Ceritasilat Novel Online

Kedele Maut 10

Eps 10 Kedele Maut - Khu Lung

Baca online Kedele Maut - Khu Lung

Cersil Kedele Maut - Khu Lung.

Tapi berhubung situasi yang berada didepan mata membuatnya tak dapat menampik lagi, maka diapun membungkam diri dalam seribu bahasa.

sementara itu oh Kui sam telah memutar biji matanya sambil berseru .

"Beres sudah, mari kita persiapkan hari yang gembira ini dengan sebaik-baiknya."

Kemudian setelah berhenti sejenak. la melanjutkan dengan gembira.

"sekarang juga aku akan mencari si tua Lan agar dia siapkan perjamuan untuk kita semua hari ini kita harus merayakan peristiwa ini dengan sebaik-baiknya."

Tidak sampai perkataannya selesai diucapkan, dengan cepat kakek itu sudah berlalu dari sana.

Dalam keadaan begini Kho Beng sendiri tak bisa mengatakan bagaimana rasa hatinya sekarang, disamping rasa gembira terselip pula rasa haru dan sedih.

Tentu saja yang paling menonjol aadalah rasa malu-malu kucingnya.

"Ayolah jalan"

Kata Thian cun yang sambil tertawa.

"Mari kita pergi kedepan"

Maka mereka berdua pun berjalan kembali kehalaman depan.

Baru saja melangkah keluar dari halaman tampak Beng Gi ciu dan siau wan sedang berjalan-jalan menghirup udara pagi.

Ketika melihat kedatangan dua orang tersebut, Beng Gi ciu segera menegur sambil tertawa.

"Empek Thian, sepagi ini kau sudah bangun dari tidurmu?"

Thian Cun yang tertawa terbahak-bahak, sahutnya .

"Haaaa .. haaaahhh ..biasanya orang yang mendapat rejeki wajahnya selalu cerah, otomatis diapun akan bangun pagi, keponakanku kau mesti turut bergembira."

Beng Gi ciu agak tertegun, lalu tanyanya sambil tertawa .

"Apakah empek Thian menjadi kaya?"

"Haaahh . Haaahhh . Harta kekayaan adalah barang sampingan, apalagi usia empek sudah setua ini, apa artinya harta kekayaan bagiku? Rejeki yang sudah tak menarik perhatianku lagi"

Beng Gi ciu memutar biji matanya sambil berpikir sebentar, mendadak serunya keras.

"Aaaah, aku mengerti sekarang, sudah pasti empek telah menemukan bibi baru"

"Ya a . Ya a a .dugaanmu sudah hampir tepat"

Kata Thian Cun yang sambil tertawa misterius.

"Cuma bukan empek yang mendapat bibi baru justru empek telah mencarikan pasangan yang serasi untukmu."

Kontan saja sepasang pipik Beng Gi ciu berubah menjadi merah jengah agak tersipu sipu serunya .

"empek, kenapa sih kau gemar menggoda diriku?"

Sambil membalikkan badan ia segera lari masuk kedalam kamar. Sebaliknya Siau wan kelihatan gembira setengah mati sambil memandang Kho Beng segera katanya .

"Mungkin Kho kongcu yang bakal menjadi majikan mudaku?"

Thian cun yang sebera mengangguk.

"Yaa, selain dia, siapa lagi yang pantas menjadi pasangan hidup nonamu itu?"

Saking girangnya siau wan sebera berseru "Kau orang tua memang betul-betul pandai bekerja, kalian pun sungguh memahami perasaan hati nona kami, kalau begitu siau wan mesti berterima kasih sangat kepada kau orang tua?"

Sambil mengelus jenggotnya, Thian cun yang tertawa bergelak .

"Haaahh . Haaahhh ..haaahhh .tetu saja kau harus berterima kasih kepadaku, setelah nonamu kawin dengan Kho sauhiap. maka kau pun pasti akan menemani nonamu, kau tahu apa arti dayang yang turut majikannya kawin? Berarti kau pun merupakan istri muda dari Kho sauhiap"

Siau wan menjadi amat tersipu-sipu, serunya gemas .

"Kau orang tua memang nakal, masa aku pun turut digoda?"

Cepat-cepat dia membalikkan badan dan kabur dari situ Thian cun yang segera tertawa tergelak, ia kelihatan gembira sekali dengan peristiwa ini.

oh Kui sam memang amat cekatan dalam mempersiapkan segala sesuatunya, dalam waktu singkat suasana gembira telah meliputi rumah pemburu Lan.

semua orang sibuk berbenah, sibuk menghias dan mempersiapkan perjamuan untuk upacara pertunangan Beng Gi ciu dengan Kho Beng nanti.

Akibatnya Kho Beng serta Beng Gi ciu menjadi amat tersipu-sipu, bahkan gara-gara perkataan Thian Cun yang tadi, siau wan pun turut merasa jengah sampai tak berani mendongakkan kepalanya lagi.

Dia percaya perkataan dari Thian Cun yang memang benar, sudah pasti dirinya akan turut nonanya setelah menikah, ini berarti dia pasti akan menjadi istri muda Kho Beng.

Hanya Thian Cun yang serta oh Kui sam yang dapat berbicara sambil tertawa bergelak.

bukan saja mereka selalu berteriak teriakan, tak lupa pula menggoda kedua pasangan sehingga membuat Kho Beng maupun Beng Gi ciu sekalian tak berani angkat kepala.

Hari itu mereka lewati dalam suasana gembira ria.

Menjelang malam, suasana rumah pemburu Lan baru mulai hening, Thian Cun yang, oh Kui sam bersama sepasang calon suami istri ditambah siau wan duduk berkumpul dalam satu ruangan dan bersama-sama mengadakan perundingan.

Pertama-tama Thian Cun yang yang berbicara lebih dulu, katanya .

"Kini luka yang diderita Kho sauhiap telah sembuh, tentu saja kurang leluasa buat kita untuk berdiam lebih lama disini, sekarang kita mesti membicarakan langkah kita berikut"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian ujarnya.

"Dikala boanpwee meninggalkan kuil Leng thian sian wan dipuncak Giok cing hong bukit Tiong lam san tempo hari sudah pasti Phu sian sangjin sekalian dicekam perasaan ragu dan tak tenang. Y a, ketika itu boanpwee terpaksa berbuat demikian karena guruku almarhum telah berpesan demikian, mau tak mau aku mesti mengajak bajingan tua she Ui itu untuk mengadakan pertemuan empat mata serta mengemukakan diat dari mendiang guruku."

"Tindakan semacam ini merupakan suatu tindakan yang ksatria, perbuatanmu memang benar sekali"

Seru oh Kui sam nyaring.

"Sebetulnya maksud boanpwee akan kembali lari kekuil Leng thian sian wan dan memberi penjelasan kepada mereka setelah tugasku selesai, siapa sangka gara-gara kekhilafanku hampir saja nyawaku melayang ditangan bajingan she Ui itu, akibatnya . saat ini mereka semua telah berangkat ke Siau lim si,"

Kata Thian cun yang.

"Malah kudengar surat undangan telah disebar luaskan keseluruh dunia persilatan untuk mengundang para jago berkumpul di Siau lim si dan bersama-sama membicarakan cara untuk menanggulangi peristiwa besar ini, dengan jarak yang begitujauh dari sini kebukitSiong san, aku pikir tidak cocok kalau kita mesti berangkat kesitu."

"Tapi boanpwee kuatir kalau hal tersebut sampai menimbulkan kesalah pahaman umat persilatan kepadaku, akibatnya persoalan menjadi sulit untuk dijelaskan."

"Soal ini tak perlu kau kuatirkan, paling tidak perkataan dari kami dua orang tua Bangka masih punya manfaatnya, soal penjelasan kepada Phu sian sangjin hwesio sekalian, serahkan saja kepadaku, Cuma sekarang .. Hmmm, padahal apa susahnya?"

Dengus oh Kui sam tiba-tiba.

"Asal kita mendatangi bukit Cian san mengobrak-abrik sarangnya, bukankah semua persoalan menjadi beres?"

Dengan cepat Thian cun yang menggelengkan kepalanya.

"Dis inilah letak masalahnya, kita tak boleh bertindak kelewat gegabah."

"Memangnya kita harus takut dengan bajingan tua Ui sik kong?"

Seru oh Kui sam penasaran.

"Takut sih tentu tak perlu takut, tapi dibalik kesemuanya masih terdapat berbagai kesulitan."

"Hmmm, apa kesulitannya?"

Thian cun yang berpikir sebentar, kemudian katanya .

"Pertama, Kho Beng telah menyanggupi permintaan si naga terbang dari see ih Kongci cu untuk memelihara keutuhan dari keturunan partai kupu-kupu, padahal Ui sik kong hanya mempunyai seorang anak gadis, paling tidak kita kan tak bisa menumpas mereka berdua?"

Bantah oh Kui sam .

"Padahal asal semua jago andalan partai kupu-kupu dapat kita sikat habis, dengan sisa mereka ayah dan anak berduaan saja, apa pula yang bisa mereka kerjakan?"

"aku rasa persoalan tersebut tak akan begitu sederhana, apalagi Ui sik kong adalah manusia yang amat licik, salah-salah kita sendiri yang menjadi korban."

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya .

"selain itu, kakek tongkat sakti beserta kakak Kho sauhiap sekalian masih berada ditangan bajingan tua Ui Sik kong, bila ia menyandera orang-orang tersebut dan mengancam dengan nyawa mereka sebagai taruhannya, lalu apa yang mesti kau perbuat?"

Sambil meremas-remas sepasag tangannya, oh Kui sam manggutmanggut .

"Yaa, bajingan tua itu memang dapat melakukan perbuatan apa saja, persoalan ini memang sebuah masalah yang amat pelik,"

Thian cun yang segera berkata lebih jauh .

"Hingga kini tiga hari sudah lewat, siapa yang tahu permainan busuk apa lagi yang telah dipersiapkan bajingan tua Ui sik kong. Biarpun tenaga dalam yang kita miliki masih mampu mengunggulinya, tapi bila ditambah dengan kelicikan hatinya, sudah jelas ia merupakan musuh yang amat tangguh untuk kita berdua."

"Ehmmm, kita berdua tak pernah mempunyai akal untuk main licik-licikan, memang disinilah letak kerugian bagi kita,"

Kata oh Kui sam sambil menggigit bibir.

"Lantas menurut pendapatmu kita tak boleh menyatroni bukit ciansan?"

Kemudian setelah menghembuskan napas panjang, ia berkata lagi .

"Apakah kita mesti pergi ke siau lim si untuk menggabungkan diri dengan Phu sian lo hwesio serta mengikuti perintahnya?"

"Tentu saja kita tak boleh berbuat begitu, bagaimanapun juga kita harus mendatangi bukit Cian san, hanya saja kedatangan kita tak boleh terang-terangan, kita mesti merahasiakan jejak kita dulu."

"Dengan kedudukan serta pamor kita didalam dunia persilatan, masa kita berdua pun mesti mendatangi sarangnya seperti pencuri yang takut ketahuan?"

Dengan wajah serius Thian cun yang berkata .

"Kesemuanya ini salahmu sendiri, kenapa sepanjang hidup mengasingkan diri terus menerus dipulau Bong lay to?

Kalau tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, otomatis kau tak akan memiliki pengalaman apa-apa.

Ketahuilah perbuatan seperti apa pun bisa saja terjadi dalam dunia persilatan, karena nya seorang dibutuhkan akal yang panjang untuk dapat mengatasi situasi dan kondisi setempat, biarpun kita datangi bukit Cian san secara diamdiam, hal semacam ini bukan berarti akan menurunkan martabat serta pamor kita."

Setelah berkerut kening berapa saat, akhirnya oh Kui sam berkata .

"Baik,lah, terserah pada yang hendak diperbuat, kalau memang akan didatangi secara diam-diam, mari kita datangi saja secara diam-diam."

Thian cun yang segera berpaling kearah Kho Beng, lalu ujarnya lagi.

"Apakah kau mempunyai pendapat lain?"

"segala sesuatunya boanpwee akan menuruti semua perintah cianpwee, hanya saja"

Setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam sambungnya lebih lanjut.

"Dalam perjalanan kita menuju kebukit Cian san kali ini, boanpwee telah bertekad akan menolong kakek tongkat sakti, nona Chin serta ciciku sekalian dari sekapan musuh."

"oooh, tentu saja ...."

Thian cun yang manggut-manggut.

"Malah jalan pemikiranku lebih hebat lagi, seandainya pukulan kita dibukit Cian san kali ini berhasil dengan sukses, bisa jadi segala kerepotan yang dilakukan orang-orang di siau lim si saat ini bakal sia-sia."

"Tentu saja"

Sambung oh Kui sam.

"Kalau gebrakan kita berhasil, anggap saja kita memang tidak menyia-nyiakan nama besar serta kemampuan yang diperjuangkan leluhur kita dimasa lalu, namun kalau gagal, pamor kita bakal hancur berantakan."

Kemudian setelah berhenti sebentar, katanya lagi.

"Lantas kapan kita akan berangkat?"

Thian cun yang termenung sebentar lalu katanya .

"Bagaimana kalau besok pagi?"

"Baiklah, besok pagi kita berangkat"

"Kini waktu berangkat telah ditentukan, mari kita rundingkan kembali bagaimana caranya untuk menempuh perjalanan?"

"Berangkat ya berangkat, memangnya kau ingin naik tandu atau menunggang keledai?"

Tanya oh Kui sam keheranan. Thian cun yang mengerling sekejap kearah rekannya, lalu berkata .

"Kau jangan salah artikan perkataanku itu, kita kan semuanya berjumlah lima orang, bukan saja sasarannya menjadi lebih besar, perjalananpun pasti ditempuh amat lambat, lebih baik kita membagi diri menjadi dua rombongan saja."

Dengan cepat oh Kui sam memahami tujuan rekannya itu, sahutnya dengan cepat.

"Benar, benar, perkataan ini memang masuk akal"

Dengan wajah bersemu merah, Beng Gi ciu sebera berseru .

"Kalau begitu biar aku dan siau wan berada satu rombongan dengan empek Thian"

"Waaaah ..... tidak bisa, aku tak ingin berada satu rombongan denganmu ....."

Tolak Thian cun yang sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. sambil tertawa bergelak, oh Kui sam berseru pula .

"Hey budak. kami berdua sudah terbiasa menempuh perjalanan bersama, masa kau ingin memencarkan kami berdua ?"

Air muka Beng Gi ciu berubah makin memerah, kali ini dia terbungkam dalam seribu bahasa. Kembali oh Kui sam berkata .

"Biar yang muda berkumpul dengan yang muda, yang tua berkumpul dengan yang tua, sebab baru namanya cocok dan serasi, saudara Cun yang, tentunya kau tak merasa keberatan bukan dengan pembagian ini ?"

"ooooh tentu saja, tentu saja ....."

Sahut Thian Cun yang sambil manggut-manggut.

"Kami berdua memang tak bisa dipisahkan satu sama lainnya, bagaikan kuali dengan tutupnya, tak seorangpun bisa memisahkan kami berdua ..... nah keponakanku, kau toh berkunjung ke bukit Ciansan, menurut pendapatmu dimanakah kita akan bersua muka ?"

Setelah berpikir sesaat, dengan wajah serba salah, akhirnya Beng Gi ciu berkata lirih .

"Bagaimana kalau dilembah belakang puncak bukit Cian san ?"

"Bagus kentongan kedua esok malam kita akan bersua lagi ditempat tersebut."

Keesokan harinya dengan perasaan berat hati keluarga pemburu Lan melepas keberangkatan jago-jago tersebut hingga tiba didepan dusun.

setelah menempuh perjalanan lebih kurang setengah li kemudian didepan situ muncul sebuah persimpangan jalan.

Mendadak Thian cun yang menghentikan langkahnya seraya berkata .

"Kita harus berpisah sekarang "

Tanpa sadar muka Beng Gi ciu dan Kho Beng sekalian berubah menjadi merah jengah, sebaliknya Thian cun yang dan oh Kui sam segera tertawa terbahak-bahak.

dengan sekali lompatan saja mereka berdua telah berlalu dari situ.

Lebih kurang empat, lima puluh kaki kemudian kedua orang tua ini berhenti ditengah sebuah hutan lebat.

dengan kening berkerut oh Kui sam sebera menegur .

"Hey kenapa? Sudah lelah?"

"Auuuuh, kalau baru berjalan berapa langkah sudah merasa lelah, buat apa aku berkelana terus didalam dunia persilatan ?"

"Lantas mengapa menghentikan perjalanan?"

Sambil tertawa Thian cun yang balik bertanya.

"Kau anggap kita akan benar-benar berpisah jalan dengan mereka ?"

"Lho .... bukankah ede tersebut muncul dari benakmu ?"

Suara oh Kui sam keheranan.

"Kenapa kau berubah pikiran lagi sekarang ?"

"Aku bukannya berubah pikiran, tapi mempunyai maksud lain."

Tertawa Thian cun yang nampak misterius.

"Hmmm, tak sedikit akal busukmu, maksud apa lagi yang kau kandung ?"

"Untuk kepentingan keponakan kita, apalagi mereka harus menempuh perjalanan bersama kita berdua, sudah bisa diramaikan tingkah laku mereka bakal kaku sekali, padahal diantara mereka berdua tentu mempunyai banyak urusan peribadi yang hendak diutarakan, lalu apa artinya kita bedua menjadi pengganjal mata yang tak sedap untuk mereka berdua."

"Ya a betul, betul Itulah sebabnya aku menyetujui usulmu tadi dan menempuh perjalanan secara terpisah, tapi kau ....."

"Membiarkan mereka menempuh perjalanan sendiripun rasanya tak tega.

"sela Thian cun yang.

"sebab kita cukup tahu betapa licik dan kejinya si manusia laknat Ui sik kong. manusia semacam ini bisa saja melakukan perbuatan macam apapun, andaikata mereka sampai terjadi apa-apa bukankah kita bakal menyesal sepanjang masa ?"

"Bagaimana sih kau ini ?"

Oh Kui sam segera menghentakkan kakinya keatas tanah.

"Mengapa kau menguatirkan yang bukanbukan ? Lantas apa rencanamu selanjutnya?"

"Nah, disinilah letak kehebatan dari usulku tersebut, ibaratnya sekali timpuk mendapat dua hasil, bukan saja kita tak menjadi pengganjal mata untuk mereka, kita pun tak usah kuatir mereka mengalami kejadian yang diluar dugaan."

Oh Kui sam segera melototkan matanya bulat-bulat, teriaknya .

"Hey tua bangka, sudah cukup aku dipermainkan habis-habisan, sudah bisa kutebak, rupanya kau hendak menguntil mereka lagi secara diam-diam?"

Thian Cun yang sebera tertawa berkelak .

"Haaah ..... haaaahh ..... haaahh ..... tuh lihat mereka sudah pergi jauh, ayo kita cepat menyusulnya."

"Kau betul-betul hebat, tak ubahnya seperti rase tua"

Puji oh Kui sam sambil tertawa gembira.

Begitulah, mereka berdua tak membuang waktu lagi, bagaikan dua gulung hembusan angin puyuh, dengan cepat mereka berkelebat menuju kedepan.

^ooooooo Kho Beng merasa amat tak tentram hatinya melihat kepergian Thian cun yang berdua.

Seandainya diantara mereka tak pernah ada ikatan pertunangan, menempuh perjalanan bersama bukanlah masalah yang terlalu merisaukan, tapi setelah adanya ikatan tersebut, ia justru merasa agak rikuh.

Akan tetapi dila teringat si nona yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan ini sudah menjadi istrinya yang tercinta, dari hati kecilnya timbul pula perasaan gembira yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Akibatnya untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu dan berdiri mematung bagaikan orang bodoh.

Beng Gi ciu yang menyaksikan hal tersebut menjadi amat geli, tanpa terasa ia tertawa cekikikan.

Suara tertawanya dengan cepat menyadarkan kembali Kho Beng dari lamunannya, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya sambil tertawa rikuh .

"Nona, mari kita berangkat"

Beng Gi ciu manggut-manggut dan segera berangkat duluan.

siau wan yang dihari-hari biasa banyak bicara dan lincah, berhubung benaknya selalu dipenuhi ucapan Thian cun yang yang mengatakan dia adalah bini muda Kho Beng, akibatnya dayang yang lincah ini menjadi jarang berbicara dan membungkam terus.

selama ini dia hanya mengikuti disamping Beng Gi ciu tanpa mengucapkan apapun.

Hampir dalam dua jam berikut, ketiga orang itu tetap berjalan dengan mulut terbungkam.

Mendekati tengah hari, sinar surya memancar dengan terik diatas langit, mendadak Beng Gi ciu menghentikan perjalanannya dan menjatuhkan diri duduk diatas batu dalam hutan.

Melihat itu Kho Beng ikut menghentikan langkahnya, lalu menegur .

"Nona, apakah kau lelah?"

Tanpa berpaling Beng Gi ciu menjawab .

"Bukan cuma lelah, perutku terasa lapar"

Sambil tertawa Kho Beng sebera berkata .

"Tak jauh didepan sana adalah dusun Pit kho ceng, bagaimana kalau kita beristirahat didusun tersebut?"

"Baiklah"

Sikap dan jawaban si nona yang hambar segera menimbulkan perasaan yang amat tak sedap dalam hati kecil Kho Beng, pikirnya tanpa sadar .

"Waaaah ..... susah amat melayani gadis keturunan orang kenamaan ..... sekarang saja sikapnya sudah panas dingin tak menentu, entah bagaimana sikapnya setelah kawin secara resmi nanti?"

Tapi bila teringat Beng Gi ciu adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya, apalagi ikatan jodoh itupun dilakukan oleh Thian cun yang serta oh Kui sam, pemuda kita merasa wajib untuk mengalah berapa bagian kepada gadis tersebut.

sementara dia masih termenung, terdengar Beng Gi ciu menegur lagi dengan dingin .

"Mengapa secara tiba-tiba kau berubah seperti patung?"

Kho Beng agak tertegun, sahutnya tergagap .

"Maksud nona"

"Hmmm, coba kau lihat tampangmu sewaktu berdiri disitu, emangnya tidak mirip kayu saja? Kalau memangnya ingin beristirahat kenapa tidak duduk?"

"Aku tidak lelah"

Sahut Kho Beng terbata-bata.

Perkataan ini memang sejujurnya sebab bagi pemuda kita biarpun harus menempuh perjalanan sehari semalampun belum tentu dia akan merasa lelah.

Padahal Beng Gi ciu sendiripun tidak merasa lelah, hanya disebabkan rasa tak senangnya maka dia sengaja duduk untuk mengambek.

Diam-diam Kho Beng menghela napas panjang, sambil memaksakan diri untuk tertawa katanya kemudian .

"Baiklah, biar akupun duduk"

Maka diapun mengambil tempat duduk disebuah batu yang berada disisinya.

Waktu itu diatas sebatang pohon, lebih kurang dua puluh kaki dibelakang ketiga orang itu, Thian Cun yang dan oh Kui sam sedang bersembunyi disana.

Kalau Thian Cun yang masih tersenyum simpul, maka oh Kui sam dengan wajah serius berbisik kepada rekannya dengan ilmu menyampaikan suara .

"Aku lihat keadaan sedikit kurang beres"

"Apanya yang tidak beres?"

Thian Cun yang balik bertanya dengan ilmu menyampaikan suara pula.

"Hmmm, matamu belum lamur, telingamu belum tuli, masa kau masih juga belum tahu."

Bersambung ke

Jilid 40

Jilid 40

"Kau berani bertaruh denganku?"

Tiba-tiba Thian cun yang menantang dengan senyum misterius.

"Bertaruh? Hmmm, kenapa tak berani?"

"Kujamin hubungan mereka akan berubah menjadi amat erat bagaikan lem, bagaimana kalau kita bertaruh dengan semeja perjamuan saja?"

"Baik, kita bertaruh ......"

Sambil menunjuk kedepan Thian cun yang berkata .

"Hasil taruhan kita segera akan diketahui siapa pemenangnya, aku lihat kau pun bakal menjamuku tengah hari nanti."

"Asal aku bisa melihat hubungan mereka erat seperti lem dan bukan seperti air dan api, biar mesti mentraktir makan dirimu pun aku kalah dengan hati rela."

Kata oh Kui sam serius. Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, medadak tampak Beng Gi Ciu-menghela napas sedih . Oh Kui sam segera berbisik pula sambil menghela napas .

"coba kau lihat, keadaannya semakin lama semakin bertambah runyam, bila keponakan kita merasa puas dengan bocah muda she Kho itu, mengapa setelah ditunangkan ia justru berkeluh kesah?"

"Aaaah, terlalu awal untuk mengatakan demikian."

Bantah Thian cun yang sambil tertawa. Dalam pada itu Kho Beng telah berpaling sambil bertanya .

"Nona ...... mengapa kau berkeluh kesah?"

Sekali lagi Beng Gi ciu menghela napas panjang, katanya .

"Aku mengeluh karena nasib ku jelek."

"Nona ...... aku cukup memahami maksudmu ...."

Kata Kho Beng gelagapan.

"setelah bertemu dengan Thiam dan oh cianpwee nanti, aku pasti akan menyelesaikan secara baik-baik, pasti ........"

"Apa yang kau ngaco belokan?"

Tukas Beng Gi ciu cemas. dengan wajah serius Kho Beng berkata .

"Sudah pasti lantaran aku tak pantas mendampingi nona, maka nona baru merasa masgul dan berkeluh kesah, itulah sebabnya ......"

Beng Gi ciu mendengus kembali, tukasnya .

"Apa maksudmu aku pun mengerti, kenapa aku pergunakan katakata seperti itu untuk menghadapi aku?"

Kho Beng tertawa getir.

"Nona, apa yang kau artikan dengan perkataan itu? Dan dimana letak kesalahan dalam ucapanku ini?"

Beng Gi ciu mendengus .

"Hmmm, terus terang kau yang merasa diriku tak pantas menjadi binimu, kenapa malah mengembalikan perkataan tersebut kepadaku? Aku tahu kau merasa sungkan untuk menampik perjodohan ini dihadapan empekku berdua, maka secara sengaja kau bersikap dingin kepadaku, aku cukup memahami keadaanku sendiri, biar aku saja yang mengusulkan untuk membataikan ikatan perkawinan ini."

Oh Kui sam yang bersembunyi dua puluh kaki dari tempat kejadian itu jadi terkejut, pucat pias selembar wajahnya, sambil menggigit bibir katanya kemudian .

"Waaah ..... waaah ....bakal bubar sungguhan coba lihat, hubungan mereka seperti air dan api, aku menang taruhan tapi kemanakah mesti kutaruh mukaku ini bila bertemu kembali dengan Beng toako dialam baka nanti?"

Namun Thian cun yang masih tetap tenang, malah katanya sambil tersenyum .

"Tak usah keburu panik, pembicaraan diantara mereka toh belum selesai."

Sementara itu paras muka Kho Beng telah berubah hebat, dengan suara lantang ia sebera berseru .

"Nona, aku tak berani menerima tuduhan mu itu, bila Kho Beng benar-benar mempunyai pikiran yang seperti apa yang nona tuduhkan, biarlah Thian mengutukku dan membiarkan aku..."

Belum lagi kata "mampus"

Sempat diucapkan, Beng Gi ciu telah melompat maju sambil menutup mulut Kho Beng dengan tangannya.

dengan wajah tertegun Kho Beng menghentikan pembicaraannya, sedang Beng Gi ciu juga merasakan perbuatannya kelewat mesra, dengan wajah bersemu merah cepat-cepat dia mundur kembali.

setelah agak tertegun beberapa saat, Kho Beng kembali berkata .

"Nona, mengapa kau tidak mengijinkan diriku untuk melanjutkan perkataan tersebut."

"Hanya masalah kecil saja kenapa kau mesti mengangkat sumpah?"

Sahut Beng Gi ciu lirih.

"Untuk menunjukkan ketulusan hatiku, kalau tidak mengangkat sumpah lantas apa yang mesti ku perbuat?"

"Jadi tuduhanku tidak benar?"

"Aku bukan manusia yang lain dibibir lain dihati, bila aku benarbenar merasa tak puas dengan perkawinan ini, secara langsung lamaran dari Thian dan oh locianpwee akan kutampik, setelah kusanggupi berarti sampai matipun pendirianku tak bakal berubah."

Kembali paras muka Beng Gi ciu menjadi merah padam, katanya kemudian .

"jadi ..... kau ..... kau sungguh-sungguh? Bukan lagi membohongi diriku?"

"seharusnya nona percaya dengan perkataanku?"

Kho Beng berkerut kening. sekulum senyuman yang manis dan mesra segera tersungging diujung bibir Beng Gi ciu, kembali ujarnya .

"Kalau memang benar begitu, mengapa sikapmu begitu dingin dan hambar?"

"Bagaimna mungkin hal ini bisa terjadi? Kalau dibilang bersikap dingin dan hambar, seharusnya sikap nonalah yang dingin dan hambar sekali terhadapku"

"Hmmm, kalau berbicara harus tumbuh dari hati kecil yang jujur,"

Seru Beng Gi ciu sambil cemberut.

"Coba kutanya, kau memanggil apa kepadaku?"

"Memanggil nona"

Beng Gi ciu segera mendengus dingin .

"Hmmm, tapi apa pula hubungan kita sekarang? Bukankah kau sengaja bersikap dingin dan menjauh kepadaku?"

Dengan cepat Kho Beng memahami arti perkataan gadis itu, buru-buru ia memukuljidat sendiri sambil berseru .

"Aaaah ..... rupanya memang aku yang bersalah, tapi berhubung kita belum menikah secara resmi, aku kuatir bersikap kelewat mesra maka dari itu aku menyebutmu ........"

Tapi setelah berhenti sejenak. buru-buru sambungnya lagi .

"Kalau memang begitu biarlah aku mengganti dengan sebutan lain, tapi ...... aku mesti memanggilmu apa?"

"Mana kutahu?"

Seru Beng Gi ciu sambil berpaling kearah lain. Kho Beng berpikir sebentar, mendadak serunya sambil tertawa .

"Adik Ciu ...... terimalah hormat dari kakandamu"

Sambil berkata, ia betul-betul menjura dalam-dalam .

siau wan yang berdiri disamping tak dapat menahan diri lagi dan segera tertawa cekikikan.

Beng Gi ciu pun berusaha menahan rasa gelinya, sambil mendengus ia berseru .

"Huuuh, usil"

Oh Kui sam yang berada dua pulu kaki dari tempat kejadianpun menjadi sangat gembira, tak kuasa lagi ia berteriak menirukan lagak suara Kho Beng .

"Adik Ciu ..... terimalah hormat dari kakandamu Haaaahh ...... haaaahh ...... haaaahh"

Gelak tertawanya amat keras bagaikan guntur yang menggelegar ditengah hari bolong, suaranya sampai menggema beberapa li jauhnya. Kho Beng menjadi malu sekali, dengan wajah tersipu-sipu serunya .

"Aduh celaka, rupanya kedua orang tua itu tidak pergi secara sungguhan, rupanya mereka menguntil dibelakang kita secara diamdiam."

"Jangan perduli mereka, mari kita lari"

Sahut Beng Gi ciu dengan wajah merah padam pula seperti kepiting rebus.

Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, Kho Beng merasa rikuh sekali untuk bersua dengan Thian cun yang serta oh Kui sam, sehingga dia justru berharap Beng Gi ciu mengusulkan hal itu.

Maka tanpa membuang waktu lagi, cepat-cepat dia beranjak pergi meninggaikan tempat tersebut.

Beng Gi ciu dan siau wan tak ketinggalan, mereka menyusul pula dibelakangnya, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka bertiga sudah lenyap dari pandangan.

Thian cun yang segera menarik tangan oh Kui sam sambil menegur .

"Mengapa sih kau tak dapat menahan diri, coba lihat, mereka kabur karena jengah"

Oh Kui sam berusaha menghentikan gelak tawanya, dengan wajah berseri ia berseru .

"Puas ..... puas .......hatiku benar-benar puas, dengan begitu akupun tak usah kuatir lagi."

"Tapi kau telah kalah bertaruh, berarti harus mentraktir aku makan satu meja"

"Jangan lagi cuma semeja, biar sepuluh meja pun aku rela seratus persen"

Tak lama kemudian sampailah mereka didusun pit keh ceng.

Pit keh ceng adalah sebuah dusun dengan lebih kurang dua ratus kepala keluarga, tempat itu merupakan persimpangan jalan utara dan selatan, karenanya banyak pedagang yang berlalu lalang disitu, suasana amat ramai.

Ketika menyusul kedalam dusun, Thian cun yang berdua menyaksikan Kho Beng sekalian bertiga telah memasuki sebuah rumah makan, maka mereka pun mencari tempat duduk dekat jendela dirumah makan seberang, dari situ mereka dapat mengaasi pintu depan rumah makan dengan jelas.

dengan perasaan gembira, Thian Cun yang berseru .

"sekarang kita boleh makan minum dengan perasaan lega."

Dengan cepat oh Kui sam memesan satu meja penuh hidangan yang lezat kemudian mereka berdua pun mulai bersantap dengan lahapnya sambil mengawasi pintu gerbang rumah makan seberang jalan.

sementara itu Kho Beng sekalian bertiga pun mencari tempat duduk yang agak longgar diatas loteng, kemudian dengan pikiran agak ringan tanyanya .

"Adik Ciu, apakah kau ingin minum barang dua cawan arak?"

Beng Gi ciu menggeleng.

"Lebih baik pesan saja hidangan seadanya, selesai bersantap kita harus segera bersantap."

"Hari masih cukup pagi, kenapa kita mesti tergesa-gesa menempuh perjalanan?"

"Kedua orang tua itu sudah mempermainkan kita, maka kita harus balas mempermainkan mereka berdua."

Mendengar itu, Kho Beng segera tertawa.

"sudah dapat dipastikan kedua orang cianpwee sedang bersantap dirumah makan sekitar sini, bila kita menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa sudah pasti mereka tak jadi makan."

"Tidak akan kubuat agar mereka sama sekali tidak dapat menemukan diri kita lagi"

Kata Beng Gi ciu cepat. Buru-buru Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya .

"Aku rasa hal ini sulit sekali, tak nanti mereka berdua akan melepaskan kita dengan begitu saja."

"Tak usah kuatir"

Hibur Beng Gi ciu sambil tertawa.

"tanggung kita akan berhasil"

Kho Beng tidak banyak berbicara lagi, dengan cepat dia memesan hidangan yang tersedia dalam waktu cepat, begitu selesai bersantap mereka pun membereskan rekening dan turun kebawah.

Namun ketika Kho Beng hendak melangkah keluar dari rumah makan itu, mendadak Beng Gi ciu menariknya sambil berbisik .

"Tunggu dulu"

Dengan wajah tertegun Kho Beng berkata .

"Bukankah adik Ciu ingin cepat-cepat menempuh perjalanan? Mengapa kau ....."

"Benar, kita memang akan menempuh perjalanan sekarang juga,"

Tukas si nona cepat.

"tapi bila kita keluar dengan begitu saja, sudah dapat dipastikan jejak kita akan mereka ketahui, itu berarti untuk meninggalkan mereka pun jadi amat sulit, karenanya kita tak boleh keluar lewat pintu muka."

Kemudian tanpa menunggu Kho Beng berbicara, ia telah berpaling kearah seorang kacung berusia sepuluhan tahun sambil tanyanya .

"Apakah rumah makan kalian mempunyai pintu belakang?"

"Pintu belakang?"

Kacung itu membelalakkan matanya bulatbulat, dengan wajah tak habis mengerti serunya.

"Mengapa kek koan tidak lewat pintu muka?"

Dengan cepat Beng Gi ciu menyerahkan sekeping uang perak ketangannya sambil menyahut "Kami senang lewat pintu belakang"

Terkejut bercampur girang kacung itu, segera serunya .

"ooooh .....ada, ada ......silahkan kek koan mengikuti hamba"

Sambil tersenyum Beng Gi ciu segera mengikuti kacung itu menuju kebelakang, setelah melalui dua beranda sampailah didepan sebuah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah lorong kecil.

Mereka bertiga segera saling berpandangan sambil tersenyum, kemudian dengan cepat menelusuri lorong kecil itu.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka bertiga telah berada diluar dusun pit keh ceng.

Beng Gi ciu berpaling memandang sekejap kebelakang, kemudian katanya sambil tertawa .

"Empek oh adalah seorang yang jujur, dia tak akan mempunyai pikiran yang tidak-tidak. sebaliknya empek Thian meski lebih banyak tipu muslihatnya, namun diapun orang yang amat jujur, sehingga tak nanti mereka akan menyangka kalau kita berbuat demikian."

Maka berangkatlah ketiga orang itu menempuh perjalanan dengan amat cepat.

Mendekati lohor sampailah mereka disebuah tanah yang datar, sejauh mata memandang hanya pepohonan yang rimbun tumbuh disana sini, sementara sinar surya sore membiaskan cahaya berwarna merah.

sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu, Kho Beng berkata dengan kening berkerut .

"Rasanya kita belum pernah sampai ditempat seperti ini, padahal menurut perhitungan seharusnya bukit Cian san sudah terlihat didepan mata"

Siau wan yang selama ini membungkam membungkam, segera menyela .

"Mungkin saja kita sudah tersesat"

Tapi Beng Gi ciu tidak ambil peduli, katanya cepat .

"Arah yang ditempuh tidak salah, sekalipun tersesat rasanya pun tak bakal terlalu jauh, asal kita mencari penduduk disekitar sini dan mencari keterangan dari mereka, rasanya sebelum kentongan kedua nanti kita sudah tiba dibukit Cian san."

Perkataan ini memang ada betulnya juga, namun kemanakah mereka harus mencari rumah penduduk yang terpencil seperti ini?

Jangan lagi penduduk.

orang yang berlalu lalangpun tak nampak seorang pun.

Namun mereka bertiga masih tetap meneruskan perjalanannya menuju kedepan.

Setelah berjalan lebih kurang tiga li kedepan, matahari telah tenggelam sama sekali dilangit barat, kegelapan malam pun lambat laun mulai menyelimuti seluruh angkasa, pemandangan disekeliling sepuluh kaki sudah amat sulit untuk terlihat jelas.

Mendadak Beng Gi ciu menunding kedepan dan serunya sambil tertawa .

"Coba kalian lihat, apakah itu?"

"Hah, kuil"

Sorak siau wan dengan nada gembira.

Kho Beng pun sudah melihatnya dengan jelas, ternyata dibalik hutan disisi kanan jalan tampak sebuah bangunan kuil berdiri angker diantara pepohonan.

sambil tersenyum, Beng Gi ciu berkata lagi .

"Asal kita minta keterangan dari penghuni kuil tersebut, dengan cepat jalan menuju kebukit Cian san akan kita temukan."

Tanpa menunggu jawaban lagi, dengan cepat ia meluncur lebih dulu menuju kehutan tersebut.

Kho Beng dan siau wan sebera menyusul dari belakang dan bersama-sama menerobos hutan menuju kuil tersebut.

Tapi setelah tiba didepan kuil tadi, mereka baru menemukan kalau kuil itu cuma sebuah sisa kuil yang sudah lama dtinggalkan dan terbengkalai, bangunan sebelah muka masih nampak utuh, namun pintu gerbang sudah roboh sedang papan namapun telah hilang.

Beng Gi ciu merasa amat kecewa, baru saja mereka bertiga bermaksud meninggalkan tempat itu, mendadak terdengar suara rintihan lirih bergema datang dari balik ruangan.

suara tersebut kedengaran aneh sekali, seperti suara tintihan orang kesakitan, seperti juga dengus napas binatang buas.

Kho Beng memandang sekejap wajah Beng Gi ciu, lalu bisiknya ".

"Mari kita masuk kedalam memeriksa ......."

Beng Gi ciu mengangguk tanpa menjawab, maka dipimpin Kho Beng berangkatlah mereka bertiga memasuki kuil tersebut.

sarang laba-laba kelihatan tersebar dimana-mana, debu amat tebal menyelimuti lantas, rumput ilalang tumbuh liar, suasana disana terasa mengenaskan.

Walaupun gedung utamanya masih tegak berdiri, namun patung didalam ruangan sudah porak poranda tak utuh, kelihatannya paling tidak sudah sepuluh tahun kuil tersebut dibiarkan terbengkalai.

Kho Beng mencoba untuk memasang telinga dan memperhatikan sumber suara aneh itu, dengan cepat ia ketahui suara tadi berasal dari sebuah ruangan disebelah kanan.

Maka tanpa menunggu persetujuan Beng Gi ciu lagi, ia segera melangkah masuk kedalam ruangan.

Begitu berada dalam kamar, pemuda kita segera menemukan sumber suara tersebut.

Ternyata disudut ruangan sana berbaring seorang kakek berusia enam puluh tahunan.

Dalam sekilas pandangan saja, Kho Beng sudah tahu kalau jalan darah orang itu sudah tertotok.

Kakek itu tak dapat berbicara, tubuhnya tak mampu berkutik, hanya dari tenggorokannya mengeluarkan suara dengan napas yang sangat aneh.

Tatkala melihat kedatangan Kho Beng, sepasang biji matanya segera berputar dan dialihkan kewajah pemuda kita dengan harapan minta tolong.

Kho Beng kelihatan agak sangsi, sambil berpaling kearah Beng Gi ciu katanya ."

Orang ini pasti telah dianiaya seseorang dan sengaja ditinggalkan didalam kuil ini, kalau kita tidak menolongnya, mungkin dia bakal mati kelaparan disini, apakah kita ....."

Sambil tertawa Beng Gi ciu sebera menukas.

"Bukan soal besar, lebih baik engkoh Beng memutuskan sendiri, kenapa mesti bertanya kepadaku?"

Kho Beng tertawa, dengan cepat dia menggetarkan tangannya melepaskan beberapa desingan serangan, dalam waktu singkat lima buah jalan darah didepan dada sikakek yang tertotok telah dibebaskan semua.

Mungkin karena jalan darahnya sudah lama tertotok maka walaupun sudah dibebaskan kakek itu masih berbaring diatas tanah dengan napas tersengal-sengal.

Kejadian ini menumbuhkan perasaan iba dalam hati kecil Kho Beng, tanpa sadar ia berjongkok disisinya dan menempelkan telapak tangan kanannya diatas jalan darah Ki hay hiat, segulung hawa murni pun dengan cepat menyusup kedalam tubuh kakek itu.

dengan bantuan tenaga dalam Kho Beng, lambat laun kakek itu dapat mengatur pernapasan sendiri, air mukanya pun lambat laun berubah menjadi merah segar, akhirnya dia melompat bangun dan duduk bersila.

dengan perasaan kasihan, Kho Beng bertanya .

"Mengapa jalan darah lotiang ditotok orang sehingga tersekap disini?"

Kakek itu menghela napas panjang .

"Aaaai ..... panjang sekali untuk diceritakan, sejak dibokong orang sampai kalian temukan kembali, paling tidak aku sudah lima jam lamanya tersekap dalam kuil ini, andai kata sauhiap tiak menolong, sudah dapat dipastikan aku bakal mampus disini."

Kemudian setelah berhenti sejenak. tanyanya lagi .

"Boleh aku tahu siapa nama sauhiap?"

"Aku Kho Beng"

"Kho Beng .....

"berubah hebat paras muka kakek itu, agak tertegun ia menegaskan.

"Apakah Kho Beng .... Kho sauhiap keturunan dari perkampungan Hul im ceng?"

"Yaa benar"

Kho Beng mengangguk.

"dari mana lotiang tahu tentang diriku?"

Sambil memaksakan diri untuk tertawa, kakek itu berkata .

"Haaahh .....haaahh .....haaaahh ..... dewasa ini Kho sauhiap sudah menjadi manusia yang paling termashur dalam dunia persilatan, sebagai anggota persilatan mana mungkin aku tidak mengenali nama Kho sauhiap?"

"Kakek terlalu memuji ...... tapi siapakah namamu dan mengapa dicelakai orang ditempat ini?"

"Aku .....aku dari marga Go bernama Pou han ..."

Sahut kakek itu agak tergagap.

"Aaaai, sewaktu lewat disini pagi tadi, aku telah bertemu dengan seorang sobat lama yang mengajakku datang kekuil ini, siapa sangka disaat aku tidak terlalu memperhatikan, ia telah menotok jalan darahku"

"Kalau memang orang itu dikenal, mengapa dia membokong dirimu?"

Tanya sang pemuda tak habis mengerti. Kembali kakek itu menghela napas.

"Aaaai ..... inilah yang disebut hati orang susah diduga."

Setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan .

"Ketika aku masih sering berkelana diwilayah barat laut dulu, aku pernah dibegal oleh seorang perampok ulung, namun orang itu bukan tandinganku sehingga dalam pertarungan yang kemudian terjadi lengan kirinya berhasil kukuntungi."

"Kalau begitu dia seharusnya musuh besarmu, bukan teman lamamu?"

Sela Kho Beng. dengan cepat kakek itu menggeleng.

"setelah lengan kirinya berhasi kukutungi, ternyata dia merasa amat menyesali perbuatannya, dikatakan keluarganya sangat miskin sehingga tak punya uang untuk memelihara ibunya yang tua, karena keadaan yang mendesaklah maka dia menjadi begal. Waktu itu aku merasa terharu mengingat dia berani mengakui kesalahannya serta bersedia untuk bertobat, lagipula mengingat rasa baktinya untuk membiayai hidup ibunya yang tua, maka bukan saja memberi nasihat agar dia mau bertobat, malah kuberi juga bekal hidup, Waktu itu dia berlalu dengan rasa terima kasih yang amat sangat. Itulah sebabnya ketika bersua kembali hari ini, aku sama sekali tidak menaruh curiga kepadanya, siapa tahu dia justru mempunyai niat jahat."

Dengan rasa penasaran, Kho Beng segera berseru .

"orang ini benar-benar bedebah, siapa sih namanya?"

"Ia bernama .....bernama .....

"kembali kakek itu gelagapan. Berapa saat kemudian, buru-buru dia berkata lebih jauh.

"Waktu itu dia memang sudah menyebutkan namanya, namun aku tidak terlalu mengingatnya dihati sehingga namanya kulupakan."

"Aaah, itu bukan masalah penting, toh lengan kirinya jelas terpapas kutung, ciri ini tak susah diketahui, bila kau bersua dengannya dikemudian hari pasti akan kutuntut keadilan bagi totiang."

Kakek itu memutar biji matanya beberapa kali, mendadak katanya lagi sambil menghela napas .

"Budi kebaikan Kho sauhiap tak akan kulupakan untuk selamanya, tentang soal balas dendam .... aku rasa tak perlu dirisaukan."

"Kenapa?"

"Aku selalu berprinsip bahwa kita hidup sebagai manusia, tak ada salahnya untuk mengalah pada orang lain, begaimanapun juga toh nyawaku tak sampai terenggut, kenapa pula aku mengingat-ingat masalah tersebut didalam hati?"

Dengan rasa kagum Kho Beng sebera berseru .

"Tak nyana kau berjiwa besar dan berhati mulia, aku benar-benar amat kagum ....."

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya .

"Apakah lotiang kenal dengan jalanan disekitar tempat ini?"

"Kho sauhiap hendak kemana?"

Tanya kakek itu cepat.

"Bukit Cian san"

Kakek itu berpikir sebentar, lalu sahutnya .

"Pergilah kearah utara, setelah menempuh perjalanan sejauh sepuluh li, maka bukit Ciansan akan sebera kelihatan ..... cuma aku ...... aaaaai ...."

Tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang dan membungkam. dengan perasaan keheranan Kho Beng segera bertanya .

"Lotiang apa yang ingin kau sampaikan?"

"Walaupun aku sudah berterima kasih sekali atas pertolongan dari Kho sauhiap. namun berhubung jalan darahku sudah tertotok beberapa jam lamanya hingga kondisi badanku lemah sekali, maka sebelum ajalku mungkin tiba, ingin sekali kutitip pesan akan satu hal."

"Ooooh, rupanya lotiang ingin meminta bantuan ku untuk mengerjakan sesuatu? Kalau begitu katakan saja terus terang, asal Kho Beng mampu melakukannya, tentu akan kukerjakan bagimu."

Dengan rasa gembira, kakek itu sebera "Terima kasih banyak Kho sauhiap. tapi ....."

Ia melirik sekejap kearah Beng Gi ciu serta siau wan yang berdiri disamping, kemudian tutup mulut dan tidak berbicara lagi Kho Beng segera memahami maksudnya, kepada Beng Gi ciu serunya cepat .

"Adikku, tolong menyingkirlah dulu, mungkin kakek ini ....."

Beng Gi ciu tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah katapun bersama siau wan mereka menyingkir dari sana Menanti kedua orang itu sudah mengundurkan diri dari ruangan, sikakek buru-buru berbisik .

"Harap Kho sauhiap tempelkan telingamu kemari ..."

Kho Beng tidak berprasangka jelek.

la benar-benar membungkukkan badan dan menempelkan telinganya didepan mulut kakek itu.

Tapi disaat Kho Beng sedang menempelkan telinganya itulah, tiba-tiba kakek itu menghimpun segenap tenaga dalamnya dan mencengkeram lambung pemuda tersebut dengan lima jari yang terpentang lebar.

Tenaga dalam yang dimiliki kakek itu benar-benar sangat tangguh, jangan lagi kelima jari tangan digunakan bersama, satu jaripun sudah cukup untuk mencabik-cabik perut Kho Beng.

Dalam keadaan seperti ini, biarpun ilmu silat yang dimiliki Kho Beng sangat hebat, namun oleh karena serangan yang dilancarkan kakek itu amat mendadak lagipula dari jarak yang begitu dekat, ditambah pula Kho Beng berada dalam keadaan tidak siap.

menanti ia sadar akan gelagat yang kurang menguntungkan, keadaan sudah terlambat.

Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati serta bergema memecahkan keheningan.

Namun yang terluka ternyata bukan Kho Beng, melainkan si kakek yang berniat jahat itu.

Diatas telapak tangan kanannya kini telah muncul sebuah lubang besar sementara disekelilingnya terlihat warna hitam pekat bagaikan hangus terbakar.

sambil tersenyum simpul Beng Gi ciu dan siau wan segera menyelinap masuk kedalam ruangan.

sementara itu Kho Beng masih berdiri tertegun saking kagetnya, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, sambil memandang kearah Beng Gi ciu, katanya .

"Adik Ciu, tak kusangka kau telah menyelamatkan jiwaku sekali lagi."

Beng Gi ciu tertawa.

"Sejak pertama kali tadi aku sudah menaruh curiga kepada tua bangka celaka ini, sebab kulihat biji matanya berkeliaran aneh, paras mukanya tak menentu, ditambah lagi pembicaraannya terbata-bata seprti orang gugup, sudah jelas manusia semacam ini bukan manusia baik hati, itulah sebabnya sedari tadi aku telah mengawasinya dengan khusus"

Ternyata walaupun Beng Gi ciu sudah mengundurkan diri dari kamar, namun secara diam-diam mereka bersembunyi dibalik jendela sambil mengawasi keadaan dalam ruangan.

Ketika secara tiba-tiba ia menyaksikan kakek itu melancarkan serangan yang mematikan, secepat kilat pula dia melepaskan sebuah serangan Tang kim ci yang segera menembusi telapak tangan lawan.

dengan berlubangnya telapak tangan kanannya, kakek itu meraung-raung kesakitan lalu roboh tak sadarkan diri dengan gemas Kho Beng menyepak tubuh kakek itu keras-keras, sehingga kakek itu sadar kembali dari pingsannya.

dengan suara dalam Kho Beng sebera menghentak .

"Antara aku she Kho dengan dirimu toh tak punya ikatan dendam sakit hati, mengapa setelah kutolong jiwamu, kau malah berniat menghabisi nyawaku?"

Kakek itu memejamkan matanya sambil menggertak gigi kencang-kencang, mulutnya membungkam diri dalam seribu bahasa. Beng Gi ciu berpikir sebentar, kemudian katanya .

"Mungkin saja orang ini adalah anak buah bajingan tua ui sik kong"

"Buat apa manusia tengik seperti dia dibiarkan hidup terus? Nona, lebih baik ditusuk saja sampai mampus"

Bentak siau wan pula dengan nada benci. dengan cepat Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya, ia berkata .

"seandainya dia benar-benar adalah anak buah bajingan tua ui sik kong, kita justru manfaatkan dirinya untuk mengorek keterangan sedikit darinya, kenapa kita mesti biarkan ia mampus secara mudah."

"Yaa betul, perkataan adik Ciu memang tepat"

Dukung Kho Beng.

"Kita harus dapat mengorek keterangan dari mulutnya."

Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki telah menerobos masuk kedalam kuil dengan melompati pagar pekarangan.

Kho Beng tertawa dingin ia segera menyambut datangnya orang tersebut.

Tapi dengan cepat ia dibikin tertegun sebaliknya lelaki itupun tertegun, kemudian teriaknya keras-keras .

"Majikan kecil, kau ....."

Namun setelah sorot matanya memandang sekejap kewajah Beng Gi ciu dan siau wan, cepat-cepat ia menutup mulut kembali. Ternyata orang itu adalah si saudagar racun berkaki sakti, Chee Tay hap.

"Chee toako mengapa kau datang kemari?"

Tegur Kho Beng cepat. Kemudian sambil menunding kearah Beng Gi ciu katanya lagi .

"Dia adalah keturunan dari Kim ka sian pemimpin tiga dewa, bila hendak menyampaikan esuatu, katakan saja berterus terang."

Dengan sikap amat menghormat chee Tay hap segera memberi hormat kepada Beng Gi ciu, katanya .

"Rupanya nona Beng. Maaf .....maaf ...."

"sejak kapan majikan sampai disini? Apakah kau telah melihat si pedang iblis penutup awan ciu Bu ki yang berhasil kutangkap?"

"Apa? orang ini hasil tawananmu, dia adalah Ciu Bu ki?"

Seru Kho Beng dengan perasaan terperanjat. Cepat-cepat chee Tay hap berkata .

"siunta sakti Thio locianpwee berada ditebing oh llong nia sepuluh li dari sini, tanpa disangka hamba telah bertemu dengan bajingan tua ini dan akupun berupaya membekuknya hidup, hidup, sebab dialah pembunuh yang telah menghabisi nyawa putra Kho Po koan yang telah menjadi pengganti majikan. oleh sebab itu aku tak berani bertindak sembarangan, barusan hamba pergi mencari Thio locianpwee dengan maksud minta petunjuk."

"oooh, dia berada sepuluh li dari sini? apa dia bilang?"

Tanya Kho Beng dengan wajah gembira. dengan kening berkerut chee Tay hap berkata .

"sayang sekali kedatangan hamba terlambat selangkah, ia telah berangkat ke siau lim si, itulah sebabnya buru-buru aku memburu kembali kesini."

Dengan nada amat emosi Kho Beng berkata .

"Ternyata bajingan tua ini adalah Ciu Bu ki, sudah sejak lama aku berniat akan membalaskan dendam bagi kematian tuan penolong yang telah menggantikan aku mati, apa lagi diapun sudah bermaksud mencelakai diriku secara keji. Hmmmm, hari ini dia tak bisa dilepaskan dengan begitu saja."

Selesai berkata dia segera menyelinap masuk kedalam kamar.

Chee Tay hap segera menyusul pula dari belakang, tapi apa yang kemudian terlihat segera membuat hatinya tertegun.

Kho Beng tak sempat memberi penjelasan lagi, dengan gemas ia menendang tubuh Ciu Bu ki keras-keras, lalu umpatnya .

"Binatang tua, sekarang apa lagi yang hendak kau katakan?"

Ketika Ciu Bu ki mendongakkan kepalanya dan melihat kehadiran chee Tay hap.

paras mukanya segera berubah hebat.

ia berusaha meronta lalu mengayunkan telapak tangannya keubun-ubun sendiri, rupanya dia berniat menghabisi nyawa sendiri.

Tapi sayangnya Kho Beng bertindak lebih cepat, segulugn desingan angin jari tangannya membuat jalan darah cian keng hiat dibahu kiri dan kananya tersumbat sama sekali.

Berada dalam keadaan seperti ini ciuBu ki segera memejamkan matanya rapat-rapat dan sambil menggigit bibir tidak berbicara lagi.

dengan penuh amarah Kho Beng membentak .

"Bajingan tua Ciu, pernahkah kau membayangkan bakal mendapat akhir seperti ini?"

Akhirnya Ciu Bu ki membuka kembali sepasang matanya, dengan nada setengah merengek pintanya .

"Kumohon ..... Kho sauhiap ..... berilah kematian yang lebih enak kepadaku?"

Kho Beng sebera mendengus dingin.

"Hmmm, apabila kau tidak membohongi diriku habis-habisan serta berniat mencelakai jiwaku tadi, mungkin saja aku akan mengabulkan permintaanmu ini, tapi sekarang ...."

Dengan suara yang berat dan dalam, sepatah demi sepatah kata dia berkata .

"Aku hendak mempergunakan cara yang paling kejam dan buas untuk menyiksamu sebelum mencabut nyawa anjingmu"

Chee Tay hap memandang sekejap kearah lubang yang menembusi telapak tangan kanan ciu Bu ki itu dengan pandangan tertegun, dia lebih tak mengerti lagi setelah menyaksikan amarah Kho Beng yang berkobar-kobar, sekalipun dalam hati dia ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya, namun rasanya rikuh untuk menanyakan maka niat tersebut akhirnya diurungkan.

Agaknya Kho Beng dapat memahami perasaan chee Tay hap ketika itu, secara ringkas dia menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi.

Chee Tay hap ikut merasa mendongkol, katanya kemudian dengan penuh amarah .

"Manusia bedebah yang lebih rendah dari binatang ini memang tak boleh dibiarkan hidup, aku rasa biarpun disiksa dengan cara apapun masih terlalu keenakan baginya."

"Menurut chee toako, cara siksaan apakah yang terhitung paling keji?"

Chee Tay hap memperhatikan sekejap keadaan kakek itu, lalu katanya .

"Bila berbicara menurut keadaan yang berada didepan mata, aku rasa disiksa secara pelan-pelan boleh dianggap sebagai cara siksaan yang cukup keji"

"Baik"

Kata Kho Beng sambil mengangguk.

"Mari kita siksa bajingan ini secara pelan-pelan ..... bersediakah Chee toako membantu aku untuk melaksanakan siksaan ini?"

"Hamba siap melaksanakan perintah"

Buru-buru Chee Tay hap menyahut. dengan cepat ia mencengkeram tubuh Ciu Bu ki dan diseretnya menuju kehalaman luar. ciu Bu ki segera menjerit-jerit seperti babi yang mau disembelih, jeritnya .

"Kho sauhiap .....kumohon kepadamu sudilah memandang diatas usiaku yang sudah tua .....berilah ....... berilah kematian yang secepatnya untukku?"

Kho Beng tertawa dingin .

"Heee ....heeee ....heeehh ....sebetulnya aku orang she Kho enggan membunuh orang secara sembarangan, lebih-lebih tak berharap menyiksa orang dengan cara yang demikian keji, tapi terhadap bajingan tengik seperti kau, terpaksa aku mesti melanggar kebiasaanku itu"

Dengan cara yang kasar chee Tay hap telah menyeret Ciu Bu ki keluar ruangan lalu mengikatnya diatas sebuah tiang besar, kemudian dari pinggangnya ia mencabut keluar sebuah pisau belati dan langsung ditusukkan keatas kakinya.

setelah itu bentaknya keras-keras .

"Tua bangka Ciu, dalam seratus tusukan berikut, bila aku telah mencabut nyawa anjingmu, kumohon arwahmu dialam baka nanti tak usah marah kepadaku."

Jeritan ngeri yang memilukan hati pun segera bergema susul menyusul, suara nyaring keras tapi cukup mendirikan bulu roma orang ....Kepada Beng Gi ciu, Kho Beng segera berbisik .

"Mari kita menunggu diluar saja"

Beng Gi ciu manggut-manggut, dengan membawa siau wan bersama-sama keluar dari kuil.

sementara itu jeritan ngeri yang memilukan hati masih bergema susul menyusul.

sAmbil menghembuskan napas panjang Kho Beng segera berkata .

"Adik Ciu, apakah kau menganggap perbuatanku ini kelewat kejam dan tidak berperikemanusiaan? "

Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali .

"Tidak Aku cukup memahami perasaanmu sekarang sebab seandainya aku yang menghadapi masalah seperti dirimu kini mungkin cara yang kupergUnakan akan jauh lebih kejam lagi."

Paling tidak sudah setengah jam lebih suara jeritan itupun dapat didengar bahwa Chee Tay hap telah menusuk badannya paling tidak seratus tusukan keatas, suara jeritan ngeri pun makin lama semakin melemah dan bertambah lirih.

Akhirnya jerit kesakitan tersebut tak terdengar lagi, tampak chee Tay hap dengan badan berlepotan darah berjalan keluar dari halaman kuil dengan langkah lebar.

sesudah memberi hormat kepada Kho Beng katanya .

"Hamba telah menyiksanya secara pelan-pelan hingga akhirnya mampus."

"aku telah merepotkan chee toako saja,"

Ujar Kho Beng sambil manggut.

"Tahukah chee toako bahwa ciciku telah disekap pihak partai kupu-kupu diatas bukit Cian san?"

Sambil menggigit bibir chee Tay hap mengangguk, katanya cepat .

"Hamba telah mendengarnya, hanya sayang kemampuan yang hamba miliki terbatas sekali sehingga tak mungkin bisa menolong nona untuk lolos dari bahaya, pagi tadi ketika hamba bertemu dengan unta sakti Thio locianpwee, kami pun sempat membahas persoalan ini, namun Thio locianpwee merasa dalam persoalan ini tak boleh mengambil tindakan gegabah karena belum mengetahui dimanakah majikan muda berada, itulah sebabnya Thio locianpwee merasa lebih baik kekuil siau lim si serta menghadiri pertemuan puncak para jago"

"Lantas kemanakah chee toako hendak pergi sekarang?"

Tanya Kho Beng kemudian.

"Kemana majikan muda hendak pergi, sudah sepantasnya bila hamba mengikutimu"

Sahut chee Tay hap segera. Tapi dengan cepat Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .

"Tidak usah, lebih baik kau pun berangkat pergi ke siau lim si"

"Apakah majikan muda tak akan pergi kesana?"

"Terus terang saja kukatakan kepada Chee toako, saat ini aku justru hendak berangkat kebukit Cian san"

Chee Tay hap menjadi amat terperanjat, serunya gelisah .

"Bukankah bukit Cian san merupakan markas besar partai kupukupu saat ini? Bila majikan muda berangkat kesana dengan kekuatan yang begitu minim, bukankah keselamatan jiwamu jadi terancam?"

"Aku sudah beberapa kali mendapat penemuan aneh, ilmu silatku telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, berbicara menurut kemampuanku sekarang, rasanya ketua partaikupu-kupu Ui Sik kong pun sudah bukan tandinganku lagi, apalagi keberangkatanku kesana kali ini bukan cuma seorang diri ...."

Kejut dan girang chee Tay hap segera berseru .

"Ooooh .... Thian benar-benar maha pengasih, tentunya ..... tentunya majikan muda hendak pergi kesana bersama-sama nona Beng, bukan?"

"Tapi ..... tapi bolehkah hamba turut serta?"

Buru-buru Kho Beng menjelaskan .

"Selain .... nona Beng, keturunan dari Bu khek sian dan Thian lui sian yakni Thian serta oh locianpwee pun akan bergabung dengan diriku disitu, oleh sebab itulah kuanjurkan kepada Chee Tay hap agar bergabung saja dengan orang-orang Siau lim si"

Hampir menjerit tertahan, Chee Tay hap saking kagetnya, ia berseru kemudian .

"Ooooh ....jadi ahli waris dari tiga dewa pun telah turun kembali kedalam dunia persilatan? Waaah ..... ini kan berarti saat tertumpasnya partai kupu-kupu sudah hampir tiba."

Sesudah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali tanyanya .

"Lantas mana Thian dan oh locianpwee?"

Kho Beng tertawa .

"Kedua orang tua tersebut tidak berada disini, tapi dia berjanji akan bertemu dengan kami dibelakang bukit Cian san pada kentongan kedua malam nanti, karenanya aku harus buru-buru menyusulnya."

Tampaknya Chee Tay hap pun sudah menyadari bahwa tak mungkin bagi dirinya untuk turut hadir dalam suasana seperti ini, maka diapun tidak mendesak agar dirinya diikutsertakan.

setelah memperhatikan sekejap keadaan disana, diapun berkata .

"sekarang sudah hampir mendekati kentonganpertama, padahal jarak dari sini sampai dibukit Cian san masih lima puluhan li, majikan muda harus segera berangkat"

Setelah menanyakan arah bukit Cian san yang benar, Kho Beng berkata lagi sambil menghela napas .

"chee toako, kita sampai berjumpa lagi dilain waktu"

"Tunggu sebentar majikan muda"

Seru Chee Tay hap tiba-tiba dengan suara cemas.

"chee toako masih ada urusan apa lagi?"

"Hamba akan menuruti perintah majikan muda untuk berangkat ke siau lim si, tapi apa yang mesti kuucapkan kepada mereka setelah bertemu dengan Thio locianpwee sekalian"

Tanpa ragu-ragu Kho Beng berkata .

"Katakan saja aku bersama Thian dan oh Cianpwee serta ..... nona Beng sekalian telah berangkat kebukit Cian san, mungkin dalam waktu dekat kami pun akan menyusul ke siau lim si"

"Hamba akan mengingat baik-baik pesan ini"

Kata Chee Tay hap kemudian dengan sikap menghormat. Kho Beng segera menjura .

"Chee toako, baik-baiklah menjaga diri"

Tanpa banyak berbicara lagi, bersama Beng Gi ciu serta siau wan berangkatlah mereka meninggalkan tempat tersebut.

Memandang bayangan punggung Kho Beng sekalian hingga pergijauh, Chee Tay hap baru bergumam dengan wajah agak emosi .

"Thian benar-benar maha adil ...... akhirnya ....."

Baru saja dia hendak meningalkan tempat tersebut, mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang kakek berbaju hijau telah muncul dihadapannya tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

dengan perasaan terkejut, Chee Tay hap segera membentak .

"Siapa kau ?"

Kakek berbaju hijau itu tersenyum, jawabnya .

"Aku Liong hoa sinkun"

Baru sekarang chee Tay hap dapat melihat raut wajah kakek berbaju hijau itu dengan jelas.

Tampak mukanya penuh keriput, seharusnya dia berusia paling tidak tujuh puluh tahunan keatas, namun rambutnya yang panjang dan terurai sebahu justru berwarna hitam pekat, bagian bahunya licin dan bersih, tanpa selembar jenggotpun, ditambah lagi perawakan tubuhnya pendek lagi ceking sehingga membuat orang susah untuk menebak laki-laki atau perempuankah orang ini.

Tapi yang paling menonjol adalah sebilah kipas baja yang terselip diatas bahunya, jelas benda itu merupakan senjata andalannya.

Ketika Chee Tay hap sudah melihat dengan jelas raut wajah otang itu, diam-diam ia berpikir .

"orang ini bermata tikus, berhidung elang sudah pasti bukan tampang seorang manusia baik, lebih baik aku jangan mengusiknya."

Berpikir demikian, ia segera berkata sambil tertawa paksa.

"sayang sekali pengetahuanku amat picik sehingga belum pernah mendengar nama besar anda ..... maaf, aku tak dapat menemanimu terlalu lama."

Liong hoa sinkun tersenyum, selanya .

"Harap cuangcu tunggu sebentar"

"Anda masih ada petunjuk apa lagi?"

Tanya Chee Tay hap dengan perasaan bergetar keras. Liong hoa sinkun tertawa misterius.

"Bukankah kau yang bernama saudagar racun berkaki sakti Chee Tay hap?"

Chee Tay hap tertegun sebentar, kemudian jawabnya cepat .

"Yaa betul, aku memang chee Tay hap tapi, dari mana anda bisa mengetahui namaku?"

Mendadak Liong hoa sinkun melepaskan senjata kipasnya, lalu sambil digoyangkan pelan-pelan ia berkata lagi sambil tertawa .

"Walaupun aku adalah orang gunung namun hatiku merisaukan keselamatan umat persilatan, karena itu tak sedikit persoalan dunia persilatan yang kuketahui"

Biarpun chee Tay hap merasa tak habis mengerti namun diapun enggan banyak berbicara, dengan cepat-cepat dia menyela .

"Anda betul-betul dewa dari bumi."

Sesudah berhenti sejenak. sengaja dia memperhatikan sejenak keadaan cuaca lalu berkata lagi .

"Waktu sudah siang, aku benar-benar tak dapat banyak berbicara lagi denganmu"

"Kalau memang saudara Chee benar-benar begitu repot, tentu saja aku hanya bisa mengatakan selamat tingal"

Kata Liong hoa sinkun sambil tertawa hambar.

chee Tay hap segera menjura kemudian beranjak pergi dari sana.

Namun belum jauh dia melangkah, tiba-tiba saja kepalanya terasa amat pusing, pandangan matanya berkunang-kunang dan kakinya terasa lemas, belum sampai lima langkah tubuhnya sudah roboh terjungkal keatas tanah.

Liong hoa sinkun tertawa terbahak-bahak dengan cepat dia menghampiri Chee Tay hap sambil tegurnya dengan suara dalam .

"SAudara Chee, kenapa kau? Bukankan kau nampak segar bugar, kenapa dalam waktu singkat telah roboh terjungkal?"

Chee Tay hap menggigit bibir kencang-kencang sepasang matanya melotot penuh amarah, sudah jelas dia telah mengerti bahwa semuanya ini merupakan hasil permainan busuk dari Liong hoa sinkun.

Namun berada dalam keadaan seperti ini ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, akhirnya matanya terpejam rapat dan ia jatuh tak sadarkan diri Liong hoa sinkun segera menyimpan kembali kipasnya dan diselipkan kebelakang bahu, sementara itu terdengar suara desingan angin tajam berkelebat lewat, tahu-tahu sesosok bayangan manusia telah muncul kembali ditempat tersebut, orang itu tak lain adalah ketua partai kupu-kupu, Ui sik kong.

Kepada Liong hoa sinkun segera serunya sambil tertawa gembira .

"Kepandaian sinkun betul-betul luar biasa."

"Ciangbunjin terlalu memuji"

Sahut Liong hoa sinkun sambil tertawa bangga. setelah memutar biji mata tikusnya, dia berkata lagi .

"Hamba dan ciangbunjin harus secepatnya kembali kebukit Cian san, dalam persoalan ini kita mempersiapkan diri dengan sebaikbaiknya."

"Terserah kepada sinkun bagaimana akan mengatasi persoalan selanjutnya "

Kata Ui sik kong.

"Dalam soal kemampuan terus terang saja aku mempunyai keyakinan yang besar, persoalannya apakah Chee Tay hap bisa memberikan manfaat bagi kita."

Ui sik kong sebera tertawa.

"Biarpun chee Tay hap adalah orang yang kurang suka berbicara, namun menurut apa yang kuketahui, ia masih dapat merebut kepercayaan si Unta sakti Thio Ciong lan, sedangkan si bungkun Thio itu dapat pula merebut kepercayaan si Phu sian sikeledai gundul itu."

Liong hoa sinkun sebera tertawa tergelak.

"Haaaahh ..... haaahhh .... haahhh .... , asal dapat meraih kepercayaan dari Phu sian si gundul itu sama artinya menguasai seluruh umat persilatan didunia ini, nampaknya kawanan jago silat dari pelbagai partai lain akan segera tertumpas ditangan ciangbunjin."

Mendadak Ui sik kong menukas .

"Tapi aku rasa tindakan kita ini bagaikan melukis harimau tidak berhasil, andaikata kita bisa memperoleh sebuah benda kepercayaannya, sudah pasti Thio bungkuk serta Phu Sian si kledai gundul sekalian akan mempercayainya seratus persen."

Liong hoa sinkun tertawa misterius, mendadak ia mengeluarkan sebuah benda dari sakunya dan diangsurkan kedepan sambil berkata .

"Benda ini berhasil kuambil dari leher Kho Beng si bajingan cilik itu, coba kau periksa apakah bisa kita pakai?"

Ui Sik kong menerimanya serta diperiksa sejenak. kemudian serunya dengan girang .

"Tampaknya benda ini adalah lencana naga kemala hijau miliknya, bila kita pergunakan benda ini sebagai tanda pengenal aku pikir usaha kita pasti akan sukses."

Sambil mengembalikan benda itu, ia bertanya lagi dengan nada tak habis mengerti .

"Kapankah sinkun bisa mendapatkan benda itu?"

"Kecuali sewaktu mereka beristirahat di dusun pit keh ceng, mana aku punya kesempatan?"

Sahut Liong hoa sinkun sambil tertawa. Ui Sik kong semakin terkejut bercampur gembira, ujarnya lagi cepat .

"Waaah kepandaianmu benar-benar amat hebat, padahal menurut pengamatanku sendiri, sinkun toh tak pernah mendekatinya, dengan cara apa kau mencurinya?"

Liong hoa sinkun semakin bangga lagi, dengan cepat dia berkata .

"Terus terang saja ciangbunjin bila hamba berniat mendapatkan sesuatu dari sakunya, maka asal aku dapat mendekati sampai jarak satu depa, betapapun rapatnya dia menyembunyikan benda tersebut, hamba masih tetap dapat memperolehnya bahkan perbuatanku ini tak pernah meleset. Ui sik kong menjadi gembira setengah mati, katanya kemudian.

"Bila mempunyai seorang pembantu seperti kau rasanya aku lebih gembira daripada mempunyai ratusan jago lihai, kemampuanmu benar-benar luar biasa"

Kemudian setelah berhenti sejenak kembali serunya.

"Cepat kau tunjukkan kebolehanmu"

"Hamba turut perintah."

Dengan cepat dia mencengkeram tubuh Chee Tay hap kemudian menampar mukanya sampai belasan kali, tamparan yang begitu keras itu seketika membuat Chee Tay hap tersadar kembali dari pingsannya.

Tampak dia menggerakkan matanya dan berseru tertahan Namun dari balik mata tikus Liong hoa sinkun tahu-tahu telah memancar keluar dua gulungan cahaya hijau yang mengawasi wajah Chee Tay hap lekat-lekat, bersamaan waktunya sepasang tangan dengan kesepuluh jarinya bergerak tiada hentinya dimuka Chee Tay hap.

Suatu kejadian yang amat aneh segera berlangsung.

Chee Tay hap yang semula tersadar kembali dari pingsannya mendadak jatuh tertegun dan duduk melongo setelah bertemu dengan sorot mata serta gerakan sepuluh jari tangannya itu, seakanakan terdapat segulung kekuatan iblis yang tak berujud membuatnya tak bergerak sama sekali, sorot matanya pun seperti terhisap oleh cahaya hijau dari balik mata lawan.

sebaliknya Liong hoa sinkun pun sama sekali tidak berkedip.

dia mengawasi terus wajah lawannya lekat-lekat.

Kurang lebih setengah peminuman teh kemudian, dari sakunya dia baru mengambil keluar sebutir pil berwarna merah dan diamdiam dijejalkan kemulut Chee Tay hap.

Bagaikan orang terkena hipnotis saja, tanpa sadar dan tanpa disuruh chee Tay hap membuka mulutnya menelan pil tersebut.

"Chee Tay hap. aku adalah Kho Beng, tahukah kau?"

Kata Liong hoa sinkun kemudian dengan nada girang. Buru-buru Chee Tay hap menjawab .

"Majikan muda, apa yang hendak kauperintahkan?"

"Ingat baik-baik, berita ini sangat penting, kau harus segera menyampaikan ke siau lim si."

"Baik majikan muda"

"Bila bertemu dengan Phu sian sangjin serta Thio bungkuk sekalian, sampaikan pesan pentingku ini , katakan aku telah berhasil mendapat tahu sebuah rencana keji dari Ui sik kong, suruh Phu sian sangjin dengan membawa segenap jago dari pelbagai partai agar datang berkumpul diselat Pek hong sia dibukit Hu goa san pada tanggal tujuh belas bulan ini, aku dan keturunan tiga dewa akan menyusul disitu menjelang malam tanggal tujuh belas, akan kuajak mereka untuk berunding suatu masalah besar. Nah, kau masih ingat?"

"Hamba mengingatnya"

Sahut Chee Tay hap kaku."

Entah peristiwa apapun yang kau alami ditengah jalan, jangan sekalipun kau tunda perjalanan mu, mengerti?"

Bersambung ke

Jilid 41

Jilid 41

"Hamba mengerti"

Liong hoa sinkun segera menyodorkan lencana naga kemala hijau itu ketangannya sambil menambahkan .

"Bawalah serta tanda pengenalku ini, bilamana perlu tunjukkan kepada mereka agar percaya dengan perkataanmu ini."

Chee Tay hap menerimanya dan segera disimpan kedalam sakunya dengan hati-hati sekali, katanya kemudian .

"Apakah hamba boleh pergi?"

"Boleh, kau boleh pergi sekarang"

Kata Liong hoa sinkun sambil tertawa. chee Tay hap segera bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam, katanya .

"Semoga majikan muda menjaga diri baik-baik, hamba hendak mohon diri lebih dulu"

Dengan langkah lebar dia segera beranjak meninggaikan tempat tersebut, tak lama kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Mengawasi bayangan punggung chee Tay hap yang menjauh, Ui Sik kong tak dapat menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahakbahak .

"IHaaahh .... haaahh .... haahhh bagus, bagus sekali"

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi .

"Mengapa chee Tay hap bisa menganggap diri sinkun sebagai Kho Beng?"

"Disinilah letak keampuhan ilmu -menguasai sukma menggeser pikiran-yang kumiliki, walaupun aku yang berada dihadapannya, namun apa yang terlihat dan apa yang terdengar olehnya justru wajah serta suara Kho Beng. otomatis dia akan menyebutku sebagai majikan mudanya."

"Tapi orang yang terkena pengaruh ilmumu itu apakah mempunyai sikap serta keadaan yang berbeda dengan orang lain? Atau mungkin lambat laun pikiran serta kesadarannya akan pulih kembali?"

Liong hoa sinkun tertawa .

"seandainya orang yang terkena pengaruh ilmuku adalah Kho Beng dan bukan chee Tay hap. maka kemungkinan besar ilmu ku tak akan mendapatkan hasil yang memuaskan, sebab bagi seorang yang memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan keatas, dia memiliki mental yang sangat tangguh serta susah dipengaruhi, berbeda sekali dengan chee Tay hap. justru manusia sebangsa dialah merupakan sasaran yang paling ideal, mungkin sampai matipun dia tak akan mengetahui secara pasti akan duduk persoalan yang sebenarnya pada malam ini."

Ui sik kong kembali bersorak gembira .

"Inilah berkah nasibku yang baik, asal rencana kita berhasil, maka jago-jago lihai dunia persilatan paling tidak akan menderita kehancuran sebesar tujuh puluh persen."

"Tapi Ciangbunjin jangan lupa kita masih mempunyai sebuah rencana yang lain,"

Kata Liong hoa sinkun sambil tertawa.

"Bahwa rencana itu kurasa jauh lebih penting lagi, sebab yang menjadi sasaran pembantaian kita adalah keturunan dari tiga dewa serta Kho Beng kakak beradik"

Paras muka ui Sik kong segera berubah menjadi amat serius, tampak dia menggertak gigi kencang-kencang seraya berseru .

"Rencana kita itu hanya boleh berhasil, tak boleh gagal....., hayo berangkat"

Tampak dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dan tak lama kemudian lenyap dibalik kegelapan sana.

ooooooo Awan gelap menyelimuti bukit Cian san, angin barat yang kencang membawa air hujan membuat pemandangan indah disekitar tempat itu tertutup oleh suasana redup, Malam amat pekat, waktu sudah menunjukkan kentongan kedua.

Mendadak muncul tiga sosok bayangan manusia dibela kang lembah puncak bukit Cian san.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu amat sempurna, gerak-gerik mereka enteng dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Begitu memasuki lembah bukit, dengan cepat mereka menyelinap kebalik batuan-batuan besar.

Ketiga orang tersebut memang tak lain adalah Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan.

saat itu mereka bertiga sama-sama mengenakan jas hujan, namun di bawah rintikan air hujan keadaan mereka nampak agak mengenaskan.

Kho Beng nampak mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, meski tidak kelihatan rembulan dan bintang, namun ia dapat menduga kalau kentongan kedua telah lewat.

Maka dengan kening berkerut, segera katanya kepada Beng Gi ciu .

"sayang waktu itu kita tak sempat berjanji dengan Thian dan oh locianpwee akan bertemu dibagian yang mana dari lembah ini, padahal coba kau lihat, lembah ini sangat luas, apalagi ditengah malam yang hujan, bagaimana mungkin kita dapat saling berhubungan?"

"Kau tak perlu risau."

Hibur Beng Gi ciu sambil tertawa.

"sekalipun tempat ini sangat luas, mereka pasti mempunyai cara untuk menemukan jejak kita, kau tahu kepandaian yang dimiliki kedua orang tua tersebut sangat luar biasa sekali"

Kho Beng tertawa getir.

"sekarang kentongan kedua sudah lewat, padahal janji mereka adalah sebelum kentongan kedua, bukankah ...... ..,"

"Dalam hal ini tak dapat salahkan mereka,"

Sela Beng Gi ciu cepat.

"Tapi kitapun tak bisa disalahkan, mereka tak mengira kalau kita akan meninggaikan mereka dengan begitu saja, sedang kita pun tak menyangka kalau gara-gara tersesat dijalan akhirnya bertemu dengan chee Tay hap"

"Maksud adik Ciu, mungkinkah kedatangan mereka berdua pun agak terlambat?"

Tanya Kho Beng.

"Yaa, sudah pasti hal ini akan terjadi."

Sesudah tertawa cekikikan, kembali dia melanjutkan .

"Empek oh adalah seorang yang getol minum arak, meskipun empek Thian selalu bilang kalau minum tak boleh melewati takaran, namun ia tak pernah mau menuruti nasehat. Aku rasa mereka pasti tak akan menyangka kita bakal meloloskan diri dari pengamatannya, sedang mereka pun merasa yakin kita tak akan lolos dari pandangannya. Maka empek oh tentu akan membujuk empek Thian agar minum berapa cawan arak lebih banyak. atas kejadian ini maka paling tidak mereka akan minum selama dua jam lebih. Menanti mereka menyadari kalau keadaan tak beres, sudah pasti empek berdua akan mencari kita dimana-mana, akibatnya paling tidak mereka harus membuang waktu selama satu jam lagi. Nah, coba kau hitung sendiri, apakah mereka tak bakal datang terlambat?"

"Aku rasa perbuatan kita agak kelewat batas, paling tidak tentu akan dimarahi oleh mereka berdua."

Kata Kho Beng dengan kening berkerut kencang. Beng Gi ciu segera tertawa.

"siapa suruh mereka permainkan kita terlebih dahulu, kenapa harus takut?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak dari kejauhan situ nampak bayangan manusia berkelebat lewat. Buruburu Beng Gi ciu berbisik .

"Itu mereka sudah datang, mari kita mempermainkan mereka sekali lagi."

Tapi dengan cepat Kho Beng menarik tangan Beng Gi ciu sambil berbisik lirih.

"Jangan bertindak gegabah, aku lihat gelagat sedikit kurang beres."

Beng Gi ciu segera dibuat tertegun pula, ternyata yang datang hanya seorang, walaupun berada dalam hujan gerimis dan kabut yang tebal namun dapat terlihat bahwa orang tersebut bukan Thian Cun yang ataupun oh Kui sam.

Dengan suara lirih Kho Beng berbisik .

"orang itu bukan Thian atau oh locianpwee, biasanya hanya orang dari partai kupu-kupu yang akan berkeliaran dibelakang lembah bukit Cian san."

Beng Gi ciu mengangguk membenarkan.

"Yaa, hal ini tak mungkin diragukan lagi, perlukah kita bekuk dirinya?"

Kho Beng berpikir sebentar, lalu berkata .

"Lebih baik adik Ciu menunggu disini saja, biar aku yang pergi membekuknya."

Beng Gi ciu segera mengangguk.

Dengan cepat Kho Beng melompat keluar dari tempat persembunyiannya, bagaikan sukma gentayangan secara diam-diam dan tanpa menimbulkan sedikit suara pun dia mendekati orang tersebut.

selisih jarak kedua belah pihak cuma beberapa kaki, maka dalar^ sekali lompatan saja Kho Beng telah mencapai belakang tubuhnya, dengan cepat telapak tangan kanannya menyambar kedepan dan langsung mencengkeram bahunya.

Walaupun orang itu bersikap seakan-akan tidak menyadari akan kehadiran Kho Beng dibelakang tubuhnya, namun dikala kelima jari tangan Kho Beng hampir menyentuh bahunya tiba-tiba saja dia menjatuhkan diri berguling kesamping.

Tindakan lawan ini sama sekali diluar dugaan Kho Beng, sebab ketenangan orang tersebut dalam menghadapi ancaman betul-betul luar biasa.

sementara dia masih tertegun, orang itu sudah mengayunkan tangannya kedepan, dua genggam senjata rahasia dengan ilmu -Hujan bunga memenuhi langit-segera dilontarkan kearahnya.

Dua genggam senjata rahasia berarti jumlahnya mencapai lima, enam puluh batang, bukan saja bentuknya lembut seperti jarum bahkan kawasan yang berada dibawah lingkungan ancaman senjata rahasia pun mencapai dua kaki persegi.

Dalam jarak serangan sedemikian dekatnya, ini betul-betul merupakan suatu ancaman yang sukar dihindari.

Didalam terperanjatnya buru-buru Kho Beng mengerahkan hawa kh lekangnya untuk melindungi badan, bersamaan waktunya dia mendorong sepasang telapak tangannya kedepan.

"Triiiing ..... traaaanggg ..... triiingg ...... traaanggg"

Senjata rahasia tersebut jatuh berguguran keatas tanah dengan menimbulkan suara dentingan nyaring. Bersamaan itu pula .....

"Blaaaammm "

Orang itupun termakan oleh tenaga dorongan Kho Beng hingga roboh terjungkal keatas tanah.

Waktu itu Kho Beng sudah bermandi keringat dingin saking terkejutnya, untung sekali tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang amat sempurna, walaupun dia telah menghimpun hawa khiekangnya secara terburu-buru namun kekuatan yang terhimpun sudah cukup untuk membendung serangan dari luar.

Biarpun demikian tak urung ujung bajunya tertancap pula oleh dua batang senjata rahasia, sewaktu diambil dan dilihat ternyata bentuknya tak jauh berbeda sekali dengan jarum pohon siong, hanya saja ujungnya yang tajam berwarna biru, hal ini membuktikan bahwa senjata rahasia tersebut telah dipolesi dengan racun jahat.

Dengan gemas Kho Beng membanting senjata rahasia itu keatas tanah, kemudian serunya dengan penuh amarah .

"Benar-benar seorang bajingan tengik yang licik dan berhati amat keji"

Sementara itu Beng Gi ciu serta siau wan telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya, dengan penuh rasa cemas dan gelisah Beng Gi ciu berseru .

"Engkoh Beng, kau tidak apa-apa, bukan?"

"Hmmm, permainan busuk semacam ini belum akan bisa berbuat banyak terhadapku."

Jawab Kho Beng sambil tersenyum.

sementara itu orang tadi sudah terkapar diatas tanah dengan menderita luka dalam yang cukup parah, tenaga getaran yang terpancar dari balik tangan Kho Beng benar-benar amat tangguh.

Kini orang tersebut berbaring diatas tanah dan tak sanggup merangkak bangun kembali.

Kho Beng segera maju mendekatinya sambil menendang tubuhnya hingga terbalik, namun setelah mengamati wajahnya dengan seksama, seketika pemuda kita dibuat tertegun.

Rupanya orang itu tak lain adalah komandan sin, orang yang pernah mengawal Kho Beng dari kota Tong sin menuju kekebun Kiok wan.

sambil tertawa dingin, pemuda kita segera mengejek.

"oooh rupanya si pedang geledek sakti sin Cu beng yang termashur dalam dunia persilatan dan sekarang menjadi pelayan kaum iblis, kenapa dalam kenyataannya kemampuanmu tak mampu menahan sebuah gempuranpun?"

Sin cu beng memaksakan diri untuk menghembuskan napas panjang, lalu dengan sedikit terengah katanya .

"Benar-benar lain dulu lain sekarang, jangan kau anggap kepandaianku yang tak becus, melainkan ilmu silat andalah yang telah mengalami kemajuan yang sangat pesat."

Kho Beng mendengus dingin.

"Hmmm, persoalan ini lebih baik tak usah disinggung kembali, aku hanya pingin bertanya kepadamu kenapa kau berniat mencelakai jiwaku dengan cara yang begitu keji?"

Sin Cu beng berpikir sebentar, kemudian menjawab .

"Bila dua pasukan saling bertarung, masing-masing pihak berhak menggunakan cara apapun untuk mengalahkan musuhnya, bila menggempurmu tadi berhasil dengan sukses dan aku dapat membunuh kau, bukankah dihadapan siancu serta ciangbunjin aku bisa menunaikan sebuah pahala besar?"

"Tapi kau tentunya sudah membayangkan bukan, apa akibatnya bila gagal total?"

"Anggap saja memang nasibku yang jelek."

"Hmmm, bajingan tengik,"

Umpat Kho Beng dengan marah.

"Tampaknya kau tak akan sadar sampai mati, mengapa sih kau bersikeras menjadi pembantu kaum iblis dan enggan menyesal?"

Sin Cu beng menghela napas panjang.

"Aaaai, aku tak ingin memberi banyak penjelasan, bagaimanapun juga aku toh sudah kau tawan, berarti selembar nyawaku telah menjadi milikmu, biar mau dibunuh ataupun dicincang, aku sin Cu beng tak bakal berkerut kening."

"Ehmmm, kau memang tak malu menjadi seorang lelaki sejati, sayang kau telah salah memilih majikan"

Kemudian setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan .

"aku tidak berniat menghabisi nyawamu secara sungguhan, asal kau bersedia memberi keterangan tentang beberapa persoalan kepadaku, akan kubebaskan komandan sin untuk pergi sekehendak hatimu"

Sambil tertawa getir, sin Cu beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .

"Jangan lagi aku sin Cu beng telah menderita luka, sekalipun belum terluka pun aku orang she sin tak ada rencana untuk melarikan diri"

Berbicara sampai disitu, dia segera mengayunkan tangannya dan dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri Tapi Kho Beng bertindak lebih cepat, dua desingan angin tajam berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah ciang keng hiat dibahu kiri kanan sin cu beng telah tertotok secara telak.

akibatnya sepasang lengan itu menjadi lumpuh dan tak berguna lagi.

Mendadak Beng Gi ciu bertanya .

"Apakah aku mempunyai niat untuk mengorek keterangan dari mulutnya?"

Dengan suara dalam sahut Kho Beng .

"Biarpun kedudukan dia ini didalam partai kupu-kupu tidak terlalu tinggi, namun banyak masalah tak dapat mengelabui dirinya, padahal sebentar lagi kita akan memasuki daerah berbahaya, tentu saja paling baik kalau bisa mengorek keterangan dari mulutnya."

"Kalau memang begitu hanya ada satu cara, yaitu menyiksanya dengan kekerasan, aku percaya asal manusia masih terdiri dari darah dan daging tak nanti dia tak akan berbicara."

Baru saja Kho Beng hendak menjawab, mendadak terdengar lagi suara ujung baju yang terhembus angin berkumandang datang.

Beng Gi ciu pun mendengar juga suara desingan tersebut karena suara tadi berasal dari berapa kaki dibelakang mereka berdua, sekalipun berada ditengah hujan gerimis, namun suara tersebut masih tetap terdengar dengan jelas sekali.

Dengan suatu gerakan cepat Kho Beng menotok lima buah jalan darah penting ditubuh sin cu beng sehingga membuat lawannya tergeletak bagaikan sesosok mayat kaku, kemudian mereka berdua bersama siau wan menyembunyikan diri kebalik batu besar.

Tak lama kemudian Terdengar suara langkah yang amatpelan bergema datang, lalu terlihat ada dua sosok bayangan manusia melayang turun ditempat tersebut.

Ketika Kho Beng mencoba untuk mengintip dari balik kegelapan, tersiraplah darah panas dalam dadanya, hawa amarahnya segera berkobar-kobar dan serasa mau meledak.

Ternyata orang yang baru datang adalah Cun hong Lengcu Jin cun serta Hoa im Lengcu Li sian soat.

Mereka berdua tidak disertai dayang-dayangnya, gerak gerikpun amat lincah.

sementara itu terdengar Cun hong Lengcu berkata .

"Adikku, mungkin telingamu ada penyakit?"

"Toaci, apabila perhatianmu tidak terpencar sama sekali, sudah pasti akan kau dengar bahwa dari sini ada orang sedang bercakapcakap."

Sahut Li sian soat dengan suara dalam.

"Hmmm, siapa bilang pikiranku terpencar?"

Dengus Cun hong Lengcu Jin cun sambil mendengus.

"Kau anggap saat ini adalah saat apa? Mana mungkin aku masih berkesempatan untuk memikirkan persoalan yang lain."

"Tapi , barusan aku benar-benar tidak mendengar suara apa saja."

Biarpun berkata demikian, namun tangannya meraba gagang pedangnya serta mencabutnya keluar dari sarung. Li sian soat sebera tertawa dingin.

"Hmmmm, tapi jelas kudengar ada orang sedang berbincangbincang."

"Kalau begitu mati kita lakukan penggeledahan, bilamana perlu kita lepaskan tanda bahaya."

Mendadak Li sian soat berseru dengan suara dalam .

"Toaci, cepat lihat bukankah dia ...... dia adalah komandan sin?"

Ternyata telah menemukan tubuh sin cu beng yang tergeletak kaku diatas tanah.

"Waaah celaka dia sudah mati"

Jerit Cun hong Lengcu setengah kaget.

"Aku ......,"

"Cepat kita periksa"

Tukas Li sian soat.

"Siapa tahu .....,"

Sembari berbicara, mereka berdua segera meluruk kedepan dan mendekati sin cu beng. setelah diperiksa berapa saat, Li sian soat berseru .

"Dia belum mati, hanya menderita sedikit luka, agaknya sudah tertotok jalan darahnya oleh seseorang."

Cun hong Lengcu segera menghembuskan napas panjang, katanya kemudian .

"Terima kasih langit, terima kasih bumi, cepat diperiksa jalan darah apa saja yang tertotok. kemudian cepat bebaskan."

Namun sebelum perkataan itu selesai diutarakan, mendadak terdengar seseorang menyambung nada dingin .

"Lengcu berdua tak usah repot-repot, aku Kho Beng telah menjaga keselamatannya"

"Haaahh?"

Kedua orang Lengcu itu bersama-sama menjerit kaget lalu secepat kilat membalikkan badannya.

Tentu saja bayangan tubuh Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan segera muncul dihadapan mata kedua orang Lengcu tersebut, seketika itu juga paras muka kedua orang itu berubah hebat, tubunya ikut gemetar keras.

sambil tertawa dingin, Kho Beng berkata lebih jauh .

"Malam ini sungguh kebetulan sekali, tak disangka aku bakal bersua dengan Lengcu berdua."

Cun hong Lengcu mengedipkan matanya berulang kali, tiba-tiba katanya pula sambil tersenyum.

"Kho kongcu, kami sendiripun tak menyangka kalau malam ini begini kebetulan. Tempo hari aku Cun hong Lengcu toh cukup baik melayanimu, mengapa kau bersikeras hendak meninggalkan kami?"

Sebaliknya paras muka Li sian soat telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa. Kho Beng hanya tertawa dingin tanpa menjawab, pikirnya .

"Siluman perempuan ini benar-benar tak tahu malu, entah apa lagi yang hendak diucapkan olehnya?"

Tiba-tiba Cun hong Lengcu maju tiga langkah kedepan dengan langkah lemah gemulai, kembali katanya sambil tersenyum .

"Kho kongcu, aku harus menyampaikan selamat kepadamu, kudengar ilmu silatmu telah mencapai tingkatan yang sempurna hingga ciangbunjin sucouw kami pun hampir bukan tandinganmu lagi"

"Hmmm, tajam benar pendengaranmu"

Dengus Kho Beng sinis. Cun hong Lengcu segera mengalihkan sorot matanya kewajah Beng Gi ciu berdua, lalu tanyanya lagi.

"Siapa sih kedua orang nona ini?"

Beng Gi ciu mendengus dingin, cepat dia melengos kearah lain. Kho Beng segera berpikir sebentar, lalu katanya .

"Memberitahukan kepadamu juga tak ada salahnya, dia adalah keturunan keempat dari Kim ka sian, pemimpin tiga dewa, nona Beng beserta dayangnya siau wan."

Buru-buru Cun hong memberi hormat.

"ooooh, sudah lama kudengar akan nama besarmu, beruntung sekali kami kakak beradik dua orang dapat bersua dengan keturunan tokoh termashur pada malam ini, nona Beng ilmu silatmu tentu amat tangguh dan terhitung jagoan lihai dari dunia persilatan?"

Kho Beng tertawa dingin.

"Yang lain tak usah disinggung, cukup dengan mengandalkan ilmu jari Tong Kim cinya, biarpun kalian sudah kabur sejauh lima puluh kaki, ia masih mampu menciptakan berapa buah lubang luka ditubuh kalian."

Pucat pias paras muka Cun hong lengcu setelah mendengar perkataan itu, tapi kembali katanya sambil tertawa merdu.

"Padahal diantara kita tak pernah mempunyai ganjalan apapun, meski gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh kami pernah berurusa dengan mu, hal itupun hanya dikarenakan perintah dari suhu dan sucowku, jadi sesungguhnya diantara kita sendiri tak pernah ada dendam apapun."

Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata .

"Lagipula kitab pusaka Thian goan bu boh sudah terjatuh ketangan Kho kongcu dan suhu kami gagal untuk mendapatkannya kembali."

"Tak usah banyak bicara lagi, aku ingin menanyakan dua persoalan pokok kepada kalian berdua,"

Tukas Kho Beng dengan suara dalam.

"Aaaah mana, mana, silahkan Kho kongcu mengajukan pertanyaan, asal kami berdua mengetahuinya, tentu akan kami terangkan dengan sejelas-jelasnya."

"Asal kalian bersedia mengadakan kerja sama denganku, aku Kho Beng pun tak bakal mencabut nyawa kalian berdua."

"Bila aku benar-benar sampai berhianat pada perguruan sudah pasti aku akan berbakti kepada Kho kongcu,"

Kata Cun hong lengcu sambil tertawa genit.

"Hmmm, dimanakah ciciku sekarang?"

"Ia berada diruang siksa dalam gua pengikat cinta, bahkan kedua orang dayangnya Bwee hiang dan sin hong pun berada disana, Kho kongcu mengenai persoalan cicimu itu, kami merasa amat menyesal tapi sesungguhnya persoalan ini bukan ide kami sendiri tapi atas perintah dari guru kami, jadi kami cuma melaksanakan perintah, Kho kongcu kau tak boleh marah kepada kami."

Sambil menggigit bibir Kho Beng bertanya lagi .

"Siapa saja yang menjaga ruang siksa itu?"

"Tak ada yang khusus menjaga ruangan itu,"

Sahut Cun hong lengcu tertawa.

"Asal Kho kongcu dapat menerobos masuk kedalam gua pengikat cinta dan mengalahkan suhu serta sucouw, sudah pasti cicimu dapat ditolong keluar."

"Apa yang sedang dilakukan Ui sik kong sekarang?"

"sucouw masih merawat lukanya didalam gua, malah kudengar luka itu merupakan hasil karya Kho kongcu"

Dengan nada setengah percaya setengah tidak. Kho Beng bertanya lebih jauh .

"Lantas kalian hendak kemana sekarang?"

Cun hong lengcu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kami hanya mendapat perintah untuk melakukan perondaan, padahal tiada persoalan apapun, hanya saja kami tak mengira kalau Kho kongcu bakal muncul disini."

Tiba-tiba Beng Gi ciu menimbrung.

"Engkoh Beng, menurut pendapatku lebih baik tak usah ditanya lagi."

"Kenapa?"

"Masa kau percaya dengan perkataannya?"

Tanya si nona sambil tertawa.

"Aku memang rada curiga"

"Sewaktu berbicara biji mata mereka berkeliaran liar, katakatanya semau hati sendiri, aku lihat ia sama sekali tak berbicara secara jujur."

Buru-buru Cun hong lengcu berseru kepada Li sian soat yang selama ini hanya membungkam .

"Ji moa y, cepat kau perlihatkan lencana untuk mengontrol bukit, asal kita dapat membuktikan bahwa lencana tersebut asli, aku rasa persoalan yang lain pun mereka akan percaya dengan sendirinya."

Kho Beng mendengus.

"Hmmm, aku sama sekali tak pingin memeriksa tanda lencana apa segala."

Sementara dia masih berbicara tiba-tiba tampak Li sian soat mengayunkan tangannya.

Benar juga ditangannya memang menggenggam sebuah benda dia seperti hendak melemparkan benda itu kearah Kho Beng, padahal dalam kenyataannya hendak dilemparkan ketengah udara.

Beng Gi ciu mendengus dingin, mendadak dia melancarkan sebuah serangan dengan jari tangannya.

serangan tersebut tak lain adalah serangan Tong kim ci ilmu andalan Kim ka sian, bukan saja desingan angin serangannya amat dahsyat dan lihai, lagipula kecepatan serta ketepatannya sangat mengagumkan.

Tiba-tiba terdengar jerit mengaduh yang amat memilukan hati, Li sian soat yang semula bersikap gagah, kini sudah terbungkuk sambil memegangi pergelangan tangan sendiri.

Ternyata serangan yang dilancarkan Beng Gi ciu saat tadi dilepaskan tanpa belas kasihan, desingan serangan jari tangan itu seketika menembusi pergelangan tangan kanannya, sementara sebatang panah berlubang tujuh terjatuh dihadapannya.

sambil tertawa dingin, Beng Gi ciu segera menjengek .

"Inikah lencana untuk mengontrol bukit?"

Berubah hebat paras muka Cun hong lengcu, tiba-tiba dia melepaskan dua serangan berantai sambil serunya .

"Cepat mundur"

Tanpa memperdulikan lagi rasa sakit pada pergelangan tangan kanannya, Li sian soat melompat bangun lalu melarikan diri menyusul dibelakang Cun hong lengcu.

"Hmmm, mau kabur kemana?"jengek Kho Beng dingin. Dengan sekali lompatan ia segera menyusul kedepan. Tapi sebelum sampai kabur sejauh dua puluh kaki, mendadak terdengar cun hong lengcu dan Li sian soat telah berteriak kaget menyusul roboh terjengkang keatas tanah. suara gelak tertawa yang keras pun berkumandang memecahkan keheningan. Mula-mula Kho Beng agak tertegun, namun setelah diperlihatkan lagi, segera dikenalinya orang yang baru datang ternyata tak lain adalal Thian cun yang serta oh Kui sam, sedangkan cun hong Lengcu Jin cun dan Li sian soat sudah terkapar diatas tanah dalam keadaan tertotok jalan darahnya. Buru-buru Kho Beng memberi hormat sambil menyapa.

"cianpwee berdua ...."

Dengan penuh amarah dan mendongkol oh Kui sam berkaokkaok.

"Selama hidup belum pernah kami berdua jatuh dipecundangi orang, tak disangka akhirnya kami dipecundangi juga oleh kalian."

"sudah, sudahlah"

Tukas Thian cun yang sambil tertawa.

"Sekarang bukan waktunya untuk menghumbar nafsu kerbau, lebih baik masalah pokok dulu yang dibicarakan."

Kemudian kepada Kho Beng, katanya lagi .

"Ada tiga orang sobat yang hendak mencarimu."

"Siapakah mereka?"

Tanya Kho Beng agak tertegun.

"Aku dengar mereka adalah sahabat karibmu, mungkin kau tak akan pernah melupakan mereka."

Sambil berkata ia segera menggapai kebelakang, sambil berseru .

"Kalian bertiga boleh keluar dari situ"

Diliputi perasaan tak habis mengerti, Kho Beng menengok kedepan, tapi setelah mengetahui siapa yang datang, ia menjadi kegirangan setengah mati, rupanya ketiga orang yang dimaksud adalah Kim bersaudara.

Dengan cepat Kim lotoa menjura seraya menyapa .

"Kho sauhiap. kau membuat kami rindu setengah mati"

"sebetulnya siaute sendiripun mempunyai rencana untuk mengunjungi lembah hati buddha tak lama lagi,"

Kata Kho Beng.

"sungguh tak disangka banyak masalah yang mendadak muncul didepan mata ..... akibatnya."

Kim loji turut maju kedepan dan berseru sambil memberi hormat.

"Kami dengar Kho sauhiap telah mendapat jodoh, apakah ...."

Berbicara sampai disitu, sorot matanya segera dialihkan kewajah Beng Gl Ciu Kontan saja paras muka Beng Gl Ciu berubah merah jengah, pelan-pelan ia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Adik ciu, cepat menjumpai Kim bersaudara,"

Bisik Kho Beng kemudian agak tergagap. Terpaksa Beng Gi Ciu memberi hormat sambil berbisik .

"Menjumpai tayhiap bertiga"

Buru-buru tiga bersaudara Kim membalas hormat, setelah mengucapkan basa-basi, akhirnya Kho Beng pun bertanya.

"Mengapa kalian bertiga tidak mengikuti para jago yang lain pergi ke Siau lim si?"

Kim lotoa menjawab .

"Orang yang paling kukagumi adalah Kho sauhiap sekalipun kami sadar bahwa kepandaian silat yang kami miliki sangat rendah dan tak cukup untuk membantu sauhiap. namun dalam situasi kritis dan gawat seperti ini, rasanya kami tak akan tentram kalau tak dapat membaktikan diri kepadamu."

Kho Beng merasa sangat terharu, serunya cepat .

"Kesetiaan dan kerelaan saudara sekalian untuk membantuku dalam perjuangan benar-benar mengharukan hatiku, sampai mati pun aku tak akan melupakan kebaikan kalian."

Buru-buru Kim lotoa berkata .

"Kho sauhiap. yang penting sekarang adalah menyelesaikan persoalan pokok lebih dahulu, kami akan mendampingi anda dimana saja."

"Kalau memang kita sebagai sesama saudara, harap kalian bertiga jangan bersikap begitu sungkan."

Namun Kim bersaudara tetap mundur tiga langkah dengan sikap yang menghormat sekali. sampai disini oh Kui sam segera berkata .

"sudah hampir mendekati kentongan ketiga, kita harus menyelesaikan urusan pokok lebih dulu."

Kemudian sambil berpaling kearah Kho Beng, tanyanya .

"siapakah kedua orang wanita ini? Apakah kau kenal?"

Buru-buru Kho Beng menjawab .

"Mereka adalah kedua orang murid Dewi In un, orang menyebutnya sebagai dua diantara empat lengcu."

"Bagus sekali, kita memang membutuhkan keterangan dari mereka,"

Seru oh Kui sam girang.

"Barusan boanpweepun berhasil membekuk seorang lagi dia adalah seorang komandan dari pasukan Dewi In Un."

"Makin banyak makin bermanfaat, semuanya kita bekuk saja"

Seru oh Kui sam sambil tertawa. Beng Gi ciu sebera menimbrung.

"Didekat tempat ini keponakan mempunyai sebuah gua yang tersembunyi sekali letaknya, mari kita berbincang-bincang disana saja."

"Bagus sekali, ayoh kita berangkat sekarang saja"

Maka Kim leji dan Kim losam membopong tubuh Jin cun serta Li sian soat, sedangkan Kim lotoa membopong sin Cu beng, mereka bersama-sama berangkat menuju kegua yang dimaksud.

Gua itu lebar lagipula kering, dibandingkan dengan tempat diluar yang dingin dan basah oleh air hujan, tempat ini terasa jauh lebih hangat dan nyaman.

Thian Cun yang dan oh Kui sam segera menjatuhkan diri duduk dilantai, kemudian dengan wajah serius , berkata .

"PErsoalan yang harus kita tanyakan sekarang hanya satu, yaitu apakah Ui sik kong masih berada didalam gua pengikat cinta?"

Dengan kening berkerut Kho Beng menyela .

"Cianpwee apalah gunanya hanya menanyakan satu persoalan saja?"

"Biarpun gunanya tidak terlalu besar, paling tidak kita bisa membuktikan dua hal. PErtama, ui sik kong belum mengincar siau lim si dan kekuatan intinya masih berada dibukit Ciansan. Kedua, ia telah membuat persiapan dengan tujuan hendak menumpas kita dahulu."

"seandainya ui sik kong tidak berada dibukit Cian san?"

Tanya Kho Beng setelah berpikir sebentar. Dengan suara dalam dan berat Thian Cun yang menjawab .

"Keadaan tersebut merupakan suatu berita yang tragis, bila ui sik kong tak ada disini, hal mana berarti dia telah memindahkan kekuatan intinya dari sini dan sasaran yang paling besar kemungkinannya tentu saja para jago yang berkumpul di siau lim si, bila kita datang terlambat selangkah saja, mungkin pembantaian berdarah tak mungkin bisa dihindari lagi."

Kho Beng berpikir sebentar, lalu katanya lagi .

"seandainya Uisik kong berada dibukit Ciansanpun, aku rasa tempat ini pasti telah dilengkapi dengan pelbagai jebakan dan terdapat ancaman dari pelbagai penjuru."

"satu yang lurus membasmi seratus yang jahat, apa yang mesti kita takuti?"

Sambung oh Kui sam. Thian cun yang segera berseru.

"Cepat kalian tanyakan soal ini kepada mereka."

Dengan cepat tiga bersaudara Kim berkata .

"Untuk urusan sekecil ini, kami bertiga bersedia untuk melaksanakannya."

Maka Kim lotoa segera mendekati Cun hong Lengcu Jin cun dan menegurnya keras-keras.

"Apakah Ui sik kong berada dibukit Cian san?"

"Yaa, dia berada dalam gua pengikat cinta"

Sahut Jin cun dengan suara lantang.

Jawaban ini kontan saja membuat Kim lotoa berdiri tertegun, tanpa terasa dia mengalihkan pandangannya kewajah Thian Cun yang dan oh Kui sam sambil menunggu perintah berikutnya.

sambil tertawa hambar, Thian cun yang berkata .

"Perkataan ini mungkin saja benar, tapi mungkin juga tidak benar."

"Apakah loya cu tak percaya?"

Kata Jin cun cepat.

"Kalau begitu mah susah jadinya."

"Masalahnya sekarang bukan percaya atau tidak. tapi harus mencari buktinya."

"Loya cu menginginkan bukti dalam bentuk apa?"

"Ditengah malam buta begini, kalian berdua hendak kemana?"

"Kami sedang melakukan perondaan, jawaban kami jujur dan tidak berniat menipu."

Thian cun yang sebera mendengus .

"Bila Ui sik kong berada dibukit cian san, tak ada gunanya ia menyuruh kalian merondai gunung ini, sebab dia pasti mengerti dengan jelas, bila kami dua orang tua berniat, dironda atau tidak toh sama sekali tidak ada faedahnya."

Kemudian setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam lanjutnya .

"Kim Lotoa, menurut kalian dengan cara apakah kita baru bisa memperoleh keterangan yang bisa dipercaya?"

"Paling baik kalau menggunakan jalan siksaan."

Sahut Kim Lotoa cepat-cepat. Thian cun yang segera bertepuk tangan seraya berseru .

"Baiklah, terserah cara apapun kau pergunakan, bagi kami yang penting adalah jawab yang benar."

"Boanpwee turut perintah"

Dengan cepat dia mencabut keluar sebilah pisau belati dari pinggangnya, lalu bentaknya kepada Cun hoa lengcu .

"Hari ini aku sudah tidak tertarik kepadamu, biar kucari keterangan dari mulutmu saja, nah pilihan sendiri, kau hendak mengaku secara jujur atau menunggu sampai lupa dirimu membuka suara?"

"Aku toh sudah menjawab, jawabanku jujur semuanya."

Jerit Jin cun keras-keras.

"Hmmm, sekalipun kau dapat mengelabui Thian dan oh locianpwee, katakan dulu sekarang kalian berdua serta sin cu beng hendak kemana?"

Cun hong lengcu menghela napas panjang.

"Kami benar-benar sedang mengadakan perondaan kau menyuruh aku menjawab apa?"

Kim Lotoa segera tertawa dingin.

"Baiklah, mungkin kau sendiri tahu apa yang seharusnya dijawab"

Mendadak pisau belatinya ditusukkan keatas pinggul perempuan tersebut, tusukannya keras dan tak mengenal belas kasihan.

Jerit kesakitan yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan, saking sakitnya hampir saja Jin cun roboh tak sadarkan diri Kalau tadi pergelangan tangan kanan Li Sian soat yang berlubang hingga darah bercucuran deras, maka sekarang pinggul Jin cunlah yang menderita pendarahan hebat.

sambil menahan sakit yang luar biasa, Cun hong lengcu berteriak keras .

"Kim ..... Kim tayhiap. mengapa kau harus turun tangan sekeji ini kepadaku?"

Sambil tertawa dingin, Kim Lotoa berkata .

"Asal kau bersedia mengaku sejujurnya, tentu saja siksaan badan tak bakal dihindari."

Kemudian sambil berpaling kearah Li sian soat, tegurnya .

"Bagaimana dengan kau?"

Sambil berkata, ia menangkap tangan kanan Li sian soat yang terluka sambil mempersiapkan pisau belatinya yang siap akan ditusukkan kembali keatas bekas luka tersebut.

Dengan ketakutan Li sian soat menjerit .

"Taci, aku ....."

"Kita toh sudah menjawab dengan sejujurnya, bila mereka nekat tak mau percaya, kitapun tak bisa apa-apa."

Seru Jin cun keraskeras.

"Jimoay lebih baik kita mati saja, akupun sudah tak mampu menahan diri lagi."

Kim Lotoa sebera mendengus dingin .

"sayang sekali, biar ingin mampus pun kalian tak bakal mampus semudah ini"

Pisau belatinya segera ditusukkan keatas bekas luka pada pergelangan tangan kanan Li sian soat, kemudian pisaunya diputarputar dalam bekas luka tersebut.

Li sian soat menjerit-jerit histeris begitu tersiksanya dia hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri sementara itu Kim loji telah siap dengan kantung airnya, begitu melihat Li sian soat jatuh pingsan, ia segera mengguyurkan air dingin itu keatas kepalanya sehingga Hee im lengcu ini tersadar kembali dari pingsannya.

Dh wajah pucat pias seperti meyat, dia berteriak kembali .

"Bila kalian adalah orang-orang gagah, lelaki sejati, mengapa tidak langsung pergi mencari sucouw atau suhuku? Buat apa kalian menyiksa perempuan lemah."

Kho Beng seperti tertawa .

"Biarpun kalian adalah perempuan"

Ujarnya.

"Tapi dibawah bimbingan serta pendidikan dari gurumu, tentu banyak kepandaian jahat yang pernah dipelajari, banyak pula kejahatan yang telah kalian perbuat, oleh sebab itu sedikit penderitaan yang diberikan kepada kalian sekarang, sesungguhnya belum terhitung seberapa."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.

"Disamping itu kamipun pasti akan pergi mencari sucouwmu , tapi bajingan tua itu terlalu licik dan banyak akal bulusnya, maka itu sebelum pergi mencarinya, kami harus mengetahui data-datanya dulu secara lengkap."

Melihat kedua orang gadis itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, Kim Lotoa kembali membentak kepada Jin cun .

"Tampaknya luka tusukanmu tadi tidak terlalu menyakitkan dirimu?"

Buru-buru Jin cun berteriak mengaduh sambil serunya .

"sakit, sakit sekali, aku hampir mampus saking sakitnya."

Kim Lotoa segera tertawa, katanya .

"Padahal apa yang kulakukan barusan baru merupakan suatu peringatan, perbuatan Kim toaya yang lebih lihay segera akan menyusul datang."

Sembari berkata dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya dan menuang sedikit bubuk bewarna merah diujung pisau belatinya yang tajam.

Melihat kejadian ini, cun hong lengcu segera berteriak dengan nada kaget bercampur ketakutan.

"Apa...apa yang hendak kau perbuat?"

Kim lotoa tertawa dingin.

"ooooh, bubuk itu hanya bubuk merica biasa saja, tapi yang unik adalah bila dipoleskan disekitar mulut luka, maka dia akan memberikan penderitaan serta siksaan yang paling besar bagi orang itu."

Kemudian dengan suara dalam bentaknya .

"Sekarang aku akan membuktikan dari tubuhmu"

"Jangan, jangan, jangan kau bersikap begitu kejam kepadaku,"

Jerit Cun hong lengcu sambil menggigit bibirnya.

"Bersedia tidak berbicara sejujurnya?"

Jengek Kim lotoa sambil tertawa dingin. Cun hong lengcu sebera menganguk berulang kali.

"Bersedia, bersedia, perkataan apapun pasti akan kujawab dengan sejujurnya."

"Nah, katakan sekarang, kalian hendak kemana?"

Setelah menghela napas panjang, cun hong lengcu berkata .

"Kami hendak pergi mengudang seseorang."

"siapa yang akan diundang?"

"Pek kut hujin dari Bi sing nia"

Kim lotoa segera mengalihkan pandangan matanya kewajah Thian cun yang dan oh Kuisam serta Kho Beng sekalian, nampaknya dia tidak mengenal siapakah Pek kut hujin atau nyonya tulang putih ini, sehingga menunggu petunjuk selanjutnya dari mereka.

Dengan kening berkerut, Thian cun yang segera bertanya kepada oh Kui sam.

"Pernahkah kau mendengar nama Pek kut hujin?"

Oh Kui sam sebera menggeleng.

"Aku tidak lebih mengerti tentang urusan dunia persilatan daripada dirimu, kalau kau saja tak tahu masa bisa aku tahu, lebih baik ditanyakan kepada perempuan bau itu"

Tidak menunggu kedua orang kakek itu berbicara, Kim lotoa telah bertanya.

"siapakah Pek kut hujin itu?"

"Dia adalah istri pertama Liong hoa sinkun"

Sekali lagi Thian cun yang dibikin tertegun.

"siapa pula Liong hoa sinkun itu? PErnahkah kalian mendengar tentang nama orang ini?"

Semua orang saling berpandangan tanpa menjawab, hal inim enandakan kalau mereka semua tidak kenal dengan orang tersebut. sambil mendengus oh Kui sam sebera menimbrung.

"Aku pikir orang-orang itu pasti bukan manusia yang punya nama atau paling banter cuma kaum iblis dari golongan sesat."

Tidak menunggu ditanya lagi, Cun hong lengcu sebera menerangkan lebih jauh.

"Liong hoa sinkun adalah pembantu utama dari sucouw kami, bahkan sucouw kami pun menghormati sinkun, kedudukannya saat ini adalah ketua pelindung hukum."

Mendengar keterangan tersebut, Thian Cun yang segera berkata sambil tertawa.

"Kalau begitu kita tak boleh memandang enteng dirinya, bagaimana dengan Pek kut hujin?"

"Aku dengar Pek kut hujin masih jauh lebih tangguh ketimbang Liong hoa sinkun, apabila mereka bertiga turun tangan bersama, siapapun tak akan ditakuti lagi."

"siapa yang kau maksud tiga orang?"

"Tentu saja Liong hoa sinkun, Pek kut hujin serta sucouw kami"

Thian Cun yang termenung sebentar, lalu katanya .

"Aku lihat persoalan ini tak boleh dianggap enteng, rupanya ui sik kong telah sadar kalau kekuatan sendiri belum cukup untuk menguasai seluruh jagat, maka dia berusaha menggunakan cara lain."

"Mungkinkah mereka akan berhasil?"

Tanya Kho Beng setelah termenung sebentar.

"Kau adalah contoh yang paling nyata, coba jawablah dengan mengandalkan kepandaian silat yang kau peroleh dari kitab pusaka Thian goan bu boh, sanggupkah dirimu untuk mengalahkan ui sik kong, ketua dari partai kupu-kupu?"

"Memang tak mungkin"

Buru-buru Kho Beng menjawab.

"Dengan mengandalkan ilmu silat peninggalan Kongci Cu?"

"Mendiang guruku mati karena dia telah menderita luka dalam yang cukup parah disaat sedang bertarung melawan bajingan tua ui sik kong, coba kalau bukan demikian rasanya tak mungki ........"

Ia merasakan suaranya sesenggukan dan hampir saja mengucurkan air mata.

"Nah itulah dia hanya mengandalkan ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh, kau tak mampu menandingi ui sik kong dengan hanya mengandalkan ilmu silat warisan Kongci Cu pun tak berhasil, hanya bila dua jenis kepandaian itu digabungkan baru akan terwujud kekuatan yang luar biasa bukan?"

"Maksud cianpwee, bukan saja mereka bergabung sewaktu bertempur, bahkan didalam ilmu silat pun ........ ,"

Cepat-cepat Thian Cun yang menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .

"Ilmu silat mereka belum tentu dapat digabungkan satu dengan yang lainnya, tapi daya pengaruh yang dihasilkan bila mereka bertiga bekerja sama, mungkin bisa bikin kepala orang pusing."

Cun hong lengcu yang berada disam^ingnya sebera menimbrung .

"Bila kalian tak merasa mampu menandingi kemampuannya lagi, lebih baik bebaskan kami, lalu cepat-cepatlah kabur untuk menyelamatkan diri"

Thian Cun yang sama sekali tidak menggubris perkataan cun hong lengcu, setelah tertawa nyaring katanya .

"Ditinjau dari hal ini jelas sudah bajingan tua ui Sik kong memang berada dibukit Cian san, kita harus berebut waktu sekarang, mari kita berangkat sekarang"

"cianpwee kau belum berpesan bagaimana dengan mereka"

Buru-buru Kim lotoa berseru. Thian cun yang menatap sekejap wajah Kho Beng, lalu katanya .

"Apakah kau mempunyai suatu pendapat?"

Buru-buru Kho Beng berkata .

"Biarpun boanpwee tidak mempunyai pendapat apa-apa, namun kedua orang siluman wanita ini adalah orang yang menjadi penyebab bagi penderitaan ciciku, lagipula mereka licik dan banyak tipu muslihatnya, biar dibunuh pun tak perlu disayangkan."

"Walaupun demikian, tapi tidak cocok kalau kita membunuhnya, dalam keadaan demikian, lebih baik disekap dulu."

Sambil berpaling kearah tiga bersaudara Kim, katanya kemudian .

"Menurut pendapatku, lebih baik kalian bertiga tetap tinggal disini menjaga ketiga tawanan tersebut, tunggulah sampai kami semua kembali kemari, kemudian baru pulang bersama-sama ."

Sekalipun tiga bersaudara Kim merasa enggan, namun mereka pun tak berani membangkang perintah Thian Cun yang, oleh sebab itu sahutnya cepat-cepat .

"Boanpwee turut perintah."

Kho Beng segera berkata pula.

"Ketiga orang ini memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, meskipunjalan darahnya sudah tertotok, namun kalian jangan menganggap enteng dirinya."

"Kho sauhiap tak usah kuatir"

Kim lotoa tertawa.

"kalau cuma persoalan seperti itu rasanya kami masih mampu mengatasinya."

Sambil berkata ia sebera mengeluarkan seutas tali otot naga dan berkata kembali .

"Betapapun lihaynya kepandaian silat mereka, aku rasa disaat jalan darah mereka tidak tertotok pun, tentunya tak mampu untuk menggetar putus tali ini, bukan?"

Dalam waktu singkat Kim loji dan Kim losam turun tangan pula untuk mengikat tubuh Cun hong lengcu, Li sian soat serta sin cu beng.

Kemudian mereka pun menotok jalan darah bisunya, dengan demikian ketiga orang itupun berubah menjadi kaku, bukan cuma tak mampu bergerak.

berkaok pun tak dapat.

oh Kui sam segera memuji sambil tertawa .

"Caramu ini memang bagus sekali, mari kita berangkat dengan perasaan lega."

Tanpa menunggu jawaban lagi, dia segera berangkat lebih dulu menuju keluar gua.

Hujan yang turun diluar makin deras, udara semakin gelap sehingga menghalangi pandangan mata semua orang.

secara beruntun Thian cun yang, Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan bermunculan dari gua mengikuti dibela kang oh Kui sam, kemudian dibawah petunjuk Beng Gi ciu mereka langsung berangkat menuju kepuncak bukit Cian san.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kelima orang itu merupakan kepandaian yang sangat tangguh, tak selang berapa saat kemudian mereka telah sampai dipuncak utama seperti sukmasukma gentayangan.

Kho Beng sudah cukup mengenal daerah sekitar situ, tanpa terasa timbul perasaan aneh dalam hatinya memandang puncak gunung yang dicekam kegelapan, pikirnya .

"Aaaa, apakah ciciku masih disekap disini? Lantas bagaimana keadaannya sekarang, tentu ia sudah disiksa sampai tak karuan lagi bentuknya."

Kemudian ia pun membayangkan kembali keadaan dari kakek tongkat sakti, Chin sian kun.

sementara dia masih melamun, mendadak Thian cun yang yang berjalan didepan menghentikan langkahnya seraya berseru .

"Tunggu dulu"

Ketika semua orang mengalihkan pandangan matanya keatas, terlihatlah puncak bukit itu amat gersang dan gungul, kecuali deruan angin barat yang amat hebat, kabut hitam yang menyelimuti atas permukaan tanah serta hujan yang cukup deras, tak nampak sesosok bayangan manusia pun disekeliling sana, seolah-olah tempat itu merupakan sebuah bukit yang sepi dan terpencil.

Mengawasi kesemuanya itu, tanpa terasa Thian Cun yang menghela napas panjang.

Pertarungan berdarah dibukit hati duka seabad berselang diduga bisa menyebabkab aman tentramnya dunia persilatan, siapa tahu seabad kemudian timbul kembali peristiwa yang tragis dalam dunia persilatan."

Sementara dia masih berpikir, terdengar oh Kui sam telah berbisik disisi telinganya.

"Mulut guanya berada disebelah sana, ayoh jalan, apalagi yang kaupikirkan?"

Bagaikan baru mendusin dari impian, Thian cun yang menyahut .

"Jangan tergesa-gesa, kita mesti meneliti lebih dulu keadaan sekeliling tempat ini."

Kemudian sambil berpaling kearah Kho Beng, katanya lebih jauh .

"Diantara kita semua, hanya kau yang pernah memasuki gua pengikat cinta, sesungguhnya berapa luas sih kawasan gua ini dan berapa dalam jarak antara mulut gua kedasar ruangan? Apakah kau masih mengingatnya secara jelas?"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian jawabnya .

"Jarak dari mulut gua sampai ruangan utama dibawah sana rasanya lebih kurang sepuluh kaki, ruang gua dibawah situ saling berhubungan satu dengan lainnya, aku rasa kawanan mereka tak terhitung kecil, tapi sayang boanpwee belum sempat mengelilingi semuanya"

Thian Cun yang mengitari sekejap sekeliling tempat dengan sorot matanya, kemudian berkata .

"Luas puncak bukit ini paling banter hanya lima puluhan kaki persegi kebawahpun cuma enam, tujuh puluh kaki, kalau dihitung kembali secara cermat lingkupan mereka tidak termasuk kelewat besar, lagipula disudut utara sana sudah pasti dinding guanya amat tipis benar."

Oh Kui sam sebera menimbrung.

"Cun yang, mengapa sih pembicaraanmu hari ini kelihatan mencla mencle seperti orang yang ragu untuk berbicara? Peduli amat sih besar atau tidaknya kawasan mereka, asal kita sudah memasukinya toh segala sesuatunya akan terlihat dengan sendirinya?"

Bersambung ke

Jilid 42

Jilid 42

"Bukan begitu keadaan yang sebenarnya,"

Ujar Thian cun yang bersungguh-sungguh "Ketahuilah, musuh yang sedang kita hadapi sekarang adalah seorang manusia jahat yang licik dan banyak tipu muslihatnya, sekali kita bersikap kurang berhati-hati, bisa jadi kita akan terpeleset dan menderita kekalahan total"

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya dengan suara dalam .

"Satu hal perlu diingat-ingat, setelah masuk nanti , entah berada didalam keadaan seperti apa pun, kita tak boleh saling memisahkan diri."

"Empek Thian, kami akan mengingat baik-baik pesanmu"

Itu Beng Gi Ciu berjanji sambil tertawa.

"Selain itu masih ada satu lagi yang perlu diawasi yakni berhatihati terhadap ilmu pukulan beracun atau ilmu sesat lainnya, apalagi serangan secara terang-terangan gampang dihindari, tapi serangan bokongan susah dihadapi , Kho Beng kau saja yang menjadi pembuka jalan"

Tapi baru berjalan berapa langkah, gelak tertawa yang amat keras telah bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian tampak serombongan bayangan manusia bermunculan secara tibatiba, sebagai pemimpinnya ternyata tak lain adalah Ui Sik kong sendiri.

Terdengar ia berseru setelah tertawa nyaring .

"Walaupun aku sudah menduga bakal kedatangan tamu agung, namun tidak kusangka kau akan datang dimalam yang hujan dan dingin seperti sekarang ini."

Kemudian setelah mengawasi sekejap keadaan lawannya, dia melanjutkan .

"Waaah, kelihatannya kalian sudah basah kuyup semua, mari silahkan masuk untuk beristirahat sejenak, aku pasti akan menyambut kedatangan kalian dengan arak hangat."

Sambil berkata ia menyingkir kesamping dan mempersilahkan tamunya untuk lewat.

Thian Cun yang yang berdiri didepan sekali untuk menghalangi rekan-rekannya maju, ketika mendengar perkataan tersebut ia sama sekali tak bereaksi, hanya ujarnya sambil tertawa dingin .

"Tak usah tergesa-gesa, lebih baik kita berbincang-bincang dulu disini"

Ui sik kong segera tertawa tergelak .

"Haaahh haaahh haaahh .. biarpun ruangan dalam goa kurang indah dan mewah paling tidak jauh lebih hangat dan nyaman ketimbang tempat ang basah dan dingin seperti ini, mengapa sih kalian tak berani masuk?"

Thian Cun yang tertawa dingin .

"Aku ingin mengetahui lebih dulu maksud tujuan anda."

Ui sik kong memperhatikan sekejap keadaan musuh-musuhnya, kemudian berkata .

"Panglima perang yang pernah kalah bertempur mana berani bicara besar? Tentu saja kami akan mendengarkan semua perkataan dari keturunan tiga dewa."

Kemudian sambil menunjuk kebelakangnya, ia melanjutkan .

"Yang ini adalah ketua pelindung hukum partai kami, Liong hoa sinkun, sedang keempat orang ini adalah empat tiang lo partai kupukupu, sedangkan sisanya yang lain bukan terhitung orang-orang yang bisa diandalkan lagi."

"orang-orang itu tiada persoalan yang terlalu serius buat pandangan kami,"

Tukas Thian cun yang tertawa "Justru yang ingin kuketahui adalah rencana anda yang selanjutnya."

Ui Sik kong mendengus dingin .

"Hmmm, aku tidak mempunyai perencanaan apa-apa"

Thian cun yang segera berpaling kearah Kho Beng dan serunya .

"Bocah muda, lebih baik kau saja yang bedanya kepadanya."

Kho Beng menyahut dan segera tampil kedepan, bentaknya kemudian "Ui sik kong kau tak mengira bukan aku bakal datang pada hari ini?"

Ui sik kong tertawa dingin .

"Walaupun perhitunganku belum bisa dibilang tepat seratus persen, namun sudah kuduga kau bakal datang, hanya sayang tendanganku tempo hari kelewat enteng, sehingga rasanya kurang mantap untuk menghantarmu pergi kerumah nenek."

"Hmmm, nampaknya kau tidak menunjukkan sedikit rasa menyesal pun,"

Tegur Kho Beng gusar.

"Apakah sudah kaupikirkan kembali syarat yang kuajukan?"

"sudah kupertimbangkan, dan aku dapat menerimanya"

"Dapat menerimanya?"

Kho Beng jadi tertegun dibuatnya.

Thian cun yang, oh Kui sam, Beng Gi ciu serta siau wan pun turut tertegun dibuatnya, keadaan tersebut sama sekali tak sesuai dengan apa yang mereka duga, dengan sikap maupun nada pembicaraan Ui sik kong, sudah jelas ia tak mempunyai rasa menyesal ataupun bertaubat, namun mengapa ia justru mengucapkan kata-kata seperti ini?

sebenarnya apakah rencana serta maksud tujuannya?

"Apakah kau berbicara dengan sesungguhnya?"

Kho Beng segera menegur dengan suara dalam.

"Apakah kau tak percaya?"

Ui sik kong balik bedanya dengan suara yang tenang.

"Terus terang saja aku menaruh curiga yang besar terhadapmu, tapi asal kau benar-benar mempunyai maksud untuk bertobat, aku akan tetap menuruti pesan mendiang guruku dengan melindungi kehidupan dari partai kupu-kupu."

Ui sik kong tertawa.

"Waaah, kalau begitu aku amat berterima kasih sekali"

Untuk sesaat lamanya Kho Beng tidak mengerti bagaimana mesti berbuat, terpaksa dia berpaling kearah Thian cun yang serta oh Kui sam, sambil berkata .

"Harap cianpwee sudi memberi petunjuk"

Thian cun yang tertawa bergelak.

"Haaahh . Haaahh . Haaahh .sesungguhnya gampang sekali, suruh saja dia membebaskan dulu orang-orang yang disekap dalam gua pengikat cinta"

Kho Beng manggut-manggut, segera serunya dengan keras.

"Bila anda mempunyai niat yang tulus, harap ciciku dan kedua dayangnya, kakek tongkat sakti serta nona Chin sekalian segera dibebaskan dari sekapan"

Ui sik kong segera menjawab sambil tertawa .

"Bila sikap anda sekalian tetap berhati-hati dan penuh perasaan curiga terhadapku, hal ini menunjukkan bukan aku yang tak mempunyai niat yang tulus, sebaliknya kalian sendiri ."

Kemudian dengan sinar hijau memancar keluar dari matanya, dia berkata lebih jauh .

"Dengan kuterima syarat yang kalian ajukan, sudah dapat kupastikan dunia persilatan akan pulih kembali dalam ketenangan dan kedamaian, kini aku telah mempersiapkan perjamuan untuk anda semua, apa salahnya kalau kita berbincang-bincang dulu sambil minum arak, kemudian aku akan memimpin para jago untuk kembali ke sin kiang, sedang kalian boleh meninggalkan bukit Cian san dengan membawa serta kakek tongkat sakti sekalian, bukankah segala urusanpun akan beres dengan sendirinya?"

Sebelum semua orang mengemukakan pendapatnya, tiba-tiba oh Kui sam menyela .

"Perkataannya memang ada betulnya juga, apa salahnya kalau kita mengganggunya sejenak?"

Ia bukan ingin minum arak tapi merasa bahwa perbuatan drmikian tak akan menghilangkan pamor. Thian cun yang segera berkerut kening, katanya dengan suara dalam .

"Ui sik kong, kau harus tahu, bila kau mempunyai niat jelek atau sudah merencanakan sesuatu secara licik, maka akibatnya bisa diluar dugaanmu sama sekali."

"Aku toh mengundang kalian dengan perasaan yang tulus, buat apa anda justru menaruh banyak curiga?"

Sahut Ui sik kong sambil tertawa hambar.

"Moga-moga saja apa yang kau katakan adalah ucapan yang sejujurnya, demi mati hidupnya partai kupu-kupu, keputusan yang kau ambil pada malam ini sangat penting, kuharap kau cukup memahami keadaan tersebut."

Ui sik kong segera tertawa bergelak.

"Haaahh haaahh haaahh bila anda masih saja mencurigai diriku dengan tuduhan yang bukan-bukan aku pun tak akan menahan kalian, silahkan saja segera pergi meninggalkan tempat ini."

Oh Kui sam tertawa bergelak.

"setelah datang mengapa harus pergi lagi? Bila kami berani datang tapi tak berani memenuhi undanganmu, apa kata orang tentang keturunan dari tiga dewa? silahkan membawa jalan"

"Aaai nampaknya oh lohiap memang jauh lebih tegas."

Dengan sinar mata yang licik dia memandang sekejap sekitar situ, lalu terusnya .

"Biar aku segera membawa jalan untuk kalian"

Ia membalikkan badan dan mengajak keempat tiang lo dari partai kupu-kupu dan ketua pelindung hukumnya Liong hoa sinkun yang berambut panjang sebahu memasuki pintu gua terlebih dahulu.

Tampaknya pintu gua terpentang lebar-pebar, cahaya lentera menerangi seluruh sudut ruangan.

sepanjang lorong rahasia, setiap jarak dua kaki, disisi kanan kiri lorong berdiri sepasang busu bersenjata yang melakukan penjagaan secara ketat, gaya maupun sikap mereka Nampak perkasa dan penuh kewibawaan.

sementara itu Ui sik kong berjalan dengan wajah penuh rasa bangga sepanjang jalan tiada hentinya dia mengelus jenggot kambingnya sambil menengok kanan kiri oh Kui sam serta Thian cun yang mengikuti dibelakangnya dengan senyum dingin menghiasi wajahnya, apalagi sikap Kho Beng serta Beng Gi ciu, kedua orang muda mudi ini kelihatan acuh tak acuh, mereka mengikuti dari belakang dengan angkuh.

Tak lama kemudian, tibalah mereka diruangan tengah, sebelum nya Kho Beng pernah berkunjung kesana, hanya bedanya waktu itu dia datang dengan perannya sebagai Koan ci Cu, sedang sekarang ia datang sebagai murid dari Kongci Cu.

Ditengah ruangan telah dipersiapkan sebuah meja perjamuan, dayang dan pelayan telah siap melayani , namun disekeliling ruangan tersebut dipenuhi dengan busU berpedang yang melakukan penjagaan secara ketat.

setibanya didepan meja, Ui sik kong segera mempersilahkan tamunya untuk mengambil tempat duduk lebih dulu.

"silahkan anda sekalian duduk"

Bersamaan itu pula dia memberi tanda kepada rekan-rekannya agar duduk pula menurut urutan, tapi semuanya menempati sudut sebelah kiri, sebab ia sudah melihatnya bahwa dibagian sanalah merupakan posisi yang paling aman.

Ui sik kong segera tertawa terbahak-bahak , dengan mengajak Liong hoa sinkun dan keempat tiang lo dari partai kupu-kupu mereka menempati pos isi sebelah kanan tapi disamping Liong hoa sinkun Nampak masih ada sebuah tempat berada dalam keadaan kosong.

sambil tersenyum Thian cun yang segera menegur.

"Nampaknya masih ada amu agung lain yang bakal datang?"

Sambil tertawa Ui sik kong manggut-manggut .

"Benar, masih ada seorang teman yang belum datang, tapi orang itupun tak bisa dianggap sebagai tamu."

"Bolehkah aku tahu siapakah orang itu?"

Tanya Thian cun yang sambil tertawa. Liong hoa sinkun yang duduk disamping Ui sik kong segera menyahut dengan suara dingin .

"orang itu adalah istriku Pek kut hujin"

"Hujan turun begini deras, malampun sudah semakin larut, mungkin dia tak bakal datang malam ini?"

Liong hoa sinkun mendengus dingin.

"Hmmm, dia pasti akan datang, cuma soal waktu saja mungkin agak terlambat."

"Beranikah anda bertaruh denganku?"

Berubah paras muka Liong hoa sinkun setelah mendengar perkataan itu tegurnya .

"Apa maksud perkataanmu ini?"

"Aaah, tidak bermaksud apa-apa, aku hanya mengadu nasib saja."

Buru-buru Ui sik kong menyela sambil tertawa .

"Aku rasa urusan sepele seperti itu tak perlu dipertaruhkan lagi, yang penting justru merundingkan masalah besar, biarpun Pek kut hujin tak bisa datang pada saatnya, toh bukan berarti akan mengganggu jalannya perundingan diantara kita"

Mendadak Liong hoa sinkun menggebrak meja seraya berseru .

"Tiba-tiba saja aku mencurigai satu hal, sekalipun istriku tak bisa datang pada saatnya, seharusnya Cun hong lengcu dan Hee im lengcu sudah balik kembali .aku rasa .."

Setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam dia melanjutkan.

"Aku rasa hanya sebuah jawaban saja, sudah pasti istriku sudah mendapat celaka ditangan mereka?"

Buru-buru Ui sik kong menggoyangkan tangannya berulang kali sambil katanya .

"Tidak mungkin, tidak mungkin"

Menyusul kemudian sambil tertawa tergelak lanjutnya .

"Haaahh . Haaahh haaahh mereka adalah jago-jago lihay yang menganggap dirinya sebagai pendekar sejati yang berjiwa besar, tentu saja pendekar sebangsa mereka tak bakal melakukan perbuatan rendah seperti ini , mereka orang-orang perempuan sudah terbiasa menunda waktu karena urusan pribadi kaum wanita , lebih baik kita membicarakan dulu persoalan yang pokok."

Sambil berkata dia segera melemparkan sebuah kerlingan misterius kewajah Liong hoa sinkun.

Thian cun yang dapat menyaksikan hal ini secara jelas, buru-buru dia berbisik kepada rekan-rekannya dengan ilmu menyampaikan suara .

"Keadaan sudah semakin nyata, sudah pasti bajingan tua she Ui ini mempunyai rencana busuk yang telah dipersiapkan."

Padahal sekalipun tidak disinggung oleh Thian cun yang pun Kho Beng sekalian sudah dapat melihat jelas, karena tindakan Ui sik kong yang tidak mengkuatirkan hilangnya Jin Cun dan Li sian soat sudah cukup untuk membuktikan hal ini.

Ditengah gelak tertawa nyaring, Ui sik kong mengangkat cawan araknya dan berkata .

"Untuk menunjukkan ketulusan hati kami, silahkan anda sekalian minum secawan arak terlebih dahulu"

Tunggu sebentar mendadak Kho Beng berseru dengan suara yang berat dan dalam. Ui sik kong meletakkan kembali cawan araknya, kemudian menegur dengan kening berkerut .

"apakah Khosauhiap mempunyai suatu petunjuk?"

"Kedudukan Dewi In Un didalam partai kupu-kupu tidak terhitung rendah, apalagi dia pun sudah banyak membuat jasa didaratan Tionggoan, mengapa tak Nampak ia turut hadir dalam pertemuan malam ini?"

Ui sik kong segera tertawa hambar.

"Kaum wanita tidak pantas ikut menyambut tamu, apalagi siauli merasa kurang enak badan sehingga sudah tertidur sejak sore tadi."

"Hmmm, itu mah Cuma alasan anda saja untuk menutupi keadaan sebenarnya,"

Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

"muda-mudi dunia persilatan tidak mementingkan tata cara, apalagi berbicara dari tingkat kedudukan putrimu, sepantasnya kalau ia turut menghadiri perjamuan malam ini."

"Tapi bukankah telah kubilang, putriku sedang sakit?"

Jawab Ui sik kong sambil tertawa. Kembali Kho Beng tertawa dingin.

"Bagi orang yang belajar silat, penyakit demam tak mungkin bisa menyerang tubuhnya, apalagi putrimu masih muda, ia tak mungkin akan terserang sakit, apakah kau tidak merasa bahwa perkataanmu kelewat keterlaluan?"

Berubah hebat paras muka Ui Sik kong, segera katanya .

"Kuharap anda jangan terlalu menyudutkan posisiku, kenapa kau bersikeras menyuruh putriku turut hadir didalam pertemuan ini?"

"sebab ada sementara persoalan yang cuma bisa dijawab oleh dia seorang."

"Persoalan apa?"

Ui sik kong bertambah gusar.

"Misalnya saja siapa yang telah menyamar sebagai Bu wi lojin dalam peristiwa berdarah tempo dulu, dan dimanakah kakakku sekalian disekap? Lebih baik undanglah dia keluar agar semua persoalan dapat diselesaikan hingga tuntas."

"Kalau hanya persoalan itu mah, aku pun dapat menyelesaikan"

Kata Ui sik kong sambil tertawa. Kho Beng segera berpikir sebentar, lalu katanya .

"Kalau anda memang dapat menyelesaikannya, baiklah, kita pun tak usah mengganggu putrimu lagi."

Sekali lagi Ui sik kong mengangkat cawan araknya sambil berkata .

"Harap kalian menerima penghormatanku dengan secawan arak ini."

Tapi secara tiba-tiba Kho Beng menggebrak meja lagi sambil berseru .

"Tunggu dulu"

Terpaksa Ui sik kong meletakkan kembali cawan araknya, lalu menegur .

"Kho sauhiap ada petunjuk apalagi, kenapa tidak diungkap saja seusai aku menghormati secawan arak kepada kalian?"

Kho Beng menggeleng.

"Masih ada sebuah persoalan yang lebih penting dan harus diberi penyelesaian lebih dulu."

Tampaknya Thian Cun yang sekalian sudah dapat memahami maksud serta tujuan Kho Beng, tanpa terasa mereka mengangguk dengan perasaan puas, sebab siapapun tak ada yang tahu apakah dalam arak tersebut telah dicampuri racun atau tidak.

Andaikata keadaan yang sebenarnya belum diketahui secara pasti dan gara-gara itu mereka sampai diracuni, bukankah usaha mereka bakal menderita kegagalan total?

Bukan Cuma begitu, bahkan bisa jadi keselamatan jiwa mereka pun akan terancam?

"silahkan Kho sauhiap utarakan"

Terdengar Ui sik kong berkata dengan kuning berkerut.

"Kalau memang anda telah menerima semua syarat yang kuajukan sebelumnya, kupikir kalian pun harus membebaskan dulu kakakku sekalian dan kita minum arak bersama-sama untuk menghilangkan segala kecurigaan dan pertikaian dimasa lalu"

Ui sik kong segera tertawa seram.

"Perkataan Kho sauhiap memang benar tapi harap jangan lupa bahwa dalam salah satu syaratmu, terdapat pernyataan yang mengatakan kau hendak mengembalikan benda mestika dari partai kupu-kupu kami, yaitu kitab pusaka Thian goan bu boh."

"Tentu saja aku akan memenuhi janji itu, aku bukan manusia yang tak dapat dipercaya kata-katanya."

Ui sik kong segera mengulurkan tangannya kedepan sambil berseru .

"Kalau begitu sauhiap dapat segera menyerahkannya kepadaku soal ini"

Kho Beng nampak agak tertegun dan tidak menduga sampai kesitu, selang sesaat kemudian ia baru berkata .

"Jadi kau berniat untuk bertukar syarat dengan kitab pusaka tersebut?"

Sebagaimana diketahui, kitab pusaka Thian goan bu boh memang tidak berada disakunya tapi disimpan oleh Bu wi lojin disuatu tempat yang sangat rahasia dalam lembah hati Buddha.

Ui sik kong tertawa dingin.

"semula aku tidak berniat untuk berbuat begini, tapi lantaran Kho sahiap bersikeras untuk memaksa kami membebaskan kakakmu sekalian terlebih dahulu, mau tak mau terpaksa akupun harus mengambil tindakan yang sama."

"Ini namanya mengancam, jelas kau tidak berniat secara tulus,"

Seru Kho Beng dengan keras Pryaaaanggg Ia membanting cawan araknya keatas tanah.

Ternyata perbuatan Kho Beng dengan membanting cawan arak kelantaipun mengandung maksud tertentu, dia hendak menggunakan kesempatan disaat arak tersebut tertumpah dilantai untuk memeriksa apakah arak tersebut mengandung racun atau tidak.

Ui sik kong sama sekali tidak menjadi gusar karena ulah lawannya, malah sambil tertawa hambar ia berkata .

"Bagaimana pun juga anak muda memang berdarah panas, kalau toh kedua belah pihak bermaksud menyelesaikan persoalan secara damai, mengapa pula tindakanmu mesti menuruti emosi?"

Sambil berkata dia segera mengambil cawan arak yang berada dihadapan oh Kui sam dan berkata lebih jauh.

"Mungkin anda sekalian mencurigai dalam arak ada racunnya, biar aku mencicipi secawan lebih dulu"

Sembari berkata ia segera meneguk isi cawan arak itu hingga kering. Mula-mula Thian cun yang kelihatan agak tertegun, tapi kemudian serunya sambil tertawa bergelak .

"Haaahh haahh haahh lagi-lagi kau menaruh kesalahpahaman, jangan lagi arak tersebut tidak beracun, biarpun benar-benar ada racunnya, apa pula yang mesti kami takuti? Namun bila arak ini benar-benar beracun, asal anda minum obat penawar sebelumnya, maka biarpun menghabiskan sepuluh cawan secara beruntun pun aku rasa tak akan sampai terpengaruh oleh daya kerja racun itu"

Habis berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak. sambil tertawa dingin Ui sik kong segera berkata .

"Kalau toh anda berkata demikian, akupun tak dapat berbuat lain kecuali membatalkan perjamuan ini"

Kembali Thian cun yang tertawa bergelak .

"Tujuan kedatangan kami kemari memang bukan untuk minum arak tapi ingin mengajak anda untuk membicarakan persoalan ini secara baik-baik, kau harus mengerti, kami sama sekali tidak mempunyai niat jahat bahkan kami setuju dengan usul Kho Beng untuk tetap mempertahankan keutuhan dari partai kupu-kupu partai kupu-kupu."

"aku amat berterima kasih dengan usul kalian itu"

Kata Ui sik kong sambil tertawa seram.

"tapi kitab pusaka Thian goan bu boh harus kalian serahkan lebih dulu."

"Asal semua persoalan telah terselesaikan, kujamin hanya didalam setengah hari saja kitab pusaka Thian goan bu boh sudah dapat kami serahkan kembali"

Kata Kho Beng dengan tegas.

"kalau tidak. aku berani menjamin dengan batok kepalaku ini."

"Ditambah pula dengan batok kepala kami berdua,"

Sambung Thian cun yang dan oh Kui sam serentak. Ui sik kong segera tertawa.

"Kalau memang kalian telah berkata demikian, tentu saja aku akan menurut perintah."

Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya lagi.

"Begitu kitab cusaka Thian goan bu boh dikembalikan, aku segera akan menaik diri dari daratan Tionggoan."

"Tapi aku menuntut kepada anda untuk membebaskan dulu semua tawanan yang ada"

Desak Kho Beng dengan sorot mata yang tajam. Ui sik kong tertawa tenang, bukan menjawab dia malah bedanya .

"Apakah perjamuan ini masih akan dilanjutkan?"

"Tidak usah"

Tukas oh Kui sam.

"Lebih baik dibubarkan saja"

Sambil tertawa hambar Ui sik kong mengulapkan tangannya seraya berseru .

"Pengawal, bubarkan perjamuan, ganti dengan air teh"

Dalam waktu singkat meja perjamuan telah dibongkar sementara didepan masing-masing orang dihidangkan secawan air teh. sambil tertawa misterius, Ui sik kong berkata .

"Bila anda sekalian kuatir dala air teh ada racunnya, tak usahlah diminum, tapi kuminta janganlah ditolak mentah-mentah, paling tidak lakukanlah sedikit lagak seakan-akan menerima hidangan tersebut."

Sindiran ini amat tajam dan langsung membuat paras muka Thian Cun yang berubah menjadi merah padam, namun ia tidak berkata apa-apa. Kembali Ui sik kong berkata lagi.

"sekarang juga aku akan menyuruh orang untuk mengundang ang It ciang, Chin sian kun serta kakak perempuan Kho sauhiap agar bertemu dengan anda sekalian."

"Kalau benar begitu, hal ini menunjukkan ketulusan hati anda, aku pun pasti akan melaksanakan pesan guruku almarhum untuk melindungi partai kupu-kupu dari segala ancaman bahaya."

Ui sik kong tertawa dingin, sambil berpaling kearah satu diantara empat tiang lo partai kupu-kupu, serunya .

"Harap Pek tiang lo melaksanakan perintah ini."

Kakek itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ.

Mendadak .

Terasa ada segulung bau aneh yang menyusup masuk kelubang hidung masing-masing, semua orang segera merasa bahwa bau itu berasal dari asap dupa yang baru dibakar , sementara asap berbau harum itu sedang menyebar secara pelan-pelan keseluruh ruangan.

Bagi penciuman orang awam, bau tersebut merupakan bau asap dupa sesungguhnya, sama sekali tidak ada gejala mencurigakan.

Tapi begitu Thian cun yang mengendusnya, berubah air mukanya dengan cepat buru-buru peringatnya dengan ilmu menyampaikan suara .

"Cepat tutup kelima jalan darah penting didepan dada"

Begitu mendengar suara peringatan tersebut, Kho Beng, Beng Gi ciu dan siau wan sekalian cepat-cepat menutup semua jalan darah pentingnya.

Terdengar Thian Cun yang pra-pura berbatuk dan menutup mulutnya dengan ujung baju, padahal ia berbisik lagi dengan ilmu menyampaikan suaranya .

"Aku telah berhasil menemukan hal-hal aneh, kalian cepat berlagak seperti orang yang mabuk dan bersikap masa bodoh, namun ingat jangan sampai kosongkan pikiran, coba kita lihat permainan apalagi yang bakal mereka pergunakan."

Maka suasana didalam ruangan pun lambat laun tercekam kembali dalam keheningan.

Tampak Thian cun yang, oh Kui sam, Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan duduk kaku bagaikan hwesio tua yang sedang semedi sementara biji mata masing-masing cun makin lama semakin tak bergerak lagi.

Ui sik kong yang mengawasi terus perubahan wajah lawanlawannya itu mulai memunculkan senyuman bangga setelah melihat kejadian ini.

setengah peminuman teh kembali sudah lewat, tiba-tiba Liong hoa sinkun bangkit berdiri lalu secara tiba-tiba mengayunkan kesepuluh jari tangannya dan digetarkan lebih dulu dihadapan Thian cun yang.

Thian cun yang berlagak seakan-akan sama sekali tidak merasakan gerakan tersebut, tubuhnya sama sekali tak bergerak.

Dengan suara yang dalam Liong hoa sinkun segera menegur .

"Thian cun yang tatap kesepuluh jari tanganku ini lekat-lekat"

Thian cun yang sama sekali tak bersuara, namun biji matanya yang sudah tak berputar itu benar-benar berputar mengikuti gerakan ke sepuluh jari tangan Liong hoa sinkun.

sekilas perasaan girang segera menghiasi wajah Liong hoa sinkun, lagi-lagi dia menegur dengan suara dalam .

"Kenalkah dengan aku?"

"Kenal"

Jawaban Thian cun yang bagaikan orang mengigau.

"siapakah aku?"

Desak Liong hoa sinkun lebih jauh.

"Kau adalah si setan gantung hitam dari istana neraka"

"Haaahh?"

Tanpa terasa Liong hoa sinkun berseru kaget dan menghentikan perbuatan dengan wajah tertegun. Ui sik kong turut melompat bangun dengan wajah tertegun, segera tanyanya .

"Apa yang sebenarnya terjadi"

Liong hoa sinkun tergagap tak mampu menjawab, sinar matanya pelan-pelan dialihkan dari wajah Thian cun yang keatas wajah siau wan, lalu seorang demi seorang ditelitinya dengan seksama.

Ia menjumpai wajah orang-orang itu sudah berubah menjadi orang yang kehilangan pikiran, biji matanya kaku dan lagaknya seperti orang bodoh, sama sekali tidak ditemukan sesuatu gejala yang aneh.

Karenanya sambil tersenyum, dia berkata .

"Mungkin tenaga dalam mereka kelewat sempurna, biarpun hamba telah menambah sepuluh kali lipat bahan sian hun liang yang dibakar, namun kesadaran pikiran mereka tampaknya belum terpengaruh secara keseluruhan."

"Tapi apa sebabnya ia mengatakan sinkun adalah si setan gantung hitam dari neraka?"

Tanya Uisik kong dengan perasaan tak habis mengerti. Liong hoa sinkun tertawa jengah, buru-buru sahutnya .

"Hal ini, mungkin tampang hamba memang kurang sedap dipandang sehingga, sehingga dia menyebut begitu kepadaku."

"Lantas apa yang mesti kita perbuat dalam langkah berikutnya?"

Tanya Ui sik kong kemudian serius. Liong hoa sinkun tertawa bergelak .

"Itu mah gampang, biarpun kesadaran mereka masih tertinggal sebagian namun tenaga dalamnya telah punah, asal jalan darah mereka kita totok, orang-orang itu akan menurut semua perintah dan perkataan ciangbunjin"

"Betul juga perkataanmu itu,"

Seru Ui sik kong gembira.

"aaaai, nampaknya makin tua aku semakin pikun."

Dengan suatu gerakan cepat, jari kanannya segera disodorkan kemuka menotok jalan darah penting, ditubuh Thian cun yang.

Tapi disaat ujung jari tangannya hampir menyentuh diatas dada lawan ini, mendadak Thian cun yang menggerakkan pergelangan tangan kanannya, lalu dengan kelima jari tangan yang terpentang bagaikan kaitan, dia balik mencengkeram pergelangan tangan kanan Ui sik kong.

Bersamaan waktunya terdengar dia berseru sambil tertawa terbahak-bahak .

"Bajingan tua, nampaknya kau tak pernah menyangka bukan?"

Tak terlukiskan perasaan kaget Ui sik kong menghadapi kejadian ini, dengan suara dalam ia segera membentak .

"Cepat kabur"

Suasana didalam ruangan tengah berubah menjadi kacau, setiap orang yang hadir dalam arena serentak menghentakkan kakinya keatas tanah, dari bawah kaki masing-masing pun bermunculan lubang gua.

Terdengar suara gemerincingan yang nyaring dalam waktu singkat orang-orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

sementara itu Thian cun yang berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan Uisik kong kencang-kencang.

Hal ini membuatnya sama sekali kehilangan tenaga untuk melawan, Rengeknya kemudian sambil tertawa dingin .

"Asal kau, Ui tua sudah ditangkap. sama artinya seluruh partai kupu-kupu telah kukuasai"

Lalu sambil berpaling kearah Kho Beng sekalian, serunya pula .

"Kalian jangan bergerak secara sembarangan, meskipun alat rahasia yang melengkapi ruangan ini amat banyak, namun dibagian tempat ini pasti aman dan tiada ancaman."

Sementara itu Ui sik kong telah berseru sabil menggigit bibir kencang-kencang menahan rasa bencinya.

"seabad berselang, leleuhurku telah tewas ditangan tiga dewa, apakah malam inipun ."

Sebelum perkataan itu selesai diutarakan, Thian cun yang telah mendengus seraya menukas .

"Bila aku membiarkan kau mati secara tenang, sejak pertemuan yang pertama kali aku sudah membuatmu kehilangan nyawa, buat apa aku mesti menyuruh kau hidup terus hingga kini."

Lalu dengan suara dalam terusnya .

"Asal kau bersedia menerima syarat dari Kho Beng, akupun tidak akan menyulitkan dirimu"

Sambil menggigit bibir Ui sik kong berkata .

"Dendam sakit hati telah menyusup ketulang sumsumku, selama ini akupun bertekad hidup untuk membalas dendam atas aib yang menimpa leluhurku. Hmmm, jangan mimpi kalau aku bakal menerima syarat-syarat seperti itu."

"Hmm, itu berarti kau mencari kematian buat diri sendiri"

Kata Thian cun yang sambil menghela napas.

"Heee . Heehh . Heeehh .."

Mendadak Ui sik kong tertawa dingin.

"sekalipun aku sedang mencari kematian buat diri sendiri, bukan berarti kalian mampu membunuh diriku."

"Bajingan tua"

Bentak Kho Beng dengan suara dalam.

"biarpun aku berniat melaksanakan pesan terakhir dari guruku, namun bila mana keadaan terpaksa, aku tetap akan merenggut juga selembar jiwa anjingmu."

Sambil menggigit bibir, Ui sik kong mendengus .

"Tua Bangka Thian, bajingan cilik Kho, aku akan mengucapkan selamat tinggal kepada kalian"

Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan sambaran kilat, tiba-tiba dia mengayunkan tangan kanannya, lalu dengan pukulan yang mematikan ia menebas lengan kanan sendiri secara mentahmentah.

Menyusul putusnya lengan tersebut terdengar lagi suara gemerincingan nyaring, ternyata Uisik kong telah membuka lubang rahasia dan melarikan diri pula dari situ.

siapapun tak ada yang menyangka kalau musuhnya akan berbuat senekat itu, sebab siapapun tak menyangka kalau Ui sik kong akan bertindak begitu tabah dengan memapas kutung lengannya sendiri Tampak percikan darah menyembur dan menodai seluruh permukaan tanah yang berada dalam genggaman Thian cun yang saat ini hanyalah tinggal sebuah kutungan lengan belaka.

Dengan gemas Thian cun yang membanting lengan itu keatas tanah, lalu serunya dengan gemas .

"Baru pertama kali ini kujumpai peristiwa yang sama sekali diluar dugaanku"

Kini ruangan tersebut tinggal mereka berapa orang, sedang dari pihak musuh tak kelihatan lagi seorang manusia pun, suasana tersebut amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Tiba-tiba Ui sik kong berkata.

"sekarang kita sudah terjerumus kedalam keadaan yang amat berbahaya, Thian tua, apa yang harus kita perbuat sekarang?"

Thian cun yang memperhatikan sekejap keadaan disekeliling tempat itu, lalu katanya .

"Walau kita berada ditempat yang sangat berbahaya, namun ruangan ini justru aman sekali, sebab yang ada disini hanya alat rahasia untuk menyelamatkan diri, tak ada alat rahasia untuk mencelakai orang."

"Tapi kakek tongkat sakti sekalian justru berada dalam cengkeraman iblis mereka"

Sambung Kho Beng. Dengan cepat Thian cun yang menggeleng, katanya .

"Tidak. sejak aku tiba dalam ruangan ini aku telah memahami akan hal tersebut, kakakmu sekalian sesungguhnya telah dipindahkan ketempat yang lain."

Lalu setelah berhenti sejenak, katanya .

"Tapi hal ini memang wajib mereka lakukan sebab betapapun juga dia toh mesti mempersiapkan langkah terakhir seandainya benar-benar menderita kekalahan ditangan kita, paling tidak tiga sandera tersebut masih merupakan senjata yang cukup ampuh."

Cepat-cepat Kho Beng menukas sambil gelengkan kepalanya.

"Persoalan itu lebih baik tak usah dibicarakan dulu, yang penting apa yang mesti kita perbuat sekarang?"

Sambil menatap wajah rekannya, kembali dia melanjutkan .

"Diantara kami semua, kaulah yang paling ahli dan berpengalaman didalam soal-soal alat rahasia, ayoh cepat ajak kami meninggaikan tempat ini"

"ooooh tentu saja, sudah sewajarnya bila aku yang menjadi penunjuk jalan untuk kalian"

Mendadak dengan air mata bercucuran, Kho Beng berkata .

"cianpwee berdua maafkanlah kelancangan boanpwee."

"Utarakan saja terus terang,"

Tukas Thian cun yang segera.

"sebetulnya apa rencanamu?"

"Terlepas apakah enciku sekalian sudah dipindahkan dari sini atau tidak. boanpwee berniat untuk melakukan pemeriksaan didalam gua pengikat cinta ini, kemudian baru meninggaikannya dengan perasaan lega."

Beng Gi ciu segera mendukung .

"Engkoh Beng, aku akan menemanimu"

Thian cun yang segera menghela napas, katanya kemudian .

"Kalau kaupun bersedia menemaninya, untuk apa kami berdua angkat kaki dari sini? sekalipun empek merasa yakin kalau mereka telah memindahkan para sandera dari sini, tapi kita memang wajib untuk menyelidikinya lagi sampai jelas."

"Tunggu dulu"

Cegah Kho Beng dengan suara dalam .

"boanpwee tak berniat untuk berbuat demikian."

"Lantas apa yang ingin kau lakukan?"

Tanya Thian cun yang agak tertegun.

"Gua pengikat cinta bukan tempat yang aman, seandainya cianpwee berdua menjumpai peristiwa yang diluar dugaan dalam gua ini, berarti keselamatan seluruh umat persilatan pun akan kehilangan dukungan, oleh sebab itu lebih baik biar boanpwee seorang yang pergi melakukan pemeriksaan."

Kemudian sambil berpaling kearah Beng Gi ciu, katanya pula .

"Adik Ciu, kaupun harus menuruti perkataanku."

"Kau tak usah berbicara lagi"

Tukas Beng Gi ciu agak emosi.

"perduli apa pun bakal kau ucapkan, tak nanti akan kukabulkan, apalagi kau pun tidak mengerti tentang ilmu barisan serta alat-alat rahasia."

"Aaaah, sekalipun kau mengerti sedikit kukira tak nanti dapat menandingi pengalaman empek yang jauh lebih banyak"

Sambung Thian cun yang sambil tertawa. Kemudian agak emosi, dia melanjutkan .

"Beng toako bernasib kurang mujur dan mati kelewat muda, sedang kau adalah satu-satunya keturunan toako, andai kata empek berdua yang mati masih tak apa, bila kau yang mengalami musibah .."

"Kebaikan hati empek biar kuterima didalam hati saja"

Kata Beng Gi ciu sambil menggeleng.

"tapi akupun tak ingin kita menyerempet bahaya bersama-sama."

"Tak usah banyak bicara lagi"

Teriak oh Kui sam tiba-tiba.

"Kalau ini dilanjutkan aku situa bisa menangis, Cun yang cepat membuka jalan"

Thian cun yang tak banyak berbicara lagi, setelah mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia melepaskan sebuah pukulan.

Blaaaammm Ketika angin pukulannya menumbuk diatas dinding dengan menerbitkan suara keras, sebagian dinding batu itu runtuh ketanah.

Ternyata dinding batu itu tebalnya Cuma setengah depa, biarpun Thian cun yang hanya menggunakan enam bagian tenaga dalamnya, namun dinding batu tersebut sudah tak mampu untuk menahan , seketika muncullah sebuah lubang selebar tujuh depa.

oh Kui sam segera mengayunkan langkah berniat memasuki gua dibalik dinding yang roboh, namun Thian cun yang segera menariknya.

Dengan sepasang mata melotot besar oh Kui sam segera berseru .

"Apakah lantaran dinding gua ini kau yang menjebolnya maka aku tak boleh menerobosinya lebih dulu?"

Thian cun yang segera tertawa.

"Kui sam, usiamu sudah begini besar mengapa sifat berangasanmu belum juga mereda, tahukah kau bahwa daerah diluar lubang dinding tersebut adalah kawasan yang sangat berbahaya? sekalipun tubuhmu terdiri dari baja aslipun, bisa jadi tubuhmu akan terlumat hingga hancur tak ada wujudnya lagi."

Oh Kui sam segera memukul jidat sendiri, seraya berseru .

"Didalam masalah ini aku memang tak mampu menandingimu, lebih baik kau saja yang membawa jalan"

Tapi Thian cun yang segera menggelengkan kepalanya .

"Aku sendiripun tak sanggup, sebab tempat itu merupakan sebuah kawasan yang amat berbahaya serta mematikan."

Hmm oh Kui sam segera mendengus.

"kalau memang tempat tersebut merupakan kawasan berbahaya yang mematikan, apa gunanya kau memukulnya hingga berlubang?"

Sembari mengawasi daerah disekeliling tempat itu, Thian cun yang menjawab .

"Aku tak lebih hanya ingin membuktikan kebenaran dari dugaanku, coba akan kulihat apa betul bangunan ini dibuat menurut system Pat kwa yang dikombinasikan dengan barisan yang lain lagi."

Menyusul kemudian ia pun melepaskan sebuah pukulan lagi.

Gempuran keras kembali menerbitkan suatu dentuman yang amat nyaring, lagi-lagi ada sebagian dinding gua yang runtuh.

Akhirnya sambil manggut-manggut, Thian Cun yang berkata .

"Dugaanku memang benar, tempat ini memang dibangun menurut system Pat kwa dan Ji gi"

"Apakah aku boleh melalui lubang yang kedua ini?"

Tanya oh Kui sam kemudian dengan kening berkerut. sambil berkata lagi-lagi dia bermaksud menerobos masuk. Cepatcepat Thian cun yang mencegahnya seraya berseru .

"Tidak boleh, tempat itu merupakan ceng kiong, sama seperti yang pertama, merupakan kawasan berbahaya yang mematikan"

"Huuuh, lagi-lagi kawasan yang mematikan"

Seru oh Kui sam mendongkol.

"Kalau memang sudah tahu tempat tersebut mematikan, apa gunanya dilubangi? Bajingan tua Ui sik kong dan si banci Liong hoa sinkun sudah kabur dari sini, kenapa kita mesti membuang waktu lagi dengan percuma?"

Dengan suara dalam Thian cun yang berkata .

"Akupun dapat membayangkan hal tersebut, tapi kau jangan lupa sekali kita bertindak teledor akibatnya sepanjang masa akan merasa menyesal, bagaimanapun juga aku mesti bertindak lebih berhatihati, lagipula sekalipun kita lebih cepat pun, kita tak akan bisa menyusul si tua Bangka tersebut."

Tiba-tiba oh Kui sam berpaling kearah Kho Beng danBeng Gi ciu sambil ujarnya .

"Apakah kalian berdua tidak mempunyai sesuatu pendapat?"

Beng Gi ciu memandang sekejap kearah Kho Beng tanpa menjawab, sedang Kho Beng seegra berkata sambil tertawa .

"Bukankah ada locianpwee berdua disini, tentu saja locianpwee berdualah yang mengambil keputusan buat kami semua."

"Tidak"

Memberi kesempatan kepada oh Kui sam buka suara, Thian cun yang telah berseru lebih dulu .

"Kalau begitu, biar akulah yang menjadi penunjuk jalan bagi kita semua dengan melakukan pemeriksaan lebih dulu disekeliling tempat ini."

Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia berkata lebih jauh .

"Ruangan batu ini merupakan pusat dari seluruh gua pengikat cinta, tapi justru tempat ini pula yang paling aman, agaknya si bajingan tua Ui tidak punya rencana untuk menghadapi kita dengan mempergunakan alat rahasia Karena itu mempersilahkan kita datang kemari."

"Kalau memang pusatnya terletak disini, bukankah berarti seluruh kunci utama yang mengendalikan segala perubahan atas alat rahasia yang berada dalam gua pengikat cinta terletak pula disini?"

Tanya Beng Gi ciu.

Thian Cun yang segera menggeleng "itu sih tidak.

menurut pendapatku, letak pusat pengendalian alat rahasia berada dalam sebuah ruang lain disebelah kiri, namun pusat pengendalian alat rahaisa mempunyai komposisi yang berbeda satu dengan lain menurut selera pembuatnya, maka walaupun aku memahami system konstruksinya, bukan berari dapat menggunakan pula alat pengendali alat rahasia mereka."

"Aaaah, bicara pulang pergi, bukankah sama halnya dengan kau sudah angkat tangan, menyerah dan tak punya akal lagi?"

Teriak oh Kui sam penasaran. sambil tertawa Thian cun yang menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya .

"Itu sih tidak. biarpun aku tak dapat mempergunakan pusat pengendalian alat rahasianya, namun untuk masuk keluar sih tak bakal dapat hambatan, bangunan ditempat ini semuanya terbagi menjadi dua, satu berunsur dingin dan yang lain panas, pihak yang berunsur dingin terdiri dari empat kawasan mematikan, sedangkan pihak yang berunsur panas merupakan kawasan hidup dan aman."

Lagi-lagi sebuah pukulan gencar dilontarkan kedepan. Kali ini dinding batu itu sama sekali tidak roboh, tapi terbukalah sebuah pintu rahasia. oh Kui sam segera bersorak gembira.

"Bagus sekali, kali ini kita boleh memasukinya, bukan?"

"Memasukinya sih boleh saja, tapi biar aku saja yang bertindak sebagai penunjuk jalan."

Sambil berkata ia segera berjalan lebih dulu memasuki pintu rahasia tersebut.

secara beruntun semua orang mengikuti dibelakangnya menembusi pintu rahasia tadi.

Dibalik pintu rahasia merupakan sebuah lorong bawah tanah, dikedua belah sampingnya masing-masing terdapat empat buah ruangan dengan perlengkapan yang komplit, tapi ada pula yang kosong tak berisi.

Keempat buah ruangan tersebut segera diperiksa, sehingga dalam waktu singkat semuanya telah selesai diperiksa.

Diujung lorong situ terdapat sebuah persimpangan jalan, Thian cun yang dengan cepat mengebaskan ujung bajunya kesebelah kanan.

Lorong sebelah kanan berbentuk setengah lingkaran, pada jarak lima kaki kemudian terdapat lagi sebuah tikungan menuju kekanan, disisi lorong terdiri pula dari empat buah ruangan, bentuk maupun perabotnya tak jauh berbeda seperti ruangan sebelumnya.

Hanya pada empat ruang berikut keadaannya kosong, Cuma pada ruang terakhir terdapat sebuah rak senjata, tapi diatas rak tersebut kecuali sebuah tombak yang telah berkarat, sama sekali tak Nampak senjata taham lainnya.

Tak tahan oh Kui sam berseru .

"Tempat ini bagaikan gua yang sama sekali tak berpenghuni, kalau kita mesti melakukan pemeriksaan dengan cara demikian hasil apakah yang akan kita peroleh?"

"aku tak lebih hanya berusaha dengan segala kemampuan untuk melakukan penyelidikan ke setiap tempat yang bisa didatangi di gua pengikat cinta ini, andaikata tak berhasil menemukan sesuatu, yaa apa boleh buat lagi."

Sambil berkata kakek dari marga Thian ini melanjutkan kembali perjalanannya kedepan. Beng Gi ciu berpikir sebentar, kemudian selanya .

"Menurut pendapatku, kemungkinan besar mereka sudah mempunyai rencana untuk mengundurkan diri dari sini."

Dengan cepat oh Kui sam menggeleng.

"Berada dalam keadaan seperti tadi, dimana bajingan tua Ui sik kong melarikan diri dengan membawa luka dilengan, tak mungkin ia mempunyai rencana yang baik, keponakanku, kali ini dugaanmu tak tepat"

"Aku hanya berbicara mengikuti situasi didala m gua ini,"

Ucap Beng GI Ciu sambil tertawa.

"coba lihat semua barang yang penting telah mereka pindahkan semua,kalau bukan direncanakan masa dapat kita temukan dalam keadaan begini?"

"Betul juga perkataan itu,"

Kata Thian Cun yang sambil menganguk.

"Situa Bangka Ui Sik kong memang bukan manusia sembarangan, nampaknya dia telah melakukan pelbagai pesiapan, agaknya dia sudah berjaga-jaga bila usahanya kali ini mengalami kegagalan."

Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam kembali tambahnya .

"Ia benar-benar merupakan musuh yang tangguh buat kita"

"Empek Thian, selanjutnya kita akan memeriksa kemana?"

Tanya Beng Gi ciu kemudian dengan nada menyelidik.

"Tempat didepan situ adalah posisi Kan kiong, kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut,"

Ujar Thian cun yang sambil mendampingi kedepan.

"Tampaknya keadaan ditempat itupun tak akan jauh berbeda dengan tempat disini?"

"Benar Empat kawasan terdiri dari empat tempat yang berbentuk sama, tentu saja keadaan disetiap tempat tak akan jauh berbeda, kalau bukan demikian masa bangunan ini disebut mengandung unsur Pat kwa dan Ji gi?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah memasuki sebuah lorong yang lain.

Tapi dengan cepat ia menghentikan perjalanannya dengan wajah tertegun, oh Kui sam, Beng Gi Ciu-serta Kho Beng sekalipun segera dibuat termangu.

Ternyata dugaan Thian Cun yang telah mengalami perubahan sama sekali diluar dugaan, sebelumnya dia mengatakan bentuk bangunan dikedua tempat tersebut sama satu dengan lainnya, namun setelah menembusi tempat itu mereka temukan keadaan yang sama sekali berbeda.

Lorong itu Cuma sepanjang berapa kaki dengan ujungnya merupakan sebuah ruangan batu yang luasnya mencapai dua kaki, perabot yang berada disitupun tidak terlalu banyak.

setelah sebuah meja besar yang etrletak dibagian tengah, empat buah kursi besar yang terbuat dari kayu cendana terletak diempat sudut, sementara pada empat dinding masing-masing tergantung sebuah lentera minyak.

sebaliknya dibawah dinding bagian muka terletak sebuah patung Buddha yang tingginya dua kali manusia dewasa.

Kening oh Kui sam berkerut, segera ia menegur .

"Cun yang, apa maksud kesemuanya ini?"

Thian Cun yang terbelalak keheranan, gumamnya agak tergagap.

"aneh, aneh, sunguh aneh"

"sebetulnya permainan busuk apa sih?"

Seru oh Kui sam lagi bertambah gelisah.

"masa kau tak dapat melihatnya?"

"Jangan ribut, jangan ribut dulu"

Thian cun yang mengulapkan tangannya.

"keanehaan disini terletak pada patung Buddha tersebut, mengapa disini bisa dilengkapi dengan sebuah patung Buddha?"

"siapa tahu patung tersebut hanya sebuah tipu muslihat bajingan tua Ui yang sengaja hendak mengaburkan perhatian kita"

Sela Beng Gi ciu.

"Tidak mungkin, sudah pasti bukan begitu maksudnya,"

Kata Thian cun yang sambil menggeleng. Mendadak.

"Hati-hati locianpwee agaknya dari mulut patung Buddha itu menyembur keluar segulung asap berwarna hijau"

Buru-buru semua orang mengalihkan perhatiannya kepatung itu, benar juga, dari mulutnya patung tersebut memang Nampak menyembur keluar segulung asap berwarna hijau.

Tak lama kemudian asap hijau tersebut telah berubah menjadi berwarna kuning bahkan dari telinga, mata serta mulutnya menyembur keluar asap.

makin lama semakin tebal dan semakin banyak.

Dengan perasaan gelisah Beng Gi ciu segera berseru .

"sudah pasti asap beracun"

Mendadak paras muka Thian cun yang berubah hebat, teriaknya kaget .

"Bukan asap beracun tapi asap belirang, aaah perhitunganku salah besar, tempat ini buka saja diatur dengan unsure Pat kwa dan Ji gi bahkan diantaranya disisipkan juga dengan barisan Jit coat tin yang mematikan."

Kemudian dengan suara dalam serunya .

"cepat ikuti diriku untuk mundur dari sini"

Sambil membalikkan badan cepat-cepat dia mengundurkan diri dari tempat tersebut.

oh Kui sam tak berani berayal , menyusul dibelakang Thian Cun yang semua berlarian meninggalkan gua pengikat cinta.

setibanya diluar gua, Thian Cun yang sama sekali tak berhenti namun dengan mengerahkan ginkangnya dia kabur menuju kebelakang lembah.

Hingga tiba didasar lembah Thian Cun yang baru menghentikan larinya sambil menghembuskan napas panjang.

Kemudian menyusul Beng Gi ciu, Kho Beng dan siau wan sekalian, mereka semua pun segera berkumpul dibalik semak.

Dengan kening berkerut, oh Kui sam segera berseru .

Bersambung ke

Jilid 43

Jilid 43

"cun yang, aku merasa tindakan kita kali ini amat memalukan, masa didepan angkatan muda, kita dibuat lari terbirit-birit hanya karena sebuah patung Buddha, hmmm, kemana kita harus taruh muka kita sebagai keturunan dari tiga dewa?"

Sambil menghela napas Thian cun yang menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya kemudian .

"Yaa, apa boleh buat."

Kemudian menunjuk kepuncak cian san, serunya lagi .

"coba kalian perhatikan kesana..."

Belum habis perkataan tersebut diucapkan tiba-tiba terdengarlah suara ledakan dahsyat yang amat memekakkan telinga bergema, memecahkan keheningan disusul pula Nampak semburan api yang amat mengerikan menyembur keluar dari puncak bukit itu Menyusul kemudian terjadi lagi ledakan kedua dan ketiga.

Ledakan demi ledakan yang menggelegar diangkasa membuat seluruh permukaan tanah dimana Kho Beng sekalian berada turut berguncang amat keras, hampir boleh dibilang tanah turut berguncang, bumi serasa merekah, seakan-akan hari kiamat telah tiba.

Bongkahan batu-batu raksasa berguguran disekeliling tempat persembunyian mereka bagaikan hujan batu, untung beberapa orang itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi badan, coba kalau tidak niscaya tubuh mereka akan terluka oleh hujan batu.

Sampai lama..Lama kemudian suara dentuman yang deras itu baru berhenti namun kobaran api dipuncak bukit masih membara dengan hebatnya, seluruh tanah perbukitan tersebut telah dilanda oleh lautan api.

sambil menghembuskan napas panjang Thian Cun yang berkata .

"sudahkah kalian lihat sendiri? Rupanya si bajingan tua ui sik kong telah bertekad akan mengubur kita dalam lautan api. itulah sebabnya ia berani berbuat yang aneh-aneh, coba kalau kita melakukan pemeriksaan dulu kebagian gua yang lain, rasanya akan sulit sekali buat kita untuk meloloskan diri dari musibah ini"

"Darimana empek Thian mengetahui bahwa mereka telah menanam bahan peledak didalam gua tersebut?"

Tanya Beng Gi ciu.

"Masalahnya terletak pada patung Buddha tersebut, ketika kita memasuki ruangan gua tadi, aku masih mengira bangunan tersebut memang benar-benar dibangun menurut system pat kwa dan ji gi, namun tak seharusnya ditempat semacam ini terdapat patung Buddha nya, kehadiran patung tersebut membuatku bingung dan tak habis mengerti, hingga timbulnya asap kuning dari patung tersebut aku baru mendapatkan ilham apa yang sesungguhnya terjadi, rupanya mereka telah menambahkan barisan Jit coat tin yang mematikan disana"

Kho Beng tak mampu berkata-kata, dia hanya menghela napas panjang. sesudah tertawa getir, Thian Cun yang berkata lebih lanjut .

"Ilmu barisan dan silat rahasia merupakan kepandaian andalan partai kupu-kupu, kenyataannya mereka mampu mengkombinasikan barisan pat kwa, Ji gi dan Jit coat tin menjadi satu barisan yang hebat, hal ini benar-benar berada diluar dugaanku"

"Dengan meledaknya bahan peledak tersebut, bukankah seluruh gua pengikat cinta telah menjadi rata dengan tanah?"

Sela Beng Gi ciu. Thian Cun yang menghela napas panjang .

"Aaaai Bukan Cuma gua pengikat cinta yang telah musnah, semua binatang dan burung yang berada dipuncak bukit itupun mungkin tak ada yang tersisa sama sekali, aaaai tindakan mereka benar-benar teramat keji."

Setelah berhenti sejenak. kembali katanya kepada Kho Beng .

"Tapi kaupun tak perlu risau ataupun sedih hati, biarpun tindakan dari ui sik kong kali ini cukup keji namun orangnya amat cerdik, bila keadaan belum sampai pada posisi yang amat terdesak, tak nanti dia akan mengorbankan para sandera, oleh sebab itu kaupun tak usah terlalu mengkuatirkan keselamatan dari cicimu sekalian"

"Benar"

Sambung Beng Gi ciu.

"mari kita segera memeriksa keadaan dari tiga bersaudara Kim"

Sementara itu kobaran api dipuncak bukit sudah makin mereda, terlihat dengan jelas bagaimana sebagian daricuncak bukit itu sudah kena diledakkan hingga musnah.

Dengan membawa perasaan yang berat dan dalam semua orang beranjak meninggaikan tempat tersebut dan kembali ke gua didasar jurang.

Keadaan medan didasarjurang itu amat berbahaya, batuan cadas berserakan dimana-mana, ditambah lagi pepohonan yang tumbuh rimbun membuat keadaan disana amat mengerikan hati.

Disaat semua orang sedang menelusuri pepohonan yang rimbun, mendadak terdengar gelak tertawa yang menyeramkan bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian tampak tiga sosok bayangan manusia menyelinap keluar dari tempat persembunyiannya.

Dengan perasaan tertegun, serentak Thian cun yang sekalian menghentikan langkahnya.

Ternyata ke tiga orang itu tak lain adalah ui sik kong yang bertubuh kecil ceking dan berlengan tunggal beserta Liong hoa sinkun disebelah kirinya dan disebelah kanannya adalah seorang perempuan tua yang berbentuk seperti Liong hoa sinkun, berambut panjang sebahu, memakai baju putih dan berwajah pucat bagaikan dilumuri semacam kapur, tampangnya tidak mirip manusia, tujuh bagian justru mirip setan.

semua orang segera mengerti, kemungkinan besar orang itu adalah istri Liong hoa sinkun yang bernama Pek kut hujin.

Bekas lengan kanan ui sik kong yang kutung kini telah dibalut dengan kain putih, namun pakaiannya belum diganti, sehingga noda darah masih kelihatan mengotori seluruh badannya, keadaan dari ketua partai kupu-kupu ini kelihatan paling mengenaskan.

Terdengar ia berseru sambil tertawa seram.

"Tentunya kalian tidak menyangka bukan, meskipun berulang kali aku ui sik kong menderita kekalahan, bahkan lengan kananku pun sudah kutung, namun kesemuanya ini tidak mengurangi semangat juangku untuk menguasai jagat."

Thian cun yang tertawa tergelak.

"Haaahh..haaahh .. haaahh . Tua Bangka Ui, mungkin kau sendiripun tidak menyangka bukan, bahwa kami semua tak sampai mampus oleh ledakan bahan peledakmu bahkan masih akan meneruskan cita-cita kami untuk mengusirmu dari daratan Tionggoan"

Ui sik kong tertawa seram.

"Kejadian ini memang sedikit diluar dugaan namun aku tidak merasa terlalu kecewa biarpun satu gagal satu kali, toh masih ada kesempatan dilain saat."

Kho Beng segera menyelinap maju kedepan, tegurnya dingin .

"Ayoh katakan, apa yang hendak kau lakukan sekarang?"

Kemudian setelah memperhatikan sekejap wajah Pek kut hujin, katanya lebih jauh .

"SEtelah mendatangkan bala bantuan, tentunya kau berniat untuk berkelahi bukan?"

Dengan sikap yang amat tenang Ui sik kong menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya .

"Lengan kananku baru kutung, aku tidak berminat sama sekali untuk melangsungkan pertarungan-"

"Lalu apa tujuanmu?"

Bentak sang pemuda tak sabar. sambil tertawa seram Ui sik kong berkata .

"Ada tiga hal yang perlu kubicarakan dihadapan kalian. Pertama, leluhur kami telah menemui ajalnya dibawah tebing hati Buddha pada seabad berselang ditangan tiga dewa, maka setelah hidup memencilkan diri hampir seabad lamanya, partai kupu-kupu tetap bertekad akan membalas dendam atas sakit hati ini."

Ditatapnya wajah Thian cun yang sekejap dengan sinar matanya yang hijau menyeramkan, kemudian lanjutnya lebih jauh .

"siapa sangka lengan kananku justru sudah kutung lebih dulu ditanganmu, maka aku telah bersumpah kepada langit, kecuali keturunan dari tiga dewa telah kutumpas habis semua, aku tak nanti akan melupakan sakit hati yang terjadi hari ini."

"Haaahh . Haaahh .. haaahh asal kau berkepandaian untuk berbuat yang sama, terserah apapun kemauanmu"

Sahut Thian cun yang acuh tak acuh. Ui sik kong kembali berkata lebih jauh .

"Kedua, kitab pusaka Thian goan bu boh adalah mestika dari partai kupu-kupu, terlepas apakah ilmu silat yang tercantum didalam kitab tersebut bermanfaat atau tidak buat partai kupu-kupu, aku tetap bertekad akan mendapatkannya kembali."

Sambil berpaling kearah Kho Beng, bentaknya .

"Mati hidup kakakmu sekalian masih tetap berada dalam cengkeramanku, bila kau berniat menyelamatkan jiwa mereka, cara yang paling tepat adalah selekasnya mengembalikan kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut kepadaku"

"Aku pun tetap bermaksud menyampaikan syarat kmepadamu"

Kata Kho Beng dengan suara dalam.

"asal kau dapat mewujudkan apa yang menjadi syaratku itu, kujamin kedua lebar kitab pusaka Thian goan bu boh itu akan kukembalikan ketangan anda secara utuh, nah, apakah persoalanmu yang ketiga?"

"Ketiga, aku hendak menyampaikan sebuah berita buruk kepada kalian semua"

Seru Ui sik kong sambil tertawa seram.

"Berita buruk apa?"

Kho Beng merasa agak tertegun-Ui sik kong kembali tertawa seram.

"Heehh heehh . Heeehh . seluruh kekuatan inti dari tujuh partai besar dan para jago kenamaan dari empat penjuru mungkin akan terkubur untuk selamanya didalam sebuah selat yang sempit garagara Chee Tay hap telah menyampaikan berita yang salah."

"Hei, dari mana kau bisa tahu tentang chee Tay hap?"

Seru Kho Beng agak tercengang.

"berita salah apa pula yang disampaikan olehnya sehingga akan menyebabkan tewasnya para jago dalam sebuah selat? Mengapa kau tak berani menerangkan persoalan ini dengan lebih jelas lagi?"

Kembali ui sik kong tertawa seram.

"Heeehhh .heeehh . Heehh .orang menyebut chee Tay hap sebagai saudagar racun berkaki sakti, hal ini disebabkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna, oleh sebab itulah aku sengaja memilih dirinya sebagai penyampai berita, yang lebih penting lagi adalah hubungannya yang begitu dekat denganmu, kehadirannya sebagai pembawa berita sudah pasti akan dipercaya ketua siau lim pay secara utuh dan tanpa curiga"

Setelah memandang sekajap wajah musuh-musuhnya dengan sorot mata yang dingin kembali dia melanjutkan .

"Dia telah menyampaikan berita darimu untuk mengajak para jago yang berkumpul dikuil siau lim si untuk bersama-sama berangkat kesebuah selat tertentu, bahkan mereka sudah harus tiba sebelum tanggal tujuh belas."

"Tanggal tujuh belas? Berarti besok?"

Tanya Kho Beng setengah percaya setengah tidak. ui sik kong tertawa terkekeh-kekeh .

"Betul, namun bila dihitung dengan gerak cepat langkah Chee Tay hap mungkin saat ini dia telah tiba di siau lim si, kasihan benar kawanan jago yang menganggap dirinya sebagai pendekar sejati, mungkin mereka sudah mulai melangkahkan kakinya untuk berangkat menuju ke pintu kematian"

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan?"

Seru Kho Beng sambil menggigit bibir. Kembali ui sik kong tertawa tergelak.

"Padahal perkataanku sudah amat jelas, sepantasnya kau bisa memahami dengan segera berita yang disampaikan chee Tay hap ke pihak siau lim si tak lain adalah berita yang berasal darimu, tentu saja yang dimaksud disini adalah aku yang mewakilimu"

"Hmmm, jangan kau bermimpi disiang hari bolong"

Seru Kho Beng sambil tertawa dingin.

"mana mungkin chee Tay hap bersedia menuruti perintahmu? Apalagi belum tentu para jago akan mempercayai perkataannya."

"Chee Tay hap telah terpengaruh oleh ilmu memindah sukma menggeser hawa dari Liong hoa sinkun, gara-gara pengaruh hipnotis tersebut telah salah menganggap Liong hoa sinkun sebagai dirimu Kho Beng. Tentang bagaimana caranya merebut kepercayaan dari para jago hal ini disebabkan dia membawa tanda pengenalmu."

"Tanda pengenal apa?"

Kho Beng semakin tak habis mengerti.

"Mengapa kau tidak memperlakukan pemeriksaan atas dirimu sendiri. Coba dilihat benda apakah yang telah hilang dari tubuhmu?"

Dengan perasaan tertegun Kho Beng mencoba untuk meneliti keadaan sendiri, dengan cepat ia menjumpai kalau lencana naga kemala hijau yang biasanya tergantung dilehernya kini sudah lenyap tak berbekas, saking tertegunnya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

sambil tertawa tergelak ui sik kong segera mengejek .

"sudah kau temukan?"

"Kau .. kau maksudkan lencana naga kemala hijau?"

Ui sik kong segera tertawa.

"Kecuali lencana naga kemala hijau tersebut benda apalagi yang mudah merebut kepercayaan orang? Ketika sibungkuk Thio Ciong lan menjumpai lencana naga tersebut dia pasti mempercayai kalau berita tersebut disampaikan orangnya sendiri, asal sibungkuk sudah percaya maka orang-orang yang lainpun bukan masalah lagi."

"sejak kapan kau mencuri lencana naga kemala hijauku ini?"

Teriak Kho Beng dengan gusar.

"Haaahh haahh .. haahh .demi tercapainya tujuanku, cara yang paling tak halal pun bakal kutempuh, buat apa kau menanyai urusan sepele seperti itu?"

Tiba-tiba oh Kui sam menyela .

"Hey situa Bangka ui, kenapa sih kau suka sekali menyusun cerita bohong? Cepat katakan apa nama selat itu dan cara apa kau hendak menipu kewananjago tersebut?"

Dengan cepat ui sik kong menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya .

"Apa nama selat tersebut? Maaf kalau aku tak bisa menjelaskan, pokoknya ada sekelompok jago yang terdiri dari ratusan orang, didalamnya termasuk juga sebagian besar inti dari dunia persilatan, malam ini juga bakal mati secara mengenaskan didalam selat tersebut"

"Hmmm, aku tahu kau sedang mengigau untuk menipu orang lain saja"

Teriak oh Kui sam.

"Hmmm, akupun perlu menjelaskan pula kepada kalian, yang mendapat tugas untuk menyelesaikan pekerjaan besar ini ialah putriku Dewi In un serta kedua puluh empat orang pembantunya."

Setelah berhenti sejenak, pelan-pelan dia melanjutkan .

"SEandainya kalian cerdik, rasanya tak akan sulit memecahkan persoalan ini"

Mendengar perkataan tersebut, Kho Beng sekalian menjadi terperanjat sekali dibuatnya. Dengan penuh amarah oh Kui sam berkata .

"Tua Bangka ui, mungkin kau hendak mengulangi lagi perbuatan busukmu dengan menggunakan bahan peledak?"

"Haaahh .. haaahh . Haahh .mungkin saja dugaanmu benar, pokoknya yang menjadi tujuanku adalah membasmi seluruh kekuatan inti yang berkumpul di siau lim si ini. sampai waktunya maka tinggal kalian beberapa orang dengan jumlah seminim ini, mana mungkin kalian mampu menghadapi kami lagi?"

"Bajingan tua, aku lebih suka melanggar pesan guruku almarhum dari pada membiarkan manusia macam kau tetap hidup didunia ini"

Teriak Kho Beng penuh amarah.

sambil mengerahkan tenaga dalamnya, dia melepaskan sebuah pukulan kedepan.

Tampaknya ui sik kong telah mempersiapkan diri secara baikbaik, dengan cepat dia mengayunkan tangan tunggalnya untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut, sementara Liong hoa sinkun serta Pek kut hujin tidak tinggal diam, serentak mereka pun melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Tenaga dalam mereka bertiga segera bergabung menjadi satu menimbulkan segulung tenaga serangan yang maha dahsyat.

Didalam melepaskan serangannya tadi Kho Beng telah menggunakan tenaga dalamnya sebesar sembilan bagian.

Blaaammm Terjadi benturan yang memekakkan telinga ketika kedua gulung kekuatan tersebut saling bertumbukkan satu sama lainnya.

Kho Beng segera merasakan pergelangan tangannya menjadi linu dan kesemutan, peredaran darahnya menjadi kurang lancar sehingga tanpa terasa lagi ia mundur selangkah kebelakang.

Thian Cun yang, oh Kui sam dan Beng Gi ciu sekalian yang menyaksikan peristiwa itu serentak bergerak maju kemuka dan melakukan pengepungan dengan posisi setengah lingkaran.

sementara itu Liong hoa sinkun serta Pek kut hujinpun kelihatan bergoncang keras akibat bentrokan tadi, tiba-tiba saja dari saku mereka menyembur keluar asap berwarna merah yang menyebar keangkasa, dalam waktu singkat asap tersebut menyelimuti daerah seluas berapa kaki dan menyelimuti seluruh tubuh ui sik kong sekalian.

"Empek berdua hati-hati, mungkin asap itu beracun"

Teriak Beng Gi ciu dengan perasaan terkejut.

Thian Cun yang serta oh Kui sam kelihatan agak tertegun, dengan cepat mereka mundur sejauh dua langkah kebelakang.

Dalam amarahnya oh Kui sam segera menghimpun tenaga dalamnya dan melontarkan sepasang telapak tangannya kedepan untuk membuyarkan asap tersebut.

Tenaga pukulannya memang luar biasa sekali, ditengah amukan angin topan yang menderu-deru, asap tebal berwarna merah tadi hilang lenyap seketika, namuan bayangan tubuh ui sik kong sekalian pun sudah lenyap dari pandangan mata.

sambil menggertak gigi oh Kui sam berseru dengan gemas.

"Benar-benar bajingan yang amat licik, nampaknya aku perlu memapas kutung lengan kirinya juga."

"sudah tak usah mengumpat terus, yang penting kita harus merundingkan masalah yang pokok"

Sela Thian cun yang. Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Kho Beng serta Beng Gi ciu sekalian, katanya lebih jauh .

"Aku tidak begitu memahami tentang persoalan ini, siapa sih Chee Tay hap itu?"

Setelah menghela napas Kho Beng menjawab .

"Dia adalah orang kepercayaan enciku, andaikata berita ini benarbenar disampaikan kepihak siau lim si, apalagi sampai dipercayai oleh para jago disitu, aaai . Akibatnya benar-benar tak bisa dibayangkan dengan perkataan"

"Yaa, seandainya memang benar ditakdirkan akan terjadi musibah tersebut tentu saja kita tak bisa banyak berkutik,"

Thian cun yang mengangguk tanda membenarkan.

"Apa lagi waktu yang tersedia hanya sehari, rasanya mustahil bagi kita untuk berangkat ke siau lim si."

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya .

"Lagipula seandainya bisa disusul kesana bila mereka betul-betul sudah tertipu dan berangkat keselat tersebut, mungkin disaat kita tiba disana, mereka telah berangkat pula keselat tadi."

Paras muka Kho Beng berubah menjadi amat serius, saking sedihnya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Andaikata pula jago yang berkumpul di siau lim si benar-benar terkena musibah, sekalipun hal ini disebabkan rencana keji dari ui sik kong namun namanya yang justru dipergunakan, sudah pasti dia akan menjadi manusia yang paling berdosa didunia ini.

Diam-diam ia menggetarkan gigi kencang-kencang disamping itu dia pun bertekad akan melenyapkan ui sik kong dari muka bumi.

Akhirnya Thian cun yang yang memecahkan keheningan lebih dulu, katanya .

"Entah bagaimanapun perubahan situasi yang bakal terjadi kita harus segera berangkat ke siau lim si."

Setelah berhenti sejenak, tambahnya .

"Aku rasa lebih baik kita pergi mencari tiga bersaudara Kim lebih dahulu"

Maka berangkatlah kawanan jago itu menuju ke ^oa didasar jurang tersebut.

Tak lama kemudian mereka telah sampai dimuka pintu gua, mendadak Kho Beng mengendus bau amis darah yang sangat menusuk penciuman, ia menjadi amat terperanjat, teriaknya tanpa sadar .

"Aduh celaka"

Dengan satu kali lompatan cepat dia menerobos masuk lebih dulu kedalam goa itu.

Benar juga suatu pemandangan yang amat tragis terpapar didepan matanya.

Tiga bersaudara Kim kini sudah roboh terkapar diatas genangan darah, tampaknya mereka telah dibantai orang secara keji.

sambil menggertak gigi menahan rasa gusar yang meluap.

Kho Beng segera berseru .

"Bajingan tua ui, bila aku tak dapat mencincang tubuhmu hingga hancur berkeping-keping, aku bersumpah tak akan menjadi manusia."

Tapi Beng Gi ciu segera menarik tangannya seraya berkata .

"Engkoh Beng, mungkin bukan hasil karya dari bajingan tua she Ui itu"

Sambil menunjuk kedalam gua dia melanjutkan .

"Coba lihat, mereka pun telah mendapat celaka, dibantai orang secara kejam"

Ketika Kho Beng mengalihkan pandangannya kedalam gua, betul juga, ia melihat Cun hong lengcu Jin cun-Hoe im lengcu Li sian soat serta si gedang geledek sin cu beng telah tewas pula dalam keadaan yang mengerikan, darah segar berceceran membasahi seluruh lantai gua.

Mereka tewas dalam keadaan masih terikat, sedang bagian kepalanya hancur terkena pukulan keras.

sungguh aneh peristiwa ini.

Tanpa terasa Kho Beng berseru keheranan-Peristiwa ini memang merupakan suatu kejadian yang sangat aneh, andaikata peristiwa ini merupakan hasil karya dari Ui sik kong atau orang-orang partai kupu-kupu maka tak mungkin mereka membantai juga Cun hong lengcu sekalian Tapi kalau bukan hasil karya dari jago partai kupu-kupu, siapa yang telah melakukan pembantaian tersebut?

Mendadak terdengar Thian cun yang berseru .

"Tampaknya orang ini belum mati."

Mendengar ucapan tersebut Kho Beng segera berpaling ternyata yang dimaksud adalah Kim lo sam.

Benar juga dadanya kelihatan masih bergerak naik turun, meski keadaannya sudah amat lemah.

Cepat-cepat Kho Beng berjongkok disisinya dan menempelkan telapak tangan kanan keatas jalan darah Ki hay hiat nya, segulung aliran hawa hangat pun pelan-pelan tersalur masuk kedalam tubuhnya.

Berkat bantuan hawa murni yang mengalir masuk kedalam tubuhnya itu, pelan-pelan Kim Losam sadar kembali dari sekaratnya.

Ia membuka matanya lebar-lebar, lalu memaksakan diri untuk mengeluarkan secercah senyuman, dengan suara yang lemah dan terputus bisiknya .

"Kho .. Kho sauhiap kali kalian tee ..telah kembali .."

"siapakah yang telah mencelakai kalian semua?"

Tanya Kho Beng dengan perasaan gelisah.

Agaknya Kim Losam tak rela mati dengan begitu saja, ditambah lukanya tidak mencapai taraf akan mematikan dengan segera, maka selama ini dia masih dapat mempertahankan hidupnya secara paksa.

Namun setelah berjumpa dengan Kho Beng, semangatnya untuk mempertahankan hidup pun menjadi kendor sebagian, meski sudah memperoleh bantuan tenaga dalam dari Kho Beng, namun keadaannya tak lebih sudah mendekati saat ajal.

sambil berusaha bergelut dengan maut, serunya terbata-bata .

"Perbuatan ini .. di .. dilakukan .. o oleh Kiong . ceng .. san-."

"Kiong Ceng san?"

Kho Beng amat terkesiap lalu teriaknya lagi sambil menggertak gigi.

"apakah Liong kiong sincu Kiong Ceng san dari bukit Kun san?"

Namun Kim Losam telah menghembuskan napasnya yang terakhir, mati dengan perasaan puas.

Kho Beng segera terjerumus dalam lamunan yang sangat mendalam.

Diam-diam ia mencoba untuk menganalisa, apa sebabnya Kiong Ceng san membunuh tiga bersaudara Kim secara keji?

Akhirnya dia berhasil memperoleh suatu pendapat, walaupun Kiong Ceng san adalah seorang pemimpin diwilayah telaga Tong ting, sesungguhnya dia merupakan seorang manusia rendah yang munafik dan berhati sempit.

Tindakan tiga bersaudara Kim yang berpihak kepadanya jelas menimbulkan rasa tak puas dalam hati kecilnya, sekalipun dia telah membuat perjanjian dengan para jago dari dunia persilatan untuk mengadakan gencatan senjata sementara waktu, namun hal ini nampaknya tidak mengurangi rasa bencinya terhadap dia serta tiga bersaudara Kim.

Itulah sebabnya ketika berjumpa kembali dengan tiga bersaudara Kim, segera timbulah napsu membunuhnya sehingga berakibat tewasnya ketiga orang pendekar sejati ini secara mengenaskan.

sedang mengenai Cun hong lengcu sekalian, kesatu lantaran mereka adalah anggota partai kupu-kupu, kedua diapun kuatir orang-orang tersebut bakal membocorkan rahasianya membunuh tiga bersaudara Kim, maka orang-orang tadi segera dibantai sekaligus dengan maksud menutup mulut mereka untuk selamanya..

Tapi sama sekali tak terduga olehnya, ternyata Kim Losam tak sampai tewas seketika, mungkin sukma tiga bersaudara Kim masih penasaran hingga berniat membalas sakit hati ini.

Menyaksikan kematian tiga bersaudara Kim yang begitu mengenaskan dalam waktu singkat rasa bencinya terhadap Kiong ceng san menjadi setingkat lebih mendalam ketimbang rasa bencinya terhadap Ui sik kong.

Diam-diam ia berbisik didalam hati .

"Kiong Ceng san, bila kita bersua kembali lain waktu, saat itulah merupakan hari ajalmu"

Sementara dia masih termenung, terdengar Thian cun yang berkata .

"Biarcun aku kurang begitu tahu tentang anggota persilatan didaratan Tionggoan-namun nama Kiong ceng san pernah kudengar, bukankah dia adalah seorang tua yang berjiwa pendekar?"

"Tapi diapun seekor binatang buas, seorang manusia munafik yang berhati jahat, buas dan tak punya rasa perikemanusiaan"

Sambung Kho Beng emosi. Dengan pandangan lembut, Beng Gi ciu mengerling sekejap kearahnya, kemudian berkata .

"Mungkin dulu kau pernah mempunyai ikatan perselisihan dengannya, kalau tidak mustahil dia akan membencimu begitu mendalam."

Sambil menggigit bibir Kho Beng berseru .

"Dihadapan jenasah tiga bersaudara Kim, aku bersumpah, apabila berjumpa lagi dengan bajingan tua tersebut dimasa mendatang, saat itulah merupakan saat ajalnya, aku tak bakal melepaskan dia dengan begitu saja."

"Bajingan tua itu terlampau kejam, dia memang pantas untuk dibantai"

Beng Gi ciu mendukung dengan suara lembut. oh Kui sam turut menghela napas panjang.

"Ya a, walaupun aku dengan mereka bertiga hanya sempat bertemu satu kali, namun kesanku terhadap mereka memang cukup baik."

Kemudian sambil berpaling kearah Kho Beng, terusnya .

"Aku rasa tiada waktu lagi buat kita untuk mengubur jenasah mereka, menurut pendapatku lebih baik kita gempur dulu gua tersebut untuk sementara waktu, bila urusan si tua Bangka Ui sudah usai, kita baru mengubur jenasahnya secara layak."

"Perkataan locianpwee memang benar"

Buru-buru Kho Beng menyahut.

Maka dengan perasaan berat semua orang melangkah keluar dari gua tersebut.

Dengan gerakan cepat Kho Beng menyumbat mulut gua dengan beberapa buah batu besar, kemudian berangkatlah mereka meninggalkan bukit Cian san menuju kebukit siong san-^ooooooo semenjak ketua siau limpay Phu sian sangjin menyebarkan surat undangan, berbondong-bondonglah para jago dari pelbagai daerah berdatangan kesana, termasuk juga para ketua partai besar dengan membawa serta kawanan jago lihaynya.

Berhubung pengalamannya ketika berada dipuncak Giok cing hong dibukit Tiong lam san, Phu sian sangjin sekalian tahu bahwa penjagaan yang diserahkan kepada jago-jago kelas dua dan kelas tiga tak mungkin akan mengetahui kehadiran kawanan jago lihay sebangsa Ui sik kong, oleh sebab itu dia segera menghimpun seluruh kekuatan inti para jago yang terdiri dari lima ratusan orang itu untuk dilakukan seleksi yang ketat dengan memilih seratus orang diantaranya.

Dan keseratus orang inilah yang menjadi kekuatan ini dari usaha untuk menumpas iblis dari muka bumi.

Maka empat penjuru disekeliling kuil siau lim si dilakukan penjagaan oleh sekawanan jago lihay kelas wahid, bisa dibayangkan betapa ketatnya penjagaan disekeliling tempat itu.

Baik siang maupun malam semua jago yang berada dalam kuil, pemimpin golongan dan pemimpin perkumpulan bersama-sama berkumpul diruang Hongtiang untuk bersiap menghadapi segala perubahan yang tak terduga.

Dengan suara nyaring Phu sian sangjin berkata .

"selama beberapa hari terakhir ini, berbagai jago dari segala penjuru telah berdatangan, kalau dihitung kembali rekan-rekan yang harus hadir pun sebagian besar telah berkumpul tinggal para jago yang dipimpin oleh Liong kiong sicu dari telaga Tong ting masih belum ada kabar beritanya."

Seorang kakek bertubuh tinggi besar segera menyahut .

"Menurut apa yang kuketahui, Kiong Ceng san baru akan tiba kemari dua hari lagi, sebab murid utamanya mendadak menghianati perguruan, Kiong Ceng san hendak menyelesaikan persoalan pribadinya terlebih dahulu."

Yang berbicara adalah sipedang angin sakti Kongsun Jiang, dia adalah ketua perkumpulan Tong ting yang menjadi sahabat karib Kiong ceng san, karenanya dia cukup mengetahui keadaan dari rekannya itu.

"omitohud"

Ucap Phu sian sangjin kemudian.

"kalau memang Kiong sicu masih ada urusan pribadi yang mesti diselesaikan dulu tentu saja aku tak bisa terlalu mendesak."

Setelah memperhatikan sekejap wajah para jago yang hadir dalam ruangan, ia berkata lagi .

"Berbicara dari pengalaman kita dipuncak Giok cing hong dibukit Tiong lamsan-ui sik kong memiliki Ilmu silat yang luar biasa sekali lagipula jumlah anak buahnya sangat banyak. aku lihat tujuan kita untuk menumpas kaum iblis mungkin .."

Sambil menghembuskan napas panjang dia segera membungkam dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya . Terdengar seseorang menyambung dengan suara yang rendah dan berat.

"mungkin sekalipun sudah menghimpun segenap kekuatan inti yang berada dalam dunia persilatan pun tetap masih belum mampu untuk menghadapi kekuatan partai kupu-kupu."

Ternyata yang berbicara adalah Bu Wi lojinsebenarnya para hadirin merasa sangat tidak puas dengan perkataan itu, namun berhubung Bu wi lojin adalah seorang tokoh silat yang mempunyai nama serta kedudukan yang sangat terhormat dan terpandang, maka kata-kata tak puas itu segera ditelan kembali.

Dengan kening berkerut kembali Phu sian sangjin berkata .

"Tapi kalau dibilang kita benar-benar tak punya harapan lagi, lantas apa gunanya saudara sekalian diminta datang berkumpul di siau lim si ini."

Bu wi lojin tertawa tergelak. katanya .

"Perkataanku belum selesai dikatakan, kesatu, walaupun dalam soal ilmu silat kita kalah dari partai kupu-kupu, namun jago-jago dari Tionggoan termasyur sebagai orang yang berbakat dan pintar, siapa tahu diantara kita akan berhasil mendapatkan sebuah akal cerdik. Dan kedua, terpaksa kita melimpahkan semua pengharapan atas diri Kho Beng"

"PErkataan Bu wi sicu memang tepat sekali,"

Kata Phu sian sangjin dengan suara dalam.

"sesungguhnya Kho Beng adalah seorang yang bisa kita harapkan, karena kudengar ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali."

Pelan-pelan dia memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu lanjutnya segera suara dalam .

"Namun berita yang kudengar agaknya gelagat sedikit kurang menguntungkan."

"sebenarnya berita apakah itu?"

Buru-buru si hwesio daging anjing bertanya dengan nada gelisah. Phu sian sangjin menghela napas panjang.

"Aaaai .. sipembawa berita itupun kurang begitu jelas, tapi katanya Kho Beng sicu telah dihajar oleh ui sik kong hingga menderita luka parah dan jejaknya tidak diketahui, apa yang berhasil kuketahui sampai disini saja."

Hwesio daging anjing kembali menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Aaaai . Kalau toh setiap persoalan telah digariskan oleh takdir, tampaknya kita hanya bisa berusaha dengan segala kemampuan yang kita miliki."

"omitohud .. bila diantara saudara sekalian mempunyai satu pendapat silahkan diutarakan keluar untuk dirundingkan bersama, tujuan kita telah jelas sekarang yakni membasmi pengaruh siluman dari muka bumi serta menegakkan kembali suasana tentram bagi seluruh umat persilatan."

Mendadak dari sudut ruangan sana berdiri seorang kakek bungkuk, katanya dengan lantang .

"Menurut pendapatku, lebih baik kita menyelidiki dulu kebenaran dari berita tentang Kho Beng tadi, lalu menariknya untuk bergabung dalam deretan kita untuk bersama-sama menumpas kaum iblis, sebab aku lihat hanya dia seorang yang mampu menandingi Ui sik kong."

Sewaktu Phu sian sangjin berpaling dia segera mengenali si pembicara adalah si unta sakti Thio Ciong la n-Maka cepat-cepat sahutnya .

"Ucapan Thio sicu tepat sekali, terus terang saja aku telah mengirim banyak sekali mata-mata untuk mencari kabar berita tentang Kho Beng sicu, hanya kini belum ada kabar beritanya yang pasti tiba ditanganku."

Baru saja Thio bungkuk hendak mengucapkan sesuatu tiba-tiba tampak seseorang pendeta tua berjalan masuk kedalam ruang hongtiong, setelah itu dia memberi hormat kepada Phu sian sangjin sambil berkata .

"Lapor ciangbun susiok "

Pendeta tua itu tak lain adalah Hui beng siansu satu diantara sepuluh pendeta agung yang bertugas dibidang hokum, untuk sementara waktu dia bertugas sebagai pembawa berita dari luar kedalam ruangan-Buru-buru Phu sian sangjin bertanya .

"Ada urusan apa?"

"Ada seorang sicu mengaku bernama Chee Tay hap ingin bertemu dengan ciangbunjin Chee Tay hap ."

Gumam Phu sian sangjin-"Apakah sudah ditanya asal usulnya?"

Sebelum Hui beng siansu sempat menjawab, Thio bungkuk telah menimbrung dengan cepat.

"aku cukup mengetahui asal usul chee Tay hap ini"

"Kalau memang Thio sicu tahu, dapatkah dijelaskan asal usulnya?"

Thio bungkuk segera tersenyum.

"Dia adalah pembantu Kho yang ciu."

Phu sian sangjin agak tertegun, serunya kemudian .

"Pembantunya kakak perempuan Kho Beng"

"Benar"

Thio bungkuk mengangguk.

"orang ini berhati jujur dan setia kepada majikannya, belum lama berselang dia baru berpisah denganku, mungkin kedatangannya adalah untuk bergabung dengan kelompok kita dalam urusan menumpas kaum iblis."

Setelah berhenti sejenak. kembali katanya .

"Tapi berbicara menurut ilmu silat, menurut standar yang telah ditetapkan lo siansu saat ini, dia masih belum berhak untuk memasuki ruang hongtiong ini"

Phu sian sangjin berpikir sebentar, lalu katanya .

"Kalau begitu ajaklah dia beristirahat dulu, siapkan hidangan baginya."

Tapi Hui beng siansu segera menggeleng seraya berkata .

"sicu ini bersikeras hendak bertemu dengan ciangbunjin, katanya ada rahasia penting yang akan disampaikan"

Sementara Phu sian sangjin masih ragu-ragu, Thio bungkuk telah menyela dengan gelisah .

"Chee Tay hap adalah orang jujur, kalau dia mengatakan ada rahasia besar yang perlu disampaikan, hal ini tak mungkin akan salah lagi."

Sembari berkata , ia sudah beranjak dari tempat duduknya. Cepat-cepat Phu sian sangjin berseru .

"Kalau memang demikian, cepat undanglah dia untuk masuk keruang hong tiong"

Hui beng siansu segera mengundurkan diri dari ruangan untuk melaksanakan perintah.

Tak lama kemudian chee Tay hap dengan wajah penuh debu dan kelihatan letih sekali telah berjalan masuk kedalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa.

segenap jago persilatan yang berada dalam ruangan serentak mengalihkan pandangan mata nya kewajahnya, dengan keheranan mereka mengawasi gerak-geriknya, mereka ingin mengetahui rahasia apakah yang hendak disampaikan.

chee Tay hap menjura lebih dulu kesekeliling ruangan, lalu kepada Thio bungkuk serunya .

"Majikan muda Kho Beng menyuruh aku menyampaikan kabar, minta kepada Thio cianpwee agar menyampaikan kepada ketua siau lim si agar segera mengumpulkan para jago dan berangkat ke selat Pak hong sia dibukit Hu Gou san"

"Kenapa?"

Tanya Thio bungkuk sambil memancarkan sinar tajam dari balik matanya.

"sebab majikan muda berhasil mendapat kabar kalau Ui sik kong sekalian akan datang ke selat Pak hong sia."

"Lantas mengapa Kho Beng tidak datang sendiri kemari?"

Tanya Thio bungkuk lebih lanjut dengan perasaan tak habis mengerti. chee Tay hap nampak tertegun sejenak. setelah itu ujarnya .

"soal ini majikan muda tak menjelaskan tapi ia bilang paling lambat pada malam hari tanggal tujuh belas kalian harus sudah berada diselat Pek hong sia."

"Wah, berarti hari ini?"

Seru Phu sian sangjin agak tercengang.

"Benar, itulah sebabnya aku menempuh perjalanan siang malam karena kuatir membengkalaikan urusan besar."

Setelah berpikir sebentar, kemudian katanya .

"Menurut majikan muda, inilah rencana yang paling bagus untuk menumpas kaum iblis."

Phu sian sangjin segera termenung tanpa berbicara. sedangkan Thio bungkuk menegur lagi dengan kening berkerut .

"chee tua, dimanakah kau telah bertemu dengan Kho Beng? Bukankah dia telah menderita luka parah karena dihajar oleh Ui sik kong?"

Dengan wajah bimbang chee Tay hap mendongakkan kepalanya, lalu menjawab .

"Tidak. Ia sama sekali tidak terluka, kami bertemu didalam sebuah kuil bobrok. malah dia datang bersama keturunan dari Kim ka sian, nona Beng Gi ciu."

"Jadi kau pun telah bertemu dengan nona Beng?"

Tanya Phu sian sangjin cepat.

"Yaa, selain nona Beng masih ada dayangnya Siau wan, malah majikan muda telah mengikat tali perkawinan dengan nona Beng"

"Haaahh"

Tanpa sadar para jago yang hadir dalam ruangan berseru tertahan, selain kaget mereka pun merasa kagum.

sekulum senyuman gembira pun segera menghiasi wajah hwesio daging anjing, pelajar rudin Ho heng serta Bu wi lojin sekalian.

Buruburu phu sian sangjin berkata lagi .

"Tahukah kau apakah nona Beng telah berhasil menemukan kedua orang empeknya?"

"sudah ditemukan, malah majikan muda berpesan dia bersamasama para keturunan tiga dewa akan segera menyusul kesana"

Mendengar berita ini para jago menjadi amat gembira.

"omitohud"

Phu sian sangjin berseru kemudian-"dengan bantuan dari keturunan tiga dewa serta Kho Beng mungkin partai kupu-kupu akan mengalami nasib yang sama tragis dan seperti seabad berselang, dunia persilatan benar-benar masih bernasib mujur."

Setelah berhenti sejenak, terusnya .

"Tapi .. mengenai berita tersebut .."

Ia segera membungkam dan menengok kearah Thio bungkuk tanpa menguraikan lagi kata-katanya. Thio bungkuk memahami maksudnya, sambil berpaling ke arah Chee Tay hap katanya lagi .

"sewaktu menyampaikan pesan tersebut kepadamu, apakah dia masih berkata sesuatu lagi?"

Chee Tay hap berpikir sebentar, lalu menggeleng.

"Rasanya sudah tidak ada"

Tapi setelah berhenti sejenak, tiba-tiba serunya .

"Yaa benar, majikan muda telah menyerahkan sebuah benda kepadaku, katanya sebagai tanda pengenal .. benda itu tak lain adalah mestika keluarganya, lencana naga kemala hijau."

Sambil berkata dia segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan lencana naga kemala hijau. Thio bungkuk segera menerima lencana tersebut dan diperiksanya sebentar, kemudian katanya .

"Yaa benar, benda ini memang milik Kho Beng."

Phu sian sangjin segera bersorak gembira.

"Kalau begitu, berita yang disampaikan olehnya pun sudah pasti benar, Kho Beng tidak datang ke siau lim si tapi langsung menuju ke selat Pek hoa sia, mungkin hal ini disebabkan hendak berlomba dengan waktu, aku yakin dia pasti sedang menghubungi Thian dan oh sicu."

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, terusnya lebih jauh .

"Aku rasa lebih baik kita segera bersiap-siap untuk berangkat ke selat Pek hong sia, entah bagaimanakah pendapat kalian?"

Semua orang segera mengangguk tanpa menjawab, hal ini menunjukkan kalau mereka setuju sekali dengan usul tersebut.

Pada saat Phu sian sangjin hendak menyampaikan perintah inilah, tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara merdu .

"Tunggu sebentar lo siansu"

Ketika semua orang berpaling ternyata orang itu adalah ketua Hoa san pay yang baru Ngo Cun ki.

semenjak keberhasilan Ngo cun ki membongkar rencana busuk orang orang dari partai kupu-kupu yang menyamar sebagai ketua partai besar, para jago persilatan boleh dibilang sudah menaruh perasaan hormat dan percaya kepadanya.

Maka sewaktu mendengar seruan tersebut, Phu sian sangjin segera bertanya .

"Apakah Ngo ciangbunjin ada sesuatu pendapat?"

"aku rasa persoalan ini agak mencurigakan"

Kata Ngo Cun ki dengan nada tenang. Thio bungkuk nampak agak tertegun, lalu serunya .

"Persoalan apakah yang mencurigakan? chee Tay hap baru berpisah denganku pada dua hari berselang, selain aku menaruh kepercayaan penuh kepadanya, lencana naga kemala hijau pun merupakan benda mestika warisan keluarga Kho, bukan baru satu kali ini aku sibungkuk melihatnya, mungkin saja lantaran persoalan ini kelewat penting dan rahasia Kho Beng takut kita tidak mempercayai perkataannya, maka ia serahkan lencana naga kemala tersebut kepada chee Tay hap sebagai tanda pengenal."

"Perkataan anda memang benar,"

Ngo Cun ki tertawa hambar.

"Akupun mengetahui bahwa dalam persoalan ini sembilan puluh persen merupakan kenyataan."

"Kalau memang demikian, mengapa kau masih menaruh curiga?"

Sela Thio bungkuk cepat. Dengan suara dalam, Ngo Cun ki berkata .

"Mungkin saja hal ini disebabkan masalahnya mempengaruhi akibat yang besar sekali, andaikata rencana inipun merupakan salah satu rencana busuk dari Ui sik kong, maka bukan saja akibatnya berpengaruh atas keselamatan dari seluruh dunia persilatan, aku rasa tanggung jawab sebesar ini tak nanti akan mampu dipikul oleh siapapun-"

Thio bungkuk segera terbungkam dibuatnya, namun sesaat kemudian dengan wajah bersemu merah, ia bertanya .

"Lalu apakah yang menjadi pangkal kecurigaan Ngo ciangbunjin?"

Ngo Cun ki tidak langsung menjawab, dia mengalihkan pandangan matanya kesekeliling tempat itu, kemudian berkata .

"saudara Chee ini pasti lelah sekali, bagaimana kalau dipersilahkan untuk beristirahat dulu?"

Phu sian sangjin segera memahami maksud hatinya, ia segera memerintahkan .

"Hantar chee sicu beristirahat di ruang tamu"

Dua orang pendeta segera mengiakan dan menemani chee Tay hap keluar dari ruangan, Chee Tay hap sendiripun menanggapi dengan senyum ramah, sama sekali tak Nampak perubahan pada wajahnya.

Memandang hingga bayangan tubuh Chee Tay hap lenyap daripandangan mata, Ngo Cun ki segera berkata .

"Jarak dari bukit Cian san sampai disini mencapai ribuan li tapi menurut pembicaraannya tadi seakan-akan baru kemarin malam berangkat kesini, coba anda bayangkan sendiri dengan jarak yang begitu-jauh, mampukah dia mencapai tujuan hanya didalam semalaman suntuk?"

Mendengar perkataan itu, Thio bungkuk segera tertawa, katanya .

"Biarpun dalam soal ilmu silat kemampuannya amat biasa, namun ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, asal kau tahu julukannya sebagai saudagar beracun berkaki sakti, maka kau akan tahu kalau perbuatan tersebut sanggup dilakukan olehnya. Itu sih soal kecil, selain itu .."

Ditatapnya wajah Thio bungkuk lekat-lekat, kemudian serunya .

"Bila ditinjau dari wajah saudara Chee yang jujur, bermata besar dan alis tebal, hidung mancung dan bibir tebal, semestinya dia adalah seorang yang amat berperasaan, Thio cianpwee cukup akrab dengannya, tentu kau bisa menilai sendiri bukan atas kebenaran dari perkataanku ini."

"Yaa, memang benar perkataan itu"

Thio bungkuk berseru sambil bertepuk tangan. sambil manggut-manggut Ngo Cun ki segera berkata .

"Disinilah letak pangkal kecurigaanku yang terutama."

Thio bungkuk serta ketua siaU limpay jadi tertegun dibuatnya, setelah mendengar perkataan itu. Tapi sebelum mereka sempat membuka suara , Ngo Cun ki telah berkata lebih jauh .

"Sewaktu Chee Tay hap sedang berbicara tadi apalah anda sekalian telah memperhatikan mimik wajahnya?"

Lalu sambil berpaling kearah Phu sian sangjin katanya lagi sembari tertawa .

"Maaf kalau aku berbicara kasar, biarpun lo siansu sudah hidup sepanjang usia didalam kuil namun menurut pendapatku kau masih belum memiliki ketenangan seperti Chee Tay hap hingga sedikitpun perubahan emosi tak Nampak."

Begitu perkataan itu diutarakan keluar semua orang pun seperti memahami akan sesuatu, untuk sesaat mereka saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Perkataan Ngo ciangbunjin memang betul."

Kata Phu sian sangjin kemudian-Lalu ..

"Yaa sekarang aku baru merasa kalau ada yang tak beres dibalik peristiwa ini"

Sela Hwesio daging anjing pula tak tahan.

"Tapi andaikata hal ini merupakan permainan busuk dari ui sik kong, tidak seharusnya ia menjatuhkan pilihannya kepada Chee Tay hap, selain itu mengapa Chee Tay hap bersedia diperalat olehnya?"

"Karena dia terpengaruh oleh ilmu sesat"

Kata Ngo Cun ki sambil tertawa. Hwesio daging anjing segera tertawa terbahak-bahak .

"Haaahh haaahhh . Haaahhh . Menurut apa yang kuketahui, walaupun Ui sik kong berakal licik, namun ia tak mengerti ilmu sesat, seandainya mengerti, mungkin kita sudah akan merasakan kelihaiannya sewaktu masih berada di kuil Giok cing hong dibukit Tiong lam san tempo hari."

"Untuk menggunakan ilmu sesat maka dibutuhkan orang yang sangat ahli."

Kata Ngo Cun ki dengan suara dalam.

"Dia toh bisa mencari orang yang mengerti ilmu tersebut."

Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, katanya kembali .

"Padahal persoalan ini sangat sederhana, asal kita lakukan percobaan maka segala persoalan akan menjadi jelas."

"Tapi bagaimana caranya untuk mencoba?"

"silahkan memanggil chee Tay hap agar datang kembali kemari"

Phu sian sangjin merasa agak rikuh, katanya ragu-ragu .

"Baru saja kita memintanya beristirahat dikamar tamu, tapi sekarang telah mengundangnya kembali, apakah .."

"Yaa apa boleh buat"

Kata Ngo Cun ki sambil tertawa.

"Toh perkataan yang kita bicarakan barusan tak boleh terdengar olehnya tapi sekarang kitapun perlu untuk membuktikan dirinya, kalau tidak diterima kita tak bisa tahu kalau ia sudah terpengaruh ilmu sesat atau tidak?"

Dengan pandangan minta maaf, Phu sian sangjin memandang sekejap kearah Thio bungkuk. lalu katanya dengan nada berat hati .

"Coba undang lagi Chee sicu agar datang kemari"

Maka dua orang pendeta pun segera berangkat untuk melaksanakan perintah tersebut.

Tak selang berapa saat kemudian, chee Tay hap sudah diundang menghadap kembali.

Tampak ia menjura dalam-dalam kepada Phu sian sangjin lalu berkata perlahan .

"Majikan muda Kho Beng telah berpesan agar losiansu berangkat secepatnya agar tak sampai melalaikan persoalan besar."

"Yaa, saat ini kami sedang merundingkan persoalan ini bersama para jago."

Kemudian menunjuk kearah Ngo cun ki, katanya lagi .

"Yang ini adalah ketua Hoa sanpay, Ngo lisicu, dia ada berapa persoalan yang hendak dibicarakan dengan chee sicu"

Chee Tay hap menjura kedepan Ngo cun ki, seraya berkata .

"Mohon petunjuk."

"Mana, mana .."

Ucap Ngo Cun ki sambil tertawa hambar. Kemudian dengan suara yang lebih lembut dia berkata lagi .

"Aku dengar kau adalah pembantu Kho Yang ciu, enci Kho Beng, benarkah begitu?"

"Benar, antara Ngo ciangbunjin dan majikan kami ..Kami adalah sahabat karib"

"ooooh"

Baca Juga: Bara Naga 9

Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert