Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 2

Eps 2 Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Baca online Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Cersil Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung.

"Bok-siauhiap, kau tidak apal jalan dalam benteng, jangan sembarangan berjalan, nanti kau bisa dihadang me-reka, adapun kedatanganku adalah bermaksud memberitahukan masalah Jite kepadamu, sekarang tempat ini tidak cocok sebagai tempat bicara, ha-rap kau ikut pergi ke tempat lain!"

Perkataan ini diucapkan dengan nada sungguh-sungguh, sedikitpun tidak nampak berpura-pura, serangannya tadi seakan-akan tidak pernah terjadi.

Diam-diam Ji-sia bersyukur karena nyaris bentrok dengan kakek itu, katanya kemudian de-ngan lantang.

"Baiklah, harap Locianpwe bersedia menunjuk jalan."

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat memutar badan dan pelahan berjalan menuju ke depan sana.....

Ji-sia ikut di belakangnya, ia lihat walaupun Oh Ku-gwat berjalan sangat pelahan tapi gerak tubuhnya enteng dan gesit, diam-diam Ji-sia merasa kagum sekali.

Mereka terus berjalan masuk keluar beberapa halaman rumah.

Sesaat kemudian sampailah mereka di depan pintu sebuah gedung yang berdiri menyendiri, seke-liling gedung ini dihiasi aneka bunga yang indah menawan dengan bau harum semerbak.

"Inilah tempat tinggalku,"

Kata Oh Ku-gwat.

"anggota benteng lainnya tidak dapat masuk ke sini."

Sambil berkata Oh Ku-gwat mendorong pintu, dengan cepat ia menerobos masuk ke dalam.....

Sama sekali Ji-sia tidak menyangka kakek itu akan mencelakainya, dia ikut masuk ke situ.

Ruangan itu gelap gulita, melihat jari tangan sendiri saja sukar, Oh Ku-gwat yang berada di de-pan entah sudah kabur ke mana.

Tapi Ji-sia tidak menaruh curiga, ia mengira kakek itu lagi mema-sang lampu.

Mendadak Ji-sia merasakan desir angin tajam dari belakang.....ia menjadi kaget dan siap siaga, tapi saat itu juga sekujur badan lantas bergetar, tahu-tahu urat nadi pergelangan tangan kanan su-dah dicengkeram orang.

Serangan itu dilakukan dengan cepat luar biasa, kendatipun Ji-sia memiliki ilmu silat tinggi te-tap tak dapat menghindar, sebab sedetik sebelum dia bergerak, nadinya sudah dicengkeram orang.

Sebagai mana diketahui, nadi merupakan salah satu diantara 36 jalan darah penting lainnya, jika sampai kena ditangkap orang, maka separuh badan akan menjadi kaku dan tak bertenaga.

"Bok-siauhiap"

Seseorang tertawa seram di be-lakangnya.

"maaf terpaksa aku bertindak kasar ke-padamu, biarpun ruyung sakti Jian-kim-si-hun-pian tidak kuambil, belum tentu kau sanggup men-jaganya dengan baik."

Baru bicara sampai di sini, ruangan tiba-tiba terang benderang.

Ruangan itu luasnya lima-enam tombak, dalam ruangan tiada benda apa pun, kosong melompong kecuali beberapa obor di atas dinding, sekeliling ruangan dilapisi baja yang kuat, jelas tempat ini bukan tempat tinggal melainkan sebuah jebakan.

Ji-sia coba berpaling ke sekeliling tempat itu, ia lihat Oh Ku-gwat berdiri tidak jauh di samping-nya, sedangkan orang yang mencengkeram urat nadi-nya adalah seorang kakek kecil pendek bermuka pucat, berjenggot kambing dan berusia lima puluhan, dilihat dari tampangnya jelas adalah seorang jahat dan kejam.

Gusar sekali Ji-sia, baru saja dia mau mengum-bar kemarahannya, tiba-tiba hatinya tergerak, ia telan kembali kata-katanya dan berpikir.

"Kini urat nadiku dicengkeram, semua kekuatanku lenyap, kalau sampai kubangkitkan kemarahannya, mung-kin mereka akan merampas mustika itu dengan kekerasan."

Berpikir demikian, ia berusaha menahan rasa marahnya, lalu berkata sambil tertawa.

"Oh-locian-pwe, apakah kau tidak merasa menurunkan derajat sendiri dengan caramu yang merampas barang mi-lik orang?"

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat terseayum.

"Bok-siauhiap!"

Jawabnya.

"serahkan saja ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian kepadaku, dan takkan kucelakai jiwamu,"

"Ah, rupanya Oh-locianpwe menghendaki Jian-kim-si-hun-pian? Ambil saja ruyung yang berada di atas bahuku ini!"

Kakek pendek kecil itu tertawa seram.

"He-hehe, jangan berlagak bodoh di hadapan kami, kau-anggap kami tidak tahu ruyung itu adalah duplikat yang dibuat oleh Ban-pian-sinkun?"

"Bok-siauhiap,"

Kata Oh Kay-gwat pula.

"di depan kami lebih baik jangan berbohong, bukan saja Jiteku telah mewariskan kepandaiannya kepa-damu, menyembuhkan lukamu, juga menghadiahkan benda mestikanya kepadamu, sekarang yang kuinginkan hanya ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian serta sarungnya, yang lain tidak akan kuambil."

Ji-sia sadar keadaan sekarang tidak mengun-tungkan dirinya, tapi bagaimanapun juga ruyung itu tak boleh sampai dirampas olehnya, kata-kata Oh Kay-gak terasa masih mendengung di telinganya....Ruyung ini tak ternilai harganya, setiap orang yang belajar silat menganggapnya melebihi nyawa saudiri, di dalamnya mengandung suatu rahasia be-sar yang jauh lebih berharga daripada ruyung ini sendiri....

Maka setelah mendengar perkataan Oh Ku-gwat, lalu teringat kembali akan pesan Oh Kay-gak, Ji-sia"

Lantas berpikir.

"Oh Ku-gwat meminta ruyung beserta sarungnya, jangan-jangan rahasia tersebut berada pada sarung ruyung....Tapi sarung lemas ini tampaknya tidak mempunyai sesuatu tanda yang mencurigakan. Berpikir sampai di sini, pemuda itu mendengus, katanya.

"Oh-locianpwe, Jian-kim-si-hun-pian ada-lah hadiah Oh-pocu untukku, ia suruh Wanpwe melindunginya dengan jiwa ragaku, apakah kau menyuruh Wanpwe mengingkari janji?"

Kakek pendek yang mencengkeram urat nadi Bok Ji-sia itu tertawa dingin, katanya.

"Ruyung Jian-kim-si-hun-pian adalah benda pembawa mala-petaka, dengan maksud baik kuingin menolongmu untuk melenyapkan bencana besar yang berada di depan mata, tapi kau tidak tahu diri."

"Bok-siauhiap, kau mesti tahu ruyung itu me-nyangkut peristiwa pembunuhan yang sangat besar,"

Kata Oh Ku-gwat pula sambil tertawa.

"ada be-berapa orang gembong iblis yang sudah puluhan tahun tak pernah menampakkan diri kini secara diam-diam sedang menyelidiki jejak ruyung tersebut, dengan kekuatanmu seorang jangan harap mampu menentang kekuatan mereka.

"Hehehe, terima kasih banyak atas maksud ba-ikmu itu,"

Jawab Ji-sia sambil tertawa dingin.

"Wanpwe tidak akan memamerkan ruyung ini di depan umum."

"Jangan kau anggap enteng ketajaman mata-orang persilatan, dewasa ini sudah ada banyak orang yang tahu bahwa kau membawa ruyung mestika ini, berita tersebut tentu segera akan tersebar ke mana-mana dalam waktu singkat, badai pun akan ber-jangkit. Selain itu semua orang tahu ruyung ini ber-ada pada Jiteku, gembong iblis itu pasti akan lang-sung kemari membuat huru-hara dalam Thian-seng-po, daripada mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah, kuharap Bok-siauhiap sudi berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan."

Seandainya Ji-sia tidak mengalami sergapan tadi, tentu ia tak tahu kakek yang berwajah lembut ini sesungguhnya adalah seorang manusia licik yang berbahaya sekali.

"Jadi rahasia ini takkan tersiar bila ruyung ber-ada ditanganmu?"

Ejek Ji-sia.

"Jangan kuatir Bok-siauhiap, aku tidak bermak-sud mengangkangi ruyung ini, sengaja kusebarkan kabar ini ke dunia persilatan dengan maksud agar semua orang persilatan yang ada sangkut pautnya dengan ruyung ini berkumpul di dalam benteng Thian-seng-po, dan kita mencari suatu jalan penyelesaian yang baik."

"Huh, hanya setan yang percaya pada perkata-anmu! Terus terang kuberitahukan padamu, tak nanti kukecewakan orang yang menghadiiahkan ru-yung ini kepadaku dan menyerahkannya kepada orang lain."

"Jadi kau tidak mau menyerahkan ruyung itu kepada kami?"

Teriak si kakek pendek kecil dengan marah.

"Baik, kami akan merampasnya dengan ke-kerasan."

Tangan, kirinya yang mencengkeram urat nadi Bok Ji-sia segera diperkeras, sementara tangan kiri merogoh saku anak muda itu.

Rupanya dalam pembicaraan tersebut menda-dak Jisia teringat pada ilmu menutup jalan darah ajaran Oh Kay-gak, ia menjadi tabah dan semua nadi penting pada lengan kanannya ditutup.

Sewaktu kakek kecil itu hendak merampas de-ngari kekerasan, mendadak ia tertawa dingin, tangan kirinya membalik dan balas mencengkeram urat na-di tangan kanan lawan, sementara tangan kanannya mengipat sekuatnya, begitu terlepas dari cekalan, suatu pukulan langsung menghantam dada kakek itu.

Serangan balasan ini dilancarkan sangat men-dadak, betapa cerdik kakek itu juga tak menyangka Ji-sia masih sanggup melancarkan serangan balasan dalam keadaan urat nadi masih dicengkeram.

"Duk!"

Dengan telak pukulan Ji-sia bersarang di dadanya, ia bersuara tertahan, tubuhnya mencelat beberapa tombak ke belakang dan muntah darah, walaupun tenaga dalamnya cukup sempurna, namun pukulan Ji-sia itu menyebabkan dia tak sang-gup merangkak bangun lagi.

Air muka Oh Ku-gwat berubah hebat, hawa napsu membunuhnya berkobar, seperti hantu ia me-layang maju dan menahas dengan telapak tangan.

Ji-sia berkelit ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan itu, lutut kanannya diangkat un-tuk menyodok perut Oh Ku-gwat.

Serangan ini sangat bagus, sekalipun Oh Ku-gwat sangat lihay, terpaksa ia melompat mundur.

Tapi begitu mundur ia menerkam maju pula, ke-cepatannya luar biasa, pukulan demi pukulan di-lancarkan dengan tenaga dahsyat, secara beruntun ia lepaskan dua kali pukulan berantai.

Ji-sia mematahkan semua serangan dengan ge-rakan yang aneh, keruan Oh Ku-gwat terkesiap.

Kejut dan heran Oh Ku-gwat melihat kelihaian lawan, ia tak mengira kepandaian pemuda itu se-demikian saktinya dengan tenaga pukulan yang sa-ngat kuat, tapi dengan begitu iapun tahu bahwa Jitenya telah memberikan semua tenaga dalamnya kepada pemuda itu.

"Bocah ini sangat berbahaya kalau dibiarkan hidup,"

Demikian ia pikir.

"kalau ia berlatih setahun lagi, sulit rasanya untuk mencarikan orang yang mampu menaklukkan dia."

Ingatan ini semakin mengobarkan hawa napsu membunuhnya.

Pada saat itulah Ji-sia telah melancarkan se-rangan balasan, tangan kiri kanan melepaskan serangkaian pukulan berantai, sementara kaki kanan menendang jalan darah Ciang-bun-hiat di tubuh lawan.

Oh Ku-gwat tertawa dingin, sambil menghindar ke samping ia lancarkan pukulan ke iga kanan pe-muda itu dari sudut yang tak terduga.

Sebagai jago kelas satu, serangan mereka boleh dibilang merupakan serangan mematikan, walaupun sepintas lalu tidak nampak kehebatannya, padahal tenaga dalam mereka sudah disalurkan sekuatnya, barangsiapa terkena serangan, sedikitnya akan terluka parah.

Ji-sia apal sekali akan jurus serangan dalam kitab Jian-im-siang-gi-pit-keng, semua serangan yang dipergunakan cukup memusingkan lawannya, men-dadak ia menyurut mundur, sambil melompat se-cepat kilat menendang jalan darah Ya-ho-hiat di-tenggorokan lawan.....

Tendangan semacam ini jarang terjadi dalam dunia persilatan, mau-tak-mau Oh Ku-gwat menarik diri ke belakang, sementara itu Ji-sia lantas me-layang turun.

"Ilmu silatmu memang lihay sekali,"

Seru Oh Ku-gwat sambil tertawa dingin.

"tapi malam ini ja-ngan harap bisa tinggalkan tempat ini."

"Ah, belum tentu!"

Ejek Ji-sia sambil meng-hantam pula.

Jurus serangan Bok Ji-sia memang hebat sekali, tapi dalam hal tenaga dalam dia tidak lebih kuat, di bawah desakan lawan, ia terpaksa mundur terus.

Diam-diam Oh Ku-gwat heran, ia pikir kecuali Jitenya jarang menemukan tandingan di dunia, siapa tahu pemuda ini juga sanggup menahannya dengan sama kuat.

"Sret! Sret!"

Kembali pukulan-pukulan berat memaksa Ji-sia mundur tiga langkah ke belakang.

Begitu lawan mundur, Oh Ku-gwat menerjang maju seperti bayangan setan, tangan kiri meng-hantam muka lawan dan tangan kanannya dengan kuat menghantam pinggang pemuda itu.

Satu jurus dengan dua serangan ini merupakan jurus yang ganas, dan tidak memberi peluang bagi Ji-sia untuk melancarkan serangan balasan, satu-satunya jalan hanyalah berkelit ke samping.

Agaknya Oh Ku-gwat telah memperhitungkan hal ini, kaki kirinya segera diangkat dan melepas-kan tendangan ke ulu hati anak muda itu.

Andaikata Ji-sia termakan oleh tendangan ter-sebut, walau tak mati pun bakal terluka parah, da-lam gugupnya ia melompat ke tempat semula, ia tahan serangan tangan kiri lawan yang meng-arah muka dan bahunya.

Sambil mendengus tertahan, bahu anak muda itu kena dihantam telak, saking sakitnya tulang se-rasa retak, darah bergolak dan tubuh tergetar mun-dur tujuh-delapan langkah dengan sempoyongan....

Kesempatan yang baik ini tentu saja tidak di-sia-siakan Oh Ku-gwat, Ji-sia belum lagi berdiri te-gak, serangan kedua yang lebih dahsyat kembali me-ngurung sekujur tubuhnya.

Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, sambil membentak segenap tenaga dalamnya terhimpun pa-da telapak tangan, lalu membentuk satu lingkaran dan disambutnya ancaman Oh Ku-gwat dengan ke-ras lawan keras.

"Biang!"

Tubuh Ji-sia mencelat sejauh dua tom-bak, sebaliknya Oh Ku-gwat dengan muka pucat dan bahu bergetar terpental mundur sejauh tujuh-delapan langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

Ji-sia merasakan darah dalam dadanya bergolak keras, tapi ia tahan sebisanya, dengan tajam ditatap-nya Oh Ku-gwat sambil menanti serangan selanjut-nya.

Mendadak kakek pendek yang terhajar luka parah oleh Bok Ji-sia tadi tertawa senang, mendadak ia menubruk sebuah rantai yang bergelantung-an di dinding sebelah kiri dan menariknya.....

Pada saat itu pula Thian-kang-kiam Oh Ku gwat melompat ke atas, seperti seekor elang ia menerjang Ji-sia yang sedang berjongkok.

Terkejut anak muda itu mendengar gelak ter-tawa aneh si kakek tadi, tiba-tiba permukaan ta-nah tempat berpijaknya mulai bergerak, diam-diam ia mengeluh bisa celaka, cepat ia melompat ke atas.

Tapi pada saat itulah serangan dahsyat Oh Ku-gwat menyambar tiba dari atas kepala.

Lantai di mana ia berdiri tadi sekarang telah berubah menjadi sebuah liang besar yang gelap gulita.

Ji-sia terkejut, sukmanya seakan melayang me-ninggalkan raganya, kedua telapak tangannya diayun ke atas dengan harapan bisa menahan serangan Oh Ku-gwat tersebut....

Tanpa berdiri di tempat yang kuat, tentu saja serangan anak muda itu tak membawa kekuatan seperti biasanya, apalagi tenaga dalam Oh Ku-gwat memang sangat lihai.

"Blang!"

Tubuh Ji-sia terjeblos ke dalam liang dengan lebih cepat lagi, pada saat terakhir Oh Ku-gwat merentangkan kelima jarinya mencoba me-nyambar pinggang anak muda itu.

Ketika tertolak oleh tenaga dari atas tadi, Ji-sia tidak menderita luka dalam yang parah, supaya luput dari jambretan lawan, buru-buru dia memper-cepat daya luncurnya ke dalam liang.

"Sret!"

Ruyung Jian kim-si-hun-pian duplikat yang berada di bahu Ji-sia sempat dicengkeram oleh Oh Ku-gwat, sementara itu permukaan lantai pun rapat kembali seperti semula.

Ji-sia yang terpaksa menambah bobot badan untuk menyelamatkan diri, dalam sekejap telah me-luncur sejauh tiga-empat tombak ke dalam liang ter-sebut.

Suasana dalam liang sangat gelap, tak tampak sesuatu apapun, hawa dingin serasa menusuk tulang, buru-buru Ji-sia mengerahkan hawa murni untuk mengurangi daya luncurnya.

Ia tak tahu berapa dalam liang tersebut dan benda apa yang berada di bawah sana, sementara ia merasa sangsi, ujung kakinya telah menempel permukaan tanah.

Tiba-tiba pemuda itu mendengar suara tertawa dingin seseorang dari samping, sesosok bayangan hitam lantas menerjangnya.

Ji-sia tidak menyangka ada orang akan me-nyergapnya di dasar liang tersebut, telapak tangan kanannya dengan cepat menolak ke depan.....

Tapi serangan orang itu sama sekali tidak bermaksud mencengkeram urat nadinya, di tengah ja-lan serangan cengkeraman itu berubah menjadi pu-kulan dan secepat kilat menekan dada pemuda itu.

Karena suasana gelap gulita, sulit bagi kedua pihak untuk melihat jelas musuhnya yang tampak hanya bergeraknya bayangan hitam belaka.

Tahu-tahu Ji-sia merasa dada kena dihantam orang, sebaliknya tangan kanannya berhasil pula menekan dada lawan, ia merana tangannya seperti menyentuh sesuatu bagian badan yang kenyal, mirip payudara kaum wanita.....

Terdengar suara tertahan dua orang, tubuh kedua orang sama-sama terpental ke samping.

"Plung! Plung!"

Oleh getaran tenaga bentrokan itu, kedua pihak tercebur ke dalam air.

Agaknya tempat itu adalah sebuah penjara air, di mana Jisia hinggap tadi adalah sebuah batu karang yang menonjol keluar di permukaan air.

Karena gelapnya suasana, apalagi serangan di-lancarkan kedua pihak dengan kecepatan tinggi, akibatnya mereka berdua sama-sama tercebur ke air hingga basah kuyup.

Begitu tercebur ke air, Ji-sia mengigil kedingin-an, ternyata air itu dingin luar biasa.

Cepat telapak tangan kanannya memukul permukaan air dan tubuhnya melayang ke atas lalu dengan cekatan melompat ke atas batu yang karang luas cuma satu-dua kaki.

Hampir pada saat yang sama.

bayangan hitam itupun melompat ke atas batu karang itu.

"Kembali kau!"

Bentak Ji-sia gusar.

Dengan jurus Lip-han-san-gak tenaga (menggoncangkan tanah bukit) dia tabas batok kepala orang itu.

Dia mengira orang itu adalah anak buah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat yang sengaja dipersiapkan untuk menyergapnya, oleh sebab itu serangan yang dilancarkan dengan gusar itu cukup dahsyat, satu jurus serangan ajaran Oh Kay-gak.

Walaupun kungfu si bayangan hitam juga cukup lihay, tapi menghadapi bacokan Ji-sia yang hebat ini terkesiap juga dia, cepat ia menggegos ke samping.

"Blang!"

Pukulan Ji-sia menghantam permuka-an air, timbul gelombang tinggi beberapa kaki.

Secepat-cepatnya bayangan hitam itu menghin-dar toh masih terlambat sedetik, angin pukulan dahsyat itu sempat menyambar bahu kanannya dan membuat dia mundur ke tepi batu dengan sempoyongan, nyaris tercebur kembali ke dalam air.

Pukulan dahsyat ini membuat bayangan hitam itu terkesiap dan tidak berani menyerang lagi secara gegabah.

Ia coba memperhatikan raut wajah Bok Ji-sia, mendadak serunya terperanjat.

"He, kau! Tak ter-sangka kita berjumpa lagi di sini!"

Dengan sorot mata tajam Ji-sia juga meng-amat-amati orang itu, ternyata dia tak lain adalah Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling.

Melihat gadis ini, Ji-sia lantas teringat kembali pada dendam sekali pukulannya, ia mendengus, ke-mudian katanya.

"Hmm, kebetulan, hari ini akan kubalas dendam pukulanmu semalam."

Dia adalah pemuda yang mudah dendam, se-telah suatu pukulan Bwe-sat-ciang Tong Yong-ling semalam, rasa bencinya kepada gadis itu sudah me-rasuk tulang, maka perjumpaan kali ini menimbul-kan niat pemuda tersebut untuk membalas sakit hati.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling sendiri pun seorang gadis yang keras kepala, coba kalau orang lain yang menyerangnya, orang itu akan dibunuh-nya, tapi setelah mengetahui orang ini adalah Bok Ji-sia, tiba-tiba timbul suatu perasaan aneh dalam hatinya, maka ia tidak melanjutkan serangannya.

Melihat gadis itu diam saja, dengan marah Ji-sia membentak lagi.

"Kau harus hati-hati, aku hen-dak membalas dendam padamu!"

Sebenarnya Tong Yong-ling hendak menjelas-kan bahwa ia menyesal setelah memukulnya sema-lam, tapi sikap Ji-sia yang garang menimbulkan ra-sa ingin menangnya. Ia tertawa dingin, sahutnya.

"Besar amat la-gakmu, kau percaya bisa mengalahkan aku? Hm, jika ingin membalas sakit hati, ayo seranglah! No-namu akan pertaruhkan nyawa untuk melayanimu, apa gunanya berlagak."

"Baik, akan kuberi ajaran padamu, agar kau tahu di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai."

Habis berkata, anak muda itu melangkah maju dan melanearkan sesuatu tabasan.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yongling tertawa di-ngin, telapak tangan kanan yang halus bergerak, dengan jurus Cing-hong-hud-liu (angin lembut meng-goyangkan pohon liu) disambutnya pukulan lawan.

"Justeru akan kucoba sampai di manakah taraf tenaga dalammu."

"Blang!"

Kedua telapakan tangan bertemu dan menimbulkan suara nyaring, damparan angin menimbulkan gelembung air.

Baik Tong Yaog-ling maupun Bok Ji-sia, ke-duanya tetap berdiri di tempat semula.

