Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 3

Eps 3 Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Baca online Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Cersil Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung.

"Pesta setan diselenggarakan dalam gardu bo-brok di depan sana,"

Tukas Ku Thian-gak sambil menuding bawah bukit sebelah kiri.

"kini para se-tan belum datang semua, tapi kurasa ada orang yang diutus kemari untuk memeriksa keadaan."

Ternyata di bawah lereng sana terdapat sebuah tanah pekuburan yang datar, di depan sebuah ku-buran yang besar berdiri sebuah gardu bobrok, da-lam gardu terdapat sebuah meja batu dan pada em-pat sudut masing-masing terdapat sebuah bangku batu panjang, suasana di sekeliling hening, dan tak terdengar sesuatu suara, hanya beberapa batang pohon Pek-yang di sekeliling gardu saja yang menim-bulkan suara gemerisik sewaktu terhhembus angin.

Bok Ji-sia kembali menggerutu.

"Perut lapar masa disuruh makan angin di sini? Kalau nanti be-tul-betul muncul setan di sini, kita akan kehabisan tenaga untuk bertarung. Siu-heng, tadi kau bilang di sini ada perjamuan para setan, kenapa tidak ke-lihatan bayangannya?"

Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak mene-ngadah memandang cuaca sejenak, kemudian sahut-nya.

"Sekarang baru kentongan kedua, mungkin se-bentar lagi meja perjamuan akan disiapkan. Bok-lote, harap bersabarlah sebentar! Orang-orang yang akan datang menghadiri perjamuan dalam gardu bobrok ini adalah sekawanan jago lihai, juga ter-dapat manusia macam kita yang mengikuti jalan-nya pertemuan secara diam-diam."

"Siapakah pemimpin mereka?"

"Musuh bebuyutan Thian-seng-po yang dika-takan orang sebagai Bu-lim-te-it-toa-ceng (perkam-pungan nomor satu dalam dunia persilatan), dia adalah Siaucengcu dari Kiam-hong-ceng, Huan-in-kiam (pedang awan) Lamkiong Giok, orang ini bu-kan cuma cerdas otaknya, pula kejam dan banyak tipu muslihatnya, boleh dibilang dia adalah seorang lawan yang sangat tangguh. Tapi, kita tak usah bentrok secara langsung dengan dia, sebab sudah ada beberapa orang gembong iblis yang akan meng-hadapinya."

Tong Yong-ling dan Bok Ji-sia tidak puas mendengar orang memuji kehebatan Lamkiong Giok, segera Yong-ling bertanya.

"Sebenarnya jago lihay macam apa yang akan berdatangan kemari?"

"Menurut apa yang kuketahui, orang-orang yang berdatangan untuk menghadiri pertemuan rahasia ini ada jago dari Kiam-hong-ceng, jago go-longan hitam terkemuka, tokoh Bu-lim-su-toa-to (empat pulau terbesar dalam dunia persilatan) serta kawanan jago persilatan yang berdiri sendiri, jika ditambah pula dengan orang Thian-seng-po, per-temuan ini betul-betul akan meriah sekali."

"Siu-heng,"

Seru Ji-sia tiba-tiba.

"kita sudah bercakap-cakap cukup lama, tapi masih belum kau perkenalkan nama besarmu dan apakah rahasia ta-nah perkuburan ini?"

"Oo..mengenai diriku, orang persilatan menye-butku sebagai Siau-yau-sian-hong-khek...."

"Ah, jadi kaulah pendekar besar yang disebut orang sebagai Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak?"

Teriak Tong Yong-ling terkejut.

"Bagus ""se-kali! Kebetulan kami memang hendak mencarimu!"

"Ada urusan apa kalian mencariku?"

Tanya Ku Thian-gak heran. Bok Ji-sia tak mengira laki-laki kurus yang sama sekali tak punya "bobot"

Ini ternyata se-orang pendekar besar dunia persilatan yang disegani dan misterius itu. Dengan gegetun katanya.

"Ku-cianpwe, aku betul-betul lamur, sudah berbulan-bulan kita ting-gal bersama, tapi tak pernah kusadari bahwa, eng-kau adalah pendekar besar yang termasyhur itu, sungguh kebetulan sekali pertemuan kita malam ini, sebab aku dapat menyelesaikan suatu tugas psnting."

Maka Ji-sia lantas menceritakan soal titipan ketua kesembilan perguruan besar yang meminta kepadanya agar menyerahkan ilmu silat mereka ke-pada Ku Thian-gak, dalam kisah tersebut ia senga-ja merahasiakan soal Jian-kim-si-hun-pian serta ha-diah peta dari para ketua itu.

Mengetahui musibah yang telah menimpa para ketua serta siksaan hidup yang mereka alami, me-ngucurlah air mata Ku Thian-gak, katanya dengan suara penuh emosi.

"Oh Kay-thian, wahai Oh Kay-thian! Dendamku sedalam lautan denganmu! O, adik angkatku! Aku pasti akan membalaskan sa-kit hatimu ini......"

Ji-sia ikut merasa sedih, katanya dengan pe-nuh kebencian.

"Aku orang she Bok mempunyai dendam sedalam lautan pula dengan Oh Kay-thian, aku hendak membalaskan sakit hati guruku...."

Tiba-tiba air muka Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak berubah menjadi amat serius, ujar-nya.

"Bok-lote, bukan sengaja kupuji kekuatan la-wan dan merendahkan kemampuan sendiri, ber-bicara kepandaian yang kita miliki sekarang, rasa-nya sulit untuk meraih kemenangan bila ingin meng-hadapi Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, apalagi ke-licikan serta kecerdasan orang ini sukar ada ban-dingannya. Kalau tidak demikian, tak nanti jago lihai macam Oh Kay-gak pun kena dicelakai oleh-nya."

"Suhu bukan mati di tangannya, ia meninggal demi kepentinganku, ia wafat karena cintanya yang memilukan hati......."

Berbicara sampai di sini, air mata Bok Ji-sia bercucuran bagaikan hujan, Oh Kay-gak telah ber-korban baginya, budi kebaikan ini membuatnya su-kar mengendalikan perasaan setiap kali teringat akan kematian guru yang mengenaskan itu.

Ku Thian-gak menghela napas, katanya.

"Se-waktu Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak mengurusi benteng Thian-seng-po, rasa setia kawannya, kebijaksanaannya serta kegagahannya selalu dikagumi dan dihormati oleh setiap orang per-silatan, baik dari golongan hitam maupun golongan putih sama-sama hormat dan segan kepada Thian-seng-po, tapi delapan belas tahun kemudian, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian telah menguasai benteng itu, kendatipun ia kejam dan banyak melakukan kejahatan, tapi caranya yang berhasil mengelabuhi khalayak membuat orang masih juga menaruh hor-mat kepadanya, malah tak kalah dengan nama be-sar Oh Kay-gak, ai......"

"Sungguh kasihan beribu-ribu umat persilatan, ternyata tak seorang pun yang mengetahui keada-an Thian-seng-po yang sesungguhnya, sejak kesem-bilan orang Ciangbunjin perguruan besar lenyap tak berbekas, sedikit banyak aku telah berhasil me-nyingkap latar belakang benteng Thian-seng-po, cu-ma sayangnya dalam dunia persilatan hanya aku seorang yang memusuhinya, dengan kekuatan se-minim ini mana mungkin tujuan kita dapat terca-pai......"

Ji-sia segera menjawab.

"Walaupun banyak liku-liku dalam dunia persilatan, tapi kebenaran dan keadilan selalu berdiri tegak, pada akhirnya siapa yang melakukan kejahatan pasti akan keta-huan perbuatannya, aku orang she Bok bersumpah hendak membongkar latar belakang kekejaman orang Thian-seng-po, utang darah harus bayar da-rah, masakah mereka bisa lolos dari tuntutan ke-adilan?"

Ku Thian-gak berpaling ke arah pemuda itu, katanya.

"Bok-lote, bukan kuanggap pengetahuan-mu masih cetek, tapi kau perlu tahu bahwa umat persilatan di dunia ini sangat berbahaya dan jahat, semua orang hanya memikirkan kepentingan sen-diri, siapakah yang bersedia memusuhi Thian-seng-po tanpa sebab musabab tertentu?"

"Ku-cianpwe, bukankah kau mengatakan bah-wa pihak Kiam-hong-ceng adalah musuh bebuyu-tan pihak Thian-seng-pot?"

Ku Thian-gak kembali menghela napas, ujar-nya.

"Berbicara soal perkampungan Kiam-hong-ceng, sesungguhnya mereka juga bukan orang gagah dari golongan baik dalam dunia persilatan, tapi jika kita hendak menaklukkan Thian-seng-po, bantuan Kiam-hong-cengcu Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian memang sangat dibutuhkan, tapi hubungan buruknya dengan Thian-seng-po dikarenakan persengketaannya dengan Pocu yang lain, yaitu Oh Kay-gak, jadi dengan Oh Kay-thian pribadi ia malah tiada permusuhan apa-apa."

Keterangan ini amat menggetarkan hati Bok Ji-sia, pikirnya.

"Konon ilmu silat yang paling tinggi dalam dunia persilatan tempo dulu adalah Oh Kay-gak, Kiu-thian-mo-li serta Bu-lim-sinkun Lam-kiong Hian, sekalipun mereka saling desak, tapi kungfunya seimbang. Kini guruku sudah tiada, itu berarti Lamkiong Hian terhitung paling hebat kung-funya, apa mau dikata orang inipun jahat sekali, mungkinkah dunia persilatan yang sekarang akan menjadi dunianya orang jahat?"

Berpikir sampai di sini, ia lantas berkata lagi.

"Ku-cianpwe, tahukah kau persoalan apa yang me-nyebabkan Suhuku berselisih paham dengan Lam-kiong Hian?"

"Pada jaman itu, Oh Kay-gak, Lamkiong Hian serta Kiu-thian-mo-li boleh dibilang merupa-kan manusia yang paling misterius dalam dunia persilatan, persoalan antar mereka kurang begitu kupahami, cuma kutahu bahwa perselisihan itu ter-jadi karena sebuah benda mestika dunia persilatan...."

Semakin terperanjat Ji-sia oleh keterangan itu, pikirnya.

"Kalau begitu, perselisihan mereka dika-renakan ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian..."

Tong Yong-ling meski tahu kekasihnya mem-bawa ruyung mestika tersebut, tapi iapua tahu ruyung itu mempunyai pengaruh yang amat besar, maka rahasia ini tak pernah diungkapkan olehnya, selama ini dia hanya diam-diam memperhatikan pembicaraan mereka, dari sini dapat diketahui be-tapa sayangnya gadis ini terhadap Bok Ji-sia.

Sementara itu Ji-sia bertanya lagi.

"Ku-ciapwe, tahukah kau mestika apa yang mereka ributkan?"

Ku Thian-gak menatap wajah anak muda itu sekejap, sahutnya.

"Jarang sekali ada yang tahu benda apakah yang mereka perebutkan, tapi ber-hubung aku adalah sahabat karib Ban-pian-sin-kun Auyang Seng, maka sedikit banyak kutahu juga. Konon benda itu adalah ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian, cuma perselisihan mereka bertiga jelas bukan lantaran ruyung mestika itu belaka, aku yakin latar belakangnya pasti ruwet sekali, kalau tidak tak nanti Oh Kay-gak mati ngenas."

Terbayang kembali kematian Oh Kay-gak yang mengenaskan itu, dengan penuh emosi Ji-sia berkata.

"Ya, betul! Sebab utamanya pasti lantaran ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian, kemudian menyangkut pula...."

Menyangkut soal apa?

Ia sendiripun tidak ta-hu, sebab ketika Oh Kay-gak menemui ajalnya, Bok Ji-sia tak lebih hanya berhasil meraba latar belakang peristiwa itu dari mimik wajahnya serta nada ucap-annya.

Ia menghela napas sedih, kemudian katanya lebih lanjut.

"Aku harus menyelidiki sebab-sebab perselisihannya, kutahu persoalannya memang ruwet sekali.

"Bok-lote,"

Tiba-tiba Ku Thian-gak berseru.

"selamanya aku enggan menanyakan rahasia orang lain, tapi kutahu persoalan ini mempunyai pengaruh yang besar sekali dengan keamanan dunia persilatan, karena itu mau-tak-mau aku harus tanya juga apakah kau telah mendapatkan......"

Ji-sia tahu bahwa Ku Thian-gak hendak tanya soal ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian, dengan wajah merah sahutnya dengan tergagap.

"Ya, Wan-pwe telah mendapatkan ruyung mestika itu, harap Cianpwe bersedia merahasiakan hal ini."

"Soal terjatuhnya ruyung mestika itu ke tangan Oh Kay-gak, dalam dunia persilatan dewasa ini kecuali orang yang terlibat langsung dalam peristiwa ini dan para saudara Oh Kay-gak, Bu-lim-jit-coat serta kesembilan ketua perguruan besar yang telah tiada, akupun mengetahui kejadian ini dari Ban-pian-sinkun Auyang Seng, jadi tak nanti rahasia ini akan kubocorkan kepada orang lain, hanya saja ada satu hal yang terpaksa harus kuutarakan dulu ke-padamu......"

"Ruyung mestika ini menyangkut beberapa peristiwa berdarah, apabila kemunculannya sampai diketahui oleh orang-orang yang tersangkut dalam peristiwa berdarah itu, maka mereka pasti akan me-lakukan pengejaran dan peristiwa tak diinginkan pan pasti akan terjadi."

"Kini hanya Oh Ku-gwat dan Oh Kay-thian berdua saja yang mengetahui bahwa ruyung mes-tika ini berada di tanganmu, maka lebih baik ber-hati-hatilah kau terhadap segala tipu muslihat dan sergapan ke dua orang bersaudara itu, apalagi ka-lian sudah mengetahui begitu banyak rahasia Thian-seng-po, tak nanti mereka akan melepaskan kalian dengan begitu saja."

"Kalau mereka ingin mati, itu lebih baik lagi,"

Seru Ji-sia dengan sinar mata berkilat.

"jadi akupun tak usah repot-repot pergi mencari mereka berdua!"

"Ai, kelicikan dan bahaya dunia persilatan amat mengerikan kalau dibicarakan, sekalipun seorang yang berilmu silat tinggi kadangkala tak mampu menggunakan sama sekali kepandaiannya itu, maka dalam perjalananmu mengarungi dunia persilatan, harus waspada sekali, jangan terjebak oleh siasat bu-suk orang."

"Sebagai seorang laki-laki sejati, kita tak boleh bersembunyi macam kura-kura, mati hidup berada di tangan Tuhan, lagipula segala kejahatan dan tipu muslihat dunia persilatan terlalu banyak, sekalipun kau ingin menghindarinya belum tentu mereka mau sudahi dengan begitu saja."

Tong Yong-ling yang sejak tadi diam saja ikut bicara.

"Ilmu silat Bok-siangkong tinggi sekali, bila kita membantunya pula mungkin segala yang tak diinginkan, dapat dicegah."

Mendengar perkataan ini, Ku Thian-gak ber-pikir.

"Benarkah ilmu silat anak muda ini sanggup mengalahkan Bwe-hoa-sian-kiam dan diriku?"

Baru saja ia bertemu kembali dengan Ji-sia, sudah tentu ia tak tahu sampai di manakah kemaju-an yang telah dicapai pemuda itu, padahal kalau dibicarakan, jangankan orang lain, sekalipun kawan-an jago lihay seperti Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat pun belum tentu sanggup melukainya.

Sambil manggut-manggut Ku Thian-gak lantas berkata.

"Ya, dengan tenaga gabungan kita bertiga rasanya memang bisa mengatasi segala yang tak di-inginkan!"

"Ku-cianpwe!"

Tiba-tiba Ji-sia bertanya.

"kata guruku, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian ini selain menyangkut peristiwa berdarah, sesungguhnya mengandung pula suatu rahasia mestika yang meng-gemparkan dunia persilatan, tahukah kau tcntang rahasia ini?"

Sebelum Ku Thian-gak sempat menjawab, men-dadak dari balik keheningan yang mencekam tanah pekuburan itu berkumandang suara siulan nyaring aneh.

"Ah, mereka sudah datang! Mereka sudah da-tang! Kawanan setan itu telah bermunculan!"

Buru-buru Ku Thian-gak berbisik.

"Semoga kawanan setan itu membawa serta hi-dangan yang lezat,"

Sela Tong Yong-ling sambil tertawa.

"kalau tidak, kami berdua bisa mati ke-laparan."

Suitan aneh itu setelah berkumandang sejenak, lalu berhenti, lalu berkumandang pula.

"Rupanya mereka sedang memanggil kedua re-kannya yang telah kubunuh tadi, mungkin juga me-reka sudah menemukan rekannya yang mengalami nasib sial itu,"

Bisik Ku Thian-gak.

"Andaikan orang-orang Kiam-hong-ceng be-gitu tak berguna semacam kedua orang tadi, ke-napa kita mesti takut kepadanya?"

Bisik Ji-sia pula.

"Bok-lote, kau tahu mereka hanya pelayan kelas empat dalam perkampungan Kiam-hong-ceng, dan orang yang berdatangan sekarang mungkin lebih lihai kungfunya, tapi kedudukan merekapun cuma pelayan, paling-paling kelas dua."

Sementara pembicaraan berlangsung, tiba-tiba dari tanah pekuburan di bawah bukit sana berke-lebat datang empat sosok bayangan manusia, me-reka berpakaian ringkas warna hitam dan berpe-dang, pada tangan masing-masing membawa sebuah keranjang bambu, mungkin isinya adalah arak dan makanan.

"Hei, lihat mereka benar-benar membawa santapan dan arak! Wah, kebetulan sekali,"

Bisik Ji-sia kegirangan.

Empat orang laki-laki berbaju hitam itu lang-sung masuk ke dalam gardu bobrok, dari dalam keranjang mereka keluarkan cawan, sumpit dan lain sebagainya, setelah memberi alas kain putih pada meja batu itu, hidanganpun diatur di atas meja.

"Ayo cepat turun tangan!"

Bisik Tong Yong-ling tak sabar.

"Kalau para setan besar sama ber-datangan, sulitlah untuk mencuri makanan."

Tiba-tiba Ji-sia berseru tertahan.

"Jarak dari sini hingga gardu tersebut amat jauh, sulit buat kita menyadap pembicaraan rahasia mereka, lebih baik kita menyusup ke atap gardu saja..."

"Akal ini memang bagus sekali!"

Tong Yong-ling segera menanggapi. Ku Thian-gak termenung sebentar, lalu kata-nya.

"Tapi dengan begitu bukankah berarti secara terang-terangan kita akan bermusuhan dengan merekat?"

"Kalau ingin berbuat, maka lakukanlah, apa yang mesti ditakuti?"

Kedua orang ini betul-betul ibaratnya banteng kecil yang tidak kenal apa artinya takut, apa yang terpikir segera ingin dilaksanakannya.

"Baiklah!"

Kata Ku Thian-gak kemudian.

"le-tak rahasia mestika dalam tanah pekuburan itu ha-nya diketahui oleh Siaucengcu dari Kiam-hong-ceng, Huan-in-kiam Lamkiong Giok seorang, bila kita memang berniat merampas mestika tersebut, terpaksa harus menempuh bahaya ini."

"Sebenarnya rahasia apakah itu? Mestika apa yang begitu menarik perhatian umat persilatan se-hingga dari tempat jauh mereka berdatangan kemari untuk menyerempet bahaya?"

"Mestika apa, sebentar kalian akan tahu sen-diri. Sekarang kita tak boleh bertindak lambat lagi, kalau tidak, bisa ketinggalan kereta. Nah, kalian berdua menyusuplah ke bawah, sedang aku akan ber-teriak dari sini untuk memancing pencarian keempat orang itu."

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling tidak berbicara lagi, diam-diam mereka turun ke bawah bukit....

Pada saat lain mendadak dari atas bukit ber-kumandang suara kucing mengeong, kedengaran me-ngerikan dalam tanah pekuburan yang memang se-ram dan penuh hawa setan itu.

Keempat laki-laki berbaju ringkas yang berada dalam gardu saling tukar pandang, dua di antara-nya mencabut pedang dan naik ke atas bukit untuk melakukan pemeriksaan.

Dengan bersembunyi di balik gundukan tanah pekuburan, Ji-sia serta Yong-ling menyusup ke arah gardu setelah kedua orang laki-laki tadi ber-jalan lewat.

Sebagaimana diketahui, ilmu silat kedua muda-mudi ini sudah terhitung jago kelas satu dalam du-nia persilatan, ilmu meringankan tubuh mereka amat sempurna, langkahnya sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Mendadak dari atas bukit berkumandang dua kali suara dengusan tertahan.....

Mendengar suara itu, kedua orang laki-laki yang berada dalam gardu segera memutar tubuh.

Akan tetapi, baru saja mereka barpaling, dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar bi-asa telah melayang tiba di belakang mereka, me-nyusul terdengar pula dua kali dengusan tertahan, kedua orang itu kena ditutuk jalan darahnya oleh Ji-sia berdua sehingga jatuh tak sadarkan diri.

Sebelum mereka roboh, Ji-sia telah menyam-bar tubuh kedua orang itu dan membawanya ke atas bukit, lalu dibaringkan jadi satu dengan kedua rekannya, kemudian bersama Ku Thian gak baru kembali ke gardu itu.

Dalam pada itu, dari dalam keranjang bambu Tong Yong ling telah mengeluarkan beberapa puluh biji bakpao serta makanan lain.

Ketika Ku Thian-gak muncul, sambil tertawa Tong Yong-ling segera berkata.

"Ku-cianpwe, ka-mi benar-benar lapar sekali!"

Ku Thian-gak tersenyum.

"Hati-hati kalau majikan setan muncul di sini, melihat kita mencuri makanan mereka, bisa jadi perut kita akan di-cengkeram sampai robek."

"Apa salahnya? Mereka pasti akan mengira keempat orang itu yang mencuri makan."

"Ayo kita cepat naik ke atap gardu uutuk bersembunyi,"

Seru Ku Thian-gak.

Dengan ilmu meringankan tubuh, mereka me-lompat ke atap gardu.

Ternyata atap gardu itu berbentuk segi empat dengan bagian ujungnya melengkung ke atas, tem-pat semacam itu justeru sangat baik untuk tempat sembunyi, lagipula ada sementara atap yang pecah, dari celah-celah itu justeru mereka dapat melihat jelas sekeliling ruang gardu itu, siapa pun tak me-nyangka ada orang yang berani mengintip mereka dari atas.

Tong Yong-ling dan Bok Ji-sia saling pandang dengan tertawa, tanpa sungkan-sungkan, lagi mereka menyikat hidangan tersebut dengan lahapnya.

Beberapa saat kemudian, kembali terdengar suara aneh yang tinggi melengking dan memanjang membelah kesunyian tanah pekuburan.

Makin lama suara itu makin memanjang dan memekak telinga, suaranya membumbung tinggi ke angkasa dan mendengung tiada hentinya......

Belum lenyap pekikan itu menggema, dari ba-lik tanah perkuburan yang sepi muncul empat orang Ya-heng-jin (orang yang berjalan malam) meluncur ke arah gardu dengan cepat sekali.

Ditinjau dari kecepatan beberapa orang itu dapat diketahui bahwa keempat orang itu adalah kawanan gembong iblis dalam dunia persilatan.

Dalam waktu singkat keempat orang itu sudah tiba di depan gardu, dengan sinar matanya yang ta-jam orang-orang itu menyapu pandang sekejap se-keliling tanah pekuburan, kemudian salah seorang di antaranya, seorang laki-laki setengah umur yang berwajah pucat berkata dengan suara menyeramkan.

"Kenapa orang Kiam-hong-ceng belum datang?"

Seorang kakek kurus berambut putih tertawa dingin, sahutnya.

"Saudara Tu, apakah kau tidak melihat bahwa meja perjamuan telah disiapkan di sini?"

Seorang manusia aneh lain yang berbaju hitam, bertangan panjang sampai lutut dan bertelapak ta-ngan lebar seperti kipas tertawa terkekeh-kekeh se-ram, katanya.

"Mari kita masuk saja, kalau me-mang Lamkiong Giok mengundang kita makan mi-num, apa salahnya kalau kita makan sekenyangnya lebih dahulu?"

Masuklah keempat orang itu ke dalam gardu bobrok. Mendadak seorang laki-laki setengah umur yang berikat kepala, berkumis panjang dan berma-ta tikus dengan wajah yang licik lagi tertawa ngakak.

"Hahaha, saudara bertiga,"

Ucapnya.

"Jangan sampai kita terjebak oleh siasat Lamkiong Giok, coba kau lihat perjamuan yang dipersiapkan ini ma-sa sesosok bayangan setan pun tak nampak? Se-akan-akan kita diundang untuk memasuki neraka saja, lebih baik kita jangan rakus lebih dulu."

Ucapan itu sangat mengejutkan Bok Ji-sia dan Tong Yongling, pikir mereka.

"Benar juga, kalau makanan itu dicampuri racun, bukankah kami ber-dua akan mampus?"

Berpikir demikian, kedua orang itu segera sa-ling pandang dengan menyengir.

Sementara itu perasaan Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak berubah menjadi berat sekali setelah menyaksikan keempat orang itu, ia sudah seringkali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, ter-hadap jago tangguh golongan putih dan golongan hitam sudah banyak diketahuinya.

Ternyata keempat orang ini adalah Bengcu da-ri golongan hitam di wilayah Holam, Shoatang Oupak dan Anhwei, orang menyebut mereka sebagai Hek-to-su-koay (empat manusia aneh dari golongan hitam).

Laki-laki setengah umur yang berwajah pucat itu bernama Kui-tau-kou (kaitan kepala setan) Tu Leng-mong, si kakek kurus bernama Sat-hong-tok-ciang (tangan beracua angin jahat) Ki Thi-hou, manusia aneh berlengan panjang bernama Eng Jiau-jiu (si Cakar elang) Hau Wi-kang, dan akhirnya laki-laki setengah umur bermuka licik dan bermata ti-kus itu bernama Tok-sim Siu-su (sastrawan berhati keji) Bu Yan-hong yang banyak tipu muslihatnya.

Keempat orang aneh dari golongan hitam ini memiliki kungfu yang sangat lihai, terutama se-bagai Bengcu dari wilayah Holam, Shoatang, Oupak dan Anhwei, kekuasaannya dalam golongan hitam amat besar.

"Bu-heng,"

Terdengar Kui-tau-kau Tu Leng-mong berkata.

"kenapa kau banyak curiga? Kalau sampai didengar Lamkiong Giok, pasti dikira ki-ta tidak bersahabat, apalagi dia toh membutuhkan bantuan kita, masakah jiwa kita akan dicelakainya?"

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong tertawa dingin, sahutnya.

"Saudara Tu, memang betul juga per-kataanmu, cuma kan lebih baik kita lebih berhati-hati."

Dari percakapan keempat orang itu Bok Ji-sia menaruh kesan yang kurang baik, dia enggan mem-perhatikan orang-orang itu dan lebih baik melalap makanan yang tersedia.

Bwe-hoa sian-kiam Tong Yong-ling adalah ib-lis perempuan yang cukup membuat tokoh kalang-an hitam pusing kepala, tentu saja ia kenal orang-orang itu, diam-diam iapun tercengang melihat ke-munculan manusia-manusia aneh tersebut, sebab keempat orang itu tak pernah bersatu, biasanya saling menjagoi wilayah sendiri.

Ia tak menyangka keempat manusia buas ter-sebut dapat diundang orang dan berkumpul di sini.

Bila di dengar dari perkataannya tadi, jelas me-reka menaruh hormat terhadap Huan-in-kiam Lam-kiong Giok dan ini berarti Lamkiong Giok dapat mengendalikan Hek-to-su-koay, sungguh seorang yang luar biasa.

Terdengar Eng-jiau-jiu Hau Wi-kang tertawa terkekeh, lalu berkata.

"Sekarang kita berempat membantu Lamkiong Giok, tapi setelah mestika itu didapatkan, bagaimana pula caranya membagi rejeki secara rata?"

"Menurut pendapatku, lebih baik kita jangan mau diperalat oleh Lamkiong Giok,"

Ujar Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou dengan dingin.

"sebab, seka-lipun mestika berhasil didapatkan, yang rugi tetap kita sendiri."

"Perkataan saudara Ki memang betul,"

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong tertawa licik.

"menurut pendapatku, lebih baik kita berempat bersatu untuk melawan kawanan jago dari aliran lain, kupikir de-ngan kekuatan kita berempat, rasanya tidak banyak yang berani mencabut kumis harimau."

Bok Ji-sia tak puas mendengar ucapan itu, pi-kirnya.

"Hmm, kalau aku marah, kalian berempat pasti akan kuhajar menjadi empat setan. Huh, ka-mi berada di atas kepala kalian saja tidak diketa-hui, masih berani sesumbar semacam itu, sungguh tidak tahu malu!"

Dalam pada itu, Eng-jiau-jiu Hau Wi-kang berkata pula.

"Tanpa petunjuk Lamkiong Giok, mana mungkin kita bisa temukan mestika itu dari tanah pekuburan yang demikian luas ini? Memang-nya kita mesti membongkar setiap kuburan yang ada di sini?"

Terkesiap hati Ji-sia mendengar itu, pikirnya.

"Mereka berkata bahwa mestika tersebut ada di da-lam kuburan di sekitar sini, padahal berdasar peta mestika Hian-ki-hian-cing yang diserahkan kesem-bilan ketua kepadaku, katanya Ji-khi-kun-goan-sin-wan berada di dalam sebuah kuburan kuno di se-kitar benteng Thian-seng-po. Jangan-jangan mestika yang sedang dicari kawanan jago persilatan adalah mestika tersebut......"

Berpikir sampai di situ ia lantas melirik ke arah Tong Yongling, rupanya gadis itu pun mempunyai pikiran sama, matanya melirik pula ke arah anak muda itu, tiba-tiba nona itu mengangguk.

Ji-sia sangat girang, kembali ia berpikir.

"Ya, pasti mestika itulah yang dimaksudkan, kalau tidak tak nanti begini banyak jago persilatan berbondong-bondong datang kemari. Ha ha ha, kalian tak perlu bersusah payah lagi, mestika itu adalah milikku....."

Dari wajah Bok Ji-sia yaug berseri-seri, Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak dapat menebak pikirannya, sebagai saudara angkat dari ketua Ciong-lam-pay yang ikut mendapat bagian peta rahasia kitab Hian-ki-hian-cing-pit-lok dan pil mestika Ji-khi-kun-goan-sin-wan, sejak anak muda itu bercerita bahwa ia telah bertemu dengan ketua kesembilan perguruan besar, diam-diam ia sudah menduga peta rahasia tersebut tentu sudah dihadiahkan kepada anak muda ini.

Sebagai seorang laki-laki yang berjiwa besar, karena Bok Jisia tidak menyinggung, Ku Thian-gak pun tidak bertanya agar tidak menimbulkan kecurigaan orang.

Diam-diam ia ikut bersyukur atas kemujuran enak muda itu, sebab barang siapa yang belajar silat dapat makan dua pil Ji-khi-kun-goan-sin-wan, maka tenaga dalamnya akan bertambah dua kali enam puluh tahun latihan, jika anak muda itu sam-pai berhasil mendapatkan pil itu, niscaya sulit un-tuk menemukan tandingannya di kolong langit.

Sementara dia termenung, Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong telah tertawa licik sambil berkata.

"Mak-sud saudara Hau telah kupikirkan masak-masak, itulah sebabnya kita hadiri undangan Lamkiong Giok malam ini, kita harus memancingnya untuk me-ngatakan di mana letak mestika tersebut, kalau tidak, buat apa kudatang ke sini?"

Kui-tau-kau Tu Leng-mong tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, kecerdikan saudara Bu memang mengagumkan, seandainya Lamkiong Giok tidak menyebutkan di mana letak mestika tersebut, lantas apa pula yang hendak kita lakukan?"

Padahal Hek-to-su-koay adalah manusia licik yang banyak berpengalaman, sesungguhnya masing-masing berniat mengangkangi sendiri mestika itu.

Selama hidup Bok Ji-sia paling benci pada manusia licik macam begitu, timbul perasaan tidak puasnya terhadap kelakuan orang-orang itu.

"Siaute mempunyai suatu akal bagus,"

Kata Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong sambil tersenyum licik.

"tanggung peta mestika itu akan kita dapatkan."

"Maksudmu kita akan merampas mestika itu setelah berada di tangannya?"

Tanya Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou sambil tertawa dingin.

"He he he, saudara Ki memang orang pintar, Siaute memang bermaksud demikian, cuma persoal-annya pada kita berempat....."

"Apakah kita berempat bisa bekerja sama atau tidak, begitu bukan?"

Sambung Eng-jiau-jiu Hau Wi-kang cepat.

"Tepat! Tepat sekali....."

Pekik nyaring yang berkumandang dari kejauh-an tiba-tiba menggema memecah keheningan. Sambil tertawa "Kui-tau-kou Tu Leng-mong se-gera berkata.

"Lamkiong Giok telah datang, kita harus bertindak menurut keadaan!"

"Betul, kita sudah sepakat,"

Sambung Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong dengan senyum dingin.

Sementara itu tampak delapan sosok bayangan manusia dengan kecepatan tinggi muncul dari balik kegelapan dan bergerak mendekat.

Dalam waktu singkat mereka telah tiba di luar gardu bobrok itu, ternyata mereka adalah delapan orang laki-laki berpakaian ringkas warna hitam dan menyandang pedang.

Terkejut juga Bok Ji-sia menyaksikan gerak tubuh kedelapan orang laki-laki ini, ia merasa orang Kiam-hong-ceng rata-rata berilmu tinggi, bahkan yang satu lebih hebat daripada yang lain, ini ter-bukti dari kungfu kedelapan orang ini, jelas jauh di atas keempat laki-laki tadi.

Salah seorang di antaranya segera berseru lan-tang.

"Tuan berempat tentu sudah menunggu lama, sebentar Siaucengcu kami akaa tiba di sini."

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong tertawa dingin, sin-dirnya.

"Kalian orang Kiam-hong-ceng benar-benar tak mengerti sopan santun, kenapa tidak mengirim orang lebih dulu untuk menyambut kedatangan kami?"

Mendengar ucapan tersebut, air muka laki-laki itu berubah, ditatapnya sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya dengan lantang.

"Sejak tadi pihak kami telah mengutus enam orang datang ke-mari khusus meladeni Tuan berempat, jangan-jangan telah terjadi sesuatu di luar dugaan?"

Tiba-tiba berkumandang lagi pekikan nyaring yang menggema.

Dari balik tanah pekuburan yang seram kembali muncul dua belas orang laki-laki ber-baju ringkas dan berpedang, ilmu silat rombongan ini jelas jauh di atas rombongan kedua tadi.

Salah seorang diantaranya segera berseru lan-tang.

"Siaucengcu kami sudah hampir tiba!"

"Hmm"

Besar amat lagaknya!"

Gerutu Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling di dalam hati.

"Siaucengcu tiba....."

Seruan nyaring berku-mandang lagi dari kejauhan sana.

Suara itu bergema di angkasa dan mendengung tiada hentinya, berbareng itu muncul empat sosok bayangan orang dan melayang datang dengan kecepatan luar biasa, mereka adalah empat lelaki yang juga berpakaian ringkas warna hitam.

Menyusul di belakang keempat orang itu, ada lagi dua sosok bayangan yang meluncur masuk ke dalam gardu bobrok itu tanpa menimbulkan suara barang sedikit pun.

Gerak tubuh mereka amat cepat, hanya sekilas berkelebat tahu-tahu sudah berada dalam gardu, itulah sebabnya Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling yang bersembunyi di atas gardu rak sempat melihat wajah mereka.

Dari gerak tubuhnya yang begitu cepat, bisa ditebak tenaga dalam dan kedudukan kedua orang itu tentu tinggi.

Di antara kedua orang itu, tampak salah se-orang di antaranya adalah seorang sastrawan setengah umur yang bermuka putih dan berjubah war-na biru.

Agak terkesiap Sian-hong-khek Ku Thian-gak melihat kehadiran orang ini, ia tak mengira Bu-sian Gisu (pertapa yang tak suka menganggur) Kwanliong Ciong-leng yang dihormati baik oleh golongan hitam maupun oleh golongan putih juga melibatkan diri dalam perebutan mestika ini.

Perlu diketahui bahwa Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng adalah seorang tokoh persilatan yang ber-hubungan baik dengan kalangan hitam maupun pu-tih, oleh karena ia cerdik dan pintar bersilat lidah, banyak tipu muslihatnya, maka semua persoalan da-lam dunia persilatan pasti melibatkan dia, setiap orang persilatan sama merasa segan padanya.

Tentang kehebatan ilmu silatnya tiada orang yang tahu karena selama ini ia tidak pernah ber-kelahi dengan orang.

Ketika Hek-to-su-koay melihat Bu-sian Gisu berada bersama Lamkiong Giok, ia terkejut.

Mereka bangkit berdiri menyambut kedatang-an kedua orang itu, lalu sambil tertawa Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong berkata.

"Sungguh tak kusang-ka saudara Kwanliong ikut datang ke tanah pekuburan yang terpencil ini?"

Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-ling bergelak tertawa, sambil balas memberi hormat sahutnya.

"Mana, mana! Orang persilatan memberi julukan Bu-sian Gisu kepadaku, mana boleh kutinggalkan keramaian yang bakal melanda dunia persilatan de-ngan begitu saja?"

"Benar!"

Tukas Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong de-ngan tersenyum.

"kejadian semacam ini memang aneh bila tidak dihadiri saudara Kwanliong."

Seorang laki-laki berbaju hitam yang ada di luar gardu tiba-tiba masuk dan memberi hormat kepada seorang Pemuda berjubah hitam sambil ber-kata.

"Lapor Siaucengcu, saudara-saudara kita yang datang duluan telah lenyap tak berbekas, mungkin mereka mengalami sesuatu di luar dugaan."

Pemuda berbaju hitam Huan-in-kiam Lamkiong Giok menyapu pandang sekejap ke arah Hek-to-su-koay dengan sorot mata tajam, lalu kepada laki-laki di belakangnya ia berkata.

"Bawa empat saudara kita dan mencari mereka, sisanya mengambil posisi pada jarak sepuluh tombak di sekitar gardu!"

"Terima perintah!"

Dua puluh empat orang laki-laki berbaju hitam itu serentak mengiakan.

Setelah memberi hormat dan mengundurkan diri, ke-24 orang itu menyebarkan diri pada posisi masing-masing, seakan-akan sedang menghadapi musuh.

Ji-sia berkerut kening menyaksikan kejadian itu, diam-diam diamatinya pemuda berbaju hitam atau Siaucengcu dari Kiam-hong-ceng, Huan-in-kiam Lamkiong Giok, ia merasa pemuda ini sangat tampan dengan dandanan yang perlente, senyuman selalu menghiasi ujung bibirnya, kecuali sinar matanya yang tajam, sama sekali tidak nampak menyolok, rupanya tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Diam-diam Ji-sia merasa terkejut, pikirnya.

"Tadinya kukira dia adalah manusia berkepala tiga bertangan enam, ternyata dia berusia sebaya denganku, agaknya kungfunya juga sangat hebat."

Waktu itu, Huan-in-kiam Lamkiong Giok se-dang menjura kepada Hek-to-su-koay, katanya.

"Si-lakan saudara sekalian duduk, maaf bila kedatang-anku agak terlambat, sebab ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu."

"Siaucengcu biasanya berdiam dalam perkam-pungan saja, tapi namamu sudah jauh termashur sampai di mana-mana, pertemuan malam ini sung-guh sangat menyenangkan,"

Kui-tau-kou Tu Leng-mong menanggapi sambil tertawa. Lamkiong Giok tersenyum, katanya.

"Saudara terlalu memuji, aku tak berani menerimanya. Ku-kira saudara sekalian pasti sudah tahu maksud un-danganku malam itu?"

Ji-sia mengagumi gaya orang, pikirnya.

"Orang ini memang hebat, caranya bicara pun mantap....."

"Mana, mana!"

Kata Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong sambil tertawa licik.

"harap Siaucengcu suka menjelaskan maksud yang sebenarnya."

Dalam pada itu keenam orang telah mengam-bil tempat duduknya masing-masing, Lamkiong Giok dan Kwanliong Ciong-leng duduk menghadap ke timur, sedangkan keempat manusia aneh masing-masing duduk di sebelah selatan dan utara, tinggal tempat di bagian barat yang masih kosong.

"Berbicara sesungguhnya, kedatangan Siaute yang sangat terburu-buru ini memang mengandung maksud tertentu,"

Lamkiong Giok membuka pembicaraan sambil tersenyum.

"selain persoalan yang telah kalian ketahui, masih ada suatu masalah pen-ting lain yang hendak dibicarakan. Selama ini per-kampungan Kiam-hong-ceng kami mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan sahabat-sa-habat dari Holam, Shoatang, Oupak dan Anhwe, karena itu kami ingin memohon bantuan dari sau-dara berempat untuk......"

"Siaucengcu, beberkan saja maksudmu agar kami dapat membahasnya bersama,"

Tukas Tok-sim-siausu Bu Yan-hong.

"asal kami sanggup mem-bantunya, sudah barang tentu akan kami bantu se-kuat tenaga."

Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng tertawa, katanya.

"Saudara Bu terlalu sungkan, maksud Lamkiong-lote adalah ingin menggunakan kekuatan saudara berempat serta kekuatan Kiam-hong-ceng sendiri untuk bersama-sama mensukseskan suatu persoalan besar dengan masing-masing pihak mem-peroleh keuntungan yang sama."

"Kwanliong-heng, rupanya kaupun ikut ambil satu bagian?"

Sindir Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang.

"Tidak berani! Tidak berani! Siaute cuma suka campur urusan orang, adapun kedatanganku ber-sama saudara Lamkiong tak lebih hanya ingin men-jadi saksi dalam kerja sama antara saudara berempat dengan pihak Kiam-hong-ceng."

"Bagaimanakah watak sandara Kwanliong, aku-pikir saudara berempat pasti lebih mengerti dari pada-ku sendiri,"

Sambung Lamkiong Giok dengan cepat.

"Maka sengaja kuundang kehadirannya malam ini berhubung kukuatir saudara berempat tidak per-caya padaku..."

"Ah, mana, mana,"

Bu Yan-hong tertawa di-ngin.

"seandainya kami berempat telah menyang-gupi untuk bekerja sama, tak nanti berani mem-punyai pikiran lain."

"Sesama kawan persilatan harus berhubungan secara jujur, berhenti sejenak, Lamkiong Giok berka-ta pula.

"Keberangkatanku ditugaskan oleh ayahku, tapi tak kusangka persoalan ini bisa tersiar dengan begini cepat ke seluruh dunia persilatan, persoalan ini seharusnya dapat kuselesaikan sendiri, ki-ni malah menjadi berat, jago-jago kenamaan dari golongan hitam maupun putih sama berdatangan untuk turut serta dalam urusan ini.

"Siaute tahu di sekitar tempat ini telah ber-munculan orang-orang Bu-lim-su-toa-to (empat pu-lau besar dunia persilatan), kalau tujuannya cuma peta mestika Hian-ki-hian-cing adalah soal kecil, ta-pi situasi dunia persilatan telah mengalami perubah-an, hal ini menyangkut pula sengketa dengan ayah-ku pada 18 tahun dulu, orang yang tak pernah mun-cul kini telah berkumpul di sekitar tempat ini, kuyakin jika persoalan ini sampai menjalar maka ka-wanan iblis seangkatan ayahku pun akan sama ber-munculan......"

Perkataannya menyangkut rahasia besar yang penting artinya, kecuali Bu-sian Gisu seorang, se-muanya hampir dibikin tertegun.

Ku Thian-gak, Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling yang berada di atas gardu pun dapat meresapi pula arti ucapan Lamkiong Giok, mereka tahu perkata-an itu bukan isapan jempol belaka.

"Yang dimaksudkan Lamkiong Giok bukankah masalah Jian-kim-si-hun-pian serta perselisihannya dengan Oh Kay-gak di masa lalu?"

Demikian pi-kirnya.

"dunia persilatan saat ini memang bergolak, itu berarti ucapannya tidak omong kosong......"

Sementara itu Lamkiong Giok telah berkata lagi setelah berhenti sebentar.

"Agaknya suatu badai besar akan berlangsung di sekitar Thian-seng-po, lagipula masalah ini menyangkut kepentingan se-luruh umat persilatan, dalam kekacauan tersebut bila kita tidak bersatu padu, pasti kita akan disikat orang......"

"Siaucengcu,"

Tiba-tiba Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong menukas sambil tertawa licik.

"apakah kau bisa bicara lebih jelas lagi?"

Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng tertawa.

"Hahaha, saudara Bu, apakah kau kira saudara Lamkiong mengibul?"

"O, tidak, tidak berani! Siaute hanya ingin tahu, persoalan apakah yang bisa membuat dunia persi-latan menjadi kacau dan bergolak?"

"Kau pernah mendengar tentang Jian-kim-si-hun-pian yang merupakan mestika dunia persilatan?"

Begitu mendengar tentang ruyung mestika ian-kim-si-hun-pian, kontan saja keempat manusia aneh itu terbelalak matanya, sambil manggut-manggut. Bu Yan-hong berkata.

"Aku dengar ruyung ini menyangkut serangkaian pembunuhan berdarah da-lam dunia persilatan, bila muncul kembali pasti akan menimbulkan kekacauan hebat. Cuma sudah puluhan tahun ruyung itu lenyap dari peredaran, kenapa secara tiba-tiba bisa muncul kembali?"

"Siaute telah menjelaskan seriusnya masalah ini kepada kalian, kupikir kalian tentu sudah mengerti bukan?"

Kata Lamkiong Giok nyaring.

"sewaktu berangkat, lantaran tergesa-gesa maka Siaute tak membawa pembantu yang banyak, tapi bila ditin-jau dari keadaan sekarang, tak mungkin kita bisa merampas kitab Hian-ki-hian-ceng-pit-liok dan ke-dua pil Ji-khi-kun-goan-sin-wan hanya dengan mengandalkan kekuatan sekecil ini terutama yang paling merisaukan adalah kekuatan Thian seng-po. Mereka berada di dekat kuburan, kuyakin tempat pusaka sudah kuketahui. Karenanya kita mesti bersatu, pokoknya jika mestika itu berhasil kita dapat-kan, pasti tak akan kulupakan kalian berempat, tapi kalau kalian keberatan, kami pun segera akan mo-hon diri."

Pertanyaan langsung yang membutuhkan jawab-an tegas ini menyulitkan keempat orang aneh itu. Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou tertawa seram, katanya.

"Apakah Siaucengcu telah mengetahui le-tak kuburan tempat penyimpanan mestika itu?"

Lamkiong Giok tertawa bangga, sahutnya.

"Kalau mencari jarum dalam samudra, tak nanti Siaute berani mengundang kedatangan saudara semua, se-baliknya jika kalian sudah setuju, besok malam ken-tongan ketiga kita boleh turun tangan."

Ji-sia merasa sangsi oleh perkataan itu, pikir-nya.

"Benarkah dia memiliki peta Hian-ki hian-cing-po-toh? Bukankah peta itu sudah diperoleh para ketua kesembilan perguruan? Jangan-jangan tidak cuma sembilan ketua saja yang memperoleh peta semacam itu...."

Sementara itu, Tok-sim-siucu Bu Yan-hong te-lah berkata lagi sambil tertawa licik.

"Siaucengcu, bila mestika itu sudah kita dapatkan, lalu bagaima-na pula caranya membagi mestika tersebut?"

"Saudara Bu,"

Cepat Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng menanggapi sambil tertawa.

"bila pem-bagian mestika didasarkan pada rahasia yang di ketahui setiap orang, maka adalah pantas kalau Kiam hong-ceng memperoleh prioritas pertama."

"Jadi maksud saudara Kwanliong?"

Tanya Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang sambil tertawa seram.

"Lamkiong-siaucengcu mengetahui tempat pe-nyimpanan mestika itu, maka sepantasnya sembilan bagian diberikan padanya?"

"Kalau begitu kenapa Kiam-hong-ceng tidak turun tangan sendiri saja?"

Tukas Tok-simn-siusu Bu Yan-hong. Lamkiong Giok tertawa lantang, selanya.

"Siau-te tak ingin kehilangan bantuan saudara berempat hanya lantaran soal pembagian mestika, sekarang aku mempunyai dua usul, entah kalian bisa mene-rima atau tidak?"

"Coba katakanlah, akan kami pertimbangkan dengan serius,"

Ki-tau-kou Tu Leng-mong berkata.

"Saudara Kwanliong, harap sampaikan kedua usulku itu kepada mereka,"

Kata Lamkiong Giok kemudian sambil tertawa. Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng tertawa, se-runya.

"Saudara Lamkiong, engkau menghormati diriku, sudah sewajarnya aku menjadi seorang saksi yang baik. Usul pertama adalah, setelah mestika itu didapatkan, maka pihak Kiam-hong-ceng akan mendapatkan kedua butir Ji-khi-kun-goan-sin-wan, sedangkan saudara berempat memperoleh bagian Hian-ki-hian-cing-pit-lik, entah bagaimana pendapat kalian berempat?"

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong tertawa licik, bu-kas menjawab dia malah bertanya.

"Saudara Kwanliong, apa benar seorang yang makan Ji-khi-kun-goan-sin-wan akan memperoleh tambahan tenaga da-lam sebesar dua kali enam puluh tahun?"

Tentu saja Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng tahu di balik ucapan ini masih ada maksud lain, diam-diam sumpahnya.

"Sialan kau Tok-sim Siu-su, jangan kau main gila, sampai waktunya nanti be-tapa liciknya kalian akhirnya pasti akan terjebak juga...."

Tapi pikiran itu tak sampai diperlihatkan pada wajahnya, dengan sikap yang wajar jawabnya.

"Bu-kan kami enggan memberikan kedua pil itu kepada kalian, soalnya kalian berempat dan pil itu cuma dua sehingga sukar dibagi, maka kami putuskan untuk menyerahkan kitab pusaka itu kepada kalian, sebagaimana diketahui, kitab itu merupakan hasil karya seorang jago paling lihay pada seratus tahun yang lalu, asal kalian bisa mempelajarinya, tanggung kepandaian kalian berempat akan tiada tandingan-nya lagi di dunia ini"

"Tapi bagaimana soal waktunya?"

Kata Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang.

"dalam jangka waktu ini masa tak ada orang lain yang akan coba meram-pasnya?"

Lamkiong Giok tersenyum.

"Sekalipun orang lain yang mendapatkan kitab itu, kitapun akan mengincarnya, soal rebut berebut dan bunuh mem-bunuh tak bisa lagi dihindari, justeru untuk me-nanggulangi persoalan ini, maka malam ini kuundang kalian untuk bekerja sama."

"Ucapan Siaucengcu memang benar, tapi ba-gaimana pula dengan usul yang kedua?"

Lamkiong Giok termenung sebentar, kemudian jawabnya.

"Usul pertama kelihatannya tidak adil, kukira kalian belum tentu mau menyetujuinya, maka usul yang kedua ini jelas sangat adil...."

"Maksudmu, kita berusaha merampas mestika itu dengan mengandalkan kepandaian masing-masing?"

Tanya Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou de-ngan tertawa seram.

"Betul, memang begitulah maksudku, setelah mestika didapat, kita segera menyerahkannya kepada saudara Kwanliong, kemudian kita berlima saling beradu kepandaian masing-masing,"

Tutur Lamkiong Giok.

"Apakah si penonton takkan menjadi nelayan yang mujur malah?"

Sindir Tok-sim Siusu.

Ia maksudkan dalam keadaan sama terluka parah nanti, bisa jadi Kwanliong Ciong-leng akan tampil sebagai nelayan yang mujur.

Bok Ji-sia mencuri dengar dari atas gardu, di-am-diam ia tertawa geli, mereka saling curiga, apa-kah mestika itu bisa didapatkan?

"Mencurigai orang tak ada gunanya, meng-gunakan orang janganlah curiga,"

Kwanliong Ciong-leng berseru dengan tertawa. Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong terbahak-bahak penuh kelicikan.

"Hahaha, saudara Kwanliong sa-lah paham, siapa yang tidak tahu Bu-sian Gisu adalah seorang jujur dan adil?"

"Terima kasih atas pujian saudara Bu!"

Sahut Kwanliong Ciong-leng. Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou tertawa mengerikan, kemudian berkata.

"Membagi harta dengan mengandalkan kepandaian, hal ini sudah tentu me-rupakan cara yang paling adil, tapi bagaimana ca-ranya melakukan pertandingan nanti?"

"Tentu juga adil, oleh karena itu telah kupi-kirkan pula caranya agar semua pihak merasa pu-as,"

Kata Lamkiong Giok.

"Bagaimanakah caramu itu saudara Lamkiong?"

Tanya Kui-tau-kou Tu-Leng-mong.

"Mula-mula kita berlima mengambil undian untuk menentukan seorang pemenang lebih dulu, empat orang lainnya dibagi menjadi dua kelompok yang harus saling berhadapan untuk mengadu ke-pandaian masing-masing, kita memberi batas seratus gebrakan saja, dengan begitu pertarungan tak akan sampai mengakibatkan keadaan yang fatal sehingga menguntungkan pihak lain."

"Dua orang pemenang itu dapat beristirahat sebentar sementara pemenang pertama yang tanpa bertanding tadi harus bertempur dengan salah seorang dari dua orang yang kalah itu hingga bisa diketahui tiga orang pemenang. Setelah itu kita me-ngambil undian lagi untuk melakukan pertarungan secara bergilir dengan seorang pemenang pada akhirnya pemenang itulah yang berhak mendapat-kan pil mestika dan kitab pusaka itu. Entah bagai-mana pendapat kalian dengan usul ini?"

Senyuman licik kembali menghiasi wajah Tok-sim Siu-su.Bu Yan-hong.

"Menentukan menang kalah dengan mengandalkan kepandaian memang cara yang paling adil, lantas bagaimana pula bantuan yang mesti kami berikan kepadamu?"

"Bila mestika itu didapatkan, kita harus beker-ja sama untuk melawan musuh luar yang berusaha merampas, sebelum mestika didapatkan kita harus bekerja sima untuk melenyapkan musuh-musuh di sekitar tempat ini, bila kalian setuju, maka besok petang tatkala matahari terbenam, kita berkumpul lagi di sini."

Mendadak ia tutup mulut, sambil tertawa dingin tangannya diayun ke depan, tiga titik cahaya putih dengan kecepatan luar biasa meluncur ke balik sebuah kuburan di luar gardu, menyusul iapun melayang ke sana.

Perubahan itu terjadi amat mendadak, hal ini membuat Bok Ji-sia, Tong Yong-ling dan Ku Thian-gak yang berada di atas gardu merasa terkejut, mereka mengira tempat sembunyinya diketahui.

Kungfu Lamkiong Giok memang hebat, ge-rak tubuhnya sangat cepat, sekali lompat tahu-tahu sudah beberapa tombak jauhnya.

Ketiga titik sinar yang menyambar ke depan kuburan itu telah ber-putar dan melayang balik ke tangannya.

Sambil men-dengus ia melayang balik lagi ke dalam gardu.

Kurang lebih belasan tombak di depan gardu sana lantas terdengar seorang tertawa dingin.

"Su-dah lama kudengar Lamkiong Hian mempunyai se-orang putra bagaikan naga, tampaknya berita itu memang bukan omong kosong belaka, cuma ilmu Hui-sian-hui-kiam (pedang terbang memutar) itu masih belum bisa mengapa-apakan diriku, hehe.....Sungguh menggelikan, kalian menganggap diri sendiri sebagai jago paling lihai dan bicara soal me-rampas kitab pusaka, padahal ada orang yang nong-krong di atas kepala kalian tidak diketahui, masa kalian masih sok jagoan? Hehehe........."

Gelak tertawa seram itu makin lama makin menjauh dan akhirnya lenyap.

Bok Ji-sia, Tong Yong-ling dan Ku Thian-gak terperanjat sekali demi mendengar perkataan itu, mereka tahu tempat sembunyinya telah ketahuan musuh, maka lebih baik unjuk diri saja.

Benarlah beberapa orang yang berada dalam gardu itu segera mendongak ke atas dengan pera-saan sangsi.

"Ser! Serr! Serr!", tiga sosok bayangan dengan cepat melayang turun. Hal ini sungguh mengejutkan keenam gembong iblis itu, bayangan berkelebat, keenam orang itu serentak melompat keluar gardu. Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak dan Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling adalah jago-ja-go kenamaan yang menggetarkan dunia Kangouw, tentu saja keenam iblis itu mengenalnya, ini tam-bah mengejutkan mereka. Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng tertawa ter-bahak-bahak, sapanya.

"Saudara Ku, baikkah selama ini? Rupanya kalian pun telah mendapat ka-bar dan ikut kemari, hahaha!........."

Keenam orang itu adalah gembong iblis yang memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, kini kena dipecundangi orang di luar tahu mereka, hal itu dianggapnya sebagai suatu penghinaan, tapi ketika sorot mata Lamkiong Giok menyapu wajah Tong Yong-ling, wajah dingin yang penuh diliputi hawa napsu membunuh itu segera berhias senyum-an, serunya kaget.

"He, kukira siapa! Rupanya Bwe-hoa-sian-kiam Tong-lihiap yang tersohor itu!"

Ketika Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng me-lihat Lamkiong Giok memberi muka kepada mu-suh, iapun berkata sambil tertawa nyaring.

"Mari, mari! Kita adalah kenalan lama, ayo masuk ka gar-du dan minum secawan arak dulu."

Sikap mereka yang pura-pura ramah ini boleh dibilang tindakan cerdik, pertama gengsi semua orang bisa diselamatkan, kedua dapat pula meng-hilangkan pertarungan yang tak perlu.

Merekapun tahu bahwa Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling adalah jago kosen yang memusingkan ke-pala umat persilatan, walaupun mungkin saja me-reka bisa membunuh ketiga orang itu, tapi harus berlangsung dulu suatu pertarungan yang sengit.

Sambil tertawa dingin Tong Yong-ling berkata.

"O, rupanya kau yang bernama Huan-in-kiam Lam-kiong Giok, Siaucengcu perkampungan Kiam-hong-ceng! Baru saja kukira kau ini manusia yang ber-kepala dan berlengan aneh macam siluman?"

Suaranya merdu, gerak-geriknya menja mem-buat orang sama sekali tidak merasakan sindiran tersebut. Lamkiong Giok tertawa dan menjawab.

"Dalam perjalanan Kwan-liok tempo hari kukira dalam du-nia persilatan, telah muncul seorang gadis binal, se-telah kuselidiki akhirnya baru kuketahui gadis na-kal itu adalah murid Han-bwe-kokcu Bwe-hiang-sian-ki yang bernama Bwe-hoa-sian-kiam. Hahaha, sungguh berjodoh kita dapat bertemu lagi pada malam ini."

Ji-sia tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, tak seorang pun kenal padanya, uutuk se-saat ia tak digubris orang.

Pada kesempatan ter-sebut ia menyapu pandang sekejap sekeliling situ, dilihatnya kawanan laki-laki berpakaian hitam itu berdiri di sekeliling sana, kenyataan ini sangat mengejutkan hatinya.

Teringat orang tadi, ia jadi heran, entah dari manakah orang itu menyusup masuk, betapa cepat perginya juga luar biasa sekali, sungguh sangat me-ngejutkan.

Selain itu, iapun merasa kagum dengan ke-pandaian senjata rahasia Lamkiong Giok, ia mera-sa kungfu pemuda itu tak boleh dianggap enteng.

Dalam pada itu Tong Yong-leng tampak kurang senang, katanya ketus.

"Apakah kita harus melangsungkan pertarungan lagi untuk menentukan kalah menang?"

Diam-diam Lamkiong Giok menyumpah dalam hati.

"Sialan budak setan ini, bila aku tidak me-ngalah tempo hari, kau sudah mampus sejak dulu..."

Tapi lahirnya dengan tersenyum dan menjawab.

"Nona Tong, pukulan Bwe-sat-ciangmu cukup me-matikan, kita tiada permusuhan, kenapa mesti ber-tempur secara mati-matian?"

Tong Yong-ling mendengus.

"Hmm, kalau be-gitu kami tak akan berdiam lagi lebih lama di sini!"

Sinar mata Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng yang tajam sudah mulai menelusuri sekujur badan Bok Ji-sia, senyuman licik yang sukar diduga mak-sudnya mulai tersungging pada ujung bibirnya.

Ku Thian-gak terperanjat menyaksikan senyum-an licik Kwanliong Ciong-leng itu, pikirnya.

"Orang ini hendak melakukan niat jahat terhadap Bok Ji-sia, jangan-jangan....."

Sementara itu Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong se-dang tertawa terbahak-bahak ketika mendengar Tong Yong-ling akan pergi, katanya.

"Nona Tong, kau datang tergesa-gesa, pergi pun terburu-buru, apakah kau tidak merasa tindakanmu ini kurang sopan?"

"Harap saudara sekalian sudi memberi maaf,"

Ku Thian-gak segera menjura sambil tertawa.

"se-sungguhnya kami bertiga tidak bermaksud menya-dap pembicaraan kalian, bila hari ini ada kesalahan, biarlah lain hari aku orang she Ku membalas ke-baikan saudara."

Pada saat itulah tiba-tiba muncul empat laki-laki kekar masuk ke dalam sambil mengempit em-pat sosok tubuh, setelah memberi hormat kepada Lamkiong Giok, kata mereka.

"Lapor Siaucengcu, keempat orang saudara kita ini tertutuk jalan da-rahnya dan dilemparkan ke tempat gelap."

Dengan pandangan tajam Lamkiong Giok me-lirik sekejap ke arah Ku Thian-gak, kemudian me-nyindir.

"Hehehe, Ku-tayhiap, katanya kau datang kemari tanpa maksud apa-apa. Hm!......."

Sambil mendengus, ia membungkuk badan dan menutuk beberapa kali pada tubuh keempat laki-laki itu.

Tiga orang di antaranya se"gera bersuara terta-han dan bangun berduduk dengan wajah masih me-ngantuk, seakan-akan baru saja mendusin dari im-pian, tapi salah seorang di antaranya ternyata be-lum bebas juga tutukannya, Lamkiong Giok telah mencoba dengan pelbagai cara tapi tiada hasilnya, hal ini membuatnya tertegun.

Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling terkesiap juga, tiba-tiba sorot mata nona itu beralih ke wajah Bok Ji-sia.

Ternyata jalan darah orang itu ditutuk oleh Bok Ji-sia, sebagaimaaa diketahui, ilmu silatnya ber-asal dari kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng, caranya menutuk jalan darah pun merupakan suatu kepandaian is-timewa, tanpa pertolongannya orang lain sulit mem-bebaskan pengaruh tutukan tersebut.

Dengan penasaran Lamkiong Giok mencoba lagi beberapa kali, tapi hasilnya tetap nihilf akhirnya dengan hati terkejut tapi tetap tersenyum ia berkata kepada Tong Yong-ling.

"Ilmu silat Tong-lihiap memang luar biasa sekali, cukup melihat cara-mu menutuk jalan darah saja sudah membuatku takluk sekali, tolong bantulah membebaskan tutuk-an orang ini"

Menurut pemikiran Lamkiong Giok, kungfu yang paling tinggi di antara ketiga orang itu ada-lah Tong Yong-ling, sebab dia adalah murid Bwe-hiang-sian-ki, maka iapun mengira nona itu yang menutuk jalan darah anak buahnya.

Merah jengah wajah Tong Yong-ling, ia lantas berpaling ke arah Bok Ji-sia dan berkata sambil tertawa.

"Bok-siangkong, tolong bebaskan jalan da-rah orang itu!"

Pelahan Ji-sia maju ke samping laki-laki itu, sekali tendang, tubuh orang itu mencelat sejauh beberapa kaki.........

Terdengar orang itu mendengus tertahan, lalu merangkak bangun.

Betapa gusar Lamkiong Giok melihat tindakan Bok Ji-sia, sambil tertawa dingin ia bertanya.

"Nona Tong, apa boleh kutahu jago lihai darimanakah dia itu?"

"Maaf, aku sendiri tak tahu julukannya."

Jawab si nona.

Lamkiong Giok tertegun, lalu tertawa dingin tiada hentinya, sinar matanya yang tajam tiba-tiba melirik sekejap keempat orang yang berdiri termangu di sisi gelanggang itu, kemudian tegurnya dingin "Siapa yang merobohkan kalian?"

Dengan ketakutan keempat orang itu berlutut lalu jawabnya.

"Ilmu silat hamba terlalu rendah se-hingga melalaikan perintah Siaucengcu, hamba ber-sedia menerima hukuman."

"Aku hanya tanya kepada kalian, siapa yang merobohkan kalian berempat!"

Hardik Lamkiong Giok.

Jilid 6 Laki-laki di sebelah kanan menjawab.

"Mula-mula kami mendengar suara kucing mengeong, ham-ba sekalian sadar pasti ada kejadian yang tak beres, maka dua orang melakukan pemeriksaan, ketika ke-mudian mendengar dua kali dengusan tertahan, ka-mi yang berada dalam garda dengan cepat berpaling, siapa sangka saat itulah jalan darah kami tertutuk sehingga sama sekali tidak melihat apa yang terjadi."

Lamkiong Giok tertawa dingin.

"Ilmu silat me-reka amat lihai, tentu saja kalian bukan tandingan-nya. Tapi kalian telah melalaikan tugas, tahukah apa hukumannya?"

Menggigil orang-orang itu karena ketakutan.

"Hukuman mati..."

Bok Ji-sia terkejut menyaksikan wajah Lamkiong Giok memancarkan wibawa sebesar itu.

"Matipun masih kurang bagi dosa kalian,"

Kata Lamkiong Giok dengan hambar.

"tapi mengingat aku sedang membutuhkan tenaga orang sekarang, maka hukuman itu bisa diubah menjadi hukuman lain. Nah, berdiri semua!"

Dengan girang keempat orang itu segera ber-seru.

"Terima kasih atas kebaikan Siaucengcu....."

Belum lagi selesai ucapan mereka, empat titik cahaya putih menyambar keluar disusul empat kali jeritan ngeri yang menyayat hati.

Darah segar berhamburan, tahu-tahu buah ke-pala keempat orang itu sudah menggelinding ke tanah.

Keempat jalur sinar putih itu berputar di udara dan menyusup kembali ke balik ujung baju Lamkiong Giok.

Bergidik hati Ku Thian-gak, Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling menyaksikan kekejaman orang, ter-utama caranya membunuh orang sambil tersenyum itu, ilmu senjata rahasianya sungguh luar biasa, se-kalipun seorang jago lihay yang diserang, dalam ja-rak sedekat ini rasanya sulit juga untuk menghindar.

Lamkiong Giok sama sekali tidak memandang mayat itu, kepada keempat laki-laki lain ia berkata de-ngan dingin.

"Gusur mayat mereka dari sini!"

"Lamkiong Giok,"

Tong Yong-ling berseru dengan wajah dingin.

"Jika kau tidak mau melepaskan kami, ayo sekarang juga boleh kita turun ta-ngan!"

Memandang wajah Tong Yong-ling yang ayu, muka Lamkiong Giok yang mengerikan itu ber-ubah menjadi lembut dan ramah, ia tersenyum.

"Nona Tong,"

Demikian sahutnya.

"mana Siaute berani kurangajar padamu, kalau ingin pergi silahkan pergi sekarang juga!"

"Ku-cianpwe, ayo kita pergi!"

Kata Ji-sia ti-ba-tiba kepada Ku Thian-gak.

Tanpa berpaling ia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Mendadak Lamkiong Giok bertepuk tangan tiga kali.

Bayangan manusia berkelebat, tiba-tiba laki-laki baju hitam yang berdiri di sekeliling tempat itu bergerak mendekat semua, pedang dilolos, secepat kilat mereka mambentuk sebuah barisan yang membendung sekeliling tempat itu.

Dengan sinar mata tajam Bok Ji-sia berpaling, katanya sambil tertawa dingin.

"Lamkiong Giok, percuma pengepunganmu ini, kau tidak lebih hanya mengirim anak buahmu pulang ke akhirat!"

"Saudara, jangan takabur dulu, kenapa tidak coba menerobos kepungan mereka?"

Jengek Lam-kiong Giok. Sementara itu, Hek to-su-koay tiba-tiba tampil ke muka dan menghampiri Bok Ji-sia. Cepat Tong Yong-ling membentak.

"Su-koay, kalian tahu malu tidak, mau main kerubut?"

Baru selesai ia berkata, tiba-tiba Eng jiau Jiu Hou Wi-kang bergerak ke muka, tangan kiri se-cepat kilat mencengkeram anak muda itu.

Ketika cengkeraman Eng-jiau-jiu itu hampir mengenai tubuhnya, mendadak Ji-sia berkelit ke samping, dan berbareng itu tangan kanannya mem-bacok ke muka dengan jurus Sin-liong-jut-in (naga sakti muncul dari mega).

Semenjak memperoleh tambahan tenaga murni dari Oh Kay-gak, walaupun pemuda itu merasakan tenaga dalamnya bertambah kuat, ia sendiri tak tahu berapa besarkah tenaga serangannya, padahal dalam setiap pukulannya dia hanya sertakan enam bagian tenaga dalam.

Terasalah angin pukulan rnenderu-deru bagai-kan gulungan ombak samudra dengan cepatnya mendampar ke depan.

Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang berempat merupa-kan jago lihay golongan hitam yang tersohor, ter-utama ilmu cakar elangnya sungguh suatu kepan-daian yang lihai.

Semula ia tak pandang sebelah mata terhadap Bok-Ji-sia, ia kira cengkeraman kilatnya yang ja-rang bisa dihindari jago persilatan itu pasti sukar dihindari pula oleh seorang pemuda tanpa nama, ia baru terperanjat setelah menyaksikan Ji-sia tetap berdiri di tempat semula meski serangannya sudah menyambar tiba.

"Jangan-jangan orang ini berilmu sakti."

Demikian ia berpikir.

Serentak ditambahnya dua bagian tenaganya, kecepatannya pun berlipat.

Siapa tahu serangan ini pun menemui kegagal-an, ia lebih terkejut lagi melihat gerak tubuh lawan yang aneh, ia menjadi nekat, dihimpun segenap tenaganya untuk membinasakan musuh dengan sekali pukul.

Dalam pada itu angin pukulan Ji-sia telah me-nyambar tiba.

Bagaimanapun Hou Wi-kang adalah seorang jago kawakan, begitu melihat serangan musuh sa-ngat hebat, ia tak berani memandang enteng lagi kepada musuh, hawa murni segera dihimpun pada telapak tangan kanan dan menyambut pukulan Ji-sia.

Ketika kedua gulung angin pukulan terbentur, debu pasir segera beterbangan.

Sekalipun dalam keadaan terburu-buru sehing-ga tidak mengerahkan tenaga secara sempurna, da-lam serangan tersebut Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang telah menggunakan tujuh bagian tenaga dalamnya.

Siapa sangka, akibat benturan tersebut tubuh-nya tergetar mundur empat langkah, tentu saja hal ini membuatnya terkesiap.

Bukan cuma dia yang kaget, lebih kaget ada-lah kawanan jago silat yang berada di sekeliling gelanggang.

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong, si manusia paling licik dan paling banyak tipu muslihat itu telah mem-punyai rencana menggunakan kekuatan Su-koay untuk melawan Lamkiong Giok, oleh karena itu ia perlihatkan sikap kuatir terhadap keempat orang itu.

Begitu Eng-jiau jiu kalah satu gebrak, segera ia melompat maju dan menubruk Bok Ji-sia dari belakang.

"Bok-siangkong, awas belakang."

Tong Yong-ling menjerit kaget.

Ji-sia telah menguasai ilmu yang tercantum da-lam kitab Jiat-in-siang-gi-pit-keng, begitu mendengar deru angin dari belakang, tanpa berpaling lagi lengan kirinya berputar dan melancarkan bacokan ke be-lakang.

Jangan kira serangan ini dilancarkan tanpa ber-paling, sesungguhnya baik ketepatan maupun keli-haian, sedikit pun tak kalah dengan serangan biasa, segulung angin tajam langsung menumbuk tubuh Tok-sim Siu-su.

Bu Yan-hong, si sastrawan berhati keji ini ter-masuk pula seorang jago kawakan yang berpenga-laman, ketika melambung ke udara tadi, ia telah membuat persiapan yang cukup, maka begitu Bok Ji-sia melancarkan serangan segera ia pentang ta-ngan dan mendadak melambung lima depa lebih tinggi ke udara, angin menderu menyambar lewat di bawah kakinya.

Begitu kaki menempel tanah, serentak Bu Yan-hong mendorong kedua telapak tangannya dengan kuat.

Serangan ini mempergunakan segenap kekuatan-nya, hebat luar biasa, angin dahsyat langsung me-numbuk iga kiri Bok Ji-sia.

Pada saat yang sama, Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang mengayunkan telapak tangannya menghantam punggung pemuda itu.

Rupanya mereka berniat membinasakan Ji-sia lebih dulu, kemudian baru membereskan Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling.

Tentu saja Ku Thian-gak berdua terperanjat, sambil tertawa dingin Ku Thian-gak berkata.

"Hm, kalian adalah jago-jago kenamaan dunia persilatan, tidak malukah mengerubuti seorang angkatan muda secara licik? Apakah kalian tidak kuatir ditertawa-kan orang bila kejadian ini tersiar?"

Di tengah seruan tersebut, serentak kedua orang itu menerjang maju.

"Mundur kalian berdua!"

Bentak Kui-tau-kou Tu Leng-mong dan Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou.

Dua gulung angin pukulan yang kuat menyam-bar ke arah Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling.

Dalam pada itu semangat Bok Ji-sia berkobar mendadak demi dikerubut dua musuh, ia tertawa nyaring, tiba-tiba kaki kirinya maju selangkah, tu-buhnya berputar dan kedua telapak tangannya terentangkan ke kiri dan kanan.

Pada saat tangan direntangkan, tiba-tiba ia berputar pula, tangan yang direntangkan itu mendadak ditarik kembali.

"Mundur kau!"

Bentaknya nyaring.

Di tengah bentakan, tangan yang di tarik kem-bali secepat kilat terus melepaskan pukulan.....

Tok-sim Siu-su dan Eng-jiau-jiu merasakan tu-buh berguncang keras, dengan sempoyongan mereka tergetar tiga-empat langkah.

Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling juga ter-kejut menyaksikan kejadian ini, kawanan jago lain pun kaget.

Lebih-lebih kedua orang aneh yang dipukul mun-dur itu, rasa kaget mereka sukar dilukiskan.

Kiranya waktu kedua orang itu melepaskan pukulan dahsyat, tiba-tiba mereka merasakan tenaga betot yang maha kuat, sedemikian besarnya tenaga tarik tersebut sehingga tubuh mereka berdua ter-sedot ke muka.

Pada saat itulah mendadak muncul lagi tenaga yang sangat besar menerjang datang, kontan mereka merasakan darah dalam dada bergolak keras, tanpa tahan tubuh merekapun terdorong mundur dengan sempoyongan.

Ilmu silat apakah ini?

Sungguh membuat semua orang terperanjat.

Tapi setelah mendesak mundur kedua musuh, tiba-tiba Ji-sia juga muntah darah.

Ternyata ia telah mempergunakan ilmu sim-panan Oh Kay-gak, tapi lantaran belum apal cara menggunakan tenaga, hal ini membuat tenaga te-kanan kedua lawan menerjang tubuh sendiri, akibat-nya walaupun kedua orang itu kena dipukul mun-dur oleh tenaga saktinya, tapi isi perut sendiripun ikut terluka sehingga tumpah darah.

Coba kalau tidak begini, bukan cuma terdo-rong mundur saja kedua orang aneh itu, malah mungkin sekali akan terluka parah.

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong heran melihat Ji-sia muntah darah, dia mengira musuh telah terluka parah, secepat kilat ia menerjang maju sambil ber-seru.

"Saudara Hou, cepat binasakan orang ini, dia tak punya kepandaian yang berarti."

Tangan kanan menyambar ke depan, dengan lima jari terpentang ia cengkeram tubuh Bok Ji-sia.

Pemuda itu mendengus, tiba-tiba ia berputar, tangan kiri menabas ke depan dengan kelima jari setengah menekuk setengah terbuka, ia balas men-cengkeram pergelangan tangan Tok-sim Siu-su.

Serangan itu enteng kelihatannya, padahal sa-saran yang diarah sungguh tepat sekali, putaran tu-buh, menghindar dan balas menyerang, semua ini dilancarkan dalam sekejap mata.....

Terkesiap Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong, ia merasa sulit menghindarkan diri dari ancaman ini, lengan kanannya menahan ke bawah, telapak ta-ngan kiri diayunkan atas membacok jalan darah Beng-bun-hiat di punggung Ji-sia.

Setiap gerak serangan jago lihai rata-rata ada-lah serangan mematikan, begitu gagal dengan serangannya, Ji-sia melejit ke udara bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, ia melayang lima de-pa ke depan.

Hou Wi-kang tertawa seram, secepat kilat ia menggeser ke belakang Ji-sia, tangannya yang pan-jang secepat kilat membacok ke bawah.

Berbareng itu juga angin pukulan Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong juga menggulung tiba.

Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, ia mem-bentak sambil miring ke samping, menghindarkan sergapan Eng-jiau-jiu, kemudian mendesak maju mendekati kedua orang musuh.

Kedua tangannya beruntun melancarkan se-rangkaian serangan gencar, bayangan telapak tangan menyelimuti angkasa, dalam waktu singkat ia me-lepaskan dua belas kali pukulan berantai.

Serangkaian serangan beruntun Ji-sia ini mem-buat kaget dan kagum kawanan jago di sekeliling tempat itu, Lamkiong Giok juga terkejut, ia tak tahu dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago muda sehebat ini, satu ingatan tiba-tiba ter-lintas dalam benaknya, timbul niat jahatnya.

Tong Yong-ling merasa senang juga melihat kehebatan pemuda itu, sudah dua hari ia berkumpul dengan Bok Ji-sia dan melakukan pertarungan bersama beberapa kali, ia tahu kungfu Ji-sia memang lihay, jurus serangannya amat sakti, tapi ada satu hal yang membuatnya bingung, yakni kemajuan yang dicapai pemuda itu sedemikian cepatnya sehingga melanggar kebiasaan.

Waktu bertarung untuk pertama kalinya di dalam penjara air dulu, semakin lama berta-rung kekuatannya semakin hebat, waktu itu pemuda ini tidak lebih unggul darinya, tapi kekuatan yang ditampilkan malam ini jelas jauh melebihi dirinya, sebab itu ia merasa gembira untuk kemajuan yang dicapai pemuda tersebut.

Diam-diam Ku Thian-gak menghela napas gegetun, semula dia mengira kungfu Bok Ji-sia pa-ling-paling di bawah kepandaian Tong Yong-ling, tapi setelah menyaksikan kehebatannya sekarang, terutama jurus-jurus serangannya yang aneh dan sakti, ia baru sadar bahwa dugaannya meleset.

Sementara itu Bu-Yan-hong berdua merasa be-tul-betul terhina, mereka menganggap terdesaknya mereka berdua secara berulang oleh seorang bocah tanpa nama sehingga kalang kabut, jelas merupa-kan kejadian yang memalukan, hawa napsu mem-bunuh segera menyelimuti wajah mereka.

Ketika Ji-sia sedang berhenti menyerang untuk ganti napas, mendadak Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang membentak, kedua tangannya meaggetar, angin pu-kulan yang dahsyat segera menggulung datang dari sudut yang aneh dan langsung menerjang jalan da-rah penting di dada Ji-sia.

Rupanya Ji-sia sudah gusar pula, ia tertawa dingin, ia berputar kencang, menghadap ke arah lain, telapak tangan kiri berjaga, tangan kanannya segera balas mencengkeram pergelangan tangan Eng-jiau-jiu.

Merasa serangannya menemui sasaran kosong, Eng-jiau-jiu sudah merasa keadaan tidak mengun-tungkan, cepat ia melompat mundur.

Tapi pada saat itulah dari mencengkeram tiba-tiba Ji-sia ubah serangannya menjadi pukulan yang telak kena bahunya, kontan ia mencelat se-jauh satu tombak lebih.

Untung tenaga dalamnya cukup sempurna, sehingga ia tak sampai roboh, ta-pi agak sempoyongan juga.

Bok Ji-sia tidak mau melepaskan korbannya, begitu dilihatnya Eng-jiau-jiu kena dipukul terluka, segera ia siap menyusul ke depan, saat itulah Tok-sim Siu-su membentak, dengan dahsyat menerjang tiba.

Ji-sia paling benci pada manusia licik macam Bu Yan-hong, kening bekernyit, sebelum musuh sempat turun tangan, telapak tangannya dirangkap menjadi satu sambil berputar, lalu didorong ke depan menghajar dada lawan.

Sebagai gembong golongan hitam, tak sedikit jumlah jago yang pernah dihadapi Tok-sim Siu-su, tapi belum pernah ia menjumpai pukulan seperti yang digunakan Ji-sia sekarang, setelah tahu musuh terlalu lihai, ia tak berani lagi pandang enteng la-wan, buru-buru hawa murni dihimpun, tubuh yang sedang menerjang ke muka tiba-tiba mendak ke bawah, telapak tangan kirinya langsung menolak keluar......

Ji-sia maju selangkah ke depan, kedua tangan direntangkan, tangan kiri berubah mencengkeram menyambar tangan Bu Yan-hong yang menyerang, sedangkan tangan kanan tetap langsung menghan-tam dada lawan.

Perubahan serangan ini sungguh diluar du-gaan orang, lagipula amat cepat, kawanan jago si-lat golongan hitam itu menjadi kaget dan keluar keringat dingin.

Untung dia adalah gembong iblis yang sudah berpengalaman, meskipun kaget, permainannya ti-dak menjadi kalut, cepat ia menyurut mundur.

Kemarahan Ji-sia makin membara, ia bertekad menjatuhkan musuh, tentu saja ia tidak membiar-kan lawan kabur dari cengkeramannya, ia melayang maju, belum lagi Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong ber-diri tegak, hawa panas telah menempel di dada, ha-wa pukulan yang berat seperti bukit karang me-nindihnya hingga tak dapat bernapas.

"Saudara, jangan bertindak keji!"

Tiba-tiba se-orang membentak.

Bayangan orang berkelebat lewat, Ji-sia merasa-kan angin pukulan lembut menerjang tiba dari sam-ping.

Ji-sia terperanjat, tangan kanan bergeser me-nyongsong datangnya sergapan.

Tapi segera Ji-sia merasakan tubuh bergetar, kedua gulung tenaga pukulan yang saling bertemu seketika lenyap tak berbekas, sedang kedua pihak pun sama-sama merasakan pundak bergetar keras.

Dengan sinar mata tajam Ji-sia berpaling, di-lihatnya Huan-in-kiam Lamkiong Giok dengan ter-senyum sedang mengangguk padanya.

"Saudara Bok, ilmumu sungguh hebat dan mem-buat Siaute kagum,"

Katanya sambil menjura.

"hari ini benar-benar terbuka mataku, bila aku salah me-nilai dirimu, harap sudi dimaafkan."

Ji-sia berkerut kening mendengar perkataan itu, iapun merasa terkejut akan kehebatan orang yang berhasil memunahkan serangannya dengan sekali kebasan, tampaknya kesempurnaan tenaga dalam orang betul-betul sukar diukur.

Sementara ia merasa kagum, Lamkiong Giok juga merasa terkejut akan kelihaian anak muda itu sebab bentrokan yang terjadi barusan membuat da-rah dalam dadanya bergolak.

"Sungguh hebat kepandaianmu!"

Puji Kwanliong Ciong-leng.

"dengan usia semuda ini ternyata ber-hasil memiliki kepandaian begini hebat, rasanya sukar menemukan seseorang angkatan muda lain yang berkepandaian seperti dirimu."

"Betul!"

Sambung Lamkiong Giok sambil ter-tawa.

"siapa pula dalam dunia persilatan dewasa ini yang bisa mengikuti kehebatan saudara Bok?"

"Bagaimana dengan guruku Bwe-hiang-sian-ki?"

Ka-ta Tong Yong-ling-dengan suara dingin. Sambil tertawa dingin Kwanliong Ciong-leng berkata.

"Bwe-hiang-sian-ki dari Han-bwe-kok ter-cantum dalam urutan Bu-lim-jit-coat, sudah barang tentu ilmu silatnya tak boleh dianggap enteng, jika dia tekun berlatih selama delapan belas tahun, hasil-nya memang memadahi, cuma sekalipun ia berlatih diri dengan tekun, pihak lawan juga berlatih dan takkan selisih terlalu banyak. Nona Tong, menurut perkataanmu, apakah Bok-lote ini juga murid guru-mu?"

Tong Yong-iing mendengus.

"Hm, siapakah yang tidak tahu guruku tak pernah menerima mu-rid lelaki? Hm, sudah tahu pura-pura bertanya. Te-rus terang kuberitahukan kepada kalian, dia adalah anak didik Susiok guruku!"

Walaupun Bok-Ji-sia tak ingin mengaku orang lain sebagai gurunya tapi dalam keadaan demikian terpaksa dibiarkan si nona berbohong.

"Kalau begitu nona Tong harus memanggil Bok-lote sebagai susiok,"seru Lamkiong Giok sam-bil tertawa. lantas siapa pula Susiokcou (kakek guru) kalian?"

Tong Yoog-ling tahu orang sedang menyindir-nya, keruan ia mendongkol, bentaknya.

"Apakah kalian memang bermaksud mencari urusan dengan nona? Hm, terus terang, Susiokcouku berwatak aneh sekali, sejak tamat belajar belum pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, beliau sangat menyayangi murid satu-satunya ini, bila menerbitkan kemurkaan beliau, dunia persilatan tentu akan diobrak-abrik, sekalipun ayahmu Lamkiong Hian juga belum tentu sanggup menahan dua puluh ge-brakannya."

Dia adalah gadis yang cerdik, ia sadar bilama-na sampai beberapa orang yang licik dan jahat ini tahu Bok Jt-sia adalah murid kesayangan Oh Kay-gak, akibatnya beberapa macam benda mestika mi-lik anak muda itu pasti akan diincar orang, kalau sampai begitu, keadaan tentu bisa runyam.

Oleh karena itulah, sengaja ia menyusun cerita bohong untuk menggertak mereka, sedemikian sempurnanya ia berbohong hingga hakikatnya, tiada ti-tik kelemahan sedikit pun, sekalipun lawannya orang licik dan cerdik, untuk sementara merekapun dibi-kin ragu untuk bertindak.

Soalnya merekapun tidak tahu jelas apakah Bwe-hiang-sian-ki benar mempunyai Susiok atau tidak, padahal mana ada Susiok Bwe-hoa-sian-ki yang masih hidup di dunia?

Tapi di antara beberapa orang gembong iblis itu, ada satu orang yang mengetahui keadaan sebe-narnya.

Sebetulnya orang persilatan tak ada yang tahu Oh Kay-gak telah dikenakan tahanan dalam ben-tengnya kecuali sembilan ketua perguruan besar, apalagi tentang kematian Oh Kay-gak, lebih-lebih tak diketahui umat persilatan, tapi entah mengapa ternyata Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng yang licik itu mengetahui semua persoalan ini dengan jelas.

"Hah, mana ayahku bersedia untuk berjumpa dengan Susiokcoumn itu,"

Kata Lamkiong Giok sam-bil tertawa.

"Kalian mengatakan bahwa jago silat paling top dalam dunia persilatan sekarang adalah Oh Kay-gak, Lamkiong Hian dan Kiu-thian-mo-li, tapi sia-pakah di antara ketiga orang itu yang paling lihay?"

Kata-Bok-Ji-sia dengan dingin. Sambil tertawa jawab Bu-siang-gusi Kwanliong Ciong-leng.

"Bila bicara tentang kemampuan mere-ka dulu, boleh dibilang seimbang, tapi masih ada pula sedikit selisih yang kecil sekali, maka dapat dikatakan Kiu-thian-mo-li yang paling hebat di an-tara ketiga orang itu, Lamkiong Hian kedua dan Oh Kay-gak paling akhir."

Mendengar Kwanliong Cioag-leng mengata-kan kungfu Oh Kay-gak paling rendah, hati Ji-sia menjadi gusar dan segera mendengus dengan nada menghina.

Seperti diketahui, ia telah menerima budi kebaikan yang tak terkirakan dari Oh Kay-gak, gu-runya ini merupakan satu-satunya penolong yang memberi kesan dalam baginya, tentu saja Ji-sia tak tahan mendengar perkataan yang merendahkan na-ma Oh Kay-gak.

Dengan dingin ia bertanya pula.

"Apakah me-reka bertiga pernah saling beradu kepandaian?"

Kwanliong Ciong-leng tersenyum, sahutnya.

"Mereka bertiga terlibat dalam suatu hubungan budi dan dendam yang tak terselesaikan, tentu sa-ja pernah saling beradu kepandaian, cuma belum pernah ada orang yang melihatnya."

"Kalau cuma mendengar cerita kosong saja, hmm, mana boleh sembarangan bicara?"

Ji-sia ter-tawa dingin.

"Ketahuilah bahwa Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak adalah seorang gagah yang tiada tandingannya, baik kecerdasan maupun ilmu silat yang dimiliki, hampir semua inti ilmu dari pelbagai aliran yang ada dalam dunia persilatan dipahami olehnya, sedang Kiu-thian-mo-li dan Lam-kiong Hian tidak lebih cuma dari aliran sesat, se-kalipun berhasil mencapai kemajuan besar, mana mungkin bisa dibandingkan dengan kehebatan Oh Kay-gak Locianpwe."

Lamkiong Giok maupun Kwanliong Cioeg-leng marasa gusar sekali mendengar ucapan lawan yang bernada angkuh, tapi sebagai oraag-orang yang licik mereka tidak perlihatkan kemarahan tersebut.

Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng segera ter-tawa dan menyahut.

"Bok-lote, kau begitu paham tentang keadaan Oh Kay-gak, rupanya punya hu-bungan yang erat dengannya? Oh Kay-gak memang menguasai ilmu silat aliran lurus dan sesat, yang di-pelajari maupun yang dibaca memang luas sekali, tapi bila bicara tentang kemampuannya pada de-lapan belas tahun yang lalu, ia memang selisih se-dikit dibandingkan lainnya, tapi dalam soal penge-tahuan yang luas ia lebih hebat daripada kedua orang itu, cuma sayang....."

Jelas ia maksudkan sayang Oh Kay-gak telah tiada lagi, tapi kata "sayang"

Itu justeru membuat Ku.

Thian-gak, Bok Jisia dan Tong Yong-ling terperanjat.

Lamkiong Giok merasa tidak puas mendengar Kwanliong Ciong-leng mengatakan ilmu silat Oh Kay-gak setelah delapan belas tahun akan melebihi ayahnya, segera ia menjengek.

"Sungguh ingin kulihat pertarungan antara ke-tiga orang itu setelah lewat delapan belas tahun, ingin kulihat kepandaian siapa yang sesungguhnya lebih hebat. Terus terang, kini ayahku telah ber-hasil dengan kedua belas bilah Hui-sian-hui-kiam (pedang terbang berputar), ingin kulihat siapakah dalam dunia ini yang sanggup menahan serangan-nya."

"Bila ada kesempatan, aku ingin sekali mohon petunjuk beberapa orang Cianpwe ini,"

Kata Ji-sia tiba-tiba sambil tertawa dingin.

Ucapannya yang takabur ini disambut rasa kaget oleh semua orang, bukan hanya Lamkiong Giok sekalian yang berperasaan demikian, bahkan Ku Thian-gak dan Tong Yongling pun terkejut atas kejumawaan pemuda itu.

"Sikap gagah saudara Bok sungguh membuat orasg merasa kagum"

Kata Lamkiong Giok sambil tertawa.

"tapi sebagai angkatan muda, rasanya ku-rang pantas membicarakan persoalan beberapa orang Cianpwe itu."

Ji-sia mengira orang hendak menantangnya ber-tarung, dengan dingin segera tegurnya.

"Apakah kau merasa lebih pantas berduel dengan diriku?"

Lamkiong Giok tertawa misterius, katanya.

"Bila naga dan harimau berkelahi, akhirnya salah satu di antaranya akan terrluka, kehebatan saudara Bok cepat atau lambat pasti akan kucoba, tapi aku lebih suka lagi jika kita dapat bekerja sama untuk bersama-sama menjagoi dunia persilatan.

"Soal mestika yang kubicarakan malam ini ra-sanya saudara Bok sekalian juga telah mendengarnya, bila ada maksud, aku bersedia bekerja sama dengan kalian, kemudian kita berdua boleh berduel untuk menentukan mestika itu bakal menjadi milik siapa?"

Melihat Lamkiong Giok mengajak Ji-sia ber-tiga untuk berkomplot, Hek-to-su-koay merasa gu-sar sekali. Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong segera tertawa di-ngin, katanya dengan sinis.

"Lamkiong Giok, tidak-kah kau rasakan tindakanmu itu tidak bersahabat?"

Lamkiong Giok sama sekali tidak menggubris teguran Tok-sim Siu-su, dengan tersenyum ia masih menanti jawaban Bok Ji-sia. Ji-sia berpikir sebentar, lalu jawabnya dengan dingin.

"Soal pertarungan antara kita tak perlu di-putuskan karena mestika, lain hari boleh kau tetapkan waktunya saja, orang she Bok pasti akan melayanimu. Tentang kerja sama, maaf jika aku tak suka berkomplot dengan orang, jadi terpaksa harus mengecewakan harapanmu, kini aku ingin mohon diri lebia dulu."

"Baiklah,"

Ujar Lamkiong Giok sambil tertawa.

"setiap orang mempunyai pendirian sendiri, tak ingin kupaksa orang. Soal beradu kepandaian, lain waktu pasti akan kulayani kau."

Ji-sia segera berpaling ke arah Ku Thian-gak sambil berkata.

"Locianpwe, mari kita pergi!"

Sambil berkata, dengan langkah lebar ia ber-jalan mendekati kedua puluh empat orang laki-laki kekar itu......

Dengan pedang yang terhunus dan gemerlapan, kawanan laki-laki berbaju hitam itu tetap berada pada posisi masing-masing, tampaknya mereka tidak bermaksud menyingkir dan posisi mengepung itu.

"Saudara sekalian, beri hormat dan antar ta-mu!"

Tiba-tiba Lamkiong Giok memberi perintah.

"Terima perintah!"

Diiringi seruan tersebut, se-rentak kedua puluh empat orang laki-laki berbaju hitam itu menyarungkan pedangnya, di antara berkelebatnya bayangan manusia, dengan cepat mereka berbaris dan membungkukkan budan.

Diam-diam terkejut juga Ji-sia sekalian me-nyaksikan kejadian itu, Lamkiong Giok betul-betul berwibawa, setiap perintahnya tak ada yaog berani membangkang.

Dengan langkah lebar Ji-sia, Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling berlalu dari sana meauju ke arah tanah pekuburan di sebelah benteng Thian-seng-po.

Di tengah jalan, Ku Thian-gak menghela napas dan berkata.

"Entah permainan apa yang sedang dilakukan Lamkiong Giok? Bila dilihat dari cara kerjanya yang keji, sebenarnya tak mungkin melepas-kan kita dengan begitu saja, Bok-lote, orang itu li-cik dan banyak tipu muslihatnya, ilmu silatnya pun sangat tinggi, di kemudian hari kau perlu hati-hati terhadap siasatnya."

"Ku-cianpwe, mungkin Lamkiong Giok ter-kejut atas kehebatan ilmu silatnya, lantaran menyadari pertarungan lebih jauh tak akan menghasil-kan apa-apa, maka ia berlagak berjiwa besar,"

Ka-ta Tong Yong-ling sambil tertawa. Ku Thian-gak termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Mungkin betul apa yang didu-ga nona Tong, cuma bicara soal kepandaian silat Lamkiong Giok, sulit rasanya jago kenamaan dunia persilatan dewasa ini dapat menangkan dia, bukan-kah kalian sudah menyaksikan keempat bilah pedang terbang Hui-sian-hui-kiamnya tadi? Sungguh tak tersangka ilmu andalan Lamkiong Hian pun sudah di-kuasainya."

Ji-sia menghela napas sedih, katanya.

""Kesem-purnaan tenaga dalam Lamkiong Giok agaknya ma-sih berada di atas kita semua, orang ini benar-be-nar sukar diraba, lagipula kungfu Bu-sian Gisu pasti juga sangat tinggi, Ai....ilmu silat memang tidak ada batasnya, sekalipun sepanjang hidup kita menyelidikinya, yang diperoleh pun hanya sedikit dan tidak berarti, rasanya tak salah apa yang dikatakan Suhu kepadaku....."

Sekali lagi dia menghela napas sedih.....

"Bok-siangkong,"

Tong Yong-ling berkata sambil tertawa.

"kawanan jago persilatan dewasa ini telah berdatangan semua ke tanah pekuburan ini un-tuk mencari pusaka tinggalan Hian-ki-hian-cing, se-karang kau sudah memiliki peta rahasia, kenapa tidak capat-cepat kau selidiki tanah pekuburan ter-sebut?"

Seperti baru mendusin Ji-sia segera berseru.

"Ya, hampir saja aku lupa, konon Lamkiong Giok punya peta pula, entah benar entah tidak? Kalau benar, kita mesti mendahuluinya!"

"Orang persilatan itu licik dan mau untung sendiri, tanpa jejak yang pasti, tak nanti mereka berdatangan kemari, kita tak boleh menunda waktu lagi, cepat keluarkan peta itu dan kita bahas ber-sama."

Ji-sia merogoh sakunya dan mengeluarkan kain kumal tersebut, lalu direntangkan di atas sebuah batu nisan.

Langit sangat gelap, tiada bintang tiada rem-bulan, inilah saat menjelang tibanya fajar.

Ku Thian-gak mengeluarkan bahan api dan mem-buat obor, sinar terang segera memancar menerangi kain kumal tersebut.....

Di atas kain tertera tulisan "timur-barat-utara-selatan", melukiskan titik-titik yang merupakan ta-nah pekuburan, sedang di tanah pekuburan antara selatan dan barat dilukiskan sebuah bangunan aneh yang mirip kuil tapi bukan kuil, sebuah anak pa-nah menunjuk langsung bangunan bagian tengah dengan tulisan.

"Tempat penyimpan harta."

"Ah, rupanya bangunan itu!"

Ji-sia dan Yong-ling segera berseru tertahan.

"Kalian sudah berkunjung ke sana?"

Tanya Ku Thian-gak dengan tertawa, dari sikap mereka dapat diketahuinya mereka tentu tahu tempatnya.

"Ketika keluar dari Thian-seng-po, justeru ka-mi keluar dari liang kubur kuno di samping bangun-an aneh itu, tapi lantaran perut terasa lapar sekali, kami tak memperhatikan keadaan di sekeliling sana,"

Tutur Ji-sia dengan tersenyum.

"tempat yang dimak-sudkan peta ini jelas adalah bangunan tersebut, ruangan tengah dari bangunan yang berbentuk kuil tapi bukan kuil ini mungkin saja adalah sebuah ku-buran besar, dan kuburan itu mungkin adalah tem-pat menyimpan harta."

Ku Thian-gak menjadi sangat gembira, seru-nya.

"Bagus sekali kalau begitu, cepat kita ke sana, segera kusiapkan makanan dan menyusul ke sana! Meskipun Lamkiong Giok sekalian berjanji besok malam baru akan bekerja, namun belum tentu demi-kian, apalagi di sekitar tanah pekuburan itu sudah berada dalam pengawasan kawanan jago dari pelbagai aliran, bila kita mujur dan berhasil mendapat-kan mestika itu, tak bisa dihindari lagi suatu per-tarungan sengit pasti akan terjadi, karena itulah harus kusiapkan sedikit rangsum."

"Ku-cianpwe harus cepat datang memberi bantuan!"

Seru Tong Yong-ling.

"Urusan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, be-rangkatlah kalian berdua, tapi kalian mesti hati-hati, setengah jam lagi pasti kususul ke sana."

Dengan suatu gerakan cepat, Ku Thian-gak melompat ke udara dan lenyap dibalik kegelapan yang mencekam tanah pekuburan tersebut.

Ji-sia menyimpan kembali kain kumal itu dan bangkit berdiri, tapi sewaktu mereka menengadah, dengan terkesiap mereka mundur tiga-empat langkah.

Ternyata di atas sebuah kuburan tidak jauh di depan berdiri kaku sesosok bayangan manusia......

Kemunculan yang secara tiba-tiba di tanah kuburan yang menyeramkan menjelang fajar ini se-perti kemunculan sesosok mayat hidup saja, apalagi saat itu suasana begitu hening dan seram, orang itu berdiri kaku bagaikan sebuah patung.

"Siapa kau?"

Ji-sia segera membentak.

Tong Yong-ling dan Bok Ji-sia terkejut, sebab ilmu meringankan tubuh orang benar2 luar biasa, padahal mereka memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, nyatanya orang sudah dekat be-lum juga diketahui, siapa yang tidak terperanjat atas kajadian ini?

Orang itu menyandang sebilah pedang antik di punggungnya, ketika mendengar teguran Ji-sia, dia tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya, la-lu melayang maju ke hadapan kedua muda-mudi itu.

"Akulah Oh Kay-thian,"

Ia memperkenalkan diri.

"ingin kutanya apakah kalian ini Bok Jisia, murid kakakku Oh Kay-gak serta Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling murid Han-bwe-kokcu Bwe-hiang-sian-ki?"

Suaranya ringan dan santai, tapi dalam pen-dengaran Ji-sia dan Yong-ling cukup membuat air muka mereka berubah hebat.

Tiba-tiba Ji-sia seperti mendengar pula suara seorang yang mengenaskan bergema di sisi telinga-nya.

"......Bok Ji-sia, Samteku Oh Kay-thian ada-lah manusia paling licik, dia berilmu tinggi. Kung-fumu sekarang bisa dijejajarkan dengan jago silat nomor satu dewasa ini, bila kau bertemu dengan dia, lebih baik kau hindari saja, kalau tidak....."

Ji-sia terkesiap dan berpikir.

"Habislah sudah, kalau dia berniat untuk merampas ruyung Jian-kim-si-hun-pian, sudah pasti kami berdua bukan tandingannya, apalagi kepandaiannya menggunakan racun...."

Meski takut, Ji-sia tidak perlihatkan pada wa-jahnya, ia tetap bersikap dingin dan bertanya dengan ketus.

"Ada urusan apa kau menghadang jalan kami?"

Fajar sudah mulai menyingsing di ufuk timur, di antara remang cuaca, Bok Ji-sia dapat me-lihat jelas tampang Oh Kay-thian, dia mengenakan jubah panjang berwarna biru, mengenakan ikat ke-pala, muka putih dan mata memancarkan sinar tajam.

Sayang alis matanya tebal seram, bibir tipis melambangkan kelicikan dan kemunafikan, sekulum senyuman selalu menghiasi ujung bibirnya, senyum-an yang berbahaya, membuat orang sukar menduga isi hatinya.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa ringan, lalu sahutnya.

"Hah, tampaknya, kakakku memang pintar mencari seorang ahli waris semacam dirimu, ia betul-betul bisa mati dengan hati tenteram. Se-karang sengaja kudatang kemari untuk mengajakmu merundingkan suatu persoalan."

Meskipun Bok Ji-sia sangat membencinya dan ingin membunuhnya, tapi sebagai seorang yang cer-dik iapun tahu bahwa kepandaian sendiri masih bukan tandingannya, apalagi Oh Kay-gak almarhum berulang kali telah berpesan agar ia waspada, ma-ka sedapatnya anak muda ini menahan rasa den-damnya.

"Persoalan apa yang hendak dirundingkan?"

Tanyanya dengan dingin.

"Hendak kurundingkan soal ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian,"

Sahut Oh Kay-thian sambil ter-senyum.

"ketahuilah, ruyung itu mempunyai per-soalan besar dan bisa membikin celaka dirimu, aku tidak menakuti kau, bahwa dengan susah payah kakakku Oh Kay-gak telah mendidikmu, bila kau ter-timpa bencana akibat ruyung tersebut, bukankah hal ini sama artinya dengan menyia-nyiakan keinginan dan susah payah kakakku? Maka hendak kurundingkan persoalan ini, bagaimana kalau ruyung ini diserahkan saja kepadaku?"

Ji-sia tertawa hambar.

"Sewaktu Suhuku Oh Kay-gak menghadiahkan ruyung ini kepadaku, ber-ulang kali beliau telah berpesan agar tidak mem-pergunakannya secara sembarangan kecuali pada waktu membalas dendam, jadi tak mungkin soal munculnya kembali ruyung dalam dunia persilatan bisa tersiar, apalagi Suhu pun berpesan bahwa ruyung ini merupakan jiwanya yang kedua, ia minta kapadaku untuk menjaga ruyung ini sama penting-nya seperti menjaga nyawa sendiri."

Tiba-tiba Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian meng-hela napas panjang.

"Bok Ji-sia, tahukah kau asal-usul ruyung ini?"

"Tidak tahu, tapi bila kau mau memberitahu-kan padaku, tentu saja akan kuperhatikan baik-baik."

Sekali lagi Oh Kay-thian menghela napas pan-jang, katanya kemudian.

"Tahukah kau, mengapa kakakku Oh Kay-gak sampai menyekap diri selama delapan belas tahun dalam ruangan yang terpencil dan mati dalam kepedihan? Kau pasti mengira aku tak punya rasa persaudaraan dan mencelakai kakak sendiri bukan? Padahal bukan begitu hal yang sebenarnya...."

"Sebagaimana kau ketahui, kakakku Oh Kay-gak adalah seorang manusia cerdik berbakat alam, ilmu silatnya tinggi dan berbudi luhur, umat per-silatan sama menaruh hormat kepadanya, siapa sangka dia justeru menjadi celaka dan mati lanta-ran ruyung ini."

Ucapannya kedengaran menarik, andaikata Ji-sia dan Tong Yong-ling tidak menyaksikan sendiri kekejaman yang telah dilakukan olehnya, niscaya kedua orang itu akan termakan oleh perkataannya dan menaruh simpati padanya.

"Hmm, rupanya kau seorang yang baik hati"

Ejek Ji-sia.

"semua perbuatan dan tingkah lakumu sudah cukup jelas, memangnya bisa palsu? Tentang guruku, bila ada kesempatan di kemudian hari pas-ti akan kuselidiki hingga jelas, pada waktunya nanti pembalasan dendam tentu tak terhindar. Bi-la sekarang kau ingin membunuh orang untuk me-lenyapkan saksi dan merampas ruyung Jian-kim-si-hun-pian, kami berdua siap menghadapimu."

Oh Kay-thian sedikitpun tidak gusar oleh sin-diran tersebut, justru di sinilah letak kelihayannya.

"Kau jangan salah paham,"

Katanya lembut.

"aku hanya mengajakmu berunding dan sengaja kubeberkan tentang untung-ruginya menyimpan ru-yung tersebut, soal akan kau serahkan kepadaku atau tidak, terserah padamu sendiri, kau harus tahu ruyung ini menyangkut suatu pembunuhan ber-darah yang keji, bila senjata ini sampai muncul kembali dalam dunia persilatan, pergolakan besar pasti akan terjadi, apalagi bila diketahui ruyung ini berasal dari tangan kakakku, nama baiknya di masa lalu pasti akan menjadi rusak sama sekali."

Ji-sia terkejut mendengar perkataan itu, pikir-nya.

"Bila dilihat dari ungkapan perasaan menjelang kematian Suhuku, tampaknya rasa dendam yang mencekam perasaannya selama ini memang me-nyangkut ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian ini, kalau begitu peristiwa tersebut memang betul da-pat mempengaruhi nama baiknya......"

Karena Ji-sia merasa berhutang budi kepada Oh Kay-gak, ia tak rela membiarkan nama baik-nya menjadi rusak akibat ruyung ini. Mendadak satu ingatan terlintas dalam benak-nya, kembali ia berpikir.

"Bila Suhu beranggapan ruyung ini bisa mempengaruhi nama baiknya, ke-napa beliau meminta aku melindungi ruyung ini dengan segenap jiwa raga? Konon ruyung ini menyangkut sejumlah mestika yang menggetarkan hati setiap orang persilatan, aku harus waspada, dan jangan sampai kena ditipu bajingan ini Berpikir demikian, ia lantas berkata.

"Aku berhutang budi setinggi bukit kepada Suhu, setelah ia menghadiahkan ruyung kepadaku berarti segala akibatnya telah diperhitungkannya, jika seperti apa yang kau ucapkan, ruyung ini menyangkut urusan guruku, maka sekalipun harus menyeberangi lautan api akan kutanggung segalanya, tapi kalau menyu-ruh kuserahkan ruyung ini kepada orang lain, tak mungkin kulakukan."

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tidak terpengaruh oleh perkataan itu, katanya lagi sambil tertawa.

"Baiklah, kalau kau tidak percaya akupun tak bi-sa berbuat apa-apa, aku tak ingin mengganggu le-bih lanjut, semoga saja ruyung itu bisa kau simpan baik-baik dan jangan biarkan orang persilatan me-ngetahui hal ini, kalau tidak, bencana besar pasti berada di ambang pintu. Nah, mohon diri dulu."

Habis berkata Oh Kay-thian memutar tubuh dan berlalu dari situ, sekejap saja ia telah lenyap di balik remang pagi.

Tindakan Oh Kay-thian yang pergi tanpa me-lakukan sesuatu tindakan membuat tertegun Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling.

Terbayang kembali apa yang dialaminya selama beberapa bulan ini, sungguh seperti mimpi saja, ter-utama perjumpaannya dengan Oh Kay-thian hari ini, ucapan serta tingkahnya menimbulkan macam-macam pikiran dalam benaknya.

Padahal, mereka tidak tahu sebabnya Oh Kay-thian tidak turun tangan keji kepada mereka hari ini adalah karena ilmu jahat yang sedang dilatih-nya belakang ini belum mencapai kesempurnaan.

Selain itu, dia tak pandang sebelah mata kepa-da Bok Ji-sia, ia yakin ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian akhirnya akan jatuh ke tangannya, maka ia tidak melakukan tindakan apa-apa hari ini.

Tong Yong-ling menghela napas memecahkan pergolakan pikiran Ji-sia, ujarnya.

"Bok-siangkong, tak perlu kita pikir lagi, mari berangkat ke ba-ngunan itu."

Ji-sia menghela napas sedih, gumamnya.

"Du-nia persilatan memang arena adu kelicikan dan ke-pandaian, semua hal sukar untuk diduga."

Setelah menghela uapas, kedua orang itu me-ngerahkan ilmu meringankan tubuh dan cepat ber-angkat ke bangunan aneh di barat-daya itu.

Tak lama kemudian, Ji-sia berdua tiba di tem-pat tujuan, tapi apa yang terlihat membuat mereka tertegun.

Ternyata berpuluh orang jago persilatan dari empat penjuru telah berkumpul di situ.

Apalagi setelah menyaksikan kawanan jago yang berada di sekeliling tempat itu, dadanya serasa dipukul oleh martil, bukan karena takut kepada kawanan jago itu, tapi ia bergidik atas bahayanya dunia persilatan serta cepatnya berita itu tersiar.

Di sebelah barat, tampak rombongan Thian-seng-po dipimpin langsung oleh Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat, ia berdiri didampingi Im-hong-siu (kakek angin dingin) Kui Kok-hou, Mo-in-jiu (tangan sakti peraba awan) Kok Siau-thian, juga si kakek berwajah seram dan sekawanan laki-laki berbaju ringkas.

Di sebelah selatan, tampak rombongan Kiam-hong-ceng yang dipimpin oleh Huan-in-kiam Lam-kiong Giok didampingi Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng, Hek-to-su-koay beserta kedua puluh empat laki-laki dari Kiam-hong-ceng serta kawanan jago golongan hitam anak buah keempat manusia aneh itu.

Di sebelah timur, tampak sekawanan jago per-silatan yang terdiri dari aneka macam manusia, ada jago dari golongan putih ada pula jago-jago dari Bu-lim-su-toa-to, tapi pimpinan keempat pulau be-sar sendiri tak nampak batang hidungnya.

Kawanan jago persilatan itu biasanya sangat jarang bertemu satu sama lain, masing-masing pun menjagoi daerahnya sendiri-sendiri, mereka berkum-pul semua di sini sekarang, tapi tak seorang pun di antara mereka yang berbicara.

Dangan langkah perlahan Ji-sia dan Yong-ling maju ke depan melalui arah selatan di mana ka-wanan jago Kiam-hong-ceng berada.

Melihat kemunculan kedua orang ini, Huan-in-kiam Lamkiong Giok terbahak-bahak.

"Hahaha, saudara Bok, nona Tong, rupanya kalian juga ikut meramaikan suasana di sini? Hahaha, sungguh tak terduga! Sungguh tak terduga semua orang akan menghadiri pertemuan besar ini."

Oh Ku-gwat dari Thian-seng-po merasa terke-jut setelah menyaksikan kemunculan muda-mudi itu, tapi dia adalah seorang yang licin, sambil tertawa katanya.

"Bok-siauhiap, nona Tong, sejak kapan kalian datang kemari? Hahaha, kalian benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa, sungguh mem-buat orang kagum."

Selapis hawa membunuh segera menyelimuti wajah Bok Jisia berdua begitu berjumpa dengan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat "Oh Ku-gwat,"

Kata Ji-sia dengan geram.

"se-bentar kalian akan tahu bahwa pembalasan keji segera akan tiba, sekarang kuberi kesempatan lagi kepadamu untuk hidup beberapa waktu lagi."

Oh Ku-gwat tersenyum, katanya "Bok-siau-hiap, kita adalah sahabat lama, masa baru berte-mu lagi sudah kau lontarkan kata-kata tak sedap seperti itu?"

Betapa senangnya Lamkiong Giok demi mengetahui kedua orang itu mempunyai perselisihan dengan pihak Thian-seng-po, pikirnya.

"Tampaknya kedua orang tenaga pembantu yang berharga ini akan menjadi milikku, hahaha, kalau begitu, posisiku hari ini jelas akan mengalami perubahan....."

Berpikir demikian, ia lantas menghampiri anak muda itu, sambil menjura dan tertawa katanya.

"Saudara Bok, bila kalian berdua bersedia membantu kami, ucapan semalam pasti akan kami laksanakan menurut janji!"

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat terkesiap mellhat Lamkiong Giok menarik kedua orang itu ke pihak-nya, ia tahu kelihaian kedua orang muda mudi itu, jika sampai berpihak kepada lawan, itu berarti pi-hak sendiri akan terancam.

Cepat ia tertawa, serunya.

"Lamkiong Giok, sekalipun kau peroleh bantuan mereka berdua juga percuma, ketahuilah Thian-seng-po letaknya hanya beberapa jengkal dari sini, sebagian besar jago kamipun belum dikirim kemari, hahaha, kalian orang Kiam-hong-ceng sudah ditakdirkan akan tertumpas hari ini."

Yang dikuatirkan Lamkiong Giok selama ini justeru letak Thian-seng-po yang dekat dari situ, kalau tidak, posisinya sekarang jelas sudah lebih unggul dari pihak mana pun.

Sekalipun terkesiap di dalam hati, tapi dasar licin, ia tidak memperlihatkannya, sambil tertawa katanya.

"Ah, cepat atau lambat pertarungan seru akan terjadi juga antara Thian-seng-po dengan Kiam-hong-ceng."

"Tak kusangka di wilayah kekuasaan Thian-seng-po ada orang yang berani demikian takabur. Hm, tidakkah orang Kiam-hong-ceng terlampau jumawa?"

Ujar Oh Ku-gwat dengan tersenyum. Tok-sim Siu-su Bu Yang-hong tertawa dingin, sindirnya tiba-tiba.

"Memangnya tanah pekuburan umum ini adalah tempat khusus untuk mengubur orang-orang Thian-seng-po."

"Bu Yan-hong!"

Kakek di belakang Oh Ku-gwat berseru dengan suara yang menyeramkan.

"bila kalian ingin terkubur di sini, dengan senang hati orang Thian-seng-po akan mengalah untukmu."

Mendadak dari luar halaman berkumandang suara gelak tertawa macam gembreng pecah yang keras, menyusul sesosok bayangan bagaikan setan gentayangan bergerak datang dari arah timur.

Orang itu berperawakan tubuh tinggi besar de-ngan dada yang bidang dan pinggang yang kasar, rambutnya terurai sepanjang bahu terikat dengan sebuah gelang emas, wajahnya bercambang hingga terbentuk kuncir-kuncir kecil, ditambah matanya besar dan mulutnya lebar hingga kelihatan angker dan mengerikan.

Rombongan orang di sebelah timur yang se-mula terkulai lemas segera bersemangat kembali se-telah kemunculan orang ini, sebaliknya air muka rombongan Lamkiong Giok dan Oh Ku-gwat sa-ma-sama berubah hebat.

Sambil tertawa Busian Gisu Kwanliong Ciong-leng segera memberi hormat kepada orang itu sam-bil berseru.

"Saudara In, baik-baikkah selama ini? Masa dari pihak keempat pulau besar hanya kau saja yang datang?"

Ternyata manusia aneh yang bertubuh kekar ini tak lain adalah salah satu di antara keempat pemilik pulau terbesar yang termashur di dunia per-silatan, Cian-ciau-tocu, Ciu-siu-thi-say (singa baja bercambang) In Ceng-bu adanya.

Cian-ciau Tocu, Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu de-ngan matanya yang besar dan memancarkan sinar tajam memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil tertawa katanya.

"Ada apa? Jadi kalian menyambut dengan hormat kedatanganku? Hahaha, saudara Kwanliong, perhitunganmu jangan cuma mau untung sendiri, walaupun dari empat pulau besar hanya diriku seorang yang datang, ini saja sudah lebih dari cukup."

Sejak tadi Bok Ji-sia sudah tak sabar mende-ngarkan pembicaraan yang tiada hentinya itu, ka-tanya segera.

"Nona Tong, mari kita ke sana!"

Dengan langkah lebar pemuda itu berjalan masuk ke bangunan yang kuil bukan kuil itu, ter-nyata di dalam adalah sebuah kuburan kuno yang terbuat dari batu hijau.

Ketika Lamkiong Giok melihat Bok Ji-sia ma-suk ke situ, tiba-tiba ia memberi komando.

"Bok-siauhiap sudah tak sabar menunggu, ayo lekas ka-lian turun tangan membongkar kuburan itu!"

Empat orang laki-laki berbaju hitam segera muncul dengan membawa alat cangkul, dengan en-teng mereka berkelebat menuju ke ruang dalam.....

Ciu-siu-thi-say adalah seorang laki-laki kasar yang tinggi hati, ketika dilihatnya Bok Ji-sia bersikap angkuh dan tak pandaag sebelah mata ke-padanya, bahkan masuk ke ruang tengah tanpa menggubris yang lain, dengan gusar segera mem-bentak.

"Bocah cilik, besar amat nyalimu, ayo ber-henti!"

Tubuhnya yang tinggi besar itu secepat kilat menerjang ke belakang Bok Ji-sia.....

Terhadap tubrukan tersebut, Ji-sia sama sekali tak peduli, ia tunggu Ciu-siu-thi-say sudah dekat di belakang baru membentak.

"Mundur kau!"

Dengan, suatu gerakan indah ia memutar tubuh sambil melancarkan bacokan dengan tangan kanan......

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu sudah terbiasa meng-umbar kebengisannya, hakikatnya ia tak pandang sebelah mata terhadap Ji-sia, maka sama sekali ti-ada persiapan dalam serangannya.

Ketika dirasakan ada sesuatu tak beres dari serangan lawan, keadaan sudah terlambat, seketika tubuhnya yang tinggi besar termakan oleh pukulan yang maha dahsyat itu, kontan ia tergetar mundur tujuh delapan langkah.

Belum pernah Ciu-siu-thi-say dipecundangi orang di muka umum, apalagi dipaksa mundur oleh se-orang pemuda tak ternama, meski hal ini disebab-kan kurang waspada, tapi karena malu dan gusarnya gembong iblis itu segera membentak, sambil melompat ke muka, telapak tangan kanannya segera melancarkan bacokan.....

Tiba-tiba bergema empat kali jeritan ngeri.

Kiranya pada waktu keempat orang berbaju hitam dan Kiam-hong-ceng hendak mencangkul batu nisan kuburan, mendadak terhembus keluar segulung angin pukulan berhawa dingin yang sangat aneh, keempat orang itu terpental keluar dari ruang tengah, bah-kan menghancurkan tulang dada mereka, darah berhamburan, kematiannya sangat mengerikan sekali.

Kejadian mendadak ini mengejutkan kawanan jago lainnya, serentak mereka mengerubung ke de-pan.

Tapi di sana hanya terdapat sebuah kuburan kuno yang amat besar, tidak tampak tempat sem-bunyi lain.

Lamkiong Giok berkerut dahi, serunya.

"Jago lihai darimanakah yang bersembunyi di situ dan me-lukai orang, kenapa tidak unjukkan dirimu?"

Kawanan jago yang berkumpul tak ada yang menyangka angin pukulan aneh tersebut memang berasal dari dalam kuburan itu.

Ketika bentakan Lamkiong Giok reda, suasana dalam ruangan masih tetap hening....

Puluhan pasang sinar mata tajam dari kawan-an jago persilatan itu sama-sama berpindah ke se-keliling ruang tengah, tapi di sana tiada suatu tem-pat pun yang bisa digunakan orang untuk bersem-bunyi, malah ruangannya kosong, tak tampak se-sosok bayangan pun.

Sambil tertawa dingin Lamkiong Giok kembali membentak.

"Kalau kau adalah manusia yang pu-nya kepala dan muka, seharusnya tampilkan diri-mu, buat apa main sembunyi sambil melukai orang?"

Suasana dalam ruangan masih tetap hening dan menyeramkan.

Tampaknya kemarahan, Lamkiong Giok sukar dibendung lagi, tapi dasar wataknya licik, tak per-nah perasaan tersebut ia ungkapkan, mendadak pe-rintahnya kepada anak buahnya.

"Kirim empat orang lagi untuk membongkar kuburan itu!"

Keempat orang segera tampil ke depan dan mengambil alih alat cangkul dari tangan keempat rekannya yang telah tewas, kemudian pelahan me-reka naik ke atas undak-undakan batu dan masuk ke ruang tengah yang mengerikan itu.

Sekalipun sikap keempat orang itu menampil-kan keberanian, sesungguhnya dalam hati mereka tercekam pula oleh perasaan ngeri, tapi peraturan Kiam-hong-ceng sangat keras, hal mana membuat mereka mau-tak-mau harus melaksanakan perintah.

Dalam pada itu, kawanan jago persilatan yang berkumpul di luar ruangan telah membentangkan mata lebar-lebar, mereka awasi gerak-gerik keempat orang yang memasuki ruangan dan berhenti di de-pan kuburan tersebut, namun suasana di sana tetap hening, tak terdengar sedikit, suara pun.

Mendadak dua orang mengangkat martil besar dan dihantamkan pada batu nisan kuburan.....

Pada saat martil hampir menghantam di atas batu nisan itulah, mendadak terdengar lagi empat kali jeritan ngeri.

Keempat laki-laki kekar yang berdiri di depan batu nisan itu mencelat keluar ruangan.

Suasana menjadi gempar, kawanan jago per-silatan yang berkerumun serentak menyingkir.

"Brak! Brak!"

Seperti juga keempat orang tadi keempat orang ini menemui nasib yang sama dan tewas secara mengerikan......

Peristiwa ini membuat kaget kawanan jago persilatan lainnya, sebab kematian keempat orang ini persis seperti keempat korban pertama, padahal semua orang telah memperhatikan darimana arah da-tangnya serangan itu, tapi nyatanya tidak seorang pun yang tahu.

Pada hakikatnya serangan itu berhhembus datang tanpa bersuara, yang lebih mengerikan lagi adalah waktu, tempat, kekuatan serta ketepatan sasarannya tak berbeda sedikitpun dengan kematian yang me-nimpa keempat orang pertama tadi.

Dari sini terbuktilah betapa tinggi dan lihainya ilmu silat orang itu, sudah barang tentu kawanan iblis dan jago silat yang hadir dapat merasakan pula.

Tiba-tiba Lamkiong Giok mendapat akal, sam-bil tertawa katanya.

"Tadi kita masih saling mem-perebutkan pusaka Hian-ki-hian-cing, sekarang kita tak perlu saling berebut lagi, asal ada seorang di antara kita dapat menghancurkan batu nisan ini, maka mestika itu akan menjadi bagiannya, yang lain tidak diperkenankan merebutnya, entah bagai-mana pendapat kalian semua?"

"Hahaha, usul yaog bagus!"

Seru Oh Ku-gwat dengan tergelak.

"ucapan Lamkiong-lote memang cocok dengan suara hatiku!"

"Untuk mendapatkan harta pusaka Hian-ki-hian-cing, kurasa saudara semua pasti ingin cepat-cepat turun tangan bukan? Nah, demi kepentingan umum dan untuk menghindari perebutan yang tak berguna, pihakku bersedia mengalah lebih dahulu."

"Lamkiong-lote"

Kata Oh Ku-gwat sambil tersenyum.

"sedari kapan kau begitu sungkan? Kami terhitung tuan rumah di sini, sudah sepantasnya aku yang mengalah kepada kalian, kupikir lebih baik kalian saja menikmati hak untuk turun tangan le-bih dahulu!"

Sebagaimana diketahui, kawanan manusia per-silatan itu rata-rata adalah berhati licik yang berkumpul dari pelbagai daerah, setiap orang bertekad mendapatkan mestika tersebut, tentu saja tak ada yang rela membiarkan orang lain turun tangan duluan.

Tapi setelah menyaksikan kematian kedelapan orang Kiam-hong-ceng, dalam hati mereka mulai menduga bahwa isi kuburan jangan-jangan sudah didapatkan orang lain lebih dulu.

Lamkiong Giok yang licik dan memang mu-suh bebuyutan Thian-seng-po segera mendapat akal untuk meminjam kekuatan manusia aneh itu untuk menumpas lawan-lawannya, habis ini baru ia akan turun tangan untuk membereskan yang lain.

Berpikir demikian, dengan tertawa dingin Lam-kiong Giok lantas berkata.

"Oh Ku-gwat, jangan menyesal nanti, memangnya kau kira aku tak mampu membobol kuburan itu?"

Baru habis perkataannya, tiba-tiba terdengar lagi serentetan jeritan ngeri.

Delapan sosok mayat kembali terlempar keluar dari dalam.

Kiranya pada waktu mereka sedang berbicara orang Bu-lim-su-toa-to bermaksud menghancurkan kuburan itu, tapi alhasil mereka pun menemui kematian secara mengerikan.

Peristiwa ini semakin mengejutkan orang, se-bab kali ini ada delapan orang yang maju bersama tapi baru mendekati batu nisan mereka telah tewas secara aneh, bahkan kalau dilihat tanda kematian mereka ternyata berbeda dengan kedelapan orang Kiam-hong-ceng.

Tubuh mereka sama sekali tidak berluka, hidung dan mulut pun tak berdarah, hanya wajah mayat itu berwarna pucat pasi.

Ji-sia dan Yong-ling tak kenal apa artinya ta-kut, tidak urung kali ini mereka pun terkesiap oleh kelihaian orang.

"Bok-siangkong,"

Kata Yong-ling.

"apakah hhembusan angin pukulan yang aneh itu berasal dari da-lam kuburan?"

Ji-sia berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Kukira mestika dalam kuburan itu telah diambil orang, kalau tidak, masakah ada yang memiliki ilmu silat setinggi itu?"

"Bok-siangkong, maksudmu ilmu silat orang dalam kuburan itu sudah melebihi jago kelas satu mana pun di kolong langit?"

"Belum tentu demikian...."

Ji-sia geleng ke-pala berulang kali.

Sebenarnya ia hendak mengatakan bahwa kung-fu Oh Kay-gak dapat menangkan ilmu silat orang dalam kuburan itu, tapi di antara kerumunan jago silat yang begitu banyak, ia menjadi waspada dan urung bicara.

Cian-ciau Tocu, Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu yang kena dipukul mundur beberapa langkah oleh Ji-sia tadi, hingga kini masih mendongkol, maka ketika mendengar perkataan tersebut, diliriknya sekejap anak muda itu dengan pandangan dingin, kemudian sindirnya.

"Entah jagoan dari manakah saudara itu, sungguh luas pengetahuanmu, maaf jika aku bersi-kap kurang hormat."

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling meliriknya, lalu mendengus.

"Huh, padi sebukit tak bisa menindih mampus seekor tikus, sekalipun tubuhnya segede kerbau ta-pi otaknya bebal, apa gunanya.....?"

Ia memaki.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu adalah seorang Tocu kenamaan di dunia persilatan, tentu saja ia tak ta-han mendengar dampratan Tong Yong-ling itu, sambil meraung keras mendadak ia melancarkan puku-lan kosong dari kejauhan.

Sungguh amat tepat pukulannya itu, segulung angin dahsyat langsung menghantam tubuh Tong Yong-ling.

Dari desing yang menyambar datang, Yong-ling tahu pukulan itu berkekuatan sangat besar, baru saja ia hendak berkelit, tiba-tiba Ji-sia mem-bentak keras.

"Hm, mentang-mentag seorang laki-laki, beraninya cuma main sergap terhadap seorang peren puan, tak tahu malu..."

Dengan tangan kiri ia menarik lengan Tong Yong-ling, sambil bergeser ke samping, telapak ta-ngan kanannya melepaskan pukulan balasan.

Semenjak memperoleh warisan tenaga Oh Kay-gak, tenaga dalam Bok Ji-sia kian hari kian ber-tambah maju, serangan itu membentur pukulan In Ceng-bu.

Ketika kedua gulung tenaga pukulan yang kuat itu bertemu, timbul pusaran angin yang menerbang-kan debu pasir.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu mendengus, ia ter-getar mundur tiga langkah, sementara Ji-sia masih berdiri tegak di tempat semula.

Adegan ini amat mengejutkan kawanan jago persilatan yang hadir, air mnka mereka berubah he-bat.

Kalau tadi In Ceng-bu terpukul mundur ka-rena kurang waspada, maka mundurnya kali ini akibat adu kekuatan, dari sini menunjukkan bahwa tenaga pukulannya masih kalah bila dibandingkan dengan Ji-sia.

Perlu diterangkan, bahwasanya In Ceng-bu ter-sohor dalam dunia persilatan karena pukulannya yang tangguh, tapi sekarang ia dipaksa mundur pukulan Ji-sia yang dilepaskan seenaknya, siapa yang tidak terkejut dibuatnya?

Lamkiong Giok berkerut kening dan memandang awan di angkasa, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

Betapa hangat dan mesranya perasaan Yong-ling melihat pemuda itu melindunginya, lebih ter-getar lagi hatinya ketika lengan kanannya ditarik, coba kalau di situ tidak banyak orang, tentu ia su-dah menjatuhkan diri ke dalam pelukan Jisia.

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong dari Hek-to-su-koay sangat dendam kepada Ji-sia, kalau bisa dia ingin menggunakan tenaga orang banyak untuk membinasakannya, ketika dilihatnya In Ceng-bu mengunjuk rasa jeri kepada pemuda tersebut, tiba-tiba ia melirik dan menyindir.

"Saudara In, kulihat tenaga pukulanmu kian lama kian bertambah sempurna, sungguh mengagumkan sekali!"

Orang ini memang berakal busuk, ketika di-ketahui kawanan jago yang hadir sama bermusuhan, tampaknya pertarungan sengit sukar terelakkan, maka dicarilah akal untuk mengobarkan api per-tarungan, agar orang lain bertempur dulu sampai lelah, kemudian dengan kekuatan sendiri yang ma-sih segar, berusaha merebut kemenangan terakhir.

Waktu itu Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu sedang gusar dan tak ada tempat penyaluran, mendengar ucapan Bu Yan-hong, dianggapnya orang sedang menyindirnya, kontan ia naik darah.

""Persoalannya dengan orang she In pasti akan kubikin beres nanti,"

Katanya dengan geram.

"tapi cara saudara Bu bicara sungguh membuat orang tak tahan, ayolah unjukkan kebolehanmu, dengan taruhan nyawa pasti akan kuiringimu."

Thian-kang kiam Oh Ku-gwat melihat ada kesempatan baik dan segera memanfaatkannya, da-sar licik, melihat dua jago lihai itu bercekcok, ce-pat-cepat ia menimbrung.

"Kalau kalian berdua ingin berkelahi, cepatlah dilangsungkan, kuyakin perta-rungan isi pasti suatu pertunjukan yang mena-rik..."

"Mana, mana,"

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong ter-senyum.

"sekalipun saudara Oh berusaha menyiram minyak untuk mengobarkan api amarah juga per-cuma, tak nanti kau menjadi nelayan yang mujur."

Muak rasa hati Ji-sia menyaksikan kelicikan orang-orang itu, maka setelah memukul mundur In Ceng-bu, ia berpaling ke arah lain dan tak sudi memperhatikan orang-orang itu lagi.

Tiba-tiba Lamkiong Giok berseru lantang.

"Se-karang lebih baik kalian jangan terlibat dalam per-sengketaan pribadi, selesaikan dulu masalah besar di depan mata, kemudian baru menyelesaikan ma-salah budi dan dendam."

"Lamkiong Giok, masalah besar apa yang kau -maksudkan?"

Tanya Tong Yong-ling lantang.

"Nona Tong, saudara Bok, kalian tentu tahu bahwa kungfu orang dalam kuburan itu lihai se-kali, kemungkinan besar kitab pusaka Tay-khek-hian-ki-hian-ceng serta pil mestika Ji-khi-kun-goan-sin-wan telah ditemukan orang itu. Jika manusia ini dibiarkan muncul ke dunia persilatan, sudah pasti kita akan mengalami banyak rintangan. Me-nurut dugaanku, orang itu pasti sedang berlatih suatu macam ilmu, mumpung ada kesempatan baik, mari kita beramai-ramai melenyapkan orang ini daripada meninggalkan bibit bencana di kemudian hari."

Ji-sia sangat tidak setuju dengan usulnya yang keji dan jahat itu, pikirnya.

"Mestika hanya dibe-rikan bagi mereka yang berjodoh, kalau memang mestika tersebut telah didapatkan orang itu lebih dulu, tidak sepantasnya kita merintangi pertapaan orang, apalagi melenyapkan orang tersebut...."

Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng terperanjat juga atas terjadinya perubahan yang tak terduga ini, betapa cerdiknya tak dapat menebak siapakah orang yang mujur tersebut?

Pada dasarnya ia memang seorang manusia li-cik, bergelak tertawalah dia, katanya.

"Saudara-saudara sekalian, apa yang diucapkan saudara Lam-kiong memang benar, kedatangan kita sebenarnya adalah untuk mendapatkan kitab Hian-ki-hian-ceng, tapi sekarang telah ditemukan orang, terbukti ilmu silatnya memang tinggi dan tindak tanduknya ke-jam, siapa yang berani menjamin bahwa orang ini tak akan menekan kita di kemudian hari? Maka satu-satunya cara yang paling baik sekarang adalah harus kita bekerja sama untuk melenyapkan orang dalam kuburan ini dari muka bumi."

Oh Ku-gwat tersenyum, tiba-tiba ia bertanya.

"Apa yang diucapkan saudara Kwanliong memang benar, tapi bersediakah semua orang bekerja sama?"

Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang dari Hek-to-su-koay tertawa terkekeh-kekeh.

"Hehehe, paling-paling yang tak sudi bekerja sama adalah komplotan dari Thian-seng-po. Hm, terus terang, jika kalian enggan bekerja sama guna menghancurkan kuburan ini, maka pusaka yang akan diperoleh tiada bagian lagi untuk kalian."

"Mana, mana!"

Oh Ku-gwat tertawa.

"perselisihan antara Thian-seng-po dan Kiam-hong-ceng disebabkan oleh urusan adikku Oh Kay-gak, dengan diriku sendiri sama sekali tiada sangkut paut apa-pun, kalau Lamkiong-siauya mau bekerja sama de-nganku, sudah barang tentu pucuk dicinta ulam ti-ba bagiku."

Selesai berkata Oh Ku-gwat memimpin orang-orang Thian-seng-po segera bergerak dari sisi kiri menuju ke ruang tengah.

Lamkiong Giok, Hek-to-su-koay dan Bu-sian Gisu sekalian orang-orang dari Kiam-hong-ceng pun dari sebelah kanan mendekati ruang itu.

Sementara Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu beserta sekalian anggota Su-toa-to dan jago persilatan tanpa kelompok bergerak dari arah tengah.

Dalam waktu singkat, segenap jago yang hadir telah bergerak maju mendekati kuburan kuno di te-ngah ruangan, suasana menjadi tegang, hanya Ji-sia dan Yong-ling berdua masih tetap berdiri di tempatnya semula.

Sekejap kemudian semua orang sudah naik anak tangga batu dan berhenti lebih kurang tiga tombak di depan kuburan kuno itu.

Tampaknya semua orang masih merasa jeri terhadap ilmu silat manusia aneh dalam kuburan, semua orang tak ingin turun tangan secara gegabah dan menjadi pembuka jalan bagi rekan-rekannya.

Dengan suara lantang Lamkionig Giok berseru ke arah kuburan kuno itu.

"Siapakah yang berada di dalam kuburan? Bila tak mau unjuk diri lagi, jangan salahkan kami yang hendak menghancurkan kuburan ini."

Suasana tetap hening, dari balik kuburan ku-no itu belum juga kedengaran suara apapun.

Mendadak Lamkiong Giok mengayun tangan kanan dan melepaskan pukulan dari jarak jauh.

Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat sege-ra menerjang ke arah batu nisan.

Baru saja angin pukulan yang dahsyat itu hendak menghantam batu nisan, mendadak Lamkiong Giok melompat ke samping.

Pada saat itulah dua orang laki-laki berbaju hitam yang berdiri di belakang Lamkiong Giok sa-ma menjerit dan roboh binasa.....

Kejadian ini disambut dengan gempar oleh kawanan jago persilatan yang berada di sekeliling ruangan itu, dalam keadaan kacau serentak mereka mengundurkan diri dari sana.

Lamkiong Giok melirik sekejap kedua sosok mayat yang menggeletak di tanah itu, pikirnya.

"Sungguh berbahaya!"

Kiranya sewaktu pukulannya hampir menghan-tam pada batu nisan tadi, mendadak terasa ada desing angin yang sangat kuat menhembusi telapak tangannya.

Sebagai seorang yang cerdik, buru-buru ia menghindar ke samping sementara kedua orang anak buahnya harus berkorban sebagai tumbal.

Sekalipun diam-diam ia terkejut oleh kehebat-an ilmu silat orang, tapi hawa amarah yang ber-kobar pun tak terkendalikan, sambil tertawa dingin, sekali lagi ia melepaskan pukulan dahsyat ke arah batu nisan.

Kali ini bukan cuma dia seorang yang melancar-kan serangan, hampir bersamaan waktunya Hek-to-su-koay, Ciu-siu-thi-say, Oh Ku-gwat, Im-hong-siu dan Me-in-jiu belasan orang sekaligus ikut melepas-kan pukulan dahsyat ke arah batu nisan yang be-sar itu.

Sungguh hebat tenaga gabungan orang banyak itu, angin pukulan yang dahsyat serentak menggu-lung ke depan dan menghantam batu nisan.

"Brang!"

Batu nisan itu hancur berkeping-keping.

Pada saat itulah dari balik kuburan tiba-tiba berkumandang suara tertawa seram menggidikkan, suara itu seperti suara perempuan tua yang me-nangis, seperti juga jerit monyet yang memilukan hati.......

Setelah jeritan aneh tadi sirap, suasana pulih kembali dalam keheningan.

Kini batu nisan telah hancur, keadaan dalam kuburan itu tampak remang gelap, sekalipun pada pagi hari, tetap sukar melihat keadaan dalam liang kubur itu.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras, serentak kawanan jago persilatan itu berebut melompat ma-suk ke dalam liang kubur itu....

Tapi menyusul serentetan jeritan ngeri lantas bergema.

Puluhan jago persilatan yang berada paling de-pan, seperti daun kering yang terhhembus angin mu-sim gugur, satu persatu rontok ke atas tanah.

Perubahan mendadak di luar dugaan ini se-ketika membuat kawanan jago persilatan yang lain menjadi tertegun dan berdiri terbelalak.

Suasana di ruangan itu seakan-akan menjadi beku, tegang dan berat, seperti ada sehelai jaring tak berwujud pelahan menyelimuti sekeliling tem-pat itu, wajah semua orang sama mengejang dan kaku oleh karena rasa ngeri yang kelewat batas.

Lamkiong Giok masih berdiri sekukuh bukit karang, sekalipun kaget dan ngeri oleh kejadian aneh tersebut, tapi pengalaman serta latihannya yang dilakukan setiap hari, membuat wajahnya tetap te-nang.

"Wahai jago lihai dalam kuburan, mengapa tidak menampilkan dirimu?"

Bentak Oh Ku-gwat.

"jika kau lukai orang dari tempat kegelapan dan tidak bersuara lagi, jangan menyesal jika kami tidak sungkan-sungkan lagi."

Suasana dalam kuburan masih tetap hening, hal mana segera membangkitkan kemarahan orang banyak, sambil membentak bayangan manu-sia berkelebat lewat.....

Puluhan sosok bayangan itu bersama-sama melompat ke arah kuburan, tapi sebelum mereka sem-pat melancarkan serangan, mendadak dari balik ku-buran kembali berhhembus keluar segulung angin di-ngin yang menusuk tulang.

Serentetan jeritan menyayat hati kembali ber-kumandang.

Dua puluhan orang segera mengeletak mati.

Ji-sia maupun Yong-ling yang berada di luar ruangan dapat menyaksikan kejadian tersebut, di-am-diam mereka pun ngeri, sebab ilmu silat orang itu betul-betul luar biasa.

Terdorong oleh rasa ingin tahu, kedua orang itu ikut melompat ke atas undakan batu dan ber-diri diantara kerumunan manusia.

Sampai waktu itu, sudah ada lima puluhan orang yang tewas di bawah serangan angin dingin tersebut, korban terdiri dari orang yang berasal da-ri ketiga kelompok.

Tiba-tiba dari balik kuburan berkumandang serentetan suara perempuan yang dingin.

"Pusaka Hian-ki-hian-cing serta pil Ji-khi-kun goan-sin-wan telah kudapatkan dua tahun yang lalu, bila kalian menghancurkan kuburan ini, maka semua orang yang hadir di sini jangan harap akan bisa pulang dengan hidup."

Semua orang tidak menyangka manusia aneh penghuni kuburan adalah seorang perempuan, tapi ketakaburan perempuan itu segera membangkitkan kemarahan kawanan jago itu.

Lamkiong Giok segera tertawa dingin, katanya.

"Sudah banyak orang yang kau bunuh, utang da-rah ini tak bisa diputuskan dengan begitu saja. Hmm, hari ini kami harus membinasakan dirimu di dalam kuburan ini."

Perempuan dalam kuburan itu sama sekali tak bersuara, suasana kembali hening.

"Hei, apakah kau malu bertemu dengan ma-nusia?"

Lamkiong Giok menjengek pula.

"kalau ti-dak, kenapa tidak berani unjukkan dirimu agar kami bisa melihat apakah kau berkepala tiga dan ber-tangan enam?"

Jilid 7 Tok-sim-siusu Bu Yan-hong yang licik tertawa seram dan menimbrung.

"Saudara Lamkiong, dugaanmu memang benar, mungkin perempuan itu te-lanjang bulat, maka tak berani menampakkan diri."

Mendengar ucapan tersebut, kontan semua orang bergelak tertawa. Singa baja bercambang In Ceng-bu dengan suaranya bagai gembrengan pecah ikut menimbrung.

"Tok sim-siusu, ucapanmu terlampau keji, bila ia menampakkan diri nanti, yang pertama dicari pasti kau!"

Bu Yan-hong bergelak tertawa "Hahaha, jika apa yang In-heng katakan benar, pasti akan kuajak perempuan setengah manusia setengah setan itu un-tuk mencari surga dunia, akan kucicipi bagaimana rasanya dia!"

Rupanya semua orang tahu perempuan itu menempati posisi yang lebih menguntungkan karena bersembunyi dalam kuburan, bila tidak dipancing keluar dengan kata-kata yang kotor, maka sukar melancarkan serangan kepadanya.

Tong Yong-ling adalah seorang gadis, wajahnya menjadi merah jengah mendengar kata-kata kotor tersebut.

Melihat itu, dengan dahi berkerut Bok Ji-sia lantas berpaling ke arah Lamkiong Giok sambil berkata.

"Saudara Lamkiong, kenapa mulut orang persilatan begitu kotor? Apakah mereka tidak me-rasa menurunkan martabat sendiri? Kalau mulutnya tetap tidak senonoh, akan kuberi hajaran kepada mereka."

"Saudara Bok,"

Sahut Lamkiong Giok sambil tertawa.

"mereka tidak sungguh-sungguh ingin bicara kotor, tujuannya hanya ingin memanaskan hati mu-suh belaka."

Perempuan aneh di dalam kuburan itu sungguh memiliki iman yang tebal, sekalipun disindir dengan kata-kata kotor, ia masih tetap membungkam dan bersembunyi dalam liang kubur, dalam keadaan be-gini sudah barang tentu kawanan jago lain tak be-rani sembarangan bertindak.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu memang sudah senti-men pada Bok Ji-sia, dengan gusar tiba-tiba ia berteriak.

"Bocah itu betul2 tak tahu diri, selalu suka mencampuri urusan orang lain."

"Saudara In, kalau begitu mari kita jagal sa-ja dia,"

Ucap Tok-sim-siusu Bu Yan-hong dengan tertawa seram.

"Kalau aku suka mencampuri urusan, mau apa kau?"

Ejek Bok Ji-sia. Sambil berkata, dengan suatu gerakan aneh ia menerjang maju, telapak tangan kanan segera di-ayun ke depan dan "plak-plok,"

Dua kali tamparan tepat mampir di muka Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu.

Selama hidup belum pernah In Ceng-bu diper-lakukan semacam ini, apalagi ditampar di hadapan orang banyak, peristiwa ini dianggapnya sebagai su-atu penghinaan besar.

Sambil membentak keras, telapak tangan ka-nannya dengan jurus Lip-pit-ngo-gak (membacok runtuh lima bukit) langsung menghantam kepala Bok Ji-sia.

Anak muda itu tertawa dingin, pergelangan ta-ngan kanan berputar, dengan jurus Kim-soh-poh-liong (tali emas mengikat naga) ia balas menceng-keram pergelangan tangan kanan In Ceng-bu, lalu ditariknya, mau-tak-mau tubuh Ciu-siu-thi-say pun ikut terseret ke depan.

Mendadak tenaga pukulan yang terhimpun da-lam telapak tangan Ji-sia dikerahkan.

Tanpa ampun tubuh In Ceng-bu mencelat ke udara oleh tenaga pantulan tersebut, masih untung ilmu silatnya cukup tangguh, hawa murni cepat di-himpun kemudian berjumpalitan di udara dan me-layang turun ke atas tanah dengan ringan.

Sekalipun ia terlempar ke udara, namun sama sekali tidak menderita luka barang sedikit pun.

Sesudah mementalkan tubuh In Ceng-bu, Bok Ji-sia mendorong pula telapak tangan kirinya ke depan, segulung tenaga pukulan yang kencang kem-bali menghantam tubuh Tok-sim-siusu.

Gerak tubuh Bok Ji-sia yang aneh tapi sakti membuat tercengang semua orang, tapi sikap pe-muda yang jumawa ini juga menimbulkan rasa ma-rah orang-orang itu.

Sejak pemuda itu memaki orang, diam-diam Tong Yongling sudah waswas, apalagi setelah me-nyaksikan ia menyerang dua orang itu, ia jadi kuatir.

Perlu diterangkan bahwa semua jago yang ha-dir saat itu hampir seluruhnya dendam kepada Bok Ji-sia, seandainya mereka sampai bekerja sa-ma untuk mengerubutinya, biar pemuda itu berilmu tinggi, tapi dua tangan sukar menahan empat kepalan, apalagi kawanan jago yang hadir ini rata-rata adalah jago kelas tinggi.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu kembali menerjang ke dapan, langsung ia menghantam dada Bok Ji-sia.

Serangan ini merupakan kepandaian andalan In Ceng-bu, dahsyat sekali tenaga pukulannya.

Setelah berulang kali memukul mundur musuh, Ji-sia rada memandang enteng musuhnya, tangan kiri yang menyerang Bu Yan-hong ditarik kembali dan digunakan menyambut serangan In Ceng-bu.

Ji-sia mengira bentrokan kali inipun pasti akan memukul mundur orang, siapa tahu kejadian sama sekali di luar dugaan.

Begitu telapak tangan saling bertemu, Ji-sia se-gera merasakan keadaan tidak beres, dia ingin me-ngerahkan tenaga untuk melawan, sayang terlambat.

Tenaga pukulan In Ceng-bu yang hebat itu mendampar hingga Ji-sia sempoyongan mundur empat lima langkah dari posisi semula.

Sebaliknya Cian-ciau-tocu, si singa baja ber-cambang In Ceng-bu merasakan pula tenaga tolakan yang aneh muncul dari balik telapak tangan lawan, walaupun Ji-sia dipaksa mundur empat-lima lang-kah, tapi In Ceng-bu sendiri pun tergetar mundur beberapa langkah dengan terkejut.

Diawasinya wajah Ji-sia dengan termangu, ia tak mengira pemuda yang tak ternama ini memiliki tenaga dalam sesempurna ini.

Padahal ia sudah menggunakaa hampir seluruh tenaganya, ia yakin musuh pasti terluka dan nama sendiri akan menonjol.

Nyatanya sekarang tenaga pukulan yang dilatih-nya selama puluhan tahun itu dapat ditangkis lawan dengan begitu mudah, sekalipun lawan kena dipaksa mundur beberapa langkah, tapi jelas diketahui Ji-sia belum menggunakan seluruh kekuatannya.

Tiba-tiba Bok Ji-sia menerjang maju dengan gusar, bentaknya.

"Sambut seranganku lagi!"

Dengan jurus Tui-san-tian-hay (mendorong bukit membendung samudra), ia bacok In Ceng-bu sekuatnya.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu juga menjadi gusar, sambil memutar telapak tangan kanan ia sambut pukulan tersebut dengan keras lawan keras.

"In-heng, jangan takut, Siaute membantumu!"

Tok-sim-siusu Bu Yan-hong membentak nyaring, de-ngan jurus Ing-hong-hud-liu (mengikuti angin membabat pohon) ia hantam punggung Ji-sia.

Serangan ini dilancarkan dengan sergapan dari belakang, betul-betul ancaman yang berbahaya.

Perlu diketahui, sejak bertarung dengan Ji-sia di gardu bobrok semalam, Hek-to-su-koay telah me-ngetahui bahwa pemuda itu berilmu tinggi, bila dibiarkan hidup terus sehingga tenaga dalamnya ber-tambah sempurna, maka akibatnya akan menjadi bi-bit bencana terbesar bagi kaum Lok-lim.

Sebab itulah timbul niat jahat mereka, sewaktu di dalam gardu bobrok, mereka mengira Lamkiong Giok akan turun tangan untuk melenyapkan Ji-sia, siapa tahu malah dilepaskan pergi.

Kini, setelah melihat tenaga dalam Ji-sia me-nunjukkan kemajuan dalam pertarungan melawan In Ceng-bu, hawa napsu membunuh mereka makin berkobar.

Dengan sinar mata tajam Kui-tau-kou, Sat-hong-tok-ciang dan Eng-jiau-jiu mengawasi Ji-sia le-kat-lekat, ketika Tok-sim-siusu turun tangan merekapun bergeser ke tengah arena.

Ji-sia tidak menyangka In Ceng-bu berani me-nyambut serangannya dengan kekerasan, ketika dua gulung tenaga saling bentur, buru-buru anak mu-da itu manfaatkan tenaga pantulan dan melayang keluar arena, dengan gerakan indah ia berhasil me-lepaskan diri dari sergapan Tok-sim-siusu.

Semua gerakan indah dan lincah ini membuat air muka Lamkiong Giok berubah hebat, pikirnya.

"Orang ini berusia sebaya denganku, kenapa ilmu silatnya selihai ini? Entah Cianpwe manakah yang menjadi gurunya....?"

Sementara itu, Tok-sim-siusu Bu Yan-hong sedang berteriak "Saudara In, bocah ini rada ba-haya, dibiarkan hidup akan menimbulkan bencana buat kita, mari kita bekerja sama....."

Di tengah seruan tersebut, In Ceng-bu telah mengayunkan telapak tangannya dan melancarkan suatu pukulan pula ke depan.

Inilah ilmu Pek-poh-cuan-yang-kun (pukulan seratus kaki menembus pohon) andalan Ciu-siu-thi-say.

Angin pukulan seperti putaran roda cepatnya menggulung ke depan.

Satu ingatan terlintas dalam benak Bok Ji-sia, ia bergeser dua langkah ke samping, dari kejauhan ia melepaskan pukulan balasan.

Kemajuan yang di capai Bok Ji-sia boleh di-bilang pesat sekali, kini bukan saja ia dapat meng-gunakan tenaga sekehendak hati, bahkan tenaga da-lamnya sangat hebat, pukulan yang dilontarkan se-enaknya saja tidak kepalang lihainya.

Tapi In Ceng-bu merasakan kekuatan pukulan itu tidak terlalu besar, segera tangan kanan me-lepaskan pukulan lagi dari jauh.

Ujung baju Ji-sia berkibar terembus angin, tahu-tahu ia sudah berkelit lagi ke samping, kedua tangannya segera diayunkan dan sekaligus menyerang In Ceng-bu dan Tok-sim-siusu.

Tong Yong-ling tahu kesempurnaan ilmu silat Bok Ji-sia, walaupun dikerubut dua orang, belum tentu pemuda itu akan terluka, maka dengan hati lega dia menyingkir ke samping sambil berjaga2 terhadap sergapan ketiga manusia aneh lainnya.

Ketika In Ceng-bu beradu pukulan dengan Bok Ji-sia, Tok-sim-siusu segera menghimpun pula te-naganya dan melancarkan ssrangan dari samping.

Tapi Ji-sia telah keburu menyingkir sehingga serangannya mengenai tempat kosong.

Bok Ji-sia benci kepada Tok-sim-siusu yang licik ini, sambil mendengus ia menerjang ke depan dengan cepat, telapak tangan dan jari tangan digu-nakan sekaligus untuk melepaskan serangkaian se-rangan berantai, dalam waktu singkat ia sudah me-lancarkan lima pukulan, enam kali tutukan dan ti-ga kali tendangan.

Keempat belas kali serangan ini cukup ganas dan cepat, ttnaga serangan juga kuat luar biasa.

Tok-sim-siusu Bu Yan-hong berkelebat kian kemari untuk menghindarkan diri, ia mundur delapan-sembiian langkah baru berhasil melepaskan diri dari keempat belas kali serangan musuh, pada saat itu ia sudah berada beberapa kaki saja dari liang kubur yang mengerikan itu.

Timbul hawa napsu membunuh Bok Ji-sia, di-iringi bentakan menggeledek, kedua telapak tangan-nya diayunkan berbareng, dua gulung angin pukulan yang kuat bagai gulungan ombak mendampar tu-buh Tok-sim-siusu Bu Yan-hong.

Serangan mematikan yang dilancarkannya sung-guh di luar dugaan, lebih-lebih Tok-sim-siusu, da-rah dalam dadanya bergolak setelah menerima em-pat belas kali serangan lawan yang cepat tadi.

Tok-sim-siusu Bu Yan-hong sadar bila serangan itu disambut dengan kekerasan, akibatnya dia akan terluka parah bahkan mungkin akan mati muntah darah, maka satu-satunya jalan adalah mengelak.

Dalam pada itu angin pukulan yang berat ba-gaikan gugur gunung dahsyatnya telah menekan da-danya, ia tak bisa berpikir panjang lagi dan buru-buru melompat ke depan liang kubur itu.

Ji-sia memang bermaksud memaksanya masuk ke liang kubur itu, maka ketika dilihatnya Tok-sim-siusu sudah dekat di mulut liang, secepat kilat te-lapak tangan kirinya melancarkan lagi pukulan dahsyat.

Mendadak dari dalam kuburan berkumandang suara tertawa seram dan menusuk telinga, suara ter-tawa panjang aneh, seperti lolong serigala lapar yang menggetar sukma.

Mendengar suara tertawa itu, Tok-sim-siusu Bu Yan-hong menjadi ketakutan setengah mati, suk-manya seakan-akan melayang meninggalkan raganya.

Sambil menjejakkan kakinya, dengan cepat ia sam-but pukulan Ji-sia itu.

Sayang waktu tidak mengizinkan ia berbuat demikian, serangan Ji-sia tahu-tahu sudah menekan tubuhnya, ia tergetar keras dan terpaksa menyelinap masuk ke daiam liang kubur untuk menyelamatkan jiwa.

In Ceng-bu dan ketiga orang aneh lainnya se-rentak membentak keras, keempat orang bersama-sama melancarkan pukulan dahsyat ke punggung Ji-sia.

Seluruh perhatian Bok Ji-sia waktu itu hanya tertuju kepada Tok-sim-siusu seorang, ketika dira-sakan datangnya bahaya, tenaga gabungan keempat jago lihai itu sudah berada di belakang tubuh-nya, ia ingin membalik tubuh untuk menangkis, ta-pi waktu tidak mengizinkan lagi, terpaksa iapun melompat masuk ke dalam kuburan itu.

Sekali lompat, Ji-sia telah berada di mulut liang, tiba-tiba ia memutar badan sambil menghan-tam, dua gulung angin pukulan yang maha dahyat menyambar ke sana, menyambut serangan keempat orang tersebut.....

"Blang!"

Benturan keras berkumandang, Ji-sia mendengus tertahan, tubuhnya langsung terpental masuk ke dalam liang. Tong Yong-ling, terperanjat melihat kejadian itu, pelahan bentaknya.

"Bajingan yang tidak tahu malu, beraninya cuma main sergap!"

Pedang Bwe-hoa-kiam dengan membentuk bu-nga bwe secepat kilat menusuk tubuh Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu.

Semua kejadian itu berlangsung dengan kece-patan luar biasa.

Pada waktu itulah, tiba-tiba dari balik kuburan berkumandang jeritan yang memilukan hati, jeritan bagaikan lengking setan.

Semua orang sama merasa terkejut, lebih-lebih Tong Yongling, saking kagetnya sampai permainan Bwe-hoa-kiam terhenti setengah jalan.

Setelah sirapnya jeritan ngeri itu, perlahan mun-cul sesosok tubuh berdarah dari liang kubur itu.....

Dia adalah Tok-sim-siusu Bu Yan-hong, cuma wajahnya sudah rusak dan berlepotan darah, bajunya koyak-koyak, keadaannya mengerikan sekali, membuat orang tak tega melihatnya.

Kedua mata Tok-sim-siusu Bu Yan-hong me-rah membara dan melotot, mulutnya ternganga, titik darah seperti hujan menetes tiada hentinya.

Muka-nya tampak mengejang, tubuhnya melangkah dengan kaku, hanya dua tindak, tanpa mengeluarkan suara ia roboh dan binasa.

Baju bagian punggungnya juga robek-robek, lima jalur bekas guratan yang dalam tertera jelas di punggungnya.

Seorang gembong iblis golongan hitam yang menggetarkan dunia persilatan, akhirnya tewas da-lam keadaan yang mengenaskan.

Melihat kematian Tok-sim-siusu Bu Yan-hong yang mengerikan itu, semua orang berdiri terbelalak dengan mulut melongo, rasa takut dan ngeri me-nyelimuti wajah mereka.

Tapi orang-orang itu masih berdiri menanti de-ngan tenang, puluhan pasang mata sama tertuju ke arah liang kubur yang mengerikan itu, seakan-akan sedang menantikan sesuatu.

Rupanya mereka sedang menantikan jeritan ngeri yang lain......jerit kematian Bok Ji-sia.

Sampai sekian lamanya, suasana disekeliling tempat itu tetap hening dan tak kedengaran sedikitpun suara.

Tiba-tiba Tong Yong-ling berseru penuh ke-sedihan.

"Bok-siangkong, cepat....cepatlah keluar!"

Sambil berteriak ia melompat maju dan ber-maksud menerjang ke dalam liang kubur itu.

Bayangan manusia segera berkelebat, Lamkiong Giok tahu-tahu sudah menyelinap ke samping Tong Yong-ling dan menarik tangannya sambil berbisik.

"Nona Tong, jangan gegabah, ilmu silat perempuan aneh itu sangat lihai!"

Rupanya cinta Tong Yong-ling terhadap Bok Ji-sia sudah bersemi, ketika tangan kirinya diceng-keram Lamkiong Giok, sambil melepaskan diri ben-taknya.

"Lamkiong Giok, kenapa kau menghalangi aku masuk ke situ?"

Air muka Lamkiong Giok agak berubah, tapi segera sahutnya sambil tertawa.

"Nona Tong, aku kuatir kau akan mengalami kejadian yang tidak me-nguntungkan!"

"Kau kira ia sudah tertimpa musibah?"

Tanya Yong-ling dengan sedih. Lamkiong Giok berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Sudah sekian lama ia masuk ke situ hingga sekarang tiada tanda apa pun, kukira dia...."

"Jika dia mati, aku harus masuk ke situ untuk membalaskan dendam baginya!"

"Tunggulah sebentar lagi, jika ia belum keluar, akan kutemani dirimu masuk ke sana dan mem-balas dendam,"

Kata Lamkiong Giok. Tong Yong-ling tertawa dingin.

"Kau bermu-suhan dengan dia, bila ia mati, memangnya kau ti-dak merasa gembira?"

"Nona Tong, kenapa kau berkata demikian? Sejak mula aku tidak pernah menaruh rasa dendam kepadanya."

"Kalau begitu sekarang juga kita masuk ke situ dan membunuh perempuan keparat itu!"

Kiranya Tong Yong-ling tahu jika dia harus masuk seorang diri, jelas kepandaiannya bukan tandingan perempuan dalam kuburan itu, maka ia sengaja bikin hatinya panas dan berharap pemuda itu mau masuk ke liang kubur itu bersamanya.

Mendengar ajakan tersebut, Lamkiong Giok mengunjuk wajah serba salah, ia adalah seorang yang cerdik, tentu saja iapun mengetahui akan kelihaian perempuan aneh dalam kuburan itu, terutama ke-kejian serangannya.

Melihat pemuda itu membungkam, dengan ter-tawa dingin Tong Yong-ling kembali menyindir.

"Lamkiong Giok, kau pun takut padanya?"

Sesungguhnya diam-diam Lamkiong Giok menaruh cinta kepada Tong Yong-ling, ia tak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan orang pe-rempuan, maka sahutnya dengan tertawa.

"Nona Tong, aku hanya kuatirkan kau tertimpa sesuatu yang tak terduga.."

"Kalau kau tak mau masuk, biar aku masuk sendiri!"

Ujar gadis itu dengan sedih. Selesai berkata dia lantas menerjang masuk ke dalam liang kubur itu. Entah mengapa ternyata Lamkiong Giok segera ikut masuk kedalam kuburan, ia berbisik.

"Nona Tong, entengkan langkahmu, jika bukan tandingan-nya nanti, lebih baik cepat-cepat kita keluar lagi."

Seakan-akan berhadapan dengan musuh tang-guh, sambil menghimpun tenaga dalamnya perlahan mereka menyusup ke dalam kuburan.

Waktu itu, kawanan jago silat yang hadir te-lah dibuat ketakutan oleh kehebatan perempuan aneh dalam kuburan, ketika menyaksikan Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling menyelusup ke dalam liang tersebut, mereka tak berani bergeser maju barang selangkah pun, puluhan pasang mata sana tertuju ke arah kuburan besar itu.

Suasana dalam kuburan gelap gulita, melihat jari tangan sendiri saja sukar, setelah masuk ke da-lam, kedua orang itu berhenti dan mulai memeriksa keadaan sekeliling tempat itu.

Sekalipun kedua orang itu terhitung jago lihai yang bertenaga dalam sempurna, tapi mereka tak mampu melihat keadaan sebenarnya dalam kuburan itu, Tong Yong-ling sendiri meski dapat melihat da-lam kegelapan karena kebiasaan dalam penjara air Thian-seng-po tempo hari, sekarang dia hanya bisa melihat segala sesuatu dalam jarak satu tombak jauhnya.

Ruangan kuburan itu lebar sekali, suasana te-rasa menyeramkan.

Sesudah berdiri sekian lama, kedua orang itu baru meneruskan perjalanan lebih ke dalam.

Ternyata satu tombak di dalam sana terdapat undak2an batu yang menjurus ke bawah.

Tong Yong-ling dan Lamkiong Giok menuruni anak tangga batu itu, tiba-tiba mereka melihat se-sosok bayangan hitam sedang berduduk bersila di-depan sana, serentak mereka berhenti.

Tiba-tiba bayangan orang yang duduk bersila itu berpaling dan mengulapkan tangan, memberi tanda kepada mereka.

Tong Yong-ling dan Lamkiong Giok dapat melihat bahwa orang itu tak lain adalah Bok Ji-sia.

Pada saat itulah mendadak Lamkiong Giok me-ngayunkan tangan kanannya, segulung tenaga pu-kulan yang kuat segera menerjang Ji-sia.

Harus diketahui bahwa Lamkiong Giok adalah seorang licik dan berhati keji, ia sudah tahu Ji-sia berilmu tinggi, sejak pertama kali bertemu dulu su-dah timbul ingatan untuk mencelakainya, maka de-mi melihat Ji-sia masih hidup, napsu membunuhnya segera timbul, ia pura-pura tidak melihat jelas orang itu adalah Ji-sia, hingga seandainya pemuda itu sampai binasa oleh pukulannya, Tong Yong-ling pun tak dapat menyalahkan dirinya.

Yong-ling memang tidak menyangka Lamkiong Giok berniat membunuh Bok Ji-sia, apalagi serang-an itu tidak menimbulkan suara, maka meski gadis itu berada di sampingnya juga tidak merasakan niat busuknya itu.

Agaknya segera Bok Ji-sia akan termakan oleh serangan maut manusia licik itu.......

Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam kuburan muncul embusan angin dingin yang secara diam-diam memunahkan tenaga pukulan Lamkiong Giok itu.

Ji-sia merasakan juga angin dingin tersebut, telapak tangan kanannya segera berputar dan se-gulung angin pukulan cepat menyambar ke arah datangnya serangan itu......

Dia mengira perempuan aneh itu hendak me-nyergap kedua orang itu, maka ia memberi bantuan.

Tapi serangan yang dilancarkan tersebut sama sekali tidak menimbulkan reaksi apa-apa, bahkan lenyap dengan begitu saja.

Sergapan yang dilancarkan Lamkiong Giok pun punah oleh desing angin aneh tadi, tubuhnya ber-getar keras diam-diam ia gemas pada perempuan aneh yang telah mencampuri urusannya itu.

Agaknya Tong Yong-ling merasakan pula ke-adaan yang tak beres, segera ia berseru.

"Lamkiong Giok, kau....."

"Ssst, jangan bersuara nona Tong!"

Bisik Lam-kiong Giok cepat-cepat.

"baru saja ada orang me-nyergapnya."

Sementara itu mereka berdua telah tiba di sisi Bok Ji-sia, mereka bertiga berdiri sejajar. Suara tertawa dingin yang menyeramkan tiba-tiba berkumandang dari kedalaman kuburan itu.

"Anak muda, kau sungguh manusia licik yang sangat berbahaya. Hm, setelah memasuki kuburan ini, ja-ngan harap kau bisa keluar lagi."

Ji-sia masih juga tak tahu Lamkiong Giok te-lah menyergapnya secara keji, mendengar ucapan tersebut ia lantas berseru.

"Orang kosen, ucapanmu agak terlalu takabur, siapa menang dan kalah ma-sih sukar diramalkan, buat apa kau omong besar? sebenarnya aku orang she Bok tak ingin menganggu ketenanganmu, tapi sekarang mau-tak-mau ingin kulihat wajahmu, ingin kuketahui apakah kau seorang manusia berkepala tiga dan bertangan enam, atau kukan?"

"Saudara Bok, dengan tenaga gabungan kita bertiga, rasanya tak sulit untuk membinasakan dia."

Bisik Lamkiong Giok cepat. Perempuan aneh dalam kuburan itu kembali tertawa dingin, katanya.

"Siapa yang berdosa, dia tak boleh hidup, jika kalian sudah bosan hidup, boleh saja coba berbuat."

"Kau kira aku jeri padamu?"

Teriak Ji-sia de-ngan gusar. Seraya berkata, dengan suatu gerakan cepat anak muda itu melayang ke tempat datangnya su-ara itu.

"Mundur kau, anak muda!"

Bentakan keras menggeledek, segulung tenaga pukulan lunak dan dingin langsung menumbuk tubuh anak muda itu.

Ji-sia memang berwatak tinggi hati, ia men-dengus sambil berkelit, telapak tangan kanannya dengan cepat diayunkan pula ke muka, berbareng ia ikut menerjang maju.

"Hm, punya simpanan juga kau,"

Ejek perem-puan aneh itu.

"Tapi bila kau ingin mengalahkan aku. Huh, terlalu tak tahu diri!"

Ji-sia menubruk tempat kosong sebab di sa-na tiada sesosok bayangan manusia pun, suasana gelap gulita dan susah melihat lima jari sendiri.

Karena menubruk tempat kosong, buru-buru anak muda itu menghentikan gerak tubuhnya sam-bil siap menghadapi sergapan lawan.

"Saudara Bok,"

Lamkiong Giok segera ber-seru.

"cepat kembali ke tempat semula, jangan sam-pai termakan oleh siasat busuk lawan!"

Padahal Lamkiong Giok sama sekali tak menguatirkan keselamatan Ji-sia, sebab sejak masuk ke dalam kuburan, ia telah merasa perempuan aneh itu tidak bermaksud mencelakai anak muda tersebut, ia kuatir jika Ji-sia meninggalkannya, maka perem-puan aneh itu akan turun tangan keji kepadanya secara tiba-tiba.

Apa yang diduga Lamkiong Giok ternyata be-nar, perempuan aneh dalam kuburan itu memang tidak bermaksud mencelakai jiwa Bok Ji-sia, ka-lau tidak, dengan serangan mautnya, kendatipun sepuluh orang Bok Ji-sia juga amblas jiwanya.

Begitu mendengar seruan Lamkiong Giok, de-ngan cepat Ji-sia melompat kembali ke tempat se-mula.

Dari balik kegelapan berkumandang lagi dengus-an menghina, lalu perempuan aneh itu berkata de-ngan suara dingin.

"Anak muda, kau benar-benar tak tahu diri. Hm, betapa licin pun jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini!"

Sesungguhnya perkataan perempuan aneh itu ditujukan kepada Lamkiong Giok, tapi Bok Ji-sia salah paham dan mengira perkataan itu ditujukan kepadanya. Dengan mendongkol dia mendengus, sahutnya.

"Kau sendiri licin dan berbahaya, pandainya cuma mencelakai orang dari tempat kegelapan, bila punya kepandaian ayolah bertarung tiga ratus gebrakan dengan orang she Bok ini."

"Kau orang baik dan berbudi luhur, tapi orang persilatan kebanyakan berhati licik dan busuk, orang jujur semacam dirimu akhirnya tentu akan dicelakai orang."

"Kedatanganku kemari bukan untuk mendengarkan nasihatmu,"

Kata Ji-sia dengan marah.

"bila kau tidak menampakkan diri lagi, jangan menya-lahkan aku akan melancarkan serangan secara membabi buta."

"Untuk kesekian kalinya kuperingatkan pada-mu agar mundur dari sini,"

Kata perempuan aneh itu lagi.

"bila berhenti lebih lama lagi di sini, ber-arti kau cari penyakit sendiri!"

Lamkiong Giok tertawa dingin.

"Hehehe, de-ngan susah payah kami dapat masuk kemari, jika tidak bertemu muka dulu dengan jago lihai sema-cam kau, apakah aku takkan merasa menyesal untuk selamanya?"

Ji-sia berseru pula dengan dingin.

"Boleh sa-ja bila kau minta kami mundur dari sini, tapi wajah aslimu harus kami lihat dulu..."

"Enci yang baik,"

Timbrung Yong-ling.

""ke-datangan kami ke kuburan ini tidak bermaksud membalas dendam, kami datang terdorong oleh ra-sa ingin tahu saja........."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari luar kuburan berkumandang beberapa kali jeritan nge-ri........

Kiranya para jago persilatan di luar kuburan itu samar-samar mendengar Ji-sia sedang bercakap-cakap dengan perempuan aneh itu, mereka mengira ada kesempatan baik, empat orang dari Kiam-hong-ceng segera menyelinap masuk ke dalam kuburan, tapi segera mereka dibinasakan oleh perempuan aneh tersebut.

Dari jeritan yang memilukan hati, Ji-sia sekalian lantas mengetahui bahwa di luar kuburan korban kembali berjatuhan, keruan mereka terperanjat, se-bab mereka sama sekali tidak melihat bagaimana caranya perempuan aneh itu melancarkan serangan-nya.

Ini berarti jika ia mau membunuh mereka ber-tiga, dengan pukulan yang tak kelihatan itu, me-reka pasti tak sanggup mengelak.

Berpikir demikian, tanpa terasa mereka ber-tiga mempertinggi kewaspadaan dan diam-diam menghimpun tenaga.

Di antara ketiga orang itu, Lamkiong Giok paling berat perasaannya, sebab perempuan aneh itu telah berkata hendak membinasakan dia.

Lamkiong Giok sadar, malam yang panjang akan mendatangkan impian yang banyak, berada terlalu lama di sini tidak menguntungkan dirinya.

Maka kepada Ji-sia ia berbisik.

"Bok-heng, lebih baik kita tinggalkan tempat ini untuk sementara waktu, ayo kita keluar sekarang!"

Ji-sia tertegun, ia tak habis mengerti kenapa Lamkiong Giok secara tiba-tiba berubah pikiran.

"Saudara Lamkiong,"

Bisiknya.

"bukankah kita hendak melabrak dia?"

Lamkiong Giok tersenyum.

"Lain waktu masih banyak kesempatan buat bertarung dengan dia, ke-cuali selama hidup dia berdiam di kuburan ini, se-karang dia berada di tempat gelap dan kita ada di tempat yang terang, jelas kita akan rugi besar, ma-ka lebih baik kita keluar saja "

"Hai anak muda, jangan berpikir muluk-mu-luk,"

Ejek perempuan aneh itu dari sisi kiri.

"he-hehe, bukan pekerjaan gampang untuk meninggalkan tempat ini!"

Mendengar seruan tersebut, Ji-sia, Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling cepat berpaling.

Beberapa kaki disebelah sana tampak berdiri se-sosok bayangan yang ramping menawan hati, cuma sayang terlalu gelap sehingga sukar melihat jelas raut wajahnya.

Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak, kata-nya.

"Selama hidup aku Lamkiong Giok tak pernah jeri kepada siapapun, bila kau paksa orang terus menerus, maka akupun terpaksa mengiringi kehen-dakmu dengan mempertaruhkan selembar jiwaku."

Lamkiong Giok memang berotak tajam dan licik, setelah mengetahui perkembangan urusan ini, dengan tenang ia menghadapinya tanpa rasa takut, hal ini tentu saja dikarenakan dasar silatnya me-mang tinggi dan pengalaman cukup.

"Keberanianmu memang mengagumkan!"

Seru perempuan aneh itu dengan suara dingin.

"Bagus! Bagus sekali! Biar kusempurnakan keinginanmu."

Ucapan tersebut sedemikian dinginnya hingga boleh dibilang sama sekali tidak bernada manusia, membuat siapapun yang mendengar akan bergidik.

Perlahan perempuan aneh itu mengangkat te-lapak tangan kirinya, di tengah kegelapan tertam-paklah selapis warna putih gemerdep pada telapak tangannya.

Lamkiong Giok terkejut, pikirnya.

"Ilmu apa ini?"

Sekalipun ia berpengetahuan luas, sulit juga untuk menebak asal-usul ilmu pukulan orang.

Perempuan aneh itu sama sekali tidak melepas-kan serangannya, hanya dengan matanya yang tajam dia awasi Bok Ji sia, ia seperti terperanjat, sinar matanya berhenti pada wajah pemuda itu dan me-mandangnya dengan terbelalak.

Lantaran dalam ruangan itu gelap gulita, sekalipun sepanjang tahun ia hidup dalam kuburan itu dan terbiasa dengan kegelapan, tetap tak berhasil melihat jelas Ji-sia, hanya dirasakan raut-wajah orang sudah dikenalnya dengan baik.

Sekalipun demikian, ia tak mencurigai Ji-sia sebagai "dia", sebab dianggapnya si dia sudah lama mati, sebab dalam tiga-empat tahun belakangan ini setiap saat ia selalu mencari jejaknya, namun tiada kabar sama sekali, maka ia menduga si dia lebih banyak celakanya dari pada hidup.

Tapi pemuda di depannya sekarang bukan saja wajahnya mirip, suaranya pun mirip dia, ditambah lagi mempunyai she yang sama, jangan-jangan me-mang dia inilah?

Tapi bila betul dia, sepantasnya dia kenal di-rinya, dari bayangan badan saja dia harus kenal....

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak pe-rempuan aneh itu, pikirannya bagaikan ombak sa-mudra yang bergolak.

Mendadak perempuan aneh itu menghela napas sedih, lalu bertanya.

"Orang she Bok, siapakah na-mamu?"

Pertanyaan ini membuat bingung orang, Ji-sia tertegun sejenak, lalu sahutnya.

"Buat apa kau ta-nya namaku?"

"Ah, tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin tahu namamu saja!"

"Kita tak pernah saling mengenal, lebih baik jangan pula sembarangan tanya nama orang lain, jika tidak penting, kukira tidak perlu kukatakan."

Perempuan aneh itu tertawa dingin, tiba-tiba katanya.

"Apakah hari ini kalian masih ingin me-ninggalkan tempat ini dengan selamat?"

Sambil mengangkat telapak tangannya yang pu-tih bersinar itu, ia awasi ketiga orang tanpa ber-kedip. Lamkiong Giok tertawa, bukan menjawab, dia malah balik bertanya.

"Ilmu silat apakah yang kau pergunakan sekarang?"

"Katak dalam sumur, betapa luas pengetahuan-nya? Tentu saja kalian tak tahu nama ilmu pukulanku ini!"

"Hmm, sekalipun keji ilmu pukulanmu juga ti-dak kupikirkan,"

Jengek Ji-sia. Waktu itu Bok Ji-sia, Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling telah menghimpun sepenuh tenaga dalamnya dan siap bertarung sengit melawan pe-rempuan aneh itu dengan cara mengerubut.

"Baiklah,"

Kata perempuan aneh itu dengan dingin.

"kuharap kalian kenal nama ilmu pukulanku ini, agar matipun tahu mati dibawah kungfu apa. Inilah ilmu Peng-sian-jit-gwat-ciang (pukulan matahari rembulan berhawa dingin) yang sudah le-nyap dua ratusan tahun lamanya dari dunia per-silatan!"

Begitu mendengar nama ilmu pukulan tersebut, Lamkiong Giok merasakan dadanya seperti dipu-kul dengan martil, diam-diam keluhnya dalam hati.

"Habislah riwayatku kali ini, habis! Kalau dia ber-niat membunuhku, hari ini aku pasti akan tewas di sini."

Perlu diketahui bahwa Peng-sian-jit-gwat-ciang adalah sejenis ilmu sakti berkekuatan maha dahsyat yang amat sukar dilatih, kepandaian ini sudah ham-pir dua ratus tahun lamanya lenyap dari peredaran dunia persilatan, tak disangka kepandaian itu bisa muncul dalam kuburan ini sekarang.

Tanda atau ciri khas seseorang yang telah berhasil melatih Peng-sian-jit-gwat-ciang adalah munculnya lingkaran warna putih bagaikan kaca pa-da tengah telapak tangan, makin kecil tanda ling-karan tersebut berarti makin sempurna tenaga da-lamnya.

Bila ditinjau dari tanda lingkaran pada telapak tangan perempuan aneh tersebut, dapat diketahui Peng-sian-jit-gwat-ciangnya baru mencapai tingkat pertengahan.

Walaupun demikian, mungkin hanya beberapa orang saja dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup menahan serangan mautnya.

Bila serangan dilancarkan, orang tak akan me-nangkap sedikitpun suara, yang ada hanya hawa udara yang dingin membeku menyambar lewat.

Jika tubuh terasa dingin dan menjadi kaku secara tiba-tiba, itu berarti sudah terkena pukulan, biasanya seorang korban segera akan menggeletak dan tewas.

Lamkiong Giok berseru dengan suara rada ge-metar.

"Apakah hendak kau gunakan Peng-sian-jit-gwat-ciang untuk menghadapi kami bertiga?"

Perempuan aneh itu tertawa dingin, sahutnya dengan nada menghina.

"Dengan kepandaianmu yang masih cetek itu, belum perlu kugunakan Peng-sian-jit-gwat-ciang, kepandaian apakah yang te-lah membinasakan orang-orang di luar tadi, dengan kungfu itu pula kalian akan menerima kematian!"

Tiba-tiba Lamkiong Giok tertawa dingin kati-nya.

"Sekali pun ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangmu itu maha dahsyat, dan masih berlebihan jika digunakan menghadapi kami angkatan muda, tapi bila ingin melukai kawanan jago lihay itu kukira masih belum cukup, apalagi dari sepuluh ba-gian tenaga pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang paling-paling baru lima bagian saja yang kau kuasai."

Diam-diam perempuan aneh itu merasa kagum juga atas pengetahuan Lamkiong Giok, sebab cuma sekilas pandang saja telah mengetahui Peng-sian-jit-gwat-ciang yang dilatihnya baru mencapai lima bagian, meski demikian, dengan kemampuannya se-karang juga sukar dicarikan tandingan lagi dalam dunia persilatan.

"Walaupun demikian,"

Lamkiong Giok me-lanjutkan lagi kata-katanya.

"menurut berita dalam dunia persilatan, barang siapa bisa melatih ke-pandaian itu hingga mencapai lima bagian sudah merupakan orang yang mujur, menurut pengamatan-ku, mungkin hanya beberapa orang saja dalam du-nia persilatan dewasa ini yang sanggup menerima seranganmu."

Tiba-tiba perempuan aneh itu bertanya dengan dingin.

"Beberapa orang yang mana yang sanggup menyambut serangan Peng-sian-jit-gwat-ciangku ini?"

Harus diketahui bahwa Lamkiong Giok itu li-cik, ia sudah tahu bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, maka dia berusaha mengajaknya bicara untuk mengulur waktu sambil mencari akal untuk menghadapi keadaan gawat ini.

Sambil tersenyum sahut Lamkiong Giok.

"Mi-salnya ayahku Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian, Thian-kang-te-sat-gwat-kiam Oh Kay-gak dan Kiu-thian-mo-li, ada lagi....."

"Masih ada siapa lagi? Cepat katakan,"

Desak perempuan aneh itu dengan cepat. Lamkiong Giok pura-pura termenung dan ber-pikir sebentar, kemudian baru menjawab.

"Situasi dunia persilatan dewasa ini telah mengalami perubah-an besar, tentu saja ada sementara orang yang ti-dak ternama pada masa lalu, dalam waktu akhir-akhir secara tiba-tiba menjadi jago tersohor dalam dunia persilatan, oleh sebab itu masih ada siapa lagi yang sanggup menerima pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangmu itu sukar dikatakan, seperti misalnya saja saudara Bok yang berada di hadapanmu seka-rang, siapa tahu kalau iapun sanggup menerima pukulanmu itu."

Manusia persilatan memang berbahaya dan penuh tipu muslihat, seperti Lamkiong Giok, setelah timbul niatnya untuk membunuh Bok Ji-sia, maka dalam setiap pembicaraan yang mungkin menda-tangkan maut dia selalu menyertakan nama Bok Ji-sia, maksudnya untuk memancing rasa ingin me-nang perempuan aneh itu sehingga turun tangan keji terhadap anak muda itu.

Cara meminjam pisau membunuh orang sema-cam ini boleh dibilang suatu siasat yang keji.

Tentu saja perempuan aneh itu dapat pula me-nerka isi hati Lamkiong Giok, ia mendengus dan berseru.

"Lamkiong Giok, kau terlalu busuk dan keji, manusia semacam kau hanya menciptakan banyak dosa saja bila dibiarkan hidup terus dalam dunia persilatan."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Lamkiong Giok merasa terkejut, tapi di luar ia tetap bersikap tenang, malah katanya sambil tertawa.

"Apakah kau tidak percaya dengan perkataanku? Mengapa ti-dak kau coba sendiri? Sebentar akan kau ketahui sen-diri ucapanku ini benar atau salah!"

Perempuan aneh itu tertawa dingin.

"Apakah kaupun sanggup menerima sekali pukulanku?"

"Tidak berani! Tidak berani!"

Lamkiong Giok tersenyum.

"tapi jika kau melancarkan serangan ter-hadap seorang Wanpwe, maka terpaksa akupun ha-rus menyambutnya dengan mempertaruhkan selem-bar jiwaku!"

"Hmm, dengan kemampuanku paling-paling hanya satu gebrakan saja sudah beres!"

Bicara sampai di sini, pelahan telapak tangan perempuan aneh itu diturunkan kembali. Diam-diam Lamkiong Giok menghembus napas lega, katanya lagi sambil tertawa.

"Apakah aku bo-leh tahu siapa nama Locianpwe?"

Lamkiong Giok memang benar-benar pandai melihat gelagat, dengan sikapnya yang ramah tamah ini, sekalipun perempuan itu hendak membunuhnya, sulit juga turun tangan dalam waktu singkat, apa-lagi perempuan aneh itu memang tidak menaruh rasa dendam padanya.

"Kau masih belum pantas untuk tanya nama-ku!"

Jawab perempuan aneh ketus.

Ucapan ini sangat takabur dan cukup mem-buat orang gemas atau mendongkol, coba dalam keadaan biasa, sejak tadi Lamkiong Giok sudah me-ngumbar amarahnya.

Diam-diam ia menyumpah dalam hati.

"Ja-ngan kau anggap aku jeri kepada ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangmu itu, padahal pukulan yang kau lancarkan belum tentu sanggup melukai diriku, cuma aku tak sudi menempuh bahaya dengan per-cuma."

Berpikir sampai di sini, sambil tersenyum iapun berkata.

"Kalau Locianpwe tak ingin menunjukkan identitasmu yang sebenarnya, tentu saja Wanpwe tidak akan mendesak lebih jauh, cuma lain waktu bila ada orang ingin menjajal Peng-sian-jit-gwat-ciang yang telah dua ratus tahun lenyap dari dunia persilatan, aku jadi sulit untuk menye-butkan namamu!"

"Siapa yang berani bertarung dengan Peng-sian-jit-gwat-ciangku ini?"

"Ayahku, lalu guru nona Tong dan guru sau-dara Bok!"

"Siapakah guru mereka!"

"Suhu nona Tong adalah Bwe-hiang-sian-ki yang namanya termashur dalam dunia persilatan,"

Jawab Lamkiong Giok sambil tertawa.

"sedangkan guru saudara Bok tidak kuketahui, konon iapun seorang Bu-lim-cianpwe yang bernama besar!"

Dengan matanya yang tajam perempuan aneh itu menatap wajah Bok Ji-sia, lalu bertanya.

"Sia-pakah gurumu!"

Ji-sia tertawa.

"Dengan dasar apa kau ingin mengetahui asal-usul perguruanku?"

Mendengar jawaban tersebut, hawa napsu membunuh terpancar keluar dari balik mata perempuan itu, ia tertawa dingin lalu berkata.

"Kau betul-betul pemuda keras kepala, cara bicaramu tak tahu aturan. Hmm, rupanya kau sudah bosan hidup!"

"Tak usah banyak bicara,"

Tukas Ji-sia marah.

Baca Juga: Neraka Hitam 7

Baca Juga: Pendekar Bunga Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert