Eps 9 Naga Merah - Khu Lung
Baca online Naga Merah - Khu Lung
Cersil Naga Merah - Khu Lung.
"Tidak. gerakan orang itu luar biasa gesitnya."
jawab Chie Peng sambil gelengkan kepala.
"Ini ada suatu kejadian yang tidak mungkin dengan kepandaian kalian berdua ternyata tak dapat menghindarkan sama sekali totokan orang itu, ini benar-benar sangat aneh."
"Kita jangan berpikir demikian.
tapi kecepatan dan kegesitan bergerak orang itu dalam dunia Kangouw pada dewasa ini barangkali susah didapat tandinganya.
Lam kek Sian ong, Ong Khim San juga cuma begitu saja."
"Ong Khim San ....? "
Mendadak Tan Liong ingat dirinya seseorang. Seorang wanita .... itu adalah wanita setengah umur yang berparas cantik dan berpakaian warna merah, yang selalu menggoda hatinya.
"Apa benar itu ada perbuatannya? "
Berpikir demikian, wajah Tan Liong mendadak berubah pucat, karena kecuali wanita baju merah itu mempunyai kepandaian setinggi itu dalam dunia ini barangkali susah dicari keduanya.
Bayangan wanita baju merah....
mungkinkah ia ada itu wanita cantik baju merah?
Betulkah wanita cantik baju merah itu adalah Hiat im cu?
Ia memikir bolak balik, tapi tidak dapatkan jawabannya.
Tan Liong diam-diam bergidik, karena menurut keterangan Chie Peng sudah dapat dipastiklan dengan jelas sekali tak lagi ragu bahwa orang baju merah ini adalah itu wanita cantik baju merah yang ia cintakan.
Tapi apa maksudnya meledakkan obat peledak?
Tiba-tiba ia ingat ucapan Im yang Ie su, apabila pecahan mangkok itu dibiarkan terjatuh ditangan Hiat im cu, sehingga ia berhasil melatih ilmunya, maka bahaya yang mengancam dunia Kangouw sesungguhnya tidak dapat kita bayangkan.
Kalau demikian halnya, adakah Hiat im cu itu orang jahat dari dunia kangouw?
Chia Peng melihat Tan Liong seperti sedang berpikir keras, lalu menegurnya.
"Engko Sim, kau sedang memikirkan apa? "
Tan Liong tersadar dari lamunannya, jawabnya gugup.
"Tidak, tidak, aku cuma mengingatkan seseorang."
"Siapa? "
"Aku sedang memikirkan dirinya orang baju merah itu."
"Apa kau kenal padanya? "
"Barangkali kenal."
Tan Liong unjukkan ketawa getir, Chie Peng mengira, Tan Liong tidak senang karena ia telah melalaikan kewajibannya maka ia lantas menanya.
"Engko Sim, apa kau merasa tidak senang terhadap kealpaan kita? "
"Ah, tidak."
"Engko Sim, kita benar-benar tidak berdaya karena kepandaian orang baju merah itu sesungguhnya terlalu tinggi buat kita."
Tan Liong tahu bahwa Chie Peng telah salah paham, maka ia lantas berkata.
"Nona Chie, kalian jangan salah paham sedikitpun aku tidak mempunyai pikiran demikian."
"Kita juga tidak dapat melaksanakan tugas yang kau berikan kepada kita dengan baik bahkan kehilangan beberapa puluh kati obat peledak, maka kita merasa sangat malu terhadap kau, harap kau sudi maafkan! "
"Aku tidak sesalkan kalian perlu apa kalian sesalkan diri sendiri? Mari kita naik ke atas gunung."
"Benar kau tidak marah? "
"Kau jangan banyak pikiran, mari kita pulang."
"Kalau begitu kita merasa puas, tapi kita tidak pergi ke Ciong lam pay lagi."
"Kenapa? "
Tanya Tan Liong kaget.
"Tidak kenapa-kenapa, kita berdua masih banyak urusan, kita ingin pergi kelembah Lui in Kok untuk mencari Hiat hun Koay po."
"Kalian tidak boleh berlaku gegabah. Thian seng hwee mempunyai banyak orang kuat, penjagaan sangat keras, dengan kepandaian kalian berdua bagaimana dapat melawannya? "
"Tapi bagaimana dengan dendam ayah bunda kita? "
"Peribahasa mengatakan; Untuk menuntut balas dendam sepuluh tahun pun belum terlambat.
Kalian harus dengar kataku, tunggu setelah aku nanti mengajak semua dunia Kangouw, baru bergerak jikalau tidak, kalian bukan saja tak dapat melaksanakan maksud kalian, bahkan ada kemungkinan akan terbinasa di tangan orang-orang Thian seng hwee."
Chie Peng mengerti bahwa ucapan Tan Liong memang benar, tapi sebagai perempuan yang sudah kehilangan kehormatannya bagaimana bisa berada bersama-sama dengan Oey Bwee Cian dan lainnya yang masih putih bersih?
Karena perasaan rendah diri ini, telah membuat mereka tidak mau berdiam lebih lama di gunung Ciong lam san.
Ia lalu berkata sambil tertawa getir.
"Sekalipun kita pergi menuntut balas, tapi kita juga tidak mau berdiam di gunung Ciong lam san."
"Kenapa? "
"Kita tak ingin berjumpa dengan mereka."
Tan Liong segera mengerti, ia lalu berkata.
"Kalau begitu kalian akan tetap pergi juga? "
"Ya, kita hendak pergi! "
"Kalau begitu kalian jangan tergesa-gesa pergi menuntut balas, tunggu sampai aku nanti mencari kalian berdua, baru kita pergi bersama mencari Hiat hun Koay po."
Chie Peng anggukkan kepala.
"Baiklah, aku dengar katamu."
Pertemuan itu dirasa terlalu singkat bagi mereka.
Tan Liong tiba-tiba merasakan betapa besar artinya pertemuan sedikit itu, seolah-olah mereka tak akan ketemu lagi.
....
Mengawasi tindakan kaki Chie Peng dan Chie Cui, mata Tan Liong dirasakan mengembeng air ....
Rasa kasihan dan rasa kasih mendadak timbul dalam hati Tan Liong, dengan tanpa sadar lantas berseru .
"Adik Peng ...."
Chie Peng hentikan tindakannya. Ia mengawasi Tan Liong, mendadak ia balikkan badan dan menubruk Tan Liong sambil berseru.
"Engko Sim ...."
Sesaat kemudian ia saling berpelukan. Chie Cui agaknya merasa jemu, ia berjalan turun gunung.
"Adik Peng, kau hendak meninggalkan aku lagi ...."
Berkata Tan Liong dengan suara parau. Lama Chie Peng baru bisa menjawab.
"Ini hanya untuk sementara."
"Tapi, rasanya terlalu panjang ...."
"Aku juga mempunyai perasaan demikian tapi aku akan tetap berada disampingmu. Yah, itu adalah hatiku yang selalu akan mendampingimu."
"Adik Peng, aku harus memberitahukan padamu sesuatu hal sukakah kau memahami hatiku? "
"Urusan apakah? "
"Rasanya sukar untuk diutarakan."
"Katakan saja aku tak akan marah!"
"Ada satu hal, telah kau terka dengan tepat."
Chie Peng nampaknya bingung, ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Tan Liong, maka ia lalu menanya.
"Hal apakah yang kuterka tepat? "
"Aku jatuh cinta pada nona Oey! "
"Oh! "
Chie Peng agaknya kaget tapi kemudian ia lantas ketawa.
"Mengapa kau beritahukan padaku? "
"Aku harus beritahukan padamu."
"Mengapa? Apakah karena kau cinta padaku? "
"Ya, karena aku cinta padamu, maka aku tidak boleh menipu kau."
"Apa benar? "
Chie Peng merasa girang.
"aku tidak sesalkan kau, kau boleh mencintai dia, tapi jangan permalukan dia! "
"Kau tidak marah? "
"Perlu apa aku marah? Aku tak boleh mengangkangi dirimu kau boleh mencintainya tapi jangan melupakan diriku."
"Bagaimana aku dapat melupakan kau? "
"Itu baik."
Ia tertawa lalu mendorong tubuh Tan Liong seraya berkata.
"Engko Sim, aku hendak pergi kau pulanglah."
Setelah itu ia lantas berlalu.
Tan Liong mengawasi berlalunya Chie Peng sambil menghela napas panjang kemudian ia juga membalikkan badan untuk pulang ke atas gunung.
Mendadak ia berseru kaget dan hentikan kakinya kira kira tiga tombak dibelakangnya entah sejak kapan Oey Bwee Cian telah berada disitu.
Wajah Tan Liong menunjukkan kemalu-maluan ia mengawasi Oey Bwee Cian.
Oey Bwee Cian tertawa menyeringai.
"Huciangbunjin, mengapa kau tak minta ia tinggal? "
Pertanyaan itu membuat merah wajah Tan Liong, ia gelagapan tidak bisa menjawab.
"Ia mempunyai hati begitu luhur, apa aku Oey Bwee Cian tidak? "
"Ciang bun jin, aku tidak tahu harus membuka isi hatiku padamu? "
"Aku dapat memahami kau, marilah kita pulang."
Sambil tersenyum ia gerakkan kakinya naik ke atas gunung.
Tapi, Tan Liong masih tetap berdiri terpaku, ia pikir harus meninggalkan gunung Ciong lam san, untuk pergi menolong Hiat liong cu atau si Naga Merah dan kemudian mencari Hiat im cu untuk meminta kembali mangkok pecah mujijat itu.
Ia juga akan membuktikan betul atau tidaknya bahwa Hiat im cu itu adalah si wanita cantik baju merah.
Berpikir demikian ia lantas memanggil Oey Bwee Cian.
"Ciang bun jin, tunggu! "
Oey Bwee Cian membalikkan badannya dan menanya sambil tersenyum.
"Ada urusan apa? "
"Aku .... aku hendak .... pergi! "
Menerangkan Tan Liong gelagapan.
"Pergi? Meninggalkan gunung Ciong lam san? "
"Ya! "
"Kenapa? "
"Sebab, aku masih ada urusan yang belum kubereskan."
"Sekarang juga? "
Tanya Oey Bwee Cian nampaknya agak berat.
"Ya, karena inilah jalan yang terbaik."
"Apa kau tidak bisa berdiam beberapa hari dulu diatas gunung? "
"Tidak, aku benar-benar masih banyak urusan, nanti setelah urusanku selesai aku segera balik ke Ciong lam san."
"Engko Sim, apakah kau merasa tidak enak hati terhadap aku? Sehingga kau tidak mau berdiam diri diatas gunung? "
Pertanyaan itu membuat Tan Liong bungkam. Ia juga dapat mengawasi paras wanita yang cantik molek itu, tidak tahu bagaimana harus menjawab.
"Engko Sim, kau jangan kuatir begitu, aku hanya main-main saja jika kau benar-benar ada urusan, nah pergilah! "
"Ciang bun jin, aku sebetulnya tidak pantas menjadi kekasihmu."
"Kenapa? "
"Ciang bun jin, aku tidak tahu bagaimana aku harus katakan."
"Banyak kata-kata sebaliknya tambah membikin aku sedih, kau tak usah berkata apa-apa, biarlah kita berpisah dengan secara diam-diam saja.
"Sebetulnya tak pantas aku mendapatkan dirimu, kau takkan tahu aku ini sebetulnya ada seorang yang berdosa."
"Orang yang berdosa? Dosa apa? "
Apa yang membuat duka hati Tan Liong ialah, ia dapatkan dirinya nona cantik manis itu tapi tak dapat menjelaskan kesulitannya.
"Kau tidak akan mengerti."
Demikian ia berkata sambil ketawa kecut.
"Mungkin aku belum memahami dirimu tapi aku ingin memahaminya."
"Aku ingin supaya kau mengerti keadaanku tapi itu memerlukan waktu sangat panjang."
"Kau anggap aku tidak cukup setia terhadap kau? "
"Bukan begitu maksudku, aku percaya kau. Sedikitpun tidak mempunyai hati curiga terhadap kau."
"Kalau begitu kau sudah merasa puas."
Hening sejenak, Tan Liong baru berkata lagi.
"Ciang bun jin, nanti setelah kau pulang, harap kau perintahkan orang-orangmu supaya kirim itu empat puluh peti mati yang berisi orang-orang Thian seng hwee kepada Thian seng hwee."
"Antar kembali kepada Thian seng hwee ? "
"Benar."
"Kenapa semua peti mati itu harus diantarkan kepada Thian seng hwee? "
"Supaya orang-orang Thian seng hwee tahu bahwa orang-orang Ciong lam pay tidak gampang dihina."
"O, begitu."
"Kemudian, kau tulis sepucuk surat kepada Tan Chiang Bin, maksudnya ialah untuk memberitahukan kepadanya bahwa empat puluh orang itu dikembalikan pada asalnya, harap supaya ia juga terima dengan baik.
Beritahukan juga padanya bahwa membunuh anaknya sendiri, itu ada satu perbuatan dosa yang tiada ampunnya, dikemudian hari pasti ada orang akan mencari dan membikin perhitungan dengannya, jika ia masih ada maksud ke Ciong lam san lagi, akan disambut selayaknya.
Kau boleh menggunakan kata-kata yang agak keras, tidak ada halangan."
Oey Bwee Cian anggukkan kepala.
"Aku tahu, kau boleh pergi dengan hati lega."
"Nah, pulanglah dulu! "
"Tidak, kau jalan dulu aku akan menyaksikan berlalumu sehingga hilang dari pandangan mataku."
"Apakah kita akan berpisahan secara diam-diam? "
"Ya, demikian. Kita akan mengingat selamanya detik-detik yang paling indah ini."
Tan Liong sangat terharu, akhirnya ia balikkan badan, berjalan dengan cepat ke bawah gunung.
Oey Bwee Cian menyaksikan berlalunya Tan Liong, air mata mengalir keluar.
Ia coba memanggil tapi akhirnya diurungkan.
Bayangan Tan Liong akhirnya menghilang ke dalam rimba.
Dengan hati dan tindakan berat Tan Liong berjalan perlahan-lahan.
selagi berjalan enak-enak tiba-tiba ia dapat lihat sesosok bayangan orang itu sudah ada didepan matanya.
Ketika dapat tahu siapa adanya orang itu ia lantas datang menegur dengan girang.
"Kiranya, adalah Locaianpwee."
Orang itu bukan lain dari pada Im yang Ie su.
"Kiranya adalah Ciang bun jin ...."
Berkata Im yang Ie su, yang nampaknya juga terkejut.
"Locianpwee, aku bukan Ciangbunjin lagi. Upacara pengangkatan Ciangbunjin sudah selesai, jabatan Ciangbunjin sudah ditangan Oey Bwee Cian."
"Apa kau tidak merasa bahwa tindakanmu ini sangat mengecewakan harapan Yo Swie Peng? "
"Kalau aku mati, barulah aku merasa benar tiada muka untuk menemui arwahnya dialam baka."
"Tiada tugas badan merasa ringan, begitupun baik, cuma aku sedang mencari kau."
"Cari aku? "
"Ya, aku cari kau, ada sesuatu hal aku hendak memberitahukan padamu, soal ini kau pasti juga tidak tahu."
"Locianpwee, urusan apa sebetulnya? "
"Ayahmu Tan Chiang Bin sudah tidak ada di Thian seng hwee lagi."
Tan Liong terperanjat, hampir saja ia lompat.
"Apa? Ayahku sudah tidak ada di Thian seng hwee? "
"Apakah locianpwee tahu pasti bahwa ayahku benar-benar sudah tak ada di Thian seng hwee? "
"Ya, ia sudah tidak ada disana, ketua Thian seng hwee sudah ganti orang! "
Betapapun bencinya Tan Liong terhadap ayahnya, tapi biar bagaimana masih mempunyai hubungan darah antara ayah dengan anak, maka mendengar keterangan itu wajahnya tampak sedikit berubah.
"Kalau begitu, ayahku pergi kemana? "
"Tentang ini, siapapun tidak dapat tahu, mungkin sudah binasa juga belum tentu."
"Sudah binasa? "
Tan Liong terperanjat.
"Ayahku sudah mati? adakah ini benar? "
"Mati atau tidak, siapa juga tidak tahu, ia memang benar sudah tak ada di Thian seng hwee. dalam Thian seng hwee ada suatu peraturan, siapa pun tidak dapat keluar dari lembah Lui in kok."
"Mengapa ayahku mendadak meninggalkan Thian seng hwee? "
"Ayahmu sebetulnya orang yang sangat lihai sekali, bukan itu saja, kepandaiannya dan kepintarannya melebihi manusia biasa, tetapi keuletannya dan ketabahannya juga di atas segala orang-orang Kang-zsouw."
"Ia bisa memimpin anak buah Thian seng hwee yang jumlahnya ribuan jiwa dan membuat perkumpulan itu dalam waktu beberapa tahun saja sudah berhasil menduduki tempat sejajar dengan partai besar lainnya.
Keuletan dan kepandaian itu tidak mampu dilakukan oleh siapapun juga."
"Terhadap Thian seng hwee ia berjasa sekali, kalau bukan dia tak nanti Thian seng hwee bisa mendapat kedudukan seperti sekarang ini."
"Menurut apa yang aku tahu Tan Chiang Bin meski sebagai ketua Thian seng hwee, tapi dibelakangnya masih dipengaruhi oleh orang lain, orang itu lebih berwibawa daripada ayahmu, ia telah memegang kekuasaan dan berwenang dalam perkumpulan itu."
"Apakah orang itu adalah Siao hun lie Chie Bun bun? "
"Bukan."
Sahutnya Im yang Ie su sambil gelengkan kepala.
"Chie Bun bun cuma satu perempuan cabul, tentang ini ayahmu sudah tahu dengan baik mengapa ia takut padanya? Ada seorang lain yang menguasai padanya."
"Siapa? Siapakah dia? "
"Ini susah ditebak. Tapi ada kemungkinan besar adalah Hiat im cu."
"Hiat im cu? "
"Ini cuma atas dasar dugaan saja. Betul atau tidaknya aku sendiri juga tidak jelas.Tapi ayahmu sudah tak ada di Thian seng hwee ini adalah satu hal yang sebenar-benarnya."
"Kalau begitu apa sebab ayah mendadak tak ada di Thian seng hwee? "
"Barusan aku sudah katakan ayahmu di belakangnya ada orang yang mengendalikan mungkin karena kali ini ia tidak bekerja sungguh-sungguh."
"Tidak bekerja sungguh-sungguh? "
"Ya, sejak berdirinya Thian seng hwee hampir segalanya berjalan lancar, dimana saja orang-orang Thian seng hwee sampai di situ medapat penyambutan sangat baik, kewibawaannya masih diatas semua partai persilatan dunia Kangouw dan kini oleh karena seorang saja telah membuat binasa orang-orang Thian seng hwee hampir seratus jiwa, tentang ini boleh dikata ada merupakan satu noda paling besar sejak berdirinya perkumpulan itu."
"Apa hanya lantaran itu saja. Tan Chiang Bin turun dari takhtanya? "
"Tidak salah, ayahmu kalau tidak memandang kau sebagai anaknya jangan kata cuma satu partai Ciong lam pay, sekalipun ditambah lima Ciong lam pay juga akan hancur dalam tangannya."
"Kalau begitu siapa yang menggantikan kedudukannya sekarang? "
"Kabarnya ada seorang wanita, tapi bagaimana keadaan sebenarnya, aku sendiri juga tak tahu dengan jelas."
"Mungkinkah ayah benar-benar sudah binasa? "
"Siapa tahu? Tapi kemungkinan memang ada."
"Kalau begitu boanpwee hendak pergi ke Thian seng hwee, untuk menyelidiki soal tersebut."
"Tidak usah, kau tak perlu pergi, tentang ini aku saja yang menyelidikinya kurasa ada lebih baik.
Thian seng hwee dewasa ini sudah tambah lagi dua kekuatan ialah Tiam Cong pay dan Ngo bin pay, Kedua partai besar dalam rimba persilatan itu setelah mendapat surat rahasia dari Thian seng hwee, dengan beruntun telah menggabungkan diri dengan Thian seng hwee.
Dengan demikian gabungan partai ini akan menjagoi dunia Kangouw."
"Kalau begitu, locianpwee apa yang boanpwee harus lakukan? "
"Lekas pergi menolong Hiat Liong cu si Naga Merah dari bahaya kemudian pergi ambil itu mangkok mujijat."
Tan Liong anggukkan kepala.
"Kalau itu orang yang kendalikan kekuatan Thian seng hwee benar-benar telah membinasakan ayahku, aku pasti hendak mencari dan cincang padanya hingga berkeping-keping."
"Kalau begitu kau pergilah setiap waktu kita dapat bertemu dengan meninggalkan tandaku ialah lukisan satu tubuh manusia yang kuguratkan disetiap pintu rumah makan atau penginapan.
Kalau lukisan itu kuberi tanda sebelah merah dan sebelah putih itu ada suatu tanda bahwa aku sedang mencari kau, kalau kau hendak mencari aku berilah tanda lukisan panji segitiga diatasnya ditulis huruf Cong."
"Baiklah Locinpwee, bolehkah boanpwee menunjukkan sesuatu hal? "
"Kau katakan saja! "
"Apakah Locianpwee benar-benar tidak tahu bahwa Hiat im cu itu laki-laki atau wanita? "
Im yang Ie su menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ia ada seorang yang sulit dipahami"
Demikian katanya "lelaki atau perempuan barang kali tidak ada yang tahu, sekalipun muridnya sendiri."
Tan Liong tidak memperdulikan lelaki atau wanita, asal aku sudah tiba kelembah Hong hwee kok sudah pasti dapat kuketahui sendiri.
Ia mengerti bahwa untuk mengetahui bagaimana adanya Hiat im cu ia harus pergi ke lembah Hong hwee kok untuk mencari kembali pecahan mangkok ajaib itu.
Maka seketika itu ia lantas berkata.
"Locianpwee sekian dulu boanpwee ingin melanjutkan perjalanan boanpwee."
"Baiklah, cuma kau juga harus mengetahui dengan jelas tentang dirimu sendiri."
"Boanpwee coba akan mencari keterangan."
jawabnya Tan Liong sambil anggukkan kepala.
Dengan demikian keduanya lantas berpisahan.
Pada hari ketiga Tan Liong sudah berada di lembah Pek kut gam, di gunung Kie hwa san.
Disana keadaannya ternyata masih tetap seperti sedia kala.
Dengan melalui jalanan gunung yang sempit Tan Liong tiba disebuah goa dimana telah dikeram dirinya si Naga Merah.
Di lubang goa masih tetap dengan pintunya yang kukuh kuat serta kuncinya yang bersinar yang membuat si Naga Merah tidak berdaya melepaskan dirinya!
Semua keadaan ini tidak bedanya dengan keadaan semula, cuma ada satu hal yang mengherankan Tan Liong ialah kedatangannya kali ini ia tidak dengar suara pertanyaan yang diajukan oleh si Naga Merah.
Dalam goa itu ternyata sunyi senyap tiada terdapat gerakan apa-apa.
Tan Liong sepeti mendapat firasat jelek, apakah Naga Merah sudah terbinasa ditangannya orang jahat?
Dengan cepat ia lompat ke mulut goa dengan suara perlahan ia memanggil.
"Locianpwee! "
Tapi panggilannya itu ternyata tidak mendapat sambutan hingga untuk seketika lamanya Tan Liong berdiri terpaku.
Ia segera dapat menduga gahwa disitu pasti ada terjadi sesuatu, jikalau tidak nanti Naga Merah tidak memanggil padanya.
Karena tidak menyahut apakah Naga Merah sudah tidak berada dalam goa?
Untuk mendapatkan kepastian ia lalu msukkan kepalanya ke dalam lobang goa.Ketika kepalanya berada dalam goa, mendadak terdengar suara Naga Merah yang disampaikan padanya dengan menggunakan ilmu menyalurkan suara kedalam telinga.
suara itu sangat halus hanya dapat didengar oleh orang yang diajak bicara.
"Ciang bun jin, harap jangan kaget, juga jangan tarik kembali kepalamu."
Tan Liong terperanjat, ia tahu bahwa dilembah itu pasti akan terjadi sesuatu lagi yang sangat menggemparkan. Benar saja, ia turuti kehendak Naga Merah ia tidak tarik keluar kepalanya.
"Harap kau panggil Locianpwee dengan suara keras."
Demikian kata pula si Naga merah.
Tan Liong mendapat kesan bahwa orang tua itu agaknya merasa jeri, maka ia menurut dan dengan suara keras memanggil Locianpwee.
Suara itu begitu nyaring hingga menggema hampir seluruh lembah.
Setelah itu Naga Merah berkata pula.
"Harap kau berpura-pura dan berkata sendiri, Eh! mengapa Naga Merah tidak berada dalam goa? "
Tan Liong segera mengerti bahwa apa yang diduganya ternyata tidak salah.
Dalam lembah diluar goa ini pasti telah kedatangan orang-orang lihai, jikalau tidak, tidak nanti Naga Merah sampai berbuat demikian.
Setelah mengucapkan perkataan tersebut di atas, Tan Liong lalu menanya Naga Merah.
"Locianpwee, apakah ada orang yang datang? "
"Benar, ada tiga orang datang kemari."
"Siapa? "
"Hiat im cu, Tok Gan lokoay dan Hiat hun Koay po"
Bukan kepalang kagetnya Tan Liong, ia tidak mengira bahwa tiga orang datuk dunia rimba persilatan itu telah datang ke lembah Pek kut gam semuanya.
Tan Liong tahu bahwa urusan ini penting sekali kedatangan tiga orang datuk itu sudah tentu ditujukan kepada Naga Merah.
Apa yang menjadi pikiran Tan Liong ialah disebutnya Hiat im cu yang dikatakan oleh Naga Merah datang bersama sama Hiat hun Koay po dan Tok gan Lo koay dan tokoh golongan hitam, kalau ia bergaul dengan mereka sudah tentu Hiat im cu itu bukan orang dari golongan baik-baik.
Mendadak bayangan wanita cantik baju merah terlintas dalam otaknya.
Ia ingin lihat Hiat im cu itu apakah betul adalah itu wanita cantik pertengahan umur berbaju merah.
karena memikir demikian ia hendak tarik keeluar kepalanya.
Tiba-tiba ia terngat pesannya Naga Merah, maka dengan cepat ia urungkan maksudnya.
Terdengar pula suara si Naga Merah.
"Apa kedatanganmu itu hendak menolong aku? "
"Benar, aku sudah menemukan kuncinya."
jawab Tan Liong.
"Tapi sekarang sudah tak mungkin."
"Kenapa? "
"Jika aku keluar, jiwaku akan melayang."
"Apakah kedatangan tiga orang itu ditujukan kepada locianpwee? "
"Benar."
"Kenapa? "
"Untuk menutup rahasia kejahatan mereka."
Tan Liong segera ingat ucapan Im yang Ie su.
"Dalam diri Naga Merah ada menyimpan suatu rahasia besar yang bertalian dengan bencana rimba persilatan "
Mengingat itu ia lantas menanya.
"Apa mereka hendak membunuh kau? "
"Tidak salah, jika hanya kekuatan dan kepandaian Hat im cu dan Hiat hun Koay po saja aku boleh tak usah mereka takut. Tapi, Tok gan Lo koay ada membawa senjata yang terampuh yaitu bangkai berapi."
"Bangkai berapi? Apa dia sudah berhasil dengan ilmunya itu? "
"Benar, semula ketika aku dengar suara tindakan kaki, aku lantas tahu bahwa itu bukan mereka, rupa-rupanya sudah tahu kau akan datang menolong aku, maka mereka telah menyusun rencana setelah kau menolong aku keluar dari goa, mereka lantas turun tangan membinasakan kita."
"Kalau begitu, sekarang aku tidak dapat menolong dirimu lagi."
"Ya, untuk sementara kau jangan bertindak apa-apa dulu, cuma harap kau serahkan kunci itu dengan suatu cara yang cepat dan diluar tahu mereka."
"Ini tak mungkin, mereka semua berada di sekitar tempat ini dengan kepandaian mereka bertiga bisa bagaimana, tidak mungkin dapat mengelabuhi mata mereka, dengan demikian sebaliknya menjadi kacau."
"Baiklah, tapi kunci itu sebaiknya jangan kau simpan dalam badanmu, supaya tidak terjatuh ditangan mereka."
Tan Liong pikir itu memang benar, Jika mereka dapat mengetahui bahwa anak kunci goa itu berada dibadannya, mungkin akan terjadi perebutan, dengan demikian berarti mencelakakan jiwa Naga Merah.
"Sudahlah! Sekarang kau boleh mengundurkan diri dari sini, tapi ingat kau harus berlaku seperti orang yang tak menemukan aku, selama aku berada didalam goa ini, mereka pasti tidak dapat melihatnya juga tidak berdaya memasuki."
Kata pula Naga Merah. Tan Liong mendadak ingat sesuatu, ia lalu menanya.
"Locianpwee, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Urusan apakah itu? "
"Tahukah Locianpwee, Hiat im cu itu laki-laki ataukah wanita? "
"Tentang ini aku kurang jelas. Orang-orang dikalangan Kangouw tiada seorangpun yang pernah melihat wajahnya."
Ia berdiam sejenak, lalu bekata pula.
"Aku pernah melihat sesuatu ilmu kepandaian di dalam goa ini, setengah bulan kemudian kau boleh datang kemari lagi."
Tan Liong merasa kecewa, hingga saat itu, ia masih belum tahu Hiat im cu itu apakah laki-laki atau kah wanita.
Ia tarik kepalanya dari lubang goa, wajahnya pura-pura menunjukkan perasaan heran lalu berkata kepada dirinya sndiri.
"Aneh, kemana perginya Naga Merah? "
Selama bicara sendirian, matanya dengan cepat melirik keadaan disekitarnya, tapi tidak dapat ligat apa-apa yang mencurigakan.
Hanya tumpukan batu yang bentuknya aneh dan pohon tua yang daunnya rindang kecuali itu ia tidak dapat lihat apa-apa lagi hingga dalam hatinya berpikir.
"Tiga orang itu tentunya sembunyikan diri diantara batu-batu aneh itu."
Dalam otaknya terus memikir bagaimana caranya untuk melemparkan anak kunci goa itu ke tanah ia kini dapat memastikan, kalau anak kunci itu tetap berada dibadannya, memang besar sekali bahayanya.
Tiba-tiba ia dapatkan suatu akal.
Dengan cepat ia balikkan badannya, mukanya menghadap ke arah tebing batu cadas, disitu ia lantas buang air kecil.
Setelah buang air kecil, ia berjalan pergi dengan tindakan perlahan-lahan kemudian ia pungut sebutir batu kecil dan digenggam dalam tangannya, ia kesal dengan keras batu-batu kecil itu hancur berkeping-keping.
Lalu ia masukkan hancuran batu itu ke dalam sakunya, tidak antara lama ia keluarkan lagi dan berjalan keluar lembah.
Setiap berjalan setindak ia lemparkan sebutir batu yang sudah hancur berkeping keping.
Anak kunci khusus untuk membuka pintu goa itu bukan saja ada hubungannya dengan jiwanya Naga Merah juga berhubungan erat dengan nasib seluruh dunia Kangouw.
Ketika ia keluar dari lembah Pak kut gam kepingan batu itu juga sudah tersebar habis, siapapun tidak dapat tahu, bahwa kepingan batu yang dilemparkan oleh Tan Liong itu sebutir diantaranya terdapat anak kunci yang sangat penting itu.
Sebab tiga orang datuk itu jika hendak mencari anak kunci dari antara kepingan batu itu sesungguhnya juga bukan soal mudah.
Hanya Tan Liong sendiri yang tahu, dimana letaknya anak kunci itu.
Keluar dari lembah, matahari sudah condong ke barat karena Naga Merah memesannya supaya setengah bulan kemudian balik kembali, maka ia lantas ambil keputusan hendak pergi ke lembah Hong hwee kok.
Begitu Tan Liong hendak angkat kaki tiba-tiba terdengar suara ketawa dingin kemudian sesosok bayangan orang melayang turun di hadapannya.
Tan Liong tahu akan terjadi suatu pertempuran lagi, ia lalu mundur setindak.
Kini ia telah mengetahui bahwa orang yang berada dihadapannya itu ternyata adalah Hiat hun Koay po.
"Tidak kusangka Hiat hun Koay po juga berada disini, aku yang rendah merasa beruntung dapat bertemu lagi denganmu."
Berkata Tan Liong sambil ketawa dingin. Hiat hun Koay po delikkan matanya sambil berkata.
"Bocah jelek, bukankah kedatanganmu ini hendak menolong Naga Merah? "
"Tidak salah."
"Kalau begitu serahkanlah anak kuncinya."
"Dengan hak apa kau majukan permintaan itu? "
Hiat hun Koay po acungkan tongkatnya.
"Dengan hak ini."
Tan Liong ketawa terbahak-bahak.
"Hiat hun Koay po, kau jangan bermimpi lebih baik kau menyingkir."
Hiat hun Koay po sangat mendongkol sambil membentak keras ia putar tongkatnya, lalu menyerang diri Tan Liong.
Tan Liong tahu benar kepandaian Hiat hun Koay po, maka ia tidak berani menyambut serangan tersebut, ia lompat mundur satu tombak untuk mengelakkan serangan hebat itu.
Karena serangannya mengenakan tempat kosong Hiat hun Koay po semakin kalap.
"Aku ingin menguji kau si muka jelek ini, sampai dimana kepandaianmu. Dengan berani mati tidak mau menyerahkan anak kuncimu."
Setelah itu kembali ia melakukan serangannya yang lebih hebat.
Serangan yang sangat hebat itu ditambah lagi dengan gerak badannya yang luar biasa gesitnya, hingga membuat Tan Liong tidak mendapat kesempatan untuk mengelakkan diri.
Terpaksa ia berlaku nekad, sambil keluarkan bentakan keras tangan kanannya melancarkan serangannya dengan ilmunya Yang ciang.
Hembusan hawa panas yang keluar dari tangannya, telah membuat Hiat hun Koay po hampir tidak bisa bernapas, ia tahu gelagat tidak baik dengan cepat tarik kembali serangannya dan lantas lompat mundur jauh-jauh.
"Hiat hun Koay po, apakah kau masih ingin coba sambuti seranganku lagi? "
Tanya Tan Liong dengan penuh ejekan.
Wajah Hiat hun Koay po mejadi pucat, ia sungguh tidak menyangka bahwa lawannya yang tidak dipandang sebelah mata ternyata ada mempunyai kepandaian luar biasa.
Hawa panas dari tangan kanannya itu ada demikian panasnya, apabila serangan itu mengenakan dengan tepat, apa yang akan terjadi?
Oleh karena itu, maka seketika itu lenyaplah pikirannya memandang rendah kepada lawannya yang masih muda itu.
"Bagus, bagus, sungguh tidak kusangka kau si bocah jelek ada mempunyai tenaga dalam begitu hebat, jangan kata hanya beberapa jurus saja, sekalipun sepuluh jurus, Hoat hun Koay po juga akan coba menyambutinya."
Katanya jumawa.
"Kalau begitu, nah cobalah! "
Belum lagi Tan Liong bergerak, Hiat hun Koay po sudah mendahului memutar tongkatnya, kembali menyerang dengan hebat.
Kali ini Tan Liong tidak membiarkan Hiat hun Koay po bertingkah lebih lama, selagi si nenek itu hendak menyerang ia sudah melancarkan serangannya dengan kedua tangannya.
Serangan kedua pihak dilakukan hampir berbareng, tapi hawa panas dan dingin yang keluar dari serangan Tan Liong ternyata lebih hebat.
Oleh karenanya Hiat hun Koay po terpaksa mundur sampai tiga langkah, ia tidak tahu entah ilmu apa yang digunakan Tan Liong itu.
Ia benar-benar sangat penasaran, setelah lompat mundur, lalu maju lagi sambil menyapu dengan tongkatnya.
Tiba-tiba terdengar suara dingin.
"Nenek tua, tidak perlu kau berkelahi lagi, anak kunci tidak berada dibadannya."
Mendengar suara itu, Tan Liong dan Hiat hun Koay po dua-duanya lantas lompat mundur.
Tan Liong angkat kepala, dihadapannya ada berdiri seorang berpakaian warna merah.
Hatinya bercekat, kembali ia mundur satu tindak ia amati dirinya orang baju merah itu mendadak seperti orang dipagut ular.
Dengan badan sempoyongan ia mundur tiga tindak, wajahnya mengunjukkan rasa kaget dan ketakutan.
....
Tan Liong dapat lihat dengan jelas.
Orang baju merah yang berada dihadapannya itu, meski wajahnya menggunakan kerudung warna merah, tapi bentuk dan potongan tubuhnya tidak beda barang sedikitpun dengan wanita cantik setengah tua berbaju merah itu.
Kalau benar bahwa wanita cantik baju merah itu adalah Hiat im cu, apa yang harus ia perbuat?
Dengan suara gemetar ia menanya.
"Kau siapa? "
"Kenapa tuan kaget? Siapa adanya aku, apakah kau masih belum tahu? "
Jawabnya sambil ketawa dingin.
"Hiat im cu? "
Tan Liong mulai bergidik.
Orang baju merah itu ketawa, suaranya demikian seram membuat Tan Liong seperti disambar petir.
Tapi akhirnya ia dapat tenangkan kembali perasaannya, dengan suara dingin ia mengur.
"Kau menertawai siapa? "
"Kalau bukan karena perbedaan tingkatan yang terlalu jauh, niscaya siang-siang aku sudah beri hajaran padamu."
"Kenapa? "
Tanya Tan Liong dengan wajah berubah.
"Kau terlalu, tidak tahu diri, tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
Tan Liong tak berdaya ia tidak mengerti apa maksud perkataan wanita baju merah itu.
"Aku tanya padamu, kau Hiat im cu atau bukan ....? "
Demikian Tan Liong mengulangi pertanyaannya.
Tapi sebagai jawaban, tangan orang baju merah itu mampir di pipinya, hingga dirasakan panas.
Tan Liong mundur tiga tindak, dengan mata terbuka lebar ia mengawasi wanita baju merah itu ia heran atas kegesitan dan kecepatan bergerak orang tersebut.
-o0o0dw0o0o-
Jilid KE . 30
"Ini ada satu pelajaran buat kau."
Demikian katanya orang baju merah itu dengan nada suara dingin.
"Mengapa kau pukul aku? "
"Ini hanya satu pelajaran buat kau, orang yang tak tahu diri."
"Dengan hak apa? "
"Dengan kekuatan dan kepandaianku, aku dapat memberi pelajaran padamu."
"Kalau begitu kau benar-benar adalah Hiat im cu ...."
Belum lagi menutup mulutnya kembali pipinya sudah ditampar orang baju merah itu. Tamparan kali ini membuat Tan Liong naik darah, ia tertawa terbahak-bahak kemudian berkata dengan suara keras.
"Aku justru hendak mencari kau. Aku ingin lihat, kau Hiat im cu ada mempunyai kepandaian berapa tingginya."
Sehabis berkata ia lalu melancarkan satu serangan hebat.
Serangan Tan Liong itu dilakukan cepat sekali, baru keluarkan serangan dengan tangan kanan, lalu disusul oleh serangannya tangan kiri, hingga serangannya Yang ciang dan Im ciang berbareng.
Tapi serangan yang demikian dahsyat bukan saja tak mengenakan sasarannya, bahkan pipinya sendiri yang kembali merasa panas karena sudah ditampar lagi oleh orang berbaju merah itu.
Tamparan ketiga kalinya itu membuat Tan Liong semakin murka, sejak muncul didunia Kangouw ia belum penah terhina demikian rupa.
"Tuan, kepandaianmu ini kalau kau gunakan untuk menggertak orang lain barangkali masih boleh juga, tapi buat aku sesungguhnya masih selisih jauh sekali."
Berkata orang baju merah itu, kemudian sambil menoleh ke arah Hiat hun Koay po ia berkata pula.
"Nenek tua, anak kunci sudah tidak ada dibadannya, mari kita pergi."
Tan Liong masih hendak mengejar, tapi orang baju merah itu sudah menghilang didepan matanya.
Tan Liong melongo, ia hampir tidak percaya kepada matanya sendiri, bahwa di dalam dunia masih ada orang yang mempunyai kepandaian luar biasa tingginya.
Hiat hun Koay po dengan sinar mata dingin mengawasi tingkah laku Tan Liong kemudian gerakkan kakinya sebentar, kemudian juga sudah menghilang.
Tan Liong hanya dapat menyaksikan berlalunya mereka sambil berdiri seperti patung.
Dalam waktu sekejap itu seperti melupakan dirinya sendiri, karena hati dan perasaannya seolah-olah ikut pergi dengan orang baju merah itu tadi.
Ia seolah-olah mendapat kisikan orang baju merah tadi adalah wanita cantik setengah tua yang dulu ia jumpai itu.
Kalau itu benar berarti bahwa mereka akan terombang-ambing pula oleh arus penderitaan yang akan menyiksa hatinya.
Ini ada satu kenyataan yang sangat kejam.
Pukulan batin ini mulai mengganggu hingga ia tidak tahu apa yang akan dibuatnya, tetap berdiri bagaikan patung.
Lama sekali, ia baru gerakkan kakinya.
Dengan tindakan berat dan tanpa tujuan ia mulai berjalan.
Ia berjalan mondar-mandir dibawah lembah Pek kut gam, apa ia harus pergi tengok Naga Merah lagi ....
Tidak.
bukankah orang tua itu sudah pesan padanya supaya datang lagi setengah bulan kemudian?
"Kemana?
....
Hong hwee kok?"
Ya, ia harus pergi kelembah Hong hwee kok mencari Hiat im cu untuk membuktikan ia betul wanita cantik baju merah itu atau bukan.
Hal ini baginya ada sangat penting.
Menurut dugaannya, wanita cantik baju merah itu tidak mungkin adalah Hiat im cu sebab yang tersebut belakangan ini usianya sudah tujuh puluh tahun lebih tidak mungkin satu nenek masih suka bermain cinta dengan anak muda.
Berpikir demikian ia agak terhibur, hingga kenangan lama yang begitu mesra timbul pula dalam otaknya.
Tapi kalau wanita cantik baju merah itu bukan Hiat im cu siapa lagi orangnya yang mempunyai kepandaian sedemikian tinggi?
Apa betul ia adalah Hiat im cu?
Kalau betul apa sebabnya ia memikat dirinya?
Apakah dalam hal ini ada mengandung maksud tertentu?
Dan soal ini hampir membikin pecah otaknya, maka akhirnya ia mengambil keputusan harus pergi ke lembah Hong hwee kok untuk memecahkan teka-teki ini.
Gunung Im yang san terletak disebelah utara gunung Soat hong san terpisah kira-kira seratus lie dengan lembah Pek kut gam.
Gunung Im yang san meski letaknya berdampingan dengan gunung Soat hong san, tapi karena keadaan gunung yang merupakan dua puncak sedang dua puncak itu yang satu tinggi dan yang lain rendah, sehingga mendapat nama Im yang san.
Ketika Tan Liong tiba di gunung Im yang san dengan susah payah ia baru dapat menemukan lembah Hong hwee kok.
Keadaan dalam lembah Hong hwee kok itu sesuai dengan namanya yang berarti lembah angin dan api, bukan saja angin besar hampir meniup setiap hari keadaannya juga terapit oleh tiga gunung.
Dilembah tersebut terdapat sebidang tanah datar yang tanahnya berwarna kuning.
Tanah datar itu apabila kena panasnya matahari menimbulkan hawa panas luar biasa, seolah-olah tempat pembakaran dapur api besar.
Begitu memasuki lembah Hong hwee kok perasaan Tan Liong kembali menjadi tegang ia mengerti nasib hari depannya tergantung dengan hasil pertemuannya dengan Hiat im cu nanti.
Meniupnya angin yang demikian santer dan teriknya matahari menambah perasaan Tan Liong semakin risau.
Lembah itu cuma merupakan tanah datar atau tanah tandus, kecuali tanah kering tidak terdapat tumbuhanpun juga.
Tan Liong lari berputaran di lembah tersebut sebentar kemudian ia telah hentikan kakinya, sebab disalah satu sudut diatas tanah datar yang amat luas itu ia telah menemukan sebuah bukit yang kecil sekali.
Ia menduga bahwa Hiat im cu pasti berdiam dalam lembah bukit kecil ini.
Selagi dia hendak lompat melesat ke bukit tersebut mendadak mundur dua tindak dan menarik napas panjang.
Di samping bukit itu ada terdapat sebaris tulisan yang berbunyi, Dilarang bertindak maju, Siapa yang memasuki lembah, Pasti akan binasa secara mengenaskan Tertanda Hiat im cu.
Huruf-huruf itu ditulis dengan tinta warna merah yng sangat menyolok ketika Tan Liong menyaksikan tulisan itu lantas ia berkata sendiri sambil ketawa dingin.
"Aku justeru ingin melihat kau Hiat im cu ini sebetulnya ada seorang macam apa."
Ia pusatkan seluruh kekuatannya lalu masuk kedalam lembah kecil itu.
Bukit itu cuma kira-kira satu tombak panjangnya, Tan Liong setelah masuk kedalam lembah yang sempit itu segera dapat kenyataan bahwa keadaan dan pemandangan dilembah itu jauh berbeda dengan tanah datar yang tandus.
Dalam lembah itu bukan saja terdapat banyak pohon besar dengan daun-daunnya yang rindang bahkan terdapat banyak batu-batu besar yang aneh bentuknya kalau dilihat dari jauh seolah-olah tumpukan gunung batu.