Ji-sia terkesiap, pikirannya.

"Ilmu silat perem-puan ini betul-betul luar biasa.., Sementara itu Tong Yong-ling tertawa dingin.

"Tenaga pakulanmu memang hebat. Nah, sambut pula pukuianku ini?"

Tiba-tiba telapak kanannya diayun ke depan.

Telapak tangan kiri Ji-sia dengan jurus Lip-ging-thian-lan (Menutup rapat langit selatan) segera menyambut ancaman itu dengan sama kerasnya.

Di dalam pukulan tersebut diam-diam Tong Yong-ling telah sertakan sembilan bagian tenaga pukulannya, pukulan yang sanggup menghancurkan pilar, menurut dugaan gadis tersebut, kendatipun tak mampu melukai, lawan.

paling tidak lawan akan terdesak mundur.

Siapa tahu kejadian sama sekali di luar dugaan orang, sewaktu Ji-sia menerima serangan tersebut, tubuhnya tetap berdiri tegak seperti bukit, sedikit pun tidak bergeming.

Gadis itu terkesiap, pikirnya.

"Ketika kulukai-nya semalam, tenaga pukulan yang kugunakan ti-dak sekuat sekarang, kenapa hanya selisih sehari saja tenaga dalamnya sudah memperoleh kemajuan sepesat ini? Padahal keadaannya semalam seperti tak bertenaga.., Sungguh aneh orang ini!"

Sementara dia berpikir, sambil membentak Ji-sia telah melancarkan serangkaian pukulan dan ten-dangan, dalam waktu singkat ia melancarkan lima kali pukulan berantai.

Kelima serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan jurus serangan yang aneh Tong Yong-ling kebetulan berdiri di tepi batu dan tak mengira Ji-sia akan menyerang tanpa kenal ampun.

Karena kerepotan menahan serangkaian pukul-an aneh itu, sedikit kurang hati-hati segera ia ter-cebur lagi ke dalam air.

Kekalahan ini boleh dibilang baru pertama kali dialami Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling semen-jak terjun ke dunia persilatan, tentu saja ia men-jadi, murka, sambil mendengus ia melompat ke atas lagi sambil melepaskan serangan balasan.

Dalam sekejap bayangan telapak tangan ber-taburan, angin pukulan yang maha dahsyat gulung gemulung menerjang tiada habisnya.

Ji-sia dapat merasakan pula betapa hebatnya serangan balasan lawan, tapi ia tak sudi mundur barang selangkah pun, kuda-kudanya diperkuat dan jurus serangan yang digunakan pun makin meng-gila.

Jurus-jurus serangan yang aneh dan kuat ini segera membuat Tong Yong-ling tak berdaya, ia tetap tertahan di tepi batu karang dan tak sanggup maju selangkah pun.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong ling betul-betul naik darah, ia menyerang legi dengan kalap.

Ia tahu bila pemuda itu gagal didesak mundur, akibatnya ia bisa tercebur lagi ke dalam air, sebab posisinya memang tidak menguntungkan.

Ji-sia tertawa terbahak-bahak, serangannya di-pergencar, kedua orang segera terlibat dalam perta-rungan sengit.

Mendadak Tong Yong-ling membentak.

"Mun-dur kau!"

Dengan sepenuh tenaga ia menabas batok kepala lawan. Bok Ji-sia tertawa dingin, sahutnya.

"Aku tak mau mundur, mau apa kau?"

Telapak tangan kanan dengan jurus It-cu-keng-thian (satu tonggak menyangga langit) melakukan gerakan seperti menangkis sambil mengerahkan te-naga, padahal ketika mencapai tengah jalan mendadak tubuhnya bergeser ke samping kiri.

"Wees!"

Angin pukulan yang dahsyat dari Tong Yong-ling itu terpancing ke samping oleh tenaga lunak Ji-sia, hal ini membuat si nona kehilangan imbangan badan.

Kaget sekali Tong Yong-ling, dia tak meng-ira Bok Ji-sia memiliki ilmu silat seaneh itu, mana dia tahu bahwa jurus lihai ini adalah kungfu an-dalan Oh Kay-gak?

Sekalipun Bok Ji-sia berhasil memancing pu-kulan lawan yang hebat itu ke samping, tidak urung iapun terdorong mundur selangkah.

Meski demikian, tangan kirinya tidak berhenti sampai di situ saja, secepat kilat ia cengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri si gadis.

Kim-na-jiu-hoat atau ilmu menangkap itu adalah ajaran Oh Kay-gak, sedemikian hebatnya hingga Tong Yong ling tak berdaya, tanpa ampun tangan kirinya tercengkeram.

Serangan aneh itu membikin si nona tertegun.

Dalam pada itu Ji-sia terus menarik tangan kirinya ke samping.

Dengan urat nadi tercengkeram tenaga Tong Yongling banyak berkurang, karena tersentak, ser-ta merta tubuhnya terjerungup ke depan.

Ia menjadi malu dan marah, diam-diam ia meng-himpun tenaga pada tangan kiri, seketika tangannya mengeras seperti baja, ia meronta sekuatnya, ber-bareng itu telapak tangan kanannya dari sudut tak terduga terus menghantam jalan darah Ciang-tay-hiat di dada Bok Ji-sia.

Ketika Tong Yong-ling mengerahkan tenaga dalamnya tadi, Ji-sia sudah merasakan akan hal itu tiba-tiba cengkeramannya diperkuat, sementara sikut kanannya diangkat untuk menahan pukulan gadis itu.

Mendadak Tong Yong-ling merentangkan ke-lima jari tangan kanan, ia terus balas mencengkeram persendian tulang siku kanan anak muda itu.

Dengan demikian kedua pihak sama-sama me-ngerahkan tenaga sambil saling mencengkeram tem-pat penting di tubuh lawan, karena kekuatan me-reka hampir seimbang, maka menang kalah pun sukar ditentukan.

Kurang lebih seminuman teh, tiba-tiba Tong Yong-ling merasakan tenaga dalam yang dikerah-kan lawan semakin menghebat, ia menjadi terperan-jat, sambil membentak satu jurus serangan ma-ut dilepaskan.....

Lutut kirinya mendadak diangkat mendengkul jalan darah Khi-hay-hiat di bawah perut Ji-sia, ber-bareng itu badannya miring ke samping dan bahu kanan langsung menyodok iga.

Serangan jarak dekat semacam ini amat jarang terjadi dalam pertarungan antara jago-jago lihay.

Satu jurus dengan dua serangan dari Tong Yong-ling ini merupakan serangan maut yang aneh dan mematikan.

Perlu diketahui bahwa jalan darah Khi-hay-hiat merupakan Hiat-to penting, jika jalan darah itu terpukul, maka pengerahan tenaga dahan sese-orang akan buyar dengan sendirinya, akibat dari serangan tersebut darah akan mengalir balik dan menyebabkan pecahnya urat nadi penting, sang kor-ban akan mampus dengan keadaan yang mengeri-kan.

Sesungguhnya Ji-sia memiliki kepandaian yang lihai, tapi bagaimanapun juga dia adalah pemuda yang cetek pengalaman tempurnya, sebab itulah ia terdesak.

Ia mendengus kesakitan, tubuhnya tertumpuk oleh bahu lawan sehingga terpental mundur dengan sempoyongan.

Ternyata sodokan lutut kiri Tong Yong-ling yang mengarah jalan darah Khi-hay-hiat dekat selangkangan itu mendadak diangkat lebih tinggi dengan menumbuk perutnya, kalau tidak mungkin ji-wa Ji-sia sudah melayang.

Kendatipun demikian, luka yang diderita anak muda itupun tidak terhitung ringan.

Sesudah memukul mundur Bok Ji-sia, Tong Yong-ling mendesak maju, tapi tidak menyerang lagi, dengan sinar mata yang lembut ia pandang wajah yang kesakitan itu.

Ia jadi menyesal dan sedih.....

Ji-sia memandangnya dengan sinar mata penuh kebencian dan dendam.

Bibir Tong Yong-ling bergerak seperti hendak bicara, tapi urung, akhirnya hanya menghela napas saja.

Untuk sejenak suasana dalam penjara air itu menjadi sepi, hawa udara terasa dingin merasuk tulang.

Dengan tenang Jisia mengatur pernapasan dan mengendalikan pergolakan darah dalam dadanya, kemudian tanpa mengeluarkan suara ia maju ke depan dan melancarkan serangkaian pukulan dan tutukan.

Tong Yong-ling terkesiap, sesungguhnya ia sudah terluka oleh pukulan Bok Ji-sia yang berat tadi, apalagi setelah melakukan pertarungan sengit sekian lama, tenaganya sudah lemah.

Sekarang ia harus menerima lagi serangkaian serangan kalap Ji-sia, tentu saja ia kewalahan, ter-utama di bawah jurus serangan lawan yang aneh, ia benar-benar terancam bahaya.

Padahal darah dalam dada Ji-sia sendiri sedang bergolak hebat, tapi dasar kepala batu, ia lebih suka menahan sakit daripada menghentikan serangannya.

Anehnya, semakin dahsyat ia melancarkan se-rangan, semakin hebat juga pergolakan darah di da-lam tubuhnya.

Setelah berulang kali terancam bahaya, timbul juga perasaan gemas Tong Yong-ling, dia tak me-nyangka Ji-sia adalah seorang yang tak kenal ke-manusiaan dan berhati keji.

Tiba-tiba gadis itu berteriak keras.

"Pukul saja! Ayo, pukul aku sampai mati!"

Suaranya penuh rasa sedih, seperti rintihan anak kecil.

Sambil menjerit tiba-tiba Tong Yong-ling me-narik serangannya dan berdiri tak bergerak di sem-patnya.

Ji-sia yang tak kenal kasihan mendengus, telapak tangannya langsung menghantam dada gadis ter-sebut Tong Yong-ling tidak menghindar, juga tidak melawan, hanya air mata jatuh bercucuran seperti hujan, ditatapnya lelaki tak berperasaan itu dengan termangu.....

Dalam serangannya Ji-sia telah sertakan tenaga yang cukup keras, tapi ketika sinar matanya ter-bentur dengan sinar mata si nona, hatinya bergetar keras.

Tiba-tiba hatinya menjadi lembek, buru-buru ia tahan pukulannya, tapi sayang sudah terlambat....

"Blang!"

Dada sebelah kiri gadis itu terhajar telak.

Sambil menjerit kesakitan, seperti layang-layang putus Yong-ling mencelat dan tercebur lagi ke dalam air.

Tapi pada saat itu pula.

mendadak Ji-sia juga merintih kesakitan, ia tumpah darah dan jatuh ter-duduk di atas batu, mukanya mengejang menahan rasa sakit, sekujur badan gemetar keras.

Akhirnya ia tak tahan lagi, setelah muntah darah pula, ia roboh terkapar di atas batu dan tak sadarkan diri.....

Kiranya ketika pada detik terakhir Bwc-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling tidak melihat Ji-sia me-narik kembali serangannya, tiba-tiba terlintas ing-atannya untuk beradu jiwa.

Pada saat telapak tangan kanan Ji-sia meng-hajar dada kirinya, tiba-tiba tangan kirinya juga melepaskan sebuah pukulan, itulah Bwe-sat-ciang yang amat keji.

Ji-sia sendiri tidak menyangka gadis itu ba-kal melancarkan serangan keji padanya, seketika itu juga ia terhajar telak oleh pukulan Bwe-sat-ciang tersebut.

Tong Yong-ling yang tercebur ke dalam air segera tenggelam, sama sekali tak ada suara apapun, sejenak kemudian, di alas permukaan air terjadi gelombang dan muncul Tong Yong-ling.

Mukanya pucat seperti mayat, dengan menahan rasa sakit sekuat tenaga ia merangkak ke atas ba-tu karang, air mata serupa butiran air kolam mem-basahi pipinya.

Lamat-lamat kelihatan ujung bibirnya berdarah, pelahan ia merangkak ke sisi Bok Ji-sia.

Akhirnya ia menjatuhkan diri di atas badan pemuda itu dan menggeletak tak bergerak lagi.

Kedua muda-mudi ini sama-sama keras ke-pala dan tinggi hati, akibatnya keduanya sama-sa-ma terluka parah.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Ji-sia merasa tubuhnya ditindih oleh sesuatu yang lu-nak......

Iapun merasakan bibirnya seperti tertutup oleh sesuatu yang hangat, seperti terisap dengan rasa yang manis.

Selama hidup, rasanya ia pernah melaku-kan perbuatan semacam ini, hanya saja sudah lupa kapan kenikmatan semacam itu pernah dialaminya.

Ia mengira sadang bermimpi......tapi kenya-taannya memang terjadi.

Tiba-tiba ia mengendus bau harum segar, ia semakin terbuai dalam impian, semakin kelelap da-lam kekaburan.....

Dari kelelapan yang tak sadar, pelahan pemuda itu pulih kembali dalam kesegaran semula.

Ia mendengar suara isak tangis yang memilu-kan hati di tepi telinganya....

Ternyata Tong Yong-ling menggunakan bibir-nya untuk menolong pemuda itu, obat penawar ra-cun diloloh dari mulut ke mulut.....

Ji-sia segera membuka matanya, ia lihat gadis berbaju hitam dengan garis tubuh indah basah ku-yup duduk di sampingnya, pakaian hitam itu tampak robek di sana sini sehingga lamat-lamat kelihatan kulit badannya putih bersih.

"Hm, kenapa tidak kau bunuh aku?"

Dengus Ji-sia dengan nada dingin. Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling segera ber-henti menangis, setelah menghela napas sedih, kata-nya.

"Kau anggap aku seorang perempuan yang ber-hati kejam dan tak berperikemanusiaan?"

Ji-sia melenggong, pelahan ia bangun berduduk, ia membungkam dan seperti sedang meresapi per-kataan si nona.

Melihat pemuda itu diam saja, Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling kembali menghela napas sedih, katanya.

"Walaupun orang persilatan menganggap-ku kejam, sesungguhnya orang yang kubunuh ha-nyalah mereka yang betul-betul jahat."

"Hmm, belum tentu cocok seperti apa yang kau katakan,"

Dengus Ji-sia. Sekali lagi Tong Yong-ling merasa tertusuk hatinya, air mata jatuh bercucuran, tapi si nona yang keras kepala berusaha menahan perasaannya.

"Kalau kau tidak percaya padaku ya sudahlah, tapi terus terang kukatakan, aku menyesal sakali setelah melancarkan pukulan Bwe-sat-ciang kepada-mu semalam."

Ucapan itu diutarakan dengan nada sedih dan penuh penyesalan.

"Sakit hati atas pukulanmu semalam telah kubalas, sekarang kita sudah tidak saling berutang lagi....."

"Kini kita dicelakai orang dan tersekap dalam penjara air sepantasnya urusan tetek bengek jangan dipersoalkan lagi,"

Kata si nona kemudian.

"seha-rusnya kita bekerja sama untuk mencari akal guna kabur dan penjara air ini."

Setelah disinggung baru Ji-sia ingat akan hal ini, pikirnya.

"Betul juga perkataannya. Sekarang aku terkurung di sini, akhirnya bisa mati kelaparan."

Teringat soal lapar, perut Ji-sia lantas terasa berkeroncongan, laparnya tidak kepalang, ternyata sudah sehari semalam dia tidak mengisi perut.

Tong Yong-ling tahu anak muda itu lapar, segera ia mengeluarkan sebungkus dendeng yang terendam basah, tanpa bicara ia makan sendiri de-ngan nikmatnya.

Melihat orang makan, Ji-sia hanya menelan air liur sambil memperhatikan bungkusan daging kering itu.

Tiba-tiba Tong Yong-ling bergumam.

"Meski-pun dendeng ini telah basah oleh air, tapi di tempat seperti ini terasa lebih nikmat daripada hidangan lezat apapun."

Sambil berkata matanya yang jeli itu diam-diam melirik sekejap ke arah Ji sia.

Waktu itu Ji-sia sedang memperhatikan si nona makan, mukanya menjadi merah oleh lirikan itu, buru-buru ia melengos ke arah lain.

Sesungguhnya pemuda itu lapar sekali, kalau bisa dia ingin minta sedikit bagian makanan untuk mengisi perutnya, tapi wataknya yang keras me-larang ia berbuat demikian, apalagi baru saja me-reka saling labrak.

Tong Yong-ling adalah seorang gadis yang cerdik dan nakal, tadi ia tidak mendapat akal untuk berbaik dengan Bok Ji-sia, sekarang me-lihat sikap anak muda itu, diam-diam ia me-rasa senang dan geli.

"Hei, kau lapar tidak?"

Tiba-tiba sapanya.

Dongkol sekali hati Ji-sia, dia tahu si nona sengaja mengimingnya dengan makanan, maka ia pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pan-dangannya ke permukaan air.

Walaupun suasana dalam penjara air itu gelap gulita, tapi setelah lewat sekian lama, matanya mulai terbiasa dalam suasana tempat itu, apalagi dia memang memiliki ketajaman mata yang melebihi orang lain.

Ia lihat sekeliling hanya bayangan air belaka, batu karang di mana ia duduk letaknya persis di tengah penjara, bagian timur dan barat penjara, kosong tanpa dinding, sebelah utara dan selatan yang berjarak belasan tombak ada dinding batu yang entah memanjang sampai ke mana, bagian atas gelap gulita sukar mengukur ketinggiannya, tapi jika ditinjau dari daya luncurnya waktu turun tadi, paling tidak ada sepuluh tombak lebih, ini menun-jukkan betapa besarnya bangunan ini.

Tong Yong-ling tahu pemuda itu sungkan minta makanan kepadanya dan pura-pura ti-dak mendengar tegurannya tadi, diam-diam ia merasa geli juga, pikirnya.

"Akan kulihat sam-pai di manakah keteguhan hatimu untuk me-nahan lapar...."

Ia sengaja menegur lagi.

"He, kenapa kau ti-dak berbicara? Apakah masih dendam padaku?"

Bagaimanapun tak mungkin bagi Ji-sia untuk memperhatikan permukaan air terus menerus, maka sahutnya.

"Untuk apa aku dendam padamu?"

Tong Yong-ling mengeluarkan dua bungkus dendeng, serunya.

"Hei, kukira kau tentu lapar, tapi padaku hanya tersedia empat bungkus daging kering, jika kubagi dua, maka jiwaku akan se-hari lebih pendek, ai , , , Tapi bagaimana pun kita toh senasib sependeritaan, aku harus membantumu. Nah, mari kita makan seorang dua bungkus, mati biar kita mati bersama, kalau hidup juga hidup bersama, ini, sambutlah dua bungkus daging ini!"

Sehabis berkata Tong Yong-ling lantas me-lemparkan bungkusan daging itu ke depan, bung-kusan yang pertama ia lemparkan tepat di hadapan Ji-sia sebaliknya bungkusan kedua ia melontarkan lebih ke sana sedikit dan jatuh ke permukaan air berbareng ia berteriak.

"Hei, lekas........., lekas tang-kap bungkusan itu!"

Sekalipun gadis itu tidak berkata apa-apa, tak nanti Ji-sia membiarkan bungkusan daging itu ter-cebur ke air, dia segera melompat ke depan dan menyambar bungkusan tersebut.

Tong Yong-ling menyaksikan kejadian tersebut dengan senang, tadi ia kuatir pemuda aneh ini enggan menerima kebaikannya?

Setelah menerima kedua bungkus daging itu, Ji-sia baru memutar badan sambil berkata dengan terbata-bata.

"Nona, lebih....lebih baik kau makan sendiri saja!"

"Ah, masa kau tidak lapar?"

Seru Tong Yong-ling pura-pura terperanjat.

Meski di luar Ji-sia pura-pura sungkan, sesung-guhnya kalau bisa dia hendak melahap kedua bung-kus daging itu sekaligus, dengan wajah merah kem-bali katanya dengan tergegap.

"Nona, aku ,....ku-kira sebungkus saja sudah cukup"

"Ah, buat apa kau sungkan-sungkan lagi?"

Mendengar perkataan itu, Ji-sia betul-betul malu dan tersipu-sipu, tadi ia masih galak kepada si nona, tapi sekarang, karena makanan dia terpak-sa membaiki orang, tindakan ini sebenarnya tidak cocok dengan wataknya yang tinggi hati, tapi ka-lau tidak terima makanan itu, sukar menahan pe-rutnya yang betul-betul lapar sekali.

Kelaparan memang suatu siksaan hidup yang paling kejam, setiap manusia harus makan untuk mempertahankan hidupnya.

Ji-sia menghela napas sedih, dengan menghela napas ini buyarlah rasa benci dan dendamnya kepada gadis itu.

Ji-sia tidak bicara lagi, dengan lahap dia me-nyikat dendeng.

"Eeeh.....sia.., .siapa namamu?"

Tiba-tiba Tong Yong-ling bertanya. Setelah menerima budi kebaikan orang, tentu saja Ji-sia tak dapat bersikap dingin seperti tadi, sahutnya.

"Aku she Bok dan bernama Ji-sia!"

"O, nama yang aneh, persis seperti....."

Se-benarnya ia hendak mengatakan persis seperti orang-nya, tapi mendadak ia telan kembali kata-kata ter-sebut dan tertawa cekikikan.

"Nona Tong siapa yang memancingmu kemari?"

Ji-sia ganti bertanya. Berkerut kening Tong Yong-ling demi mende-ngar pertanyaan itu, dengan gusar katanya.

"Atas perintah guruku, kudatang menyampaikan pesan kepada Thian-seng-pocu Oh Kay-gak, siapa tahu tua bangka celaka itu liciknya tidak kepalang, aku dipancing ke ruangan di atas sana, lalu terjebak alat rahasia hingga tercebur ke dalam penjara air ini. Dan kau kenapa sampai di sini?"

Dengan dahi berkerut dan mata memancarkan sinar kegusaran jawab Ji-sia.

"Andaikata aku ma-sih hidup dan bertemu lagi dengannya, pasti akan kubalas sakit hati ini."

Agaknya Tong Yong-ling marah juga, sambung nya.

"Bok....Bok-siankong, kelak bila kita ber-jumpa lagi dengan Oh Kay-gak, mari kita bersama-sama membunuhnya untuk melampiaskan dendam kita ini."

Sebenarnya Tong Yong-ling hendak memanggil Ji-sia sebagai engkoh Bok, tapi ia merasa malu untuk buka suara, maka akhirnya sebutan itu ber-ubah menjadi Bok-siangkong atau tuan Bok.

Ji-sia menghela napas sedih, katanya.

"Nona Tong, kau salah menuduh orang, yang mencelakai kita bukan Thian-seng-pocu Oh Kay-gak Locianpwe melainkan kakaknya, Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat! "Lantas berada di manakah Oh Kay-gak Lo-cianpwe? Aku mempunyai pesan yang harus disam-paikan kepadanya!".. Terbayang pada kakek yang kesepian itu, air mata bercucuran membasahi pipi Ji-sia, sahutnya.

"Dia......dia sudah mati!"

"Siapa yang membunuhnya? Cepat katakan, Suhu bilang kungfunya tinggi sekali, di dunia de-wasa ini jarang ada yang sanggup menandinginya...."

"Ia mati karena menolong diriku...."

Bicara sampai di sini, suara Ji-sia menjadi ter-sendat menahan kesedihan.

Pada mulanya dia tidak tahu Oh Kay gak telah memberi semua tenaga murninya kepadanya, tapi setelah pertarungan berulang kali malam ini dan terbukti tenaga dalam yang dimilikinya cukup sem-purna, ia baru menyadari bahwa Oh Kay-gak telah menghadiahkan tenaga murni hasil latihannya selama ini kepadanya.

Terbayang kembali budi kebaikan yang lebih tinggi dari gunung dan lebih dalam dari lautan, padahal ia tak sanggup membalas budi secara lang-sung, saking emosi air mata tak terbendung lagi, ia menangis sedih sekali.

Kemudian katanya.

"Kematiannya boleh dibilang karena dicelakai kawanan manusia jahat....."

Tong Yong-ling tambah bingung, dengan mata terbelalak dia tanya.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Ceritanya panjang sekali, tapi benar-benar membuat orang sakit hati."

"Kalau begitu cerita saja seringkas mungkin!"

Menyinggung soal tersebut, tiba-tiba Ji-sia ter-ingat pula pada beberapa macam mestika yang di-bawanya sekarang, ia menghela napas, katanya.

"Ai, nona Tong, maaf kalau aku tak dapat mencerita-kan peristiwa ini kepadamu, sebab Oh-locianpwe telah meninggalkan tugas berat kepadaku menjelang ajalnya, iapun melarang kubicarakan persoalan ini dengan siapapun, sebelum duduk perkara yang jelas tentang budi dan dendamnya berhasil kuselidiki, sukar bagiku untuk bicara terus terang."

Tong Yong-ling ikut menghela napas.

"Ai, ka-lau begitu pesan dan guruku tak dapat kusampai-kan kepadanya."

"Nona Tong,"

Kata Ji-sia dengan hati tergetar "pesan apa yang harus kausampaikan kepadanya katakan saja padaku!"

Belum lagi gadis itu menjawab, tiba-tiba ia menjerit kaget.

"Wah celaka, air mulai pasang naik!"

Mendengar itu Ji-sia memandang permukaan air, betul juga batu karang di mana mereka berada sudah hampir tenggelam tertutup air, permukaan air yang mula-mula tenang tanpa gelombang pun kini mulai menggulung dengan suara gemuruh.

Empat penjuru yang tampak hanya air melulu dengan pantulan cahaya menyilaukan.

Ji-sia berseru kuatir.

"Mungkin kita tak dapat berdiam lebih lama di sini, kita harus lekas ting-galkan tempat ini....."

"Tapi ke manakah kita bisa kabur? Empat penjuru hanya air melulu?"

Tong Yong-ling merasa putus asa.

"Lantas apakah kita harus duduk di sini dan menunggu ajal?"

Sekarang Tong Yong-ling tidak lagi merasa nge-ri atau takut akan kematian, sinar lembut terpancar keluar dari matanya yang jeli, ditatapnya wajah Ji-sia dengan lembut, lalu katanya.

"Kecuali mati teng-gelam, rasanya tiada jalan lain yang bisa kita tem-puh. Mati! Sekaraag tidak kutakuti lagi...."

"Kau tidak takut mati?"

Tanya Ji-sia tercengang. Yong-ling tersenyum.

"Yang paling kutakuti adalah mati sendiri, tapi setelah ada kau sekarang...."

"Nona Tong, jangan cuma memikirkan yang buruk saja, mumpung sekarang ada kesempatan, kita harus cari akal untuk mengatasi keadaan ga-wat ini."

"Caranya sudah kudapatkan, asal air memenuhi seluruh ruangan ini, maka kita akan terapung dipermukaan air, bila di tempat kita masuk tadi ter-dapat lubang keluar dan selamatlah kita."

"Kukira cara ini tidak masuk akal"

Kata Ji-sia dengan geleng kepala.

"seandainya di atas permukaan tidak kita temukan jalan keluarnya, bukankah kita akan mati terendam dalam penjara air ini? Mereka telah memasang jebakan di sini, pasti disekitar ru-angan ini dibangun dengan kukuh dan rapat. Nona, caramu itu hanya bisa dicoba bila kita sudah tiada jalan lain, mari sekarang kita cari jalan keluarnya."

Air itu entah darimana datangnya, permukaan air kian lama kian tinggi dengan cepatnya, sementara kedua orang itu masih berbicara, permukaan batu karang sudah mulai terendam air.

"Coba lihat,"

Kata Tong Yong-ling kemudian dengan kesal.

"empat penjuru hanya bayangan air yang tampak, di mana ada jalan keluar? Kalau be-gini terus, walaupun tidak mati tenggelam, tentu juga kita akan mati kelaparan."

"Nona Tong, apakah kau dapat berenang?"

Tiba-tiba Ji-sia bertanya.

Satu ingatan terlintas dalam benak Yong-ling demi mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia teringat pada sumber datangnya air tersebut, pikirnya "Sumber air ini jelas bukan berasal dari sumber mata air di bawah tanah, air ini pasti dialirkan ke-mari dari luar, kalau kuikuti datangnya aliran dan menemukan jalan masuknya air, bukankah dengan muda bisa kukeluar dari tempat ini?

Tapi pintu air itu pasti dilindungi dengani terali besi, jadi tetap sukar keluar.

Setelah berpikir sejenak akhirnya Tong Yong-ling berkata.

"Aku bisa berenang, dan kau?"

"Kalau begitu bagus sekali,"

Seru Ji-sia dengan wajah berseri.

"Aku telah mendapatkan cara bagus untuk meloloskan diri dari penjara air ini, aku sendiripun dapat berenang meskipun tidak terlam-pau mahir."

"Apa caramu itu? Dapatkah kau terangkan lebih dulu?"

"Daripada menunggu ajal di sini, lebih baik kita beradu nasib saja, sudah kuperhatikan air ini datang dari barat menuju ke timur, asal kita be-renang menuju ke hulu dan menemukan pintu ma-suknya air, kemungkinan besar kita bisa lolos dari tempat ini."

"Betul, memang cuma jalan ini yang bisa kita tempuh, cuma kuduga di sekitar pintu air pasti di-lindungi secara kuat, tak nanti mereka tidak mem-perhitungkan kemungkinan semacam ini."

Ji-sia menghela napas.

"Ai, banyak pekerjaan yang masih harus kulakukan, aku tak mau duduk menanti kematian, kita tak boleh tunda-tunda lagi, ayo kita cari pintu air, asal dapat ditemukan, soal dinding baja juga bisa kuatasi."

Sementara itu permukaan air sudah semakin tinggi, kini lutut mereka sudah terendam.

Ji-sia segera bertindak cepat, ia terjun lebih dulu ke dalam air disusul Tong Yong-ling di belakangnya.

Air terasa dingin menusuk tulang sumsum, untungnya mereka berdua bertenaga dalam sempurna sehingga tidak menjadi soal.

Kepandaian berenang kedua orang itu cukup lumayan juga, sekalipun mereka harus berenang menentang arus, namun kecepatannya tetap tinggi.

Yong-ling mempercepat gerak berenangnya di sam-ping Ji-sia.

Dengan tersenyum Ji-sia berpaling, katanya.

"Nona Tong, bagus juga ilmu berenangmu!"

Pujian tersebut membuat senang hati Tong Yong-ling, katanya manja.

"Bok-siangkong, kungfu-mu lihay sekali, bolehkah kutahu siapa gurumu?"

"Ai, guruku boleh dibilang ialah Thian-seng-pocu....thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak. Ai...walaupun aku hanya berkumpul selama sehari semalam saja dengan beliau, tapi keuntungan yang kuperoleh melebihi pergaulan selama sepuluh tahun."

"Jadi Bok-siangkong pergi mencarinya semalam?"

"Benar, sebetulnya tujuanku memasuki benteag adalah untuk mencuri se

Jilid kitab Beng-yu-cin-keng guna menyembuhkan penyakit dalam yang kuderita, tapi diluar dugaan aku berjumpa dengan Oh Kay-gak Locianpwe dan malahan kudapatkan pula ke-untungan darinya."

Sementara itu permukaan air masih terus me-ninggi, makin berenang ke depan arus air terasa bertambah keras dan kuat, otomatis kecepatan me-reka berenang pun semakin merosot dan bertambah pelahan, padahal permukaan air di dapan sana ma-kin tinggi dan mendekati langit langit gua.

Kiranya terowongan penjara air itu makin la-ma makin menurun ke bawah, diam-diam terkejut juga Ji-sia menghadapi hal tersebut, pikirnya.

"Ka-lau permukaan air akhirnya menutupi permukaan gua ini, jelas tak dapat berenang lebih jauh, dan. akibatnya tak bisa keluar dari sini untuk selamanya, di samping itu akupun tak sanggup berenang terlalu lama lagi."

Mereka tidak berbicara lagi, entah sudah be-rapa jauh, sementara arus air bertambah kuat dan mendampar-dampar, rasanya sukar untuk berenang maju lagi.

Waktu itu permukaan air sudah tinggal satu tombak dari langit-langit gua, mau-tak-mau kedua muda mudi itu mulai kuatir juga, Jisia coba me-nengadah dan memandang ke depan, ia lihat tidak jauh di depan sana lamat-lamat muncul sebuah dinding karang, rupanya mereka sudah sampai di ujung penjara air tersebut.

Tapi ketika mereka tiba di tempat itu, permu-kaan air dengan langit-langit gua sudah tinggal 2-3 kaki saja dan dapat diraba dengan tangan.

"Dinding batu di depan sana jelas merupakan pintu air ini,"

Kata Tong Yong-ling.

"cuma arus airnya sangat kuat, tidak gampang rasanya untuk mendekati tempat itu."

"Kalau kita harus menunda lagi, pasti lebih besar kesulitan yang kita jumpai. Ayo cepat, kita harus segera tiba di sana untuk memeriksa keadaan di sekitar situ."

Walaupun jaraknya tinggal tiga-empat tombak lagi, tapi berhubung arus air sangat kuat melebihi arus air terjun, maka sewaktu tiba di ujung din-ding tersebut, napas mereka sudah terengah-engah.

Arus yang mengalir di permukaan saja sudah begini kuat dan derasnya, dapat dibayangkan bagai-mana di bawah permukaan air itu?

Kedua orang berusaha maju dengan menempel dinding karang, sebab arus air itu menerjang ke de-pan, maka dengan cara begini mereka bisa mengu-rangi kekuatan arus air.

Pada kesempatan ini, dengan cepat mereka berdua mengatur pernapasan sejenak untuk memu-lihkan tenaga.

Pasang naik air itu sungguh cepat sekali, da-lam waktu singkat selisih dengan langit-langit gua tinggal dua kaki saja.

Ji-sia lantas berkata kepada Yong-ling.

"No-na Tong, harap kau tunggu sebentar di sini, akan ku usahakan menghilangkan perintang di pintu air, segera akan kuhubungi kau lagi."

"Bok-siangkong,"

Kata Yong-ling lembut.

"arus air di bawah tentu kuat sekali, lebih baik kita pergi bersama saja, siapa tahu kalau kita dapat saling membantu?"

Ji-sia ragu-ragu sejenak, katanya, kemudian.

"Baiklah! Daya tekan air sangat besar, untuk meng-gerakkan anggota badan pun susah, kuharap nona berhati-hati, sebab mati-hidup kita bergantung pada tindakan kita ini."

Selesai berkata kedua orang itu lantas meng-himpun tenaga dan menyelam, dengan mata terpe-jam mereka menyusup ke dasar air, di situ tekanan arus air terasa kuat sekali seakan-akan hendak me-lemparkan tubuh mereka ke permukaan air.

Kedua orang itu sama tahu bahwa di depan sana adalah pintu air, buru-buru kepalanya berpa-ling, dengan cepat tangan meraba ke depan, akhir-nya tangan mereka berdua berhasil menangkap dua batang besi yang besarnya selengan, setengah kaki di sampingnya terdapat terali lain lagi, dengan be-gitu tubuh mereka tak dapat menerobos lewat.

Dengan mengerahkan tenaga dalam mereka co-ba menarik batang besi itu, tapi terasa kuat sekali, tidak bergeming sedikitpun, Tong Yong-ling terpe-ranjat, buru-buru tangannya berpindah pada terali yang dipegang Ji-sia, maksudnya hendak mengguna-kan tenaga gabungan mereka untuk mematahkan terali itu.

Ji-sia tahu juga akan maksudnya, buru-buru dia kerahkan tenaga dan menarik bersama, tapi besi itu masih juga tidak bergerak.

Ji-sia menyadari bahwa terali itu pasti bukan terbuai dari besi biasa, sudah lama terendam di dalam air ternyata besi itu tidak berkarat, bahkan tidak menunjukan tanda-tanda lainnya.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benak Ji-sia, tangan kanannya segera mengeluarkan Jian-kim-si-hun-pian, bukankah ruyung mestika ini ta-jamnya luar biasa?

Daya tekanan arus air semakin kuat, kedua orang merasa lelah dan kehabisan tenaga untuk berpegangan pada terasi besi itu.

Pada saat kritis itulah sinar emas berkelebat, tahu-tahu ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian sudah dilolos Ji-sia dari sarungnya.......

Bersama dengan munculnya ruyung emas itu, kedua muda-mudi itu merasakan berkurangnya daya tekanan, seakan-akan mereka tidak berada di dasar air yang berarus kuat.

Tong Yong-ling terkejut bercampur heran, bu-ru-buru ia membuka matanya, demikian pula Ji-sia.

Permukaan air yang semula gelap gulita, kini remang-remang diliputi oleh cahaya keemas-emasan, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian tersebut me-mancarkan selapis warna emas yang kuat.

Anehnya, di mana cahaya emas itu memancar, arus airpun segera menyebar keempat penjuru, de-ngan demikian maka kedua orang itu tidak lagi menghadapi tekanan arus.

Kejut dan girang Ji-sia, mimpipun ia tak me-ngira ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian mem-punyai khasiat menolak air.

Tong Yong-ling tak kurang kejutnya, dia tahu ruyung Jian-kim-si-hun-pian yang dipuja setiap orang persilatan itu.

Kembali Ji-sia menggetarkan ruyung mestika itu, beribu-ribu ular emas kecil segera merayap ke depan, tanpa menimbulkan suara, ketiga batang terali besi itu patah menjadi dua bagian, menyusul ruyung emas itu menyambar ke bawah dan muncul sebuah celah besar yang cukup dipakai menerobos keluar.

Ji-sia berdua sangat girang, buru-buru mereka menyusup keluar dari tempat itu.

Sepanjang jalan Tong Yong-ling selalu memeluk tubuh Ji-sia erat-erat, mereka berdua ibaratnya gu-la-gula yang lengket menjadi satu.

Seandainya mereka berdua tidak berbuat de-mikian, maka Tong Yong-ling pasti akan tertolak oleh daya tekan air yang kuat, bahkan sedikit sa-lah perhitungan bisa menyebabkan hilangnya nyawa.

Walaupun dalam hati kecil Ji-sia enggan ber-buat demikian, tapi ia tak dapat menolak, sebab gadis itu begitu lembut kepadanya, sama sekali ti-dak mirip seorang gadis nakal.

Demikianlah, dengan tangan kanan memegang ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian dan tangan kiri merangkul pinggang si nona, mereka berdua bere-nang ke depan.

Dengan khasiat menolak air ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian tersebut, kedua orang dapat meluncur ke atas permukaan air dengan kecepatan tinggi.

Dalam sekejap mereka sudah naik setinggi tu-juh delapan tombak, tapi belum juga mencapai permukaan air, padahal tenaga mereka sudah ham-pir habis, hal ini membuat kedua orang itu men-jadi kuatir.

Ji-sia coba memperhatikan sekejap Tong Yong-ling yang berada di sampingnya, ia lihat gadis itu memeluk pinggangnya erat-erat, matanya terpejam dan kepala menempel di atas dadanya sekulum senyuman menghiasi ujung bibir dara tersebut seakan-akan tidak memikirkan lagi keselamatan sendiri.

Tergetar hati Ji-sia, diam-diam ia menghela napas.

"Byuur!"

Akhirnya mereka muncul di permuka-an air, suasana tetap gelap, ketika Ji-sia melepas-kan rangkulannya, Tong Yong-ling baru seperti sa-dar dari impian, tapi ia masih memeluk pemuda itu erat-erat, enggan kehilangan impian indah tersebut.

"Nona Tong, kita sudah tiba di permukaan air."

Seru Ji-sia.

Ketika Tong Yong-ling melihat air muka Ji-sia yang dingin itu, segera ia lepaskan rangkulan-nya, timbul perasaan kesal, ia menghela napas.

Butiran air menetes jatuh dari wajahnya, entah butiran air mata atau butiran air biasa.

Ji-sia coba memperhatikan sekeliling tempat itu, ternyata mereka berada di atas sebuah kolam besar, sisi timur, barat dan utara dikelilingi dinding ka-rang, hanya sisi selatan yang terdapat sebuah lorong.

Permukaan kolam hanya satu tombak di bawah, dinding kolam sebelah selatan terdapat sebuah tangga besi, Ji-sia dan Yongling segera berenang menuju ke tangga besi itu.

Air kolam sangat tenang, tidak terdapat pintu air masuk, Jisia menjadi heran.

Tapi setelah dipikir sebentar pemuda itu lantas paham duduknya perkara, rupanya sumber air itu datang dari dasar kolam, pantas daya tolak air sangat kuat.

Siapakah yang menduga dalam benteng Thian-seng-po terdapat penjara air begini besarnya, bah-kan bangunan itu begitu hebat, suatu hal yang ja-rang ada.

Setelah menghela napas ia berpaling ke arah lorong sebelah selatan, dilihatnya keadaan gelap dan seram.

"Bok-siangkong,"

Tiba-tiba Tong Yong-ling berkata sambil menghela napas.

"andaikata kau tidak memiliki ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian, mungkin kita sudah mati tenggelam dalam penjara air ini."

Ji-sia terkesiap mendengar gadis itu menge-tahui soal ruyung Jian-kim-si hun-pian, buru-buru ruyung tersebut dimasukkan ke dalam sarungnya.

Melihat kegugupan orang, Yong-liong merasa sedih, ia menghela napas dan berkata pelahan "Jangan kuatir Bok-siangkong, tidak akan kurampas ruyung itu, apalagi membocorkan rahasia ini kepada orang lain."

Merah jengah wajah Bok Ji-sia, katanya.

"Te-rima kasih atas kesediaan nona untuk menyimpan rahasia, budi kebaikan ini pasti akan kubalas di kemudian hari."

"Kenapa Bok-siangkong barkata demikian? Padahal nyawaku juga telah diselamatkan oleh-mu......"

"Nona Tong telah memberi makanan padaku, budi kebaikan ini luar biasa besarnya,"

Tukas Ji-sia.

"anggap saja budi itu telah kubalas dengan me-nolongmu keluar dari penjara air, dengan demikian kita jadi sama-sama tidak berutang budi..."

Tambah sedih Tong Yong-ling mendengar per-kataan itu, dia tak mengira watak orang seaneh ini, iapun tidak menyangka anak muda itu lebih memperhatikan soal budi dan dendam daripada soal cinta kasih di antara mereka.

Dengan air mata berlinang katanya.

"Begi..begini tegakah kau kepadaku? Masakah kau tidak berperasaan?"

Ji-sia tertegun dan berpikir.

"Aneh, kenapa ia begini sedih? Kenapa ia mengatakan aku tidak berperasaan?..,"

Anak muda ini memang belum tahu apa arti-nya cinta, ia tidak memahami perasaan si nona.

Sesungguhnya bukannya ia tak tahu soal hubungan muda-mudi, tapi pengalamannya yang tragis mem-buat hatinya betul-betul sudah terkoyak, ia mere-sa rendah diri, merasa hina, dan tidak berani me-nerima kasih sayang gadis cantik mana pun juga, sebab dia tahu di kemudian hari ia pasti akan menyia-nyiakan mereka, maka lebih baik bersikap di-ngin dan ketus kepada setiap gadis, agar mereka berkesan jelek kepadanya dan tidak berani mende-katinya.

Padahal Bok Ji sia pun berperasaan, malahan jauh lebih peka daripada laki-laki lainnya.

Begitulah Ji-sia termenung, ia berlagak seakan-akan tidak mendengar perkataan nona itu.

Lewat sejenak ia baru berpaling ke arah Tong Yong-ling seraya barkata.

"Sekarang kita belum lolos sama sekali dari bahaya, baik atau buruk nasib kita se-lanjutnya masih sukar untuk diduga."

Tong Yong-ling mengawasi wajah Ji-sia dengan sorot mata sendu, lalu bisiknya.

"Bok-siangkong....kau....kau hendak pergi meninggalkan aku?....."

"Sebagai seorang laki-laki sejati, tak nanti ku-tinggalkan seorang gadis dengan mencari selamat diri sendiri!"

Mendengar perkataan ini, tersembul senyuman pada wajah Tong Yong ling yang penuh kepedihan itu, pelahan dia menghampiri anak muda itu sambil berkata.

"Bok-siangkong, tiba-tiba aku merasa ha-nya kau saja yang dapat melindungi keselamatanku, kau....kau....bersediakah kau tidak meninggal-kan diriku? Aku bersedia mendampingimu untuk selamanya."

Ucapan yang penuh kasih sayang mi malah menimbulkan rasa bimbang Bok Ji-sia. Setelah menghela napas, ia berkata.

"Nona Tong, lebih baik kita mencari jalan keluar lebih dulu!"

Demikianlah, Ji-sia dan Yong-ling kembali me-lanjutkan perjalanan ke depan, sambil tak hentinya mereka perhatikan keadaan sekeliling tempat itu, mereka tahu keadaan cukup gawat, setiap saat me-reka bisa disergap oleh orang-orang Thian-seng-po, atau bahkan terjebak dalam alat-alat rahasia yang jahat.

Setelah berbelok tiga kali, keadaan mendadak terang benderang.

Ternyata setiap jarak satu tombak terdapat sebuah obor di dinding karang itu, lorong yang se-mula sempit sekarang bertambah lebar, tempat itu merupakan sebuah ruangan batu yang besar, tapi keempat dindingnya licin seperti cermin, entah ter-buat dari batu apa?

Lorong ini berakhir sampai di sini, sebuah pin-tu batu tertutup rapat menghadang jalan mereka, dan sebaris tulisan dengan huruf besar terpancang di atas pintu, tulisan itu berbunyi.

"Dilarang masuk, banyak alat rahasia!"

Membaca peringatan itu, Ji-sia dan Tong Yong-ling lantas termenung, lewat sejenak kemudian tiba-tiba gadis itu berseru.

"Bok-siangkong, benarkah di dalam ruangan penuh dengan alat rahasia?"

"Kemungkinan besar betul,"

Sahut Ji-sia sambil mengangguk.

"cuma walaupun ada alat jebakan yang bagaimanapun bahayanya, kita harus pertaruhkan nyawa untuk melewatinya, kalau tidak, maka se-lamanya, jangan harap bisa keluar dari sini!"

Tong Yong-ling tertawa.

"Bok-siangkoog, pintu ini tertutup rapat, dengan cara bagaimana kita akan menhembusnya?"

Sementara gadis itu sedang bertanya, Ji-sia te-lah menghampiri pintu dan mendorongnya dengan sepenuh tenaga.

Pintu batu itu berat sekali, jangankan terbuka, bergetar pun tidak, malahan ia terpental ke belakang saking besarnya menggunakan tenaga.

Dengan melenggong pemuda itu berpaling ke arah Tong Yong-iing, katanya.

"Nona Tong, apakah kau mempunyai cara baik untuk membuka pintu ini?"

"Darimana kau tahu aku mempunyai akal un-tuk membuka pintu ini?"

Tong Yong-ling balik bertanya sambil tertawa.

"Betul, aku memang su-dah dapat meraba garis besarnya, tapi setelah ter-buka, di sana pasti ada pintu kematian dan pintu kehidupan, akupun sulit membedakan mana pintu kehidupan dan masa pintu kematian?"

"Nona Tong, apa maksud perkataanmu ini?"

Tanya Ji-sia tidak mengerti.

"Bok-siangkong, apakah kau tidak merasa lo-rong ini sering dilewati orang?"

Ji-sia mengangguk sebagai tanda sependapat, tapi ia tanya lagi.

"Apakah yang dimaksudkan de-ngan pintu kematian dan pintu kehidupan?"

"Pintu kematian adalah pintu yang menuju ke tempat yang penuh aneka macam alat jebakan, se-dangkan pintu kehidupan adalah pintu yang sering-kali dipakai untuk masuk keluar, karenanya kupikir di tempat ini pasti terdapat dua buah pintu.

"Sungguh mengagumkan pendapat nona, tapi dengan cara apa kita akan membuka pintu kema-tian dan pintu kehidupan itu?"

"Di sini tiada benda lain, barusan telah ku-periksa dengan seksama dan kurasa cara untuk membuka pintu terletak pada huruf "Dilarang ma-suk, banyak alat rahasia"

Ini, coba kau perhatikan, bukankah huruf-huruf ini bisa digerakkan?"

Ji-sia coba memperhatikan huruf-huruf itu de-ngan lebih saksama, betul juga, huruf itu tidak di-tulis di atas pintu melainkan pada lapisan dalam, mau-tak-mau ia harus memuji atas ketelitian gadis tersebut.

"Ketajaman mata nona memang mengagumkan."

Katanya sambil tertawa.

"tapi huruf manakah me-rupakan kunci untuk membuka alat rahasia ini?"

Dengan tertawa bangga Yong-ling menjawab.

"Setiap huruf merupakan kunci untuk membuka pintu kematian dan pintu kehidupan, hanya tidak kita ketahui huruf manakah untuk membuka pintu kehidupan dan huruf mana untuk membuka pintu kematian."

"Jadi maksud nona, di sini terdapat delapan buah pintu?"

"Bukan, bukan begitu, di sini hanya ada dua buah pintu, setiap empat huruf adalah kunci untuk mengendalikan alat rahasia pintu masing-masing."

"Ai, mati hidup sudah takdir, betapa berbahaya-nya harus kita coba juga."

Ujar Ji-sia.

"Baiklah kalau memang tidak takut mati, to-long Bok-siangkong siapkan obor."

Sambil berkata jari tangannya mulai menekan huruf itu.

Ia menekan huruf itu secara selang-seling.

Setelah empat huruf ditekan, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh yang keras, menyusul terbukalah sebuah pintu batu.

Ji-sia dan Yong-ling bersama-sama masuk ke sana, pemandangan di depan mereka telah berubah, tempat ini adalah sebuah ruangan besar, di bela-kang sana seperti ada pula beberapa buah ruangan.

Semua ruangan ini gelap gulita, andaikan me-reka tidak menyiapkan obor lebih dahulu, hakikat-nya sukar untuk melihat keadaan di situ.

"Wah celaka!"

Tiba-tiba Yong-ling berteriak.

"kita salah memasuki pintu kematian!"

Sambil berkata ia menarik ujung baju Ji-sia untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu.

Siapa tahu pada saat itulah kembali terdengar suara gemuruh yang keras, otomatis pintu batu itu menutup dengan cepatnya.

"Nona Tong, darimana kau tahu kita salah me-masuki pintu kematian?"

Tanya Ji-sia.

"Kalau pintu yang kita masuki adalah pintu hidup, maka seharusnya tempat ini adalah sebuah lorong panjang, bukan ruangan semacam ini. Bok-siangkong, cepat kemarilah, mungkin alat rahasia di dalam ruangan ini sudah mulai bergerak."

Sementara bicara, Yong-ling lantas menarik anak muda itu untuk menyingkir ke sudut ruangan.

Tiba-tiba terdengar suara berkeriut-keriut, tahu-tahu permukaan lantai muncul sebuah liang seluas satu tombak.

"Sret, Sret! menyusul berkumandang suara de-sing angin tajam, dalam liang lantai itu menyambar keluar anak panah yang amat deras seperti letikan bunga api, dan menyambar ke setiap penjuru ruang-an.

"Bok-siangkong, ayo kita melompat ke atas!"

Buru-buru Yong-ling berteriak.

Sementara ia berteriak, dari sudut ruangan lain berhamburan pula anak panah yang deras mengarah tempat mereka.

Ji-sia dan Yong-ling sempat melompat ke atas, tangan mereka segera melepaskan pukulan dahsyat, hujan anak panah itupun tergetar berhamburan ke tanah.

Meskipun hujan panah itu terjadi dengan mendadak, untung tidak berlangsung lama, setelah hujan panah tiga gelombang itu lewat, serangan pun berhenti.

Sekalipun begitu, pakaian mereka berdua ro-bek juga di sana sini tersambar oleh anak panah itu, peluh dingin membasahi tubuh mereka saking kagetnya.

Mereka lihat ruangan sebelah timur, barat dan utara penuh dengan anak panah yang berserakan, hanya ruangan sebelah selatan yang bebas dari se-rangan anak panah tersebut.....

Jilid 4 Ji-sia berkata.

"Nama besar Thian-seng-po sungguh tidak omong kosong, di mana-mana penuh dengan bahaya maut, pantas orang yang masuk ke benteng ini tak seorangpun yang bisa keluar dengan selamat, coba kalau aku tidak memperoleh budi kebaikan Oh Kay-gak, mungkin sudah sejak tadi mampus dalam benteng ini."

Berpikir sampai di sini, tak tahan ia menghela napas panjang. Tiba-tiba Yong-ling berseru dengan kualir.

"Bok-siangkong, kita harus cepat menuju ke ruang-an sebelah selatan, mungkin di sana tiada alat jebakan."

Siapa tahu, pada saat itulah dari liang permu-kaan lantai itu mendadak menyembur keluar puluh-an jalur panah air yang memancur ke empat pen-juru dan menyiarkan bau busuk.

Air itu terpancur ke udara, dan berbenturan di atas, lalu menimbulkan percikan air yang deras berhamburan ke setiap sudut ruangan itu.

Air muka Bok Ji-sia maupun Tong Yong-ling berubah hebat, dengan cepat mereka melompat ke pojok dinding sebelah atas, telapak tangan me-reka menghantam hingga menimbulkan daya tolak yang kuat untuk menghalau percikan air.

Rupanya air yang mancur keluar itu mengan-dung racun yang jahat, baunya busuk dan memualkan.

Untung air beracun yang menyembur keluar itu tidak banyak jumlahnya dan hanya sekali saja.

Kendatipun demikian, setiap inci ruangan itu sudah dibasahi oleh air beracun.

Ji-sia dan Yongling sangat terkejut, untung reaksi mereka cukup cepat, coba kalau tubuh me-reka terkena air racun itu sedikit saja, niscaya ku-lit tubuh akan mhembusuk.

Bau busuk air beracun itu makin lama sema-kin tebal, walaupun kedua orang itu memiliki te-naga dalam yang cukup sempurna, lama kelamaan tak tahan juga.

Sepasang muda-mudi itu merasakan kepala se-akan-akan membengkak besar dan isi perut seperti dikocok hingga mau tumpah rasanya.

Ji-sia segera mengajak.

"Nona Tong, lekas ki-ta ke sana!"

"Ruangan sebelah selatan tidak pasti bebas da-ri alat jebakan, kau harus hati-hati"

Yong-ling memperingatkan.

"kalau ingin menyeberang ke sana, bergeraklah dengan cepat, kalau tidak, mungkin ki-ta akan gagal menhembusnya!"

Begitu selesai berkata, dengan kecepatan luar biasa kedua orang itu melompat ke sana, karena kuatir menyentuh alat jebakan, maka kali ini me-reka menyeberang dengan melompat.

Pada saat itulah mendadak kedua orang itu me-rasakan suara pelahan di atas kepala, cepat mereka menengadah, tampak cahaya putih berkilauan me-nyambar dari atas, satu baris pisau tajam tahu-tahu jatuh ke bawah.

Kedua orang itu terkejut, sambil membentak mereka meluncur turun ke bawah, baru saja kaki mereka menempel lantai, barisan pisau tajam itu tinggal tiga kaki di atas kepala mereka.

Buru-buru kedua orang itu menggelinding ke samping untuk menghindar.

"Blang!"

Diiringi bunyi yang keras, barisan pi-sau tajam itu menancap di atas lantai dan memisahkan ruangan itu dengan ruangan tengah di se-belah sana.

Seandainya Ji-sia berdua sedikit terlam-bat saja untuk menghindar, niscaya kedua orang itu sudah tewas di ujung barisan pieau.

Ketika mereka melompat bangun dan melihat barisan pisau tajam itu telah memisahkan ruangan ini dengan ruangan lainnya, diam-diam mereka ber-syukur terlepas dari renggutan elmaut.

"Untung kita sudah sampai di sini"

Kata Yong-ling dengan tersenyum.

"coba kalau kita terkurung dalam ruangan itu, melulu bau busuk air beracun itu saja bisa bikin celaka kita."

Ji-sia merasa alat rahasia dalam Thian-seng-po terlampau keji dan berbahaya, katanya setelah meng-hela napas panjang.

"Aii, seandainya hari ini tiada nona, mungkin sekali diriku sudah tewas oleh alat jebakan tersebut!"

Baru selesai berkata, mendadak suasana dalam ruangan itu menjadi terang benderang.

Lalu berkumandang suara tertawa dingin, suara tertawa seram dan tak sedap didengar.

Ji-sia dan Yong-ling ingin sekali bisa bertemu dengan anggota benteng dan melabraknya habis-habisan untuk melampiaskan rasa dendam.

Maka begitu mendengar suara manusia, dengan alis bekernyit Bok Ji-sia menatap ke arah suara itu dengan sinar mata membara, katanya dengan ketus.

"Keparat, kalau berani, tunjukkan dirimu! Buat apa main sembunyi macam kura-kura."

Suara tertawa seram kembali berkumandang dari balik ruangan. Menyusul seseorang lantas berkata dengan na-da seram.

"Nasib kalian memang lagi mujur, wa-laupun perangkap tadi dapat dihindari, jangan harap bisa lolos dari jebakan selanjutnya. Secara gegabah kalian berani datang ke sini, maka jangan harap bisa keluar lagi dengan selamat, kalau kalian ingin cepat-cepat mampus, raja akhirat tak akan menunda panggilannya menjelang pagi nanti."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, mendadak terdengar desing tajam, empat jalur sinar berwarna hijau dengan membawa angin tajam me-nyambar ke arah Ji-sia dan Tong Yong-ling.

Melihat datangnya ancaman, anak muda itu membentak, telapak tangan diayun ke depan.

Berbeda dengan Tong Yongling yang lebih lu-as pengetahuan maupun pengalamannya, ia tahu betapa hebatnya senjata rahasia lawan, buru-buru teriaknya.

"Bok....cepat menghindar!"

Di tengah seruan tersebut, ia melompat lebih dulu ke samping. Ji-sia terperanjat, cepat dia ikut menghindar ke samping.

"Sret! Sreet!"

Dua jalur senjata rahasia berwar-na hijau itu menyambar lewat di sisi tubuhnya.

"Trang! Trang...."

Empat kali dentingan nya-ring bergema, empat buah senjata rahasia menum-buk lapisan dingin baja di belakang sana.

Lalu ter-dengar suara letusan perlahan, senjata rahasia itu meledak begitu membentur besi dan berubah men-jadi api hijau yang menyembur ke arah Bok Jisia.

Anak muda itu terperanjat, cepat ia menjatuh-kan diri dan bergelinding berulang kali sejauh be-berapa tombak dari tempat semula.

Api hijau yang memancar keluar dari empat biji senjata rahasia tadi segera berkobar di atas ta-nah, kebakaran terjadi, segera api menjalar, dalam waktu singkat sekitar tempat itu sudah berubah menjadi lautan api.

Air muka Ji-sia berubah hebat, diam-diam ia bersyukur dapat lolos dari bencana itu, pikirnya.

"Andaikata serangan itu kutabas dengan tenaga pukulanku, niscaya senjata rahasia tersebut akan me-ledak dan sedikit saja badanku terciprat api hijau itu, tamatlah riwayatku!"

Lantai tempat mereka berada sekarang adalah ubin hijau, api itu tidak menjalar pada benda lain. Air muka Tong Yongling agak berubah demi melihat kobaran api hijau itu, jeritnya terkejut.

"Ah, peluru Pek-liok-han-hun-tan, (api hijau pembakar sukma)!"

"Hehe.., setelah tahu Pek-liok-han-hun-tan, tentunya kau juga tahu bahwa nyawamu akan ber-akhir pula di sini,"

Ejek orang tadi sambil tertawa seram. Ji-sia marah sekali, bentaknya.

"Bajingan te-ngik, kenapa bersembunyi dan main sergap? Begitu-kah perbuatan seorang jago dunia persilatan?"

"Hah...anak keparat, tidak perlu kau bicara soal peraturan dunia persilatan dengan kami. Hmm, pada-hal kalianlah yang tidak mempunyai keberanian un-tuk mencari kami, buat apa omong besar?"

Ucapan tersebut membangkitkan rasa murka Ji-sia, bentaknya geram.

"Bangsat, aku bersumpah menghancur-lumatkan tubuh kalian!"

Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke ruangan itu..... Tong Yong-ling ikut berjalan mendampinginya dan berbisik.

"Bok-siangkong, musuh kemungkinan adalah jago lihai golongan hitam yang termashur dalam dunia persilatan, Jim-lik-yu-leng-jit-kui (tujuh Setan gentayangan berwarna hijau)!"

"Hm, peduli dia setan atau hantu, kita harus menangkapnya dan ceburkan ke dalam minyak mendidih,"

Dengus Ji-sia.

Dengan suatu lompatan Ji-sia menerobos ma-suk ke dalam ruangan pertama, mendadak terdengar suara tertawa dingin, bayangan orang berkelebat lewat dan segulung angin tajam menyambarnya.

Merasakan betapa dahsyatnya serangan itu, Ji-sia menjadi gusar, telapak tangan kanan dengan sejajar dada didorong ke depan.

Bertarung di ambang pintu yang sempit ini, kecuali cara pertarungan keras lawan keras, sulit untuk berkelit atau menghindar ke samping, dengan kuat mendadak Ji-sia melepaskan suatu pukulan balasan.....

"Blang!"

Benturan keras terjadi, Ji-sia tergetar keluar pintu, darah dalam dada bergolak keras.

Ia sangat terkejut, dia tak mengira kekuatan pukulan musuh begitu lihai, mana dia tahu bahwa serangan itu dilancarkan oleh tenaga gabungan dua orang yang berniat membunuhnya dengan sekali pukul.

Ji-sia adalah laki-laki keras kepala, ia maju lagi sambil menerjang, tapi segulung angin dahsyat kem-bali menyapu dari depan.

Melihat serangn musuh terlalu kuat, dengan mata melotot Ji-sia menghimpun tenaga, ia mun-dur setengah langkah, kedua telapak tangannya te-rus didorong ke depan.

Walaupun reaksinya cukup gesit, tapi oleh ka-rena jarak kedua pihak terlalu dekat, dan lagi se-rangan itu datangnya sangat cepat, belum sampai kekuatannya terdorong ke depan, lebih dulu ia su-dah diterjang olah kekuatan besar itu hingga terjengkang ke belakang.....

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benak-nya.

Ji-sia membentak keras, kedua telapak tangannya tiba-tiba berputar miring ke samping kemu-dian didorong pula sekuatnya.

"Wess! Wess!"

Angin puyuh mendampar ke de-pan.

Pada saat itulah Tong Yong-ling ikut bertin-dak, suatu pukulan dahsyat segera dilancarkan pula.

Dua kali jerit kesakitan berkumandang, agak-nya pihak lawan termakan pukulan dahsyat itu sehingga terluka parah.

Secepat, kilat Ji-sia dan Yong-ling melompat ke dalam ruangan, tapi ruangan itu sudah kosong, mereka menjadi tertegun, diam-diam mereka meng-gerutu.

"Sialan, benar-benar ketemu setan....."

Ruangan itu kosong melompong tiada benda lain, hanya di atas dinding tergantung sebuah obor, sekalipun sinarnya tidak terang, tapi cukup untuk melihat jelas setiap sudut ruangan itu.

Tiba-tiba Ji-sia melihat dua comot darah di lantai, darah itu menetes ke arah pintu kamar no-mor dua.

Kiranya ruangan-ruangan itu meski saling ber-hubungan, tapi berhadapan dengan agak miring, atau dengan perkataan lain, meski ruangan itu ber-hubungan satu sama lain tapi berliku-liku.

Setelah pengalaman yang pertama, Ji-sia ber-dua tak berani bertindak gegabah lagi, untuk meng-hindari sergapan lawan atau jebakan alat rahasia, dengan telapak tangan tiap di depan dada, pelahan ia berjalan menuju ke ruangan kedua.

Ji-sia masuk lebih dulu, tapi baru saja kakinya melangkah masuk.....

Tiba-tiba terdengar angin senjata tajam me-nyambar, dua buah senjata aneh bersinar gilap me-nabas dari kiri dan kanan.

Menurut perkiraan lawan, serangan yang men-dadak, pula pintu masuknya sempit, betapa tang-kasnya musuh andaikan tidak terluka pasti juga akan terdesak mundur.

Di luar dugaan, dengan suatu gerakan aneh tahu-tahu pemuda itu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan, kemudian dua kali pukulan dah-syat dilontarkan ke samping kiri dan kanan.

Mimpipun orang-orang yang berada dalam ruangan itu tidak mengira Bok Ji-sia bakal menyusup masuk dengan menempuh bahaya, mereka terhajar telak oleh serangan tersebut, diiringi dengusan ter-tahan, tampak dua sosok bayangan mencelat ke arah dinding.

"Blang!"

Tubuh mereka menumbuk dinding, isi perut mereka tergoncang hebat, kepala menjadi pu-sing, mata berkunang-kunang, untung tenaga dalam mereka juga cukup sempurna, begitu menumbuk dinding, dengan cepat mereka melompat bangun dan lari masuk ke ruangan ketiga....

Sungguh cepat gerakan mereka, sampai-sampai dengan ketajaman mata Bok Ji-sia hanya sempat menangkap berkelebatnya bayangan.

"Mau kabur ke mana!"

Bentak Ji-sia, berbareng ia mengejar orang yang paling belakang.

Baru saja kaki orang itu melangkah masuk ke ruangan ketiga, tubuh Ji-sia sudah mendekat dengan cepat, tangan kiri segera mencengkeram.

Rupanya orang itu sadar tak bisa kabur lagi, sambil memutar badan mendadak ia menyerang lambung anak muda itu dengan sebuah senjata yang aneh bentuknya dan berwarna hitam.

Reaksinya sungguh cepat, hebat dan keji.....Dengan terperanjat Ji-sia menyurut mundur se-langkah, tapi orang itu tampaknya tidak berniat berta-rung lagi, begitu musuh mundur, kembali ia ber-putar dan kabur ke dalam ruangan.

Tentu saja Ji-sia tak rela musuh kabur begitu saja, telapak tangan kiri diayun ke depan, suatu pukulannya menutup jalan mundur lawan.

Bayangan orang bertubuh jangkung itu sudah dekat pada dinding kiri pintu ruangan, tiba-tiba tubuhnya berputar, lalu dengan senjata aneh yang bentuknya pentung bukan pentung, pedang bukan pedang, ia tusuk jalan darah Hian-ki-hiat di iga Ji-sia dengan jurus Hud-im-ki-gwat (mengebut awan menuding rembulan).

Di balik serangan itu mengandung gerakan bertahan maupun menyerang, membuat orang sukar untuk menduga arah tujuannya, serangan itu juga mengandung tiga perubahan yang sukar diduga.

Ji-sia merasakan juga anehnya serangan lawan, cuma meski gerakannya amat cepat, tapi tidak di-sertai tenaga yang cukup.

Tangan kanannya segera memainkan jurus Ciong-hay-poh-liong (menangkap naga di tengah sa-mudra), kaki kiri mendadak maju selangkah, kelima jari mencengkeram pergelangan tangan kanan la-wan, sedangkan sikut dengan mengikuti gerakan itu menyodok jalan darah Ciang-tay-hiat di dada.

Serangan maju dengan sikut dan jari sekaligus ini sungguh diluar dugaan orang, seketika serangan lawan dipatahkan, tapi cocok juga dengan maksud tujuan bayangan hitam itu.

Mendadak ia buang senjatanya, lalu kabur me-nuju ke ruangan dalam.

Ji-sia tertawa dingin, cepat tangan kirinya ber-putar dan sempat cengkeram urat nadi pergelangan tangan lawan.

Pada saat itulah mendadak terdengar Tong Yong-ling berteriak.

"Hati-hati atas kepala...."

Kiranya pada waktu itu Ji-sia tepat berdiri di tengah pintu, mendengar teriakan tersebut, tidak sempat mendongakkan kepalanya lagi, tangan kiri-nya bergetar, ia seret balik badan orang itu.

"Blang!"

Suara keras menggelegar, di tengah jerit ngeri darah pun berhamburan.

Batok kepala bayangan hitam itu tahu-tahu terpapas kutung oleh pintu bendungan yang jatuh dari atas, mulutnya tampak terbuka lebar, mata melotot, darah berhamburan ke mana-mana ,.., .

Kematian orang itu betul-betul menggidikkan hati orang.

Sekali tendang Ji-sia menyingkirkan batok kepala yang mengerikan itu, lalu tangan kanannya merogoh baju.

"creng!"

Diiringi bunyi nyaring, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian di olesnya.

Tong Yong-liog sudah pernah melihat ruyung ini ketika berada dalam air tadi, kini melihat untuk kedua kalinya, mau tak mau ia memuji.

"Ehm, ruyung ini benar-benar ruyung mestika yang di gilai oleh setiap umat persilatan....... Ia maju ke samping Ji-sia, lalu bisiknya.

"Bok-siangkong, dapatkah ruyung ini dipakai untuk men-jebol bendungan besi itu?"

"Kita coba saja, kalau tidak bisa, maka selama-nya kita akan terkurung dalam ruangan ini!"

"Cring! Cring!"

Ruyung pembetot nyawa itu mulai berputar dan menimbulkan suara getaran yang nyaring.

Cahaya emas segera terpancar ke empat pen-juru, diiringi siulan nyaring, Ji-sia mengayun ruyung emas ke arah bendungan baja yang menghadang ja-lan itu.......

"Trang!"

Kembali berkumandang suara nyaring yang memekak telinga........

Bagaikan kayu lapuk saja, bendungan besi itu robek sebagian.

Kejut dan heran Tong Yong-ling melihat ke-hebatan ruyung mestika itu, serunya tertahan.

"Hah, tajam benar ruyung mestika ini, betul-betul tak kalah daripada pedang mestika mana pun."

Ji-sia pun sangat gembira, ruyung mestikanya kembali bekerja berulang kali, lalu telapak tangan kirinya menghantam ke depan.....

"Blang!"

Kali ini bendungan baja tersebut be-tul-betul ambruk seluruhnya.

Kedua orang ikut menyusup ke ruangan ke-tiga, tapi di dalam juga kosong tanpa bayangan se-orang pun.

Sambil menggenggam ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian, Ji-sia menyusup lagi ke ruangan keem-pat.

Ruangan ini jauh lebih luas daripada ketiga ruangan sebelumnya, enam orang aneh berbaju hi-tam tampak berdiri berjajar, tubuh mereka tinggi kurus, wajah menyeringai seram dan jelek sekali, ada yang pucat hijau, ada yang pucat putih mem-buat orang, merinding.

Ke enam orang ini bukan lain adalah Jim-lik-yu-leng-jit-kui yang termashur akan kejahatan serta kebuasannya, tapi salah seorang di antaranya su-dah tewas oleh bendungan besi tadi maka kini ting-gal enam setan saja.

Sinar mata mereka yang bengis sama tertuju pada ruyung Jian-kiam-si-hun-pian yang berada di ta-ngan Bok Ji-sia, teriak mereka kaget.

"Hah, bukan-kah ruyung itu Jian-kiam-si-hun-pian......?"

Ji-sia tertawa, sahutnya.

"Benar, ruyung ini khusus dipakai untuk menaklukkan segala setan iblis, siapa diantara kalian yang sudah bosan hidup, silakan maju merebutnya!"

Baru saja selesai bicara, salah seorang di an-tara tujuh setan itu segera menubruk maju.

Ji-sia membentak keras, secepat kilat telapak tangan kiri membacok ke depan, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera mendampar orang itu........

Betapa kaget "setan iblis"

Itu, ingin berkelit pun sudah tak sempat lagi, terpaksa kedua tangan-nya diayun ke depan, melancarkan pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman.

Tenaga dalam Bok Ji-sia telah mendapat ke-majuan pesat sejak memperoleh warisan tenaga Oh Kay-gak, walaupun tujuh setan adalah kelompok jagoan termashur, tidak berarti kekuatan mereka di atas anak muda itu.

Ketika dua gulung tenaga pukulan saling ben-tur.

"setan"

Itu merasakan dada bergetar keras dan tubuh merosot ke bawah.....

Ji-sia tidak memberi kesempatan bagi musuh untuk menghindar, telapak tangan kirinya memukul sambil memburu maju.

Ruyung mestika Jian-kiam-si-hu-pian dengan jurus serangan yang aneh langsung menyapu lawan.

Jeritan ngeri menggetar seluruh ruangan.

"se-tan"

Itu tersabat pinggangnya oleh ruyung mestika dan terkutung menjadi dua bagian.

Melihat rekannya tewas, kelima orang lainnya serentak menjerit aneh, telapak tangan mereka be-kerja bersama, angin pukulan yang kuat serentak melanda tubuh Bok Ji-sia.

Ji-sia membentak, tangan kiri segera mena-bas.

Tong Yong-ling tidak tinggal diam, iapun me-lancarkan pukulan lunak ke arah setan-setan itu.

"Blang!"

Kembali terjadi benturan keras, Bok Ji-sia muntah darah dan mundur tiga-empat langkah dengan sempoyongan.

Tong Yong-ling juga bergetar dan mundur selangkah, tapi berhubung ia tidak menerima secara langsung pukulan lawan, maka daya pantulnya agak lemah.

Ke lima setan itupun tergetar mundur dua lang-kah oleh getaran tenaga gabungan Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling.

Jin-lik-yu-leng-jit-kui termashur dalam dunia persilatan, mereka sangat dihormati oleh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, sebab itulah ke tujuh orang tersebut ditugaskan untuk menjaga tempat itu.

Siapa tahu setelah berjumpa dengan kedua muda mudi tak dikenal ini bukan saja kedua orang rekannya tewas, merekapun tidak lebih unggul, ten-tu saja mereka kaget, namun juga membangkitkan kebengisan serta kebuasan mereka.

Serentak kelima setan itu berteriak aneh.....

Dua di antaranya menubruk ke arah Bok Ji-sia, sedangkan tiga lainnya menerjang Tong Yong ling, pukulan dan senjata rahasia di pergunakan se-kaligus.

Bok Ji-sia menahan pergolakan darah dalam da-danya, sekalipun baru saja muntah darah, tapi te-lapak tangan kirinya kembali diayun ke depan.

Serangan ini seakan-akan tidak bertenaga, tapi sebenarnya mengandung himpunan tenaga murni peninggalan Oh Kay-gak, di mana angin tajam me-nyambar tiba, jerit ngeri berkumandang, satu di an-tara dua orang yang menubruk ke arahnya termakan oleh pukulan itu dan roboh tersungkur dengan mun-tah darah.

Sebaliknya Bok Ji-sia sendiri pun sem-poyongan dan jatuh berduduk.

Kesempatan ini tidak disia-siakan seorang la-gi, dengan gerakan seperti burung elang menerjang kelinci, ia terkam Jisia.

Tampaknya jiwa Bok Ji-sia bisa melayang, pa-da saat itulah mendadak pemuda ini tertawa seram.

Mendadak ia melejit ke udara, ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian secepat kilat menyabat tubuh setan yang menubruknya itu.

Mimpi pun orang itu tak mengira Bok Ji-sia bakal melancarkan serangan, ketika ia merasakan datangnya ancaman, perut segera kesakitan dan ha-wa murni buyar......

Tanpa bersuara, jalan darah Khi-hay-hiat di perutnya telah terthembus oleh ruyung mestika itu, berlubang, darah mancur seperti mata air, isi perut berhamburan dan tewas dengan mengerikan.

Ji-sia coba bangkit berdiri, tapi sempoyongan, rasa sakit di dadanya menyebabkan pemuda itu jatuh terduduk lagi.

Dua kali jeritan kembali berkumandang, ia ber-paling, dilihatnya.

Tong Yong-ling dengan pedang terhunus sedang berputar menciptakan serangkaian bunga Bwe yang berwarna putih salju, dua setan sudah tewas di ujung senjata mautnya.

Kejut Ji-sia menyaksikan gerakan pedang nona, ia merasa ilmu pedang si nona sangat hebat dan jarang ada bandingannya.

Sisa seorang setan yang masih hidup menjadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan ke-enam rekannya tewas semua, menjerit aneh dia pu-tar badan dan kabur menuju ke bangunan besar di depan sana.....

Tong Yong-ling tersohor sebagai iblis perem-puan yang membunuh orang tanpa kenal ampun, sambil tertawa dingin tiba-tiba pedangnya disambit-kan ke depan, cahaya putih segera meluncur.

Jerit kesakitan kembali memecahkan kehening-an, pedang itu menancap di punggungnya hingga thembus ke dada, setelah sempoyongan orang itu jatuh ke tanah, sambil menahan rasa sakit ia meronta dan berusaha merangkak ke depan, tapi baru beberapa langkah ia roboh lagi.

Jin-lik-yu-leng-jit-kui yang malang melintang selama dua puluh tahun dalam dunia persilatan, akhirnya tewas dalam waktu singkat di tangan kedua muda-mudi itu.

Hawa membunuh yang menyelimuti wajah Tong Yong-ling belum luntur, pelahan mayat didepak, lalu ia periksa pedang sendiri.

Hawa dingin terpancar dari batang pedangnya, senjata itu mengkilap dan tidak bernodakan darah, jelas sebilah pedang mestika pembunuh yaug tidak kenal ampun.

Sesudah menyarungkan kembali pedangnya, Tong Yoag-liag menghampiri Ji-sia dan menegur dengan lembut.

"Kau terluka?"

"Mendingan hanya darahku bergolak, tapi sekarang sudah tenang kembali."

Jawab Ji-sia sambil duduk bersila dan tertawa pedih.

"Lain kali jangan bertindak gegabah,"

Kata gadis itu lagi dengan setengah mengomel.

"kau mesti tahu, menghadapi musuh tidak harus beradu ke-kerasan saja untuk bisa meraih kemenangan, sebab bagaimanapun gagahnya kau, bila menghadapi jumlah lawan yang banyak, lama kelamaan kau akan mati kelelahan sendiri"

Ji-sia mendengus.

"Terima kasih atas perhatian nona."

Jawaban ini amat menyakiti hati Tong Yong ling, katanya.

"Apakah aku salah omong?"

Setelah menyarungkan ruyungnya Ji-sia bangkit berdiri, ditatapnya gadis itu sekejap, lalu sahutnya ketus.

"Aku tidak mengatakan pendapatmu itu ke-liru!"

Tong Yong-ling yang cantik tapi dingin dan berhati keji ini sebenarnya amat memperhatikan diri Ji-sia, siapa tahu perhatiannya mendapat balasan sikap yang dingin dan ketus dari lawannya.

Tanpa bicara lagi Ji-sia lantas melanjutkan per-jalanan menuju ke ruangan depan, sementara Tong Yongling dengan air mata bercucuran ikut di be-lakangnya.

Sudah dua tahun Tong Yong-ling berkelana dalam dunia persilatan, tidak sedikit pula pemuda tampan yang dijumpainya selama ini, tapi ia tidak pernah tertarik.

Tapi setelah berjumpa dengan Bok Ji-sia, hati gadis ini seakan-akan air telaga yang tenang tiba-tiba diceburi sebutir batu hingga membangkitkan gelombang cinta yang bergelora.

Api asmara yang sudah lama terpendam da-lam hatinya ibarat bendungan sungai Kuning yang jebol dan mengamuk dengan dahsyatnya, membuat ia kehilangan pegangan dan secara tak sadar mengutarakan rasa cintanya.

Sekalipun Bok Ji-sia selalu, bersikap dingin kepadanya, tapi gadis itu tetap mencintainya, ia merasa benda yang sukar diperoleh, barulah ada nilainya bila akhirnya berhasil didapatkannya.

Sementara itu Ji-sia telah tiba di depan pintu ruangan, ia mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci, tanpa mengeluarkan banyak tenaga pemuda itu lantas masuk ke dalam.

Pertama-tama ia mengendus bau harum yang amat merangsang dan aneh sekali, tapi setelah me-lihat keadaan dalam ruangan itu, wajahnya segera berubah menjadi merah.

Tong Yong-ling menyusul masuk ke dalam, berubah merah juga air mukanya dan terkesima.

Ruangan itu diatur dengan alat perabot yang mewah dan indah, begitu indahnya bagaikan dalam impian, seperti dalam surgaloka.

Orang-orang yang berada dalam ruangan adalah perempuan cantik bak bidadari kayangan, begitu cantiknya sehingga membuat orang terkesima dan lupa daratan bagaikan dalam impian.....

Di bawah sinar lilin, tampak dua belas tem-pat tidur terbuat dari gading berjajar dalam ruangan itu, pada tiap ranjang gading berbaring se-orang gadis cantik yang telanjang bulat dengan potongan badan yang sangat indah.

Cahaya lilin yang putih menawan menyoroti wajah kedua belas perempuan muda yang kecan-tikannya sukar dilukiskan.

Tubuh mereka ramping tapi padat berisi, da-lam keadaan telanjang bulat terlihatlah payudaranya yang montok dan bawah perutnya yang........

Ji-sia dan Yong-ling tidak tahu orang macam apakah kedua belas perempuan telanjang ini?

Ka-lau dilihat keadaan mereka rupanya sedang terbuai dalam impian yang muluk, dada dan perut berge-rak naik turun teratur, mata terpejam dan senyuman manis menghiasi ujung bibir mereka.

Ji-sia tak berani melangkah lebih jauh, ia pu-tar badan dan siap keluar dari pintu ruangan itu, tapi Tong Yong-ling segera mencegahnya seraya berkata.

"Pintu di sana sudah tertutup, kau hen-dak ke mana?"

"Apakah perempuan-perempuan ini disekap orang di sini?"

Tanya Ji-sia sambil tertawa kikuk.

"Entahlah, aku sendiripun tidak jelas, tapi kita jangan urus mereka, lebih baik mengambil jalan-nya sendiri-sendiri."

Maka Ji-sia dan Yong-ling lantas berjalan me-ngitari kedua belas pembaringan gading itu dan melanjutkan perjalanan, anehnya perempuan-perem-puan telanjang itu masih tertidur nyenyak, mala-han senyuman yang memikat tetap menghiasi ujung bibirnya.

Padahal bahwasanya Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling tidak membunuh kedua belas perempuan telanjang ini sesungguhnya merupakan suatu tindak-an yang keliru besar, mereka tidak tahu kedua be-las perempuan itu tak lain adalah Gie-hun-mo-li (iblis perempuan perayu sukma) yang sedang di-gembleng oleh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian.

Di kemudian hari entah berapa banyak jago persilatan yang akan tewas dalam pelukan mereka dan mati kekeringan karena tenaga murni terhisap oleh mereka, malahan Ji-sia sendiri pun nyaris "di-lalap"

Mereka.

Setelah melewati ruangan penuh fantasi itu, mereka menhembus ke sebuah lorong sempit yang menyeramkan, untung ada obor sebagai penerang-an.

Belasan tombak kemudian, setelah membelok sebuah tikungan, sampailah mereka di depan sebuah pintu.

Di atas pintu batu itu terpancang tulisan yang berbunyi.

"Neraka tempat setan iblis, dilarang ma-suk!"

Ji-sia memandang Tong Yong-ling sekejap, ke-mudian bisiknya.

"Apakah pintu inipun terbagi men-jadi jalan mati dan jalan hidup?"

Tong Yong-ling tidak menjawab, ia mendorong pintu itu, dengan bunyi gemercit, pintu batu itu terpentang lebar.

Sambil jalan bersanding kedua muda-mudi itu masuk ke dalam, tapi pemandangan yang terben-tang di depan membuat mereka terkesiap dan ber-diri tertegun.

Dalam ruangan batu itu berjajar tiga belas bu-ah peti mati, peti mati tanpa penutup dan penuh de-ngan sawang, debu di lantai sangat tebal, sekilas pandang saja sudah cukup mendatangkan perasaan seram bagi siapapun yang melihatnya.

Pada dinding batu tertancap lima batang obor, api itu berwarna hijau dan menimbulkan rasa ngeri, bulu roma serasa berdiri.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling serentak me-lolos senjata masing-masing dan siap siaga, mereka kuatir ada setan atau mayat hidup yang tiba-tiba melompat ke luar dari peti mati, pelahan mereka maju ke depan.

Mendadak kedua orang itu bergidik, sekalipun nyali mereka cukup besar, tapi pemandangan yang terpampang di depan mereka membuat mereka me-nyurut mundur tiga-empat langkah.

Ternyata di dalam setiap peti itu berbaring se-sosok mayat berambut panjang, bermata melotot, bermulut lebar dengan lidah menjulur, sungguh menyeramkan dan berbaring kaku dalam peti mati.

Ji-sia dan Yong-ling dengan cepat dapat me-nenteramkan perasaan, kemudian melanjutkan per-jalanan melewati ruangan seperti neraka ini.

Padahal sekali lagi kedua orang itu mengabai-kan suatu kesempatan untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, sebab mayat aneh dalam peti mati itu bukan lain adalah tiga belas mayat hidup yang sedang dilatih oleh Oh Kay-thian.

Di kemudian hari, ketiga belas mayat hidup ini bersama kedua belas gadis perayu sukma yang di-persiapkan itu bakal menciptakan badai berdarah dalam dunia persilatan, mungkin takdir menghen-daki demikian, sebab kalau tidak, kedua muda-mudi ini tentu akan heran atas makhluk aneh tersebut.

Setelah melewati ruangan batu macam neraka itu, Ji-sia berdua baru menarik napas lega.

Mendadak Ji-sia berteriak kaget.

"Wah, celaka! kita betul-betul salah masuk ke pintu kematian, tempat ini sudah pada ujungnya, sekarang kita harus ke mana lagi?"

Kiranya setelah keluar dari ruangan, kedua orang tiba di sebuah ruangan kecil, dan tempat ini marupakan jalan buntu, karena tiada jalan thembus lain lagi.

Tong Yong-ling memeriksa sekejap sekeliling dinding, mendadak pada dinding sebelah kiri ia li-hat ada sebuah lekukan, pada lekukan itu berjajar dua buah benda seperti pegangan yang berwarna hitam.

Sambil tertawa ia berkata.

"Bok-siangkong, tampaknya di tengah bahaya kita akan menemukan keberuntungan!"

Ji-sia memperhatikan pula kedua benda aneh di atas dinding itu, katanya kemudian sambil ter-tawa getir.

"Mungkin demikian, silahkan kau tarik benda itu nona! Sekalipun salah memencet tombol alat rahasia, biarlah kita mati dengan puas"

Tong Yong-ling tertawa, segera ia menarik pe-gangan hitam yang sebelah kanan.....

"Blang.............blang!", seperti gempa bumi saja ruangan itu berguncang keras dan timbul suara ge-muruh. Tiba-tiba dinding sebelah kanan ruangan itu roboh. Jeritan kaget berkumandang, entah bagaimana tiba-tiba permukaan tanah di mana Ji-sia dan Yong-ling berdiri ikut terbalik ke bawah, tubuh mereka langsung terperosot ke bawah liang Tiba-tiba dari lubang yang gelap itu berkuman-dang lagi jerit ngeri, dinding batu yang roboh tadi tahu-tahu menutup di atas lubang tersebut. Waktu Ji-sia dan Yong-ling terperosot dalam perangkap tadi, masing-masing telah menghimpun hawa murni dan mengurangi daya luncur mereka ke bawah, dengan cepat ujung kaki kedua orang itu menempel di atas permukaan tanah. Tiba-tiba bau busuk menusuk hidung, menyusul dua sosok bayangan terus menerkam mereka dengan sikap yang garang. Sungguhpun ruangan di situ tidak terlampau gelap bagi pandangan Ji-sia berdua, tapi lantaran serangan itu datangnya amat mendadak, tak sempat melihat jelas raut wajah kedua orang itu, mereka segera mengayun telapak tangan, melancarkan dua pukulan dahsyat ke depan. Angin puyuh menyambar, menyusul terdengar dua kali jeritan. Kedua penyerang itu mencelat jauh sambil muntah darah, begitu mencium tanah lantas tidak bergerak lagi. Sekarang Ji-sia dan Yong-ling baru sempat memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu..... Sekali lagi bergidik hati kedua muda-mudi itu, bulu roma sama berdiri, dengan perasaan seram mereka mundur beberapa langkah. Yang mereka lihat sungguh suatu neraka du-nia. Keadaan orang-orang yang ada di sini jauh. lebih mengerikan daripada setan di neraka. Kiranya tempat ini merupakan sebuah ruang bawah tanah yang sangat luas, di mana mereka berdiri adalah sebuah panggung yang terdiri dari belasan undakan tingginya. Ruang bawah tanah ini remang-remang suasa-nanya, namun mereka sudah terbiasa melihat di tempat gelap setelah disekap dalam penjara air yang gelap gulita itu, maka pemandangan seputar sepuluh tombak di sekitar situ dapat terlihat de-ngan jelas. Tengkorak manusia yang tak terhitung jumlah-nya berserakan dalam ruangan ini, sekilas pandang hampir mirip kota tengkorak dalam neraka. Hal ini sudah cukup menyeramkan, tapi ada lagi pemandangan lain yang jauh lebih menyeram-kan terpampang di hadapan mereka. Di sekeliling ruangan itu berjubel manusia aneh yang kurus kering tinggal kulit membungkus tulang, baju hancur dan dekil, malah ada yang telanjang, ada yang sedang berbaring, ada yang berduduk dan ada pula yang sedang berdiri. Pada hakikatnya mereka tidak mirip manusia lagi, tapi lebih mirip sukma gentayangan atau setan penasaran, sebab kulit badan mereka banyak yang tinggal kulit membungkus tulang belaka. Yang lebih menyeramkan lagi adalah di anta-ra sekian makhluk mengerikan, itu ada yang me-megang tengkorak manusia dan lagi digerogoti dengan lahapnya sehingga terdengar bunyi gemertuk. Laparkah orang-orang ini? Ya, sebagian besar di antara mereka bahkan sudah puluhan tahun la-manya tak pernah makan nasi, setiap hari hanya makan tulang manusia yang mati untuk menahan lapar. Pandangan ngeri semacam ini cukup memberi-kan kesan yang dalam bagi siapapun yang melihat-nya, membuat orang sukar lupa untuk selamanya. Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling tak sanggup menghitung berapa banyak manusia yang menang-gung sengsara itu, sebab sepuluh tombak di sekitar ruangan yang mereka lihat hanya jubalan manusia. Rupanya manusia sengsara yang berada dalam ruangan itu sempat mendengar jeritan ngeri yang berkumandang tadi sebab dengan mata mereka yang aneh dan cekung itu sedang mengawasi panggung. Perasaan Ji-sia berdua terasa seperti dibebani benda yang berat, mereka ngeri dan takut hingga tak berani bersuara.

"Hiihi........hahahaa......."

Suara tertawa aneh menyeramkan seperti jeritan setan berkumandang di mana-mana.

Kawanan manusia aneh yang berdiri itu men-dadak mulai bergerak menuju ke panggung, rupa-nya hidung mereka telah mencium bau manusia.

Ji-sia dan Yong-ling benar-benar ketakutan, sebab kawanan manusia aneh itu menunjukkan wa-jah kelaparan yang luar biasa, seandainya tempat sembunyi mereka ketahuan, niscaya mereka akan diganyang mentah-mentah.

Dalam takut dan ngerinya, tanpa sadar Yongling menggeserkan tubuhnya mendekati Ji-sia......

Terdengar suara tertawa aneh berkumandang di sana sini.

Empat manusia aneh dengan tubuh yang kurus seperti tengkorak hidup menerjang ke panggung.

Ditinjau dari gerak-geriknya, rupanya mereka pandai ilmu silat dan ilmu meringankan tubuh, ini menandakan merekapun jago-jago dunia persilatan.

Tak terlukiskan rasa seram Ji-sia dan Yong-ling, serentak telapak tangan mereka diayun ke depan.

Empat gulung angin pukulan yang sangat kuat menyerang tubuh keempat orang aneh itu.

Jerit keras berkumandang, tubuh mereka yang kurus itu mencelat jauh.

Jeritan aneh kembali berkumandang, kawanan manusia aneh yang semua asyik m enggerogoti tu-lang manusia itu serentak bangkit berdiri dan me-nerjang bersama ke arah depan.

Bukan Ji-sia atau Yong-ling yang mereka ter-kam, sebaliknya adalah tubuh keempat manusia aneh yang tewas akibat pukulan itu, cakar mereka yang tajam segera bekerja beramai, tiga-empat pu-luh orang aneh dengan cara yang mengerikan me-ngerubuti keempat sosok mayat tadi, mencabiknya hingga berkeping-keping, lalu diganyang dengan nikmatnya.

"Krak! Krek!"

Bunyi gigi tajam menggerogoti daging dan tulang manusia.

Darah dan daging berhamburan, dalam waktu singkat keempat sosok mayat tadi sudah mereka sikat ludes tanpa sisa.

Bok Ji-sia maupun Tong Yong-ling menyaksi-kan peristiwa mengerikan itu dengan mata terbela-lak dan mulut melongo.

Mereka menyaksikan yang paling keji dan pa-ling brutal di dunia ini, seandainya tidak melihat-nya sendiri, tak nanti mereka percaya di dunia ter-dapat kejadian semacam ini.

Setelah kawanan manusia aneh itu menghabis-kan daging keempat sosok mayat tadi, mereka ber-diri tegak dan mengalihkan sorot matanya yang aneh ke arah panggung.

Suasana menjadi hening, sedemikian heningnya sehingga terasa tegang mencekam perasaan.

Mendadak kawanan manusia aneh itu mulai bergerak menghampiri panggung tinggi itu diiringi pekikan aneh, tiga-empat puluh manusia aneh itu serentak menerjang ke atas.

Ji-sia tahu mau-tak-mau mereka harus unjuk diri, buru-buru serunya.

"Nona Tong, jejak kita su-dah ketahuan, biarlah kita menampakkan diri!"

Sementara itu ada beberapa orang aneh sudah tiba di atas undak-undakan batu, terpaksa Ji-sia dan Yong-ling membentak, cepat melancarkan pu-kulan dahsyat ke depan.

Empat orang aneh yang berada paling depan menjerit ngeri, tubuh mereka terpental dan tewas seketika.

Dalam pada itu Jisia berdua telah melompat ka atas, bagaikan burung elang mereka menerjang ke bawah.

Mendingan kalau mereka tidak melompat ke bawah, begitu mereka muncul, serentak gelak ter-tawa seram berkumandang di sekeliling tempat itu.

Manusia aneh yang berada di empat penjuru, bahkan mereka yang sedang berbaring juga serentak melompat bangun dan menerjang ke arah mereka.

Teriakan aneh melengking seperti jeritan setan itu membuat bulu roma orang berdiri, keadaannya benar-benar mengerikan.

"Berhenti semua!"

Tiba-tiba Ji-sia membentak dengan suara yang menggelegar.

Keras sekali suara bentakannya, membuat seluruh ruang bawah tanah itu mendengung dan ber-getar.

Ternyata bentakan yang menggeledek itu men-datangkan hasil, kawanan manusia aneh yang se-dang bergerak maju itu mendadak menghentikan langkahnya.

Tapi mereka telah berhasil mengurung Ji-sia dan Yong-ling di tengah lingkaran kecil, dengan tampang mereka yang jelek mengerikan serta rambut yang panjang, mata terbelalak serta lidah yang se-tengah terjulur, orang-orang itu memandangi kedua mangsanya dengan tertawa seram, cakar setan me-reka yang kurus kering memperlihatkan gerakan hendak mencengkeram.

Ji-sia dan Yong-ling menyapu pandang sekejap wajah kawanan manusia aneh itu, ternyata jumlah mereka mencapai tujuh-delapan puluh orang, hal ini membuat air muka merek berubah hebat dan me-nyurut mundur selangkah demi selangkah.

Melihat Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling mengun-juk rasa ketakutan, kawanan manusia aneh itu ber-teriak, secepat kilat menubruk maju dan cakar se-tannya, siap merobek mangsanya.

Ji-sia dan Yong-ling segera membentak, kem-bali mereka menghantam dari jauh, jeritan kesakitan berkumandang, empat manusia aneh itu binasa pu-la.

Tapi jumlah manusia aneh itu terlalu banyak, serentak mereka mengerubut maju.

Di tengah jeritan kaget, ujung baju Tong Yong-ling kena disambar oleh seorang manusia aneh se-hingga robek.

Tapi sekali hantam manusia aneh ter-sebut tewas di bawah telapak tangan gadis itu.

Posisi Ji-sia juga tak kurang gawatnya, ia ter-desak sehingga berkelit ke samping atau menghin-dar ke kanan, pukulan dahsyat menyapu kemanamana..........

Walaupun setiap kali pukulan selalu disambut dengan sekali jeritan ngeri, tapi jumlah orang-orang itu terlalu banyak, apalagi mereka sudah kalap dan secara nekat menerjang terus, hal ini membuat Ji-sia keder juga.

Beberapa bagian baju Ji-sia sudah robek kena disambar cakar setan mereka, lama kelamaan ge-ram juga anak muda itu, dengan sinar mata beri-ngas ia membentak.

"Nona Tong, mari kita guna-kan senjata uutuk membasmi mereka!"

Angin tajam yang membetot sukma segera menggema di angkasa, Ji-sia telah lolos ruyung mes-tika Jiam-kim-si-hun-pian, sinar keemas-emasan ter-pancar menyapu orang-orang yang berdekatan.

Batok kepala segera bergelindingan, percikan darah segar berhamburan.

Rupanya Tong Yong-ling pun sadar bahwa tanpa pembunuhan besar-besaran tak nanti mereka bisa lolos dari kepungan orang itu, dengan suatu gerakan cepat ia melolos pedangnya dan dalam be-berapa putaran timbul beberapa kuntum bunga Bwe berwarna putih salju.

Di tengah jeritan ngeri, darah berhamburan pula di manamana, tujuh-delapan orang segera te-was di ujung pedangnya yang keji dan tak kenal perasaan itu.

Sesungguhnya kawanan manusia aneh itu ada-lah sekawanan manusia yang patut dikasihani, sudah puluhan tahun lamanya mereka disekap Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian di tempat ini, andaikata tiada kehadiran kedua muda-mudi ini, mungkin me-reka masih dapat hidup selama beberapa tahun lagi dalam neraka dunia ini.

Siapapun tak mengira tempat ini bakal di-kunjungi oleh pembunuh macam Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling, karenanya kehidupan mereka yang sengsara penuh penderitaan pun segera berakhir se-belum waktunya.

Apabila orang-orang itu tidak melancarkan tubrukan maut kepada Ji-sia berdua, tak nanti pu-la kedua muda-mudi itu membantai kawanan ma-nusia yang patut dikasihani ini, sayangnya kesadar-an dan kecerdasan otak orang-orang ini sudah le-nyap, kalau tidak, mereka tentu takkan menyerang kedua orang itu dengan cara nekat.

Bayangan pedang dan cahaya ruyung kedua muda-mudi pembunuh ini sama sekali tak kenal ampun, dengan cepat luar biasa menggulung ke sa-na dan menyambar kemari mencari mangsanya.

Sebaliknya kawanan manusia aneh itu pun betul-betul tak takut mati, dengan kalap mereka maju kedepan, menyongsong datangnya pedang serta ruyung mestika yang tajam itu dengan tangan atau tubuh mereka, seorang roboh, yang lain segera me-nerjang maju lagi dengan beraninya......

Sudah barang tentu kekuatan mereka tidak berarti apa-apa bagi Ji-sia berdua, ibaratnya daun kering yang terhembus angin musim gugur, semua-nya rontok ke tanah dalam keadaan tak bernyawa, hancuran daging, kutungan lengan dan kaki berham-buran di mana-mana, sungguh mengerikan sekali pe-mandangannya.

Ini masih ditambah pula dengan raungan dan jerit tangis mereka sesaat menjelang kematian, be-gitu nyaring dan ngeri menambah seramnya suasana.

Dalam waktu singkat tujuh-delapan puluh orang manusia aneh seluruhnya sudah tewas di ujung sen-jata mereka.

Kutungan lengan, tubuh yang tak lengkap serta butiran batok kepala yang menyeringai memenuhi lantai, bau amis darah memenuhi ruangan bawah tanah itu, membuat orang jadi mual.

Sekejam-kejamnya kedua orang ini akhirnya mereka menyesal juga setelah menyaksikan tumpuk-an mayat yang bergelimpangan itu.

"Tring! Trang! Tingl"

Tiba-tiba berkumandang guara nyaring logam beradu.....

Ji-sia dan Yong-ling tersentak kaget, sinar mata mereka yang tajam beralih ke arah datangnya su-ara itu.

Tapi setelah berkumandang suara nyaring tadi, suasana kembali dalam keheningan.

"Siapa di situ?"

Ji-sia segera menegur. Tapi suasana tetap hening dan mengerikan. Sampai lama suasana tetap hening, sedikit-pun tak kedengaran suara apa-apa.

"Ting! Trang! Ting! Trang....."

Serentak bu-nyi logam saling beradu kembali berkumandang, suara itu amat nyaring dan menusuk pendengaran, berlangsung terus dan menimbulkan pula gema su-ara yang keras dalam ruang bawah tanah, anehnya tidak kedengaran suara manusia.

Tidak lama, suara beradunya benda besi itu kembali berhenti.

"Siapa di situ? Kenapa tak berani menampak-kan diri?"

Yong-ling membentak nyaring. Dari balik ruang bawah tanah akhirnya berkumandang juga suara orang menghela napas pan-jang yang memilukan hati.

"Apakah kalian orang Thian-seng-po?"

Tanya orang itu.

Mendengar perkataan itu, Ji-sia baru tahu ka-wanan manusia aneh yang baru dibantainya itu adalah tawanan yang disekap Oh Kay-thian, karena-nya orang yang bicara ini menganggapnya sebagai anggota Thian-seng-po, itulah sebabnya pula mereka tak berani menjawab tegurannya.

"Kami adalah orang yang terjebak oleh alat rahasia Thian-seng-po. Siapakah kalian?"

Sahut Ji-sia. Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin me-nyeramkan.

"Siapa yang percaya bila kalian bukan antek Thian-seng-po?"

Ejeknya. Ji-sia sangat marah, teriaknya.

"Kalau kalian tidak percaya, sudahlah!"

"Apakah kalian dapat membuktikan bahwa kalian bukan anggota Thian-seng-po?"

Tanya suara lain dengan nada dingin.

"Apa yang harus kami lakukan untuk mem-buktikannya?"

Tanya Yong-ling.

"Caranya sederhana sekali, cukup asal kalian mengangkat sumpah!"

Ji-sia mendengus, katanya sinis.

"Jika kami enggan mengangkat sumpah, mau apa kalian?"

Suara orang pertama yang lebih seram dari setan itu tertawa dingin, katanya "Kalau begitu, se-lama hidup kalian jangan harap bisa keluar dari sini, kalian akan hidup dengan makan daging manusia, menggerogoti tulang tengkorak dan hidup seperti dalam neraka!"

Terkesiap Yong-ling mendengar ucapan itu, sebab kalau mereka berdua betul-betul terkurung dalam ruang bawah tanah yang mereka lihat ini, sungguh mengenaskan sekali.

"Apakah kalian dapat membantu kami keluar dari sini?"

Ia lantas tanya. Ji-sia berpaling dan berkata kepada nona itu.

"Nona Tong, jika mereka mengetahui jalan keluar-nya, kenapa mereka sendiri berdiam di sini?"

Kedengaran orang itu menghela napas sedih.

"Sicu berdua,"

Kata orang itu.

"sudah lima be-las tahun kami tersekap di sini, kami memang su-dah menemukan jalan keluarnya, asal kalian berse-dia mengabulkan beberapa permintaan kami, maka akan kami bantu kalian untuk meninggalkan tempat ini."

Mendengar sebutan "Sicu" (tuan dermawan) itu, Ji-sia dan Yong-ling menjadi tertegun, pikir me-reka.

"Orang ini tentu Hwesio atau seorang Tosu...."

"Taysu!"

Kedengaran seorang lagi berkata de-ngan dingin.

"masa kau percaya kedua orang ini bu-kan kaki tangan yang sengaja diutus oleh manusia jahat dan keji itu."

"Ai, kalau mataku belum lamur, maka kuyakin kedua orang ini bukan kaki tangan jahanam itu!"

"Apakah kalian juga minta kami menolong ka-lian?"

Tanya Ji-sia dingin.

"Sicu berdua harap kemari dulu, setelah ber-temu muka baru kita melanjutkan pembicaraan."

"Baik, kami segera ke sana!"

Bersama Yong-ling, anak muda itu lantas me-nuju ruang bawah tanah itu, senjata mereka terhu-nus dan hawa murni dihimpun siap menghadapi se-gala kemungkinan, sementara mata mereka yang tajam memperhatikan sekelilingnya.

Mendadak terdengar suara tertawa seram di depan sana, suaranya mirip jeritan setan.

Ji-sia dan Yong-ling segera mengalihkan sorot matanya ke depan.

"Ah!"

Mendadak mereka menjerit kaget dan menyurut mundur.

Ternyata di depan mereka terdapat sebuah ruangan lain, pintu terbuat dari terali besi yang besar, melalui celah terali besi itulah menongol beberapa batok kepala aneh yang seram dengan rambut pan-jang terurai ke bawah.

Beberapa wajah yang jelek ini sudah seram, apalagi setelah melihat tubuh orang yang kurus ke-ring dengan deretan tulang iga yang tampak nyata, hal ini menambah seramnya keadaan orang-orang tersebut.

Setelah menenteramkan hatinya, Ji-sia kembali menegur dengan suara nyaring.

"Siapakah kalian? Manusia atau setan?"

Dia mengira beberapa orang itu adalah siluman, sebab pada hakikatnya keadaan orang-orang itu tak ubahnya setan atau sebangsa siluman.

Orang pertama yang berada di ujung kanan menghela napas panjang sedih.

"Sicu, tampang kami memang tak berbeda dengan setan,"

Katanya.

"Kami telah dicelakai orang secara keji sehingga akhirnya berubah menjadi be-gini."

Timbul juga perasaan iba dalam hati Ji-sia berdua sesudah menyaksikan keadaan mereka yang mengenaskan dan patut dikasihani. Ji-sia menghela napas, katanya.

"Siapakah yang telah menyekap kalian di tempat ini? Apa permintaan kalian? Katakan saja terus terang, selama hayat masih di kandung badan, pasti akan kulaksanakannya sekalipun badan bakal hancur dan nyawa me-layang!"

"Sung....sungguhkah perkataanmu ini?"

Tanya orang paling kiri dengan suara agak gemetar.

"Perkataan seorang laki-laki sejati, sekali ber-janji selamanya takkan kuingkari, harap kalian ja-ngan kuatir!"

Orang ketiga dari sebelah kanan tiba tiba ber-teriak kaget.

"Ah, coba lihat ruyungmu itu, bukan-kah ruyung ini adalah Jian-kim-si-hun-pian?"

"Ah, benar! Coba kau lihat pedang di tangan anak perempuan itu, bukankah pedang tersebut adalah Bwe-hoa-sian-kiam milik Han-bwe-kokcu Bwe-hiang-sian-ki?"

Demikian sambung yang lain. Mendengar seruan itu, Ji-sia dan Yoiig-ling. sama terkesiap, mereka tidak menyangka manusia bertampang setan ini dapat mengenali senjata me-reka dalam sekali pandang saja.

"Siapakah kalian semua?"

Tanya Ji-sia dengan suara pelan.

"kukira kalian pasti jago-jago kenama-an dunia persilatan?"

Orang paling kanan itu bergetar sekujur tu-buhnya, kemudian berkata dengan sedih.

"Sicu, setelah melihat senjata kalian, dapat kami duga kalian pasti bukan orang sembarangan. apakah kau ada-lah murid Thian-seng-pocu Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak? Ataukah murid Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian....? Harap kau bicara lebih jelas bila kalian hendak membunuh kami, biar kami mati tanpa menyesal, sebaliknya kalau tujuan kalian ha-nya ingin menyelidiki rahasia itu, maka selama hi-dup jangan harap keinginanmu itu akan terpenuhi."

Perkataannya sangat memilukan, membuat si-apapun yang mendengar akan ikut sedih. Ji-sia termenung sejenak, lalu sahutnya.

"Aku adalah murid Thian kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak, jika ada sepatah katapun kubohong, biar Thian mengutuk diriku!"

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan.

"Dan siapakah kalian semua? Dapatkah kalian terangkan kalian ini Bu-lim-cianpwe dari mana?"

Orang yang berada di sebelah kanan kembali menghela napas sedih.

"Ai, apakah gurumu masih hidup di dunia ini?"

Menyinggung diri Oh Kay-gak, Ji-sia ikut meng-hela napas sedih, sahutnya.

"Suhu telah meninggal dunia dua hari yang lalu!"

"Apakah ia telah meninggalkan pesan kepada-mu menjelang kematiannya?"

Jelas ia masih belum percaya bahwa Ji-sia adalah murid Oh Kay-gak, sebab lima belas tahun berselang ketika mereka berkunjung ke Thian seng-po telah diketahuinya bahwa Oh Kay-gak tersekap dan tidak punya murid.

Oleh karena itulah, mereka tidak mau percaya dengan begitu saja ketika Ji-sia mengaku sebagai murid Oh Kay-gak.

"Sebelum meninggal dunia Suhu memang ber-pesan agar kulakukan beberapa tugas penting,"

Sa-hut Ji-sia.

"hanya saja, beliau berpesan agar jangan membocorkan rahasia inii kepada orang lain, karenanya maaf bila aku tak dapat memberitahukannya kepadamu."

Orang kedua di sebelah kanan tertawa seram, ejeknya.

"Hei, manusia berhati busuk, lebih baik ja-ngan main tipu muslihat untuk menjebak kami, suatu ketika perbuatan kalian yang jahat dan merugi-kan umat manusia ini pasti akan mendapatkan pem-balasan yang setimpal."

Ji-sia gusar sekali mendengar perkataan itu, ka-tanya.

"Kami bukan sekomplotan dengan bangsat Oh Kay-thian, jika kalian tidak percaya sudahlah, kami yakin masih sanggup mencari jalan keluar sen-diri untuk meloloskan diri dari sini."

"Sicu!"

Kata orang pertama di sebelah kanan sambil menghela napas.

"kami percaya kepadamu, tapi kaupun harus tahu bahwa pesan serta rahasia yang hendak kami sampaikan kepadamu menyang-kut nasib seluruh umat persilatan di dunia, sebab itulah kami bersembilan rela untuk hidup selama lima belas tahun tersiksa dalam ruangan seperti ne-raka ini, kami rela tersiksa daripada memberitahu-kan rahasia ini kepada Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian serta membantunya yang ingin mewujudkan ambisi iblisnya."

"Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian adalah musuh besarku yang paling kubenci, harap kalian jangan kuatir, aku dan nona Tong juga korban yang di-celakai oleh Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, kami terjebak oleh alat rahasianya sehingga tanpa sadar sampai di tempat seperti ini. Asal kami dapat lolos dari sini dengan selamat, sudah pasti kami tak akan hidup berdampingan dengan Oh Kay-thian dan Oh Ku gwat serta orang-orang Thian-seng-po, tentang ini kuharap kalian mau percaya padaku!"

"Hei, sudah sekian lama kita bercakap-cakap, belum juga kalian menerangkan asal-usulmu, sebe-narnya siapakah kalian?"

Seru Yong-ling. Orang paling kanan itu menghela napas, gumamnya.

"Semoga Budha maha pengasih melimpah-kan kasih sayangnya kepada seluruh umat manusia, terima kasih atas berkahmu yang membawa kedua Sicu ini ke sini. Semoga dari tangan merekalah na-sib dunia persilatan bisa diperbaiki..."

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut.

"Sicu berdua, kami bersembilan adalah kesembilan Ciangbunjin, pejabat ketua dari sembilan aliran be-sar dunia persilatan.....!"

"Apa? Kalian adalah Ciangbunjin kesembilan aliran besar dunia persilatan?"

Dengan terkejut Ji-sia menjerit kaget.

"Benar, kami adalah Ciangbunjin kesembilan aliran besar yang hilang pada lima belas tahun yang lampau, diriku adalah Pek-hui dari Siau-lim-pay."

Tong Yong-ling sudah sering melakukan per-jalanan dalam dunia persilatan, tentu saja ia tahu tentang peristiwa lenyapnya kesembilan Ciangbunjin dari kesembilan aliran besar.

Lenyapnya para ketua itu menjadi sebuah te-ka-teki besar dalam dunia persilatan selama ini, siapapun tak menyangka bahwa kesembilan ketua itu ternyata tersekap di dalam ruangan semacam neraka ini.

Sesudah mengetahui mereka adalah para Ciangbunjin dari kesembilan aliran besar, dengan wajah berseri Ji-sia lantas berseru.

"Sekarang kalian tak perlu mencurigai kami sebagai kaki tangan musuh lagi, coba kalian lihat, bukankah isi bungkusan ini adalah tanda kepercayaan kesembilan aliran besar? Suhu berpesan kepadaku agar menyerahkan sendiri benda-benda ini kepada kalian, tak kusangka kita akan berjumpa di sini."

Sambil berkata pemuda itu lantas mengeluar-kan sebuah bungkusan kecil, kemudian diserahkan-nya kepada Pek-hui Siansu, ketua Siau-lim-pay.

Dengan tangannya yang kurus Pek-hui Siansu menerima bungkusan itu, serentak kedelapan orang lainnya berkerumun maju dan saling berebut mengambil tanda kepercayaan masing-masing.

Setelah diperhatikan sejenak, dengan perasaan kejut bercampur girang orang-orang itu berteriak.

"Ah, benar tanda kepercayaan kami! Ai, akhirnya benda ini terjatuh kembali ke tangan kami.....Se-lanjutnya anak murid kami dapat muncul kembali dalam dunia persilatan dan membalas sakit hati ini.."

"O, Thian! Engkau ternyata tidak menyia-nyia kan harapan kami......."

Mereka menangis dengan sedih dan haru.

Suasana ruang bawah tanah yang memang penuh kepedihan itu kini bertambah memilukan oleh isak-tangis mereka.

Terharu sekali Ji-sia dan Yong-ling menyaksi-kan adegan tersebut, mereka ikut sedih dan me-nitikkan air mata.

Setelah menangis sekian lama, kesembilan Ci-angbunjin aliran besar itu lantas berdiri termangu-mangu.

Akhirnya bunyi logam saling bentur memecah-kan kesunyian, kesembilan orang ketua itu kembali berdiri barjajar didepan terali baja.

Orang pertama di sebelah kanan tetap Pek-hui Siansu, ketua Siau-lim-pay.

Dengan suara pedih katanya.

"Sicu, tahukah kau kenapa tanda kepercayaan kami bisa terjatuh ke tangan gurumu Oh Kay-gak?"

Ji-sia mengeleng kepala berulang kali.

"Sebelum meninggal dunia Suhu hanya berpesan agar menye-rahkan kesembilan tanda kepercayaan ini kepada kalian, kutahu di balik urusan ini pasti tersimpan rahasia yang luar biasa, tapi dengan sejujurnya ingin kuberitahukan bahwa guruku merasa menyesal sekali telah mengambil tanda kepercayaan ini, pe-rasaan menyesal itu diungkapkannya menjelang kema tiannya..."

Ia berhenti sebentar untuk berganti napas, ke-mudian sambungnya.

"Sekarang aku telah menerima budi kebaikan guruku, andaikata beliau pernah melakukan suatu kesalahan besar harap kalian sudi memaafkannya, penderitaan yang dialaminya selama ini tidak lebih baik daripada kalian, biarlah budi dan dendamnya kupikul sendiri."

Rupanya Ji-sia sudah merasakan bahwa tin-dakan Oh Kay-gak menahan tanda kepercayaan mereka pasti menyangkut pula suatu peristiwa be-sar, dan peristiwa itu mungkin merupakan perso-alan yang tidak dapat mereka sepakati.

Pek-hui Siansu menghela napas sedih, katanya "Urusan yang sudah lewat biarlah lewat, kalau di-singgung kembali hanya akan mendatangkan pera-saan sedih saja........Sebab kalau dibicarakan, se-sungguhnya semua dosa dan kesalahan ini tidak ter-letak pada Oh Kay-gak seorang saja.

Kini kami te-lah berhasil mendapatkan kembali barang-barang kami, dalam kehidupan kami inipun tidak lagi me-nyiakan harapan guru kami, tidak lagi malu kepada leluhur serta beribu anak murid kami.

Ai, Sicu, se-karang ada beberapa persoalan hendak kami titip-kan kepadamu."

"Katakan saja apa pesanmu, Taysu, pasti akan kulaksanakan dengan baik."

"Sicu, budi kebaikanmu ini tak akan kulupakan untuk selamanya, walau sudah berada di alam ba-ka pun,"

Kata Pek-hui Siansu sedih.

"Taysu, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian ini tajam sekali dan bisa memutuskan pintu besi, biar kutolong kalian lolos dari sini."

Orang kedua dari sebelah kanan, yakni ketua Bu-tong-pay, wajahnya jelek menyeramkan, ia meng-hela napas, katanya.

"Sicu, bolehkah kutahu siapa, na-mamu? Hidup kami takkan lama lagi, biarlah maksud baikmu itu kami terima di dalam hati saja, asal kau dapat melaksanakan pesan kami, maka puaslah hati kami."

"Aku she Bok bernama Ji-sia, kenapa kalian tak mau keluar dari sini untuk kemudian memimpin anak murid kalian untuk datang menuntut balas kepada pihak Thian-seng-po?"

"Bok sicu,"

Sahut Pek-hui Siansu.

"coba lihat-lah keadaan kami, dengan keadaan semacam ini, mana kami sanggup melanjutkan hidup? Sudah lima belas tahun lamanya kami tersekap dalam ruang bawah tanah, setiap hari tak pernah melihat sinar matahari, jika kami keluar dari sini dan terkena sinar sang surya, mungkin tubuh kami akan me-leleh menjadi air darah."

"Selain daripada itu, kungfu kami sekarang te-lah punah, tubuh kamipun sudah cacat, apa pula artinya hidup di dunia ini? Sungguh menyesal kami tak dapat membunuh sendiri musuh kami yang licik dan berhati keji itu......."

Kiranya antara tulang kaki, lengan dan tulang pundak Pi-pe-kut para ketua itu telah dithembus dengan rantai baja yang kuat, tadi lantaran suasana dalam ruang sangat gelap, Ji-sia dan Yong-ling ti-dak memperhatikan sampai ke situ.

Baru sekarang pula diketahui dari sini timbulnya suara nyaring logam bergesek itu karena rantai di tubuh mereka.

Setelah berhenti sejenak, Pek-hui Siansu ber-kata.

"Sebenarnya kami bersembilan ingin bunuh diri saja, tapi lantaran kobaran api dendam dan banyak persoalan belum selesai, kami harus tahan hidup terus, kini kami telah bertemu Sicu, harapan kami sudah terpenuhi, sekalipun harus mati, pen-deritaan selama 15 tahun tidaklah sia-sia."

Bok Ji-sia menghela napas, katanya.

"Taysu, nasib kalian sungguh jelek dan mengharukan, aku berjanji akan membalaskan sakit hati kalian ini. Nah, sekarang harap katakan pesan kalian!"

"Kalau dipikir nasib kami masih mendingan, sebab harapan kami akhirnya terkabul."

Kata ketua Bu-tong-pay.

"kalau dibandingkan mereka yang te-lah tewas di tangan kalian itu, mestinya kami da-pat mati dengan tenteram."

Ji-sia dan Yong-ling merasa sedih dan menye-sal telah membunuh begitu banyak orang.

"Kami tidak berniat mencelakai mereka....."

Kata Yong-ling.

"Kalian membunuh mereka juga bukan perbuat-an yang salah, malah tindakan ini merupakan tindakan mulia."

"Kenapa demikian?"

Tanya Ji-sia.

"Mereka sebenarnya adalah kawanan jago per-silatan yang berjiwa kesatria, mereka baru sadar bahwa Thian-seng-po adalah tempat maksiat sete-lah menjadi anggotanya, sebab itu timbul niat me-reka untuk memberontak, dan mengkhianati Oh Kay-thian, sayang usaha mereka gagal dan malahan tersekap di sini. Kini kalian telah membunuh me-reka, ini berarti kalian telah membantu mereka melepaskan diri dari siksaan neraka."

"Kalau mereka adalah orang baik, perbuatan kami jadi lebih berdosa lagi."

Kata Yong-ling sedih.

"walaupun mereka tersekap di tempat seperti neraka dan menjalani kehidupan yang penuh siksaan, tapi setiap manusia kan berharap akan hidup terus, kalau tidak, mengapa mereka makan tengkorak manusia untuk mempertahankan hidup? Ai, kami benar-benar menyesal telah melakukan tindakan kejam."

Ji-sia sendiripun menyesal, sekarang iapun me-rasa telah melakukan perbuatan berdosa terhadap Thian. Pek-hui Siansu menghela napas, katanya.

"Apa-kah Sicu berdua tidak melihat bahwa orang-orang itu sudah kehilangan ingatannya? Andaikan mereka memiliki sedikit akal sehat, sudah lama orang-orang itu bunuh diri, apa gunanya mereka menjalani sik-saan hidup ini? Sebelum orang-orang itu dikirim ke-mari telah dicekoki dulu obat pelenyap pikiran oleh Oh Kay-thian, sebab itulah penderitaan yang me-reka alami tak pernah mereka rasakan sendiri, ter-kadang jika tak ada tulang lagi yang dimakan, me-reka lantas saling membunuh, pemandangan sema-cam ini sungguh mengerikan sekali, sekalipun kalian tidak membunuh mereka, akhirnya mereka pun akan mati secara mengenaskan, sebab itulah tindakan kalian sama pula dengan membantu mereka me-lepaskan diri dari siksaan."

Kembali Ji-sia menghela napas.

"Walaupun demikian, hati kami menjadi tak tenteram mem-bunuh mereka. Ai.......tapi jika kami tidak membunuh mereka, mereka yang akan merobek tubuh kami untuk dimakan."

Ketika bicara sampai disini, perasaannya men-jadi sedikit lega.

"Bok-sicu!"

Kata Pek-hui Siansu kemudian.

"so-al pertama kami adalah mohon padamu agar me-nyerahkan tanda kepercayaan kami ini kepada anak murid perguruan kami, kemudian ceritakanlah ke-adaan kami yang mati dalam ruang bawah tanah ini kepada mereka, suruhlah mereka memilih se-orang ketua baru."

"Hal ini pasti akan kulaksanakan dengan ba-ik."

Sambil berkata ia menerima kembali tanda ke-percayaan kesembilan aliran besar itu dan disimpan dalam baju. Ketua Bu-tong-pay lantas berkata.

"Bok-sicu, tanda kepercayaan kesembilan aliran besar itu me-nyangkut mati hidup dari puluhan ribu orang ang-gota perguruan kami, hal ini mempengaruhi juga mati hidupnya dunia persilatan daerah Tionggoan, kuharap kau jaga dengan baik serta menyampaikan-nya kepada alamat masing-masing"

"Aku juga seorang anggota dunia persilatan, tak nanti kubiarkan dunia persilatan dikacau orang dengan berpeluk tangan, selain itu Suhu telah berpesan kepadaku mengenai soal ini, maka selama orang she Bok masih bernapas, tugas ini pasti akan kulaksanakan."

"Soal kedua adalah kami harap ilmu silat ke-sembilan aliran kau hadiahkan kepada seorang Tay-hiap, suruhlah Tayhiap itu mempelajari ilmu silat kami dan setelah itu secara terpisah mewariskan kembali kepada Ciangbunjin baru perguruan kami masing-masing."

Mendengar perkataan ini Ji-sia berpikir.

"In-tisari ilmu silat masing-masing perguruan selamanya tak pernah diwariskan kepada orang luar, tapi se-karang mereka hendak menghadiahkan ilmu silat kesembilan perguruan itu kepada orang lain, kalau begitu orang tersebut harus mempunyai hubungan yang akrab dengan mereka."

Orang yang berada paling kiri, yakni ketua Cong-lam-pay segera berkata sambil tersenyum.

"Bok-siauhiap, bukankah kau merasa heran terhadap permintaan kami yang kedua ini?"

"Ya, memang demikian perasaanku."

"Situasi dunia persilatan dewasa ini sudah men-capai keadaan yang kritis, sementara pengaruh kaum iblis semakin besar, kekuatan golongan baik sebaliknya malah semakin lemah, dengan dasar kekuatan tersebut jelas tak mungkin kaum kita dapat menentang pengaruh kaum iblis itu. Maka kami hendak menghadiahkan ilmu silat sakti kesembilan perguruan kami kepada Tayhiap tersebut dengan maksud hendak memupuknya menjadi seorang jago berilmu tinggi, agar ia dapat memimpin anak mu-rid kesembilan perguruan besar untuk bersama-sa-ma membasmi pengaruh kaum iblis dari muka bu-mi ini.

"Orang itu selain harus memiliki bakat yang baik serta kecerdasan yang luar biasa, ilmu silat yang dipelajarinya harus pula dari aliran lurus, dengan demikian intisari kepandaian perguruan ka-mi baru bisa diselami dengan baik, di samping itu dia mesti pula seorang yang jujur dan mengutama-kan kepentingan umum, hanya manusia yang tidak serakah saja yang bersedia mewariskan kembali kepandaian itu kepada ketua baru kesembilan per-guruan kami."

"Tapi siapakah Tayhiap yang kalian maksud-kan itu?"

Tanya Tong Yong-ling.

""Dia bukan lain adalah saudara angkatku, Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak!"

"O, rupanya Siau-yau-sian-hong-khek! Ya, dia memang seorang kesatria yang dapat dipercaya."

"Lalu dengan cara bagaimana ilmu sakti itu harus kuhadiahkan kepada Tayhiap ini?"

Kembali Ji-sia bertanya.

"Kitab kecil tipis ini merupakan intisari semua jurus ilmu silat kami bersembilan perguruan hasil ciptaan selama lima belas tahun, bila ada waktu senggang silakan saja Sicu berdua mempelajarinya."

"Kami berdua adalah anggota perguruan lain, kami tak ingin belajar ilmu silat lain di luar tahu perguruan!"

Sahut Ji-sia cepat. Ia tahu maksud Pek-hui Siansu, maka sengaja mengucapkan kata-kata ini sebagai tanda bahwa mereka tidak berminat mencuri belajar.

"Aku tahu Bok-sicu dan Tong-sicu adalah anak murid orang pandai, ilmu silat kalian sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi, ilmu silat dari perguruan lain tentu saja tak lebih hebat dari-pada kepandaian kalian sendiri,"

Kata Pek-hui Sian-su.

"karenanya sebagai tanda terima kasih kami, akan kami hadiahkan se

Jilid kitab pusaka lainnya serta dua butir pil mestika untuk kalian berdua."

"Kami tidak bermaksud menerima balas jasa untuk pekerjaan yang kami laksanakan, maaf kalau tak bisa kuterima pemberian Taysu."

"Kebesaran jiwa Bok-sicu sungguh mengagumkan kami, tapi mestika ini merupakan rahasia besar yang sampai mati pun tak akan kami bocorkan ke-pada bangsat licik Oh Kay-thian, kini kami ber-jumpa dengan Sicu berdua, walaupun saat berkum-pul sangat pendek, tapi kami tahu kalian adalah pemuda pemudi kesatria, karenanya rahasia yang menjadi idaman setiap umat persilatan ini hendak kuberitahukan kepada kalian, semoga mestika ini dapat kalian temukan dan ilmu silatnya bisa kalian pelajari demi menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan. Nah, sambutlah!"

"Kitab pusaka macam apakah itu?"

Demikian pikir Ji-sia.

"kenapa begitu dipuja mereka sehingga rela hidup tersiksa selama lima belas tahun daripada membocorkan rahasia ini kepada Oh Kay-thiaa?"

Rupanya Tong Yong-ling juga terkejut bercam-pur heran, ia lantas bertanya.

"Kitab macam apa-kah itu? Dan obat mestika apa?"

"Pernahkah kalian mendengar cerita tentang pertarungan dua orarg tokoh sakti yang bernama Hian-ki Cinjin dan Hian-cing Cinjin untuk mem-perebutkan dua butir pil Ji-khi-kun-goan-sin-wan?"

Kiranya Hian-ki dan Hian-cing berdua Cinjin itu adalah tokoh-tokoh sakti pada seratus tahun yang lalu, kungfu mereka sangat lihay, sebenarnya kedua orang itu adalah sahabat karib, tapi suatu kali secara tak disengaja mereka menemukan dua butir pil mestika yang bernama Ji-khi-kun-goan-sin-wan, konon pil mestika itu buatan Hin-se-cu (pembenci jagad) Siang Heng-tang, seorang tabib sakti yang amat tersohor.

Pil mestika itu mempunyai sifat Im dan Yang, barang siapa menelan kedua butir pil itu, maka te-naga dalamnya akan peroleh kemajuan sebesar dua kali enam puluh tahun latihan.

Betapa gembiranya mereka mendapatkan pil itu yang mesti dimakan dua biji sekaligus, jika hanya makan sebutir saja hingga mengakibatkan hawa Im dan Yang tidak seimbang, bukan saja tiada manfaat-nya, bahkan kemungkinan besar akan tewas.

Sekarang Hian-ki dan Hian-cing Cinjin masing-masing mendapatkan sebutir pil itu, tentu saja ke-duanya sama-sama tak mau memberikan pil pe-nemuannya kepada rekan yang lain, akibatnya ter-jadilah pertarungan sengit untuk menentukan pil itu akan menjadi milik siapa.

Tapi ilmu silat mereka seimbang, walaupun su-dah bertempur selama tujuh hari tujuh malam, me-nang atau kalah belum ketahuan juga, akibatnya kedua orang itu sama-sama terluka, kehabisan tenaga dan akhirnya tewas.

"Apakah dua pil mestika yang kalian maksud-kan adalah Ji-khi-kun-goan-sin-wan?"

Demikian Ji-sia lantas bertanya dengan kaget. Pek-hui Siansu mengangguk.

"Benar, dua butir pil mestika itulah yang kumaksudkan."

"Menurut cerita orang, Hian-ki dan Hian-cing sama-sama tidak makan kedua pil mestika itu,"

Kata Tong Yong-ling.

"tapi entah bagaimana jejak-nya kemudian lenyap dari dunia persilatan, konon tempat terjadinya pertarungan itu pun tak pernah diketahui orang."

Pek-hui Siansu menghela napas panjang.

"Se-tiap benda yang dikatakan mestika adalah benda yang membawa alamat jelek, bahwa kami jatuh da-lam keadaan begini tak lain karena kami mengetahui di manakah kedua tokoh itu melakukan pertarungan.

"Sesungguhnya mereka melangsungkan adu tena-ga dalam di sebuah kuburan kuno, hingga menjelang saat ajalnya mereka baru sadar bahwa tindakan me-reka itu keliru, maka di dalam kuburan tersebut mereka bersama-sama menyusun se

Jilid kitab pusaka yang diberi nama Thian-ki-hian-cing-pit-lik, ber-sama kedua butir pil Ji-khi-kun-goan-sin-wan, kitab tersebut disimpan dalam kuburan itu untuk menanti datangnya orang yang berjodob dengan benda-ben-da itu.

"Kemudian menjelang ajalnya, mereka membuat sembilan buah peta rahasia yang menunjukkan tempat berlangsungnya pertarungan itu, meski ter-diri dari sembilan buah peta, sesungguhnya adalah selembar peta yang dibagi menjadi sembilan bagian yang secara terpisah dibagikan kepada sembilan orang ketua dari sembilan perguruan besar.

"Ketika itu, ketua dari kesembilan perguruan besar adalah kesembilan guru kami, demi mendapat peta itu, semua orang merasa gembira, tapi.., , ai, siapa tahu kesembilan lembar peta itu justru me-rupakan perenggut nyawa kesembilan orang guru kami."

"Mendingan guru kami enggan untuk menye-rahkan peta bagiannya kepada orang lain, akibat-nya mereka mengikuti jejak kedua tokoh terdahulu dengan pertarungan yang mengakibatkan tewasnya mereka. Kemudian peta-peta itu pun jatuh ke ta-ngan kami bersembilan, waktu itu semua orang me-rasa bingung dan tak tahu bagaimana caranya me-nyelesaikan persoalan peta ini."

"Pada saat semua orang menghadapi kesulitan inilah, tiba-tiba muncul seorang berkerudung yang mencuri tanda kebesaran kami...."

"Dan orang itu adalah guruku?"

Tukas Ji-sia sambil menghela napas. Pek-hui Siansu juga menghela napas, katanya.

"Manusia berkerudung itu bukan Thian-kang-te sat-seng-gwat-kiam, tapi selanjutnya tanda kebesaran dari kesembilan perguruan besar yang dicuri oleh manusia berkerudung itu jatuh ke tangan gurumu Oh Kay-gak.

"Pada mulanya kami tidak tahu Oh Kay-gak adalah pemimpin Bu-lim-jit-coat yang bernama Ban-kiam-sin-kun, kemudian setelah mengetahui hal ini, kami pun mohon kepada Oh Kay-gak agar me-ngembalikan tanda kebesaran itu kepada kami, tapi ia minta benda-benda tersebut ditukar dengan kesembilan bagian peta kami, atau kalau tak mau menyerahkan peta, maka ilmu silat kami ber-sembilan harus mampu mengalahkan dia. Maka kamipun berjanji untuk beradu kepandaian dalam ben-teng Thian-seng-po empat tahun kemudian.

"Peristiwa itu terjadi pada lima belas tahun yang silam, waktu itu kami mendatangi Thian-seng-po untuk memenuhi janji, siapa tahu Oh Kay-gak telah disekap Samtenya Oh Kay-thian, selama tiga tahun, ketika kami tiba di Thian-seng-po, da-lam keadaan tidak siap akhirnya kami terjebak oleh Oh Kay-thian sehingga tersekap selama lima belas tahun di sini"

"Taysu, apakah kalian tahu siapakah manusia berkerudung yang mencuri tanda kebesaran kalian itu!"

Tanya Ji-sia.

"Ilmu silat orang itu tidak kalah daripada Oh Kay-gak, lagipula merupakan musuh besar Oh Kay-gak sendiri, tapi entah bagaimana kemudian ter-nyata tanda kebesaran kami terjatuh ke tangan Oh Kay-gak, Menurut penyelidikan yang kemudian ka-mi lakukan dapat diketahui bahwa manusia berke-rudung itu ialah Cengcu perkampungan Kiam-hong-ceng yakni Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian."

Mendengar nama itu, Ji-sia berpikir.

"Kalau begitu Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian pastilah orang yang dikatakan Oh Kay-gak sebagai salah satu di antara laki dan perempuan yang tak dapat dikalah-kan beliau itu."

Sementara itu Pek-hui Siansu menuju ke sudut ruangan dan mengeluarkan se

Jilid kitab kecil serta selembar kain kumal, sambil disodorkan ke tangan Ji-sia, katanya.

"Kain kumal ini bukan lain adalah peta yang kami buat sesuai dengan lukisan pada kesembilan lembar peta aslinya, di situlah akan kau temukan kitab pusaka serta obat mestika pe-ninggalan Bu-lim-siang-cin. Kuburan kuno itu letaknya mungkin dekat sekali dengan kompleks kuburan dekat Thian-seng-po, asal kau ikuti petunjuk pe-ta ini tentu tempat itu akan kau temukan dengan cepat.

"Sekarang kau membawa beberapa macam ben-da mestika, bilamana satu saja di antaranya diram-pas orang, maka akibatnya akan mempengaruhi ke-hidupan berpuluh-pulah ribu orang, maka kau harus perhatikan baik-baik bahwa orang persilatan seba-gian besar adalah manusia licik dan berhati keji, kau harus berjaga-jaga terhadap tipu muslihat me-reka, agar jangan sampai terjebak."

"Terutama sekali yang harus kau perhatikan adalah ruyung Jian-kim-si-hun-pian itu, jangan kau-gunakan terlalu menyolok, tentu Oh Kay-gak per-nah menerangkan hubungan serta pengaruh ruyung ini dengan keselamatan dunia persilatan?"

Ji-sia terkesiap mendengar perkataan itu, sahutnya. lantang.

"Terima kasih atas nasihat Taysu, ke-tika Suhu menyerahkan ruyung ini padaku, beliau bilang ruyung ini menyangkut beberapa kasus pem-bunuhan, katanya pula bahwa senjata mestika ini menyimpan suatu rahasia besar yang akan meng-gemparkan dunia persilatan."

"Ya, ruyung Jian-kim-si-hun-pian memang me-nyangkut beberapa kasus pembunuhan, soal rahasia yang terkandung kurang begitu kupahami, tapi yang jelas kemunculan kembali ruyung ini pasti akan menimbulkan badai bencana dalam dunia persilatan, kuharap kau dapat bertindak lebih hati-hati!"

"Taysu,"

Tiba-tiba Ji-sia bertanya lagi.

"tahukah engkau sebab apakah guruku dicelakai oleh adiknya? Dan soal-soal budi dan dendam lain selama hidup-nya?"

"Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak memang seorang berbakat, hanya dua orang di du-nia ini yang mampu menandingi kepandaiannya, se-lama hidupnya mengembara dalam dunia persilatan, soal budi dan dendamnya tentu saja ada, cuma sayang kami tidak mempunyai hubungan apa-apa de-ngannya, jadi sedikit sekali persoalannya yang kami ketahui."

"Di antara kedua orang yang sanggup menan-dingi guruku selain Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian, siapa pula seorang lainnya?"

"Orang itu adalah seorang perempuan, tapi asal-usulnya kurang jelas, konon dia bergelar Kiu-thian-mo-li."

Pelbagai ingatan lantas berkecamuk dalam be-nak Bok Jisia, pikirnya.

"Tentang urusan Suhu yang membuatnya dendam, kemungkinan besar ada hubungannya dengan kedua laki perempuan itu, jika aku ingin membongkar soal perselisihan itu, harus kuselidiki langsung dari mulut salah seorang di antaranya, mungkin Oh Ku-gwat dan Oh Kay-thian juga mengetahuinya. Ai, urusan yang me-nyangkut diri Suhu benar-benar suatu teka-teki yang sukar dipecahkan, lagipula tampaknya mempengaruhi dunia persilatan pada umumnya...."

Dalam pada itu, Pek-hui Siansu telah berkata lagi setelah menghela napas sedih.

"Bok-sicu, usiamu masih muda, tapi tenaga dalammu berhasil men-capai tingkatan setinggi ini, bila dibina beberapa waktu lagi, kau pasti dapat melakukan karya gemi-lang bagi dunia pe;silatan, kuharap kalian suka baik-baik menjaga diri. Kini gunakanlah ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian untuk menjebol pintu baja ini dan masuklah, segera akan kuberi petunjuk jalan keluar bagi kalian."

Seraya berkata, kesembilan orang ketua per-guruan besar itu lantas mengundurkan diri ke be-lakang.

Ruyung mestika di tangan Bok Ji-sia segera memancarkan sinar keemasan, di tengah kemilau ular-ular emas kecil, diiringi gemerincing nyaring pintu baja itu sudah terpapas menjadi dua bagian oleh ketajaman ruyung emas itu.

Baru pertama kali ini kesembilan orang ketua perguruan besar itu menyaksikan kehebatan ruyung tersebut, tanpa terasa semua orang memuji tiada hentinya.

"Betul-betul senjata mestika yang tajam luar biasa, tak heran banyak jago persilatan yang tergila-gila padanya, sungguh beruntung kami sempat menyaksikan ketajaman senjata ini menjelang kematian kami."

Dengan suatu gerakan cepat Ji-sia dan Yong-ling menerobos masuk dalam ruangan itu, ter-nyata di tubuh kesembilan orang Ciangbujin itu masing-masing di belenggu oleh tiga rantai sebesar lengan bocah, ujung rantai terikat pada dinding bau yang kukuh.

Jilid 5 Setelah menyaksikan sendiri keadaan kesem-bilan orang itu sekarang, kedua muda-mudi itu baru betul-betul merasa terharu, hakikatnya bentuk me-reka tidak mirip manusia lagi, siapakah yang men-duga bahwa manusia macam tengkorak hidup itu bukan lain adalah para ketua kesembilan perguru-an besar?

"Ai, penderitaan yang kalian alami benar-be-nar mengenaskan sekali......"

Desis Ji-sia dengan sedih. Pek-hui Siansu menghela napas panjang, kata-nya.

"Di dunia fana ini, manusia selalu diliputi penyesalan, air selalu mengalir, jarang ada urusan yang selalu berkenan di kati?"

Tong Yong-ling merasa pedih mendengar per-kataan itu...... Ji-sia pun seperti tersentuh lubuk hatinya, ia pun bergumam.

"Ya, manusia memang selalu me-ninggalkan penyesalan dan air selalu mengalir, ai...."

Air mata mereka berderai bagaikan hujan.

Kesembilan orang Ciangbunjin ikut menitikkan air mata, untuk sesaat suasana ruangan itu penuh diliputi sedih dan haru.

Tidak lama kemudian, Pek-hui Siansu berkata lagi dengan menghela napas.

"Bok-sicu, kami bersembilan segera akan memutuskan urat nadi untuk bunuh diri, tapi sebelum meninggal, kuminta agar Sicu bersedia memutuskan rantai pada tubuh kami ini agar setelah mati sukma kami dapat memper-oleh kebebasan."

Bok Ji-sia tidak banyak berbicara, cahaya emas segera berkelebat dan ular kecil emas pun menyambar ke depan........

"Cring! Cring!"

Serentetan bunyi nyaring meng-gema, dengan beberapa kali getaran saja dua puluh tujuh rantai baja yang membelenggu tubuh ke-sembilan orang itu telah dipatahkan oleh ruyung mestika, dalam sekejap itu pula kesembilan orang itu terbebas dari belenggu.

Dengan nada sedih Pek-hui Siansu berkata.

"Budi yang kau berikan kepada kami hanya bisa kami balas pada penitisan yang akan datang, tempat ini berbau busuk dan sangat me-muakkan, silakan kalian segera berangkat mening-galkan tempat ini!"

"Jalan keluar ruang bawah tanah ini terletak di celah kecil dinding sebelah kiri ruangan ini, mes-kipun kami belum pernah keluar lewat sana, tapi seringkali ada angin dingin yang berhembus masuk lewat celah itu, aku yakin di sana pasti ada jalan keluar. Nah, pergilah kalian!"

Setelah Pek-hui Siansu selasai berkata, seren-tak kesembilan orang aneh itu duduk bersila di atas tanah, berkumandanglah keluh kesakitan ber-ulang kali........

Menyusul suara itu, Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling segera mencium bau anyirnya darah yang amat menusuk hidung.

Kesembilan orang Ciangbunjin dari sembilan perguruan besar telah berangkat meninggalkan du-nia yang fana dan melepaskan diri dari segala sik-sa derita.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling memandang mereka dan berdoa bagi kesembilan orang jago tua itu.

"Ai........!"

Dua kali suara helaan napas meme-cah keheningan.

Akhirnya dengan membawa hati yang pedih Ji-sia dan Yong-ling berangkat meninggalkan ruang bawah tanah itu.

oooo-oOoOoOooOo-oooo Tempat ini adalah kompleks pekuburan yang luas sekali Di mana-mana tampak gundukan tanah pusara, batu nisan berserakan di sana sini.

Kompleks pekuburan ini letaknya hanya beberapa ratus kaki di sebelah kanan benteng Thian-seng-po, begitu luas tanah ini hingga mencapai pu-luhan hektar, sejauh mata memandang yang tampak hanya kuburan tua yang terbengkalai.

Pada sudut tanah kuburan itu tumbuh beberapa batang pohon Siong dan Pek, malam yang sepi mencekam, angin berhembus semilir, di antara daun yang gemersik terkadang terdengar pekik burung hantu yang menambah seramnya suasana.

Di sebelah kiri tanah pekuburan itu berdiri se-buah bangunan.

Pada samping kiri bangunan penuh dengan gundukan tanah hijau, sementara agak ke depan terdapat sebuah kolam yang tidak terlalu besar, cahaya bintang memantul di permukaan air, jelas bangunan itu bukan tempat tinggal manusia.

Bentuk bangunan itu pun aneh sekali, tembok-nya terbuat dari bata merah, seperti kuil tapi bu-kan kuil, sehingga tampak angker dan menimbulkan perasaan seram.

Mungkin tempat ini adalah tempat tinggal ba-dan halus, mungkin tanah pekuburan kaum harta-wan yang kaya raya.

Ketika itu kentongan pertama baru lewat, ge-lap malam menambah seram tanah pekuburan itu.

Tentunya tanah pekuburan ini jarang sekali dikunjungi orang pada siang hari, apalagi pada ke-gelapan malam begini.

Tapi aneh sekali, di tengah tanah pekuburan yang sepi itu tiba-tiba terdengar suara bicara ma-nusia.

Suara itu berasal dari gedung setan tersebut, dari dalam sebuah kuburan, tanpa batu nisan.

Hah, mungkinkah setan yang sedang bercakap-cakap?

Kalau tidak, mengapa tidak nampak ba-yangan manusia?

Suara yang muncul dari tanah pekuburan sa-ngat menyeramkan, andaikan kebetulan ada orang di situ maka dia pasti akan lari terbirit-birit.

Tapi jelas suara itu bukan suara setan melain-kan suara manusia, terdengar seorang berkata dengan suara yang merdu.

"Bok-siangkong, sungguh panjang sekali lorong yang mengerikan ini!"

"Ah, sudah sampai! Nona Tong, akhirnya ki-ta lolos juga!"

Baru saja seru kegirangan laki-laki itu lenyap, dari dalam liang kuburan tanpa nisan itu mendadak muncul sepasang muda-mudi yang tampan dan jelita....

Begitu keluar dari liang kubur, mereka mene-ngadah memandang bintang-bintang di langit, lalu menghirup udara segar, sekulum senyum menghiasi wajah mereka.

Akan tetapi, ketika pandangan mereka mene-mukan kompleks pekuburan yang terbentang luas ini, serentak mereka berpaling ke arah liang kubur di mana barusan mereka muncul, tanpa terasa me-reka menarik napas dingin dan mundur beberapa langkah.

"Bok-siangkong,"

Kata Tong Yong-ling sambil menghela napas sedih.

"sebetulnya kita berada di alam baka ataukah dalam mimpi?"

Bok Ji-sia menghela napas, sahutnya.

"Nona Tong, kita tetap sadar dan kita masih hidup di du-nia, tapi apa yang kita alami ini memang suatu impian, impian yaag buruk, dan tempat yang kita kunjungi adalah neraka...neraka dunia!"

Tong Yong-ling menempelkan tubuhnya di sisi bahu Bok Jisia, lalu katanya lagi dengan lembut.

"Bok-siangkong, apakah kau hendak meninggalkan diriku?"

Ketika Ji-sia melihat sorot mata si nona yang penuh pancaran rasa cinta itu, sekali lagi dia meng-hela napas sedih.

"Nona Tong, sudah beberapa hari kita tidak makan, lebih baik kita tinggalkan tempat ini secepatnya!"

Sambil berkata sekali lagi dia memperhatikan bangunan yang penuh hawa setan itu, mendadak timbul perasaan aneh dalam hatinya, tapi karena perutnya lapar membuat ia tak berminat untuk berpikir lebih lanjut, maka berangkatlah kedua orang meninggalkan bangunan seram ini.

Mereka berjalan terus melewati tanah pekubur-an yang amat luas itu, menyusuri rumput ilalang yang lebat dan batu nisan yang berserakan, timbul lagi perasaan sedih dalam hati Ji-sia.

"Ai, kehidupan manusia di dunia singkat se-kali,"

Pikirnya.

"sekalipun selama hidup gagah per-kasa dan banyak melakukan pekerjaan besar, tapi setelah mati, tak lebih mereka akan terpendam di dalam liang lahat yang sepi, lalu apa artinya se-gala perjuangan untuk memperebutkan nama dan kedudukan?"

Berpikir demikian, semangatnya menjadi ken-dor dan iapun menghela napas panjang.....

"Bok-siangkong, kenapa menghela napas?"

Tong Yong-ling segera menegur.

"Aku sedang berpikir bahwa kehidupan ma-nusia susungguhnya hanya impian belaka, ketika kita sadar dari impian itu, maka kita akan berpi-sah untuk selamanya dengan dunia ini."

Tong Yong-ling seperti merasakan sesuatu, de-ngan penuh rasa cinta ujarnya.

"Bok-sUngkong, bi-la kau tidak keberatan, aku........."

Tentu saja Bok Ji-sia tahu apa yaug hendak dikatakannya, dengan dingin tukasnya.

"Nona Tong, kau salah mengartikan maksudku, sekarang aku orang she Bok justru ingin berpisah denganmu."

"Apa? Kau....kau...."

Suara Tong Yong-ling agak gemetar, dengan air mata berlinang ia awasi pemuda itu. Ji-sia menghela napas, katanya.

"Nona Tong, terus terang kuberitahukan padamu, perkenalan kita bila diperdalam lebih jauh, pada akhirnya hanya akan mendatangkan kesedihan belaka, karena itu mumpung jembatan persahabatan kita belum ter-lalu kukuh, lebih baik kita berpisah saja."

Tak terlukiskan rasa sedih Tong Yong-ling oleh perkataan itu, diam-diam iapun sangat marah, se-bagai seorang gadis yang keras hati, belum pernah ada orang yang menolaknya dengan begitu saja.

Air mata segera jatuh bercucuran, sambil me-nahan perasaan katanya.

"Bok-siangkoag, begitu keraskah hatimu? Ataukah kau sudah mempunyai pilihan lain......?"

Ji-sia berpikir.

"Selama pergaulanku beberapa hari ini, terbukti dia memang gadis yang lembut, hanya wataknya saja yang terlalu keras. Aii, se-sungguhnya akupun seorang yang mudah jatuh, ha-ti. Kalau pergaulanku berlangsung lebih lama, akhir-nya pasti akan terjalin cinta kasih, daripada seng-sara dikemudian hari, lebih baik aku bersikap dingin saja kepadanya agar dia dapat memutuskan semi cintanya mulai sekarang........"

Berpikir demikian, dengan wajah lebih di-ngin dan kaku katanya.

"Nona Tong, ketahuilah bahwa aku adalah seorang lelaki yang sudah mem-punyai istri....."

Ucapan itu ibaratnya guntur membelah bumi pada siang hari bolong, air muka Tong Yong-ling berubah hebat, teriaknya keras.

"Kalau begitu ke-napa........kenapa kau mempermainkan aku? Jadi kau adalah lelaki yang gemar mempermainkan pe-rempuan. Dalam gusarnya tiba-tiba dia mengayunkan ta-ngannya dan........"Plok! Plok!"

Ia persen beberapa tempelengan keras pada muka pemuda itu. Ji-sia berdiri tenang di tempat, ia tidak melawan dengan tenaga dalamnya, kedua pipinya se-gera merah bengkak.

"Aneh, ia mengatakan aku mempermainkan dia, kapan aku pernah berbuat demikian?"

Pikirnya dengan tertegun.

Sikap dingin yang diperlihatkan anak muda itu semakin membuat Tong Yong-ling merasa malu, akhirnya ia menutup wajah sendiri dan menangis tersedu-sedu.

Sambil menghela napas panjang Bok Ji-sia pu-tar badan dan meninggalkan tempat itu.

Menurut perkiraan Tong Yong-ling, anak mu-da itu tentu akan menghiburnya dengan kata-kata lembut, ia tak menyangka Ji-sia akan pergi dengan begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pukulan batin ini seketika membuat si nona yang keras hati tak mampu mempertahankan rasa sakit hatinya, ia menjatuhkan diri di tanah kubur-an dan manangis tergerung-gerung.

Pergaulan selama dua hari yang singkat ini mes-ki tidak menimbulkan kesan apa-apa bagi Bok Ji-sia, tapi justeru mendatangkan kenangan bagi Tong Yong-ling, ia telah menanam bibit cintanya pada diri pemuda itu, dan bibit cinta itu ternyata tumbuh dengan cepatnya, hanya dalam dua hari telah berubah menjadi pohon cinta yang berakar kuat, sekalipun dia hendak mencabutnya juga tak dapat lagi.

Tiba-tiba ia berteriak dengan sedih.

"O........, untuk apa aku hidup? Buat apa aku hidup?"

Kalau rembulan kadangkala bulat, dan ada kalanya lonjong, terkadang guram dan lebih sering terang benderang, maka manusiapun ada kesedih-an, kegembiraan, pertemuan dan perpisahan.

Cuaca pun seringkah berubah, apalagi kehidup-an manusia yang terdiri dari aneka peristiwa, setiap manusia selalu mengejar harapan, dan harapan ini-lah yang menunjang semangat orang untuk hidup lebih jauh.

Suara Tong Yong-ling bagaikan lolong monyet di hutan sunyi, terbawa angin tersiar sampai jauh.

Ji-sia dapat mendengar isak tangis dan keluhannya, ia merasa terlalu banyak melukai hati si no-na, beberapa kali ia bermaksud kembali ke samping-nya dan menghiburnya, akan tetapi bila teringat pada dendamnya yang belum terlampiaskan serta banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, terpak-sa dia harus menguatkan imannya dan membuang jauh-jauh pikiran tersebut.

Pelbagai persoalan serasa berkecamuk dalam benaknya.

Yang dicinta ternyata menolak orang yang memberi cinta, sebaliknya yang jatuh cinta malah bertekad sekeras baja, soal ini amat merisau-kan pikirannya.....

Mendadak, mata Ji-sia yang tajam menangkap sesosok bayangan manusia yang kurus tinggi sedang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan.

"Siapa situ? Berhenti!"

Ji-sia terkejut, buru-buru ia melompat ke belakang gundukan tanah pekuburan dan bersembunyi.

Tampak bayangan tadi secepat kilat, bergerak menuju ke arahnya.......

Mendadak, dari atas sebatang pohon Pek me-lompat turun dua sosok bayangan lain dan meng-hadang jalan bayangan pertama tadi.

Diam-diam Ji-sia heran, dia tidak mengira da-lam tanah pekuburan yang sepi ini bisa muncul jago dunia persilatan, bahkan kalau ditinjau dari cara kedua orang itu bersembunyi, jelas sudah lama me-reka mengawasi keadaan di sekitar sini, untuk apa mereka berbuat demikian?

Bayangan jangkung tadi segera tertawa dingin, mendadak ia melompat ke samping lalu menerjang ke depan, telapak tangannya berputar, pukulannya memburu ke depan.

Serangannya cepat sekali, ganas mengancam.

Walaupun kedua sosok bayangan yang melom-pat turun dari atas pohon itu mempunyai dasar il-mu silat yang kuat toh kelabakan juga dibuatnya, serentak mereka membentak lalu terpencar ke samping.

Tapi bayangan tinggi kurus itu lantas melejit ke udara, bayangan pukulan dan tendangan mem-buru pula.

Perubahan tiba-tiba serta jurus serangan yang mematikan sungguh menggetarkan hati orang.

Dua kali jeritan ngeri segera berkumandang, kedua orang itu masing-masing terkena tendangan kilat pada ja lan darahnya dan tewas seketika.

Manusia jangkung itu segera seret kedua sosok mayat itu dan melompat ke balik semak-semak.

Ji-sia betul-betul terpesona, kejadian tersebut membuatnya tidak habis mengerti, dia tak tahu apa maksud orang-orang itu mendatangi tanah pekuburan ini.

Mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang tak jauh dari belakang, dengan cepat Ji-sia berpaling.

Apa yang terlihat membuatnya terperanjat, ter-nyata manusia jangkung itu sudah berada tiga-empat tombak di belakangnya, melihat gelagatnya orang hendak melakukan sergapan, tapi untung di hadang oleh Tong Yong-ling.

Dengan garang Tong Yong-ling menerjang maju, dalam sekejap ia melancarkan tiga serangan be-rantai.

Sungguh cepat ketiga jurus serangannya, tapi kungfu si jangkung itu pun bukan sembarangan, sambil berputar beruntun ia lancarkan pula tiga kali serangan kilat.

Tong Yong-ling membentak nyaring, bukan mundur dia malah maju, suatu pukulan dilancar-kan sambil menerobos lewat pada posisi yang aneh.

Di antara hembusan angin pukulannya tercium bau harum bunga yang dingin, itulah, pukulan maut Bwe-sat-ciang.

Tiba-tiba Ji-sia membentak.

"Nona Tong, ce-pat buyarkan tenaga pukulan Bwc-sat-ciangmu!"

Sambil membentak, Ji-sia melancarkan pula pu-kulan dari jauh yang langsung menahan ancaman Tong Yong-ling itu.

Rupanya pengalaman manusia jangkung itupun sangat luas, begitu mendengar "Bwe-sat-ciang", ha-tinya terkesiap, cepat-cepat ia himpun tenaga dalam-nya dan melejit ke udara.

Dengan begitu, maka pukulan Bwe-sat-ciang yang dilancarkan Tong Yong-ling tertolak ke sam-ping oleh tenaga pukulan Bok Ji-sia.

"Hei, kenapa kau malah membantu orang lain?"

Yong-ling segera menegur dengan tertawa dingin. Tiba-tiba bayangan jangkung itupun berseru kaget.

"Hai, Cing-hok, rupanya kau! Kukira kau telah mengalami sesuatu yang tak di inginkan?"

Ternyata orang itu bukan lain adalah Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak.

"Kakak kurus, kita adalah orang sendiri, jangan bertarung lagi!"

Seru Ji-sia dengan gembira. Tong Yong-ling masih mendongkol dan belum sempat melampiaskan, maka sambil mendengus ia putar badan dan berlalu....... Buru-buru Ji-sia menyusulnya sambil berseru.

"Nona Tong, jangan pergi dahulu!"

"Hmm! Siapa ingin kau urus?"

Jengek gadis itu dengan gemas. Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Nona, boleh kunumpang tanya, apakah kau ini Bwe-hoa-sian-kiam Tong-lihiap yang telah menggetarkan dunia persilatan? Hahaha, nama besarmu betul-betul tidak bernama kosong, kungfumu sungguh hebat, nyaris diriku terma-kan oleh pukulan Bwe-sat-ciangmu tadi."

Sesungguhnya Tong Yong-ling memang tidak bermaksud meninggalkan Bok Ji-sia, malah kalau bisa dia ingin selalu mendampingi anak muda itu, tapi sebagai seorang gadis yang keras hati, ia se-ngaja berbuat demikian untuk membikin gelisah pe-muda itu, ketika Ji-sia menahannya tadi ia sudah sangat gembira, maka sesudah mendengar pujian Ku Thian-gak, iapun memutar badan.

"Bolehkah kutahu nama besar Anda?"

Katanya sambil tertawa.

"Siu-heng (kakak kurus),"

Sela Ji-sia.

"sudah lama kutahu kau adalah seorang tokoh sakti dunia persilatan, tapi tidak kusangka kungfumu selihai ini."

Ku Thian-gak tertawa, katanya.

"Hei, Bok-lote, jangan terlalu memuji dan membuat aku malu. Ku-lihat kungfumu juga sudah mendapat kemajuan yang amat pesat?"

"Ai, andaikan tiada bantuanmu tempo hari, mana bisa kuperoleh kemajuan seperti hari ini?"

Kata Ji-sia sambil menghela napas. Tong Yong-ling yang pertanyaannya belum memperoleh jawaban, dengan jengkel lantas berte-riak.

"He, kenapa kau tidak menjawab pertanya-anku?"

Ku Thian-gak tertawa.

"Tempat ini berbahaya sekali dan bukan tempat bicara yang baik. Ma ri kita cari tempat lain untuk bercakap-cakap dan sekalian menonton keramaian."

"Masa di tanah pekuburan ini ada keramaian?"

Tanya Yongling heran.

"Memangnya ada setan yang hendak berkelahi?"

"Tepat sekali dugaan nona Tong,"

Ku Thian-gak tersenyum.

"di sini memang bakal berlangsung pertarungan antar setan, bahkan mereka adalah ma-nusia setan yang buas."

Mendengar itu Tong Yong-ling tertawa ceki-kikan, serunya.

"Wah, itu baru tontonon sedap na-manya. Ayo kita berangkat!"

"Nona Tong,"

Kita Ji-sia tiba-tiba.

"sudah dua hari kita tidak bersantap, mana ada semangat un-tuk melihat setan berkelahi!"

"Jangan kuatir Bok-lote,"

Seru Ku Thian-gak tertawa.

"tempat itu adalah suatu tempat yang ba-gus, kita dapat pula menyikat hidangan yang te-lah dipersiapkan setan-setan itu."

"Apa? Di mana ada pertemuan besar ka-wanan setan?"

Seru Yong-ling.

"Masakah kalian tidak tahu di tanah pekuburan ini bakal berlangsung suatu peristiwa yang akan menggemparkan dunia persilatan?"

"Kami baru saja lolos dari jebakan alat raha-sia Thian-seng-po, tentu saja tidak tahu apa yang terjadi di dunia luar."

""Pada tanah pekuburan ini timbul suatu raha-sia yang membuat orang persilatan jadi gila, pel-bagai jagoan dari empat penjuru dunia saling be-rebut datang kemari, mungkin dalam dua hari ini bakal berlangsung suatu badai pembunuhan berda-rah di tempat ini. Soal ini lebih baik kuceritakan nanti saja dengan lebih terperinci, ayo sekarang kita mencari suatu tempat lebih dulu untuk bersembunyi."

Sehabis berkata, Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak segera berangkat lebih dulu memimpin jalan, gerakan tubuhnya secepat kilat, ia langsung menuju ke sebelah kiri tanah pekuburan itu.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling segera menyusul di belakang jago tersebut.

Di tengah jalan, Ji-sia berbisik kepada Yong-ling.

"Nona Tong, sesungguhnya banyak persoalan sedih yang menyelimuti diriku, kuharap kau bisa menyelami perasaanku!"

Gadis itu menghela napas, katanya.

"Kau ada-lah lelaki yang telah beristeri, apa yang bisa ku-lakukan kecuali menyesali nasib sendiri yang buruk? Tapi kau jangan kuatir, aku tidak akan mengganggu keharmonisan keluarga orang!"

Tergetar juga perasaan Ji-sia oleh kebesaran cinta si nona, sebenarnya pemuda itu hendak me-nerangkan bahwa sesungguhnya ia belum beristri, tapi terbayang kembali hal-hal yang lain, maka ia menghela napas panjang,.

"Dikemudian hari kau akan memahami sen-diri perasaanku yang sebenarnya!"

Demikian ia ber-bisik. Tiba-tiba Ku Thian-gak yang bergerak di de-pan menghentikan langkahnya, lalu sambil ber-paling katanya.

"Kita sudah sampai di tempat tuju-an! Harap kalian lebih berhati-hati, jangan sampai jejak kita ketahuan sehingga mendatangkan ke-sulitan."

"Kalau takut mencari kesulitan, apa gunanya kita kemari?"

Kata Tong Yong-ling sambil tertawa. Agaknya ucapan ini membangkitkan kegembi-raan di hati Ku Thian-gak, sambil tertawa katanya.

"Betul juga perkataan nona, kalau begitu mari kita bergerak maju lebih ke depan!"

Dengan kecepatan yang luar biasa, ketiga orang itu melanjutkan perjalanan sejauh puluhan tombak dari tempat semula.

Dengan matanya yang celi, Tong Yong-ling memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tapi apa yang dilihat hanya batu nisan yang roboh serta gundukan tanah hijau, suasana hening mengerikan, sama sekali tidak nampak tanda-tanda akan dise-lenggarakannya pertemuan para setan.

Maka dengan perasaan heran ia tanya.

"Kenapa tak nampak bayangan apapun di sini? Apakah...."

Baca Juga: Amanat Marga 2

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert