Eps 11 Kedele Maut - Khu Lung
Baca online Kedele Maut - Khu Lung
Cersil Kedele Maut - Khu Lung.
Chee Tay hap manggut-manggut.
"Katanya Ngo ciangbunjin ada persoalan yang hendak disampaikan kepadaku?"
Dengan wajah serius Ngo cun ki berkata .
"Aku dan majikanmu mempunyai hubungan yang amat akrab melebihi saudara sendiri, tapi sungguh tak beruntung dia dia telah tewas .. sudah tewas"
Chee Tay hap kelihatan agak tertegun.
"Mengapa aku tak mendengar kabar tersebut?"
Nada suaranya mendatar dan kedengarannya sangat tenang, paras mukanya pun sama sekali tak Nampak perubahan apapun. Ngo Cun ki segera menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya kemudian .
"Pertanyaanku telah selesai diutarakan, entah bagaimana pendapat anda sekalian?"
Thio bungkuk yang melompat bangun terlebih dahulu, sambil menjura kepada Ngo Cun ki segera ujarnya .
"Andai Ngo ciangbunjin tidak teliti dan bersikap cermat, dunia persilatan benar-benar tak akan terhindar dari bencana besar, jelaslah sudah sekarang, Chee Tay hap yang sekarang bukan lagi Chee Tay hap yang dulu lagi."
Mendadak ia membalikkan badan sambil melakukan cengkeraman, dia mencengkeram bahu orang itu kencang-kencang..
Chee Tay hap sama sekali tak menyangka kalau Thio bungkuk bakal melancarkan serangan, ia sama sekali tidak menunjukkan sikap untuk melawan, begitu bahunya kena dicengkeram seketika itu juga badannya tak mampu bergerak lagi.
Dengan suara dalam Thio bungkuk segara menegur .
"Cepat katakan sebenarnya apa yang terjadi ?"
Dengan wajah tertegun Chee Tay hap menjawab .
"Thio cianpwee, sebenarnya apa kesalahanku, mengapa kau menyerangku secara tiba-tiba?"
Tanpa banyak bicara Thio bungkuk menampar kepalanya berulang kali kemudian hardiknya "Semua berita yang kau sampaikan adalah bohong, sebenarnya apa yang kaujumpai?"
Darah meleleh keluar dari ujung bibir chee Tay hap akibat tamparan tersebut, namun Ia tak tampak kesakitan malah katanya dengan suara tergagap . bersambung ke
Jilid 44.
Jilid 44
"Aku telah bertemu dengan majikan muda Kho Beng, segala sesuatunya toh sudah kusampaikan?"
Thio bungkuk menghembuskan napas panjang, serunya sambil menggigit bibir .
"Semua pengakuanmu itu cuma mengaco belo saja"
Tiba-tiba Ngo cun ki berkata .
"Thio Cianpwee tidak usah menyusahkan dirinya lagi, ketahuilah sebelum kesadaran pikirannya diperoleh kembali, dia tak akan mampu untuk menerangkan apa-apa."
"Aaaai, percuma aku berkelana sepaniang masa didunia persilatan,"
Kata Thio bungkuk mengeluh.
"Nyatanya Ngo ciangbunjin masih begitu muda, namun dalam sekali pandangan saja sudah berhasil membongkar masalah yang begini pelik."
Ketua Siau lim pay Phu sian sangjin berseru pula .
"omitohud, akupun merasa sangat menyesal."
Ngo cun ki tersenyum.
"PAdahal hal tersebut tak terhitung seberapa, mungkin lantaran kaum wanita jauh lebih teliti ketimbang kaum lelaki."
Buru-buru Thio bungkuk menjura berulang kali, tanyanya dengan harap cemas .
"Dapatkah Ngo ciangbunjin menyadarkan kembali pikirannya?"
Sambil tertawa Ngo Cun ki menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .
"Aku hanya dapat melihat kalau dia terpengaruh ilmu sesat namun belum pernah mempelajari pengetahuan tentang ilmu semacam ini, tentu saja akupun tidak mengerti bagaimana cara pemecahannya, padahal padahal pengaruh tersebut tak perlu membingungkan."
Setelah berhenti sejenak. lanjutnya .
"sebab aku pernah mendengar penjelasan dari seorang cianpwee yang mengatakan bahwa pengaruh ilmu sesat yang betapapun lihai daya pengaruhnya tak nanti bisa bertahan sampai satu bulan keatas, secara otomatis sang korban akan mendapatkan kesadarannya kembali."
"Tapi tanpa menyadarkan kembali pikirannya, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya?"
Sela Phu sian sangjin.
"sekalipun kita berhasil menyadarkan kembali dirinya pun percuma, persoalan ini tak mungkin bisa ditelusuri sampai jelas, paling banter dia hanya bisa mengatakan siapa yang telah melakukan ilmu sesat tersebut kepadanya, tentang keadaan yang sebenarnya aku percaya pihak lawan tak akan membocorkan kepadanya, Karena tujuan mereka adalah memperalat musuh untuk memancaing kita semua mendatangi selat Pek hong sia."
Kemudian menatap tajam wajah Phu sian sangjin, ia berkata lagi .
"Jarak dari sini kebukit Hu gou san tidak terlalu jauh, apakah lo siansu cukup memahami daerah sekitar selat Pek hong sia ini?"
Dengan cepat Phu sian sangjin menggeleng.
"Kecuali menghadapi persoalan yang gawat, aku amat jarang meninggaikan kuil, bahkan banyak tempat disekitar siong san sendiripun tidak begitu kukuasai, apalagi tempat kawasan lain."
Tapi kemudian dengan suara dalam ia segera berseru .
"Adakah diantara kalian yang menguasai sekali daerah disekitar selat Pek hong sia?"
Belum habis perkataan tersebut diucapkan seorang pendeta telah bangkit berdiri dan berkata .
"Aku tahu"
Ketika semua orang berpaling ternyata orang itu adalah Kim Cuncu dari lima rasul panca unsur. Buru-buru Phu sian sangjin berkata .
"Kalau sute memang tahu cepat katakan"
Kim Cuncu berpikir sebentar, lalu ujarnya .
"setahun berselang karena suatu persoalan aku telah menaiki bukit Hu gou san dan pernah menelusuri selat Pek hong sia tersebut."
"Tentunya bentuk perbukitan disana amat curam dan berbahaya sekali?"
Buru-buru Ngo Cun ki menyela.
"Bukit Hu gou san tidak termasuk gunung yang besar, namun selat Pek hong sia justru merupakan tempat yang paling berbahaya yang pernah kujumpai selama ini, jangankan dibukit siong san tak akan ditemukan tempat seperti itu, biarpun selama hidup aku sudah sering berkelana dipelbagai bukit kenamaan, namun belum ada sebuah tempat pun yang bisa dibandingkan dengan selat Pek hong sia"
Semua orang memasang telinga serta memperhatikan dengan penuh seksama. Kim Cuncu berkata lebih jauh.
"Mulut selat seperti lorong gua, sebab bukit dikedua sisinya menjulang tinggi keatas membentuk lingkaran yang mengepung selat tersebut, dengan begitu selat tadi terjuntai persis diantara bukit yang mengelilinginya."
"Berapa banyakkah mulut selat yang terdapat disana?"
Tanya Ngo Cun ki dengan kening berkerut. Dengan cepat Kim Cuncu menggeleng.
"Hanya terdapat sebuah jalan masuk saja, dalam selat itu amat lembab dan sepanjang hari susah melihat sinar surya, itulah sebabnya hampir semua permukaan tanahnya ditumbuhi lumut tebal, meski keadaan sisi dindingnya tak mencapai ketingian puluhan ribu kaki, namun yang terendahpun diatas ribuan kaki, benar-benar tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang susah dilalu oleh burung sekalipun."
Dengan gemas dan benci Ngo Cun ki segera berseru .
"Tepat betul tempat yang dipilih bajingan tua itu."
Setelah berhenti sebentar, ia bertanya lagi .
"Berapa banyak manusia yang dapat tertampung didalam selat tersebut?"
Dengan kening berkerut Kim Cuncu berpikir sebentar, kemudian jawabnya .
"Paling tidak dapat menampung lima enam ratus orang, lagipula letaknya amat strategis dan berbahaya, selain lembab suasana pun gelap. tempat semacam ini ideal sekali untuk menjebak orang."
"Hmm, terlalu berbahaya mematikan lagi."
Kata Ngo Cun ki sambil menggigit bibir.
"Bila sebelum kejadian disekeliling dinding tebing ditanam sejumlah bahan peledak lalu bukit tersebut diledakkan pada saatnya, entah berapa persen manusia yang bisa lolos dari musibah itu."
Berubah hebat paras muka Kim Cuncu segera sahutnya .
"Tiada seorangpun yang punya harapan untuk melanjutkan hidup, apalagi kalau dinding dikedua belah sisinya runtuh sama sekali, biarpun manusia yang terdiri dari otot kawat tulang baja pun tak nanti bisa lolos dari selat tersebut dalam keadaan selamat."
Dengan wajah berubah, Phu sian sangjin berseru pula .
"Ngo ciangbunjin, jangan-jangan .. dugaanmu memang benar,. Rencana tersebut adalah siasat mereka."
Dengan wajah tenang Ngo Cun ki mengangguk katanya .
"Bila menuruti perkataan Kim Cuncu mungkin cara tersebut memang paling baik, sebab selian selat yang berbahaya seperti ini memang paling cocok dipakai menggempur musuh dengan bahan peledak karena dengan gempuran seperti ini, maka betapapun lihainya ilmu silat yang dimiliki seseorang jangan harap bisa lolos dari musibah ini."
Berpuluh-puluh pasang mata dari para pemimpin jago yang hadir dalam ruangan serentak mengalihkan pandangan kagumnya kewajah Ngo Cun ki, sebab dugaannya memang beralasan sekali.
Buru-buru Phu sian sangjin berkata .
"Perhitungan dari Ngo ciangbunjin nampaknya jauh lebih hebat daripada perhitungan bajingan tua Ui sik kong."
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan .
"Hal ini memang merupakan suatu masalah yang pelik."
Kata Ngo Cun ki sambil berkerut kening, untuk sesaat lamanya ia jadi terbungkam dan tak berkata lagi. Dengan nada menyelidk Phu sian sangjin berkata lagi .
"Dengan perhitungan Ngo ciangbunjin yang begitu tepat, masa kau tak punya suatu usul"
"Usul sih ada tapi sulit untuk dilaksanakan"
Kata Ngo Cun ki tertawa. setelah bangkit berdiri dan berjalan bolak-balik berapa kali, ia berkata lebih jauh .
"Cara yang terbaik tentu saja turun tangan mendahului mereka, kita bekuk semua orang-orangnya yang telah dipersiapkan disitu kemudian pada tengah malam pada tanggal tujuh belas kita sulut sumbu obat peledak tersebut serta meledakkan bukit itu."
"Apa gunanya bukit itu diledakkan?"
Phu sian sangjin tampak tak habis mengerti.
"Agar Ui sik kong mengira kita semua ketimpa musibah kemudian kita bisa menggunakan sedikit akal untuk memancing mereka yang masuk kedalam selat tersebut dengan rencana yang sama seperti yang dipersiapkannya kita ledakkan kembali obat peledak yang lain, atau bisa juga kita bius mereka dengan dupa An hun hiang dari Hoa sanpay kami, aku yakin dengan demikian mereka pasti akan dapat kita tumpas semuanya."
Sipelajar rudin Ho heng yang selama ini membungkam terus tibatiba bersorak sambil bertepuk tangan .
"sebuah akal yang sangat bagus."
Dengan wajah serius Phu sian sangjin segera berkata .
"Persoalannya yang kita tidak mengetahui berapa banyak jago yang telah dipersiapkan dan berapa banyak bahan peledak yang ditanam disekitarnya. Andaikata seorang saja diantara mereka berhasil meloloskan diri, rasanya akan sulit bagi kita untuk memancing Ui sik kong masuk perangkap."
Setelah menghembuskan napas panjang, kembali katanya .
"Apalagi tugas tersebut amat berat dan masalahnya amat penting, bajingan tua Ui sik kong pasti akan menngirim jago-jago pilihannya untuk sembunyi disana,"
"aku rasa Apa yang dikuatirkan , losiansu memang benar"
Sela Ngo Cun ki.
"Tapi masalah yang penting adalah soal waktu, mungkin Ui sik kong kuatir bila waktunya berlarut-larut akan terjadi perubahan yang tak disangka, maka sedapat mungkin ia mempersingkat waktu yang tersedia, bila kita hendak bertindak demikian maka sebelum hari menjadi gelap semua jago-jagonya akan dipersiapkan harus sudah dapat dibekuk, kalau tidak maka kita tak akan punya waktu lagi."
Setelah berhenti sebentar, tambahnya .
"Tentu saja pekerjaan ini bukan suatu pekerjaan yang mudah, lagi pula kemungkinan untuk berhasil dengan sukses pun tidak terlalu besar."
Persoalan itu memang suatu masalah yang sangat pelik, bukan saja mereka harus berangkat saat itu-juga dan paling lambat menjelang matahari terbenam harus sudah sampai di selat Pek hong sia bukit Hu goa san, lagi pula mereka harus berhasil menyingkirkan semua jago musuh yang dipersiapkan disana dalam sekali serangan, karena satu saja diantara lawan berhasil kabur, semua rencana mereka pasti akan mengalami kegagalan total.
Untuk sesaat suasana didalam ruangan menjadi hening dan tak seorangpun yang bersuara.
Akhirnya Phu sian sangjin berkata sambil menghela napas.
"sekarang waktu sudah makin larut, kita harus berani mengambil keputusan dengan cepat Lebih baik diputuskan oleh lo siansu sendiri"
Seru para jago hampir bersamaan.
"Kalau memang begitu mari kita berangkat"
Kata Phu sian sangjin dengan suara dalam.
"seandainya usaha kita memang gagal, yaa . Itu kemauan takdir ."
"Berangkat sih berangkat, tapi kita mesti menyusun barisan dulu dengan secermatnya."
Kata Ngo Cun ki.
"silahkan Ngo ciangbunjin memberi petunjuk"
"bila kita harus berangkat kesana dalam rombongan yang besar, apalagi dipagi hari yang begini cerah, sudah pasti sepak terjang kita akan segera diketahui musuh, paling tidak usaha kita akan mengalami kegagalan total."
Sesudah memutar biji matanya, ia melanjutkan .
"oleh sebab itu menurut pendapatku lebih baik kita berangkat dengan jalan menyaru rombongan pun harus dipecah-pecah dalam kelompok sekecil mungkin, tapi sebelum itu kita mesti menentukan dulu posisi masing-masing kelompok hingga dalam bertindak kita bisa bekerja sama secara diam-diam, serentak dan tanpa menimbulkan suara, selain daripada itu ditempat-tempat yang strategis menuju kearah selat mesti ditempatkan jago-jago lihay yang tugasnya menjaring setiap musuh yang berhasil lolos dari sergapan, dengan bertindak secara begini kemungkinan besar usaha kita akan berhasil dengan lebih baik."
PErkataan Ngo ciangbunjin memang amat tepat.
Maka dengan melalui suatu perundingan rahasia yang dilaksanakan secara kilat, mereka berhasil memutuskan beberapa hal.
Kesatu, para ketua dari tujuh partai besar bersama Bu wi lojin, pelajar rudin Ho heng, Hwesio daging anjing, Thio bungkuk serta sepuluh orang jago lihai lainnya berangkat secara terpencar dengan jalan menyamar dengan tujuan menyergap jago-jago dari partai kupu-kupu yang dipersiapkan diselat tersebut.
Kedua, diseleksi oleh pelbagai perguruan maka dihimpun suatu kelompok kekuatan baru yang terdiri dari enam puluhan orang bertugas menyebar disekeliling selat Pek hong sia dan menangkap setiap musuh yang berhasil meloloskan diri atau bertugas menyampaikan berita.
Ketiga, dengan dipimpin oleh lima rosul panca unsur serta sepuluh pelindung hukum siau lim si dan memimpin dua rombongan jago siau lim si yang pandai dalam ilmu barisan Kim kong tin berangkat menuju dua sudut selat Pek hong sia yang berseberangan untuk menyikat setiap musuh yang berada disana.
Keempat, sisa jago yang tidak terpilih dalam rombongan diwajibkan tetap berada di siau lim si untuk menghadapi sergapan tak terduga dari luar, sebaliknya bila yang datang jago-jago utama dari partai kupu-kupu maka mereka diwajibkan melarikan diri tercerai berai untuk mengurangi jumlah korban jiwa yang jatuh.
Begitu keputusan telah diambil, maka dengan dipimpin oleh Phu sian sangjin serta Ngo Cun ki, berangkatlah kawananjago persilatan itu meninggalkan kuil.
Tidak sampai setengah peminuman teh kemudian para jago telah berbondong-bondong berangkat meninggalkan tempat itu.
Tapi begitu keluar dari Siau lim si, kawanan jago tadi segera menyebarkan diri dan hilangkan jejak masing-masing.
Waktu itu Ngo Cun ki menyamar sebagai seorang gadis dusun dan menempuh perjalanan bersama si pelajar rudin.
si pelajar rudin sendiri menyamar sebagai tukang obat yang rudin wajahnya yang memelas memang cocok dengan peranan yang dibawakan olehnya.
Mereka berdua khusus menempuh jalan yang sepi yang jarang dilalui manusia.
sedang tugas yang dibebankan kepada mereka berdua adalah menghantam setiap jago partai kupu-kupu yang berada pada kawasan terdepan dari selat Pek hong sia, entah banyak atau sedikit, tangguh atau lemah, mereka diwajibkan untuk menyikat mereka semua sampai ludes.
sambil mengawasi orang dijalanan, kedua orang itu menempuh perjalanan dengan cepat sekali.
Berbicara soal ilmu meringankan tubuh serta kesempurnaan dalam ilmu silat tentu saja Ngo Cun titak bisa menandingi si pelajar rudin, namun si pelajar rudin tidak mempunyai kebiasaan berlomba dengan kaum wanita maka sedapat mungkin ia selalu membiarkan Ngo Cun ki berjalan lebih dulu dan sama sekali tak berniat melampauinya.
Tiba-tiba Ngo Cun ki berkata sambil tertawa manis .
"Cianpwee dengan menempuh perjalanan bersamaku tentu kau merasa tersiksa bukan?"
"Apa maksud perkataanku itu?"
Seru si pelajar rudin sambil mendelik, Ngo Cun ki kembali tertawa.
"Ilmu meringankan tubuh yang cianpwee miliki telah mencapai tingkat kesempurnaan, bila bukan gara-gara aku, mungkin kau sudah berada puluhan li dari sini"
Diumpak dengan kata-kaTayang manis, si pelajar rudin merasa kegirangan setengah mati, segera serunya sambil tertawa .
"Baik sewaktu dibukit Tiong lam san maupun selama berada digunung siong san, kau selalu berhasil menonjolkan diri secara mantap. aku yakin sehabis peristiwa besar ini, pamor Hoa san pay kalian bakal melampaui nama besar siau lim pay"
"Aaaah, cianpwee kelewat memuji"
Buru-buru Ngo Cun ki berseru.
"Boanpwee tak berani menerima penghormatan sebesar ini, Siauli sebagai orang muda yang menjabat kedudukan tinggi dalam Hoa san pay, Cuma berharap bisa memperlihatkan sedikit kemampuan agar tidak dihina dan ditindas oleh pihak yang kuat, asal keadaan ini sudah terwujud maka siauli pun sudah merasa puas sekali"
Si pelajar rudin tertawa tergelak.
"Kau tak usah merendah lagi, Hoa san pay yang dipimpin seorang ketua hebat macam dirimu sudah pasti akan melambung tinggi, kalau dibilang ada orang berani menindas kalian .. aku rasa tak seorangpun yang akan mempercayainya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi sambil tertawa .
"Tapi apa sebabnya kau memilih untuk menempuh perjalanan bersama aku si pelajar rudin?"
"Masa kau orang tua tak bisa mengetahuinya?"
Ngo Cun ki tertawa semakin manis.
"Aku si pelajar rudin benar-benar tak dapat menduganya."
"PErtama karena kau orang tua mempunyai watak yang baik, mudah bergaul dan tidak suka menunjukkan soknya sebagai seorang cianpwee, kedua hal inipun merupakan keinginan pribadiku sendiri"
"Apa sih keinginan pribadimu itu?"
"Cianpwee memiliki ilmu silat yang sangat hebat, bila suatu ketika Hoa san pay menemui kesulitan, boanpwee percaya kau orang tua pasti tak akan berpeluk tangan saja bukan? Kau tentu akan mengingat-ingat persahabatan pada hari ini dengan membantu pihak Hoa san pay kami, bukan?"
Mendengar perkataan ini kembali si pelajar rudin tertawa bergelak "Kau memang sangat pandai berbicara, aku si pelajar rudin benar-benar merasa kagum dan takluk kepadamu"
Dalam waktu singkat dia merasakan hatinya benar-benar sangat nyaman dan hangat. Tak selang berapa saat kemudian Ngo Cun ki kembali bertanya .
"Cianpwee apakah kau tinggalkan keempat budak asing itu dikuil siau lim si?"
Si pelajar rudin mengangguk.
"Ilmu silat mereka amat rendah, tak cukup untuk mengikuti rencana besar ini, karenanya terpaksa harus ditinggal di siau lim si?"
"Maaf, kalau boanpwee banyak mulut, aku rasa keempat orang itu rada kurang sesuai untuk tinggal disitu?"
"Kenapa?"
"Jiwa mereka sempit, wataknya tak stabil, besar kemungkinan akan berhianat dimasa depan, apalagi sifat mereka pun buas dan jahat, tidak mudah bergaul dengan masyarakat."
"Ketajaman mata Ngo ciangbunjin memang sungguh mengagumkan."
Puji si pelajar rudin sambil mengangguk.
"Penglihatanmu memang benar tapi .., apa boleh buat, karena sesungguhnya keempat orang itu adalah pembantu-pembantu Kho Beng."
"oooh, sebenarnya apa yang terjadi?"
Tanya Ngo Cun ki tertegun.
secara tingkas si pelajar rudin segera menceritakan keadaan yang sebenarnya, sebagai akhir dari cerita tersebut, kedua orang itu saling berpandangan sambil tertawa terbahak-bahak.
Matahari pelan-pelan bergeser kelangit barat, mereka berdua sudah mulai memasuki kawasan bukit Hu goa san.
Dengan suara serius Ngo Cun ki segera berkata .
"Dewasa ini kita telah memasuki kawasan Hu goa san, ini berarti kita pun harus berganti sebutan-"
Kemudian dengan suara yang manis dan lembut, serunya .
"Ayah.."
"Ada apa anakku?"
Kedua orang itu kembali berpandangan sambil tertawa, namun langkah perjalanan mereka pun segera diperlambat, pelan-pelan mereka mendekati selat Pek hong sia.
sepenanak nasi kemudian mereka telah sampai didepan mulut selat tersebut, ternyata sesuai dengan apa yang dilukiskan Kim Cuncu dari kejauhan sudah terlihat bahwa alat itu mengerikan sekali.
Tatkala mereka berdua masih celingukan, mendadak tampak seorang pendeta tua yang berkaki korengan, dengan mengenakan jubah yang amat dekil sedang berjalan pada arah sepuluh kaki disebelah kanan.
Hampir saja si pelajar rudin tertawa geli melihat tampang pendeta itu, sebab dia segera mengenalinya sebagai hwesio daging anjing.
sementara itu-jarak dengan selat Pek hong sia makin dekat, kedua orang itu mulai memasuki mendaki bukit disisi selat tersebut, namun mereka mendaki dengan bersusah payah, sengaja berlagak seolah-olah tidak memiliki ilmu silat.
selain itu, Ngo Cun ki berbisik pula .
"Ayah, sulit benar untuk mendaki bukit ini."
"Nak, berhati-hatilah,"
Sahut si pelajar rudin dengan suara parau.
"SEkali kita daki bukit ini, mungkin akan ditemukan jalan menuju keluar bukit."
"Ayah "kembali Ngo Cun ki mengomel.
"Bukankah kau bilang hapal sekali dengan daerah sekitar sini, kenapa kita bisa tersesat jadinya?"
Si pelajar rudin segera menghela napas panjang .
"Aaaai, aku pernah kemari pada sepuluh tahun berselang, sekarang sepuluh tahun sudah lewat, bukit ini seperti berubah saja tak heran kalau kita menjadi tersesat."
"Aku sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan perjalanan ."
Keluh Ngo Cun ki dengan kening berkerut.
"Begini saja, bagaimana kalau kita beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan."
"Aku pun lapar ."
"Itu mah bukan masalah, ayah membawa ransum kering, kita dpat bersantap dulu sambil beristirahat."
Maka dia pun mengeluarkan kantong ransum dari punggungnya dan mereka berdua mulai bersantap dibukit tersebut.
Mendadak .
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang nona berusia dua puluh tahunan telah melayang turun dihadapan mereka.
Ngo cun ki segera berlagak kaget dan berteriak .
"Ayah, ada orang .."
"Malah kebetulan kalau ada orang,"
Sahut si pelajar rudin sambil tertawa.
"Kita bisa minta petunjuk kepadanya."
Buru-buru dia berpaling kearah gadis berpedang itu dan sapanya .
"Nona, apakah kau tinggal dibukit ini?"
Gadis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebaliknya malah menegur dengan suara dalam.
"siapakah kalian?"
Si pelajar rudin menghela napas panjang .
"Aaaai, kami hanya seorang pengembara yang hidup terluntalunta, selama ini kami mencari sesuap nasi dengan menjual obat, aaai dalam sepuluh hari kadangkala sembilan hari tak bisa makan hingga kenyang."
"oooh, rupanya kalian adalah penjual obat keliling?"
Paras muka gadis tadi kelihatan lebih cerah.
"Yaa benar, kalau nama yang lebih sedap didengar memang si penjual obat keliling, tapi kalau yang tingin didengar adalah si peminTa yang terlunta-lunta."
Sambil tertawa dingin gadis itu berseru lagi .
"Kalau dilihat keadaanmu yang begitu miskin mungkin ilmu pengobatanmu terlalu rendah sehingga tak ada yang berani mengundangmu"
"oooh, tidak mungkin, bukan begitu-jalan ceritanya."
Buru-buru si pelajar rudin menggoyangkan tangannya berulang kali.
"Lantas bagaimana ceritanya?"
Tanya nona itu sambil tertawa.
"Yang kupelajari kebanyakan adalah ilmu menyambung tulang patah atau mengobati luka-luka digigit binatang berbisa dan lain sebagainya, padahal kebanyakan penderita sakit dikota adalah muntaber, itulah sebabnya kepandaianku jarang sekali dimanfaatkan orang."
"Kau dapat menyembuhkan luka akibat digigit ular berbisa?"
Gadis itu menegaskan.
"Justru kepandaian semacam inilah merupakan andalanku, baik digigit ular berbisa maupun binatang berbisa lainnya, asal sudah kuberi obat pasti akan sembuh dengan cepat."
"Bagus sekali, cepat turut aku"
"Apakah ada orang disengat kelejengking?"
Tanya si pelajar rudin dengan kening berkerut.
"Hmmm, bukan disengat kelejengking tapi digigit ular berbisa."
Tanpa banyak berbicara lagi dia segera menarik kedua orang itu dan berjalan menuju kedepansepuluh kaki kemudian mereka sudah mendengar suara orang sedang merintih, rupanya ada orang yang benar-benar tergeletak dibalik batuan besar.
si pelajar rudin Ho heng mulai merasa serba salah, sebab dalam buntalannya sekarang sama sekali tidak membawa bahan obatobatan, diapun tidak mengerti bagaimana cara mengobati luka bekas gigitan ular berbisa, Ngo Cun ki dapat menyaksikan kesulitan yang dihadapi si pelajar rudin Ho heng, sambil tertawa dia segera maju kedepan lebih dulu.
Dengan kening berkerut gadis tadi segera membentak.
"Hey siapa suruh kau berebut maju? sebetulnya ayahmu yang akan mengobati atau dirimu?"
"siapa saja bisa melakukan pengobatan,"
Sahut Ngo Cun ki sambil tertawa.
"Tapi menurut jenis kelamin si penderita maka sepantasnya aku yang turun tangan sebab dia adalah wanita, ayahku tak senang mengobati perempuan, aku takut bila dipaksakan maka akhirnya akan salah obat atau timbul kejadian lain yang kurang enak."
Ternyata orang yang tergeletak diantara batuan memang tak lain adalah seorang wanita.
"Mengapa begitu?"
Tanya si nona keheranan. Ngo Cun ki mengerling sekejap kearah si pelajar rudin lalu menjawab sambil tertawa.
"setiap bertemu dengan perempuan, ayahku langsung saja merasa gugup, maka akibatnya semua ilmu pengobatannya jadi terlupakan sama sekali, tentu saja hal demikian paling mudah menimbulkan gejala lain."
"Apakah kau yakin bisa mengobati lukanya itu?"
Tanya gadis tersebut kemudian sambil tertawa. Ngo Cun ki ikut tertawa lebar.
"Asalkan hanya digigit ular berbisa, kujamin lukanya pasti sembuh tapi jika isi perutnya menderita penyakit lain, aku tak berani menjamin."
"ooooh, jangan kuatir, ia sama sekali tidak menderita luka yang lain, gara-gara kurang cermat tadi tubuhnya terpatuk seekor ular yang berbisa."
Ngo Cun ki segera berjongkok sambil melakukan pemeriksaan, tampak olehnya perempuan itu berusia tiga puluh tahunan, kaki kanannya yang terluka oleh gigitan ular dan berada dalam keadaan tak sadar, wajahnya pun kelihatan bersemu hitam.
Dengan nada menyelidik Ngo Cun ki segera bertanya .
"Apakah disini hanya terdapat kalian berdua?"
Mendadak gadis itu membentak keras .
"Lebih baik kau jangan banyak bertanya, cepat obati luka tersebut, yang penting toh kami akan memberi uang kepadamu?"
"oooh, tentu saja luka tersebut segera akan sembuh sekali."
Kemudian sambil berpaling ia berkata lebih jauh.
"Aku hendak mengeluarkan racun dari tubuhnya lebih dulu, bersediakah nona untuk membantu?"
Gadis itu menurut dan segera berjongkok katanya .
"Apa yang mesti kulakukan?"
"Coba tekanlah kedua sisi mulut luka tersebut"
Gadis tersebut sama sekali tidak menaruh curiga, sepasang tangannya benar-benar diletakkan pada kedua sisi mulut luka perempuan tersebut, dengan suatu gerakan cepat Ngo Cun ki segera menotok jalan darahnya.
setelah musuh roboh, si pelajar rudin baru memuji sambil tersenyum .
"Ngo ciangbunjin, cara kerjamu memang hebat dan cekatan"
Ngo Cun ki celingukan sekejap disekeliling tempat itu, kemudian katanya .
"Pendengaran serta penglihatan cianpwee sangat lihai, apakah kau berhasil menjumpai jejak musuh di sekitar sini?"
Dengan cepat si pelajar rudin menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .
"Paling tidak dalam jarak lima puluh kaki dari sini bisa diketahui tiada bayangan manusia dari sini bisa diketahui bahwa jago yang dikirim partai kupu-kupu ketempat ini tidak banyak jumlahnya,"
"heran kenapa mereka Cuma mengirim kaum wanita saja kemari?"
Ngo Cun ki berpikir sebentar, kemudian sahutnya .
"Bisa jadi orang-orang ini adalah anak buah dewi In un, ditinjau dari situasi bisa disimpulkan juga bahwa pemimpin dari kawanan jago musuh ditempat ini tak lain adalah Dewi In un."
"Diantara kedua orang wanita tadi, tentunya tak ada yang bernama Dewi In Un bukan?"
Tanya si pelajar rudin dengan kening berkerut.
"Tentu saja tak mungkin ada"
Sahut Ngo Cun ki tertawa.
"Kalau Dewi In Un yang terpagut ular, tak mungkin kaki tangan partai kupu-kupu hanya berpeluk tangan belaka dan membiarkan racun ular bekerja didalam tubuhnya."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan .
"Menurut penilaian boanpwee, gadis yang kutotok jalan darahnya tadi pasti telah melapor kepada Dewi In Un bahwa rekannya terpagut ular berbisa. Tapi karena Dewi In Un masih berada dibawah bukit mengatur persiapan, maka ia tidak memberikan pengobatan sama sekali."
"Benar-benar luar biasa"
Seru si pelajar rudin sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Kau Nampak seperti menyaksikan sendiri peristiwa tersebut."
Kembali Ngo Cun ki tersenyum.
"orang yang tergigit ular itu nampaknya sudah tak tertolong lagi, sebab racun ular telah tersebar luas keseluruh tubuhnya, berdasarkan keadaan tersebut, paling tidak ia sudah terpagut ular setengah jam berselang, sedang rekannya sigadis tadi sudah pasti tak berani berdiam diri saja dan melaporkan kejadian ini kepada Dewi In Un, tapi kenyataannya setengah jam sudah lewat sedang Dewi In Un belum datang kemari, dari sini dapat disimpulkan pula kalau Dewi In Un sudah mengambil keputusan tidak mengurusi keadaannya lagi."
"Ehmm, masuk diakal, tapi kenapa begitu?"
Tanya si pelajar rudin tak habis mengerti. Ngo Cun ki tertawa dingin.
"Tentu saja hal ini menyangkut soal waktu, kini lohor sudah menjelang tiba, andai kata Chee Tay hap berhasil menipu para jago yang berkumpul di siau lim si berarti saat ini mereka sudah akan berdatangan kemari, tentu saja Dewi In Un tak ingin membocorkan rahasia mereka gara-gara mengurusi seorang anak buahnya, tentu saja terpaksa dia harus mengorbankan jiwa anak buahnya itu."
"Ya a, betul-betul, lantas apa yang mesti kita perbuat sekarang?"
"Harap cianpwee perhatikan baik-baik apakah disekeliling sini masih ada orang, kemudian biar kulakukan pemeriksaan disekitar sini, jelas sudah kedua orang itu satu kelompok dan mereka mempunyai tugas tertentu disini."
Si pelajar rudin tak banyak berbicara lagi, dengan cepat dia memasang telinga untuk memeriksa keadaan diseputar sana, dalam waktu singkat ia sudah mendapatkan kenyataan bahwa disekitar sana tak ada orang laini sementara Ngo Cun ki juga mulai melakukan pemeriksaan disekeliling bukit tadi.
Tak lama kemudian ia menemukan segundukun tanah yang gembur ditutup dengan rumput liar, sewaktu ditarik rumput tersebut berguguran semua dan muncullah sebuah sumbu berwarna hijau yang amat panjang.
si pelajar rudin segera memburu kedepan lalu dengan setengah rasa gembira dan setengah terkejut ia berseru .
"Ternyata dugaan Ngo ciangbunjin memang tepat sekali."
Sesudah menghembuskan napas panjang, kembali katanya .
"Andaikata Ngo cianbunjin tak berhasil membongkar rahasia ini, mungkin sulit bagi kami semua untuk lolos dari musibah ini."
Ngo Cun ki segera menutup kembali sumbu tadi dengan rumputrumputan, kemudian setelah berpikir sebentar katanya.
"Entah berapa banyak orang yang ditempatkan disekeliling selat Pek hong sia ini, terutama kehadiran Dewi In Un disini."
"Aku dengar ilmu silat yang dimiliki Dewi In Un masih sedikit dibawah kemampuan tua Bangka Uisik kong, ini berarti susah bagi pihak kita untuk menandingi kemampuannya, bila sampai terjadi bentrokan kekerasan, akibatnya .."
"Aku rasa paling tidak barisan Kim kong tin dari siau lim pay masih bermanfaat untuk mengurungnya."
Sela Ngo Cun ki sambil tertawa.
"Hmmm, berbicara sejujurnya, aku kurang begitu yakin dengan kemampuan kawanan hwesio tersebut."
Sementara itu Ngo Cun ki sudah selesai memperhatikan sekejap sekitar sana, katanya tiba-tiba .
"Cianpwee mari kita lanjutkan perjalanan keatas"
Maka mereka berdua pun ebrgerak menuju keatas bukit.
Kali ini mereka sama sekali tidak menyembunyikan jejak tapi berlagak seperti orang yang tak mengerti ilmu silat, gerak-geriknya amat payah dan mempergunakan tenaga, sambil menyeka keringat sambil berjalan, orang akan merasa kasihan melihat cara berjalan kedua orang tersebut.
Tak lama kemudian terdengar suara orang berbatuk dari balik batu besar disisi bukit.
Kedua orang itu sama-sama tertegun-lalu Ngo Cun ki berlagak berseru gembira.
"Ayah, agaknya disitu ada orang, mari cepat kita Tanya jalan kepadanya."
"Baiklah, tapi betulkah kau mendengar ada suara manusia?"
"Mungkin saja, telingaku rasanya masih lebih tajam daripada pendengaran ayah."
"Aaai, dasar sudah tua, telinga dan mata ku makin lama semakin tak berguna."
Sambil berkata pelan-pelan mereka berjalan mendekati batu besar itu.
Namun setibanya dibela kang batu tersebut hampir saja mereka berdua tertawa karena geli, ternyata orang yang bersembunyi disitu adalah Bu wi lojin serta ketua Bu tong pay Hiam im totiang.
Kedua orang itu menyamar sebagai pemburu tua yang miskin, ditangan mereka membawa senjata garpu, sementara disisinya terkapar dua orang kakek berbaju ungu yang tertotok jalan darahnya, jelas kedua orang itu adalah anggota partai kupu-kupu.
"Kalian cepat kemari."
Bisik Bu wi lojin sambil menggapai. Cepatcepat si pelajar rudin berjongkok sambil berkata .
"Ancaman bahaya terhadapmu paling besar, kau tahu siapa yang telah dikirim pihak partai kupu-kupu untuk mengatur perangkap dan obat peledak ditempat ini"
"Dewi In Un, malah aku sempat bertemu dengannya"
Bu wi lojin manggut-manggut.
"Kau telah bersua dengannya?"
Tanya si pelajar rudin terkejut. Bu wi lojin tertawa.
"Benar, kami saling berpapasan muka namun ia tidak melihat diriku, sayang aku pun tidak membayangkan sampai kesitu, kalau tidak. pasti akan kukenakan topeng kulit manusia agar gerak-gerikku lebih leluasa lagi."
"Tahukah cianpwee, Dewi In Un menuju kearah mana?"
Bu wi lojin segera menunding kemuka, katanya .
"Tadi ia telah munculkan diri dari jarak sepuluh kaki, aku rasa jaraknya dari sini pasti tak terlalu jauh."
Dengan kening berkerut ketua Bu tong pay Hiam im totiang berkata .
"Kawasan sana merupakan tanggung jawab ketua Tay khek kun sam liu serta ketua Tong ting pang Kongsun Jiang, tapi hingga sekarang belum ada kabar berita dari mereka, entah bagaimana keadaannya? Aaai, membuat hati orang menjadi risau saja."
"Baik ada suara atau tidak belum cukup nyata untuk membuktikan keadaan yang sudah terjadi, apalagi dari pihak manapun yang berhasil dengan serangannya, tak nanti mereka akan bersuara, Cuma ."
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan .
"Bila Bu ciangbunjin dan Kongsun pangcu sudah dipecundangi musuh, sudah pasti Dewi In Un akan melakukan pemeriksaan secara diam-diam."
Belum habis perkataan itu diucapkan dari kejauhan sana sudah terdengar suara langkah manusia.
"Cepat bersembunyi."
Bu wi lojin segera berseru.
si pelajar rudin dan Ngo Cun ki tak berani berayal, serentak mereka menyembunyikan diri dibelakang batu.
Tak lama kemudian tampak seorang pelayan berbaju biru munculkan diri disitu dan berseru kearah balik batu .
"siancu sedang mengadakan pemeriksaan, kalian cepat keluar"
Tanpa menanti jawaban, dia melanjutkan perjalanannya kedepan. Ngo Cun ki segera berbisik kepada si pelajar rudin .
"Dayang itu tak boleh dibiarkan hidup, cianpwee."
Si pelajar rudin mengangguk tanda mengerti, dengan cepat dia melompat bangun dan menerjang kemuka dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dalam waktu sekejap dia telah berhasil menotok jalan darahnya dan menyeret dayang itu menuju kebalik semak.
Namun ia sama sekali tidak balik kembali ketempat semula, sebab Dewi In Un telah munculkan diri disitu.
Tampak perempuan itu berjalan mendekat dengan tergesa-gesa dikawal oleh dua nenek.
Mungkin keadaan yang gawat, sehingga ia tak sempat melakukan perubahan untuk mengatasinya, maka Dewi In Un segera membentak setibanya didepan batu tersebut.
"Tan huhoat, ong huhoat dimana kalian?"
Tiada jawaban dari balik batu namun segulung kabut putih menyebar luas dari sana.
Kebetulan jawaban dari balik batu namun segulung kabut putih menyebar luas dari sana.
Kebetulan Dewi In Un berdiri berhadapan dengan arah angin maka dalam waktu singkat kabut putih tersebut telah menyebar luas selebar dua kaki persegi.
Dengan perasaan terkejut Dewi In un segera berseru .
"Cepat menyingkir"
Seraya berseru dengan cepat dia melayang mundur sejauh tiga kaki dari pos isi semula dan melompat kebalik batu besar.
Ternyata gerakan tubuh kedua orang nenek itupun sangat hebat, hampir bersamaan mereka sama-sama telah melompat pula kebelakang batu.
Dengan demikian betapapun banyaknya akal muslihat Ngo Cun ki, ia tak mampu lagi untuk menggunakan siasatnya guna melumpuhkan lawan-Bersamaan itu-juga dapat disimpulkan bahwa ketua tay khek bun serta ketua Tong ting pang telah jatuh ketangan musuh.
sementara itu Dewi In Un telah berseru sambil tertawa seram.
sementara itu si pelajar rudin Ho heng telah menyusul datang setelah menyaksikan jejak rekannya ketahuan-"sungguh tak disangka diantara kalian terdapat tokoh yang lihai sehingga rencana partai kupu-kupu kami bisa dibongkar."
Setelah memandang sekejap dengan suara dingin kembali dia berseru lantang .
"Ehmm, Bu wi lojin, Hiam im totiang ..siapakah bocah perempuan ini?"
Sambil tertawa dingin Ngo Cun ki berkata .
"Nonamu bernama Ngo Cun ki, kini menjabat sebagai ketua Hoa san pay."
Rupanya dalam keadaan terdesak tadi ia telah melepaskan segenggam dupa pemabuk Ang hun hiang, tapi diapun mengerti bahwa hasilnya tak dapat diharapkan apalagi dalam keadaan yang sama sekali tak terduga, hal ini membuatnya sedikit rada rikuh.
sambil tertawa dingin Dewi In Un berkata .
"Tak kusangka semua yang hadir disini hari ini adalah jago-jago kelas satu dari dunia persilatan, pertemuan hari ini pasti akan meriah sekali."
Kemudian sambil menatap wajah Ngo Cun ki lekat-lekat, terusnya .
"Tapi aku menaruh perhatian yang paling khusus terhadapmu seorang, aku dengar kau berhasil menggagalkan rencana kami sewaktu berada di Tiong lam san, kalau begitu peristiwa hari inipun pasti merupakan usulmu bukan?"
"Benar"
Ngo Cun ki tertawa lebar.
"Memang akulah yang telah membuka rencana busuk kalian dan merusak siasat licik ini."
"Hmm, tak nyana kau berani mengakuinya secara jujur."
"Berapa banyak jago yang kau bawa serta hari ini?"
"oooh, banyak sekali, setiap jago yang menganggap dirinya merupakan bagian dari dunia persilatan hampir semuanya telah berdatangan kemari, bila kau mulai menyesal sekaranglah saat yang paling tepat."
Lalu setelah berhenti sebentar, dengan suara dalam ia melanjutkan .
"Kalau tidak. bila sudah tertawan nanti mungkin sikap kami tak akan seramah sekarang."
Dewi In un tertawa terkekeh-kekeh .
"Haaahh . Haahhh .. haaahh .kalian anggap kemenangan pasti berada dipihakmu"
Dengan suara dalam Ngo Cun ki berkata .
"sejak dulu hingga kini, pihak sesat pasti akan kalah dan tumpas, jangan lagi rencana busukmu sudah terbongkar, sekalipun rencanamu itu belum diketahuipun dibawah keroyokan seluruh umat persilatan, tak mungkin usaha kalian akan mencapai hasil."
Dengan suara yang menyeramkan Dewi In Un berkata .
"Tujuh partai besar, jago-jago dari empat penjuru maupun kawanan jago silat kenamaan dari dunia persilatan belum ada seorang pun yang kupandang sebelah mata, hmmm, akan kulihat siapa saja yang mampu melawan kekuatan partai kupu-kupu kami?"
Si pelajar rudin mendengus dingin.
"Hmmm, lebih baik kau jangan mengibul dulu, ketahuilah dalam pertemuan diTiong lam san ayahmu sendiri sudah menderita kekalahan, apalagi Cuma manusia semacam kau. Hmmm, andaikata umat persilatan belum bersatu padu masih agak mending, tapi sekali telah bersatu maka tiada manusia sesat didunia ini yang mampu menanggulanginya"
Dewi In Un menjadi amat gusar teriaknya.
"setelah mampus nanti kau bakal tahu akan kelihaian kami, aku ingin bertanya, apa sih yang kalian andalkan?"
Namun sebelum semua orang menjawab, dia telah melanjutkan lebih jauh.
"Mungkin Kho Beng serta keturunan dari tiga dewa?"
Ngo Cun ki balas mendengus.
"Hmmm, bila partai kupu-kupu belum juga mau sadar dan kembali kejalan yang benar mungkin kalian akan mengulangi kembali sejarah seabad berselang."
"Tapi sayang Kho Beng dan keturunan tiga dewa yang kalian andalkan itu sekarang telah berubah menjadi abu dan entah sudah tersebar sampai dimana"
Jengek Dewi In Un sambil tertawa.
"omong kosong, hal ini tak mungkin terjadi"
Teriak si pelajar rudin dengan penuh amarah.
"Tidak percaya pun bukan masalah, karena apa yang kukatakan sebenarnya merupakan suatu kejadian yang nyata."
Sesudah berhenti sejenak, sambil tertawa ia melanjutkan .
"Didalam gua pengikat cinta telah disekap encinya Kho Beng, kakek tongkat sakti serta Chin sian kun, orang-orang tersebut merupakan orang yang hendak mereka tolong, maka atas permintaan Kho Beng, Thian cun yang yang mengetahui seluk beluk alat rahasia pasti akan mengajak rekan-rekannya pergi kegua tersebut untuk melakukan operasi pertolongan."
Sambil tertawa dingin Ngo Cun ki menyela .
"Kalau memang Thian cun yang cianpwee menguasai ilmu alat rahasia, sudah pasti ia dapat menghancurkan pertahanan gua pengikat cinta tanpa mengalami kejadian diluar dugaan."
"Haaah . Haahh .haahh perkataan itu memang benar"
Kata Dewi In Un lagi sambil tertawa tergelak.
"Justru kami telah memanfaatkan keadaan tersebut, dengan diprakarsai Thian cun yang yang mengusai ilmu alat rahasia, mereka pasti akan berusaha menerobos masuk kedalam gua tersebut, siapa sangka dalam barisan Pat kwa dan Ji gi kami justru sudah tambahkan dengan barisan Jit coat tin, nah bayangkan sendiri siapakah yang mampu keluar lagi dari gua tersebut?"
Diam-diam Ngo Cun ki merasa amat terperanjat, namun diluar ia sengaja tertawa paksa, katanya .
"sekalipun apa yang kau katakan merupakan kenyataan, namun ada satu hal belum kau ketahui secara jelas yakni soal hukum langit, bila Kho Beng serta keturunan dari tiga dewa benar-benar tewas dibukit Cian san, maka didunia ini tidak berlaku lagi hukum alam"
Dewi In Un agak tertegun, lalu serunya sambil mendengus .
"Mungkin saja disinilah letaknya hukum alam tersebut, paling tidak bibit penyebab yang ditanam seabad berselang kini harus menerima buah akibatnya."
Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam dia menambahkan .
"Masalah tersebut bukan persoalan yang perlu kita bicarakan saat ini, sekarang yang perlu kita bahas adalah nasib kalian selanjutnya, Ngo Cun ki, semua orang boleh kulepaskan tapi kau jangan mimpi bisa lolos dari cengkeramanku."
Ngo Cun ki segera tertawa lebar, jengeknya .
"susah untuk menduga setiap perubahan yang terjadi didunia ini, sebelum menang kalah diketahui aku rasa terlalu awal bila kau berkata demikian."
"Jadi kau mengira kalian bisa mengungguli diriku?"
Jengek Dewi In Un sambil tertawa dingin.
"Jadi kau anggap pasti menang?"
Ngo Cun ki balas mengejek sambil tertawa.
"Aku rasa persoalan ini perlu kita buktikan dalam kenyataan, Nah Ngo Cun ki, tahukah kau apa yang hendak kuperbuat terhadap dirimu?"
Ngo Cun ki tertawa terkekeh-kekeh .
"Bila kau berhasil menduduki posisi diatas angin, maka semua kulit dan daging menjadi milikmu, mau dibunuh dicincang terserah kepadamu sendiri, sebaliknya bila kau yang menduduki posisi dibawah angin, tahukah kau apa akibat yang bakal kau rasakan?"
Dewi In Un mendengus .
"Hmmm, apalagi selain sesuai dengan ucapanmu tadi, terserah apapun yang akan kalian perbuat."
"Lalu dengan cara apa kau hendak menentukan menang kalah tersebut? Dengan pertarungan kekerasan?"
Dewi In Un tertawa tergelak .
"Haaahh haahh haahhh .dengan cara apapun yang hendak dilakukan mungkin kalian semua bukan tandinganku."
Kemudian dengan suara dalam ia kembali membentak .
"Ngo Cun ki, aku hendak meringkus dirimu paling dulu"
"aku rasa tak akan segampang yang kau katakan, jelek-jelek begini aku masih terhitung seorang ketua partai"
Dewi In Un tertawa seram, tiba-tiba bentaknya .
"Nenek penunjang langit dan perata bumi, cepat kalian ringkus bocah perempuan itu, tapi ingat, jangan dibunuh, aku tak bisa membiarkan dia mampus dengan begitu saja."
Kedua orang nenek tua itu menyahut dan pelan-pelan berjalan mendekati Ngo Cun ki, setiap langkah kaki mereka berdua segera meninggalkan bekas sedalam tiga inci diatas permukaan tanah, sementara ujung baju mereka pun menggelembung besar, dalam sekilas pemandangan saja dapat diketahui bahwa mereka adalah jago-jago berilmu tinggi?
sementara itu Dewi In Un telah mengundurkan diri kesisi arena dan menyaksikan peristiwa tersebut dengan senyuman dikulum.
si pelajar rudin, Bu wi lojin serta Hian im totiang merasa terkejut sekali, karena mereka tahu secara pasti bahwa Ngo Cun ki bukan tandingan dari kedua orang nenek tersebut.
Namun untuk sesaat pun mereka merasa sangsi, haruskah turun tangan membantu ataukah lebih baik berdiam diri saja?
sebaliknya Ngo Cun ki nampak amat tenang, malah ujarnya sambil tertawa hambar .
"Terima kasih banyak atas perhatian siancu terhadap diriku, dengan menganggap diriku sebagai musuh yang utama, Ngo Cun ki merasa amat berbangga hati tentu saja akan kutemani mereka untuk bermain beberapa gebrakan lebih dulu."
Kemudian sambil berpaling kearah Bu wi lojin dan si pelajar rudin sekalian, katanya lagi sambil tertawa .
"Biar aku Ngo Cun ki yang turun tangan pada babak pertama ini, silahkan cianpwee sekalian mundur sedikit agak jauh."
Sementara itu kedua nenek tersebut sudah berada lima depa dihadapannya, mendadak mereka mengayunkan tangan kanannya dan serentak mencengkeram bahu nona tersebut.
Ngo Cun ki sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya bukan tandingan lawan, maka ia tak menyambut datangnya ancaman tersebut, dengan cepat ia menarik diri sambil membungkukkan badan.
Pertarungan semacam inijauh diluar kebiasaan, suatu pertarungan yang umum, bukan saja dua orang nenek itu menjadi tertegun semua penonton pun menjadi keheranan setengah mati.
sebab tindakan Ngo Cun ki waktu itu tidak memberi perlawanan pun sama sekali tidak menghindar kebelakang, hal mana mendatangkan tanda Tanya besar bagi semua orang.
Nenek penunjang langit dan nenek perata bumi adalah jago kelas wahid dari partai kupu-kupu, meski mereka agak tertegun menyaksikan peristiwa ini, namun gerak serangan mereka sama sekali tidak menjadi lamban seperti juga musuhnya, mereka merendahkan badannya dan menggunakan jurus yang tak berbeda langsung mencengkeram sebentar.
Tapi disaat Ngo Cun ki membungkukkan badan inilah, mendadak sepasang tangannya diayun keatas, dua gulung kabut putih kembali menyembur kedepan langsung mengancam tubuh nenek penunjang langit dan nenek perata bumi.
Tak terlukiskan rasa kaget kedua orang nenek tersebut menghadapi ancaman ini, cepat-cepat telapak tangan kanannya dikebaskan kebawah melepaskan pukulan yang gencar, sementara tubuhnya cepat-cepat menyurut mundur kesamping Dewi In Un-Ngo Cun ki sendiri tertawa dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berdiri ditempat sambil mengawasi lawannya.
sementara kedua orang nenek tadi telah kembali kesamping Dewi In Un dengan wajah malu bercampur menyesal.
Gusar dan heran segera menyelimuti perasaan Dewi in Un, serunya dengan suara geram .
"Hmmm, hanya mengandalkan kepandaian semacam itupun kalian berdua sudah didesak kembali?"
Rupanya bagi jago lihai yang sedang bertarung, sekalipun pihak lawan mempergunakan racun atau obat pemabuk.
bukan berarti mereka harus mundur ketakutan apalagi jagoan seperti kedua orang nenek itu, tidak sepantasnya mereka mundur ketakutan begitu melihat musuh menyebarkan bubuk berwarna putih.
Agak tergagap nenek perata bumi berkata .
Bersambung ke
Jilid 45
Jilid 45
"Budak kurang berhati-hati."
"Kau sudah keracunan?"
Tanya Dewi In Un terkejut.
Nenek perata bumi menggetarkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan, tiba-tiba badannya menjadi lemas dan robohlah dia dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tak terlukiskan rasa gusar Dewi In Un menghadapi kenyataan tersebut, sambil menggertak gigi ia segera berpaling kearah nenek penunjang langit sambil menegur .
"Bagaimana dengan kau?"
Berubah hebat paras muka nenek penunjang langit namun sambil berusaha menahan diri sahutnya .
"Budak pun sudah terkena sari racun tersebut namun masih bisa mempertahankan diri"
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Ngo cun ki segera menyela .
"Padahal bukan bubuk racun yang kupergunakan melainkan dupa pemabuk An hun hiang dari Hoa sanpay kami, bubuk tersebut hanya menyebabkan orang jatuh pingsan namun tidak sampai merengut jiwanya."
"Hmm, beginikah cara kerja seorang ketua partai? Apakah kau tidak merasa malu?"
Bentak Dewi In Un penuh amarah. Ngo cun ki tertawa tenang, katanya .
"Segala tindakan yang dilakukan orang kebanyakan tergantung pada siapa yang di hadapi untuk menghadapi manusia semacam kalian, aku rasa tindakan seperti ini sudah terhitung cukup bagus."
Kemudian sambil menatap wajah Dewi In Un dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, ia berseru lagi .
"seandainya kami tak berhasil membongkar siasat busuk kalian itu dan memasuki selat Pek hong sia, entah bagaimanakah akibat yang bakal kami hadapi? Coba kau berpikir sendiri apakah perbuatan kalian itu tidak terlalu keji, buas dan memalukan"
Dewi In Un benar-benar amat gusar, dengan cepat dia mengayunkan tangannya keatas, sebatang panah api segera meluncur keatas udara dengan menimbulkan suara desingan yang keras dan memekakkan telinga, suara itu berkumandang hingga berapa li jauhnya.
sambil tertawa dingin Ngo Cun ki segera mengejek .
"Berapa orang sih yang kau bawa?"
Dewi In Un tertawa seram.
"Heehh . Heehh .. heehhh .. terus terang saja kubilang, kami hanya berjumlah dua puluh empat orang tapi bila dikurangi dengan orang yang telah kalian celakai secara licik, orang yang masih bisa dimanfaatkan hanya dua puluhan."
Ngo Cun ki kembali tertawa.
"suara panah tersebut bukan hanya mengundang kehadiran orang-orangmu saja, segenap jago persilatan yang telah tiba disini pasti berbondong-bondong akan meluruk kemari, bila kalian ingin menggunakan kekuatan seminim itu untuk menghadapi jago-jago pilihan dari dunia persilatan, aku rasa siapa bakal kalah sudah tertera jelas didepan mata."
"Kalau memang begitu kita buktikan saja nanti"
Bentak Dewi In Un dengan penuh amarah.
Dengan cepat ia bergerak maju kemuka , sepasang lengannya secara beruntun menghajar dada Ngo Cun ki.
Agaknya Ngo Cun ki sendiripun cukup mengetahui kelihaian Dewi In Un, dia tak berani berayal, cepat-cepat tubuhnya menyingkir kesamping untuk menghindarkan diri, sementara dua pukulan yang dilontarkan persis menyerempet sisi tenaga pukulan dari Dewi In Un-Tindakannya itu sudah tentu bukan suatu pertarungan adu kekerasan, tapi dengan meminjam adu kekerasan, tapi dengan meminjam tenaga benturan dari kedua gulung kekuatan tersebut, Ngo Cun ki berjumpalitan ketengah udara membentuk gerakan satu lingkaran busur kemudian ujung bajunya dikebaskan kedepan kembali dua gulung kabut putih menyembur kewajah Dewi In Un-"Heehh heehhh .
Heehhh .hanya mengandalkan kepandaian semacam itupun kau ingin bermain gila denganku?"
Jengek Dewi In Un sambil tertawa seram.
sekalipun berkata demikian, toh tak urung badannya mundur sejauh berapa kaki untuk menghindarkan diri dari serangan kabut putih tersebut.
Begitu melayang turun keatas tanah Ngo Cun ki segera menjengek sambil tertawa dingin.
"sekalipun ilmu silatmu cukup hebat, namun bila terendus bau dupa An hun hiang kau sama saja akan roboh tak sadarkan diri"
Dewi In Un hanya tertawa dingin tanpa berbicara, sebaliknya si pelajar rudin, Bu wi lojin serta Hian im totiang menjadi kagum sekali atas kecerdikan Ngo Cun ki.
Walaupun kepandaian silat yang dimiliki gadis itu biasa-biasa saja namun dengan mengandalkan kecerdikannya biarpun harus menghadapi musuh tangguh macam Dewi In Un ternyata posisinya masih tetap diatas angin.
Tapi pada saat itu pula situasi dalam arena telah terjadi perubahan besar.
Tampak tiga sosok bayangan hitam mendadak meluncur datang dengan kecepatan tinggi, sekalipun saat itu masih terang benderang namun kehadiran ketiga orang tersebut ternyata tidak diketahui oleh siapapun.
Tampak ketiga orang itu mengenakan baju kuning dengan kain kuning menutupi wajahn sebuah senjata panji kupu-kupu terselip dipinggang masing-masing.
sekalipun tidak Nampak raut wajahnya namun bisa diketahui bahwa ketiga orang tersebut adalah kakek berusia tujuh puluh tahunan keatas.
Dewi In Un segera berpaling kearah nenek penunjang langit yang baru selesai bersemedi, tegurnya .
"Bagaimana rasamu sekarang?"
"Aku sudah merasa agak baikan"
Jawab nenek penunjang langit cepat. Dewi In Un menjadi gembira segera serunya .
"Kau tak usah mencampuri urusan disini cepat rawat lukamu itu"
"Budak turut perintah"
Ia segera berjongkok disisi nenek perata bumi yang tidak bergerak lagi.
Dalam pada itu para jago telah mengalihkan perhatiannya mengawasi ketiga orang kakek berkerudung itu, mereka membungkam dalam seribu bahasa.
sambil tertawa angkuh, Dewi In Un segera berkata .
"Perlukah kuperkenalkan orang-orang ini kepada kalian semua? Tidak sedikit anak buah yang dibawa ayahku ketika meninggalkan markas besar kami di Hay sim san diantaranya terdapat empat tiang lo, dua belas pengawal pribadi."
Sambil menunding kearah tiga manusia berkerudung itu lanjutnya .
"Tapi ketiga orang ini adalah tiga rasul langit yang menjadi andalan partai kupu-kupu, mereka adalah jago kelas wahid dari partai kami, begitu sayangnya ayahku kepada mereka, maka ia menyerahkan ketiga orang andalannya ini kepadaku."
Bu wi lojin mendengus dingin, tukasnya .
"Biarpun partai kupu-kupu mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki pun tak nanti umat persilatan akan menyerah dengan begitu saja, pertarungan ini adalah pertarungan untuk melenyapkan kaum sesat dari muka bumi."
"Hey tua Bangka Bu wi"
Bentak Dewi In Un gusar.
"sekalipun kau berderet dalam urutan nama tiga manusia aneh namun dalam pandanganku tak lebih Cuma kaum berandal ingusan, apalagi ilmu silatmu tak mampu menahan sebuah gempuranku, sebagai panglima perang yang pernah keok ditanganku, disini masih belum ada tempat bagimu untuk turut berbicara."
Merah jengah selembar wajah Bu wi lojin dibuatnya, dengan penuh amarah segera bentaknya .
"Perempuan siluman, sombong benar kau"
Dewi In Un mendengus dingin
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ "Percuma kalau kita hanya bersilat lidah belaka, sebentar lagi kalian akan menyaksikan pertunjukkan yang menarik"
Sambil berpaling segera bentaknya .
"Tiga orang Thian cun, dengarkan baik-baik, orang ini adalah pemimpin dunia persilatan dewasa ini dan saat inilah waktu yang tepat bagi kalian untuk mencoba kemampuan yang dimiliki, baik dibunuh atau ditangkap hidup-hidup. kalian bereskan orang-orang itu."
"Nona tak usah kuatir, hamba sekalian tak akan mengecewakan hatimu"
Sahut ketiga orang kakek itu serentak.
"Bagus sekali"
Dewi In Un tertawa bangga.
"Kalian boleh segera turun tangan"
Dengan cepat dia bergerak mundur dari situ.
setelah memberi hormat, ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu itu segera bergerak maju kedepan dan mengepung Hian im totiang, Bu wi lojin serta sipelajar rudin Ho heng, sebaliknya Ngo Cun ki justru disisikan ketempat lain-Dewi In Un segera menjengek sambil tertawa dingin .
"Budak Ngo, kau jangan keburu bangga, tak seorangpun diantara rekan-rekan sekalian yang sanggup menghadapi seluruh jurus serangan dari tiga orang Thian cun kami, bila mereka telah keok nanti maka aku baru akan meringkusmu secara pelan-pelan, pokoknya aku tak akan membiarkan kau mampus dengan begitu saja."
Walaupun diluarnya Ngo Cun ki masih tertawa dingin dengan wajah tenang, padahal dalam hati kecilnya ia sudah merasa tegang sekali.
Dalam waktu singkat Bu wi lojin, Hian im totiang dan si pelajar rudin Ho Heng masing-masing telah mendapatkan seorang lawan, sementara ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu pun telah meloloskan senjata panji kupu-kupu dari pinggangnnya.
Dalam waktu singkat bayangan kupu-kupu telah menyelimuti seluruh angkasa, ditengah deruang angin kencang yang terlihat didepan mata Cuma tiga gulung bayangan putih saja.
Mendadak ..
Terdengar jeritan ngeri bergema memecah keheningan, lalu tampak bayangan putih memisahkan diri, Ngo Cun ki terkejut sekali.
Ia menjumpai paras muka Hian im totiang pucat bagaikan mayat, darah segar telah bercucuran dari atas bahunya.
Untung saja manusia berkerudung itu tidak melanjutkan kembali serangannya.
Menyusul kemudian terdengar dua kali dengusan tertahan, secara beruntun Bu wi lojin serta pelajar rudin Ho Heng pun menderita luka.
Bu wi lojin menderita luka dibagian dada, tangan kanannya dipakai untuk menutupi lukanya itu, kelihatan sudah basah oleh darah yang meleleh keluar melalui celah-celah jari tangannya.
sedang si pelajar rudin terluka dibagian pahanya, ia sudah tak mampu berdiri lagi.
Padahal pertarungan belum lagi mencapai sepuluh gebrakan, namun tiga orang jago persilatan ini sudah terluka secara beruntun dan tak mampu melanjutkan serangan lagi.
semenara itu tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu telah membalikkan badan memberi hormat kepada Dewi In Un sambil berkata .
"silahkan siancu memberi petunjuk apakah perlu kita cabut nyawa mereka semua"
Sambil tertawa Dewi In Un mengulapkan tangannya, ia berkata .
"Mereka sudah menjadi burung di dalam sangkar, tunggu saja sejenak lagi"
Ketiga orang Thian cun itu segera mengiakan dan masing-masing mundur tiga langkah kebelakang.
Ngo Cun ki merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris-iris pisau tajam, berada dalam keadaan seperti ini, biarpun dia memiliki kepandaian yang lebih hebatpun rasanya tak mungkin bisa dipergunakan lagi.
Maka setelah menghela napas panjang, katanya .
"Perempuan siluman In Un, kau yang menang"
Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh .
"Padahal persoalan ini sudah berada dalam dugaan, tiada sesuatu yang aneh, aku ingin bertanya kepadamu sekarang, kau hendak menyerahkan diri untuk dibelenggu ataukah kami kirim orang untuk membekukmu?"
Ngo Cun ki segera mendengus dingin .
"Aku adalah ketua Hoa sanpay, bila tak bisa menggungguli musuh tangguh maka bagianku hanya mati, kalau suruh menyerahkan diri untuk dibelenggu? HHmmm, tak nanti akan kulakukan"
"Bagus, kau memang sangat pemberani"
Kata Dewi In Un sambil berpaling kearah Hian im totiang sekalian, bentaknya dengan suara dalam .
"Apakah kalian merasa takluk? "
Jawab Bu wi lojin dengan suara lantang .
"Bagi kami kalah ditangan musuh yang lebih tangguh adalah suatu hal yang lumarh, bisa matipun kami mati dengan meram, kalau dihitung takluk. Hmmm, jangan harap"
"Haaah . Haahhh .. haahh .. kalau begitu habisilah nyawa kalian sendiri, aku bersedia menghadiahkan kematian yang utuh kepada kalian semua."
Kembali Bu wi lojin tersenyum .
"Tak usah kau katakan, rasanya hanya jalan begitu yang bisa kami tempuh sekarang, Cuma ."
"Cuma kenapa?"
Dengus Dewi In Unsambil menggigit bibir Bu wi lojin berkata .
"Ada satu hal tidak kupahami dan sebelum mati ingin kuketahui lebih dulu dengan jelas, sebab kalau tidak mungkin bakal mati tak terpejam."
Dewi In Un tertawa .
"Bisa saja kuberi penjelasan kepadamu agar kau menjadi setan yang mengetahui keadaan sejelasnya, pokoknya asal pertanyaan tersebut dapat kujawab, kau tak bakal merasa kecewa, nah ajukanlah pertanyaanmu?"
Setelah termenung sebentar, dengan suara dalam Bu Wi lojin berkata .
"siapakah yang telah menyaru sebagai diriku tempo hari sehingga menyebabkan terjadinya peristiwa berdarah di perkampungan HHu im ceng dengan tujuh puluh lembar jiwa melayang?"
Dewi In Un segera tertawa terkekeh-kekeh .
"Baiklah sekarang urusan telah berkembang jadi begini, boleh juga kuberitahukan kepadamu, orang yang menyaru sebagai dirimu waktu itu bernama Liong hoa sinkun, kenalkah kau dengan orang itu?"
"Apakah Go Liong hoa dari wilayah Biau?"
Gumam Bu wi lojin.
"Haahh . Haahh haahh tak nyana pengetahuanmu luas sekali, begitu kusebut segera kau ketahui siapa orangnya."
"setahuku Go Liong hoa bukan anggota partai kupu-kupu."
Ucap Bu wi lojin dengan kening berkerut. Dewi In Un mengangguk.
"Yaa, memang bukan, tapi dia adalah seorang sobat karib ayahku, itulah sebabnya ia bersedia membantuku tempo hari, tapi sekarang ia sudah menjadi kepala pelindung hukum dari partai kupukupu kami"
"sayang Kho Beng tidak mengetahui soal ini"
Seru Bu wi lojin sambil menggigit bibir. Kembali Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh .
"Itu mah tak menjadi soal, bila aku kebetulan lewat dibukit cian san nanti pasti akan kuutus orang untuk bersembahyang disana dan memberitahukan masalah ini kepadanya, tapi bukankah sebentar lagi kaupun akan sampai ke akhirat? Disana kau bisa memberitahukan soal ini langsung kepada arwahnya."
Mendadak .. Tampak belasan sosok bayangan manusia lagi bergerak mendekat, mereka terdiri dari laki maupun perempuan sambil memberi hormat kepada Dewi In Un serunya .
"Menjumpai siancu"
Sambil tertawa Dewi In Un berkata .
"Rencana kita telah diketahui musuh, rasanya kecuali melakukan pertarungan adu kekerasan tak usah kita menggunakan otak lagi."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, kembali terlihat ada puluhan sosok bayangan menusia bergerak datang.
Ternyata mereka adalah kawanan jago persilatan yang dipimpin langsung oleh ketua siau limpay Phu sian sangjin-Namun situasi yang terbentang didepan mata segera membuat para jago jadi tertegun-"omitohud"
Phu sian sangjin segera tampil kedepan dan berkata dtngan wajah serius .
"sayang kedatangan kami terlambat selangkah."
"Cepat atau lambat aku rasa sama saja"
Jengek Dewi In Un sambil tertawa.
"hari ini adalah hari kiamat untuk kalian semua."
Phu sian sangjin mengalihkan sorot matanya kewajah Ngo Cun ki, lalu serunya .
"Ngo ciangbunjin .."
Sambil tertawa getir, Ngo Cun ki berkata .
"Bila takdir menghendaki demikian mungkin memang saat kaum iblis untuk menguasai jagat, kita hanya pasrah pada nasib. Tapi jumlah jagoan dari dunia persilatan puluhan kali lipat lebih banyak paling tidak kita bisa bertarung sampai titik darah penghabisan-"
"Tak perlu dicoba lagi."
Seru Bu wi lojin dengan suara parau.
"satu-satunya jalan saat ini adalah tinggalkan tempat ini secepatnya, pertahankan sisa kekuatan yang ada sambil menunggu kesempatan yang lebih baik dikemudian hari."
Sambil menghela napas panjang, Ngo Cun ki berkata pula .
"Apa yang dikatakan Buwi cianpwee memang benar, kepandaian silat yang mereka miliki tak mungkin bisa ditandingi oleh ilmu silat perguruan kita semua, Bu wi cianpwee sekalian pun sudah menderita kalah tak sampai sepuluh gebrakan, apalagi saudara sekalian, aaai tak usah dicoba lagi"
Sambil tertawa terbahak-bahak Dewi In Un segera berseru .
"Asal kalian mengaku kalah dan menyerah, kau anggap aku bakal membebaskan mereka dengan begitu saja?"
"Lantas apa maumu?"
Teriak Bu wi lojin-Dewi In Un mendengus dingin .
"saat ini aku tak bakal mencabutjiwamu, sebab Kho Beng telah mampus, maka aku berniat mendapatkan kembali kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh itu dari tanganmu."
Kemudian sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, kembali katanya .
"Aku dengar jumlah kawanan jago persilatan yang telah dihimpun mencapai berapa ratus orang, mengapa hanya berapa puluh orang saja yang Nampak disini?"
Pelan-pelan Phu sian sangjin memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu berkata .
"Biarpun jumlah yang hadir saat ini tidak banyak. namun mereka adalah tokoh-tokoh pilihan, maka asal kau bisa membunuh berapa puluh orang yang hadir sekarang, sama artinya kau telah membantai seluruh jago yang ada dirimba persilatan"
Tiba-tiba Bu wi lojin berteriak keras .
"Kalian cepat mundur Apa gunanya mengorbankan diri secara percuma?"
Namuan perkataan tersebut belum sempat memberikan reaksi, Dewi In Un telah menurunkan perintahnya, tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu itu sudah bergerak menyerang para jago.
Maka suatu pertarungan sengitpun kembali berkobar, puluhan orang jago pilihan dunia persilatan bertarung melawan tiga orang Thian cun, Dewi In Un serta belasan orang jago lihay dari partai kupu-kupu.
Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi oleh deruan angin pukulan serta bayangan senjata yang berkilauan, suasananya benar-benar mengerikan.
Tak lama kemudian, jerit kesakitan pun berkumandang saling susul menyusul ..
Ketua Kun lun pay Hoa thian totiang, Thio bungkuk sekalian, lima enam orang jago persilatan telah menderita luka ringan maupun berat.
Phu sian sangjin merasakan hatinya terkesiap.
"mungkinkah Thian akan mentakdirkan kaum iblis menguasai jagat serta melakukan pembantaian secara besar-besaran?"
Begitu pikirannya bercabang, tiba-tiba bahunya terasa sakit ternyata ia sudah terhajar oleh senjata panji kupu-kupu lawan hingga separuh badannya menjadi kaku dan lengan kanannya bagaikan lumpuh.
Didalam terkejutnya dengan jurus Naga kaget palingkan kepaladia melejit sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.
Situasi dalam arena bertambah gawat, jagoan yang terluka pun saling menyusul sedangkan yang masih bertahan pun sudah mulai keteteran hebat ..
Disaat yang amat kritis dan berbahaya inilah, tiba-tiba terdengar seorang membentak keras .
"Tahan"
Suaranya keras bagaikan Guntur membelah bumi ditengah hari bolong, seluruh hadirin terperanjat dibuatnya dan tanpa sadar mengundurkan diri kebelakang.
Untuk sesaat lamanya suasana didalam arena menjadi hening, pertarungan terhenti untuk sementara waktu dan semua orang berdiri termangu.
Suatu peristiwa aneh memang telah terjadi dan inilah yang menyebabkan para jago yang sedang bertarung segera menghentikan pertarungan sambil mundur kebelakang.
Ternyata suara bentakan yang keras bagaikan Guntur itu berasal dari atas langit.
Tampak seekor burung rajawali raksasa menukik turun dari atas udara, diatas punggung rajawali itu duduklah dua orang , seorang adalah kakek berjanggut putih sedang yang lain adalah Kho Beng.
Disaat rajawali tadi berada dua puluh kaki dari atas permukaan tanah, Kho Beng segera melompat turun kebawah dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
suasana tetap hening, para jago pun tidak bersorak gembira, namun phu sian sangjin, Bu wi lojin, pelajar rudin serta Thio bungkuk sekalian diam-diam mengucurkan air mata d engan perasaan syukur.
Pelan-pelan Kho Beng mengalihkan sorot matanya kewajah Dewi In Un-Paras muka Dewi In Un telah berubah hebat, namun ia mencoba mendengus dingin sambil berseru .
"orang she Kho, tak nyana umurmu diberkahi panjang"
"Hmm, sungguh suatu rencana yang keji, tampaknya kau berniat membantai segenap jago dari dunia persilatan?"
Seru Kho Beng sambil menggertak gigi menahan geram. Kembali Dewi In Un mendengus dingin .
"Hmm, berbicara menurut keadaan sekarang rencanaku tak akan berubah, betul ilmu silatmu peroleh kemajuanpesat, namun kau masih bukan tandingan jago dari partai kupu-kupu kami."
Kho Beng mencoba memperhatikan sekejap Phu sian sangjin, Bu wi lojin, pelajar rudin dan Thio bungkuk sekalian yang terluka kemudian dengan kening berkerut ia berpaling kearah Ngo Cun ki sambil katanya .
"Mungkin anda adalah ketua Hoa san pay, bukan?"
Sesudah melalui pertarungan yang begitu sengit, rambut Ngo Cun ki sudah awut-awutan tak rapi, dengan wajah bersemu merah segera sahutnya .
"siauli adalah Ngo Cun ki, sudah lama kudengar nama besar Kho sauhiap ."
"Tolong urusi para rekan persilatan dan cianpwee yang terluka, sementara persoalan disini serahkan saja padaku."
"Kho sauhiap tak usah cemas, serahkan saja rekan-rekan semua kepadaku, tapi kau yang hadapi mereka harus berhati-hati."
Kho Beng manggut-manggut, pelan-pelan dia berpaling kearah Dewi In Un kemudian bentaknya .
"Biarpun mendiang guruku Kongci cu berpesan agar aku bisa mempertahankan keturunan dari partai kupu-kupu, namun bilamana keadaan sudah terpaksa, aku akan tetap membasmi kalian dari muka bumi"
Dewi In Un tertawa tergelak .
"Kho Beng, kau terlalu sombong, jangan kau anggap kami tak mampu membekukmu"
Sambil berpaling segera bentaknya .
"Cepat tangkap bajingan ini"
Ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu serentak mengiakan dan mengurung pemuda itu dari tiga arah. Bu wi lojin yang menyaksikan peristiwa ini segera berteriak keras .
"Hati-hati Kho Beng, ketiga orang itu tidak gampang dihadapi"
"Cianpwee tak usah kuatir,"
Jawab Kho Beng lantang. Kemudian sambil berpaling kearah tiga orang Thian cun itu, bentaknya keras-keras .
"Tunggu sebentar"
Sambil tertawa keras Dewi In Un mengejek .
"Kho Beng, bila kau bersedia minta ampun, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mengampuni jiwamu."
"Kau salah paham,"
Seru Kho Beng sambil tertawa dingin.
"aku hanya ingin mengetahui identitas mereka bertiga lebih dulu."
"Mereka adalah tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu, jagoan kelas wahid dari partai kami."
"Hmm, orang-orang yang bersedia membantu penjahat melakukan kejahatan tidak boleh dibiarkan hidup terus, sekarang kalian boleh turun tangan"
Sambil berkata ia segera meloloskan pedangnya.
sementara itu, ketiga orang Thian cun pun telah meloloskan senjata panji kupu-kupu, tampak selapis bayangan kupu-kupu dengan cepat menyelimuti angkasa, dari dua berubah menjadi empat dan akhirnya terciptalah beribu-ribu ekor kupu-kupu yang mengepung Kho Beng dari empat penjuru.
Kawanan jago yang mengikuti jalnny a pertarungan tersebut dari sisi arena menjadi kecut hatinya setelah melihat keampuhan lawannya, tanpa terasa mereka mengucurkan keringat dingin saking gelisahnya.
Terutama sekali Bu wi lojin sekalian yang telah merasakan kelihayan dari ketiga orang Thian cun tersebut, belum sampai sepuluh gebrakan pun mereka telah menderita kekalahan, apalagi Kho Beng hanya seorang diri sekarang, betapapun pesatnya kemajuan yang dicapai dalam ilmu silatnya, mustahil ia mampu menghadapi tiga musuhnya itu bersama-sama .
Phu sian sangjin pun tak tega mengikuti jalannya pertarungan, ia segera memejamkan matanya rapat-rapat.
Dalam pada itu, Kho Beng yang terkepung ditengah arena sama sekali tidak melakukan gerakan apapun-Tapi ketika para jago mulai gelisah dan cemas itulah, mendadak dari balik bayangan kupu-kupu yang menyelimuti angkasa menyembul keluar segulung cahaya putih yang tajam bagaikan sinar surya, cahaya tadi menerjang tiga kaki ketengah udara lalu berubah menjadi segulung hujan pedang yang menyebar kesekeliling arena.
Dalam waktu singkat terlihatlah hawa pedang yang mengerikan hati menyebar keseluruh arena, dalam lingkaran seluas sepuluh kaki, hawa pedang serasa membungkus setiap bayangan udara, sedang bayangan kupu-kupu yang semula menguasai angkasa tahu-tahu hilang lenyap tak berbekas.
Tak lama kemudian terdengarlah suara benturan senjata yang memekikkan telinga, lalu tak lama kemudian terdengar lagi tiga kali jeritan ngeri yang menyayat hati, sementara hawa pedang pun hilang lenyap tak berbekas.
sambil menghela napas para jago segera mengalihkan pandangan matanya ketengah arena, bahkan si pelajar rudin Ho Heng yang terluka dipahanya pun menyempatkan diri untuk melompat bangun dan sambil menahan rasa sakit melongok kedalam arena.
Menanti apa yang terjadi telah terpampang jelas didepan mata, meledaklah tepik sorak yang gegap gempita, sementara rasa tegang dan cemas hilang lenyap tak berbekas.
Ternyata hanya didalam satu gebrakan saja, ketiga orang Thian cun yang sangat lihay itu sudah menderita kekalahan total.
seorang diantara mereka terpapas bahunya hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, orang itu tewas seketika, sedangkan dua yang lain , satu kehilangan kaki yang satu lagi terpapas lengannya.
sementara itu Kho Beng yang berhasil meraih kemenangan masih berdiri termangu-mangu diarena.
"Ilmu pedang bagus"
Teriak pelajar rudin sambil bersorak gembira, ..
"tapi kenapa kau?"
Bagaikan baru tersadar dari lamunan, Kho Beng segera menjawab .
"Baru untuk pertama kali ini boanpwee mempergunakan jurus serangan tersebut, tak nyana kekuatan yang ditimbulkan begitu hebat."
Dilain pihak paras muka Dewi In Un telah berubah menjadi pucat seperti mayat, ia tidak ambil peduli terhadap dua orang Thian cun yang terluka parah itu, sambil menggigit bibir serunya kepada Kho Beng.
"Ilmu silat apa yang kau pergunakan?"
"Inilah ilmu pedang Thian goan hui kiong kiam."
"Ilmu tersebut berasal dari kitab pusaka Thian goan bu boh?"
"separuh benar, separuh tidak."
"Aku tidak memahami arti perkataanmu itu"
Seru Dewi In Un sambil menggigit bibir. sambil tertawa dingin Kho Beng berkata .
"Kau tak usah memahami, sebab sejak sekarang sekalipun partai kupu-kupu masih hidup didunia ini, aku tak akan memperkenankan kalian melakukan kejahatan lagi didalam dunia persilatan, paling tidak aku mampu untuk mengendalikan sepak terjang kalian."
"Bila kau sudah mampus"
Kho Beng agak tertegun, lalu katanya .
"sekalipun aku mati, pasti ada penerus yang bakal muncul sebagai pengendali sepak terjang partai kupu-kupu."
Setelah berhenti sejenak, kembali katanya.
"tapi aku dapat memberitahukan kepadamu, ilmu Thian goan hui kiong kiam hoat tersebut berasal dari ilmu sakti yang tercantum didalam kitab pusaka Thian goan bu boh dikombinasikan dengan ilmu Hui liong sin kang guruku, dua ilmu yang bergabung jadi satu menciptakan kepandaian baru maha dahsyat, oleh sebab itu kalian semua jangan harap mampu mengendalikannya ."
Dewi In Un segera mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, mendadak jeritnya keras .
"Cepat mundur"
Sambil melompat kedepan, dia berusaha untuk melarikan diri kebawah puncak bukit. Namun kawanan jago persilatan yang masih segar cukup banyak jumlahnya disana, Ngo Cun ki segera berseru .
"Jangan lepaskan seorangpun diantara mereka"
Maka suatu pertarungan sengitp pun segera berkobar kembali.
Dalam pada itu Kho Beng telah melejit keudara dan mengejar kearah Dewi In Un dengan kecepatan luar biasa.
Tak sampai belasan lompatan kemudian ia telah berhasil menghadang didepan lawannya.
sadar kalau tak mungkin lolos, Dewi in Un menghembuskan napas panjang dan segera menghentikan langkahnya.
sambil tertawa dingin Kho Beng berkata .
"saat ini aku telah menguasai ilmu Hui liong singkang guruku, sekalipun kau dapat kabur sejauh sepuluh lipun, aku masih tetap mampu untuk menyusulmu"
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
Jerit Dewi In Un-Kho Beng menggeleng, katanya .
"Kita belum pernah bertarung, mengapa kau tidak berusaha melakukan perlawanan?"
"Percuma,"
Dewi In Un menghembuskan napas panjang.
"ilmu silatku tidak lebih hebat bila dibandingkan ketiga orang Thian cun itu, buat apa aku mesti mencari penyakit buat diri sendiri?"
"Jadi kau berniat menyerah? "
Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin-Dengan cepat Dewi In Un menggelengkan kepalanya .
"partai kupu-kupu tak akan menyerah dengan begitu saja, paling tidak masih ada ayahku serta kawanan jago pilihan dari partai kupukupu kami, biarpun kali ini kau unggul namun bukan berarti kau berhasil menggungguli kami secara keseluruhan."
Sambil tertawa dingin Kho Beng berkata .
"Mungkin kau mesti tahu keadaan ayahmu yang mengenaskan, lengan kanannya telah kutung dan semangat hidupnya sudah runtuh, sekalipun dibantu oleh Liong hoa sinkun suami istri, namun kemampuan mereka sudah amat terbatas sekali, kekuatan seperti itu tak perlu dirisaukan lagi."
"Kau .. kau bohong"
Seru Dewi In Un setelah tertegun sejenak.
"sungguh atau bohong tak lama lagi akan kau ketahui sendiri, aku segan banyak bicara lagi."
Kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya .
"Tapi aku bersedia untuk mengajukan pembicaraan secara blakblakan"
"Katakanlah"
Ucap Dewi In Un sambil menghela napas. setelah berpikir sebentar, Kho Beng berkata .
"Aku tak ingin berbuat kelewat batas, apalagi mendiang guruku pun sudah meninggalkan pesan, maka asalkan kau bersedia untuk bertobat, aku jamin partai kupu-kupu masih bisa melanjutkan hidupnya didunia ini."
"Apa syaratmu?"
Tanya Dewi In Un sambil menggigit bibir.
"Tentu saja harus membebaskan ciciku, dua orang dayangnya, kakek tongkat sakti serta nona Chin, dan kedua kau harus membujuk ayahmu agar mengundurkan diri dari daratan Tionggoan dan selama hidup tak boleh mempunyai ambisi lagi untuk menguasai jagat."
"Hanya itu saja?"
Tanya Dewi In Un setelah berpikir sejenak.
"selain itu, orang tuaku sekalian tujuh puluh lembar jiwa tak dibiarkan mati secara sia-saia, kau harus menunjukkan siapa yang telah menyaru sebagai Bu wi lojin dimasa lalu, aku pun akan bertanggung jawab untuk mengembalikan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kalian-"
Dewi In Un tertegun berapa saat tanpa berbicara. Dengan suara keras Kho Beng segera membentak lagi .
"sesat dan lurus tak mungkin bisa hidup berdampingan, kecuali kau bersedia menerima syaratku tadi, kalau tidak. partai kupu-kupu akan musnah untuk selamanya dari muka bumi"
"Apakah semua perkataanmu itu muncul dari hari kecilmu yang jujur?"
Tanya Dewi In Un sambil menggigit bibir.
"Bila anda tak percaya, aku bersedia untuk mengangkat sumpah"
Kata Kho Beng serius. Akhirnya Dewi In Un menghembuskan napas panjang.
"Baiklah, aku bersedia memenuhi tuntutanmu itu."
"Jadi maksud anda .."
Kho Beng sangat gembira. Dengan wajah serius Dewi In Un segera berkata .
"Bila kau tak percaya, akupun bersedia mengangkat sumpah tapi kau harus mengerti, hingga kini partai kupu-kupu belum menderita kekalahan total, aku masih mempunyai sandera yang bisa dipakai untuk mengancammu, akupun mempunyai ayahku sebagai tulang punggung, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, siapa menang siapa kalah masih susah diramalkan tapi aku ."
Setelah menghela napas panjang, agal emosi dia melanjutkan .
"Mungkin aku telah dibuat terharu oleh sikapmu yang bersungguh-sungguh dan tulus hati"
"Asal anda bisa merasakan hal tersebut, aku merasa berterima kasih sekali."
Setelah berpikir sebentar, Dewi In Un berkata lagi .
"Kini encimu sekalian sudah kupindah didalam sebuah gua dibelakang selat Pek hong sia, didepan gua tumbuh dua batang pohon siong, kau hendak pergi sendiri ataukah kutemani?"
Kho Beng berpikir sebentar, lalu jawabnya .
"Bagaimana kalau kau berangkat dulu, sedang aku akan segera menyusul kesana?"
"Begitu percayakah kau kepadaku? Mengapa kau tidak segera berangkat kesana?"
Kata Dewi in Un sambil tertawa. Dengan wajah bersungguh-sungguh, Kho Beng berkata .
"Bila aku tak percaya kepada anda, tak mungkin aku akan mengajakmu untuk membicarakan persoalan ini, sedang aku . Bagaimanapun juga aku harus meninggalkan pesan kepada para jago yang masih bertarung diatas bukit, ketahuilah banyak juga orang-orangmu yang masih terlibat dalam pertarungan"
"Aaaai . Tak nyana persoalan seperti itu pun mendapat perhatian yang cukup besar darimu, baiklah, aku akan menunggumu disana"
Kata Dewi In Un sambil menghela napas panjang.
Tanpa menanti lagi, ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Kho Beng bangkit berdiri, ketika melihat kentongan pertama telah menjelang tiba, buru-buru dia berangkat menuju keatas puncak bukit.
Pertarungan dipuncak bukit telah mereda, ternyata kecuali Dewi In Un serta tiga orang Thian cun, biarpun yang lain terhitung juga jagoan lihay dari partai kupu-kupu, tapi karena kesatu, Dewi In Un telah melarikan diri sehingga melemahkan semangat tempur mereka.
Kedua, para jago yang mengerubuti mereka adalah jagojago kelas satu, maka akhirnya mereka berhasil diringkus semua.
Kedatangan Kho Beng dipuncak bukit segera disambut dengan gembira oleh para jago.
Kho sauhiap Ngo Cun ki segera berseru dengan cemas.
"mana Dewi In Un ?"
"Atas petunjukku dia telah bersedia untuk berdamai dengan kita"
Sahut sang pemuda sambil tertawa.
"Damai?"
Para jago dibuat tertegun dan berseru kaget. sambil tersenyum Kho Beng berkata .
"Ya a, peristiwa ini memang terpaksa harus di akhiri secara begini."
Secara ringkas diapun menceritakan kembali pesan terakhir dari gurunya yang harus dilaksanakanselesai mendengar penuturan itu, Bu wi lojin segera berkata .
"seandainya Kengci cu tidak sadar akan bahaya yang mengancam dunia persilatan, mungkin kita tak akan lolos dari bencana ini,"
"yaaa . Kalau dibicarakan kembali keputusan seperti ini memang pantas, tapi apakah Ui sik kong"
"serahkan saja persoalan ini kepada boanpwee, akan boanpwee selesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya."
"Tahukah kau siapa yang telah menyamar sebagai diriku dulu sehingga mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng?"
"Boanpwee sudah mendengarnya dari Dewi In Un, katanya orang itu adalah Liong hoa sinkun, boanpwee bersumpah tak akan melepaskan orang itu"
Setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata .
"Tapi ciciku dengan perannya sebagai kedele maut telah banyak membantai umat persilatan, apakah .."
"omitohud ."
Tukas Phu sian sangjin-"Dalam peristiwa inipun kesalahan bukan terletak pada dirinya, sudah sewajarnya bila ia mengambil tindakan untuk membalas dendam tersebut, untung saja duduk persoalan telah menjadi jelas sekarang, sakit hati inipun bisa dibereskan sebagaimana mestinya."
Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, katanya lebih jauh dengan suara dalam .
"serahkan saja penyelesaian masalah ini kepadaku, peristiwa yang sudah lewat biarkan saja lewat, mulai saat ini setiap orang yang mempunyai dendam dengan encimu akan diimpaskan dan tak akan menuntutnya lagi."
"Kalau begitu banyak terima kasih untuk kemurahan hati lo siansu, terima kasih banyak untuk pengertian rekan-rekan persilatan semuanya."
Seru Kho Beng seraya menjura. serentak para jago berkata .
"seharusnya kami yang minta maaf kepada Kho sauhiap serta mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya, andaikata bukan berkat perjuangan sauhiap. mungkin saat ini dunia persilatan telah menjadi dunia kekuasaan partai kupu-kupu."
Mendadak Phu sian sangjin berkata .
"Bukankah Kho sauhiap berada bersama-sama keturunan dari tiga dewa?"
Kho Beng mengangguk katanya .
"Ketika boanpwee bersama Thian cianpwee sekalian menyatroni gua pengikat cinta, hampir saja kami tewas oleh ledakan bahan peledak yang sengaja mereka persiapkan dari situ pula kami mendapat tahu tentang rencana busuk mereka disini, kebetulan boanpwee bertemu dengan siang thian eng cianpwee dengan bantuan rajawalinya kami pergi kesiau lim pay, dari situ kami mendapat tahu cianpwee sekalian telah berangkat keselat Pek hong sia, aaaai .. sayang kedatangan ku toh tetap terlambat selangkah, akibatnya cianpwee sekalian harus menderita luka."
"Haaah haahh haaahhh .. untung saja kami semua tidak menderita luka yang terlalu parah, peristiwa semacam ini benarbenar merupakan suatu keuntungan ditengah ketidak beruntungan tapi dimanakah siang Thian eng itu?"
Ternyata para jago hanya mencurahkan perhatian pada pertarungan dan melupakan kakek penunggang rajawali tadi, ketika dicari sekarang, bayangan kakek itu sudah tak Nampak lagi.
sambil tersenyum Kho Beng berkata .
"siang Thian eng adalah seorang tokoh silat yang enggan mencampuri urusan dunia persilatan, seandainya Thian dan oh cianpwee tidak memohon secara bersungguh-sungguh mungkin dia belum tentu mau membantu, karena enggan turut campur dalam urusan keduniawian tentu saja ia telah pergi dari sini sedari tadi."
Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya lagi seraya menjura .
"Boanpwee hendak pergi dulu, harap cianpwee sekalian jangan marah."
Thio bungkuk yang menderita luka paling ringan segera memburu kedepan dan berkata sambil tertawa .
"Kho Beng, akhirnya aku berhasil juga menyaksikan hari yang dinanti-nantikan ini."
Sambil melelehkan air mata terharu, Kho Beng berbisik .
"Kesemuanya ini adalah berkat bimbingan serta pendidikan dari cianpwee dimasa lalu."
Thio bungkuk tersenyum .
"Kita tak usah membicarakan soal itu, .. aaaah benar, perguruan sam boan bun kini semakin merosot pamornya, namun ketua sam goan bun justru merupakan orang yang telah mmelihara serta mendidikmu, kau .."
"Boanpwee mengerti"
Kata Kho Beng cepat-cepat.
"Begitu urusan disini selesai, boanpwee segera akan menyambanginya sambil mengucapkan perasaan terima kasihku."
Thio bungkuk manggut-manggut, katanya kemudian .
"Chee Tay hap terpengaruh ilmu sesat, karenanya ia disekap didalam kuil siau lim si untuk sementara waktu, biarlah menanti kesadaran pikirannya telah pulih kembali, dia baru kembali keperkampungan Hui im ceng."
Setelah berhenti sejenak. tambahnya .
"Kau tentu akan kembali keperkampungan HHui im ceng, bukan?"
"Tentu saja, boanpwee akan membangun kuburan yang lebih banyak bagi orang tuaku, begitu urusan disini selesai, aku akan segera kembali keperkampungan Hui im ceng."
"Kalau begitu selesaikan dulu persoalan yang penting, aku si bungkuk tak akan mengganggumu lagi."
Baru saja Kho Beng hendak berangkat, terdengar Ngo Cun ki berseru .
"Tunggu sebentar Kho sauhiap. disini terdapat dua puluh empat orang anggota partai kupu-kupu, apa yang harus kita perbuat terhadap mereka? Harap Kho sauhiap memberi petunjuk."
"Aku tak berani menerima ucapan tersebut, kalau toh perdamaian sudah disepakati, aku rasa ."
Sambil tertawa Ngo Cun ki segera menyela .
"Ya a, aku sudah mengerti sekarang, Kho sauhiap boleh berangkat"
Kho Beng agak tertegun, namun ia toh meneruskan kembali perjalanannya menuju kebelakang selat.
Dari kejauhan Kho Beng dapat melihat diantara dua batang pohon siong yang lebat terdapat sebuah gua besar, waktu itu Dewi In Un telah menanti didepan gua.
Dengan perasaan girang Kho Beng segera berseru .
"siancu, tak nyana kau adalah orang yang pegang janji"
Ketika masuk kedalam gua, apa yang terlihat membuat hatinya terkejut bercampur girang.
Ternyata Kho Yang ciu, Bwee hiang beserta Kekek tongkat sakti dan Chin sian kun sedang duduk didalam gua itu.
Pertemuan ini benar-benar diliputi perasaan sedih bercampur gembira, saking tak tahannya Kho Beng segera berpelukan erat dengan Kho Yang ciu dan menangis kegirangan.
"Adikku"
Gumam Kho Yang ciu kemudian.
"semuanya ini memang kesalahanku.."
"cici, kau jangan berkata begitu, sekarang ."
"Yaa, sekarang keadaan telah beres"
Kata Kho Yang ciu sambil menghela napas.
"Kau.."
Buru-buru Kho Beng menceritakan pengalamannya selama ini secara ringkas, sebagai akhir kata ia bilang .
"selain itu, masih ada satu hal lagi yang terpaksa kumohon maaf dari cici."
"soal apa?"
Tanya Kho Yang ciu tertegun.
"Karena didesak terus menerus oleh Thian serta oh cianpwee, maka siaute telah .. telah mengikat tali perkawinan dengan Beng Gi ciu"
"Adikku, ini kan berita gembira, untuk bergembira pun cici merasa tak sempat"
Tapi belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak Chin sian kun yang berada disisinya telah roboh tak sadarkan diri Kho Beng jadi terkejut sekali, buru-buru dia menghampiri dan menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Ki hay hiat nya, sambil mengerahkan tenaga murninya, dia berseru .
"Nona Chin , nona chin .."
Pelan-pelan chin sian kun mendusin kembali, namun air mata meleleh keluar membasahi wajahnya, biar begitu dia memaksakan diri untuk tersenyum, katanya .
"Aa a a h, tak apa apa, mungkin aku kelewat gembira."
Sambil tertawa getir, Dewi In Un turut berkata pula .
^ "seharusnya akulah yang bersalah, selama ini berapa waktu kalian harus hidup dalam sekapan hingga akibatnya badan kalian menjadi lemah sekali, tapi cairan racun yang mengendap dalam tubuh cicimu telah hilang lenyap sama sekali."
Ternyata selain kurus kering, orang-orang itu sama sekali tidak menunjuk gejala sakit. Kakek tongkat sakti menghela napas panjang, katanya pula .
"Kesengsaraan yang ditentukan oleh takdir tak akan bisa dihindari oleh siapapun, bayangkan saja diriku ini, enak-enak hidup ditempat pengasinganku, justru datang kedaratan Tionggoan untuk merasakan penderitaan seperti ini."
"selama hidup boanpwee tak akan melupakan kebaikan cianpwee"
Buru-buru Kho Beng memberi hormat. Kakek tongkat sakti segera tertawa terbahak-bahak .
"Haaah . Haahh .. haahh itu Cuma urusan kecil, anggap saja aku sedang melayani semedi menghadap dinding, tapi dengan terjadinya peristiwa ini aku benar-benar akan mengundurkan diri dari dunia persilatan untuk selamanya."
Mendadak, ..
Bayangan manusia Nampak berkelebat lewat, tahu-tahu Ui sik kong, Liong hoa sinkun dan Pek kut hujin telah menerjang masuk kedalam gua.
Dengan sepasang mata berapi-api karena gusar Ui sik kong membentak keras .
"Budak busuk Bagus sekali perbuatanmu"
Suasana didalam gua seketika berubah menjadi tegang, dibawah petunjuk Kho Beng, Kho Yang ciu sekalian segera mengundurkan diri kesudut gua, sebab kondisi badan mereka masih amat lemah dan hakekatnya tidak memiliki kemampuan untuk melangsungkan pertempuran sambil menghela napas, Dewi In Un berkata .
"Ayah sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk membicarakan persoalan ini dengan pikiran dan hati dingin"
"Apalagi yang bisa dibicarakan saat ini?"
Seru Ui sik kong dengan kening berkerut.
"Kau tahu, semua perbuatan yang telah kau lakukan selama ini hanya menimbulkan kepedihan hatiku saja."
Lengan kirinya kelihatan gemetar keras, mekanya berubah menjadi hijau kemerah-merahan,jelas kemarahan yang menyelimuti perasaan Ui sik kong telah mencapai pada puncaknya, tapi seperti juga karena belum lama sembuh dari lengan kanannya yang kutung.
sementara itu Liong hoa sinkun suami istri hanya berdiri angkuh didepan gua, mereka tertawa dingin tiada hentinya.
Dengan perasaan sedih Dewi In Un berkata .
"Ayah telah kehilangan sebuah lengan, sementara situasi yang kita hadapi pun makin lama semakin runyam, buat apa sih kita harus berambisi menguasai daratan Tionggoan, mengapa kita tidak pulang saja ke Hay sim san dan melewatkan sisa hidup dalam kedamaian serta kegembiraan?"
"Anak durhaka"
Umpat Ui sik kong makin naik darah.
"Apakah kau lupa dengan dendam kesumat leluhurmu dulu"
"Dendam sakit hati leluhur telah terjadi seabad berselang, padahal asal partai kupu-kupu dapat berdiri tegak didalam dunia persilatan hal ini sudah lebih dari cukup untuk kita."
"omong kosong"
Bentak Ui sik kong semakin gusar.
"Aku benar-benar benci kepadamu, .. kau anak durhaka pantasnya dibunuh sampai mampus"
"Ayah"
Kembali Dewi In Un mencoba untuk membujuk dengan suara lembut.
"Kini Kho Beng telah berjanji akan mengembalikan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kita, menurut pendapatku kalau urusan bisa disudahi lebih baik disudahi saja, bila kita lanjutkan pertarungan ini maka kitalah yang bakal memperoleh hasil yang tragis"
Sepasang mata Ui Sik kong berkilat-kilat memancarkan sinar tajam, tiba-tiba menggigit bibir dia tertawa dingin, serunya .
"Heeehh . Heehh . Heehhh .sekarang aku sudah dapat menduga penyebabnya, rupanya kau sudah terpikat oleh ketampanan wajah bocah keparat itu bukan? sehingga bersedia membantu pihaknya? Anak bedebah, anak tak berbakti"
Merah padam selembar wajah Dewi In Un, teriaknya keras-keras .
"Aaah, kau ."
Ui sik kong sama sekali tak berbicara lagi, sambil menggetarkan lengan tunggalnya dia melepaskan sebuah serangan dasyat kearah Kho Beng.
Liong hoa sinkun serta Pek kut Hujin tidak tinggal diam, serentak mereka berdua dengan empat telapak tangannya melepaskan empat gulung tenaga pukulan yang dahsyat.
Desingan angin pukulan yang amat keras kedengaran makin menusuk pendengaran lagi didalam gua tersebut.
Kho Beng tidak mencoba untuk menghindar, dengan keras lawan keras ia sambut datangnya serangan itu.
Blaaammmm Ditengah benturan yang sangat keras, kedua belah pihak samasama tergetar mundur dua langkah kebelakang.
Kho Beng merasakan isi perutnya mengalami goncangan keras, darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya.
sebaliknya Ui sik kong maupun Liong hoa sinkun suami istri berdiri pula dengan wajah pucat seperti mayat, napas mereka kedengaran terengah-engah.
Kho Yang ciu maupun chin sian kun segera menjerit kaget, namun baru saja bangkit berdiri mereka segera tertunduk kembali, karena mereka benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk membantu.
setelah menghembuskan napas panjang, sambil menggigit bibir Kho Beng meloloskan pedangnya dari sarung dalam waktu singkat ia telah melancarkan tiga buah serangan berantai mengancam tubuh Liong hoa sinkun maupun Pek kut hujin.
Dalam keadaan demikian , Liong hoa sinkun tak berani berayal , ia segera meloloskan kipas bertulang besinya, sedangkan Pek kut hujin menggunakan sekerat tulang tengkorak kepala sebagai senjatanya.
Walaupun isi perut Kho Beng telah menderita luka, namun dengan dasar tenaga dalamnya yang sempurna, ditambah desakan rasa dendamnya yang berkobar-kobar, pemuda itu memainkan pedangnya sedemikian rupa sehingga terciptalah rangkaian cahaya dingin yang menggidikkan hati.
Tiga gebrakan kemudian Liong hoa sinkun serta Pek kut hujin telah terdesak kesudut gua, nampaknya tidak sampai lima gebrakan lagi mereka berdua pasti akan menderita kekalahan total.
Mendadak Ui sik kong mengayunkan tangan tunggalnya sambil melancarkan serangan kembali.
Namun serangan yang dilancarkan kali ini bukan ditujukan kepada Kho Beng melainkan langsung menyikat tubuh Liong hoa sinkun.
Mimpi pun Liong hoa sinkun tidak menyangka kalau rekannya bakal berbalik menyerang tubuhnya, tak ampun lagi tubuhnya segera terhajar secara telak, diiringi jeritan kesakitan tubuhnya segera roboh terkapar diatas tanah.
Walaupun Kho Beng merasa peristiwa ini sama sekali diluar dugaan, namun gerak erangan pedangnya sama sekali tak berhenti, dia langsung menusuk Pek kut hujin dengan sebuah tusukan kilat.
Kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati, dua orang suami istri itu sama-sama tergeletak diatas tanah dalam keadaan terluka parah.
sambil menggertak gigi menahan diri Kho Beng segera berseru .
"Cici inilah orang yang telah menyaru sebagai Bu wi lojin pada delapan belas tahun berselang, dia pula musuh besar sebenarnya dari keluarga Kho kita."
Cahaya tajam berkilau berulang kali disusul percikan darah segar menyembur kemana-mana, tahu-tahu tubuh Liong hoa sinkun suami istri sudah terpapas pinggangnya putus menjadi empat bagian suatu kematian yang mengerikan selesai membunuh musuh besarnya, pelan-pelan Kho Beng menarik kembali pedangnya lalu sambil berpaling kearah Ui sik kong tegurnya .
"Mengapa secara tiba-tiba kau berubah pendirian?"
Ui sik kong menghembuskan napas panjang.
"Aku merasa agak menyesal, maka .."
Tapi disaat Kho Beng sama sekali tidak siap.
suatu gebrakan secepat sambaran petir, ia langsung menotok jalan darah tam tiong hiat, ditubuh anak muda tersebut.
Begitu jalan darahnya tertotok.
otomatis Kho Beng kehilangan sama sekali segenap kekuatannya untuk melawan dalam keadaan begini terpaksa dia hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir.
Kekek tongkat sakti, Kho Yang ciu dan chin sian kun sekalian berniat memberi bantuan, namun kesatu, tenaga dalam mereka belum pulih kembali.
Kedua, keadaan tak memberi kesempatan bagi mereka untuk berbuat demikian, terpaksa mereka Cuma bisa mengawasi peristiwa tersebut dengan mata terbelalak.
sambil tertawa angkuh, Ui sik kong segera berkata .
"Kho Beng, bila aku tak membunuh Liong hoa sinkun, akhirnya diapun pasti akan tewas ditanganmu, sebaliknya bila aku membunuhnya maka akan terciptalah kesempatan baik bagiku untuk membunuhmu, tentunya keadaan tersebut tidak pernah kau duga bukan?"
Sambil menggigit bibir Kho Beng membungkam dalam seribu bahasa. setelah mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, kembali Ui sik kong membentak .
"Kini lengan kananku telah kutung, putrid kandungku telah berhianat, tapi masih untung aku dapat membunuhmu hari ini, hitung-hitung dapat juga kulampiaskan rasa benciku selama ini."
"Ayah, kau harus berpikir tiga kali dulu sebelum berbuat .."
Teriak Dewi In Un "Anak durhaka"
Teriak Ui sik kong keras-keras.
"Biarpun hanya mengandalkan sebuah lengan tunggal, aku masih tetap akan malang melintang dikolong langit dan membangun kerajaanku, akan kubangun kembali partai kupu-kupu untuk membalaskan sakit hati leluhurku"
Kemudian setelah berhenti sejenak, teriaknya keras-keras .
"Kho Beng, kaupun harus segera berangkat"
Lengan tunggalnya segera diayunkan melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan.
Blaaammmm Terdengar suara benturan keras menggema diudara disusul semburan darah segar menodai seluruh permukaan gua, sesosok tubuh segera toboh terkapar siatas tanah.
Namun yang roboh bukan Kho Beng, sebaliknya adalah Ui sik kong sendiri.
Tampak Dewi In Un memburu kemuka dengan langkah lebar, teriaknya sambil menangis .
"Ayah .. ayah"
Ternyata disaat yang amat kritis itulah Dewi In Un telah melepaskan sebuah pukulan yang persis menghantam punggung Ui sik kong.
serangan tersebut dilancarkan dengan menggunakan ilmu Thian goan eng yang dipelajarinya dari kitab pusaka Thian gian bu boh, tak heran kalau Ui sik kong tewas seketika itu juga.
sementara itu Kho Beng dibuat termangu-mangu dia sama sekali tak menyangka kalau Dewi In Un dapat berubah secepat ini, dia lebih tak menyangka kalau perempuan tersebut akan membunuh ayahnya sendiri Untuk beberapa saat dia malah dibikin bingung, harus menghiburkah atau berpeluk tangan saja?
sementara dia masih merasa serba salah terdengar suara hiruk pikuk menusia bergema diluar gua disusul munculnya serombongan manusia.
Ternyata sebagai orang pertama adalah Thian cun yang, oh Kui sam serta Beng Gi ciu dan siau wan sedang dibelakangnya mengikuti kawanan jago persilatan yang dipimpin Phu sian sangjin.
Begitu bersua dengan Kho Beng, paras muka Beng Gi ciu yang pucat pias segera berubah menjadi merah, dengan napas terengahengah, serunya .
"Engkoh Beng .. kau tidak apa-apa bukan?"
"Masih mendingan-"
Sahut Kho Beng sambil tertawa getir. Thian Cun yang segera menimbrung sambil tertawa terbahakbahak.
"Haa haaahh . Haaahh. Rupanya kami berdua sudah ketinggalan barisan, urusan disini telah selesai semua, kita baru tiba disini, waah . Bakal menganggur nih."
"siapa bilang menganggur? Paling tidak kita toh mesti merayakan pesta perkawinan keponakan kita."
Sambung oh Kui sam sambil tertawa pula. Merah jengah selembar wajah Beng Gi ciu, segera omelnya .
"Empek oh, masa dihadapan bagini banyak orangpun kau masih bergurau, hati-hati kalau aku mengambek lho."
Kembali oh Kui sam tertawa bergelak .
"Baik, baik tak akan menggoda lagi, apakah urusan disini telah selesai?"
Sambil berkata dia segera melongok kedalam gua. Tampak Kakek tongkat sakti berjalan keluar dari gua sambil berseru .
"saudara Cun yang, kita bertemu lagi"
Ternyata antara Kakek tongkat sakti dengan Thian cun yang memang bersahabat, tak heran kalau pertemuan ini memlibatkan mereka dalam pembicaraan yang akrab.
sementara itu Kho Beng telah berjalan menuju kehadapan Thio bungkuk.
katanya kemudian "Thio cianpwee, boanpwee tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi saat ini, aku hanya ingin mengajak ciciku untuk pulang ke Hui im ceng dan bersembahyang dihadapan orang tua kami."
"Ya a, memang sepantasnya begitu"
Sahut Thio bungkuk.
"Kini dunia persilatan bakal tentram untuk sementara waktu, biarlah persoalan selanjutnya diselesaikan orang lain, tapi kau tak usah gelisah urusan ini dapat diserahkan kepada ketua siau lim pay Phu sian sangjin, dia pasti akan mengutus orang untuk menyelesaikannya."
Buru-buru Kho Beng hendak menjawab, Phu sian sangjin telah menyongsong datang sambil berseru .
"Kho sauhiap tak usah kuatir, aku bisa menyelesaikan segala sesuatunya bagimu"
Mendadak terdengar suara lain berseru pula .
"Kho sauhiap. hampir saja aku tak bisa menyusul kemari untuk menyampaikan selamat kepada sauhiap"
Ketika Kho Beng berpaling dan mengetahui siapakah orang itu, kontan saja darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa mendidih, hawa amarah langsung menyelimuti seluruh wajahnya.
Ternyata orang itu adalah Liong kiong sincu Kiong ceng san dari telaga tong ting.
sambil tertawa dingin Kho Beng berkata .
"ooo, . Rupanya Kiong tayhiap. entah karena persoalan apa anda datang kemari?"
Setelah tertawa nyaring, Kiong ceng san berkata .
"selama ini aku selalu merasa tak tentram gara-gara persoalan Li sam, berkat kemurahan hati sauhiap yang tak akan memperpanjang persoalan itu, aku makin tak tentram lagi. Maka sewaktu menerima surat undangan dari Phu sian sangjin aku segera datang kemari untuk membantumu, sayang undangan tersebut terlambat kuterima hampir dua hari lamanya, karena itu tak sempat menghadiri pertemuan di siau lim si meski bagitu aku masih sempat juga datang kemari untuk menyampaikan selamat kepadamu, memang bila kita berbicara yang sesungguhnya, Kho sauhiap memang jagoan nomor wahid dikolong langit."
"Aku tak berani menerima pujian itu."
Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin. Kemudian dengan wajah berubah sedingin es, dia berkata labih jauh .
"Persoalan mengenai Li sam memang tak perlu diungkit lagi tapi bagaimana dengan persoalan tiga bersaudara Kim? Hmmm, aku tak bisa membiarkan persoalan ini selesai dengan begitu saja."
Berubah hebat wajah Kiong Ceng san setelah mendengar ucapan ini, butiran peluh dingin segera bercucuran keluar membasahi wajahnya, namun dia masih mencoba untuk tertawa paksa, katanya .
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Kho sauhiap maksudkan, apa sangkut pautnya antara tiga bersaudara Kim dengan diriku?"
Sementara itu seluruh jago telah mengalihkan perhatiannya ke wajah Kho Beng, mereka memperhatikan pembicaraannya dengan Kiong Ceng san secara bersungguh-sungguh, itulah sebabnya suasana disekitar sana menjadi hening sekali.
Dengan perasaan emosi yang meluap-luap Kho Beng segera menceritakan kembali peristiwa berdarah didalam gua dibela kang bukit Cian san-Mendengar penuturan itu, berubah hebat wajah para jago, serentak mereka berpaling dan mengawasi Kiong ceng san dengan penuh amarah.
Menyaksikan keadaan ini, Kiong ceng san segera menghela napas panjang, tiba-tiba dia mengayunkan tangan untuk menghajar ubunubun sendiri Blaaammmmm Mayatnya segera roboh terkapar diatas tanah.
sampai lama sekali Kho Beng berdiri termangu-mang u, akhirnya ia berpaling kearah pelajar rudin Ho heng dan berkata .
"Apakah cianpwee hendak pergi ke siau lim si?"
Sambil tertawa pelajar rudin berkata .
"Tak usah kau katakan lagi, aku sudah memahami maksudmu, tentu akan kuusir pergi keempat budak asing tersebut, begitu urusan selesai akupun akan segera berangkat ke Hui im ceng untuk menikmati arak kegiranganmu.
"Kemudian setelah berhenti sejenak^ terusnya .
"Kau tahu, kami telah berunding disaat kau kawin dengan nona Beng, maka tujuh partai sekalian akan bersama-sama menyelenggarakan pesta tersebut bagimu, waaah . sampai waktunya suasana tentu amat gembira."
"Boanpwee tak berani menerimanya ."
Buru-buru Kho Beng berseru dengan wajah bersemu merah.
Dengan wajah tersipu-sipu ia mengundurkan diri dari situ diiringi gelak tertawa si pelajar rudin.
Kebetulan Kho Yang ciu pun sedang pamitan kepada para jago, sebenarnya Kho Beng hendak ikut berpamitan tapi teringat akan Dewi In Un yang masih menangis sedih dia menjadi turut beriba hati, ia tak tahu apa yang harus dikatakan kepada perempuan itu, masih ada lagi masalah kitab pusaka Thian goan bu boh.
Tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, ternyata masalah pelik itu telah terselesaikan dengan sendirinya.
Tampak Dewi In Un berjalan mendekat bersama Bu wi lojin yang belum sembuh dari luka dalamnya, terdengar Bu wi lojin berkata sambil tertawa tergelak .
"Kho Beng, urusan didunia ini memang demikian tak disangka, dengan susah payah bahkan mempertaruhkan jiwa kucuri kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut, sampai akhirnya kitab itu harus kukembalikan sendiri kepada pemiliknya."
Buru-buru Kho Beng menyahut .
"selama ini aku memang banyak ganggu kau orang tua, semoga siancu bisa baik-baik menjaga diri."
Buru-buru Dewi In Un balas memberi hormat. sambil tertawa kembali Bu wi lojin berkata .
"Akulah yang menyebabkan terjadinya semua peristiwa ini, sudah sepantasnya kalau aku juga yang menyelesaikannya, Kho Beng mungkin aku tak sempat lagi untuk mencicipi arak kegiranganmu, selesai upacara perkawinan datanglah kebukit siong soat gayku, aaaai sebab aku sudah tak ingin mencampuri urusan keduniawian lagi."
Sementara Kho Beng masih ragu-ragu Bu wi lojin serta Dewi In Un telah pergi meninggalkan tempat itu tanpa berpaling lagi.
Lama , lama sekali dia termenung, akhirnya ia baru terkejut setelah bahunya ditepuk orang secara tiba-tiba.
sewaktu berpaling, tampak cicinya Kho Yang ciu telah berdiri disitu, sementara dibelakangnya berdiri berjajar Beng Gi ciu, Chin sian kun, Bwee hiang, sia hong serta siau wan-Terdengar Kho Yang ciu berkata .
"Mari kita berangkat duluan, toh tak lama kemudian para jago akan berkumpul lagi diperkampungan Hui im ceng, sekarang kau tak usah berpamitan dulu dengan mereka setibanya dirumah, pertama kita harus membereskan dulu kuburan kedua orang tua kita, setelah itu kita siapkan pesta perkawinanmu."
Belum lagi Kho Beng sempat berbicara, terdengar Kho Yang ciu berkata lebih jauh .
"Aku telah mengatur segala sesuatunya bagimu, nona Beng dan nona Chin akan menjadi istrimu bersama-sama, menurut urutan usia maka mereka akan menempati urutan sesuai dengan umur masingmasing, adik Beng aku lihat nasibmu memang amat mujur."
Kho Beng menjadi terkejut sekali, segera teriaknya .
"Ini, . ini, ."
Sambil tertawa Kho Yang ciu berkata lagi .
"Akulah yang mengaturkan segala sesuatunya bagimu, nah kedua orang iparku saja telah setuju, masa kau masih akan menjual mahal?"
Sambil berseru ia segera menarik tangannya dan berialu dari situ, dibelakang mereka menyusul Beng Gi Ciu, Chin sian kun dan sekalian dayang.
Berapa waktu kemudian, pesta perkawinan pun diselenggarakan diperkampungan Hui im ceng dengan amat meriah .
Sejak itu Kho Beng hidup penuh kedamaian bersama kedua orang istrinya.
Dan sampai disini pula kisah cerita ini.
TAMAT.__
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci Khu Lung
Baca Juga: Lima Jago Luar Biasa 3