Tan Liong berdiri tertegun, didalam hati diam-diam berpikir ditempat seperti ini, kemana harus mencari Hiat im cu.
Bukankah ini seperti mencari jarum didalam lautan?
Tetapi karena sudah tiba ditempat tersebut bagaimanapun juga harus melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Setelah itu ia lantas lompat melesat ke dalam tumpuan batu.
Semula ia menggunakan daya pandangannya yang luar biasa, untuk mencari jejak Hiat im cu tapi ternyata sia-sia saja.
Tiba-tiba ia menemukan suatu tempat yang letaknya agak tinggi disitu batu-batunya jauh lebih besar dan berbaris dengan teratur kalau tidak diperhatikan dengan seksama, siapapun tidak akan menduga itu ada satu tempat yang baik sekali untuk menyembunyikan diri.
Ia segera menduga bahwa tempat tersebut ada kemungkinan besar ada tempat-tempat bersembunyinya Hiat im cu.
Dengan tanpa ragu-ragu lagi ia lantas lompat masuk ketempat tersebut.
Ia lari terus ....
tapi ketika ia dapat lihat apa yang mencurigakan lantas hentikan kakinya.
Dan apa yang ia lihat?
Seketika itu wajahnya lantas berubah.
Apa yang terentang didepan matanya ternyata ada sebidang tanah yang banyak batunya besar dan tinggi bagaikan pohon-pohon besar yang menjulang ke langit.
Diam-diam ia mengeluh.
Kini ia mengerti bahwa dirinya sudah kesasar masuk ke dalam barisan atau tin ajaib.
Tan Liong tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun dalam ilmu barisan tapi menghadapi keadaan luar barisan dihadapan matanya.
Ia tahu kalau bukan masuk ke alam barisan ajaib tentu tidak menemukan keadaan demikian.
Dalam kagetnya, diam-diam ia mengagumi kepandaian dan pengetahuannya Hiat im cu, ia dapat menggunakan batu-batu raksasa sebagai barisan, hingga orang sulit mencari tempat kediamannya.
Tapi sayang sekali, seorang yang mempunyai kepandaian dan pengetahuan begitu tinggi ternyata ada orang golongan jahat, bahkan ia telah berkomplot dengan Hiat hun Koay po dan Tok gan Lo-koay.
Tan Liong menghela napas panjang, katanya pada diri sendiri, Jangan-jangan aku binasa dalam barisan aneh itu sesungguhnya sangat mengecewakan.
Ia merasa penasaran, lalu lari masuk kedalam lagi.
Tapi ia gagal.
Tumpukan batu-batu itu diatur sedemikian rupa oleh Hiat im cu, dengan ilmunya yang begitu lihai diantara berbagai jenis barisan, ia telah menciptakan barisan (tin) yang tidak dapat ditembus oleh siapapun juga.
Tan Liong berlari-lari dan berputar-putar didalam barisan aneh itu, sampai kepalanya dirasakan hampir pecah, tapi masih belum berhasil menemukan jalan keluar, hingga ia mulai putus asa.
Dalam keadaan demikan, tiba-tiba hidungnya dapat mengendus bau barang membusuk yang sangat tajam.
Bau itu hampir membikin ia muntah.
Tetarik oleh rasa ingin tahu, ia lalu berjalan ke arah bau busuk itu.
Berjalan tidak berapa jauh, mendadak ia mundur dua tindak, karena matanya dapat melihat sesuatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Beberapa bangkai manusia yang sudah mulai membusuk dagingnya serta tumpukan tulang telah terbentang dihadapan matanya.
Bukan kepalang kagetnya Tan Liong sehingga seketika itu wajahnya berubah pucat.
Bangkai itu pasti adalah bangkainya orang-orang yang tidak bisa keluar dari barisan ajaib itu.
Sambil kertak gigi ia berkata kepada diri sendiri.
"Sungguh satu perbuatan yang sangat kejam ...."
Belum lagi menutup mulutnya, dibelakangnya tiba-tiba terdengar suara orang berkata.
"Kalau Hiat im cu tidak kejam, apakah namanya terkenal didunia Kangouw?"
Terperanjat Tan Liong mendengar suara itu, dalam hatinya berpikir.
"Apakah di dalam batu raksasa ini masih ada orang hidup? "
Ia lalu memanggil dengan suara nyaring.
"Apa dalam barisan ini masih ada orang? "
"Apa kau kira setan yang bicara denganmu itu? "
"Apa kau juga terkurung dalam barisan batu ini? "
"Tidak salah."
"Sudah berapa lama kau terkurung? "
"Sudah lama sekali."
"Mengapa kau bisa terkurung disini? "
"Akulah yang mencari penyakit sendiri! "
"Bolehkah aku numpang tanya usiamu? "
"Tujuh puluh tahun, dan kau? "
"Hampir dua puluh tahun."
Terdengar suara helaan napas dari pihak sana. lalu suara perkataannya seolah-olah merasa sayang.
"Kematianmu sesungguhnya tidak berharga, usiamu masih muda sekali."
"Sudah berapa lama locianpwee terkurung dalam barisan ini? "
"Hampir lima tahun."
Tan Liong terperanjat.
"Apa.? Sudah lima tahun lamanya locianpwee terkurung disini? Cara bagaimana locianpwee masih bisa hidup sampai hari ini? "
Terdengar suara ketawa terbahak-bahak.
"Cara bagaimana aku tidak mati? Karena aku makan daging manusia."
"Kau makan daging manusia? "
"Tidak salah. kecuali makan daging ular atau binatang lainnya, terpaksa aku makan daging manusia."
"Kau berani memakannya? "
"Apa yang dibuat heran, karena aku harus pertahankan jiwaku."
"Bagaimana cara memakannya? "
"Kalau ada orang mati dalam barisan ini, aku lantas makan dagingnya, tapi harus hati-hati jangan sampai makan daging yang sudah membusuk."
"Andaikata kau nanti juga mati, maka aku juga akan makan dagingmu."
Tan Liong bergidik, Dalam hatinya berpikir.
Orang tua ini karena hendak pertahankan nyawanya, ia harus makan daging sesamanya, ini ada merupakan satu peristiwa yang jarang terjadi.
Tertarik oleh perasaan ingin tahu, ia lalu bertanya pula.
"Sudah berapa banyak daging manusia yang locianpwee telah makan? "
"Barangkali sudah ribuan kati."
"Apa locianpwee tak ingin keluar dari sini? "
"Keluar? "
Jawabnya dingin.
"Perkataan ini enak sekali, barisan ini tiada seorangpun yang mampu memecahkannya, siapa bisa keluar dari neraka ini? "
"Kalau tokh memang sudah tidak dapat keluar, kenapa kau masih mau makan daging manusia? "
"Keinginanku untuk hidup masih belum lenyap dariku."
"Tapi kau tokh sudah tahu bahwa akhirnya kau akan mati juga."
"Itu masih belum tentu."
"Apakah Hiat im cu bisa membebaskanmu? "
"Tidak salah, ia bisa membebasan aku."
Jawaban itu membuat Tan Liong tidak habis mengerti, ia tercengang sekian lama baru bisa berkata pula.
"Kau kata Hiat im cu akan membebaskan kau? "
"Tidak salah."
"Jikalau memang ia ingin membebaskanmu, mengapa tidak dilaksanakan sekarang juga? "
"Kau tidak mengerti."
"Justru aku tak mengerti maka aku tanya."
"Baiklah aku beritahukan padamu, barisan batu aneh ini adalah ciptaan Hiat im cu dengan menggunakan ilmu pelajaran dari jaman purbakala yang kini sudah hilang dari muka dunia.
Siapa saja yang masuk kemari, jangan harap bisa keluar lagi kecuali dibebaskan sendiri oleh Hiat im cu sendiri.
Hiat im cu pernah sesumbar, barang siapa yang dapat tahan hidup sepuluh tahun dalam barisan ini, ia akan dibebaskan, bahkan ia sendiri akan mengundurkan diri dari dunia kangouw."
Tan Liong segera mengerti duduk persoalannya.
"Kiranya begitu, tapi apakah Hiat im cu boleh dipercaya perkataannya? "
"Tentang ini tak perlu diragukan didalam barisan ini.
Hiat im cu ada mengumumkan suatu peraturan, barangsiapa yang tidak binasa dalam waktu sepuluh tahun di dalam barisan ini, akan dibebaskan, tapi untuk hidup sepuluh tahun didalam barisan ini tanpa diberi makan dan minum, juga bukan suatu hal yang mudah."
"Kenapa? "
Dipihak sana tak ada jawaban, sebaliknya ia balas menanya.
"Sekarang ini bulan apa? "
"Hampir bulan dua belas."
"Itulah, hawa udara bulan dua belas, kalau menurut keadaan daerah utara, seharusnya sudah turun salju, tapi disini hawanya masih begini panas, apalagi kalau musim panas, hawa panas itu tak dapat ditahan oleh manusia biasa. Disamping itu. orang harus berusaha mencari makanan dan minumnya, siapa tahan? "
Tan Liong pikir itu memang benar.
Di sini dilain tempat hawa udara sudah dingin, tapi disini masih sedemikian panas, apalagi kalau musim panas?
Lembah Hong hwe kok benar-benar sesuai dengan namanya yaitu lembah Angin dan Api.
"Bolehkah aku tahu nama locianpwee yang mulia? "
Demikian tanyanya Tan Liong.
"Aku sudah lupa! "
"Sudah lupa? Locianpwee sudah lupa nama sendiri? "
"Benar hawa panas disini bukan saja sudah membikin kering tubuhku, tapi juga sudah membikin tumpul otakku."
Tan Liong merasa geli. Orang itu dalam keadaan antara hidup dan mati ternyata masih bisa bergurau.
"Apa locianpwee takut aku nanti akan membikin noda nama baik locianpwee? "
"Oh .... oh .... oh, bukan .... bukan itu maksudku kau tunggu dulu, biarlah aku pikir dulu sebentar nanti aku beritahukan padamu."
Suasana tampak hening sejenak, lama baru terdengar suaranya orang itu.
"Aku sekarang sudah ingat rasa-rasanya orang pada menyebut aku Bu jie Thian sie. (Surat dari langit tanpa tulisan) "
Bu jie Thian sie? "
"Rasanya begitu."
Tan Liong merasai bahwa nama gelaran orang itu agak aneh, dimana ada orang digelarkan surat tanpa tulisan? "Mengapa kau disebut Bu jie Thian sie? "
Demikian ia bertanya.
"Bagaimana aku tahu? Ini adalah orang-orang yang memberikan padaku."
Dipandang dari sudut namanya yang amat ganjil orang yang menamakan diri Bu jie Thian sie ini pasti mempunyai kepandaian ilmu silat dan kepandaian luar biasa.
Lama Tan Liong berpikir baru ia berkata lagi.
"Locianpwee tentunya ada seorang yang mempunyai kecerdasan luar biasa, jikalau tidak, tidak nanti orang-orang memberimu gelar Bu jie Thian sie kepadamu."
"Tentang ini, mungkin dugaanmu ini benar! "
"Apa locianpwee tahu segala urusan dunia? "
"Aku tidak mempunyai kepandaian serupa itu cuma siapa saja yang majukan sesuatu pertanyaan padaku aku dapat memberi jawaban semuanya, betapapun sulitnya tidak akan memepersulit aku."
"Apa itu termasuk segala ilmu silat atau gerak tipunya? "
"Benar."
"Locianpwee benar-benar seorang luar biasa, didalam dunia barangkali sukar dicari keduanya."
"Ucapan serupa itu entah berapa banyak kali aku dengar dari mulutnya banyak orang, tidak kusangka bahwa lima tahun kemudian, aku masih bisa dengar perkataan demikian dari mulutmu.
Ini benar-benar diluar dugaan."
Tan Liong mendadak seperti ingat sesuatu lalu menanya pula.
"Locianpwee, bolehkah aku menanya sesuatu hal kepadamu? "
"Tidak halangan, katakanlah! "
"Tahukah Locianpwee bahwa Hiat im cu itu laki-laki atau wanita? "
"Menurutku dia seorang wanita."
Tan Liong semangatnya serasa terbang seketika, jawaban Bu jie Thian sie itu seolah-olah sudah mencabut nyawanya.
Dengan sendirinya jawaban itu telah menghancurkan dugaannya semula, ia kawatir kalau-kalau Hiat im cu ada seorang wanita tapi apa yang ia kawatirkan itu kini telah menjadi kenyataan.
"Benarkah wanita cantik setengah umur itu adalah Hiat im cu ....? "
Dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, ia seperti melihat seorang wanita tua baju merah yang pipinya sudah keriputan telah menghampiri padanya sambil membawa tongkat.
Wanita itu seperti menanya padanya sambil ketawa hambar.
"Bagaimana kau bisa berada disini .... ? Disini bukan suatu tempat yang kau harus datangi. Apakah kau tahu dilembah Hong hwee kok ini sudah lama aku menantikan kedatanganmu ....? "
" .... kau siapa .... ? "
"Aku siapa? Tan Liong, bukankah kau sudah pernah memelukku .... ? "
" .... aaa! Tan Liong menjerit .. adakah kau wanita cantik baju merah itu ...?"
"Tidak salah."
" .... bukan, bukan kau! Ia tidak sedemikian tua seperti kau ...."
"Tua? Aku memang begini tua."
" .... Tidak, tidak. Ia bukan kau, dan bukan kau, kau adalah Hiat im cu ...."
"Ya, aku, aku adalah Hiat im cu, juga wanita cantik baju merah itu ...."
" .... haaaa! Adakah itu benar ....? "
"Sedikitpun tak salah. Kau tak percaya aku perlihatkan padamu ...."
Wanita itu merubah wajahnya yang keriputan, sungguh aneh, wajah itu mendadak berubah menjadi wajah wanita cantik baju merah yang ia dulu pernah lihat dan peluk.
Bukankah wanita cantik baju merah ini yang siang dan malam ia rindukan?
Tan Liong lalu menubruk seperti orang kalap.
" .... benarkah kau adalah Hiat im cu .... ? "
Tapi apa yang ia tubruk ternyata cuma sebuah batu besar, hingga badannya dirasakan sakit dan lantas jatuh roboh di tanah.
Bayangan wanita baju merah itu lantas lenyap dari depan matanya ....
Itu ternyata cuma satu impian, impian yang menakutkan.
Dalam impian itu ia telah bertemu dengan wanita baju merah dan perempuan tua itu adalah si cantik baju merah itu juga.
Ia tidak segera merayap bangun, otaknya dirasakan kosong melompong.
Ia berkata pada dirinya sendiri.
"Ini adalah satu impian kejam .... semoga itu hanya impian saja bukan kenyataan."
Dibelakangnya tiba-tiba terdengar suara Bu jie Thian sie.
"Anak muda, kenapa kau seperti orang gila? "
Tan Liong angkat kepala dalam keadaan samar-samar ia melihat bayangan seorang kurus kecil ....
tapi ia tidak dapat lihat dengan jelas bagaimana raut mukanya orang itu sebab air mata membasahi matanya.
Bu jie Thian sie berkata sambil ketawa getir.
"Apa kau mempunyai penyakit ayan? "
"Mungkin begitu, tapi aku tahu, ini bukan penyakit ayan, aku suka gila selama-lamanya."
"Kenapa? "
"Aku sangat menderita! "
"Usiamu masih begini muda apa yang kau harus derita? "
Tan Liong ketawa kecut perlahan-lahan merayap bangun.
Ia sekarang dapat lihat dengan jelas orang yang mendapat julukan Bu jie Thian sie itu, ternyata ada seorang kurus kering tapi sinar matanya tajam bagai sinar listrik meski tampaknya keras tapi amat simpatik.
"Orang lain tidak dapat memahami hatiku."
Demikian katanya Tan Liong.
"Barusan kau seperti berkata sendiri kau bukan dia .... apa artinya itu? Kemudian kau berkata pula Hiat im cu, apakah sebetulnya? "
Tan Liong menghela napas panjang.
"Kau tidak dapat mengerti diriku."
"Kita saling bertemu disini, boleh dikata jodoh. Semoga aku dapat membantu menanggung sebagian penderitaanmu."
"Dalam hal ini orang lain tidak dapat membantu."
"Apakah kau keberatan untuk memberitahukan? "
Tan Liong gelengkan kepala sambil ketawa getir.
"Ini adalah rahasia dalam batinku, aku tidak suka memberitahukan kepada orang lain."
"Jikalau dugaanku tidak keliru, kau pasti ada orang dari rimba persilatan?"
Tan Liong menganggukkan kepala dan ketawa getir tetapi tidak berkata apa-apa.
"Kau datang untuk Hat im cu? "
"Benar."
"Kenapa? Apa kau ada permusuhan dengan Hiat im cu? "
Tan Liong menggelengkan kepala.
"Permusuhan sih tidak, cuma kalau Hiat im cu dibiarkan berkeliaran didunia Kangouw besar sekali bahayanya, maka tidak boleh tidak aku harus mencarinya."
Tapi dalam otaknya saat itu kembali memikirkan satu soal, maka lalu berkata pula.
"Locianpwee tahu Hiat im cu itu ada seorang wanita bagaimana? "
"Kau maksudkan tua atau muda? "
"Ya! "
"Barangkali sudah tua."
"Sudah tua? "
"Sebetulnya dalam hal ini siapapun tidak dapat memastikan, hingga saat ini, aku percaya tiada seorangpun yang pernah melihat wajahnya Hiat im cu, cuma sebagai seorang perempuan yang usianya sudah lebih dari 70 tahun, walaupun mempunyai ilmu awet muda, juga tidak mungkin masih seperti perempuan berusia muda, apa perlunya kau menanyakan soal ini? "
"Aku hanya tanya saja."
Suasana kembali hening seolah-olah diantara mereka sudah tidak mendapat bahan bicara lagi. Lama, baru terdengar suaranya Tan Liong.
"Locianpwee, benarkah kita sudah tidak berdaya keluar dari sini? "
"Tidak dapat keluar untuk selama-lamanya, sebaiknya kau menantikan kematianmu saja! "
Jawabnya Bu jie thian sie sambil gelengkan kepala.
"Tapi kau tidak boleh mati .... tidak boleh."
"Mati hidupnya seseorang ada ditangan Tuhan Yang Maha Esa, walaupun kau tidak mau mati juga harus mati, kalau ajalmu sudah tiba."
"Kalau tokh memang musti mati, mengapa tidak menerjang keluar saja? "
"Menerjang keluar? Aku sudah mencobanya selama waktu lima tahun, tapi tetap tidak berhasil."
"Tapi aku ingin coba, barangkali saja Tuhan membantu usahaku, siapa tahu?"
"Baiklah, bolehkah aku ingin tahu namamu? "
"Boanpwee Tan Liong."
Setelah itu ia lantas lompat melesat untuk mencoba dengan usahanya hendak keluar dari barisan ajaib itu. Bu jie Thian sie menghela napas panjang dan berkata pada diri sendiri.
"Satu pemuda yang tidak beruntung ...."
Tan Liong terus keluar berputar-putar ....
satu jam dua jam telah berlalu tapi ia tetap masih tidak berhasil dengan usahanya untuk keluar dari barisan batu itu.
Siang berganti malam, malam berganti silam lagi ...
Satu hari satu malam telah berlalu dengan cepat, Tan Liong akhirnya kehabisan tenaga dan jatuh numprah ditanah dengan pitis harapan.
...
Dalam keadaan letih dan putus harapan, akhirnya ia tertidur dengan tanpa dirasa.
Suara tindakan kaki yang sangat halus, mendadak menyadarkan dirinya, ia lalu angkat kepala, kemudian lompat bangun sambil berseru kaget.
Satu bayangan merah berdiri dihadapannya, ia itu bukan lain daripada wanita cantik berbaju merah.
Dengan suatu perasaan yang tidak dapat dilukiskan, ia memandang wanita cantik itu.
Ia tidak tahu bagaimana harus buka mulutnya, ketegangan mempengaruhi perasaannya dan seluruh hati sanubarinya.
Kejadian yang tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan padanya, ia benar-benar tidak berani percaya kepada dirinya sendiri, bahwa wanita cantik baju merah itu bisa mendadak muncul dalam barisan batu ajaib itu.
Untuk sekian lamanya ia berdiri dengan mulut menganga sambil mengawasi wanita itu dengan mata tidak berkedip.
Wanita cantik baju merah itu tampaknya sangat berduka, ia menghela napas dalam-dalam kemudian berkata dengan penuh kasih sayang.
"Mengapa kau datang kemari ....? "
"Kau ...."
Kata Tan Liong dengan suara menggetar, kemudian ia lompat nubruk dan memeluk tubuh wanita baju merah itu.
Wanita baju merah itu tercengang, kemudian tersenyum, ia biarkan tubuhnya dipeluk oleh Tan Liong.
"Rasanya hampir mati aku memikirkan dirimu, aku tidak dapat berpisah dengan kau ...."
Berkata Tan Liong dengan suara hampir tidak kedengaran.
Sikap dan perlakuan Tan Liong itu, kembali membangkitkan hati remaja wanita cantik setengah umur itu, tapi akhirnya ia seperti menyadari keadaannya sendiri dengan suara agak gemetaran ia berkata.
"Tan Liong, kita tidak boleh berlaku demikian ...."
"Kenapa kita tidak boleh saling mencinta? "
Wanita baju merah itu mundur satu tindak, hatinya mendadak merasa pilu hingga mengucurkan air mata.
"Kau tidak tahu, bagaimana aku memikirkan dirimu, wajahmu selalu menggoda hatiku ...."
"Aku tahu .... tapi, orang lain tidak dapat mengerti kita."
"Mengerti? Mengapa kita harus membutuhkan pengertian orang lain? Asal kita saling mencinta ...."
"Saling mencinta? Apakah kau tahu bahwa ini ada suatu percintaan yang tidak wajar? Usia antara kita berbeda banyak, ini adalah suatu percintaan yang sangat ganjil! "
Perkataan ini seolah-olah menusuk hati Tan Liong hingga wajahnya berubah seketika.
"Ya, ini adalah suatu percintaan ganjil, apakah kita harus akhiri? "
"Mungkin kita harus akhiri! "
Tan Liong bagaikan mendengarkan keputusan hukuman mati, sekujur badannya menggigil, ia merasa seperti telah tertipu hingga hawa amarahnya lantas meluap.
Dengan wajah pucat dan sambil kertak gigi ia berkata.
"Kalau begitu kau telah menipu aku, menipu perasaanku, kiranya kau cuma hendak mempermainkan diriku ...."
"Tidak. Ini ada satu tuduhan keji, kau tidak boleh salah paham .... tentang diriku."
"Salah paham terhadap kau? "
Tan Liong ketawa terbahak-bahak.
"Mengapa kita harus mengakhiri perhubungan kita? "
"Karena kita tidak dapat saling mencinta. Jika kita saling mencinta, apa yang akan terjadi nanti? "
"Kalau begitu, mengapa semula kau memikat aku? "
Wanita cantik baju merah itu parasnya berubah, perasaan dukanya telah lenyap seketika, diganti dengan sikap keren yang menimbulkan rasa jeri.
Ketika Tan Liong menyaksikan perubahan sikap itu, lalu menghela napas panjang berkata.
"Tidak seharusnya kau perlakukan demikian terhadap diriku."
"Aku tidak perlakukan jahat terhadap dirimu, kita hanya tidak dapat berkumpul, meski kita tidak seharusnya timbul perasaan saling mencinta tapi aku juga tidak mengharapkan diakhiri dengan cepat."
"Apa kau juga cinta aku? "
"Ya, tapi biar bagaimana percintaan semacam ini pasti akan diakhiri dengan suatu peristiwa, ini hanya soal waktu saja, jika kau mendesak aku, aku tidak akan menemui kau lagi."
Tan Liong seperti seorang yang kehilangan semangat, mendadak ia ingat suatu soal yang sangat penting hingga dengan cepat ia bertanya.
"Mengapa kau berdiam dalam lembah Hong hwee kok? "
"Kenapa aku tidak boleh tinggal di sini, ini tokh ada rumahku."
Tan Liong bergidik, ia berkata dengan nada gemetar.
"Adakah kau Hiat im cu? "
Mata Tan Liong dibuka lebar-lebar, menatap wajah wanita cantik baju merah itu, seolah-olah pesakitan yang menunggu putusan hakim ....
Ketegangan dalam hatinya hampir membuat ia tak bisa bernapas.
Wanita cantik baju merah itu dengan sikap kaget mengawasi Tan Liong tapi secepatnya dapat tenangkan kembali perasaannya, ia tidak menjawab pertanyaan Tan Liong sebaliknya balas menanya.
"Apa aku mirip dengan Hiat im cu? "
"Aku tidak tahu, justeru ingin kau yang menjawab! "
Wanita baju merah itu tunjukkan tawanya yang manis, lalu berkata.
"Bukan, aku bukan Hiat im cu! "
"Benar? "
"Sudah tentu benar, Hiat im cu adalah suhuku! "
Tan Liong seperti bebas dari hukuman, ia juga bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang tidak menggagalkan percintaannya.
Akhirnya air matanya mengalir keluar.
Dengan perasaan bingung wanita cantik baju merah itu menanya.
"Mengapa kau menangis? "
"Aku bersyukur kepda Tuhan, karena tidak merampas kau dari tanganku."
"Kenapa? "
"Aku takut .... aku takut kehilangan kau lagi. Kau tahu berapa besar cintaku padamu? "
"Tentang ini, sebentar kita bicarakan lagi."
Berkata si cantik sambil ketawa getir.
"Adakah kedatanganmu ini hendak mencari suhuku? "
"Benar."
"Untuk mencari kembali mangkok ajaib itu? "
"Tepat."
Wajah cantik baju merah itu ketawa dingin.
"Kau bukan tandingan suhuku, dia si orang tua sudah tahu kau masuk kedalam barisan batu ajaib ini, dan kini suruh aku bawa keluar kau? "
Tan Liong diam-diam terperanjat, tapi diluarnya tidak menunjukkan perubahan apa-apa.
"Aku ingin lihat suhumu itu sebenarnya orang bagaimana? "
"Setelah aku tolong kau keluar dari sini, kau segera keluar dari lembah Hong hwee kok."
"Keluar? "
Tan Liong menanya sambil ketawa dingin.
"Kedatanganku ini justeru mencari dia kecuali aku mati disini, kalau tidak aku tidak akan kaluar dari sini! "
Wanita cantik itu ketawa geli, tapi tidak berkata apa-apa. Tan Liong menghela napas lalu berkata pula.
"Lagi pula aku juga tidak ingin berpisah dengan kau."
"Kalau begitu apa kau hendak berdiam dilembah ini? "
"Ya, aku ingin berdiam disini beberapa hari bersamamu, kemudian mencari suhumu."
"Tidak. kau tidak boleh berdiam di lembah Hong hwee kok, jikalau tidak, nanti jika diketahui oleh suhu bagaimana kita harus berbuat? "
"Apa dia akan menghalangi kau? "
"Sudah tentu, aku adalah muridnya, sudah seharusnya pula kalau tunduk dibawah pengaruhnya, lagi pula hubungan kita ini sebetulnya juga tak wajar."
"Apa suhumu ada dalam lembah Hong hwee kok ini? "
"Ada, cuma setengah jam kemudian setelah kau masuk ke dalam barisan batu ini, ia sudah menutup diri untuk melatih suatu ilmu kepandaian."
"Kapan kiranya ia akan keluar? "
"Secepat-cepatnya sepuluh hari, selambat-lambatnya setengah bulan."
"Sepuluh hari? Setidaknya selama waktu sepuluh hari itu kita dapat menikmati hidup kita yang bahagia."
"Ya, sepuluh hari yang penuh bahagia."
Wanita cantik baju merah itu lantas antar Tan Liong keluar dari dalam barisan batu yang amat ajaib.
Terhadap keadaan dan seluk beluk dalam barisan itu, wanita baju merah itu agaknya kenal betul.
Tan Liong berpaling mengawasi barisan batu itu sejenak.
Ia merasa bersyukur bahwa dirinya tidak akan terkubur dalam barisan tersebut tetapi siapakah sebetulnya wanita baju merah ini?
Ia adalah Hiat im cu atau bukan masih meupakan satu pertanyaan besar dalam hatinya.
Potongan badan serta gerak gerik yang menggairahkan dari wanita cantik setengah umur bebaju merah itu, telah menimbulkan yang bukan-bukan dalam hati Tan Liong.
Ia sebetulnya bukan pemuda ceriwis, tapi tokh masih kepincut oleh kecantikan dan kegairahan wanita setengah umur itu.
Dengan hati bimbang dan tanpa tujuan Tan Liong mengikuti wanita cantik baju merah itu berjalan ia tak tahu wanita cantik itu akan bawa padanya kemana.
Ketika melalui sebidang tanah yang penuh batu, wanita cantik baju merah itu dengan perlahan injak tiga buah batu kemudian terdengar suara keresekan diantara batu-batu yang berserakan itu telah terbuka sebuah goa dalam tanah.
Tan Liong terperanjat.
Ia tidak dapat lihat jelas dengan cara bagaimana wanita cantik baju merah itu tadi membuka tiga buah batu.
Wanita cantik baju merah itu lantas lompat masuk ke dalam goa, Tan Liong tampak bersangsi sejenak, tapi akhirnya juga ikut masuk.
Setelah mereka di dalam goa terdengar pula suara keretekan dan goa itu lalu tertutup pula.
Goa itu meski letaknya dibawah tanah tapi keadaannya tidak beda seperti rumah tangga yang mewah, perlengkapan dalam kamarnya sangat indah.
Wanita cantik baju merah itu lalu berkata kepada Tan Liong.
"Kalau kau memang ingin menunggu suhu, nah, disinilah kau menunggu sampai sepuluh hari."
Tan Liong mendadak teringat dirinya Teng Chun Kiok, si nona baju merah maka ia lantas menanya.
"Apa kau mempunyai sumoy? "
"Kau maksudkan Teng Chun Kiok? "
"Ya."
"Kenapa? "
"Aku hanya iseng-iseng tanya saja."
Wanita cantik baju merah itu unjukkan senyumnya yang manis.
"Apa kau telah jatuh cinta padanya? "
Tan Liong bercekat.
"Mungkin pernah, tapi sekarang sudah lalu."
"Kenapa? Apa lantaran kau sudah berubah menjadi jelek, hingga tidak lagi cinta padamu? "
"Mungkin begitu."
"Setangkai tumbuhan seperti rumput yang kuberikan padamu tempo hari itu apa masih ada pada dirimu? "
"Ada."
"Tahukah kau apa benda itu? "
Tan Liong gelengkan kepala.
"Tidak tahu."
"Apa kau ingin pulih kembali wajah aslimu? "
"Apa itu rumput Seng kie-co? "
"Benar."
Tan Liong merasa girang bercampur sangsi.
"Apa itu benar?"
"Sudah tentu benar, asal kau ingin pulih kembali wajah aslimu, aku dapat membantu memulihkan."
Tan Liong berkata dalam hatinya.
"Wajahku akhirnya bisa pulih kembali."
Karena girangnya, badannya sampai gemetar, ia seperti melihat kembali wajah aslinya. Sedang dalam hatinya berpikir.
"Aku hendak suruh Teng Chun Kiok, Chie Cui dan Yai lie lu tahu, bahwa aku sudah mati atau belum, aku juga hendak balas dendam terhadap penghinaan Teng Chun Kiok."
Ia ketawa sendiri tapi tiba-tiba ia teringat dirinya Oey Bwee Cian dan Chie Peng.
Bukankah mereka pernah mengatakan "apabila kau berubah, cukup kita tidak kenal lagi padamu bahkan kemungkinan kita akan bunuh diri."
Mengingat akan ucapan dua wanita itu, Tan Liong badannya menggigil.
Rupa pikiran mengganggu otaknya ia kini telah menghadapi jalan jika ia pulih wajah aslinya meski ia dapat membalas dendam atas penghinaan Teng Chun Kiok, Chie Cui dan Yao lie lu tapi ia akan kehilangan Oey Bwee Cian dan Chie Peng.
Ia ingin pulih kembali wajah aslinya, tapi kenyataannya begitu sulit.
Ia mulai menderita lagi ....
hati nuraninya mengisiki padanya.
Ia harus tetap dalam keadaan demikian karena ia tidak dapat membiarkan dua wanita yang cintakan padanya mati karenanya.
Karena berpikir demikian maka ia lantas menjawab sambil menghela napas dan gelengkan kepala.
"Tidak, tidak, aku tidak ingin pulih kembali wajah asliku."
"Kenapa? "
"Tidak kenapa-kenapa, aku hanya merasa bahwa antara jelek dan bagus, begitu tidak ada bedanya lebih baik tetap dalam keadaan begini saja."
"Apakah kau takut akan mengakibatkan kematiannya Oey Bwee Cian, Chie Peng dan Teng Chun Kiok? "
Pertanyaan ini membuat Tan Liong tercengang.
"Bagaimana kau bisa tahu? "
"Kau jangan kaget, aku selalu tidak terpisah jauh dari sampingmu."
"Aku tidak cinta pada mereka, tapi tidak menyangkal bahwa dalam hidupku telah dua kali jatuh cinta benar-benar kepada wanita.
Petama kali aku gagal, karena kekasihku yang pertama itu kawin dengan lelaki lain, dan kedua kalinya adalah kau."
"Apa ini ucapan dengan sejujurnya? "
"Aku tidak membohongi kau, harap kau percaya padaku ...."
"Aku selalu percaya padamu."
Ia berdiam sejenak.
"Jika aku minta kau, pulihkan kembali wajah asalmu, apa kau suka?"
"Kau ingin aku pulih kepada asalku yang semula? "
"Ya, apa kau tidak keberatan? Aku ingin melihat sekali lagi wajahmu semula yang cakap dan tampan itu."
Dengan pandangan mata terheran-heran Tan Liong mengawasi wanita baju merah itu karena ia sudah mengambil keputusan tidak akan pulihkan wajahnya sekarang, bagaimana harus menjawabnya?
Wanita cantik baju merah itu ketika menampak sikapnya Tan Liong lalu berkata dengan nada suara dingin.
"Bagaimana? Apa kau mempunyai kesulitan? "
"Oh, tidak .... tidak."
jawabnya gelagapan.
"Kalau begitu kau tidak keberatan kusembuhkan wajahmu?"
"Tidak ....! Aku tak dapat .... !"
"Kenapa? "
Tan Liong tidak berani berkata terus terang ia kawatir melukai hatinya wanita cantik itu, juga takut kalau-kalau ia akan marah.
Ia merasa malu terhadap diri sendiri, ia tak dapat menyangkal bahwa ia telah jatuh cinta kepada wanita yang usianya lebih tua daripada usianya sendiri maka ia merasa berat mengutarakan pikirannya yang dianggapnya membikin tidak senang kepadanya.
Ia juga tahu bahwa hubungan asmara yang tidak wajar itu biar bagaimana pasti akan berakhir, tapi sebelum berakhir sedapat mungkin ia akan pertahankan hubungannya yang mesra dan penuh bahagia itu.
Wanita baju merah itu menyaksikan Tan Liong demikian lama tidak memberi jawaban yang pasti, lalu menegur pula.
"Aku ingin lihat wajahmu yang semula, maka aku hendak berusaha untuk memulihkannya, tapi jika dalam hatimu masih ada wanita yang membuat kau merasa keberatan, yah .... sudah! "
"Tidak, tidak."
Jawab Tan Liong gugup bukan itu maksudku, .... aku ...."
"Tidak perlu gelisah, kau bersedia atau tidak cukup dengan satu jawaban saja."
Tan Liong melihat wanita cantik itu merasa jeri, karenanya ia tidak ingin melukai hati si cantik itu maka ia bersedia menerima baik permintaannya walaupun dengan tindakannya ini akan kehilangan cintanya dua wanita yang lain.
Demikian akhirnya ia terima baik permintaan wanita cantik baju merah itu.
"Aku suka, tapi apa kau suka berjanji tidak akan meninggalkan aku untuk selama-lamanya? "
"Aku akan berbuat sedapat mungkin agar tidak meninggalkan kau, sebab aku juga cinta kau."
Tan Liong diam, ia seolah-olah sudah dapat kepastian bahwa wnita cantik baju merah itu sudah menyerahkan hatinya bulat-bulat padanya ....
Wanita baju merah lalu mengajak Tan Liong masuk ke sebuah kamar batu yang diperlengkapi dengan alat-alat tidur.
Ia lalu berkata kepada Tan Liong.
"Kau boleh rebah terlentang di atas pembaringan ini, aku akan obati dulu mukamu setelah itu nanti diobati dengan rumput Seng kie co, selama itu kau akan merasakan gatal luar biasa, tapi jangan sekali-kali kau garuk dengan kuku tangan."
Tan Liong tak dapat dengar dengan jelas apa yang dikatakan wanita cantik itu, karena memikirkan bagaimana akibatnya nanti setelah wajahnya pulih kembali seperti sediakala.
Ia telah bayangkan satu persatu ....
Teng Chun Kiok mungkin akan bunuh diri karena malu.
Oey Bwee Cian mungkin akan meninggalkan dirinya, karena merasa dirinya tertipu.
Chie Peng, yang telah korbankan kehormatannya untuk menolong dirinya, jika tahu bahwa ia belum mati, namun merasa telah dipermainkan, pasti akan membunuh diri.
Kejadian yang menakutkan telah terbayang dalam otaknya, ia seperti lupa kepada dirinya sendiri.
Ia rebah dipembaringan dengan hati tidak tenang.
Impian dari percintaan yang ganjil ini, suatu saat pasti akan tersadar, meski ia mengetahuinya, tapi ia hanya mengharap agar impian itu agak diperpanjang, atau mendusin untuk selama-lamanya.
Dalam keadaan tak sadar.
ia merasakan sakit dimukanya, lalu terdengar suaranya wanita cantik baju merah.
"Tahan sedikit"
Tan Liong tertawa dan menyeringai.
Rasa sakit sudah lewat, disusul dengan rasa gatal, rasa gatal itu demikian hebatnya hampir ia tak dapat menahannya, hingga ia hendak menggunakan kuku tangannya untuk menggaruk.
"Ini adalah saat yang paling genting, kau sekali sekali jangan coba menggaruknya, jika kau tidak dengar perkataanku, aku nanti tidak akan perdulikan kau lagi."
Demikian katanya wanita cantik baju merah itu.
Tan Liong terpaksa kertak gigi karena pasakan diri menahan rasa gatal yang luar biasa itu, hingga sekujur tubuhnya gemetaran dan keringat dingin membasahi sekujur badannya.
Setengah jam kemudian, rasa gatalnya telah lenyap, ini berarti telah terbebas dari penderitaan dan ia mulai bisa tidur.
Wanita baju merah itu mengawasi wajah Tan Liong, ia tak dapat kendalikan perasaannya yang telah meluap akhirnya ia ciumi berulang-ulang wajah yang tampan itu.
Butiran air mata menetes turun membasahi pipi Tan Liong, yang kini telah pulih kembali sebagaimana asalnya.
Wanita cantik baju merah itu tetap berdiri disisi pembaringannya, matanya terus memandang wajah Tan Liong tanpa berkedip ....
Apakah ia ingin mencari kenang-kenangan lama dari wajah tampan ganteng itu?
Itu hanya ia sendiri yang dapat menjawabnya.
....
Tan Liong akhirnya mendusin, ia membuka matanya, kaget dan heran ketika melihat wanita cantik baju merah itu kedua pipinya basah dengan airmata.
"Kau menangis? "
Demikian tanyanya. Wanita cantik baju merah itu tersadar dari lamunannya, ia hapus airmatanya dan menjawab dengan suara sedih.
"Tidak, karena kegirangan hingga aku menangis."
"Apakah wajahku sudah balik kembali sebagaimana asalnya? "
"Ya, dibelakang pembaringan ada sebuah cermin kau boleh mengaca sendiri."
Tan Liong balikkan badannya dari muka cermin ia dapat lihat wajahnya sendiri yang tampan seperti sediakala.
Ia berpaling kepada wanita cantik baju merah yang saat itu tengah memandang padanya sambil tersenyum.
Dalam kegirangan seolah-olah sudah lupa daratan, ia lompat bangun dan memeluk wanita cantik baju merah itu, dengan amat bernapsu sekali ....
Lama mereka berpelukan mendadak wanita cantik baju merah itu mendorongnya sambil berkata.
"Tan Liong, kita harus dapat mengendalikan perasaan kita jangan sampai kita menjadi orang-orang berdosa."
"Berdosa .... ? "
"Ya, kita harus membatasi diri, dengan demikian kita akan merasa puas dan bahagia."
Wanita cantik baju merah itu angkat tangannya untuk menghapus airmatanya yang mengalir keluar, diatas jari tangan yang putih halus itu Tan Liong dapat lihat sebuah cincin yang diukir dengan bentuk kepala orang yang sangat indah, tapi ia tidak dapat lihat dengan jelas itu entah kepala siapa.
"Mungkin ya, .... tapi sepuluh hari itu aku rasakan terlalu cepat sekali ...."
Begitulah, sejak hari itu Tan Liong berdiam dalam kamar batu itu, bersama wanita cantik baju merah itu.
Tetapi mereka tidak lebih daripada kekasih biasa yang tidak melakukan perhubungan luar biasa.
Sang waktu sehari tujuh hari sudah lewat.
-o0o0dw0o0o-
Jilid KE .
31 Selama itu meski Tan Liong sudah terpikat oleh kecantikannya wanita cantik setengah umur itu, tapi ia masih tetap dapat membatasi perbuatannya.
Satu pertanyaan selalu menggugah pikirannya, ia itu benar-benar muridnya Hiat im cu atau Hiat im cu sendiri?
Pada suatu siang, wanita cantik baju merah itu mendadak berkata kepada Tan Liong dengan sikap agak tenang.
"Tan Liong, ada orang datang ke lembah Hong hwee kok mencari kau! "
"Siapa? "
Tan Liong terperanjat.
"Tan Liong, kau harus pulang, hubungan kita juga harus diakhiri, Lam kek Sian ong sudah berada di luar lembah mencari kau! "
"Ada perlu apa Lam kek Sian ong mencari aku? "
"Bagaimana aku bisa tahu? "
Ia berdiam sejenak lalu dari dalam badannya dikeluarkan mangkok ajaib itu seraya katanya.
"Karena kedatanganmu ini hendak mencari kembali mangkok ini maka sekarang kuberikan padamu agar kau bawa pulang.
Ini adalah pesan suhuku.
Ia pikir pelajaran ilmu silat yang tertera di atas mangkok aneh ini, begitu juga Ham im, tidak dapat dipelajari oleh orang lain."
Tan Liong begitu melihat mangkok ajaib itu, hatinya menggetar.
"Apa Hiat im cu belum berhasil memahami pelajaran diatas mangkok ini? "
"Jangan kata ia, siapapun didunia ini barangkali tiada orang yang mampu memahaminya."
jawab wanita cantik itu sambil gelengkan kepala. Tan Liong merasa lega, dengan tangan gemetaran ia menyambuti mangkok itu.
"Aku tak tahu bagaimana harus menyatakan terima kasihku padamu? "
"Terima kasih apa? Kau sekarang boleh pergi, kedatanganmu ke lembah Hong hwee kok sudah tercapai maksudmu, dengan sebuah mangkok aneh ini aku dapat tukar kebahagiaan tujuh hari lamanya dengan kau."
"Tidak, aku tak ingin pulang, aku hendak berdiam tiga hari lagi."
"Tidak, kau harus pulang. Di sini aku tak dapat menahan kau lagi."
"Kenapa? "
"Tidak kenapa-kenapa, jodoh kita harus diakhiri sampai di sini saja."
"Diakhiri? Apa kau sudah tidak cinta aku lagi? "
"Ini bukan soal cinta atau tidak cinta, melainkan urusan hubungan kita berdua harus kita akhiri."
"Aku tidak bisa kehilangan kau."
"Tidak bisa kehilangan juga harus kehilangan, sebab aku tidak cinta kau! "
Tan Liong bagaikan disambar geledek.
"Apa, kau tidak cinta aku? "
"Ya, aku tidak cinta kau, juga boleh dikatakan permainkan kau."
"Tidak, kau tidak boleh berbuat demikian terhadap aku."
Berkata Tan Liong dengan sangat duka, semangatnya seolah-olah sudah terbang meninggalkan raganya.
Namun wanita cantik baju merah itu tampaknya tidak sedikitpun pula tergerak hatinya malah menyahut dengan nada suara bengis."
Tapi kenyataannya aku sudah berbuat demikian terhadap kau, aku kata aku hanya permainkan dirimu saja."
Karena keputus-asaan Tan Liong mendadak menjadi gusar.
"Apa itu benar? "
"Sudah tentu benar, aku tidak perlu membohongi kau."
Tan Liong semakin gusar, ia tidak menduga sama sekali bahwa perkataan demikian bisa keluar dari mulutnya wanita yang ia cintai itu. Lalu katanya dengan suara kalap.
"Mengapa kau menipu hatiku? Jawab! "
"Siapapun tidak ada yang menipu, terhadap kau, aku sudah memberikan apa yang aku patut berikan ...."
"Perempuan tidak tahu malu ...."
Dalam keadaan sengit ia lalu menampar pipi wanita cantik itu, karena tidak menduga akan ditampar, hingga wanita cantik itu sampai mundur 3 – 4 tindak.
Tan Liong masih penasaran, ia berkata pula dengan sengitmya.
"Sungguh tidak kusangka, dengan tulus hati aku mencinta dirimu, tapi telah kau balas dengan sikap demikian, kau perempuan rendah yang suka menipu hati lelaki! "
Ia benar-benar sudah marah karena merasa dirinya telah tertipu mentah-mentah, setindak ia mendekati wanita cantik itu ....
Wanita cantik itu masih tetap dengan sikapnya yang dingin seolah-olah tidak memperdulikan kemarahan dan penderitaan hati Tan Liong.
Akan tetapi di dalam hatinya juga menderita, bahkan lebih hebat daripada Tan Liong.
Ia mengerti bahwa antara ia dengan Tan Liong tidak mungkin hidup bersatu, maka ia lebih suka melukai hati Tan Liong, tapi tidak suka terlibat lebih dalam oleh arusnya asmara.
Ia mengerti bahwa semua itu adalah satu impian yang menakutkan dan kini setelah mendusin dari impiannya, meskipun Tan Liong cintakan padanya terlalu dalam, tapi ia tak tega hati mengangkangi dirinya.
Manusia memang ada satu makhluk yang aneh, ia pernah bersikeras keinginannya hendak mendapatkan dirinya Tan Liong, tapi kini setelah keinginannya itu tercapai, ia lantas tidak tega hati, kenapa?
Sudah tentu di dalam hati ini masih ada sebab-sebab lain yang tidak dapat diutarakan kepada siapapun juga.
"Tan Liong, kau jangan marah, aku sebetulnya memikirkan untuk kebaikanmu! "
Demikian katanya sambil mengawasi Tan Liong.
"Untuk kebahagiaanku?"
Tan Liong tertawa sepeti orang gila.
"Kau telah menipu hatiku .... kau anggap aku seperti anjing, kau panggil aku datang lantas depak aku pergi lagi, apa kau kira aku boleh diperlakukan sesukamu? "
Dalam sengitnya kembali ia menampar muka wanita cantik itu, tapi kali ini wanita cantik itu telah angkat tangannya yang halus menangkis serangan Tan Liong.
"Tan Liong, apa yang aku katakan itu sejujurnya. Hubungan kita harus berakhir. Jika kau masih tidak tahu gelagat, hati-hati aku nanti tidak akan berlaku mengalah lagi terhadap kau."
Setelah itu ia kibaskan tangan Tan Liong, diwajahnya mengunjukkan sikap keren yang menakutkan.
Tan Liong mendelu, ia mengawasi wanita cantik itu dengan perasaan tidak karuan, ia ingin menangis.
Akhirnya ia menangis, seumur hidupnya untuk pertama kali ia menangis dengan sedihnya.
Ia sepertinya ingin membunuh wanita itu, tapi tatkala menyaksikan sikapnya yang keren dan agung ia tidak mempunyai keberanian.
Sesuatu yang menakutkan timbul dalam otaknya ....
ia mulai membenci wanita.
pikirnya.
"Oh, inilah wanita, ia hanya menipu perasaan dan cintamu, kalau kau sudah memuaskan hatinya ia akan tendang kau pergi seperti anjing buduk ..."
Karena penderitaan hati yang ia alami pada saat itu, timbullah pikiran yang menakutkan itu.
Ia tidak mampu membuka mulut hanya membiarkan air matanya mengalir keluar, karena perasaannya sudah beku ia tak dapat menguasai pikirannya yang sudah kalut.
Ia sepeti menghadapi jalan buntu, semua yang ia anggap akan dapatkan, kini sudah hilang lagi.
Kakinya dirasakan amat berat, tapi ia tahu bahwa ia harus meninggalkan tempat itu.
Diam-diam ia menanya kepada dirinya sendiri.
"Tan Liong, apa yang kau dapatkan di dalam lembah Hong hwee kok? "
Mendadak ia dengar suaranya wanita cantik itu.
"Tan Liong, kau jangan membenci aku, kita bisa menjadi sahabat baik! "
"Sahabat."
Tan liong berteriak.
"Kau telah permainkan aku, tapi aku beritahukan padamu. Tan Liong selamanya tidak akan melupakan hinaan ini."
Dengan cepat ia lantas lompat keluar dari goa.
Keadaan di dalam lembah Hong hwee kok masih sama seperti pertama kali ia datang, tidak ada perubahan apa-apa tapi hatinya telah berubah.
Disini didalam lembah ini ia telah kehilangan hatinya.
Ia mengerti dan mengutuk wanita baju merah itu, tapi apakah untuk selanjutnya ia dapat melupakan bayangan wanita cantik yang merupakan kekasihnya yang kedua itu?
Sudah tentu ini merupakan suatu hal yang tidak mudah.
Ia berjalan dengan tindakan perlahan-lahan ....
menuju ke lembah Hong hwee kok ia merasa seperti terasing, kesepian, dan karena itu maka ia telah berubah menjadi seorang laki-laki yang membenci wanita.
Meski pasir yang berterbangan yang menyampok pada mukanya bagaikan tusukan jarum, tapi ia agaknya tidak merasa.
Ia berjalan dan berjalan terus.
Kembali ia melalui sebidang tanah yang banyak batunya ....
dan diluar barisan batu ia ingat bahwa didalam barisan batu ajaib ini ada terkurung dirinya seorang luar biasa,,,, Bu jie Thian sie.
"Nanti aku akan datang untuk menolong kau ...."
Demikian ia berkata kepada dirinya sendiri.
setelah itu ia melanjutkan perjalanannya keluar lembah.
Mendadak ia dapat lihat dua bayangan orang sedang lari memasuki lembah.
Dua bayangan orang itu masing-masing mengenakan pakaian warna merah dan warna putih.
Ia tidak perhatikan bayangan dua orang itu.
Sebetulnya didalam keadaan demikian mana ada pikiran untuk perhatikan orang lain?
Dua bayangan merah dan putih itu sebentar saja sudah berada kira-kira tiga tombak di depan Tan Liong, tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget.
Orang yang mengenakan baju merah dan lantas hentikan tindakannya dengan mendadak.
Suara jeritan itu mengejutkan Tan Liong dengan acuh tak acuh ia mengawasi dua bayangan orang itu tapi apa yang ia saksikan nampaknya samar-samar karena matanya basah dengan air mata.
Lalu terdengar suaranya orang baju merah.
"Adakah engko Tan Liong ....? "
Suara itu kedengarannya gemetaran.
Orang baju merah itu bukan lain daripada si nona baju merah Teng Chun Kiok.
Tan Liong terkejut, ia hapus air matanya, kini ia dapat lihat dengan tegas bahwa dua bayangan orang itu adalah Teng Chun Kiok dan Hoan Giok Hoa.
Ia berdiri tertegun!
Teng Chun Kiok lantas nubruk dan jatuhkan dirinya dalam dada Tan Liong sambil berseru.
"Engko Tan! "
Tan Liong pada saat itu entah karena kaget atau sudah kehilangan semangat, ia hanya dapat berdiri seperti patung.
Dalam otak Tan Liong dengan cepat terkilas penghinaan yang keluar dari mulutnya Teng Chun Kiok.
Maka seketika itu hawa amarahnya lantas meluap tanpa terkendalikan lagi, hingga dengan suara keras ia membentak.
"Siapa engko Tanmu? Kau enyahlah dari sini? "
Berbareng dengan itu, tangan kanannya menampar pipi Teng Chun Kiok, hingga si nona itu mundur terhuyung-huyung, dipipinya tampak tanda bekas tamparan itu.
Ia tak menduga dapat perlakuan demikian kasar oleh Tan Liong, maka ia lalu menanya sambil mengusap-usap pipinya.
"Kau pukul aku? "
"Mengapa tidak, wanita rendah tidak tahu malu! "
"Apa? Aku wanita rendah? "
Teng Chun Kiok parasnya berubah pucat pasi, suaranya gemetar.
"Apa kau bukan wanita rendah? Semua wanita memang manusia rendah! "
Jawab Tan Liong sengit lalu tertawa terbahak-bahak.
Badan Teng Chun Kiok gemetaran, ia sungguh tidak mengira Tan Liong bisa memperlakukan padanya begitu kasar, sehingga saat itu hatinya dirasakan hancur luluh.
Hoan Giok Hoa berkata dengan suara gemetar.
"Apa benar kau adalah engko Tan Liong? "
Tan Liong mengangkat kepalanya mengawasi kedua mata Hoan Giok Hoa, ia berdiri kesima.
Ia telah merampas kehormatannya, kemudian membunuh mati ayahnya.
Tapi perasaan kasihan dan dukanya itu telah tertutup oleh perasaan bencinya terhadap kaum wanita, maka ia hanya menjawab sambil ketawa dingin.
"Benar, aku adalah Tan Liong."
Hoan Giok Hoa lalu lompat menubruk Tan Liong, tapi ia dibentak oleh Tan Liong.
"Enyah kau ....! "
Sepeti juga Teng Chun Kiok, ia memberi tamparan kepada Hoan Giok Hoa bahkan kali ini lebih keras hingga nona itu mundur sempoyongan dan akhirnya jatuh di tanah.
Dengan tanpa menoleh lagi Tan Liong dengan cepat melanjutkan perjalanannya.
Teng Chun Kiok lompat menghadang didepan Tan Liong seraya berkata.
"Engko Tan, kau dengar kata-kataku dulu."
Tapi Tan Liong dengan wajah bengis menjawab.
"Teng Chun Kiok, harap kau suka menyingkir, kalau tidak jangan menyesal kalau aku nanti berlaku kasar terhadapmu."
Wajahnya dingin dan kaku.
ia anggap karena dirinya dipermainkan oleh wanita cantik baju merah, maka ia hendak membalas hinaan itu terhadap lain wanita!
Ia telah berubah menjadi seorang lelaki kejam yang tidak mempunyai perasaan!
"Engko Tan, bagaimana kau dapat berlaku demikian terhadap kita orang?"
Berkata Teng Chun Kiok dengan suara sedih.
"Terlalu ringan? "
Jawab Tan Liong dingin.
"Tidak, engko Tan, kita tokh tidak pernah melakukan hal-hal yang tak patut terhadap kau."
"Tidak patut?"
Kata Tan Liong sambil ketawa dingin.
"Kau Teng Chun Kiok, apa yang kau cinta? Wajahku atau diriku? jawab! "
Dalam otaknya Teng Chun Kiok saat itu terkilas laki-laki berwajah buruk itu.
"Aku benar-benar mencintai kau! "
"Cintai aku? Dengarlah, yang kau cintai adalah laki-laki berwajah tampan. Aku Tan Liong sudah mengaca pada diriku sendiri, aku tak dapat menjadi kekasihmu."
"Engko Tan, kau ...."
"Aku, bukan seorang laki-laki berwajah tampan. Carilah laki-laki tampan yang kau cinta itu."
Setelah berkata demikian ia berjalan lagi dengan cepat. Teng Chun Kiok dengan paras berubah berseru.
"Apakah laki-laki buruk she Sim itu benar-benar adalah kau sendiri? "
"Apakah wajahnya buruk? Ha .. ha .. ha .. kecuali kau si nona manis baju merah, masih ada perempuan lain yang jatuh cinta padanya."
"Benarkah kau? "
"Teng Chun Kiok, baiklah aku beritahukan padamu.
Tan Liong sebetulnya belum mati, juga tidak dimasukkan kedalam peti atau liang kubur, ia beruntung dapat lolos dari kematiannya, cuma wajahnya telah menjadi rusak.
Bukankah kau sendiri yang mengatakan padanya seperti setan?
Sekarang kau berkacalah sendiri bagaimana rupamu sendiri?
ha ..ha..ha..ha.."
Ia lalu ketawa bagaikan orang sudah gila.
Selama ketawanya itu membuat Teng Chun Kiok hampir pecah otaknya.
....
tubuhnya gemetaran, ia hampir tidak dapat berdiri.
Tapi Tan Liong agaknya masih belum merasa puas, ia masih mengejek.
"Teng Chun Kiok, kau jangan merasa kaget yang kau butuhkan adalah lelaki tampan. Didalam dunia ini banyak sekali lelaki tampan kau carilah mereka."
Setiap perkataan itu seolah-olah pisau tajam menusuk ulu hati Teng Chun Kiok.
Nasib yang mengerikan akhirnya mendampingi dirinya nona itu.
Dahulu ia pernah kawatir akan melakukan suatu kekeliruan, dan kini ia benr-benar telah menyadari kekeliruannya itu.
Ia rasakan matanya gelap, dirinya bagaikan kolam air dingin, hingga tubuhnya gemetaran, kemudian dari mulutnya yang kecil mungil mengeluarkan darah segar dan akhirnya jatuh roboh ditanah tidak ingat orang lagi.
Tan Liong sedikitpun tidak merasa kasihan, bahkan mengawasi sambil ketawa dingin kemudian berkata sendiri.
"Inilah wanita-wanita yang suka wajah tampan."
Setelah itu ia berjalan menuju keluar lembah Hong hwee kok.
Di sini ada rebah terlentang.
dua tubuh wanita muda yang pernah mencintakan dirinya, tapi nasib kejam telah menimpa diri mereka.
Setelah lama mengalami pingsan.
Teng Chun Kiok akhirnya siuman kembali, ia lantas lompat bangun dan megejar Tan Liong yang sudah terlalu jauh.
"Tan Liong, kau tunggu sebentar ...."
Demikian ia berteriak-teriak, kembali lari mengejar dan ia berhasil menyusulnya.
"Kau mau apa? Ingin kutampar lagi? "
Tegurnya Tan Liong pedas. Teng Chun Kiok mendadak bisa berlaku tenang.
"Tan Liong, aku tahu bahwa aku telah melakukan kekeliruan besar, dan akibatnya kekeliruan itu adalah mati, tapi aku cinta padamu, ini hal yang sebenar-benarnya, sayang mataku telah buta. Aku tak akan minta belas kasihanmu, juga tidak ada muka aku akan hidup terus. Aku akan mengakhiri hidupku dengan kematian."
Ia coba kendalikan perasaannya, kemudian berkata pula dengan nada gusar.
"Hoan Giok Hoa telah menjadi korbanmu, dalam perutnya dewie ada darah dagingmu. Apa kau tega hati suruh ia mati? "
Tan Liong bagaikan dipagut ular.
"Apa katamu? "
Demikian ia bertanya, dan dengan kecepatan kilat tangannya menyambar tubuh Teng Chun Kok lalu diangkat tinggi-tinggi ....
Teng Chun Kiok tidak merasa jeri, sebaliknya berkata padanya sambil ketawa dingin.
"Mengapa kau kaget? Dalam perut Hoan Giok Hoa ada darah dagingmu, apa itu bisa bohong? "
Mendengar pertanyaan itu Tan Liong bagaikan disambar petir, sekujur badannya merasa lemas dan perlahan-lahan ia lepaskan dirinya Teng Chun Kiok, wajahnya pucat bagaikan kertas.
Perlahan-lahan ia berjalan menghampiri Hoan Giok Hoa yang masih rebah terlentang ditanah.
Perbuatannya itu ia lakukan tanpa banyak pikir lagi.
Suatu pikiran yang menakutkan mendadak terlintas dalam otaknya.
Hati Tan Liong apakah kau benar-benar cinta padanya?
Perbuatanmu terhadap dirinya sehingga ia mengandung itu semata-mata karena gara-gara Siao Hun Lie.
Maka ia lantas hentikan kakinya seolah-olah hal itu tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Andaikata ia tak merubah sifatnya karena wanita cantik baju merah itu ia pasti tak akan memikir demikian.
Diam-diam ia menanya kepada dirinya sendiri, walaupun dalam perut Hoan Giok Hoa sudah ada darah dagingnya sendiri, tapi antara dia dengan Hoan Giok Hoa apakah dapat mendirikan rumah tangga?
Tidak, ini tidak mungkin sebab ia sudah membunuh mati ayahnya.
Hoan giok Hoa pasti akan menuntut balas.
Antara kasih dengan musuh, antara cinta dan benci, itu ada saling berentangan, ini merupakan satu impian yang sangat kejam.
Tan Liong agak bingung, walaupun ia membenci kaum wanita, tapi biar bagaimana Hoan Giok Hoa sudah ada hubungan kelamin dengan dirinya bahkan sudah mengandung.
Anak dalam kandungan itu adalah darahnya sendiri, ia harus menaruh cinta kepada anak yang akan lahir itu.
Hoan Giok Hoa tidak mungkin memaafkan padanya, tetapi jiwa kecil yang belum lahir itu tak tahu apa-apa ia tokh tak berdosa.
Andaikata Tan Liong tidak membunuh mati ayah Hoan Giok Hoa mungkin ia dapat hidup sebagai sami isteri, tapi kini?
Walaupun Hoan Giok Hoa memaafkan padanya tapi percintaan mereka sudah terpisah oleh satu garis tegas seolah-olah selembar kertas putih terkena noda tinta, yang tak bisa dihapus.
Lama Tan Liong dalam keadaan bingung setelah pikirannya agak lega, lalu pikiran timbul lagi dalam otaknya.
Kita tokh tidak dapat bersatu, perlu apa aku harus menambah kesusahan bagi kedua pihak.
Lebih baik tinggalkan padanya, asal selanjutnya tetap ingat padanya sudah cukup.
Karena berpikir demikian, maka lantas balikkan badannya hendak meninggalkan lembah itu lagi.
Namun sebelum berlalu, diam-diam ia masih berdoa supaya Hoan Giok Hoa suka memaafkan dirinya, begitu pula terhadap anaknya yang belum lahir.
Dengan tindakan kaki berat ia perlahan-lahan geser kakinya.
Teng Chun Kiok setelah mengalami pukulan batin demikian hebat akhirnya malah menjadi tabah, ia sudah bertekad bulat hendak habiskan dosanya sendiri untuk menebus dosanya terhadap Tan Liong.
Maka ketika melihat Tan Liong hendak berlalu ia segera merintangi seaya berkata.
"Tan Liong, benarkah kau tidak mau pedulikan padanya? "
"Ini adalah urusan kita, siapa suruh kau turut campur tangan? "
Jawaban itu cukup pedas, tapi hati Teng Chun Kiok sudah beku, ia tidak merasa tertusuk oleh perkataan itu.
"Ini bukan soal campur tangan atau tidak, apakah kau tidak cinta anakmu? "
"Anak ...."
Hati Tan Liong bercekat lagi kemudian ia ketawa hambar dan berkata pula.
"Itu hanya keteranganmu dari satu pihak, aku tidak dapat mempercayai bahwa dalam perutnya ada anakku."
"Sungguh tidak kusangka kau Tan Liong ternyata ada satu laki-laki yang tidak bertanggung jawab, kalau bukan karena Hoan Giok Hoa, barangkali kau sudah ternoda oleh Siao hun lie. Tapi sekarang kau tidak mau perdulikan padanya, buang padanya seperti sampah, apa kau pantas menjadi satu laki-laki? "
"Sekalipun aku tidak mau perdulikan padanya, ini ada hubungan apa dengan kau Teng Chun Kiok? "
"Tan Liong, apakah benar kau sudah tidak mempunyai peri kemanusiaan? "
"Teng Chun Kiok, aku sudah katakan berulangkali aku tidak mau Hoan Giok Hoa, ini ada urusan aku dengan dia, jika ia membenci aku boleh mencaci aku Tan Liong membuat perhitungan, tapi kau Teng Chun Kiok tidak berhak menanyakan soal ini."
"Kalau begitu kau benar-benar sudah tidak mau perdulikan dirinya lagi? "
"Ya."
"Kau laki-laki berhati binatang, hari ini aku baru kenal baik wataknya."
Dengan mata beringas ia menghampiri Tan Liong kemudian berkata pula dengan suara bengis.
"Dimana Hoan Giok Hoa berlaku tidak pantas terhadap kau? Jawab! "
Ditanya demikian Tan Liong tidak dapat menjawab.
Ia hanya berpendirian diantara ia dengan Hoan Giok Hoa kalau memang benar tidak mungkin menjadi suami isteri perlu apa harus dipaksa yang akibatnya bahkan mereka berdua akan menderita Iapun anggap tidak perlu minta pengertian orang lain, karena itu merupakan satu hal yang tiada gunanya sama sekali maka akhirnya ia bekata sambil ketawa dingin.
"Teng Chun Kiok, aku tidak ingin banyak bicara, lebih baik kau membiarkan aku pergi.
". Teng Chun Kiok yang sudah patah hati dan putus asa akhirnya berubah gusar.
"Tan Liong, aku memang sudah berbuat salah terhadap kau, maka boleh kau lakukan apa saja terhadap diriku, tapi Hoan Giok Hoa sudah merupakan isterimu, dalam perutnya juga ada mengandung keturunanmu, bagaimana kau bisa berlaku begitu tega hati, hendak membuang padanya begitu saja? Apakah kau sudah tidak mempunyai peri kemausiaan? "
"Tutup mulut! Urusanku, tidak perlu kau turut campur tangan! "
"Tapi aku harus campur tangan."
"Kau anggap itu patut? "
"Tan Liong, meski tidak pantas campur tangan dalam urusan ini, tapi aku harus berbuat begitu."
"Kalau begitu, kau tidak ijinkan aku berlalu? "
"Benar."
"Aku ingin lihat kau si nona baju merah berapa tinggi kepandaianmu? "
Tanpa banyak tingkah, Tan Liong sudah mulai menyerang Teng Chun Kiok.
Selama menghadapi sikap Tan Liong yang galak itu, satu perasaan timbul dalam hati Teng Chun Kiok, dua tetes air mata mengalir keluar.
Dahulu, mereka pernah merupakan sepasang sahabat karib, bahkan hampir merupakan sepasang kekasih, meski Tan Liong belum pernah menyatakan cintanya, tapi dari sikap dan tindak tanduknya, ia dapat menduga bahwa pemuda itu sedikit banyak ada menaruh hati padanya.
Tapi sekarang mereka harus baku hantam sendiri, alangkah mengenaskannya ini?
Dan bagi Tan Liong, ketika melihat nona baju merah itu mengucurkan air mata, hatinya lantas tergetar, biar bagaimana, nona baju merah ini pernah memberi banyak bantuan tenaga kepadanya.
Diatas gunung Ciong lam san, ia telah memberikan bantuan menghalau musuh tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, apa maksudnya?
Bukankah karena terdorong oleh rasa cinta?
Ya, itulah cinta, yang timbul dari hati seorang wanita.
Kaum wanita kebanyakan suka yang bagus-bagus.
Ini memang tidak boleh terlalu disalahkan maka ia harus memaafkan padanya.
Karena mengingat demikian maka serangan Tan Liong lantas ditarik kembali, dalam waktu sekejap itu, Tan Liong berada dalam kebingungan.
Dengan perasaan mendelu ia mengawasi Teng Chun Kiok yang masih berdiri dengan bercucuran air mata.
Tiba-tiba bayangan wanita baju merah terkilas dalam otaknya, sambil kertak gigi ia hendak meninggalkan si nona.
Teng Chun Kiok ketika melihat Tan Liong hendak pergi lalu menegur pula.
"Tan Liong, kau hendak kemana? "
Kembali ia menghadang dihadapannya kemudian melancarkan serangan kearah dada. Dengan cepat Tan Liong mundur dan membentak dengan suara dingin.
"Teng Chun Kiok, harap kau jangan membuat panas hatiku, jikalau tidak aku nanti akan berlaku kasar padamu."
Teng chung Kiok tidak mau ambil pusing bahkan menyerang semakin sengit. Dengan demikian Tan Liong benar-benar menjadi gusar.
"Apa kau kira aku takut padamu .....? "
Geramnya Tan Liong yang segera balas menyerang dengan menggunakan ilmunya Yang ciang.
Ketika mengetahui Tan Liong balas menyerang Teng Chun Kiok mendadak tarik kembali tangannya, ia berdiri tegak sambil pejamkan matanya.
Ia sengaja membiarkan dirinya diserang oleh Tan Liong karena ia ingin mati ditangan lelaki yang dicintainya.
Hal ini sesungguhnya diluar dugaan Tan Liong ketika ia tahu, wajahnya lantas berubah dan berseru.
"Teng Chun Kiok kau ...."
Tetapi tindakannya sudah terlambat.
serangannya dengan cepat menghantam diri si nona hingga terpental sejauh tiga tombak dan kemudian jatuh roboh ditanah.
Tan Liong berdiri kesima.
Ia berdiri bagaikan patung hidup sekujur badannya gemetaran ....
ia telah membunuh seorang wanita yang telah mencinta dan menolong padanya.
Dengan suara kalap ia berseru.
"Ya Allah .... apa yang aku telah perbuat? "
Walaupun ia telah membenci kaum wanita tapi perubahan sifat demikian itu, bukanlah timbul sewajarnya apalagi nona baju merah itu dahulu juga pernah banyak memberi bantuan padanya.
Ia lalu menubruk Teng Chun Kiok yang rebah menggeletak ditanah dengan paras pucat pasi dan mulut berdarah.
Ia tak tahu apa yang harus diperbuat hanya dengan suara parau ia memanggil-manggil.
"Teng Chun Kiok ....
" , tetapi tenggorokannya seperti tersumbat, ia tak dapat melanjutkan perkataannya. Teng Chun Kiok yang sudah seperti mayat, akhirnya membuka matanya dengan suara lemah ia berkata.
"Engko Tan, aku telah berbuat salah terhadap kau .... apa kau suka memaafkan aku ....? "
"Tan Chung Kiok mengapa kau tadi tidak melawan?"
Tan Liong balas menanya dengan suara parau. Teng Chun Kiok gelengkan kepala sambil tersenyum getir.
"Tidak engko Tan .... aku sudah berbuat kesalahan .... aku juga tidak dapat mengampuni diriku sendiri, tapi .... sebelum menutup mata, aku harus .... memberitahukan padamu, aku benar-benar .... jatuh cinta padamu .... dan selanjutnya, dalam perjalanan ke akhirat itu .... sangat jauh, aku tidak akan melihat kau lagi .... namun demikian aku dewi... dapat .... selalu ingat dirimu, ingat wajahmu .... dan wajah yang aku kenal baik itu .... aku akan bawa .... kealam baka. Engko Tan .... sebelum kita berpisah, apa kau suka beri kesempatan bagiku....! untuk majukan suatu permintaan? "
Suara dari seorang gadis patah hati yang meninggalkan dunia yang fana ini didengarnya sangat memilukan hati, juga akan lumer.
"Urusan apa? Kau katakan saja! "
"Mungkin kau, juga tahu perjalanan ke akhirat itu amat suci, apakah kau suka genggam tanganku? Dan ciumlah aku, sekali saja, supaya aku, boleh merasa hangat."
Tan Liong terperanjat tetapi ia merasa berat karena terhadap wanita yang pernah menghinanya itu sedikit banyak masih merasa benci, maka ia lantas menjawab "Tidak."
jawaban singkat itu telah membuat Teng Chun Kiok semakin putus pengharapan, bulu matanya yang redup dan panjang nampak bergerak sejenak, air matanya mengalir keluar membasahi pipinya yang halus itu.
Ia gerak-gerakkan pipinya dan berkata sambil tersenyum getir.
"Kau .... apakah kau masih marah padaku....?"
Tan Liong hendak mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ditelan kembali.
"Engko Tan, apa kau benar-benar tidak dapat mengampuni kesalahanku?"
Tan Liong tetap membisu, hanya air matanya yang turun berlinang-linang.
"Engko Tan, ini adalah permintaanku yang terakhir, apa kau tega hati, membiarkan aku kesunyian dalam perjalanan yang sangat jauh itu? "
"Engko Tan, asal, kau, genggam tanganku..."
Dengan susah payah ia angsurkan tangannya yang gemetaran ... dan dengan suara terputus-putus serta memohon ia berkata.
"Engko Tan, aku merasa kedinginan, berikan aku sedikit hawa hangat, cuma sekali ini."
Tan Liong tidak menyambuti tangannya yang diangsurkan, ia cuma berdiri bagaikan patung. Parasnya Teng Chun Kiok semakin pucat, nampaknya ia sudah putus harapan benar-benar.
"Ya, aku tiada harganya mendapat ampun darimu, aku menyesal atas kekeliruanku .... namun aku tidak sesalkan pembalasanmu .... sudah engko Tan, aku, aku hendak pergi ...."
Dengan putus harapan ia turunkan tangannya, satu-satunya permintaan yang terakhir ternyata tak dikabulkan.
Walaupun ia mati, apakah ia masih dendam terhadap Tan Liong?
Tidak!
Seperti apa yang dikatakannya sendiri, ia telah menyesal tapi ia tidak sesalkan Tan Liong.
Benarkah Tan Liong ada satu laki-laki berhati baja?
Tidak, ia memang pernah jatuh hati terhadap nona baju merah itu, meski ia pernah dimaki, pernah dihina, tapi sebelum ia menarik napas yang penghabisan ia merasa bahwa ia tidak patut berlaku demikian kejam padanya.
Maka satu gerakan yang tiba-tiba agaknya terdorong dari hati nuraninya telah mendorong padanya untuk segera memegang tangan Teng Chun Kiok, dan berkata dengan suara parau.
"Teng Chun Kiok ...."
Perbuatannya itu membuat si nona yang sudah putus harapan telah tersadar kembali kemudian merasa kaget dan heran. Setelah itu ia unjukkan senyumannya.
"Apa tanganku dingin? "
Demikian ia menanya.
"Tidak, hangat ...."
"Apa iya? "
"Ya ...."
Tan Liong mengawasi bibir Teng Chun Kiok yang bergerak-gerak seolah-olah mendapat bisikan dari dalam hatinya, ia harus memenuhi pemintaan yang terakhir dari si nona yang tidak beruntung itu.
Akhirnya ia bungkukkan badannya dan mencium bibirnya Teng Chun Kiok.
Tubuh Teng Chun Kiok terasa dingin, ia berkelojotan sejenak, mungkin karena merasa sangat girang, kemudian ia pejamkan matanya yang sudah tak bertenaga tapi air matanya tampak keluar dari mata yang dipejamkan itu.
Itu adalah air mata penyesalan atau air mata kegirangan karena Tan Liong telah memenuhi permintaannya ....?
Mungkin kedua-duanya ada.
Kesunyian memenuhi jagat, hanya terdengar napas Teng Chun Kiok yang makin lama makin lemah ....
gadis yang pernah jatuh cinta kepada dirinya ini, benarkah ia akan meninggalkan dunia yang fana ini secara mengenaskan?
Apakah Tuhan dengan demikian akan merenggut nyawanya yang masih muda remaja?
"Engko Tan ....
kau suka ampuni dosaku?"
"Aku ampuni, aku tidak akan sesalkan kau ...."
Jawab Tan Liong.
Ia tidak ingin mengecewakan padanya lagi, ini ada permintaannya yang penghabisan, ia harus berikan tanpa penolakan.
Diantara senyum pahitnya yang ada pada bibir Teng Chun Kiok, tampak ada mengandung rasa terhibur.
"Benar? "
"Benar, aku tidak membohongi kau."
"Apa kau dapat .... mencintai aku, .... wanita yang tak tahu malu ini? "
"Ya, aku cinta padamu."
"Aku tidak percaya .... kau tentunya .... takut aku sedih .... karena merasa kesepian dalam perjalananku ke akhirat .... hingga kau perlu menghibur hatiku ...."
"Tidak, aku benar-benar mencintai kau."
Suara Tan Liong agak menggetar, ia merasa pilu dan malu, karena telah membohongi Teng Chun Kiok, juga menipu hatinya sendiri.
"Apa benar? "
Teng Chun Kiok unjukkan senyuman puas.
"Kalau begitu aku matipun .... bisa meram ...."
Belum selesai kata-katanya sesosok bayangan merah diam-diam melayang turun dibelakang Tan Liong.
Tan Liong tidak mengetahui kedatangan orang baju merah itu, ia masih pondong tubuh Teng Chun Kiok.
Mendadak terdengar suara dingin keluar dari mulut orang berbaju merah itu.
"Tuan, letakkan wanita itu! "
Tan Liong terperanjat lalu ia letakkan tubuh Teng Chun Kiok ditanah, ketika ia berpaling ia segera dapat lihat seseorang bebaju merah yang pernah dilihatnya dilembah Pek kut gam.
Untuk sesaat Tan Liong tercengang, ia segera dapat menduganya bahwa orang berbaju merah ini pasti adalah Hiat im cu yang juga merupakan suhunya si nona baju merah Teng Chun Kiok.
"Tan Liong, aku perintahkan kau segera meninggalkan lembah Hong hwee kok. Tidak kusangka kau melukai muridku, nyalimu benar-benar tidak kecil."
Tan Liong memperhatikan gerak gerik dan sikap orang baju merah itu.
Ia ingin dari situ untuk membuktikan bahwa orang baju merah ini adalah wanita cantik baju merah itu atau bukan tapi ia kecele.
Ia tidak dapat lihat tanda-tanda yang meyakinkan untuk membuktikan bahwa orang baju merah ini adalah wanita cantik baju merah itu.
Perlahan-lahan ia menghela napas dengan tanpa menjawab pertanyaan orang baju merah itu ia lantas berlalu dari lembah Hong hwee kok.
"Berhenti! "
Bentak orang baju merah itu dengan nada dingin.
Suara itu agaknya mempunyai pengaruh besar sekali, yang membuat Tan Liong tidak boleh tidak harus menurut.
Ia berpaling dan mengawasi Hiat im cu sambil ketawa getir.
Hiat im cu cerkata pula sambil ketawa dingin.
"Tan Liong, kau main gila dilembah Hong hwee kok, apa kau kira begitu gampang kau hendak berlalu dari sini? "
"Kau mau apa? "
Tan Liong balas menanya.
"Sadarkan muridku! "
"Aku harus hidupkan dia lagi? "
"Benar."
Tan Liong ada ketawa getir, ini ada satu hal yang tidak mungkin.
Nona baju merah itu sudah terkena ilmu Yang ciang, sehingga melukai dalam dadanya sekalipun tabib yang bagaimana pandai juga tidak mampu menolong.
"Aku tidak dapat menolong."
"Tidak dapat menolong? Jika kau tidak mempunyai daya upaya untuk menolong jiwanya aku akan suruh kau ikut padanya kedunia akhirat.
"Apa kau hendak bunuh aku? "
"Jika kau tidak hidupkan kembali padanya jangan harap kau bisa keluar dari lembah Hong hwee kok."
Wajah Tan Liong lantas berubah, sifat sombongnya timbul secara mendadak sambil ketawa dingin ia berkata.
"Aku justeru ingin coba apa benar lembah Hong hwee kok ini ada tempat yang akan menjadi kuburanku? "
"Kalau begitu kau benar-benar tidak mau menolong jiwanya lagi? "
"Bukan tidak mau, tapi tidak bisa."
Ia berdiam sejenak kemudian menanya.
"Aku ingin menanya sekali lagi padamu kau Hiat im cu atau bukan? "
Belum lagi menutup mulutnya didepan matanya tertampak berkelebatan bayangan merah, dan satu tamparan merah mampir di pipinya.
Ini ada serupa seperti apa yang pernah dialaminya dilembah Pek kut gam.
Tan Liong segera mengerti bahwa orang baju merah ini tidak suka disebut Hiat im cu.
"Baik, sudah tiga kali kau menampar aku. Aku ingin tanya kau lagi kau ada mempunyai berapa murid? "
"Tentang ini tidak perlu kau tahu."
"Bagaimana kalau aku ingin tahu juga? "
"Tidak beritahukan padamu."
"Kalau begitu aku dapat menarik kesimpulan bahwa kau hanya mempunyai seorang murid saja."
"Bagaimana kau tahu? "
"Sebab kau tidak mau membeitahukan kepadaku."
Hiat im cu perdengarkan suara ketawa dingin.
"Kau salah, aku ada mempunyai tiga orang murid."
"Tiga? "
Tan Liong terperanjat.
"Kenapa? Mengapa kau kaget? Tapi biar bagaimana kau sudah terhitung satu laki-laki berbahagia, karena kedua muridku telah jatuh cinta padamu semuanya, apa kau masih belum puas? "
"Apa wanita cantik baju merah itu juga muridmu? "
"Tidak salah."
Tan Liong menarik napas juga ia dapat membuktikan bahwa wanita cantik baju merah itu bukan Hiat im cu.
"Tan Liong."
Berkata pula Hiat im cu sambil ketawa dingin.
"Apa yang kau ingin tahu aku sudah beritahukan kepadamu, nah, kalau kau tidak mau hidupkan kembali jiwa muridku, aku segera turun tangan."
Tan Liong segera dapat satu akal, ia sengaja mengejek.
"Kau Hiat im cu tentunya tidak mampu juga menolong jiwa muridmu sendiri maka paksa aku yang menolongnya, orang kata Hiat im cu ilmu tabibnya tersohor dikolong langit kiranya cuma nama kosong belaka."
"Huciang bun jin, akal bulusmu ini tidak mempan.
Kau tidak perlu menggunakan kata berolok-olok ini untuk mengakibatkan kemarahanku.
Sekali lagi aku beritahukan padamu harap kau hidupkan kembali jiwa muridku."
"Kalau kau sendiri tidak mampu menghidupkan bagaimana ada orang yang tidak berarti dalam dunia Kangouw ini mampu? "
"Benarkah kau tidak mau menolong? "
"Aku tadi sudah katakan, bukan aku tidak mau, tapi tidak mampu."
Ia segera ayun tangannya, mendadak terdengar suara seruan kaget Tan Liong.
"kau."
Apa sebetulnya yang ia lihat? Dan berbareng pada saat itu juga, satu suara orang tua terdengar pula.
"Hiat im cu, tidak disangka sifatmu belum berubah masih seperti dahulu"
Suara itu mengejutkan Tan Liong dan Hiat im cu sendiri hingga dengan cepat tarik kembali serangannya. Hiat im cu lantas berpaling kemudian berkata sambil ketawa dingin.
"Kiranya Lam kek Sian ong, aku Hiat im cu mengucapkan selamat datang."
Orang yang muncul secara tiba-tiba itu memang Lam kek Sian ong adanya. Sambil tersenyum dan kebutkan kebutan ditangannya ia berkata.
"Tidak usah berlaku merendah, kau Hiat im cu ada seorang kenamaan di dalam dunia, sedangkan aku si orang she Ong hanya merupakan orang kecil yang tak berarti, maka atas kelancanganku datang ke lembahmu ini, disini aku minta maaf lebih dahulu."
Setelah itu ia memberi hormat sedalam-dalamnya.
"Hiat im cu tak sanggup menerima kehormatanmu ini, kau Lam kek Sian ong ada satu tokoh luar biasa pada dewasa ini, hari ini kau perlu datang kelembah Hong hwee kok, tentunya ada urusan yang sangat penting."
"Hiat im cu, ucapanmu terlalu berat, aku cuma hendak mencari Ciang bun jin saja."
"Jikalau ia tidak ...."
"Legakan hatimu, aku nanti yang menolong jiwa muridmu."
Sehabis berkata demikian, ia lalu berjalan menghampiri Teng Chun Kiok yang masih dalam keadaan seperti mayat.
Dengan kekuatannya ia mengebutkan kebutannya ke beberapa bagian ditubuh dewi si nona baju merah, kemudian ia mengeluarkan sebutir pil dan dimasukkan ke dalam mulut si nona.
Semua itu ia lakukan dalam waktu amat singkat saja, setelah selesai lalu berkata sambil tersenyum.
"Hiat im cu, ia sudah tidak bisa mati lagi, biarlah ia beristirahat beberapa hari, nanti akan sembuh sendiri. Nah, aku juga hendak minta diri."
Setelah itu ia lalu berjalan menghampiri Tan Liong.
Saat itu Tan Liong masih berdiri tertegun bagaikan patung.
Wajahnya mengunjukkan perasaan kaget dan takut, matanya terbuka lebar menatap jari tangan kiri Hiat im cu.
Di atas jari manis tangan kiri Hiat im cu, ternyata ada memakai sebuah cincin yang serupa dengan cincin yang dipakai oleh wanita cantik baju merah.
Bagaikan disambar petir, ia tak tahu apa yang harus dibuatnya saat itu ia seperti seorang yang sudah kehilangan segala-galanya, sebab ia telah dapat kenyataan bahwa wanita cantik baju merah itu bukan lain daripada Hiat im cu sendiri.
Sekujur badannya gemetaran, seolah-olah dunia akan kiamat ....
Hiat im cu agaknya sudah dapat lihat perubahan sikap Tan Liong itu, ia hanya tertawa menyeringai, dengan sengaja atau tidak ia coba sembunyikan cincinnya itu.
Lam kek Sian ong meski ada seorang yang luar biasa, namun ia juga tidak mengetahui semua perubahan yang terjadi atas diri dua orang itu, Ia masih bisa berkata sambil tersenyum.
"Ciang bun jin, mari kita pergi! "
Tan Liong masih tetap berdiri bagaikan patung, sedikitpun tidak berherak, ia seperti tidak dengar apa yang diucapkan oleh Lam kek Sian ong, otaknya sudah kosong melompong.
Lam kek Sian ong merasa heran, ia menanya pula.
"Ciang bun jin, kau kenapa? "
Tan Liong tetap membisu, ia sudah seperti linglung, apa yang ia kawatirkan akhirnya telah terjadi.
Hiat im cu adalah wanita cantik setengah umur berbaju merah itu.
Pada saat itu, Hiat im cu sudah membawa dirinya Teng Chun Kiok dan Hoan Giok Hoa masuk ke lembah Hong hwee kok.
Suatu kekuatan mendadak mendadak mendorong Tan Liong, dengan kalap ia berseru.
"Hiat im cu, .... wanita cantik baju merah! "
Dalam keadaan linglung ia menubruk Hiat im cu.
Tetapi, ia tidak berhasil menjambret dirinya Hiat im cu, tinggal suaranya yang masih menggema di dalam lembah Hong hwee kok.
Perasaan yang meluap itu setelah reda ia hentikan kakinya, badannya terhuyung huyung ....
seolah olah tidak dapat mengimbangi dirinya sendiri.
"Ciang bun jin, kau kenapa? "
Tanyanya Lam kek Sian ong kaget dan heran. Pertanyaan itu bagaikan tusukan jarum yang segera menyadarkan Tan Liong. Dengan bingung ia mengawasi Lam kek Sian ong kemudian berkata.
"Jadi dia itu .... adalah dia juga ...."
"Siapa yang kau maksudkan dengan dia? "
"Dia .... Hiat im cu ...."
Perasaan putus harapan dan sedih dalam hatinya hingga ia menangus bagaikan anak kecil.
Ya, ia memang telah putus harapan cintanya yang diidam-idamkan akhirnya lenyap.
Cintanya yang pertama dengan Cu Lian ada merupakan satu impian kejam.
Dan cintanya yang kedua kalinya terhadap wanita cantik baju merah ternyata berakhir lebih kejam daripada cintanya yang pertama.
Ia telah berikan seluruh cintanya kepada wanita cantik baju merah itu tapi wanita cantik itu ternyata adalah Hiat im cu.
Ia pernah mengimpikan hari depan yang sangat muluk tapi setelah mendapat kenyataan bahwa wanita cantik baju merah itu adalah Hiat im cu impiannya yang muluk itu lenyap bagaikan asap tertiup angin.
Apa yang membuat ia sedih dan pensaran ialah ia telah jatuh cinta terhadap seorang nenek yang usianya sudah 70 tahun.
Itu merupakan suatu kejadian yang amat ganjil.
seorang gagah seperti Tan Liong yang keras kepala dan keras hati ternyata dia nangis begitu sedih.
Lam kek Sian ong yang menyaksikan Tan Liong menangis begitu sedih juga merasa turut sedih.
Setelah sekian lama membiarkan ia menangis kemudian memberi hiburan padanya.
"Ciang bun jin, seorang laki-laki gagah bagaikan kau, mengapa seperti lakunya perempuan atau anak kecil yang mudah mengeluarkan air mata? Ada urusan apa kau beritahukan saja padaku! "
Tan liong masih tidak menghiraukan ucapan orang tua itu, ia seolah-olah hendak lampiaskan semua kedukaan hatinya dalam tangisan itu. Lam kek Sian ong berkata pula sambil menghela napas.
"Ciang bun jin, ini ada satu impian yang sangat menakutkan, seharusnya kau mendusin. Ia telah meninggalkan kesan indah dalam hatimu, sesungguhnya juga ada satu hal yang sangat berharga."
"Siapa yang kau maksudkan? "
Tanya Tan Liong. Lam kek Sian ong balas menanya sambil tertawa getir.
"Kau tangisi apa? Sekarang ini kau harus menjadi wakil ketua partai
KANG ZUSI com Ciong lam pay tapi nama dan tingkatmu dalam dunia Kangouw tinggi sekali.
Kalau kelakuanmu yang seperi anak kecil ini nanti tersiar kedunia Kangouw bukankah akan menjadi bahan tetawaan orang banyak?"
"Tapi kau tidak memahami perasaanku."
"Aku terlalu mengerti keadaanmu, bukankah ia telah menipu perasaanmu? "
"Ya, dia telah menipu aku, wanita cantik baju merah itu adalah dia."
"Apakah kau cinta sungguh-sungguh dengan wanita cantik baju merah itu? "
"Bukan cuma cinta saja, bahkan seluruh jiwaku sudah kuberikan padanya."
"Apa kau anggap wanita cantik baju merah itu adalah Hiat im cu? "
"Apa locianpwee anggap bukan? "
"Aku tidak mengatakan bukan atau ya, cuma wanita cantik baju merah itu, juga pernah melihatnya, dia adalah Hat im cu atau bukan, aku tak berani memastikan.
Tapi tidak perduli wanita cantik baju merah itu Hiat im cu atau bukan, biarkan, ini adalah satu impian yang menakutkan, dan sekarang sudah waktunya kau harus mendusin.
-o0o0dw0o0o-
Jilid KE . 32 Dari perkataaa Lam kek Sian ong ini, Tan Liong dapat menarik satu kesimpulan bahwa ucapan orang tua itu ada mengandung maksud tertentu.
"Ya, ini satu impian ganjil yang sangat menakutkan. Tapi, aku dapatkan apa dalam impian itu? Dan kini kehilangan apa pula ....? "
"Yang kau dapatkan adalah bayangannya seorang wanita, dan yang hilang adalah perasaan cinta yang kau berikan padanya. Kecuali itu, kau tidak kehilangan apa-apa, kau masih tetap kau."
"Tidak, aku kehilangan terlalu banyak."
"Impian sadar, iramapun berakhir, meski dalam hidupmu ia telah meninggalkan bekas yang tak mudah dihapus, tapi sang waktu mungkin dapat membantu kau melupakan peristiwa ini."
"Tidak, aku tak dapat melupakannya untuk selama-lamanya dan tak dapat melupakan wajahnya dan suaranya, lebih-lebih tak dapat melupakan perbuatannya yang telah menipu diriku."
"Kalau begitu marilah kita pergi, melihat tempatnya menimbulkan perasaan duka. Lembah Hong hwe kok terhadap kau sekarang ini sesungguhnya tidak sesuai lagi."
"Tidak, aku hendak berdiam dilembah Hong hwee kok ini untuk selama-lamanya tidak akan muncul didunia Kangouw lagi."
jawab Tan Liong sambil gelengkan kepala.
"Kenapa? apa kau di sini ingin menangkap bayangan dalam impianmu? "
"Mungkin ya."
"Kau bisa dapat apa lagi? "
"Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi."
"Huciangbunjin kau salah.
Kau harus tahu, tugas untuk menegakkan keadilan dalam dunia Kangouw sudah dibebankan di atas pundakmu, kau harus sanggup memikul beban yang tak ringan itu jangan lantaran patah hati saja lantas kau lalaikan kewajibanmu.
Ini sesungguhnya sangat tidak berharga."
"Tapi aku lebih suka begini, sebab aku tokh sudah kehilangan segala-galanya. Aku tidak ingin mencari apa-apa lagi, aku hanya membutuhkan cinta darinya."
"Ciangbunjin, bukan aku hendak menasihati kau, sejak aku muncul didunia Kangouw hanya dalam waktu yang sangat singkat kau sudah terlibat sedemikian banyak persoalan asmara sedangkan kau tidak mampu membereskan. Terlepas soal wanita cantik baju merah itu. Yao lie lu, Cu Lian, Chie Peng, Chie Cui, Hoan Giok Hoa, Teng Chun Kiok, Oey Bwee Cian dan ditambah lagi itu gadis berparas buruk berbaju hijau, mereka itu semua telah jatuh cinta kepada dirimu, tetapi sekarang apa yang kau dapatkan? "
Ia berdiam sejenak, lalu berkata pula.
"Sekarang dengarlah pendapatku tentang beberapa wanita itu, kau nanti akan dapat tahu sendiri apakah cinta mereka itu dengan setulus hati atau tidak? Lebih dulu tentang Teng Chun Kiok, apa kau kira dia tak mencintai dirimu? Ciangbunjin, kau salah diantara sedemikian banyak wanita itu, hanya Teng Chun Kiok yang cintanya paling teguh terhadap kau. Ia pernah menghina kau karena wajahmu berubah buruk, itu karena disebabkan cintanya padamu. Dalam hidup dan jiwanya ia cuma jatuh cinta kepada satu orang. Orang itu adalah Tan Liong, ia belum pernah jatuh cinta kepada lain laki-laki. Ia berkewajiban untuk bersetia kepada laki-laki yang ia cintai. Ia tidak dapat menodai itu bayangan indah dalam jiwanya, sudah tentu ia tidak pandang mata kepada laki-laki lain, begitupun kepadamu yang sudah dianggapnya orang lain, walaupun kau lebih tampan dari pada Tan Liong yang sebenarnya, umpamanya. Apalagi kau sudah berubah buruk. Sebab di dalam hatinya hanya Tan Liong seorang saja. Itulah ada satu cinta yang kuat dan teguh, apalagi ia tidak tahu bahwa laki-laki buruk itu adalah kau. Sekarang tentang Oey Bwee Cian yang suka dengan wajahmu yang buruk. Tentang ini kau juga tak mau percaya, kalau begitu mengapa ia mencintaimu? Sebenarnya ialah, tatkala pertama kali kau datang keatas gunung Ciong lam san, ia sudah jatuh cinta padamu tapi kemudian ia telah dapat lihat ada banyak wanita yang jatuh cinta padamu, sehingga ia merasa kecewa. Ia mengerti bahwa kekasih gagah dan tampan sesungguhnya susah dicari sekalipun kangzusi ada juga sudah mempunyai kekasih orang lain hingga ia berubah pikirannya, ia hendak mencari laki-laki yang buruk asal hatinya baik. Kalau begitu apa gerangan yang mendorong padanya berlaku demikian? Sebab ia tahu dari dirimu ia tidak akan mendapat apa-apa yang dibutuhkannya maka ia lebih baik mencintai laki-laki berwajah buruk asal hatinya baik. Apakah itu dapat dikatakan bahwa ia tak cinta padamu dewi? Dan bagaimana dengan dua bersaudara Chie? Karena kau mereka telah terjerumus ke dalam lumpur kehinaan. Chie Peng bahkan karena hendak menolongmu, ia telah mengorbankan kehormatan dan kesuciannya semata-mata sebagai syarat agar kau dapat lolos dari bahaya maut. Betapa besar pengorbanannya dan betapa besar penderitaan di batinnya. Hanya Tuhan saja yang mengetahuinya. Dan selanjutnya kau Tan Liong, apa yang kau berikan pada mereka? Apa kau hendak membiarkan mereka putus harapan untuk selama-lamanya? Sekarang tentang Yao lie lu, ia adalah sorang wanita yang berpikiran cepat tidak mempunyai budi pekerti baik sebagai seorang wanita. Ia cuma tahu hendak mendapatkan kau saja, bahkan dengan tanpa segan-segan ia merusak keberuntungan orang lain, pokoknya asal ia bisa dapatkan dirimu. Ia memang cinta kau, hal ini memang tak dapat disangkal, cuma cintanya itu tak murni, perasaan dengki dan iri hati yang timbul dari hati seorang gadis, apa kau bisa katakan itu tak baik? Sudah tentu perbuatannya yang orang tak dapat memaafkan padanya ialah ia merusak keberuntungannya orang lain supaya orang itu terjerumus dalam lumpur caranya ia membikin celaka diri dua saudara adalah satu contoh. Yao lie lu ada seorang perempuan yang tidak mempunyai liang sim, sepak terjangnya tidak boleh dibiarkan! Tapi ia cinta kau, ini adalah satu hal sebenar-benarnya. Akhirnya tentang Hoan Giok Hoa."
"Locianpwee, harap jangan bicarakan dirinya lagi."
Memotong Tan Liong yang segera menekap mukanya dengan kedua tangannya."
"Aku sebetulnya juga tidak suka membangkitkan perasaan sedihmu, tapi ini hanya satu analisa agar kau ketahui saja supaya kau dapat memahami mereka."
"Locianpwee, apa yang harus kulakukan? "
"Cintailah mereka, hibur hati mereka."
"Tapi, perasaanku sudah beku."
"Bukankah tadi sudah kukatakan, sang waktu dapat membantu kau meluncurkan kenang-kenanganmu terhadap wanita cantik baju merah, lagi pula kau juga seorang laki-laki yang tidak tulus hati dalam soal cinta, sebab perasaanmu tebal hingga mudah jatuh cinta kepada wanita, atau melihat satu cinta satu."
"Melihat satu cinta? "
"Demikian pemandanganku tapi maksudmu bukankah dapat yang baru membuang yang lama hanya kau tidak tulus hati menggunakan perasaanmu, setiap waktu tidak dapat mengendalikan perasaanmu sendiri, meski kau sekarang mengatakan tidak dapat melupakan kepada dirinya wanita cantik baju merah itu tapi apakah kau dapat menjamin setelah melihat wanita cantik yang lain, kau mampu mengendalikan perasaanmu? "
Pertanyaan itu membuat Tan Liong bungkam dalam seribu bahasa.
memang ia tidak berani menjamin, apalagi melihat orang lain perasaannya tidak akan berkobar lagi.
Ia memandang Lam kek Sian ong sekian lama, ramalan orang tua itu memang sangat jitu.
Ia lalu menghela napas dan berkata.
"Kalau aku tokh tidak mungkin cintakan mereka semuanya, perlu apa harus menambah penderitaan mereka? "
"Apa lantaran itu kau lantas tidak mau keluar dari lembah Hong hwee kok? "
"Ya, karena inilah yang terbaik."
jawaban ini membuat Lam kek Sian ong benar-benar tidak berdaya. Setelah berpikir sejenak lalu berkata.
"Apakah kau masih benci kepada wanita baju merah? "
"Betul."
"Kau ingin menuntut balas atau tidak? "
"Maksudmu bunuh mati wanita cantik baju merah itu? "
"Tepat, itulah satu-satunya jalan penjelasan."
"Ya, aku hendak bunuh mati padanya tapi dia Hiat im cu atau bukan? "
"Ada kemungkinan dia."
"Apa locianpwee kiranya sudi membantu dalam urusan ini?"
"Jika kau mau keluar dari Hong hwee kok aku nanti akan membantu kau."
Penderitaannya dari hati yang telah patah dan perasaan bencinya setelah mengetahui dirinya ditipu seolah-olah arusnya gelombang meluap keluar dari lubuk hatinya Tan Liong maka seketika itu ia lantas menjawab tanpa ragu-ragu lagi."
"Baiklah aku terima permintaanmu untuk keluar dari Hong hwee kok."
Dengan tanpa menantikan Lam kek Sian ong lagi ia keluar lebih dulu dari lembah neraka itu.
Lam kek Sian ong mengawasi Hong hwee kok sejenak lalu balikkan badan mengejar Tan Liong.
Seorang yang patah hati meninggalkan lembah Hong hwee kok tadi, dalam lembah itu sebaliknya bertambah dua wanita muda yang dirundung nasib malang.
Apakah wanita cantik baju merah itu Hiat im cu atau bukan?
Pertanyaan itu selalu berputaran dalam otak Tan Liong ia tetap merupakan teka teki baginya.
Kemungkinan besar bahwa wanita cantik baju merah itu adalah Hiat im cu.
Tan Liong setelah mendapat pukulan batin hebat itu hatinya memang mulai dingin.
Kalau bukan Lam kek Sian ong mencari padanya mungkin ia tak akan keluar dari lembah Hong hwee kok.
Lam kek Sian ong dan Tan Liong setelah keluar dari lembah Hong hwee kok, hari sudah malam.
Disepanjang jalan Lam kek Sian ong menayakan padanya.
"Ciang bun jin, urusan di Ciong lam pay apakah sudah tidak perdulikan lagi?"
"Ya, aku sudah tidak urus perkara dalam Ciong lam pay lagi. Oey Bwee Cian sudah menjadi ketua generasi ke delapan partai tersebut secara resmi."
"Apa kau tidak akan merasa tidak enak terhadap arwahnya Yo Swie Peng yang bersemayam di alam baka? "
Tan Liong geleng kepala sambil tertawair.
"Tidak, meski aku meletakkan jabatan ketua, tapi jika partai Ciong lam pay terjadi apa-apa aku masih tetap hendak turun tangan."
Lam kek Sian ong setelah berpikir sejenak ia lalu bertanya.
"Tahukah kau, apa sebabnya aku mencari kau? "
Tan Liong geleng-gelengkan kepala.
"Kau pergi ke lembah Hong hwee kok, sebelumnya aku sudah dapat tahu, aku tidak ingin kau karena soal cinta hingga tenggelam dalam pipi licin maka itu aku datang kemari.
Mungkin kau masih belum memperhitungkan betapa berat tugasmu di dalam lembah Hong hwee kok ini?
Mangkok ajaib ini besar sekali hubungannya dengan bencana besar dalam rimba persilatan, bangkai berapi Tok gan Lo koay sudah muncul di dunia Kangouw, keganasannya bangkai berapi itu benar-benar tiada orang yang mampu menghadapi.
Sekarang Tok gan Lo koay sudah mampu mengirim surat ancaman kepada partai Bu tong pay dalam waktu sepuluh hari harus menakluk kepada Thian seng hwee jikalau tidak Bu tong pay pasti akan hancur lebur oleh kekuatan bangkai berapi itu."
"Bu tong pay bisa hancur ditangan Thian seng hwee? "
"Benar."
Lam kek Sian ong ingat sesuatu, ia lalu menanya.
"Tahukah kau bahwa ayahmu sudah tidak berada didalam Thian seng hwee?"
Tan Liong anggukkan kepala kemudian menanya.
"Apa locianpwee kenal dengan seorang wanita yang mempunyai nama julukan Say siong go? "
"Say siong go? "
"Benar."
Lam kek Sian ong tampak berpikir baru ia menjawab.
"Pernah dengar, kabarnya dia adalah encinya Cui hun Sian cu"
"Ya, ini adalah enci ibuku."
"Kabarnya dalam hal ini ada terjalin sesuatu kisah berbelit-belit dan sangat menarik hati.
Naga Merah dengan Pat cie Sian kouw mungkin tahu.
Ayahmu dipaksa meletakkan jabatan ketua lalu meninggalkan Thian seng hwee.
Kau harus lekas mencari ayahmu, dengan demikian barulah kau tahu siapa itu orangnya yang kendalikan Thian seng hwee."
Tan Liong anggukkan kepala, dari dalam sakunya ia mengeluarkan dua buah potongan mangkok ajaib lalu diberikan kepada Lam kek Sian ong seraya berkata.
"Locianpwee, barang ini aku berikan padamu."
"Hiat im cu dapat memberikan mangkok ajaib ini kepadamu, ini benar-benar merupakan satu hal yang bukan sederhana sebab ilmu kepandaian yang tertera di atas mangkok ini sudah pasti tidak mampu mempelajarinya."
"Tepat, menurut keterangan wanita cantik baju merah itu, katanya suhunya sendiri tidak berdaya memahami artinya tulisan diatas mangkok aneh itu."
"Kalau begitu baiklah mangkok ini aku bawa tidak perduli dapat memahami atau tidak ilmu kepandaian diatas mangkok ini dalam waktu tiga hari aku pasti akan mencari kau lagi. Sekarang kau pergilah untuk menolong keluar Naga Merah."
Ia lalu memberikan Tan Liong sebuah anak kunci seraya berkata.
"Inilah anak kunci aslinya, ambillah! "
Tan Liong terperanjat, ia berkata.
"Locianpwee, bukankah kau sudah memberikan aku sebuah anak kunci? "
"Benar, tapi itu adalah yang palsu, ini ada akal muslihatku untuk mengelabui mata mereka yang hendak bermaksud jahat terhadap Naga Merah supaya jangan sampai anak kunci yang asli jatuh dalam tangan mereka serupa halnya dengan perbuatanmu yang menghancurkan batu batu dan lalu kau lemparkan batu, sekarang kau mengerti? "
Tan Liong benar-benar sangat kagum dengan ketertiban dan ketelitian orang tua itu.
"Kenapa Hiat hun Koay po, Tok gan Lo koay dan Hiat im cu, tiga orang itu muncul berbareng dilembah Pek kut gam? "
Demikian ia menanya.
"Sebab Hiat hun Koay po rahasianya akan terbuka."
Lam kek Sian ong ketawa menyeringai.
"Nah, pergilah, setelah menolong keluar Naga Merah, kau masih hendak pergi kepada perkumpulan Hiat Peng Kauw dilautan Utara untuk menolong jiwanya Pek lek cu. Aku sekarang juga hendak pergi."
Setelah itu ia lantas berlalu meninggalkan Tan Liong berdiri sendirian. Tan Liong agaknya ingat sesuatu, dengan cepat ia lantas memburu Lam kek Sian ong seraya berseru.
"Locianpwee! "
Orang tua itu agaknya sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Tan Liong, sambil meneruskan perjalanannya ia berkata dengan suara lantang.
"Tan Liong, jangan kawatir aku pasti membantu kau untuk menuntut balas."
Tan Liong tercengang ia hentikan kakinya dan berkata kepada diri sendiri.
"Wanita cantik baju merah, kau telah menipuku segala-galanya .... kalau aku tidak membalas kejahatanmu ini, aku belum merasa puas. ...."
Lalu ia tertawa sendiri, ketawa kecut yang menyeramkan.
Setelah menoleh kearah Hong hwee kok sejenak ia lantas berlalu.
Suasana dunia Kangouw tampak gawat lagi, bencana pertumpahan darah mulai mengancam sejak munculnya bangkai berapi senjata paling ampuh untuk merenggut jiwa manusia dan segala sesuatunya, benar sangat mengkawatirkan.
Munculnya bangkai berapi, benar-benar menggemparkan dunia Kangouw dalam waktu tiga hari, partai Hoan san dan Kiong lay, dibawah ancaman ampuh itu masing-masing telah menyerah kepada Thian seng hwee.
Selanjutnya, tindakan itu diikuti oleh partai Tim chou dan Ngo bie.
Ditilik dari perkembangannya keadaan mungkin dalam waktu beberapa bulan lagi partai persilatan akan bertekuk lutut terhadap Thian seng hwee, hingga perkumpulan itu dapat menguasai dunia Kangouw.
Pengaruh Thian seng hwee semakin besar telah menggelisahkan orang-orang dari golongan kebenaran, dan kini Thian seng hwee sudah mendesak Bu tong pay supaya menyerah dalam waktu sepuluh hari.
Hal ini menggambarkan dunia Kangouw bukan saja Bu tong pay tidak berdaya, tapi juga partai besar lainnya seperti Siauw lim dan Kun lun, juga merasa terancam.
Tatkala Tan Liong tiba di lembah Pek kut gam, ia dapat lihat bayangan dua orang yang melesat dengan cepatnya, sebentar saja sudah berada sejarak tiga tombak dari hadapannya.
Tan Liong hentikan kakinya, ia segera dapat mengenali bahwa kedua orang itu ternyata Tok gan Lo koay dan Hiat hun Koay po.
Tan Liong menghitung waktunya, perjanjiannya Naga Merah justeru besok pagi sudah batas waktunya, dua tokoh dari dunia kejahatan yang kini sudah gabungkan diri dengan Thian seng hwee itu, ternyata masih belum berlalu dari Pek kut gam.
Tidak antara lama, Hiat hun Koay po dan Tok gan Lokoay, dua-duanya sudah berdiri dihadapannya Tan Liong.
Hiat hun Koay po menatap wajah Tan Liong sejenak, wajahnya menunjukkan rasa kaget.
Ia tidak akan dapat tahu bahwa pemuda wajah jelek yang ia dulu pernah hadapi adalah Tan Liong.
Tok gan Lo koay maju setindak dan berkata dengan nada dingin.
"Apa tuan adalah Tan Liong? "
"Tidak salah aku yang rendah adalah Tan Liong."
Selama bicara Tan Liong sudah siap sedia dan kedua matanya tidak lepas dari kantong kulit besar yang menggamblok dibelakang punggung Tok gan Lokoay.
Dalam hatinya berpikir dalam kantong besar itu pasti adalah senjatanya yang terampuh bangkai berapi.
Dugaannya memang benar.
Dalam kantong besar yang dibawa-bawa oleh Tok gan Lo koay itu adalah senjata bangkai berapi.
Suasana mulai panas.
Tan Liong yang menghadapi dua tokoh datuk itu diam-diam juga merasa jeri.
Tok gan Lo koay dengan sinar matanya yang buas menatap wajah Tan Liong lalu berkata.
"Kalau begitu kau juga yang menjadi anaknya bekas ketua Thian seng hwee Tan Chiang Bin? "
"Bukan, ia bukan ayahku."
"Bukan? "
Katanya Tok gan Lokoay dingin.
"Tan Chiang Bin bukan ayahmu? "
"Dia tidak pantas menjadi ayahku, maka selama itu aku tidak mengakui dia sebagai ayah."
"Benar-benar ada seorang anak yang sombong dan keras kepala. Pantas Tan Chiang Bin sangat kagum padamu, kiranya benar-benar memang bukan nama kosong belaka."
Mendengar ucapan itu Tan Liong segera mengetahui gelagat tidak baik dalam ucapan orang tua mata satu itu ada mengandung maksud jahat maka seketika itu ia lantas unjukkan senyumnya dan berkata.
"Terima kasih atas pujianmu tapi aku tidak sanggup menerimanya. Jika sudah tidak ada urusan apa-apa aku hendak pergi."
Sehabis berkata ia lantas berjalan menuju ke Pek kut gam. Tetapi baru saja berjalan tidak jauh, tiba-tiba Tok gan Lo koay sudah menyusul dan menghadang didepannya seraya berkata.
"Apa kedatanganmu ini hendak menolong dirinya Naga Merah? "
Tan Liong diam-diam terkejut jawabnya.
"Kalau ya bagaimana dan kalau tidak bagaimana? "
"Orang yang penah datang sepuluh hari berselang apakah itu adalah kau? "
"Maaf, tidak dapat memberitahukan."
"Kau Ciang bun jin dengan aku hari ini tidak mempunyai permusuhan apa-apa, aku juga tidak perlu mempersulit kau hanya Hiat hun Koay po yang hendak mencari kau."
"Mencari aku? "
Hiat hun Koay po maju beberapa tindak dan berkata dengan nada suara dingin.
"Tidak salah, aku justeru hendak mencari kau."
"Kenapa? "
"Jika kau ingin menolong Naga Merah, aku tidak akan tinggal diam."
"Apa kau takut Naga Merah akan mencari kau untuk membuat perhitungan hutangmu yang lama? "
Perkataan itu membuat wajah Hiat hun Koay po segera berubah, sambil menekan perasaan kagetnya ia berkata.
"Ciang bun jin, harap kau berlaku sopan sedikit, kau memikat kedua muridku meninggalkan aku. Perkara ini masih belum membuat perhitungan dengan kau."
"Kau Hiat hun Koay po ada mempunyai kebijaksanaan apa menjadi suhu kedua saudara Chie? Kau tokh adalah musuh besar mereka sebagai pembunuh ayah bundanya."
Bukan kepalang gusarnya Hiat hun Koay po hingga seketika itu ia menggeram.
"Tutup mulut, jika kau tidak tahu diri, aku nanti akan berlaku kasar terhadap kau."
"Kau dapat melarang aku tidak mengatakan soal itu, tapi kau tidak berdaya menutup mulut orang lain, sudahlah jika kalian berdua tidak ada alasan apa-apa, lebih baik minggir saja."
Tok gan Lo Koay lantas berkata.
"Kau Ciang bun jin telah membinasakan beberapa puluh tokoh Thian seng hwee dengan obat peledak, perbuatanmu ini bagaimana hendak diperhitungkan? "
Tan Liong segera mengerti bahwa kedatangan mereka itu justeru mencari setori padanya, maka ia lantas balas menanya.
"Menurut pikiranmu bagaimana? "
"Hutang darah bayar darah."
"Barangkali kau tidak mampu."
jawab Tan Liong sambil tertawa terbahak-bahak.
Tan Liong bukan tak mengerti bahwa perkataannya itu terlalu dilebih-lebihkan, tapi karena sudah terlanjur, ia tokh tidak bisa mundur karena itu berarti menunjukkan kelemahannya.
"Aku ingin lihat kau Ciang bun jin sebetulnya mempunyai kepandaian apa?"
Berkata Tok gan Lo koay dengan gusar dan secepat kilat ia lompat maju dengan dibarengi oleh serangan tangan kosongnya yang ampuh.
Dengan gerakan sangat gesit Tan Liong lompat mundur sambil membalas dengan satu serangan pembalasan.
Karena serangannya mengenakan tempat kosong, Tok gan Lo koay tampaknya terkejut dan terheran-heran, sambil menahan serangan selanjutnya ia berkata.
"Bagus, bagus, hingga saat ini, orang yang mampu mengelakkan seranganku, boleh dikata jarang ada."
"Jangan kata cuma satu serangan, sekalipun seratus atau seribu seranganmu aku Tan Liong juga masih mampu menyambutinya."
Tok gan Lo koay menggeram, untuk kedua kalinya ia melancarkan serangannya.
Tan Liong tahu bahwa orang itu lihai maka ia merebut posisi lebih dulu, sebelum Tok gan Lo koay bergerak, ia sudah menyerang lebih dulu dengan tangan kanannya.
Maka ketika serangan Tok gan Lo koay meluncur keluar mendadak ia merasakan ada suatu kekuatan hebat mengancam padanya, Dalam kagetnya, buru-buru lompat mundur.
Walaupun demikian ia juga telah merasakan hawa panas yang luar biasa menyusup ke ulu hatinya.
Tan Liong yang menyaksikan sikap kaget dan terheran-heran Tok gan Lo koay lantas berkata sambil tersenyum.
"Tok gan Lo koay bagaimana rasanya serangan tanganku ini? "
Diejek demikian oleh Tan Liong, Tok gan Lo koay sangat murka, sambil membentak dengan suara keras, ia putar tubuhnya dengan tangan kirinya ia menyerang dada Tan Liong sedang tangan kanannya dengan kecepatan bagaikan kilat membuka kantong besar yang menggemblok dibelakang punggungnya.
Bangkai berapi akhirnya telah keluar.
Tan Liong begitu melihat bangkai berapi seketika itu wajahnya lantas berubah dengan cepat ia lompat mundur, sedang dalam hatinya mengeluh, habislah aku.
Tok gan Lo koay melepaskan bangkai berapinya, hal ini benar-benar diluar dugaan Tan Liong.
Bangkai berapi itu dengan bentuk badannya yang merah membara bagaikan terbungkus oleh gumpalan api, melesat ketengah udara, lalu terdengar mulutnya Tok gan Lo koay mengeluarkan suara tajam.
Bangkai berapi itu ditengah udara mendadak berputar sejenak lalu dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur turun menyerang kepala Tan Liong.
Tan Ling ketakutan setengah mati, saat itu bangkai berapi sudah berada diatas kepalanya cuma terpisah kira-kira tiga tombak saja, tapi hawa panas yang keluar dari badannya sudah dapat dirasakan hebat sekali.
Dalam keadaan hampir tak berdaya Tan Liong terpaksa berlaku nekad, sambil membentak ia ayun tangan kirinya dengan kekuatan tenaga sepenuhnya ia melancarkan serangan Im ciang.
Cepat bagai kilat kekuatan dari tenaga ilmu Im ciang yang mengandung hawa dingin itu menyerang ke arah bangkai berapi.
Sekonyong-konyong bangkai berapi itu mengeluarkan suara "cit-cit-cit"
Setelah terserang oleh hawa dingin kembali melesat keatas hingga membuat Tan Liong tercengang, sekalipun Tok gan Lo koay sendiri juga merasa heran.
Mereka tidak menduga bangkai berapi itu selagi hendak menyerang Tan Liong, mendadak melesat keatas lagi serta mengurungkan serangannya apakah sebabnya?
Hanya sebentar Tan Liong dibikin heran tapi kemudian ia lantas sadar bangkai berapi itu ternyata takut menghadapi ilmunya Im ciang.
Dugaan Tan Liong memang benar, bangkai berapi itu setelah disambut oleh serangan Tan Liong yang mengandung hawa dingin terpaka melesat ke atas lagi, tidak berani melanjutkan serangannya.
Tapi bangkai berapi .
Ia berputaran lagi ditengah udara lalu menukik dan menyerang lagi.
Seranganny kali ini ternyata lebih hebat dari pada yang pertama, tapi Tan Liong yang sudah dapat "angin"
Kembali menyambuti dengan ilmu Im ciang-nya.
Bangkai berapi itu sudah terlatih baik oleh Tok gan Lo koay selama hampir 50 tahun, hingga mengerti maksud manusia.
Ketika serangan Tan Liong meluncur keluar, kembali ia melesat ke atas sambil mengeluarkan suara cit-cit-cit kemudian dengan gerakan menyilang ia menyerang belakang punggung Tan Liong.
Semua gerakan itu dilakukan dengan kecepatan dan kegesitan luar biasa hingga Tan Liong tak dapat lihat dengan jelas dan tahu-tahu belakang punggungnya berasa panas membara yang segera menjalar keseluruh tubuhnya dan lantas tidak ingat lagi akan dirinya.
Sesaat ketika masih dalam keadaan samar-samar, tiba-tiba terdengar satu suara jeritan.
"Suhu, lekas tarik kembali bangkai berapi itu ...."
Bangkai berapi itu benar-benar mempunyai kekuatan yang ampuh, namun jika Tan Liong mampu kendalikan diri, tidak sampai gugup, ia tak akan dipengaruhi oleh bangkai berapi itu, karena bangkai itu paling takut dengan hawa dingin.
Hakekatnya Tan Liong hanya kesambar saja oleh hawa panas bangkai berapi itu.
Karena bangkai berapi itu masih jeri terhadap serangan hawa dingin Tan Liong, maka tidak berani membentur, jikalau tidak demikian, saat itu mungkin Tan Liong sudah remuk batok kepalanya dan hangus seluruh badannya.
Selain daripada itu juga disebabkan karena datangnya secara mendadak sesosok tubuh kecil langsing yang menubruk tubuh Tan Liong sambil berseru seperti disebutkan di atas tadi.
Ketika Tok gan Lo koay dapat tahu siapa adanya itu orang yang menubruk diri Tan Liong sambil menjerit supaya ia tarik kembali bangkai berapinya, wajahnya berubah seketika dan segera tarik kembali senjatanya yang ampuh itu, hingga sesaat kemudian bangkai berapi itu sudah masuk lagi kedalam kantongnya.
Orang yang menubruk diri Tan Liong itu bukan lain daripada Yao lie lu.
Ia pegang tubuh Tan Liong yang rebah di tanah sudah tak ingat orang, dengan suara dingin ia berkata kepada suhunya.
"Suhu, bukankah kau sudah terima baik permintaanku tidak akan melukai dirinya? "
Ditegur demikian, Tok gan Lo koay bungkam, ia dulu memang sudah berjanji dengan Yao lie lu tidak akan melukai Tan Liong ketika Yao lie lu memberikan darah padanya.
Setelah berdiam sejenak ia baru menjawab.
"Orang ini merupakan satu ancaman besar bagi Thian seng hwee kalau tidak disingkirkan. Thian seng hwee barangkali bakal hancur ditangannya."
"Tentang ini aku tidak mau perduli, kau dulu sudah terima baik permintaanku sudah seharusnya kau penuhi janjimu."
Tok gan Lo koay kembali bungkam. Hiat hun Koay po lantas nyeletuk.
"Kalau begitu apa kau hendak menolong padanya? "
"Betul."
Tok gan Lo koay lantas berkata, dengan nada suara dingin.
"Saat ini aku tidak ijinkan kau menolong dirinya."
"Bukankah kau sudah terima baik permintaanku tidak akan melukai dirinya, dan sekarang ia terluka oleh bangkai berapi maka aku harus menolong padanya."
Tok gan Lo koay berhasil menciptakan senjatanya bangkai berapi yang sangat ampuh itu adalah berkat bantuan Yao lie lu, maka ia terpaksa mengalah.
"Baiklah, aku ijinkan kau menolong dirinya. Sekarang kita pergi ke Thian seng hwee, kau juga lekas pulang! "
Setelah itu ia lantas berlalu bersama Hiat hun Koay po.
Setelah Tok gan Lo koay dan Hiat hin Koay po berlalu, keadaan tenang kembali.
Yao lie lu segera mengeluarkan sebutir pil dimasukkan kedalam mulut Tan Liong.
Tan Liong tidak terluka, ia hanya pingsan, karena tidak tahan hawa panas dari bangkai berapi, maka ketika obat Yao lie lu masuk kedalam mulutnya, ia lantas siuman kembali.
Waktu ia membuka matanya, ia masih merasa bergidik.
Ia ingat-ingat kembali apa yang telah terjadi ....
mendadak terdengar suara merdu masuk kedalam telinganya.
"Engko Tan, apa kau tidak terluka? "
Tan Liong terperanjat, kini ia baru dapat tahu bahwa dirinya dalam pangkuan seorang wanita.
Dalam kagetnya ia lantas lompat bangun.
Setelah ia dapat lihat bahwa wanita itu adalah Yao lie lu lalu berkata padanya.
"Yao lie lu .... kau ...."
"Engko Tan, jika aku datang lambat setindak mungkin kau sudah binasa ditangan bangkai berapi."
jawabnya Yao lie lu sambil tersenyum manis. Tan Liong lantas mengerti apa yang telah terjadi. Ia ingat suara jeritan tadi yang ternyata keluar dari mulutnya Yao lie lu.
"Kaukah yang menolong diriku? "
Demikian tanyanya.
"Betul."
"Bagaimana kau tahu aku berada disini? "
"Aku kegunung Ciong lam san, seseorang yang memberitahukan padaku."
Tan Liong yang memang membenci Yao lie lu ketika mendengar keterangan itu lantas berkata dengan nada suara dingin.
"Apa kau kembali mengacau digunung Ciong lam san? "
Yao lie lu yang ditanya demikian parasnya berubah seketika untuk sesaat lamanya tidak mampu menjawab.
Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian segera mengerti bahwa dugaannya tidak mampu menjawab.
Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian segera mengerti bahwa dugaannya tidak salah Yao lie lu pasti membikin onar lagi diatas gunung Ciong lam san sebab gadis itu benci sekali terhadap Oey Bwee Cian.
"Karenanya kau bungkam? "
"Tidak, aku hanya melukai Oey Bwee Cian saja.
"Apa? Kau melukai Oey Bwee Cian? "
Menampak Tan Liong gusar Yo lie lu takut, maka ia tidak berani menjawab pertanyaannya.
"Yao lie lu."
Berkata pula Tan Liong.
"Kau benar-benar sangat jahat, ada perhubungan apa Oey Bwee Cian dengan kau? "
"Sebab .... sebab ...."
"Sebab apa? "
Wajah Tan Liong tampak bertambah bengis.
"Sekalipun aku mati ditangan bangkai berapi juga tidak sudi kau tolong."
Hati Yao lie lu merasa perih ketika mendengar perkataan Tan Liong itu hingga air mata mengalir turun dikedua pipinya.
"Engko Tan, aku sungguh cinta padamu."
"Perempuan tidak tahu malu siapa sudi menerima cintamu? Aku justeru benci sekali padamu. Chie Peng dan Chie Cui sampai menemui nasib seperti sekarang ini itu ada perbuatan siapa? Kau karena hendak mencapai maksudmu, dengan tanpa segan telah merusak keberuntungan orang lain, apa kau masih ada muka menemui aku? "
"Aku merasa dengki kepada mereka ...."
"Kenapa? "
"Aku kawatir mereka akan merampas dirimu dari tanganku."
"Bohong!
Sekarang aku minta kau segera enyah dari sini, hitung-hitung sebagai balas budimu, yang sudah menolong jiwaku tapi lain kali kalau bertemu lagi, aku Tan Liong tidak akan berlaku merendah lagi terhadap kau."
Sehabis berkata, dengan tanpa menoleh lagi lantas berjalan menuju kelembah Pek kut gam..
Yao lie lu cinta Tan Liong, itu memang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi, cuma cintanya terlalu picik, terlalu mementingkan dirinya hingga susah dimengerti oleh orang lain.
Ketika Tan Liong berlalu ia lantas memburu sambil berseru.
"Engko Tan Liong ...."
Tan Liong balikkan badannya, tubuh Yao lie lu lantas terjatuh dalam pelukannya. Untuk sesaat Tan Liong kesima, tapi kemudian lantas membentak.
"Kau, enyah dari sini ...."
Dan tangannya lantas menampar muka Yao lie lu. Yao lie lu merasa sakit dengan terhuyung-huyung ia mundur tiga tindak, saat itu mendadak dari dalam rimba terengar suara orang berkata.
"Bagus! "
Suara itu mengejutkan Tan Liong, ia segera berpaling, tapi tidak dapat lihat apa-apa. Saat itu Yao lie lu lantas berkata sambil menangis.
"Engko Tan, kau tidak seharusnya berlaku demikian terhadap diriku."
"Kenapa? Masih terlalu enak bagimu. Baiklah aku beritahukan padamu Yao lie lu kau ingin dapatkan cintaku di lain penitisan saja."
"Tan Liong, sejak kapan aku pernah mencelakakan dirimu? Mengapa kau membenci aku sampai demikian rupa? Katakanlah! "
"Meski kau belum pernah mencelakakan diriku, tapi beberapa gadis telah terjerumus karena perbuatanmu."
"Tapi itu karena aku cintaku ...."
"Kau Yao lie lu tahukah apa artinya cinta? Kau cuma tahu memuaskan nafsu serakahmu sendiri, lalu membikin celaka merusak keberuntungan orang lain. Aku katakan sekali lagi, kau enyah dari sini jangan membangkitkan kemarahanku."
"Kalau tidak, apa kau hendak bunuh mati aku? "
"Begitulah kiranya."
"Tan Liong, aku Yao lie lu tidak perlakukan sejahat yang kau anggap, beberapa kali jiwamu telah terancam bahaya adalah aku yang menolong jikalau tidak apa kau kira bisa hidup sampai hari ini?"
Berkata Yao lie lu sambil ketawa terbahak-bahak. Tan Liong tercengang sekian lama baru berkata.
"Kau menolong diriku soal lain, hal ini sudah tentu aku tidak melupakan kebaikanmu, tapi kau telah membuat aku berada dalam kesulitan dan penasaran sehingga tidak dapat berdaya bagaimana kau hendak memberi penjelasan? Apa kau sudah menolong jiwaku lantas boleh kau gunakan menebus dosamu? "
"Kalau begitu kau Tan Liong hendak berbuat apa terhadap diriku? "
"Putuskan perhubungan! "
Yao lie lu tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Bagus, tapi aku Yao lie lu tidak rela begitu saja, kau Tan Liong mulai hari ini juga tidak dapat meliwatkan hari depanmu dengan baik, kau lihat saja."
Sehabis berkata begitu ia lantas menghilang. Tan Liong dengan perasaan mendelu mengawasi berlalunya Yao lie lu, kemudian berkata kepada dirinya.
"Aku ingin lihat kau bisa berbuat apa? "
"Tuan, terhadap perempuan sesungguhnya terlalu keras hati."
Dmikian satu suara terdengar dibelakangnya, hingga ia terperanjat dan segera balikkan badan, entah sejak kapan, dibelakang dirinya ada berdiri seseorang.
Ketika Tan Liong dapat lihat siapa orang itu, wajahnya berubah seketika dan ia lantas berseru kaget.
"Kau Koan Beng? "
Orang itu ketawa hambar dan menjawab.
"Kenapa? Beberapa hari tidak ketemu, apa aku sudah berubah? "
Bukan kepalang kagetnya Tan Liong. Koan Beng dulu dipukul jatuh kedalam jurang olehnya, mengapa ia tidak binasa, bahkan muncul disini? Ia coba tenangkan hatinya, lalu berkata pula.
"Hal ini sebenarnya diluar dugaan."
"Apa kau Ciang bun jin anggap aku sudah mati? "
"Kalau begitu kedatanganmu ini untuk mencari aku? "
"Tepat."
"Kau mau apa? Hendak membikin perhitungan denganku? "
Koan Beng ketawa terbahak-bahak, kelakuannya itu membuat Tan Liong heran, hingga menanya pula.
"Kenapa kau ketawa? "
Koan Beng hentikan ketawanya dan berkata.
"Ciang bun jin terlalu rendah mengukur diri orang."
Kelakuan Koan Beng saat itu benar-benar membuat bingung Tan Liong seolah-olah selama beberapa puluh hari itu ada terjadi banyak perubahan atas diri pemuda itu.
"Saudara Koan, ceritakan maksud kedatanganmu ini, supaya siauwtee tidak menjadi bimbang hati."
Koan beng tersenyum dan berkata.
"Aku hanya ingin mencari keterangan tentang dirinya seseorang."
"Siapa? "
"Cu Lian."
"Apa perlunya kau mencari padanya? "
Koan beng tersenyum hambar, ia dongakkan kepala memandang langit nan biru, lama baru bisa berkata dengan suara sedih! "
Perkara yang sudah-sudah kita tidak usah bicarakan lagi, siauwtee sejak kau pukul jatuh ke dalam jurang, lantas berkeputusan akan merubah semua kelakuan dan menjadi orang baru lagi, sebab Koan Beng sudah membawa semua dosanya dan kejahatannya yang sudah lalu ke dalam kematiannya itu."
Ia memandang Tan Liong sambil ketawa getir dan berkata.
"Di bawah jurang itu ada terdapat tumbuhan rotan yang terjalin bagaikan sarang laba-laba, jalinan tumbuhan rotan itulah yang telah menolong jiwaku sehingga tidak binasa.
Setelah aku terhindar dari bahaya maut, aku dapat berpikir aku merasa bahwa sepasang tanganku telah berlepotan darah, namun Tuhan masih belum menghendaki aku mati maka harus menyesal dan menjadi orang baik.
Aku hendak mencari Cu Lian, aku ingin melihat Ie Liong sekali saja.
Jika Cu Lian mengampuni dosaku, aku akan mensucikan diri menjadi paderi selanjutnya akan menganut agama Budha."
Perubahan secara tiba-tiba ini benar-benar mengejutkan Tan Liong, ia benar-benar tidak menduga atau mengira kalau Koan Beng bisa berubah seperti ini.Perubahan seperti ini agaknya memang tidak mungkin.
Koan beng mengawasi Tan Liong yang memandang padanya dengan perasaan kaget dan sangsi lalu berkata pula.
"Bagaimana? Apa saudara Tan tidak percaya keteranganku?"
"Oh, tidak. Cuma perubahan saudara ini sesungguhnya terlalu menggembirakan hatiku. Kalau saudara Koan benar-benar bisa menyesali dan bisa menjadi orang baru lagi, siauwtee benar-benar sangat kagum."
"Perkara yang sudah lewat kita tidak usah bicarakan lagi sebab perkara perkara yang sudah lalu itu, sebetulnya tidak patut dibuat kenangan, bolehkah kiranya saudara Tan memberi tahukan padaku dimana tempat kediaman Cu Lian? "
"Kalau benar saudara Koan merasa menyesal terhadap dia maka dapatlah diharapkan kerukunan kembali antara kalian berdua."
"Siauwtee tidak mengharapkan tentang itu. Koan Beng ada seorang jahat yang tak dapat diampuni lagi dosa-dosanya, orang lain tidak akan mengerti tentang aku."
Katanya sambil menghela napas dalam-dalam.
"Dalam kalangan kaum Budha ada satu peribahasa yang berbunyi, Letakkan golok dan bertekad mengikuti ajaran Budha.
Saudara Koan beng dapat menyadari kesalahan sendiri sedalam-dalamnya sesungguhnya sangat mengagumkan.
Cuma Cu Lian ada seorang yang sudah mendapat pukulan hebat batinnya.
Saudara Koan Beng nanti bila berjumpa dengannya juga seharusnya bisa menghibur hatinya sebaik-baiknya."
"Aku sesungguhnya merasa terlalu tidak patut terhadap dirinya, sekalipun aku mati juga tak mampu menebus dosaku terhadap dirinya."
Terhadap perubahan Koan beng itu Tan Liong bukan saja merasa girang, tapi juga sangat kagum akan keberaniannya. Ia berkata sambil tersenyum.
"Nanti setelah aku berjumpa dengan Naga Merah, aku baru bawa kau mencari padanya."
"Siawtee memang pikir hendak ajak saudara Tan turut bersama-sama, kalau begitu inilah yang paling baik, atas budimu ini lebih dulu siauwtee ucapkan banyak-banyak terima kasih."
"Apa saudara Koan ingin berbuat sesuatu untuk kebaikan dunia Kangouw? "
"Koan Beng ada seorang yang sudah cacat namanya, mana ada suka muncul didunia Kang-zsouw lagi?
Asal aku dapat berjumpa dengan Cu Lian, aku lantas akan mengasingkan diri ketempat suci dan tidak akan unjukkan diri kedunia Kang-zsouw untuk selama-lamanya."
"Saudara Koan Beng hendak pergi ke Thian seng hwee atau tidak? "
"Tidak."
"Apa saudara Koan tahu bahwa Thian seng hwee pada hari hari belakangan ini bermaksud hendak menguasai dunia Kang-zsouw dan menelan partai rimba persilatan lainnya? "
"Ya, mengenai itu sudah kuketahui."
"Kau tokh sudah bertekad hendak menjadi orang baru, seharusnya melakukan sesuatu untuk memperbaiki namamu agar orang lain dapat mengerti, Jika kau suka aku ingin minta tolong satu hal darimu."
"Apa kau tidak mempunyai dendam terhadap perbuatanku dulu? "
"Tidak. Cu Lian membutuhkan kau, jika kau tidak mempunyai tanggapan keliru terhadap hubunganku dengan Cu Lian, aku sudah merasa puas."
Koan Beng berkata dengan air mata belinang-linang.
"Saudara Tan benar-benar seorang luar biasa dalam kolong langit ini kecuali kau barangkali tidak ada orang yang dapat mengerti diriku entah bagaimana Koan Beng harus membalas budimu ...."
Berkata sampai disitu ia sudah menangis tersedu-sedu.
Tan Liong lalu berkata sambil menepuk pundaknya.
Saudara Koan Beng tak usah berduka.
Mulai hari ini dan untuk selanjutnya biarlah kita bergandengan tangan bekerja bersama-sama untuk menegakkan keadilan didunia Kang-zsouw, bagaimana pendapatmu?"
"Jikalau saudara Tan memerlukan sekalipun harus terjun kalautan api aku Koan Beng juga tidak akan menolak untuk membalas kebaikan hatimu."
Baca Juga: Pendekar Cacad 8
Baca Juga: Pisau Kekasih Gu Long