Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 4

Eps 4 Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Baca online Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Cersil Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung.

"mau bunuh aku, silakan sekarang juga turun ta-ngan!"

"Belakangan ini kebanyakan orang muda me-mang sok sombong dan takabur, bila tidak kuberi sedikit hajaran mungkin kalian masih tak tahu ting-ginya langit dan tebalnya bumi."

Walaupun berkata dengan dingin, namun tak bisa menutupi suaranya yang merdu, bila ditinjau dari potongan tubuhnya maka dapat ditebak dia pasti seorang perempuan setengah umur yang can-tik, tapi ucapannya jumawa sekali.

Sejak mula sampai sekarang Lamkiong Giok selalu berusaha menebak asal-usul perempuan ini, tapi tetap tak tahu siapa gerangan orang ini?

Me-nurut perkiraannya perempuan ini pasti bukan jago persilatan yang sudah termashur.

Ji-sia jadi gusar mendengar perkataannya tadi, segera ia menjengek.

"Kalau begitu biar aku orang she Bok menjajal dulu kepandaian saktimu."

Sembari bicara Ji-sia terus menyusup ke sam-ping perempuan aneh itu.

Belum sempat anak muda itu melancarkan se-rangannya, mendadak perempuan itu telah menda-hului mengayunkan telapak tangan kirinya ke depan.

Ji-sia memang keras kepala dan tinggi hati, se-gera pula telapak tangan kirinya menyambut datang-nya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling bentur di udara, terjadilah ledakan keras, Ji-sia ter-dorong tiga langkah ke belakang, sementara perem-puan aneh itu masih tetap berdiri tenang di tempat semula.

Diam-diam Ji-sia terkejut, dia tidak mengira dia bisa dipaksa mundur dalam sekali gebrakan, nyata ia tidak tahu kalau musuh hanya mengguna-kan tenaga dua bagian saja.

Sambil tertawa dingin, perempuan aneh itu berseru.

"Pukulanmu memang cukup tangguh, se-karang terimalah satu pukulanku lagi!"

Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan dia melancarkan tutukan ke depan. Ji-sia memutar tangan kanan untuk menangkis datangnya tutukan itu dengan keras lawan keras.

"Blang!"

Benturan keras kembali terjadi.

Dalam serangan ini, perempuan aneh itu kem-bali mempergunakan tenaga sebesar dua bagian saja tapi kali inipun Ji-sia hanya merasakan kedua ba-hunya bergetar keras.

Pada kesempatan baik itu tiba-tiba Ji-sia menerjang maju, telapak tangan kiri terus menghantam dada lawan.

Serangan ini bukan saja mengandung kekuatan yang dahsyat, juga membawa perubahan gerakan yang tak terduga.

Menyaksikan serangan itu, perempuan aneh itu terperanjat, dia tak menyangka anak muda itu mempunyai jurus serangan seaneh dan setangguh ini, tangan kirinya cepat menyambar ke bawah un-tuk mencengkeram pergelangan tangan Ji-sia.

Gerak serangan ini sungguh aneh dan jauh di luar peraturan jurus serangan umumnya.

Ji-sia mendengus, telapak tangan kirinya tiba-tiba berubah gerakan di tengah jalan, pergelangan tangan berputar, kelima jarinya dibentangkan dan berbalik mencengkeram pergelangan tangan lawan.

Perempuan aneh itu menjerit kaget, tiba-tiba sikut kirinya menyodok ke bawah, sementara kelima jari tangan terus menggeser, iapun balas menceng-keram urat nadi Ji-sia.

Air muka Ji-sia berubah, suatu pukulan kilat segera dilancarkan dengan tangan kanan....

Tapi bersamaan waktunya, perempuan aneh itupun mengayun tangan kanan menyambut datang-nya pukulan itu.

"Blang!"

Benturan keras terjadi pula, Ji-sia merasakan darah dalam dadanya bergolak, tubuh ikut bergetar sehingga berputar satu lingkaran.

Pada kesempatan berputar inilah, Jisia meng-angkat kaki kanan dan mendepak lutut lawan.

Tendangan ini cukup keji dan aneh, baru se-karang perempuan aneh itu merasakan kehebatan musuh, sambil tertawa dingin ia berseru.

"Mundur kau dari sini!"

Kaki kanannya tiba-tiba menghantam sisi kaki kanan Ji-sia, sehingga anak muda itu tergetar mun-dur.

Lamkiong Giok terperanjat, sebab walaupun kedua orang itu cuma saling gebrak dua jurus, tapi perubahan dalam jurus itu terdiri dari beberapa ge-rakan lain, semuanya merupakan jurus sakti yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, terutama sekali tendangan terakhir perempuan aneh itu, ia me-nyerang lebih lambat, tapi tiba pada sasaran lebih duluan.

Tendangan aneh ini sungguh membuat orang tidak habis heran.

Ketika didesak mundur berulang kali, Ji-sia jadi gusar, segenap kekuatan dihimpun pada tangan kanan, lalu didorong ke depan.

Perempuan aneh itupun menggerakan tangan kanan dan pelahan mendorong.....

Supaya diketahui, dalam pertarungan antara sesama jago lihai, setiap gerak tangan maupun kaki bisa jadi mendatangkan kematian bagi musuh.

Di tengah dorongan kedua orang itu terkandung ke-kuatan yang maha dahsyat, seandainya kekuatan itu tidak saling membentur, hakikatnya orang lain tak dapat melihatnya dengan jelas.

Tiba-tiba di antara kedua orang itu berhembus lewat segulung angin, sekali lagi Ji-sia tergetar mun-dur sejauh beberapa langkah.

Ji-sia mendengus, mendadak kedua telapak ta-ngannya didorong lagi ke depan.

Ternyata sesudah melancarkan pukulan tadi, tiba-tiba Ji-sia merasakan hatinya berdebar keras, ia merasa tenaga tekanan musuh sedemikian besarnya bagaikan ombak mendampar dan sukar ditahan.

Maka dalam serangan berikutnya dia telah ser-takan segenap tenaga dalamnya, kekuatan ini sung-guh sangat mengerikan.

Ketika memukul mundur Ji-sia kali ini, pe-rempuan aneh itu telah mempergunakan tenaganya sebesar tiga bagian, tapi sesudah terjadi benturan, ia merasa terkejut sekali, tak disangkanya pihak lawan yang muda itu ternyata memiliki tenaga da-lam sesempurna itu.

Sementara ia masih tercengang, Ji-sia telah mendorong lagi kedua telapak tangannya ke depan, ia tetap mempergunakan tenaganya sebesar tiga bagian.

Mendadak tubuhnya bergetar keras, ternyata tenaga yang digunakan lawan jauh lebih kuat be-berapa bagian dibandingkan serangan sebelumnya, cepat tenaga telapak tangan kanannya dikerahkan menjadi empat bagian, dan dapat menahan serangan Ji-sia dengan sama kuat.

Rupanya nasibnya mujur, perempuan aneh itu berhasil mendapatkan kedua pil Ji-khi-kun-goan-sin-wan, tenaga dalamnya sekarang telah men-capai dua kali enam puluh tahun hasil latihan, menurut perkiraannya, dengan kekuatan tersebut ia bisa menjagoi dunia persilatan dan membalas sakit hatinya, siapa tahu sekarang berjumpa dengan pe-muda semacam Bok Ji-sia, yang terbukti sanggup menahan empat bagian tenaga pukulannya.

Dalam kejut dan gusarnya dia membentak, te-lapak tangan kanan menghantam pula, kali ini te-naga dalamnya dari empat bagian ditingkatkan menjadi lima bagian.

Ji-sia menjerit tertahan, ia terpental sejauh beberapa tombak dan muntah darah, ia sempoyo-ngan lalu jatuh terduduk.

Buru-buru Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling memburu ke depan, dengan kuatir nona itu berseru.

"Bok-siangkong, parah....parahkah luka-mu?...."

"Isi perutnya telah terluka cukup parah,"

Pe-rempuan aneh itu berkata dengan suara dingin.

"bi-la banyak bicara, niscaya lukanya akan bertambah parah, bahkan kemungkinan besar akan menemui ajalnya."

Lamkiong Giok segera berpaling dan memper-hatikan Ji-sia, dilihatnya napas Bok Ji-sia berjalan teratur dan wajahnya tetap seperti biasa, pada ha-kikatnya sama sekali tidak menderita luka parah, hal mana membuatnya terperanjat sekali.

"Kenapa seaneh ini kepandaian silatnya?"

De-mikian ia berpikir.

"ia betul-betul punya ilmu simpanan yang menakutkan, kalau tidak, kenapa sece-pat ini lukanya bisa sembuh? Bila tidak dilenyap-kan sekarang, di kemudian hari aku pasti bukan tandingannya......."

Berpikir demikian, pelahan dia menghampiri anak muda itu, katanya.

"Parah sekali luka yang diderita Bok-heng biar kubantumu mengatur tenaga."

Telapak tangan kanannya yang telah meng-himpun pelan-pelan ditempelkan pada punggung Ji-sia.

"Minggir kau!"

Tiba-tiba perempuan aneh itu membentak, segulung angin lembut memaksa Lam-kiong Giok tergetar mundur dua langkah ke be-lakang.

Pada saat itulah, tiba-tiba Ji-sia membuka ma-tanya sambil bangkit berdiri, dengan gusar bentak-nya.

"Sambut lagi pukulanku ini!"

Telapak tangan kanannya menyodok langsung ke depan dengan kuat.

Perempuan aneh itu terkejut oleh tingkah laku Ji-sia yang sangat aneh itu, dia mengira anak mu-da itu sengaja main gila untuk menakuti saja.

Tapi perempuan aneh itu segera merasakan keadaan tidak beres, tenaga pukulan yang kuat selapis demi selapis bagai gelombang samudra menggulung tiba dengan hebatnya.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa tenaga dalam Ji-sia dapat pulih da-lam waktu sesingkat ini, bahkan kekuatannya ber-tambah besar.

Dalam keadaan tidak siap, tahu-tahu pukulan dahsyat itu sudah mendampar tiba, berada dalam keadaan demikian buru-buru dia mengayun telapak tangan kirinya ke depan.

Tapi serangan Ji-sia betul-betul dahsyat, sisa kekuatan memaksa perempuan itu tergetar mundur setengah langkah, sementara Ji-sia sendiri juga ter-getar mundur dua langkah.

Kejadian ini mengobarkan amarah perempuan aneh itu, tiba-tiba ia mendongak dan tertawa menyeramkan.........

Lamkiong Giok cukup cerdik, begitu mendengar suara tertawa itu, ia tahu musuh mulai kalap, ce-pat serunya.

"Nona Tong, saudara Bok, lekas ke-luar dari kuburan ini!"

Sambil bicara segera ia mendahului melompat ke atas undak-undakan batu di tengah kuburan itu. Tapi perempuan aneh itu bertindak cepat, be-tapa ia tidak membiarkan musuh kabur begitu saja.

"Tinggalkan dulu nyawamu!"

Bentaknya.

Ji-sia dan Tong Yong-ling telah siap untuk ka-bur dari situ demi mendengar peringatan Lamkiong Giok, tapi ketika mendengar kata-kata jumawa la-wan, hatinya jadi panas, ia menghentikan tubuhnya dan menatap tajam-tajam perempuan aneh itu.

Perempuan aneh itu membentak, tiba-tiba te-lapak tangan kiri diayun ke depan, segulung tenaga pukulan berhawa lembut secepat kilat menyambar punggung Lamkiong Giok yang sudah berada cukup jauh dan akan melompat keluar liang kubur ter-sebut, tapi angin tajam itu telah menyusul tiba di belakang tubuhnya, ia tahu serangan orang amat lihai, terpaksa dia berkelit ke samping, secara ber-untun telapak tangan kanannya melepaskan empat kali pukulan berantai.

Serangan ini amat cepat dan luar biasa, mem-buat orang sukar menebak berapa kali serangan yang telah dilancarkan.

Baru saja keempat kali serangan itu dilepaskan, tiba-tiba Lamkiong Giok merasakan datangnya te-naga pukulan yang amat tajam langsung menumbuk tubuhnya, ia terperanjat, telapak tangan kiri segera menahan ke depan.

Ketika sampai setengah jalan, tiba-tiba seperti anak panah terlepas dari busurnya Lamkiong Giok meluncur keluar kuburan.

Menyaksikan kejadian tersebut, perempuan aneh itu mendengus dan berseru.

"Anak muda, aku telah tertipu, rupanya ilmu silatnya paling tinggi!"

Kemudian sambil berpaling ia membentak lagi.

"Anak dungu, kau benar-benar tak sayang nyawamu lagi?"

Di tengah bentakannya perempuan aneh itu mengayunkan telapak tangan kanan ke depan, se-gulung angin segera meluncur ke arah Ji-sia.

"Bagus sekali!"

Bentak Ji-sia.

"ingin kulihat dengan mengandalkan apa kau berani sejumawa ini!"

Suatu pukulan dilancarkan pula dengan telapak tangan kanan, angin menderu dan menggulung tu-buh perempuan aneh itu.

Anehnya serangan Ji-sia ini tidak menumbuk serangan yang dilancarkan lawan, tapi langsung menghantam tubuh perempuan aneh itu.

Perempuan itu mengebaskan telapak tangan kiri, lalu mendengus tertahan, tubuhnya bergetar dan mundur tiga-empat langkah dengan sempoyongan.

Jelas tak enteng lukanya termakan oleh serang-an Ji-sia ini, tapi dengan demikian justeru telah membangkitkan napsu membunuhnya terhadap pe-muda itu.

Sesungguhnya perempuan aneh ini tidak ber-maksud mencelakai Ji-sia, bahkan beberapa kali menolongnya secara diam-diam, tapi serangan yang dilontarkan untuk memunahkan serangan gelap Lamkiong Giok pada Ji-sia itu telah disalah tanggap oleh Ji-sia, malahan Ji-sia sempat menghantam pe-rempuan itu.

Maka setelah menegakkan tubuhnya, sambil tertawa dingin perempuan aneh itu berseru.

"Kalau kau ingin mencari kematian sendiri, jangan salahkan aku akan bertindak keji!"

Bagaikan hantu ia terus menerjang maju de-ngan cepat. Tiba-tiba Tong Yong-ling berteriak.

"Cici, ha-rap ampuni jiwanya, semua ini hanya salah paham saja."

Waktu itu perempuan aneh sudah berada di depan Ji-sia, ketika mendengar seruan tersebut, de-ngan cepat ia menarik kembali serangannya.

Ji-sia tidak menyiakan kesempatan itu, demi dilihatnya perempuan itu menerjang tiba, tanpa bi-cara ia melancarkan pukulan ke dada lawan.

Perempuan aneh itu mendengus, secepat kilat iapun menghantam menyongsong ancaman Ji-sia.

Dua gulung tenaga kembali saling bentur dan menerbitkan angin topan, Jisia mendengus tertahan dan tergetar mundur tiga langkah, lalu jatuh ter-duduk di atas undak2an batu.

Tapi begitu jatuh terduduk pemuda itu lantas melompat bangun lagi dan melepaskan pukulan dahsyat ke depan.

Perempuan aneh itu melengak, ia tak menyang-ka orang sedemikian aneh, seakan2 semua luka yang dideritanya segera sembuh kembali dalam se-kejap, bahkan tenaga serangannya makin lama se-makin kuat.

Ia berkelit ke samping, lalu dengan jurus Peng-ho-kay-tong (sungai es mulai membeku) ia balas hantam dari samping.

Tangan kiri Ji-sia menerobos dari bawah untuk menyambut serangan dari perempuan itu, tubuh bergetar pula, tapi dengan cepat ia menerjang maju lagi.

Gerak tubuh yang aneh ini membuat kejut pe-rempuan aneh itu, dia merasa gerakan berputar itu sedemikian saktinya sehingga setiap jurus serangan yang dipelajarinya dari kitab Hian-ki-hian-ciang-pit-tik tak sanggup membendung gerak maju anak mu-da itu.

Sesudah menerjang maju, Ji-sia mendorong ke-dua tangannya ke depan, tangan kiri dan jari ka-nan menyerang bersama, dalam waktu singkat ia melepaskan lima kali pukulan dan empat kali tutukan.

Kelima pukulan dan keempat kali tutukan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan amat keji, semua tertuju pada jalan darah kematian.

Sayangnya orang yang diserang memiliki ke-pandaian setingkat lebih tinggi, bukannya mundur, perempuan aneh itu malahan maju, kedua telapak tangannya bergerak berulang dan memunahkan se-mua pukulan maupun tutukan anak muda itu.

Semua gerakan dan jurus serangan perempuan itupun jurus sakti yang sukar diduga, hal ini mem-buat Ji-sia merasa amat kagum, ia tahu sekalipun dirinya berlatih sekian waktu lagi juga belum bisa menandingi lawannya, semangat tempurnya menjadi kendor dan iapun berhenti menyerang.

Perempuan aneh itu tertawa dingin, katanya tiba-tiba.

"Sekarang tiba giliranku untuk melancar-kan tiga kali serangan!"

Segera ia menerjang maju, tangan kiri menya-pu dan tangan kanan menyodok ke depan.

Ji-sia merasakan di balik serangannya tersebut banyak terkandung gerak perubahan yang aneh, un-tuk sesaat ia tak berhasil menemukan cara peme-cahannya, karena tak berani menyambut dengan ke-kerasan, maka cepat ia menyingkir ke samping.

Perempuan aneh itu kembali tertawa dingin dan berkata.

"Kau orang yang tahu diri, kenapa tidak kau sambut seranganku ini? Hmm, serangan ke-dua ini tanggung tidak bisa kau hindari lagi!"

Segera telapak tangan kirinya melancarkan ge-rak tipu ke udara, sementara tangan kanan dengan mengepal melepaskan pukulan keras lurus ke dada.

Ji-sia tertegun, ia merasa serangan ini belum pernah dilihatnya, lamat-lamat ia merasa di balik kelima jari tangan yang mengepal itu terkandung jurus mematikan yang sangat lihai.

Cepat ia melayang mundur ke belakang.........

Siapa tahu pada saat itu tangan kiri orang yang melakukan gerak tipuan tiba-tiba menekan ke bawah, kelima jarinya dipentangkan, dari pu-kulan berubah menjadi cengkeraman.

Perubahan jurus itu sungguh aneh sekali, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ji-sia sudah kena dicengkeramnya.

Ji-sia masih ingat ilmu menutuk Hiat-to ajaran Oh Kay-gak, walaupun nadi pada pergelangan ta-ngan kanan kena dicengkeram, hal itu tidak mem-pengaruhi kemampuannya untuk mengerahkan te-naga, sambil mendengus, telapak tangan kirinya segera menghantam dada perempuan aneh itu.

Perubahan gerakan ini dilakukan dengan cepat sekali.

Perempuan aneh itu kembali tertegun melihat Ji-sia sama sekali tidak terpengaruh meski nadinya tercengkeram, tangan kirinya segera menariknya ke samping, sementara tubuhnya berputar dan ber-geser ke samping kanan anak muda itu, dengan de-mikian tubuhnya telah menempel rapat dengan tubuh Ji-sia.

"Sekarang kau boleh mati tanpa menyesal!"

Katanya sambil tertawa dingin. Telapak tangan kanannya segera diangkat dan siap menghantam ubun-ubun kepala pemuda itu....

"Lepas tangan!"

Bentakan nyaring tiba-tiba menggelegar.

Mendadak Tong Yong-ling melolos pedang Bwe-hoa-sian-kiam, cahaya tajam segera menerangi wajah Bok Ji-sia....

Perempuan aneh itu menjerit kaget........tangan-nya yang mencengkeram pergelangan tangan kiri Ji-sia segera mengendur dan telapak tangan kanan yang siap menghantam ubun-ubun mendadak miring ke samping, jari telunjuk dan jari tengahnya melingkaran terus menyelentik.

Gerakan tersebut dengan tepat berhasil menjen-tik pedang Tong Yong-ling.

Tapi cepat ia lepas tangan dan melompat mundur dengan tubuh meng-gigil, sayang suasana gelap sehingga Ji-sia dan Yong-ling tak dapat melihat jelas wajahnya.

Andaikata mereka dapat melihat wajahnya, maka akan terlihat titik air mata jatuh bercucuran....Dan hatinya pun mencucurkan darah.

Dalam hati ia berpekik dengan pedih.

"Ah.....dia anak Sia.....dia anak Sia........Ternyata ia be-lum mati. Oh. Thian! Ternyata iapun berhasil me-miliki kepandaian yang sakti."

Seluruh benaknya dipenuhi oleh kejadian yang memilukan hati di masa lampau....... Ji-sia tidak menyangka secara tiba-tiba orang membatalkan serangannya, dengan dingin tegurnya.

"Kenapa kau tidak melanjutkan seranganmu yang keji?"

Terdengar helaan napas panjang, menyusul de-ngan suara yang memilukan hati perempuan aneh itu berkata.

"Ce....cepat kalian keluar dari sini...."

Tong Yong-ling tertegun mendengar suara la-wan yang agak gemetar, tanyanya dengan lembut.

"Cici, siapakah kau?"

"Kalian tak usah tanya siapa diriku, cepat....cepat keluar dari sini....."

Ji-sia benar-benar tak tahu siapa perempuan itu, perubahan yang terjadi tiba-tiba ini membuat-nya bingung, apalagi teringat akan ilmu silat orang yang lihai, tanpa terasa anak muda itu menghela napas.

"Nona Tong, marilah kita pergi!"

Katanya lirih. Tanpa membuang waktu ia putar badan dan keluar dari kuburan itu diikuti Tong Yong-ling di belakang.... Tiba-tiba dari dalam kuburan berkumandang suara perempuan aneh itu.

"Dunia persilatan penuh dengan tipu muslihat dan kekejian, kalian harus bertindak lebih waspada. Nona Tong, hendaknya kau jaga dia baik-baik."

Perkataan itu sedemikian lembutnya, sama se-kali tidak lagi bernada dingin seperti yang diper-dengarkan tadi, bahkan nadanya penuh perasaan kuatir dan penuh perhatian.

Heran Tong Yong-ling oleh ucapan tersebut, sahutnya.

"Terima kasih atas perhatian Cici, aku mengerti, kau............"

Sebenarnya dia ingin tanya siapakah dia, tapi perempuan aneh itu segera memotong perkataannya.

"Cukup, sekarang kau boieh pergi dari sini!"

Tong Yong-ling benar-benar tak mengerti, se-kalipun ia pintar, akhirnya dibikin bingung juga oleh perubahan yang aneh dan tak terduga itu.

Se-jak masuk ke dalam kuburan tadi ia sudah merasa-kan berulang kali Lamkiong Giok bermaksud mem-bunuh Bok Ji-sia, tapi berulang kali ditolong oleh perempuan aneh itu, ia sudah merasa perempuan aneh itu memang tiada maksud untuk mencelakai Ji-sia.

Tapi ucapan Ji-sia yang terlalu kasar, akhirnya membangkitkan napsunya untuk membunuh, tapi pada serangan terakhir tadi, tiba-tiba ia mundur se-cara mendadak, agaknya perasaannya mengalami pergolakan keras.......

Satu ingatan dengan cepat terlintas dalam be-nak nona ini.

"Jangan2 perempuan ini adalah bekas kekasih Bok Ji-sia?"

Demikian pikirnya.

"Kalau tidak, me-ngapa bisa terjadi hal aneh ini? Bukankah sejak mula ia selalu tanya namanya.....?"

Berpikir sampai di sini, timbul rasa sedih dan kecewa dalam hatinya, ia menghela napas dan ikut di belakang Ji-sia keluar dari kuburan itu.

Baru saja akan melangkah keluar kuburan, ti-ba-tiba dari depan berhembus tenaga pukulan yang membendung jalan keluar mereka.

Ternyata kawanan jago persilatan yang berada di luar kuburan masih tetap belum pergi, mereka masih berdiri mengitari kuburan, ketika melihat Ji-sia dan Tong Yong-ling berjalan keluar, serentak mereka lancarkan pukulan dahsyat.

Selagi Ji-sia merasa bingung, dari dalam ber-kumandang suara perempuan aneh tadi.

"Boleh ka-lian melompat ke kiri-kanan mulut kuburan......."

Melihat pukulan musuh yang sangat kuat itu, maka tanpa pikir panjang mereka menurut dan me-lompat ke kiri dan kanan sambil melancarkan pukulan.

Pada saat mereka melompat ke samping, dari dalam kuburan menggulung keluar pula desing angin yang memunahkan serangan kuat kawanan jago persilatan di luar itu.

Tak terlukiskan rasa kejut kawanan jago per-silatan itu melihat perempuan dalam kuburan itu membantu Bok Ji-sia.

Mendadak menyambar lagi angin tajam dari dalam liang kubur itu.

Beberapa kali jeritan ngeri bergema, belasan orang tewas seketika dalam kea-daan mengerikan.

Suasana menjadi gempar, kawanan jago sama melompat mundur keluar ruangan itu.

Dengan suatu gerak cepat Ji-sia dan Yong-ling segera melompat menuju ke ruang tengah.

Dengan sinar mata tajam Ji-sia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian membentak.

"Siapakah yang menyergap kami berdua?"

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat mengelus jeng-gotnya dan tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha......sau-dara Bok, sahabatmu sendiri yang membangkitkan semangat orang banyak untuk menyerangmu!"

"Sahabatku siapa?"

Tanya Ji-sia.

Dalam pada itu Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang tiba-tiba menyusup ke belakang Ji-sia, kesepuluh jarinya terentang lebar dan secepat kilat mengancam bagian jalan darah penting di punggung anak muda itu.

"Saudara Bok, awas sergapan dari belakang!"

Mendadak Lamkiong Giok berteriak.

Dengan suatu lompatan cepat ia menerjang maju sambil melancarkan pukulan ke tubuh Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang.

Gusar sekali Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang karena Lamkiong Giok menggagalkan serangannya yang nyaris merenggut jiwa lawan itu, teriaknya keras.

"Bagus sekali Lamkiong Giok! Ternyata kau ma-lah membantu musuh untuk memusuhi kami, kau betul-betul tidak bersahabat."

"Saudara Hou jangan salah paham"

Sahut Lamkiong Giok sambil tertawa tergelak.

"sesungguh-nya aku justeru telah menolong jiwamu!"

Ji-sia merasa berterima kasih kepada Lamkiong Giok atas bantuan yang diberikan, mendengar per-kataan itu katanya kepada Eng-jiau-jiu sambil ter-tawa dingin.

"Terus terang kuberitahukan padamu, andaikata Lamkiong Giok tidak menyerangmu, se-jak tadi kau sudah mampus di bawah serangan balasanku!"

Lamkiong Giok tersenyum, sambungnya.

"Sau-dara Hou, sekarang tentunya kau percaya maksud baikku bukan?"

Mendengar perkataan itu, Eng-jian-jiu jadi bi-ngung hingga untuk sesaat termangu.

Padahal Lamkiong Giok berbuat demikian lantaran kuatir Oh Ku-gwat menunjukkan bahwa dia yang menganjurkan agar semua orang turun tangan membunuh Bok Ji-sia.

Oleh karena itu dia pura-pura memukul mundur Eng-jiau-jiu agar rasa curiga Bok Ji-sia terhadapnya bisa dihilangkan.

Sebab menurut per-hitungannya, lebih baik bermusuhan dengan Eng-jiau-jiu daripada memusuhi Bok Jisia, siapa tahu tindakannya itu justeru malah mendatangkan dua hasil sekaligus.

Oh Ku-gwat tertawa dingin, katanya.

"Sungguh mengagumkan, Lamkiong Hian boleh berbangga karena mempunyai seorang anak pintar seperti kau...."

Ji-sia masih menaruh dendam kepada Oh Ku-gwat karena nyaris terbunuh dalam Thian-seng-po tempo hari, ia lantas mendengus dan bentaknya.

"Oh Ku-gwat, utang-piutang kita sudah sepantasnya di perhitungkan sekarang!"

Sambil menghimpun tenaga dalam ia melepas-kan pukulan dahsyat ke arah Oh Ku-gwat.

Kakek kosen di belakang Oh Ku-gwat tertawa dingin, kedua tangannya mendorong ke depan, de-ngan pukulan dahsyat menyambut serangan Ji-sia itu.

Ji-sia bertambah gusar setelah mengenali kakek cebol yang bersekongkol dengan Oh Ku-gwat untuk menjebaknya dulu, semua kemarahan segera dilimpahkan kepadanya.

Sambil menghimpun segenap tenaga dalam, dia membentak.

"Bangsat, kau cari mampus!"

Pukulan dahsyat dilontarkan, telapak tangan kanan membacok tubuh kakek cebol itu.

Sungguh hebat serangan yang dilancarkan da-lam keadaan gusar, apalagi setelah memperoleh ke-majuan pesat.

Suatu benturan keras terjadi, kakek cebol itu kontan terpental tujuh-delapan langkah.

Sementara itu kawanan jago Thian-seng-po pelahan bergerak maju mendekati Ji-sia dan Yong-ling.

Cian-ciau-tocu, singa baja bercambang dengan memimpin anak buahnya juga mengurung sekitar tempat itu, menyusul juga bergerak Hek-to-sam-koay.

Suasana menjadi tegang, dalam keadaan seperti ini, keadaan Ji-sia amat gawat, suatu pertarungan sengit segera akan terjadi.

Kakek cebol yang dipaksa mundur oleh Ji-sia itu membentak marah, ia melambung ke udara, bagaikan seekor burung elang menubruk ke arah anak muda itu.

"Jangan gugup saudara Bok, aku datang membantumu!"

Tiba-tiba Lamkiong Giok berteriak. Tangan kanannya dikebaskan ke muka, empat jalur sinar secepat kilat menyambar batok kepala Bok Ji-sia. Dengan rasa kaget Tong Yong-ling berseru.

"Lamkiong Giok, kau........"

Ketika Ji-sia melihat si kakek cebol itu me-nerjang datang, secepatnya ia bergeser ke samping, maka keempat bilah pedang terbang Lamkiong Giok pun menyambar lewat ke belakang kepalanya dan langsung menyambar tubuh kakek cebol itu.

Jerit kesakitan berkumandang, darah berham-buran, batok kepala kakek cebol itu terpenggal pu-tus dan menggelinding oleh sambaran keempat pe-dang terbang itu, tentu saja nyawanya melayang seketika.

Empat jalur sinar tajam tadi berputar setengah lingkaran lalu melayang kembali ke dalam lengan baju Lamkiong Giok.

Ji-sia makin berterima kasih melihat Lamkiong Giok membantunya berulang kali, dengan suara lan-tang dia berseru.

"Lamkiong Giok, demi memban-tuku kau tak segan-segan bermusuhan dengan Thian-seng-po, kebaikan ini sungguh membuatku terharu."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba desing ang-in tajam kembali menerjang datang dari belakang.

Ji-sia menghimpun tenaga dan berdiri sekuat tonggak, lalu putar badan dan disambutnya serang-an tersebut dengan keras lawan keras, ketika ia me-mandang ke sana, kiranya Oh Ku-gwat yang sedang menyerang dirinya dan Lamkiong Giok dengan ta-ngan kiri dan kanan.

Lamkiong Giok juga berkelit ke samping menghindarkan serangan Oh Ku-gwat itu, kemudian sam-bil tertawa katanya kepada Ji-sia.

"Dunia persilatan adalah tempat orang beradu akal, tipu muslihat yang lebih licin akan lebih baik, tapi kulihat saudara Bok seorang jujur dan berjiwa besar, sejak perke-nalan semalam aku sudah merasa cocok denganmu, asal saudara Bok tidak keberatan, kita tak perlu lagi membedakan kau atau aku, apalagi antara Thian-seng-po dengan Kiam-hong-ceng memang sudah ter-ikat permusuhan."

Semakin tertarik Ji-sia oleh ucapan itu, kata-nya dengan terharu.

"Saudara Lamkiong, sungguh beruntung Siaute dapat bersahabat denganmu, cinta kasihmu itu pasti akan kuingat selalu."

Diam-diam Lamkiong Giok merasa girang se-kali, sebab bantuan anak muda ini jauh lebih ber-harga daripada Hek-to-su-koay, apalagi Tok-sim-siusu Bu Yan-hong telah tewas.

Segera Lamkiong Giok berseru lantang.

"Sau-dara Bok, mulai sekarang kita akan bekerja sama untuk menghadapi musuh yang bandel, terjang dulu kepungan dan kemudian baru berunding lagi tindak-an selanjutnya."

"Lamkiong Giok?"

Kui-tau-kou Tu Leng-mo tertawa seram.

"apakah kau hendak membatalkan janji kita semula?"

Saudara Tu, kenapa kau berkata demikian? Tak pernah kubatalkan janji kita, malahan saudara Tu sekalian yang justru tidak pegang janji kita semalam untuk bersama-sama menghadapi Thian-seng-po....."

Dalam pada itu Oh Ku-gwat menjadi murka karena pembantu setianya tewas di tangkap Lam-kiong Giok, ia telah menubruk ke samping pemuda itu, dengan tiga jari segera ia menutuk jalan darah penting di tubuh Lamkiong Giok.

Sambil menyerang Oh Ku-gwat berseru.

"Sau-dara Bengcu dari Holam, Shoatang dan Oupak, selamanya kami Thian-seng-po tak ada ganjalan apa-apa dengan kalian, buat apa kalian memusuhi kami? Sifat Lamkiong Giok kini sudah kalian ke-nal, lebih baik kita bekerja sama saja untuk mem-binasakan mereka."

Lamkiong Giok yang diserang merasa terkejut.

"Sungguh dahsyat tenaga jari tangannya!"

Ia berkelit ke samping, dengan jurus To-coan-im-yang (memutar balikan im dan yang) dia balas menyerang, langsung ia cengkeram urat nadi tangan Oh Ku-gwat.

Tiba-tiba Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang dari Hek-to-sam-koay tertawa seram, serunya lantang.

"Sau-dara Tu, saudara Ki, mari kita membinasakan me-reka!"

Sambil berseru, Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang men-dahului mencengkeram punggung Lamkiong Giok dengan cakar setannya.

Ji-sia mendengus, cepat ia berputar, de-ngan suatu gerakan aneh iapun mencengkeram pergelangan tangan Eng-jiau-jiu.

Jilid 8 Bila jago-jago lihai bertarung, menang atau kalah seringkali ditentukan dalam waktu sekejap, Eng-jiau-jiu tidak menyangka Ji-sia mempunyai ge-rak tubuh secepat itu, terasa tangan menjadi kaku daa tahu-tahu urat nadinya sudah dicengkeram Bok Ji-sia.

Di pihak lain, Lamkiong Giok dengan Ki-na-jiu-hoat berhasil pula memaksa Oh Ku-gwat me-narik serangannya dan melompat mundur.

Ketika melihat Ji-sia berhasil mencengkeram urat nadi tangan kiri Eng-jiau-jiu, diam-diam ia merasa gembira, serunya sambil tertawa.

"Saudara Bok, ilmu silatmu memang mengagumkan!"

"Saudara Lamkiong, hukuman apa yang hendak kau jatuhkan terhadap orang ini?"

Tanya Ji-sia.

"Jika saudara Bok ada permusuhan dengan dia, bereskan dia saja!"

Sahut Lamkiong Giok.

Waktu itu, Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou su-dah menyusup ke belakang Ji-sia, suatu pukulan terus dilontarkan.

Ji-sia mendengus, tiba-tiba tangan kirinya di-tarik ke belakang, tubuh berputar setengah lingkaran dan telapak tangan kanan membacok keluar....

"Blang!"

Benturan terjadi, Ki Thi-hou tergetar mundur selangkah.

"Saudara Hou, kubantu kau!"

Tiba-tiba Oh Ku-gwat berteriak, telapak tangan kanannya dengan membawa deru angin terus menghantam iga kiri Bok Ji-sia.....

Sebagaimana diketahui, tenaga dalam Oh Ku-gwat amat sempurna, Ji-sia pernah nyaris tewas di bawah telapak tangannya, serangan yang mengguna-kan tenaga delapan bagian ini betul-betul dahsyat sekali.

Ji-sia yang keras hati berkerut dahi, dengan tangan kanan ia sambut serangan tersebut.

Ketika terjadi benturan keras, Ji-sia tergetar sampai berputar dan mundur dua langkah, sebalik-nya Oh Ku-gwat juga tergetar.

Oh Ku-gwat tertegun, ia merasa tenaga pukulan Ji-sia jauh lebih tangguh daripada beberapa hari yang lalu.

Dalam pada itu Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou juga telah menyerang dari arah lain.

Ji-sia memutar tangan kanan dengan jurus "Hong-eng-si-gi" (burung manyar pentang sayap) ia sodok iga Ki Thi-hou, serangan itu dilancarkan belakangan, tapi tiba disasaran lebih dulu dan Sat-hong-tok-ciang harus melindungi diri lebih dulu.

Sambil miringkan tubuh ia bergeser dua lang-kah ke samping, dengan demikian pukulannya pun mengenai sasaran kosong.

Ketika serangannya gagal tadi, Oh Ku-gwat marah dan mendongkol, bentaknya.

"Saudara Ki, cepat kita bereskan dulu lawannya!"

Kedua telapak tangan segera membacok silih berganti, dua gulung angin tajam menyambar ke-luar.

Ji-sia mendengus gusar, tangan kirinya menarik dan tubuh Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang digunakan menyongsong serangan Oh Ku-gwat.

"Saudara Bok, biar kubantu tahan serangan-nya!"

Tiba-tiba Lamkiong Giok membentak.

Segera telapak tangan kirinya menghantam tu-buh Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang, rupanya tujuan se-benarnya adalah untuk membunuh Hou Wi-kang.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa dingin, katanya.

"Lamkiong Giok, hatimu benar-benar ter-lampau keji!"

Tiba-tiba serangan yang dituju Ji-sia itu berbalik menerjang ke arah Lamkiong Giok, perubahan ge-rak serangan ini betul-betul hebat sekali.

Ketika serangan dilancarkan tadi, Lamkiong Giok telah melompat maju ke depan, lalu mengejek.

"Oh Ku-gwat, mulai kapan hatimu menjadi welas asih?"

Tiba-tiba Ji-sia melepaskan cengkeramannya pada pergelangau tangan Hou Wi-kang, sambil me-lemparkan tubuh orang, dia berseru.

"Mengingat perjanjianmu dengan Lamkiong Giok, untuk semen-tara waktu kuampuni jiwamu."

"Saudara Bok, kebesaran jiwamu ini sungguh membuat orang merasa kagum!"

Puji Lamkiong Giok dengan tertawa.

"Memangnya saudara Lamkiong minta aku mem-bunuhnya?"

Tanya Ji-sia.

Ternyata Ji-sia salah mengartikan perkataan Lamkiong Giok, dengan sifat kejam orang tak nanti Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang dilepaskan begitu saja.

Sambil melotot Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang ber-seru.

"Lamkiong Giok, kau kejam dan berhati bu-suk, suatu hari pasti akan kubikin pembalasan!"

"Hei, saudara Hou kenapa kau membalas air susu dengan air tuba?"

Kata Lamkiong Giok sambil tertawa.

"coba kalau kita tiada perjanjian di muka, hari ini kau pasti sudah tewas di tangan saudara Bok, mau kau anggap sahabat atau musuh tarserah pada dirimu, tapi lebih baik bantu saja diriku untuk me-lawan Thian-seng-po, kalau tidak, hmm, kukira da-lam dunia persilatan sudah tiada tempat lagi bagi kalian Hek-to-su-koay untuk menancap kaki."

"Lamkiong Giok!"

Bentak Kui-tau-kou Tu Leng-mong dengan gusar.

"dengan caramu yang ti-dak setia kawan, siapakah yang sudi bekerja sama denganmu. Hmm, hari ini juga kami akan mem-buat perhitungan denganmu!"

"Saudara Tu, saudara Hou, saudara Ki, laku-kan saja keinginan kalian!"

Timbrung Oh Ku-gwat.

"segala akibatnya akan kutanggung bagi kalian!"

Mendengar perkataan ini, Hek-to-sam-koay tahu Oh Ku-gwat bersedia menerima mereka ke pihaknya, setelah merasa mantap ada Thian-seng-po sebagai tulang punggung yang tak kalah hebat-nya daripada Kiam-hong-ceng, perasaan mereka menjadi tenang, kalau tidak, mereka benar-benar takut Kiam-hong-ceng akan mencari balas kepada mereka.

Ji-sia merasa gusar menyaksikan sikap Oh Ku-gwat yarg berseri-seri itu, sambil membentak ia menerjang maju, tangan kiri membuat gerakan se-tengah lingkaran dan menyambar dari samping, se-mentara telapak tangan kanan menyodok ke depan.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat cukup tahu mu-tu serangan lawan, cepat ia berkelebat ke samping untuk menghindar.

Dalam pada itu.

dengan langkah pelahan Hek-to-sam-koay mendekati Lamkiong Giok, rupanya mereka bermaksud mengerubuti orang itu.

Lamkiong Giok tertawa sinis, tiba-tiba tangan kirinya memberi tanda, serunya kepada kawanan laki-laki berbaju ringkas.

"Siapkan barisan Huan-in-kiam-tin!"

Dua belas laki-laki berbaju hitam dari Kiam-hong-ceng serentak mencabut pedangnya, lalu ba-yangan orang berkelebat lewat, dalam waktu sing-kat kedua belas orang itu sudah maju mengurung Hek-to-sam-koay di tengah.

Lamkiong Giok segera berpaling ke arah Ji-sia, lalu katanya sambil tertawa.

"Saudara Bok, mari kita bereskan dulu ketiga orang ini, kemudian bersama-sama menghadapi Thian-seng-po!"

Tong Yong-ling cukup kenal kekejian Lamkiong Giok, ia tahu saat ini tak lebih hanya ingin meng-gunakan tenaga Ji-sia untuk melawan musuh, se-bab keadaan sekarang sangat tidak menguntungkan Lamkiong Giok, maka kerja samanya dengan Ji-sia sangat diharapkannya.

Maka demi mendengar anjuran orang cepat kata-nya kepada Ji-sia.

"Bok-siangkong, kedatangan kita kemari hanya untuk mencari kitab Hian-ki-hian-cing, kini mestika itu sudah diperoleh orang lain, lebih baik pergi saja dari sini. Apalagi sampai se-karang Ku-locianpwe belum juga muncul di sini, jangan2 beliau tertimpa musibah......"

Belum habis perkataannya, Hek-to-sam-koay te-lah mulai membuka serangan dengan pukulan dah-syat, secara beruntun mereka membinasakan tiga oraing laki-laki kekar di hadapannya, dalam waktu singkat mereka telah berhasil menjebol barisan pe-dang dari kedua belas orang itu dan melompat ke samping Oh Ku-gwat.

Begitu lolos dari kepungan, Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang segera tertawa seram, katanya.

"Lamkiong Giok, barisan pedang Huan-in-kiam-tin dari Kiam-hong-ceng memang hebat sekali, nyaris kami ber-tiga kehilangan nyawa dengan percuma!"

Mendengar sindiran tersebut, saking gemasnya Lamkiong Giok tertawa, serunya.

"Saudara Hou, kalian benar-benar berani memusuhi dinku?"

Ji-sia pun tidak habis mengerti, ia tak menyangka Lamkiong Giok yang cerdik ini bisa menyuruh dua belas orang tak berguna semacam itu untuk meng-atur barisan pedang dan pamer kejelekan belaka.

Terdengar Sat-hong-tok-ciang Ki Thi hou ber-kata sambil tertawa seram.

"Lamkiong Giok, se-kalipun kau licik dan banyak tipu muslihatnya, ku-lihat hari ini kau akan sulit unjuk gigimu!"

"Betul!"

Sambung Oh Ku-gwat sambil tertawa bangga.

"Lamkiong Giok, tak kau sangka bukan hahwa semua oraag yang kau bawa bakal menyeberang ke pihakku secara sukarela? Hahaha, sekarang ha-nya tinggal kau seorang, akan kulihat kehebatan apa yang bisa kau pertontonkan?"

Lamkiong Giok menyapu pandang sekejap se-keliling gelanggang, diam-diam hatinya tergetar, ter-nyata entah sejak kapan Bu sian-gisu Kwanliong Ciong-leng sudah tidak nampak lagi batang hidung-nya, Cian-ciau-tocu, si Singa baja bercambang In Ceng-bu pun telah meninggalkan tempat itu bersa-ma seluruh anak buahnya, yang masih tinggal dalam gelanggang sekarang hanyalah jago-jago dari Thian-seng-po.

Lamkiong Giok segera tertawa dingin, katanya "Oh Ku-gwat, jangan kalian mengandalkan jumlah lebih banyak, kalau cuma gentong nasi saja apa gunanya?"

"Lamkiong Giok,"

Oh Ku-gwat tersenyum.

"siapakah orang persilatan yang tak tahu kau berilmu tinggi dan berakal busuk? Apalagi nama ayah-mu cukup membuat jeri orang, maka orang per-silatan sama mengalah padamu......"

Lamkiong Giok tertawa ringan.

"Oh Ku-gwat, kenapa kau memuji diriku? "Apakah ada sesuatu yang hendak kau katakan?"

"Sungguh mengagumkan! Memang ada sedikit urusan hendak kurundingkan denganmu"

"Dewasa ini kau berada pada posisi yang le-bih menguntungkan, entah ada persoalan apa hen-dak kau rundingkan denganku? Kenapa tidak cepat kau katakan saja?"

Kata Lamkioug Giok dengan ter-tawa dingin.

"Lamkiong Giok, jauh-jauh dari Kiam-hong-ceng kau datang kemari, bukankah tujuanmu hanya benda mestika Hian-ki-hian-ceng belaka?"

"Ah! Maksud tujuanku kan sudah kau ketahui dengan jelas."

"Lamkiong Giok, dari Kiam-hong-ceng bukankah tidak cuma kau sendiri yang datang kemari?"

Mendengar pertanyaan itu, Lamkiong Giak tertegun, dengan sangsi pikirnya.

"Apakah semua urusan Kiam-hong-ceng kami telah diketahui oleh pihak Thian-seng-po?"

"Sementara ia termenung, Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat telah berkata lagi dengan tertawa bang-ga.

"Lamkiong Giok, kedatanganmu kemari bukan-kah membawai tiga macam tugas?"

"Benar! Benar! Entah mengapa kau tanyakaa persoalan ini?"

Sekali lagi Oh Ku-gwat bertanya secara mis-terius.

"Lamkiong Giok? tahukah kau kenapa dari pihak Thian-seng-po hanya mengutus sedikit orang kemari? Sedangkan dari pihak Bu-lim-su-toa-tocu juga hanya Bian-ciau-tocu yang paling lemah yang diutus kemari?"

Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha, sebenarnya aku mengira orang-orang Thian-seng-po cuma katak dalam sumur, ternyata kalian pun siluman rase semua, serba tahu dan licin."

Oh Ku-gwat mendengus sinis.

"Hmm, Lam-kiong Giok, jangan merasa bangga dulu, terus te-rang kuberitahukan padamu, kalian orang-orang Kiam-hong-ceng yang sesungguhnya telah terjebak dalam siasat orang, walaupun untuk urusan lain itu kalian telah mengirim tenaga yang paling diandal-kan, tapi sayang kalianpun hanya akan menubruk tempat kosong belaka."

Bok Ji-sia menjadi bingung mendengar pem-bicaraan kedua orang itu, ia tak tahu persoalan apa yang sedang mereka bicarakan itu.

Berbeda dengan Tong Yong-ling, diam-diam ia merasa gelisah, sebab ia tahu salah satu per-soalan diantara ketiga soal yang dikatakan Oh Ku-gwat sebagai tujuan kedatangan Lamkiong Giok itu adalah soal yang menyangkut ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian, ia kuatir Oh Ku-gwat membocor-kan rahasia tersebut kepada orang lain sehingga mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Betul juga, air muka Lamkiong Giok segera berubah demi mendengar perkataan itu, tapi hanya sebentar saja lantas tenang kembali.

"Kalau begitu urusan itu sudah ditubruk oleh kalian orang-orang Thian-seng-po?"

Katanya.

"Belum pasti,"

Sahut Oh Ku-gwat sambil ter-tawa.

"karena semakin banyak orang yang ikut serta dalam urusan ini, lagipula ilmu silat mereka rata-rata lihai sekali dan terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, maka kami mungkin agak sulit untuk merebut kemenangan, tapi kami akan melakukan suatu tindakan yang pasti di luar du-gaan siapapun,"

Lamkiong Giok tertawa dingin pula.

"Pemeran utama persoalan itu seorang yang cerdik dan ber-ilmu tinggi, dengan sedikit kekuatan Thian-seng-po kalian kuyakin masih belum mampu menghadapi-nya!"

"Aku setuju dengan perkataanmu dan percaya bukan omong kosong belaka, cuma kemenangan ter-akhir tetap milik Thian-seng-po, selain itu tentu sa-ja masih ada soal lain yang jauh lebih penting lagi, paling tidak hingga kini telah mengalami banyak perubahan yang luar biasa, tapi seperti juga apa yang kukatakan tadi, pada akhirnya kalian akan kalah dengan mengenaskan."

Mendengar perkataan itu, Lamkiong Giok me-ngira pihaknya benar-benar telah dikalahkan orang Thian-seng-po, ia berpikir.

"Persoalan penting yang dimaksudkannya sekarang sudah pasti adalah Jian-kim-si-hun-pian, apakah selama delapan belas tahun terakhir ini ruyung tersebut benar-benar me-ngalami perubahan luar biasa?"

Dalam hati ia berpikir demikian, di luar ia ber-kata dengan dingin.

"Oh Ku-gwat, buat apa kita bicara secara samar-samar? Kalau hendak berunding denganku, lebih baik katakan saja secara langsung."

"Mana, mana!"

Oh Ku-gwat tersenyum.

"se-betulnya persoalan yang hendak kurundingkan de-nganmu adalah masalah yang sederhana, yakni ku-harap kau dengan semua anak buahmu segera meninggalkan tempat ini."

Lamkiong Giok merasa geli, pikirnya "Sebe-tulnya setan tua ini sedang melakukan siasat apa kepadaku, kenapa setelah bicara begitu banyak dia hanya minta kepadaku untuk meninggalkan tempat ini, mungkinkah di sini bakal terjadi sesuatu peris-tiwa besar?"

Mana dia tahu bahwa Oh Ku-gwat ingin tu-run tangan sendiri terhadap Bok Ji-sia dan merampas ruyung Jian-kim-si-hun-pian, lantaran kua-tir hal ini diketahui Lamkiong Giok, maka ia an-jurkan kepadanya agar cepat meninggalkan tempat itu.

"O, kiranya kau hanya minta kami meninggal-kan tempat ini... Tapi kenapa kau mesti merisau-kan soal ini? Atau mungkin ada rahasia lainnya? Apakah kau dapat menjelaskan lebih jauh?"

Sebagai seorang yang cerdik Lamkiong Giok tahu kekuatan Oh Ku-gwat sekarang sesungguhnya melampaui kekuatan dirinya, tapi bukannya me-ngancam dengan kekuatannya, ia malah melepaskan-nya pergi, sudah pasti hal ini bukan dikarenakan takut kepada ayahnya, tapi dibalik persoalan itu tentu masih ada rahasia lain, sebab itulah Lamkiong Giok menegurnya secara langsung.

Tentu saja Oh Ku-gwat juga tahu bahwa Lam-kiong Giok telah menaruh curiga, tapi dia telah mempersiapkan jawaban yang baik, maka sambil tersenyum ia berkata.

"Saudara Lamkiong, kau adalah seorang yang cerdik, kuminta kau pergi ten-tu saja karena ada sedikit urusan, tapi urusan ini menyangkut kepentinganku dan lagi merupakan persoalan dendam pribadi."

Ji-sia bukan orang bodoh, dengan cepat ia dapat menebak maksud lawannya, sambil tertawa dingin serunya.

"Oh Ku-gwat, tak perlu kau gunakan tipu muslihat, nanti kubeberkan duduknya persoalan secara berterus terang, akan kulihat apa-kah angkara murkamu itu dapat kesampaian atau ti-dak?"

Mendengar perkataan itu diam2 Oh Ku-gwat terkejut, ia benar2 kuatir kalau Ji-sia membeber-kan soal Jian-kim-si-hun-pian kepada umum, ji-ka terjadi demikian, biarpun Thian-seng-po berkekuatan besar, harapannya untuk mendapatkan ruyung emas itu akan bertambah tipis.

Sekalipun hati terkejut, tapi di luar ia berla-gak tenang, sahutnya sambil tertawa ringan.

"Bok-lote, kurasa kaupun tak akan mencari kematian sen-diri."

"Bok-siangkong"

Tiba-tiba Tong Yong-ling ber-bisik.

"soal membalas dendam lebih baik kita kesampingkan dulu, untuk sementara waktu mari ki-ta tinggalkan tempat ini.."

Ji-sia pun sadar tak boleh tinggal terlalu lama di sini, ia mendengus lalu putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Tiba-tiba bayangan orang berkelebat, Sat-hong-tok-ciang Kui-tau-kou dan Eng-jiau-jiu dengan ce-pat menghadang jalan pergi anak muda itu.

"Apa maksudmu menghadang jalan pergiku?"

Te-gur Ji-sia dengan dingin.

"Orang she Bok."

Kata Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang dengan penuh rasa dendam.

"jika tidak ting-galkan batok kepalamu di sini, anak perempuan she Tong itupun jangan harap bisa pergi dari sini dalam keadaan hidup."

"Huh, hanya dengan mengandalkan kekuatan kalian bertiga?"

Jengek Ji-sia ketus.

"Untuk menghancurkan bangsat seperti kau, tiga orang pun sudah lebih dari cukup!"

Kui-tau-kou Tu Leng mong menyela.

"Betul-betul tak tahu malu,"

Damprat Tong-Yong-ling.

"jadi kalian bisanya cuma mencari ke-menangan dengan main keroyok? Jika kejadian ini tersiar dalam dunia persilatan, akan kulihat wajah kalian akan di taruh ke mana?"

Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou tertawa seram, katanya.

"Ia membunuh Bu Yan-hong, itu berarti mengikat permusuhan sedalam lautan dengan kami untuk membalas dendam, main kerubut juga bukan sesuatu yang memalukan."

Tiba-tiba mata Bok Ji-sia memancarkan sinar dingin yang menggidikkan, ia memandang sekejap ketiga orang itu, kemudian katanya.

"Yang meng-alangi aku mati, siapa menyingkir hidup!"

Berbareng dengan ucapan itu, tiba-tiba kedua telapak tangan menghantam sekaligus ke tengah ke-tiga manusia aneh itu dengan jurus Tui-san-tim-hay (mendorong bukit membendung laut).

Hek-to-sam-koay dengan enam tangan segera menangkis.

"Blang!"

Tenaga pukulan yang sangat kuat bertumbukan.

Ji-sia mendengus tertahan dan tergetar mundur dua langkah.

Hek-to-sam-koay kembali mengayun telapak tangan masing-masing dan melancarkan pukulan ku-at.

Mendadak Jisia berpekik, seperti hantu ia ber-kelebat lewat, telapak tangan kanan menghantam Kul-tau-kau Tu Leng-mong.

Gerak tubuh Ji-sia ketika berkelebat lewat itu sungguh jarang ada dalam dunia persilatan, seketika Tu Leng-mong terdorong mundur ke belakang, ia muntah darah dan isi perutnya menderita luka cu-kup parah.

Pada saat yang sama, Tong Yong-ling melolos pedang Bwe-hoa-sian-kiam, sekali tangan bergetar menciptakan tiga kuntum bunga Bwe putih yang segera menyelimuti tubuh Eng-jiau-jiu dan Sat-hong-tok-ciang.

Jurus pedang yang aneh tapi mengerikan itu memaksa kedua orang itu tak berani mendekat dan terpaksa melayang mundur ke belakang.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa dingin, cepat ia menerjang maju, jari tangannya menjentik berulang kali, desing angin menyambar jalan darah Ciang-buh-hiat di tubuh Ji-sia.

Ji-sia menghindar dengan cekatan, lima jari tangan kiri tepentang dan mencengkeram urat nadi lawan, sementara telapak tangan kanan melepaskan pukulan dahsyat menyambut tenaga jari musuh.

Oh Ku-gwat tertawa dingin, ia menubruk ma-ju, kaki menendang dada Ji-sia yang terbuka, me-nyusul tangan kanan menghantam jalan darah Pek-hwe-hiat lawan.

Tendangan maupun pukulan ini dilancarkan dengan cepat luar biasa, mana jurus serangan aneh lagi, semua bagian mematikan di tubuh Ji-sia terkurung di bawah ancaman jurus maut tersebut.

Terkesiap Tong Yong-ling, ia membentak, pe-dang berputar, cahaya pedang berkilauan secepat kilat menusuk Oh Ku-gwat.

Siapa tahu Eng-jiau-jiu dan Sat-hong-tok-ciang juga menubruk ke arah TongYong-ling.

Dalam keadaan begini, seandainya Yong-ling tidak menarik serangannya niscaya dia akan tewas di tangan mereka berdua.

Lamkiong Giok mendengus, serunya.

"Saudara Hou, saudara Ki, kenapa kalian menyergap seorang gadis dengan cara yang memalukan......?"

Secepat kilat ia melayang maju, kedua telapak tangan di ayun sekaligus untuk menyambut datang-nya pukulan kedua manusia aneh yang tertuju pa-da Tong Yong-ling itu, Oh Ku-gwat sendiri terpaksa tarik serangannya di tengah jalan oleh desakan pedang Tong Yong-ling, cepat ia melayang ke samping.

Eng-jiau-jiu dan Sat-hong-tok-ciang yang me-nahan pukulan Lamkiong Giok sama-sama bergetar, air mukanya berubah, mereka tak menyangka kekuat-an pukulan Lamkiong Giok tidak lebih lemah dari-pada Bok Ji-sia.

"Lamkiong Giok, kau betul-betul hendak me-musuhi kami?"

Seru Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang de-ngan nada seram.

"Tidak berani!"

Lamkiong Giok tertawa dingin.

"tapi kalau aku bermaksud demikian, entah apa pula yang hendak dilakukan saudara Hou?"

Dengan wajah kaku Oh Ku-gwat berkata.

"Lamkiong Giok, jika kau mau berpeluk tangan, la-in waktu pasti akan kubalasmu, tapi kalau kau membantu mereka, hm........hmm....Berikut di-rimu akan kami bereskan."

Ttba-tiba ia melolos pedangnya, lalu berseru lantang.

"Saudara Hou, saudara Tu, saudara Ki, kalian mengawasi Lamkiong Giok, akan kugunakan Thian-kang-kiam untuk membereskan mereka."

Ketika Lamkiong Giok menyaksikan Oh Ku-gwat melolos pedangnya, ia merasa terperanjat, ia tahu kehebatan ilmu pedang Thian-kang-kiam-hoat, malahan tempo hari nyaris ayahnya terluka di ujung pedang Thian-kang-kiam Oh Kay-gak.

Maka setelah dilihatnya orang bermaksud mem-bunuh Bok Ji-sia, sadarlah dia bahwa bencana ini sukar dihindari lagi, diam-diam ia memutuskan un-tuk bermain sebentar dengan Sam-koay agar Oh Ku-gwat ada kesempatan membunuh Bok Ji-sia.

Ji-sia sendiri pernah mendengar tentang kelihai-an tiga macam ilmu pedang dari Oh Kay gak, ia terkesiap juga, tapi dia dapat melihat gelagat, pi-kiran lain disingkirkan jauh-jauh, segenap perhatian dan tenaga dihimpun menjadi satu untuk mengha-dapi segala kemungkinan.

Sementara itu Im-hong-siu Kui Kok-hou dan Mo-in-jiu Kok Siau-thian dari Thian-seng-po te-lah menghampiri Tong Yongling.

Seketika itu suasana dalam gelanggang berubah menjadi hening, tapi dibalik semua itu justeru ter-selip hawa nafsu membunuh yang mengerikan.

Inilah keheningan menjelang tibanya badai yang dahsyat.

Mendadak dari balik kuburan di tengah ru-angan berkumandang suara dingin seakan-akan em-busan angin dari neraka.

"Bila kalian berani mengganggu kedua orang itu barang seujung rambut pun, akan kubikin kalian mampus tak berkubur!"

Sebenarnya Oh Ku-gwat sekalian telah men-dekati Bok Jisia dan Tong Yong-ling, tapi setelah meadengar suara tersebut, serentak semua orang ber-henti dan menampilkan rasa jeri.

Ji-sia pun merasa heran bercampur kaget, dia tidak mengerti kenapa perempuan dalam kuburan itu selalu membela dirinya berdua?

"Sayang!"

Lamkiong Giok berpikir.

"kalau ti-dak, hari ini dia pasti akan tewas di sini. Kalau melihat keadaan sekarang, agaknya orang-orang itu sama jeri terhadap perempuan aneh dalam kuburan itu, jika aku tidak berusaha menyalakan api per-tarungan, kemungkinan dia akan lolos dari sini."

Berpikir demikian, dengan tersenyum dia lan-tas berkata kepada Oh Ku-gwat.

"Sekarang ada seorang kosen seperti ini yang muncul membela ka-mi, hmm, akan kulihat apakah kalian berani turun tangan atau tidak?"

Ucapan ini diutarakan dengan nada menghina, kontan saja air muka Oh Ku-gwat berubah. Pada saat itulah ucapan dari dalam kuburan kembali berkumandang.

"Lamkiong Giok, kau be-tul-betul licin seperti ular, sekarang kuberi peringatan yang terakhir kepadamu, malam ini juga aku akan meninggalkan tempat ini, jika sampai terjadi sesuatu yang tak beres, maka orang pertama yang akan menjadi korban adalah kau, sekalipun ayahmu Lamkiong Hian mendampingimu tetap akan kujagal dirimu."

Mendengar itu, Lamkiong Giok terkesiap, pikirnya.

"Perempuan ini benar-benar melindungi dia, kalau mengingat ilmu silatnya yang maha lihai itu, aku memang lebih baik tidak mengganggunya, cu-ma selama orang ini dibiarkan hidup dalam dunia, jelas rnerupakan alangan besar bagi kami. Ji-sia tidak tahu Lamkiong Giok beberapa ka-li ingin mencelakai dirinya, ketika mendengar per-kataan perempuan aneh itu, ia menjadi tercengang dan tidak mengerti, maka tanyanya.

"Saudara Lam-kiong, apa yang dikatakannya padamu tadi?"

Hati Lamkiong Giok bergetar, pikirnya.

"Ma-sa aku harus memberitahukan soal ini kepada-nya.........."

Sementara dia berpikir, Tong Yong-ling telah berkata.

"Bok-siangkong, Cici dalam kuburan itu bilang jika Lamkiong Giok berani mencelakai jiwa-mu, maka semua orang Kiam hong-ceng akan di-sikatnya."

Lamkiong Giok betul dendam atas kelancangan Tong Yongling yang banyak mulut itu, pada saat itulah mata Ji-sia yang tajam sedang menoleh ke arahnya, dengan kikuk cepat ia tertawa dan ber-kata.

"Saudara Bok, nona Tong suka bergurau, masa aku tak punya perasaan persaudaraan.......?"

"Mengapa kalian belum juga pergi dari sini?"

Suara dari dalam kuburan berkumandang lagi penuh kegusaran.

"Mau apa kalian berdiam terus di sini? Sejenak lagi bila belum pergi dari sini, jangan me-nyesal kalau aku bertindak keji dan membikin ka-lian tetap tinggal selamanya di sini."

Waktu itu pelbagai ingatan sedang berkecamuk dalam benak Oh Ku-gwat, pikirnya.

"Jika perem-puan dalam kuburan itu membelanya, usahaku un-tuk merampas Jian-kim-si-hun-pian di masa men-datang pasti akan menemui kesulitan, tapi jika ku-lakukan sekarang, bila perempuan aneh itu sampai marah, dengan ilmu silatnya yang lihai, jelas aku tak dapat lolos dengan selamat."

Oh Ku-gwat yang licin juga serba salah oleh kejadian ini, mimpi pun ia tak mengira di tengah jalan akan muncul seorang pengacau.

Semua orang sama ngeri juga oleh kungfu pe-rempuan dalam kuburan itu, terutama tindakannya yang tidak kenal ampun membuat orang bergidik dan siapapun tak ingin mencari gara-gara.

Tiba-tiba Ji-sia berseru.

"Locianpwe dalam kuburan, budi kebaikan pertolonganmu ini pasti akan kubalas di kemudian hari, entah......."

Sebenarnya dia ingin tanya nama perempuan itu, tapi dari dalam kuburan segera terdengar orang berkata.

"Bok Ji-sia, Tong Yong ling, cepat kalian tinggalkan tempat ini, menghadapi setiap persoalan harus hati-hati, orang persilatan itu umumnya licik dan berbahaya, mereka tak tahu aturan dan me-ngutamakan kepentingannya sendiri, untuk mencapai suatu tujuan, tak segan-segan menggunakan cara yang paling keji, selanjutnya kalian mesti was-pada dan jangan sampai terjebak. Namaku sudah berakhir sejak lama, mulai kini aku akan muncul kembali dalam dunia persilatan dengan gelar Lik-ih-hiat-li (perempuan darah berbaju hijau), aku akan mencari kalian dengan sendirinya, kini pergi-lah dari sini!"

Diam-diam Ji-sia merasa terkejut, pikirnya "Heran, dari mana ia menghetahui namaku?

Sikap perempuan itu tadi galak sekali, kenapa secara tiba-tiba begitu memperhatikan diriku?

Siapakah dia?

sungguh membuat orang tidak habis mengerti!"

Hampir semua orang yang berada di situ tim-bul pikiran menduga siapa gerangan perempuan itu?

Sayangnya, meskipun mereka berpengetahuan luas toh tiada jawaban pasti yang didapatkan.

Terbayang kembali betapa lihainya kungfu pe-rempuan itu sehingga menimbulkan rasa takut orang banyak, timbul perasaan sedih dalam hati Ji-sia, ia mendongakkan kepala dan menghela napas panjang, diam-diam ia menyesali kepandaian sendiri yang terlampau cetek.

Akhirnya tanpa mengucapkan sepatuh kata pun ia putar badan dan bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Saudara Bok, hendak ke mana kau?"

Lam-kiong Giok segera menegur.

"Jejakku tak menentu, ujung langit atau pojok laut, entah ke mana harus kutuju?"

Perkataan itu diutarakan Ji-sia dengan sedih dan kesepian. Sambil tersenyum Lamkiong Giok kembali ber-kata.

"Saudara Bok, kukira orang-orang itu tidak bermaksud baik kepadamu, jika tak keberatan aku bersedia mengiringi kepergian saudara Bok, sehingga andaikata bertemu dengan musuh tangguh mungkin dapat kubantu seperlunya."

"Terima kasih atas perhatianmu, masih ada sedikit urusan pribadi yang harus diselesaikan,"

Tu-kas Yong-ling ketus.

Berhubung sejak kecil Ji-sia telah tertimpa pel-bagai musibah, terhadap kehidupan ini ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang biasa, ia suka menyendiri, dan dingin, sekalipun Lamkiong Giok memberi kesan yang baik dalam hatinya, tapi ia merasa tindak-tanduk orang ini bertolak be-lakang dengan jalan pikirannya.

Maka dari itu ia hanya tersenyum mendengar perkataan itu, ucapnya.

"Maksud baik saudara Lam-kiong biar kuterima dalam hati saja, atas bantuan yang telah saudara Lamkiong berikan ini, lain wak-tu pasti akan kubayar, sekarang aku mohon diri lebih dahulu."

"Harap saudara Bok menjaga diri baik-baik, akupun akan pergi meninggalkan tempat ini,"

Sahut Lamkiong Giok dengaa suara nyaring.

"Lamkiong Giok, mau pergi dari sini? Tidak segampang itu!"

Seru Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang de-ngan tertawa seram.

Perlu diketahui bahwa Hek-to-sam-koay me-mang berniat menggabungkan diri dengan Thian-seng-po, mereka tahu Kiam-hong-ceng mempunyai permusuhan dengan Thian-seng-po, maka jika tidak menunjukkan sedikit kebolehan niscaya mereka akan dipandang hina, apalagi mereka memang amat benci pada Lamkiong Giok, maka ketika dilihatnya pe-muda itu hendak pergi, serentak mereka bertiga mengurungnya rapat.

"Saudara Hou, kalian kira dengan kekuatan tiga orang dapat melukaiku?"

Ejek Lamkiong Giok dengan tertawa dingin. Sebetulnya Ji-sia telah berlalu dari situ dengan langkah lebar, tapi demi mendengar perkataan Eng-jiau-jiu tersebut, segera ia putar balik dan mem-bentak.

"Saudara Lamkiong, kau boleh segera ting-galkan tempat ini, biar aku yang menghadapi me-reka!"

Sambil membentak ia lantas melepaskan pu-kulan dahsyat ke arah Hek-to-sam-koay, angin pukulan yang sangat kuat menerjang ketiga orang itu hingga terdorong beberapa langkah ke belakang.

Lamkiong Giok berpaling dan tertawa.

"Te-rima kasih saudara Bok, sampai jumpa lagi!"

Setelah menjura, dengan membawa sembilan orang anak buahnya ia meninggalkan tempat itu.

Hek-to-sam-koay dan Im-hong-siu Kui-hou Mo-injiu Kok Siau-thian tahu napsu membunuh Oh Ku-gwat telah berkobar, pelahan mereka pun maju ke depan dan mendekati Ji-sia.

Tong Yong-ling sadar keadaan makin gawat, dengan cepat ia melompat maju dan berdiri di samping pemuda itu.

Mendadak dari balik liang kubur berkuman-dang suara tertawa panjang, menyusul terdengar pe-rempuan aneh itu berseru.

"Tampaknya kalian tak akan mengucurkan air mata sebelum melihat peti mati, dengan Peng-sian-jit gwat-ciang akan kubi-nasakan kalian satu persatu!"

Mendengar disebutkannya nama "Peng-sian-jit-gwat-ciang", air muka semua orang berubah hebat. Dengan suara lantang Oh Ku-gwat berseru.

"Jago lihay dalam kuburan, kami tidak bermaksud memusuhi saudara Bok........."

"Kalau begitu kalian lekas enyah dari sini!"

Sekarang Ji-sia mulai merasakan betapa ren-dahnya sifat manusia, lebih sering yang lemah menjadi boneka yang kuat, hanya berani menindas yang lemah dan takut kepada yang kuat.

"Bok-lote"

Tiba-tiba Oh Ku-gwat berkata lagi sambil tertawa.

"mungkin dalam hatimu sekarang amat benci padaku, bukan?"

"Saking bencinya kami ingin makan dagingmu dan minum darahmu, memangnya kau kira kami tidak benci dirimu?"

Teriak Yong-ling dengan suara melengking. Oh Ku gwat tertawa pedih, katanya.

"Aku tak menyalahkdn kalian jika merasa benci padaku. Ai, yang sudah biar lewat, sekarang ada beberapa per-kataan hendak kusampaikan kepada kalian, anggap saja sebagai bahan berkelana nanti."

"Kebanyakan orang muda sekarang tak tahu mengendalikan perasaan, mereka suka menonjolkan diri, tidak mengindahkan hukum, sok gagah-gagah-an, suka mencari gara-gara, mengacau masyarakat, perbuatan-perbuatan mereka bukan saja tak dapat menciptakan kebahagiaan, sebaliknya mendatangkan bencana, masih banyak lagi hal-hal yang tak dapat kuucapkan, pokoknya kuharap adik cilik yang ber-hasil mendapat ilmu sakti dapat menjaga diri baik-baik, lebih2 mengenai barang mestika yang berada padamu itu. Pepatah berkata, bencana atau rejeki tidak masuk lewat pintu, tapi akibat perbuatan manusia sendiri. Setiap sebab pasti akan menimbulkan aki-bat, maka kuharap berpikirlah sebelum bertindak. Nah, hanya sampai di,sini saja perkataanku, sampai berjumpa lagi kelak."

Selesai berkata, ia memberi tanda dan mem-bawa anak buahnya berlalu dari situ.

Ji-sia tidak menyangka Oh Ku-gwat bakal me-ngusapkan nasihat kepadanya, ia jadi bingung apa gerangan maksud orang?

Perempuan dalam, kuburan pun tidak bicara lagi, Ji-sia memandang sekejap mayat di atas tanah, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata, diapun berlalu dari situ bersama Yong-ling, namun masih banyak persoalan yang berkecamuk dalam benaknya, membuat pikiran mereka terasa kalut.

000-000 ^ O ^ 000-000 Sang surya, telah condong ke barat, cahaya senja tampak gemilang di ujung langit sana.

Padang rumput yang luas dilapisi oleh cahaya emas yang indah, tiada angin yang berhembus, sua-sana amat hening, sedemikian heningnya sehingga membuat orang sesak napas.

Di atas sebuah bukit yang penuh tumbuh po-hon siong, tiba-tiba berkumandang suara pembica-raan orang memecahkan keheningan, menyusul su-ara itu, dari balik bukit muncul sepasang muda mudi yang cantik dan gagah.

Perempuan itu memandang sekejap cahaya senja yang indah, lalu serunya, dengan manja.

"Bok-siangkong, coba lihat betapa indahnya senja ini, sungguh suasana romantis yang cocok untuk orang menggubah syair atau berpacaran."

Ji-sia mendongakkan kepalanya memandang cahaya senja itu, kemudian menghela napas panjang.

"Ya, senja memang indah, sayang terlalu pendek waktunya."

Mungkin ia merasakan kehidupan manusia se-pendek cahaya senja dan menghela napas sedih, ta-pi ia sendiri tidak terlalu serius akan kehidupan sendiri, ia menghela napas karena mengenang kem-bali masa kecil yang indah tapi hanya berlangsung sebentar, menyusul datanglah musibah yang me-nyedihkan.

Agaknya Tong Yong-ling terpengaruh oleh he-laan napas sedih itu, iapun menghela napas.

"Bok-siangkong,"

Katanya kemudian.

"selama beberapa hari ini tampaknya engkau selalu tak se-nang hati, apakah kau tak suka melakukan perjalan-an bersamaku?"

Ji-sia menatap sekejap wajah yang cantik itu, lalu menyahut dengan lembut.

"Nona Tong, siapa bilang aku tak suka bersamamu? Apalagi selama beberapa hari ini aku telah banyak menerima perhatian dan pelayananmu..."

Tong Yong-ling diam-diam telah jatuh cinta kepada pemuda itu, meski selama beberapa hari ini mereka berkumpul, tapi sikap Ji-sia tetap dingin dan hambar, hal ini membuat sedih Yong-ling, ter-kadang di luar tahu Ji-sia ia suka melelehkan air mata, beberapa kali nona itu hendak pergi mening-galkannya, tapi setiap kali ia merasa berat untuk meninggalkan kekasih ini.

Sekarang Tang Yong ling tanya Ji-sia apakah suka berada bersamanya?

Bila jawabannya tidak me-muaskan maka dengan membawa hati yang hancur nona itu akan pergi meninggalkan pemuda itu untuk selamanya.

Sinar mata Tong Yong-ling yang penuh luapan cinta itu tiba-tiba bertemu pandang dengan mata pria yang penuh daya tarik, api asmara tambah mem-bara, tiba-tiba ia jatuhkan tubuhnya ke atas dada Ji-sia yang bidang, matanya yang mengobarkan api cinta menatap wajah pemuda itu lekat-lekat, seakan-akan sedang mengharapkan sesuatu.

Ji-sia memandang sekejap wajah nona yang can-tik itu, kemudian menghela napas.

Dia masih tetap dingin, sama sekali tiada emosi, seolah-olah tidak tahu bagaimanakah perasaan Tong Yong-ling saat ini.

Tiba-tiba dari mata Tong Yong-ling yang jeli itu meleleh keluar dua titik air mata, tubuhnya menggigil lalu roboh ke belakang.

"Nona Tong, kenapa kau...."

Jerit Ji-sia ka-get, agak gugup ia menghadapi perubahan menda-dak ini. Disambarnya pinggang nona itu, dipeluknya dan didudukkan di atas tanah.

"Bok-siangkong, kau....kau amat kejam...."

Bisik si nona dengan menangis. Mendengar ucapan tersebut, Ji-sia lantas tahu apa gerangan yang terjadi, ia menghela napas, ke-mudian sahutnya.

"Nona Tong, untuk apa kau be-gini.....?"

Tong Yong-ling berbaring dalam pelukan Ji-sia, ia merasakan kehangatan dan kebahagiaan, ia kuatir saat indah seperti ini akan berakhir sing-kat bagai cahaya senja, maka ia pejamkan mata dan membungkam, dia ingin menikmati suasana in-dah ini meski hanya sejenak saja.

Memandangi gadis dalam pelukannya yang can-tik dengan dada yang naik turun menghembuskan napas harum, tergetar juga perasaan Ji-sia, cuma sedapatnya ia berusaha mengendalikan pergolakan hatinya.

Pengalaman pahitnya pada masa lalu terus me-nerus menghantui pikirannya.

Perzinahan!

Perzinahan dengan ibu sendiri!

Peristiwa yang mengerikan ini selalu melekat dalam benaknya, itu pula sebabnya ia tidak bergairah, ia merasa kehidupannya ini te-lah tamat.

Ia bertekad setelah membalas dendam berdarah, segera dia akan mengakhiri hidupnya sendiri.

Se-bab ia malu untuk hidup lebih jauh, sebab itulah semakin Tong Yong-ling mencintainya, semakin di-rasakan tidak seharusnya ia mencintai gadis itu, se-bab hanya akan mendatangkan kepedihan belaka di kemudian hari.

Musibah yang dilimpahkaa Thian kepadanya membuatnya tak mampu menikmati kebahagiaan orang hidup, diam-diam ia membenci pada takdir mengapa melimpahkan begitu banyak kesulitan dan kesedihan kepadanya.

Karena berduka, air mata tanpa terasa jatuh membasahi dada Tong Yong-ling.

Nona itu sedang menikmati kehangatan seperti dalam mimpi, titik air mata yang membasahi dada-nya membuatnya kaget.

"Bok-siangkong, mengapa kau menangis....?"

Serunya dengan mata terbelalak. Buru-buru Ji-sia mengusap air matanya dan tersenyum pedih.

"Aku teringat pada kematian ayah-ibuku yang mengenaskan, hingga tanpa sadar timbul rasa sedihku."

Dalam pergaulan selama beberapa hari ini, Tong Yong-ling merasa anak muda itu selalu murung, ten-tu saja ia dapat menduga hal itu mungkin di-karenakan dendamnya, tapi perasaannya yang tajam merasakan juga bahwa kesedihan itu bukan hanya soal dendam, tapi ada kejadian lain yang tak sang-gup dikendalikan olehnya, sebab bagi pemuda keras kepala dan angkuh semacam Ji-sia tak nanti me-ngucurkan air mata bila bukan disebabkan sesuatu kejadian yang benar-benar menghancurkan hatinya.

"Bok-siangkong,"

Kembali nona itu berbisik de-ngan lembut.

"bersediakah kau mengungkapkan se-dikit persoalan yang menyedihkan hatimu ini, agar aku bisa bantu meringankan kekesalan hatimu?"

Semenjak bertemu dengan Bok Ji-sia, belum pernah Ji-sia memberitahukan asal usulnya, pernah ia menanyakannya beberapa kali, tapi setiap kali Ji-sia selalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

Ji-sia menghela napas, katanya.

"Nona Tong, kita sudah berkumpul belasan hari lamanya, dalam waktu yang singkat ini, tentu kau rasakan betapa keras hatiku dan tak berperasaan!"

Pelahan ia membelai rambutnya yang hitam mulus itu, wajahnya memancarkan rasa kasih sa-yang yang hangat.

Inilah pertama kalinya bagi Yong-ling merasakah belaian kasih pemuda itu.

Yong-ling memeluk pinggang Ji-sia terus ber-sandar dalam pelukannya, matanya yang jeli menatap wajah anak muda itu, bisiknya lembut.

"Tidak! Ti-dak! Bok-siangkong, aku merasa engkau adalah se-orang laki-laki yang penuh perasaan."

Tergetar hati Ji-sia oleh sikap mesra dan ha-ngat si nona, ia tertawa getir, ucapnya.

"Nona Tong, kutahu kau amat mencintaiku, akupun mencintai dirimu, tapi dalam kehidupan ini tak mungkin cinta kita dapat berpadu, sebab sudah demikianlah suratan takdir......"

Yong-ling merangkul pemuda itu dengan lebih erat lagi.

Kobaran api cinta seorang gadis seketika itu hendak dilampiaskan semua, ibarat gelombang di tengah samudra yang bergelora dengan hebatnya.

Walaupun mendengar juga apa yang dikatakan Ji-sia selanjutnya, tapi sekarang ia tak ingin memi-kirkan ucapan tersebut, apa yang akan dilakukan sekarang hanya menikmati kehangatan dan keme-sraan, sebab ia mengira kekasihnya telah beristeri, itulah sebabnya tak mungkin bagi mereka hidup bersama sampai tua.

Karenanya ia membutuhkan kepuasan yang amat singkat ini.

Melihat keadaan ini, Ji-sia hendak bicara le-bih lanjut......

Sinar mata yang penuh rasa memohon terpan-car dari balik mata Tong Yong-ling, desisnya.

"Bok-siangkong, jangan......jangan bicara lagi, aku tidak...aku tidak bermaksud memiliki dirimu secara ke-seluruhan, aku hanya ingin menikmatinya sebentar, sekalipun cuma sekejap, tapi sudah puas bagiku......"

Tangannya memeluk dengan lebih kencang lagi, api cinta terpancar keluar dari balik matanya.

So-rot matanya itu membuat iba, membuat pemuda itu tak tega menolak keinginannya.

Ji-sia mengendus bau harum seorang gadis yang mirip bau anggrek tapi bukan anggrek, kea-daan seperti ini sesungguhnya pernah ia rasakan satu kali, hanya saja waktu itu ia berada dalam ke-adaan tak sadar.

Tapi kali ini ia berada dalam keadaan sadar, maka hatinya mulai goncang dan darah dalam tu-buhnya jadi mendidih.

Hatinya yang dingin tiba-tiba saja dilumerkan oleh kobaran api cinta Tong Yong-ling, perasaanya yang tersekam ibaratnya bendungan yang bobol, se-gera tertumpah keluar tanpa bisa dibendung lagi.

Ji-sia mendekap si nona dengan eratnya, ia merangkul pinggangnya yang ramping dan men-cium bibirnya yang mungil dan membara itu.

Tong Yong-ling enggan melepaskan rangkulan-nya, rasa cinta yang telah terpendam selama ini hampir terlampiaskan semua.....Ia mulai merin-tih dan mendesis, sudah tentu bukan rintih kesa-kitan.

Kian lama kobaran api cinta itu makin berkembang hingga hampir mencapai puncaknya.

Pada saat itulah tiba-tiba Ji-sia mendengus, mendadak ia meronta dan berdiri, dengan wajah sedingin es dia berkata.

"Nona Tong perkenalan kita hanya sampai di sini saja, selama hidup kita ja-ngan berjumpa lagi, semoga kau jaga diri baik-baik dan kita berpisah di sini saja."

Habis berkata, segera Ji-sia putar badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Setelah menikmati kehangatan dan kemesraan sejenak ini, menurut Tong Yong-ling hati anak muda itu pasti telah lumer, mimpipun tak tersangka pemuda itu akan bersikap sedingin ini kepadanya.

Sudah barang tentu perbuatan Ji-sia itu membuat harga dirinya sebagai seorang gadis merasa terpukul.

Seperti hujan air matanya jatuh bercucuran, dengan sedih ia berpekik.

"Bok-siangkong, harap tunggu sebentar!"

Pelahan Ji-sia memutar tubuh dan bertanya dengan dingin.

"Apa lagi yang hendak kau katakan?"

"Bok-siangkong, sekeras inikah hatimu? Tong Yong-ling bukan gadis murahan......."

Suaranya penuh rasa sedih, membuat siapapun terharu.

Timbul rasa iba dalam hati Ji-sia, ia menghela napas, tapi terbayang kembali musibahnya pada masa lalu, ia pikir lebih baik melukai hatinya se-karang daripada membuatnya menderita di kemu-dian hari, toh mereka tak bakal bisa bersatu.

Berpikir demikian, ia keraskan hati dan berkata dengan dingin.

"Meskipun kau bukan perempuan murahan, tidak pantas kalau mengejar seorang le-laki, kutahu akan perasaanmu, tapi maaf aku tak bisa menerima cintamu, aku hanya berbicara sampai di sini saja, dan sejak kini kita akan berpisah untuk selamanya."

Hati Tong Yong-ling seperti diiris-iris mende-ngar perkataan itu, tak disangkanya Bok Ji-sia be-gitu keji dan tega menolak cintanya.

"Bok-siangkong,"

Pekiknya.

"kutahu perempuan bernasib jelek semacam diriku memang ditakdirkan hidup menderita, tentu saja aku tak pantas menda-patkan engkau, tapi aku tidak bermaksud untuk mengangkangimu seorang, asalkan memperoleh se-nyum balasan darimu sudah lebih dari cukup bagi-ku. Apakah aku tidak ada sepersepuluh saja dari-pada isterimu?"

Ji-sia mendengus, dengan nada sinis katanya.

"Kau jangan tak tahu malu, terus terang kukatakan padamu, aku sama sekali belum beristri, percuma kita banyak bicara, aku pergi dulu!"

Ucapan Ji-sia ibaratnya seribu batang anak panah yang menancap di hatinya dan mengoyaknya menjadi berkeping-keping sehingga untuk selamanya tak dapat disembuhkan lagi.

Keadaan Tong Yong-ling sekarang ibaratnya orang gila, dia cabut pedang Bwe-hoa-sin-kiam dan membentak.

"Kau laki-laki tak berperasaan, tak tahu budi dan cinta......ku......kubunuh kau.......kau si penipu cinta........"

Kiranya Ji-sia menjelaskan belum beristri, hal ini sama artinya meremehkan Tong Yong-ling, se-bab itulah perasaan Yong-ling sekarang boleh di-bilang remuk redam.

Dengan alis bekernyit dan wajah penuh hawa membunuh, dengan jurus Han-bwe-toh-lui (bunga bwe mendadak mekar) secepat kilat pedangnya me-nusuk dada Bok Ji-sia.

Melihat air muka si nona Ji-sia tahu karena patah cinta, gadis itu jadi membencinya setengah mati.

Sebenarnya ia hendak memberi penjelasan dan minta maaf atas perkataannya tadi, tapi teringat ke-jadian masa lalu, iapun menjadi nekat.

Sambil ter-tawa dingin, ia menghindarkan diri dari tusukan itu.

"Lihat jurus kedua Giok-tay-wi-yau (ikat ping-gang kemala melingkar pinggang)!"

Bentak Tong Yong-ling.

Tangan berputar, cahaya pedang berwarna pu-tih salju menciptakan sekuntum bunga bwe segera menyambar pinggang anak muda itu.

Sesungguhnya cinta Tong Yong-ling kepada Bok Ji-sia sangat mendalam, tapi sekarang rasa ben-cinyapun merasuk tulang sumsum.

Saking bencinya, kalau bisa gadis itu hendak menabas mati Ji-sia dengan pedangnya, sebab itu-lah begitu melepaskan serangan, ia segera menggu-nakan empat buah jurus ampuh yang paling diandalkannya.

Diam-diam terkesiap juga Ji-sia, dengan kening berkerut ia rentang kedua tangannya dan melambung ke udara, ujung pedang menyambar lewat persis di bawah kakinya.

Tong Yong-ling tertawa seram, pada kesempat-an itu ia melancarkan lagi serangkaian serangan dengan jurus Cuan-in-ti-gwat (menembus awan me-metik rembulan) dan Wu-cian-in-siu (Kabut hilang awan pun buyar), dua jurus serangan yang ganas dan dahsyat.

Diam-diam Ji-sia gregetan, ia melejit ke atas lalu menubruk Tong Yong-ling.

Terdengar dengusan tertahan, paha kiri Ji-sia tersambar ujung pedang sehingga robek sepanjang satu inci lebih, darah segera mengucur dengan de-rasnya.

Sekalipun demikian, pedang Tong Yong-ling pun tergetar oleh tenaga pukulan sehingga terlepas dan jatuh ke tanah.

Tiba-tiba Ji-sia tertawa seram, cepat ia ber-kelebat pergi meninggalkan tempat itu......

Suara tertawanya yang penuh rasa pedih ber-kumandang menggema angkasa hingga lama sekali, bayangan Ji-sia pun lenyap di balik kegelapan.

Pedang Tong Yong-ling telah tergetar lepas oleh jurus serangan aneh Ji-sia, Yong-ling berdiri termangu, setelah pemuda itu lenyap dari pandangan baru ia berjongkok dan menangis tersedu-sedu.

Setelah menangis sekian lama, ia melompat bangun dan memungut kembali pedangnya kemu-dian berseru lantang.

"Bok Ji-sia, wahai Bok Ji-sia. Kau laki-laki tak berperasaan, selama aku Tong Yong-ling masih hidup, tak akan kubiarkan kau -hidup dengan aman, aku akan menyiksamu dengan cara-cara yang paling keji!"

Walaupun ia berbicara demikian, tapi tak da-pat membendung air mata yang jatuh bercucuran dengan derasnya.

Bintang berkelip di angkasa seakan-akan sedang mentertawakan dia yang terlalu obral cinta.

Tiba-tiba ia mengangkat pedang sambil berpekik.

"Thian sebagai saksi, aku Tong Yong-ling pasti akan membalas dendam atas penghinaan yang kuterima ini!"

Di tengah teriakan seram iapun berkelebat pergi dan lenyap dalam kegelapan. Pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang ber-baju hijau bertubuh ramping dari balik hutan sana, lalu menghela napas sedih.

"Cintanya merasuk tulang, bencinya juga me-rasuk tulang, ai......, anak Sia yang bernasib malang, apakah tekadmu untuk mati begitu besar?"

Gumamnya seperti orang mengigau.

Diiringi helaan napas sedih, perempuan ber-baju hijau ini seperti badan halus berkelebat pula meninggalkan tempat itu dan lenyap.

Dalam pada itu Ji-sia telah berlari dengan ce-pat luar biasa, setelah melukai hati Tong Yong-ling tadi, perasaannya sekarang amat kacau, dia ingm mempergunakan gerak lari cepat itu untuk mering-ankan tekanan batinnya.

Ia tak tahu ke mana harus pergi, ia berlari tanpa arah tujuan.

Mendadak paha kirinya terasa sakit sekali, sambil mengeluh tertahan ia berhenti berlari dan memeriksa kaki kiri.

Darah segar telah membasahi hampir separuh bagian celananya, ia mendekati sebuah batu cadas dengan sempoyongan, setelah duduk, dirobeknya kain baju dan dipakai untuk membalut lukanya.

Suasana di sekeliling tempat itu amat sepi, perasaan Ji-sia waktu itupun hampa, ia menenga-dah dan memandang bintang yang bertaburan di angkasa, lalu menghela napas sedih.........

Rasa menyesal mulai timbul dalam hati, ia merasa sikapnya tarhadap Tong Yong-ling tadi agak keterlaluan.

Sebagai seorang pemuda ia berperasaan, se-sungguhnya Ji-sia menaruh kesan baik terhadap Tong Yong-ling, sebab ditinjau dari bagian mana-pun nona itu memiliki sifat kelembutan dan ke-cerdasan sebagai seorang gadis, terutama pancaran api cintanya telah diterima dalam hati Ji-sia secara diam-diam.

"Ai!"

Ia menghela napas dan bergumam.

"Tong Yong-ling, maafkanlah dku! Kau tahu betapa sedih hatiku? Jika aku tidak bersikap demikian malam ini, maka di kemudian hari kau pasti akan lebih men-derita lagi, semuanya itu adalah akibat dari musi-bah yang dilimpahkan takdir kepadaku..."

Sementara Ji-sia masih bergumam lirih, di ba-wah sinar bulan tampak sesosok bayangan sedang bergerak dari arah selatan menuju ke arahnya, da-lam waktu singkat sudah berada empat tombak di samping Ji-sia.

Mendadak bayangan itu melihat Ji-sia sedang duduk di situ, ia segera berhenti tanpa menimbul-kan sedikit suarapun, ilmu meringankan tubuh itu sungguh sangat tinggi.

Agaknya Ji-sia dapat merasakan pula kahadiran orang itu, mendadak ia berpaling....

Orang itu segara tertawa, kemudian menegur.

"Tolong tanya, apakah di situ adalah saudara Bok?"

Ji-sia melihat jelas orang itu, dia berseru ka-get.

"Ah, rupanya saudara Lamkiong, entah ada urusan apa tengah malam buta begini kau lakukan perjalanan di tempat yang terpencil ini?"

Orang itu memang Huan-in-kiam Lam-kiong Giok, ia tertawa pelahan dan berjalan mendekat.

"Saudara Bok, tak tersangka dengan begini cepat kita berjumpa lagi,"

Katanya.

"terima kasih atas budi pertolonganmu yang lalu. Kudatang ke-mari karena hendak menghadiri suatu keramaian."

Mendadak sinar mata Lamkiong Giok yang tajam memandang sekejap paha kiri Bok Ji-sia yang terluka, lalu serunya kaget.

"He, rupanya saudara Bok terluka, apakah kau bertemu dengan musuh tangguh?"

Ji-sia terkesiap juga oleh keterangan orang, pikirnya.

"Rupanya di sini telah terjadi lagi suatu peristiwa besar?"

Dengan tidak mengerti ia tanya.

"Saudara Lam-kiong, maksudmu di sini telah terjadi pgristiwa?"

Diam-diam Lamkiong Giok berkerut dahi dan berpikir.

"Tampaknya ia sudah tahu tapi pura-pura tanya, kalau betul-betul dia tak tahu persoalan ini, maka dia akan menjadi seorang pembantuku yang tangguh!"

Maka sambil tersenyum sahutnya.

"Saudara Bok, masa kau tidak mendengar di sekitar benteng Thian-seng-po telah terjadi beberapa peristiwa besar yang menggemparkan dunia persilatan?"

Sejak meninggalkan kuburan kuno yang mis-terius itu, Jisia bersama Tong Yong-ling berdiam beberapa waktu lagi di sekitar Thian-seng-po sam-bil mencari jejak Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak.

Tapi dalam tujuh hari itu mereka tidak mene-mukan jejaknya, memang dilihatnya banyak jago persilatan yang sedang melakukan perjalanan ter-gesa-gesa, meskipun tidak diketahui karena apa, mereka hanya menduga pasti ada peristiwa yang luar biasa, atau mungkin juga suatu badai pembunuhan akan menggemparkan dunia.

Sambil tertawa Ji-sia lantas berkata.

"Sejak pe-ristiwa aneh di kuburan kuno itu, apakah ditempat itu terjadi lagi sesuatu?"

Melihat pemuda itu tidak mengerti, Lamkiong Giok pun merasa heran sekali, padahal ilmu silat-nya sangat tinggi, tentu berasal dari perguruan ke-namaan, mengapa pengetahuannya begini cetek?

Sambil tersenyum ia lantas menjawab.

"Bela-kangan ini di sekitar Thian-seng-po telah terjadi tiga peristiwa besar yang menggetarkan hati setiap umat persilatan, harta pusaka kuburan kuno Hian-ki-hian-cing boleh dibilang merupakan peristiwa per-tama, tapi peristiwa itu sudah lewat dan dunia per-silatan dewasa ini telah bertambah lagi dengan se-orang jago maha lihai yang cukup membikin hati orang bergidik. Tapi saat ini kembali terjadi lagi suatu peristiwa besar lain yang mungkin akan lebih membuat orang gila, peristiwa ini baru berlangsung dua hari yang lalu, pula terjadi banyak liku-liku di luar dugaan, tampaknya kejadian ini akan jauh lebih ramai, namun kedua peristiwa ini tetap tak bisa menandingi peristiwa ketiga...."

"Saudara Lamkiong, sudah setengah harian kau bicara, tapi belum kuketahui kejadian yang sesung-guhnya, peristiwa apakah itu?"

Lamkiong Giok tersenyum.

"Saudara Bok, sa-bar dulu, biar kuceritakan semua yang kuketahui itu kepadamu."

"Saudara Lamkiong, barusan kau bilang bahwa peristiwa yang ketiga jauh lebih mengejutkan orang daripada kedua peristiwa sebelumnya, kenapa ka-wanan jago persilatan itu tidak langsung menyelidiki peristiwa yang ketiga, sebaliknya malah mengurusi persoalan yang tidak penting?"

Lamkiong Giok kembali tertawa.

"Saudara Bok, kau tahu persoalan ini tidak diketahui oleh sembarangan orang, seperti urusan pusaka dalam ku-buran kuno Hian-ki-hian-cing serta peristiwa ysng akan berlangsung sekarang, sejak tiga bulan yang lalu umat persilatan di dunia telah mendengar ka-bar ini dan siang malam melakukan perjalanan memburu kemari, akhirnya jumlah yang hadir jauh di luar dugaan, tapi kenyataannya orang yang betul-betul tahu tempat penyimpanan pusaka itu pa-ling-paling cuma beberapa orang saja, maka boleh dibilang kebanyakan mereka yang hadir hanya da-tang untuk melihat keramaian belaka."

"Saudara Lamkiong, kalau memang kau tahu jelas ketiga peristiwa besar itu, kenapa kau lepas-kan kedua persoalan yang lebih penting dan meng-ikuti peristiwa di kuburan kuno?"

Tanya Ji-sia. Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak.

"Ha-haha, saudara Bok, kita memang merasa cocok se-jak petama kali bertemu, baiklah kubeberkan semua rahasia ini padamu."

Setelah berhenti sejenak, lalu ia melanjutkan.

"Tadi saudara Bok berkata, kenapa aku tidak me-ngikuti masalah yang lebih penting? Sesungguhnya sudah kuketahui bahwa si tuan rumah pada masalah yang kedua ini mempunyai otak yang cerdas dan kungfu yang melampaui siapapun, untuk semen-tara sulit menyelidiki kekuatan lawan yang sebe-narnya, apalagi jika harus menyelidiki urusan itu dengan kepandaianku, sekali salah tindak bisa me-ngakibatkan jiwa melayang. Oleh sebab itulah ayah-ku telah mengutus orang yang lebih diandalkan untuk menyelidiki gerak-gerik tuan rumah itu, un-tunglah jejak mereka belakangaa ini telah kuketa-hui garis besarnya."

"Kalau begitu, saudara Lamkiong sudah pasti akan berhasil dengan masalah itu?"

Lamkiong Giok menatap Ji-sia dengan sinar mata tajam, sahutnya.

"Urusan ini tidak gampang diselesaikan, sebab kecuali Kiam-hong-ceng kami yang mengetahui berita ini, orang-orang Thian-seng-po dan Bu-lim-su-to juga cukup memusingkan ke-pala, lebih-lebih Bu-lim-jit-coat yang berasal dari angkatan tua juga ada beberapa orang yang datang."

"Apa? Para Locianpwe dari Bu-lim-jit-coat juga datang?"

Seru Ji-sia kaget.

"Bukan cuma Bu-lim-jit-coat saja yang dating, malahan gembong iblis dari angkatan lebih tua lagi mungkin juga akan berdatangan, cuma orang-orang itu lebih menaruh perhatian pada masalah yang ke-tiga daripada masalah lainnya."

Tergetar keras hati Ji-sia, pikirnya.

"Kalau be-gitu, masalah ketiga yang dimaksudkannya tentu menyangkut soal ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian."

Tapi di luar ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya lagi.

"Sebenarnya masalah ketiga itu me-nyangkut soal apa? Kenapa begitu banyak orang yang berdatangan?"

Lamkiong Giok menatap wajah Ji-sia lekat-lekat kemudian balas bertanya.

"Masih ingatkah saudara Bok dengaa masalah ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian yang pernah kusinggung sewaktu berada di gardu bobrok dulu? Nah, masalah yang ketiga me-nyangkut soal ruyung tersebut. Jika masalah ini su-dah berkembang, maka kemungkinan besar seluruh dunia persilatan akan berubah menjadi neraka, ba-haya kiamat setiap saat mengancam. Cuma berita tentang ruyung ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja, bilamana kedatangan orang-orang dari aliran Hek-liong-kang bukan lantaran ruyung tersebut, maka masalah ketiga pun tak akan gempar begini."

"Saudara Lamkiong, maaf atas kedunguanku, aku tidak paham maksud ucapanmu itu...."

Kata Ji-sia.

"Hahaahaa, kenapa saudara Bok jadi linglung? Masalah yang kedua belum dibicarkan mengapa membicarakan soal ketiga?"

Ji-sia terkejut, pikirnya.

"Kalau begitu masa-lah kedua ini pasti menyangkut ruyung emas Jian-kim-sl-hun-pian, urusan Suhu Oh Kay-gak pada de-lapan belas tahun yang lalu mungkin berkaitan pu-la dengan masalah ini........."

Berpikir demikian, iapun bertanya.

"Saudara Lamkiong, apakah inti persoalan yang kedua ini?"

"Saudara Bok, pernahkah kau dengar cerita gurumu tentang seorang tabib sakti tersohor pada tiga ratus tahun dulu, Hin-si-cu (Pembenci jagat) Siang Hin-tang?"

Ji-sia heran karena tiba-tiba Lamkiong Giok membicarakan masalah yang terjadi tiga ratus ta-hun yang lalu.

"Suhuku sudah lama wafat, aku sa-ma sekali tidak mengerti tentang Hin-si-cu Siang Hin-tang. Tapi kutahu orang ini lihai dalam ilmu pertabiban maupun ilmu silat, entah apa maksud saudara Lamkiong menyinggung nama orang ini?"

"Saudara Bok, tahukah kau Hin-si-cu Siang Hin-tang itu berasal dari aliran mana?"

Tanya Lam-kiong Giok sambil tertawa. Ji-sia menggeleng kepala "Aku kurang tahu!"

Tiba-tiba Lamkiong Giok bersikap seperti penuh rahasia, tanyanya setengah berbisik.

"Saudara Bok, kau tahu ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian yang membuat orang persilatan tergila-gila itu dibuat oleh siapa?"

Hati Ji-sia tergetar, sahutnya.

"Saudara Lam-kiong, kau maksudkan ruyung itu dibuat oleh si Pem-benci Jagat Siang Hin-tang?"

Lamkiong Giok manggut-rnanggut.

"Saudara Bok memang cerdik, ruyung itu memang betul di-buat oleh si Pembenci Jagat Siang Hin-tang dan Siang Hin-tang konon berasal dari aliran Hek-liong-kang, kebetulan sekali si tuan rumah dalam ma-salah kedua ini adalah orang Hek-liong-kang, oleh sebab itulah kukatakan tadi jika kedatangan merekapun lantaran ruyung mestika tersebut, maka kekacauan yang bakal berlangsung dalam dunia per-silatan sukar diatasi lagi."

Mendengar keterangan itu, Ji-sia menjadi pa-ham, ia tanya.

"Saudara Lamkiong, jadi masalah kedua yang kau maksudkan adalah penyerbuan orang Hek-liong-kang ke daerah Tionggoan? Jika begitu, kenapa bisa menggemparkan dunia persilatan?"

"Saudara Bok, kau tak tahu, sesungguhnya kehadiran para jago di sekitar Thian-seng-po se-karang kebanyakan lebih mengutamakan kepenting-an pribadi."

"Untuk kepentingan pribadi? Apakah orang-orang Hek-liong-kang datang ke Tionggoan dengan membawa benda mestikayang tak ternilai harganya?"

"Jika cuma benda mestika saja, tak nanti jago persilatan akan menempuh perjalanan jauh untuk berkumpul di sini."

"Habis apakah mungkin barang pusaka sebang-sa pedang wasiat atau kitab pusaka dan sebagainya yang memancing gairah orang-orang persilatan un-tuk berdatangan kemari?"

"Dugaan saudara Bok memang benar, cuma hal ini hanya satu diantaranya, yang kedua adalah masalah hidup atau matinya dunia persilatan."

"Bagaimana maksudmu? Apakah mereka hen-dak menjajah daerah Tionggoan kita?"

Sambil tertawa Lamkiong Giok manggut-manggut.

"Sewaktu masuk ke Tionggoan mereka telah sesumbar hendak mencari dua macam benda, sekali-an mengobrak-abrik dunia persilatan."

"Berapa banyak jumlah mereka? Besar amat ucapan mereka....!"

Seru Ji-sia dengan gusar. Lamkiong Giok tersenyum.

"Menurut hasil pe-nyelidikanku, mereka terdiri dari empat perem-puan dan tiga lelaki, dua di antaranya adalah ka-kek, seorang nenek beruban, tiga orang gadis dan seorang pemuda."

"Umat persilatan di wilayah Tionggoan tak pernah bermusuhan dengan mereka, kenapa mereka datang kemari untuk membantai umat persilatan Tioggoan kita?"

Tiba-tiba Lamkiong Giok menghela napas pan-jang, katanya.

"Seluk beluk di balik urusan tidak kupahami, cuma bila terbukti mereka memang men-cari dua macam benda, maka di balik ini pasti ter-selip rahasia dunia persilatan yang amat besar."

"Saudara Lamkiong, apakah kau bisa menebak benda apa yang mereka cari?"

Lamkiong Giok berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Benda pertama yang mereka cari menu-rut dugaanku adalah ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian, sebab benda itu dibuat oleh Cianpwe aliran Hek-liong-kang, Hin-si-cu Siang Hin-tang, apalagi ru-yung itupun menyimpan suatu.........."

Bicara sampai di sini, mendadak ia tidak me-lanjutkan kata-katanya. Ji-sia merasa terkesiap, pikirnya.

"Jangan-jangan ia hendak mengatakan ruyung itu menyimpan suatu rahasia besar dan cukup menggetarkan hati setiap umat persilatan....."

Ketika ia berpikir, sambil tertawa Lamkiong Giok melanjutkan lagi kata-katanya.

"Mengenai ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian, di samping menyangkut beberapa peristiwa berdarah, masih terdapat pula suatu rahasia lain, cuma aku telah ber-sumpah kepada ayahku ketika diberitahu rahasia itu untuk tidak menceriterakan lagi kepada siapa pun......"

"Orang persilatan memang mengutamakan sum-pah, saudara Lamkiong tak perlu memberi penje-lasan lagi!"

Di luar ia berkata demikian, sementara da-lam hati berpikir.

"Ketika Suhu Oh Kay-gak menyerahkan ruyung ini kepadaku, ia bilang meski Jian-kim-si-hun-pian amat berharga, tapi masih ada mestika lain yang seratus kali lebih berharga tersim-pan di dalam ruyung ini, yang bisa membuat umat persilatan tergila-gila. Jika dicocokkan dengan apa yang dikatakan Lamkiong Giok sekarang, nyatalah bahwa soal itu bukan omong kosong belaka, tapi aku telah memeriksa ruyung itu dan sama sekali tidak menemukan apa-apa, jika ada waktu luang aku pasti akan memeriksanya sekali lagi."

"Jika ditinjau dari apa yang dikatakan Lam-kiong Giok, perselisihan antara Oh Kay-gak, Lam-kiong Hian dan Kiu-thian-mo-li pada delapan be-las tahun yang lalu mungkin menyangkut juga soal Jian-kim-si-hun-pian, dan agaknya hal ini memang benar. Padahal Suhuku mempunyai dendam sedalam lautan dengan Lamkiong Hian, bila Lamkiong Giok tahu aku murid Oh Kay-gak, niscaya dari sahabat akan berubah menjadi musuh."

Berpikir sampai di sini, Ji-sia merasa hatinya berat sekali, kembali ia berpikir.

"Aku berutang budi pada Suhu Oh Kay-gak, aku pun bersumpah hendak menyelidiki sebab-sebab kematiannya serta membalaskan dendamnya, andaikata terbukti Lam-kiong Hian adalah musuh besarnya, aku pasti akan membunuhnya, cuma seluk-beluk soal ini hingga kini masih belum jelas bagiku. Lamkiong Giok adalah putra Lamkiong Hian, entah mengetahui ti-dak tentang persoalan ini? Sebentar aku harus me-mancingnya untuk mencari keterangan!"

Berpikir demikian pemuda itu bertanya lagi.

"Saudara Lamkiong, tahukah kau ruyung Jian-kim-si-hun-pian itu jatuh ke tangan siapa?"

Sekali lagi hati Lamkiong Giok tergetar, pikir-nya.

"Orang ini terkadang sangat gagah, terkadang suka menyendiri, entah dapatkah kuperalat tenaga-nya? Jika soal ini kuberi tahu kepadanya, kemudian iapun ingin memperebutkannya, bukankah aku akan rugi besar...?"

Mimpipun Lamkiong Giok tidak menyangka, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian justru telah berada pada Bok Ji-sia. Ji-sia tahu orang tak bersedia mengungkapkan rahasia tersebut, terpaksa ia berkata.

"Saudara Lam-kiong, tanpa sengaja aku telah menyadap pembicara-an Oh Ku-gwat, ia bilang Jian-kim-si-hun-pian ber-ada di tangan Oh Kay-thian, entah kabar ini betul atau tidak?"

Air muka Lamkiong Giok berubah hebat, tapi segera pulih kembali, ia menengok sekejap sekeliling tempat itu, lalu bisiknya.

"Saudara Bok, jangan siarkan berita ini keluar, kalau tidak pasti akan memancing bibit bencana bagimu sendiri. Terus te-rang kuberitahukan kepadamu, ruyung tersebut berb-ada di tangan Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak!"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Ji-sia bergirang, ia tanya pula.

"Saudara Lamkiong, kudengar pembicaraanmu di gardu bobrok sana, agaknya ayahmu Lamkiong Hian Locianpwe mempunyai sengketa yang tak pernah berakhir dengan Oh Kay-gak Locianpwe, pemimpin dari Bu-lim-jit-coat, apakah perselisihan itupun lantaran ruyung terse-but?"

Tiba-tiba air muka Lamkiong Giok berubah pula, ia menyeringai, dengan suara geram ia ber-kata.

"Saudara Bok, ketika bicara soal ilmu silat ayahku, Oh Kay-gak dan Kiu-thian-mo-li tempo hari, kau membela Oh Kay-gak, sekarang mengaku saja terus terang apakah kau murid Oh Kay-gak?"

Sambil berkata, secepat kilat Lamkiong Giok mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Bok Ji-sia.

Untuk tidak memperlihatkan asal-usul sendiri, Ji-sia membiarkan urat nadinya dicengkeram orang, dengan pura-pura terkejut ia berseru.

"He, saudara Lamkiong, kau salah paham kepadaku rupanya, te-rus terang kuakui guruku adalah Ban-pian-sinkun Auyang Seng dari Bu-lim-jit-coat, karena selama be-lajar aku sering mendengar soal Oh Kay-gak dari gu-ruku, maka tanpa terasa aku punya kesan baik kepadanya, sedang tentang wataknya yang sebenar-nya aku kurang jelas, tapi bila dilihat dari pende-ritaan yang pernah kuterima ketika menyerbu Thian-seng-po tempo hari, aku mendapat kesan Thian-seng-po sekarang adalah tempat orang berbuat ke-kejaman dan kebiadaban, apakah kau tidak tahu bahwa aku pernah hendak membunuh Oh Ku-gwat?"

Ban-pian-sinkun Auyang Seng merupakan sahabat karib Oh Kay-gak masa lalu, semua umat persilatan mengetahui tentang ini, jadi kebohongan Ji-sia boleh dibilang rapi sekali hingga Lamkiong Giok yang pintar pun dapat dikelabuhi olehnya.

Buru-buru Lamkiong Giok melepaskan ceng-keramannya sambil berkata.

"Kalau begitu, kungfu Ban-pian-sinkun Auyang Seng sekarang tentu sudah di atas siapa pun."

Haruslah diketahui, Lamkiong Giok adalah se-orang licin yang dapat berpikir, ia merasa dengan kepandaian Ban-pian-sinkun belum dapat mendidik seorang murid selihai ini.

Sudah barang tentu Ji-sia dapat memahami maksud kata-katanya, sambil menghela napas kata-nya kemudian.

"Ai, sungguh tidak beruntung ketika Suhu mengajar kungfu padaku tahun lalu, tiba-tiba ia jatuh tertunduk dan menghembuskan napas ter-akhir, agaknya sebelumnya ia sudah mempunyai fi-rasat akan wafat ketika memberi pelajaran kepada-ku, maka sebelumnya beliau menghadiahkan se

Jilid kitab pusaka kepadaku dan menyuruh aku berlatih sendiri. Ai, jika kubayangkan kembali sekarang, tampaknya Suhu bukan mati karena terserang pe-nyakit........."

Tiba-tiba Lamkiong Giok menjura dan berseru.

"Ah, Kiong-hi! Kiong-hi! Rupanya saudara Bok te-lah mendapat warisan tenaga dalam beberapa puluh tahun hasil latihan Auyang-locianpwe........"

Selagi lagi Ji-sia menghela napas.

"Ai, Suhu betul-betul berbudi, ia rela mengorbankan diri de-mi menciptakan diriku, budi kebaikan semacam ini entah kapan baru bisa kubalas, ai........"

Melihat ketulusan hati Ji-sia, rasa curiga Lam-kiong Giok segera lenyap, sebaliknya timbul rasa kaget dalam hati.

"Jadi ia telah memperoleh tenaga dalam hasil latihan puluhan tahun Auyang Seng, pantas tenaga pukulannya kuat sekali,"

Demikian pikirnya.

"di ke-mudian hari sudah pasti orang ini akan menjadi seorang tokoh terkemuka, aku harus baik-baik me-rangkulnya....."

Cepat ia menjura sambil tertawa, katanya.

"Saudara Bok, jika aku berbuat kasar kepadamu ta-di, harap sudi memaafkan!"

"Ah, kenapa saudara Lamkiong berkata begitu?"

Ji-sia tertawa.

"ayahmu bermusuhan dengan Oh Kay-gak, pantas juga kau curiga padaku."

Lamkiong Giok menghela napas.

"Ai, per-musuhan antara ayah dengan Oh Kay-gak memang disebabkan Jian-kim-si-hun-pian dan sedikit soal lain, mengenai sebab utama dari perselisihan itu tidak begitu jelas karena ayahku tak pernah mem-bicarakan soal ini denganku."

Mendengar jawaban itu, Ji-sia menghela napas pula seperti kecewa atas gagalnya menyelidiki la-tar belakang perselisihan Oh Kay-gak dengan Lam-kiong Hian. Lalu Ji-sia tanya lagi.

"Saudara Lamkiong, kau bilang orang-orang Hek-liong-kang hendak men-cari dua macam benda, apakah kedua benda yang hendak dicarinya itu?"

"Sebenarnya akupun tidak tahu benda apa yang hendak dicari, tapi setelah akhir-akhir ini se-orang pendekar besar ditangkap mereka, aku jadi teringat pada perselisihan antara pihak Hek-liong-kang dengan sembilan perguruan besar pada dua ratus tahun yang lampau."

Jilid 9

"Saudara Lamkiong, pendekar besar siapakah yang ditangkap?"

Tanya Ji-sia. Lamkiong Giok menatap wajah Ji-sia lekat-le-kat, lalu sahutnya dengan tertawa.

"Orang ini sa-ngat dikenal olehmu, dia bukan lain adalah Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak."

"Apa?"

Teriak Ji-sia dengan kaget.

"Ku Thian-gak Locianpwe ditangkap mereka? Kenapa mereka menangkapnya? Kini disekap di mana?"

Seperti diketahui, Bok Ji-sia mempunyai hu-bungan yang sangat dekat dengan Ku Thian-gak, tak heran kalau ia terperanjat mendengar berita ini.

"Sekarang ia masih berstatus bebas, cuma ji-wanya telah dikendalikan oleh orang-orang Hek-liong-kang, bila Ku Thian-gak tidak menyerahkan benda yang mereka inginkan, dalam beberapa hari ini dia akan mengalami siksaan berat dan mati de-ngan mengenaskan!"

"Saudara Lamkiong, dapatkah kau terangkan lebih banyak?"

Tanya Ji-sia dengan bingung.

"Jangan gelisah saudara Bok, semalam aku te-lah bertemu dengan Ku Thian-gak Locianpwe, ia berpesan kepadaku agar membawamu menemuinya, mungkin dia akan merepotkan dirimu agar mem-bantunya mencari benda itu."

Melenggong Ji-sia mendengar perkataan terse-but, pikirnya.

"Benda apa yang hendak dicarinya? Kalau bisa kulakukan pasti akan kubantu."

Tiba-tiba Lamkiong Giok berkata lagi.

"Sau-dara Bok, aku kurang jelas urusan yang diminta Ku Thian-gak kepadamu, cuma aku hendak meng-ingatkan kepadamu, jika ia berpesan agar menca-rikan sesuatu benda, maka jangan kau kabulkan permintaannya, sebab persoalan ini menyangkut soal mati hidup saudara Bok sendiri."

"Ah, sesungguhnya benda apakah yang kau-maksudkan itu, saudara Lamkiong?"

"Se

Jilid kitab pusaka!"

Sahut Lamkiong Giok sambil tersenyum.

"Apa? Se

Jilid kitab pusaka?"

"Ceritanya telah berlangsung dua ratus tahun yang lalu, waktu itu perguruan Siau-lim telah mun-cul seorang pendeta sakti, Thian-seng Taysu namanya, orang ini disebut sebagai satu-satunya tokoh sakti Siau-lim-pay sesudah Tat-mo Cousu. Oleh ka-rena Thian-seng Taysu dasarnya memang pintar dan berotak cerdas, selama hidupnya ia hanya mengabdi pada ilmu silat dan mempelajarinya secara tekun, maka dari tujuh puluh dua macam ilmu sakti Siau-lim-pay, ia berhasil mempelajari lima puluh tujuh macam di antaranya."

"Seperti diketahui, walaupun dalam dunia per-silatan terdapat banyak perguruan dan tiap aliran memiliki silat sendiri-sendiri, tapi berbicara soal ke-saktian, maka Siau-lim-pay tetap nomor satu. Sa-yangnya bakat bagus sukar didapat, meskipun di dalam Siau-lim-si banyak terdapat kitab ilmu pu-kulan dan 72 macam kepandaian sakti, tapi tak seorangpun di antara mereka dapat memahami se-luruh kepandaian tersebut dalam perjalanan hidup yang cuma puluhan tahun ini."

"Sebab ilmu silat itu amat luas dan tiada ba-tasnya, sedang kehidupan manusia ada batasnya, bila ingin mempergunakan kehidupan yang singkat untuk mendalami ilmu yang luas, sudah barang tentu hal ini bukan pekerjaan yang gampang."

"Sebab itulah kemampuan Thian-seng Taysu dalam memahami 57 kepandaian sakti dalam perjalanan hidupnya boleh dibilang merupakan kejadi-an yang luar biasa, namun ia toh gagal juga meng-usai ke 72 macam kepandaian itu."

"Rupanya Thian-seng Taysu merasakan pula keterbatasan masa hidup manusia di dunia ini dan tak dapat mempelajari ilmu silat dalam jumlah ba-nyak, ia berpendapat jika pelbagai macam kepan-daian itu bisa dipersingkat masa belajarnya, maka kepandaian yang bisa dipelajari orang pun akan le-bih banyak, maka Thian-seng Taysu mulai menye-lidiki bagaimana caranya belajar silat dalam waktu singkat, pelbagai macam aliran ilmu silat di dunia ini telah dipelajarinya, tapi ia gagal juga menemu-kan suatu cara yang baik."

"Akhirnya Thian-seng Taysu tiba di wilayah Hek-liong-kang, aliran tersebut merupakan suatu aliran yang memiliki sistem belajar dalam waktu singkat. Maka Thian-seng Taysu pun berunding de-ngan Te-ing Sin-ni, ketua aliran Hek-liong-kang waktu itu untuk menyelidiki sistem kilat dari aliran tersebut dalam mempelajari ilmu silat. Kebanyakan per-guruan enggan menerima orang lain untuk menye-lidiki ilmu rahasianya, tentu saja Te-ing Sin-ni pun tidak suka tapi akhirnya toh Te-ing Sin-ni setuju juga tapi dengan sebuah syarat......"

"Apakah syaratnya?"

Sela Ji-sia tak tahan. Lamkiong Giok tersenyum, sahutnya.

"Syarat-nya, bila Thian-seng Taysu sudah menguasai sistem belajar secara kilat dan menulisnya menjadi se

Jilid kitab Siau-lim, maka kedua orang itu harus ber-tarung untuk menentukan siapa lebih unggul, yang menanglah yang berhak mendapatkan kitab itu..."

"Lantas bagaimana akhirnya?"

Kembali Ji-sia bertanya. Rada bangga Lamkiong Giok melihat Ji-sia dibuat tertarik oleh ceritanya, ia merasa puas dengan pengetahuan sendiri yang luas, iapun bertutur le-bih jauh.

"Akhirnya Thian-seng Taysu dengan ba-katnya yang bagus dan otaknya yang cerdas ber-hasil menulis se

Jilid kitab rahasia untuk mempelajari 72 macam kepandaian Siau-lim-pay secara kilat de-ngan sistem yang dipelajarinya dari aliran Hek-liong-kang, kitab pusaka itupun dinamakan Ceng-sia-bu-sia-pit-liok (kitab catatan rahasia ilmu silat aliran lurus dan sesat)."

"Setelah kitab itu selesai ditulis, Thian-seng Taysu dan Te-ing Sin-ni pun melangsungkan duel sengit untuk menentukan siapa pemenangnya, ter-nyata Thian-seng Taysu beruntung bisa memenangkan pertarungan itu dan memboyong kitab sakti itu pulang ke Siau-lim-si, ketika itu Thian-seng Taysu pernah berpesan, jika dari pihak Hek-liong-kang ternyata ada murid yang kosen, mereka berhak un-tuk menantang pertarungan lagi secara jujur dan pemenangnya berhak mendapatkan kitab pusaka itu."

"Tak tersangka Thian-seng Taysu lantas wafat setibanya kembali di Siau-lim-si, Te-ing Sin-ni pun kemudian menyusul berpulang ke alam baka. Sejak itulah kitab pusaka Ceng-sia-bu-sia-pit-liok menjadi incaran setiap umat persilatan, tak sedikit di antara mereka yang berusaha merampas maupun mecuri kitab itu, tapi tak pernah ada yang berhasil, sebab bahkan anggota Siau-lim-si sendiripun tak tahu ki-tab pusaka tersebut disembunyikan di mana."

"Sejak itu ilmu silat aliran Siau-lim-pay kian lama kian lemah, sampai Ciangbunjin kesembilan perguruan besar secara tiba-tiba lenyap dan hingga kini lima belas tahun sudah lewat."

Tentu saja Ji-sia mengetahui sebab-sebab le-nyapnya ketua kesembilan perguruan besar itu, ia menghela napas sedih dan berkata.

"Pengetahuan saudara Lamkiong betul-betul mengagumkan, apa yang kudengar malam ini sungguh lebih bermanfaat da-ripada berkelana selama sepuluh tahun dalam dunia persilatan."

Lamkiong Giok tertawa bangga, katanya.

"Se-telah Ku Thian-gak ditangkap oleh orang Hek-liong-kang, iapun dipaksa mencarikan kitab pusaka Ceng-sia-bu-sia-pit-liok tersebut, sebab setiap umat persilatan tahu bahwa Ku Thian-gak mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Ciangbunjin kesembilan perguruan besar, karena itulah pihak Hek-liong-kang memaksanya untuk mencari kitab itu."

"Kenapa orang-orang Hek-liong-kang begitu garang?"

Seru Ji-sia dengan penasaran.

"kalau kitab itu tidak ditemukan, apakah orang akan dibunuh-nya?"

"Saudara Bok, kemungkinan besar Ku Thian-gak Locianpwe mempunyai hubungan perguruan dengan pihak Hek-liong-kang, kalau tidak masa orang se-perti Ku-tayhiap bersedia menjalankan perintah me-reka?"

Tiba-tiba Ji-sia teringat bahwa Ku Thian-gak membawa tanda kebesaran dari kesembilan perguruan besar, serta kitab catatan ilmu silat ke-sembilan perguruan itu, bila barang tersebut sampai didapatkan pihak Hek-liong-kang niscaya keadaan akan runyam, apalagi tanda-tanda kebesaran itu menyangkut pula kehidupan beribu umat persilat-an.......

Makin dipikir Ji-sia semakin takut, buru-bu-ru tanyanya.

"Saudara Lamkiong, sekarang Ku-Thian-gak Locianpwe berada di mana?"

Lamkiong Giok mendongakkan kepala meman-dang cuaca sekejap, kemudian sambil tersenyum sahutnya.

"Sekarang baru kentongan pertama, se-lewatnya kentongan ketiga nanti Siaute akan mem-bawamu melihat keramaian, waktu itu kau pasti akan berjumpa dengan Ku-tayhiap."

Baru selesai ia berkata, mendadak tak jauh di sisi mereka, dari balik kegelapan berkumandang suara tertawa dingin, seorang lantas berseru.

"He-bat! Hebat! Tak tersangka Lamkiong Hian mem-punyai seorang putra yang berpengetahuan amat luas, sungguh membuatku sangat kagum, kini ingin kucoba pula kepandaian silatmu, apakah kungfumu sama lihainya dengan mulutmu!"

Ji-sia terkesiap, tak tersangka kehadiran orang itu sama sekali tidak dirasakan olehnya, hal ini membuktikan bahwa orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Ketika mendengar teguran tersebut, dengan ke-ning berkerut Lamkiong Giok lantas berkata.

"To-long, tanya apakah yang datang adalah Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin dari Bu-lim-jit-coat?"

Ji-sia terkesiap, ia tak menyangka Lamkiong Giok bisa mengenali orang itu dari suaranya, apa-lagi orang itu adalah Hian-thian-koancu Kun-tua Cinjin nari Bu-lim-jit-coat yang siangkatan dengan gurunya, Oh Kay-gak.

Gelak tertawa nyaring segera berkumandang.

"Hahaha! Cerdik! Cerdik! Hanya sekali mendengar saja kau dapat mengenali suaraku."

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, da-ri balik kegelapan melompat keluar seorang Tosu berjubah dan membawa kebut, bertubuh jangkung ceking dengan sebilah pedang tersandang di pung-gungnya.

Lamkiong Giok segera memberi hormat kepada orang itu sambil menyapa.

"Kun-tun Locianpwe, baik-baikkah kau? Wanpwe memberi hormat untuk-mu! Tolong tanya sedari kapan Locianpwe tiba di sini?"

Lamkiong Giok memang pintar, ia kuatir ra-hasia yang dia bicarakan tadi terdengar olehnya, maka dia ajukan pertanyaan tersebut sembari otaknya berputar mencari akal untuk mengatasi hal ter-sebut.

Kun-tun Cinjin berdehem ringan, lalu menjawab dengan tertawa.

"Jangan sungkan! sejak kapan kau menghormati seorang Bu-lim-cianpwe? Hmm. Jian-kim-si-hun-pian....."

Mendengar perkataan ini, air muka Lamkiong Giok berubah hebat, tapi hanya sekejap lantas le-nyap, tapi Kun-tun Cinjin yang bermata tajam te-lah menangkap perubahan air mukanya.

Sambil tertawa dingin iapun melanjutkan.

"Tapi tidak kudengar Jian-kim-si-hun-pian itu kini terja-tuh di tangan siapa, maka sengaja kudatang untuk menanyakan soal ini kepadamu, jika kau seorang bocah yang menghormati seorang Cianpwe, tentu rahasia tersebut akan kau beritahukan kepadaku bukan?"

Bok Ji-sia segera merasakan betapa licik dan berbahayanya manusia ini, dari pembicaraannya yang berbelit-belit bisa diketahui orang ini tentu banyak tiipu muslihatnya.

"Mana, mana!"

Seru Lamkiong Giok sambil tertawa.

"Locianpwe kan sudah mendengar semua, buat apa pura-pura tanya lagi?"

Tiba-tiba air muka Kun-tun Cinjin berubah kelam, dengan tertawa dingin katanya lagi.

"Setiap orang mengatakan Lamkiong Hian mempunyai se-orang anak yang licin dan banyak akal muslihatnya, tampaknya kabar itu memang benar, cuma entah bagaimana dengan ilmu silatnya?"

Melihat kekasaran orang, Ji-sia jadi gusar, segera selanya dengan tertawa dingin.

"Huh, seorang pendeta masa berwatak kasar dan suka bertarung, sungguh tak tahu diri!"

Mendengar ucapan tersebut, Lamkiong Giok segera merasa keadaan bakal runyam.

Betul juga, dengan sorot mata yang dingin Kun-tun Cinjin memandang sekejap wajah Bok Ji-sia, lalu tanyanya kepada Lamkiong Giok.

"Bocah ini didikan dari setan tua mana?"

Mendengar dirinya disebut "Bocah", Ji-sia me-rasa gusar, ia mendengus.

"Huh, kenapa memaki orang seenaknya, kau kira aku boleh sembarangan disebut sebagai bocah?"

Kun-tun Cinjin jadi melengak, sejak terjun ke dunia persilatan belum pernah ada orang yang be-rani bicara kurangajar kepadanya, ia tak menyang-ka pemuda yang tak ternama ini berani mengejeknya.

Kun-tun Cinjin tertawa seram.

"Hehehe, kau tidak kenal diriku, maka berani bicara kasar pa-daku? Nah, cepat tempeleng muka sendiri beberapa kali!"

Ji-sia adalah pemuda yang angkuh dan keras kepala, ia tertawa dingin seraya menyambung.

"Kalau aku tahu, kau adalah Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin dari Bu-lim jit-coat, apakah lantas hendak kau renggut nyawaku?"

Berubah hebat air muka Kun-tun Cinjin saking gusarnya, pelahan ia menghampiri Bok Ji-sia.

Lamkiong Giok merasa gelisah, ia melangkah maju ke depan dan menghadang di depan Kun-tun Cinjin, lalu memberi hormat, katanya.

"Saudara ini adalah seorang sahabat Wanpwe, harap Locianpwe bersedia...."

Tanpa menggubris ucapan orang, Kun-tun Cinjin mengayun tangan kiri ke depan, segulung tenaga pukulan yang dahsyat langsung menerjang ke arah Lamkiong Giok.

Lamkiong Giok telah memperhatikan gerak-geriknya, ia tahu ayunan telapak tangannya itu membawa tenaga pukulan dahsyat.

Cepat ia mun-dur menghindarkan ancaman tersebut.

Sementara itu tubuh Kun-tun Cinjin yang jangkung mendadak bergerak maju lagi, senjata ke-but segera menyabat urat nadi tangan kiri Bok Ji-sia.

Bulu kebut itu tajam seperti kawat, bila ta-ngan Ji-sia terbelit niscaya akan terlilit putus.

Ji-sia mirip anak banteng yang tidak kenal takut, sambil tertawa dingin ia mengegos ke samping, lalu tangan kanannya diayun ke depan, pukulan langsung menerjang dada Kun-tun Cin-jin.

Kun-tun Cinjin adalah salah seorang Bu-lim-jit-coat, tujuh tokoh top dunia persilatan, dia yakin satu kali kebut saja pasti akan melukai pemuda tak ternama itu, atau paling tidak akan mendesaknya hingga kelabakan, siapa sangka dengan suatu gerak-an aneh Ji-sia dapat menghindarkan serangan itu dan sebaliknya malah melancarkan serangan balasan.

Kun-tun Cinjin betul-betul naik pitam, napsu membunuhnya berkobar, ia melayang ke sisi kiri Ji-sia, telapak tangan kiri lantas didorong ke depan.

Sebagai seorang jago kelas tinggi, ia enggan melangsungkan pertarungan jarak dekat dengan Jisia, maka sambil menghimpun tenaga dalam ia me-lepaskan suatu pukulan, Ji-sia melihat serangan lawan datangnya enteng lagi lambat, dalam hati ia berpikir.

"Hian-thian-koancu dan Oh Kay-gak terhitung Bu-lim-jit-coat, entah bagaimana tenaga dalamnya? Biarlah kusambut pukulannya untuk menjajal sampai di manakah kekuatannya?"

Berpikir demikian, hawa murni segera dihim-pun pada telapak tangannya dan didorong ke depan....

Ketika kedua gulung tenaga saling bertemu, Ji-sia segera merasakan keadaan tidak beres, meskipun datangnya serangan itu lambat, tapi kekuatannya maha dahsyat.

Buru-buru ia melompat mundur, masih untung ia cepat merasakan gelagat kurang baik, kalau tidak, besar kemungkinan dia akan tergetar hingga terluka parah sebab dibalik serangan tersebut justeru Kun-tun Cinjin telah menyembunyikan suatu serang-an susulan yang mematikan.

Tampaknya Lamkiong Giok sangat kuatir ka-lau pembantu andalannya akan mati di tangan Kun-tun Cinjin, cepat ia melompat ke hadapan imam tersebut, lalu memberi hormat, katanya.

"Kepandai-an Kun-tun Locianpwe amat lihai dan tiada tandingannya di kolong langit, buat apa ribut-ribut dengan seorang anak muda? Jika sampai salah hitung, bukankah nama baik Locianpwe bakal ter-pengaruh?"

Padahal ia sengaja berkata demikian dengan maksud bila Kun-tun Cinjin tidak berhasil melukai Bok Ji-sia, maka nama baiknya pasti akan ternoda, jadi sesungguhnya ucapan tersebut bernada meng-hasut.

Kiranya Lamkiong Giok pandai melihat gelagat, ia tahu Kun-tun Cinjin berhasrat besar untuk mem-binasakan Bok Ji-sia, maka pikirnya.

"Kungfu makhluk tua ini sangat lihai, bila ia betul-betul turun tangan, pasti Bok Ji-sia tidak mampu lolos dari cengkeramannya."

"Watak orang ini sukar diraba, sebentar baik, lain saat suka bertindak sesuka hatinya, manusia semacam ini paling sukar diperalat, apalagi Lik-ih-hiat-li dari kuburan kuno itu membelanya mati-matian, jika Lik-ih-hiat-li (perempuan darah berbaju hijau) sampai membeberkan perbuatanku yaag menyergapnya secara diam-diam, dari bersahabat dia pasti akan memusuhiku, lebih baik biarkan saja ia ter-bunuh oleh makhluk tua ini, kemudian kulaporkan kejadian ini kepada Lik-ih-hiat-li, dengan kemam-puannya, Kun-tun Cinjin pasti dapat disikat lenyap, waktu itu dunia akan menjadi milikku...."

Seperti diketahui, Lamkiong Giok adalah ma-nusia licik dan panjang akalnya, meski usianya ma-sih muda, ambisinya sangat besar dan hatinya keji, memang ada niat membunuh Bok Ji-sia, tapi kuatir pembalasan dari Lik-ih-hiat-li, maka ia tak berani membunuhnya.

Betapa senangnya jika sekarang Kun-tun Cinjin hendak membunuh Ji-sia, tapi iapun kuatir Kun-tun Cinjin sayang kepada bakat Ji-sia yang ba-gus hingga urungkan niatnya semula, maka ia se-ngaja membakar hatinya, meski di luar ia bersikap seakan-akan membela Bok Ji-sia.

Mencorong sinar mata Kun-tun Cinjin, ia ter-tawa seram, katanya.

"Lamkiong Giok, kau terlalu suka mencampuri urusan orang lain, biar sekalian kubunuh kau baru kemudian beradu jiwa dengan setan tua."

"Kun-tun Locianpwe, kenapa kau gusar hanya karena urusan sepele?"

Kata Lamkiong Giok lagi dengan tertawa.

"Minggir!"

Bentak Kun-tun Cinjin dengan gu-sar, kebut di tangan kanannya segera diayunkan ke tubuh Lamkiong Giok yang menghadang di depannya.

Dengan gesit Lamkiong Giok menghindar ke samping, serunya kepada Ji-sia.

"Saudara Bok, jika tak mampu menang, cari kesempatan dan kabur saja."

"Terima kasih banyak atas perhatian saudara Lamkiong, orang she Bok yakin masih sanggup menghadapi beberapa jurus serangannya!"

Kun-tun Cinjin kembali tertawa seram.

"Anak keparat, kau terlalu sombong, ingin kulihat berapa jurus sanggup kau hadapi."

"Kun-tun Locianpwe! Kau telah menyerang dua jurus.

"seru Lamkiong Giok. Ucapan ini benar-benar membakar Kun-tun Cinjin, dengan gemas ia berteriak.

"Lamkiong Giok, boleh kau jadi saksi, dalam lima gebrakan akan ku-binasakan dia."

Dalam hati Lamkiong Giok merasa girang, ta-pi di luar sengaja ia berseru,.

"Kalau kau gagal me-lukainya dalam lima gebrakan, lantas bagaimana!"

"Segera aku pulang ke Hian-thian koan, la-lu semedi selama lima tahun dan tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi."

Selesai menjawab, langsung ia mengayun ta-ngan kiri melancarkan serangan dahsyat ke arah Bok Ji-sia.

Ji-sia yang tinggi hati sudah barang tentu ti-dak mau dipandang enteng lawan, memerasa jika lima gebrakan itu tak sanggup diterimanya, lalu apa gunanya berkelana dalam dunia persilatan?

Maka sambil membentak, tangan kanan diayun ke depan, ia sambut serangan si Tosu.

Serangan Kun tun Cinjin itu luar biasa dahsyat-nya, betapa kaget Lamkiong Giok ketika menyak-sikan Ji-sia berani menangkis serangan itu dengan kekerasan......

"Heran, kenapa tenaga dalamnya bisa maju sepesat ini? Jika dibiarkan hidup lebih lama, niscaya kemampuannya akan tambah hebat, lebih baik dile-nyapkan saja dengan meminjam tangan Kun-tun Cinjin daripada meninggalkan bibit bencana di ke-mudian hari."

Berpikir sampai di sini, Lamkiong Giok lantas berpaling ke arah Ji-sia dan berseru.

"Saudara Bok, sungguh dahsyat tenaga dalammu, sudah pasti kau mampu menahan empat jurus serangannya lagi!"

Kun-tun Cinjin merasa terperanjat juga karena serangannya dapat disambut lawan, ia berteriak aneh, hawa murni dihimpun, pelahan tangan kirinya di-dorong lagi ke depan.

Setelah menyambut serangan pertama tadi, Ji-sia merasakan darah bergolak keras, tapi dia ada-lah pemuda suka menang, ia enggan menunjukkan kelemahan di depan orang, maka sambil mengatur pernapasan, iapun bersiap lagi untuk menghadapi segala kemungkinan.

Maka ketika Kun-tun Cinjin melepaskan serangan lagi, kedua telapak tangan Ji-sia segera didorong pula untuk menyambut ancaman tersebut.

Serangan itu sepintas lalu tampaknya seder-hana dan biasa saja, padahal mengandung tenaga pukulan yang beberapa kali lebih hebat daripada serangan pertama tadi.

Begitu benturan keras ter-jadi, Ji-sia kontan tergetar mundur dua langkah.

Tak terlukiskan rasa kaget Kun-tun Cinjin, ia tidak mengira dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago tangguh yang sanggup menerima tu-juh bagian tenaga pukulannya dengan cuma tergetar mundur dua langkah saja.

Air muka Lamkiong Giok juga berubah, se-runya.

"Saudara Bok, tinggal tiga gebrakan lagi?"

Mendadak Kun-tun Cinjin mengernyitkan ke-ning, sambil membentak.

"Sambut lagi pukulanku ini!"

Tenaga dalam dihimpun mencapai sembilan bagian, segera tangan kiri menghantam ke depan.

Ji-sia yang sombong tetap, tidak menghindar, kedua telapak tangannya menyambut pula serangan tersebut dengan kekerasan.

"Blang!"

Angin kencang menyebar ke empat penjuru membawa suara benturan keras.

Kun-tun Cinjin merasakan segulung tenaga pu-kulan yang dahsyat memantul ke arahnya, ia ter-guncang sempoyongan dan mundur dua langkah.

Dengan tenaga pukulaa sebesar itu, sebagai seorang jago tua ternyata tak mampu membinasakan seorang muda, sebaliknya ia sendiri malah tergetar mundur, sungguh kejadian yang membuatnya kehi-langan muka.

Sementara itu Ji-sia pun merasakan betapa dahsyatnya tenaga pukulan musuh, ia mencelat beberapa depa jauhnya, lalu turun lagi ke tanah.

Air muka pemuda itu berubah menjadi keabu-abuan, senyuman masih tersungging di ujung bibir-nya, tapi mata melotot ke arah Kun-tun Cinjin.

Lamkiong Giok terkejut, pikirnya.

"Malam ini aku betul-betul ketemu setan, masa tenaga dalam-nya seimbang dengan Kuntun Cinjin....?"

Padahal pergolakan darah dalam tubuh Ji-sia sekarang sangat hebat, dadanya terasa sakit, ham-pir saja dia tumpah darah, tapi dasar keras kepala, dengan paksa ia telan kembali darah yang hambir tersembur keluar itu.

Kepalanya sekarang terasa pusing tujuh keli-ling, matanya berkunang-kunang, tapi ia masih tetap berdiri tegak di tempat semula, seakan-akan tak ter-jadi sesuatu apapun, padahal tubuhnya betul-betul sudah tak bertenaga lagi, asalkan Kun-tun Cinjin melepaskan pukulan lagi, mungkin ia akan tewas seketika.

Lamkiong Giok yang berhati jahat ini kembali berteriak untuk memanaskan suasana.

"Saudara Bok, tinggal dua gebrakan lagi, jika kedua gebrakan ini pun sanggup kau atasi, maka dia harus pulang ke Hian-thian-koan untuk duduk menghadap dinding selama lima tahun!"

Diam-diam Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin mulai menaruh rasa kagum atas kesempurnaan te-naga dalam Bok Ji-sia, timbul pula rasa sayang da-lam hatinya, ia tak ingin melukainya lagi dan cu-ma berdiri termangu di tempat semula.

Melihat itu, Lamkiong Giok segera berseru sambil tertawa.

"Kun-tun Locianpwe, delapan be-las tahun tak pernah kau muncul dalam dunia per-silatan, tentunya tak pernah kau duga bahwa air terus mengalir, ombak di sungai Tiangkang selalu mendorong ke depan, hahaha......"

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan.

"Da-hulu kau dikalahkan oleh Ban-pian-sinkun Au-yang Seng, sungguh tak tersangka delapan belas ta-hun kemudian kau dikalahkan lagi oleh murid-nya Auyang Seng. Hahaha, dengan kepandaian be-gini saja ingin menjadi pimpinan Bu-lim-jit-coat....?"

Betapa kaget Hian-thian-koancu Kun-tun Cin-jin mendengar perkataan itu, serunya.

"Jadi dia ini muridnya Ban-pian-sinkun Auyang Seng?"

"Kau heran?"

Tanya Lamkitong Giok sambil tersenyum,"

Dari pada dikalahkan oleh muridnya Ban-pian-sinkun secara mengenaskan, kuanjurkan kepa-damu lebih baik damai saja."

Hasutannya mengobarkan lagi dendam Kun-tun Cinjin yang telah terpendam selama delapan belas tahun ini, serunya kemudian.

"Baik, hari ini akan sekalian kubalas dendam atas sakit hatiku da-hulu itu!"

"Hm, kenapa tidak kau lanjutkan seranganmu?"

Ejek Ji-sia sinis.

Dengan murka Kun-tun Cinjin menghimpun tela-ga dalamnya dan melancarkan serangan terakhir, napsu membunuhnya telah berkobar, ini terbukti da-ri matanya yang melotot dan wajahnya yang me-nyeringai.

Ji-sia tak berani gegabah, ia himpun tenaga untuk menangkis pukulan itu.

"Blang", sekali ini Ji-sia tergetar mundur tiga tindak dan jatuh ter-duduk dengan tumpah darah.... Diam-diam Lamkiong Giok merasa girang me-nyaksikan kejadian tersebut, in tahu sekali ini Bok Ji-sia niscaya tak bisa lolos dari maut apabila Kun-tun Cinjin menambahi sekali pukul lagi. Pada saat kritis inilah, mendadak seseorang membentak.

"Berhenti!"

Menyusul bentakan itu, sesosok bayangan hi-jau melayang tiba. Air muka Lamkiong Giok berubah hebat me-lihat kemunculan orang ini, pikirnya.

"Sialan, lagi2 orang ini muncul pada saat ini!"

Ternyata orang ini bukan lain adalah Lik-ih-hiat-li, si perempuan aneh berbaju hijau penghuni kuburan kuno.

Ji-sia memandang perempuan itu, lalu katanya "Mau apa kau kemari?

Jangan ikut campur urusanku!"

"Anak muda, jangan kau paksakan diri mena-han serangan musuh!"

Kata Lik-ih-hiat-li lembut.

Lamkiong Giok agak bingung melihat keadaan itu, ia tidak mengerti apa sesungguhnya hubungan antara Lik-ih-hiat-li dengan Bok Ji-sia, yang jelas perempuan aneh ita sangat memperhatikan kese-lamatan Bok Ji-sia.

"Lik-ih-hiat-li pasti akan membalaskan den-dam untuk Bok Ji-sia,"

Demikian ia berpikir.

"mung-kin saja iapun akan turun tangan kepadaku, bila aku tidak berlagak seakan-akan bermusuhan dengan Kun-tun Cinjin, pasti dia akan turun tangan jahat, kungfu Lik-ih-hiat-li ini mungkin jauh di atas Kun-tun Cinjin, jika ditambah dengan diriku, rasanya bukan pekerjaan sulit untuk membunuh Kun-tun Cinjin, bila malam ini ia disingkirkan, hal ini me-rupakan kejadian yang memuaskan juga..."

Dasar licik, sambil tersenyum katanya kemu-dian.

"Kun-tun locianpwe, kau mesti berhati-hati!"

Segera ia mendekati Kun-tun Cinjin, diam-diam ia menunggu kesempatan untuk melancarkan serang-an, tapi senyuman masih menghiasi ujung bibirnya seakan-akan tak terjadi apapun, keadaan ini sung-guh membuat orang sukar untuk menduga maksud tujuannya.

Sejak terpukul mundur tadi, Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin lantas waswas, pikirnya.

"Ilmu silat perempuan itu jelas tidak lemah, cuma entah dari mana asal-usulnya? Mungkin aku tak bisa menang-kan dia sekarang, padahal Lamkiong Giok tersohor dalam dunia persilatan sebagai seorang licin dan berhati keji, jika ia berniat untuk memusuhiku su-dah pasti malam ini aku tak akan memperoleh ke-untungan apa-apa!"

Berpikir demikian, tiba-tiba Kun-tun Cinjin mundur beberapa langkah kemudian tertawa terba-hak-bahak, katanya.

"Lamkiong Giok, siapakah pe-rempuan ini? Kenapa belum pernah kudengar orang persilatan membicarakannya?"

"Orang ini belum lama muncul dalam dunia persilatan,"

Kata Lamkiong Giok sambil tertawa nyaring.

"dia adalah jago lihai nomor wahid dalam dunia persilatan dewasa ini.....Lik-ih-hiat-li!"

"Apa? dia adalah perempuan aneh yang berhasil mendapatkan kitab pusaka Hian-ki-hian-cing?"

Seru Kun-tun Cinjin terkejut.

Ternyata peristiwa tentang berhasil dirampas-nya mestika dalam kuburan kuno oleh seorang pe-rempuan aneh pada tujuh hari yang lalu telah tersiar luas dalam persilatan, nama besar Lik-ih-hiat-li telah menggetarkan hati setiap umat persilatan.

Oleh karena ilmu silatnya yang lihai dan per-buatannya yang keji, hal mana telah menimbulkan perasaan ngeri setiap orang, tentu saja Kun-tun Cinjin pun mendengar berita besar ini.

Maka begitu mengetahui orang itu adalah Lik-ih-hiat-li atau perempuan darah berbaju hijau, tiba-tiba ia putar badan dan hendak tinggal pergi.

"Bagaimana?"

Seru Lamkiong Giok, sambil mem-beri hormat dan tertawa.

"apakah lantaran tahu dia adalah Lik-ih-hiat-li yang menggemparkan dunia per-silatan, maka Kun-tun Locianpwe menjadi ketakutan dan hendak melarikan diri? Jika berita ini sampai tersiar di luaran nanti, bukankah kejadian ini akan merusak nama besar Bu-lim-jit-coat dan di-tertawakan orang banyak?"

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin tersipu-sipu mendengar sindiran Lamkiong Giok ini, dengan ge-ram serunya.

"Lamkiong Giok, nyalimu makin la-ma semakin besar, apakah kau sudah bosan hidup? Kalau suka hayolah bermain beberapa gebrakan denganku!"

Huan-in-kiam Lamkiong Giok melirik Lik-ih hiat-li sekejap, diam-diam iapun berpikir.

"Sewaktu berada dalam kuburan kuno dulu, perempuan ini tahu beberapa kali hendak kubunuh Bok Ji-sia, jika untuk sementara waktu ia tidak turun tangan, dan biarkan aku bertarung dengan Kun-tun Cinjin posisiku jadi semakin tidak beruntung...."

Ia memang seorang pintar, sebab itulah yang diharapkan oleh Lik-ih-hiat-li. Maka sambil tertawa Lamkiong Giok berkata.

"Mana, mana! Masa wanpwe berani melawan se-orang Bu-lim-cianpwe yang tersohor?"

Kun-tun Cinjin tertawa dingin.

"Masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan, aku tak punya waktu untuk ribut mulut dengan anak mu-da yang tak tahu diri!"

Habis berkata, iapun putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

"Kun-tun Loto!"

Dengan suara yang dingin Lik-ih-hiat-li berseru.

"sesudah menganiaya seorang Wanpwe, apakah kau hendak pergi dengan begitu saja?"

"Kun-tun Locianpwe,"

Lamkiong Giok pun tertawa dingin.

"rupanya kau cuma berani meng-aniaya anak-anak dan tak berani pada orang tua, hahaha, manusia macam begitupun berani menyebut-kan dirinya sebagai tokoh Bu-lim-jit-coat, tidakkah kau merasa hal itu akan merugikan nama baik Jit-coat?"

Sesungguhnya Hian-thian koancu Kun-tun Cin-jin bukan takut pada Lik-ih-hiat-li, apalagi setelah disindir berulang kali oleh Lamkiong Giok, amarah-nya kontan berkobar, sambil tertawa dingin men-dadak ia menerjang maju, tangan kiri secepat kilat mencengkeram bahu kiri Lamkiong Giok.

Tampaknya ia bermaksud menaklukkan Lam-kiong Giok dengan sekali serang, maka serangannya dilancarkan dengan cepat luar biasa.

Lamkiong Giok juga bukan lawan empuk, ia mendak sedikit, tangan kanan didorong ke depan, iapun melancarkan pukulan dahsyat ke dada Kun-tun Cinjin.

Berkelit sambil melepaskan serangan balasan, gerakan itu dilakukan dengan cepat.

Terkesiap juga Kun-tun Cinjin, sambil tertawa dingin ucapnya.

"Anak keparat Lamkiong, ternyata kau masih memiliki jurus ampuh dari si setan tua!"

Sambil berkata, tenaga dihimpun pada tangan kiri dan pelahan didorong ke depan untuk me-nyongsong datangnya serangan telapak tangan ka-nan Lamkiong Giok.

Huan-in-kiam Lamkiong Giok bukan orang bo-doh, ia tahu Kun-tun Ciojin telah menyembunyikan serangan mematikan di balik gerakan tersebut, ma-ka ketika tangan kanan didorong ke depan, segera ia melompat mundur sejauh enam-tujuh depa.

"Kun-tun Locianpwe,"

Serunya sambil tertawa.

"Wanpwe merasa sudah cukup menerima hadiah dua gebrakan dari Cianpwe....."

Kun-tun Cinjin tertawa seram.

"Lamkiong Giok, hendak kulihat tiga empat jurusmu lagi!"

Kebut di tangan kanannya mendadak bergetar, bulu halus putih senjata itu segera berdiri kaku ba-gaikan bulu tengkuk singa yang sedang gusar, be-ratus jalur angin tajam sekaligus menyambar ke tu-buh Lamkiong Giok.

Air muka Lamkiong Giok berubah, ia meng-himpun tenaga dalam dan tiba-tiba melompat ke atas, terus berjumpalitan dan melayang turun di sana.

Gerak tubuh yang digunakan untuk menghin-darkan diri ini amat aneh, sungguh gerakan yang jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Ji-sia kebetulan membuka matanya, ia memuji.

"Saudara Lamkiong, sungguh gerakan yang indah!"

Mendengar suara Ji-sia, Lik-ih-hiat-li berpaling, dilihatnya anak muda itu sedang duduk bersila de-ngan tenang, sedikitpun tidak mirip seorang yang terluka parah.

Perempuan aneh itu merasa heran, dia tak me-nyangka luka pemuda tersebut bisa sembuh secepat itu.

"Sudah sembuh lukamu?"

Tegurnya kemudian. Ji-sia mengiakan, sinar matanya kembali ber-alih ke tengah gelanggang. Ketika senjata kebut mengenai sasaran kosong, Kun-tun Cinjin segera tertawa dingin.

"Lamkiong Giok, kau memang punya kepandaian hebat, aku ikut bergembira bagi Lamkiong Hian yang punya anak cekatan seperti kau, cuma sayang malam ini...."

"Kun-tun Locianpwe, kalau kau mendesak te-rus menerus, terpaksa Wanpwe melayanimu!"

Ben-tak Lamkiong Giok.

"Kun-tun tua!"

Tiba-tiba suara bentakan berkuman-dang.

"sambut dulu beberapa jurus seranganku se-belum kalian lanjutkan pertarungan!"

Tidak tampak bagaimana bergerak tubuhnya, tahu-tahu Lik-ih-hiat-li telah menerjang ke depan Kun-tun Cin-jin.

Terkejut Kun-tun Cinjin menyaksikan gerak tubuh orang, ia tahu malam ini telah berjumpa de-ngan musuh tangguh.

Sambil mundur setengah langkah, ia tertawa dingin seraya menegur.

"Apakah kau adalah Lik-ih-hiat-li yang memperoleh mestika Hian-ki-hian-cing?"

"Tak perlu banyak bicara!"

Dengus Lik-ih-hiat-li, segera tangan kirinya diayun ke depan, segulung angin dingm segera menyambar.

Kun-tun Cinjin berkelit ke samping, kebut di tangan kanannya berputar dan bulu kebut segera membelit pergelangan tangan kiri lawan.

Gerak tubuh Lik-ih-hiat-li ternyata cepat dan luar biasa, perubahan yang terjadi pun di luar dugaan.

Baru saja senjata kebut Kun-tun Cinjin menyabat, telapak tangan kirinya dari menepuk telah berubah menjadi menabas, tangan menekan ke bawah untuk menghindarkan kebutan tersebut, ber-bareng jari tangan langsung menutuk jalan darah Cian-keng-hiat di bahu lawan.

Kun-tun Cinjin terkesiap, sambil miringkan badan ia mundur tiga langkah.

Lik-ih-hiat-li mendengus, segera ia mendesak maju, dalam waktu singkat ia telah melancarkan tiga kali pukulan dan dua kali tendangan.

Serangannya cepat luar biasa dan mengandung tenaga dalam yang maha kuat, meski terdiri dari tiga pukulan dan dua tendangan, tapi seakan-akan terjadi pada saat yang sama.

Kun-tun Cinjin terperanjat, cepat ia menghindar ke kiri dan mengegos ke kanan, meski serangan Lik-ih-hiat-li amat cepat dan gencar, tapi semuanya bisa dihindarkan dengan baik, tapi tidak urung ter-desak mundur lima langkah.

"Sret! Sret! Sret!"

Kebut Kun-tun Cinjin dengan cepat menyabet beberapa kali, sementara tangan kiri juga melepaskan tiga kali pukulan dan tiga kali tutukan, semuanya terdiri dari sembilan jurus, se-mua itu dilakukan secara beruntun dalam waktu yang hampir sama.

Setelah terdesak mundur lima langkah oleh tiga pukulan dan dua tendangan Lik-ih-hiat-li, sebagai seorang jago kenamaan, hal mana diang-gapnya sebagai suatu peristiwa yang memalukannya, oleh sebab itu dengan kesembilan jurus serangan berantai itu ia coba mempertahankan posisinya.

Kejut Kun-tun Cinjin tak terkatakan, ia merasa perubahan dunia persilatan selama delapan belas tahun ini betul-betul terlampau besar, ia tak mengira kemunculannya kembali setelah berlatih te-kun selama delapan belas tahun harus bertemu dengan jago setangguh ini, ketika terbayang olehnya bahwa je-rih payah selama delapan belas tahun berlatih akan sia2 belaka, napsu membunuhnya segera timbul, sinar mata be-ringas terpancar dari matanya.

Begitu kesembilan kali serangan lewat, ia mun-dur tiga langkah dan berdiri kaku seperti mayat sambil menatap Lik-ih-hiat-li tajam-tajam.

Rupanya dia hendak mengeluarkan semacam kepandaian beracun untuk melukai musuh.

Walaupun secara tidak sengaja Lik-ih-hiat-li berhasil memperoleh peninggalan kuno yang hebat sehingga membuatnya menjadi seorang manusia su-per, tapi setelah bertarung beberapa gebrakan, ia merasa kelihaian kungfu Kun-tun Cinjin juga tidak boleh diremehkan, maka ketika musuh berhenti, iapun ikut berhenti sambil mengawasinya dengan sak-sama.

Kecuali desir angin malam yang menggoyang-kan ranting dan dedaunan pohon sehingga menim-bulkan suara gemersik, suasana disekeliling sunyi-senyap, Lamkiong Giok dan Bok Jisia sama terpikat oleh jurus ampuh yang dipergunakan oleh kedua orang jago tangguh tersebut, dalam pertarungan me-reka, empat mata tanpa berkedip mengawasi kedua orang di tengah arena.

Pikiran Ji-sia sekarang sangat tenang, sebalik-nya perasaan Lamkiong Giok bergolak keras, tubuh Lik-ih-hiat-li yang ramping tapi padat itu membuat-nya terbayang pada hal yang bukan-bukan.

Perawakan perempuan itu memang terlalu in-dah, itulah potongan tubuh seorang perempuan yang penuh gairah, menurut perkiraan Lamkiong Giok, paling banyak perempuan itu baru berusia dua pu-luh tujuh-delapan tahunan, tapi kalau ditinjau dari sikap maupun reaksinya terhadap orang lain, maka dia pastilah seorang perempuan yang sudah berpe-ngalaman.

Agaknya Lik-ih-hiat-li tidak tahan suasana he-ning ini, katanya dengan dingin.

"Kun-tun tua, sudah terhimpun kembali belum tenaga dalammu?"

Sambil berkata, tangan kanannya yang putih pelahan didorong ke depan....

Ketika mendengar teguran tersebut, Kun-tun Cinjin sedang menghimpun kekuatan dan siap me-lepaskan serangan lebih dulu, tiba-tiba ia merasa tenaga tekanan yang amat dingin menyergap tubuhnya, ia merasa terperanjat, sambil mengerahkan te-naga dalam untuk melindungi badan, ia lancarkan serangan balasan.

Terjadi, benturan keras, Lik-ih-hiat-li terperan-jat, ia merasa sekujur tubuh bergetar keras, ternya-ta kekuatan lawan tiba-tiba membanjir, hampir saja ia tak tahan.

Kun-tun Cinjin tertawa licik, kebut di tangan kanannya cepat menyabat tubuh Lik-ih-hiat-li.

Bulu kebut Kun-tun Cinjin itu menegak kaku.

"Sret!"

Dengan membawa desing tajam langsung me-nyambar tubuh perempuan darah berbaju hijau itu.

Lik-ih-hiat-li mendongak dan tertawa seram, tiba-tiba telapak tangan kirinya secara aneh mengebas dua kali ke kiri dan kekanan....

Karena itu air muka Kun-tun Cinjin berubah pucat, sekujur tubuh menggigil, tubuhnya terdorong sejauh dua tombak lebih oleh kekuatan yang tak berwujud.

Cepat ia menutuk tiga jalan darah penting di tubuh sendiri, dan muntahkan tiga gumpalan darah kental.

Gumpalan darah yang tertumpah itu seakan-akan sudah beku, ketika jatuh ke tanah telah me-nimbulkan suara seperti batu menimpa tanah.

"Untung nasibmu masih mujur dan telah me-latih Khikang pelindung badan,"

Kata Lik-ih-hiat-li dengan suara dingin.

"tapi serangan tadi baru mempergunakan dua bagian dari kekuatanku, se-karang coba sambutlah pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang....."

Belum lagi perempuan aneh itu selesai berkata, Kun-tun Cinjin segera putar badan dan angkat lang-kah seribu.

Kiranya dalam dua kebasan ringan yang dilakukan Lik-ih-hiat-li tadi, perempuan ini telah me-lancarkan tenaga pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang yang dahsyat.

Pukulan tersebut merupakan sejenis tenaga pukulan berhawa dingin, sekalipun Kun-tun Cinjin berilmu tinggi juga tidak tahan, coba kalau hawa murninya tidak melindungi bagian-bagian yang pen-ting, niscaya jiwanya sudah melayang.

Kun-tun Cinjin mempunyai pengetahuan yang luas, begitu terkena serangan dan darah di sekujur badan seakan-akan beku, ia terperanjat, sadarlah dia bahwa musuh telah menggunakan ilmu pukul-an Peng-sian-jit-gwat-ciang yang maha lihai itu.

Buru-buru ia tutuk tiga kali pada jalan darah pentingnya untuk mencegah menjalarnya racun dingin, lalu ia muntahkan gumpalan darah beku, walaupun demikian, isi perutnya tetap menderita luka yang cukup parah, sudah barang tentu ia tak berani menyambut serangan Lik-ih-hiat-li lagi, ma-ka tanpa pikir lagi ia putar badan dan kabur.

Huan-in-kiam Lamkiong Giok memang pemu-da licik dan berhati busuk, ia tidak tinggal diam menyaksikan Kun-tun Cinjin hendak kabur dan Lik-ih-hiat-li tampaknya tidak berminat membu-nuhnya, ia merasa kesempatan baik untuk lenyap-kan Kun-tun Cinjin dari muka bumi ini tak boleh disia-siakan.

Maka sambil tertawa serunya.

"Kun-tun Locianpwe, harap tunggu scbentar!"

Kun-tun Cinjin tahu maksud keji orang, ia se-makin tak berani berpaling, dengan sisa hawa mur-ninya yang belum buyar, seperti burung, dia mela-yang pergi dari situ.

"Lamkiong Giok,"

Demikian serunya.

"jika kau berminat, ayo antarlah diriku......."

Belum habis ucapannya, Lamkiong Giok me-ngebaskan ujung baju kanan, empat jalur sinar pu-tih tajam secepat kilat menyambar ke belakang tu-buh imam tua itu, Kun-tun Cinjin merasakan datangnya ancaman tersebut, tubuh yang sedang melayang ke depan itu mendadak berputar, dengan senjata kebut dia pukul pedang-pedang pendek itu.

Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak pula katanya.

"Kuntun Locianpwe, ilmu silatmu me-mang sangat lihai, pedang terbang yang kuyakin-kan tak lebih hanya mirip cahaya kunang-kunang bagimu!"

Sambil berkata, tangan kanannya kembali di-kebaskan ke udara, empat bilah pedang terbang yang meluncur itu mendadak menyebar keempat penjuru kemudian dengan membentuk satu garis lurus se-gera terbang balik ke belakang.

Melihat pedang pendek itu melayang balik, Kun-tun Cinjin tertawa dingin, ia kabur lebih cepat.

Siapa sangka keempat bilah pedang terbang Lamkiong Giok itu seakan-akan terpengaruh ilmu sihir atau mempunyai mata, baru seja Kuntun Cin-jin hendak kabur, pedang pendek yang telah ter-bang balik itu mengeluarkan lagi desing tajam.

Dengan gerakan indah, keempat pedang pendek itu berputar membentuk setengah busur, lalu bagaikan empat jalur cahaya tajam langsung menyam-bar empat tempat mematikan di belakang tubuh Kun-tun Cinjin.

Mendengar desing tajam itu, segera Kun-tun Cinjin merasakan hawa pedang yang tajam itu te-lah dekat di belakang tubuhnya, dalam keadaan demikian ingin berkelitpun tak sempat lagi.

Tiba-tiba Kun-tun Cinjin membentak, pakaiannya mengembang besar, dari sekujur tubuhnya ter-pancar keluar hawa yang memaksa keempat bilah pedang pendek itu meluncur ke arah lain.

Pada waktu itulah sambil tertawa dingin Lam-kiong Giok telah menubruk tiba, tangan kirinya meraih ke depan dan empat bilah pedang pendek itupun melayang kembali ke dalam ujung bajunya.

Dengan suara tertahan tubuh Kun-tun Cinjin jatuh tersungkur.

Ternyata setelah mengerahkan hawa murni un-tuk menahan empat bilah pedang pendek tadi, luka yang dideritanya semakin parah, dada terasa sakit, darah bergolak keras dan tubuh pun jatuh.

Mendadak Lamkiong Giok mencabut pedang panjang yang memancarkan sinar tajam, segera ia menabas kaki Kun-tun Cin-jin.

Hari ini Kun-tun Cinjin betul-betul sial, ber-ulang kali ia menelan kekalahan, hal mana mem-buatnya naik darah.

Sambil membentak, tangan kirinya menghantam ke arah Lamkiong Giok.

Serangan ini dilancarkan dengan murka, keku-atannya luar biasa, terpaksa Lamkiong Giok mem-batalkan serangannya dan menyelinap ke samping.

Dalam sekejap itulah Kun-tun Cinjin sudah melayang jauh, serunya dengan penuh rasa dendam.

"Lamkiong Giok, pada suatu hari pasti akan ku-binasakan kau tanpa tempat kubur!"

Ucapan itu berkumandang makin jauh, ketika kata terakhir terucap, orangnya sudah lenyap da-lam kegelapan.

Menyaksikan Kun-tun Cinjin melarikan diri, Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak, suaranya keras menggema di angkasa.

Tapi suara tertawa dingin seseorang segera memotong gelak tertawa Lamkiong Giok itu.

Lamkiong Giok berpaling dan kebetulan kebentrok dengan sinar mata yang membuatnya merinding.

Entah sejak kapan Lik-ih-hiat-li telah mende-kati Lamkiong Giok.

Lamkiong Giok tahu perempuan itu hendak cari perkara padanya, terpaksa ia tersenyum dan memberi hormat, katanya dengan nyaring.

"Terima kasih atas bantuan Lihiap untuk memukul mundur musuh tangguh...."

Belum habis ia berkata, Lik-ih-hiat-li telah me-nukas dengan suara dingin.

"Anak licik, kau tak perlu berlagak di hadapanku, terus terang kuberi-tahukan padamu, malam ini aku tidak akan membi-arkan kau pergi dari sini!"

Perkataannya sudah cukup jelas, yakni tak akan membiarkan Lamkiong Giok hidup lebih lama. Ke-ruan air muka anak muda itu berubah hebat. Tapi sejenak kemudian ia tertawa lagi, katanya.

"Lihiap, tempo hari aku memang bersalah mengganggu ketenanganmu, apakah engkau....."

"Tak usah banyak bicara,"

Dengus Lik-ih-hiat-li dengan menghina.

"jagalah keselamatan jiwa-mu, asal kau sanggup menyambut sepuluh ju-rus pukulanku, maka malam ini akan kuberi ke-sempatan bagimu untuk pergi!"

Habis berkata, pelahan ia menghampiri anak muda itu. Sambil mundur berulang kali, Lamkiong Giok berseru.

"Aku merasa kagum pada kehebat-an silatmu, tak berani kuterima seranganmu, urung-kan saja kehendakmu...."

"Hm, dengan kepandaian simpananmu, kukira sepuluh jurus seranganku masih mampu kau sambut, baik-baiklah siapkan diri, tentunya kau tahu bahwa aku tak akan menaruh belas kasihan kepadamu!"

Sambil mundur selangkah demi selangkah, kem-bali Lamkiong Giok berkata.

"Lihiap, Peng-sian-jit-gwat-ciangmu tiada tandingannya di dunia ini, kutahu tak sanggup menyambut satu gebrakan saja."

"O, rupanya kau takut pada ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangku.....Hm, agar kau bisa mampus de-ngan tenteram, dalam sepuluh gebrakan aku tak akan mempergunakan kepandaian tersebut, sambut saja seranganku!"

Dengan watak Lamkiong Giok yang tinggi hati, sudah barang tentu ia tak sudi dipandang enteng oleh musuh, sekalipun ayahnya Lamkiong Hian ju-ga tak mampu mengalahkannya dalam sepuluh ge-brakan bila tidak mengeluarkan ilmu simpanan.

Ia cuma jeri pada Peng-sian-jit-gwat-ciang an-dalan Lik-ih-hiat-li, sebab sekalipun ayahnya juga belum tentu sanggup menghadapi kepandaian ini.

Oleh sebab itulah ia sengaja memancing agar orang tidak mempergunakan kepandaian tersebut dalam sepuluh gebrakan.

Betapa girangnya setelah mendengar janji la-wan, pikirnya.

"Aku cuma takut bila kau meng-gunakan Peng-sian-jit-gwat-ciang, sekarang setelah kau berjanji takkan menggunakan kepandaian itu, hmm, akan kulihat dengan cara apa akan kau melukaiku, jika aku tidak perlihatkan sedikit kepandaian, pasti kau pandang enteng diriku....."

Berpikir demikian, Lamkiong Giok lantas ber-kata.

"Orang persilatan selalu pegang teguh setiap perkataannya. Baiklah, malam ini sekuatnya kusambut beberapa jurus saktimu."

Lamkiong Giok betul-betul lihai, di balik se-tiap perkataannya selalu mengandung perkataan lain, sekalipun di luar ia berkata demikian, sesung-guhnya ia kuatir kalau Lik-ih-hiat-li melanggar janji dengan menggunakan ilmu sakti Peng-sian-jit-gwat-ciang, maka dia sengaja mengikatnya dulu dengan kata-kata.

Sinar mata dingin terpancar dari balik mata Lik-ih-hiat-li, katanya kemudian ketus.

"Kau betul-betul memanfaatkan kelicikanmu menghadapi setiap persoalan. Hm, suatu hari kau pasti akan runtuh! Nah, jangan kuatir, aku tidak serendah yang kau-bayangkan!"

"Mana, mana!...Kalau begitu aku minta maaf dulu!"

Seru Lamkiong Giok sambil tertawa.

Mendadak ia angkat pergelangan tangan, cahaya tajam segera terpancar, segera ia menerjang ke arah Lik-ih-hiat-li.

Sejak tadi Lik-ih-hiat-li sudah siap, begitu Lamkiong Giok menggetarkan pedangnya, serentak iapun turun tangan, pada saat yang sama tangan kanan didorong ke depan, segulung tenaga pukulan yang kuat mendampar ke sana, berbareng perempuan itu terus meluncur ke samping, tapi tiba-tiba menerjang maju lagi, ujung baju-nya mengebas, suatu pukulan dilancarkan.

Ilmu silatnya memang luar biasa, setiap jurus serangannya jarang dijumpai dalam dunia persilatan, gerakan mundur lalu maju lagi ini dilakukan de-ngan gerakan cepat.

Lamkiong Giok tahu kelihaian perempuan itu, buru-buru ia berganti jurus serangan, pedangnya segera menabas lengan kiri lawan.

Siapa tahu Lik-ih-hiat-li sudah menduga akan serangannya itu, sambil tertawa ia mengegos, dengan jari tengah di telunjuk ia jepit pedang lawan, se-mentara kaki kanan menendang ke perut dan ta-ngan kanan menghantam iga kirinya.

Satu jurus dengan tiga gerakan, semuanya di-lakukan hampir sama waktunya, jurus yang aneh serta sasaran yang tepat, mau-tak-mau lawan harus menyelamatkan diri atas ancaman tersebut.

Lamkiong Giok terkejut, ia batalkan serangan-nya, lalu dengan jurus Thian-ho-nu-sia atau sungai langit mengalir deras, dengan selapis cahaya hijau ia melindungi sekujur tubuhnya.

Sekalipun Lik-ih-hiat-li berilmu tinggi, tapi iapun tak berani menangkis pedang yang tajam itu dengan tubuhnya sendiri, satu jurus dengan tiga gerakannya segera kena dibendung oleh pedang lawan.

"Sudah lima gebrakan!"

Teriak Lamkiong Giok tiba-tiba.

Pedangnya berputar dan menabas lagi ke tubuh Lik-ih-hiat-li.

Ternyata Lamkiong Giok telah mengeluarkan Huan-in-kiam-hoat yang lihai.

Tapi Lik-ih-hiat-li lantas mendengus, dengan cepat ia melompat mundur.

Lamkiong Giok tertawa nyaring, dia kembang-kan serangkaian serangan berantai yang hebat, ujung pedangnya memancarkan titik cahaya yang banyak dan bergerak-gerak seperti ular.

Sret!...Sret!...Sret!....Dalam waktu singkat ia menusuk tiga kali.

Ketiga jurus serangan lihai ini memaksa Lik-ih-hiat-li harus berkelit berulang kali.

Lamkiong Giok tertawa dingin, serunya.

"Jurus ke sembilan!"

Pekikan nyaring menggema, dengan jurus Yok-siu si-huan (seperti kosong bagaikan khayal), sinar tajam yang menyilaukan mata pelahan menusuk tu-buh Lik-ih-hiat-li.

Mencorong tajam sinar mata Lik-ih-hiat-li, di tengah gelak tertawa ia berkelit ke samping Lam-kiong Giok, tangan kirinya mengebas pelahan, angin tajam menyambar pergelangan tangan kanan pe-muda itu.

Lamkiong Giok terperanjat, ia tak menyangka jurus Yok-siu-si-kiam bisa dihindari musuh secara mudah, ketika merasakan sambaran angin tajam, tahu-tahu urat nadi pergelangan tangannya tersabet, separuh tubuh bagian atas menjadi kaku, nyaris pe-dangnya terlepas dari genggaman.

Buru-buru dia menghimpun tenaga, tangan ka-nan ditarik ke belakang, ujung pedangnya bergetar, dengan jurus Ciau-san-cu-hwe (kipas angin meng-usir api) ia tusuk bahu kiri lawan.

Tapi tatkala jurus serangan itu baru dilan-carkan, sikut kanannya mendadak terasa kaku, pedang rontok di tengah jalan.

Menyusul terdengar serentetan suara tertawa dingin berkumandang.

"Jurus kesepuluh, Song-mia-kui-im (mengantar nyawa pulang ke akhirat)!"

Telapak tangan kanan Lik-ih-hiat-li yang putih berkilat pelahan menekan ke jalan darah Sim-kan-hiat di hulu hati Lamkiong Giok.

Tampaknya Lamkiong Giok pasti akan tewas di bawah telapak tangannya, mendadak terdengar seorang berteriak.

"Jangan melukai dia!"

Embusan angin yang sangat kuat segera me-nyambar tiba dari samping Lik-ih-hiat-li.

Pukulan itu mengandung tenaga yang sangat kuat, sekalipun lihai Lik-ih-hiat-li tak berani me-nyambutnya dengan kekerasan, apalagi yang me-lancarkan serangan itu ternyata adalah Bok Ji-sia.

Terpaksa perempuan aneh itu membatalkan se-rangannya yang nyaris merenggut nyawa Lamkiong Giok itu, cepat ia melayang mundur ke belakang.

Belum sempat ia bersuara, Lamkiong Giok te-lah menjtira pada Ji-sia sambil berseru.

"Terima kasih saudara Bok, kembali kau selamatkan jiwaku, budi kebaikan ini terukir dalam hatiku dan takkan kulupakan untuk selamanya."

"Lamkiong Giok, kalau begitu kau pandang asing diriku!"

Seru Ji-sia dengan lantang. Lik-ih-hiat-li tertawa dingin.

"Bok Ji-sia, jangan kau berhubungan dengan manusia licik ini...."

Lamkiong Giok menghela napas sedih, tiba-tiba dia menukas ucapan perempuan itu.

"Sekalipun banyak kenalan di dunia ini tapi berapa orang yang bisa cocok dengan kita? Meski Siaute baru berkenalan dengan saudara Bok, ta-pi aku merasa amat cocok denganmu, sekalipun aku tahu saudara Bok mempunyai pandangan lain ter-hadap perbuatanku, tapi Siaute amat berkesan akan kebesaran jiwa saudara Bok dan ingin menjalin hubungan yang lebih erat denganmu, percaya atau tidak terserah kepada saudara Bok sendiri...."

Rupanya ia kuatir Lik-ih-hiat-li menceritakan niatnya membunuh Ji-sia tempo hari, maka dia per-gunakan kata-kata tersebut untuk menanamkan ke-percayaan atas diri anak muda itu.

Terdengar Lamkiong Giok berkata lebih lan-jut.

"Malam ini kembali kuperoleh bantuan saudara Bok, kebaikan ini pasti akan kubayar di kemudian hari, untuk sementara ini biarlah kumohon diri le-bih dulu."

Selesai berkata, dia putar badan dan berlalu.

Melihat Ji-sia sama sekali tidak menunjukkan perubahan pada wajahnya setelah mendengar per-kataannya, Lamkiong Giok kuatir jika Lik-ih-hiat-li membongkar kedok kemunafikannya, mungkin mau kabur pun susah nanti, maka ia manfaatkan kesempatan itu untuk ngeluyur pergi.

Bayangan hijau berkelebat, tahu-tahu Lik-ih-hiat-li telah menghadang lagi jalan perginya.

"Lamkiong Giok!"

Serunya ketus.

"kita telah berjanji tadi, jika tak mampu kau sambut sepuluh jurus seranganku, nyawamu harus kau tinggalkan di sini."

Ji-sia menerjang maju, bentaknya kepada Lik-ih-hiat-li.

"Kau jangan terlalu mendesak orang jika tidak mengingat budi kebaikanmu memukul mun-dur Kun-tun Cinjin tadi, tentu aku orang she Bok takkan sungkan padamu. Jika kau hendak membu-nuhnya, lebih baik bunuh sekalian diriku!"

Lik-ih-hiat-li tidak marah, ia malah berkata dengan lembut.

"Bok Ji-sia, tahukah dia ini orang baik atau jahat?"

"Hei, Lihiap, jangan terlalu mendesak orang,"

Seru Lamkiong Giok dengan tertawa seram.

"peng-hinaan yang kuterima malam ini pasti akan kubalas kelak, sekarang kita berpisah dulu untuk sementara, selamat tinggal!"

Habis berkata, ia melejit dan berkelebat pergi.

"Jangan harap bisa kabur malam ini!"

Seru Lik-ih-hiat-li sambil tertawa dingin.

Gerak tubuhnya yang cepat seperti setan itu sungguh sukar dibayangkan, dengan sekali berkelebat saja tahu-tahu ia sudah menghadang lagi di depan Lamkiong Giok, telapak tangan kanannya segera diayun ke depan, segulung angin dingin segera meng-hantam tubuh Lamkiong Giok.

"Jangan kuatir saudara Lamkiong!"

Ji-sia segera membentak.

"kau boleh pergi lebih dulu!"

Di tengah bentakan, tangan kanannya mele-paskan pukulan dahsyat, menyambut serangan Lik-ih-hiat-li tadi.

Ketika dua gulung tenaga pukulan saling ber-temu, tubuh Lamkiong Giok telah berjumpalitan di udara dan melayang ke sana, kemudian sekali lompatan lagi ia sudah berada jauh.

Ji-sia juga melompat ke sana, dengan kecepat-an luar biasa dia ikut melayang pergi.

"Sia,.....kau tunggu sebentar....."

Belum habis teriakan Lik-ih-hiat-li, Ji-sia dan Lamkiong Giok sudah lenyap di balik kegelapan sana.......

Ji-sia percepat larinya, dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah jalan bersanding dengan Lamkiong Giok, tanyanya dengan suara pelahan.

"Saudara Lamkiong, kepergian kita ini apakah da-pat bertemu dengan Ku-locianpwe?"

"Jangan kuatir saudara Bok,"

Jawab Lamkiong Giok sambil berpaling dan tertawa.

"berita yang kudapat pasti bisa dipertanggungjawabkan, tak mungkin salah lagi, cuma kepagian kita ke situ, juga sangat berbahaya...."

Ji-sia menghela napas panjang, katanya.

"Ku-locianpwe amat menyayangi diriku, sekarang ia ter-jatuh ke tangan orang Hek-liong-kang, mana boleh aku berpeluk tangan belaka? Sekalipun bukit pedang atau hujan golok yang akan kita datangi sekarang, te-tap aku akan pergi menyelamatkan dia."

Agaknya Lamkiong Giok terpengaruh oleh ke-besaran jiwa Bok Ji-sia, katanya tegas.

"Saudara Bok, kau betul-betul berjiwa besar dan amat setia kawan, hal mana sungguh membuatku sangat ter-haru, malam ini akupun pasti akan membantumu untuk menolong Ku-locianpwe."

"Saudara Lamkiong, maksud baikmu biar ku-terima di dalam hati saja...."

"Ah, saudara Bok, masa kau tidak memberi muka kepadaku?"

Kata Lamkiong Giok.

"Ah, kenapa saudara Lamkiong berkata demi-kian? Justru karena kuatir mengganggu dirimu, ma-ka tak berani aku minta bantuanmu."

"Aku merasa beruntung dapat berkenalan de-ngan saudara Bok, apalagi kau pun sudah beberapa kali membantuku, kini saudara Bok sedang meng-hadapi kesulitan, bila aku tidak membantumu, bu-kankah diriku ini bukan seorang laki-laki sejati?"

Ji-sia menghela napas dan tidak menjawab lagi.

Untung tenaga dalam mereka berdua amat sempurna, perjalanan pun dilanjutkan dengan cepat.

Dalam waktu singkat mereka telah melewati dua bukit yang tinggi dan tiba di suatu lembah.....

Lamkiong Giok berpaling ke arah Ji-sia dan berkata.

"Saudara Bok, kita sudah tiba di tempat tujuan, setelah memasuki lembah ini, gedung besar yang kita temukan nanti adalah tempat tinggal orang-orang Hek-liong-kang, kita harus bertindak lebih hati-hati."

"Saudara Lamkiong, apakah Ku-cianpwe terse-kap di dalam gedung tersebut?"

Lamkiong Giok mendongak mamandaag cuaca, lalu sahutnya pelahan.

"Mungkin Ku-cianpwe belum datang, tapi waktu perjanjian mereka sudah hampir tiba."

Sementara itu mereka telah memasuki lembah tersebut.

Tampaklah di ujung lembah, di tengah kegelapan malam berdiri angker sebuah bangunan yang megah.

Kecuali bangunan rumah yang sambung me-nyambung serta loteng yang menjulang tinggi, di sekeliling bangunan tadi penuh tumbuh pepohonan yang rimbun, cuaca gelap gulita tiada cahaya lampu, ini semua menambah seramnya keadaan.

Ji-sia dan Lamkiong Giok segera melayang ke bawah pohon besar di depan pagar halaman.

Dengan sorot matanya yang tajam Ji-sia me-mandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian mereka tarik napas dan melompat masuk ke dalam halaman.

Bangunan ini terletak sangat terpencil, sepi dan menyeramkan, rumput ilalang tinggi lebat memenuhi halaman, bangunan sudah bobrok dan hampir roboh, banyak dinding yang retak atau berlubang.

Angin lembut berhembus menggoyangkan de-daunan, suara mendesir menambah seramnya suasana.

Setelah berdiri sekian lama di tempat kegelap-an, Lamkiong Giok dan Ji-sia kembali melayang ke atas bangunan dan melintasi wuwungan rumah.

Mendadak mereka melihat sesosok bayangan melejit ke udara kemudian meluncur ke arah barat-laut dan lenyap di balik kegelapan.

Terkejut Ji-sia, pikirnya.

"Ditinjau dari gerak tubuh orang itu, jelas ilmu silatnya tidak lemah, sungguh banyak sekali jago lihai dalam dunia per-silatan, rasanya kepandaianku masih selisih jauh...."

Berpikir sampai di sini, timbul perasaan kesal dalam hati, tiba-tiba ia menghela napas dan berbisik.

"Saudara Lamkiong, bukankah di sekitar tempat ini sudah bersembunyi jago lihai dunia petsilatan?"

Lamkiong Giok tak tahu apa yang menimbul-kan helaan napas pemuda itu, sahutnya.

"Saudara Bok, kita sudah berada di tengah bangunan ini, ibaratnya masuk ke sarang naga atau gua harimau, lebih baik kita bertindak hati-hati dan meningkat-kan kewaspadaan. Menurut apa yang kuketahui, terdapat banyak sekali jago lihai dari dunia persi-latan yang berdatangan kemari, terutama orang-orang dari Hek-liong-kang rata-rata berilmu silat tinggi."

"Apakah saudara Lamkiong berminat melaku-kan pemeriksaan lebih dulu keadaan bangunan ini?"

Lamkiong Giok tersenyum.

"Saudara Bok, se-telah sampai di sini, kita harus masuk ke dalam untuk melihat sendiri tempai macam apakah ba-ngunan ini, apa benar tempat yang mirip sarang naga atau gua harimau?"

Segera Ji-sia melompat ke depan lebih dulu, dengan suatu gerakan indah ia melayang ke sebelah sana. Mendadak Lamkiong Giok berseru tertahan.

"Ada orang datang, saudara Bok, cepat menyem-bunyikan diri!"

Waktu itu Ji-sia sudah berada dua tombak ja-uhnya dari tempat semula, mendengar seruan terse-but mendadak ia berjumpalitan, lalu berubah arah, setelah berputar di udara, cepat ia melayang kem-bali ke tempat semula, turun di sisi Lamkiong Giok.

Waktu Ji-sia memandang ke sana, betul juga, ada dua sosok bayangan manusia dengan cepat luar biasa sedang meluncur datang.

Dalam sekejap telah tiba di rumah di depan sana, setelah celingukan sebentar, kemudian melompat turun.

Lamkiong Giok telah menyaksikan demonstrasi ilmu meringankan tubuh Ji-sia yang lihai tadi, di-am-diam ia menghela napas, pikirnya.

"Kepandaian orang ini sungguh sukar diukur, menurut pengamat-anku selama beberapa hari ini, jelas ilmu silatnya setiap saat memperoleh kemajuan yang pesat, kecuali tenaga pukulannya yang bertambah kuat, jurus se-rangannya juga sangat lihai, malah tidak kalah da-ri pada jurus serangan Lik-ih-hiat-li. Dia mengaku sebagai murid Ban-pian-sinkun, tapi mungkinkah Auyang Seng dapat melatih seorang jago lihai se-perti dia ini.....? Sungguh sukar di mengerti."

Sementara itu Bok Ji-sia tidak melihat sesuatu gerakan lag,i setelah menunggu sekian lama, ia ber-paling dan berkata.

"Saudara Lamkiong, mari kita menyusup ke depan sana, kita lihat orang macam apakah kedua orang tadi!"

Lamkiong Giok mengangguk, ia melompat ke depan tanpa menimbulkan suara ia melayang turun, diam-diam mereka mengitari pekarangan dan ber-sembunyi di belakang pohon siong untuk mengintip.

Tempat ini merupakan halaman samping yang sepi, tertampak seorang kakek kecil dan seorang kakek jangkung berdiri tegak hormat di depan pin-tu ruangan sebelah kanan, agaknya mereka sedang menanti sesuatu perintah, tapi pintu dan jendela kamar itu tertutup rapat dan sama sekali tak terdengar suara apapun.

Ji-sia dan Lamkiong Giok menjadi heran me-nyaksikan adegan tersebut, mereka tak tahu kenapa kedua kakek itu berdiri di situ.

"Saudara Lamkiong, siapakah kedua orang itu?"

Bisik Ji-sia kemudian.

Tempat di mana mereka menyembunyikan di-ri masih selisih enam-tujuh tombak jauhnya, Ji-sia pun berbisik dengan suara yang lirih, sekalipun jago yang berilmu tinggi juga belum tentu bisa menangkap suaranya.

Tapi baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, terdengar si kakek jangkung yang ceking itu mendengus.

"Tak tersangka di tengah malam buta be-gini, saudara sekalian bersedia mengunjungi per-kampungan sepi ini, jika aku Kau-lau-coa-siu (ka-kek ular dari bukit Kau-lau) tidak sempat menyam-but, harap kalian sudi memberi maaf."

Mendengar nama Kau-lau-coa-siu, diam-diam Lamkiong Giok terperanjat, ia tak mengira kedua orang ini adalah Kau-lau-liong-coa-siang-siu (sepa-sang kakek ular dan naga dari Kau-lau-san) yang telah termashur pada sepuluh tahun yang lalu.

Bila ditinjau dari munculnya kedua kakek sakti ini di perkampungan ini, jelas membuktikan bahwa mereka termasuk jago-jago Hek-liong-kang, apalagi ditinjau dari sikap hormat kedua oraag itu, tampak-nya kedudukan mereka teramat rendah.

Jika tokoh dunia persilatan yang pernah me-nonjol pada sepuluh tahun yang lalu ternyata mem-punyai tingkat kedudukan yang begini rendah da-lam aliran Hek-liong-kang, ini mumbuktikan pula bahwa kungfu tokoh "tiga pria dan empat perem-puan"

Dari Hek-liong-kang pasti amat tinggi.

Ketika mendengar perkataan tadi, Ji-sia me-ngira jejaknya ketahuan orang, baru saja akan me-nampilkan diri untuk menjawab, tiba-tiba Lamkiong Giok menarik ujung bajunya.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas pohon di sebelah sana terdengar seseorang tertawa dingin dan berseru.

"Mana, mana! Sudah sepuluh tahun lama-nya Kau-lau-liong-coa-siang-giu tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, kukira kalian sudah lama pulang ke akherat, eh..., tak tahunya sekarang berse-dia melacurkan diri dengan menjadi pelayan orang Hek-liong-kang, hehehe....."

Meskipun disindiriorang, Kau-lau-coa-siu tidak menjadi gusar, katanya dengan dingin.

"Si-apa kau? Kenapa tidak unjuk diri? Kalau didengar dari perkataanmu, tampaknya kau pun terhitung se-orang yang punya nama."

Gelak tertawa aneh memanjang berkumandang lagi dari puncak pohon, suaranya sedemikian di-nginnya bagaikan embusan angin dari gudang es, membuat orang bergidik.

Hampir sekian lama, gelak tertawa panjang itu baru berhenti, katanya.

"Sudah kalian kenali gelak tertawaku yang panjang ini?"

Air muka Lamkiong Giok berubah hebat se-telah mendengar gelak tertawa aneh itu, bisiknya kepada Ji-sia.

"Saudara Bok, hati-hati sedikit, orang yang berada di atas pohon itu adalah Sip-hun-koay-sat-jiu (tangan aneh pembetot sukma) dari Bu-lim-jit-coat."

Rupanya Kau-lau-liong-coa-siang-siu pun ter-peranjat mendengar gelak tertawa itu, si kakek ular dari bukit Kau-lau segera menjengek dan berseru.

"Tak kusangka adalah kau. Bagus, bagus sekali! Malam ini perkampungan kami pasti tambah se-marak!"

Orang yang bersembunyi di atas dahan pohon itu mendengus, lalu melayang turun dan berdiri di hadapan kedua kakek ular dan naga dari Kau-lau-san.

Waktu Ji-sia mendengar bahwa orang itu ada-lah Sip-hun-koay-sat-jiu yang seangkatan dengan gurunya dalam dunia persilatan tanpa terasa ia me-ngawasinya dengan lebih saksama.

Orang itu memakai jubah panjang dengan ujung baju yang lebar, rambutnya di sanggul tinggi di atas kepala, wajahnya angker, tulang pipi tinggi dengan mata cekung, sinar matanya tajam membuat orang jeri untuk memandangnya.

Sementara itu Sip-hun-koay-sat-jiu telah me-mandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu kata-nya dengan dingin.

"Sampai sekarang kenapa ma-jikannya belum juga tiba?"

"Entah majikan siapa yang kau maksudkan?"

Baca Juga: Anak Rajawali 8

Baca Juga: Tiga Maha Besar 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert