Eps 2 Meteor Kupu Kupu Dan Pedang - Gu Long
Baca online Meteor Kupu Kupu Dan Pedang - Gu Long
Cersil Meteor Kupu Kupu Dan Pedang - Gu Long.
Begitu masuk ke dalam, Sun Jian langsung memilih yang tercantik dan membopongnya.
Perempuan itu sangat terkejut, tidak berani bergerak.
Mao Wei pun terkejut.
"Kau... apa yang kau lakukan?"
"Tidak melakukan apa-apa, hanya melakukan yang biasa kau lakukan,"
Jawab Sun Jian. Dengan sebelah tangan ia membopong perempuan itu, sebelah tangan lainnya menarik Mao Wei dan membentak.
"Hayo, antar aku keluar."
Ia tidak ingin di tengah jalan bercapai lelah menghadapi para pengawal Mao Wei. Bukannya takut, hanya malas direpotkan saja. Terpaksa Mao Wei mengantarkannya keluar. Air matanya hampir menetes.
"Asal kau mau melepaskan Feng Jian, akan kuberi kau 1.000 tail emas."
Sun Jian mengedip mata sambil menepuk pantat perempuan yang digendongnya.
"Apa harga Feng ini begitu mahal?"
Mao Wei tidak menjawab.
"Apa kau menyukainya?"
Tetap tidak menjawab. Sun Jian tertawa.
"Lain kali kalau kau ingin berselingkuh dengan istri orang, kau pikir dulu istri sendiri." * Seekor kuda tinggi besar berada di depan pintu. Itulah kuda yang sangat bagus. Begitu Sun Jian keluar pintu, ia langsung meloncat ke atas kuda, tidak memberi kesempatan Mao Wei bertindak. Itulah pelajaran yang diberikan Sun Jian. Sun Jian tidak banyak bicara, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya sulit dilupakan. Kuda sudah menempuh jarak puluhan kilometer, perempuan yang berada di pundak Sun Jian tiba-tiba tertawa. Sun Jian turut tertawa. Tanyanya.
"Kau tidak pingsan?"
Feng Jian tetap tertawa.
"Aku? Tidak! Sebenarnya sudah sedari tadi kuingin mengikutimu pergi."
"Kenapa?"
"Karena kau lelaki jantan, kusangat tertarik padamu."
"Apa perlakukan Mao Wei baik padamu?"
"Ia punya banyak uang, sangat pelit, tapi cukup baik padaku. Kalau tidak, mana mau ia mengeluarkan 1.000 tail emas?"
Sun Jian mengangguk, tidak bicara lagi. Feng Jian justeru berkata.
"Aku di punggungmu, sungguh tidak nyaman, lebih baik turunkan aku. Aku ingin duduk di pangkuanmu."
Sun Jian menggeleng-geleng kepala. Tadi ia memilih perempuan ini karena punya alasan sendiri, terutama karena tatapan perempuan ini yang begitu binal padanya. Feng Jian menghela nafas.
"Kau memang lelaki aneh."
Sun Jian membedal kuda lebih cepat lagi. Di depan tampak hutan yang luas. Begitu sepi, tidak ada orang.
"Kemana kau mau membawaku?"
Tanya Feng Jian.
"Ke suatu tempat yang tak terpikir olehmu."
Feng Jian tertawa genit.
"Kutahu kau tertarik padaku. Sebenarnya mau di sini atau di sana, di mana saja, ya sama saja..."
Karena tidak mendapat tangapan, ia melanjutkan.
"Aku mengenal seorang perempuan bernama Zhu Qing."
"Oh!"
Hanya itu reaksi Sun Jian.
"Perempuan itu memang ditakdirkan sebagai pelacur. Tiap hari kerjanya hanya begituan melulu. Bila menyuruhnya tidak selingkuh, seperti berharap matahari terbit dari utara. Aku tidak mengerti dengan cara apa Mao Wei akan menghukumnya."
Sun Jian berkata dingin.
"Pelacur yang mati tidak akan bisa selingkuh lagi."
Seiring ucapannya, tangan yang tadi membopong Feng Jian tiba-tiba dilepas begitu saja. Seketika perempuan itu jatuh seperti kantung terigu.
"Ada apa denganmu?"
Teriak Feng Jian. Kuda Sun Jian sudah berlari beberapa meter ke depan sana, kini kembali lagi. Dingin tatapan Sun Jian dari atas kuda. Feng Jian mengulur tangan.
"Cepatlah tarik aku ke atas."
Tanya Sun Jian.
"Bila aku menarikmu naik, buat apa kubiarkan kau jatuh?"
Tadinya Feng Jian masih ingin bersikap genit, tapi sekarang wajahnya telah kaku karena takut. 8. Lu Xiang Chuan Dengan berteriak, Feng Jian berkata.
"Kau menculikku! Apa kau membawaku ke sini hanya untuk dilempar begitu saja?"
"Sedikit pun tidak salah."
"Apa maksudmu?"
Sun Jian tertawa dan ia membedal kuda meninggalkan Feng Jian.
Ia merasa tidak perlu menjelaskan perbuatannya.
Feng Jian marah dan memaki.
Seluruh perkataan kotor keluar dari mulutnya, kemudian menangis tersedu.
Ia menangis bukan karena tulangnya sakit terjatuh tadi, bukan pula karena harus pulang jalan kaki.
Ia menangis karena tahu Mao Wei tidak akan mempercayai kata-katanya, juga tidak percaya bahwa Sun Jian tidak melakukan apa-apa padanya.
Bila Sun Jian benar-benar melakukannya, Feng Jian malah merasa tidak sakit hati.
Memang terkadang di dunia ini terdapat semacam perempuan yang tidak bisa membedakan antara harga diri dan penghinaan.
Feng Jian adalah perempuan semacam itu.
Jika orang lain menghinanya, ia malah senang.
Jika tidak menghinanya, harga dirinya malah terganggu.
Ya, mengapa Sun Jian tidak melakukannya?
Harga diri Feng Jian sungguh terusik.
Selamanya ia tidak bisa mengerti maksud Sun Jian.
Padahal, Sun Jian melakukan itu hanya ingin agar Mao Wei tahu bagaimana rasanya bila istri diculik orang.
Ia pun sengaja menculik Feng Jian, sekali pandang ia bisa mengenali istri macam apa perempuan itu.
Karenanya, ia perlu memberi pelajaran.
Sekali tepuk dua nyawa!
* Hutang darah bayar darah, pikir Sun Jian.
Bukankah itu yang diajarkan Lao Bo?
Lao Bo menggunakan cara seperti ini untuk membunuh penjahat, pikirnya dalam hati.
Sun Jian tidak bisa memikirkan cara yang lebih baik lagi, karena memang tidak ada cara yang lebih baik daripada caranya itu.
Memikir apa yang telah ia lakukan, Sun Jian tertawa sendiri.
Lao Bo tidak pernah memberi petunjuk cara membereskan masalah.
Sun Jian percaya, jika Lao Bo sendiri yang melakukannya, belum tentu akan lebih baik daripada caranya tadi.
Dalam beberapa tahun ini Sun Jian sedikit demi sedikit merasa sudah bisa meniru cara dan teknik Lao Bo memecahkan masalah.
Dan Sun Jian merasa sangat puas.
* Senja.
Lao Bo masih berada di taman bunga.
Ia sedang membuang ulat yang berada pada sekuntum chrysan serta menggunting dedaunan yang layu.
Itulah bagian dari pekerjaannya.
Lao Bo senang melakukan pekerjaan itu sendiri.
Itu adalah hiburan dan hobinya, dan karenanya ia tidak memberi pekerjaan membuang ulat dan menggunting daun pada orang lain.
Di saat itu Wen Hu dan Wen Bao bersaudara masuk.
Lao Bo meletakkan gunting yang dipegangnya.
Menghadapi anak buah pun bagian dari pekerjaannya.
Ketika bekerja, ia akan lakukan dengan sepenuh hati.
Begitu pula saat ia melaksanakan hobi dan kesenangannya.
Lao Bo tidak mencampuradukkan kedua tugas itu.
Wen Hu dan Wen Bao, dua pemuda sangat pemberani, sering melakukan tugas berat.
Wajah mereka mulai keriput, apakah karena tugas yang dipikul terlalu berat?
Wajah itu kali ini pun terlihat lelah.
Dua hari ini mereka telah bekerja keras.
Tapi hanya dengan melihat senyum Lao Bo, kelelahan itu seketika lenyap.
Sambil tersenyum, Lao Bo bertanya.
"Apa tugas kalian sudah selesai?"
Wen Hu menjawab penuh hormat.
"Ya."
"Ceritakanlah padaku,"
Perintah Lao Bo dengan gembira.
"Kami sudah menyelidiki, ternyata Xu Qing Song punya seorang putri, dan kami pun menculiknya."
Kata Wen Hu langsung pada masalah. Tanya Lao Bo.
"Berapa usia Nona Xu? Apa sudah menikah?"
"Putri Xu Qing Song dua puluh satu tahun,"
Jawab Wen Hu.
"dan belum menikah, wajah maupun sifatnya sangat buruk. Konon, Nona Xu pernah bertunangan, tapi ia mengusir calon mertuanya."
"Teruskan ceritamu,"
Lao Bo mengangguk.
"Sebelumnya, kami berkenalan dulu dengan Jiang bersaudara, mencekok mereka dengan arak sampai mabuk, lalu membawa kehadapan Nona Xu,"
Jelas Wen Hu. Wen Bao melanjutkan cerita kakaknya dengan bangga.
"Jiang bersaudara selagi mabuk seperti lalat melihat darah, tidak perduli siapa pun perempuan itu. Begitu bertemu Nona Xu, mereka segera melakukan pekerjaan bejat itu."
Giliran Wen Hu meneruskan.
"Begitu selesai melakukannya, kami beri mereka pelajaran."
Kata Wen Bao.
"Kami menghajar mereka dengan hati-hati, selalu menghindari kepala bagian belakang supaya tidak sampai gegar otak. Tapi dalam dua tiga bulan, berani jamin, mereka tidak bisa bangun dari tempat tidur."
Wen Hu dan Wen Bao memiliki jurus lihai, yang satu bernama "Jurus Memukul Harimau", satunya lagi "Jurus Telapak Tangan Besi".
Kungfu mereka pun seperti anak buah Lao Bo yang lain, tidak ada yang aneh-aneh, tapi kecepatan dan kekuatannya sangat dahsyat.
Lao Bo selalu berkata, kungfu bukan untuk dipamerkan.
Jadi, tidak perlu aneh-aneh.
Kalau Jiang bersaudara tidak mabuk, barangkali masih bisa menahan serangan mereka.
Tapi karena sudah mabuk, yang terdengar hanya jerit kesakitan.
Jiang bersaudara tidak bisa apa-apa lagi.
"Kemudian kami menyewa tandu, mengantarkan mereka pada Xu Qing Song,"
Jelas Wen Hu.
"Sayang kami tidak bisa melihat ekspresi Xu Qing Song,"
Lanjut Wen Bao.
Penjelasan Wen bersaudara sangat singkat.
Begitu habis cerita, mereka langsung berhenti.
Mereka tahu, Lao Bo tidak suka bertele-tele.
Nyatanya, mendengar sampai di sini, senyum Lao Bo hilang.
Hati Wen bersaudara seketika tengelam.
Melihat ekspresi Lao Bo, mereka menduga telah berbuat salah.
Dan siapa melakukan kesalahan harus dihukum, begitu prinsip Lao Bo.
Setelah lama, Lao Bo berkata gusar.
"Kalian tahu sudah melakukan kesalahan apa?"
Wen bersaudara menunduk kepala. Kata Lao Bo.
"Jiang bersaudara tidak bisa bangun dalam tiga bulan itu tidak masalah, ketidakadilan Xu Qing Song pun pantas diberi ganjaran. Untuk kedua hal ini kalian sudah melakukan tugas dengan baik."
Tiba-tiba nada bicara Lao Bo semakin tegas.
"Lantas, apa kesalahan Nona Xu hingga kalian memperlakukannya seperti itu? "
Wen bersaudara seketika berkeringat dingin. Mereka hanya bisa tertunduk. Bila Lao Bo sedang marah, siapa pun tidak berani memandangnya. Setelah lama, kemarahan Lao O sedikit reda.
"Ini ide siapa?"
Tanyanya. Wen bersaudara menjawab bersamaan.
"Aku!"
Lao Bo melihat keduanya, kemarahannya semakin berkurang. Perlahan ia berkata.
"Wen Hu lebih jujur, pasti bukan idenya."
Tunduk Wen Bao semakin dalam.
"Sejak awal kakak sudah tidak setuju dengan ideku ini."
Lao Bo menatap Wen Bao.
"Apa kau sudah menikah?"
"Belum,"
Jawab Wen Bao.
"Segera ambil undanganku. Kita kerumah Xu Qing Song melamar Nona Xu."
Kaki Wen Bao seperti digigit ribuan semut.
"Tapi... tapi..."
Lao Bo kembali marah.
"Tidak ada tapi-tapian, segera lamar Nona Xu. Idemu sudah mencelakai orang, kau harus bertanggung jawab. Biar pun sifat Nona Xu tidak begitu baik, kau tetap harus mengalah."
Siapa pun melakukan kesalahan harus dihukum. Sepertinya hanya Lao Bo yang bisa memikirkan cara menghukum Wen Bao.
"Bila Tuan Xu tidak mengijikan, bagaimana?"
Tanya Wen Bao.
"Tuan Xu pasti mengijinkan. Apalagi, sekarang,"
Jawab Lao Bo.
Siapa pun bisa menduga, Xu Qing Song pasti setuju, takut putrinya tidak bisa menikah lagi, pun Wen Bao pemuda yang baik.
* Lao Bo menggunting dedaunan yang berlebihan.
Ia tidak suka bunga yang terlalu banyak daun karena merusak keindahan.
Ia juga tidak suka melihat hal yang rumit, karena kerumitan adalah sesuatu yang berlebihan dan harus bisa disederhanakan.
Anak buah Lao Bo yang benar-benar bisa diandalkan tidak terlalu banyak, tapi ia percaya setiap anak buahnya punya kemampuan tinggi dan sangat setia padanya.
Lao Bo selalu puas pada anak buahnya.
Ia pun tahu mereka selalu melaksanakan tugas dengan baik.
Karenanya, sudah lama Lao Bo tidak turun tangan langsung di lapangan.
Walau ia lama tidak turun tangan, Lao Bo yakin masih punya kekuatan yang cukup untuk mengalahkan lawan-lawannya.
Sewaktu pedang Yi Shi menyerang, Lao Bo sudah membaca kekurangan ilmu pedang lawan.
Biar pun tidak dilindungi anak buah, ia tetap bisa mengalahkan Yi Shi.
Dalam bertempur, Lao Bo selalu menunggu kesempatan terakhir mengalahkan lawan, karena di saat itulah lawan berada dalam keadaan lengah dan lelah, tenaga belum sepenuhnya pulih.
Lawan-lawannya selalu mengira, kesempatan terakhir pasti berhasil.
Di saat terakhir yang sangat menetukan itu, Lao Bo biasanya melakukan serangan balik.
Serangan balik yang mematikan.
Hanya saja menunggu dan menentukan saat tepat melancarkan serangan balik yang mematikan tidaklah mudah.
Dibutuhkan kesabaran, keberanian, ketenangan, serta pengalaman yang luas.
Sampai di sini, Lao Bo menghela nafas.
Ia tahu Lu Xiang Chuan bukan anak kandungnya, tapi kesetiaannya melebihi Sun Jian anak kandung sendiri.
Lao Bo sangat percaya dan suka pada Lu Xiang Chuan.
Ia membagi separuh harta dan usahanya kepada Lu Xiang Chuan karena sifatnya sangat tenang dan lincah.
Sifat ini sangat berlawanan dengan Sun Jian yang ceroboh dan pemarah.
Bisnis Lao Bo sangat luas dan besar, ia harus memiliki anak buah semacam Lu Xiang Chuan untuk menjaga dan meneruskan usahanya.
Apalagi ketika dulu di awal mendirikan bisnis, tidaklah mudah.
Perjuangan awal membutuhkan curahan tenaga, air mata, dan jiwa-jiwa muda pemberani seperti Lu Xiang Chuan.
Tiba-tiba Lao Bo teringat lelaki berjubah kelabu.
Di hadapan anak buahnya ia tidak pernah membicarakan lelaki ini, tapi anak buahnya bisa menduga lelaki jubah kelabu pernah muncul dalam kehidupan Lao Bo.
Demi Lao Bo, si Jubah Kelabu rela melakukan hal yang orang lain belum pernah lakukan.
Sesungguhnya Lao Bo menyadari, jika membiarkan si Jubah Kelabu tetap hidup, bisa menambah kesulitan.
Dalam melakukan pekerjaannya, lelaki itu selalu menggunakan kekerasan.
Sementara Lao Bo punya cara yang lebih jitu daripada menempuh jalan kekerasan.
Dalam kematangan usianya sekarang, Lao Bo bukan ingin melenyapkan nyawa orang, melainkan ingin mendapatkan kesetiaan dan penghormatan.
Sebab, bagi Lao Bo, membunuh tidak ada gunanya sama sekali.
Tapi, mendapatkan penghormatan dan kesetiaan akan lebih bermanfaat.
Alasan dan kemauan Lao Bo ini tidak dimengerti Sun Jian yang masih muda, apalagi lelaki jubah kelabu itu.
Lao Bo menarik nafas.
Sungguh, ia tidak suka cara-cara yang ditempuh si Jubah Kelabu.
* Setiap orang yang menjalankan bisnis pasti memiliki rahasia, karenanya disebut rahasia bisnis.
Tapi dengan si Jubah Kelabu, rahasia bisnis tidak bisa lagi disebut rahasia.
Si Jubah Kelabu mengetahui terlalu banyak rahasia Lao Bo.
Seperti pada kebanyakan orang, jika rahasianya diketahui terlalu banyak, mungkin sudah sejak dulu si Jubah Kelabu dilenyapkan.
Tapi, Lao Bo bukan kebanyakan orang.
Karena itu, si Jubah Kelabu tidak ia lenyapkan.
Itulah perbedaan Lao Bo dengan orang lain.
Dalam mencapai tujuan, terkadang Lao Bo menghalalkan segala cara.
Namun dalam segala cara yang halal itu sedapat mungkin ia mengharamkan pembunuhan.
Lao Bo sangat menghargai jiwa orang dan sangat lapang dada serta berjiwa besar.
Tidak ada yang bisa membantah ini.
Seberapa banyak dan besarnyakah bisnis Lao Bo?
Dalam bidang apa saja usahanya?
Ini adalah rahasia.
Kecuali Lao Bo sendiri, mungkin tidak ada yang tahu.
Yang pasti, usahanya begitu banyak sehingga harus melibatkan begitu banyak orang.
Karenanya, Lao Bo terus mencari tenaga-tenaga muda berbakat.
Dalam hal ini, matanya sangat trampil menilai seseorang.
Dalam penilaiannya itulah nama Chen Zhi Ming muncul ke perhatiannya.
Lao Bo sangat menyukai pemuda bernama Chen Zhi Ming.
Ia merasa, asalkan diarahkan dan dilatih, sebentar saja pemuda itu akan menjadi pembantu yang berguna.
Tapi sayang semenjak hari ulang tahunnya pemuda itu tidak muncul lagi.
"Sepertinya aku sudah semakin tua, banyak hal tidak bisa dijalankan sempurna, sampai lupa meminta alamatnya,"
Sesal Lao Bo dalam hati.
Lao Bo menarik nafas dan menepuk-nepuk pinggang sendiri.
Ia memandang matahari yang terbenam.
Apakah dirinya sudah seperti matahari itu, sebentar lagi harus tenggelam?
Sesaat ia teringat Lu Xiang Chuan.
Tiap kali Lu Xiang Chuan menjalankan tugas, Lao Bo tidak pernah khawatir.
Tapi kali ini Lao Bo tidak setenang biasanya.
Lao Bo tahu kekuatan Wan Peng Wang dan juga sangat tahu cara apa yang biasa dipakai Wan Peng Wang.
Terlalu menghawatirkan anak buah menjalankan tugas adalah perasaan seorang tua, Lao Bo menghela nafas.
Mungkin ia memang sudah tua.
Di bawah mentari senja ia berjalan menuju rumah.
Sesaat melintas dalam benak Lao Bo untuk melepas segala kegiatan bisnisnya.
Mungkin sudah waktunya pensiun?
Tapi itu hanya pemikiran sesaat.
Begitu matahari terbit esok pagi, Lao Bo akan mengubah pikirannya lagi.
Di dunia ini ada semacam orang yang tidak bisa dikalahkan oleh apa pun, termasuk "tua"
Dan "kematian".
Orang semacam itu tidak banyak, dan Lao Bo salah satunya.
* Sewaktu Lu Xiang Chuan berada di dalam kereta, yang dipikirkannya bukan bagaimana cara memperlakukan Wan Peng Wang.
Yang dipikirkannya adalah si Pembunuh Berjubah Kelabu yang membunuh orang seperti memotong rumput.
Sewaktu si Jubah Kelabu mencabut nyawa Huang Shan San You, Lu Xiang Chuan tidak sempat melihat wajah yang sudah langsung dilumuri darah itu.
Tapi sepertinya ia bisa menebak siapa orang ini.
Namun Lu Xiang Chuan tidak berani bertanya pada Lao Bo.
Hal yang Lao Bo tidak mau bicarakan, tidak ada yang berani memaksanya.
Jika Lao Bo tidak mau membicarakan, bertanya pun sia-sia.
Perasaan Lu Xiang Chuan menyatakan, si Jubah Kelabu adalah Han Tang.
Cara orang ini membunuh sangat kejam dan cepat.
Lu Xiang Chuan selamanya belum pernah melihat orang membunuh secepat dan sekejam itu.
Lao Bo pernah bilang pada Lu Xiang Chuan, pekerjaan Han Tang tidak pernah dilakukan orang lain, nanti pun tidak ada orang yang bisa melakukannya.
Kedudukan Lu Xiang Chuan semakin tahun semakin tinggi, kekuasaannya semakin besar.
Ia sudah memimpin banyak bawahan.
Tapi ia tahu, biar pun memakai semua cara guna mencari tahu tentang Han Tang, percuma saja.
Meteor, Kupu-kupu dan Pedang I -2 By admin .
Nov 1st, 2008 .
Category..Silat China, KL -Meteor, Kupu-kupu dan Pedang Semua orang pasti punya masa lalu, tapi Han Tang sepertinya tidak memiliki masa lalu.
* Kereta kuda yang dinaiki Lu Xiang Chuan sangat indah.
Kereta itu seperti sebuah tempat tidur yang nyaman, begitu empuk, getaran pun hampir tidak terasa.
Bila Lu Xiang Chuan menjalankan tugas, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati dan konsentrasi.
Selain apa yang harus ia kerjakan, hal lain tidak terlintas di benaknya.
Yang ia tahu, tugas kali ini teramat sulit.
"Lelaki harus seperti lelaki, kata-katanya harus seperti lelaki, kerjanya pun harus seperti lelaki,"
Begitu kalimat yang sering diucapkan Lao Bo.
Dan masalah antara Lao Bo dan Wan Peng Wang adalah masalah lelaki.
Orang lain akan merasa aneh, karena urusan sepele Lao Bo sampai bermusuhan dengan Wan Peng Wang.
Hanya Lu Xiang Chuan yang mengerti maksud Lao Bo.
Sasaran misi Lao Bo sebenarnya adalah Wan Peng Wang sendiri.
Jika kali ini Wan Peng Wang merestui hubungan Dai Dai dengan Xiao Wu, berarti ia sudah tunduk pada Lao Bo dan ia akan berteman dengan Lao Bo.
Bila tidak, ia akan menjadi musuh Lao Bo.
Lao Bo pernah berkata.
"Aku tidak begitu mengerti orang. Bagiku, di dunia ini hanya ada dua jenis manusia. Kalau dia bukan musuh berarti dia adalah teman. Apakah ingin menjadi musuh atau teman, tergantung diri sendiri. Tidak ada pilihan lain!"
Lu Xiang Chuan tahu, dalam prakteknya, Lao Bo tidak pernah memberi kesempatan pada orang lain untuk memilih.
Karena siapa pun yang memilih jadi musuh Lao Bo, pasti mati.
Masalahnya, Wan Peng Wang bukanlah seorang penakut.
Pilihan yang ia ambil mungkin tidak sama dengan orang lain.
Kalau ia memilih jadi musuh Lao Bo, banjir darah pasti terjadi.
Seandainya hal ini benar terjadi, begitu pikir Lu Xiang Chuan, barangkali Lao Bo masih bisa menang meski resikonya sangat tinggi..Wan Peng Wang Lu Xiang Chuan sangat teliti.
Sebelum menjalankan tugas, ia sudah menyelidiki Wan Peng Wang sedetil mungkin.
Wan Peng Wang tidak bermarga Wan, juga tidak bermarga Wang.
Konon, ia anak haram yang tidak jelas bapak dan dibuang ibunya.
Tapi, tidak ada yang bisa membuktikan cerita ini.
Sebelum berumur tujuh belas, tidak ada yang tahu asalnya.
Sesudah berumur tujuh belas, ia sudah bekerja pada sebuah perusahaan.
Setengah tahun kemudian, ia sudah naik jabatan.
Pada umur sembilan belas, ia membunuh bos perusahaannya kemudian menjadi bos perusahaan itu.
Tapi, setahun kemudian ia menjual perusahaan dan menjadi seorang polisi.
Dalam tiga tahun, ia sudah menangkap dua puluh sembilan penjahat, membunuh delapan orang, sisanya ia lepaskan.
Semenjak itu, ia punya dua puluh satu pembantu yang sangat setia padanya.
Waktu berumur dua puluh empat, ia keluar dari kepolisian dan mendirikan perkumpulan Da Peng.
Mula-mula hanya memimpin 100 orang, tapi sekarang anak buahnya sudah mencapai puluhan ribu orang.
Kekayaanya sudah tidak terhitung lagi.
Dulu, tidak ada yang perduli pada kata-katanya.
Sekarang, kata-katanya adalah perintah.
Semua kejayaan dan kekayaannya tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui pertarungan hidup mati.
Apalagi beberapa tahun ini terdengar kabar Wan Peng Wang telah mendapatkan sebuah rahasia kungfu aneh yang ia beri nama Fei Peng Si Shi Jiu Shi.
Ilmu telapak tangan itu sangat dahsyat, jarang ada yang bisa menandingi.
Lu Xiang Chuan merasa tugasnya sangat berat.
Apakah pertarungan antara Lao Bo dengan Wan Peng Wang tidak bisa dihindari?
Bagaimana akhirnya?
Lu Xiang Chuan tidak berani memastikannya.
Sungguh, bila bukan terpaksa, Lu Xiang Chuan tidak ingin pertentangan ini terjadi!
* Lu Xiang Chuan khawatir, Wan Peng Wang tidak sudi bertemu dengannya, maka ia sengaja mengajak Nan Gong Yuan.
Nan Gong Yuan adalah turunan keluarga Nan Gong terakhir.
Ia seorang terpelajar, juga pesilat dan play boy yang terkenal.
Orang sepertinya sangat senang menghamburkan uang.
Kekayaan keluarganya semakin lama semakin menipis dan serkarang ia sering meminjam uang pada Lao Bo.
Lu Xiang Chuan percaya, Nan Gong Yuan tidak akan mau kehilangan teman seperti Lao Bo.
Karenanya, pasti akan membantunya.
Kebetulan Nan Gong Yuan juga teman Wan Peng Wang.
Wan Peng Wang seorang lelaki berduit.
Semakin tinggi kedudukannya, hobinya semakin banyak.
Ia senang perempuan, suka berjudi dan berkuda, juga senang mempelajari etika.
Kebetulan kesenangannya sama seperti Nan Gong Yuan, dan Nan Gong Yuan adalah ahli di bidang itu.
Karena itulah mereka bisa berteman.
* Kereta kuda berhenti di luar hutan.
Seseorang berdiri di tepi hutan bertubuh tinggi dan gagah, memakai baju seputih salju.
Di bawah pohon tersedia meja, kursi, kecapi, dan arak.
Juga seekor kuda yang tinggi dan bagus.
Lelaki itu dari jauh terlihat masih sangat muda, tapi sudah terlihat keriput di sudut matanya.
Ia tampak begitu dewasa dan luwes, sulit dibandingkan dengan siapa pun.
Lu Xiang Chuan turun dari kereta dan mendekati Nan Gong Yuan.
Melihat wajah Nan Gong Yuan yang terlihat kesal, ia menghentikan langkah.
Nan Gong Yuan justeru menghampiri.
"Apa ia tidak mau bertemu denganku?"
Tanya Lu Xiang Chuan. Nan Gong Yuan menghela nafas.
"Ia menolak bertemu denganmu."
"Kau sudah jelaskan maksud Lao Bo?"
"Ia tidak pernah berhubungan dengan Lao Bo, kelak pun tidak akan berhubungan dengannya!"
"Bisakah ia berubah pikiran?"
"Tidak ada yang bisa mengubah pikirannya."
Lu Xiang Chuan tidak bertanya lagi.
Ia sudah tahu, jika terus bertanya pun akan sia-sia.
Wajah Lu Xiang Chuang tanpa ekspresi, tapi hatinya kusut dan ia tidak punya cara mengurai benang kusut itu.
Padahal baginya misi ini harus berhasil, tidak boleh gagal.
Jika gagal, bisa berakibat fatal.
Saat ia tercenung, tiba-tiba Nan Gong Yuan berkata.
"Tiap tanggal satu setiap bulan, Wan Peng Wang selalu membeli barang antik dan kuno."
"Besok tangal satu,"
Gumam Lu Xiang Chuan. Nan Gong Yuan menghel nafas panjang.
"Waktu begitu cepat berlalu, hari berganti bulan, dulu masih muda sekarang rambut sudah memutih. Kehidupan manusia seperti mimpi, tiap hari menghabiskan waktu, entah untuk apa..."
Lu Xiang Chuan tertawa kecil, dari dalam saku ia mengeluarkan sebuah amplop.
"Mungkin untuk ini,"
Jawabnya.
"Apa itu?"
"Ini cek 5,000 tail emas. Inilah penghormatan dari Lao Bo."
Nan Gong Yuan memandang amplop itu, tertawa sinis.
"Orang sepertiku tidak pantas diberi penghormatan."
Seketika Nan Gong Yuan membalik tubuh, berjalan ke meja, dan mulai memainkan kecapi.
Hidup ibarat mimpi Manakala tersadar dari mimpi "Kan kita hadapi kenyataan?
Tiap hari sibuk, apalah kegunaan?
Lagu yang sedih.
Denting kecapi terdengar menyayat hati.
Matahari sore menyinari tepi hutan itu.
Tiba-tiba hening.
Bumi dan langit begitu sepi.
Lu Xiang Chuan perlahan berdiri.
Kedudukan dan keberhasilannya lebih tinggi daripada Nan Gong Yuan, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang "kurang"
Pada diri sendiri. Mungkinkah kekurangannya adalah "masa lalu"? Apakah karena Lu Xiang Chuan hanya memiliki "masa sekarang"
Dan "masa depan", sementara Nan Gong Yuan memiliki "masa lalu"?
Betapa pun kau memiliki uang dan kedudukan, kau tidak bisa membeli masa lalumu!
Tiba-tiba Lu Xiang Chuan terkenang masa lalunya yang sulit.
Seketika kemarahan membakar dadanya.
Ia meletakkan amplop itu, sepatah demi sepatah berkata.
"Mimpiku selamanya tidak akan pernah terbangun sebab aku tidak pernah bermimpi."
Nan Gong Yuan tidak mengangkat kepala, hanya menjawab.
"Sebenarnya kau pun tahu, terkadang orang tetap harus bermimpi."
Lu Xiang Chuan tahu itu.
Tapi ia punya semacam penyakit.
Penyakitnya ialah tidak bisa bermimpi dan karenanya ia merasa tegang.
Ketegangan yang membuatnya lelah.
Lantas, kalau begini, apakah sudah seharusnya ia bermimpi?
Memiliki mimpinya sendiri?
Semua itu adalah pilihan.
Dan pilihan itu ada pada dirinya!
Denting kecapi sudah berhenti.
Lu Xiang Chuan melangkah ke kereta kuda, memberi perintah singkat.
"Ke Gu Huang Xian." * Tanggal satu. Semua pedagang antik sudah tiba di kaki bukit. Mereka datang dari berbagai lokasi, bahkan ada yang datang dari tempat yang sangat jauh. Ini adalah hari Wan Peng Wang memilih barang antik, dan ia adalah pembeli sekaligus kolektor yang baik. Di antara para pedagang itu terlihat seorang pemuda yang sangat tenang tapi tidak dikenal para pedagang lain yang umumnya sudah saling mengenal. Pemuda itu konon datang dari Gu Huang Xian. Dan ia adalah Lu Xiang Chuan. Sebelumnya Lu Xiang Chuan pergi ke Gu Huang Xian terlebih dulu dan baru masuk ke kota ini. Awan putih berarak. Rumah Wan Peng Wang di atas bukit seperti istana di atas awan, sangat tinggi dan seolah tidak terjangkau. Terdengar suara lonceng seperti keluar dari balik awan. Para pedagang berjalan beriringan menuju rumah Wan Peng Wang. Lu Xiang Chuan sangat terkejut ketika melihat Wan Peng Wang untuk pertama kalinya. Ia belum pernah melihat orang seperti Wan Peng Wang. Wan Peng Wang seperti raksasa di dalam dongeng. Saat ia duduk, tingginya hampir setinggi orang normal yang berdiri. Ada yang bilang.
"Semakin besar tubuh seseorang, semakin sederhana otaknya."
Namun hal ini tidak berlaku bagi Wan Peng Wang.
Pandangannya sangat dingin, tajam, dan kuat, memancarkan kecerdasan dan keteguhannya.
Ia juga penuh percaya diri, membuat orang tidak berani sembarangan dengannya.
Telapak tangannya lebar, besar, dan tebal.
Setiap saat ia mengepalkan tangan dengan erat seakan ingin memukul orang.
Saat Lu Xiang Chuan mendekati, mata Wan Peng Wang tiba-tiba menyorot setajam pisau, seolah menguliti Lu Xiang Chuan.
Setelah lama pelan-pelan Wan Peng Wang bertanya.
"Apa kau dari Gu Huang Xian?"
Saat itu juga Lu Xiang Chuan tahu sulit mengelabui orang semacam Wan Peng Wang.
Sepertinya anak buah Wan Peng Wang telah mendata setiap pedagang yang akan masuk ke rumahnya, ataukah itu justru Nan Gong Yuan yang membocorkan rahasianya?
Apa pun, Lu Xiang Chuan adalah orang yang sangat cerdas dan fleksibel.
Seketika ia mengubah rencana dan berkata jujur.
"Bukan,"
Jawab Lu Xiang Chuan. Wan Peng Wang pun tertawa senang.
"Baiklah, kau orang yang pintar! Bosmu pasti lebih pintar lagi."
Tawa Wan Peng Wang perlahan berhenti. Ia kembali memelototi Lu Xiang Chuan dan bertanya.
"Bukankah bosmu Sun Yu Bo?"
Ditanya seperti itu, seketika timbul rasa hormat di wajah Lu Xiang Chuan. Perlahan ia maju ke muka membawa sebuah piring dan berkata.
"Piring giok ini dari dinasti Han, di atasnya adalah sebuah guci yang dibuat di masa dinasti Qing. Barang ini pemberian Lao Bo untuk Ketua Bang sebagai rasa hormat beliau. Harap Ketua menerimanya."
Setiap kali Lao Bo meminta bantuan, selalu menghantarkan hadiah yang mewah.
Maknanya adalah ia ingin menjalin persahabatan.
Bila hadiahnya ditolak, berarti menolak persahabatan.
Berarti pula, kau telah menantang Lao Bo!
Namun kali ini bukan maksud Lao Bo menghantar hadiah.
Semua ini adalah ide Lu Xiang Chuan.
Ia berharap semua permasalahan ini bisa diselesaikan dengan damai.
Mata Wan Peng Wang yang semula menatap wajah Lu Xiang Chuan kini memperhatikan piring itu.
Namun sesungguhnya ia sedang berpikir.
Setelah lama Wan Peng Wang baru membuka mulut.
"Kudengar Wu Lao Dao adalah perantauan dari Jiang Bei dan tiga puluh tahun yang lalu menetap di Jiang Nan."
Wan Peng Wang mengangkat kepala dan memelototi Lu Xiang Chuan.
"Sun Yo Bo pun demikian, apa benar begitu?"
Lu Xiang Chuan membenarkan.
"Lao Bo dan Wu Lao Dao berasal dari desa yang sama. Mereka sama-sama menetap di Jiang Nan."
Lu Xiang Chuan tahu Wan Peng Wang sudah mengetahui maksud kedatangannya sehingga tidak perlu menutup-nutupi lagi.
Seketika ia merasa Wan Peng Wang lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan.
Wan Peng Wang gusar berkata.
"Sun Yu Bo menyuruhmu datang ke sini apakah untuk kepentingan anak lelaki Wu Lao Dao?"
"Lao Bo mengetahui masalah hubungan lelaki dan perempuan. Ketua pasti bisa mengijinkan mereka bersama, apalagi gadis itu hanyalah seorang pelayan."
Kata-kata Lu Xiang Chuan sangat sopan dan tidak langsung pada sasaran, namun menjelaskan keuntungan dan kerugian masalah ini, bahwa demi seorang pelayan harus bermusuhan dengan Lao Bo adalah tidak sebanding.
Tapi Wan Peng Wang marah menjawab.
"Ini bukan sekedar masalah lelaki perempuan, tapi adalah aturan perkumpulan di sini. Siapa pun dilarang melanggar aturan ini!"
Hati Lu Xiang Chuan serasa tenggelam, ia melihat harapannya semakin menipis. Namun sebelum benar-benar pupus, ia tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Lao Bo senang berteman, kalau Ketua bisa berteman dengannya, semua akan gembira menyambutnya."
Wan Peng Wang tidak menjawab. Tiba-tiba ia berdiri dan berkata.
"Ikut aku!"
Lu Xiang Chuan tidak tahu akan dibawa ke mana, pun tidak bisa menebak maksud Wan Peng Wang membawanya.
Seketika rasa takut menyelimuti dirinya.
Tapi belakangan ia berpikir, jika Wan Peng Wang ingin membunuhnya, saat ini pun dirinya sudah menjadi mayat.
Maka Lu Xiang Chuan mengikuti Wan Peng Wang keluar dari ruangan.
Ia baru memperhatikan kemegahan dan kemewahan kediaman Wan Peng Wang.
Dan ia pun mulai menyadari, sekelilingnya tidak terlihat penjagaan.
Sedemikian sepi dan lengangnya seolah menunjukan pengawalan yang lemah.
Tapi Lu Xiang Chuan tidak berfikir seperti itu.
Ia mengerti, jika rumah ini terlihat banyak penjaga justeru akan memperlihatkan sosok Wan Peng Wang yang sebenarnya.
Orang seperti Wan Peng Wang tidak begitu saja mau memamerkan kekuatannya.
Begitu juga Lao Bo.
"Lebih baik musuh tidak mengetahui dan tidak bisa memperhitungkan kekuatanmu karena, bila tidak, sebaiknya kau tidak memiliki musuh,"
Begitu prinsip Lao Bo. Prinsip itu sepertinya juga dianut Wan Peng Wang. Hanya "orang kaya baru"
Saja yang akan memamerkan seluruh harta di tubuhnya!
* Beranda tampak gelap dan sunyi.
Di ujung beranda terdapat sebuah pintu yang tidak terkunci.
Di sana terlihat sebuah ruangan yang sepertinya kosong.
Bila pintu dibuka kau akan menyadari bahwa tebakanmu keliru.
Ruangan itu penuh barang kuno dan antik.
Di istana Kota Raja pun belum tentu ada barang antik sebanyak dan selengkap ini.
Lu Xiang Chuan tidak tahu harus mulai melihat dari mana.
Wan Peng Wang membawanya berkeliling, baru berkata.
"Silahkan ambil dua macam barang, hitung-hitung membalas pemberian Lao Bo."
Lu Xiang Chuan tidak menolak.
Terkadang ada permintaan yang ditolak pun tidak ada gunanya.
Maka, ia benar-benar memilih dua macam barang.
Yang ia pilih adalah lempengan giok dan sebuah pisau dari Persia.
Nilai kedua barang ini hampir sama dengan hadiah yang diberikan Lu Xiang Chuan pada Wan Peng Wang.
Ini artinya Lu Xiang Chuan bisa menilai barang bagus dan juga menunjukkan bahwa dirinya tidak ingin mengambil keuntungan dengan mengambil barang yang lebih mahal.
Benar saja, mata Wan Peng Wang mengekpresikan pujian.
"Kapan pun kau sudah tidak bekerja pada Sun Yu Bo atau bertengkar dengannya, datanglah padaku dan aku pasti akan menerimamu."
"Terima kasih,"
Jawab Lu Xiang Chuan.
Diperhatikan seorang seperti Wan Peng Wang, sedikit banyak Lu Xiang Chuan merasa bangga.
Namun hatinya juga semakin dingin.
Karena ia tahu makna ucapan itu.
Wan Peng Wang tidak memberinya kesempatan lagi.
* Mereka kembali melalui jalan yang lain.
Begitu keluar dari pekarangan, terdengar ringkik kuda.
Wan Peng Wang menghentikan langkahnya.
"Mau melihat kuda-kudaku?"
Tawarnya.
Untuk pertama kalinya Lu Xiang Chuan melihat entah rasa senang atau bangga memancar dari diri Wan Peng Wang.
Ia merasa undangan ini tidak ada maksud lain seperti seorang tuan rumah memanggil putra putrinya untuk menemui tetamu agar sang tamu memuji anaknya.
Sementara memuji orang pun merupakan keahlian Lu Xiang Chuan.
Karena itu, tidak ada salahnya mengikuti tawaran Wan Peng Wang.
Dengan memuji, kau bisa membuat seseorang senang dan kemudian dapat mengambil keuntungan.
Memang, tidak ada salahnya untuk memberi sebuah pujian.
Hanya saja saat ini Lu Xiang Chuan belum mengetahui keuntungan apa yang akan ia peroleh.
Istal kuda itu terlihat begitu panjang dan bersih.
Hampir semuanya kuda pilihan terbaik.
Lu Xiang Chuan melihat sekor kuda memiliki kandang yang paling besar.
Bulunya mengkilat dan tampak licin.
Walaupun hanya seekor kuda, tapi perbawanya sangat angkuh dan anggun, seakan tidak ingin bersahabat dengan manusia.
Total harga seluruh kuda yang telah dilihat sebelumnya tidak akan bisa membandingi harga seekor kuda ini.
Lu Xiang Chuan langsung memuji.
"Kuda ini sangat istimewa dan sempurna, apakah keturunan Han Xue?"
Wan Peng Wang tertawa polos dan sangat bangga.
"Kau sangat mengetahui barang berkualitas."
Untuk pertama kalinya Lu Xiang Chuan melihat Wan Peng Wang seperti itu.
Walau Wan Peng Wang berdiri di tengah rumah yang penuh dengan kekayaannya, ia tidak pernah berekspresi seperti itu.
Tiba-tiba melintas di hati Lu Xiang Chuan sebuah harapan.
Terpikir olehnya sebuah cara yang mungkin bisa membuat Wan Peng Wang tunduk.
Ia tidak tahu seberapa efektifkah caranya itu.
Tapi, jika tidak dicoba, bagaimana ia bisa tahu?
Karena itu, tidak ada salahnya jika mencoba..Kibaran Bendera Perang Tengah malam.
Angin menderu bertiup dari barat.
Derunya seperti setan mengayun cambuk, melecut hati mereka yang ingin pulang.
Tapi Wu Lao Dao tidak bisa pulang, ia harus mengikuti Lu Xiang Chuan pergi ke sana.
Malam hening.
Sepi.
Mati.
Wu Lao Dao tidak tahu akan dibawa kemana.
Lu Xiang Chuan meski muda tapi sangat sopan, membuat Wu Lao Dao enggan bertanya.
Sejak awal ia melihat pemuda ini berbeda, persis seperti Lao Bo semasa muda, begitu bercahaya, namun Lu Xiang Chuan lebih sulit ditebak hati dan kemauannya.
"Masa depan pemuda ini pasti berbeda dengan Lao Bo,"
Pikir Wu Lau Dao.
"Akankah ia lebih bersinar?"
Entah sejak kapan angin berhenti.
Namun papan nama rumah makan itu masih terayun sisa terpaan angin.
Di keremangan malam, samar-samar terbaca.
Ba Xian Lao.
Itulah rumah makan terbesar di kota ini.
Seluruh jendela rumah makan besar itu tertutup rapat, terlihat gelap, mungkinkah para pelayan sudah terlelap?
Lu Xiang Chuan mendorong pintu.
Tidak terkunci.
Wu Lao Dao mengikuti melangkah ke dalam.
Di lantai atas terlihat lampu menyala benderang.
Lantas kenapa dari luat terlihat begitu gelap?
Wu Lao Dao segera menyadari, tiap jendela dipasangi gorden tebal dan hitam, membuat setitik pun cahaya tidak bisa menerobos keluar.
Ternyata telah banyak orang berkumpul di sana.
Menilik cara berpakain, mereka pasti datang dari berbagai kalangan.
Walau latarbelakang mereka tampak berbeda, tapi ada satu persamaan.
Mereka terlihat sangat tenang, tubuh sehat terawat, mata mencorong, serta memiliki sepasang tangan yang cekatan dan bertenaga.
Mereka bukan orang sembarangan.
Kelihatannya pun mereka tidak saling kenal, tapi begitu melihat Lu Xiang Chuan, seketika membungkuk memberi hormat.
Sepertinya Lu Xiang Chuan telah mengumpulkan begitu banyak orang.
Kini mereka semua datang.
Wu Lao Dao sudah tinggal lebih dari dua puluh tahun di kota ini, tapi hanya mengenali sebagian dari mereka, di antaranya adalah bos rumah makan itu.
Lelaki inilah yang pertama menyambut Lu Xiang Chuan.
Wu Lao Da sudah mengenal si Bos selama dua puluh tahun, tapi tidak pernah mengetahui hubungannya dengan Lao Bo.
Sekarang jelas, lelaki itu anak buah Lao Bo.
Jangan-jangan, rumah makan ini pun salah satu bisnis Lao Bo?
Saat itu juga Wu Lao Dao menyadari, kekuasaan Lao Bo ternyata lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan.
Lu Xiang Chuan sangat hormat dan bersikap ramah pada si Bos, layaknya seorang raja yang menghadapi perdana menteri yang berprestasi.
Si Bos bernama Yu Bai Le, membungkuk badan dan berkata sopan.
"Kecuali beberapa orang yang berada di luar kota, semua sudah tiba. Silahkan memberi perintah."
Lu Xiang Chuan tersenyum dan mengangguk.
"Saudara-saudara, silahkan duduk. Lao Bo mengirim salam untuk kalian."
Semua orang membungkuk dan berkata.
"Hamba pun selalu mendoakan dan mengingat Lao Bo. Apa Lao Bo sehat-sehat saja?"
Lu Xiang Chuan tertawa.
"Yang Mulia seperti benda terbuat dari besi. Kalian teman lama beliau, pasti lebih tahu daripadaku. bila Dewa Penyakit bertemu dengannya, pasti lari ketakutan."
Semua tertawa. Lu Xiang Chuan melanjutkan.
"Hari ini pertamakali aku bertemu kalian, seharusnya kita bisa minum-minum. Tapi, aku khawatir Bos Yu sakit hati kita habiskan araknya."
Semua kembali tertawa. Setelah tawa mereda, sikap Lu Xiang Chuan berubah serius.
"Kali ini kudatang ke sini karena tugasku sangat berat. Kalau masalah ini tidak bisa dibereskan, aku malu bertemu Lao Bo kembali."
Tiba-tiba ada yang bertanya.
"Tuan Lu punya kesulitan apa? Kekurangan uang atau kekurangan orang, silahkan utarakan."
"Terima kasih,"
Jawab Lu Xiang Chuan. Ia menunggu perhatian mereka terfokus padanya, baru melanjutkan.
"Yang kuinginkan hanya satu,"
Ia menetap wajah mereka satu persatu.
"yaitu, kuda Wan Peng Wang!" * Hari semakin malam. Wu Lao Dao dan Lu Xiang Chuan berangkat pulang. Sekarang Wu Lao Dao lebih hormat lagi pada pemuda ini. Teknik berbicaranya lebih bagus daripada tetua persilatan mana pun serta memiliki perbawa yang membuat orang menghormatinya. Pengalaman Wu Lao Dao selama bertahun-tahun menunjukkan, mendapatkan hormat seperti itu sangat sulit. Yang membuat Wu Lao Dao terharu, walau kedudukan Lu Xiang Chuan setinggi itu, namun ia tetap ingat bahwa Lao Bo adalah atasannya. Tiba-tiba Lu Xiang Chuan bertanya.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan?"
Wu Lao Dao sedikit ragu, di hadapan pemuda ini ia memilih untuk berhati-hati bicara, tapi akhirnya bertanya juga.
"Apa kau benar-benar menginginkan kuda itu?"
"Seumur hidup Lao Bo tidak pernah bohong,"
Kata Lu Xiang Chuan.
"Aku sangat setia pada Lao Bo. Hal lain aku tidak bisa menandinginya. Walau begitu, untuk pekerjaan ini paling sedikit aku bisa melakukannya."
Wu Lao Dao dalam kegelapan mengacungkan jempol. Setelah lama baru bertanya lagi.
"Penjagaan rumah Wan Peng Wang sangat ketat, harus mencuri seekor kuda yang bisa meringkik dan berlari jelas bukan hal yang mudah. Walau penjaga kuda itu berhutang budi pada Lao Bo, tetap sulit."
"Memang sulit, malah boleh dikata. mustahil!"
Jawab Lu Xiang Chuan sambil tertawa.
"Tapi aku tidak bilang akan membawa kuda itu hidup-hidup, bukan?"
Wu Lao Dao terperangah, wajahnya seketika berubah.
"Maksudmu, kuda itu akan dikeluarkan entah hidup atau mati?"
"Memang, begitulah maksudku."
"Wan Peng Wang menganggap kuda itu bagian terpenting dari seluruh kekayaannya. Bila kita membunuh kuda itu, akibatnya sungguh fatal."
"Bila tidak dibunuh akibatnya pun tetap fatal,"
Tegas Lu Xiang Chuan.
"Kenapa?"
Tanya Wu Lao Dao.
"Kau tahu, Lao Bo tidak suka penolakan. Lao Bo wanti-wanti sudah berpesan padaku, asal Wa Peng Wang mau melepaskan kekasih anakmu, ia tidak perduli hal lain!"
Lu Xiang Chuan menepuk-nepuk pundak Wu Lao Dao.
"Teman Lao Bo sangat banyak, namun teman Lao Bo sedari kecil bisa dihitung dengan jari. Ia bersedia mengorbankan segalanya karena tidak ingin membuatmu kecewa dan bersedih."
Wu Lao Dao merasa dadanya panas, tenggorokkan pun serasa tersekat. Perlahan ia berkata.
"Apakah demi diriku Lao Bo akan melawan Wan Peng Wang?"
"Kami sudah mempersiapkan semuanya,"
Jelas Lu Xiang Chuan.
Kata-kata Lu Xiang Chuan sangat ringan, seolah bukan masalah berat.
Tapi Wu Lao Dao mengetahui kekuatan Wan Peng Wang.
Karenanya, ia juga memahami pengorbanan Lao Bo.
Tak tahan air mata Wu Lao Dao mengalir.
"Aku pun tidak mengharapkan pertarungan,"
Kata Lu Xiang Chuan.
"karena itu kutempuh cara ini."
Wu Lao Dao menghapus air mata, ingin bicara, tapi kata-katanya tidak keluar. Lu Xiang Chuan melanjutkan.
"aku hanya berharap, tindakan ini bisa mengejutkan Wan Peng Wang dan dia akan melepaskan gadis itu."
Wu Lao Dao hanya mengangguk. Hatinya diliputi rasa berterima kasih.
"Aku sengaja memilih kuda itu,"
Jelas Lu Xiang Chuan.
"Jika tidak terpaksa, aku tidak ingin melukai orang."
Sesaat ia terdiam, perlahan melanjutkan.
"... Kutahu, apabila barang kesayangan kita rusak, selain marah dan sedih, kita juga akan takut dan lemah."
"Namun Wan Peng Wang bukan orang yang lemah dan mudah takut,"
Lirih suara Wu Lao Dao. Lu Xiang Chuan tertawa.
"Sudah kuperhitungkan segala akibat yang timbul dari tindakan ini. Kita sudah siap menghadapinya."
Wu Lao Dao menunduk.
Hatinya terasa berat.
Sunguh ia menyesal mengadukan masalah ini pada Lao Bo.
Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Cepat atau lambat, pertarungan akan terjadi.
Banjir darah tidak bisa dihindari.
* Pagi.
Setiap Wan Peng Wang bangun kebiasaannya selalu marah-marah.
Semua gadis yang tidur dengannya pasti mencari kesempatan kabur sepagi mungkin.
Setelah sarapan, baru emosi Wan Peng Wang mereda.
Makanan Wan Peng Wang berbeda dengan kebanyakan orang.
Sarapannya adalah sepanci kuah dimasak dengan ayam betina muda dan jamur.
Kemudian dicampur daging ham.
Masih harus ditambah sepuluh butir telur ayam dan dua puluh bakpau.
Sarapan seperti itu pasti mengejutkan banyak orang.
Namun, pagi ini sarapannya tidak sama.
Begitu Wan Peng Wang membuka tutup panci, wajahnya menghijau.
Di dalam panci tidak ada jamur, daging ham, juga tidak ada kepala ayam.
Yang ada hanya kepala kuda yang masih berdarah.
Wa Peng Wang mengenali kepala kuda itu.
Lambungnya seketika keram dan menciut seperti dipukuli puluhan orang.
Rasa keram seketika berganti kemarahan membara.
Sepertinya ia ingin meloncat dari tempat tidur dan mencekik mati siapa pun orang pertama yang ia temui, lalu mencekik mati semua pengurus kudanya, dan mencekik mati hingga sepuluh kali pelayan yang sudah mengantar panci itu.
Nyatanya semua tidak ia lakukan.
Wan Peng Wang mampu menahan kemarahan.
Padahal, biasanya, hal sepele saja bisa mendatangkan kemurkaannya.
Kali ini ia tahu masalahnya tidak sederhana.
Untuk masalah sebesar ini, ia harus berpikir tenang dan jernih.
Karena jika ia sampai kehilangan kendali, justeru akan menghancurkan dirinya.
Ia paham siapa yang melakukan ini.
Lao Bo sudah melakukan gebrakan awal!
Sejak penolakannya ia sudah memperhitungkan, Lao Bo pasti akan melakukan serangan.
Tapi, ia tidak menyangka Lao Bo melakukannya secepat ini.
Sungguh, ia tidak menyangka Lu Xiang Chuan berani melakukan hal ini.
* "Bila ingin melakukan serangan, kau harus mengunakan kesempatan pertama.
Bila tidak, kau harus menanti kesempatan terakhir, yaitu saat musuh sudah lengah.
Menunggu dan menanti kesempatan terakhir harus memiliki kesabaran tinggi,"
Begitu ajaran Lao Bo.
Lu Xiang Chuan tidak pernah melupakan ajaran itu.
Karenanya, ia sudah menggunakan kesempatan pertama saat lawan belum siap.
* Bila Wan Peng Wang sedang sarapan, tidak ada yang berani dekat-dekat dengannya.
Wan peng Wang tidak menyukai orang melihatnya sedang makan dengan rakus.
Maka, di kamar itu tidak ada orang, hanya Wan Peng Wang sendiri.
Karenanya, ia dapat berpikir tenang.
Sekarang ia sadar, Lao Bo benar-benar lawan yang sangat menakutkan, sepuluh kali lebih menakutkan daripada yang ia sangka semula.
"Satu anak buah Lao Bo bernama Lu Xiang Chuan sudah begini, masih adakah yang lain?"
Pikir Wan Peng Wang sambil menutup panci perlahan. Saat keluar kamar wajahnya tanpa ekspresi. Ia hanya berpesan satu kalimat.
"Segera antarkan Dai Dai ke rumah Wu Lao Dao!" * Sebuah penginapan. Meng Xin Hun berbaring di tempat tidur. Ia sudah berbaring selama tujuh delapan jam. Ia tidak makan, tidak bergerak, juga tidak tidur. Sekarang batas waktu yang diberikan Gao Lao Da tinggal sembilan puluh hari lagi. 11. Xiao Tie Sembilan puluh hari lagi. Tapi keadaannya masih sama seperti dua puluh sembilan hari yang lalu, informasi tentang Lao Bo masih sangat terbatas. Entah bagaimana kelihaian Lao Bo, seperti apa pula ilmu silatnya, Meng Xin Hun tidak tahu. Pada serangan di hari ulang tahun itu, jemari Lao Bo sama sekali tidak bergerak. Ketenangan yang sungguh menakutkan. Berapa banyakkah anak buah Lao Bo? Seberapa tangguhkah mereka? Meng Xin Hun tidak tahu. Ia hanya melihat seorang pemuda berdiri di belakang Lao Bo, sangat terpelajar, dan di balik bajunya tersimpan entah berapa banyak senjata rahasia. Juga ada Sun Jian, putra Lao Bo, pemuda dengan semangat tempur seperti api membara mengerikan. Ia mendapat kabar, keduanya sudah meninggalkan kota. Apakah di sisi Lao Bo masih ada pelindung lain setangguh mereka? Siapa pula si Jubah Kelabu? Di mana ia sekarang? Meng Xin Hun seorang pembunuh berdarah dingin, berhati dingin, bertangan dingin. Tapi ia menilai si Jubah Kelabu terlebih kejam dan dingin lagi. Ketika melihat cara membunuh sekejam dan secepat itu, timbul rasa takut di hati Meng Xin Hun. Meng Xin Hun sudah pernah coba mencari tahu tentang si Jubah Kelabu. Hasilnya nihil, ia tidak mendapat apa-apa. Kebiasaan dan kehidupan sehari-hari Lao Bo pun ia tidak tahu, juga tidak tahu di mana tempat tinggal Lao Bo. Taman chrysan itu begitu luas, di dalamnya terdapat tujuh belas ruangan. Di ruangan mana Lao Bo tinggal? Pun taman bunga Lao Bo tidak hanya chrysan itu saja, masih terbentang taman-taman lain. taman bunga mei, mawar, mudan, belum lagi kebun bambu. Setiap taman saling berhubungan. Meng Xin Hun tidak punya informasi seberapa luas total keseluruhan taman bunga Lao Bo. Kabarnya, jika seseorang berjalan dengan cepat mengelilingi seluruh taman, satu hari pun tidak cukup. Sejak hari ulang tahun itu, Meng Xin Hun tidak pernah melihat Lao Bo lagi. Sepertinya, Lao Bo tidak pernah menginjakkan kaki di luar daerah kekuasaannya. Bagaimana penjagaan di taman itu? Berapa banyak penjaga dan jebakannya? Meng Xin Hun tidak tahu. Untuk order membunuh kali ini, begitu banyak hal menyangkut target sasaran yang belum ia ketahui. Ia tidak mau gegabah. * Waktu makan malam. Ia ingin makan, sederhana saja dan tidak berlebihan, karena ia beranggapan terlalu banyak makan bisa membuat pikiran dan pergerakan lamban. Mungkin karena pengalaman masa kecilnya yang prihatin, berhari-hari tidak makan, dan kini profesinya selaku pembunuh, ia merasa tubuhnya jadi seperti hewan. Terkadang ia merasa seperti kelelawar; pagi tidur, malam keluar. Atau seperti ular; makan hanya sekali, kemudian berhari-hari baru makan lagi. Tapi sekarang ia lapar. Meng Xin Hun memilih rumah makan yang tidak teralu besar, tidak terlalu kecil, tidak begitu sepi, juga tidak begitu ramai. Ia selalu memilih tempat yang tidak mencolok, tidak memancing perhatian. Beberapa orang keluar masuk dari rumah makan. Ada lelaki, ada perempuan, ada yang muda, juga ada yang berpenampilan kaya raya. Meng Xin Hun berharap ia bisa seperti mereka. Tidak seperti Lu Xiang Chuan, Meng Xin Hun tidak iri. Juga tidak seperti Lu Xiang Chuan, masa lalu yang kelam pun tidak membuatnya sakit hati. Terdengar tawa sangat keras.
"Hari ini siapa yang minumnya paling banyak?"
Orang itu menjawab sendiri.
"Yang paling banyak adalah Xiou Tie!"
Jarinya menunjuk seorang gadis berbaju merah.
Tiba-tiba seorang pemuda memasuki rumah makan, membawa satu guci arak dan memberikanya pada Xiao Tie.
Xiao Tie tidak bicara, juga tidak menolak.
Ia hanya tersenyum, langsung menghabiskan seguci arak seperti setan arak.
Gadis setan arak tidak banyak, Meng Xin Hun juga setan arak, maka ia memperhatikan Xiao Tie lebih teliti.
Semakin diperhatikan, terlihat semakin istimewa.
Ia sangat cantik.
Biasanya gadis cantik yang tahu dirinya cantik selalu menebar pesona pada sekelilingnya.
Tapi gadis ini tidak seperti gadis lain, seakan ia tidak perduli dirinya cantik atau tidak.
Meski di tengah keramaian, ia seakan sedang sendirian, seolah berada di tengah lapangan yang dingin dan sepi.
Malam semakin larut.
Kereta kuda datang silih berganti.
Orang-orang datang dan pergi.
Tertinggal hanya Xiao Tie dan pemuda berbaju hitam.
Pemuda itu sangat tampan, badannya tinggi, sarung pedangnya berkilauan; sangat pantas menjadi pendamping gadis secantik Xiao Tie.
Kini tersisa satu kereta kuda di pinggir jalan.
"Mari naik kereta,"
Ajak si pemuda. Xiao Tie menggeleng kepala.
"Masih ingin minum?"
Tanya si pemuda. Xiao Tie menggeleng kepala. Pemuda itu tertawa.
"Kau mau di sini semalaman?"
Xiao Tie kembali menggeleng kepala.
"Aku ingin jalan-jalan,"
Jawabnya.
"Baiklan, ayo kutemani."
Mereka terlihat akrab, juga tidak khawatir orang memperhatikan mereka. Si pemuda memegang tangannya, dan Xiao Tie membiarkan.
"Aku ingin jalan-jalan sendiri, boleh?"
Pinta Xiao Tie. Pemuda itu terpaku, perlahan melepaskan genggamannya.
"Besok boleh k u t e m a n i m u lagi?"
"Kalau ada waktu, kenapa tidak?"
Balik tanya Xiao Tie.
Setelah itu Xiao Tie tidak bicara lagi, terus berjalan.
Biar pun jalannya lamban, akhirnya hilang di kegelapan.
Biasanya anak gadis takut kegelapan, tapi Xiao Tie tidak.
Meng Xin Hun tidak mengenal Xiao Tie, apalagi pemuda baju hitam itu.
Ia merasa keduanya sangat serasi.
Begitu melihat si gadis pergi sendiri, hati Meng Xin Hun entah mengapa merasa senang sekali.
Pemuda itu masih terlongong memandangi bayangan Xiao Tie yang menghilang di kegelapan.
Sesaat kemudian baru berkata kepada pemilik rumah makan.
"Beri aku seguci arak yang paling besar!"
Dan Meng Xin Hun memutuskan pergi dari situ. Saat keluar dari pintu, ia masih mendengar pemuda itu meracau.
"Xiao Tie... Xiao Tie... Apa kau mencintaiku? Sungguh kau membuatku penasaran..."
Di depan kegelapan semata.
Inilah jalan yang tadi dilalui Xiao Tie.
Tidak sengaja, Meng Xin Hun juga berjalan ke arah yang sama.
Walau Meng Xin Hun tidak mengakui, sesungguhnya ia berharap bisa bertemu gadis itu lagi.
Tapi gadis itu seperti setan gentayangan hilang di kegelapan malam.
Dan Meng Xin Hun memutuskan pulang ke penginapan.
* Malam semakin larut.
Pekarangan itu sunyi lagi sepi.
Kamar yang ia sewa pun tidak ada cahaya lampu.
Meng Xin Hun tidak pernah menyalakan lampu karena di tengah kegelapan ia merasa lebih aman.
Waktu ia pergi, pintu dan jendela sudah ditutup.
Sebelum melangkah masuk, tiba-tiba ia berhenti.
Seperti seekor anjing pemburu yang terlatih, ia mencium bahaya mengancam.
Tubuh Meng Xin Hun meloncat tinggi dan berhenti di pekarangan belakang.
Jendela belakang masih tertutup.
Ia mengetuk jendela dan mendadak melompat lagi ke halaman depan.
Gerakannya ringan dan cepat seperti kelelawar.
Saat itu ia melihat sesosok bayangan melesat keluar dari jendela depan.
Gerakan orang itu sangat cepat.
Meng Xin Hun segera mengikuti kemana pun bayangan pergi.
Akhirnya Meng Xin Hun berkata.
"Untung kau adalah Xiao He, kalau tidak, sudah kubunuh kau!"
Bayangan itu terdiam.
Setelah ragu sejenak, ia memutuskan kembali berkelebat ke kamar Meng Xin Hun.
Setelah lampu kamar dinyalakan, Meng Xin Hun langsung duduk di depan Xiao He.
Ia menatap Xiao He, tapi Xiao He tidak menatapnya.
Ia sudah mengenal Xiao He lebih dari dua puluh tahun, tapi tetap tidak bisa memahaminya.
* Meng Xin Hun, Shi Qun, Ye Xiang, dan Xiao He semua anak yatim piatu.
Mereka bisa bertahan hidup karena Gao Lao Da.
Di antara mereka berempat, umur Xiao He paling kecil.
Xiao He yang pertama bertemu Gao Lao Da dan selalu menganggap Gao Lao Da sebagai kakak sendiri.
Waktu Gao Lao Da mengangkat tiga bocah lain sebagai anaknya, ia iri dan marah, dan karenanya sering mengadu domba mereka.
Ia mengangap ketiga bocah lainnya merebut makanan Gao Lao Da, juga merebut kasih sayang Gao Lao Da darinya.
Bila tidak ada ketiga bocah itu, ia merasa hidupnya akan lebih nyaman dan makan lebih kenyang.
Sejak awal ia sudah menggunakan berbagai cara agar Gao Lao Da mengusir mereka.
Saat itu usianya baru enam tahun, ia sudah bisa berbuat licik, jalan pikirannya sudah jahat.
Pernah suatu kali Gao Lao Da menyuruh Xiao He memberi tahu tiga "saudara"-nya untuk berkumpul di sebelah barat kota.
Namun Xioa He malah bilang berkumpul di sebelah timur.
Tiga bocah itu menunggu di sebelah timur kota selama dua hari dan hampir mati kelaparan.
Kalau Gao Lao Da tidak terus menerus mencari, mereka mungkin sudah mati.
Masih ada lagi.
Suatu hari Xiao He memberi tahu patroli polisi bahwa mereka bertiga pencuri dan sengaja meletakkan barang yang dicuri ke dalam pakaian mereka.
Jika bukan Gao Lao Da yang menyogok polisi, mereka bertiga sudah mati di lempar ke sungai.
Saat itu penjara penuh, sehingga bukannya dimasukkan kepenjara, banyak penjahat yang dilempar mati polisi ke sungai.
Masih banyak lagi akal bulus Xiao He guna mencelakakan tiga "saudara"-nya.
Walau Gao Lao Da memarahi, tapi tidak sampai mengusir Xiao He.
Gao Lao Da menilai, usia Xiao He terlalu kecil, sehingga kesalahannya masih bisa dimaafkan.
Dalam melakukan segala sesuatu, Gao Lao Da memang hanya menuruti hati kecil.
Ia tidak tahu batasan benar dan salah karena tidak seorang pun memberitahunya.
Pokoknya, asalkan bisa bertahan hidup, perbuatan apa pun boleh dilakukan.
Sudah dua puluh tahun berlalu, Xiao He terus melakukan hal yang merugikan "saudara"-nya.
Cara-caranya pun semakin lihai dan sulit dilacak.
Apalagi terhadap Meng Xin Hun, ia sangat iri.
Saat berlatih kungfu bersama, Meng Xin Hun selalu lebih unggul darinya.
Kini, posisi Meng Xin Hun di mata Gao Lao Da semakin penting.
Itu semua membuat Xiao He semakin membencinya.
* Meng Xin Hun memandang wajah Xiao He.
Namun saat ini Xiao He sedang marah.
Wajahnya menjadi hijau, sepasang tangannya tampak gemetar, membuat Meng Xin Hun merasa tidak enak.
Biar bagaimana Xiao He teman sedari kecil, usianya dua tahun lebih muda darinya, ia menganggap Xiao He adik sendiri.
Meng Xin Hun tertawa terpaksa.
"Tidak kusangka kau yang datang, seharusnya memberi tahu lebih dulu."
"Memangnya, siapa yang kau sangka?"
Tanya Xiao He.
"Orang semacam kita selayaknya ekstra hati-hati!"
Jawab Meng Xin Hun. Xiao He tidak senang.
"Apa kau pikir sembarang orang bisa datang ke sini? Apa selain Gao Lao Da masih ada yang tahu kau berada di sini?"
Tawa Meng Xin Hun seketika lenyap.
"Apa Gao Lao Da yang menyuruhmu ke sini?"
Xiao He diam.
Diam berarti mengakui.
Wajah Meng Xin Hun mendadak tanpa ekspresi.
Namun dari matanya terlihat bayangan gelap.
Sudut mata kanannya mulai berkedut.
Pada saat melaksanakan tugas, Gao Lao Da tidak pernah mengikutinya, bertanya pun tidak.
Ga Lao Da sangat mempercayainya.
Namun sekali ini sepertinya berbeda.
Meng Xin Hun teringat, Gao Lao Da pernah menyuruhnya menguntit Ye Xiang karena meragukannya.
Itukah yang terjadi sekarang?
Xiao He diam-diam memperhatikan Meng Xin Hun, matanya tiba-tiba menyorot sinar seakan sudah menebak apa yang ada di pikiran Meng Xin Hun.
Xiao He tertawa.
"Bukannya Gao Lao Da tidak mempercayaimu, ia hanya meyuruhku menyampaikan pesan."
Tawa Xiao He terdengar sangat rahasia sekaligus menyebalkan.
Siapa pun yang mendengar tahu bahwa tawanya mengandung niat jahat.
Ia memang sengaja membuat Meng Xin Hun merasa seperti itu.
Meng Xin Hun lama terdiam, baru bertanya.
"Apa pesan Gao Lao Da padaku?"
"Dua anak buah Sun Yu Bo yang paling lihai sedang keluar melaksanakan tugas, apa kau tahu?"
"Mereka adalah Sun Jian dan Lu Xiang Cuang?"
Balas tanya Meng Xin Hun. Xiao He tertawa.
"Ternyata kau sudah tahu. Gao Lao Da khawatir kau belum tahu."
"Khawatir belum tahu"
Artinya Gao Lao Da sudah tidak mempercayaimu! Meng Xin Hun mengerti arti kata-kata itu. Xiao He pun tahu bahwa Meng Xin Hun sudah mengerti.
"Dua anak buah terpercaya sudah pergi, Sun Yu Bo ibarat kehilangan dua tangan, Kalau orang sudah kehilangan tangan kiri dan kanan, tentu tidak menakutkan lagi!"
Dingin pernyataan Xio He. Meng Xin Hun hanya diam.
"Sekarang sudah waktumu bergerak, kenapa masih belum beraksi?"
Tanya Xiao He dingin. 12. Xiao He Kemarahan Meng Xin Hun seketika timbul.
"Yang melakukan tugas ini aku atau kau?"
Bentaknya.
"Tentu saja kau."
"Bila aku yang melakukan, tentu akan kugunakan caraku sendiri!"
"Aku hanya bertanya, tidak ada maksud apa-apa,"
Ejek Xiao He sambil melanjutkan.
"Gao Lao Da selalu bilang, kepalamu paling dingin. Tidak kusangka, ternyata kau cepat marah."
Meng Xin Hun seketika merasa dipecut.
Sebetulnya ia tidak boleh marah.
Marah adalah sejenis emosi.
Seorang pembunuh profesional tidak boleh memiliki emosi.
Apa pun bentuknya, emosi bagi profesi seperti Meng Xin Hun adalah racun.
Meng Xin Hun merasa ujung-ujung jarinya mendingin.
Xiao He menatapnya.
"Kau kenapa, tidak biasanya begini?"
Meng Xin Hun membuang pandang. Seluruh otot-ototnya seperti hilang. Ia sendiri pun tidak tahu megapa sekarang jadi begini. Lama baru ia berkata.
"Aku lelah..."
Mendengar perkataan ini, Xiao He malah senang.
"Aku boleh tanya?"
"Apa?"
Mata Xiao He berputar jahil.
"Lebih baik tidak jadi kutanya."
Hampir naik kembali darah Meng Xin Hun. Sedapatnya ia menekan emosi.
"Bicaralah!"
Puas mempermainkan Meng Xin Hun, Xiao He berkata simpati.
"Dua tahun sejak kau mengganti posisi Ye Xiang, sudah waktunya kau beristirahat."
Nadanya penuh perhatian.
"Kalau kau tidak mau melakukan tugas ini, biar aku yang menggantikan."
Lirih suara Meng Xin Hun.
"Kau tahu Sun Yu Bo macam apa?"
"Kau kira aku tidak bisa membunuhnya?"
"Kemungkinan aku juga tidak bisa membunuhnya!"
"Kalau kau tidak bisa membunuhnya, kau pikir aku juga tidak bisa?"
Wajah Xiao He menghijau marah.
"Kungfumu memang lebih tinggi dariku. Untuk membunuh tidak hanya memerlukan kungfu, tapi juga semangat dan kemauan!"
"Kalau kau ingin menggantikanku, pergilah."
Meng Xin Hun merasa begitu lelah. Lelah membuatnya malas bicara, juga membuatnya malas melakukan apa pun. Tapi masih ada satu kalimat yang ia ucapkan.
"Sebelum melakukannya, kau harus tahu, tugas ini sangat berbahaya."
Xiao He langsung menjawab.
"Aku tidak takut karena aku sudah memperhitungkannya."
Bahaya tidak akan membuat Xiao He mundur.
Kesempatan ini sudah lama ia tunggu.
Asal bisa melaksanakan tugas ini dengan baik, maka Xiao He bisa mengganti posisi Meng Xin Hun.
Itulah ambisinya.
Namun Meng Xin Hun tidak perduli.
Walau kedudukannya terancam direbut Xiao He, ia tidak perduli.
Ia hanya ingin istirahat.
Lain-lainnya ia tidak mau tahu.
Ia hanya ingin tidur, kalau bisa tidak usah bangun lagi.
Nyatanya sampai dini hari pun ia tidak bisa memejam mata.
* Ayam berkokok.
Kabut mengambang di permukaan begitu tebal.
Sedemikian tebalnya bahkan telapak tangan sendiri pun sulit terlihat Meng Xin Hun berjalan ke pinggir kota.
Entah berjalan ke mana ia tidak perduli.
Berjalan sampai kapan pun ia tidak mau tahu.
Pokoknya, ia membiarkan kakinya melangkah semaunya.
Pikirannya hampa, sehampa hatinya.
Suara air mengalir.
Sungai kecil.
Ia menghampiri dan duduk di tepi kali.
Ia suka mendengar suara air mengalir.
Walau air bisa saja mengering, tapi air tidak pernah berhenti mengalir.
Air sepertinya tidak mengenal lelah.
Begitu bersemangat, tidak pernah berubah.
Mungkin di semesta ini hanya manusia yang bisa merasa lelah, bosan, dan berubah?
Meng Xin Hun menghela nafas.
* Kabut mulai menipis.
Ketika itulah Meng Xin Hun baru menyadari sesosok bayangan duduk di atas batu di seberang sana.
Kini sosok itu bangkit mendatanginya.
Seorang gadis berbaju merah.
Wajahnya terlihat pucat, mungkin menahan dingin?
Matanya sangat benderang, seakan menembus kepekatan kabut.
Mata itu memandang Meng Xin Hun penuh simpati.
Ia seperti kasihan kepada kebodohan manusia dan juga bersimpati pada manusia yang tidak mengerti arti kehidupan.
Karena ia bukan manusia, melainkan dewi.
Dewi yang baru keluar dari sungai.
Tenggorokan Meng Xin Hun tercekat.
Ia merasa darahnya bergolak, membuat matanya berbinar terang.
Meng Xin Hun mengenali gadis itu dan mengetahui bahwa ia bukan dewi.
Mungkin ia memang lebih cantik daripada dewi, lebih misterius daripada dewi.
Tapi ia bukan dewi.
Ia manusia biasa bernama Xiao Tie.
Xiao Tie masih memandang Meng Xin Hun, perlahan bertanya.
"Kau ingin bunuh diri?"
Pertama kali Meng Xin Hun mendengarnya bicara, suaranya lebih merdu daripada air yang mengalir di musim semi. Meng Xin Hun ingin bicara tapi tidak sanggup. Xiao Tie bicara lagi.
"Kalau kau ingin mati, aku tidak akan melarangmu. Aku hanya ingin bertanya satu kalimat saja."
Meng Xin Hun mengangguk. Tiba-tiba pandangan Xiao Tie beralih ke tempat jauh, sangat jauh di sana, ke tempat tertutup kabut. Ia bertanya.
"Apa kau pernah mengalami kehidupan?"
Meng Xin Hun tidak menjawab karena ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
"Apa kau pernah menjalani kehidupan?"
Tanya Xiao Tie sekali lagi.
"Apa kehidupanmu termasuk normal?"
Meng Xin Hun membalik badan, ia takut air matanya menetes. Saat membalik tubuh, suara Xiao Tie seperti menjauh.
"Seseorang bila belum pernah menjalani kehidupan tapi sudah memikirkan kematian, bukankah sangat bodoh?"
Meng Xin Hun ingin memukul gadis itu dan balik bertanya.
"Apa kau sendiri juga punya kehidupan?"
Nyatanya Meng Xin Hun tidak bertanya, juga tidak perlu bertanya karena gadis itu masih begitu belia, begitu cantik, pasti ia punya kehidupan.
Tapi jika gadis itu punya kehidupan, kenapa memilih tempat yang sunyi ini?
Apakah ia ke sini untuk menikmati kesepian?
Setelah lama, Meng Xin Hun baru membalik tubuh, tapi gadis itu sudah pergi entah ke mana.
Datang seperti kabut, hilang pun seperti kabut.
Tidakkah kesepian terkadang juga bisa dinikmati?
Pertemuan begitu singkat.
Tapi entah mengapa di dalam hati Meng Xin Hun serasa ia sudah mengenal gadis itu begitu lama.
Sepertinya sebelum ia dilahirkan sudah mengenalnya.
Gadis itu seperti juga sudah lama menunggunya.
Kehidupan Meng Xin Hun pun seperti hanya untuknya.
Apakah ini pertemuan terakhir?
Meng Xin Hun tidak tahu jawabnya.
Tidak ada yang tahu ia datang dari mana dan akan pergi ke mana.
Meng Xin Hun memandang ke kejauhan, tiba-tiba hatinya hampa.
Kabut semakin menipis.
* Beberapa hari berlalu.
Tidak ada kabar dari Xiao He.
Xiao He seperti lenyap ditelan bumi.
Meng Xin Hun tidak punya kegiatan apa pun.
Satu-satunya kegiatan yang ia lakukan hanya berusaha melupakan Xiao Tie.
Namun entah mengapa hari ini ia teringat Xiao He.
Akhirnya Meng Xin Hun memutuskan untuk kembali ke Kuai Huo Yuan.
* Orang-orang di dalam Kuai Huo Yuan selalu berwajah gembira.
Gao Lao Da selalu tersenyum manis.
Saat melihat Meng Xin Hun pulang, tawanya semakin manis.
Tapi sejak kejadian hari itu, Gao Lao Da belum pernah benar-benar menatap Meng Xin Hun.
Meng Xin Hun pun tidak berani menatap Gao Lao Da secara langsung.
Gao Lao Da selalu ingin melupakan kejadian hari itu, tapi ia tidak sanggup.
Meng Xin Hun hanya menunduk kepala.
"Kau sudah pulang?"
Tanya Gao Lao Da.
Meng Xin Hun sudah berada di sini, dengan sendirinya sudah pulang.
Tapi Meng Xin Hun justeru menggeleng kepala karena ia tahu yang ditanya Gao Lao Da sebetulnya apakah pekerjaannya sudah selesai.
Jika ia sudah berani pulang seharusnya tugasnya sudah rampung.
Gao Lao Da mengerut dahi.
"Mengapa tugasmu belum selesai?"
Meng Xin Hun lama terdiam, baru perlahan bertanya.
"Di mana Xiao He?"
"Xiao He? Kenapa kau tanya dia? Dia tidak punya tugas, mana kutahu dia ada di mana?"
Hati Meng Xin Hun serasa tenggelam.
"Aku pernah bertemu dengannya."
"Di mana?"
Tanya Gao Lao Da heran.
"Dia datang mencariku."
"Kenapa dia mencarimu?"
Gao Lao Da terlihat marah. Meng Xin Hun tidak menjawab.
"Apa kau tahu dia di mana?"
Meng Xin Hun tidak bisa menjawab.
Gao Lao Da semakin marah, ia sangat tahu sifat Xiao He, anak itu suka menyombongkan diri dan cari perkara.
Meng Xin Hun membalik tubuh, beranjak keluar, karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia tanyakan.
Sekarang ia bisa menduga kejadiannya.
entah bagaimana Xiao He mengetahui ke mana ia pergi dan sengaja mencarinya.
Maksud Xiao He hanya satu, yaitu menjatuhkan rasa percaya diri Meng Xin Hun supaya bisa menggantikan posisinya.
Hal seperti ini sering dilakukan Xiao He.
Hanya saja kali ini ia salah, dan kesalahannya sangat fatal.
Xiao He tidak tahu, Lao Bo adalah orang yang sangat menakutkan.
"Jangan pergi"
Cegah Gao Lao Da.
"Aku ingin tahu, apa Xiao He menggantikanmu mencari Lao Bo?"
Lama terdiam, Meng Xin Hun mengangguk kepala.
"Apa kau membiarkan dia pergi begitu saja?"
"Dia sudah pergi!"
Gao Lao Da marah berkata.
"Kau tahu seperti apa Sun Yu Bo! Kau sendiri paling banter hanya tujuh puluh persen berhasil. Kalau Xiao He yang pergi, berarti mengantar nyawa. Kenapa kau tidak mencegahnya?"
Meng Xin Hun membalik tubuh. Ia juga marah, berkata.
"Kenapa ia bisa tahu aku ada di sana?"
Mulut Gao Lao Da seketika tersumpal. Tugas Meng Xin Hun adalah rahasia. Kecuali Meng Xin Hun dan Gao Lao Da, tidak ada yang tahu. Tapi kenapa Xiao He bisa tahu? Akhirnya Gao Lao Da menarik nafas.
"Aku tidak menyalahkanmu, hanya menghawatirkan Xiao He. Siapa pun dia aku tetap akan menghawatirkannya."
Meng Xin Hun menunduk kepala. Di depan orang lain kepala Meng Xin Hun tidak pernah menunduk, tapi di hadapan Gao Lao Da keadaannya tidak sama. Ia tidak akan pernah melupakan budi Gao Lao Da.
"Mau ke mana?"
Tanya Gao Lao Da melihat Meng Xin Hun mulai beranjak.
"Ke tempat aku seharusnya berada."
"Kau sudah tidak bisa ke sana lagi!"
"Kenapa?"
"Bila benar Xiao He sudah ke tempat Sun Yu Bo, hidup atau mati, Sun Yu Bo akan lebih waspada. Kalau kau pergi, hanya mengantar nyawa."
Meng Xin Hun tertawa.
"Setiap menjalankan tugas pun aku sudah siap menghantarkan jiwa."
"Kali ini tidak sama!"
"Kali ini tetap sama! Karena saat menjalankan tugas, selamanya kulakukan sebaik mungkin."
"Kalau kau tetap memaksa,"
Kata Gao Lao Da.
"Sebaiknya menunggu situasi tenang lebih dulu."
"Bila menunggu situasi tenang, tubuh Xioa He sudah dingin."
"Sekarang pun mungkin badannya sudah dingin."
Jawab Gao Lao Da.
"Paling sedikit, aku harus melihat-lihat!"
"Tidak bisa! Aku tidak mengijinkan kau pergi demi siapa pun."
Mata Meng Xin Hun berekspresi aneh.
"Apa demi Xiao He pun hal ini tidak bisa?"
Gao Lao Da tetap berkeras.
"Demi dia juga tidak bisa! Aku tidak bisa demi seseorang yang sudah mati mengorbankan orang yang masih hidup."
"Tapi dia adalah saudara kita."
"Saudara dan tugas tidak bisa dicampur aduk. Kalau kita tidak bisa membedakan tugas dan saudara, di hari mendatang mungkin yang mati adalah kita!"
Mata Gao Lao Da menjadi sangat berat. Perlahan ia melanjutkan.
"Jika kita semua mati, tidak akan ada yang mengubur mayat kita."
Meng Xin Hun sesaat menjublak.
Ia merasa Gao Lao Da sudah berubah dan terus berubah.
Gao Lao Da kini jadi sangat dingin dan kejam, berubah menjadi orang yang tidak punya perasaan.
Sejak Ye Xiang gagal menjalankan tugas, Meng Xin Hun sudah merasakan perubahan Gao Lao Da.
Tapi kenapa Gao Lao Da tidak takut Xiao He membocorkan rahasia?
* Terdengar ketukan pintu.
Itulah pintu rahasia Gao Lao Da.
Bila bukan hal yang sangat penting, tidak ada yang berani mengetuknya.
Gao Lao Da membuka jendela kecil pada pintu itu.
"Ada apa?"
Terdengar jawaban dari luar.
"Tuan Tu mengajak Nona minum arak."
"Apakah dia yang bernama Tu Cheng?"
Tanya Gao Lao Da. Suara di luar menjawab.
"Betul."
"Baiklah aku segera menemuinya."
Gao Lao Da memandang Meng Xin Hun.
"Tu Cheng adalah pedagang besar. Ia juga anak buah Wan Peng Wang, malah kabarnya ia adalah tangan kanannya."
Meng Xin Hun bertanya.
"Apa Tu Cheng itu yang bernama asli Tu Da Peng?"
"Betul,"
Jawab Gao Lao Da.
"Kau pasti tahu Sun Yu Bo menyuruh Lu Xiang Chuan pergi. Tidak ada yang tahu tujuan penugasannya. Bisakah kau mencari tahu?"
Tanya Meng Xin Hun. Ia tidak pernah menanyakan hal yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan.
"Lu Xiang Chuan orang kepercayaan Lao Bo. Kalau bukan hal yang sangat penting, Lao Bo tidak akan menyuruh Lu Xiang Chuan pergi."
Meng Xin Hun mengangguk. Ia pun merasa Lu Xiang Chuan tidak bisa dipandang remeh. Gao Lao Da tertawa.
"Kalau Sun Yu Bo berkelahi dengan Wan Peng Wang, akan lebih menguntungkan kita. Tu Cheng keluar sarangnya pasti terkait dengan Sun Yu Bo."
Gao lao Da langsung membuka pintu, berjalan keluar.
"Lebih baik kau tunggu di sini, biar aku mencari kabar sebentar."
Berita yang diperoleh Gao Lao Da selalu sangat cepat, karena cara kerjanya pun sangat tepat.
Tapi Meng Xin Hun tidak mau sekedar duduk menunggu, ada juga berita yang ingin ia cari sendiri..Pembunuh Sejati Ye Xiang berbaring di bawah pohon rindang di padang rumput yang gersang.
Rumput-rumput berwarna kuning kekeringan.
Ia melemaskan tangan dan kakinya.
Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal ini karena tidak punya cukup waktu buat bersantai.
Sekarang keadaannya sudah berbeda, sudah tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan, ia bisa lebih santai menjalani hidup.
Ternyata kegagalan pun ada hikmahnya, orang sukses belum tentu bisa menikmati hidup seperti dirinya.
Ye Xiang tertawa kecut.
Tiba-tiba terdengar suara langkah berjalan di atas rumput, begitu ringan seperti kucing yang mengendap.
Ye Xiang tetap berbaring.
Tanpa berpaling pun ia tahu siapa yang datang.
Itu langkah Meng Xin Hun, kecuali Meng Xin Hun tidak ada yang melangkah seperti itu.
"Kapan kau pulang?"
Tanya Ye Xiang tetap berbaring.
"Baru saja,"
Jawab Meng Xin Hun. Tawa Ye Xiang pecah.
"Kau baru pulang tapi langsung mencariku, benar-benar sahabat yang baik."
Seketika jengah wajah Meng Xin Hun. Selama dua tahun ini banyak yang menjauhi Ye Xiang, termasuk dirinya. Ye Xiang menepuk-nepuk rumput kering di sampingnya.
"Duduklah! Minumlah dulu, baru katakan maksudmu mencariku..."
Meng Xin Hun duduk di tempat yang ditunjuk Ye Xiang, menenggak arak sambil berjanji dalam hati, kelak bila kembali dengan selamat akan memperlakukan Ye Xiang lebih baik, minum berdua lebih sering lagi.
Harus diakui, hari-hari lalu ia sempat menjauhi Ye Xiang.
Bukan karena sombong, melainkan karena takut.
Manakala ia melihat Ye Xiang, seolah ia bercermin melihat diri sendiri.
"Apa yang membawamu ke sini?"
Tanya Ye Xiang.
"Kau pernah bilang, di dunia ini ada dua macam orang. Pertama, orang yang membunuh dan, kedua, orang yang dibunuh."
Jawab Meng Xin Hun sambil mengembalikan botol arak ke tangan Ye Xiang setelah sekali lagi menenggaknya. Ye Xiang tertawa.
"Tidak seorang pun yang bisa membagi jenis orang dengan cara sama! Mungkin caraku membagi pun salah."
"Kau bisa membagi dengan cara seperti itu, karena sesunguhnya kau memang bukan tipe pembunuh,"
Sahut Meng Xin Hun. Ye Xiang menenggak araknya sambil tersenyum.
"Kebanyakan pembunuh akhirnya mati dibunuh juga."
"Apa tidak ada pengecualian?"
Tanya Meng Xin Hun.
"Maksudmu, apa ada pembunuh tapi akhirnya tidak terbunuh?"
Ye Xiang balik bertanya. Meng Xin Hun mengangguk. Sesaat Ye Xiang termangu.
"Sesungguhnya, sangat jarang orang seperti itu."
"Sangat jarang berarti tetap ada, bukan? Kau kenal orang seperti itu?"
Kejar Meng Xin Hun. Setelah lama termangu, Ye Xiang menjawab.
"Aku adalah salah satunya."
Nadanya menjadi kecut.
"Sekarang sudah tidak ada yang berniat membunuhku."
Meng Xin Hun tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba Ye Xiang terduduk, memandang Meng Xin Hun dalam-dalam.
"Dia seperti apa?"
Meng Xin Hun tahu, Ye Xiang kini sudah menangkap maksud kedatangan dan arah pertanyaannya.
"Orangnya sangat biasa,"
Jawab Meng Xin Hun.
"Tidak tinggi, juga tidak pendek. Tidak gemuk, juga tidak kurus."
"Apa kau pernah melihat wajahnya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena setelah membunuh, ia mengoleskan darah korban ke wajahnya."
Wajah Ye Xiang berubah kaku. Lama baru ia berkata.
"Aku tahu orang semacam ini. Di dunia ini hanya ada satu orang semacam ini! Tidak ada kecualinya. Hanya saja ...,"
Ye Xiang berubah menjadi sangat serius menatap Meng Xin Hun.
"... kalau kau bertemu dengannya, larilah sejauh mungkin. Semakin jauh semakin baik."
"Kenapa?"
Meng Xin Hun tidak mengerti.
"Pembunuh bukan hanya kita berdua!"
Jawab Ye Xiang.
"Oh?"
Meng Xin Hun semakin tidak paham.
"Pembunuh adalah pekerjaan yang tidak biasa,"
Jelas Ye Xiang sambil menatap Men Xin Hun. Meng Xin Hun mengangguk, balik menatap Ye Xiang, dan berkata.
"Kau pernah bilang, menjadi pembunuh tidak bisa memiliki nama! Bila kau punya nama, berarti kau bukan pembunuh profesional."
Ye Xiang menghela nafas.
"Ya, itulah pengorbanan kita atas profesi ini. Nama baik, keluarga, teman, semua tidak bisa kita miliki."
Sesaat ia terdiam, baru melanjutkan.
"Karena itu, tidak seorang pun mau menjalani pekerjaan seperti kita, terkecuali orang gila!"
Kecut senyum Meng Xin Hun.
"Walau sekarang belum gila, lambat laun pasti gila."
Ye Xiang menenggak araknya lagi.
"Tapi tetap saja ada orang yang memang ditakdirkan jadi pembunuh! Orang seperti itulah sejatinya seorang pembunuh. Pada waktu membunuh, dia benar-benar membunuh tanpa perasaan. Selamanya dia tidak akan merasa jenuh atau lelah untuk membunuh, hati dan tangan pun tidak dapat berhenti untuk terus membunuh."
Men Xin Hun hanya diam, menatap botol arak di tangan Ye Xiang.
"Asal kau tahu,"
Ye Xiang melanjutkan.
"Orang yang kau maksud adalah salah satu pembunuh paling gila yang pernah kutahu!"
Meng Xin Hun mengambil botol arak dari tangan Ye Xiang dan langsung menenggaknya.
"Apa dia pembunuh terbaik?"
Tanya Meng Xin Hun setelah beberapa saat.
"Benar, di dunia ini tidak ada yang lebih hebat daripadanya,"
Jawab Ye Xiang. Meng Xin Hun menatap Ye Xiang, ia tahu perkataannya belum selesai. Ye Xiang melanjutkan.
"Kau tidak akan bisa menandinginya! Bisa jadi kau lebih tenang, lebih dingin, dan lebih pintar darinya. Mungkin pula gerakanmu lebih cepat darinya. Tapi kau tidak mungkin bisa menjadi pembunuh nomor satu kalau kau bukan seorang yang gila."
Meng Xin Hun mengembalikan botol arak ke tangan Ye Xiang. Setelah lama, Meng Xin Hun baru bertanya.
"Apa kau pernah melihat saat dia membunuh?"
"Kecuali melihat dengan mata kepala sendiri, tidak ada yang bisa menggambarkan caranya membunuh. Pada waktu membunuh, dia tidak menganggap lawannya manusia."
"Mungkin, saat membunuh, dia tidak menganggap dirinya manusia!"
Meng Xin Hun menatap jauh ke sana. Seperti tidak mendengar Meng Xin Hun, Ye Xiang perlahan berkata.
"Ada yang bilang dia sudah pensiun...,"
Tiba-tiba Ye Xiang menatap Meng Xin Hun dalam-dalam.
"Di mana kau menemuinya?"
"Di taman bunga Sun Yu Bo!"
"Siapa yang dibunuh olehnya?"
"Huang Shan San You."
"Kenapa dia membunuh Huang Shan San You?"
"Karena mereka berlaku tidak sopan pada Sun Yu Bo."
Mendengar jawaban ini Ye Xiang menghela nafas.
"Sudah kuduga Sun Yu Bo punya pelindung yang kuat. Tapi tidak kusangka dialah pelindungnya."
Sekarang ia memegang tangan Meng Xin Hun kuat-kuat.
"Lupakanlah niatmu untuk membunuh Sun Yu Bo,"
Ucapnya begitu sungguh-sungguh "Aku tidak bisa melupakannya!"
Ye Xiang tampak sangat serius.
"Tetap berusahalah untuk melupakannya! Kalau tidak, aku khawatir, kau akan mati dalam waktu dekat. Walau kau bisa membunuh Sun Yu Bo, dia akan mencarimu kemana pun pergi dan akhirnya berhasil membunuhmu!"
Meng Xin Hun menghela nafas.
"Betapa pun, akan kucari cara agar tidak seorang pun tahu siapa yang membunuh Sun Yu Bo."
"Orang lain mungkin tidak bisa,"
Geleng Ye Xiang.
"Tapi, percayalah, orang ini pasti bisa melacaknya!"
Meng Xin Hun perlahan bertanya.
"Apa orang ini mengenalmu?" . Ye Xiang mengangguk.
"Dia mengenaliku. Begitu dia melihatku, dia tahu siapa aku."
Orang lain mungkin tidak mengerti ucapan Ye Xiang.
Tapi, Meng Xin Hun paham maksudnya.
Seperti juga Ye Xiang, si Jubah Kelabu dan Meng Xin Hun juga manusia.
Walau mereka adalah pembunuh, sehari-hari sedapat mungkin mereka tampil tidak berbeda dengan orang lain, pun sedapatnya tidak memancing keributan dengan orang lain.
Namun pembunuh adalah pembunuh.
Seorang pembunuh sejati sekali melihat pasti bisa mengenali siapa dirimu!
Meng Xin Hun bertanya lagi.
"Bila dia bisa mengenalimu, apakah dia juga mengenaliku?"
"Ya,"
Ye Xiang balik menatap Meng Xin Hun.
"Walau waktu itu dia tidak melihatmu, tapi..."
Meng Xin Hun diam, menunggu kelanjutan ucapannya.
"... percayalah, dia sudah mengenalimu! Bila Sun Yu Bo mati, dia pasti akan datang mencarimu."
Meng Xin Hun bergidik ngeri, tapi tidak berkata apa-apa. Ia tahu, Ye Xiang masih belum selesai.
"Barang kali ia tidak langsung membunuhmu,"
Lanjut Ye Xiang.
"Tapi, kalau kau sudah dicurigai olehnya, dia akan selalu menguntitmu, menunggumu, ikut pergi ke mana pun kau pergi..."
Meng Xin Hun membulatkan tekad.
"Aku lebih dulu harus membunuhnya!"
Ye Xiang terkejut mendengar kesungguhannya.
"Kau mau membunuhnya? Apa kau bisa membunuhnya?"
"Betapa pun, dia manusia!"
Jawab Meng Xin Hun. Selama manusia, pasti bisa mati! Tapi Ye Xiang menggeleng-geleng kepala.
"Dia manusia macam apa kau sendiri tidak tahu, bagaimana bisa membunuhnya?"
"Tapi ada kau yang bisa memberi tahuku dia macam apa."
"Aku?"
Ye Xiang menggoyang-goyang kedua tangan.
"Tidak! Aku tidak tahu."
Meng Xin Hun masih menatap Ye Xiang begitu dalam.
Sesaat ia menghela nafas, kemudian berdiri, bersiap meninggalkan tempat itu.
Ia tidak memaksa Ye Xiang untuk mengatakannya.
Bila Ye Xiang tidak ingin mengatakan, ia tidak mau memaksa.
Tiba-tiba Ye Xiang berseru.
"Tunggu sebentar!"
Meng Xin Hun menghentikan langkah. Setelah lama Ye Xiang baru berkata.
"Dia membunuh bukan karena dia tidak menyukai manusia, melainkan karena dia sangat menyukai darah!"
"Darah?"
Meng Xin Hun tidak mengerti. Tanpa juntrungan, Ye Xiang melanjutkan.
"Dia juga tidak suka makan ikan, tapi dia suka memelihara ikan. Orang yang suka memelihara ikan tetapi tidak makan ikan tidaklah banyak."
Meng Xin Hun masih ingin bertanya tapi Ye Xiang sudah menutup mulut sendiri dengan botol arak.
Matahari senja menyinari pepohonan dan muka Ye Xiang.
Wajahnya sudah berubah, ia seperti tertidur.
Meng Xin Hun menatap Ye Xiang dengan sorot penuh terima kasih.
Meng Xin Hun tahu, tidak seorang pun bisa memaksa Ye Xiang mengatakan hal yang tidak ingin ia katakan.
Tapi, tetap ada pengecualian.
Jika Meng Xin Hun yang meminta, Ye Xiang pasti bicara.
Meng Xin Hun adalah teman Ye Xiang.
Juga saudaranya.
* Sewaktu Meng Xin Hun kembali, Gao Lao Da sudah menanti.
Kelihatannya Ga Lao Da sedang gembira.
Namun begitu melihat Meng Xin Hun, ia jadi marah.
"Kenapa tidak menungguku?"
"Aku tidak kemana-mana,"
Jawab Meng Xin Hun.
"hanya menemui Ye Xiang."
"Sepertinya antara kau dan Ye Xiang begitu banyak yang ingin dibicarakan,"
Jengek Gao Lao Da. Setelah terdiam sesaat, ia melanjutkan.
"Aku sudah tahu kemana Sun Yu Bo menugaskan Lu Xiang Chuan."
"Oh ya?"
"Ia menugaskan Lu Xiang Chuan menemui Wan Peng Wang,"
Jawab Gao Lao Da.
"Untuk apa?"
Tanya Meng Xin Hun lagi.
"Teman lama Sun Yu Bo bernama Wu Lao Dao. Anak lelaki Wu Lao Dao mencintai pelayan Wan Peng Wang, namun Wan Peng Wang tidak merestui. Karena itu, Sun Yu Bo memerintahkan Lu Xiang Chuan meminta restunya."
Walau Gao Lao Da seorang perempuan, ia bisa menjelaskan masalah ini secara cepat dan sederhana.
"Lantas?"
Tanya Meng Xin Hun.
"Akhirnya Wan Peng Wang merestui mereka dan dia pun menyediakan semua tetek bengek untuk pernikahan gadis itu."
Kembali tanya Meng Xin Hun.
"Dengan begitu, masalah selesai?"
"Belum! Malah baru dimulai!"
Gao Lao Da tertawa senang.
"Orang semacam Wan Peng Wang tentu tidak menyerah begitu saja."
Meng Xin Hun tidak bertanya lagi karena ia tidak mengenal Wan Peng Wang. Gao Lao Da berkata.
"Menurutku, Wan Peng Wang sengaja melakukan itu agar Sun Yu Bo lengah. Di saat itulah dia akan menyerang Sun Yu Bo."
Gao Lao Da berkeplok gembira.
"Bila Wan Peng Wang mulai menyerang, pasti akan sangat dahsyat!"
"Karena itu dia memanggil Tu Da Peng?"
Meng Xin Hun bertanya sekaligus menyimpulkan, teringat pada anak buah Gao Lao Da yang mengetuk pintu tadi. Gao Lao Da mengangguk.
"Selain Tu Da Peng, ia juga sudah memanggil Ji Peng dan Nu Peng. Sekarang mereka dalam perjalanan menuju markas pusat Wan Peng Wang."
"Mereka akan menyerang Sun Yu Bo?"
"Benar! Saat mereka mulai menyerang, itulah kesempatan emasmu,"
Senyum Gao Lao Da begitu puas.
"Kalau begitu, aku harus menguntit Tu Da Peng!"
"Ya, kau harus mencermati gerak-gerik mereka dan menunggu kesempatan baik. Namun, kau tidak boleh membiarkan orang lain mengambil kesempatan emas itu. Kau harus membunuh Sun Yu Bo dengan tanganmu sendiri."
"Aku mengerti."
Meng Xin Hun memang mengerti bahwa harus dirinya yang membunuh Sun Yu Bo.
Kalau tidak, Gao Lao Da tidak akan menerima honor.
Selain itu, tidakkah ia juga harus menjaga reputasi Gao Lao Da?
"Berapa orang yang ikut dengan Tu Da Peng?"
Tanya Meng Xin Hun.
"Mereka hanya bertiga, menunjukkan bahwa gerak-gerik mereka sangat rahasia."
"Siapa kedua lainnya?"
"Yang satu bernama Wang Er Dai.
"Dai"
Yang berarti bodoh. Walau penampilannya tampak bodoh, tapi dia tidak bodoh. Ini sekedar upaya mengelabui orang."
"Satunya lagi?"
Tanya Meng Xin Hun.
"Yang satu lagi bernama Ye Mao Zi, si Kucing Malam, sesuai namanya ia adalah pencuri ulung dan ahli membius orang. Tu Da Peng sudah memanggilnya, pasti ada penugasan khusus buatnya."
"Kapan mereka berangkat?"
Gao Lao Da tertawa puas.
"Walau Tu Da Peng tergesa, tapi ia tidak akan segera berangkat, Jin Er sekarang masih menemaninya di kamar. Sayangnya, Jin Er hanya bisa menahannya satu hari lagi."
Meng Xin Hun terlihat berpikir.
"Apa yang kau pikirkan?"
Tanya Gao Lao Da.
"Orang yang bisa dirayu untuk tinggal satu hari lagi tidak akan pernah bisa menjadi anak buah Wan Peng Wang yang utama."
Gao Lao Da tertawa manis.
"Sepertinya semakin hari kau semakin cerdas."
"Karena aku memang harus menjadi lebih pintar,"
Jawab Meng Xin Hun dingin..Pembalasan Wan Peng Wang Wu Lao Dao sudah mulai mabuk.
Ia sangat berterima kasih pada Lao Bo.
Inilah hari pernikahan putranya, ia berharap Lao Bo bisa menghadiri pesta ini.
Namun, ia paham, Lao Bo tidak mungkin datang.
Walau Wu Lao Dao kecewa, tapi tidak seberapa sedih karena Lu Xiang Chuan hadir di pesta ini.
Setelah pesta usai, Lu Xiang Chuan baru pulang.
Ia meninggalkan dua jagonya, Wen Hu dan Wen Bao, guna menjaga Wu Lao Dao.
Para tamu sudah pulang.
Pelayan sedang minum-minum, beristirahat dan bercengkrama di dapur.
Sepasang pengantin pun sudah masuk kamar.
Di ruang tamu hanya tinggal Wu Lao Dao sendiri.
Melihat lilin yang hampir habis, pikiranya melayang senang sekaligus sedih.
"Anak lelakiku sudah menikah, aku memang semakin tua,"
Pikirnya dalam hati sambil mulai merencanakan tempat tenang dan sepi guna menghabiskan masa tua.
Saat itu ia mendengar suara langkah kaki mendekati.
Orang itu sepertinya sudah mabuk, lebih mabuk daripada Wu Lao Dao, datang dari taman menuju ruang tamu.
Ia bukan hanya mabuk, juga terlihat bodoh, penampilannya sangat lugu, langsung menghampiri Wu Lao Dao.
Tapi Wu Lao Dao tidak mengenalinya.
Di antara teman-teman Wu Lao Dao tidak ada yang bodoh dan lugu seperti ini.
"Apa kau mencari Lao Song? Mereka sedang di dapur."
Wu Lao Dao menduga lelaki itu teman juru masaknya. Lelaki itu menggeleng, dengan suara mabuk bergumam.
"Yang kucari adalah kau."
"Mencariku? Ada urusan apa?"
Sebelum sempat mengatakan apa pun, lelaki itu ambruk, tapi masih sempat melambaikan tangan.
"Kau ingin menyampaikan sesuatu?"
Susah payah orang itu mengangguk. Terpaksa Wu Lao Dao menghampiri dan membungkukkan badan.
"Bicaralah!"
Lelaki itu berkata terengah.
"Aku ingin..."
Suaranya serak dan mabuk. Wu Lao Dao tidak mendengar cukup jelas. Terpaksa ia lebih mendekatkan diri dan bertanya.
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Aku ingin..."
Nafasnya begitu berat.
Posisi mereka begitu dekat.
Tapi saat orang itu bicara, tidak tercium bau arak dari mulutnya.
Wu Lao Dao tertegun.
Hanya sedetik, namun sudah terlambat.
Lelaki itu menyelesaikan ucapannya tepat di sisi telinga Wu Lao Dao.
"... membunuhmu!"
Saat perkataan terahir terucap, seutas tali sudah menjerat leher Wu Lao Dao.
Saat tali ditarik, sebilah pisau sudah menggorok lehernya.
Nafas Wu Lao Dao seketika tersekat, ia seperti ikan yang meloncat ke permukaan jatuh ke darat, menggelepar untuk diam selamanya.
Lelaki itu berdiri tegak, beberapa saat menatap Wu Lao Dao.
"Aku sudah bilang ingin membunuh, ya kubunuh kau. Aku, Wang Er Dai, tidak pernah bohong!"
"Dai"
Yang berarti bodoh. Tapi ia tidak bodoh. * Pasangan pengantin, Xiao Wu dan Dai Dai, saling berpelukan. Begitu erat, seakan tidak terpisahkan.
"Kau milikku."
Lembut Xiao Wu mengecup bibir Dai Dai sambil memejam mata.
Nafas Dai Dai begitu harum.
Sedemikian harumnya, membuatnya jadi mengantuk.
Seketika Xiao Wu merasa sesuatu yang tidak beres.
Ia meronta bangun, tapi kaki dan tangan tidak mengikuti perintahnya.
Pikiran pun terasa melompong.
Xiao Wu coba membuka mata.
Pandangannya terasa kabur.
Antara sadar dan tidak, ia seperti melihat seraut wajah.
Wajah itu meringis seperti kucing.
Di tengah malam begini kenapa ada kucing?
"Pengantinmu sekarang milikku,"
Kata si Kucing Malam, Ye Mao Zi.
Xiao Wu ingin bangkit, tapi segalanya berubah menjadi kabut dan akhirnya gelap semata.
Ia pingsan.
* Meng Xin Hun bertekad menguntit Tu Da Peng.
Tapi Tu Da Peng tidak ke mana-mana.
Yang bergerak justeru dua anak buahnya.
Kini Meng Xin Hun berada di atap rumah di seberang kediaman Wu Lao Dao.
Ia melihat Wang Er Dai memasuki rumah Wu Lao Dao seperti seorang idiot.
Tidak lama kemudian ia melihat Ye Mao Zi mengendap seperti kucing di sisi jendela kamar pengantin.
Mereka tidak masuk secara bersamaan, tapi keluar bersamaan.
Ketika keluar, Wang Er Dai masih terlihat seperti orang idiot, tapi di pundaknya memanggul sesosok mayat.
Tidak lama Ye Mao Zi juga keluar membopong bungkusan besar, sedemikian besarnya sehingga tampak kerepotan.
Tiba-tiba datang kereta, berhenti tepat di depan mereka.
Pintu terbuka, Wang Er Dai dan Ye Mao Zi masing-masing melempar bawaannya ke dalam kereta.
Mereka pun masuk ke dalam dan segera menghilang di kepekatan malam.
Semua terjadi begitu singkat.
Rumah Wu Lao Dao tetap senyap seakan tidak terjadi apa-apa.
Tapi Meng Xin Hun tahu, Wan Peng Wang sudah memukul Sun Yu Bo dengan telak.
Meng Xin Hun juga tahu, Sun Yu Bo tidak akan tinggal diam dan akan membalas Wan Peng Wang lebih kejam lagi.
* Setelah mendengar penjelasan Lu Xiang Chuan, wajah Lao Bo menjadi sangat serius.
Lu Xiang Chian tidak mengerti kenapa Lao Bo jadi begitu.
Ia telah melakukan tugas dengan sangat sempurna dan sukses.
Arak pengantin pun masih terasa manis di bibirnya.
Biasanya, Lao Bo langsung memuji.
Tapi sekarang Lu Xiang Chuan justeru melihat tangan Lao Bo menggenggam kancing baju dengan kencang seperti memencet mati seekor binatang.
Bila Lao Bo begini, berati ia sedang marah.
Dan siap menyerang.
Siapa yang akan ia serang?
Tiba-tiba Lao Bo berdiri dan berkata pada pengawal yang menjaga di sudut sana.
"Beri kabar pada Kelompok Merpati agar semua anggotanya bersiaga mencari Sun Jian. Di mana pun Sun Jian berada, suruh dia pulang, jangan sampai terlambat!"
"Siap!"
Jawab salah seorang pengawal.
"Siapkan juga Kelompok Elang,"
Lanjut Sun Yu Bo lagi.
Kelompok Merpati bertangung jawab memberi dan mencari kabar.
Kelompok Elang bertugas menjaga keamanan.
Lao Bo jarang mengerahkan kelompok ini.
Jika dua kelompok ini sudah digerakkan, berarti masalah yang dihadapi sangat serius.
"Apa sudah timbul masalah besar?"
Pikir Lu Xiang Chuan. Ia kini memikirkan kata-kata yang sering diucapkan Lao Bo.
"Buatlah musuh salah tafsir padamu, tapi kau tidak boleh salah menafsir musuh,"
Begitu petuah Lao Bo pada nya.
Lu Xian Chuan menggaruk kepala.
Apakah Lu Xiang Chuan telah salah menafsir Wan Peng Wang?
Tidakkah tugasnya berjalan terlalu lancar?
Sedemikian lancarnya sehingga menjadi tidak wajar?
Dengan reputasi Wan Peng Wang, benarkah ia takluk begitu saja?"
Lu Xiang Chuan merasa punggungnya basah. Lao Bo bertanya.
"Kau sudah mengerti?"
Ia tidak marah pada Lu Xiang Chuan karena tahu orang seperti Lu Xiang Chuan tidak perlu dimarahi.
Lu Xiang Chuan pasti tidak akan mengulangi kesalahan sama!
Lu Xiang Chuan sangat berterima kasih pada Lao Bo, juga merasa sangat malu.
Tiba-tiba ia berdiri.
"Aku harus bertemu Wu Lao Dao, mungkin ia dalam bahaya."
"Tidak perlu!"
Jawab Lao Bo.
"Kenapa?"
"Karena Wu Lao Dao pasti sudah mati."
Lu Xiang Chuan merasa hatinya dingin.
"Barangkali..."
Lao Bo menukas perkataannya.
"Tidak ada barangkali! Wan Peng Wang biasa membuat musuh tidak merasa dalam bahaya, tapi kemudian segalanya sudah terlambat!"
Lu Xiang Chuan duduk kembali.
Hatinya serasa tenggelam ke dasar jurang yang dalam.
Ia tidak tahu bagaimana harus memperbaiknya.
Entah pula bagaimana menebusnya.
Ketika itulah seseorang datang terburu-buru memasuki pintu.
Lelaki itu masih sangat muda dan tampan, sayangnya hidungnya bengkok seperti baru dihajar, sudut matanya pun sudah dipukul hingga sobek, tangan kirinya lunglai menggantung seperti selembar kain.
Begitu masuk, pemuda itu langsung terkapar tidak bangun lagi.
Jelas terlihat, pemuda itu habis menjalani penyiksaan berat.
Sudah lama Lao Bo tidak menyukai kekerasan.
Tapi kali ini merupakan pengecualian.
Sepertinya, pemuda itu telah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan.
"Siapa dia?"
Tanya Lu Xiang Chuan.
"Tidak tahu,"
Jawab Lao Bo. Lu Xiang Chuan heran. Sepertinya pemuda ini tahan siksaan, karena terlihat masih bisa bertahan.
"Barangkali ia takut jika membocorkan rahasia, siksaan yang diterimanya akan lebih dahsyat? Di belakangnya, jangan-jangan ada tokoh lebih menakutkan?"
Pikir Lu Xiang Chuan. Sepertinya Lao Bo bisa menduga benak Lu Xiang Chuan.
"Dia tidak mau bicara bukan karena takut. Kalau kita terus menyiksanya, dia pasti pingsan."
"Apa kesalahannya?"
Tanya Lu Xiang Chuan.
"Dia mau membunuhku,"
Jawab Lao Bo. Lu Xiang Chuan sangat terkejut. Yang berani membunuh Lao Bo pasti orang gila. Jika bukan gila, pasti orang yang sangat berani.
"Cobalah, barangkali kau punya cara menggali informasi darinya,"
Kata Lao Bo.
Lu Xiang Chuan berdiri, memilih arak yang paling keras, dan langsung mencekokkannya pada pemuda itu.
Bukankah dalam keadaan mabuk orang berkata lebih jujur?
Wajah pemuda itu mulai memerah, begitu juga sepasang matanya.
Betapa pun jagonya pemuda itu minum, apabila dicekok sebanyak itu, pasti mabuk.
Lu Xiang Chuan mulai menginterogasi.
"Apa margamu?"
Mabuk, pemuda itu hanya bergumam.
"Margaku He."
"Siapa namanu?"
"Margaku He."
Berapa kali ditanya pun jawabannya hanya begitu, tidak ada yang lain.
"Orang yang mengutus pemuda ini sangat terlatih hingga bisa melatih anakbuahnya seperti ini,"
Kata Lao Bo. Lu Xiang Chuan berpikir.
"Kau menyangka orang itu adalah..."
Lao Bo mengangguk. Lu Xiang Chuan tidak menyebut nama, begitu juga Lao Bo, seolah mereka sudah mengerti siapa yang dimaksud. Dengan suara rendah Lu Xiang Chuan bertanya.
"Apa sebaiknya dia kita antar pulang...?"
Lao Bo menggeleng kepala.
"Lepaskan saja..."
"Antar pulang"
Dan "lepaskan saja"
Artinya tidak sama.
"Antar pulang"
Artinya pulang dalam keadaan mati.
"Lepaskan"
Berarti pulang dalam keadaan hidup.
Setelah lama baru Lu Xiang Chuan memahami maksud Lao Bo.
Lao Bo memang selalu membereskan masalah secara cepat dan tepat.
* Di depan taman bunga adalah hutan yang lebat.
Meng Xin Hun memilih pohon yang paling rindang, memanjatnya, kemudian seperti burung hantu sembunyi di balik rimbunnya dedaunan.
Sebetulnya Meng Xin Hun tidak ingin mengelilingi taman bunga Lao Bo, ia tidak mau menanggung resiko bahwa sebelum melaksanakan tugas gerak-geriknya sudah terbaca.
Namun sekarang masalah berbeda.
Ia tahu Lao Bo mulai bergerak.
Taman bunga itu sepi, sama sekali tidak terdengar suara, seakan tidak ada kegiatan.
Tidak ada yang masuk, tidak ada yang keluar.
Di saat Meng Xin Hun mulai putus asa, dari kerimbunan bunga muncul sesosok bayangan.
Sosok itu memiliki gerak yang cukup cepat, namun langkah sempoyongan, dan sebelah tanggannya seperti putus.
Pakaian yang lengket di tubuhnya entah berwarna ungu, biru, atau merah oleh darah?
Bajunya compang camping.
Meng Xin Hun merasa mengenali pakain itu.
Ketika itulah sosok itu mengangkat wajah, coba mengenali arah.
Sinar bulan menyorot wajahnya.
Xiao He!
Hampir Meng Xin Hun berteriak, Xiao He ternyata masih hidup dan bisa melarikan diri.
Wajahnya lelah dan kesakitan, tapi sinar matanya begitu sombong, kagum pada diri sendiri.
Melihat wajah Xiao He, Meng Xin Hun tahu ia belum membocorkan rahasia Gao Lao Da.
Tapi Meng Xin Hun juga tahu, di dunia ini tidak ada yang bisa lolos dari cengkraman Lao Bo.
Lantas kenapa Xiao He bisa lari hingga di sini?
Meng Xin Hun berpikir dan segera memahami apa yang di nginkan Lao Bo.
Lao Bo sengaja melepas Xiao He melarikan diri, kemudian diam-diam mengikutinya untuk menyelidiki siapa dalang di balik ini.
Memikirkan hal itu, seketika Meng Xin Hun berkeringat dingin.
Ia tidak akan membiarkan Xiao He pulang.
Tapi, ia tidak bisa mencegah Xiao He pulang.
Seseorang pasti sudah menguntit di belakang Xiao He, dan tidak mungkin Meng Xin Hun membocorkan rahasianya sendiri.
Xiao He terlihat sudah bisa membedakan arah, tanpa pikir langsung berlari ke sana.
Larinya begitu cepat, seolah dalam satu hari akan tiba di Kuai Huo Ling.
Meng Xin Hun sangat marah dan benci, serasa ingin memukul hidung dan kepala sendiri dan bertanya kenapa Xiao He begitu bodoh.
Sebenarnya Xiao He orang yang pintar, terutama dalam mencelakai orang, tapi kenapa sekarang jadi begitu bodoh?
* Jika ingin mencegah Xiao He membocorkan rahasia Gao Lao Da ada satu cara.
Bunuh dia!
Tapi Meng Xin Hun tidak ingin melakukan cara ini, ia pun tidak tega.
Untung ia masih bisa memikirkan cara kedua, yakni bukannya membunuh Xiao He, tapi membunuh orang yang menguntit Xiao He.
Meng Xin Hun terus menunggu.
Betul saja, dari kegelapan muncul sesosok bayangan, berlari mengikuti Xiao He.
Tapi Meng Xin Hun tetap mendekam di atas pohon.
Benar saja, tidak lama muncul sesosok lagi, juga mengikuti arah yang tadi ditempuh Xiao He dan satu temannya terdahulu.
Meng Xin Hun tetap mendekam.
Lagi, sesosok bayangan muncul dan langsung mengikuti arah yang di tempuh Xiao He dan dua temannya terdahulu.
Menguntit dengan cara ini, bila satu orang ketahuan, yang lain masih bisa menjalankan tugas.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada tanda-tanda munculnya penguntit berikutnya, Meng Xin Hun melesat dari tempat sembunyinya.
Ketiga orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh sangat lihai, tugas mereka selamanya menguntit orang.
Yang dituju Meng Xin Hun adalah orang terakhir.
Setelah cukup lama, Meng Xin Hun baru bisa mengejarnya.
Ringan, Meng Xin Hun menepuk pundaknya.
Lelaki itu terkejut dan menoleh, tapi Meng Xin Hun langsung menotoknya secepat kilat.
Meng Xin Hun memperlakukan dua lagi penguntut Xiao He dengan cara sama.
Cara yang sangat sederhana.
Sering kali cara sederhana adalah cara yang paling efektif.
Sebetulnya cara-cara Lao Bo pun sama seperti Meng Xin Hun.
sederhana dan efektif.
Orang yang berpengalaman biasanya menempuh cara-cara sederhana.
Xiao He terus berlari melalui kota Huang Shi yang sepi.
* Toko kelontong di Huang Shi sudah hampir tutup.
Xiao He berlari melalui toko itu.
Sejenak kemudian mencul dua lelaki dari balik toko dan berbisik.
"Itu dia!"
Satunya lagi menyahut.
"Kita harus terus menguntitnya."
Mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, pun tanpa ragu mereka mengerahkan seluruh kemampuan, tidak takut kehabisan tenaga karena tahu di kota berikutnya akan ada yang menggantikan.
Ternyata Lao Bo menggunakan cara yang lebih rumit.
Orang berpengalaman menggunakan cara sederhana.
Tapi orang yang lebih berpengalaman menggunakan cara yang lebih rumit.
Biar bagaimana, bila menggunakan dua cara salah satu pasti berhasil.
Jika Lao Bo menginginkan satu hal, ia pasti menggunakan lebih dari satu cara.
Karenanya, hingga saat ini Lao Bo selalu sukses dan tidak pernah gagal.
* Begitu terbangun, Sun Jian merasa sangat lelah.
Ia bukan manusia berotot kawat bertulang besi, apalagi perempuan yang tidur di sisinya sangat pandai memuaskan lelaki.
Sebenarnya ia masih ingin tinggal di sini dua hari lagi, tapi ia telah mendengar suara aneh di luar jendela.
Suara itu seperti seruling yang membuat kobra menari, setelah berbunyi dua kali baru berhenti.
Sun Jian langsung bisa membedakan, itulah tanda darurat yang dikirim Lao Bo.
Jika kau mendengar tanda itu tapi tidak langsung pulang, kau bisa menyesal seumur hidup!
Tidak ada yang berani membangkang, termasuk Sun Jian.
Segera ia bangun dari tempat tidur, mengenakan baju, celana, dan sepatu.
Perempuan telanjang yang berada di tempat tidur membalik tubuh, menarik tangan Sun Jian langsung ke dadanya.
"Kau mau pergi?"
"Ya,"
Jawab Sun Jian.
"Kau tega meninggalkanku?"
Katanya lagi sambil menggesek-gesekkan tangan Sun Jian guna merasakan sepasang putiknya yang mulai mengeras kaku.
Namun jawabannya hanya tamparan.
Sun Jian tidak suka perempuan yang terlalu mengekangnya.
* Matahari baru terbit.
Tapi Sun Jian sudah melarikan kudanya sejauh 200 km.
Ia sungguh cemas karena sudah lama Lao Bo tidak pernah mengeluarkan tanda darurat ini.
Ia pun tidak bisa menebak apa yang sudah terjadi.
Setelah lama memacu kuda, ia lapar sekali.
Di kiri kanan jalan yang dilalui terlihat bermacam penganan.
Ada yang menjual kue, daging, juga arak.
Tapi ia tidak berhenti.
Lao Bo adalah ayahnya.
Juga temannya.
Demi Lao Bo ia rela mati.Maka, di dunia ini tidak ada yang bisa menghentikannya.
Matahari semakin tinggi, mencorong menyinari jalanan.
Batu-batu jalanan terbakar matahari sudah panas seperti di kuali.
Terkadang matahari musim gugur memang lebih menyengat daripada musim panas.
Sun Jian melepas topi, mengelap keringat.
Walau ia masih bisa bertahan, tapi kudanya sudah kelelahan.
Ia sadar, sudah saatnya mengganti kuda.
Ketika ia mencari tempat mengganti kuda, tiba-tiba seseorang melemparnya dengan sebuah batu berbungkus kertas.
Sigap Sun Jian menangkapnya.
Setelah diperhatikan, di atas kertas tertulis.
Apa kau ingin tahu siapa membunuh Lao Bo?
Sun Jian seketika menghentikan kuda, meloncat turun.
Ia memutar pandang, yang terlihat justeru beberapa orang di bawah pohon.
Dan ia mengenali mereka.
Sun Jian tidak tahu siapa yang melemparnya, dan pasti bukan mereka.
Orang-orang di bawah pohon itu adalah Kelompok Anjing dari organisasi Lao Bo, tugasnya menguntit orang, jumlah anggotanya tidak banyak, tapi ilmu meringankan tubuh kelompok ini paling tinggi.
Sun Jian melambai tangan, memanggil ketua kelompok dan bertanya.
"Siapa yang kau ikuti?"
Lelaki itu tidak mau sembarangan membocorkan tugas, tapi juga tahu sifat jelek Sun Jian.
Apalagi Sun Jian bukan orang lain, melainkan putra Lao Bo.
Lelaki itu memandang ke seberang sana.
* Xiao He sedang duduk makan kue berbungkus daging sapi.
Ia sedikit kesulitan menggigit kue karena tangannya hanya berfungsi sebelah.
Walau Xiao He ingin secepatnya pulang, tapi sulit baginya terus berlari mengandalkan ginkan di tengah siang bolong begini.
Apalagi ia juga sudah mulai haus, lapar, dan kelelahan.
Untung masih ada sisa uang di kantungnya.
Sebetulnya ia ingin menyewa kereta kuda, sehingga begitu terbangun, sudah sampai di Kuai Huo Ling.
Tapi ia takut dikuntit orang dan memilih lebih memanfaatkan ginkannya buat melarikan diri.
Walau Lao Bo sudah tahu dia kabur dan memerintahkan anakbuah buat mengejarnya, ia yakin gerakan mereka tidak secepat dirinya.
Sungguh, ia merasa pelarian ini sangat seru.
"Mereka kira aku sudah mabuk! Sedikit pun tidak curiga meninggalkanku sendiri di kamar yang tidak terkunci,"
Pikir Xiao He dalam hati.
"Sekarang mereka baru tahu betapa pintar dan mampunya aku!"
Entah kenapa, orang yang licik seperti Xiao He ternyata tidak dewasa.
Licik dan dewasa sepertinya dua hal bertentangan.
Xiao He benar-benar senang dan hampir tertawa sendiri.
Belum sempat tertawa, ia melihat seseorang menghampiri.
Belum pernah ia melihat orang sebesar ini.
Saat lelaki itu berjalan, seakan bebatuan jalan hancur diinjaknya.
Ditambah lagi sepasang mata seperti dua bola yang terbakar itu langsung menatapnya.
"Margaku Sun bernama Jian,"
Katanya.
Wajah Xiao He seketika berubah.
Daging yang tengah digigit jatuh ke tanah tanpa sempat dikunyah.
Sun Jian tertawa sinis.
Siapa yang berlaku tidak sopan pada Lao Bo harus mati!
Tiba-tiba Xiao He meloncat, tangannya yang tinggal sebelah mencekik leher Sun Jian.
Kungfunya dan Meng Xin Hun satu aliran.
Sangat kejam, cepat, dan tepat.
Sayang ia masih kalah cepat, atau tepatnya.
kurang kuat?
Betapa pun cepat lengan Xiao He, Sun Jian tidak mengelak, sebaliknya malah maju menghadang dan mengadu tangan.
Seketika Xioa He mendengar suara lengan patah.
Ia tidak berteriak, karena sebelah tangan Sun Jian yang lain sudah memukul wajahnya.
Ia tersungkur.
Dan sebuah pukulan telak menghajar punggungnya.
Terdengar tulang retak.
Semua gigi Xiao He rontok.
Tulang wajah serta punggungnya remuk.
* Semua yang menyaksikan sangat terkejut.
Kecuali satu orang.
si Pelempar Batu.
Orang itu adalah Gao Lao Da.
Semua kejadian sudah dalam perhitungannya.
Dan ia sangat percaya diri.
Melihat Xiao He, sedikit banyak ia merasa kasihan.
Tapi ia tahu, lelaki seperti Xiao He tidak pantas dicintai, lebih-lebih tidak pantas dikasihani.
Gao Lao Da berniat secepatnya melupakan Xiao He.
Semakin cepat semakin baik.
Dulu ia tidak begitu kejam.
Tapi belakangan ia tahu, jika seseorang ingin hidup lebih baik, ia harus memiliki hati yang keras.
Semakin keras semakin baik.
Kekayaan dan kemauan laksana cuka dan air.
Bila air ditambah cuka pasti berubah asam.
Bila telah memiliki dan mengejar kekayan, hati dan kemauan seseorang pasti berubah kejam.
Baca Juga: Kekaisaran Rajawali Emas 2
Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 3