Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 1

Eps 1 Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Baca online Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Cersil Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ Kemelut Di Ujung Ruyung Emas (Mi Jian Shen Xing) Karya . Khu Lung Diceritakan oleh . Gan KL Sumber DJVU . Lavilla Editor . Dewi KZ dan aaa aaa Ebook by Dewi KZ

http.//dewikz.byethost22.com/

http.//cerita-silat.co.cc/

http.//ebook-dewikz.com

Jilid 1 Benteng Thian-seng-po adalah benteng terbesar di dunia persilatan dewasa ini, bangunannya kukuh dan luas, boleh dibilang jarang ada dalam sejarah dunia persilatan.

Benteng tersebut merupakan tempat yang misterius pula bagi pandangan orang-orang persilatan, banyak cerita tentang kemisteriusannya, tapi tak sebuah cerita pun yang dapat menunjukkkan sebab dari kemisteriusannya itu.

Pemilik benteng Thian-seng-po bernama Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam (pedang rembulan dan bintang) Oh Kay-gak, dia adalah seorang jago tangguh dunia persilatan yang terkenal berbudi luhur, nama besarnya temashur sampai keseluruh wilayah utara dan selatan sungai (Yangtze) dan ke luar perbatasan, dari semua ini dapat diketahui bahwa dia memang disegani banyak orang.

Sejak mendirikan benteng Thian-seng-po empat puluh tahun yang lalu, Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak selalu memimpin dunia persilatan, setiap orang akan acungkan jari jempol dan memuji tiada habisnya bila menyinggung nama besarnya.

Apabila di antara kalangan Hek-to atau Pek-to, kalangan lurus atau pun golongan jahat menghadapi persoalan yang pelik atau perselisihan yang tak terselesaikan, asal Oh Kay-gak tampil ke muka, maka urusan macam apa pun akan beres dengan sendirinya.

Dalam menghadapi pelbagai masalah dan pertikaian, bukan saja ia selalu menunjukkan kebesaran jiwanya, kelembutan hatinya, iapun jujur, bijaksana dan adil, tak pernah berat sebelah atau condong pada salah satu pihak, hal ini membuat banyak orang merasa kagum dan rela tunduk pada perintahnya.

Meskipun ada juga di antara mereka yang membandel atau keras kepala, biasanya ia enggan menaklukkannya dengan kekerasan, ia selalu mempergunakan kata-kata halus dan lembut untuk menasihatinya sehingga para pembandel itu benar-benar takluk lahir batin, tidak heran kalau nama besarnya kian cemerlang, kedudukannya dalam dunia persilatanpun makin mantap, banyak jago persilatan takluk dan kagum kepadanya, bahkan secara sukarela mohon menjadi anggota Thian-seng-po.

Tapi, menghadapi kawanan jago yang secara sukarela ingin bergabung dengan Thian-seng-po ini, Seng-gwat-kiam Oh Kay-gak selalu mengadakaa seleksi yang ketat, malah lebih ketat daripada seorang guru yang mencari murid.

Barang siapa ingin menjadi anggota Thian-seng-po, syaratnya harus hidup tiga tahun di luar lingkungan benteng sebagai percobaan.

Bila kemudian ia lulus dari masa percobaan tersebut, serta merta orang itupun akan diundang masuk ke Thian-seng-po.

Habis itu para jago yang mujur itu pun segera lenyap dari dunia persilatan dan tak pernah diketahui lagi jejaknya.

Apa yang dilakukan orang-orang itu di dalam Thian-seng-po?

Masih hidupkah mereka atau mati?

Tak ada yang tahu, bahkan mereka yang berkedudukan tinggi di dalam Thian-seng-po juga tak tahu, tentu saja kecuali Oh Kay-gak sendiri.

Andaikata ada di antara mereka yang kemudian melakukan perjalanan dalam dunia persilatan mengikuti anggota benteng lainnya maka orang itu seolah-olah telah berubah menjadi seorang yang lain, jangankan teman akrab, sanak keluarga sendiri pun tak dikenal lagi.

Inilah salah satu contoh di antara beratus-ratus masalah misterius lainnya yang terdapat di dalam Thian-seng-po.

Otomatis kemisteriusan itu membuat rasa curiga para jago persilatan hingga jauh melebihi rasa kagum dan hormatnya.

Tentu saja ada pula kawanan jago yang diam-diam menyusup ke dalam benteng pada waktu malam untuk menyelidiki kemisteriusan benteng itu, tapi tak seorang pun di antara mereka yang bisa keluar lagi dari situ, kendatipun baik malam atau siang hari tak pernah benteng itu dijaga orang.

Ini semua membuat Thian-seng-po yang luas dan besar itu bagaikan sebuah bangunan yang terbengkalai tanpa penghuni, hanya keheningan.

yang mengerikan menyelimuti tempat itu.

Tapi di balik keheningan justru terseliplah suatu badai pembunuh, keseraman dan kengerian yang bikin bulu kuduk orang berdiri.....

Walaupun demikian, para jago persilatan yang berdiam di perumahan sekeliling benteng dan secara sukarela melaksanakan masa percobaan selama tiga tahun agar diterima menjadi anggota pun jumlahnya masih diatas angka seribu.

Karena harus berdiam dalam jangka waktu sekian lama di sana, bangunan rumah di luar ben-teng didirikan dengan rapi dan teratur, membuat suasana di situ tak ubahnya seperti sebuah dusun kecil.

Soal makan dan sandang bagi kawanan jago yang menerima masa percobaan selama tiga tahun itu boleh dibilang semuanya merupakan tanggungan Thian seng-pocu, Thian-kang-te-sat-kiam Oh Kay-gak.

Karenanya, ada pula di antara kawanan jago itu yang tadinya kaum gelandangan, mereka hanya berdiam saja di situ untuk menerima sandang dan makan selama tiga tahun, jadi hanya mendompleng hidup belaka.

Bisa dibayangkan betapa campur aduknya ka-wanan manusia yang hidup di sana, mereka berasal dari pelbagai lapisan masyarakat.

Begitulah tempat itu berubah menjadi sarang naga dan gua harimau bagi umat persilatan, artinya banyak juga terdapat orang pandai di tengah mereka.

oooOooo Matahari telah condong ke barat, cahaya senja keemas-emasan memancar ke empat penjuru.

Angkasa dihiasi oleh selarik bianglala yang beraneka warna...

Belasan kaki di depan pintu gerbang Thian-seng-po adalah sebuah jembatan kayu yang besar dan lebar, di ujung jembatan, di atas tonggak kayu penyangganya terukir naga dan burung Hong yang menambah nilai artistik jembatan tersebut.

Di bawah jembatan terbentang sebuah parit yang panjang dengan penuh bunga teratai, kalau musim semi bunga itu mekar indah, maka pada musim gugur ini banyak teratai yang layu dan kehilangan kecantikannya, malah ada yang tinggal batangnya dan berdiri lunglai terhembus angin dingin.

Pemandangan semacam ini hanya mendatangkan kemurungan, kesuraman dan kepedihaa bagi siapa pun yang melihatnya.

Sebelah kiri jembatan atau sebelah kanan pin-tu benteng, berderet tiga barak yang memanjang serta sebuah rumah kayu yang sederhana, tempat itu merupakan istal kuda Thian-seng-po.

Tanah kosong di sekeliling istal penuh tumbuh pohon bambu yang hijau dan segar, ketika bergoyang terhhembus angin tampak sangat indah dan menawan, tempat itu sedikit pun tidak mirip dengan kebanyakan istal kuda yang kotor dan berbau.

Pada saat itulah dari bilik istal di deretan tengah barak itu pelahan berjalan keluar seorang pe-muda yang membawa dua tong besar berisi makanan kuda dan diletakkannya di sisi tong yang kosong.

Pemuda itu mengenakan baju warna hijau yang tipis dangan beberapa tambalan di sana sini, di te-ngah remang senja yang dingin ia tampak sedikit menggigil.

Ditinjau dari dandanannya, ia seperti seorang tukang perawat kuda di situ, tapi pemuda tersebut mempunyai perawakan badan yang tinggi kekar dengan wajah yang tampan, ia memiliki daya pikat seorang laki-laki, coba kalau kulit mukanya tidak penuh titik-titik hitam, dia pasti seorang laki-laki cakap yang ideal.

Bagaimana tidak?

Matanya jeli dengan alis lentik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis, semua itu merupakan ciri khas seorang pemuda tampan.

Kalau dilihat dari bibirnya, jelas dia adalah seorang pemuda yang keras dan angkuh, tapi mengapa ia bisa menjadi begitu?

Kenapa rela menjadi seorang tukang kuda?

Hal ini sungguh membuat orang tak mengerti.

Apalagi bila melihat nafsu membunuh dan keketusan yang menyelimuti kerut alis matanya.

Kalau di dalam deretan rumah-rumah di luar Thian-seng-po sebelah parit tersebut terdapat pula jago persilatan yang misterius, maka dalam istal kuda sebelah sini ada pula yang terhitung misterius, dan pemuda inilah salah seorang di antaranya.

Dengan tcrmangu-mangu pemuda misterius itu memandang daun teratai di permukaan parit yang layu, lalu menghela napas sedih.

Dari helaan napasnya itu dapat diketahui bahwa ia begitu menyendiri, begitu kesepian.......seakan-akan penuh diliputi kejadian yang menyedihkan pada masa lampau.

"Aih"

Kembali ia menghela napas lalu gumamnya geperti mengigau.

"sudah dua tahun lebih sembilan bulan, sisa tiga bulan lagi tidak terhitung pendek, kalau aku gagal menemukan Beng-yu-cin-keng (kitab pusaka neraka hitam), entah apa yang harus kulakukan dalam sisa perjalanan hidupku ini? Membalas dendam? Sampai kini belum kuketahui siapa musuh besarku, sekalipun musuh besar berhasil kutemukan, dengan tubuhku yang mengidap penyakit mustahil harapanku bisa terkabul."

"Hmm!"

Agak gemas atas ketidakadilan Thian, kembali gumamnya dengan sedih.

"Aku menyesal telah belajar Jiat-im-siang-gi-keng, meskipun ilmuku sekarang tiada tandingan di dunia, tapi penyakit dalam tubuhku mulai menggerogoti nyawaku.....Tiga tahun sudah latihanku, selama tiga tahun tetap lemah tenaga. dalamku, tetap tak mampu menerima pukulan dahsyat seorang jago tangguh.

"Kini batas waktu tiga tahun sudah lalu, dua tahun lebih sembilan bulan, sisa waktu yang tersedia tinggal tiga bulan lagi....Seratus hari yang pendek akan lenyap dengan begitu saja, aku bakal berubah menjadi seonggokan tulang putih belaka.....O, dendam berdarah yang keji dan terkutuk.....musibah itu membuat aku malu terhadap orang....aku tak sanggup membalas dendam..."

Ketika bergumam sampai di sini, suaranya berubah menjadi parau dan lirih.

Tidak!

Ia tak berani bergumam lebih lanjut, karena musibah yang menimpa dirinya dianggap sebagai satu dosa yang tak terampunkan.

Sesunguhnya ia malu untuk hidup lagi di dunia ini, adegan ibunya yang telanjang bulat serta darah yang berhamburan dimana-mana sukar terlupakan dalam benaknya, terutama pesan ibunya menjelang kematian yang disertai isak tangis itu.

"....Anak Sia, kau harus hidup, bagaimana pun kau harus tetap hidup, meskipun peristiwa ini adalah peristiwa yang paling keji dan mengenaskan, tapi kau harus tahu, itulah siasat bajingan-bajingan itu agar kita ibu dan anak tak punya muka untuk hidup lebih lanjut di dunia ini, mereka berharap agar kita bunuh diri karena malu, agar sakit hati kita tak terbalaskan"

"Brutal....sungguh brutal! walaupun persetubuhan yang kita lakukan merupa-kan suatu kenyataan. tapi kau harus melupakannya, anggap saja sebagai impian buruk, karena kau....kau telah makan obat perangsang yang sengaja diberikan bajingan-bajingan itu kepadamu, agar kesadaranmu lenyap....."

"Oleh karena itu kau tidak berdosa, ibumu yang salah ketika itu.......aku tak rela menyaksikan kau mati karena pembuluh darahmu bisa pecah akibat nafsu berahimu yang memuncak.....kau harus tahu, demi menolong jiwamu, terpaksa kita lakukan persetubuhan yang tidak layak ini...."

"Anak Sia, sebelum mati kumohon kepadamu agar berani menghadapi kenyataan, berani hidup lebih jauh, kau tak boleh mati, keluarga Bok ha-nya ada keturunan kau seorang, biarlah tragedi yang memalukan ini kupikul sendiri, akan ibu bawa mati ke alam baka....."

"Kini ibu hampir mati, jika kaupun ikut mati, maka dendam berdarah ayahmu serta peristiwa memalukan ini tak ada yang membalas.....cepat, cepatlah tinggalkan tempat ini.....bajingan-bajingan itu sebentar pasti akan kembali lagi.....anak Sia, kau......pergilah kau...."

Kenangan yang tragis bagaikan gelombang be-sar gunung-gemulung mendampar benaknya dan menghantam hatinya, akhirnya ia merintih dan lari ke rumah kayu sebelah sana, lalu mnenjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu.....

Isak tangis yang menyayat hati, membuat siapapun akan iba dan ikut melelehkan air mata.

Ya...

perisitiwa tragis yang menimpa pemuda itu memang amat memilukan hati.

Ayahnya tewas dibunuh musuh....dan dia dicekoki obat racun pembangkit berahi oleh musuhnya hingga dalam keadaan terangsang telah melakukan hubungan seks dengan ibunya sendiri.

Waktu itu, sebenarnya dia ingin mati, tapi atas permohonan ibunya menjelang kematiannya serta bara api dendam yang berkobar dalam dadanya, maka dengan menahan derita ia melanjutkan hidupnya di dunia ini.....

Dalam suatu kesempatan yang tak terduga, ia menemukan se

Jilid kitab pusaka Jiat-im-siang-gi-pit-keng dan mempelajari ilmu silat yang tercantum di dalamnya, tapi meskipun jurus-jurus silat itu semuanya ampuh dan hebat, mencakup pula inti jurus silat pelbagai perguruan, namun setiap jurus serangannya justru mengandung suatu cara penggunaan yang luar biasa yang membuat hawa murni hasil latihannya terhimpun ke dalam delapan urat nadi penting dan tak sanggup tersalur ke dalam telapak tangannya.

Sebab itulah dalam hal tenaga dalam, pada hakikatnya ia seperti juga kawanan jago silat lainnya, sama sekali tidak terhitung hebat.

Selain daripada itu, terdapat pula sebuah titik kelemahan lagi, yakni hawa murni yang terhimpun dalam delapan bagian urat nadi pentingnya itu akan meledak setelah tiga tahun, akibatnya tentu saja membawa maut baginya.

"Bok Ji-sia, sebelum berhasil membalas dendam, kau tak boleh mati, kitab Beng-yu-cin-keng harus kau dapatkan untuk membebaskan tenaga beku dalam urat-urat nadi pentingmu......"

"Kau tahu bahwa kitab pusaka Beng-yu-cin-keng berada dalam benteng Thian-seng-po, karenanya dengan cara apapun harus kaudapatkan..."

Gumaman itu sangat lirih, mungkin hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya.

"Hei, kenapa kau menangis lagi?"

Tiba-tiba seseorang menegurnya dengan suara yang merdu. Bok Ji-sia terperanjat dan buru-buru mengusap air matanya, lalu berpaling dan paksakan diri uutuk bersenyum.

"Nona, kau sudah pulang?!"

Sapanya.

Entaih sejak kapan, seorang gadis cantik muda belia dengan topi rumput warna putih, kulit badan putih bersih bagaikan salju berdiri di depan pintu, dia adalah puteri tunggal Thian-seng-pocu dan bernama Oh Keng-kiau.

Mendengar sapaan itu, Oh Keng-kiau berkerut kening, lalu menatap Bok Ji-sia sekejap dengan sinar mata lembut, katanya.

"Setiap kali pulang berburu selalu kelihatan kau sedang menangis sendirian, hal sedih apakah yang menyelimuti hatimu?"

Suaranya lembut dan merdu seperti burung berkicau, membuat pikiran orang terasa segar.

Sebagai puteri Thian-seng-pocu yang mempunyai kedudukan tinggi, tapi mau bercakap-cakap dengan seorang pelayan, hal ini sungguh kejadian yang langka.

Bok Ji-sia menjadi tak enak sendiri, jawabnya terbata-bata.

"Nona, tidak.....tidak.......biarlah hamba segera urus kudamu......"

Dengan langkah cepat ia lewat sisi si nona dan menghampiri seekor kuda putih di tengah tanah lapang sana. Oh Keng-kiau geleng kepala berulang kali, sambil mencibir serunya.

"Hei....."

"Ada urusan apa nona?"

Dengan terkejut Bok Ji-sia memutar badan.

"Apakah kau rasakan pekerjaan mengurusi ku-da terlalu berat?"

Tanya gadis itu lembut.

"Tidak, tidak berat!"

Bok Ji-sia geleng kepala beberapa kali.

"Sudah berapa lama kau kerja di sini?"

Tiba-tiba gadis itu bertanya lagi.

"Hampir tiga bulan."

Oh Keng-kiau geleng kepala pula, kembali ia tanya.

"Kau benar-benar tak pandai ilmu silat?"

"Ai, justru karena tak pandai main silat, maka hamba kemari untuk mencari sesuap nasi."

Kiranya bagi orang-orang yang secara sukarela ingin menjadi anggota Thian-seng-po, bila dia seorang jago silat yang berilmu tinggi, maka mereka diberi hidup senang selama tiga tahun tanpa bekerja, sebaliknya bila dia tidak berilmu silat, segala urus-an tetek-bengek dalam benteng Thian-seng-po harus dikerjakannya.

Mereka yang tak berilmu mempunyai kesempatan juga untuk masuk benteng, tentu saja setelah menerima masa percobaan selama tiga tahun.

Oh Keng-kiau menghela napas haru, katanya.

"Ai....kau baru tiga bulan di sini, mana tak punya ilmu lagi, sekalipun aku menaruh simpati padamu juga tak dapat mengajakmu masuk benteng, karena peraturan tetap berlaku. Begini saja, coba katakan berapa banyak yang yang kau butuhkan? Nona akan membantumu untuk modal berdagang...."

Perkataan itu sangat menusuk perasaan Bok Ji-sia, coba kalau ia tidak perlu merahasiakan asal usulnya, sejak tadi pemuda itu sudah meraung gusar.

"Terima kasih atas kebaikan nona,"

Demikian jawabnya kemudian.

"orang bilang manusia mati karena harta, burung mati karena makanan. Harta yang didapat tanpa kerja tak boleh kuterima.

"Apalagi harta hanya barang sampingan, waktu lahir tidak membawa, waktu matipun tak bisa dibawa, meskipun aku Cing-hok tak berkepandaian apa-apa, tapi selalu kuanggap harta sebagai kotoran manusia....."

Diam-diam Oh Keng-kiau memuji wataknya yang terpuji itu, pikirnya.

"Seandainya wajah orang ini tidak terlalu banyak bintik hitamnya sehingga coreng-moreng, hakikatnya dia seorang pemuda yang tampan, apalagi kalau melihat semangat serta wataknya yang luar biasa, dia tidak pantas men-jadi seorang pekerja kasar....."

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja pipinya menjadi merah jengah, dia sendiri tak tahu mengapa begitu memperhatikan anak muda itu, dengan termangu ia berdiri diam di situ.

Bok-Ji-sia menghela napas panjang, ujarnya.

"Nona, hamba merasa amat berterima kasih atas perhatianmu, nasib Cing-hok memang jelek, sejak kecil sudah hidup luntang-lantung seorang diri, andaikata Pocu-loya tidak berbaik hati dengan menerimaku menetap di sini, aku entah saat ini telantar sampai di mana?"

"Kalau begitu berdiamlah selama tiga tahun di sini, kujamin kau pasti bisa masuk ke dalam benteng!"

Selesai berkata gadis itu menghampiri kuda putihnya, mengambil pedangnya yang tergantung di pelana, kantung anak panah serta ayam hutan hasil buruannya, lalu dengan langkah yang gemulai berjalan menuju ke dalam benteng Thian-seng-po yang megah dan kukuh itu.

Memandang bayangan punggung si nona, Bok Ji-sia menghela napas sedih....ia lantas menuntun kuda putih itu dan masuk ke dalam istal.

Ketika muncul kembali, dari rumah kayu tetangganya muncul seorang laki-laki setengah umur bertubuh ceking, sekalipun kulitnya hitam seperti pantat kuali tapi terhitung tampan juga.

"Cing-hok!"

Katanya sambil tertawa, nona Oh begitu memperhatikan dirimu, mengapa tidak kau terima pemberian uangnya untuk hidup senang?

Aiii aku si muka monyet memang sial, tak ada yang sudi memberi uang kepadaku, coba kalau ada, pasti kucari seorang bini dan hidup bahagia."

Ketika Bok Ji-sia datang kemari tiga bulan berselang, laki-laki hitam kurus itu sudah ada di situ dan bekerja sebagai penjaga kuda.

Orang itu wataknya periang dan terbuka, seringkali Bok Ji-sia mengajaknya bergurau, sebaliknya dengan tiga orang pekerja lainnya, ia malah jarang berbicara.

Sekalipun dia mengaku sebagai seorang pe-kerja yang tak berilmu, tapi Bok Ji-sia tahu orang itu sesungguhaya adalah seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, hanya tidak diketahuinya mengapa laki-laki itu sampai hidup mengasingkan diri.

"Siu-heng"

Kata Ji-sia sambil tertawa.

"janganlah kau goda diriku, kita sudah ditakdirkan menjadi orang rendah sejak dilahirkan, mana ada hoki untuk hidup senang? Kalau aku sih sudah cukup hi-dup begini saja asal setiap hari ada nasi yang masuk ke perut."

Laki-laki ceking itu kembali tertawa.

"Cing-hok, jangan berkata begitu, selama hidup aku sudah biasa mengembara ke mana-mana, akupun mengerti sedikit ilmu melihat raut wajah, maka kutahu kau pasti bukan seorang yang tak becus, kalau tidak percaya tunggu saja nanti!"

Diam-diam Bok Ji-sia terkejut mendengar perkataan itu pikirnya.

"Jangan-jangan ia sudah mengetahui keadaanku yang sebsnarnya...."

Laki-laki ceking setengah umur itu bukan orang biasa dalam dunia persilatan, sejak kemunculan Bok Ji-sia di situ, ia sudah merasa bahwa pemuda itu bukan sembarangan orang.

"Terima kasih atas pujian Siu-heng"

Kata Bok Ji-sia kemudian sambil tertawa.

"Ai, sudah malam, aku ingin bersihkan badan dan tidur, maaf Siu-heng, aku tak dapat menemanimu lebih lama lagi."

"Ah, benar! malam ini masih ada urusan yang belum diselesaikan, akupun harus tidur dulu!"

Sambung laki-laki ceking itu. Selesai berkata ia masuk kembali ke dalam rumah kayu yang jelek dan sederhana itu. Mendengar perkataan orang yang terakhir itu, Bok Ji-sia jadi tertegun, pikirnya.

"Bukankah perkataannya yang itu menunjukan bahwa malam ini aku hendak menyelidiki Thian-seng-po? Atau maksudnya dia sendiri? Wah, kalau orang itu adalah antek Thian-seng-po yang diutus untuk menyelidiki gerak-gerik orang persilatan secara diam-diam, celakalah aku".

"Hmm, peduli amat, jika dia terbukti cecunguk yang diutus Thian-seng po, segera akan kubinasakan dia. Bagaimanapun Beng-yu-cin-keng harus kudapatkan, kalau tidak bukankah sakit hatiku serta nyawaku bakal barakhir sanpai di sini saja?"

Demikian pikirnya pula.

Teringat akan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, segera matanya memancarkan sinar tajam, sebab bila ia berhasil mempelajari ilmu yang tercantum dalam kitab tersebut sehingga hawa murni beku da-lam urat nadi penting dapat dilenyapkan, ia akan menjadi tangguh dan tiada tandingannya lagi da-lam dunia persilatan.

Pelahan Ji-sia masuk kamarnya, setelah mengunci pintu, ia memasang lentera, sinar redup se-gera memancar pada wajahnya yang hitam itu.

Ia mendekati rak baskom, dikeluarkannya se-buah botol kecil berisi bubuk kuning dari sakunya dan menaburkan sedikit ke dalam air, lalu mencuci muka dengan air obat tadi, segera wajah Bok Ji-sia berubah menjadi putih kemerah-merahan, sama sekali tidak nampak bercak hitam lagi.

Ternyata Bok Ji-sia pandai menyaru, dia tahu orang Thian-seng-po tidak sebaik apa yang tersiar di dunia persilatan, pula kedatangannya bermaksud mencuri kitab pusaka Beng-yu-cinkeng milik Thian-seng-pocu, daripada dicurigai orang, maka ia berusaha keras menyembunyikan wajah aslinya.

Dengan cepat pemuda itu tukar seperangkat baju peranti berjalan malam, setelah memadamkan lampu, ia naik ke pembaringan untuk menanti tibanya kentongan pertama.....

Ia coba memperhatikan keadaan laki-laki di kamar sebelah, kedengaran suara dengkurannya yang keras, orang itu sama sekali tidak menunjukkan gejala, mencurigakan.

Ia berpikir.

"Peduli siapakah dia, akan ku hadapi dia bila terjadi apa-apa.."

Maka pemuda itupun duduk bersila dia pembaringan, dikeluarkannya se

Jilid kitab yang ti pis, lamat-lamat dapat terbaca tulisan pada sampul kitab itu.

"Jiat-im-siang-gi-pit-keng"

Dengan sorot mata yang tajam ia menatap tu lisan serta lukisan dalam kitab itu, lalu mengapalkan di dalam hati.

"Kiu-thian-hui-coan, Gi-khi-hui-thian, Seng-yau-hau-gwat, Ih-lwe-sin-gi. Bok Ji-sia menghela napas panjang, pikirnya dengan alis bekernyit.

"Konon bila keempat gerakan ini dilakukan secara bersungguh-sungguh maka pelahan bisa menyembuhkan hawa murni yang beku dalam urat nadi penting, tapi kulihat di dalam hal ini tentu ada sesuatu yang tidak betul, sebab selalu kurasakan adanya peredaran darah membalik dan menerjang jalan darahku setiap kali kulatih menurut cara tersebut, jelas itulah pertanda hawa murni mengalami pergolakan, atau mungkin aku sendiri yang telah melakukannya secara salah? Kalau tidak, buku inilah yang salah tulis!"

Berpikir sampai di sini, kembali anak muda itu melatih diri munurut apa yang diajarkan dalam kitab itu, ia angkat lengannya seperti kesurupan, melakukan gerakan yang sangat aneh, mula-mula berputar cepat seperti menari, kemudian makin lama makin lambat.

Asap mengepul dari ubun kepalanya, tapi wa jahnya mulai pucat seperti mayat, peluh dingin membasahi tubuhnya muka mengejang seolah-olah sedang menahan penderitaan yang luar biasa.

"Ai"

Dengan sedih ia menghela napas dan menghentikan gerakannya.

"Tidak bisa! Tidak bisa! Keempat gerakan itu tak mungkin bisa menyembuh kan hawa murniku dalam urat nadi penting, justeru sebaliknya malah menyiksa tubuh belaka, kenapa tokoh yang menulis kitab ini harus meninggalkan catatan semacam itu untuk mencelakai orang lain....?"

"Kalau ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Beng-yu-cin-keng juga kepandaian yang tak beres macam keempat gerakan ini, bukankah jiwaku akan melayang pula? O, Ibu! Lindungilah anakmu!"

Setiap kali teringat akan ibunya, air matapun bercucuran seperti air hujan, sebab peristiwa tragis itu membuatnya amat menderita, terutama ketika pisau belati yang menikam perut ibunya, darah yang bercucuran serta rintihan yang menyayat hati, semua itu membuat hatinya remuk rendam.

"Kreek!"

Terdengar suara yang amat pelahan....Selincah ular Bok Ji-sia segera menerobos keluar jendela Ia mendongakkan kepala memandang langit yang kelabu, waktu itu tiada awan, udara bersih dengan rembulan yang bersinar lembut serta beribu bintang yang berkelip-kelip, angin berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan pohon liu dan menimbulkan suara gemericik yang mendatangkan perasaan nyaman.

Mendadak Bok Ji-sia melihat sesosok bayangan hitam muncul di antara bangunan di luar benteng bayangan itu bergerak cepat, dalam waktu singkat sudah berpuluh kaki jauhnya dan menerobos masuk ke dalam benteng Thian-seng po.

Ia terkesiap, pikirnya.

"Kini waktu sudah menunjukkan permulaan kentongan kedua, masa ada orang Thian-seng-po yang keluar benteng untuk menyelidiki sesuatu? Atau mungkin ada jago persilatan yang berniat memeriksa keadaan Thian-seng-po? Rupanya di antara kawanan jago di luar benteng terdapat juga orang yang berpura-pura seperti diriku, orang itu tentu datang untuk urusan penting, sebab setiap orang tahu Thian-seng-po hanya bisa didatarngi dan tak bisa keluar lagi.... Sudah empat puluh tahun Thian-seng-po menggetarkan dunia persilatan, hampir semua jago persilatan menaruh hormat dan segan padanya, sedi-kit banyak gugup juga perasaan Bok Ji-sia ketika hendak melakukan penyelidikan untuk pertama kali selama hidupnya.

"Jangan-jangan aku akan binasa setelah ber ada di dalam benteng sana?"

Demikian pikirnya. Tapi setelah sangsi sejenak, sambil menggigit bibir ia mendengus.

"Hm, tenaga dalamku memang cetek, tapi jurus-jurus seranganku cukup tangguh untuk menghadapi musuh, lagipula ilmu meringankan tubuhku tidak terganggu oleh menggumpalnya hawa murni, dengan kemampuan yang melebihi jago jago biasa mungkini jiwaku tak sampai menja di korban."

Ia tak ragu lagi, seperti seekor burung ia melejit tiga tombak ke udara, ia tertawa bangga di atas udara, tubuhnya lantas melengkung dan meletik ke depan tanpa menempel tanah, seperti seekor burung elang ia melayang dan hinggap pada dahan pohon liu di depan sana.

Ilmu meringankan tubuh Bok Ji-sia sudah terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, terutama gerakannya yang sangat aneh itu, boleh dibilang jarang ada bandingannya.

Sesudah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, ia menarik napas dan melejit lagi ke udara, dalam dua kali lompatan saja ia telah bersembunyi di atas dinding kurung Thian-seng-po yang tingginya dua tombak lebih itu.

Baru saja Bok Ji-sia melompat pergi dari dahan pohon tadi, dari balik kegelapan pelahan muncul laki-laki kurus itu, ia menghela napas den bergumam.

"Orang ini masih muda belia tapi memiliki kungfu selihai ini, sudah pasti dia adalah jago yang ampuh di antara angkatan muda dunia persilatan, tak heran ia begitu berani menyelidiki Thian-seng-po. Tapi kalau dia hendak melawan orang Thian-senng-po dengan tenaga dalamnya tentu masih selisih jauh sekali, ibaratnya telur diadu dengan batu, tak ada gunanya kalau sampai mengantar nyawa percuma. Aku Ku Thian-gak juga ingin menyelidiki mati-hidup adik angkatku, sekarang aku harus bertindak juga."

Dunia persilatan memang penuh bahaya dan banyak tipu muslihat, siapa yang menyangka laki-laki kurus yang berwajah tidak menyolok ini sesungguhnya adalah seorang pendekar aneh dari dunia persilatan yang bernama Siau-yau-soan-hong-khek (jago angin puyuh yang suka bebas) Ku Thian-gak.

Sambil bertiarap di atas dinding, Bok Ji-sia mengamati daerah sekeliling tempat itu, ia lihat bangunan rumah, halaman, loteng, semuanya tanpa penjaga, cahaya lampu pun tidak nampak, seakan-akan benteng Thian-seng-po yang terkenal itu sama sekali tiada penjagaan.

Sekalipun demikian, bagi orang yang berpengalaman akan tahu bahwa keadaan tenang semacam ini menunjukkan tempat ini sesungguhnya lebih berbahaya dan menyeramkan.

Dengan enteng Ji-sia melompat turun ke bawah, ia tak berani ayal, serta merta ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan untuk melompat ke gedung di depan sana.

Ia melejit lagi ke udara dan melayang turun persis hinggap di wuwungan rumah.

Menurut perkiraannya semula, walaupun Thian-seng-po yang tersohor ini kelihatannya tanpa penjagaan, tapi persiapan yang sesungguhnya tentu tiada ubahnya sarang naga dan gua harimau, jika di tempat pertama tiada penjagaan, maka pada halaman kedua pasti ada penjaganya.

Maka begitu berada di atas atap rumah, Bok Ji-sia lantas bersembunyi di belakang bangunan itu dan melongok ke bawah, di luar dugaan, halaman kedua pun tanpa penjagaan.

Angin malam menhembus membawa bau harum bunga yang semerbak, ternyata di halaman kedua ini penuh tumbuh aneka warna bunga yang sedang mekar.

Sudah lama pemuda itu bersembunyi, akan tetapi tak seorang pun yang menampakkan diri, tanpa terasa ia lantas berpikir.

"Aku sudah masuk kemari, kenapa mesti ragu-ragu lagi?"

Keberaniannya timbul kembali, ia segara melompat ke bawah dan berkelebat maju ke depan dengan menelusuri jalan setapak yang berlapiskan batu putih.

Bok Ji-sia mana tahu kalau jejaknya sudah konangan sejak kemunculannya tadi baru saja ia melangkah masuk halaman pertama, dua sosok bayangan orang tanpa menimbulkan suara sedikit pun telak melayang turun juga dari atas pohon.

Tapi baru saja mereka berdua menginjakkan kaki ke tanah.

"Sreet!"

Tahu-tahu desing angin tajam menyambar mereka, tanpa menimbulkan suara kedua orang itu segera menggeletak dan mati secara mengenaskan, kemudian di samping kedua mayat itu berdirilah laki-laki ceking itu, Siau-yau-soan-hong-khek Ku Thian-gak.

Setelah melakukan perjalanan tak lama di antara bangunan sana, sekarang Ji-sia sudah berada jauh dalam benteng Thian-seng-po, dan diliputi perasaan gelisah.

Maklum, bangunan dalam Thian-seng-po beratus jumlahnya, ke mana ia harus mencari tempat penyimpanan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng?

Konon semua harta kekayaan dan kitab pusaka benteng Thian-seng-po disimpan di dalam sebuah bangunan berloteng, tapi di manakah letak bangunan berloteng penyimpan harta pusaka itu?

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Bok Ji-sia, pikirnya.

"Loteng penyimpan harta pusaka pasti terletak di bangunan yang paling tinggi, apa salahnya kalau kucari bangunan tersebut untuk melakukan pemeriksaan?"

Berpikir demikian, pemuda itu lantas melompat lagi ke atas dan hinggap pada sebuah wuwungan rumah, dari situ dengan tatapan tajam mengawasi sekeliling tempat itu, di tengah kegelapan rasanya sulit untuk menentukan arah di antara sekian banyak bangunan, apalagi loteng penyimpan pusaka harus dicari di antara tiga-empai puluh bangunan lainnya yang tersebar di mana-mana, tentu saja hal ini terasa sulit sekali.

Pemuda itu agak kecewa, pikirnya.

"Lebih baik aku berteriak-teriak saja agar semua penghuni benteng menjadi kaget, lalu ku bekuk seorang di antaranya dan memaksanya untuk memberitahukan letak loteng itu!"

Tiba-tiba berhembus angin malam yang kencang, di tengah keheningan yang mencekam bangunan rumah yang berlapis-lapis itu, mendadak ia mendengar jeritan kesakitan yang memilukan hati.....

Jeritan melengking dan tak sedap didengar, membuat siapapun yang mendengar sama berdiri bulu kuduknya.

Setelah jeritan tadi, suasana di sekeliling tempat itu dicekam pula dalam keheningan yang menyeramkan.

Air muka Bok Ji-sia agak berubah, pikirnya.

"Mungkin jeritan itu berasal dari Ya-heng-jin (orang berjalan malam) yang kulihat tadi, kalau benar, tampaknya harapanku untuk mencuri kitab pusaka Beng-yu-cin-keng tipis sekali, belum tentu berhasil dan jiwa malah akan melayang. Sebab ilmu meringankan tnbuh Ya-heng-jin tadi lihay sekali dan tidak selisih banyak daripadaku, mumpung aku belum menemui rintangan, lebih baik cepat-cepat saja kumundur dari sini"

Angin berhembus semakin kencang di tengah kegelapan malam itu dari menggoyangkan pepohonan hingga menimbulkan suara yang menyeramkan.

Semuanya itu menambah rasa ngeri bagi Bok Ji-sia, niatnya untuk mundur dari situ pun semakin mantap.

Tapi suatu perasaan malu tiba tiba muncul dalam hatinya, diam-diam ia mendamprat diri sendiri "Bok Ji-sia,sebagai seorang lelaki sejati, lebih baik tubuh hancur daripada mundur ketakutan, apalagi kitab pusaka Beng-yu-cin-keng menyangkut masa depan dirimu, kalau kau gagal menemukan kitab tersebut, seratus hari kemudian niscaya jiwamu akan melayang...."

Ketika tragedi masa silam terkenang kembali dalam benaknya, tanpa terasa dua titik air mata jatuh membasahi pipinya.

Tiba-tiba Ji-sia mengerahkan ilmu meringanan tubuhnya dan secepat, kilat meluncur ke arah suara jeritan ngeri tadi....

Dalam waktu singkat ia telah tiba di depan sebuah bangunan bertingkat lima.

Pada saat itulah tiba-tiba kedengaran suara tertawa aneh berkumandang memecah keheningan..., suara tertawa melengking dan tak sedap di dengar, di tengah keheningan malam yang gelap dan sepi, suaranya terasa makin menyeramkan.

Ketika suara tertawanya sirap, kedengaran seorang menegur dengan dingin dan kaku.

"Siapa kau? Kenapa hanya tertawa melulu? Ayo unjukkan dirimu!"

Dari teguran tadi, Bok Ji-sia baru tahu jejaknya belum ketahuan orang, buru-buru ia mendekam dalam kegelapan untuk melakukan pengintaian.

Baru saja ia bersembunyi, segera segulung angin menyambar turun ke halaman di depan bangunan loteng itu, dia adalah seorang anak dara berbaju hitam dan membawa pedang, dengan sorot mata yang tajam ia sedang mengawasi ke arah suara tertawa itu.

Dari balik kegelapan rumah sebelah kiri pelahan muncul seorang kakek kurus yang berwajah jelek.

Dengan matanya yang tajam kakek kurus itu mengamati si nona baju hitam sekejap, kemudian sambil tertawa dingin tegurnya.

"Nona, besar amat minatmu, sampai-sampai tengah malam buta pun berkunjung ke benteng kami. Cuma, hehehe....sewaktu datang tadi memang ada pintu yang tersedia, tapi untuk pergi tak ada jalan yang terbuka, apalagi kau telah melukai seorang kawan kami, hehehe, cepat katakan namamu untuk menerima kematian"

Nona berbaju hitam itu mendengus.

"Hmm..Namanya saja tersohor sampai kemana-mana, padahal Thian-seng-po tak lebih hanya tempat segerombolan bajingan yang kerjanya melulu membunuh dan membakar. Terus terang kuberitahukan padamu, orang lain mungkin bisa disusahkan Thian-seng-po, tapi jangan harap bisa menyulitkan nonamu."

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan.

"Kalau kuperhatikan tampangmu, jelas kau bukan orang baik-baik, maka kaupun akan menerima kematian, buat apa tanya sama nonamu?"

Agak berubah air muka kakek kurus itu, katanya dengan suara parau.

"Kau budak busuk yang masih berbau popok, sombong betul perkataanmu, aku Im-hong-so (kakek angin dingin) Kui Kok-ho ingin coba sampai di mana kelihaian ilmu silatmu?"

Terkesiap hati Bok Ji-sia di tempat sembunyinya demi mendengar bahwa kakek aneh itu adalah Im-hong-so Kui Kok-ho yang terhitung jago lihai dalam dunia persilatan, sekarang dia baru tahu bahwa Thian-seng-po betul-betul adalah sarang naga dan gua harimau.

"Huh, rupanya kau termasuk seorang jagoan juga,"

Ejek si nona baju hitam sambil tertawa dingin.

"cuma. kukuatir kepandaianmu masih belum cukup untuk menandingi nonamu."

Im-hong-so Kui Kok-ho cukup tahu kungfu gadis itu sangat lihai, katanya dengan nada menyeramkan.

"Barang siapa berani memasuki Thian-seng-po tanpa izin, dia mesti mati, begitu pula halnya dengan dirimu, Tapi sebelumnya aku ingin tahu dulu apa maksudmu mendatangi benteng ini?"

"Kalau tiada urusan tentu tak akan berkunjung, tentu saja aku ada urusan penting, cuma dengan kedudukanmu yang rendah masih belum berhak untuk mengetahui maksud kedatanganku in."

"Kalau begitu tolong tanya siapa yang mempunyai hak tanya itu?"

"Tentu saja Thian-seng-pocu pribadi, Thian-keng-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak!"

Air muka Im-hong-sio Kui Kok-ho kembali berubah, sekarang dia tahu bahwa gadis itu mempunyai asal-usul yang cukup terkenal.

"Hehehe, bagius, bagus sekali,"

Katanya kemudian sambil tertawa seram.

"asal kau mampu menangkan aku, kedatanganmu tentu kulaporkan langsung kepada Pocu."

"Huh, dalam dunia persilatan Im-hong-so memang terhitung seorang jagoan, tapi di hadapanku tak lebih kau cuma kaum keroco, baiklah kuberi keuntungan bagimu, jika dalam lima gebrakan aku gagal mengalahkan dirimu, maka aku akan segera angkat kaki dari sini"

Bok Ji-sia yang ikut mendengarkan pembicaraan itu agak bimbang, ia merasa gadis berbaju hitam itu terlalu jumawa.

Im-hong-so Kui Kok-ho bergelak tertawa saking dongkolnya demi mendengar penghinaan itu, katanya.

"Bagus! Kalau begitu boleh lancarkan seranganmu!"

"Kalau aku yang menyerang duluan, dalam tiga jurus kau akan keok!"

Kata si nona. Pada hari-hari biasa, Im-hong-so Kui Kok-ho tersohor sebagai seorang gembong iblis golongan hitam, penghinaan itu kontan saja mengobarkan amarahnya, ia tertawa seram, teriaknya.

"Tampaknya kau sudah bosan hidup!"

Begitu selesai berkata, seperti badan halus saja ia melayang ke depan nona berbaju hitam itu, tangan kirinya segera mandoroog sementara tangan kanan dengan lima jari yang dipentangkan membacok muka musuh.

Nona berbaju hitam itu segera mengayunkan tangannya hendak menutuk jalan darah Gi-ti-hiat di lengan kiri Im-hong-so.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan tepat, memaksa Im-hong-so harus menarik kembali kedua serangannya dan menyurut mundur.

Tapi begitu mundur, Kui Kok-ho melompat maju lagi, tangan kanan terus membacok muka nona berbaju hitam itu.

Gadis berbaju hitam itu tertawa dingin, dengan enteng tangan kirinya melepaskan pukulan ke depan.

Kedua gulung angin pukulan saling bentur, terjadi pusaran angin yang kencang, batu pasir sama beterbangan.

Im-hong-so Kui Kok-ho mendengus, mendadak tubuhnya bergoncang dan sempoyongan, hal ini amat mengejutkan, ia tidak mengira tenaga dalam gadis tersebut begitu hebat hingga pukulan yang dilancarkan dengan tujuh bagian tenaganya dapat ditahannya.

Sambil membentak kembali ia maju tiga langkah, tangan kiri dengan jurus Jiu-po-ngo-hian (tangan memetik alat musik), ia melancarkan dua serangan berbareng dengan tenaga yang berbeda, kalau tangan kiri mengutamakan kelincahan, maka tangan kanan lebih mengutamakan kekuatan.

Jurus serangan itu dilancarkan dengan keji dan mematikan.

Meskipun kelihatannya wajah si nona baju hitam itu dingin dan angkuh, sesungguhnya ia terperanjat juga menghadapi ketangguhan jago Thian-seng-po ini, maka tangan kirinya dengan jurus Sing-hong-po-long (menumpang angin memecah ombak) dia punahkan daya serang tangan kanan Im-hong-so, sementara tangan kanan dengan jurus Hun-hoa-hut-liu (memisah bunga menyampuk pohon) sekaligus memunahkan jurus Jiu-po-ngo-hian lawan.

Pada saat yang singkat itulah kedua tangan nona itu.

berputar lalu didorong ke muka, segulung angin pukulan ibaratnya gelombang besar mendampar menggulung tubuh Im-hong-so.

Bok Ji-sia yang bermata tajam dapat menyaksikan bayangan yang berbentuk sekuntum bunga Bwe diantara putaran tangan gadis itu.

Air muka Im-hong-so Kui Kok-ho agak berubah melihat gerak pukulan nona itu, tiba-tiba ia melompat ke samping, tapi damparan angin pukulan yang sangat kuat tetap mendorongnya mundur sejauh beberapa tombak dan membuatnya muntah darah, kulit mukanya mengejang seperti menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Ap....apa hubunganmu dengan Bwe-hiang-sian-ki dari lembah Han-bwe-kok?"

Tanyanya dengan suara gemetar. Air muka nona berbaju hitam itu tidak memperlihatkan sesuatu emosi, jawabnya dingin.

"Kau sudah terkena pukulan Bwe-sat-ciang, kalau tidak segera mencari Oh Kay-gak untuk memperoleh pengobatan, dalam tiga jam nyawamu akan melayang, katakan kepadanya bahwa murid Bwe-hian sian-ki, Bwe hoa-sian-kiam (Dewi pedang bunga sakura) Tong Yongling datang dengan membawa perintah gurunya."

Bok Ji-sia terkesiap juga sesudah mengetahui gadis itu adalah anak murid Han-bwe-kokcu, Bwe-hian-sian-ki, pikirnya.

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, konon Bwe-hiang-sian-ki si iblis perempuan itu berhati kejam tanpa kenal peri kemanusiaan, ia gemar membunuh dan ganas, kalau melihat kekejaman gadis ini rasanya tak salah lagi, lebih baik aku menyingkir saja daripada berjumpa dengan dia hingga mendatangkan banyak kesulitan bagiku. Sementara ia masih berpikir, Im-hong-so Kui Kok-ho telah berkata.

"NonaTong, kekejamanmu ternyata melebihi gurumu, baiklah, anggap saja malam, ini aku orang she Kui lagi apes. Nah, ikutlah diriku!"

"Nonamu masih ingin pesiar menikmati pemandangan malam di benteng ini, lebih baik kau suruh Oh Kay-gak datang sendiri mencariku."

"Baik, kalau begitu berhati-hatilah!"

Sehabis berkata Im-hong-so Kui Kok-ho segera melompat pergi dan lenyap di balik kegelapan sana.

"Berhenti!"

Mendadak Bwe-boa-sian-kiam Tong Yong-ling membentak.

Rupanya Bok Ji-sia hendak menggunakan kesempatan itu untuk kabur, dengan jantung berdebar terpaksa ia hentikan gerak tubuhnya.

Tong Yong-ling memang bernyali besar, selangkah demi selangkah ia mendekati pemuda itu, kurang lebih tiga-emnpah langkah di depan lawannya ia baru berhenti.

"Apakah kau anggota benteng?"

Tegurnya.

"Bukan!"

Ji-sia menggeleng. Setelah melihat jelas muka Bok Ji-sia yang tampan, tiba-tiba gadis itu tersenyum.

"Kalau bukan anggota Thian-seng-po, kenapa begitu berani kau masuk ke benteng ini? Hm, lebih baik jangan berbohong di hadapanku!"

Agak gusar Ji-sia mendengar kebinalan gadis tersebut, semprotnya.

"Kau anggap cuma kau sendiri yang berani menyatroni Thian-seng-po? Kenapa aku harus berbohong padamu?"

Ganti Tong Yong-ling yang dibikin tertegun oleh dampratan itu, pikirnya "Nama besar Thian-seng-po telah menggetarkan dunia persilatan, setiap orang tahu bahwa masuk ke benteng Thian-seng-po hanya ada jalan kematian....."

Berpikir sampai di sini ia lantas berkata dengan dingin.

"Kau mengaku bukan anggota Thian-seng-po, lantas ada urusan apa kaudatang kemari?"

"Kita tak saling mengenal, tiada permusuhan atau perselisihan antara kita, dan lagi kedua pihak pun tak ada hubungan, lebih baik kita kerjakan urusan masing-masing saja.

"Sekalipun kita tiada hubungan apa-apa, masa kau tidak sayang lagi pada nyawa sendiri? Aku hanya memperingatkanmu secara baik-baik, kalau tak ada urusan penting leoih baik mundur saja dari neraka ini,"

Ji-sia tersenyum, katanya.

"Siapa yang tidak sayang akan nyawa sendiri? Tiada urusan tak mungkin malam-malam nona kemari, demikian pula dengan diriku, kalau tak ada urusan penting tak nanti kukunjungi benteng ini di tengah malam buta.. Tong Yong-ling tertawa dingin, selanya.

"Selama hidup belum pernah kuucapkan begini banyak kata yang tak berguna dengan orang lain, malam ini aku telah melanggar kebiasaanku itu. Jika kau tak mau mundur dari sini, bagimu tiada manfaat, sebaliknya hanya kerugian yang akan kau terima, kau tahu Thian-seng-po adalah tempat yang berbahaya, usiamu masih muda dan tidak cukup berpengalaman, maka sengaja kunasihati dirimu, mau terima atau tidak terserah padamu sendiri,"

"Terima kasih atas maksud baik nona, biar kuterima di hati saja! Mati-hidup seseorang berada di tangan Thian, maaf kalau aku tak dapat menemani kau lebih lama lagi."

Habis berkata ia lantas putar badan dan hendak berlalu dari situ.

"Berhenti!"

Tiba-tiba Tong Yong-ling membentak lagi. Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat, kemudian tegurnya ketus.

"nona, sesungguhnya apa maksudmu menahanku agar tetap tinggal di sini?"

Rupanya Tong Yong-ling tidak mengira orang bakal mengajukan pertanyaan seperti ini, setelah tertegun sejenak, katanya.

"Kenapa kau engan menuruti perkataanku?"

Melihat perkataan nona itu makin lama semakin berlagak, kemarahan di dalam hati Ji-sia berkobar, serunya dengan gusar.

"Kau juga tiada hubungan apa-apa denganku, kenapa aku mesti mendengarkan nasihatmu? Huh, perempuan yang tak tahu malu!"

Gemetar sekujur tubuh Tong Yong-ling oleh perkataan itu, ia tampak seperti marah, seperti juga tersinggung, teriaknya.

"Kau...., kau berani memakiku..?"

Melihat wajah gemas si gadis, Ji-sia kembali berpikir.

"Bagaimanapun juga aku adalah seorang lelaki, kenapa harus melukai hati seorang gadis? Ai, lebih baik tidak kugubris dia lagi ,..."

Dengan pandangan tajam Tong Yong-ling menatap wajah pemuda itu, sampai lama sekali, tiba-tiba ia berkata sambil tersenyum.

"Mungkin kau tidak tahu siapa diriku, maka kau berani mendampratku dengan kata-kata yang tak sedap."

"Hm, siapa yang tak tahu kau adalah murid iblis perempuan Bwe-hiang-sian-ki?"

Seru Ji-sia dengan kemarahan yang berkobar lagi.

"Terus terang kuberitahukan padamu, lebih baik jangan kau anggap dirimu hebat dan luar biasa."

Sambil tertawa Tong Yong-ling geleng kepala berulang kali.

"Kau memang benar seorang yang tak tahu tinggmya langit dan tebalnya bumi, untung Suhuku tidak ikut datang malam ini, coba kalau tidak, hm, sekalipun kau punya sepuluh buah kepala juga tak akan berani kurang ajar kepadaku, karena sejak kutahu urusan, belum pernah ada orang yang kurang ajar kepadaku, kau adalah orang pertama yang telah memakiku!"

Bok Ji-sia tertawa dingin.

"Seorang lelaki sejati tak akan bercekcok dengan seorang gadis, ogah kuurusi pertikaian yang tak berguna ini...."

Dengan sekali lompat anak muda itu melayang ke atas rumah dan buru-buru berlalu dari situ.

Tapi baru saja ia melewati sebuah halaman dan melayang turun ke bawah, mendadak didengarnya seseorang tertawa dingin.

"Hmm, Mengakunya saja seorang laki-laki sejati, tahunya cuma seorang pengecut yang kabur pada saat orang tak bersiap, tidakkah kau merasa malu pada perbuatanmu ini?"

Ji-sia coba mengamati arah suara teguran itu, betapa terkejutnya setelah mengetahui Tong Yong-ling sedang menghampirinya dari depan.

"Heran, ia putar dari arah mana? Kenapa begitu cepat sampai di situ..?"

Demikian ia pikir. Dengan gusar ia lantas membentak.

"Nona, sebetulnya ada urusan apa kau halangi jalan pergiku? Kalau tidak kau terangkan alasanmu yang tepat, jangan salahkan aku akan bertindak kasar kepadamu."

Perlu diterangkan, Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling adalah gadis yang terkenal tidak pakai aturan dan sukar dilayani, meski wajahnya cantik dan ilmu silatnya lihai, tapi ia berhati kejam dan tak kenal ampun, apalagi ia pun murid Bwe-hiang-sian-ki, iblis perempuan yang membunuh orang tanpa berkedip.

Setiap jago persilatan selalu was-was setelah mengetahui asal usulnya, hal ini membuatnya semakin sombong dan tinggi hati.

Setelah mengetahui Bak Ji-sia enggan menerima kebaikannya, selapis hawa nafsu membunuh segera menyelimuti wajahnya, sambil tertawa dingin ia berkata.

"Sudah berulang kali ku melanggar kebiasaan dengan mengalah kepadamu, tapi kau terus menerus tak tahu diri, malah tak mau mengalah padaku, Baiklah, kalau kau ingin berselisih denganku, akan kulihat apa yang kau andalkan sehingga tak pandang sebelah mata kepadaku?"

Ji-sia benar-benar tidak menyangka gadis itu begitu bandel dan tak tahu aturan, ia tak dapat mengendalikan marahnya lagi, dengan alis bekernyit dan mulut mencibir, pemuda itu mendengus.

"Hm, rupanya sebelum pertarungan kita berlangsung malam ini, urusan tak akan beres dengan begitu saja!"

Tampaknya Tong Yong-ling tidak percaya pemuda itu berani melawannya, sambil senyum tak senyum ia mengejek.

"Kau benar hendak memusuhi diriku?"

Ji-sia tertegun dan merenung sejenak, pikirnya.

"Gadis ini berilmu tinggi, padahal maksud kedatanganku malam ini adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, kalau sampai bertarung dengan dia hingga makan waktu, sedangkan tenaga murniku sukar tersalur ke lengan, betapapun sukar kurobohkan dia, ai....."

Setelah menghela napas sedih, katanya.

"Nona, asal kau tidak mendesakku terus menerus, tak nanti aku berselisih paham denganmu!"

Senyuman yang semula menghiasi wajah Tong Yoog-liang seketika lenyap, dengan dingin katanya.

"Kalau kau enggan berselisih denganku, maka aku justru ingin berselisih denganmu, mau apa kau?"

Ji-sia maju beberapa langkah, katanya.

"Kalau nona bersikeras akan berbuat demikian, tentu saja akan kupertaruhkan nyawaku untuk melayani!"

"Kalau demikian, hati-hatilah, sebab aku tak akan sungkan-sungkan lagi dalam seranganku nanti."

"Tak usah banyak bicara, keluarkan semua kepandaianmu!"

Bentak Ji-sia dengan gusar.

Hawa nafsu membunuh seketika menyelimuti wajah Tong Yong-ling, segera ia menubruk maju, dengan suatu gerakan ringan ia lancarkan serangan yang cepat dan aneh.

Ji-sia tidak panik, ia rendahkan badan sambil berkelit, dengan jurus aneh juga ia membendung serangan berantai lawan.

"Hehe, rupanya boleh juga kau ini!"

Ejek si gadis dengan tertawa dingin.

Dengan tubuh miring ia melangkah ke depan, telapak tangan kirinya langsung membacok ke da-da lawan.

Angin serangan menderu-deru, jurus pukulan menyambar-nyambar, sungguh serangan yang keji dan tak kenal ampun.....

Ji-sia tak berani menyambut dengan keras, tiba-tiba ia melayang ke samping.

Pada kesempatan itu Tong Yong-ling menubruk pula ke depan, kembali ia memancarkan serangkaian serangan berantai, di antara berkelebatnya bayangan tangan, dalam waktu singkat ia telah menyerang 24 kali pukulan.

Semua serangan tersebut dilancarkan dengari kecepatan bagaikan kilat, semuanya gerakan yang ampuh dan di luar dugaan.

Tapi jurus serangan yang digunakan Ji-sia lebih aneh lagi, bagaimanapun lihainya serangan Tong Yong-ling, semuanya terbendung olehnya, malah terkadang dari sudut yang aneh telapak tangannya menerobos masuk bagaiksn ular berbisa dan balas mengancam bagian mematikan di tubuhnya, hal ini memaksa Bwe-hoa-sian-kiam mesti urungkan serangannya dan melompat mundur ke belakang.

Sebagaimana diketahui, Bok Ji-sia telah berhasil mempelajari seluruh ilmu silat yang tercantum dalam kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng, dalam soal jurus serangan jarang ada yang mampu menandinginya.

Sayang tenaga dalamnya menggumpal dalam urat nadi hingga tak sanggup tersalur pada telapak tangan untuk melukai orang, kalau tidak, hanya beberapa orang saja dalam dunia persilatan yang sanggup mengalahkan dia.

Begitulah, sambil menyambut serangan musuh, ia berpikir.

"Kini aku sudah di atas angin, kalau tidak kutarik semua jurus seranganku, bila ia jadi nekat dan menyerang dengan tenaga dalam, akulah yang bakal dibikin malu...."

Tiba-tiba ia menarik diri dari serangkaian pukulan Tong Yong-ling yang hebat itu seraya membentak.

"Harap berhenti dulu nona, kita tak pernah bermusuhan, apa gunanya bertarung mati-matian begini?"

Setelah menyaksikan jurus serangan aneh lawannya, Tong Yong-ling merasa terkesiap, tapi hal itu justeru membangkitkan pula rasa ingin menangnya, sebab sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mampu menerima dua puluh jurus serangannya.

Tapi pemuda itu bukan saja dapat menyambut dua puluh jurus serangannya dengan baik bahkan kadangkala ia sendiri terdesak oleh serangan lawan yang aneh, hal membuatnya penasaran.

Selain itu ada satu hal yang menimbulkan pula kecurigaannya, yakni tenaga yang dipancarkan oleh serangan Ji-sia selalu lemah, terkadang sudah jelas tubuhnya bakal terhajar telak oleh serangan lawan tapi nyatanya pemuda itu tidak menyerang lebih jauh, menurut sangkaan gadis itu, pastilah Bok Ji-sia sengaja mengalah kepadanya.

Tong Yong-ling berwatak angkuh dan tinggi hati, ia tambaih dongkol menghadapi kejadian itu.

"Sambut lagi beberapa jurus seranganku!"

Bentaknya dan suatu pukulan segera dilontarkan ke depan.

Dengan kening berkerut Ji-sia menangkis dan mendesak mundur ancaman tersebut, tapi ia tetap tidak membalas.

Bwe-hoa-sian-kiam lantas membentak nyaring, serangannya bertambah gencar.

Ji-sia melayani serangan musuh dengan memotong nadi dan menutuk menurut ajaran dalam kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng, sering gadis itu harus menarik kembali serangannya di tengah jalan, tapi ia sendiri tak pernah melancarkan serangan balasan.

Setelah dua puluh serangan lebih dengan kecepatan tinggi, Tong -Yong-ling merasa bertambah takut, sambil menghentikan serangannya ia mundur ke belakang, lalu katanya dengan dingin.

"Hei, kenapa kau tidak membalas seranganku?"

Kiranya ia telah merasakan jurus serangan yang digunakan Bok Ji-sia untuk memunahkan serangannya itu hampir semuanya merupakan jurus-jurus ampuh yang jarang ditemui, malah hampir seluruhnya merupakan jurus serangan mematikan walau setiap kali ia sempat menarik kembali serangannya tepat pada detik terakhir, tapi bagaimanapun Tong Yong-ling tetap waspada terhadap serangan mematikan yang mungkin dilancarkan secara mendadak.

Dengan, hambar Ji-sia berkata.

"Sudah kuterangkan tadi, bahwa kita tak pernah bermusuhan, kenapa mesti bertarung hingga akibatnya kedua pihak akan sama-sama terluka?"

Tong Yong-ling mendengus.

"Hmmm, kau anggap nona ini siapa? Memangnya aku sudi menerima kebaikan Bubeng-siau-cut (manusia tanpa nama) seperti dirimu? Ayo lancarkan seluruh seranganmu! Kalau tidak, jangan katakan aku keji bila sampai terbunuh olehku!"

"Sialan kau!"

Maki Ji-sia di dalam hati.

"untung tenaga dalamku tak dapat disalurkan pada tangan, kalau tidak, sejak tadi tentu kau sudah keok."

Tiba-t.ba Tong Yong-ling mengayunkan tangan kirinya ke depan, dengan kelima jari tangan ia cengkeram dada Bok Jisia.

Tenaga berbentuk bunga Bwe segera menyambar ke depan.

Rupanya ia telah keluarkan ilmu pukulan Bwe-sat-ciang yang sangat beracun itu.

Ji-sia merasakan hawa dingin serta bau .

harum bunga Bwe di antara cengkeraman kelima jari lawan, dengan terkesiap cepat ia menyingkir ke samping.

Tong-Yong-ling tertawa dingin, tangan kanan segera menyusul pula mencengkeram.

Serangannya kali ini ternyata jauh lebih ganas daripada serangan pertama kali tadi.

Ji-sia tahu gadis itu telah sertakan tenaga yang hebat dalam pukulan Bwe-sat-ciang itu, jika ia berani menangkis dengan kekerasan, akibatnya dia akan celaka sendiri.

Terpaksa kaki kiri bergeser, tubuh berputar kencang dan sekali lagi menghindarkan diri dari serangannya yang kedua.

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah Tong Yong-ling menjumpai orang yang sanggup menghindari pukulan Bwe-sat-ciang nya yang kedua, rasa ingin menang tambah berkobar, hawa napsu membunuh pun semakin membakar, ia lantas membentak.....

Kedua telapak tangannya bergerak berulang kali, bayangan jari memenuhi udara, disertai desing angin dingin serangan maut menyambar ke depan.

Mengejang kulit wajah Bok Ji-sia, terasa hawa dingin yang terpancar keluar dari serangan lawan membuat ia sukar mempertahankan diri, sambil membentak kedua telapak tangannya kembali di ayunkan ke muka dengan gerakan yang sangat aneh.....

Tubuhnya seperti bayangan setan bergerak ke sebelah kiri Tong Yong-ling, walaupun tangan kanan berhasil menekan bahu kiri si nona, namun tekanan tersebut sama sekali tak bertenaga.

Tong Yong-ling sangat terkejut, buru-buru dia ayun telapak tangannya ke depan.

Suara dengusan tertahan terdengar, segulung angin pukulan yang kuat menerjang tubuh Bok Ji-sia dan membuatnya mencelat sejauh satu tombak lebih.

Walaupun demikian, Tong Yong-ling merasakan pula tangannya menjadi kaku oleh tenaga pantulan yang aneh, tubuhnya tergetar mundur juga berapa langkah.

Air muka Jisia pucat seperti mayat, bibirnya hijau gemetar, keadaannya persis seorang yang menggigil kedinginan baru keluar dari gudang es.

Ia muntah darah, dengan perasaan dendam ia berkata.

"Sakit hati ini akan kuingat selalu di dalam hati!"

Habis berkata dengan tubuh sempoyongan Ji-sia melompat ke atas atap rumah lalu dalam beberapa kali kelebatan saja sudah lenyap dari pandangan.

Tong Yong-ling menghela napas pelahan demi mendengar perkataan itu, timbul perasaan murung dalam hatinya, ia pikir.

"Orang ini betul-betul aneh sekali, sudah terang ilmu silatnya sangat lihay, kenapa ia tak kuat menyambut seranganku, bahkan berjanji hendak membalas dendam? Ya, aku toh tiada permusuhan dengan dia, kenapa aku tidak menyusul dan punahkah racun dingin Bwe-sat-ciang itu?"

Seperti anak panah yang terlepas dari busurnya segera ia melompat ke atas rumah. Tapi bayangan tubuh Bok Ji-sia sudah lenyap tak berbekas, pikirnya dengan kaget.

"Heran, kenapa ia bisa kabur secepat ini meski sudah kena pukulan Bwe-sat-ciang yang tidak ringan?"

Sejak terjun ke dalam dunta persilatan, tak sedikit orang yang dibunuhnya, belum pernah terlintas rasa menyesal atas perbuatannya, tapi sekarang, setelah memukul Bok Ji-sia, entah mengapa timbul perasaan yang amat menyesal dalam hatinya.

Bok Ji-sia benar-benar gusar sekali, sambil menahan perasaan ia melompati beberapa buah rumah, ia benci kepada langit mengapa memberi jurus serangan yang aneh tanpa tenaga dalam yang sempurna, apalagi teringat kalau seratus hari lagi urat nadinya akan pecah dan ia bakal mati, hatinya benar-benar merasa sedih sekali.

Tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan bersuit nyaring, suaranya tinggi melengking dan amat menusuk telinga.

Di balik suara suitan itu seakan-akan mengandung perasaan murung dan marah yang hebat, terselip juga rasa sedih, seolah-olah sedang bertanya kepada Thian.

mengapa dalam kehidupannya ini harus mengalami percobaan seberat ini.

Seperti orang gila Ji-sia berteriak-teriak keras.

"Aku hendak menantang maut, aku tak mau mati, aku ingin membalas dendam. Ia membayangkan kematian yang akan menimpanya seratus hari kemudian serta pengalamannya yang tragis, hatinya sungguh amat sedih, sambil memukul dada dan mendepak-depak tanah, seperti orang gila ia berteriak-teriak sendiri. Mendadak dari belakang sebatang pohon di depan sana berkumandang suara tertawa dingin, lalu seseorang menegur.

"Kau laki-iaki gila, lebih baik dendammu kau balas pada penitisan yang akan datang saja. Hehehehe"

Bersama dengan menggemanya gelak tertawa seram, desing angin menyambar lewat, tahu-tahu tiga orang laki-laki berbaju perlente yang botak se perti Hwesio dan bermuka putih seperti salju telah berdiri di depannya.

Ketiga orang itu adalah Sam-lo-han berbaju perlente dari Thian-seng-po, kungfunya tinggi, wataknya buas, kebanyakan jago silat yang menyusup ke dalam Thian-seng-po tewas di tangan mereka.

Terkesiap hati Bok Ji-sia setelah melihat sinar mata buas yang terpancar dari enam buah mata ketiga orang itu, tapi di luarnya ia tetap tenang, katanya dengan angkuh.

"Kuharap kalian bertiga segera menyingkir dari sini, kalau tidak maka kalian bakal mampu?!"

Kim-kong-lo-han yang ada di tengah tertawa dingin.

"Hmm, barang siapa sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, rasanya pasti tahu peraturan benteng Thian-seng-po, waktu datang memang gampang, tapi sulit untuk meninggalkan tempat ini.."

Ji-sia mendongakkan kepalanya sambil tertawa, tukasnya.

"Sebelum tujuanku tercapai, aku masih belum berniat meninggalkan tempat ini!"

"Hmm, kalau kau berani menyatroni Thian-seng-po di tengah malam buta, aku yakin kepandaianmu pasti hebat sekali,"

Kata Hu-hou-lo-han yang berada di sebelah kiri sambil tertawa seram.

"tapi jalan pemikiranmu keliru besar, jumlah jago silat dalam Thian-seng-po yang berilmu tinggi semacam kau banyaknya tak terhitung jumlahnya....."

Ternyata ketiga Lo-han berbaju perlente ini telah dibikin keder oleh keangkuhan Bok Ji-sia, kalau tidak, dengan kekejaman mereka pada hari-hari biasa, tak mungkin mereka mau bicara sebanyak itu.

Ji-sia tidak menganggap mereka sebagai suatu ancaman, katanya dengan dingin.

"Apa lagi yang kalian tunggu? Cayhe siap menemani kalian untuk bermain beberapa jurus!"

"Sebetulnya urusan sih gampang sekali,"

Demikian Kim-kong-lo-han berkata.

"kalau kau yakin mampu membobol hadangan orang Thian-seng-po, silahkan saja untuk menerjangnya, tapi kalau merasa tak mampu menandingi kami, hendaknya menyerah saja dan ikut kami menghadap serta menerima hukuman dari Sin-tong-tongcu, siapa tahu kalau nyawamu masih ada harapan untuk diselamatkan."

Ji-sia berkerut dahi, lalu tertawa dingin, katanya.

"Kalau aku berani memasuki benteng, itu berarti mati hidupku sudah tidak kupikirkan lagi, aku yakin diriku masih mempunyai kemampuan untuk pergi datang sekehendak hatiku"

Walaupun berkata demikian, padahal rasa cemas dalam hatinya sukar dilukiskan, sebab Thian-seng-po yang tampaknya tenang dan sepi seolah-olah tanpa penjaga ternyata ada penjagaan yang ketat membuat siapapun yang memasuki benteng itu sulit untuk terlepas dari pengamatan mereka.

Mendadak Tok-sim-lo-han (lohan berhati kejam) yang ada disebelah kanan tertawa aneh, sedikit bahunya bergerak, tahu-tahu tangan kirinya membacok dari samping, sementara tangan kanannya mencolok ke depan dengan jurus Siang-liong-cian-cu (sepasang naga berebut mutiara)..

Melihat keanehan dan kelihaian jurus serangan orang aneh ini, Ji-sia terperanjat, pikirnya.

"Tampaknya kepandaian andalan ketiga orang aneh ini adalah ilmu Gwa-kang, padahal aku tak bertenaga, bagaimanapun lincah dan hebatnya jurus seranganku, sulit rasanya untuk melukai mereka."

Segera ia mengegos ke samping, tangan kanan diangkat dan membiarkan tangan kiri lawan bergerak lewat, kemudian mendadak ia sambar pergelangan tangan kanan lawan.

Jurus serangan itu tepat sekali penggunaannya, suatu serangan balasan yang berhasil merebut posisi di atas angin, tapi anak muda itu tidak mengejar lebih lanjut.

Tok-sim-lo-han tidak tahu Bok Ji-sia tak bertenaga dalam, melihat kelihaian jurus serangannya, dengan terkejut ia menyurut mundur.

Ketiga orang gundul itu sama terkejut, pikirnya.

"Hebat benar orang ini, jurus serangannya kenapa begitu lincah dan aneh?!"

Lain pula jalan pikiran Bok Ji-sia, diam-diam ia berpikir.

"Kalau aku berdiri terus di sini tanpa menyerang mereka, rasanya hal ini pun bukan cara yang baik ,.."

Berpikir demikian, ia lantas membuka kembali serangkaian serangan gencar, bukan saja gencar, jurus yang dipakai juga aneh dan sukar diraba arah tujuannya.

Dalam waktu singkat ia telah melancarkan tujuh kali serangan dan empat kali tendangan.

Tok-sim-lohan terdesak mundur berulang kali dengan ketakutan, sebab setiap jurus serangan itu mengarah bagian tubuhnya yang mematikan dan tidak memberi kesempatan baginya untuk melancarkan serangan balasan, Ia tidak tahu bahwa sekalipun terkena pukulan Bok Ji-sia, nyawanya tidak berbahaya, dengan mundur ke belakang justeru termakan oleh siasat Bok Ji-sia.

Setelah melancarkan serangkaian serangan gencar, Ji-sia menarik kembali serangannya, lalu berkata dengan dingin.

"Lebih baik kalian tahu diri dan segera mengundurkan diri dari sini, kalau tidak hanya kematian yang bakal kalian terima."

Ketiga Lo-han berbaju perlente adalah manusia buas yang kejam dan tak kenal takut, sampai mati pun mereka tak akan kabur apalagi cuma dibikin kaget saja oleh serangkaian serangan gencar tersebut.

Kim-hong-lo-han tertawa seram, tubuhnya yang tinggi besar secepat angin bergerak ke muka, telapak tangannya juga melancarkan serangkaian pukulan berantai, sebentar pukulan kepalan, sebentar lagi pukulan telapak tangan semuanya pukulan keras.

Angin pukulan menderu-deru, bayangan pukulan sambar menyambar dengan dahsyat.

Kendatipun Bok Ji-sia memiliki jurus serangan tangguh, apa lacur tak bertenaga untuk melukai orang, di bawah tekanan pukulan musuh yang begitu kuat dan gencar, ia terdesak sehingga mesti berkelit ke kiri dan mengegos ke kanan serta mundur berulang kali.

Rupanya Kim-hong-lohan sudah mulai merasakan pukulan Bok Ji-sia lembek sekali, ia tertawa seram dan berteriak.

"Saudara berdua, rupanya dia cuma laki-laki yang tak berguna. Ayo kita binasakan dia!"

Di tengah teriakan tersebut, kedengaran deru keras menyapu ke depan.

Dua pukulan Kim-kong-lohan yang kuat itu memaksa Bok Ji-sia mundur beberapa kaki.

Hu-hou (penakluk harimau) dan Tok-sim (berhati keji) Lo-han serentak membentak, serangan mereka pun mengancam bagian yang mematikan di tubuh anak muda itu.

Gusar Ji-sia, ia berpekik nyaring, telapak tangannya dari sudut yang tak terduga menyongsong datangnya serangan kedua Lohan itu.

"Blang!"

Benturan keras menggelegar.....

Bagaimanapun kekuatan Bok Ji-sia sekarang bukan tandingan orang, lengannya tergetar linu, dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah.

Kim-kong-lo-han segera menubruk maju dan melancarkan pula pukulan berantai, segulung angin pukulan yang keras segera menyapu datang.

Ketika merasakan ancaman pukulan yang dahsyat, ia kaget dan buru-buru melompat mundur.

Sekalipun gerakannya berkelit cukup cepat, toh ia termakan juga oleh sisa tenaga pukulan Kim-kong-lo-han, sewaktu melayang turun kakinya tak mampu berdiri tegak, beruntun dia tergetar mundur lima-enam langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

Darah dalam rongga dada bergolak keras, kepala terasa pusing tujuh keliling.

Sambil tertawa dingin, ketiga Lohan berbaju perlente itu menerjang lagi ke muka seperti setan iblis.

Enam telapak tangan diayunkan berbareng, hawa pukulan yang maha dahsyat disertai deru tajam langsung menyambar tubuh Bok Ji-sia dari delapan penjuru.

"Blang!"

Terdengar suara keras.

Di tengahi dengus gakit tertahan, tubuh Bok Ji-sia seperti layang-layang putus mencelat ke belakang dan jatuh terduduk di atas tanah.

Sebaliknya ketiga orang Lohan berbaju perlente pun sama mundur dua langkah dengari sempoyongan, hal ini membuat mereka terkejut sekali, pikirnya.

"Sepintas lalu bocah ini seperti orang yang tak bertenaga dalam kenapa sesudah terkena pukulan masih muncul juga tenaga pantulan yang halus tapi kuat? Orang ini masih muda belia, tapi ilmu silatnya sudah selihai ini, lewat beberapa tahun lagi niscaya sulit ada tandingannya di dunia ini, yang menakutkan lagi adalah jurus serangannya yang aneh, hampir semua intisari ilmu silat pelbagai perguruan tercakup di dalamnya...."

Berpikir sampai di sini, makin besar tekad ketiga orang Lohan berbaju perlente ini hendak melenyapkan Bok Ji-sia dari muka bumi ini, serentak ketiga orang itu berteriak aneh, enam telapak tangan bekerja berbareng lagi, dan secepat kilat menubruk pula ke depan.

Tiba-tiba berkumandang suara pekik keras yang penuh kesedihan dan memilukan.....

Bok Ji-sia yang duduk bersila tahu-tahu sudah melompat bangun dengan kecepatan luar biasa.

Kini genggamannya telah bertambah dengan sebuah ruyung panjang yang memancarkan sinar keemasan, ruyung itu penuh dengan kaitan tajam, di iringi pekik keras yang membetot sukma, Jisia memutar ruyung emas itu menjadi tiga jalur cahaya emas dan segera menggulung ke arah ketiga orang itu.

Perubahan ini berlangsung secara tiba-tiba dan terjadi dalam waktu singkat.

Mimpipun ketiga orang Lohan berbaju perlente itu tidak mengira Bok Ji-sia masih memiliki tenaga dalam sehebat ini dalam keadaan terluka parah, sementara mereka terkesiap, serangan maut ruyung Ji-sia telah menyapu tiba dengan kecepatan yang luar biasa.....

Tiga kali jerit melengking yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa.....

Batok kepala gundul ketiga orang Lo-han itu hancur remuk dengan darah berhamburan, wajahnya rusak sama sekali, setelah terhuyung-huyung mereka lantas roboh terjungkal.

Sementara itu Bok Ji-sia tetap memegang ruyung aneh itu dan berduduk di antara ketiga korbannya, kulit mukanya mengejang keras menahan penderitaan yang hebat, dengan sinar mata menyeramkan ia awasi wajah ketiga sosok mayat yang bermandikan darah itu.

Pelahan wajahnya yang dingin itu tersungging sekulum senyuman puas, namun rasa hampa, sedih dan benci juga menyelimuti wajahnya.

Bibirnya bergetar pelahan dan gumamnya.

"Hanya satu jurus Jian-kim-si-hun-pian (cambuk emas perenggut nyawa) inikah yang diberikan Thian kepadaku? Ai......mungkin ajalku sudah tak jauh lagi, barusan aku telah melakukan serangan dengan menyerempet kemungkinan bahaya pecahnya urat nadi dalam tubuhku sekalipun hawa murni itu dapat menhembus ke ujung cambuk dan membinasakan mereka, tapi dengan demikian semakin cepat pula ajalku akan tiba....."

Supaya diketahui, seluruh tenaga murni yang berada dalam tubuh Bok Ji-sia telah terhimpun dalam delapan urat nadi penting, hal ini membuat tubuhnya seakan-akan penuh terisi tenaga yang tak berwujud, setiap kekuatan dari luar yang menghantam tubuhnya akan menimbulkan tenaga pantulan, kalau bukan begitu, sejak tadi Bok Ji-sia tentu sudah tewas oleh pukulan Bwe-sat-ciang yang dilancarkan Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling.

Selain itu, beberapa kali tenaga serangan gabungan ketiga Lohan itupun kena dipunahkan oleh tenaga pantulan yang muncul dari dalam badan, tapi luka yang dideritanya juga makin parah, dalam serangan gabungan terakhir ketiga Lohan itu.

kemungkinan besar nyawanya akan terenggut.

Karena sedih dan menyesal yang luar biasa Bok Ji-sia telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk membunuh orang orang itu dengan ilmu ruyung yang maha sakti, sekalipun tujuannya berhasil, tapi keadaan tubuh sendiri sekarang sangat lemas, sebab dada terasa sakit seperti diiris-iris dan darah bergolak dengan hebatnya.

Menghadapi keadaan seperti ini, Ji-sia tahu bahwa akibat menggunakan hawa murni secara paksa itu terlalu berat baginya, umurnya kini tak akan melebihi tujuh hari lagi, tatkala mana urat nadinya akan meledak dan jiwanya akan melayang.

Di dalam kitab pusaka Jiat-im-siang-gi-pit-keng sudah diterangkan, barang siapa berani mengerahkan tenaga dalam secara paksa sebelum himpunan hawa murni dalam urat nadinya terthembus, maka akibatnya nadi itu bisa pecah dan mati lebih cepat daripada hari yang ditentukan.

Timbul pula rasa pedih pada wajah Ji-sia, kembali ia bergumam.

"Mampus biarlah mampus, bagaimanapun juga kalau kitab Beng-yu-cin-keng tak dapat kutemukan pada malam ini, seratus hari kemudian akupun akan meninggalkan dunia ini, ai ,..."

Diiringi helaan napas sedih, air mata lantai jatuh bercucuran bagaikan hujan. Rupanya ia teringat lagi pada keadaan ibunya yang mengenaskan menjelang kematiannya. Dengan sedih Ji-sia kembali bergumam.

"O, ibu! Aku tak punya muka untuk bertemu lagi denganmu, kini dendam berdarah belum terbalas, tapi aku segera akan menyusulmu ke alam baka......"

Ia tak punya keberanian untuk melanjutkan perkataanya, meski kematian bukan hal yang mengerikan baginya, tapi bila terbayang akan perbuatannya yang telah "mengawini"

Ibunya sendiri, ia merasa malu untuk hidup lebih lanjut di dunia ini, ia merasa dosanya itu pantas ditebus dengan kematian.

Pemuda itu mengerti bila ia lebih cepat meninggalkan dunia fana ini berarti lebih cepat pula mengurangi siksaan batinnya, tapi bila terbayang kembali pesan ibunya sebelum mati, keinginannya untuk hidup terus menjadi teguh kembali, sebab ia dapat merasakan betapa mulia hati ibunya, bagaimanapun dia harus menyayangi kehidupannya, karena itulah satu-satunya pengharapan ibunya, ia merasa sukmanya akan malu untuk bertemu dengan arwah ibunya di alam baka bila sakit hati itu belum terbalas.

Perlu diterangkan di sini bahwa ibu Bok Ji-sia sesungguhnya belum mati, ketika si anak muda itu pergi meninggalkannya, karena kuatir anaknya secara diam-diam akan bunuh diri akibat perbuatannya yang memalukan itu sehingga sakit hatinya tak terbalas, maka niatnya untuk mati segera berubah, setelah mengalami pelbagai penderitaan akhirnya ia berhasil mempertahankan hidupnya.

Ia akan muncul kembali pada bagian lain dalam cerita ini.

Sementara.

Ji-sia masih.

melamun, tiba-tiba ia lihat munculnya sesosok bayangan yang panjang seperti sukma gentayangan di depan sana, di bawah pohon.....

"Sia....siapa kau?"

Dengan terkejut ia menegur.

Bayangan itu bergeser dari tempatnya semula, namun tidak memberi jawaban, tubuh itu seakan-akan enteng seperti kapas dan kedua kakinya hampir tidak menempel tanah, sewaktu bergerak ke muka sama sekali tidak menimbulkan suara apa-apa.

Ternyata orang itu adalah seorang kakek berwajah bulat, beralis mata panjang, berjenggot sebatas dada, menyandang pedang dan berwajah penuh wibawa.

Melihat orang membungkam terus, dengan rada gemetar Ji-sia menegur pula "Apa.....apakah kau Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiamn Oh Kay-gak?"

Sekarang Ji-sia benar-benar merasakan ngerinya kematian, ia merasa bila orang itu adalah Oh Kay-gak sendiri atau jago lihay dari Thian-seng-po, boleh jadi ajalnya tinggal beberapa menit saja.

Sementara itu, si kakek berwajah kereng dan berwibawa itu sudah berada beberapa kaki di hadapan Ji-sia, dia mengebutkan lengan bajunya dan berkata.

"Kau mengira aku Thian-seng-pocu, si pedang rembulan dan bintang Oh Kay-gak?"

Ji-sia coba mengamati wajah kakek itu dengan lebih teliti, ia lihat alis matanya yang putih panjang hampir menutupi kelopak matanya, senyuman menghias bibirnya, tanpa terasa timbul rasa kagumnya.

"Kalau begitu Locianpwe adalah orang luar benteng?"

Sapanya pula dengan suara lirih.

"Hahaha, kembali salah tebakanmu,"

Jawab kakek itu sambil tertawa bergelak.

"aku adalah kakak Oh Kay-gak yang bernama Thian-kang-kiam (pedang bintang utara) Oh Ku-gwat! Ruyung yang kau pegang itu apakah benar ruyung Jian-kim-si-hun-pian yang kau peroleh dari Ban-pian-sin-kun (malaikat suci selaksa ruyung) Auyang Seng berikut se

Jilid kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng?"

Ji-sia sangat terperanjat, ia merasa pengetahuan kakek itu luas sekali sehingga asal-usul senjata andalan juga diketahuinya dengan jelas.

Belum sempat ia menjawab, didengarnya Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menghela napas sedih, katanya.

"Bu-lim-jit-coat (tujuh jagoan tangguh dunia persilatan) yang tersohor di masa lalu, secara beruntun sudah ada beberapa orang yang meninggalkan dunia ini. Aii, Adikku Oh Kay-gak juga sudah hampir mati secara mengenaskan, begitu pula aku...."

"Oh cianpwe, apa yang kau katakan?"

Tanya Ji-sia dengan bingung. Dengan sinar mata tajam Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menatap wajah pemuda itu lekat lekat, cukup lama ia baru kerkata.

"Kalau dilihat kenekatanmu memasuki Thian-seng-po, sudah pasti kedatanganmu membawa amanat tertentu, apakah tujuanmu itu?"

Waktu itu Bok Ji-sia seolah-olah sudah lupa jiwanya terancam, ia tertawa angkuh.

"Wanpwe tak berani membohongi Cianpwe, terus terang, maksud kedatanganku adalah ingin mencuri kitab pusaka Beng-yu-cin-keng milik adikmu."

"Ya, kutahu kau telah melatih silat dari kitab Jiat-im-siang-git-pit-keng yang mengakibatkan hawa murnimu membeku dalam urat nadi, keadaan semacam itu memang harus cepat ditanggulangi dengan ilmu yang termuat dalam kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, dengan demikian hawa murni yang membeku itu pelahan bisa dicairkan kembali, cuma kitab tersebut tidak berada di tangan adikku Oh Kay-gak, cuma dia tahu kitab pusaka itu berada di tangan siapa. Tadi kudengar kau bilang bahwa tujuh hari lagi nyawamu akan melayang akibat pengerahan tenaga dalam secara paksa, keadaan semacam itu sudah terlampau parah, sekalipun kau dapatkan Beng-yu-cin-keng juga belum tentu nyawamu bisa diselamatkan"

Perkataan ini benar-benar membuyarkan harapan Bok Ji-sia untuk melanjutkan hidup, ia menjadi putus asa dan menghela napas sedih, butiran air mata pun jatuh bercucuran pula.

Sementara itu Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat berkata lagi sesudah berhenti sebentar.

"Tapi, menurut apa yang kuketahui, di dunia dewasa ini masih ada satu orang yang bisa memperpanjang umurmu, bila kau berhasil mendapatkan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, maka semua cacat yang kau derita akan sembuh sama sekali,"

"Di manakah orang itu sekarang?"

Tanya Ji sia dengan mata terbelalak.

"apakah Locianpwe bersedia memberi petunjuk kepadaku..?"

Keseriusan menyelimuti wajah Oh Ku-gwat yang lembut dan penuh welas asih itu, katanya setelah menghela napas panjang.

"Orang itu bukan lain adalah adikku yang kedua yang sudah hampir mati, si pedang bintang dan rembulan Oh Kay-gak, ia gagah dan berjiwa ksatria....Ai, kasihan nasibnya yang buruk, oleh Samte (adik ketiga) ia disekap selama delapan belas tahun, sekalipun aku yang menjadi kakaknya tak mempunyai kekuatan untuk menentang Samte, tapi kini sudah waktunya bagiku untuk menolong Jite (adik kedua) "Ah, kalau begitu Pocu dari Thian-seng-po bukan si pedang bintang dan rembulan Oh Kay-gak?"

Tanya Ji-sia dengan kaget, ia betul-betul bingung dan tak habis mengerti.

"Bukan!"

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menggeleng.

"sejak delapan belas tahun yang silam Thian-seng-pocu sudah dijabat oleh Samteku, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian. Ai, budi dan dendam di balik peristiwa ini memang rumit sekali, semua itu adalah hasil karya Samteku yang licik kejam dan banvak tipu muslihatnya itu. Sayang kami.....ai, lebih baik tidak kukatakan saja."

Jilid 2 Ji-sia segera merasakan adanya suatu rahasia besar yang menyelimuti Thi-n-seng-po, dan rahasia itu belum diketahui oleh umat persilatan, iapun merasakan hubungan antara saudara kakek ini tentu sangat ruwet.

Untuk sesaat Ji-sia menjadi lupa bahwa wak-tu sangat berharga bagi keselamatan jiwanya, kem-bali ia bertanya.

"Locianpwe, apakah Jitemu Oh Kay-gak hendak dibunuh oleh Samtemu Oh Kay-thian? Masakah ilmu silatnya bukan tandingan Sam-temu? Oh Ku-gwat menghela napas panjang, katanya.

"Sejak kematian ayahku, mungkin tiada seorang pun di dunia ini yang sanggup menandingi kepandaian silatnya, Ai, walaupun perselisihan di antara kami bersaudara hanya masalah pribadi sesungguhnya hal itu menyangkut nasib serta masa depan dunia persilatan pada umumnya, sekarang aku tak akan banyak bicara lagi, akan kuberi petunjuk kepadamu agar bisa menemukan Jiteku Oh Kay-gak, pertama untuk menyelamatkan jiwamu, selanjutnya dapat pu-la memenuhi suatu keinginanku sendiri, mengenai pelbagai rahasia di antara kami bersaudara, bila sedang luang mungkin akan kuceritakan semuanya kepadamu, cuma......"

Terhadap urusan itu, oleh karena menyangkut pula keselamatan jiwa sendiri, maka Ji-sia menaruh perhatian khusus, dengan gelisah cepat ia bertanya.

"Locianpwe, cuma apa? Harap jelaskan!"

Kembali Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat meng-hela napas panjang.

"Ai, semenjak terjadinya peris-tiwa yang mengenaskan itu dan Jite tersekap dalam ruangan tersendiri, wataknya telah banyak berubah ia menjadi gemar sekali membunuh orang, setiap anggota benteng yang mendekati tepi dinding ru-angannya itu segera diisap olehnya dengan tenaga aneh, kemudian menggetarkannya hingga mampus, bila kau ke situ, mungkin akan kau jumpai pula tin-dakannya yang kejam itu, kukuatir jiwamu akan ikut celaka di tangannya."

Mati-hidup manusia ada di tangan Thian, ba-gaimanapun juga Wanpwe-ingin menemuinya!"

"Ah, aku ada akal,"

Seru Oh Ku-gwat tiba-tiba sambil tersenyum.

"biasanya Jiteku itu paling menghormati Ban-pian-sinkun Auyang Seng, mereka ada-lah sahabat sehidup semati, asal kau tunjukkan ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian, mungkin dia tak sampai membunuhmu, tapi bersediakah dia meno-longmu, aku tak berani memastikan."

"Wanpwe merasa berterima kasih sekali atas kesediaan Cianpwe memberi petunjuk jalan hidup padaku, budi kebaikan ini tak akan kulupakan un-tuk selamanya. Mengenai apakah ia bersedia me-nolongku atau tidak adalah urusan lain, bergantung mujur tidaknya nasib Wanpwe, Nah, urusan tak dapat ditunda lagi, harap Cianpwe segera memberi petunjuk di mana letak ruangan yang dihuninya!"

"Berjalanlah kurang lebih seratus tombak ke arah timur, di sana terdapat sebuah halaman ter-pencil sendiri, cuma untuk mencapai tempat itu kau harus melewati tiga pos penjagaan lagi dari Thian-seng-po, dengan lukamu sekarang dapatkah me-nhembus pos-pos penjagaan itu, terutama pada pos terakhir yang dijaga oleh jagoan berilmu tinggi, aku tak herani menjamin, apalagi tenaga dalammu tak dapat disalurkan ke lengan, kukuatir....."

"Kini keselamatan jiwa Wanpwe sudah berada di ujung tanduk, kalau terpaksa akan kukerahkan sekali lagi tenaga dalamku untuk mempertahankan diri."

Kata Ji-sia dengan tekad yang bulat.

"Berbicara tentang jurus seranganmu yang tangguh, jika diimbangi pula dengan tenaga dalam yang sempurna, sudah barang tentu jarang ada yang mempu menahan seranganmu, cuma andaikata nadi-mu sampai pecah di tengah jalan..."

"Ya, masalahnya sudah berlarut begini, apa boleh buat? Terpaksa kita pasrah kepada takdir."

Kata Ji-sia sambil menghela napas. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat ikut menghela napas pula, katanya.

"Baiklah, kau boleh pergi, se-kalipun aku harus mengkhianati Samte, akan kubantu dirimu secara diam-diam."

Betapa terharunya Ji-sia oleh kebaikan orang, mula-mula dia mengira setiap manusia yang berada dalam Thian-seng-po hanya orang-orag yang ke-maruk nama dan kedudukan, munafik dan berhati kejam, siapa tahu orang baik tetap dijumpainya juga.

Mendadak pemuda itu teringat pada perkataan orang yang memintanya menolong Oh Kay-gak, bu-ru-buru tanyanya.

"Locianpwe, tadi kausuruh Wan-pwe menolong Thian-seng-pocu Oh Kay-gak, to-long tanya bagaimana caranya memberi pertolong-an? Harap Locianpwe sudi memberi petunjuk"

Thian-kang-kiam Oh Kay-gwat menghela napas sedih.

"Sudah delapan belas tahun lamanya Jite di-sekap dalam ruangan itu, ia pernah berkata barang siapa sanggup menerima tiga jurus serangannya, ma-ka ia akan segera membunuh adiknya Oh Kay-thian, ai....."

"Tapi peristiwa masa lalu mungkin sudah mem-buatnya putus asa, sekalipun kau sanggup menerima tiga jurus serangannya, belum tentu ia mau keluar lagi, sebab batas hidupnya juga tinggal beberapa hari saja. Sekarang pergilah! Dengan demikian sa-ma artinya telah memenuhi harapanku, selain itu bila selanjutnya kau bertemu dengan Samteku Oh Kay-thian, lebih baik berhati-hatilah terhadap se-gala macam siasat busuknya yang licik dan keji!"

Satelah beristirahat sebentar, pergolakan darah dalam dada Bok Ji-sia pun sudah lebih tenang, buru-buru ia memberi hormat sambil berkata.

"Te-rima kasih atas petunjuk Locianpwe! Bila di kemu-dian hari Wanpwe masih bisa muncul kembali da-lam keadaan selamat serta berhasil membalas sakit hatiku, tak akan kulupakan budi kebaikan Locian-pwe ini."

Sehabis berkata, dengan suatu gerakan cepat berangkatlah pemuda itu menuju ke arah timur.....

Tak lama setelah Ji-sia berngkat, sesosok ba-yangan manusia yang kurus dengan kecepatan yang luar biasa menyusulnya ke arah timur.

Dengan kecepatan lari Bok Ji-sia, dalam se-kejap ia sudah menempuh perjalanan sejauh tujuh-delapan puluh tombak, di bawah sinar bulan ter-lihatlah sebuah jalan kecil yang sempit dengan pe-pohonan bambu tumbuh di sekelilingnya membentang jauh ke depan, anak muda itu mempercepat langkahnya dan sekejap kemudian telah tiba di ujung jalan.

Diam-diam Ji-sia merasa heran sebab sepanjang jalan tiada penghadangan apapun, ia tidak tahu ke-dua pos penjagaan yang ada di sana sesungguhnya telah dilenyapkan orang lain secara diam-diam.

Dengan sinar mata tajam Ji-sia menatap ke depan, ia lihat sebuah bangunan yang berdiri ter-sendiri mentereng di depan sana, di luar bangunan tumbuh beberapa batang pohon Pek-yang dan Siong, sedang halaman dalam kosong melompong, hanya terdapat sebuah ruang besar yang terbuat dari bata.

Melihat itu, Ji-sia gembira sekali, dengan dua kali lompatan ia sudah menyusup tujuh-delapan tombak ke depan.

Tiba-tiba seseorang membentak.

"Siapa yang tidak takut mampus berani memasuki daerah ter-larang..?"

Ji-sia berpaling ke arah suara itu, tampaklah sesosok bayangan yang kurus jangkung melayang keluar dari sebelah kiri dan menerjang ke arah bangunan rumah itu....

Bersamaan itu pula dari atas pohon Pek-yang yang tinggi melayang turun sesosok bayangan kecil dan pendek bagaikan burung elang, bayangan ter-sebut langsung menerjang ke arah bayangan kurus itu.

"Heran, rasanya aku kenal benar pada baya-ngan tubuh orang itu....."

Pikir Ji-sia dengan pe-rasaan tergetar. Ia semakin tak berani ayal, dengan suatu ge-rakan cepat pemuda itu menerjang pula ke arah dinding pekarangan.....

"Berhenti!"

Suatu bentakan nyaring kembali menggelegar.

Mula-mula suara itu berasal dari beberapa tombak jauhnya, tapi ketika ucapan itu berakhir, Ji-sia merasa orang sudah berada beberapa kaki di belakang tubuhnya.

Cukup ditinjau dari gerak tubuhnya yang lin-cah dan gesit dapat diketahui kungfu orang ini pasti sangat lihai.

Ketika itu Ji-sia masih berada lima kaki jauh-nya dari dinding pekarangan, ia tahu sekalipun ber-usaha untuk malompat ke dalam pekarangan juga tak akan berhasil, malah kemungkinan besar jiwa-nya akan terancam bahaya.

Ji-sia lantas mendengus, ruyung emas Jian-kim-si-him-pian bergerak, dengan membawa desing angin tajam, dengan jurus serangan aneh ia sambat batok kepala orang itu, kendatipun dalam serangan ini tidak disertai tenaga dalam, tapi jurus serangannya tangguh dan cepat.....

Tapi kungfu orang itupun cukup lihai, kede-ngaran ia membentak.

"Lepas tangan!"

Segulung tenaga pukulan yang sangat kuat se-gera menggulung datang, Ji-sia merasakan perge-langan tangan kanannya yang menggenggam ruyung terasa sakit dan kesemutan, hampir saja ruyung Jian-kiam-si-hun-pian terlepas dari genggaman.

Ternyata pendatang ini adalah seorang kakek yang tinggi besar, dengan kecepatan luar biasa ia menerjang ke samping kiri Ji-sia, lalu menga-yunkan telapak tangan kirinya, segulung angin pu-kulan yang kuat menutup jalan mundurnya, semen-tara kelima jari tangan kanannya mencengkeram iga anak muda itu.

Kungfu kakek itu sangat lihai, jurus serangan-nya aneh, keji dan hebat lagi.....

Karena jalan mundurnya terhalangi Ji-sia menger-tak gigi dan memutar ruyung emasnya dengan suatu gerakan aneh, kemudian mengunci pergelangan ta-ngan kanan kakek tersebut.

Sekalipun ia tidak dapat menyertakan tenaga dalam pada serangannya itu, tapi senjata itu adalah senjata yang luar biasa, ketajaman kaitannya tidak kalah daripada ketajaman pedang mestika.

Sebagai seorang jago berpengalaman, tentu saja kakek itu cukup tahu akan kelihaian ruyung terse-but, ejeknya.

"Hmmm, tampaknya punya kepandaian juga!"

Tiba-tiba serangan tangan kanan ditarik kem-bali, tubuh beputar secepat angin, lalu kedua tela-pak tangannya diayun berbareng ke depan, dua gu-lung angin pukulan yang maha dahsyat segera me-nekan tubuh Bok Ji-sia.

Mencorong sinar mata Ji-sia, ia tahu bila ha-wa murninya tidak dikerahkan lagi secara paksa, niscaya dia tak akan mampu menahan serangan ma-ut itu.

Untunglah pada saat yang amat kritis itu, kedengaran pekik aneh bergema di udara, sesosok ba-yangan kurus,dengan kecepatan luar biasa menerjang tiba.

"Blang!"

Benturan keras menggelegar di udara, baik si kakek tinggi besar maupun bayangan yang kurus itu sama-sama mendengus tertahan dan mun-dur dua langkah.

Begitu mengetahui siapa yang datang memban-tunya, Ji-sia berteriak kejut bercampur girang.

"Siu-heng, kakak kurus), rupanya kau!"

Orang jangkung itu memang tak lain adalah Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak.

"Cing-hok!"

Serunya sambil tersenyum.

"Ah, sepantasnya kupanggil dirimu sebagai adik Bok, kau harus segera masuk ruangan itu, biar aku yang menahan kakek ini."

Tampaknya kakek tinggi kekar itu terluka da-lam oleh pukulan Ku Thian-gak tadi, ia sedang mengatur pernapasan untuk menahan pergolakan darahnya.

Ji-sia terharu sekali atas kebaikan orang, de-ngan air mata bercucuran ia berbisik dengan agak gemetar.

"Saudara kurus, siapakah namamu? Jika aku mati di dalam.....

"Soal nama kita bicarakan lain kali saja,"

Kata Ku Thian-gak.

"Cepat masuk! Jangan tunda-tunda lagi..... Ji-sia tak berani berayal, dengan cepat ia pu-tar badan dan siap melompat manik ke dalam ru-mah...........

"Keparat! Jangan maju selangkah lagi!"

Suara bentakan gusar tiba-tiba menggema dari samping.

Secepat kilat sesosok bayangan orang mener-jang tiba, ia bukan lain adalah si kakek pendek yang berhasil dipancing pergi oleh Ku Thian-gak dengan siasat memancing hari mau turun gunung ta-di.

Ji-sia mengernyitkan alis, ia barpekik nyaring, cahaya emas memancar dari Jian-kim-si-hun-pian yang diputarnya, pekikan aneh yang membetot suk-ma kembali berkumandang di udara , , , .

Ruyung tersebut memancarkan beribu jalur si-nar emas menyambar seluruh jalan darah penting di tubuh lawan.

Bagaimanapun lihaynya kungfu orang itu, di bawah serangan nekat Bok Ji-sia yang mengguna-kan jurus mematikan, sulit juga baginya untuk me-loloskan diri dan maut.

Jeritan ngeri segera berkumandang..Di tengah jerit melengking inilah jiwa si kakek pendek itu telah melayang, sementara tubuh kasar-nya terbabat kutung menjadi dua bagian oleh ru-yung emas Jian-kin-st-hun-pian, darah segera berhamburan.

Sebaliknya Ji-sia sendiri pun mencelat sejauh dua tombak lebih oleh tenaga pukulan si kakek dengan demikian jaraknya d&ri dinding pekarangan tinggal dua tiga tombak saja.

Ji-sia meronta sedikit, lalu mendengus kesakit-an, kemudian tergeletak di tanah.

Sekujur badannya terasa mengejang dan sangat menderita, matanya berubah menjadi merah mem-bara mengawasi dinding pekarangan di hadapannya itu tanpa berkedip, darah kental menodai ujung bibirnya, rambut terurai kacau, keadaannya menge-rikan sekali ,....

Dalam pada itu si kakek tinggi besar sudah terlibat dalam pertarungan sengit melawan Siau-yau-sian-hong-khek.

Keadaan Ji-sia kian lama kian bertambah pa-yah, kini darah pada setiap bagian tubuhnya ber-golak hebat, tulang belulangnya seperti retak dan lepas, bergerak sedikit saja rasa sakitnya setengah mati.

Pemuda yang keras kepala dan besar tekadnya ini menggigit bibir kencang-kencang, sekuat tenaga ia ia merangkak bangun, kakinya menjejak tanah dan tubuhnya melejit ke depan..,..

Tapi kembali ia menjerit kesakitan dan terka-par di atas tanah.

Ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian digenggam kencang-kencang, matanya mengawasi dinding pe-karangan di hadapannya, wajahnya mengejang ke-ras menunjukkan rasa sakit hebat, ia bermaksud merangkak ke depan, sayang tenaganya tidak sam-pai lagi.

Ia meraung berulang kali, satu inci demi satu inci tubuhnya merangkak ke depan mendekati din-ding pekarangan.....

Akhirnya ia berhasil juga mencapai kaki din-ding tersebut.

Akan tetapi keadaannya semakin payah, mata-nya berkunang-kunang, isi perut bergolak hebat, keempat anggota badannya terasa dingin kaku dan gemetar, sekujur badan lemas tak bertenaga Sementara itu Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak sedang melancarkan pukulan yang me-maksa kakek tinggi besar itu mundur ke belakang.

Begitu berhasil mendesak mundur musuhnya, ia bergerak ke depan dan menyambar tubuh Ji-sia dengan tangan kanannya, lalu melompat ke atas dinding pekarangan.

Kakak tinggi besar itu membentak, dua gulung angin pukulan yang sangat kuat didorong ke depan menggulung tubuh Bok Ji-sia.

Ku Thian-gak bertindak cepat, iapun melan-carkan pukulan dahsyat menyongsong datangnya ancaman lawan.

Pada saat itulah dari dalam halaman berku-mandang suara tertawa panjang yang aneh sekali, suara tertawa yang serupa isak tangis seorang jan-da yang ditinggal mati suaminya, seperti juga hembusan angin dingin dari neraka.

Demikian menyeramkannya gelak tertawa itu, membuat siapa pun yang mendengarnya sama ber-diri bulu kuduknya.

Dalam keadaan setengah sadar Ji-sia merasa di balik gelak tertawa yang penuh nada sedih itu membuat orang sukar untuk membedakan apakah ia sedang menangis ataukah sedang tertawa...

Di tengah gelak tertawa itu, terdengarlah sese-orang menegur dengan suara yang sama sekali ti-dak ada gairah orang hidup.

"Anak muda, rupa nya kau hanya datang untuk mengantar kematianmu!"

Mendadak muncul segulung tenaga isapan yang amat kuat membetot tubuhnya hingga ia melayang ke udara dan meluncur ke dalam bangunan rumah itu.

"Dia adalah murid Ban-pian-sinkun Auyang Seng......"

Cepat Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak berteriak.

Di tengah teriakannya Ku Thian-gak melolos-kan diri, cepat ia meluncur ke arah bangunan rumah yang berlapis-lapis itu.

Pada saat itulah dari dalam ruang terpencil itu kedengaran seorang berteriak kesakitan, lalu tertam-pak tubuh Bok Ji-sia terpental keluar dari ruang-an dan tergeletak di tengah halaman.

Kakek tinggi besar tadi mendongakkan kepala dan berpekik nyaring, tubuhnya yang tinggi besar secepat angin segera menyusul di belakang Ku Thian-gak, dalam waktu singkat bayangan mereka telah lenyap dari pandangan.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Ji-sia merasa dingin, ketika ia membuka metanya, hari sudah terang tanah, sekujur badannya basah kuyup oleh embun.

Ia menghembus napas panjang dan bangun ber-duduk, memandang awan putih di angkasa, pemuda itu termangu-mangu, ia merasa pikirannya kosong seakan-akan baru saja bermimpi.

Hanya saja ada satu perasaan aneh mencekam hatinya, ia merasa sekujur badan tidak terasa ada-nya pergolakan darah lagi, tapi tubuh terasa lemas tak bertenaga, persis seperti seseorang yang sama sekali tak berkepandain silat.

Pelahan Ji-sia teringat kembali akan kejadian semalam, bagaimana Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat memberi petunjuk padanya, bagaimana ia men-datangi bangunan tersendiri itu untuk mencari Thian-seng-pocu Oh Kay-gak.....

Mendadak sinar matanya menyapu pandang se-keliling tempat itu, hatinya terperanjat, apalagi setelah melihat tempat di mana ia berbaring seka-rang, kontan saja pemuda itu menjerit kaget.....

Cepat ia melompat ke atas, tapi hanya men-capai ketinggian dua kaki, tidak seperti kemarin yang sekali lompat bisa mencapai ketinggian tiga-empat tombak, rupanya ilmu meringankan tubuhnya telah punah sama sekali.

Tapi Ji-sia belum merasakan ilmu meringankan tubuhnya telah punah, ia dibikin terkejut oleh teng-korak manusia yang berserakan di sekeliling tempat itu.

Ternyata di tengah halaman yang terpencil itu penuh berserakan tulang tengkorak manusia, jum-lahnya mencapai ratusan sampai tempat di mana Ji-sia berpijak pun banyak kepingan tulang yang hancur.

Angin dingin berhembus membawa bau amis tulang manusia, begitu busuk baunya membuat orang mau tumpah rasanya.

Tapi justeru pemandangan dan bau semacam itu menambah keseraman dan kemisteriusan tempat itu.....

Ji-sia menghela napas sedih, gumamnya.

"Ke-mungkinan besar tulang tengkorak ini adalah orang yang dibunuh oleh Oh Kay-gak selama delapan ta-hun belakangan ini......"

Matahari telah melewati dinding pekarangan, sinarnya yang keemasan memancar di atas noda da-rah yang mengotori baju, dadanya, ketika meraba noda darah di depan dada, ia baru merasa bahwa pergolakan darah dalam dadanya juga sudah tenang.

Tiba-tiba didengarnya suara helaan napas yang berat.

Jisia, berpaling ke arah suara itu, Dilihatnya dinding ruang besar di hadapannya itu terbuat dari batu hijau, tapi karena bertahun tak pernah dibersihkan, maka tampak kotor dan menge-naskan.

Di bagian tengah terdapat sebuah celah tak berpintu yang bisa di pakai untuk melihat keadaan dalam ruangan, sekalipun sinar matahari sedang memancar terang, tapi suasana dalam ruangan itu terasa suram kelabu, sulit untuk melihat keadaan yang sesungguhnya.

Helaan napas berat tadi berkumandang dari dalam ruangan tersebut.

Ji-sia tahu penghuni ruangan itu adalah Thian-seng-pocu, si pedang bintang dan rembulan Oh Kay-gak.

Meskipun maksud kedatangannya adalah un-tuk mohon pengobatan Oh Kay-gak, akan tetapi setelah menyaksikan tulang tengkorak manusia yang berserakan ini, timbul perasaan ngeri dalam hati-nya, untuk sesaat ia menjadi takut untuk masuk ke dalam sana.

Ia pikir sudah delapan belas tahun Oh Kay-gak disekap di situ, wataknya telah berubah menjadi dingin, aneh dan suka membunuh, kalau ia masuk secara gegabah, bukankah iapun akan mati terbu-nuh olehnya?

Ji-sia berdiri termangu-mangu, dengan bimbang ia berdiri di antara hancuran tulang yang ber-serakan di tanah, ia merasa ragu untuk melangkah masuk ke dalam ruangan itu, ketika angin berhembus lewat, debu bertaburan mengotori sekujur ba-dannya.

Kiranya ia telah mengambil keputusan untuk mempertaruhkan jiwanya dan masuk ke dalam ru-angan, sebab kalau tidak, ia toh akan mati juga.

Ji-sia membersihkan wajahnya dari kotoran de-bu, lalu perhatikan sebentar keadaan dalam ruang-an, ia lihat banyak sawang dimana-mana, jelas su-dah lama tak pernah dibersihkan orang hingga suasananya sangat menyeramkan.

Ruangan gelap itu panjangnya mencapai sepu-luh tombak, tapi kosong melompong, tiada suatu benda apa pun.

Mendadak mencorong dua larik sinar yang ta-jam, tapi hanya sekejap lantas lenyap.....

Ji-sia berpaling, tahu-tahu di sampingnya tampak seorang kakek aneh berambut panjang duduk ber-sila di lantai, di antara rambutnya yang putih la-mat-lamat kelihatan ujung bajunya yang berwarna kelabu.

Orang itu bukan lain adalah Thian-seng-pocu, si pedang bintang dan rembulan Oh Kay-gak yang sudah tersekap selama delapan belas tahun di situ.

"Ai, kasihan betul kakek ini,"

Pikir Ji-sia da-lam hati.

"sudah delapan belas tahun ia disekap di tempat semacam ini, keadaannya sungguh mengenaskan..... Dengan perasaan terharu ia menghela napas, lalu pelahan berjalan maju ke depan.... Tiba-tiba kakek aneh itu, Oh Kay-gak, mem-buka matanya, dua sinar mata yang tajam meman-car keluar dari balik rambut putihnya yang hampir menutupi seluruh wajahnya, di balik sorot mata itu seakan-akan mengandung suatu pengaruh atau wi-bawa yang besar sekali, membuat siapapun yang melihatnya merasa bergidik. Sinar mata yang tajam bagaikan sembilu itu menatap wajah Bok Ji-sia terus menerus, hal ini membuat pemuda itu merasa jantungnya berdetak lebih cepat, tanpa sadar ia mundur lagi ke belakang. Tapi segera kakek itu memejamkan lagi mata-nya.

"Kau tidak takut mati?"

Tegurnya kemudian dengan suara yang seram. Tergerak hati Ji-sia, cepat anak muda itu men-jawab.

"Manusia hidup di dunia, sekalipun menca-pai usia seratus toh akhirnya akan mati juga, cepat atau lambat tetap akan mati, apa yang perlu kuta-kuti? "Hmmm, kalau benar tidak takut mampus, mau apa kau mencariku?"

Tanya Oh Kay-gak sambil men-dengus.

"masih muda sudah suka......"

Diam-diam Li-sia merasa girang, pikirnya.

"Ditinjau dari nada perkataannya, bukankah jelas menunjukkan ia sudah mengetahui maksud keda-tanganku? Dari mana ia tahu? Dan lagi rupanya su-dah siap menyanggupi permintaanku....."

Berpikir demikian, ia lantas menghela napas sedih, sahutnya.

"Wanpwe tidak nanti berbohong, sesungguhnya aku tidak takut mati, tapi dengan dendam di atas pundak, mau-tak-mau-aku tak bo-leh mati pada saat ini....;"

"Kau adalah anggota benteng Thian-seng-po?"

Kembali Oh Kay-gak bertanya sambil memejamkan matanya.

"Bukan!"

"Kalau begitu,, kenapa kau berani memasuki Thian-seng-po? Siapa yaug memberi petunjuk kepa-damu untuk datang kemari?"

Perkataan Oh Kay-gak masih dingin dan kaku, sedikitpun tidak ada keramahan seorang tua.

Ji-sia tahu bahwa watak asli si kakek tak mungkin begitu dingin dan tak kenal perasaan, su-dah pasti disebabkan pukulan batin yang amat ke-ras sehingga mengakibatkan kakek yang gagah per-kasa pada waktu lampau ini berubah menjadi se-orang manusia berwatak aneh.

Si pedang buntung dan rembulan Oh Kay-gak memang mempunyai banyak masalah yang menim-bulkan rasa dendamnya, kalau tidak, dengan kepan-daian silatnya yang hebat dan jarang ada tanding-annya, tak nanti ia rela disekap selama delapan belas tahun dalam ruangan ini.

Delapan belas tahun adalah perjalanan yang cukup panjang dalam kehidupan manusia, yang lebih penting lagi, ia telah melewatkan masa hidup-nya yang panjang dalam suasana kesepian, menyen-diri dan menderita.

Luapan rasa haru menimbulkan rasa sedih Ji-sia, bila terbayang pengalamannya sendiri pada ma-sa lampau, titik air mata segera bercucuran mem-basahi pipinya.....

Tak tahan anak muda itu menjatuhkan diri berlutut di depan Oh Kay-gak, pintanya.

"Oh-!o-cianpwe, Wanpwe kemari atas petunjuk Oh Ku-gwat Locianpwe, Wanpwe mengidap suatu penya-kit, harap engkau orang tua suka menolongku....."

Rambut panjang Oh Kay-gak yang putih tam-pak bergetar keras, kemudian gumamnya.

"Ku-gwat Toako, O, Ku gwat Toako, masih ingatkah ia pada-ku? Masih ada perasaan persaudaraankah dia de-nganku? Ai..sungguh menggemaskan adik Kay-thian. Bergetar perasaan Ji-sia mendengar ucapan itu, segera serunya.

"Locianpwe, kakakmu Oh Ku-gwat Locianpwe sangat rindu padamu, dia orang tua ma-lah pesan kepadaku agar menolongmu keluar dari sini............... Tentu saja Ji-sia tidak mengetahui bagaimanakah hubungan budi dan dendam di antara mereka bersaudara, dia hanya merasa kakek itu terlalu me-ngenaskan, menyendiri dan perlu dihibur oleh sanak keluarga. Mendengar ucapan tersebut, kedua mata Oh Kay-gak di balik rambutnya yang putih memancar-kan sinar tajam yang menggidikkan hati, lamat-lamat membawa hawa membunuh yang mengerikan, di-tatapnya wajah anak muda itu tanpa berkedip. Terkesiap Ji-sia, pikirnya.

"Jangan jangan dia hendak membunuhku"

Sambil menghela napas sedih segera ia berkata "Oh-locianpwe, jika kau hendak membunuhku, Wanpwe tak akan takut atau merengek minta diampuni, aku hanya menyesal karena sakit hatiku tak terlam-piaskan, mati pun aku penasaran."

Hawa membunuh yang menyelimuti wajah Oh Kay-gak agak luntur sedikit, ucapnya kemudian.

"Setiap manusia dunia persilatan itu licik, keji dan penuh dengan akal busuk.

"kau......ai ,.."

Kembali ia menghela napas sedih dan tidak melanjutkan kata-katanya. Terkesiap perasaan Ji-sia, pikirnya.

"Kenapa ia bicara hal yang tak ada sangkut pautnya denganku? Ah, benar! Bukankah hawa membunuhnya muncul setelah mendengar kakaknya Oh Ku-gwat rindu ke-padanya? Jangan-jangan kakaknya seorang munafik? Tapi kakek itu jelas lemah lembut dan penuh pera-saan welas asih.., ."

Dengan air mata bercucuran Ji-sia memohon dengan sangat.

"Locianpwe, kumohon padamu su-dilah selamatkan jiwaku....."

Oh Kay-gak tertawa hambar.

"Untung tidak kubunuhmu setelah kau mengganggu ketenanganku, sekarang kau malah minta pertolonganku, kau ang-gap di dunia ini ada hal seenak ini?"

"Asal Locianpwe bersedia menolongku agar aku mendapat kesempatan untuk menuntut balas, Wanpwe bersedia menggunakan sisa hidupku uutuk be-kerja bagi Locianpwe sebagai tanda terima kasihku atas budi kebaikanmu!"

Tiba-tiba Oh Kay-gak menghela napas sedih.

"Sungguhkah perkataanmu ini?"

"Jika aku bohong, biar Thian mengutuk diriku!"

Tiba tiba Oh Kay-gak mendongakkan kepala-nya dan tertawa seram......entah tertawa girang ataukah sedih.....

Di tengah gelak tertawa tersebut tampak titik-titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya yang berada di balik rambut putih.

Sejenak kemudian ia baru berhenti tertawa, gumamnya dengan suara sedih.

"Akhirnya pen-deritaanku selama delapan belas tahun mendatang-kan pula hasil yang berharga....."

Melihat kelakuan Oh Kay-gak, Ji-sia merasa-kan jago yang berilmu tinggi ini tentu mempunyai banyak kemurungan dan kesedihan.

Tiba-tiba Oh Kay-gak tertawa dingin, katanya "Tahukah kau bahwa penyakit yang kau derita telah kusembuhkan sama sekali?"

"Apa?"

Dengan terkejut Ji-sia berseru.

"Hm, hawa beku dalam urat nadimu telah bu-yar sama sekali, kau tak akan mati karena pecahnya nadi dalam tubuhmu,""

Kata Oh Kay-gak.

"tat-kala kau ku isap masuk dengan tenaga dalamku ta-di, darah yang meleleh dari mulutmu menandakan urat nadimu hampir pecah, bila tidak mendapat pengobatan yang cepat, akibatnya kau akan mun-tah darah dan tewas. Maka kugunakan semacam tenaga dalam Sian-thian-kang-khi untuk menggetar urat nadi di tubuhmu serta delapan jalan darah penting lainnya sehingga tenaga dalammu sama se-kali punah..,...."

Kejut dan gembira Ji-sia atas keterangan ini, air mata jatuh bercucuran, dengan suara gemetar ia berbisik.

"Terima kasih Locianpwe atas budi pertolonganmu.

"Sekarang tenaga dalammu sudah punah sama sekali, keadaanmu tak jauh berbeda dengan manu-sia biasa, apanya yang kau girangkan?"

"Asal tidak mati, soal tenaga dalam kau bisa Wanpwe latih lagi mulai awal?!"

Oh Kay-gak geleng kepala sambil tertawa di-ngin.

"Kau telah mempelajari, semua jurus Jiat-im-siang-gi ptt-keng, kecuali tidak kau latih lagi jurus-jurus aneh tersebut, kalau tidak, hawa murnimu masih akan menggumpal dalam urat nadimu dan akan mengakibatkan kematian pula padamu,"

Ji-sia terkesiap, pikirnya.

"Sudah bertahun aku berusaha mendapatkan kitab pusaka itu, kukira se-telah berlatih jurus serangan yang ampuh itu, maka cita-citaku akan terpenuhi, tak terduga sampai akhirnya sia-sia belaka, jika aku mesti berlatih ilmu silat lain dan mencari guru baru lagi, sampai kapan kungfuku baru akan mencapai tingkatan yang tinggi? Sampai tapan pula sakit hatiku bisa terbalas...."

Berpikir sampai di sini, rasa kecewa, putus asa, sedih berkecamuk dalam benaknya, pikirnya.

"Dia adalah jago kosen nomor satu yang pernah kujum-pai selama ini, kungfunya lihai sekali dan tenaga dalam juga amat sempurna, mungkin jarang ada orang yang bisa mencapai tingkatan seperti dia, ke-napa aku tidak mohon saja kepadanya agar mewa-riskan ilmu silatnya kepadaku Pandangan Ji-sia memang tajam sekali, keber-hasilan Oh Kay-gak dewasa ini mungkin sukar un-tuk dicarikan bandingannya, asal Bok Ji-sia bisa mendapatkan warisan ilmu silatnya, sekalipun belum dapat merajai dunia, sedikitnya hanya beberapa orang saja yang dapat menandingi kelihaiannya. Perlu diterangkan di sini sebabnya Oh Kay-gak mendapat julukan Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam (jago pedang langit, bumi, bintang dan rembulan), sedangkan kakaknya Oh Ku-gwat bergelar Thian-kang-kiam (pedang langit) dan adiknya Oh Kay-thian berjuluk Seng-gwat-kiam (pedang bintang bu-lan), hal ini memang mengandung makna dan alasan yang amat mendalam. Oh Kay-gak adalah seorang vang berbakat dan memiliki kecerdasan yang luar biasa, ayah mereka memiliki se

Jilid kitab pusaka Ban-kiam-sin-keng (kitab sakti selaksa pedang), yang isinya mencakup tiga macam ilmu pedang yang luar biasa hebatnya, yakni ilmu pedang Thian-kang kiam, Te-sat-kiam dan Seng-gwat-kiam.

Tiga macam ilmu pedang itu sangat dalam se-kali pelajarannya, andaikata bukan seorang yang berbakat bagus, bagaimanapun jangan harap akan memahami salah satu di antara rangkaian tiga ma-cam ilmu pedang tersebut, malahan sekalipun se-orang yang cerdas, dia perlu waktu selama tiga pu-luh tahun untuk bisa menguasai satu macam saja dari ilmu pedang itu, jadi mustahil satu orang bisa mempelajari tiga macam ilmu pedang sekaligus.

Ketika ayah mereka mewariskan kitab ilmu pedang itu kepada ketiga anaknya, secara terpisah ia membagikan tiga macam kitab yang berbeda ke-pada mereka agar ketiga bersaudara itu mempelajarinya sendiri.

Kakaknya, Oh Ku-gwat dan adiknya, Oh Kay-thian, yang mempelajari ilmu pedang Thian-keng-kiam dan Seng-gwat-kiam belum lagi berhasil me-mahami beberapa jurus ilmu pedang masing-ma-sing, ternyata Oh Kay-gak sudah berhasil menguasai ilmu pedang Te-sat kiam-hoatnya.

Betapa kejut dan heran ayah mereka setelah mengetahui kejadian ini, maka kedua

Jilid kitab il-mu pedang lainnya segera diberikan pula kepadanya agar dipelajari semua, siapa tahu hanya dalam sa-tu tahun saja ia telah berhasil menguasai semua intisari kepandaian itu, karena ketiga macam ilmu pedang itu telah dipelajarinya, maka iapun men-dapat gelar Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam.

Tidak berhenti sampai di situ saja, selanjutnya Oh Kay-gak telah mempelajari pula banyak kitab pusaka lain milik ayahnya yang terahasia, dengan demikian, sampai di manakah sesungguhnya taraf kepandaian Oh Kay-gak, sulit untuk diterangkan.

Begitulah Ji-sia masih terus berlutut di ha-dapan Oh Kay-gak sambil berkata dengan se-dih.

"Locianpwe, kumohon kepadamu agar sudi menerimaku sebagai muridmu, aku ingin belajar ilmu lagi dari taraf permulaan ,....Ai, musuh besar Wanpwe adalah seorang jago tangguh golongan hitam dewasa ini, bukan cuma kungfunya saja yang hebat, hatinya pun amat keji, komplotannya luas sekali dan banyak tipu muslihatnya, bila tiada ilmu silat yang tinggi, jangan harap dendamku ini bisa terbalas..... Tiba-tiba Oh Kay-gak pejamkan matanya se-perti termenung, haruskah ia menerima permohonan anak muda itu atau tidak? Dengan perasaan cemas Ji-sia mengawasinya, ia gelisah dan kuatir, ia merasakan detik ini meru-pakan kunci penentuan atas kehidupan selanjutnya, mungkin saja ia akan menerima warisan ilmu silat darinya, mungkin juga akan diusir atau bahkan bi-sa juga dibinasakan olehnya. Tiba-tiba Oh Kay-gak menghela napas panjang, lalu berkata.

"Sebenarnya ingin kutinggalkan dunia yang fana ini, tapi lantaran peristiwa yang meng-gemaskan di masa lalu serta beberapa persoalan yang belum sempat kuselesaikan, batiku selalu me-rasa tak tenang, ai...."

Setelah menghela napas sedih dan termenung se-jenak, ia belai kepala Ji-sia dengan penuh kasih sayang, lalu katanya lagi.

"Nak, kutahu kau pasti mempunyai pengalaman yang menyedihkan sekali, sebab itu kau pertaruhkan jiwamu memasuki Thian-seng-po ini dan berusaha mendapatkan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng. Padahal kitab itu tidak berada di tangan siapa pun dalam benteng ini, pula bila kau pelajari isi kitab itu, maka kau akan berubah menjadi orang jahat.

"Kau mengatakan hendak belajar lagi mulai dari taraf permulaan, harus kau ketahui bahwa hi-dup manusia ada batasnya setelah seorang mem-buang banyak tenaga dan pikiran untuk mendalami semacam kepandaian, tapi suatu ketika harus memunahkannya, hal ini yang pantas disayangkan.

"Selain itu, ilmu silat yang tercantum da-lam kitab pusaka Jiat-im-siang-gi-pit-keng semua-nya merupakan jurus jurus yang ampuh dengan artj yang mendalam, jika kau harus belajar dari taraf permulaan lagi, bukan saja membutuhkan waktu yang cukup lama, pula dalam beberapa hari lagi aku akan meninggalkan dunia ini, ilmu silatku juga tidak terhitung nomor wahid di dunia ini, sekalipun berhasil kau pelajari beberapa macam kepandaianku juga belum tentu sakit hatimu bisa terbalas....". Mendengar bahwa kakek itu hendak mati be-berapa hari lagi dengan heran Ji-sia bertanya.

"Locianpwe, kenapa engkau harus mati?"

"Sulit untuk membicarakan soal budi dan dendam ini dengan sepatah dua kata saja, untuk sementara waktu lebih baik jangan kau tanyakan soal ini."

"Dari perkataan Locianpwe tadi seakan-akan suruh kupelajari jurus serangan dalam Jiat-im-siang-gi-pit-keng, akan tetapi......"

Oh Kay-gak menghela napas panjang, katanya.

"Memang begitu maksudku, ilmu silat yang lihay tidak mungkin diperoleh secara untung-untungan, sekalipun ada juga kejadian semacam ini, tapi ha-rapan amat tipis sekali untuk terjadi, selain itu ke-banyakan ilmu silat aliran sesat terlalu keras, se-kalipun berhasil mempelajarinya, di kemudian hari mungkin juga akan mendatangkan bahaya, seperti juga kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng yang kau pelajari serta kitab Beng-yu-cinkeng, semuanya me-rupakan ilmu top dari golongan sesat. Sebaliknya jika kau harus mempelajari ilmu silat aliran baik, maka ilmu itu harus dipelajari dan dilatih secara mendalam, terkadang setengah abad berlatih juga belum tentu berhasil menguasainya......"

Bicara sampai di sini, ia menghela napas pan-jang.

Ji-sia tidak mengerti apa arti uraian orang, dia hanya memandang ke arahnya dengan termangu-mangu.

Tiba-tiba suara Oh Kay-gak berubah menjadi rendah dan berat, rambut putih bergetar dan menggigil, ucapnya.

"Menurut apa yang kuketahui, di antara sekian banyak jago persilatan, ada tujuh orang yang berhasil mencapai sukses dari golong-an sesat, di antara ketujuh orang itu, empat orang adalah pria dan tiga orang wanita. Ai, tapi di antara-nya ada tiga orang yang telah tiada...."

"Apa? Begitu banyak jago lihay yang ada da-lam dunia persilatan?"

Seru Ji-sia terkejut.

"Siapa-kah mereka! Ilmu silat siapa yang terhitung paling tinggi?"

"Ilmu silatku yang paling tinggi!"

Jawab Oh Kay-gak sambil tersenyum.

"Jadi ilmu silat Locianpwe bermula dari go-longan, sesat pula? Tak heran kalau Locianpwe ada-lah jago silat nomor satu di dunia ini?"

Air muka Oh Kay-gak yang tertutup rambut putih tampak merah cerah, katanya lagi dengan nyaring.

"Kepandaianku mencakup ilmu dari golongan lurus dan sesat sekaligus, dugaanmu memang benar, di antara tujuh orang itu, ilmu silatku terhitung yang paling tinggi, hal ini adalah bukti nyata...."

Waktu bicara wajahnya yang merah cerah tam-pak semakin cemerlang, sorot matanya memancar-kan sinar berseri yang penuh gairah, jelas ia sedang, membayangkan keberhasilan dan kegagahannya masa lampau.

Tapi kegagahannya itu kian lama kian berlarut kembali mengikuti lewatnya sang waktu, kemudian ia menghela napas panjang.

"Ai, sekalipun ilmu silatku terhitung paling tinggi di antara ketujuh tokoh itu, tapi akhirnya kalah juga di tangan dua orang."

"Ah, apa? Masa di dunia ini masih terdapat orang lain yang memiliki ilmu silat lebih hebat da-ri padamu?"

"Ilmu silai yang ada di dunia ini sangat luas bagaikan samudra yang sukar diukur dalamnya, sampai di mana pun kepandaian yang kau pelajari belum bisa dianggap nomor satu, atau dengan per-kataan lain, di antara yang tangguh masih ada yang lebih tangguh lagi.

"Sekalipun aku kalah di tangan dua orang yang kumaksudkan tadi, akan tetapi mereka sendiripun agak jeri padaku....."

Ji-sia memang ingin mengetahui persoalan mengenai orang-orang dunia persilatan, maka ia tanya pula.

"Locianpwe, tujuh orang yang kau maksudkan tadi....empat pria dan tiga wanita itu, sebetulnya siapa? Dan siapa-siapa pula di antaranya yang sudah mati...."

Oh Kay-gak. tidak langsung menjawab perta-nyaan itu, sebaliknya berkata dengan suara lantang.

"Sebetulnya kau ini anak murid Ban-pian-sin-kun Auyang Seng bukan? Ataukah secara tidak sengaja kau dapatkan ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian serta kitab pusaka Jiat-im-siang-gi-pit-keng?"

Melengak Bok Ji-sia mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Kenapa ia ajukan pertanyaan ini padaku.....?"

Setelah berpikir sebentar, jawabnya.

"Wanpwe mendapatkannya secara tidak sengaja!"

"Siapa yang telah membantumu masuk ke tempat ini?"

Ji-sia geleng kepala.

"Wanpwe tidak tahu si-apa nama orang itu, tapi kungfunya lihai sekali."

Selama tanya jawab berlangsung, mata Oh Kay-gak yang tajam menatap wajah Bok Ji-sta tanpa berkedip, sebab itulah ia tahu pemuda itu tidak berbohong, maka setelah menghela napas panjang, katanya.

"Ketujuh orang itu disebut sebagai Bu lim-jit-coat (tujuh tokoh top dunia persilatan)..."

"Kalau begitu, Locianpwe adalah Ban-kiam-sinkun...."

Seru Ji-sia terperanjat. Oh Kay-gak mengangguk.

"Dahulu aku memang barnama Ban-kiam-sinkun, terutama selama berkecimpung dalam dunia persilatan. Tapi kegagahanku tempo dulu bagaikan air yang mengalir dan tak pernah kembali lagi, kini yang tertinggal hanya kenangan belaka....Pemimpin Jit-coat tentu saja diriku, orang kedua adalah Ban-pian-sinkun Auyang Seng, kami berdua adalah sahabat sehidup semati, berikutnya adalah istriku, tapi di antara kami ber-tiga ada dua orang di antaranya telah tiada, sedang beberapa hari lagi aku pun akan menyusul mereka....."

"Locianpwe, kenapa Hujin (nyonya) juga me-ninggal dunia?"

Tanya Ji-sia dengan menyesal. Mendengar pertanyaan itu, timbul rasa sesal dalam hati Oh Kay-gak, rambutnya yang berwarna perak gemetar keras, air mata jatuh bercucuran.

"Ia....ia mati di tanganku, aku menyesal se-kali, aku telah salah membunuhnya....Semua ini adalah gara-gara adikku dan kakakku......Ai, se-tiap kali teringat kembali peristiwa itu, hatiku men-jadi sedih, lebih baik jangan dibicarakan lagi, kelak kau tentu akan tahu sendiri."

"Kalau begitu, kematiannya tentu disebabkan oleh satu alasan.., ."

Pikir Ji-sia diam-diam.

Walaupun hanya satu alasannya, mana dia tahu bahwa persoalan budi dan dendam di an-tara ketiga Oh bersaudara itu begitu rumit, berliku-liku dan tidak terlepas juga dari soal "cinta".

"Locianpwe, lantas siapa pula keempat orang yang lain?"

Tanya si anak muda lebih lanjut Oh Kay-gak berusaha mengendalikan pergolak-an emosinya, ia pejamkan mata rapat-rapat, lalu men-jawab.

"Selanjutnya adalah Han-bwe-kokcu, Bwe-hiang-sian-ki, lalu Hian-thian-koancu Kun-tun Cin-jin, Pek-si-kui-po (nenek setan berambut putih) Jik Say-kiau, dan akhirnya seorang aneh yang misterius, Si-hun-koay-sat-jiu (tangan aneh pembetot sukma).

"Kungfu beberapa orang gembong iblis itu rata-rata sangat hebat, hati kejam dan membunuh orang tanpa berkedip, mereka berdiri di antara baik dan jahat dengan watak yang aneh, lain waktu bila kau berjumpa dengan mereka, sebaiknya menyingkirlah jauh-jauh,...."

Mendengar itu, Ji-sia jadi teringat pada per-temuannya semalam dengan Bwe-hoa-sian-kiam. Tong Yong-ling, ia lantas berkata.

"Locianpwe, se-malam Wanpwe dengar Bwe-hiang-sian-ki telah mengutus murid perempuannya Bwe-hoa-sian-kiam datang ke Thian-seng-po untuk menyampaikan amanat gurunya, cuma tak tahu pesan itu untuk adikmu Oh Kay-thian ataukah untuk engkau sendiri."

Air muka Oh Kay-gak seketika berubah hebat, tapi hanya sekejap lantas tenang kembali, ia meng-hela napas panjang, katanya.

"Bila kau berjumpa dengan muridnya, lebih baik mengalah saja, kata-kan diriku sudah meninggal dunia, budi dan den-dam di masa silam pun ikut hapus. Aii.., jika ia per-gi mencari Samte, mungkin dia akan terjebak tipu muslihat kejinya."

Bok Ji-sia merasakan Oh Kay gak mempunyai rahasia yang tidak dipahami orang, tapi lantaran ia tidak mau bicara, maka iapun tidak tahu, terpaksa rahasia itu akan dibongkarkan pelahan.

"Locianpwe,"

Kembali Ji-sia bertanya.

"kau-bilang di dunia dewasa ini ada dua orang yang memiliki ilmu silat setaraf denganmu, siapakah ke-dua orang itu?"

Sekilas senyuman pedih menghias wajah Oh Kay-gak, ia menghela napas dan berkata.

"Mereka adalahi seorang laki-laki dan saorang perempuan, yang laki-laki adalah saingan cintaku, tapi juga tuan penolongku, dia berhati busuk, dan kejam, dengan pelbagai akal ia berusaha membunuhku. Sedangkan yang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kayangan, tapi orangnya ketus dan angkuh, sekalipun jatuh cinta kepadaku, tapi belum pernah menguta-rakannya perasaanya padaku, akhirnya ia menjadi sangat benci padaku, saking bencinya kalau bisa ingin menghancur lumatkan tubuhku....Di antara kedua orang ini, ilmu silat yang perempuan lebih hebat, tapi jalan pikirannya juga aneh dan ekstrim, kalau dibilang Bu-lim-jit-coat adalah tokoh golongan sesat, maka bila dibandingkan dengan dia ibaratnya anak kecil ketemu raksasa. Ai, sebabnya aku hidup menyendiri selama delapan belas tahun di sini, bo-leh dibilang semua ini adalah hasil karya kedua orang itu.....Tapi, aku hanya membenci pada diri sendiri, kenapa menyesali orang lain.........?"

Bicara sampai di sini, tiba-tiba ia berhenti dan memandang atap rumah dengan air muka yang ber-ubah-ubah, agaknya ia rada bimbang, perlukah mengungkapkan rahasia hatinya atau tidak.

Tapi akhirnya ia berhasil mengendalikan per-golakan perasaannya, air muka berubah-ubah pun menjadi tenang kembali, katanya setelah menghela napas panjang.

"Tak dapat kuberitahukan nama kedua orang ini kepadamu, harap kau maklum akan kesulitan ini."

"Ucapan Locianpwe terlalu serius, Wanpwe hanya ingin tahu nama para tokoh angkatan tua saja, padahal bagiku sama sekali tak ada manfaatnya, tidak tahu pun tidak menjadi soal."

Tiba-tiba Oh Kay-gak tersenyum, katanya "Nak, kau pasti menduga diriku ini penuh dengan teka-teki bukan?

Benar, tapi teka-teki ini adalah dosa perbuatanku yang tak dapat kuceritakan.

Sekarang hendak kuberi beberapa urusan agar kau lakukan, selain itu akan kulakukan pula Gi-kin-huan-meh (menggeser otot berganti nadi) untukmu agar kau-dapat mempergunakan jurus-jurus silat Jiat-im-siang-gi-pit-keng itu, mungkin di dunia ini hanya aku se-orang yang memiliki kepandaian ini.

Mendengar janji tersebut, Ji-sia merasa ragu dan gembira.

Ia ragu apakah Oh Kay-gak betul-betul me-miliki kemampuan tersebut?

Sebab tokoh macam Ban-pian-sin-kun Auyang Seng yang memiliki tenaga dalam serta kecerdasan yang begitu lihay pun tewas akibat urat nadinya pecah karena berlatih ilmu da-lam kitab Ji-im-siang-gi-pit-keng, mungkinkah orang dapat mengubah nasibnya sehingga ilmu silat yang dilatih dengan susah payah itu dapat digunakau se-bagaimana mestinya?

Ia pun girang karena selanjutnya dapat berkelana dalam dunia persilatan dan membalas den-dam.

Tampaknya Oh Kay-gak dapat menebak suara hati Bok Jisia, sesudah menghela napas, katanya.

"Nak, sebetulnya aku tidak memiliki kemampuan semacam itu, akan tetapi lantaran kepandaian silat yang kulatih setengahnya beraliran jahat dan se-tengahnya lagi baik, maka aku memiliki kemampuan membuat ilmu silat sesat tak sampai mence-lakai badan sendiri, cuma kepandaian semacam ini..."

Sebetulnya ia hendak mengatakan bahwa se-telah menggunakan kepandaian itu jiwanya akan segera melayang, tapi karena kuatir Ji-sia menolak penyembuhannya bila mengetahui hal itu, maka ia urung cerita lebih lanjut.

Memang, kalau Ji-sia tahu akan rahasia itu, dia tak akan mengorbankan jiwa kakek ini untuk di-tukar dengan nyawa sendiri, sekalipun setelah mem-peroleh pengobatan itu kepandaian silatnya akan menjadi lebih tangguh dan hebat.

Saking terharunya, air mata jatuh membasahi pipi Ji-sia, katanya dengan sedih.

"Bila Locianpwe bersedia memenuhi harapan Wanpwe untuk menuntut balas, bukan saja sepanjang hidup Wanpwe akan mengingat budi kebaikan ini, sekalipun sakit hati Locianpwe juga akan Wanpwe selidiki hingga jelas dan menuntut balas bagimu....."

Air muka Oh Kay-gak berubah menjadi serius, katanya dengan sungguh-sungguh.

"Nak, selama hidupku enggan menerima budi kebaikan orang, ka-lau tidak kusuruh kau lakukan, jangan kau lakukan apa pun bagiku"

Ji-sia melengak, terpaksa jawabnya.

"Wanpwe akan turut semua perintah Cianpwe!"

Sekali lagi Oh Kay-gak menghela napas, air mukanya berubah lembut, dan penuh kasih sayang, katanya.

"Nak, bolehkah kutahu nama dan asal usulmu?"

"Locianpwe, aku she Bok bernama Ji-sia, asal usul dan pengalaman Wanpwe diliputi rasa malu yang luar biasa, aku tak berani menceritakannya, harap engkau sudi memaafkan ,...."

Ji-sia melakukan hubungan badan dengan ibu-nya sendiri akibat dicekoki obat perangsang oleh musuh, kejadian ini membuat ia merasa malu dan menyesal, sudah barang tentu ia tak berani mence-ritakan peristiwa yang memalukan ini.

"Ai, kalau orang yang sedih bertemu dengan orang yang berduka tentu saja hati bertambah se-dih,"

Bisik Oh Kay-gak sambil menghela napas.

"Nak, kau masih muda, hari depanmu masih cerah lebih baik jangan terlalu mengingat kejadian lama, kau harus menggunakan masa hidupmu yang terbatas uutuk menciptakan kesuksesanmu,"

"Terima kasih atas nasihat Cianpwe!"

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, hati Ji-sia timbul perasaan sedih luar biasa.

Menciptakan kesuksesan?

Baginya adalah hal yang tak berani di-harapkan dalam hidupnya ini, asal ia mampu mem-balas dendam, maka ia bertekad mengakhiri kehi-dupan sendiri untuk menebus dosanya.

Dilihatnya Oh Kay-gak memejamkan matanya, wajahnya sebentar marah sebentar girang, berubah tak menentu, agaknya lagi tenggelam mengenang masa silam, seakan-akan sedang menimbang suatu masalah yang maha penting yang sukar diputuskan.

Ji-sia menjadi bingung menghadapi keadaan seperti ini.

Tiba-tiba Oh Kay-gak membuka matanya dan menatap wajah Ji-sia dengan sorot mata tajam, sambil tertawa sedih katanya.

"Bocah ini adalah orang yang paling kusukai selama ini, terpaksa aku harus melanggar sumpahku dulu. Ucapan ini sangat aneh dan membingungkan, Ji-sia melenggong sejenak lalu bertanya.

"Ucapan Locianpwe mengandung maksud yang sangat da-lam, entah......"

Oh Kay-gak tersenyum, selanya.

"Sebetulnya ingin kubawa sebuah benda mestika ke liang kubur, tapi sekarang kuputuskan untuk menghadiahkannya kepadamu."

"Benda mestika dunia persilatan hanya barang sampingan, lagipula......"

"Lagipula adalah benda yang membawa alamat jelek,"

Tukas Oh Kay-gak.

"bila dibawa terkadang akan mendatangkan bencana besar, begitu bukan? Tapi bila mestika ini sampai didapatkan Samte atau kakakku, akibatnya pasti akan mendatangkan ben-cana yang lebih besar lagi. Coba kau pikir bagaimana keputusanku? Kalau kau mau, maka akan kuhadiahkan benda ini padamu. Dan lagi, jika kau Ingin menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan, mestika ini harus kau terima."

"Perkataanku tadi tidak bermaksud demikian, tapi maksud Wanpwe telah banyak menerima budi kebaikan engkau orang tua, Wanpwe merasa tak berani menerima pemberian mestika itu lagi."

Oh Kay-gak tertawa.

"Hah, sungguh tak ter-sangka akulah yang terlalu banyak curiga."

Ji-sia merasa setiap perkataan orang selalu mengandung arti yang dalam dan harus dipecahkan dengan berpikir lama, terpaksa katanya dengan su-ara nyaring.

"Entah urusan apa yang harus Wan-pwe lakukan untuk Locianpwe? Silakan memberi petunjuk."

"Ada tiga soal yang kuserahkan padamu, per-tama, selidikilah nasib seorang putri kesayanganku apakah ia masih hidup di dunia ini.

"Apakah benar nama puteri Cianpwe adalah Keng-kiau?"

Tukas Ji-sia dengan cepat.

"soal ini aku tahu jelas, kini ia menetap dalam benteng."

Semula Ji-sia mengira Oh Keng-kiau adalah putri Seng-gwat kiam Oh Kay-thiaa, Pocu Thian-seng-po sekarang, maka setelah bertemu dengan Oh Kay-gak ia sama sekali tidak membicarakan per-soalan tersebut.

Bergetar keras rambut Oh Kay-gak yang ber-warna perak, seperti lagi mengigau ia bergumam sendirian.

"Ya dia, benar dia! Ternyata Samte be-lum lupa dan memberi nama tersebut kepada pu-triku. Aiii, Samte pasti amat menyayangi putriku itu dengan demikian hatiku pun dapat tenang."

"Locianpwe, apakah kau suruh Wanpwe men-ceritakan asal usulnya yang sebenarnya kepadanya?"

Tiba-tiba Ji-sia bertanya. Dua titik air mata membasahi pipi Oh Kay-gak, dengan sedih katanya.

"Tidak perlu, sekarang ia hidup dengan tenang dan gembira, buat apa ku singgung kembali kejadian lampau yang penuh ke-sedihan itu sehingga hati kecilnya terpukul? Dia adalah satu-satunya putri kesayanganku, asal dia dapat hidup bahagia, matipun aku tenteram."

"Tapi, Locianpwe, mana boleh dia menganggap musuh sebagai ayahnya?"

Ujar Ji-sia.

"Bok Ji-sia, jangan sembarangan kau bicara!"

Bentak Oh Kay-gak.

"kalau kusuruh kau jangan ikut campur, maka jangan kau urus, ai......"

Setelah menghela napas sedih, tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi lembut kembali, katanya.

"Nak, tentu saja kau tidak tahu urusanku, siapa-kah yang tidak ingin putrinya mengetahui sesung-guhnya dia anak siapa? Padahal, sebabnya aku ber-ada dalam keadaan seperti ini adalah dosa yang kulakukan sendlri, sekalipun saudaraku lupa dan amat menyiksaku....Ai, kita jangan membicara-kan persoalan ini lagi, aku hanya minta kepada-mu, jika bertemu dengan putriku, baik-baiklah kau jaga dia."

Ji-sia merasakan betapa ruwetnya hubungan diantara ketiga bersaudara Oh itu, sesungguhnya ada perselisihan apa di antara mereka?

Diam-diam ia berjanji akan menyelidiki kejadian itu, ten-tu saja asal usul Oh Keng-kiau akan disampaikan kepada gadis tersebut, walaupun sekarang Oh Kay-gak melarangnya, padahal siapakah yang tak ingin melihat putrinya sendiri mengetahui asal-usulnya sendiri?

Rupanya Oh Kay-gak dapat menebak suara hatinya, ia menghela napas, air mukanya berubah lebih lembut, rasa sayang terpancar dari wajahnya, tangan kirinya lantas merogoh ke bawah kasur yang didudukinya dan mengeluarkan sebuah bung-kusan kecil.

"Urusan kedua adalah kuminta padamu untuk mengembalikan bungkusan kecil ini kepada para ketua dan kesembilan aliran besar. Ai, peristiwa ini pun termasuk juga salah satu kesalahan yang kulakukan, isi bungkusan ini adalah tanda pengenal kesembilan aliran besar itu, benda ini jangan sekali-kali sampai dirampas orang, sebab benda ini menyangkut nasib beribu-ribu orang persilatan, kalau tidak, setelah mati pun arwahku akan men-derita."

Ji-sia terkesiap, dia tak mengira tanda kebesa-ran kesembilan aliran besar bisa terjatuh di tangannya, ia tahu benda-benda itu merupakan benda yang manguasai beribu-ribu nyawa anggota kesembilan aliran persilatan.

Diterimanya benda itu dengan kedua tangan, lalu dimasukkan ke dalam saku, katanya serius.

"Jangan kuatir Cianpwe, sekalipun badan bakal hancur, Wanpwe pasti akan menyerahkan sendiri benda-benda ini kepada para Ciangbunjin kesem-bilan aliran besar itu."

"Kutahu kau pasti dapat melaksanakannya....."

Sambil tertawa Oh Kay-gak manggut-manggut.

"per-mintaanku yang ketiga adalah supaya kau melin-dungi sebuah benda mestika yang akan kuhadiah-kan padamu dengan jiwa ragamu."

Mendengar ucapan tersebut, Ji-sia berpikir.

"Agaknya benda itu pasti suatu benda yang penting sekali artinya...."

"Wanpwe pasti akan mempertaruhkan jiwa ra-gaku untuk melindungi benda yang Locianpwe ha-diahkan kepadaku, kalau tidak, bagaimana dapat kubalas budi-kebaikanmu,"

Demikian katanya. Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba rasa sedih menghiasi Wajah Oh Kay-gak, sambil menghela na-pas katanya.

"Setiap orang persilatan menganggap benda ini lebih penting daripada nyawa sendiri, kehidupanku pun sebagian besar dihabiskan karena benda ini, jadi boleh dibilang benda ini terhitung benda yang mendatangkan kemalangan, ai......"

Kembali ia menghela napas, dari punggungnya ia lolos sebuah benda emas yang bentuknya seperti ruyung, mirip ruyung Jian-kim-si-hun-pian yang digunakan Ji-sia, cuma saja ruyung ini bersarung sehingga orang lain tak tahu bagaimanakah bentuk senjata tersebut.

"Nak, dapatkah kau tebak benda apakah ini?"

Tanya Oh Kay-gak sambil tersenyum.

"Wanpwe pikir benda ini tentu semacam senjata, melihat bentuknya, mirip sebuah ruyung panjang."

Oh Kay-gak manggut-manggut, ia tertawa mis-terius, lalu tanya pula.

"Kau tahu apa nama ruyung ini?"

"Ji-sia menggeleng pertanda tidak tahu, semen-tara dalam hati ia pikir.

"Aku bukan dewa, dari mana tahu nama ruyung ini?"

"Kau tahu asal usul ruyung Jian-kim-si-hun-pian yang berada padamu itu?"

Kembali Oh Kay-gak bertanya.

"Pengetahuan Wanpwe cetek sekali, karenanya kurang jelas atas asal-usul ruyung itu, tapi kutahu benda ini milik Ban-pian-sinkun."

"Benar, kata Oh Kay-gak sambil tertawa.

"ru-yung emas Jian-kim-si-hun-pian padamu itu adalah senjata buatan sahabatku Ban-pian-sin-kun dengan meniru Jian-kim-si-hun-pian sebagai contoh"

"Apa? Maksudmu Jian-kim-si-hun-pian ada yang asli dan ada pula yang tiruan?"

Seru Ji-sia ter-peranjat.

"Andaikata Jian-kim-si-hun-pian yang berada padamu adalah barang asli tentu sejak tadi-tadi sudah dirampas kakakku....."

Sejak Ji-sia memperoleh ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian tersebut, ia selalu menganggap benda mestika yang tajam sekali, karenanya selalu menyimpan dengan hati-hati, tapi ia tidak tahu ben-da itu adalah palsu, sedang Jian-kim-si-hun-pian yang asli justru merupakan ruyung mestika yang diincar setiap orang persilatan.

"Locianpwe!"

Kata Ji-sia kemudian.

"ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian yang berada padaku ini tajamnya luar biasa, malah tak kalah tajamnya dibandingkan pedang mestika mana pun, lantas be-tapa tajamnya ruyung yang asli?"

Oh Kay-gak tersenyum.

"Ruyung asli ini bu-kan tajam saja, juga mempunyai daya guna yang bisa bikin orang menjulurkan lidah, bila seorang membawa Jian-kim-si-hun-pian, jago persilatan kelas satu manapun akan jeri padanya."

Ji-sia hanya setengah percaya setengah tidak atas keterangan itu, pikirnya.

"Tak mungkin dia mengibul padaku, mungkin ruyung ini terlebih tajam daripada pedang mestika....."

Oh Kay-gak dapat meraba sikap Ji-sia yang meragukan keterangannya, ia tertawa tak acuh, ka-tanya.

"Kalau tidak percaya, segera kubuktikannya di hadapanmu."

"Cring!"

Bunyi gemerincing berkumandang, ruangan yang semula redup segera bermandikan cahaya keemasan.

Tahu-tahu Oh Kay-gak telah memegang se-bilah ruyung emas yang bersinar cemerlang dan penuh kaitan kecil, cahaya emas ruyung memancarkan hawa dingin.

Sekilas pandang saja Ji-sia segera mengakui Jian-kim-si-hun-pian miliknya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan ruyung mestika ini, se-bab ruyungnya tak dapat memancarkan sinar dingin yang tajam itu, sebaliknya ruyung orang dapat me-mancarkan pula sinar keemasan yang luar biasa cemerlangnya.

Kata Oh Kay-gak sambil tertawa.

"Keistimewaan ruyung ini tidak terletak pada cahayanya, sekarang perhatikan baik-baik, akan kugelarkan senjata ini di hadapanmu."

Sambil berkata, Oh Kay-gak segera menggetar-kan tangan kanannya....suara gemerincing nya-ring bergema.....

Dalam waktu singkat, sinar kemilau terpancar ke empat penjuru, sinar yang terpancar itu seakan-akan beribu-ribu ekor ular emas kecil yang sedang menjulurkan lidahnya.

Kejut dan girang Ji-sia menyaksikan semua itu, pujinya berulang kali.

"Ruyung bagus! Ruyung bagus! Sungguh ruyung nomor wahid di dunia, sungguh tidak bernama kosong....."

"Kau sudah mengetahui kegunaan ruyung ini?"

Tanya Oh Kay-gak sambil tertawa. Ji-sia hanya merasa ruyung itu memancarkan sinar yang menyilaukan dan tidak tahu dimana letak keistimewaannya, maka pertanyaan itu membuat-nya menjadi gelagapan.

"Wanpwe hanya tahu ruyung ini sangat bagus,"

Katanya terbata-bata.

"tapi tidak kuketahui di mana letak kehebatannya, harap Locianpws bersedia memberi petunjuk."

"Tadi kukatakan tajam ruyung ini melebihi pedang mestika, tentu bukan cuma mengibul belaka, bukankah sewaktu kugelarkan ruyung tadi kaulihat sendiri beribu-ribu ekor ular emas berhamburan dari senjata ini?"

"Locianpwe, apakah kaitan tajam pada batang ruyung dapat dilontarkan dengan dorongan tenaga dalamnya?"

"Betul!"

Oh Kay-gak mengangguk.

"kaitan pa-da ruyung ini akan menjulur ke depan pada saat kau kerahkan tenaga dalam, panjang atau pendeknya kaitan tergantung pada kuat atau lemahnya tenaga dalam seorang, cuma paling panjang hanya menca-pai dua kaki, karena itu tatkala ruyung berputar, maka seratus delapan buah kaitan kecil di seluruh batang ruyung akan memancar keluar dan membuat orang sukar menduganya, senjata ini sungguh sen-jata yang amat lihay.

"Malah benang baja dan kaitan pun tajam se-kali, senjata apa pun yang membenturnya bisa ter-puntir patah. Selain itu, waktu ruyung berputar akan menimbulkan suara yang nyaring dan mem-betot sukma, hal ini membuat ruyung mestika ini bertambah hebat."

Mendengar itu, diam-diam Ji sia menghela na-pas, mimpi pun tak tersangka olehnya bahwa di dunia terdapat seorang yang begitu cerdik sehingga sanggup menciptakan senjata mestika semacam itu.

Oh Kay-gak menghela napas, katanya kemu-dian.

"Ruyung emas pembetot sukma (Jian-kim-si-hun-pian) ini kuhadiahkan kepadamu, semoga kau menyimpannya dengan baik dan dipergunakan un-tuk perbuatan mulia, ciptakanlah pekerjaan besar yang bermanfaat bagi umat persilatan."

Terkesiap Ji-sia atas pemberian itu, sahutnya.

"Kecerdasan dan kemampuan Wanpwe cetek sekali, tidak pantas bagiku untuk memegang senjata mes-tika semacam ini....."

Tiba-tiba Oh Kay-gak mendengus.

"Hm, apa-kah kau menghendaki ruyung ini jatuh ke tangan orang lain?"

Bicara sampai di sini, ia masukkan ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian itu ke dalam sarungnya, lalu berkata pula "Mulai sekarang ruyung ini telah menjadi milikmu!"

Lalu dengan kedua tangannya ia sodorkan ruyung itu ke hadapan Bok Ji-sia.

Anak muda itu tak berani menolak, sambil berlutut ia menerima ruyung mestika itu, padahal rasa gembira dalam hati tak terkirakan.

Setelah termenung sebentar, kembali Oh Kay-gak berkata.

"Ruyung Jian-kim-si-hun-pian palsumu Itu adalah hasil karya sobatku Ban-pian-sinkun Auyang Seng, oleh karena ia gemar membuat ru-yung dan mengetahui kupunya ruyung aslinya, maka iapun membuat sebuah ruyung tiruan, dia adalah seorang cerdik dan berbakat bagus, barang buatannya memang persis sekali dengan aslinya, cu-ma sayang senjata buatannya tidak dapat meman-carkan sinar mustika serta kegunaan istimewa lain-nya. Ai, tak nyana sobat karibku telah mangkat mendahului diriku...."

Ji-sia ikut menghela napas sedih, teringat akan nasib dan pengalaman sendiri yang tragis, ia menja-di sedih juga.

Tiba-tiba Oh Kay-gak melototi Ji-sia dengan sinar mata yang tajam, kemudian dengan suara be-rat katanya.

"Ruyung Jian-kim-si-hun-pian adalah benda yang kubela selama ini dengan mati-matian, sekarang kuhadiahkan padamu, kuharap jagalah benda ini baik-baik. Di samping itu, ruyung ini menyangkut pula beberapa peristiwa pembunuhan berdarah, walaupun sudah delapan belas tahun tak muncul dalam dunia persilatan, tapi menurut apa yang kuketahui, masih terdapat sekian banyak jago persilatan yang ke sana kemari mencari kabar tentang senjata ini. Terutama beberapa gembong iblis tua yang ter-libat dalam peristiwa berdarah ini, kupikir mereka masih hidup sampai sekarang, maka kuharap kau-simpan senjata yang mendatangkan ketidakberun-tungan ini segara baik-baik, sebab dengan bentuk-nya yang aneh serta sinar mestikanya yang cemer-lang, dengan cepat akan menimbulkan perhatian orang yang mungkin akan mengakibatkan terjadi-nya badai besar dalam dunia persilatan.

"Terhadap kakak dan adikku, kau pun perlu hati-hati, sebab mereka ada maksud hendak me-rampas ruyung itu, kau harus berjaga-jaga terhadap sergapan dan tindakan licik mereka."

"Locianpwe, dapatkah kau jelaskan sedikit ten-tang peristiwa pembunuhan tersebut? Agar menam-bah pengalaman serta pengetahuan Wanpwe."

Oh Kay-gak menghela napas sedih.

"Waktu yang amat singkat ini tak mungkin bagiku untuk menceritakan semua kejadian tersebut, yang pen-ting ingatlah baik-baik, bila tidak terlalu terdesak, lebih baik jangan kau perlihatkan ruyung mestika ini."

"Wanpwe akan mengingatnya selalu, harap Cianpwe tidak kuatir."

Oh Kay-gak mendongakkan kepala dan mena-tap sekejap atap rumah sambil termenung, lalu ka-tanya lagi.

"Ruyung ini bukan cuma berharga, ju-ga ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah, selain itu mengandung pula suatu rahasia besar yang menggetarkan hati setiap orang."

"Aku sudah bersumpah tak akan membocorkan rahasia ini kepada siapapun, lagipula berlaku suatu ketentuan bahwa hanya yang berjodoh saja yang akan mendapatkan benda mestika ini, maka setelah kuhadiahkan ruyung emas ini padamu, bisa atau tidak kau membongkar rahasia ini bergantung pada soal jodoh atau tidaknya kau dengan benda ini."

Ji-sia terkejut mendengar keterangan itu, pikir-nya.

"Dia bilang ruyung ini mengandung suatu ra-hasia besar, rahasia apakah itu? Sungguh bikin orang tak habis mengerti....."

Berpikir demikian, tanpa terasa ia pandang tangkai ruyung tersebut, tapi ia tidak menemukan sesuatu yang aneh, ia pikir batang ruyung yang penuh kaitan tajam itu jelas bukan tempat menyim-pan benda mestika, maka perhatiannya beralih ke tangkai senjata itu.

Dengan sinar mata tajam Oh Kay-gak melirik Bok Ji-sia sekejap, lalu geleng kepala berulang kali, setelah menghela napas sedih, katanya.

"Nak, sim-panlah ruyung ini di pinggangmu! Ruyung ini ter-buat dari emas lembek yang khas, ia bisa ditekuk atau diluruskan sekehendak hatimu. Walaupun jurus-jurus dalam Jiat-im-siang-gi-pit-keng telah kaupelajari, namun masih belum cukup untuk mengembang-kan kehebatan ruyung Jian-kim-si-hun-pian ini, se-karang akan kuajarkan tiga jurus ilmu ruyung yang maha lihay dan beberapa macam kepandaian lain seperti Kim-na-jiu, Hut-hiat-jiu-hoat dan Ceng-meh-sin-hoat, kuharap kau perhatikan baik-baik."

Air mata jatuh bercucuran saking terharunya, Ji-sia merasa kebaikan Oh Kay-gak kepadanya melebihi apa pun.

Sememtara itu Ji-sia telah melilitkan ruyung Jian-kim-si-hun-pian tersebut pada pinggangnya di balik pakaian, yang tampak dari luar hanya seba-gian tangkainya, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan kakek itu.

"Budi kebaikan Locianpwe yang besar ini, en-tah cara bagaimana Wanpwe dapat membalasnya?"

Katanya dengan suara gemetar. Mencorong sinar mata Oh Kay-gak, katanya.

"Nak, jika kau merasa berhutang budi kepadaku, maka lindungilah selama hidup putriku di kemudian hari dengan sepenuh tenaga, tindakanmu itu sudah cukup memuaskan hatiku, cuma.....sanggup-kah kau melakukannya?"

Ji-sia bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menangkap arti perkataan Oh Kay-gak tersebut, melindungi putri Oh Kay-gak selama hidup dengan sepenuh tenaga bukankah sama artinya su-ruh dia mengawininya menjadi istri?

Perkataan Oh Kay-gak segera menimbulkan rasa sedih anak muda itu, sejak melakukan hubu-ngan badan dengan ibunya sendiri, ia sudah tak punya muka untuk hidup lagi di dunia ini, andai-kata tiada kobaran api dendam yang mendorong-nya untuk hidup, tak nanti dia bertahan hidup sampai sekarang, diam-diam ia memutuskan bahwa tiada kebahagiaan hidup baginya dalam kehidupan ini, bilamana sakit hati telah terbalas, ia bertekad hendak menghabisi nyawa sendiri.

Sebab itu, pera-saannya sudah tak tertarik lagi terhadap kaum wanita, kendatipun gadis itu memiliki kecantikan yang luar biasa.

Ketika Oh Kay-gak melihat Ji-sia tidak berkata apa-apa, wajahnya kembali menjadi murung, ia be-tul-betul merasa kecewa sehingga rambutnya yang beruban tampak agak gemetar.

"Ai,"

Dia menghela napas sedih.

"jodoh ma-nusia memang telah ditakdirkan, manusia tak dapat memaksanya...."

"Locianpwe, kuterima maksud baikmu itu!"

Mendadak Ji-sia berteriak.

Ji-sia adalah pemuda yang perasa, budi ke-baikan Oh Kay-gak kepadanya telah memberi ke-san bahwa kakek tersebut adalah seorang yang pe-nuh welas kasih, ia tahu kakek itu terlalu menyendiri dan kesepian, bagaimanapun ia tak tega membuatnya kecewa dan bersedih.

Apalagi setelah mendengar ucapan Oh Kay-gak bahwa "jodoh manusia sudah takdir...."

Perkataan ini menimbulkan pikirannya untuk menyanggupi permintaanya, sebab belum tentu Oh Keng-kiau su-ka padanya, maka ia menerima permintaan itu agar Oh Kay-gak tidak terlalu bersedih.

Betul juga, Oh Kay-gak menjadi amat senang mendengar perkataan itu, ia lantas mengajarkan ilmu rahasianya kepada pemuda itu, kepandaian itu boleh dibilang jurus-jurus aneh yang jarang ada di dunia.

Ji-sia adalah pemuda yang cerdas, lagipula ia menanggung dendam, agar cita-citanya berhasil ma-ka ia pusatkan perhatiannya untuk belajar dengan tekun.

Cahaya senja menghiasi angkasa, sang surya pelahan terbenam di ufuk barat....

Oh Kay-gak memandang sekejap cuaca di luar, kemudian katanya sambil tertawa.

"Nak, kau amat cerdas, sekarang semua kepandaianku telah kau pelajari, jika kepandaian ini dapat kau kombinasikan dengan jurus-jurus silat menurut ajaran Jiat-im-siang-gi-pit-keng, maka tak sulit bagimu untuk merajai dunia persilatan, sekarang yang kurang adalah masih ceteknya tenaga dalammu, tapi bisa kubantumu dengan segala kemampuanku agar te-naga dalammu yang hilang bisa pulih kembali se-perti hasil latihan berpuluh tahun,"

Ji-sia masih juga belum memahami maksudnya, dengan bimbang ia berkata.

"Loeianpwe, kau bilang sebentar aku akan memiliki tenaga dalam seperti ha-sil latihan beberapa puluh tahun?"

"Ya, kalau tak salah, satu jam lagi kau akan memiliki tenaga dalam seperti hasil latihan dua pu-luh tahun,"

Kata Oh Kay-gak dengan suara pedih.

"jika dalam satu tahun"

Mendatang bisa kau latih de-ngan tekun, maka tenaga dalammu akan maju pesat seperti tenaga latihan enam puluh tahun, tentu saja soal cepat atau lambatnya kemajuan yang akan kau capai bergantung pada bakat serta tekadmu sendiri."

Ji-sia masih juga belum paham maksudnya, ia tanya pula "Locianpwe, apakah urat nadiku telah mengalami perubahan?"

"Belum, sekarang juga akan kulakukannya bagimu, untuk sementara waktu duduklah di hadapan ku."

Ji-sia menurut dan duduk bersila di hadapan orang tua itu.

"Nak, ingin kuperingatkan dirimu lagi,"

Kata Oh Kay-gak lebih lanjut.

"yakni sebelum tenaga dalammu betul-betul mencapai kemajuan yang pesat, janganlah terlampau menonjolkan kepandaianmu sendiri, sekalipun menurut perkiraanku tenaga dalam-mu sekarang cukup untuk menandingi jago kelas satu dalam dunia persilatan, namun orang persilat-an kebanyakan licik dan banyak akal muslihatnya, ada sementara persoalan yang tak mungkin bisa di-lawan dengan mengandalkan ilmu silat belaka.

"Terutama bila menghadapi kakakku Oh Ku-gwat serta Samteku Oh Kay-thian, dasar tenaga dalammu sekarang mungkin masih kalah jauh dari-pada mereka berdua, pula setelah delapan belai ta-hun entah kepandaian apa lagi yang mereka kuasai, oleh sebab itu sulit buat menandinginya, cuma dengan jurus ilmu silatmu, untuk melindungi jiwa sendiri kukira tidak menjadi soal.

"Jurus-jurus yang kuwariskan kepadamu me-rupakan jurus silat yang mengandalkan kelincahan, asal kau apal penggunaannya bisa menutupi keku-rangan tenaga dalammu.

"Samteku Oh Kay-thian adalah seorang yang jahat dan kejam, kecerdasan otaknya luar biasa, lagipula dia telah memperoleh se

Jilid kitab racun yang hebat, mungkin cara menggunakan racunnya terhitung nomor wahid di dunia, hati-hatilah bila bertemu dengan dia.

"Ai, selama delapan belas tahun Samteku Oh Kay-thian menguasai Thian-seng-po, mungkin ke-banyakan jago-jago tangguh golongan hitam sudah berhasil dijaring untuk berpihak kepadanya, hal ini membuat ambisinya menguasai dunia persilatan makin besar, semua ini boleh dibilang adalah dosa serta kesalahanku."

"Harap Locianpwe jangan risau,"

Kata Ji-sia lantang.

"Wanpwe dapat menjaga diri baik-baik, bilamana perlu pasti akan kucegah ambisi jahat adik Cianpwe itu."

Oh Kay-gak manggut-manggut.

"Mati hidup dunia persilatan sudah berada di atas pundakmu, apalagi sekarang kau memiliki beberapa macam benda mestika, setelah sadar nanti harap kau berangkat dengan segera ke Siau-lim-si di Siong-san, serahkanlah tanda kepercayaan kesembilan aliran besar ini kepada Ketua Siau-lim-pay, Pek-hui Siansu"

Sekarang Ji-sia baru merasakan tanggung ja-wabnya berat sekali, segera sahutnya.

"Wanpwe terima perintah!"

Mencorong sinar mata Oh Kay-gak, katanya dengan suara berat.

"Cepat pusatkan pikiranmu, bagaimana pun rasa sakit dan penderitaan yang akan kau alami, terimalah dengan hati yang tabah"

Tengah bicara, dengan sepuluh jari tangan yang dipentangkan beruntun Oh Kay-gak melancarkan tutukan pada urat nadi penting di sekujur tubuh anak muda itu.

Menyusul kemudian, kedua telapak tangan Oh Kay-gak ditempelkan pada tubuh Ji-sia dan mulai mengurutnya, hawa panas yang terpancar ke-luar dari telapak tangannya segera mendatangkan perasaan nyaman di tubuh Ji-sia, dirasakannya ada beberapa gulung hawa panas yang mengaliri selu-ruh urat nadinya dengan cepat.

Sekejap kemudian, tiba-tiba Bok Ji-sia merasakan darah dalam sekujur badannya bergolak dengan hebatnya, sungguh rasanya tak tahan.

Tapi dengan tenang ia memejamkan mata dan mengatur pernapasan, ia tahu nasibnya sekarang bergantung pada tindakan tersebut, begaimana pun dia harus menahan penderitaan tersebut.

Akan tetapi penderitaan itu kian lama kian tambah hebat.

Kedua telapak tangan Oh Kay-gak bagaikan dua potong baja membara yang menempel tubuhnya, membuat sekujur badan kepanasan dan sukar untuk ditahan, peluh membasahi badan bagaikan air hujan.

Sesungguhnya bukan ini saja yang membuat-nya menderita hebat, malah hawa panas telapak ta-ngan yang mengalir ke urat nadinya, gelombang demi gelombang menggetarkan tubuhnya, rasa sakit sungguh luar biasa, seperti tulang sekujur badan hendak retak, sedemikian hebatnya sakitnya hingga Jisia terkencing-kencing.

Tapi Ji-sia berhati keras, sambil menggigit bi-bir ia tidak merintih atau mengeluh.....

Penderitaan semakin hebat, sekujur tubuh Ji-sia serasa dipotong menjadi beribu keping kecil, badan seakan digencet kekuatan besar yang membuatnya hancur luluh.

Rasa sakit yang amat menyiksa ini membuat-nya tak sanggup bertahan lagi, benaknya mulai bu-tek dan pikiran kabur.

Pada saat itulah sekulum senyum mulai meng-hiasi wajah Oh Kay-gak, mukanya berseri dan me-mancarkan rasa puas.

Kesadaran Ji-sia pun mulai lenyap, sekujur badan sudah terlepas dari kontrol otak lagi.

Pada saat itulah tiba-tiba Ji-sia mendengar ben-takan keras yang memekak telinga ibarat guntur menggelegar di siang hari bolong.....

Seketika itu juga otak dan tubuhnya seperti kena sambar geledek, seluruh tubuh seperti berte-baran di udara.

"Brak!"

Tubuh Ji-sia mencelat enam-tujuh tom-bak jauhnya seperti layang-layang yang putus, ia terlempar dan jatuh terkapar di atas tulang teng-korak berserakan di halaman dan tak sanggup ber-kutik lagi Entah berapa lama sudah lewat tiba-tiba Ji-sia mendengar rintik air di tepi telinganya, terasa se-kujur tubuh basah kuyup seakan-akan terendam di didalam air.

Ia membuka matanya dengan cepat, tapi sua-sana remang-remang, tubuhnya tergeletak di atas tulang tengkorak yang berserakan, kiranya waktu itu hujan sedang turun dengan derasnya dan membuat-nya basah kuyup.

Suasana di sekeliling tempat itu terasa sepi dan mengerikan....

Ji-sia segera melompat bangun, ia merasa tu-buhnya enteng dan segar, rasa sakit dalam mimpi sudah lenyap.

Dengan sinar mata yang tajam ia mulai me-meriksa suasana dalam ruangan yang seram itu.....

Tapi kecuali hujan yang turun dengan deras-nya, suasana di sekitar tempat itu sunyi senyap tak kedengaran suara apapun.

Mendadak satu ingatan yang menakutkaa terlintas dalam benaknya, ia menggigil dan cepat me-nyusup ke dalam ruangan....

Walaupun suasana dalam ruangan itu gelap gulita, tapi ketajaman mata Ji-sia saat ini jauh ber-beda dengan keadaan tadi, waktu ia memandang ke sana, air mata lantas meleleh membasahi pipinya.

Terlihatlah Oh Kay-gak duduk bersila di atas kasurnya, memejamkan mata rapat-rapat dan tubuh sama sekali tak bergerak, jenggotnya yang putih kini berubah menjadi merah, bibirnya tertutup rapat berlepotan darah, jelas ia sudah meninggal dunia sekian lama.

Rasa kaget dan sedih yang kelewat batas mem-buat Bok Jisia tak mampu menangis, ia hanya ber-lutut di hadapan jenazah tersebut dengan air mata bercucuran memandangi kakek berilmu tinggi itu dengan termangu.

Kesedihan tanpa suara ini jauh lebih mendalam daripada isak tangis yang keras.

Walaupun Oh Kay-gak hanya berkumpul se-hari saja dengan dia, tapi Ji-sia telah mendapatkan budi kebaikan yang luar biasa darinya.

"Gerrr?"

Kilat menyambar dan guntur meng-gelegar di angkasa, hujan turun semakin deras.

Air hujan yang menimpa atap rumah menimbul-kan irama kesedihan yang memilukan.

Thian seakan-akan ikut melelehkan air matanya atas kematian tokoh aneh yang berilmu tinggi ini.

Ji-sia berlutut di situ dan berdoa, lalu dia me-nyembah sembilan kali.

Akhirnya dengan membawa kesedihan yang luar biasa pelahan ia berjalan keluar ruangan itu.

Setelah kilat menyambar lagi di udara, hujan mulai mereda, dengan menahan kesedihan Ji-sia berdiri termangu di tengah halaman, ia pandang tengkorak manusia yang berserakan di atas tanah itu.

Kemudian menghela napas.

Sedikit ia bergerak tahu-tahu sudah berada di atas tembok pekarangan, sekarang ia baru tahu tenaga dalamnya pulih kembali, bahkan jauh lebih sempurna dari dulu, tapi ia masih tidak menyangka telah memperoleh tenaga dalam sebesar puluhan tahun hasil latihan sekejap dari Oh Kay-gak.

Awan masih menggumpal di angkasa, cuaca masih kelabu.

Tapi ketajaman mata Ji-sia sekarang dapat me-lihat keadaan yang berada tujuh tombak di depan sana, dilihatnya bayangan orang sedang bergerak Kening bekernyit, terkilas hawa nafsu membu-nuh pada wajahnya.

Mendadak, pesan terakhir Oh Kay-gak terlintas dalam benaknya, ia terkesiap dan berpikir.

"Te-naga dalamku belum mencapai kesempurnaan, apa-lagi aku membawa beberapa macam benda mestika, lebih baik jangan menonjolkan kepandaian sendiri, orang yang berdiri di situ bukankah jelas sedang menantikan kedatanganku?"

Berpikir demikian ia lantas melompat turun dari dinding pekarangan dan bergerak menuju ke arah kiri.....Mendadak berkumandang suara tertawa dingin yang menyeramkan dari atas pohon Pek-yang, se-sosok bayangan melompat turun dari atas pohon dan menghadang jalan pergi pemuda tersebut.

Siapakah penghadang ini?

Jilid 3 Agaknya bayangan sebelah sana juga tahu, de-ngan cepat ia mendekat, senjatanya segera dilolos.

Dengan sorot mata yang dingin Bok Ji-sia menyapu pandang sekejap wajah orang-orang itu, ternyata mereka adalah kakek bertubuh tinggi tegap beserta dua belas orang laki-laki berbaju ringkas warna hitam.

Begitu berhadapan dengan Ji-sia, kakek tinggi besar itu seperti terperanjat, diam-diam ia berpikir.

"Rupanya bocah ini belum mampus!"

Kiranya kakek bertubuh tinggi besar ini ada-lah gembong iblis kalangan hitam yang bernama Mo-in-jiu (tangan sakti) Kok Siau-thian.

Sejak menjadi anggota Thian-seng-po, oleh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian secara khusus ia ditugaskan mengawasi gerak-gerik Oh Kay-gak, se-bab Oh Kay-thian tahu Oh Kay-gak memiliki beberapa macam benda mestika, karena kuatir di-dapatkan orang lain, maka secara khusus dia me-ngutus dua orang jago lihaynya untuk mengawasinya.

Mo-in-jiu Kok Siau-thian lantas tertawa dingin, tegurnya.

"Hei anak muda, apakah makhluk tua itu sudah mampus?"

Ji-sia mendengus.

"Hm, kalian manusia busuk, sungguh tak tahu budi, setelah Pocu yang dulu di-celakai oleh Oh Kay-thian, bukannya kalian mem-belanya malah kalian mengaku musuh sebagai ma-jikan, sungguh manusia yang tak kenal budi! Malam ini juga orang she Bok akan membunuh kalian yang tak tahu budi dan tak setia....."

Belum habis perkataannya, segulung angin pu-kulan yang kuat langsung dilontarkan ke tubuh Kok Siau-thian.

Sejak awal Mo in-jiu Kok Siau-thian mere-mehkan Jisia.

Karenanya ia tidak siap sedia, ia tidak mengira jurus serangan Ji-sia bisa begitu aneh dan sakti, keruan ia kagjt, tapi sudah terlambat.

Dalam gugupnya cepat telapak tangan kirinya berputar dan menangkis.

Seperti diketahui, Ji-sia telah memperoleh sa-luran tenaga dalam Oh Kay-gak hasil latihan pu-luhan tahun, serangan itu sungguh luar biasa dah-syatnya, tubuh Mo-in-jiu Kok Siau-thian mencelat dan jatuh beberapa tombak jauhnya.

Begitu berhasil dengan serangannya, Ji-sia membentak, kedua telapak tangannya kembali bergerak ke depan, dua gulung angin pukulan maha dahsyat menyambar kedua belas orang laki-laki berbaju warna hitam itu.

Ketika terkena pukulan yang dahsyat tersebut dua orang yang berada paling depan mencelat jauh ke belakang dengan muntah darah, nyawa mereka melayang seketika.

Mo-in-jiu Kok Siau-thian sendiri meski terbantiog ke atas tanah oleh pukulan Ji-sia tadi, na-mun bagaimanapun dia adalah seorang yang memi-liki tenaga dalam yang cukup kuat, dengan cepat hawa murninya disalurkan untuk menekan pergolak-an darah dalam rongga dadanya, lalu melompat bangun.

Diiringi bentakan keras, secepat kilat ia me-nubruk lagi ke arah Ji-sia.

Waktu itu baru saja Ji-sia melepaskan suatu pukulan, melihat Kok Siau-thian menerjang tiba dengan garang, ia bergeser ke samping, dengan te-lapak tangan kiri ia sambut serangan tersebut......

Belum sempat kaki Mo-in-jiu Kok Siau-thian menempel permukaan tanah, tiba-tiba segulung angin pukulan menekan tubuhnya, sebagai seorang jago golongan Hek-te yang terkemuka, apalagi kungfu andalannya adalah telapak tangan, ia ti-dak menjadi gugup.

Tenaga segera dihimpun, kedua telapak tangan-nya melindungi dada dan pelahan didorong ke depan menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras.

"Blang!"

Kedua orang sama tergetar mundur selangkah, sementara kesepuluh laki-laki berbaju hitam yang siap di samping segera manfaatkan kesempatan itu, cahaya perak berkelebat, sepuluh bilah pedang membacok kepala Bok Ji-sia dengan kecepatan luar biasa.

Tapi Ji-sia sekarang, bukan lagi Ji-sia tempo hari, bukan saja jurus maut dalam Jian-kim-siang-gi-pit-keng telah dikuasainya, iapun mendapat ajar-an ilmu sakti Oh Kay-gak, ia tak pandang sebelah mata terhadap serangan lawan, kini iapun tidak ra-gu lagi untuk mengerahkan tenaga dalamnya, se-bab penyakit dalam tubuhnya telah sembuh dan tenaga dalam sudah pulih, bahkan tambah sempur-na.

Ia tertawa dingin, menerjang dengan suatu ge-rakan aneh ia cengkeram pergelangan tangan ka-nan dua orang lelaki kekar dan menggentakkannya kembali ke sana.

Jeritan ngeri berkumandang, kedua laki-laki kekar itu termakan pukulan pada dadanya, isi pe-rut mereka hancur, dengan tumpah darah tubuh mereka mencelat sejauh beberapa tombak dan te-was seketika.

"Sreti Sret!"

Desing tajam pedang menyambar dari kiri dan kanan.

Cepat Ji-sia berputar sambil menghantam pung-gung kedua orang laki-laki lainnya, tak sempat menjerit lagi mereka pun roboh terkapar menyusul kakek moyangnya.

Hawa napsu membunuh berkobar dalam dada Bok Ji-sia, begitu menyelesaikan dua orang, ia me-lompat ke atas, kedua kakinya melancarkan ten-dangan berantai.

Dua kali jeritan nyaring berkumandang, dua orang kena tertendang batok kepalanya hingga han-cur, darah dan isi benaknya berceceran.

Dalam waktu singkat Ji-sia telah membunuh delapan orang laki-laki berbaju hitam setiap gerak-annya cara pukulannya dan tendangannya merupakan gerakan yang aneh.....

Kobaran hawa napsu membunuh Ji-sia belum sirap, dengan suatu gerakan cepat ia mencabut ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian tiruan sambil tertawa seram.....

Di mana cahaya emas berkelebat, dengan gerak cepat senjata itu menggulung tubuh empat orang lain yang masih hidup.....

Jerit kesakitan berkumandang susui menyusul empat orang itu beruntun juga tewas secara me-ngerikan Selesai membunuh keempat orang itu, dengap sinar mata menggidikkan Ji-sia menyapu pandang sekeliling tempat itu, tapi entah sejak kapan ternyata Mo-in-jiu Kok Siau-thian sudah melarikan diri.....

"Hahaha!...."

Pemuda itu bergelak tertawa dengan suara yang mengerikan, setelah memandang sekejap mayat-mayat yang terkapar di tanah, de-ngan suatu gerakan cepat ia melompat pergi dari situ.....

Walaupun ilmu silat Bok Ji-sia kini sudah amat lihai, tetapi pemuda itu masih merisaukan keselamatan tanda kepercayaan kesembilan aliran besar, ia kuatir dikerubut kawanan jago lihai dari Thia-seng-po, sebab betapapun kemajuan yang telah dicapainya, dua tangan melamanya sulit menahan empat kepalan, jika benda-benda itu sampai dirampas mereka, bukankah berarti ia mencelakai beribu jiwa?

Maka anak muda itu bertekad kabur dari Thian-seng-po secepatnya, ia harus kembali ke istal kuda lebih dulu, kemudian baru menyusun ren-cana selanjutnya.

Sepanjang perjalanan ia bergerak cepat dan tidak memperhatikan keadaan di tengah perjalanan, karena itu arah tujuannya menjadi salah.

Sementara ia melakukan perjalanan cepat, tiba-tiba sesosok bayangan muncul di hadapannya.

"Bok-siauhiap, selamat atas keberhasilanmu!"

Se-ru orang itu.

Dari balik pepohonan muncul seorang kakek berjenggot panjang berwajah lembut dan beralis tebal, orang itu bukan lain adalah kakak Oh Kay-gak....Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat adanya.

Terkesiap Ji-sia demi berjumpa dengan orang itu, pikirnya.

"Wah celaka! Kalau apa yang dikata-kan Oh Kay-gak benar, orang ini pasti bermaksud jahat kepadaku."

Buru-buru Ji-sia menghimpun tenaga dan menahan gerak tubuhnya yang sedang menerjang ke depan itu, setelah memberi hormat, katanya.

"Oh-locianpwe, terima kasih atas petunjukmu semalam, kini penyakit yang kuderita telah sembuh sama se-kali."

"Bok-siauhiap, bagaimana Jiteku sekarang?"

Tanya Oh Ku-gwat sedih. Menyinggung soal Oh Kay-gak, timbul lagi kesedihan Ji-sia, air mata lantas bercucuran mem-basahi pipinya.

"Dia....dia orang tua telah meninggalkan du-nia yang fana ini....."

Desisnya. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menghela napas, sekilas rasa sedih menyelimuti wajahnya, katanya.

"Sesungguhnya aku berharap kau menolong Jiteku keluar, siapa tahu malah sebaliknya, jiwanya malah menjadi korban, ai....semua ini adalah kesalahan-ku, apalagi penyebab utama dari segala dosa ini adalah Samtcku yang berhati busuk itu."

Dengan air mata bercucuran Ji-sia berkata.

"Aku pasti akan membalas dendamnya?"

"Ai....Bok-siauhiap!"

Kata Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat sambil menghela napas.

"siapa yang akan kau cari untuk membalas sakit hati ini!"

"Setiap orang yang pernah mencelakainya akan kucari dan menumpasnya dari muka bumi!"

Mendengar ucapan ini, air muka Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat agak berubah, tapi hanya se-bentar saja lantas lenyap tak berbekas. Tiba-tiba Ji-sia bertanya.

"Oh-locianpwe, kau adalah kakaknya tuan penolongku, tentuuya kau tahu siapa yang telah mencelakainya?"

"Ai, panjang sekali ceritanya,"

Kata Oh Ku-gwat sedih.

"persoalan pada masa silam telah lama lalu, yang tertinggal kini hanya sakit hati, entah sampai kapan semuanya ini baru akan berakhir?"

Ketika berjumpa untuk pertama kalinya de-ngan Oh Ku-gwat, Ji-sia memang sudah menaruh kesan baik, apalagi setelah menyaksikan rasa menye-sal yang menghiasi wajahnya ini, tanpa terasa ia lan-tas berpikir.

"Menurut Oh Kay-gak, kakaknya adalah seorang manusia yang licik, mungkin dahulu ia memang manusia semacam itu, tapi delapan be-las tahun kemudian, siapa tahu dia telah menyesali perbuatan itu dan bertobat? Rasanya bila ku-ingin menyelidiki semua budi dan dendam tentang Oh Kay-gak pada masa lalu, harus kuselidiki dari orang ini...."

Berpikir sampai di sini Ji-sia lantas berkata.

"Oh-locianpwe, Jitemu berbudi setinggi bukit ke-padaku, soal sakit hatinya akan Wanpwe selidiki hingga menjadi jelas, sekarang berhubung Wanpwe masih ada urusan penting lainnya, terpaksa aku mesti pergi dulu, jika Locianpwe tak ada. urusan lain, terpaksa aku mohon diri saja."

"Tunggu sebentar Bok-siauhiap,"

Buru-buru Oh Ku-gwat mencegah.

"masih ada sedikit urusan yang hendak kubicarakan denganmu, masalah ini me-nyangkut soal Jiteku itu, Ai. setelah perpisahan kita ini entah kapan baru dapat bertemu kembali, ka-renanya kutunggu kemunculanmu, ingin kuterangkan semua persoalan masa lampau kepadamu agar ma-salah ini tidak selalu menjadi teka-teki dalam be-nakmu."

"Bila Locianpwe bersedia memberi penjelasan, hal ini lebih baik lagi, Wanpwe pasti akan meng-ingatnya selalu."

Di tengah keheningan malam itu tiba-tiba ber-kumandang suara siulan aneh yang agaknya ber-gerak menuju ke arah sini. Air muka Ji-sia seketika berubah, buru-buru serunya.

"Locianpwe, maaf tak dapat kutemani lebih lama lagi!"

Seraya berkata ia lantas melompat pergi dari situ.

Mendadak Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat berkelebat maju, secepat kilat tangan kirinya menyam-bar pergelangan tangan kanan Ji-sia.

Sergapan ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, gerakannya pun aneh.

Ji-sia merasakan ancaman itu, cepat ia berge-ser ke samping, tangan kanan menangkis ke belakang dengan suatu gerakan yang indah ia meloloskan diri dari cengkeraman tersebut.

Baru saja ia hendak menegur dengan kening berkerut, Oh Ku-gwat telah berkata duluan.

Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 13

Baca Juga: Beruang Salju Sin Liong

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert