Ceritasilat Novel Online

Naga Merah 10

Eps 10 Naga Merah - Khu Lung

Baca online Naga Merah - Khu Lung

Cersil Naga Merah - Khu Lung.

Bari habis ucapannya, dibelakangnya tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Bocah, kau dapat menyadari kesalahanmu dan bertekad hendak menjadi orang baru benar-benar patut dihargai. Tampaknya ini ada satu titik terang bagi orang-orang dari golongan kebenaran."

Tatkala Tan Liong berpaling entah sejak kapan Lam kek Sian ong sudah berdiri disitu. Dalam girangnya ia lantas menyambut.

"Locinpwee, tidak mengira kau kembali berada disini entah ada keperluan apa? "

"Mangkok ajaib yang kau berikan padaku aku masih belum mampu memahami pelajaran ilmu silat yang tertera diatas mangkok itu.

Hiat im cu berkata ia sendiri tak mengerti rasanya bukanlah bohong.

Kalau begitu tampaknya senjata bangkai berapinya Tok gan Lo koay benar-benar akan malang melintang didunia Kang-zsouw."

Berkata orang itu sambil menghela napas.

"Apa benar sudah tidak ada orang lagi yang sanggup memahami pelajaran ilmu yang terdapat diatas mangkok ajaib itu? "

"Tidak, kecuali satu orang ...."

Berkata Lam kek Sian ong sambil geleng-geleng kepala."

"Siapa? "

"Bu jie Thian sie"

"Bu jie Thian sie? "

Tan Liong balas menanya dengan kaget.

"Ya, asal dapat mencari Bu jie Thian sie mungkin ia dapat memahami, tapi orang itu kini tidak tahu dimana jejaknya, barangkali sukar ditemukannya."

Tan Liong coba mengingat-ingat ia seperti pernah dengar nama itu akhirnya ia ingat bahwa orang itu ia pernah berjumpa dilembah Hong hwee kok didalam barisan batu ajaib.

Ia mengawasi Lam kek Sian ong dengan perasaan sangsi kemudian ia menanya.

"Benarkah orang itu dapat memahami? "

"Orang itu mempunyai kecerdasan otak luar biasa, tidak perduli soal yang bagaimana sulitnya ia senantiasa dapat memecahkannya sehingga dapat nama julukan Bu jie Thian sie yang berarti surat dari langit tanpa tulisan.

Kecuali dia didalam kolong langit ini barang kali sudah tidak ada orang lagi yang mampu memahami ilmu silat yang terdapat diatas mangkok ajaib itu.

Tapi orang itu sudah lama menghilang dari dunia Kangouw dimana jejaknya sekarang sesungguhnya tidak mudah dicari."

"Tapi aku tahu dimana dia berada."

Lam kek Sian ong terperanjat, dengan cepat ia menanya.

"Apa kau kata? "

"Kataku, aku tahu dimana dia sekarang berada."

jawabnya Tan Liong sambil tersenyum.

"Apa ucapanmu ini benar? "

"Tidak salah, aku sudah pernah lihat orang itu."

"Dimana? "

"Dilembah Hong hwee kok."

Lam kek Sian ong tampak tercengang.

"Mengapa ia bisa berada didalam lembah Hong hwee kok? Apa ia bersekutu dengan Hiat im cu? "

Tan Liong gelengkan kepala.

"Dia tidak bersekutu dengan Hiat im cu melainkan dikurung didalam barisan batu ajaib oleh Hiat im cu sehingga ia tidak bisa keluar."

"Dia terkurung di dalam barisan batu hingga tidak bisa keluar? "

"Benar."

"Mungkin kau keliru, Bu jie Thian sie ada seorang tokoh luar biasa, jangan kata cuma barisan batu yang tidak berarti saja, sekalipun barisan Bi hun tin yang terkenal paling lihay juga tidak mampu mengurung dia."

"Tentang itu aku tidak berani jamin cuma ia telah memberitahukan kepadaku bahwa dia adalah Bu jie Thian sie.

Ia kata bahwa barisan batu itu adalah satu barisan dari jaman purbakala yang sudah lama lenyap dari muka bumi, karena kokohnya barisan itu ia tidak bisa keluar dari situ."

"Kau kata barisan itu sangat kokoh? "

"Benar."

Lam kek Sian ong bergidik, walaupun ia ada satu orang luar biasa pada waktu itu juga tidak bisa tahu entah barisan apa itu? "

Ya, dia tidak mampu memecahkan barisan itu ia kata bahwa di dalam barisan itu ia sudah berdiam lima tahun lamanya."

Lam kek Sian ong setelah berpikir sejenak lalu berkata.

"Kita harus berusaha untuk menolong keluar orang itu dari dalam barisan batu aneh itu supaya ia dapat memahami kepandaian ilmu silat yang tertulis diatas mangkok ajaib itu tapi ia sendiri tidak mampu memecahkan barisan batu itu ,,,, hingga ....

soal ini merupakan satu soal yang amat sulit.

" -o0o0dw0o0o-

Jilid KE . 33

"Barisan batu yang diciptakan oleh Hiat im cu itu sesungguhnya memang hebat sekali, aku pernah masuk kedalam barisan itu kalau bukan wanita cantik baju merah itu mungkin aku sendiri juga terkurung di dalamnya jika dengan demikian halnya mungkin benar sudah tidak ada orang yang memecahkan barisan itu."

Lam kek Sian ong bepikir keras sikapnya tampak sangat gelisah Tan Liong dan Koan Beng mengawasi dengan tanpa banyak bicara.

Tiba-tiba orang tua itu unjukkan sikap girang dari mulutnya meluncur perkataan.

"Ya, aku ingat."

Tapi setelah itu kembali diam.

"Locianpwee, ingat apa? "tanya Tan Liong heran.

"Aku ingat seseorang, tapi dia sudah tidak ada di dunia Kangouw lagi."

"Siapa? "

"Orang itu juga merupakan salah satu orang gaib yang mempunyai kepandaian luar biasa, terutama terhadap segala ilmu tin (barisan).

Pengertiannya dalam sekali, kalau bisa menemukan orang itu, kita tidak usah kawatir tidak mampu memecahkan barisan batu itu."

"Siapa dia? "

"Orang itu dapat nama julukan Sin kie cu"

Koan Beng dan Tan Liong lantas nyeletuk berbareng.

"Sin kie cu? "

Lam kek Sian ong anggukkan kepala dan menjawab.

"Benar, orang itu mendapat nama julukan Sin kie cu, tapi dimana tempat kediamannya aku tidak tahu."

Koan Beng kembali nyeletuk.

"Aku tahu dimana dia berada."

Ucapan Koan Beng itu mengejutkan Lam kek Sian ong dan Tan Liong.

"Kau tahu tempat kediamannya orang itu? "

Demikian Lam kek Sian ong menanya.

"Betul."

"Dimana? "

"Didalam sebuah goa dibawah kaki gunung Ciong lam san."

"Kalau begitu baik sekali tidak disangka kau bocah setelah memperbaiki kelakuanmu pertama sekali telah melakukan pekerjaan besar, benar-benar sangat menggembirakan."

"Aku cuma mengetahui tempat tinggalnya orang tua itu, apa itu merupakan satu pekerjaan besar?"

Koan Beng balas menanya dengan muka merah.

"Kalau diwaktu dulu apa kau sudi memberitahukan kepada kita tentang tempat tinggalnya orang itu? "

Perkataan Lam kek Sian ong itu membuat merah muka Koan Beng, lama tidak bisa membuka mulut.

"Baiklah, sekarang kita harus tolong membebaskan Naga Merah dulu, kemudian bersama-sama mencari Sin kie cu. Setelah itu kita pergi ke lembah Hong hwee kok untuk menolong Bun jie Thian sie, mungkin akan terjadi suatu pertarungan sengit."

Berkata Lam kek Sian ong.

Bertiga lalu masuk kelembah Pek kut gam, sebentar saja sudah tiba digoa dimana ada terkurung dirinya Naga Merah.

Lam kek Sian ong lalu memberi isyarat kepada Tan Liong, pemuda itu anggukkan kepala dan berjalan kemulut goa.

Berjalan beberapa tindak agaknya ingat sesuatu, ia lalu balikkan badannya menuju ketempat dimana sepuluh hari berselang pernah buang air kecil.

Dengan kakinya ia mengorek tanah, dimana ia telah mendapatkan kunci yang sudah tertimbun tanah.

Ia ambil anak kunci itu dan dibandingkan dengan anak kunci yang diberikan oleh Lam kek sian ong, ternyata ada serupa, hanya giginya yang agak berbeda, tapi kalau tidak diperiksa dengan teliti orang tidak dapat membedakan yang mana yang palsu dan yang mana yang asli.

Tan Liong simpan anak kunci yang palsu kedalam sakunya, ia berjalan lagi kemulut goa.

Dari dalam segera terdengar suara Naga Merah.

"Ciang bun jin, kau datang lagi? "

"Tidak salah Locianpwee, aku datang untuk menolong kau."

Naga Merah tongolkan kepalanya kemulut goa seraya berkata.

"Kalian datang bersama siapa? Apa tiga orang? "

"Benar, Lam kek siang ong juga datang."

Ketika didengar disebutnya nama Lam kek Sian ong, wajah Naga merah berubah seketika dengan cepat lantas menegur.

"Dia dimana? "

Tan Liong tahu bahwa Naga Merah itu sudah marah.

Tapi ia hanya tersenyum dan mengeluarkan anak kuncinya serta membuka pintu batu yang dikunci rapat.

Tatkala pintu terbuka dengan cepat Naga Merah melompat keluar.

Hampir dua puluh tahun lamanya ia terkurung dalam goa itu, maka begitu lekas mendapatkan kembali kemerdekaannya, bagiamana ia tidak kegirangan?

Begitu berada diluar goa, ia lantas ketawa terbahak-bahak, hingga lama menggema di sekitar lembah yang sunyi itu.

Sesosok bayangan orang, cepat luar biasa meluncur kesamping Naga Merah seraya berkata.

"Naga Merah kenapa kau ketawa? "

Naga Merah hentikan ketawanya, ketika melihat Lam kek Sian ong, wajahnya lantas berubah. dengan mata beringas ia membentak.

"Lam kek Sian ong, Naga Merah telah kau sekap hampir duapuluh tahun.

dendam sakit hati ini bukanlah ringan, maka kalau aku tidak mampu cincang dirimu, aku bersumpah tak mau jadi orang.

Baru ditutup mulutnya, tangannya sudah melancarkan serangan kearah dada Lam kek Sian ong.

Gerakan mendadak yang dilakukan oleh Naga Merah itu benar-benar luar biasa hebatnya bukan saja mengejutkan Tan Liong, sekalipun Lam kek Sian ong sendiri juga diam-diam merasa kaget.

Karena ia tidak bermaksud jahat terhadap Naga Merah, maka dengan gerak tipunya yang dinamakan Bidadari terbang diatas awan, dengan bagus sekali ia mengelakkan serangan Naga Merah yang amat dahsyat itu.

Tapi Naga Merah sudah merangsek lagi sambil berseru.

"Tua bangka she Ong, sekali lagi coba pukulanku ini."

Sebelum Lam kek Sian ong berdiri tegak serangan kedua Naga Merah sudah tiba.

Serangan kedua itu dirasakan oleh Lam kek Sian ong jauh lebih hebat dari serangan yang pertama, bukan kepalang kagetnya Lam kek Sian ong, ia sungguh tidak mengira bahwa selama hampir dua puluh tahun berada di dalam goa, kepandaian Naga Merah ternyata melampaui kepandaiannya sendiri.

Karena sudah tidak keburu menyingkir, maka ia berlaku untung-untungan, badannya melesat tinggi ke atas ....

Gerakan Lam kek Sian ong itu sudah cukup gesit dan hebat, tapi Naga Merah ternyata lebih cepat, hampir berbarengan dengan saat itu, terdengar pula bentakannya.

"Sambutlah pukulanku yang ketiga! "

Kembali ia melancarkan serangannya yang cepat dan hebat.

Tiga serangan yang dilancarkan saling menyusul dengan kecepatan bagaikan kilat itu hampir membuat Lam kek Sian ong tidak dapat bernapas.

....

Oleh karenanya, maka tidak ada jalan kain baginya, terpaksa ia berlaku nekad dengan mengeluarkan serangan pembalasan dari tangan kirinya.

Sebentar kemudian terdengar suara menggelegar lalu disusul oleh sesosok bayangan orang yang terpental sejauh satu tombak dan hampir rubuh ditanah.

Bayangan orang itu bukan lain dari pada Lam kek Sian ong yang terpental oleh serangan Naga Merah.

Tapi Naga Merah sendiri juga terpental mundur sampai lima langkah baru bisa berdiri tegak.

Semua itu berlangsung hanya dalam waktu yang sangat singkat, hingga orang tidak tahu gerak tipu apa yang digunakan oleh kedua belah pihak."

Ong Kim San, namanya menggemparkan dunia Kang-zsouw dan menjadi orang terkuat dalam masanya, benar-benar bukan cuma nama kosong belaka."

Demikian berkata Naga Merah smbil ketawa dingin.

"Tidak kusangka kau Naga Merah yang sudah kusekap hampir dua puluh tahun dalam goa masih ada mempunyai kepandaian demikian tinggi, apa kau tidak mengucapkan terima kasih padaku? "

Berkata Lam kek Sian ong sambil tersenyum, sedikitpun tidak mengucapkan gusar. Kesabarannya orang tua itu sesungguhnya melebihi manusia biasa.

"Tidak kusangka hampir dua puluh tahun aku melatih ilmu kepandaianku dengan tekun ternyata masih belum mampu menangkan kau dalam tiga jurus pukulan, maka untuk selanjutnya rekening ini aku hapus saja! "

Katanya Naga Merah sambil menghela napas.

"Apa? Kau tidak akan melanjutkan pertempuran lagi? "

Tanya Lam kek Sian ong heran.

"Aku sudah bersumpah kepada diriku sendiri, kalau dalam tiga jurus aku tidak bisa menangkan kau, aku tidak akan membikin repot kau lagi."

jawabnya Naga Merah sambil geleng kepala.

"Apa tadinya kau anggap dalam tiga jurus bisa menangkan aku? "

"Ya, dalam waktu hampir duapuluh tahun itu aku hanya meyakinkan dan melatih tiga jurus ilmu silat itu kecuali kau barangkali sudah tidak ada orang lagi yang mampu menyambuti seranganku ini."

"Barusan kalau kau cecar dengan seranganmu lagi, mungkin aku lantas mampus setidak-tidaknya juga akan terluka parah."

"Tapi aku sudah bersumpah cuma mengeluarkan tiga serangan. Kalau tidak karena sumpahku itu, siang-siang niscaya kau sudah menggeletak menjadi bangkai."

"Kalau begitu marilah kita sekarang berdamai! "

Kata Lam kek Sian ong sambil ketawa terbahak-bahak. Naga Merah cuma perdengarkan suara dari hidung. Tan Liong segera menghampiri dan berkata kepadanya."

Locianpwee, kau juga tidak perlu marah. Ong locianpwee ini datang kemari bersama aku, maksudnya justeru hendak membebaskan kau, terhadap kau sedikitpun tidak akan membikin celaka."

"Tua Bangka she Ong ini sudah mengurung aku hampir dua puluh tahun lamanya, dendam sakit ini tidak boleh tidak harus dibikin perhitungan."

Lam kek Sian ong menghampiri Naga Merah dan berkata padanya sambil tersenyum.

"Naga Merah, lohu dulu dengan menggunakan tipu muslihat mengurung kau dalam gua ini kala itu aku pernah berkata padamu asal kau bisa menyadari kesalahanmu dan menyesali atas perbuatanmu, aku akan membebaskan kau.

Selain daripada itu aku tahu kau ada meyakinkan dan melatih semacam ilmu silat luar biasa, maka dengan tersekap kau dalam goa itu, kau dapat melatih dengan hati tenang, tanpa ada gangguan soal asmara."

"Menurut kata-kata dari perkataanmu ini jadi kau tua bangka she Ong ada seorang baik? "

"Aku tidak berani berkata demikian, cuma kau mendapat hasil seperti hari ini seharusnya mengucapkan terima kasih padaku atau tidak? "

Naga Merah menjawab sambil ketawa dingin.

"Terima kasih kentut, aku sesungguhnya ingin pukul kau tiga kali lagi."

Lam kek Sian ong lalu berkata dengan sikap sungguh-sungguh.

"Naga Merah, kau disekap dalam goa ini, disebabkan perbuatanmu dulu-dulu yang telah membunuh banyak jiwa sesama manusia serta melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum Tuhan. Hari ini kau telah bebas, apa kau ingin melakukan sesuatu untuk kebaikan dan keadilan bagi rimba persilatan atau ingin melanjutkan perbuatanmu yang seperti dulu-dulu? "

Selagi Naga Merah hendak menjawab sudah didahului oleh Tan Liong.

"Ong Locianpwee, dia tidak akan seperti dulu-dulu lagi sebab ia hendak mencari Hiat hun Koay po."

Mendengar disebutnya nama Hiat hun Koay po, wajah Naga Merah berubah seketika.

"Dimana dia sekarang berada? "

Demikian tanyanya.

"Sekarang kau barangkali tidak mudah lagi untuk menemukan padanya,"

Berkata Lam kek Sian ong sambil tersenyum.

"Kenapa? "

"Sebab dia sudah gabungkan diri dengan Thian seng hwee, bahkan ada Tok gan Lo koay dan Hiat im cu yang melindunginya maka kalau kau hendak mencari padanya untuk mmbuat perhitungan itu bukanlah soal mudah."

"Apa ia berkomplot dengan Tok gan Lo koay dan Hiat im cu? "

"Benar."

Lam kek Sian ong lalu memberitahukan padanya apa yang telah terjadi didunia Kang-zsouw selama hampir dua puluh tahun ini.

Naga Merah mendengar dengan mulut menganga terutama ketika mendengar tentang senjata Tok gan Lo koay yang berupa bangkai berapi itu, diam-diam ia juga bergidik.

"Apa bangkai berapi sudah muncul? "

"Maka itu bencana sudah diambang pintu, kekuatan bangkai berapi itu tiada seorangpun yang dapat menaklukkan.

Kau Naga Merah hari ini muncul lagi didunia Kang-zsouw sedikit banyak akan turut memikul beban berat ini."

"Kalau memang benar begitu aku si Naga Merah terpaksa bersahabat dulu dengan kau si tua bangka ini. Cuma sekali aku tegaskan ini karena terpaksa."

Ia berdiam sejenak lalu berkata pula.

"Apakah Hiat im cu juga sudah ambil bagian pertikaian ini?"

"Tentang ini aku tidak berani memastikan cuma kemungkinannya memang ada."

"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan lebih dulu? "

"Mencari Bu jie Thian sie."

"Benar, asal dapatkan orang itu barulah dapat memahami pelajaran ilmu silat peninggalan si pengemis sakti pada dua ratus tahun berselang yang ia tulis diatas mangkok aneh."

"Orang itu sekarang ada dimana? "

Tanyanya si Naga Merah.

"Didalam lembah Hong hwwe kok."

"Lembah Honghwee kok? Apa ia tinggal bersama Hiat im cu? "

"Tidak, ia terkurung dalam barisan batu ajaib yang diciptakan olah Hiat im cu. Sekarang kita harus mencari Sin kie cu."

"Sin kie cu? Apa si tua bangka itu masih belum mampus? "

"Belum. Kabarnya kau si Naga Merah hubungannya dengan dia erat sekali bukankah kau dulu pernah menolong jiwanya? "

"Betul, betul, ia sekarang berada dimana? Asal aku pergi apa ia berani tidak keluar untuk menemui aku? "

Ia ketawa puas, sebentar saja ia sudah pulih kembali pada sifatnya yang periang seperti pada dua puluh tahun berselang.

"Kalau begitu kita andalkan kau Naga Merah seluruhnya, sekarang kita boleh segera berangkat untuk mencari padanya. Koan Beng sendiri akan mengantar kalian dan aku sendiri akan pergi ke lembah Mo jin kok untuk mencari Kiu cie Sian kow. Tan Liong terperanjat ia lalu bertanya? "

Mencari Kiu cie Sian kow? "

"Benar."

Tan Liong tiba-tiba ingat teka teki mengenai dirinya diberitahukan oleh Im yang Ie su maka ia lantas menanya kepada Naga Merah.

"Locianpwee, aku ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu apa locianpwee tahu hubungannya antara ayahku Tan Chiang Bin ibuku Cui hwa Sian cu dan Say siong go? "

Pertanyaan itu membuat kaget Naga merah, ia lantas menanya.

"Apa Tan Chiang Bin itu ada ayahmu? "

"Benar."

"Cui hwa Sian cu itu ibumu? "

"Mungkin ya, aku sendiri tidak jelas."

Naga Merah berpikir sejenak, lalu berkata pula.

"Kalau kau tidak menanyakan soal ini hampir aku lupa, bukankah ayahmu telah kabur bersama Siao hun lie Chie Bun bun dan meninggalkan Cui hwa Sian cu begitu saja? "

"Benar."

"Tentang ini, aku pernah dengar dari Kiu cie Sian kow, tapi bagaimana keadaan sebenarnya, aku sendiri juga tidak jelas. Sebetulnya aku bukan dilahirkan oleh Cui hwa Sian cu, apakah dilahirkan oleh Say siong go? "

"Juga bukan."

Mendengar itu Tan Liong semakin heran.

"Kalau begitu aku ini dilahirkan oleh siapa? "

"Hal ini hanya Tan Ciang Bin sendiri yang tahu, sebab kecuali Cui hwa Sian cu dan Say Siong go, dalam hal ini masih tersangkut dirinya wanita aneh" .

"Seorang wanita aneh? "

"Ya, seorang wanita aneh yang amat cantik dan gemar berpakaian warna merah."

Mendengar itu, Tan Liong seperti disambar geledek, dengan cepat ia lantas memotong.

"Wanita cantik baju merah? "

"Ya, wanita cantik baju merah. Ia sekarang mungkin sudah tua, itu ada persoalan yang terjadi pada beberapa puluh tahun berselang tapi bagaimana keadaan yang sebenarnya aku sendiri juga kurang jelas, tanya saja kepada Kiu cie Sian kow."

Tan Liong kembali terbenam dalam kebingungan sebab dengan tidak diduga-duga ia dengar pula tentang wanita cantik baju merah tapi mengenai asal usul dirinya sendiri masih tetap merupakan satu teka teki besar.

Ia bukan dilahirkan oleh Cui hwa Sian cu, juga bukan anaknya Say siong go, kalau begitu siapakah ibunya?"

"Apa benar Locianpwee sedikitpun tidak tahu? "

Demikian ia bertanya pula.

"Tidak tahu, hanya ayahmu Tan Chiang Bin yang mengetahui."

Tan Liong tak berdaya, ia tahu ditanya lagi juga sia-sia saja, maka ia lantas bekata kepada Lam kek Sian ong.

"Locianpwee, apa kau hendak mencari Kiu cie Sian kow? "

"Benar."

"Bukankah Locianpwee sudah berjanji hendak membantu aku membunuh wanita baju merah? "

Lam kek Sian ong mengiyakan ia seolah-olah ingat sesuatu, seketika itu ia lantas berkata sambil tersenyum.

"Aku dengar dari Im yang Ie su, kekuatanmu yang timbul dari lima biji buah Leng ci yang usianya sudah lebih dari ribuan tahun masih bermasalah? "

"Benar.

Menurut keterangan Im yang ie su kekuatan yang timbul dari lima biji buah Leng ci itu, telah tertimbun ditengah-tengah antara Thian tee cie kiauw.

Jika dapat ditembus, itu akan merupakan kekuatan yang seimbang dengan kekuatan dari latihan seratus tahun lebih."

"Ya, kalau begitu aku hendak bikin tembus kekuatan yang tertimbun itu, agar mengalir kedalam Cit seng Ceng meh, sehingga menjadi sangat berguna bagimu.

Cuma dengan kekuatanku seorang diri saja, aku masih belum mampu, meski kekuatanku sendiri lebih dari seratus tahun, juga masih belum mampu."

"Dan bagaimana kau hendak membantuku.? "

"Inilah aku terpaksa harus minta bantuan si Naga Merah."

"Bagaimana caranya untuk membantu? "

Tanya Naga Merah.

"Dengan kekuatan tenaga murnimu kau salurkan kedalam tubuhku, untuk menambah kekuatanku.

Dengan kekuatan kita berdua yang tergabung menjadi satu, sedikitnya tentu berarti kekuatan latihan dari dua ratus tahun keatas, dengan demikian dapatlah kita mendorong kekuatan Tan Liong yang tertimbun disatu pojok itu."

"Jika kekuatan yang tertimbun itu sudah ditembus, maka aku pasti dapat melawan wanita cantik baju merah .... ?"

Tanya Tan Liong.

"Jangan kata wanita baju merah itu, sekalipun semua orang kuat yang ada pada masa kini juga tidak akan sanggup menerima pukulanmu."

"Kalau Locianpwee dapat membantu aku dalam hal ini, entah bagaimana aku harus menyatakan terima kasihku pada Locianpwee."

"Terima kasih apa, cuma kau sekali-kali tidak boleh gunakan kekuatanmu ini dalam hal yang tidak benar, sehingga mengecewakan pengharapanku dan bantuan Naga Merah yang diberikan padamu."

"Boanpwee akan ingat pesan yang sangat berharga ini."

Lam kek Sian ong tidak banyak bicara lagi, ia perintahkan Tan Liong duduk bersila, setelah itu ia lalu memusatkan kekuatan tenaga dalamnya kedalam telapak tangannya dengan dibantu oleh kekuatan tenaga dalam Naga Merah, ia salurkan masuk ke dalam tubuh Tan Liong.

Hawa panas luar biasa mengalir ke dalam tubuh Tan Liong, hingga ia merasakan panas sekujur badannya dan pikirannya mulai kabur.

Entah berapa lama telah berlangsung ketika ia tersadar dan membuka matanya ia telah dapatkan Lam kek Sian ong dan Naga Merah duduk bersila sambil mengatur pernapasannya.

Perlahan-lahan Tan Liong bangkit, ia merasa sangat terharu hingga air matanya mengalir keluar.

Ia hanya mengawasi saja kepada kedua orang tua itu, tidak tahu apa yang harus dibuat.

Selesai mengatur pernapasannya, Lam kek Sian ong membuka mata lalu berkata kepada Tan Liong sambil ketawa hambar.

"Tan Liong, mengapa kau berduka, seharusnya kau merasa girang karena kau sekarang sudah menjadi seorang terkuat dalam kalangan Kangouw."

"Locianpwee, aku tidak tahu bagaimana harus membalas budimu ini? "

"Asal kau tidak melupakan maksud dan tujuanku untuk membantu kau dan untuk kau menyempurnakan kekuatan tenaga dalammu ini sudah cukup."

Saat itu Naga Merah juga sudah selesai dalam usahanya untuk memulihkan kekuatannya, maka Lam kek Sian ong lantas berkata.

"Sekarang aku harus pergi, tujuh hari kemudian kita berjumpa lagi dilembah Hong hwee kok."

Sehabis itu ia lantas berlalu dan sebenatar sudah menghilang dari depan mata.

Sedang Naga Merah bersama Tan Liong dan Koan Beng melakukan perjalanan ke gunung Ciong lam san.

Pada hari itu juga Koan Beng telah ajak dua orang itu ke dalam goa di mana dulu ia telah dipukul jatuh ke dalam jurang oleh Tan Liong.

Betul seperti apa yang dikatakan oleh Koan Beng kepada Tan Liong, terpisah kira-kira tiga tombak diatas tanah di tebing tinggi itu ada terdapat tumbuhan pohon rotan yang menyerupai sarang laba-laba.

Oleh karena jatuhnya Koan Beng persis di atas pohon rotan itu maka tak sampai binasa.

Tiga orang itu ketika tiba diluar goa, dari dalam segera terdengar suara orang tua.

"Tak disangka hari ini di bawah tebing Pek hwa gam ini bisa kedatangan tiga tetamu, maaf atas kealpaanku Sin kie cu yang agak terlambat menyambut."

Saat itu dari dalam goa tampak berjalan keluar seorang tua berpakaian imam. Koan Beng yang lebih dulu maju dan memberi hormat seraya berkata.

"Locianpwee, maafkan boanpwee telah membawa orang untuk mengganggu."

Naga Merah lantas lompat maju dan berkata dengan nada gembira.

"Hai, kau si orang tua ini ternyata telah sembunyikan diri ditempat ini, bagus sekali kelakuanmu situkang meramal.

Hampir dua puluh tahun aku disekap di dalam goa, kau tidak menengok atau memberi pertolongan, maka sekarang jangan kau sesalkan kalau aku nanti bikin patah tulang igamu."

"Hukumanmu itu memang sudah seharusnya kan? Aku kata betul atau tidak?"

Jawabnya Sin kie cu sambil tersenyum.

"Sudah, sudah, siapa tidak tahu kau Sin kie cu memang pandai putar lidah, Adakah kau tahu maksud kedatangan kita hari ini? "

"Sudah tahu, cuma ini merupakan persoalan yang sangat pelik, sebab tujuh hari kemudian dalam lembah Hong hwee kok akan kehilangan banyak jiwa manusia ...."

"Siapa-siapa yang akan mampus? "

"Rahasia alam tidak boleh dibocorkan! "

"Kalau begitu apa kau tidak bersedia pergi kesana? "

"Bu jie Thian sie dahulu adalah sahabat karibku, sudah tentu aku pergi. Cuma Hiat im cu sudah mengetahui maksud kita yang hendak datang kelembah Hong hwee kok."

"Bagaimana ia tahu? "

"Oleh orang-orang rimba persilatan ia dianggap sebagai kepala dari tiga ‘Cu’ apa ia ada begitu bodoh sehingga tidak dapat menduga maksud kita?

Maka pertumpahan darah besar-besaran di lembah itu sudah tentu tidak dapat dihindarkan lagi."

Tan Liong terperanjat, cepat ia menanya.

"Benarkah ucapan locianpwee ini? "

"Pinto, sejak berkecimpung di dunia Kangouw hingga saat ini belum pernah membohong, tuan boleh segera berangkat ke Ciong lam san untuk membuktikan sendiri."

Sehabis berkata begitu ia mengeluarkan sebutir pil diberikan kepada Tan Liong seraya berkata.

"Obat ini kau berikan kepada Oey Bwee Cian supaya diminum, setelah kau bantu menyembuhkan lukanya ia segera akan sembuh.

pergilah dalam waktu tujuh hari kau masih harus pergi ke lautan Utara untuk menolong dirinya Pek lek cu."

Setelah menyambuti pil itu Tan Liong berkata.

"Disini boanpwee mengucapkan terima kasih atas pemberian obat itu, juga atas nama Oey Bwee Cian dan Ciong lam pay boanpwee mengucapkan banyak terima kasih.

Dalam waktu tujuh hari boanpwee pasti akan berusaha pula untuk menolong jiwa Pek lek cu."

"Kali ini dalam perjalananmu kepada Hian peng kauw dilautan utara kau harus bertindak dengan melihat gelagat kalau kau dapat menghadapi dengan tepat mungkin hanya akan menemukan kekagetannya saja tidak mendapat bahaya jikalau tidak kau tidak akan terlepas dari ancaman tangan iblis."

"Boanpwee akan ingat baik-baik pesan locianpwee ini dan kini boanpwee minta diri."

Jawabnya Tan Liong dengan sikap menghormat dan setelah itu ia bersama Koan Beng melakukan perjalanannya ke gunung Ciong lam san.

Perjalanan itu tidak memerlukan banyak waktu tidak antara lama kuil yang menjadi tempat kedudukan partai Ciong lam pay sudah terlihat didepan mata.

Dengan sekonyong-konyong Koan Beng hentikan kakinya di atas gunung itu ia merasa seakan akan telah melakukan suatu perbuatan yang tidak dapat dimaafkan.

Mengingat akan perbuatannya yang sudah lalu sudah tentu ia tidak mempunyai keberanian injak kaki disitu lagi.

Tan Liong menyaksikan keadaan Kong Beng merasa agak heran lalu menanya.

"Saudara Koan mengapa tidak jalan? "

"Aku ingat perbuatanku yang lalu aku merasa bahwa aku pernah menyiram darah di atas gunung Ciong lam san ...."

Jawabnya Koan Beng sambil ketawa getir.

"Apa yang sudah lalu kita jangan bicarakan lagi mari jalan."

Koan Beng bersangsi sejenak akhirnya ia ikut Tan Liong naik ke atas gunung.

"Saudara Tan, kau pikir apakah adik Cu Lian masih mau memberi maaf padaku? "

Koan Beng mendadak menanya.

"Sudah tentu bisa."

"Asal ia mau memberi maaf padaku aku sudah puas."

Kwee Yam San yang bertugas melakukan penjagaan di atas gunung itu ketika melihat datangnya dua bayangan orang tampaknya terkejut.

Tapi begitu melihat bahwa salah satu di antara dua orang itu adalah Tan Liong ia semakin heran hingga mundur setindak seraya menanya.

"Kau .... adakah kau Tan Liong? "

"Tidak salah aku adalah Tan Liong."

jawabnya sambil ketawa hambar. Dan ketika Kwee Yam San melihat Koan Beng wajahnya berubah seketika. Tan Liong tahu bahwa Kwee Yam San salah paham pada Koan Beng maka ia lantas berkata sambil ketawa.

"Kwee Tiancu, kau jangan kaget, saudara ini datang bersama aku, sudah tentu tiada mengandung maksud jahat, Tiancu tak usah kuatir."

"Bukankah kau sudah binasa? "

"Tapi kini aku hidup kembali."

Jawabnya Tan Liong sambil ketawa.

"Tolong Kwee Tiancu sampaikan kepada Ciang bunjin, bahwa Tan Liong datang berkunjung."

Dengan hati penuh tanda tanya Kwee Yam San mengawasi sejenak.

Ia benar-benar tak habis pikir.

Tan Liong yang dikabarkan sudah mati mengapa mendadak bisa muncul di gunung Ciong lam san?

Karena dulu dia ketua Ciong lam pay sudah tentu harus diperlakukan secara terhormat.

Maka seketika itu ia lantas berkata dengan sikap menghormat.

"Kalau begitu, harap jiwi tunggu sebentar aku akan kembali lagi."

Munculnya kembali Tan Liong benar-benar telah menggemparkan orang-orang Ciong lam pay, juga Oey Bwee Cian tidak terkecuali terheran-heran.

Yang paling sulit kedudukannya ialah Tiancu bagian hukum Li Tiauw Yang karena Tan Liong dulu ada ketua Ciong lam pay dan kini jabatan itu sudah diserahkan kepada Oey Bwee Cian diluar tahunya bagaimana ia harus menjelaskan padanya?

Maka dengan cepat ia bersama Ciong Lam Cit hiong atau tujuh jago dari Ciong lam pay serta Chio bin Ie hiap itu tabib yang membebaskan Tan Liong dari kamar tahanan lari turun ke bawah gunung.

Ditengah perjalanan Chio bin Ie hiap berkata kepada Li Tiauw Yang masih belum hilang kagetnya.

"Li Tiancu mengapa kau heran? "

"Tan Liong sudah tewas di Thian seng hwee tapi sekarang mendadak muncul disini karena ia dulu ada Ciang bunjin partai kita tapi jabatan itu kini sudah diserahkan kepada Oey Bwee Cian."

"Apa kau anggap Tan Liong benar-benar sudah tewas di Thian seng hwee? "

Mendengar pertanyaan tabib tua itu Li Tiauw Yang dan tujuh jago Ciong lam pay pada hentikan kakinya semua mata ditujukan kepada tabib kenamaan itu.

"Betul. Memang benar ia sudah mati di Thian seng hwee."

"Kau salah.

Tan Liong sebetulnya belum tewas, aku sebetulnya tidak akan membocorkan rahasia ini tapi karena Tan Liong kini sudah muncul lagi di atas gunung ini maka aku sekarang hendak menjelaskan duduknya perkara.

Tan Liong tidak membutuhkan jabatan Ciang bunjin, pemuda wajah jelek itu adalah Tan Liong.

...."

"Apa? "

Demikian Li Tiauw Yang dan lain-lainnya menanya hampir berbareng.

"Apa pemuda berwajah jelek itu adalah Tan Liong? "

"Betul, pemuda jelek itu adalah dia karena waktu itu aku telah dipesan wanti-wanti maka aku tidak membuka mulut, sebab dengan wajahnya yang sudah berubah jelek itu ia merasa rendah diri hingga tidak suka menjabat jabatan Ciang bunjin."

"Ow, pantas saja tingkah lakunya agak mencurigakan."

"Tan Liong ada seorang yang berhati lapang, jujur karena ia sendiri yang tidak mau jabatan itu maka kita tidak bisa berbuat apa-apa tapi terhadap Ciong lam pay boleh dikata besar sekali jasanya...."

"Jikalau tidak ada Tan Liong, Ciong lam pay barangkali sudah dimusnahkan oleh Thian seng hwee maka orang ini didalam mata dan hati kita mempunyai kedudukan jauh lebih tinggi dari pada Oey Ciang bunjin sendiri" . Sementara itu mereka sudah tiba dihadapan Tan Liong. Li Tiauw Yang bersama tujuh jago Ciong lam pay dengan berbareng lantas berlutut memberi hormat seraya berkata.

"Teecu hunjuk hormat kepada Ciang bunjin ...."

Tan Liong tersipu-sipu ia berkata dengan suara gelagapan.

"Eh .... eh .... mana boleh begitu .... bangun! "

Li Tiauw Yan dan tujuh jago lalu bangkit dan berdiri disamping dengan sikap menghormat seolah-olah menyambut kedatangan ketuanya. Chio bin Ie hiap lalu berkata sambil ketawa.

"Ciang bunjin berapa bulan tidak bertemu apa keadaan ada baik? Tidak disangka wajahmu sudah pulih seperti sedia kala, disini aku haturkan selamat."

"Oey Bwee Cian barulah Ciang bunjin Ciong lam pay karena didalam partai tidak boleh ada dua ketua maka tuan-tuan panggil aku Tan Liong saja."

"Tadinya tuan memang adalah Ciang bunjin kita ...."

"Sekarang jabatan itu sudah dipegang oleh Oey Bwee Cian maka urusan ini tidak usah dibicarakan lagi."

"Jika bukan tuan, partai Ciong lam pay barangkali sudah lama hancur ditangan orang-orang Thian seng hwee."

"Karena aku sudah terima baik pesan Yo Swie peng siansu sudah pada tempatnya kalau aku keluarkan tenaga, ini ada merupakan keharusan.

Untuk apa kalian pikirkan Tan Liong tidak bisa menjabat kedudukan ketua kiranya Yo siansu juga akan memaafkan kesulitanku, tapi selanjutnya Ciong lam pay ada urusan sudah tentu Tan Liong tidak akan berpeluk tangan."

Ia berdiam sejenak lalu berkata pula.

"Kabarnya Ciang bunjin telah terluka ditangan Yao lie lu? "

"Betul."

"Kalau begitu marilah kalian antar aku menengok padanya."

Li Tiauw Yang anggukkan kepala pada saat itu tujuh jago agaknya baru dapat lihat Koan Beng hingga wajah mereka lantas berubah. Tan Liong segera memberi keterangan.

"Tuan-tuan jangan kaget, saudara Koan dulu memang sudah pernah tersesat hingga digunakan sebagai kaki tangan oleh Thian seng hwee tapi sekarang sudah menyesal dan sudah berjanji hendak rubah semua kesalahannya harap perlakukan secara hormat."

Ia lalu menanyakan kediaman Cu Lian, kemudian bersama rombongan Li Tiauw Yang menuju kedaerah perumahan.

Daerah perumahan itu terletak dibelakang kuil Ciong lam koan, penghuninya sebagian besar dari kaum wanita, yang merupakan keluarga orang-orang Ciong lam pay.

Cu Lian berdiam disebuah rumah yang kecil mungil bentuknya.

Sejak ia berada di Ciong lam san, Ouy Bwee Cian telah perlakukan padanya sangat baik maka selama itu ia terus berdiam diatas gunung dengan sebetulnya didunia yang lebar ini, untuk mendapat satu tempat, meneduh juga bukan satu hal yang mudah.

Tan Liong mengawasi Koan Beng sejenak lalu berkata padanya."

Saudara Koan masuklah baik-baik dan hibur padanya, kau harus menyatakan kesalahanmu jangan melukai hatinya lagi."

Koan Beng anggukkan kepala, karena terpengaruh oleh perasaannya hingga badannya gemetaran.

Tan Liong perlahan-lahan undurkan diri.

Seharusnya ia tengok sekali lagi wanita bekas kekasihnya yang tidak beruntung itu tapi ia tidak mempunyai keberanian.

Ia hanya berdoa dalam hatinya "Biarlah Tuhan melindungi mereka."

Ketika ia tiba di Yang sin tian hatinya bersangsi sebab ia sekarang sudah pulih kembali wajahnya, kalau nanti Oey Bwee Cian berjumpa padanya entah reaksi apa yang akan timbul?

Oleh karena itu maka ia lantas batalkan maksudnya hendak menengok Oey Bwee Cian.

Ia keluarkan obat pil pemberian Sin kie cu lalu diberikan kepada Li Tiauw Yang seraya berkata.

"Li Tiancu, pil ini harap kau berikan kepada Cian bunjin supaya diminum harap jangan beritahukan padanya tentang kedatanganku ini ...."

"Tapi ia sudah tahu kalau kau datang."

"Ow! Tapi kalian beritahukan padanya, karena ada urusan penting, maka aku sudah pergi lagi, aku harus segera berangkat kelautan utara untuk menolong jiwa Pek lek cu dari bahaya maut."

"Mana boleh begitu kau sudah merupakan salah satu anggota Ciong lam pay, bagaimana begitu cepat berlalu? "

Tan Liong memberi tahukan padanya bahwa dalam perjalanannya ke lautan utara ini ada hubungan sangat penting dengan dunia rimba persilatan, oleh karena itu, maka Li Tiauw Yang juga tidak berani menahan.

Ia membiarkan Tan Liong meninggalkan Ciong lam san.

**dw** Salju beterbangan bagaikan kapas ditiup angin, seluruh jagat diliputi warna putih, hawa udara daerah utara pada waktu musim dingin tiada kedapatan sejengkal tanah warna merah.

Dengan seorang diri Tan Liong berjalan tanpa mengenal waktu setelah melalui propinsi Jehol lalu mengambil jalan ketimur menuju kepulau Hian Peng to.

Sebuah gunung es, tampak berdiri tegak ditengah lautan.

Disebuah kota kecil dipantai utara Tan Liong berhenti untuk mengisi perut.

Sehabis makan baru saja hendak keluar, seorang wanita muda berpakaian warna biru mendadak menegur padanya."

Tuan barangkali adalah tuan Tan Liong Ciang bunjin partai Ciong lam pay yang namanya menggemparkan daerah Tionggoan."

Tan Liong diam-diam terperanjat, kedatangannya ke pulau Hian peng kauw itu, keculai orang-orangnya sendiri tak ada orang lain yang mengetahui bagaimana nona ini, yang belum pernah dikenalnya dapat mengetahui namanya?

Maka ia lantas menjawab.

"Tak salah, aku yang rendah adalah Tan Liong."

"Apakah kau hendak menolong Pek lek cu? "

Kembali nona itu menanya sambil tersenyum.

"Bagaimana nona bisa tahu?"

Tan Liong balas menanya dengan perasaan heran.

"Apa kau heran, aku telah diutus untuk menyambut kedatangan Ciang bunjin yang hendak pergi ke pulau Hian peng kauw."

Bukan kepalang kagetnya Tan liong ia sungguh tak mengira bahwa orang-orang Hian peng kauw sudah mengetahui maksud kedatangannya ke pulau Hian peng to yang hendak menolong dirinya Pek lek cu, dengan demikian dalam perjalanannya ini pasti akan mengalami banyak kesulitan yang menantikannya.

Nona baju biru itu keika menyaksikan sikap Tan Liong, lantas ketawa geli seraya berkata.

"Ciang bunjin, mengapa kau kaget? Waktu cepat berlalu, lebih baik kita lekas-lekas naik perahu."

"Apa kedatangan nona ini atas perrintah kauwcu? "

"Legakan hatimu, kedatanganku untk menyambut kau ini bukanlah atas perintah kauwcu."

"Lalu atas perintah siapa? "

"Tentang ini aku hendak pegang rahasia, setelah kau nanti kesana, kau pasti akan tahu."

Tan Liong tampak bersangsi, nona baju biru itu lalu berkata pula.

"Ciang bunjin tak berani pergi? Apa takut aku akan mencelakakan dirimu? "

Ucapan ini telah membangkitkan harga diri Tan Liong, dengan tanpa pikir ia lantas menyahut dengan suara dingin.

"Sekalipun ke gunung pedang aku Tan Liong juga tak takut."

"Kalau begitu marilah kita berangkat."

Otak Tan Liong penuh dengan berbagai pertanyaan, ia tak tahu entah siapa yang memerintahkan nona baju biru ini untuk menyambut kedatangannya.

Tapi dalam keadaan demikian mau tak mau ia terpaksa keraskan hati untuk mengikut nona itu.

Tepat pada saat Tan Liong dan nona baju biru itu berjalan keluar dari rumah makan seorang laki-laki setengah umur berbaju kelabu dan menggendong pedang dipunggungnya yang duduk disatu dalam rumah makan tersebut juga segera bangkit pelahan-lahan.

Sambil mengawasi bayangan dua muda-mudi itu menghela napas kemudian dengan gerak kakinya yang gesit ia berjalan mengikuti jejak Tan Liong.

"Siapakah orang laki-laki itu ....? "

Tan Liong dan nona baju biru itu berjalan laksana terbang sebentar saja sudah tiba dipantai laut, disana sudah menantikan sebuah perahu layar.

Dengan gerak tubuhnya yang ringan dan gayanya yang manis nona baju biru itu melayang keatas perahu.

Perbuatan itu segera diikuti oleh Tan Liong.

Tiba diatas perahu nona baju biru itu lalu berkata.

"Ciang bunjin sekarang kita berangkat."

Tan Liong anggukkan kepalanya, nona baju biru itu segera pasang layarnya dan mengangkat jangkar perahu itu lantas berlayar menuju kepulau Hian peng to.

"Diatas perahu banyak angin, sebaiknya ciang bun jin mengaso di dalam saja."

Berkata si nona itu sambil memandang Tan Liong.

Tan Liong anggukkan kepala, meski otaknya masih diliputi berbagai pertanyaan tapi diluarnya tetap mengunjukkan sikap tenang.

Sesaat pada waktu nona baju biru itu melangkah masuk ke dalam kamar tiba-tiba ia berseru kaget dan lantas mundur lagi.

Ketakutan nona itu mengejutkan Tan Liong.

Tatkala ia melongok ke dalam kamar.

disitu ada duduk seorang laki-laki setengah umur berpakaian warna kelabu.

Dengan paras berubah nona baju biru itu lalu menegur.

"Tuan siapa? Kenapa ada di sini? "

Laki-laki itu geser tubuhnya, sambil mengawasi Tan Liong dan nona baju biru itu ia berkata.

"Bukankah perahu ini hendak berlayar ke pulau Hian peng to? "

"Tidak salah."

"Nah, aku juga hendak pergi kesana."

"Tapi perahu itu tidak memuat penumpang lain, silakan tuan naik lagi ke darat."

jawabnya si nona itu dingin.

"Apa kau takut aku membuka rahasiamu? Nona tidak usah kuatir, aku tidak akan memberitahukan kepada siapapun juga bahwa kau diam-diam membawa orang laki-laki kepulau Hian peng to."

Berkata laki-laki itu sambil tersenyum.

Mendengar itu paras nona itu berubah pula agaknya lelaki setengah umur ini telah mengetahui rahasianya.

Tan Liong ketika mendengar suara lelaki itu hatinya bercekat, ia seperti kenal suara itu, tapi entah dimana, ia sudah tidak ingat lagi, maka ia lantas menanya kepada nona baju biru itu.

"Apa nona tidak kenal dia? "

Tapi nona itu tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya mengawasi dengan sinat mata gusar kepada lelaki setengah umur itu seraya berkata.

"Kau siapa? "

"Ini! Nona tidak perlu tahu."

"Aku minta supaya segera kau enyah dari sini, kalau tidak jangan sesalkan kalau aku berlaku kasar terhadap kau."

"Nona sebetulnya agak keterlaluan, aku ada urusan hendak pergi ke pulau Hian peng to, kalau anggap aku akan menghalangi nona, aku boleh duduk diatas dek saja."

"Numpang tanya, hendak mencari siapa tuan pergi ke pulau Hian peng to? "

Tanya Tan Liong.

"Tentang ini Ciang bunjin tidak perlu tahu."

Ia berdiam sejenak dan berkata pula.

"Bolehkah Ciang bunjin menolong aku agar bicarakan dengan nona ini? "

Tan Liong mencari ingin tahu siapa adanya laki-laki itu tetapi ia tetap tidak ingat suaranya itu tak asing baginya, namun sudah tidak ingat dimana ia pernah dengar suara itu.

"Kalau kau memang tidak boleh tidak harus pergi kesana, lebih satu orang juga tidak menjadi soal nona, biarlah berlayar bersama-sama"

Demikian ia berkata. Tapi nona baju biru itu tampaknya amat gelisah, sambil membanting kakinya ia berkata.

"Ini mana boleh? "

"Kenapa tidak boleh? "

Bertanya laki-laki setengah umur itu.

"Aku jamin tiada seorang pun yang bisa tahu kau bawa aku kesana."

Sehabis berkata laki-laki itu perlahan lahan bangkit dan keluar dari kamar.

Tan Liong tidak mau tinggal dalam kamar bersama-sama si nona ia masih tetap berdiri diatas dek.

Ia mengawasi laki-laki yang tenang berdiri dipinggir perahu, sambil memandang laut, diam-diam ia menduga bahwa laki-laki ini pasti ada orang berkepandaian sangat tinggi.

Mendadak ia dengar laki-laki itu berkata padanya.

"Ciang bunjin, diatas dek banyak angin sebaiknya mengaso di dalam kamar."

Tan Liong dalam hati merasa heran mengapa ia mengetahui dirinya.

"Numpang tanya, ada urusan apa kau hendak kepulau Hian peng kauw? "

"Dan Ciang bunjin sendiri kepulau itu ada urusan apa? "

Demikian balas menanya laki-laki itu.

"Kau ingin menolong Pek lek cu hanya dengan tenagamu sendiri barangkali tidak mudah."

"Bagaimana kau tahu aku hendak menolong Pek lek cu? "

Tanya Tan Liong.

"Aku ....? Kapan aku memberitahukan kepadamu? "

"Kalau kau sudah lupa yah, sudah, lima hari kemudian dalam pertempuran di lembah Hong hwee kok bomnya Pek lek cu tak boleh ketinggalan."

"Siapakah sebetulnya kau ini? "

"Aku? "

Laki-laki itu mendadak ketawa terbahak-bahak.

"Di kemudian hari kau akan tahu sendiri. Ayahmu Tan Chiang Bin sudah tidak ada di Thian seng hwee lagi? "

"Betul ? "

"Betulkah kau jatuh cinta kepada wanita cantik baju merah? "

Mendengar pertanyaan itu mata Tan Liong dibuka lebar-lebar dengan perasaan kaget dan terheran-heran ia mundur dua tindak, lama tak bisa menjawab, Laki-laki itu berkata pula sambil tertawa hambar.

"Ia adalah bunga mawar berduri harap Ciang bunjin berlaku hati-hati."

"Bagaimana kau tahu? "

"Aku tahu terlalu banyak sekali, tahukah kau siapa adanya wanita cantik baju merah itu? "

"Apa Hiat im cu? "

Laki-laki itu tampak berpikir sejenak baru berkata.

"Membuka kedok Hiat im cu.

kau segera mengetahui siapa adanya wanita cantik baju merah itu.

Hiat im cu merupakan sumber dari segala sumbernya bencana dunia Kang-zsouw dan kini ditambah dengan Tok gan Lo koay, Hiat hun Koay po dan Siao hun lie yang baru-baru ini menjabat ketua Thian seng hwee, maka dalam pertempuran dahsyat yang akan berlangsung di lembah Hong hwee kok, bagaimana kesudahannya sesungguhnya susah diduga."

"Apakah Hiat im cu sudah tahu kalau kita hendak menolong Bu jie Thian sie? "

"Sudah tentu tahu."

Tan Liong melengak.

"Bagaimana ia dapat mengetahui hal ini? "

"Kau terlalu pandang rendah diri Hiat im cu.

Kepandaian, kecerdasan, kekuatan orang ini jauh di atas orang-orang kuat dunia Kang-zsouw yang ada pada dewasa ini.

Setiap gerak gerik orang tak akan lolos dari matanya."

"Kalau begitu siapakah yang akan merebut kemenangan dalam pertempuran di lembah Hong hwee kok nanti? "

"Tentang ini siapapun tidak dapat menduganya hanya yang sudah pasti adalah korban jiwa manusia yang tak dapat dielakkan lagi."

"Jika bangkai berapi digunakan dalam pertempuran itu siapapun tak dapat memasuki lembah Hong hwee kok."

"Itulah sebabnya orang-orang rimba pesilatan daerah Tionggoan jika hendak menolong Bu jie Thian sie sudah pasti akan menjumpai banyak rintangan."

"Jika tidak dapat menolong Bu jie Thian sie bukankah itu berarti tidak dapat memecahkan senjata bangkai berapi yang amat dahsyat itu? "

"Ini juga belum tentu."

"Apa artinya perkataanmu ini? "

"Kekuatan sendiri sudah cukup untuk menahan kekuatan bangkai berapi itu."

"Aku.? "

"Ya, kekuatanmu pada dewasa ini sekalipun Hiat im cu atau Lam kek Sian ong juga masih belum mampu menandingi ilmu pukulanmu.

Im ciang dapat menahan hawa panasnya bangkai berapi jika kau dapat menghadapinya dengan tepat pasti dapat mengurangi jumlahnya korban jiwa."

"Kalau begitu ada perlu apa kau hendak pegi kepulau Hian peng kauw? " -o0o0dw0o0o-

Jilid KE . 34

"Tidak ada keperluan apa-apa, cuma sekarang aku harus beritahukan padamu nanti jam tiga menjelang pagi, kau harus ingat dan tunggu aku ditempat berlabuhnya perahu ini, sekarang kau masuklah ke kamar! "

Belum lama Tan Liong berada di dalam kamar, perahu itu sudah tiba dipulau Hian peng to.

Nona baju biru itu telah rapatkan perahunya di salah satu tempat, sedang laki-laki setengah umur itu masih berdiri tegak di atas dek dengan tidak bergerak.

"Tuan hendak kemana? Ini sudah tiba di pulau Han peng to."

Berkata nona baju biru dengan suara dingin.

"Kau pergilah. aku disini menunggu Ciang bunjin."

"Perlu apa kau menunggu padanya? "

"Tentang ini aku sudah bicarakan dengan Ciang bunjin, kau boleh menanya sendiri kepadanya."

Meski Tan Liong tidak mengerti kedatangan laki-laki aneh itu, tapi ia mau menduga bahwa kedatangannya itu pasti ada mengandung maksud tertentu, karena tampaknya bukan seperti orang dari golongan jahat, mengapa tidak mau memberi bantuan padanya.

Maka ia lekas berkata.

"Nona, mari kita pergi ia akan disini menunggu aku pulang."

Nona baju biru itu terpaksa naik ke darat bersama-sama Tan Liong.

"Nona sebetulnya diperintah oleh siapa? Harap suka bicara terus terang."

Demikian Tan Liong ulangi lagi pertanyaannya yang selama itu belum dapat jawaban pasti.

"Kau nanti akan tahu sendiri, sekarang perlu apa banyak bicara? Jika Ciang bunjin tidak berani pergi, silahkan kembali saja."

"Aku Tan Liong ada satu laki-laki, apa yang kutakuti? Baiklah kau unjukkan jalan."

Nona baju biru itu tidak berkata apa-apa lagi, ia lantas gerakkan kakinya lari ke atas bukit.

Tan Liong bersangsi sejenak, akhirnya ia mengikuti jejak si nona.

Ia melihat keadaan sekitarnya, tida terdapat sebuah rumahpun disitu.

Apa yang membuat ia heran, nona ini mengatakan bukan diperintah oleh Kauwsu Hian peng kauw namun siapa sebetulnya yang menyuruhnya?

Sebentar kemudian nona itu sudah berada didepan sebuah rumah Es.

Ia hentikan kakinya dan berkata kepada Tan Liong.

"Ciang bunjin, silahkan masuk."

"Ini rumah siapa ....? "

"Kau masuk saja tentu kau akan tahu."

Tan Liong ragu-ragu tapi akhirnya ia bertindak masuk tanpa ragu-ragu lagi.

Nona baju biru itu mendadak ingat dirinya laki-laki setengah umur itu diam-diam ia merasa kuatir maka dengan cepat ia balikkan badan dan lari ke pantai dimana perahunya tadi ditambat.

Tapi tatkala ia tiba diperahu laki-laki tadi ternyata sudah tak ada.

Nona baju biru itu berdiri menjublek.

Ia dapat membayangkan bahwa kedatangan laki-laki itu pasti ada maksudnya.

Kita tunda dulu kemana perginya laki-laki aneh itu marilah kita balik kepada Tan Liong.

Setelah masuk pintu rumah Es itu Tan Liong telah dapat kenyataan bahwa rumah itu besar sekali, dinding rumah mesti terdiri dari batu Es, tapi hawanya hangat.

Ruang tamunya diperlengkapi cukup baik tapi seorangpun tidak tertampak.

Maka ia coba batuk-batuk kecil kemudian berkata dengan suara lantang.

"Apa didalam ada orang? "

Suaranya itu diambut oleh ketawa dingin seorang wanita baju hijau sudah berdiri di hadapan matanya. Tan Liong mundur dua tindak dan berkata dengan perasaan kaget.

"Kau .... kau ...."

Wanita itu bukan lain daripada wanita buruk baju hijau yang dulu pernah dilihatnya. Tan Liong bercekat, kembali ia mundur lagi. Wanita baju hijau itu lalu berkata dengan suara dingin.

"Tidak salah, inilah aku. Ini tentu diluar dugaanmu bukan?"

Tan Liong sungguh tidak menyangka bahwa disini ia akan berjumpa lagi dengan wanita buruk itu.

Wanita ini dulu pernah membenci padanya dilihat wajahnya yang buruk, dan kini ia dipancing kemari sudah pasti banyak kejadian yang telah menanti.

"Ada perlu apa hanya suruh aku datang kemari? Harap bicara terus terang."

Demikian ia menanya.

"Ciang bunjin datang dari tempat sangat jauh, sudah selayaknyalah kalau aku harus sambut secara sepatutnya."

jawab wanita itu sambil tersenyum.

Kelakuan wanita itu sebaliknya membuat Tan Liong bingung, karena wanita itu telah mengutus orang untuk menyambut kedatangannya, tidak mungkin kalau tidak ada maksudnya.

"Apa nona ada orangnya Hian peng kauw? "

"Tidak salah, Pak hay Mo kun ialah ayahku."

"Pak hay Mo kun itu ada ayahmu? "

"Kenapa? Kau heran? "

Tan Liong diam-diam bergidik. Pak hey Mo kun adalah ayahnya wanita buruk ini, hal ini benar-benar diluar dugaannya.

"Kalau begitu dengan maksud apa nona memancing aku datang kemari? "

"Maksud?

Sudah tentu ada, tapi harap Ciang bunjin jangan pandang terlalu aneh.

Karena kau datang dari tempat jauh, dan dahulu kita satu sama lain pernah bertemu maka sudah seharusnya kalau aku perlakukan kau secara hormat."

"Barangkali tidak begitu sederhana? "

"Jika Ciang bunjin tak menampik, marilah kita minum teh dulu apakah Ciang bunjin tak keberatan? "

"Aku tadi sudah makan cukup kenyang, sekarang ini tidak merasa lapar dahaga."

"Apa Ciang bunjin takut aku akan main gila hingga tidak berani makan hidanganku? "

Selagi Tan liong hendak menjawab nona baju biru yang diutus oleh wanita buruk tadi mendadak muncul dan berkata kepada wanita buruk baju hijau itu.

"Entah siocia memerlukan diri budakmu ini atau tidak? "

"Tidak, oh ya, ketika kau bawa Ciang bunjin kemari apa ada orang lain yang mengetahui? "

"Tidak ...."

Jawabnya nona baju biru tapi bayangan laki-laki setengah umur itu terlintas dalam otaknya sehingga hampir saja ia membuka mulut akhirnya ditelan kembali ia tidak beritahukan tentang diri laki-laki itu.

"Kalau begitu baiklah kau keluar dulu sebentar jika ada urusan akan kupanggil lagi."

Nona baju biru itu setelah mengucapkan "Baik..", lalu mengundurkan diri. Wanita buruk baju hijau itu berkata pula sambil menatap wajah Tan Liong.

"Jika Ciang bunjin takut akan taruh racun didalam hidangan dan arak aku juga tidak akan memaksanya minum bersama-sama."

Dikatakan demikian Tan Liong merasa tidak enak.

Jika ia tidak mau minum bersama-sama sudah tentu menunjukkan bahwa dia takut padanya, tapi kalau ia terima ia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita buruk ini.

Untuk menjaga nama baiknya ia anggap tidak pantas menunjukkan kelemahannya, maka ia lantas menjawab sambil ketawa dingin.

"Kalau begitu baiklah, aku terima undanganmu."

"Ciang bunjin telah membantu aku melunaskan janjiku kepada diriku, tidak tahu bagaimana aku harus menyatakan terima kasihku."

Tan Liong tidak menjawab wanita baju hijau itu lalu mengajak Tan Liong masuk keruang dalam.

Tan Liong memperhatikan keadaan disekitarnya, tiba-tiba ia dengar suara keresekan dan dinding yang terbuat dari batu es itu mendadak terbuka sebuah pintu kecil.

Wanita baju hijau itu mengajak Tan Liong masuk melalui pintu itu.

Itu ternyata ada sebuah kamar untuk wanita, didepan tempat tidur sudah tersedia meja makan lengkap dengan hidangan dan minumannya.

Tan Liong berdiri kesima sedang wanita baju hijau itu lantas berkata pula.

"Diatas gunung es tidak dapat menyediakan hidangan yang enak, hanya ini beberapa rupa sayuran saja barangkali tidak cocok bagi selera Ciang bunjin."

Tan Liong tidak dapat menjawab.

"Apa maksud kedatangan Ciang bunjin ini hendak menolong Pek lek cu? "

"Tidak salah."

"Kau terlalu pandang rendah terhadap Hian peng kauw, Pel lek cu yang mempunyai kekuatan dan kepandaian begitu tinggi tokh masih tertangkap apalagi kau.

Baiklah sekarang aku jelaskan maksudku ajak kau makan bersama.

Aku dahulu bersumpah setelah makan minum bersama satu kali, selanjutnya antara kau dengan aku sudah terhitung musuh."

"Apa kepandaianku maupun kekuatanku tidak sebanding dengan Pek lek cu?"

"Bukan itu maksudku, sebab senjata bom Pek lek tan yang dipunyai oleh Pek lek cu ada merupakan senjata yang paling ampuh dalam rimba persilatan, tapi tokh dia masih tertangkap walaupun kepandaianmu lebih tinggi dari padanya barangkali juga tidak ada tempat bagimu untuk mengunjukkan kekuatanmu itu."

"Tapi aku justru ingin coba sampai dimana kekuatan orang-orang Hian peng kauw."

"Tentang ini juga terpaksa menunggu setelah kau keluar dari sini, sekarang aku masih anggap kau sebagai sahabatku, dan kau juga pandang aku sebagai musuh, nanti setelah kau keluar dari sini barulah kita berhadapan sebagai musuh."

Selagi Tan Liong hendak menjawab tiba-tiba ia dapatkan benda apa-apa didalam sakunya.

Ia diam-diam terperanjat sebab benda itu tatkala ia bergerak ada mengeluarkan suara seperti kertas.

Ia lalu keluarkan benda itu dan memang benar adalah segumpal kertas.

Bukan kepalang kagetnya Tan Liong sejak kapan benda kertas itu berada disakunya?

Mengapa ia tidak tahu ada orang yang memasukkan kedalamnya.

Wanita baju hijau itu juga agak berubah wajahnya tapi tak berkata apa-apa.

Tan Liong buru-buru buka lembaran kertas itu diatasnya ada tulisan yang berbunyi sebagai berikut, Ciang bunjin, jangan minum sampai mabuk Kau masih akan menghadapi pertempuran dahsyat Tertanda .

Tamu di atas perahu.

Tan Liong kini baru tahu bahwa kertas itu ditinggalkan oleh laki-laki setengah umur yang numpang di dalam perahunya, caranya orang itu masukkan kertas ke dalam saku Tan Liong yang membuat ia sangat kagum.

Ia buru-buru masukkan lagi ke dalam sakunya, tapi wanita baju hijau itu lantas menanya dengan nada suara dingin.

"Apa Cing bunjin ada membawa kawan? "

"Kawan? Aku Tan Liong datang seorang diri untuk apa membawa kawan."

"Tapi apa yang tertulis di atas kertas itu? "

"Tentang ini nona tidak berhak untuk menanyakan."

"Kalau begitu marilah kita duduk! "

Tan Liong terpaksa menurut, ia duduk berhadapan dengan wanita baju hijau itu. Wanita itu menuang dua cawan arak, satu diberikan kepada Tan Liong ia lalu angkat cawan yang dipegangnya dan berkata.

"Aku haturkan selamat datang kepada Ciang bunjin, mari kita minum kering! "

Tan Liong terpaksa minum sampai habis arak yang diberikan padanya, setelah menuangkan kembali satu cawan, wanita baju hijau itu berkata dengan suara duka.

"Mengingat bahwa aku Gouw Siao Lee bisa minum bersama-sama dengan Ciang bunjin aku sudah merasa puas."

Mendengar perkataan itu, Tan Liong tak tahu bagaimana harus menjawab, Gouw Siao Lee berkata pula.

"Tapi setelah kita nanti berpisah, untuk mendapatkan kesempatan seperti hari ini, barangkali sudah tak mungkin lagi.

berapa lama manusia hidup dalam dunia?

Maka setelah tercapai maksud yang terkandung dalam hatiku, aku sudah merasa puas."

"Nona, dengan aku ada berdiri sebagai musuh, tapi atas kecintaan nona, kini kita telah duduk dan makan minum bersama-sama sebagai sahabat.

Terhadap semua kebaikan ini, aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya."

"Banyak bicara nanti menghabiskan waktu secara cuma-cuma, sebaiknya kita makan minum sepuas-puasnya."

Tan Liong malah merasa tidak enak. Ia diam-diam angkat cawannya dan selagi hendak dihirup mendadak mendengar tiupan terompet, hingga ia urungkan maksudnya.

"Ciang bunjin, tunggu aku sebentar, aku akan keluar dan segera kembali."

Berkata wanita itu dengan berubah wajahnya.

Dengan tanpa menunggu jawaban Tan Liong, ia sudah lari keruang tamu.

Tan Liong tahu pasti ada terjadi apa-apa maka ia juga segera menyusul.

Pada saat itu nona baju biru itu telah masuk dengan sikap tersipu-sipu.

"Siocia, celaka! Ayahmu bersama tongcu bagian dalam dan luar telah datang kemari semuanya."

"Apa kau kata? "

Tanya Gouw Siao Lee kaget.

Tan Liong juga terkejut, ia tidak menyangka bahwa dalam saat genting itu, kedatangannya telah diketahui oleh Pak hay Mo kun dan orang-orangnya.

Maka ia segera ingat kepada dirinya itu lelaki setengah umur yang menggendong pedang dipunggungnya.

Ia menduga bahwa itu adalah perbuatannya lelaki tersebut.

Tapi dengan maksud apa lelaki itu berbuat demikian?

Sementara itu suara terompet itu terdengar makin dekat ia lalu berpikir bahwa tidak seharusnya ia melibatkan dirinya Gouw Siao Lee maka ia lantas berkata.

"Kebaikan nona akan kuingat untuk selamanya-lamanya biarlah aku sekarang pergi dulu."

Dengan tanpa ayal ia lantas lari keluar Gouw Siao Lee coba mencegah tapi tidak berhasil.

Berada di luar rumah diatas tanah yang penuh salju ia nampak banyak orang sedang lari mendatangi.

Dengan sangat berani ia lari memapaki rombongan orang-orang itu yang bukan lain dari pada rombongan orang-orang Hian peng kauw yang dipimpin oleh kauwcunya sendiri.

Sebentar saja kedua pihak sudah berdiri berhadapan.

Rombongan orang-orang Hian peng kauw itu lebih sepuluh orang ketika berhadapan dengan Tan Liong mereka berbaris dengan rapi.

Pak hay Mo kun dengan sinar mata dingin mengawasi Tan Liong sejenak lalu berkata sambil ketawa.

"Tuan adakah Ciang bunjin partai Ciong lam pay? "

"Dulu ya, tapi sekarang jabatan itu sudah dipegang orang lain."

Orang yang berdiri dibelakang Pak hay Mo kun ada seorang tua berkulit dan berambut putih, orang itu adalah suhunya Gouw Siao Lee orang namakan dia Peng hay Siang jin.

Orang tua itu perdengarkan suaranya ketawa dingin lalu maju dan menanya kepada Tan Liong.

"Kalau begitu kedatangan tuan ini adalah untuk menolong Pek lek cu? "

"Tepat."

"Bocah, kau sesungguhnya tidak tahu diri meski orang sohorkan kepandaianmu yang katanya menjagoi di daerah Tionggoan tapi disini bukanlah tempatmu untuk berlaku sesukamu.

Sekarang lohu ingin coba-coba sampai dimana kepandaianmu yang disohorkan itu."

Ditantang terang-terangan Tan liong diam-diam juga terperanjat. Ia menduga orang tua itupasti bukan orang sembarangan. Saat itu terdengar suara Pak hay Mo kun yang amat nyaring.

"Lwee gwa Tongcu dengar perintah! "

Dari dalam rombongan lantas keluar dua orang tua yang segera menjawab dengan sikapnya yang sangat menghormat.

"Teecu disini kauwcu hendak perintahkan apa kepada teecu? "

"Anakku Gouw Siao Lee berani melanggar peraturan perkumpulan dengan diluar tahuku ia membawa orang datang kepulau. Sekarang aku perintahkan kamu segera tangkap dan bawa ia keperkumpulan."

Kedua tongcu itu terima baik perintah tersebut, Baru saja hendak berangkat Tan Liong sudah menghadang seraya berkata dengan nada dingin.

"Ini ada urusanku, tidak ada sangkut pautnya dengan nona Gouw. Jika kalian berdua hendak juga menjalankan perintah itu terpaksa harus terima dulu kedua kepalanku ini! "

Menyaksikan sikap keren Tan Liong kedua tongcu itu merandek dan mundur beberapa tindak. Menampak kejadian itu wajah Pak hay Mo kun lantas berubah.

"Apa kamu berdua berani melanggar perintah? "

Demikian bentaknya. Kedua tongcu itu cepat menjawab.

"Teecu tidak berani."

Dan lantas lompat keluar. Tan Liong lalu membentak dengan suara keras.

"Kalian cari mampus."

Dan dengan kecepatan bagaikan kilat sudah melancarkan serangan ke arah dua tongcu itu.

Serangan itu dilakukan dalam keadaan gusar betapa hebatnya serangan tersebut.

Tan Liong sendiri juga hampir tidak percaya sebab seketika itu juga lantas terdengar suara jeritan ngeri, tubuh kedua tongcu itu melayang sampai lima tombak jauhnya dan ketika jatuh ditanah tidak bisa berkutik lagi.

Tan Liong melongo, begitu pula orang-orang Hian peng kauw, semua menyaksikan dengan perasaan terheran-heran.

Mereka sungguh tidak habis mengerti bagaimana dengan satu pukulan Tan Liong sekaligus merenggut jiwanya tongcu itu.

Tan Liong terkejut dengan kemajuan atas kekuatannya sendiri, inilah hasilnya.

Lam kek Sian ong dan Naga Merah yang telah menembuskan kekuatannya lima buah Leng-ki yang tertimbun dalam dirinya.

Tan Liong lalu berkata sambil ketawa dingin.

"Siapa yang tidak takut mampus boleh coba lagi! "

Perkataan Tan Liong menyadarkan semua orang-orang Hian peng kauw yang berdiri disitu, begitulah Peng hay Sian jin lantas berkata sambil ketawa dingin.

"Benar-benar bukan cuma nama kosong belaka. Kekuatan tuan benar-benar sangat mengagumkan."

"Jika kalian mau membebaskan Pek lek cu, segala urusan kubikin habis tapi jikalau tidak, diatas pulau Hian peng to ini nanti akan banjir darah."

"Lohu justru ingin coba-coba kekuatanmu."

Berkata Peng hay Siang jin dengan maju menghampiri.

Dan dengan tanpa menunggu jawaban lawannya ia sudah melancarkan serangannya yang amat dahsyat.

Tan Liong terperanjat ia tak sangka bahwa orang tua itu mempunyai kekuatan begitu hebat.

Ia miringkan sedikit tubuhnya kemudian menyambuti serangan orang tua itu.

Serangan kedua pihak hampir dilakukan dalam waktu berbareng saat itu semua orang Hian peng kauw sudah siap sedia jika Peng hay Siang jin terdesak mereka akan turun tangan berbareng.

Dalam keadaan sangat genting itu dari jauh sesosok bayangan orang dengan gerak badannya yang sangat gesit lari menuju ke pusat perkumpulan Hian peng kauw.

Gerakan orang itu tiada seorangpun yang tahu.

Orang itu bukan lain dari pada laki-laki setengah umur yang bersama-sama Tan Liong berlayar kepulau tersebut.

Kalau bukan akalnya orang itu yang memancing keluar kauwcu berikut semua orang-orang terkuat dari golongan Hian peng kauw, Tan Liong pasti tak berhasil membebaskan Pek lek cu.

Kita tunda dahulu gerak gerik orang itu, mari balik kepada Tan Liong yang bertempur dengan Peng hay Siang jin.

Tatkala Tan Liong menyambuti serangannya, Peng hay Siang jin agaknya sudah dapat mengukur sampai dimana kekuatan anak muda itu, maka ia tidak berani menyambuti secara gegabah.

Dengan cepat ia menyingkir dan kemudian melancarkan serangannya lagi.

Peng hay Siang jin merupakan orang terlihai dalam barisan Hian peng kauw, kalau bukan karena ia Pek lek cu tidak akan tertangkap dan hari itu Tan Liong juga tidak perlu datang kepulau Hian peng to.

Tan liong juga merasa cukup berat menghadapi lawan orang tua itu maka ia segera menggunakan ilmunya Im Yang ciang.

Menghadapi serangan yang amat ampuh itu Peng hay Siang jin ketakutan setengah mati ia buru buru mundur sampai setombak lebih.

Semua itu telah disaksikan oeh orang-orang Hian peng kauw dengan perasaan kawatir, mereka sungguh tak sangka bahwa pemuda itu mempunyai kekuatan begitu hebat.

Walaupun demikian untuk menjatuhkan lawannya dengan cepat juga bukan merupakan soal mudah.

Tan Liong yang ingin mengakhiri pertempuran itu dengan cepat, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya dan menyerang dengan beruntun sampai empat kali.

Serentetan serangannya itu benar-benar membuat Peng hay Siang jin tidak berdaya.

Tatkala serangannya yang keempat tiba Peng hay Siang jin lalu berlaku nekad, ia paksa menyambuti serangan yang sangat hebat itu.

Tan Liong keluarkan suara bentakan.

"Kau cari mampus! "

Lalu menyerang dengan kekuatan penuh sehingga serangannya itu menimbulkan suara "bung....

bung ....!

dan disusul dengan suara seruan tertahan Peng hay Siang jin.

Darah hidup menyembur keluar dari hidung dan mulut orang tua itu akhirnya terpental sejauh satu tombak lebih, lalu jatuh ditanah tanpa bisa bangun lagi.

Hampir berbareng pada saat rubuhnya Peng hay Siang jin, dari dalam rombongan orang Hian peng kauw terdengar suara bentakan riuh, lalu disusul oleh serangan dari kekuatan tenaga sepuluh orang lebih.

Tan Liong yang masih belum berdiri tegak bagaimana mampu menyambuti serangan-serangan tersebut?

Maka terpaksa ia lompat jauh untuk mengelakkan serangan itu.

Tiba-tiba ia dengar suara gemuruh ternyata sebuah gunung es telah rubuh tergempur oleh kekuatan tenaga tadi.

Tan Liong diam-diam bergidik, ia tidak dapat membayangkan entah bagaimana seandainya serangan itu tadi mengenakan dirinya.

Belum lagi lenyap pikirannya tiba-tiba terdengar suara orang membentak.

"Manusia tidak tahu malu, berani menggunakan cara sangat kotor dan rendah, sekarang sambutilah bom Pek lek tan-ku ...."

Suara itu bukan lain daripada suaranya Pek lek cu.

Akhirnya ia telah lolos dan muncul dalam waktu yang tepat.

Setelah perdengarkan ancaman itu sebuah bomnya yang sangat ampuh lantas disambitkan keatas rombongan orang-orang Hian peng kauw !

Orang-orang Hian peng kauw tiada satupun yang menduga Pek lek cu mendadak bisa muncul disitu.

Dalam lagetnya dan herannya sebuah bom sudah jatuh dalam rombongannya.

Suara ledakan bom itu telah menggetarkan bumi diatas pulau kecil itu.

separuh lebih orang-orang Hian peng kauw telah binasa dalam keadaan mengerikan sedang yang beruntung lolos dari bahaya maut itu pada lari dalam keadaan panik.

Dilain pihak ada berdiri Pek lek cu dengan sikap beringas dibelakangnya ada berdiri itu laki-laki setengah umur dengan pedangnya selalu tidak ketinggalan diatas punggung.

"Siapa tidak takut mati boleh coba lagi! "

Demikian terdengar suaranya Pek lek cu sambil ketawa dingin.

Sisa orang-orang Hian peng kauw yang masih hidup ketika menyaksikan keadaan yang mengerikan itu ketakutan setengah mati, sudah tiada satupun yang berani maju lagi.

Pak hay Mo kun yang menyaksikan banyak anak buahnya mati dibawah bom Pek lek tan hatinya merasa pilu.

"Pek lek cu perbuatanmu itu sungguh kejam sekali."

Demikian ia berkata sambil kertak gigi yang segera melesat menerjang Pek lek cu serta melancarkan serangannya.

Tapi Tan Liong yang sejak tadi memperhatikan dirinya kauwcu itu ketika mendapat lihat ia bergerak segera melesat menghadang dihadapan Pek lek cu untuk menyambut serangan tersebut seraya membentak.

"Pak hay Mo kun, hutangmu kita selesaikan dulu."

Dilain saat segera terdengar suara nyaring yang timbul dari beradunya dua orang itu.

Kekuatan Pek hay Mo kun masih belum mampu menandingi kekuatan Tan Liong maka setelah kedua kekuatan itu beradu Pek hay Mo kun tampak mundur terhuyung hingga sepuluh tindak lebih, mulutnya menyemburkan darah segar badannya hampir rubuh.

Tan Liong masih merasa dendam sakit hati terhadap Pak hay Mo kun karena dahulu ketika ia masih dalam keadaan terluka diselat Bu song hiap kauwcu itu pernah turun tangan padanya maka ia sekarang coba membalasnya.

Walaupun demikian Tan Liong masih belum puas ia gemas sekali terhadap kauwcu itu hingga berniat hendak menamatkan jiwanya.

Tapi baru saja ia bergerak hendak turun tangan sesosok bayangan hijau mendadak berdiri dihadapan Pek hay Mo kun dengan sebelah tangan ia balas menyerang Tan Liong.

Kejadian itu mengejutkan Tan Liong dengan cepat ia tarik mundur serangannya sebab ia telah mengetahui bahwa bayangan hijau itu adalah Pak hay Mo kun Gouw Siao Lee.

"Tan Liong, perbuatanmu itu sebetulnya terlalu kejam."

Berkata nona itu dengan nada suara dingin.

"Itu semua disebabkan karena ia dulu menurunkan tangan kejam terhadap diriku ketika aku dalam keadaan terluka ...."

Jawabnya Tan Liong sambil menghela napas.

"Kapan ayahku turun tangan terhadap kau? "

"Dulu ketika ada pertemuan diselat Bu song hiap untuk menyaksikan munculnya Naga Merah kala itu aku sedang terluka, ia telah marah memukul aku hingga aku hampir binasa diselat itu apakah kini aku tidak boleh membalas? "

"Sekarang kau sudah berikan pukulan padanya apa ini bukan berarti sudah membayar hutangnya kepadamu tempo hari? "

"Ya,"

Jawab Tan Liong sambil menghela napas.

"Kalau dengan ini kau masih belum merasa puas apa kau hendak menghabisi nyawanya ....?"

Diluar dugaan si nona saat itu Pek hay Mo kun mendadak membentak dengan suara keras.

"Kau enyah dari sini ...."

Dan kemudian dari belakang menyerang puterinya sendiri.

Gouw Siao Lee hendak menyingkir, tapi sudah terlambat ....

Pukulan itu ternyata mengena dengan tepat pada belakang punggungnya hingga seketika itu tubuhnya terpental dan lantas tubuh itu tidak bergerak lagi.

Wajah Tan Liong berubah, dengan suara keras ia membentak.

"Pek hay Mo kun kau terlalu kejam ...."

Dengan tanpa banyak bicara lagi, ia lantas lompat dan melancarkan serangan. Tiba-tiba terdengar suara.

"Tahan ...."

Dan sesosok bayangan orang menahan dihadapan Tan Liong, dengan tangannya ia desak kembali serangan Tan Liong yang diarahkan kepada Pek hay Mo kun.

Kejadian itu membuat kaget dan heran hati Tan Liong.

Ketika ia angkat kepala, ia baru tahu bahwa orang yang menghalangi maksudnya itu adalah laki-laki setengah umur yang menggendong pedang di punggungnya.

Untuk sesaat lamanya Tan Liong terkesima.

Laki-laki setengah umur itu mengawasi padanya sambil tersenyum kemudian berkata.

"Tan Liong, pepatah ada mengatakan, Kalau tidak suka dipandang muka Paderi, pandanglah muka Budha. Gouw Siao Lee pernah melepas budi beberapa kali terhadap kau, kekasihmu yang pertama Cu Lian, jika bukan dia yang memberi setangkai Swat lan barangkali tidak akan hidup sampai sekarang. Pak hay Mo kun meski ada seorang berdosa besar, dengan memandang muka Gouw Siao Lee itu belum terbalas olehnya...."

Ia menarik napas panjang, sedang dalam hatinya berpikir, aku hampir melakukan kesalahan lagi.

"Jika bukan karena Gouw Siao Lee apa kau bisa mendarat diatas pulau Es ini menolong dirinya Pek lek cu?"

Berkata laki-laki itu. Tan Liong benar-benar merasa tak enak hati terhadap Gouw Siao Lee. Laki-laki setengah umur itu berkata pula.

"Disini ada sebutir pil, kau masukkan ke dalam mulut Gouw Siao Lee, ia terkena pukulan ayahnya hingga menimbulkan luka didalam badannya.

setelah makan obat ini kau bantu dengan kekuatan tenaga dalammu mungkin ia bisa sembuh kembali."

Tan Liong sambuti pil tersebut dan berjalan ketempat dimana Gouw Siao Lee rebah.

Laki-laki setengah umur itu mengawasi bangkai bangkai orang Hian peng kauw yang berserakan diatas salju, ia menghela napas panjang sambil pejamkan matanya.

Kemudian ia berjalan menghampiri Pak hay Mo kun seraya berkata.

"Hian peng kauwcu, aku yang rendah disini memberi hormat."

Sehabis berkata lantas menjura dalam-dalam. Pak hay Mo kun dibikin bingung oleh kelakuan laki-laki aneh itu sehingga ia berdiri terkesima sekian lama baru balik menanya dengan nada suara dingin.

"Tuan orang pandai dari mana? "

"Tentang ini perlu apa Kauwcu hendak minta penjelasan .... ?"

Jawabnya laki-laki aneh itu sambil tersenyum.

"Tuankah yang membebaskan Pek lek cu? "

"Betul, lima hari mendatang dalam pertempuran dilembah Hong hwee kok, tidak boleh ketinggalan bom Pek lek cu maka aku terpaksa menolong padanya."

Mendengar perkataan laki-laki itu hati Pak hay Mo kun bercekat ia seperti pernah dengar suara laki-laki itu hingga rasanya ia tidak asing lagi.

dan apa yang mengherankan padanya ialah, Pek lek cu yang ditawan dalam penjara Hian lau tempat tahanan itu kecuali beberapa anggota penting dalam perkumpulan Hian peng kauw orang luar tidak ada yang tahu mengapa laki-laki ini mengetahui letak tempat itu?"

Karena tuan berani mengganggu keamanan pulau Hian peng to maka ini berarti musih besar bagiku si orang she Gouw ...."

"Tuduhan Gouw Kauwcu sesungguhnya terlalu berat, aku yang rendah meski mengganggu tempat kediamanmu, tapi tidak ada maksud melakukan pembunuhan...."

"Jika bukan karena tuan, bom Pek lek tan itu tidak akan menelan banyak korban jiwa anak murid kami."

Baru saja laki-laki itu hendak menjawab sudah didahului oleh Pek lek cu.

"Jangan kata cuma beberapa puluh jiwa sekalipun pusat perkumpulanmu, aku juga akan musnahkan dengan bom Pek lek tanku! "

"Kau boleh coba!"

Jawab Pek hay Mo kun dengan wajah berubah. Sebelum Pek lek cu bertindak lebih jauh sudah dicegah oleh laki-laki aneh itu.

"Pek lek cu, perlu apa kau begitu marah, bom Pek lek tan menghamburkan waktu, tenaga dan pikiranmu tidak sedikit, dalam waktu 50 tahun kau baru dapat menghasilkan 15 buah saja, mengapa kau hendak obral untuk membunuh orang-orang yang tidak berdosa? "

Mendengar teguran itu Pek lek cu baru ingat bahwa laki-laki itu adalah tuan penolongnya sendiri maka ia lantas ucapkan terima kasihnya.

"Pertolongan tuan, Pek lek cu tidak akan melupakan untuk selama-lamanya, disini Pek lek cu ucapkan terima kasih banyak-banyak."

"Sungguh tidak kukira Pek lek cu juga pandai meniru sikapnya orang terpelajar tapi aku masih merasa sangsi apa benar kau hendak mengebom pusat perkumpulan Hian peng kauw? "

Kata laki-laki itu sambil tersenyum. Pek lek cu wajahnya merah seketika dengan cepat ia menjawab.

"Jikalau tuan tidak senang sudah tentu aku tidak berani berbuat demikian."

"Kalau begitu baiklah, dengan memandang mukaku kau jangan obral bom peledakmu itu."

"Pek lek cu akan selalu ingat akan pesanmu ini."

Laki-laki itu dengan sikap sungguh-sungguh mengawasi wajah Pak hay Mo kun kemudian berkata padanya dengan nada dingin.

"Gouw Kauwcu, aku numpang tanya padamu apa pusat perkumpulanmu itu mampu tahan bom peledaknya Pek lek cu?"

"Apakah benar-benar hendak mengebom dengan bom Pek lek tannya? "

"Jangan kata gedung perkumpulanmu itu, yang hanya terdiri dari beberapa puluh petak rumah batu es, sekalipun gedung yang terbuat dari baja atau besi juga akan dihancurkan oleh kekuatannya bom Pek lek tan lagi pula siapakah diantara anak buahmu yang berkepandaian paling tinggi? "

"Peng hay Sian jin."

"Benar, Peng hay Siang jin berkepandaian paling tinggi, tapi ia sekarang sudah rebah menggeletak diatas salju jika masih belum tahu gelagat dan umbar hawa kemarahanmu akhirnya hanya menambah jumlahnya korban bagi pihakmu sendiri."

"Belum tentu."

jawabnya Pak hay Mo kun dingin.

"Jika demikian halnya, apa benar-benar kau menghendaki Tan Liong dan Pek lek cu membikin musnah Hian peng kauw?"

Berkata lelaki itu sambil menatap wajah Pak hay Mo kun.

"Aku ingin tanya padamu, apakah Kauwcu sanggup menyambuti serangan tangan Tan Liong satu kali saja? "

Pak hay Mo kun tundukkan kepalanya tidak berani menjawab. Laki-laki itu berkata pula.

"Berebut nama dan ingin menang sendiri kesudahannya cuma menambah korban jiwa anak buahmu sendiri.

Jika kau Gouw Kauwcu bisa menyadari keadaanmu sendiri, aku yang tak berguna ini sudi menjadi orang perantara untuk mendamaikan persengketaan ini."

"Tentang ini aku rasa tidak mungkin."

"Tak mungkin juga harus dibikin mungkin. Jika kau tetap keras kepala sambutilah pedangku ini."

"Apa tuan ingin campur tangan? "

"Benar! "

Wajah Pak hay Mo kun lantas berubah, katanya.

"Semua ini terjadi lantaran kau, bagaimana aku mau mengerti terhadap kau?"

Sehabis berkata begitu lalu mendekati laki-laki setengah umur itu.

"Gouw Kauwcu, aku ingin bicara terus terang lebih dahulu, jikalau kau mampu mengelakkan diri dari sekarang pedangku dalam tiga kali serangan aku dengan Pek lek cu dan Tan Liong bertiga akan menyerahkan diri padamu terserah padamu bagaimana hendak perlakukan terhadap kita. Jika kau tidak mampu mengelakkan dia bagaimana? "

"Aku hendak bunuh diri."

"Tidak perlu berbuat demikian jika kau terjatuh tidak mampu mengelakkan diri dari seranganku.

Begini saja kau selanjutnya tidak boleh injak kaki di daerah Tionggoan lagi ....

dan putuskan hubunganmu dengan Thian seng hwee."

"Boleh, keluarkanlah senjatamu! "

Laki-laki setengah umur itu tersenyum, mendadak ia menanya.

"Sebelum kita turun tangan ada sesuatu hal aku ingin menanya padamu."

"Tanya apa? "

"Diantara orang-orang rimba persilatan di daerah Tionggoan dengan siapa Gouw Kauwcu ada mempunyai perhubungan paling erat? "

Pertanyaan yang bukan-bukan ini membuat Pak hay Mo kun melengak. Laki-laki itu berkata pula.

"Gouw Kauwcu tidak perlu banyak pikiran aku hanya ingin tahu saja."

"Ketua Thian seng hwee adalah sahabat karibku."

"Apa ketua Thian seng hwee yang sekarang Siao hun lie? "

"Apa kau kata?"

Tanya Pak hay Mo kun dengan wajah berubah.

"Kenapa Gouw Kauwcu kaget? Aku hanya menanya saja. Benarkah Gouw Kauwcu bersahabat erat dengan ketua Thian seng hwee Siao hun lie? "

"Siapa kata bahwa ketua Thian seng hwee adalah Siao hun lie? "

"Apakah Gouw Kauwcu tidak tahu bahwa Thian seng hwee sekarang sudah ganti ketua? "

Bukan kepalang kagetnya Pak hay Mo kun ketika mendengar ucapan itu.

"Dan dimana adanya Bong bin Sin kiam Tan Chiang Bin? "

Demikian tanyanya.

"Sudah turun tahta."

"Tan Chiang Bin sudah turun tahta? Kenapa? "

"Ini ada urusannya Thian seng hwee, siapa tahu? Kalau begitu diantara orang-orang rimba persilatan daerah Tionggoan, mungkin Tan Chiang Bin ada sahabatmu yang paling akrab? "

"Benar."

"Kalau begitu, marilah kita sekarang mulai. Sebagai tetamu tidak selayaknya menghina tuan rumah, sebaiknya Gouw Kauwcu yang turun tangan dulu."

Pak hay Mo kun tampaknya masih terpengaruh pikirannya oleh berita yang diterimanya secara tidak terduga tentang nasib sahabat karibnya itu, maka ia tidak menjawab usul laki-laki itu.

"Gouw Kauwcu, kau mulailah! "

Kata pula laki-laki itu. Pek hay Mo kun agaknya baru tersadar dari lamunannya kembali ia menanya.

"Tuan tahu Thian seng hwee sudah ganti ketua. kalau negitu, kemana perginya Tan Chiang Bin? "

"Mungkin sudah menungal dunia."

"Apa? Tan Chiang Bin sudah wafat? "

"Benar, Tan Chiang Bin mungkin sudah binasa."

"Siapa yang membunuh Tan Chiang Bin? "

"Apa Gouw Kauwcu ingin menuntut balas dendam baginya?"

"Tidak salah."

Laki-laki itu tampak berpikir,kemudian berkata.

"Betul atau tidaknya Tan Chiang Bin binasa dilembah Lui in kok, tentang ini siapapun tidak tahu cuma Thian seng hwee selama berapa puluh tahun ini, tiada seorangpun yang bisa keluar dari sana dalam keadaan hidup, maka aku dapat memastikan ia tentunya sudah binasa."

"Tan Chiang Bin ada seorang gagah perkasa adalah ia yang mendirikan Thian seng hwee, bagaimana ia bisa turun tahta? "

"Tentang ini siapa yang tahu. Marilah kita mulai Gouw Kauwcu."

"Kalau begitu keluarkanlah senjatamu."

Laki-laki aneh itu tersenyum, ia menghunus pedangnya, tatkala pedang itu keluar dari sarungnya, memancarkan sinar berkilauan.

Pak hay Mo kun mendadak gemetaran agaknya dibikin silau oleh sinar pedang yang luar biasa itu, hingga mundur setengah langkah, matanya mengawasi pedang itu dan tiba-tiba wajahnya berubah dan mundur lagi setindak mulutnya berkata dengan suara gelagapan.

"Kau, kau, kau ...."

Laki-laki itu masukkan pedangnya ke dalam sarungnya lagi, lalu berkata dengan nada suara dingin.

"Gouw Kauwcu, jika kau takut aku menggunakan pedang baiklah kita bertempur dengan tangan kosong saja."

Dengan wajah pucat pasi, Pak hay Mo kun cuma bisa mengeluarkan kata-kata.

"Kau .... kau ...."

Laki-laki aneh itu tersenyum dan berkata pula.

"Apa kau tidak suka melayani aku lagi? "

Pak hay Mo kun tenangkan perasaannya ia menanya.

"Apa benar kau .... ? "

"Ya, itulah aku! "

Jawabnya sambil tersenyum.

"Kau adalah ...."

"Kalau kau tahu sudah saja, perlu apa banyak tanya?

Jika kau anggap aku sebagai sahabat, sebelum aku muncul lagi didunia Kang-zsouw, tolong balaskan dendam sakit hatiku.

Aku juga akan membantu kau menyelidiki musuhnya Tan Chiang Bin."

Demikian laki-laki itu memotong ucapan Pak hay Mo kun.

Perubahan yang tidak terduga ini benar-benar membingungkan Pek lek cu.

Ia cuma menduga bahwa laki-laki itu pasti ada mempunyai hubungan erat dengan Pak hay Mo kun.

Saat itu laki-laki itu lantas berkata kepada Pek lek cu.

"Pek lek cu, kau dengan Tan Liong boleh jalan dulu."

"Dan kau sendiri? "

"Aku dengan Kauwcu meski belum terhitung sahabat akrab, tapi sudah beberapa puluh tahun saling mengenal, sebagai sahabat lama berjumpa lagi, aku rasanya tidak enak kalau meninggalkan padanya begitu saja."

"Kau hendak tinggal di pulau Hian peng to? "

"Begitulah, rasanya Gouw kauwcu tentunya tokh tidak akan menolak bukan?"

"Sudah tentu tidak, kau harus tinggal beberapa hari dulu di tempatku ini."

"Kalau begitu kau suka bikin habis permusuhan ini? "

Pak hay Mo kun nampak kemerah-merahan wajahnya, katanya.

"Dengan adanya kau disini, bagimana siauwtee berani membantah? "

Laki-laki itu tersenyum dan berkata.

"Kalau begitu, aku harus ucapkan terima kasih lebih dahulu atas pengharganmu terhadapku."

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Pek lek cu.

"Pek lek cu, kalian boleh jalan dulu maafkan aku tidak dapat mengantar, lima hari kemudian, dalam pertempuran di lembah Hong hwee kok, mungkin aku juga datang."

Pek lek cu anggukkan kepala, lalu menatap wajah Tan Liong yang tengah membantu menyadarkan Gouw Siao Lee.

Gouw Siao lee yang terluka tenaga dalamnya oleh serangan ayahnya sendiri, setelah makan obat pemberian lelaki setengah umur yang aneh itu serta dibantu dengan tenaga dalam Tan Liong lukanya sudah sembuh kembali.

Ketika membuka matanya yang masih lemah segera dapat lihat bayangan raut muka orang yang samar-samar lalu menanya dengan suara lemah.

"Kau, kau siapa? "

"Aku Tan Liong! "

"Tan Liong? "

"Ya."

Gouw Siao Lee unjukkan senyum getir dan berkata pula.

"Apakah kau berada dalam impian? "

"Tidak, ini ada kenyataan."

"Apakah aku belum mati? "

"Kau hanya terluka saja."

Gouw Siao Lee agaknya baru ingat apa yang telah terjadi katanya sambil ketawa getir.

"Ya, sekarang aku ingat, bukankah ayahku yang memukul aku sehingga terluka? "

"Ya."

"Apa aku sekarang sudah sembuh? Kaukah yang bantu menyembuhkan? "

"Ya."

"Hidangan yang aku suguhkan untuk kau dalam kamarku mungkin belum dingin, apakah sudi menemani aku minum secawan arak saja? "

"Maaf, aku masih ada lain urusan yang harus kuselesaikan."

"Perjamuan tadi baru berlangsung setengahnya, bagaimana boleh ditinggal begitu saja? "

"Tapi ...."

"Aku sudah kata, perjamuan yang aku adakan hanya khusus untuk kau ini, maksudnya tak lain dari pada untuk memenuhi janji dalam hatiku sendiri, apakah kau hendak membuat kecewa hatiku? "

"Tan Liong sudah menanggung budi besar sekali terhadap kau, bagaimana berani membuat repot lagi? "

"Ini bukan berarti membuat repot melainkan kehendakku sendiri yang hendak memenuhi janji."

Karena Tan Liong tidak ingin membuat ia kecewa maka ia lantas terima baik permintaan si nona itu.

"Aku tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasihku padamu,kau tolong bimbing aku bangun, biarlah aku beristirahat sebentar nanti segera boleh jalan."

Berkata Gouw siao Lee dengan paras berseri, Tan Liong setelah membimbing bangun Gouw Siao Lee lalu menghampiri Pak hay Mo kun dan berkata padanya.

"Pak hay Mo kun kau berlaku demikian kejam terhadap putrimu sendiri apa gunanya kau hidup? "

Sehabis berkata ia lalu menyerang Pak hay Mo kun tapi segera dicegah oleh laki-laki setengah umur yang sangat aneh itu.

"Tan Liong, kau jangan gegabah."

Ucapan laki-laki itu agaknya mengandung kekuatan gaib dan wibawa yang sangat besar sehingga Tan liong tidak berani membantah ia mundur satu langkah dengan mata terbuka lebar memandang laki-laki setengah umur itu.

"Tan Liong, Pak hay Mo kun meski bersalah sekarang pandanglah mukaku karena ia sudah bersedia membikin habis permusuhan ini maka kau sekarang boleh pergi."

Katanya laki-laki itu sambil ketawa hambar.

"Mengapa ia memukul anaknya sendiri sampai sedemikian rupa? "

"Ini juga tidak boleh disalahkan karena saat itu ia benci sekali terhadap anaknya yang dianggapnya telah menyelundupkan orang luar secara diam-diam masuk ke pulau ini sehingga mengakibatkan banyak kematian anak buahnya.

Baik atau jahatnya suatu manusia ada tergantung pada pikirannya sendiri sekarang barangkali sudah memaafkan anaknya.

Dengan wajah merah dan kemalu-maluan Pak hay Mo kun berkata.

"Ya, aku ampuni kesalahannya."

Gouw Siao Lee tiba-tiba nyeletuk.

"Ayah, benarkah ayah mengampuni kesalahan anakmu ini? "

Sambil mengawasi wajah anaknya yang pucat pasi itu sang ayah lalu menjawab.

"Ayahmu karena sudah gelap mata hingga turun tangan padamu kau juga tidak usah sesalkan perbuatan ayahmu ini."

Ia berhenti sejenak lalu berpaling dan berkata kepada laki-laki setengah umur itu.

"Kalau begitu marilah jalan."

Setelah itu ia lalu bimbing Peng hay Siang jin yang terluka parah. Ia jalan lebih dulu. Laki-laki aneh itu lalu berkata kepada Tan Liong sambil tersenyum.

"Huciang bunjin, maafkan lohu tidak dapat mengantar lebih jauh."

Setelah itu ia lalu menyusul Pak hay Mo kun. Setelah dua orang itu berlalu, Pek lek cu simpan kembali bomnya, kemudian ia berkata kepada Tan Liong.

"Ciang bunjin, siapakah orang aneh itu? "

"Akupun tak tahu .... cuma aku seperti pernah dengar nada suaranya."

jawab Tan Liong sambil gelengkan kepala.

"Kau pernah dengar suaranya? "

"Benar, tapi sudah tak ingat lagi dimana ...."

Pek lek cu agaknya berpikir keras untuk mengingat kembali siapa adanya laki-laki aneh yang tindak tanduknya sangat aneh itu. kemudian ia berkata sambil menghela napas.

"Orang aneh itu sudah menolong jiwaku, entah bagaimana aku harus membalasnya."

"Orang aneh itu pasti ada mempunyai hubungan persahabatan akrab dengan Pak hay Mo kun kalau tidak, tidak nanti sepatah kata saja mampu mendamaikan pertikaian ini."

Kata Tan Liong sambil tersenyum.

"Benar ...."

"Jikalau ia tak menggunakan siasat memancing Harimau dari sarangnya diwaktu Pak hay Mo kun dan Peng hay Siang jin sedang repot menghadapi aku ia menolong kau keluar dari tempat tahanan secara terang-terangan barang kali tidak mampu membebaskan kau buat selama-lamanya."

"Tapi pedang Hian peng kiam tak dapat kuambil."

"Tentang ini tidak menjadi soal. Waktu itu aku perintahkan mengambil pedang itu maksudku ialah supaya kau membalaskan sakit hatiku atas perbuatannya Pak hay Mo kun yang telah memukul aku selagi dalam keadaan terluka tapi sekarang urusan itu sudah selesai, untuk apa pedang itu? "

"Kalau begitu kita sekarang boleh pergi? "

"Aku masih ada sedikit urusan, nanti kira-kira dua jam lagi kita boleh berangkat.

"Mereka bertiga, Tan liong, Gouw Siao Lee dan Pek lek cu lalu berjalan menuju ke rumah es nya Gouw Siao Lee.

Setiba di sana Gouw Siao Lee segera perintahkan pelayannya, itu si nona baju biru, supaya antarkan Pek lek cu ke pantai untuk menantikan Tan Liong.

Mereka berdua lalu masuk ke kamar untuk melanjutkan perjamuan yang ditinggalkan setengah jalan.

Setelah jamuan makan selesai, Tan Liong pamitan kepada Gouw Siao Lee.

"Nona Gouw, terima kasih atas sambutanmu yang hangat ini aku Tan Liong akan ingat dihati untuk selama-lamanya. Kini aku hendak memohon diri padamu.

" -o0o0dw0o0o-

Jilid KE . 35

"Ya, sudah waktunya kau pulang, kau tentunya masih ingat perkataanku, nanti setelah kau keluar dari rumah ini, kita akan berhadapan sebagai musuh benar-benar."

"Musuh? "

"Benar! "

"Ada permusuhan apa antara kita? "

"Apa Ciang bunjin sudah lupa ucapanku dahulu, ketika kau mencuri wajahku? "

Tan Liong segera teringat maka ia lantas berkata sambil tertawa getir.

"Apa nona masih tidak mau memaafkan kesalahanku yang tak sengaja itu? "

Gouw Siao Lee gelengkan kepalanya.

"Meski aku ingin berbuat demikian tapi aku tidak bisa lakukan sebab aku harus mematuhi sumpahku sendiri."

"Kalau memang begitu ya apa boleh buat, harap nona suka jaga diri baik-baik."

Sehabis berkata demikian ia lantas meninggalkan kamar itu, Gouw Siao Lee mengawasi berlalunya Tan Liong, air matanya meleleh keluar ....

ia ingin memanggil tapi ia tidak mampu membuka mulutnya.

Perlahan-lahan bayangan Tan Liong menghilang diantara kabut salju.

....

Gouw Siao Lee ketawa getir ia seperti sesalkan dirinya sendiri betapa ganjilnya perhubungannya itu.

Ia cinta padanya tapi juga benci padanya.

Meski malam itu angin meniup kencang salju turun deras tapi ia seolah-olah tidak menghiraukan itu semua ia tetap berdiri di depan pintu mengawasi suasana yang gelap bagaikan pikirannya sendiri.

Malam telah berakhir.

Matahari pagi mulai muncul menerangi jagat raya yang luas ....

Gouw Siao Lee hampir semalam suntuk berdiri di pintu mungkin sudah terlalu letih ia gerakkan kakinya masuk ke dalam.

Dilain pihak Tan Liong dan Pek lek cu malam itu telah meninggalkan pulau Han peng to.

Disepanjang jalan Tan Liong nampak kurang gembira bahkan sebentar-sebentar menghela napas pendek.

Pek lek cu agaknya merasa heran ia menanya sambil tersenyum.

"Ciang bunjin kenapa kau menghela napas? "

"Tidak apa-apa."

jawabnya singkat.

"Barusan laki-laki aneh itu mengatakan pertempuran di lembah Hong hwee kok apakah yang menjadi sebab? "

Tan Liong memberitahukan padanya tentang munculnya senjata bangkai berapi, tentang dirinya Bu jieThian sie yang terkurung dalam barisan batu ajaib kangzusi yang harus diberi pertolongan supaya terbebas dari kurungan kemudian mempelajari ilmu silat yang tertulis diatas mangkok ajaib barulah dapat memusnahkan senjata bangkai berapi yang amat dahsyat itu.

Bukan kepalang kagetnya Pek lek cu ketika mendengar penuturan tersebut kemudian ia menanya.

"Hong hwee kok adalah tempat kediaman Hiat im cu ia ada seorang yang berkepandaian sangat tinggi yang sudah tidak ada taranya. Pertempuran itu nanti akan merupakan suatu pertempuran yang sangat hebat."

"Memang benar sekarang Naga Merah sudah terbebas dari kurungan, empat hari kemudian di lembah Hong hwee kok akan ada suatu pertempuran besar.

Pihak mana yang nanti akan merebut kemenangan siapapun tidak berani meramalkan."

"Dimana adanya Naga Merah sekarang? "

"Di gua Pek hoa gam dibawah kaki gunung Ciong lam san."

"Pek hoa gam? "

"Ya, mereka ingin mengundang Sin kie cu untuk memecahkan barisan ajaib itu menolong Bu jie Thian sie keluar dari kurungan barisan batu ajaib itu."

Pek lek cu nampak terperanjat.

"Kau kata Sin kie cu itu orang luar biasa pada tiga puluh tahun berselang? "

"Mungkin dia."

"Apa dia belum wafat? "

"Belum."

"Dia ada seorang pandai luar biasa, kalau mendapat bantuannya, kita tidak usah kawatir tidak dapat memecahkan barisan itu."

Pada saat itu dari dalam perahu tiba-tiba terdengar suara orang nyeletuk.

"Sin kie cu meski dia pandai sekali terhadap sebangsa ilmu barisan purbakala akan tetapi kepandaian Hiat im cu dan senjata bangkai berapi mungkin bukan tandingannya."

Suara yang datangnya secara tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan Tan Liong dan Pel lek cu.

Selagi Pek lek cu hendak menegur, dari dalam kamar perahu muncul dirinya laki-laki setengah umur yang sangat aneh itu.

Munculnya kembali laki-laki aneh itu secara tidak terduga benar-benar mengherankan Tan Liong dan Pek lek cu bukankah laki-laki itu tadi sudah mengikut Pak hay Mo kun ke pusat perkumpulan Hian peng kauw?

Mengapa bisa muncul disini secara mendadak.

Laki laki aneh itu hanya tersenyum saja memandang sikap dua orang itu kemudian ia berkata.

"Apa jiwi merasa heran dengan kedatanganku secara tiba-tiba ini? "

"Benar, sejak kapan kau nyelundup kedalam perahuku ini?"

Demikian Tan Liong balas menanya.

"Aku lebih dulu setindak naik ke parahu ini daripada Pek lek cu, bukankah aku sudah beri janji padamu bahwa jam tiga malam aku akan tunggu kau disini? "

"Tapi bukankah tadi kau sudah pergi ke pusat perkumpulan Hian peng kauw bersama Pak hay Mo kun? "

"Itu memang benar."

"Kalau begitu kapan kau balik? "

Pek lek cu tanya.

"Tentang ini hanya kau sendiri yang tidak perhatikan aku datang lebih dulu sedetik dari pada kau."

"Bolehkah kiranya tuan memberitahukan namamu yang mulia? "demikian Pek lek cu menanya."

Tentang namaku maaf aku tidak dapat memberitahukan padamu kiranya jiwi tentu tidak akan buat sesalan."

"Aku rasanya seperti dimana pernah dengar suaramu ...."

Berkata Tan Liong.

"Apa iya? "

"Ya, suaramu ini sangat tidak asing bagiku tapi aku tidak ingat, dimana aku pernah dengar. numpang tanya, kau sudah pernah melihat aku atau belum? "

"Ciang bunjin namanya sangat tersohor dalam pertempuran diperkumpulam Thian seng hwee membuat Tan Chiang Bin sampai tidak berdaya dan kehilangan 50 atau 60 jiwa anak buahnya, hal itu telah menggemparkan seluruh dunia Kangouw, bagaimana aku tidak kenal padamu? "

"Pernah kau lihat aku? "

"Pernah, tapi kau tidak lihat."

"Heran, suaramu makin lama kudengar makin tidak asing bagiku."

"Apa Ciang bunjin tidak salah? "

"Tidak, tidak sedikitpun salah, entah dimana aku pernah dengar suaramu ini sayang aku kini sudah tidak ingat lagi."

"Tentang ini baiklah kita jangan bicarakan lagi. Sebaliknya aku ingin tanya padamu bukankah perjalananmu ke pulau Hian peng to ini adalah hendak menolong dirinya Pek lek cu yang kemudian bersama-sama turut ambil bagian dalam pertempuran di lembah Hong hwee kok? "

"Benar, apa kau juga ingin turut? "

"Mungkin aku juga ingin turut ambil bagian."

Ia berdiam sejenak, matanya menatap wajah Tan Liong, kemudian berkata pula.

"Ciang bunjin, aku ingin menanya suatu hal padamu."

"Boleh saja."

"Kabarnya Ciang bunjin benci sekali dengan ayahmu, Tan Chiang Bin? "

Pertanyaan ini mengejutkan Tan Liong untuk sesaat hatinya bercekat, kemudian ia menjawab.

"Memang benar aku pernah membenci padanya."

"Kenapa? "

"Ia telah meninggalkan ibuku dan kabur bersama-sama dengan Siao hun lie Chi Bun bun."

"Siapakah ibumu? "

Pertanyaan ini membuat Tan Liong terbungkam, hingga wajahnya berubah seketika.

Ia pernah mendapat keterangan dari Naga Merah bahwa ia bukan dilahirkan oleh Cui hoa Sian cu, juga bukan oleh Say siong go.

Tapi siapa sebetulnya yang melahirkan ia sendiri juga tidak jelas.

"Apa kau tidak tahu siapa sebenarnya ibumu sendiri? "

"Ya, aku memang tidak tahu siapa sebenarnya ibuku."

"Kenapa? Bagaimana kau tidak tahu kau dilahirkan oleh siapa? "

"Betul, terhadap asal usul diriku sendiri hingga saat ini masih merupakan satu teka teki."

"Apa kau cuma tahu bahwa Tan Chiang Bin telah meninggalkan ibumu? "

Tan Liong anggukkan kepala "

Mengenai asal usul dirimu dalam pertempuran besar dalam lembah Hong hwee kok nanti mungkin kau akan dapat tahu.

Sekarang aku juga tidak perlu tanya banyak-banyak, cuma satu-satunya hal yang dapat aku memberitahukan padamu ialah, Tan Chiang Bin bukan orang jahat, ia melakukan ibumu tiada celanya.

..."

"Bagaimana aku bisa tahu kalau aku tidak bersalah? "

Memotong Tan Liong dengan nada suara dingin.

"Sejak anak-anak aku tidak pernah mendapat cintanya ayahku, sebaliknya ia telah kabur bersama wanita jahat."

Laki-laki aneh itu menghela napas dan berkata.

"Mungkin ia mempunyai kesulitannya sendiri yang tidak dapat dijelaskan, hanya menurut apa yang aku tahu jika Tan Chiang Bin tidak pandang perhubungan darah antara ayah dengan anak, partai Ciong lam pay mungkin siang-siang sudah musnah ditangannya."

"Belum tentu."

"Kau terlalu tidak pandang mata kepada Tan Chiang Bin.

Jangan kata cuma partai Ciong lam pay yang tidak ada artinya, sekalipun Siauw lim pay, asal Thian seng hwee kerahkan seluruh kekuatannya juga dapat dimusnahkan, hal ini siapapun tidak ragu-ragu lagi."

Tan Liong hanya sambut dengan suara dingin tidak menjawab atau memberi pendapat. Laki-laki aneh itu berkata pula.

"Aku kenal baik dengan ayahmu, selanjutnya harap kau mengerti keadaannya."

Saat itu perahu yang mereka tumpangi sudah merapat dipantau Cang ho, bertiga lalu mendarat. Si nona baju biru lantas berkata kepada Tan Liong.

"Ciang bunjin, kalau kau ada waktu terluang, harap kau suka berkunjung lagi ke pulau Hian peng to."

Tan Liong mengawasi padanya sejenak, lalu menjawab.

"Baiklah kalau aku ada tempo, aku pasti akan datang lagi."

Nona itu ketawa kemudian memasang lagi layarnya dan kembali ke pulau. Laki-laki aneh itu mengawasi Tan Liong dan Pek lek cu sejenak lalu berkata.

"Aku masih ada sedikit urusan, maka aku hendak jalan lebih dulu, jika waktu mengijinkan, kita mungkin dapat berjumpa lagi dilembah Hong hwee kok."

Sehabis berkata lantas menghilang. Pek lek cu berkata sendirian sambil mengawasi berlalunya laki-laki aneh itu.

"Benar-benar ia aneh merupakan seorang yang sangat aneh."

Tan Liong lalu berkata.

"Benar, orang itu bukan saja sangat aneh tindak tanduknya, kepandaiannya juga sangat tinggi sekali."

Berkata sampai disitu mendadak perasaannya berubah lantas berseru. Pek lek cu mengawasi perubahan sikap anak muda itu, tampaknya juga heran, maka ia lantas bertanya.

"Ada apa? "

"Ayahku Tan Chiang Bin."

Mendengar jawaban itu Pek lek cu terperanjat.

"Tan Chiang Bin? "

"Tidak salah lagi, aku ingat betul, orang aneh itu adalah ayahku."

"Bagaimana kau tahu? "

"Aku pernah dengar suaranya, suara itu sama benar dengan suara ayahku ketika aku berada di Thian seng hwee.

Semula aku merasa memang tidak asing dengan suara itu namun tidak ingat dimana aku pernah dengar dan sekarang baru aku ingat."

"Mungkin benar dia ayahmu, sebab tadi ketika hendak bertempur dengan Pak hay Mo kun selagi menghunus pedangnya, aku dapat lihat dengan tegas, diujung pedang ada terdapat ukiran tiga tangkai bunga Bwee."

"Benar ayahku dulu memang mendapat gelar Bwee Sin kiam."

Pek lek cu berpikir sejenak lalu berkata.

"Kenapa ia tidak mau berlaku terus terang terhadap kau sebaliknya sengaja membuat bingung, orang ini benar-benar aku tidak mengerti."

"Ia tentunya merasa tidak enak kenalkan dirinya kepadaku sebab ia telah melakukan perbuatan yang tidak pantas terhadap diriku."

Pek lek cu geleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Mungkin benar seperti apa yang ia telah katakan ada kemungkinan besar ia ada kesulitan yang tidak dapat diutarakan maka aku harap kau selanjutnya dapat memahami keadaannya."

"Tentang ini sebaiknya jangan dibicarakan dulu sebaiknya kita harus pergi ke Pek hoa gam untuk merundingkan dengan cara bagaimana hendak menghadapi Hiat im cu dan senjata Bangkai berapi."

Keduanya setelah mengisi perut di kota pantai itu lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke lembah Pek kang hoa zusi gam com.

Pada hari berikutnya, Pek lek cu dan Tan Liong ketika tiba di kota Kay hong, selagi hendak makan disalah satu tempat rumah makan mendadak Tan Liong berseru kaget karena matanya dapat lihat satu tanda guratan sesosok tubuh manusia sebelah warna merah dan sebelah warna hitam.

Pek lek cu yang juga dapat lihat tanda itu lantas menanya.

"Tanda apa itu? "

"Ini adalah tanda yang ditinggalkan Im yang Ie su yang sudah kita janjikan pada kala itu, ia pasti ada urusan penting mencari aku, maka harap kau pergi dulu ke Pek hoa gam besok aku segera menyusul."

"Baiklah, aku nanti akan berjalan lebih dulu."

Selagi Pek lek cu hendak berlalu, Tan Liong tiba-tiba memanggil dan berkata padanya.

"Locianpwee ...."

"Ada urusan apa? "

"Aku, aku, aku ingin minta tolong padamu."

"Ada urusan apa katakan saja terus terang."

"Aku ingin bertaruh lagi denganmu! "

"Bertaruh? Perlu apa? "

"Aku ingin dapatkan bom Pek lek tan."

"Kau ingin dapatkan bom Pek lek tan? "

Tanyanya Pek lek cu sambil ketawa terbahak-bahak.

"Benar."

"Apa kau kira aku ini seorang kikir? "

"Aku merasa tak enak minta darimu."

"Kalau memang membutuhkan, aku boleh berikan tiga buah padamu, tapi kau jangan pakai untuk membunuh orang yang tak berdosa."

"Aku akan ingat pesanmu itu."

Pek lek cu lalu menyerahkan tiga buah bom Pek lek tan kepada Tan Liong, dan ia sendiri berangkat lebih dulu ke Pek hoa gam.

Baru saja Tan Liong simpan bom itu ke dalam badannya, tiba-tiba pundaknya ditepuk orang dan dibelakang dirinya terdengar orang berkata.

"Huciang bunjin, bolehkan bagi aku sebuah saja untuk kupakai? "

Tan Liong terperanjat cepat ia putar tubuhnya, dibelakang dirinya ternyata ada berdiri Im yang Ie su.

"Locianpwee, kau mencari aku ada urusan apa? "

Demikian tanyanya Tan Liong sambil tersenyum.

"Kalau tidak ada urusan perlu, apa aku cari kau? "

"Ada urusan apa sebetulnya? "

"Sekarang kita harus berangkat ke lembah Lui in kok."

"Lui in kok? Perlu apa? "

"Chie Peng dan Chie Cui tertangkap oleh orang-orang Thian seng hwee."

Mendengar keterangan itu wajah Tan Liong lantas berubah.

"Apa Chie Peng dan Chie Cui pergi menyatroni Thian seng hwee? "

"Ya."

"Kalau begitu kita harus lekas pergi menolong mereka. Mengapa mereka berbuat begitu bodo? "

"Mereka hendak mencari Hiat hun Koay po untuk menuntut balas. Selain dari pada itu masih ada satu hal yang kau harus ketahui, apakah kau sudah tahu bahwa ayahmu masih belum mati? "

"Aku pernah melihat seorang laki-laki sangat aneh, ia seperti ayahku, tapi ia tidak mengatakan terus terang."

Ia lalu menceritakan pengalamannya dalam perjalanan kepulau Hian Peng to Im yang Ie su lalu berkata.

"Mungkin benar orang itu adalah ayahmu .... , marilah kita sekarang berangkat ke lembah Lui in kok."

Lembah Lui in kok, keadaannya masih serupa seperti pertama kali Tan Liong datang kesitu, tidak mengalami perubahan apa-apa, Selagi Tan Liong hendak masuk ke lembah, Im yang Ie su berkata.

"Kalau kita menerjang pos penjagaan secara gegabah, pasti akan mengejutkan mereka, sehingga diperkuat penjagaannya, mengapa kita tidak mengambil jalan secara diam-diam? "

Tan Liong setujui usul orang tua itu, setelah berunding sejenak, Tan Liong lalu masuk ke pusat perkumpulan Thian seng hwee melalui jalan sebelah selatan.

Tapi baru saja Tan Liong masuk ke dalam rimba.

mendadak terdengar suara orang ketawa dingin, ia terperanjat karena suara itu seperti suaranya seorang wanita.

Ia agak heran, sebab kedatangannya dengan Im yang Ie su ke lembah itu, tidak diketahui oleh lain orang, bagaimana mendadak ada suara ketawa mengejek?

Karena ia sudah bertekad hendak menolong jiwanya Chie Peng dan Chie Cui, maka ia tidak menghiraukan suara ketawa itu.

Ia hendak melanjutkan perjalanannya.

Mendadak sesosok tubuh manusia berada didepan Tan Liong.

Gerakan orang itu yang sangat gesit dan lincah mengejutkan Tan Liong hingga ia mundur dua langkah.

Setelah menegasi, hatinya bercekat, sebab orang itu ternyata ada seorang wanita setengah tua berpakaian hitam.

Dan dibelakangnya ada berdiri Hoan Giok Hoa.

Munculnya Hoan Giok Hoa dan wanita setengah tua itu secara tiba-tiba benar-benar mengejutkan Tan Liong.

Dengan mata sayu Hoan Giok Hoa memandang wajah Tan Liong.

Dari sinar matanya dapat juga dibaca bagaimana perasaan hatinya pada saat itu.

Tan Liong agaknya baru sadar wanita setengah tua itu mungkin adalah isterinya Sam gan Mo kun Thian liong lie.

Pada saat itu, wanita setengah tua itu dengan sinar mata tajam menatap wajah Tan Liong kemudian berkata padanya dengan nada suara dingin.

"Apakah kau Tan Liong? "

"Tidak salah."

"Kau telah membunuh Sam gan Mo kun? "

"Benar ...."

Belum lagi Tan Liong melanjutkan kata-katanya, wanita itu sudah gerakkan badannya dan berkata dengan suara bengis.

"Tan Liong, serahkan jiwamu! "

Tangannya segera bergerak menyerang dada Tan Liong.

Tan Liong benar-benar tidak menduga bahwa didalam rimba sekitar lembah Lui in kok itu akan bertemu dengan Thian liong lie dan Hoan Giok Hoa.

Karena dalam keadaan tidak berjaga-jaga serangan wanita setengah tua itu hampir saja mengenai dadanya.

Tan Liong lantas naik darah dengan suara gusar ia berkata.

"Kau telah berkhianat kepada partai dan membunuh Yo Swi Peng, aku justeru hendak mencari kau tidak dikira kau antarkan diri sendiri. Kau juga jangan sesalkan kalau aku tidak akan memberi hati padamu."

Sehabis berkata ia lalu balas menyerang.

Kedatangan Thian liong lie dengan maksud hendak menuntut balas atas kematian suaminya, maka ia mengerahkan seluruh kepandaian dan kekuatannya untuk melawan Tan Liong.

Dalam keadaan demikian sudah tentu tidak mudah bagi Tan Liong untuk dapat mengakhiri pertempuran itu dengan cepat.

Setengah jam kemudian Tan Liong terpaksa menggunakan ilmunya Im yang ciang untuk menundukkan musuhnya.

Begitulah ketika serangan yang amat dahsyat itu mengenai Thian liong lie diantara suara jeritan Hoan Giok Hoa wanita setengah tua itu lantas jatuh rubuh ditanah dengan mengeluarkan darah dari mulutnya.

Tan Liong segera akan menamatkan jiwa wanita itu, tapi lantas dicegah oleh Hoan Giok Hoa.

"Engko Tan, kau tidak boleh turun tangan lagi ...."

Tan Liong terperanjat, dengan cepat ia tarik kembali serangannya yang sudah akan jatuh di badan Thian liong lie. Sedang Hoan Giok Hoa dengan air mata berlinang linang mengawasi padanya ....

"Adik Hoan ...."

Demikian Tan Liong cuma bisa mengatakan karena tennggorokannya seperti terkancing.

"Engko Tan, kau sudah membunuh ayahku, apa kau masih tega hati untuk menghabisi ibuku sekalian?"

Berkata Hoan giok Hoa dengan suara bergetar.

"Aku berbuat demikian karena terpaksa, perintah suhu aku tidak boleh ingkari. Tentang ini aku percaya kau tentunya juga mengerti sendiri."

Kata Tan Liong sambil menghela napas panjang.

"Ayahku memang sudah mengkhianati partai. maka kematiannya itu memang sudah seharusnya, tapi ibuku tidak turut ambil bagian dalam usahanya membunuh Yo Swie Peng.

"Bagaimana kau tahu kalau ibumu tidak turut campur tangan?"

"Sebab ibuku adalah puterinya Yo swie Peng."

Mendengar keterangan itu Tan Liong terperanjat.

"Apa? Ia itu puterinya Yo Swie Peng? "

"Benar, ibuku adalah putrinya Yo Swie Peng, ia telah melanggar kehormatan ibuku sehingga diusir oleh kakek, sebab kala itu ibuku sudah mengandung, maka terpaksa ikut ayah, tentang perbuatan ayah terhadap kakek ibu sama sekali tidak tahu."

"Bagaimana kau tahu perselisihan itu? "

"Ini adalah ibuku yang ingin memberitahu padaku."

"Kalau begitu ibumu sudah terang tidak berdosa."

"Ya, ibu adalah seorang yang tidak berdosa dan tidak beruntung dalam hidupnya."

"Hampir saja aku kesalahan tangan membunuh orang yang tidak berdosa ..."

Berkata sampai disitu Tan Liong agaknya ingat sesuatu maka ia lantas menanya.

"Adik Hoan, kabarnya kau sudah mengandung ....? "

Airmata Hoan Giok Hoa mengalir semakin deras, ia menjawab dengan suara duka.

"Ya, memang benar, aku sudah mengandung."

Tan Liong tidak merasa kaget, ia cuma mengawasi Hoan Giok Hoa. Perasaannya seperti sudah beku, katanya.

"Itu adalah anak kita."

"Ya, anak kita."

"Adik Hoan, apa kau suka maafkan diriku?"

"Apa yang harus dimaafkan?"

"Karena aku telah membunuh mati ayahmu .... Sam gan Mo kun"

Hoan Giok Hoa menjerit, tiba-tiba ia jatuhkan dirinya dalam pelukan Tan Liong.

Tan Liong tidak berdaya, ia cuma berdiri menjublek, membiarkan hoan Giok Hoa menangis sepuas-puasnya.

Lama sekali ia baru membalas memeluk tubuh Hoan Giok Hoa seraya berkata.

"Adik Hoan, buat apa kau menangis? Aku tahu bahwa aku berdosa terhadap dirimu, tapi kau harus tahu keadaanku."

Hoan Giok Hoa tidak menjawab, ia menangis semakin sedih.

"Adik Hoa, kau jangan terlalu berduka! "

Tiba-tiba Hoan Giok Hoa mendorong tubuh Tan Liong, suara tangisannya juga berhenti, diparasnya yang pucat pasi masih banyak tetesan air mata. Tan Liong lantas memeluk padanya seraya berkata.

"Adik Hoan, aku cinta padamu."

"Apakah perkataanmu ini dapat dipercaya? "

"Ya, aku cinta padamu, aku harus berbuat demikian sebab dalam perutmu sudah ada darah dagingku."

Hoan Giok Hoa mendadak ketawa terbahak-bahak tapi ketawanya itu bukan ketawa girang melainkan ketawa duka, hingga kedengarannya sangat menyedihkan.

"Adik Hoan, kau kenapa? "

Tegurnya Tan Liong. Hoan Giok Hoa berhenti ketawa, dengan sinar mata dingin menatap wajah Tan Liong kemudian berkata.

"Apa cuma lantaran didalam perutku sudah ada kandunganmu, maka kau baru mencintai aku? "

Pertanyaan ini membuat hati Tan Liong tercekat, ia agaknya mendapat firasat jelek hingga lama tidak mampu menjawab.

"Kenapa kau bungkam? "

Tanya Hoan Giok Hoa dingin.

"Ya, adik Hoan, aku tak suka berbohong pada kau juga tidak suka hatiku ditipu oleh perasaanku sendiri, ketika pertama kau berjumpa dengan aku dan kau mencinta aku, hatiku sebetulnya sudah beku aku tidak dapat mencinta wanita lain lagi.

Sebab cintaku sudah dibawa pergi oleh kekasihku yang pertama."

"Kenapa kau tak bisa mencinta lagi? "

"Aku tahu jika aku mencinta kau, itu hanya satu penipuan belaka sebab cintaku itu tak setulus hatimu.Tentang ini aku percaya kau tentunya dapat mengerti."

"Apa benar? "

"Ya, apakah kau tidak pecaya lagi padaku? "

"Tapi aku tidak mau anak dalam perutku ini!"

Jawabnya sambil ketawa dingin. Hati Tan Liong bagaikan dihantam dengan godam, tanyanya dengan suara gemetar.

"Kau tak mengingini anakmu itu? "

Hoan Giok Hoa menjawab sambil ketawa dingin.

"Ya, aku tak mau anak itu sebab itu anak haram! "

Tan Liong menggigil ia menanya dengan suara gemetar.

"Kau .... kau kata itu anak haram? "

"Apa kau kira bukan haram? Maka aku hendak gugurkan padanya! "

"Apa? Kau hendak gugurkan? "

"Ya! "

"Tidak! Kau tidak boleh berbuat demikian."

"Bayi ada didalam perutku, aku hendak berbuat apa dengannya itu ada tergantung dengan kehendakku sendiri, apa kau dapat menghalanginya? "

"Tidak, kau tidak boleh berbuat demikian ini ada satu perbuatan kejam! Kau ...."

Tan Liong merasa sangat cemas. Tapi Hoan Giok Hoa sambut itu dengan sikap dingin katanya dengan nada dingin.

"Ya itu adalah darah dagingmu aku tahu kau akan merasa pilu tapi aku tidak boleh tidak harus berbuat demikian karena itu ada buah dari perbuatan haram coba kau pikir apakah kita dapat hidup bersatu? "

"Mengapa tidak? Asal kau dapat mengampuni dosaku kita dapat hidup suami isteri."

"Tan Liong, ketahuilah olehmu kau sudah membunuh ayahku apakah aku masih dapat menikah denganmu? "

"Tapi kau juga tak seharusnya menggugurkan kandunganmu."

"Apa kau anggap itu terlalu kejam? "

"Ya, karena bayi itu tidak berdosa apa-apa."

"Ini adalah pembalasanku ....! "

"Pembalasan ....? Kau maksudkan pembalasan terhadap diriku ....? "

"Ya, pembalasan terhadap dirimu Tan Liong aku tidak menyangkal bahwa aku pernah cinta padamu, bahkan cintaku itu ada sedemikian dalam, tapi sekarang aku mengerti bahwa itu hanya satu impian dewi belaka.

setelah pertemuan di lembah Hong hwee kok aku sebetulnya sudah ambil keputusan tidak akan menjumpai kau lagi.

mengapa?

Aku sendiri juga tak tahu mungkin selama kita berpisahan dalam beberapa hari ini ada kalanya aku dapat melupakan wajahmu.

Namun aku harus melihat kau sekali lagi, supaya wajahmu terukir selama lamanya didalam lubuk hatiku, sehingga tidak terhapus.

Barang kali kau akan tertawakan aku terlalu gila.

Tidak, aku mengerti kau kangzusi adalah laki-laki pertama yang menempati hatiku hal ini tak akan kulupakan untuk selama-lamanya.

Walaupun semua yang telah terjadi itu kini ibarat impian yang menakutkan, tapi sekarang bagaimana aku harus sadar.

Aku telah berpikir dengan tenang, apakah yang aku dapatkan?

Dan aku sekarang kehilangan apa ....

Aku tidak bisa sesalkan kau juga tidak akan sesalkan diriku.

Dalam perjalanan sisa hidupku cuma meninggalkan bekas dari satu pengalaman indah sebagai kenang-kenangan walaupun hanya sepintas lalu saja tapi aku sudah merasa puas.

Sekarang akutidak muluk-muluk, aku mengerti bahwa cintamu padaku itu adalah satu perbuatan keliru, tapi kala itu aku tidak berpikir demikian, sebab aku tidak dapat menindas perasaanku yang meluap-luap.

Sekarang semuanya telah berlalu bagaikan asap tertiup angin aku ingin bertemu sekali lagi saja dengan kau dan selanjutnya perhubungan antara kita akan putus."

Setiap patah kata yang keluar dari mulut Hoan Giok Hoa seolah-olah ujung pedang yang menusuk hati Tan Liong.

betapapun keras hati Tan Liong juga merasa sangat terharu sehingga air matanya turun dengan tanpa dirasa.

Hoan Giok Hoa berkata pula.

"Siapapun tidak perlu berduka, sebetulnya kau juga tidak akan susah hati karena kehilangan aku, sebaliknya dengan aku untuk selanjutnya barangkali aku tidak dapat melupakan kau."

Sehabis berkata ia tersenyum kemudian balikkan badan membimbing ibunya yang terluka lalu lambat-lambat berjalan turun gunung.

Tan Liong bagaikan orang kehilangan pikiran mengawasi berlalunya Hoan Giok Hoa.

Kemudian ia berseru dengan mendadak.

"Adik Hoan ....! "

Hoan Giok Hoa balikkan badan dan berkata sambil ketawa getir.

"Dalam keadaan tidak diduga kita saling bertemu dan sekarang berpisah secara diam-diam, bukankah itu ada yang paling baik.

Penghidupan manusia ialah sandiwara dan sekarang sandiwara yang kita mainkan itu sudah tiba waktunya harus selesai."

"Adik Hoan, benarkah kau hendak menggugurkan kandunganmu? "

"Ya, mengapa tanya lagi? "

"Adik Hoan, kau tidak boleh berbuat demikian, jika bayi itu adalah tidak berdosa, ia tidak bersalah apa-apa mengapa kau begitu kejam terhadap padanya? "

"Soal ini perlu kita bicarakan lagi. Tan Liong, lain kali jika berjumpa lagi semoga kita masih merupakan sahabat baik."

Sehabis berkata demikian ia lantas balikkan badannya dan berlalu.

Tan Liong masih coba memanggil tapi Hoan Giok Hoa tidak menoleh lagi, ia tetap melanjutkan perjalanannya turun gunung sambil membimbing ibunya.

Sepasang kekasih itu akhirnya berpisahan dalam keadaan mengenaskan.

Benar seperti apa yang Hoan Giok Hoa katakan, itu cuma merupakan satu impian yang menakutkan setelah tersadar dari impiannya antara ia dengan Tan Liong juga berakhir sudah hubungannya.

Sudah tidak ada apa-apa lagi yang patut diberati, sekalipun ada apa yang mereka dapat.

Setelah bayangan Hoan Giok Hoa hilang dari pandangannya, Tan Liong berteriak-teriak bagaikan orang gila dalam waktu sekejap itu, budi pekertinya seolah-olah sudah terbang meninggalkan raganya.

Ia ingin menangis, tapi tidak mau keluar air matanya, kemarahan, kesedihan dalam hatinya, ia tidak tahu bagaimana harus dikeluarkan, jika tidak dikeluarkan mungkin ia bisa gila benar.

Ia menggeram hebat, sepasang tangannya mendadak bergerak menghantam pohon besar didepannya, hingga pohon itu rubuh tanpa ampun lagi.

Walaupun demikian, ia masih belum berhenti, tangannya bergerak menghantam apa saja yang ada di depan hingga beberapa batang pohon telah menjadi korban.

Setelah merasa puas, ia berdiri bingung, ia seperti sudah lupa dimana dirinya sekarang berada, bahkan ia seperti sudah hilang dari dunia.

Akhirnya ia berkata sendiri.

"Tan Liong, Tan Liong! Apa sebetulnya yang kau lakukan? Itu adalah darah dagingmu sendiri, jiwa bayi itu tidak berdosa."

Pada saat itu dari dalam rimba tiba-tiba muncul beberapa puluh orang, lari menghampiri Tan Liong.

Orang-orang itu bukan lain dari anak buahnya Thian seng hwee.

Ketika dapat lihat Tan Liong, tiada satupun yang tidak merasa kaget dan heran.

Tan Liong agaknya masih belum sadar bahwa dirinya dalam keadaan bahaya hanya samar-samar ia seperti melihat beberapa bayangan orang.

Orang-orang Thian seng hwee itu dipimpin oleh tongcu bagian luar Jie Seng.

Dialah yang maju ke depan Tan Liong dan menegur dengan suara dingin.

"Tidak disangka adalah kau Ciang bunjin.

Aku si orang she Khu beruntung dapat menemukanmu.

Tan Liong seperti baru tersadar dari lamunannya, dengan sinar mata tajam ia menyapu orang-orang itu sejenak lalu berkata sambil ketawa dingin.

"Apa kalian hendak mengantar nyawa? "

"Ciang bunjin dengan kami ada mempunyai permusuhan terlalu dalam, kita justeru mencari kau, ketika kami dapat dengar bahwa kau masih hidup, sungguh tidak disangka kau sendiri yang antarkan jiwa ...."

Demikian Khu Jit Seng berkata.

Tan Liong yang masih belum reda hawa amarahnya ketika mendengar perkataan demikian, mapsu membunuhnya berkobar lagi, dengan tanpa banyak bicara lagi, ia lompat menerjang dan menghujani serangan kepada orang-orang Thian seng hwee.

Serangan yang dilakukan dalam keadaan kalap itu sudah tentu sangat hebat, maka sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritan beberapa orang Thian seng hwee yang berada paling depan sudah lantas melayang jiwanya.

Bukan kepalang kagetnya Khu Jit Seng, karena baru beberapa hari saja, anak muda itu kepandaiannya sudah maju sedemikian rupa.

Tan Liong setelah membinasakan dua orang Thian seng hwee lagi tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara orang berkata.

"Huciang bunjin, lekas menyingkir dari sini, apa perlunya kau membunuh orang yang tak berdosa? Chie Peng dan Chie Cui telah menunggu diluar lembah Lui in kok."

Mendengar suara itu Tan Liong terperanjat sebab ia masih kenali bahwa suara itu adalah suara ayahnya sendiri.

Untuk sesaat ia berdiri kesima kemudian mengawasi orang-orang Thian seng hwee dan berkata dengan suara dingin.

"Kali ini biarlah kuberi ampun, tapi lain kali jika ketemu lagi dengan aku, awas tanganku tak akan memberi ampun lagi."

Sehabis berkata demikian ia lantas lompat melesat dan lari turun gunung.

Orang-orang Thian seng hwee itu tiada satupun yang berani mengejar, sebetulnya Khu Jit Seng juga mengetahui kekuatannya sendiri, biar bagaimana ia tidak mampu melawan anak muda itu.

Dalam waktu sekejap saja Tan Liong sudah berlalu sepuluh tombak lebih, tiba-tiba ia dengar suara orang ketawa dingin kemudian ia seperti ada kekuatan tenaga dalam yang menyerang ke arah dirinya.

Bukan kepalang kagetnya Tan Liong, kalau ia tidak mempunyai kepandaian dan kegesitan luar biasa, mungkin ia sudah binasa karena serangan menggelap itu.

Dengan cepat ia melompat mundur, ketika ia pasang matanya, dihadapannya telah berdiri seorang wanita muda yang elok sekali tapi pakaiannya compang-camping.

Tan Liong berdiri kesima.

Paras wanita muda itu dengan dandanan yang compang-camping merupakan suatu perbedaan yang sangat menyolok sekali.

Dilihat dari dandanannya wanita itu mirip dengan seorang pengemis, tapi parasnya sangat elok, tidak kalah dibandingkan dengan Oey Bwee Cian.

Sekian lama Tan Liong masih berdiri kesima mulutnya cuma dapat mengeluarkan ucapan.

"Aneh! "

Wanita cantik berpakaian compang-camping itu mengunjukkan ketawa dinginnya, kemudian ia menanya.

"Siapa kau? "

Suaranya sangat merdu hingga menggoncangkan hati Tan Liong sampai ia tidak mampu menjawab. Wanita cantik itu menatap wajah Tan Liong. Mendadak ia unjukkan ketawanya yang manis lalu berkata.

"Aku ingat, kau barangkali pemuda yang namanya menggemparkan dunia Kangouw, kaulah Tan Liong! "

Tan Liong terperanjat lalu menjawab.

"Benar, aku adalah Tan Liong."

"Juga Ciang bunjin Ciong lam pay? "

"Bukan. Ciong lam pay sudah ada ketuanya sendiri ...."

"Kalau begitu kau tentu wakil ketuanya? "

"Tidak salah."

"Tahukah kau, siapa aku? "

Tan Liong gelengkan kepalanya dan berkata.

"Aku masih sangat asing dengan nona dewi, entah apa sebabnya nona membokong diriku? "

Wanita itu ketawa terbahak-bahak sikap wanita itu benar-benar membingungkan Tan Liong maka ia lantas menanya.

"Nona apa yang kau tertawakan? "

Wanita itu hentikan ketawanya dan menjawab.

"Aku ketawakan kau! "

"Ketawakan aku? "

"Benar, orang bilang kau ada satu tukang membunuh orang tapi hari ini setelah aku lihat sendiri aku baru tahu bahwa ucapan orang-orang itu ternyata bohong. Kau ternyata ada satu laki-laki gagah dan tampan pula. Kecuali main cinta kau masih mempunyai kepandaian apa lagi? "

Wanita itu berkata pula.

"Semula aku hampir saja melakukan kesalahan besar jika aku menyerang sampai mati dirinya seorang pemuda tampan seperti kau ini. Dimana aku dapat mencari suami yang lebih tampan dari padamu? "

Pertanyaan secara blak-blakan ini benar gila hingga Tan Liong lantas menjadi gusar. Tapi kemudian ia seperti ingat sesuatu maka lantas menanya.

"Nona siapa? Bolehkah kiranya memberitahukan namamu yang mulia? Jikalau tidak jangan sesalkan kalau aku nanti berlaku kasar terhadap kau."

Tapi wanita cantik itu masih unjukkan tertawanya yang manis dan menawan hati.

"Astaga! Mengapa kau begitu galak? Aku ...."

"Kalau tidak bicara terus terang aku nanti pasti akan berlaku tidak sungkan-sungkan lagi."

"Tapi aku sudah lupa dengan namaku sendiri."

Wajah Tan Liong lantas berubah, ia membentak.

"Apakah kau Siao hun lie, ketua Thian seng hwee yang sekarang? "

Wanita cantik itu tercengang kemudian menjawab.

"Benar."

Nafsunya membunuh Tan Liong berkobar lagi katanya mengejek.

"Oh, kiranya adalah kau, aku kira siapa dengan maksud apa kau merintangi perjalananku? "

"Oh! Mengapa kau begitu mengotot? Bukankah kita berbicara lebih baik secara begini? Perlu apa kau berlaku begitu galak? "

"Siapa sudi melayani perempuan gila seperti kau ini? Kalau kau tidak mau menyingkir awas aku nanti segera bertindak ...."

Wanita itu mendadak sikapnya berubah sedih dengan suara mengharukan ia berkata.

"Orang secara sopan dan baik-baik bicara denganmu .... tapi .... kau .... dengan sikap demikian kasar perlakukan seorang wanita."

Bicara sampai disitu ia lantas menangis.

Siao hun lie memang seorang wanita aneh ia pandai memikat hati lelaki juga pandai main sandiwara.

Karena Tan Lion paling takut menghadapi perempuan menangis, maka tangisan Siao hun lie itu membuat ia kewalahan ia tidak tahu bagaimana harus berbuat, ia cuma berdiri menjawab sambil mengawasi wanita itu.

Wanita itu makin lama makin menyayat hati, seolah-olah benar-benar merasa sedih atas perlakuan Tan Liong.

"Aku tokh tidak menghina kau, kenapa kau bersedih? "

Berkata Tan Liong cemas.

"Diajak bicara baik-baik, mengapa kau perlakukan aku begitu ....? "

Tan Liong tidak berdaya akhirnya ia berkata sambil menghela napas.

"Baiklah, ada urusan apa kau katakan saja perlu apa harus menangis? "

Siao hun lie hentikan tangisnya dan berkata.

"Kalau kau tidak ingin aku berduka bicaralah baik-baik denganku."

"Katakanlah."

Tan Liong masih berdiri menjublek tidak menjawab, Siao hun lie mendekati padanya dan berkata.

"Apa betul kau tidak marah lagi terhadap aku, jawablah! "

"Jikalau kau tidak bermaksud jahat terhadap aku, apa perlunya aku marah padamu? "

Siao hun lie tersenyum, nampaknya semakin menggiurkan.

"Ciang bunjin, kau tahun ini umur berapa? "

Pertanyaan ini membuat Tan Liong heran hingga ia tidak bisa menjawab.

Siao hun lie maju semakin dekat hingga terpaksa Tan Liong peringatkan padanya.

Dengan kecepatan bagaikan kilat Siao hun lie menarik tangan dan menekan jalan darah pergelangan tangan Tan Liong.

Tan Liong mendadak merasakan kesemutan sedang tangannya sudah digenggam oleh tangan Siao hun lie.

Tan Liong baru sadar bahwa dirinya telah tertipu tapi sudah terlambat.

"Kau ...."

Demikian bentaknya. Paras Siao hun lie lantas berubah keren.

"Huciang bunjin, lebih baik kau menurut saja, kalau kau masih tidak tahu diri, awas! aku nanti akan turun tangan kejam."

Tan Liong tak berdaya ia hanya mengawasi wanita itu dengan sinar mata beringas.

"Nona, perbuatanmu ini apa maksudmu? "

Tanya Tan Liong sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya kebagian pergelangan tangannya.

"Huciang bunjin, kau harus mengerti Siao hun lie masih belum gila benar-benar, sebaiknya kau jangan hamburkan seluruh kekuatan tenaga dalammu."

Sementara itu, pergelangan tangan Tan Liong dirasakan seperti diiris pisau tajam, hingga menimbulkan rasa sakit luar biasa.

"Nona, kau terlalu kejam."

"Kau telah menghabiskan beratus-ratus jiwa anak buah Thian seng hwee dengan bom Pek lek tan apa itu tidak kejam?"

"Membokong orang dalam keadaan tidak berjaga-jaga apa kau tidak takut namamu dan kedudukanmu sebagai ketua akan menjadi buah tertawaan orang? "

"Terhadap kau aku tidak perdulikan itu."

"Apa yang kau kehendaki bicaralah terus terang! "

"Ikut aku ke markas Thian seng hwee."

"Tidak bisa."

"Tidak bisa juga harus bisa. Jangan lupa bahwa jiwamu berada ditanganku."

"Tapi apa yang kau bisa berbuat terhadap aku? "

"Bisa berbuat apa? Kalau aku sekarang hendak membunuh kau, bukankah itu sangat mudah sekali? "

"Boleh coba saja."

"Tapi aku sekarang belum ingin membunuhmu."

Pada saat itu Khu Jit Seng dan beberapa puluh orang Thian seng hwee sudah mengurung diri Tan Liong. Khu Jit Seng memberi hormat kepada Siao hun lie seraya berkata.

"Teecu disini memberi hormat."

"Disini sudah tak ada urusan lagi, kalian boleh pulang."

Khu Jit Seng mengawasi Tan Liong sambil ketawa dingin, kemudian memimpin anak buahnya, pulang ke lembah Lui in kok.

"Huciang bunjin, mari jalan."

Berkata Siao hun lie sambil mengawasi Tan Liong.

"Boleh kau bawa aku pergi asal aku binasa ditanganmu."

"Kalau begitu, apakah benar-benar kau tidak mau ikut? "

"Tidak, Tan Liong tidak sudi berjalan dengan kau."

"Kalau begitu jangan sesalkan aku berlaku kejam."

Sehabis berkata demikian ia tambah dua bagian kekuatannya untuk menekan tangan Tan Liong hingga membuat Tan Liong kesakitan.

"Kau mau jalan atau tidak? "

"Tidak! "

"Tidak? Katakanlah sekali lagi."

Wanita itu tampaknya sudah kehilangan sabarnya, dengan paras beingas memandang Tan Liong.

Dalam keadaan demikian, Tan Liong maka diam-diam tangan kirinya menggenggam sebutir bom Pek lek tan, ia sudah bersedia hendak mati sama-sama dengan Siao hun lie.

Gerakan tangan Tan Liong itu seakan tidak diketahui oleh Siao hun lie, cuma ia tidak tahu bahwa yang tergenggam dalam tangannya itu adalah bom Pek lek tan.

Maka ia cuma menanya dengan nada suara dingin.

"Tan Liong, kau mengambil apa? Racun? "

"Tidak salah, racun. Jika kau tidak lepaskan tanganmu."

"Lalu, kau hendak makan racun itu? "

"Ya."

Sementara itu, Tan Liong sudah siap melontarkan bomnya.

Kalau bom itu dilontarkan, apakah Siao hun lie bisa meloloskan diri?

Masih merupakan satu pertanyaan, tapi Tan Liong sendiri juga tidak luput dari bahaya.

Dan jika Siao hun lie mengetahui barang yang digenggam dalam tangan Tan Liong adalah bom Pek lek tan, maka cekalan tangan dipergelangan tangan Tan Liong pasti diperkeras atau melakukan serangan mematikan.

Meski jalan darah dipergelangan tangan itu bukan merupakan jalan darah terpenting tapi jika kena diserang, pasti akan menjadi cacat atau terluka parah.

"Kau ingin makan racun, makanlah! "

Berkata Sao hun lie sambil ketawa dingin.

"Kau tidak mau lepaskan? "

"Tidak."

Tan Liong keluarkan bentakan keras, bom yang tergenggam ditangan kiri lantas melontar keluar.

Berbareng dengan itu seluruh kekuatan tenaga dalamnya juga dikerahkan pada tangan kanan untuk melawan serangan Siao hun lie.

Begitu melihat bom Pek lek cu, Siao hun lie parasnya lantas berubah, Semula ia memang tidak menduga kalau bom Pek lek tan dan kini setelah mengetahui asap mengepul keatas ia baru ingat maka lantas berteriak.

"Tan Liong kau ...."

Sebelum dapat melanjutkan kata-katanya bom sudah meledak ....

Juga pada saat Siao hun lie berteriak tangan kanan Tan Liong dirasakan sakit sekali seolah-olah terlepas dari badannya.

Tatkala bom itu meledak ia lantas jatuh pingsan ....

Sementara itu sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur kedalam gumpalan asap.

Setelah suara bom sirap di tempat dimana bom itu meledak kecuali termasuk batang pohon tidak terdapat bangkai manusia.

Aneh!

Apakah Tan Liong dan Siao hun lie tidak mati kena bom?

Memang benar Tan Liong tidak mati, sebab tatkala asap mengepul Tan Liong sudah disambar oleh sesosok bayangan orang yang meluncur turun dari dalam rimba.

Siapakah orang itu?

Ia bukan lain daripada laki-laki setengah umur yang sangat aneh itu.

Sedangkan Siao hun lie sangat mahir sekali ilmu meringankan tubuhnya sudah tentu ia dapat meloloskan diri dengan mudah.

Laki-laki aneh itu bawa dirinya Tan Liong kebawah gunung.

Lama sekali Tan Liong baru sadarkan diri dan ingat kembali apa yang terjadi ....

Tapi kecuali ingat bagaimana ia melontarkan bomnya, untuk selanjutnya ia tidak tahu lagi apa yang telah terjadi.

Ia lantas menanya-nanya pada diri sendiri.

"Apa aku masih belum mati? " -o0o0dw0o0o-

Jilid KE . 36

"Ya, Huciang bunjin, kau masih belum mati."

Suara itu terdengar disamping telinga. Tan Liong baru dapat lihat bahwa orang di sampingnya itu adalah itu laki-laki aneh yang penah ketemu dalam perjalanannya ke pulau Hian Peng to.

"Ia dapat membayangkan bahwa dirinya telah ditolong oleh laki-laki aneh itu, yang juga adalah ayahnya sendiri. Tapi, kalau benar itu ada ayahnya, bagaimana ia harus memanggil padanya? "

Ingat itu ia lalu gerakkan badannya tapi mendadak terasa sakit terutama tangan kanannya, sudah tidak dapat digerakkan sama sekali. Laki-laki itu berkata sambil ketawa getir.

"Huciang bunjin, kau sudah tertolong jiwamu kini kau sudah cukup merasa bersyukur."

"Kaukah yang menolong diriku? "

"Kalau aku lambat sedikit saja, mungkin kau sudah hancur lebur."

"Tapi bagaimana dengan tangan kananku ...."

"Barangkali akan cacat."

jawabnya laki-laki itu sambil tersenyum.

"Apa? "

Bukan kepalang kagetnya Tan Liong sesaat itu semangatnya dirasakan terbang dari badannya.

"Tangan kananku akan cacat? "

"Mungkin begitu."

Tan Liong membuka lebar kedua matanya ia tidak dapat mengatakan apa-apa.

"Huciang bunjin, kehilangan satu tangan masih belum berarti apa-apa. Kau tokh masih mempunyai tangan kiri."

"Apa benar sudah tidak dapat ditolong lagi? "

Laki-laki itu menghela napas dan ia berkata.

"Jalan darah dipergelangan tanganmu telah tergenggam, dan Siao hun lie melakukan serangan dengan sekuat tenaga, hingga jalan nadimu berhenti dengan demikian kekuatan tenaga dalammu tidak dapat jalan lancar lagi.

Aku sudah coba menyembuhkan lukamu itu tapi tidak berhasil.

Ini bukan kekuatanku yang sanggup menyembuhkan mungkin Lam kek Sian ong dapat menolong kau."

"Jika Lam kek Sian ong juga tidak bisa menolong, orang lain tentunya tidak sanggup lagi? "

"Mungkin begitu."

Tan Liong menghela napas perlahan-lahan ia bangkit, tangan kanannya kini telah menjadi lumpuh, tidak dapat digunakan lagi.

"Mungkin benar inilah yang aku harus merasa bersyukur ...."

Katanya Tan Liong sambil ketawa kecut. Mendadak ia menatap wajah laki-laki aneh itu dan menanya.

"Aku kira kau sudah mati."

Mendengar pekataan itu wajah laki-laki itu lantas berubah seketika, tanyanya.

"Huciang bunjin, perkataanmu ini apa maksudnya? "

"Apa kau kira aku tidak tahu kau siapa? "

Tan Liong balas menanya sambil ketawa.

"Siapa? "

"Kau ingin aku pecahkan rahasiamu? "

Laki-laki itu tertawa kemudian ia berkata.

"Huciang bunjin, aku sekarang masih ada sedikit urusan yang perlu diselesaikan, maka aku hendak jalan dahulu, kalau ada jodoh, lain waktu kita akan berjumpa pula! "

"Selesaikan dahulu pembicaraan kita, baru pergi."

"Lain kali saja kita bicara lagi.

"Sehabis berkata ia lantas hendak berlalu tapi tiba-tiba dihadang oleh Tan Liong.

"Kau jelaskan dulu asal usul diriku, baru pergi."

"Asal usul dirimu? "

"Kau jangan kira aku tidak tahu kau siapa, beritahukan padaku, aku dilahirkan oleh Cui Sian cu atau Say siong go? "

Hanya sepintas lalu saja laki-laki aneh itu nampak terperanjat. Lalu dengan wajah tersenyum ia menjawab.

"Ini ada urusan Huciang bunjin sendiri, bagaimana aku tahu? "

Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula.

"Diluar lembah Lui in kok ada menunggu Ciang bunjin Ciong lam pay yang hendak mencari kau."

Sehabis berkata ia lantas lompat melesat dan sebentar kemudian sudah menghilang dari depan mata Tan Liong. Sambil mengawasi bayangan laki-laki aneh itu Tan Liong berkata sendiri.

"Ia tidak suka yah, sudah."

Mendadak ia ingat ucapan laki-laki aneh tadi yang mengatakan bahwa ketua Ciong lam pay telah mencari padanya.

Ia terperanjat, apa maksudnya Oey Bwee Cian mencari padanya?

Bagaimana ia tahu kalau dirinya berada dilembah Lui in kok?

Untuk mendapat jawaban maka ia lantas lari menuju keluar lembah.

Benar saja, disana ia dapat lihat tiga orang berdiri menantikan padanya.

Satu diantaranya adalah Oey Bwee Cian yang berdiri diapit oleh Li Tiauw Yang dan Lie Bun Ching.

Li Tiauw Yang dan Lie Bun Ching begitu dapat lihat Tan Liong lalu memburu dan memberi hormat seraya berkata.

"Teecu unjuk hormat kepada Huciang bunjin."

"Jiwi tidak perlu banyak peraturan."

Li Tiauw Yang dan Lie Bun Ching segera sadarkan diri.

Hati Tan Liong bercekat karena ia dapat lihat Oey Bwee Cian berdiri sambil tundukkan kepala, sedikitpun tidak perdulikan padanya.

Badan Tan Liong gemetaran, saat itu ia segera ingat ucapan Oey Bwee Cian, apabila ia pulih kembali wajahnya seperti semula ia tidak akan perdulikan padanya.

Ia berdiri tertegun, ia ingin segera berlalu dari situ supaya tak terlihat oleh Oey Bwee Cian sebab ia tak ingin timbulkan peristiwa yang menyedihkan lagi.

Lama sekali akhirnya Oey Bwee Cian mengangkat kepalanya dan kini Tan Liong baru dapat lihat bagaimana perubahan paras si nona.

Oey Bwee Cian yang cantik manis bagaikan dewikz, hanya beberapa hari saja tidak ia lihat, kini telah berubah kurus dan pucat.

Setelah hening sekian lama, Oey Bwee Cian baru angkat kepala bibirnya tampak bergerak tapi tak sepatah kata keluar dari mulutnya.

Tan Liong terpaksa tebalkan muka, ia menghampiri Oey Bwee Cian dan berkata padanya sambil memberi hormat.

"Teecu Tan Liong unjuk hormat kepada Ciang bunjin."

Oey Bwee Cian unjukkan senyum getir dan menjawab dengan singkat.

"Huciang bunjin tak perlu banyak peraturan."

Tan Liong ucapkan terima kasih lantas undurkan diri dan berdiri disamping Oey Bwee Cian kemudian ia menanya pula.

"Entah ada keperluan apa Ciang bunjin perlukan datang ke lembah Lui in kok ini, Apakah ada urusan penting? "

"Jikalau kita tak berjumpa dengan Pek lek cu dan lelaki setengah tua yang amat aneh itu, untuk mencari jejak Huciang bunjin rasanya seperti mencari jarum ditengah lautan."

"Ada urusan penting apa Ciang bunjin mencari teecu? "

"Apakah selamanya Huciangbunjin tidak akan pulang kegunung Ciong lam san? "

Pertanyaan itu mengejutkan Tan Liong, untuk menghindarkan salah paham maka ia lantas menjawab.

"Bukan begitu, karena teecu masih banyak urusan yang belum diselesaikan hingga belum dapat pulang ke Ciong lam san untuk memberi kabar. Harap Ciang bunjin maafkan dosa teecu ini."

"Bukankah kau pernah balik ke Ciong lam san satu kali? "

"Benar."

Oey Bwee Cian unjukkan senyum getir, dapat dilihat dengan jelas bagaimana sedih pikirannya pada saat itu.

Tan Liong tundukkan kepala, ketika ia pergi kegunung Ciong lam san, karena takut berjumpa dengan Oey Bwee Cian maka diam-diam telah berlalu dan sekarang telah ditegur oleh Oey Bwee Cian sudah tentu ia tak mampu menjawab.

"Kenapa kau tak sudi menemani aku? "

Tanya pula si nona.

Wajah Tan Liong seperti kepiting direbus ia seolah-olah melakukan kesalahan besar terhadap diri si nona itu.

Dengan perasaan sangat malu ia mengawasi si nona, tetapi mulutnya tetap bungkam.

"Apa aku tidak ada harganya untuk kau tengok? "

Tanya pula Oey Bwee Cian sambil tersenyum hambar.

Pertanyaan itu bagaikan pedang tajam menusuk kehati Tan Liong, ia ingin menangis tapi tidak bisa keluar air matanya.

Ia dapat memahami bagaimana perasaan Oey Bwee Cian pada saat itu.

"Huciang bunjin, kenapa kau tak menjawab? "

Demikian si nona menanya pula.

"Karena aku takut ketemu kau."

jawab Tan Liong.

"Kenapa? Apa kau takut kutelan? "

"Kau tak dapat memahami hatiku ...."

Jawab Tan Liong sambil menghela napa.

"Huciang bunjin, bukankah aku sudah berkata, aku akan memahami keadaanmu."

Tan Liong ketawa getir karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba Oey Bwee Cian berpaling dan berkata kepada Li Tiauw Yang dan Lie Bun Ching.

"Harap jiwi pulang dulu ke Ciong lam san aku akan menyusul belakangan dengan Huciang bunjin."

Dua tokoh Ciong lam pay itu agaknya mengerti keadaan ketuanya, maka mereka lantas menurut dan berlalu dari hadapan ketuanya. Setelah dua orang itu berlalu Tan Liong berkata kepada Oey Bwee Cian.

"Nona Oey, aku tak tahu bagaimana harus mengutarakan isi hatiku? Kau tidak tahu ketika aku pulih kembali wajahku pada saat itu betapa sedih perasaanku."

"Kenapa harus bersedih? "

Tanya Oey Bwee Cian sambil menatap wajah Tan Liong.

"Apa karena kau iangat perkataan yang kuucapkan kepadamu sehingga tidak berani menjumpai aku? "

"Ya."

"Kenapa? "

"Aku tak ingin kau melihat wajahku, sebab aku seperti dapat firasat buruk yang akan menimpa diriku ...."

"Kalau aku tidak mencari kau, untuk selanjutnya, apa kau tidak ingin pulang menjemput aku lagi? "

"Aku pasti pulang, itu hanya soal waktu saja."

"Mungkin waktu itu tiada akhirnya! "

Tan Liong menarik napas panjang, seolah-olah tidak dapat mengutarakan apa yang terkandung dalam pikirannya. Sambil menatap wajah si nona ia coba memberi penjelasan.

"Kala itu aku naik ke atas gunung, sebab masih ada urusan penting, mau tak mau harus pergi lagi. Harap kau suka mengerti keadaanku."

"Aku mengerti keadaanmu, kalau kau memang tak suka membicarakan soal itu, baiklah kita jangan bicarakan lagi. Mungkin dan anggap itu ada urusan yang sudah lalu."

"Aku tidak sangka, kau sekarang berubah demikian kurus, apa kau tak enak badan? "

"Kurusku bukan karena sakit badan, melainkan terganggu pikiranku."

"Terganggu pikitanmu? Kenapa? "

"Aku sedang terpikir memikirkan masa-masa yang akan datang, lalu aku tanya pada diriku sendiri.

"Apakah dalam hidup ini aku masih dapat bertemu dengan kau lagi? "

"Mengapa tidak? "

"Kau tidak akan menengok aku, juga tidak sudi ke Ciong lam san, aku pikir apa yang aku dapatkan darimu? "

Selagi Tan Liong hendak menjawab, Oey Bwee Cian sudah berkata pula.

"Aku berpikir hendak melupakan soal ini, tapi aku tidak bisa.

Walaupun semua kejadian yang sudah lalu itu hanya merupakan bayangan dalam hidupku, tapi hubungan antara kita itu, biar bagaimana merupakan kenang-kenangan yang indah."

Betapapun kerasnya hati Tan Liong, juga digerakkan oleh ucapan yang keluar dari mulutnya Oey Bwee Cian itu.

Penyakit badan tidak perlu ditakuti, penyakit dalam pikiran atau penyakit rindu, itulah yang paling hebat.

Tidak dapat disembuhkan oleh obat apapun, juga tidak dapat dikendalikan oleh budi pekerti.

Sebagaimana umumnya gadis remaja, banyak pikiran banyak curiga, banyak kawatir kekasihnya direbut orang.

Ia kawatir apakah Tan Liong betul-betul tidak mau nengok padanya untuk selama-lamanya.

Ia kawatir apakah Tan Liong bisa berubah pikirannya?

Dan akhirnya ia kawatir akan kehilangan Tan Liong untuk selama-lamanya.

Gangguan pikiran ini membuat ia tidak sanggup pikul.

Ia pernah menangis sepuas-puasnya tapi belum mampu mengusir gangguan dalam pikirannya itu.

Oleh karena itu perlahan-lahan tapi tentu, badannya kangzusi tambah hari tambah kurus.

Apa lagi selama sakit, Tan Liong belum pernah datang menengok padanya, maka setelah penyakit badannya sembuh, ia datang mencari padanya.

"Tan Liong, banyak hari aku telah memikirkan padamu, mengapa tidak menengok aku? "

Berkata pula Oey Bwee Cian sambil ketawa getir.

"Mungkin akan jadi ulat sutera yang melibat dirinya, karena didalam hatimu sama sekali tak memikirkan aku ...."

Berkata sampai disitu, ia sudah tidak dapat menahan mengalirnya airmata, hingga suaranya terputus-putus.

"Nona Oey, kau tidak perlu sangsi, aku juga cinta kau."

Setelah berkata demikain, Tan Liong lalu menubruk tubuh Oey Bwee Cian, bagaikan singa kelaparan sebentar kemudian tubuh nona sudah berada dalam pelukannya.

Oey Bwee Cian pejamkan matanya, saat itu ia rasakan hangatnyaa rasa kasih Tan Liong yang sudah lama berlalu dari dirinya.

Lama dalam keadaan demikian, perasaan sedih tiba-tiba timbul dalam hati Oey Bwee Cian, hingga ia mendorong tubuh Tan Liong dan menanya padanya.

"Mengapa kau peluk aku? "

Tan Liong menatap paras Oey Bwee Cian ia dapat lihat bahwa diatas paras yang pucat pasi itu telah diliputi oleh sikap dingin hingga seketika itu membuat ia bergidik.

"Sebab aku cinta kamu."

Demikian jawabnya.

"Cinta aku? Bohong, kau hanya permainkan aku saja."

"Tidak, kau tidak boleh beranggapan demikian."

"Apa anggapanku itu salah, perempuan yang cinta kau. Kedatanganmu ke gunung Ciong lam san hari itu, tidak boleh pasti menengok aku."

"Kau harus tahu, ucapanmu tempo hari padaku selalu terukir dalam hatiku, aku takut apabila kau dapat lihat wajahku yang semula benar-benar kau tidak mau perdulikan padaku. Kau pikir sendiri, apakah aku sanggup menerima perasaan batin yang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah itu? "

"Apa lantaran itu hingga kau tidak datang menengok aku? "

"Ya, percayalah keteranganku."

"Kau Tan Liong masih ingat perkataanku itu, tapi aku Oey Bwee Cian juga masih ingat perkataanmu itu. Kau bukan saja sudah pemainkan aku, tapi juga menipu aku."

"Kapan aku menipu dirimu? "

"Semula mengapa kau tidak suka terus terang bahwa kau adalah Tan Liong, sebaliknya kau mengatakan, bahwa Tan Liong sudah binasa."

Pertanyaan itu membuat Tan Liong bungkam, ia sungguh tidak mengira bahwa kesalahan yang dilakukan pada waktu itu telah membuat akibat demikian menyulitkan.

Bagaimanapun juga, sulit baginya untuk memberi keterangan, maka akhirnya ia cuma bisa menjawab.

"Aku bukan hendak menipu kau."

"Aku percaya mungkin benar kau tidak sengaja menipu aku, barangkali itu memang sudah menjadi takdir, bahwa aku ini harus mengalami nasib demikian maka aku juga tidak menyesalkan lain orang melainkan kepada diriku sendiri.

Diantara kita berdua biarlah berakhir sampai disini saja."

Tan Liong merasa bagaikan disambar petir seketika itu matanya dirasakan berkunang-kunang.

"Kau .... apa kau kata?"

Ia mulai kawatir, karena firasat buruk itu akan menjadi suatu kenyataan.

"Kau jangan kaget.

Oey Bwee Cian bukan seorang perempuan yang cinta wajahmu yang tampan, aku pernah berpikir, diantara kita berdua, apa yang telah terjadi itu bagaikan sandiwara, dan sandiwara itu kini telah tiba pada babak terakhir.

Walaupun berlalunya sandiwara itu terlalu dipaksakan, tapi aku tidak boleh bebuat demikian.

Aku akan ingat terus cintamu padaku, tidak perdulikan cintamu tulus atau palsu aku akan tetap anggap padanya sebagai sesuatu kenangan yang indah."

"Tidak, kita tidak boleh berpisah secara demikian."

"Kau menghendaki cara bagaimana? "

Tan Liong menghela napas panjang, ia berkata setengah menggerutu.

"Betapa kejamnya kenyataan ini ....? "

"Buat aku hal ini tidak begitu kejam karena perempuan yang mencinta dirimu banyak sekali tentang ini sekarang kita tidak perlu bicara lagi, apa yang sudah lalu biarlah tinggal lalu semakin banyak dibicarakan semakin menyedihkan, kau kata betul tidak? "

Tan Liong setelah mengalami pukulan batin hebat, ia kini berubah menjadi tenang kembali, katanya sambil ketawa getir.

"Apa sudah tidak dapat kau tarik kembali? "

"Inilah ada janjiku sendiri, tidak boleh tidak aku harus pegang teguh, aku percaya kau tentunya dapat memahami perasaanku."

"Apa perlunya kau harus menyiksa dirimu sendiri? Jika kita saling mencintai, mengapa ...."

"Semula aku sudah berkata, jika kau adalah Tan Liong, aku akan tinggalkan kau."

Sampai pada detik itu, Tan Liong baru menyadari benar-benar bahwa keretakan antara mereka itu sudah tidak dapat diperbaiki lagi, maka ia cuna bisa berkata.

"Semoga kau akan berubah pikiranmu."

Oey Bwee Cian sambut dengan ketawa dingin kemudian ia menanya.

"Tan Liong, bukankah kau masih merupakan salah seorang anggauta partai Ciong lam pay? "

"Betul, mengapa Ciang bunjin menanya demikian? "

"Kedatanganku ke lembah Lui in kok ini kecuali untuk menyampaikan maksud pribadiku juga hendak mengajak kau pulang ke gunung."

"Ada urusan apa? "

"Dulu bukankah kau sudah pernah dengar bahwa partai kita selama beberapa tahun selalu bentrok saja dengan partai Ngo bie pay? "

"Ya."

"Tahukah kau apa sebabnya? "

"Teecu tidak tahu."

"Pertikaian ini sudah lama berlangsung, semula ketika ayahku masih hidup sudah beberapa kali bertempur dengan orang-orang Ngo bie pay, sebabnya cuma se

Jilid kitab."

"Kitab apa? "

"Kitab kepandaian ilmu silat golongan Ngo Bie Pay.

Kitab itu sebetulnya tersimpan dalam kamar penyimpan Cong keng ie, pada 50 tahun berselang ayahku telah memimpin beberapa anggauta partai kangzusi kita berkunjung ke kuil Ban hud sie untuk memenuhi undangan ketua Ngo bie pay Ngo sin Hwesio yang mengadakan pertemuan antara orang gagah di dunia Kang-zsouw."

Kala itu salah satu diantara murid partai kita ada mempunyai dendam sakit hati dengan salah satu anak murid partai Ngo bie pay, dan mereka itu diaam-diam telah berjanji mengadakan pertandingan di luar kamar Cong keng ie.

Bagaimana keadaannya pada waktu itu karena tidak seorangpun yang tahu maka tidak berani berkata sembarangan.

Tapi kabarnya dua orang yang bertempur diluar ruangan kamar penyimpan kitab itu telah berakhir dengan kekalahannya murid Ngo bie pay, murid itu terluka parah dan lari ke dalam kamar penyimpan kitab ...."

"Dan murid partai kita lantas mengejar dan masuk ke dalam kamar itu? "

"Benar, murid kita itu mengejar sampai ke dalam kamar, tentang kejadian ini sebetulnya tidak ada yang tahu, sehingga pada hari ketiga, setelah ayah pulang ke gunung Ciong lam san lantas tersiar kabar bahwa Ngo bie pay kehilangan kitab yang akhirnya mencari dan menanyakan kepada kita."

"Sebetulnya anak murid kita itu ada mengambil atau tidak?"

"Oleh karena urusan itu, tapi ia tetap menyangkal, katanya ia cuma sampai dipertengahan ruangan dan lantas keluar lagi. Kemudian anak murid kita itu karena gusar dan malu lantas bunuh diri."

"Aku dapat pastikan bahwa anak murid kita itu tidak mengambil kitab tersebut."

"Tapi Ngo bie pay tetap menganggap bahwa kitab itu dicuri oleh anak murid partai kita, beberapa kali datang meluruk untuk mencari onar, sehingga timbul pertumpahan darah tidak ada hentinya.

Oleh karena itu juga, maka 60 an anggota kita yang terkuat telah menjadi korban dalam pertempuran itu."

Tan Liong segera mengerti duduknya perkara, maka ia lantas menanya.

"Apa sekarang Ngo bie pay kembali datang mencari onar? "

"Ya, secara resmi Ngo bie pay sudah kirim surat peringatan bahwa dalam waktu empat hari mereka akan menggempur partai kita."

"Dalam waktu empat hari? "

"Benar."

Wajah Tan Liong lantas berubah, dalam waktu empat hari itu justeru merupakan hari yang ditentukan akan berlangsungnya pertempuran dilembah Hong hwee kok dan ia sendiri merupakan anggota terpenting dalam pertempuran itu karena ia ditugaskan untuk menolong dirinya Bu jie Thian sie.

Jika hari itu Ngo bie pay benar-benar menggempur Ciong lam pay, bagaimana?

Dari sini juga dapat ditarik kesimpulan, ancaman Ngo bie pay secara mendadak itu pasti bukan tidak ada sebabnya, mengapa justeru pada hari akan diadakannya pertempuran dilembah Hong hwee kok?

Antara mereka tentunya ada hubungan erat, satu sama lainnya.

Selagi Tan Liong memikirkan soal itu Oey bwee Cian bertanya padanya.

"Apakah kau bisa datang ke Ciong lam san? "

"Bisa."

jawabnya Tan Liong singkat tapi tegas.

"Kalau begitu aku akan jalan lebih dulu."

Sehabis berkata ia lantas berlalu. Tapi baru berjalan beberapa tindak tiba-tiba dipanggil oleh Tan Liong.

"Ciang bunjin ...."

Oey Bwee Cian berpaling, sambil tersenyum getir ia menanya.

"Ada urusan apa? "

"Aku akan ikut kau pulang."

Berkata Tan Liong sambil menghela napas.

"Kalau kau masih ada urusan lain, aku tidak paksa kau jalan bersama-sama."

Tan Liong gelengkan kepala.

"Urusanku sudah selesai."

Oey Bwee Cian tidak berkeberatan, hingga mereka berjalan berendeng menuju ke gunung Ciong lam san.

Diluar lembah Lui in kok, tampak ada berdiri tiga orang, mereka sedang mengawasi dua muda-mudi itu yang tengah berjalan ke arah mereka.

Tiga orang itu bukan lain daripada dua saudara Chie dan Im yang Ie su.

Laki-laki aneh telah membawa keluar dua saudara Chie dari sarang Thian seng hwee lalu menyerahkan mereka kepada Im yang Ie su dan ia sendiri lantas menghilang Dua saudara Chie jika tidak ditolong oleh laki-laki aneh itu, dengan kekuatan Tan Liong dan Im yang Ie su masih belum mampu membawa keluar mereka dari sarangnya Thian seng hwee..

Chie Peng dan Chie Cui ketika dapat lihat Tan Liong, paras mereka agak berubah.

Chie Cui nampak girang, sebaliknya Chie Peng nampak gusar.

Im yang Ie su segera menghampiri Oey Bwee Cian dan memberi hormat padanya seraya berkata.

"Tidak disangka Ciang bunjin datang kemari, disini lohu unjuk hormat! "

"Mengapa locianpwee berlaku demikian, bukankah itu menyusahkan boanhwee saja? "

Sahutnya Oey Bwee Cian sambil ketawa. Iam yang Ie su ketawa terbahak-bahak, kemudian berkata seenaknya.

"Ciang bunjin kenapa kau kurus? "

"Oh, iya! "

"Iya kau kurus benar, apakah memikirkan Huciang bunjin saja? "

Perkataan itu membuat Oey Bwee Cian dan Tan Liong merasa jengah, hingga wajah mereka merah seketika.

"Locianpwee masih suka bersendau gurau saja."

Berkata Oey Bwee Cian.

Pada saat itu, mata Tan Liong bertemu dengan sinar mata Chie Peng yang mengawasi padanya dengan gusar, hingga hatinya bercekat.

Ia dapat menduga apa sebabnya Chie Peng kini marah terhadap dirinya.

Chie Cui yang agaknya tidak tahu perubahan sikap encinya sudah menghampiri Tan Liong dan berkata padanya.

"Apa kau benar engko Tan Liong? "

Tan Liong lantas ingat terhadap hinaan Chie Cui ketika wajahnya berubah buruk, maka ia lantas menjawab dengan suara dingin.

"Bukan, aku bukan engko Tanmu, dia sudah meninggal dunia."

jawaban itu bukan saja diluar dugaan Chie Cui, tapi juga mengejutkan Chui Peng dan Oey Bwee Cian. Pada saat itu lambat-lambat Chie Peng menghampiri Tan Liong dan berkata.

"Tan Liong, apakah kau masih kenali aku? "

Tan Liong tundukkan kepala, ia tidak berani menatap sinat mata Chie Peng. Oey Bwee Cian agaknya dapat lihat firasat tidak baik, maka ia lantas berkata kepada Chie Peng.

"Nona Chie, berapa hari tidak ketemu apa kau baik-baik saja? "

Chie Peng tenangkan pikirannya, ia memberi hormat kepada Oey Bwee Cian seraya berkata.

"Oey Ciangbunjin, maafkan dosa Chie Peng yang agak lambat menyambut kedatanganmu."

"Nona Chie Peng tidak usah kau berlaku merendah, bagaimana Oey Bwee Cian sanggup menerima hormatmu ini."

Dari sikap Oey Bwee Cian, Chie Peng agaknya dapat lihat tanda apa-apa. maka ia lantas bertanya.

"Apa kau sudah bicara dengan Tan Liong? "

"Ya, sudah."

Chie Peng mengawasi Tan Liong dan berkata dengan nada suara dingin.

"Tan Liong, apa kau kira Chie Peng benar-benar ada seorang perempuan rendah sedemikian rupa? "

"Kapan aku pernah anggap kau perempuan rendah ?"

Demikian Tan Liong balas menanya dengan wajah berubah.

"Jika kau tidak anggap aku sebagai perempuan rendah, mengapa kau permainkan diriku? "

"Aku tokh tidak permainkan kau."

"Tidak permainkan aku? Kalau begitu, kenapa kau menipu aku bahwa kau bukan Tan Liong? Apa kau kira aku ada satu perempuan yang boleh kau perlakukan menurut sesuka hatimu? "

Perlahan-lahan ia mendekati Tan Liong lalu menegurnya dengan suara keras.

"Coba kau jawab! "

Didesak demikian Tan Liong terpaksa bungkam, tapi akhirnya ia menjawab juga.

"Nona Chie, kau harus mengerti keadaanku, aku bukannya anggap kau ada perempuan semacam itu, terhadap kau aku selalu merasa menanggung budi, bagaimana aku bisa permainkan kau? "

Perkataan Tan Liong itu diucapkan dengan nada memilukan, ia mengerti bahwa keadaan Chie Peng serupa dengan Oey Bwee Cian yang tidak memahami perasaannya.

Chie Peng tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Semula aku pernah berkata padamu, jika kau adalah Tan Liong dan mempermainkan diriku, aku akan bunuh diri, ucapanku ini masih berlaku."

"Kau tidak perlu berbuat demikian ...."

Katanya Tan Liong cemas.

"Ya, aku tidak perlu demikian, tapi aku bisa berbuat demikian, hanya pada saat ini belum tiba waktunya nanti setelah aku selesai menuntut balas, aku bisa berbuat demikian."

Perkataan itu membuat Im yang Ie su yang berdiri mendengarkan, diam-diam turut terperanjat maka ia lantas turut berbicara.

"Nona Chie, kau harus memaafkan padanya aku dapat memastikan, Tan Liong memang betul cinta kau. Kalian tokh pernah saling mencinta mengapa tidak melangsungkan hubungan cinta itu dengan sebaik-baiknya? "

"Apa yang harus aku berikan kepadanya? Kasih? Kehormatan? "

Katanya Chie Peng dingin.

"Dalam soal cinta, kehormatan atau kesucian seorang gadis, bukan merupakan soal mutlak asal kedua pihak saling mencinta dengan sungguh-sungguh, apa artinya kesucian? "

"Apalagi justeru membela aku kau kehilangan kesucianmu."

Berkata Tan Liong.

"Ya, antara kesucian seorang gadis dengan cinta kasih tidak dapat dicampur baur. Kalau kau tokh cinta padanya berikanlah padanya keberanian, kau baru tahu betapa hebat penderitaannya kalau seorang kehilangan cinta kasihnya? Maka itu kau juga tidak perlu merusak dirimu sendiri."

Berkata Im yang Ie su "Tapi dia tokh tidak seharusnya menipu aku."

"Apakah kau sudah pikir masak-masak? Kalau Tan Liong sampai berbuat demikian juga lantaran cintanya padamu, karena ia takut jika kau mengetahui ia yang sudah berubah buruk wajahnya itu, kau nanti tidak akan mencintainya lagi."

Demikian Im yang Ie su menerangkan.

"Tapi aku sudah tidak dapat memberikan kesucianku sebagaimana yang diharuskan sebagai satu gadis walaupun ia belum tentu memikirkan soal itu, biar bagaimana percintaan antara kita sudah terdapat titik noda yang sukar dihapus."

Berkata Chie Peng sambil ketawa getir.

"Tidak bisa, Tan Liong bukan seorang laki-laki jenis demikian! "

Selama pembicaraan antara Im yang Ie su dan Chie Peng sedang berlangsung sesosok bayangan orang diam-diam telah menyingkir pergi.

Ia itu adalah Chie Cui.

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 9

Baca Juga: Perguruan Sejati 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert