Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pengejar Nyawa 10

Eps 10 Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung

Baca online Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung

Cersil Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung.

Ternyata lima batang pedang ditangan Li Hwi-kek dan lain-lain serempak terayun ke depan memetakan jaringan sinar mengkilap yang ketat, tahu-tahu tusukan pedang Liu Bu-bi tertahan dan tersanggah ditengah udara.

Begitu keras benturan ini sampai badan Liu Bu-bi tertolak mumbul ke tengah udara dan bersalto ke belakang meloncat dengan enteng tancap kaki tak bersuara, tangan yang memegang pedang sudah linu kemeng tak bisa bergerak, namun pedang masih digenggamnya dengan kencang, suaranya gemetar dan ngeri.

"Cianpwe... Cianpwe, kenapa kalian menolongnya?"

Suara Siau Ciok bengis dan kereng.

"Dia tidak tega melukai jiwa suamimu, sehingga terima tertendang roboh, mana boleh dalam keadaan seperti itu kau hendak membunuh dia, anak didik keluarga Li di Mao kau mana boleh melaksanakan perbuatan serendah dan tak tahu budi seperti ini?"

Liu Bu-bi tertunduk lemas, agaknya diapun terbungkam tak bisa berdebat lagi. Li Giok-ham mendadak berlutut, ratapnya.

"Dia menaruh belas kasihan kepadaku, sudah tentu Wanpwe cukup tahu budi luhurnya ini Wanpwe tidak akan berani melupakannya apapun caranya Wanpwe pasti akan membalas budi kebaikan ini tanpa pamrih."

"Seenak udelmu kau bicara, kau kira sebagai orang persilatan harus mengutamakan budi pekerti, tegas dalam budi kebaikan dan dendam kesumat."

"Budi luhurnya terhadap Wanpwe terang akan kubalas ganda, tapi hari ini apapun yang terjadi sekali-kali Wanpwe tak akan membiarkan dia lolos dari sini."

"Apa-apaan ucapanmu ini?"

Bentak Siau Ciok mendelik. Semakin dalam kepala Li Giok-ham tertunduk sahutnya.

"Karena betapapun tebal dan mendalam budi luhurnya terhadap Wanpwe, takkan setebal dan sedalam budi luhur orang tua yang mendidik dan membesarkan diriku, jikalau hari ini Wanpwe membiarkan ia pergi karena dia menanam budi terhadap diriku, mungkin ayah bakal menyesal seumur hidup, bukan mustahil aku bakal dikutuknya. Bakti terhadap orang tua memang sukar dilakukan dan memerlukan pengorbanan, namun betapapun Wanpwe harus mengutamakan bakti lebih dulu tentunya para Cianpwe tidak akan membuat Wanpwe tidak berbakti terhadap orang tua bukan?"

Lama Siau Ciok termenung, pelan-pelan sorot matanya tertuju pada Li Koan-hu.

Tampak rona muka si orang tua yang sudah loyo ini, dari pucat pasi kini berobah merah padam, daging di ujung bibirnya tampak gemetar keras, sepasang mata yang sudah hampa mendelong itu, kini menyorotkan kegusaran yang tak terlampias, seolah-olah mirip sepasang obor yang sakti, membakar dan menghidupkan kembali jiwa lapuknya yang tinggal menunggu ajal itu.

Siau Ciok akhirnya menarik napas, katanya sambil menarik sorot matanya.

"Bagaimana menurut pendapat kalian?"

Ling Hwi-kek berempat kelihatannya serba susah, tiada satupun yang segera menjawab pertanyaan ini, dengan melirik satu persatu Li Giok-ham pandang mereka, katanya pula.

"Wanpwe cukup tahu, dengan gengsi kedudukan dan ketenaran para Cianpwe, sekali-kali tidak akan turun tangan disaat lawan sudah terkalahkan, apalagi membunuhnya. Tapi mengingat hubungan intim para Cianpwe dimasa lalu dengan ayah, tentunya takkan berpeluk tangan dan tega membiarkan beliau memeras diri dalam keadaan yang tersiksa itu."

Kini kepalanya terangkat, katanya lebih lanjut.

"Sejak tujuh tahun yang lalu waktu beliau meyakinkan hawa pedang, tak beruntung Cay-hwe-ji-po, selama tujuh tahun ini keadaan lebih sengsara dan tersiksa daripada orang mati, memangnya para Ciapwe begitu tega..."

"Jangan kau banyak cerewet lagi!"

Sentak Siau Ciok bengis.

"Aku hanya ingin tanya kepadamu, umpama kata sekarang kita membunuh Coh Liu-hiang, memangnya manfaat apa yang diperoleh ayahmu?"

"Wanpwe sendiri tidak tahu kenapa ayah begitu getol ingin membunuh jiwa orang ini, aku hanya tahu bahwa perintah dan kehendak orang tua tak boleh dibangkang, jikalau para Cianpwe belum lupa akan..."

"Tidak perlu kau peringatkan aku."

Tukas Siau Ciok keras.

"Memangnya dulu Li Koan-hu teramat baik terhadapku, umpama aku bisa melakukan perbuatan terkutuk kepada manusia siapa saja dikolong langit ini sekali-kali aku takkan berani berbuat salah terhadapnya!"

Mulut bicara pelan-pelan dia menarik pedangnya, katanya.

"Putusanku sudah tegas, entah bagaimana pendapat kalian?"

Laki-laki bertubuh tinggi kekar menghela napas sahutnya.

"Kalau Siao-lo berpendapat demikian, Losiu takkan banyak bicara lagi!"

Ling Hwi-kek berkata.

"Dengan Hoan-hu-heng bukan saja kenalan baik, malah masih terhitung famili dekat, maka kedudukan dan keadaanku sendiri sebetulnya jauh lebih menyulitkan daripada kalian, maka... maka... mendadak dia membalikkan badan katanya.

"Hari ini perduli kalian mau bunuh Coh Liu-hiang atau membebaskannya pergi, terpaksa aku anggap tidak melihat tak mendengar, lebih baik kalian boleh anggap aku tak hadir di sini."

Kini empat pedang sudah ditarik mundur. Laki-laki baju hitam yang bertubuh biasa itu agaknya lama sekali peras otaknya, baru sekarang dia bersuara dengan nada berat.

"Pendirianku sama dengan Ling-heng."

Agaknya orang ini tidak suka bicara cukup beberapa patah katanya saja, dia lantas putar badan menyingkir ke pinggir.

Maka sekarang yang ketinggalan hanyalah laki-laki tinggi besar yang kekar itu, pedangnya masih teracung lurus ke depan, meski pedang tergenggam erat, namun ujung pedangnya kelihatan bergoyang-goyang dan gemetar.

Berkata Siau Ciok mengerut alis.

"Aku tahu hubunganmu dengan Li Koan-hu paling mendalam, kenapa kau tidak buka suara?"

Laki-laki tinggi besar serba hitam ini menghela napas, katanya.

"Bukan saja hubungan Koan-hu-heng dengan aku amat mendalam malah dia pernah menolong jiwaku, jikalau lantaran diriku sendiri, aku disuruh membunuh Coh Liu-hiang dengan pedangku ini tak menjadi soal, namun sayang..."

"Apa yang kau sayangkan?"

Tanya Siau Ciok tidak sabar.

"Tentunya Ciok-lo sudah tahu setiap patah dan tindak tandukku, bakal mempengaruhi ribuan anak murid Bu tong-pay kami, mana bisa, mana aku bisa..."

Suaranya gemetar terang bahwa hatinya amat mendelu dan perasaan hati sedang berada dalam tekanan keadaan. Namun Siau Ciok segera membentak dengan bengis.

"O, jadi kau sedang merisaukan kedudukan Toa-hu-hoatmu di Butong-san, tapi jikalau Li Koan-hu tidak menolong jiwamu, apa kau masih bisa hidup sampai sekarang?"

"Kenapa tidak kau copot saja kedudukan Toa-hu-hoatmu itu demi membalas kebaikannya?"

Ternyata laki-laki tinggi besar dan kekar ini adalah Thi-san Totiang, pelindung pertama dari Butong-san yang sekarang. Diam-diam mencelos hati Coh Liu-hiang, terdengar Siau Ciok sedang berkata pula.

"Biar kuberitahu kepadamu, setelah hari ini aku membalas budi kebaikan Li Koan-hu selanjutnya akupun malu untuk mengurus dan mengasuh serta memimpin murid didik dari perguruan Giok-kiam kami, selanjutnya aku akan mengundurkan diri mengasingkan diri di atas gunung, jikalau kau suka menjadi temanku, dengan senang hati aku sambut uluran tanganmu."

Dada Thi-san Totiang turun naik napasnya memburu keras, keringat bertetesan membasahi bahunya. Mendadak Coh Liu-hiang menimbrung dengan tertawa.

"Kukira Totiang tidak perlu sangsi dan serba salah, lebih baik kau tiru tekad para Tayhiap ini, gunakan diriku sebagai pembalasan kebaikan orang! Apa yang dinamakan "kesetiaan dan keadilan Kang-ouw"

Sebetulnya banyak ragam artinya, hari ini kau membunuh aku, bukan saja orang lain tidak akan menistamu sebagai seorang yang tak punya rasa cinta kasih dan tidak setia, malah orang akan mengatakan kau tegas memberikan budi kebaikan dan dendam sakit hati, bagi seorang laki-laki sejati yang membalas budi kebaikan orang lain.

Sebaliknya jikalau hari ini kau bebaskan aku, kelak kau akan malu jadi manusia."

Thi-san Totiang membanting kaki, mendadak dia angkat telapak tangan kirinya, terus diayun balik menebas ke pundak kirinya sendiri.

"Krak"

Terdengar tulang patah dan remuk oleh pukulan tangannya sendiri. Siau Ciok berteriak kaget, serunya.

"Kenapa kau berbuat demikian?"

Thi-san Totiang terhuyung mundur, katanya serak dengan tertawa getir.

"Kalian sudah melihat, Coh Liu-hiang, kaupun melihat bukan aku tidak sudi merintangi mereka membunuh orang, kenyataan sekarang aku sudah tak mampu menghalangi mereka lagi."

Bukan saja mula Liu Bu-bi sudah pucat pias tak berdarah, agaknya diapun terkesima saking kaget dan takut. Kata Thi-san Totiang dengan serak.

"Kenapa tidak segera kau bunuh dia? Apa pula yang kau tunggu?"

Tersipu-sipu Liu Bu-bi berlutut di lantai bersama Li Giok-ham keduanya menyembah tiga kali, serunya.

"Terima kasih Cianpwe, budi luhur para Cianpwe selama hidup Tecu takkan melupakan."

Coh Liu-hiang menghela napas pelan-pelan katanya dengan tertawa getir.

"Ada orang seperti Thi-san Totiang yang begitu simpatik terhadapku maka terbukti sudah bahwa "jalan kebenaran dan keadilan Kangouw"

Hakekatnya bukan omong kosong belaka, terhitung kematianku tidak sia-sia, aku mati tidak penasaran, cuma sampai sekarang aku tetap tak mengerti, kenapa kalian ingin benar membunuhku, akupun tahu sekarang kalian terang takkan mau memberi tahu kepadaku, agaknya matipun aku akan jadi setan gentayangan."

Maka ujung pedang Liu Bu-bi akhirnya terhujam kedada Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang secara langsung merasakan ujung pedang Liu Bu-bi yang dingin itu sudah menembus ke dalam kulit dagingnya, anehnya dalam keadaan seperti itu, Coh Liu-hiang ternyata malah terlalu terang, sedikitpun tidak merasa takut, sampai sakitpun sudah tak terasakan lagi olehnya, yang terasa hanyalah ujung pedang yang tajam mengkilat itu sedingin es.

Entah mengapa pada detik-detik sebelum ajalnya ini, pikirannya mendadak melayang ke tempat nan jauh di sana, di suatu tempat di pucuk utara yang bertanah salju.

Terbayang olehnya diwaktu dirinya masih kecil, waktu dia bersuka ria bergulingan dengan Oh Thi-hoa dibukit salju, secara diam-diam Oh Thi-hoa menyusupkan segenggam salju yang dingin itu ke dalam lobang baju di lehernya.

Gumpalan salju itu terus melorot turun sampai di dadanya, perasaan diwaktu kecil dulu itu mirip benar dengan keadaan sekarang.

Bila orang mengacungkan gumpalan salju hendak menyusupkan kedalam bajunya, kau akan merasa takut, namun setelah salju yang dingin itu menyentuh dan mengalir di kulit badanmu, kau malah akan merasa suatu siksaan yang menyenangkan, seolah-olah pula kau merasakan terbebaskan dari segala belenggu dan kesulitan, karena sesuatu yang membuatmu merasa takut sudah berlalu.

Lantaran yang betul-betul ditakuti oleh orang, bukan benda itu sendiri, tapi hanyalah bayangan khayalnya saja terhadap kejadian itu, umumnya manusia takut menghadapi kematian, lantaran tiada manusia yang benar-benar memahami arti dari kematian itu, maka timbul berbagai bayangan atau khayal yang menakutkan terhadap kematian sendiri.

Dan kematian itu kini sudah berada di hadapan Coh Liu-hiang.

Didalam masa hidupnya yang beraneka ragam, penuh humor dan serba romantis itu, dia sendiri tidak tahu berapa kali dirinya pernah menghadapi detik-detik tegang yang bakal merenggut jiwanya, tapi selama itu dia tak pernah kehilangan keyakinan dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Hanya kali ini saja, dia benar-benar sudah tak berdaya sama sekali, ia insyaf dalam keadaan seperti ini ditempat ini pula, sekali-kali takkan terjadi sesuatu keajaiban, pasti takkan ada orang yang bakal menolong dirinya lagi.

Secara langsung terasa olehnya, belum pernah dirinya begitu dekat dengan ajal, begitu dekat seolah-olah dia sudah dapat merasakan serta melihat keganjilan dari bayangan kematian itu, sehingga terasa pula olehnya bahwa "MATI"

Ternyata juga hanya begini saja, tiada sesuatu yang perlu dibuat takut, maka timbul ingatannya, bahwa bukan saja orang-orang yang takut mati amat kasihan, sesungguhnya amat menggelikan.

Maka setitik harapannya pada saat itu, hanyalah, semoga Oh Thi-hoa sudah membawa Soh Yong-yong dan lain-lain melarikan diri, jikalau sekarang dia tahu bahwa Oh Thi-hoa kenyataannyapun sudah teringkus dan tergenggam jiwanya ditangan mereka, maka perasaan hatinya sebelum ajal ini takkan begitu tenang dan tentram.

Sekilas ini, banyak sekali persoalan yang terbayang dalam benaknya, dia sendiri tidak tahu cara bagaimana didalam waktu yang singkat ini dia bisa teringat banyak persoalan itu.

Dia merasa ujung pedang yang dingin itu masih berhenti di dadanya.

Agaknya ujung pedang sedang berhenti mogok.

Tak tertahan segera dia angkat kepala memandang ke arah Liu Bu-bi.

Dilihatnya mata Liu Bu-bipun sedang menatap dirinya, roman mukanya yang cantik pucat itu seakan-akan menampilkan rasa pilu dan sedih, sayang dan kasihan.

Terdengar Li Giok-ham batuk-batuk kecil, katanya.

"Coh-heng, terus terang kami merasa amat bersalah terhadap kau, semoga kau suka memaafkan tindakan ini."

Hampir saja Coh Liu-hiang tak tahan hendak tertawa, masakah seorang pembunuh mohon ampun dan minta maaf kepada korbannya, terasa oleh Coh Liu-hiang ucapannya ini teramat lucu dan ganjil kedengarannya.

Liu Bu-bi segera menambahkan dengan suara rawan.

"Kami sendiri tiada niat membunuh kau, sungguh merupakan tindakan terpaksa."

Setelah menghela napas, dia pejamkan matanya.

Coh Liu-hiang tahu begitu matanya terpejam, maka ujung pedang segera akan menusuk ulu hatinya dan tamatlah jiwanya.

Tak tahunya pada saat itu pula tiba-tiba terdengar suara gaduh, seperti meja dan cangkir poci dan lain-lain di atas sama jatuh pecah berantakan, selanjutnya didengarnya pula seseorang membentak dengan suara yang dipaksakan.

"Ta.... tahan!"

Dalam detik-detik yang menentukan jiwanya ini, sungguh mimpipun Coh Liu-hiang tidak akan pernah membayangkan ada orang bakal menolong jiwanya.

Memang mimpipun tak pernah terpikir olehnya, siapakah sebenarnya yang menolong dirinya.

Itulah sebuah rumah mungil yang dipajang dengan indahnya, kain paris menutupi jendela, kain gordyn melambai tertiup angin, bau wangi memenuhi ruangan menyegarkan napas seolah-olah di situ adalah sebuah kamar seorang perawan.

Tapi didalam pandangan Oh Thi-hoa tempat ini tak ubahnya sebagai penjara yang paling mewah belaka.

Nona Ping mondar-mandir dan tak mau berhenti didalam rumah, pinggangnya yang ramping seperti menggeliat dengan indahnya, dadanya yang padat montok seolah-olah hendak meledak menjebol kain sutra yang membungkusnya, sampaipun sulaman kembang dibagian dalamnyapun kelihatan samar-samar, adanya seorang gadis ayu dengan dandanan merangsang mondar-mandir di hadapanmu, sungguh merupakan rejeki besar bagi seorang laki-laki yang memperoleh tontonan gratis.

Tapi sekarang sedikitpun Oh Thi-hoa tidak merasa sedan beruntung dan terpesona, kalau semula dia ingin mencubit pinggul orang yang bulat itu, sekarang ingin rasanya dia memberi persen bogem mentah diujung hidungnya yang mancung itu.

Gemas sekali hatinya.

Lalu sekali pukul lagi bikin rontok seluruh giginya supaya kelak dia tidak berani membual dan ngapusi orang lagi, sayang sekali hatinya hanya bisa marah tanpa dapat berbuat apa-apa, karena kaki tangannya terikat sedemikian kencang.

Bahwa orang tidak pukul rontok giginya sendiri sudah merupakan suatu keberuntungan.

Terasa lenggang nona Ping semakin lama semakin genit, gemulai dan mempesonakan sampai pandangan matanya mendelik dan kepala pusing, tak tahan dia menjerit.

"Apakah pantatmu tumbuh bisul? Kenapa tidak kau duduk saja?"

Ternyata nona Ping betul-betul menghampiri ke depannya dan duduk. Oh Thi-hoa tidak duga orang mau begitu dengar katanya, sesaat dia melongo katanya pula lebih keras.

"Aku kan bukan bapakmu, kenapa kau begitu penurut?"

Bukan saja tidak marah, nona Ping malah tertawa lebar, ujarnya.

"Apakah kau berpendapat jiwamu bakal segera mampus, maka kau lekas naik pitam, sebetulnya kau tidak perlu marah-marah karena aku jelas takkan membunuh kau."

Berputar biji mata Oh Thi-hoa, katanya.

"Kalau kau tidak membunuhku, kenapa tidak lekas kau bebaskan aku?"

"Asal Coh Liu-hiang itu sudah mampus, segera aku membebaskan kalian."

Berkerut alis Oh Thi-hoa. Dengan tersenyum nona Ping segera menambahkan.

"Bukan sja melepas kau, ke empat nona-nona itupun akan kami bebaskan seluruhnya, oleh karena itu lekaslah kau berdoa kepada Thian supaya Coh Liu-hiang lekas mati, semakin cepat dia mati semakin cepat kalian dibebaskan."

"Kalau demikian mungkin selama hidupku aku bakal terbelenggu seperti ini dan kau akan meladeniku pula."

"O?"

Nona Ping bersuara heran. Oh Thi-hoa melotot, teriaknya.

"Ketahuilah selamanya Coh Liu-hiang takkan mudah terbunuh, sekarang segera kau bebaskan aku, terhitung kau cerdik, kalau tidak bila dia sudah kemari, he he..."

"Aduh!"

Nona Ping terpingkel-pingkel.

"Begitu menakutkan! Kalau kau menakut-nakuti aku, jantungku serasa hendak melonjak keluar."

Oh Thi-hoa menyeringai, jengeknya.

"Sekarang tentu kau tidak perlu takut, namun bila dia sudah berada disini..."

Sekonyong-konyong di luar terdengar ada seseorang memanggil lirih.

"Nona Ping."

"Masuk..."

Sahut nona Ping.

"kau sudah memberi laporan kepada Siau-hujin? Apa yang dipesan oleh Hujin?"

Yang masuk ternyata kacung cilik baju hitam itu, sahutnya menjura.

"Siau-hujin hanya tertawa -tawa saja, sepatahpun tidak memberi pesan apa-apa. Nona Ping melerok kepada Oh Thi-hoa, tanyanya pula.

"Apa kaupun ada melihat Coh Liu-hiang itu?"

Kacung cilik itu menyeringai tawa, sahutnya.

"Sudah tentu melihat dia, memang laki-laki ganteng yang gagah, sedikitnya jauh lebih cakap dari yang ini, jauh lebih pintar pula."

Oh Thi-hoa mendengus, jengeknya.

"Kau bocah ini tahu kentut."

Nona Ping tertawa cekikikan, katanya.

"Justru karena bocah cilik tidak tahu urusan, maka apa yang dia ucapkan pasti jujur."

Kacung cilik itu tiba-tiba berkata pula.

"Sering aku mendengar cerita orang katanya betapa lihai dan hebat Coh Liu-hiang yang digelari Maling romantis itu, tapi menurut apa yang sudah kulihat tadi, kecuali perawakannya gagah bermuka ganteng saja, yang lain-lain sih biasa saja, belum lama setelah aku masuk ke ruang dalam, dengan jelas kulihat sendiri dia ditendang terjungkal oleh Siau cengcu, rebah di tanah, bergerakpun tidak bisa."

Oh Thi-hoa gusar serunya.

"Mungkin kau melihat setan disiang hari bolong."

Kacung cilik berbaju hijau ternyata tertawa peringisan katanya.

"Jika kau anggap aku sedang membual, lebih baik jangan kau percaya."

Oh Thi-hoa melongo sesaat lamanya, akhirnya tak tahan ia berseru.

"Walau aku tidak percaya, tapi tidak menjadi soal mendengar obrolanmu, yang terang dalam keadaan begini aku memang amat iseng."

"Kalau kau sedang iseng, sebaliknya aku sedang repot."

Kata kacung cilik itu tertawa.

Aku tidak punya waktu untuk bercerita kepada kau, mulutnya bicara, badannya sudah berputar keluar.

Keruan Oh Thi-hoa jengkel dan gemes, tenggorokkannya terasa getir, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Tak kira, tak lama kemudian kacung cilik itu berlari balik cuma menongolkan kepalanya saja diambang pintu, katanya mengawasi dirinya.

"Kalau kau ingin tahu bagaimana keadaan temanmu sekarang aku sih punya cara yang baik."

"Cara apa?"

Tanya Oh Thi-hoa tak tahan lagi.

"Jikalau kau suka memberi hadiah kepadaku, begitu hatiku senang, bukan mustahil segera ku ajak kau ngobrol."

"Hadiah apa yang kau inginkan dari aku?"

Berputar biji mata kacung cilik ini, katanya.

"Yang lain aku tidak mau, aku hanya suka kotak perak didalam kantongmu itu."

Oh Thi-hoa tertawa dingin katanya.

"Liu Bu-bi ternyata tidak melupakan benda ini, kenapa tidak dia sendiri yang mengambilnya kemari?"

"Memangnya nyonya muda perlu turun tangan sendiri? Umpama aku saja sekarang jangan kata aku hanya ingin minta sesuatu barangmu saja, seandainya harus menelanjangi seluruh pakaianmu, kaupun hanya bisa melotot saja kepadaku."

Ternyata biji mata Oh Thi-hoa betul-betul melotot besar seperti bundar telur, dampratnya gusar.

"Kau... kau berani?"

"Kenapa aku tidak berani, cuma aku ini seorang kacung dari keluarga Li ini, selamanya harus pegang tata tertib, sekali-kali aku tak sudi sembarangan ambil barang milik orang lain tanpa ijin, kecuali secara sukarela orang itu memberi kepadaku."

Nona Ping tertawa lebar katanya.

"Kau jangan kuatir, Oh Thi-hoa biasanya terbuka tangan dia bukan orang kikir, sekali-kali dia tidak akan merasa berat memberikan barang yang kau inginkan, apalagi hanya mulutnya saja yang terkancing, sebetulnya hatinya sudah gugup setengah mati, jikalau kau tidak segera memberitahu keadaan Coh Liu-hiang yang sebenarnya, bukan mustahil dia bisa mampus karena kau bikin marah."

Walau amarah Oh Thi-hoa sudah berkobar tapi memang dia amat ingin besar tahu keadaan Coh Liu-hiang meski apa yang dia dengar dari penuturan mulut bocah kecil ini tidak seratus persen boleh dipercaya, namun masih mending dari pada tak tahu sama sekali, terpaksa dalam hati dia menghela napas, mulutnya segera terpentang lebar, serunya lantang.

"Benar, Oh Toaya biasanya amat royal, apa yang diinginkan orang kalau dia punya dengan suka hati dia memberikan, nah boleh kau ambil sendiri."

"Kacung cilik itu sudah memburu maju sambil merogoh keluar kotak perak Bau-hi-li-hoa-ting itu, katanya tertawa gembira.

"Kau sendiri yang memberi kepadaku dengan sukarela, aku tak memaksa kau lho, benar tidak?"

"Ya, terhitung aku situa bangka ini, kesandung oleh anak kecil, anggap saja hari ini aku terlalu sial."

Gumam Oh Thi-hoa uring-uringan.

"Apakah kau merasa sial? Kalau dibandingkan dengan temanmu yang satu itu, kau malah terhitung beruntung."

"Dia... bagaimana keadaannya sekarang?"

Tanya Oh Thi-hoa gelisah.

"Setelah ditendang roboh oleh Siau-chengcu, nyonya muda segera menubruk maju sambil menusukkan pedangnya, ternyata Coh Liu-hiang si Maling romantis yang kenamaan itu, berkelitpun sudah tidak mampu lagi."

Walau Oh Thi-hoa tidak percaya obrolan seorang bocah, namun mendengar cerita ini tak urung dia menjerit kaget, kacung cilik itu malah cekikikan geli, katanya dengan kalem.

"Tapi kelima Cianpwe justru berpendapat nyonya muda tidak pantas membunuhnya, serempak mereka turun tangan menghalangi dan menangkis pedang nona muda..."

Sampai disini tak terasa Oh Thi-hoa menarik napas, katanya lagi.

"Agaknya kelima orang itu memang tidak malu sebagai tokoh-tokoh kosen ahli pedang yang sudah kenamaan."

"Apa sekarang sudah mau percaya bahwa apa yang kukatakan tidak membual lagi?"

Tanya kacung cilik itu.

"Belum lagi Oh Thi-hoa buka suara lagi, nona Ping sudah mendahului.

"Sudah tentu dia percaya karena seseorang bila mendengar kabar gembira tentu lebih mudah untuk mempercayainya."

"Kalau demikian,"

Ujar si kacung cilik.

"kalau cerita kulanjutkan mungkin sepatah katapun tak mau dipercayainya."

"O, Coba kau teruskan ceritamu!"

Desak nona Ping ikut merasa heran.

"Karena kalau ceritaku kulanjutkan, maka tiada sepatah katapun yang merupakan kabar gembira."

"Apakah... apakah kelima Cianpwe itu akhirnya merubah haluan?"

Tanya Oh Thi-hoa gemetar.

"Walau kelima orang-orang tua itu ada sedikit belajar keimanan, betapapun mereka belum pikun, untuk masih bisa membedakan untung rugi dan berat ringan sesuatu persoalan. Setelah Siau cengcu ketengahkan pengertian yang mendalam perihal kesetiaan dan persahabatan, akhirnya kelima orang itu satu persatu mengundurkan diri."

Meski Oh Thi-hoa tidak percaya ucapannya, mau tak mau dia harus percaya juga akhirnya, tanyanya pula tak sabaran.

"Belakangan bagaimana?"

"Belakangan aku mengundurkan diri."

Sahut kacung cilik itu. Karuan Oh Thi-hoa berjingkrak gusar. teriaknya.

"Kau tinggal pergi? Kenapa kau pergi dari sana?"

"Karena aku takut melihat orang mati, kulihat ujung pedang nyonya muda sudah menusuk ke dalam dadanya, maka secara diam-diam aku lantas mengeluyur keluar, tapi cepat atau lambat suatu ketika kau pasti akan percaya, hakekatnya aku tak perlu membual untuk menggertak atau menakuti aku."

Terasa oleh Oh Thi-hoa seluruh badannya menjadi kejang, keringat gemerobyos membasahi seluruh badan. Berkata pula kacung cilik itu dengan tertawa.

"Namun setelah aku pergi, bukan mustahil mendadak bisa muncul seseorang yang menolong jiwanya, sudah lama aku dengar katanya teman Coh Liu-hiang tersebar di seluruh kolong langit, apa benar?"

"Sudah tentu ada orang yang akan menolongnya."

Seru Oh Thi-hoa penuh keyakinan. Pasti ada orang yang datang menolongnya, sudah tentu..."

Beruntun berulang kali dia ucapkan kata-katanya ini, karena dia kuatir dia sendiripun tidak percaya maka sengaja dia ulangi dua tiga kali untuk memperteguh keyakinannya.

Celaka adalah setelah tujuh delapan kali dia ulangi kata-katanya, hatinya masih belum mau percaya juga.

"Coba kau pikir"

Kata kacung cilik itu pula ."

Siapa yang akan menolong dia?"

"Siapa saja bisa saja menolong dia, karena terlalu banyak untuk disebut satu persatu yang terang orang mau menolongnya."

Kata Oh Thi-hoa sengit.

"O! coba kau sebut saja dua tiga orang diantaranya."

"Umpamanya, umpamanya, Setitik merah dari Tionggoan, Bau li tok hing Cay locianpwe, Thian-hong Taysu, haha, tentunya kau kenal nama-nama beberapa orang ini?"

Meski sedapat mungkin dia menghibur diri dengan mulut nyerocos.

tapi dia sendiri tahu bahwa orang-orang yang dia sebut namanya tadi takkan mungkin meluruk kemari dan lagi umpama benar mereka menyusul datang, belum tentu mereka mampu menolong jiwa Coh Liu-hiang.

Biji mata kacung cilik itu kembali berputar katanya.

"Benar, agaknya tadi aku seperti melihat berkelebatnya bayangan seorang Hwesio tua, kalau tidak salah memang Thian-hong Taysu."

"Apa benar kau melihatnya?"

Seru Oh Thi-hoa kegirangan.

"Em! Tapi setelah kutegasi, baru aku tahu ternyata dia bukan seorang Hweshio, tapi adalah seorang laki-laki botak."

Sudah tentu serasa orang yang kebakaran jenggot gusar dan gelisah, Oh Thi-hoa gusar lagi karena permainan bocah cilik ini. Kacung cilik malah cekikikan katanya.

"Kau jangan marah, bukan sengaja aku hendak membuat kau marah, soalnya kau sendiri suka mengapusi dirimu sendiri, terpaksa akupun ikut bantu kau menipumu juga.

"Kau kira bualanmu pantas dibuat girang ya?"

Damprat Oh Thi-hoa meronta-ronta.

"Ketahuilah jikalau kalian benar sudah membunuh Coh Liu-hiang didalam waktu setengah bulan seluruh Yong cui-san-cheng ini bakal dibumi hanguskan dan diratakan dengan tanah, belum habis dia bicara, dari dalam rumah mendadak kumandang suara desingan yang nyaring, seolah-olah barang besi apa yang dipukul dengan gencar. Setelah didengarkan dengan seksama, suara gaduh ini seperti kumandang dari dalam bumi. Kacung cilik itu segera mengawasi nona Ping dengan tertawa, katanya.

"Apakah macan betina itu sedang main gila lagi?"

Nona Ping menghela napas, katanya.

"Dia sedang memanggil orang, bila aku tidak segera turun ke bawah, maka dia akan memukul terus takkan berhenti, sampai orang lain budek dan dongkol setengah mati."

"Kenapa tidak beri hajaran kepadanya supaya orang lain tahu akan tata tertib di sini, pasti dia akan tunduk dan menyerah mentah-mentah,"

Kacung itu mengusulkan.

"Sejak mula aku sudah hendak unjuk gigi kepada mereka, namun nyonya muda justru bersikap ramah-tamah terhadap mereka, untung orang she Coh itu sekarang sudah tamat terhitung akupun boleh terbebas dari kesulitan."

Bila mata Oh Thi-hoa kembali melotot besar, serunya.

"Apakah yang kau bicarakan adalah nona Soh dan lain-lain?"

Mengerling biji mata nona Ping, tiba-tiba dia tertawa dengan berkata;

"Bukan kau ingin menjenguk mereka? Baik, sekarang juga kubawa kau kepada mereka, kulihat kau dengan macan betina itu memang pasangan yang setimpal."

Lalu dia menghampiri sebuah pigura yang dari lukisan cat kuno serta menurunkannya, maka tampaklah di belakangnya sebuah dinding merekah ke bawah dengan pintu yang cukup untuk turun seseorang ke bawah, undak-undakan batu.

Kejap lain mereka sudah tiba di sebuah sel atau kamar tahanan di bawah tanah yang beruji besi.

Begitu Oh Thi-hoa tiba di ruangan bawah, sorot matanya seketika melihat tiga ekor kura-kura.

Ketiga ekor kura-kura besar itu merupakan lukisan dari tinta bak hitam yang melekat pada dinding tembok putih yang berhadapan dengan pintu masuk, yang paling besar ternyata digambar besar dari sebuah meja bundar.

Lucu sekali bahwa kepala kura-kura itu ternyata berjenggot dan berkaca-mata, dan yang lain digambar rada kecilan, pada kedua sisi masing-masing ada dilukis tiga baris huruf-huruf pengenal yang berbunyi.

"Gambar Li Giok-ham dan gambar Liu Bu-bi. Dibawahnya tertanda Li Ang siu dari Tionggoan dan Song Thiam-ji dari King-nam. Tak jauh dari gambar ketiga kura-kura ini, tertulis pula sepasang syair tampilan, masing-masing berbunyi.

"Anaknya Linglung, babaknya pikun."

"Mantunya gendeng, sekeluarga serba gila."

Kalau Oh Thi-hoa saat itu tidak sedang masgul dan gundah pikiran, mungkin ia sudah tertawa terpingkal-pingkal.

Maka setelah maju lebih lanjut, maka dia melihat empat orang.

Empat orang gadis muda yang rupawan laksana bidadari.

Yang terlihat oleh Oh Thi-hoa lebih dulu adalah gadis yang berambut kepalanya dikuncir dua, kulit mukanya bersemu abu-abu dengan bulat seperti kuaci, dikombinasi dengan sepasang mata yang jeli, lincah dan membundar besar.

Tatkala itu gadis ini sedang memukulkan sebuah baskom tembaga pada terali besi tak henti-hentinya sehingga mengeluarkan suara kelontangan yang gaduh.

Gadis yang di sebelahnya berpakaian celana panjang warna merah menyala seperti api yang sedang membara, namun kulit badannya sedemikian halus, dua orang yang lain sedang duduk berhadapan dipojokkan sana main catur.

Kalau di sebelah sini sedang ribut dengan suara baskom tembaga yang diadu terali besi, serasa bumi hampir ambruk, di sebelah sana keadaan justru tenang-tenang tanpa mengeluarkan suara.

Gadis yang di sebelah kiri lemah lembut pendiam, rambutnya yang diikal dengan alis lentik dan bulu mata yang panjang lebat, kerlingan mata yang jernih, selintas pandang bak bidadari yang turun dari kahyangan, sudah lama tidak dikotori oleh kehidupan duniawi.

Sebaliknya gadis yang duduk di sebelah kanan laksana kembang Tho yang mekar di musim semi, namun sedingin tonggak salju di musim dingin pula, roman mukanya yang pucat dengan sepasang biji mata bening setenang gelombang lautan teduh yang mengalun pelan-pelan.

Oh Thi-hoa menghirup napas panjang berulang kali, mulutnya lantas menggumam.

"Akhirnya aku berhasil bertemu dengan mereka, namun sayang sekarang segalanya sudah terlambat."

Gadis berkuncir begitu melihat kedatangan nona Ping seketika tertawa besar, serunya.

"Perempuan bodoh, memangnya kedua kakimu sudah buntung? Baru sekarang kau kemari, tidak mendengar panggilanku?"

Nona Ping tersenyum saja, sahutnya.

"Aku bukan perempuan bodoh, logatmu sukar ku tangkap."

"Apa kau tidak mengerti? Kau tidak mengerti kenapa aku menamakan kau perempuan goblok?"

Seru gadis itu tertawa besar. Mimik wajah gadis ini serba aneh dan kaya akan perbuatan yang berlainan, baru saja mukanya masih berseri tawa, tahu-tahu sudah menarik muka dan merengut jelek, serunya.

"Kutanya kau, apakah keluarga majikanmu sudah mampus seluruhnya? Sampai ini waktu belum lagi dia membereskan persoalan kita?"

Logat perkataannya mengandung aksen orang selatan, lama kelamaan nona Ping baru paham apa yang dikatakan, tapi belum lagi dia memberi tanggapan, gadis baju merah itu sudah melotot kepada Oh Thi-hoa, teriaknya.

"Oh.. Oh.. bukankah kau she Oh?"

"Benar."

Sahut Oh Thi-hoa tertawa getir.

"Aku memang Oh Thi-hoa, tak nyana kau masih ingat kepadaku."

Baru saja dia menyebut namanya sendiri, gadis lemah lembut itu segera tinggalkan biji-biji caturnya memburu ke depan terali besi, dengan melotot mereka awasi dirinya.

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya.

"Aku pun tahu kau bernama Soh Yong-yong, kau ini Li Ang-siu dan kau Song Thiam-ji dulu waktu aku melihat kalian, kalian masih kanak-kanak tak nyana sekarang sudah tumbuh besar. Li Ang-siu tertawa lebar sahutnya.

"Setiap orang tentunya bisa tumbuh dewasa benar tidak?"

"Sejak lama aku ingin menjenguk kalian, sayang waktu sekarang ini kurang tepat, tempat ini terlalu buruk."

Nona Ping menurunkan dirinya di depan terali besi, katanya tertawa.

"Kalian sesama sahabat lama bertemu, silahkan ngobrol sepuas hati."

Mulut bicara sementara ujung kakinya menutul ke atas lantai, papan batu di bawah Oh Thi-hoa tiba-tiba menjeplak terbalik turun dan naik lagi, kontan badan Oh Thi-hoa terjeblos terus terguling-guling didalam terali besi.

Lekas Li Ang siu dan Soh Thiam-ji memburu maju memapaknya duduk, kejap lain tali urat kerbau yang membelenggu seluruh badannya sudah diputuskan seperti burung berkicau kedua orang ini lantas menghujani pertanyaan.

"Bagaimana kau bisa datang kemari?"

"Aku sendiripun ingin tanya kalian, kenapa bisa berada di sini?"

Balas bertanya Oh Thi-hoa. Song Thiam-ji segera berebut bicara.

"Kami tamasya ke gurun pasir naik kuda dan..."

Dengan logat orang selatan dia nyerocos tidak henti hentinya, tiba-tiba berhenti lalu menambahkan.

"Apa yang kukatakan mungkin kau tidak mengerti, biar dia saja yang cerita."

Li Ang-siu segera angkat bicara.

"Cerita panjang kuperpendek saja, yang jelas kita sudah bertamasya ke gurun pasir, tak lama kita segera pulang mencari Coh Liu-hiang, namun ditengah jalan kami kesampok dengan Li Giok-ham, Liu Bu-Bi suami istri!"

"Kalian kenal kedua suami istri itu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Siapa kenal mereka! Kebetulan hari itu kami mampir ke Kwi-gi-lau sekaligus mencari Siau-ceng-san untuk cari kabar, kebetulan merekapun berada di sana."

Diam-diam Oh Thi-hoa membatin.

"Kemungkinan mereka bukan kebetulan berada di sana, yang terang mereka sengaja sedang menunggu kedatangan mereka."

"Semula kami merasa kedua suami istri ini memang sopan santun dan cerdik lagi, katanya mereka keturunan dari keluarga besar persilatan lagi, sehingga sedikitpun kami tak pernah curiga dan siaga akan muslihatnya."

Sampai di sini dia berhenti mengawasi Oh Thi-hoa lekat-lekat, tanyanya.

"Jikalau kau tahu martabat mereka, apa kaupun bisa curiga dan siaga akan perangkap mereka?"

"Tidak, soalnya kita tidak secerdik dan seteliti Coh Liu-hiang."

"Dan karena itulah, dia ajak kami seperjalanan maka kamipun terima permintaannya. Tak nyana secara diam-diam mereka sudah memberi obat bius didalam air teh yang kami minum, waktu kami siuman, tahu-tahu sudah diantar ke tempat ini, sungguh aku tidak habis berpikir sebagai putra keturunan dari keluarga besar persilatan yang kenamaan, ternyata sudi melakukan perbuatan yang hina dan serendah ini."

"Kalau aku, akupun takkan menduga."

"Lebih aneh lagi,"

Demikian tutur Li Ang-siu lebih lanjut.

"Sampai detik ini, kami masih belum tahu tujuan dan maksud mereka, karena kami terkurung disini tidak pernah kami melihat cecongornya lagi."

Jarinya menuding Song Thiam-ji lalu meneruskan.

"Meskipun setan cilik ini setiap hari pentang bacot memaki kalang kabut, setiap hari membikin ribut, namun apapun yang dia maki, penghuni perkampungan di sini seolah-olah sudah mampus seluruhnya, tiada satupun yang mau muncul kecuali saat-saat tertentu, saking dongkol maka kami menggambar tiga ekor kura-kura di atas dinding, tak nyana mereka betul-betul menjadi kura-kura yang selalu menyembunyikan kepalanya tak mau muncul menemui kami."

Menghela napas.

"Coba pikir, apakah maksud mereka sebenarnya?"

Oh Thi-hoa merasa getir ternggorokannya, dia kebingungan tak tahu apa yang harus dia bicarakan. Mendadak Soh Yong-yong angkat bicara.

"Bukankah kau sudah bertemu dengan Coh Liu-hiang?"

Dengan tajam dia menatap mukanya, terasa Oh Thi-hoa kerlingan mata orang yang lembut dan hangat, mendadak begitu terang cemerlang, sehingga orang yang dipandangnya takkan bisa berbohong lagi dihadapannya.

Terpaksa Oh Thi-hoa mengangguk sahutnya.

"Ya, aku memang sudah bertemu sama dia."

"Lalu dimanakah dia sekarang?"

Oh Thi-hoa menundukkan kepala melengos dari tatapan sorot mata orang, sahutnya tersendat.

"Aku... aku kurang jelas."

Soh Yong-yong maju ke depannya, katanya tandas.

"Kau pasti tahu, kuharap kau jangan kelabui kami, apapun yang terjadi atas dirinya, kuharap kau suka memberi tahu kepada kami, karena kami punya hak untuk mengetahui."

Semula tutur katanya begitu lebut dan merdu mengasyikkan, namun lama kelamaan nadanya sudah mengandung kekuatiran, melengking dan gelisah, seolah-olah dia sudah mendapat firasat jelek.

Akan tetapi betapa Oh Thi-hoa akan tega menceritakan kabar buruk yang menimpa diri Coh Liu-hiang kepada mereka.

Sayang sekali Oh Thi-hoa bukan seorang yang pandai menyembunyikan perasaan hati dan bisa menekan emosi, meski sepatah katapun dia tidak berbincang, namun rona muka Soh Yong-yong lambat-laun semakin pucat, kaki tangan dan bibirnyapun gemetar.

Agaknya seperti kehilangan keseimbangan badan, badannya tak kuat berdiri lagi, mendadak dia meloso jatuh, dengan menjerit bersama Song Thiam-ji dan Li Ang-siu berebut maju memapahnya.

Tepat pada saat itu pula, terdengar gerungan lirih tertahan, mendadak Mutiara hitam sudah memburu datang dan sedang mencekik leher Oh Thi-hoa, kulit mukanya pucat tak berdarah, dengusnya sambil melotot.

"Sebetulnya apa yang terjadi dan apa pula yang dia alami? Tidak kau katakan biar aku bunuh kau lebih dulu."

Tersipu-sipu Soh Yong-yong meronta bangun, serunya gemetar.

"Lepaskan dia, lepaskan dia... sekali-kali dia tidak punya maksud jahat."

"Tapi kenapa dia tidak mau bicara?"

Sentak Mutiara hitam.

"Apa sih yang ingin dia sembunyikan untuk mengelabui kita?"

Air mata bercucuran membasahi pipi Soh Yong-yong, katanya pilu.

"Aku tahu kenapa dia tidak mau membuka mulut, karena dia kuatir kita sedih."

Habis kata-katanya tangisnya pun pecah sesenggukan.

Li Ang-sui, Song Thiam-ji dan Mutiara hitam sama berdiri memjublek, ketiganya sama mendelong awasi muka Oh Thi-hoa.

Melihat rona muka dan sorot mata mereka, sungguh serasa ditusuk jarum ulu hati Oh Thi-hoa, sampai detik ini, baru dia benar-benar merasakan dan memahami betapa kecut perasaan seorang sedih hati."

Sekonyong-konyong bayangan seseorang seperti terbang menerjang ruang penjara di bawah tanah ini.

Orang ini ternyata bukan lain adalah Li Giok-ham.

Begitu melihat orang ini, biji mata Li Ang-siu dan Song Thiam-ji seketika menyala seperti hendak menyemburkan api.

Teriak Li Ang-siu dengan lantang.

"Kau keparat busuk ini, berani kau kemari menemui kami?"

Song Thiam-ji menjerit-jerit dengan suara gemetar.

"Kau apakan Coh Liu-hiang sekarang?"

Mutiara hitam membentak bengis.

"Lebih lekas kau bunuh aku, kalau tidak cepat atau lambat aku pasti akan membunuhmu."

"Bangsat kurcaci."

Oh Thi-hoa tidak mau ketinggalan memaki juga.

"Beran kau berduel menentukan hidup mati dengan aku?"

Empat orang serempak pentang mulut memaki dengan suara keras dan ribut, namun Li Giok-ham ternyata seperti tunduk mendengar.

Tampak rona mukanya pucat, lebih sedih dan harus dikasihani, lebih menakutkan, biji matanya digenangi warna darah, seluruh badan gemetar.

Setelah melihat tegas badannya, Oh Thi-hoa berempat malah melongo dan terheran-heran, disaat mereka bertanya-tanya tak habis mengerti, mendadak Liu Bu-bi ikut memburu datang.

Bukan saja tindak tanduknya kelihatan amat duka, juga kelihatan gugup dan ketakutan.

Langsung dia memburu ke depan Li Giok-ham, dengan kencang dia peluk badan orang, serunya setengah meratap gemetar.

"Akulah yang membuat gara-gara ini, akulah yang membuat kau celaka."

Li Giok-ham tidak bersuara, matanya lurus mendelong, tangannya pelan-pelan mengelus rambur Liu Bu-bi, sorot matanya penuh diliputi kepedihan, juga diliputi kasin sayang.

Mendadak Liu Bu-bi lepaskan pelukannya sambil putar badan, tengah merogoh sebatang badik yang kemilau terus menghujam keulu hatinya sendiri.

Seperti orang gila yang kalap dengan kencang Li Giok-ham menubruk maju serta berteriak serak.

"Mana boleh kau berbuat nekad ini, lepaskan tanganmu!"

Air mata sudah bercucuran dimuka Liu Bu-bi, serunya sesenggukan.

"Sudah lama aku memberikan beban yang berlarut-larut kepadamu, aku mohon padamu, biarlah aku mati saja, setelah aku mati orang akan memaafkan segala kesalahan kita."

Li Giok-ham membanting kaki, katanya.

"Coba kau pikir, setelah kau mati apakah aku masih bisa hidup?"

Bergetar sekujur badan Liu Bu-bi, klontang, badik di tangannya terjatuh di atas lantai, maka mereka lantas berpelukan dan bertangisan dengan keras.

Sungguh Oh Thi-hoa berlima terpaku dan melongo di tempatnya melihat pertunjukan aneh, ganjil dan memilukan ini.

Tiada satupun yang tahu apa sebab kedua suami istri ini sekarang berubah begitu mengenaskan, begitu konyol?

Memangnya mereka sedang bermain sandiwara pula?

Ditengah sengguk tangisnya, terdengar Liu Bu-bi berkata pula.

"Sebetulnya memang aku tega berpisah dengan kau, namun diriku, mana aku tega membiarkan kau ikut sengsara dan tersiksa bersamaku?"

Berkata Li Giok-ham lembut.

"Sejak kedatanganmu, setiap hari setiap waktu aku hidup dalam kesenangan, mana boleh kau katakan aku menderita malah?"

"Kalau begitu, marilah tinggal pergi saja. Ke tempat nan jauh mencari suatu tempat yang damai dan tentram, di sana kita menetap, siapapun tak perlu kita temui."

"Tapi kau..."

"Mungkin aku masih bertahan hidup beberapa bulan lagi, setelah beberapa bulan ini."

Li Giok-ham menukas ucapannya, katanya lembut.

"Apapun yang terjadi aku tidak akan berpeluk tangan membiarkan kau mati, aku ingin kau hidup abadi."

"Tapi sekarang...."

"Sekarang kita belum putus harapan, paling tidak lima orang itu masih berada ditangan kita."

Mendengar percakapan mereka semakin bingung dan pening kepala Oh Thi-hoa. Kenapa Liu Bu-bi ingin bunuh diri? Kenapa mereka?"

Mendadak Li Giok-ham menghardik keras.

"Berdiri di tempatmu, berani selangkah kau maju, akan kutamatkan jiwa mereka."

Entah sejak kapan kotak perak berisi Bau-hi-li-hoa-ting sudah berada di tangannya dan tertuju ke arah Oh Thi-hoa, tangan yang lain dengan kencang menarik Liu Bu-bi, seolah-olah kuatir kehilangan dirinya.

Dari undakan batu terdengar seseorang menghela napas, ujarnya.

"Sampai detik ini, kalian masih belum kapok dan menyudahi persoalan ini? Buat apa pula kalian harus menyiksa diri?"

Ternyata suara ini keluar dari mulut Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang ternyata belum mati.

Siapakah yang menolong jiwanya?

Sudah tentu bukan kepalang senang Oh Thi-hoa dan Soh Yong-yong berempat.

Serempak mereka berteriak.

"Coh Liu-hiang, kaukah ini?"

Mereka tidak perlu jawaban, karena mereka benar-benar sudah melihat Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang masih berdiri di undakan batu terbawah, memang dia tidak maju lebih lanjut, karena dia cukup tahu betapa hebat perbawa sambitan dari Bau hi li hoa ting ditangan Li Giok-ham itu.

Sekarang Oh Thi-hoa berlima sama berhimpitan didalam kamar tahanan itu, mereka sama-sama terbidik oleh sambaran Bau hi li hoa ting itu.

Hakekatnya mereka tak sampai dan tak mungkin berkelit dari incaran Bau hi li hoa ting ini.

Oh Thi-hoa berjingkrak sambil bersorak kegirangan.

"Ulat busuk, ternyata kau memang tidak mampus, aku tahu kau memang tak bisa mati, memangnya siapa yang bisa membunuh mu?"

Meski senang tertawa namun Coh Liu-hiang menjawab dengan menghela napas.

"Tapi kalau kali ini tiada orang yang menolong aku, jiwa ku ini terang sudah direnggut oleh mereka."

"Benar ada orang menolong kau? Siapa?"

"Kau takkan bisa menerkanya."

"Sudah terang kau tidak akan menerka karena aku sendiripun tidak menyangka, bahwa orang yang menolong aku justru adalah Li Koan-hu Li-locianpwe."

Oh Thi-hoa melongo pula teriaknya.

"Anaknya ingin mencabut jiwamu, masakah bapaknya bakal menolong kau malah?"

"Hakekatnya dia tidak tahu seluk-beluk persoalan ini, sekali-kali tak pernah terpikir olehnya hendak mencabut jiwaku, semua peristiwa ini tak lain tak bukan adalah rencana dan kehendak Li-kongcu suami istri sendiri."

"Tapi, tokoh-tokoh macam Swe It-hang itu bukankah mereka benar-benar datang karena undangan dan pesan Li Koan-hu sendiri?"

"Yang terang Li-kongcu ini memalsukan tulisan ayahnya dan memanggil mereka di luar tahu bapaknya, kalau anaknya bicara mewakili ayahnya, sudah tentu orang lain takkan curiga."

"Memangnya kenapa Li Koan-hu sendiri tidak menyangkal dan membongkar muslihatnya ini?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Karena sejak tujuh tahun yang lalu, Li-locianpwe tersesat jalan didalam latihan ilmunya sehingga darah macet dan badan cacat, sejak itu beliau tak bisa bicara lagi."

Semakin keheranan Oh Thi-hoa mendengar cerita ini, katanya.

"Kalau badannya sudah cacat dan tak bisa bergerak, cara bagaimana bisa menolong kau?"

Selama hidup Li locianpwe jujur ksatria dan mengutamakan keadilan dan kebenaran secara gamblang dia mengawasi suatu peristiwa sesat di depan mata, celaka orang justru meminjam atau memalsu namanya, betapa pedih, marah sanubarinya melihat perbuatan putranya yang terkutuk ini, mungkin kaupun takkan dapat membayangkan keadaannya pada waktu itu, namun dia justru hanya bisa mengawasi dengan mendelong tanpa mampu mencegah atau berbuat apa-apa, bergerakpun tidak bisa.

"Mungkinkah karena amarahnya itu, sehingga hawa murninya yang tersumbat dalam latihannya dulu tiba-tiba jebol oleh arus kemarahan yang di luar batas itu?"

"Ya, begitulah terjadinya."

"Tanpa kau jelaskan, aku sudah mengerti apa yang terjadi selanjutnya."

"O, Ya?"

"Waktu Liu Bu-bi acungkan pedang hendak membunuh kau, mendadak dilihatnya Li-locianpwe tiba-tiba bisa bergerak dan bicara sudah tentu kejutnya bukan main, seseorang bila tahu tipu muslihat dan perbuatan jahatnya sudah konangan dan terbongkar rahasianya, siapapun akan ketakutan."

"Tidak salah."

"Waktu dia nekad hendak membunuh kau, kelima Cianpwe itu tentunya tak membiarkan maksudnya terlaksana, tatkala itu mungkin Li Giok-ham sendiri sudah lemas ketakutan maka segera dia ngacir ke tempat ini."

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya.

"Rekaanmu memang sembilan puluh persen benar, hebat benar otakmu memang sudah lebih cerdik. Tapi kalau kau pun bisa menemukan tempat ini, kenapa tidak kau bawa tua bangka yang tertipu itu kemari juga?"

"Urusanku sendiri, sudah tentu harus kubereskan sendiri pula."

"Kau mampu membereskan?"

"Aku sendiri tidak tahu apa benar dalam dunia ini ada urusan yang tak bisa dibereskan, sedikitnya sampai detik ini aku belum pernah menghadapinya."

Sebetulnya soal ini boleh kelak dibicarakan pelan-pelan, tapi mereka justru nyerocos tidak henti-hentinya, seolah-olah sudah lupa dimana mereka bicara dan kapan mereka mengobrol.

Seolah-olah tidak sadar bahwa Li Giok-ham dan Liu Bu-bi sedang berdiri di sana.

Song Thiam-ji dan Li Ang-siu dan lain-lain sedang mengawasi dengan pandangan heran.

Dan yang membuat Soh Yong-yong berempat amat duka dan mendelu, bukan saja Coh Liu-hiang tidak ajak mereka bicara, sampaipun melirikpun tidak ke arah mereka, selama ini cuma sibuk bicara dengan Oh Thi-hoa.

Diantara mereka berempat hanya Soh Yon-yong seorang saja yang dapat meraba maksud hati Coh Liu-hiang, dia tahu mereka sedang memancing perhatian Li Giok-ham dengan percakapan ini.

Asal perhatian Li Giok-ham rada terpencar dan sedikit lena, maka Coh Liu-hiang akan berusaha dan mendapat kesempatan untuk turun tangan merebut alat rahasia di tangannya itu, betapa cepat Coh Liu-hiang turun tangan, Soh Yong-yong cukup yakin dia pasti akan berhasil.

Apa boleh buat, ternyata tanpa berkedip pandangan Li Giok-ham masih menatap Coh Liu-hiang, tangannya masih kencang memegangi Bau hi li hoa ting itu.

Apapun yang dikatakan Coh Liu-hiang seolah-olah tidak dia dengar, namun sedikit tangan Coh Liu-hiang bergerak, maka Bau hi li hoa ting di tangannya itu segera akan memberondong keluar.

Diam-diam Soh Yong-yong mengucurkan keringat dingin dan berdiri bulu kuduknya, hatinya tegang dan seram, karena dia maklum untuk merebut Bau hi li hoa ting ditangan Li Giok-ham itu, usaha Coh Liu-hiang akan berat, laksana mencabut gigi dimulut harimau.

Mendadak Li Giok-ham menghardik bengis.

"Sudah selesai percakapan kalian?"

"Apa kaupun ingin bicara?"

Tukah Oh Thi-hoa.

"Bagus, biar aku tanya kau dulu, bahwasanya Coh Liu-hiang ada permusuhan apa dengan kau? Kenapa kau hendak mencelakai jiwanya?"

Bersambung ke

Jilid 36

Jilid 36 Li Giok-ham menarik napas panjang, katanya.

"Selamanya aku tak bermusuhan tiada dendam kepadanya, bahwa aku harus membunuh dia, karena terdesak keadaan dan.."

"Kau ini sedang bicara? Atau sedang Kentut?"

Ternyata Li Giok-ham tidak marah, ujarnya menghela napas.

"Banyak persoalannya, aku percaya kau pasti takkan bisa mengerti."

"Banyak persoalan semula memang sukar kupikirkan penjelasannya, tapi lambat laun sekarang aku sudah mendapatkan gambarannya yang terang."

"O"

Coba kau terangkan !"

Kata Li Giok-ham.

"Yang membuatnya bingung dan masih tak mengerti adalah kalau toh kalian sudah melepas aku kenapa pula ingin membunuh aku ?"

"Belakangan baru aku mengerti"

Kata Coh Liu-hiang lebih lanjut dengan tertawa.

"Karena akhirnya aku sadar hakekatnya selama ini kau sendiri tidak pernah menolong aku!"

"Kau..."

Liu Bu-bi ragu-ragu.

"Masakah kau sudah lupa didalam lembah sesat tempat kediaman Ciok Koan im itu?"

Mendengar ucapan orang, Coh Liu-hiang lebih yakin.

"Tidak salah."

Tukasnya.

"Hari itu memang kenyataan kau membunuh banyak orang, tapi tujuanmu bukan untuk menolong aku, karena waktu itu akupun sudah mengejar keluar, kau tidak bunuh mereka, aku tetap bisa lolos!"

Liu Bu-bi menjengek dingin.

"Kalau kau tidak sudi terima budi pertolongan, akupun tidak bisa memaksa kau."

"Walau kau tidak pernah menolong aku, aku tetap berterima kasih kepadamu karena bila kau tidak turun tangan, Kui-je-ong ayah beranak, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan mungkin sudah benar benar mati oleh arak Ciok Koan-im."

"Ternyata kau belum melupakan peristiwa itu sungguh harus dipuji."

Olok Liu Bu-bi.

"Sungguh tentu aku tidak akan lupa, karena selama ini aku sedang heran, setelah bertemu dengan Soh Yong-yong ditengah jalan, baru kalian menyusup ke padang pasir, bagaimana mungkin begitu tiba di gurun pasir, dengan mudah kau lantas dapat menemukan tempat kediaman Ciok-Koan-im di lembah sesat itu? Bukan saja letak lembah sesat itu tersembunyi penuh dipasangi jebakan dan alat-alat rahasia, jarang diinjak manusia luar lagi, jalanan didalam lembahpun simpang siur gampang menyesatkan, namun kalian berlenggang dengan mudah pergi datang seperti berjalan di tanah datar bagai di dalam rumahnya sendiri, bukankah hal ini amat mengherankan?"

Oh Thi-hoa angkat pundaknya, timbrungnya.

"Benar, mendengar uraianmu ini, akupun ikut heran juga."

"Dan lagi,"

Kata Coh Liu-hiang lebih lanjut.

"Kepandaian Ciok-koan-im menggunakan racun amat pandai, arak beracun buatannya sudah tentu orang tidak tahu, ramuan racun apa saja dan tak bisa memunahkannya, maka setelah dia melihat Oh Thi-hoa rebutan arak beracun dan menenggaknya habis dengan Ki Ping-yan, segera dia berlalu, karena dia beranggapan dalam dunia ini tiada seorang tokoh siapapun yang mampu menawarkan arak beracunnya itu, maka tanpa sangsi dia tinggal pergi."

Lalu dengan tajam dia menatap Liu Bu-bi, katanya kalem.

"Tapi seenak kau membubuhi obat kepada si pasien yang sudah kau ketahui penyakitnya saja kau memunahkan kadar racun yang mengeram dalam tubuh teman temanku itu, bukankah hal ini jauh lebih mengherankan?"

"Benar."

Kata Oh Thi-hoa angkat kedua tangan.

"Kalau dia tidak tahu kadar racun apa yang tercampur dalam arak Ciok-koan-im, cara bagaimana dia bisa mengobati kami berempat dengan mudahnya?"

Jari-jari Liu Bu-bi yang putih halus dan runcing itu sedang meremas ujung bajunya, katanya.

"Kedua kejadian itu, apakah kaupun sudah dapat memecahkannya?"

Coh Liu-hiang tertawa tawar, katanya.

"Meskipun kedua kejadian ini sulit diterangkan, namun kalian sendiri yang meninggalkan gejala-gejala yang kurang sempurna dan teliti, kalau bukan lantaran kedua peristiwa itu, mungkin selamanya aku tidak akan menebak tepat asal-usulmu yang sebenarnya."

Jari-jari Liu Bu-bi yang putih menjadi semakin putih dan pucat karena tenaga meremas ujung bajunya terlalu keras, malah kedua lengannya itu tampak gemetar semakin keras, katanya.

"Kau... sekarang kau sudah tahu siapa sebenarnya aku ini?"

"Ingin aku bertanya dulu kepadamu, seseorang bila dia belum pernah berada didalam lembah kediaman Ciok-koan-im itu, apakah dia bisa pergi datang seenaknya?"

Liu Bu-bi menggigit bibir, sahutnya kemudian.

"Tidak bisa."

"Seseorang bila dia tidak tahu racun macam apa yang ditaruh dalam arak Ciok-koan-im itu, mungkinkah dia bisa menawarkan kadar racunnya?"

"Tidak mungkin."

"Jikalau bukan orang kepercayaan Ciok-koan-im yang terdekat, terang tak mungkin bisa tahu jalan rahasia keluar masuk dari lembah sesat itu, maka diapun takkan tahu dosis racun yang tercampur didalam arak itu, benar tidak?"

Mendadak Liu Bu-bi tertawa terloroh-loroh. Agaknya dia sudah tidak bisa kendalikan emosinya sendiri, seperti orang linglung dia terloroh-loroh terus tak berhenti. Akhirnya Oh Thi-hoa bertanya.

"Dia... memangnya siapakah dia sebenarnya?"

Coh Liu-hiang menghirup hawa segar, katanya sepatah demi sepatah.

"Masakah kau belum paham bahwa dia adalah murid kesayangan Ciok-koan-im?"

Liu Bu-bi ternyata adalah murid didik Ciok-koan-im. Sudah tentu penjelasan ini membikin Oh Thi-hoa terperanjat. Sebaliknya, rona muka Li Giok-ham berubah hebat, bentaknya beringas.

"Jikalau dia benar muridnya Ciok-koan-im, kenapa sesama saudara seperguruannya dia bunuh seluruhnya?"

Coh Liu-hiang tertawa dingin, ejeknya.

"Kalau Ciok-koan-im sudah berangan-angan hendak menjadi ratu dinegri Kui-je, kalau dia membawa para muridnya yang sekian banyak jumlahnya, bukankah terlalu berabe dan membebani pundaknya?"

"Kau... kau kira Ciok-koan-im yang menghendaki dia membunuh semua saudara seperguruannya itu?"

"Ya, begitulah kejadiannya."

Sahut Coh Liu-hiang.

"Lantaran orang-orang itu tidak pernah menyangka dia bakal turun tangan secara keji, maka mereka tiada satupun yang siaga, kalau tidak dengan tenaganya seorang, masakah dia dalam waktu sesingkat itu bisa membunuh sedemikan banyak orang?"

"Kalau demikian, jadi kau beranggapan lantaran dia murid didik kepercayaan Ciok-koan-im, maka dia bermaksud membunuhmu?"

"Kecuali itu, agaknya sulit mencari alasan lain untuk menjelaskan persoalan ini."

"Lalu bagaimana dengan aku?"

Tanya Li Giok-ham.

"Mungkin kaupun tertipu oleh dia, kau diperalat tanpa kau sadari. Kemungkinan dia adalah utusan Ciok-koan-im yang dipendam di Kanglam, maka dia sudi menikah dengan kau dengan embel-embel nyonya muda dari Yong-cui-san-cheng sebagai tameng, paling baik untuk menyembunyikan diri."

Tanya Li Giok-ham.

"Kalau benar dia komplotan Ciok-koan-im yang setia, kenapa pula dia mau menolong Oh Thi-hoa dan lain-lain dari keracunan arak itu?"

"Karena waktu itu aku sudah membunuh Ciok-koan-im, melihat gelagat jelek dan tidak menguntungkan dirinya, maka terpaksa dia menolongnya, maksudnya dia supaya kelak dia bisa mengatur jalan mundur, yang terang kalau Oh Thi-hoa dan lain-lain mampus toh tiada manfaatnya bagi dirinya."

Li Giok-ham mendadak tertawa gelak-gelak! Nada tawanya mengandung penasaran dan gusar, seolah banyak penasaran yang tidak lampias.

"Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang, kau memang terlalu pintar, namun sayang kau keblinger oleh kepintaranmu sendiri."

"Memangnya uraianku barusan salah?"

"Sudah tentu apa yang kau uraikan tidak salah, apa yang diketahui oleh Coh Liu-hiang yang serba pintar masakah bisa salah? Sekarang apapun yang kau katakan yang terang sudah tiada hubungannya sama sekali."

Sorot matanya seolah-olah hendak menyemburkan api, suaranya mirip gerungan gusar.

"Karena sekarang kau jelas akan mati kalau tidak segera aku bunuh kalian."

"Apa kau sudah gila?"

Seru Oh Thi-hoa kaget.

"Benar, memang aku sudah gila tapi bila kau menjadi aku, kau akan lebih gila lagi."

Jari-jarinya gemetar sembarang waktu tombol kotak Bau hi li hoa ting itu kemungkinan tersentuh, kalau orang lain masakah berani adu mulut dan menyindirnya dengan pedas.

Tapi Oh Thi-hoa justru tidak peduli, teriaknya.

"Sampai detik ini kau masih ingin melindungi dia?"

"Sudah tentu."

Sahut Li Giok-ham kalap.

"Sampai detik ini, kau masih belum percaya bila binimu ini adalah murid kepercayaan Ciok-koan-im?"

Sebetulnya Liu Bu-bi sudah tunduk kepala, tiba-tiba dia angkat kepala dan berseru beringas.

"Benar, memang aku adalah murid Ciok-koan-im tapi sejak mula aku tidak pernah mengelabui dan merahasiakan diriku kepadanya!"

Oh Thi-hoa melongo, katanya menatap Li Giok-ham.

"Jadi kau sudah tahu bila dia adalah murid Ciok-koan-im yang dipendam di Kang-lam sebagai mata-mata, namun kau tetap mempersunting dia sebagai istrimu, kecuali dia memangnya perempuan dalam dunia ini sudah mampus seluruhnya?"

Dengan kencang Liu Bu-bi pegang tangan Li Giok-ham, dia tidak membiarkan orang bicara lagi. Namun tangannya sudah gemetar, katanya.

"Segala caci maki yang paling kotor dan keji sudah kalian lontarkan kepada kami, bolehkah beri kesempatan untuk aku bicara, secara terbuka."

"Cayhe sedang pasang kuping."

Ujar Coh Liu-hiang tersenyum.

"Diantara murid-murid yang dididik Ciok-koan-im, hanya aku dan Ki Bu-yong yang dipungutnya sejak kecil, jadi kami tumbuh dewasa disampingnya, kami berdua sama-sama anak yatim piatu, malah siapa-siapa nama ayah bunda kamipun tak tahu, semula beliau ada memberi nama kepadaku, setelah aku berada di sini, baru aku merubah she Liu dan bernama Bu-bi."

"Jadi nama Ki Bu-yong juga dirubah setelah roman mukanya itu dirusak?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Benar, semula dia bernama Bu-su "tiada maksud"

Dan aku bernama Bu-gi "tak terkenang"."

Coh Liu-hiang menghela napas gumannya.

"Bu-su, Bu-gi, Bu-hoa... ai!"

"Walau dia ingin supaya kami Bu-su, Bu-gi, betapapun kami ini manusia yang berdarah daging, setiap orang setelah menanjak dewasa pasti dia akan terkenang ayah bundanya. Sudah tentu kamipun tidak ketinggalan apa boleh buat beliau setuju merahasiakan dan tak mau mencari tahu siapa ayah bunda kami sesungguhnya, setiap kali kami menyinggung hal ini, dia lantas marah dan uring-uringan."

"Bagaimana tindakannya terhadap para murid didiknya, aku sedikit pernah menyaksikannya."

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi dia terlalu baik terhadap aku dan Ki Bu-yong, cuma watak Ki Bu-yong lebih pendiam dan suka menyendiri, berhati keras lagi. Sudah tentu sifatnya yang lugu itu tidak bisa mengambil hati gurunya, aku sebaliknya lebih..."

Dengan tertawa dingin, Oh Thi-hoa menukas.

"Kau lebih pintar menepuk pantatnya minta aleman, hal ini tak perlu kau jelaskan karena aku sudah tahu."

Bahwasanya Liu Bu-bi tidak hiraukan ocehannya, katanya lebih lanjut.

"Dalam pandangan orang lain, Ciok-koan-im seolah-olah benar-benar dibuat dari ukiran-ukiran batu, namun justru ia seorang manusia, orang yang punya darah dan daging, maka iapun memiliki sifat sifat lemah dari manusia umumnya."

"O?"

Coh Liu-hiang bersuara heran.

"Ada kalanya, diapun merasa hambar, risau dan rawan, kesepian dan tersiksa dalam keadaan seperti itu, maka diapun meminjam arak untuk melampiaskan kedukaan hatinya, malah sering minum sampai mabuk dan tak sadarkan diri."

Oh Thi-hoa tertawa geli, ujarnya.

"Tak nyana Ciok-koan-im ternyata punya hobby yang sama dengan aku."

"Lantaran hubunganku lebih dekat sama dia, maka sering dia minta aku menemani dia minum arak, pada suatu hari diapun mabuk-mabuk lagi, dalam mabuknya itu dia membuka sebuah rahasia kepada diriku."

"Rahasia apa?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Hari itu semalam suntuk kami minum arak, menjelang pagi saking mabuk kepalanya sudah lemas, matanyapun menjublek, tiba-tiba dia memberitahu kepadaku, ayah bunda Ki Bu-yong adalah dia yang membunuhnya."

Terkesima Coh Liu-hiang dibuatnya, katanya.

"Apakah karena dia hendak menerima Ki Buyong sebagai muridnya, maka dia bunuh kedua orang tuanya?"

"Ya, memang begitulah."

Sahut Liu Bu-bi karena amat terpengaruh oleh perasaannya, suaranya sampai serak, setelah merenung sekian lamanya lalu dia meneruskan.

"Mendengar ucapannya, sudah tentu kejutku bukan main, takut lagi, waktu itu terpikir olehku, kalau ayah bunda Ki Bu-yong dibunuh oleh dia, apakah ayah bundakupun dibunuhnya juga?"

Sampai di sini Oh Thi-hoa ikut tegang dan ketarik, tanyanya.

"Kenapa tidak kau tanya dia, waktu dia masih mabuk?"

"Sudah tentu kutanyakan, namun dia bilang, riwayat hidupku berlainan dengan Ki Bu-yong, aku adalah bayi buangan, dia sendiripun tidak tahu siapa ayah bundaku, waktu kutanya dia lagi, mendadak dia merangkulku dan menangis gerung-gerung, dikatakan dia seorang diri sebatang kara, tiada sanak tiada kadang, maka sejak kecil dia pandang aku sebagai anak kandungnya sendiri."

"Karena tangisnya itu maka kau lantas percaya begitu saja?"

Timbrung Oh Thi-hoa pula. Liu Bu-bi kucek-kucek matanya, katanya.

"Meski aku tak percaya namun sulit aku mencari bukti, sudah tentu akupun tidak berani membocorkan rahasia ini kepada Ki Bu-yong karena bila hal ini kuberitahu kepada dia, berarti aku mencelakai jiwanya."

"Benar, ujar Coh Liu-hiang, jikalau Ciok-koan-im tahu Ki Bu-yong sudah tahu akan rahasia ini, dia pasti tak akan membiarkan muridnya itu hidup lebih lama."

"Sejak malam itu, lahirnya aku tetap seperti dulu, namun batinku sudah jauh berubah tak mungkin aku bergaul intim dengan dia seperti dulu."

Sampai disini Liu Bu-bi menghela napas, lalu melanjutkan.

"Perubahan Ki Bu-yong justru lebih besar dan menyolok dari aku, begitu usianya menanjak dewasa semakin lama sikapnya semakin dingin dan menjauhi Ciok-koan-im. Seumpama sekuntum kembang yang tumbuh ditengah udara, kelihatannya selalu dingin, begitu agung, sedih dan menawan hati, begitu cantik lagi. Meski aku ini seorang perempuan sampai akupun merasakan dia teramat cantik, begitu rupawan sampai sanubariku tak berani menyentuhnya, sudah tentu tidak berani aku membuka tabir rahasia itu."

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.

"Sayang sekali kita tidak bisa menikmati roman mukanya yang cantik itu."

"Memang kasihan, takdir memang sudah tentukan nasib seseorang... aku sungguh tidak pernah menduga bahwa Ciok-koan-im merusak wajahnya nan ayu itu!"

"Kau juga tahu bila Ciok-koan-im lah yang merusak wajahnya?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Aku tahu."

Sahutnya kertak gigi.

"Setelah tahu akan kejadian ini maka aku insaf akupun tak bisa lama-lama berada disamping Ciok-koan-im, meskipun berulang kali dia sudah berpesan wanti-wanti kepadaku, katanya dia takkan menggunakan kekerasan terhadapku, tapi dalam pandanganku, ia sudah berubah seperti ular beracun, cukup selintas pandang saja, aku sudah tidak tahan lagi."

Bercahaya sorot mata Coh Liu-hiang, katanya.

"Memangnya kau melarikan diri?"

"Aku bukan lari, kalau aku ingin lari, maka jiwaku takkan hidup sampai sekarang."

"Jadi kau...."

"Aku cuma bilang, aku sekarang sudah dewasa, sudah tiba waktunya keluar melihat dunia dan cari pengalaman, sejak melihat dunia dan tumbuh dewasa ditengah gurun pasir yang serba gersang dan tersembunyi dalam lembah sesat itu, bagaimana keadaan dunia luar sedikitpun tidak tahu, maka aku mohon beliau suka memberi kesempatan aku keluar."

"Apa yang dia katakan?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Dia tidak berkata apa-apa, dia cuma tanya aku, kapan aku akan pergi?"

"Bagaimana jawabmu?"

"Waktu itu aku sudah tidak sabar lagi, seharipun rasanya sudah tidak betah lagi tinggal disana, maka segera aku jawab. lebih baik besok pagi."

"Apa dia terus menerima dan memberi ijin kepadamu begitu saja?"

"Mendengar permohonanku, lama dia termenung, mendadak berkata. Baik, malam ini aku adakan perjamuan untuk memperingati keberangkatanmu. Aku sendiri tidak duga begitu lekas dan gampang dia mau melulusi permintaanku, keruan bukan kepalang senang hatiku."

"Ku kira terlalu pagi kau merasa senang."

Ujar Coh Liu-hiang.

"Malam itu juga dia betul-betul menyiapkan sebuah perjamuan untuk mengantar kepergianku, aku betapapun diasuh dan dibesarkan dia, teringat besok juga akan berpisah, hatiku merasa berat dan sedih juga, teringat orang begitu gampang memberi ijin dirinya untuk pergi, tak urung hati amat haru dan terima kasih sekali. Maka malam itu aku temani dia minum arak sebanyak-banyaknya."

Mendengar sampai di sini, lapat-lapat Oh Thi-hoa sudah meraba tujuan jahat dari kata-katanya itu, mau tidak mau dia ikut tegang juga bagi keselamatannya, tak tahan dia bertanya pula.

"Bagaimana keesokan harinya?"

Muka Liu Bu-bi tidak menunjukkan perasaan hatinya, katanya tawar.

"Hari kedua, dia mengantar aku sampai di mulut lembah, dia lepas aku pergi."

Oh Thi-hoa melongo, katanya.

"Begitu saja dia mau melepas kau pergi?"

Kembali Liu Bu-bi menepekur rada lama, meski rona mukanya tidak menunjukkan mimik hatinya, namun kulit mukanya begitu pucat seperti mayat hidup, sorot matanya justru memancarkan kebencian yang berlimpah-limpah katanya dengan tegas.

"Begitulah dia melepaskan aku pergi, karena sebelumnya dia sudah perhitungkan aku pasti akan kembali lagi."

"Kembali, harus kembali lagi?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Belum lima ratus li aku menempuh perjalanan, segera terasa perutku sakit sekali seperti disayat sayat, seolah-olah banyak ular-ular kecil menggerogoti perutku."

Seketika merinding sekujur badan Oh Thi-hoa, katanya.

"Arak... arak itu beracun?"

Liu Bu-bi kertak gigi, sahutnya mendesis.

"Benar. dalam arak ada racun, maka dia sudah perhitungkan, aku pasti akan merangkak balik, minta pengampunan dan obat pemunahnya, kalau tidak aku akan mampus ditengah gurun pasir, tanpa ada orang yang mengubur mayatku."

Oh Thi-hoa seketika naik pitam, serunya.

"Kalau dia sudah melulusi permintaanmu dan mengantar kau pergi, kenapa dia mencampur racun dalam arak itu?"

"Karena dia ingin supaya aku tahu akan kelihaiannya, supaya selama hayatku tidak berani membangkang dan durhaka kepadanya, supaya aku berlutut dan menyembah mohon ampun kepadanya... karena dia amat suka melihat orang menyembah dan meratap diujung kakinya."

Oh Thi-hoa menarik napas panjang, gumamnya.

"Untung manusia sekeji itu kini sudah mampus."

Berkata Liu Bu-bi lebih lanjut.

"Meski rencananya rapi, perbuatannya keji tapi dia lupa akan satu hal."

"Lupa apanya?", tanya Oh Thi-hoa.

"Dia lupa diwaktu dia mabuk, banyak rahasia yang pernah dia beritahu kepadaku."

"Dia memberitahu cara memunahkan racunnya kepadamu?"

"Aku ini muridnya sudah tentu aku ikut mempelajari, cara menggunakan racun dan cara memunahkannya, kalau tidak mungkin kau pun takkan hidup sampai sekarang."

Oh Thi-hoa menyengir sambil mengelus hidungnya tanpa bicara lagi. Maka berkatalah Coh Liu-hiang.

"Tapi racun yang dia gunakan terhadap kau pastilah kadar racun yang belum pernah dia turunkan kepadamu, hakikatnya kau sendiri tak tahu racun apa yang dia taruh dalam arak yang kau minum, cara bagaimana kau bisa memunahkannya?"

"Aku mengerti akan hal ini, tapi pernah ia memberitahu kepadaku daun gania bukan saja dapat membuat seseorang terperosok ke dunia nista, ada kalanyapun dia ada manfaatnya untuk mencegah rasa sakit, karena dia bisa bikin manusia matirasa, dan tenggelam dalam kenikmatan hakikatnya orang yang sudah menggunakan obat ini, akan lupa dirinya, maka sejak mula, diam-diam aku sudah mencuri sekotak ganja itu, yang kubuat menjadi bubuk putih yang halus jadi sudah lama aku selalu siaga bila diriku diracun olehnya."

"Tapi bila seseorang setiap hari selalu tenggelam dalam pati rasa dan lupa daratan betapa kehidupannya tidak seperti mati?"

"Sudah tentu aku tahu menggunakan obat ganja untuk mencegah sakit, sama seseorang yang sudah ketagihan, candu, dan tak mungkin bisa memutus kebiasaannya itu. Tapi waktu itu sungguh aku tidak kuat lagi, menahan derita apalagi meski mati, aku bersumpah tidak sudi kembali, mohon ampun kepadanya apalagi menjadi budaknya seumur hidup."

"Maka kau lantas diperbudak oleh obat-obat ganja itu?"

Kata Coh Liu-hiang.

Liu Bu-bi tunduk diam, malu rasanya bila orang lain melihat mukanya.

Karena derita membuat kulit dagingnya kejang berkerut kemerut.

Tampak Soh Yon-yong, Li Ang-siu, Song Thiam-ji bercucuran air mata, demikian juga muka Mutiara hitam menampilkan rasa pedih dan duka.

Memang sesama perempuan kadang kala sukar menjadi sahabat karib, tapi betapa pun perempuan merasa iba dan simpatik terhadap sesama jenisnya, karena mereka berpendapat asal dia perempuan, maka dia patut dikasihani.

Soh Yong-yong menghela napas, katanya.

"Selama beberapa tahun ini hidupmu tentu menderita."

"Kalau demikian,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Malam itu waktu didalam penginapan kau menjerit dan merintih menahan kesakitan, lantaran kadar racun dalam tubuhmu kumat, jadi bukan pura-pura belaka?"

"Dulu setiap kali penyakitku ini kumat, cukup asal aku menelan sedikit bubuk obat ganja, rasa sakitku segera lenyap. Tapi belakangan ini, meski aku menelan dua lipat obat bubuk itu lebih banyak, rasa sakitnya tidak hilang dan obat itu sudah tak manjur lagi."

"Ya, bukan lantaran obat bubuk ganja itu sudah kehilangan khasiatnya, adalah karena ragamu sudah mulai kebal dan tak mempan terhadap obat bubuk itu lagi, seumpama seseorang yang sudah kumat arak, semakin lama arak yang kau minum semakin banyak."

"Sedikitpun tidak salah."

Tukas Oh Thi-hoa.

"Dulu cukup dua cangkir saja arak tertuang ke dalam perutku, badan terasa enteng seperti hendak terbang, segala kerisauan hati terlupakan semua, tapi sekarang umpama menghabiskan tiga sampai lima kati arak yang paling keraspun, rasanya seperti belum minum."

Tak tahan Coh Liu-hiang tertawa-tawa, dia tahu bagi seorang penggemar arak, bila ada kesempatan pasti suka mengagulkan diri akan takaran minumnya yang luar biasa, terdengar Oh Thi-hoa berkata pula.

"Kalau malam itu benar kau memang sedang kumat penyakitmu, lalu siapakah yang membokong kami dengan Bau hi li hoa ting?"

Liu Bu-bi berdiam lagi, lalu sahutnya tawar.

"Aku juga!"

Oh Thi-hoa melongo, katanya.

"Jelas kudengar suaramu yang sedang sedang sekarat didalam kamar, mana mungkin kau bisa keluar membokong kami? Kau... tentunya kau tidak menggunakan ilmu sesat bukan?"

"Obat ganja itu sudah tidak begitu manjur seperti dulu untuk mencegah sakit, tapi masa kerjanyapun tidak terlalu lama, begitu mendengar suara kalian sudah keluar dari pekarangan, segera kusuruh seorang pelayanku pura-pura merintih seperti aku, setiap orang bila merintih kesakitan suaranya tentu berubah, umpama kalian merasakan perbedaan suaraku itu, toh tidak akan curiga."

"Lalu kau buang alat Bau hi li hoa ting didalam hutan, maksudmu supaya tidak konangan oleh kami?"

Tanya Oh Thi-hoa. Liu Bu-bi mengangguk sambil mengiakan.

"Bahwasanya kalianpun tidak pergi mencari Cianpwe tujuh jari itu, karena dalam dunia ini hakikatnya tak pernah ada seorang seperti yang kau sebutkan itu?"

Liu Bu-bi tertawa, katanya.

"Bukan saja tiada orang seperti itu, sampaipun paman Hiong yang kusebut itupun embel-embel saja."

"Kalian sengaja bilang hendak mencari orang, karena kalian sudah merogoh kantong mengeluarkan dua puluh laksa tahil perak untuk membeli seorang pembunuh, diwaktu dia melakukan pembunuhan, kalian kebetulan tiada ditempat, kalau tidak kalianpun tidak perlu mencari dia."

"Ya, memang begitulah kejadiannya."

"Siapa tahu pembunuh itu justru teringkus oleh Coh Liu-hiang, kuatir dia membocorkan rahasia, maka kalian lantas membunuhnya."

"Sedikitpun tidak salah."

Mengawasi Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa tertawa getir, katanya.

"Baru sekarang aku benar-benar sadar dan kagum pada kau, segala ramalanmu ternyata cocok seluruhnya."

Muka Liu Bu-bi seketika menampilkan rasa heran, tanyanya.

"Kejadian itu, apakah sebelumnya sudah kau ketahui?"

"Tapi sulit aku mengerti kenapa kau hendak membunuh aku?"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Kalau kau bukan membalas dendam bagi kematian Ciok-koan-im, memangnya karena apa?"

Kembali Liu Bu-bi berdiam diri cukup lama, sahutnya kemudian.

"Aku demi diriku sendiri."

"Kau sendiri?"

Seru Coh Liu-hiang melengak.

"Apakah kau sendiri ada permusuhan dengan aku?"

"Aku tidak punya dendam tiada permusuhan dengan kau, tapi bila kau tidak mati, maka akulah yang mampus."

"Kenapa?"

Semakin tak mengerti Coh Liu-hiang dibuatnya.

"Beberapa tahun belakangan ini, penyakitku semakin sering kumat, malah jaraknya semakin dekat, maka obat ganja yang kuperlukanpun semakin banyak, sekotak yang kubawa keluar itu sudah habis, jadi aku harus membeli di kalangan Kang-ouw. betapa sulit mendapatkan bahan-bahan yang kuperlukan ini, aku insaf kalau keadaan berlarut semakin lama, meski aku tidak mati lantaran racun Ciok-koan-im, akhirnya aku akan mampus karena terlalu banyak makan obat ganja serta keracunan pula."

"Ya, memang begitulah akhirnya."

Kata Coh Liu-hiang.

"Aku sendiri menderita dan tersiksa sih tidak menjadi soal, tapi... tapi aku tidak tega menyeret dia ikut tersiksa, karena penyakitku ini, untuk mencari obat ganja, entah berapa banyak uang yang sudah dia keluarkan, betapa dia ikut menderita."

Muka Li Giok-ham pucat lesi, katanya kertak gigi.

"Tak usah kau bicarakan hal itu lagi."

"Urusan sudah terlanjur sedemikian jauh."

Demikian kata Liu Bu-bi.

"Aku harus membeber semua kejadian ini..."

"Memang harus dan pantas kau beber seluruhnya"

Timbrung Oh Thi-hoa.

"Menurut apa yang ku tahu, selama hidup Ciok-koan-im dia hanya takut terhadap seseorang, dia pernah bilang, orang ini boleh dikata adalah musuh bebuyutannya yang selalu merupakan lawan mematikan dari segala kemampuannya, seluruh kepandaiannya takkan mempan dan tak berguna sepeserpun untuk menghadapi orang yang satu ini!"

"Oh!"

Oh Thi-hoa bersuara dalam tenggorokan.

"Apa benar dalam dunia ini ada tokoh macam itu? Siapa dia?"

Liu Bu-bi tidak menjawab pertanyaan, katanya lebih lanjut.

"Maka aku lantas berpikir, kemungkinan orang ini bisa memunahkan racun Ciok-koan-im yang mengeram dalam badanku."

"Ya, diwaktu kau tahu dirimu sudah keracunan, seharusnya kau langsung pergi mencari dia."

Kata Oh Thi-hoa.

"Mesti sudah lama keinginanku mencari dia tapi selama itu aku tidak berani."

"Apa yang kau takuti?"

"Karena bukan saja dia merupakan tokoh kosen yang berkepandaian silat paling tinggi diseluruh jagat ini, diapun orang yang amat menakutkan, wataknya sukar diraba, senang marah tidak menentu, bukan saja tidak mau membedakan benar salah, diapun tidak peduli jahat dan bajik, asal dia senang, apapun dapat dia lakukan, membunuh jiwa seseorang dalam pandangannya seperti memites seekor semut belaka!."

"Orang sebrutal ini, aku toh ingin menempurnya."

Kata Oh Thi-hoa. Liu Bu-bi melerok kepadanya, sorot matanya menunjukkan penghinaan, seperti berkata.

"Mengandalkan kepandaianmu Oh Thi-hoa saja, meski selaksa jumlahnya juga jangan harap kuat melawannya."

Tapi dia tidak utarakan isi hatinya, katanya kemudian dengan menghela napas.

"Walau aku takut menemui dia, namun keadaan semakin mendesak aku untuk pergi kesana."

Tak tahan Oh Thi-hoa menyela lagi.

"Sebetulnya kau sudah berhasil menemui dia belum?"

"Sudah!"

"Apa dia mampu mengobati penyakitmu?"

"Sudah tentu dia bisa, cuma dia mengajukan syarat."

"Syarat apa?"

"Syaratnya sepele saja, dia minta sesuatu benda dari aku."

Oh Thi-hoa mulai tegang, lapat-lapat dia sudah meraba syarat apa yang diminta oleh orang aneh itu. Tapi tak tahan dia bertanya juga.

"Barang apa yang dia minta?"

"Yang diminta adalah batok kepala Coh Liu-hiang."

Sudah tentu semua orang sama tertegun mendengar penjelasan ini. Lama juga suasana dalam bui di bawah tanah itu sunyi senyap. Akhirnya Oh Thi-hoa pula yang membuka suara sambil mengawasi Coh Liu-hiang.

"Apakah otakmu merupakan barang mestika yang tak ternilai hargnya, kenapa begitu banyak orang yang menginginkan batok kepalamu?"

"Dengan kau, aku tidak bermusuhan tiada dendam, sebetulnya aku tidak tega dan sudi melakukan perbuatan sekeji ini untuk membunuh kau, tapi orang itu bilang, racun yang mengeram dalam tubuhku sudah berakar, paling lama bisa bertahan tiga bulan lagi, dalam tiga bulan ini jikalau aku tidak berhasil menyerahkan kepalamu kepadanya, dianjurkan supaya aku lekas mempersiapkan diri untuk ajal."

Tanpa sadar Coh Liu-hiang kucek-kucek hidung, katanya.

"Sekarang sudah berapa lama?"

"Sudah dua bulan."

"Apakah omongan orang itu dapat dipercaya?"

"Jikalau kau tahu siapa dia, kau tak curiga akan ucapannya."

"Aku sih tak menduga, ternyata kau toh perempuan yang takut mati juga."

Demikian olok Oh Thi-hoa. Bercucuran air mata Liu Bu-bi, katanya sesenggukan.

"Aku tidak takut mati, aku hanya... hanya..."

"Hanya apa?"

Desak Oh Thi-hoa. Dengan suara serak Li Giok-ham menyela pula.

"Hanya karena aku, dia tidak tega pergi meninggalkan aku seorang diri, tentunya kau sudah paham bukan?"

"Aku sudah ngerti."

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tentunya kau pun sudah tahu, bahwasanya dia bukan mata-mata dari siapapun. bahwa dia bukan mata-mata Ciok-koan-im seperti yang kau duga dia hendak merenggut nyawamu lantaran dia harus mempertahankan hidup."

"Manusia hidup kalau bukan demi pribadi sendiri dia akan kualat, untuk ini aku tidak menyalahkan dia. Apa yang dia lakukan dan perjuangkan memang pantas dan jamak."

Agaknya Li Giok-ham tidak menduga Coh Liu-hiang bakal mengeluarkan kata-kata ini, katanya kemudian setelah terlongong.

"Kalau demikian sukalah kau memberi kesempatan kepadanya untuk melaksanakan keinginannya."

"Tadi sudah kukatakan, manusia hidup bukan demi diri sendiri dia akan kualat, meski aku ingin membantu dia, tapi paling tidak aku harus pikirkan dulu kepentinganku juga."

Dengan tajam ia awasi Li Giok-ham, maka lalu menambahkan dengan tertawa.

"Jikalau kau diminta memenggal kepalamu sendiri untuk membantu orang lain, kau mau tidak?"

Muka Li Giok-ham yang pucat seketika merah padam, serunya kasar.

"Tapi bantuan ini tidak bisa tidak harus kau lakukan."

"O? Apa ya?"

"Jikalau kau tidak mau mampus, biar kelima temanmu ini menebus kematianmu, tentunya kau tidak tega melihat kelima temanmu ini mampus gara-gara kau bukan?"

"Jikalau kau bunuh mereka, kalian suami istri..."

"Yang terang kami suami istri sudah tidak ingin hidup lagi."

"Agaknya kau ini memang romantis dan kukuh, demi Bini sendiri tak segan-segan kau melakukan perbuatan terkutuk apapun... tapi kenapa tak langsung saja kau gunakan Bau hi li hoa ting di tanganmu itu untuk membunuh aku?"

Li Giok-ham kertak gigi, serunya sumbang.

"Aku tidak yakin berhasil membunuh kau, sekarang merupakan pertaruhanku yang terakhir kali, aku tidak mau main-main dengan taruhanku ini."

"Sedikitnya ucapanmu ini terhitung jujur."

"Sampai di sini saja ucapanku, tak berguna kau mengulur waktu biar aku memberi kesempatan terakhir kepadamu untuk berpikir, setelah aku menghitung lima, kalau kau tidak mampus biar mereka yang gugur!"

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, gumamnya.

"Lima hitungan? Kenapa tidak tiga hitungan saja? Bukankah lebih pendek lebih tegang dan menusuk perasaan?"

Dengan muka membesi Li Giok-ham mulai hitungannya.

"Satu..."

Karena tegang dan dihayati emosi suaranya kedengaran serak, dua kali mulutnya bergerak baru hitungan "Satu"

Terucap karena dia tahu jikalau Coh Liu-hiang tidak mau mati, meski Oh Thi-hoa, Soh Yong-yong, Li Ang-siu, Song Thiam-ji dan Mutiara hitam mampus, mereka suami istripun takkan bisa hidup lebih lama lagi.

Sikap dan mimik Coh Liu-hiang tetap tenang, seperti tidak rela atau mau jiwanya harus dikorbankan begitu saja.

"Dua!"

Dengan suara serak Li Giok-ham menambah satu hitungan lagi.

Ternyata Coh Liu-hiang tetap berdiri adem ayem sambil menggendong kedua tangannya, mulutnya menyungging senyuman malah.

Sungguh Li Giok-ham tak sudi melihat senyumnya, terpaksa dia melotot kepada Soh Yong-yong dan lain-lain, sudah tentu diapun tahu tiada seorangpun dari mereka yang mau bilang.

"Coh Liu-hiang, lekas kau mampus saja! Biar kami yang bertahan hidup, kami adalah orang-orang yang terdesak oleh kau, jikalau kau sudi mati demi kami, seluruh orang dalam dunia ini akan memuja dan menyanjung dirimu."

Tapi Li Giok-hampun tidak mengharap mereka bilang demikian, dia menganggap mereka bilang.

"Coh Liu-hiang sekali-kali kau tidak boleh mati! Biarlah kami yang mati! Kami orang-orang awam yang tiada berguna hidup dalam dunia fana ini, matipun tidak menjadi soal."

Lebih besar mereka harapannya bilang.

"Dapat mati demi kau, kami akan mati dengan meram dan terhibur di alam baka, semoga kau tidak melupakan kami, setiap musim semi pada tanggal kematian kami, sulutlah dupa di depan pusara kami, kami sudah puas dan tentram."

Karena Li Giok-ham tahu bila mereka mengucapkan kata-kata ini, maka terciptalah suatu suasana kepedihan, kegagahan dan ketukan jiwa yang memilukan.

Diapun tahu Coh Liu-hiang sesuai dengan julukannya sebagai Maling romantis, pasti hatinya akan terketuk oleh bujukan kata-kata ini dan berkobar serta mendidih darahnya, sehingga tak bis mengendalikan emosi sendiri.

Dikala itu umpama dia tak mau mati, maka dia suami istri pasti akan mampus.

Tapi kenyataan Soh Yong-yong dan lain-lain tetap bungkam, mereka berdiri tetap tak bergerak ditempat masing-masing, menunggu dengan tenang, bukan saja tidak tegang, sedih juga tidak.

Keruan kejut heran dan putus asa Li Giok-ham dibuatnya, kenyataan orang-orang ini tidak terpengaruh oleh suasana, memangnya mereka bukan manusia yang berdarah daging dan tidak punya perasaan dan emosi?

Dengan tegang Li Giok-ham menambah hitungannya.

"Tiga."

Mendadak Coh Liu-hiang tersenyum dan berkata.

"Baru sekarang aku paham akan dua hal!"

"Dua hal apa?"

Tercetus pertanyaan dari mulut Li Giok-ham.

"Baru sekarang aku paham bahwa anak didik keturunan Yong-cui san-cheng memangnya tidak bisa melakukan kejahatan, karena bukan saja kau tak tahu cara bagaimana kau harus melakukan kejahatan itu, sampaipun cara bagaimana kau harus menggertak dan menakuti orangpun tidak tahu."

Sambil tersenyum dia meneruskan "Jikalau kau ingin orang takut akan rencanamu, maka kau sendiri jangan takut, jikalau kau sendiri sudah ketakutan lebih dulu, orang lain mana bisa kau bikin takut?"

Oh Thi-hoa bergelak, serunya.

"Tidak salah, begitu pula bagi seorang yang suka humor, sekali-kali dirinya tidak boleh tertawa diwaktu mengucapkan kata yang lucu dan menggelikan, jikalau kau sendiri sudah terpingkel-pingkel, meski ceritamu amat lucu dan menarik, orang lain tidak akan tertawa melihat kelakuanmu sendiri."

Li Giok-ham gusar, dampratnya.

"Kau kira..."

Li Giok-ham gusar.

"Kalian sangka..."

Coh Liu-hiang tidak beri kesempatan dia bicara tukasnya.

"Anak didik dari keluarga elite seperti kalian ini masih mempunyai suatu ciri yang paling fatal."

"Ciri apa?"

Hampir saja Li Giok-ham tak bisa tahan diri, hendak bertanya. Tapi akhirnya dia urungkan malah menggembor keras.

"Empat!"

Hakekatnya Coh Liu-hiang tidak hiraukan pada hitungannya, katanya lebih jauh.

"Ciri kalian yang terbesar adalah tidak punya pengalaman Kangouw sama sekali, soalnya kalian sendiri tidak perlu berkecimpung dan berusaha di kalangan Kangouw berjuang dan bersusah payah untuk mencari hidup, kalian dilahirkan sudah hidup dalam kemewahan, merasa derajat sendiri jauh lebih tinggi dari orang lain, oleh karena itu sedikit banyak kalian sama berpandangan cupat dan sempit, anggap segalanya serba bisa, serba tahu dan serba punya, oleh karena itu tidaklah heran bila kalian sering lalai, ceroboh dan gampang keblinger."

Mendadak dia tuding Bau hi li hoa ting ditangan Li Giok-ham, katanya lebih lanjut.

"Umpama kata, alat Bau hi li hoa ting ini sekarang merupakan tameng kehidupanmu, kalian suami istri kini hanya mengandal akan alat itu, apakah pegasnya tetap bekerja normal? Tidak kau lihat apakah kotak itu memang benar ada isinya?"

Sikap Li Giok-ham seperti kena lecut cambuk, katanya dengan serak.

"Bau hi li hoa ting selamanya belum pernah gagal..."

"Tiada sesuatu yang abadi dan tak pernah salah didalam dunia ini, sampaipun matahari ada kalanya digigit anjing langit "gerhana", kenapa pula Bau hi li hoa ting ini tak mungkin gagal? Bukan mustahil alat dan pegasnya sudah karatan? Mungkin pula ada ulat-ulat kecil yang tiba-tiba menyusup ke dalam, sehingga lobang jarumnya tersumbat?"

Hidung Li Giok-han pun sudah mulai basah oleh keringat, tangan yang memegangi alat senjata rahasiapun mulai gemetar. Berkata Coh Liu-hiang lebih lanjut dengan tawar.

"Apalagi, umpama alat ini tak pernah gagal, sekarangpun tak berguna lagi, karena bahwasanya alat ini kosong, kemaren malam waktu kami menghadapi Thian-lo-te-hong suami istri paku-paku didalamnya sudah kita sambitkan seluruhnya."

Tiba-tiba Li Giok-ham terbahak-bahak, katanya.

"Kau kira aku ini anak umur tiga tahun, masakah gampang kau gertak dengan omongan kentutmu ini? Biar kuberitahu terus terang, ocehanmu hakekatnya tiada sepatah kata pun yang kupercaya."

Meski nadanya begitu dan tandas, sebenarnya hatinya sudah goyah, karena orang yang benar-benar punya keyakinan tidak akan tertawa begitu rupa, tawa semacam itu tak lebih hanya untuk menutupi kekalutan pikiran dan kekuatiran hatinya.

"Jikalau kau tidak percaya,"

Coh Liu-hiang tetap kalem "kenapa tak kau periksa sendiri?"

"Tidak perlu aku memeriksanya, tak perlu!"

Seru Li Giok-ham dengan geram.

Mulut mengatakan tidak perlu, namun tak tertahan biji matanya sudah melirik ke arah kotak yang dipegangnya, tangan yang lain tanpa sadarpun terangkat mengelus bagian permukaannya.

Bahwasanya apakah kotak ini berisi atau kosong hakekatnya dia tidak akan bisa melihat dan merasakan, tak mungkin teraba oleh tangannya pula, maklumlah karena ketegangan urat syarafnya saja yang tak bisa mengendalikan perasaan diri sendiri lagi.

Tepat disaat biji matanya melirik itulah, meski hanya sekilas, laksana anak panah tiba-tiba badan Coh Liu-hiang melenting menubruk maju.

Sudah tentu kejut dan murka Li Giok-ham bukan kepalang, namun berkelitpun sudah tak sempat lagi.

Meski gerak reaksinya cukup cepat, namun tiada sesuatu gerakan apapun yang bisa menandingi kecepatan gerak Coh Liu-hiang.

Dikala dia sadar dirinya kena tipu Coh Liu-hiang sudah angkat kedua tangannya tinggi ke atas kepala, ditengah pergumulan seru itu, entah jari-jari siapa yang menyentuh tombol alat senjata rahasia Bau hi li hoa ting itu.

"Bung"

Sinar perak laksana kilat sama ramai, dua puluh tujuh batang Li-hoa ting seluruhnya amblas tak kelihatan.

Seluruh tenaga dan semangat Li Giok-ham seakan-akan ikut melesat keluar, ikut menyertai seluruh paku-paku Li hoa-ting yang merupakan sandaran hidupnya, sekujur badannya seakan akan menjadi hampa dan melompong tak bersukma lagi.

"Tang"

Kontan alat senjata rahasia itupun tak kuat dipegangnya lagi, jatuh berkelontangan di atas lantai.

Peristiwa ini berlangsung dalam waktu yang teramat singkat, suara dikala Li hoa-ting itu melesat keluar lalu menancap diatas batu, disusul suara kelontangan dari alat senjata rahasia yang jatuh itu, boleh dikata hampir berlangsung dalam waktu yang bersamaan, kejap lain suasana menjadi hening lelap, seperti tiada kehidupan lagi dalam alam semesta ini.

Tampak tangan kiri Coh Liu-hiang menyanggah tangan kanan Li Giok-ham, sementara sikut tangan kanannya menyelinap diantara ketiak kiri Li Giok-ham.

Li Giok-ham sendiri seperti orang yang sudah kehilangan sukma, bukan saja matanya tidak mengawasi Coh Liu-hiang atau mengawasi orang-orang di sekitarnya, dengan mendelong dia mengawasi kedua puluh tujuh paku-paku yang amblas masuk ke dalam batu di atas langit-langit.

Sebetulnya Liu Bu-bi sudah melangkah hendak menerjang Coh Liu-hiang, tapi baru selangkah tiba-tiba dia tertegun dan menjublek di tempatnya.

Diapun tak mengawasi Coh Liu-hiang, hanya mengawasi Li Giok-ham seperti orang linglung, sepasang matanya yang indah jeli itu penuh diliputi rasa pilu, rawan dan duka, penuh diliputi derita, juga terkandung rasa cinta yang tak terhingga.

Dia tidak mengucurkan air mata, namun sorot matanya jauh lebih memilukan dari pada mengucurkan airmata.

Begitu sergapan Coh Liu-hiang berhasil, sudah tentu Oh Thi-hoa, Soh Yong-yong, dan lain-lain berjingkrak kegirangan, namun tiada satupun diantara mereka yang bergerak dan bersuara, tertawa atau bicarapun tidak.

Seolah-olah mereka sama haru akan nasib dan liku-liku percintaan kedua suami istri yang mengalami berbagai rintangan dan gemblengan, rasanya segan dan tak tega lagi melukai hati mereka, karena meski perbuatan mereka selama ini amat tercela dan menyakiti hati mereka, betapapun pengalaman hidup mereka jauh lebih harus dikasihani.

Tiba-tiba Song Thiam-ji mendekap mukanya, pecahlah tangisnya sesenggukkan.

Memang selamanya jarang orang bisa meraba kapan nona-nona muda yang dimabuk asmara bisa mengucurkan air mata, karena sembarang waktu kemungkinan saja menghadapi setiap persoalan, gadis-gadis itu bakal menangis, mungkin saja lantaran cinta mereka mengalirkan airmata.

Mereka bisa menangis karena sesuatau benda yang indah, namun mungkin pula bersedih karena melihat suatu tragedi yang tragis.

Mereka bisa menangis lantaran duka, namun bisa pula mengalirkan airmata karena kegirangan.

Malah kemungkinan pula mereka bisa menangis bukan lantaran suatu persoalan.

Tapi air mata Sing Thiam ji sungguh airmata kejujuran, airmata murni, seolah-olah dia sudah lupa bahwa kedua suami istri ini adalah musuh yang dia benci dan ingin dibunuhnya, malah merekapun ingin membunuhnya.

Namun dia menangis begitu pilu, sehingga orang tak tahan dan sama menyangka dia lebih rela memenggal batok kepala Coh Liu-hiang, untuk menolong kedua suami istri ini.

Biji mata Li Ang-siu, Soh Yong-yong dan Mutiara hitam, lambat laun ikut berkaca-kaca dan basah pula oleh airmata.

Oh Thi-hoa menghela napas, gumamnya.

"Perempuan, oh perempuan... sungguh birahi."

Coh Liu-hiang tertawa getir, ujarnya.

"Wah, karena tangisan kalian ini, akupun merasa seakan-akan aku inilah yang memang patut mati."

Tiba-tiba Li Ang-siu bertanya.

"Kau... bagaimana keputusanmu akan mereka?"

Coh Liu-hiang termenung, katanya kemudian.

"Sudah tujuh kali mereka berusaha membunuh aku."

"Tapi selanjutnya mereka takkan bisa mencelakai kau lagi,"

Ujar Li Ang-siu. Berkata Soh Yong-yong lembut.

"Tadi kudengar mereka bilang, mereka hanya mencari suatu tempat yang sepi, hidup tentram ditempat pengasingan untuk beberapa bulan terakhir ini, kau... bolehlah kau beri kesempatan kepada mereka."

"Benar, boleh kau lepaskan mereka saja."

Mutiara hitam ikut menimbrung.

"Bagaimana maksudmu sendiri?"

Tanya Coh Liu-hiang kepada Oh Thi-hoa.

"Tidak boleh dilepas..."

Belum ucapan Oh Thi-hoa selesai, Song Thiam ji sudah berjingkrak, serunya sambil banting kaki.

"Kenapa tidak boleh dilepas?"

"Kenapa kau ini begitu kejam?"

Li Ang siu menimbrung. Oh Thi-hoa menarik napas, katanya.

"Jikalau sekarang kita biarkan mereka pergi, berarti membunuh mereka pula secara tidak langsung. soalnya Liu Bu-bi takkan hidup lama lagi, bila dia meninggal, apakah Li Giok-ham masih bisa hidup?"

Soh Yong-yong berempat sama tertegun.

"Kau..."

Li Ang-siu gugup.

"Memangnya kau hendak menolong mereka malah?"

"Jikalau mereka berhasil membunuh Coh Liu-hiang, sudah tentu adalah musuh besarku. Namun mereka tidak berhasil membunuh Coh Liu-hiang, sebaliknya pernah menolong jiwa kami, oleh karena itu bukan saja mereka adalah teman baikku mereka pula sebagai tuan penolongku."

Sampai di sini Oh Thi-hoa membusungkan dada, katanya keras.

"Memangnya Oh Thi-hoa harus mandah saja mengawasi tuan penolongku mati karena keracunan?"

Song Thiam ji tiba-tiba memeluknya, serunya tertawa dengan mengembeng airmata.

"Kau memang orang baik."

Kulit mukanya tinggal satu dim di hadapan Oh Thi-hoa. Oh Thi-hoa seperti merintih, katanya.

"Jikalau kau memeluk lebih kencang dan tidak segera lepaskan, aku akan menjadi orang jahat."

Tersipu-sipu Song Thiam-ji lepaskan pelukannya, mukanya sudah merah malu, namun butiran airmata di pipinya belum lagi kering, seolah-olah buah apel yang masak basah oleh air embun.

Dengan tertawa besar Oh Thi-hoa menghampiri terali besi katanya.

"Asal kau berterus terang siapa sebenarnya orang yang dapat menolongmu, kita akan bantu kau meminta obat pemunahnya kepada dia, jikalau dia tidak mau beri, hehe... jangan pandang si Kupu-kupu kembang lagi kepadaku kalau tidak kuhajar dia sampai gepeng kepalanya."

Li Giok-ham tetap mendelong mengawasi paku-paku di atas langit-langit.

Demikian pula Liu Bu-bi mengawasi muka Li Giok-ham tanpa berkedip.

Seolah-olah kedua suami istri ini tidak mendengar percakapan mereka.

"Cobalah kau sebutkan."

Pinta Soh Yong-yong lembut.

"asal kau mau katakan, mereka pasti akan berdaya mendapat obat pemunah itu."

Dari celah-celah terali besi Li Ang-siu ulur tangan menarik lengan Liu Bu-bi, katanya.

"Betapapun sulitnya urusan ini, Coh Liu-hiang pasti dapat berdaya untuk memperolehnya."

Akhirnya bercucuran airmata Liu Bu-bi, katanya pilu.

"Sungguh kalian terlalu baik, kebaikan kalian terhadapku, selama hidupku ini mungkin takkan bisa kubalas."

"Cobalah kau sebutkan, terhitung kau sudah membalas kebaikan kita."

Ujar Li Ang-siu. Tiba-tiba Liu Bu-bi menarik tangannya, katanya gemetar.

"Tak bisa kukatakan."

"Kenapa tidak bisa?"

Li Ang-siu menegas. Kata Liu Bu-bi dengan airmata bercucuran.

"Karena bila kukatakan, bukan saja tak berguna, malah kalian bisa celaka karenanya, sekarang aku... sungguh tidak tega aku membuat celaka."

"Kau kuatir kita terbunuh oleh orang yang memiliki obat pemunahnya itu?"

Tanya Li Ang-siu. Liu Bu-bi mengiakan sambil manggut kepala.

"Kalau begitu kau terlalu memandang rendah mereka berdua?"

Li Ang-siu tertawa.

"Sampai detik ini memangnya kau belum percaya bila mereka memiliki kepandaian mujijat yang tiada taranya?"

Song Thiam-ji menimbrung dengan banting kaki. Liu Bu-bi tertawa sedih, ujarnya.

"Jikalau ada orang bisa merebut obat pemunah itu dari tangan pemiliknya ini akupun tidak perlu susah payah berusaha hendak memenggal kepala Coh Liu-hiang, coba kau pikir, bila aku bisa mengundang Say Ih hang, Siau Giok kiam serta Thian lo te bong suami istri tokoh tokoh sakti lainnya untuk membunuh Coh Liu-hiang, sudah tentu akupun bisa minta mereka untuk berusaha meminta obat pemunah bagiku, kenapa aku tidak berbuat demikian?"

"Masakah mengandal para Bulim Cianpwe itu, masih tidak akan mampu memperoleh obat pemunahnya dari tangan orang itu?"

"Umpama mereka meluruk bersama akhirnya akan gugur bersama pula secara sia-sia."

Baru sekarang Oh Thi-hoa amat kaget dibuatnya, katanya tersirap darahnya.

"Katamu orang itu bisa membunuh Say It-hang, Siau Giok-kiam dan Thia lo-te-bong serta para Bulim Cianpwe lainnya secara mudah?"

"Tidak salah."

Lama Oh Thi-hoa terlongong, katanya seperti menggumam.

"Apa benar ada tokoh sesakti itu dalam dunia ini? Sungguh aku tak habis percaya."

Tiba-tiba Coh Liu-hiang ikut menghela napas, ujarnya.

"Tanpa dia jelaskan, sekarang aku sudah bisa menduga siapa tokoh yang dia maksudkan."

"Siapa"

"Cui-bok-im-ki"

Begitu menduga Cui-bok-im-ki ini, kulit muka Oh Thi-hoa seketika seperti dilabur selapis kapur yang tipis dan memutih jelas serta menyolok, sampaipun sinar matanya pun menjadi pudar.

Yang lainnyapun ikut terbelalak kaget dan seperti mendengar sesuatu nama iblis yang amat mengerikan.

Seolah-olah ke empat huruf nama ini mengandung suatu daya iblis yang bisa menyedot sukma dan alam pikiran orang, asal mendengar nama ini orang seolah-olah mendengar suatu berita buruk atau mendapat firasat jelek.

Hanya Mutiara hitam yang lama menetap di gurun pasir saja, yang seolah-olah tidak terpengaruh akan nama ini, Maka segera dia bertanya.

"Nama Cui-bok-im seperti pernah kudengar, namun teringat lagi siapakah tokoh itu?"

"Cui-bok-im-ki adalah Sin-cui-nio-nio."

Tutur Oh Thi-hoa.

"Dialah majikan dari penghuni Sin cui kiong."

Baru sekarang roman muka Mutiara hitam sedikit berubah. Mengawasi Liu Bu-bi, Coh Liu-hiang bertanya.

"Tidak meleset bukan tebakanku?"

Lama berdiam diri baru Liu Bu-bi menghirup napas segar, katanya dengan manggut manggut.

"Ya, benar memang beliau adanya."

Berkata Hek-tin-cu.

"Meski jarang aku masuk ke Tionggoan, namun pernah juga kudengar bahwa Cui-bok-im-ki adalah orang teraneh nomor satu di Bulim, kabarnya tabiatnya sedikit mirip Ciok-koan-im selama hidupnya amat membenci kaum laki-laki, perduli laki-laki siapapun asal melirik sekali kepadanya, maka jiwanya pasti tak akan diampuni."

Oh Thi-hoa mengelus hidung, katanya tertawa getir.

"Kau salah dalam hal ini, sedikit pun tabiatnya tidak sama dengan Ciok-koan-im, bukan saja Ciok-koan-im tak membenci laki-laki, malah boleh dikata amat senang bergaul dengan laki-laki, terutama laki-laki yang cakap ganteng dan dirinya hanya seleranya terhadap laki-laki terlalu besar, oleh karena itu dia selalu ingin mencicipi yang segar, yang baru."

Liu Bu-bi menghela napas ujarnya.

"Tapi Cui-bok-im-ki memang benar-benar membenci laki-laki, menurut apa yang ku tahu dalam dunia ini tiada seorang laki-lakipun yang pernah berdekatan apalagi bersentuhan sama dia, maka dalam Sin-cui-kiong takkan ada bayangan seorang laki-lakipun."

"Tapi akupun tahu jelas."

Timbrung Mutiara hitam.

"bahwa tabiatnya memang sering berubah, senang dan gusar tidak menentu walau amat membenci laki-laki, namun jiwanya tidak begitu jahat, juga tidak seperti Ciok-koan-im, selalu berusaha mencelakai jiwa orang lain."

"Benar,"

Sela Coh Liu-hiang, asal orang lain tidak mengganggu dia maka diapun tak akan mengusik orang lain."

"Lalu kenapa dia ingi membunuh kau? Memangnya kau pernah menggangu dia?"

Tanya Mutiara hitam.

"Ya, memang aku pernah membuatnya gusar"

Sahut Coh Liu-hiang gegetun.

"Bahwasanya ada permusuhan apa diantara kalian"

Tanya Liu Bu-bi.

"Akupun tidak tahu, juga tak berani tanya kepada kalian."

Bersambung ke

Jilid 37

Jilid 37

"Tiga empat bulan yang lalu,"

Demikian tutur Coh Liu-hiang.

"didalam Sin-cui-kiong mendadak kemalingan, mereka kehilangan sebotol Thian-it-cui, maka orang-orang Sin-cui-kiong lantas curiga akulah yang mencurinya."

"Maka benar kau yang mencuri?"

Tanya Liu Bu-bi.

"Sudah tentu bukan aku."

"Aku percaya pasti bukan perbuatanmu."

Timbrung Oh Thi-hoa.

"Jikalau Thian it-sin-ciu mungkin dia mau mencurinya untuk diminum secara diam-diam, memangnya buat apa dia mencuri Thian it sin ciu?"

Song Thiam ji tiba-tiba cekikikan geli, katanya.

"Jikalau Thian-it-sin-ciu, aku pasti tahu siapa yang telah mencurinya. Cui berarti air, ciu adalah arak, cu sama dengan cuka, disini dimaksud "cemburu". Li Ang-siu kontan mendelik, katanya berbisik sambil gigit bibir.

"Setan cilik, kau sendiri yang main cemburu!"

Sudah sekian tahun lamanya mereka hidup berdampingan dengan Coh Liu-hiang, setiap hari menghabiskan waktu di tengah lautan, maka jiwa dan pikiran mereka lapang dan terbuka, sembarang waktu tak lupa untuk tertawa.

Tapi kali ini Coh Liu-hiang benar-benar tidak bisa tertawa.

Katanya dengan mengerut kening.

"Macam apakah Thian-it-sin-ciu itu, melihatpun aku belum pernah, namun orang-orang Sin-cui-kiong justru mencari kesulitan, mereka mengancam kepadaku supaya dalam satu bulan aku harus sudah berhasil membongkar atau menangkap siapa sebetulnya pencuri itu, kalau aku gagal mereka akan membuat perhitungan dengan aku."

"Apa kau berhasil menemukan siapa orang yang mencuri itu?"

Tanya Liu Bu-bi.

"Ketemu sih sudah, malah urusannya sudah kubongkar, namun kejadian yang berlangsung saat itu sungguh terlalu banyak dan menyibukkan diriku, sehingga terlupakan olehku, batas waktu yang ditentukan oleh pihak Sin-cui-kiong, maka sampai sekarang aku belum sempat memberi pertanggungan jawab kepada mereka."

Oh Thi-hoa geleng-geleng kepala, katanya.

"Seorang laki-laki yang terdidik dan terpercaya mana boleh lupa diri akan janji pertemuan dengan seorang perempuan? Tak heran bila orang akan mencari perkara kepadamu, aku sih takkan menyalahkan mereka."

Li Ang-siu muring, katanya merenggut.

"Bahwasanya tak perlu mengingat janji dengan mereka, itu waktu hakekatnya dia sedikitpun tidak punya pegangan, apalagi urusan itu tiada sangkut pautnya dengan dirinya, namun begitu dia berhadapan dengan gadis montok yang kerlingan matanya sehangat ail laut, kepalanya lantas pusing tujuh keliling, secara ceroboh dia terima dan berjanji terhadap orang, sekarang Sin-cui-kiong..."

Tiba-tiba Song Thiam-ji cekikikan lagi, katanya.

"Sin-cui-kiong tak perlu dibuat heran dan takut, jikalau mereka berani kemari, yang terang pihak kita sudah ada Ciangbun cin Sin cui kiong untuk menghadapinya."

Sebetulnya Li Ang siu dan Song Thiam ji cukup tahu saat-saat seperti ini bukan waktunya untuk berkelakar, soalnya mereka merasa air mata yang bercucuran di sini sudah terlalu banyak, maka mereka hendak menciptakan suasana lain yang riang dan penuh gairah hidup.

Karena mereka berpendapat didalam orang-orang menghadapi suatu kesulitan dan mara-bahaya, airmata hakekatnya tidak akan bisa menyelesaikan atau mengakhiri persoalan.

Hanya gelak tawa saja satu-satunya senjata terampuh untuk menghadapi kesulitan dan mara-bahaya atau kedukaan.

Akan tetapi lambat laun merekapun insaf, bukan saja tawa riang mereka tidak berhasil menyapu suasana yang rawan dan perasaan duka orang, malah terasa kelakar ini merupakan suatu pukulan batin yang menambah pilu dihati.

Memang melihat tawa riang mereka yang begitu lebar, sikap Liu Bu-bi sebaliknya semakin tawar dan pilu, karena dia selalu merasakan kebahagiaan orang lain, hanya dirinya saja yang diliputi kehidupan yang sengsara.

Lambat laun Thiam-ji dan Li Ang-siu tak kuasa meneruskan tawanya.

Baru sekarang Liu Bu-bi sadar bahwa mereka masih terkurung didalam sel, maka pelan-pelan tangan kanannya terangkat menekan sebuah tombol di atas dinding, terali besi itu segera membuka, kedua sisi melesat ke dalam dinding.

Pelan-pelan dia lalu berpaling kearah Coh Liu-hiang serta menjura hormat.

"Berkat luhur budi Maling romantis yang tak membunuh kami suami istri, hari kami sudah senang dan berterima kasih, sungguh tidak bisa dan tidak ingin minta bantuan Maling romantis untuk menolong jiwa kami pula, selanjutnya semoga...."

Coh Liu-hiang segera menukas.

"Kau tidak usah anggap aku menyerempet bahaya untuk menolong kau, yang terang aku memang harus pergi ke Sin-cui-kiong."

Liu Bu-bi geleng-geleng kepala, ujarnya.

"Tempat seperti itu lebih baik kau tidak kesana."

"Mana mungkin aku tidak akan kesana, jikalau aku tidak pergi, kesulitan yang akan kuhadapi kelak semakin berlipat ganda, bahwa Sin-cui-nio-nio bisa memerasmu untuk membunuh aku, maka diapun bisa suruh orang lain mencelakai aku, memangnya selama hidup aku harus selalu berjaga-jaga dari sergapan kaki tangannya?"

"Benar."

Oh Thi-hoa menimbrung dan mengutarakan pendapatnya.

"kalau dia sudah ingkar janji, maka perlu dia kesana memberi penjelasan, kukira Cui-bok-im-ki bukan seorang yang tak kenal aturan."

"Jadi kau kira dia seorang yang kenal aturan?"

Tanya Liu Bu-bi.

"Jikalau benar dia tidak kenal aturan, kita juga punya cara tidak kenal aturan untuk menghadapi dia, umpama kata Sin-cui-kiong adalah gunung golok, lautan api, sarang naga atau gua harimau, aku orang she Oh juga akan menerjangnya kesana."

Tiba-tiba Soh Yong-yong menyela bicara.

"Yang terang tiada gunung golok lautan api di Sin cui kiong, bukan pula sarang naga gua harimau, malah tempat itu merupakan tempat tamasya dengan panorama terindah di dunia, laksana taman firdaus tempat semayam dewa-dewi."

"Benar, hanya kau saja yang pernah masuk ke Sin cui kiong, bagaimana menurut perasaanmu apa benar tempat itu amat menakutkan?"

"Dalam pandanganku, sedikitpun tempat itu tidak menakutkan, malah menyenangkan."

"O? Lalu?"

Coh Liu-hiang menegas.

"Pernahkah mendengar taman firdaus didalam dongeng kuno? Sin cui kiong mirip benar dengan taman firdaus, tempat itu boleh dikata merupakan sorga dunianya manusia, setiba aku di sana sungguh hampir aku tak mau percaya bila aku berada didalam Sin-cui-kiong yang sudah terkenal di seluruh jagat, karena di sana tiada kekerasan, tiada kejahatan, tiada kehidupan yang kasar dan saling membunuh."

Seperti sedang mengenang gambaran yang pernah dialaminya, Soh Yong-yong melanjutkan.

"Waktu itu kebetulan permulaan musim panas, aku naik sebuah sampan menyusuri sungai mengikuti arus air, entah berapa lama sudah berselang lama-kelamaan kutemui kelopak-kelopak kembang mawar yang mengalir mengikuti arus air."

Tiba-tiba Coh Liu-hiang bertanya.

"Apakah ada juga bunga rampai?"

"Memang diantara sekian banyak kelopak kelopak kembang itu ada bunga rampai yang wangi, hembusan angin sepoi-sepoi membawa bau harum yang memabukkan, duduk di atas sampan, bukan saja seperti berada dialam lukisan, malah seperti berada didalam dongeng."

Begitu indah kisah ceritanya, sampai Oh Thi-hoa melongo mendengarkan. Tutur Soh Yong-yong lebih lanjut.

"Seperti mabuk, seperti linglung pula saking kesima, entah berapa lama sampanku terhanyut, lama kelamaan melalui sebuah celah-celah lamping gunung, kedua sisi sungai tumbuh rumput-rumput yang tebal dan lebat, keadaan gelap gulita, kelima jariku sendiri tak kelihatan. Dengan dayung aku menyingkirkan rumput-rumput yang mengandung air, beberapa kejap kemudian pandangan tiba-tiba terbuka lebar, tiba-tiba selayang mata memandang ratusan jenis bunga-bunga terbentang di depan mata, bagai permadani, itulah sebuah lembah yang indah dan sejuk, di sebelah kanan tampak sebuah air terjun menumpahkan airnya dari puncak batu, suasana tentram damai, sungguh mengetuk sanubari, diantara gerombolan pepohonan yang lebat ditaburi kembang-kembang itu, tampak gardu gubuk dan panggung-panggung, dan yang mengherankan ratusan macam jenis burung-burung besar kecil sama bersarang ditempat itu, melihat manusia mereka tidak takut, malah beberapa ekor diantaranya ada yang terbang hinggap di atas kedua pundakku seolah-olah hendak bicara dengan aku."

Keindahan alam yang dilukiskan laksana gambar lukisan, seperti syair dengan uraian suara nan merdu lembut, sungguh mengasyikkan.

"Li Ang-siu menghela napas pelan-pelan, katanya.

"Kalau tahu Siu-cui-kiong merupakan dunia indah tempat bersemayam dewata, pasti aku minta ikut kau kesana."

Tiba-tiba Liu Bu-bi bertanya.

"Tapi cara bagaimana nona bisa tahu bila sungai kecil itu adalah jalan untuk menembus ke dalam gunung?"

"Aku punya seorang bibi, beliau adalah murid Sin-cui-kiong, pernah aku diberitahu bila hendak mencari beliau cara bagaimana aku harus masuk kesana, sudah tentu rahasia ini beliau larang aku memberi tahu kepada orang lain."

Berkedip-kedip mata Song Thiam-ji, tanyanya.

"Apakah bibimu tinggal di gubuk ditengah tengah keliling kembang indah itu?"

"Belakangan baru aku tahu gardu dan gubuk-gubuk diantara semak-semak kembang itu ternyata adalah tempat tinggal murid-murid Sin cui kiong, karena hoby masing-masing berlainan, maka bentuk bangunan tempat tinggal merekapun berlainan."

"Tempat seperti apa tempat tinggal bibimu?"

Tanya Li Ang-siu.

"Beliau tinggal didalam dua bilik gubuk yang mungil, bagian depannya dipagari bambu, didalam pekarangan ada ditanam seruni, belum saatnya berkembang tapi begitu aku tiba di sana, aku toh cukup dibuat terpesona."

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya seperti mengigau.

"Agaknya Cui-bok-im-ki masih jauh lebih baik daripada Ciok-koan-im menghadapi murid-muridnya."

"Sayang sekali setiba disana, aku dilarang keluar dan kelayapan."

Demikian tutur Soh Yong-yong lebih lanjut.

"Terpaksa aku mengeram diri dalam rumah bibi, karena dia memberi peringatan kepadaku jikalau sembarangan kelayapan keluar, seketika aku bakal ketimpa bencana yang mengancam jiwa."

"Bencana apa?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Beliau tidak jelaskan bencana apa yang terang aku disekam dalam rumahnya sehingga tiada seorangpun yang melihat kehadiranku di sana, maka nona Kianglam Yan itupun tidak sempat kulihat di sana."

"Kalau begitu kaupun tidak bertemu dengan Cui-bok-im-ki?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Tidak."

"Kau pun tidak tahu di sebelah mana tempat tinggalnya?"

"Tidak tahu"

Sahut Soh Yong-yong menghela napas.

"Sungguh aku ingin bisa bertemu dengan tokoh Bulim yang terkenal ini, namun bibi berpesan wanti-wanti kepadaku, betapapun dia melarang aku pergi menemuinya, namun aku berani pastikan bahwa diapun tinggal di dalam lembah permai itu, mungkin tinggal ditengah hutan buah Tho di seberang rumahnya, atau mungkin pula menetap didalam biara kecil yang terletak di lereng bukit itu."

"Biara? Memangnya di dalam Sin cui kiong juga ada Nikoh?"

"Katanya Cui-bok-im-ki adalah seorang ibadat yang fanatik dengan ajarannya, maka dia mengijinkan Biau-ceng Bu Hoa untuk berkhotbah didalam lembah itu."

Coh Liu-hiang menepekur, katanya kemudian.

"Kalau demikian, memang dia kemungkinan tinggal didalam biara itu!"

"Tapi menurut apa yang kutahu,"

Demikian Soh Yong-yong melanjutkan ceritanya.

"Bu Hoa sendiripun belum pernah melihatnya, setelah masuk ke dalam lembah, setiap hari Bu Hoa hanya duduk di atas batu panggung yang besar di depan air terjun itu berkotbah selama dua jam, diapun tahu setiap hari Cui-bok-im-ki pasti mendengarkan khotbahnya, namun selama itu tidak tahu dimana sebenarnya dia orang berada."

"Sungguh seorang tokoh yang misterius."

Ujar Coh Liu-hiang.

"jauh lebih misterius dari apa yang pernah kubayangkan."

"Tapi keadaan Sin-cui-kiong sebaliknya tidak semisterius yang kubayangkan, semula kukira tempat itu tentu amat seram dan menakutkan, siapa tahu tempat itu justru begitu indah dan permai dari kebanyakan tempat lainnya."

Tiba-tiba Liu Bu-bi menyeletuk.

"Jangan kalian lupa diri, aku sendiripun pernah pergi ke Sin-cui-kiong."

"Sudah tentu kau pernah pergi kesana."

Ujar Oh Thi-hoa.

"Menurut apa yang kutahu, Sin-cui-kiong bukan tempat seindah yang dilukiskan oleh nona Soh."

"Oh?"

Oh Thi-hoa heran.

"Memangnya ada perbedaan apa didalam Sin-cui-kiong yang pernah kau alami?"

"Jauh sekali bedanya,"

Sahut Liu Bu-bi, lalu dia menyambung dengan suara lebih tegas.

"Sin-cui-kiong yang dilihat nona Soh adalah alam tamasya laksana peraduan dewata, sebaliknya Sin cui kiong yang kulihat sebaliknya mirip neraka."

Seluruh hadirin menjublek dan melongo ditempat masing-masing. Berkata Liu Bu-bi lebih lanjut.

"Aku tidak mendapat petunjuk bibi untuk melalui jalan yang ditunjuk, maka perlu menghabiskan banyak waktu, aku berhasil mencari-tahu kepada seorang yang mengetahui seluk beluknya, ternyata bagi orang yang hendak berkunjung ke Sin cui kiong harus melalui Bo-dhi-am."

Berkerut alis Oh Thi-hoa, katanya.

"Kalau Bo dhi-am itu punya hubungan yang begitu erat dengan Sin cui-kiong, tentunya merupakan suatu tempat yang terkenal, kenapa selama ini belum pernah kudengar nama biara ini?"

"Soalnya Bo-dhi-am yang ini tidak lebih hanya sebuah biara kecil yang sudah bobrok."

Demikian tutur Liu Bu-bi.

"Penghuni biara kecil bobrok ini hanya seorang Nikoh yang sepintas lalu usia Nikoh ini kira-kira sudah mencapai tujuh delapan puluh tahun, agaknya malah seorang bisu dan tuli. Akan tetapi bagi siapapun yang hendak pergi ke Sin cui-kiong maka dia harus membeberkan tujuan dan keinginannya hendak menuju ke Sin cui-kiong kepada Nikoh bisu tuli ini."

"Kalau toh Nikoh itu bisu tuli, masakah dia bisa mendengar ucapan orang?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Jikalau dia tidak mengijinkan kau masuk ke Sin cui kiong, maka dia lantas bisu dan tuli betapapun kau meratap dan mohon kepadanya, dia anggap tidak mendengar, tapi bila dia mau membawamu masuk, setiap patah kata-katamu dia bisa mendengarnya dengan jelas."

"Baik juga caranya ini,"

Ujar Oh Thi-hoa tertawa geli.

"Setelah aku kemukakan alasanku kenapa ingin masuk ke Sin cui kiong kepadanya, lama lama dia berdiam diri mendadak dia menuang secangkir teh suruh aku meminumnya."

"Apa kau meminumnya?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Bagaimana mungkin aku tidak meminumnya?"

Liu Bu-bi tertawa.

"Sudah tentu akupun tahu bahwa air teh ini tentu tidak enak rasanya, setelah kuminum kontan aku jatuh pingsan, waktu aku siuman kembali, tahu-tahu sudah terkurung didalam sebuah keranjang menjalin, keranjang menjalin yang basah kuyup seperti keranjang yang sudah lama terendam didalam air, sudah tentu sekujur badankupun basah kuyup."

Sejak tadi Li Giok-ham berdiri mematung seperti kehilangan semangat dan daya pikirnya, baru sekarang dia menghirup napas panjang dengan penuh perasaan kasihan dan kasih sayang mengawasi istrinya.

"Untung keranjang itu terbuat dari menjalin"

Demikian tutur Liu Bu-bi lebih lanjut.

"tutupnyapun tidak terkunci maka aku dapat merayap keluar dari keranjang baru kudapati diriku berada didalam sebuah lorong di bawah tanah, keadaan gelap-gulita, yang terdengar hanya suara gemerciknya air yang mengalir tapi aku sendiri sukar membedakan dari mana kumandang suara itu datangnya."

"Didalam Sin-cui-kiong pasti terdapat suatu sumber air, paling tidak hal ini tidak perlu diragukan"

Demikian Coh Liu-hiang utarakan pendapatnya. Oh Thi-hoa melototkan mata, ujarnya.

"Kalau Sin-cui-kiong tiada air memangnya ada arak saja?"

"Karena tiada apa-apa yang kulihat terpaksa aku berlalu menggeremet dan meraba-raba bukan saja tidak tahu berapa panjang lorong di bawah tanah ini, akupun tidak tahu, kemana lorong ini akan menembus."

"Tapi paling tidak kau bisa berkepastian, didalam lorong bawah tanah ini terang takkan ada orang yang akan membokongmu, karena paling tidak Cui-bok-im-ki bukan orang yang suka atau sudi mencelakai jiwa orang secara menggelap."

Demikian ujar Oh Thi-hoa. Sebetulnya dia bermaksud baik mengutarakan pendapatnya ini, tak nyana justru menusuk-nusuk kelemahan Liu Bu-bi, raut mukanya yang pucat seketika merah, katanya menunduk.

"Waktu itu meski mata dan telingaku tak berguna lagi, namun hidungku masih amat berguna, karena didalam lorong itu aku mengendus berbagai bau yang aneka ragamnya."

"Ba... bau apa?"

Tanya Li Ang-siu merinding.

"Semula ku endus bau lembab, disusul bau sesuatu yang hangus seperti ada sesuatu yang terbakar sampai kering, belakangan ada pula bau anyirnya darah, bau besi karatan, bau tanah, bau kayu dan banyak lagi..."

Terunjuk rasa seram dan ketakutan pada muka dan sorot matanya, suaranya jadi gemetar.

"Meski tiada seorangpun yang akan membokongku tiada jebakan atau perangkap apapun, tapi hanya bau-bau yang beraneka ragamnya itu, sungguh sudah membuatku hampir gila."

Tak tahan bertanya Oh Thi-hoa.

"Bau-bau itu kan tidak bisa melukai kesehatanmu, memangnya kenapa menakutkan?"

"Sebetulnya memang tidak pernah terpikir olehku dalam hal apa bau-bau itu kok menakutkan, tapi pada saat itu baru benar-benar kusadari tiada suatu peristiwa apapun yang benar-benar lebih menakutkan dari bau-bau itu,"

Suaranya sudah menjadi serak, katanya lebih lanjut.

"Waktu aku mengendus bau hangus terbakar, wujudnya belum terasakan seolah-olah tengah berjalan di atas sebuah bangku, seperti sedang dipanggang di atas bara."

Song Thiam ji mengkerutkan pundak, diam-diam dia menggeser ke dekat Li Ang-siu.

"Waktu aku mengendus bau darah dan besi karatan, terasa seolah-olah diriku diantara tumpukan mayat-mayat, seperti ada mayat-mayat hidup yang sembunyi dan mengintip diriku ditempat-tempat gelap sekelilingku, sampaipun menggeremet majupun aku sudah tak berani lagi, karena aku kuatir begitu kakiku melangkah bakal menginjak mayat, malah bukan mustahil mayat dari seorang teman baikku sendiri."

Badan Li Ang-siu jadi gemetar dan berdiri bulu kuduknya, diam-diam diapun menggeser mendekati Soh Yong-yong dan sembunyi di belakangnya.

"Setelah aku mengendus bau kayu dan tanah maka aku sendiri seolah-olah sudah menjadi sesosok mayat yang sudah terpaku didalam peti mati dan terpendam didalam bumi."

Sampai di sini dia menghela napas.

"Semula aku hanya mengira karena melihat sesuatu yang seram, atau kuping mendengar sesuatu suara yang mengerikan baru hari menjadi ciut. Dan saat itu baru aku betul-betul insaf bau yang terendus oleh hidung merupakan suatu yang menakutkan."

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.

"Memang mungkin kejadian itu sendiri jauh lebih nyata dari pada apa yang terlihat oleh mata dan terdengar oleh kuping, sebaliknya bau yang terendus oleh hidung yang merupakan sesuatu yang tak bisa kau raba dan tak mungkin kau lihat, terpaksa kau hanya bisa mengkhayal dan main tebak-tebak, semakin dipikir semakin seram, ngeri dan menakutkan. oleh karena itu pernah aku bilang, sesuatu yang paling ditakuti oleh manusia umumnya, bukan terhadap sesuatu benda tertentu, namun tak lain adalah suatu yang kau khayalkan, sesuatu yang kau bayangkan sendiri mengenai sesuatu itu didalam benakmu."

"Oleh karena itu, didalam lorong bawah tanah itu, meski aku tidak bisa melihat apa-apa tak mendengar apa-apa, tapi toh aku sudah tersiksa dan menderita sampai kehabisan tenaga, sampaipun tenaga untuk berjalanpun tiada lagi."

Demikian tutur Liu Bu-bi. Song Thiam-ji sekarang sudah mendekam ke dalam pelukan Li Ang-siu, namun mulutnya masih berani bertanya.

"Akhirnya... bagaimana?"

Anak-anak perempuan kebanyakan memang mempunyai ciri-ciri yang sama, semakin mendengar cerita yang seram menakutkan, semakin getol mereka ingin mendengar kelanjutannya.

"Pada saat itulah, didalam lorong gelap itu tiba kumandang sebuah suara orang, kedengarannya suara itu begitu merdu, lembut dan menarik perhatian, tapi pada waktu itu aku hanya merasakan suara itu begitu dingin, kosong, bukan suara manusia."

"Dia... dia... apa yang dia katakan?"

Tanya Song Thiam-ji gelagapan.

"Dia bilang dia sudah memeriksa penyakitku, diapun sudah tahu racun apa yang bersarang didalam badanku, tapi bila aku ingin dia berusaha menolong jiwaku, dia minta... minta..."

"Minta batok kepalaku sebagai tumbal, sebagai persyaratannya, benar tidak?"

Coh Liu-hiang menyambung. Tertunduk kepala Liu Bu-bi katanya.

"Meski aku sudah meratap dan menyembah-nyembah kepadanya, kutanya adakah imbalan lain yang kutempuh, tapi dia tidak hiraukan diriku lagi, suaraku sudah serak, namun dia tetap seperti tidak mendengar."

"Kalau demikian kaupun tidak bertemu dengan Cui-bok-im-ki?"

Kata Coh Liu-hiang.

"Bukan saja aku tidak pernah melihat beliau, malah satu diantara murid-muridnyapun tiada yang kujumpai."

"Cara bagaimana pula kau bisa pulang?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Entah berapa lama aku bertangisan, tiba-tiba hidungku mengendus sesuatu bau aneh, bau yang wangi, seolah-olah hembusan angin sepoi-sepoi musim semi yang masuk dari jendela. seolah-olah bau harum didalam pelukan ibunda yang sedang menyusui bayinya, begitu mengendus bau ini, tanpa terasa aku lantas tertidur pulas."

"Waktu kau siuman pula, kau sudah kembali didalam Bu-dhi-am itu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Ya, benar."

Sahut Liu Bu-bi.

"Waktu aku siuman pakaianku sudah kering. Nikoh tua itu sedang duduk di hadapanku, tangannya masih memegangi cangkir teh yang barusan kuminum itu, seperti tiada pernah terjadi sesuatu, waktu kutanya dia dan kuminta kepadanya, sepatah katapun seperti tak mendengar lagi."

Kaki tangan Song Thiam-ji menjadi dingin, suaranya gemetar.

"Kau... seolah-olah kau seperti sedang bermimpi?"

"Benar, sampaipun aku sendiri sukar membedakan, sebetulnya aku sedang bermimpu? Atau mengalami suatu kejadian yang benar-benar kenyataan?"

Li Ang-siu ikut menarik napas lega, katanya getir.

"Mendengar ceritamu, aku ingin benar bisa masuk kedalam Sin-cui-kiong."

Mengawasi Soh Yong-yong, berkata Song Thiam-ji.

"Sin-cui-kiong... Sin-cui-kiong. Sebetulnya tempat macam apakah itu?"

Pertanyaan seperti ini dia tujukan kepada Soh Yong-yong, namun diapun tak menginginkan jawabannya, karena dia tahu Soh Yong-yong pasti takkan dapat menjawabnya.

Kembali semua berdiam diri, hati masing-masing dirundung berbagai pertanyaan.

Apa benar Sin cui kiong merupakan alam dewata, seperti yang dituturkan Soh-yong-yong?

atau merupakan tempat seperti neraka yang penuh diliputi misteri dan menakutkan seperti yang dituturkan Liu Bu-bi?

Kembali Oh Thi-hoa melakukan kebiasaannya mengelus hidung, gumamnya.

"Mungkin kalian pergi kedua tempat yang berlainan."

"Dalam kolong langit ini hanya ada satu Sin cui kiong, tak mungkin ada tempat kedua."

Jawab Liu Bu-bi tegas.

"Tempat yang kudatangi itu, terang adalah Sin cui kiong, pasti takkan salah"

Soh Yong-yong amat yakin akan pengalamannya. Nada mereka sama-sama tegas dan tandas.

"Kalau orang lain yang bercerita mungkin bisa keliru, dan aku mungkin tak mau percaya, tapi kalian nona-nona sama yakin, kemungkinan memang..."

Oh Thi-hoa tidak ragu-ragu lagi, setelah merandek dia mengawasi Liu Bu-bi, katanya.

"Setelah kau tiba ditempat itu, seorangpun kau tidak melihatnya, dengan keyakinan apa kau berani memastikan diri bila kau sudah berada di Sin cui kiong?"

Li Ang siu lekas menyambung.

"Benar! Dari mana kau tahu bila Nikoh tua dalam Bo dhi-am itu pasti akan mengantarmu pergi ke Sin cui kiong?"

Bersinar biji mata Soh Yong-yong diapun berebut bicara.

"Siapa yang beritahu kepadamu, harus lewat Bo dhi-am itu? Bukan mustahil hal ini merupakan perangkap yang sudah direncanakan lebih dulu oleh orang itu?"

"Perangkap?"

"Benar! Perangkap!"

Soh Yong-yong menegaskan.

"bukan mustahil orang itu sama dia... ada permusuhan dengan Coh Liu-hiang, maka sengaja dia memasang perangkap untuk menipu kau, sudah tentu Nikoh tua dalam Bo dhi-am itupun komplotannya."

"Sedikitpun tidak salah."

Seru Oh Thi-hoa tepuk tangan.

"dia menipumu karena ingin kau membunuh Coh Liu-hiang, hakekatnya mereka tidak pernah membawamu pergi ke Sin ciu kiong."

"Setelah kau minum air teh itu,"

Timbrung Li Ang siu.

"kau sudah pingsan, mereka boleh sembarang membawamu ke suatu tempat yang terang kau toh tidak tahu."

Liu Bu-bi menepekur sesaat lamanya, katanya.

"Memang bukan beralasan apa yang kalian uraikan."

"Sudah tentu masuk diakal"

Ujar Li Ang siu, lorong bawah biara itu, suara yang kau dengar bukan mustahil pula adalah perkataan Nikoh tua itu pula."

Liu Bu-bi menghela napas, ujarnya.

"Tapi kalau toh hal ini menyangkut mati hidupku, masakah aku mau percaya begitu saja akan petunjuk orang lain? Sudah tentu aku amat percaya kepada orang yang memberi kisikan padaku mengenai jalan yang harus kutempuh."

Oh Thi-hoa terkekeh-kekeh, katanya.

"Orang yang terlalu percaya kepada orang lain sering dia celaka sendiri, tentunya kau jauh lebih paham akan pengertian ini dari orang lain."

Merah muka Liu Bu-bi, katanya tertunduk.

"Tapi orang ini.... orang ini pasti takkan berbohong."

"O"

Lama juga belum pernah kudengar ada orang yang tidak pernah membual, aku jadi ingin tahu siapa sebenarnya orang ini?"

"Beliau adalah Li Ui Loh-ce Ui lokiam khek yang dijuluki Lun-cu kiam oleh kaum Bulim, kukira kalian pasti pernah mendengar legenda mengenai sepak terjang beliau orang tua?"

Seketika terkancing mulut Oh Thi-hoa, karena diapun tahu bila dalam kolong langit ini ada orang yang tidak pernah membual maka orang itu pasti Kuncu kiam Ti Loh-ce adanya.

Tak tahan bersuara pula Li Ang-siu.

"Memang tidak salah, Ci lo kiam khek ini memang tidak malu dijuluki Kuncu "sosiawan"

Yang benar jujur, selama hidupnya belum pernah dia membual atau menipu orang lain.

Lebih harus dipuji dan dikagumi, bukan saja terhadap teman dia bersikap jujur, meski terhadap musuhnya selamanya dia bicara apa adanya, selamanya tidak pernah berbohong."

Song Thiam-ji bertepuk, serunya tertawa.

"Nona Li kita hendak mengeduk pengetahuan dalam perutnya untuk jual lagak di hadapan kita, memangnya apa yang dia uraikan tak salah, boleh kita mendengarkan dengan hati lapang!"

Liu Bu-bi menjadi heran dan membatin.

"Nona Li ini masih muda belia, diwaktu Kun cukiam melintang di Kangouw, mungkin dia belum lahir, namun dari nadanya ini seolah-olah dia amat jelas mengenai seluk-beluk kehidupan Kun-cu-kiam masa lalu."

Memang diluar tahunya, bukan saja Li Ang-siu banyak mengetahui riwayat hidup dan sepak terjang Kun-cu-kiam masa lalu, malah tokoh-tokoh kosen yang kenamaan di Bulim pun tak sedikit yang dia ketahui.

Oh Thi-hoa justru bertanya.

"Katamu terhadap musuhpun Ui lo-kiam khek tak mau berbohong, aku jadi tak mengerti."

Berkata Li Ang-siu.

"Bila kau bergebrak dengan musuh, kalau lawan bertanya.

"Kepandaian apa yang menjadi keahlianmu? Berapa jurus pula yang paling lihai. Waktu turun tangan kau hendak menggunakan tipu yang mana? Kau mau beritahu kepadanya tidak?"

Oh Thi-hoa tertawa geli katanya.

"Ha, ha, lucu sekali, bila bergebrak dengan musuh yang diutamakan adalah permainan isi, kosong yang tidak menentu, sehingga musuh dibuat keripuhan dan tak mampu membalas, jikalau pihak sendiri mengutarakan serangan jurus apa yang hendak kau lancarkan, terhitung berkelahi apa dengan lawan?"

"Jadi bila lawanmu bertanya demikian kau tidak mau menjawab?"

Li Ang-siu menegas.

"Kalau orang itu musuh besarku, sudah tentu aku tidak mau beritahu, tapi yang terang musuhkupun takkan mengajukan pertanyaan ini kepadaku, karena dia toh tahu aku bukan orang gila, umpama benar aku menjawab, tentu bukan sejujurnya."

Li Ang-siu cekikikan, katanya.

"Akupun tahu kau pasti takkan bicara sejujurnya, umpama kau berterus terang, lawanpun takkan mau percaya, atau tidak berani percaya. Akan tetapi setiap bergebrak dengan musuh, perduli pertanyaan apapun yang diajukan lawan, setiap patah pertanyaan pasti dia jawab dengan jelas, dan lagi apa yang pernah dia katakan pasti tak pernah ditarik dan dikoreksi. Kalau dia bilang jurus terakhir hendak menggunakan tipu burung terbang kembali ke hutan untuk meraih ikat kepala lawan, maka dia pasti tak akan menggunakan gadis rupawan menyusup benang untuk menusuk dada lawannya."

Oh Thi-hoa melengak katanya.

"Bertempur cara demikian, bukankah dia selalu kena dirugikan oleh musuh?"

"Memangnya lantaran sifatnya ini, entah sudah berapa kali Ui lo-kiam-khek mengalami kerugian selama hidupnya, maka setelah orang banyak tahu akan wataknya ini, sebelum mengajaknya bergebrak pasti bertanya lebih dulu."

"Meski Lwekang Ui locianpwe amat tinggi, umpama orang tahu jurus apa yang hendak dia lancarkan juga belum tentu kuasa menandinginya, tapi bila kebentur lawan yang membekal kepandaian setanding dirinya, bukankah dia bakal terjungkal ditangan musuh?"

"Memang begitulah kejadiannya, dalam beberapa kali pertempuran, jelas Ui-locianpwe seharusnya menang, akhirnya malah kena dikalahkan, dan lantaran dia memang seorang Kuncu sejati, maka meski lawan berhasil mengalahkan dia, orang toh tidak tega melukainya."

Liu Bu-bi segera menyambung.

"Apalagi, dengan kejujuran Ui Locianpwe menghadapi setiap kawan dan lawan, maka pergaulannya amat luas, temannya tersebar dimana mana, para tokoh-tokoh Kangouw dari tingkatan yang lebih tua, boleh dikata sama adalah sahabat dekatnya maka umpama dia orang adalah musuh besarnya, orangpun tak akan berani melukainya."

Sampai di sini dia menarik napas dalam.

"silahkan kalian pikir, ucapan yang dikatakan oleh orang macam dia, apakah tidak boleh dipercaya?"

"Kalau demikian tempat yang kau tuju itu pasti tidak akan salah lagi adalah Sin cui kiong."

Ujar Oh Thi-hoa menghela napas.

"Hal ini tak perlu diragukan lagi."

Sesaat lamanya Soh Yong-yong menepekur katanya.

"Sayang sekali dimana sekarang Ui locianpwe berada, kalau tidak ingin aku mohon beberapa petunjuk kepada beliau."

Selama ini Coh Liu-hiang mendengarkan dengan cermat, kini tiba-tiba tertawa, ujarnya "Petunjuk apa yang ingin kau minta?

Silahkan kau utarakan saja, bukan mustahil Ui-locianpwe bisa mendengarkan pertanyaanmu,"

Melotot biji mata Soh Yong-yong katanya.

"Apa beliau berada disekitar sini?"

Kembali Coh Liu-hiang mandah tertawa-tawa, namun tidak menjawab.

Terdengar dua kali batuk-batuk lirih dari batu undakan yang menembus ke bawah tanah ini.

Maka muncullan tiga bayangan orang dengan langkah pelan-pelan.

Ketiga orang sama-sama mengenakan jubah serba hitam, sama-sama memanggul pedang di punggungnya, segera Oh Thi-hoa mengenali mereka, adalah orang-orang yang tadi bergebrak melawan Coh Liu-hiang.

Cuma sekarang mereka sama menanggalkan kedok mukanya, sikap ketiga orang sama angker berwibawa, namun bentuk dan perawakan ke tiganya berbeda satu sama lain.

Yang ditengah dan terdepan adalah seorang kakek tua yang bermuka seperti baskom perak dengan biji mata terang dan beralis tebal.

Walau sekarang sudah jadi hartawan dan ketiban rejeki besar pastilah masa mudanya dulu adalah seorang laki-laki ganteng yang romantis.

Ditengah alisnya yang rada berkerut kelihatan rada marah, sikapnya kelihatan keras dan tegas, terang sekali orang ini bukan lain adalah, Ciok-kiam Sian Ciok yang terkenal di seluruh jagat itu.

Laki-laki yang di sebelahnya kira-kira satu kepala lebih tinggi dengan perawakan kekar, mukanya putih bersih, meski sikapnya kelihatan serius, namun sorot matanya kelihatan welas asih.

Kini kedua alisnya rada berkerut, seolah-olah dirundung persoalan berat.

Dan seorang yang lain berperawakan sedang tidak tinggi juga tidak rendah, raut mukanya biasa saja, sikapnya kalem dan sabar, malah tak menunjukkan sesuatu mimik pada mukanya.

Diantara ketiga orang ini, hanya dia seorang yang tidak membawa sikap pambek seorang gagah yang penuh wibawa, tapi hanya dia saja yang berperasaan dingin kaku.

Li Giok-ham suami istri begitu melihat kedatangan ketiga orang ini, segera berlutut tak berani bergerak, orang-orang itu melirikpun tidak kepada mereka berdua, langsung berhadapan dengan Coh Liu-hiang serta menjura bersama.

Berkata Giok-kiam Sian Ciok setelah menghela napas.

"Barusan Losiu dikelabui oleh anak yang masih ingusan ini, hampir saja melakukan suatu kesalahan besar yang terampuh, sungguh malu sebenarnya untuk berhadapan dengan Maling romantis."

Tersipu-sipu Coh Liu-hiang balas menjura, katanya.

"Berat kata-kata Cianpwe, Cayhe mana berani menerima pujian setinggi ini."

Laki-laki tinggi besar menghela napas pula juga ujarnya.

"Selama hidup Losiu percaya belum pernah melakukan suatu perbuatan durhaka dan tercela, tapi sekali ini... ai, peristiwa kali ini sungguh bikin Losiu malu bukan main, semoga Maling romantis suka memaafkan dosa kesalahan ini."

"Tidak berani... tidak berani..."

Hanya itu saja yang bisa terucapkan oleh Coh Liu-hiang. Siau Ciok membanting kaki, ujarnya.

"Persoalan kami pendek saja, Losiu beramai sebetulnya malu untuk berhadapan dengan orang luar pula, tapi kalau urusan tinggal terbengkalai begini dan kami tinggal pergi begitu saja sikap kami lebih tak bisa dipuji lagi, terpaksa kami bertiga memberanikan diri kemari mohon Maling romantis suka memberi keputusan dan jatuhkan hukuman yang setimpal."

Sebetulnya Oh Thi-hoa masih merasa sengit dan dongkol terhadap mereka, namun melihat mereka sekarang sudah tidak jaga gengsi dan ketenaran nama selama puluhan tahun, mohon ampun dan minta dihukum terhadap angkatan muda yang masih muda belia, mau tak mau dalam hati dia amat kagum dan tunduk lahir batin, akan jiwa besar mereka.

Betul ya betul, salah ya salah, tahu salah mengaku salah.

sikap dan pambek seorang angkatan tua dari Bulim seperti ini memang patut dipuji dan dibuat teladan bagi generasi kita yang akan datang.

Sikap Coh Liu-hiang kelihatan amat risi, kikuk dan gelisah, tersipu-sipu dia merendah diri lalu berkata.

"Apakah keadaan Li-locianpwe sudah rada baik?"

Sian Ciok menghela napas, ujarnya.

"Syukur atas karunia dan belas kasihan Thian, Koan hu-heng karena malapetaka mendapat rejeki besar, tapi karena penyakitnya yang sudah terlalu lama, kondisi badannya sudah teramat lemah, tadi ditekan oleh amarah yang berlimpah limpah lagi, meski penyakit lama sudah berlalu, penyakit baru kembali bangkit, walau kami beramai sudah berusaha menolong dengan saluran hawa murni, namun dalam waktu dekat terang kesehatannya takkan bisa pulih dengan lekas."

"Bagaimana pula dengan Thi-san totiang?"

"Watak Toheng ini memang teramat keras, seperti lombok, semakin tua semakin pedas, sedikitpun tak terpikir olehnya bahwa sekarang dia sudah lanjut usia, mana dia kuat menahan luka-luka sedemikian berat, tapi meski masih sekuatnya bertahan, namun keadaannya sekarang malah jauh lebih payah dari saudara Koan-hu, untungnya Ling Hwi situa bangka itu adalah seorang tabib kenamaan, kini sedang merawatnya dengan tekun."

Mendengar sampai di sini airmata Li Giok-ham sudah bercucuran pula, Liu Bu-bi sampai sesenggukkan tak bersuara, berbareng kedua suami istri manggut-manggut membentur kepala di atas lantai, katanya gemetar.

"Wanpwe patut mati, memang Wanpwe berdua yang harus mampus!"

Untung kalau mereka tidak buka suara, kata-kata mereka malah menimbulkan kemarahan Siau Ciok, dampratnya.

"Kalian masih berani tinggal di sini? Terhadap kamipun kalian berani main tipu, memangnya tidak takut menghadapi hukuman keluarga dari leluhur kalian?"

Li Giok-ham meratap.

"Wanpwe tahu dosa kesalahan ini takkan menolong jiwa Wanpwe, memang setimpal untuk menerima hukuman leluhur, cuma Wanpwe mohon sekalian Cianpwe mengampuni jiwanya, dia, dia... sebenarnya tiada sangkut-paut dengan persoalan ini."

"Kalau dia tiada sangkut-pautnya, memangnya siapa yang ada sangkut-pautnya?"

Damprat Siau Ciok.

"Kebesaran nama Yong cui san-cheng sudah kalian runtuhkan, memangnya harus mempertahankan hidupnya untuk bikin malu di hadapan orang banyak?"

Liu Bu-bi menjerit tangis dengan sedihnya, serunya.

"Memang peristiwa ini adalah gara-gara diriku, malah tiada sangkut-pautnya dengan dia, harap para Cianpwe suka mengampuni jiwanya."

Mendengar tangis dan ratapan mereka yang begitu sedih dan memilukan, Soh Yong-yong dan lain-lain ikut berduka dan haru, sungguh mereka kehabisan akal cara bagaimana untuk memohon ampun bagi suami istri yang setia dan senasib ini.

Tak nyana laki-laki tinggi kekar itu menghela napas pula, timbrungnya.

"Kalian tidak perlu bersedih, kami ada mendapat pesan dari saudara Koan-hu seharusnya memberi hukuman setimpal sesuai undang-undang keluarga besar kalian, tapi diatas tadi kami sudah dengar pengakuan kalian, kamipun merasa pengalaman hidup kalian memang harus dikasihani, bukannya kesalahan berat ini tidak boleh diampuni, kami sudah berkeputusan untuk mintakan ampun dan keringanan kepada saudara Koan-hu."

Siau Ciok membanting kaki berulang kali, katanya menyengir getir.

"Tadi sudah kukatakan, akan lebih keras dan banyak mengajar adat mereka, kenapa sekarang kau malah bicara demikian blak-blakan terhadap mereka?"

Laki-laki tinggi besar itu menjawab.

"Agaknya mereka benar-benar sudah bertobat, buat apa pula kau harus bikin mereka gelisah dan kepepet putus asa?"

Tak terasa Soh Yong-yong saling adu pandang dengan tersenyum kepada Li Ang-siu, karena mendengar pembicaraan di sini, mereka sudah dapat menerka bahwa laki-laki tinggi besar ini, terang adalah Kun-cu kiam.

Tapi jangan kata Soh Yong-yong dan lain-lain, sampaipun Coh Liu-hiang sendiripun tak tahu asal-usul laki-laki sedang yang bersikap dingin kaku dan bermuka biasa ini.

Sepintas lalu usianya agak lebih muda dari Siao Ciok dan Ui Loh-ce, tapi tadi waktu Coh Liu-hiang terkepung didalam barisan, sudah terasa olehnya Lwekang orang ini amat tinggi, ilmu pedangnyapun amat lihai dan ganas, terang tingkatannya tak di bawah Siau Ciok, Thi-san, Ling-Hwi-kek, Ui Loa-ce dan Swe It-hang para Cianpwe yang sama ahli dalam ilmu pedang.

Apalagi kalau toh dia teman karib Li Koan-hu, sudah tentu adalah seorang Cianpwe yang sudah lama angkat nama, namun Coh Liu-hiang justru tidak habis mengerti, diantara tokoh-tokoh kosen para Cianpwe yang dikenal ada seseorang yang mirip seperti orang ini.

Baru saja Coh Liu-hiang hendak tanya nama dan asal-usulnya, tak kira orang sudah membalikkan badan, menggendong kedua tangan, menengadah dengan mendelong, entah apa yang sedang dia pikirkan.

Ternyata Siau Ciok atau Ui Loh-ce juga tidak memperkenalkan dia orang kepada Coh Liu-hiang, seolah-olah dia adalah seorang tokoh yang misterius dan mau tidak mau timbul rasa ketarik Coh Liu-hiang terhadap orang yang satu ini.

Kini Kun-cu kiam sudah mengawasi Soh Yong-yong, bertanya dengan penuh keheranan.

"Nona ini..."

Tersipu-sipu Soh Yong-yong memberi hormat, sahutnya.

"Wanpwe Soh Yong-yong, ada beberapa persoalan memang aku ingin mohon petunjuk Cianpwe."

Ui Loh-ce tersenyum, katanya.

"Silahkan nona berkata!"

Setelah termenung sebentar, Soh Yong-yong bertanya.

"Apa Cianpwe sudah yakin benar bahwa Bo dhi-am itu merupakan tempat keluar masuk ke Sin cui kiong?"

"Ya, tidak akan salah."

Sahut Ui Loh-ce, dia berpikir sebentar lalu meneruskan.

"Waktu Bu-bi bertanya kepadaku, sebetulnya Losiu tidak tahu apa maksudnya hendak pergi ke Sin cui kiong, kukira lantaran jiwa mudanya yang ingin tahu dan ketarik sesuatu yang serba misterius maka tanpa sengaja dia bertanya sambil lalu saja."

"Apakah Cianpwe tahu asal-usul Suthay tua dalam Bo dhi-am itu?"

"Suthay tua itu sebetulnya adalah seorang tokoh kosen yang aneh juga, sayang sekali tiada orang yang tahu asal-usulnya, belum ada orang yang pernah mendengar dia bicara sepatah kata."

"Dia benar-benar cacad, atau hanya pura-pura bisu tuli?"

"Seseorang bila dia bisa pura-pura bisu tuli selama puluhan tahun, pasti dia mempunyai pengalaman hidup yang mengenaskan, buat apa pula Losiu harus mencari tahu apakah dia itu pura-pura bisu tuli?"

"Jiwa lapang Cianpwe sungguh haru dikagumi dan kita angkatan muda tiada satupun yang bisa memadai, sungguh Wanpwe amat menyesal mengajukan pertanyaan ini."

Kata Soh Yong-yong yang lalu mundur ke tempatnya pula berdiri diam menurunkan kedua tangannya. Tak lama kemudian Ui Loh-ce malah yang bertanya.

"Yang ingin nona Soh tanyakan kukira hanya sekian saja bukan?"

Lama Soh Yong-yong menepekur, katanya hormat.

"Memang masih ada persoalan lain, Wanpwe ingin petunjuk Cianpwe."

"Kalau demikian, kenapa nona tidak bertanya?"

"Wanpwe kuatir, ada beberapa hal mungkin Cianpwe tidak berani membeberkannya dimuka umum, tapi jikalau Wanpwe mengajukan pertanyaan ini, Cianpwe tidak bisa berbohong dengan alasan lain pula, maka Wanpwe betul-betul tidak berani bertanya."

Mendengar sampai disini, diam-diam Oh Thi-hoa tertawa geli dalam hati, batinnya.

"Tak heran ulat busuk suruh nona Soh pergi ke Sin cui kiong, menyirapi berita, agaknya dia memang pandai untuk mengajukan pertanyaan dimulut dia bilang tidak berani bertanya, sebetulnya secara gamblang dia sudan membeber pertanyaan ini, malah orang ditekan mau tidak mau harus mengatakan."

Benar juga Ui Loh-ce segera tertawa, katanya.

"Apakah nona ingin tanya Losiu cara bagaimana bisa tahu akan hal ini?"

Soh Yong-yong hanya tersenyum saja tanpa bersuara.

"Sebetulnya Losiu sendiripun mendengar dari penuturan orang lain."

Sengaja atau tak sengaja matanya sedikit melirik kepada laki-laki perawakan sedang di sebelahnya, katanya lebih lanjut.

"Losiu pun percaya apa yang dituturkan orang itu pasti takkan salah karena selama hidupnya belum pernah dia menyimpan persoalan hidupnya kepada Losiu, malah sepatah katapun belum pernah dia membual di hadapanku."

Bersinar mata Soh Yong-yong, tiba-tiba tertawa, katanya.

"Tentunya orang ini adalah teman karib Cianpwe dalam menikmati hidup senggang"

Sengaja dia keraskan suara waktu mengatakan teman karib menikmati hidup senang. Ui Loh-ce tertawa, ujarnya.

"Ah, nona bergurau saja, selama hidup Losiu tidak kepincut paras cantik, mana punya teman hidup segala?"

"Kalau demikian, jadi orang yang memberi tahu akan hal ini kepada Cianpwe adalah orang laki-laki?"

"Em!"

Ui Loh-ce bersuara dalam mulut. Soh Yong-yong segera mendesak lebih lanjut.

"Menurut apa yang Wanpwe tahu, dikolong langit ini tiada seorang laki-lakipun yang mengetahui seluk-beluk rahasia Sin-cui-kiong cara bagaimana pula teman Cianpwe itu bisa mengetahui hal-hal ini?"

Ui Loh-ce berpikir sebentar, katanya.

"Persoalan yang menyangkut Losiu sendiri, tiada yang perlu Losiu sembunyikan bila kau tanya tapi persoalan ini menyangkut rahasia orang lain, maaf Losiu tidak bisa banyak bicara."

Waktu bicara kembali matanya melirik kepada laki-laki di sebelahnya, tiba-tiba dia angkat tangan bersoja, katanya.

"Sampai di sini saja Losiu bicara, aku mohon diri lebih dulu."

Laki-laki perawakan sedang ini sudah membalik badan, tersipu-sipu dia menjura kepada Coh Liu-hiang terus melangkah keluar lebih dulu, agaknya kedua orang sudah tidak suka tinggal lebih lama lagi ditempat ini.

Siau Ciok mengerut kening, katanya keras.

"Loh-heng, urusan disini kau tidak bisa mengurusnya?"

Diatas undakan batu Ui loh-ce tertawa, sahutnya.

"Urusan intern keluarga mereka, kita orang luar hendak menguruspun tak berkuasa lagi, saudara Koan-hu meski sedang naik pitam namun dalam tiga lima hari ini pasti amarahnya sudah mereda."

Sampai pada kata-katanya terakhir dia orang sudah pergi jauh. Siau Ciok membanting kaki pula, segera diapun berlari keluar, tiba-tiba dia berpaling pula berkata kepada Li Giok-ham.

"Dalam dua tiga hari ini lebih baik jangan kau temui bapakmu, supaya amarahnya tidak kumat sehingga dia Cap-hwe cip-mo, semakin jauh kau menyingkir lebih baik, setelah penyakitnya sembuh boleh kau kembali, waktu itu dia sudah punya tenaga, supaya hajarannya lebih keras diatas badanmu."

Masakan Siong ho lau memang amat terkenal, apalagi perut semua orang memang sudah kelaparan sekian lamanya, sudah tentu Oh Thi-hoa tak ketinggalan minum arak sepuas-puasnya, sampaipun Soh Yong-yong ketarik minum beberapa cangkir.

Diantara mereka hanya Mutiara hitam saja yang seolah-olah dirundung pikiran pepat, sudah tentu Li Giok-ham dan Liu Bu-bi suami istri tiada selera menelan nasi meski hidangan cukup lezat, memangnya mereka sebetulnya merasa malu diri ikut berada disini, makan bersama pula.

Tapi Li Ang siu justru berkata.

"Mana boleh kalian pergi ketempat lain? Kita tiada yang tahu dimana letak Bo dhi-am itu, sukalah kau bawa kami kesana, memangnya kau tak sudi membantu kami?"

Song Thiam-ji ikut bantu bersuara sambil menarik lengan Liu Bu-bi, katanya.

"Coh Liu-hiang memangnya sudah berkeputusan hendak berkunjung ke Sin cui kiong, asal dia bisa masuk ke Sin cui kiong, pasti obat pemunahnya dapat dibawa pulang, kau tidak usah kuatir."

Orang lain sama tahu persoalan tidak segampang seperti yang dikatakan, namun tiada satupun diantara mereka yang pesimis menghadapi kesulitan yang bakal mereka hadapi, ketemu betapapun besar bencana yang dihadapi Coh Liu-hiang pasti bisa mengatasi dan menerjangnya kesana.

Mereka berpendapat seumpama kepandaian Cui bok im ki memang setinggi langit tidak lebih diapun seorang manusia yang berdarah daging, memangnya orang kuasa menelan Coh Liu-hiang bulat-bulat?

Yang benar-benar kuatir menghadapi persoalan ini justru Coh Liu-hiang sendiri.

Karena hanya dia sendiri yang pernah berhadapan dengan kepandaian silat Ciok-koan-im, Cui-bok-im-ki justru tokoh yang paling ditakuti oleh Ciok-koan-im selama hidupnya, sebetulnya sampai dimana taraf kepandaian silat Im-ki, sungguh membayangkanpun dia tak berani memikirkan, apalagi Sin cui kiong tempat bersemayamnya itu merupakan suatu alam firdaus yang penuh diliputi misteri.

Tiba-tiba Oh Thi-hoa berkata.

"Ling Hwi-khek, Siau Ciok, Thi-san Totiang, Ui Loh-ce berempat memang sudah lama aku pernah dengar keterangan mereka, tapi siapa gerangan laki-laki yang bertindak tanduk seperti orang banci itu?"

"Maksudmu lelaki perawakan sedang tak pernah tertawa, tak mau buka suara itu?"

"Ya, siapa lagi kalau bukan dia?"

"Melihat orang ini, akupun merasa aneh, sebetulnya ingin aku bertanya asal-usulnya, tak kira tiba-tiba sudah tinggal pergi."

Soh Yong-yong tersenyum ujarnya.

"Begitu cepat mereka berlalu, mungkin memang dia takut kita menanyakan asal usulnya."

"Tapi..."

Li Ang siu merandek.

"Li kongcu masakah kaupun tak tahu siapa orang itu?"

Li Giok-ham geleng-geleng kepala, ujarnya.

"Cianpwe yang satu ini adalah pembantu yang diajak oleh Ui-locianpwe. Ui-locianpwe hanya bilang ilmu pedangnya amat tinggi, jarang ada orang yang bisa menandingi pada jaman ini, sekali kali takkan menggagalkan urusan, namun dia tak mau menyebut nama dan asal-usulnya."

Li Ang-siu mengerut kening, katanya.

"Memangnya kenapa harus serba rahasia?"

"Waktu itu merekapun merasa heran, namun tak berani banyak bertanya, kukira setelah kedatangan Siau-cianpwe dan lain-lain tentu bisa mengenali dirinya."

"Benar."

Li Ang siu mendukung.

"Pergaulan Siau Tayhiap memang luas, angkatan tua dari tokoh-tokoh Bulim tiada yang tak dikenal dengan baik olehnya."

"Tapi bukan saja Siau locianpwe tak mengenal dia, malah dia orang selamanya belum pernah dilihatnya, tokoh-tokoh kosen ahli pedang dalam bulim yang dikenalnya pasti tiada seorang yang mirip dengan bentuk muka dan perawakannya."

Demikian tutur Li Giok-ham. Tiba-tiba Soh Yong-yong tertawa pula, ujarnya.

"Memangnya sejak mula aku sudah menduga dalam dunia ini pasti takkan ada seorangpun yang bisa mengenal dia."

"Kenapa?"

Tanya Li Ang siu.

"Cahaya didalam ruang bawah tanah itu amat guram tak heran bila kalian tidak bisa melihatnya dengan jela."

Ujar Soh Yong-yong.

"Memangnya dia mengenakan kedok muka?"

Teriak Li Ang siu. Soh Yong-yong tersenyum sambil mengawasi Coh Liu-hiang, katanya.

"Bukan saja ilmu tata rias orang ini amat lihai, kedok muka yang dipakainya itupun buatan seorang ahli, oleh karena itu baru bisa mengelabui kau dan mata sekalian orang."

Coh Liu-hiang mandah tertawa tanpa bersuara. Berkata Oh Thi-hoa.

"Coba kalian lihat lucu benar mimik tawanya itu, seolah-olah segala persoalan tak bisa kelabui dirinya, hakekatnya kepandaian terlihai dari orang yang satu ini adalah tertawa-tawa, begitu aneh tawanya itu sehingga orang sukar meraba sebetulnya berapa banyak persoalan yang dia ketahui."

Li Ang siu berseri tawa katanya.

"Memang kau tak malu sebagai teman karibnya."

"Raut muka orang itu kaku dingin dan tak berperasaan, tanpa menunjukkan sesuatu mimik lagi, memangnya aku sudah curiga kulit mukanya rada ganjil, namun aku justru tak berhasil membongkar gejala-gejala yang ganjil itu."

Demikian Oh Thi-hoa uring-uringan.

"Maklumlah karena kedok muka yang dia pakai ini jauh berlainan, dengan kedok muka yang sering terlihat, dalam kalangan Kangouw umumnya memang itu hasil karya dari seorang yang benar-benar ahli, boleh dianggap sebagai benda-benda sejenisnya."

Demikian Soh Yong-yong memberikan uraiannya. Berkata pula Oh Thi-hoa.

"Tak banyak orang-orang yang benar-benar ahli dalam kalangan Kangouw yang bisa membuat kedok muka sebaik itu. Selama lima puluh tahun mendatang, yang benar-benar ahli didalam pembuatan kedok muka ini tak lebih dari sepuluh orang, namun toh hanya ada tiga orang yang boleh dibilang sebagai ahli diantara ahli."

"Tahukah kau siapa-siapa saja ketiga orang yang ahli itu?"

Tanya Soh Yong-yong.

"Orang pertama bernama Siau-bak-tong soalnya sejak berumur tujuh tahun dia sudah angkat nama, namun belum genap dua puluh dia sudah tutup usia, para ahli yang pandai membuat kedok muka boleh dikata tiada satupun orang baik-baik, hanya dia saja yang terhitung tak terlalu bejat."

Sampai disini kata-katanya tiba-tiba tertegun, karena tiba-tiba dilihatnya mimik muka Soh Yong-yong menunjukan rasa duka dan pilu, biji matanyapun merah dan berkaca-kaca hendak menangis.

Berputar biji mata Li Ang siu, segera dia menimbrung.

"Orang kedua bernama Jian-bin-jin-mo, beberapa tahun yang lalu orang yang satu ini sudah menemui ajalnya ditumpas oleh Thi Tiong-siang Thi Tayhiap dari Thi-hiat-toa-ki-bun. malah seorang musuhnya yang dinamai Ban biau kiong yang dia bangun selama bertahun-tahun dengan berbagai jerih payah itu pun dia bakar sampai musnah dan rata dengan tanah. sudah tentu semua kedok muka buatannya pun terbakar seluruhnya, tak ada satupun yang ketinggalan."

"Masih ada satu lagi, siapa dia?"

Tanya Liu Bu-bi. Li Ang siu menggigit bibir, katanya.

"Begitu teringat nama orang ini aku lantas muak, lebih baik tak usah kusebut saja."

"Memangnya dia lebih jahat dan keji dari Jian-bin-jin-mo?"

Tanya Liu Bu-bi.

"Jian-bin-jin-mo paling-paling dianggap berhati kejam bertangan gapah, kejam dan telengas keluar batas, tapi orang ini bukan saja berjiwa rendah hina-dina, tidak tahu malu, perbuatan yang menjijikkanpun bisa dia lakukan, boleh dikata dia tidak mirip manusia lagi."

Liu Bu-bi termenung sebentar, katanya dengan kesima.

"Apakah yang kau maksud adalah manusia siluman banci yang bernama Hiong-nio-nio itu?"

"Betul dia."

Ujar Li Ang siu penuh kebencian.

"Perduli golongan hitam atau aliran putih dalam kalangan Kangouw tiada yang tidak ingin mencacah badannya, sejak jaman dahulu kala, mungkin tiada orang yang mempunyai musuh sedemikian banyaknya seperti dia, maka sepanjang tahun selalu dia sembunyi berpindah pindah. mengandal kedok muka buatannya sendiri itulah dia berusaha menghindarkan diri dari kejaran para musuh-musuhnya."

"Apakah mungkin dia orang yang datang bersama Ui-locianpwe itu?"

Liu Bu-bi menegas. Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya.

"Selama hidupnya Ui locianpwe mengutamakan suci murni, berjiwa jujur dan lurus, mana bisa bersahabat dengan manusia rendah begituan, apalagi, meski Hio-nio-cu licik dan licin pandai merubah bentuk, ilmu Gingkang dan pedangnya tidak lemah pula, tapi sepuluh tahun yang lalu dia sudah tamat riwayatnya karena kejahatannya di luar batas."

Bersambung ke

Jilid 38

Jilid 38

"Sejak kecil aku hidup ditengah pasir."

Demikian kata Liu Bu-bi.

"Sejarah perkembangan kaum Bulim di Tionggoan tak kuketahui, kalau tidak mau dibilang terlalu asing bagi diriku."

Lebih lanjut Coh Liu-hiang tertawa pula, katanya.

"Selamanya Yong-cui-san-cheng memegang teguh peraturan rumah tangga secara tradisi yang ditegakkan oleh nenek moyangnya, sudah tentu takkan sudi menyinggung nama manusia bejat yang memalukan ini, tapi kematian Hong-nio cu waktu itu betul-betul merupakan suatu peristiwa besar yang menggemparkan seluruh Bulim, banyak orang tak segan-segan meluruk datang dari tempat ribuan li jauhnya hanya untuk melihat mayatnya, tujuannya tak lain hanya ingin pula mengiris sekerat kulit dagingnya."

"Kalau toh tiada orang-orang Bulim yang pernah melihat muka aslinya,"

Demikian tanya Liu Bu-bi.

"darimana bisa diketahui bila mayat itu benar adalah mayat Hiong nio cu?"

"Karena orang yang membunuhnya bukan saja menggantung mayatnya tinggi di puncak pohon, malah diatasnya digantung pula sebuah spanduk besar dengan tulisan huruf-huruf merah yang besar maksudnya, bahwa mayat orang ini adalah Hiong nio cu pemetik bunga "pemerkosa"

Yang cabul itu, maka Sin-cui-kiong menggasaknya demi menuntut balas bagi para korban yang konyol oleh kekejamannya."

"Sin cui-kiong?"

Teriak Liu Bu-bi tertahan.

"Memangnya Hiong nio-cu akhirnya menemui ajalnya ditangan Cui bo im ki?"

"Benar, lantaran yang membunuhnya adalah Sin cui kiong-cu, maka orang-orang aliran Kangouw baru yakin percaya benar bahwa mayat itu benar-benar adalah Hong nio cu, karena pihak Sin cui kiong pasti tidak akan keliru."

Oh Thi hoa selalu mengawasi Soh Yong-yong, kini tiba-tiba berkata.

"Meski Hiong nio cu orangnya sudah ajal, kedok muka buatannya bukan mustahil ada yang dia tinggalkan, kedok muka yang dipakai oleh laki-laki perawakan sedang itu bukan mustahil adalah sisa dari hasil karyanya itu."

"Terang tidak mungkin."

Sela Li Ang siu tegas.

"Kedok muka itu toh tidak diukir merek atau nama pembuatnya, darimana kau berani begitu yakin akan pendapatmu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Karena Hiong-nio cu ini hakekatnya bersuara banci dan beringkah laku seperti perempuan, namun ia justru mengagulkan diri sebagai laki-laki tertampan di seluruh jagat, dan semua kedok muka buatannya seluruhnya bertipe gagah dan ganteng mirip laki-laki tak mungkin dia membuat kedok muka sejelek itu."

"Em, Memang masuk akal."

Ujar Oh THi-hoa.

"Justru karena ciptaannya serba bagus mutunya, maka dia pandang buah karyanya sebagai mestika tidak ternilai, kedok muka buatan Siau-hak-thong dan Jian-bin-jin-mo mungkin masih ketinggalan dan tersebar di kalangan Kangouw menjadi milik orang lain, tapi kedok muka buatannya selamanya tiada seorangpun yang melihatnya."

Kembali Coh Liu-hiang menimbrung.

"Apalagi kalau toh dia sudah ajal ditangan Sin-cui-kiong, umpama benar dia ada meninggalkan kedok muka buatannya, pasti terjatuh di tangan Im-ki, tak mungkin tersebar diluaran."

Kembali Oh Thi-hoa melirik kepada Soh Yong-yong, katanya.

"Kalau toh Jian-bin-jin-mo dan Hiong nio-cu tak meninggalkan kedok muka buatannya di kalangan ramai, dan kedok muka yang dipakai orang itu mungkin adalah hasil karya dari Siau hak tong itu."

"Tidak mungkin."

Soh Yong-yong menyangkal dengan tegas.

Sejak tadi Oh Thi-hoa sudah perhatikan perubahan mimik Soh Yong-yong yang setiap kali nama Siau-hak-tong disinggung, maka sekarang diapun tidak perlu banyak tanya pula, dia menunggu penjelasan orang.

Betul juga Soh Yong-yong lantas menjelaskan.

"Kedok muka buatan Siau-hak-tong, juga tak pernah tersebar di kalangan Kangouw."

"O, darimana kau bisa tahu?"

Dengan mata merah Soh Yong-yong tertunduk, katanya.

"Karena seluruh kedok muka buatannya diwariskan kepadaku, karena aku.. aku adalah adiknya."

Seketika Oh Thi-hoa melongo, mulutpun terkunci rapat.

Memang sejak lama dia pernah mendengar Coh Liu-hiang bilang bahwa Song Thiam ji, Li Ang siu dan Soh Yong-yong bertiga adalah anak-anak sebatangkara yang mempunyai riwayat hidup yang mengenaskan.

Tapi tak pernah terpikir olehnya bahwa Soh Yong yong ternyata adalah saudara sepupu dari Siau sin tong "Bocah sakti"

Meski mulutnya terkancing, matanya justru menatap kepada Coh Liu-hiang, seolah-olah mau bilang.

"Tak heran orang sering bilang Coh Liu-hiang pandai merubah bentuk dan banyak duplikatnya, kiranya diapun mewarisi hasil karya Siau sin tong, kau ulat busuk ini kenapa tidak sejak dulu menjelaskan kepada aku, memangnya masih ingin mengelabui aku?"

Coh Liu-hiang menyingkir, katanya.

"Kalau orang tidak mau unjuk muka aslinya, itu adalah kebebasan orang, kitapun tak bisa menyelidiki asal usulnya sampai keakar-akarnya, yang terang orang tidak bermaksud jahat terhadap kita."

Tanpa memberi kesempatan orang lain bicara segera dia menambahkan.

"Tadi waktu aku mohon diri dan mengucapkan terima kasih kepada Li locianpwe, mereka masih berada di sana, agaknya memang sedang menunggu kedatanganku, waktu aku berlalu Ui locianpwe, lantas menarikku ke samping, dia bilang kepadaku katanya teman itu seorang yang harus dikasihani, dia mempunyai banyak kesulitan yang tak mungkin dijelaskan kepada orang lain, diharap kita bisa memaafkan dia."

"Memaafkan dia apa? Kenapa Ui Loh-ce mendadak membicarakan hal ini kepadamu?"

Tanya Li Ang siu.

"Ini... mungkin karena dia orang yang memberitahukan seluk-beluk Sin cui kiong itu kepada Ui lo kiam khek, maka Ui lo kiam khek mengharap kita tak menyelidiki soal ini lebih lanjut."

Oh Thi-hoa berkata.

"Oleh karena itu kau tak ingin menyelidikinya lebih lanjut benar tidak?"

"Aku percaya Ui lo kiam khek pasti tak menipu aku, tak mungkin mencelakaiku, kalau toh aku sudah berjanji kepadanya, maka aku pun takkan menjilat ludahku sendiri."

Tiba-tiba sikapnya jadi serius, katanya dengan suara yang tertekan.

"Setiap orang mempunyai hak untuk merahasiakan urusan pribadinya, asal dia tak melukai dan merugikan orang lain siapapun tiada hak untuk menyelidikinya."

"Benar orang yang suka menyelidiki rahasia orang lain, tentulah dia seorang yang rendah dan hina dina."

Oh Thi-hoa memberi suara.

Selama ini Mutiara hitam selalu melengos dari tatapan mata Coh Liu-hiang, tak berani beradu pandang.

Biji matanya yang bundar jeli dan dingin mantap itu diliputi kerawanan dan masgul, seolah-olah permukaan air danau yang bening mengapa ditutupi selapis kabut pagi yang mulai menipis.

Tiba-tiba dia berdiri, katanya dengan menunduk.

"Aku... sungguh aku amat merasa sungkan terhadap kalian, tapi... kalau sekarang kalian sudah bisa kumpul bersama, dosakupun terhitung ringan."

Li Ang siu membuka mata lebar-lebar, katanya.

"Toaci kenapa kau ngomong demikian?"

Mutiara hitam tertawa sahutnya.

"Karena aku harus segera pulang, maka kurasa perlu aku bicara dulu dimuka, aku..."

Belum habis dia bicara, Song Thiam ji dan Li Ang siu sudah menarik kedua tangannya. Kata Song Thiam ji gelisah.

"Kita toh sudah mengikat persaudaraan, masakah boleh kau tinggalkan kami pergi seorang diri?"

"Gurun pasir memang bukan tempat yang baik, tapi... disanalah rumahku... mungkin,"

Tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya tak punya rumah lagi, sampai disini suaranya tersendat pilu hampir menangis. Li Ang siu ikut gugup, katanya.

"Rumah kita adalah rumahmu juga, kau... kau..."

"Benar."

Timbrung Soh Yong yong.

"Kita semua kumpul bersama, laksana saudara sepupu sendiri."

Song Thiam ji berkata keras.

"Kalau kau ingin pergi, biar aku ikut kau."

Begitu tegas, tulus dan besar tekadnya.

Bayangan kabut di depan mata Mutiara hitam menjadi berkaca-kaca dari butiran air mata.

sedapat mungkin dia menahan tetesan airmatanya, namun tak tertahan dia mengerling ke arah Coh Liu-hiang, seperti hendak berkata.

"Mereka tidak mau aku pergi, bagaimana dengan maksudmu?"

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya.

"Walau kita tidak angkat menjadi saudara, namun terhitung sebagai sahabat karib, sekarang teman kita mengalami kesulitan, masa boleh kau tinggalkan temanmu pergi begitu saja?"

Ternyata ucapannya amat manjur. Mutiara hitam menghela napas penuh dikasihani "Kau..."

Suaranya tersendat dalam kerongkongan.

"Kuharap kau bisa menemani Thiam-ji dan Ang-siu pergi ke Bo-dhi-am, mereka masih anak-anak yang hijau tak punya pengalaman Kangouw, sebagai saudara yang lebih tua, kau wajib melindungi dan mengawasi mereka."

Mutiara hitam tertunduk diam, akhirnya pelan-pelan dia duduk kembali ditempatnya. Song Thiam ji seketika bersorak girang, serunya.

"Kami pasti mendengar petunjuknya, pasti tidak nakal."

Oh Thi-hoa terloroh-loroh serunya.

"Kalau demikian, memangnya kau ini bocah nakal yang suka membuat gara-gara?"

Kontan Song Thiam ji melotot dan merengut kepadanya, namun senyumnya masih menghias ujung mulutnya. Berkata Coh Liu-hiang.

"Tapi kalian tak tahu dimana letak dari Bo-dhi-am itu, maka harap Li Kongcu suka membawa mereka kesana."

"Dan kau?"

Tanya Li Ang siu.

"Aku berangkat bersama Siau Oh, masuk dari jalan lain ke dalam Sin cui kiong, Yong-ji akan menunjukkan jalannya, hari ini tanggal sembilan, kalau nasib kita baik, pada malam terang bulan, kita sudah bisa bersua di dalam Sin cui kiong."

Li Ang siu seperti menyadari sesuatu, katanya.

"Kita sama-sama kaum hawa, maka paling tidak bisa masuk ke dalam Sin cui kiong, pasti takkan mengalami mara-bahaya, tetapi kau...?"

"Tak usah kuatir."

Seru Oh Thi-hoa tertawa lebar.

"Kalau Cui bo-im ki itu toh seorang cewek, tanggung diapun takkan membunuh ulat busuk."

Coh Liu-hiang sengaja tarik muka, katanya.

"Benar, paling dia hanya suka membunuh laki-laki macam tampangmu ini."

Oh Thi-hoa juga menarik muka, katanya.

"Bukan aku takut dibunuh olehnya, celaka malah bila dia minta kawin kepadaku, sungguh berabe."

Li Ang siu dan Song Thiam ji sudah terloroh-loroh, saking geli mereka terpingkal pingkal dengan memegangi perut. Kata Song Thiam ji setelah tawanya mereda.

"Kalau benar dia ingin kawin dengan kau, maka Sin cui kiong harus diganti dengan Sin cui kiong."

Itulah sebuah kota kecil yang terletak di pegunungan, maju lebih jauh lantas sudah memasuki alas pegunungan yang ratusan li panjangnya.

Waktu Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Soh Yong-yong tiba dikota kecil ini, hari sudah magrib menjelang petang.

Perduli sampai dimana saja, urusan terbesar yang dipentingkan Oh Thi-hoa adalah mencari arak, dia boleh tidak usah makan nasi, tidak tidur asal ada arak yang dapat dia habiskan sehari semalam.

Maklumlah kota pegunungan dengan penduduk yang jarang-jarang orang berlalu lalang dijalan raya.

Tatkala itu tiba-tiba dari depan sana berbondong-bondong mendatangi beberapa orang, begitu melihat dandanan mereka Coh Liu-hiang lantas tahu mereka adalah kaum persilatan, sebaliknya begitu melihat rona muka orang-orang itu, Oh Thi-hoa lantas tahu bahwa mereka itu pasti kawanan setan arak, karena orang-orang yang suka minum arak biji matanya pasti berobah seperti biji mata ikan yang sudah mati.

Demikian pula suara orang yang sering minum arak pasti teramat besar dan kasar, bila mereka menyangka sudah merendahkan suara untuk bicara, orang lain justru sudah pekak kupingnya saking ribut.

Baru saja Oh Thi-hoa hendak mencari tahu kepada mereka.

"Dimana sih yang ada menjual arak?"

Maka pembicaraan mereka sudah didengarnya dengan jelas. Kata seorang.

"Dua tua bangka yang memasuki Thay pek-lau tadi apa kau tahu siapa mereka?"

Siapa tanya orang di sebelahnya.

"Memangnya bapak mertuamu?"

Orang yang bicara dulu tertawa dingin, jengeknya.

"Kalau benar dia bapak mertuaku sejak tadi aku sudah unjukan diri..."

Ketahuilah, dia orang bukan lain adalah Kun-cu kiam Ui Loh ce yang pernah memberantas habis delapan belas pentolan Bak kong cay itu, tentunya kau pernah mendengar nama besarnya?"

Benar juga orang itu agaknya tertegun dan jeri, selanjutnya tak berani bercuit. Orang ketiga justru tertawa katanya.

"Khabarnya setiap kali bergebrak dengan lawan, tua bangka ini memberitahu lebih dulu jurus tipu apa yang hendak dia lancarkan apa benar kabar yang pernah kudengar itu?"

Jawab orang terdahulu.

"Umpama kata jurus apa yang hendak dia lancarkan, tetap kau takkan kuat melawannya, di sini banyak tempat untuk minum arak, buat apa harus cari kesulitan dengan mereka?"

Sembari bicara mereka berbondong-bondong lewat disamping Coh Liu-hiang, malah diantaranya ada yang melirik dan melotot kepada Soh Yong yong, seolah-olah ingin mencicipi wedang tahu makan kacang goreng.

Tapi teringat Kun-cu-kiam berada ditempat yang tak jauh dari sini betapapun dia tak berani mengumbar kebiasaannya.

Setelah mereka pergi jauh, Oh Thi-hoa baru tertawa.

"Tak nyana Ui Loh-ce juga berada di sini, memangnya orang hidup dimanapun bisa berjumpa, entah bagaimana takaran minumnya? Biar kutemui mereka untuk adu minum."

Coh Liu-hiang berpikir, katanya.

"Mungkin mereka tidak ingin bertemu dengan kita."

"Kenapa?"

Tanya Oh Thi-hoa, tiba-tiba biji matanya berputar, katanya seperti menyadari sesuatu.

"Orang itu bilang mereka berdua, yang satu tentu laki-laki yang berkedok itu, bukan mustahil mereka memang hendak ke Sin-cui kiong juga, kalau tidak masakah jauh jauh mereka datang ketempat ini?"

Coh Liu-hiang seperti sedang berpikir, maka dia tidak segera menjawab. Tiba-tiba bersinar mata Oh Thi-hoa katanya.

"Rekaanmu pasti tidak meleset, orang itu pasti ada hubungan erat dengan Sin cui kiong, kalau tidak seorang laki-laki segede itu, mana mungkin mengetahui seluk-beluk Sin cui kiong begitu jelas?"

Soh Yong yong mandah diam saja mendengarkan, memangnya hanya perempuan pintar seperti dia saja baru bisa mengerti disaat laki-laki bicara dia harus menutup rapat mulutnya sendiri.

Setelah lama menimbang-nimbang, berkata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Kalau toh mereka mempunyai kesulitan yang tidak ingin diketahui orang, kitapun tidak usah membuatnya runyam, tapi kawanan Kangouw tadi kelihatannya bukan orang baik-baik, kita harus perhatikan mereka."

"Aku setuju akan pendapatmu"

"Memangnya aku kan tidak akan menentang karena dengan mengikuti jejak mereka, bukan saja kau bisa mencampuri urusan mereka, sekaligus menikmati arak, kedua hal ini adalah kesukaanmu."

Oh Thi-hoa gelak-gelak, katanya.

"Ulat busuk memangnya tidak kecewa menjadi teman Oh Thi-hoa yang paling karib."

Memang banyak arak ditempat tujuan kawanan persilatan itu, tapi di sini tiada sesuatu persoalan yang bisa diurusnya, karena kelihatannya orang-orang ini cukup tahu diri, malah tiada satupun yang mengigau karena terlalu banyak menghabiskan arak.

Setela puas minum, mereka lantas cari hotel dan masuk kamar tutup pintu merebahkan diri diatas ranjang dan tidur, tak lama kemudian terdengar gerosan mereka seperti babi yang sudah pulas.

Coh Liu-hiang merasa di luar dugaan, asal ada arak dan belum lagi mabuk Oh Thi-hoa tidak perlu perdulikan urusan tetek bengek, sudah tentu mereka tidak ingin masuk gunung disaat hari menjelang malam, terpaksa mereka pun menginap didalam hotel itu.

Oh Thi-hoa masih punya cirinya yang lain, yaitu tidak mau kembali ke kamarnya untuk tidur.

Setelah kentongan ketiga Coh Liu-hiang sudah menguap ngantuk, katanya.

"Besok kita harus pergi ke Sin cui kiong, memangnya kau tidak ingin tidur memulihkan tenaga supaya urusan tidak terbengkalai?"

Oh Thi-hoa cengar-cengir, katanya.

"Kalau kebanyakan tidur kepalaku malah pusing lebih baik, pada saat itulah terdengar suara "tak"

Diluar jendela. Seseorang merendahkan suara berat berkata.

"Coh Liu-hiang keluar!"

Belum kata-kata ini habis diucapkan bayangan Oh Thi-hoa sudah berkelebat keluar jendela, selamanya dia tidak tahu takut akan bokongan orang, terpaksa Coh Liu-hiang ikut menerjang keluar.

Tampak sesosok bayangan hitam berkelebat di atas wuwungan rumah di depan sana, agaknya malah masih sempat melambaikan tangan kepada Coh Liu-hiang, sekejap saja, tahu-tahu bayangannya sudah melesat tujuh delapan tombak jauhnya.

Berapa tinggi Ginkang orang ini, sungguh membuat Coh Liu-hiang kaget.

Oh Thi-hoa bersuara rendah.

"Tak nyana kita tak memberi kesulitan kepadanya, dia malah mencari kesulitan kita."

Coh Liu-hiang tahu dia yang dimaksud oleh Oh Thi-hoa adalah tokoh kosen ahli pedang yang berkedok itu, tapi Coh Liu-hiang justru rada curiga, katanya.

"Kukira orang ini jelas bukan si dia itu."

"Kenapa bukan dia?"

"Dia sedang sibuk menyembunyikan asal usulnya sendiri, masakah kemudian mencari kita?"

"Memangnya siapa kalau bukan dia? Jangan kau lupa, tokoh kosen ini berapa banyaknya dalam jagat ini?"

"Kau pun jangan lupa daerah ini sudah termasuk lingkaran terlarang bagi Sin cui kiong."

Oh Thi-hoa tertawa tawa katanya.

"Tapi orang itu terang adalah laki-laki, terang bukan murid dari Sin cui kiong, memangnya kau tidak bisa membedakan dia laki-laki atau perempuan?"

Karena bicara langkah kakinya menjadi mengendor, sementara bayangan itu sudah melesat dengan cepat, jaraknya semakin jauh.

"Lekas kejar!"

Seru Oh Thi-hoa.

"Kalau dia mencari kita, tentu akan menemui kami, buat apa tergesa-gesa?"

Benar juga, langkah orang di depan itupun jadi mengendur, akhirnya berhenti di pucuk wuwungan sebuah rumah kecil, kembali melambaikan tangan ke arah mereka."

Coh Liu-hiang tiba-tiba berkata.

"Lekas kau pulang melindungi Yong-ji, jangan sampai terpancing oleh musuh."

Begitu getolnya Oh Thi-hoa ingin tahu siapa sebenarnya laki-laki yang memancing mereka keluar dengan kepandaian Gingkang setinggi ini, untuk apa pula mengundang mereka keluar, sungguh tak rela dia disuruh pulang.

Tapi Coh Liu-hiang segera kembangkan kebolehannya, beberapa kali lompatan orang sudah melesat, jauh ke depan.

Apa boleh buat terpaksa Oh Thi-hoa hanya menghela napas terus putar balik, mulutnya menggerundel.

"Bila bersama ulat busuk, ada urusan baik selalu tidak menjadi giliranku."

Malam berlarut suasana sepi tak kelihatan bayangan manusia mondar mandir didalam kota pegunungan ini, lampu-lampu sudah sama dipadamkan, hanya ada dua rumah saja yang masih menyalakan lampu diantara kamar-kamar hotel kecil itu, sebuah adalah kamar khusus buat para pegawai hotel, kamar yang lain adalah tempat tinggal Coh Liu-hiang.

Sudah tentu Soh Yong yong menetap ke kamar sebelah Coh Liu-hiang, di sebelah pekarangan terdapat tiga buah kamar lagi, semua ditempati rombongan laki-laki kawanan orang-orang persilatan itu, sinar lampu sudah padam kecuali gerosan tak terdengar suara lain.

Waktu Oh Thi-hoa kembali pula ke dalam kamar, sinar lampu tampak menyorot dari ketiga kamar ini, bayangan orang pun berpeta pada jendela kertas.

Untuk apa orang-orang ini tengah malam buta rata pada bangun?

Dari kamar Soh Yong-yong tak terdengar suara apa-apa, sekilas Oh Thi-hoa berpikir, akhirnya dia bersembunyi di atap rumah, secara diam-diam mengawasi dan memperhatikan keadaan ketiga kamar itu.

Dia tahu orang-orang itu bukan manusia baik-baik, tapi kalau tengah malam buta rata mereka bergerak hendak beroperasi, memangnya sasaran mana yang patut mereka incar didalam kota pegunungan kecil yang serba miskin ini?

Tapi mereka menginap di sini, terang mereka mempunyai tujuan.

Oh Thi-hoa membuka mata lebar, batinnya.

"Perduli kerja apa yang hendak mereka lakukan, hari ini kebentur di tanganku, terhitung mereka yang bakal ketiban pulung."

Tak lama kemudian, kamar dipaling kiri, tiba-tiba padam lampunya, dua sosok bayangan orang secara indap indap mengeloyor keluar, dengan jarinya mengetuk dua kali di atas jendela di kamar tengah, serunya lirih.

"Kentongan ketiga."

Orang dalam kamar dengan tertawa segera berkata.

"Kita sudah siap sejak tadi, memang sedang menunggu kalian"

Ditengah pembicaraannya dua orang memanggul dua buntalan besar berjalan keluar, katanya.

"Bawalah dulu buntalan ini, kami hendak kencing dulu."

Dua orang di luar itu tertawa, makinya.

"Kalian memangnya orang desa, belum lagi memikul harta, sekali minum lantas kencing-kencing."

Tengah mereka berkelakar dengan makiannya sambil menerima kedua buntalan itu, tak kira dua orang yang baru keluar dari kamar ini tiba-tiba mengeluarkan pisau dari lengan baju.

"Cras"

Kontan dia kutungi leher kedua temannya sendiri.

Kedua orang itu sama mengeluarkan suara gerungan terus roboh terkapar tak bernyawa lagi.

Dua orang yang lain masing-masing mengeluarkan segumpal kapuk terus dijejalkan ke dalam mulut mereka, sehingga darah setetespun tidak bercucuran, cara kerja mereka sungguh cekatan, gampang dan ahli, agaknya memang sudah biasa membunuh mangsanya.

Sudah tentu perobahan ini amat di luar dugaan Oh Thi-hoa, sungguh tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa orang-orang ini akan saling bunuh lebih dulu sebelum beroperasi dan berhasil dengan incarannya.

Tatkala itu dari kamar paling kanan sudah melompat keluar dua orang, melihat perobahan ini agaknya amat kaget, seketika mereka menyurut mundur serta memegang golok masing-masing, bentaknya bengis.

"Lui-losam, apa yang ingin kau lakukan?"

Dengan alas sepatunya Lui losam kalem saja membersihkan darah di ujung goloknya, katanya cengar-cengir.

"Apapun tidak ingin kulakukan, cuma aku merasa bila sesuatu benda harus dibagi empat orang, jatahnya tentu lebih banyak daripada dibagi enam."

Mereka saling berpandangan lalu sama gelak tawa. Berkata pula Liu losam.

"Meski kita sudah menghilangkan jejak dari kejaran kawanan alap-alap itu, namun yang mengincar dagangan besar ini tentu masih ada rombongan lain pula, bukan mustahil di belakang kita ada yang mengikuti jejak mereka, haraplah lekas berangkat."

Baru sekarang Oh Thi-hoa lebih jelas bahwa mereka ternyata adalah kawanan begal, malah baru saja melakukan suatu dagang gelap tanpa modal, demi menghilangkan jejak dari kejaran yang berwajib, maka mereka lari ke kota pegunungan ini.

Buntalan itu cukup besar dan menonjol entah apa yang terbungkus di dalamnya.

tapi karena buntalan ini tak segan-segan mereka saling bunuh sendiri, terang buntalan itu pasti berisi sesuatu yang patut dibuat rebutan.

Hati Oh Thi-hoa sudah gatal, tangannya lebih gatal lagi, batinnya.

"Kalau aku belum melihat apa isi buntalan ini mungkin malam ini aku tidak bisa tidur."

Bahwasanya bukan saja dia ingin melihat apa isi buntalan itu, ke empat orang ini seolah-olah babi-babi gemuk yang diantar ke hadapannya, bila dia tolak, rasanya terlalu tidak menghargai diri sendiri.

Tatkala itu Lui losam sudah menjinjing buntalan itu, baru saja Oh Thi-hoa hendak menubruk keluar, tiba-tiba dilihatnya sesosok bayangan putih laksana segumpal kembang salju melayang turun dari tengah udara.

Lui losam dan teman-temannya seperti belum melihat, setelah bayangan putih itu melayang turun di hadapan mereka dengan ringannya baru serempak mereka dibuat kaget.

Oh Thi-hoa pun amat kaget, karena Gingkan bayangan ini sungguh amat hebat, sungguh dia tak habis mengerti didalam kota kecil di pegunungan ini, kenapa sekaligus tumplek beberapa tokoh-tokoh silat kosen yang bermunculan.

Kemudian orang membelakangi dirinya, maka dia tidak bisa melihat jelas raut muka orang, namun dari potongan badannya yang semampai dan ramping, rambutnya terurai mayang, kelihatannya adalah seorang gadis cantik rupawan yang masih muda belia.

Karena begitu rasa kejut Lui losam dan teman-temannya hilang mereka lantas memicingkan mata, dengan terpesona mengawasi gadis baju putih ini, kalau laki-laki sampai memicingkan mata mengawasi dengan terpesona, gadis ini tentu tak berparas buruk.

Oh Thi-hoa cukup berpengalaman dalam bidang ini.

Terdengar gadis baju putih itu berkata.

"Dua mayat diatas tanah ini, apakah kalian yang membunuhnya?"

Lui losam malah menyengir tawa, katanya.

"Apakah kami yang membunuh kedua orang, nona secantik kau ini, malah kesudian menjadi opas memakan sesuap nasi, dari pajak rakyat."

Berkata kalem gadis baju putih.

"Kalau ditempat lain kalian membunuh orang, sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan aku, tapi disini."

"Memangnya ada bedanya ditempat ini?"

"Ditempat ini tak boleh membunuh orang!"

"Tapi sekarang aku sudah membunuh kedua orang ini, coba katakan bagaimana persoalan ini harus diselesaikan?"

Sebetulnya hatinya rada takut berhadapan dengan gadis belia ini, karena dia tahu Ginkang nona ini amat tinggi, namun sekarang agaknya dia sudah kepincut kepati-pati oleh kecantikan si gadis dihadapannya, maka nyalinya bertambah besar.

Karena laki-laki memang jarang berhati-hati setiap kali berhadapan dengan perempuan cantik.

Oleh karena itulah gadis yang cantik sering dengan mudah menipu lelaki.

Berkata gadis itu.

"Setelah kau membunuh orang, memang hanya ada dua cara untuk menyelesaikannya."

"Cara apa?"

"Cara pertama, mayat kedua orang ini harus kau makan sampai habis malah dengan lidahmu kau harus jilat sampai bersih noda-noda darah yang berceceran ditanah."

Lui losam tertawa lebar, katanya.

"Aku orang ini sering makan apa saja, cuma makanan benar tidak mau makan mayat orang, hidangan kecil tidak mau makan lalat, gelak tawanya tiba-tiba terputus, seolah-olah dia sudah merasakan bahwa gadis dihadapannya ini bukan sedang berkelakar. Walau Oh Thi-hoa tak melihat muka orang tapi dia tahu paras orang tentu sudah berubah. Terdengar gadis itu berkata dengan kalem.

"Kalau kau tak ingin makan mayat ini juga tak menjadi soal, toh masih ada cara kedua."

"Cara... cara apa lagi?"

Suara Liu losam mulai gemetar.

"Cara kedua jauh lebih mudah dilaksanakan. marilah kau ikut aku."

Ajak si gadis lalu dengan gemulai dia putar badan, tahu-tahu sudah melayang naik ke pagar tembok.

Dalam sekilas pandang inilah Oh Thi-hoa akhirnya berhasil melihat raut muka orang.

Sebetulnya dia tidak terhitung teramat cantik namun ditengah malam yang tenang dan gelap ini, di bawah penerangan sinar bintang yang remang-remang, kelihatannya dia orang memang memiliki suatu daya sedot yang tak terlawankan oleh kawanan bandit itu.

Seolah-olah sudah melupakan tujuan semula.

Lui losam dan ketiga temannya sekejap mereka ragu-ragu namun kejap lain serempak mereka sudah ikut lompat dan memburu.

Kamar tempat tinggal Soh Yong-yong masih seperti tak terdengar suara apa-apa, gelagatnya dis terlalu pulas, setelah mengamati pelajaran yang terdahulu, kali ini Oh Thi-hoa tidak berani ceroboh, dia tahu dirinya harus berjaga di sini, jikalau sampai Soh Yong-yong terbokong dan kena diingusi orang, bukan saja malu dia bertemu dengan Coh Liu-hiang, boleh dikata malu pada diri sendiri, malu menjadi manusia.

Tapi gadis baju putih itu memang cantik dan terlalu aneh tindak tanduknya, apa maksudnya menyuruh ke empat laki-laki itu mengikuti dirinya?

Hendak dibawa kemana mereka berempat?

Apa pula yang berisi didalam buntalan besar itu?

Sungguh serasa hampir meledak rasa ingin tahu Oh Thi-hoa, kalau segera tidak memburu kesana untuk menyaksikan secara jelas, bukan mustahil dia kontan bisa menjadi gila.

Dengan keras dia mengelus-elus hidungnya, disaat dia kebingungan tak tahu apa yang harus dia lakukan, siapa tahu saat itulah tiba-tiba Soh Yong-yong menongolkan kepalanya dari balik jendela serta melambaikan tangan kepada dirinya.

Tersipu-sipu Oh Thi-hoa melompat turun, serunya.

"Hah! Kiranya kau belum tidur?"

Soh Yong-yong berseri tawa, katanya.

"Setelah kalian minum arak, suara bicaranya yang ribut bisa bikin si tuli kaget dan sadar dari pulasnya, masakah aku bisa tidur? Apalagi malam ini pekarangan ini begini ramai."

"Jadi kau sudah saksikan seluruhnya?"

"Aku lihat kalian keluar mengejar bayangan seseorang, tak lama kemudian hanya kau sendirian saja yang pulang."

Kalau dalam keadaan biasa mungkin Oh Thi-hoa akan menggoda hubungannya dengan Coh Liu-hiang, supaya paras orang merah dan malu, atau supaya orang lain gelisah menguatirkan keadaan Coh Liu-hiang.

Tapi sekarang, seleranya bukan atas persoalan ini.

Maka segera dia bertanya.

"Peristiwa yang terjadi di pekarangan sebelah tadi, kaupun sudah melihatnya?"

"Apakah kau ingin menguntit mereka untuk tahu jejak mereka?"

Tanya Soh Yong-yong. Bersinar mata Oh Thi-hoa, serunya senang.

"Kau juga ikut? Bagaimana kalau kita pergi bersama-sama?"

"Aku tidak boleh pergi, karena perempuan itu bila diapun melihat diriku, bukan mustahil bisa menimbulkan kesulitan, tapi aku sih tidak menjadi soal."

"Kenapa?"

"Karena dia kenal aku, namun tidak mengenalmu."

"Dia kenal kau? Apa akupun mengenalnya? Siapakah dia?"

"Dia itulah utusan pihak Sin-cui kiong yang menemui Coh Liu-hiang itu, namanya Kiong lam Yan."

Oh Thi-hoa terperanjat, melongo sebentar, mulutnya menggumam.

"Tak heran ilmu silatnya amat tinggi, kiranya murid kesayangan Cui-bo-im-ki."

"Lebih besar hasratmu untuk melihatnya kesana, bukan?"

Kembali Oh Thi-hoa pegangi hidungnya, katanya.

"Tapi kau..."

"Boleh silahkan kau pergi, aku kan bukan anak kecil, memangnya harus kau lindungi?"

Oh Thi-hoa kegirangan, katanya.

"Kau memang nona yang baik, tak heran ulat busuk selalu memuji dirimu malah kuatir bila dia kurang hati-hati mungkin bisa menelanmu bulat-bulat."

Akhirnya toh dia memang bikin wajah Soh Yong-yong bersemu merah, diwaktu dia melesat ke atas pagar tembok, hatinya masih merasa riang, karena dia senang bila melihat wajah gadis rupawan bersemu merah dan malu-malu.

Dia senang melihat hubungan muda mudi yang intim, bertautnya dua hati yang sepaham dan sepengertian, dia merasa hal-hal seperti itu merupakan kejadian paling sempurna baik dan indah dalam dunia ini.

Diam-diam diapun ikut bergirang bagi Coh Liu-hiang, karena diapun merasakan Soh Yong-yong memang gadis pujaan yang serba lengkap, serba baik.

Dia menghirup napas panjang, mulutnya mengigau.

"Ulat busuk memang lebih beruntung dari diriku."

Tapi sekarang Oh Thi-hoa menghadapi keadaan yang merisaukan hati, didalam waktu percakapannya ini, bayangan gadis baju putih dan Lui losam berempat sudah tak kelihatan lagi.

Dia tahu langkah Lamkiong Yan takkan lebih lambat dari kecepatan larinya, tapi kekuatan lari Lui losam berempat, dia yakin meski hanya mengejar dengan satu kaki, dia masih kuasa menyandak mereka.

Sekarang dia bertanya tanya, ke arah mana barisan mereka menuju?

Jalan di sebelah kiri menuju ke jalan raya didalam kota, ke arah kanan ke jalan raya keluar kota, ke sebelah depan adalah arah kemana tadi dia bersama Coh Liu-hiang mengejar bayangan hitam tadi.

Setelah meragu sebentar segera dia melesat lempang ke depan, karena dengan mengambil jurusan ini umpama tak berhasil menemukan Lamkiong Yan, paling tidak bisa bertemu dengan Coh Liu-hiang.

Arah yang dituju ini tiada jalan, yang ada hanya wuwungan rumah orang yang sambung menyambung.

Masih segar dalam ingatannya diwaktu tadi dia berlarian di wuwungan rumah-rumah itu, tadi lampu di sebelah bawah sudah padam seluruhnya, maklumlah penduduk dalam kota pegunungan yang biasanya harus menghemat minyak, maka jarang orang menyulut pelita diwaktu tidur.

Tapi sekarang tiba-tiba dia lihat di depan sana ada beberapa rumah yang menyulut lampu, malah terdengar pula suara ketukan yang ramai kumandang dari sebelah pekarangan.

Pekarangan dimana kedengaran suara ramai itu banyak bertumpuk balok-balok kayu besar kecil di emperan rumah tergantung lampion besar yang menyorotkan sinar terang.

Sebetulnya Oh Thi-hoa hendak membelok ke samping, namun sekilas ujung matanya melihat dua orang, sedang sibuk mengerjakan peti mati.

Betapapun kecilnya sebuah kota bila penduduknya cukup banyak pasti disana terdapat sebuah pertukangan yang khusus membuat peti mati, karena setiap penduduk kota dalam waktu tertentu pasti ada orang yang meninggal, orang mati ini memerlukan peti mati, hal ini tak perlu dibuat heran.

Bahwa pegawai pertukangan kayu sibuk menyelesaikan peti mati, pastilah didalam peti itu ada jenazah orang.

Hal inipun tak perlu dibuat heran.

Anehnya justru kedua orang ini bekerja ditengah malam buta-rata, memangnya disekitar tempat ini ditengah malam ini ada orang mati mendadak?

Meski ada orang mati toh boleh dikerjakan besok pagi.

Orang yang sudah mati kan tak perlu tergesa-gesa harus masuk peti mati, orang hidup sudah takkan sudi masuk ke dalam peti mati.

Mau tak mau tergerak juga pikiran Oh Thi-hoa, tak tahan dia akhirnya menghentikan larinya, maka segera dia dapati didalam pekarangan ternyata tersedia empat buah peti mati.

Tiga diantara peti mati itu belum terpakai, ketiga peti mati ini masing-masing berisi satu jenazah.

Tanpa ragu-ragu Oh Thi-hoa segera lompat ketengah pekarangan, dua orang yang sedang sibuk memaku peti mati terperanjat, palu ditangan mereka sampai mencelat terbang saking kagetnya.

Oh Thi-hoa tak hiraukan mereka, dengan seksama dia periksa tiga peti mati yang masih terbuka itu, cukup sekilas saja dia melihat ketiga mayat didalam peti mati itu, seketika berubah air mukanya, tak kuasa mulutpun berteriak kaget.

"Kiranya mereka"

Mayat-mayat yang berada di ketiga peti mati ini ternyata Lui-losam dan kawan-kawannya.

Sebelum ini Oh Thi-hoa masih melihat mereka hidup segar bugar, mimpipun dia tak menyangka dalam waktu yang begitu singkat keempat orang ini sudah rebah didalam peti mati tanpa bernyawa lagi.

Dua orang tukang kayu itu sudah berlutut dan menyembah ratapnya ketakutan "Toaya ampun, kejadian ini bukan perbuatan kami."

Melihat muka pucat kedua orang ini, Oh Thi-hoa tahu orang pasti menyangka dirinya sekomplotan dengan Lui-losam, terpaksa dia unjuk tawa, dibuat-buat, katanya.

"Akupun tahu kejadian ini bukan urusan kalian, tapi apakah yang telah terjadi akan mereka?"

Laki-laki yang berusia agak tua agaknya adalah juragan dari perusahaan pertukangan ini, dia membesarkan nyali menjawab.

"Sebetulnya kami sudah tidur, tiba-tiba ada seorang dewi masuk ke kamar kami menggigil kami bangun, lalu suruh kami menyediakan empat peti mati dan menunggu di luar pekarangan."

"Apakah nona cantik yang berpakaian putih-putih?"

"Benar, meski merasa heran, tapi di sini sering tersiar adanya bidadari yang memberi berkah kepada para penduduk kota, malah katanya banyak bidadari di puncak gunung sana maka kami tak berani membangkang perintahnya."

"Mereka itu bukan bidadari, mereka adalah setan-setan air."

Dingin bulu kuduk juragan peti mati, katanya tergagap.

"Bila... nona... air itu tak lama kemudian kembali, membawa empat.. empat laki-laki kemari, sikapnya tidak galak terhadap ke empat laki-laki itu, dia malah minta satu diantaranya membayar dua puluh tail perak kepadaku."

"Apa yang dikatakan orang itu?"

"Laki-laki itu agaknya malah kegirangan, katanya.

"Mereka memang adalah temanku, membelikan peti mati juga pantas."

Setelah mendengar penjelasannya ini baru hati kami lega, kukira ada teman-teman mereka yang meninggal, maka nona itu membawa mereka kemari untuk membeli peti mati.

Seolah-olah ketiban rejeki, belum pernah dalam satu hari kami menjual empat peti mati sekaligus..

mana tahu.."

Giginya gemeretak, suaranya pun tak terdengar lagi. Mengawasi mayat-mayat Liu losam didalam peti mati, Oh Thi-hoa jadi geli dan dongkol. Sesaat kemudian juragan peti mati melanjutkan ceritanya.

"Siapa nyana setelah uang kuterima, nona itu tiba-tiba berkata.

"Cara kedua gampang saja, yaitu menyerahkan jiwa kalian."

Baru saja kami merasa kaget, belum lagi tahu apa yang telah terjadi, tahu-tahu ke empat laki-laki itu sudah terkapar roboh tak bernyawa lagi."

Badannya gemetar dan ngeri, katanya dengan suara terputus-putus.

"Selama hidup belum pernah aku... aku melihat... orang mati begitu cepat, empat orang segar bugar, entah kenapa.... tiba-tiba sudah menjadi mayat semuanya."

Oh Thi-hoa ikut melongo, tanyanya.

"Selanjutnya bagaimana?"

"Selanjutnya... nona itu mendadak menghilang dari hadapan kami."

Getir air muka juragan peti mati, katanya menyambung.

"Peristiwa ini kalau kuceritakan kepada orang lain pasti tak ada yang mau percaya, terpaksa malam ini juga kami kerja lembur untuk menyelesaikan kerja ini, terus diangkat keluar. mohon Toaya."

"Kau tak usah kuatir."

Oh Thi-hoa tertawa.

"Akupun bisa segera menghilang, urusanmu aku tak mau perduli lagi, tapi ke empat orang itu ada membawa buntalan besar, apa kau melihatnya?"

"Kelihatannya memang... agaknya sudah dibawa pergi oleh nona itu, kami sudah ketakutan maka tidak melihat jelas..."

Belum habis dia bicara, Oh Thi-hoa benar-benar sudah menghilang dari pandangannya.

Juragan peti mati ini jatuh sakit tujuh hari, kalau ada orang tanya peristiwa apa yang terjadi pada tujuh hari yang lalu, maka dia lantas menyumpah-nyumpah dikatakan kerja apapun tidak pernah dia lakukan, cuma dikatakan malam itu dia bermimpi amat buruk.

Di sebelah biara pemujaan untuk dewa bumi terdapat sebuah petak rumah persegi, didalamnya banyak terdapat meja kursi, kiranya itulah sebuah rumah sekolahan, tapi guru tiada muridpun tentu bubar, tiada satu orangpun didalam ruang kelas.

Tapi sinar api terpasang terang benderang, api lilin bergoyang gontai tertiup angin, kelihatannya menjadi seram.

Waktu Coh Liu-hiang mengejar sampai di sini, bayangan hitam itu tiba-tiba berhenti.

Orang itu ternyata adalah seorang kakek kurus kering, rambutnya sudah ubanan seluruhnya namun badannya masih kelihatan sehat dan kuat, berdiri ditengah gelap seperti sebatang tongkat bambu.

Tiba-tiba dia membalik badan berhadapan dengan Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Ginkang Maling romantis memang tak bernama kosong, tiada bandingannya dikolong langit."

"Ah, Cianpwe terlalu memuji."

Coh Liu-hiang merendahkan diri. Disaat bicara ini dia sudah perhatikan orang tua dihadapannya ini katanya pula dengan tertawa.

"Dalam kolong langit ini, bila ada yang tak dapat kukejar kecuali Ban-li-tok-hing Cay locianpwe pasti tiada orang lain, justru cianpwe malam ini membuat wanpwe terbuka matanya."

Orang tua itu gelak-gelak ujarnya.

"Mendengar pujian Maling romantis, Losiu jadi merasa berkecil hati, sebetulnya bukan Losiu sengaja hendak pamer kepandaian, bahwa Losiu memancing Maling romantis ke tempat ini, karena didalam hotel itu terdapat beberapa kurcaci yang menyebalkan, kukira kurang leluasa bila bicara di sana."

Banyak orang berpendapat orang yang usianya semakin menanjak tua semakin sungkan dan suka merendah hati, hakekatnya bila jiwa seseorang semakin tua, dia semakin tidak mau mengalah malah sebaliknya suka mendengar puji sanjung orang lain akan kebolehan dirinya.

Apalagi pujian yang diucapkan oleh seseorang yang kira-kira setingkat dirinya, maka rasanya lebih syuur, tiada orang yang tak suka mendengar pujian semacam ini dalam dunia ini.

Jikalau Cay Tok-hing tidak ingin supaya Coh Liu-hiang tahu akan tingkat kepandaiannya kenapa dia tadi tidak mau jalan pelan-pelan saja?

Setelah tertawa, lekas Coh Liu-hiang sudah mengerut kening, katanya.

"Orang-orang kurcaci yang dimaksud Cianpwe, bukanlah...."

"Yaitu kawanan bandit yang tinggal di kamar sebelah kalian itu, sebetulnya tujuan Losiu menguntit jejak mereka, sehingga aku sampai di sini, sungguh tak kira di sini pula aku bisa jumpa dengan Maling romantis."

"Kalau demikian Wanpwe harus berterima kasih kepada mereka malah, entah apa sih kerja mereka sebenarnya? Sampai Cianpwe susah harus menguntit jejak mereka?"

Cay Tong hing tertawa-tawa, ujarnya.

"Tua bangka seperti aku ini paling takut kesepian, soalnya mereka kuatir jiwanya tercabut oleh raja akhirat disaat tiada orang lain, demikian juga aku tua bangka ini, maka setiap hari selalu ikut mencampuri urusan orang lain."

Sampai di sini dia menarik muka, katanya lebih lanjut.

"Mereka para kurcaci itu adalah Bu-bing-siau-cut dari Bulim, tapi belakangan ini mereka melakukan perbuatan yang terkutuk, aku tua bangka ini bersumpah hendak menghabisi jiwa mereka."

Sebelum orang menyebutkan perbuatan terkutuk apa yang dilakukan orang-orang itu, Coh Liu-hiang pun tidak enak bertanya, maklumlah Coh Liu-hiang selamanya tidak suka cerewet.

"Sekarang Losiu sudah menemukan jejak mereka."

Demikian tutur Cay Tok-hing lebih lanjut. Namun belum sempat turun tangan, tentunya Maling romantis merasa heran?"

"Ya, memangnya aku raga bingung."

"Itulah karena mereka seperti sudah picak matanya karena ketakutan sehingga pandangan mata dikelabui setan, dunia selebar ini, mereka justru lari ke tempat ini, tentunya kau tahu di dataran ini tak leluasa menghabisi jiwa orang."

"Memang, Wanpwe juga ada dengar, Cui-bo-im-ki melarang orang membunuh sesamanya di daerah seratus li sekitar Sin-cui-kiong, bila siapa berani melanggar undang-undang ini, maka jiwanya harus dihabisi juga."

"Bukannya Losiu takut akan larangan itu, soalnya lelaki tak leluasa berkelahi dengan perempuan, hidup setua ini buat apa aku harus bertengkar dengan kaum hawa?"

Orang ini ternyata memang berwatak keras dan pedas sekali-kali dia tak mau tunduk kepada orang lain meski hanya mengadu mulut secara berhadapan.

Walau merasa geli dalam hati, namun Coh Liu-hiang hanya mengingatkan saja.

"Memang benar ucapan Cianpwe, bertengkar dengan perempuan, laki-laki juga yang rugi."

"Sebetulnya Losiu sudah lama ingin minum bersama Maling romantis, sayang sekali kaum pengemis seperti aku tidak leluasa duduk didalam restoran, terpaksa kubawa kemari sementara meminjam tempat ini, semoga besok pagi bila Ang-siansing datang mengajar, jangan sampai dia jatuh mabuk mengendus bau arak yang kita tinggalkan di sini."

Berkata Coh Liu-hiang menahan tawa.

"Entah Cianpwe sudah menyiapkan daging anjing, Wanpwe tidak makan daging anjing lho."

Cay Tok-hing menepuk pundaknya, katanya gelak-gelak.

"Kukira kaupun sudah keracunan oleh teori dalam buku, par kutu buku bila memperbincangkan kaum jembel seperti kami tentu mengira kami ini doyan makan daging anjing, sebetulnya bukan setiap pengemis pasti suka makan daging anjing."

Lilin yang tersulut sudah tinggal separo guci arak yang ditaruh di bawah meja sudah terbuka segelnya, di atas meja masih terdapat sebungkus sayur asin yang dibungkus oleh kertas minyak.

Agaknya Cay Tok-hing memang sudah menyiapkan perjamuan sederhana di sini.

Tapi beberapa hari yang lalu dia tak mau menemui diri Coh Liu-hiang, kenapa hari ini mendadak dia merubah haluan?

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menyadari bahwa pertemuan hari ini pasti bukan secara kebetulan.

Orang pasti ada urusan penting sehingga mencari dirinya, yang terang pasti persoalan pasti sudah genting dan gawat.

Setelah menggak beberapa cangkir arak, tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Apakah Cianpwe sebelumnya memang sudah tahu bila pihak Sin cui kiong memang sudah sengaja hendak mencari perkara kepada Wanpwe, sudah Cianpwe perhitungkan dengan masak bila Wanpwe pasti akan datang ke tempat ini, maka siang-siang sudah menunggu di sini, siap membantu kesulitan Wanpwe?"

Sekilas Cay Tok hing tertegun, katanya tertawa lebar sambil angkat cangkir.

"Sering Losiu mendengar orang bilang, Coh Liu-hiang mempunyai nyali besi mempunyai hati yang luhur dan bajik lagi, kiranya tak berlebihan pujian ini, agaknya segala persoalan takkan bisa mengelabui kau."

"Berita dari Kaypang memang amat tajam, bantuan Cianpwe justru membuat orang tunduk lahir batin, tapi persoalan kali ini."

"Losiu tahu persoalan ini orang lain tak boleh ikut campur, kedatanganku ini tak lain hanya mau melaporkan sesuatu persoalan saja, sekedar untuk menebus jasa pertolongan Maling romantis kepada pihak Pang kami."

Coh Liu-hiang berdiri terus menjura, katanya.

"Terlalu berat ucapan Cianpwe."

"Persoalan yang hendak Losiu utarakan besar sangkut pautnya dengan murid murtad Pang kami, Lamkiong Ling itu."

"Mengenai Bu Hoa juga?"

"Ya, Bu Hoa"

Ujar Cay Tok-hing sambil meletakkan cangkir diatas meja.

"Orang ini sudah beribadah namun tak mematuhi ajaran agama, dengan licin dia memelet seorang nona suci bersih dari murid Sin-cui kiong serta memperkosanya, sehingga jiwa orang akhirnya berkorban karenanya, tentunya Maling romantis sudah tahu akan kejadiannya."

"Tapi peristiwa ini Wanpwe belum pernah membicarakan kepada siapapun, entah dari mana pula Cianpwe bisa mengetahui peristiwanya sedemikian jelas?"

"Maling romantis membenci kejahatan pelindung kebenaran, tak sudi membongkar rahasia pribadi orang lain, sungguh suatu sikap yang patut dihargai, sayang sekali, kertas tak bisa membungkus api, betapapun rahasia perbuatan seseorang didalam kejahatan cepat atau lambat akhirnya pasti diketahui orang juga."

Dia menghela napas panjang, lalu melanjutkan.

"Dosa Lamkiong Ling memang patut dicacah hancur, tapi sesudah dia mati segala dosanya pun himpas, setelah dirundingkan oleh para Tianglo akhirnya diputuskan, mereka tetap menguburkan jenazah Pangcu sesuai dengan kedudukannya, ini... sudah tentu lantaran mereka berpendapat keburukan rumah tangga tidak baik tersiar di luar, untuk pahit getirnya ini tentunya kau cukup memahami."

"Ya."

Coh Liu-hiang mengiakan dengan manggut-manggut prihatin.

"Murid-murid Pang kami diwaktu mengumpulkan barang-barang peninggalan Lamkiong Ling, didapatnya di atas sekian barang-barangnya terdapat sebuah Bok-hi yang amat antik."

"Bok-hi?"

Coh Liu-hiang mengerut kening.

"Bok-hi yang biasa digunakan oleh kaum pendeta dalam bersembahyang, murid Kaypang kami tidak bisa bersembahyang, darimana bisa ketinggalan Bok-hi? Maka kami lantas berpikir Bok hi ini pasti barang peninggalan atau titipan Bu Hoa."

"Ya, kukira demikian."

"Kita sama tahu Lamkiong Ling menjadi bejat dan nyeleweng lantaran hasutan dan tekanan Bu Hoa yang jahat dan keji itu, tak urung murid-murid yang memujanya sama merasa penasaran bagi kematiannya..."

Dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara rawan.

"Maklumlah sejak kecil Lamkiong Ling adalah anak laki-laki yang patuh dan tunduk kepada orang tua, tahu seluk-beluk kehidupan manusia, para Tianglo Pang kami sama menaruh harapan besar atas dirinya, karenanya amat mendalam dalam sanubari kami."

Coh Liu-hiang menghela napas sambil manggut-manggut, batinnya.

"Putra sendiri melakukan kesalahan jamak, kalau orang tuanya anggap orang lainlah yang menyebabkan anaknya terjeblos ke dalam jurang hina."

Didengarnya Cay Tok-hing melanjutkan "Terutama Ih-tianglo yang paling penasaran dan sangat haru, tak tahan lagi dia rebut Bok-hi itu terus dibantingnya sampai hancur berkeping-keping.

Siapa tahu setelah Bok-hi pecah, dari dalamnya muncul se

Jilid buku tipis."

"Buku tipis?"

Tergerak hati Coh Liu-hiang.

"Apa yang tercatat didalam buku itu?"

"Buku tipis itu disimpan begini rahasia, kalau bukan mencatat pelajaran ilmu Lwekang atau ilmu silat tinggi, pastilah mencatat sesuatu yang serba penting dan rahasia. sebetulnya Losiu dan lain-lain bukan orang yang suka melihat rahasia pribadi orang lain, sebetulnya kami sudah berkeputusan untuk tidak membukanya, tapi Ong-tianglo berpendapat, bukan mustahil rahasia yang tercatat didalam buku ini besar sangkut-pautnya dengan Kaypang kami, maka dia berkukuh untuk membuka dan dibaca."

"Maklumlah sejak berdirinya sampai turun-temurun ratusan tahun secara tradisi, Kaypang selalu mengutamakan kejujuran dan kebenaran apalagi mencuri lihat catatan pribadi orang lain. betapapun dipandang sebagai perbuatan yang kurang dapat dihargai."

Oleh karena itu Cay Tok-hing harus berputar kayun dulu dengan cerita panjangnya untuk menjelaskan hal ini, sudah tentu Coh Liu-hiang mandah mengiakan saja.

Setelah menghabiskan secangkir arak pula, Cay Tok hing melanjutkan ceritanya.

"Benar juga dalam buku tipis itu mencatat rahasia Bu Hoa selama hidupnya, sungguh Losiu tak habis mengerti kenapa dia sudi mencatat segala perbuatan rendah dan hina serta memalukan itu."

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya.

"Kalau Cianpwe merasa semua perbuatannya itu nista dan memalukan, Bu Hoa justru menganggap karya hidupnya yang paling gemilang, kalau toh dia tak bisa membeber rahasia dirinya, terpaksa dia catat seluruhnya, sebagai koleksi dan untuk bacaan dikelak dihari tua."

Cay Tok hing ikut tertawa, katanya.

"Agaknya Maling romantis dapat menyelami jalan pikiran orang-orang jahat ini begitu mendalam, kau menyelidikinya tak heran betapapun licin licik dan nakal seseorang, sekali kebentur dengan Maling romantis, dia tak akan berdaya sama sekali."

Terpaksa Coh Liu-hiang berdiri dan menjura lagi, dengan rendah hati tanyanya.

"Apakah diantara catatan Bu Hoa itu ada juga menyinggung pengalamannya di Sin cui kiong?"

"Ya, memang begitulah, oleh karena itu sengaja Losiu meluruk kemari untuk melaporkan hal ini kepadamu."

"Tidak berani... banyak terima kasih..."

Coh Liu-hiang ragu-ragu sebentar, lalu tanyanya.

"Maksud Cianpwe apa hendak meminjamkan buku catatan itu untuk kubaca?"

"Sebetulnya Losiu ada maksud meminjamkan, tapi... Bu Hoa dijuluki Biau ceng, banyak keluarga besar dari kaum Bulim di Kangouw sama berlomba untuk mengundangnya ke rumah masing-masing sebagai suatu kebanggaan, maka... didalam buku catatan itu tercatat pula tidak sedikit rahasia pribadi anak gadis dari putri-putri bangsawan, tokoh-tokoh ternama, bila sampai rahasia ini tersiar entah berapa banyak keluarga-keluarga kenamaan dalam Bulim yang bakal pecah berantakan. berapa banyak gadis-gadis suci bakal bunuh diri saking malu, oleh karena itu Losiu sudah bakar habis buku yang kotor itu."

"Bagus, tindakan yang tepat."

"Tapi catatan mengenai Sin cui kiong sudah Losiu baca dengan teliti, karena mungkin hanya dialah laki-laki yang benar-benar pernah memasuki Sin cui kiong secara terang-terangan, maka apa yang dia catat tentunya jauh lebih bernilai dan patut dihargai."

"Wanpwe mohon penjelasan."

"Bu Hoa memang seorang yang pintar dan cerdik, bukan saja mengenal seni musik, seni lukis dan seni tulisan, lebih pandai pula berkhotbah, sampaipun im-kiong cu dari Sin cui kiong pun ada mendengar nama besarnya, perlu diketahui Im-kiong-cu adalah seorang pemeluk agama yang saleh.

"Hal ini wanpwe sudah pernah dengar orang bilang."

"Sin cui kiong cu mengundangnya untuk berkotbah bukan saja Bu Hoa merasa amat bangga, malah kebetulan pula sesuai dengan keinginannya, karena memang dia sudah mengincar Thian-it-siu cui."

"Untuk menamatkan jiwa seseorang, tanpa menimbulkan gejala-gejala keracunan, kecuali Thian-it-sin cui, dalam dunia ini tiada benda lainnya lagi."

"Tapi meski dia sudah masuk ke dalam Sin cui kiong, toh dia tak punya kesempatan untuk turun tangan, soalnya Im kongcu amat keras mengawasi murid-muridnya, bahwasanya dia tidak pernah punya kesempatan untuk bicara sepatah katapun kepada nona-nona itu."

"O?"

"Dan lagi Im kongcu tidak menahannya tinggal di Sin cui kiong, setiap hari setelah lohor, lantas mengundangnya masuk untuk berkhotbah selama satu jam, setelah selesai kotbahnya segera mengantarnya keluar lembah, ingin berhenti sedetik saja pun tak diperbolehkan."

Coh Liu-hiang menepekur, tanyanya.

"Siapa saja orang-orang yang menjemput antar dia?"

"Yang menjemput dan mengantarnya adalah empat murid perempuan Sin cui kiong ke empat orang ini sama lain saling mengawasi, sebetulnya memang tiada kesempatan sedikitpun, sampai pun Bu Hoa sendiri itu waktu sudah putus asa, siapa nyana pada suatu hari, tiba-tiba dia melihat satu diantara ke empat nona-nona itu ada yang diam-diam mengerling tawa kepadanya."

"Tentunya nona inilah yang bernama Sutouw King?"

"Benar waktu itu diapun belum tahu bila nona ini bernama Sutouw King, cuma terasa olehnya kerlingan mata gadis cantik ini mengandung rasa manis mesra, seolah ada naksir kepada dirinya, sayang sekali mereka tak punya kesempatan untuk bicara."

"Orang semacam Bu Hoa, untuk main asmara dan memelet gadis tak perlu pakai bicara segala."

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi kalau tiada kesempatan, betapapun dia tidak bisa turun tangan."

"Orang seperti dia, sudah tentu selalu berusaha mencari kesempatan."

"Ya, memang begitulah"

Ujar Cay Tok hing gemas.

"Menurut catatannya, Sin cui kiong terletak didalam sebuah lembah gunung yang permai subur laksana permadani, bunga berkembang biak, laksana alam dunia tersendiri, diantara taburan kembang dan pepohonan yang teratur dan tumbuh rapi terawat baik itu tersebar bangunan gubuk-gubuk dan gardu-gardu indah, disanalah murid-murid Sin cui kiong bertempat tinggal."

Diam-diam Coh Liu-hiang berpikir.

"Cerita Yong-ji ternyata tidak salah, tapi apa yang dikisahkan Liu Bu-bi, apa pula yang terjadi akan dirinya?"

"Di dalam lembah terdapat air terjun,"

Demikian Cay Tok-hing meneruskan ceritanya.

"air tumpah dari tempat ketinggian seperti naga yang menari ditengah udara, di bawah air terjun terdapat sebuah kubangan, ditengah tengah kubangan itu terdapat pula sebuah batu besar, disanalah tempat Bu Hoa berkotbah. Begitu masuk ke lembah, Bu Hoa langsung duduk diatas batu besar ini mulai berkotbah, habis berkotbah lantas berlalu, dasar cerdik setelah dia rencanakan dan pikir pulang pergi, terasa hanya pada batu besar ini saja dia bisa meninggalkan langkah-langkah tipu dayanya."

"Langkah tipu daya apa?"

"Batu besar ini memang licin dan mengkilap bagai kaca, pada suatu hari waktu dia masuk lembah sengaja dia menginjak tempat becek yang berlumut hijau maka begitu melangkah naik ke atas batu besar ini, kakinya lantas terpeleset jatuh."

Dengan gemas Cay Toh-hing melanjutkan.

"Semua orang sama tahu Bu Hoa adalah murid Siaowlim yang tinggi kepandaiannya, kalau dikata berdiripun dia tidak bisa tegak, orang lain tentu tidak mau percaya, tapi setelah alas sepatunya koto kena lumpur dan lumut, sukarlah dikatakan apalagi dia sengaja merubah beberapa kali gerakan baru terperosok jatuh ke air, betapa pintar gerak-gerik badannya sampai Im kiong cu pun kena dia kelabui."

Bersambung ke

Jilid 39

Jilid 39 Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya dalam hati.

Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 11

Baca Juga: Kedele Maut 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert