringat olehnya dua hal yang terasa amat aneh sekali.
Kalau toh rahasia di sini hanya bisa masuk tak bisa keluar, lalu untuk apa Induk air Im Ki membikin jalan rahasia di bawah tanah ini?
Bertepatan dengan kehadiran dirinya, ada lain orang pula yang menerjang masuk ke dalam Sin cui kiong, memangnya siapakah mereka?
Badan Coh Liu-hiang kebetulan persis bisa menyusup masuk ke celah-celah batu itu, kedua batu raksasa ini masing-masing ada sebagian yang menongol keluar di permukaan air, tak tahan Coh Liu-hiang juga ingin menongolkan kepalanya keluar untuk melihat keadaan di daratan.
Dengan rebah miring memiringkan badan hanya kedua matanya saja yang menongol ke luar, bayangan gelap kedua batu besar ini kebetulan melindungi dirinya, terasa olehnya bahwa keadaan dan tempat persembunyiannya ini amat tepat dan baik sekali, orang takkan gampang menemukan persembunyiannya.
Bahwasanya dia memang amat getol ingin tahu siapa sebenarnya orang lain yang berani meluruk ke dalam Sin cui kiong ini.
Suasana dalam lembah tetap tenang dan tentram, dengan rebah didalam air, hanya memperlihatkan separo mukanya saja untuk memandang lembah ini, perasaannya sungguh jauh berbeda dengan perasaan waktu dirinya berada didalam lembah tadi.
Segala pemandangan yang terlihat dari sini seolah-olah berada ditempat yang jauh, lebih samar-samar, seluruhnya seperti bukan pemandangan yang nyata, hanya mirip sebuah lukisan, sebuah impian belaka.
Tapi Coh Liu-hiang tiada selera untuk menikmati keindahan panorama laksana lukisan atau impian ini, dia hanya memperhatikan tempat-tempat gelap yang amat misterius dan ganas itu.
Sampai detik ini, dia masih belum membayangkan seorang manusiapun.
Agaknya ia tak perlu menunggu terlalu lama, tiba-tiba dilihatnya tiga sosok bayangan orang laksana anak panah pesatnya dari tempat yang berjauhan dimulut lembah sana menerjang masuk, ilmu Ginkang ketiga orang ini sama-sama tinggi dan hebat.
Agaknya ketiganya sama-sama nekad dan merasa tak perlu main sembunyi-sembunyi lagi, langsung mereka kembangkan kemahiran masing-masing, dengan gesit dan enteng serta cepat sekali meluncur ke arah air terjun itu.
Di bawah penerangan cahaya bintang, raut muka mereka hanya kelihatan berkelebat sekejap ditengah kegelapan, tiba-tiba terkesiap darah Coh Liu-hiang, hampir saja dia menenggak sekumur air danau.
Ternyata ketiga bayangan orang itu adalah Ui Loh-ce, Oh Thi-hoa dan Cay Tok-hing.
Bertepatan dengan kedatangan mereka, dari empat penjuru serempak bermunculan puluhan bayangan serba putih, ada yang berdiri dibawah pohon, ada pula yang melambai lambai berterbangan terhembus angin laksana serombongan setan gentayangan.
Agaknya Oh Thi-hoa, Ui Loh-ce dan Cay Tok-hing bertigapun amat kaget, cepat sekali mereka anjlok turun dari tengah udara, serempak tancap kaki di salah satu batu besar yang berada di sisi danau.
Tiga orang sama berdiri beradu punggung, siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Tapi orang-orang serba putih itu tidak menubruk maju menyerang mereka, mereka hanya berdiri dikejauhan dan mengawasi mereka diam saja, keheningan yang aneh mencekam perasaan sehingga napaspun segera sesak.
Dasar berangasan akhirnya Oh Thi-hoa yang nyeletuk lebih dulu dengan lantang.
"Apakah tempat ini adalah Sin cui kiong?"
Entah siapa yang menjawab dari tempat kejauhan dengan nada dingin.
"Kalau kalian sudah berani masuk kemari, memangnya masih belum tahu tempat apa di sini sebenarnya?"
Oh Thi-hoa ngakak dulu baru menjawab.
"Bagi orang pertama yang datang bertandang ke tempat orang, adalah jamak kalau pakai basa-basi lebih dulu apakah tidak salah tempat yang didatanginya."
"Kau tepat mencari tempat yang kau tuju."
Jawab seseorang. Seorang yang lain menambahkan.
"Kalian orang dari mana? Untuk keperluan apa dan ada petunjuk apa pula?"
Suara pembicara orang terakhir rada lembut dan tahu sopan santun, dari tempat persembunyiannya Coh Liu-hiang tahu bahwa suara terakhir ini diucapkan nyonya setengah umur yang dihadapinya tadi didalam kuil.
Agaknya Oh Thi-hoa masih ragu-ragu.
Ui Loh-ce lantas berkata lantang.
"Cayhe Ui Loh-ce dari Liu-ciu yang ini adalah angkatan tertua dari Kaypang Cay Toh-hing Cay-loyacu dan yang termuda ini adalah Oh Thi-hoa yang menggemparkan seluruh jagat."
Diam-diam Coh Liu-hiang tertawa geli ditempat persembunyiannya, batinnya.
"Memang tidak malu orang ini disebut seorang Kuncu, setiap kata-katanya jujur dan sesuai dengan kenyataan."
Memangnya Ui Loh ce, Cay Tok hing dan Oh Thi-hoa masing-masing merupakan tokoh-tokoh silat yang sama-sama menjagoi didalam bidangnya masing-masing, mereka adalah para tokoh-tokoh besar yang pernah menggetarkan dunia persilatan, boleh dikata sebagai orang gagah yang dapat menggemparkan sebuah kota meski mereka cukup hanya membanting-banting kaki saja.
Akan tetapi mendengar perkenalan nama-nama mereka, murid-murid Sin cui kiong itu tiada yang memberikan reaksi apa-apa, nyonya setengah umur yang serba putih juga hanya mengiakan sekali, katanya.
"Bagus sekali, silahkan kalian menanggalkan senjata, tunggulah hukuman yang kita putuskan!"
Oh Thi-hoa terloroh-loroh dengan menengadah, serunya.
"Meletakkan senjata terima di hukum? Apa-apaan ucapanmu ini? Sungguh aku tidak tahu apa maksudmu?"
Berkerut alis nyonya setengah umur itu, katanya menghela napas ringan.
"Semutpun takut mati, memangnya kalian memang ingin mampus?"
Agaknya Ui Loh-ce kuatir Oh Thi-hoa terlalu kurang ajar, segera dia menyela dengan bersoja.
"Kedatangan Cayhe bertiga tak bermaksud jahat, kami hanya ingin mencari dua teman kami"
"Teman apa?"
Kedengaran bengis dan berwibawa teriakan nyonya setengah umur.
"Tahukah kau tempat apa ini? Darimana ada dua temanmu di sini?"
"Sudah tentu mereka bukan murid-murid perguruan kalian, namu..."
Berobah rona muka nyonya setengah umur, tukasnya.
"Disini terang tak ada orang luar yang berani kemari, di seluruh kolong langit siapapun tiada yang punya nyali sebesar gunung seperti kalian berani ditengah malam buta rata ini menyelundup ke dalam Sin Cui kiong. Ui Loh-ce dan Oh Thi-hoa beradu pandang sebentar, raut muka mereka amat prihatin dan rada tegang. Berkata Ui Loh-ce dengan kereng.
"Mungkin mereka belum kemari."
Oh Thi-hoa ikut menimbrung dengan tawa dingin.
"Kau kira mereka seperti kau, ini adalah Kongcu, memangnya mereka mau bicara dengan jujur dan blak-blakan seperti kau?"
Gadis yang meronda di sepanjang pinggiran danau itu tiba-tiba mencelat keluar, bentaknya bengis.
"Kalian orang-orang yang sudah dekat ajal, hakekatnya kita tak perlu banyak bicara lagi dengan kalian."
Belum sempat Ui Loh ce buka suara, Cay Tok hing sudah tak kuasa menahan gusar, bentaknya.
"Aku orang tua memangnya malas bicara dengan kalian, lekas panggil Induk air Im Ki keluar untuk berhadapan dengan kami."
Gadis itu tertawa dingin, ejeknya.
"Baik setelah mampus, akan kubawa kalian menghadap kepada Beliau."
Belum lagi gadis ini bicara habis, Coh Liu-hiang sudah tahu perkelahian takkan dapat dielakkan lagi, karena orang lain mungkin bisa merasa dongkol dan marah oleh kekasaran pihak Sin cui kiong, tapi Oh Thi-hoa justru terhadap siapapun dia tidak mau dibikin marah.
Betul juga belum lagi ucapan gadis berakhir, tiba-tiba terdengar dua kali hardikan laksana geledek.
Oh Thi-hoa dan Cay Tok hing tanpa berjanji serentak menerjang maju.
Cay Toh hing menggunakan sebatang pentung pendek, memang bagi murid-murid Kaypang yang biasa kelana di Kangouw, kecuali bergaman Pak-kau-pang "pentung penggebuk anjing"
Dilarang menggunakan alat senjata macam lainnya.
Itulah undang-undang dan peraturan tradisi sejak cikal bakal pendiri Kaypang dulu.
Sementara Oh Thi-hoa bisanya teramat agulkan diri dengan sepasang telapak tangannya, setiap kali berhadapan bergebrak dengan musuh belum pernah dia menggunakan senjata, tapi sekarang entah darimana dia memperoleh sebilah golok lepit.
Golok lepit ini selalu tersembunyi dibalik lengan bajunya kini begitu sinar golok berkelebat, jurus Pat hong hing ih ternyata dilancarkan dengan perbawa yang hebat luar biasa, jelas permainan dan tipu-tipu goloknya takkan lebih asor dari tokoh ahli golok yang manapun dikolong langit.
Coh Liu-hiang tahu orang memang sengaja hendak pamer sekaligus hendak mengatasi dan menundukkan gerak-gerik gemulai pihak Sin cui kiong yang lincah laksana air mengalir dengan kekerasan ilmu goloknya yang kuat, jadi dia menampilkan keunggulan kepandaiannya untuk menandingi ilmu lunak mengatasi kekerasan pihak Sin cui kiong.
Nyonya setengah tua serba putih itu jadi naik pitam, bentaknya.
"Selama duapuluh tahun, selamanya tak ada orang yang berani main senjata ditempat ini, sungguh tidak kecil nyali kalian."
Ditengah seruan aba-abanya, tahu-tahu tujuh delapan gadis yang serba putih pula serentak terjun ke dalam gelanggang, masing-masing menyerang kepada Cay Tok hing dan Oh Thi-hoa.
Gerak-gerik mereka ternyata memang sangat lincah dan gemulai seperti orang sedang menari, tapi kegesitan dengan ilmu Ginkang yang tinggi sungguh amat luar biasa.
Ui Loh ce lekas berteriak.
"Ada omongan marilah dibicarakan, kenapa harus main kekerasan?"
Sayang belum lagi habis kata-katanya tahu-tahu tiga orang sudah mengelilingi dirinya, bayangan telapak tangan laksana kupu-kupu yang menari-nari diantara rumpun kembang, dari delapan penjuru angin serempak sama menepuk dan menghajar ke atas badannya.
Apa boleh buat terpaksa Ui Loh-ce melolos pedangnya.
"Sring"
Laksana naga berpekik, sebatang pedang panjang yang kemilau dengan sinarnya yang mencorong terang berubah selarik bianglala.
Meski ilmu silatnya mengutamakan mantap dan berat, tapi tidak malu dia dinamakan sebagai seorang Sosiawan, tapi jurus dan tipu permainan pedangnya sungguh tak kalah ganas dan keji.
Lwekangnya tinggi pula memang tidak malu dia dijunjung sebagai maha guru silat yang ahli dalam bidang ilmu pedang pada jaman kini.
Irama musik dikejauhan kembali menjadi cepat, agaknya mereka sudah insaf, ketiga orang yang mereka hadapi sulit ditundukkan, maka ditengah irama musik yang sayup-sayup itu hawa pedang dan sinar golok sudah berkelebatan memenuhi seluruh lembah permai ini.
Empat orang yang menghadapi Oh Thi-hoa agaknya yang paling makan tenong dan mati kutu, soalnya Ui Loh ce dan Cay Toh hing tahan gengsi dan anggap kedudukan tinggi dan angkatan tua, maka mereka turun tangan dengan perhitungan dan tak terlalu keji.
Sebetulnya Oh Thi-hoa menguatirkan keselamatan jiwa Coh Liu-hiang, besar niatnya hendak merobohkan semua murid-murid Sin cui kiong, maka serangan goloknya tak mengenal kasihan lagi.
Tampak permainan goloknya laksana naga terbang, golok diputar seperti harimau ngamuk, meski permainan telapak tangan murid-murid Sin cui kiong mempunyai perubahan ribuan variasi rumit dan susah dijajagi, namun mereka tetap terdesak di bawah angin.
Maklumlah meski murid-murid perempuan Induk air Im Ki ini mendapat didikan langsung dari ilmu kepandaian gurunya yang tiada taranya itu, apa boleh buat mereka tak punya pengalaman tempur, maka sering mereka selalu kehilangan inisiatif dan kena didahului oleh Oh Thi-hoa.
Sebaliknya Oh Thi-hoa, Cay Tok hing sama-sama merupakan tokoh silat yang entah sudah digembleng berapa ratus atau ribuan kali didalam pertempuran di medan laga, bukan saja mereka pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang paling baik, malah setiap jurus tipu yang dilancarkan pasti diperhitungkan dengan tepat dan telak, setiap orang sama tahu pada detik yang bagaimana harus melontarkan serangan apa, yang diserang adalah titik kelemahan pihak lawan.
Maka menurut situasi pertempuran sekarang ini, meski pihak Oh Thi-hoa unggul di atas angin, akan tetapi umpama nanti mereka benar memperoleh kemenangan, apa pula guna manfaatnya?
Induk air Im Ki sendiri belum lagi unjukan diri, nyonya setengah umur, Kionglam Yan dan mungkin tenag-tenaga andalan yang diutamakan dalam kekuatan Sin cui kiong sekarang belum lagi muncul semua dan ikut turun tangan.
Cepat atau lambat yang pasti pihak Oh Thi-hoa bertiga yang akhirnya akan kalah.
Saking tegang hampir saja Coh Liu-hiang lupa diri hendak keluarkan setengah badannya ke permukaan air.
Baru sekarang dia benar-benar menyadari, melihat orang lain atau teman baiknya sendiri bergebrak dengan orang, sungguh jauh lebih tegang dari diri sendiri yang turun gelanggang.
Maka ingin rasanya segera terjang keluar terjun ke tengah pertempuran, tapi diapun tahu bila dirinya berbuat demikian, maka mereka berempat mungkin bakal sama-sama terkubur ditempat ini.
Untuk mengakhiri pertempuran dan membereskan segala persoalan Coh Liu-hiang berpendapat dia harus selekasnya menemukan titik kelemahan induk air Im Ki lalu secara tak terduga baru menyergap dan membekuknya.
Dia sudah memperhitungkan cepat atau lambat Im Ki sendiri pasti akan muncul.
Asal orang muncul, maka dia pasti muncul maka dia pasti bisa mencari kesempatan.
Kalau Coh Liu-hiang amat gelisah dan gundah ditempat persembunyiannya, sebaliknya murid-murid Sin cui kiong jauh lebih gelisah lagi.
Biasanya mereka terlalu mengagulkan diri, selamanya tidak pandang sebelah mata kepada siapapun, mereka sama berpendapat asal salah satu diantara mereka mau turun tangan, dengan mudah akan bisa meringkus musuh satu persatu.
Diluar dugaan hari ini mereka justru kebentur tiga tokoh-tokoh puncak persilatan yang sama memiliki ilmu silat yang tak terukur tingginya, untung mereka terdiri dari murid-murid Sin cui kiong kalau ditempat lain perduli dimanapun, pastilah siang-siang sudah diinjak-injak dan diratakan dengan bumi oleh mereka bertiga.
Bila ketiga orang ini bergabung dan berjuang mati-matian, dikolong langit ini mungkin sulit dicari tandingan yang lebih kuat dari kekuatan kerja sama mereka bertiga.
Sekonyong-konyong terdengar suara keluhan kaget, seorang gadis baju putih tiba-tiba bersalto menjerit mundur ke belakang, tangan kirinya memegangi lengan kanan, darah segar mengucur deras dari celah-celah jarinya.
Oh Thi-hoa terloroh-loroh seperti orang kesurupan.
"Kalau tidak pandang kau ini seorang perempuan, tebasanku ini sudah merenggut jiwanya."
Gadis yang dipanggil Kin moay itu tertawa dingin.
"Golokmu, deras tak bertenaga, berangasan tak punya tipu daya, ilmu silat seperti ini, berani juga buat jual lagak?"
Oh Thi-hoa tertawa, ujarnya.
"Kalau demikian, ilmu silatmu tentu boleh sekali, hayolah maju, aku ingin melihat."
"Memangnya kau harus melihat kepandaianku."
Damprat Kin moay.
Ditengah hardikannya tahu-tahu dia sudah terjun ke dalam arena pertempuran, tiga gadis yang lain sebenarnya sudah serempak melontarkan serangan, tapi sepasang tangan dengan jari-jari runcing Kiu moay tahu-tahu sudah menyelonong tiba di depan mata Oh Thi-hoa lebih dulu.
Oh Thi-hoa menegakkan goloknya dengan punggung menghadap keluar, tajam goloknya terus membalik dan dipelintir ke arah muka, jikalau serangan Kiu moay ini tidak segera diurungkan atau ditarik kembali, jari-jarinya yang halus dan manis itu bakal memapak tajam golok dan pasti protol seluruhnya.
Tapi gerak perubahan permainan tipu-tipu serangannya sungguh hebat sekali, pergelangan tangan membalik, tahu-tahu tangannya menukik mencengkeram pipi kiri Oh Thi-hoa.
Gerak perubahan serangan ini amat wajar, sedikitpun tidak dipaksakan dan bergerak dengan lancar, tetapi justru karena perubahannya ini terlalu lancar dan seperti mengikuti riilnya, maka Oh Thi-hoa yang sudah gemblengan dan pengalaman dimedan laga, siang-siang sudah memperhitungkan dan menduga akan posisi dan sasaran yang diincarnya.
Tahu-tahu sudah menunggu pula serangan jari-jari tangan orang.
Kiu moay sendiri tidak tahu dan menginsafi bahwa pengalaman tempurnya sendiri yang terlalu cetek, perhitungan dan ketegasan mengincar sasaran kurang tepat, maka dia mengira lawan sebelumnya sudah amat apal dan tahu gerak permainan serta perubahan tipu-tipu serangannya, keruan hatinya jadi amat kaget, maka gerak-gerik selanjutnya perubahan serangannya tidak selincah dan seganas semula.
Oh Thi-hoa tertawa lebar, katanya.
"Tipunya cepat lihai tapi tidak punya tenaga, ada hati tapi kurang berani, ilmu silat seperti ini juga berani pamer di hadapanku. jikalau aku tidak kenal kasihan terhadap dara-dara ayu secantik kau ini, jari-jari landakmu itu sejak tadi sudah protol seluruhnya."
"Jari-jari landak"
Ibarat ini sungguh amat tepat sekali pemakaiannya, hampir saja Coh Liu-hiang terpingkal-pingkal didalam air mendengar banyolah temannya yang satu ini, tapi dia tahu bahwa Oh Thi-hoa kali ini bukannya sedang main-main atau kelakar, yang terang dia memang sengaja hendak membuat lawan gusar, perang batin dengan cara yang dipakainya ini memangnya sudah lazim dipergunakan oleh Kangouw.
Bersambung ke
Jilid 41
Jilid 41 Sebagai gadis pingitan yang tidak punya pengalaman Kangouw, sudah tentu dengan gampang Kim-moay ditipunya, saking marah mukanya merah padam, semakin getol keinginannya merobohkan lawan, permainan silatnya jadi kurang mantap dan tak bisa bekerja dengan kepala dingin.
Walau satu lawan empat, sinar golok Oh Thi Hoa tetap berkelebatan kian kemari seperti rangkaian kembang-kembang salju yang beterbangan, dia tetap berada di atas angin.
Sekonyong-konyong terdengar pula sekali keluhan kaget, tampak seorang mencelat mundur pula, maka terdengar Cay Tok Hing berkata dengan gelak tawa.
"Hati-hati sedikit, jikalau lohu tidak ingat usia yang sudah lanjut nanti disangka yang tua menindas si kecil, jari jarimu ini mungkin telah kuketuk jadi untar untar"
"Ha, ha, bagus, bagus sekali !"
Teriak Oh Thi Hoa tertawa besar.
"Golok menabas jari landak pentung mengetuk ular, kini tinggal pedang Ui-loyacu yang akan mengirim cakar ayam"
Ui Loh-ce ternyata berkata dengan kereng dan suara berat.
"Usia mereka terlalu muda tak punya pengalaman tempur menghadapi musuh, hati gugup dan gelisah ingin menang lagi kalau diteruskan pasti ada yang terluka atau ajal, sukalah suruh Kiong-cu, kalian keluar saja."
Coh Liu hiang diam-diam menghela napas, katanya.
"Memang orang ini seorang sosiawan sejati yang tak mau merugikan orang lain, jujur tak mau menipu, memang kun cu kiam amat sesuai dengan pribadi dan sepak terjangnya. Diam-diam hatinya jadi gelisah, karena dia tahu sin cui kiong begitu disegani dan dipandang sebagai puncak persilatan, pastilah bukan bernama kosong belaka, kepandaian silat murid yang bergebrak ini sudah termasuk kelas satu di kalangan Kangouw, Induk air Im Ki sendiri pasti mempunyai kepandaian silat yang tiada taranya, begitu dia muncul situasi pasti segera berubah, mungkin kawan kawannya bisa celaka daripada selamat. Tapi kenapa sebegini jauh Induk air Im Ki bekum kunjung keluar ? Pada saat itulah, tiba-tiba Coh Liu-hiang merasakan air danau yang semula tenang dan tak bergerak itu lambat laun seperti mulai timbul gerakan arus yang berputar, kedua kakinya lapat-lapat sudah mulai merasakan adanya suatu tekanan. Perasaan sehalus ini kalau orang lain pasti tak gampang disadari, tapi Coh-Liu-hiang bisa bernapas melalui lubang pori-pori di kulitnya sudah tentu perasaan jauh tajam dari segala orang, Cepat dia selulup ke dalam air menyusup ke lobang sebelah kiri dimana terdapat sebuah batu besar yang lain, seluruh badannya meringkel, seolah kulit daging dan tulangnya menyusut kecil, paling tidak satu pertiga lebih kecil dari keadaan badan biasanya. Selama dirinya malang melintang berkecimpung didalam Kangouw, bahaya yang diserempet dan dihadapinya selama hidup, dibanding dengan seratus orang biasa jikalau reaksinya tidak cepat serta tepat pula menghadapi segala perubahan entah sudah berapa kali jiwanya melayang. Demikian pula kali ini, reaksi perubahan yang melebihi orang lain ini kembali menolong jiwanya pula. Tiba-tiba dilihatnya batu besar yang berada di sebelah kanannya tadi kini sudah mulai bergerak, tekanan di kakinya tadi adalah karena batu raksasa ini bergerak dan mendesak air sehingga menimbulkan aliran air yang berputar itu, jikalau tidak cepat dia pindah tempat dan sembunyi ke tempat yang sekarang, kedua batu besar di kanan kirinya itu bakal menggencetnya mampus. Bahwa batu raksasa ini mulai bergerak terang di bawah dasar danau inipun pasti ada jalan rahasia, rahasia induk air Im Ki jelas terletak di dasar danau ini, betapa girang perasaan hati Coh Liu-hiang saat mana, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ternyata kedua batu raksasa itu tidak sampai merapat seluruhnya, di tengahnya masih ketinggalan celah-celah sempit. Dengan miringkan kepala Coh Liu-hiang melongok keluar, tampak serangkaian buih-buih yang bergulung mengalir keluar belakang batu besar, disusul muncullah dua sosok bayangan orang. Dua orang ini sama mengenakan jubah panjang warna putih, meski berada si dalam air, pakaian yang basah tidak tampak melekat pada kulit badan mereka, malah kelihatan seperti melambai lambai ditiup angin ditengah angkasa. Coh Liu-hiang sudah mengenal satu diantara kedua orang adalah Kionglam Yan, sorot matanya kelihatan lebih buram, lebih cekung, tapi jauh lebih indah dan cantik. Lambat-lambat tangannya menuntun seorang yang lain beranjak keluar, gerak gerik mereka didalam air hampir sama tenang dan wajar, seperti berjalan gemulai diatas daratan. Coh Liu-hiang tidak melihat raut wajah seorang yang lain, cuma terasa dia adalah perempuan yang perawakan tinggi besar, Kionglan Yan hanya sepundaknya saja berdiri disampingnya, memangnya orang inikah induk air Im Ki yang amat ditakuti dan serba misteri itu. Tampak Kionglam Yan menggandengnya, tiba-tiba tangan orang yang digandengnya itu diletakkan pada pipinya serta diletakkan ke kepalanya dan digosok gosokkan sekuat-kuatnya, sorot matanya memancarkan napsu birahi yang memuncak. Dengan sebelah tangannya yang lain orang itu mengelus rambut kepalanya, kelihatannya mirip benar dengan sepasang kekasih yang sedang bermesra-mesraan, sekali-sekali tidak mirip hubungan antara murid dan guru yang pantas melakukan adegan-adegan merangsang seperti itu. Apakah benar Induk air Im Ki, tapi seorang laki-laki ? Coh Liu-hiang menjadi bingung sendiri, akhirnya Kionglam Yan melepaskan tangan itu, tapi sorot matanya yang diliputi napsu itu masih menatap muka orang itu lekat-lekat. Kini perlahan-lahan orang itu sudah mulai bergerak menengok ke arah sini, akhirnya Coh Liu-hiang berhasil melihat muka aslinya. Dia memiliki sepasang mata yang besar, alis yang lentik dan tebal, hidungnya besar dan mancung, bibirnya yang tipis tertutup rapat, menampilkan sorot yang teduh dan watak yang ulet serta tegas. Itulah raut muka yang jarang terlihat pada muka manusia umumnya, hidungnya yang mancung tegak sehingga kelihatannya dia mempunyai kewibawaan besar yang angker dan seperti menyedot sukma orang, dari sikap dan tindak tanduknya jelas menunjukkan biasanya dia amat angkuh akan kekuasaan dan kebesaran, selamanya tiada orang yang berani melawan dia kecuali Sin Cui Kiong Cu Induk air Im Ki, orang lain jelas tak akan setimpal mempunyai wajah seperti itu. Akan tetapi muka ini tak sama dengan wajah seorang perempuan, kalau perawakannya jelas menunjukkan bila dia seorang perempuan, hampir saja Coh Lui hiang menyangka Induk Air Im Ki adalah seorang lelaki. Dan anehnya dia tak segera mumbul ke atas, keluar dari danau malah perlahan-lahan beranjak ke tengah danau, baru sekarang Coh Lui Hiang melihat ditengah-tengah danau sana, terdapat sebuah batu putih, langsung dia duduk di atas batu putih ini. Apakah maksud dan tujuannya duduk di atas batu putih itu? Di atas sedang terjadi kekacauan dengan pertempuran sengit, kenapa dia masih enak-enakan duduk dalam air? Baru saja Coh Lui Hiang merasa aneh, Induk air Im Ki sudah memberi tanda dengan ulapan tangan kepada Kionglam Yau segera Kionglam Yau-pun memberi gerakan tangan kearah batu di sebelah sana. Seketika tampak segulung pusaran air yang berarus tinggi timbul dari bawah batu putih itu terus membumbung naik keatas menyerupai tonggak air, badan Im Ki yang besar itu seketika tersanggah naik pelan-pelan. Permukaan air danau yang semula tenang-tenang itu mendadak menyemprot keluar sebuah tonggak air yang membumbung setinggi tiga tombak ke tengah udara lalu muncrat ke empat penjuru, tepat di pucuk tonggak air mancur ini tampak duduk bersimpuh seorang berpakaian serba putih. Sinar bintang kelap-kelip, butiran air yang muncrat itupun berkilauan memancarkan sinar. Dipandang dari kejauhan seolah-olah dari dasar danau terbang ke atas Dewi Koan-Im yang berpakaian putih duduk tenang di atas alas berkembang teratai dari kembang-kembang air yang muncrat di sekeliling itu, suasana menjadi hikmat angker, orang tak berani mendongak memandang dengan tajam. Suara musik yang sayup-sayup sampai dikejauhan itu kini berubah kalem dan gagah. Gadis-gadis baju putih serempak mengundurkan diri, Oh Thi Hoa, Cay Tok Hing dan Ui Loh Ce sama menengadah mengawasi orang yang duduk di atas pancuran air itu, walau mereka luas pengalaman dan pengetahuan kini merasa merinding dan sesak napasnya, serasa terbang arwahnya ke awang-awang. Sementara itu Kionglam Yan-pun sudah mencelat naik ke daratan, sorot matanya bagai kilat dengan air muka dingin menyapu pandang pada tiga orang dihadapannya. Katanya dingin.
"Badan suci Kiongcu sudah muncul. tidak lekas kalian berlutut dihadap kepada beliau?"
Oh Thi Hoa lantas tertawa.
Dalam suasana seperti ini ternyata dia masih berani tertawa sungguh tak kecil nyalinya, sampai Kionglam Yan sendiri mengunjuk rasa kaget dan heran.
Terdengar Oh Thi hoa berkata dengan tertawa besar.
"Badan suci? Menyembah? Memangnya kau kira dirimu dewi atau malaikat?"
"Siapa kau orang kurang ajar ini?!"
Bentak Kionglam Yan. Kiu Moay segera tampil ke muka dengan menjura.
"Orang ini bernama Oh Thi Hoa yang datang bersama dia adalah Kung cu Kiam Ui Loh Ce dan Cay Tok hing dari Kaypang."
Kionglam Yan tertawa dingin.
"Kalian mengagulkan diri berkepandaian tinggi berani sembarang keluyuran ditempat terlarang ini?"
Cay Tok hing bergelak tawa sambil menengadah, ujarnya "Walau kepandaian cayhe bertiga tak mengejutkan orang, tapi cukup lumayan juga untuk dinilai."
"Murid siapa orang ini?"
Tiba-tiba induk air Im Ki bertanya.
Pertanyaannya tidak ditunjukkan kepada Cay Tok Hing malah bertanya kepada Kionglam Yan seolah-olah dia tak sudi bicara langsung dengan laki-laki, tak urung Cay Tok hing tertawa pula katanya.
"Waktu aku orang tua kelana mencari pengalaman, entah dia malah berada dimana? Kau tanya dia memangnya dia tahu riwayat dan asal usul hidupku?"
Kionglam Yan menunggu setelah dia pas tertawa baru berkata dengan dingin.
"Semula orang ini adalah begal besar yang biasa beroperasi dengan mengganas di dua sungai besar setelah tiga puluh tahun baru bertobat dan menuju jalan lurus, menjadi murid kaypang, resminya adalah murid Lu Lam Kaypang Pangcu waktu itu, yang terang Cu Bing murid Lu Lam yang terbesar yang mewakili gurunya mengajar silat kepadanya oleh karena itu meski dia terlambat masuk perguruan, kedudukannya dan tingkatannya di dalam Kaypang cukup tinggi."
"Apa ilmu silatnya sudah mendapat didikan murni dari seluruh kepandaian Cu Bing?"
Tanya Indu Air Im Ki pula.
"Cu Bing bergelar Kangkun thi ciang "kepalan baja telapak besi"
Betapa kuat tenaga dalam dan ilmu pukulannya di kalangan Kaypang mereka tiada bandingannya, mana bisa orang ini menandinginya?
Cuma semula dia memangnya seorang begal tunggal, maka ilmu ginkangnya setingkat lebih tinggi dari Cu Bing, dan karena gaman yang dia pakai semula adalah pedang, maka didalam permainan ilmu tongkatnya dikombinasikan dengan tujuh kali tujuh empat puluh sembilan jurus Wi-hong bu hu-kiam serta perubahan-perubahannya.
Didalam Kaypang jaman ini, boleh terhitung tokoh nomor satu."
Ternyata asal-usul dan ilmu silat Cay Tok Hing seperti menghapal pelajaran saja dengan nyerocos dibeber secara terbuka karuan Cay Tok Hing tak bisa tertawa lagi, batinnya.
"Murid-murid Sin cui-kiong biasanya tidak bergaul dengan orang luar, tak kira mereka murid-murid terpelajar tak keluar pintu, tapi tahu segala urusan dan kejadian di dunia luar, gelarnya Sin cui-kiong memang luar biasa."
Terdengar Induk Air Im Ki tertawa dingin.
"Walau Cu Bing sendiri selama hidupnya tak berani sembarangan menginjak daerah terlarang Sin cui kiong, tak nyana besar benar nyali orang ini, agaknya melibih Cu Bing keberaniannya.
"Berhenti sementara lalu Induk Air menuding Oh Thi hoa, tanya;
"Dan orang ini?"
Dengan mendelik Oh Thi-hoa menatap Kionglam Yan, dalam hati membatin.
"Jikalau riwayat hidup dan asal usul ilmu silatku kau ketahui aku benar-benar tunduk dan kagum padamu."
Kionglam Yan menepekur sebentar seperti mengingat-ingat, katanya kemudian lebih kalem.
"Orang ini seperti pula Coh Lui-hiang, orang-orang Kangouw dikata tiada orang yang tahu asal usul ilmu silat mereka, yang diketahui hanya bahwa mereka semua dari keturunan keluarga besar yang turun temurun dari kakek moyangnya malah sejak kecil hobinya berlatih silat, maka didalam rumahnya menggandeng banyak sekali guru-guru silat, tapi karena kepandaian silat asli yang mereka bekal sekarang terang bukan hasil didikan guru-guru silat di rumahnya itu."
Oh Thi hoa tersenyum sambil angguk kepala katanya.
"Ya, sedikitpun tidak salah."
"Oleh karena itu waktu itu banyak orang curiga bahwa didalam keluarga mereka ada seorang tokoh silat yang amat lihay sembunyi dirumahnya dan secara rahasia mendidik dan mengajar ilmu silat kepada mereka. Tapi ada pula yang curiga bahwa secara kebetulan mereka menemukan buku pelajaran silat peninggalan entah Cianpwe yang mana."
Oh Thi hoa tetap tertawa, ujarnya.
"Kau bisa tahu begini banyak, terhitung bukan mudah kau bisa mendapat bahan-bahannya."
Kionglam Yan tidak hiraukan ocehannya, katanya lebih lanjut.
"Akan tetapi, meski dia dibesarkan bersama Coh Lui hiang, ilmu silat mereka justru jauh berbeda, ilmu silat yang dipelajarinya mengutamakan kekerasan, agaknya mirip dengan ilmu silat dari Thi-tiat-tay-ki-bun masa lalu."
Kini Oh Thi hoa tidak bisa tertawa lagi kulit mukanya terasa kaku dan mulutpun melongo keheranan. Tapi melirikpun tidak kepadanya, Kionglam Yan meneruskan uraiannya.
"Dulu setelah Thi tiong siang menegakkan perguruan Thi tiat tay bun ki pula, Ya-te ayah beranak lantas pesiar keluar lautan dengan seorang cianpwe yang bernama Ji cu han, mereka pernah lewat di kampung kelahiran orang ini maka menurut dugaan teccu ilmu silat yang dipelajari Coh Lui hiang mendapat didikan langsung dari Ya-te "kaisar malam"
Sementara Ji-cu-han menerima orang ini sebagai muridnya."
Oh Thi hoa menghela napas, katanya seperti mengigau.
"Tebakanmu mesti tak tepat juga meleset tak terlalu jauh dari kebenarannya, tak heran orang-orang Kangouw sama gentar terhadap kalian, agaknya kalian memang punya kebolehan yang lebih unggul dari orang lain."
Mendengar nama-nama Ya-te dan Thi kiat tay ki bun disebut-sebut sampaipun Induk Air Im Ki mengunjuk rasa kaget dan haru, sesaat dia termenung, lalu katanya.
"untuk apa tiga orang ini meluruk datang?"
Kiu moay lekas menjura pula, sahutnya.
"Teccu sudah beritahu kepada mereka dalam lembah ini pasti takkan ada orang luar, tapi mereka tetap tidak mau percaya."
Induk Air Im Ki menjengek hina, katanya.
"Memangnya mereka ingin apa?"
"Apa kalian ingin kami bicara terus terang?"
Seru Oh Thi-hoa.
"Katakan!"
Sentak Kionglam Yan. Oh Thi hoa tertawa-tawa dulu, katanya.
"Sebetulnya kami kemari hendak cari orang, kalau orang yang dicari tidak ada di sini, sekarang hendak pergi saja."
Kionglam Yan tertawa dingin, ejeknya.
"Agaknya kau memang orang pintar, sayang sekali selamanya tempat suci ini boleh didatangi tak boleh pergi lagi, kau sudah masuk dan tiada orang yang merintangi, jikalau kau hendak keluar lebih sukar dari pada kau manjat ke langit."
Tiba-tiba Induk Air berkata pula.
"Beritahu mereka, perduli cara apa yang mereka gunakan bila mereka mampu mendorong aku jatuh dari altar teratai air suci ini, mereka boleh berlalu dengan selamat."
"Asal kalian..."
"Kami bukan orang tuli."
Tukas Oh Thi hoa dengan tertawa besar.
"apa yang diucapkan, kami sudah dengar, tak perlu kau ulangi sekali lagi."
"Tapi harus dicari ketegasan dulu apa ucapannya boleh dipercaya?"
Sela Cay Tok hing. Kionglam Yan membesi muka, katanya.
"Perintah Kiongcu sekokoh gunung, apa yang pernah beliau ucapakan tak pernah dirobah dan ditarik kembali."
Oh Thi hoa dan Cay Tok hing beradu pandang, roman mukanya menampilkan rasa girang.
Tampak olehnya Induk air duduk angker di pucuk pancuran kembang air yang muncrat ke sekelilingnya, tenang sekokoh gunung, maka mereka insaf bukan saja ginkang orang sudah mencapai taraf yang tiada taranya, Khikang-nyapun sudah amat mendalam, memang mereka bertiga belum tentu kuasa melawan dan menjadi tandingannya, jikalau mereka menantang, dengan tingkat dan kedudukan mereka tidak bisa menolak tantangan ini, malu juga bila satu lawan tiga, kalau demikian gelagatnya hari ini mereka memang tak mungkin bisa keluar dari Sin cui kiong dengan masih hidup.
Akan tetapi Induk air ternyata begitu takabur, situasi seratus persen berubah dan agaknya bakal menguntungkan pihak mereka bertiga.
Maklumlah dengan gabungan kekuatan mereka bertiga yang merupakan tokoh Kangouw kelas wahid, jikalau tidak mampu mendorong jatuh dari tempat duduk di puncak pancuran air yang kelihatannya tidak kuat itu, sungguh merupakan peristiwa lucu dan aneh yang pernah mereka alami selama hidup.
Kuatir orang merubah putusan semula, sengaja Oh Thi hoa tertawa dingin.
"Kalau orang memang demikian keinginannya apa boleh buat kita tinggal menurut saja bukan?"
"Benar,"
Sela Cay Tok Hing.
"Itulah yang dinamakan sang tamu mengiringi saja keinginan tuan rumah."
Berputar biji mata Oh Thi hoa. katanya.
"Tapi kita perlu berunding dulu, entah boleh tidak?"
Induk air mengulap tangan, Kionglam Yan segera menjengek dingin.
"Yang terang kalian berunding juga tak kan berguna, baik silahkan."
Lekas Oh Thi hoa menarik Ui Loh-ce dan Cay Tok hing ke samping, tak terasa dia tertawa, katanya.
"Agaknya induk air hari ini pasti aka kecundang ditangan kita bersama."
Ui Loh-ce sebaliknya mengerut kening. katanya.
"Tapi, kalaupun dia berani sesumbar, ini bukan mustahil diapun akan mengalahkan kita."
Cay tok Hing tertawa ujarnya.
"Kau tak usah mengecil artikan perlawanan kita dengan mengagulkan kekuatan musuh, dengan kekuatan gabungan kita bertiga sekali terjang berbareng umpama kata tonggak air dan dia orang itu terbuat dari besi, memangnya kita tidak kuasa menumbuknya roboh?"
Ui Loh-ce pikir pergi datang, memang dia tak habis mengerti dengan cara apa induk air akan melayani terjangan kekuatan mereka bertiga, tapi dasar wataknya halus dan suka berpikir cermat serta hati-hati maka katanya dengan nada khawatir.
"Manusia besi berani mati dia orang justru orang hidup yang dapat bekerja dan berdaya upaya, kita bertiga menerjang dengan segala kekuatan, jikalau dia berhasil menyingkir itu waktu kita sama-sama terapung ditengah udara, ke atas ke samping ke bawah tidak ada tempat untuk berpijak, bukan mustahil kita sendiri bakal terjeblos jatuh ke dalam danau, umpama tak sampai teringkus hidup-hidup oleh mereka, rasanya malu untuk mengulangi kedua kali dengan cara lain."
Tak urung Cay Tok hing mengerut alis pula, katanya.
"Memang uraianmu masuk akal."
"Oleh karena itu menurut pendapatku yang bodoh,"
Kata Ui Loh-ce lebih lanjut.
"kita bertiga jangan bergerak dan turun tangan bersama, karena kalau bertiga sama sama maju, meski kekuatannya berlipat ganda, tapi bila sekali serang tak mengenai sasaran, tenaga bantuan yang diperlukan belakangan menjadi putus.
"Tapi bila kita bertiga bergerak sendiri-sendiri, bukankah pembawaannya jauh lebih asor?"
Cay Toh hing utarakan pendapatnya. Jawab Ui Loh ce "Biar aku dengan gerakan "Tiong hong goan jit"
Menerjangnya lebih dulu kalian boleh awasi cara bagaimana dia melayani atau berkelit, Oh-heng harus mengikuti aku dengan ketat, begitu serangan luput Oh-heng segera susulkan seranganmu kala itu gerakannya sudah berubah sekali, betapapun kekuatannya sudah berkurang, dengan sendirinya gerak perubahan selanjutnya menjadi rada kendur, umpama serangan Oh-hengpun menemui kegagalan, dikala Cay-loyacu menyerang dengan gelombang ketiga, dia sendiri sudah kehabisan kekuatan, kukira tidak sulit untuk Cay loyacu merobohkan dia."
Cay Tok hing tepuk tangan serunya.
"Benar, cara ini memang amat tepat dan baik."
Oh Thi-hoa sebaliknya geleng-geleng kepala katanya.
"Cara ini kurang baik."
"Kenapa kurang baik?"
Cay Tok hing menegas.
"Yang terang tenaga murninya jauh lebih unggul dari kekuatan kita, apalagi disaat kita menyerang dia, badan harus terapung ke udara tiada tempat untuk kita mengerahkan seluruh kekuatan, sebaliknya duduk di pucuk pancuran air, betapapun dia jauh lebih kalah kedudukannya, oleh karena itu bila kita harus menyerang secara bergelombang, bukan mustahil bisa dipukul jatuh satu persatu oleh kekuatan pukulan telapak tangannya."
Berubah air muka Ui Loh Ce, katanya.
"Benar juga, hakekatnya dia tidak perlu merubah gerakan, cukup asal duduk di atas dengan kokoh, dengan siap memancing dan menyerang kita, betapapun kita takkan kuat melawannya."
Cay Toh Hing mengawasi Oh Thi-hoa, katanya tertawa.
"Kalau kau bisa berkata demikian, tentunya kau punya cara dan akalyang lebih bagus."
Oh Thi-hoa merendahkan suara, katanya.
"Cara yang paling baik tetap kita bertiga menerjang bersama, tapi aku tidak akan menyerang langsung kepadanya, bagian badanku terapung di tengah udara seketika aku akan mengalihkan arah membabat ke tonggak air di bawahnya, tidak ada ruginya kalau pura-pura menerjang dengan nekad dan siapkan tenaga untuk melindungi dan menutupi gerak-gerikku, sudah tentu kalian bergebrak benar-benar dengan dia."
Sampai di sini dia tertawa lalu meneruskan.
"Asal tonggak air itu keterjang bubar dan terputus di tengah-tengah apa dia masih bisa duduk tenang di tempatnya?"
Begitu mendengar cara yang di usulkan Oh Thi-hoa, seketika Ui Loh Ce mengunjuk kegirangan. Sementara Cay Tok-Hing menarik tangan Oh Thi-hoa, Katanya tertawa."
Sudah puluhan tahun aku mengembara di kangouw tak nyana otakku sudah tumpul dan tidak secerdik kau bocah anak ini malah."
Ui Loh-ce berkata.
"Oh-heng memang cerdik dan berani, serba pintar sukar ditandingi orang lain."
"Itulah yang dinamakan, hendak menjatuhkan orang harus memanah kudanya lebih dulu."
Kata Cay Tok-hing riang.
"kalau kudanya roboh memangnya orangnya masih bisa bercokol terus dipunggungnya?"
Semakin dipikir dan semakin dibicarakan, mereka merasa cara ini amat bagus dan tepat umpama Induk air Im Ki punya kepandaian setinggi langit kalau pancuran air itu diputuskan, betapapun dia akan terjungkal roboh.
Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa.
"Akal seburuk ini sebetulnya tak bisa kupikirkan, cuma selama dua bulan terakhir ini aku setiap hari bergaul bersama si Ulat busuk itu, lambat laun aku jadi ketularan sifatnya yang buruk itu."
Ui Loh-ce tertegun, tanyanya.
"Siapa itu Ulat busuk?"
Cay Tok hing tertawa tertahan, katanya.
"Apakah orang itu amat busuk maka dia diberi julukan sejelek itu?"
"Ulat busuk yang lain memang berbau busuk."
Ujar Oh Thi-hoa tertawa.
"sebaliknya ulat busuk yang satu ini malah berbau wangi."
Setelah Kionglam Yan ikut mencelat naik ke daratan, Coh Liu-hiang menunggu sekian lamanya lagi, baru perlahan-lahan dua mendorong sedikit batu raksasa disampingnya tergeser, lalu separuh badannya melongok keluar.
Tampak di belakang batu itu memang ada sebuah jalan rahasia, arus air yang mengalir dari jalan rahasia sama dengan air yang berada didalam danau, sama jernih dan bening laksana kaca, selepas mata memandang, tak kelihatan bayangan seorang manusiapun.
Meski Coh Liu-hiang amat menguatirkan keselamatan Oh Thi-hoa bertiga tapi kesempatan yang paling baik ini tidak boleh disia-siakan, agar dirinya berhasil menemukan rahasia induk air Im Ki, dengan gampang dia akan menolong mereka.
kalau tidak, sekarangpun bila dia keluar juga tak ada gunanya.
Jalan rahasia ini merupakan sebuah lorong panjang yang kedua sampingnya diapit batu marmer, arus air yang mengalir kelihatannya perlahan, selicin ikan berenang Coh Liu-hiang meluncur ke dalam, belum jauh dia bergerak segera dia mendapat firasat jelek.
Baru sekarang teringat olehnya tadi Kionglam Yan ada memberi tanda ulapan tangan ke arah sini, maka air lancar menyemprot keluar dengan deras dan kuatnya, maka di belakang pintu dari jalan air ini, terang ada orang yang mengendalikan kunci rahasia dari semprotan air mancur itu.
Sayang sekali dikala Coh Liu-hiang menyadari akan hal ini, dia sudah terlambat untuk bergerak.
Sebuah tombak trisula tahu-tahu sudah meluncur tiba menusuk ke perutnya.
Sudah tentu serangan ini takkan bisa melukai dia, tapi celakanya, bila jejaknya sudah konangan oleh salah satu murid Sin-cui-kiong bukan saja seluruh rencana kerjanya bakal gagal total, nyonya baju putih setengah umur itupun akan terembet perkara, umpama dia berhasil membekuk atau membunuh orang yang menyerangnya ini, betapun jejaknya sudah bocor.
Selama ini dia amat hati-hati dengan gerak geriknya, sungguh tak nyana disaat dirinya hampir mencapai hasil yang gemilang, toh tanpa disadarinya dia berbuat suatu kesalahan besar yang akibatnya amat fatal, suatu kesalahan yang mungkin menamatkan nyawanya.
Induk air tetap duduk angker dan tenang di pucuk pancuran air, bergemingpun tidak, seolah-olah dia kuasa duduk tiga sampai lima hari di tempatnya itu dengan tenang dan kokoh laksana gunung.
Kionglam Yan sebaliknya sudah tidak sabar lagi, katanya dengan mengerut kening.
"Sudah selesai belum kalian berunding?"
"Ya, sudah selesai"
Sahut Oh Thi-hoa tertawa. Berkilat sorot mata Kionglam Yan katanya tertawa dingin.
"Hanya mengandal kalian bertiga memangnya bisa merundingkan akal licik apa yang menguntungkan?"
Kata-katanya dia tujukan kepada Ui Loh-ce. Betul juga Ui Loh-ce lantas menjawab.
"Cayhe bertiga membicarakan..."
Gelagatnya dia hendak menjelaskan terus terang, tanpa berjanji Cay Tok-hing dan Oh Thi-hoa segera menukas dengan keras.
"Bukan waktunya untuk ngobrol lagi, hayolah turun tangan saja!"
Mereka sudah berjanji dengan gerakan tangan masing-masing, maka begitu Oh Thi-hoa ulapkan tangan, serempak mereka bertiga lantas melesat maju berjajar adu pundak, sinar golok bersama cahaya pedang berubah laksana lembayung, melintang miring menyisir permukaan air danau.
Perlu diketahui tonggak air pancuran yang diduduki Induk air tingginya ada tiga tombak, sementara letak tonggak air yang ditengah-tengah danau itu berjarak sekitar enam tombak dari pinggir danau, umpama ilmu Ginkang Cay Tok-hing bertiga memang teramat tinggi sulit juga dalam sekali lompat bisa mencapai sasaran sejauh enam tombak.
Akan tetapi mereka menggunakan batu loncatan pada sebuah batu besar di pinggir danau untuk melompat kedepan, kebetulan batu raksasa ini menongol keluar di atas permukaan air.
jaraknya dengan induk air kira-kira tinggal tiga tombak.
Untuk melompat dengan kekuatan Ginkang sejauh tiga tombak bagi mereka bukan soal sulit.
Waktu itu mereka sudah yakin benar pasti menang dan berhasil sesuai dengan rencana, sudah tentu semangat tempur mereka menyala-nyala, maka masing-masing tumplek seluruh kekuatan dan memboyong seluruh kepandaian silatnya yang paling diandalkan, dipandang dari kejauhan tampak ketiga orang ini laksana tiga malaikat yang membawa cahaya bianglala melesat terbang diangkasa, sampaipun murid-murid Sin cui kiong yang melihat perbawa kekuatan mereka bertiga sama terbelalak dan mulut melongo.
Induk air sebaliknya tetap duduk bersimpuh tak bergerak.
Terang jarak luncuran ketiga orang sudah mendekat tinggal kira-kira delapan tombak, sekonyong-konyong Oh Thi-hoa bersiul panjang memberi aba-aba, sigap sekali selincah burung walet gerakannya tiba-tiba berubah, goloknya terayun membacok ke tonggak air dari pancuran yang menopang badan Induk air.
Tapi mendadak tepat pada saat yang bersamaan badan Induk air mendadak anjlok turun ke bawah, kedua tangannya menekan ke tonggak air di bawahnya, tonggak air itu segera terpecah tiga cabang pancuran air yang lain laksana anak panah menyemprot keluar memapak ke arah mereka masing-masing.
Semprotan air pancuran itu sendiri sebetulnya sudah cukup keras, kini di bawah tekanan tenaga dalam Induk air yang luar biasa besarnya, panah air yang menyemprot keluar ini dilandasi kekuatan bagai air bah dan kecepatan kilat menyambar, sudah tentu perbawanya bukan olah-olah dahsyatnya.
Memangnya Oh Thi-hoa bertiga sedang menerjang ke depan dengan seluruh kekuatan mereka, untuk berkelit sudah tentu tidak sempat lagi, tampak semprotan cahaya perak tahu-tahu sudah menyongsong tiba ke depan mata, kontan dada terasa ditumbuk sesuatu yang teramat keras dan dahsyat dan belum pernah dialami selama hidup ini, seolah-olah puncak gunung di empat penjuru sama runtuh dan menindih mereka.
Gerak-gerik badan Coh Liu-hiang justru jauh lebih gesit dan lincah berada didalam air daripada di daratan, cukup meluncur dengan miringkan badan, dengan mudah dia meluputkan diri dari tusukan tombak trisula itu.
Tetapi kepandaian gadis yang menyerangnya itupun tidak lemah, memangnya murid-murid Sin cui kiong masing-masing ada digembleng untuk bersilat dengan ajaran tunggal perguruan mereka didalam air, tombak trisula, memang salah satu senjata tunggal mereka untuk bergebrak di dasar air.
Cukup tangan ditekan dan ditekuk dengan lincah gadis itu tiba-tiba sudah merubah arah sasaran tusukannya.
Tapi kali ini belum lagi jurus serangannya sempat dilancarkan, tahu-tahu dari Ki-ti-hiat dibagian sikunya terasa rasa linu pegal yang terus merangsang seluruh badannya sehingga tak bisa berkutik lagi.
Sungguh tak pernah terpikir olehnya lawan dapat melancarkan ilmu tutuk didalam air dengan begitu hebat dan lincah, saking kejutnya, mulutnya sudah terpentang hendak berteriak, namun begitu mulut terbuka air segera masuk ke dalam tenggorokan.
Dengan kedua tangannya Coh Liu-hiang memapah badan orang, sementara kedua kakinya bergerak-gerak, naik turun cepat dia berenang masuk menyusuri jalan rahasia itu.
Gadis ini tiba-tiba lenyap kalau Induk air Im Ki kembali tentu akan menyadari akan hal ini, maka orang akan segera menyadari bahwa istananya sudah kemasukan musuh, maka jejak Coh Liu-hiang dengan sendirinya bakal konangan.
Akan tetapi waktu Coh Liu-hiang menyadari akan hal ini, terpaksa dia harus untung-untungan dan tetap menyerempet bahaya, apalagi tiada sesuatu pilihan lain yang harus dia laksanakan.
Maka sebelum Induk air Im Ki kembali ke sarangnya, maka dia harus lekas menemukan letak rahasia dan titik kelemahannya maka diapun berharap semoga Oh Thi-hoa bertiga sedapat mungkin bisa bertahan cukup lama untuk melibat orang dalam pertempuran sengit.
Dalam waktu segenting ini, sedikitpun waktu tidak boleh dihamburkan dan disia-siakan.
Meski cukup panjang lorong air ini, tapi cepat sekali Coh Liu-hiang sudah menyusuri tiga kali belokan, akhirnya ia tiba di ujung sebelah sana, dari bawah air tampak dipermukaan air ada sorot sinar api yang menyorot berkilauan.
Coh Liu-hiang sudah menduga di sebelah atas pasti ada orang yang menjaga, sedikitpun dia tidak membuang-buang waktu untuk berpikir, lekas dia jinjing gadis yang tertutuk lemas ini ke atas kepala terus didorong ke atas permukaan air.
Kaum persilatan umumnya sama menaruh berbagai macam bayangan dan perkiraan terhadap istana terlarang kediaman Induk air itu lantaran siapapun belum pernah ada yang memasuki tempat itu, maka Sin cui kiong didalm mulut-mulut pembicaraan mereka menjadi semakin misterius.
Malah ada orang didalam dongengnya membayangkan Sin Cui kiong sebagai istana langit.
Bahwasanya tempat kediaman Induk air tak lebih hanyalah sebuah kamar di bawah tanah yang berdinding batu-batu Tayli yang besar-besar, jadi tiada pajangan atau perabotan yang serba mewah dan mentereng.
Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Induk air Im Ki bukanlah seorang yang mengutamakan hidup mewah dan foya-foya, paling dia hanya mempertahankan kebersihan dan kerapian tempat kediamannya saja, di pojok manapun didalam kamarnya itu kau takkan bisa menemukan debu sedikitpun.
Oleh karena itu batu-batu Tayli di sekeliling kamar itu seolah-olah batu jade raksasa yang berkilauan hidup tidak menyegarkan.
Mulut jalan rahasia yang terdapat didalam kamar ini merupakan sebuah empang kecil yang terbuat dari titian batu, batu-batu yang menggarisi empang membundar itupun tidak diukir secara berlebihan, garis-garisnya yang sederhana kelihatannya malah menyolok dan menyejukkan pandangan.
Tatkala itu dua gadis yang sama ayu sedang duduk di pinggir empang sedang sibuk memintal benang sebagai bahan pembuatan pakaian mereka.
Waktu mendadak mereka melihat salah satu saudara mereka terapung di permukaan air, rona mukanya sama menampilkan rasa kaget dan keheranan, tersipu-sipu mereka sudah biasa hidup didalam suasana yang tawar sunyi dan tentram, maka begitu dia menghadapi suatu urusan atau kejadian di luar dugaan sering kelihatan tak tahu bagaimana harus mengatasi atau menghadapinya, sudah tentu tak pernah terpikir oleh mereka gahwa didalam air masih ada orang yang mengintai gerak-geriknya.
Dengan gampang tanpa banyak membuang tenaga Coh Liu-hiang berhasil menutuk Hiato mereka, lalu dia jinjing mereka keluar dari empang, tampak tiga roman muka mereka sama menampilkan rasa penasaran dan kejut-kejut heran, Coh Liu-hiang segera bersoja dan berkata dengan tertawa.
"Sekali-kali aku tak bermaksud melukai kalian, cukup asal kalian istirahat sebentar saja."
Senyumannya simpatik dan hangat, kalau mau dikata ada orang laki-laki dalam dunia ini yang senyumannya dapat membikin hati seorang gadis yang kaget dan bingung menjadi tentram, maka orang itu adalah Coh Liu-hiang.
Memang air muka ketiga gadis ayu ini pucat namun sedikitnya mereka lambat laun kelihatan tenang dan lega, walau mereka tidak tahu siapa laki-laki ganteng yang cakap di hadapan mereka ini, namun terasa setiap patah kata yang diucapkan dapat dipercaya seluruhnya, memang Coh Liu-hiang mempunyai semacam wibawa aneh yang dapat menyedot semangat orang, selalu dia dapat menenteramkan hati siapapun yang dipandangnya sehingga gadis-gadis inipun merasa dia adalah laki-laki yang dapat dipercaya.
Memang selama itu Coh Liu-hiang tidak pernah mengecewakan harapan mereka.
Didalam kamar batu ini hanya terdapat sebuah ranjang, sebuah meja, sebuah almari pakaian yang tidak begitu besar, serta kamran bundar yang berserakan di atas lantai, kecuali keperluan-keperluan sederhana didalam suatu kehidupan yang paling minim ini, setiap benda lain yang berada didalam kamar seolah-olah menjadi berlebihan malah, maka dapatlah dimengerti bukan saja induk air Im Ki menyempitkan ruang gerak hidupnya, malah boleh dikata teramat sederhana amat keras membatasi diri akan segala tetek bengek.
Terang lebih berbeda dengan induk air Im Ki yang pernah dibayangkan oleh orang-orang persilatan mengenai kehidupan dan rahasia Sin cui kiong itu.
Orang seperti ini, masakah bisa memiliki sesuatu rahasia dan titik kelemahan?
Coh Liu-hiang jadi kebingungan sendiri karena tak menemukan suatu tempat untuk menyembunyikan tiga gadis yang ditutuknya ini setelah merenung sebentar, tiba-tiba dia buka tutukan Hiat-to salah satu gadis, katanya tersenyum.
"Tahukah kau ditempat mana aku harus menyembunyikan kalian sementara?"
Kalau orang lain yang menanyakan hal ini sampai matipun gadis ini pasti takkan mau menjawab.
Tapi sikap dan tutur kata Coh Liu-hiang, sungguh seperti mengetuk kalbu, begitu mesra dan simpatik lagi, sehingga dia merasa seperti sahabat lama saja yang sedang ajak dia mengobrol.
Terasakan pertanyaan orang seolah-olah sedang memperhatikan dirinya, demi kebaikannya pula, sungguh suatu pertanyaan yang tak mungkin ditolak untuk dijawab oleh anak perempuan manapun.
Dengan tersenyum gadis itu mengawasinya, seperti tidak disadari dia menjawab "Apa kau lihat lentera di atas dinding di depan itu?"
"Lentera disamping almari pakaian itu maksudmu"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Benar, asal lentera itu kau geser ke kiri, akan muncul sebuah pintu rahasia, kalau kau sembunyikan kami kesana, tidak akan ada orang yang tahu."
Coh Liu-hiang menepekur sebentar, tanyanya pula dengan suara lembut.
"Apakah tempat itu aman?"
"Jarang ada orang yang dapat masuk kesana."
Sahut si gadis. Coh Liu-hiang tertawa ujarnya.
"Terima kasih, kelak bila kau meninggalkan Sin cui kiong, boleh kau mencariku, pasti kuajak kau ke tempat-tempat tamasya yang permai."
Tak tahan tersenyum lebar gadis itu, mukanyapun menjadi merah, katanya.
"Terima kasih."
Baru saja sempat dia mengucapkan "terima", tahu-tahu Hiat-tonya sudah tertutuk lagi.
Benar juga dengan gampang Coh Liu-hiang menemukan pintu rahasia itu, dan satu persatu dia jinjing ketiga gadis itu dan disembunyikan di sana.
Sebetulnya dia bisa mengajukan banyak pertanyaan kepada ketiga gadis ini, tapi dia tahu bila mereka bicara terlalu banyak, bilamana diketahui Induk air Im Ki, akibatnya tentu susah dibayangkan.
Biasanya dia tidak tega menyakiti hati seseorang yang menaruh kepercayaan penuh kepada dirinya.
Apalagi diapun tahu jikalau terlalu banyak pertanyaan yang dia ajukan, mereka juga akan sadar dan waspada akhirnya, lambat-laun luntur dan hilanglah kepercayaan terhadap dirinya.
Selamanya diapun tidak suka merusak kesan baik seorang gadis terhadap dirinya.
Meja pendek yang sederhana tak menimbulkan kesan luar biasa hanya sebuah poci air teh dari batu jade saja yang terletak di atas meja dengan bertatakan batu porselin, tempat duduknya dialasi dengan anyaman rumput ekor kuda.
Umumnya perempuan suka menyembunyikan sesuatu rahasia pribadinya di bawah seprei tapi apapun yang terlihat sekarang agaknya Induk air Im Ki bukan perempuan macam begituan, ranjangnya tak begitu besar ini tetap sederhana tak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.
Maka hanya almari pakaian di pojok sana itulah satu-satunya tempat menyimpan sesuatu rahasia yang berada didalam kamar batu ini.
Coh Liu-hiang menggumam seorang diri.
"Sungguh harus dimaafkan, bukan tujuanku hendak menyelidiki rahasiamu, soalnya aku harus menolong jiwaku sendiri, semoga didalam almari itu aku tak menemukan sesuatu benda yang membuat mukaku merah malu."
Memang segala benda yang tersimpan dalam almari boleh dibeber dijalan raya untuk diperlihatkan kepada umum.
Kecuali pakaian yang serba sederhana pula di dalam tiada tersimpan barang apa-apa dan anehnya diantara pakaian-pakaian sebanyak itu terdapat pula seperangkat pakaian lelaki.
Waktu itu Coh Liu-hiang tengah menenteng sepotong celana pendek dari kain katun, bagaimanapun dia pikir hatinya tak habis mengerti bahwa di dunia ini ada perempuan yang menggunakan celana pendek dari kain katun seperti ini, soalnya celana pendek, celana kolor yang dipegangnya ini tak ubahnya seperti celana kolor yang dipakainya sendiri.
Memangnya di Sin cui kiong juga disembunyikan seorang lelaki?
Apakah disinilah letak dari rahasia pribadi Induk air Im Ki?
Sungguh Coh Liu-hiang tak berani percaya akan kepercayaan yang dilihatnya ini, tapi mau tidak mau dia harus percaya.
Tapi siapakah laki-laki itu?
Sekarang dimana?
Disaat Coh Liu-hiang ragu-ragu dan menimang-nimang, tiba-tiba dilihatnya air didalam empang berbatu itu beriak dan bergelombang pelan-pelan, meski didalam keadaan yang bagaimanapun, Coh Liu-hiang tidak pernah lena terhadap sesuatu yang terjadi di sekelilingnya.
Cepat sekali dia sudah menduga pasti induk air Im Ki telah kembali, tatkala itu sudah tiada tempat lain untuk menyembunyikan diri, terpaksa dia menyelinap masuk sembunyi didalam almari pakaian.
Tapi dia tidak sempat lagi menutup rapat pintu almari seperti keadaan semula.
Kejap lain induk air Im Ki memang sudah muncul dari empang kecil itu, langkah kakinya seperti diganduli sesuatu barang berat, pelan-pelan badannya mumbul dan keluar dari dalam air, Lwekang sehebat itu, Coh Liu-hiang yang mengintip dari tempat sembunyinya pun sampai tersirap kaget dibuatnya.
Cukup melihat langkah orang saja, Coh Liu-hiang sudah tahu bahwa ilmu silat induk air Im Ki memang masih lebih tinggi dari Ciok-koan-im, sudah tentu dirinya terang bukan tandingannya.
Bila saat itu juga dia menyadari tiga orang murid-muridnya hilang, pasti akan segera mencari dan memeriksa, bagaimana juga dia pasti tidak ketinggalan memeriksa almari ini.
Karena hakekatnya tiada tempat lain kecuali almari ini yang bisa untuk sembunyi.
Begitu dia menemukan jejak Coh Liu-hiang maka jiwanya pasti melayang, karena hanya ada seper-selaksa persen saja kesempatan dirinya untuk bisa mengalahkan induk air Im Ki.
Saking tegang jantung Coh Liu-hiang serasa hampir berhenti.
Tak nyana Induk air Im Ki bahwasanya tidak memperlihatkan bahwa tiga orang muridnya seolah-olah sudah lenyap ditelan bumi, seolah-olah hatinya dirundung sesuatu persoalan besar yang menindih sanubarinya, maka dia tak sempat memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Dari celah-celah pintu almari yang tak dirapatkan Coh Liu-hiang mengintip keluar, tampak kedua alis orang bertaut kencang, roman mukanya menunjuk rasa gusar, sorot matanya lurus mengawasi langit-langit kamar, entah pikiran apa yang sedang berkecamuk didalam benaknya, bahwasanya sejak masuk sampai sekarang melirikpun dia tak pernah kearah almari pakaiannya.
Bahaya yang dikuatirkan Coh Liu-hiang kali ini boleh dikata sudah lalu, tapi segera dia teringat akan keselamatan jiwa Oh Thi-hoa bertiga, mau tak mau dirinya mendelu dan sedih, gugup lagi.
Kalau toh Induk air sudah kembali, Oh Thi-hoa bertiga kemungkinan besar sudah terjungkal roboh dan bukan mustahil sudah ajal.
Coh Liu-hiang sendiri sudah tidak jauh lagi dari renggutan elmaut, sembunyi di dalam almari bukan saja tak bisa maju, mundurpun sulit, cepat atau lambat jejaknya akan konangan juga.
Kalau orang lain mungkin sudah menjadi gila saking gugup dan gelisah.
Tapi setelah kepepet dalam keadaan yang menegangkan ini, Coh Liu-hiang malah tak gugup lagi karena dia menyadari gelisahpun tiada gunanya, yang terang sikap demikian malah menghilangkan ketenangan hati, mengganggu pikiran dinginnya.
Sekarang dia perlu tenang dan berpikir dengan kepala dingin, sabar dan bersiaga menunggu kesempatan dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Sayang sekali kesempatan yang dia nanti-nantikan ini teramat minim dan sulit tercapai.
Tak lama kemudian Kionglam Yan pun sudah kembali.
Murid perguruan dimanapun dikolong langit ini bisa memasuki kamar tidur gurunya pasti harus mengetuk pintu atau melaporkan dulu kedatangannya, serta menyapa atau bertanya akan kesehatannya, meski kaum Bulim tak mementingkan adat istiadat, tapi sopan santun dan tata kehormatan antara murid terhadap guru masih tetap dipertahankan dan tak boleh dilanggar begitu saja, apalagi tata tertib Sin cui kiong yang sudah lama tersiar di dunia luar adalah begitu keras.
Aneh dan luar biasa, bahwa Kionglam Yan ternyata boleh sembarangan melangkah masuk begitu saja, tak ubahnya seperti seorang istri memasuki kamar tidur suaminya sendiri, malah langsung dia maju mendekat dan duduk di pinggir ranjang.
Im Ki masih tetap rebah tak bergerak, sedikitpun tak memberi reaksi akan kedatangan muridnya yang kurang ajar ini.
Terdengar Kionglam Yan buka suara.
"Tiga orang itu sudah disekap, setelah mereka siuman, Sam-ci akan segera mengompres keterangannya."
Diam-diam Coh Liu-hiang mengelus dada dan merasa lega, meski keadaan Oh Thi-hoa bertiga amat berbahaya, betapapun jiwa mereka belum ajal, asal belum mati, ada kesempatan untuk meloloskan diri.
Terdengar Kionglam Yan berkata lebih lanjut.
"Tapi Kiu-moay justru berpendapat kurang tepat jikalau suruh Sam-ci pergi mengompas keterangan mereka."
"Tidak tepat!"
Induk air Im Ki menegas.
"Dia berpendapat apa yang dikatakan ketiga orang itu memang tidak bohong, mereka kemari hendak mencari orang, karena memang benar disini pernah didatangi orang."
"O."
Induk air Im Ki hanya bersuara dalam mulut.
"Katanya tadi dia pernah melihat sesosok bayangan orang di depan kuil, tapi Sam-ci yang berjaga didalam kuil malah mengatakan tidak pernah ada orang di sana, maka dia kira di belakang persoalan ini pasti ada apa-apanya yang ganjil."
Im Ki hanya tertawa dingin sekali, tidak memberi tanggapan apa-apa.
Coh Liu-hiang semakin kuatir, jikalau Im Ki curiga Sam-ci itu ada sekongkol dengan pihak luar, keselamatan dirinya memang amat menguatirkan, betapapun Coh Liu-hiang tak tega bila orang sampai kerembet dan kena perkara gara-gara dirinya.
Sesaat kemudian baru Im Ki buka suara.
"Menurut pendapatmu siapa orang yang mereka cari?"
Kionglam Yan berpikir sebentar, sahutnya.
"Mereka sudah lama kelana di Kang-ouw, temannya tentu banyak, darimana aku bisa tahu siapa yang sedang mereka cari?"
"Kau tidak kenal Ui Loh-ce itu?"
"Bagaimana aku bisa kenal dia?"
"Tapi dia agaknya seperti sudah mengenalmu?"
"O?"
"Memangnya kau tidak tahu Ui Loh-ce adalah sahabat baiknya selama hidup, dialah sahabat satu-satunya."
Kionglam Yan menggigit bibir katanya tertawa-tawa dingin.
"Darimana aku bisa tahu, dia kan bukan kekasihku, memangnya dia mau memberitahu hal-hal ini kepadaku?"
Tiba-tiba Im Ki berjingkrak bangun seraya merenggut rambutnya, katanya dengan suara bengis.
"Aku tahu kau pasti mengelabui banyak urusan kepadaku, benar tidak?"
Dengan kencang Kionglam Yan gigit bibirnya tak bersuara.
"Kemarin malam setelah kau berhadapan sama dia, sebetulnya apakah yang terjadi? Kenapa sampai pagi hari kau baru pulang?"
Jari-jarinya bergerak-gerak rambut panjang Kionglam Yan dia gubat di atas tangannya, saking kesakitan hampir saja Kionglam Yan mengucurkan air mata, tapi ujung mulutnya malah mengulum senyuman manis katanya.
"Kau sedang cemburu agaknya!"
"Aku cemburu apa?"
Sentak Im Ki.
"Bukankah kau kuatir aku sudah mempunyai hubungan rahasia sama dia, oleh itulah kau mencemburui aku."
Im Ki tertawa, tawa yang kurang wajar, katanya.
"Dengan dia masakah kau punya hubungan apa?"
"Kenapa tidak bisa?"
Berkedip-kedip mata Kionglam Yan.
"Dia itu laki-laki, aku ini perempuan, kalau laki-laki berduaan dengan perempuan bukankah suatu kejadian biasa akan berlangsung?"
Tangan Im Ki terasa mulai bergetar, rambut orang yang direnggutnya pelan-pelan dilepaskan, suaranya gemetar.
"Tapi kau pasti tidak akan melakukan hal itu, bukan?"
Kionglam Yan kipatkan rambutnya yang terurai ke depan mukanya, pelan-pelan dielusnya dengan kasih sayang, mulutnya menggumam.
"Dia memang seorang laki-laki yang amat aneh dan menyenangkan, tak heran bila kau tak pernah melupakan dia."
Lambat laun timbul warna merah pada raut mukanya, seolah ada aliran panas yang mulai timbul dari relung hatinya yang sangat dalam. Im Ki amat kaget, sambil mengawasi suaranya tergagap.
"Kau... apa benar kau..."
Kionglam Yan memicingkan mata seperti sedang menikmati sesuatu yang luar biasa, suaranya halus lembut dan mesra.
"Dan anehnya gerakan yang dia lakukan terhadapku ternyata sama dan tiada bedanya dengan gerakan yang kau lakukan terhadapku, dikala jari-jarinya mengelus dan meraba-raba badanku, semula kusangka adalah kau, tapi dia terang lebih..."
"Plak"
Tangan Im Ki tiba-tiba menggampar mukanya, serunya gusar.
"Ku larang kau mengoceh di hadapanku."
Dengan tangan mendekap pipi, Kionglam Yan tiba-tiba tertawa geli, katanya.
"Kau sedang cemburu, memang aku tahu kau sedang cemburu."
Tahu-tahu dia pentang kedua tangan memeluk leher Im Ki, dengan giginya dia lumat kuping Im Ki pelan-pelan, katanya lembut.
"Aku senang melihat kau cemburu, asal kaupun sudi cemburu terhadapku, umpama aku harus segera mati lantaran kau, akupun rak akan menyesal."
Im Ki duduk kaku mematung, kelopak matanya berkaca-kaca, mulutnya mengigau.
"Kenapa harus berbuat demikian? Kenapa?"
"Karena aku tak tahan lagi, aku sudah hampir gila kau buat, aku harus balas dendam."
"Balas dendam?"
"Setiap kali kau ajak aku bergaul, aku lantas berpikir, apakah lantaran aku mirip sama dia baru kau bersikap baik terhadapku? Setiap kali kau memelukku, aku lantas berpikir, apakah dia pernah menggunakan cara yang sama memelukmu, maka kaupun gunakan cara itu memelukku? Dikala memelukku, bukankah hatimu selalu memikirkan dia?"
"Kau... terlalu banyak yang kau pikirkan."
"Bukan saja aku harus menuntut balas bagi diriku sendiri, akupun harus menuntut balas bagi kau."
"Bagi aku ?"
Suara Im Ki kedengaran gemetar.
"Karena dia meninggalkan kau, tapi kau justru tak bisa melupakan dia, kau mencintainya, dia malah kemari hendak memeras dan mengancam kau, mendesakmu supaya kau membiarkan dia pergi..."
Im Ki tak bersuara lagi, namun air mata sudah berderai membasahi kedua pipi.
Sungguh mimpipun Coh Liu-hiang tak habis mengerti, Induk air Im Ki yang namanya disegani di Bulim ternyata juga terlibat dalam cinta asmara, malah menjadi korban cinta lagi, karena cinta sampai dia berjiwa eksentrik, lebih tak terduga lagi karena cinta itu pula sehingga jalan pikirannya tak normal.
Betapapun akhirnya Coh Liu-hiang sudah tahu dan dapat menyimpulkan apakah sebenarnya yang telah terjadi didalam Sin cui kiong yang oleh orang-orang luar dipandang tempat agung dan suci.
Memang Im Ki sendiri sebetulnya perempuan yang tidak normal, napsu birahinya terlalu berkobar dan suka bermain lesbian, dia membenci laki-laki, namun malah biarkan birahinya yang menyala nyala itu atas diri muridnya yang berjenis sama.
Oleh karena itu dia menerima banyak murid-murid perempuan yang cantik-cantik, malah dibangunnya pula jalan-jalan rahasia di bawah tanah yang semua bisa tembus ke dalam kamar murid muridnya.
Bahwa nyonya setengah tua atau bibi Soh Yong-yong itu pernah memberi peringatan kepadanya, waktu dia berkunjung kepada bibinya ini supaya jangan sembarang keluyuran, agaknya dia kuatir bila Induk air Im Ki sampai melihat wajah Soh Yong Yong yang cantik molek itu, mungkin timbul juga rasa cinta dengan nafsu birahi yang berkelebihan itu.
Memangnya kalau hal itu sampai terjadi sungguh merupakan bencana yang tak terperikan dan menakutkan.
Dulu waktu Hiong niocu masuk ke Sin cui-kiong, merekapun mempunyai hubungan yang gelap yang tak diketahui orang lain, diwaktu induk air Im Ki mengetahui bahwa Hiong niocu bahwasanya bukan perempuan tulen, namun hubungan mereka sudah berlarut mendalam, dan segalanya sudah terlambat.
Tapi hiong nicou mempunyai kelebihan yang luar biasa, bukan saja mempunyai sifat sifat dan polah genit sebagai perempuan, diapun punya watak keras sebagai laki-laki jantan, akhirnya Induk air sampai jatuh cinta kepadanya, malah belakangan dia sendiri tidak bisa membebaskan diri dari belenggu asmara yang tak normal dan hanya didasari nafsu belaka.
Maka, buah dari hasil hubungan gelap ini lahirlah SUn-ouw King.
Akan tetapi dasar manusia bergajul Hiong Niocu tak betah selalu rebah didalam pelukan Induk air Im Ki, lama kelamaan timbul rasa bosannya dan ingin sekali keluntungan di luar pula beroperasi sebagai Maling pemetik bunga yang durjana, maka dia berkukuh hendak tinggal pergi, sudah tentu Im Ki amat berat dan tidak mau ditinggal pergi, namun Hiong niocu justru mengancamnya hendak membeberkan hubungan rahasia ini kepadanya.
Sudah tentu Induk air malu bila orang lain tahu jikalau dirinya adalah perempuan aneh yang berjiwa eksentrik, terpaksa dia lepas orang pergi.
Malah selamanya melarang orang kembali ke tempat itu.
Akan tetapi dia toh tak bisa melupakan cintanya, karena orang yang mempunyai kombinasi dua jenis sifat yang berlawanan dari manusia seperti Hiong niocu tiada orang keduanya lagi di dunia ini.
Oleh sebab itu, maka Im Ki lantas penujui Kionglam Yang yang perawakan dan raut wajahnya hampir mirip dengan Hion Niocu, murid perempuan ini menjadi penghibur lara sebagai pengganti Hiong niocu, sekaligus untuk menambal kekosongan hatinya.
Dan lantaran hubungan gelap yang dilahirkan dari jiwa yang tak normal inilah, maka timbul pula berbagai kejadian aneh dan ganjil.
Sekarang terhitung Coh Liu-hiang sudah maklum dan bisa menyelami rahasia pribadi Induk air Im Ki.
Tapi pula manfaatnya bagi dirinya setelah dia tahu rahasia ini ?
apa pula yang bisa dilakukan ?
Yang jelas dirinya bukan Hiong-niocu dan tak bisa meniru perbuatan Hiong-niocu menggunakan rahasia untuk mengancam Im Ki, betapapun keadaannya tetap berbahaya.
Harapan hidup jiwanya mungkin hanya satu seper-seratus persen saja.
Dengan lidahnya pelan-pelan, Kionglam Yan menjilati air mata yang membasahi muka Im Ki, dengan dadanya yang montok kenyal untuk menggosok dada Im Ki yang tidak kalah montoknya, lambat laun tenggorokannya mengeluarkan rintihan halus serta dengan napas yang memburu.
Tapi Im Ki segera mendorongnya pergi, katanya.
"Aku ingin istirahat seorang diri supaya tenang, kau menyingkirlah."
Kionglam Yan menggigit bibir, katanya.
"aku... kau... tak mau..."
"Perasaan hatiku sekarang sedang tak karuan, apapun aku tidak inginkan."
Kionglam Yan menepekur sebentar, mendadak dia putar tubuh terus berlari kesana menerjunkan diri ke dalam empang itu.
Setelah air empang itu tenang kembali, tiba tiba Im Ki turun dari ranjang langsung menghampiri almari pakaiannya, agaknya dia hendak menanggalkan pakaian dan ganti pakaian untuk tidur.
Napas coh Liu-hiang seolah olah hampir berhenti.
Tapi setiba didepan almari Im Ki tidak segera membuka pintunya, sekian saat dia menjublek didepan almari, entah apa yang tengah dipikirkan, lama kemudian dia malah menutup rapat pintu lamari serta menguncinya dari luar.
Almari ini terbuat pula dari batu pualam yang tebal, siapapun yang terkurung didalamnya jangan harap bisa membobol dindingnya meloloskan diri, kontan hati Coh Liu-hiang seakan akan tenggelam ke dasar lautan.
Apakah Im Ki sudah tahu bahwa didalam almari pakaiannya ada sembunyi orang?
kenapa dia tak suruh dirinya keluar, toh malah dikuncinya dari luar.
* BERSAMBUNG
Jilid 42 *
Jilid 42 Untungnya bagian atas dari almari ini ada lubang-lubang bikinan yang mendekuk sehingga orang yang terkurung didalamnya tak sampai mati kehabisan napas, namun demikian hukuman yang lain dari lain ini sungguh tak enak rasanya.
Jikalau Im Ki tak mengambil pakaian, Coh Liu-hiang akan selamanya terkurung didalam almari bagai terkurung didalam penjara batu yang gelap, sebaliknya kalau Im Ki membuka almari mengambil pakaian, maka jejaknya bakal konangan.
Disaat Coh Liu-hiang kebingungan tiba-tiba didengarnya Im Ki berkata.
"Kalau toh aku sudah bersumpah takkan kembali ke Sin-cui-kiong, kenapa sekarang kau kemari lagi ? nada suaranya kedengaran penuh diresapi kebencian, semula Coh Liu-hiang melengak dan kaget, namun cepat sekali dia sudah maklum ternyata dia sangka yang terkunci didalam lemari ini adalah Hiong niocu. memang Im Ki tak tahu, yang terkunci dalam almari bukan Hiong-niocu karena dia berpendapat kecuali Hiang niocu, dalam dunia ini pasti takkan ada orang kedua yang mampu menyelundup masuk kedalam kamar tidurnya. Coh Liu-hiang sendiri tak tahu apa perlu dirinya memecahkan teka teki ini, maka dalam waktu dekat dia mandah tutup mulut saja.
"Ternyata kau sudah tahu"
Demikian Im Ki berkata lebih lanjut.
"Aku tak akan sudi melihatmu lagi."
Coh Liu-hiang membatin "Tak heran"
Begitu dia tahu dalam almari ada orang dia lantas menguncinya dari luar, kiranya karena dia sudah tidak mau berhadapan lagi dengan Hiong Niocu."
Im Ki berkata lebih lanjut.
"Tahukah kau kenapa aku suruh Kionglam Yan melihatmu, dia masih bocah kenapa kau harus menodai dia ? Memangnya kau hanya mencelakai dia ? Memangnya belum cukup kau menelantarkan dan membuat aku kapiran?"
Coh Liu-hiang tidak berani bicara, namun dia hanya menghela napas.
"Tak perlu kau menghela napas jangan pula bermain main mulut untuk menipuku selamanya aku takkan memaafkan kau, tentunya kau sendiripun maklum."
Sampai di sini tiba-tiba suaranya berubah beringas "Kalau kau sudah melanggar sumpahmu sendiri, berani datang kemari pula, maka akupun tidak perlu menghargai hubungan kita masa lalu."
Coh Liu-hiang sedang mengingat ingat suara dan nada bicara Hiong Niocu, akhirnya dia berkata meniru logat orang.
"Kau ingin aku mati didalam sini?"
Dia tahu tiruannya belum tentu mirip, tapi Im Ki sudah beberapa tahun tak bertemu dengan Hiong-nicou suara bicara orang kadang kala bisa berubah mengikuti tumbuhnya usia seseorang.
Maka ia mengharapkan Im Ki tak bisa membedakan akan tiruan suaranya.
Benar juga Im Ki seperti tidak memperhatikan, katanya dengan tertawa dinging.
"Memangnya kau kira aku akan melepasmu pergi begitu saja seperti dulu itu ?"
"Tapi... tapi tentunya kau masih sudi memberi kesempatan supaya aku dapat melihatmu untuk penghabisan kali."
Im Ki menepekur lama, katanya kemudian.
"Kenapa kau masih ingin melihatku ?"
"Karena aku ..."
"tak usah kau omong lagi."
Damprat Im Ki bengis "Apapun yang kau katakan aku takkan percaya."
"apakah kau tahu setelah berhadapan dengan aku, maka kau takkan tega membunuhku ?"
Setiap patah kata yang diucapkan telah dia pertimbangkan lebih dulu, tak berani dia mengucapkan sepatah katapun yang keliru.
tahu untuk memancing keinginan Im Ki untuk melihat dirinya, Im Ki semakin tak mau menemuinya.
Betul juga Im Ki segera menjawab.
"Apapun yang kau katakan, aku sudah berjanji takkan mau menemuimu."
"Paling tidak kau memberitahu kepadaku. cara bagaimana kematian anak King."
Kembali Im Ki termenung agak lama, sahutnya rawan.
"Selama ini dia tetap tak tahu bila aku ini adalah ibu kandungnya."
"Sudah tentu kau takkan membeber rahasia ini karena kau adalah perempuan suci, perempuan suci mana bisa punya anak ? Sebaliknya demi menepati sumpahku dulu, terpaksa aku ngapusi dia katakan bahwa ibunya sudah lama meninggal."
"Justru karena sikap kita terlalu berkelebihan terhadapnya, mungkin dia mengira ibunya terbunuh oleh aku, maka dia berusaha untuk menuntut balas."
"anak yang harus dikasihani, memangnya tidak tahu bahwa selamanya dia tidak akan punya kesempatan ?"
"Maka dia harus mencari kesempatan"
Ujar Im Ki.
"Sampai Bu Hoa si padri laknat itu kemari, dia tahu Bu Hoa adalah murid siaulim yang punya kepandaian tinggi, pergaulannya di dunia persilatanpun amat luas, maka dia ingin pinjam kekuatan Bu Hoa untuk menghadapi aku, maka tanpa segan-segan dengan kebenciannya dia telah menjual diri kepada Bu Hoa."
Baru sekarang Coh Liu-hiang paham seluruhnya.
Memangnya dia sedang heran, Sutow King paling-paling adalah gadis yang masih hijau, meski sudah menanjak dewasa dan mekar asmaranya, belum tentu sampai secabul itu, dengan suka rela dia memasrahkan nasib dirinya menyerahkan kesuciannya ke dalam pelukan Bu Hoa si gundul itu.
Baru sekarang Coh Liu-hiang tahu ternyata Sutouw King rela menyerahkan kesuciannya kepada Bu Hoa, memang mempunyai maksud tertentu, jadi keduanya memang sedang memperalat diri masing-masing untuk keuntungan sendiri, keduanya tak mempunyai maksud yang baik.
Berkata Im Ki pula.
"Siapa nyana Bu Hoa ternyata hendak memperalat dia untuk mencuri Thian-it-sin-cui, setelah berhasil lantas meninggalkan dia begitu saja, waktu dia sudah bunting, takut aku akan menghukumnya dengan tata tertib perguruan, akhirnya dia nekat bunuh diri."
Sampai di sini suaranya sudah sesenggukan katanya lebih lanjut lebih pedih.
"Dia justru tak tahu apapun yang telah terjadi, aku tak akan membunuhnya, sampai menjelang ajalnya dia... dia masih belum tahu bahwa aku adalah ibu kandungnya sendiri. Tragedi yang menyedihkan dalam Sin-cui-kiong dan tak diketahui orang luar ini, sampai sekarang terhitung sudah terbeber dengan jelas dan gamblang. Coh Liu-hiang menghela napas katanya.
"Kalau demikian, jadi kau sejak mula sudah tahu akan latar belakang kejadian ini."
"Sudah tentu aku tahu."
"Lalu kenapa kau harus mencurigai orang lain yang mencuri Thian-it-sin-cui?"
"Bahwasanya aku tak pernah mencurigai orang lain, cuma rahasia dari kejadian ini sendiri sekali kali pantang diketahui orang luar, maka terpaksa aku harus mencari orang lain untuk kujadikan kambing hitam"
"Lalu siapa yang kau cari?"
Sengaja Coh liu-hiang ujar bertanya. Im Ki menjawab.
"Coh Liu-hiang!"
"Memang tepat orang yang kau cari."
Coh Liu-hiang tertawa getir.
"memangnya hanya dia satu satunya pilihan, karena hanya orang seperti dia yang mampu melakukan hal itu, kalau aku mencari orang lain, orang orang Kangouw mana mau percaya. Nadanya kedengarannya tak merasa menyesal malah anggap tindakannya itu cukup memuaskan hatinya. Tak tertahan Coh Liu-hiang bertanya.
"Demi mempertahankan gengsi dan kesucian Sin-cui kiong tanpa segan-segan kau menjadikan orang lain sebagai korbannya?"
"Demi gengsi dan kesucian nama Sin-cui-kiong, perbuatan apapun tak segan segannya kulakukan! Tiba-tiba suaranya yang beringas merandek dan berubah pilu dan menghela napas;
"Apa lagi kecuali kau laki laki lain didalam pandanganku tak ubahnya seperti anjing buduk, jangan katakan hanya satu Coh Liu-hiang yang menjadi korban, umpama seratus atau seribu apa pula halangannya ?"
Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.
"Kalau begitu jadi bukan lantaran dia ingatkan janji maka kau ingin membunuhnya ?"
"benar ia tak datang terang akan mati, apalagi kalau kemari jiwanya takkan terampunkan lagi."
Lama Coh Liu-hiang menerawang tiba-tiba dia bertanya.
"Kau masih ingat seorang gadis yang bernama Liu Bu bi?"
"sudah tentu aku masih ingat, dia murid Ciok-koan-im."
Suaranya tiba-tiba beringas seperti memburu.
"Cara bagaimana kau bisa kenal dia ?"
Coh Liu-hiang tertawa.
"tak usah kau merasa cemburu, aku sih tak kenal dia, soalnya belakangan ini dia telah melakukan suatu peristiwa besar yang menggemparkan dunia, karena peristiwa itulah aku mendengar namanya."
"Peristiwa yang menggemparkan ? Peristiwa apa ?"
Im Ki menegas "Karena dia minta kau memunahkan racun dalam badannya, maka dia membunuh Coh Liu-hiang."
"memunahkan racun di badannya? Dai terkena racun apa ?"
"Memangnya kau tidak tahu ?"
Coh Liu-hiang melengak.
"Yang terang aku tahu dia tidak terkena racun apa apa !"
Kini Coh Liu-hiang betul-betul menjublek.
Kiranya semua ini hanya merupakan tipu muslihat Liu Bu-bi sendiri, supaya dirinya kemari masuk perangkap, ternyata terkaannya memang tidak melesat, Liu Bu bi memang murid Ciok Koan-im yan diutus ke Tionggoan untuk menjadi mata matanya, saking naik pitam serasa hampir meledak dan tumpah darah dibuatnya, semula dia terlalu yakin akan diri sendiri selama hidup ini takkan pernah tertipu oleh perempuan, sungguh tidak nyana kali ini dirinya benar benar menjadi korban secara konyol malah.
Tiba tiba Im Ki berkata pula.
"Tahukah kau cara bagaimana aku hendak menghadapimu ?"
Coh Liu-hiang tertawa getir, sahutnya "Semoga saja kau tidak tenggelamkan almari in di dasar danau."
"Kau memang orang yang cerdik, sayang sekali orang pinter sering kebelinger oleh kepintarannya sendiri sehingga melakukan perbuatan yang paling bodoh."
"Memangnya kau benar-benar sudah bertekad tidak mau melihatku lagi untuk penghabisan kali ?"
Lama Im Ki termenung lagi, akhirnya dia tertawa dingin, jengeknya.
"Coh Liu-hiang tak perlu kau main-main lagi, setelah kau tahu semua rahasiaku, coba pikir apakah aku bisa melepasmu pulang dengan jiwa masih hidup ?"
Sekujur badan Coh Liu-hiang seketika menjadi dingin, perutnya terasa kecut, katanya menghela napas.
"Ternyata kau sudah tahu."
Sebetulnya kau memang sudah menipu aku, tapi tidak seharusnya kau katakan bahwa Coh Liu-hiang sudah dibuat mati oleh Liu Bu-bi sudah membunuh Coh Liu-hiang, meski tak dengan tangannya sendiri, hal ini takkan berarti dia siarkan sampai diketahui orang luar.
Coh Liu-hiang memang bukan orang baik-baik tapi temannya banyak, memangnya Liu Bu bi tak takut teman temannya itu menuntut balas kepadanya?"
"Memangnya aku selalu rendah menilai dirimu, kau jauh lebih cerdik dan pintar dari apa yang pernah kubayangkan.
"Tapi sebaliknya tak menilaimu terlalu rendah, memangnya aku tahu hanya mengandalkan kekuatan Liu Bu-bi takkan mampu membunuh kau."
Coh Liu-hiang tiba tiba tertawa besar.
"Tak heran kau tak berani melepas aku keluar untuk bertanding sampai mati."
"Tak perlu kau membakar kemarahanku, untuk membunuh kau segampang aku membalik tangan, tapi buat apa aku harus mengotori tanganku."
"Tapi jikalau kau tidak melepaskan aku keluar ada sebuah urusan selama hidup takkan bisa kau ketahui lagi."
"Urusan apa ?"
Tak tertahan Im Ki bertanya, agaknya dia ketarik.
"Kalau Hiong niocu tidak berasa didalam almari ini, lalu dimanakah dia ? Kecuali aku tiada orang lain tahu akan rahasia ini."
Kedengarannya dia berkata acuh tak acuh, seperti adem-ayem, sebetulnya kedua telapak tangannya sudah berkeringat dingin.
Memangnya hanya hal inilah satu satunya kesempatannya terakhir, dia mengharap seperti pula perempuan lain Im Ki sama menaruh rasa ketarik dan ingin tahu, maka orang akan memaksa dirinya mengatakan rahasia itu.
Asal Im Ki mau melepas dirinya keluar paling tidak dia masih mempunyai setitik harapan, kalau tidak dia bakal terkurung mampus didalam almari ini, selamanya takkan bisa melihat cahaya matahari lagi.
Tak nyana bukan saja Im Ki tidak bertanya, malah mulutnya terkancing rapat, sesaat kemudian didengarnya suara alat rahasia berbunyi, agaknya Im Ki sedang membuka salah satu pintu rahasia, disusul terdengar suaranya yang kereng berkata.
"Lekas gotong keluar almari itu, tenggelamkan ke dasar danau."
Sungguh sebuah perintah yang aneh.
"Kenapa dia menenggelamkan almari pakaiannya sendiri ke dasar danau?"
Meski curiga murid muridnya tiada yang berani tanya. Cepat Im Ki mendebarkan.
"Suara apapun yang terdengar dari dalam almari, kalian boleh anggap tidak mendengar, tahu tidak?"
Murid muridnya sama mengiakan saja.
Coh Liu-hiang terpaksa tutup mulut dan tak mau bicara lagi.
Karena diapun tahu perintah induk air harus diperhatikan dan segera dilaksanakan, apapun yang dia katakan, memprotes atau mencak-mencakpun tak berguna.
Dia hanya menyesali nasibnya sendiri yang kurang mujur hari ini.
Perempuan yang tak punya daya tarik atau tak mau mengetahui sesuatu dalam dunia ini jarang ada, ada kalanya seorang lelaki umpama menghabiskan masa hidupnya juga sukar menemukan perempuan macam itu, namun hari ini Coh Liu-hiang justru menemukan.
Almari sudah digotong secara gotong royong oleh murid-murid induk air.
Tak lama kemudian air mulai merembes masuk ke dalam almari, lambat laun seluruh badan Coh Liu-hiangpun sudah terendam didalam air.
tapi kali ini air tak membawakan rasa segar dan nyaman bagi dia, karena dia sudah insaf tak makan waktu terlalu lama, air ini bakal menamatkan riwayatnya, kulit dagingnya akan membusuk dan tulang tulangnya akan keropos dimakan kutu air.
Sejak saat ini Coh Liu-hiang yang terkenal itu bakal lenyap dari percaturan dunia persilatan tenggelam didalam air danau bening ini.
Tak tertahan dia berkeluh kesah dalam hati.
"Saudara air, saudara air, selamanya tak pernah aku berbuat sesuatu yang mengecewakan kau, tapi kenapa hari ini kau hendak menyalahi diriku ?"
Sampai detik ini selamanya belum pernah dia meresapi apa itu yang di katakan kecewa dan putus asa.
Nah pada detik-detik menjelang ajalnyapun baru dia benar-benar maklum.
Tekanan air dalam almari semakin besar dan berat, walau sekelilingnya serba gelap apapun tak terlihat olehnya, namun dia merasakan bahwa almari ini sudah hampir tenggelam ke dasar dan berada ditengah tengah danau, namun entah mengapa, tekanan air terasa mulai enteng dan berkurang, disusul air mulai mengalir keluar pula dari dalam almari, ternyata almari ini tergotong pula ke dalam kamar tidur induk air.
Terdengar suara Induk air memerintahkan murid muridnya.
"Letakkan saja di sini, kalian keluar semua"
"Blang"
Almari batu tadi itu kembali menyentuh lantai, kontan badan Coh Liu-hiang bergetar dan tergoncang keras, namun lekas sekali sudah tenang dan kokoh baru pertama kali ini pula betapa senang hati seseorang bila kaki menyentuh bumi kembali.
Setelah murid murid Sin Cui-kiong mengundurkan diri, suasana hening lelap, lama kelamaan terdengar olehnya deru napas Induk air yang semakin memburu seperti gelisah, terang orang sudah tak dapat mengendalikan emosinya lagi.
Coh Liu-hiang tertawa katanya keras.
"Memangnya aku tahu kau pasti akan merubah niatmu, jikalau aku terbenam mampus, selamanya kau tak akan tahu dimana sebenarnya Hiong niocu sekarang berada ?"
Tak tahan Im Ki bertanya.
"Dimana dia ?"
"Mungkin sudah mati, atau masih hidup, mungkin jauh di ujung langit, kemungkinan dekat matamu, jikalau kau ingin aku memberitahu kepadamu, hanya ada satu cara saja."
"Agaknya kau ingin supaya aku membebaskan kau ?"
"Meski aku ini bukan orang dagang, tapi aku toh tahu untuk berdagang harus adil walau berita ini amat tinggi nilainya, tapi cukup setimpal untuk menebus jiwa seorang Coh Liu-hiang sekali kali aku tidak akan menawarkan harga terlalu tinggi, supaya pembelinya tak usah tawar menawar."
"Kalau kau sudah paham, apa pula yang kau inginkan ?"
"Aku hanya ingin kau bebaskan aku, marilah beri kesempatan untuk bertanding secara terbuka dan adil."
"Kalau demikian jiwamu pasti melayang."
"Kau kira aku takut mati? Aku cuma merasa kematian seperti caraku hari ini, sungguh keterlaluan dan penasaran, hidupku riang gembira, maka akupun ingin mati dengan suka rela dengan hati lapang."
Lama Im Ki bungkam, Coh Liu-hiang menunggu jawabannya.
"Tapi jikalau kau memang tidak berani bertanding dengan aku, akupun tidak memaksa, jikalau aku jadi kau, mungkin akupun tidak akan membebaskan Coh Liu-hiang begitu saja. Im Ki tetap tidak bersuara, tapi dari luar almari terdengar suara "klik"
Yang lirih, lalu disusul dengan suara Im Ki berkata dengan nada dingin.
"Almari sudah kubuka, silahkan keluar, tapi kau harus ingin betul-betul, setelah kau keluar, bukan saja kematianmu bakal lebih cepat, malah kematianmu teramat mengerikan."
Coh Liu-hiang menghirup napas panjang mulutnya menggumam.
"Terima kasih kepada langit dan bumi, berapapun kau ini adalah perempuan juga, belum sampai tidak punya sedikit pun daya tarik terhadap sesuatu yang ingin kau ketahui, jikalau seorang perempuan tidak lagi mau tahu dimana jejak kekasihnya, mungkin dunia ini bakal selalu geger."
"sebetulnya dia sudah mati atau masih hidup? Dimana dia sekarang?"
"Kau mengharap supaya dia sudah meninggal? Atau masih berdoa supaya dia masih tetap hidup"
"Kau..."
Sembari bicara pelan-pelan dia mendorong pintu almari terus melangkah keluar.
Bicara sampai detik itu mendadak mulutnya merandek dan menjublek di tempatnya, karena dilihatnya Im Ki yang berdiri dihadapannya sekarang ternyata sudah tidak mirip dengan induk air Im Ki yang pernah dilihatnya tadi.
Induk air Im Ki yang dilihatnya tadi adalah Sin Cui Kiong-cu yang menggetarkan bulim, setiap gerak geriknya yang dan polahnya mengandung kewibawaan dan keyakinan yang besar dan tepat, sehingga orang yang berhadapan dengannya tak berani kurang ajar atau bertingkah laku kurang hormat."
Tapi Im Ki yang dihadapinya ini adalah perempuan lazimnya yang sering dia lihat di dunia ramai, pada sepasang matanya yang bening terang kini sudah diliputi rasa bingung dan kalut, wajahnya yang semula berwibawa dan angker tenang itu kini berubah gugup gelisah, haru dan terlalu emosi, pakaiannya yang inipun sudah kucal, sampaipun kedua jari jari tangannyapun sudah mulai gemetar.
Sungguh mimpipun Coh Liu-hiang tak pernah menduga seseorang bisa mengalami perubahan lahiriah dan batiniah secepat itu dalam waktu sependek ini, Sin-cui-kiong cu yang menggetarkan sanubari setiap insan persilatan sekonyong-konyong menjadi perempuan awam yang tak ubahnya dengan perempuan kebanyakan perempuan.
Perubahan ini sungguh luar biasa, susah dibayangkan oleh siapapun, didalam waktu sesingkat ini tekanan derita dan siksaan batin yang dialami mungkin takkan bisa dialami dan dapat dibayangkan oleh orang lain.
Coh Liu-hiang menjadi tak tega, katanya setelah menghela napas.
"Sungguh tak nyana cintamu terhadapnya ternyata sedemikian besar sedalam lautan setinggi gunung, jikalau dia bisa tahu sejak sebelum peristiwa ini terjadi, segala kejadianpun takkan berubah begitu cepat, sayang sekali selamanya dia takkan bisa mengetahui lagi."
Dengan kencang Im Ki merenggut dan menggenggam kedua tangannya kencang-kencang, suaranya serak gemetar.
"Dia.. dia selamanya sudah..."
"Jikalau dia masih tahu dalam dunia ini masih ada orang yang mencintainya ke pati-pati, mungkin sekarang belum lagi ajal jiwanya, namun demikian, seorang laki-laki bisa-bisa mendapat kecintaan seperti dirimu kukira diapun takkan mati penasaran, semoga tentramlah arwahnya dialam baka. Bergetar sekujur badan Im Ki, tiba-tiba dia tertawa dingin, katanya.
"Apakah kau hendak membuat kalut pikiran dan gundah hatiku dengan cerita obrolanmu ini, sehingga aku tak kuasa bergebrak dengan kau ?"
"Sebetulnya aku memang punya maksud demikian, apa boleh buat selamanya aku ini tidak tega menipu perempuan yang sedang dirundung kesedihan"
"Apakah kau yang membunuhnya? bentak Im Ki beringasan.
"Siapakah sebetulnya yang membunuhnya ? Apa sampai sekarang kau masih belum mengerti ?"
Kembali badan Im Ki bergetar, seolah-olah berdiripun tak kuat lagi. Didalam sekejap ini seakan akan dia bertambah tua puluhan tahun katanya seorang diri dengan suara pilu.
"Anak bodoh kenapa kau harus berbuat demikian ? "Kenapa dia harus berbuat demikian tentunya kaupun sudah maklum"
Tangan Im Ki bergetar, tangannya menggepar-gepar seperti hendak mencari sesuatu benda untuk mempertahankan dirinya kecuali cinta atau asmara, pukulan batin apa pula yang kuasa membuat sanubarinya serasa dilukai sampai parah dan tak tertolong lagi ?
Pengalaman yang tragis ini memang patut dikasihani, tapi permainan perasaan cinta seperti yang dilakukan sungguh terlalu brutal.
Coh Liu-hiang sendiri bingung dan tak tahu apa sebenarnya dia ini pantas dikasihani?
Atau harus dibenci?
Mungkin pula menggelikan?
Kata Coh Liu-hiang menghela napas.
"Sebetulnya aku tak ingin membuat kalut pikiranmu tapi, sekarang kau memang tidak leluasa dan bukan saatnya untuk bergebrak dengan orang, aku sendiripun tidak sudi menarik keuntungan disaat orang mengalami kesulitan."
Tiba tiba setegak tombak kayu badan Im Ki yang gemetar sudah berdiri lagi, katanya dingin.
"Membunuh orang tidak perlu harus menunggu bila hati merasa senang atau tentram, silahkan kau turun tangan lebih dulu."
"Apa benar kau sekarang mampu bergebrak?"
"Tak kau kuatirkan diriku, lebih kalau kau pikirkan nasibmu sendiri, Asal kau mampu melawan sepuluh jurus seranganku, tidak sia sia kau sebesar ini kau mempelajari ilmu silat dari Ya-te."
"agaknya kau memang terlalu congkak dan takabur."
Ujar Coh Liu-hiang tertawa.
Lenyap suaranya laksana kilat tiba-tiba badannya menubruk ke arah Im Ki.
Soalnya dia maklum jalan satu satunya untuk merobohkan lawan tangguh ini, hanya menggunakan "Kecepatan"
Untuk menyergapnya. Oleh karena itu sedapat mungkin dia bergerak dengan menggunakan "cepat"
Asal sejurus dia kuasai memegang inisiatif penyerangan, kemungkinan dia punya harapan untuk menang dalam pertarungan jiwa ini.
Memang kecepatan gerak serangan Coh Liu-hiang tak bisa dilukiskan, lebih cepat dari angin puyuh, lebih hebat dan dahsyat dari sambaran kilat.
Siapa nyana baru saja dia bergerak, telapak tangan Im Ki berbareng bergerak, kontan dia rasakan adanya selapis tembok tak kelihatan dari tenaga dalam dari ayunan tangan orang membendung dirinya, lebih celaka lagi karena kekuatan bendungan ini laksana gelombang ombak samudra yang bergulung tak putus-putus.
Jangan kata Coh Liu-hiang, hakekatnya tak berhasil merebut kesempatan bahwasanya dia pun tak berhasil mendekati lawan.
Semula dia mengira Induk air tak ubahnya dengan Ciok Koan im, ilmu silat orang mengutamakan permainan aneh dengan gerakan ajaib seperti orang main sulapan dengan jurus jurusnya yang lincah itu, maka dia sangka mungkin dirinya masih kuasa menghadapi segala perubahan itu dengan kecerdikan otaknya untuk mengatasi dan mendahului lawan.
Begitulah pertempurannya dengan Ciok koan im dulu.
Di luar tahunya ilmu silat pelajaran Induk air Im Ki justru jauh berlainan golongan dari aliran silat di dunia ini, ternyata ilmu silat Induk air sama dengan julukan ini dapat dari gemblengan dari dalam air pula.
Demikian pula kekuatannya seperti juga dengan air, meski kelihatannya halus dan tenang bahwasanya justru kuat atau melentur tak kenal putus, tiada barang yang kuat membendungnya kalau setitik air dapat melobangi batu maka air bah setidaknya bisa membikin gunung obol dan berubah bentuk, kontan hanyut tersapu bersih sejak dahulu kala, tiada sesuatu benda di alam dunia ini yang kuasa melawan kekuatan air.
Baru sekarang Coh Liu-hiang yang bisa tidur didalam air ini menyadari benar bahwa airlah kenyataan yang paling menakutkan di dalam jagat ini.
Air yang tak kenal kasihan.
Tapi cara turun tangan induk air justru lebih tidak kenal kasihan lagi, tidak kelihatan gayanya berubah, pukulan telapak tangan yang dahsyat laksana amukan ombak samudra tahu-tahu sudah menindih tiba sehingga Coh Liu-hiang merasa sesak napas dan tak kuat bernapas lagi.
Beruntun mengandal kegesitan dan kelincahan badannya dia sudah merubah berapa kali gerak perubahan, tapi setiap kali Induk air mengayun sebelah tangannya, seluruh serangannya lantas kandas ditengah jalan, bahwa serangan sehebat dan selihay itu sedikitpun tidak menimbulkan suatu tekanan sekecil mungkin bagi Im Ki.
Akhirnya Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Tak heran orang-orang Kangouw sama takut kepadamu, karena siapapun yang bergebrak dengan kau, memang tiada harapan mereka bisa mengalahkan kau."
Mulut bicara sementara gerakannya kembali berubah tujuh delapan jurus pula.
Walau dia insyaf perduli serangan jurus apapun yang dia lancarkan hanyalah sia sia belaka, tapi gerak serangan secepat kilat itu masih terus berlangsung dan tetap berubah tak kunjung padam, soalnya begitu gerakannya sedikit lamban atau berhenti, mungkin badannya bisa tergencet menjadi dendeng oleh tekanan kekuatan yang hebat itu.
Terdengar Induk air berkata dingin.
"Aku sudah mengalah empat puluh tujuh jurus kepadamu apa kau sudah merasa cukup?"
"Cukup, cukup, lebih dari cukup, silahkan kau membalas!"
"Berapa jurus kau mampu melawan seranganku ?"
"Kukira sukar ditentukan, mungkin sejuruspun tak kuat melawan, namun mungkin pula aku mampu melayani tujuh ratus jurus."
"Dengan bekal kepandaianmu sekarang. bila kau mampu melawan tujuh delapan jurus kupersilahkan kau pergi."
"Kau tidak akan menyesal?"
"Bocah sombong"
Hardik Induk air murka.
"Coba dulu kau sambut sejurus seranganku ini."
Ditengah bentakannya, tahu tahu serangannya sudah bergerak menyongsong dengan tepukan ke muka Coh Liu-hiang.
Letak kelihaian dari pukulan telapak tangannya ini, yaitu bukan saja lawan tak mampu menangkis, tidak bisa berkelit atau mundur, seumpama seseorang yang sudah kecemplung didalam air bah, kau hanya sekuatnya meronta dan berenang menanjak keatas, mungkin kau masih mempunyai setitik harapan, sebaliknya jikalau kau ingin mundur untuk ganti napas, maka kau akan hancur terbawa oleh air bah, mati tanpa bisa terkubur secara layak.
Coh Liu-hiang ahli berenang dan tahu akan sifat air, sudah tentu dia cukup maklum akan pengertian teori ini.
Akan tetapi begitu Induk air tepukan telapak tangannya, dia toh tetap mundur ke belakang.
Kelihatannya sudah dia sudah kecewa, dan putus harapan, maka dia tak berusaha untuk melawan, tiada keberanian untuk meronta dan berjuang ditengah gelombang air bah untuk menyelamatkan diri didalam keadaan yang gawat ini, terpaksa dia pasrah nasib dan menunggu ajal saja untuk mengurangi derita.
Kontan seperti layang-layang putus benangnya badan Coh Liu-haing lantas terpentang sungsang sumbel terhanyut oleh kekuatan angin pukulan Induk air.
Agaknya Induk air sendiripun melengak merasa di luar dugaannya.
Bagi tokoh silat yang latihan ilmunya sudah setaraf kepandaiannya sekarang mirip juga dengan ahli catur yang sedang main asal lawan bergerak satu langkah, dia lantas sudah dapat memperhitungkan tujuh delapan langkah susulan selanjutnya.
Begitu Coh Liu-hiang turun tangan, Induk air lantas dapat mengukur dan paham sampai dimana taraf kepandaian ilmu silat Coh Liu-hiang seperti dia paham menghitung jari jarinya sendiri.
Menurut perhitungannya paling Coh Liu-hiang hanya mampu melawan tujuh jurus, siapa kira baru jurus pertama, Coh Liu-hiang sudah dipukulnya mencelat terbang, maka langkah-langkah susulan dari serangan simpanan yang sudah dia siapkan jadi sukar dia teruskan.
Bukan saja hal ini membuat dia merasa di luar dugaan, juga membuat dia terperanjat dan kecewa, sungguh dia tidak habis mengerti kenapa penilaian bisa meleset dan salah besar?
Namun meski mengelak dan jalan pikirannya sedikit terpencar, kekuatan pukulannya masih belum sirna juga, kalau orang lain begitu dirinya terbelenggu didalam kekuatan pukulan tangannya, jangan harap kau dapat meloloskan diri.
Cuma berapa tinggi ilmu Ginkang Coh Liu-hiang memang benar-benar tak pernah terpikir olehnya.
"Byuuur!"
Ternyata Coh Liu-hiang berhasil lolos dari belenggu kekuatan pukulannya dan menerjunkan diri ke dalam empang, selincah dan selicin ikan sekali berkelebat badannya lantas lenyap tak kelihatan lagi.
Im Ki tertawa dingin, sekali berkelebat sebat sekali diapun menyusul terjun ke dalam air.
Dilihatnya gerak gerik badan Coh Liu-hiang didalam air jauh lebih lincah dan cepat serta tangkas dari pada dia berada ditengah udara.
Tapi Im Ki sendiri juluki Induk air, betapa pandai dan ahlinya dalam berenang, sudah tentu jarang ada orang yang bisa menandinginya.
Apalagi diwaktu berenang atau bergerak didalam air, sekujur anggota badannya lantas ikut bergerak dan kerja sama secara sempurna.
Gerakan kedua kaki terutama yang paling penting, jikalau mengenakan sepatu, betapapun kau pandai berenang gerak kecepatanmu pasti terpengaruh.
Umpama di belakang ekor ikan kau tambah sirip lagi, maka ikan itu takkan berenang lebih cepat.
Begitulah keadaan Coh Liu-hiang, terasa olehnya sepasang sepatu di kakinya tiba-tiba menjadi berat seperti bandulan ribuan kati.
tapi dia tidak menjadi gugup atau keripuhan karena dia toh tahu dirinya takkan bisa melarikan diri.
Bahwasanya dia memang tidak ingin pergi, maksudnya hanya ingin perang tanding dengan Im Ki didalam air.
Di daratan jelas dia bukan tandingan Im Ki, tapi didalam air, walau kekuatan pukulan telapak tangan Im Ki masih kuasa dikembangkan betapapun jauh lebih berkurang dengan kekuatannya dibandingkan di daratan.
Memangnya hanya air dalam dunia ini yang mampu memunahkan kekuatan air itu pula.
Danau yang semula tenang itu, tiba-tiba beriak gelombang laksana kawah gunung yang mendidih seolah-olah dalam cuaca cerah matahari bersinar di pinggir laut tiba-tiba terbit angin badai, angin sedang mengamuk air lautan sedang murka.
Seperti pula di dasar danau itu tiba-tiba muncul dua naga raksasa dari jaman purba sedang bergelut mati matian, dua naga sedang berhantam, maka airpun bergolak dan berhantam pula.
Murid murid Sin Cui-kiong sama berlarian keluar menonton dengan kejut dan jantung berdebar debar, air danau yang biasanya tenang dan jernih memangnya merupakan danau suci dimata pandangan mereka, kenapa tiba tiba dapat berubah menjadi danau iblis.
Lama kelamaan air danau malah muncrat tinggi dan bergolak dengan dahsyatnya, di bawah tingkah sinar matahari yang baru terbit, kelihatannya reflek sinar matahari sehingga mata silau dan tak terlihat jelas apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam air.
Tampak air danau tiba-tiba tegak ke atas seperti dinding kaca itu cepat sekali sudah lenyap, permukaan air timbul gelembung-gelembung air besar seperti ada banyak siluman-siluman air sedang pesta pora menyalakan api iblis sehingga air danau mendidih dan bergolak.
Pemandangan yang aneh, hebat dan menakjubkan ini seolah olah terasa membawa bawa situasi yang tidak normal bagi pernapasan manusia, sehingga orang yang melihatnya bukan saja merasa berkunang kunang, bulu kudukpun merinding.
Murid-murid Sin cui kong kebanyakan sejak kecil sudah didik masuk oleh Induk air mereka tumbuh dewasa didalam suasana seperti yang telah digambarkan dimuka, sehingga dalam hati kecil masing-masing timbul rasa tinggi hati dan merasa harga diri mereka jauh lebih suci dan agung dari orang lain, seakan akan kehidupan mereka dalam Sin-cui-kiong mirip kehidupan dewata itu jauh sekali dibanding kehidupan masyarakat besar di dunia pada umumnya, maka tidaklah pantas bila merekapun mempunyai perasaan biasa seperti manusia umumnya, oleh karena itu meraka tak tahu apakah itu sebenarnya "cinta", Selamanya tak tahu pula apa pula yang diartikan "benci"
Terutama "Ketakutan"
Adalah merupakan suatu hal yang mereka rasa paling lucu dan menggelikan.
Akan tetapi hari ini mau tak mau timbul rasa kaget dan keheranan luar biasa yang tak mungkin mereka resapi sebelum ini, mereka merasa seakan akan bakal datang semua bencana yang takkan terlawan akan menerpa atas badan mereka.
Malah ada diantara yang menyangka dunia kehidupan mereka indah selama ini sudah runtuh dan porak poranda.
Kionglan Yan juga ikut memburu keluar matanya berkaca kaca berlinang ait mata, tapi melihat keadaan yang aneh dan luar biasa pada permukaan air danau yang bergolak itu, rasa pedih hanya seketika sirna diganti rasa kaget dan takut.
Melihat kedatangannya, serempak orang-orang yang lain sama merubung maju semua sama bertanya.
"Apa yang telah terjadi ?"
Walau hati Kionglam Yan seperti juga keadaan mereka, kaget dan heran tapi melihat kelakuan yang ketakutan dan tergopoh itu, terpaksa sedapat mungkin dia mengendalikan diri, maka dia lantas membujuk mereka malah.
"Tak menjadi soal, mungkin ada angin."
"tapi sekarang tiada angin!"
"Su cu,"
Ada orang yang meratap malah.
"lekas kau turun melihatnya, lebih baik kau pergi tanya kepada suhu."
"mana sam-ci?"
Tanya Kionglam Yan ragu-ragu. Seseorang segera menjawab.
"Samci dan Kin-moay mengompres keterangan ketiga tawanan itu"
Kionglam Yan menggigit bibir, akhirnya dia ambil putusan, selincah burung camar tiba-tiba badannya melejit ke pinggir danau, tapi belum lagi dia terjun ke air, tiba-tiba segulung gelombang ombak besar menerpa ke arahnya, Belum lagi dia sempat berdiri tegak, kontan dia terdorong mundur sempoyongan oleh gelombang ombak.
Sekian lamanya dia berdiri menjublek saking kaget, tiba-tiba dia putar badan lari masuk ke lotengnya sendiri, hanya dari tempat tinggalnya saja dari bagian luar yang bisa memasuki istana di bawah air.
Empat gadis yang bertugas didalam istana di bawah air sudah pucat pias ketakutan dari tadi, meski mereka tidak melihat bergolaknya permukaan air danau yang begitu hebat, tapi getaran air yang menerjang dinding gunung kedengarannya laksana gugur gunung, seolah-olah sampan kecil yang terkepung didalam gelombang pasang di lautan samudra raya, suara keras laksana gempa bumi yang dahsyat itu malah lebih menciutkan nyali orang lagi, sehingga terasa bumi seperti kiamat dan merekah.
Begitu berlari masuk Kionglam Yan lantas membentak dengan suara bengis.
"Dimana suhu?"
Gadis-gadis itu geleng-geleng kepala, sahutnya gemetar.
"Entah dimana"
"Sejak tadi kalian kan berada di sini, kenapa bisa tidak tahu ?"
"Semula beliau suruh kami gotong almari pakaian itu ke dasar danau, tapi tiba-tiba pula suruh mengembalikan ke tempat semula, terus suruh kami menyingkir keluar, waktu kami mendengar suara gaduh ini dan memburu kemari, beliau sudah tak kelihatan lagi bayangannya."
Kionglam Yan mengerut kening, setelah berpikir tiba-tiba dia bertanya.
"Apakah ada orang lain yang masuk kemari tadi ?"
"Ti... tiada"
Sahut salah seorang gadis.
Sebetulnya dialah salah satu gadis yang tertekuk oleh tutukan Coh Liu-hiang serta dikompes keterangannya itu, Hiat-to mereka adalah Im Ki sendiri yang membebaskan.
Dalam waktu dan situasi seperti ini mana dia berani banyak icara.
Setelah membanting banting kaki tanpa ragu Kionglam Yan segera terjun diri ke dalam air, suara yang kumandang di lorong bawah tanah semakin dahsyat, soalnya dinding kedua sampingnya menimbulkan gema suara yang mendengung dalam air.
Belum lagi Kionglam Yan keluar dari lorong didalam air itu, dari kejauhan sudah dilihatnya dua orang tengah bergelut laksana dua ekor naga ditengah danau, betapa cepat gerakan kedua orang didalam air itu jelas tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Luas danau ini ada puluhan tombak, kedua orang yang sedang berhantam ini seolah-olah sudah menduduki seluruh luas danau kecil ini, pertama kali Kionglam Yan melihat pertempuran mereka, keduanya masih berada di sebelah kanan, tapi kejap lain tahu-tahu sudah berada di danau sebelah kiri.
Lantaran gerakan mereka terlalu cepat, maka gerakan badan dan tipu tipu serangan mereka jadi tak begitu jelas dan seperti tak mengandung perubahan yang menakjubkan, gelombang pasang yang terjadi didalam danau bukan lantaran gerak perubahan silat, yang dilandasi kekuatan hawa murni, kebanyakan adalah karena kecepatan gerak badan mereka yang terjang sana terjang sini, semakin cepat tenaga pembawaan dari luncuran badan mereka semakin besar pula tenaganya.
Kalau mereka bertempur di atas daratan perbawa pertempuran ini tentu tak sedahsyat ini, karena orang yang menerjang air dan air menerjang air pula, setitik tenaga saling terjang menjadi puluhan tenaga demikian seterusnya dari kecil bertambah besar.
Dan lantaran air itu sendiri bergerak tak henti hentinya, maka gerakan badan mereka yang memang cepat menjadi didorong semakin cepat pula, pertempuran dalam keadaan seperti itu, bukan saja harus menggunakan setiap titik tenaganya sendiri, kaupun harus bisa memanfaatkan setiap tenaga gerakan air itu sendiri, ada saat orangnya terdampar oleh kekuatan gelombang air, sehingga permainan silat dengan tipu-tipunya yang lihay sudah tak bisa terkendali dan terkontrol pula.
Pertempuran dahsyat itu bukan saja merupakan pertempuran yang tiada taranya di seluruh jagat sungguh merupakan perkelahian yang menakjubkan setiap insan manusia yang bisa menyaksikannya, kecuali mereka yang mengalami sendiri pertempuran ini, siapapun takkan bisa meresapi kedahsyatan yang nyata.
Demikian keadaan Kionglam Yan, ia berdiri menjublak dalam air, air danau serasa menyumbat tenggorokannya, namun dia seperti tak merasakan sungguh tak pernah terbayang didalam benaknya tokoh siapa yang mampu bergebrak melawan Induk air Im ki, lebih tak nyana lagi setelah bertempur sekian lamanya, lawan masih belum kelihatan terdesak di bawah angin.
Didalam pusaran air yang begiru cepat hakekatnya ia sukar membedakan lagi wajah dan gerakan badan Coh Liu-hiang, cuma didalam matanya lapat-lapat sudah terbayangkan orang macam apa sebenarnya Coh Liu-hiang itu.
Maka terbayang olehnya senyuman gagah seorang laki-laki yang memabukkan kalbu, serta tingkah lakunya yang bermalas-malas itu.
"Coh Liu-hiang"
Pasti Coh Liu-hiang adanya.
"Kecuali Coh Liu-hiang tokoh macam apa lagi yang mampu bertanding dengan Induk air sampai demikian ? Sebetulnya tatkala itu keadaan Coh Liu-hiang sudah payah bukan malu dia sudah mengeluh dalam hati, kalau bukan karena bekal kecerdikannya dalam setiap menghadapi perubahan sehingga dengan sepenuh hati dia berhasil mempergunakan kekuatan pusaran air, mungkin sejak tadi dia sudah terkubur di dasar danau. Terasa tekanan yang harus dipikulnya semakin lama semakin berat, seluruh urat nadi dan jalan darah dalam tubuhnya seolah-olah hampir meledak, malah darah sudah mulai merembes dari kedua lubang hidungnya. Baru sekarang benar-benar dia sadari , bergebrak didalam air, sedikitpun dirinya tetap tak punya harapan untuk mencari jalan hidup. Memangnya ilmu pukulan Induk iar pasti gemblengan didalam air, kalau pukulan orang lain tidak bisa menunjukkan perbawanya didalam air, sebaliknya pukulannya paling hanya sedikit berkurang saja kekuatannya. Terasa olah Coh Liu-hiang air yang menghimpit dadanya di seluruh badannya semakin kencang dan rapat, menjadi keras dan kental seperti air darah, lambat laun gerak-geriknya menjadi lamban dan kaku semakin lama tak bisa bergerak dan bergeser. Posisinya sudah terdesak ke pinggir jurang kematian. Siapa tahu gerak gerik permainan silat Induk air Im Ki ternyata juga menjadi lamban serupa angkat tangan atau menggerakkan kaki lambat laun sudah menunjukkan tenaga tidak memadai keinginan hati pula. Sudah tentu girang Coh Liu-hiang bukan kepalang, memangnya dia tak habis mengerti karena Lwekang Induk air yang besar dan kuat serta semangatnya yang bergairah tadi bisa begitu cepat terkuras menjadi lemas, tapi cepat sekali diapun sudah paham akan duduk persoalannya. Bahwasanya Im Ki bukan kehabisan tenaga, tapi adalah patah semangatnya karena lambat laun kehabisan pernapasan.. Seperti diketahui Coh Liu-haing berhasil meyakinkan semacam pernapasan yang serba misterius dan tak mungkin dimengerti orang lain, di dalam air boleh dikata dia seperti pula berada di daratan, bebas dan aktif tapi orang lain justru tidak bisa memadai, keadaan dirinya ini. Apalagi didalam menghadapi suatu pertempuran dahsyat orang memerlukan pernapasan segar, memang di sini pula letak kunci kalah atau menang seseorang didalam menghadapi pertandingan sengit dan lama. Hawa yang bertahan didalam tubuh Induk air dengan cepatnya terkuras keluar, saat mana napasnya sudah hampir berhenti dan amat lemah, dalam badannya sudah terasakan lelah dan kecapaian yang tak bisa tertahankan lagi, malah serasa hampir pingsan dan kepala pun sudah pusing tujuh keliling. Coh Liu-hiang cukup tahu bila dia memberi kesempatan kepada orang untuk menongolkan kepalanya ke permukaan air menghirup napas, maka dirinya tentu akan kalah total, karena hawa atau pernapasan bisa berganti namun tenaga atau kekuatan tak mungkin dibangkitkan pula dengan adanya pergantian napas ini. Maka betapapun dia tidak akan membiarkan orang ganti napas. Tampak badan Induk air tiba-tiba terbalik, badan bagian atasnya celentang, punggung kakinya terjulur lempang didalam waktu yang amat singkat beruntun dia sudah melancarkan sembilan kali tendangan maut meski tendangan kakinya tak mengenai Coh Liu-hiang tapi hasilnya menimbulkan buih-buih air yang bergulung gulung disekitar badannya dan mumbul naik ke atas buih air semuanya mengandung kekuatan hawa murni yang hebat laksana pelor besi menerjang kepada Coh Liu-hiang. Untuk meluputkan diri dari serangan tendangan buih-buih air ini sebetulnya bukan soal sulit bagi Coh Liu-hiang, tapi bila dia mundur, badan Im Ki akan berkesempatan meminjam tenaga jejakkan kakinya didalam air untuk melesat naik menerjang ke permukaan air. Begitulah kenyataannya seperti pelor secara otomatis saja buih-buih air itu berbondong bondong menyerang ke depan sementara badannya laksana roket meluncur ke atas. Kelihatannya Coh Liu-hiang sudah tak kuasa merintangi aksi orang tapi dalam gugupnya tahu-tahu tanpa hiraukan segala akibatnya sebat sekali dia menubruk maju malah memeluk kencang kedua paha orang. Sudah tentu pimpinan Im Ki tidak pernah membayangkan Coh Liu-hiang bakal melakukan perbuatan yang rendah dan tidak tahu malu ini untuk menyerempet bahaya, didalam waktu sesaat karena kebingungan dia tak tahu cara bagaimana dia harus membebaskan diri, tahu-tahu badannya malah sudah terseret turun pula ke dasar danau. Saking gusar, kaget dan malunya, kontan telapak tangannya terayun menepuk ke batok kepala Coh Liu-hiang. Dengan kedua tangan memeluk kedua paha orang, bukan saja Coh Liu-hiang tidak bisa menangkis atau berkelit, diapun tak bisa melepaskan orang, karena begitu tangannya lepaskan pelukannya, maka kaki Im Ki akan menendang tepat di alat fitalnya. Jalan satu satunya dia hanya sundulkan kepalanya dengan sekuat tenaga ke perut Im Ki, sehingga badan orang tersunduk mundur bergerak ke belakang sudah tentu tepukan tangan pun tak mengenai sasaran. Permainan Coh Liu-hiang memang terlalu brutal, saking marah Im Ki rasakan sekujur badannya menjadi linu mengejang. Kecuali Hiong-niocu selama hidupnya boleh dikata belum pernah badannya dipeluk laki-laki lain, entah karena memang pernapasannya yang sudah sesak, badannya seketika menjadi lemah gemulai, sedikitpun tenaga tak mampu dikerahkan lagi. Sudah tentu Coh Liu-hiang sendiri maklum perbuatan yang dia lakukan sungguh amat memalukan, tapi bila seorang sedang meronta dalam bergelut dengan mara bahaya demi menyelamatkan jiwa, masakan dia harus pikirkan soal malu segala. Betapapun dengan badan Im Ki terjengkang ke belakang karena sundulan kepalanya tadi, segera dia menerjang naik ke atas kedua tangan orang dengan badannya dia dekap, sementara kedua kakinya memegang paha orang. Mirip dengan ikan gurita dengan kencang seluruh badan Im Ki dia belit kencang sampai tak kuasa meronta lagi. Dilihatnya kedua bole mata Im Ki sudah terbalik dan semakin memutih, buih-buih hawa mulai merembes keluar dari ujung mulutnya, tak berselang lama lagi orang pasti akan mampus kehabisan napas didalam air. Terang kemenangan bakal diperoleh pasti oleh Coh Liu-hiang, meski cara kemenangan yang ditempuhnya kali ini tak boleh dibanggakan, betapapun menang tetap menang, peduli kemenangan macam apapun, yang jelas jauh lebih baik dari pada menderita kalah. Tak Nyana pada saat itu pula, tiba-tiba rasakan adanya segulung kekuatan besar yang menerjang naik dari bawah badannya sehingga mereka berdua ke terjang mumbul ke atas. Kiranya tanpa disadari mereka berdua tepat danau persis diatas batu bundar dimana terdapat mulut semburan air besar itu. Kionglam Yan segera menekan tombol maka air mancur ditengah danau itu segera menyemprotkan tenaga semburan airnya ke atas. Kontan Coh Liu-hiang bersama Im Ki sudah keterjang naik mumbul ke permukaan air. Coh Liu-hiang tahu asal Im Ki diberi kesempatan menghirup hawa berganti napas, dia takkan kuat memiting dan menyekapnya lagi, tapi betapapun kedua kaki tangannya tak boleh lepas atau kendor pelukannya. Tiba-tiba pandangan matanya menjadi terang, ternyata mereka sudah mumbul ke permukaan air. * BERSAMBUNG
Jilid 43 *
Jilid 43 Coh Liu-hiang tidak lagi memikirkan segala sebab dan akibat, mendadak dia turunkan kepalanya ke dekat muka Im Ki, dengan mulutnya dia lumat bibir Im Ki, sementara dengan hidungnya dia sumbat pernapasan Im Ki pula.
Apapun yang bakal terjadi, sekali kali dia pantang memberi kesempatan kepada Im Ki untuk menghirup udara segar.
Murid-murid Sin cui kiong sebetulnya tersebar dimana-mana ada yang di bawah pohon, ada yang berjajar di pinggir danau, tapi sekarang tanpa mereka sadari mereka sudah kumpul bersama dalam satu kelompok.
Gadis-gadis remaja yang kesepian dan sebatang kara ini hanya merasa perlu bantuan orang bila mereka dijalari rasa kaget dan ketakutan, memang kumpul bersama bisa membuat orang-orang menjadi riang gembira.
Dan mungkin di situ pula kenapa kebanyakan manusia sama merasa hidupnya kurang menyenangkan.
Disaat mereka melihat gejolak air danau mulai mereda, tanpa disadari pula lambat laun mereka yang berduaan bersyukur bahwa mara bahaya yang mereka takutkan akhirnya sudah berlalu.
Siapa nyana pada saat itu pula air mancur ditengah danau tiba-tiba menyemprot pula.
Biasanya bila Induk air Im Ki mau unjukkan diri baru air mancur ini menyemprot keluar, sudah tentu tidak pernah terbayang oleh mereka bila di pucuk semburan air mancur itu kali ini sekaligus muncul bayangan dua orang.
Kecuali Induk air, ternyata masih ada lagi satu orang laki-laki.
Lebih aneh lagi karena lelaki itu sama berpelukan dan berciuman dengan Induk air, seolah-olah mereka sedang bermain mesra di atas ranjang.
Saking heran, takjub dan mengkirik seluruh murid-murid Sin cui kiong itu sama menjublek di tempatnya, umpama dunia kiamat, gunung gugur dan air laut tumpah, merekapun takkan terkejut seperti ini.
Induk air yang biasanya amat membenci laki-laki, dan sebagai perempuan suci dan agung yang tak boleh tersentuh oleh tangan lelaki siapapun, bagaimana mungkin bisa bermain cinta semesra itu dengan lelaki?
Siapa pula lelaki itu?
Mata mereka sama terbelalak.
Ciuman memang nikmat dan meninggalkan kesan mendalam, apalagi ciuman pertama.
Tapi berciuman di bawah sorot pandangan berpuluh puluh pasang mata, sungguh merupakan suatu hal yang risi dan tak enak dirasakan apalagi ciuman ini hakekatnya memang tidak mempunyai rasa nikmat, tak semanis madu.
Kalau tak mau dikatakan sebagai ciuman maut, ciuman kematian.
Ada semacam keindahan seni dalam suatu kekejaman, kekuatan kekejaman yang tak terasakan oleh rabaan tangan.
Jikalau kau sendiri tak mengalaminya siapapun takkan bisa meresapi betapa derita serta berat siksaan kalbu ini, tapi umpama selaksa manusia siapa pula yang pernah mengalami hal demikian?
Memangnya demi meronta dari renggutan elmaut dan untuk menyelamatkan jiwa baru terpaksa Coh Liu-hiang melakukan perbuatannya itu, tapi saat mana entah mengapa, dalam kalbunya yang paling dalam tiba-tiba timbul suatu perasaan aneh yang tak mungkin bisa dia lukiskan dengan kata-kata.
Semburan air yang mengenai badannya laksana semprotan bara.
Sebaliknya badan Im Ki benar-benar sudah lemas lunglai.
Selama raut mukanya sudah jengah dan merah padam, kini lambat laun berubah menjadi pucat.
Coh Liu-hiang tak berani pejamkan mata, setiap gerakan kulit daging dimuka Im Ki menjadi perhatian yang serius bagi Coh Liu-hiang.
Setiap detak jantungnya dapat terdengar pula oleh Coh Liu-hiang dengan jelas.
Terasa oleh Coh Liu-hiang bahwa Im Ki memang seorang perempuan yang punya keyakinan maupun bisa mengendalikan diri sendiri.
Tapi sekarang dia dan dia berjarak begitu dekat, sekonyong-konyong terasakan olehnya perempuan dalam pelukannya ini berubah menjadi begitu lembut dan harus dikasihani, tak ubahnya dengan perempuan awam umumnya.
Betapapun agung dan suci perempuan itu, bila berada didalam pelukan laki-laki maka dia akan menjadi kerdil dan tak berarti lagi.
Baca Juga: Legenda Kelelawar Khu Lung
Baca Juga: Maling Romantis Khu Lung