Pendekar Pemetik Harpa 4

Eps 4 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

"Kupikir hendak mencari Kim-to Cecu."

"Kau mau mencari Kim to Cecu? Apa kau kenal dia?"

"Ada seorang teman yang kenal dia. Dia berpesan padaku, jikalau tidak berhasil menemukan puterimu, boleh aku pergi ke markas Kim-to Cecu untuk berteduh disana sementara waktu. Kemungkinan Kim-to Cecu bisa membantu untuk mencari tahu jejak putrimu."

"Siapakah temanmu itu?"

Tanya In-hujin melenggong.

"Darimana dia tahu kalau kau datang ke Tay-tong hendak mencari putriku?"

"Bukan aku memberitahu kepadanya, malah dia yang memberitahu kepadaku. Dia tahu aku bertujuan ke Tay-tong, maka dia tanya padaku apakah tahu kalau di Tay-tong ada orang In Tayhiap. Kukatakan aku tahu, tapi aku tidak ceritakan padanya bahwa aku pernah bertemu dengan ln Tayhiap. Maka dia lantas titip pesan itu untuk puterimu."

In-hujin menjadi heran, pikirannya tergerak segera dia bertanya pula.

"Apa dia teman anak San? Kau belum kasih tahu siapa she dan namanya?"

"Dia bernama Toan Kiam-ping, seorang pangeran dari keluarga Toan di Tayli. Dalam perjalanan aku lewat Tayli, dalam suatu kesempatan yang kebetulan kami bertemu dan berkenalan."

"Dia titip pesan apa padamu? Boleh beri tahu kepadaku?"

"Sudah tentu boleh. Katanya keluarganya punya hubungan intim dengan keluarga In, maka dia pikir hendak mengundang puterimu ke rumahnya untuk mengungsi."

In-hujin manggut-manggut, katanya.

"Betul, keluarga Toan dan keluarga In memang sudah berhubungan intim sejak beberapa generasi. Tapi aku tidak setuju kalau anak San ngungsi ke rumah keluarga Toan."

Karena dia tidak menjelaskan alasannya, meski Tan Cioksing merasa heran, tapi dia sungkan bertanya. Kata ln-hujin lebih lanjut.

"Ketiga barang mustika ini, kupikir tetap harus kau simpan saja untuk sementara."

"Mengapa?"

"Berkat bantuan dan pertolonganmu sehingga untuk sementara penyakitku bisa sembuh. Tapi bibit penyakitnya bila tidak dilenyapkan, penyakit ini suatu ketika pasti akan kumat dan soal waktu belaka hidupku ini. Entah kapan anak San baru akan pulang, maka tidak berani aku menyimpan ketiga barang mustika. Maka sukalah kau titip simpan barang peninggalan ayahnya dan Ceng-bing-kiam ini, kelak bila ada kesempatan kau bertemu dengan dia, boleh kau serahkan padanya."

"Pek-bo jangan banyak pikiran, aku yakin penyakitmu akan lekas sembuh."

"Semoga seperti apa katamu, sebelum bertemu dengan anak San, matipun aku tidak akan bisa meram. Kapan kau akan berangkat, aku tidak ingin membikin repot kau lagi."

"Syukurlah bahwa Pek-bo bisa mempercayai diriku, aku amat berterima kasih. Kuharap Pek-bo membuang segala pikiran yang merisaukan hati, rawatlah penyakit ini dengan sabar dan tekun. Setelah Pek-bo sembuh betul, baru aku berangkat juga belum terlambat."

Sudah tentu In-hujin amat terharu, terima kasih dan menyesal pula, katanya.

"Kau memang pemuda yang bajik, jujur dan tulus, hampir saja aku menuduh dan memfitnahmu tanpa juntrungan."

"Tidak boleh menyalahkan Pek-bo, adalah pantas kalau aku dicurigai. Aku membawa golok In Tayhiap, pandai main ilmu goloknya lagi. Sebelum bertemu dengan Pek-bo, di tengah jalan, akupun dicurigai orang sebagai pembunuh ln Tayhiap."

"Siapakah dia?"

Tanya ln-hujin.

"Seorang pemuda sebaya dengan aku, anehnya, diapun pandai menggunakan ilmu golok keluarga In,"

Lalu dia ceritakan pengalaman dua hari yang lalu, dimana dia bertemu dengan pemuda yang hendak ditolongnya oleh serbuan pasukan kuda Watsu, akhirnya dirinya malah yang dilabrak.

Mendengar ceritanya In-hujin malah terbeliak senang, namun sikapnya tetap biasa.

"Untuk ini aku ingin tanya kepada Hujin, adakah In Tayhiap menerima seorang murid?"

Merah muka In-hujin, katanya kikuk.

"Sudah sekian tahun aku berpisah dengan dia, kejadian belakangan ini, aku tidak tahu jelas."

"Baiklah kalau begitu. Sudilah kiranya Pek-bo memberitahu siapa orang yang memfitnah diriku itu?"

"Adakah kau punya seorang teman she Liong?"

Tan Ciok-sing keplok tangan, baru sekarang dia sadar, katanya.

"O, kiranya Liong Seng-bu?"

"Betul, memang Liong Seng-bu. Bagaimana kau bisa kenal dia?"

Maka Tan Ciok-sing ceritakan bagaimana dia berkenalan dengan Liong Seng-bu, belakangan bagaimana mereka menempuh perjalanan dan akhirnya orang turun tangan keji atas dirinya karena hendak merebut barang-barang pusaka yang dibawanja.

Lama In-hujin melongo akhirnya geleng-geleng, sungguh tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa sang keponakan ternyata adakah pemuda yang culas dan tamak pula.

Lalu katanya.

"Jadi manusia harus bajik terhadap sesamanya, tapi kehidupan kaum persilatan memang penuh liku-liku. Maka selanjutnya kau harus selalu ingat, jangan kau mengemban keinginan hendak mencelakai orang, tapi embanlah kewaspadaan untuk menjaga keculasan hati orang lain atas dirimu?"

"Ya, banyak terima kasih akan petuah Pek-bo."

Ucap Tan Ciok-sing.

"sejauh ini aku masih belum tahu orang macam apa sebenarnya Liong Seng-bu ini, dari sikap dan tutur katanya, kelihatannya dia seorang sekolahan yang sudah mendalam dalam pelajaran buku, namun tak terduga bahwa hatinya ternyata seburuk itu, bahwa dia memfitnah diriku di hadapan Pek-bo, tentunya Pek-bo mengenalnya dengan baik? Bolehkah Pek-bo memberitahu siapakah dia sebenarnya?"

Tak urung merah pula wajah In-hujin, katanya samarsamar.

"Dia seorang famili jauh, sifatnya memang bangor, biasanya aku tidak menyukainya. Mungkin dia mengincar golok dan buku pelajaran ilmu golok keluarga In itu, maka dia mencelakai kau."

"Pek-bo,"

Ujar Tan Ciok-sing.

"waktu kau masuk kemari tadi, pernah kau perhatikan ke dua singa batu yang aneh letaknya itu?"

Kata In-hujin.

"Singa batu di sebelah kiri dibalik arahnya, sementara singa batu sebelah kanan ditinggali sebuah cap tangan, betul tidak?"

"Betul, dari cap tangan di atas singa batu itu, ilmu silat orang itu memang teramat tinggi. Entah apakah dia musuh besar keluarga In?"

Maklum Tan Ciok-sing sedang menguatirkan keselamatan In San yang belum pernah dilihatnya, di samping merasa heran juga akan sikap In-hujin.

Kenapa setelah melihat keganjilan atas kedua singa batu itu, In-hujin agaknya tidak prihatin akan keselamatan putrinya?

In-hujin berkata dengan senyum manis.

"Aku tahu siapa orang yang sengaja main-main dengan singa batu itu, kau tidak usah kuatir, dia adalah seorang teman baik anak San. Pernah kau dengar nama Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun?"

Tan Ciok-sing berjingkat, katanya.

"O, kiranya Tam Tayhiap? Aku pernah melihatnya."

"Dimana kau pernah melihatnya?"

"Di malam In Tayhiap kena musibah itulah. Terlalu banyak persoalan yang kukatakan tadi, maka hal ini belum sempat kututurkan. Menurut cerita In Tayhiap, lantaran menepati janji undangan dengan Tam Pa-kun sejak tiga tahun yang lalu, maka dia datang ke Kwi-lin. Sebelumnya mereka sudah berjanji untuk bertemu di rumah It-cu-king-thian Lui Tin-gak. Sayang Tam Pa-kun terlambat datang tiga hari, waktu aku bertemu dengan dia, In Tayhiap sudah meninggal. Semula aku masih menaruh curiga, apakah dia sekongkol dengan Lui Tinggak dan Le Khong-thian untuk mencelakai In Tayhiap? Kalau tidak bagaimana mungkin Le Khong-thian bisa tahu kemana arah tujuan dan kepergian In Tayhiap? Mereka sudah mengatur tipu daya dan jebakan untuk mencelakai jiwanya secara keji."

In-hujin geleng-geleng, katanya.

"Tam Pa-kun adalah kenalan mati hidup In Hou, bagaimana martabatnya aku tahu jelas, betapa juga dia tidak akan berbuat jahat mencelakai In Hou. Tentang It-cu-king-thian Lui Tin-gak, memang sudah lama aku mendengar kebesaran namanya sebagai pendekar, tapi belum pernah bertemu. Tapi aku yakin dia pasti bukan biang keladi yang mencelakai In Hou."

"Belakangan aku bertemu dengan Tam Pa-kun, aku juga tahu bahwa curigaku tidak berdasar dan kenyataan memang keliru. Waktu aku bertemu dengan dia, diapun sedang dikejar dan dilukai oleh kawanan penjahat yang mencelakai jiwa ln Tayhiap pula. Badannya terkena beberapa panah beracun, kedua matanya juga buta. Dia memberitahu padaku, katanya dia dijebak dan dicelakai musuh di tempat dimana seharusnya dia berjanji pertemuan dengan In Tayhiap."

"Akhirnya bagaimana?"

Tanya In-hujin tegang.

"Ternyata It-cu-king-thian Lui Tin-gak ada di antara kawanan penjahat itu, langkah mereka semakin dekat, tapi seperti juga keadaan Pek-bo sekarang, Tam Tayhiap yakin Lui Tin-gak tidak akan mencelakai dirinya, dia suruh aku lekas melarikan diri, katanya bukan dia kuatir It-cu-king-thian akan mencelakai jiwaku, tapi dia kuatir aku terluka oleh anak buah musuh dalam keributan nanti, jelas dia tak mungkin melindungi aku. Bekal kepandaianku pada tiga tahun yang lalu memang berbeda jauh sekali, bukan saja tidak akan mampu menolong Tam Tayhiap, mungkin bisa merupakan beban dirinya untuk melindungi aku malah. Apa boleh buat, terpaksa aku lari secara diam-diam. Bagaimana akhir kejadian selanjutnya, aku tidak tahu."

"Aku cukup kenal ilmu pukulan besi yang diyakinkan Tam Pa-kun. Dari tanda tangan yang ada di atas singa batu itu, jelas adalah peninggalannya. Kejadian selanjutnya tidak kau saksikan, tapi aku bisa membayangkannya. Aku yakin pasti Itcu-king-thian berbalik muka kerja sama dengan dia menyikat habis kawanan penjahat itu, malah luka-luka di tubuh Tam Tayhiap pun berhasil dia sembuhkan."

Tan Ciok-sing berdiri termangu mendengar analisa In-hujin.

"Kau sedang pikir apa?"

Tanya In-hujin.

"Aku memikirkan dua persoalan. Pertama untuk apa Tam Pa-kun meninggalkan telapak tangan di atas singa batu itu? Sebagai seorang pendekar yang kenamaan, tentunya dia tidak melakukan sesuatu tanpa sengaja?"

"Memang Tam Pa-kun seorang yang tidak suka berkelakar, bahwa dia berbuat demikian pasti ada sebab dan alasannya, tapi untuk apa sebenarnya, aku juga sukar menebak."

"Kedua siapa yang membocorkan rahasia pertemuan In Tayhiap dengan Tam Pa-kun di Kwi-lin? Yang tahu rahasia ini hanya tiga orang In Tayhiap, Tam Pa-kun dan Lu Tin-gak, kini sudah jelas bukan Tam Pa-kun, jadi kalau bukan Lui Tin-gak pula, lalu siapa?"

Pucat muka In-hujin, suaranya serak gemetar.

"Aku berani tanggung juga bukan Lui Tin-gak, tapi kita tidak usah main teka teki sendiri, perkara ini suatu ketika pasti akan jelas duduk persoalannya, aku yakin akan datang suatu hari aku pasti dapat membekuk orang yang mencelakai dan membocorkan rahasia itu,"

Waktu mengatakan isi hatinya ini, sanubarinya seperti ditusuk sembilu sakitnya.

Bahwasanya dia sudah tahu siapa orang yang membocorkan rahasia itu, malah rahasia ini bocor lantaran keteledoran dirinya pula sehingga dicuri dengar oleh orang ini.

Jadi kalau diusut secara kenyataan, secara tidak langsung diapun termasuk orang yang membocorkan rahasia ini.

Melihat keganjilan air muka In-hujin, Tan Ciok-sing kira orang terlalu banyak bicara, sehingga kehabisan tenaga, katanya.

"Pek bo, kau beristirahat saja. Marilah kuhibur dengan petikan sebuah lagu lagi."

Pandangan In-hujin tertuju keluar jendela, seperti sedang memikirkan apa-apa, hakikatnya seperti memperhatikan apa yang diucapkan Tan Ciok-sing.

Keruan Tan Ciok-sing kaget, dia kira penyakit orang kumat lagi, baru saja dia maju hendak tanya, tiba-tiba In-hujin menoleh sambil menegakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, memberi syarat supaya dia tidak bersuara.

Lalu dia berbisik.

"Ada orang datang, lekas kau sembunyi, aku bisa menghadapinya."

Tan Ciok-sing tidak tahu siapa yang datang, memang dia merasa rikuh berada di kamar perempuan, tapi waktu mendesak begini membuatnya bingung, keluar tidak mungkin, lalu dimana dia harus menyembunyikan diri.

Lekas In-hujin menuding almari pakaian, tanpa banyak pikir Tan Ciok-sing menyelinap masuk kedalam almari, baru saja dia merapatkan almari, betul juga didengarnya suara lapat-Iapat datangnya langkah kaki yang semakin dekat, kini menaiki undakan mendorong pintu besar terus masuk kedalam rumah.

Dari langkah kaki yang terdengar bisa di duga yang datang ada tiga orang.

Kaget dan malu hati Tan Cioksing, pikirnya.

"Dalam keadaan sakit tapi pendengaran In-hujin masih setajam ini, dibandingkan dia ternyata aku masih kalah jauh."

Begitu memasuki rumah, ketiga orang itu bicara sambil bisik-bisik terus maju memeriksa dan menggeledah tempattempat yang mereka lalui.

Dengan cermat Tan Ciok-sing pasang kuping, tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang sudah amat dikenalnya.

"Entah Kim-to-thi-ciang itu sudah pergi atau belum."

Tan Ciok-sing kaget, tapi lantas naik pitam, orang yang bicara ternyata bukan lain adalah Liong Seng-bu.

Demikian pula In-hujin, dia ke tambahan jengkel dan benci.

Diapun sudah mendengar suara percakapan Liong Seng-bu diluar pintu, maka dia membatin.

"Agaknya Hou-ko di alam baka memang memberi kesempatan padaku untuk menuntut balas, entah bagaimana bocah keparat ini diantar kemari untuk mengantar kematian. Hm, hm, memang aku hendak membuat perhitungan kebetulan dia kemari."

Lalu terdengar seorang bersuara agak serak tua.

"Hari itu dia sengaja pamer kepandaian, dikira kita lari kena gertakannya, kini kuyakin dia takkan mengira kita bakal kemari lagi. Lalu untuk apa dia berjaga-jaga pula disini?"

Orang ketiga ikut menimbrung.

"Tam Pa-kun hanya bernama kosong, kalau ada kesempatan ingin aku menjajal Kim-to-thi-ciangnya itu."

"Hari itu hanya ada aku bersama, Ciok-tuthau, sudah jamak kalau kami gentar menghadapinya. Kini bila kalian bergabung mengeroyok dia, jelas tak usah takut padanya."

Mendengar sampai disini, diam-diam In-hujin dan Tan Cioksing tahu duduknya perkara.

Kiranya untuk menakut-nakuti kawanan penjahat ini masuk ke rumah keluarga In, maka sengaja Tam Pa-kun meninggalkan bekas telapak tangan itu di atas singa batu, itu berarti dia melindungi keselamatan In San pula.

Mendadak Tan Ciok-sing mengingat sesuatu, didalam almari jari-jarinya menjentik beberapa kali.

Lekas In-hujin dekatkan telinganya di samping almari, didengarnya suara Tan Ciok-sing selembut nyamuk, mengatakan tentang "harpa antik"-nya yang terletak di atas meja.

Maklum Liong Seng-bu pernah melihat harpa antik milik Tan Ciok-sing ini, dia kuatir orang mengenalinya, maka dia memberi ingat kepada In-hujin.

Pada hal langkah ketiga orang diluar sudah berada di pekarangan dalam, tak mungkin mereka banyak bicara lagi.

In-hujin juga tersentak sadar, pikirnya.

"Harpa ini memang cukup antik, mungkin dia kuatir Liong Seng-bu merusaknya nanti bila bergebrak disini. Sebetulnya hal ini tidak perlu dibuat kuatir,"

Dia yakin semudah membalik telapak tangan untuk membekuk Liong Seng-bu tapi karena Tan Ciok-sing berkuatir, hati-hati sedikit memang juga baik, maka dengan gerakan terburu-buru sekenanya dia menarik secarik kain sutra merah terus dilampirkan di atas harpa antik itu.

Sementara ketiga orang itupun sudah dekat dan sedang menuju ke kamar In San ini.

Rebah di pembaringan, napas In-hujin sengaja dibuat berat dan tersengal.

Kaget dan senang Liong-bu yang berada diluar pintu, serunya.

"Siapa didalam?"

In-hujin juga berpura-pura senang dan kaget, katanya dengan napas memburu.

"Apakah Seng-bu diluar? Dengan siapa kau kemari?"

Liong Seng-bu amat kecewa, katanya dengan laku hormat.

"Betul, memang aku. Bibi, apakah penyakitmu sudah sembuh. Kenapa tidak kau rawat penyakitmu di rumah..."

Ternyata dia kira yang ada didalam kamar adalah In San. Mendengar suara In-hujin, kedua orang diluar itu juga merasa diluar dugaan, lekas mereka berdiri tegak diluar, katanya.

"Lapor Hujin, hamba Ciok Khong-goan dan Sa Thong-hay atas perintah Te-tok datang kemari untuk menjemput Siocia pulang ke kota raja. Tidak tahu bila Hujin ada disini, harap dimaafkan,"

Kedua orang ini adalah dua perwira dari anak buah suaminya J^iong Bun-kong yang berkepandaian paling tinggi. Dalam hati In-hujin berpikir.

"Jikalau aku tidak sakit, bukan soal aku menghadapi mereka. Tapi buat apa aku merendahkan derajat bergebrak dengan mereka?"

Maka dia berkata.

"Bu-ji, kau masuklah, Ciok-tuthau dan Sa-jongiing boleh tunggu diluar saja, jangan biarkan orang lain masuk kemari."

Kedua orang itu mengiakan sambil munduk-munduk.

Pelan-pelan Liong Seng-bu mendorong daun pintu, dilihatnya In-hujin sedang rebah di atas ranjang, mukanya pucat bagai kertas, napasnya yang menderu terdengar berat, agaknya penyakitnya kumat dan bertambah berat.

Maka legalah hatinya, katanya.

"Bibi, kenapa kau begini menyiksa diri? Bukankah bibi sudah kukasih tahu, paman sudah mempersiapkan segalanya untuk menjemput adik San pulang, kenapa bibi harus kemari sendiri?"

Tan Ciok-sing yang sembunyi didalam almari menjadi keheranan.

"Bagaimana mungkin Liong Sengbu ternyata adalah keponakan In-hujin? Memangnya siapa pula Te-tok Tayjin itu?"

Dia yakin dalam hal ini pasti ada latar belakang yang cukup ruwet, terpaksa dia menahan napas mendengarkan lebih lanjut. In-hujin menghela napas, katanya.

"Aku tahu pamanmu pasti mengutus orang membawanya pulang. Tapi dia adalah putri kandungku, sudah tentu aku amat prihatin akan dirinya. Situasi di Tay-tong amat genting lagi, terpaksa aku nekad datang kemari. Tak nyana setiba disini, San-ji tidak kuketemukan, penyakitku malah kumat lagi."

Liong Seng-bu amat kecewa, katanya.

"Untung bahaya sudah berselang disini, tak lama lagi adik San mungkin pulang, bagaimana keadaan bibi sekarang, perlukah kupanggil tabib untuk memeriksa?"

In-hujin pura-pura payah, duduk bersandar di pinggir ranjang, tangannya menggapai ke arah Liong Seng-bu, katanya terputus-putus.

"Penyakitku ini mungkin, mungkin tak bisa sembuh lagi. Kau, kemarilah kau, aku... aku hendak bicara dengan kau."

Liong Seng-bu mengiyakan sambil menghampiri, tiba-tiba matanya melirik ke arah toilet, dilihatnya sebuah harpa kuno yang ditutupi selembar kain merah sutra, harpa kuno itu sendiri tidak dia lihat tapi dari bentuknya dia bisa memperkirakan barang apakah-di bawah kain merah sutra itu, jelas bukan perabot yang biasa dibuat dandan anak gadis, sekilas timbul rasa curiganya, tiba-tiba dia ulur tangan menyingkap kain sutra merah itu, segera dia mengenali harpa kuno milik Tan Ciok-sing itu.

Tahu gelagat jelek tapi Liong Seng-bu masih mampu menenangkan hati, katanya.

"Kiranya juga bibi suka main harpa? Selama ini belum pernah aku tahu."

"Aku kesepian dalam menunggu sembuhnya penyakit ini, kadang-kadang timbul rasa isengku maka kugunakan harpa ini untuk menghibur hati."

Pandangan Liong Seng-bu menjelajah seluruh isi kamar, dirasakan tiada mungkin orang sembunyi di kamar ini, pikirnya.

"Kalau Tan Ciok-sing tidak pernah kemari, bagaimana mungkin harpa miliknya berada disini? Entah dia sudah pergi? Lebih baik aku berhati-hati."

Lalu dia mundur beberapa langkah, katanya.

"Ada sesuatu yang lupa kuberi tahu kepada mereka, segera aku kembali."

Melihat sikap orang yang agak ganjil sudah tentu In-hujin tidak membiarkan pergi, katanya.

"Baiklah, lekas kau kembali,"

Menanti orang sudah putar tubuh dan berjalan hampir mendekati pintu, mendadak dengan tenaga sikut menahan ranjang, In-hujin mencelat bangun dan meluncur terapung, seperti burung elang menyambar kelinci, sekali tangan terulur dia cengkram tulang pundak Liong Seng-bu.

Karuan Liong Seng-bu menjerit kesakitan, teriaknya.

"Bibi, kau."

"Jangan bersuara,"

Desis In-hujin di pinggir telinganya.

"berani kau berteriak, segera kucabut nyawamu."

Sengaja In-hujin juga mengeluh sekali, lalu katanya.

"Papah aku berdiri, jangan takut, aku hanya kebentur sedikit, tidak apa-apa,"

Kata-katanya yang terakhir dia tujukan kepada dua orang yang berjaga diluar.

Sesaat lagi In-hujin pasang kuping, didengarnya kedua orang itu tidak putar balik, maka legalah hatinya.

Segera dia tekan urat nadi Liong Seng-bu, lalu menyeretnya mendekat ke ranjang.

"Bibi,"

Kata Liong Seng-bu suaranya lirih lembut.

"keponakan tidak pernah berbuat salah terhadapmu..."

"Ada urusan yang ingin kutanya kepadamu, kau harus menjawab terus terang."

"Masak keponakan berani menipu bibi?"

"Perkataanmu ini justru telah menipuku. Perjanjian In Hou dengan Tam Pa-kun di Kwi-lin bukankah kau yang membocorkan kepada pamanmu, lalu mengatur tipu daya menjebak mereka serta mencelakai jiwa mereka pula?"

Liong Seng-bu berjingkat kaget, serunya.

"Bibi, kau, apa katamu? Hakikatnya aku tidak tahu menahu soal itu."

"Hari itu kau mencuri dengar pembicaraan kami, kau kira aku tidak tahu? Tapi waktu itu aku masih belum ada keputusan untuk meninggalkan keluarga Liong, tak pernah kuduga pula bahwa kau akan berbuat sejahat ini, maka aku diam saja tidak bertindak padamu. Aku paling benci bila ditipu orang, jikalau kau mau berterus terang, mungkin aku bisa mengampuni jiwamu."

Terbetik setitik harapan, kata Liong Seng-bu.

"Harap bibi maklum, bukan keponakan berani ngapusi kau, semua ini adalah putusan dan perintah paman sendiri."

"Baik, teruskan,"

Desak In-hujin menahan amarah.

"kau, kenapa kau mencelakai In Hou? Kenapa pula kau memfitnah Tan Ciok-sing?"

"Bibi, bukan aku yang mencelakai In Tayhiap, paman yang punya maksud jahat ini. Ai, yang benar paman juga bermaksud baik terhadapmu. Sebagai Te-tok Hujin. kalau bibi masih ada hubungan dengan In Hou..."

Merah padam muka In-hujin, dampratnya melotot.

"Aku tidak pingin mendengar obrolannya, lebih penting kau bicara secara jujur."

Tan Ciok-sing yang mendengarkan sampai disini di tempatnya"

Sembunyinya berpikir.

"Jadi In-hujin sudah nikah lagi, jadi sekarang dia adalah nyonya besar. Coba saja dia masih kemaruk kehidupan serba berkecukupan atau membela dan membalas kematian In Hou."

"Keponakan sejak kecil memperoleh banyak kebaikan paman, mana berani aku main sembunyi, apa yang kudengar semuanya sudah kulaporkan padanya, tapi aku tidak mengira bila paman bisa bertindak sejauh itu untuk mencelakai In Tayhiap."

"Tidak perlu kau membela diri, aku tidak sabar lagi mendengar obrolanmu."

"Ya, baiklah kuperpendek saja. Setelah paman tahu akan hal ini, segera dia mengutus orang memberitahu kepada Hekciok-ceng Cengcu le Cun-hong."

"Ie Cun-hong yang bergelar si Raja Golok itu? Ada sangkut paut apa dia dengan pamanmu?"

"Sudah lama dia ingin bekerja demi kepentingan kerajaan, maka sering dia berhubungan dengan paman, tapi bibi sendiri tidak pernah tahu. Paman menugaskan Ie Cun-hong mengatur rencana untuk mencelakai jiwa In Tayhiap. Tapi Ie Cun-hong di samping licik dan culas ternyata dia cukup licin pula, dalam melaksanakan tugasnya sendiri tidak mengunjuk diri.

"Kebetulan waktu itu datang seorang tokoh yang berkepandaian tinggi bernama Le Khong-thian, konon tokoh liehay ini ada bermusuhan dengan In Tayhiap, maka Ie Cunhong lalu mengatur muslihat serta mengundang seorang temannya yang lain bernama Siang Po-san untuk membantu Le Khong-thian, di samping itu masih ada pula orang-orang Tok-liong-pang semuanya meluruk ke Kwi-Iin disana mereka melaksanakan rencana jahat itu. Semua ini baru kudengar laporan le Cun-hong kepada paman setelah peristiwa itu berselang satu bulan. Bagaimana mereka turun tangan, secara terperinci aku tidak bisa menjelaskan."

In-hujin teringat suatu hal, tanyanya.

"It-cu-king-thian tidak sekongkol dengan kalian?"

Liong Seng-bu melengak, pikirnya.

"Eh kenapa perempuan busuk ini menaruh curiga terhadap It-cu-king-thian malah, atau sengaja hendak mengorek keteranganku? Berapa banyak yang dia ketahui?"

"Ada atau tidak, kenapa tidak bicara?"

In-hujin mendesaknya pula.

Pada hal Tan Ciok-sing sedang pasang kuping mendengarkan, tanpa terasa dia menghela napas enteng.

Betapa licik dan cerdik Liong Seng-bu mendengar suara helaan napas ini, otaknya yang encer segera berputar, pikirnya.

"Bocah itu pasti sembunyi dalam kamar ini, meski aku tidak tahu dimana dia sembunyi. Pasti dia pula yang memberi tahu kejadian yang mengakibatkan kematian In Hou. Betapa liehay dan sempurna rencana yang diatur paman dengan Ie dan Le bertiga, tidak heran kalau bocah ini sampai menaruh curiga terhadap It-cu-king-thian, pertanyaan perempuan busuk ini menitik beratkan ke persoalan ini, pasti bocah itulah yang ingin tahu. Baiklah, kutipu mereka pula dengan melimpahkan kesalahan kepada orang,"

Sengaja dia ragu-ragu dan plegak pleguk, katanya.

"Bibi, maksudmu...!"

"It-cu-king-thian Lui Tin-gak, katamu suka bergaul dengan kaum persilatan, memangnya kau tidak pernah mendengar nama besarnya?"

Liong Seng-bu pura-pura teringat, katanya.

"Oh, ya, teringat aku sekarang. It-cu-king-thian Lui Tin-gak memang ikut merencanakan muslihat itu, malah dialah yang menjadi biang keladinya."

"Siapa yang memberitahu kau akan hal ini?"

"Secara kebetulan kudengar pembicaraan paman dengan utusan Ie-cengcu."

"Apa yang mereka bicarakan?"

"Paman berpesan pada orang itu bahwa It-cu-king-thian Lui Tin-gak adalah orang kita sendiri. Supaya mereka tidak usah takut dan jeri padanya, setiba di Kwi-lin boleh berunding dengan dia. Kudengar orang itu berkata.

"Kalau demikian, In Hou janji bertemu dengan Tam Pa-kun di rumah Lui Tin-gak, bukankah berarti mereka masuk jaring sendiri?"

"Apa betul kau mendengar mereka bicara demikian? Aku tidak percaya bahwa It-cu-king-thian sehaluan dengan kalian." '"Kalau bibi tidak percaya aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi memang waktu itu aku dengar bicara demikian."

"Dan akhirnya bagaimana?"

"Kebetulan aku lewat dan mendengar pembicaraan ini, tak berani aku mencuri dengar lama-lama diluar kamar, bagaimana akhir pembicaraan mereka, aku tidak tahu."

"In Tayhiap sudah jadi korban, kalian masih belum puas, kenapa bocah she Tan itu juga kalian kejar?"

"Karena hanya dia saja yang tahu akan kematian In Tayhiap, golok dan buku pelajaran ilmu golok milik In Tayhiap berada di tangannya. Aku ingin rebut kembali barang-barang itu dan serahkan kepada adik San."

"Jadi kau ini agaknya berbudi dan baik hati terhadap kami ibu dan anak?"

"Bibi, jangan salah paham bila keponakan bicara terus terang. Tindakan paman kali ini memang agak kejam, tapi kenyataan adalah demi kepentingan. Paman sekarang adalah Kiu-bun-te-tok, tak lama lagi bakal naik pangkat, sebagai isterinya kedudukanmu akan ikut naik setingkat pula. Bahwa paman menyingkirkan In Hou, adalah mengharap kau bisa hidup tenang dan tenteram didalam keluarga Liong kita sampai hari tua."

Hampir meledak dada In-hujin, dampratnya dengan kertak gigi.

"Binatang, kalian paman dan keponakan memang hewan. Aku telah salah melangkah, menyesal juga sudah terlambat, meski jiwaku harus melayang, sakit hati ini harus kutuntut pada dirimu,"

Tiga jari tangan kanan menekan urat nadi, sementara telapak tangan kiri pelan terangkat hendak menepuk batok kepala orang.

Keruan serasa terbang arwah Liong Seng-bu, ingin dia minta tolong, tapi dia insaf bila berteriak mungkin jiwanya mati lebih cepat.

Pada saat kepepet ini tiba-tiba timbul akalnya, serunya.

"Bibi, tidak jadi soal aku mati, kuatirnya adik San..."

Telapak tangan In-hujin tinggal satu dim di atas kepalanya, mendengar kata-katanya segera dia berhenti, tanyanya.

"Anak San sudah tidak berada di Tay-tong, memangnya kalian bisa berbuat apa atas dirinya?"

"Terus terang, paman mengutus beberapa kelompok orang kemari. Dua hari yang lalu adik San menyamar laki-laki keluar dari Tay-tong, orang kita sudah mengikuti jejaknya, untuk membuktikan laporan ini, maka bersama Ciok dan San kedua anak buah paman aku kemari memeriksa. Bibi, kau boleh membunuhku, kau sendiripun tak akan bisa lolos. Adik San ketangkap orang kita, paman pasti akan membunuhnya juga untuk menuntut balas sakit hatiku. Bibi, kau masih bisa berpikir secara sehat, kau harus memikirkan untung ruginya. Kalau bibi tidak ingin pulang ke damping paman, boleh kau lari ke tempat yang jauh, meski paman marah takkan bisa berbuat apa-apa."

In-hujin menjadi ragu dan merandek setelah mendengar bujukan Liong Seng-bu.

Urat nadi Liong Seng-bu sebetulnya tertekan oleh tiga jari In-hujin, tiba-tiba dirasakan olehnya jari-jari itu rada gemetar, tenaga tekanan juga rada mengendor, ini menandakan bahwa hatinya terguncang.

Pada detik menentukan mati hidup ini, tiba-tiba timbul setitik harapan, sudah tentu Liong Seng-bu tidak sia-siakan kesempatan ini!

Segera dia merendahkan pundak sambil meronta sekuatnya sehinga terlepas dari cengkraman In-hujin, malah dua jarinya balas menutuk.

Memang In-hujin sedikit teledor sehingga berbalik kena kecundang.

Dulu, dia pernah mengajar Kungfu kepada Liong Seng-bu, dikiranya kepandaian Liong Seng-bu yang terbatas ini, pasti takkan lolos dari tangannya.

Diluar tahunya bahwa sejak tiga tahun yang lalu Liong Seng-bu pernah merebut beberapa lembar tulisan pelajaran Bu-bing-kiam-hoat karya Thio Tan-hong dari tangan Tan Ciok-sing.

Walau yang diperolehnya tidak lengkap, tapi berdasar kecerdikannya sendiri selama tiga tahun ini dia pelajari dengan tekun, di kota raja dia sering ajak adu kepandaian dengan jago-jago silat pamannya, maka kepandaiannya sekarang sudah jauh lebih tinggi.

Tapi dihadapan In-hujin dia berpura-pura rendah.

Perasaan In-hujin sedang tergoncang, tak terpikir olehnya bahwa sang tawanan bakal berontak, karena tidak siaga tahu tahu jalan darah di dadanya kena ditonjok sekali, seketika dia rasakan badannya kesemutan.

"Kunyuk kurang ajar,"

Hardik In-hujin, sekaligus telapak tangannya terbalik, telapak tangannya mengiris keluar dengan sisa tenaganya, maka terdengar suara "Brak"

Yang cukup keras, Liong Seng-bu kena digetar sungsang sumbel oleh tenaga pukulan ini, badannya menumbuk daun pintu.

"Biang"

Tahu-tahu daun pintu ditendang terpentang dari luar.

Baru saja Liong Seng-bu hendak berteriak minta tolong, kedua perwira yang datang bersamanya itu sudah menerjang masuk.

Ternyata kedua orang ini hanya mengiakan saja atas perintah In-hujin, sengaja dengan langkah berat berjalan pergi lalu ngeluyur balik dengan langkah ringan, serta mendekam diluar pintu mencuri dengar pembicaraan didalam kamar, mereka maklum jiwa Liong Seng-bu berada digenggaman Inhujin, maka tak berani mereka bertindak gegabah, baru sekarang tanpa pikirkan akibatnya mereka menerjang masuk.

Meski dalam keadaan sakit, betapapun kepandaian dan lwekang In-hujin masih lebih tinggi dibanding Liong Seng-bu, cukup dia memutar tiga kali hawa murni dalam tubuh, hiat-to yang tertutuk sudah lancar kembali.

Namun karena ini dia cukup memeras tenaga, meski hiat-to yang tertutuk sudah bebas, tapi badan bagian bawah masih dalam keadaan lumpuh.

Sambil memapah Liong Seng-bu, Ciok Khong-goan berkata.

"Kongcu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa,"

Seru Liong Seng-bu sengit.

"lekas kalian bekuk perempuan busuk itu."

"Kurang ajar, siapa suruh kalian masuk, lekas enyah dari sini,"

Bentak In-hujin. Tawar suara Sa Thong-hay.

"Hujin sedang sakit, jangan mengumbar amarah. Harap Hujin ikut kami berangkat ke kota raja saja."

"Siapa Hujin kalian itu?"

Damprat In-hujin.

"pulanglah kalian dan beritahu kepada Liong Bun-kong, aku tidak akan kembali pula ke rumah keluarga Liong."

Sa Thong-hay menyeringai, katanya.

"Kalau kau tidak sudi jadi Liong-hujin, maka jangan kau salahkan kalau kami bertindak kepadamu,"

Sembari bicara kakinya melangkah maju mendekat di pinggir ranjang In-hujin. Tiba-tiba Liong Seng bu teringat, teriaknya.

"Awas, dalam kamar ini ada sembunyi seorang lagi."

Belum habis dia bicara Tan Ciok-sing tendang almari terus melompat keluar.

Sa Thong-hay sedang mengulur tangan hendak mencengkeram In-hujin, tiba tiba dia rasakan angin kencang menyerang dari belakang, ternyata Tan Ciok-sing menyerang dengan sejurus tusukan pedang.

Memang tidak malu Sa Thong-hay memiliki kepandaian tinggi, dalam keadaan genting ini dia masih sempat membalik tangan menangkap ke belakang, ternyata dengan balas menyerang dia lawan serangan musuh, dengan tangan kosong dia hendak merebut pedang pusaka Tan Ciok-sing.

Jurus Kimna-jiu ini mencengkeram ke urat nadi di pergelangan tangan Tan Ciok-sing, untung Bu-bing-kiam-hoat yang diyakinkan Tan Ciok-sing memang khusus untuk menghadapi serangan secara mendadak serta dapat bergerak mengikuti perubahan yang dihadapinya, segera langkah menggeser berganti posisi, ujung pedangnya melingkar menggaris sebuah bundaran kecil memapas pergelangan tangan lawan yaug terjulur tadi.

Cengkeraman luput Sa Thong-hay sekaligus turunkan telapak tangan kiri terus membelah ke sikut Tan Ciok-sing.

Dengan jurus jun-hun-ka-jan, cahaya pedangnya berderai melebar dengan getaran yang menyilaukan, sehingga Sa Thong-hay kena didesaknya mundur dua langkah.

Betapapun didalam kamar menghambat gerak-gerik, sukar untuk mengembangkan kepandaian sejati, sebagai jago Taylik-ing-jiau-kang, dengan tangan kosong tak mungkin Sa Thong-hay kuat melawan pedang pusaka Tan Ciok-sing.

Lekas Ciok Khong-goan menubruk maju sambil mencabut golok.

Golok Tan Ciok-sing bergerak enteng dan lincah, jurus hianniau-hoat-sa yang kelihatan sepele ini tiba-tiba dilancarkan menyerang Sa Thong-hay, tapi sasaran yang diincarnya justeru Ciok Khong-goan yang menyerang tiba.

Di tengah deru pukulan telapak tangan dan samberan kilat pedang, tampak Tan Ciok-sing bergerak setangkas kera, badan bergerak mengikuti laju pedang, secara mendadak pedangnya menusuk ke dada Ciok Khong-goan dari arah dan posisi yang tak terpikir oleh lawan.

Ciok Khong-goan juga termasuk jago dalam memainkan golok cepat, tapi ilmu pedang Tan Ciok-sing jelas lebih rumit dan liehay sukar dijajaki, bahwa kagetnya secara reflek dia tarik goloknya menangkis "Trang"

Tahu-tahu ujung kepala goloknya terpapas kutung oleh Ceng-bing-kiam.

Sebagai ahli silat Sa dan Ciok cukup tahu bergebrak didalam kamar bahayanya berlipat ganda bagi pihak mereka, apalagi lawan memakai senjata pusaka, umpama mereka tidak sampai kalah, akhirnya mungkin bisa gugur bersama.

Adalah logis bila dua jagoan yang sedang bertempur memikirkan juga jalan mundur keselamatan dirinya sesuai situasi yang ada.

Maka tanpa berjanji kedua orang ini berlari keluar dari kamar tidur In San, teriaknya.

"Bangsat cilik, kalau berani hayo keluar."

Lega hati Tan Ciok-sing, katanya.

"Pek-bo, kau?"

"Aku tidak apa-apa. Lekas libat mereka supaya tidak melarikan diri,"

In-hujin yakin dalam jangka setengah jam dia sudah cukup waktu untuk melancarkan seluruh jalan darahnya, bila kedua kaki sudah leluasa bergerak, maka dia bisa membantu Tan Ciok-sing melabrak musuh-musuh itu.

Terdengar Liong Seng-bu menjengek diluar.

"Perempuan busuk, anakmu sudah sebesar itu, ternyata masih juga kau tidak malu main pat-gulipat disini, sungguh tidak tahu malu."

Saking gusar In-hujin sampai memuntah sekumur darah, bentaknya.

"Bunuhlah anjing keparat itu. Sungguh aku menyesal kenapa tadi tidak kucabut jiwanya."

"Memangnya, kalau mampu hayo keluar dan bunuh kami bertiga,"

Ejek Sa Thong-hay.

"kalau kau tidak keluar, biar kukubur kalian sepasang laki-laki perempuan anjing ini hiduphidup."

"Wut"

Dengan kepalannya tiba-tiba dia menggempur ke dinding.

Yang diyakinkan adalah Tay-Iik-ing-jiau-kang, betapa dahsyat tenaga pukulannya, seketika dinding jebol dan runtuh berhamburan, dua batu bata mencelat kesana hampir saja menjatuhi harpa yang berada di atas toilet.

Tan Ciok-sing gusar, harpa itu segera dia buntal dan digendong, katanya.

"Pek-bo, aturlah pernapasan dan kerahkan hawa murni tak usah pecah perhatian atas diriku. Kedua cakar alap-alap ini aku mampu menghadapi mereka,"

Tiba-tiba dia gerakkan tangannya, dengan jurus Me-can-pathong seluruh tubuh terbungkus dalam libatan cahaya pedang terus menerjang keluar pintu.

Liong Seng-bu berjingkat kaget serta putar badan menyingkir ke tempat jauh.

"Biar bocah keparat ini tahu keliehayanku,"

Bentak Sa Thong-hay, kini dia sudah memegang sebatang kipas lempit yang terbuat dari besi baja.

Dengan jurus Bek-hong-koan-jit pedang Tan Ciok-sing menusuk lambung musuh.

Dengan kipas lempitnya Sa Thong-hay menangkis serta menuntunnya keluar, secara pas-pasan dia geser tenaga serangan pedang Tan Ciok-sing ke samping sehingga pedang Tan Ciok-sing tersampuk minggir.

Inilah tenaga lunak untuk mengalahkan kekerasan yang meminjam tenaga untuk memunahkan tenaga.

Umumnya orang yang meyakinkan Tay-lik-ing-jiau-kang jarang yang memiliki landasan latihan lwekang.

Tan Ciok-sing tidak menduga bahwa lawan yang satu ini ternyata mahir lwekang, hampir saja dia kena kecundang, untung Bu-bing-kiam-hoat yang diyakinkan itu khusus memang untuk melayani segala perubahan mengikuti situasi yang ada, maka meneruskan laju pedangnya tiba-tiba pedang panjang tadi melingkar sekali memunahkan daya lengket dari kipas lawan begitu berubah permainan pedangnya dari jurus Pek-hong-koan-jit dia rubah menjadi Kiau-hu-bun-Io (pencari kayu tanya jalan), pedang menyapu bagian bawah Sa Thong-hay.

Kipas Sa Thong-hay ditarik melempit terus ditekan turun.

"Trang"

Pedang dan kipas beradu menimbulkan percikan lelatu api.

Dalam jurus bentrokan ini walau Sa Thong-hay tidak mampu mengeser pedang lawan, namun tenaganya sudah terpunahkan sebagian besar, sehingga Tan Ciok-sing tidak mampu menusuk lobang kipas besi orang.

Melihat kawan tidak kuasa mengalahkan lawan cilik ini, sudah tentu Ciok Khong-goan tidak tinggal diam, sambil menghardik sekali di bawah permainan goloknya dia selingi pukulan tangan Tan Ciok-sing dirangsaknya dengan sengit.

Menghadapi dua musuh dari dua jurusan sedikitpun Tan Cioksing tidak merasa jeri pedang ditarikan turun naik dengan gerak kecepatan luar biasa memainkan jurus-jurus pedang ciptaan gurunya lagi, dengan leluasa dia masih mampu menghadapi keroyokan kedua orang ini.

Malah dirabu oleh gerakan pedang cepat Tan Ciok-sing, Sa Thong-hay tidak mampu lagi mengembangkan gwakangnya, sementara Ciok Khong-goan paling juga hanya mampu bertahan saja.

Kepandaian Ciok Khong-goan memang tidak setingkat Sa Thong-hay yang mampu meyakinkan lwekang dan gwakang, betapapun dia sudah termasuk jago liehay, sudah menjadi incaran Tan Ciok-sing hendak memukul roboh dulu pada sasaran yang lemah ini, sejauh itu usahanya tetap gagal.

Permainan golok dicampur pukulan Ciok Khong-goan memang cocok untuk menghadapi gerak pedang kilat Tan Ciok-sing, tapi untuk balas menyerang jelas tidak mungkin, kalau untuk bertahan dalam jangka tertentu dia masih mampu membela diri.

Liong Seng-bu sudah lari puluhan langkah, waktu dia berpaling dilihatnya Sa dan Ciok berdua tidak kelihatan lebih asor, maka dia tenangkan hati pelan-pelan dia putar balik mendekati arena pertempuran.

Tan Ciok-sing mencegat di pintu, bentaknya.

"Liong Sengbu, berani kau selangkah memasuki pintu ini, biar kubunuh kau lebih dulu."

Tapi didalam In-hujin berkata dingin.

"Biarkan saja dia masuk, tak usah kau menghalanginya, silahkan saja masuk kemari,"

Sudah tentu Liong Seng-bu tahu betapa liehaynya In-hujin, meski dalam keadaan sakit, tadi kena tutukan jarinya lagi, namun dia masih jeri untuk mendampinginya.

"Liong-kongcu,"

Seru Sa Thong-hay.

"Lekas kau lari minta bantuan, balai kota kan tidak jauh dari sini."

Liong Seng-bu tersentak sadar oleh peringatan ini, pikirnya.

"Ya kenapa tidak aku kerahkan tentara kemari? Kurasa militer di Tay-tong kan pengagum paman."

In-hujin lebih terkejut mendengar percakapan ini, dalam jangka setengah jam dengan taraf lwekang In-hujin sekarang sebetulnya dia sudah mampu melancarkan hawa murninya, tapi karena pikiran gundah hati risau, hawa murni sukar dihimpun, sehingga rasa linu dan pati kedua kakinya bertambah parah.

Sementara Tan Ciok-sing yang menghadapi kedua musuhnya di pekarangan lama kelamaan merasa payah, semangat tempur masih gigih tapi tenaga semakin terkuras.

Suatu ketika pedangnya menusuk ke leher Ciok Khong-goan, lawan menegakkan golok menangkis "Trang"

Pedangnya kena disampuk pergi, golok lawan ternyata tidak kurang suatu apa, sebat sekali pedang Tan Ciok-sing sudah melintir balik, maksudnya hendak menusuk hiat-to lawan dari arah yang tak terduga, hasilnya serambut lebih lambat sehingga tusukannya gagal.

Padahal Ciok Khong-goan sudah dibuat silau oleh cahaya pedang, untuk berkelit jelas tidak mungkin.

Tak nyana ujung pedang lawan tahu-tahu menyelonong ke samping, hanya terpaut serambut itu hiat-tonya tidak sampai tertusuk.

Begitu tenang perasaan dan pikiran Ciok Khong-goan seketika berteriak girang.

"Bocah ini sudah kepayahan."

Kipas Sa Thong-hay mengetuk dan mengebas terbuka, beruntun dia bebaskan tiga jurus serangan rangkaian pedang Tan Ciok-sing.

Tiga serangan pedang berantai ini masih cukup kencang gerakannya, tapi dibanding tadi jelas sudah jauh lebih lambat dan lemah.

Karuan Sa Thong-hay ikut senang, serunya.

"Betul, tak perlu kita adu jiwa dengan bocah ingusan ini, hayo kuras saja tenaganya, libat terus jangan sampai melarikan diri."

Yang benar dengan bekal ginkang dan kemahiran ilmu pedangnya yang liehay, walau saat itu dia sudah hampir kehabisan tenaga, untuk melarikan dia masih cukup berlebihan.

Tapi di kamar masih ada In-hujin yang tidak mampu berjalan, bagaimana mungkin dia melarikan diri tanpa memikirkan tentang keselamatan orang.

Oleh karena itu sekuatnya dia mengempos semangat untuk bertahan matimatian.

Jeri menghadapi permainan pedangnya yang liehay sukar diraba, Sa dan Ciok berdua juga tidak berani terlalu mendesak.

Tanpa merasa pertempuran ini sudah berselang hampir setengah jam, badan Tan Ciok-sing basah kuyup keringatnya gemerobyos, gerakan pedangnya boleh dikata tanpa dilandasi kekuatan tenaga dalam lagi.

Kiranya untuk membantu penyembuhan penyakit In-hujin, dia harus menyalurkan Iwekangnya, tidak sedikit hawa murninya yang terkuras, dalam kondisi yang semakin lemah ini, akibatnya pihak musuh semakin mengganas dan pihak sendiri semakin payah kehabisan tenaga.

Di saat-saat tegang ini, tiba-tiba terdengar derap lari kuda yang kencang dari kejauhan.

Derap kaki kuda yang kacau balau dan gaduh suaranya, bagi yang berpengalaman sekali dengar akan lantas tahu bahwa kuda yang dicongklang mendatangi sedikitnya ada belasan.

Ciok Khong-goan tertawa tergelak-gelak, serunya.

"Nah itu pasukan pemerintah sudah tiba, coba bocah keparat kau ini mau lari kemana?"

Padahal keadaan Tan Ciok-sing sudah ibarat pelita yang sudah kekeringan minyak, umpama pasukan pemerintah tidak datang, jelas diapun takkan bisa meloloskan diri lagi.

Belum lagi gelak tawa Ciok Khong-goan lenyap, di atap rumah tiba-tiba didengarnya kesiuran angin lambaian pakaian manusia.

Mereka bertempur di pekarangan, Sa dan Ciok menghadap ke kamar dimana In-hujin berada, mendadak dilihatnya sesosok bayangan orang seperti elang menukik turun dari arah taman belakang sana terus meluncur lenyap kedalam kamar.

Bayangan itu lenyap di antara paya-paya di sebelah sana dimana merupakan samping kamar yang terdapat sebuah jendela, mungkin orang itu sudah menerobos masuk kedalam.

Sa dan Ciok tidak tahu siapa pendatang ini, tapi Liong Seng-bu sudah mengundang bala bantuan, mungkin orang itu adalah jago kosen yang diundang Liong Seng-bu, meski hati merasa kaget, namun hati mereka tidak gugup.

Tan Ciok-sing yang membelakangi kamar sudah tentu tidak melihat berkelebatnya bayangan hitam.

Tapi kupingnya cukup tajam, diapun mendengar lambaian baju seseorang yang melayang pesat di atap rumah.

Seperti juga kedua lawannya, Tan Cioksing menduga orang yang menerjang masuk ke kamar Inhujin adalah bala bantuan yang diundang Liong Seng-bu untuk membekuk In-hujin.

Karuan hatinya gugup, permainannya pun kacau balau.

Mendadak didengarnya sebuah suara yang seperti sudah amat dikenalnya tersiar dari kamar.

"Te-moay, tak usah gugup, mari kubawa kau keluar."

Disusul suara In-hujin setengah berteriak dengan nada kaget dan senang.

"Tamtoako kaukah. Tam-toako, aku, aku malu berhadapan dengan kau."

Mendengar panggilan "Tam-toako"

Kedua pihak yang lagi berhantam di pekarangan sama-sama melengak.

Terutama Sa dan Ciok lantas berjingkat kaget, sebaliknya Tan Ciok-sing kegirangan setengah mati.

Orang yang setimpal dipanggil Tam-toako oleh In-hujin, kecuali Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun memangnya siapa lagi?

Sebetulnya kipas lempit Sa Thong-hay sudah bergerak menutuk Ih-khi-hiat di bawah ketiak Tan Ciok-sing di kala yang diserang ini lagi tertegun, namun karena sedikit melengak ini, tutukannya jadi menceng, meski menyentuh tubuh Tan Ciok-sing, namun yang kena sisi hiat-to yang tidak berbahaya.

Kontan Tan Ciok-sing merasa ketiaknya sakit dan linu, namun gerak-geriknya tidak menjadi terhalang karenanya.

Mendadak pedangnya malah berputar balik menyampuk kipas lawan itu terus menggaris miring kesana, baju Ciok Khong-goan kena ditabasnya sobek secuil.

Karena kaget Ciok Khong-goan lekas melompat mundur dengan gerakan gugup.

Dugaan Tan Ciok-sing memang tidak meleset, orang yang baru datang dan masuk ke kamar tidur In San memang bukan lain adalah Tam Pa-kun.

Didengarnya Tam Pa-kun berkata dengan suara lirih.

"Manusia mana yang tidak pernah berbuat salah, tahu salah bisa merubah dan mengoreksi diri, betapa bajik hatinya itu. Te-moay, urusan yang sudah lalu jangan kau singgung lagi, marilah lekas ikut aku ke markas Kim-to Cecu, sebentar lagi pasukan pemerintah sudah akan kemari."

In-hujin tertawa kecut, katanya.

"Jangan kata aku tidak mampu bergerak, umpama mampu bergerak aku juga tiada muka berhadapan dengan teman-teman Hou-ko."

Baru sekarang Tam Pa-kun kaget, tanyanya.

"Jadi Te-moay sudah terluka?"

"Lekaslah kau bantu pemuda itu, tak usah kau hiraukan diriku,"

Kata In-hujin. Dengan cermat Tam Pa-kun mengawasi dan memeriksa, didapatinya kaki orang yang lumpuh, katanya.

"Ah, tidak jadi soal,"

Jari tengahnya terulur terus menutuk ke Hoan-tiau-hiat di lutut In-hujin, seketika In-hujin merasa Siau-yang-king-meh di bagian kakinya bergetar, maka hawa murni yang sejak tadi sudah terhimpun di pusar seketika mengalir kencang ke bagian bawah tubuhnya, tanpa merasa segera dia bergerak turun dan berdiri.

Maklum Tam Pa-kun adalah ahli silat, sekali pandang lantas dia tahu bahwa In-hujin tertutuk hiat-tonya, meski sudah berusaha menghimpun hawa murni dan hiat-to sudah terbuka, namun hawa murni itu nyasar ke arah yang berbeda, sehingga kedua kakinya menjadi lumpuh sementara.

Bahwa In-hujin sudah memiliki kepandaian silat yang bertaraf tinggi masih mengalami kesalahan ini, dapatlah dibayangkan pasti karena pikirannya sedang kacau.

Tam Pa-kun keluarkan golok emasnya yang masih bersarung, gagang golok dia angsurkan kepada In-hujin, katanya.

"Jangan kau banyak pikiran, urusan tidak boleh ditunda lagi, lekas pergi bersamaku."

Ilmu silat In-hujin belum pulih, tapi kedua kakinya sudah bisa jalan.

Diluar terdeagar ringkik kuda dan teriakan orang banyak, ternyata pasukan kuda pemerintah telah datang dan mengepung rumah keluarga In.

Terdengar suara Liong Seng-bu sedang berteriak.

"Jangan terburu-buru masuk ke rumah, kita tunggu saja diluar, bila bangsat itu lari keluar, kita bidik dia dengan panah."

Pemimpin barisan kuda, bertanya.

"Kalau dia tidak lari keluar bagaimana?"

Liong Seng-bu tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Apa susahnya, kita bakar rumahnya."

Lalu dia berteriak lantang.

"Sa-jongling, Ciok-tuthau, kalian sudah bekuk bangsat kecil itu belum? Kalau belum boleh kalian keluar saja."

Tan Ciok-sing tahu Tam Pa-kun sebentar akan keluar, sudah tentu dia tidak memberi peluang kepada kedua lawannya untuk mengundurkan diri.

Segera dia mengempos semangat dan labrak kedua lawannya dengan sengit.

"Sret, sret"

Beruntun dia lancarkan dua jurus serangan pedang, ke kiri dia tusuk perut Sa Thong-hay, ke kanan dia menusuk mata Ciok Khong-goan. Karuan Sa Thong-hay naik pitam, serunya.

"Baiklah, kita bekuk dulu bocah keparat ini baru nanti menempur Tam Pakun."

Belum habis dia bicara, tampak Tam Pa-kun dengan memegang ujung golok emasnya sudah berjalan keluar menyeret In-hujin. Kata In-hujin.

"Tam-toako, jangan kau hiraukan aku, lekas kau bantu pemuda itu,"

Dalam waktu yang mendesak begini tidak sempat dia menjelaskan siapa sebenarnya Tan Ciok-sing, terpaksa dia desak Tam Pa-kun membantu Tan Ciok-sing untuk sama-sama meloloskan diri.

Sebagai jago kelas wahid sekilas pandang Tam Pa-kun lantas tahu, diam-diam hatinya heran, pikirnya.

"Ilmu pedang pemuda ini amat bagus dan menakjubkan, jauh berbeda dengan ilmu pedang pada umumnya, sayang tenaganya sudah lemah, kalau tidak sejak tadi dia sudah mampu mengalahkan kedua musuhnya. Aneh, ada angkatan muda seliehay ini muncul di kalangan Kangouw, kenapa sejauh ini aku tidak tahu?"

Maklumlah pertemuan Tan Ciok-sing dan Tam Pa-kun pada malam hari di Cit-sing-giam tempo dulu, Tam Pa-kun sudah terluka cukup parah oleh panah beracun, racun sudah menjalar sehingga kedua matanya hampir buta.

Waktu itu Tan Ciok-sing memang bicara dengan dia, tapi wajah orang dia belum pernah melihat.

Hakikatnya dia juga tidak pernah menduga, setelah berselang tiga tahun, bocah cilik yang dulu berkepandaian cakar ayam kini memiliki ilmu pedang taraf tinggi seliehay ini.

Kuatir Kungfu In-hujin belum pulih, maka Tam Pa-kun tidak berani meninggalkan In-hujin, katanya.

"Apa susahnya menghadapi kedua bangsat busuk ini,"

Habis kata-katanya sebelah tangannya segera menghantam dengan Bik-khong-ciang, jaraknya masih tujuh langkah, namun damparaan angin pukulannya bikin golok Ciok Khong-goan tertolak minggir, kontan dia rasakan dada seperti diterjang batu raksasa, sebelum sempat berteriak, begitu mulut terpentang darah segar sudah menyembur sebanyakbanyaknya, tubuhnya mencelat sempoyongan, untung dia masih kuat menguasai tubuh hingga tidak sampai terjungkal roboh.

Sa Thong-hay memiliki lwekang lebih tinggi toh limbung juga dibuatnya, lekas dia membentang kipas besi terus mengiris ke pergelangan tangan Tam Pa-kun yang memegang ujung golok.

Kipas lempitnya pinggirnya tajam bagai pisau, bergerak dalam jarak dekat dapat digunakan sebagai golok bergigi.

Dia kira Tam Pa-kun hanya mampu bergebrak dengan sebelah tangan kiri saja, maka dia berani menyerang titik kelemahan orang.

Tak nyana gerak-gerik Tam Pa-kun cepat luar biasa, begitu tumit menggeser sambil berputar, tangan kanan tetap memegang ujung golok, sementara ke lima jari tangan kiri terangkap telapak tangan melintang terus membabat laksana golok, kebetulan sasarannya mengincar tetap ke arah kipas Sa Thong-hay.

Tenaga dikerahkan di ujung jari terus disodokan sekerasnya.

Betapa pun liehay lwekang Sa Thong-hay yang bisa lunak dapat keras itu, ternyata tak mampu memunahkan terjangan kekuatan tangannya ini.

"Plak"

Telapak tangan Tam Pa-kun yang terdiri darah daging itu ternyata tembus melobangi kipas lempit Ciok Khong-goan yang terbuat dari baja murni, hebat memang tenaganya yang masih tersisa cukup besar ini masih merenggut lengan orang, jari-jarinya yang berkuku tajam melukai lengannya sampai kulit dagingnya cecel dowel, darah bercucuran.

Sudah tentu Sa Thong-hay tak kuasa menghadapi terjangan pukulan tangan dahsyat ini, tubuhnya seperti bola yang ditendang mencelat terbang melayang melampaui pintu luar.

Untung ilmu silatnya cukup tinggi, di tengah udara dia masih berusaha kendalikan tubuh sekali gerak dengan gaya burung dara jumpalitan, dengan ringan kedua kakinya hinggap di tanah, namun lekas dia menungging sambil berkaok-kaok kesakitan.

Melihat bola daging manusia mendadak terlempar keluar, belum lagi tentara pemerintah diluar melihat jelas siapa orang yang terlempar keluar, beberapa tentara yang beradat berangasan segera pentang busur terus membidik.

Pintu besar sudah terpentang lebar, dari dalam tampak berlari sipat kuping seorang lagi, dia memutar golok bajanya meruntuhkan panah-panah yang dibidikan ke arah Sa Thong-hay, bentaknya.

"Kalian sudah picak semua? Sembarang membidik orang."

Liong Seng-bu terperanjat, lekas dia membentak.

"Lekas berhenti, itulah Sa Tayjin dan Ciok Tayjin."

Yang ikut menerjang keluar di belakang Sa Thong-hay ternyata Ciok Khong-goan adanya.

Dadanya sesak setelah muntah darah diterjang angin pukulan jarak jauh Tam Pa-kun, karuan pecah nyalinya terus lari sipat kuping.

Tapi Sa Thong-hay yang dilempar keluar larinya lebih cepat lagi.

Sungguh kejut dan girang hati Ciok-sing yang masih berada di pekarangan, lekas dia memberi hormat kepada Tam Pa-kun, Tam Pa-kun tak sempat banyak bicara, dia hanya berpesan.

"Adik cilik, tolong kau bantu membuka jalan lekas kita terjang keluar kepungan."

Pedang yang dibawa Tan Ciok-sing adalah pedang mustika dengan bekal kepandaian ilmu pedangnya, pasti takkan terluka oleh serbuan hujan panah. Lalu dia menoleh dan berkata pula.

"Te-moay, apakah sekuatnya kau masih mampu mengembangkan ginkang?"

In-hujin manggutmanggut. Lwekangnya memang belum pulih, namun ginkang tidak memerlukan banyak tenaga, sekuatnya dia masih mampu mengembangkan kepandaiannya ini. Tam Pa-kun mengangguk, katanya.

"Baiklah, mari ikut aku naik ke rumah,"

Golok bersarung itu dia anggap sebagai tongkat untuk menggandeng In-hujin, mereka berdua berbareng menjejak bumi terus mengapung tinggi ke atas rumah, mendapat daya tuntunan dan tarikan melalui golok yang dipegangnya, dengan enteng In-hujin dapat hinggap di atas rumah.

Dalam pada itu dengan memutar kencang pedang laksana baling-baling Tan Ciok-sing menerjang keluar secepat angin Iesus.

Baru saja Sa Thong-hay berdiri tegak belum lagi kakinya beranjak tahu-tahu Tan Ciok-sing sudah menerjang keluar di belakangnya.

Sudah tentu pasukan pemerintah itu tak berani sembarangan membidik lagi.

Lekas Ciok Khonggoan gerakan golok menghadang, kini tenaga kedua pihak sudah sama-sama lemah, kalau diukur malah kekuatan Tan Ciok-sing sekarang lebih unggul.

Begitu pedang dan golok beradu, ujung golok tebal Ciok Khong-goan kembali terpapas kutung sebagian lagi.

Sementara rasa kaget dan jeri Sa Thong-hay belum lenyap maka dia timpukan kipas lempitnya yang sudah rusak bagai besi rombeng ini ke arah Tan Ciok-sing.

Dengan gaya Burung Hong Mengangguk, Tan Ciok-sing menghindar, berbareng dengan sejurus gerakan pedang dia balik menyerang lengan lawan, tapi tahu-tahu ujung pedang sudah mengancam dada.

Sa Thong-hay harus kerahkan setaker kemampuannya mengebut dengan lengan bajunya.

"Bret"

Lengan bajunya terpapas robek, tapi pedang Tan Ciok-sing kena disampuk miring ke pinggir.

Tan Ciok-sing tidak ingin terlibat dalam pertempuran sengit pula, setelah berhasil membebaskan diri dari libatan kedua musuh ini, dia menerjang ke barisan pasukan pemerintah yang mengepung disekeliling pekarangan.

Di kala perhatian pasukan pemerintah tertuju ke arah Tan Ciok-sing itulah, Tam Pa-kun telah berlompatan bagai burung terbang menubruk turun.

Seorang perwira paling depan menjadi sasaran empuk baginya, sekali tempeleng dia pukul jatuh perwira itu terus merebut kuda tunggangannya, serta menyambut In-hujin yang ikut lompat turun di belakangnya, lekas dia telah berhasil merebut seekor kuda untuk tunggangan In-hujin.

Ada seorang tentara tidak tahu keliehayan Tam Pa-kun, dengan kencang dia berusaha mengudak.

Tam Pa-kun membentak.

"Biar kau tahu keliehayan golok emasku,"

Dimana sinar emas berkelebat, batok kepala tentara yang mengudak datang ini seketika mencelat tinggi ke udara, darah menyemprot dari lehernya yang sudah protol kepalanya.

Tam Pa-kun kembalikan golok kedalam sarungnya, bentaknya sambil tertawa dingin.

"Siapa lagi yang tidak takut mati, hayo maju,"

Tentara yang terpenggal terhitung salah seorang pemberani dan gagah perkasa di medan laga, di kalangan tentara pemerintah dia cukup terpandang dan disanjung pula oleh temannya.

Kini hanya sekali ayun golok musuh telah membunuhnya, karuan ciut nyali tentara yang lain, siapa lagi yang berani mengejar?

Tam Pa-kun di belakang dan melindungi In-hujin melarikan diri.

Liong Seng-bu gusar, teriaknya.

"Takut apa lepaskan panah."

Tam Pa-kun menyeringai dingin, sekali raih dia pegang satu batang panah, dengan gerakan menyambit dia timpuk balik panah ini dengan kekuatan jentikan jari, ini ternyata jauh lebih kuat daya luncurnya dari bidikan panah berbusur, jarak padahal sudah mencapai seratus langkah, namun panah ini masih melesat kencang ke arah Liong Seng-bu.

Kejut Liong Seng-bu bukan kepalang, untung di sampingnya berdiri seorang perwira mengayun cambuk menyampuk panah, panah melenceng ke samping tapi daya lemparnya yang kencang membuat panah ini menyerempet dahi Liong Seng-bu dan menancap di pundak seorang perwira lain yang berdiri di belakangnya.

Liong Seng-bu gemorobyos oleh keringat dingin, mulutnya tidak berani bercuit lagi.

"Tam-toako, pemuda itu..."

Seru In-hujin gugup. Tam Pa-kun tersentak sadar, segera dia tarik suara berteriak.

"Adik cilik, setelah lolos kepungan, datanglah ke markas Kim-to Cecu untuk bertemu,"

Dia kira Sa dan Ciok berdua sudah terluka, di antara perwira-perwira pemerintah itu tiada jago kosen lainnya, pasukan berkuda itu takkan dapat menahannya maka dia tidak ingin In-hujin ikut menempuh bahaya, lebih penting dia melindungi keluar dari mara bahaya.

In-hujin pernah menyaksikan kepandaian Tan Ciok-sing, diapun percaya pemuda ini pasti dapat meloloskan diri.

Tan Ciok-sing pernah bilang bahwa tujuannya ke Tay-tong adalah mencari putrinya kalau tidak ketemu akan mampir ke markas Kim-to Cecu, sayang dia lupa bahwa Tan Ciok-sing tidak tahu dimana letak markas Kim-to Cecu itu.

Tadi Tam Pa-kun menggunakan ilmu mengirim suara gelombang panjang dilandasi lwekang yang tangguh, bicara pada kata terakhir bayangan mereka berduapun sudah tidak kelihatan.

Pedang Tan Ciok-sing diputar secepat kitiran, jelas dia sudah hampir menjebol kepungan mendadak dirasakan angin tajam mengancam gitoknya, sebatang ruyung lemas tahu-tahu sudah melingkar datang, sebagai seorang persilatan sekali pandang lantas Tan Ciok-sing tahu penyerang ini merupakan ahli silat juga.

Secara reflek dia membalik tangan dengan jurus Hing-huntoan-hong pedang pusakanya menepis miring.

Gerakannya sudah cukup cepat, tapi penyerang inipun tidak kalah cepat, di tengah deru angin kencang ruyung lemas itu tiba-tiba sudah menggulung balik pula, gerakannya merupakan tipu permainan ruyung liehay yang dinamakan Wi-hong-sau-liu.

Ukuran ruyungnya ini lebih panjang dari ruyung umumnya, bila Tan Ciok-sing tidak merubah permainan pedangnya, umpama ruyung itu terpapas sebagian, tapi dia sendiri pasti juga kena terbelit.

Oleh karena itu dia dipaksa untuk mengerahkan tenaga mendemonstrasikan kelemasan pinggangnya, dengan gaya Yan-cu-can-hun tiba-tiba dia melejit mumbul setombak tingginya.

Penyerang dengan senjata ruyung ini ternyata bukan lain adalah perwira yang tadi berdiri di samping Liong Seng-bu serta menyampuk miring panah yang ditimpukkan Tam Pakun.

Orang ini bernama Toh Liok-ki, salah seorang murid didik dari aliran Utti-pian-hoat.

Taraf Kungfunya meski tidak sebanding Sa Thong-hay, tapi menghadapi Tan Ciok-sing yang sudah kehabisan tenaga ini, dia masih mampu bertahan sama kuat alias setanding.

Baru saja beberapa gebrak Tan Ciok-sing menghadapi ruyung Toh Liok-ki, Sa Thong-hay dan Ciok Khong-goan sudah memburu tiba pula.

Sa Thong-hay membentak.

"Anak bagus, Tam Pa-kun takkan membantumu lagi, coba saja apa kau mampu lolos dari genggamanku?"

"Wut"

Begitutiba kontan dia menggenjot ke punggung Tan Ciok-sing.

Walau Sa Thong-hay sudah terluka, tapi di antara sekian banyak pasukan yang ada kepandaiannya masih terhitung paling top.

Menghadapi musuh di depan dan belakang, Tan Ciok-sing tahu diri, bila dirinya sampai dilibat oleh Sa Thong-hay, untuk lolos pasti sukar, tiba-tiba otaknya yang cerdik mendapat akal, pada detik-detik berbahaya ini, dia tidak hiraukan pukulan Sa Thong-hay yang membokong dari belakang, tiba-tiba dia menubruk sekuatnya ke arah Toh Liokki malah.

"Bocah keparat, ingin mampus kau,"

Hardik Toh Liok-ki kaget, ruyung disendai terus disapu ke pinggang lawan.

Pada detik-detik yang menentukan ini kembali Tan Ciok-sing bertindak nekad dan untung-untungan, mendadak dia mendak tubuh sambil berputar terus menjengkang tubuh sambil miring seperti petani bercocok tanam di tengah ladang, ruyung lemas itu menyamber lewat di atas punggungnya, secara kebetulan dia berhasil menghindar dari sapuan ruyung musuh.

Pandangan Toh Liok-ki mendadak jadi silau, saking kaget, secara reflek dia berusaha melindungi badan tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.

Dalam seribu kesibukannya mendadak dia menggunakan gerakan Ular Sanca Membalik Tubuh, tubuh bersama ruyung lemas itu berputar laksana gangsingan terus menyapu pula ke arah bayangan yang menubruk maju.

Maka terdengar suara "Plak", orang itu membentak.

"Lo-toh, inilah aku."--Ternyata Tan Ciok-sing sudah membresot lewat dari sampingnya. Orang yang hampir dimakan ruyungnya itu kiranya Sa Thong-hay. Cara menyelamatkan diri yang ditempuh Tan Ciok-sing memang amat berbahaya, waktu yang digunakan juga tepat. Sa Thong-hay menolak ruyung kawan sendiri yang menyapu mukanya, meski lwekangnya tinggi, tak urung dia tertolak berputar dua lingkaran, hampir saja dia saling tumbukan dengan Toh Liok-ki. Toh Liok-ki sendiri juga terhuyung-huyung hampir jatuh, karuan mukanya merah padam, lekas dia tarik ruyung lemasnya. Begitu lolos dari kepungan kedua musuh dari depan dan belakang, Tan Ciok-sing lantas kembangkan kelincahan gerak tubuhnya, laksana burung walet yang menyusup kedalam hutan, laksana burung camar bermain di antara gelombang samudra, tubuh bergerak mengikuti gerakan pedang, pesat sekali tubuhnya berkelebat dan maju terus di antara tentaratentara pemerintah. Beberapa tentara yang berada dekat dirinya pasti diberi persen goresan luka pedang atau kena ditempeleng pipinya, ada pula yang ditusuk buta matanya dan ditendangnya jungkir balik sampai patah tangan atau kaki, jerit kesakitan terdengar saling bersahutan. Jalan raya tidak seperti tanah lapang, meski jumlah tentara pemerintah banyak, mereka toh tidak bisa berjubel mengepung seorang musuh. Melihat beberapa temannya terluka sebagian besar yang lain tanpa komando telah menyingkir menyelamatkan diri. Tan Ciok-sing pura-pura hendak memburu ke arah Liong Seng-bu, bentaknya.

"Bangsat she Liong, meski jiwaku harus berkorban, hari ini aku harus membunuhmu."

Saking ketakutan Liong Seng-bu menjerit minta tolong.

Lekas Ciok Khong-goan memburu tiba, dengan jurus pekhong-koan-jit Tan Ciok-sing menusuk lurus dengan pedang, di tengah jalan pedangnya mendadak berubah sasaran menusuk pula dari posisi yang tidak terduga, berbareng mulutnya menghardik.

"Lepaskan golok."

Memangnya Ciok Khong-goan bukan tandingan Tan Cioksing, hatinya sudah jeri dalam keadaan gugup lagi, mana dia kuasa menghadapi ilmu pedang Tan Ciok-sing yang hebat ini.

Terpaksa dia memang harus melepaskan senjata demi menyelamatkan diri pula, sementara kaki menyurut mundur sambil berteriak gemetar.

"Sa-toako, lekas ke mari."

Sekali ketuk Tan Ciok-sing pukul golok lawan yang mencelat terbang itu, lalu tertawa tergelakgelak, serunya.

"Bangsat kecil she Liong, biar kau hidup beberapa hari lagi. Maaf, tuan mudamu tidak mengiringi lebih lanjut."

Sebelum Sa Thong-hay memburu datang, di tengah gelak tawa kemenangannya, Tan Ciok-sing sudah lompat naik ke atas rumah penduduk.

Tiga jago kosen di antara perwira-perwira tinggi itu, hanya Sa Thong-hay yang memiliki ginkang paling tinggi.

Seorang diri jelas dia tidak berani mengejar, karena dia yakin umpama dirinya mampu menyandak juga tidak bakal memperoleh keuntungan, salah-salah awak sendiri bisa celaka, maka dia hanya bisa perintahkan anak buahnya melepas panah.

Dasar masih berjiwa anak-anak, Tan Ciok-sing juga tidak mau mengalah, genteng rumah penduduk dibuat senjata rahasia, karuan pasukan pemerintah menjadi kacau balau dijatuhi bom-bom genteng yang berat dan keras itu.

Kejap lain dia sudah lari pergi mengembangkan ginkang dan tidak kelihatan lagi.

"Entah Tam Tayhiap bersama In-hujin sudah keluar kota belum? Biar aku kembali mengambil kuda tungganganku itu,"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

Dilihatnya pasukan kuda pemerintah tengah mengudak ke arah sini, sengaja dia berlari putar kayun di tengah jalan raya dalam kota untuk mengaburkan jejaknya, lalu secara diam-diam dia pulang ke rumah kakek bersama cucunya penjual teh itu.

Kakek pemilik warung teh belum tidur, dian kecil tampak dipegang di tangannya, jendela setengah terbuka, kepalanya longok-longok keluar sambil pasang kuping.

Mendadak didengarnya seseorang mengetuk bawah jendelanya tiga kali, karuan kagetnya seperti disengat kalajengking, tanyanya gemetar.

"Siapa?"

Cepat Tan Ciok-sing menjawab".

"Tamu yang semalam datang itu."

Pemilik kedai masih kenal suara Tan Ciok-sing, lekas dia membuka pintu. Di bawah penerangan dian yang remangremang, dilihatnya sekujur tubuh Tan Ciok-sing berlumuran darah, karuan kagetnya bukan main.

"Siangkong, kau terluka?"

Tanyanya gemetar.

"Aku tidak terluka, inilah darah tentara yang menyemprot tubuhku, pasukan pemerintah itu mau mencelakai jiwa Inhujin, terpaksa aku labrak mereka. Aku bukan perampok, paman tidak usah takut. Akupun tidak ingin kau kena perkara, aku datang mengambil kudaku."

Pemilik warung tidak segelisah tadi, katanya.

"Tak perlu kau jelaskan lagi, aku percaya kau orang baik. Bicaralah jujur, bila kau terluka, boleh sembunyi di rumahku, aku tidak takut kena perkara."

"Terima kasih akan kebaikan paman, aku betul-betul tidak terluka. Tolonglah kau bawa keluar kudaku itu."

"Baiklah,"

Sahut si kakek, dia menoleh ke arah dipan, dimana cucunya sudah tidur nyenyak, sebelum keluar dia mengemuli cucunya lalu membawa Tan Ciok-sing ke belakang.

Anak itu tampak tersenyum dalam mimpinya, kue pemberian Tan Ciok-sing tampak masih dipegang di tangannya.

Sambil jalan kakek itu berkata lirih.

"Bukan lantaran siang tadi kau memberi rangsum pada kami maka kukatakan kau orang baik. Aku tahu kau adalah sahabat Tam Tayhiap, betul tidak?"

"Aku belum setimpal menjadi sahabat baik Tam Tayhiap, tapi aku pernah mengenalnya saja. Apa kau juga tahu Tam Tayhiap?"

"Dia adalah sahabat baik In Tayhiap, beberapa tahun lalu sering minum-minum di kedaiku. Tadi aku mencuri lihat dari celah-celah pintu, kulihat dia berlari pergi menunggang kuda bersama In-hujin. Persoalan keluarga In sedikit banyak juga pernah kudengar, cuma aku tidak tahu kapan In-hujin pulang. Pulangnya kali ini pasti secara diam-diam diluar tahu suaminya yang sekarang, tak heran pasukan pemerintah itu hendak menangkap dia. Siangkong, apa sekarang kau hendak menyusul mereka?"

"Betul, tahukah kau jalan mana yang mereka tempuh?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Mereka lari lewat jalan raya di seberang gang yang sana itu, agaknya mereka hendak keluar kota dari pintu utara. Menurut apa yang kuketahui, penjagaan di pintu utara paling lemah,"

"Terima kasih akan petunjukmu paman."

Baru saja dia hendak pamitan, kakek itu tiba-tiba berkata bisik-bisik.

"Apa kau hendak mencari Kim-to Cecu?"

Tan Ciok-sing kegirangan, katanya.

"Benar. Paman, apa kau tahu dimana letak markas Kim-to Cecu?"

Lirih suara kakek pemilik kedai.

"Terus terang, walau aku bukan anak buah Kim-to Cecu, tapi beberapa Thaubak dari markasnya sering juga datang kemari minum-minum, berkat kepercayaan mereka terhadapku, aku dipandang orang sendiri, ada kalanya mereka bercerita tentang keadaan markas mereka. Berita apa saja yang pernah kudengar dalam kota Tay-tong pasti juga kuberitahu mereka. Menurut cerita mereka, tiga bulan yang lalu, markas besar mereka berada di Sip-jit-hong di atas Tioyang-san. Sembarang waktu mereka sering berpindah tempat, cuma markas pusatnya saja yang didirikan pada suatu tempat yang cukup strategis, yakin sampai saat sekarang ini masih belum pindah ke lain tempat. Tapi tempat itu aku sendiri juga belum pernah kesana, cara bagaimana untuk kesana, aku tidak bisa menjelaskan. Tapi setiba di Tio-yang-san, boleh kau sebut nama Tam Tayhiap dan mencari tahu dari mulut para pemburu setempat, mereka pasti mau menunjukkan jalan padamu."

Setelah mengucapkan terima kasih serta meninggalkan beberapa butir kacang emas, Tan Ciok-sing segera pamitan terus cemplak kudanya keluar dari pintu belakang.

Hari sudah menjelang tengah malam, pasukan pemerintah juga sudah ditarik mundur.

Tan Ciok-sing keprak kudanya berlari sekencang angin menuju ke pintu utara.

Sepanjang jalan beberapa kali dia bersua dengan barisan ronda, dengan mudah dia robohkan mereka semua.

Tiba di pintu utara dilihatnya pintu gerbangnya terpentang lebar, ada beberapa tentara tua sedang sibuk membetulkan daun pintu, melihat Tan Ciok-sing mencongklang kudanya secepat mungkin, beramai-ramai tentara itu lari serabutan menyembunyikan diri.

Maklum pintu utara ini kebetulan menghadapi agresi pasukan Watsu, beberapa hari yang lalu pasukan besar Watsu sudah berada di bawah tembok, pasukan penjaga kota sudah lari menyelamatkan diri, kini yang masih ditinggal hanya beberapa orang yang sudah berusia lanjut.

Tadi Tam Pa-kun bersama In-hujin memang lari lewat pintu utara, kunci pintu gerbang ini di tabas rusak oleh golok emas Tam Pa-kun, belum lagi rasa takut tentara-tentara itu lenyap, kini dilihatnya Tan Ciok-sing menerjang tiba pula, mana mereka berani merintangi?

Setelah jauh meninggalkan kota baru Tan Ciok-sing mendengar suara trompet didalam kota, dia duga Liong Sengbu tahu dirinya lari dari pintu utara lalu mengerahkan pasukan mengejar ke arahnya ini.

Dengan kertak gigi Tan Ciok-sing berpikir.

"Kelak meski kau tidak mencariku, aku pasti mencari perkara padamu, sekarang tiada tempo aku melayanimu."

Kudanya ini adalah kuda rampasan dari pasukan Watsu, meski tidak sehebat kuda putih itu, tapi dibanding kuda yang ditunggangi pasukan pemerintah di Tay-tong jelas lebih bagus.

Entah berapa jauh sudah Tan Ciok-sing membedal kudanya, menjelang fajar pasukan yang mengejar di belakang sudah tidak kelihatan lagi.

Pikirnya.

"Untung bertemu dengan kakek pemilik kedai, baru aku tahu cara bagaimana untuk menemui Kim-to Cecu. Padahal kudaku ini lari secepat ini, kenapa masih belum menyandak Tam Tayhiap dar In-hujin? Memangnya mereka menempuh jalan lain?"

Tan Ciok-sing terus menempuh perjalanan, mendekati lohor baru dia bersua dengan orang yang menempuh perjalanan, dia seorang laki-laki tua yang mengendalikan sebuah gerobak.

Pada laki-laki tua ini Tan Ciok-sing tanya jalan, ternyata Tio yang-san tiga ratus li di sebelah utara Tay-tong, perjalanan ditempuh lewat jalan pegunungan.

Kudanya ini memang lebih bagus dari kuda biasa, tapi sebelum hari petang takkan sampai-di tujuan.

"Engkoh kecil,"

Tanya laki-laki tua itu keheranan.

"gunung itu belukar dan tiada penduduk yang tinggal disana, untuk apa kau kesana?"

"Tujuanku mencari famili di Tay-tong, kebetulan familiku itu sudah pergi jauh kearah Sin-kang berdagang kuda, letak pasaran kuda konon di sebelah utara Tio-yang-san, bukankah aku harus lewat dari bawah gunung itu?"

Setelah jelas akan jalan mana yang harus di tempuhnya, Tan Ciok-sing terus melanjutkan perjalanan, dalam hati dia merasa heran, kusir gerobak ini sudah tiga hari menempuh perjalanan di atas pegunungan ini, kenapa dia tidak pernah melihat Tam Tayhiap dan In-hujin?

Kiranya Tan Ciok-sing masih terlalu hijau, kurang pengalaman, dalam tanya jawab dengan kusir gerobak tadi, banyak dia menunjukkan hal-hal yang mencurigakan, sudah tentu kusir gerobak itu mencurigai asal-usulnya, maka dia tidak bicara sejujurnya.

Sepanjang jalan banyak juga persoalan yang dipikirkan Tan Ciok-sing namun tiada satupun yang dapat dia simpulkan jawabannya.

Di kala pikiran masih terombang ambing itulah, tanpa terasa dia tiba di tiga persimpangan jalan.

Ke arah mana jalan yang harus dipilih.

Di saat Tan Ciok-sing ragu-ragu untuk menentukan pilihannya, tiba-tiba didengarnya derap lari kuda yang dilarikan kencang, seekor kuda putih tampak lari mendatangi dari jalanan kecil yang lain sana.

Pesat sekali lari kuda ini, hanya sekejap tahu-tahu sudah tiba di depan.

Penunggang kuda putih ini ternyata adalah pemuda itu, keduanya kesamptok secara tidak terduga, sesaat kedua sama melenggong.

Kontan pemuda itu mencabut golok sambil mendelik gusar ke arah Tan Ciok-sing, rasanya sekali bacok dia ingin memotong tubuh Tan Ciok-sing menjadi dua, namun dia juga tahu bahwa dirinya bukan tandingan lawan, maka dia hanya memaki.

"Bangsat cilik, akan datang suatu hari akan kubuat kau memperoleh ganjaran setimpal,"

Tanpa menghentikan kudanya dia mencongklangnya dari sampingnya.

Melihat Tan Ciok-sing, kuda putih itu seperti melihat kenalan baiknya, sambil lari dia meringkik panjang sambil berjingkrak.

Tergerak hati Tan Ciok-sing, lekas dia berteriak.

"Bukankah kau sudah pulang ke rumah dan tahu apa yang telah terjadi, baru saja kau keluar dari Tay-tong bukan? Tunggu sebentar, jangan lari, ada omongan yang ingin kubicarakan dengan kau."

"Kalau dugaanku tidak meleset, dia pasti pernah pulang ke rumah,"

Demikian pikir Tan Ciok-sing.

Betul juga dilihatnya pemuda itu menarik tali kekang dan memutar balik kuda tunggangannya.

Tapi muka si pemuda masih kelihatan murka, agaknya lebih benci dan marah dari sikapnya tadi.

Begitu kudanya dibedal datang dia terus menerjang tanpa buka suara, mendadak goloknya terayun membacok ke arah Tan Ciok-sing, Karena tidak menduga hampir saja muka Tan Ciok-sing kesercmpet bacokan.

Sejak mula pemuda ini sudah anggap Tan Ciok-sing sebagai pembunuh ayahnya, mending kalau Tan Ciok-sing tak bersuara memanggilnya, hawa marahnya seketika berkobar karena kira peristiwa yang terjadi di rumahnya semalam di Tay-tong adalah gara-garanya lagi.

Diapun berpikir.

"Kudaku larinya lebih cepat, kalau tidak kuat melawan, lari juga bukan soal,"

Karena diburu nafsu goloknya membacok gencar sekaligus dia menyerang beberapa jurus untuk melampiaskan dendam.

Betapa liehay dan cepat gerakan ilmu golok keluarga In, karena didesak terpaksa Tan Ciok-sing keluarkan juga goloknya untuk membela diri.

"Ting"

Sekali ketuk dia bikin golok orang menceng ke samping.

Untung Tan Ciok-sing hanya mengetuk dengan punggung golok, kalau tidak pasti golok si pemuda tertabas kutung.

Kuda berputar silih berganti saling terjang, kedua orang bertempur di atas kuda karena kuda sendiri kalah gagah dan garang, dia harus main bertahan atau membela diri saja, sudah tentu keadaannya semakin payah.

Hanya beberapa gebrak kuda tunggangan Tan Ciok-sing mendadak terpeleset, kaki depannya tertekuk sambil meringkik kesakitan terus roboh di tanah.

Maklum sehari ini dia sudah lari amat jauh dengan kecepatan tinggi, tenaganya sudah habis dan terlalu lelah, sekarang harus bertempur lagi, karuan tidak tahan lagi.

Sebelum kudanya roboh Tan Ciok-sing sudah melompat jauh kesana, tapi karena terlalu besar menggunakan tenaga, hampir saja diapun terpeleset jatuh.

Pemuda itu kegirangan, bentaknya.

"Bangsat cilik, rasakan golokku."

Diluar dugaannya, kuda putih ini ternyata juga amat cerdik, Tan Ciok-sing pernah menyelamatkan jiwanya, bergaul dan menunggangnya untuk beberapa lamanya, agaknya dia tahu pemuda yang ada di punggungnya hendak membunuh tuan penolong jiwanya, sudah tentu dia tidak mau dikendalikan lagi, mendadak dia menghentikan langkah, pemuda itu hampir saja terjorok jatuh dari punggungnya.

Karuan si pemuda terperanjat, makinya.

"Binatang, tidak tunduk padaku kubunuh kau."

Dalam pada itu Tan Ciok-sing sudah berdiri tegak terus lompat maju, teriaknya.

"Aku tidak tahu kau pernah apa dengan In Tayhiap, tapi di Tay-tong aku sudah bertemu dengan In-hujin maukah kau tahu berita dan jejaknya sekarang?"

Pemuda itu melongo, makinya.

"Kau mencelakai jiwa ayahku, membawa pasukan membakar rumahku lagi, aku takkan sejajar denganmu dalam bumi ini, apa pula yang harus dibicarakan?"

Dugaan Tan Ciok-sing kini tidak meleset lagi, pemuda ini adalah samaran putri In Hou yaitu (n San adanya.

Sungguh kejut dan senang pula hati Tan Ciok-sing, namun dalam waktu singkat ini dia jadi gelagapan, bagaimana dia harus bertindak supaya tidak menambah curiga orang terhadap dirinya.

Karena kuda putih tidak mau tunduk pada perintahnya lagi, terpaksa In San melompat turun, dampratnya.

"Bangsat cilik, ayahku sudah kau bunuh, nah sekarang bunuh sekalian aku ini, akil akan adu jiwa dengan kau,"

Keduanya kini bertanding di tanah berumput, untuk menghindar dan meluputkan diri dari serangan golok orang kini bukan menjadi persoalan bagi Tan Ciok-sing.

Dengan gerakan Hong-biau-loh-yap secara tangkas dia berkelit dari tiga serangan berantai In San, katanya.

"Nona In, kenapa tidak kau pikir, secara cermat, kalau benar aku membunuh ayahmu, kini kau ingin adu jiwa denganku, kan kebetulan malah bagiku untuk membabat rumput sampai keakar-akarnya, kenapa aku harus mengalah padamu."

"Betul, kepandaiannya jauh lebih tinggi, memegang golok dan pedang mustika, jikalau dia ingin membunuhku, sejak mula jiwaku sudah melayang,"

Demikian batin In San, namun rasa curiganya tetap belum hilang, jengeknya.

"Siapa tahu tipu daya apa yang sedang kau rencanakan atas diriku?"

"Terserah kau mau percaya tidak. Dua hari yang lalu aku pun sudah bertemu dengan ibumu. Apapun yang terjadi dia adalah ibu kandungmu, memangnya kau tidak ingin tahu keadaannya sekarang?"

"Justru aku tidak percaya kalau dia mau pulang ke rumah?"

Debat In San. Tan Ciok-sing menghela napas, katanya.

"Meski ibumu salah langkah, namun sejak lama dia sudah bertobat, sudah insaf akan kesalahan. Sejak kau diajak pulang oleh ayahmu dari rumah kakek luarmu, malamnya setelah dia pulang tidak menemukan kau, pernah dia jatuh sakit sampai parah, belakangan memang dia menikah lagi, namun dia ditipu keluarganya, toh sejauh itu dia masih tetap merindukan kau. Tahun itu kau baru berusia tujuh tahun bukan? Banyak kejadian yang belum kau ketahui, hakikatnya ibumu adalah seorang yang bajik, karena tertipu sehingga dia berbuat kesalahan diluar kesadarannya. Ayahmu sendiri sudah memaafkan kesalahannya, masa kau tidak bisa memaafkan malah?"

Karuan In San terlongong mendengar ocehan Tan Ciok-sing ini.

Bahwa Tan Ciok-sing bisa bercerita sejelas ini akan perpisahan dirinya dengan sang ibu di masa kecilnya itu, jikalau bukan ibunya yang bercerita padanya, memangnya dari siapa dia bisa tahu liku-liku rumah tangganya?

"Tiga tahun yang lalu,"

Ucap Tan Ciok-sing lebih lanjut.

"ibumu suruh Liong Seng-bu membawa tusuk kundai sebagai tanda kepercayaannya datang mencarimu. Katanya kau membantingnya patah, apa benar?"

In San melengak, tanpa sadar tangannya meraba sanggul dan mencabut sepasang tusuk kundai, katanya.

"Siapa bilang aku membantingnya patah, nah bukankah tusuk kundai ini masih baik?"

"Liong Seng-bu yang laporan hal ini kepada ibumu. Kalau demikian dia sengaja mau menipu ibumu,"

Ujar Tan Ciok-sing. Kata In San sedikit sengit.

"Memang aku agak membenci ibuku, tapi aku lebih membenci orang-orang dari keluarga Liong, kau kira aku tidak tahu, segalanya aku sudah tahu dengan jelas, ayah juga pernah bicara dengan aku, ibu ditipu oleh orang-orang keluarga Liong."

"Syukurlah kalau kau sudah tahu,"

Kata Tan Ciok-sing lega.

"Keparat itu minta aku pulang ikut dia,"

Demikian tutur In San.

"coba kau pikir patutkah aku meluluskan perintahnya? Tusuk kundai memang sudah kuterima, tapi segera aku gebah dia lari. Untung dia melarikan diri secepat setan, kalau tidak kedua kakinya pasti sudah kupukul remuk."

"Yang membawa pasukan membakar rumahmu semalam juga bocah she Liong itu."

In San melengak, seperti heran dan diluar dugaan, katanya.

"O, kiranya kau juga berani memaki dia."

"Bukan saja aku ingin mendampratnya, aku malah ingin membunuhnya,"

Demikian ucap Tan Ciok-sing sengit.

"semalam kalau jumlah mereka tidak banyak, aku pasti sudah membunuhnya."

"Kenapa kau begitu membencinya?"

Tanya In San.

"Cukup parah dan payah aku ditipu dan hampir saja celaka oleh muslihatnya. Lebih celaka lagi dia memfitnah aku, katanya akulah pembunuh ayahmu."

"Dari mana kau tahu kalau dia memfitnah kau?"

Tanya In San.

"Ibumu memberitahu padaku. Semula seperti kau begitu melihat aku dia lantas melabrakku, katanya hendak menuntut balas atas kematian suaminya. Dengan susah payah dan berbagai cara akhirnya aku dapat meyakinkan ibumu sehingga dia percaya padaku, lalu aku tuturkan duduk persoalan yang sebenarnya."

Tiba-tiba In San berkata.

"Kukira kau ini alap-alap kerajaan. Bukankah ayahmu punya kedudukan dalam kalangan Bhayangkari?"

Tan Ciok-sing tertegun, tanyanya.

"Siapa bilang? Ayahku sudah meninggal sejak aku berumur setahun, beliau adalah guru harpa yang kelana di Kangouw, jangan kata tidak pernah menjabat pangkat, melihat para pejabatpun dia sudah pusing tujuh keliling. Aku hanya hidup bersama kakek, sejak kecil beliaulah yang mengasuhku sampai dewasa. Kami bertempat tinggal di bawah Cit-sing-giam di daerah Kwi-lin, membajak sawah menjala ikan adalah kehidupan kami sehari-hari. Tiga tahun yang lalu beliaupun telah meninggal, ia, kematiannya..."

Ingin Tan Ciok-sing menceritakan sebab musabab kematian kakeknya kepada In San, maklum kematian kakeknya punya sangkut paut yang erat dengan kematian ln Hou.

Ayah In San.

Tapi karena In San masih ragu terhadap dirinya kalau menceritakan kenyataan ini padanya belum tentu orang mau percaya, dan lagi ada urusan lain yang lebih penting harus segera dia bicarakan, terpaksa hal ini biar ditunda dulu.

Katanya.

"Perihal kakekku kelak akan kututufkan lagi. Yang memfitnah diriku pada kau ku yakin pasti bocah she Liong itu?"

In San mengangguk, katanya.

"Betul, memang dia yang katakan."

"Apa katanya?"

"Setelah kugebah lari dulu, kira-kira setahun kemudian dia datang lagi, katanya dia tahu jejak-dan berita ayah, dia minta supaya aku bersabar mendengar penjelasannya."

"Sudah lama ayah tidak kunjung pulang, karena selama ini tidak pernah mendapat kabar dari ayah, memangnya aku sudah kebingungan dan merindukannya. Walau membencinya terpaksa aku menahan hati mendengarkan apa yang hendak dituturkan padaku."

"Dia bilang pihak kerajaan sudah tahu bahwa ayahku ada berhubungan dengan Kim-to Cecu, kini ayah menjadi buronan dan hendak ditangkap. Akhir-akhir ini pihak kerajaan mendapat kabar, ayahmu akan ke Kwi-lin menyambangi Selam Tayhiap yang bergelar It cu-king-thian Lui Tin-gak maka jaring jebakan sudah diatur disana, sekaligus akan menjaring dan menangkap beberapa orang, di samping membeli atau menyogok Lui Tin-gak, jago-jago istana juga dikerahkan kesana."

Dalam hati Tan Ciok-sing membatin.

"Kiranya It-cu-kingthian Lui Tin-gak memang sudah dirangkul pihak kerajaan."

"Dia bilang di antara jago-jago kosen yang dikerahkan dari pasukan Bhayangkari itu, satu di antaranya adalah ayahmu dan kau sendiri juga ikut."

Dongkol dan geli juga hati Tan Ciok-sing, katanya.

"Setan keparat. Ayahku sudah lama meninggal, bagaimana bisa jadi anggota Bhayangkari segala? Tiga tahun yang lalu aku hanyalah anak desa yang hanya memiliki kepandaian cakar ayam, memangnya kosen apa segala?"

Sampai disini tiba-tiba hatinya tergerak pula, pikirnya.

"Kalau keparat itu bisa memfitnah aku, bukan mustahil dia juga memfitnah orang lain, dia bilang It-eu-king-thian sudah dipelet kerajaan, kenapa aku harus mempercayai obrolannya? Memang malam itu kakek keluar dari rumah keluarga Lui dengan luka parah, tapi bukan mustahil dalam kejadian ini masih ada latar belakang lainnya?"

"Dia bilang jago-jago yang diutus kesana sudah tentu tak boleh berpakaian seragam, semua harus menyamar jadi apa saja, selama perjalanan ayah ke Kwi-lin, jejaknya selalu dikuntit dengan ketat. Ayahmu pandai main harpa, maka dia membawa kau sebagai guru harpa yang kelana di Kangouw, sehingga ayahku tidak menaruh curiga,"

Sampai disini serta merta dia melirik harpa yang digendong di punggung Tan Cioksing. Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Memang aku bisa memetik harpa, tapi aku diajari kakek bukan ayah. Kakekku memang seorang ahli harpa yang sudah punya nama, sebelum aku dilahirkan beliau memang sudah sering kelana di Kangouw. Kalau tidak percaya, boleh kau tanya temanmu, umpamanya Toan-siau-ongya dari Tayli."

In San melenggong, serunya.

"Kau kenal Toan Kiam-ping. Dia tahu perihal kakekmu?"

"Betul. Dia ada titip pesan padaku supaya disampaikan kepadamu. Tapi panjang ceritanya."

"Kalau panjang ceritanya, boleh kelak kau ceritakan. Sekarang biar aku selesaikan ceritaku,"

Kata In San lebih lanjut.

"sebetulnya tidak segampang itu aku mau percaya obrolan bocah itu, tapi dia mengeluarkan sebuah benda, mau tidak mau aku sedikit percaya padanya."

"Barang apa?"

Tanya Tan Ciok-sing. In San keluarkan sebuah kotak persegi, katanya.

"Inilah barang mainan yang diberikan ayah oleh Hek-pek-moko di dalamnya ada dipasang alat rahasia, bagi yang tidak tahu cara membukanya, jari tangannya bisa terluka oleh pisau-pisau kecil yang terpasang di dalamnya."

Dalam hati Tan Ciok-sing tertawa geli, namun dia diam saja, katanya.

"Kenapa pula dengan kotak kecil ini?"

"Bocah itu bilang, Bhayangkari adalah pasukan pribadi Baginda Raja, dia boleh bergerak leluasa tanpa kendali oleh pihak militer. Meski tahu bahwa pihak kerajaan hendak menangkap ayah, tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa. Maka secara diam-diam dia menyusul ke Kwi-lin, dia harap disana bisa bertemu dengan ayah dan memberi tahu berita buruk ini padanya."

"Tak nyana waktu dia bertemu dengan ayah, beliau sudah terluka parah, napasnya sudah kempas kempis."

"Maka ayahmu serahkan kotak ini sebagai tanda kepercayaan dan suruh dia pulang memberi kabar kepadamu?"

Demikian tukas Tan Ciok-sing. In San mengangguk, katanya.

"Bocah itu bilang, ayah memberitahu padanya, dia salah minum arak beracun pemberian It-cu-kin-thian, sehingga alap-alap kerajaan punya kesempatan membokong dirinya. Dia juga membeber nama para musuhnya, kecuali It-cu-king-thian, jago kosen Bhayangkari yang melukai dia sampai parah bernama Tan Khim-ang, tapi Tan Khim-ang juga sudah dia pukul mampus pada saat itu. Peristiwa itu terjadi setelah dia meninggalkan rumah keluarga Lui, anak Tan Khim-ang mengira dia sudah mati, golok pusaka dan buku pelajaran ilmu golok itu dirampasnya terus melarikan diri, tanpa menghiraukan jenazah ayah kandungnya lagi. Anak bangsat itu juga hendak membawa kotak ini -maaf, aku menggunakan istilah yang dipakai bocah she Liong waktu dia bercerita tentang ayah -tapi dia tidak tahu cara membukanya, jarinya tergores luka oleh pisau kecil di dalamnya, saking kaget dan kesakitan dia buang kotak ini."

"Ayah suruh bocah keparat itu membawa pulang kotak ini sebagai bukti, berpesan pula supaya aku berusaha menuntut balas sakit hatinya. Bocah itu juga memberitahu padaku, katanya dia sudah mencari tahu hingga jelas, orang yang membawa lari golok dan buku pelajaran ilmu golok serta ikut mencelakai ayah itu adalah putra Tan Khim-ang, namanya Tan Ciok-sing."

Tan Ciok-sing menyeringai dingin, katanya.

"Untuk mencari tahu memang dia cukup banyak membuang tenaga dan pikiran, tapi persoalan justeru dia putar balik. Tan Khim-ang adalah kakekku, bukan ayahku. Coba serahkan kotak itu padaku."

"Untuk apa?"

In San melengak, tapi dia sodorkan juga kotak itu.

"Coba kau saksikan aku membukanya,"

Dengan mudah dia tekan sini tarik sana sehingga kotak itu terbuka tanpa menimbulkan reaksi apa-apa.

"Bagaimana kau juga bisa membuka kotak rahasia ini?"

Tanya In San heran.

"Didalam kotak ini semula ada disimpan beberapa lembar kertas tulisan tangan Thio Tan-hong yang memuat ajaran ilmu pedang karyanya, ayahmu serahkan kotak ini kepadaku, sayang aku punya mata tidak bisa membedakan manusia baik dan jahat, akhirnya kotak ini direbut oleh keparat she Liong itu." -lalu dia bercerita panjang lebar tentang pengalamannya itu. Bertambah rasa kepercayaan In San kepadanya, pikirnya.

"Kalau bukan ayah yang mengajarkan cara membuka kotak ini, bagaimana dia mampu membuka kotak ini?"

Tan Ciok-sing berkata lebih lanjut.

"Waktu itu setelah berhasil merebut kotak ini, salah satu jari bocah she Liong itu tergores luka cukup parah. Tapi dia toh memperoleh beberapa lembar Kiam-boh itu, cukup setimpal juga luka yang dideritanya itu."

"Menurut ceritamu ini, cara bagaimana pula ayah sampai dicelakai? Coba kau ceritakan padaku."-Setelah persoalan menjadi jelas, tak tertahan In San menangis sesenggukan, katanya terisak.

"Ternyata kaulah tuan penolong ayahku, meski ayah sudah mengalami nasibnya yang jelek, aku tetap akan berterima kasih kepadamu."

"Bahwa kau sudi mempercayai aku, itu sudah cukup. Nah inilah golok dan buku pelajaran ilmu golok ayahmu yang titip padaku untuk diserahkan kembali padamu."

Mengingat kematian kakek Tan Ciok-sing lantaran menolong ayahnya, hati In San ikut menyesal dan haru, sesaat lamanya dia menjublek menerima barang-barang peninggalan ayahnya, tak tahu apa yang harus dia katakan kepada Tan Ciok-sing.

"Dan pedang mustika inipun harus kuserahkan kepadamu,"

Kata Tan Ciok-sing. In San melongo, katanya.

"Pedang mustika ini kan bukan milik ayah."

"Memang bukan milik ayahmu, tapi boleh dianggap sebagai barang keluargamu."

In San melengak pula, tanyanya.

"Bagaimana bisa begitu?"

"Bukankah kau punya seorang bibi yang menjadi isteri Thio Tan-hong Thio Tayhiap?"

"Ya, kenapa?"

Tapi akhirnya In San mengerti.

"o, jadi pedang mustika ini adalah senjata yang dipakai bibi semasa hidupnya itu?"

"Betul, waktu aku memberi kabar ke Ciok-lin kepada Thio Tayhiap, berkat kemurahan hatinya beliau sudi mengangkat aku sebagai murid. Menjelang ajalnya, dia suruh aku menyerahkan Ccng-bing-kiam ini kepadamu."

"Menurut apa yang kutahu, Thio Tayhiap masih punya sebilah Pek-hong-po-kiam, pedang mustika itu..."

Mimik Tan Ciok-sing agak lucu, katanya malu-malu.

"Pedang itu diwariskan aku oleh Suhu."

In San belum pernah melihat kedua bilah pedang mustika ini.

Tapi asal-usulnya sudah sering dia dengar dari cerita ayahnya, dia tahu bahwa kedua pedang ini merupakan sepasang pedang jantan dan betina, pedang yang membawa kisah rumit dan berliku-liku sehingga perjodohan Thio Tayhiap dengan bibinya bisa terangkap.

Karuan jengah muka In San, katanya dalam hati.

"Thio Tayhiap membagi pedang jantan dan betina ini kepadaku dan dia, mungkin, mungkin..."

Kemana maksud dan tujuan Thio Tan-hong sudah tentu sudah dimaklumi oleh In San, namun dia tidak tahu apakah Tan Ciok-sing tahu tujuan yang tersembunyi ini.

Sudah tentu dia malu untuk tanya soal ini, namun demikian sanubarinya yang bersih dan tulus itu kini mulai ruwet dan risau.

"Hari sudah hampir petang, marilah kita melanjutkan perjalanan,"

Demikian ajak Tan Ciok-sing.

"Ya, kita harus cepat bertemu dengan Kim-to Cecu, kalau malam nanti ada rembulan, menempuh jalan di tengah malam juga tidak jadi coal. Cuma kudamu ini, apakah masih mampu jalan?"

Sampai disini dia menjadi kikuk sendiri, katanya menambahkan.

"Maaf ya hari itu aku merebut kudamu ini."

"Kuda putih ini sebetulnya juga bukan milikku."

"Aku sudah tahu. Kepunyaan Kanglam Lihiap Ciong Bin-siu bukan? Hari itu aku juga heran, kenapa kuda tunggangan Ciong-lihiap berada di tanganmu, kuda ini juga mau tunduk padamu?"

"Akulah yang merebutnya kembali dari tangan kawanan penjahat."

"Kudanya ini terjatuh ketangan kawanan penjahat? Hari itu, aku kira, kukira...!"

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Hari itu kau kira akulah yang merebut kuda ini dari tangan Ciong-lihiap?"

In San merasa kurang enak, katanya.

"Maka aku lebih yakin lagi bahwa kau orang jahat. Tapi belakangan setelah ku pikir-pikir aku jadi ragu-ragu sendiri."

"Kenapa?"

"Kuda ini cerdik pandai, kalau kau merebut dari sang majikan, dia pasti takkan mau kau tunggangi."

"Tapi dia juga tunduk pada perintahmu. Apa kau juga bersahabat dengan Kanglam Sianghiap?"

"Sahabat sih bukan. Tiga tahun yang lalu bersama Toan Kiam-ping mereka pernah berkunjung ke rumahku, aku pernah mencobanya dulu. Ingatannya ternyata amat baik, dia masih mengenalku."

"Beberapa hari yang lalu mereka sudah tiba di daerah sini, kukira bisa bertemu di rumahmu. Siau-ongya juga bilang mereka pasti ke Tay-tong dan pasti mampir ke rumahmu."

"Mungkin mereka memang pernah kemari tapi tiga hari yang lalu aku sudah meninggalkan rumah. Oh, ya tadi kau bilang Toan Kiam-ping titip pesan padamu, ada urusan penting apa?"

"Dia ingin mengundang nona mengungsi ke Tayli saja."

"Banyak terima kasih akan kebaikannya, kesulitan sudah kualami dan berhasil kuhindarkan. Selanjutnya aku sudah berkeputusan untuk tinggal di markas Ciu-pepek, mungkin takkan ke Tayli lagi."

"Siau-ongya amat merindukan kau, dia kuatir Kanglam Sianghiap tidak berhasil menemukan kau, maka dia juga titip pesan ini kepadaku."

"Keluarga Toan memang sejak beberapa generasi aeja hubungan erat dengan keluarga In kami, Toan Kiam-ping memang cukup baik tak pernah dia agulkan diri sebagai seorang pangeran, selamanya aku pandang dia sebagai engkohku sendiri."

Mendengar In San memuji Toan Kiam-ping, hati Tan Cioksing rada senang, tapi juga merasa kecut. Diam-diam dia mentertawakan diri sendiri, pikirnya.

"Kedua keluarga mereka memang cocok dan serasi, adalah setimpal kalau putri In Tayhiap mendapat jodoh seorang pangeran. Sepantasnya aku ikut senang bagi terangkapnya perjodohan ini."

Sudah tentu In San tidak tahu perasaan rumitnya ini katanya.

"Tan-toako, kudamu jelas takkan bisa lari lagi, marilah cari tempat untuk istirahat."

"Memangnya hari sudah hampir gelap, biar dia menempuh perjalanan sejauh mungkin, baru nanti kita cari tempat untuk istirahat."

"Yang benar kuda ini kau rampas kembali dari tangan penjahat, adalah jamak kalau kau saling tukar tunggangan dengan aku."

"Ah, di antara kita kenapa harus saling membedakan..."

Setelah tercetus ucapannya, mendadak dia merasakan katakatanya kurang pantas, seketika merah mukanya.

In San sendiri juga tertolong mendengar kata-katanya ini, sudah tentu mukanya lebih jengah.

Lekas Tan Ciok-sing menambahkan.

"Kupikir tujuan kita kan sama-sama mau ke markas Kim-to Cecu, lalu apa bedanya siapa yang menunggang kuda putih ini?"

Dalam hati In San membatin.

"Dia pasti tahu tujuan gurunya suruh dia menyerahkan Ceng-bing-kiam ini kepadaku, kalau dibicarakan dia menanam budi terhadap ayah... tapi aku baru saja mengenalnya, memangnya demi membalas budinya itu, aku lantas pasrah diriku kepada dia? hatinya menjadi gundah dan rawan, tak tahu bagaimana harus mengambil sikap. Lama-kelamaan tindak tanduknya menghadapi Tan Ciok-sing jadi agak kikuk dan rikuh tidak sewajarnya tadi. Semakin lama kuda tunggangan rampasan Tan Ciok-sing semakin lambat jalannya, padahal mentari sudah terbenam di kaki gunung. Kata Tan Ciok-sing.

"Di depan ada sebidang hutan marilah kita istirahat disana."

Sebesar ini belum pernah bergaul berduaan dengan laki-laki yang belum dikenalnya betul, apa lagi harus bermalam di hutan belukar macam ini?

Walau dia tahu Tan Ciok-sing adalah pemuda baik-baik, betapa pun dia merasa malu dan rikuh.

Setelah berpikir lalu dia berkata.

"Baiklah, kita boleh tidur bergiliran, kau boleh istirahat dulu, aku yang jaga malam."

Tak keruan rasa hati Tan Ciok-sing mendengar ucapan ini, pikirnya.

'"Belum lagi tiba di hutan itu, kenapa kau sudah bicara lebih dulu?

Memangnya aku bakal menipumu?

Hemm, kau putri seorang pendekar besar, memangnya aku tidak setimpal bersama kau, biarlah setelah sampai di markas Kimto Cecu dan bertemu dengan Tam-toako, setelah urusan kubereskan, aku akan segera berpisah dengan dia, kembali ke Kwi-lin seorang diri.

Supaya orang jangan menyangka aku sebagai kodok buduk ini kepingin gegares daging bangau,"

Sama-sama memikirkan persoalannya sendiri sehingga untuk sesaat lamanya mereka tidak banyak bicara lagi.

Kalau In San seenaknya menjalankan kudanya pelan-pelan, Tan Ciok-sing mengikutinya di belakang tanpa bersuara.

Baru saja mereka sampai di hutan itu, dari arah belakang terdengar derap lari kuda yang gemuruh dan kencang.

Tan Ciok-sing berkata.

"Agaknya pasukan pengejar telah menyusul. Nona In kudamu dapat lari kencang, lekaslah kau lari lebih dulu."

Berkerut alis In San katanya.

"Kalau betul pasukan pengejar, kenapa aku harus lari lebih dulu? Kau kira aku gentar menghadapi para pengejar ini?"

"Bukan itu maksudku. Dari langkah kuda dapat kudengar yang mengejar hanya lima orang, kukira aku mampu menggasak mereka, kau tak usah ikut campur."

"Memang, kenapa aku lupa kepandaianmu jauh lebih tinggi dari aku, gagah dan perkasa, tak perlu aku harus membantumu,"

Demikian sindir ln San jengkel. Pada saat itulah pengejar itupun sudah mengudak datang, orang yang terdepan mendadak berteriak keras.

"Adik San, adik San, kenapa kau bergaul dengan pemuda bergajul ini. Tahukah kau siapa dia? Dia itulah bangsat cilik Tan Ciok-sing yang sekongkol dengan It-cu-king-thian membunuh ayahmu itu."

Karena dongkol semula In San bermaksud tinggal lari seorang diri ke tempat Kim-to Cecu biar Tan Ciok-sing sendirian menghadapi musuh, namun begitu mendengar dan melihat orang yang mendatangi ini, niatnya seketika menjadi buyar.

Rasa dongkolnya kepada Tan Ciok-sing menjadi beralih kepada orang yang mencelakai ayah dan menyebabkan keluarganya berantakan ini.

Ternyata orang yang membedalkuda paling depan ini bukan lain adalah Liong Seng-bu.

Di belakang Liong Seng-bu masih ada empat orang berpakaian busu, bukan saja seragam mereka serupa, raut muka mereka pun hampir mirip satu dengan yang lain, seakan-akan mereka saudara kembar dan sekandung.

Jarak cukup jauh, salah seorang busu itu mendadak membidik terus melepas panah.

Melihat musuh besar mendatangi, keruan membara mata Tan Ciok-sing, hakikatnya dia tidak hiraukan panah yang mengincar datang itu, dari punggung kuda dia melejit turun, bentaknya.

"Liong Seng-bu, kebetulan keparat kau ini datang."

Pedang dilolos terus memapak maju, panah itu mengenai kudanya sampai mati, namun ujung pedangnya sudah mengancam muka Liong Seng-bu.

"Trang"

Seorang busu di samping Liong Seng-bu ternyata amat cekatan, pada saat kritis itu dia angkat pedangnya menyambut tusukan pedang Tan Ciok-sing sehingga senjata beradu keras, dan tusukan ke muka Liong Seng-bu tertangkis.

Begitu pedang beradu, lelatu api berpijar, pedang yang digunakan busu ini adalah pedang panjang berpunggung tebal, namun toh gumpil sebagian besar, namun tidak sampai patah.

Namun demikian busu ini menjadi kaget dan heran melihat permainan pedang Tan Ciok-sing yang hebat ini.

Bahwa busu ini mampu menangkis serangan pedang Tan Ciok-sing yang liehay, ini betul-betul diluar dugaan Tan Cioksing.

Tapi dia yakin keempat musuh ini hanya kaum kroco belaka, dalam tiga gebrakan dia yakin dirinya masih mampu merobohkan mereka.

Gerakan pedang Tan Ciok-sing laksana angin lesus, hakikatnya musuh tidak diberi kesempatan ganti napas.

"Sret, sret"

Beruntun dia lancarkan tiga jurus serangan berantai.

Seorang busu telah melompat turun dari punggung kuda, lekas dia menubruk maju, seorang busu yang terdepan dan sudah bergebrak duluan dengan Tan Ciok-sing tadipun sudah putar balik memutar pedangnya menjadi garis bundar terus menyapu menyilang dari kiri ke kanan, jadi kebetulan serasi dengan busu seorang lagi yang menyerang dari arah lain, rasanya gerakan pedang mereka begitu rapat dan sempurna tiada lobang sedikitpun, sehingga serangan pedang Tan Cioksing yang liehay itu dapat dipunahkan dengan mudah.

Keruan bercekat hati Tan Ciok-sing pikirnya.

"Walau ilmu pedang mereka tidak terhitung tinggi, tetapi juga tidak begitu hebat, entah kenapa begitu kedua orang bergabung kekuatannya lantas berlipat ganda secara mendadak?"

Maklum sekarang Tan Ciok-sing sudah berhasil menyelami inti sari pelajaran Bu-bing-kiam-hoat ciptaan Thio Tan-hong, umpama berhadapan dengan ilmu pedang tingkat tinggi dan aliran manapun dalam pandangannya tidak lebih juga hanya begitu saja, kalau di bicarakan secara serius, ilmu pedang kedua orang ini belum terhitung tingkat tinggi.

Tapi anehnya justeru kelihatan biasa, tapi sejurus ilmu pedang itu ternyata begitu rapat dan sempurna di bawah permainan dua orang ini.

Akan tetapi, meski seorang diri menghadapi dua orang, Tan Cioksing masih tetap unggul.

Di sebelah sana Liong Seng-bu berteriak.

"Bocah ini liehay sekali, Toako dan Jiko kalian mungkin belum mampu membekuk bocah itu, kalian tidak perlu hiraukan aturan Kangouw segala, lekaslah keroyok dia saja."

Busu ketiga berkata.

"Site, majulah kau membantu Toako dan Jiko,"

Lalu dia berpaling dan berkata kepada Liong Sengbu.

"Kongcu tak usah kuatir, bila ketiga saudaraku ini membentuk suatu barisan pedang, meski kepandaian bangsat cilik ini setinggi langit juga pasti tidak akan bisa lolos. Biar aku disini menemani Kongcu saja,"

Dia kuatir bila ln San mendadak mengamuk, Liong Seng-bu tak kuat melawannya.

Liong Seng-bu tahu maksud orang, matanya menatap In San, sikapnya seperti temberang sambil mulut bersuara dalam tenggorokan, lalu katanya.

"Ya, begitu juga boleh."

In San sudah lompat turun pula dari punggung kuda, dengan sepenuh perhatian dia menyaksikan ketiga busu itu mengeroyok Tan Ciok-sing dengan sengit, hakikatnya dia tidak peduli dan tidak hiraukan kehadiran Liong Seng-bu.

Busu ketiga masuk gelanggang, Tan Ciok-sing semakin rasakan tekanan bertambah berat.

Di tengah pertempuran sengit itu mendadak dia gunakan jurus Sam-coan-hoat-un Pek-hong-kiam terayun ke atas memetakan tiga kuntum cahaya pedang, seperti ke kiri tapi juga mirip ke kanan, dalam sesingkat itu, ketiga lawannya sama-sama merasa kabur dan silau pandangannya, hawa pedang yang dingin menyampuk muka, seakan-akan tajam pedang yang kemilau itu sekaligus mengancam tenggorokan mereka bertiga.

Tapi ketiga saudara ini mempunyai tekad dan isi hati yang sama, serempak mereka membentak, tiga pedang sekaligus terayun dalam gerakan dan posisi sama, satu di depan yang lain di belakang melibatkan diri dalam selarik lingkaran pedang.

Jurus yang dilancarkan Tan Ciok-sing adalah hasil kesimpulannya sendiri yang diperoleh dari kembangan Bubing-kiam-hoat yang paling ganas, cepat, keji, telak dan berubah empat unsur berkombinasi sehingga gaya pedangnya seperti mengambang tapi dilandasi tenaga dalam sehingga perubahannya sukar diraba.

Tapi gerak-gerik ketiga lawannya selalu serempak dan bersatu padu, barisan pedang yang mereka ciptakan betul-betul rapat dan kuat, maka sering terdengar dencing benturan senjata disertai lelatu api.

Bukan saja Tan Ciok-sing tidak mampu menjebol pertahanan lawan, malah dia terkepung di tengah lingkaran sinar pedang ketiga lawannya, dalam benturan barusan telapak tangan terasa sedikit pedas.

Kiranya empat busu yang dibawa Liong Seng-bu kali ini adalah saudara kembar yang dilahirkan satu rahim, she Huwan bernama Liong', Hou, Pau dan Kiau.

Yang mengeroyok Tan Ciok-sing adalah Lotoa Huwan Liong, Loji Huwan Hou dan Losi Huwan Kiau, yang melindungi Liong Seng-bu adalah Losam Huwan Pau.

Ke empat busu ini sebetulnya adalah pengawal pribadi paman Liong Seng-bu, Liong Bun-kong yang menjabat Kiu-bun-te-tok di kota raja, kalau dinilai kepandaian sejati mereka, bila satu lawan satu mereka bukan tandingan Sa Thong-hay dan Ciok Khong-goan, namun keempat saudara kembar ini meyakinkan suatu ilmu barisan pedang yang amat liehay dan ketat, jago kosen kelas tinggi pun sukar meloloskan diri dari kepungan barisan pedang mereka.

Barisan pedang mereka ini diciptakan oleh aliran Thianliong-bun di Tibet, berbeda dengan aliran pedang yang ada di daerah Tionggoan, kalau hanya seorang bertempur dengan musuh permainan pedangnya kelihatan biasa dan sepele, tapi dua orang bergabung kekuatannya bertambah satu lipat, tiga orang bekerja sama, kekuatannya akan bertambah lipat ganda pula, bila empat orang sekaligus turun tangan, kekuatannya sama dengan enam belas orang jago kosen sekaligus menyerang pada titik sasaran yang sama.

Kini Tan Ciok-sing seorang diri melawan tiga orang, berarti dia melawan delapan musuh kelas satu, meski bersenjata pedang pusaka, namun pedangnya sering tertolak pergi oleh getaran tenaga gabungan ketiga lawannya, sehingga sukar dia membentur putus senjata, lawan, sejauh ini tak mungkin dia membuat keuntungan.

Terpaksa Tan Ciok-sing kembangkan kegesitan tubuhnya, gerakannya enteng dan lincah secara cekatan lagi supaya tidak sampai terbokong dan kecundang.

Lima puluh jurus kemudian, lingkaran kepungan lawan semakin mengetat, gerakan cepat Tan Ciok-sing semakin sukar dikembangkan.

Bahna gugupnya lekas dia berteriak.

"Nona In, lekas kau pergi. Tolong sampaikan kabarku kepada Tam Tayhiap, tak usah kau menungguku disini."

Anehnya bukan saja In San tidak segera mengeluarkan senjata maju membantu, dia pun tidak segera tinggal pergi.

Tan Ciok-sing suruh dia lari, dia seakan-akan tidak mendengar peringatannya itu.

Dasar kepincut paras ayu, Liong Seng-bu berpikir.

"Pasti dia sudah mendapat tahu duduknya persoalan dari mulut bocah keparat itu. Tapi aku yakin dia masih setengah percaya."

Dilihatnya Tan Ciok-sing yang dikepung Huwan bersaudara tidak akan bisa lolos lagi, maka legalah hatinya, segera dia maju dua langkah, katanya.

"Adik San, jangan kau kena kepelet bocah keparat itu, dia betul-betul adalah musuh pembunuh ayahmu. Apa kau tidak ingin menuntut balas dan membunuhnya?"

In San bersikap pura-pura bimbang, sorot matanya guram dan melirik kearah Liong Seng-bu, katanya.

"Liong kongcu, silakan kau kemari aku ingin bicara dengan kau."

Huwan Pau yang ada di samping Liong Seng-bu berbisik.

"Hati-hati Kongcu."

Liong Seng-bu tertawa, katanya.

"Apa tidak bisa kau katakan disini saja?"

In San mendengus, katanya.

"Persoalan ayah bundaku ingin kutanya supaya jelas, baru nanti aku percaya padamu. Hmm, kau tidak percaya padaku, memangnya aku harus percaya padamu. Kau tidak mau kemari, ya sudah."

Persoalan ayah bunda In San menyangkut urusan keluarga, sebagai anak perempuan sudah tentu dia pantang membicarakan keburukan keluarga di hadapan umum, hal ini memang jamak dan masuk di akal.

Mengingat hal ini diamdiam hati Liong Seng-bu senang, pikirnya.

"Asal timbul rasa curiganya terhadap bocah she Tan itu aku akan berhasil membujuknya sehingga dia percaya padaku."

Maka tanpa pedulikan peringatan Huwan Pau, dia mengulap tangan sambil berkata.

"Tak usah kau ikuti aku. Nona In adalah adikku, kami bersaudara ingin omong urusan pribadi, memangnya aku harus hati-hati apa,"

Sembari bicara diam-diam dia memberi lirikan kepada Huwan Pau terus melangkah ke arah In San.

Meski terkepung dan sedang berhantam dengan sengit, tapi mata kuping Tan Ciok-sing selalu memperhatikan keadaan sekelilingnya, maka setiap perkataan In San dapat juga didengarnya jelas.

Karuan hatinya semakin gelisah, teriaknya.

"Nona In, jangan kau ketipu lagi oleh anak jadah itu."

Sedikit lena karena bicara, pedang panjang Huwan Liong meluncur tiba menusuk lurus dari depan mengincar dada, sementara kedua pedang Huwan Hou dan Huwan Kiau juga berendeng dalam satu garis melingkar satu bundaran membendung gerakan pedang Tan Ciok-sing.

Walau secara lincah dan pas-pasan Tan Ciok-sing masih sempat menghindari tusukan pedang Huwan Liong, tapi terdengar suara "Bret"

Pakaiannya bolong oleh tusukan pedang Huwan Liong, untung tidak sampai melukai kulit dagingnya, apa boleh buat menyelamatkan diri lebih penting, maka dia tidak hiraukan lagi keadaan In San.

Mendekati In San, Liong Seng-bu cengar-cengir, katanya.

"Adik San, soal apa yang ingin kau tanyakan?"

Pada saat itulah mendadak tampak bintik-bintik sinar bintang kemilau sama meluruk datang, tahu-tahu In San timpukkan segenggam Bwe-hoa-ciam.

Jarak sedemikian dekat, mana Liong Seng-bu bisa meluputkan diri?

Sebisa mungkin dia memutar tubuh sambil menundukkan kepala, belum lagi dia angkat langkah melarikan diri, terdengarlah suara berisik lembut, jarum-jarum lembut itu seluruhnya sudah menancap di punggung Liong Seng-bu.

Girang hati In San, jengeknya dingin.

"Bangsat keparat, justru kaulah yang membantu mencelakai ayahku, kau kira aku bisa kau tipu lagi?"

"Sret"

Dia mencabut golok terus maju hendak menggorok leher Liong Seng-bu. Mendadak Liong Seng-bu menoleh.

"Adik San, kenapa kau berkelakar denganku?"

Wajahnya berseri tawa, sedikitpun tidak tampak dia terluka. Rasa girang In San berubah jadi kaget, hatinya ragu-ragu.

"Memangnya bocah ini sudah memiliki Iwekang kebal senjata rahasia? Waktu dia menemui aku tempo hari kepandaiannya masih keroco, memangnya tiga tahun ini kemajuan sepesat ini?"

Tapi dendam kematian orang tua sedalam lautan, meski hati merasa bimbang tangannya segera bekerja cepat, dengan jurus Yan-loh-ping-sa, golok pusakanya segera membelah.

Dia cepat ternyata Liong Seng-bu juga tidak lambat, lekas dia mengayun balik pedang, gaya pedangnya ternyata cukup liehay dan ganas.

Jurus ini mengincar balik musuh sehingga lawan dipaksa melindungi tubuh sendiri lebih dulu sebelum melukai lawan.

Secara reflek In San sudah tentu harus menghindar, tapi gerakannya amat cekatan, goloknya sudah merabu pula dengan jurus Pek-ho-liang-ji.

"Trang"

Kembang api berpijar, pedang Liong Seng-bu terketuk gumpil sedikit oleh golok In San.

Tapi Liong Seng-bu sempat melompat minggir sejauhnya, tetap segar tidak terluka sedikitpun.

Cepat sekali Huwan Pau sudah lompat maju menolong.

Ternyata Liong Seng-bu memakai kaos kutang yang tidak mempan senjata, jarum-jarum itu tembus pakaian luarnya, namun tidak kuasa menembusi kaos kutangnya itu.

Di samping itu, Bu-bing-kiam-hoat yang diperolehnya meski hanya petilan dan tidak lengkap, namun selama tiga tahun belajar sendiri tanpa bimbingan guru ini juga memperoleh kemajuan.

Tergantung kedua keuntungan inilah, maka dia berani maju kedepan In San tanpa dikawal.

Baru sekarang Tan Ciok-sing sadar akan sikap In San yang pura-pura dungu tadi, maksudnya adalah memancing Liong Seng-bu mendekatinya supaya leluasa membunuhnya.

Walau usaha itu gagal, namun rasa kuatir Tan Ciok-sing seketika tersapu bersih.

Segera dia mengempos semangat, beruntun dia lancarkan tiga jurus serangan, kepungan ketat Huwan bersaudara yang mengetat tadi kini didesaknya mundur melebar.

Disana In San sudah melabrak.

Huwan Pau seorang diri melawan In San.

Huwan Pau jelas kalah setingkat, namun karena hanya lebih rendah setingkat maka untuk mengalahkan lawannya agak sukar juga bagi In San, malah dia kena dilibat sehingga tak kuasa terjang kesana mengejar dan membunuh Liong Seng-bu.

"Nona In,"

Teriak Tan Ciok-sing.

"selama gunung tetap menghijau, tak usah takut kehabisan kayu bakar, lekaslah kau pergi ke markas Kim-to Cecu memberi kabar."

Tapi In San gertak gigi tanpa bersuara, sekaligus dia kembangkan tiga puluh enam jurus ilmu goloknya, Huwan Pau didesaknya mundur puluhan langkah.

Memang tujuan Huwan Pau memancing kemarahan In San dengan serangan gencar ini sehingga dia bisa mundur ke dekat para saudaranya, meski hanya mampu menangkis dan membela diri, gerak pedang dan langkah kakinya masih tetap tenang dan teratur.

Tan Ciok-sing sudah tahu bila ke empat saudara ini bergabung jadi satu, maka barisan pedang ini akan bertambah kokoh sukar ditembus lagi, bahwa In San mendesak maju ke arahnya ini bukankah ibarat masuk jaring sendiri.

Tapi dia tahu In San takkan mau mendengar peringatannya, apa boleh buat dia hanya bisa menghela napas gegetun belaka.

Betul juga Huwan Liong yang menjadi pimpinan barisan segera memberi aba-aba merubah posisi dari barisan pedang ini, kini In Sanpun digulung dalam barisan.

Empat orang bergabung perbawanya berlipat pula.

Empat batang pedang memetakan sebuah jaringan sinar pedang, Tan Ciok-sing dan In San berdua seperti dibungkus di dalamnya, baru sekarang In San merasakan gerak-geriknya seperti terkekang, ilmu goloknya tak kuasa dikembangkan, beruntun dia terancam tusukan dan tabasan pedang musuh.

Melihat Tan Ciok-sing dan In San berdua meski tumbuh sayap juga takkan bisa meloloskan diri, baru lega dan lenyap rasa kaget Liong Seng-Bu, segera dia main tingkah lagi dengan mengudal ocehan.

"Kalau tidak bisa membekuk hiduphidup bocah she Tan ini, yang mati juga boleh. Tapi nona In adalah adikku, sekali-kali kalian jangan melukainya."

Huwan Liong mengiakan, pedang panjangnya tiba-tiba menusuk keluar dari urutan lingkar besar menusuk ke Hian-kihiat di depan dada In San.

Sebagai saudara tertua dari ke empat bersaudara ini, ilmu pedangnya terhitung paling sempurna, dengan ujung pedang dia mampu menusuk hiat-to lawan tanpa melukai seujung rambut si korban.

Kerja sama gerak pedang ke empat bersaudara memang benar-benar rapat tanpa cacat sedikitpun di kala Huwan Liong menusukkan pedangnya, tiga pedang yang lain serempak juga menyerang Tan dan In berdua, bukan saja menekan dan menutup gaya permainan pedang Tan Ciok-sing, golok pusaka In San juga kena ditindih.

Dalam menghadapi saat-saat kritis ini Tan Ciok-sing menjadi nekat, tanpa hiraukan keselamatan awak sendiri mendadak dia mendesak maju seraya lancarkan serangan mematikan, memangnya Bu-bing-kiam-hoat yang dipelajari amat berguna untuk menghadapi segala perubahan seperti ini, maka jurus Sing-han-hu-jay ini tahu-tahu menyelonong masuk ke pusaran lingkaran sinar pedang lawan dan ternyata betulbetul membawa akibat luar biasa.

Maka terdengar suara bentrokan yang nyaring dan panjang, tiga pedang musuh sekaligus kena dibentur pergi.

Golok In San tegak kokoh di depan dada berhasil membentur pergi pedang Huwan Liong yang menusuk datang.

Huwan bersaudara sekaligus turun gelanggang, kekuatan mereka seumpama enam belas jago-jago silat kelas tinggi turun tangan bersama meski Tan Ciok-sing dapat mengembangkan perbawa Bu-bing-kiam-hoat mencapai taraf kejayaannya, namun kekuatannya masih belum dapat melampaui rangsakan para musuhnya.

Memang ketiga pedang lawan kena dibentur pergi, namun demikian tidak urung pundak kirinya tergores luka oleh pedang Huwan Kiau, untung hanya luka luar dikulit badannya saja.

"Nona In, bocah she Tan ini laksana golekan lempung yang takkan mampu menyebrang sungai, jiwa sendiri sedang terancam memangnya dia mampu melindungi dirimu,"

Demikian bujuk Huwan Liong.

"tentunya kau juga tahu Liongkongcu kami merasa kasihan dan menaruh hati padamu, jelas dia tidak akan membikin susah padamu. Harap kau letakan senjata dan mundurlah keluar gelanggang, supaya kami tidak sampai melukai kau,"

Untung mereka tidak berani melukai In San, sehingga sejauh ini In San masih kuat bertahan. Mendadak In San tertawa dingin, jengeknya.

"Terlalu pagi kalian takabur, nah lihatlah keliehayan nonamu,"

Di tengah jengek tawanya itu tiba-tiba Ceng-bing-kiam sudah tcrlolos dari sarungnya, dengan tangan kiri pegang golok tangan kanan main pedang, golok untuk menjaga badan sementara pedang panjang menyerang musuh Memang aneh bin ajaib tusukan pedang In San yang miring seperti sembarangan ini, ternyata serasi dan cocok pula dengan gerakan jurus pedang yang dimainkan Tan Ciok-sing, rangkaian sinar pedang lawan laksana jala itu seketika tercerai berai.

Ternyata sekarang Tan Ciok-sing dan In San sama menggunakan pedang jantan dan betina, dua permainan ilmu pedang tergabung menjadi satu, kekuatannya ternyata dahsyat sekali.

Dahulu Thio Tan-hong suami istri tak lama setelah menikah, berdasar ajaran ilmu pedang tingkat tinggi, berhasil menciptakan ilmu pedang gabungan yang tiada bandingan tarapnya.

Siang-kiam-ho-bik (dua pedang gabungan) yang diciptakan ini bukan melulu mengutamakan setiap jurus pedang bergerak secara serasi, namun gaya pedangnya yang harus serasi, cukup asal kedua pihak samasama menghafal kunci rahasianya cukup sebuah tusukan pedang biasa saja, namun dapat bergabung mencapai puncak kehebatan dengan gerakan pedang kawan sendiri.

Hakikatnya In San belum pernah melihat Thio Tan-hong begitulah menurut ingatannya tapi ilmu pedang yang dimainkan ini secara tidak langsung memang Thio Tan-hong yang mengajarkan padanya, dalam hal ini memang ada kisahnya tersendiri.

Dikatakan didalam ingatannya selamanya belum pernah dia melihat Thio Tan-hong juga kurang tepat.

Yang benar dia dulu pernah melihatnya, tapi itu terjadi tiga hari setelah dia dilahirkan dari rahim ibunya, sebagai orok yang belum tahu apa karena baru saja dilahirkan, bahwa ayah bunda sendiripun belum bisa membedakan sudah tentu siapa saja yang pernah dilihatnya di masa kecilnya dulu jelas tiada kesan apa-apa dalam benaknya.

Waktu itu istri Thio Tan-hong yaitu bibi In Hou yang bernama In Lui sudah meninggal beberapa tahun, Thio Tanhong sudah berniat mengasingkan diri ke Ciok-lin, mendengar isteri In Hou melahirkan seorang bayi perempuan maka dia hadiahkan pelajaran ilmu pedang ini sebagai kado, diminta kelak setelah sang bayi menanjak dewasa mengajarkan ilmu pedang ini kepadanya.

Waktu itu Thio Tan-hong sudah jelaskan dimana manfaat dan kegunaan kedua ilmu pedang gabungan ini kepada In Hou, malah diapun menambahkan pesan.

"Inilah ilmu pedang gabungan yang biasa dimainkan aku bersama bibimu, bibimu tidak melahirkan putra putri, maka perlu aku meninggalkan warisan ilmu pedang jerih payahnya ini kepada keponakan perempuannya. Kelak bila kau mendapatkan menantu bagus, ilmu pedang jantan akan kuturunkan kepadanya. Kuharap kelak dia adalah muridku, tapi umpama dia bukan muridku, ilmu pedang gabungan ini juga pasti akan kuajarkan kepadanya."

Setelah In San tumbuh dewasa sang ayah lantas ajarkan ilmu pedang ini kepadanya, malah sering dia berkelakar menggoda putrinya.

"Murid Thio Tayhiap jauh lebih tua dari kau sejauh ini dia belum menerima murid penutup, kukira harapannya kelak k;m menikah dengan murid didiknya bakal menjadi angan-angan kosong belaka. Tapi kado pemberian Thio Tayhiap terhadapmu ini boleh dikata merupakan hadiah yang tak ternilai harganya, coba siapa jejaka yang punya rejeki sebesar ini dapat mewarisinya."

Kini di kala kepepet dan jiwa terancam bahaya, tanpa sadar In San lantas teringat akan pelajaran ilmu pedang gabungan yang liehay ini, kebetulan Tan Ciok-sing juga sedang menggunakan Pek-hong-kiam, maka tanpa banyak pikir secara reflex tangannya bergerak menurut ajaran ilmu pedang gabungan yang diperoleh dari Thio Tan-hong.

Perbawa ilmu pedang gabungan ternyata mampu mengatasi kekuatan gabungan ilmu pedang Huwan bersaudara, malah didalam perkembangan gaya pedangnya jauh di atas ilmu gabungan ke empat musuhnya.

Bahwa barisan pedang mendadak tercerai berai, karuan bukan kepalang kejut Huwan bersaudara, lekas mereka berputar posisi merubah kedudukan, kaki melangkah menurut Ngo-hing-pat-kwa menyurut mundur, pikirnya hendak ganti napas lalu serempak meronta serta balas menyerang.

Sudah tentu kejut dan girang Tan Ciok-sing bukan main, segera dia pegang kencang kesempatan baik ini, tanpa memberi kesempatan ke empat musuhnya ganti napas, pedang dimainkan sekencang kiliran, dia rabu musuh dengan tusukan dan tabasan pedang.

Ilmu golok warisan keluarga In terkenal di seluruh jagat ini dan tiada bandingan, kini dia ganti memakai pedang yang bobotnya lebih enteng untuk merangsak musuh, maka daya kecepatannya ternyata mampu menyamai gerakan pedang Tan Ciok-sing.

Hakikatnya dia tidak usah peduli jurus permainan apa yang dilancarkan Tan Ciok-sing, cukup asal dia bekerja sesuai teori ilmu pedang dan dipraktekkan secara fasih dan betul, ternyata setiap gerak dan jurus permainannya cocok dan serasi satu dengan yang lain "Trang", pergelangan tangan Huwan Riau tertusuk pedang lebih dulu, senjatanya mencelat jatuh.

Maka beruntun terdengar pula suara berisik dari senjata-senjata yang kebentur patah, pedang panjang Huwan Hou dan Huwan Pau tertabas kutung, sementara pedang panjang Huwan Liong yang berkepandaian tinggi juga gumpil delapan tempat, selanjutnya jelas takkan bisa dipakai lagi.

Karuan bukan kepalang kaget dan jeri Huwan bersaudara, serempak mereka menjerit bersama terus ngacir ke empat penjuru.

Liong Seng-bu si kurcaci ini lebih takut mati pula, begitu melihat gelagat jelek siang-siang dia sudah menyingkir ketempat jauh dan melarikan diri lebih dulu.

Kuda tunggangan mereka adalah kuda-kuda perang yang sudah terlatih baik, mendengar tanda suitan para majikannya lekas mereka lari mendatangi.

Tapi ada seekor larinya agak terlambat, malah sering berpaling kemari seperti ada sesuatu yang berat ditinggalkan.

Sekali cemplak Tan Ciok-sing mencelat ke punggungnya terus ditarik kekangnya dan ditundukkan kembali.

Huwan Liong, Huwan Hou dan Huwan Pau sudah mencemplak kuda tunggangan masing-masing, kuda yang dirampas Tan Ciok-sing adalah kuda tunggangan Huwan Kiau, sudah tentu dia tak berani merebutnya lagi, saking ketakutan lekas dia berlari ke arah sang Toako dan mencemplak di belakang punggung saudaranya, dua orang satu tunggangan terus ngacir sipat kuping, cepat sekali mereka sudah lari jauh tak kelihatan lagi.

Kuda putih yang dinaiki In San itu tampak lari keluar dari dalam hutan, kuda yang ditunggangi Tan Ciok-sing semula masih meronta-ronta, namun begitu melihat kuda putih itu, sikapnya seketika lembut dan menurut, tanpa dikuasai dia berlari menghampiri kearah kuda putih lalu saling menggosok kepala dan mendengus-dengus dengan mesranya.

Kiranya kuda putih In San ini kuda jantan, kuda yang dirampas Tan Ciok-sing adalah kuda betina, maklum laki dan perempuan saling berkasih mesra.

Agaknya kedua kuda ini sekali bertemu hati lantas terpaut dan jatuh cinta.

Sudah tentu jengah muka I n San, katanya menarik kuda putih.

"Kudaku ini bisa lari cepat, masih sempat aku kejar bangsat she Liong itu."

"Mereka sudah lari, tak perlu dikejar,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"kuda yang baru kurampas ini mungkin belum mau tunduk padaku, biarlah mereka berkasih mesra sebentar."

In San juga tahu kuda tunggangan Tan Ciok-sing takkan bisa menandingi kecepatan lari kuda putih, seorang diri dia takkan mampu membekuk Liong Seng-bu, terpaksa dia batalkan niatnya.

Teringat adegan berbahaya tadi sungguh jantung Tan Cioksing masih berdebar, katanya.

"Nona In, tak nyana ilmu pedangmu ternyata juga seliehay itu."

Semakin merah wajah In San, katanya.

"Memangnya hanya ilmu pedang ini yang pernah kuyakinkan, setelah dimainkan secara serampangan, tak kira berhasil menggempur mundur musuh. Yang benar ilmu pedangmu yang liehay, aku toh hanya memperoleh bantuanmu."

Saat mana hari sudah gelap, tapi di ujung barat di kaki langit sana masih kelihatan selarik sinar kemerahan, rona jengah di wajah In San jadi kelihatan berpadu, diam-diam bergetar hati Tan Ciok-sing, pikirnya.

"Anak perempuan memang aneh, sedikit bicara juga mesti merah mukanya. Katanya tertawa.

"Nona In, kenapa kau jadi begini sungkan? Justeru aku yang mendapat bantuan sepenuh tenagamu baru berhasil lolos dari bahaya. Nona In, kau tidak menyalahkan aku bukan?"

In San melongo, katanya.

"Menyalahkan kau apa?"

"Tadi kuatir musuh terlalu kuat, aku tidak ingin kau ikut mengalami bahaya dan terancam jiwamu, maka kuminta kau lekas lari lebih dulu. Untung kau tidak mendengar nasehatku. Tapi bukan maksudku hendak memandang rendah dirimu, tentunya kau tidak salah paham bukan?"

Sungguh malu dan haru pula hati In San mendengar perkataan Tan Ciok-sing yang tulus ini, katanya.

"Kau selalu memikirkan diriku, berterima kasih toh aku belum sempat, mana aku berani menyalahkan kau?"

Dalam hati dia membatin.

"Memangnya dia belum tahu asal-usul dari ilmu pedang gabungan ini, atau sengaja hendak memancing reaksiku?"

Tan Ciok-sing berkata.

"Hari sudah hampir gelap, marilah kita menempuh perjalanan sejauh mungkin, atau kau ingin istirahat disini saja?"

Tiba-tiba dia berhenti bicara karena mendapatkan In San tengah mengawasinya mendelong. Baru saja Tan Ciok-sing merasa heran, tiba-tiba, didengarnya In San berteriak.

"Haya."

Karuan Tan Ciok-sing terperanjat, tanyanya gugup.

"Nona In, kenapa kau?"

"Aku tidak apa-apa,"

Sahut In San.

"Tan-toako, pundakmu terluka, apa kau tidak tahu?"

Pundak Tan Ciok-sing tadi tergores luka oleh pedang Huwan Kiau, sementara lengannya juga tergores luka panjang tiga dim oleh pedang Huwan Liong, darah masih merembes keluar, lengan baju kirinya sudah basah dan lengket, baru sekarang dia sadar akan luka-luka ini setelah diingatkan oleh In San.

"Luka-luka ringan, terhitung apa,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"Luka-luka meski ringan tak boleh diremehkan, hentikan dulu darah yang mengucur keluar,"

Demikian kata In San.

"aku membawa Kim-jong-yok, Tan-toako, silakan duduk, biar kubantu kau membubuhi obat dan membalutnya."

Waktu bertempur tadi Tan Ciok-sing tidak merasakan lukaluka di lengan dan pundaknya ini. Kini setelah diingatkan oleh In San baru dia merasakan, katanya.

"Begitupun baik, biarlah merepotkan kau nona In."

"Tan-toako, kau sudah membantu sebesar itu pada ayah bundaku, urusan sekecil ini, kenapa kau malah sungkan terhadapku?"

Tapi setelah dia mengeluarkan Kim-jong-yok, dia sendiri jadi bimbang, maklum untuk membubuhi luka dan membalut luka Tan Ciok-sing dia harus membuka baju luar dan merobek lengan bajunya itu, sebagai seorang gadis perawan, kapan dia pernah bergaul dan bersentuhan kulit dengan jejaka?

Mau tidak mau dia jadi malu dan serba kikuk lagi.

Agaknya Tan Ciok-sing tahu maksud hatinya, sambil kertak gigi segera dia robek lengan bajunya, katanya.

"Nona In, serahkan Kim-jong-yok itu padaku, aku sendiri bisa membubuhi luka ini."

Karena Tan Ciok-sing merasa rikuh, In San malah tak enak hati, katanya.

"Tan-toako, dengan sebelah tangan saja mana bisa kau membubuhi obat dan membalutnya? Dengarlah kataku, rebahkan."

Pelan-pelan Tan Ciok-sing turunkan harpa yang digendong di punggungnya, lalu dia duduk berpunggung dahan pohon, katanya.

"Terima kasih nona In. Banyak peristiwa dalam dunia ini yang tak pernah diduga sebelumnya, beberapa jam yang lalu kau masih menganggapku musuh, kini kau justru begini baik terhadapku,"

Hatinya sungguh amat senang, maka tanpa dirasakan dia utarakan isi hatinya. Merah muka In San, katanya.

"Iya, ya memang banyak persoalan yang sukar diduga sebelumnya. Tan-toako, kau tidak menyalahkan kecerobohanku bukan?"

"Aku sendiri juga belum sempat berterima kasih kepadamu, kenapa menyalahkan kau. Em, obatmu memang lebih mujarab, rasa sakit sudah tak terasakan lagi."

"Masakah begitu cepat kasiat obat ini,"

Ucap In San tertawa.

"hari sudah gelap, bocah she Liong itu sudah pecah nyalinya, tanggung dia lari ke Tay-tong dan tak berani balik kesini lagi. Kita tak perlu buru-buru melanjutkan perjalanan, marilah istirahat disini saja. Kau boleh tidur lebih dulu, biar aku jaga malam."

"Yang benar aku tidak pernah merasa lelah, malam ini tidak tidur juga boleh."

"Tan-toako,"

Kata In San lembut.

"kepandaianmu amat tinggi, namun badanmu bukan tulang besi otot kawat, dengarlah perkataanku, istirahatlah dulu."

"Paling sukar menerima kebaikan perempuan cantik,"

Memangnya kapan Tan Ciok-sing pernah memperoleh perhatian gadis selembut ini? Seketika badan seperti segar dan semangat serta semilir dihembus angin sepoi-sepoi, hatinya manis mesra. Katanya.

"Baiklah aku mendengar nasehatmu. Tapi sekarang aku belum ngantuk."

"Tan-toako, bolehkah aku melihat harpamu!"

"Sudah tentu boleh."

Kata In San mengelus harpa.

"Harpa antik yang tak ternilai harganya, pastilah ini warisan keluargamu."

Mendengar harpanya dipuji, hati Tan Ciok-sing semakin senang. Ternyata dia cukup ahli juga mengenali nilai-nilai barang antik,"

Katanya.

"Ya, warisan kakekku. Mungkin dia belum terhitung harpa antik yang tak ternilai, namun 'didalam pandanganku, dia memang jauh lebih berharga dari benda mana saja."

"Apa betul tidak ada?"

Tanya In San tertawa. Tan Ciok-sing tersentak sambil tepuk dahi, katanya.

"Ya, betul, memang ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari harpa ini."

"Sesuatu apakah itu?"

"Persahabatan dari kawan terdekat,"

Demikian ucap Tan Ciok sing di kala mengucapkan kata-katanya ini, tanpa terasa dia teringat kepada Toan Kiamping, dalam hati dia pernah berjanji hendak menghadiahkan harpa ini kepada Toan Kiam-ping.

Tapi In San salah mengartikan perkataannya, dan kira katakata ini ditujukan kepada dirinya, karuan mukanya jengah dan panas, katanya.

"Tan-toako, kakekmu adalah guru harpa nomor satu di kolong langit ini, tentunya kau cukup ahli juga main harpa?"

"Terlalu jauh aku dibanding kakek. Sayang lenganku terluka, nanti setelah luka-lukaku sembuh kupetik beberapa lagu untuk kau nikmati. Nona In, kau juga suka memetik harpa bukan?"

"Petikan harpaku bukan merupakan irama, waktu kecil pernah aku belajar beberapa hari. Aku punya seorang teman, dia senang memetik harpa."

"Apakah Siau-ongya?"

"Ya, Toan Kiam-ping. Dari mana kau tahu?"

"Di Tayli pernah aku mendengar dia memetik harpa, memang bagus petikannya."

"Beberapa tahun lalu pernah dia tinggal sebulan di rumahku, sering dia memetik harpa untukku. Tapi aku tahu dan yakin petikannya tidak akan lebih bagus dari kau."

"Kau toh belum pernah mendengar aku memetik harpa, darimana kau berani mengambil kesimpulan ini?"

"Kenapa harus pernah dengar? Seorang guru ahli pasti menelorkan murid teladan, apalagi kakekmu adalah Ki Harpa yang diakui seluruh jagat, eh, apa yang sedang kau pikirkan Tan-toako?"

Tiba-tiba dia memperhatikan Tan Ciok-sing .yang sedang melongo seperti mengingat-ingat sesuatu.

"Tiada yang kupikirkan, aku hanya ingin lekas sembuh supaya dapat memetik beberapa lagu untukmu,"

Yang benar dalam hati dia sedang berpikir.

"Bila mereka menikah kelak, harpa ini akan kuhadiahkan sebagai kado untuk mereka suami isteri, kurasa kadoku ini cukup luar biasa. Em, yang satu pangeran suatu kerajaan, yang lain adalah putri seorang pendekar besar, mereka memang setimpal, sungguh merupakan perjodohan yang bahagia."

Mekar seri tawa In San laksana sekuntum bunga, katanya.

"Kalau begitu terima kasih lebih dulu. Toako, konon irama harpa dapat menenangkan pikiran orang, apa betul?"

"Pernah aku mendengar cerita kakek, bila kepandaian memetik harpa seseorang telah mencapai tingkatan yang paling tinggi, rasa senang dan duka seseorang dapat kau kendalikan dengan alunan irama harpa."

"Sayang aku kurang ahli, kalau tidak ingin aku memetik sebuah lagu untuk menina bobo kau supaya lekas tidur. Tantoako, sehari ini kau sudah cukup lelah, sudah saatnya kau beristirahat."

"Petikan harpa Toan-kongcu amat bagus, kau sebagai muridnya dalam hal ini, kenapa merendahkan diri? Silahkan kau petikan lagunya, ingin aku pulas di tengah alunan harpamu,"

In San tertawa, katanya.

"Yang benar aku ingin petunjuk dari kau sang guru yang ahli ini, baiklah kupetikan sebuah lagu, tapi jangan kau tertawakan diriku,"

Lalu dia letakan harpa di pangkuannya, sambil memetik, diapun tarik suara bernyanyi.

Lagu yang dibawakan adalah lagu yang mengisahkan seorang gadis yang merindukan sang jejaka, lagu yang cukup populer di kalangan rakyat jelata di Tay-tong.

Lagu ini diajarkan oleh Toan Kiam-ping di kala In San berusia lima belas, yaitu kali terakhir Toan Kiam-ping bertemu di rumahnya.

Waktu itu dia masih kecil dan belum tahu makna lagu ini, cuma dirasakan lagunya enak dan merdu dinyanyikan.

Kini waktu dia tarik suara di hadapan Tan Ciok-sing, habis lagunya mukanyapun merah jengah dan lekas-lekas menunduk.

Begitu asyik Tan Ciok-sing mendengarkan alunan lagu nan merdu dan empuk ini, tiba-tiba dia berpikir.

"Pasti lagu ini diajarkan oleh Toan Kiam-ping, supaya kelak dalam malam penganten mereka bisa hidup rukun bahagia, eh kenapa aku ngelantur."

Mendengar lagu ini hati Tan Ciok-sing dirundung kesedihan, tapi lebih banyak ikut bahagia dan mesra.

Tanpa terasa dia betul-betul tenggelam dalam alunan lagu merdu ini dan lelap.

Di alam mimpi dia nampak senyum In San bak kembang mekar tengah bergandengan tangan menghampiri dirinya, harpa antik segera dia persembahkan sebagai tanda kenang-kenangan bagi pernikahan mereka.

Dalam mimpi Tan Ciok-sing bertemu dengan Toan Kiamping.

Diam-diam In San memperhatikan dia memejam mata dan akhirnya lelap, tanpa terasa diapun terkenang kepada Toan Kiam-ping.

Selama ini dia tidak pernah berdekatan dengan jejaka siapapun, kecuali Toan Kiam-ping.

Pernah beberapa kali Toan Kiam-ping bermain di rumahnya, sejak dia masih kecil dia sudah berkenalan.

Tapi di kala dia berusia lima belas itu Toan Kiam-ping lantas berpisah selama tiga tahun sampai sekarang belum pernah bertemu lagi.

Dalam jangka tiga tahun kini kecuali dia menunggu kedatangan sang ayah yang tidak kunjung pulang, sering juga dia terkenang padanya selalu membawa kesan-kesan dan menggembirakan.

Malam ini menghadapi Tan Ciok-sing yang sedang pulas di hadapannya, tanpa terasa dia terkenang pula kepada Toan Kiam-ping.

Namun perasaan yang mengisi sanubarinya sekarang jelas berbeda lagi dengan kesan yang dirasakan pada saat-saat dulu bila dia terkenang kepada Toan Kiamping.

"Tak kira pemuda yang baru saja kukenal ini sedemikian baiknya terhadapku. Sebaik Toan-toako terhadapku,"

Demikian batin In San.

Dia adalah anak tunggal, tiada kakak tak punya adik, maka didalam sanubarinya selamanya dia pandang Toan Kiam-ping sebagai kakak kandung sendiri.

Padahal Tan Ciok-sing baru dua kali bertemu dengan dia, jadi kalau dinilai secara tepatnya belum ada satu hari dia berkenalan.

Walau baru berkenalan tapi hubungan mereka sekarang tidak layak diumpamakan baru berkenalan.

Betapa mendalam hubungan Tan Ciok-sing terhadap keluarganya, mungkin jauh melebihi hubungan baiknya dengan Toan Kiam-ping.

Dia pernah menolong ayahnya, setelah ayahnya ajal, dari tempat ribuan lie jauhnya, tanpa mengenal lelah berani menyerempet bahaya datang ke Tay-tong untuk mengembalikan barang ayahnya.

Diapun tuan penolong ibundanya segala persoalan keluarganya diapun sudah jelas, malah mungkin lebih jelas dari apa yang dirinya ketahui.

Masih ada satu hal yang sering membikin dia merasa jengah dan malu.

Thio Tan-hong adalah gurunya, Thio Tanhong sudah menyerahkan pedang jantan dan betina itu kepada mereka berdua.

Bila sekarang dia terkenang kepada Toan Kiam-ping, tak lain hanya merupakan kenangan sang adik terhadap sang kakak belaka.

Kenangan itu memangnya menyenangkan, menyejukkan sanubari, namun asal-usul rasa senang ini tak lebih hanya merasa puas pernah mendapat perlindungan dan kasih sang kakak.

Dinilai dari kejadian yang dialaminya sehari hari ini, pemuda yang baru dikenalnya ini ternyata tak bedanya dengan Toan Kiam-ping, membela dan melindungi dirinya dengan penuh kasih sayang.

Namun kasih sayang yang diterimanya dari Tan Ciok-sing agaknya berbeda dengan kasih sayang yang pernah diperolehnya dari Toan Kiam-ping, perasaan yang peka ini sudah tentu sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Bila dia terkenang pada Toan Kiam-ping mukanya takkan merah jengah, kini berhadapan dengan Tan Ciok-sing tanpa merasa wajahnya terasa panas.

Tan Ciok-sing sudah tidur, tidak enak dia menunggui laki-laki asing yang sedang pulas dengan gayanya yang lucu ini, maka dengan langkah ringan dia beranjak lewat dari samping orang.

Didalam sanubarinya mulailah timbul perbedaan pendapat tentang laki-laki asing di hadapannya ini dengan Toan Kiam-ping yang sudah lama dikenalnya.

Toan Kiam-ping berwatak lemah lembut sebagai mana seorang sekolahan dari keluarga bangsawan, sikapnya ramah dan terbuka, bukan saja ilmu silatnya tinggi, main harpa, catur, membuat syair dan menggambar juga serba bisa.

Pernah dirinya diajar memain harpa, mengajar dirinya menulis serta menggambar dirinya serta membuatkan syair lagi.

Bicara sesungguhnya, dia amat suka dan senang kepada "Toantoako"

Ini.

Walau belum sehari dan berkenalan dengan Tan Ciok-sing, tapi perasaan sudah jelas menunjukkan bahwa dia bukan sejenis laki-laki seperti Toan Kiam-ping.

Kepandaian memetik harpa Tan Ciok-sing mungkin lebih tinggi dari Toan Kiam-ping, tapi meski petikan harpanya tiada bandingan, sikap dan tindak tanduknya sebagai pemuda kampungan tetap terlalu menonjol.

Akan tetapi bahwasanya Tan Ciok-sing tidak pernah berusaha untuk menyembunyikan ke kampungan dirinya, dia tetap menampilkan keaslian dirinya di hadapan In San.

Memang dia amat menyukai Toan Kiam-ping, senang akan sikapnya yang ramah dan romantis, senang akan wataknya yang terbuka dan suka mengambil dirinya, tapi kemurnian dan keaslian Tan Ciok-sing yang serba kampungan dan sederhana ini justeru menimbulkan kesan yang mendalam, kesan yang mantap dan dapat dipercaya.

Sukar dia memberi jawaban pada tanda tanya hati sendiri, apakah setelah dia bergaul lama dengan Tan Ciok-sing dirinya akan menyukainya pula seperti dirinya menyukai Toan Kiam-ping, tapi dia yakin bahwa Tan Ciok-sing pasti akan membencinya.

Pikir punya pikir tanpa merasa merah pula muka In San.

Angin malam yang berhembus semilir menyegarkan badan, sesaat dia melongo lalu berpikir.

"Kenapa aku harus membandingkan ke dua orang ini? Toh aku tidak ingin menikah dengan Toan-toako, meski Tan Ciok-sing membawa pedang jantan, memangnya aku harus kawin dengan dia. Usiaku toh masih muda, kenapa harus bikin susah diri sendiri? Untuk apa aku pikirkan persoalan tetek bengek ini sepagi ini?"

Selamanya dia belum pernah memikirkan soal nikah, soal masa depannya, malam ini baru pertama kali.

Dia tidak akan memikirkan lagi, namun perasaan hatinya tetap gejolak tak mau tenang.

Tanpa merasa dia beranjak semakin jauh kedalam hutan, semakin jauh pula meninggalkan tempat Tan Ciok-sing mendengkur.

Kuda putih dan kuda rampasan Tan Ciok-sing itu entah berada dimana, mungkin pergi mencari rumput segar, sebagaimana sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, entah kemana mereka sedang bermain cinta di malam nan permai ini.

Tiba-tiba sayup-sayup seperti didengarnya suara ringkik kuda.

Semula dia kira kuda putihnya itu menemukan kembali tempat istirahat majikannya.

Tapi sesaat lagi kuda putih tidak kunjung muncul, malah dia mendengar langkah kaki orang.

In San sembunyi di belakang sebuah pohon besar, malam ini bulan purnama, di bawah penerangan bulan purnama tampak dua bayangan orang muncul di balik lekukan gunung sebelah sana dari bentuknya kelihatan mereka laki dan perempuan.

Keduanya jalan berendeng, tidak menunggang kuda.

Lekas In San mendekam sambil pasang kuping, didengarnya yang perempuan sedang berkata.

"Aneh, entah kenapa kuda putih kita punya ini tadi kelihatan gelisah dan tidak tenang, tidak tunduk perintah lagi, tahu-tahu kita dibawanya kesini. In San terperanjat, suara perempuan ini seperti sudah amat dikenalnya. Disusul seorang laki-laki berkata.

"Sudah sehari penuh dan setengah malam ini kita berkelana, umpama kuda tidak lelah manusia yang akan keletihan. Siau-moay kau memang harus beristirahat."

"Ing-piauko."

Kata perempuan itu.

"kau tidak tahu kenapa aku menguatirkan adik dari keluarga In itu, bahaya yang mengancam kota Tay-tong sudah tiada, ingin rasanya aku tumbuh sayap terbang kesana menemuinya."

"Memang aku juga mendapat titipan Toan Kiam-ping untuk cepat-cepat disampaikan padanya,"

Demikian kata laki-laki itu.

"kuda putih kita berlari secepat terbang, yakin besok juga kita sudah bisa sampai di Tay-tong, kaupun tidak perlu terburuburu. Marilah cari tempat yang bersih supaya kau bisa beristirahat. Aku akan berjaga malam, besok pagi, aku akan bangunkan kau."

Mendengar pembicaraan mereka sungguh kejut dan girang hati In San, kini dia sudah tahu siapa kedua orang laki perempuan ini.

Mereka bukan lain adalah Kanglam Sianghiap Kwik Ing-yan dan Ciong Bin-siu yang ingin ditemuinya di markas Kim-to Cecu.

Tak kira sebelum dia sampai ke tujuan, kedua orang ini sudah mencarinya juga.

"Mereka menempuh perjalanan malam hanya ingin selekasnya menemukan aku,"

Demikian batin In San.

"biar aku diam dulu, nanti akan kugoda mereka."

Kedua muda-mudi itu sudah memasuki hutan, jaraknya tidak jauh dari tempat In San sembunyi.

Begitu mereka dekat In San sudah siap untuk muncul secara mendadak supaya kedua orang itu terperanjat dan kesenangan.

Ternyata langkah mereka berhenti, agaknya sedang celingukan mencari sesuatu tempat cocok dan bersih.

Melihat mereka tidak maju lebih lanjut, In San sudah siap melompat keluar memberi kejutan, tiba-tiba didengarnya Ciong Bin-siu tertawa, katanya.

"Cara bagaimana kau hendak menyampaikan isi hati Toan Kiam-ping kepada adik keluarga In itu."

Kali ini berbalik In San yang terkejut.

"Toan Kiam-ping hendak menyampaikan isi hati apa terhadapku? Kenapa pula harus melalui mereka untuk menyampaikan kepadaku?"

Sesaat ini jantung In San berdebar keras, hatinya juga bingung dan gelisah. Terdengar Kwi Ing-yang berkata dengan tertawa.

"Dia rikuh mengatakan kepadaku, aku sendiri juga rikuh untuk menyampaikan pesannya itu kepada adik keluarga In. Adik Ciong, untuk hal ini terpaksa aku memohon bantuanmu. Bukan membantu untuk kepentinganku, tapi membantu untuk kepentingan Toan-toako."

"Memang Toan-toako harus dikasihani meski namanya dia seorang pangeran, hidup makmur dan serba berkecukupan, namun dia kurang mendapat seorang teman sejati, hingga sampai sekarang dia masih jejaka. Beberapa tahun lagi Siauongya yang selalu disanjung puji rakyatnya ini bukan mustahil akan menjadi Lo-ongya, memang pantas kita membantu dia."

"Betul, hanya kau yang bisa membantu dia untuk ini kau tidak bisa menampik lagi."

Agaknya Ciong Bin-siu juga ingin memuaskan rasa ingin tahunya, katanya tertawa.

"Bukan soal bagiku untuk membantu kesulitannya itu, nah coba kau tuturkan persoalan pribadi apa yang pernah dia bicarakan dengan kau."

"Terhadapmu boleh aku katakan terus terang tapi jangan nanti lantas menggoda dia. Mungkin kau belum tahu Pangeran kita yang satu ini biasanya bergaul bebas dan terbuka, namun waktu ia bicara soal isi hati sendiri, eh, lucu sekali sikapnya malu-malu kucing, mukanya merah seperti nona jelita layaknya."

Ciong Bin-siu cekikikan, katanya.

"Tak usah kau ngelantur sejauh itu. Ceritakan saja bagaimana dia utarakan isi hatinya padamu?"

"Hari itu aku membujuknya supaya lekas menikah, kukatakan sekarang kau sudah tiba saatnya untuk berkeluarga, adalah pantas kalau dia sekarang sudah punya calon permaisuri. Dia hanya diam saja sambil menunduk. Kukatakan kau Bun-bu-coan-cay (serba pandai silat dan sastra) adalah pantas kalau pandanganmu terlalu tinggi, perempuan biasa pasti tidak masuk dalam hitunganmu. Tapi untuk menemukan perempuan yang cocok memang sukar, bolehlah untuk ini kau sedikit mengalah saja."

"Eh setelah kuolok-olok begini, dia malah mau bicara. Coba terka apa yang dia katakan?"

"Nama pujaan hatinya lantas dia beritahukan kepadamu?"

"Dia justru tidak sewajar itu dalam bicara soal ini. Dia menghela napas lebih dulu, lalu dengan suara selirih nyamuk dia berkata.

"Terbalik perkataanmu, bukan aku memandang orang terlalu tinggi, adalah aku sendiri malah yang kuatir tidak sesuai menjadi suaminya."

"Mendengar jawabannya ini saking senang aku berjingkrak sambil keplok tangan, kataku.

"Jadi kau punya pujaan hati, lekas kasih tahu padaku, nona dari keluarga mana dia."

"Sesaat lamanya dengan suara tersendat baru dia berkata.

"Kaupun sudah kenal nona ini, ayahnya adalah pendekar besar yang tersohor di kolong langit ini, sejak kecil dia sudah kelihatan cerdik pandai dan lincah Jenaka, ayu diluar iembut didaiam, sejak beberapa generasi kedua keluarga kita sudah ada hubungan erat, selama ini dia memandangku sebagai Toako-nya. Waktu kecil dulu pernah aku berkelakar sama dia, kukatakan kelak aku pasti akan mengawini dia, waktu itu hanya bermain saja, tapi pada terakhir kali aku bertemu dengan dia, dia sudah merupakan gadis yang sudah mekar dan jelita, sesampai di rumah aku jadi terserang sakit mala rindu, tak bisa aku melupakan wajahnya, baru sekarang aku sadar bahwa aku sudah tidak boleh berkelakar lagi, aku betulbetul ingin mengawininya."

"Sesaat aku masih belum tahu dan tak teringat siapa nona yang dimaksud, sambil berpikir kukorek pula keterangannya, tanyaku.

"Keluarga kalian sudah berhubungan turun menurun kenapa tidak kau suruh comblang untuk meminangnya, dengan kedudukan sebagai pangeran memangnya kuatir pihak perempuan menampik?"

"Dia menghela napas pula, katanya.

"Usiaku belasan tahun lebih tua, selama ini kuanggap dia sebagai adik cilik, bagaimana tidak rikuh untuk bicara soal jodoh."

"Kukatakan tak perlu kau sendiri yang menyampaikan isi hatimu, cari seorang comblang untuk meminang kepada orang tuanya, kan beres."

"Dia bilang ayah si gadis sudah hilang sejak tiga tahun yang lalu kini dia hanya sebatang kara tinggal di rumah."

"Sampai disini baru aku sadar dan tahu, teriakku sambil berjingkrak.

"O, jadi yang kau maksud adalah putri In Tayhiap, kita punya adik dari keluarga In itu."

Kalau Ciong-Bin-siu merasa diluar dugaan, In San sendiri juga tidak mengira sama sekali, diam-diam dia mencuri dengar pembicaraan kedua muda-mudi ini, sampai disini tak terasa jengah dan panas wajahnya, hatinya gundah dan bingung, tak tahu entah apa yang harus dilakukan.

Kelakar Toan Kiam-ping terhadap dirinya dulu sebenarnya sudah lama dia lupakan, kini tibatiba mendengar orang menyinggung kejadian lucu itu masa lalu kembali menggelitik sanubarinya.

Waktu itu usianya baru sembilan tahun, masih nona cilik yang suka ingusan, hari itu dia ditemani Toan Kiam-ping turun ke kali menangkap ikan, maklum kali kecil yang tidak dalam airnya, airnya warna kuning, berlumpur lagi, sebagai seorang pangeran kapan Toan Kiam-ping pernah bermain di tempat sekotor ini?

Tapi demi menyenangkan hati In San, dengan rasa was-was dia menggandeng In San turun ke kali yang berlumpur itu menangkap ikan, pakaiannya yang mewah dan serba baru itu kuatir kotor, dasar In San memang gadis nakal sengaja dia menciprati pakaian baru orang dengan air dan lumpur, hingga pakaian orang berlepotan lumpur.

Siangnya In Hou memanggil pulang makan, kebetulan dia saksikan In San membuat kotor pakaian Toan Kiam-ping, dengan tersenyum dia memberi nasehat kepada putrinya.

"Kau budak liar ini begitu nakal, kelak siapa berani menjadi suamimu? Hm, kalau kau masih nakal juga kelak bagaimana kau bisa memperoleh suami."

Setelah mendapat tegoran ayahnya ini memang In San merasa takut, setelah makan diam-diam dia bertanya kepada Toan Kiam-ping.

"Apakah anak perempuan harus menikah? Bagaimana kalau aku tidak bisa memperoleh suami?"

Waktu itu Toan Kiam-ping terpingkal-pingkal, katanya.

"Adik cilik, kau tidak usah kuatir, kelak akulah yang akan mengawini kau."

Sungguh tak nyana kelakar Toan Kiam-ping di masa kecil dulu, sekarang sikapnya menjadi serius.

Kalau dulu masih kecil, setelah ditegor ayahnya dia pernah tanya kepada Toan Kiam-ping bagaimana kalau dia tidak bisa mendapatkan suami.

Kini setelah tahu bahwa Toan Kiam-ping betul-betul hendak mempersunting dirinya diapun tidak tahu bagaimana baiknya, memangnya kepada siapa sekarang dia harus merundingkan hal ini?

Karena gelisah In San berdiri terlongong.

Tadi dia sudah siap melompat keluar hendak membuat kaget Kwik Ing-yang berdua, kini karena malu dia malah menyembunyikan diri tak berani mengunjuk diri.

Dia takut Ciong Bin-siu betul-betul menyinggung soal pernikahan ini, cara bagaimana dia harus menjawab nanti?

Di kala dia kebingungan itulah tiba-tiba didengarnya ringkik tiga ekor kuda yang bersahutan.

Kwik Ing-yang berjingkrak kaget serunya.

"Didalam hutan ada Ciong Bin-siu juga melompat berdiri teriaknya senang.

"Kwik-piako, coba kau dengar agaknya ringkik kuda putihku itu."

"Betul, suaranya memang mirip,"

Sahut Kwik Ing-yang.

"Lekas kita tengok kesana."

Ciong Bin-siu sudah lari lebih dulu ke arah datangnya suara.

Lekas Kwik Ing-yang menyusul kencang, tinggal In San seorang yang masih berdiri menjublek di tempat.

Tak lama kemudian terdengar suara benturan senjata dan bentakan serta makian dari dalam hutan.

In San yang terlongong tiba-tiba tersentak kaget, pikirnya.

"Celaka, mungkin mereka sudah bertarung dengan Tan-toako, bagaimana aku harus bertindak? Ai, kenapa keadaan semakin berabe begini?"

Jejaka dan perawan sama-sama bermalam di hutan nan sepi dan jauh dari keramaian, meski mereka sama-sama suci bersih dan bergaul secara terang-terangan, betapapun akan menimbulkan kesan jelek di mata umum.

Apalagi kedatangan Kwik dan Ciong justru hendak menyampaikan kabar bahagia akan pinangan Toan Kiam-ping terhadap dirinya.

"Bila mereka menemukan aku bersama Tan-toako di malam nan gelap ini di hutan, entah bagaimana mereka memperkirakan diriku?"

Tanpa kuasa merah dan panas pula muka In San.

Tapi jikalau dia tidak segera mengunjuk diri, mungkin urusan bisa lebih payah dan tak karuan jadinya, terpaksa In San buang segala pikiran yang tidak enak, dengan mengeraskan kepala lekas dia berlari ke arah datangnya suara.

Apa yang dia tebak memang tidak salah, Kanglani Sianghiap memang sudah berhantam dengan Tan Ciok-sing.

Tan Ciok-sing juga terjaga oleh suara ringkik kuda, dia kira ada orang hendak mencuri kudanya, maka bergegas dia bangun, belum lagi dia menemukan kudanya, jejaknya sudah ditemukan oleh Kanglam Sianghiap.

Malam ini bulan purnama memancarkan sinarnya yang redup; baru saja dia kucek-kucek mata dan belum melihat siapa kedua pendatang ini, mereka sudah mengenali Tan Ciok-sing lebih dulu.

Kebetulan di kala mereka berhadapan inilah tampak kedua kuda putih itu juga muncul dari dalam hutan begitu melihat kuda putih miliknya itu tanpa banyak bicara "Sret"

Ciong Bin-siu segera menusuk ke arah Tan Ciok-sing. Tan Ciok-sing juga sedang membentak.

"Maling kuda bernyali besar. Hanya kau, kau kiranya kau...!"

Ciong Bin-siu menghardik.

"Kau maling cilik ini tak nyana kebentur dengan pemiliknya bukan?"

Mulut bicara pedang tak berhenti.

Terpaksa Tan Ciok-sing cabut pedang menangkis, dengan jurus Hian-niau-hoat tiba-tiba dia balas menusuk dari posisi yang tidak terduga oleh Ciong Bin-siu.

Jurus serangan ini memaksa lawan untuk membela diri lebih dulu, sehingga Ciong Bin-siu harus menarik pedang kalau tidak pasti pedangnya tertabas kutung.

Tan Ciok-sing menarik napas lega, teriak-teriaknya lekas.

"Ciong-lihiap, jangan kau salah paham, aku sengaja hendak mengembalikan kuda putihmu itu."

Melihat ilmu pedang Tan Ciok-sing begitu liehay, kejut Kwik Ing-yang bukan main, kuatir sang Piaumoay kecundang, lekas diapun mencabut senjata.

Kungfu Kwik Ing-yang jauh lebih tinggi dibanding Ciong Bin-siu, begitu ilmu pedang dikembangkan, tipu-tipu serangannya ternyata bergelombang deras susul menyusul tak kenal putus.

Walaupun permainan ilmu pedangnya ini dalam pandangan Tan Ciok-sing hanya sepele saja, tapi karena dia tidak bermaksud jahat dan tidak ingin melukai lawan supaya tidak menimbulkan salah paham lebih mendalam apalagi dia tak boleh memapas kutung senjata lawan, sehingga Tan Ciok-sing harus sedikit memeras keringat menghadapi kedua lawan ini."

Bahwa dirinya hampir saja kecundang, sudah tentu Ciong Bin-siu tidak mau percaya akan seruan Tan Ciok-sing. Serunya gusar.

"Kau bangsat cilik ini, waktu di Ang-wa-poh tempo hari, aku sudah curiga akan tindak-tandukmu yang jahat ini, kuda putihku cara bagaimana bisa terjatuh ke tanganmu? Jelas kau adalah sekomplotan dengan pembegal di Ang-wa-poh itu. Masih berani kau membual mengudal mulut manis hendak menipuku lagi."

Belum habis dia mengamuk, mendadak didengarnya sebuah suara nyaring berteriak.

"Siu-cici (kakak Siu), dia tidak menipu kau, apa yang dia katakan memang benar."

Karuan Kwik dan Ciong berdua melengak dan berhenti sambil berpaling, lekas Tan Ciok-sing melompat jauh ke belakang seraya mengembalikan pedang kedalam sarung, katanya.

"Nah, kalau kalian tidak percaya padaku memangnya kalian tidak percaya kepada nona In?"

Bahwa dirinya dituduh semena-mena sebagai anak muda adalah jamak kalau hatinya agak dongkol, cepat dia menyingkir tanpa bersuara, biar In San yang membela dirinya.

Sejenak Ciong Bin-siu tenangkan diri, melihat yang berdiri di depannya benar-benar adalah In San, sesaat dia melongo tak percaya akan penglihatannya, In San tertawa, katanya.

"Kak Siu, kau sudah tidak mengenalku lagi?"

"Haya,"

Teriak Ciong Bin-siu kegirangan.

"adik San, memang kau ini. Kukira dari mana munculnya pemuda setampan ini."

"Aku hendak mencari kalian di tempat Ciu-pepek, kuatir kurang leluasa di perjalanan, maka terpaksa aku menyamar."

"Kami juga hendak mencarimu di Tay-tong. Dia, siapa dia?"

Tanya Ciong Bin-siu. Melihat In San menyaru pemuda seperjalanan dan bermalam di hutan ini, karuan timbul rasa curiganya.

"Seperti juga kalian, Tan-toako ini adalah teman baik Toan Kiam-ping pula, sengaja dia datang ke Tay-tong mencariku,"

Demikian tutur In San.

"Tapi baru hari ini juga kami berkenalan,"

Lalu dengan tertawa dia menambahkan.

"Tidak berkelahi tidak akan kenal, terus terang akupun pernah salah paham padanya, malah melabraknya tak karuan. Malah kalian kuperkenalkan."

Tanda tanya mengganjel dalam benak Kwik dan Ciong, terpaksa mereka memberi hormat kepada Tan Ciok-sing, kata Ciong Bin-siu.

"Kudaku ini tempo hari dirampas oleh kawanan pejahat di Ang-wa-poh, entah bagaimana bisa berada di tangan Tan-heng?"

Dalam hati dia membatin.

"Kalau dia teman Toan Kiam-ping, kenapa tidak pernah diceritakan pada kami?!"

Sementara mereka bicara kedua ekor kuda itu sudah datang menghampiri, kuda putih itu meringkik perlahan dan mengelus mukanya ke muka Ciong Bin-siu sejenak lalu berlari pula ke arah Tan Ciok-sing dan bermesraan.

Kuda putih ini memang cerdik dan pandai, tingkahnya ini seakan ingin memberitahu kepada majikan lamanya bahwa dia bersahabat baik dengan Tan Ciok-sing.

Kuda putih milik Kwik Ing-yang juga berlari datang, Kwik Ing-yang berkata dengan tertawa.

"Tak heran sampai disini kau tidak mau pergi, kiranya kau menemukan pasangan disini. Baiklah, pergilah kalian bermesraan jangan mengganggu aku disini,"

Kedua kuda ini dapat menangkap perkataan majikannya, berendeng segera mereka berlari masuk kedalam hutan.

Kuda rampasan Tan Ciok-sing baru sekarang mendatangi dengan lesu dan tunduk kepala, dia tidak berani ikut kesana terpaksa dia menyingkir kesana sendirian, kasihan melihat keadaannya yang kelihatan sedih.

Kecut hati Tan Ciok-sing melihat keadaan kudanya, diamdiam dia membatin.

"Melihat kawan lama adalah jamak kalau dia melupakan teman baru. Demikian sang kuda, begitu pula manusia."

"Adik Siu,"

Ujar Kwik Ing-yang.

"kudamu itu juga mesra terhadap Tan-heng, bila Tan-heng tidak pernah menolongnya, pasti dia takkan bersikap demikian,"

Mau tidak mau dia sedikit percaya akan omongan Tan Ciok-sing.

"Kak Siu, memang Tan-toako yang merebut kembali kuda putihmu itu dari tangan kawanan brandal di Ang-wa-poh. Kudamu itu sedikit terluka, Tan-toako pula yang menyembuhkan. Begitu baik Tan-toako terhadapnya, adalah jamak kalau dia juga bersahabat terhadapnya. Demi mengembalikan kuda itu kepada pemiliknya, sepanjang jalan dia mengejar dan menguntit jejak kalian dari Tayli sampai disini."

Ciong Bin-siu jadi rikuh, katanya.

"Tan-toako tadi aku menuduhmu, mohon dimaafkan."

"Ah, tidak apa."

Sahut Tan Ciok-sing tawar.

"syukur kuda-ini sudah kukembalikan kepada pemiliknya, terhitung tercapainya keinginanku."

"Tan-toako,"

Ucap Ciong Bin-siu cekikikan.

"Kau memang orang baik, pantas adik cilik dari keluarga In kita ini baru saja kenal sudah begitu percaya padamu."

Sebagai gadis cilik sudah In San merasakan duri tajam pada perkataan Ciong Bin-siu, seketika merah wajahnya, katanya tertawa dipaksakan.

"Kak Siu, salah omonganmu, aku sendiri juga pernah kapiran orang baik. Waktu pertama kali aku bertemu dengan Tan-toako, hampir saja aku membalas budi kebaikannya dengan serangan-serangan mematikan."

Kwik dan Ciong sama melengak, kata Ciong Bin-siu.

"O, jadi Tan-toako juga tuan penolongmu?"

"O, ya, tadi kau bilang pernah melabrak Tan-toako, apakah yang telah terjadi?!"

Tanya Kwik Ing-yang.

Maka In San ceritakan pengalaman yang menimpa ayahnya kepada mereka, lalu ditambahkan bahwa demi melaksanakan pesan ayahnya.

Tan Ciok-sing menempuh perjalanan yang jauh, mengalami berbagai rintangan dan ancaman bahaya sampai di Tay-tong serta menyerahkan barang peninggalan ayahnya kepada dirinya.

Tapi tentang pertemuan Tan Cioksing dengan ibunya tidak diceritakan.

Mendengar betapa gagah perkasa sepak terjang Tan Cioksing, tak ubahnya sebagai kaum pendekar umumnya, timbul rasa kagum dan hormat Kwik dan Ciong terhadap Tan Cioksing.

Tapi dalam hati mereka juga menguatirkan nasib teman mereka Toan Kiam-ping.

Mereka pikir betapa erat dan mendalam hubunganTan Ciok-sing dengan keluarga In, mungkin demi membalas budi kebaikan orang, In San bisa jatuh hati dan kelak jadi isteri Tan Ciok-sing malah.

Kini mereka bicara terpencar, Ciong Bin-siu tarik In San ke samping sana, katanya lirih.

"Toan-toako amat merindukan kau, sebetulnya dia titip pesan pada kami supaya kau mengungsi ke Tayli soalnya waktu kami tiba disini Tay-tong sudah aman, maka kami putar jalan langsung menuju ke markas Kim-to Cccu lebih dulu."

"Ya aku sudah tahu,"

Ujar In San.

"Lalu kau mau kemana? Pergi ke Tayli atau mau menemui Kim-to Cecu?"

"Sudah tentu aku akan ajak kalian menemui Ciu-pepek lebih dulu. Beliau adalah saudara angkat ayahku, kuduga dia pasti juga merindukan aku."

"Memang dia amat merindukan kau. Kalau tidak setelah tahu Tay-tong sudah aman, beliau lantas suruh kami kemari mencari jejak dan beritamu. Tapi bila dia tahu kau selamat saja pasti lega hatinya, bukan maksudnya supaya kau kesana membantu dia. Bila kau pergi ke Tayli dulu bukan saja dia tidak akan menyalalahkan kau, malah dia akan ikut girang."

Di hadapan Tan Ciok-sing sudah tentu tak enak Ciong Bin-siu menjadi mak comblang bagi Toan Kiam-ping, maka secara samar-samar saja dia menyampaikan keinginan sang pangeran.

"Aku tahu Ciu-pepek tidak membutuhkan bantuanku, tahu harus kesana secepatnya. Ciong-cici, kapan kau meninggalkan markas?"

"Baru kemarin dulu?"

"Kalau begitu tahukah kau Tam Tayhiap dengan ibuku apakah sudah sampai di markas?"

Ciong Bin-siu melengak, katanya.

"Jadi kau sudah tahu bahwa Pek-bo, Pek-bo sudah meninggalkan, meninggalkan..."

Tak enak dia meneruskan perkataannya.

"Benar, aku sudah tahu ibu sudah meninggalkan keluarga Liong. Bagaimana aku bisa tahu kelak akan kujelaskan padamu. Sekarang beritahu padaku, apakah beliau sudah tiba di markas Ciu-pepek dengan aman?"

"Sebetulnya ingin aku memberitahu kepadamu, cuma... entah..."

Agaknya dia kuatir bila In San tidak senang dirinya menyinggung perihal ibunya.

"Ibuku ditipu orang sehingga dia berpisah dengan ayah. Tapi betapapun dia adalah ibu kandungku."

Maka legalah hati Ciong Bin-siu, lebih leluasa pula dia bercerita.

"Satu jam sebelum kami meninggalkan markas kebetulan Tam Tayhiap dan ibumu telah tiba, aku juga belum sempat bicara dengan beliau. Diapun tidak tahu bahwa aku adalah temanmu."

"Ibuku memang sengsara dan banyak menderita, sudah belasan tahun berpisah dengan dia, kini dia sudah berada di ambang mata. Kakak Ciong, coba kau pikirkan, tidak pantaskah aku menemuinya?"

Karena Ciong Bin-siu belum tahu bahwa In San sudah memaafkan kesalahan ibunya, maka tadi dia membujuk In San uatuk pergi ke Tayli saja, kini setelah tahu duduk persoalannya, maka tidak pantas kalau dia mendesaknya supaya pergi ke Tayli menemui Toan Kiam-ping.

Tanpa terasa hari sudah menjelang fajar.

"Manusia menghadapi urusan bahagia pasti bangkit semangatnya, pemeo ini memang tidak salah,"

Demikian kata Ciong Bin-siu tertawa.

"semalam aku tidak tidur, setelah bertemu kau, kita berangkat sekarang, malam nanti kau akan bertemu dengan ibumu,"

Bersama In San berdua mereka menunggang satu kuda jalan di depan.

Tan Ciok-sing mencemplak kuda yang dirampasnya dari pasukan Watsu, bersama Kwik Ing-yang mereka jalan berendeng.

Dalam perjalanan Kwik Ing-yang sengaja bicara tentang Toan Kiam-ping, katanya.

"Toan-toako memang teman sejati yang patut dipuji, sebagai seorang pangeran, bukan saja serba pandai Kungfu dan sastra, terhadap teman pun dia tidak pandang bulu, jiwanya besar dan lapang dada tak pernah dia mengagulkan sebagai keturunan bangsawan."

Tan Ciok-sing berkata tawar. '"Betul orang macamku yang golongan kroco ini, diapun sudi bersahabat denganku."

"Tan-heng terlalu sungkan, orang yang memiliki Kungfu setinggi kau, kami dapat berkenalan adalah keberuntungan kami. Seperti juga Toan-toako, kau memang kawan yang sukar dicari bandingannya,"

Getir suara Tan Ciok-sing.

"Mana aku bisa dibanding dengan Siau-ongya?"

"Memang keseluruhannya Toan-toako serba baik, hanya ada satu bagi kami para temannya ikut merasa menyesal."

"Soal apa yang harus disesalkan?"

Tanya Tan Ciok-sing."

Kata Kwik Ing-yang.

"Usianya sudah hampir tiga puluh, tapi sejauh ini dia belum menikah."

"Betul, rakyat jelata Tayli bila memperbincangkan Siauongya, pasti juga menyinggung soal ini."

Kwik Ing-yang cukup tahu diri, tak enak dia bicara secara sendirian, maka dia berpikir.

"Kelihatannya dia juga cukup cerdik, kurasa dia sudah dapat merasakan juntrungan katakataku."

Tiba-tiba Tan Ciok-sing memutar pokok pembicaraan.

"Tadi seperti kudengar Ciong-lihiap mengatakan, bahwa Kimto-thi-ciang Tam Tayhiap sudah sampai di markas Kim-to Cecu, apakah Kwik-hcng sudah bertemu dengan Tam Tayhiap?"

Teringat sesuatu Kwik Ing-yang lantas tanya.

"Tan-heng, apakah kau juga kenal dengan Tam Locianpwc?"

"Kenal sih tidak. Tapi dua hari yang lalu pernah aku bertemu dia di rumah keluarga In Tayhiap, dia pernah menyuruhku menemui dia."

"Betullah kalau begitu, jadi pendekar muda yang dia ceritakan itu kiranya kau Tan-heng."

"Ah, jadi dia pernah menyinggung diriku terhadap Kwikhcng, apakah dia ada pesan untuk aku?"

"Waktu itu kebetulan aku sudah siap turun gunung hanya sekejap aku bicara dengan beliau. Dia suruh aku perhatikan di sepanjang jalan seorang pemuda she Tan yang menggendong harpa. Tapi bila Tan-heng tiba di markas nanti mungkin takkan ketemu dia." '"Lho, kenapa?" '"Tam Tayhiap bilang, dia masih ada janji dengan It-cuking-thian Lui Tayhiap yang belum dia tepati, kemarin setelah dia mengantar In-pekbo sampai di markas, lantas pamitan dengan Kim-to Cecu, hanya menginap semalam, hari ini dia sudah berangkat ke Kwi-lin untuk menemui Lui Tayhiap."

"Konon It-cu-king-tliian sudah menghilang sejak tiga tahun lalu, rumah tinggalnya di Kwi-lin juga sudah di bumi hanguskan. Apakah dia titip kabar untuk Tam Tayhiap, atau Tam Tayhiap mendengar kabar beritanya dari lain tempat, kini diketahui bahwa dia sudah kembali ke Kwi-lin?"

"Waktu itu aku sudah siap meninggalkan markas, jadi tak sempat banyak bicara dengan Tam Tayhiap. Tapi kudengar pembicaraannya dengan Kim-to Cecu, katanya tiga tahun yang lalu sebenarnya dia sudah pernah janji dengan Lui Tayhiap karena kematian In Tayhiap, sehingga janjian pertemuan kali itu gagal. Maka janji diperbarui lagi untuk bertemu tiga tahun yang akan datang."

Tan Ciok-sing diam saja tanpa bersuara, hatinya bingung dan pikiran kalut.

"Tan-heng, apa yang kau pikirkan?"

"Tiada apa-apa, aku hanya mengharap bertemu sekali lagi dengan Tam Tayhiap. Entah Tam Tayhiap ada titip omongan untukku tidak?"

"Ya, dia ada titipan omongan untuk disampaikan padamu, dia bilang. 'Bila di tengah jalan kau bertemu pemuda yang menggendong harpa, katakan padanya, aku akan kembali kesini, setelah menepati janji pertemuan dengan Liu Tayhiap. Suruh dia menunggu di markas saja."

Tan-heng agaknya dia hanya tahu kau she Tan tapi tidak tahu namamu."

"Betul, dua kali aku bertemu dengan dia dalam waktu singkat dan tergesa-gesa, belum aku memberitahukan namaku kepadanya,"

Tiba-tiba dia menarik tali kendali memutar balik kudanya.

"Tan-heng, apa yang kau lakukan?"

"Tolong sampaikan kepada nona In, katakan aku tidak bisa mengiringi dia pergi ke markas Kim-to Cecu."

Kebetulan waktu itu In San sedang menghentikan kudanya karena mereka berdua tertinggal jauh di belakang, teriaknya sambil berpaling.

"Hai lekas kalian kemari."

Kwik Ing-yang segera tarik suara.

"Nona In. Tan-toako bilang tidak akan pergi ke markas."

In San kaget, teriaknya.

"Tan-toako, tunggulah sebentar."

Kwik Ing-yang tersenyum katanya.

"Tan-toako, umpama benar kau ingin pergi, sepatutnya pamitan dulu kepadanya."

In San dan Ciong Bin-siu keprak kudanya putar balik.

"Tantoako kau hendak kemana?"

"Aku akan kembali ke Kwi-Iin."

"Tiada angin tidak hujan kenapa tiba-tiba hendak pulang ke rumah? Bukankah kau pernah bilang rumahmu sudah tiada?"

"Kedatanganku kali ini mengemban tiga tugas. Pertama mengembalikan barang warisan In Tayhiap. Kedua membawa pesan Toan Kiam-ping untuk nona In. Ketiga mengembalikan kuda putih ini kepada Ciong-lihiap. Tiga tugas kulaksanakan kupikir aku harus segera pulang dulu saja."

Berkerut alis In San, katanya.

"Sudah tiba disini, tinggal sehari perjalanan lagi, kenapa tidak kau menemui Kim-to Cecu lebih dulu toh kau tiada urusan penting?"

"Justeru baru saja kuketahui adanya sebuah urusan, maka perlu segera pulang ke rumah. Disini hakikatnya tiada keperluan lagi untukku."

"Urusan apa yang baru saja kau ketahui?"

Tanya In San. Kwik Ing-yang segera menyela.

"Kim-to-thi-ciang Tam Tayhiap pergi ke Kwi-lin untuk menemui It-cu-king-thian Lui Tayhiap, pagi hari ini dia berangkat kesana. Baru aku ketahui akan berita ini."

"O, jadi kau hendak pulang ke Kwi-lin menemui mereka?"

"Betul, ingin aku selekasnya bertemu dengan Tam Tayhiap,"

Sahut Tan Ciok-sing.

"Tapi Tam Tayhiap kan akan kembali kesini bukan?"

In San mendesak lagi.

"Ya, betul,"

Sela Kwik Ing-yang pula.

"tadi sudah kujelaskan tentang ini. Tam Tayhiap jelas akan pulang kesini, kenapa tidak tunggu dia sampai pulang? Paling menunggu sebulan, dari pada susah payah kau mencarinya ke Kwi-lin kan belum tentu ketemu."

"Justeru aku kuatir takkan sabar menunggu selama satu bulan,"

Tegas perkataan Tan Ciok-sing.

Melihat sikap keras Tan Ciok-sing, In San tahu meski ditahan juga takkan bisa membatalkan niatnya, kalau dia menahannya secara getol, mungkin bisa menimbulkan salah paham Ciong Bin-siu, terpaksa dia berkata.

"Baiklah, banyak terima kasih atas bantuanmu kali ini, kalau kau punya urusan penting, akupun tak enak mengganggumu lagi. Semoga kaupun akan datang kemari."

Tan Ciok-sing tertawa getir, katanya.

"manusia hidup ada kalanya kumpul ada saatnya berpisah, aku juga mengharap bisa bertemu dengan kalian pula, apakah bisa terkabul kelak sekarang tak bisa kupastikan."

Ciong Bin-siu cekikikan, katanya.

"Jangan bicara seperti itu, yang pasti kau harus kembali kesini."

Tan Ciok-sing membalikkan kudanya pula, tiba-tiba Kwik Ing yang berbisik kepada Ciong Bin-siu.

"Mari kita memberi sebuah kado kepadanya?"

Ciong Bin-siu seketika sadar, segera dia berteriak.

"Tantoako tunggulah sebentar."

"Ada apa?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Marilah saling tukar kuda tunggangan dengan aku,"

Kata Ciong Bin-siu. In San sampai melengak oleh tindakan ini.

"Ah, mana boleh, sengaja aku kembalikan kepadamu kenapa harus kuterima pula kuda kesayanganmu ini?"

Ujar Tan Ciok-sing.

"Anggaplah aku meminjamkan untukmu,"

Kata Ciong Binsiu.

"kalau bukan kau yang merebutnya dari tangan kawanan penjahat, sekarang dia juga bukan milikku lagi. Sekarang kau memerlukan dia, adalah pantas kalau aku meminjamkan padamu. Em, Tan-toako, memangnya kau saja yang boleh membantu orang, tapi menampik bantuan orang lain kepadamu?"

Segera Kwik Ing-yang ikut bicara.

"Ciu Cecu pasti juga meminjamkan kuda jempolan untuk tunggangan Tam Tayhiap ke Kwi-lin, dengan menunggang kuda putih ini, kemungkinan kau bisa menyusulnya di tengah jalan."

"Maksud mereka baik Tantoako, lekaslah kau terima saja, toh hanya kau pinjam sementara kelak kan bisa kau kembalikan,"

Demikian In San ikut membujuk.

"Itulah tujuan kami meminjamkan kuda ini kepadamu dengan harapan supaya kau lekas kembali kesini,"

Demikian seru Ciong Bin-siu.

"supaya adik kecil kita ini tidak cemas mengharapi kedatanganmu."

Kata-kata ini terlalu polos tapi juga menusuk perasaan, karuan Tan Ciok-sing dan In San sama merah mukanya. Kata Tan Ciok-sing.

""Kejadian dalam dunia ini sukar diramal sebelumnya, belum tentu aku bisa kembali kesini. Markas Kim-to Cecu kan juga sering berpindah..."

"Hal itu tak perlu kau buat kuatir,"

Tukas Ciong Bin-siu.

"kalau kau tidak sempat pulang kesini, boleh kau titipkan kuda putih ini kepada Toan-ongya di Tayli saja. Dia takkan pindah rumah. Tak lama lagi aku juga akan ajak adik San kesana."

In San tidak pernah bicara soal ini dan berjanji akan ke Tayli, karuan dia melengak.

Tapi tak enak dia menyangkal di hadapan orang banyak.

Tapi lain bagi perasaan Tan Ciok-sing, segera dia cemplak kuda putih, katanya.

"Baiklah, banyak terima kasih akan kebaikan kalian meminjamkan kuda ini padaku, kalau aku tak sempat pergi ke Tayli, pasti akan kusuruh orang mengantarkannya kesana,"

Segera dia keprak kuda putih terus mencongklang kencang ke depan, cepat sekali bayangannya sudah lenyap.

"Ciong-cici,"

Kata In San cemberut.

"kapan aku pernah janji akan pergi ke Tayli dengan kau."

"Kukira setelah kau menyampaikan sembah sujudmu kepada Pek-bo, kau akan kesana. Baiklah anggap aku salah menangkap perkataanmu. Tapi Toan-toako begitu kangen padamu, adalah pantas kalau kau kesana menemuinya."

"Cukup kalau kau beritahu padanya bahwa aku selamat dan sehat walafiat. Betapa susah payahnya usaha ibu untuk datang kesini sehingga bisa berkumpul dengan aku, beliaupun tak pernah kelana di Kangouw, aku pingin lebih lama merawat dan meladeninya."

"Soal ini boleh dibicarakan pelan-pelan. Piauko, berikan kudamu kepadaku,"

Mereka tetap berdua menunggang kuda putih milik Kwik Ing-yang, beberapa kejap kemudian Ciong Bin-siu berkata pula lirih.

"Kita adalah kaum persilatan yang harus mengutamakan perbedaan budi dan dendam, tapi untuk membalas budi juga harus ada batasnya bukan. Umpamanya aku meminjamkan kuda putih itu kepada Tan-toako, itupun termasuk balas budi..."

In San melongo, pipinya jadi merah seketika katanya.

"Kak Siu, apa maksud perkataanmu?"

"Aku membalas budi dan kesetiaan kawannya terpaksa hanya meminjamkan kuda putih padanya, tapi jiwa ragaku kan tak mungkin kuserahkan pula. Adik In, kau seorang gadis yang pintar, perumpamanku ini tentunya kau dapat merabainya?"

Seperti kepiting direbus merah muka In San, katanya aleman dengan malu-malu.

"Aku tidak tahu, tidak tahu, tak usah bicarakan lagi, perumpamaanmu itu aku juga tidak mau dengar lagi."

"Baiklah tak usah omong, jangan kau marah. Nanti setelah pikiranmu jernih, kelak kita bicarakan lagi."

Kuda segera dibedal berlari kencang naik turun, demikian pula pikiran In San ikut timbul tenggelam tidak menentu. Kim-to Cecu menyambut kedatangan In San dengan riang gembira, katanya tertawa.

"Tak kira secepat ini kaupun datang,"

Ditariknya tangan orang lalu tanya ini dan itu. Hati In San amat gelisah, segera dia bertanya.

"Ciu-pepek, soal lain biar bicarakan nanti. Kabarnya ibuku sudah kemari..."

"O, kau sudah tahu?"

Tanya Kim-to Cecu.

"Dia tidak menyalahkan ibunya, maka aku yang memberitahu,"

Sela Ciong Bin-siu.

"Syukurlah kalau begitu In-hujin sedang kuatir bila putrinya tidak mau memaafkan kesalahannya. Sebetulnya aku akan menunda sementara baru akan kujelaskan kepadamu..."

Tak sabar In San bertanya pula.

"Mana ibuku? Kenapa tidak kelihatan?"

"Badannya kurang sehat, dia sedang istirahat didalam, tapi kau tidak usah kuatir penyakit tidak begitu gawat,"

Kim-to Cecu menerangkan.

"Harap Pepek lekas bawa aku menemui beliau,"

Pinta In San. Berpikir sejenak Kim-to Cecu lantas memanggil seorang tentara perempuan, tentara perempuan ini yang disuruh mengantarkan In San katanya tertawa.

"Kalian ibu dan anak memang harus berbincang-bincang, aku tidak akan mengganggu,"

Sebagai orang tua yang cukup makan garam, dia tahu pertemuan ibu dan anak yang sudah sekian tahun berpisah ini pasti banyak persoalan pribadi yang akan dibicarakan dan pantang diketahui orang luar.

Maka Kim-to Cecu tetap tinggal menemani Kanglam Sianghiap.

Dalam pada itu In-hujin memang belum tidur, dia sedang memikirkan putrinya.

"Pemuda yang pandai memainkan ilmu golok keluarga In yang ditemui Tan Ciok-sing itu pasti anak San adanya, memang sejak kecil dia senang berpakaian laki laki. Kalau dia muncul di sekitar Tay-tong, suatu hari pasti akan menyusulku kesini. Ai, entah sudikah dia memaafkan ibundanya yang sudah hina apa ini?"

Lalu dia berpikir pula.

"Tan Ciok-sing memang pemuda idaman, bukan saja perangainya baik, hatinya jujur dan berilmu silat tinggi, sayang dia keturunan dari keluarga awam, bila kelak anak San berjodoh dengan dia, lega juga hatiku. Tapi Siau-ongya dari keluarga Toan di Tayli itu juga calon suami pilihan yang sukar ditemukan bandingannya, jikalau anak San menjadi isterinya mungkin dia akan lebih bahagia. Tapi Tan Ciok-sing menanam budi begitu besar terhadap keluarga kami, membawa pedang Thio Tayhiap sebagai ikatan jodoh pula..."

Hatinya menjadi risau dan sukar berkeputusan, akhirnya dia menghela napas dan berpikir pula.

"Pernikahan hanya mengutamakan jodoh, kenapa aku harus kapiran memikirkan soal 'jodoh' putriku, terserah dia suka mana dan menikah dengan siapa. Apalagi kemungkinan dia tidak akan mau mengakui aku sebagai 'ibunya', memangnya aku kuasa memberi putusan soal pernikahannya?"

Dada terasa sakit lagi.

In-hujin tahu ini tanda-tanda penyakitnya bakal kumat, sakit hati sukar diobati, obat yang paling mujarab adalah mempertahankan ketenangan hati dan pikiran.

Dia berusaha menekan gejolak pikirannya, namun tak kuasa mengendalikan, hatinya telah mulai sakit dan penyakit hampir kumat.

Di kala pikirannya kacau dan ruwet ini, tiba-tiba didengarnya suara pintu didorong orang perlahan.

In-hujin kira Kim-to Cecu suruh pelayan membawakan obat untuk dirinya, tak nyana waktu dia menoleh dilihatnya yang masuk adalah seorang pemuda yang cakap.

Meski berpisah sudah belasan tahun.

Walau waktu berpisah puterinya baru berusia 7 tahun, walau sekarang puterinya ini berpakaian laki-laki...

peduli ada berapa banyak walau hubungan ibu dan anak sudah mendarah daging, umpama laut kering dan batu membusuk, benda berubah bentuk, seorang ibu betapapun takkan bisa melupakan dan pangling terhadap puterinya sendiri.

Sesaat lamanya In-hujin sampai menjublek di depan puterinya.

Demikian pula In San berdiri terlongong didepan ibunya, ribuan kata laksaan omongan, tak tahu dari mana dia harus mulai bicara.

"San-ji, betulkah kau ini. Ini, ini, apakah ini bukan mimpi?"

Segera In San menubruk kedaiam pelukan ibunya, anak dan ibu saling berpelukan dengan kencang, keduanya saling bertangisan.

"Bu, jangan kau menangis, selanjutnya kita takkan berpisah lagi."

In-hujin menyeka air mata, katanya.

"San-ji, kau tidak membenciku? Aku, aku salah..."

"Yang sudah lalu anggaplah sebagai impian, tak usah disinggung lagi Bu, yang kubenci adalah orang lain, aku tidak pernah menyalahkannya kau."

"San-ji,"

Kata In-hujin sesenggukan.

"Aku tahu kau pasti memaafkan aku. Aku pernah pulang ke rumah mencarimu."

"Bu, aku tahu. Sayang hari itu aku kebetulan tak di rumah. Bu, kali ini kau bertindak setegas ini untuk pulang ke rumah, aku amat senang,"

Dengan erat dia menggelendot dalam pelukan ibunya, tanpa terasa air matapun bercucuran. In-hujin tertegun sejenak, katanya.

"Ah, kau sudah tahu. Jadi kau sudah pulang ke Tay-tong?"

"Bu, rumah kita itu sudah dibakar oleh pasukan pemerintah yang dibawa Liong Seng-bu bocah kurcaci itu."

Mendengar puterinya menyinggung keponakan suaminya yang tiri, kembali hati In-hujin merasa dongkol dan perih pula, hatinya penuh penyesalan, katanya.

"Binatang cilik itu, jangan kau menyinggung nya lagi. Aku ingin bicara tentang seorang yang lain."

"Siapa?"

"Seorang yang punya hubungan kental dengan keluarga In kita, ayahmu pernah mendapat budi pertolongannya, akupun pernah ditolong jiwaku. San-ji, ayahmu, ternyata sudah meninggal duuia..."

"Bu, semua peristiwa itu sudah kuketahui jelas, tak perlu kau jelaskan lagi. Bila ayah tahu kini kau sudah pulang, di alam baka beliau pasti akan senang juga,"

Demikian In San menghibur ibunya sambil menyeka air matanya. Kembali In-hujin terlongong, pikirnya.

"Bagaimana dia bisa tahu semuanya? lalu berkata lebih lanjut.

"Orang itu bernama Tan Ciok-sing, dia seorang pemuda yang baik, bukan saja Kungfunya tinggi, orangnya pun baik dan mengagumkan..."

"Bu, aku tahu,"

Tukas In San, mendengar ibunya memuji Tan Ciok-sing, manis mesra rasa hati ln San, tanpa kuasa merah mukanya, kembali dia mengulang perkataan.

"aku tahu."

In-hujin berhenti bicara, dengan seksama dia perhatikan putrinya, baru sekarang dia dapati putrinya sudah menggembol pedang dan golok pusaka. Karuan kejut dan girang hatinya, serunya.

"San-ji, kau sudah bertemu dengan Tan Ciok-sing?"

In San haturkan golok pusaka ayahnya, katanya.

"Bu, golok pusaka ayah sudah dia kembalikan."

"Pedang pusaka ini, bukankah ini pedang betina yang bernama Ceng-bing-kiam itu."

Jengah muka In San, dengan suara lirih dia mengiakan.

"Atas perintah Thio Tayhiap dia menyerahkan pedang ini, kepadamu?"

"Betul,"

Sahut In San, kepalanya tertunduk semakin rendah. Tak kuasa In-hujin menekan rasa senangnya, katanya.

"Asal-usul pedang mustika ini, tentunya ayahmu pernah menjelaskan kepadamu, maksud tujuan Thio Tayhiap menyuruhnya menyerahkan pedang mustika ini, kukira juga sudah kau ketahui?"

In San menjawab tahu, tapi juga tidak menyangka! Tidak tahu. Sesaat lamanya baru dia berkata lirih.

"Bu, bicaralah soal lain saja. Putrimu ingin mendampingimu untuk selamanya."

"Anak bodoh,"

Ujar In-hujin tertawa.

"bagaimana mungkin kau mendampingi kuselamanya, sampai disini tiba-tiba mukanya berubah pucat, batuk dua kali.

"Bu adakah kau merasa kurang enak. Rebahlah istirahat."

"Tidak apa-apa,"

Ucap In-hujin setelah mengatur napas, katanya lebih lanjut.

"Dua hari ini aku menguatirkan dua hal. Pertama entah selagi aku masih hidup ini apakah masih sempat melihatmu, sekarang syukurlah keinginanku terkabul. Kedua aku amat merindukan Tan Ciok-sing, apakah dia dapat lolos dari bahaya. Dimanakah kau bertemu dia?"

"Kemarin dulu bertemu di tengah jalan. Semula kukira jahat, malah pernah aku melabraknya. Akhirnya dia ceritakan duduk persoalannya dan bicara pernah bertemu dengan ibu baru aku mau percaya."

"Dia tidak kau ajak kemari untuk menengok aku?"

"Dia tidak mau datang kesini."

"O, dia tidak datang. Dia kemana?"

"Dia pulang ke Kwi-lin."

In-hujin tertegun, katanya.

"Dia sudah tahu tentang perjanjian Tam Tayhiap dengan It-cuking-thian?"

"Ya, Ciu-pepek suruh Kanglam Sianghiap ke Tay-tong mencari jejakku, kebetulan juga petang hari itu kami bertemu. Setelah tahu tentang berita ini Tan-toako segera putar haluan, katanya mau pulang ke Kwi-lin saja. Kami sudah membujuknya untuk kemari lebih dulu, tapi dia tetap tidak mau. Kutanya dia kenapa dia terburu-buru, bilang suruh aku tanya kepada ibu."

"O, jadi demikian, kalau demikian tidak boleh menyalahkan dia,"

Ucap In-hujin. Dia ingin lekas pulang untuk menyelidiki siapa musuh pembunuh kakeknya. Dia pernah mencurigai ltcu-king-thian, tapi dia tetap ragu-ragu."

"Betul, ayah memang sering menyinggung It-cu-king-thian kepadaku. Walau ayah hanya mengagumi orangnya dan belum pernah bertemu, tapi dia sudah jelas karakternya. Yakin pasti bukan dia yang turun tangan sejahat itu."

"Tapi bicara dari sudutnya itu, adalah pantas kalau untuk menyelidiki peristiwa ini sampai terang. Dari apa yang dia uraikan akan kejadian itu, kuduga meski It-cu-king-thian bukan biang keladi di belakang layar yang mencelakai ayahmu, kemungkinan dia sudah tahu siapa sebetulnya yang menjadi tulang punggung peristiwa itu."

Sampai disini mendadak In-hujin menghela napas.

"Bu, masih ada persoalan apa yang menyedihkan kau?"

"Entah kau sudah tahu belum, demi menyelamatkan ayahmu sehingga kakeknya itu dicelakai musuh. Terlalu banyak hutang budi kita terhadapnya."

Kata In San rawan.

"Tak kira nasibku serupa dia, sama kehilangan orang yang paling dicintai, padahal dia tidak berdosa, tapi kerembet oleh keluarga kita. Aku yakin musuh yang membunuh kakeknya."

"Itu jelas sudah pasti. Umpama bukan karya satu orang, pasti mereka ada hubungan satu dengan yang lainnya."

Sampai disini In-hujin batuk-batuk lagi sambil menekan dada.

"Bu,"

Seru In San kuatir.

"istirahat saja, jangan terlalu membuang tenaga."

"Aku tidak apa-apa, tapi ada satu hal perlu aku berpesan kepadamu."

Demikian kata in-hujin dengan wajah serius. Melihat sikap ibunya yang sesungguhnya, lekas In San bertanya.

"Soal apa pula yang harus kukerjakan, Ibu boleh kau katakan saja."

In-hujin menghela napas, katanya.

"Walau penyakitku tidak jadi soal, entah kapan baru akan sembuh. Dendam kematian ayahmu, hanya kepadamulah kuserahkan untuk membalasnya."

"Itu sudah menjadi kewajiban untuk menuntut balas, selama hayat masih di kandung badan, aku bersumpah pasti membalas sakit hati ayahku. Bu, kau tidak usah kuatir."

"Musuhmu bukan kaum sembarangan, dua gembong iblis yang mencelakai ayahmu di Citsing-giam itu, apa kau sudah tahu siapa mereka?"

"Kabarnya mereka bernama Le Khong-thian dan Siang Posan."

"Kedua orang ini adalah jagoan tangguh dari kalangan sesat, seorang lagi yang tak kalah liehaynya bergelar raja golok Ie Cun-hong,"

Belum diketahuinya bahwa Le Khongthian sudah mati di tangan Thio Tan-hong, demikian pula Ie Cun-hong sudah terbunuh oleh Tan Ciok-sing. Diam-diam In San berpikir.

"Yang benar biang keladinya sembunyi di belakang layar adalah paman dan keponakan dari keluarga Liong. Bu, meski kau tidak menjelaskan, kelak aku pasti akan membuat perhitungan dengan mereka."

In-hujin seperti tahu jalan pikirannya.

"Memang di belakang ketiga orang ini masih ada pula biang keladinya. Tapi aku minta setelah aku mati baru kau boleh pergi membunuhnya."

Luluh hati In San mendengar pesan ibunya, batinnya.

"Ibu berkata demikian, maksudnya supaya aku tidak membunuh Liong Bun-kong dan keponakannya,"

Dia kira ibunya pernah kawin dengan Liong Bun-kong, mengingat hubungan suami isteri selama belasan tahun ini, betapapun dia tidak tega.

Sudah tentu *hal ini membuat In San kurang senang.

Tapi tidak enak dia membongkar kelemahan jiwa ibunya ini.

Dengan menggigit bibir akhirnya dia berkata perlahan.

"Bu, tak usah kau bicara soal yang menyedihkan."

"Baiklah mari kita bicara soal penting saja. Ilmu golok yang kau pelajari meski sudah memperoleh ajaran murni ayahmu, bekal Kungfu yang kau miliki sekarang masih terlampau jauh dibanding gembong-gembong iblis itu, kalau kau ingin menuntut balas dengan tanganmu sendiri, hanya ada satu cara."

In San melongo, tanyanya.

"Cara apa?"

Pernah juga dia memikirkan soal ini, tapi menurut pikirannya ia harus lebih tekun menggembleng diri mencapai tingkat tinggi, paling cepat juga harus makan waktu sepuluh tahun. Kata In-hujin.

"Bila kau berhasil meyakinkan ilmu setingkat ayahmu, mungkin musuhmu sudah mati berusia lanjut. Jikalau kau ingin lekas berhasil menuntut balas, kau harus menggabung sepasang ilmu pedang dengan Tan Ciok-sing."

Merah muka In San, kepalanya tertunduk tanpa suara.

"Untung musuhnya adalah musuhmu juga, kukira umpama dia tidak mempcrsunting kau dia pasti akan bergabung dengan kau."

"Bu' apa kau ingin supaya sekarang juga aku menyusulnya ke Kwi-lin,"

Tanya In San. In-hujin menghela napas, katanya.

"Pikiranku ruwet sekali, aku harap secepatnya kau menuntut balas sakit hati ayahmu."

"Menuntut balas memang penting, bu kau sedang sakit, aku harus merawatmu dulu. Biarlah anak mendampingmu untuk beberapa waktu lamanya."

In-hujin tertawa getir, katanya.

"Sekarang aku sudah tahu, tak perlu aku membuat kau banyak susah, bahwa aku bisa bertemu dengan kau terakhir kali ini, sudah puas hatiku. Hari ini adalah hari yang paling menggembirakan aku, hahaha hahaha..."

Gelak ketawanya mendadak terputus. In San kaget, teriaknya.

"Bu, kau, kenapa kau?"

Tidak mendapat jawaban dan tidak melihat reaksi ibunya lekas dia memburu maju meraba pernapasan hidungnya, terasa badan ibunya sudah mulai dingin, seketika dia menjublek saking kaget.

Selama beberapa tahun ini yang selalu dibuat ganjalan hati In-hujin hanyalah putrinya dan ingin selekasnya bertemu dan berkumpul, kini setelah keinginan terlaksana, semangat dan kesehatannya sudah terlalu lemas, seumpama tanggul yang sudah jebol.

Senang, penyesalan, gembira dan sedih serta pilu pula...

berbagai perasaan yang saling bertentangan seketika menggejolak sanubarinya, sehingga penyakit hatinya mendadak kumat di tengah gelak tawanya malah mendadak napasnya putus.

Lama sekali In San mematung, akhirnya dia sadar akan kenyataan ini, barulah dia berteriak dan menangis gerunggerung.

000OOO000 Tan Ciok-sing tengah dalam perjalanan menuju ke Kwi-lin, pikirannyapun gundah-gulana.

Betapapun dalam perjalanan menuju ke kampung halaman, hatinya merasa senang dan hasrat untuk lekas sampai mengobar semangatnya, tapi di antara semangat yang berkobar ini, hatinya diselingi perasaan hambar pula.

Perubahan tiga tahun yang dialami sungguh terlalu besar, terutama dua bulan terakhir ini.

Nasib memang selalu mempermainkan orang, sebetulnya dirinya tiada sangkut paut apa-apa dengan keluarga In yang jauh letak rumahnya dengan tempat kelahirannya.

Tapi kini kedua keluarga seakan telah bergulat didalam satu arena kehidupan yang saling ikat mengikat, seumpama benang ruwet yang tidak mungkin dibenarkan digunting tidak akan habis, disebutkan takkan bisa lurus.

Terbayang percakapannya dengan In-hujin yang panjang lebar, teringat akan perkenalannya dengan In San yang semula melabraknya sebagai musuh, nasib keluarga In seolaholah sudah mendarah daging dengan kepribadiannya.

Terbayang olehnya petikan harpa In San yang menina bobokkan dirinya didalam hutan, perpisahan di tepi jalan serta pesan In San masih terngiang di telinganya, diharapkan dirinya lekas pulang menyusulnya ke markas Kim-to Cecu...

sungguh senang tapi juga sedih pula hati Tan Ciok-sing, akhirnya dia hanya tersenyum pahit belaka.

"Dengan Toan-siau-ongya dari keluarga Toan di Tayli memang dia pasangan yang setimpal, memangnya siapa aku ini, memangnya masih berani memikirkan dia. Paling aku hanya bisa berdoa dan menyampaikan selamat bahagia untuk pernikahan mereka, bila berita bahagia ini kelak kuterima, biar kuhadiahkan harpa antik ini sebagai kado. Ai, kenapa aku selalu memikirkan dirinya? Sekenanya Tan Ciok-sing mengayun pecutnya membedal kuda putih itu supaya berlari lebih cepat. Seakan dia ingin menghilangkan bayangan In San dari kelopak matanya, sayang bayangan In San masih terus menggelitik sanubarinya, dia sudah berusaha untuk tidak memikirkan dia, tapi tidak kuasa dia melupakannya. Kuda putih memang berlari kencang, hanya tiga hari Tan Ciok-sing sudah keluar dari wilayah San-he, kini dia mulai memasuki propinsi Ho-lan. Hari itu dia tengah mencongklang kudanya di bawah Ongju-san yang berliku-liku, kira-kira tengah hari, baru dia merasa lapar dan dahaga, kebetulan dilihatnya tak jauh di depan terdapat sebuah kedai minuman. Kedai minuman di pinggir jalan umumnya menyediakan hidangan bagi kaum pedagang atau para pelancongan yang menempuh perjalanan jauh, bukan saja menyediakan minuman juga menghidangkan arak dan nyamikan. Maka Tan Ciok-sing menghentikan kudanya, kebetulan tak jauh di samping kedai terdapat tanah lapang berumput. Dengan tertawa Tan Ciok-sing berkata.

"Aku bisa makan di kedai, kaupun boleh makan rumput sekenyangmu,"

Dia beri kebebasan kuda putihnya mencari makan di tanah lapang berumput subur. Tan Ciok-sing memesan seporsi daging sampi katanya.

"Ada arak apa yang tersedia boleh keluarkan saja, bawakan dulu setengah kati."

Umumnya kedai minuman di tengah jalan hanya menyediakan minuman dan makanan yang bertarip rendah, adalah jamak kalau arak yang dihidangkan juga murahan, nyamikan paling juga kacang goreng.

Tak nyana seteguk dia menghirup arak yang dihidangkan terasa harum dan segar, ternyata arak bagus yang belum pernah dia rasakan, sudah tentu senang hati Tan Ciok-sing, serunya memuji.

"Arak bagus, arak bagus. Apa nama arak ini?"

Pemilik kedai adalah laki-laki tua renta, sahutnya.

"Arak kampungan yang bikin sendiri, masa diberi nama segala. Syukurlah tuan suka menikmatinya, silahkan minum beberapa cangkir lagi."

Melihat pemilik kedai ramah dan supel, segera Tan Cioksing mengajaknya minum.

"Orang sehobi sukar ditemukan, kau pandai menikmati arakku, adalah pantas kalau aku yang traktir kau minum, mana boleh terbalik malah?"

Tan Ciok-sing tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Siapa yang harus mentraktir bukan soal, hayolah minum sepuasnya."

Pemilik kedai ternyata laki-laki tua yang suka kelakar, katanya.

"Hayolah, biar kuiringi kau sampai mabuk,"

Lalu dia masuk mengeluarkan seguci arak, katanya.

"Inilah arak tua yang sudah tersimpan sekian tahun, rasanya tentu lebih kecut, coba kau rasakan."

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Aku masih harus menempuh perjalanan, kalau banyak minum mungkin mengganggu."

"Boleh minum sekuat ukuranmu saja,"

Ucap pemilik kedai, dia penuhi dua cangkir lalu ditenggaknya habis. Semula Tan Ciok-sing masih ragu-ragu melihat orang menghabiskan dua cangkir, dengan lega hati tanpa curiga segera diapun ikut minum.

"Tuan muda, siapa she-mu?"

Tanya pemilik kedai setelah menghabiskan beberapa cangkir.

"Aku yang rendah she Tan, Lopan, siapa nama besarmu?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Terima kasih. Aku she Khu bernama Ti."

"Khu-losiansing fasih berbahasa, tentunya dulu seorang sekolahan juga?"

"Waktu kecil memang pernah belajar membaca beberapa tahun, sayang aku terlalu gemar arak sehingga pelajaran terbengkalai, sampai setua ini aku tidak memperoleh gelar apa-apa. Oleh karena itu ganti nama 'Ti' (terlambat), maksudku untuk peringatan akan ketidak becusanku sendiri."

Timbul rasa hormat Tan Ciok-sing, katanya.

"Kiranya Lopek adalah seorang pujangga yang mengasingkan diri disini, sungguh kurang hormat."

Khu Ti tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Karena aku tidak pintar mencari nafkah, hobiku hanya minum dan suka bikin arak sendiri, maka kubuka kedai minuman di pinggir jalan untuk sesuap nasi. Soal pujangga apa segala, tuan ini jangan menggodaku."

"Khu-losiansing, kau terlalu rendah hati."

"Tan-heng, kau membawa harpa, tentunya kau seorang ahli dalam bidang ini?"

"Ahli sih tidak, hanya bisa sedikit petikan belaka. Khulosiansing pernah sekolah, tentu kaupun mahir memetik harpa?"

"Kau terlalu sungkan. Memetik harpa aku tidak bisa, tapi dulu aku pernah kenal seorang guru harpa yang kenamaan. Secara kebetulan guru harpa itupun she Tan."

"Siapakah guru harpa itu?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Konon kepandaian memetik harpa guru harpa ini tiada bandingan di kolong langit, orang banyak menyebutnya Siankhim (Dewa Harpa) tapi dia sendiri menamakan dirinya Ki Harpa."

"Yang di maksud ternyata kakek,"

Demikian batin Tan Cioksing. Kata Khu Ti lebih lanjut.

"Pernah aku sekali bertemu dengan dia, jadi belum boleh dianggap sahabat baik. Seperti kau suatu hari dia lewat sini dan mampir di kedaiku minum arak, setelah merasakan arakku timbul rasa senangnya maka dia memetik harpa sambil bersenandung, begitu indah dan mengasyikan sekali petikan harpanya itu, selamanya takkan bisa kulupakan. Em, dihitung-hitung kejadian itu kira-kira sudah dua puluh tahun berselang."

Tan Khim-ang memang guru harpa yang suka kelana di Kangouw, tidak perlu dibuat heran kalau dia pernah mampir di kedai ini dan pamer sekedar keahliannya.

Karena baru kenal sudah tentu pantang bagi Tan Ciok-sing untuk menjelaskan tentang dirinya.

Ternyata semakin berkobar semangat Khu Ti, katanya.

"Beruntung hari ini Tan-heng berkunjung dan membawa harpa pula, bagaimana kalau kaupun petikkan sebuah lagu dengan iringan harpa seperti kejadian dua puluh tahun yang lampau itu?"

"Petikan harpaku yang rendah ini mana berani dibanding dengan Dewa Harpa?"

Ucap Tan Ciok-sing.

"Tan-heng tidak usah menampik, nah kusuguh secangkir penuh untuk menambah seleramu."

Tan Ciok-sing memang sudah terpengaruh oleh air katakata (arak), katanya.

"Baiklah untuk membalas suguhan arakmu, biarlah aku sekedar pamer kejelekan sendiri,"

Demikian ujar Tan Ciok-sing. Lalu dia membuka kotak mengeluarkan harpa. Seketika terbeliak bola mata Khu Ti mulutpun bersuara heran, katanya.

"Tan-heng, harpa milikmu ini kok mirip sekali dengan harpa yang dibawa Ki Harpa dulu."

"Manusia ada yang mirip adalah jamak kalau bendapun serupa, meski lagu yang dipetik sama, tapi dengan harpa yang berbeda petikan lagunya pasti berbeda pula."

Dasar Tan Cok-sing sedang kasmaran, segera dia memetik lagu yang menggambarkan seorang pemuda yang sedang sakit mala rindu.

Lagunya mengalun lembut, tapi juga memilukan.

Lagu sudah habis, tapi perasaan Tan Ciok-sing masih belum tentram, lama dia duduk terlongong seperti melupakan kehadiran pemilik kedai di depannya.

Mendadak derap kaki kuda yang dicongklang pesat mendatangi dengan suara gemuruh, Tan Ciok-sing tersentak dari lamunannya oleh suara gaduh ini, sebuah suara yang sudah dikenal dan menusuk kuping berkata.

"Petikan harpa yang mengasyikkan. Hm, kau bocah kampung ini umpama kodok buduk yang kepingin mencaplok burung bangau."

Waktu Tan Ciok-sing berpaling, tampak lima ekor kuda sudah tiba di tanah lapang berumput di samping kedai, yang bicara bukan lain adalah Liong Seng-bu.

Di kanan kirinya berjajar Huwan bersaudara.

Kalau Liong Seng-bu memperhatikan petikan harpa Tan Ciok-sing, adalah Huwan Liong dan saudara-saudaranya memperhatikan kuda putih itu.

Katanya.

"Bocah ini takkan lolos, Liong-kongcu, sudikah kau menghadiahkan kuda itu kepadaku."

Segera Tan Ciok-sing bersiul pendek, kuda putih itu memang cerdik segera dia lari masuk hutan. Karuan Huwan Liong gusar, bentaknya.

"Majikanmu takkan lolos, memangnya kau bisa melarikan diri,"

Sebelah tangannya terayun, sebatang panah segera meluncur kencang mengejar kuda putih.

Tan Ciok-sing jemput sebatang sumpit, dengan gerakan melempar dia susul timpukan panah kecil orang dengan sambitan sumpitnya, panah timpukan itu kena dipukulnya jatuh di tengah jalan.

Kuda putih itupun sudah lenyap di balik pohon.

Sudah tentu Huwan Liong gusar dan malu, hardiknya.

"Bocah bernyali besar, berani kau bertingkah. Hehe, mana budak liar keluarga In itu? Kau sudah dilempar dan tak dipedulikan bukan? Hm, hehe, dengan budak itu kalian menggabung sepasang pedang, mungkin kami memang bukan tandingan. Tapi kini kau sendirian, memangnya kau bisa lolos dari tangan kami?"

Huwan bersaudara serempak melompat turun terus berbaris memasuki kedai.

Omongan Huwan Liong memang bukan gertakan, Tan Cioksing pernah merasakan keliehayan barisan pedang mereka, dia insaf tanpa kehadiran In San tak mungkin dia memainkan ilmu pedang gabungan, jelas dirinya bukan tandingan mereka.

Tapi urusan sudah terlanjur, gugup juga tak berguna.

"Paling adu jiwa, Liong Seng-bu bocah keparat itu betapapun akan kupersen lobang tusukan di badannya,"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

Maka dia tidak hiraukan lagi mati hidup awak sendiri, perasaan yang gejolak tadipun menjadi tentram dan tenang tanpa takut lagi.

Pedang melintang, kaki pasang kudakuda, seluruh perhatian tumplek di ujung pedangnya menunggu reaksi para musuhnya.

Liong Seng-bu terakhir masuk kedai, melihat sikap Tan Ciok-sing yang tegang dan bersiaga, hatinya amat senang dan puas.

Katanya setelah bergelak tawa.

"Tan-heng, kau memang pemuda romantis. Irama harpa mengirim rasa rindu, kau belum bisa melupakan nona In yang jelita itu bukan? Sayang untuk selanjutnya, mungkin kau takkan bisa bertemu dengan dia."

Pemilik kedai itu tiba-tiba tampil ke depan katanya dengan tertawa.

"Kapan kedaiku yang bobrok ini pernah dikunjungi tamu sebanyak ini, nah silakan tuan-tuan tamu duduk, minumlah dulu beberapa cangkir. Kalian ada pertikaian apa sukalah memandang mukaku, bagaimana kalau aku jadi penengah?"

"Urusan kami tak usah kau turut campur,"

Semprot Liong Seng-bu. Huwan Liong malah tertawa, katanya.

"Kongcu, araknya memang wangi. Marilah kita minum dulu sampai puas, baru nanti kerjai dia."-maklum Huwan bersaudara semua setan arak, mereka pikir Tan Ciok-sing takkan bisa lolos, maka sengaja mereka hendak mempermainkannya lebih dulu. Tanpa permisi Huwan Liong mengangkat meja kursi memindahkannya kesana kemari menjadi formasi segi tiga, jalan mundur Tan Ciok-sing berarti sudah dicegat. Mereka berempat berpencar, Tan Ciok-sing di tengah. Sementara Liong Seng-bu duduk di meja kursi yang dekat pintu. Khu Ti berkata.

"Tuan-tuan tentunya masih akan menempuh perjalanan, bagaimana kalau kusuguh setiap orang dua poci dulu?"

Melihat guci di atas meja Tan Ciok-sing, Huwan Liong yang setan arak ini sudah tentu tak mau kalah, katanya.

"Jangan kuatir, ambilkan setiap orang satu guci."

Liong Seng-bu segera menyela.

"Aku tidak minum, cukup empat guci saja."

Khu Ti mengiakan terus berlari masuk, tak lama kemudian dia sudah keluar menjinjing empat guci arak, setiap guci beratnya sepuluh kati, bersama gucinya, berat kotornya sedikitnya ada enam puluhan kati.

Setiap tangan Khu Ti menyanggah dua guci, mulut guci kecil dan sempit, pantatnya lebar, maka guci bagian atas kelihatan bergoyang-goyang.

Tapi langkah Khu Ti kelihatan mantap dan berat, mengangkat seberat itu seperti menjinjing barang enteng.

Dalam hati Huwan Liong berpikir.

"Tenaga kedua tangan kakek ini ternyata besar,"

Mereka empat bersaudara termasuk jagoan kelas satu, meski merasa sedikit janggal akan pemilik kedai ini, namun mereka tidak ambil di hati.

Dengan enteng Khu Ti letakkan guci-guci itu satu persatu tanpa kelihatan napasnya memburu, katanya tertawa.

"Untung Kongcu-ya ini tidak mau minum, sisa arak yang kusimpan kebetulan tinggal empat guci saja."

Memangnya sudah ngiler Huwan Liong segera serobot satu guci terus dibuka tutupnya, setelah dicium berkata.

"Arak mi memang bagus, Kongcu, apa kau tidak ingin mencicipi?"

"Nanti dulu,"

Tiba-tiba Liong Seng-bu berteriak. Guci sudah terangkat di atas kepala, karuan Huwan Liong melengak, tanyanya.

"Ada apa Kongcu?"

"Suruh dia minum dulu, setelah dia mencicipi semua guci itu baru kalian boleh minum,"

Demikian Liong Seng-bu memberi penugatan. Huwan Liong sadar katanya.

"Betul, adalah pantas kalau kita berjaga-jaga. Kakek tua, setiap guci ini lekaslah kau minum secangkir lebih dulu."

Khu Ti kurang senang, katanya dingin.

"Kalian takut aku menaruh racun dalam arak? Meski kecil kedaiku, modalnya juga sedikit, tapi sudah puluhan tahun aku membuka kedai memangnya kau kira kedaiku ini warung gelap yang biasa merampok dan membunuh orang."

Liong Seng-bu membentak.

"Suruh kau minum, kenapa cerewet,"

Ternyata waktu datang tadi melihat Khu Ti duduk semeja dengan Tan Ciok-sing mengiringinya minum arak, dasar suka curiga maka selalu bertindak keliwat hati-hati.

Tanpa bicara Khu Ti segera angkat guci pertama .terus dituang di atas kepala, mulut terbuka arak seperti dicurahkan kedalam mulutnya, tanpa berhenti satu guci arak telah ditenggaknya habis.

Kapan Huwan Liong dan adik-adiknya pernah melihat orang minum arak cara demikian sesaat mereka melongo di tempat duduk masing-masing.

Khu Ti tidak berhenti, segera dia angkat guci kedua dengan cara yang sama dia habiskan pula guci kedua, sambil menepuk perut dia berkata dingin.

"Kalian takut isi guci arak beracun, biarlah seluruhnya kuhabiskan saja,"

Lalu dia menghampiri guci ketiga serta diangkat terus dituang juga kedalam perutnya.

Bersama Tan Ciok-sing tadi sedikitnya menghabiskan setengah guci, kini menghabiskan pula dua guci, paling sedikit Khu Ti sudah menghabiskan dua puluh lima kati arak keras.

Mau tidak mau Tan Ciok-sing terkejut dan girang, pikirnya.

"Kiranya bukan saja dia orang sekolahan, diapun seorang jago kosen yang menyembunyikan dirinya."

Tiba-tiba Huwan Pau teringat bahwa dalam kedai tinggal ke empat guci arak ini, maka lekas dia berteriak.

"Jangan dihabiskan, aku tidak takut arakmu beracun, celaka kalau kau mati karena mabuk."

"Memangnya kau kira begini saja ukuranku, manusia akhirnya pasti mati, peduli mati sakit, atau mati karena apa, mati kan sama saja?"

Meletakkan guci kosong ketiga dia menghampiri pula guci ke empat. Timbul rasa ingin tahu Huwan Liong, katanya.

"Jangan dicegah biarkan saja, berapa banyak dia kuat minum?"

Perut Khu Ti sudah melembung seperti perut kerbau. Huwan Pau setan arak paling berangasan, teriaknya sambil membanting kaki.

"Kalau dihabiskan kita akan minum apa?"

Tangan diulur sudah hendak merebut.

Di kala mereka terpesona melihat demontrasi minum arak Khu Ti, mendadak Tan Ciok-sing melompat tinggi ke atas bagai seekor burung langsung menubruk ke arah Liong Sengbu yang duduk membelakangi pintu luar.

Di tengah udara pedang sudah terlolos, dengan jurus In-kik-tiang-khong, dari atas pedangnya menusuk ke bawah.

"Brak"

Terdengar suara keras, ternyata pada detik-detik berbahaya ini Liong Seng-bu selulup ke bawah meja sambil angkat meja menangkis sehingga tusukan pedang Tan Cioksing menusuk tembus permukaan meja.

Memang sejak tadi tetap bersikap tenang dan waspada, akan sergapan mendadak yang dilancarkan Tan Ciok-sing.

"Celaka,"

Tiba-tiba Huwan Liong berteriak serempak Huwan Hou dan Huwan Kiau menendang meja di depannya ke arah Tan Ciok-sing.

Sementara Huwan Liong sudah mencabut pedang terus menyerang dengan jurus pedang lilitan, sebelumnya dia sudah perhitungkan dimana kira-kira Tan Ciok-sing akan tancap kaki di lantai, ke sanalah pedangnya membabat.

'Tan Ciok-sing cabut pedangnya, di tengah udara dia jumpalitan laksana burung dara, begitu kedua kaki terpentang.

"Biang, biang"

Dua meja yang melayang ke arahnya ditendangnya balik keluar pintu.

Dimana ujung pedangnya menutul, secara tepat dia tangkis babatan pedang Huwan Liong yang mengincar kedua kakinya.

Sementara sambil menyunggi meja tersipu-sipu Liong Seng-bu sudah lari keluar pintu.

Huwan bersaudara segera membentuk barisan pedang mengepung dalam posisi segi empat.

"Disini bukan tempat berkelahi, hayo diluar saja,"

Tantang Tan Ciok-sing. Huwan Liong mengejek.

"Kau masih ingin lari, jangan mimpi di siang bolong,"

Serempak empat pedang mereka bergerak, serangan bertubi-tubi dengan gencar dan mematikan.

"Baik,"

Seru Tan Ciok-sing.

"disini ya disini, memangnya aku takut mati. Aku hanya kuatir merusak perabot didalam kedai ini."

Khu Ti menghela napas, katanya.

"Ya, aku pasrah nasib saja. Yang terang harta bendaku ini hanya berharga berapa peser saja, besarkan saja nyalimu, kalau minta ganti akan kutuntut pada mereka pasti tidak akan merogoh sakumu."

"Kau ini barang apa, berani menuntut kepada kami?"

Damprat Huwan Kiau gusar.

"nanti jiwa tuamu biar kumampusi sekalian."

Khu Ti menggeleng kepala, katanya.

"Wah, kau ini memang seekor kerbau dungu, agaknya kau dibesarkan tanpa makan nasi."

Huwan Kiau mencak-mencak gusar, dampratnya.

"Kakek sontoloyo, kau memaki aku sebagai binatang."

"Lha, kau sendiri yang bilang, kapan aku pernah memakimu demikian,"

Debat Khu Ti. Tanpa merasa mengerutkan kening Huwan Liong, lekas dia berkata.

"Samte, kenapa sih kau, urusan kan harus dibedakan mana yang lebih penting, buat apa kau ribut dengan tua bangka ini?"

Dalam pertempuran sengit itu tusukan pedang Huwan Liong mengenai tempat kosong, kepalan mendadak menjotos dari bawah pedang dengan deras, boleh dikata Tan Ciok-sing sudah hampir mepet tembok, jalan mundur sudah tiada, terpaksa dia menggeser langkah dua tindak sambil berputar.

"Biang", tembok di belakangnya kena dijotos ambrol dan berlobang oleh kepalan Huwan Liong. Untung tembok bukan dibangun dari batu marmer, namun kepalannya sudah cecel dan berlumuran darah. Dengan gusar Huwan Liong membentak.

"Coba saksikan berapa lama bocah keparat ini kuat bertahan lagi, bila ketangkap nanti, pasti kubeset kulitmu kupatahkan tulang kakimu."

Khu Ti yang sejak tadi sembunyi di pojok sana dengan badan gemetar, kini mendadak berjalan keluar sempoyongan, seperti langkah orang mabuk yang gentayangan hampir roboh, teriaknya.

"Wah, wah mati aku, mati aku saking jengkel. Sebelum tulang tuan tamu ini kalian patahkan, salahsalah rumah reyotku ini sudah kalian bongkar lebih dulu."

Lekas Tan Ciok-sing memperingatkan.

"Lopek, lekas kau menyingkir,"

Walau dia tahu Khu Ti mungkin memiliki kepandaian silat, tapi barusan pedang pihak musuh terlalu liehay bagaimana juga dia tidak akan membiarkan Khu Ti menerobos masuk ke jaring barisan pedang.

Mendadak Khu Ti memukul perutnya yang gendut seperti gentong itu seraya berteriak-teriak.

"Aduh, celaka, arak harum, arak wangi, empat guci arak bagus, kau sudah masuk kedalam perutku, aku kan tidak bersalah terhadapmu, kenapa kau mau berontak?"

"Setan pemabukan,"

Bentak Huwan Liong.

"menyingkirlah ke tempat jauh kalau sudah mabuk gila."

"Haya kenapa tidak kau tunggu sebentar, kenapa ingin terjang keluar saja,"

Demikian teriak Khu Ti pula.

Mendadak dia pentang mulutnya, segumpal arak panas seketika menyembur dari perutnya.

Baca Juga: Pendekar Gelandangan 5

Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger