Eps 5 Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.
"Baik, kau boleh pulang, tak usah pakai alasan. Walau aku gadis lemah, tak usah orang melindungi aku."
Nyo Hoa tidak kira orang mendadak marah-marah, seketika dia berdiri melenggong.
Semula Teng Bing-cu kira Kang Siang-hun akan campur bicara, tak nyana dia berdiri berpeluk tangan, seolah-olah urusan tidak ada sangkut pautnya, sikapnya tenang, tak bicara lagi.
Sesaat keadaan hening, Teng Bing-cu hendak bicara lagi.
Mendadak Kang Siang-hun bersuara.
"Nyo-heng, silakan ke sana, aku ingin bicara dengan kau."
Teng Bing-cu sudah mau menyingkir, seketika batal, serunya.
"Apaan, aku tidak boleh dengar percakapan kalian?"
Semprot Teng Bing-cu menarik muka.
"Bukan begitu maksudku, ada sedikit urusan pribadi aku ingin bicara dengan Nyo-heng, jangan kau ambil hati,"
Demikian ucap Kang Siang-hun.
Jantung Nyo Hoa sudah berdebar-debar, entah persoalan apa yang hendak dibicarakan Kang Siang-hun dengan dirinya.
Tapi mumpung ada kesempatan menyingkir dari rengekan Teng Bing-cu, maka tanpa bicara dia ikuti Kang Siang-hun berjalan ratusan langkah ke sana Setelah yakin Teng Bing-cu tidak akan mendengar percakapan mereka, bara Kang Siang-hun berhenti, katanya dengan suara perlahan.
"Sebenarnya kau suka Nona Teng atau suka sumoay-ku?"
Nyo Hoa sudah menduga orang akan mengajukan pertanyaannya ini, namun setelah menghadapi pertanyaan ini, seketika merahjengah selembar mukanya, lekas dia membela diri.
"Sungguh aku baru saja bertemu dengan nona Teng, kebetulan kupergoki peristiwa tadi. Baru beberapa jam aku mengenainya."
Sikap Kang Siang-hun seperti tidak percaya, katanya.
"Kalau benar demikian, caramu menghadapi perempuan memang patut dipuji"
Tidak memberi kesempatan Nyo Hoa mendebat pula, dia sudah meninggikan suara.
"Lalu di mana Bik-ki?"
Merah muka Nyo Hoa mencapai telinga, katanya.
"Kang-toako, jangan kau salah paham, aku dengan Bik-ki..."
"Dengan dia kenapa?"
Tukas Kang Siang-hun.
Susah Nyo Hoa memberi penjelasan.
Sebetulnya dengan Bik-ki dia sudah tahu sama tahu, sama-sama jatuh cinta, selama beberapa hari tnj juga dia selalu kasmaran, namun masing-masing belum sempat menyatakan cintanya.
Terhadap Bik-ki dia tidak berani mengatakan hanya sekedar kenal belaka, tapi juga tidak berani menyatakan bahwa mereka sahabat dekat.
Kang Siang-hun menatap dingin, katanya.
"Baiklah, aku tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan dia, sekarang dia di mana?"
"Aku tidak tahu,"sahut Nyo Hoa lirih.
"Kau meninggalkan Cau-hoat, untuk apa lari kemari?"
"Memang aku kemari mencari dia, tapi tidak ketemu."
Makin buruk wajah Kang Siang-hun mendengar Nyo Hoa mengaku kemari mencari Kim Bik-ki. Nyo Hoa menggigit bibir, katanya dengan suara getir.
"Aku... aku tahu hubunganmu amat baik dengan Bik-ki, aku... aku tidak pernah merusak hubungan kalian, kuharap kau percaya padaku."
Tenang juga mimik Kang Siang-hun, akhirnya katanya.
"Bagaimana hubunganku dengan dia adalah persoalan lain, kau tidak perlu turut campur. Tapi kalau bu ingin aku percaya omonganmu, kau harus menerima dua syaratku."
"Dua syarat apa?"
"Pertama, selanjutnya kau dilarang menemui Kim Bik-ki. Kedua, ku larang kau ceritakan kepada siapa pun bahwa kau sudah kenal baik dengan Bik-ki."
Sebetulnya Nyo Hoa memang merasa minder, anggap dirinya tidak setimpal jadi pasangan Kim Bik-ki.
Kini berhadapan dengan Kang Siang-hun, dia pun merasa dirinya terlalu kerdil.
Dalam sanubarinya sudah pernah dia berjanji selanjutnya tidak pantas menemui Kim Bik-ki pula.
Tapi kedua syarat yang diajukan Kang Siang-hun terasa menusuk perasaannya.
Betapapun dia punya harga diri, merasa orang sengaja hendak menjatuhkan harga dirinya.
Melihat wajah orang merah padam, Kang Siang-hun tahu orang sudah naik pitam, tapi dia justru tidak memberi kelonggaran, tanyanya sambil menatap tajam.
"Kedua syaratku itu terhitung sudah memberi muka kepadamu, kau mau terima tidak?"
Nyo Hoa membusungkan dada malah, katanya lantang.
"Kangsiauhiap, aku menghormatimu, tapi jangan kau menghina aku."
"Aku bertindak demi kebaikanmu juga, kau anggap aku menghina Memangnya kau ingin aku membongkar niat jelekmu?"
Betapapun Nyo Hoa sabar, kini tidak tahan lagi, tanyanya.
"Boleh kau katakan, aku punya niat jelek apa?"
"Jawab dulu pertanyaan tadi."
"Aku tidak mau terima."
Di tengah tawa dingin Kang Siang-hun, Nyo Hoa berkata.
"Dua syarat yang kau ajukan tidak mungkin kuterima secara sepihak, karena syarat ini juga menyangkut sumoay-mu. Misalnya aku berusaha menghindari pertemuan dengan dia, tapi kaiau Bik-ki yang datang mencari aku bagaimana? Tentang perkenalanku dengan dia boleh tidak kuceritakan kepada orang lain. Tapi aku yakin Bik-ki tidak akan menyangkal bahwa paling tidak aku pernah bersahabat dengan dia."
Jawaban ini sebetulnya masuk akal, namun bagi pendengaran Kang Siang-hun amat menusuk perasaannya Kang Siang-hun menjengek.
"Bagus, akhirnya aku paham ke mana maksud hatimu. Hm, sudah tentu kau mengharap punya ikatan dengan Kim tayhiap, maka tidak akan mengabaikan perkenalanmu dengan Bik-ki."
Sekuatnya Nyo Hoa menahan luapan perasaannya, namun nada suaranya terdengar ketus dan gusar.
"Kang-siauhiap, kau adalah murid didikan keluarga ternama, punya ayah baik, guru pun bagus. Orang seperti diriku sudah tentu tidak setimpal dijajarkan dengan engkau. Tapi jangan kau lantas menilai rendah orang lain. Jelekjelek orang she Nyo tidak sudi mengangkat derajat sendiri meminjam kebesaran orang lain. Hm, memangnya perkenalanku dengan Bik-ki membuat kotor dirinya?"
Kang Siang-hun menatapnya dingin, ternyata sikapnya tenangtenang saja Setelah dia habis bicara, baru dia berkata perlahan.
"Sudah tak usah main sandiwara Kau harus tabu, demi memberi muka kepada nona Teng itu, baru aku tarik kemari supaya kau insyaf akan kesalahanmu. Kalau tidak, sejak tadi aku sudah bertindak terhadapmu."
"Memangnya kenapa kalau kau tidak sungkan kepadaku?"
Tantang Nyo Hoa.
"Baik,"
Ujar Kang Siang-hun mengigit bibir.
"kau memaksa aku bicara terus terang."
"Benar, katakan saja"
"Siapa ayahmu?"
Mendadak Kang Siang-hun bertanya Melonjak jantung Nyo Hoa, otot di jidatnya menonjol, katanya.
"Aku kan tidak ingin bersahabat dengan kau, tak perlu kujelaskan silsilah keluargaku."
Suara Kang Siang-hun berubah dingin, katanya, Tidak usah kau menjelaskan, dengan engkoh Bik-ki aku sudah mencari tahu, kau ini putera Nyo Bok, betul tidak?"
Nyo Hoa paling takut kalau orang menyinggung persoalan ini.
Sekarang Kang Siang-hun membongkar rahasia pribadinya berarti mengorek boroknya pula.
Karuan di samping kaget, Nyo Hoa amat marah, malu, penasaran dan menyesal pula Kaki tangan menjadi dingin, sesaat dia tergagap tak bisa bicara.
Dalam waktu sesingkat ini pula dia mengerti duduk persoalannya.
Lantaran Nyo Bok adalah ayahnya, maka Kang Siang-hun curiga bahwa dirinya bukan orang baik, malah mencurigai niatnya bergaul dengan KimBik-ki..Melihat perubahan air mukanya, Kang Siang-hun kira dirinya telah membongkar kedok orang sehingga merasa malu, segera dia menghela napas, katanya.
"Sayang, sayang...."
"Apanya sayang?"
Semprot Nyo Hoa gusar. Dingin suara Kang Siang-hun.
"Sayang kau punya kepandaian, tapi tidak belajar baik-baik."
Membesi muka Nyo Hoa, debatnya.
"Kau baru mengenalku, berdasar apa kau berani menentukan martabatku?"
"Sebetulnya ayah tetap ayah, anak adalah anak, asal kau tidak sehaluan dan mengekor jalan yang ditempuh Nyo Bok, sudah tentu sekarang aku tidak akan banyak bicara denganmu. Tapi menilai perbuatanmu sekarang, kau memikat sumoay-ku, di sini kau memelet nona Teng lagi, memangnya perbuatanmu ini mirip kelakuan seorang kuncu? Hmm, kukira tujuanmu bukan-melulu kemaruk paras ayu saja, kau mendapat petunjuk ayahmu bukan?"
Secara tidak langsung dia menuduh bahwa Nyo Hoa ditugaskan ayahnya bergaul dengan kaum pendekar untuk memberi sumber berita kepada ayahnya yang sudah jadi antek kerajaan.
Sebetulnya Nyo Hoa bisa membersihkan diri dengan berbagai kenyataan, namun amarah telah membakar emosinya, mana mungkin dia bisa berpikir dengan kepala dingin?
Maka dia balas menjengek dingin.
"Kang Siang-hun, sayang sekali sebagai putera seorang pendekar besar, kau menilai jiwa seorang laki-laki sejati dengan jiwa kerdil seorang rendah."
Sebetulnya setelah Kang Siang-hun beranggapan dapat membongkar asal-usul Nyo Hoa, dia harus berlaku waspada.
Sayang begitu tiba di daerah ini tidak mampir dulu ke pangkalan laskar gerilya, minta penjelasan lebih lanjut kepada Leng Thiat-jiau.
Sebagai putera Kang Hay-thian, murid Kim Tiok-liu, ke mana pun Kang Siang-hun pergi, siapa tidak akan berlaku hormat dan segan kepadanya?
Kapan dia pernah didebat apalagi dicerca sedemikian rupa?
Sindiran Nyo Hoa mengumpamakan dia sebagai manusia rendah memang juga agak terlalu, karuan muka Kang Siang-hun membesi.
Teng Bing-cu berada ratusan langkah jauhnya, sayup-sayup dia mendengar beberapa patah perdebatan mereka, hatinya senang tapi juga kaget, namun dia tidak ingin datang melerai, maka dari kejauhan dia tarik suara.
"He, apa sih yang kalian ributkan?"
Dia kira kedua pemuda ini ribut mulut lantaran dirinya.
"Nona Teng urusan tiada sangkut pautnya dengan kau. Aku tidak akan membongkar keburukan temanmu ini, tapi terpaksa aku harus mohon kau suka memaafkan, terpaksa aku harus bertindak kasar terhadap temanmu ini,"
Demikian seru Kang Siang-hun. Nyo Hoa berkata dingin,"Memangnya kenapa kau bertindak kasar? Kang-siauhiap, silakan cara apa yang kau inginkan."
"Sret", Kang Siang-hun mencabut pedang, katanya.
"Kabarnya ilmu pedangmu amat bagus, ingin aku mencobanya."
"Gurumu adalah jago pedang nomor satu di dunia, mana berani aku dicoba olehmu, tapi biar aku mengiringi saja."
"Haya,"
Teriak Teng Bing-cu.
"kalian adalah temanku, kenapa harus berkelahi?"
"Nona Teng, kau tidak akan tahu persoalannya."
Sembari bicara Kang Siang-hun mendahului menusuk dengan pedangnya.
Jurus ini bernama Jun-hun-ka-can (Mega berkembang di musim semi), kelihatan lunak padahal keras, lihay sekali.
Tapi sikap Nyo Hoa tetap garang, sedikit pun tidak gentar, di tengah tawa dinginnya, pedangnya pun diloloskan.
Begitu turun tangan, Kang Siang-hun lantas melancarkan serangan lihay, dia kira Nyo Hoa meski mampu melawan juga pasti didesaknya mundur beberapa langkah.
Perubahan susulan jurus pedangnya itu dinamakan Tui-hong-cu-tian (Mengejar angin mengejar kilat) diambil dari Tui-hong-kiam-hoat ajaran Thian-sanpay, asal berhasil menggertak musuh, maka daya serangnya akan melanda secara bergelombang, sehingga lawan tidak sempat mempertahankan diri dan fatalnya kalau tidak dikalahkan pasti juga binasa Tak tahunya Nyo Hoa tetap berdiri tegak, bergeming.
Bila ujung pedang sudah hampir menyentuh tubuhnya, mendadak dia angkat pundak malah, berbareng pergelangan tangan kanan membalik, pedang pun terayun.
Gerakannya laksana sambaran kilat, jurus ini dinamakan Kim-beng-can-ji (Elang emas pentang sayap), gerakannya tepat pada waktu pedang Kang Siang-hun tiba Jurus ini memang khusus untuk mematahkan jurus Tui-hong-cu-tian yang dilancarkan Kang Siang-hun.
Seperti diketahui, Thian-san-kiam-hoat adalah hasil ciptaan murid tertua Thio Tan-hong yang bernama Toh Thian-tok.
Bahwa Toh Thian-tok mampu menjadi cikal bakal suatu aliran dan menciptakan ilmu silat tersendiri, jelas memang dia dibekali kepandaian dan kecerdikan yang luar biasa, namun kemajuan yang diperolehnya tidak lepas dari petunjuk sang guru.
Di hari tuanya, Thio Tan-hong menyepi seorang diri bertekad mencapai kemajuan dengan menciptakan Bu-beng-kiam-hoat-Sudah tentu dalam Bubeng-kiam-hoat ini terdapat pula intisari setiap pelajaran Thian-sanpay, tapi lebih hebat, sekali bergerak secara aneh mematahkan serangan lawan.
Maka dalam pertarungan kali isi, Nyo Hoa menggunakan Bu-beng-kiam-hoat sebaliknya Kang Siang-hun melancarkan Thian-san-kiam-hoat.
Bagi Nyo Hoa tahu kekuatan sendiri untuk mengukur kemampuan lawan, sebaliknya Kang Sianghun tahu kemampuan sendiri tak tahu sampai di mana taraf kepandaian lawan.
Untung Thian-san-kiam-hoat yang dimainkan Kang Siang-hun ini sudah disempurnakan oleh Kim Si-ih dan Kim Tiok-liu ayah beranak, kalau tidak mana kuat menghadapi Bu-beng-kiam-hoat, meski hebat kepandaian Kang Siang-hun pasti juga akhirnya kalah.
Serangannya terbendung, perubahan permainan pedangnya mendadak sukar dilancarkan, namun Kang Siang-hun adalah murid didikan Kim Tiok-liu, sebagai murid jago pedang nomor satu, dalam gebrakan permulaan ini dia pun sudah menampilkan kemahirannya.
Tampak bagai angin lesus tubuhnya berputar, dia biarkan ujung pedang Nyo Hoa menembus lewat di bawah ketiak kirinya.
Sebat sekali pedang panjangnya sudah memutar balik dengan jurus Liongli-jeng-ciam (Puteri naga menyusup benang) pedangnya menyodok ke bawah lambung Nyo Hoa.
Melihat lawan menggunakan serangan yang keji, berkerut alis Nyo Hoa, kalau dia mengalah tentu akhirnya celaka sendiri.
Lekas dia menarik dada mengempeskan perut, begitu pundak bergerak, dengan enteng tubuhnya ber-gontai mengikuti sambaran pedang lawan.
Mendadak dia mendesak maju, di mana pedangnya bergerak, beruntun dia melancarakan jurus Pek-wanjong-ci (Lutung putih menerobos ranting), Kim-ke-toh-siok (Ayam emas merebut padi), Bing-hou-thio-cian (Macan galak melompati selokan) dan Ciam-liong-seng-thian (Naga sembunyi menjulang ke langit).
Empat jurus serangan ini adalah rangsakan yang gencari Dan hebatnya, beberapa jurus ini sebetulnya merupakan permainan pedang biasa dari berbagai perguruan silat, namun di bawah permainan Nyo Hoa, perbawanya jauh berbeda dengan beberapa perguruan pedang itu.
Kang Siang-hun coba mematahkan rangsakan pedangnya ini menurut aturan permainan pedang lurus, maka terlihat nyata betapa jauh beda dan ketinggalannya.
Menyadari posisi sendiri mendadak tidak menguntungkan, masih untung Kang Siang-hun dapat bertindak cepat, dikembangkan Si-mikim-hoat ajaran Thian-san-pay untuk bertahan melindungi badan.
Si-mi-kiam-hoat bersumber ajaran Budha, tidak bisa untuk melukai orang, namun untuk menyelamatkan jiwa justru merupakan permainan pedang yang paling manjur.
Namun demikian, tak urung dia tercecar mundur berulang-ulang.
Semula Teng Bing-cu masih tega dan senang bahwa permainan sandiwaranya mengobarkan rasa cemburu di hati orang, namun kedua pemuda uli berhantam makin seni, lama kelamaan dia amat kaget dan ngeri.
Maklum kedua pemuda ini pernah menanam budi pada dirinya Walau hatinya dendam kepada Kang Siang-hun karena jodohnya ditolak, namun dia tidak tega juga kalau sampai kalah dan terluka.
"Kalian mau tidak memberi muka kepadaku, kalian adalah temanku, sudah jangan berkelahi. Pedang kalian tidak bermata, kalau terluka bagaimana? Aduh Nyo-toako-, kau, kau... wah untung tidak terluka. Sudah berhenti, jangan berkelahi."
Ternyata di waktu dia berteriak-teriak, pedang Nyo Hoa kebetulan menusuk, mata pedangnya menempel pundak Kang Siang-hun menye-lonong lewat, sudah tentu Teng Bing-cu yang menonton dari tempat jauh tidak melihat jelas, dia kira Kang Siang-hun tertusuk luka maka dia menjerit khawatir.
Meski Kang Siang-hun terdesak di bawah angin, tapi pertahanan Si-mi-kiam-hoat-nya teramat kokoh dan tangguh, sekuatnya dia masih mampu melawan, apalagi Nyo Hoa tidak bermaksud melukai dia, tapi kalau dia tidak menyerang dengan pedang lalat, mungkin Kang Siang-hun akan memperoleh peluang balas menyerang.
Jeritan khawatir Teng Bing-cu secara tidak langsung telah melimpahkan perasaan hatinya, betapa khawatir hatinya bila Kang Siang-hun terluka.
Tapi bagi pendengaran Kang Siang-hun justru amat menusuk perasaannya.
Maklum sebagai murid didik jago pedang nomor satu, menghadapi Nyo Hoa yang tidak ternama ternyata dirinya hanya mampu bertahan saja, terdesak secara runyam tidak mampu balas menyerang, jelas di samping malu terasa juga gengsinya diruntuhkan.
Kini Teng Bing-cu harus merasa khawatir akan keselamatannya lagi, betapa hatinya tidak amat malu, marah dan kesal?
"Nona Teng, jangan turut campur..
Sebelum ada yang kalah dan menang, pertarungan ini tidak boleh berhenti,"
Demikian teriak Kang Siang-hun.
Seman Teng Bing-cu mengobarkan semangat tempurnya, rasa ingin menang berkobar dalam dadanya, dia merasa malu di depan si nona, dia harus didesak mundur berulang kali.
Maka mendadak dia mengubah permainan, meski tahu menyerempet bahaya, juga tidak dihiraukan lagi, dari bertahan mendadak dia balas menyerang.
Dalam hati dia bertekad.
"Meski harus teriuka oleh pedangnya, aku tak boleh hanya bertahan saja."
Pertarungan ini terjadi lantaran gara-gara Kang Siang-hun sendiri, namun dirinya yang disalahkan, karuan Nyo Hoa naik pitam, maka dia pun berseru.
"Nona Teng, kau jangan maju. Terima kasih kau sudi anggap aku sebagai teman, tapi dengan Kang-siauhiap ini, maaf, aku tak berani bersahabat dengan dia."
Dalam beberapa gebrak ini, otak Nyo Hoa bekerja secepat kilat, semula dia bertekad karena Kang Siang-hun memandang hina dirinya, umpama tidak melukai juga biar dia merasakan kelibayanku.
Namun setelah Kang Siang-hun makin beringas, emosinya makin tenang malah.
Pikirnya.
"Demi Bik-ki kenapa aku harus mencari permusuhan dengan dia? Di hadapan nona Teng memang tidak pantas aku mengalahkan dia, biar dia unjuk kegagahan-nya saja Bukankah akan bermanfaat bagi berbagai pihak. Bila aku mengalah, maka tugas melindungi nona Teng akan menjadi tanggung jawabnya."
Di saat bertarung sengit, mana boleh perhatian terpencar, perasaan Nyo Hoa bergolak, maka Siang-hun berhasil merebut posisi yang lebih baik, kini dia mulai balas menyerang, jurus tipuan pedangnya amat berbahaya.
Kini giliran Teng Bing-cu berkhawatir bagi Nyo Hoa.
Baru saja mulut Teng Bing-cu bergerak, mendadak dilihatnya Kang Siang-hun melancarkan jurus Sing-hcng-to-coan (Bintang melintang berputar balik), bagian tajam pedangnya menuding tenggorokan Nyo Hoa.
Dalam waktu yang sama pedang Nyo Hoa diselingi gerakan telapak tangannya tepat membelah dada Kang Siang-hun.
Keduanya menyerang secara nekad, jelas bakal teriuka dan gugur bersama.
Namun dalam detik yang menentukan itu mendadak tampak bayangan kedua orang berpencar, Nyo Hoa melesat jauh beberapa tombak seraya menjerit, serunya.
"Kang-siauhiap, ilmu pedangmu jauh lebih unggul dari aku, terima kasih kau menaruh belas kasihan tidak menamatkan jiwaku."
Sambil bicara kakinya melangkah cepat, dalam sekejap dia sudah lari ratusan langkah jauhnya.
Agaknya Kang Siang-hun tidak menyangka Nyo Hoa melarikan diri.
Sekilas dia melenggong, segera dia mengejar seraya membentak.
"Bocah keparat, kalau berani kembalilah, pertempuran belum berakhir."
Teng Bing-cu kira Nyo Hoa sudah terluka, namun Kang Siang-hun masih tidak mau melepaskannya, dia menjadi kaget, lekas dia berteriak.
"Kang-kongcu, dia sudah mengaku kalah, biarkan dia pergi."
Sambil berteriak dia memburu ke arah kuda terus menggablok pantatnya sehingga kuda itu melonjak kaget terus lari.
Agaknya dia khawatir Kang Siang-hun tidak mau mendengar bujukannya, dan terus mengejar Nyo Hoa dengan menunggang kuda, bila Nyo Hoa juga menunggang kuda pasti dapat melarikan diri.
Kuda merah yang baru dibeli Nyo Hoa ini agaknya setia kepada majikannya, seperti tahu majikannya ingin lekas lari, sebelum dipanggil Nyo Hoa sudah lari menyusul ke sana Nyo Hoa berkata.
"Nona Teng, kuda ini sebetulnya kutinggalkan antuk kau." .
"Lekas kau lari, aku sudah menerima kebaikanmu. Kang-kongcu, he, kenapa kau?"
Dia khawatir Kang Siang-hun mengejar, baru saja dia menoleh, mendadak dilihatnya Kang Siang-hun menghentikan langkahnya seperti mendadak menemukan sesuatu yang aneh.
dan mengejutkan, seketika dia berdiri terdiam.
Ternyata setelah Kang Siang-hun mengejar beberapa langkah, mendadak terasa lengan kanannya sedikit linu, waktu dia menunduk dilihatnya lima senti di bawah Jian-kin-hiat di pundaknya terdapat tiga lubang kecil yang berjajar rata, lebih besar sedikit dari lubang jarum.
Sebagai seorang ahli pedang, sekali pandang dia lantas tahu bahwa lubang itu hasil tusukan ujung pedang, Ternyata jurus terakhir permainan kombinasi pedang dan telapak tangan Nyo Hoa, gerak telapak tangannya hanya untuk mengaburkan pandangan Kang Siang-hun, dengan gerak kilat pedangnya telah menusuk tiga tempat di baju bawah pundaknya.
Setelah melenggong sejenak, Kang Siang-hun lantas membayangkan kejadian tadi, segera dia maklumi di mana letak kehebatan permainan pedang lawan, tanpa merasa keringat dingin membasahi sekujur badan.
Jikalau Nyo Hoa berniat membunuhnya, sedikit pedang dinaikkan, tulang pundaknya tentu tertusuk, kalau tidak mati berarti ilmu pedangnya akan punah seketika.
"Betulkah ada ilmu pedang seajaib ini di dunia ini?"
Baru sekarang Kang Siang-hun kaget, pikirnya.
"Kenapa kau menaruh belas kasihan kepadaku? Mungkin lantaran Bik-ki sengaja dia memberi muka dan kelonggaran kepadaku?"
Teng Bing-cu kira bujukannya berhasil, segera dia memburu maju, katanya.
"Nah, kan begitu, kalau bisa mengampuni orang, ampunilah. Kau mau mendengar saranku membebaskan dia, aku amat senang."
Sudah tentu Kang Siang-hun hanya menyengir kuda mendengar ucapannya.
Kalau Kang Siang-hun hanya menyengir saja, perasaan Nyo Hoa amat tertekan.
Kuda merahnya dibiarkan lari di padang rumput, sementara hati Nyo Hoa tidak karuan.
Gejolak hatinya seperti derap kuda yang lari kencang, dalam sekejap ini beberapa pikiran telah menyelinap dalam benaknya.
"Yang Maha Kuasa memang tidak adil. Kenapa Kang Siang-hun boleh lahir dalam keluarga ternama, aku justru ditakdirkan sebagai anak Nyo Bok? Aku punya ayah pengkhianat, jelas orang akan memandang rendah diriku. Ai, lebih baik aku kembali ke Ciok-lin saja. Tidak bergaul dengan orang, tanpa peduli segala urusan di dunia ini, hidup di alam bebas, aku dapat mengecap ketenteraman sampai hari tua."
Namun mendadak dia teringat akan anjuran Kim Bik-ki yang mendorongnya untuk bangkit memperjuangkan hidup, rasa pusing kepalanya makin berkurang, dengan kertak gigi dia membatin pula.
"Pikiranku ini jelas keliru. Karena aku dilahirkan dari keluarga bejat maka Kang Siang-hun curiga kepadaku, malah menganggap aku sebagai musuh. Tapi masih ada juga orang-orang dalam dunia ini yang percaya kepadaku, sekali bertemu lantas bersahabat dan percaya padaku.
"Bukankah semula Bik-ki juga curiga kepadaku. Karena aku pernah bekerja demi kepentingan laskar gerilya, maka dia tidak pernah tanya asal-usulku, bukan saja menganggap aku sebagai teman, isi hatinya pun dia limpahkan kepadaku.
"Leng Thiat-jiau, Siau Ci-wan dan Han Wi-bu bukankah mereka percaya kepadaku. Walau mereka mungkin belum tahu kalau aku anak Nyo Bok. Tapi umpama mereka akhirnya tahu, yakin mereka tidak akan bersikap sekasar Kang Siang-hun kepadaku.
"Kenapa aku harus lari dari kenyataan ini? Kembang teratai pun berani tumbuh di lumpur, dan teratai dipandang sebagai kembang yang suci dan bersih pleh manusia. Yang bersih tetap bersih, yang kotor akan selalu kotor, jikalau aku tidak tertular kotor, siapa ayahku, kejahatan apa yang pernah dia lakukan, apa sangkut pautnya dengan aku? "Tidak, bukan saja aku tidak boleh menyingkir dan bersembunyi, aku harus segera bertemu dengan Bik-ki. Kang Siang-hun melarang aku menemui dia, aku justru akan mencarinya Seorang laki-laki harus bertindak secara terang-terangan, umpama demi kebahagiaannya kelak aku harus berpisah dengan dia, aku harus menjelaskan asal-usulku, riwayat hidupku kepadanya, tiada yang harus kusembunyikan. Ingin aku tahu apakah dia akan membenci dan mencampakkan aku karenanya?"
Setelah mengalami pukulan batin, pikiran Nyo Hoa menjadi kacau, perasaannya tertusuk, dan tusukan ini justru membangkitkan rasa angkuh, jiwa ksatrianya.
"Tugas Han Wi-bu sudah selesai, tidak perlu aku mengiringi dia. Sekembali di Cau-hoat aku akan minta diri kepadanya, tentang undangan Pek-kau Hoat-ong segala, biarkan saja."
Setelah pikirannya jernih, hanya ada satu persoalan yang terpikir oleh Nyo Hoa yaitu ingin selekasnya bertemu dengan Kim Bik-ki.
Maka dia keprak kudanya supaya lekas tiba di Cau-hoat dan mohon diri kepada Han Wi-bu.
Tanpa terasa hari sudah menjelang kentongan kelima, Cau-hoat masih belasan li di sebelah depan.
Mendadak didengarnya derap lari kuda di sebelah depan, seekor kuda putih lari ke arahnya.
Nyo Hoa kaget, kuda putih ini adalah milik Teng Bing-cu.
Yang naik kuda juga seorang hwesio.
Tapi hwesio di punggung kuda ini bukan hwesio yang merebut kuda tadi.
Hwesio tadi adalah begundal Kiat Hong, kepala gede, telinga lebar, sekali pandang orang tahu bahwa dia hwesio murtad, hwesio yang tidak patuh ajaran agama.
Sebaliknya hwesio yang ini bermuka putih bersih, sikapnya alim, kelihatannya adalah paderi yang berilmu tinggi.
Walau dua hwesio yang berbeda tapi jelas kuda itu adalah milik Teng Bing-cu.
Hwesio gendut yang(merampas kuda, kenapa sekarang berada di tangan hwesio.
kurus?
Dalam waktu sesingkat ini, Nyo Hoa tidak sempat banyak pikir, tak peduli sopan atau tidak, dia kira hwesio kurus ini juga komplotan Kiat Hong.
Maka dia bertekad merebut balik kuda putih milik Teng Bing-cu ini.
Apalagi dia tahu kuda putih ini lebih cepat dari kuda merah miliknya.
Kalau kesempatan diabaikan, untuk mengejarnya juga tidak keburu.
Lekas sekali kuda putih sudah lari di depannya Tanpa pikir, dari punggung kudanya Nyo Hoa melejit ke atas, di udara bersalto satu kali terus menubruk ke arah hwesio kurus di punggung kuda putih Dia menggunakan Tay-kim-na-jiu-hoat, dengan tubuh menukik dia menubruk, betapa keras daya luncur dan serangannya ini, dia yakin tulang pundak si hwesio pasti dapat dicengkeramnya.
Tak nyana kungfu hwesio ternyata amat tinggi, dalam waktu yang mendesak itu mendadak dia manggutkan kepala berbareng tangan menelikung balas menang-kap pergelangan tangan Nyo Hoa.
Itulah Siau-kim-na-jiu-hoat, tenaganya memang tidak sekuat yang dilancarkan Nyo Hoa, tapi lebih cocok untuk bertempur dalam jarak dekat.
Nyo Hoa tahu kelihayan gerak tangan lawan, sigap sekali dia mengubah gerakan menjadi golok kilat, telapak tangannya tegak miring seperti golok membelah turun.
Hwesio itu menurunkan pundak menyodok dengan siku, lalu dengan sej urus Hud-hun-jiu dia mendorong perlahan mematahkan serangan Nyo Hoa.
Nyo Hoa menukik di tengah udara, serangan harus berhasil, kalau gagal, karena tubuh terapung di udara, tenaga susulan jelas sukar dikerahkan, namun dia tidak kehabisan akal, kakinya sempat menutul di atas pelana, tubuhnya lantas jumpalitan beberapa tombak dan turun di atas tanah.
Hwesio kurus itu memuji.
"Kepandaian bagus."
Dia pun melompat turun, katanya dengan tertawa.
"Bukankah kau mau merebut kuda putih itu?"
Nyo Hoa bimbang, katanya.
"Kuda ini bukan milikmu."
"Betul,"
Ujar Hwesio tertawa.
"Karena bukan milikku, maka boleh kuserahkan kepada kau. Tapi kau harus keluarkan milikmu untuk barter dengan aku."
"Apa yang kau minta?"
"Kabarnya ilmu pedangmu amat bagus, aku ingin berkenalan dengan kau. Kau tak perlu dapat mengalahkan aku, asal kau mampu melawan seratus jurus seranganku, kuda putih kuserahkan kepadamu."
"Memangnya kau lebih lihay dari engkoh Kim Bik-ki dan Kang Siang-nun,"
Demikian batin Nyo Hoa. Katanya.
"Baik, kau tidak perlu mengalah, kalau tidak bisa mengalahkan engkau, kuda putih ini pun tidak akan kuterima. Keluarkan senjatamu."
"Maaf, sudah sekian tahun aku tidak pernah pakai senjata. Kau boleh serang saja dengan pedangmu."
Amarah Nyo Hoa terpancing.
"Sret"
Tanpa banyak bicara dia langsung menusuk.
"Bagus,"
Puji hwesio kurus.
Mendadak badannya melayang, merangkap kedua jari dia mencolok kedua mata Nyo Hoa.
Sudah tentu tidak mudah mata Nyo Hoa dicolok, dengan gerakan Boanliong-yau-pau (Naga melingkar menggeser langkah), pedangnya melingkar balik.
Hwesio itu tertawa, katanya.
"Kau, kau tidak bermusuhan dengan aku, memangnya aku bakal mencolok matamu? Kau tertipu."
Sembari bicara gerakan tangannya mendadak menurun dari atas, seperti golok tajam yang bergulung membabat kedua kaki Nyo Hoa.
Ternyata serangan di atas hanya gertakan, serangan yang menyapu kedua kaki itulah yang benar-benar lihay.
Tercekat hati Nyo Hoa.
Pikirnya.
"Aneh dan lucu permainan pukulan hwesio kurus ini. Isi kosong, kosong isi susah diraba."
Padahal banyak ragam ilmu yang pernah dipelajari Nyo Hoa, tapi ilmu pukulan hwesio yang satu ini jelas berbeda dengan pukulan yang ada di Tionggoan.
Nyo Hoa bingung, meski dapat melayani mengikuti gerak perubahan lawan namun karena sukar mengukur kepandaian lawan, sudah tentu dia jauh lebih payah daripada waktu menghadapi Kang Siang-hun tadi.
Di tengah pertarungan sengit itu, mendadak hwesio kurus menggapai tangan, mengalihkan pandangan Nyo Hoa, telapak tangan mendadak menepuk dari posisi yang tak terduga.
Hampir saja Nyo Hoa kena dihantamnya.
Hwesio itu tertawa katanya.
"Ilmu pedangmu memang hebat tapi kau harus hati-hati melayani seranganku.. Sekarang baru duapuluh empat jurus lho."
Selanjurnya dia tidak hiraukan permainan si hwesio, bagaimanapun lawan berubah dengan ragam serangannya, mendadak dia menusuk dengan jurus Tiap-jui-hu-ceng.
Jurus ini berasal dari Siong-san-kiam-hoat, tapi dilancarkan oleh Nyo Hoa dengan gaya Bu-beng-kiam-hoat hasil penemuannya sendiri.
Jadi bila dibanding dengan jurus asli dari Siong-san-kiam-hoat, bukan saja lebih lihay, juga di dalamnya diselipi jurus Ko-pek-som-som dari Siau-lim-kiam-hoat yang kokoh dan lincah.
Dan yang lebih membingungkan adalah jurus pedang ini hanya mirip gerakan Siong-san-kiam-hoat, umpama seorang tokoh lihay juga sukar dalam waktu sesingkat ini membedakan perbedaannya Hwesio itu bersuara heran, agaknya kaget, namun tidak gugup.
Dengan tangkas dia berkelit, ujung pedang Nyo Hoa menyerempet lewat di pinggir tulang iganya Cepat sekali si hwesio kurus berputar, mendadak telapak tangannya berubah meninju ke dada Nyo Hoa, di mana angin pukulannya yang menderu menyibak pedang Nyo Hoa ke samping.
Nyo Hoa melambung, sambil berkelit dia balas menyerang, jengeknya.
"Hati-hatilah kau."
Pedang melintang miring Si hwesio kira jurus yang dia lancarkan adalah Heng-kang-hwi-toh (Menyeberang sungai secara melintang), segera di menginjak kedudukan "Kan"
Berputar ke posisi "Le", sehingga rang-sakan kedua pihak samasama mengenai tempat kosong.
Nyo Hoa berebut kesempatan untuk mendahului menyerang, setiap jurus setiap gerakan tidak pernah kendor, terpaut serambut pun berusaha direbutnya, maka permainan ilmu pedang dan ilmu pukulan mereka semakin lihay, berbobot dan menakjubkan.
Kepandaian kedua orang itu sama tinggi, tapi Nyo Hoa bersenjata pedang, maka dia lebih unggul.
Saking seru pertarungan ini, sengaja si hwesio bergoyang sekali terus melompat ke luar kalangan, katanya.
"Sudah limapuluh jurus. Hm, di antara jago-jago pedang yang pernah kuhadapi, mungkin kau masih bukan tandingan Kim Tiok-liii atau Kang Hay-thian, tapi kalau hanya bicara tentang ilmu pedang, kemungkinan kau sudah boleh diagulkan nomor satu di dunia. Sisa limapuluh jurus selanjutnya, terpaksa aku harus melawan dengan senjata,"
Nyo Hoa curiga dan bimbang, pikirnya.
"Dari nada bicaranya, gelagatnya dia kenal baik dengan Kang Hay-thian dan Kim Tiok-Iiu. Apakah dia bukan komplotan Kiat Hong? Lalu dari mana dia peroleh kuda putih ini?"
Seperti orang bermain catur, bagi seorang persilatan yang memiliki kungfu tinggi, memperoleh lawan yang tangguh dan setingkat dengan dirinya, rasa ingin menang selalu muncul, katanya sambil memegang pedang.
"Memangnya kau tidak perlu mengalah, keluarkan senjatamu."
"Bagus anak muda, kau memang pemberani dan gagah. Tapi senjataku tidak perlu dilolos."
Mendadak Nyo Hoa melihat gumpalan merah berkembang di depan matanya. Ternyata hwesio kurus ini mencopot kasa longgar yang merah itu sebagai senjata, kasa itu menggulung ke mukanya.
"Sret"
Kontan Nyo Hoa balas menusuk, namun sekali sendai kasa merah itu membalik terus membelit.
Pedang Nyo Hoa ternyata disampok pergi.
Nyo Hoa merasakan ujung pedangnya sudah mengiris kasa lawan, namun tergelincir tak mampu menusuk hingga berlubang.
Tenaga besar lawan laksana arus yang bergelombang, pedang Nyo Hoa tersampok pergi, hampir saja tak kuat dia memegangnya.
Tapi Bu-beng-kiam-hoat Nyo Hoa justru serba bisa, makin kuat perlawanan perbawanya pun makin besar, umpama lwekang sendiri bukan tandingan lawan, tetap dia bisa mencari peluang untuk menyerang lawan sehingga permainan pedangnya tetap merupakan ancaman bagi lawan.
Kasa diputar, menderu-deru suaranya, bayangan pedang berputar laksana naga yang sedang menerjang mutiara.
Seumpama cahaya pelangi yang disoroti cahaya mentari, bergulung-gulung di padang rumput, keduanya terus berhantam, serang menyerang dengan sengit dan sama tangguhnya.
Diam-diam Nyo Hoa mengeluh dalam hati, pikirnya.
"Tak heran sam-suhu selalu berpesan, di atas langit ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai. Kasa adalah kain lemas dan enteng, tapi di tangan hwesio kurus ini ternyata lebih kokoh dari tameng, malah lebih kuat dari dinding baja, bagaimana aku harus mengalahkan dia?"
Sekarang Nyo Hoa tidak berani mengharap dapat mengalahkan lawan, kalah menang tidak terpikir lagi olehnya.
"Untung dia hanya membatasi seratus jurus, yakin aku masih mampu melawannya seratus jurus."
Karena tidak pikirkan kalah menang, ternyata permainan pedangnya semakin hebat, perbawa Bu-beng-kiam-hoat juga berlipat ganda.
Entah berapa jurus pula, Nyo Hoa melancarkan jurus Pck-hongkoan-jit, tenaga tersalur di ujung pedang terus menusuk "Cret"
Tahu-tahu pedangnya sudah terbelit oleh kasa lawan.
Nyo Hoa hendak menariknya sudah tidak bisa, menyusul pedangnya jatuh berkerontang di atas tanah.
Nyo Hoa berdiri lesu, si hwesio .kurus justru bergefak tawa, katanya.
"Anak muda, sungguh hebat. Bukan saja kau setanding dengan aku, kau pun telah mengalahkan aku."
Nyo Hoa gusar, semprotnya.
"Kepandaianmu jauh lebih tinggi, aku mengaku kalah, kenapa kau menggoda dan mengejekku."
"Tak usah kau menyesal dan anggap kemampuan sendiri tidak becus. Kau tahu berapa jurus kau sudah bergebrak dengan aku?"
Nyo Hoa melenggong, sahutnya.
"Entahlah."
Dalam dahulu mendahului menyerang tadi, permainan pedangnya secepat kilat, telapak tangan pun menderu keras, bahwasanya tidak sempat lagi dia perhatikan berapa jurus mereka sudah bertarung.
Tapi dia yakin batas seratus jurus sudah tercapai, malah mungkin sudah lebih.
Hwesio itu bergelak tawa, katanya.
"Seluruhnya sudah bergebrak tigaratus duabelas jurus."
Bahwa hwesio ini dapat menghitung secara tepat, karuan Nyo Hoa kaget dan melongo. Tapi dalam hati dia tetap berpikir.
"Meski kelewat batasnya, kenyataan aku toh dikalahkan."
Si Hwesio seperti tahu isi hatinya, katanya lebih lanjut.
"Memang aku berhasil menggulung pedangmu, tapi kau pun menusuk berlubang kasaku, kalau dinilai kita seri. Tapi usiaku jauh lebih tua, sebetulnya Iwekang-ku lebih tinggi sedikit Hanya dengan permainan pedang kau menusuk kasaku hingga berlubang, sebaliknya aku harus mengerahkan tenagaku baru berhasil menjatuhkan senjatamu, umpama benar pertempuran ini berakhir seri, kalau dinilai secara keseluruhan, tetap kau yang berada di pihak menang. Baiklah, kuda ini kuserahkan, boleh kau ambil."
Maksud Nyo Hoa memang mau merampas kuda, kini orang menyerahkan, dia jadi bingung sendiri. Hwcsio itu tersenyum, katanya.
"Apakah kau masih ingin bicara denganku?"
Nyo Hoa bimbang dan curiga, tanyanya.
"Siapa kau?"
"Kau tidak kenal aku, aku sudah kenal kau malah. Bukankah kau ini Nyo-siauhiap yang datang bersama Han-cong-piauthau di Cauhoat?"
"Mana berani aku disebut siau-hiap. Tapi siapa diriku kau memang benar, aku adalah Nyo Hoa. Kau, kau adalah..."
Si hwesio kenakan kasanya katanya perlahan.
"Semalam Hancong-piauthau menjadi tamuku. Malam ini aku siap menyambut kedatanganmu, sudah tentu kalau kau sudi menjadi tamuku. Tentang undanganku, tentu sudah ada orang yang menyampaikan kepadamu bukan?"
Nyo Hoa terperanjat, katanya.
"Kau adalah Pek-kau Hdat-ong?"
Pek-kau Hoat-ong tertawa ramah, katanya.
"Tak usah rikuh, kita bersahabat dengan bertanding silat sehingga persahabatan ini terasa lebih erat Kau sudah banyak membantu kami, aku belum sempat menyatakan terima kasih kepadamu."
"Ah, mana berani,"
Ujar Nyo Hoa serba bimbang.
"Sungguh tak nyana bahwa Hoat-ong berada di sini, untuk kelancanganku tadi, mohon maaf."
Hoat-ong berkata.
"Aku tidak menduga kau meninggalkan Cauhoat, semula aku kira kau tidak sudi menjadi temanku."
Sudah tentu rikuh dan kikuk pula sikap Nyo Hoa, katanya tergagap.
"Tidak, bukan begitu. Aku sedang mencari seorang teman."
Hoat-ong tidak tanya siapa yang dia cari, katanya dengan tertawa.
"Kau tidak mengira bahwa aku menunggang kuda putih ini, benar tidak?"
Nyo Hoa mengangguk, katanya.
"Mohon Hoat-ong menjelaskan."
"Aku merebutnya dari tangan seorang hwesio. Hwesio itu semula adalah murid Ko-gwat Siansu dari Jian-hud-si di Tun-hong, karena tidak mematuhi-ajaran agama, dia dihukum kuning di gunung belakang. Entah kenapa mendadak dia mengamuk, melukai seorang su-heng-nya yang menjaga dia lalu lari ke Tionggoan. Kabarnya dia berkomplot dengan Kiat Hong, murid murtad Siau-lim-pay, melakukan kejahatan.
"Ko-gwat Siansu adalah sahabat baikku. Thong-sian Siangjin Hong-tiang Siau-lim-si aku memang belum pernah bertemu, namun beliau adalah paderi agung yang kukagumi. Kemarin aku mendapat kabar bahwa Kiat Hong berada di Cau-hoat bersama Pek-san, maka kusuruh orangku memperhatikan gerak-gerik mereka. Sayang karena aku sibuk, mereka juga terus melanjutkan perjalanan, maka tak sempat aku membekuk mereka. Siapa tahu, entah karena apa, Pek-san sendirian putar balik. Kebetulan kepergok olehku, ternyata dia tidak tunduk pada seruanku, masih ingin lari sambil keprak kudanya, maka kusambit dia dengan mata uang tembaga, hiattonya tertotok, dia terjungkal jatuh dan menjadi tawananku."
Nyo Hoa kegirangan, tanyanya.
"Mana hwesio bangsat itu?"
"Semalam aku keluar bersama dua muridku. Hwesio jahat itu sudah kuserahkan kepada kedua muridku untuk dibawa pulang, besok akan kusuruh orang menggelandangnya ke Jian-hud-si biar gurunya yang menjatuhkan hukuman. Sayang Kiat Hong tidak kepergok olehku."
"Aku malah sudah bersua dengan Kiat Hong dan Pek-san."
"Kapan kau bertemu mereka?"
"Dua jam yang lalu, aku malah melabrak mereka."
"Lho, kau pun bermusuhan dengan mereka."
"Bermusuhan sih tidak, soalnya mereka mempermainkan seorang gadis, maka aku menghajarnya."
Hoat-ong kaget, tanyanya.
"Siapa nona itu?"
"Puteri Teng-lopiauthau dari Liong Ih Piaukiok di Hok-ciu."
Lega hati Hoat-ong, katanya.
"Ya, kemarin Han Wi-bu juga membicarakan kejahatan Kiat Hong yang membegal barang kawalan Liong Ih Piaukiok, ternyata puterinya berada di sini."
"Agaknya kedatangan Kiat Hong dan Pek-san di sini juga mencari jejak nona Teng itu. Mereka bermusuhan dengan Teng-lopiauthau, tapi puterinya yang tidak berdosa juga akan digagahi, sungguh jahat perbuatan mereka."
"Kuda putih ini adalah milik nona Teng itu."
"O, jadi kau mau merebut kuda ini untuk di kembalikan kepada nona Teng. Entah di mana dia sekarang?"
"Dua jam yang lalu dia berada di padang rumput yang jauhnya seratus li dari sini "Dia bersama putera kedua Kang Tayhiap, entah sekarang mereka pergi ke mana?"
Hoat-ong tampak kaget, serunya.
"Ah, putera Kang Tayhiap juga datang? Aku malah tidak tahu. Baik juga nona Teng sudah mendapat pengawal, legalah hatiku."
Sampai di sini dengan nada bimbang dia bertanya.
"Waktu kau bertemu dengan nona Teng, apakah mereka sudah berduaan?"
"Kang-jikongcu datang setelah Kiat Hong dan Pek-san melarikan diri. Bila dia sudah bersama nona Teng sebelumnya, tak perlu aku membantu dia."
Hoat-ong manggut-manggut. Ternyata tentang penolakan perjodohan dari keluarga Kang itu Hoat-ong juga sudah tahu dari berita Utti Keng. Hari sudah terang tanah. Nyo Hoa berkata.
"Mereka pasti sudah meninggalkan tempat itu, tapi menurut apa yang kutahu, nona Teng akan ke Thian-san, kemungkinan Kang-jikongcu akan mengawalnya ke sana."
Hoat-ong mengerut alis, katanya.
"Apakah kau mau naik kuda putih ini mengejar mereka? Kalau benar, aku mau titip pesan untuk mereka."
"Titip pesan apa?"
"Suruhlah Kang-jikongcu segera kembali ke Cau-hoat menemui aku."
Nyo Hoa ragu-ragu, dan sukar memberi keputusan.
"Nyo-siauhiap, apakah kau punya kesulitan?"
"Sepantasnya aku membantu, tapi semalam suntuk aku tidak pulang, mungkin Han-cong-piauthau menunggu aku."
Tidak jadi soal, aku bisa menjelaskan kepadanya."
"Aku baru kenal dengan Kang-jikongcu, entah dia mau tidak percaya kepadaku. Begini saja, aku punya akal."
Hoat-ong cukup pengalaman, pandai meraba mimik orang, melihat dia mencari alasan, meski tidak tahu duduk persoalannya, dalam hati juga sudah menerka.
Nyo Hoa mungkin punya ganjalan hati, maka dia tidak berani memaksa, katanya.
"Ada akal apa, coba jelaskan."
"Kuda ini larinya cepat, Hoat-ong boleh suruh muridmu mengirim pesanmu itu, dalam jangka dua tiga hari pasti berhasil menyusul mereka."
"Betul, kenapa aku tidak mengejar Kang Siang-hun saja? Sekaligus aku bisa membantu nona Teng itu,"
Demikian batin Hoatong. Setelah memutuskan dia berkata.
"Baiklah, aku ingin mohon bantuanmu untuk urusan lain."
"Boleh Hoat-ong katakan."
"Kau tahu kenapa malam-malam aku keluar?"
"Bukankah untuk membekuk Kiat Hong?"
"Bukan. Hanya kepergok secara kebetulan saja Aku sedang mencari seseorang. Kau mencari teman tapi aku mencari puteri kenalan baikku."
Nyo Hoa melenggong, tanyanya dengan jantung berdebar.
"Ayah nona itu menjadi sahabat baik Hoat-ong, pasti dia seorang Bulim yang punya asal-usul besar."
"Betul. Ayahnya adalah jago pedang nomor satu Kim Tiok-liu Kim tayhiap."
Nyo Hoa sudah bersusah payah semalam suntuk, kembali dengan tangan hampa, tak nyana dari mulut Hoat-ong dia memperoleh berita Kim Bik-ki, karuan dia melenggong. Hoat-ong bergelak tawa, katanya.
"Teman yang sedang kau cari, apakah juga nona Kim?"
Debar jantung Nyo Hoa makin keras. Untung Hoat-ong berkata lebih lanjut.
"Han-cong-piauthau sudah menjelaskan kepadaku, dia bilang kemarin dia hendak ajak kau ke tempatku, kau tidak datang karena ingin membantu dia mencari kabar nona Kim. Apakah kau sudah mendapat sesuatu berita maka kau meninggalkan Cau-hoat secara tergesa-gesa?"
Lega hati Nyo Hoa, katanya.
"Aku tahu nona Kim juga menunggang seekor kuda putih, waktu aku memilih kuda di pasar hewan, kebetulan nona Teng lewat menunggang kuda putih, maka bergegas aku mengejarnya, siapa tahu ternyata keliru."
"Tapi justru kebetulan, kalau tidak nona Teng tentu sudah mengalami nasib buruk di tangan Kiat Hong. Kim tayhiap sedang mencari puterinya tentu kau juga sudah tahu."
"Ya, waktu di Jik-tat-bok, Leng Thiat-j iau dan Siau Ci-wan thauling pernah bicara dengan aku."
"Kau pernah bertemu dengan nona Kim bukan?"
"Ya, pernah bertemu dua kali,"
Sahut Nyo Hoa, dalam hati dia membatin.
"Kepada Leng Thiat-j iau dan lain-lain, aku tidak menyatakan kenal Bik-ki. Bila hal ini kelak diketahui mereka, mungkin bisa menimbulkan salah paham lagi."
Sudah tentu Hoat-ong tidak tahu hubungannya dengan Kim Bikki. Tahu bahwa dia kenal Kim Bik-ki, dia amat senang, katanya.
"Kalau begitu kau dan aku bertukar tugas. Kuda ini akan kukembalikan kepada nona Teng, kau bantu aku menemukan nona Kim."
"Apakah Hoat-ong sudah tahu di mana jejaknya sekarang?"
"Alamatnya yang tepat belum terang, tapi kau pasti dapat menemukan dia."
"Lho, bagaimana bisa menemukan dia?"
"Dia sudah pernah mampir ke tempatku,"
"Kenapa Hoat-ong tidak menahannya?"
"Dia memang datang, tapi aku tidak diberi kesempatan menemui dia Waktu dia datang, tepat di saat Han Wi-bu minta bantuanku untuk mencarinya,"
Demikian tutur Hoat-ong.
"Orangku tidak melihat, hanya melihat kartu nama ayahnya yang dia antar ke tempatku."
Nyo Hoa maklum, pikirnya.
"Kedudukan Hoat-ong teramat agung, sahabat baik ayahnya lagi, kebetulan dia lewat Cau-hoat, jikalau tidak bertandang juga harus menyampaikan salam kepadanya, kalau tidak kelak ayahnya pasti menegur dia tidak tahu aturan. Bila dia menghadap sendiri khawatir Hoat-ong menahannya, maka dia hanya mengirim salam dengan kartu nama ayahnya Mumpung Hoatong kedatangan tamu, diam-diam dia mengirim kartu namanya itu."
Tutur Hoat-ong lebih lanjut, .
"Setelah tamu pulang aku kembali ke kamar, baru kutemukan kartu namanya itu. Aku tidak tahu kenapa dia tergesa-gesa, tapi Kim tayhiap menyuruhnya pulang, maka aku harus membantu sahabat lama mencarinya, terpaksa malam-malam aku keluyuran di luar. Tapi Kang tayhiap juga teman baikku, tidak bisa tidak aku harus mengurus pute"
Ranya. Semoga kita berhasil menunaikan tugas masing-masing, kita bertemu lagi di Cau-hoat."
Lalu dia menambahkan.
"Mereka berdua adalah saudara seperguruan, menurut yang kutahu kelak mungkin menjadi pasangan setimpal. Kupikir bila nona Kim tahu suheng-nyajuga berada di sini, pasti hatinya amat senang. Boleh kau beri tahu kepadanya."
Sabat Nyo Hoa dengan suara getir.
"Aku sudah tahu"
Dalam hati dia berpikir.
"Kalau Bik-ki tahu Kang Siang-hun juga berada di sini, mungkin dia malah tidak mau pulang."
"Dari barat menuju ke barat cuma ada dua jalan. Kau mengejar nona Teng sejauh ratusan li tapi tidak menemukan jejak, nona Kim pasti menempuh jalan yang lain, pergilah kau mencarinya dari jalan yang lain itu."
NyoHoa cemplak kudanya, katanya.
"Hoat-ong, aku ingin titip pesan juga padamu."
"Soal apa, boleh kau katakan."
Menahan rasa getir hatinya, Nyo Hoa berkata.
"Bila aku bertemu dengan nona Kim, pasti akan kuanjurkan dia pulang. Tapi aku ketemu atau tidak dengan dia, selanjurnya tidak akan kembali kc Cau-hoat Tolong kau sampaikan pesanku ini kepada Han-congpiauthau. Tadi aku akan pulang mohon diri kepadanya."
"Kukira kau akan ke Jik-tat-bok bersama Han Wi-bu, kenapa buru-buru hendak berpisah? Aku belum sempat menjamu kau."
"Ada sedikit urusan pribadiku yang harus kuselesaikan di tempat lain, semestinya aku akan menunggu tiga hari di Cau-hoat, untung tujuanku juga ke barat semoga dapat berte-"
Mu dengan nona Kim, tapi tak bisa aku mengiringi dia balik. Tentang maksud baik Hoatong, sementara biar ditunda dulu. Kelak ada kesempatan, pasti aku mampir lagi."
Karena Nyo Hoa bilang ada urusan pribadi, Hoat-ong tidak enak menahannya, katanya.
"Baiklah setelah kupanggil Kang Siang-hun, akan kusampaikan beritamu kepada Han Wi-bu. Bila urusanmu sudah selesai, pulangnya harus mampir lho."
Kedua orang ini lantas berpisah. Mereka mencongklang kudanya ke arah masing-masing. Perasaan Nyo Hoa timbul tenggelam.
"Bila ketemu Bik-ki, haruskah aku membujuknya pulang?"
Saat mana Kim Bik-ki juga sedang mencongklang kudanya di padang rumput Pagi hari di padang rumput hawanya amat segar dan sejuk, selepas mata memandang, permadani hijau terbentang luas beradu dengan ufuk langit.
Siapa pun yang berada di tengah padang rumput yang penuh diliputi kehidupan semarak ini, hatinya pasti akan merasa lega dan lapang.
Tapi tidak demikian perasaan Kim Bik-ki sekarang, seperti Nyo Hoa hatinya pun sedang gundah.
Besar harapannya bertemu dengan Nyo Hoa.
Tapi rasa kangennya kali ini berbeda dengan rasa rindunya waktu pertama kali dia berpisah dengan Nyo Hoa di Siau-kim-jwan dulu, karena sekarang dia sudah tahu sedikit tentang rahasia pribadi Nyo Hoa.
Bahwa sekarang dia ingin lekas bertemu dengan Nyo Hoa bukan lantaran cinta saja, tapi untuk mencegah Nyo Hoa melakukan tindakan salah.
Mendongak memandang udara nan cerah, pikirannya melayang kembali ke Jik-tat-bok, kejadian kira-kira setengah bulan yang lalu.
Setiba di markas pusat laskar gerilya, langsung memberi laporan tugasnya kepada Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan, kecuali menyembunyikan kejadian di kemah dengan Nyo Hoa, seluruh pengalamannya dia tuturkan kepada mereka.
Lalu dia berbohong besok akan langsung pulang ke rumah.
Waktu di pangkalan laskar gerilya, biasanya Kim Bik-ki suka bergaul dengan istri Song Theng-siau, Meski sudah berusia tigapuluhan tapi watak Lu Su-bi tetap lincah dan lembut.
Kebetulan Kim Bik-ki cocok bergaul sama dia, maka hubungan mereka amat akrab.
Waktu Kim Bik-ki tiba di Jik-tat-bok, Beng Goan-cau dan Utti Keng sudah berangkat dua han lamanya Song Theng-siau mengantar mereka, sekaligus mengadakan inspeksi ke daerah sekitarnya, maka waktu itu belum kembali.
Maka malam itu Kim Bikki tidur sekamar dengan Lu Su-bi.
Song Theng-siau adalah teman baik Beng Goan-cau, hal ini Kim Bik-ki tahu jelas.
Kenapa Nyo Hoa mau membunuh Beng Goan-cau?
Dia ingin mengorek keterangan dan mulut Song Theng-siau suanwistn Banyak persoalan yang tidak enak dia kemukakan di hadapan Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan, tapi terhadap Lu Su-bi dia bisa bicara dengan bebas.
Maka Lu Su-bi menanyakan pengalamannya selama di Siau-kimjwan..Maka Kim Bik-ki lantas bercerita.
"Sebetulnya tiada sesuatu yang menarik dalam perjalanan ini, tapi di tengah jalan aku bertemu dengan seorang pemuda yang gerak-gerik-nya agak aneh."
"Pemuda yang bagaimana? Kau sudah tahu siapa dia?"
"Pemuda itu bernama Nyo Hoa."
Lu Su-bi kaget, teriaknya.
"Nyo Hoa?"
Ternyata dia tidak pandai menyembunyikan perasaan hatinya, sesaat dia kelihatan kaget dan senang, hal ini terunjuk pada mimik mukanya,"
"Bibi Song,"
Tanya Kim Bik-ki.
"kau kenal pemuda ini?"
"Tidak. Tapi mendengar gerak-geriknya aneh, aku jadi ketarik."
Pertama kali ini Lu Su-bi berbohong kepada Kini Bik-ki, hatinya mendelu dan menyesal Tapi karena urusan menyangkut rahasia pribadi orang, terpaksa dia tidak berani terus terang kepada Kim Bik-ki..Lu Su-bi belum pernah melihat Nyo Hoa, tapi dia tahu jelas asal-usulnya Kim Bik-ki cerdik, melihat wajah meraba perasaan, dia tahu bahwa Lu Su-bi sengaja mengelabui dirinya, namun dia pura-pura tidak tahu, katanya tertawa.
"Bibi Song, kau ingin tahu betapa anehnya pemuda ini bukan? Di Siau-kim-jwan dia pernah membantu pihak kita, menolong Ho Thi-cu suami istri dari cengkeraman tentara Ceng, Tapi dia pun membebaskan satu orang, orang ini adalah musuh kita."
"Siapa dia?"
"Nyo Bok yang menjadi antek kerajaan."
Lu Su-bi melenggong.
"Apa betul?"
Tanyanya.
"Teledor juga pemuda itu."
Dia kira Toan Siu-Si sudah memberi tahu Nyo Hoa tentang seluk beluk hidupnya.
"Memang tidak bisa membedakan baik buruk, memang dia teledor, lapi mereka sama-sama marga Nyo, bukan mustahil Nyo Bok adalah familinya."
"Ah, mana mungkin Nyo Bok punya anak demikian baik?"
Jawaban ini di luar dugaan Kim Bik-ki, maklum Kim Bik-ki adalah perempuan yang cerdik, sejak mula dia sudah curiga kemungkinan Nyo Hoa dan Nyo Bok punya hubungan ayah dan anak, namun mendengar jawaban Lu Su-bi nada-nadanya bukan, maka Kim Bik-ki menduga persoalan pasti ada latar belakang yang dirahasiakan.
Setelah menceritakan pengalamannya di Siau-kim-jwan, akhirnya Kim Bik-ki bertanya.
"Bibi Song apakah Beng Goan-cau bermusuhan dengan Nyo Bok?"
Kembali Lu Su-bi melenggong, sesaat baru dia menjawab.
"Nyo Bok adalah cakar alap-alap, setiap ksatria wajib membunuhnya bukan?"
"Tidak, maksudku bermusuhan pribadi."
"Kenapa kau menduga demikian?"
"Waktu di Siau-kim-jwan, setiap musim semi dan rontok bukankah paman Beng pasti berziarah di pusara Hu Ci-Io lihiap? Kabarnya Hun lihiap ini adalah istri Nyo Bok."
Hal ini memang sudah menjadi rahasia umum, maka Lu Su-bi berkata.
"Benar, soalnya Hun lihiap dulu pernah menolong jiwa Beng Goan-cau, maka setiap tahun dia merasa wajib bersembahyang di depan pusaranya."
"Kukira bukan lantaran itu saja bukan? Bibi Song, jangan kau kira aku suka mencampuri urusan orang lain, seperti juga kau, aku ingin sekali tahu persoalannya."
"Apa saja yang sudah kau ketahui, kenapa kau bilang demikian?"
Kim Bik-ki cekikikan, lalu berbisik di pinggir telinga Lu Su-bi.
"Aku sudah tahu Hun Ci-lo sebetulnya adalah kekasih Bcng-sioksiok, betul tidak?"
Lu Su-bi kaget, tanyanya.
"Siapa yang memberitahukan kau?"
Mendengar pertanyaan ini, Kim Bik-ki yakin dugaannya tidak keliru, diam-diam dia geli karena bibi Song terpancing olehnya, katanya.
"Paman Beng sendiri yang bilang kepadaku."
"Bohong, mana mungkin paman Beng mau bicara soal beginian terhadap bocah seperti kau."
"Hari raya Cengbeng tahun yang lalu, kulihat paman Beng menangis sedih di depan pusara Hun lihiap, sambil menangis dia meratap minta maaf akan kesalahannya terhadap Hun lihiap, dia bilang menyia-nyia-kan cintanya sehingga dia hidup merana sepanjang hidup, hari itu kebetulan .aku bermain tak jauh dari pusara itu, melihat paman Beng datang dari kejauhan aku lantas sembunyi di dalam hutan, dia tidak melihat aku, meski bukan secara langsung dia memberi tahu kepadaku, tapi aku mencuri dengar doanya kan sama saja."
Kini Bik-ki memang pernah melihat Beng Goan-cau meratap di depan kuburan Hun Ci-lo, tapi ceritanya yang belakang adalah karangannya sendiri. Tapi Lu Su-bi sudah percaya, katanya.
"Baiklah, setelah kau tahu biar kujelaskan sekalian. Memang dulu mereka adalah sepasang kekasih yang sudah bersumpah setia sehidup semati. Mereka sudah bertunangan jauh sebelum Hun Ci-lo menikah dengan Nyo Bok, maka jangan kau berprasangka bahwa paman Beng adalah pemuda mata keranjang, merayu istri orang lain." .
"Kalau mereka sudah sumpah setia, kenapa akhirnya berpisah?"
"Kejadian tidak bisa menyalahkan paman Beng-mu, yang salah adalah situasi waktu itu, kenapa mereka harus hidup di jaman yang selalu geger ini. Nasib memang mempermainkan orang."
Lalu dia ceritakan sebab musabab kenapa Beng Goan-cau harus berpisah dengan Hun Ci-lo.
Satu bal yang paling penting sudah tentu tidak leluasa dia ceritakan kepada Kim Bik-ki, yaitu waktu Beng Goan-cau berpisah dengan kekasihnya,"
Hun Ci-lo sudah mengandung keturunannya.
"Kau sudah paham bukan Karena menyangka paman Beng sudah meninggal, maka terpaksa dia menikah dengan Nyo Bok."
Mendengar kisah yang menyedihkan ini, Kini Bik-ki menghela napas panjang, tiba-tiba tergerak pikirannya, tanyanya.
"Lalu Nyo Hoa yang kuketemukan di Siau-kim-jwan itu. apakah dia punya hubungan luar biasa dengan paman Beng?"
Lu Su-bi kaget, tanyanya.
"Siapa bilang kepada kau?"
"Nyo Hoa sendiri yang memberi tahu kepadaku"
Lu Su-bi setengah percaya, katanya.
"Setelah dia membebaskan Nyo Bok, apakah dia lantas membicarakan asal-usulnya dengan kau?"
"Bukan Belakangan setelah aku bertemu dengan dia. aku salahkan dia kenapa membebaskan Nyo Bok, waktu itu saking marah aku menamparnya sekali Padahal ilmu pedangnya amat lihay, tapi dia tidak melawan, hanya menghela napas. Maka dia lantas bercerita."
"Apa yang diceritakan?"
Lu Su-bi bertanya.
"Dia tahu kalau aku berpihak kepada laskar gerilya, lalu dia tanya di mana letak markas gerilya. Kutanya untuk apa dia mencari laskar gerilya? Baru dia bercerita dia mau mencari paman Beng, maka aku tanya dia, apa hubungannya degan paman Beng?"
"Maka dia menjelaskan kepadamu? Begitu?"
"Tidak, waktu itu dia tidak langsung menjawab, cukup lama dia plc-gak-pleguk seperti menyembunyikan sesuatu. Akhirnya setelah kude-sak baru dia menjawab samar-samar. Dikatakan di dunia ini dia sudah tidak punya sanak kadang, hanya Bcng-sioksiok adalah sahabat baik gurunya, maka beliau dipandangnya sebagai familinya. Keinginannya yang terbesar adalah selekasnya dapat bertemu dengan paman Beng, omong punya omong, eh tahu-tahu airmatanya meleleh. Dari sikap dan tutur katanya aku menduga hubungannya dengan paman Beng pasti luar biasa, jadi bukan lantaran hubungan dekat antar perguruannya."
Ceritanya ini setengah benar setengah bohong.
Padahal Nyo Hoa bilang hendak menuntut balas kepada Beng Goan-cau, tapi ceritanya kepada Lu Su-bi dari musuh menjadi famili, ini memang spekulasinya lantaran dia merasa omongan Lu Su-bi kurang dapat dipercaya juga, dalam hati dia sudah menduga beberapa bagian maka dia berani mengubah pernyataan Nyo Hoa untuk mengorek keterangan Lu Su-bi lebih lanjut Bagi Lu Su-bi cerita bohong Kim Bik-ki ini justru lumrah dan masuk akal.
Maka dia berpikir.
"Agaknya Nyo Hoa memang sudah menjelaskan asal-usulnya, dia membebaskan Nyo Bok mungkin merasa hutang budi kepadanya karena dia mengasuhnya beberapa tahun?"
Karena rekaannya ini, maka belakangan waktu mereka suami istri bertemu dengan Nyo Hoa, mereka anggap Nyo Hoa sudah tahu riwayat pribadinya maka sengaja menghindari pembicaraan tentang ini.
"Bibi Song, kenapa kau diam saja? Sebagai sumoay paman Beng, tentu kau tahu banyak persoalannya Lalu Nyo Hoa sebetulnya anak paman Beng atau anak Nyo Bok?"
"Kenapa kau amat memperhatikan Nyo Hoa?"
Merah muka Kim Bik-ki, katanya.
"Jikalau dia anak paman Beng, sepantasnya kita membantu dia, betul tidak? Tapi jikalau sebaliknya anak Nyo Bok, kelak bila aku bertemu dengan dia akan kubunuh dia"
Karena digertak Lu Su-bi akhirnya bicara terus terang.
"Aku sendiri belum pernah melihat Nyo Hoa, tapi mendengar ceritamu tadi aku berani memastikan malah."
"Memastikan apa?"
"Dia pasti anak paman Beng." ---ooo0dw0ooo---CUKUP lama Kim Bik-ki men-congklang kudanya di padang rumput sang surya seperti sudah melompat keluar dari gumpalan mega, di mana angin berhembus lalu, rumput bergoyang dengan tariannya yang lembut seperti lautan teduh yang berwarna kehijauan. Pikirannya kusut.
"Kenapa belum juga kutemukan Nyo Hoa? Ai, sungguh kasihan, siapa ayah kandungnya dia masih belum tahu. Aku akan memberi tahu kepadanya, supaya jangan melakukan tindakan yang bodoh."
Kim Bik-ki tiba di Cau-hoat dua hari lebih dulu dari Nyo Hoa.
tapi dia menyamar laki-laki.
setiba di Cau-hoat lantas menyembunyikan diri dalam perkemahan.
siang hari tidak pernah muncul di depan umum.
Waktu dia datang hari ini, kebetulan Beng Goan-cau dan Utti Keng juga baru saja meninggalkan tempat itu.
Dua hari kemudian baru rombongan Han Wi-bu pun tiba.
Dia tidak ingin ada orang ketiga melihat pertemuannya dengan Nyo Hoa, padahal Nyo Hoa tinggal di satu tempat dengan Han Wi-bu, sudah tentu tidak leluasa dia unjuk diri menemuinya.
Dia tahu Nyo Hoa benekad menuntut balas kepada Beng Goancau, hal ini sudah dia duga, waktu berada di Jik-tat-bok tentu Nyo Hoa sudah mencari tahu kepada Leng Thiat-jiau, kini dia sudah tahu ke mana arah pergi Beng Goan-cau.
Maka dia harus menunggu bila seorang diri Nyo Hoa pergi mencari Beng Goan-cau, baru dia akan menguntitnya.
Perkemahan di mana dia tinggal letaknya tidak jauh dari pasar hewan.
Hari itu dia pun mendengar orang-orang di luar memuji lari kuda yang bagus, waktu dia memburu ke luar, kuda putih Teng Bing-cu sudah lari jauh, tak kelihatan lagi, yang dilihatnya hanya kuda merah yang ditunggangi Nyo Hoa.
Karena mengandung maksud maka dia tidak berani mencari tahu kepada orang, dia kira bila Nyo Hoa tiba di Cau-hoan, tahu ke mana tujuan Beng Goan-cau, pasti akan memohon diri kepada Han Wi-bu, langsung mengejar Beng Goan-cau.
Maklum siang hari dia tidak berani muncul di depan umum, kedua, Pek-kau Hoat-ong adalah sahabat baik ayahnya, sebelum pergi kurang pantas kalau tidak mengirim salam dengan kartu nama ayahnya, supaya kelak dia tidak-dimarahi ayahnya sebagai gadis yang tidak tahu sopan santun.
Karena itu dia baru berangkat waktu malam sudah amat larut Dia percaya tenaga kuda putihnya ini masih lebih kuat dan cepat dari kuda merah yang dibeli Nyo Hoa, dalam setengah hari pasti dirinya sudah akan menyusulnya.
Dia tahu tujuan Utti Keng adalah Sinkiang, sementara Beng Goan-cau ke Tibet.
Begitu keluar dari Cau-hoat mereka lantas berpencar menuju ke arah masing-masing.
Nyo Hoa mengejar Beng Goan-cau, menuju ke Tibet.
Di luar tahunya, Nyo Hoa mengejar Teng Bing-cu yang disangka Kim Bik-ki, padahal tujuan Teng Bingcu ke Thian-san, arahnya sama dengan yang ditempuh Utti Keng, sudah tentu mereka tidak bertemu.
Matahari merambat semakin tinggi, kini sudah menjelang lohor, hati Kim Bik-ki makin gelisah, kenapa sejauh ini belum juga melihat bayangan Nyo Hoa.
Dengan seksama dia memeriksa sepanjang jalan yang dilalui, di padang rumput tiada jejak pernah dilewati kuda.
"Mungkin dia lewat jalan lain?"
Akhirnya Kim Bik-ki curiga, lalu menimang-nimang.
"Untung hanya ada dua jalan, kudaku berlari cepat, aku masih bisa putar balik mengejarnya."
Maka dia putar kudanya dibedal menuju ke arah Sinkiang. Dua jam kemudian, dia lewat di bawah sebuah bukit rendah, mendadak didengarnya seorang bersuara heran, lalu seorang memanggilnya.
"Sumoay, sumoay."
Kim Bik-ki kaget, waktu dia menoleh, dari hutan sana di lihatnya berlari keluar seseorang, siapa lagi kalau bukan suheng-nya Kang Siang-hun.
Karuan dia tertegun di atas kuda.
Kim Bik-ki hanya tahu engkoh-nya hendak mencari dirinya, tak terpikir olehnya bahwa sang suheng malah lebih cepat menemukan dia, di tengah jalan mereka bersua, mau sembunyi juga tidak sempat lagi.
Apa lagi orang adalah suheng-nya yang dibesarkan bersama sejak kecil.
Walau Kim Bik-ki tidak mau menemuinya, sekarang setelah ke-pergok terpaksa Kim Bik-ki harus berhenti ajak bicara dengan dia.
"Suheng, kenapa kau pun berada di sini?"
"Sudah lama kau meninggalkan rumah, suhu khawatir akan dirimu, sengaja aku disuruh menyusulmu, kau disuruh pulang, oh ya, bukankah kau bilang kepada Leng Thiat-jiau mau pulang. Kenapa berada di sini malah?"
Kim Bik-ki gelagapan, tak tahu bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Kang Siang-hun, katanya kemudian, tidak menjawab pertanyaan orang.
"Kau sudah bertemu dengan Leng Thiat-jiau?"
"Belum. Beberapa hari yang lalu aku lewat Jik-tat-bok, dari mulut seorang thaubak aku tahu dirimu di sini, waktu kau pamit dengan Leng Thiat-jiau, thaubak itu kebetulan hadir, maka aku percaya dia tidak membohongi aku."
"Setelah tahu beritaku, kenapa kau tidak pulang menunggu aku di rumah, untuk apa pula kau kemari?"
"Thaubak itu memberitahu kepadaku, katanya ada orang melihat kau ke utara, jelas tidak akan pulang ke rumah."
Kim Bik-ki cemberut, katanya.
"Aku senang berada di sini, pulang agak terlambat apa tidak boleh?"
"Bukan tidak boleh, tapi...."
"Tapi apa? Terus terang saja."
"Dunia persilatan penuh liku-liku, usiamu masih muda. Suhu dan sunio khawatir kau bisa tertipu orang."
"Bukan ayah ibu yang mengua-tirkan diriku bukan? Hm, memangnya ulahmu aku tidak tahu? Kau sengaja menggertak aku meminjam pengaruh ayah dan ibu."
Kang Siang-hun tertawa kecut, katanya.
"Aku ini suheng-mu, memangnya aku harus berpeluk tangan, kenapa kau bicara demikian?"
"Memangnya aku masih anak kecil? Tak usah kau menguatirkan diriku."
Kang Siang-hun nekad. katanya.
"Sumoay, aku kemari bukan untuk perang mulut dengan kau. Aku hanya ingin tanya, apakah kau kenal seorang bernama Nyo Hoa?"
"Kalau kenal kenapa? Tidak kenal mau apa?"
"Syukur kalau kau tidak kenal. Jikalau kau kenal, selanjutnya kau harus hati-hati. Dia adalah putera Nyo Bok, Nyo Bok tentu kau juga tahu."
Kim Bik-ki menarik muka, katanya.
"Dia putera siapa, apa sangkut pautnya dengan aku?"
"Memang tiada sangkut pautnya, jikalau tidak kenal dia"
Kim Bik-ki jengkel, katanya.
"Suheng, agaknya kau memaksa keteranganku, baiklah kuberi tahu secara terus terang. Bukan saja aku kenal baik dengan Nyo Hoa, malah aku pun tahu asal-usulnya, jauh lebih jelas dari apa yang kau ketahui."
Kang Siang-hun melenggong, katanya.
"Tapi kau masih menganggapnya sebagai teman?"
"Dengan siapa aku senang berteman dengan dia aku bersahabat, tidak perlu kau urus diriku."
"Kau sudah tahu asal-usulnya, tidak pantas kau berkata demikian. Bukankah dia anak Nyo Bok?"
"Dia bukan anak Nyo Bok,"
Akhirnya Kim Bik-ki menegaskan dengan nada keras dingin. Karuan Kang Siang-hun melongo, katanya.
"Kalau bukan anak Nyo Bok anak siapa?"
"Urusan pribadi orang lain, tak bisa kujelaskan kepadamu. Walau kau adalah suheng-ku."
Kejut dan curiga hati Kang Siang-hun. katanya.
"Sumoay, bukan aku suka turut campur urusan orang lain, tapi urusan ini menyangkut persoalan besar, tidak boleh tidak harus kuperhatikan. Coba kau pikir, bila seorang penipu menyelundup ke dalam kalangan satria, betapa besar bencana yang akan menimpa kita? Nyo Hoa pasti anak Nyo Bok, aku dengan engkoh-mu sudah menyelidiki dengan jelas, pasti tidak salah. Engkoh-mu sekarang pergi ke Jpc-tat-bok menemui Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan, aku khawatir kau tertipu maka menyusulmu kemari."
"Terima kasih akan perhatianmu, tapi aku tahu lebih jelas lagi, bahwa dia bukan anak Nyo Bok! Baiklah kita umpamakan saja benar dia anak Nyo Bok yang bejat dan khianat itu, kejahatan ayahnya tiada sangkut pautnya dengan dia. Karena aku tahu dia orang baik."
Sekarang bukan merasa khawatir saja, Kang Siang-hun juga merasa cemburu, katanya.
"Sumoay, kau amat percaya kepada Nyo Hoa, aku tidak akan banyak komentar lagi. Kau datang ke Cau-hoat tujuanmu hendak mencari dia bukan?"
"Ya, kenapa?"
"Tidak apa-apa. Tapi jikalau kau mau mencari dia, aku boleh membantu kau, kalau kau menempuh jalan raya ini mungkin takkan bisa bertemu dengan dia."
"Kau tahu di mana dia sekarang?"
Tawar suara Kang Siang-hun.
"Semalam aku sudah bertemu dengan sahabat baikmu itu."
Kejut dan girang hati Kim Bik-ki, serunya.
"Ha, kau sudah bertemu dia? Kau tidak, tidak...."
"Sungguh menyesal, bukan saja aku ribut mulut dengan teman baikmu itu, kami pun sudah berkelahi. Tapi jangan kau salah paham, kami berkelahi bukan lantaran engkau."
Kim Bik-ki tampak kurang senang, katanya dingin.
"Aku tahu, kau mau pegang peranan sebagai seorang pendekar besar. Kalau kau sudah anggap dia anak Nyo Bok, maka dia adalah penjahat yang harus dibasmi."
"Jangan kau menyindirku, aku bukan pemuda yang tidak bisa membedakan baik buruk, sebelum aku memperoleh bukti nyata bahwa mereka ayah dan anak sehaluan, aku tidak akan membunuhnya."
Lega juga hati Kim Bik-ki mendengar pernyataan ini, katanya.
"Lalu kenapa kau semalam berkelahi dengan dia?"
"Karena dengan mata kepalaku sendiri kulihat dia berbuat tidak senonoh. Apalagi dia putera Nyo Bok, maka aku lebih cenderung untuk membongkar kedoknya, supaya orang lain tidak tertipu."
Kim Bik-ki kaget, tanyanya.
"Perbuatannya yang tidak senonoh bagaimana?"
"Tentu kau tahu Teng-lopiauthau dari Liong Ih Piaukiok di Hokciu punya seorang puteri bukan?"
"Pernah kudengar. Nona itu bernama Teng Bing-cu, cantik rupawan, serba pintar sastra dan ilmu silat Kudengar di Suj wan barat kau pernah membantu banyak mereka ayah beranak. Tenglopiauthau amat mengindahkan dirimu."
Berkerut alis Kang Siang-hun, katanya.
"Waktu itu kebetulan aku memergoki mereka dibegal, maka aku membantunya. Jangan kau menarik persoalan lain, sekarang kita sedang membicarakan persoalan Nyo Hoa."
Waktu bermalam di Jik-tai-bok malam itu, Lu Su-bi pernah menyinggung persoalan Kang Siang-hun yang menolak lamaran pihak perempuan, malah Lu Su-bi pernah menggoda dia bahwa Kang Siang-hun menolak lamaran keluarga Teng karena dia penujui dirinya Kim Bik-ki tidak ingin bicara soal ini, tanyanya.
"Apa pula sangkut paut nona Teng dengan Nyo Hoa?"
Kang Siang-hun bersikap sinis, katanya.
"Aku tidak tahu apa hubungan mereka, tapi kemarin malam waktu aku melihat mereka berdua, kelihatan mesra sekali..."
Dalam hati Kim Bik-ki membatin.
"Nyo Hoa pasti bukan pemuda hidung belang,"
Tapi sikap dan mimik wajahnya kelihatan kurang wajar. Kang Siang-hun tampak puas, katanya.
"Agaknya temanmu itu terhadap temannya amat baik, tidak sebaik kau terhadapnya, begitu terpisah dia sudah melupakan dirimu. Tapi yang membuat jengkel bukan lantaran perbuatannya yang tidak senonoh, namun aku berani pastikan bahwa tekadnya tidak baik. Dia menarik perhatianmu lebih dulu, sekarang dia mendekati nona Teng juga, bukankah maksudnya hendak menyusup ke dalam kalangan ksatria kita?"
"Kang-suheng,"
Kata Kim Bik-ki gusar.
"kuharap kau tidak mcni-. lainya seburuk itu. Aku dengan dia adalah sahabat yang terangterangan", perkenalannya dengan nona Teng itu juga belum tentu seperti apa yang kau duga"
"Baik, agaknya kau amat membela dia, kalau begitu jadi aku harus minta maaf kepadamu. Karena aku berkelahi dengan teman baikmu itu.* Kim Bik-ki menahan amarahnya, katanya.
"Terlalu berat ucapanmu suheng, sebaliknya siaumoay yang harus minta maaf kepadamu."
"Kau kan tidak berbuat salah kepadaku, agaknya kau ingin bilang mewakili temanmu minta maaf kepadaku, begitu?"
Terangkat alis Kim Bik-ki, amarahnya hampir meledak, samun tetap kuasa dia kendalikan, katanya dingin.
"Baik atau buruk kelak akan menjadi jelas. Tapi, ya untung dia tidak sampai melukai suheng."
Secara tidak langsung dia mau bilang, sudah yakin dalam perkelahian itu, Nyo Hoa pasti memberi kelongg-garan kepada suheng-nya.
Sudah tentu tak karuan perasaan Kang Siang-hun, tapi sedapat mungkin dia berlaku sabar, katanya.
"Siapa benar mana salah sementara biar dikesampingkan dulu persoalan ini. Marilah kita pulang saja"
"Tadi kau bilang mau menceritakan kepadaku, kenapa kok tidak dilanjutkan, bagaimana akhirnya?"
"Kau masih ingin tahu jejak Nyo Hoa?"
Kim Bik-ki menunduk diam, diam berarti membenarkan. Getir suara Kang Siang-hun.
"Ilmu pedang temanmu memang hebat. Sebetulnya kepandaiannya sejajar denganku, mungkin karena dia merasa berbuat salah, gerak-geriknya tampak tidak tenang, setelah kalah sejurus dia lantas melarikan diri."
Tanpa merasa muka sendiri merah seketika.
"Lalu bagaimana nona Teng?"
"Karena urusan piaukiok, nona Teng hendak pergi ke Thian-san mencari susiok-nya, setelah urusan berakhir maka dia pun melanjutkan perjalanan."
"Dia pergi seorang diri?"
Baru sekarang Kang Siang-hun sadar ke mana kiblat pertanyaan su-moay-nya, katanya tawar.
"Jangan khawatir, temanmu itu tidak seperjalanan dengan dia. Tapi aku tidak berani tanggung, setelah dia melarikan diri apakah dia akan putar balik menemui nona Teng lagi."
Kim Bik-ki menyeringai, katanya.
"Agaknya kau pun amat memperhatikan nona Teng itu. Kenapa kau tidak mengawalnya ke Thian-san?"
"Sumoay,"
Kata Kang Siang-hun getir.
"kau dibesarkan bersama aku, memangnya bagaimana isi hatiku terhadapmu kau tidak mengerti."
"Sudah tentu tahu,"
Kim Bik-ki mendahului.
"Aku tahu selama ini kau anggap aku sebagai adik kandungmu sendiri."
Ingin tertawa getir pun Kang Siang-hun kali ini tidak bisa tertawa, terpaksa dia mengikuti arah angin, katanya.
"Memangnya, syukur kalau kau tahu. Kita sebagai sesama saudara, mengingat ayahnya juga kaum ksatria, maka aku memberikan kudaku kepada dia. Sumoay, sudah tentu aku harus kembali ke Cau-hoat untuk mencari kau."
Dia kira sang sumoay akan berterima kasih akan maksud baiknya, di luar dugaannya, Kim Bik-ki yang semula sudah turun dari tunggangannya mendadak mencempiak ke punggung kuda putihnya itu.
Karuan Kang Siang-hun terbeliak kaget, teriaknya.
"Sumoay, kau...."
Kuda gagah itu meringkik teras ayun langkah secepat angin. Dari kejauhan Kim Bik-ki menarik suaranya.
"Suheng, maaf sekarang aku belum bisa pulang bersama kau, tak usah kau tahu aku mau pergi ke mana. Aku bukan anak-anak, tak usah orang lain menguatirkan diriku."
Sang surya makin doyong ke barat, Kang Siang-hun berdiri terlongong dengan perasaan hambar, entah bagaimana perasaan hatinya sekarang.
Pandangannya mende-long mengikuti bayangan sang sumoay yang lenyap ditelan padang rumput.
Lama sekali baru dia menarik napas, katanya, Ternyata dalam hati sanubari sumoay, Nyo Hoa bocah itu jauh lebih berharga daripada diriku."
Tanpa dijelaskan dia sudah menduga, Kim Bik-ki pasti putar balik mencari Nyo Hoa.
"Aneh, saudara sekandung yang dilahirkan dari satu rahim ibunya, ternyata watak Bik-ki jauh berbeda dengan engkoh-nya, Biksan. Padahal aku jarang bergaul dengan Bik-san, tapi dengan dia dalam segala persoalan aku bisa akur. Yah, memang wataknya terlalu binal. Nyo Hoa bocah itu entah dengan cara apa menarik perhatiannya."
Dengan langkah lesu terpaksa Kang Siang-hun turun gunung sendiri.
Kebetulan hembusan angin dingin menyentak bangun lamunan Kang Siang-hun, tiba-tiba timbul suatu pertanyaan yang selama ini tidak pernah terpikir dalam benaknya.
"Orang-orang di rumah semua mengharap aku dengan sumoay kelak dapat menjadi pasangan yang setimpal, banyak yang beranggapan pernikahan kami akan membawa kebahagiaan, aku sendiri juga pernah berangan-angan demikian. Tapi apa benar bakal memperoleh kebahagiaan? Tidak, aku harus mengoreksi diriku sendiri, apakah aku betul* betul mencintai sumoay?"
Kini dia sedang menjelajah rahasia hati sendiri, lalu terpikir lagi.
"Memang aku amat menyukainya. Tapi seperti apa yang dikatakannya tadi, agaknya aku hanya anggap dia sebagai adik kecilku belaka. Umpama dia betul-betul menjadi istriku, aih, mungkin aku tidak akan menyukainya lagi seperti dulu? Tapi, tapi, tidak pantas dia jauh lebih menghargai Nyo Hoa daripada diriku."
Apakah dia cemburu kepada Nyo Hoa?
Mungkin ada sedikit, lapi cemburu yang terkandung dalam sanubarinya ini adalah cemburu jenis lain, dia merasa cemburu karena merasa gengsinya terpukul, bukan lantaran Nyo Hoa merebut cintanya.
Akan tetapi, peduli cemburu jenis apa saja, betapapun hatinya tidak bisa lapang, seperti jago yang keok di medan laga, dia berjalan sambil menunduk di tengah padang rumput langkahnya gontai tanpa arah tujuan tertentu.
Mendadak didengarnya seekor kuda lari mendatangi, Kang Sianghun tersentak kaget, waktu dia angkat kepala sebelum melihat jelas orangnya, dia sudah melihat jelas kudanya.
Tampak seekor kuda putih sedang dibedal kencang di padang rumput, kuda putih mirip kepunyaan Kim Bik-ki.
Kang Siang-hun kira sumoay-nya putar balik, maka tanpa pikir dia segera berteriak.
"Sumoay, kau ke..."
Kini dia melihat jelas siapa penunggang kuda putih itu, ternyata bukan lain adalah sahabat ayahnya, Hoat-ong."
Hoat-ong tergelak-katanya setelah melompat turun.
"Siang-hun, kau sudah tumbuh sebesar ini, hampir aku tidak mengenalmu lagi. Masih kenal lolap bukan?"
Belasan tahun yang lalu pernah Kang Siang-hun ikut ayahnya menemui Hoat-ong. Lekas Kang Siang-hun memburu maju memberi hormat, katanya.
"Wanpwe lewat di daerahmu, sepantasnya mampir memberi hormat kepada Hoat-ong, karena ada sedikit urusan...."
"Jangan sungkan,"
Tukas Hoat-ong tertawa.
"aku tahu kau mencari sumoay-mu betul tidak?"
"Benar,"
Kang Siang-hun mengiakan.
"Kau tahu dia sudah kemari, tapi belum ketemu dia, benar tidak?"
Lalu Hoat-ong menambahkan, katanya.
"Tadi kudengar kau memanggil sumoay, kukira kalian sudah bertemu."
Kang Siang-hun tidak ingin banyak cerita, namun dia coba menjelaskan.
"Soalnya kuda tunggangan Hoat-ong juga putih, mirip kuda yang ditunggangi sumoay."
"Tidak bisa disalahkan, kemarin Nyo Hoa waktu melihat kuda putih ini, dia juga mengira nona Teng yang naik kuda ini sebagai sumoay-mu. Semalam aku bertemu dia, karena kuda ini dia berkelahi dengan aku."
Kang Siang-hun kaget, katanya.
"Nyo Hoa bocah itu sungguh bernyali besar."
"Bukan dia bernyali besar, tapi aku memang sengaja mau mencoba kepandaiannya. Maka sengaja aku tidak memperkenalkan diri lebih dulu. Dia menyangka aku komplotan Kiat Hong."
Lalu dia tuturkan kejadian semalam. Akhirnya berkata pula.
"Nyo Hoa bilang, kemarin malam dia sudah bertemu dengan kau."
"Betul. Entah apa saja yang dia katakan?"
"Dia hanya bilang bertemu dengan kau, katanya kau sudah mengawal nona Teng, maka dia boleh pulang dengan lega hati. Hm, Nyo-siauhiap ini memang pemuda bagus, hatinya baik ilmu silatnya bagus. Kau pernah lewat Jik-tat-bok, tentu sudah tahu kali ini dia banyak membantu kita?"
"Aku buru-buru, lewat Jik-tat-bok tidak berhenti, maka belum bertemu dengan Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan thauling."
"O, jadi kau belum tahu,"
Ujar Hoat-ong.
Maka dia tuturkan bagaimana Nyo Hoa membantu Han Wi-bu mengawal obat-obatan itu ke Jik-tat-bok, lalu kemari pula.
Sudah tentu dia banyak memberi pujian kepada Nyo Hoa.
Mendengar betapa Hoat-ong memuji Nyo Hoa, perasaan Kang Siang-hun tidak tenteram, bimbang dan curiga pula.
Bimbang sebetulnya Nyo Hoa orang baik atau jahat Tidak tenteram, karena semalam dia melabrak Nyo Hoa.
"Untung Hoat-ong tidak tabu, kalau tidak tentu aku serba runyam,"
Demikian pikir Kang Siang-hun.
Bukan dia menyesal dirinya sudah bergebrak dengan Nyo Hoa, meski dia masih merasa curiga tapi tidak berani memastikan lagi bahwa Nyo Hoa orang jahat.
Tapi menyesal atau tidak adalah soal lain, bahwa Hoat-ong memuji Nyo Hoa, maka dia tidak berani menjelaskan Nyo Hoa di hadapannya.
"Nyo Hoa bilang, kuda putih ini adalah milik nona Teng itu, mana nona Teng?"
Tanya Hoat-ong.
"Sudah berangkat ke Thian-san, kuda tungganganku kuserahkan kepadanya."
"Nyo Hoa sudah mewakili aku mencari sumoay-mu,"
Tutur Hoatong lebih lanjut "Kuda ini kurebut dari hwesio keparat itu, kedatanganku ini hendak mengembalikan kuda ini. Sekarang aku mendapat akal lain, apa kau mau membantu aku?"
"Silakan Hoat-ong katakan."
"Kau pasti ingin lekas bertemu dengan sumoay-mu, benar tidak?"
Hoat-ong tersenyum. Kang Siang-hun sudah menyatakan kedatangannya mencari sang sumoay, sudah tentu tidak enak dia menyangkal. Terpaksa dia mengangguk kepala "Baiklah,"
Kata Hoat-ong lebih lanjut "nona Teng sudah berangkat ke Thian-san, disusul juga tidak akan terkejar.
Han-congpiauthau hari ini masih berada di Cau-hoat, malam nanti dia ada janji dengan aku maka kumohon kau membantu."
"Baiklah,"
Sahut Kang Siang-hun.
"biar kukembalikan kuda putih ini kepada nona Teng. Kemudian aku dapat menukar kuda tungganganku sendiri,"
"Bukan begitu maksudku,"
Kata Hoat-ong tersenyum.
"kuda ini memang harus dikembalikan ke nona Teng, tapi dia sudah punya tunggangan, tak perlu buru-buru mengembalikan kepadanya. Maksudku lekas kau naik kuda ini, carilah Nyo Hoadan sumoay-mu. Kuda ini larinya cepat, kau pasti dapat menyusul mereka. Kuharap kau pulang bersama sumoay-mu. Kuda ini kelak akan kusuruh orang mengembalikan kepada pemiliknya."
"Lalu Nyo Hoa?"
Tanya Kang Siang-hun.
"Dia bilang ada urusan mau pergi ke tempat lain, kau tidak perlu memaksa dia kembali bersama kalian,"
Demikian kata Hoat-ong.
Sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam, memang dia mengharap Kang Siang-hun dapat bersahabat dengan Nyo Hoa, maka dia memberi tugas ini kepadanya.
Tapi kecuali jtu dia pun sudah memikirkan, suheng-moay yang berpasang-an ini sejak lama tidak bertemu, tentu tak senang ada orang liga di antara mereka.
Dia kira Kang Siang-hun pasti berterima kasih akan caranya ini, tak tahunya justru sebaliknya.
Diam-diam Kang Siang-hun tertawa getir dalam hati, pikirnya.
"Nyo Hoa mengejar su-moay-ku, sekarang Bikki juga putar ke sana mengejarnya. Jikalau aku juga mengejar mereka, apa nanti yang akan terjadi?"
Sudah tentu Kang Siang-hun tidak berani memberi penjelasan kepada Hoat-ong, terpaksa dia pura-pura mengiakan, mencemplak kuda putih itu, katanya, ."Semoga aku dapat menemukan sumoay, secepatnya kuajak ke Cau-hoat untuk bertandang ke tempat kau orang tua." .
Setelah cukup jauh dia melarikan kudanya.
Makin dipikir makin tak karuan rasa hatinya.
"Kenapa aku mencari susah sendiri, lebih baik kususul nona Teng, menukar kudaku itu. Ciangbunjin Thiansan-pay Tong Keng-thian adalah sahabat lama ayah, bila di tengah jalan tidak ketemu nona Teng, biar aku langsung ke Thian-san saja."
Dia kira Hoat-ong sudah beranjak ke Cau-hoat, tidak perlu takut kepergok dia.
Maka dia putar haluan melarikan kudanya menuju ke Thian-san, Meski sudah memutuskan, namun perasaannya masih masgul, pikirnya.
"Mungkin sumoay sudah bertemu dengan Nyo Hoa, sekarang mungkin sedang membicarakan diriku? Aih, sungguh tak nyana, aku dibesarkan bersama dengan sumoay, tapi dalam sanubarinya ternyata bobotku tidak seberat orang luar yang baru dikenalnya." ---ooo0dw0ooo---Kim Bik-ki juga belum bertemu dengan Nyo Hoa. Seperti juga Kang Siang-hun, hatinya juga kusut. Timbul rasa sesal dalam hatinya.
"Aku meninggalkan dia begitu saja, entah bagaimana keadaan suheng sekarang? Tapi salahnya ingin menang sendiri, salah pahamnya terlalu mendalam kepada Nyo Hoa, perkataanku ternyata tidak dipercaya"
"Aku harus buru-buru menemukan Nyo Hoa, supaya mencegah dia melakukan perbuatan bodoh. Hal ini tidak bisa kujelaskan kepada suheng. Yah, biar kelak akan kujelaskan serta minta maaf kepadanya."
Kuda putih itu berlari cepat, namun dua hari telah lewat, dia tetap tidak bertemu dengan Nyo Hoa. Entah mengapa mendadak dia teringat kepada nona Teng yang diceritakan Kang Siang-hun.
"Apa benar Nyo Hoa bersikap mesra kepadanya? Atau suheng sengaja mengada-ada untuk memancing kemarahan dan cemburuku?"
Dia belum pernah melihat Teng Bing-cu, tapi pernah mendengar cerita tentang kecantikannya.
"Nyo Hoa seorang jujur, juga lagi tak mungkin dia kemaruk paras ayu. lapi Kang-suheng berani bilang dia menyaksikan sendiri sikap mereka amat mesra. Walau adai Kangsuheng aneh, aku tidak menyenanginya, tapi biasanya dia tidak pernah bohong. Tapi mungkin untuk membuatku cemburu dia sengaja membual?"
Kuda berlari kencang, hatinya timbul tenggelam.
Entah mengapa timbul sedikit rasa cemburu Kim Bik-ki.
Untung hembusan angin silir di padang rumput menyentak kesadarannya, mendadak dia menyadari akan rahasia hatinya sendiri, seketika merah dan panas mukanya, pikirnya.
"Kenapa aku harus cemburu kepada nona Teng? Ah. agaknya aku memang sudah jatuh cinta kepada Nyo-toako. Masih aku ingat, waktu belum lama dia kenai aku, pernah dia bilang persahabatan sejati berdasar ketulusan dan tahu sama tahu, walau dia belum pernah menyatakan isi hatinya, tapi aku tahu dia pun jatuh cinta padaku, kenapa aku harus mencurigainya?"
Tengah pikiran terombang-ambing, mendadak didengarnya suara ketinting kuda di belakang, tanpa sadar Kim Bik-ki menoleh.
Untung dia menoleh, saat mana sebatang panah kebetulan meluncur ke arahnya.
Kim Bik-ki meraih panah itu terus ditimpukkan kembali.
Berbareng tubuhnya melorot turun menghindar panah kedua.
Waktu panah ketiga meluncur tiba, sudah jatuh di belakang kudanya.
Kim Bik-ki tertawa, katanya.
"Kukira siapa berani membokong dengan panah, ternyata kalian dua anjing buduk yang belum mampus ini."
Ternyata pembokong itu ada dua orang, yaitu Ma Gun dan Ciu Jan dua perwira Gi-Iim-kunyang sebulan lebih yang Mu pernah dihajar olehnya bersama Nyo Hoa di Giok-jiu-san.
Waktu itu mereka dilukai oleh Nyo Hoa dan menggelinding jatuh ke lereng gunung.
Kuda putih yang dinaiki K-im Bik-ki semula adalah milik mereka.
Kedua orang ini mendapat tugas untuk ke Lhasa, setelah luka-luka sembuh, mereka melanjutkan perjalanan.
Ma Gun gusar, bentaknya.
"Bocah jahanam, berani kau mencuri kudaku, kalau berani jangan lari.""
Ciu Jan juga membentak.
"Mana bocah she Nyo itu? Di mana dia sembunyi?"
Kim Bik-ki seorang diri belum tentu kuat melawan mereka, maka dia tertawa, katanya.
"Kalau berani boleh kalian kejar kemari, aku ada janji dengan Nyo-toako di sebelah depan. Gampang saja kalau kalian ingin bertemu dia di sana,"
Lalu dia pecut kudanya.
Kuda putih itu meringkik, terus berlari bagai angin.
Hanya sekejap kedua orang ini tertinggal jauh di belakang.
Mendengar Nyo Hoa di sebelah depan, sudah tentu Ma Gun dan Ciu 1"
Kaget. Kata Ciu Jan lirih.
"Menghadapi bocah satu ini mungkin kita bukan lawannya. Kalau benar bocah she Nyo ada di sebelah depan, kita akan mengalami kerugian. Lebih baik kita putar jalan saja meski dua hari lebih lama di perjalanan."
Sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, Ma Gun malu kalau menerima usulnya demikian saja. Dia pura-pura terpekur, katanya kemudian.
"Baiklah. Bocah itu berani menunggang kudaku yang ada cap kerajaan, kalau mereka juga ke Lhasa tentu orang kita bisa menangkapnya."
Kata-katanya ini diucapkan dengan suara keras, dengan maksud menggertak Kim Bik-ki supaya tidak berani pergi ke Lhasa.
Maklum bila Kim Bik-ki dan Nyo Hoa betul-betul pergi ke Lhasa, walau di sana Ma Gun punya banyak pembantu, juga tetap jeri terhadap mereka.
Setelah Kim Bik-ki pergi jauh, baru M a Gun berkata perlahan.
"Kau tahu siapa dia? Dia bukan pemuda, tapi seorang gadis."
"Aku juga sudah curiga, seperti perempuan yang berpakaian lakilaki, entah siapa dia?"
"Aku sudah cari tahu, dia adalah puteri Kim Tiok-liu. Tadi sengaja aku pura-pura tidak tahu. Kau harus tahu, walau Kim Tiok-liu melawan kita, tapi sebagai jago pedang nomor satu di dunia, kepandaian kita jelas bukan tandingannya. Anggaplah kita sendiri yang sial, soal menuntut balas, selanjutnya tidak usah kau pikir."
Kim Bik-ki tidak tahu bahwa asal-usulnya sudah diketahui orang, dalam hati dia masih geli.
"Mereka memaki bocah busuk, kalau aku seorang lelaki, tentu tidak terlalu repot seperti sekarang. H ehehc, kedua cakar alap-alap ini cukup berpengalaman, dua kali aku bentrok dengan mereka, tetap tidak tahu penyamaranku, biarlah selanjurnya aku tetap berdandan lelaki saja."
Bahwa dirinya dapat mengelabui orang lain, hati Bik-ki amat riangi namun ada juga persoalan yang membuatnya masgul.
"Ternyata kuda ini milik istana yang sudah diberi cap tanda pengenal. Kalau kedua orang ini sudah berada di sini, pasti Ting Ti ong-ai, Lau Ting-ci dan Yap Kok-wi sekarang sudah tiba di Lha-. sa. Aku kepergok mereka seorang diri tentu berabe, tapi kenapa jeri, semoga di tengah jalan aku bertemu Nyo-toako."
Sudah sejam lebih Kim Bik-ki larikan kudanya, mendadak di depan mengadang persimpangan, di ujung jalan terdapat kedai minum.
Kim Bik-ki menghentikan kudanya di luar serta menambatnya di tiang kayu, lalu dia masuk ke dalam kedai.
Sambil minum teh dia ajak ngobrbl pemilik kedai.
"Aku akan pergi ke Lhasa, entah jalan mana yang harus kutempuh?"
Lelaki tua pemilik kedai berkata.
"Dua jalan boleh kau tempuh. Cuma jalan sebelah kiri jalannya lurus, jalan sebelah kanan berputar agak jauh, dua hari lebih lama dari jalan sebelah kiri kalau naik kuda."
Bik-ki tertawa, katanya.
"Masa ada orang mau menempuh jalan putar?"
"Jalan putar itu melewati Kalih dan Lugong dua daerah peternakan. Penjual dan pembeli ternak banyak yang mondarmandir ke sana. Engkoh cilik, kelihatannya kau bukan pedagang?"
"Aku hendak mencari kerjaan di Lhasa."
"Kalau begitu tempuh jalan yang kiri saja"
"Ada temanku yang sudah berangkat dua hari lebih dulu, entah dia pernah lewat sini tidak?"
Lain Bik-ki lukiskan tampang Nyo Hoa, Wajah lelaki tua tampak lucu dan ganjil, katanya.
"Betul, memang ada seorang pemuda kira-kira kemarin tengah hari dia mampir ke kedaiku minum teh."
"Dia lewat jalan sebelah kiri?"
"Tidak, dia lewat jalan kanan."
"Apa kau tidak jelaskan, jalan kanan itu memutar?"
"Sudah kujelaskan, tapi..."
"Tapi apa?"
"Kemarin aku kebentur suatu kejadian yang belum pernah kulihat, temanmu itu...."
"Dia kenapa?"
Tanya Kim Bik-ki kaget.
"Waktu temanmu minum teh di kedaiku kemarin, seperti kau dia juga mencari tahu seseorang."
"O, cari tahu siapa?"
Keterangan lelaki tua ini sungguh di luar dugaannya.
"Dia tanya apakah aku melihat seorang lelaki berusia empatpuiuhan, kepala gede, muka tirus lewat di sini."
Kim Bik-ki mengerutkan alis, katanya.
"Lelaki muka tirus setengah baya, aneh, siapa dia?"
"Masih ada yang lebih aneh, secara kebetulan orang yang dia tanyakan itu sebelumnya belum pernah aku melihatnya, lapi di waktu aku tanya lebih jelas, terdengar seekor kuda lewat di depan kedai, seorang lelaki muka tirus dengan rambut awut-awutan dengan sepatu bolong tiba-tiba muncul di jalanan."
"Apakah mereka berteman?"
"Kukira bukan. Kudengar lelaki muka tirus itu berkata.
"Terima kasih kau memberi uang kepadaku, bagaimana kalau-kuda merahmu kau pinjamkan juga kepadaku? He, he, kurasa kudamu ini cukup lumayan juga.""
"Kulihat temanmu segera memburu ke luar, gerakannya cepat luar biasa, aku hanya melihat bayangannya berkelebat melesat dari depanku, tahu-tahu sudah berada di luar. Dia membentak.
"Jangan kau sentuh kudaku, siapa kau sebenarnya? Lekas kembalikan barang milikku"
Ternyata lelaki itu seorang maling, entah barang apa yang dia curi dari temanmu. Jelas mereka bukan kenalan lama"
Makin heran Kim Bik-ki, pikirnya.
"Seorang maling, mana mungkin dia mampu mencuri barang Nyo Hoa? Kalau hanya uang dan barang biasa, Nyo Hoa takkan setegang itu. Barang penting apakah yang dicuri orang?"
Lalu dia bertanya.
"Akhirnya bagaimana?"
Lelaki itu melanjutkan.
"Kejadian aneh muncul lagi. Temanmu berhasil merebut kuda dan mencemplak di pungungnya, lelaki muka tirus malah menggodanya.
"Memangnya kau kira aku ingin memiliki kuda ini, walau kudamu lumayan, belum tentu dia bisa mengejar aku, tidak percaya hayo kejar aku, bila mampu menyusul barangmu kukembalikan.""
Kim Bik-ki keheranan, tanyanya.
"Bagaimana selanjurnya?"
"Bagaimana akhirnya aku tidak tahu. Tapi waktu itu melihat temanmu keprak kudanya berlari sekencang angin, tetapi tetap tidak mampu mengejar lelaki itu. Hanya sekejap bayangan orang dan kuda sudah tidak kelihatan, bagaimana akhir dari lomba lari itu aku tidak tahu. Aku hidup setua ini selamanya belum pernah melihat orang lari secepat kuda. Tapi temanmu memang anak baik, setelah dia pergi kutemukan sekeping uang perak di atas meja sebagai pembayaran teh yang dia minum."
Kim Bik-ki bertanya pula.
"Lelaki itu lari ke jalan kanan itu?"
"Iya, jika kau hendak menyusul temanmu, tempuhlah jalan kanan saja."
"Terima kasih akan penjelasan lotiang,"
Ucap Kim Bik-ki, dalam hati dia menggerutu.
"Entah barang apa yang dia curi dari Nyotoako, terpaksa dia harus menempuh jalan lebih jauh."
Tiba-tiba didengarnya lelaki tua berteriak.
"Haya, dia, dia, dia datang lagi."
Belum habis dia bicara, mendadak dirasakan pandangannya kabur, Kim Bik-ki yang duduk di depannya mendadak telah lenyap.
Orang yang mendadak muncul di luar kedai memang seorang muka tirus setengah baya, sepatunya butut sudah berlubang di ujung ibu jarinya, tangannya memegang kipas bundar yang juga sudah berlubang bentuk wajahnya persis apa yang dilukiskan pemilik kedai.
Maka begitu melompat ke luar melihat orang ini segera dia mengejar.
Tapi orang itu bergerak lebih dulu, orang sudah duduk di punggung kuda putihnya Lelaki itu bergelak tawa, kalanya.
"Kemarin tidak jadi kudapat kuda merah bocah itu, kuda putih ini lebih bagus lagi, hehe, agaknya hari ini aku mendapat rejeki."
Orang itu sudah putar haluan dan melarikan kudanya beberapa tombak Kim Bik-ki ayun tangan, sekaligus dia timpukkan tiga keping mata uang tembaga mengincar tiga hiatto di punggung lelaki itu, bentaknya.
"Menggelindinglah."
Karena tidak membawa amgi sekenanya dia merogoh mata uang terus ditimpukkan. Orang itu tertawa, katanya.
"Uang tehmu harus kau bayarkan kepada pemilik kedai, kenapa malah kau berikan padaku?"
Kipas bundarnya tiba-tiba menggapai ke belakang, seketika tiga keping uang tembaga itu jatuh di atas kipas.
Sering Kim Bik-ki mendengar berbagai kepandaian senjata rahasia dari berbagai aliran, tapi melihat cara menyambut senjata rahasia yang didemonstrasikan lelaki ini baru pertama kali ini pernah dia libat Kemudian lelaki itu mendemonstrasikan pula permainan senjata rahasianya, kipas bundar itu terayun, tiga keping uang itu melesat terbang balik Secara reflek Kim Bik-ki menyingkir ke samping, di luar dugaan tiga keping uang itu bukan menyerang dirinya.
Maka terdengar suara "Tring, Tring"
Mata uang itu meluncur lewat di atas kepalanya melesat ke dalam kedai, tepat jatuh di atas meja, baru Kim Bik-ki sadar uang itu untuk membayar teh. Lelaki itu tertawa, katanya.
"Dibanding temanmu kau jauh lebih teledor, kemarin dia tidak lupa membayar rekening, tapi kau malah melupakan. Hehe, kedai minum ini bermodal kecil, untungnya sedikit, kalau minum tidak bayar, wah kan lekas bangkrut Apa boleh buat, biarlah aku mendermakan uangmu itu kepadanya"
Meski ginkang Kim Bik-ki cukup tinggi, mana mampu dia mengejar lari kuda, saking gelisah dia berteriak-teriak.
"He, kau cianpwe dari mana, jangan mempermainkan wanpwe. Ayahku adalah Kim Tiok-lio."
Dia keturunan keluarga ternama dari aliran silat besar, pengetahuannya cukup luas, dia yakin orang ini tentu bukan sembarangan orang, bukan mustahil kenal baik ayahnya.
Umpama tidak kenal pasti pernah dengar nama ayahnya.
Tak nyana lelaki itu tertawa malah, katanya.
"Cianpwe apa? Aku ini sudah sembilan turunan jadi maling, siapa mau main-main dengan kau?"
"Baiklah, kalau benar kau ini maling, ingin uang aku boleh berikan kepadamu, tolong kau kembalikan kudaku."
"Ini namanya kau tidak tahu kelakuan, bagi seorang pekerja seperti diriku, barang yang sudah tertelan mana boleh dimuntahkan lagi? Apalagi jarang kuketemukan ada kuda yang bisa lari lebih cepat dari aku. Syukur kuda putih ini lebih cepat dari aku, maka tak boleh kukembalikan padamu, Haha, hehe, sebetulnya kuambil kudamu ini juga demi kebaikanmu, seharusnya kau berterima kasih kepadaku malah."
Kim Bik-ki naik pitam, jengek-nya.
"Kau mencuri kuda, malah bilang demi kebaikanku?"
Lelaki muka tirus berkata.
"Seorang jujur tidak boleh berbohong, dari mana kau peroleh kudamu ini kau sendiri maklum. Kuda ini ada cap kerajaan, bila kau naik kuda ini ke Lhasa, tanggung kau akan tertimpa malang. Aku berusaha menyingkirkan kau dari bencana yang bakal menimpa dirimu, bukankah aku bermaksud baik. He he, ini pun kupandang muka ayahmu, apa kau pandang tidak pantas berterima kasih padaku?"
Mendadak dia keprak kudanya, dibedal kencang, hanya sekejap sudah pergi jauh.
Sukar Kim Bik-ki meraba orang ini dari aliran lurus atau sesat?
Kawan atau lawan?
Tapi mendengar perkataannya tadi, satu hal dapat dipastikan.
"Mungkin dia kenal baik dengan ayah."
"Sudah pasti Nyo Hoa menempuh jalan ini, biarlah aku pun menyusulnya dari sini. Kalau tidak ketemu dijalan, sesampai di Lhasa dapat kucari tahu jejaknya. Ucapan lelaki tadi memang betul, dengan menunggang kuda yang sudah dicap kerajaan mungkin bisa menimbulkan kesulitan."
Apa boleh buat, terpaksa Kim Bik-ki menempuh perjalanan dengan jalan kaki.
---oo0dw0oo---Kim Bik-ki yang jalan kaki tidak dapat mengejar lelaki itu, Nyo Hoa yang berkuda pun tak mampu mengejarnya.
Tapi dia bertekad menemukan lelaki itu, karena satu barang miliknya yang penting telah dicurinya.
Peristiwa terjadi dua hari yang lalu, jadi sehari sebelum Kim Bikki bertemu dengan lelaki itu.
Nyo Hoa lewat sebuah kota kecil, seluruh penduduk kota kecil itu adalah bangsa Tibet Tiba-tiba didengarnya di sebuah kedai arak terjadi keributan.
Beberapa hari ini, sepanjang jalan Nyo Hoa hanya makan ransum kering yang dibawanya.
Mumpung masuk kota dia ingin cari kedai arak untuk makan beberapa macam masakan enak, maka dia mendesak maju.
Tampak delapan lelaki seperti kaum pedagang tengah merubung seorang lelaki muka tirus setengah baya, mencaci dan memukul.
Nyo Hoa tanya sebab musabab kejadian pada seorang di sampingnya, ternyata lelaki itu makan minum sepuasnya, namun tidak mau bayar.
Lelaki itu membela diri.
"Makananmu sudah masuk ke dalam perutku, aku tidak bisa menumpahkan keluar, apa boleh buat, boleh kalian menghajarku lagi."
Pemilik kedai ternyata seorang baik hati, katanya.
"Sudahlah,"
Dia melerai.
"Kita sudah menghajarnya, cukup sekian saja biarkan dia pergi."
Seorang lelaki yang seperti kepala rombongan pedagang berteriak.
"Tidak, kalau tidak dihajar tidak kapok, besok juga dia mengulangi lagi."
Maka Nyo Hoa maju melerai, katanya.
"Berapa rekeningnya, biar aku yang membayar."
"Engkoh cilik, jangan kau kasihan padanya,"
Ucap lelaki Han pedagang.
"Keparat ini memang parut dihajar, kalau tidak punya uang boleh dia terus terang minta tolong kepada kami. Tapi dia sengaja makan minum sekenyangnya baru bilang tidak punya uang, apakah ini bukan perbuatan bajingan. Sudah beberapa kali dia melakukan hal serupa. Bikin malu kita bangsa Han saja Kalau hari ini tidak kuhajar, dia pasti tidak kapok"
Lelaki tirus itu mendadak berkata.
"He, kau datang dari Pakkhia bukan?"
Lelaki Han itu melengak, katanya.
"Peduli aku datang dari mana?"
Lelaki itu bilang.
"Menurut aturan kalangan bajingan di Pakkhia, bagi yang tidak mampu bayar hutang, boleh dibayar sesuka hati oleh penagihnya, orang lain tidak boleh membantu, kalau mau menghukum aku, suruhlah pemilik kedai turun tangan sendiri."
Lelaki Han itu gusar, kataaya.
"Siapa sudi bicara tentang aturan bajingan dengan kau, pemilik kedai ini orang baik, biar aku saja yang mewakili dia menghajar kau."
Telapak tangannya segera menampar. Lelaki itu menunduk kepala, mukanya tidak kena tapi dadanya kena digablok sekali. Lelaki itu batuk berulang-ulang kali, teriaknya.
"Aduh, mati aku."
Lelaki Han itu makin bernafsu, makinya.
"Tulang kere, harus ditambah lagi."
Tinjunya sudah terangkat hendak menggenjot lagi. Nyo Hoa kasihan melihat lelaki kurus itu, perlahan dia pegang tinju orang serta berkata.
"Sudahlah, biar aku yang bayar rekeningnya, kuharap selanjutnya dia tidak mengulangi perbuatannya."
Sedikit terpegang tinju lelaki itu tak bisa berkutik, maka dia tahu bahwa Nyo Hoa memiliki kungfu tinggi, di samping kaget dan heran, segera dia unjuk tawa kering, katanya.
"Engkoh cilik, apa kau tidak terlalu sungkan kepadanya, kepada tulang kere seperti dia kenapa malah "mohon"
Segala."
Terasa tenaga orang ini cukup kuat, maka Nyo Hoa tahu orang ini pernah berlatih silat Katanya.
"Setiap manusia pasti punya rasa malu, aku anggap dia sebagai manusia, maka kuharap dia bisa mengubah kupandang muka engkoh cilik ini, kali ini kuampuni dia. Engkoh cilik, kau she apa?"
"Aku she Nyo,"
Sahut Nyo Hoa sambil merogoh uang membayar rekening lelaki tirus. Lelaki tirus melirik ke arah uang perak yang dipegang Nyo Hoa, katanya.
"Kalau kau ingin supaya aku mengubah kelakuan, berilah modal untuk berdagang kecil-kecilan."
Lelaki Han itu mengejek.
"Nah, engkoh cilik, kau dengar bukan? Kau beri hati dia merogoh jantung, kau menolongnya dia malah memeras kau,"
Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Berbuat baik harus tuntas. Asal dia mau memperbaiki perbuatannya, tidak jadi soal aku memberi modal kepadanya."
Lalu dia keluarkan sekeping perak seharga sepuluh tahil.
"Nyo-kongcu,"
Kata lelaki tirus setelah terima uang.
"terima kasih akan nasehatmu, kelak pasti akan kubalas kebaikanmu."
Nyo Hoa berkata.
"Hidup di rantau menghadapi kesulitan harus saling bantu, tak usah kau ambil di hati."
Lelaki itu menyembah kepadanya, katanya.
"Selama gunung tetap menghijau, air terus mengalir, pasti ada kesempatan bertemu lagi. Biarlah siaujin mohon diri."
"Ah, mana berani aku terima penghormatanmu,"
Tersipu-sipu Nyo Hoa memapahnya. Lelaki Han itu menyeringai, katanya.
"Dia bukan terima kasih akan nasehatmu, tapi terima kasih oleh sepuluh tahil perakmu."
Lelaki tirus berkata.
"Kenapa kau selalu marah-marah saja, oh ya, aku pun harus terima kasih padamu karena tidak menghajarku sampai mati."
Mendadak dia ulur tangan menepuk pundak lelaki Han, ternyata lelaki Han tidak mampu berkelit, sekilas dia tertegun lantas membentak.
"Mau apa kau?"
"Bajumu kotor, aku membersihkan debu di pundakmu."
"Jangan kau bermuka-muka, enyah, lekas enyah."
"Ya, ya, siaujin mohon diri, segera enyah, enyah, harap kau tidak marah lagi."
"Nyo-heng, sikapmu patut dipuji, beruntung aku bertemu kau di sini, marilah minum secangkir."
"Terima kasih, saudara she apa?"
"Aku she Ting. Kami pedagang kuda Nyo-heng mau ke mana?"
Tengah mereka minum sambil ngobrol, mendadak seorang temannya menjerit, heran, katanya.
"He, cepat benar keparat itu menghilang."
Tergerak hati orang she Ting, seperti merasakan sesuatu yang tidak beres, lekas dia merogoh kantong, seketika mukanya berubah, teriaknya.
"Wah celaka, uangku lenyap, masih ada... wah semua dicurinya."
Karena dia menjerit-jerit, maka pedagang lain seperti berlomba memeriksa barang milik masing-masing, beberapa orang segera berteriak.
"Haya, uangku juga hilang."
Mereka adalah orang-orang yang tadi ikut menghajar lelaki tirus itu. Lelaki she Ting segera memberi aba-aba.
"Kejar!"
Agaknya dia juga kehilangan beberapa dokumen penting, maka tak sempat bicara lagi dengan Nyo Hoa, rekening minuman mereka pun lupa dibayar lagi, mereka berebut naik kuda terus mengejar ke luar kota Seorang kacung kedai memburu keluar berteriak.
"He, rekening kalian siapa yang bayar. Memangnya kalian kehilangan uang semua?"
Meski pecah tenggorokannya juga tidak dihiraukan lagi.
"Celaka tigabelas,"
Gerutu kacung itu.
"kalau hanya seorang makan secara gratis tidak jadi soal, tapi belasan orang tidak bayar, wah bisa bangkrut kedai ini."
"Biarlah nanti aku yang bayar rekening mereka,"
Ujar Nyo Hoa Pemilik kedai seorang Tibet, katanya.
"Engkoh cilik, coba kau periksa kantongmu, apakah uangmu tidak dicuri?"
"Umpama benar dia yang mencuri uang mereka, tapi terhadapku kukira dia tidak akan berani."
Namun tangannya sudah merogoh kantong, seketika bola matanya terbelalak bundar.
"Engkoh cilik, uangmu juga hilang?"
Tanya pemilik kedai. Nyo Hoa mengeluh dalam hati, tatanya lesu.
"Uang habis tidak jadi soal, dia juga mencuri barangku."
Barangnya yang tercuri adalah buku ajaran ilmu golok keluarga Beng yang diserahkan kepadanya oleh ji-suhu-nya.
Buku ilmu golok ini sekarang dia tahu adalah milik musuhnya.
Dia sudah memutuskan, setelah dia mengalahkan Beng Goan-cau, akan dia kembalikan kepadanya.
Tapi buku ini sekarang hilang, padahal dia tidak sudi menerima pemberian musuh.
Di saat Nyo Hoa duduk melenggong itulah, kacung yang tadi menggerutu, mendadak berteriak kaget Tapi sikapnya kelihatan riang.
"Ada apa?"
Tanya pemilik kedai.
"Coba lihat,"
Kacung itu menuding meja kasir. Waktu pemilik kedai menoleh ke sana, tampak di atas meja bertumpuk beberapa keping uang perak. Pemilik kedai girang dan kaget, tapi juga heran.
"Dari mana datangnya uang ini?"
"Tadi aku pernah membersihkan meja ini, jelas tiada barang apaapa Aneh, mungkin Thian tahu kita dirugikan maka menggantinya?"
"Jangan ngigau,"sentak pemilik kedai.
"Pasti lelaki kotor tadi yang di sini. Hm, engkoh kau kehilangan uang, boleh ambil berapa keping untuk sangu. Jumlah uang ini rekening mereka tidak sebanyak ini."
Belum habis dia bicara, Nyo Hoa yang sudah tenang pikirannya, mendadak menerobos ke luar. Kacung itu kebetulan keluar membawa senampan bakpao daging kambing, lekas dia memburu ke luar, teriaknya.
"Uang kau tidak mau, boleh kau bawa bakpao ini untuk makan di tengah jalan."
Nyo Hoa sudah melesat ke punggung kuda cambuknya terayun, bakpao senampan itu mencelat terbang ke udara, sekali kebas lengan baju bakpao itu kena digulungnya semua terus dimasukkan ke kantong, katanya.
"Terima kasih, baiklah kubawa bakpao kalian."
Habis perkataannya, kudanya sudah lari puluhan langkah ke luar kota.
Tidak heran kalau pemilik kedai dan kacungnya kebingungan akan kejadian itu, Nyo Hoa sendiri juga tidak habis mengerti bagaimana lelaki tirus itu mencuri barangnya Mendadak dia teringat cerita sam-suhu-nya tentang maling sakti nomor satu di dunia.
Orang yang dijuluki maling nomor satu di dunia she Thio bernama Siau-yau.
Namanya sesuai orangnya, selama hidup suka berkelana bebas ke mana saja dia senang pergi.
Karena itu orangorang Kangouw memberi julukan Kwi-hwe-thio kepadanya.
Konon Kwi-hwe-thio yang dijuluki maling nomor satu di dunia memang tidak bernama kosong, dia pernah mencuri pusaka kerajaan dan kuda raja.
Kabarnya dia pun pernah mencuri Sip-toanhou obat sakti penyambung tulang patah milik Lau Thian-hou, ciangbunjin Khong-tong-pay, pernah pula mencuri Soat-lian dari bibit yang ditanam dalam istana Peng-coan-thian-li, istri Tong Kengthian ciangbunjin Thian-san-pay.
Kedua orang ini termasuk tokoh paling top di jaman itu, tapi pencuri ulung itu berani mencuri dan berhasil dengan sukses, kalau Tong Keng-thian suami istri hanya tertawa saja setelah tahu duduk perkaranya, sebaliknya Lau Thianhou ciangbunjin Kong-thong-pay, amat marah dan membencinya setengah mati.
"Suhu pernah bercerita pula, kecuali maling nomor satu, masih ada pula maling nomor dua di kolong langit. Maling nomor dua she Li, tiada yang tahu nama aslinya, karena mukanya burikan, orang memanggilnya Li-ma-cu. Konon Kwi-hwe-thio dan Li-ma-cu pernah adu kepandaian, pertandingan kali itu disertai taruhan, akhirnya karena Kwi-hwe-thio berhasil mencuri Sip-toan-hou dari Khong-tong-pay, maka dia di pihak yang menang. Sementara Li-ma-cu terluka patah tulang tengkuknya oleh pukulan Bik-khong-ciang Lau Thian-hou. Untung Kwi-hwe-thio berhasil mencuri koyok saktinya, maka patah tulangnya dapat disembuhkan. Tapi meski dalam kepandaian mencuri Li-ma-cu kalah dari Kwihwe-thio namun dia masih memiliki kepandaian yang lain, dalam kepandaian lain ini Kwi-hwe-thio jelas bukan tandingan Li-ma-cu. Kepandaian itu adalah tata rias. Dengan merias dirinya menjadi bentuk lain Li-ma-cu pandai pula menirukan suara orang atau binatang. Suatu ketika dia pernah menyamar komandan Gi-lim-kun yang paling berkuasa pada waktu itu yaitu Pakkiong Bong, dan muncul di hadapan banyak anggota Gilim-kun, ternyata tiada seorang pun di antara mereka yang tahu akan penyamarannya Setelah mengalami dua peristiwa, kedua maling sakti ini merasa cocok dan saling simpati, sejak itu mereka menjadi sahabat, tiada yang menaruh sirik satu dengan yang lain, tidak berebut nama dan jasa. Bila maling nomor satu dan maling nomor dua menjadi sahabat, maka operasi mereka makin bertambah besar seperti harimau tumbuh sayap. Waktu kecil Nyo Hoa pernah dengar kedua maling sakti itu, waktu itu dia merasa kisah itu seperti dongeng. Tak nyana hari ini dia betul-betul kepergok dan menjadi korban malah, maka dia hanya tertawa getir saja.
"Gelagatnya kalau bukan maling nomor satu, pasti lelaki tirus itu adalah maling nomor dua. Tidak heran kalau dia mampu menguras kantong banyak orang dalam sekejap, apalagi kantongku pun dikuras-nya tanpa kusadari."
Tapi kenapa dia mencuri barangku? Bukan barang orang lain yang dia curi, kenapa justru buku pelajaran ilmu golok dari keluarga Behgitu?"
Sepak terjang mereka memang parut dipuji, mereka mencuri untuk amal, dan lagi mereka mempunyai aturan sendiri.
Di dalam kalangan biasa mereka mencuri milik orang kaya untuk menolong yang miskin, dalam mencuri benda-benda pusaka milik kaum persilatan, walau ada kalanya mereka hitam makan hitam, namun selalu mencuri milik orang ternama, barang milik orang kecil tidak pernah disentuhnya.
Meski mereka maling, mereka pun berjiwa ksatria.
Memang pernah mereka sengaja menggoda orang-orang golongan lurus, tapi tak pernah sengaja mencari permusuhan.
Satu hal yang masih membuat Nyo Hoa tidak habis mengerti adalah dari mana laki-laki muka tirus ini tahu kalau dirinya membawa buku pelajaran ilmu golok keluarga Beng.
Buku itu dia terima dari ji-suhu-nya, dia pun tidak tahu ji-suhu-nya terima dari siapa?
Sekarang setelah dia pernah bertemu dengan Song Thcngsiau, baru dia bisa menduga kemungkinan Beng Goan-cau pernah titip kepada ji-suhu-nya supaya diserahkan kepadanya.
Dia pun boleh menduga bila hal ini betul adalah kehendak Beng Goan-cau, Beng Goan-cau pasti tidak akan memberi tahu hal ini kepada orang lain.
Lalu dari mana laki-laki tirus itu tahu rahasia ini?
Meskipun dia maling nomor satu atau nomor dua di dunia ini.
Lalu dia berpikir pula.
"Kedua maling itu termasuk maling pendekar. Kalau betul laki-laki tirus itu pernah makan tanpa bayar di beberapa kota, tingkah lakunya jelas berbeda dengan kedua tokoh sakti itu. Apakah masih ada maling nomor tiga yang tidak peduli lurus atau se-sat, dia bekerja mengikuti kemauan hati?"
Dengan berbagai pertanyaan yang mengganjal di hati, Nyo Hoa keprak kudanya mengejar laki-laki tirus itu. Kudanya lari lebih cepat, maka lekas sekali dia sudah menyusul rombongan pedagang.
"He, Nyo-hengte,"
Teriak pedagang she Ting.
"apakah barangmu juga dicurinya? Mari kita berunding, membagi tenaga menjadi beberapa kelompok untuk mengejarnya. Kau seorang diri mana bisa menangkapnya." ---ooo0dw0ooo---Bersambung
Jilid II Catatan.
1) hal.
1, akhir hidup Thio Tan-hong di Ciok-lin (Hutan Batu) diceritakan dalam Khong Ling Kiam (Pendekar-Pemetik Harpa), saatsaal terak Mi dalam hidupnya, Thio Tan-hong menerima murid penutup bernama lan Ciok-sing.
2) hal.
7, ilmu Siu-lo-im-sat-kang asalnya adalah ilmu milik Kiauw Pak Beng (dalam cerita Lian Kiam Hong In -Kisah Pedang Bersatu Padu) dan ratusan tahun kemudian ditemukan oleh Beng Sin-thong dalam cerita Perjodohan Busur Kumala.
Siu-lo-im-sat-kang adalah ilmu aliran silat tingkat tinggi, pada masa kejayaan Thio Tan-hong, Thio Tan-hong hampir kalah di tangan Kiauw Pak Beng.
3) hal.
48, baca Hoan Kiam Kie Tjeng (Sebilah Pedang Mustika) dan Peng Tjong Hiap Eng (Dua Musuh Turunan) 4) hal.
51, murid terakhir Thio Tan-hong, Tan Ciok-sing, adalah satu-satunya murid yang mewarisi ilmu pedang Bu-bing-kiam-hoat ini.
Baca ceritanya di Khong Ling Kiam (Pendekar Pemetik Harpa).
5) hal.
62, cerita ini ada dalam San Hoa Lie Hiap (Pendekar Wanita Penyebar Bunga) dan Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu).
Bok Lin dan Bok Yan adalah murid Thio Tan-hong selama beberapa bulan saja Bok Yan akhirnya menikah dengan Thi King-sim (Tiat Keng Sim).
6) hal.
102, urusan Kim Kong-to dengan Bu Toan dan Bu Cheng yang akhirnya menyebabkan Toan Kiam-ceng kabur dari Tayli, dapat diikuti dalam cerita Kelana Buana.
7) hal.
132, baca bagian awal Kelana Buana.
8) hal.
218, cerita tentang Siang Ho-yang dan Aliran Gitar Besi muncul dalam Khong Ling Kiam (Pendekar Pemetik Harpa).
"TIDAK, aku hanya kehilangan beberapa keping perak yang tidak ada artinya. Aku harus melanjutkan perjalanan, silakan kalian bekerja sekuat tenaga, maaf aku harus jalan lebih dulu."
Lalu dia keprak kudanya.
Hari pertama dia tidak menemukan laki-laki tirus itu.
Hari kedua waktu dia mampir di kedai minum di persimpangan jalan di waktu dia minum, mendadak laki-laki tirus itu muncul di depannya.
Sebetulnya dia sudah ingin tanya apakah dia Kwi-hwe-thio atau Li-ma-cu, tapi begitu muncul laki-laki itu lantas merebut kudanya, maka dia memburunya keluar.
Celakanya meski kuda tidak tercuri, namun dengan menunggang kuda ternyata dia tidak mampu mengejar orang.
Mungkin bila jarak jauh dia mampu mengejarnya, tapi laki-laki itu membelok dan bersembunyi di dalam hutan, jejaknya tidak ditemukan lagi.
Nyo Hoa lesu dan patah semangat, pikirnya, Ternyata ada seorang dalam dunia ini yang memiliki ginkang setinggi itu, mana aku mampu mengejarnya?
Umpama kena kejar, mana mampu aku merebut buku itu?"
"Kini harapan satu-satunya adalah semoga laki-laki ini kalau bukan Kwi-hwe-thio adalah Li-ma-cu,"
Demikian pikirnya.
"Kalau betul dia salah satu dari maling sakti itu, kukira tidak akan mempermainkan bocah tanggung seperti aku yang tidak ternama ini, atau mungkin dia sengaja mau mempermainkan aku saja? Kalau tidak setelah mencuri bukuku itu, pantasnya lari ke tempat jauh, kenapa dia justru muncul lagi di depanku? Haya..."
Mendadak hatinya tergerak.
"mungkin dia sengaja memancing aku menempuh jalan-ini?"
Tapi jalan putar ini bisa tembus ke Lhasa, biar kehilangan waktu dua hari tidak jadi soal.
Apa boleh buat, terpaksa Nyo Hoa melanjutkan perjalanan dengan perasaan ingin tahu apa pula yang bakal terjadi di sebelah depan.
Jalan putar ini sepi dan tiada penduduk di sepanjang jalan, dua hari lamanya Nyo Hoa menempuh perjalanan sendirian, ransum yang dibawanya sudah hampir habis, untung di atas gunung banyak salju untuk menghilangkan dahaga.
Hari ketiga dia tiba di dataran rendah, jalan raya selanjutnya lapang dan lurus, di sini dia mulai bertemu orang, meskipun kantongnya kosong tidak enak dia minta sedekah kepada penduduk.
Terpaksa dia mencari akal.
"Ransumku masih cukup untuk satu hari, bila besok tetap tidak menemukan laki-laki itu, biarlah aku bekerja jadi kuli atau kerja kasar apa saja asal bisa mendapat upah sekedar untuk bekal."
Tengah hari itu, dia temukan di pinggir jalan terdapat sebuah kedai.
kedai yang mirip di persimpangan jalan dua hari yang lalu.
Kedai di pinggir jalan ini memang khusus diperuntukkan pejalan kaki yang menempuh perjalanan jauh, menjual minuman dan makanan murah.
Karena ransum yang dibawa terbatas, selama dua hari ini Nyo Hoa tidak makan kenyang, makin mendekati kedai hidungnya mengendus sate kambing yang sedang dibakar, karuan biji lehernya turun naik.
Sayang kantongnya kosong, terpaksa dia hanya lewat saja sambil mengawasi paha kambing yang digantung di depan kedai.
Tak nyana waktu dia lewat di depan kedai, pemilik kedai yang kebetulan duduk di meja kasir segera berteriak serta memburu keluar, teriaknya dengan bahasa Han yang kaku.
"He, he, tuan ini, apakah kau she Nyo?"
"Betul,"
Sahut Nyo Hoa meleng-gong.
"aku memang she Nyo, dari mana kau tahu?"
Pemilik kedai dari suku Tibet ini berkata.
"Syukurlah, sudah lama aku menunggu kau, silakan.turun, hayo-lah masuk makan dulu."
Sudah tentu Nyo Hoa kebingungan, setelah berada di dalam kedai, dia bertanya.
"Selamanya belum pernah aku kemari, kenapa kau bisa menunggu aku?"
Pemilik kedai tertawa, katanya.
"Aku tahu kau selamanya tidak pernah kemari, tapi temanmu kemarin mampir ke sini, dia ada titip barang supaya diserahkan kepadamu."
"Temanku?"
Seru Nyo Hoa girang dan kaget.
"Apakah seorang lelaki yang berpakaian kotor?"
"Betul. Walau pakaian temanmu itu kotor dan compang-camping, tapi orangnya baik, kantongnya tebal. Adat kami orang Tibet berbeda dengan bangsa Han kalian, kalian hanya menilai pakaian tidak menilai orangnya, kami justru sebaliknya."
Nyo Hoa ingin lekas tahu persoalannya, tanyanya.
"Dia meninggalkan barang apa untukku?"
"Silakan minum secangkir teh susu ini, segera kuambilkan di dalam."
Tak lama kemudian dia keluar pula membawa sebuah buntalan, katanya.
"Aku tidak pernah membukanya, kelihatannya seperti uang perak."
Waktu Nyo Hoa membuka buntalan itu, isinya memang uang perak.
Kecuali sekeping besar uang perak senilai sepuluh tahil miliknya, masih banyak lagi uang perak pecahan.
Di bawah uang perak besar ditindih satu carik kertas, ada tulisan kasar seperti cacing berbunyi.
"Pinjaman sepuluh tahil kukembalikan bersama bunganya."
Yang diharapkan Nyo Hoa adalah buku ilmu golok itu, ternyata hanya uang yang dikembalikan, hatinya sedikit kecewa, tapi setelah ada uang, sepanjang jalan ini dia tidak khawatir kelaparan.
Pemilik kedai amat ramah dan pandai melayani tamunya.
Dia keluarkan seporsi sate kambing dan gulai kambing dengan nasi putih, teh susu ditambah juga.
Katanya.
"Kedaiku ini khusus menjual sate dan gulai kambing, orang Han kalian mungkin tidak biasa makan hidangan kasar ini, silakan makan seada-nya."
Memangnya perut lapar, Nyo Hoa tidak hiraukan rasa pedas dan kecut yang jarang dimakan seperti jahe dan merica segala.
Tapi aneh juga, setelah kenyang dan menghabiskan dua cangkir teh susu, badannya bertambah segar, semangatnya pulih.
Pemilik kedai tertawa, katanya.
"Ternyata kau bisa menyesuaikan keadaan, selanjurnya kau pasti betah tinggal di Tibet"
"Apakah temanku ada meninggalkan pesan?"
"Ada. Dia akan menunggu kau di Lhasa. Setiba kau di sana dia akan menemuimu. Dia lebih menekankan supaya sepanjang jalan kau tidak bertemu. Dia bilang kalau kau tidak percaya akan pesannya, ada kemungkinan kau akan menghadapi bencana."
Nyo Hoa manggut tidak memberi tanggapan. Dia tahu apa maksud pesan itu. Pemilik kedai berkata lebih lanjut.
"Temanmu itu adalah orang yang sudah lama kukagumi, tak pernah disangka olehku kemarin aku bisa melihatnya Sayang aku tidak tahu namanya, kau boleh memberi tahu kepadaku?"
Nyo Hoa heran, katanya.
"Sudah lama kau mengaguminya? Jadi dia sudah lama ternama di daerah Tibet ini? Siapakah dia? Kenapa kemarin kau tidak tanya langsung kepadanya?"
"Dia seorang maling yang punya kepandaian luar biasa, bintang penolong keluarga miskin orang-orang Tibet kami,"
Demikian tutur pemilik kedai.
"Sering aku mendengar kisah tentang darinya, tapi lantaran tidak pernah melihatnya, kesempatan baik kemarin kuabaikan lagi, tapi kudengar dia tidak suka orang tahu siapa dirinya, aku khawatir salah tanya, maka tak berani aku tanya kepadanya."
"Kenapa dikatakan sebagai bintang penolong orang-orang miskin?"
Tanya Nyo Hoa. Pemilik kedai mengisi penuh secangkir teh susu, katanya dengan tertawa.
"Kau kan teman baiknya, kok tidak tahu?"
"Terus terang, aku pun baru kenal beberapa hari. Dia tidak pernah menceritakan pengalaman hidupnya, nama pun tidak diberitahukan kepadaku."
"Betul, sepak terjang temanmu itu memang aneh. Bahwa dia mau membantu kau pasti kau pun seorang baik, biarlah kuceritakan kepadamu."
"Sejak dua tahun yang lalu dia muncul di daerah Tibet kami ini. Tidak lama di sana-sini terdengar berita munculnya maling sakti. Banyak keluarga raja, hartawan, tuan tanah atau pemilik peternakan yang kehilangan barang, tapi banyak pula keluarga-keluarga miskin yang hidup serba kekurangan, begitu bangun tidur esok harinya menemukan kepingan uang perak di bawah bantalnya"
"Maling sakti ini tidak melulu menolong keluarga miskin yang tidak punya uang. Ada sebuah keluarga, yang lelaki bekerja sebagai penggembala ternak dari sebuah peternakan. Suatu hari datang serombongan serigala, untung dia sempat naik pohon hingga jiwanya selamat, tapi ada belasan kambingnya yang dimakan serigala Pemilik ternak menghajar serta menuntut ganti rugi padanya, sudah tentu dia tidak mampu mengganti maka pemilik ternak lantas merebut puterinya katanya untuk menjadi pelayan, sebagai ganti rugi.
"Pemilik ternak memang terlalu, belakangan maling sakti telah mengantar puterinya itu kembali ke rumah.
"Hari kedua setelah puteri orang itu direbut, waktu pagi itu dia membuka pintu ternyata puterinya sudah berdiri di ambang pintu. Puterinya bercerita dia bermimpi telah ditolong oleh malaikat, haik mega dibawa pulang, hanya sekejap tahu-tahu sudah tiba di depan rumah. Waktu itu baru terang tanah, begitu menurunkan dia, dia lantas menoleh ingin melihat wajah malaikat yang menolongnya tapi bayangannya sudah tidak kelihatan lagi. Dalam kolong langit ini jelas tiada manusia yang berbuat sehebat itu, maka dia mengira malaikat yang menolongnya Tapi ayahnya tahu pasti maling sakti itulah yang telah menolong keluarganya."
"Apakah pemilik ternak tidak mengusut perkara itu lebih lanjut?"
"Memang akan kulanjurkan. Tidak lama setelah puterinya pulang, pemilik ternak malah mengutus orangnya minta maaf kepadanya serta memberi ganti rugi sepuluh tahil perak karena perabot rumahnya rusak. Betulkah pemilik peternakan yang jahat dan kejam berbalik baik hati? Semua orang mereka-reka.
"Tak lama kemudian salah seorang centeng peternak itu waktu pulang kampung menceritakan, ternyata malam itu si peternak telah kehilangan sesuatu. Coba terka ternyata maling sakti sudah mencukur gundul rambut kepalanya, hari kedua waktu bangun tidur baru dia tahu. Lalu menemukan ancaman maling sakti, jikalau tidak minta maaf kepada pegawainya, jiwanya akan dicabut. Sungguh kasihan peternak itu, sepuluh tahil perak soal kecil, celakanya dia menjadi gundul, selama berbulan-bulan dia tidak berani keluar menemui orang."
Nyo Hoa tertawa geli, katanya.
"Sungguh menyenangkan. Cuma hukuman terlalu ringan untuk peternak yang kejam dan jahat itu."
"Banyak lagi kebaikan dan pertolongan yang pernah dilakukan maling sakti itu kepada masyarakat, namanya semakin harum dan selalu menjadi bahan pembicaraan orang. Biar kuceritakan pula satu kejadian. Dia ternyata pandai menyamar, setiap kali muncul dengan bentuk berbeda Tapi dia paling suka menyaru laki-laki tirus yang kotor dan dekil, lebih jorok dari pengemis umumnya. Bila ketemu para budak atau tukang pukul dari keluarga kaya yang biasanya hanya menghina dan menindas rakyat kecil, maka orang itu pastiakan dihajar dan dipermainkan sampai dia merasa puas, yang celaka adalah majikan si tukang pukul itu pun akan tertimpa kemalangan. Maka selama dua tahun ini, para budak atau tukang pukul dari orang-orang kaya itu tidak berani lagi menindas rakyat kecil."
"Apakah dia tidak pernah memperhatikan orang baik? Umpamanya * terhadap orang-orang yang suka jualan kecil-kecilan seperti dirimu ini."
"Kau pernah dengar dia makan tidak bayar bukan? Beberapa bulan belakangan ini memang sering kudengar beberapa peristiwa habis makan tidak bayar, kebanyakan memang dia yang melakukan. Tapi cara dia mempermainkan pedagang kecil ini berbeda dengan mempermainkan tukang-tukang pukul. Kedai-kedai atau warungwarung makan yang pernah mengalami kejadian itu, belakangan pasti menerima imbalan yang luar biasa."
"Imbalan yang luar biasa bagaimana?"
"Malamnya dia pasti membayar berlipat dari rekening makanan yang pernah dia makan. Ada orang bilang dia sengaja mempermainkan orang untuk mencoba hatinya, bagi yang berhati baik pasti akan mendapat rejeki." . Dari beberapa cerita kejadian ini, maka Nyo Hoa yakin bahwa.laki-laki tirus itu pasti maling nomor dua, namun lega juga hatinya. Pikirnya.
"Peduli salah satu yang mana dari kedua locianpwe itu yakin memang sengaja mau menggodaku saja. Walau aku tidak tahu apa sebabnya dia mempermainkan aku."
Setelah kenyang, segera Nyo Hoa mohon diri.
Bukan saja tidak mau dibayar, pemilik kedai malah menyiapkan sepotong ransum kering untuk bekal Nyo Hoa di perjalanan.
Sebelum Nyo Hoa berangkat pemilik kedai berpesan.
"Engkoh cilik, setelah kau melewati pegunungan Tongkala, ke depan lagi adalah padang rumput Lugong. Di sana ada sebuah peternakan besar milik peternak jahat yang kuceritakan itu. Maka sepanjang jalan kau harus hati-hati. Lalu dia banyak memberi penjelasan seluk beluk perjalanan yang akan dilewati Nyo Hoa.
"terima kasih akan petunjukmu. Aku akan hati-hati."
Segera Nyo Hoa naik kuda terus berpisah dengan pemilik kedai.
Hari kedua dia memasuki pegunungan Tongkala.
Salju beterbangan di angkasa, hawa di pegunungan teramat dingin.
Lwekang Nyo Hoa cukup tangguh maka dia tidak takut kedinginan.
Maju lebih jauh mendadak terasa hawa di sini agak hangat, sayupsayup didengarnya suatu suara seperti semburan sesuatu, Nyo Hoa keheranan segera dia putar kudanya menuju* ke arah datangnya suara, ternyata dia menemukan sumber air yang menyemprot deras.
Di daerah Tibet memang banyak terdapat sumber air panas yang menyemprot deras sehingga menimbulkan pemandangan yang menakjubkan.
Nyo Hoa tidak pernah melihat pemandangan seindah ini, sesaat dia berdiri melongo, pikirnya.
"Di pinggir sumber air yang hangat ini, aku bisa tidur nyenyak menghilangkan Tapi dia tidak bisa tidur. Soalnya elang lapar yang terbang di angkasa berputar-putar siap mengintip mangsanya. Waktu itu dia sudah hampir pulas, mendadak seekor elang besar menukik turun, untung dia belum pulas. Mungkin elang ini sudah kelaparan, Nyo Hoa disangkanya mayat, menukik turun hendak mematuk batok kepalanya. Nyo Hoa menggeliat hingga elang itu kaget, terbang ke udara serta berputar-putar pula sekian lamanya. Nyo Hoa dongkol juga geli, maka dia pura-pura tidur tidak bergerak sekian lamanya. Elang itu terpancing, waktu dia menukik turun, mendadak Nyo Hoa mencabut pedang menimpuknya. Kontan elang itu jatuh dengan tubuh ditembus pedang. Nyo Hoa tertawa ringan, katanya sendiri.
"Malam ini aku bisa makan lezat dari daging elang bakar ini."
Setelah dicabut bulunya dia panggang burung elang itu di pinggir sumber air, malam itu dia makan jauh lebih kenyang dari biasanya.
Habis makan dia sudah siap tidur, mendadak di depannya di tempat jauh seperti ada percakapan orang.
Lekas Nyo Hoa mendekam mendengarkan suara.
Didengarnya seorang berkata.
"He, kenapa hawa di sini mendadak hangat."
Nyo Hoa melenggong, dia seperti kenal suara orang ini. Seorang lagi berkata.
"Lo-ting, memang nasibmu selalu baik."
Suara orang ini lebih dikenal oleh Nyo Hoa, karena dia bukan lain adalah Ting Tiong-ai. Yang dipanggil Lo-ting bertanya.
"Bernasib baik bagaimana?"
"Tanpa tujuan kita menemukan Pek-ing-cwan (Sumber elang putih) yang hangat ini."
"Memangnya aku sudah kedinginan sampai gigi berkerutuk, syukurlah, nanti aku akan mandi air panas, mandi keramas untuk menghilangkan sebal."
"Iya, kenapa kita selalu kebentur urusan sial. Aku ketemu pemuda yang berkepandaian tinggi. Kau ke-bentrok dengan copet, tidak sedikit barangmu yang dikuras olehnya."
"Milik pribadiku dikuras tidak jadi soal, celakanya dokumendokumen penting itu pun dicopetnya pula. Tolong kau bantu aku mencari tahu, jago golongan hitam yang mana mahir menggerayangi kantong orang?"
"Setelah mendengar penjelasanmu, sepanjang jalan ini aku telah menimang-nimang, aku yakin yang menguras kantong pasti maling nomor satu Kwi-hwe-thio adanya."
Seketika Nyo Hoa sadar, Lo-ting yang satu ini bukan lain adalah pemimpin rombongan pedagang yarg tiga hari lalu menghajar lakilaki tirus itu.
"Tak heran maling sakti memperingatkan aku supaya tidak seperjalanan dengan mereka. Sekarang dia bersama Ting Tiong-ai, sudah pasti dia pun cakar alap-alap,"
Demikian batin Nyo Hoa.
"Kalau benar dia itu Kwi-hwe-thio, maka barang-barang itu tiada harapan lagi. Wah, aku kehilangan dokumen penting, dosaku amat besar, bagaimana baiknya, Ting-toako tolong kau bantu aku mencari jalan keluarnya."
"Kau tidak usah khawatir. Kang Pob pemilik peternakan di depan sana akan membantumu. Umpama benar Kwi-hwe-thio yang mencuri dokumen itu, dia harus memberitahukan ke beberapa tempat itu. Asal kita lebih cepat tiba di Lhasa, urusan masih bisa ditolong. Setiba di Lhasa aku akan bantu kau."
"Terima kasih. Teng-tayjin siapakah pemuda berkepandaian tinggi yang bentrok dengan kau?"
Orang she Ting ini agaknya penjilat besar, setelah Teng Tiong-ai menyatakan sedia membantu, panggilan Teng-toako kini dia uban menjadi Teng-tayjin.
"Bocah itu she Nyo bernama Hoa. Kau tahu atau pernah melihatnya?"
"Hari itu aku juga bertemu pemuda she Nyo, entah orang yang sama."
Lalu dia gambarkan wajah Nyo Hoa.
"Ya, benar, memang pemuda itu, bagaimana sikap pencopet itu kepadanya?"
Setelah mendengar penjelasan orang she Ting, Teng Tiong-ai terpekur, katanya.
"Aneh kalau begitu."
"Apanya yang aneh?"
Tanya orang she Ting.
"Kalau pencopet itu betul Kwi-hwe-thio, sepantasnya dia sehaluan dengan pemuda she Nyo itu. Kenapa dia pun mencuri barang-barang bocah itu? Mungkin sengaja bermain sandiwara?"
"Bocah itu kelihatan gugup, kurasa bukan main-main."
"Pemuda itu kehilangan barang apa?"
"Entah. Tapi aku sudah suruh orang melapor kepada Kang Poh. Asal melihat dua orang yang mencurigakan ini, Kang Poh pasti akan bantu kita menghadapinya."
Teng Tiong-ai geleng-geleng, katanya.
"Kang Poh mana mampu menghadapi bocah itu. Kepandaian sejati Kwi-hwe-thio mungkin bukan tandingan bocah itu, tapi kecepatan larinya nomor satu di dunia. Kang Poh mana mampu menangkapnya."
Orang she Ting berkata.
"Teng-tayjin tidak tahu, belakangan ini Kang Poh mengundang dua orang kosen dari Bit-cong. Kepandaian kedua orang kosen ini katanya tidak lebih rendah dari Thian-thay Siangjin."
Teng Tiong-ai membatin.
"Kepandaian Thian-thay Siangjin masih di bawahku, umpama kepandaian kedua jago Bit-cong memang lebih tinggi, juga belum tentu kuat menghadapi bocah itu."
Orang she Ting berkata lebih lanjut.
"Kau tahu, Kang Poh paling gemar mengoleksi"
Tiga macam barang, yaitu golok pusaka, wanita cantik dan kuda bagus.
Tahun lalu memperoleh seekor kuda jempolan, manusia yang larinya tercepat di dunia ini juga pasti tak akan dapat mengejarnya.
Umpama tak berhasil menangkap bocah dan maling itu, sedikitnya bisa menguntit jejaknya."
Jalan sambil mengobrol, tanpa terasa mereka sudah muncul di pengkolan gunung. Tampaklah sumber air yang menyembur deras itu. Orang she Ting terpesona, katanya.
"Wah, indah benar panorama di sini, hawanya hangat lagi, rasanya aku ingin tinggal di sini saja."
"Jangan lupa, aku masih harus lekas tiba di Lhasa,"
Ucap Teng Tiong-ai.
"Lekas kau mandi, istirahat sejenak terus berangkat lagi."
Tiba-tiba orang she Ting berteriak.
"Eh aku seperti mencium daging panggang."
"Memangnya kau sudah kelaparan? Di sini mana ada daging panggang? He, memang iya, aku juga mencium daging panggang."
Belum habis mereka bicara, mendadak Nyo Hoa sudah melompat keluar di hadapan mereka. Orang she Ting berjingkrak kaget, teriaknya.
"Nah, betul bocah ini."
Nyo Hoa pencet hidung sendiri, berkata sambil menyengir.
"Tak heran aku mencium bau busuk yang memualkan, kiranya kalian bangsat busuk ini."
Teng Tiong-ai mengeraskan kepala, segera dia keluarkan boankoan-pit, katanya.
"Anak bagus, aku memang ingin membuat perhitungan dengan kau."
Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Memang aku khawatir kau tidak datang."
Pedang panjang di tangannya bergerak laksana lembayung dengan jurus Liong-bun-ko-long, bergerak belakangan tiba lebih dulu, sepasang potlot besi Teng Tiong-ai kena di-sampuknya pergi, gerakan pedangnya belum lagi berhenti, terus memapas miring.
Teng Tiong-ai berputar dengan tumit kakinya, sepasang potlotnya bergerak miring, pertahanan depan dadanya terbuka lebar, gerakannya ini melanggar pantangan bergebrak.
Karuan orang she Ting menggerutu.
"Sia-sia orang she Teng diangkat menjadi ketua Ngo-koan, kenapa baru satu gebrak permainannya sudah kacau balau? Mungkin hatinya sudah jeri melawan musuh yang pernah mengalahkan dia. Hmm, kali ini dia bisa lebih celaka."
Nyo Hoa cukup mendalam pengetahuan ilmu silatnya, siapa pun tercekat melihat cara bertempur Teng Tiong-ai, namun dia menduga bahwa musuh berani senekad ini pasti mempunyai pegangan yang diandalkan.
Betul juga, sepasang potlot Teng tiong-ai sudah melesat dengan gerakan Pek-ho-liang-ji (Bangau putih pentang sayap), potlot kiri menyeret, potlot kanan menuntun.
Potlot kiri menotok Hong-hu, Giok-cu dan Coat-bun tiga hiatto besar.
Potlot kanan mengincar Kim-hoan, Ciok-sek dan Kui-ciang, juga tiga hiatto yang menjurus ke urat nadi.
Padahal letak keenam hiatto ini berpencar bukan dalam satu garis.
Ahli totok umumnya, sekaligus menyerang dua hiatto yang berlainan letaknya saja sukar, apalagi dalam satu jurus sepasang potlot harus menotok enam hiatto.
Waktu melabraknya di Siau-kim-jwan tempo hari Nyo Hoa tidak melihat Teng Tiong-ai mampu melancarkan ilmu totok yang lihay ini.
Bagi Nyo Hoa sendiri juga baru pertama kali melihat dan menghadapi permainan potlot yang sekaligus melancarkan totokan serumit ini.
Ternyata setelah Teng Tiong-ai dikalahkan Nyo Hoa tempo hari, dia pergi ke Siamsay bertandang ke rumah keluarga Lian Kam-iin yang ahli totok juga.
Kepada tokoh ilmu totok ini dia tukar menukar pengalaman, saling isi dan koreksi, jadi kedua pihak barter ilmu totok dari kedua keluarga mereka.
Kepandaian ilmu totok keluarga Lfan turun temurun diwariskan kepada anak cucunya, mereka sudah memperoleh gelar keluarga ilmu totok nomor satu sejagat.
Ilmu warisan keluarga mereka adalah Su-pit-tiam-pat-meh (Empat pot lot menotok delapan nadi).
Tigapuftih tahun yang lalu ayah Kim Tiok-liu yaitu Kim Si-ih hampir dikalahkan oleh Su-pit-tiam-pat-meh keluarga Lian ini.
Tapi Su-pittiam-pat-meh harus dimainkan dua orang.
Kalau seorang hanya mampu mengembangkan Siang-pit-tiam-su-meh.
Teng Tiong-ai barter ilmu totok dengan Lian Kam-lin walau kedua pihak samasama menyatakan tidak akan menyembunyikan kemampuan masing-masing, kenyataan di dalam praktek, keduanya merahasiakan inti pelajaran ilmu totok mereka, karena itu Teng Tiong-ai sekarang dengan sepasang potlotnya hanya bisa menotok sepasang urat nadi mengincar enam hiatto.
Namun demikian, kemampuannya sekarang sudah lebih maju dibanding sebelumnya, tidak heran Nyo Hoa kaget dan mencelos hatinya.
Melihat Nyo Hoa seperti tidak kenal permainan ilmu totoknya, Teng Tiong-ai amat girang, dia kira kali ini dia pasti dapat membalas kekalahan tempo hari.
Tak nyana perubahan selanjutnya ternyata jauh di luar perhitungan.
Di tengah sambaran pedang dan tusukan sepasang potlotnya itu, terdengarlah dering suara ramai, bayangan orang mendadak berpencar.
Teng Tiong-ai memang tidak ter-luka, namun ujung potlot kirinya gumpil.
Ternyata Nyo Hoa pandai melihat gelagat.
Jurus Liong-bu nkolong yang juga bernama Liong-bun-sam-tiap-long, seluruhnya mengandung tiga golongan tenaga Nyo Hoa sudah melancarkan serangannya tapi tenaga belum tersalurkan, maka sengaja dia purapura tertipu untuk balas menipu lawan.
Bila sepasang potlot lawan terlanjur dilancarkan, baru dia kerahkan tenaga sungguh bagai gelombang samudera yang mengamuk, kontan sepasang potlot Teng Tiong-ai tersampok pergi.
Bila kedua orang ini saling labrak pula, walau Nyo Hoa belum kenal permainan sepasang potlotnya, namun dia mengembangkan Bu-beng-kiam-hoat yang selalu mengikuti gerak perubahan lawan, maka keadaan seperti tempo hari, betapapun rumit dan lihay gerak perubahan potlot orang, Nyo Hoa tetap dapat mematahkan dengan mudah, dia tetap unggul di atas angin.
Namun dalam waktu singkat tidak mudah dia memperoleh kemenangan.
Lama kelamaan orang she Ting yang menonton di pinggir gelanggang, makin tenteram dan mantap perasaannya.
Teng Tiong-ai tidak serunyam yang dia bayangkan tadi, setelah pikirannya jernih dia tidak bermaksud melarikan diri lagi.
"Teng-toako, jangan gugup, biar aku membantumu"
Demikian dia berteriak-teriak, tapi kakinya tetap di tempat, tapi dia juga bukan hanya main gertak.
Kepandaian orang she Ting memang terbatas, hanya dalam bidang amgi saja dia lebih unggul dari orang lain.
Dia sudah menggenggam tiga batang bor beracun sepanjang lima dim, setiap ada peluang dia lantas timpukkan secara beruntun.
Sudah tentu tidak mudah dia melukai Nyo Hoa dengan senjata rahasianya.
Dengan Ih-sing-hoan-wi, Nyo Hoa berkelit dari bor pertama, lalu pedangnya mengetuk dia singkirkan bor kedua, sigap sekali gagang pedangnya menumbuk, bor ketiga pun dipukulnya jatuh.
Bor terakhir menyerempet badannya baru dipukul jatuh merupakan ancaman yang paling berbahaya.
Tapi bor kedua yang disampok jatuh Nyo Hoa juga hampir mengenai jidat Teng Tiong-ai, karuan Teng Tiong-ai kaget.
Maka Teng Tiong-ai membentak.
"Lo-ting, jangan pakai amgi yang beracun."
Dia tahu kemahiran orang she Ting menimpukkan senjata rahasianya.
Tapi lawannya ini terlalu tangguh, bila senjata rahasia beracun tidak mengenai musuh, celaka bila melukai dirinya.
Jengah muka orang she Ting, selanjutnya dia tidak menggunakan amgi yang beracun.
Beruntun dia menghamburkan berbagai senjata rahasia, ada batu bclirang, toh-kut-ting, kong-piau, besar kecil dan lain-lain, semua memberondong ke arah Nyo Hoa Kepandaian menimpuk senjata rahasia orang ini memang amat mahir dan luar biasa.
Padahal Nyo Hoa lagi berhantam sengit dengan Teng Tiongai, tapi setiap amgi-nya itu seperti punya mata saja, selalu hanya menyerang Nyo Hoa, tidak sampai melukai Teng Tiong-ai.
Karena harus pecah perhatian supaya tidak terkena senjata rahasia, karuan Nyo Hoa terdesak di bawah angin, sementara sambaran amgi semakin gencar dan banyak.
Akhirnya Nyo Hoa naik pitam, serunya.
"Mutiara sebesar beras juga ingin memancarkan cahaya, biar terbuka mata kalian."
Mendadak sinar pedang seperti meledak, terdengar suara "Tring, tring"
Yang ramai secara beruntun, semua amgi yang memberondong ke arah tubuhnya mendadak terpental balik ke berbagai penjuru.
Lekas Teng Tiong-ai menyilangkan kedua potlotnya, hanya menyerang sejurus lalu melompat mundur.
Kali ini Nyo Hoa menggunakan gerakan khusus untuk mematahkan amgi dari Bu-beng-kiam-hoat.
Permainan pedang untuk mematahkan senjata rahasia itu merupakan cipta-an Thio Tan-hong, perubahannya rumit sekali.
Bila dipraktekkan harus mengikuti perkembangan mengubah permainan, jadi tidak boleh bergerak hanya mengikuti aturan permainan belaka.
Sejak meyakinkan Bu-beng-kiam-hoat, baru pertama kali ini Nyo Hoa mempraktek-kannya.
Pertama kali digunakan adalah wajar kalau kurang sempurna dan banyak kelemahannya.
Teng Tiong-aj memanfaatkan kesempatan, sepasang potlotnya menyelonong tiba dengan satu jurus serangan telak.
"Breeet"
Pot lot kirinya berhasil menggaris robek pakaian Nyo Hoa dan menggores luka kulit dagingnya.
Tapi meski kepandaian amgi orang she Ting cukup lfliay, betapapun tarafnya masih belum tingkat tinggi.
Meski gerak pedang Nyo Hoa yang khusus mematahkan senjata rahasia tidak sempurna, juga cukup berkelebihan untuk menghadapinya.
Amgi jatuh berserakan sehingga Teng Tiong-ai sendiri juga ikut kerepotan dibuatnya, sehingga dia tidak mampu meneruskan sergapannya, padahal saat Nyo Hoa mematahkan serangan senjata rahasia merupakan peluang baik untuk dia melancarkan serangan potlotnya.
Karena harus menyelamatkan Birj itulah Teng Tiong-ai harus melompat mundur juga, namun seba-kong-piau menyambar lewat menyerempet jidatnya, kedua pihak sama terluka kulitnya saja, namun tidak membawa pengaruh apa-apa.
Ilmu pedang Nyo Hoa jelas lebih maju, hebat dan menakjubkan lagi, orang she Ting takkan mampu membantunya lagi, maka runtuh semangat tempur Teng Tiong-ai.
Nyo Hoa membentak.
"Kalau berani jangan lari, ingin aku melihat apa saja kemampuan kalian."
Segera dia menubruk maju seraya mengembangkan ilmu golok kilat dalam permainan pedang.
Hanya belasan jurus, Teng Tiong-ai sudah terkurung dalam sinar pedangnya.
Sudah tentu Teng Tiong-ai kaget dan gugup, orang she Ting tersirap pucat, segera dia memutuskan untuk angkat langkah seribu, apalagi sisa amgi-nya tidak banyak lagi.
Maka dia tidak menghiraukan keselamatan Teng Tiong-ai, terus lari lebih dulu.
Kuda merah Nyo Hoa sedang makan rumput, namun Teng Tiongai masih berhantam sengit dengan Nyo Hoa, diam-diam orang she Ting merunduk ke arah kuda merah, pikirnya hendak merebut kuda ini untuk melarikan diri.
Tapi Nyo Hoa selalu pasang mata dan telinga, mendadak dia membentak.
"Mau apa kau?"
Orang she Ting sudah dekat di pinggir kuda merah, dia bergelak tawa, katanya.
"Orang she Nyo, kalau berani carilah aku di Lhasa, maaf aku tidak temani kau di sini."
Di luar tahunya, selama setengah bulan ini kuda merah sudah jinak dan tunduk kepada Nyo Hoa, mendengar bentakan Nyo Hoa, dia seperti mendapat firasat orang di dekatnya ini mengandung maksud kurang baik, sudah tentu dia tidak mau dinaiki musuh majikannya.
Begitu orang she Ting memburunya, dia segera angkat kaki depannya menendang.
Orang she Ting tidak kena, segera dia meloloskan golok, bentaknya gusar.
"Binatang berani membangkang, biar kubunuh kau."
Khawatir kudanya direbut orang, sedikit terpencar perhatian Nyo Hoa.
Mumpung ada kesempatan Teng Tiong-ai mendesak maju untuk mundur, dengan sengit dia menyerang sejurus, lalu melompat ke luar kalangan.
Khawatir Nyo Hoa mengejar dan menyerangnya pula, langsung dia menjatuhkan diri terus menggelinding ke bawah lereng.
Lereng penuh salju, tubuhnya meluncur ke bawah lebih cepat dari orang mengembangkan ginkang.
Nyo Hoa tidak bisa sekaligus membereskan dua musuh, terpaksa dia biarkan Teng Tiong-ai lolos, katanya sambil membalik badan.
"Bagus, kalau berani hayolah turun tangan, bunuhlah dia, biar nanti aku pun sembelih kau."
Dia bicara dengan gelombang suara yang ditekan dengan Iwekang, suaranya tidak keras namun setajam jarum baja menusuk gendang telinga.
Orang she Ting seperti ditusuk sembilu jantungnya, waktu menoleh baru dilihatnya Teng Tiong-ai lari menjatuhkan diri ke lereng sana, sementara Nyo Hoa sedang berlari kencang menubruk dirinya.
Saking kagetnya, serasa terbang arwahnya, mana berani melukai kuda Nyo Hoa, lekas dia lari sipat kuping.
Ginkangnya kalah dari Teng Tiong-ai, apalagi melawan Nyo Hoa.
Sambil lari pontangpanting sempat juga dia timpukkan amgi beracun, namun mana mampu dia melukai Nyo Hoa?
Nyo Hoa membentak.
"Diberi tidak membalas kurang hormat. Besi rongsokan tak berharga kau berikan kepadaku, nih kubalas sekeping uang."
Dua jarinya menjentik, mata uang itu meluncur secepat meteor, mata uang itu dengan tepat mengenai Te-cong-hiat di bawah tumit kakinya. Nyo Hoa segera menyeretnya, katanya dengan tertawa.
"Tadi kedengaran kau ingin mandi, sekarang keinginanmu akan kukabulkan."
Padahal semburan air itu menyemburkan air berwarna kehitaman mengkilap, jelas mengandung minyak, panasnya cukup membuat telor matang dalam dua detik, airnya juga masih mendidih, air gunung yang mengandung belerang lagi, bila orang diceburkan ke dalam air ini maka dapatlah dibayangkan akibatnya.
Sengaja Nyo Hoa jinjing orang she Ting ke pinggir air supaya melihat jelas keadaan sumber air itu.
Karuan mukanya seketika pucat pias, badan pun gemetar, lekas dia minta ampun kepada Nyo Hoa.
Demi menyelamatkan jiwa, terpaksa orang she Ting menjawab setiap pertanyaan Nyo Hoa.
Ternyata lelaki ini bernama Ting Tiau-tang, salah seorang kepala barisan penjaga anak buah Sat Hok-ting, sengaja dia ditugaskan menyamar jadi pedagang bersama sekelompok anak buahnya Atas perintah Sat Hok-ting mereka berangkat ke Lhasa dengan menyamar, untuk mengirim dokumen penting kepada walikota yang berkuasa di kota Lhasa Setiba di Lhasa mereka harus bertugas di sana sementara waktu.
Bekerja sesuai keperluan setempat di bawah pimpinan walikota Khawatir di tengah jalan kepergok laskar gerilya maka mereka menyamar sebagai pedagang.
Bagaimana situasi Lhasa belakangan ini, Nyo Hoa berhasil mengorek beberapa penjelasan dari mulut orang she Ting ini.
Diketahui pula walikota bayangan urusan ke-rajaan Ceng yang berkuasa dengan hanya beberapa wisu anak buah Sat Hok-ting bernama Tio Ting-lok.
Jabatan sipil, namun Tio Ting-lok s seorang panglima perang berpengalaman di medan laga.
Dia punya tiga pembantu bernama Wi To-ping yang berkepandaian silat tinggi, salah seorang dari tiga wisu kosen dari istana raja.
Dua orang lagi adalah Lau Ting-ci dan Yap Kok-wi yang pernah dikalahkan Nyo Hoa.
Yang memimpin .pemerintahan di Lhasa adalah Dalai Hwehud (Budha Hidup) atau Lama.
Lama yang berkuasa ini sekarang baru berusia duabelas tahun, maka kekuasaan sebenarnya berada di tangan Mi-lo-kak-so salah seorang Lama besar atau ketua dari para hu-kau (pelindung agama).
Gelar Mi-lo-kak-so kalau diterjemahkan dalam bahasa Han menjadi Khong-wi Hoatsu.
Tio Ting-lok dan Wi To-ping sudah berserikat di dalam memegang tampuk pemerintahan dengan Khong-wi Hoatsu, selama beberapa tahun mereka bisa berdampingan secara aman dan tenteram, malah di dalam melaksanakan kebijaksanaan pemerintah kerajaan di daerah Tibet ini, tidak sedikit bantuan Khong-wi Hoatsu.
Setelah tahu keadaan di Lhasa, Nyo Hoa berkata.
"Baik, sekarang aku tanya yang terakhir, apa isi dokumen Sat Hok-ting yang kau bawa itu?"
Agaknya Ting Tiau-tang sudah menduga akhirnya akan ditanya soal ini, katanya.
"Dokumen itu amat penting, mana berani aku membukanya"
Nyo Hoa manyeringai dingin, katanya.
"Percakapanmu dengan Teng Tiong-ai di tengah jalan tadi terdengar seluruhnya. Aku tahu bahwa kail tahu apa isi dokumen itu. Bicaralah terus terang, sebetulnya tanpa mendengar pengakuanmu aku juga sudah tahu. Tapi aku ingin menguji apakah kau berlaku jujur apa tidak terhadapku. Bila sepatah kata kau berbohong, akan kulempar kau ke dalam air supaya mandi air panas."
Ting Tiau-tang membatin.
"Agaknya dia sehaluan dengan pencopet itu, bukan mustahil memang sudah melihat isi dokumen itu maka sengaja dia menguji aku."
Demi keselamatan jiwa sendiri terpaksa dia paparkan seluruh rahasia yang dia ketahui.
"Bicara terus terang, dokumen itu aku tidak pernah melihatnya tapi intinya Sat-tayjin pernah memberi tahu kepadaku, hal ini untuk menjaga bila dokumen itu hilang di tengah jalan, aku tetap dapat menyampaikan pesannya itu secara lisan."
Setelah memberi penjelasan Ting Tiau-tang lalu membicarakan isi dokumen itu.
"Itulah surat rahasia Sat-tayjin untuk Tio Ting-lok, dalam surat itu beliau berpesan untuk tiga persoalan."
"Tiga persoalan apa?"
"Pertama supaya dia menghasut Khong-wi Hoatsu. Dengan alasan demi keutuhan Ui-kau mereka, mengerahkan pasukan menyerbu ke Jinghay, menghancurkan Pek-kau Lama Karena menurut laporan yang diterima Sat-tayjin, Pek-kau Hoat-ong yang bercokol di Cau-hoat, secara diam-diam memberi dukungan kepada sisa laskar gerilya yang hijrah dari Siau-kim-jwan."
Waktu dirinya berada di Jik-tat-bok, Leng Thiat-jiau pernah membicarakan hal ini dengan dirinya, maka Nyo Hoa membatin.
"Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan ternyata memang pandai, gerakgerik musuh ternyata sudah dalam pengamatannya"
Maka dia bertanya "Dan persoalan kedua?"
"Sat-tayjin mendapat kabar, bahwa lima suku bangsa di Tibet dan Wikiang telah menandatangani perjanjian berserikat dengan pihak Leng Thiat-jiau, satu sama lain harus saling bantu. Sementara suku bangsa lain masih belum jelas apakah sudah berkomplot dengan mereka, tapi diduga tidak lama lagi, banyak lagi yang akan berserikat dengan mereka Masih ada tiga bangsa terbesar di Wikiang, Le-ciangkun diwajibkan untuk menghadapi mereka Dua suku bangsa lagi di Tibet, pihak kerajaan tak enak mengerahkan pasukannya maka secara rahasia Teng-tayjin memberi pesan untuk Wi To-ping, untuk membekuk dan menggusur kedua kepala suku bangsa ini ke kota raja."
Nyo Hoa membatin.
"Cara ini memang keji dan jahat. Pihak laskar gerilya pasti tidak akan membiarkan kawan serikatnya tertimpa malang. Tak heran Teng Tiong-ai menduga, setelah Kwihwe-thio dan Li-ma-cu mencuri dokumen itu dia harus mondarmandir untuk menyampaikan berita penting ini."
Lalu tanyanya pula.
"Dan -persoalan ketiga apa?"
"Yang ketiga adalah harus membekuk Beng Goan-cau."
Nyo Hoa kaget, katanya.
"Kalian sudah tahu Beng Goan-cau sembunyi di mana?"
"Beng Goau-cau merupakan salah satu yang beroperasi ke Lhasa, waktu dia lewat Cau-hoat, pihak kami sudah menemukan jejaknya. Beng Goan-cau merupakan salah satu tangan kanan Leng Thiat-jiau yang terpercaya, kedudukannya penting, berilmu silat tinggi, Haytayjin dari Gi-lim-kun dan Sat-tayjin mengutus jago-jagonya untuk membekuk Beng Goan-cau. Rombongan pertama adalah Lau Ting-ci dan Yan Kok-wi, wisu dari bayangkari. Rombongan kedua adalah wakil komandan Gi-lim-kun Ma Gun dan Ciu Jan."
"Dan kalian adalah rombongan ketiga. Begitu?"
Jengek Nyo Hoa dingin. Ting Tiau-tang menyengir kuda, katanya rikuh.
"Kepandaianku yang cakar kucing ini, mana berani dijajarkan dengan mereka? Kami hanya diutus untuk membantu Wi To-ping menyudutkan Khong-wi Hoatsu, menghasut dan mengancamnya sehingga dia terpaksa menuruti kehendak kami, Nyo-siauhiap, jikalau kau ampuni jiwaku, aku tidak berani pergi ke Lhasa lagi."
"Memangnya kau berani main-main di hadapan Beng tayhiap, kau berani tidak pergi ke Lhasa adalah urusanmu, aku tidak perlu tahu."
"Nyo-siauhiap, apa yang kutahu sudah kujelaskan kepadamu, tiada sepatah kata pun-yang bohong, kau bisa membebaskan aku bukan?"
"Kenapa terburu nafsu, tunggu sebentar,"
Jengek Nyo Hoa.
Ternyata saat itu lapat-lapat dia mendengar derap lari kuda di kejauhan.
Nyo Hoa pasang telinga sejenak, dia tahu ada dua orang menunggang kuda dilarikan ke atas gunung.
Beberapa kejap lagi, percakapan kedua orang ini pun sudah dapat didengarnya.
"Orang yang akan kita sambut pasti berada di atas gunung ini,"
Kata seseorang. Yang lain berkata.
"Kau duga demikian karena kedua ekor kuda yang kita temukan tadi? Kedua kuda itu satu mati yang lain terluka, bukan mustahil kuda orang lain."
"Lo-heng, sudah berapa tahun kau menjadi pembantu dalam peternakan, ternyata kau masih belum bisa membedakan beberapa jenis kuda dari berbagai tempat itu."
"Aku mana bisa dibanding kau yang ahli dalam bidang ini? Mohon petunjukmu."
"Seekor yang bertubuh kecil kurus tapi kelihatan gagah dan kekar itu adalah kuda kelahiran Siau-kim-jwan. Tahukah kau Teng-tayjin itu datang dari Siau-kim-jwan?"
"Lalu yang mati itu?"
"Itulah kuda kelahiran Thio-keh-gau. Menurut yang diketahui, kuda tinggi tegap berkepala besar seperti itu sering digunakan dalam pasukan perang."
"Kalau demikian, dua orang yang kehilangan kuda ini kemungkinan adalah Teng-tayjin dan Ting Tiau-tang."
"Pasti tidak salah."
Nyo Hoa bertanya perlahan di pinggir telinga Ting Tiau-tang.
"Apakah kudamu mati waktu naik ke atas gunung? Kenapa?"
"Dari mana kau tahu?"
Balas tanya Ting Tiau-tang heran.
"Waktu kami naik gunung, kebetulan keben-tur salju gugur, untung hanya gunung gugur yang tak seberapa, hanya kuda kami yang mati dan luka parah, kami berdua syukur tidak kurang suatu apa."
Ternyata dia belum mendengar percakapan dua orang yang mendatangi. Sekarang kedua orang ini sudah lebih dekat, maka percakapan mereka sudah terdengar.
"Jikalau berhasil menemukan dan menyambut mereka pulang, tentu tidak kecil pahala kita,"
Terdengar berkata lagi.
"Kemarin jikalau majikan kita tidak menangkap seorang gadis belia, hari ini pasti datang sendiri. Padahal ini memangnya bakal menjadi bagian kita."
"Siapa gadis itu; apa kau tahu?"
"Kabarnya puteri Kim Tiok-liu."
"Maksudmu Kim Tiok-liu jago pedang nomor satu itu?"
"Siapa bilang bukan. Karena itu setelah majikan tahu asalusulnya, beliau merasa serba susah, tak tahu bagaimana dia harus bertindak."
Karuan Nyo Hoa terperanjat mendengar kabar buruk Kim Bikin, jantungnya seperti hendak melonjak keluar.
Sekarang Ting Tiau-tang juga sudah mendengar suara derap kuda, wajahnya seketika menampilkan rasa girang.
Sekali tepuk Nyo Hoa hancurkan sebuah batu, lalu berkata.
"Jangan kau kira kedatangan penolong, nanti kau harus dengar petunjuk, anggaplah aku sebagai temanmu. Kalau berani membangkang, kepalamu bakal remuk seperti batu ini."
Lalu dia membuka hiatto Ting Tiau-tang, Karena ketakutan Ting Tiau-tang mengiakan berulang kali.
Kedua orang itu sudah berada di pengkolan gunung, mendengar ringkik kuda Nyo Hoa, lekas mereka angkat kepala, dilihatnya kuda merah itu sedang makan rumput, maka mereka berteriak girang.
"Nah,itu disana."
"He, he, yang di atas itu apakah Teng-tayjin dan Ting-tayjin?"
Nyo Hoa berbisik di telinga Ting Tiau-tang.
"Bersikaplah wajar, kalau sengaja kau memperlihatkan sikap yang membuat mereka curiga, umpama tidak segera kubunuh kau, tulang pundakmu akan kuremas biar hancur."
Ting Tiau-tang segera melompat berdiri, teriaknya.
"Betul, aku adalah Ting Tiau-tang."
Setelah dekat, kedua orang itu melompat turun terus memberi hormat.
Melihat Nyo Hoa masih sedemikian muda, tidak mirip Teng Tiong-ai yang sudah ternama sebagai kepala Ngo-koan, mereka merasa heran, tanyanya.
"Tuan ini...."
Nyo Hoa segera menjawab.
"Aku adalah pembantu Ting-tayjin, kami ketemu salju gugur, kuda Teng-tayjin dan kudaku mati dan terluka, tinggal kuda Ting-tayjin saja yang selamat Kami tersesat di tengah gunung, untung kami temukan sumber air di sini sehingga tidak kedinginan."
"Mana Teng-tayjin?"
Tanya kedua orang itu.
"Dia, dia..."
Ting Tiau-tang gelagapan. Lekas Nyo Hoa menyambung.
"Teng-tayjin terburu nafsu, dia bilang daripada menunggu di sini lebih baik aku pergi mencarinya. Ting-tayjin tidak berhasil membujuknya. Kira-kira dua jam yang lalu, seorang diri dia turun gunung mencari orang kalian."
Sampai di sini matanya melirik ke arah Ting Tiau-tang.
Tiga tahun yang lalu Ting Tiau-tang pernah menjadi tamu Kang Poh, lapat-lapat masih kenal kedua orang ini memang kepercayaan Kang Poh,.
tapi dia tahu kepandaian kedua orang ini teramat rendah maka hatinya amat kecewa.
Segera dia mengikuti nada Nyo Hoa, katanya.
"Teng-tayjin terlalu mengagulkan kepandaian sendiri, kubujuk supaya dia tidak menempuh bahaya, dia bilang tidak takut, suruh kami tidak usah menguatirkan keselamatannya."
Menyusul Nyo Hoa menyambung lagi.
"Teng-tayjin meninggalkan kuda ini untuk keperluan kami bila diperlukan. Katanya dua hari kemudian, bila dia tetap tidak kembali, kami dianjurkan turun gunung juga. Sebelum pergi Teng-tayjin malah membidik jatuh seekor elang besar, kami sudah menghabiskan separo, perut sudah kenyang."
Kedua orang itu kaget, katanya.
"Wah, inilah elang salju yang ganas, harimau pun bukan lawannya."
Ternyata mereka percaya akan obrolan Nyo Hoa.
Kedua orang ini sudah sekian hari hanya makan ransum kering, mumpung dapat ganti menu maka mereka pun tidak sungkan.
Dari tangan Nyo Hoa mereka terima sisa daging elang panggang itu serta dimakan dengan lahap.
Dari samping Ting Tiau-tang mengawasi mereka makan, katanya.
"Kurasa seperti sudah kenal muka kalian."
"Agaknya Ting-tayjin pelupa,"
Ucap laki-laki berbadan kurus.
"Tiga tahun yang lalu, waktu kau bertamu ke tempat kami, bukankah aku pernah menyambutmu? Aku bernama Sona, dia bernama Lidi."
"Oh iya, aku ingat sekarang. Eh, bagaimana keadaan majikan kalian?"
Tanya Ting Tiau-tang.
"Baik-baik saja. Sebetulnya majikan akan menyambut sendiri kedatangan kalian, secara kebetulan beberapa hari yang lalu beliau terbentur suatu perkara yang runyam."
"Perkara runyam .apa?"
Ting Tiau-tang menegas. Lidi tertawa, katanya.
"Ting-tayjin tentu sudah tahu kegemaran majikan kami. Siapa kira gadis yang diincarnya kali ini seumpama bakpao yang panas sukar ditelan."
"Siapakah gadis itu?"
Tanya Ting Tiau-tang.
"Puteri jago pedang nomor satu di dunia Kim Tiok-liu."
Nyo Hoa sudah tahu, maka dia tidak merasa kaget atau heran. Sebaliknya Ting Tiau-tang terbeliak kaget, serunya.
"Puteri Kim Tiok-liu bagaimana bisa jatuh ke tangan kalian?"
"Semula pihak kami tidak tahu siapa dia, karena seorang diri menempuh perjalanan. Kami berhasrat menangkapnya untuk dipersembahkan kepada majikan. Gadis itu memang tidak malu sebagai puteri Kim Tiok-liu, beberapa orang kami dihajarnya babak belur malah."
"Kalau dia begitu libay, cara bagaimana kalian bisa membekuknya?"
Tanya Nyo Hoa. Sona membusungkan dada, katanya.
"Kami pakai akal. Majikan banyak membuka restoran di sepanjang jalan itu, kami yakin dia akan menginap di salah satu penginapan atau makan di restoran, maka di dalam air minumnya kami campur dengan Bong-han-yok."
"Belakangan bagaimana kalian bisa tahu kalau dia puteri Kim Tiok-liu?"
Tanya Nyo Hoa.
"Dia sendiri yang bilang,"
Kata Lidi. Sona melanjutkan.
"Gadis ini masih muda tapi lwekang-nya amat tangguh, orang lain akan pulas sehari penuh segera setelah minum obat bius itu, kami menunggang kuda kilat membawanya ke. rumah majikan, hanya setengah hari dia siuman. Dia mengancam bila berani mengusik seujung rambutnya, ayahnya pasti akan membunuh kami habis-habisan."
"Semula majikan tidak ambil perhatian, dengan tertawa dia tanya.
"Gadis manis, kenapa suka membual, siapa sih ayahmu?"
Gadis itu menjawab lantang.
"Ayahku adalah jago pedang nomor satu di seluruh dunia, Kim Tiok-liu."
"Karuan majikan kaget, kebetulan datang dua orang tamu dari kota, kedua tamu ini kenal gadis itu memang benar puteri Kim Tiokliu, maka majikan menyekapnya."
"Siapakah kedua tamu itu?"
Tanya Nyo Hoa. Sona sudah buka mulut, namun Lidi segera mengedipkan mata kepadanya, katanya.
"Pergaulan majikan kami amat luas, kedua tamu itu baru pertama kali datang, kami tidak tahu siapa mereka."
Diam-diam Nyo Hoa perhatikan, dilihatnya Lidi mengedipkan mata kepada temannya, maka dia menduga kedua orang ini mungkin menaruh curiga terhadap dirinya, maka dia tidak tanya lagi.
Sehabis makan Lidi menggeliat lalu berdiri, katanya.
"Hayolah kita berangkat lebih dini. Tapi kita berempat, kuda hanya tiga ekor, bagaimana menempuh perjalanan?"
Sona berkata.
"Saudara cilik, kau menunggang dengan aku saja"
Lalu tangannya menarik Nyo Hoa.
Mendadak tubuhnya setengah jongkok serta menarik Nyo Hoa ke pundaknya terus dibanting.
Ternyata Sona seorang ahli gulat, jurus yang dilancarkan adalah jurus Jian-jiu-sek andalannya Ting Tiau-tang terkejut.
Kejadian di luar dugaannya, cukup sejurus Jian-jiu-sck ternyata Nyo Hoa sudah terbeku k.
Ting Tiautang girang bukan main, lekas dia melolos golok memburu maju hendak memenggal kepala Nyo Hoa.
Tak nyana sebelum dia bergerak, keadaan ternyata sudah berubah.
Didengarnya Nyo Hoa berkata dingin.
"Tak usah pakai empat ekor kuda, tiga ekor juga sudah kelebihan."
"Bluk"
Yang terbanting bukan Nyo Hoa, sebaliknya Sona.
Pengalaman Nyo Hoa memang masih cetek, namun taraf kepandaiannya entah berapa lipat lebih dari Sona, mana mungkin dia kecundang?
Sebelum Sona membantingnya dia sudah menotok Ki-ti-hiat Sona malah.
Kebetulan Lidi sudah memburu tiba sambil angkat pecut terus memukul.
Karena kaget lekas Ting Tiau-tang masukkan kembali goloknya ke dalam sarungnya Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Kau pun rebah saja"
Ujung pecut orang dipegangnya terus melompat tinggi ke depan, sebelum Lidi lepaskan gagang pecutnya, lehernya sudah ter-jirat oleh pecut sendiri, karuan ia jatuh pingsan.
Lekas Ting Tiau-tang berteriak.
"Nyo-siauhiap, barusan aku ingin membantumu, jangan kau salah paham."
Nyo Hoa tertawa dingin, bentaknya.
"Terima kasih, berdirilah di pinggir saja"
Sembari bicara satu tangan satu dia kempit Sona dan Lidi, katanya tertawa.
"Lahir batin kalian teramat kotor, silakan kalian mandi biar bersih."
Sudah tentu Sona dan Lidi meratap minta ampun. Nyo Hoa seorang bajik, tujuannya hanya menggertak saja, dengan gelak tawa dia lempar mereka serta menotok biatto pelemasnya, katanya.
"Jiwa kalian akan kuampuni bila kalian bicara jujur."
Sona dan Lidi mengiakan.
"Nona Kim itu disekap di mana?"
Tanya Nyo Hoa.
"Di dalam Hiong-eng-kek,"
Sahut Sona. Nyo Hoa ambil ranting pohon diserahkan kepadanya, katanya.
"Gambarkan petanya supaya kuperiksa, penjelasannya juga harus terperinci. Jangan kira aku gampang dipermainkan, bila aku bekerja menurut gambar tidak berhasil, aku akan kembali kemari membuang kalian ke dalam sumber air panas itu."
Sona bimbang setengah percaya namun sikapnya kelihatan takut, katanya.
"Terima kasih kau tidak membunuh kami. Siaujin mana berani berbohong."
"Memangnya kau berani. Ketahuilah, yang kugunakan adalah totokan Jong-jiu-hoat, dalam jangka tiga hari kalian tidak akan bisa bergerak. Apalagi setelah tiga hari, walau kalian bisa bergerak jikalau tidak memperoleh obat penawarku, setengah tahun kemudian jiwa kalian bakal terancam."
Sampai di sini, mendadak kedua tangan bekerja, geraham kedua orang dia pencet hingga mulut terbuka lebar, dengan gerak cekatan Nyo Hoa jejalkan sebutir pil obat ke dalam mulut mereka.
Obat itu amis dan getir, begitu masuk mulut lantas lumer dan tertelan.
Meski merasa jijik kedua orang ini ketakutan, mereka duga pil obat yang dijejalkan ke mulut mereka oleh Nyo Hoa pasti obat beracun.
"Kadar racun yarg kalian telan barusan memang tidak terlalu lihay, setengah tahun kemudian baru akan kumat Tapi bila mulai kumat kalian akan tersiksa empatpuluh sembilan hari baru perut pecah membusuk dan mati. Maka sebelum setengah tahun kalian harus menerima obat penawarnya dari tanganku."
Lalu Nyo Hoa membuka totokan hiano Sona, dengan ranting kayu Sona mulai melukis di atas tanah berpasir lalu memberi penjelasan secara terperinci.
Perlu diketahui Kang Poh adalah hartawan paling besar di Tibet timur, rumah kediamannya dibangun semegah istana raja di taman bunga juga dibangun gardu, gedung berlubang dan panggung sembahyang, segala bentuknya seperti bangunan megah di Kanglam, batu yang digunakan membangun gunungan dalam taman itu pun didatangkan dari Kahglam, Hiong-eng-kek tersembunyi di tengah dua gunungan, kalau tidak tahu seluk beluk daerah itu sukar menemukan tempatnya.
"Hohan, peta sudah kugambarkan,"
Demikian ucap Sona.
"tidak sukar kau menemukan Hiong-eng-kek, tapi kuharap jangan kau menempuh bahaya."
"Kenapa?"
Tanya Nyo Hoa.
"Di dalam dan di sekitar Hiong-eng-kek dipasangi banyak alat rahasia dan perangkap."
"Alat rahasia apa?"
"Hanya majikan yang tahu rahasia itu, hamba orang rendah tidak tahu jelas."
"Katakan saja apa yang kau ketahui."
"Kabarnya ada panah beracun, papan jeplakan, manusia tembaga, dinding berlapis dan banyak lagi alat rahasia lain. Hiongeng-kek adalah daerah terlarang, tempat itu dibangun majikan dan beberapa pekerja, tiada orang lain yang tahu. Hohan, kepandaianmu memang tinggi, namun seorang diri, kurasa, kurasa...."
Tak usah kau khawatir. Ingat hanya aku yang bertanya dan kau harus menjawab,"
Demikian bentak Nyo Hoa. Diam-diam dia amat geli dalam hati melihat betapa takutnya kedua orang ini setelah dia jejal pil obat yang dia pelintir dari daki badannya. Nyo Hoa berkata.
"Siapakah kedua tamu yang kenal puteri Kim tayhiap itu?"
Sekarang giliran Lidi menjawab.
"Majikan memanggil mereka Matayjin dan Ciu-tayjin, sikapnya amat hormat, agaknya mereka punya jabatan tinggi di kalangan pemerintahan."
Nyo Hoa lantas mcnotok Yang-ko dan Im-wi, dua hiatto besar di tubuh mereka sehingga tubuh mereka lumpuh separo.
Hanya lengan kanan saja yang dapat bergerak.
Nyo Hoa meninggalkan sekantong ransum yag cukup untuk makan tiga hari.
Dalam perjalanan Nyo Hoa merias dirinya menjadi seorang lakilaki setengah umur dan menyamar jadi pengikut Ting Tiau-tang.
Ting Tiau-tang menunggang seekor kuda, seekor lagi digandeng.
Nyo Hoa tetap menunggang kuda miliknya di belakang, setelah menempuh perjalanan cukup jauh dengan laju yang cukup cepat.
Ting Tiau-tang harus berganti kuda tunggangan baru bisa menandingi kecepatan lari kuda Nyo Hoa.
Sudah tentu Ting tiautang tidak berani melarikan diri.
Nyo Hoa mengajaknya menempuh perjalanan tanpa istirahat, dua hari satu malam mereka melintasi padang rumput yang luas, sebelum magrib hari ketiga tak jauh di bawah gunung di depan sana kelihatan deretan rumah-rumah penduduk bergen teng hijau bertembok merah di antara pepohonan yang hidup subur menghijau permai.
Ting Tiau-tang berkata.
"Di depan itulah taman kembang Kang Poh, Nyo-siauhiap, kau..."
Dia kira setelah berada di sini betapapun besar nyali Nyo Hoa pasti akan berpisah dengan dirinya. Tak nyana Nyo Hoa hanya berkata tawar.
"Ting-tayjin, aku belum ingin berpisah dengan kau. Hayo turun."
Ting Tiau-tang kaget, katanya.
"Nyo-siauhiap, kau sudah tahu letak dari Hiong-eng-kek, aku tidak akan membocorkan rahasiamu. Anak buahku pasti sudah tiba di tempat Kang Poh, mereka tahu aku tidak punya pengikut seperti dirimu, celakalah kau kalau penyamaranmu terbongkar."
"Kusuruh kau turun, dengar tidak?"
Bentak Nyo Hoa Apa boleh buat, Ting Tiau-tang segera melorot turun.
Kedua tangan Nyo Hoa bekerja, dia tepuk kepala kedua ekor kuda hingga mampus seketika, mayatnya diseret ke dalam semak belukar, lalu katanya.
"Kau berkuda dengan aku, akan kuanjurkan bagaimana kau nanti harus bicara."
Setiba di tempat kediaman Kang Poh, hari sudah petang.
Sesuai pesan Nyo Hoa, Ting Tiau-tang bilang di tengah jalan kepergok salju gugur, syukur terhindar dari petaka.
Pengikutnya ini adalah wisu anak buah Ting Tiong-ai, mati hidupnya sukar diramalkan, maka wisu yang selamat ini ikut dia kemari.
Nyo Hoa terlalu berani mengarang cerita bohong ini.
Jikalau Ting Tiong-ai sudah berada di sini, maka bualannya pasti terbongkar seketika, tapi Nyo Hoa yakin, tanpa kuda tunggangan, badan terluka lagi, Ting Tiong-ai pasti takkan lebih cepat sampai di sini.
Penjaga pintu kenal baik dengan Ting Tiau-tang, maka dia tidak menaruh curiga kepada bualannya, lalu membawanya masuk.
Nyo Hoa ikut di belakang.
Sebelum mereka masuk ruang tamu, Kang Poh yang mendapat laporan sudah menyongsong keluar.
Melihat orang-orang yang ikut Kang Poh keluar bukan saja tiada Teng Tiong-ai, anak buah Ting Tiau-tang juga tidak ada, mungkin Kang Poh terburu-buru keluar menyambut sehingga belum sempat memberi tahu mereka.
Untuk masuk ruang tamu harus melewati undakan batu sebanyak dua tigapuluhan undakan, Kang Poh melangkah turun dan berkata.
"Ting-tayjin tentu banyak capek dan kaget, maaf bila penyambutanku kurang sempurna, silakan masuk, kita minum beberapa cangkir untuk menenteramkan hati."
Mendadak dari belakang rombongan, dua orang memburu turun, mereka bukan lain adalah Ma Gun dan Ciu Jan. Ma Gun menegur lebih dulu.
"Lo-ting, kabarnya kalian tercegat salju gugur, bagaimana keadaan Ting Tiong-ai?"
Ciu Jan sebaliknya tertegun, mendadak dia berteriak.
"Lo-ting, dari mana kau bawa pengikutmu ini? Agaknya aku sudah kenal."
Kang Poh bukan seorang gegabah, segera dia sadar pengikut Ting Tiau-tang tidak sepantasnya berlaku kurang ajar, lekas dia menyurut mundur, tapi juga sudah terlambat.
Begitu Ciu Jan habis bicara, Nyo Hoa sudah melompat dengan gerakan Ui-hou-ciong-siau, di kala tubuhnya melambung ke atas, kakinya menendang sehingga Ting Tiau-tang jatuh terguling ke bawah undakan.
Laksana burung elang menerobos hutan, di tengah udara Nyo Hoa membalik tubuh dari atas membalik turun mencengkeram ke arah Kang Poh.
Kepandaian Kang Poh tidak lemah, ilmu gulatnya amat lihay, mendadak dia gunakan Hong-tiamthau, kedua tangan bcrbalik mencengkeram pergelangan tangan Nyo Hoa Di belakang Kang Poh berdiri seorang kepercayaannya, tak sempat melolos golok, kontan dia menggenjot dengan tinjunya Dalam waktu yang sama Ma Gun dan Ciu Jan melompat ke undakan sambil melolos senjata.
"Biang"
Tinju orang kepercayaan Kang Poh dengan telak mengenai punggung Nyo Hoa, tapi bukan Nyo Hoa yang terpukul roboh, justru penyerangnya sendiri yang terpental jatuh terguling-guling.
Selama setahun Nyo Hoa menggembleng diri dalam Ciok-lin, ilmu pedangnya sudah sempurna, Iwc-kang-nya pun setaraf dengan tingkat pelajaran ciptaan Thio Tan-hong, kalau hanya untuk menghadapi pukulan seorang yang memiliki tenaga kasar jauh berkelebihan.
Apalagi Nyo Hoa gunakan Can-ih-cap-pwe-tiat, Iwekang tingkat tinggi, mana penyerangnya itu mampu menahannya?
Makin keras pukulan, tenaga yang kembali pun makin keras, setiba di bawah undakan orang itu pun pingsan.
Justru gerakan menangkap terbalik yang dilancarkan Kang Poh itu lebih lihay, kedua pergelangan tangan Nyo Hoa berhasil dipegangnya, tapi begitu dia memegang pergelangan tangan Nyo Hoa, seketika dia rasakan gelagat tidak menguntungkan dirinya.
Karena yang dipegangnya seperti bukan pergelangan tangan manusia, tapi lebih mirip dua tongkat besi yang dingin dan keras sehingga jari tangan sendiri yang mencengkeram kesakitan.
Saking kaget, lekas Kang Poh lepas pegangannya, tapi Nyo Hoa tertawa dingin, jengeknya.
"Sekarang rasakan juga Kim-na-jiu-hoat-ku ini."
Gerakannya secepat kilat, belum habis dia bicara, lawan sudah tercengkeram olehnya Baru saja Ma Gun dan Ciu Jan melompat tiba di undakan, dengan Hun-kin-joh-kut-jiu-hoat dia kerahkan sedikit tenaganya menelikung, seketika Kang Poh menjerit kesakitan.
Nyo Hoa membentak.
"Siapa tidak hiraukan jiwa Kang Poh, boleh maju."
Baru sekarang Ma Gun dan Ciu Jan tahu dengan siapa mereka berhadapan, karuan mereka berjingkrak gusar, dampratnya.
"Bagus, kiranya kau bocah keparat ini."
Nyo Hoa menyeringai tawa, katanya.
"Betul, aku memang ingin membuat perhitungan dengan kalian, kawanan cakar alap-alap ini."
Kang Poh berteriak dengan suara serak.
"Kalian jangan bergerak, damai sajalah."
Nyo Hoa tertawa, katanya "Nah kan begitu, marilah kita barter secara adil."
"Barter secara adil bagaimana?"
Tanya Kang Poh.
"Bebaskan puteri Kim tayhiap baru kubebaskan dirimu. Satu tukar satu, adil bukan?"
"Baiklah,"
Ucap Kang Poh setelah berpikir sejenak.
"tapi untuk membebaskan nona Kim itu aku sendirilah yang harus mengeluarkan dia dari kurungan."
"Boleh, aku ikut dengan kau, memangnya kau bisa berbuat apa di tanganku,"
Ucap Nyo Hoa.
Sebelah tangan mencengkeram punggung leher Kang-Poh yang gempal, sebelah tangannya lagi mengancam punggungnya.
Bila terjadi sesuatu yang mencurigakan, cukup Nyo Hoa kerahkan tenaga, jantungnya akan tergetar pecah dan jiwa pun melayang.
Sambil menyeringai Nyo Hoa membentak.
"Suruh mereka berdiri di tempatnya, jangan banyak gerak sampai kita keluar lagi."
Lalu dia gusur Kang Poh ke dalam.
Mendadak dilihatnya dua Lama berkasa merah berdiri di bawah pohon besar yang letaknya di pengkolan mulut jalan, seperti mayat yang kaku, pucat menakutkan, tak bergerak, namun bola matanya melotot menatap Nyo Hoa Di samping wajah pucat menguning seperti malam, ternyata pelipis kedua Lama ini menonjol, itulah tanda khas bagi setiap jago silat yang berhasil meyakinkan Iwekang sesat yang telah sempurna Tapi sandera di tangan Nyo Hoa dia tidak perlu takut Tak nyana kedua Lama ini ternyata berani bertindak.
Di luar dugaan Lama yang bertindak lebih dulu ini bukan menyerang Nyo Hoa, tapi pukulanya mendarat di tubuh Kang Poh.
Yang menyerang Nyo Hoa adalah Lama yang berdiri di sebelah kiri, bila Nyo Hoa menggusur Kang Poh tiba di depan mereka, mendadak dia menyelinap ke samping seperti memberi jalan, tak nyana mendadak telapak tangannya didorong ke dada Kang Poh.
Tergentak oleh tenaga pukulan keras ini, tanpa kuasa Nyo Hoa tersurat dua langkah, tangan yang memegang dan mengancam di badan Kang Poh tergetar lepas.
Kejadian memang aneh, Kang Poh yang terpukul langsung oleh telapak tangan si Lama ternyata tidak terluka, dia hanya terhuyung beberapa langkah serta berputar satu kali terus disambar oleh Lama yang lain terus menyingkir.
Perlu diketahui kepandaian aliran Mi-ciong dari Tibet bersumber dari Thian-tiok, ajarannya berbeda dengan ilmu silat di Tionggoan umumnya.
Kedua Lama ini jago ko-sen dari Mi-ciong, seorang bergelar Sekari dan yang lain Seto.
Yang memukul Kang Poh tadi adalah Sekan.
Pukulan Sekan memang ditujukan kepada Kang Poh, namun tenaga pukulannya justru tersalur ke tubuh Nyo Hoa, ilmu yang dilancarkan ini dinamakan Kek-bu-coan-kang (Memukul lembu dari balik bukit), maka Kang Poh yang terkena langsung oleh pukulan itu tidak apa-apa, sebaliknya Nyo Hoa malah yang terpukul mundur oleh kekuatan pukulan orang.
Begitu pukulan Sekan berhasil memukul mundur lawan, sebat sekali Seto bergerak menarik Kang Poh ke pinggir, berbareng dia copot kasa merah di tubuhnya, laksana segumpal mega merah kasanya itu menindih kepala Nyo Hoa.
Kontan Nyo Hoa menusuk dengan pedang, terdengar suara mendesis ramai, kasa merah itu seketika berlubang belasan banyaknya tapi masih berkibar di atas kepala Nyo Hoa, seperti tidak takut menghadapi pedang pusakanya.
Gebrakan kedua pihak dilancarkan dalam waktu singkat seperti kilat berkelebat, sehingga yang kelihatan hanya sinar putih yang terbungkus oleh gumpalan mega merah.
Kang Poh sudah bebas, dengan gusar dia bertanya.
"Siapa orang ini?"
Ting Tiau-tang tidak tahu asal-usul Nyo Hoa, maka dia tidak dapat menjawab pertanyaan Kang Poh, tapi dia tahu bahwa pemuda ini adalah orang yang pernah mengalahkan Si-ceng, Si-to dan Ngokoan di Siau-kim-jwan.
Kecuali itu dia hanya tahu bocah ini she Nyo, tapi Nyo Hoa sendiri yang memperkenalkan diri, betul atau tidak pun tidak pasti.
Apalagi yang teringat olehnya adalah urusan yang amat penting dan harus diberitahukan kepada Kang Poh, maka persoalan penting harus dibicarakan lebih dulu.
Yang ingin disampaikan kepada Kang Poh adalah bahwa Nyo Hoa sudah tahu rahasia Hiong-eng-kek.
Tapi sebelum dia sempat menyebut nama Hiong-eng-kek, mendadak dadanya sakit dan panas, seketika dia jatuh tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Dia tahu apa?"
Tanya Kang Poh. Mendadak dilihatnya Ting Tiautang roboh seperti tonggak kayu berdentam di atas tanah. Seorang busu di samping Kang Poh memburu maju meraba hidung, segera dia berteriak.
"Wah celaka, Ting-tayjin sudah mati."
Busu ini semula seorang begal besar dari kalangan hitam, pengetahuannya cukup lumayan, melihat Ting Tiau-tang mati secara aneh, segera dia menyangka orang rersambit oleh senjata rahasia musuh, lekas dia sobek pakaian di depan dada, di bagian ulu hati memang menancap sebatang bwe-hoa-ciam.
Seketika dia mengkirik dan merinding, teriaknya pula.
"Ada matamata. Awas ada pembunuh gelap...."
Sebelum bicara habis seperti keadaan Ting Tiau-tang tadi, mendadak dia merasa kesakitan, sebatang toh-kut-ting ternyata menembus tenggorokannya.
Karuan anak buah Kang Poh geger dan kacau balau, terdengar senjata rahasia menyambar kian kemari, agaknya penyambit gelap itu tidak ingin membunuh banyak orang, maka sambaran amgi yang banyak ini hanya melukai beberapa orang dan memadamkan obor.
Penyambit amgi hanya seorang, tapi amgi menyambar kian kemari selebat hujan.
Hanya sekejap seluruh obor yang menyala sudah tertimpuk padam.
Malam itu tiada rembulan, keadaan menjadi gelap gulita, dalam jarak lima tombak bayangan orang samar-samar.
Kejut dan girang hati Nyo Hoa, dia tahu seorang kosen sengaja membantu dirinya.
Musuh terlalu banyak, hanya dengan cara demikian baru bisa menolong Nyo Hoa meloloskan diri.
Karena keadaan mendadak menjadi gelap, siapa pun tak berani sembarangan bergerak.
Mendadak Seto merasakan sebuah bayangan melesat dari sampingnya, khawatir Nyo Hoa melarikan diri, kontan dia ayun kasanya menggulung ke luar.
Bayangan itu menjerit.
"Jangan, aku....", namun kasa Seto sudah menggulungnya pergi hingga terbanting keras, kaki tangan di sebelah atas. Bayangan hitam ini ternyata Chi Jan adanya Cepat Ma Gun memperingatkan.
"Jangan ribut, berdiri di tempat masing-masing, sulut lagi obornya."
Sebagai wakil komandan Gi-limkun, ternyata dia memang punya bakat jadi pimpinan. Di sebelah kanan, Kang Poh juga berbisik.
"Mana orangku."
Begitu dia bersuara, amgi segera memberondong ke arahnya Untung Kang Poh sembunyi di belakang Sekan. Sekan pandai mendengar suara membedakan senjata.
"Cring"
Beruntun tiga kali dia jentik jatuh tiga potong toh-kut-ting.
Ma Gun putar cambuknya rapat, maka terdengar suara gemerisik, segenggam bwe-hoa-ciam telah dipukulnya rontok berhamburan di tanah.
Ma Gun tertawa pongah, jengeknya.
"Melukai orang dengan amgi terhitung orang gagah macam apa. Hm, memangnya kau mampu berbuat apa terhadapku."
Belum habis dia bicara, mendadak terasa sejalur angin melesat tiba, sebatang amgi mendadak sudah berada di depan mukanya, cambuknya ternyata tidak mampu merintangi, lekas Ma Gun gunakan Hongtiam-thau.
Yang menyerang tiba ini sebatang kong-piau, jidatnya keserempet sehingga darah mengalir deras.
Saking terkejut Ma Gun berteriak, syukur dia sempat berkelit, kalau tidak kong-piau itu pasti sudah menancap di mukanya.
Ternyata penimpuk amgi memang seorang ahli, sebatang kong-piau yang berat bobotnya dia campur dalam bwe-hoa-ciam, ternyata tidak mengeluarkan banyak suara, seperti timpukan bwe-hoa-ciam saja.
Setelah kong-piau tiba pada jarak dekat baru Ma Gun menyadari jiwanya terancam.
Melihat wakil komandan Gi-lim-kun pun cidera, sudah tentu anak buah Kang Poh takut bila dirinya menjadi sasaran amgi.
Maka tiada seorang pun yang berani bersuara.
Sudah tentu tiada seorang pun yang berani menyulut api menyalakan obor.
Di tengah keributan itulah, diam-diam Nyo Hoa sudah menyelinap pergi, tapi dia tidak rela tinggal pergi begitu saja.
Apalagi dia sudah tahu letak dan seluk beluk Hiong-eng-kek.
Ketegangan masih meliputi orang-orang yang diteror oleh sambitan amgi, mumpung ada kesempatan kenapa tidak sekarang dia pergi menolong orang, demikian batinnya Sesuai petunjuk yang digambarkan Sona dia bergerak ke arah timur, di mana letak Hiong-eng-kek.
Tapi bergerak di tempat gelap, betapapun cukup memakan waktu, apakah dia bisa mencapai Hiong-eng-kek sebelum anak buah Kang Poh memburu tiba sukar diramalkan.
Tak lama kemudian, tampak obor sudah mulai menyala di bagian sana, agaknya anak buah Kang Poh yang tersebar di tempat lain sudah memburu datang.
Satu hal membuat Nyo Hoa kaget dan girang adalah kecuali barisan obor yang bergerak di bagian selatan itu, di arah yang berlawanan dengan letak Hiong-eng-kek ternyata berkobar si jago merah yang menyala semakin besar, asap hitam bergulung-gulung menjulang ke angkasa, jelas seseorang telah melepas api, entah rumah apa yang dibakar.
Sayup-sayup didengarnya seseorang berteriak.
"Wah, celaka; tolong, istal kuda terbakar."
Kuda adalah salah satu yang digemari Kang Poh, koleksi kudanya tidak terhitung banyaknya.
Istal yang terbakar justru tempat di mana dia memelihara kuda-kuda pilihannya yang tidak ternilai harganya.
Mendengar istal terbakar, karuan gugupnya bukan kepalang, bentaknya berjingkrak.
"Kalian masih me-lenggong saja? H ayo, lekas padamkan api."
Di bawah kerumunan anak buahnya yang berkepandaian tinggi, obor sudah menyala terang benderang pula, maka tak perlu dia takut diserang amgi.
Hiong-eng-kek penuh dipasangi alat rahasia, orang luar takkan mudah masuk ke sana, maka dia tidak perlu khawatir keadaan di Hiong-eng-kek, lebih penting memadamkan api yang menjilat istal kudanya Kalau Kang Poh memperhatikan kudanya, sebaliknya Ma Gun memperhatikan puteri Kim Tiok-liu, sambil mengerutkan alis dia berbisik.
"Kang-sianseng, Hiong-eng-kek juga harus dijaga"
Sambil berjalan Kang Poh berkata.
"Tak usah khawatir. Orang luar pasti takkan bisa masuk ke sana."
"Aku tahu, tapi musuh yang datang malam ini bukan lawan semba-rangan, apa salahnya berlaku hati-hati. Bukan soal kebetulan kita berhasil membekuk puteri Kim Tiok-liu, jikalau dia tertolong orang, kelak kau akan terancam oleh bapaknya Sat-congkoan dan Hay-tayjin tentu akan marah-marah kepada kita."
Bahwa Kim Tiok-liu diam-diam membantu pihak gerilya menentang kerajaan, sejak lama sudah diketahui oleh Sat-congkoan dan Hay-jong-ling, tapi karena kungfunya terlalu menakutkan, jagojago kosen yang diutus menangkapnya tiada yang pernah kembali, kalau mengerahkan pasukan besar, terlalu membesarkan persoalan, apalagi sebelum bertindak bila berita sudah tersiar hasilnya tentu nihil.
Maka pihak kerajan tidak berani bertindak gegabah.
Tanpa sengaja anak buah Kang Poh dapat menawan puteri Kim Tiok-liu.
Kebetulan Ma Gun dan Ciu Jan berada di tempatnya, sudah tentu girangnya bukan main, tapi mereka harus menyelesaikan urusan dinas ke Lhasa, khawatir di tengah jalan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan mereka tidak berani mengurus Kim Bik-ki.
Maka dia mengusulkan kepada Kang Poh supaya Kim Bik-ki dikurung saja di Hiong-eng-kek, bila urusan dinas mereka di Lhasa beres, dengan pasukan besar akan mengawal Kim Bik-ki di dalam kereta pesakitan ke kota raja Dengan menyandera Kim Bik-ki akan lebih mudah menghadapi Kim Tiok-liu.
"Berhati-hati memang lebih baik. Silakan Seto taysu bersama Matayjin dan Ciu-tayjin memeriksanya ke sana."
Sekan berkepandaian lebih tinggi, dia merasa di bawah pengawalannya akan lebih aman, maka hanya.
Seto seorang yang diutus kesana.
Kang Poh kira orang luar takkan mudah masuk ke daerah H iong-eng-kek, di luar tahunya, saat itu Nyo Hoa sudah naik ke atas H iong-eng-kek.
Letak istal yang terbakar itu di sebelah utara taman, luasnya ada beberapa hektar, sedang Hiong-eng-kek terletak di bagian tenggara, arahnya terbalik, jaraknya pun jauh.
Tapi cahaya api kebakaran di kejauhan, ternyata sedikit membantu Nyo Hoa sehingga dia lebih jelas menentukan arah.
Sesuai gambar yang pernah dilihatnya, akhirnya dia menemukan gunungan yang kedua itu.
Hiong-eng-kek terapit oleh kedua gunungan ini, kedua sayap bangunannya malah bergantung di atas dinding karang, jadi letak bangunan loteng itu bergantung di udara.
Tapi mulut yang terletak di celah-celah apitan batu gunung itu seketika membuat Nyo Hoa berdiri melenggong.
Di belakang mulut masuk ini dia menemukan sebuah galian tanah yang dalam, sebuah batu bundar sebesar meja menggeletak di dalam lubang, di pinggir galian tertumpuk pasir yang masih bergerak turun.
Kelihatannya batu besar itu baru saja terjatuh ke dalam galian ini.
Nyo Hoa menduga galian ini pasti merupakan salah satu jebakan, maka dia menduga pasti seseorang sudah mendahului tiba di sini dan menyentuh alat rahasianya Walau dia menduga ada seorang kosen membantu, namun hanya dugaan belaka.
Apa betul seseorang telah mendahului dirinya namun belum diketahui dia lawan atau kawan.
Maka dia hanya mengharap tapi juga mempersiapkan diri menghadapi keadaan paling buruk.
Begitu memasuki daerah kosong yang terapit oleh kedua gunungan, cahaya api di kejauhan sudah terhalang oleh gunungan, sehingga keadaan sekitarnya gelap gulita Nyo Hoa kertak gigi, mengembangkan ginkang dia merambat naik ke atas gunungan, mendadak dia melejit melambung, tangannya meraih lantas terus melompat masuk ke dalam Hiong-eng-kek.
Begitu dia berdiri di atas lantai, baru dia menemukan sebuah lubang di lantai loteng beberapa kaki di sebelah kakinya.
Diam-diam Nyo Hoa bersyukur dalam hati.
Terpikir olehnya bahwa jebakan ini semula pasti tertutup, perangkap tak mungkin dibiarkan terbuka sehingga musuh yang datang menemukan rahasianya Dengan perlahan dia terus maju ke dalam, anehnya Hiong-engkek yang penuh dipasangi jebakan dan alat rahasia ternyata dalam keadaan tenang dan sunyi.
Tapi Nyo Hoa tetap berlaku hati-hati, setelah melewati serambi, ternyata dia tidak mengalami hambatan atau bahaya Akhirnya dia,tiba di depan sebuah pintu, terasa kakinya menginjak sesuatu, waktu dia.membungkuk dan mengambil, ternyata sebatang panah pendek, masih banyak lagi senjata rahasia berbagai jenis berserakan di atas lantai, dipunguti pun akan menghabiskan banyak waktu.
Makin terkejut dan heran Nyo Hoa dibuatnya, namun dia menabahkan hati, pintu didorongnya, ternyata keadaan tetap tenang tiada alat rahasia bergerak.
Apakah Kim Bik-ki masih dikurung di dalam kamar ini?
Nyo Hoa tidak tahu apakah kamar ini untuk menyekap orang, entah dijaga tidak?
Khawatir ada penjaga, dia tidak berani memanggil Kim Bik-ki.
Tapi sebelum mendorong pintu dia menempelkan telinga di dinding mendengarkan keadaan di dalam.
Tiada suara apa pun, kelihatannya tiada penghuninya Sebetulnya Nyo Hoa sudah ingin mundur saja, tidak memeriksa di dalam.
Tapi mengingat sekian banyak senjata rahasia yang berserakan pasti ada sesuatu yang patut dicurigai, karena ini tangannya segera mendorong daun pintu.
Walau tidak menghadapi rintangan alat rahasia namun sikap Nyo Hoa tetap hati-hati, pedang pusaka dia genggam untuk menjaga segala kemungkinan, di tempat gelap dia perlahan maju.."Tring"
Dua kali ujung pedangnya menyentuh benda keras yang mengeluarkan suara nyaring.
Dari sentuhan itu terasa oleh Nyo Hoa pedangnya menyentuh rantai besi.
Kenapa di lantai ada rantai?
Apakah rantai yang semula membelenggu Kim Bik-ki?
Apakah Kim Bik-ki sudah ditolong orang?
Atau disekap di kamar lain?
Berbagai pertanyaan bergejolak dalam hatinya Di saat Nyo Hoa bertanyatanya dalam hati itulah mendadak terasa sambaran angin senjata tajam yang menyerang tiba, dari tempat gelap sebilah golok baja mendadak membacok kepalanya Untung pedang Nyo Hoa sudah terpegang di tangan, reaksinya pun cepat.
Sambil membuang badan ke pinggir, pedangnya bergerak dengan jurus Tui-toan-beng-gwat, dari bawah menepis miring ke atas memunahkan jurus lawan.
Penyerang itu bersuara heran, agaknya kaget dan heran menyaksikan reaksi Nyo Hoa yang lihay ini.
Tapi serangannya tidak menjadi kendor, sebelum pedang pusaka Nyo Hoa membentur golok baja, tajam goloknya mendadak dipelintir ke atas naik dari kiri turun dari kanan, bergerak belakangan namun mengincar sasaran lebih dulu, sekaligus dia melancarkan tigapuluh enam jurus bacokan golok.
Permainan golok orang ini ternyata jauh lebih cepat dari permainan pedang Nyo Hoa Nyo Hoa kembangkan Bu-beng-kiam-hoat yang berhasil disclaminya sendiri, di tempat gelap dia hanya mendengar suara membedakan arah, tanpa bersuara dia layani rang-sakan permainan golok kilat yang lihay.
Selama mengembara belum pernah Nyo Hoa menghadapi lawan yang mampu melancarkan serangan golok kilat selihay dan secepat ini.
Agaknya orang itu juga belum pernah mendapat lawan yang tangguh dan berilmu pedang begitu menakjubkan.
Kedua pihak sama-sama kaget dan heran, namun siapa pun tidak berani bicara supaya tidak memecah perhatian.
Hanya sekejap kedua orang ini sudah saling labrak timapuliih tujuh jurus, pedang dan golok hanya sekali saling bentur.
Nyo Hoa rasakan telapak tangannya tergetar perih namun golok orang itu gumpil sedikit Walau hanya sekejap senjata bentrok sekali saja namun dalam serang menyerang sekejap itu kedua pihak sudah melancarkan serangan yang lihay dan mematikan, berarti kedua pihak pernah menghadapi saat-saat genting dan berbahaya.
Siapa sedikit lena kemungkinan kepala bisa terpenggal di atas loteng itu, atau badan tertusuk oleh senjata lawan.
Nyo Hoa lebih unggul karena permainan pedangnya yang banyak variasi, tapi golok lawan ternyata masih lebih cepat daripada permainan pedangnya, Iwekang-nya juga setingkat lebih tinggi.
Di tengah pertarungan sengit itu, mendadak pedang Nyo Hoa menyerang titik kelemahan lawan, lawan harus menyelamatkan diri, tak tahunya lawan menggerakkan goloknya laksana angin, betapa cepat serangan goloknya sungguh sukar dibayangkan.
Walau Nyo Hoa menyerang titik kelemahan lawan, namun gerak golok lawan ternyata lebih cepat lagi sudah membacok tiba.
Untung reaksi Nyo Hoa amat cekatan, begitu merasa angin menyambar, kontan dia menjatuhkan diri rebah di lantai, dengan jurus Ki-hwe-liau-thian dia bikin arah golok lawan serong ke pinggir terus menggelinding pergi.
Dalam kamar itu gelap gulita, lima jari tangan sendiri pun tidak kelihatan.
Nyo Hoa sembunyi di belakang sebuah saka besar, napas pun ditahan-tahan.
Orang itu juga takut disergap Nyo Hoa, maka dia pun tidak berani bersuara.
Keduanya menahan napas saling tunggu serta memperhatikan gerak-gerik lawan.
Hanya Sebentar mereka saling tunggu, mendadak di bawah loteng seseorang berteriak.
"Lho, celaka, alat-alat rahasia di Hiongeng-kek agaknya telah dirusak orang."
Nyo Hoa tahu itu suara Seto. Ma Gun lantas berkata.
"Apakah Hiong-eng-kek tidak dijaga? Celaka kalau puteri Kim Tiok-liu ditolong orang. Hayo lekas periksa ke atas."
Percakapan mereka di atas loteng walau perlahan tapi Nyo Hoa dan orang itu memiliki lwekang tinggi, maka pendengaran mereka lebih tajam, sekarang baru mereka tahu bahwa lawan berkelahinya barusan bukan komplotan Kang Poh.
Kebetulan Ma Gun sedang ayun tangan menimpuk sebatang panah berapi hendak minta bantuan orang banyak, mendadak dilihatnya sesosok bayangan melejit tinggi di udara laksana burung elang, panah api sambitannya baru saja meluncur sudah ditabas jatuh ke tanah pula.
Menyusul Nyo Hoa pun sudah melompat ke bawah, kebetulan turun tak jauh dari tempat Seto, kontan Seto membentak.
"Kurcaci, kiranya kau bocah keparat ini."
Kasa merah terayun terus menyabat ke atas kepala Nyo Hoa.
Nyo Hoa tidak banyak suara, pedang segera bergerak dengan jurus Sam-coan-hoat-lun, dalam waktu yang sama menusuk tiga sasaran berbahaya di tubuh Seto terbagi atas, tengah dan bawah.
Jurus pedang ini teramat lihay, namun di bawah kebutan kasa Seto, entah kenapa Nyo Hoa seperti kehabisan tenaga, hasrat besar tenaga kurang, walau pedang tidak sampai terampas, namun putaran sinar pedangnya tertekan turun oleh lawan.
Bahwa Nyo Hoa hanya datang dengan seorang teman saja, lega hati Ma Gun dan Ciu Jan.
Ma Gun memperingatkan.
"Jaga senjata rahasianya."
Pecut panjang di tangannya diputar kencang sehingga sekujur badannya seperti terlindung rapat, dia mencegat maju lebih dulu. Laki-laki yang memukul jatuh panah berapi itu melengak sekilas, bentaknya.
"Membunuh kawanan keroco seperti kalian kenapa harus pakai amgi."
Sebelum habis bicara, orangnya sudah menubruk tiba, goloknya bekerja laksana kilat, punggung golok menindih ujung pecut, begitu tangan membalik golok meluncur naik menepis jalan cambuk memapas jari-jari tangannya.
Tidak pernah Ma Gun saksikan permainan golok selihay dan seganas ini, dalam kagetnya lekas dia membuang tubuh ke belakang seraya putar cambuk di atas kepalanya.
"Cras"
Ujung cambuknya tertabas kutung oleh golok kilat lawan.
Beruntung dia menjatuhkan badan terus menggelinding jauh baru batok kepalanya tidak terpenggal.
Ciu Jan baru memburu tiba, melihat keadaan rekannya, kagetnya bukan kepalang.
Belum sempat dia menghentikan langkah, laki-laki itu sudah memapak maju, goloknya membelah batok kepalanya.
Kepandaian Ciu Jan masih di bawah Ma Gun, senjatanya juga golok tebal, sebisanya dia angkat golok menangkis.
"Trang"
Goloknya mencelat terbang. Golok laki-laki itu masih membacok turun memenggal sebelah lengah kiri Ciu Jan, kontan dia jatuh pingsan. Laki-laki itu lantas membentak.
"Adik cilik, biar aku belajar kenal betapa lihay kepandaian Mi-ciong dari Lama bangsat ini."
Baru saja Nyo Hoa mundur, laki-laki itu sudah menyerbu tiba dengan deru goloknya yang membacok tiga kali.
Seto menggulung dan menekan kasanya, mendadak terasa gerakan tangannya menjadi enteng, ternyata kasa besarnya itu sudah tertabas menjadi enam lembar, potongannya beterbangan di udara, di tangannya tinggal secuil kecil saja.
Laki-laki itu bergelak tertawa, katanya.
"Nah kain itu buat kau menutup rasa malumu. Lekas enyah dari sini."
Sudah tentu Seto tak berani banyak omong lagi, segera dia angkat kaki dari tempat itu.
Laki-laki itu juga tidak mengejar, segera dia raih lengan Nyo Hoa terus ditariknya berlari secepat angin.
Mereka melompati tembok terus memanjat gunung di belakang rumah.
Dari tempat tinggi mereka masih melihat kobaran api masih belum padam suara kuda dan keributan orang-orang yang menolong kebakaran masih terdengar nyata.
"Adik cilik, masih ada temanmu yang ketinggalan di sana?"
Tanya laki-laki itu.
"Aku datang seorang diri,"sah ut Nyo Hoa. Orang itu heran, katanya.
"Lalu siapa yang melepas api?"
"Memangnya aku juga ingin tanya, apa bukan kau?"
"Aku datang sendirian. Begitu tiba langsung menuju ke Hiongeng-kek."
"Terima kasih akan pertolonganmu tadi,"
Kata Nyo Hoa. Orang itu heran, katanya.
"Kapan aku pernah menolong kau?"
"Jadi yang menimpuk padam obor, membunuh Ting Tiau-tang itu bukan kau?"
"Selama hidup aku tak pernah menggunakan amgi. Coba kau tuturkan pengalamanmu."
Setelah mendengar ceritera Nyo Hoa, orang itu berkata.
"Orang yang memiliki kepandaian menggunakan amgi selihay itu tidak banyak dalam dunia ini, kuduga pasti perbuatan Jian-jiu-koan-im."
"Siapa itu Jian-jiu-koan-im?"
Tanya Nyo Hoa.
"Kau tahu Koan-tang Tayhiap Utti Keng?"
"Pernah kudengar."
"Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in adalah istri Utti Keng. Entah kenapa dia berada di tempat ini? Hm, ya, mungkin dia belum tahu kalau suaminya sudah pergi ke Sinkiang, maka dia ingin mencariku."
Sejak menghadapi permainan golok orang tadi Nyo Hoa sudah curiga, setelah bercakap-cakap sekian lama Nyo Hoa lebih jelas lagi tentang asal-usul orang ini.
Maka jantungnya berdebar-debar, namun dia bersikap wajar, tanyanya.
"Jadi alat rahasia di Hiongeng-kek kau yang merusaknya?"
"Juga bukan. Mungkin seorang temanku, tapi juga belum pasti."
Nyo Hoa menatapnya lekat, tanyanya.
"Kau, siapa kau?"
Laki-laki itu tertawa, katanya.
"Kuterangkan kepadamu tidak menjadi soal. Aku ini buronan pemerintah kerajaan, aku dicap kepala rampok bagi yang berwenang. Aku she Beng bernama Goancau."
Padahal Nyo Hoa sudah menduga orang ini adalah Beng Goancau, tapi setelah mendengar orang menyebut namanya, tak urungjantung-nya berdegup tambah cepat, wajahnya seketika pucat.
Beng Goan-cau kaget, tanyanya.
"Adik cilik, kenapa kau?"
Nyo Hoa tenangkan hati, katanya dengan tawa paksa.
"Tidak apa-apa. Ternyata kau ini Beng tayhiap, maaf aku berlaku kurang hormat."
"Adik cilik ilmu pedangmu amat bagus. Gurumu pasti seorang kosen pada jaman ini, entah siapa dia? Siapa namamu?"
Nyo Hoa tertawa getir, katanya.
"Murid tidak becus seperti aku ini tak ingin membikin jatuh nama perguruan, lebih baik tak usah kusebut nama beliau. Aku sendiri seorang keroco, buat apa Beng tayhiap harus tahu siapa aku ini?"
"Lote, kenapa kau merendahkan diri? Mungkin gurumu berpesan supaya kau tidak menyebut namanya kepada orang luar supaya jejaknya tidak diketahui orang?"
Hati Nyo Hoa kalut dan gundah, sehingga dia tidak perhatikan ucapan Beng Goan-cau namun matanya menatap mendelong, rona mukanya berganti-ganti dari pucat menjadi merah lalu berubah menghijau.
Karuan Beng Goan-cau kaget, katanya.
"Saudara cilik, kenapa kau? Mungkin terlalu capek, istirahat sebentar?"
Nyo Hoa lantas duduk bersimpuh. Beng Goan-cau maju ke sana, telapak tangan diulur menekan punggungnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Bentak Nyo Hoa mendadak. Meski merasa kurang senang, namun Beng Goan-cau menjelaskan.
"Bantu kau memulihkan tenaga."
"Kau minggir, aku tidak mau terima bantuanmu,"
Tukas Nyo Hoa ketus.
Karuan Beng Goan-cau menye-ngir kuda, terpaksa dia menyingkir ke samping.
Menyaksikan sambil memeluk dada.
Tak lama kemudian tampak uap putih mengepul dari kepala Nyo Hoa, wajahnya yang pucat makin segar bersemu merah.
Sebagai ahli silat selintas pandang Beng Goan-cau lantas tahu yang diyakinkan Nyo Hoa adalah lwekang aliran mumi.
Diam-diam dia memuji dalam hati, di samping ilmu pedangnya lihay dan tinggi, hvekang ternyata juga cukup tangguh meski latihannya belum sempurna.
"Hoa-ji murid Toan Siu-si dan Tan Khu-seng, entah sudah tamat belum pelajarannya, usianya mungkin sebaya dengan pemuda ini. Semoga anakku itu pun memiliki kepandaian setaraf bocah ini,"
Demikian batin Beng Goan-cau. Mimpi pun tidak terpikir olehnya bahwa pemuda di depannya ini memang puteranya. Tengah Beng Goan-cau melamun, Nyo Hoa sudah selesai semadi lalu melompat berdiri, katanya.
"Beng Goan-cau, orang memuji golok kilatmu tiada bandingan di kolong langit, aku ingin mohon pengajaran ilmu golokmu."
Nyo Hoa memanggil langsung namanya, mengajaknya berduel lagi, karuan Beng Goan-cau meleng-gong.
Semula dia kira pemuda ini mabuk, namun setelah melihat sikapnya yang gagah dan garang, segar bugar lagi, jelas bukan lagi nge lantur.
Karuan hatinya kurang senang, katanya dingin, Teman-teman Kangouw terlalu mengagulkan diriku, aku sendiri tidak berani terima.
Adik cilik, ilmu pedangmu teramat lihay, aku mengaku kalah saja."
Nyo Hoa mendengus, jengeknya.
"Jangan bicara melawan nurani sendiri. Di dalam Hiong-eng-kek, aku sudah kau kalahkan sejurus. Apa betul kau rela mengalah kepadaku?"
Beng Goan-cau agak berang, katanya.
"Nah kita kan sudah bertanding, kenapa harus diulang lagi?"
"Pertarungan di Hiong-eng-kek, belum selesai aku akan melanjutkan sampai ada ketentuan kalah dan menang."
Dongkol tapi juga geli menghadapi kebandelan pemuda ini, Beng Goan-cau berkata.
"Anak muda, jangan diburu keinginan saja. Jadi lantaran kalah sejurus maka kau ingin menuntut balas begitu? Hm, bukan sengaja aku ingin tepuk dada, tokoh-tokoh lihay kenamaan di kolong langit ini, entah betapa banyak yang pernah kalah oleh golokku, mereka paling rriampu melawan delapan sepuluh jurus, kau sebaliknya dapat bertahan hingga setanding dengan aku. Aku mengaku kalah lantaran usiamu lebih muda, kau pantas menjadi angkatan muda. Jikalau kau memaksa berduel dengan akibatnya akan terjadi dua kemungkinan."
"Dua kemungkinan bagaimana?"
Tanya Nyo Hoa.
"Kau ingin menundukkan aku supaya mendapat nama bukan? Maka untuk kemungkinan pertama ini adalah aku mengalah sejurus supaya kau tercapai keinginanmu. Tapi aku tidak senang terhadap pemuda yang terlalu gila hormat dan sombong untuk merebut nama, oleh karena itu aku tidak akan memberi kelonggaran."
"Memangnya aku tidak ingin kau memberi kelonggaran dan kau pun jangan memberi kelonggaran kepadaku,"
Jengek Nyo Hoa tawar, Beng Goan-cau melengak, tanyanya.
"Apa maksudmu?"
"Tiada maksud apa-apa. Cukup asal kau tabu, aku pun takkan mengalah kepadamu. Pedang golok tidak bermata, bila kau mengalah sejurus kepadaku, kemungkinan jiwamu bakal melayang. Bila sampai hal itu terjadi, menyesal pun sudah terlambat, jangan kau salahkan aku."
Meski pemuda ini terlalu juma-wa dan kasar, namun Beng Goancau merasa senang akan sikapnya yang blak-blakan, katanya setelah tergelak-gelak.
"Senjata memang tidak bermata Baiklah, biar kujelaskan kemungkinan kedua"
Dia tatap Nyo Hoa sesaat lalu menggelengkan kepala "Bagaimana kemungkinan kedua? Kenapa tidak lekas kaujelaskan?"
"Kemungkinan kedua ialah, kau ingin ternama akibatnya justru sebaliknya, jiwa sendiri menjadi korban."
Nyo Hoa mengigit bibir lalu katanya "Kalau bukan kau mampus, pasti aku yang mati. Akibat ini sudah kuduga sebelumnya dan itu pula keinginanku. Tak usah kau memperingatkan."
Beng Goan-cau kaget, umbul rasa curiganya, katanya.
"Jadi hake-katnya kau bukan ingin bertanding, tapi ingin adu jiwa dengan aku?"
"Betul, kalau aku bukan tanding-anmu, biar aku mati di bawah golokmu."
"Aku tak punya permusuhan dan dendam sakit hati dengan kau, kenapa harus berduel? Apa sebabnya?"
Tanya Beng Goan-cau. Ruwet pikiran Nyo Hoa mendadak dia kertak gigi serta berseru lantang.
"Apakah harus bermusuhan? Aku ingin membunuhmu karena kau ini sampah persilatan."
Beng Goan-cau berdiri terbeliak, selama hidupnya baru pertama kali ini dia dimaki orang sebagai sampah persilatan.
"Berdasarkan apa kau menuduh aku sampah persilatan?"
Tak urung berkobar amarah Beng Goan-cau.
"Kau tahu sendiri."
Jengek Nyo Hoa Beng Goan-cau berdiri kebingungan.
"Hanya cakar alap-alap yang menjadi antek kerajaan saja yang berani memaki aku sampah persilatan. Tapi kenapa dia berusaha menolong puteri Kim Tiok-liu itu?"
Demikian batinnya Betapapun cerdik dan luas pengalamannya sesaat dia kebingungan dan tidak habis mengerti.."Jangan mengulur waktu. Hayo-lah mulai!"
Bentak Nyo Hoa "Lote,"
Seru Beng Goan-cau ber-gelak tawa.
"kau yang ingin membunuhku, bukan aku yang ingin membunuhmu, kenapa aku harus mengalah?"
Nyo Hoa kertak gigi, bentaknya.
"Awas!"
Begitu bergebrak segera dia lancarkan serangan pedang yang mengajak lawan gugur bersama.
Pedangnya menggulung naik ke atas menggaris dada Beng Goan-cau.
Beng Goan-cau menatap gerak ujung pedangnya, mendadak dia menghardik.
"Ilmu pedang keji!"
Belum habis dia bicara, goloknya yang bergerak belakangan sudah tiba lebih dulu, membacok tulang pundak kanan Nyo Hoa.
Serangan ini akan memaksa Nyo Hoa menyelamatkan diri lebih dulu.
Walau sudah bertekad gugur bersama musuh, tapi bagi insan persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, secara reflek dia akan mempertahankan diri bila jiwanya terancam bahaya.
Tanpa merasa dia mengubah gerakan, badan berbalik langkah berputar, pedangnya menukik dari atas ke bawah menabas lutut Beng Goan-cau.
Dalam gebrakan ini serangan berbahaya kedua pihak secara langsung telah dipunahkan oleh serangan balasan lawan, namun pedang dan golok mereka tidak beradu.
Padahal betapa berbahaya detik-detik yang berlalu itu.
Beng Goan-cau yang sudah kenyang bertempurpun mau tidak mau merasa kaget.
Kaki Nyo Hoa melangkah secara lincah, dalam melancarkan serangan, setiap jurus pedangnya selalu mengincar hiatto mematikan di tubuh lawan.
Beng Goan-cau sebaliknya, karena bimbang dan tidak tahu maksud tujuan Nyo Hoa, tak sempat dia bertanya lagi.
Nyo Hoa menyerang dengan serangan pedang segencar itu tujuannya bukan ingin membunuh Beng Goan-cau.
Dia dipaksa dan tidak bisa tidak harus bekerja sekuat tenaga.
Maklum golok kilat Beng Goan-cau lebih cepat dari gerak pedangnya, lwekang-nya lebih tinggi juga.
Nyo Hoa juga tahu diri, dia tahu dirinya takkan mampu membunuh Beng Goan-cau, apa boleh buat, terpaksa dia berjuang untuk gugur bersama.
Beng Goan-cau memang tidak malu disebut sebagai jago golok nomor satu di dunia.
Betapapun keji permainan pedang Nyo Hoa, gerakan pedangnya selalu diungguli oleh kecepatan gerak goloknya.
Bicara soal jurus, serangan ilmu pedang Nyo Hoa memang lebih bagus, ada beberapa jurus serangan pedang Nyo Hoa terpaksa harus dilawan dengan seluruh kemahiran ilmu golok Beng Goan-cau baru dapat dipatahkan.
Beruntung pengalaman tempur Nyo Hoa jauh ketinggalan dibanding Beng Goan-cau, kalau tidak jelas sukar dia mengatasinya.
Tanpa terasa pertempuran sudah mencapai seratus jurus, rasa letih sudah melanda perasaan Beng Goan-cau, namun dia kertak gigi.
Mendadak dia menggertak, sekaligus melancarkan tigapuluh enam jurus bacokan.
Dalam rangsakan golok kilatnya ini mana Nyo Hoa mampu balas menyerang?
Dalam sibuknya dia pun tidak hiraukan lagi gerak pedangnya menggunakan jurus apa, secara reflek pedangnya melintang terus menggaris, terdengar benturan secara beruntun amat nyaring, Nyo Hoa mundur enam langkah baru berdiri tegak, pergelangan tangannya kesakitan.
Golok Beng Goancau ternyata tidak kurang suatu apa namun pedang Nyo Hoa tidak mampu dibenturnya jatuh.
Bu-beng-kiam-hoat yang diyakinkan Nyo Hoa memang sakti mandraguna Jikalau lawannya jago biasa, maka ilmu pedangnya takkan bisa memperlihatkan keistimewaannya Tapi makin tangguh lawan yang dihadapi, permainan pedangnya semakin hebat dan menakjubkan.
Kadang kala cukup sekali ayun tangan saja ternyata sudah berhasil menangkis golok kilat Beng Goan-cau, padahal gerakan ini pun secara reflek mengikuti serangan golok lawan, di dalamnya mengandung intisari termurni dari ilmu pedang tingkat tinggi, hal ini tidak disadarinya sama sekali.
Bagi pandangan Beng Goan-cau, jurus yang digunakan Nyo Hoa barusan seperti Tiap-juihu-ceng dari Siong-san-pay, namun juga mirip Ko-kek-som-som dari Ceng-seng-pay, ada beberapa bagian mirip Tat-mo-bian-pia dari Siau-lim-pay, secara telak dan bagus sekali menutup seluruh titik kelemahan yang ingin diserbu oleh Beng Goan-cau, sehingga lawan tak tahu atau kehabisan akal untuk melontarkan serangannya.
Tujuan Beng Goan-cau hanya ingin memukul jatuh pedangnya, kalau terpaksa biarlah dia terluka sedikit, tapi tak pernah timbul keinginannya hendak membunuhnya Karena pertahanan lawan sekokoh itu, maka terpaksa Beng Goan-cau memperlambat permainan goloknya Meski tidak berhasil memukul jatuh pedang lawan, sebetulnya Beng Goan-cau di pihak yang unggul.
Bertempur dengan cara demikian, tak perlu khawatir beradu senjata, dia dapat menguras tenaga lawan.
Padahal Iwekang Beng Goan-cau entah berapa banyak lebih unggul dari Nyo Hoa, akhirnya juga pasti berhasil memukul jatuh senjatanya Setelah mantap dengan strategi ini, Beng Goan-cau membentak.
"Anak muda aku tidak ingin melukai kau, lekas lempar pedang dan mengaku kalah!"
"Mati pun tidak takut, kenapa khawatir terluka?"
Hardik Nyo Hoa "Kalau mampu boleh kau bunuh aku, aku akan bertempur sampai titik darah terakhir."
Beng Goan-cau geleng kepala pura-pura marah, mendadak dia membentak.
"Anak bagus, nah terimalah kematianmu!"
Sinar golok berkelebat, kali ini dia menyerang lebih cepat lagi.
Sekaligus dia membacok empatpuluh sembilan jurus, Nyo Hoa mundur tujuh langkah, telapak tangannya kesakitan, pedang hampir tak kuat dipegangnya lagi.
Baca Juga: Wanita Gagah Perkasa 3
Baca Juga: Lentera Maut 9